Indikator Persepsi Harga (skripsi dan tesis)

Pengukuran pada variabel Persepsi Harga mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Tjiptono dalam Ferdinan dan Nugraheni (2013:134), yang terdiri dari: 1. Keterjangkauan Harga Keterjangkauan harga adalah harga sebenarnya dari suatu produk yang tertulis di suatu produk, yang harus dibayarkan oleh konsumen dengan maksud yaitu, konsumen cenderung melihat harga akhir dan memutuskan apakah akan memdapatkan nilai yang baik seperti yang diharapkan. Harapan konsumen dalam melihat harga yaitu : a. Harga yang ditawarkan mampu dijangkau oleh konsumen secara financial. b. Penentuan harga harus sesuai dengan kualitas produk sehingga konsumen dapat mempertimbangkan dalam melakukan pembelian suatu produk yang diinginkan. 2. Kesesuaian Harga Kesesuaian harga adalah penetapan harga yang dilakukan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan sasaran konsumen dan perubahan situasi. 3. Daya Saing Harga Daya Saing Harga berhubungan dengan bagaimana efektivitas suatu perusahaan dalam menentukan harga di pasar persaingan, dibandingkan dengan perusahaan lainnya yang menawarkan produk atau jasa-jasa yang sama atau sejenis. 4. Harga Sesuai Manfaat Harga Sesuai Manfaat adalah bagaimana suatu perusahaan menetapkan harga sesuai dengan manfaat produk yang dijual.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Harga (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan harga menurut Philip Kotler (1997:201), yaitu: 1. Faktor-faktor internal a. Keputusan harga disesuaikan dengan sasaran pemasarannya b. Keputusan harga disesuaikan dengan kebijakan bauran pemasarannya, dimana manajemen harus mempertimbangkan bauran pemasaran sebagai satu keseluruhan. c. Keputusan harga berdasarkan pada pertimbangan organisasi. 2. Faktor-faktor eksternal a. Pasar dan permintaan konsumen merupakan pelakon harga (harga tertinggi) b. Harga dan tawaran pesaing perlu diketahui untuk menentukan harga serta reaksi mereka setelah keputusan harga dilakukan. c. Faktor eksternal lainnya, yaitu kondisi ekonomi seperti tingkat inflasi, biaya bunga, resensi, booming, dan keputusan-keputusan pemerintah dapat mempengaruhi keefektifan kebijakan pendekatan harga.

Kebijakan Harga (skripsi dan tesis)

Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memungkinkan perusahaan memperoleh pendapatan, sedangkan unsur bauran pemasaran lainnya justru menyebabkan timbulnya biaya. Dengan demikian pemilik perusahaan harus memahami tentang harga yang meliputi makna dan pentingnya harga serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kebijakan harga adalah strategi pemasaran yang ditetapkan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan factor-faktor biaya produksi dan harga pesaing sehingga dengan alternative harga yang dipilih dapat meningkatkan pembelian produk, meningkatkan permintaan non user, pelanggan yang menguntungkan dan menarik pelanggan baru dengan mutu (Guiltinan, 2001:219).

Strategi Penyesuaian Harga (skripsi dan tesis)

Adapun strategi penyesuaian harga menurut Kotler dan Killer (2007:102), yaitu: 1. Penetapan harga geografis Penetapan harga geografis melibatkan perusahaan tersebut memutuskan bagaimana cara menetapkan harga produknya untuk pelanggan yang berbeda dilokasi dan negara yang berbeda. 2. Diskon dan potongan harga Kebanyakan perusahaan akan menyesuaikan daftar harganya dan memberikan diskon dan potongan harga (discounts and allowances) untuk pembayaran yang lebih cepat, pembelian dalam jumlah besar, dan pembelian diluar musim. 3. Penetapan harga promosi Strategi penetapan harga promosi sering merupakan permainan kalah menang (zero-zum game). Apabila strategi tersebut berhasil, pesaing akan menirunya dan strategi itu akan kehilangan efektifitasnya. Jika strategi tersebut tidak berhasil, perusahaan membuang-buang uang yang mestinya dapat digunakan sebagai alat untuk pemasaran lainnya, seperti meningkatkan mutu produk dan layanan atau memperkokoh citra produk melalui iklan. 4. Penetapan harga diskriminatif Diskriminatif harga (price discrimination) terjadi apabila suatu perusahaan menjual produk atau jasa dengan dua harga atau lebih yang tidak mencerminkan perbedaan biaya secara proporsional.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga menurut Fajar Laksana (2008:117), yaitu: 1. Demand for the product, perusahaan perlu memperkirakan permintaan terhadap produk yang merupakan langkah penting dalam penetapan harga sebuah produk. 2. Target share of the market, yaitu market share yang ditargetkan oleh perusahaan. 3. Competitive reactions, yaitu reaksi dari pesaing. 4. Use of creams-skimming pricing of penetration pricing, yaitu mempertimbangkan langkah-langkah yang perlu diambil pada saat perusahaan memasuki pasar dengan harga yang tinggi atau dengan harga yang rendah. 5. Other parts of the marketing mix, yaitu perusahaan perlu mempertimbangkan kebijakan marketing mix (kebijakan produk, kebijakan promosi dan saluran distribusi). 6. Biaya untuk memproduksi atau membeli. 7. Product line pricing, yaitu penetapan harga terhadap produk yang saling berhubungan dalam biaya, permintaan maupun tingkat persaingan. 8. Berhubungan dengan permintaan: a. Cross elasticity positive (elastisitas silang yang positif), yaitu kedua macam produk merupakan barang substitusi atau pengganti. b. Cross elasticity negative (elastisitas silang yang negatif), yaitu kedua macam produk merupakan barang komplamenter atau berhubungan satu sama lain. c. Cross elasticity Nol (elastisitas silang yang nol), yaitu kedua macam produk tidak saling berhubungan. 9. Mengadakan penyesuaian harga : a. Penurunan harga, dengan alasan:  – Kelebihan kapasitas – Kemerosotan pangsa pasar – Gerakan mengejar dominasi dengan biaya lebih rendah. b. Mengadakan kenaikan harga, dengan alasan: – Inflasi biaya yang terus-terusan di bidang ekonomi – Permintaan yang berlebihan.

Sasaran Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Setiap tugas pemasaran dalam perusahaan harus memiliki tujuan yang akan dicapai, dalam hal ini perusahaan juga harus menentukan sasaran penetapan harga sebelum menetapkan harga itu sendiri. Menurut Stanton (1984:311) sasaran penetapan harga dibagi menjadi tiga, yaitu: 1. Berorientasi pada laba, untuk: a. Mencapai target laba investasi atau laba penjualan bersih b. Memaksimalkan laba 2. Berorientasi pada penjualan, untuk: a. Meningkatkan penjualan b. Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar 3. Berorientasi pada status quo, untuk: a. Menstabilkan harga b. Menangkal persaingan Berdasarkan sasaran penetapan harga diatas, perusahaan harus memilih sasaran penetapan harga yang benar-benar sesuai dengan tujuan perusahaan dan tujuan program pemasarannya, hal ini dikarenakan akan mempengaruhi cepat atau lambatnya perusahaan mencapai tujuannya.

Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Thamrin dan Francis (2012:171), ada enam langkah prosedur untuk menetapkan harga dalam perusahaan, yaitu: 1. Memilih sasaran harga Perusahaan pertama harus memutuskan apa yang ingin ia capai dengan suatu produk tertentu. Jika perusahaan tersebut telah memilih pasar sasaran dan penetapan promosi pasarnya dengan cermat, maka strategi bauran pemasarannya, termasuk harga akan cukup mudah. 2. Menentukan permintaan Setiap harga yang ditentukan perusahaan akan membawa kepada tingkat permintaan yang berbeda dan oleh karenanya akan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap sasaran pemasarannya. Dalam kasus yang normal, hubungan permintaan dan harga adalah berlawanan, yaitu semakin tinggi harga maka semakin rendah permintaan dan sebaliknya. 3. Memperkirakan harga Permintaan umumnya membatasi harga tertinggi yang dapat ditentukan perusahaan bagi produknya dan perusahaan menetapkan biaya yang terendah. Perusahaan ingin menetapkan harga yang menutupi biaya dalam menghasilkan, mendistribusikan, dan menjual produk termasuk pendapatan yang wajar atas usaha dan resiko yang dihadapi. 4. Menganalisis harga dan penawaran pesaing Sementara permintaan pasar membentuk harga tertinggi dan biaya merupakan harga terendah yang ditetapkan, harga produk pesaing dan kemungkinan reaksi harga membantu perusahaan dalam menentukan harga dan mutu setiap penawaran pesaing. Hal ini dapat dilakukan dalam beberapa cara, yaitu perusahaan dapat mengirimkan pembelanja pembanding untuk mengetahui harga dan membandingkan penawaran pesaing. Perusahaan dapat memperoleh daftar harga pesaing dan membeli peralatan pesaing dan memisah-misahkannya. Perusahaan dapat menanyakan pembelian pesaing bagaimana pendapat mereka terhadap harga dan mutu setiap penawaran pesaing. 5. Memilih metode penetapan Skedul permintaan konsumen, fungsi biaya, dan harga pesaing, perusahaan kini siap untuk memilih suatu harga. Harga akan berada pada suatu tempat antara suatu yang terlalu rendah untuk menghasilkan permintaan dan satu yang terlalu tinggi untuk menghasilkan keuntungan. 6. Memilih harga akhir Metode-metode penetapan harga sebelumnya mempersempit cangkupan harga untuk memilih harga akhir. Dalam memilih harga akhir perusahaan harus mempertimbangkan bebrapa faktor tambahan, yaitu: a. Harga psikologis Penjualan harus mempertimbangkan psikologi selain nilai ekonominya. b. Pengaruh elemen bauran pemasaran lain terhadap harga Harga juga harus memperhatikan mutu merek dan iklan relatif terhadap pesaing. c. Kebijakan penetapan harga perusahaan Harga yang dikehendaki harus konsisten dengan kebijakan penentuan harga perusahaan.  d. Pengaruh harga kepada pihak lain Manajemen harga juga harus mempertimbangkan reaksi lain terhadap harga yang dikehendaki.

Pengertian Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Amstrong dalam Suparyanto dan Rosad (2015:09) harga adalah sejumlah uang yang dikorbankan untuk suatu barang atau jasa, atau nilai dari konsumen yang ditukarkan untuk mendapatkan manfaat atau kepemilikan atau penggunaan atas produk atau jasa.Sedangkan menurut Etzel, Walker, dan Stanton oleh Suparyanto dan Rosad (2015:09) harga adalah sejumlah uang atau sesuatu dalam bentuk lainnya yang memiliki nilai yang diperlukan untuk mendapatkan suatu produk. Menurut William J. Stanton dalam Fajar Laksana (2008:31) harga adalah sejumlah uang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya. Berdsarkan definisi tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa harga merupakan jumlah uang yang diperlukan untuk memperoleh produk yang diinginkan. Harga haruslah dihubungkan dengan dengan bermacam-macam barang atau pelayanan, yang akhirnya aka sama dengan sesuatu yaitu produk atau jasa, hal ini seperti yang dikemukakan oleh E. Jerome MC dalam buku berjudul Manajemen Pemasaran oleh Fajar Laksana (2008:31)

Unsur-unsur Persepsi (skripsi dan tesis)

Menurut Schifman dan Kanuk (2008:137) unsur-unsur persepsi ada empat yaitu: 1. Sensasi Sensasi merupakan respon yang segera dan langsung dari alat panca indra terhadap stimuli yang sederhana (iklan, kemasan, merek). 2. Ambang Absolut Ambang absolut merupakan tingkat terendah dimana seseorang dapat mengalami sensasi. 3. Ambang Diferensiasi Ambang diferensiasi merupakan perbedaan minimal yang dirasakan antara dua macam stimuli yang hampir serupa. 4. Persepsi Subliminimal Stimulus berada dibawah ambang batas, atau “limen” kesadaran, walaupun jelas tidak dibawah ambang batas absolut penerima yang terlibat.

Pengertian Keragaman (skripsi dan tesis)

Produk Menurut Kotler (2007:15) keragaman produk adalah kumpulan seluruh produk dan barang yang ditawarkan oleh penjual tertentu kepada pembeli, sedangkan menurut Engels dan Blackwell (1995:258) keragaman produk adalah kelengkapan produk yang menyangkut kedalaman, luas dan kualitas produk yang ditawarkan juga ketersediaan produk tersebut setiap saat di toko. Pendapat lain mengenai definisi keragaman produk juga diungkapkan oleh Utami (2006:114) yang menyatakan bahwa keragaman produk merupakan banyaknya item pilihan dalam masing-masing kategori produk, sedangkan menurut Asep (2005:9) keragaman produk adalah kondisi yang tercipta dari ketersediaan barang dalam jumlah dan jenis yang sangat variatif sehingga menimbulkan banyaknya pilihan dalam proses belanja konsumen. Dari pendapat para ahli tentang pengertian keragaman produk diatas, maka penulis mengambil kesimpulan keragaman produk yaitu aneka jenis produk (bukan jasa) yang menyangkut pada kedalaman, luas produk, serta kualitas produk yang ditawarkan agar konsumen bisa memilih jenis produk yang diinginkan sesuai kebutuhan dan untuk meningkatkan daya saing karena semakin banyak ragam produk yang ditawarkan maka konsumen akan mudah menentukan produk mana yang akan dibeli.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut (Thamrin, 2015:113), yaitu: 1. Faktor Kebudayaan Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Perilaku konsumen mempelajari perilaku manusia, sehingga perilaku konsumen juga ditentukan oleh kebudayaan yang tercermin pada cara hidu, kebiasaan, dan tradisi dalam permintaan akan bermacam-macam barang dan jasa. Jadi, perilaku konsumen sangat ditentukan oleh kebudayaan yang melingkupinya, dan pengaruhnya akan selalu berubah setiap waktu sesuai dengan kemajuan atau perkembangan jaman dan masyarakat itu. 2. Faktor Sosial Sosial atau kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen yang bertahan lama dalam masyarakat, yang tersusun secara hrarki dan keanggotaanya mempunyai nilai minat dan perilaku yang sama. Kelas sosial mampu memegang peran penting dalam suatu program pemasaran, karena adanya perbedaan substansial diantara kelas-kelas tersebut mempengaruhi perilaku pemberian mereka. Jadi sampai sejauh mana pemasar mampu mempromosikan produk atau jasanya sehingga dirasa akan membantu keinginan konsumen untuk mencapai kelas sosial yang lebih tinggi. 3. Faktor Pribadi Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu usia pembeli dan tahapsiklus hidup, pekerjaan, kondisi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli. 4. Faktor Psikologi Pilihan pembeli seseorang dipengaruhi pula oleh empat faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan serta keyakinan sikap

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang- barang atau jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut (Sunyoto, 2013:66). Sedangkan menurut Swastha dan Handoko (2012:10), menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan-penentuan kegiatan tersebut. Menurut Sciffman dan Kanuk (2008:05) perilaku konsumen sebagai disiplin ilmu pemasaran yang terpisah dimulai ketika para pemasar menyadari bahwa para konsumen tidak selalu bertindak atau memberikan reaksi seperti yang dikemukakan oleh teori pemasaran. Berdasarkan beberapa pendapat diatas penulis menyimpulkan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan konsumen untuk membeli atau tidak membeli suatu produk yang diinginkan atau dibutuhkan berdasarkan penilaian konsumen terhadap produk tersebut

Bauran Pemasaran (skripsi dan tesis)

Marketing mix merupakan taktik dalam mengintegrasikan tawaran, logistik, dan komunikasi produk atau jasa suatu perusahaan. marketing mix bisa dikelompokkan lagi menjadi dua bagian, yaitu penawaran (of ering) yang berupa product dan price, serta (access) yang berupa place dan promotion (Kotler dalam Situmorang, 2011:158) Menurut (Kotler dan Armstrong, 2012:75), “Marketing mix is the set of tactical marketing tools that the firm blends to produce the response it wants in the target market”, artinya menyatakan bahwa bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran taktis yang memadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan dalam target pasar. Keempat unsur bauran pemasaran atau dikenal sebagai 4P meliputi: 1. Product (produk) adalah suatu barang, jasa, atau gagasan yang dirancang dan ditawarkan perusahaan untuk kebutuhan konsumen. 2. Price (harga) adalah jumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk mendapatkan produk. 3. Place (tempat, termasuk juga distribusi) adalah penempatan suatu produk agar tersedia bagi target konsumen, sejenis aktivitas yang berkaitan dengan bagaimana menyampaikan produk dari produsen ke konsumen. 4. Promotion (promosi) adalah aktivitas mengkomunikasikan dan menyampaikan informasi mengenai produk kepada konsumen, dan membujuk target konsumen untuk membeli produk.

Pemasaran (skripsi dan tesis)

Untuk menyiapkan diri menjadi pemasar, sesorang harus memahami apa arti pemasaran, bagaimana cara bekerjanya, apa yang akan dipasarkan dan siapa yang harus melaksanakan dan menjalankan pemasaran. Pemasaran berkenaan dengan mengenali dan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Pemasaran ialah suatu proses sosial dimana individu-individu dan kelompok mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain Kotler & Keller (2009:5). Sedangkan menurut The American Marketing Associaton dalam Nandan dan Wilhelmus dalam Ari, Jusuf, dan Efendi (2012:3) pemasaran adalah fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan dengan pelanggan dengan cara menguntungkan kedua belah pihak. Menurut Philip Kotler dalam Ari, Jusuf, dan Efendi (2015:7) pemasaran adalah kegiatan menganalisis, mengorganisasi, merencanakan, dan mengawasi sumber daya, kebijaksanaan, serta kegiatan yang menimpa para pelanggan perusahaan dengan maksud memuaskan kebutuhan dan keinginan para kelompok pelanggan. Definisi pemasaran ini bersandar pada konsep inti yang meliputi kubutuhan (needs), keinginan (wants), dan permintaan (demands). Manusia harus menemukan kebutuhannya terlebih dahulu, sebelum ia memenuhinya. Dengan demikian peneliti mengambil kesimpulan pemasaran yaitu segala kegiatan yang menawarkan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen dan dapat menguntungkan kedua belah pihak.Pemasaran Untuk menyiapkan diri menjadi pemasar, sesorang harus memahami apa arti pemasaran, bagaimana cara bekerjanya, apa yang akan dipasarkan dan siapa yang harus melaksanakan dan menjalankan pemasaran. Pemasaran berkenaan dengan mengenali dan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Pemasaran ialah suatu proses sosial dimana individu-individu dan kelompok mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain Kotler & Keller (2009:5). Sedangkan menurut The American Marketing Associaton dalam Nandan dan Wilhelmus dalam Ari, Jusuf, dan Efendi (2012:3) pemasaran adalah fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan dengan pelanggan dengan cara menguntungkan kedua belah pihak. Menurut Philip Kotler dalam Ari, Jusuf, dan Efendi (2015:7) pemasaran adalah kegiatan menganalisis, mengorganisasi, merencanakan, dan mengawasi sumber daya, kebijaksanaan, serta kegiatan yang menimpa para pelanggan perusahaan dengan maksud memuaskan kebutuhan dan keinginan para kelompok pelanggan. Definisi pemasaran ini bersandar pada konsep inti yang meliputi kubutuhan (needs), keinginan (wants), dan permintaan (demands). Manusia harus menemukan kebutuhannya terlebih dahulu, sebelum ia memenuhinya. Dengan demikian peneliti mengambil kesimpulan pemasaran yaitu segala kegiatan yang menawarkan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen dan dapat menguntungkan kedua belah pihak.

Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Kinner dan Kenneth dalam Ari Setiyaningrum, dkk. (2015:11) manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan kontrol dari putusan-putusan tentang pemasaran didalam bidang-bidang penawaran produk, distribusi, promosi, dan harga penentuan (pricing). Maksudnya adalah untuk mendorong dan memudahkan terjadinya pertukaran-pertukaran yang saling memuaskan dan yang memenuhi sasaran organisasi. Kotler dan Amstrong dalam Ari Setiyaningrum, dkk. (2015:11) mendefinisikan manajemen pemasaran ialah seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan pasar tersebut. Sedangkan menurut Philip Kotler dan Kevin Lane (2007:03) mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan mendapatkan, menjaga, dan menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menyerahkan dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul. Manajemen pemasaran bertujuan memberi layanan yang baik kepada para pelanggan atau konsumen karena hanya dengan layanan yang baik, konsumen akan puas menggunakan produk/jasa perusahaan, sehingga ia akan selalu membeli kembali produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun sebuah strategi pemasaran yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut.

Pengertian Impression Mangement (skripsi dan tesis)

Menurut Erving Goffman yang dikutip oleh Jalaludin Rakhmat dalam buku Psikologi Komunikasi mengatakan bahwa : Impression management (pengelolaan kesan) sebagai kecermatan persepsi interpersonal dimudahkan oleh petunjuk – petunjuk verbal 36 dan nonverbal, dan dipersulit oleh faktor-faktor personal penanggap. Kesulitan persepsi juga timbul karena personal stimuli berusaha menampilkan petunjuk-petunjuk tertentu untuk menimbulkan kesan tertentu pada diri penanggap (Jalaludin, 2011, h.94-95). Impression management (pengelolaan kesan) merupakan sebuah konsep dramaturgi, diperkenalkan oleh Erving Goffman, salah seorang sosiolog yang paling berpengaruh pada abad 20. Dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life yang diterbitkan pada tahun 1959. Ini menyoroti cara dimana seseorang yang ingin dilihat orang lain dan berusaha untuk menyajikan citra dirinya dalam cara-cara tertentu. Goffman memperkenalkan konsep ini yang bersifat penampilan teateris. Yakni memusatkan perhatian atas kehidupan sosial sebagai serangkaian pertunjukan drama yang mirip dengan pertunjukan drama di panggung. Ada actor dan ada juga penonton, tugas dari aktor hanya mempersiapkan dirinya dengan berbagai atribut pendukung dari peran yang di mainkan, sedangkan bagaimana makna itu tercipta, masyarakatlah atau lingkungan (penonton) yang member interpretasi.

Asas – Asas Komunikasi Karyawan (skripsi dan tesis)

Menurut Istijanto dalam bukunya berjudul Riset Sumber Daya Manusia mengungkapkan : Komunikasi dua arah yang baik antara manajemen dan karyawan didasarkan pada asas-asas berikut ini : 1. Manajemen harus bersedia secara sadar memberikan informasi kepada karyawannya. Setiap pelaksana harus memahami bahwa komunikasi merupakan tanggung jawab utuh kepada karyawannya. Setiap pelaksana harus memahami bahwa komunikasi merupakan tanggung jawab utama dan dalam evaluasi pelaksanaan secara keseluruhan. 2. Komunikasi harus berfungsi sebagai suatu sistem yang lengkap antara manajemen dengan karyawan. 3. Pesan tertulis harus digunakan untuk menghindari penyimpangan arti yang mungkin terjadi dalam komunikasi lisan. 4. Pesan harus disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang lazim yang sesuai dengan tingkat pendidikan karyawan. 5. Media komunikasi harus dipilih dan pesan harus disiapkan oleh komunikasi tentang informasi penting tidak dipercayakan kepada orang dengan pengalaman komunikasi yang terbatas. 6. Komunikasi jangan secara sengaja disalahgunakan atau disesatkan tetapi harus faktual, seksama, dan tidak memihak. 7. Informasi harus diberikan tepat pada waktunya dan pesan harus disampaikan dengan cepat untuk menghindari kesalahpahaman. 8. Pengulangan adalah penting dalam komunikasi karyawan yang baik. Informasi harus diulang dalam cara yang berlainan agar mudah dipahami. Tanggung jawab terhadap komunikasi karyawan yang bersifat formal harus diserahkan kepada staff humas (Istijanto, 2005, h.235)

Pengertian Karyawan (skripsi dan tesis)

Karyawan merupakan asset bagi perusahaan. Setiap perusahaan membutuhkan karyawan untuk dapat melangsungkan kegiatan dan mengembangkan kualitas prosuknya. Tanpa keikut sertaan mereka, aktivitas tidak akan terjadi. . Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menurut Poerwadarminta, karyawan didefinisikan sebagai pekerja atau pegawai (Poerwadarminta, 1976, h.448). Maka dari itu karyawan berperan aktif dalam menetapkan rencana, sistem, proses dan tujuan yang ingin dicapai. Pada intinya karyawan adalah penjual (pikiran dan tenaganya) dan mendapat kompensasi yang besarnya telah ditetapkan terlebih dahulu.

Tipe – Tipe Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Gaya kepemimpinan menurut Susilo Martoyo menyebutkan ada 5 tipe kepemimpinan, yaitu : 1. Tipe Non Pribadi Tipe ini tidak adanya kontak pribadi dengan bawahannya, karena diantara mereka ada sarana tertentu sehingga hubungan tersebut bersifat secara tidak langsung. 2. Tipe Otoriter Tipe ini berpendapat bahwa ia dapat menentukan apa saja dalam organisasi. 3. Tipe Demokratis Tipe ini lebih menitik beratkan pada partisipasi dan pendapat anggota kelompok/organisasi. 4. Tipe Paternalisitis Tipe ini cenderung lebih mengutamahkan kesejahteraan anak buahnya, terlalu melindungi dan membingbing. 5. Tipe Indigenous Tipe ini ditentukan oleh sifat dan pembawaan pemimpin Oleh karena itu Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

Peran Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Para ahli mengemukakan bahwa peranan pemimpin yang perlu ditampilkan seorang pemimpin adalah : 1. Mencetuskan ide 2. Memberi informasi 3. Sebagai seorang perencana 4. Seseorang yang memberi sugesti 5. Mengaktifkan anggota organisasi 6. Mengawasi kegiatan 7. Memberi semangat kepada anggotanya unutk mencapai tujuan 8. Sebagai ahli dalam bidang yang dipimpinnya 9. Memberi rasa aman. Maka dari itu Secara umum pemimpin dalam suatu organisasi adalah orang yang bertanggungjawab penuh dalam menggerakkan akitivitas dan motivasi para anggota organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

Tugas Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Tugas Pemimpin Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah 1. Pemimpin bekerja dengan orang lain, Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organjsasi sebaik orang diluar organisasi. 2. Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas), Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. 3. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas, Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin hanya dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas- tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif. 4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual, Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain. 5. Manajer adalah forcing mediator, Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah). 6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat, Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya. 7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit, Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah. (adieth12.blogspot.co.id) Oleh karena itu tugas dan tanggung jawab leader langkah pertama yang efektif adalah dapat menciptakan perbedaan diantara tim, meskipun terkadang perbedaan itu bisa baik atau tidak

Pengertian Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Pemimpin mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu melebihi tugas yang diberikan dengan perintah secara wajar. Orang lain mengikutinya dengan kerelaan, tanpa paksaan, atau kekuatan. Menurut Kartini Kartono dalam bukunya berjudul Pemimpin dan Kepemimpinan mengungkapkan bahwa arti pemimpin yaitu : Seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartono, 1994, h.181). Pemimpin jika dialih bahasakan ke bahasa Inggris menjadi LEADER, yang mempunyai tugas untuk me-LEAD anggota disekitarnya. Sedangkan makna LEAD adalah : 1. Loyality, Seorang pemimpin harus mampu membangkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan. 2. Educate, Seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekanrekannya dan mewariskan tacit knowledge pada rekanrekannya. 3. Advice, Memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada 4. Discipline, Memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya ( adieth12.blogspot.co.id). Maka dari itu Menjadi seorang pemimpin di dunia kerja bukanlah hal mudah karena pemimpin harus memikul tanggung jawab besar. Tidak hanya itu saja pemimpin mempunyai kewajiban untuk membuat semua pegawainya nyaman dan dapat bekerja sama dengan baik

Persyaratan Customer Service (skripsi dan tesis)

Adapun persyarat yang mutlak harus dimiliki oleh seorang customer service dalam menjalankan tugasnya yaitu : 1. Persyaratan fisik 2. Persyaratan mental 3. Persyatan kepribadian  4. Persyaratan Sosial Pengertian di atas menjelaskan bahwa seorang Customer Service memegang peranan sangat penting di berbagai perusahaan. Dalam dunia usaha seorang Customer Service mau tidak mau harus memiliki persyaratan tersebut.

Tingkatan Sikap (skripsi dan tesis)

Menurut Soekidjo Notoatmojo dikuti dari buku Wawan, A dan Dewi, M berjudul Teori dan Pengukuran Pengetahuan sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni : 1. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). 2. Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi skap karena degan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. 3. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4. Bertanggung jawab (responsibel) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi (Wawan, 2010, h.33-34).

Ciri – ciri Sikap Sikap (skripsi dan tesis)

merupakan faktor internal, tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap. Menurut W.A Gerungan dalam bukunya berjudul Psikologi Sosial mengemukakan bahwa : Untuk dapat membedakan antara attitude, motif kebiasaan dan lain-lain, faktor psychic yang turut menyusun pribadi orang, maka telah dirumuskan lima buah sifat khas dari pada attitude, adapun ciri-ciri sikap itu adalah : 1. Attitude bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan objeknya. 2. Attitude dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari 3. Attitude tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek. 4. Objek attitude kumpulan dari hal-hal tertentu. 5. Attitude itu mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan attitude dari pada kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang (Gerungan, 2009, h.153).

Pengertian Sikap (skripsi dan tesis)

Sikap merupakan konsepsi yang bersifat abstrak tentang pemahaman perilaku manusia. Seseorang akan lebih mudah memahami perilaku orang lain apabila terlebih dahulu mengetahui sikap atau latar belakang terbentuknya sikap pada orang tersebut. Dalam buku Pengantar Umum Psikologi karya Sarlito Wirawan Sarwono menyebutkan bahwa : Sikap adalah kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu (Sarwono, 1976, h.94). Dari pengertian diatas bahwa yang dimaksud dengan sikap adalah suatu tindakan atau tingkah laku sebagai reaksi atau respon terhadap suatu rangsangan atau stimulus, yang disertai suatu pendirian atau perasaan. Dalam beberapa hal, keberadaan sikap merupakan penentu dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi dari sikap, maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang atau tidak senang, menerima atau menolak, mendekati atau menjauhi dan sebagainya. Maka dari tiap- tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap suatu perangsang yang sama.

Konsep Psikologi Tentang Manusia (skripsi dan tesis)

Konsep psikologi manusia menurut Jalaludin Rahmat dalam bukunya berjudul Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa konsep psikologi manusia terdiri dari 3 yaitu : 1. Konsep Manudia dalam Psikoanalisi Perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga substistem dalam kepribadian manusia yakni Id, Ego dan Superego. 2. Konsep Manusia dalam Behaviorisme Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar dan tidak tampak). 3. Konsep Manusia dalam Psikologi Kongnitif Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi sebagai mahkluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya. 4. Manusia dalam Konsepsi Psikologi Humanistik Manusia bukan saja pelakon dalam panggung masyakarakat, buka saja pencari identitas, tetapi juga pencari makna (Jalaludin, 2011, h.19-30). Psikoanalisi, Behaviorisme, Kongnitif dan Humanistik merupakan empat konsep pendekatan yang paling dominan dimana setiap pendekatan ini memandang manusia dengan cara berlainan.

Pengertian Psikologi Komunikasi (skripsi dan tesis)

Menurut Abu Ahmadi dalam buku berjudul Psikologi Umum menurut Plato dan Aristiteles, berpendapat bahwa : Psikologi adalah ilmu yang memperlajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir. (Ahmadi,2002:9) Maka dari itu menurut Jalaludin Rahmat dalam bukunya berjudul Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa : Psikologi komunikasi menunjukan makna komunikasi sebagaiman digunakan dalam dunia psikologi, dalam psikologi, komunikasi mempunyai makna yang luas, meliputi segala penyampaian energi, gelombang suara, tanda diantara tempat, system atau organisme. Kata komunikasi sendiri dipergunakan sebagai proses, sebagai pesan, sebagai pengaruh, atau secara khusus sebagai pasien dalam psikoterapi (Jalaludi, 2011, h.4). Maka dari itu psikologi juga tertarik pada komunikasi di antara individu bagaimana pesan dari seorang individu menjadi stimulus yang menimbulkan respons pada individu yang lain.

Pengaruh Manajemen Impresi Terhadap Perilaku Kewargaan Organisasional (skripsi dan tesis)

Manajemen impresi merupakan bagian dari respon yang diinginkan secara sosial dan menyiratkan bahwa pengelolaan tayangan merupakan sarana untuk mencari yang baik atau yang diinginkan secara sosial daripada melihat pada yang buruk (Becker & Martin, 1995). Manajemen impresi dapat memengaruhi bagaimana bawahan dievaluasi. Oleh karena itu, karyawan dapat secara positif memengaruhi cara di mana atasan mereka mengadakan evaluasi terhadap bawahannya melalui interaksi antara bawahan dan pemimpinnya. Manajemen impresi juga memfasilitasi penciptaan hasil yang diinginkan di benak semua pemilik yang penting untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Manajemen impresi terdiri dari impresi yang baik (promosi diri, perilaku menjilat, dan perilaku memberi contoh atau teladan) dan impresi yang buruk (intimidasi dan perilaku memohon). Kecenderungan untuk mengelola impresi yang buruk harus berhubungan negatif dengan kecenderungan untuk mengelola impresi yang baik (Becker & Martin, 1995). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perilaku kewargaan organisasional terkait dengan evaluasi kinerja dan promosi (Borman, White, & Dorsey, 1995; Van Scooter & Motowidlo, 1996). Karyawan dapat terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional karena mereka ingin memiliki evaluasi kinerja yang lebih baik atau direkomendasikan untuk mendapatkan peluang dalam promosi jabatan. Karyawan yang terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional lebih cenderung menguntungkan babi orang lain dan dirasakan oleh orang lain (Bolino, 1999). Manajemen impresi merupakan fenomena umum dalam organisasi. Penelitian sebelumnya yang banyak dilakukan adalah penelitian mengenai manajemen impresi dalam organisasi kerja dalam kaitannya dengan penilaian kinerja (Wayne & Ferris, 1990). Asumsi yang umum adalah di sebagian besar pengaturan atau pengelolaan impresi akan negatif dan terkait dengan kinerja pekerjaan (Wayne & Liden, 1995). Hal ini karena kinerja bukan merupakan evaluasi subyektif. Di sisi lain, peneliti menemukan bahwa meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa manajemen impresi positif terkait dengan penilaian kinerja, hubungan ini dapat bervariasi, tergantung pada sifat kinerja pekerjaan (O’Connell et al., 2011). Para peneliti menyatakan bahwa dampak dari semua penelitian mengenai manajemen impresi kurang menghasilkan temuan yang konsisten. Beberapa peneliti menyatakan bahwa manajemen impresi dapat memotivasi perilaku kewargaan organisasional (Bolino 1999; Bolino et al., 2006; Rioux & Penner, 2000). Perilaku kewargaan organisasional dan manajemen impresi adalah perilaku berdasarkan pada hubungan pribadi dan hubungan jaringan sosial (Bowler & Brass, 2006). Eastman (1994) berpendapat bahwa perilaku menjilat yang merupakan suatu bentuk manajemen impresi adalah konstruk yang mirip dengan perilaku kewargaan organisasional. Para pemimpin akan merespon karyawan secara berbeda tergantung pada apakah perilaku tersebut merupakan manajemen impresi atau merupakan perilaku kewargaan organisasional. Hasil penelitian Eastman (1994) menunjukkan bahwa ada motif tertentu yang terkait dengan keputusan pengawasan terhadap hasil kerja karyawan. Ketika karyawan dikatakan sebagai warga organisasi yang baik, mereka diberi imbalan lebih besar daripada karyawan yang dicap sebagai penjilat atau mereka yang tidak menunjukkan perilaku kewargaan organisasionalnya. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa manajemen impresi mungkin tumpang tindih dengan beberapa dimensi perilaku kewargaan organisasional. Korelasi antara manajemen impresi dan perilaku kewargaan organisasional adalah positif secara signifikan (Eastman, 1994). Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan dalam perilaku kewargaan organisasional mungkin cukup dapat meningkatkan kesan atau impresi. Orang-orang yang terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional cenderung merasakan hal yang positif dalam organisasi mereka. Manajemen impresi juga memotivasi perilaku kewargaan organisasional, selain adanya motif-motif lain seperti pertukaran sosial dan kepribadian yang juga akan berpengaruh pada perilaku kewargaan organisasional. Manajemen impresi juga merupakan bagian dari kepribadian individu. Kepribadian cenderung menjadi prediktor yang lebih baik bagi perilaku dan kinerja kontekstual, sedangkan ukuran kemampuan, pengalaman, atau pengetahuan adalah prediksi yang lebih efektif dalam kinerja tugas (Motowidlo, Borman, & Schmidt, 1997). Manajemen impresi mungkin memiliki hubungan yang berbeda dengan kinerja tugas untuk pekerjaan yang berbeda. Manajemen impresi mungkin tidak dapat memrediksi kinerja secara keseluruhan. Beberapa peneliti telah berkomentar bahwa manajemen impresi sering keliru dan dikodekan sebagai perilaku kewargaan organisasional dan sebaliknya, perilaku kewargaan organisasional juga sering dikategorikan sebagai manajemen impresi (Bolino, 1999; Schnake, 1991). Bolino (1999) juga mengusulkan bahwa hubungan antara perilaku kewargaan organisasional dan citra warga organisasi yang baik akan dimoderatori manajemen impresi sebagai motif untuk terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional. Menurut Bolino (1999), perilaku kewargaan organisasional dapat meningkatkan impresi atau kesan yang mementingkan diri sendiri. Manajemen impresi memfasilitasi penciptaan gambar yang diinginkan dalam pikiran semua pemangku kepentingan untuk mendapatkan hasil yang ditujukan untuk promosi diri. Karyawan dengan manajemen impresi yang kuat cenderung memfokuskan pada tindakan yang bermanfaat bagi diri sendiri daripada bagi orang lain atau dan organisasi. Seorang individu mungkin termotivasi untuk melakukan perilaku kewargaan organisasional karena keinginan individu tersebut untuk dilihat sebagai warga organisasi yang baik dan untuk menciptakan hubungan interpersonal yang positif dan / atau memungkinkan beberapa jenis pengaruh (Chen, Lin, Tung, & Ko, 2008). Snell dan Wong (2007) menemukan bahwa meskipun manajemen impresi sebagai konstruk yang terpisah dan berbeda dari perilaku kewargaan organisasional, namun perilaku yang terkait dengan manajemen impresi tersebut tampak sangat mirip dengan perilaku kewargaan organisasional. Wayne dan Green (1993) menemukan bahwa manajemen impresi memang berkorelasi positif dengan perilaku kewargaan organisasional, terutama perilaku altruistik. Wayne dan Liden (1995) juga menemukan bahwa manajemen impresi bawahan akan berpengaruh dalam mengawasi penilaian kinerja melalui dampaknya terhadap keinginan dan persepsi atasan. Rioux dan Penner (2001) memandang manajemen impresi sebagai semacam motivasi individu dalam melakukan perilaku kewargaan organisasional dan menemukan bahwa motivasi manajemen impresi menjelaskan variansi yang signifikan dalam dimensi sportivitas dalam melakukan perilaku kewargaan organisasional. Berdasarkan asumsi bahwa karyawan yang terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional adalah prajurit yang baik, maka karyawan akan bersedia terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional akan terlihat baik atau membuat citra diri yang positif di mata orang lain (Eastman, 1994). Bolino (1999) mengusulkan bahwa karyawan dapat terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional karena didorong oleh motif manajemen impresi. Grant dan Mayer (2009) juga menemukan bahwa manajemen impresi dapat diprediksi oleh perilaku kewargaan organisasional yang diarahkan pada individu dan pada organisasi. Bolino (1999) menyatakan bahwa manajemen impresi akan sensitif terhadap target perilaku kewargaan organisasional mereka. Rioux dan Penner (2001) menyatakan bahwa tidak ada dasar teoritis yang jelas untuk memrediksi korelasi antara manajemen impresi dan dimensi perilaku kewargaan organisasional tertentu. Berdasarkan teori pertukaran sosial, manajemen impresi atau motif untuk dilihat secara positif dan menghindari penilaian negatif juga menyediakan dasar teoritis untuk memrediksi kinerja dan menerima perilaku kewargaan organisasional. Namun demikian, manajemen impresi berbeda dari perilaku pertukaran sosial, karena manajemen impresi tidak hanya baik dilakukan dengan kepercayaan bahwa ada balasan atau imbalan di masa depan yang akan terjadi. Manajemen impresi ini dilakukan dengan harapan individu dapat mengubah pendapat orang lain (Bowler & Brass, 2003). Manajemen impresi menunjukkan bahwa perilaku seseorang merupakan fungsi dari perilaku dan nilai-nilai dari para pengamat perilaku tersebut. Teori manajemen impresi juga menunjukkan bahwa perilaku kewargaan organisasional dapat dilakukan jika pihak yang kuat bisa mengamati perilaku tersebut.

Perilaku Kewargaan Organisasional (skripsi dan tesis)

Konsep perilaku kewargaan organisasional pertama kali diperkenalkan pada pertengahan 1980 oleh Dennis W. Organ. Teori mengenai perilaku tersebut telah berkembang pesat di tahun-tahun berikutnya. Organ (1997) mendefinisikan perilaku kewargaan organisasional sebagai kontribusi untuk pemeliharaan dan peningkatan konteks sosial dan psikologis yang mendukung kinerja tugas. Perilaku kewargaan organisasional adalah tipe khusus dari perilaku kerja dan didefinisikan sebagai perilaku individu yang bermanfaat bagi organisasi. Kehadiran perilaku kewargaan organisasional digunakan untuk meningkatkan efektivitas organisasi (Katz & Kahn, 1966; Podsakoff & MacKenzie, 1997). Individu yang menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan ini dianggap sebagai “warga organisasi yang baik” (Bateman & Organ, 1983). Perilaku kewargaan organisasional merupakan istilah yang lebih komprehensif dan populer yang menggambarkan berbagai perilaku kerjasama yang positif, sukarela, tidak wajib, dan melampaui satu set persyaratan di luar pekerjaan formal yang sesuai dengan deskripsi pekerjaannya. Perilaku kewargaan organisasional menggambarkan upaya yang dilakukan oleh karyawan untuk mengambil inisiatif untuk berkontribusi dengan cara yang tidak formal tetapi tetap diperlukan dalam organisasi (Smith, Organ, & Near, 1983). Perilaku kewargaan organisasional merupakan perilaku individu yang unik dalam organisasi yang dilakukan secara tidak formal, namun tetap dibutuhkan dan dapat mendukung pekerjaan, dan tidak secara eksplisit dan secara resmi dinyatakan dalam prosedur kerja dan sistem remunerasi. Organ mendefinisikan konsep perilaku kewargaan organisasional sebagai perilaku individu, yang diskresioner dan tidak secara langsung atau secara eksplisit diakui oleh sistem pemberian penghargaan yang bersifat formal, dan secara agregat, perilaku tersebut mampu mempromosikan fungsi efektif organisasi (Jain, 2012). Dengan perkembangan yang sangat cepat dari teori dan penelitian mengenai perilaku kewargaan organisasional, telah terjadi proliferasi konsep yang serupa dengan perilaku tersebut, seperti perilaku prososial organisasi (Brief & Motowidlo, 1986), perilaku organisasi sipil (Graham, 2000), spontanitas organisasi (George & Brief, 1992), kinerja kontekstual (Borman & Motowidlo, 1997), dan kesukarelaan dalam organisasi (Peloza & Hassay, 2006). Berbagai literatur menunjukkan bahwa perilaku kewargaan organisasional lebih dipengaruhi oleh variabel sikap dan karakteristik disposisional individu daripada oleh pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan karyawan (Konovsky & Organ, 1996; Organ & Ryan, 1995). Penelitian sebelumnya menemukan berbagai dimensi yang berbeda dari dalam perilaku kewargaan organisasional. Smith et al. (1983) menyatakan bahwa dimensi perilaku kewargaan organisasional itu termasuk di dalamnya terdapat altruisme, sopan santun, sportif, kesadaran, dan kesadaran sebagai warga organisasi. Van Scooter dan Motowidlo (1996) berpendapat bahwa perilaku kewargaan organisasional terdiri dari fasilitasi interpersonal dan dedikasi pekerjaan. McNeely dan Meglino (1994) dan Williams dan Anderson (1991) menyatakan bahwa perilaku kewargaan organisasional terdiri dari perilaku kewargaan organisasional pada organiosasi dan perilaku kewargaan organisasional pada individu. Kerangka lain mengenai dimensi perilaku kewargaan organisasional dikembangkan oleh Van Dyne, Graham, dan Dienesch (1994). Mereka secara empiris mengidentifikasi tiga dimensi perilaku kewargaan organisasional. Menurut Van Dyne et al. (1994), perilaku kewargaan organisasional terdiri dari kesetiaan, ketaatan, dan partisipasi. Kerangka kerja mereka memiliki beberapa tumpang tindih dengan dimensi perilaku kewargaan organisasional yang dicetuskan oleh Organ. Dimensi ketaatan berfokus pada mengikuti aturan dan prosedur dan memenuhi tenggat waktu tumpang tindih dengan dimensi kesadaran. Dimensi partisipasi yang melibatkan pengambilalihan tugas kerja ekstra dan relawan untuk tugas-tugas khusus, membuat saran, dan mempertahankan standar yang tinggi, tumpang tindih dengan dimensi kesadaran sebagai warga organisasi. Perilaku kewargaan organisasional sering dikonseptualisasikan sebagai kelas sosial diinginkan dari perilaku. Para peneliti sebelumnya bertujuan untuk menanggalkan segala bias dan atribusi untuk keinginan sosial dan untuk mengkaji perilaku dalam bentuk yang lebih ketat yang diamati oleh para peneliti tersebut. Perilaku kewargaan organisasional menggambarkan tindakan di mana karyawan bersedia untuk bertindak atau berperilaku melampaui persyaratan yang ditentukan dalam peran mereka. Perilaku kewargaan organisasional sering tidak tampak dan sulit untuk diukur (Schnake, 1991) namun perilaku tersebut menarik untuk diteliti karena sifatnya yang diskresioner dan adanya berbagai manfaat dari perilaku tersebut bagi organisasi (McNeely & Meglino, 1994). Dalam kebanyakan pekerjaan, perilaku kewargaan organisasional tersebut biasanya memang tidak mungkin untuk menggunakan langkah-langkah yang sama dengan tujuan kinerja. Meskipun ada kesepakatan yang cukup tentang arti pentingnya perilaku kewargaan organisasional dalam literatur yang masih ada, namun tidak ada konsensus tentang pemahaman mengenai perilaku kewargaan organisasional. Perilaku kewargaan organisasional sebagian besar dianggap sebagai masalah pilihan pribadi berdasarkan motif. Ada dua kekuatan motivasi di balik perilaku tersebut, yaitu perilaku kewargaan organisasional yang terkait dengan keinginan individu untuk terlihat seperti warga negara yang baik dan perilaku kewargaan organisasional yang dihasilkan dari keinginan tulus individu untuk membantu organisasi atau untuk membantu individu lain di tempat kerja berdasarkan pertukaran sosial atau karena kepribadian atau karakteristik disposisional mereka (Bolino, 1999). Bukti penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan jaringan sosial (kekuatan persahabatan) terkait dengan kinerja dan penerimaan perilaku kewarganegaraan antarpribadi (Bowler & Brass, 2006). Individu dapat terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional untuk meningkatkan citra diri mereka di dalam organisasi (Bolino, 1999). Bolino (1999) juga berpendapat bahwa karyawan dapat terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional untuk meninggalkan kesan yang baik di antara rekan kerja dan supervisor. Hasil penelitian Bolino (1999) tersebut menunjukkan bahwa beberapa strategi manajemen impresi tumpang tindih dengan dimensi perilaku kewargaan organisasional

Manajemen Impresi (skripsi dan tesis)

Manajemen impresi didefinisikan sebagai perilaku yang berusaha mempertahankan citra seseorang di mata orang lain dan merupakan perilaku yang dimiliki sebagai tujuan untuk pencapaian beberapa nilai dalam organisasi (Villanova & Bernardin, 1990). Manajemen impresi juga didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar untuk mengontrol penggambaran diri yang diproyeksikan dalam interaksi sosial atau sama seperti proses di mana orang berusaha untuk memengaruhi citra orang lain terhadap mereka (McFarland, Yen, Harold, Viera, & Moore, 2005). Manajemen impresi mengacu pada proses di mana orang berusaha untuk memengaruhi cara orang lain memandang mereka. Manajemen impresi merupakan fenomena umum di tempat kerja di mana karyawan mungkin dapat terlibat dalam perilaku tersebut untuk meningkatkan citra diri mereka (Yun, Takeuchi, & Liu, 2007). Manajemen impresi juga telah didefinisikan sebagai perilaku individu yang dilakukan untuk melindungi citra diri mereka dan memengaruhi cara mereka dinilai oleh orang lain secara signifikan (Wayne & Liden, 1995). Manajemen impresi adalah perilaku individu yang dapat digunakan untuk menciptakan citra yang baik dari diri mereka sendiri di antara rekan-rekan mereka di hadapan supervisor (Bolino & Turnley, 2003). Manajemen impresi merupakan perilaku individu yang digunakan untuk melindungi citra diri mereka yang dapat memengaruhi cara mereka dipandang oleh orang lain. Beberapa dimensi yang berbeda-beda dari manajemen impresi telah dikembangkan oleh para peneliti yang berbeda (misalnya, Bozeman & Kacmar 1997; Wayne & Ferris, 1990; Leary & Kowalski, 1990). Manajemen impresi dapat memiliki banyak bentuk. Dua kategori utama dari strategi manajemen impresi muncul dalam banyak literatur, bersifat defensif dan asertif (Wayne & Liden, 1995l; Bozeman & Kacmar, 1997). Strategi defensif yang digunakan dalam menanggapi kinerja yang buruk seperti berbagai alasan yang dikemukakan, permintaan maaf, halangan atau keterbatasan diri, merasa tertekan, dan merasakan ketidakberdayaan dalam belajar (Cohen & Fang, 2008). Strategi asertif secara aktif digunakan untuk membangun reputasi tertentu dengan target tertentu, dan bukan hanya reaksi terhadap permintaan yang bersifat situasional (Wayne & Liden, 1995). Ada berbagai dimensi dalam manajemen impresi. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah dimensi yang dikembangkan oleh Jones dan Pittman. Jones dan Pittman mengidentifikasi lima dimensi manajemen impresi yang sering digunakan oleh individu (Turnley & Bolino, 2001). Pertama, perilaku promosi diri, yang berarti bahwa individu yang memainkan peran sesuai dengan kemampuan atau prestasi mereka harus dilihat sebagai suatu kompetensi. Promosi diri ini menunjukkan penggambaran perhatian pada prestasi pribadi yang dapat dicapai oleh seseorang sehingga orang tersebut tampak memiliki kompetensi. Promosi diri menyoroti kemampuan atau prestasi seseorang agar dapat dilihat sebagai karyawan yang kompeten. Promosi diri dapat digunakan ketika individu berusaha untuk menciptakan atau mempertahankan kompetensinya. Promosi diri terdiri dari perilaku yang menunjukkan bahwa individu tersebut sangat kompeten, efektif, dan sukses. Contoh dari jenis perilaku tersebut tampak ketika karyawan memaparkan bakat, kompetensi, dan prestasinya. Kedua, perilaku menjilat, yang berarti bahwa individu menggunakan sanjungan atau memberikan dukungan yang dilakukan dalam upaya untuk dilihat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Menjilat adalah perilaku yang digunakan oleh individu untuk membuat individu tampil lebih menarik di hadapan orang lain. Perilaku menjilat ini dilakukan agar individu tersebut disukai. Perilaku menjilat meliputi memberikan pujian, memberikan pendapat yang membuat orang lain merasa senang, dan melakukan kebaikan bagi orang lain dalam rangka meningkatkan keinginan untuk disukai orang lain. Perilaku menjilat berfokus pada atribut yang diinginkan individu. Ketiga, perilaku pemberian contoh, yang berarti bahwa individu berperilaku dengan memposisikan diri berada di atas dan melampaui panggilan tugas untuk muncul sebagai individu yang berdedikasi. Individu yang berperilaku ingin menjadi contoh tersebut merasa selalu ingin dihormati dan dikagumi karena integritas dan kejujuran moralnya. Individu yang berperilaku demikian akan selalu tiba di tempat kerja lebih awal atau meninggalkan tempat kerja paling akhir untuk menciptakan citra dedikasi yang tinggi bagi pekerjaannya. Perilaku yang selalu ingin memberikan contoh akan menyoroti kualitas sosial dan estetika. Keempat, melakukan intimidasi, yang berarti bahwa individu tersebut selalu berusaha untuk tampil menakutkan dan mengancam, serta ingin orang lain melihat mereka sebagai orang yang disegani. Kelima, perilaku memohon, yang berarti bahwa individu memaparkan berbagai kekurangan mereka dalam upaya agar dipandang sebagai orang yang tidak mampu atau miskin. Perilaku memohon tersebut digambarkan sebagai mampu memenuhi kewajiban yang harus dilakukan namun tidak mau menunjukkannya. Becker dan Martin (1995) telah menunjukkan bahwa individu kadang-kadang mencoba untuk melihat di tempat kerja untuk menghindari tuntutan tugas. Perilaku promosi diri, menjilat, dan memberikan contoh tersebut bertujuan untuk menunjukkan hal-hal yang positif pada orang lain. Sementara itu, intimidasi dan perilaku memohon memungkinkan para pelaku untuk menciptakan persepsi negatif dari diri mereka sendiri dalam target pikiran mereka. Pada strategi pengelolaan lima kesan ini, peneliti paling sering menemukan penggunaan perilaku menjilat dan promosi diri (lihat misalnya Ralston, 1985; Liden & Mitchell,1988). Gordon (1996) menemukan bahwa perilaku promosi diri dan perilaku menjilat yang positif berkaitan dengan evaluasi kinerja dan daya tarik interpersonal. Perilaku promosi diri dan menjilat juga menunjukkan bahwa kedua dimensi positif dari manajemen impresi tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan ataupun yang tidak menguntungkan. Secara umum, penelitian mengenai perilaku pemberian contoh, intimidasi dan perilaku memohon jarang dilakukan (Turnley & Bolino , 2001). Menurut Leary dan Kowalski (1990), manajemen impresi adalah fungsi dari lima faktor, yaitu konsep diri, yaitu cara seseorang memandang dirinya sendiri, gambaran identitas yang diinginkan, yaitu bagaimana orang ingin melihat dirinya sendiri, kendala peran, yaitu harapan yang terkait dengan peran sosial, nilai-nilai yang menjadi target, yaitu preferensi orang lain yang signifikan, dan citra sosial yang saat ini atau yang mungkin akan terjadi di masa mendatang, yaitu bagaimana orang tersebut saat ini dianggap atau ingin dianggap oleh orang lain. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bentuk tertentu manajemen impresi dapat memengaruhi bagaimana seorang karyawan dievaluasi, yang mengarah ke peringkat yang lebih baik dari kinerja yang dicapainya saat ini (Wayne & Liden, 1995). Manajemen impresi terdiri dari kesan yang baik atau menguntungkan dan kesan yang buruk atau tidak menguntungkan (Becker & Martin, 1995 ). Penelitian manajemen impresi berfokus pada cara-cara individu berperilaku dalam rangka menciptakan dan memanipulasi gambar dan persepsi diri dalam pikiran orang lain (Bozeman & Kacmar, 1997). Para peneliti perilaku manajemen impresi telah mengidentifikasi taktik yang digunakan oleh individu untuk meningkatkan citra mereka seperti yang dirasakan oleh orang lain. Drory dan Zaidman (2007) mengemukakan bahwa penelitian yang ada mengenai manajemen impresi dapat dibagi menjadi dua pendekatan utama, yaitu pendekatan universal dan pendekatan kontekstual. Pendekatan yang universal berfokus pada aktor dan studi manajemen impresi individu dalam budaya bebas. Pendekatan kontekstual mempelajari manajemen impresi yang seolah-olah dibangun dalam beberapa konteks seperti wawancara kerja, penilaian kinerja, dan kesuksesan karir. Para peneliti manajemen impresi telah mengidentifikasi fakta-fakta yang digunakan oleh orang lain Meskipun penelitian mengenai hubungan antara manajemen impresi dan penilaian kinerja telah banyak dilakukan, namun hanya beberapa studi yang mampu menujukkan secara empiris hubungan antara manajemen impresi dan penilaian kinerja (Ferris, Hakim, Rowland, & Fitzgibbons, 1994; Kipnis & Schmidt , 1988; Wayne & Ferris, 1990; Wayne & Kacmar,1991). Beberapa studi telah meneliti dampak manajemen impresi yang dilakukan oleh bawahan pada hasil penilaian kinerja. Bolino et al. (2008) menemukan bahwa manajemen impresi juga telah berguna dalam memeriksa berbagai fenomena kerja seperti kepemimpinan, mencari umpan balik atau masukan, dan perilaku kewargaan organisasional. Meskipun hubungan yang signifikan antara manajemen impresi dan penilaian kinerja telah muncul, hubungan kausal antara kedua variabel tersebut tidak jelas, proses intervensi tidak dipahami dengan baik, dan dampak manajemen impresi pada hasil penilaian kinerja dari waktu ke waktu tidak diketahui (Wayne & Liden , 1995)

Karakteristik-karakteristik Social Enterprise (skripsi dan tesis)

Certo dan Miller (2008) mengungkapkan bahwa terdapat tiga cara melihat
social entrepreneurship:
1. Misi secara keseluruhan sosial
Penciptaan nilai sosial dengan profit sebagai efek tidak langsung.
2. Performa social entrepreneurship
Sulit melakukan pengukuran performa social entrepreneurship, sebab nilai sosial
sulit diukur. Performa social entrepreneurship diukur secara ekonomi di mana
dampak sosial dapat ditelusuri dalam bentuk biaya sosial. Field dan Field (2006)
mengemukakan bahwa biaya sosial memasukan komponen biaya eksternal yakni
biaya yang dikeluarkan masyarakat maupun lingkungan sekitar akibat aktivitas
suatu perusahaan. Social entrepreneurship memberikan nilai sosial dari dampak
aktivitas-aktivitas usahanya yang berdampak pada masyarakat atau lingkungan
sekitar.
3. Pemanfaatan sumber daya
Memanfaatkan sumber daya secara sukarela. Pemanfaatan sumber daya social
entrepreneurship adalah transaksional. Sumberdaya dijadikan alat yang digunakan
sebesar-besarnya untuk tujuan tertentu baik secara ekonomi maupun sosial.

Definisi Social Enterprise (skripsi dan tesis)

Gendron (1996), mendefinisikan kewirausahaan sosial sebagai mekanisme
yang efektif untuk menghasilkan nilai dalam bentuk kemasyarakatan, ekonomi, dan
lingkungan. Kewirausahaan sosial melibatkan promosi dan pembangunan perusahaan
atau organisasi yang menciptakan kekayaan, dengan tujuan menguntungkan
masyarakat. Yunus (2009) menggambarkan kewirausahaan sosial sebagai bisnis sosial
adalah bagian dari sebuah gagasan.
Perusahaan sosial berbeda dari perusahaan konvensional karena perusahaan
sosial bertujuan untuk mengoptimalkan nilai untuk tujuan sosial (Mair dan Marti,
2006). Sebaliknya, konsep ini masih sangat tidak jelas bagi banyak orang karena
mereka memahaminya sebagai organisasi amal ‘nirlaba’ (Chell, 2007). Namun,
kewirausahaan sosial adalah jenis organisasi sukarela yang memberikan layanan
kepada masyarakat secara gratis (Weerawardena, 2006)

Perkembangan Financial Technology (skripsi dan tesis)

Fintech secara Global menunjukkan secara pesat Fintech berkembang di
berbagai sektor, mulai dari startup pembayaran, peminjaman (lending), perencanaan
keuangan (personal finance), investasi ritel, pembiayaan (crowdfunding), remitansi,
riset keuangan, dan lain-lain. Pelaku FinTech Indonesia masih dominan berbisnis
payment (43%), pinjaman (17%), dan sisanya berbentuk agregator, crowdfunding dan
lain-lain (Wibowo; Muzdalifa, Rahma, Novalia, 2018).
Menurut Siregar (Chrismanto, 2017) pemanfaatan teknologi digital pada
kehidupan masyarakat sehari-hari ternyata telah mengubah perilaku masyarakat
hampir pada semua aspek, Seperti jual beli online (e-commerce), transportasi berbasis
online, buku elektronik, layanan pendukung pariwisata elektronik, dan juga teknologi
finansial. Penelitian kuantitatif oleh Margaretha (Chrismanto, 2017) telah menyatakan
bahwa pemanfaatan teknologi informasi digital telah banyak membantu masyarakat
indonesia dalam menjalankan roda perekonomian menjadi lebih efektif dan efisien dari
sebelumnya, khususnya pada sektor keuangan. Respon positif masyarakat akan digital
teknologi menjadi kajian awal bagi dunia perbankan untuk memperbaiki sistem
informasi teknologi finansial dan menjadi strategi operasional perusahaan. Semakin
mengikuti era digital teknologi finansial dinilai mampu mendorong kemajuan sistem
keuangan dan perbankan digital indonesia. Demikian halnya dengan Utojo
(Chrismanto, 2017) menyatakan teknologi electronic data processing, di mana
sekarang dikembangkan menjadi teknologi finansial telah banyak membantu bank
dalam kecepatan dan akurasi pemrosesan data operasi bisnis dan pemasaran produk
mereka. Senada dengan pendapat di atas, penerapan sistem informasi sangat
berpengaruh pada industri perbankan, di mana penerapan sistem informasi pada
industri perbankan mempunyai dampak yang luar biasa mengingat industri perbankan
merupakan salah satu industri yang paling tinggi tingkat ketergantungannya pada
aktivitas-aktivitas pengumpulan, pemprosesan, analisa dan penyampaian laporan
(informasi) yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan para nasabahnya
(Chrismanto, 2017)

Peranan Financial Technology (skripsi dan tesis)

Fintech dengan layanan keuangan seperti crowdfunding, mobile payments, dan
jasa transfer uang menyebabkan revolusi dalam bisnis startup. Dengan crowdfunding,
bisa memperoleh dana dari seluruh dunia dengan mudah, bahkan dari orang yang
belum pernah ditemui sekalipun Fintech juga memungkinkan transfer uang secara
global atau internasional. Jasa pembayaran seperti PayPal otomatis mengubah kurs
mata uang, sehingga yang berada di Amerika bisa membeli barang dari Indonesia
dengan mudahnya, Fintech juga memiliki peran penting dalam mengubah perilaku dan
ekspektasi konsumen diantaranya (Santi, 2016):
1. Dapat mengakses data dan informasi kapan saja dan dimana saja
2. Menyamaratakan bisnis besar dan kecil sehingga cenderung untuk memiliki
ekspektasi tinggi meski terhadap bisnis kecil yang baru dibangun.
Secara global, industri Fintech terus berkembang dengan pesat. Terbukti dari
bermunculannya perusahaan startup di bidang ini serta besarnya investasi global di
dalamnya. Khususnya di Indonesia, bisnis ini berkembang sangat pesat hingga menarik
perhatian seluruh pebisnis di Indonesia

Definisi Fintech (skripsi dan tesis)

Fintech berasal dari istilah Fintech berasal dari istilah financial technology atau
teknologi finansial. Menurut The National Digital Research Centre (NDRC), di Dublin,
Irlandia, mendefinisikan fintech sebagai “innovation infinancial services” atau “inovasi
dalam layanan keuangan fintech” yang merupakan suatu inovasi pada sektor finansial
yang mendapat sentuhan teknologi modern. Transaksi keuangan melalui fintech ini
meliputi pembayaran, investasi, peminjaman uang, transfer, rencana keuangan dan
pembanding produk keuangan (Santi, 2016).
Industri financial technology (fintech) merupakan salah satu metode layanan
jasa keuangan yang mulai populer di era digital sekarang ini. Dan pembayaran digital
menjadi salah satu sektor dalam industri FinTech yang paling berkembang di
Indonesia. Sektor inilah yang kemudian paling diharapkan oleh pemerintah dan
masyarakat untuk mendorong peningkatan jumlah masyarakat yang memiliki akses
kepada layanan keuangan (Wibowo; Muzdalifa, Rahma, Novalia, 2018).

Pengukuran Keinginan untuk Menggunakan Fintech (skripsi dan tesis)

Davis (1993) Mendefinisikan Keinginan (Intention) sebagai seseorang
individu yang berkeinginan untuk menggunakan suatu teknologi informasi.
Spears and Singh (2004), mengungkapkan bahwa seseorang individu
yang berkeinginan untuk membayar dengan sesuai harga produk atau layanan
yang sudah diberikan maka bisa didefinisikan orang tersebut memiliki rasa
ingin membeli atau menggunakan produk atau layanan tersebut. Oleh karena
itu, membeli atau menggunakan suatu produk atau layanan bisa didefinisikan
sebagai seseorang sudah berkeinginan untuk menggunakan (Wang and Lin,
2016).
Wang and Lin (2016), menyimpulkan bahwa keinginan untuk
menggunakan juga bisa diukur dengan menginvestigasi pelanggan yang
berkeinginan untuk terus menggunakan, mencari alasan yang membuat
pelanggan berkeinginan untuk menggunakan supaya mempertahankan hal
tersebut, serta mencari pelanggan yang berkeinginan merekomendasikan
layanan kepada teman.
Menurut Dodds & Monroe (1985), pelanggan berkeinginan untuk
membeli atau menggunakan, biasanya tergantung pada persepsi pergorbanan
terhadap kualitas dan nilai dari layanan yang sudah diterima oleh pelanggan.
Menurut Lee et al. (2006), terdapat beberapa nilai dalam menilai
keinginan untuk menggunakan, yaitu :
1. Saya berkeinginan untuk menggunakan website Fintech Peer-to-Peer
Lending
2. Saya berkeinginan untuk melakukan berinvestasi melalui website Fintech
Peer-to-Peer Lending
3. Saya akan merekomendasikan teman saya untuk berinvestasi melalui
website Fintech Peer-to-Peer Lending
4. Saya akan mengunjungi atau menggunakan lagi website Fintech Peer-toPeer Lending untuk berikutnya
5. Saya akan menggunakan website Fintech Peer-to-Peer Lending di masa
yang akan datang.

Pengukuran Persepsi Nilai (skripsi dan tesis)

Zeithaml (1988), mendefinisikan persepsi nilai merupakan suatu nilai
atau hasil yang didapatkan dari perbandingan antara keuntungan yang
diterima oleh pelanggan secara personal dengan biaya atau pergorbanan yang
sudah dikeluarkan oleh pelanggan.
Menurut Lai (2004), persepsi nilai adalah suatu penilaian yang
diberikan oleh pelanggan secara keseluruhan terhadap manfaat dari sebuah
website berdasarkan apa yang mereka terima dan apa yang mereka rasakan
dari menggunakan website tersebut.
Kotler dan Keller (2012) Persepi nilai pelanggan merupakan suatu
hasil yang ada pada perbedaan yang terjadi antara evaluasi perspektif
pelanggan terhadap semua keuntungan dan perbandingan keseluruhan biaya
pada semua alternatif yang ada.
Berdasarkan Sheth, et al. (1991), Terdapat empat dimensi pengukuran
terhadap persepsi nilai pelanggan berdasarkan pendapat, yaitu: nilai
fungsional (functional value), nilai emosional (emotional value), nilai sosial
(social value) dan nilai epistemik (epistemic value).

Kualitas Sistem (skripsi dan tesis)

Murdick & Ross (1993), mendefinisikan Sistem sebagai seperangkat
elemen yang digabungkan satu dengan yang lain untuk suatu tujuan yang
bersama. Kualitas sistem merupakan karakteristik dari informasi yang
melekat mengenai sistem itu sendiri yang mana kualitas sistem merujuk pada
seberapa baik kemampuan perangkat keras, perangkat lunak, dan kebijakan
prosedur dari sistem informasi yang dapat menyediakan informasi kebutuhan
pemakai (Delone dan McLean, 1992). Suatu sistem yang berkualitas harus
dapat menyediakan informasi yang cukup untuk mendukung pengambilan
keputusan dalam suatu perusahaan (Seddon, 1997).
Menurut DeLone dan McLean (1992), Kualitas Sistem merupakan
suatu kemampuan atau hasil dari sistem dalam menyediakan informasi yang
dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan yang menggunakan. Kualitas Sistem
bisa diukur berdasarkan kemudahan sistem untuk digunakan (ease of use),
keandalan sistem (reliability), kecepatan akses sistem (response time),
fleksibilitas sistem (flexibility) dan keamanan sistem (security).

Pengukuran Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Informasi didefinisikan sebagai data yang sudah ditempatkan dalam
suatu konteks sehingga menjadi berarti dan bisa berguna untuk yang
memakai data tesebut, sedangkan Kualitas Informasi adalah Tingkat dimana
informasi memiliki karateristik isi,bentuk dan waktu yang memberikannya
nilai buat para pemakai akhit tertentu (O’Brien & Marakas, 2006).
Pengolahan Informasi merupakan suatu hal yang penting, karena apabila
informasi tersebut tidak disalurkan pada waktu yang tepat dan informasi tidak
sesuai dengan kebutuhan dari pengguna, maka pengguna akan kecewa dan
perusahaan akan kehilangan bisnis (Clikeman, 1999). Kualitas Informasi
biasanya dikonseptualisasikan secara subjektif dan dianggap sebagai
informasi yang sesuai untuk digunakan bagi yang berpentingan (Ballou,
Madnick, dan Wang, 2003).
Fehrenbacher, (2016), Kualitas informasi menunjukkan tingkat
dimana suatu data yang terkait dengan suatu hal dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan atau harapan pihak yang berkepentingan, yaitu
pengguna.
Menurut Nelson, Todd, & Wixom (2005), mengusulkan empat kunci
dimensi dari Kualitas Informasi, yaitu :
1. Accuracy yaitu sejauh mana kebenaran sebuah informasi tesebut jelas,
berarti, dapat dipercaya dan konsisten.
2. Completeness yaitu sejauh mana semua informasi yang dibutuhkan
tersedia.
3. Currency yaitu sejauh mana infomasi tersebut di update, dan
informasi tesebut secara tepat menggambarkan keadaan sekarang
4. Format yaitu sejauh mana informasi tersedia dan disajikan dalam
bentuk yang mudah untuk dipahami oleh pengguna

Pengukuran Kualitas Layanan (skripsi dan tesis)

Knowles (2011), mendefinisikan kualitas pada dasarnya merupakan
suatu pencapaian harapan atau melebihi suatu harapan, dalam memenuhi
keinginan atau harapan pelanggan, dan layanan yang ditawarkan atau
diberikan sesuai dengan harapan dari setiap orang. Layanan adalah suatu
bantuan dalam bentuk menyiapkan hal apa yang diperlukan oleh orang lain
dengan adanya suatu tantangan (Prayitno 2004).
Lewis & Booms (1983), Kualitas Layanan merupakan suatu
pengukuran yang membandingkan sejauh mana penyampaian layanan yang
sudah diberikan kepada pelanggan dengan haparan layanan yang diinginkan
dari pelanggan.
Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1985), mengemukakan adanya
perangkat yang bisa digunakan untuk menilai kualitas layanan untuk suatu
perusahaan, yaitu : Keandalan, Tanggungjawab, Kompetensi, Akses, Sopan
santun, Komunikasi, Kepercayaan, Keamanan, Memahami dan Mengetahui
Pelanggan, dan Nyata serta Jelas. Sedangkan pada tahun 1990, Zeithaml et al.,
juga mendefinisikan Kualitas Layanan merupakan suatu persepsi dari para
pelanggan, sehingga kualitas layanan dapat di definisikan sebagai
ketidaksesuaian antara apa yang menjadi harapan atau keinginan dari para
pelanggan terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada pelanggan itu sendiri

Pengukuran Kepercayaan terhadap Merk (skripsi dan tesis)

Fang et al (2011), mengemukan bahwa suatu kepercayaan terjadi
karena adanya suatu rasa percaya bahwa perusahaan tersebut menyediakan
layanan yang melakukan tindakan yang penting untuk memenuhi pelanggan
mereka. Sedangkan menurut Hankinson (2001), Merk berdasarkan pengakuan
oleh pemasar itu penting, karena dapat memberikan kontribusi yang efektif
terhadap pembangunan ekonomi di kota – kota besar.
Kepercayaan terhadap Merk diartikan sebagai suatu tingkat dimana
seseorang percaya terhadap suatu merk yang bisa dikarenakan dari pemakaian
atau interaksi sebelumnya pada masa lalu sehingga muncul adanya rasa
percaya terhadap merk tersebut (Delgado‐Ballester & Luis
Munuera‐Alemán, 2001). Ballester (2003), mendefinisikan kepercayaan
terhadap merk adalah suatu perasaan aman yang dirasakan oleh pelanggan
yang disebabkan dari interaksinya dengan suatu merk, yang berdasarkan
persepsi bahwa merk tersebut dapat diandalkan dan bertanggung jawab atas
kepentingan dari pelanggan.
Lau dan Lee (2006), mengatakan bahwa kepercayaan terhadap merk
sebagai suatu keinginan pelanggan untuk mempercayai merk tersebut dengan
segala resiko, yang dikarena adanya harapan yang sudah dijanjikan oleh
perusahaan yang bisa memberikan hasil yang positif bagi pelanggan ketika
menggunakan website tersebut.
Samuel & Lianto (2014), menyatakan bahwa Kepercayaan terhadap
Merk dapat diukur dengan menggunakan dua dimensi, yaitu :
1. Dimension of Viability
Pada dimensi ini, adanya persepsi mengenai suatu merk harus
dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan atau nilai konsumen. Hal
tersebut dapat diukur melalui indikator melalui kepuasan dan nilai
(value) konsumen.
2. Dimension of Intentionality
Pada dimensi ini, adanya rasa aman yang dimiliki oleh seorang
individu atau konsumen terhadap suatu merk yang telah di konsumsi
dan dipercaya. Hal tersebut dapat diukur melalui indikator security
dan trust yang bisa membuat seorang individu merasa nyaman

Pengaruh Kualitas Informasi terhadap Persepsi (skripsi dan tesis)

Menurut penelitian Pearson, Tadisina, & Griffin (2012) menunjukkan
bahwa adanya hubungan kualitas informasi (information quality) terhadap
persepsi nilai (perceived value). Berbeda dengan penelitian Ginting & Marlina
(2017) dan penelitian Budiartha & I Ketut (2016) yang menemukan bahwa
adanya hubungan signifikan antara information quality terhadap intention to use.
Akan tetapi pada penelitian Brown & Jayakody (2008) menemukan hasil
penelitiannya menemukan bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan antara
kualitas informasi terhadap persepsi nilai, tetapi kualitas informasi mempunyai
hubungan yang signifikan terhadap intention to use

Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Persepsi Nilai (skripsi dan tesis)

Menurut beberapa penelitian terdahulu Pearson, Tadisina, & Griffin
(2012), Hu, Kandampully, & Devi (2012), Jayanti & Ariyanti (2017), dan
Ginting & Marlina (2017) menunjukkan bahwa adanya hubungan kualitas
layanan (service quality) terhadap persepsi nilai. Akan tetepi pada penelitian
Brown & Jayakody (2008) menemukan bahwa tidak adanya hubungan yang
signifikan antara kualitas layanan terhadap persepsi nilai.

Manfaat Financial Technology (FinTech) (skripsi dan tesis)

Menurut Bank Indonesia, Perkembangan Fintech yang sangat pesat di
Indonesia dapat membawa banyak manfaat, manfaat tersebut dapat bagi
peminjam, investor maupun perbankan di Indonesia :
– Bagi peminjam, manfaat yang dapat dirasakan seperti mendorong inklusi
keuangan, memberikan alternatif pinjaman bagi debitur yang belum layak
kredit, prosesnya mudah dan cepat, dan persaingan yang ditimbulkan
mendorong penurunan suku bunga pinjaman.
– Bagi investor FinTech, manfaat yang dapat dirasakan seperti alternatif
investasi dengan return yang lebih tinggi dengan risiko default yang
tersebar di banyak investor dengan nominal masing – masing cukup
rendah dan investor dapat memilih peminjam yang didanai sesuai
preferensinya.
– Bagi perbankan, kerjasama dengan FinTech dapat mengurangi biaya
seperti penggunaan non-traditional credit scoring untuk filtering awal
aplikasi kredit, menambah Dana Pihak Ketiga (DPK), menambah channel
penyaluran kredit dan merupakan alternatif investasi bagi perbankan.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2016), manfaat FinTech di
Indonesia, yaitu:
1. Mendorong distribusi pembiayaan Nasional masih belum merata di
17.000 pulau
2. Mendorong kemampuan ekspor UMKM yang saat ini masih rendah
3. Meningkatkan Inklusi keuangan nasional
4. Mendorong pemerataan tingkat kesejahteraan penduduk
5. Membantu pemenuhan kebutuhan pembiayaan dalam negeri yang
masih sangat besar

Perkembangan FinTech Peer-to-Peer Lending di Indonesia (skripsi dan tesis)

Setiaji, Triana dan Harimurti (2016), perkembangan Peer-to-Peer Lending di Indonesia, yaitu: 1. Modalku Modalku adalah salah satu perusahaan penyedia Peer-to-Peer Lending di Indonesia yang sudah berhasil menyalurkan pinjaman sebesar Rp.13,5 milyar dengan tingkat 0%. Modalku menawarkan return 12-18% bagi pemberi pinjaman dengan jangka waktu yang fleksibel yaitu 3 sampai 12 bulan. Pinjaman yang diberikan dari Rp 1 juta dengan minimal deposit Rp 10 juta. Adapun pinjaman modal kerja yang diajukan mulai dari Rp 50 juta hingga Rp 1 miliar dengan tenor 3, 6, atau 12 bulan. Suku bunga yang ditawarkan berkisar antara 14-20%. 2. Investree Investree telah mampu menyalurkan sebanyak Rp.19,5 milyar dalam bentuk pinjaman dengan total mencapai 78 pinjaman. Saat ini terdapat Rp.13,1 milyar pinjaman yang lunas terbayarkan dengan total terdiri dari 45 pinjaman. Investree menawarkan kepada pemberi dana tingkat pengembalian rata-rata sebesar 17.9% hingga 20%. Dengan tingkat 0%. Sementara itu, peminjam dapat meminjam dana dengan tingkat minimal 1,2% per bulan atas nilai pinjaman. Hal yang unik pada Peer-to-Peer Lending Investree adalah terdapat analisis score kredit. 3. Amartha Amartha adalah sebuah perusahaan teknologi finansial yang menghubungkan investor dengan usaha mikro dan kecil di Indonesia. Sejak 2010, Amartha berhasil menyediakan modal usaha bagi 23.000 UMKM dengan non performing loan (NPL) 0%. Secara nominal, mereka telah mampu menyalurkan hingga Rp.30 milyar dalam bentuk pinjaman. Pemberi dana dapat memulai investasi dengan modal kecil mulai dari Rp 3.000.000 dan jangka waktu 1 tahun. Mereka menawarkan bagi hasil yang kompetitif hingga 20%.

Tipe – tipe Peer-to-Peer Lending (skripsi dan tesis)

Menurut Financialku.com, Terdapat empat jenis Peer-to-Peer Lending, yaitu : 1. Pembiayaan berbentuk utang Contohnya UangTeman.com, TemanUsaha.com, Mekar.id, BosTunai.com, Terhubung.com, Tanihub.com, Pinjam.co.id, Taralite.com, Eragano.com, DrRupiah.com. 2. Pembiayaan berbasis patungan atau pembiayaan masal (crowdfunding) Contohnya Wujudkan.com, Kitabisa.com, Ayopeduli.com dan GandengTangan.org. WeCare.id, Indves.com, GandengTangan.org, LimaKilo.id, iGrow.asia, Iwak.me, KapitalBoost.com. 3. Pembiayaan berbasis Peer-to-Peer Lending (P2P) Contohnya Koinworks.com, Amartha.com, DanaDidik.com, Crowdo.com, Investree.com. 4. Cicilan Tanpa Kartu Kredit Contohnya Kredivo.com, ShootYourDream.com, Cicil.co.id.

Definisi Financial Technology (FinTech) Peer-to-Peer Lending (skripsi dan tesis)

Menurut Ge, Feng, Gu, & Zhang, (2017), Peer-to-Peer Lending
merupakan sebuah proses menjalankan peminjaman uang antara dua
individual yang tidak bersangkutan secara langsung melalui platform online,
tanpa campur tangan dari para perantara keuangan yang tradisional seperti
bank.
Menurut Dorfleitner et al., (2016), Peer-to-Peer Lending merupakan
sebuah inovasi utama yang berhubungan dengan bidang perbankan. Dalam
beberapa tahun terakhir, jumlah platform yang menawarkan layanan tersebut
dan jumlah transaksi terus meningkat.
Menurut Hsueh, (2017), Peer-to-Peer Lending merupakan model
bisnis berbasis Internet yang memenuhi kebutuhan pinjaman antar perantara
keuangan. Platform ini ditujukan untuk perusahaan menengah dan kecil
dimana menurut mereka persyaratan pinjaman bank mungkin terlalu tinggi.
Peer-to-Peer Lending memiliki biaya lebih rendah dan efisiensi yang lebih
tinggi daripada pinjaman berbasis bank tradisional.

Resiko Financial Technology (FinTech) (skripsi dan tesis)

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2016), Resiko yang dialami oleh
pengguna FinTech. Sehingga diperlukan adanya strategi untuk melindungi
konsumen dan kepentingan nasional.
Strategi untuk melindungi konsumen adalah sebagai berikut :
a. Perlindungan dana pengguna
Potensi kehilangan maupun penurunan kemampuan finansial, baik yang
diakibatkan oleh penyalahgunaan, penipuan, maupun force majeur dari
kegiatan FinTech.
b. Pelindungan data pengguna
Isu privasi pengguna FinTech yang rawan terhadap penyalahgunaan data
baik yang disengaja maupun tidak sengaja (serangan hacker atau malware)
Strategi untuk melindungi kepentingan nasional adalah sebagai
berikut :
a. Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT)
Kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan oleh FinTech menimbulkan
potensi penyalahgunaan untuk kegiatan pencucian uang maupun
pendanaan terorisme.
b. Stabilitas Sistem Keuangan
Perlu manajemen risiko yang memadai agar tidak berdampak negatif
terhadap stabilitas sistem keuangan.

Tantangan Financial Technology (FinTech) (skripsi dan tesis)

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2016), Adapun tantangan pada Fintech adalah : 1. Peraturan dalam Mendukung Pengembangan FinTech. Adopsi peraturan terkait tanda tangan (digital signature) dan penggunaan dokumen secara digital sehingga dapat mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh industri FinTech. 2. Koordinasi antar Lembaga dan Kementerian Terkait Untuk mengoptimalkan potensi FinTech dengan lingkungan bisnis (business environment) yang kompleks, maka perlu juga dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga terkait

Kelebihan dan Kekurangan Financial Technology (FinTech) (skripsi dan tesis)

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (2016), kelebihan dari Fintech adalah : 1. Melayani masyarakat Indonesia yang belum dapat dilayani oleh industri keuangan tradisional dikarenakan ketatnya peraturan perbankan dan adanya keterbatasan industri perbankan tradisional dalam melayani masyarakat di daerah tertentu. 2. Menjadi alternatif pendanaan selain jasa industri keuangan tradisional dimana masyarakat memerlukan alternatif pembiayaan yang lebih demokratis dan transparan. Sedangkan kekurangan dari Fintech adalah : 1. Fintech merupakan pihak yang tidak memiliki lisensi untuk memindahkan dana dan kurang mapan dalam menjalankan usahanya dengan modal yang besar, jika dibandingkan dengan bank. 2. Ada sebagaian perusahaan Fintech belum memiliki kantor fisik, dan kurangnya pengalaman dalam menjalankan prosedur terkait sistem keamanan dan itegritas produknya.

Tipe-tipe Financial Technology (Fintech) (skripsi dan tesis)

Menurut Hsueh (2017), Terdapat tiga tipe financial technology yaitu : 1. Sistem pembayaran melalui pihak ketiga (Third-party payment systems) Contoh – contoh sistem pembayaran melalui pihak ketiga yaitu crossborder EC, online-to-offline (O2O), sistem pembayaran mobile, dan platform pembayaran yang menyediakan jasa seperti pembayaran bank dan transfer. 2. Peer-to-Peer (P2P) Lending Peer-to-Peer Lending merupakan platform yang mempertemukan pemberi pinjaman dan peminjam melalui internet. Peer-to-Peer Lending menyediakan mekanisme kredit dan manajemen risiko. Platform ini membantu pemberi pinjaman dan peminjam memenuhi kebutuhan masing-masing dan menghasilkan penggunaan uang secara efisien. 3. Crowdfunding Crowdfunding merupakan tipe FinTech di mana sebuah konsep atau produk seperti desain, program, konten, dan karya kreatif dipublikasikan secara umum dan bagi masyarakat yang tertarik dan ingin mendukung konsep atau produk tersebut dapat memberikan dukungan secara finansial. Crowdfunding dapat digunakan untuk mengurangi kebutuhan finansial kewirausahaan, dan memprediksi permintaan pasar.

Definisi Financial Technology (FinTech) (skripsi dan tesis)

Berdasarkan Pribadiono, Hukum, Esa, & Barat (2016), Financial Technology (FinTech) merupakan perpaduan antara teknologi dan fitur keuangan atau dapat juga diartikan inovasi pada sektor finansial dengan sentuhan teknologi moderen. Berdasarkan Dorfleitner, Hornuf, Schmitt, & Weber (2017), FinTech merupakan industri yang bergerak dengan sangat cepat dan dinamis dimana terdapat banyak model bisnis yang berbeda. Berdasarkan Hsueh (2017), Teknologi Keuangan juga disebut sebagai FinTech, merupakan model layanan keuangan baru yang dikembangkan melalui inovasi teknologi informasi. Maka menurut penulis, Financial Technology adalah layanan yang menggabungkan teknologi dan keuangan dimana layanan ini menyediakan inovasi pada bisnis

Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan
Dalam rangka mendorong terwujudnya perlindungan konsumen
dari segi hal, maka OJK juga turut mengeluarkan regulasi terkait
perlindungan konsumen sektor jasa keuangan. Menurut Peraturan
Otoritas Jasa Keuangan No. 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan
Konsumen Sektor Jasa Keuangan dalam Pasal 1 angka 3 diatur tentang
perlindungan konsumen adalah perlindungan terhadap Konsumen
dengan cakupan perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan. Terdapat
beberapa prinsip, yaitu:
a. Transparansi;
b. Perlakuan yang adil c. Keandalan;
d. Kerahasiaan dan keamanan data/informasi Konsumen;dan
e. Penanganan pengaduan serta penyelesaian sengketa konsumen
secara sederhana, cepat, dan biaya terjangkau.
Dikeluarkanya Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa
Keuangan merupakan suatu bentuk perlindungan yang diberikan
oleh OJK. Bentuk perlindungan yang diatur dalam POJK 1/2013
berupa perlindungan preventif dan represif.54 Bentuk perlindungan
preventif dilakukan dalam bentuk program literasi keuangan dan
program pencegahan kerugian, sedangkan bentuk perlindungan
represif dilakukan dalam bentuk penyelesaian sengketa,
penghentian kegiatan atau tindakan lain, dan pembelaan hukum
untuk melindungi konsumen.55
Dalam aturan ini disebutkan bahwa Penyelenggara Inovasi
Keuangan Digital wajib melewati Regulatory Sandbox sebelum
memperoleh izin. Selain itu OJK juga telah memiliki peraturan lain
terkait dengan aspek perlindungan konsumen di sektor jasa
keuangan, antara lain :

Hak dan Kewajiban Konsumen (skripsi dan tesis)

Konsumen kerap tidak mendapat perlindungan yang wajar,
bahkan kerap kali menjadi objek semata bagi pencarian keuntungan
pelaku usaha. Selaku penggunaan barang dan/atau jasa; baik bagi
kepentingan diri sendiri keluarga ataupun orang lain. Konsumen pada
umumnya berada dalam posisi yang lemah bila dibandingkan dengan
pelaku usaha. Bagaimanapun, pelaku usaha memiliki daya dan dana
yang dapat membentuk opini atau suatu produk, di mana pada gilirannya
sangat jauh berbeda dengan harapan konsumen atas produk/jasa.
Dikarenakan posisi konsumen yang lemah terhadap praktik
terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen, maka hak-hak konsumen
tersebut harus dilindungi, sebab sifat sekaligus tujuan hukum adalah
memberikan perlindungan (pengayoman) kepada masyarakat.

Mantan Prsiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, pernah mengemukakakn
empat hak dasar konsumen, yaitu:
a. The Right to safe produts;
b. The right to he informed about produtcs;
c. The right to definite choices in selecting products;
d. The right to be heard regarding consumer interest.
Melalui Undang-undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan
Konsumen menetapkan 9 (Sembilan) hak konsumen, diantaranya
yaitu:
1. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
2. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang
dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
jaminan yang dijanjikan;
3. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan
jaminan barang dan/atau jasa;
4. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau
jasa yang digunakan;
5. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya
penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
6. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
7. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta
tidak diskriminatif;
8. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau
penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai
dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
9. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundangundangan lainnya.
Dari kesembilan butir hak konsumen yang diberikan di atas,
terlihat bahwa masalah kenyamanan, keamanan, dan keselamatan konsumen merupakan hak yang paling pokok dan utama dalam
perlindungan konsumen. Agar mendapat hasil yang optimum dalam
meningkatkan perlindungan dan/atau kepastian hukum bagi konsumen
maka konsumen juga diwajibkan untuk mengikuti ketentuan seperti
yang terdapat dalam Pasal 5 UUPK yang berbunyi:53
Kewajiban konsumen adalah :
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur
pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi
keamanan dan keselamatan;
b. beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang
dan/atau jasa;
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan
konsumen secara patut.

Pengertian Perlindungan Konsumen (skripsi dan tesis)

Istilah konsumen berasal dari kata consumer (Inggris-Amerika),
atau consument/konsument (Belanda).  Pengertian tersebut secara
harfiah diartikan sebagai “orang atau perusahaan yang membeli barang
tertentu atau menggunakan jasa tertentu’ atau ‘sesuatu atau seseorang
yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah barang”.  Hukum
perlindungan konsumen menurut Nasution merupakan bagian hukum
konsumen yang memuat asas-asas atau kaidah-kaidah bersifat
mengatur, dan juga mengandung sifat melindungi kepentingan
konsumen. Adapun hukum konsumen diartikan sebagai keseluruhan
asas-asas atau kaidah-kaidah yang mengatur hubungan dan masalah
antara berbagai pihak satu sama lain berkaitan dengan barang dan atau
jasa konsumen, di dalam pergaulan hidup.
Pengaturan mengenai perlindungan konsumen pada dasarnya
sudah diakomodasi oleh banyak perangkat hukum sejak lama. Secara
sporadis berbagai kepentingan konsumen sudah dimuat dalam berbagai
undang-undang. Kehadiran Undang-undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen menjadi tonggak sejarah perkembangan
hukum perlindungan konsumen di Indonesia, namun undang-undang tersebut bukanlah yang pertama dan terakhir, karena sebelumnya telah
ada beberapa ruumsan hukum yang melindungi konsumen tersebar
dalam beberapa peraturan perundang-undangan.45
Pengertian perlindungan konsumen menurut Undang-undang
No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah perlindungan
konsumen merupakan segala upaya yang mejamin adanya kepastian
hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen.46 Tujuan
Undang-undang ini adalah:
a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian untuk
melindungi diri.
b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara
menghindarkannya dari akses negatif pemakaian barang dan/atau
jasa.
c. Meningkatkan pemberdaaan konsumen dalam memilih, menentukan
dan menuntut hak-haknya sebagai konsumen.
d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung
unsur kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk
mendapatkan informasi.
e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya
perlindungan konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan
bertanggungjawab dalam usaha

Potensi Risiko dan Manfaat Fintech di Indonesia (skripsi dan tesis)

Masing-masing jenis Fintech memiliki potensi risiko sesuai
dengan proses bisnisnya. Secara umum, risiko yang mungkin muncul
dari perusahaan Fintech di Indonesia yaitu risiko penipuan (fraud),
risiko keamanan data (cybersecurity), risiko ketidakpastian pasar
(Market Risk).
a. Digital Payment
Perusahaan Fintech digital payment memberikan layanan
berupa pembayaran transaksi secara online. Perusahaan penyedia
layanan ini pada umumnya berbentuk dompet virtual yang
dilengkapi dengan berbagai fitur untuk mempermudah transaksi
secara online antara konsumen dan pemilik usaha atau antar-pelaku
usaha. Penggunaan dompet virtual atau e-wallet banyak digunakan
oleh masyarakat Indonesia, terutama dalam transaksi e-commerce.
Potensi kerawanan dalam proses bisnis:
1) Terjadi kegagalan transaksi ketika dana telah ter-debet;
2) Pencurian data saat konsumen melakukan transaksi yang
dilakukan oleh cyber criminal;
3) Kemungkinan terjadi penyalahgunaan data oleh pihak yang
memiliki data keuangan konsumen;
4) Ketika melakukan pembayaran secara online terjadi tindak
kejahatan sim swap (kejahatan dengan modus menukar kartu sim
pada ponsel) untuk mendapatkan kode otentikasi.
Manfaat daripada digital payment yaitu:
1) Dengan menggunakan layanan digital payment maka akan
memberikan kenyamanan dan kemudahan dalam bertransaksi;
2) Mendapatkan tawaran promosi, karena Fintech dapat
bekerjasama dengan merchant, pelaku usaha, untuk memberi
promosi dan penawaran yang menarik;
3) Kemudahan dalam melakukan perencanaan keuangan dan
mencatat arus pengeluaran karena semuanya tercatat oleh
sistem.
Potensi Risiko penggunaan digital payment adalah:
1) Keamanan data konsumen ataupun data transaksi yang dapat
disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab;
2) Kesalahan transaksi ataupun kesalahan nominal akibat sistem
infrastruktur yang meliputi software management, network dan
security management apabila tidak berjalan baik.
b. Financing dan Investment
Merupakan perusahaan Fintech yang memberikan layanan
crowdfunding dan Peer-to-Peer Lending (P2P Lending). Fintech
crowdfunding umumnya melakukan penghimpun dana untuk suatu
proyek maupun untuk penggalangan dana sosial, sedangkan P2P
Lending biasanya memfasilitasi pihak yang membutuhkan bantuan
dana pinjaman dengan para pihak yang ingin berinvestasi dengan
cara memberikan pinjaman.
Potensi Kerawanan dalam Proses Bisnis:
1) Kemungkinan terjadi data loss yang dilakukan oleh pihak yang
tidak bertanggungjawab ketika data konsumen dimasukkan
kedalam database perusahaan penyedia layanan;
2) Warga Negara Asing dapat mendaftarkan diri sebagai investor,
jika terjadi sengketa maka penyelesaiannya harus
memperhatikan ketentuan antar negara;
3) Informasi mengenai prosedur dan tata cara penilaian kredit oleh
perusahaan penyedia layanan sering kurang lengkap dijelaskan
sehingga rawan terjadi permasalahan;
4) Tidak dijamin oleh asuransi.
Manfaat financial dan investment:
1) Dapat menekan biaya dan lamanya proses waktu peminjaman
yang seringkali dikeluhkan oleh konsumen jika mereka
mengajukan peminjaman kredit ke bank ataupun lembaga
pembiayan lainnya;
2) Kemudahan berinvestasi sekaligus menwarkan imbal hasil yang
lebih tinggi daripada yang ada di pasar.
Risiko financial dan investment:
1) Risiko gagal bayar, kesalahan pada peniliain risiko peminjam
kredit dan kemudian menyebabkan kerugian terhadap para
investor.
2) Kurangnya memperhatikan kecukupan informasi yang diberikan
oleh perusahaan Fintech kepada investor, konsumen dan pihak
yang akan ditawarkan produknya secara online.
c. Account Aggregrator
Layanan yang dapat mengakomodasi seluruh transaksi dari
beragam akun perbankan, jenis Fintech Account Aggregrator ini
akan menawarkan layanan yang dapat mengakomodasi seluruh
transaksi melalui satu platform saja.
Unsur Kerawanan dalam Proses Bisnis:
1) Platform mengalami error pada saat digunakan dikarenakan
kurangnya manajemen software perusahaan;
2) Apabila manajemen software perusahaan tidak terkelola dengan
baik, dapat mengakibatkan transaksi tidak diperbaharui dengan
baik pula;
3) Hilangnya database konsumen setelah informasi didaftarkan
pada platform;
4) Ada bank-bank tertentu yang tidak dapat diakses karena sistem
keamanan bank yang terus diperbaharui dan perusahaan Fintech
harus ikut menyesuaikan.
Manfaat Account Aggregrator:
1) Kemudahan bertransaksi dengan hanya menggunakan satu
platform;
2) Membantu pelaporan keuangan.
Risiko Account Aggregrator :
1) Dengan memberikan informasi akun-akun perbankannya kepada
platform Fintech, kemungkinan memiliki potensi risiko besar.
Apabila perusahaan tidak memiliki sistem keamanan data yang
kuat, maka konsumen rentan terhadap kejahatan perbankan;
2) Risiko dimana perusahaan Fintech atau pihak luar yang tidak
bertanggungjawab dapat menyalahgunakan data pribadi
konsumen yang bersifat sensitif

Jenis Financial Technology (skripsi dan tesis)

Financial Technology memiliki beberapa jenis diantaranya:  a. Management Aset Platform Expense Management System membantu berjalannya usaha lebih praktis dan efisien. Semua rekapan pergantian biaya yang semula dilakukan manual, cukup dilakukan melalui aplikasi untuk persetujuan pergantian biaya tersebut. b. Crowd Funding Crowd funding adalah startup yang menyediakan platform penggalangan dana untuk disalurkan kembali kepada orang-orang yang membutuhkan, seperti korban bencana alam, korban perang, mendanai pembuatan karya. c. E-Money E-Money atau uang elektronik adalah uang yang dikemas ke dalam dunia digital, sehingga dapat dikatakan dompet elektronik. Uang ini umumnya bisa digunakan untuk berbelanja, membayar tagihan, dan lain-lain melalui sebuah aplikasi. d. Insurance Jenis startup yang bergerak di bidang insurance ini cukup menarik. Karena biasanya asuransi yang kita ketahui selama ini merupakan asuransi konvensional, di mana kita mensisihkan sejumlah uang perbulan sebagai iuran wajib untuk mendapatkan manfaat dari asuransi tersebut di masa depan, jenis asuransi startup tidak semua berjalan demikian. e. Peer to Peer Lending Peer to Peer Lending adalah startup yang menyediakan platform pinjaman secara online. Urusan permodalan yang sering dianggap bagian paling vital untuk membuka usaha, melahirkan ide banyak pihak untuk mendirikan startup jenis ini. f. Payment Gateway Payment gateway memungkinkan masyarakat memilih beragam metode pembayaran berbasis digital (digital payment gateway) yang dikelola oleh sejumlah startup, dengan demikian akan meningkatkan volume penjualan e-commerce. g. Remittance Remittance adalah jenis startup yang khusus menyediakan layanan pengiriman uang antar negara. Banyak didirikannya startup remittance ini dalam rangka membantu masyarakat yang tidak  memiliki akun atau akses perbankan. Adanya startup jenis ini sangat membantu para tenaga kerja Indonesia salah satu anggota keluarganya berada di luar negeri, karena proses pengiriman yang mudah dan biaya lebih murah. h. Securities Saham, forex, reksadana, dan lain sebagainya, merupakan investasi yang sudah tidak asing lagi didengar. Securities dapat dikatakan sebagai jenis startup yang menyediakan platform untuk berinvestasi saham secara online.

Manfaat Financial Technology (skripsi dan tesis)

Perkembangan Fintech memberikan beberapa manfaat diantaranya:39 a. Manfaat bagi konsumen: 1) Perluasan pilihan produk; 2) Peningkatan kualitas layanan; 3) Penurunan harga. b. Manfaat bagi pelaku bisnis: 1) Memperpendek rantai transaksi; 2) Meningkatkan efisiensi modal dan resiliensi operasional; 3) Meningkatkan iklusi keuangan; 4) Memperlancar arus informasi. c. Manfaat bagi ekonomi: 1) Mempercepat transmisi kebijakan moneter; 2) Meningkatkan kecepatan uang beredar; 3) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Alasan adanya Fintech yaitu masyarakat tidak dapat dilayani di industri keuangan tradisional karena perbankan terikat pada aturan yang ketat serta keterbatasan industri perbankan dalam melayani masyarakat di daerah tertentu, selain itu juga alasan adanya Fintech karena masyarakat mencari alternatif pendanaan selain jasa industri keuangan tradisional karena masyarakat memerlukan alternatif pembiayaan yang lebih demokratis dan transparan serta biaya layanan keuangan yang efisien dan menjangkau masyarakat luas

Peran Financial Technology (skripsi dan tesis)

Fintech juga memiliki peran penting dalam mengubah perilaku konsumen serta ekspetasi konsumen diantaranya yaitu dapat mengakses data dan informasi kapan saja dan dimana saja, serta menyamaratakan bisnis besar dan kecil sehingga cenderung untuk memiliki ekspektasi tinggi meski terhedap bisnis kecil yang baru dibangun elain itu teknologi informasi juga sangat berperan penting terhadap keberadaan Fintech. 37 Menurut Peraturan Otoritas Jasa Keuangan teknologi informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan informasi di bidang layanan jasa keuangan. Peranan teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini memang begitu besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitator utama bagi kegiatan bisnis, memberikan andil yang besar terhadap perubahan yang mendasar pada struktur, operasi, dan menajemen organisasi. Peranan teknologi informasi dapat berupa salah satu dari berikut:38 a. Teknologi informasi menggantikan peran manusia, dalam hal ini teknologi informasi melakukan otomasi terhadap suatu tugas atau proses. b. Teknologi memperkuat peran manusia, yakni dengan menyajikan informasi terhadap suatu tugas atau proses. Fintech dengan layanan keuangan seperti crowdfunding, mobile payments, dan jasa transfer uang menyebabkan revolusi dalam bisnis startup. Dengan crowdfunding, bisa memperoleh dana dari seluruh dunia dengan mudah, bahkan dari orang yang tidak dikenal sekalipun. Fintech juga memungkinkan transfer uang secara global atau internasional.

Pengertian Financial Technology (skripsi dan tesis)

Salah satu yang tidak asing beberapa tahun terakhir khususnya di dunia bisnis Indonesia adalah Fintech. Istilah Fintech merupakan singkatan dari Financial Technology, jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti teknologi finansial. Pasal 1 angka 1 Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial, teknologi finansial diartikan sebagai penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran.  Fintech merupakan implementasi dan pemanfaatan teknologi untuk peningkatan layanan jasa perbankan dan keuangan yang umumnya dilakukan oleh perusahaan rintisan (startup) yang memanfaatkan teknologi software, internet, dan komunikasi.  Bentuk dasar Fintech antara lain Pembayaran (digital wallets, Peer to Peer, payments), Investasi (equity crowdfunding, Peer to Peer Lending), Pembiayaan (crowdfunding, micro-loans, credit facilities), Asuransi (risk management), Lintasproses (big data analysis, predicitive modeling), Infrastruktur (security). Konsep Fintech mengadaptasi perkembangan teknologi yang dipadukan dengan bidang finansial pada lembaga perbankan, sehingga diharapkan dapat memfasilitasi proses transaksi keuangan yang lebih praktis, aman dan modern, meliputi layanan keuangan berbasis digital yang saat ini telah berkembang di Indonesi

Mini theory determinasi diri (skripsi dan tesis)

 

Terdapat empat dasar komponen mini teori yang merupakan bagian determinasi diri dan terkoordinasi dengan semua domain jenis perilaku manusia dalam memenuhi basic needs. Berikut empat mini teori dari determinasi diri (Deci dan Ryan, 2002): 1. Cognitive evalution theory Cognitive evaluation theory adalah motivasi instrinsik yang terdapat dalam aktivitas determinasi diri. Dalam melakukan tindakan, individu dapat bertindak secara bebas, berkelanjutan dan mendapatkan pengalaman yang menarik dan menyenangkan. Terdapat 2 tipe motivasi didalamnya: a. motivasi ekstrinsik yang berasal dari luar diri individu. b. motivasi instrinsik yang berasal dari diri sendiri individu. Fokus utama dalam hal ini adalah penghargaan eksternal yang dapat merusak motivasi instrinsik. Penelitian yang sudah dilakukan, penghargaan dalam bentuk barang atau benda berwujud dapat merusak motivasi instrinsik seseorang, sedangkan penghargaan secara verbal cenderung meningkatkan motivasi instrinsik seseorang. Dua hal utama yang mempengaruhi proses kognitif dari motivasi intrinsik seseorang adalah a. Perceived causality, merupakan hubungan individu dengan kebutuhan akan kebebasan; ketika individu cenderung menggunakan lokus eksternal dan tidak diberikan pilihan, maka akan merusak motivasi instrinsik. Sedangkan ketika individu fokus terhadap lokus internal dan bertindak sesuai pilihannya, maka itu dapat meningkatkan motivasi intrinsiknya. b. Perceived competence, merupakan hubungan individu dengan kebutuhan akan kompetensi, dimana ketika seseorang meningkatkan kebutuhan akan kompetensi nya maka kompetensi seseorang itu akan dapat ditingkatkan, sedangkan ketika seseorang mengurangi kebutuhan akan kompetensi nya maka motivasi intrinsiknya pun akan berkurang. Dua konteks dari CET dapat bersifat kontrol dan informasional. Bila sebuah kejadian bersifat controlling, maka kejadian itu akan menekan siswa untuk bertindak dengan cara tertentu, maka siswa akan merasa memiliki kontrol dan motivasi instrinsik mereka akan hilang. Bila di pihak lain, kejadian itu memberikan informasi yang meningkatkan sense of competence, maka motivasi instrinsik akan meningkat, tetapi sebaliknya bila informasi yang diberikan membuat siswa merasa kurang kompeten, maka kemungkinan besar motivasi akan menurun. Terdapat 2 hal penting di dalam konteks ini yaitu: 1. Positive feedback sebenarnya bersifat informational tetapi jika diberikan dalam tekanan, seperti “should do well” maka positive feedback menjadi bersifat mengontrol , sedangkan Ryan, Mims, Koester (dalam Deci & Ryan, 2002) mengatakan “meskipun penghargaan bersifat mengontrol, tetapi jika diberikan dengan tidak mengevaluasi, maka dapat mendukung kebebasan. 2. Tindakan yang berasal dari dalam diri dan tidak dipengaruhi dari faktor eksternal, itu akan membuat individu lebih mempunyai harga diri sehingga akan meningkatkan competence nya. Salah satu bagian dari cognitive evaluation theory yaitu relatedness yang merupakan keinginan untuk membangun pertalian emosional dengan orang lain. Bila guru dan orang tua bersikap responsive dan menunjukkan bahwa mereka peduli terhadap kesejahteraan anak mereka, maka anak tersebut dapat menunjukkan motivasi instrinsik, begitu juga sebaliknya. 2. Organismic integration theory Untuk menangani berbagai perilaku yang termotivasi secara ekstrinsik. Deci & Ryan (2002) mengonsepkan motivasi, dimulai dari tidak termotivasi, motivasi ekstrinsik, lalu motivasi instrinsik. Mereka melabelkan jenis-jenis motivasi yang berbeda sebagai gaya pengaturan diri. Motivasi instrinsik menyangkut aktifitas yang bersifat autotelic, dimana aktifitas tersebut merupakan tujuan akhir dan kesenangan individu yang telah secara bebas memilih aktivitas tersebut. Motivasi ekstrinsik menyangkut empat jenis perilaku yang termotivasi, yang dimulai dari perilaku yang awalnya sepenuhnya termotivasi secara ekstrinsik, namun kemudian dihayati dan akhirnya merasakan determinasi diri. Pada saat yang bersamaan juga, tidak semua aktivitas atau perilaku termotivasi secara instrinsik. Di sekolah terdapat struktur, kontrol, dan juga penghargaan yang sifatnya ekstrinsik, yang mungkin tidak cocok dengan determinasi diri dan motivasi instrinsik, namun dapat membantu menghasilkan perilaku yang baik dan fungsi sosial yang diinginkan. Para motivator ekstrinsik kemudian menjadikannya sebagai bagian dari proses pengaturan diri dan mengembangkan sebuah subteori yang termasuk di dalam teori determinasi diri yang lebih besar, yang dilabelkan sebagai teori integrasi organisme. Dalam teori organisme ini mengonsepkan motivasi, yang dimulai dari yang tidak termotivasi, lalu motivasi ekstrinsik, kemudian motivasi instrinsik (determinasi diri) yang merupakan sebagai dari proses pengaturan diri. penjelasan mengenai empat proses pengaturan diri di dalam
organismic integration theory:
1. Pengaturan eksternal
Pengaturan eksternal adalah perilaku yang ditunjukkan hanya untuk
menghindari hukuman dan mendapatkan penghargaan. Ketika para murid
awalnya tidak ingin mengerjakan sebuah tugas yang diberikan, namun siswa
itu akan mengerjakannya untuk mendapatkan penghargan dan menghindari
hukuman. Para murid ini sangat bereaksi terhadap ancaman hukuman dan
penghargaan ekstrinsik, dan cenderung memenuhi perintah. Mereka tidak
termotivasi secara instrinsik, dan tidak menunjukkan minat yang tinggi,
namun mereka cenderung bertingkah laku dan berusaha untuk mengerjakan
tugasnya agar dapat memperoleh penghargaan eksternal dan juga menghindari
hukuman. Dalam hal ini, kontrol bersifat eksternal dan tidak ada determinasi
diri dalam diri siswa (dalam Schonk et al, 2002, hal 381). Pengaturan eksternal
merupakan teori sentral dari operant, dimana seseorang melakukan sesuatu
karena permintaan rewards dan untuk menghindari hukuman (Skinner &
deCharms dalam Deci & Ryan, 2002).
Eksternal Introjeksi Identifikasi Integrasi
2. Pengaturan introjeksi
Pengaturan introjeksi adalah perilaku yang ditunjukkan untuk
menyenangkan orang lain dan adanya keterpaksaan dalam melakukan suatu
aktifitas. Para murid mengerjakan sebuah tugas karena mereka merasa bahwa
harus melakukannya dan mungkin merasa bersalah apabila mereka tidak
melakukannya (misalnya: belajar untuk menghadapi ujian). Dalam pengaturan
introjeksi ini terdapat perasaan tepat, wajib, dan bersalah, sehingga tidak ada
determinasi diri dalam diri siswa. Dimana siswa ini hanya mengerjakan tugas
karena perasaan “harus” sesungguhnya bersifat internal bagi individu tersebut,
namun sumbernya agak eksternal, karena mereka mungkin mengerjakan tugas
untuk menyenangkan individu lain (orang tua, guru) (dalam Schonk et al,
2002, hal 381). Jika ego terlibat sebagai salah satu hasil, itu dapat
menghilangkan motivasi instrinik dan tujuan aktifitas mereka, sehingga dapat
mengindikasikan bahwa pengaturan introjeksi ini bersifat kontrol (Deci &
Ryan, 2002).
3. Pengaturan identifikasi
Pengaturan identifikasi adalah perilaku yang didasarkan pada
kepentingan personal. Para murid melakukan sebuah aktivitas atau
mengerjakan sebuah aktivitas karena aktivitas itu secara personal penting bagi
diri mereka. Sebagai contoh, seorang murid belajar berjam-jam untuk
mendapatkan nilai akademis yang bagus dan dapat mengikuti suatu tes agar
dapat diterima di perguruan tinggi. Perilaku ini menggambarkan tujuan murid
ini sendiri dan secara sadar dipilih oleh individu, sehingga lokus
kausalitasnnya lebih bersifat internal bagi murid ini, karena ia secara personal
merasa bahwa tujuan tersebut sangat penting bagi diri sendiri bukan hanya
penting bagi orang lain (orang tua, guru) (Wigfield & Eccles dalam Schonk et
al, 2002)
4. Pengaturan integrasi
Pengaturan intergrasi adalah perilaku yang menunjukkan bentuk paling
bebas dari motivasi ekstrinsik, dimana kebutuhan, nilai, dan tujuan didukung
dari diri sendiri. Individu mengintegrasikan berbagai sumber informasi baik
yang internal maupun eksternal ke dalam skema diri mereka sendiri, serta
menjalankan pemahaman tentang diri mereka sendiri. Pengaturan integrasi ini
merupakan suatu bentuk determinasi diri dan bersifat otonomi. Dengan
demikian, motivasi instrinsik dan pengaturan integrasi menyebabkan lebih
banyak keterlibatan kognitif dan pembelajaran dibandingkan dengan
pengaturan eksternal dan juga introjeksi (Ryan & Deci dalam Schonk et al,
2002)

Faktor-faktor basic needs (skripsi dan tesis)

 

Faktor-faktor basic needs yang mempengaruhi determinasi diri adalah (Deci & Ryan, 2002): 1. Autonomy Autonomy adalah kebebasan yang dimiliki individu dalam melakukan sesuatu berdasarkan pilihannya sendiri yang mengacu pada hal yang dirasakan dan bersumber dari dirinya sendiri. 2. Relatedness Relatedness adalah hubungan sosial atau relasi sosial individu dalam berinteraksi dengan individu lain dalam satu komunitas serta memiliki rasa saling bergantung satu dengan yang lain. 3. Competence Competence adalah kemampuan individu untuk menunjukkan apa yang dia bisa serta memberikan dampak bagi lingkungan

Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2009:188) yang diterjemahkan oleh Sabran, keputusan pembelian adalah suatu tahap evaluasi di mana para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Konsumen dapat membentuk niat untuk membeli merek yang paling disukai. Menurut Peter dan Olson (2013:163) yang diterjemahkan oleh Dwiandani, proses inti dalam pengambilan keputusan konsumen adalah proses integrasi yang digunakan untuk mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih satu diantaranya. Hasil proses integrasi tersebut adalah suatu pilihan, secara kognitif menunjukkan intensi perilaku. Intensi perilaku merupakan suatu rencana (rencana keputusan) untuk menjalankan satu perilaku atau lebih. Adapun menurut Kotler dan Armstrong (2008:181) yang diterjemahkan oleh Sabran, keputusan pembelian adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan membeli tentang merek mana yang dibeli. Berdasarkan beberapa pengertian keputusan pembelian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada tahap keputusan pembelian ini seorang konsumen mengevaluasi beberapa alternatif merek produk dan hasil dari tahap ini adalah sebuah pilihan salah satu merek yang disukai diantara merek-merek produk yang tersedia. Menurut Griffin dan Ebert (2006:290) yang diterjemahkan oleh Wardhani, keputusan membeli oleh konsumen didasarkan pada tiga motif, yaitu motif rasional, motif emosional, dan motif gabungan dari keduanya. Motif rasional merupakan alasan membeli produk tertentu yang didasarkan pada evaluasi yang logis atas 32 sejumlah atribut produk, atribut produk ini contohnya seperti biaya, kualitas, atau kegunaannya. Sedangkan motif kedua adalah motif emosional. Motif emosional adalah alasan membeli produk tertentu yang didasarkan pada faktor-faktor nonobyektif, seperti kemampuan bersosialisasi, meniru orang lain, atau estetika. Dan terakhir adalah motif gabungan dari motif rasional dan emosional, yang mana alasan membeli produk didasarkan pada evaluasi logis atas atribut produk namun tidak lepas dari pengaruh faktor non-obyektif seperti kemampuan bersosialisasi, meniru orang lain, dan estetika. Jadi, setiap keputusan pembelian seseorang memiliki motif yang berbeda-beda, ada yang melakukan pembelian berdasarkan alasan logis terkait produk, atau terdapat juga individu yang melakukan pembelian karena alasan untuk meniru orang lain, dan terakhir keputusan pembelian yang dilakukan atas dasar kedua motif tersebut. Keputusan pembelian ini dapat dibagi ke dalam beberapa sub-keputusan, menurut Kotler dan Keller (2009:188) yang diterjemahkan oleh Sabran, dalam melaksanakan maksud pembelian, seorang konsumen membentuk lima subkeputusan. Kelima sub-keputusan menurut Kotler dan Keller (2009:188) yang diterjemahkan oleh Sabran antara lain sebagai berikut:  Pilihan merek  Pilihan penyalur  Jumlah pembelian  Waktu pembelian  Metode pembayaran Tidak berbeda jauh dengan pendapat Kotler dan Keller, menurut Sunyoto (2012:278) keputusan pembelian memiliki beberapa struktur di dalamnya, namun menurutnya struktur keputusan ini terbagi ke dalam tujuh sub-keputusan. Struktur dari keputusan pembelian tersebut antara lain adalah:  Keputusan tentang jenis produk  Keputusan tentang bentuk produk  Keputusan tentang merek  Keputusan tentang penjualnya  Keputusan tentang jumlah produk  Keputusan tentang waktu pembelian  Keputusan tentang cara pembayaran Berdasarkan dua pendapat tersebut, pada intinya struktur dari keputusan pembelian yang dilakukan oleh seorang konsumen melibatkan beberapa hal mendetail mengenai produk, seperti keputusan akan jenis produk, bentuk produk, merek, dan jumlah produk yang akan dibeli. Detail hal lainnya yaitu berhubungan dengan siapa yang menjualnya atau siapa penyalur produk tersebut. Dan terakhir, diperlukan keputusan mendetail terkait cara pembeliannya, yaitu kapan akan membeli produk tersebut dan bagaimana cara pembayaran untuk mendapatkan produk yang ingin dibeli.

Proses Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Proses psikologi dasar memainkan peranan penting dalam memahami bagaimana konsumen benar-benar membuat keputusan pembelian mereka. Menurut Kotler dan Keller (2009:184) yang diterjemahkan oleh Sabran, periset pemasaran telah mengembangkan ”model tingkat” proses keputusan pembelian. Konsumen melalui lima tahap: pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca pembelian. Model lima tahap proses pembelian konsumen merupakan model yang paling sering digunakan dalam proses keputusan pembelian oleh konsumen. Konsumen tidak selalu melalui lima tahap pembelian produk itu seluruhnya. Mereka mungkin melewatkan atau membalik beberapa tahap. Meskipun demikian, model ini  memberikan kerangka referensi yang baik, karena model itu menangkap kisaran penuh pertimbangan yang muncul ketika konsumen menghadapi pembelian baru yang memerlukan keterlibatan tinggi. Berikut ini merupakan rincian mengenai masing-masing tahap dari proses keputusan pembelian model lima tahap: 1. Pengenalan masalah Proses pembelian dimulai ketika pembeli menyadari suatu masalah atau kebutuhan yang dipicu oleh rangsangan eksternal atau internal. Adanya rangsangan Pengenalan masalah Pencarian informasi Evaluasi alternatif Keputusan pembelian Perilaku pasca pembelian internal, salah satu dari kebutuhan normal seseorang naik ke tingkat maksimum dan menjadi dorongan, atau kebutuhan bisa timbul akibat rangsangan eksternal. 2. Pencarian informasi Konsumen sering mencari informasi dengan jumlah yang terbatas. Keadaan pencarian yang lebih rendah disebut perhatian tajam. Pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih reseptif terhadap informasi tentang sebuah produk. Pada tingkat berikutnya, seseorang dapat memasuki pencarian informasi aktif, mencari bahan bacaan, menelepon teman, melakukan kegiatan online, dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk tersebut 3. Evaluasi alternatif Pada tahap ini, konsumen mengevaluasi dan menilai berbagai alternatif dalam arti kepercayaan menonjol mengenai berbagai konsekuensi relevan dan menggabungkan pengetahuan tersebut untuk membuat pilihan. Beberapa konsep dasar yang akan membantu memahami proses evaluasi adalah konsumen berusaha memuaskan sebuah kebutuhan, konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk, dan konsumen melihat masing-masing produk sebagai sekelompok atribut dengan berbagai kemampuan untuk menghantarkan manfaat yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhannya. 4. Keputusan pembelian Dalam tahap sebelumnya yaitu evaluasi alternatif, konsumen membentuk preferensi antar merek dalam kumpulan pilihan. Pada tahap ini, konsumen mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku alternatif dan memilih satu diantaranya. Hasil proses integrasi tersebut adalah suatu pilihan, secara kognitif menunjukkan intensi perilaku. Intensi perilaku merupakan suatu rencana (rencana keputusan) untuk menjalankan satu perilaku atau lebih. 5. Perilaku pasca pembelian Setelah pembelian, konsumen mungkin mengalami konflik dikarenakan melihat fitur mengkhawatirkan tertentu atau mendengar hal-hal menyenangkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Pada tahap akhir ini, seorang konsumen menggunakan alternatif yang dipilih dan mengevaluasinya kembali untuk mengetahui hasil kerjanya. Hasil dari tahap ini biasanya berbentuk kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian, dan penggunaan atau penyingkiran pasca pembelian. Selain proses keputusan pembelian model lima tahap, terdapat juga model sederhana mengenai pengambilan keputusan konsumen menurut Schiffman dan Kanuk (2008:493) yang diterjemahkan oleh Kasip. Model pengambilan keputusan konsumen tersebut terdiri dari tiga tahap utama, yaitu masukan, proses, dan keluaran. Berikut ini merupakan uraian mengenai masing-masing tahap: 1. Masukan Komponen masukan dalam model pengambilan keputusan konsumen mempunyai berbagai pengaruh luar yang berlaku sebagai sumber informasi mengenai produk tertentu dan memengaruhi nilai-nilai, sikap, dan perilaku konsumen yang berkaitan dengan produk. Tahap masukan ini terdiri dari dua pengaruh eksternal di luar diri konsumen, yaitu masukan pemasaran dan masukan sosiobudaya. Masukan pemasaran merupakan usaha langsung untuk mencapai, memberikan informasi, dan membujuk konsumen untuk membeli dan menggunakan produknya. Sedangkan masukan sosiobudaya terdiri dari berbagai macam pengaruh non komersial seperti komentar teman, editorial di surat kabar, pemakaian oleh anggota keluarga, atau pandangan para konsumen dalam diskusi di internet. Kedua bentuk masukan ini sama-sama berpengaruh terhadap konsumen, yaitu untuk memengaruhi keputusan pembelian konsumen. 2. Proses Komponen proses berhubungan erat dengan cara konsumen mengambil keputusan. Untuk memahami proses ini, harus dipertimbangkan pengaruh berbagai konsep psikologis seperti motivasi, persepsi, pembelajaran, kepribadian, dan sikap. Tindakan pengambilan keputusan konsumen ini terdiri dari tiga tahap, yaitu:  Pengenalan Kebutuhan  Penelitian Sebelum Pembelian  Penilaian Alternatif 3. Keluaran Tahap keluaran dalam model pengambilan keputusan konsumen ini menyangkut dua kegiatan pasca pembelian yang berhubungan erat. Dua kegiatan ini adalah perilaku pembelian dan penilaian pasca pembelian, tujuan kedua kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kepuasan konsumen terhadap pembeliannya.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut American Marketing Association/AMA dalam Peter dan Olson (2013:6) yang siterjemahkan oleh Dwiandani, perilaku konsumen (consumer behaviour) adalah dinamika interaksi antara pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan di mana manusia melakukan pertukaran aspek-aspek kehidupan. Dengan kata lain, perilaku konsumen melibatkan pemikiran dan perasaan yang mereka alami serta tindakan yang mereka lakukan dalam proses konsumsi. Hal itu juga mencakup segala hal pada lingkungan yang memengaruhi pemikiran, perasaan, dan tindakan tersebut. Perilaku konsumen yang bersifat dinamis, dan melibatkan interaksi dan pertukaran sangat penting untuk dikenali. Menurut Kotler dan Keller (2009:166) yang diterjemahkan oleh Sabran, perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Menurut Griffin dan Ebert (2006:289) yang diterjemahkan oleh Wardhani, perilaku konsumen adalah studi mengenai proses keputusan konsumen yang mendorong mereka membeli dan mengkonsumsi berbagai produk. Adapun menurut Sunyoto (2012:251) perilaku konsumen didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang atau jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatankegiatan tersebut.

Bauran Ritel (skripsi dan tesis)

Bauran ritel (retail mix) menurut Utami (2010:86) adalah strategi pemasaran yang mengacu pada beberapa variabel, dimana peritel dapat mengkombinasikan variabel-variabel tersebut menjadi jalan alternatif dalam menarik konsumen. Variabel tersebut pada umumnya meliputi faktor-faktor seperti variasi barang, harga, iklan, promosi dan tata ruang, desain toko, lokasi toko, dan pengelolaan barang dagangan. Menurut Ma’ruf (2005:13) bauran ritel adalah kombinasi elemen-elemen merchandise, price, location, atmosphere, retail service, dan promotion mix. Kedua pengertian tersebut sama-sama menjelaskan bahwa bauran ritel merupakan perpaduan atau penggabungan dari beberapa variabel atau unsur, di mana jika variabel-variabel tersebut digabungkan atau dikombinasikan satu dengan lainnya maka akan menghasilkan sebuah alternatif untuk menarik konsumen melakukan pembelian. Menurut Lamb, Hair, Mc Daniel dalam Utami (2010: 90), unsur-unsur bauran ritel ini meliputi produk, harga, promosi, pelayanan, fasilitas fisik, dan lokasi. 1. Produk Produk adalah keseluruhan dari penawaran yang dilakukan secara normal oleh perusahaan kepada konsumen dalam memberikan pelayanan, letak toko, dan nama barang dagangannya. Konsumen akan memberikan kesan yang baik terhadap suatu  toko apabila toko tersebut dapat menyediakan barang yang dibutuhkan dan diinginkan oleh konsumen. Faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh suatu toko dalam memilih produk yang dijualnya, yaitu:  Variety Kelengkapan produk yang dijual dapat memengaruhi pertimbangan konsumen dalam memilih suatu toko.  Width or Breath Tersedianya produk-produk pelengkap dari produk utama yang ditawarkan. Contohnya pada toko roti, selain menyediakan roti juga menyediakan berbagai macam minuman.  Depth Merupakan macam dan jenis karakteristik dari suatu produk, misalnya baju yang dijual di department store tidak hanya dari satu merek saja tetapi juga tersedia merek-merek lainnya.  Consistency Produk yang sudah sesuai dengan keinginan konsumen harus tetap dijaga keberadaannya dengan cara menjaga kelengkapan, kualitas, dan harga dari produk yang dijual.  Balance Berkaitan erat dengan usaha untuk menyesuaikan jenis dan macam-macam produk yang dijual dengan pasar sasarannya. 2. Harga Harga sangat berhubungan dengan nilai dasar dari persepsi konsumen berdasarkan dari keseluruhan unsur bauran ritel dalam menciptakan suatu gambaran dan pengalaman bertransaksi. Tingkat harga suatu toko dapat memengaruhi cara berpikir konsumen terhadap unsur-unsur lain dari bauran ritel. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penetapan harga adalah pasar sasaran, persaingan, biaya produk yang dijual, aturan harga dalam bauran ritel, karakteristik barang dagangan, dan pertimbangan-pertimbangan hukum. Dalam menetapkan harga, terdapat tiga macam strategi harga yang pada umumnya digunakan sebagai dasar oleh para peritel yaitu:  Penetapan harga dibawah harga pasar  Penetapan harga sesuai dengan harga pasar  Penetapan harga di atas harga pasar 3. Promosi Promosi merupakan kegiatan yang memengaruhi persepsi, sikap, dan perilaku konsumen terhadap suatu toko ritel dengan segala penawarannya (Utami, 2010:88). Selain itu, promosi juga merupakan alat komunikasi untuk menghubungkan keinginan pihak peritel dengan konsumen untuk memberitahu, membujuk, dan mengingatkan konsumen agar mau membeli produk yang dijual dari keuntungan dan manfaat yang diperolehnya. Para peritel harus dapat mendukung dan memperkuat posisi badan usahanya di pasar.  Ada tiga macam alat promosi yang sering digunakan oleh peritel, yaitu:  Iklan  Penjualan langsung  Promosi penjualan 4. Pelayanan Pelayanan merupakan suatu keinginan konsumen untuk dilayani, dan pelayanan tersebut tentunya berhubungan dengan penjualan produk yang akan dibeli konsumen, misalnya pemberian fasilitas alternatif pembayaran, pemasangan perlengkapan, merubah model untuk pakaian dan sebagainya. Pelayanan didefinisikan sebagai aktivitas, manfaat, kepuasan dari sesuatu yang ditawarkan dalam penjualan. Para pengusaha ritel harus dapat menyesuaikan jenis layanan yang ditawarkan dengan unsur-unsur lainnya dalam bauran ritel. Misalnya, toko yang menetapkan harga jual di atas harga pasar harus memberikan pelayanan yang benar-benar sesuai harga yang dibayar konsumen. Adapun jenis-jenis pelayanan dalam bauran ritel antara lain:  Waktu pelayanan toko (jam operasional toko).  Pengiriman barang.  Penanganan terhadap keluhan dari konsumen.  Penerimaan pesanan melalui telepon dan pos.  Penyediaan fasilitas parkir. Berbagai jenis pelayanan yang ditawarkan tersebut dapat membedakan pelayanan antara toko satu dengan yang lainnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin lengkap dan memuaskan pelayanan yang diberikan oleh sebuah toko, maka semakin besar kemungkinan konsumen akan tertarik untuk memilih berbelanja di toko tersebut. 5. Fasilitas Fisik Fasilitas fisik merupakan faktor penentu dalam mendominasi pangsa pasar yang diinginkan oleh perusahaan, karena penguasaan pasar dapat dicapai apabila perusahaan mendapat kedudukan yang baik, sehingga dapat menciptakan citra perusahaan bagi para konsumennya. Beberapa elemen penting yang dapat lebih menonjolkan citra dari suatu toko yaitu berupa arsitektur yang baik, desain eksterior dan interior yang menarik, sumber daya manusia yang memadai, penyediaan barang yang baik, lambang dan logo, penempatan lokasi toko, dan nama toko yang menarik perhatian. Nama toko berperan penting karena sebagian besar dari elemen tersebut berkaitan dengan peritel (pengelolanya) yang ditampilkan secara fisik. Adapun faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan, yaitu kestrategisan, apakah daerah tersebut dapat dijadikan pusat bisnis atau bukan dan bagaimana arus lalu lintasnya. Arus lalu lintas memengaruhi penempatan lokasi toko ritel karena dapat menarik minat konsumen untuk mengunjungi toko tersebut, bahkan berbelanja. Fasilitas fisik dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:  Lokasi toko  Tata letak toko  Desain toko, desain dari sebuah toko dibagi ke dalam dua bagian, yaitu: a. Desain eksterior Merupakan penampilan luar dari sebuah toko yang harus dapat menarik konsumen untuk melakukan pembelian. Faktor-faktor desain eksterior meliputi: penempatan pintu masuk, penerangan pada bagian luar toko, penempatan papan reklame serta pengaturan jendela dan dinding. b. Desain interior Merupakan penampilan bagian di dalam suatu toko yang tidak kalah pentingnya untuk menarik konsumen. Faktor-faktor desain interior ini meliputi ketinggian langit-langit, penerangan dalam toko, warna, dan temperatur dalam ruangan. 6. Lokasi Lokasi merupakan struktur fisik dari sebuah toko yang merupakan komponen utama yang terlihat dalam bentuk kesan sebuah toko yang dilakukan peritel dalam melakukan penempatan tokonya dan kegiatan dalam menyediakan saluran pelayanan yang dibutuhkan oleh konsumen. Lokasi juga merupakan faktor utama dalam pemilihan toko oleh seorang konsumen, hal ini juga menjadikannya sebagai keuntungan bersaing yang tidak mudah ditiru oleh pesaing. Melalui pemilihan lokasi yang tepat mempunyai keuntungan, yaitu pertama merupakan komitmen sumber daya jangka panjang yang dapat mengurangi fleksibilitas masa depan ritel itu sendiri. Apakah ritel menyewa atau membeli, keputusan tentang lokasi mempunyai implikasi yang permanen. Kedua, lokasi akan memengaruhi pertumbuhan ritel di masa depan, area yang dipilih haruslah mampu untuk tumbuh dari segi ekonomi hingga dapat mempertahankan keberlangsungan toko. Lokasi dimulai dengan menentukan komunitas. Keputusan ini sangat bergantung pada potensi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas maupun persaingan serta iklim politik. Setelah menempatkan ritel pada sebuah komunitas pilihan baik secara demografis maupun geografis, ritel harus menentukan sebuah lokasi yang spesifik. Sebagai karakteristik spesifik adalah kondisi sosio-ekonimi sekitarnya, seperti arus lalu lintas, biaya tanah, peraturan kawasan, transportasi publik. Ritel juga harus mempertimbangkan dimana pesaing-pesaing berada di sekitar toko-toko tersebut.

Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Manajemen pemasaran terjadi ketika setidaknya satu pihak dalam sebuah pertukaran potensial berpikir tentang cara-cara untuk mencapai respons yang diinginkan pihak lain. Menurut Kotler dan Keller (2009:5) yang diterjemahkan oleh Sabran, manajemen pemasaran (marketing management) dipandang sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul. Adapun pengertian manajemen pemasaran menurut Kotler dan Armstrong (2008:10) yang diterjemahkan oleh Sabran adalah seni dan ilmu memilih target pasar dan membangun hubungan yang menguntungkan dengan target pasar itu. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi yaitu menimbulkan pertukaran dengan konsumen atau pasar sasaran dengan menggunakan fungsi-fungsi manajemen. Tidak hanya menimbulkan pertukaran saja, melainkan mempertahankan hubungan dengan konsumen atau pasar sasaran tersebut. Jadi, untuk menimbulkan sebuah pertukaran nilai, dan mempertahankan hubungan dengan konsumen atau pasar yang merupakan tujuan organisasi haruslah melalui tahap-tahap dari fungsi manajemen, yaitu planning, organizing dan staffing, coordinating, dan controlling.

Pemasaran (skripsi dan tesis)

Kesuksesan finansial sebuah perusahaan bergantung pada kemampuan pemasaran yang dilakukan. Finansial, operasi, akuntansi, dan fungsi bisnis lainnya tidak akan berarti jika tidak ada cukup permintaan akan produk dan jasa sehingga perusahaan bisa menghasilkan keuntungan. Harus ada pendapatan agar laba didapatkan perusahaan, dan laba bersumber dari penjualan yang merupakan ujung dari rangkaian aktivitas pemasaran. Menurut Kotler dan Keller (2009:5) yang diterjemahkan oleh Sabran, inti dari pemasaran adalah mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Salah satu definisi yang baik dan singkat dari pemasaran adalah “memenuhi kebutuhan dengan cara yang menguntungkan”. Adapun definisi sosialnya bahwa pemasaran adalah sebuah proses kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan nilai dari produk dan jasa dengan orang lain. Menurut American Marketing Association/AMA dalam Kotler dan Keller (2009:5) yang diterjemahkan oleh Sabran, pemasaran merupakan suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingan. Adapun definisi sosial mengenai pemasaran menurut Kotler dan Keller (2009:5) yang diterjemahkan oleh Sabran, pemasaran adalah sebuah proses kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk dan jasa yang bernilai dengan orang lain. Pengertian lain menurut Griffin dan Ebert (2006:276) yang diterjemahkan oleh Wardhani, pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, serta distribusi atas gagasan, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memenuhi sasaran perseorangan dan organisasi. Berdasarkan beberapa pengertian pemasaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam aktivitas pemasaran terdapat serangkaian usaha yang merupakan sebuah proses menciptakan terjadinya pertukaran barang atau jasa diantara individu-individu yang memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan dengan mendapatkan keuntungan dari pertukaran tersebut. Pemasaran yang baik tidak hanya sekedar kegiatan menjual produk belaka, tetapi bagaimana kita harus dapat menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada konsumen dan tetap mengelola hubungan dengan konsumen tersebut dan juga dapat menghasilkan keuntungan bagi organisasi dan para pemangku kepentingan.  Sebuah pemasaran yang cerdas dapat mengubah kebutuhan pribadi menjadi peluang bisnis yang menguntungkan. Namun, untuk membuat sebuah keputusan pemasaran yang benar tidaklah mudah. Para pemasar harus memutuskan fitur apa yang ada pada produk, berapa harga yang ditawarkan kepada konsumen, dimana mereka harus menjual, dan berapa anggaran yang harus dikeluarkan untuk promosi.

Pengetahuan Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Ujang Sumarwan (2011:147) pengetahuan konsumen
merupakan semua informasi yang dimiliki oleh konsumen mengenai berbagai
macam produk dan jasa serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk
dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai
konsumen . Pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan
pembelian. Para ahli psikologi kognitif membagi pengetahuan kedalam
pengetahuan deklaratif (declarative knowledge) dan pengetahuan prosedur
(procedural knowledge). Pengetahuan deklaratif adalah fakta subjektif yang
diketahui oleh seseorang, arti subjektif adalah pengetahuan seseorang tersebut
mungkin tidak selalu harus sesuai dengan realitas yang sebenarnya.
Pengetahuan prosedur adalah pengetahuan mengenai bagaimana fakta-fakta
tersebut digunakan.
Pengetahuan yang dicakup dalam dominan kognitif mempunyai 6
tingkatan (Notoatmodjo,2003:128) yaitu :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Yang termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang
dipelajari atau rangsangan yang tekah diterima. Kata kerja untuk mengukur
bahwa tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebut, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan dan lain-lain.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara
benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasi materi secara
benar. Orang yang telah paham tentang suatu obyek atau sebuah materi maka
dia harus dapat menjelaskan dan menyebutkannya.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi rill (sebenarnya). Aplikasi
disini dapat pula diartikan dapat penggunaan rumus, metode, prinsip dan
sebagainya dalam konteks atau situasi yang lainnya.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan suatu materi
atau obyek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur
organisasi tersebut. Kemampuan ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata
kerja : dapat mengambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan
dan lain-lainya.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis ini menunjuk pada kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian kedalam bentuk keseluruhan yang baru. Atau
dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari
formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi disini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
Menurut Mowen dan Minor (1998) membagi pengetahuan konsumen
menjadi tiga kategori yaitu (1) pengetahuan objektif, (2) pengetahuan
subjektif, dan (3) informasi pengetahuan lainnya. Pengetahuan objektif adalah
informasi yang benar mengenai kelas produk yang disimpan didalam memori
jangka panjang konsumen. Pengetahuan subjektif adalah persepsi konsumen
mengenai apa dan berapa banyak yang dia ketahui mengenai kelas produk.
Konsumen mungkin juga memiliki informasi mengenai pengetahuan berbagai
hal lainnya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Konsumen berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang
berbeda akan mempunyai penilaian, kebutuhan, pendapat, sikap dan selera
yang berbeda-beda. Menurut Schiffman dan Kanuk (2008:71) mendefinisikan
faktor Eksternal adalah faktor yang terdapat diluar diri individu konsumen.
Setiadi Nugroho (2003: 11-15) mendefinisikan faktor Internal adalah faktor
yang berasal dari dalam diri konsumen itu sendiri.
1) Faktor Eksternal
Faktor eksternal merupakan faktor yang meliputi pengaruh keluarga, kelas
sosial, kebudayaan dan kelompok referensi :
(a) Faktor Budaya
Schiffman dan Kanuk (2000:322) mendefinisikan budaya sebagai
“culture as the sum total 0f learned beliefs, values, and customs that
serve to direct the consumer behavior of members particular society”
yang berarti budaya didefiniskan sebagai sejumlah nilai, kepercayaan
dan kebiasaan yang digunakan untuk menunjukkan perilaku konsumen
langsung dari kelompok masyarakat tertentu. Kebudayaan terdiri dari
segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif,
yaitu mencakup segala cara-cara atau pola berpikir, merasakan dan
bertindak. Mempelajari perilaku konsumen adalah mempelajari
perilaku manusia, sehingga perilaku konsumen juga ditentukan oleh
kebudayaan yang tercermin pada cara hidup, kebiasaan, dan tradisi
dalam permintaan akan bermacam-macam barang dan jasa.
Kebudayaan khusus merupakan bagian yang integral sebab kebudayaan
ini timbul karena faktor ras, kebangsaan, agama, lokasi, geografis,
distribusi dan sebagainya.
Kebudayaan khusus ini memainkan peranan penting dalam
pembentukan sikap konsumen dan merupakan petunjuk penting
mengenai nilai-nilai yang akan dianut oleh konsumen.
(b) Kelas Sosial
Kelas sosial menurut Ujang Sumarwan (2004: 219) adalah pembagian
masyarakat ke dalam kelas-kelas yang berbeda. Perbedaan kelas atau
strata akan menggambarkan perbedaan pendidikan, pendapatan,
pemilikan harta benda, gaya hidup, dan nilai-nilai yang dianut. Kelas
sosial akan mempengaruhi jenis produk, jenis jasa, dan merek yang
dikonsumsi konsumen. Konsumen juga sering memiliki persepsi
mengenai kaitan antara satu jenis produk atau sebuah merek dengan
kelas sosial konsumen. Pengaruh dari adanya kelas sosial terhadap
perilaku konsumen begitu tampak dari pembelian akan kebutuhan
sehari-hari, bagaimana seseorang dalam membeli akan barang
kebutuhan dan keinginan.
(c) Faktor Sosial
Selain dipengaruhi oleh faktor budaya, perilaku konsumen juga
dipengaruhi oleh faktor sosial, yang meliputi:
(1) Kelompok Referensi
Menurut Kotler dan Keller (2016:170), kelompok referensi seseorang
adalah kelompok yang mempunyai pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak
langsung terhadap sikap atau perilaku orang tersebut. Menurut Kotler dan
Armstrong, (2008: 164) kelompok referensi bertindak sebagai titik
perbandingan atau titik referensi langsung (berhadapan) atau tidak langsung
dalam membentuk sikap atau perilaku seseorang. Kelompok referensi dapat
memiliki dampak positif atau negatif pada konsumen, jika apa yang
direferensikan oleh kelompok itu sesuai dengan yang diharapkan, maka akan
tercipta dampak positif begitu juga sebaliknya. Konsep kelompok referensi
telah digunakan oleh para pengiklan dalam upaya mereka untuk
mempengaruhi konsumen agar membeli produk mereka, menggambarkan
produk yang sedang dikonsumsi dan penggunaan orang terkenal/ menarik
untuk menawarkan produk adalah bukti bahwa pemasar dan pengiklan banyak
menggunakan potensi pengaruh kelompok referensi.
(2) Keluarga
Keluarga adalah lingkungan mikro, yaitu lingkungan yang paling dekat
dengan konsumen. Alasan utama mempelajari keluarga dalam pengambilan
keputusan adalah berbagai macam produk dan jasa dibeli oleh beberapa orang
konsumen yang mengatasnamakan sebuah keluarga. Selain itu, pengambilan
keputusan suatu produk dan jasa dipengaruhi oleh anggota keluarga lain atau
diputuskan oleh beberapa anggota keluarga atau diputuskan bersama oleh
semua anggota keluarga (Sumarwan, 2004).
2) Faktor Internal
Selain faktor-faktor lingkungan eksternal, faktor-faktor psikologis yang
berasal dari proses intern individu, sangat berpengaruh terhadap perilaku
pembelian konsumen. Teori-teori psikologis akan banyak membantu dalam
memberikan pengetahuan yang sangat penting tentang alasan-alasan
menyangkut perilaku konsumen. Faktor-faktor lingkungan internal yang
menjadi faktor dasar dalam perilaku konsumen adalah :
a. Motivasi
Secara definisi motivasi adalah The Driving force with in individual
that impels then to action, kekuatan penggerak dalam diri seseorang yang
memaksanya untuk bertindak (Schiffman dan Kanuk, 2000: 69). Tanpa
motivasi seseorang tidak akan terpengaruh untuk mencari kepuasan terhadap
dirinya. Para ahli psikologis telah mengembangkan teori-teori motivasi
manusia.
Dalam motivasi pembelian terbagi dua jenis motivasi menurut Sigit
(dalam Wahyuni, 2008:31) yaitu :
1) Motivasi rasional
Motivasi rasional adalah pembelian yang didasarkan kepada kenyataankenyataan yang ditunjukkan oleh produk kepada konsumen dan merupakan
atribut produk yang fungsional serta objektif keadaannya, misalnya :
kualitas produk, harga produk dan ketersediaan barang.
2) Motivasi emosional
Motivasi emosional adalah pembelian berkaitan dengan perasaan,
kesenangan yang dapat ditangkap oleh pancaindra, misalnya dengan
memiliki suatu barang tertentu dapat meningkatkan status sosial, peranan
merek menjadikan pembeli menunjukkan status ekonominya dan pada
umumnya bersifat subyektif dan simbolik.
b. Persepsi
Persepsi menurut Kotler dan Armstrong (2010:218) mengemukakan
bahwa persepsi adalah proses menyeleksi, mengorganisasi/mengatur, dan
menginterpretasikan masukan-masukan informasi. Persepsi dapat melibatkan
penafsiran seseorang atas suatu kejadian berdasarkan pengalaman masa
lalunya. Pada pemasar perlu bekerja keras untuk memikat perhatian konsumen
agar pesan yang disampaikan dapat mengenai pada sasaran. Orang dapat
membentuk persepsi berbeda dari rangsangan yang sama karena 3 macam
proses penerimaan indera (Kotler, 2001: 196) yaitu :
1) Perhatian selektif
Kecenderungan bagi manusia untuk menyaring sebagian besar
informasi yang konsumen hadapi, berarti bahwa pemasar harus bekerja cukup
keras untuk menarik perhatian konsumen.
2) Penyimpangan selektif
Menguraikan kecenderungan orang untuk menginterpretasikan
informasi dengan cara yang akan mendukung apa yang telah konsumen yakini.
3) Ingatan selektif
Orang cenderung lupa akan sebagian besar hal yang mereka pelajari.
Konsumen cenderung akan mempertahankan atau mengingat informasi yang
mendukung sikap dan keyakinan mereka karena adanya ingatan selektif.
c. Pengalaman Belajar
Belajar menjelaskan perubahan dalam perilaku seseorang yang timbul
dari pengalaman (Philip Kotler, 1993:241). Perubahan-perubahan perilaku
tersebut bersifat tetap dan fleksibel. Hasil belajar ini akan memberi tanggapan
tertentu. Perilaku yang dipelajari tidak hanya menyangkut perilaku yang
tampak tetapi juga menyangkut sikap, emosi, kepribadian, kriteria penilaian
dan banyak faktor lain yang tidak dapat ditunjukkan dengan kegiatan-kegiatan
yang tampak.
Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara manusia yang
dasarnya bersifat individual dengan lingkungan khusus tertentu. Perubahan
perilaku seseorang terjual melalui keadaan saling memengaruhi antara
dorongan, rangsangan, petunjuk-petunjuk penting jawaban, faktor penguat dan
tanggapan. Proses belajar pada suatu pembelian terjadi apabila konsumen
ingin menanggapi dan memperoleh suatu kepuasan, atau sebaliknya tidak
terjadi apabila konsumen merasa dikecewakan oleh produk yang kurang baik.
d. Kepribadian dan Konsep Diri
Kepribadian dan konsep diri merupakan karakteristik psikologis
pembeda diri yang memperlihatkan tanggapan yang relatif bersifat individual,
konsisten dan abadi terhadap lingkungannya (Kotler dan Armstrong,
2010:200). Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologi yang
menyebabkan respons yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap
lingkungan dirinya sendiri. Kepribadian adalah pola sifat individu yang dapat
menentukan tanggapan untuk bertingkah laku. Kepribadian mencakup
kebiasaan-kebiasaan, sikap dan ciri-ciri sifat dan watak yang khusus yang
menentukan perbedaan perilaku dari tiap-tiap individu, dan yang berkembang
apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain.
Konsep diri memengaruhi perilaku konsumen didalam pembelian.
Konsep diri merupakan pendekatan yang dikenal luas untuk menggambarkan
hubungan antara konsep diri dalam konsumen dengan image merek dan image
penjual. Konsep diri merupakan implikasi yang sangat luas dalam proses
pembelian konsumen, maka dapat digunakan dalam menentukan segmentasi
pasar, periklanan, pembungkusan, personal selling, pengembangan produk dan
distribusi.
e. Kepercayaan dan Sikap
Kepercayaan dan sikap, melalui tindakan dan proses belajar, orang
akan mendapatkan kepercayaan dan sikap yang kemudian mempengaruhi
perilaku pembeli. Kepercayaan adalah suatu pemikiran yang dimiliki
seseorang tentang sesuatu, sedangkan sikap adalah organisasi dan motivasi,
perasaan emosional, persepsi dan proses kognitif kepada suatu aspek (Bilson
Simamora, 2008:7). Orang bertindak menghambat pembelian, kepercayaan
didasarkan pada pengetahuan yang sebenarnya, pendapat atau kepercayaan
dan mungkin menaikkan emosi atau mungkin tidak. Pemasaran tertarik pada
kepercayaan bahwa orang yang merumuskan mengenai produk dan jasa
spesifik, karena keyakinan ini menyusun citra produk dan merk yang
mempengaruhi tingkah laku membeli.
Sikap menggambarkan penilaian kognitif yang baik maupun tidak baik,
perasaan-perasaan emosional dan kecenderungan berbuat yang bertahan
selama waktu tertentu terhadap beberapa objek atau gagasan. Sikap merupakan merek dalam suatu kerangka berpikir, menyukai atau tidak menyukai terhadap suatu objek.

Pengertian Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup) yang bersangkutan. Perilaku atau aktivitas yang ada pada individu atau organisme itu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat dari adanya stimulus atau rangsangan mengenai individu atau organisme itu. Menurut Andi Mappiere (2002:40) menjelaskan perilaku adalah cerminan dari segala tindakan untuk mencapai tujuan tertentu setelah melalui proses pengamatan, penilaian dan pengambilan keputusan. Berdasarkan definisi perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari ataupun tidak. Menurut Sciffman dan Kanuk (dalam Prasetijo dan Ihalauw, 2005:9) Perilaku Konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan tiga pengertian perilaku konsumen diatas, maka perilaku konsumen diartikan sebagai proses pengambilan keputusan dalam menilai, membeli, dan menggunakan barang dan jasa.

Pengertian Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Proses pengambilan keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh perilaku konsumen. Proses tersebut sebenarnya merupakan proses pemecahan masalah dalam rangka memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen. Menurut Engel er al dalam Sangadji dan Sopiah (2011:332), “perilaku pembelian adalah proses keputusan dan tindakan orang-orang yang terlibat dalam pembelian dan penggunaan produk”. Adapun pendapat dari Peter dalam Sangadji (2011:332) menyebutkan bahwa, “pengambilan keputusan konsumen adalah proses pemecahan masalah yang diarahkan pada sasaran”.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi (skripsi dan tesis)

Menurut Simamora dalam Mahmudah (2015:13), faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi adalah sebagai berikut: 1. Kinerja, dapat dikarakteristikan sebagai berikut: a. Kemampuan produk untuk melaksanakan fungsi utama. b. Karakteristik produk c. Kesesuaian dengan spesifikasi, mengenai seberapa dekat produk dengan spesifikasi yang dijanjikan. 2. Keandalan Merupakan konsistensi kinerja dari satu pembelian hingga ke pembelian berikutnya, dan persen waktu yang dimiliki untuk berfungsi dengan baik. 3. Ketahanan Kehidupan ekonomis akan suatu produk yang digunakan konsumen. 4. Pelayanan Suatu hal yang berhubungan dengan kemampuan memberikan layanan kepada pelanggan. 5. Hasil akhir Hasil yang menunjukkan pada munculnya atau dirasakannya suatu kualitas.

Proses Persepsi (skripsi dan tesis)

Persepsi tidak hanya tergantung pada rangsangan fisik tetapi juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan. Menurut Kotler (2002:198), orang dapat memiliki persepsi yang berbeda atas obyek yang sama karena tiga proses persepsi, yaitu: 1. Perhatian Selektif Orang terlibat kontak dengan rangsangan yang sangat banyak setiap hari. Secara rata-rata orang mungkin dibanjiri oleh lebih dari 1.500 iklan perhari. Karena seseorang tidak mungkin dapat menanggapi semua rangsangan itu, sebagian besar rangsangan yang akan disaring. Proses ini yang dinamakan perhatian selektif. 2. Distorsi Selektif Distorsi selektif adalah kecenderungan orang untuk mengubah informasi menjadi bermakna pribadi dan menginterpretasikan infomasi itu dengan cara yang mendukung pra-konsepsi mereka, sayangnya, tidak banyak dapat dilakukan oleh pemasar terhadap distorsi selektif itu. 3. Ingatan Selektif Orang akan melupakan banyak hal yang mereka pelajari namun cenderung akan mengingat informasi yang menyokong pandangan dan keyakinan mereka. Karena adanya ingatan selektif, kita cenderung akan mengingat hal-hal baik yang disebutkan tentang produk yang kita sukai dan melupakan hal-hal yang baik disebutkan tentang produk yang bersaing. Ingatan selektif menjelaskan mengapa para pemasar menggunakan drama dan pengulangan dalam mengirim pesan ke pasar sasaran mereka.

Dimensi Persepsi (skripsi dan tesis)

Menurut Garvin dalam Rahmatullah (2014:13-14), ada delapan dimensi persepsi seseorang terhadap produk, yaitu: 1. Dimensi Kinerja Produk (Perfomance) Kinerja merupakan karakteristik atau fungsi utama suatu produk. Hal ini merupakan manfaat atau khasiat utama produk yang kita beli, biasanya ini menjadi pertimbangan pertama kita membeli produk. 2. Dimensi Keterandalan Produk (Reliability) Dimensi kedua adalah keterandalan, yaitu peluang suatu produk bebas dari kegagalan saat menjalankan fungsinya. 3. Dimensi Fitur Produk (Feature) Dimensi fitur merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau opinion bagi konsumen. Kalau manfaat utama sudah standar, fitur bisa meningkatkan kualitas produk kalau persaingan tidak memiliki. 4. Dimensi Daya Tahan (Durability) Daya tahan menunjukan usia produk, yaitu jumlah pemakai suatu produk, yaitu jumlah pemakai suatu produk sebelum produk itu digantikan atau rusak. 5. Dimensi Kesesuaian (Conformance) Adalah kesesuaian kinerja produk dengan standar yang dinyatakan suatu produk. Ini semacam janji yang harus dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki kualitas dari dimensi ini berarti sesuai dengan standarnya. 6. Dimensi Kemampuan Diperbaiki (Serviceability) Sesuai dengan maknanya, disini kualitas produk ditentukan atas dasar kemampuan diperbaiki: mudah, cepat, dan kompeten. Produk yang mampu diperbaiki tentuk kualitasnya lebih tinggi dibandingkan produk yang tidak atau sulit diperbaiki.  7. Dimensi Keindahan Tampilan Produk (Aesthetic) Aesthetic atau keindahan menyangkut keindahan tampilan produk yang membuat konsumen suka. Ini sering kali dilakukan dalam bentuk desain produk atau kemasannya. Beberapa merek memperbaharui wajahnya supaya lebih cantik dimata konsumen. 8. Dimensi Kualitas yang Dirasakan (Preceived Quality) Dimensi terakhir adalah kualitas yang dirasakan. Ini menyangkut penilaian konsumen terhadap citra, merek, atau iklan. Produkproduk yang bermerek terkenal biasanya dipersepsikan lebih berkualitas dibanding merek-merek yang tidak terdengar. Itulah sebabnya produk selalu berupaya membangun mereknya sehingga memiliki brand equity yang tinggi. Tentu saja ini tidak dapat dibangun dalam semalam karena menyangkut banyak aspek termasuk dimensi kualitas dari kinerja, fitur, daya tahan, dan sebagainya.

Definisi Persepsi (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dalam Mahmudah (2015:11) menyatakan, “persepsi adalah proses yang digunakan oleh individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan informasi guna menciptakan gambaran yang memiliki arti”. Sedangkan menurut schiffman & Kanuk (2008:137) dalam Permatasi (2013:20), “persepsi didefinisikan sebagai proses yang dilakukan individu untuk memilih, mengatur, dan menafsirkan stimuli ke dalam gambar yang berarti dan masuk akan mengenai dunia”. Persepsi menurut Pride dan Ferrell dalam Fadila dan Lestari (2013:45), persepsi adalah sebagai proses pemilihan, pengoranisasian dan 11 penginterpretasian masukan informasi, sensasi yang diterima melalui penglihatan, perasaan, pendengaran, penciuman dan sentuhan untuk menghasilkan makna. Menuru Kotler dan Keller dalam Fadila (2013:45), persepsi tidak hanya tergantung pada rangsangan dalam bentuk fisik, tetapi juga tergantung pada rangsangan yang ada disekitarnya dan kondisi yang ada pada seseorang dan persepsi lebih penting dibandingkan realitas dalam pemasaran, karena persepsi yang dapat mempengaruhi konsumen dalam berperilaku, selain itu orang bisa mempunyai persepsi yang berbeda atas objek yang sama.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Pater dan Olson (2013:6), perilaku konsumen sebagai dinamika interaksi antara pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana manusia melakukan pertukaran aspek-aspek kehidupan. Menurut Engel dalam Fadila dan Ridho (2013:2), perilaku konsumen adalah tindakan yang langsung terlibat dalam memperoleh, pengkonsumsi dan penghabisan produk/jasa, termasuk proses yang mendahului dan menyusul tindakan ini. Menurut Mowon dan Minor (2002:6), perilaku konsumen adalah sebagai studi tentang unit pembelian (buying units) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi, dan pembuangan barang, jasa, pengalaman serta ide-ide. Dari pengertian perilaku konsumen diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah tindakan yang dilakukan konsumen guna mencapai dan memenuhi kebutuhannya baik untuk menggunakan, mengkonsumsi, maupun menghabiskan barang dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan yang menyusul.

Keputusan Konsumen (skripsi dan tesis)

a. Pengertian Keputusan Konsumen Pemasar perlu fokus pada seluruh proses pengambilan keputusan bukan hanya proses pembelianya saja. Oleh karena itu kita perlu mengetahui definisi keputusan pembelian menurut beberapa ahli yaitu: Menurut Kotler dan Keller proses keputusan pembelian merupakan proses dimana konsumen melewati lima tahap yaitu tahap pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, pasca pembelian dan perilaku pasca pembelian, yang dimulai jauh sebelum pembelian aktual dilakukan dan memiliki dampak yang lama setelah itu. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian merupakan tahap pemilihan yang dilakukan konsumen dalam pengambilan keputusan dalam membeli suatu produk.

Indikator Perilaku Konsumtif (skripsi dan tesis)

Secara operasional indikator dari perilaku konsumtif adalah : a) Pola konsumsi yang bersifat berlebihan Kecendrungan manusia untuk mengkonsumsi barang tanpa batas (berfoya-foya) dan lebih mementingkan faktor keinginan. b) Pemborosan Kecendrungan manusia yang bersifat materialistik dan hasrat yang besar untuk memilik benda-benda tanpa memperhatikan kebutuhanya. Jika seseorang menghabiskan banyak waktu dan uang untuk halhal yang tidask berguna, berlebihan atau tidak sesuai dengan kebutuhan maka dapat di katagorikan sebagai perilaku konsumtif. Sikap konsumtif akan menyebabkan seseorang selaalu merasa tidak puas dan mengakibatkan adanya sikap untuk bersaing dalam berpenampilan. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa indikator perilaku konsumtif melipputi pola konsumsi yang bersifat berlebihan dan pemborosan.

Dimensi perilaku konsumtif (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumtif memiliki beberapa dimensi yaitu: a. Pemenuhan keinginan Rasa puas pada manusia tidak berhenti pada satu titik saja melainkan cenderung meningkat. Oleh karena itu dalam pengkonsumsian suatu barang mausia selalu ingin lebih untuk memenuhi rasa puasnya, meskipun sebenarya tidak ada kebutuhan akan barang tersebut sehingga individu akan memilikli keinginan untuk membelanjakan uangnya dengan mengkonsumsi barang dan jasa secara terus menerus untuk memenuhi rasa kepuasanya. b. Barang di luar jangkauan Jika manusia menjadi konsumtif tindakan konsumsinya menjadi kompulsif dan tidak rasional. Individu tersebut selalu merasa “ belum lengkap” dan mencari-cari kepuasan akhir dengan mendapatkan barang-barang baru. Dengan demikian individu tersebut tidak lagi mencari kebutuhan dirinya dan kegunaan barang itu bagi dirinya. c. Barang tidak produktif Jika pengkonsumsian barang menjadi berlebihan maka kegunaan konsumsi menjadi tidak jelas, sehingga mengakibatkan barang atau produk tersebut menjadi tidak produktif. d. Status Perilaku individu bisa digolongkan sebagai konsumtif jika ia memiliki barang-barang yang lebih karena pertimbangan status. Manusia mendapatkan barang-barang untuk memilikinya. Konsumtif berkaitan dengan aspek selera. Selera merupakan media pengikat, masing-masing kelompok berkompetisi dalam penggunaan barang secara simbolik.

Pengertian Budaya Konsumtif (skripsi dan tesis)

Budaya merupakan cara menjalani hidup dari suatu masyarakat yang ditransmisikan pada anggota masyarakatnya dari generasi kegenerasi berikutnya. Sedangkan menurut Kamus Besar bahasa Indonesia, kata Konsumtif diartikan sebagai 1) bersifat konsumsi (hanya memakai tidak menghasilkan sendiri) 2) bergantung pada hasil produksi lain. Sedangkan perilaku konsumtif adalah perilaku mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang atau tidak diperlukan khususnya yang berkaitan dengan respon terhadap konsumsi barang-barang sekunder yaitu barang yang tidak terlalu dibutuhkan. Perilaku konsumtif sebaiknya diwaspadai karena dapat mengakibatkan dampak-dampak negatif seperti dapat menghabiskan seseorang untuk memiliki pola hidup boros, dapat membuat orang menjadi tidak lagi membedakan antara kebutuhan akan tetapi mengutamakan keinginan. Sedangkan menurut Lina perilaku konsumtif adalah suatu peilaku yang tidak lagi didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang tidak rasional lagi. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Lina dan Rosyid yang menyatakan bahwa perilaku konsumtif melekat pada seseorang apabila orang tersebut membeli sesuatu diluar kebutuhan yang rasional, pembelian tidak lagi didasarkan pada faktor kebutuhan, tetapi sudah pada taraf keinginan yang berlebihan

Fakor-Faktor Yang Memengaruhi Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya: pendapatan , selera konsumen, dan harga barang, di saat kondisi yang lain tidak berubah (cateris paribus) perilaku konsumen ini didasarkan pada teori perilaku konsumen yang menjelaskan bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya dapat membeli berbagai barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkan.4 Sedangkan menurut Philip Kotler perilaku konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : a. Faktor budaya Faktor budaya merupakan hal yang sangat penting dalam perilaku pembelian yng mana faktor budaya ini terdiri dari budaya dan kelas sosial. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling dasar. Kelas sosial adalah pembagian dalam masyarakat yang relatif homogen dan permanen, yang tersusun secara hirarkis dan yang para anggotanya menganut nilai, minat, dan perilaku yang serupa. b. Faktor sosial Faktor sosial dipengaruhi oleh: kelompok acuan, keluarga, dan status sosial.6 1) Kelompok acuan: seseorang terdiri dari semua kelompok yeng memiliki pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang tersebut 2) Keluarga: merupakan organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat, dan anggota para keluarga menjadi kelompok acuan primer yang paling berpengaruh 3) Peran dan tatus sosial: peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang, masing-masing peran menghasilkan status c. Faktor Pribadi Karakteristik tersebut meliputi : 1. Usia dan tahap siklus hidup: orang membeli barang dan jasa berbeda-beda sepanjang hidupnya. 2. Pekerjaan dan lingkungan ekonomi 3. Gaya hidup: pola hidup seseorang di dunia yang terungkap pada aktivitas, minat dan opininya. 4. Kepribadian dan konsep diri. Kepribadian adalah ciri bawaan psikologi manusia yang terbedakan yang manghasilkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap rangsangan lingkungannya. Konsep diri ada 3 yaitu konsep diri aktual (memandang dirinya seperti apa), konsep diri ideal (memandang dirinya ingin seperti apa), konsep diri orang lain (manganngap orang lain memandang dirinya seperti apa). d. Faktor Psikologis Pilihan membeli seserang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama yaitu : 1. Motivasi Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Kebutuhan sndiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya diasakan. Kebuuhan yang dirasakan tersebut mendorong seseorang untuk melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Artinya, motivasi adalah daya dorong yang muncul dari seorang konsumen yang akan mempengaruhi proses keputusan konsumen dalam membeli dan menggunakan barang dan jasa. 2. Persepsi Konsumen Persepsi konsumen adalah proses dimana kita memilih, mengatur, dan menerjemahkan masukan informasi untuk menciptakan gambaran dunia yang berarti. Poin utamanya adalah bahwa persepsi tidak hanya tergantung pada rangsangan fisik,

Pengertian Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Mangkunegara perilaku konsumen merupakan suatu tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, dan menggunakan barang-barang atau jasa ekonomi yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan 1 . Sedangkan menurut Kotler dan Keller Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka.2 Peter J. Paul dan Jerry C Olson menyatakan bahwa perilaku konsumen merupakan interaksi dinamis antara pengaruh dan kondisi perilaku dan kejadian di sekitar lingkungan dimana manusia melakukan aspek pertukaran dalam kehidupan mereka.3 Dari beberapa definisi di atas dapat di lihat ada dua hal penting dari perilaku konsumen yaitu proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik yang semuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa secara ekonomis. Dengan kata lain perilaku konsumen adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku konsumen dalam arti tindakantindakan yang dilakukan untuk membeli suatu barang dan jasa.

Aspek-aspek Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Averill (dalam Ghufron dan Rini, 2010) menyebut kontrol diri dengan sebutan kontrol personal, 5 aspek antara lain: a. Kemampuan mengontrol perilaku. Kesiapan atau tersedianya suatu respon yang dapat secara langsung mempengaruhi atau memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. b. Kemampuan mengontrol stimulus. Kemampuan untuk mengetahui bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dihadapi. Ada beberapa cara yang dapat digunakan yaitu mencegah atau menjauhi stimulus, menghentikan stimulus sebelum waktu berakhir dan membatasi intensitasnya. c. Kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian. Kemampuan untuk mengantisipasi keadaan dengan informasi yang dimiliki melalui berbagai pertimbangan secara objektif. d. Kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian. Kemampuan individu untuk menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara memperhatikan segi-segi positif secara objektif.  e. Kemampuan mengambil keputusan. Kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujuinya. Kemampuan mengkontrol keputusan akan berfungsi baik apabila ada kesempatan dan kebebasan serta kemungkinan didalam diri individu untuk memilih berbagai tindakan yang akan dilakukan. Menurut Calhoun & Acocella (1990) terdapat tiga aspek mendasar yang mempengaruhi kontrol diri seseorang yaitu: a. Membuat pertimbangan terhadap pilihan. Setiap individu dapat membuat pertimbangan terhadap suatu pilihan. Individu dihadapkan dalam dua pilihan dimana individu harus memilih salah satu dari piihannya tersebut yang dianggapnya baik atau positif. Dan tidak membuat suatu pilihan yang tidak baik atau negatif. b. Memilih salah satu dari dua perilaku. Individu memilih salah satu dari dua perilaku yang menyebabkan konflik, yang satu menawarkan ganjaran tapi dalam jangka waktu yang lama dan yang lain menawarkan kepuasan segera. Pada saat dihadapakan pada pemilihan satu dari dua perilaku tersebut melibatkan sikap tidak impulsif. Impulsif yaitu satu keadaan yang mempengaruhi atau memberikan kecenderungan kepada seseorang untuk berbuat. Dengan melakukan meditasi menyebabkan seseorang tidak impulsif. Karena dalam meditasi dibutuhkan konsentrasi, kesabaran, dan ketenangan. c. Memanipulasi stimulus untuk membuat suatu perilaku menjadi lebih mungkin dilakukan dan perilaku lain kurang mungkin dilakukan. Berdasarkan aspek-aspek yang telah dijelaskan diatas, dapat dikatakan bahwa aspek dalam kontrol diri diantaranya adalah kontrol perilaku yang merupakan respon yang langsung mempengaruhi keadaan yang tidak menyenangkan, kontrol kognitif yang merupakan memampuan untuk mengolah informasi, dan kontrol keputusan yang merupakan kemampuan seseorang untuk memilih hasil berdasarkan sesuatu yang diyakini. Peneliti lebih memilih aspekaspek yang dikemukakan oleh Averiil (dalam Ghufron dan Rini, 2010) terdapat beberapa jenis kemampuan mengontrol diri yang meliputi 5 aspek, yaitu kemampuan mengontrol perilaku, kemampuan mengontrol stimulus, kemampuan mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian, kemampuan menafsirkan peristiwa atau kejadian, kemampuan mengambil keputusan. Dimana aspek-aspek tersebut akan dijadikan sebagai penyusunan skala penelitian. Komponen ini digunakan karena aspek-aspek yang dikemukan oleh Averill lebih jelas dan rinci dalam menjabarkan tentang kontrol diri sesuai dengan penelitian yang akan diukur oleh peneliti, dan sehingga harapannya penelitian yang dilakukan dapat menghasilkan data yang akurat.

Pengertian Kontrol Diri Kontrol diri (skripsi dan tesis)

atau self control merupakan suatu kemampuan untuk mengendalikan diri sendiri dengan cara menghambat hasrat-hasrat jangka pendek yang muncul secara spontan untuk menekan perilaku impulsif (Reber & Reber, 2010). Menurut Chaplin (2011) kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah lakunya sendiri, kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau tingkah laku yang impulsif. Kontrol diri didefinisikan Roberts (dalam Ghufron dan Rini, 2010) sebagai suatu jalinan yang secara utuh atau terintegrasi antara individu dengan lingkungannya. Individu yang memiliki kontrol diri tinggi berusaha menemukan dan menerapkan cara yang tepat untuk berperilaku dalam situasi yang bervariasi. Kontrol diri mempengaruhi individu untuk mengubah perilakunya sesuai dengan situasi sosial sehingga dapat mengatur kesan lebih responsif terhadap petunjuk situasional, fleksibel, dan bersikap hangat serta terbuka. Ghufron dan Rini (2010) kontrol diri merupakan suatu kecakapan individu dalam kepekaan membaca situasi diri dan lingkungannya. Selain itu, juga kemampuan untuk mengontrol dan mengelola faktor-faktor perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi untuk menampilkan diri dalam melakukan sosialisasi kemampuan untuk mengendalikan perilaku, kecenderungan menarik perhatian, keinginan mengubah perilaku agar sesuai untuk orang lain, menyenangkan orang lain, selalu konform dengan orang lain, dan menutupi perasaannya. Marvin R. Goldfried dan Michael Merbaum (dalam Ghufron dan Rini, 2010) berpendapat kontrol diri secara fungsional didefinisikan sebagai konsep dimana ada atau tidak adanya seseorang memiliki kemampuan untuk mengontrol tingkah lakunya yang tidak hanya ditentukan cara dan teknik yang digunakan melainkan berdasarkan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Menurut Berk (dalam Gunarsa & Yulia, 2004), kontrol diri adalah kemampuan individu utuk menahan keinginan atau dorongan sesaat yang bertentangan dengan tingkah laku yang tidak sesuai dengan norma sosial. Hurlock (2004) mengatakan kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya. Menurut Syamsul (2010) kontrol diri merupakan kemampuan individu untuk mengendalikan dorongan-dorongan, baik dari dalam diri maupun dari luar diri individu. Individu yang memiliki kemampuan kontrol diri akan membuat keputusan dan mengambil langkah tindakan yang efektif sehingga menghasilkan sesuatu yang diinginkan dan menghindari akibat yang tidak diinginkan. Wallston (dalam Sarafino, 2006) menyatakan bahwa kontrol diri adalah perasaan individu bahwa ia mampu untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dan menghindari hasil yang tidak diinginkan. Kontrol diri diartikan Papalia (2004) sebagai kemampuan individu untuk menyesuaikan tingkah laku dengan apa yang dianggap diterima secara sosial oleh masyarakat. Ketika berinteraksi dengan orang lain, individu akan berusaha menampilkan perilaku yang dianggap paling tepat bagi diri individu. Calhoun dan Acocella (1990) mendefinisikan kontrol diri sebagai pengaruh seseorang terhadap, mengemukakan dua alasan yang mengharuskan individu untuk mengontrol diri secara kontinyu. Pertama, individu hidup dalam kelompok sehingga dalam memuaskan keinginannya individu harus mengontrol perilakunya agar tidak menggangu kenyamanan orang lain. Kedua, masyarakat mendorong individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih baik bagi dirinya. Sehingga dalam rangka memenuhi tuntutan tersebut dibutuhkan pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar tersebut individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Menurut Averill (dalam Gufron dan Rini, 2010) kontrol diri sebagai variabel psikologis yang mencakup kemampuan individu untuk memodifikasi perilaku, kemampuan mengelola informasi yang tidak diinginkan, dan kemampuan untuk memilih suatu tindakan berdasarkan sesuatu yang diyakini. Kontrol diri memiliki peranan penting dalam progres pembelian suatu barang, karena mampu mengarahkan dan mengatur individu atau konsumen untuk melakukan hal positif termasuk dalam membelanjakan sesuatu (Antonides dalam Fitriana & Koenjoro, 2009). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kontrol diri adalah kemampuan individu dalam menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk perilaku untuk menahan keinginan dan mengendalikan tingkah lakunya sendiri, mampu mengendalikan emosi serta dorongandorongan dari dalam dirinya yang berhubungan dengan orang lain, lingkungan, pengalaman dalam bentuk fisik maupun psikologis untuk 26 memperoleh tujuan dimasa depan dan dinilai secara sosial melalui pertimbangan kognitif sehingga dapat membuat keputusan yang diinginkan dan diterima oleh masyarakat.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Impulsif (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembelian impulsif menurut Thai (dalam Shofwan, 2010) adalah: a. Kondisi mood dan emosi konsumen. Keadaan mood konsumen dapat mempengaruhi perilaku konsumen, misalnya kondisi mood konsumen yang sedang senang atau sedih. Pada konsumen yang memiliki mood negatif, pembelian impulsif lebih tinggi dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kondisi mood yang negatif (Verplanken & Herabadi, 2002). b. Pengaruh lingkungan. Orang-orang yang berada dalam kelompok yang memiliki kecenderungan pembelian impulsif yang tinggi akan cenderung terpengaruh untuk melakukan pembelian impulsif juga. c. Kategori produk dan pengaruh toko. Produk-produk yang cenderung dibeli secara impulsif adalah poduk yang memiliki tampilan menarik (bau yang menyenangkan, warna yang menarik), cara memasarkannya, tempat dimana produk itu dijual. Tampilan toko yang menarik akan lebih menimbulkan dorongan pembelian impulsif (Verplanken & Herabadi, 2001). d. Variabel demografis seperti kondisi tempat tinggal dan status sosial. Konsumen yang tinggal di kota memiliki kecenderungan pembelian impulsif yang lebih tinggi daripada konsumen yang tinggal di daerah pinggiran kota. e. Variabel kepribadian individu. Kepribadian individu memiliki pengaruh terhadap kecenderungan pembelian impulsif (Verplanken & Herabadi, 2001). Kepribadian yaitu karakteristik individu yang telah terbentuk sejak kecil dan mempengaruhi perilaku individu secara konsisten dalam waktu yang relatif lama, yang di dalamnya terdapat kontrol diri (Atiqah, 2016). Hal ini sejalan dengan Diba (2014) yang menyatakan karakteristik kepribadian individu yang mempengaruhi pembelian impulsif salah satunya yaitu kontrol diri. Menurut Chaplin (2011) kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah lakunya sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impulsimpuls atau tingkah laku yang impulsif. Loudon dan Bitta (dalam Anin dkk, 2006) mengungkapkan faktor‐ faktor yang mempengaruhi impulsive buying, yaitu : a. Produk dengan karakteristik harga murah yaitu dapat terjangkau berbagai kalangan, kebutuhan kecil atau marginal, produk jangka pendek yaitu produk habis pakai, ukuran kecil yang berupa barang, dan toko yang mudah dijangkau. b. Pemasaran dan marketing yang meliputi distribusi dalam jumlah banyak outlet yang self service, iklan melalui media massa yang sangat sugestibel dan terus menerus, iklan dititik penjualan, posisi display dan lokasi toko yang menonjol. c. Karakteristik konsumen seperti kepribadian, jenis kelamin, sosial demografi atau karakteristik sosial ekonomi, yang merupakan karakteristik psikologis yang berbeda dari setiap orang. Kepribadian didalamnya mencangkup kontrol diri, yakni pengaturan proses-proses fisik, psikologis, dan perilaku seseorang (Calhoun & Acocella,1990). Berdasarkan faktor-faktor yang telah dijelaskan diatas, dapat dikatakan bahwa banyak faktor orang melakukan pembelian impulsif adalah pengaruh lingkungan seperti karakteristik produk yang mana tidak sedikit orang melakukan pembelian secara tiba-tiba dan spontanitas karena melihat kondisi penjualan yang ditawarkan oleh produsen. Pemasaran produk misalnya promo, diskon besar-besaran, distribusi masal, kupon berhadiah, harga khusus, potongan harga dan lain-lainnya. Demografi, karakteristik sosial ekonomi dan perbedaan individu yang ada didalamnya mencakup motivasi, pengetahuan, sikap, serta kepribadian yang terdiri dari kontrol diri. Adapun faktor perilaku pembelian impulsif yang dipilih penulis menurut Thai (dalam Shofwan,2010) yaitu kepribadian individu, dalam penelitian ini yaitu kontrol diri, karena kontrol diri merupakan salah satu faktor internal yang cukup besar mempengaruhi inividu dalam pembelian impulsif

Aspek-aspek Perilaku Pembelian Impulsif (skripsi dan tesis)

Menurut penelitian Rook & Fisher (dalam Mowen & Minor, 2002) aspek-aspek dalam perilaku pembelian impulsif adalah sebagai berikut: a. Membeli produk atau barang secara mendadak dan tiba-tiba. Pembelian impulsif merupakan pembelian yang dilakukan secara spontan dan tiba-tiba. Individu dikatakan melakukan pembelian secara tiba-tiba atau mendadak, tidak dapat dikekan atau ditahan. b. Membeli produk atau barang tanpa direncanakan terlebih dahulu. Individu dikatakan berprilaku pembelian impulsif jika melakukan pembelian secara tidak terencana. Pembelian yang dilakukan tanpa direncanakan terlebih dahulu. c. Membeli barang atau produk tanpa berpikir panjang. Perilaku membeli impulsif merupakan kegiatan untuk terlibat dalam pembelian pembelian tanpa refleksi atau berpikir secukupnya. Individu membeli barang tanpa berpikir “apakah barang tersebut benar-benar saya butuhkan atau tidak”. Selain itu menurut Rook (dalam Djudijah,2002) menambahkan aspekaspek dalam perilaku membeli impulsif yaitu sebagai berikut: a. Spontan Perilaku impulsif merupakan pembelian yang tidak diharapkan dan mendorong konsumen segera membeli serta seringkali merupakan respon langsung dari stimulasi visual dititik penjualan. b. Tidak memiliki kontrol diri ketika melakukan pembelian Perilaku membeli impulsif dapat dimotivasi oleh adanya informasi yang tersimpan dalam ingatan seseorang ataupun stimulus apa saja secara keseluruhan sehingga membentuk kekuatan untuk bertindak segera. c. Membeli barang atau produk secara tiba-tiba Keinginan membeli datang secara tiba-tiba dan sering kali disertai dengan karakteristik emosi seperti bergairah, getaran hati atau keributan. d. Tidak memperdulikan konsekuensi setelah melakukan pembelian Individu mempunyai keinginan membeli yang sangat menarik sehinggan secara potensial mengabaikan konsekuensi negatif akibat dari pembelian yang dilakukannya. Menurut Engel dkk (1995) mengatakan bahwa pembelian impulsif memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut: a. Spontanitas (spontaneity). Pembelian ini terjadi secara tidak diharapkan dan memotivasi konsumen untuk membeli sekarang, seringkali dianggap sebagai respon terhadap stimulasi visual yang langsung di tempat penjualan.  b. Kekuatan, kompulsi dan intensitas (power, compulsion and intensity). Kemungkinan adanya motivasi untuk mengesampingkan semua hal lain sehingga perilaku yang muncul menjadi berulang. c. Kegairahan dan stimulasi (excitement and stimulation). Desakan mendadak untuk membeli sering disertai dengan adanya emosi yang di karakteristikan dengan perasaan bergairah, menggetarkan, dan tidak terkendali. d. Ketidakpedulian akan akibat (disregard for consequences). Desakan untuk membeli dapat menjadi begitu sulit ditolak, sehingga akibat yang mungkin negatif diabaikan. Dari beberapa aspek diatas maka peneliti memilih aspek perilaku pembelian impulsif menurut Engel dkk (1995), yaitu spontanitas, kekuatan kompulsi dan intensitas, kegairahan dan stimulasi, serta ketidakpedulian akan akibat. Aspek inilah yang akan menjadi titik ukur penyusunan aitem perilaku pembelian impulsif. Dimana aspek-aspek tersebut akan dijadikan sebagai penyusunan skala penelitian. Komponen ini digunakan karena aspek-aspek tersebut sesuai dengan penelitian yang akan diukur oleh peneliti, sehingga harapannya penelitian yang dilakukan dapat menghasilkan data yang akurat.

Pengertian Perilaku Pembelian Implusif Produk Fashion Secara Online (skripsi dan tesis)

Pembelian impulsif adalah proses pembelian suatu barang, dimana konsumen tidak mempunyai niatan untuk membeli sebelumnya, sehingga terjadi pembelian tanpa rencana atau pembelian seketika (Rahmasari, 2010). Chaplin (2011) Pembelian impulsif merupakan suatu tindakan membeli yang bersifat langsung, tanpa refleksi (tanpa pikir) secukupnya, tidak dapat ditahantahan dan tidak dapat ditekan. Engel dkk (1995) mendefinisikan perilaku membeli sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Menurut Murray (dalam Dholakia, 2000) impulse buying adalah kecenderungan individu untuk membeli secara spontan, reflektif, atau kurang melibatkan pikiran, segera, dan kinetik. Pembelian impulsif adalah proses pembelian suatu barang, dimana konsumen tidak mempunyai niatan untuk membeli sebelumnya, sehingga terjadi pembelian tanpa rencana atau pembelian seketika (Rahmasari, 2010). Solomon (2002) berpendapat pembelian impulsif adalah pembelian yang terjadi secara spontan karena munculnya dorongan yang kuat untuk membeli dengan segera. Individu yang sangat impulsif lebih mungkin terus mudah terstimulus oleh faktor eksternal sehingga melakukan pembelian secara spontan, serta dapat mengambil keputusan untuk membeli saat itu juga tanpa direncanakan (dalam Anin dkk, 2006). Bayley & Nancarrow (dalam Muruganantham & Bhakat, 2013) pembelian impulsif adalah perilaku belanja yang terjadi secara tidak terencana, tertarik secara emosional, dimana proses pembuatan keputusan dilakukan dengan cepat tanpa berfikir secara bijak dan pertimbangan terhadap keseluruhan informasi yang ada. Verplanken & Herabadi (2001) pembelian impulsif sebagai pembelian yang tidak rasional dan diasosiasikan dengan pembelian yang cepat dan tidak direncanakan, diikuti adanya konflik fikiran dan dorongan emosional. Dorongan emosional tersebut terkait dengan adanya perasaan yang intens yang ditunjukkan dengan melakukan pembelian karena adanya dorongan untuk membeli suatu produk dengan segera, mengabaikan konsukensi negatif dan merasakan kepuasan (Shofwan, 2010). Menurut Schiffman dan Kanuk (2008) pembelian impulsif merupakan keputusan yang emosional atau menurut desakan hati. Emosi dapat menjadi sangat kuat dan kadangkala berlaku sebagai dasar dari motif pembelian yang dominan. Hirschman & Stern (dalam Setyawan, 2007) menambahkan bahwa perilaku membeli impulsif adalah kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian secara spontan, tidak refleksi, secara terburu-buru dan didorong oleh aspek psikologis emosional terhadap suatu produk dan tergoda oleh persuasi pasar. Rook (dalam Herabadi, 2003) mendefinisikan perilaku membeli impulsif sebagai perilaku membeli yang muncul secara tiba-tiba dan sering kali sulit untuk ditahan yang dipicu secara spontan pada saat berhadapan dengan produk yang diiringi oleh prasaan menyenangkan serta penuh gairah. Lebih lanjut Rook (dalam Herabadi, 2003) menambahkan bahwa perilaku membeli impulsif adalah perilaku membeli yang tidak dilakukan secara sengaja, dan kemungkinan besar melibatkan pula berbagai macam motif yang tidak disadari, serta dibarengi oleh respon emosional. Andrew (dalam Siwi, 2010) menyebutkan bahwa internet pada masa ini telah menjadi one-stop shopping, dimana ketika kosumen mendapatkan koneksi internet mereka akan dengan mudah menetapkan barang yang dirasa penting dari depan sebuah komputer. Menurut Podoshen dan Andrzejewski (2012) perilaku pembelian impulsif menjadi salah satu perilaku konsumen yang sangat ingin dimanfaatkan oleh pemasar. Ismu (2011) mengatakan kelebihan online shop adalah selain pembeli bisa melihat desain produk yang sudah ada konsumen juga bisa merequest desain hingga pembayaran secara online. Serta produk yang berhubungan dengan gambar diri seperti make-up dan fashion (pakaian, sepatu, dan tas) (Antasari, 2007). Kategori fashion adalah kategori yang paling banyak dibeli dengan 78%, kemudian mobilephone (46%), consumer electronic (43%), books and magazine (39%), dan groceries (24%) (Startup Bisnis, 2014). Adapun karakteristik menurut Jarvis Store (2014) yang paling sering ditemukan dan sedikit sulit dihindari dalam jual beli di internet, yaitu egosentris, tidak sabar, impulsif, teredukasi, informatif, hemat (thrifty), penuh privasi, curiga, bimbang (indecisive), dan digerakan kesenangan (pleasure driven). Hirschman dan Holbork (dalam Utami & Sumaryono 2008) Bahwa pembelian impulsif ini kebanyakan disertai oleh faktor emosi karena aktivitas belanjanya bersifat hedonik. Fashion merupakan salah satu hal penting yang dapat mendukung aktivitas (Kim dalam & Sugihanto, 2011). Produk-produk ini dapat berupa pakaian, aksesoris, make up, sepatu, tas, dan lainnya yang dapat menunjang penampilan dan gambar diri pemakainya. Hal ini juga di dukung oleh Movementi (2014) bahwa produk pakaian, yang terdiri dari baju, sepatu dan aksesoris, rupanya menjadi barang paling diminati di toko online. Bagi masyarakat Indonesia, berpenampilan sesuai tren terbaru sudah menjadi gaya hidup sehari-hari, terutama bagi kaum perempuan. Lewat fashion, seseorang dapat menunjukkan status sosialnya pada orang lain, tidak peduli kenal atau tidak (Pasaribu & Citra, 2015). Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku pembelian impulsif pada produk fashion adalah prilaku membeli yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk jasa, yang bersifat spontan dan tiba-tiba tanpa perencanaan yang matang karena dorongan-dorongan yag kuat dan mendesak, terutama pada produk tertentu seperti pakaian, sepatu, tas, aksesoris, dan make up. Biasanya tahapan-tahapan tersebut cenderung dilewati karena terstimulus oleh lingkungan misalnya teman, tampilan, hadiah, diskon, dan lain-lain. Serta pembelian ini dilakukan tanpa mempertimbangkan konsekuensi yang akan terjadi dimasa depan.

Hukum Jual Beli Secara Online (skripsi dan tesis)

Para ulama telah sepakat bahwa transaksi yang telah disyaratkan tunai serah terima barang dan uang tidak dibenarkan dalam Islam untuk dilakukan lewat internet (online) ataupun telepon, untuk jenis barang yang tidak disyaratkan serah terima tunai dalam jual belinya yaitu semua jenis barang, kecuali jual beli perak dan emas hal ini termasuk riba nasi’ah. Kecuali objek yang akan di jualbelikan dapat diserah terima pada saat itu juga maka, jual beli nya dapat ditakhrij dengan jual beli melalui surat menyurat. Adapun jual beli melalui internet (online) ataupun telepon merupakan jual beli langsung dalam akad ijab dan qabul (Salim, 2017: 378). Seperti yang telah diputuskan oleh Majma‟ Al Fiqh Al Islami (Divisi Fiqih OKI) keputusan no. 52 (3/6) tahun 1990, yang berbunyi “Apabila akad terjadi antara dua orang yang berjauhan tidak berada dalam satu majlis dan pelaku transaksi, satu dengan lainnya tidak saling melihat, tidak saling mendengar rekan transaksinya, dan media antara mereka adalah tulisan atau surat atau orang suruhan, hal ini dapat diterapkan pada faksimili, teleks, dan layar komputer (internet). Maka akad berlangsung dengan sampainya ijab dan qabul kepada masing-masing pihak yang bertransaksi. Bila transaksi berlangsung dalam satu waktu sedangkan kedua belah pihak berada di tempat yang berjauhan, hal ini dapat diterapkan pada transaksi melalui telepon ataupun telepon seluler, maka ijab dan qabul yang terjadi adalah langsung seolah-olah keduanya berada dalam satu tempat.” (Salim, 2017: 378).  Dalam melakukan transaksi menggunakan internet (online), penyedia aplikasi permohonan suatu barang oleh penjual di situs website disebut ijab dan pengisian data serta pengiriman yang telah diisi oleh konsumen disebut qabul. Barang – barang yang dijual di online shop dapat dilihat melalui gambar dan video serta telah dijelaskan secara detail dan lengkap dengan penjelasan yang bisa mempengaruhi harga jual barang (Salim, 2017: 379). Setelah melakukan ijab dan qabul penjual meminta konsumen untuk melakukan transfer sejumlah uang ke nomer rekening bank penjual tersebut. Setelah uang nya diterima, penjual mengirim barangnya melalui jasa kurir pengiriman barang (Salim, 2017: 379). Jadi, transaksi jual beli online seperti ini mayoritas Ulama menghalalkannya selama tidak ada unsur gharar di dalamnya, dengan memberikan penjelasan secara detail baik berupa foto, bentuk, warna, model, jenis, dan hal – hal yang mempengaruhi harga barang. a) Pemilik Situs Merupakan Wakil (Agen) Dari Pemilik Barang Jika pemilik website yaitu orang yang bukan pemilik barang tersebut namun telah membuat persetujuan dengan pemilik barang sehingga dia diberi kepercayaan untuk memperjualbelikan barang dagangannya dengan mendapatkan komisi (fee) yang telah disepakati bersama – sama, maka ini perbolehkan dikarenakan hakikatnya wakil hukumnya sama dengan pemilik barang tersebut. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Jabir Bin Abdullah r.a. ia berkata, “Aku hendak pergi menuju Khaibar, lalu aku mendatangi Rasulullah SAW, aku mengucapkan salam kepadanya sambil menyampaikan bahwa aku akan pergi ke Khaibar, maka Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bila engkau mendataangi wakilku di Khaibar ambillah darinya 15 wasq Kurma, Bila dia meminta bukti (bahwa engkau adalah wakilku) maka letakkanlah tanganmu ti atas tulang bawah lehernya” (HR Abu Daud. Menurut Ibnu Hajar sanad hadits ini Hasan). b) Pemilik Situs Bukan Pemilik Barang Apabila konsumen menghubungi penjual barang tanpa melakukan akad jual beli, hanya menanyakan keberadaan barang tersebut, setelah meyakini adanya barang tersebut, lalu penjual meminta konsumen mentransfer uang ke nomer rekeningnya. Setelah uang ia terima barulah membeli barang dan mengirimkannya kepada konsumen. Jika pemilik situs menampilkan barang tetapi bukan pemilik barang tersebut, maka para Ulama sepakat bahwa tidak sah hukum jual belinya dikarenakan mengandung unsur ketidakjelasan (gharar) hal ini disebabkan karena pada saat akad berlangsung penjual belum dapat memastikan apakah barang tersebut dikirimkan atau tidak. Seperti sabda Nabi shallallahu „alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Hakim bin Hizam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, seseorang datang kepadaku untuk membeli suatu barang, kebetulan barang tersebut sedang tidak kumiliki, apakah boleh aku menjualnya kemudian aku membeli barang yang diinginkannya dari pasar? Maka Nabi SAW menjawab, “Jangan engkau jual barang yang belum engkau miliki.” (HR. Abu Daud) (Salim, 2017: 379). Solusi Syar’i Agar jual beli online seperti ini menjadi sah, maka pemilik situs dapat mengikuti langkah – langkah sebagai berikut: 1. Memberitahu bahwa setiap calon konsumen bahwa penyediaan aplikasi permohonan barang bukan berarti ijab dari penjual (pemilik situs). 2. Setelah calon konsumen mengisi aplikasi dan mengirimkannya, pemilik situs/website tidak boleh langsung akad jual beli melainkan terlebih dahulu harus membeli barang dari pemilik barang yang sesungguhnya lalu ia terima barangnya. Kemudian baru ia menjawab permohonan pembeli dan memintanya mentransfer uang ke rekening miliknya lalu barang dikirim kepada pembeli dengan jaminan barang sesuai dengan gambar dan spesifikasinya. Guna menghindari kerugian akibat konsumen jual beli online membatalkan jual belinya atau menarik kembali pembeliaannya, maka pemilik situs/website membuat perjanjian selama kurun waktu tunggu 3 hari ia berhak mengembalikan barang kepada pemilik barang yang sesungguhnya (Salim, 2017: 380).

Belanja Online (skripsi dan tesis)

Belanja online merupakan suatu proses transaksi yang dilakukan lewat suatu perantara media online seperti situs jual beli online yang menyediakan barang, jasa dan lain – lain yang didagangkan di situs tersebut. Saat ini belanja online bukan hal yang awam bagi masyarakat, melainkan, belanja online telah menjadi suatu kebiasaan ( habbit ) bagi beberapa orang. Belanja online merupakan pembelian suatu barang atau jasa lewat jaringan internet. Saat ini belanja online sudah semakin popular terutama dikalangan kaum millenial dikarenakan mereka merasa nyaman dan lebih mudah untuk bertransaksi dimanapun dan kapanpun. Salah satu keunggulan dari belanja online yaitu dapat menghindari antrian panjang saat berbelanja dan dapat mengefektifkan waktu. Harga di toko online biasanya lebih murah dibandingkan denga harga di toko (Hidayat, 2015: 3). Hal ini dikarenakan akses kemudahan yang diberikan bagi beberapa orang mereka beranggapan bahwa belanja online merupakan proses pembelian barang atau jasa dari penjual yang menjual barang dagangannya via internet tanpa harus bertatap muka antara penjual dengan pembeli dan ini merupakan salah satu sarana untuk mencari sesuatu barang yang diinginkan seperti kebutuhan sehari–hari dan lainnya. Pada online shop konsumen bisa melihat barang berupa foto–foto atau video (Sari, 2015: 208).

Proses Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Berikut ini adalah proses keputusan pembelian konsumen menurut Abdullah dan Tantri (2012), yaitu : a. Peran dalam Pembelian Kita dapat membedakan lima peran yang dimainkan orang dalam keputusan pembelian, yaitu : 1. Pencetus ide (initiator) : orang yang pertama kali mengusulkan untuk membeli produk atau jasa tertentu. 2. Pemberi pengaruh (influencer) : orang yang pandangan atau pendapatnya memengaruhi keputusan pembelian. 3. Pengambil keputusan (decider) : orang yang memutuskan setiap komponen dalam keputusan pembelian, apakah membeli, apa yang dibeli, bagaimana membeli, atau dimana membeli. 4. Pembeli (buyer) : orang yang melakukan pembelian aktual. 5. Pemakai (user) : orang yang mengonsumsi atau menggunakan produk atau jasa yang dibeli. Perusahaan perlu mengidentifikasi peran-peran ini, karena berimplikasi pada perancangan produk, penentuan pesan-pesan, dan alokasi anggaran promosi. b. Jenis-jenis Perilaku Pembelian Assael dalam Abdullah dan Tantri (2012), membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan antara berbagai merek, yaitu : 1. Perilaku pembelian kompleks Konsumen mempunyai perilaku pembelian kompleks jika mereka sangat terlibat dalam suatu pembelian dan menyadari adanya perbedaan signifikan antara berbagai merek. Konsumen sangat terlibat bila suatu merek mahal, jarang dibeli, berisiko, dan mempunyai ekspresi pribadi yang tinggi. Biasanya konsumen tidak mengetahui banyak mengenai kategori produk dan harus banyak belajar. 2. Perilaku pembelian mengurangi ketidaksesuaian (disonansi) Kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam suatu pembelian, tetapi tidak melihat banyak perbedaan dalam merek. Keterlibatan yang tinggi ini sekali lagi berdasarkan kenyataan bahwa pembelian tersebut bersifat mahal, jarang dilakukan, dan berisiko. Dalam kasus ini, pembeli akan berkeliling untuk mempelajari apa saja yang tersedia, tetapi akan melakukan pembelian dengan cukup cepat karena perbedaan merek tidak nyata. Pembeli mungkin menanggapi hanya berdasarkan harga yang cocok atau berdasarkan kemudahan dalam membeli. 3. Perilaku pembelian menurut kebiasaan Banyak produk yang dibeli dengan keterlibatan konsumen yang rendah dan tidak ada perbedaan merek yang signifikan. 4. Perilaku pembelian mencari variasi Beberapa situasi pembelian ditandai dengan keterlibatan konsumen yang rendah, tetapi perbedaan mereknya signifikan. Dalam hal ini, konsumen kerapkali melakukan peralihan merek (brand switching). Peralihan merek terjadi karena alasan untuk variasi dan bukan karena ketidakpuasan. c. Meneliti Proses Keputusan Pembelian Perusahaan yang bijak akan meneliti proses keputusan pembelian yang melibatkan kategori produk mereka. Mereka akan menanyakan konsumen kapan mereka pertama kali mengenal kategori produk dan merek mereka, apa keyakinan merek mereka, seberapa besar keterlibatan mereka dengan produknya, bagaimana mereka membuat pilihan merek, dan seberapa puas mereka setelah pembelian. 1. Pengenalan Kebutuhan Proses pembelian dimulai dengan pengenalan kebutuhan (need recognition). Pembeli menyadari suatu masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat dipicu oleh rangsangan internal ketika salah satu kebutuhan normal seseorang; rasa lapar, haus, seks timbul pada tingkat yang cukup tinggi sehingga menjadi dorongan. Kebutuhan juga bisa dipicu oleh rangsangan eksternal. Pada tahap ini, pemasar harus meneliti konsumen untuk menemukan jenis Pengenalan kebutuhan Pencarian informasi Evaluasi alternatif Keputusan pembelian Perilaku pasca pembelian kebutuhan atau masalah apa yang timbul, apa yang menyebabkannya, dan bagaimana masalah itu bisa mengarahkan konsumen pada produk tertentu ini. 2. Pencarian Informasi Konsumen yang tertarik mungkin mencari lebih banyak informasi atau mungkin tidak. Jika dorongan konsumen itu kuat dan produk yang memuaskan ada di dekat konsumen itu, konsumen mungkin akan membelinya kemudian. Jika tidak, konsumen bisa menyimpan kebutuhan itu dalam ingatannya atau melakukan pencarian informasi (information search) yang berhubungan dengan kebutuhan. Konsumen dapat memperoleh informasi dari beberapa sumber. Sumber-sumber ini meliputi sumber pribadi (keluarga, teman, keluarga, rekan), sumber komersial (iklan, wiraniaga, situs web, penyalur, kemasan, tampilan), sumber publik (media massa, organisasi pemeringkat konsumen, pencarian internet), dan sumber pengalaman (penanganan, pemeriksaan, pemakaian produk). Pengaruh relatif sumber-sumber informasi ini bervariasi sesuai produk dan pembelinya. 3. Evaluasi Alternatif Pemasar harus tahu tentang evaluasi alternatif (alternative evaluation) yaitu bagaimana konsumen memproses informasi untuk sampai pada pilihan merek. Sayangnya, konsumen tidak menggunakan proses evaluasi yang sederhana dan tunggal dalam semua situasi pembelian. Sebagai gantinya, beberapa proses evaluasi dilaksanakan. Konsumen sampai pada sikap terhadap merek yang berbeda melalui beberapa prosedur evaluasi. Bagaimana cara konsumen mengevaluasi alternatif bergantung pada konsumen pribadi dan situasi pembelian tertentu. Dalam beberapa kasus, konsumen menggunakan kalkulasi yang cermat dan pemikiran logis. Pada waktu yang lain, konsumen yang sama hanya sedikit melakukan evaluasi atau bahkan tidak mengevaluasi; sebagai gantinya mereka membeli berdasarkan dorongan dan bergantung pada intuisi. Kadang-kadang konsumen membuat keputusan pembelian sendiri; kadang-kadang mereka meminta nasihat pembelian dari teman, pemandu konsumen, atau wiraniaga. 4. Keputusan Pembelian Dalam tahap evaluasi, konsumen menentukan peringkat merek dan membuat niat pembelian. Pada umumnya, keputusan pembelian (purchase decison) konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain. Faktor kedua adalah faktor situasional yang tidak diharapkan. Konsumen mungkin membentuk niat pembelian berdasarkan faktor-faktor seperti pendapatan, harga, dan manfaat produk yang diharapkan. Namun, kejadian tak terduga bisa mengubah niat pembelian. Oleh karena itu, preferensi dan niat pembelian tidak selalu menghasilkan pilihan pembelian yang aktual. 5. Perilaku Pascapembelian Pekerjaan pemasar tidak berakhir ketika produk telah dibeli. Setelah membeli produk, konsumen akan merasa puas atau tidak puas dan terlibat dalam perilaku pascapembelian (postpurchase behaviour) yang harus diperhatikan oleh pemasar. Apa yang menentukan kepuasan atau ketidakpuasan pembeli terhadap suatu pembelian? Jawabannya terletak pada hubungan antara ekspektasi konsumen dan kinerja anggapan produk. Jika produk tidak memenuhi ekspektasi, konsumen kecewa; jika produk memenuhi ekspektasi, konsumen puas; jika produk melebihi ekspektasi, konsumen sangat puas.

Pengertian Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Armstrong (2008) keputusan pembelian (purchase decision) konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain dan faktor kedua adalah faktor situasional yang tidak diharapkan. Sedangkan menurut Sangadji dan Sopiah (2013), keputusan pembelian adalah semua perilaku sengaja dilandaskan pada keinginan yang dihasilkan ketika konsumen secara sadar memilih salah satu diantara tindakan alternatif yang ada. Menurut Setiadi dalam Sangadji dan Sopiah (2013) mendefinisikan bahwa inti dari pengambilan keputusan pembelian konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternatif atau lebih, dan memilih salah satu diantaranya.

Faktor Pembentuk Minat Beli (skripsi dan tesis)

Beberapa faktor yang membentuk minat beli konsumen (Kotler dalam Nulufi,2015) : a) Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sikap negatif orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk memenuhi keinginan orang lain. b) Faktor situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen dalam melakukan pembelian. Hal tersebut tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah dia percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak. Menurut Joel dkk(2014) dalam tahap-tahap minat beli konsumen terdapat suatu konsep yaitu konsep AIDA diantaranya : 1) Perhatian (attention) Merupakan tahap awal dalam menilai suatu produk atau jasanya yang dibutuhkan calon pelanggan, dimana dalam tahap ini calon pelanggan nilai mempelajari produk/jasa yang ditawarkan. 2) Ketertarikan (interest) Minat calon pelanggan timbul setelah mendapatkan informasi yang lebih terperinci mengamati produk/jasa. 3) Keinginan (desire) Calon pelanggan memikirkan serta berdiskusi yang menyebabkan keinginan dan hasrat untuk membeli produk/jasa yang ditawarkan. Dalam tahapan ini calon pelanggan harus maju serta tingkat dari sekedar tertarik akan produk. Tahap ini ditandai dengan hasrat yang kuat dari calon pelanggan untuk membeli dan mencoba produk. 4) Tindakan (action) Melakukan pengambilan keputusan yang pasif atas penawaran. Pada tahap ini calon pelanggan yang telah mengunjungi perusahaan akan mempunyai tingkat kemantapan akan membeli atau menggunakan suatu produk yang ditawarkan.

Pengertian Minat Beli (skripsi dan tesis)

Minat beli muncul karena adanya proses belajar yang menciptakan suatu motivasi pada diri konsumen untuk memenuhi kebutuhannya dan merupakan aspek psikologis yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku konsumen untuk membeli suatu produk yang dipengaruhi oleh informasi yang diterimanya (Nulufi,2015). Menurut Tuu dan Olsen dalam Nugraheni dan Dwiyanto (2016), menjelaskan bahwa minat beli merupakan konsep penting dalam literatur pemasaran. Manajer pemasaran tertarik pada minat beli konsumen dalam rangka untuk meramalkan penjualan dari barang atau jasa yang baru dan/atau yang sudah ada sebelumnya, serta untuk membantu keputusan pemasaran yang terkait dengan permintaan produk yang baru dan/atau yang sudah ada sebelumnya, segmentasi pasar, dan strategi promosi. Pembentukan minat beli konsumen harus sangat dinamis, terutama untuk penawaran produk baru di pasar.

Fungsi-Fungsi Sikap Konsumen (skripsi dan tesis)

Daniel Kazt dalam Sangadji dan Sopiah (2013)mengidentifikasikan empat fungsi sikap, yaitu : 1. Fungsi Utilitarian Dalam fungsi utilitarian, seseorang menyatakan sikapnya terhadap suatu objek atau produk karena ingin memperoleh manfaat (reward) atau menghindari risiko (punishment) dari produk. Sikap berfungsi mengarahkan perilaku untuk mendapatkan penguatan positif 40 (positive reinforcement) atau untuk menghindari risiko. Manfaat produk bagi konsumenlah yang menyebabkan seseorang menyukai produk tersebut. 2. Fungsi Mempertahankan Ego Sikap berfungsi untuk melindungi seseorang (citra diri atau self image) dari keraguan yang muncul dari dalam dirinya sendiri atau dari faktor luar yang mungkin menjadi ancaman bagi dirinya. Sikap akan menimbulkan kepercayaan diri yang lebih baik untuk meningkatkan citra diri dan mengatasi ancaman dari luar. 3. Fungsi Ekspresi Nilai Sikap berfungsi untuk menyatakan nilai-nilai, gaya hidup, dan identitas sosial dari seseorang. Sikap akan menggambarkan minat, hobi, kegiatan, dan opini dari seorang konsumen. 4. Fungsi Pengetahuan Keingintahuan adalah salah satu karakter konsumen yang penting. Pada fungsi ini, konsumen selalu ingin mengetahui banyak hal, merupakan kebutuhan konsumen. Sering kali konsumen perlu mengetahui suatu produk terlebih dahulu sebelum menyukai dan kemudian membelinya. Pengetahuan yang baik mengenai suatu produk sering kali mendorong seseorang untuk menyukai produk 41 tersebut. Oleh karena itu, sikap positif terhadap suatu produk mencerminkan pengetahuan konsumen terhadap produk tersebut.

Karakteristik Sikap Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Sangadji dan Sopiah (2013) ada beberapa karakteristik sikap yang akan kita bahas di bagian ini yaitu : a. Sikap memiliki objek Di dalam konteks pemasaran, sikap konsumen harus terkait dengan objek karena objek tersebut bisa terhubung dengan berbagai konsep konsumsi dan pemasaran seperti poduk, merek, iklan, harga, kemasan, penggunaan media dan sebagainya. b. Konsisten sikap Sikap adalah gambaran perasaan dari seorang konsumen, dan perasaan tersebut akan direfleksikan oleh perilakunya karena sikap memiliki konsistensi dengan perilaku. c. Sikap positif, negatif, dan netral Sikap positif merupakan sikap yang mungkin dapat menerima atau menyukai suatu hal, sedangkan sikap negatif merupakan sikap yang tidak menyukai suatu hal. Bersikap netral berarti tidak memiliki sikap atas suatu hal. d. Intensitas sikap Intensitas sikap adalah ketika konsumen menyatakan derajat tingkat kesukaannya terhadap suatu produk. e. Resistensi sikap   Resistensi adalah seberapa besar sikap seorang konsumen bisa berubah. Pemasar perlu memahami resistensi konsumen agar bisa menerapkan strategi pemasaran yang tepat. f. Persistensi sikap Persistensi adalah karakteristik sikap yang menggambarkan bahwa sikap akan berubah karena berlalunya waktu. g. Keyakinan sikap Keyakin adalah kepercayaan konsumen mengenai kebenaran sikap yang dimilikinya. h. Sikap dan situasi Sikap seseorang terhadap suatu objek sering kali muncul dalam konteks situasi. Artinya, situasi akan mempengaruhi sikap konsumen terhadap suatu objek.