Pengertian Organisasi (skripsi dan tesis)

Secara sederhana organisasi dapat diartikan sebagai suatu kesatuan yang merupakan wadah atau sarana untuk mencapai berbagai tujuan atau sasaran organisasi memiliki banyak komponen yang melandasi diantaranya terdapat banyak orang, tata hubungan kerja, spesialis pekerjaan dan kesadaran rasional dari anggota sesuai dengan kemampuan dan spesialisasi mereka masing-masing. Berikut ini peneliti akan kemukakan beberapa pengertian organisasi menurut para ahli. Menurut Robbins (1994: 4) mengatakan, bahwa: “Organisasi adalah kesatuan sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.” Selanjutnya Hasibuan (2011:120) memberikan pengertian organisasi sebagai berikut: Organisasi adalah suatu sistem perserikatan formal, berstruktur, dan terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa organisasi adalah suatu wadah yang terdiri dari unsur manusia yang saling bekerja sama dan saling menguntungkan untuk kepentingan bersama dalam pencapaian tujuan organisasi. Ciri-ciri organisasi dikemukakan Ferland yang dikutip oleh Handayaningrat (1985:3) sebagai berikut : 1. Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal 2. Adanya kegiatan yang berbeda-beda tetapi satu sama lain saling berkaitan (interdependent part) yang merupakan kesatuan usaha / kegiatan 3. Tiap-tiap anggota memberikan sumbangan usahanya / tenaganya 4. Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan 5. Adanya suatu tujuan Organisasi selain dipandang sebagai wadah kegiatan orang juga dipandang sebagai proses, yaitu menyoroti interaksi diantara orang-orang yang menjadi anggota organisasi. Keberhasilan suatu organisasi ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia yang saling berinteraksi dan mengembangkan organisasi yang bersangkutan. Organisasi dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia dalam rangka mengoptimalkan kinerja pegawai tidak terlepas dari pemberdayaan potensi yang ada.

Hubungan Antara Perilaku Organisasi dengan Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Keterkaitan dari perilaku organisasi dengan kinerja pegawai, yaitu perilaku organisasi merupakan suatu fungsi dari interaksi sesama individu dengan lingkungannya yang dapat mempengaruhi terhadap efektivitas kerja. Didalam organisasi yang efektif seorang pemimpin mempunyai kewajiban untuk dapat memahami setiap perilaku pegawai, karena hasil dari setiap perilaku organisasi yang diharapkan adalah hasil kerja yang efektif artinya setiap pekerjaan dapat diselesaikan dengan standar waktu yang ditentukan. Peneliti mengutip dari para ahli mengenai teori yang ada hubungannya dengan masalah yang dihadapi yaitu perilaku organisasi menurut P. Robbins dan  A. Judge (2008:12) perilaku organisasi adalah : “Studi mengenai apa yang dilakukan individu dalam suatu organisasi dan bagaimana perilaku mereka mempengaruhi kinerja perusahaan”. Melalui perilaku organisasi pimpinan dituntut untuk memberikan kepercayaan yang lebih besar pada kecakapan dan pengetahuan pegawai, dan meniadakan rintangan-rintangan yang dikiranya adalah terbangunnya suatu tim kerja dimana pegawai menjadi sumber daya manusia yang dimanfaatkan secara penuh. Kinerja pegawai merupakan bagian dari kelompok yang pada akhirnya menjadi bagian dari kinerja organisasi. Didalam organisasi yang efektif, seorang pimpinan mempunyai kewajiban untuk dapat memahami setiap pegawai karena hasil yang diharapkan dari setiap perilaku organisasi adalah kinerja. Teori administrasi yang merupakan suatu teori yang mendasar pada perilaku kerja sama manusia didalam kelompok-kelompok kerja, pada akhirnya ada dalam lingkungan organisasi yang disebut perilaku organisasi. Tercapai atau tidaknya tujuan organisasi akan ditentukan oleh sejauhmana pemahaman dan penerimaan pegawai tentang tujuan organisasi.

Aspek-aspek Kinerja (skripsi dan tesis)

Dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan, pimpinan melakukan tugas-tugasnya dibantu oleh pegawai. Keberhasilan pimpinan melaksanakan tugasnya akan dipengaruhi oleh kontribusi pihak lain. Untuk mengetahui kinerja perlu dilakukan pengukuran. Untuk mengetahui hal itu diperlukan penentuan aspek-aspek yang mempengaruhi kinerja. Adapun aspek-aspek yang meliputi kinerja yang dapat dijadikan ukuran kinerja seseorang menurut Mitchell dalam Sedarmayanti (2009:51) yaitu : a. Quality of work (kualitas kerja) : yaitu mutu hasil kerja, ketelitian dan kecermatan dalam melaksanakan dan menyelesaikan pekerjaan oleh para pegawai, serta perbaikan dan peningkatan mutu hasil kerja sesuai dengan yang diharapkan b. Promptness (ketepatan waktu) : berkaitan dengan sesuai atau tidaknya waktu penyelesaian pekerjaan dengan target waktu yang direncanakan sebelumnya dan juga berkaitan dengan disiplin kerja atau kehadiran yang tepat waktu c. Initiative (inisiatif) : semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan mempunyai kebebasan untuk berinisiatif agar pegawai aktif dalam menyelesaikan pekerjaannya d. Capability (kemampuan) : setiap pegawai harus benar-benar mengetahui pekerjaan yang ditekuninya serta mengetahui arah yang diambil organisasi sehingga jika telah menjadi keputusan, mereka tidak ragu-ragu lagi untuk melaksanakannya sesuai dengan rencana dalam mencapai tujuan e. Communication (komunikasi) : proses interaksi atau hubungan saling pengertian satu sama lain baik dengan atasan, maupun dengan sesama pegawai dengan maksud agar dapat diterima dan dimengerti serta seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dahulu dan memberikan kesempatan kepada bawahannya mengemukakan saran dan pendapatnya

Kinerja tidak terjadi dengan sendirinya, dengan kata lain terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja. Adakalanya kinerja dipengaruhi oleh faktor individu, adapula dipngaruhi oleh lingkungannya seperti yang dikemukakan oleh William Stern yang dikutip oleh Mangkunegara (2014:16) menyatakan bahwa faktor-faktor penentu kinerja adalah sebagai berikut : a. Faktor Individu Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya (jasmani). Dengan adanya integritas yang tinggi antara fungsi psikis dan fisik, maka individu tersebut memiliki konsentrasi diri yang baik. b. Faktor Lingkungan Organisasi Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relative memadai.

Pengertian Kinerja Pegawai (skripsi dan tesis)

Organisasi pemerintah maupun swasta, sumber daya manusia (SDM) merupakan faktor yang sangat penting dibandingkan dengan faktor-faktor lain karena bagaimanapun struktur organisasi yang baik, canggihnya teknologi dan tersedianya biaya yang begitu besar tidak ada artinya bila tidak digerakan oleh manusia itu sendiri. Manusia merupakan mahluk yang memiliki kemampuan  tersendiri dibandingkan dengan mahluk-mahluk lain. Kemampuan atau keterampilan manusia itulah yang mengendalikan, mengatur, mengarahkan semua sumber yang tersedia. Manajemen yang diarahkan pada kinerja yang mempunyai pengertian kemampuan kerja atau hasil kerja. Kemampuan kerja atau hasil kerja diukur dari tersedianya berbagai sumber-sumber yang ada. Peneliti akan mengemukakan pengertian kinerja individu menurut Sedarmayanti (2009:53) yaitu sebagai berikut : Kinerja individu adalah bagaimana seorang pegawai melaksanakan pekerjaannya atau untuk kerjanya. Kinerja pegawai yang meningkat akan turut mempengaruhi atau meningkatkan prestasi organisasi tempat pegawai yang bersangkutan bekerja sehingga tujuan organisasi yang telah ditentukan dapat dicapai. Pengertian kinerja pegawai menurut Mangkunegara (2005:69) menyebutkan bahwa : “Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya”. Pendapat lain tentang kinerja pegawai menurut Mahsun (2006:93) mengemukakan sebagai berikut : Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan atau program atau kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan misi dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi. Berdasarkan pengertian di atas, kinerja menunjukkan suatu hasil kerja yang dihasilkan seorang pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. Hasil kerja yang dicapai oleh pegawai tersebut dinilai berdasarkan kuantitas hasil kerja, kualitas hasil kerja dalam penyelesaian pekerjaan yang dikerjakan berdasarkan pengetahuan dan kreativitas yang dimiliki pegawai intinya, pegawai yang  memiliki kinerja yang tinggi antara lain ditunjukkan dapat bekerjasama, memiliki kesadaran, dapat dipercaya, memiliki kepribadian yang baik, dapat melakukan ide-ide baru dan berpartisipasi dalam segala kegiatan

Prinsip-prinsip Yang Harus Dipertimbangkan Dalam Perilaku Organisasi (skripsi dan tesis)

 

Salah satu tantangan yang paling penting dan berbasis luas yang sekarang ini di hadapi oleh organisasi adalah beradaptasi dengan individu-individu yang berbeda. Perilaku organisasi memberikan banyak tantangan dan peluang bagi para pemimpin. Perilaku organisasi juga menghargai perbedaan dan membantu pemimpin melihat manfaat dari keragaman angkatan kerja dan praktik yang mungkin perlu diubah ketika bekerja. Perilaku organisasi bisa meningkatkan kualitas dan produktivitas pegawai dengan memberi tahu para pemimpin cara memberikan wewenang kepada orangorang, merancang dan mengimplementasikan program-program perubahan, meningkatkan layanan pelanggan dan membantu pegawai menangani konflik kehidupan pegawai. Perilaku organisasi hakikatnya adalah hasil-hasil interaksi antara individuindividu dalam organisasinya. Oleh karena itu, untuk memahami perilaku organisasi sebaiknya diketahui terlebih dahulu individu-individu sebagai pendukung organisasi tersebut. Salah satu cara untuk memahami sifat-sifat manusia ialah dengan menganalisis prinsip-prinsip dasar yang merupakan salah satu bagian daripadanya.

Menurut Thoha (2014:36) bahwa terdapat prinsipprinsip perilaku organisasi antara lain : a. Manusia berbeda perilakunya, karena kemampuannya tidak sama. b. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda. c. Orang berpikir tentang masa depan, dan membuat pilihan tentang bagaimana bertindak. d. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan pengalaman masa lalu kebutuhannya. e. Seseorang itu mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang. f. Banyak faktor yang menentukan sikap dan perilaku seseorang.

Prinsip-prinsip tersebut untuk lebih jelasnya akan peneliti uraikan secara terperinci, sebagai berikut :

1. Manusia berbeda perilakunya, karena kemampuannya tidak sama Prinsip dasar kemampuan ini amat penting diketahui untuk memahami mengapa seseorang berbuat dan berperilaku berbeda dengan yang lain. Karena terbatasnya kemampuan ini, seseorang bisa menjahit satu celana dalam waktu 10 menit, sedangkan orang lain memerlukan 3 hari dalam hal yang sama. Terbatasnya kemampuan ini yang membuat seseorang bertingkah laku yang berbeda. Perbedaan kemampuan ini ada yang beranggapan karena disebabkan sejak lahir manusia ditakdirkan tidak sama kemampuannya. Ada pula yang  beranggapan bukan disebabkan sejak lahir melainkan karena perbedaannya menyerap informasi dari suatu gejala. Oleh karenanya kecerdasan merupakan salah satu perwujudan dari kemampuan seseorang, atau berasal dari pembawaan sejak lahir, ada pula yang beranggapan karena didikan dan pengalaman. Lepas dari setuju ata tidak dari perbedaan-perbedaan tersebut ternyata bahwa kemampuan seseorang dapat membedakan perilakunya, dan karena perbedaan kemampuannya ini maka dapat kiranya dipergunakan untuk memprediksi pelaksanaan dan hasil kerja seseorang yang bekerja sama di dalam suatu organisasi tertentu.

2. Manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda Ahli-ahli ilmu perilaku umumnya membicarakan bahwa manusia ini berperilaku karena didorong oleh serangkaian kebutuhan. Dengan kebutuhan ini dimaksudkan adalah beberapa pernyataan di dalam diri seseorang (internal state) yang menyebabkan seseorang itu berbuat untuk mencapainya sebagai suatu obyek atau hasil. Kebutuhan seseorang berbeda dengan kebutuhan orang lain. Seorang karyawan yang didorong untuk mendapatkan tambahan gaji supaya bisa hidup 1 bulan dengan keluarganya, tingkah perilakunya jelas akan berbeda dengan karyawan yang didorong oleh keinginan memperoleh kedudukan agar mendapatkan harga diri di dalam masyarakat. Pemahaman kebutuhan yang berbeda dari seseorang ini amat bermanfaat untuk memahami konsep perilaku seseorang di dalam organisasi. Hal ini bisa 30 dipergunakan untuk memprediksi dan menjelaskan perilaku yang berorientasi tujuan di dalam kerjasama organisasi.

3. Orang berpikir tentang masa depan, dan membuat pilihan tentang bagaimana bertindak Kebutuhan-kebutuhan manusia dapat dipenuhi lewat perilakunya masingmasing. Di dalam banyak hal, seseorang dihadapkan dengan sejumlah kebutuhan yang potensial harus dipenuhi lewat perilaku yang dipilihnya. Misalnya, seseorang diberikan pilihan pada dua hal dan harus dapat memutuskan salah satu dari kedua keputusan tersebut dan harus dapat menerima resiko yang diambil. Cara untuk menjelaskan bagaimana seseorang membuat pilihan di antara sejumlah besar rangkaian pilihan perilaku yang terbuka baginya, adalah dengan mempergunakan penjelasan teori expectancy. Teori ini berdasarkan atas proposisi yang sederhana yakni bahwa seseorang memilih berperilaku sedimikian karena ia yakin dapat mengarahkan untuk mendapatkan sesuatu hasil tertentu (misalnya mendapatkan hadiah atau upah, dan dikenal atasan yang menarik baginya karena sesuai dengan tuntutan kebutuhannya). Perlu kiranya dicatat bahwa teori ini tidak bisa digunakan untuk meramal bahwa seseorang akan berperilaku yang terbaik dalam rangka mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Model ini hanya membuat asumsi-asumsi bahwa seseorang membuat suatu keputusan yang rasional itu berdasarkan pada persepsi terhadap lingkungannya.

4. Seseorang memahami lingkungannya dalam hubungannya dengan pengalaman masa lalu dan kebutuhannya Memahami lingkungan adalah suatu proses yang aktif, dimana seseorang mencoba membuat lingkungannya itu mempunyai arti baginya. Proses yang aktif ini melibatkan seseorang individu mengakui secara selektif aspek-aspek yang berbeda dari lingkungan, menilai apa yang dilihatnya dalam hubungannya dengan pengalaman masa lalu dan mengevaluasi apa yang dialami itu dalam kaitannya dengan kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilainya. Oleh karena itu, pengalaman dari seseorang sangatlah penting di dalam memberikan sumbangsih pemikiran dan bagaimana seseorang bertindak di dalam suatu organisasi. Jadi lingkungan sangat banyak memberikan obyek dan peristiwa ketimbang dengan kemampuan manusia yang dimilikinya untuk memahami obyek dan peristiwa tersebut, aspek-aspek yang sudah diketahui atau yang sudah berjalan dapat dijadikan pengalaman oleh seseorang untuk bertindak.

5. Seseorang itu mempunyai reaksi-reaksi senang atau tidak senang Orang-orang jarang bertindak netral mengenai sesuatu hal yang mereka ketahui dan alami, dan mereka cenderung untuk mengevaluasi sesuatu yang mereka alami dengan cara senang atau tidak senang. Selanjutnya, evaluasinya itu merupakan salah satu faktor yang teramat sulit di dalam mempengaruhi perilakunya di masa yang akan datang. Perasaan senang dan tidak senang ini akan menjadikan seseorang berbuat yang berbeda dengan orang lain di dalam rangka menanggapi sesuatu hal. Seseorang bisa puas mendapatkan gaji tertentu karena bekerja di suatu tempat tertentu, orang lain pada tempat yang sama merasa tidak puas. Kepuasan dan ketidakpuasan ini ditimbulkan karena adanya perbedaan dari sesuatu yang diterima dengan sesuatu yang diharapkan seharusnya diterima. Oleh karena itu salah persepsi ini merupakan gejala yang umum dan merupakan bidang yang amat penting diketahui, maka amatlah sulit bagi pimpinan organisasi untuk mendistribusikan beberapa penghargaan seperti misalnya kenaikan gaji dan promosi pada suatu cara yang dapat memberikan kepuasan kepada semua pihak.

6. Banyak faktor yang menentukan sikap dan perilaku seseorang Telah disinggung di atas beberapa yang mempengaruhi bagaimana seseorang itu terangsang untuk berperilaku dan telah ditekankan pula bahwa kemampuan seseorang adalah suatu pengaruh yang amat penting di dalam pelaksanaan pekerjaan. Organisasi sebenarnya bisa mempengaruhi perilaku seseorang dengan cara mengubah satu atau lebih faktor-faktor penentu dari perilaku individu, hanya mudah diubah. Tetapi semuanya terbuka untuk dipengaruhi. Perilaku seseorang itu ditentukan oleh banyak faktor. Adakalanya perilaku seseorang dipengaruhi oleh kemampuannya, ada pula karena kebutuhannya dan ada juga yang karena dipengaruhi oleh pengharapan dan lingkungannya. Oleh karena banyaknya faktor yang mempengaruhi perilaku manusia, maka seringkali sesuatu organisasi akan menghadapi kesulitan di dalam menciptakan suatu keadaan yang memimpin kearah tercapainya efektivitas pelaksanaan kerja. Didapatkan suatu hasil dari penelitian bahwa seseorang dalam organisasinya, perilaku untuk menciptakan efektivitas kerja banyak ditentukan karena kebutuhannya maka pimpinan dapat merancang suatu rencana kerja yang mengarah pada terpenuhinya kebutuhan tersebut. Kalau seandainya disebabkan karena kemampuan karyawan, maka pimpinan dapat merencanakan peningkatan kemampuan tersebut baik dengan jalan latihan jabatan atau disekolahan. Dilihat dari prinsip-prinsip di atas dapat disimpulkan prinsip tersebut berlaku untuk pemimpin begitu pula untuk para pegawai.

Oleh karena itu menurut Sofyandi & Garniwa (2007:4) mengemukakan bahwa perilaku organisasi tidak hanya dilakukan oleh pegawai, namun dapat dilakukan oleh pemimpin sehingga terdapat unsur-unsur yang perlu dipertimbangkan dalam perilaku organisasi :

a. Aspek psikologis tindakan manusia itu sendiri sebagai hasil studi psikologis

b. Adanya bagian lain yang diakui cukup relevan bagi usaha mempelajari tindakan manusia dalam organisasi

c. Perilaku organisasi sebagai suatu disiplin, mengakui bahwa individu dipengaruhi oleh bagaimana organisasi diatur dan siapa yang mengawasi mereka. Oleh sebab itu, struktur organisasi memegang peranan penting dalam membahas perilaku organisasi d. Walau disadari akan adanya keunikan masing-masing individu, perilaku organisasi lebih banyak menekankan pada tuntutan manajer bagi tercapainya tujuan organisasi secara keseluruhan

Selain unsur-unsur tersebut terdapat tiga perbedaan antara perilaku organisasi dengan disiplin lainnya menurut Cummings dalam Thoha (2014:7) yaitu :

a. Perbedaan antara Perilaku Organisasi dengan psikologi organisasi, antara lain : psikologis organisasi membatasi konstruksi penjelasannya pada tingkat psikologi saja, akan tetapi perilaku organisasi konstruksi penjelasannya berasal dari multi disiplin. Keasamaan keduanya ialah kedua bidang tersebut menjelaskan perilaku orang-orang di dalam suatu organisasi.

b. Perbedaan antara Perilaku Organisasi dengan teori organisasi didasarkan pada dua perbedaan antaranya unit analisisnya dan pusat variabel tak bebas. Perilaku organisasi dirumuskan di dalam suatu organisasi dan penerapan dari ilmu pengetahuan tertentu. Teori organisasi adalah studi tentang susunan, proses dan hasil-hasil dari organisasi itu sendiri.

c. Perbedaan antara Perilaku Organisasi dengan Personnel dan Human Resources adalah, bahwa Perilaku Organisasi lebih menekankan pada orientasi konsep, sedangkan Personnel dan Human Resources (P&HR) menekankan pada teknik dan teknologi. Variabel-variabel tak bebas, seperti misalnya tingkah laku dan reaksi-reaksi yang efektif dalam organisasi, seringkali muncul pada keduanya. P&HR nampaknya berada pada permukaan antara organisasi dan individu dengan menekankan pada pengembangan dan pelaksanaan system pengangkatan, pengembangan dan motivasi dari individu-individu di dalam suatu organisasi. Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dalam organisasi akan banyak dijumpai kelompok-kelompok ini. Hampir pada umumnya manusia yang menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat kecenderungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok-kelompok tertentu. Dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa, dan barangkali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain. Mulailah mereka berkelompok dalam organisasi tertentu.

Adapun bentuk-bentuk kelompok itu menurut Thoha (2014:85) yaitu :

a. Kelompok Primer Yaitu kelompok yang disifati dengan adanya keakraban, kerjasama dan hubungan tatap muka dan merupakan dasar dalam pembentukan sifat social dan cita-cita individu.

b. Kelompok Formal dan Informal Kelompok formal adalah suatu kelompok yang sengaja dibentuk untuk melaksanakan sesuatu tugas tertentu. Anggota-anggotanya biasanya diangkat oleh organisasi. Sejumlah orang yang ditetapkan untuk melaksanakan suatu tugas tertentu merupakan  bentuk dari kelompok formal ini. Contoh dari kelompok formal ini antaranya komite atau panitia, unit-unit kerja tertentu seperti bagian laboratorium riset dan pengembangan, tim manajer, dan lain sebagainya. Sedangkan kelompok informal adalah suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Anggota kelompok tidak diatur dan diangkat, keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok. Kelompok informal ini sering timbul berkembang dalam kelompok formal, karena adanya beberapa anggota secara tertentu mempunyai nilai-nilai yang sama yang perlu ditularkan (shared) sesama anggota lainnya.

c. Kelompok Terbuka dan Tertutup Kelompok terbuka adalah suatu kelompok yang secara ajeg mempunyai rasa tanggap akan perubahan dan pembaharuan. Sedangkan kelompok tertutup adalah kecil kemungkinannya menerima perubahan dan pembaharuan, atau mempunyai kcenderungan tetap menjaga kestabilan. Kelompok terbuka berbeda dengan kelompok tertutup dilihat dari empat dimensi berikut ini, yaitu : perubahan keanggotaan kelompok, kerangka referensi, perspektif waktu dan keseimbangan.

d. Kelompok Referensi Suatu kecenderungan yang positif dari perilaku manusia ini ialah adanya usaha untuk mencari umpan balik (feedback) tentang dirinya. Sehingga manusia berkeinginan untuk menilai dirinya, apakah di dalam menjalankan tugas pekerjaan berhasil atau tidak. Kelompok referensi ini ialah setiap kelompok dimana seseorang melakukan referensi atasnya. Orang ini mempergunakan kelompok tersebut sebagai suatu ukuran (standard) untuk evaluasi dirinya dan ata sebagai sumber dari nilai dan sikap pribadinya. Kelompok ini dapat dikatakan memberikan dua fungsi bagi seseorang untuk evaluasi diri. Dua fungsi itu antara lain : fungsi perbandingan sosial (Social Comparison) dan fungsi pengesahan sosial (Social Validation).

Konsep Manajemen Sumber Daya Manusia (skripsi dan tesis)

 

Menurut Sadili Samsudin (2005:22) mengatakan pengertian manajemen sumber daya manusia sebagai berikut : “Manajemen sumber daya manusia (human resources management) adalah suatu kegiatan pengelolaan yang meliputi pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa bagi manusia sebagai individu anggota organisasi atau perusahaan bisnis”. Sedangkan menurut M. Manullang (2004:198) mengemukakan definisi MSDM sebagai berikut : “Manajemen sumber daya manusia adalah seni dan ilmu pengadaan, pengembangan dan pemanfaatan SDM sehingga tujuan perusahaan dapat di realisasikan secara daya guna dan kegairahan kerja dari semua kerja.” Menurut Sadili Samsudin (2005:23) mengemukakan hal-hal penting yang berkenaan dengan manajemen sumber daya manusia, adalah sebagai berikut : a. Penekanan yang lebih dari biasanya terhadap pengintegrasian berbagai kebijakan sumber daya manusia dengan perencanaan. b. Tanggung jawab pengelolaan sumber daya manusia tidak lagi menjadi tanggung jawab manajer khusus, tetapi manajemen secara keseluruhan. c. Adanya perubahan dari hubungan serikat pekerja manajemen menjadi hubungan manajemen karyawan. d. Terdapat aksentuasi pada komitmen untuk melatih para manajer agar dapat berperan optimal sebagai penggerak dan fasilitator

Konsep Administrasi Negara (skripsi dan tesis)

 

Beberapa pengertian dari Administrasi Negara menurut para ahli adalah sebagai berikut : Jhon M Pfiffner dalam buku Public Administration yang dikutip oleh Sukarna (1986:13), mengemukakan : “Administrasi Negara adalah pelaksanaan kebijakan Negara yang telah digariskan oleh badan-badan politik yang representaif”. Leonard D. White dalam buku Introduction of the Study of Public Administration yang dikutip oleh Sukarna (1986:14) mengemukakan : “Administrasi Negara terdiri dari semua/seluruh aktivitas/kegiatan yang brtujuan pemenuhan atau pelaksanaan kebijakan Negara”. Inu Kencana Syafiie (2003:32) mengemukakan ada 7 (tujuh) hal khusus dari administrasi Negara, yaitu : a. Tidak dapat dielakan (unavoidable) b. Senantiasa mengharapkan ketaatan (expect obedience) c. Mempunyai prioritas (has priority) d. Mempunyai pengecualian (has exceptional) e. Puncak pimpinan politik (top management political) f. Sulit diukur (difficult to measure) g. Terlalu banyak mengharapkan dari administrasi publik(more is expected of public administration) Kesimpulan dari pengertian di atas bahwa administrasi Negara adalah suatu kegiatan dan prilaku aparatur negara yang berupa melakukan pelayanan kepada Negara untuk tercapainya sebuah tujuan Negara

Konsep Administrasi (skripsi dan tesis)

Sebagai ilmu pengetahuan administrasi merupakan suatu fenomena masyarakat yang baru, karena baru timbul sebagai suatu cabang daripada ilmuilmu sosial, termasuk perkembangannya di Indonesia, dengan membawa prinsipprinsip yang universal, akan tetapi dalam prakteknya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi Indonesia dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan ilmu administrasi sebagai suatu disiplin ilmiah yang berdiri sendiri. Pada dasarnya administrasi merupakan kegiatan-kegiatan beberapa orang melalui proses kerjasama baik dalam suatu organisasi maupun antar organisasi untuk mencapai tujuan tertentu yang telah ditetapkan bersama sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pengertian administrasi yang di kemukakan oleh menurut Leonard D. White yang dikutip oleh Soewarno Handayaningrat (1981:2), memberikan definisi administrasi sebagai berikut : “Administrasi adalah suatu proses yang pada umumnya terdapat pada semua usaha kelompok, Negara atau swasta, sipil atau militer, usaha yang besar atau kecil dan sebagainya”. H.A Simon dalam bukunya Public Administration yang dikutip oleh Soewarno Handayaningrat memberikan definisi administrasi sebagai berikut : “Administrasi adalah sebagai kegiatan dari pada kelompok yang mengadakan kerjasama untuk menyelesaikan tujuan bersama”. Setelah mengetahui beberapa definisi administrasi, maka Handayaningrat (1981:3) mengemukakan ciri-ciri administrasi yang dapat digolongkan, yaitu: a. Adanya kelompok manusia, yaitu kelompok yang terdiri atas 2 orang atau lebih b. Adanya kerjasama dari kelompok tersebut c. Adanya kegiatan/proses/usaha d. Adanya bimbingan, kepemimpinan dan pengawasan e. Adanya tujuan

Konsep Organisasi (skripsi dan tesis)

Definisi organisasi banyak ragamnya, tergantung pada sudut pandang yang dipakai untuk melihat organisasi. Organisasi dapat dipandang sebagai wadah, sebagai proses, sebagai perilaku, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Namun demikian, definisi organisasi yang telah dikemukakan oleh para ahli organisasi sekurang-kurangnya ada unsur sistem kerja sama, orang yang berkerja sama, dan tujuan bersama yang hendak dicapai. Seperti kita ketahui bahwa manusia dalam memenuhi kebutuhannya tidak bisa berdiri sendiri. Agar kebutuhan itu dapat terpenuhi, manusia harus berorganisasi dalam hal ini merupakan suatu alat organisasi yang diperlukan dalam masyarakat, karena tujuan tertentu hanya dapat dicapai lewat tindakan yang harus dilakukan dengan kerjasama . Ada beberapa pengertian dari beberapa ahli mengenai organisasi. Menurut Mc. Farland yang dikutip oleh Soewarno Handayaningrat (1981:42) menyatakan definisi organisasi adalah sebagai berikut : “Organisasi adalah suatu kelompok manusia yang dapat dikenal yang menyumbangkan usahanya terhadap tercapainya suatu tujuan”. Sedangkan menurut Dimock yang dikutip oleh Soewarno Handayaningrat (1981:42) menyatakan definisi organisasi sebagai berikut : “Organisasi adalah perpaduan secara sistematis daripada bagian bagian yang saling ketergantungan atau berkaitan untuk membentuk  suatu kesatuan yang bulat melalui kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang telah di tentukan”.

Dari penjelasan diatas maka organisasi merupakan sarana atau alat bagi orang-orang dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diharapkan yang di dalamnya terdapat hubungan kerja yang saling berhubungan satu sama lain. Berdasarkan definisi-definisi diatas Soewarno Handayaningrat (1981:43) menyatakan ciri-ciri organisasi sebagai berikut : 1. Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal. 2. Adanya kegiatan yang berbeda-beda tapi satu sama lain saling berkaitan. 3. Tiap-tiap anggota memberikan sumbangan usahanya ataupun tenaganya. 4. Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan. 5. Adanya suatu tujuan. Berdasarkan teori-teori diatas maka pada dasarnya didalam suatu organisasi terdapat pola-pola hubungan yang saling berkaitan satu sama lain dan setiap individu dalam organisasi tersebut harus mampu menyumbangkan usahanya dalam proses pencapaian tujuan organisasi. Dalam organisasi setiap individu dituntut untuk memiliki kemampuan sumber daya manusia karena faktor utama dari organisasi adalah sumber daya manusia

Kinerja Keuangan dan Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)

Kinerja keuangan dianggap salah satu indikator yang penting dalam menilai baik buruknya perusahaan. Hal tersebut disebabkan oleh kinerja keuangan merupakan penilaian kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisis terhadap rasio keuangan (Dwipartha, 2012). Penilaian kondisi keuangan dapat dilihat dari data laporan keuangan yang dipublikasi. Dengan adanya transparansi data laporan keuangan perusahaan, investor akan dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Menurut Harahap dalam mahendra (2012), laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan merupakan cerminan dari kinerja keuangan perusahaan. Informasi keuangan tersebut mempunyai fungsi sebagai sarana informasi, alat pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik perusahaan, penggambaran terhadap indikator keberhasilan perusahaan dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Menurut Mahendra (2012) Para pelaku pasar modal seringkali menggunakan informasi tersebut sebagai tolakukur atau pedoman dalam melakukan transaksi jual-beli saham suatu perusahaan. Apabila perusahaan dapat memaksimalkan kegiatan operasional dengan memanfaatkan aset yang dimiliki dengan efektif dan efisien perusahaan akan memperoleh keuntungan. Hal tersebut akan menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan semakin baik 27 sehingga investor akan tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan. Tingginya minat investor akan berakibat positif berupa naiknya harga saham yang selanjutnya akan berdampak pada meningkatnya nilai perusahaan. Pada penelitian Mardiyati dkk. (2012) dan Himatul (2014) kinerja keuangan berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan

Kebijakan Investasi dan Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)

Kebijakan investasi merupakan keputusan dalam menanamkan dana dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dengan tingkat risiko tertentu. Pencapaian tujuan tersebut hanya akan dihasilkan melalui kegiatan investasi perusahaan yang dapat memberikan sinyal tentang pertumbuhan pendapatan perusahaan yang diharapkan di masa mendatang. Sesuai dengan Signaling theory, peluang investasi memberikan sinyal positif mengenai pertumbuhan perusahaan di masa mendatang, sehingga dapat meningkatkan harga saham sebagai   indikator nilai perusahaan. Menurut Fama dalam Wijaya dkk. (2010), nilai perusahaan semata-mata ditentukan oleh keputusan investasi. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa kebijakan investasi merupakan salah satu keputusan yang penting dalam fungsi keuangan perusahaan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wijaya dkk. (2010) mengatakan bahwa keputusan investasi yang diambil oleh perusahaan mencerminkan kesempatan investasi di masa yang akan datang (investment opportunity). Myers (1977) memperkenalkan Investment Opportunity Set (IOS) pada studi yang dilakukan dalam hubungannya dengan keputusan investasi dimana IOS memberikan petunjuk yang lebih luas dengan nilai perusahaan tergantung pada pengeluaran perusahaan di masa mendatang. IOS didefinisikan sebagai kombinasi antara aktiva yang dimiliki (assets in place) dan pilihan investasi di masa yang akan datang dengan net present value positif. (Wijaya dkk., 2010). Apabila perusahaan dapat memaksimalkan kegiatan operasional dengan memanfaatkan aset yang dimiliki maka perusahaan akan mendapatkan keuntungan. Hal tersebut akan direspon positif oleh para investor dimana investor akan membeli saham perusahaan. Semakin banyak investor yang berinvestasi pada perusahaan akan menyebabkan harga saham perusahaan naik dan akan berdampak pada meningkatnya nilai perusahaan. Pada penelitian Qureshi (2006), Wijaya dkk. (2010), Sari (2013), dan Himatul (2014) menyatakan bahwa kebijakan investasi berpengaruh terhadap nilai perusahaan

Pengaruh Kebijakan Hutang Terhadap Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)

Kebijakan hutang merupakan keputusan pendanaan perusahaan yang bersumber dari dana eksternal perusahaan. Perusahaan dengan hutang yang tinggi adalah perusahaan yang memiliki kemungkinan nilai perusahaan yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki hutang yang rendah maupun perusahaan yang tidak memiliki hutang. Menurut Brigham dan Houston dalam Wijaya dkk (2010), peningkatan hutang diartikan oleh pihak luar tentang kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban di masa yang akan datang atau adanya risiko bisnis yang rendah, hal ini akan direspon positif oleh pasar. Kebijakan hutang berkaitan dengan struktur modal karena hutang merupakan salah satu komposisi dalam struktur modal. Dalam pandangan tradisional menyatakan bahwa struktur modal dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Salah satu teori yang mewakili pandangan tradisional yaitu Trade-off Theory. Dalam Trade-off Theory struktur modal yang optimal memasukkan beberapa faktor lain yaitu pajak, biaya keagenan, dan biaya kesulitan keuangan. Tingkat hutang yang optimal tercapai pada saat penghematan pajak mencapai jumlah yang maksimal terhadap kesulitan keuangan tetapi tetap 24 mempertahankan asumsi efesiensi pasar dan asimetri informasi sebagai pertimbangan penggunaan hutang. Sesuai dengan Trade off theory semakin tinggi tingkat hutang yang dimiliki perusahaan menandakan bahwa semakin baik perusahaan tersebut dalam membayar kembali hutangnya. Hal ini akan menarik minat para investor untuk menanamkan dananya dalam bentuk hutang yang akan digunakan untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan. Tingginya minat investor di sini dapat berakibat positif berupa naiknya harga saham yang akan berdampak pada meningkatnya nilai perusahaan. Pada penelitian Murhardi (2008), Sudiyatno dan Puspitasari (2010), dan Wijaya dkk. (2010) menyatakan bahwa kebijakan hutang berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan

Pengaruh Kebijakan Dividen Terhadap Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)

 

Pada penelitian Mardiyati dkk. (2012) menemukan bahwa kebijakan dividen sering dianggap sebagai signal bagi investor dalam menilai baik buruknya perusahaan. Menurut signaling theory, investor menganggap cash dividend yang dibayarkan oleh perusahaan merupakan signal prospek perusahaan di masa mendatang. Perusahaan yang merasa bahwa prospek di masa mendatang baik akan meningkatkan pembayaran dividennya, sehingga pasar akan merespon positif mengenai kenaikan dividen tersebut. Hal ini dikarenakan pengumuman kenaikan dividen dapat dijadikan penangkal isu yang tidak diharapkan oleh perusahaan di masa mendatang. Dalam Bird in the hand tehory menjelaskan bahwa investor lebih menyukai dividen dibayarkan tinggi karena dianggap dapat mengurangi risiko ketidakpastian dibanding dengan capital gain. Tingginya dividen yang dibayarkan oleh perusahaan mencerminkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tinggi sehingga investor akan tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan. Tingginya minat investor akan berakibat positif berupa naiknya harga saham yang akan berdampak pada meningkatnya nilai perusahaan. Sesuai dengan kebijakan dividen relevan, perusahaan bersedia membayar dividen yang besar kepada para investor karena dapat meningkatkan nilai perusahaan. Pada penelitian Wijaya dkk. 23 (2010), Sari (2013), dan Ustiani (2015) menyatakan bahwa dividen berpengaruh postif terhadap nilai perusahaan

Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Kinerja Keuangan merupakan penilaian kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisis terhadap rasio keuangan (Dwipartha dan Made, 2013). Selain itu, kinerja keuangan juga merupakan salah satu bagian dari kinerja perusahaan. Kinerja perusahaan adalah hasil kegiatan operasional perusahaan. Kegiatan operasional di dalam laporan keuangan ditunjukkan oleh pencapaian laba bersih. Laba merupakan selisih antara revenue dengan expenses. Dalam mengelola perusahaan manajer akan berusaha memaksimalkan revenue dan menekan expenses. Kegiatan memaksimalkan revenue disebut juga peningkatan profitabilitas, sedangkan menekan expenses disebut juga peningkatan efisiensi (Christiawan dan Tarigan, 2007). Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam kegiatan operasinya merupakan fokus utama dalam penilaian prestasi perusahaan. Menurut Harahap (2004) dalam mahendra (2012) kinerja keuangan perusahaan merupakan salah satu faktor yang dilihat oleh calon investor untuk menentukan investasi saham. Bagi sebuah 19 perusahaan, menjaga dan meningkatkan kinerja keuangan adalah suatu keharusan agar saham tersebut tetap eksis dan tetap diminati oleh investor. Laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan merupakan cerminan dari kinerja keuangan perusahaan. Informasi keuangan tersebut mempunyai fungsi sebagai sarana informasi, alat pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik perusahaan, penggambaran terhadap indikator keberhasilan perusahaan dan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan . Menurut Mahendra (2012) Para pelaku pasar modal seringkali menggunakan informasi tersebut sebagai tolak-ukur atau pedoman dalam melakukan transaksi jual-beli saham suatu perusahaan

Kebijakan Investasi (skripsi dan tesis)

 

Menurut Jogiyanto kebijakan investasi adalah penanaman modal dengan harapan akan memperoleh keuntungan di masa yang  akan datang (Himatul, 2014). Kebijakan investasi merupakan faktor penting dalam fungsi keuangan perusahaan. Fama (1978) menyatakan bahwa nilai perusahaan semata-mata ditentukan oleh kebijakan investasi. Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa kebijakan investasi itu penting, karena untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu memaksimumkan kemakmuran pemegang saham hanya akan dihasilkan melalui kegiatan investasi perusahaan (Hidayat, 2010). Tujuan kebijakan investasi adalah memperoleh tingkat keuntungan yang tinggi dengan tingkat risiko tertentu. Keuntungan yang tinggi disertai dengan risiko yang bisa dikelola, diharapkan akan menaikkan nilai perusahaan, yang berarti menaikkan kemakmuran pemegang saham. Dengan kata lain, bila dalam berinvestasi perusahaan mampu menghasilkan keuntungan dengan menggunakan sumber daya perusahaan secara efisien, maka perusahaan akan memperoleh kepercayaan dari calon investor untuk membeli sahamnya. Dengan demikian semakin tinggi keuntungan perusahaan semakin tinggi nilai perusahaan. Yang berarti semakin besar kemakmuran yang akan diterima oleh pemilik perusahaan (Hidayat, 2010). Myers (1977) dalam Wijaya dkk.. (2010) memperkenalkan Investment Opportunity Set (IOS) pada studi yang dilakukan dalam hubungannya dengan keputusan investasi. IOS memberikan petunjuk yang lebih luas dengan nilai perusahaan tergantung pada pengeluaran 18 perusahaan di masa yang akan datang, sehingga prospek perusahaan dapat ditaksir dari Investment Opportunity Set. IOS didefinisikan sebagai kombinasi antara aktiva yang dimiliki (assets in place) dan piliha investasi di masa yang akan datang dengan net present value positif

Kebijakan Hutang (skripsi dan tesis)

 

Kebijakan hutang merupakan suatu keputusan untuk menggunakan hutang sebagai sumber pendanaan. Ada beberepa teori mengenai kebijakan hutang terkait dengan nilai perusahaan. 15 a. Pendekatan Modigliani dan Miller (MM) Pada awal tahun 1960-an kedua ekonom memasukkan faktor pajak ke dalam analisis mereka. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa nilai perusahaan dengan hutang lebih tinggi dibandingkan nilai perusahaan tanpa hutang. Kenaikan nilai tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak dari penggunaan hutang. b. Trade Off Theory Menurut teori trade off nilai perusahaan dengan hutang akan semakin meningkat dengan meningkatnya hutang. Tetapi nilai tersebut mulai menurun pada titik tertentu. Pada titik tersebut, tingkat hutang merupakan tingkat yang optimum. c. Packing Order Theory Teori packing order manajer keuangan tidak memperhitungkan tingkat hutang yang optimal. Kebutuhan dana ditentukan oleh kebutuan investasi. Jika ada kesempatan, maka perusahaan akan mencari dana untuk mendanai kebutuhan investasi tersebut. d. Pendekatan Teori Keagenan (Agency Approach) Menurut pendekatan ini, struktur modal disusun sedemikian rupa untuk mengurangi konflik antar berbagai kelompok kepentingan. Jika manajemen tidak mempunyai saham di perusahaan, maka ketrlibatan manajer akan semakin berkurang. Dalam situasi tersebut manajer akan cenderung mengammbil tindakan yang tidak sesuai dengan kepentingan para pemegang saham. Konflik  16 antara pemegang saham dengan manajer adalah konsep free-cash flow. Ada kecenderungan manajer ingin menahan sumber daya (termasuk free-cash flow) sehingga mempunyai kontrol atas sumber daya tersebut. Hutang bisa dianggap sebagai cara untuk mengurangi konflik keagenan free-cash flow tersebut. Jika perusahaan menggunakan hutang, maka manajer akan dipaksa untuk mengeluarkan kas dari perusahaan. Jika manajer tidak membayar bunga tersebut, manajer bisa mengalami kebangkrutan. e. Teori signaling Ross (1977) mengembangkan model dimana struktur modal (penggunaan hutang) merupakan sinyal yang disampaikan oleh manajer ke pasar. Jika manajer mempunyai keyakinan bahwa prospek perusahaan baik, dan karenanya ingin agar harga saham meningkat, ia ingin mengomunikasikan hal tersebut ke investor. Perusahaan yang meningkatkan hutang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin dengan prospek perusahaan di masa mendatang. Investor diharapkan akan menangkap signal tersebut, signal bahwa perusahaan mempunyai prospek yang baik. Dengan demikian hutang merupakan tanda atau signal positif

Kebijakan Dividen (skripsi dan tesis)

 

Kebijakan dividen merupakan suatu keputusan dimana laba yang diproleh akan diberikan kepada para pemegang saham ataukah akan disimpan dalam bentuk laba ditahan sebagai modal investasi jangka panjang. Menurut Mardiyati dkk.. (2012) kebijakan dividen sering dianggap sebagai signal bagi investor dalam menilai baik buruknya perusahaan, hal ini disebabkan karena kebijakan dividen membawa pengaruh terhadap harga saham perusahaan. Beberapa faktor dalam kebijakan dividen yaitu kesempatan investasi, profitabilitas dan likuiditas, akses ke pasar keuangan, stabilitas pendapatan serta pembatasan-pembatasan. Ada beberapa teori mengenai kebijakan dividen terhadap nilai perusahaan : a. Kebijakan Dividen Tidak Relevan Miller dan Modigliani (1961) mengajukan argumen bahwa kebijakan dividen tidak relevan. Ada beberapa asumsi yang dikemukakan oleh dua ekonom tersebut yaitu : 1) Tidak ada pajak atau biaya lainnya. Pelaku pasar tidak bisa mempengaruhi harga sekuritas. Pasar diasumsikan sempurna (perfect). 2) Semua pelaku pasar mempunyai pengharapan yang sama terhadap investasi, keuntungan, dan dividen di masa datang.

Pengharapan investor dikatakan homogen.  3) Kebijakan investasi ditentukan lebih dulu, kebijakan dividen tidak mempengaruhi kebijakan investasi. b. Kebijakan Dividen yang Relevan 1) Bird In the Hand Theory mengasumsikan bahwa pembayaran dividen mengurangi ketidakpastian, yang berarti mengurangi risiko, yang pada giliran selanjutnya mengurangi tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh pemgang saham. Ada beberapa argumen yang mendukung pembayaran dividen dibayar tinggi. Myor dan John Litner berpendapat bahwa biaya modal saham (ks) akan naik karena investor merasa lebih pasti dengan pendapatan dividen dibandingkan pendapatan capital gain. 2) Dividen Dibayar Rendah Pada teori ini nerpendapat bahwa sebaiknya dividen dibayar rendah. Variabel pajak dan flotation cost mendasari argumen tersebut. Di negara tertentu, pajak untuk capital gain lebih rendah dibandingkan dengan pajak untuk dividen. Di samping itu, pajak atas capital gain akan efektif jika capital gain tersebut direalisir. Dengan kata lain pajak efektif atas capital gain bias ditunda. Sedangkan pajak dividen akan dibayarkan pada saat dividen diterima. Berdasarkan argument tersebut, dividen akan dibayar rendah karena akan menghemat pajak. Jika perusahaan membayarkan dividen dan 11 kemudian menerbitkan saham, maka perusahaan akan mengeluarkan biaya emisi saham. Biaya modal saham eksternal lebih besar dibandingkan biaya modal internal, karena adanya biaya emisi, biaya transaksi, dan biaya underpricing saham. Oleh karena itu, perusahaan akan lebih baik membayarkan dividen rendah sehingga tidak harus menerbitkan saham baru (Hanafi, 2014). c. Isi Informasi Dividen ( Information Content of dividend) Menurut Hanafi (2014) ada kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman kenaikan dividen, dan harga saham akan turun jika ada pengumuman penurunan dividen. Dividen itu sendiri tidak menyebabkan kenaikan (penurunan) harga, tetapi prospek perusahaan, yang ditunjukkan oleh meningkatnya (menurunnya) dividen yang dibayarkan, yang menyebabkan perubahan harga saham. Teori tersebut dikenal sebagai teori signal atau isi informasi dari dividen. Menurut teori signaling tersebut, dividen dipakai sebagai signal oleh perusahaan. Jika perusahaan merasa bahwa prospek di masa mendatang baik, pendapatan, aliran kas diharapkan meningkat atau diperoleh pada tingkat dimana dividen yang meningkat tersebut bisa dibayarkan, maka perusahaan akan meningkatkan dividen. Pasar akan merespon positif pengumuman kenaikan dividen tersebut. Jika perusahaan 12 di masa mendatang menurun, perusahaan akan menurunkan pembayaran dividennya. Pasar akan merespon negatif pengumuman tersebut. Menurut teori tersebut, dividen mempunyai kandungan informasi, yaitu propek perusahaan di masa mendatang. d. Efek Klien (Clientele Effect) Kebijakan dividen seharusnya ditujukan untuk memenuhi kebuthan segmen investor tertentu. Menurut Hanafi (2014) kebijakan dividen yang berubah-ubah akan mengacaukan efek klien tersebut, menyebabkan harga saham berubah. Clientele effect adalah kecenderungan perusahaan untuk menarik jenis investor yang menyukai kebijakan dividennya. Argumen Miller dan Modigliani menyatakan bahwa suatu perusahaan menetapkan kebijakan pembagian dividen khusus, yang selanjutnya menarik sekumpulan peminat atau clientele yang terdiri dari para investor yang menyukai kebijakan dividen khusus tersebut (Weston dan Brigham dalam Mardiyati dkk., 2012). Kebijakan dividen berpengaruh atas sikap para investor. Para pemegang saham memandang negatif perusahaan yang memotong dividen, karena pemotongan seperti itu mereka mengaitkan pada kesulitan keungan. Dalam menetapkan suatu kebijakan deviden, manajer keuangan harus menentukan dan memenuhi sasaran pemilik; bila tidak, para pemegang saham dapat 13 menjual saham mereka, yang pada gilirannya mendorong harga saham ke bawah. Ketidakpuasan pemegang saham membuka kemungkinan kendali perusahaan direbut oleh kelompok di luar perusahaan. Kebijakan dividen berdampak pada program pendanaan dan anggaran modal perusahaan. Kebijakan dividen juga mempengaruhi arus kas perusahaan. Perusahaan dengan kedudukan likuiditas buruk dapat dipaksa untuk membatasi pembayaran dividennya. Kebijakan tersebut menurunkan ekuitas pemegang saham karena dividen dibayar dari laba yang ditahan. Hal ini mengakibatkan rasio hutang terhadap ekuitas menjadi lebih tinggi. Suatu penambahan dalam laba perusahaan tidak secara otomatis manaikkan dividen, biasanya ada kesenjangan waktu antara peningkatan laba dan pembayaran dividen lebih tinggi. Hanya apabila manajer keuangan merasa optimis bahwa peningkatan laba itu akan berlanjut maka ia akan menaikkan dividen.bila dividen itu dinaikkan, dividen itu harus terus berlanjut diberikan pada tingkat lebih tinggi karena pemegang saham sudah terbiasa dengan tingkat itu dan bereaksi negatif terhadap penurunan dalam pembayaran. 14 e. Teori Dividen Residual (Residual Theory Of Dividend) Menurut Hanafi (2014) perusahaan menetapkan kebijakan dividen setelah semua investasi yang menguntungkan habis dibiayai. Dengan kata lain, dividen yang dibayarkan merupakan sisa (residual) setelah semua usulan investasi yang menguntungkan habis dibiayai. Menurut teori tersebut manajer akan akan melakukan langkah-langkah berikut ini. 1) Menetapkan penganggaran modal yang optimum. Semua usulan investasi yang mempunyai NPV yang positif akan diterima. 2) Menentukan jumlah saham yang diperlukan untuk membiayai investasi baru tersebut sambil menjaga struktur modal yang ideal. 3) Menggunakan dana internal untuk mendanai kebutuhan dana dari saham tersebut. 4) Membayarkan dividen hanya jika ada sisa dari dana internal, setelah semua usulan investasi dengan NPV positif didanai.

Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)

Nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan saat ini. Masyarakat menilai dengan bersedia membeli saham perusahaan dengan harga tertentu sesuai dengan persepsi dan keyakinannya. Meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi, yang sesuai dengan keinginan para pemiliknya, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat (Sudiyatno,2010). Silveira dan Barros (2007) mendefinisikan nilai perusahaan sebagai apresiasi/penghargaan investor terhadap sebuah perusahaan. Nilai tersebut tercermin pada harga saham perusahaan. Investor yang menilai perusahaan memiliki prospek yang baik di masa depan akan cenderung membeli saham perusahaan tersebut. Akibatnya permintaan saham yang tinggi menyebabkan harga saham meningkat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa harga saham yang meningkat menunjukan bahwa investor memberikan nilai yang tinggi terhadap perusahaan. 7 8 Dengan meningkatnya harga saham pemegang saham akan mendapatkan keuntungan melalui capital gains. Aspek utama yang menyebabkan investor memberikan nilai lebih terhadap perusahaan adalah kinerja perusahan yang tercermin dalam angka laba. Secaca umum investor menilai laba yang tinggi menunjukan prospek yang baik di masa depan. Laba yang tinggi menunjukan efektifitas dan efisiensi dalam pengelolaan perusahaan. Namun demikian, investor tidak semata-mata menilai angka laba yang dilaporkan perusahaan namun juga menilai bagaimana laba itu dilaporkan (secara prinsip akuntansi) dan bagaimana tata kelola perusahaan (corporate governance) sehingga dapat menghasilkan angka laba yang seperti tercantum dalam laporan keuangan (Nuraina, 2012). Apabila perusahaan diperkirakan sebagai perusahaan yang mempunyai prospek pada masa yang akan datang, maka nilai sahamnya menjadi tinggi. Sebaliknya, apabila perusahaan dinilai kurang memiliki prospek maka harga saham menjadi rendah (Usunariyah dalam Mardiyati dkk., 2012). Menurut Hasnawati (2005) nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi. Untuk mencapai nilai perusahaan umumnya para pemodal menyerahkan pengelolaannya kepada para profesional (Himatul, 2014).

Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Devidend Per Share (DPS), dan Return On Asset (ROA) terhadap Harga Saham (skripsi dan tesis)

 

Debt to Equity Ratio (DER) memiliki pengaruh yang negatif terhadap harga saham sebab Debt to Equity Ratio (DER) yang semakin tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan tidak mampu mengelola hutang secara baik dengan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Brealey, Myers dan Marcus (2010:7) menyebutkan jelas bahwa utang juga dapat meningkatkan atau mengurangi tingkat pengembalian bagi pemegang ekuitas, dalam masa sulit tingkat pengembalian bagi pemegang ekuitas berkurang melalui penggunaan utang tetapi jika terjadi sebaliknya tingkat pengembalian meningkat, hal ini lah yang berdampak terhadap harga saham. Sedangkan Earning Per Share (EPS), Devidend Per Share (DPS), dan Return On Asset (ROA) secara individu berpengaruh positif terhadap harga saham. Earning Per Share (EPS) yang tinggi akan meningkatkan minat investor terhadap suatu saham sehingga permintaan akan saham inilah yang akan mengakibatkan harga saham juga akan ikut naik. Earning Per Share (EPS) yang  53 tinggi memberikan arti seberapa besar jumlah keuntungan yang diperoleh investor setiap lembar sahamnya. Seperti yang dikemukakan oleh Dharmastuti (2004:19) bahwa Earning Per Share (EPS) merupakan salah satu indikator dari keberhasilan perusahaan. Earning Per Share (EPS) adalah laba perlembar yang merupakan keuntungan yang dapat dihasilkan dari perubahan setiap unit selama periode tertentu. Apabila Earning Per Share (EPS) mengalami kenaikan maka kemungkinan akan diikuti oleh kenaikan harga saham perusahaan tersebut, hal ini terjadi karena pergerakkan harga saham dipengaruhi pendapatan perlembar saham, sedangkan laba perlembar saham dipengaruhi oleh pendapatan dari perusahaan. Peningkatan Earning Per Share (EPS) menandakan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan kemakmuran para investor. Begitupun Devidend Per Share (DPS) yang tinggi akan membuat investor bereaksi atau merespon perusahaan dengan baik karena apabila deviden yang dibagikan tinggi maka harga saham perusahaan tersebut naik, karena investor menganggap dengan adanya pengumuman pembagian deviden perusahaan tersebut memberi sinyal bahwa mereka memiliki prosepek usaha yang baik di masa yang akan datang dan menunjukkan kemampuan pengelolaan perusahaan yang baik. Dan dari hal tersebut akan mendorong investor untuk menambah jumah modal yang ditanamkan pada perusahaan. Dan Return On Asset (ROA) yang tinggi juga akan meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya terhadap suatu saham perusahaan karena berarti perusahaan tersebut semakin produktif dan semakin efektif menggunakan 54 aktiva yang dimilikinya untuk menghasilkan laba, laba yang meningkat juga akan meningkatkan tingkat pengembalian kepada investor

Kegunaan Return On Asset (ROA) (skripsi dan tesis)

 

Return On Asset (ROA) berguna untuk keperluan kontrol untuk keperluan perencanaan, misalnya Return On Asset (ROA) dapat digunakan sebagian dasar 52 untuk pengembalian keputusan jika perusahaan akan mengadakan ekspansi. Return On Asset (ROA) juga dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan perusahaan (Munawir, 2014)

Return On Asset (ROA) (skripsi dan tesis)

Menurut Mohamad Samsul (2015:174) mengemukakan Return On Asset (ROA) sebagai berikut: “Return On Asset (ROA) yaitu rasio perbandingan antara laba usaha (operating profit) terhadap total aset. Return diartikan sebagai laba usaha alih-alih laba bersih. Hal ini dikarenakan laba usaha diperoleh dari kegiatan normal perusahaan.” Menurut Harahap (2010:305): “Return On Asset (ROA) menggambarkan perputaran aktiva diukur dari penjualan. Semakin besar rasio ini, maka semakin baik dan hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba. Jadi, semakin tinggi persentase rasio Return On Asset (ROA), maka semakin baik penggunaan aset secara efisien unuk memperoleh keuntungan bersih dalam kegiatan operasional perusahaan. Hal ini selanjutnya meningkatkan daya tarik perusahaan yang menjadikan perusahaan tersebut makin diminati investor, karena tingkat perolehan pengembalian atas investasi aset akan semakin besar. Sebaliknya, semakin rendah persentase rasio ini dari rasio rata-rata maka daya tarik investor semakin menurun, karena membuat tingkat perolehan pengembalian atas investasi akan semakin kecil.” Return On Asset (ROA) merupakan komponen penting yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan. Informasi Return On Asset (ROA) berfungsi untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba  dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Informasi Return On Asset (ROA) juga merupakan informasi yang dianggap mendasar dan berguna karena merupakan indikator keberhasilan perusahaan di masa lalu dan harapana di masa yang akan datang. Return On Asset (ROA) termasuk dalam rasio keuangan perusahaan yang berhubungan dengan aspek earning atau profitabilitas. Semakin tinggi Return On Asset (ROA) akan semakin tinggi pula keuntungan dihasilkan perusahaan, yang akan menjadikan investor tertarik akan nilai saham. Apabila dikaitkan dengan harga saham, maka semakin tinggi Return On Asset (ROA) semakin tinggi pula harga saham perusahaan tersebut karena tingkat keuntungan yang tinggi. Selain untuk mengukur tingkat keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, Return On Asset (ROA) kerap kali dipakai oleh manajemen puncak untuk mengevaluasi unit-unit bisnis di dalam suatu perusahaan multidivisional. Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Return On Asset (ROA) merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan semua aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Return On Asset (ROA) menunjukkan keefisienan perusahaan dalam mengelola seluruh aktivanya untuk memperoleh pendapatan. Return On Asset (ROA) dapat dijadikan indikator untuk mengetahui seberapa mampu perusahaan memperoleh laba yang optimal dilihat dari posisi aktivanya

Kegunaan Devidend Per Share (DPS) (skripsi dan tesis)

Seorang investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan akan memperoleh dividen atau Nor Hadi (2015:126) menyebutkan: Dividen merupakan keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham yang bersumber dari kemampuan emiten mencetak laba bersih dari operasinya sehingga laba biasanya menjadi dasar penentuan pembayaran dividen karena dividen merupakan bagian laba dari perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dan juga dapat mempengaruhi kenaikan nilai saham di masa mendatang. Oleh karena itu, para pemegang saham biasanya tertarik dengan angka EPS yang dilaporkan perusahaan

Devidend Per Share (DPS) (skripsi dan tesis)

Menurut I Made Sudana (2015:106) mengemukakan Devidend Per Share (DPS) sebagai berikut: “Devidend Per Share (DPS) yaitu total deviden yang dibagikan pada tahun buku sebelumnya, deviden saham merupakan pembayaran deviden dibagi jumlah saham beredar dalam bentuk saham kepada pemegang saham, deviden dari sudut pandang perusahaan tidak lebih dari rekapitulasi perusahaan, artinya pembagian deviden saham tidak mengubah jumlah modal perusahaan, tetapi hanya terjadi perubahan struktur modalnya saja.” Deviden saham hanya menunjukkan perubahan pembukuan dalam perkiraan ekuitas pemegang saham pada neraca perusahaan. Proporsi kepemilikan saham dalam perusahaan tetap sama. Akuntansi membedakan deviden saham menjadi deviden saham persentase kecil dan deviden saham persentase besar. Salah satu yang menjadi alasan investor berinvestasi adalah mengharapakan pengembalian dalam bentuk deviden yang dibagikan perusahaan kepada pemegang saham, maka pihak manajemen perusahaan perlu memperhatikan kebijakan deviden yang akan diterapkan dalam rangka menarik minat investor saham. Ini menjadi kebijakan perusahaan pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dimana diputuskan apakah perusahaan pada periode tersebut akan membagikan deviden atau menahannya, tentunya perusahaan 49 mempunyai alasan yang jelas dalam pengambilan keputusan ini karena apabila perusahaan terus-menerus menahan pembagian deviden mereka, hal ini akan berpengaruh kepada jumlah investor mereka. Devidend Per Share (DPS) menggambarkan besarnya jumlah pendapatan per lembar saham yang akan disistribusikan pada para pemegang saham biasa. Devidend Per Share (DPS) merupakan rasio yang mengukur sebarapa besar deviden yang dibagikan dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar pada tahun tertentu

Kegunaan Earning Per Share (EPS) (skripsi dan tesis)

Seorang investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan akan memperoleh dividen atau Nor Hadi (2015:126) menyebutkan: Dividen merupakan keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham yang bersumber dari kemampuan emiten mencetak laba bersih dari operasinya sehingga laba biasanya menjadi dasar penentuan pembayaran dividen karena dividen merupakan bagian laba dari perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham dan juga dapat mempengaruhi kenaikan nilai saham di   masa mendatang. Oleh karena itu, para pemegang saham biasanya tertarik dengan angka EPS yang dilaporkan perusahaan. Eduardus (2010: 365) mengemukakan: “Bagi para investor, informasi EPS merupakan informasi yang dianggap paling mendasar dan berguna, karena bisa menggambarkan prospek earning perusahaan dimasa depan”. Hal inilah yang menjadi pemicu naiknya penawaran terhadap suatu saham, sehingga memungkinkan harga saham cenderung berubah-ubah. Ryan dan William (2017:166) menyebutkan: “Kinerja suatu perusahaan yang mencapai target atau melebihi menjadi sebuah rapor bagus apalagi pada saat itu harga sahamnya memiliki EPS yang juga menarik. Hal itu menajadi dua poin baik dalam keputusan berinvestasi ataupun menambah jumlah saham.” Dengan meningkatnya harga saham perusahaan, maka return saham yang akan diperoleh investor juga akan semakin tinggi. Jika nilai EPS naik maka harga saham mengalami kenaikan, return sahamnya juga mengalami kenaikan. Pendapatan per saham (Earning per share/EPS) perusahaan biasanya menjadi perhatian pemegang saham pada umumnya atau calon pemegang saham dan manajemen

Earning Per Share (EPS) (skripsi dan tesis)

 

Earning Per Share (EPS) merupakan komponen penting pertama yang harus diperhatikan dalam analisis perusahaan. Informasi Earning Per Share (EPS) suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan untuk semua pemegang saham perusahaan.Menurut Kasmir (2017:207): “Earning Per Share (EPS) adalah laba bersih yang dibagikan kepada pemegang saham dibagi jumlah lembar saham perusahaan, rasio laba per saham atau disebut juga rasio nilai buku merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan bagi pemegang saham. Rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi kesejahteraan pemegang saham meningkat.” Menurut Nor Hadi (2015:134) “Earning Per Share (EPS) adalah perbandingan antara laba bersih setelah pajak pada tahun buku terhadap saham yang diterbitkan perusahaan.” Dengan demikian, laba per lembar saham (EPS) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dan mendistribusikan laba yang diraih perusahaan kepada pemegang saham. Laba per lembar saham (EPS) dapat dijadikan sebagai indikator tingkat nilai peusahaan. Eduardus (2010:365) Pada umumnya manajemen perusahaan, pemegang saham biasa dan calon pemegang saham sangat tertarik pada Earning Per Share (EPS), karena hal ini menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham biasa dan menggambarkan prospek Earning perusahaan di masa depan. Para calon pemegang saham tertarik dengan Earning Per Share (EPS) yang besar, karena hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu perusahaan. Dengan meningkatnya harga saham perusahaan, maka return saham yang akan diperoleh investor juga akan semakin tinggi. Jika nilai Earning Per Share (EPS) naik maka harga saham mengalami kenaikan, return sahamanya juga mengalami kenaikan. Pendapatan per saham perusahaan biasanya menjadi 45 perhatian pemegang saham pada umunya atau calon pemegang saham dan manajemen. Secara singkat penulis dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai Earning Per Share (EPS) tentu saja akan menyenangkan pemegang saham, karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham. Besarnya Earning Per Share (EPS) suatu perusahaan bisa diketahui dari informasi laporan keuangan perusahaan langsung atau dapat dihitung berdasarkan laporan neraca dan laporan laba rugi perusahaan. Kadang-kadang pada laporan keuangan terdapat dua Earning Per Share (EPS), yaitu „EPS dasar‟ dan „EPS dilusi. Jikalau begitu, ambil „EPS dilusi‟ karena EPS dilusi adalah Earning Per Share (EPS) yang dihitung berdasarkan jumlah saham terbaru, sebab jumlah saham yang beredar sebuah emiten bisa saja berubah dari waktu ke waktu, karena right issue dan lain-lain. Informasi Earning Per Share (EPS) merupakan informasi yang dianggap paling mendasar dan berguna, karena merupakan indikator keberhasilan perusahaan di masa yang lalu dan harapan di masa yang akan datang, namun Earning Per Share (EPS) juga bukan satu-satunya alat penilai keberhasilan perusahaan. Menurut Brigham dan Houston (2010:23), faktor-faktor penyebab kenaikan dan penurunan Earning Per Share (EPS) adalah: 1. Faktor penyebab kenaikan Earning Per Share (EPS): a. Laba bersih naik dan jumlah lembar saham biasa yang beredar tetap. b. Laba bersih tetap dan jumlah lembar saham biasa yang beredar turun. c. Laba bersih naik dan jumlah lembar saham biasa yang beredar turun. 46 d. Persentase kenaikan laba bersih lebih besar dari pada persentase kenaikan jumlah lembar saham biasa yang beredar. e. Persentase penurunan jumlah lembar saham biasa yang beredar lebih besar dari pada persentase penurunan laba bersih. 2. Sedangkan penurunan Earning Per Share (EPS) dapat disebabkan karena: a. Laba bersih tetap dan jumlah lembar saham biasa yang beredar naik. b. Laba bersih turun dan jumlah lembar saham biasa yang beredar tetap. c. Laba bersih turun dan jumlah lembar saham biasa yang beredar naik. d. Persebtase penurunan laba bersih lebih besar dari pada persentase penurunan jumlah lembar sahambiasa yang beredar. e. Persentase kenaikan jumlah lembar saham biasa yang beredar lebih besar dari pada persentase kenaikan laba bersih. Jadi bagi suatu badan usaha nilai laba per saham akan meningkat apabila persentase kenaikan laba bersihnya lebih besar dari pada persentase kenaikan jumlah lembar saham biasa yang beredar

Debt to Equity Ratio (DER) (skripsi dan tesis)

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio antara total hutang yang
dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Rasio ini digunakan untuk mengukur
proporsi dana dari hutang.
Menurut Kasmir (2017:157-158):
“Debt To Equity Ratio (DER) adalah rasio yang digunakan untuk memulai
hutang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan
antara seluruh hutang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas.
Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan
peminjam (kreditor) dengan pemilik perusahaan. Dengan kata lain, rasio
ini berfungsi untuk mengetahui setiap jumlah rupiah modal sendiri yang
dijadikan untuk jaminan hutang dan menggambarkan sampai sejauh mana
modal pemilik dapat menutupi hutang-hutang kepada pihak luar.”
Menurut Lukman (2011:121) “Debt To Equity Ratio (DER) adalah
mengukur kemampuan perusahaan dalam menutup sebagian atau seluruh
utang-utangnya, baik jangka panjang maupun jangka pendek, dengan dana
yang berasal dari modal sendiri.”
Dengan kata lain, rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang
terdiri atas persentase modal sendiri dibandingkan dengan besarnya hutang.
Semakin besar Debt to Equity Ratio (DER) suatu perusahaan menunjukkan
semakin besarnya penggunaan hutang perusahaan dibandingkan dengan modal
sendiri yang dimiliki perusahaan. Penggunaan hutang diharapkan akan menaikkan
tingkat pengembalian bagi pemegang saham.
Untuk mengembangkan perusahaan dalam menghadapi persaingan, maka
diperlukan adanya suatu pendanaan yang bisa digunakan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Sumber-sumber pendanaan perusahaan dapat diperoleh dari
perusahaan (internal) dan dari luar perusahaan (eksternal). Pada prakteknya, danadana yang dikelola perusahaan harus dikelola dengan baik, karena masing-masing
sumber dana tersebut mengandung kewajiban pertanggungjawaban kepada
pemilik dana. Proporsi antara modal sendiri (internal) dan modal pinjaman
(eksternal) harus diperhatikan, sehingga dapat diketahui beban perusahaan
terhadap para pemilik modal tersebut. Dalam manjemen keuangan proporsi antara
jumlah dana dari luar lazim disebut sebagai struktur pendanaan atau struktur
modal (capital structure). Dalam mengembangkan capital structure perlu
dilakukan analisis dari banyak faktor dengan mempertimbangkan kondisi
keuangan perusahaan. Sumber dana dari pihak luar diperoleh dari pinjaman
hutang, sedangkan sumber dana dari pihak internal diperoleh dari modal saham
dan laba tak dibagi.
Dalam mengukur risiko, perhatian kreditor jangka panjang terutama
difokuskan pada prospek laba dan perkiraan arus kas. Meskipun demikian tetap
memperhatikan keseimbangan antara proporsi aktiva yang didanai oleh kreditor
dan pemilik perusahaan, dan semakin rendah nilai Debt to Equity Ratio (DER)
suatu perusahaan semakin aman bagi investor untuk menginvestasikan uangnya
dan semakin tinggi Debt to Equity Ratio (DER) menunjukkan tingginya
ketergantungan permodalan perusahaan terhadap pihak luar sehingga beban
perusahaan juga semakin berat. Dengan kata lain, Debt to Equity Ratio (DER)
berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan. Maka dari kerangka pikiran
tersebut, penulis menyimpulkan apabila semakin tinggi Debt to Equity Ratio
(DER) maka akan semakin berpengaruh negatif terhadap harga saham perusahaan

Analisis Rasio (skripsi dan tesis)

Faktor fundamental perusahaan memegang peranan penting dalam proses
pengambilan keputusan. Penilaian saham secara akurat dapat meminimalkan
resiko sekaligus membantu investor mendapatkan keuntungan wajar, mengingat
investasi saham di pasar modal merupakan jenis investasi berisiko tinggi
meskipun menjanjikan keuntungan relatif besar. Pendekatan fundamental
memfokuskan pada anlisis-analisis untuk mengetahui kondisi fundamental
perusahaan yang pada gilirannya dipengaruhi oleh kondisi perekonomian pada
umumnya.
Analisis rasio merupakan salah satu analisis keuangan yang paling populer
dab banyak digunakan. Meskipun perhitungan rasio hanyalah merupakan operasi
aritmatika sederhana, namun hasilnya memerlukan interpretasi yang tidak mudah.
Agar hasil perhitungan rasio menjadi bermaksa, sebuah rasio sebaiknya mengacu
pada hubungan ekonomis yang penting. Rasio harus diinterpretasikan denganhatihati karena faktor-faktor yang mempengaruhi pembilang dapat berkorelasi dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi penyebut (Hery, (2014:22).
Rasio adalah alat yang dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan
antara dua macam data finansial. Rasio keuangan merupakan informasi yang
menggambarkan hubungan antara berbagai macam akun (accounts) dari laporan
keuangan yang mencerminkan keadaan keuangan serta hasil operasional
perusahaan.
Analisis rasio keuangan terbagi menjadi lima bagian (Harmono,
20017:106), yaitu:
1. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan dalam
melunasi sejumlah uang jangka pendek, umunya kurang dari satu tahun.
Dimensi konsep likuiditas tersebut mencerminkan ukuran-ukuran kinerja
manajemen ditinjau dari sejauh mana manajemen mampu mengelola modal
kerja yang didanai dari utang lancar dan saldo kas perusahaan.
2. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio keuangan perusahaan yang mencerminkan
perputaran aktiva mulai dari kas dibelikan persediaan, untuk perusahaan
manufaktur persediaan tersebut diolah sebagai bahan baku sampai produk jadi
kemudian dijual baik secara krediat ataupun tunai yang pada akhirnya
kembali menjadi kas lagi. Perputaran tersebut mencerminkan aktivitas
perusahaan. Dengan demikian, rasio aktivitas dapat diukur menggunakan
tingkat perputaran aktiva perusahaan.
3. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas imenunjukkan kapasitas perusahaan untuk memenuhi
kewajiban baik itu jangka pendek maupun jangka panjang.
4. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas ini menggambarkan profitabilitas perusahaan, analisis
profitabilitas ini juga menggambarkan kinerja fundamental perusahaan
ditinjau dari tingkat efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan dalam
memperoleh laba.
5. Rasio Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan adalah persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan
perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Harga saham yang
tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi, dan meningkatkan kepercayaan
pasar tidak hanya terhadap kinerja perusahaan saat ini namun juga pada
prospek perusahaan di masa mendatang. Perusahaan yang dipandang baik
oleh investor adalah perusahaan dengan laba dan arus kas yang aman serta
terus mengalami pertumbuhan.
Dalam penelitian ini, ada empat rasio keuangan yang digunakan untuk
mengukur kinerja perusahaan yaitu:
a. Debt to Equity Ratio (DER)
b. Earning Per Share (EPS)
c. Devidend Per Share (DPS)
d. Return On Asset (ROA)

Harga Saham (skripsi dan tesis)

Menurut Brigham & Houston (2010:7) mengemukakan definisi harga
saham adalah sebagai berikut:
“Harga saham adalah harga saham menentukan kekayaan pemegang
saham. Maksimalisasi kekayaan pemegang saham diterjemahkan menjadi
maksimalkan harga saham perusahaan. Harga saham pada satu waktu
tertentu akan bergantung pada arus kas yang diharapkan diterima di masa
depan oleh investor rata-rata jika investor membeli saham.”
Sedangkan menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012:102) harga saham
dapat diartikan sebagai berikut:
“Harga yang terjadi di bursa pada waktu tertentu. Harga saham bisa
berubah naik atau pun turun dalam hitungan waktu yang begitu cepat. Ia
dapat berubah dalam hitungan menit bahkan dapat berubah dalam hitungan
detik. Hal tersebut dimungkinkan karena tergantung dengan permintaan
dan penawaran antara pembeli saham dengan penjual saham.”
Harga saham merupakan faktor yang sangat penting dan harus
diperhatikan oleh investor dalam melakukan investasi karena harga saham
menunjukkan prestasi emiten, pergerakkan harga saham dengan kinerja emiten.
Apabila emiten mempunyai prestasi yang semakin baik maka keuntungan yang
dapat dihasilkan dari operasi usaha semakin besar. Pada kondisi yang demikian,
nilai saham merupakan indeks yang tepat untuk efektifitas perusahaan. Sehingga
sering kali dikatakan memaksimumkan nilai perusahaan juga berarti
memaksimumkan kekayaan pemegang saham. Dengan semakin tinggi harga
saham, maka semakin tinggi pula nilai perusahaan tersebut dn sebaliknya.
Oleh karena itu, setiap perusahaan yang menerbitkan saham sangat
memperhatikan harga sahamnya. Harga yang terlalu rendah sering diartikan
bahwa kinerja perusahaan kurang baik. Namun bila harga saham terlalu tinggi
mengurangi kemampuan investor untuk membeli sehingga menimbulkan harga
saham sulit untuk meningkat lagi. Dengan perubahan posisi keuangan hal ini akan
mempengaruhi hargasaham perusahaan. Laporan keuangan dirancang untuk
membantu para pemakai laporan untuk menginetifikasi hubungan variabelvariabel dari laporan keuangan.
Pengaruh harga saham terhadap pihak investor dan manajemen perusahaan
menurut Horne (2012:5) menyebutkan bahwa harga pasar bertindak sebagai
barometer dari kinerja bisnis. Harga pasar menunjukan seberapa baik manajemen
menjalankan tugasnya atas nama para pemegang saham. Oleh karena itu
manajemen selalu berada dalam pengawasan, para pemegang saham yang tidak
puas dengan kinerja manajemen dapat menjual saham yang mereka miliki dan
menginvestasikan uangnya di perusahaan lain. Tindakan-tindakan tersebut jika
dilakukan oleh pemegang saham akan dapat mengakibatkan turunnya harga saham
di pasar. Pada dasarnya tinggi rendah harga saham lebih banyak dipengaruhi oleh
penimbangan pembeli dan penjual tentang kondisi internal dan eksternal
perusahaan. Hal ini berkaitan dengan analisis sekuritas yang umumnya dilakukan
investor sebelumnya membeli atau menjual saham.
Dapat disimpulkan bahwa penyebab adanya perubahan harga saham di
pasar modal yaitu terdiri dari:
1. Adanya tingkat permintaan dan penawaran terhadap harga saham itu sendiri.
2. Kondisi keuangan suatu perusahaan.
3. Tingkat suku bunga.
4. Valuta asing dan dana asing yang terdapat di bursa efek.
5. Indeks harga saham gabungan (IHSG)
Taufik (2010:27) menyebutkan ada beberapa jenis harga saham, yaitu:
1. Harga Nominal Saham
Harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang diterbitkan untuk menilai
setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan
arti penting saham karena dividen minimal biasanya ditetapkan berdasarkan
nilai nominal.
2. Harga Perdana Saham
Harga ini merupakan pada waktu harga saham tersebut dicatat di bursa efek.
Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi
(underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan diketahui berapa harga
saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat biasanya untuk menentukan
harga perdana.
3. Harga Pembukaan Saham
Harga pembukaan yaitu harga saham yang berlaku saat pasar saham dibuka
pada hari itu.
4. Harga Pasar Saham
Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di bursa. Transaksi disini
tidak lagi melibatkan emiten dari penjamin emisi harga ini yang disebut
sebagai harga di pasar sekunder dan harga inilah yang benar-benar mewakili
harga perusahaan penerbitnya, karena pada transaksi di pasar sekunder, kecil
sekali terjadi negosiasi harga investor dengan perusahaan penerbit. Harga
yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau
media lain adalah harga pasar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakkan saham menurut Ali
(2007:115) mengemukakan: “untuk memperkirakan kapan harga sebuah saham
akan nik dan turun bukanlah hal yang mudah”. Berikut ini faktor yang harus
disadari oleh setiap investor, ada 2 faktor yaitu:
1. Faktor yang bersifat makro
Faktor yang bersifat makro yaitu faktor penyebab yang berdampak dapa
semua saham termasuk juga perekonomian secara menyeluruh. Menurut William
(2016:177): “kondisi makro ekonomi berarti apa saja yang sedang terjadi di
lapangan yang berhubungan dengan kegiatan usaha perusahaan dan masa depan
perusahaan.
2. Faktor yang kedua bersifat mikro
Faktor yang kedua yang bersifat mikro yaitu faktor-faktor yang dampaknya
hanya terhadap beberapa jenis saham.
(Ali, 2007:115) secara garis besarnya, faktor-aktor yang mempengaruhi
harga saham ada 2 yaitu:
1. Penawaran dan Permintaan
Harga saham ditentukan oleh kekuatan pasar, dalam arti tergantung pada
permintaan dan penawaran (saham mengalami likuid). Jumlah permintaan dan
penawaran mencerminkan kekuatan pasar. Jika penawaran lebih besar dari pada
permintaan, pada umumnya kurs harga akan turun. Sebaliknya, jika penawaran
lebih kecil dari pada permintaan, pada umumnya kurs akan naik. Kekuatan pasar
dapat juga dlihat dari data mengenai sisa beli atau jual. Bagi investor yang
memerlukan investasi jangka panjang maupun jangka pendek, perlu
memperhatikan apakah sekuritas tersebut diminati atau tidak diminati.
2. Efisiensi Pasar Modal
Efisiensi pasar modal merupakan pasar modal yang harga sekuritassekuritasnya mencerminkan semua informasi yang relevan. Efisiensi pada
dasarnya meliputi efisiensi internal dan efisiensi eksternal. Efisiensi internal dapat
mempengaruhi harga saham, apabila biaya transaksi dalam perdagangan sekuritas
semakin rendah, jika efisiensi dikaitkan dengan besarnya biaya untuk melakukan
pembelian atau penjualan sekuritas. Kemudian efisiensi eksternal dapat
mempengaruhi harga, ditentukan oleh kecepatan penyesuaian harga sekuritas di
pasar modal terhadap informasi baru. Informasi yang ada kemudian diserap oleh
investor untuk digunakan dalam menghasilkan keputusan

Jenis Saham (skripsi dan tesis)

Ada beberapa jenis saham Darmadji & Fakhruddin (2011:6) yaitu:
1. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham
terbagi atas:
a. Saham biasa (common stock), yaitu merupakan saham yang
menempatkan pemiliknya paling junior terhadap pembagian dividen, dan
hak atas harta kekayaan perusahaan apabila perusahaan tersebut
dilikuidasi. Dalam pengertian lain saham merupakan efek yang paling
sering digunakan oleh emiten dalam memperoleh dana dari masyarakat
dan jugamerupakan efek yang paling dikenal di pasar modal. Saham
biasa memiliki karakteristik seperti:
 Hak klaim terakhir atas aktiva perusahaan jika perusahaan
dilikuidasi.
 Hak suara proporsional pada pemilihan direksi serta keputusan
lain yang ditetapkan pada Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS)
 Deviden, jika perusahaan memperoleh laba dan disetujui di
RUPS.
 Hak tanggung jawab yang terbatas.
 Hak memesan efek terlebih dahulu sebelum efek tersebut
ditawarkan kepada masyarakat.
b. Saham preferen (preferred stock), merupakan saham yang memiliki
karakteristik gabungan antara obligasi dan saham biasa, karena bisa
menghasilkan pendapatan tetap (seperti bunga obligasi), tetapi juga bisa
tidak mendatangkan hasil seperti ini dikehendaki oleh investor. Saham
preferen merupakan saham yang mempunyai sifat gabungan (hybrid)
anatar obligasi (bond) dan saham biasa, seperti obligasi yang
membayarkan harga atas pinjaman, saham preferen juga memberikan
hasil yang tetap berupa deviden preferen seperti saham biasa dalam hal
likuidasi klaim pemegang saham biasa, saham preferen mempunyai
beberapa hak yaitu hak atas deviden tetapdan hak pembayaran terlebih
dahulu jika terjadi likuidasi.
2. Dilihat dari cara pemeliharaannya, saham dibedakan menjadi:
a. Saham atas unjuk (bearer stock) artinya pada saham tersebut tidak tertulis
nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke
investor lain.
b. Saham atas nama (registered stock), merupakan saham yang ditulis
dengan jelas siapa pemiliknya, dan dimana cara peralihannya harus
melalui prosedur tertentu.
3. Ditinjau dari kinerja perdagangannya, maka saham dapat dikategorikan
menjadi:
a. Saham unggulan (blue-chip stock), yaitu saham biasa dari suatu
perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri
sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar
dividen.
b. Saham pendapatan (income stock), yaitu saham biasa dari suatu emiten
yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata
dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya.
c. Saham pertumbuhan (growth stock-well known), yaitu saham-saham dari
emiten yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai
leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi tinggi. Selain itu
terdapat juga growthstock lesser known, yaitu saham dari emiten yang
tidak sebagai leader dalam industri namun memiliki ciri growth stock.
d. Saham spekulatif (speculative stock), yaitu saham suatu perusahaan yang
tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan yang tinggi di masa
mendatang, meskipun belum pasti.
e. Sahamsiklikal (counter cyclical stock), yaitu saham yang tidak
terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara
umum.
Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang
paling populer. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan
ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham
merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih parainvestor karena saham
mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham dapat didefinisikan
sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu
perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka
pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas aset
perusahaan, dan berhak hadir dalam RUPS.
Saham adalah bukti kepemilikan setelah investor menginvestasikan
sejumlah uang kepada perusahaan. Ada dua analisis saham yang digunakan untuk
menghargai hargasaham, yaitu analisis terknikal dan analisis fundamental. Hal ini
dapat memberikan wawasan kepadainvestor mengenai harga saham dan akan
membantu investor dalam membuat keputusan.
Dalam konteks teori untuk melakukan analisis dan memilih saham
terdapat dua pendekatan dasar yaitu:
1. Analisis Fundamental
(Husnan, 2015:315) Analisis fundamental ini merupakan upaya untuk
memperkirakan harga saham di masa yang akan datang dengan cara:
a. Mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga
saham di masa yang akan datang
b. Menetapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh
taksiran harga saham. Analisis ini bertolak dari anggapan dasar bahwa
setiap investor adalah makhluk rasional. Karena itu, seorang
fundamentalis mencoba mempelajari hubungan antara harga saham
dengan kondisi atau kinerja perusahaan. Argumentasi dasarnya adalah
nilai saham mewakili nlai perusahaan.
Analisis fundamental lebih menekankan pada penentuan nilai instrinsik
dari suatu saham. Untuk melakukan analisis yang bersifat fundamental, amalisis
perlu memahami variabel-variabel yang mempengaruhi nilai instrinsik saham.
Nilai inilah yang diestimasi oleh investor, dan hasil dari estimasi ini dibandingkan
dengan nilai pasar sekarang (current market price) sehingga dapat diketahui
saham-saham yang overprice maupun underprice. Karena banyak faktor yang
mempengaruhi harga saham dalam hal ini (DER, EPS, DPS dan ROA) maka
beberapa tahapan analisis untuk melakukan analisis fundamental yaitu:
a. Analisis Ekonomi
Analisis ini menyangkut penilaian umum perekonomian dan pengaruh
potensialnya terhadap hasil sekuritas.
b. Analisis Industri
Analisis industri akan memberikan pemahaman tentang sifat dan operasi
dari suatu industri yang dapat digunakan untuk memperkirakan prospek
pertumbuhan insustri perusahaan-perusahaan di dalamnya serta prestasi
saham-sahamnya.
c. Analisis Kondisi Spesifik Perusahaan
Analisis ini menyangkut penilaian keuangan perusahaan. Alat
yangdigunakan dalam analisis ini yaitu analisis laporan keuangan.
2. Analisis Teknikal
Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham
(kondisi pasar) dengan mengamati perubahan harga tersebut di waktu yang lalu
(Husnan, 2015:349).
Model analisis teknikal lebih menekankan pada tingkah laku pemodal di
masa yang akan datang berdasarkan kebiasaan di masa lalu. Di dalam analisis
teknikal informasi tentang harga dn volume perdagangan merupakan alat utama
untuk analisis. Misalnya, peningkatan atau penurunan harga biasanya berkaitan
dengan peningkatan atau penurunan volume perdagangan. Analisis teknikal pada
dasarnya merupakan upaya untuk menentukan kapan akan membeli atau menjual
saham, dengan memanfaatkan indikator-indikator teknis ataupun menggunakan
analisis grafis

Pengertian Saham (skripsi dan tesis)

Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal yang paling diminati
investor karena memberikan tingkat keuntungan yang menarik. Saham dapat
didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seorang atau sepihak (badan usaha)
dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal
tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim
atas aset perusahaan, dan berhak hadir dalam rapat umum pemegang saham
(RUPS).
Menurut Mohamad Samsul (2015:59) pengertian saham adalah sebagai
berikut:
“Saham adalah tanda bukti kepemilikan perusahaan. Pemilik saham
disebut juga pemegang saham (shareholder atau stockholder). Bukti bahwa
seseorang atau pihak dapat dianggap sebagai pemegang saham apabila
seseorang atau suatu pihak sudah tercatat sebagai pemegang saham dalam
buku yang disebut daftar pemegang saham.”
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2011:5) pengertian saham adalah
sebagai berikut:
“Saham (stock) merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang
atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham
berwujud selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas
tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga
tersebut.”
Sedangkan menurut Fahmi (2015:80) pengertian saham adalah sebagai
berikut:
“Saham merupakan tanda bukti penyertaan kepemilikan modal/dana pada
suatu perusahaan. Saham berwujud selembar kertas yang tercantum
dengan jelas nilai nominal, nama perusahaan dan diikuti dengan hak dan
kewajiban yang dijelaskan kepada setiap pemegangnya. Serta merupakan
persediaan yang siap untuk dijual.”
Berdasarkan pengertian para ahli diatas saham merupakan surat bukti
tanda kepemilikan suatu perusahaan yang didalamnya tercantum nilai nominal,
nama perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang dijelaskan kepada
setiap pemegangnya.

Manfaat Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Melalui fungsi ekonomi, pasar modal menyediakan tempat atau fasilitas
yang mempertemukan dua pihak, yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana
(investor) dan pihak yang memerlukan dana (emiten). Melalui pasar modal, maka
pihak emiten dapat memperoleh sejumlah dana dari investor dan investor
mengharapkan adanya imbal hasil (return). Emiten dapat memanfaatkan dana
yang didapat tersebut untuk keperluan operasi maupun investasi perusahaan tanpa
harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Melalui fungsi
keuangan, pasar modal memberikan kesempatan untuk memperoleh return bagi
investor, sesuai dengan investasi yang dipilih.
Manfaat keberadaan pasar modal di Indonesia, yaitu:
1. Menyediakan sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha.
2. Memberikan wahana investasi bagi investor.
3. Menyediakan indikator utama bagi tren ekonomi negara.
4. Menciptakan lapangan kerja.
5. Memberikan kesempatan memiliki perusahaan yang sehat dan berprospek.
6. Menjadi alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan
risiko yang bisa diperhitungkan melalui keterbukaan, likuiditas, dan
diversifikasi investasi.

Fungsi Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Secara umum fungsi dari pasar modal adalah sebagai berikut:
1. Untuk Menambah Modal Usaha
Perusahaan bisa mendapatkan dana dengan cara menjual saham ke pasar
modal. Saham-saham tersebut akan dibeli oleh masyarakat umum, perusahaan
lain lembaga atau pemerintah.
2. Untuk Pemerataan Pendapatan
Dalam jangka waktu tertentu, saham-saham yang sudah dibeli akan
memberikan deviden atau bagian dari keuntungan perusahan terhadap para
pembelinya. Untuk itu, penjualan saham dengan pasar modal bisa dianggap
sebagai sarana pemerataan pendapatan.
3. Untuk Sarana Menciptakan Tenaga Kerja
Adanya pasar modal bisa menjadi pendorong muncul dan berkembangkan
industri lain yang dampaknya bisa untuk menciptakan lapangan kerja baru.
4. Untuk Sarana Meningkatkan Pendapatan Negara
Masing-masing deviden yang diberikan kepada para pemegang saham akan
dikenai pajak oleh pemerintah. Adanya tambahan pemasukan dengan pajak
ini akan meningkatkan pendapatan untuk negara.
5. Untuk Indikator Perekonomian Negara
Kegiatan dan volumen penjualan atau pembelian di pasar modal yang
meningkat (padat) dapat memberikan indikasi bahwa kegiatan bisnis
perusahaan dapat berjalan dengan baik. Begitu sebaliknya

Jenis Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Adapun jenis-jenis dari pasar modal antara lain (Mohamad Samsul, 2015:61)
1. Pasar Perdana (primary market/initial public offering).
Pasar perdana adalah tempat atau sarana bagi perusahaan yang pertama kali
menawarkan saham atau obligasi ke masyarakat umum. Dikatakan tempat,
sebab secara fisik masayarakat pembeli dapat bertemu dengan penjamin emisi
atau agen penjual untuk menempatkan pesanan sekaligus membayar uang
pesanan. Dikatakan sarana, sebab si pembeli dapat memesan melalui telepon
dari rumah untuk memesan dan membayar dengan cara mentransfer uang
melalui bank ke rekening agen penjual. Pasar perdana ini sering disebut
dengan permintaan perdana (initial public offering-IPO). Penawaran umum
perdana ini mengubah bentuk perusahaan perseroan menjadi Tbk.
2. Pasar Kedua atau Sekunder (secondary market).
Pasar sekunder adalah tempat efek yang telah dicatat pada bursa efek
diperjualbelikan, dikatakan juga sebagai tempat atau sarana transaksi jual-beli
antarinvestor dan harga yang dibentuk oleh investor melalui perantara efek.
Pasar sekunder menawarkan sebuah kesempatan pada para investor untuk
membeli atau menjual efek yang sudah tercatat di bursa, setelah terlaksana
penawaran perdana.
3. Pasar Ketiga
Pasar ketiga adalah sarana transkasi jual-beli efek antara pedagang efek dan
investor dimana harga dibentuk oleh maker market.
4. Pasar Keempat
Pasar keempat adalah sarana transaksi jual-beli antara investor jual dan
investor beli tanpa lewat perantara efek

Pengertian Pasar Modal (skripsi dan tesis)

Pengertian pasar modal menurut Mohamad Samsul (2015:57) adalah
“Pasar modal terdiri dari kata pasar dan modal, jadi pasar modal dapat
didefinisikan sebagai tempat bertemunya permintaan dan penawaran terhadap
modal; baik bentuk ekuitas maupun jangka panjang.”
Menurut Undang-undang No. 8 Tahun 1995 tentang pasar modal,
mendefinisikan pengertian pasar modal sebagai berikut:
“Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran
umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan
efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan
efek. Efek adalah surat berharga, yaitu surat pengakuan hutang, surat
berharga komersial, saham, obligasi, tanda bukti hutang, unit penyertaan
investasi kolektif, kontrak berjangka atas efek, dan setiap derivatif dari
efek.”
Menurut Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa
Keuangan, mendefinisikan pengertian pasar modal sebagai berikut:
“Pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran
Umum dan Perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan
Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan
dengan Efek sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai
pasar modal.”
Darmadji & Fakhruddin (2011:1) juga dikemukakan dari sudut pandang
ekonomi sebagai berikut:
“Pasar modal adalah tempat diperjualbelikannya instrumen
keuangan jangka panjang seperti utang, ekuitas (saham), instrumen
derivatif dan instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan
bagi perusahaan maupun institusi lainnya (misalnya pemerintah), dan
sebagai sarana kegiatan berinvestasi.”
Berdasarkan definisi diatas dapat dikatakan bahwa pasar modal memiliki
peran yang sangat penting dalam kehidupan ekonomi khususnya sebagai tempat
bertemunya permintaan dan penawaran terhadap modal, pembelian dan
penjualan saham dan tempat bertemunya pihak yang memiliki dana dan pihak
yang memerlukan dana.

Pengertian Information/Knowledge Sharing (skripsi dan tesis)

Information Sharing menurut Ward dan Peppard (2002, p.490)
dapat didefinisikan dimana ada sebuah salinan informasi (copy of a pieces
of information) yang dipegang oleh seseorang yang mempunyai otoritas
tertentu untuk mengaksesnya, dan information sharing biasanya dilakukan
melalui satu unit bisnis tertentu, satu divisi atau diluar divisi di dalam
sebuah perusahaan maupun dengan eksternal perusahaan.
Menurut Probst et. al. (2000, p.169) terdapat beberapa keuntungan
dari knowledge sharing antara lain :
a. Waktu dan kualitas
Dengan knowledge sharing akan membuat organisasi untuk
menjaga kualitas yang tetap bagus dan membuat penggunaan
waktu lebih efisien.
b. Distributing knowledge
Mempermudah dalam menyebarkan knowledge sehingga dapat
membantu organisasi dalam mendapatkan profit.
c. Direct benefit
Knowledge sharing memberikan keuntungan kepuasan pada
pelanggan atas kualitas yang bagus.
Raskov (2007) memberi pengertian knowledge sharing adalah
knowledge sharing terjadi antar individu dalam suatu komunitas, dimana
individu berinteraksi dan berbagi pengetahuan dengan individu lain
melalui ruang maya atau tatap muka. Hooff dan Ridder (2004)
mendefinisikan bahwa knowledge sharing adalah proses dimana para
individu saling mempertukarkan pengetahuan mereka (tacit knowledge
dan explicit knowledge).
Knowledge Sharing adalah kegiatan melalui pengetahuan (yaitu
informasi, keterampilan atau keahlian) dipertukarkan antara orang-orang,
teman, atau anggota keluarga, sebuah komunitas (misalnya Wikipedia)
atau sebuah organisasi.Organisasi telah mengakui bahwa pengetahuan
(knowledge) merupakan asset tak berwujud yang berharga untuk
menciptakan dan mempertahankan keunggulan kompetitif.Pengetahuan
kegiatan berbagi umumnya didukung oleh sistem manajemen
pengetahuan.Namun, teknologi merupakan hanya salah satu dari banyak
faktor yang mempengaruhi berbagai pengetahuan dalam organisasi, seperti
budaya organisasi, kepercayaan, dan insentif.Knowledge sharing
merupakan tantangan utama dalam bidang manajemen pengetahuan karena
beberapa karyawan cenderung untuk menolak berbagi pengetahuan
mereka dengan seluruh organisasi.
Salah satu kendala menonjol adalah ide bahwa pengetahuan adalah
milik dan kepemilikan demikian sangat penting. Dalam rangka untuk
melawan hal ini, individu harus diyakinkan bahwa mereka akan men erima
beberapa jenis insentif bagi mereka yang menciptakan knowledge baru.
Namun, Dalkir (2005) mengidentifikasikan risiko dalam berbagi
pengetahuan adalah bahwa individu-individu yang paling sering dihargai
untuk apa yang mereka diketahui, bukan apa yang mereka berbagi. Jika
pengetahuan tidak dibagi, konsekuensi negatif seperti isolasi dan
resistensi terhadap ide-ide terjadi. Pengetahuan bersama menawarkan
sudut pandang yang berbeda dan solusi yang mungkin untuk
masalah.Untuk mempromosikan berbagi pengetahuan dan menghilangkan
hambatan berbagi pengetahuan, budaya organisasi harus mendorong
penemuan dan inovasi. Hal ini akan menghasilkan dalam penciptaan
budaya organisasi.
Dalam perusahaan, pengetahuan sistematik berbentuk laporan,
prosedur standar, foto dan gambar, serta dokumentasi yang
menggambarkan proses-proses penting perusahaan. Pengetahuan ini
dengan mudah dapat dipindahkan kepada pihak lain dalam organisasi tentu
saja melalui akses yang diberikan kepada anggota organisasi. Sementara
itu,
tacit knowledge
berada dalam konteks pengalaman
individual.Mengelola kedua bentuk pengetahuan merupakan tugas penting
bagi organisasi. Paling tidak, diperlukan mekanisme yang mendorong
pemindahan antar bentuk-bentuk pengetahuan yang dimiliki organisasi
agar mendapatkan kekuatan kolektif dari proses pembelajaran.
Keengganan setiap anggota organisasi untuk berbagi pengetahuan
merupakan hambatan bagi kemajuan pembentukan daya saing organisasi
itu sendiri.
Davenport dan Prusak (1998) memberikan metode mengubah
informasi menjadi pengetahuan melalui kegiatan yang dimulai dengan
huruf C :Comparation, Consequences, Connections dan Conversation.
Dalam organisasi, knowledge diperoleh dari individu-individu atau
kelompok orang-orang yang mempunyai pengetahuan, atau kadangkala
dalam rutinitas organisasi, knowledge diperoleh melalui media yang
terstruktur seperti: buku, dokumen, hubungan orang ke orang yang
berkisar dari pembicaran ringan sampai ilmiah. Knowledge merupakan
suatu yang eksplisit sekaligus tacit, beberapa pengetahuan dapat dituliskan
di kertas, diformulasikan dalam bentuk kalimat-kalimat, atau
diekspresikan dalam bentuk gambar. Namun ada pula pengetahuan yang
terkait erat dengan perasaan, keterampilan, dan bentuk bahasa utuh,
presepsi pribadi, pengalaman fisik, petunjuk praktis, dan intuisi, dimana
tacit knowledge secara efektif tergantung pada konteks yang
memungkinkan terjadinya penciptaan pengetahuan yang dimunculkan oleh
hubungan/interaksi.
Seringkali ada berbagai asumsi yang salah tentang knowledge
management, tiga diantara asumsi itu adalah
1). jika infrastruktur teknologi informasi sudah dibangun, maka dengan
senang hati dapat berbagi pengetahuan antar sesama, 2). teknologi
informasi dapat menggantikan kekuatan percakapan langsung dan
memperlancar pertukaran pengetahuan, 3). sebuah organisasi harus
terlebih dahulu membangun infrastruktur teknologi dan kultur belajar.
Ketiga asumsi itu seringkali mengabaikan kenyataan bahwa Knowledge
Management sesungguhnya berawal dari satu kata yaitu berbagi bersama
(share).
Tidak seluruh pengetahuan dengan serta merta dibagi bersama.
Pengetahuan yang paling sering dibagi bersama adalah pengetahuan
praktis (know-how) sebuah organisasi , bukan pengetahuan teoritis (know-
what). Berbagi bersama pengetahuan praktis ini sangat berguna jika
dilakukan dalam konteks kegiatan bersama (team-work). Sangatlah
penting bagi suatu organisasi untuk membedakan, mana pengetahuan
pribadi mana pengetahuan kolektif yang diperlukan untuk kepentingan
bersama. Secara umum ada lima jenis kegiatan berbagi pengetahuan,
yaitu:
▪ Di dalam satu kelompok untuk pekerjaan rutin yang serupa dan
terus menerus.
▪ Antar dua atau lebih kelompok yang berbeda tetapi melakukan
pekerjaan yang hampir sama.
▪ Antar dua atau lebih kelompok, tetapi yang dibagi bersama adalah
pengetahuan tentang pekerjaan non-rutin.
▪ Antar organisasi dalam rangka kelangsungan hidup bersama.
▪ Dari luar kelompok, ketika menghadapi persoalan yang belum
pernah mereka jumpai.
Transformasi pengetahuan ini bergantung dengan mental dan
budaya untuk setiap individu sehingga aktualisasi aktivitas di dalam
organisasi akan dilandasi pada keyakinan baru sebagai kesepakatan
bersama. Berdasarkan model mental organisasai yang disepakati bersama
inilah mereka kemudian mengaktualisasikan pengetahuannya menjadi
strategi, program, sistem/dokumen baru sebagai pedoman kerja seluruh
anggota.
Faktor yang penting dalam implementasi Knowledge Management/
knowledge sharing, adalah sebagai berikut :
1. Manusia
Baik berupa tacit knowledge ataupun explicit knowledge yang
mampu disharing/transfer dalam insititusi atau organisasi.
2. Leadership
Keberhasilan Knowledge Management didukung peran pemimpin
dalam membangun visi yang kuat dengan menggalang dan
mengarahkan partisipasi semua anggota organisasi dalam
mewujudkan visinya.
3. Teknologi
Dukungan infrastruktur yang kuat dalam penyebaran informasi
pada orang yang tepat dan waktu yang tepat pula.
4. Organisasi
Aspek pengaturan yang jelas dalam hal ini termasuk reward yang
berpartisipasi dalam penyebaran informasi.
5. Learning
Kemauan belajar untuk setiap individu sehingga muncul ide-ide,
inovasi dan knowledge baru, yang menjadi komoditas utama dalam
Knowledge Management
Hal yang esensial dalam knowledge management adalah
terbentuknya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga para pekerja
termotivasi untuk terus belajar yang kondusif, sehingga para pekerja
termotivasi untuk terus belajar, memanfaatkan informasi atau pengetahuan
yang disediakan perusahaan/organisasi dan menumbuhkembangkan
pengetahuan individualnya serta pada akhirnya mau berbagi pengetahuan
baru yang didapatnya untuk menjadi pengetahuan organisasi atau dengan
kata lain knowledge management focus agar manusia didalamnya
produktif untuk menumbuhkembangkan pengetahuan dan mau berbagi
pengetahuan yang dimilikinya.
Perkembangan teknologi informasi telah meningkatkan
produktivitas penemuan pengetahuan (mempermudah proses pengelolaan
pengetahuan) serta mempercepat proses implementasinya, sehingga
organisasi untuk menginstitusionalkan dan mendistribusikan pengetahuan
yang berasal dari individu anggota organisasi sesuai dengan kebutuhan
dan perkembanganny

 

Pengertian Knowledge Management System (skripsi dan tesis)

Menurut Turban et al. (2001, p.26), Knowledge Management
System adalah sistem informasi berbasis pengetahuan yang mendukung
kreasi, pengaturan dan penyebaran dari ilmu pengetahuan bisnis kepada
para pekerja dan manajer dalam perusahaan secara keseluruhan.
Sedangkan menurut O’Brien (2000, p.26), Knowledge
Management System merupakan sistem informasi berbasis ilmu
pengetahuan (knowledge) yang dapat mendukung hasil cipta (kreasi),
pengaturan dan penyebaran dari ilmu pengetahuan bisnis kepada para
pekerja dan manajer perusahaan

Pengertian Knowledge Management (skripsi dan tesis)

Menurut Bateman dan Snell (2008, p.8), knowledge management
adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menemukan dan
memanfaatkan sumber daya intelektual di dalam suatu organisasi,
knowledge management bertujuan untuk menemukan, menyimpan,
membagikan dan membagi secara luas sumber daya yang sangat penting
yang dimiliki oleh suatu organisasi.
Sedangkan menurut Laudon dan Laudon (2002, p. 373), knowledge
management adalah kumpulan proses yang dikembangkan didalam
organisasi, untuk menciptakan, mengumpulkan, menyimpan, memelihara
dan menyebutkan pengetahuan suatu perusahaan.
Menurut Buckman (2004), knowledge management adalah system
approach to help information and knowledge emerge and flow to the right
people at the right time to create value artinya adalah sistem manajemen
pengetahuan adalah pendekatan untuk membantu informasi dan
pengetahuan muncul dan mengalir ke orang lain yang tepat pada waktu
yang tepat untuk menciptakan nilai.
Menurut Honeycutt (2005, p.15) definisi knowledge management
adalah suatu disiplin yang memperlakukan modal intelektual sebagai asset
yang dikelola.Knowledge management bukan suatu database terpusat yang
berisi sebuah informasi yang diketahui oleh semua karyawan. Hal ini
merupakan ide untuk mendapatkan ilham pencerahan bisnis dari berbagai
sumber termasuk database, website, pegawai dan mitra bisnis dan
menggali informasi dimanapun berada.
Menurut Tiwana (2000, p.5), knowledge management adalah
organisasi untuk menciptakan nilai bisnis dan membangun keuntungan
kompetitif.Knowledge management juga dapat memungkinkan pembuatan,
komunikasi dan aplikasi dari jenis knowledge untuk mencapai sasaran
bisnis, knowledge juga dapat dikatakan sebagai sebuah proses untuk
menangkap (to capture), menyimpan (to stay) dan mendistribusi (to
distribute).
Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Knowledge
Management adalah suatu teknik atau cara untuk menciptakan,
mengumpulkan, menyimpan, mendistribusikan atau menyebarkan
pengetahuan yang ada pada organisasi yang digunakan untuk
memperlancar proses bisnis organisasi

 

Pengertian Knowledge (skripsi dan tesis)

Menurut Davenport dan Prusak (1998) dalam membedakan
pengertian antara data, informasi dan pengetahuan yaitu :“knowledge is
neither data or information, though it related to both, and the difference
between these terms are often a matter of degree”. Pengetahuan bukan
sekedar data atau informasi, akan tetapi berhubungan dengan keduanya
dan perbedaan antara istilah-istilah ini seringkali adalah derajat
kemasterannya.
Knowledge yang tersimpan pada kepala manusia tidak dapat secara
mutlak diformulasikan dalam sekumpulan dokumen.Knowledge dibagi
menjadi dua tipe, tipe pertama adalah Tacit knowledge yaitu pengetahuan
yang tersimpan pada kepala orang, atau melekat pada diri seseorang yang
diperolehnya melalui pengalaman dan pekerjaannya dalam bentuk indah,
skill, value dan belief yang tidak mudah untuk memformulasikan dalam
bentuk dokumen dan disebarkan kepada orang lain. Tipe kedua adalah
Explicit Knowledge yaitu pengetahuan yang sudah terkodifikasi dalam
bentuk dokumen atau bentuk lainnya yang disusun secara sistematis.
Banyak organisasi yang belum memahami potensi knowledge yang
tersembunyi yang dimiliki karyawannya. Riset Delphi Consulting group
menunjukkan bahwa knowledge dalam organisasi tersimpan dalam
struktur :
– 42% dipikiran (otak) karyawan
– 26% dokumen kertas
– 20% dokumen elektronik
– 12% knowledge base elektronik
Data ini menceritakan bahwa porsi knowledge yang paling besar
(42%) tersimpan dalam otak saja.Knowledge semacam ini disebut dengan
tacit knowledge, yaitu pengetahuan yang tersembunyi.Sedangkan
materialisasi knowledge berbentuk dokumen kertas (26%), dokumen
elektronik (20%) dan benda elektronik berbasis knowledge (12%). Potensi
tacit knowledge tersebut harus digali untuk kemudian dieksplisitkan untuk
kemudian diorganisir bersama komponen knowledge yang lain supaya bisa
ditransfer kepada orang lain

 

Data, Informasi dan knowledge (skripsi dan tesis)

Data, informasi, dan knowledge pada dasarnya merupakan konsep
yang saling berhubungan. Menurut Bergeron (2003), yang dimaksud data,
informasi dan knowledge dibedakan sebagai berikut, data adalah angka
atau atribut yang bersifat kuantitatif yang berasal dari hasil observasi,
eksperimen, atau kalkulasi. Informasi adalah data di dalam satu
konstektual tertentu merupakan kumpulan data dan terkait dengan
penjelasan, interpretasi dan berhubungan dengan materi lainnya mengenai
objek, peristiwa atau proses tertentu. Knowledge adalah informasi yang
telah diorganisasi, disintesiskan, diringkaskan untuk meningkatkan
pengertian, kesadaran atau pemahaman.
Lain halnya menurut Davidson and Voss (2002), untuk memahami
perbedaan antara data, informasi dan knowledge, harus dapat
digarisbawahi nilai hierarkinya. Informasi merupakan data yang disaring
(distilled) dan dimaknai, demikian pula knowledge adalah informasi yang
disaring dan dimaknai. Dengan cara yang sama, data diberi dimakna
sehingga berubah menjadi informasi. Informasi ditambahkan tujuan untuk
diubah menjadi knowledge yang dapat dituliskan kedalam bentuk
persamaan, yaitu :

Knowledge = informasi + tujuan
Pengertian knowledge masih diperdebatkan, tidak ada definisi
tunggal tentang arti knowledge.Definisi knowledge dapat dipandang dari
segi praktis hingga konseptual serta dari ruang lingkup yang sempit hingga
ruang lingkup yang luas. Secara garis besar, knowledge dibagi menjadi dua
jenis, yaitu Tacit Knowledge (pengetahuan implicit) dan Explicit
Knowledge (pengetahuan eksplisit)

Membangun Brand Equity (Ekuitas Merek) (skripsi dan tesis)

Ekuitas merek dapat dibangun dengan menciptakan struktur pengetahuan merek yang tepat untuk konsumen yang tepat. Proses inibergantung pada semua kontak yang berhubungan dengan merek (baik dilakukan oleh pemasar maupun bukan). Meskipun demikian dari perspektif manajemen pemasaran ada tiga kumpulan utama penggerak ekuitas merek: 1. Pilihan awal atas unsur – unsur merek atau identitas merek yang membentuk merek (misalnya: nama merek, URL, logo, lambang, karakter, juru bicara,slogan, lagu, kemasan, dan papan iklan). 2. Produk dan jasa serta semua kegiatan pemasaran dan program pemasaran pendukung yang menyertainya. Asosiasi lain yang diberikan secara tidak langsung dialihkan ke merek dengan menghubungkan merek terebut dengan beberapa entitas lain (misalnya: orang, tempat, atau barang)

Pengertian Ekuitas Merek (Brand Equity) (skripsi dan tesis)

Ekuitas merek adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa. Definisi lain mengenai ekuitas merek adalah seperangkat aktiva (assets) dan kewajiban (liabilities) merek yang terkait dengan sebuah merek, nama, dan simbol, yang dapat menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah produk atau jasa kepada sebuah perusahaan atau pelanggan perusahaan. Aktiva dan kewajiban yang mempengaruhi ekuitas merek meliputi loyalitas merek, kesadaran merek, persepsi mutu, dan berbagai asosiasi merek lainnya, dan aset merek semuamilik (misalnya, hak paten). Ekuitas merek dapat tercermin dalam cara konsumen berpikir, merasa, dan bertindak dalam hubungannya dengan merek, harga, pangsa pasar, dan profitabilitas yang diberikan merek bagi perusahaan. Merek yang kuat adalah merek yang memiliki ekuitas merek yang tinggi. Ekuitas merek semakin tinggi dengan semakin tingginya kesetiaan merek, kesadaran nama, mutu yang diyakini, hubungan merek yang kuat, dan aktiva lainnya seperti paten, hak dagang, dan hubungan distribusi

Pengertian Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Kualitas didefinisikan sebagai persepsi superioritas atau kesempurnaan produk dibandingkan dengan produk pesaing dari perspektif pasar. Kualitas produk merupakan mutu dari semua komponen-komponen yang membentuk produk, sehingga produk tersebut mempunyai nilai tambah. Kualitas produk (product quality) menurut Kotler dan Amstrong (2007:347): “Kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi -fungsinya; kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan diperbaiki, dan atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan

Pengertian Merek (skripsi dan tesis)

American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai “nama, istilah, tanda, lambang, atau desain, atau kombinasinya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa salah satu penjual atau kelompok penjual dan mendiferensiasikan dari para pesaing”.  Jadi merek adalah produk atau jasa yang dimensinya mendiferensiasikan dengan beberapa cara dari produk atau jasa lainnya yang dirancang untuk memuaskan kebutuhan yang sama. Fungsi merek bagi perusahaan antara lain untuk menyederhanakan penanganan atau penelusuran produk. Merek membantu mengatur catatan persediaan dan catatan akuntansi. Nama merek dapat dilindungi melalui nama merek terdaftar, proses manufakur dapat dilindungi melalui hak paten, dan kemasan dapat dilindungi melalui hak cipta dan rancangan hak milik. Hak milik intelektual ini memastikan bahwa perusahaan dapat berinvestasi dengan aman dalam merek tersebut dan mendapatkan keuntungan dari sebuah aset yang berharga. Merek menandakan tingkat kualitas tertentu sehingga pembeli yang puas dapat dengan mudah membeli produk kembali. Loyalitas merek memberikan tingkat permintaan yang aman dan dapat diperkirakan bagi perusahaan, dan menciptakan penghalang yang mempersulit perusahaan lain untuk memasuki pasar. Loyalitas juga dapat diterjemahkan menjadi kesediaan pelanggan untuk membayar harga yang lebih tinggi

Hubungan Kualitas Produk dan Harga terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Philip Kotler yang diterjemahkan oleh A.B Susanto (2012 : 202) mengemukakan bahwa Keputusan Pembelian Konsumen adalah suatu keputusan yang diambil oleh seorang calon pembeli menyangkut kepastian akan membeli atau tidak.  Kualitas produk merupakan bentuk penilaian atas produk yang akan dibeli, apakah sudah memenuhi apa yang diharapkan konsumen. Jika perusahaan ingin berkembang, apa lagi harus meraih keuntungan, mereka tidak lagi punya pilihan selain mengadopsi konsep kualitas. Ini menunjukkan bahwa kualitas mempunyai pengaruh terhadap konsumen. Konsumen tentunya tidak akan membeli produk yang tidak bisa memenuhi harapannya. Semakin berkualitas suatu produk, maka semakin tinggi keputusan konsumen untuk melakukan pembelian Harga dapat merupakan jumlah uang (kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya. Keputusan penetapan harga mempengaruhi jumlah penjualan yang dilakukan oleh perusahaan dan berapa banyak pendapatan yang diperoleh Harga yang diinginkan konsumen adalah harga yang bersaing dan terjangkau. Hal ini dapat dibuktikan oleh penelitan sebelumnya yang meneliti hubungan antara kualitas produk dan harga terhadap keputusan pembelian Hasil penelitian Abragam Mahendra Bagaskara (2014).

Hubungan Harga dengan Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang (Alma, 2011:169). Penentuan harga ini merupakan salah satu keputusan yang penting 49 bagi manajemen. Harga yang ditetapkan harus dapat menutup semua ongkos, atau bahkan lebih dari itu, yaitu untuk mendapatkan laba. Tetapi, jika harga ditentukan terlalu tinggi akan berakibat kurang menguntungkan. Dalam hal ini pembeli akan berkurang, volume penjualan berkurang, semua biaya mungkin tidak dapat ditutup dan akhirnya perusahaan akan menderita rugi. Salah satu prinsip bagi manajemen dalam penentuan harga ini adalah menitikberatkan pada kemauan pembeli untuk harga yang telah ditentukan dengan jumlah yang cukup untuk menutup ongkos – ongkos dan menghasilkan laba (Swastha dan Sukotjo, 2007:211). Harga dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Hasil penelitian Seanewati Oetama (2011), menyatakan bahwa harga berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Persaingan yang ketat dalam bisnis kendaraan bermotor roda dua menjadikan konsumen mempunyai banyak alternatif pilihan untuk memilih jenis dan type yang sesuai dengan seleranya. Setiap kendaraan yang dikeluarkan biasanya mempunyai kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana konsumen menentukan pilihan tersebut. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian seseorang, namun dalam penelitian, diukur melalui faktor kualitas produk, harga dan citra merek

Hubungan Kualitas Produk dengan Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Kotler dan Armstrong yang di alih bahasakan oleh T.Hermaya (2012:347) menyatakan bahwa Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya yang meliputi daya tahan, keandalan, ketepatan, kemudahan, operasi dan perbaikan serta atribut lainnya. Kualitas produk merupakan bentuk penilaian atas produk yang akan dibeli, apakah sudah memenuhi apa yang diharapkan konsumen. Jika perusahaan ingin berkembang, apa lagi harus meraih keuntungan, mereka tidak lagi punya pilihan selain mengadopsi konsep kualitas. Ini menunjukkan bahwa kualitas mempunyai pengaruh terhadap konsumen. Konsumen tentunya tidak akan membeli produk yang tidak bisa memenuhi harapannya. Semakin berkualitas suatu produk, maka semakin tinggi keputusan konsumen untuk melakukan pembelian Harga dapat  merupakan jumlah uang (kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya. Pada masa sekarang, dengan daya beli mayoritas konsumen yang semakin rendah, penetapan harga merupakan hal yang sangat penting karena konsumen semakin kritis dan selektif untuk membelanjakan uang. Keputusan penetapan harga mempengaruhi jumlah penjualan yang dilakukan oleh perusahaan dan berapa banyak pendapatan yang diperoleh Harga yang diinginkan konsumen adalah harga yang bersaing dan terjangkau. Kualitas produk merupakan kesesuaian antara kebutuhan dan keinginan atas produk ke dalam spesifikasi produk yang dihasilkan (Purnama, 2006:11). Kualitas dari setiap produk yang dihasilkan merupakan salah satu unsur yang harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari perusahaan, kalau perusahaan ingin memenangkan suatu persaingan dalam usaha (Angipora, 2007:174). Tuntutan terhadap kualitas suatu produk sudah menjadi suatu keharusan yang harus dipenuhi oleh perusahaan, kalau tidak menginginkan konsumen yang telah dimilikinya beralih kepada produk-produk pesaing lainnya yang dianggap memiliki kualitas produk yang lebih baik usaha (Angipora, 2007:174). Hal ini dapat dibuktikan oleh penelitan sebelumnya yang meneliti hubungan antara kualitas produk dengan keputusan pembelian. Hasil penelitian Munawaroh (2011), menyatakan bahwa kualitas produk mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian

Pengertian Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Keputusan konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk merupakan suatu tindakan yang lazim dijalani oleh setiap individu konsumen ketika mengambil keputusan membeli. Keputusan membeli atau tidak membeli merupakan bagian dari unsur yang melekat pada diri individu konsumen yang disebut behavior, dimana ia merujuk kepada tindakan fisik yang nyata. Berikut ini peneliti paparkan pendapat-pendapat mengenai keputusan pembelian yang dikemukakan beberapa ahli : Menurut Buchari Alma (2011:96), mengemukakan bahwa keputusan pembelian adalah : “Suatu keputusan konsumen yang dipengaruhi oleh ekonomi keuangan, teknologi, politik, budaya, produk, harga, lokasi, promosi, physical evidence, people dan process, sehingga membentuk suatu sikap pada konsumen untuk mengolah segala informasi dan mengambil kesimpulan berupa response yang muncul produk apa yang akan dibeli”. Sedangkan Menurut Philip Kotler yang diterjemahkan oleh A.B Susanto (2012 : 202) mengemukakan bahwa keputusan pembelian dapat diartikan sebagai suatu keputusan yang diambil oleh seorang calon pembeli menyangkut kepastian akan membeli atau tidak. Berdasarkan definisi tersebut, peneliti sampai pada pemahaman bahwa keputusan pembelian merupakan suatu keputusan yang dipengaruhi oleh beberapa 40 faktor yang akan membuat konsumen secara aktual mempertimbangkan segala sesuatu dan pada akhirnya konsumen membeli produk yang paling mereka sukai. Sementara itu keputusan konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk meliputi enam sub keputusan (pilihan produk, pilihan merek, pilihan penyalur, waktu pembelian, jumlah pembelian, metode pembayaran), Kotler dan Keller yang dialih bahasakan A.B Susanto (2012:184) menjelaskannya sebagai berikut : 1. Pilihan produk Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat membeli sebuah produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan. 2. Pilihan merek Pembeli harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek 3. Pilihan penyalur Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan dikunjungi. Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lain. 4. Waktu pembelian. Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda-beda, misalnya : ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua minggu sekali, tiga minggu sekali atau sebulan sekali. 5. Jumlah pembelian Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari satu. Dalam hal ini perusahaan harul mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli. 6. Metode pembayaran Pembeli dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang akan dilakukan dalam pengmbilan keputusan konsumen menggunakan barang dan jasa, dalam hal ini juga keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh teknologi yang digunakan dalam transaksi pembelian

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

 

Terdapat empat faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam pembelian suatu produk. Faktor-faktor ini memberi pengaruh yang cukup signifikan terhadap konsumen dalam memilih produk yang akan dibelinya, menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan Bob Sabran(2012:214) faktorfaktor ini terdiri dari : 1. Cultural Factor (Faktor Budaya) a. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar b. Sub budaya, terdiri dari kebangsaan, agama, kelompok, ras dan daerah georgrafis. Banyak sub-budaya yang membentuk segmen pasar penting, dan pemasar sering merancang produk dan program pemasar yang disesuaikan kebutuhan mereka. c. Kelas sosial, merupakan pembagian masyarakat yang yang relatif homogen dan permanen, dan tersusun secara hirarkis dan anggotanya menganut nilai-nilai minat dan perilaku yang sama. 2. Sosial factor (Faktor Sosial) Faktor Sosial yang mempengaruhi perilaku pembelian, seperti : a. Kelompok Referensi Kelompok referensi (reference group) seseorang adalah semua kelompok uang mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut b. Keluarga Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan anggota keluarga merepresentasikan kelompok referensi utama yang paling berpengaruh. Ada dua keluarga dalam kehidupan pembeli, yaitu: keluarga orientasi (family of orientation) terdiri dari orang tua dan saudara kandung, keluarga prokreasi (family of procreation) yaitu pasangan dan anak-anak. c. Peran Sosial dan Status Orang berpartisipasi dalam banyak kelompok, keluarga, klub, dan organisasi. Kelompok sering menjadi sumber informasi penting dalam membantu mendefinikasikan norma perilaku. Kita dapat mendefinisikan posisi seseorang dalam tiap kelompok di mana ia menjadi anggota bedasarkan peran dan status. 3. Personal factor (Faktor Pribadi) Faktor pribadi juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Faktor pribadi meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli, pekerjaan dan keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, serta gaya hidup dan nilai

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Mengenali perilaku seorang konsumen sangatlah tidak mudah, sehingga sangat penting bagi para pemasar untuk mempelajari persepsi, preferensi, dan perilakunya dalam berbelanja. Istilah perilaku konsumen sangat berhubungan erat dengan objek studinya yang diarahkan pada permasalahan konsumen dan konsumen sebagai titik sentral perhatian pemasaran. Berikut ini adapun definisi perilaku konsumen yang telah dikemukakan beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut : Menurut Schiffman, Kanuk dan Wisenblit (2010:23) menyatakan consumer behavior as the behavior that consumers display in searching for, purchasing, 35 using, evaluating, and disposing of products and services that they expect will satisfy their needs. Sedangkan pengertian di atas diperkuat Levy dan Weltz yang dikutip oleh Christina Widia Utami (2010:67), yang menyatakan bahwa perilaku konsumen sebagai perilaku yang terlibat dalam hal prencanaan, pembelian, penentuan produk serta jasa yang konsumen harapkan untuk dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Berdasarkan teori-teori perilaku konsumen diatas peneliti sampai pada pemahaman bahwa, perilaku konsumen adalah suatu pengambilan keputusan seseorang untuk melakukan pembelian dan menggunakan barang atau jasa dengan melakukan tindakan yang secara langsung terlibat untuk memperoleh barang atau jasa tersebut yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka

Indikator Harga (skripsi dan tesis)

Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2012:79), menjelaskan ada empat ukuran yang mencirikan harga yaitu keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, kesesuaian harga dengan manfaat, dan harga sesuai dengan kemampuan atau daya saing harga. Dibawah ini penjelasan empat ukuran harga yaitu : 1. Keterjangkaun Harga Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek harganya juga berbeda dari yang termurah sampai termahal. Dengan harga yang di tetapkan para konsumen banyak yang membeli produk. 2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk. Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.  3. Kesesuaian harga dengan manfaat Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang. 4. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya suatu produk sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut.

Metode Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Menetapkan tingkat harga, marketer dapat menggunakan salah satu atau kombinasi dari berbagai perhitungan harga. Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2012:83) menyatakan, ada enam metode penetapan harga, diantaranya sebagai berikut: 1. Penetapan Harga Mark up Metode penetapan harga paling mendasar adalah menambah mark up standar ke biaya produk. Sampai saat ini penetapan harga mark up masih populer karena penjual dapat menentukan biaya jauh lebih mudah daripada memperkirakan permintaan, kemudian harga cenderung sama dan persaingan harga terminimalisasi ketika perusahaan dalam industri mengunakan metode ini, dan terakhir banyak orang merasa bahwa penetapan harga biaya plus lebih adil bagi pembeli dan penjual. 2. Penetapan harga tingkat pembelian sasaran Perusahaan menentukan harga yang akan menghasilkan tingkat pengembalian atas investasi sasarannya. 3. Penetapan harga nilai anggapan Nilai anggapan terdiri dari beberapa elemen seperti citra pembeli akan kinerja produk, kemampuan penghantaran dari saluran, kualitas jaminan, dukungan pelanggan, dan atribut yang kurang dominan seperti reputasi pemasok, ketepercayaan dan harga diri. 4. Penetapan harga nilai Metode yang menciptakan harga murah kepada konsumen untuk menarik perhatian konsumen dengan tidak mengabaikan kualitas produk perusahaan. 33 5. Penetapan harga going-rate Perusahaan mendasarkan sebagian besar harganya pada harga pesaing, mengenakan harga yang sama, lebih mahal atau lebih murah dibandingkan harga pesaing utama. 6. Penetapan harga jenis lelang Penetapan harga jenis lelang dilakukan untuk membuang persediaan lebih atau barang bekas

Pertimbangan dalam Penentuan Harga (skripsi dan tesis)

Penetapan harga sebenarnya merupakan masalah yang sangat rumit dan sulit, karena dalam penetapan harga akan melibatkan tujuan dan pengembangan struktur penetapan harga yang tepat. Penepatan tingakat harga biasanya dilakukan dengan beberapa pertimbangan serta mencermati faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan penetapan harga, termasuk keputusan terhadap perubahan harga agar diterima pasar. Tindakan yang harus dipertimbangkan adalah Estimasi permintaan dan estimasi harga, mengantisipasi reaksi persaingan, pangsa pasar yang dapat diharapkan, dan kebijakan pemasaran. Keputusan tentang harga yang baik adalah apabila mampu mencerminkan seluruh kepentingan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus paham mengenai faktor-faktor yang secara langsung mempengaruhi tingkat harga yang akan ditentukan, tujuan perusahaan, persaingan, ukuran bisnis, biaya, kondisi perekonomian, bauran pemasaran, legal dan etis, sifat pasar, karakteristik produk, permintaan, dan penawaran .

Tujuan Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2009:76), ada lima tujuan utama dalam menetapkan harga : 1. Kemampuan bertahan Perusahaan mengejar kemampuan bertahan sebagai tujuan utama mereka jika mereka mengalami kelebihan kapasitas, persaingan ketat, atau keinginan konsumen yang berubah. Selama harga menutup biaya variabel dan biaya tetap maka perusahaan tetap berada dalam bisnis. 2. Laba saat ini maksimum Banyak perusahaan berusaha menetapkan harga yang akan memaksimalkan laba saat ini. Perusahaan memperkirakan permintaan dan biaya yang berasosiasi 30 dengan harga alternatif dan memilih harga yang menghasilkan laba saat ini, arus kas, atau tingkat pengembalian atas investasi maksimum. 3. Pangsa Pasar Maksimum Perusahaan percaya bahwa semakin tinggi volume penjualan, biaya unit akan semakin rendah dan laba jangka panjang semakin tinggi. Perusahaan menetapkan harga terendah mengasumsikan pasar sensitif terhadap harga. Strategi penetapan harga penetrasi pasar dapat diterapkan dalam kondisi : a. Pasar sangat sensitif terhadap harga dan harga yang rendah merangsang pertumbuhan pasar. b. Biaya produksi dan distribusi menurun seiring terakumulasinya pengalaman produksi. c. Harga rendah menolong persaingan aktual dan potensial. 4. Market Skiming Pricing Perusahaan mengungkapkan teknologi baru yang menetapkan harga tinggi untuk memaksimalkan memerah pasar dimana pada mulanya harga ditetapkan tinggi dan secara perlahan turun seiring waktu. Skiming Pricing digunakan dalam kondisi sebagai berikut : a. Terdapat cukup banyak pembeli yang permintaan saat ini yang tinggi. b. Biaya satuan memproduksi volume kecil tidak begitu tinggi sehingga menghilangkan keuntungan dari mengenakan harga maksimum yang mampu diserap pasar. c. Harga awal tinggi menarik lebih banyak pesaing kepasar. d. Harga tinggi mengkomunikasikan citra produk yang unggul.  5. Kepemimpinan kualitas produk Banyak merek berusaha menjadi kemewahan terjangkau produk atau jasa yang ditentukan karakternya oleh tingkat kualitas anggapan, selera dan status yang tinggi dengan harga yang cukup tinggi agar tidak berada diluar jangkauan konsumen

Pengertian Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2012 : 67), harga adalah salah satu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, elemen lain menghasilkan biaya. Harga merupakan elemen termudah dalam program pemasaran untuk disesuaikan, fitur produk, saluran, dan bahkan komunikasi membutuhkan banyak waktu

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Feigan Baum (2012:28) Faktor-faktor yang mempengaruhi Kualitas Produk secara langsung dipengaruhi oleh 9 bidang dasar atau 9M, yaitu : 1. Market (Pasar) Jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan di pasar terus bertumbuh pada laju yang eksplosif. Konsumen diarahkan untuk mempercayai bahwa ada sebuah produk yang dapat memenuhi hampir setiap kebutuhan. Pada masa sekarang konsumen meminta dan memperoleh produk yang lebih baik memenuhi ini. Pasar menjadi lebih besar ruang lingkupnya dan secara fungsional lebih terspesialisasi di dalam barang yang ditawarkan. Dengan bertambahnya perusahaan, pasar menjadi bersifat internasional dan mendunia. Akhirnya bisnis harus lebih fleksibel dan mampu berubah arah dengan cepat. 2. Money (Uang) Meningkatnya persaingan dalam banyak bidang bersamaan dengan fluktuasi ekonomi dunia telah menurunkan batas (marjin) laba. Pada waktu yang bersamaan, kebutuhan akan otomatisasi dan pemekanisan mendorong pengeluaran mendorong pengeluaran biaya yang besar untuk proses dan perlengkapan yang baru. Penambahan investasi pabrik, harus dibayar melalui naiknya produktivitas, menimbulkan kerugian yang besar dalam memproduksi disebabkan oleh barang afkiran dan pengulangkerjaan yang sangat serius. Kenyataan ini memfokuskan perhatian pada manajer pada bidang biaya kualitas sebagai salah satu dari “titik lunak” tempat biaya operasi dan kerugian dapat diturunkan untuk memperbaiki laba. 3. Management (Manajemen). Tanggung jawab kualitas telah didistribusikan antara beberapa kelompok khusus. Sekarang bagian pemasaran melalui fungsi perencanaan produknya, harus 27 membuat persyaratan produk. Bagian perancangan bertanggung jawab merancang produk yang akan memenuhi persyaratan itu. Bagian produksi mengembangkan dan memperbaiki kembali proses untuk memberikan kemampuan yang cukup dalam membuat produk sesuai dengan spesifikasi rancangan. Bagian pengendalian kualitas merencanakan pengukuran kualitas pada seluruh aliran proses yang menjamin bahwa hasil akhir memenuhi persyaratan kualitas dan kualitas pelayanan, setelah produk sampai pada konsumen menjadi bagian yang penting dari paket produk total. Hal ini telah menambah beban manajemen puncak khususnya bertambahnya kesulitan dalam mengalokasikan tanggung jawab yang tepat untuk mengoreksi penyimpangan dari standar kualitas. 4. Men (Manusia). Pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan penciptaan seluruh bidang baru seperti elektronika komputer menciptakan suatu permintaan yang besar akan pekerja dengan pengetahuan khusus. Pada waktu yang sama situasi ini menciptakan permintaan akan ahli teknik sistem yang akan mengajak semua bidang spesialisasi untuk bersama merencanakan, menciptakan dan mengoperasikan berbagai sistem yang akan menjamin suatu hasil yang diinginkan. 5. Motivation (Motivasi). Penelitian tentang motivasi manusia menunjukkan bahwa sebagai hadiah tambahan uang, para pekerja masa kini memerlukan sesuatu yang memperkuat rasa keberhasilan di dalam pekerjaan mereka dan pengakuan bahwa mereka secara pribadi memerlukan sumbangan atas tercapainya sumbangan atas tercapainya 28 tujuan perusahaan. Hal ini membimbing ke arah kebutuhan yang tidak ada sebelumnya yaitu pendidikan kualitas dan komunikasi yang lebih baik tentang kesadaran kualitas. 6. Material (Bahan) Disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan kualitas, para ahli teknik memilih bahan dengan batasan yang lebih ketat dari pada sebelumnya. Akibatnya spesifikasi bahan menjadi lebih ketat dan keanekaragaman bahan menjadi lebih besar. 7. Machine and Mecanization (Mesin dan Mekanik) Permintaan perusahaan untuk mencapai penurunan biaya dan volume produksi untuk memuaskan pelanggan telah terdorong penggunaan perlengkapan pabrik yang menjadi lebih rumit dan tergantung pada kualitas bahan yang dimasukkan ke dalam mesin tersebut. Kualitas yang baik menjadi faktor yang kritis dalam memelihara waktu kerja mesin agar fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya. 8. Modern Information Metode (Metode Informasi Modern) Untuk mengumpulkan, menyimpan, mengambil kembali, memanipulasi informasi pada skala yang tidak terbayangkan sebelumnya. Teknologi informasi yang baru ini menyediakan cara untuk mengendalikan mesin dan proses selama proses produksi dan mengendalikan produk bahkansetelah produk sampai ke konsumen. Metode pemprosesan data yang baru dan konstan memberikan kemampuan untuk memanajemeni informasi yang bermanfaat, akurat, tepat waktu dan bersifat ramalan mendasari keputusan yang membimbing masa depan bisnis  9. Mounting Product Requirement (Persyaratan Proses Produksi) Kemajuan yang pesat dalam perancangan produk, memerlukan pengendalian yang lebih ketat pada seluruh proses pembuatan produk. Meningkatnya persyaratan prestasi yang lebih tinggi bagi produk menekankan pentingnya keamanan dan kehandalan produk

Dimensi Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Dimensi kualitas produk menurut Fandy Tjiptono (2010:25) mengemukakan, bahwa kualitas produk memiliki beberapa dimensi antara lain : 1. Kinerja (Performance) merupakan karakteristik operasi dan produk inti (core product) yang dibeli. Misalnya kecepatan, kemudahan dan kenyamanan dalam penggunaan. 2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (Features) yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap. 3. Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Spesification) yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah 25 ditetapkan sebelumnya. Misalnya pengawasan kualitas dan desain, standar karakteristik operasional 4. Keandalan (Realibility) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal pakai. Misalnya pengawasan kualitas dan desain, standar karakteristik operasional 5. Daya tahan (Durability) berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis. 6. Estetika (Esthetica) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera. Misal keindahan desain produk, keunikan model produk, dan kombinasi 7. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality) merupakan persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk. Biasanya karena kurangnya pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya. 8. Dimensi kemudahan perbaikan (Service ability) meliputi kecepatan, kemudahan, penanganan keluhan yang memuaskan. Pelayanan yang diberikan tidak terbatas hanya sebelum penjualan, tetapi juga selama proses penjualan hingga purna jual yang mencakup pelayanan reparasi dan ketersediaan komponen yang dibutuhkan

Pengertian Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

 Menurut Fandy Tjiptono (2010:14) Kualitas Produk adalah kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan yang mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan. Kualitas Produk juga merupakan kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap kualitas saat ini berkuaitas mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang). Kualitas Produk Salah satu keunggulan dalam persaingan ini terutama adalah kualitas produk yang dapat memenuhi keinginan konsumen. Bila tidak sesuai dengan spesifikasi maka produk akan ditolak. Sekalipun produk tersebut masih dalam batas toleransi yang telah ditentukan maka produk tersebut sebaiknya perlu menjadi catatan untuk menghindari terjadinya kesalahan yang lebih besar diwaktu yang akan datang. Demikian juga konsumen dalam dalam membeli suatu produk konsumen selalu berharap agar barang yang dibelinya dapat memuaskan segala keinginan dan kebutuhannya. Untuk itu perusahaan harus dapat memahami keinginan konsumen, sehingga perusahaan dapat menciptakan produk yang sesuai dengan harapan konsumen. Kualitas produk yang baik merupakan harapan konsumen yang harus dipenuhi oleh perusahaan, karena kualitas produk yang baik merupakan kunci perkembangan produktivitas perusahaan. Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh setiap perusahaan apabila menginginkan produk yang dihasilkan dapat bersaing di pasar.
Dewasa ini, dikarenakan kemampuan ekonomi dan tingkat pendidikan masyarakat  cenderung meningkat, sebagian masyarakat semakin kritis dalam mengkonsumsi suatu produk. Konsumen selalu ingin mendapatkan produk yang berkualitas sesuai dengan harga yang dibayar, walaupun terdapat sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa, produk yang mahal adalah produk yang berkualitas. Jika hal itu dapat dilaksanakan oleh perusahaan, maka perusahaan tersebut akan dapat tetap memuaskan para konsumen dan dapat menambah jumlah konsumen. Dalam perkembangan suatu perusahaan, persoalan kualitas produk akan ikut menentukan pesat tidaknya perkembangan perusahaan tersebut. Apabila dalam situasi pemasaran yang semakin ketat persaingannya, peranan kualitas produk akan semakin besar dalam perkembangan perusahaan. Selain itu, konsumen akan menyukai produk yang menawarkan kualitas, kinerja, dan pelengkap inovatif yang terbaik (Lupiyoadi dan Hamdani,2006:131)

Tingkatan Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Fandy Tjiptono, 2010:96-97 dalam merencanakan penawaran suatu produk, pemasar perlu memahami lima tingkatan produk, yaitu : 1. Produk utama atau inti (core benefit), yaitu manfaat yang sebenarnya dibutuhkan dan akan dikonsumsi pelanggan setiap produk. 2. Produk generic, produk dasar yang memenuhi fungsi produk paling dasar/rancangan produk minimal dapat berfungsi. 3. Produk harapan (expected product) yaitu produk formal yang ditawarkan dengan berbagai atribut dan kondisinya secara normal diharapkan dan disepakati untuk dibeli. 4. Produk pelengkap (equipmented product) yaitu berbagai atribut produk yang dilengkapi/ditambahi berbagai manfaat dan layanan sehingga dapat menentukan tambahan kepuasan dan dapat dibedakan dengan produk asing. 5. Produk potensial yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin dikembangkan untuk suatu produk di masa yang akan datang.

Klasifikasi Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan Bob Sabran (2012:45l), produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok: a. Berdasarkan wujudnya Produk berdasarkan wujudnya dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok utama, yaitu: 1. Barang. Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya  2. Jasa. Jasa merupakan aktivitas, manfaat dan kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan sebagainya. b. Berdasarkan daya tahan Produk berdasarkan aspek daya tahan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu 1. Barang tidak tahan lama (nondurable goods). Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun. Contohnya: sabun, pasta gigi, minuman kaleng, dan sebagainya. 2. Barang tahan lama (durable goods). Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun lebih). Contohnya: lemari es, mesin cuci, pakaian dan lain-lain. Produk juga dapat diklasifikasikan berdasarkan konsumennya dan untuk apa produk tersebut dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini Fandy Tjiptono (1999:98- 101) mengklasifikasikan produk menjadi : a. Barang Konsumen Barang Konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir (individu atau rumah tangga), dan bukan untuk kepentingan bisnis, barang konsumen dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu:  1. Convenience Goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian yang tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera dan memerlukan usaha yang minimum dalam perbandingan dan pembelianya. 2. Shooping Goods adalah barang yang proses pemilihan dan pembelianya, dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Kriteria pembanding meliputi harga, kualitas, dan model masing-masing. Contohnya: alat rumah tangga, pakaian, dan kosmetik. 3. Speciality goods adalah barang yang memiliki karakteristik atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Umumnya jenis barang ini terdiri atas barangbarang mewah, dengan merek dan model yang spesifik, seperti mobil jaguar dan pakaian desain terkenal. 4. Unsought goods adalah barang yang tidak diketahui oleh onsumen atau kalaupun sudah diketahui oleh konsumen, konsumen belum tentu tertarik untuk membelinya. Contohnya: batu nisan, ensiklopedi, dan tanah pekuburan. b. Barang industri Barang industri adalah barang yang di konsumsi oleh industriawan (konsumen antara atau konsumen bisnis). Barang industri digunakan untuk keperluan selain di konsumsi langsung yaitu: untuk diolah menjadi barang lain atau untuk dijual kembali. Barang industri dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:  1. Material and part, merupakan barang yang seluruhnya atau sepenuhnya masuk ke dalam produk jadi. Kelompok ini dibagi menjadi dua kelas yaitu bahan baku serta bahan jadi dan suku cadang. 2. Capital Items, merupakan barang tahan lama (long Lasting) yang memberi kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola produk jadi. 3. Supplies and service, merupakan barang yang tidak tahan lama serta jasa yang memberi kemudahan dalam mengembangkan atau mengelola keseluruhan produk jadi.

Pengertian Bauran Pemasaran (skripsi dan tesis)

 Bauran pemasaran (marketing mix) mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi pelanggan untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan dipasar. Bauran pemasaran sendiri meliputi kombinasi variabelvariabel pemasaran yang saling berhubungan satu sama lain yang mencakup 4 hal yaitu, produk (product), harga (Price), tempat (Place) dan promosi (promotion). Berikut ini definisi mengenai bauran pemasaran (marketing mix) yang dikemukakan oleh para ahli : Menurut Kotler dan Amstrong yang dialih bahasakan oleh Alexander Sindoro (2012 : 51) menyatakan marketing mix is the set of tactical marketing tools that the firm blends to produce the rensponse it wans im target markets. Kemudian pengertian bauran pemasaran di atas diperkuat oleh Djaslim Saladin (2010:101), yang menyatakan bahwa Bauran pemasaran dapat diartikan sebagai serangkaian dari variabel pemasaran yang dapat dikuasai oleh perusahaan dan digunakan untuk mencapai tujuan dalam pemasaran. Berdasarkan penjelasan para ahli di atas, peneliti sampai pada pemahaman bahwa bauran pemasaran merupakan seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran yang optimal sehingga mendapatkan respon yang diinginkan perusahaan guna mencapai pasar sasaran.
Sementara itu seperangkat alat-alat pemasaran tersebut diklasifikasikan menjadi empat kelompok yang luas yang disebut 4P pemasaran, Kotler dan Amstrong yang dialih bahasakan oleh Benyamin Molan (2012:51) mengklasifikasikannya sebagai berikut : 1. Product (Produk) Product means the goods and services combination the company offers to the  target market. (Produk merupakan keseluruhan konsep object atau proses yang memberikan sejumlah nilai kepada pelanggan). 2. Price (Harga) Price is the amount of money customers must past to obtain the product. (Harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan oleh pelanggan untuk suatu produk yang diinginkan). 3. Place (Tempat) Place includes company activities that make the product avaliable to target consumer. (Menunujukan kegiatan perusahaan untuk membuat produknya tersedia bagi konsumen) 4. Promotion (Promosi) Promotion means activities that communicate the merits of the product and persuade target customers to buy it. (Promosi adalah aktivitas yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi mengenai produk yang akan dijual).

Pengertian Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Sebuah perusahaan akan sukses apabila didalamnya terdapat kegiatan manajemen pemasaran yang baik. Manajemen pemasaran pun menjadi pedoman dalam menjalankan kelangsungan hidup perusahaan dan menjadi peran yang tidak dapat dipisahkan sejak dimulainya proses produksi hingga pada tahap barang sampai pada konsumen, karena apabila perusahaan dapat merencanakannya dengan baik maka akan menjadi keuntungan tersendiri bagi perusahaan khususnya dan konsumen pada umumnya. Berikut ini beberapa pendapat yang dikemukakan para ahli mengenai manajemen pemasaran, diantaranya sebagai berikut : Menurut Kotler dan Keller yang dialih bahasakan Bob Sabran (2012:27), mengemukakan bahwa marketing management as the art and science of choosing target markets and getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and communicating superior customer value. Artinya, Manajemen Pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan mendapatkan, menjaga, dan tumbuh pelanggan melalui penciptaan, memberikan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul. Lain halnya menurut Djaslim Saladin (2010:3), yang mengemukakan bahwa : “Manajemen pemasaran dapat diartikan sebagai suatu analisis, perencanaan, penerapan dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuantujuan organisasi.” Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli di atas, peneliti sampai pada pemahaman bahwa manajemen pemasaran merupakan ilmu yang dapat diaplikasikan dalam suatu organisasi atau perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan melalui proses merencanakan, melaksanakan, mengkoordinasikan, dan melibatkan konsep pemasaran contohnya penetapan harga, pemetaan distribusi, serta kegiatan promosi

Pengertian Pemasaran (skripsi dan tesis)

 

Pemasaran merupakan salah satu aktivitas penting yang dijalankan oleh perusahaan dalam usahanya untuk mengembangkan, mendapatkan keuntungan, dan mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan itu sendiri. Pemasaran juga merupakan suatu fungsi bisnis perusahaan yang bertujuan untuk mengidentifikasi atau menganalisis kebutuhan dan keinginan konsumen, tetapi banyak orang mempersepsikan pemasaran hanyalah memperkenalkan dan menjual saja padahal sebenarnya proses pemasaran telah dimulai sebelum produk-produk tersebut diproduksi dan tidak berakhir dengan penjualan. Banyak para ahli yang mengemukakan pemasaran dengan pengertian yang berbeda-beda tetapi sebenarnya memiliki makna yang hampir sama, hal ini disebabkan karena para ahli meninjau dan memandang pemasaran dari berbagai segi yang berbeda-beda.  Berikut ini peneliti paparkan definisi-definisi mengenai pemasaran yang dikemukakan beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut : Menurut Kotler dan Amstrong yang dialih bahasakan oleh Benyamin Molan (2012:5), mengemukakan bahwa : “Pemasaran adalah sebuah proses kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan ingin menciptakan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain.” Kemudian pengertian pemasaran di atas diperkuat Buchary Alma dan Djaslim Saladin (2010:2), yang mengemukakan bahwa : “Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial menyangkut individu atau kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran (nilai) produk dengan yang lain.”
Berdasarkan definisi yang dikemukakan para ahli di atas, peneliti sampai pada pemahaman bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang dilakukan pemasar dengan cara mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan manusia lalu menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan sesuatu yang bernilai kepada pihak lain

Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Penetapan harga merupakan suatu masalah ketika perusahaan harus menentukan harga untuk pertama kali. Hal ini terjadi ketika perusahaan mengembangkan atau memperoleh suatu produk baru, ketika ia memperkenalkan   produk lamanya ke saluran distribusi baru atau ke daerah geografis baru, dan ketika ia melakukan tender memasuki suatu tawaran kontrak kerja yang baru. Langkah prosedur untuk menetapkan harga, yaitu:2 1. Memilih sasaran harga Perusahaan pertama-tama harus memutuskan apa yang ingin ia capai dengan suatu produk tertentu. Jika perusahaan tersebut telah memilih pasar sasaran dan penentuan posisi pasarnya dengan cermat, maka strategi bauran pemasarannya, termasuk harga, akan cukup mudah. Misalnya, jika perusahaan kendaraan rekreasi ingin memproduksi sebuah truk mewah bagi konsumen yang kaya, hal ini mengimplikasikan penetapan harga yang mahal. Jadi strategi penetapan harga sangat ditentukan oleh keputusan yang menyangkut penempatan posisi pasar. 2. Menentukan permintaan Setiap harga yang ditentukan perusahaan akan membawa kepada tingkat permintaan yang berbeda dan oleh karenanya akan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap sasaran pemasarannya. Skedul permintaan menggambarkan jumlah unit yang akan dibeli oleh pasar pada periode waktu tertentu atas alternatif harga yang

Definisi Harga (skripsi dan tesis)

Harga adalah ukuran terhadap besar kecilnya nilai kepuasan seseorang terhadap produk yang dibelinya.1 Seseorang akan berani membayar suatu produk dengan harga yang mahal apabila dia menilai kepuasan yang diharapkannya terhadap produk yang akan dibelinya itu tinggi. Sebaliknya apabila seseorang itu menilai kepuasannya terhadap suatu produk itu rendah maka dia tidak akan bersedia untuk membayar atau membeli produk itu dengan harga yang mahal. Nilai ekonomis diciptakan oleh kegiatan yang terjadi dalam mekanisme pasar antar pembeli dan penjual. Dalam transaksi pembelian, maka kedua belah pihak akan memperoleh suatu imbalan. Besarnya imbalan itu ditentukan oleh perbedaan antara nilai dari sesuatu yang diberikan dengan nilai dari sesuatu yang diterima dengan yang diberikan oleh suatu perusahaan disebut laba. Sedangkan kelebihan nilai yang didapatkan oleh pembeli adalah berupa kepuasan yang diperoleh dari pemilikan produk yang dibelinya di atas nilai uang yang dibayarkannya untuk itu. Jadi laba dalam hal ini merupakan motivasi bagi perusahaan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Dengan keuntungan tersebut maka pengusaha dapat melakukan perluasan usaha serta melakukan penelitian dan pengembangan bagi usahanya untuk pengembangan lebih lanjut dalam menciptakan kepuasan konsumen yang lebih baik dan lebih luas lagi. Secara historis harga itu ditentukan oleh pembeli dan penjual melalui proses tawar menawar, sehingga terjadilah kesepakatan harga tertentu. Pada mulanya harga menjadi faktor penentu, tetapi dewasa ini faktor penentu pembelian semakin bervariasi, sehingga faktor selain harga juga banyak berperanan dalam keputusan pembelian. Semua variabel yang terdapat pada bauran pemasaran merupakan unsur biaya kecuali variabel harga yang satusatunya merupakan unsur pendapatan (revenue)

Pengaruh Iklan Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Iklan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan suatu program pemasaran. Berapapun harga dan desain kemasan suatu produk, bila konsumen belum pernah mendengarnya, melihatnya dan tidak yakin bahwa produk itu akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan pernah membelinya. Penelitian yang dilakukan oleh Sumarno (2011) mengenai : “Pengaruh Iklan dan Citra Merek Honda Terhadap keputusan Pembelian Sepeda Motor Honda Scoopy (Studi kasus pada pengguna sepeda motor Honda Scoopy pada Mahasiswa S1 UNAND)” hasil penelitiannya menunjukkan bahwa iklan dan citra merek berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Kemasan Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Memasarkan sebuah produk, perusahaan harus dapat menciptakan desain kemasan yang inovatif dan kreatif karena kemasan merupakan media penjualan yang penting sebab berfungsi sebagai sarana pemasaran. Kemasan adalah sesuatu yang bersentuhan langsung dengan konsumen, dapat dipegang, disentuh, dan dirasakan. Kemasan menjelaskan segala sesuatu tentang produk sehingga berfungsi sebagai alat untuk membangun image, karakter, serta sarana memperbesar pasar. Kemasan berperan efektif dalam keputusan pembelian karena dapat membuat konsumen tertarik dan membeli produk. Penelitian yang dilakukan oleh Nento (2013) mengenai : “Pengaruh Merek dan Kemasan Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen (Studi kasus pada Toko Pia Saronde)”. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa merek dan kemasan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Harga Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Memasarkan suatu produk atau jasa, perusahaan harus dapat menetapkan strategi harga secara tepat. Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan unsur yang lain menimbulkan biaya. Penelitian yang dilakukan oleh Gemilar (2008) mengenai “Pengaruh Harga, Merek dan Kemasan Terhadap Keputusan Pembelian Produk Nyonya Meneer ( Studi Kasus pada Toko-toko Jamu Nyonya Meneer di Kecamatan  Gayam Sari, Semarang )”, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Proses Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Membeli suatu produk, seorang konsumen biasanya melalui 5 (lima) tahap proses keputusan pembelian. Walaupun hal ini tidak selalu terjadi dan konsumen bisa melewati beberapa tahap urutannya, namun kita akan menggunakan model di bawah ini, karena model tersebut menunjukkan proses pertimbangan selengkapnya yang muncul pada saat seorang konsumen melakukan pembelian. Menurut Kotler dan Amstrong pada (Setiadi,2003:16) ada lima tahap dalam proses keputusan pembelian konsumen melewati kelima tahap seluruhnya pada setiap pembelian. Namun dalam pembelian yang lebih rutin, konsumen seringkali melompati atau membalik beberapa tahap ini. Secara rinci tahap-tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Pengenalan kebutuhan Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan aktualnya dengan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Pemasar perlu mengidentifikasikan keadaan yang memicu kebutuhan tertentu. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen, pemasar dapat mengidentifikasikan rangsangan yang Mengenali Kebutuhan Keputusan Membeli Perilaku Pasca Pembelian Pencarian Informasi Evaluasi Alternatif  paling sering membangkitkan minat terhadap suatu jenis produk. Pemasar kemudian dapat mengembangkan strategi pemasaran yang memacu minat konsumen. 2. Pencarian Informasi Seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Proses mencari informasi secara aktif dimana ia mencari bahan-bahan bacaan, menelepon temannya dan melakukan kegiatankegiatan mencari untuk mempelajari yang lain. Umumnya jumlah aktivitas pencarian konsumen akan meningkat bersamaan dengan konsumen berpindah dari situasi pemecahan masalah yang terbatas ke pemecahan masalah yang ekstensif. Salah satu faktor kunci bagi pemasar adalah sumber-sumber informasi utama yang dipertimbangkan oleh konsumen dan pengaruh relatif dari masingmasing sumber terhadap keputusan-keputusan membeli. Sumber-sumber informasi konsumen dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok: a. Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan b. Sumber komersil : iklan, tenaga penjualan, penyalur, kemasan dan pameran c. Sumber umum : media massa, organisasi konsumen d. Sumber pengalaman : pernah menangani, menguji, menggunakan produk. Secara umun konsumen menerima informasi terbanyak dari suatu produk dari sumber-sumber komersial, yaitu sumber-sumber yang didominasi oleh para pemasar. Setiap sumber informasi melaksanakan suatu fungsi yang agak berbeda dalam mempengaruhi keputusan membeli. Informasi komersial  umumnya melaksanakan fungsi member tahu, sedangkan sumber pribadi melaksanakan fungsi legistimasi dan atau evaluasi. Karena itu suatu perusahaan harus menyusun strategi agar mereknya masuk ke perangkat pengenalan, perangkat pertimbangan dan perangkat pilihan dari calon pembeli. Bila tidak, ia akan kehilangan peluang untuk menjual pada pelanggan. Lebih jauh lagi, perusahaan harus mengidentifikasi merek lain yang ada di perangkat pilihan dari konsumen sehingga perusahaan dapat merencanakan daya tarik produknya yang akan bersaing. 3. Evaluasi Alternatif Bagaimana konsumen memproses informasi tentang pilihan merek untuk membuat keputusan akhir ? ternyata tidak ada proses evaluasi yang sederhana dan tunggal yang di gunakan oleh konsumen atau bahkan oleh satu konsumen pada seluruh situasi membeli. Ada beberapa proses evaluasi keputusan. Kebanyakan model dari proses evaluasi konsumen bersifat kognitif, yaotu mereka memandang konsumen sebagi pembentuk penilaian terhadap produk terutama berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional. Konsumen mungkin mengembangkan seperangkat kepercayaan merek tentang bagaimana setiap merek berada pada ciri masing-masing. Kepercayaan merek menimbulkan citra merek. 4. Keputusan Pembeli Keputusan untuk membeli di sini merupakan proses dalam pembelian yang nyata. Dalam tahap evaluasi, konsumen menentukan tingkat merek dan membentuk niat pembelian. Pada umumnya konsumen akan membeli merek yang paling disukai. Keputusan pembelian ini sangat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu : faktor sikap orang lain dan faktor situasional yang tidak diharapkan. Bila konsumen menentukan keputusan untuk membeli, konsumen akan menjumpai keputusan yang harus diambil menyangkut jenis produk, merek, penjual, kuantitas, waktu pelayanan, dan cara pembayarannya. 5. Perilaku Pasca Pembelian Perilaku pascapembelian merupakan tahap proses keputusan membeli dimana konsumen mengambil tindakan selanjutnya setelah pembelian berdasarkan kepuasan atau ketidakpuasan mereka. Hal yang menentukan kepuasan atau ketidakpuasan terhadap sebuah produk adalah hubungan antara ekspektasi konsumen dan kinerja anggapan produk. Jika produk tidak memenuhi ekspektasi, konsumen akan kecewa ; jika produk memenuhi ekspektasi, konsumen puas ; jika produk melebihi ekspektasi, konsumen akan sangat puas

Pengertian Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk pada dasarnya erat kaitannya dengan perilaku konsumen. Menurut The America Marketing Association pada (Setiadi, 2003:3), perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungannya dimana manusia melakukan kegiatan pertukaran dalam hidup mereka. Menurut Peter dan Olson pada (Sangadji & Sopiah, 2013:332), pengambilan keputusan konsumen adalah proses pemecahan masalah yang diarahkan pada sasaran. Peter dan Olson menyebutkan bahwa inti dari pengambilan keputusan konsumen (consumer decision making) adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua prilaku alternative atau lebih, dan memilih salah satu diantaranya. Pengambilan keputusan konsumen meliputi semua proses yang dilalui konsumen untuk mengenali masalah, mencari solusi, mengevaluasi alternative, dan memilih di antara pilihan-pilihan

Pemilihan media (skripsi dan tesis)

Media adalah tempat dimana iklan disajikan. Iklan didengar dan dibaca oleh masing-masing audiens yang dituju menggunakan media tertentu. Sebelum menyeleksi media secara lebih lanjut sebaiknya pengiklan menyeleksi kategori dari masing-masing media secara umum untuk menyampaikan pesan kepada audiensnya. Strategi media juga merupakan cara perencana media untuk menentukan bauran media yang paling efektif untuk menjangkau audiensi sasaran dan mencapai tujuan media. Tujuan dari strategi ini ialah agar konsumen lebih tahu dan lebih paham mengenai pesan yang disampaikan agar membeli produk yang dihasilkan perusahaan. Media iklan ini dapat berupa televisi, radio, surat kabar, majalah, dll. Faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan pemilihan media menurut kotler dan keller (2013:210) adalah a. Kebiasaan pemirsa media sasaran. Radio dan televisi adalah media paling efektif untuk menjangku remaja. b. Karakteristik produk. Jenis media mempunyai potensi berbeda untuk demonstrasi, visualisasi, penjelasan, tingkat kepercayaan, dan warna. Gaun wanita paling baik ditampilkan dalam majalah berwarna, tetapi produk teknologi yang memerlukan presentasi dinamis seperti kamera digital, mesin cetak atau telepon seluler paling baik ditampilkan dalam televisi. c. Karakteristik pesan Batas waktu dan kandungan informasi akan memengaruhi pilihan media. Pesan yang mengumumkan obral besar besok hari akan memerlukan radio, TV, atau surat kabar. Pesan yang berisi banyak data teknis akan memerlukan majalah atau surat khusus. d. Biaya Biaya iklan televisi sangatlah mahal, sementara iklan surat kabar relatif murah

Fungsi periklanan (skripsi dan tesis)

Menurut Lee dan Johnson (2007:10) periklanan memiliki fungsi: 1. Periklanan menjalankan sebuah fungsi “Informasi”. Ia mengomunikasikan informasi produk, ciri-ciri, dan lokasi penjualannya. Ia memberitahu konsumen tentang produk-produk baru. 2. Periklanan menjalankan sebuah fungsi ”Persuasif”. Ia mencoba membujuk para konsumen untuk membeli merek-merek tertentu atau mengubah sikap mereka terhadap produk atau perusahaan tersebut. 3. Periklanan menjalankan sebuah fungsi “Pengingat”. Ia terus-menerus mengingatkan para konsumen tentang sebuah produk sehingga mereka akan tetap membeli produk yang diiklankan tanpa memperdulikan merek pesaingnya.

Tujuan iklan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2013:203) iklan memiliki tujuan sebagai: 1. Iklan informatif Bertujuan menciptakan kesadaran merek dan pengetahuan tentang produk atau fitur baru produk yang ada. 2. Iklan Persuasif Bertujuan menciptakan kesukaan, preferensi, keyakinan, dan pembelian produk atau jasa. 3. Iklan Pengingat Bertujuan menstimulasikan pembelian ulang produk atau jasa. 4. Iklan Penguat Bertujuan meyakinkan pembeli saat ini bahwa mereka melakukan pilihan tepat

Pengertian iklan (skripsi dan tesis)

Iklan merupakan salah satu alat yang umum digunakan oleh perusahaan untuk mengarahkan komunikasi persuasif pada pembeli, Laksana (2008:140). Menurut Kotler dan Keller (2013:202) periklanan (advertising) adalah semua bentuk terbayar atas presentasi nonpribadi dan promosi ide, barang, oleh jasa oleh sponsor yang jelas. Iklan bisa menjadi cara yang efektif dari segi biaya untuk mendistribusikan pesan, baik dengan tujuan membangun preferensi merek atau mendidik orang. Bahkan dalam lingkungan media yang penuh tantangan saat ini, iklan yang baik akan menghasilkan hasil yang memuaskan. Yang diukur melalui indikator : 1. Iklan yang menarik sehingga diingat oleh konsumen. 2. Konsumen mengerti kandungan pesan dalam iklan. 3. Informasi yang disampaikan dalam iklan sesuai dengan mutu produk. Periklanan adalah komunikasi komersil dan nonpersonal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak target melalui media bersifat massal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail (pengeposan langsung), reklame luar ruang, atau kendaraan umum (Lee dan Johnson, 2007:3). Meskipun tidak secara langsung berdampak pada pembelian, iklan menjadi sarana untuk membantu pemasaran yang efektif dalam menjalin komunikasi antara perusahaan dan konsumen, sebagai upaya perusahaan dalam menghadapi persaingan

Tujuan Kemasan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2013:28) kemasan memiliki tujuan : 1. Mengidentifikasi merek 2. Mengekspresikan informasi deskriptif dan persuasif 3. Memfasilitasi transportasi dan perlindungan produk 4. Membantu penyimpanan dirumah 5. Membantu konsumsi produk Untuk mencapai tujuan pemasaran merek dan memuaskan keinginan konsumen, pemasar harus memilih komponen estetika dan fungsional dengan tepat. Pertimbangan estetika berhubungan dengan ukuran kemasan serta bentuk, bahan, warna, teks, dan grafis. Warna biru memberikan kesan sejuk dan tenang, warna merah memberikan kesan aktif dan hidup, kuning memberikan kesan pengobatan dan lemah, warna-warna pastel memberikan kesan feminine, dan warna gelap maskulin. Secara fungsional, desain struktural adalah hal yang penting. Misalnya inovasi produk makanan selama bertahun-tahun menghasilkan kemasan yang dapat disegel kembali, tahan banting dan lebih nyaman digunakan ( mudah digenggam, mudah dibuka, atau mudah diremas). Elemen kemasan harus selaras satu sama lain dan juga dengan penetapan harga, iklan, dan juga bagian program pemasaran lainnya. Menurut Laksana (2008:83) kemasan sangat di perlukan karena : 1. Kemasan memenuhi sasaran keamanan (safety) dan kemanfaatan (utility) 2. Kemasan bisa melaksanakan program pemasaran perusahaan   3. Untuk meningkatkan laba.

Peran Kemasan Sebagai Alat Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Laksana (2008:82) peran kemasan sebagai alat pemasaran yaitu: a. Swalayan (self service). Semakin banyak jumlah produk yang dijual dengan cara pembeli mengambil sendiri barang yang dibutuhkannya, kemasan makin berfungsi lebih banyak lagi dalam proses penjualan, kemasan harus menarik, menyebutkan cirri-ciri produk, meyakinkan konsumen dan memberi kesan menyeluruh yang menguntungkan. b. Kemakmuran konsumen (costumer offluence) Meningkatnya kekayaan konsumen akan berarti bahwa konsumen bersedia membayar lebih mahal bagi kemudahan, penampilan, ketergantungan, dan prestise dari kemasan yang lebih baik. c. Citra perusahaan dan merek (company and brend image) Banyak perusahaan mengakui adanya kekuatan yang di kandung dari kemasan yang dirancang dengan cermat dan mempercepat konsumen mengenali perusahaan atau mereknya. d. Peluang inovasi (innovational opportunity) Cara kemasan yang inovatif akan bermanfaat bagi konsumen dan juga memberikan keuntungan bagi produsen. Contoh: inovatif kemasan biskuit Kong Guan, sangat menarik dan seolah-olah lebih berkualitas dan harga diri konsumen

Pengertian kemasan (skripsi dan tesis)

Kemasan (packaging) merupakan aktivitas merancang dan memproduksi wadah atau bungkus suatu produk (Kotler dan keller, 2013:27). Menurut Laksana (2008:82), kemasan adalah segala kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus suatu produk. Wadah atau bungkus tersebut terdiri dari tiga tiga tingkat bahan, yaitu : a. Kemasan dasar (primary package), yaitu bungkus langsung dari suatu produk. b. Kemasan tambahan (secondary package), yaitu bahan yang melindungi kemasan dasar dan dibuang bila produk tersebut akan digunakan. c. Kemasan pengiriman (shipping package), yaitu setiap kemasan yang diperlukan waktu penyimpanan, pengangkutan diidentifikasi. Contoh: kotak yang menjadi tempat-tempat 6 lusin lotion. Kemasan melibatkan perancangan dan produksi wadah atau pembungkus untuk sebuah produk. Pada dasarnya fungsi utama kemasan adalah menyimpan dan melindungi produk. Namun pada saat ini, ada banyak faktor yang membuat kemasan menjadi saran pemasaran penting. Kemasan yang didesain dengan buruk akan menyebabkan konsumen pusing dan menyebabkan perusahaan kehilangan penjualan. Sebaliknya, kemasan yang inovatif bisa memberi manfaat kepada perusahaan melebihi pesaing dan mendorong penjualan. Pada akhirnya kemasan berlaku sebagai pemasaran produk dengan mengkomunikasikan kepribadian atau fungsi produk konsumsi secara unik sehingga lebih mudah untuk diidentifikasi. Sihombing, (Susilo,MIX edisi November 2005) mengemukakan 4 dimensi yang digunakan untuk menilai kemasan antara lain :  1. Portability artinya kemudahan konsumen dalam menggunakan produk dalam kemasan itu kapan pun tanpa kesulitan. Indikator portability adalah: a. Praktis dibawa b. Mudah dibuka c. ringan dibawa d. Mudah dipegang 2. Memorable artinya mencakup kemudahan konsumen untuk mengingat visual dari produk (warna, desain, dan bentuk kemasan) maupun penggunaannya. Indikator memorable adalah: a. Warna menarik b. Desain Mudah diingat c. Warna gambarkan rasa d. Bentuk menarik e. Desain Karakter ceria 3. Easy to read artinya mudah dibaca mencakup cetakan huruf-huruf yang berisi informasi di dalam kemasan yang dapat dibaca oleh konsumen. Indikator easy to read adalah: a. Tulisan dapat dibaca b. Dapat dimengerti c. Merek Berpengaruh d. Informasi Komposisi e. Kombinasi warna unik 4. Visual Protection artinya melindungi produk yang dikemasnya yang mencakup fungsi, bahan, serta struktur produknya. Indikator visual protection adalah: a. Isi tetap segar b. Terlindung dari cuaca c. Tidak mudah rusak d. Terlindung dari bau

Tujuan Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Perusahaan menetapkan stratetegi dalam penetapan harga untuk menciptakan keunggulan dalam menghadapi pesaing. Harga ditentukan oleh berdasarkan berbagai prespektif tujuan suatu perusahaan. Tujuan dari ditetapkannya harga (Laksana, 2008:114), yaitu : 1. Profit maximalization pricing (maximalisasi keuntungan), yaitu untuk mencapai maksimalisasi keuntungan. 2. Market share pricing (panetapan harga untuk merebut pangsa pasar),Dengan harga yang rendah, maka pasar akan dikuasai, syaratnya: a. Pasar cukup sensitive terhadap harga b. Biaya produksi dan distribusi turun jika produksi naik c. Harga turun, pesaing sedikit.  3. Market skimming pricing Jika ada sekelompok pembeli yang bersedia membayar dengan harga yang tinggi terhadap produk yang ditawarkan maka perusahaan akan menetapkan harga yang tinggi terhadap produk yang ditawarkan maka perusahaan akan menetapkan harga yang tinggi walaupun kemudian harga tersebut akan turun (memerah pasar). Syaratnya: a. Pembeli cukup b. Perubahan biaya distribusi lebih kecil dari perubahan pendapatan c. Harga naik tidak begitu berbahaya terhadap pesaing d. Harga naik menimbulkan kesan produk yang superior. 4. Current revenue pricing (penetapan harga untuk laba maksimal). Penetapan harga yang tinggi untuk memperoleh revenue yang cukup agar uang kas kembali. 5. Target profit pricing (penetapan harga untuk sasaran) Harga berdasarkan target penjualan dalam periode tertentu. 6. Promotional pricing (penetapan harga untuk promosi) Penetapan harga untuk suatu produk dengan maksud untuk mendorong penjualan produk-produk lain. Ada dua macam, yaitu: a. Loss leader pricing, penetapan harga untuk suatu produk agar pasar mendorong penjualan produk yang lainnya. b. Prestice pricing, penetapan harga yang tinggi untuk suatu produk guna meningkatkan image tentang kualitas.

Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Perusahaan harus menetapkan harga pada saat pertama kali memasarkan produk baru. Perusahaan harus menentukan di mana perusahaan akan memposisikan produknya berdasarkan kualitas dan harga. Perusahaan harus mempertimbangkan banyak faktor dalam menetapkan kebijakan harga. Kotler dan keller (2013:76) menjelaskan enam tahap dalam penetapan harga, yaitu: 1. Memilih tujuan penetapan harga Perusahaan harus menentukan tujuan apa yang akan dicapai dari suatu produk. Semakin jelas tujuan perusahaan, maka akan semakin mudah untuk menetapkan harga. Setiap harga yang ditetapkan memiliki pengaruh yang berbeda atas tujuan-tujuan perusahaan seperti laba, penjualan, dan pangsa pasar. 2. Menentukan permintaan Setiap harga yang ditetapkan akan menghasilkan tingkat permintaan yang berbeda-beda dan karenanya akan memberikan pengaruh yang berbeda pada tujuan pemasaran. Dalam keadaan normal permintaan dan harga memiliki hubungan negatif, yaitu semakin tinggi harga maka akan semakin rendah permintaan, sebaliknya. 3. Memperkirakan biaya Permintaan umumnya menetapkan batas harga tertinggi yang dapat dikenakan perusahaan atas suatu produk. Dan biasanya perusahaan menetapkan harga yang mampu menutup biaya produksi, distribusi dan penjualan produknya, termasuk pengembalian yang memadai atas usaha dan risikonya. 4. Menganalisa harga dan penawaran pesaing Harga pesaing mampu membantu perusahaan dalam menetapkan harga suatu produk. Perusahaan membutuhkan informasi yang memadai mengenai harga dan kualitas pesaing. Perusahaan dapat menggunakan harga pesaing sebagai pertimbangan dalam melakukan penetapan harga. 5. Memilih metode penetapan harga Terdapat berbagai metode dalam menetapkan harga, yaitu: penetapan harga markup, penetapan harga berdasarkan pengembalian sasaran, penetapan harga berdasarkan nilai yang diyakini, penetapan harga nilai, penetapan harga berdasarkan harga berlaku, dan penetapan harga penawaran tertutup. 6. Memilih harga akhir Dengan menggunakan metode-metode penetapan harga tersebut, maka perusahaan telah memiliki beberapa alternatif harga yang akan dipilih sebagai harga akhir

Psikologi Konsumen dan Harga (skripsi dan tesis)

Keputusan pembelian didasarkan pada bagaimana konsumen menganggap harga dan beberapa harga aktual yang saat ini mereka pertimbangkan bukan harga yang dinyatakan pemasar. Pelanggan mungkin memiliki batas bawah harga dimana harga yang lebih rendah dari batas itu menandakan kualitas yang buruk atau kualitas yang tidak dapat diterima, dan juga batas atas harga yang dimana harga yang lebih tinggi dari batas itu di anggap terlalu berlebihan dan tidak sebanding dengan uang yang dikeluarkan. Konsumen sering menerapkan harga referensi (referece price), membandingkan harga yang diteliti dengan harga referensi internal yang mereka ingat atau dengan kerangka referensi eksternal seperti harga eceran regular yang terpasang. Penjual sering berusaha memanipulasi pembeli. Misalnya, penjual dapat mensituasikan produknya di antara pesaing mahal untuk menunjukkan bahwa mereka berada pada kelas yang sama. Departemen store akan memajang busana wanita di departemen terpisah yang direferensikan oleh harga; gaun ditemukan di departemen yang lebih mahal yang diasumsikan mempunyai kualitas lebih baik. Pemasar juga mendorong pemikiran harga referensi dengan menyatakan harga eceran yang disarankan produsen yang tinggi, atau dengan mengindikasikan bahwa harga asli produk itu jauh lebih tinggi, atau dengan menunjukkan harga tinggi pesaing, kotler dan keller (2013:72)

Pengertian Harga (skripsi dan tesis)

Harga adalah suatu elemen bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan; elemen lain menghasilkan biaya. Mungkin harga adalah elemen termudah dalam program pemasaran untuk di sesuaikan ; fitur produk, saluran dan bahkan komunikasi membutuhkan lebih banyak waktu. Harga juga mengomunikasikan positioning nilai yang dimaksudkan dari produk atau merek perusahaan ke pasar. Produk yang di rancang dan dipasarkan dengan baik dapat dijual dengan harga tinggi dan menghasilkan laba yang besar ( kotler dan keller, 2013:67 ). Menurut Sunarto (2004:206) harga adalah jumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa. Lebih luas lagi, harga adalah jumlah dari seluruh nilai yang di tukar konsumen atas manfaat-manfaat memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut. Laksana (2008:105) menyatakan harga adalah jumlah uang yang di perlukan sebagai penukar berbagai kombinasi produk dan jasa, dengan demikian maka suatu harga haruslah dihubungkan dengan bermacam-macam barang dan/atau pelanan, yang akhirnya akan sama dengan sesuatu yaitu produk dan jasa. Harga merupakan salah satu elemen yang paling penting dalam menentukan pangsa pasar dan keuntungan suatu perusahaan. Harga merupakan faktor utama yang mempengaruhi pilihan para pembeli. Harga dapat mendukung citra sebuah  produk, merebut penjualan dari para pesaing, atau mempengaruhi seseorang untuk mengubah waktu pemesanan mereka. Harga dapat menunjukkan kualitas merek dari suatu produk, dimana konsumen mempunyai anggapan bahwa harga yang mahal biasanya mempunyai kualitas yang baik. Pada umumnya harga mempunyai pengaruh yang positif dengan kualitas, semakin tinggi harga maka semakin tinggi kualitas.
Konsumen mempunyai anggapan adanya hubungan yang positif antara harga dan kualitas suatu produk, maka mereka akan membandingkan antara produk yang satu dengan produk yang lainnya, dan barulah konsumen mengambil keputusan untuk membeli suatu produk. Harga memainkan peranan penting dalam pilihan pembeli, terlebih pada suatu produk yang dipasarkan di negara miskin, yang kebanyakan konsumennya memliliki sensitivitas yang tinggi terhadap harga. Perusahaan harus menetapkan harga produknya secara relevan dan dapat dijangkau oleh pasar potensial suatu produk. Harga erat kaitannya dengan kualitas produk. Dalam penelitian ini menggunakan 2 dimensi yang mencirikan harga yaitu (Kotler dan keller, 2013:83): 1. Harga Produk a. Keterjangkauan harga 2. Harga Pesaing a. Daya saing harga b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk

Pengaruh Promosi Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Promosi merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan perusahaan, dimana dengan melakukan promosi perusahaan dapat memasarkan produknya dengan merangsang dan menyebarkan informasi tentang produk yang ditawarkan dan manfaat atau kegunaan dari produk tersebut. Menurut Umar (2002) Pemasaran tidak hanya membicarakan mengenai produk, harga produk dan pelayanan tetapi juga informasi dan mengkomunikasikan produk ini kepada masyarakat agar produk itu dikenal dan daya beli pun dapat meningkat. Kegiatan promosi bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara perusahaan dengan konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk memengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Promosi merupakan Faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran, betapa pun berkualitasnya suatu produk bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk tersebut akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan pernah membelinya. Sehingga promosi sangat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian produk. Permyataan tersebut dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2013), Wahyudi (2012) Haque et.al (2010), Ayu dan Harimukti (2012), Widiastuti dan Widowati (2011). Apabila promosi ditingkatkan, perilaku konsumen untuk melakukan pembelian juga akan meningkat

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, property, organisasi, informasi dan ide (Kotler, 2008). Jika konsumen merasa cocok dengan suatu produk dan produk tersebut dapat memenuhi kebutuhannya, maka konsumen mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut terus menerus, untuk produk yang merupakan kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman, konsumen sangat mempertimbangkan kualitasnya. Karena merupakan kebutuhan pokok dan sangat berhubungan dengan kesehatan manusia, maka kualitas produk sangat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian produk. Permyataan tersebut dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Haque et.al (2010)

Pengaruh Harga Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Harga merupakan faktor yang menjadi pertimbangan konsumen dalam melakukan pembelian, sehingga faktor harga ini tidak bisa dikesampingkan oleh perusahaan. Dengan kata lain, pada tingkat harga tertentu yang telah dikeluarkan, konsumen dapat merasakan manfaat dari produk yang telah dibelinya sehingga konsumen akan merasa puas apabila manfaat yang mereka dapatkan sebanding atau bahkan lebih tinggi dari harga yang ditetapkan. Sehingga dalam penentuan harga produk atau jasa yang dijual, baik perusahaan besar maupun usaha kecil sekalipun harus memperhatikan konsumen dan para pesaingnya. Permyataan tersebut dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2013), Wahyudi (2012) Haque et.al (2010), Ayu dan Harimukti (2012),  Widiastuti dan Widowati (2011)

Promosi (skripsi dan tesis)

Promosi merupakan salah satu kegiatan pemasaran yang penting bagi perusahaan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan serta meningkatkaan kualitas penjualan untuk meningkatkan  kegiatan pemasaran dalam hal memasarkan barang atau jasa dari suatu perusahaan. Promosi adalah segala bentuk komunikasi yang digunakan untuk menginformasikan (to inform), membujuk (to persuade), atau mengingatkan orang-orang tentang produk yang dihasilkan organisasi, individu, ataupun rumah tangga (Simamora, 2003). Menurut Henry Simamora (2003) ada beberapa alasan para pemasar melakukan promosi antara lain: a. Menyediakan informasi : Pembeli dan penjual mendapat manfaat dari fungsi informasional yang sanggup dilakukan oleh promosi. Para pembeli menemukan program baru yang dapat membantunya dan para penjual dapat menginformasikan kepada calon pelanggan tentang barang dan jasa. b. Merangsang permintaan : Para pemasar menginginkan konsumen membeli produknya dan mereka menggunakan promosi untuk membuat konsumen melakukan permintaan. c. Membedakan produk : Organisasi-organisasi mencoba membedakan mereka dan produknya melalui penggunaan promosi, khususnya produk yang tidak banyak berbeda dari para pesaingnya. d. Mengingatkan para pelanggan saat ini : Mengingatkan para pelanggan akan manfaat dari produk perusahaan bisa mencegah mereka berpaling kepada pesaing pada saat mereka memutuskan untuk mengganti atau memutakhirkan produknya.  e. Menghadang pesaing : Promosi dapat digunakan untuk menghadapi upaya pemasaran dari pesaing untuk melawan kampanye periklanannya. f. Menjawab berita negatif : Kompetisi bukan hanya penjualan produk serupa dan perusahaan lainnya, perusahaan menjadi korban publisitas dan pemalsuan. g. Memuluskan fluktuasi-fluktuasi permintaan : Perusahaan bnayak mengalami tantangan-tantangan permintaan musiman, dimana para pelanggan membeli lebih banyak selama beberapa bulan tertentu dan berkurang pada bulan-bulan lainnya. Promosi membantu mengisi kesenjangan yang ada diantara kepincangan-kepincangan permintaan musiman tersebut. Bauran Promosidalam memperkenalkan suatu produk dan jasa adalah sebagai berikut :
 a. Periklanan (Advertising)
Periklanan merupakan salah satu bentuk dari komunikasi impresional yang digunakan oleh perusahaan barang atau jasa. Peranan periklanan dalam pemasaran jasa adalah untuk membangun kesadaran (awareness) terhadap keberadaan jasa yang ditawarkan, menambah pengetahuan konsumen tentang jasa yang ditawarkan, membujuk calon konsumen untuk membeli atau menggunakan jasa tersebut, dan membedakan diri perusahaan satu dengan perusahaan lain.
 b. Penjualan Perseorangan (Personal selling)
Penjualan perseorangan berperanan penting dalam pemasaran, karena: 1) Interaksi personal penyedia jasa dangan konsumen sangat penting 2) Jasa tersebut disediakan oleh orang, bukan mesin 3) Orang merupakan bagian dari produk jasa 4) Bila dibandingkan dengan media perikanan, maka pesan yang disampaikan melalui media ini ditujukan kepada yang sebenarnya bukan prospek (calon pembeli), melalui penjualan perorangan perusahaan sudah berhadapan dengan calon pembeli potensial.
 c. Promosi Penjualan
Promosi penjualan adalah semua kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan arus barang atau jasa dari produsen sampai pada penjualan akhirnya. Promosi penjualan dapat diberikan kepada: 1) Konsumen, berupa penawaran cuma-cuma, sampel, demo produk, kupon, pengembalian tunai, hadiah, kontes, dan garansi. 2) Perantara, berupa barang cuma–cuma, diskon, iklan kerja sama, distribution contests, penghargaan. 3) Tenaga penjualan, berupa bonus, penghargaan , dan hadiah untuk tenaga penjualan terbaik.
d. Hubungan Masyarakat (PublicRelational) Perusahaan tidak hanya harus berhubungan dengan pelanggan, pemasok, dan penyalur, tetapi dengan kumpulan kepentingan publik yang lebih besar. Program hubungan masyarakat, antara lain publikasi, acara–acara penting, hubungan dengan investor, pameran, dan mensponsori beberapa acara.
e. Informasi dari Mulut ke Mulut (WordofMouth)
Pelanggan akan berbicara kepada pelanggan lain yang berpotensial tentang pengalamannnya. Sehingga informasi dari mulut-kemulut ini sangat besar pengaruhnya dan dampaknya terhadap pemasaran dibandingkan dengan aktivitas komunikasi lainnya. f. Pemasaran Langsung (DirectMarketing) Pemasaran langsung merupakan unsur terakhir dalam bauran komunikasi dan promosi

Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Pengertian produk (product) menurut Kotler (2009) adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Selain itu produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui hasil produksinya (Tjiptono, 2008).Menurut Kotler dan Armstrong (2008) beberapa atribut yang menyertai dan melengkapi produk (karakteristik atribut produk) adalah: a. Merek (branding) Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semua ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan membedakannya dari produk pesaing. Pemberian merek merupakan masalah pokok dalam strategi produk. Pemberian merek itu mahal dan memakan waktu, serta dapat membuat produk itu berhasil atau gagal.
Nama merek yang baik dapat menambah keberhasilan yang besar pada produk (Kotler dan Armstrong, 2008).  b. Pengemasan (Packing) Pengemasan (packing) adalah kegiatan merancang dan membuat wadah atau pembungkus suatu produk. Pengemasan melibatkan merancang dan membuat wadah atau pembungkus suatu produk. c. Kualitas Produk (Product Quality) Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan, ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan dapat menerapkan program ”Total Quality Manajemen (TQM)”. Selain mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk meningkatkan nilai konsumen. Menurut Kotler dan Amstrong (2008) kualitas adalah karakteristik dari produk dalam kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan dan bersifat laten. Sedangkan menurut Tjiptono (2008), kualitas merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi prasyarat kebutuhan pelanggan atau menilai sampai seberapa jauh sifat dan karakteristik itu memenuhi kebutuhannya. Untuk mencapai kualitas produk yang diinginkan maka diperlukan suatu standarisasi kualitas. Cara ini dimaksudkan untuk menjaga agar produk yang dihasilkan memenuhi standar yang telah ditetapkan sehingga konsumen tidak akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang 16 bersangkutan. Pemasar yang tidak memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun akan cenderung menurun. Jika pemasar memperhatikan kualitas, bahkan diperkuat dengan periklanan dan harga yang wajar maka konsumen tidak akan berpikir panjang untuk melakukan pembelian terhadap produk (Kotler dan Amstrong, 2008).
Menurut Kotler and Amstrong (2008) arti dari kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya.Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas produk adalah keseluruhan barang dan jasa yang berkaitan dengan keinginan konsumer yang secara keunggulan produk sudah layak diperjualkan sesuai harapan dari pelanggan. Menurut Tjiptono (2008), kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan manfaat bagi pelanggan. Kualitas suatu produk baik berupa barang atau jasa ditentukan melalui dimensidimensinya. Dimensi kualitas produk menurut Tjiptono (2008) adalah: a. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk. b. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. 17 Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya produk. c. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana karakteristik sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk. d. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk. e. Reliability (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan. f. Aesthetics (estetika), merupakan bentuk dari tampilansuatu produk. g. Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. h. Serviceability, meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta kompetensi dan keramahtamahan staf layanan

Harga (skripsi dan tesis)

Definisi harga menurut (Kotler, 2003) adalah sejumlah uang yang dibebankan untuk sebuah produk atau jasa. Secara lebih luas, harga adalah keseluruhan nilai yang ditukarkan konsumen untuk mendapatkan keuntungan dari kepemilikan terhadap sebuah produk atau jasa.Sedangkan Stanton mendefinisikan harga adalah sejumlah uang dan atau barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan kombinasi dari barang  yang lain yang disertai dengan pemberian jasa. Harga merupakan elemen dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, dimana suatu saat harga akan stabil dalam waktu tertentu tetapi dalam seketika harga dapat juga meningkat atau menurun dan juga merupakan satu-satunya elemen yang menghasilkan pendapatan dari penjualan. Perusahaan menetapkan suatu harga dengan melakukan pendekatan penetapan harga secara umum yang meliputi satu atau lebih diantara tiga perangkat perimbangan berikut ini yakni: a. Cost-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan biaya) 1) Cost-Plus-Pricing (Penetapan harga biaya plus): Suatu metode penelitian harga yang paling sederhana, dimana metode ini menambah standar mark-up terhadap biaya produk. 2) Break Even Analysis and Target Profit Pricing (Analisis peluang pokok dan penetapan harga laba sasaran): Suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menetapkan harga apakah akan break even atau membuat target laba yang akan dicari. b. Value-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan nilai) Metode ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan dari biaya penjualan) untuk menetapkan suatu harga. c. Competition-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan persaingan) 1) Going-rate Pricing (Penetapan harga berdasarkan harga yang berlaku): Perusahaan mendasarkan harganya pada harga pesaing dan kurang memperhatikan biaya dan permintaannya. Perusahaan dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah dan pesaing utamanya. 2) Scaled-Bid Pricing (Penetapan harga penawaran tertutup): Perusahaan menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan hubungan yang kaku atas biaya atau permintaan perusahaan

Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2003), keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk sudah yang sudah dikenal oleh masyarakat. Sebelum konsumen memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen melalui beberapa tahap terlebih dahulu yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan membeli atau tidak, perilaku pascapembelian. Pengertian lain tentang Keputusan pembelian menurut Schiffman dan Kanuk (2000) adalah keputusan pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada.Berdasarkan definisi diatas disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan konsumen untuk melakukan pembelian sebuah produk. Oleh karena itu, pengambilan keputusan pembelian konsumen merupakan suatu proses pemilihan salah satu dari beberapa alternatif penyelesaian masalah dengan tindak lanjut yang nyata.Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat menentukan sikap yang akan diambil selanjutnya. Menurut Swastha dan Handoko (2011) berpendapat bahwa lima peran individu dalam sebuah keputusan membeli, yaitu: a) Pengambilan inisiatif (initiator): individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu atau mempunyai kebutuhan atau keinginan tetapi tidak mempunyai wewenang untuk melakukan sendiri. b) Orang yang mempengaruhi (influencer): individu yang mempengaruhi keputusan untuk membeli baik secara sengaja maupun tidak sengaja. c) Pembuat keputusan (decider): individu yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya, kapan dan dimana membelinya. d) Pembeli (buyer): individu yang telah melakukan pembelian yang sebenarnya. e) Pemakai (user): individu yang menikmati atau memakai produk atau jasa yang dibeli.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Pembelian merupakan suatu tindakan untuk mendapatkan barang atau jasa yang kemudian akan dipergunakan sendiri atau di jual kembali, pembelian biasanya dilakukan minimal dua pihak atau lebih atau yang sering disebut sebagai penjual dan pembeli. Menurut Kotler (2003) perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh empat faktor antara lain : a. Faktor budaya Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling dasar. Anak-anak yang sedang tumbuh akan mendapatkan seperangkat nilai, persepsi, preferensi, perilaku dari keluarga dan lembaga-lembaga penting lainnya.Masing-masing subbudaya terdiri dari sejumlah sub-budaya para anggotanya seperti kebangsaan, agama, kelompok, ras, dan wilayah geografis. Pada dasaranya dalam sebuah tatanan kehidupan dalam bermasyarakat terdapat sebuah tingkatan (strata) sosial. Kelas sosial tidak hanya mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti pekerjaan, pendidikan, perilaku dalam berbusana, cara bicara, rekreasi dan lain-lainya. 8 b. Faktor Sosial Selain faktor budaya, perilaku pembelian konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial diantarannya sebagai berikut: 1) Kelompok acuan Kelompok acuan dapat diartikan sebagai kelompok yang yang dapat memberikan pengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang tersebut. Kelompok ini disebut kelompok keanggotaan, yaitu sebuah kelompok yang dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap seseorang. Anggota kelompok merupakan anggota dari kelompok primer seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan yang berinteraksi secara langsung dan terus menerus dalam keadaan yang informal. Kemudian kelompok sekunder yang terdiri dari kelompok keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan. 2) Keluarga Dalam suatu organisasi pembelian konsumen, keluarga dibedakan menjadi dua bagian. Pertama jenis keluarga orientasyaitu keluarga yang terdiri dari orang tua dan saudara kandung, seseorang yang dapat memberikan orientasi agam, politik dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri dan cinta. Kedua, jenis keluarga yang terdiri dari pasangan dan jumlah anak yang dimiliki seseorang dalam keluarga, keluarga jenis ini biasa dikenal dengan keluarga prokreasi. 9 3) Peran dan status Faktor sosial yang dapat mempengaruhi perilaku pembelian seseorang adalah peran dan status mereka di dalam masyarakat. Semakin tinggi peran seseorang didalam sebuah organisasi maka akan semakin tinggi pula status mereka dalam organisasi tersebut dan secara langsung berdampak pada perilaku pembeliannya. c. Pribadi Keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh karakterisitik pribadi diantaranya usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep-diri pembeli. d. Psikologis Keputusan pembelian konsumen dapatdipengaruhi oleh faktor psikologis yang terdiri dari empat faktor diantaranya adalah: 1) Motivasi Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu-waktu tertentu. Beberapa dari kebutuhan tersebut ada yang muncul dari tekanan biologis seperti lapar, haus, dan rasa ketidaknyamanan. Beberapa kebutuhan lainnya bersifat psikogenesis yaitu kebutuhan yang berasal dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa keanggotaan kelompok.. 2) Persepsi Persepsi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang digunakan individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan sebuah gambaran (Kotler, 2003). Persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan. Terdapat tiga proses persepsi yaitu antara lain: a) Perhatian selektif : Perhatian selektif merupakan proses penyaringan atas informasi yang didapat oleh konsumen. b) Distorsi Selektif : Distorsi selektif yaitu merupakan proses pembentukan persepsi yang dimana pemasar tidak dapat berbuat banyak terhadap distorsi tersebut. c) Ingatan Selektif : Orang akan melupakan banyak hal yang mereka pelajari namun cenderung akan mengingat informasi yang mendukung pandangan dan keyakinan mereka. 3) Pembelajaran Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Banyak ahli pemasaran yang yakin bahwa pembelajaran dihasilkan melalui perpaduan kerja antara pendorong, rangsangan, isyarat bertindak, tanggapan dan penguatan. 4) Keyakinan dan Sikap Keyakinan dapat diartikan sebagai gambaran pemikiran seseorang tentang gambaran sesuatu. Keyakinan orang tentang produk atau merek akan mempengaruhi keputusan pembelian  mereka.Kemudian sikap merupakan evaluasi, perasaan emosi, dan kecenderungan tindakan yang dapat menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama pada seseorang terhadap suatu objek atau gagasan tertentu (Kotler, 2003)

Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2003), keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk sudah yang sudah dikenal oleh masyarakat. Sebelum konsumen memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen melalui beberapa tahap terlebih dahulu yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan membeli atau tidak, perilaku pascapembelian. Pengertian lain tentang Keputusan pembelian menurut Schiffman dan Kanuk (2000) adalah keputusan pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada.Berdasarkan definisi diatas disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan konsumen untuk melakukan pembelian sebuah produk. Oleh karena itu, pengambilan keputusan pembelian konsumen merupakan suatu proses pemilihan salah satu dari beberapa alternatif penyelesaian masalah dengan tindak lanjut yang 12 nyata.Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat menentukan sikap yang akan diambil selanjutnya. Menurut Swastha dan Handoko (2011) berpendapat bahwa lima peran individu dalam sebuah keputusan membeli, yaitu: a) Pengambilan inisiatif (initiator): individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu atau mempunyai kebutuhan atau keinginan tetapi tidak mempunyai wewenang untuk melakukan sendiri. b) Orang yang mempengaruhi (influencer): individu yang mempengaruhi keputusan untuk membeli baik secara sengaja maupun tidak sengaja. c) Pembuat keputusan (decider): individu yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya, kapan dan dimana membelinya. d) Pembeli (buyer): individu yang telah melakukan pembelian yang sebenarnya. e) Pemakai (user): individu yang menikmati atau memakai produk atau jasa yang dibeli

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Pembelian merupakan suatu tindakan untuk mendapatkan barang atau jasa yang kemudian akan dipergunakan sendiri atau di jual kembali, pembelian biasanya dilakukan minimal dua pihak atau lebih atau yang sering disebut sebagai penjual dan pembeli. Menurut Kotler (2003) perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh empat faktor antara lain : a. Faktor budaya Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling dasar. Anak-anak yang sedang tumbuh akan mendapatkan seperangkat nilai, persepsi, preferensi, perilaku dari keluarga dan lembaga-lembaga penting lainnya.Masing-masing subbudaya terdiri dari sejumlah sub-budaya para anggotanya seperti kebangsaan, agama, kelompok, ras, dan wilayah geografis. Pada dasaranya dalam sebuah tatanan kehidupan dalam bermasyarakat terdapat sebuah tingkatan (strata) sosial. Kelas sosial tidak hanya mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti pekerjaan, pendidikan, perilaku dalam berbusana, cara bicara, rekreasi dan lain-lainya. 8 b. Faktor Sosial Selain faktor budaya, perilaku pembelian konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial diantarannya sebagai berikut: 1) Kelompok acuan Kelompok acuan dapat diartikan sebagai kelompok yang yang dapat memberikan pengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang tersebut. Kelompok ini disebut kelompok keanggotaan, yaitu sebuah kelompok yang dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap seseorang. Anggota kelompok merupakan anggota dari kelompok primer seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan yang berinteraksi secara langsung dan terus menerus dalam keadaan yang informal. Kemudian kelompok sekunder yang terdiri dari kelompok keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan. 2) Keluarga Dalam suatu organisasi pembelian konsumen, keluarga dibedakan menjadi dua bagian. Pertama jenis keluarga orientasyaitu keluarga yang terdiri dari orang tua dan saudara kandung, seseorang yang dapat memberikan orientasi agam, politik dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri dan cinta. Kedua, jenis keluarga yang terdiri dari pasangan dan jumlah anak yang dimiliki seseorang dalam keluarga, keluarga jenis ini biasa dikenal dengan keluarga prokreasi. 9 3) Peran dan status Faktor sosial yang dapat mempengaruhi perilaku pembelian seseorang adalah peran dan status mereka di dalam masyarakat. Semakin tinggi peran seseorang didalam sebuah organisasi maka akan semakin tinggi pula status mereka dalam organisasi tersebut dan secara langsung berdampak pada perilaku pembeliannya. c. Pribadi Keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh karakterisitik pribadi diantaranya usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep-diri pembeli. d. Psikologis Keputusan pembelian konsumen dapatdipengaruhi oleh faktor psikologis yang terdiri dari empat faktor diantaranya adalah: 1) Motivasi Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu-waktu tertentu. Beberapa dari kebutuhan tersebut ada yang muncul dari tekanan biologis seperti lapar, haus, dan rasa ketidaknyamanan. Beberapa kebutuhan lainnya bersifat psikogenesis yaitu kebutuhan yang berasal dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa keanggotaan kelompok.. 2) Persepsi Persepsi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang digunakan individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi 10 masukan informasi guna menciptakan sebuah gambaran (Kotler, 2003). Persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan. Terdapat tiga proses persepsi yaitu antara lain: a) Perhatian selektif : Perhatian selektif merupakan proses penyaringan atas informasi yang didapat oleh konsumen. b) Distorsi Selektif : Distorsi selektif yaitu merupakan proses pembentukan persepsi yang dimana pemasar tidak dapat berbuat banyak terhadap distorsi tersebut. c) Ingatan Selektif : Orang akan melupakan banyak hal yang mereka pelajari namun cenderung akan mengingat informasi yang mendukung pandangan dan keyakinan mereka. 3) Pembelajaran Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Banyak ahli pemasaran yang yakin bahwa pembelajaran dihasilkan melalui perpaduan kerja antara pendorong, rangsangan, isyarat bertindak, tanggapan dan penguatan. 4) Keyakinan dan Sikap Keyakinan dapat diartikan sebagai gambaran pemikiran seseorang tentang gambaran sesuatu. Keyakinan orang tentang produk atau merek akan mempengaruhi keputusan pembelian mereka.Kemudian sikap merupakan evaluasi, perasaan emosi, dan kecenderungan tindakan yang dapat menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama pada seseorang terhadap suatu objek atau gagasan tertentu (Kotler, 2003)

Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2008:9) pengertian dari manajemen pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan pemikiran, penetapan harga, promosi serta penyaluran gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memenuhi sasaran – sasaran individu dan organisasi. Menurut Kinner dan Kenneth dalam Setiyaningrum, dkk (2015:11) manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan control dari putusan – putusan tentang pemasaran didalam bidang – bidang penawar produk, distribusi, promosi, dan harga penentuan (pricing). Maksudnya adalah untuk mendorong dan memudahkan terjadinya pertukaran – pertukaran yang saling memuaskan dan yang memenuhi sasaran organisasi. Menurut Swasta dan Irawan (2008:6) manajemen pemasaran merupakan sebagai kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan keinginan dan kebutuhan melalui proses pertukaran. Dari definisi diatas maka peneliti menyimpulkan bahwa manajemen pemasaran merupakan suatu perencaan, penerapan serta pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan pertukaran yang menguntungkan untuk mencapain tujuan suatu perusahaan atau organisasi dalam memperoleh laba

Pengaruh Promosi Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Promosi merupakan kegiatan penting yang harus dilakukan perusahaan, dimana dengan melakukan promosi perusahaan dapat memasarkan produknya dengan merangsang dan menyebarkan informasi tentang produk yang ditawarkan dan manfaat atau kegunaan dari produk tersebut. Menurut Umar (2002) Pemasaran tidak hanya membicarakan mengenai produk, harga produk dan pelayanan tetapi juga informasi dan mengkomunikasikan produk ini kepada masyarakat agar produk itu dikenal dan daya beli pun dapat meningkat. Kegiatan promosi bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara perusahaan dengan konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk memengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Promosi merupakan Faktor penentu keberhasilan suatu program pemasaran, betapa pun berkualitasnya suatu produk bila konsumen belum pernah mendengarnya dan tidak yakin bahwa produk tersebut akan berguna bagi mereka, maka mereka tidak akan pernah membelinya. Sehingga promosi sangat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian produk. Permyataan tersebut dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2013), Wahyudi (2012) Haque et.al (2010), Ayu dan Harimukti (2012), Widiastuti dan Widowati (2011). Apabila promosi ditingkatkan, perilaku konsumen untuk melakukan pembelian juga akan meningkat

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat, property, organisasi, informasi dan ide (Kotler, 2008). Jika konsumen merasa cocok dengan suatu produk dan produk tersebut dapat memenuhi kebutuhannya, maka konsumen mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut terus menerus, untuk produk yang merupakan kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman, konsumen sangat mempertimbangkan kualitasnya. Karena merupakan kebutuhan pokok dan sangat berhubungan dengan kesehatan manusia, maka kualitas produk sangat mempengaruhi konsumen dalam mengambil keputusan pembelian produk. Permyataan tersebut dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Haque et.al (2010). Apabila kualitas produk ditingkatkan, perilaku konsumen untuk melakukan pembelian juga akan meningkat,

Pengaruh Harga Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Harga merupakan faktor yang menjadi pertimbangan konsumen dalam melakukan pembelian, sehingga faktor harga ini tidak bisa dikesampingkan oleh perusahaan. Dengan kata lain, pada tingkat harga tertentu yang telah dikeluarkan, konsumen dapat merasakan manfaat dari produk yang telah dibelinya sehingga konsumen akan merasa puas apabila manfaat yang mereka dapatkan sebanding atau bahkan lebih tinggi dari harga yang ditetapkan. Sehingga dalam penentuan harga produk atau jasa yang dijual, baik perusahaan besar maupun usaha kecil sekalipun harus memperhatikan konsumen dan para pesaingnya. Permyataan tersebut dibuktikan dari penelitian yang dilakukan oleh Hapsari (2013), Wahyudi (2012) Haque et.al (2010), Ayu dan Harimukti (2012),  Widiastuti dan Widowati (2011)

Promosi (skripsi dan tesis)

Promosi merupakan salah satu kegiatan pemasaran yang penting bagi perusahaan dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan serta meningkatkaan kualitas penjualan untuk meningkatkan  kegiatan pemasaran dalam hal memasarkan barang atau jasa dari suatu perusahaan. Promosi adalah segala bentuk komunikasi yang digunakan untuk menginformasikan (to inform), membujuk (to persuade), atau mengingatkan orang-orang tentang produk yang dihasilkan organisasi, individu, ataupun rumah tangga (Simamora, 2003). Menurut Henry Simamora (2003) ada beberapa alasan para pemasar melakukan promosi antara lain: a. Menyediakan informasi : Pembeli dan penjual mendapat manfaat dari fungsi informasional yang sanggup dilakukan oleh promosi. Para pembeli menemukan program baru yang dapat membantunya dan para penjual dapat menginformasikan kepada calon pelanggan tentang barang dan jasa. b. Merangsang permintaan : Para pemasar menginginkan konsumen membeli produknya dan mereka menggunakan promosi untuk membuat konsumen melakukan permintaan. c. Membedakan produk : Organisasi-organisasi mencoba membedakan mereka dan produknya melalui penggunaan promosi, khususnya produk yang tidak banyak berbeda dari para pesaingnya. d. Mengingatkan para pelanggan saat ini : Mengingatkan para pelanggan akan manfaat dari produk perusahaan bisa mencegah mereka berpaling kepada pesaing pada saat mereka memutuskan untuk mengganti atau memutakhirkan produknya.   e. Menghadang pesaing : Promosi dapat digunakan untuk menghadapi upaya pemasaran dari pesaing untuk melawan kampanye periklanannya. f. Menjawab berita negatif : Kompetisi bukan hanya penjualan produk serupa dan perusahaan lainnya, perusahaan menjadi korban publisitas dan pemalsuan. g. Memuluskan fluktuasi-fluktuasi permintaan : Perusahaan bnayak mengalami tantangan-tantangan permintaan musiman, dimana para pelanggan membeli lebih banyak selama beberapa bulan tertentu dan berkurang pada bulan-bulan lainnya. Promosi membantu mengisi kesenjangan yang ada diantara kepincangan-kepincangan permintaan musiman tersebut. Bauran Promosidalam memperkenalkan suatu produk dan jasa adalah sebagai berikut : a. Periklanan (Advertising) Periklanan merupakan salah satu bentuk dari komunikasi impresional yang digunakan oleh perusahaan barang atau jasa. Peranan periklanan dalam pemasaran jasa adalah untuk membangun kesadaran (awareness) terhadap keberadaan jasa yang ditawarkan, menambah pengetahuan konsumen tentang jasa yang ditawarkan, membujuk calon konsumen untuk membeli atau menggunakan jasa tersebut, dan membedakan diri perusahaan satu dengan perusahaan lain. b. Penjualan Perseorangan (Personal selling)

 Penjualan perseorangan berperanan penting dalam pemasaran, karena: 1) Interaksi personal penyedia jasa dangan konsumen sangat penting 2) Jasa tersebut disediakan oleh orang, bukan mesin 3) Orang merupakan bagian dari produk jasa 4) Bila dibandingkan dengan media perikanan, maka pesan yang disampaikan melalui media ini ditujukan kepada yang sebenarnya bukan prospek (calon pembeli), melalui penjualan perorangan perusahaan sudah berhadapan dengan calon pembeli potensial. c. Promosi Penjualan Promosi penjualan adalah semua kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan arus barang atau jasa dari produsen sampai pada penjualan akhirnya. Promosi penjualan dapat diberikan kepada: 1) Konsumen, berupa penawaran cuma-cuma, sampel, demo produk, kupon, pengembalian tunai, hadiah, kontes, dan garansi. 2) Perantara, berupa barang cuma–cuma, diskon, iklan kerja sama, distribution contests, penghargaan. 3) Tenaga penjualan, berupa bonus, penghargaan , dan hadiah untuk tenaga penjualan terbaik. d. Hubungan Masyarakat (PublicRelational) Perusahaan tidak hanya harus berhubungan dengan pelanggan, pemasok, dan penyalur, tetapi dengan kumpulan kepentingan publik yang lebih besar. Program hubungan masyarakat, antara lain publikasi, acara–acara penting, hubungan dengan investor, pameran, dan mensponsori beberapa acara. e. Informasi dari Mulut ke Mulut (WordofMouth) Pelanggan akan berbicara kepada pelanggan lain yang berpotensial tentang pengalamannnya. Sehingga informasi dari mulut-kemulut ini sangat besar pengaruhnya dan dampaknya terhadap pemasaran dibandingkan dengan aktivitas komunikasi lainnya. f. Pemasaran Langsung (DirectMarketing) Pemasaran langsung merupakan unsur terakhir dalam bauran komunikasi dan promosi

Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Pengertian produk (product) menurut Kotler (2009) adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Selain itu produk dapat pula didefinisikan sebagai persepsi konsumen yang dijabarkan oleh produsen melalui hasil produksinya (Tjiptono, 2008).
Menurut Kotler dan Armstrong (2008) beberapa atribut yang menyertai dan melengkapi produk (karakteristik atribut produk) adalah: a. Merek (branding) Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau kombinasi dari semua ini yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan membedakannya dari produk pesaing. Pemberian merek merupakan masalah pokok dalam strategi produk. Pemberian merek itu mahal dan memakan waktu, serta dapat membuat produk itu berhasil atau gagal. Nama merek yang baik dapat menambah keberhasilan yang besar pada produk (Kotler dan Armstrong, 2008).  b. Pengemasan (Packing) Pengemasan (packing) adalah kegiatan merancang dan membuat wadah atau pembungkus suatu produk. Pengemasan melibatkan merancang dan membuat wadah atau pembungkus suatu produk. c. Kualitas Produk (Product Quality) Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan, ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan dapat menerapkan program ”Total Quality Manajemen (TQM)”. Selain mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk meningkatkan nilai konsumen. Menurut Kotler dan Amstrong (2008) kualitas adalah karakteristik dari produk dalam kemampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan dan bersifat laten. Sedangkan menurut Tjiptono (2008), kualitas merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi prasyarat kebutuhan pelanggan atau menilai sampai seberapa jauh sifat dan karakteristik itu memenuhi kebutuhannya. Untuk mencapai kualitas produk yang diinginkan maka diperlukan suatu standarisasi kualitas. Cara ini dimaksudkan untuk menjaga agar produk yang dihasilkan memenuhi standar yang telah ditetapkan sehingga konsumen tidak akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang bersangkutan. Pemasar yang tidak memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun akan cenderung menurun. Jika pemasar memperhatikan kualitas, bahkan diperkuat dengan periklanan dan harga yang wajar maka konsumen tidak akan berpikir panjang untuk melakukan pembelian terhadap produk (Kotler dan Amstrong, 2008). Menurut Kotler and Amstrong (2008) arti dari kualitas produk adalah kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas produk adalah keseluruhan barang dan jasa yang berkaitan dengan keinginan konsumer yang secara keunggulan produk sudah layak diperjualkan sesuai harapan dari pelanggan. Menurut Tjiptono (2008), kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan manfaat bagi pelanggan. Kualitas suatu produk baik berupa barang atau jasa ditentukan melalui dimensidimensinya. Dimensi kualitas produk menurut Tjiptono (2008) adalah: a. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk. b. Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya produk. c. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana karakteristik sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk. d. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk. e. Reliability (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan. f. Aesthetics (estetika), merupakan bentuk dari tampilansuatu produk. g. Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. h. Serviceability, meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta kompetensi dan keramahtamahan staf layanan.

Harga (skripsi dan tesis)

Definisi harga menurut (Kotler, 2003) adalah sejumlah uang yang dibebankan untuk sebuah produk atau jasa. Secara lebih luas, harga adalah keseluruhan nilai yang ditukarkan konsumen untuk mendapatkan keuntungan dari kepemilikan terhadap sebuah produk atau jasa.Sedangkan Stanton mendefinisikan harga adalah sejumlah uang dan atau barang yang dibutuhkan untuk mendapatkan kombinasi dari barang 13 yang lain yang disertai dengan pemberian jasa. Harga merupakan elemen dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, dimana suatu saat harga akan stabil dalam waktu tertentu tetapi dalam seketika harga dapat juga meningkat atau menurun dan juga merupakan satu-satunya elemen yang menghasilkan pendapatan dari penjualan. Perusahaan menetapkan suatu harga dengan melakukan pendekatan penetapan harga secara umum yang meliputi satu atau lebih diantara tiga perangkat perimbangan berikut ini yakni: a. Cost-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan biaya) 1) Cost-Plus-Pricing (Penetapan harga biaya plus): Suatu metode penelitian harga yang paling sederhana, dimana metode ini menambah standar mark-up terhadap biaya produk. 2) Break Even Analysis and Target Profit Pricing (Analisis peluang pokok dan penetapan harga laba sasaran): Suatu metode yang digunakan perusahaan untuk menetapkan harga apakah akan break even atau membuat target laba yang akan dicari. b. Value-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan nilai) Metode ini menggunakan satu persepsi nilai dari pembeli (bukan dari biaya penjualan) untuk menetapkan suatu harga. c. Competition-Based Pricing (Penetapan harga berdasarkan persaingan) 1) Going-rate Pricing (Penetapan harga berdasarkan harga yang berlaku): Perusahaan mendasarkan harganya pada harga pesaing dan kurang memperhatikan biaya dan permintaannya. Perusahaan   dapat mengenakan harga yang sama, lebih tinggi atau lebih rendah dan pesaing utamanya. 2) Scaled-Bid Pricing (Penetapan harga penawaran tertutup): Perusahaan menetapkan pesaing dan bukan berdasarkan hubungan yang kaku atas biaya atau permintaan perusahaan

Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2003), keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk sudah yang sudah dikenal oleh masyarakat. Sebelum konsumen memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen melalui beberapa tahap terlebih dahulu yaitu pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan membeli atau tidak, perilaku pascapembelian. Pengertian lain tentang Keputusan pembelian menurut Schiffman dan Kanuk (2000) adalah keputusan pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada.Berdasarkan definisi diatas disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan konsumen untuk melakukan pembelian sebuah produk. Oleh karena itu, pengambilan keputusan pembelian konsumen merupakan suatu proses pemilihan salah satu dari beberapa alternatif penyelesaian masalah dengan tindak lanjut yang  nyata.Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat menentukan sikap yang akan diambil selanjutnya. Menurut Swastha dan Handoko (2011) berpendapat bahwa lima peran individu dalam sebuah keputusan membeli, yaitu: a) Pengambilan inisiatif (initiator): individu yang mempunyai inisiatif pembelian barang tertentu atau mempunyai kebutuhan atau keinginan tetapi tidak mempunyai wewenang untuk melakukan sendiri. b) Orang yang mempengaruhi (influencer): individu yang mempengaruhi keputusan untuk membeli baik secara sengaja maupun tidak sengaja. c) Pembuat keputusan (decider): individu yang memutuskan apakah akan membeli atau tidak, apa yang akan dibeli, bagaimana membelinya, kapan dan dimana membelinya. d) Pembeli (buyer): individu yang telah melakukan pembelian yang sebenarnya. e) Pemakai (user): individu yang menikmati atau memakai produk atau jasa yang dibeli.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Pembelian merupakan suatu tindakan untuk mendapatkan barang atau jasa yang kemudian akan dipergunakan sendiri atau di jual kembali, pembelian biasanya dilakukan minimal dua pihak atau lebih atau yang sering disebut sebagai penjual dan pembeli. Menurut Kotler (2003) perilaku pembelian konsumen dipengaruhi oleh empat faktor antara lain : a. Faktor budaya Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling dasar. Anak-anak yang sedang tumbuh akan mendapatkan seperangkat nilai, persepsi, preferensi, perilaku dari keluarga dan lembaga-lembaga penting lainnya.Masing-masing subbudaya terdiri dari sejumlah sub-budaya para anggotanya seperti kebangsaan, agama, kelompok, ras, dan wilayah geografis. Pada dasaranya dalam sebuah tatanan kehidupan dalam bermasyarakat terdapat sebuah tingkatan (strata) sosial. Kelas sosial tidak hanya mencerminkan penghasilan, tetapi juga indikator lain seperti pekerjaan, pendidikan, perilaku dalam berbusana, cara bicara, rekreasi dan lain-lainya. 8 b. Faktor Sosial Selain faktor budaya, perilaku pembelian konsumen juga dipengaruhi oleh faktor sosial diantarannya sebagai berikut: 1) Kelompok acuan Kelompok acuan dapat diartikan sebagai kelompok yang yang dapat memberikan pengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang tersebut. Kelompok ini disebut kelompok keanggotaan, yaitu sebuah kelompok yang dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap seseorang. Anggota kelompok merupakan anggota dari kelompok primer seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan yang berinteraksi secara langsung dan terus menerus dalam keadaan yang informal. Kemudian kelompok sekunder yang terdiri dari kelompok keagamaan, profesi dan asosiasi perdagangan. 2) Keluarga Dalam suatu organisasi pembelian konsumen, keluarga dibedakan menjadi dua bagian. Pertama jenis keluarga orientasyaitu keluarga yang terdiri dari orang tua dan saudara kandung, seseorang yang dapat memberikan orientasi agam, politik dan ekonomi serta ambisi pribadi, harga diri dan cinta. Kedua, jenis keluarga yang terdiri dari pasangan dan jumlah anak yang dimiliki seseorang dalam keluarga, keluarga jenis ini biasa dikenal dengan keluarga prokreasi. 9 3) Peran dan status Faktor sosial yang dapat mempengaruhi perilaku pembelian seseorang adalah peran dan status mereka di dalam masyarakat. Semakin tinggi peran seseorang didalam sebuah organisasi maka akan semakin tinggi pula status mereka dalam organisasi tersebut dan secara langsung berdampak pada perilaku pembeliannya. c. Pribadi Keputusan pembelian dapat dipengaruhi oleh karakterisitik pribadi diantaranya usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep-diri pembeli. d. Psikologis Keputusan pembelian konsumen dapatdipengaruhi oleh faktor psikologis yang terdiri dari empat faktor diantaranya adalah: 1) Motivasi Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu-waktu tertentu. Beberapa dari kebutuhan tersebut ada yang muncul dari tekanan biologis seperti lapar, haus, dan rasa ketidaknyamanan. Beberapa kebutuhan lainnya bersifat psikogenesis yaitu kebutuhan yang berasal dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa keanggotaan kelompok.. 2) Persepsi Persepsi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang digunakan individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi 10 masukan informasi guna menciptakan sebuah gambaran (Kotler, 2003). Persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan. Terdapat tiga proses persepsi yaitu antara lain: a) Perhatian selektif : Perhatian selektif merupakan proses penyaringan atas informasi yang didapat oleh konsumen. b) Distorsi Selektif : Distorsi selektif yaitu merupakan proses pembentukan persepsi yang dimana pemasar tidak dapat berbuat banyak terhadap distorsi tersebut. c) Ingatan Selektif : Orang akan melupakan banyak hal yang mereka pelajari namun cenderung akan mengingat informasi yang mendukung pandangan dan keyakinan mereka. 3) Pembelajaran Pembelajaran meliputi perubahan perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman. Banyak ahli pemasaran yang yakin bahwa pembelajaran dihasilkan melalui perpaduan kerja antara pendorong, rangsangan, isyarat bertindak, tanggapan dan penguatan. 4) Keyakinan dan Sikap Keyakinan dapat diartikan sebagai gambaran pemikiran seseorang tentang gambaran sesuatu. Keyakinan orang tentang produk atau merek akan mempengaruhi keputusan pembelian 11 mereka.Kemudian sikap merupakan evaluasi, perasaan emosi, dan kecenderungan tindakan yang dapat menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama pada seseorang terhadap suatu objek atau gagasan tertentu (Kotler, 2003)

Definisi Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Philip Kotler, harga adalah elemen pemasaran campuran yang paling mudah untuk mengatur keistimewaan produk. Harga juga mengkomunikasikan pada pasar penempatan nilai produk atau merek yang dimaksud suatu perusahaan.1 Harga suatu produk merupakan ukuran terhadap besar kecilnya nilai kepuasan seseorang terhadap produk yang dibelinya. Seseorang akan berani membayar suatu produk dengan harga yang mahal apabila dia menilai kepuasan yang diharapkannya terhadap produk yang akan dibelinya itu tinggi. Sebaliknya apabila seseorang itu menilai kepuasannya terhadap suatu produk itu rendah maka dia tidakakan bersedia untuk membayar atau membeli produk itu dengan harga yang mahal. Nilai ekonomis diciptakan oleh kegiatan yang terjadi dalam mekanisme pasar antara pembeli dan penjual. Dalam transaksi pembelian, maka kedua belah pihak akan memperoleh suatu imbalan. Besarnya imbalan itu ditentukan oleh perbedaan antara nilai dari sesuatu yang diberikan dengan nilai dari sesuatu yang diterima. Harga merupakan nilai, yang dinyatakan dalam satuan mata uang atau alat tukar, terhadap sesuatu barang tertentu. Dalam kenyataannya besar kecilnya nilai atau harga itu tidak hanya ditentukan oleh faktor fisik saja yang diperhitungkan, akan tetapi faktor-faktor psikologis dan faktor-faktor lain berpengaruh pula terhadap harga. Dengan demikian dapatlah diartikan pula bahwa harga adalah sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah barang beserta jasa-jasa tertentu atau kombinasi dari keduanya.2 Philip Kotler mengungkapkan bahwa harga adalah salah satu unsur bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan, unsur-unsur lainnya menghasilkan biaya. Harga adalah unsur bauran pemasaran yang paling mudah disesuaikan ciri-ciri produk, saluran, bahkan promosi membutuhkan lebih banyak waktu. Harga juga mengkomunkasikan posisi nilai yang dimaksudkan perusahaan tersebut kepada pasar tentang produk dan mereknya. Dapat dijelaskan dari pengertian di atas bahwa unsur-unsur bauran pemasaran yang dimaksud adalah harga, produk, saluran, dan promosi, yaitu apa yang dikenal dengan istilah empat P (Price, Product, Plance, dan Promotion). Harga bagi suatu usaha atau badan usaha menghasilkan pendapatan (income), adapun unsur-unsur bauran pemasaran lainnya yaitu Product (produk), Place (tempat) dan Promotion (Promosi) menimbulkan biaya atau beban yang harus ditanggung oleh suatu usaha atau badan usaha.3 Harga merupakan satu-satunya unsur marketing mix yang menghasilkan penerimaan penjualan, sedangkan unsur lainnya hanya merupakan unsur biaya saja. Walaupun penetapan harga merupakan persoalan penting, masih banyak perusahaan yang kurang sempurna dalam menangani permasalahan penetapan harga tersebut. Karena menghasilkan penerimaan penjualan, maka harga mempengaruhi tingkat penjualan, tingkat keuntungan, serta share pasar yang dapat dicapai oleh perusahaan