Indikator Minat Beli


Menurut Ferdinand dalam Septyadi et al., (2022) Minat beli diidentifikasi
melalui indikator-indikator sebagai berikut :

  1. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli suatu
    produk.
  2. Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
    produk kepada orang lain.
  3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang
    yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini
    hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya

Pengertian Minat Beli


Menurut Nanda Bella Fidanty Shahnaz, dan Wahyono (2016), minat beli
adalah kemungkinan konsumen akan melakukan pembelian dengan mencari
informasi dari berbagai sumber. Konsumen memiliki ketertarikan terhadap suatu
suatu produk atau jasa tetapi belum tentu konsumen akan melakukan pembelian
produk atau jasa tersebut
Menurut David L. Loudon dan Albert J. Della Bitta (2018) Minat beli adalah
tahap dalam proses pengambilan keputusan konsumen di mana individu
mengevaluasi produk atau layanan dan mengembangkan keinginan untuk
membelinya

Indikator Variasi Produk


Menurut Kotler (2015) menyatakan bahwa terdapat empat indikator variasi
produk diantaranya, sebagai berikut:

  1. Variasi merek produk variasi merek produk merupakan banyaknya jenis
    merek yang ditawarkan.
  2. Variasi kelengkapan produk, variasi kelengkapan produk adalah sejumlah
    kategori barang yang berbeda didalam toko atau department store. Toko
    dengan banyak jenis atau tipe produk barang yang dijual dapat dikatakan
    mempunyai banyak ragam kategori produk yang ditawarkan.
  3. Variasi ukuran produk atau keberagaman (assormen) merupakan sejumlah
    standar kualitas umum dalam kategori toko dengan keberagaman yang luas
    dapat dikatakan mempunyai keadaan yang baik.
  4. Variasi kualitas produk, Kualitas produk merupakan standar kualitas
    umum dalam kategori barang berkaitan dengan kemasan, label, ketahanan
    suatu produk, jaminan, bagaimana produk dapat memberikan manfaat.

Pengertian Variasi Produk


Variasi produk mengacu pada beragam jenis produk atau layanan yang
ditawarkan oleh suatu perusahaan atau bisnis kepada konsumen. Menurut
Umamsyah dkk (2020) definisi variasi produk adalah sebuah desain yang berbeda
dan di buat oleh satu perusahaan, keragaman produk tersebut yang dapat
membedakan produk yang sama dari perusahaan yang berbeda. Menurut
Ichsannudin & Purnomo (2021) variasi produk adalah produk yang dihasilkan oleh
suatu perusahaan yang mengharapkan memproduksi produk tidak tunggal,
melainkan bisa dalam berbagai macam dan jenis. Sedangkan menurut Indrasari
(2019) variasi produk adalah kondisi yang tercipta dari ketersediaan barang dalam
jumlah dan jenis yang sangat variatif, sehingga menimbulkan banyaknya pilihan
dalam proses belanja konsumen.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Variasi produk
adalah beragam jenis produk atau layanan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan
kepada konsumen. Menurut beberapa peneliti, variasi produk termasuk desain yang
berbeda dari produk-produk tersebut, yang dapat membedakan produk dari satu
33
perusahaan dengan yang lainnya. Secara khusus, variasi produk adalah hasil dari
upaya suatu perusahaan untuk memproduksi lebih dari satu jenis produk.
Menurut Tjiptono (2019) menyatakan bahwa variasi produk sebagai Salah
satu unsur pemasaran yang tepat digunakan dan dikonsumsi apabila tujuannya
mengambil manfaat dari kinerja sebuah produk guna diterapkan sebagai upaya
melakukan persaingan dengan perusahaan dan produsen lain yang memiliki standar
produk atau produk sejenis.Dapat memperoleh alternatif untuk memenuhi
kebutuhannya.

Bauran Pemasaran


Kotler dan Armstrong (2018) mendefinisikan bauran pemasaran sebagai
kombinasi dari empat elemen utama yang dikenal sebagai 4P, yaitu Product
(produk), Price (harga), Place (tempat/distribusi), dan Promotion (promosi).
Menurut mereka, keempat elemen ini perlu diintegrasikan untuk menciptakan nilai
bagi konsumen dan mencapai tujuan pemasaran. Berikut adalah penjelasan singkat
tentang setiap elemen:

  1. Product (Produk):
    Produk adalah barang atau layanan yang ditawarkan kepada pasar untuk
    memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen. Strategi pemasaran
    dalam elemen produk mencakup:
    a. Pengembangan produk: Menciptakan produk yang inovatif dan
    relevan dengan kebutuhan pasar.
    b. Diferensiasi: Membedakan produk dari pesaing melalui fitur unik,
    kualitas, atau merek.
    c. Kualitas: Memastikan produk memiliki kualitas yang memadai
    sesuai dengan harapan konsumen.
  2. Price (Harga):
    Harga adalah jumlah uang yang harus dibayar konsumen untuk
    memperoleh produk atau layanan. Strategi pemasaran harga meliputi:
    a. Penetapan harga: Menentukan harga yang sesuai dengan nilai yang
    dirasakan oleh konsumen dan menguntungkan perusahaan.
    b. Diskon dan promosi harga: Menggunakan diskon, kupon, atau
    penawaran khusus untuk menarik konsumen dan meningkatkan
    penjualan.
    c. Strategi penetapan harga: Memilih antara harga yang premium,
    harga yang bersaing, atau harga yang disesuaikan dengan kebijakan
    perusahaan.
  3. Place (Tempat):
    Tempat mencakup saluran distribusi dan lokasi penjualan produk atau
    layanan. Strategi pemasaran tempat meliputi:
    a. Saluran distribusi: Memilih saluran distribusi yang efisien dan
    efektif untuk menjangkau target pasar.
    b. Distribusi fisik: Mengelola logistik dan penyimpanan produk untuk
    memastikan ketersediaan di tempat yang tepat dan waktu yang
    tepat.
    c. Lokasi ritel: Memilih lokasi toko atau outlet yang strategis untuk
    menarik konsumen dan memudahkan aksesibilitas produk.
  4. Promotion (Promosi):
    Promosi melibatkan berbagai kegiatan komunikasi yang bertujuan untuk
    meningkatkan kesadaran, minat, dan pembelian produk atau layanan.
    Strategi pemasaran promosi termasuk:
    a. Periklanan: Menggunakan media seperti televisi, radio, atau
    internet untuk menjangkau konsumen dengan pesan promosi.
    b. Promosi penjualan: Menawarkan insentif jangka pendek seperti
    diskon, kupon, atau hadiah untuk mendorong pembelian.
    c. Hubungan masyarakat: Membangun citra merek melalui publikasi,
    acara khusus, atau sponsorship.
    d. Pemasaran langsung: Mengirim pesan promosi langsung kepada
    konsumen melalui email, surat, atau telepon

Tujuan Pemasaran


Tujuan pemasaran adalah serangkaian sasaran yang ingin dicapai oleh
perusahaan melalui kegiatan pemasaran untuk menciptakan, mengomunikasikan,
dan menyediakan nilai bagi pelanggan.
Menurut Belch, George E., dan Belch, Michael A. (2018) tujuan promosi
adalah untuk mengkomunikasikan informasi yang relevan tentang produk atau
layanan kepada target pasar, membujuk mereka untuk mencoba atau membeli
produk, dan mengingatkan mereka tentang manfaat serta fitur unik dari produk
tersebut.

Pengertian Pemasaran


Pemasaran umumnya adalah proses yang melibatkan berbagai tindakan
untuk memahami kebutuhan dan keinginan konsumen, kemudian membuat,
mengkomunikasikan, dan menyediakan produk atau layanan yang memenuhi
kebutuhan tersebut. Tujuannya adalah untuk membangun dan mempertahankan
hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan sambil menciptakan nilai bagi
mereka.
Menurut Kumar dan Reinartz (2018) Pemasaran adalah proses
mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan menyediakan produk atau layanan yang
memuaskan kebutuhan tersebut dengan cara yang memberikan nilai kepada
konsumen dan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan.
Menurut American Marketing Association (AMA) (2017) Pemasaran adalah
aktivitas, serangkaian institusi, dan proses untuk menciptakan, mengomunikasikan,
mengirimkan, dan menukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien,
mitra, dan masyarakat umum

Karakteristik Produk


Tjiptono (2015) menjelaskan karakteristik produk sebagai seluruh atribut
fisik dan non-fisik yang membentuk persepsi konsumen terhadap produk, seperti
fitur utama, manfaat tambahan, kemasan, dan layanan pendukung. Menurut
Tjiptono, karakteristik ini menciptakan nilai yang ditawarkan produk kepada
konsumen. Setiap produk memiliki fitur unik, dan setiap produsen selalu berusaha
membuat produk yang memiliki fitur unik sehingga konsumen memiliki persepsi
unik terhadap produk tersebut. Perusahaan menghadapi persaingan untuk merebut
pangsa pasar dengan menawarkan berbagai macam produk

Keterkaitan Desain Produk dengan Keputusan Pembelian Konsumen


Produk merupakan sesuatu yang diciptakan oleh perusahaan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk ditawarkan ke pasar untuk diamati,
disukai dan dibeli, yang pada akhirnya akan digunakan dan dikonsumsi oleh
konsumen.
Perusahaan diharapkan dapat menghasilkan produk yang baik, unggul dan
sesuai dengan harapan konsumen. Produk yang memiliki desain dapat
menghasilkan daya pikat tersendiri untuk menarik minat konsumen. Karena desain
tidak hanya memberikan tampilan pada produk namun juga dapat memberikan nilai
kegunaan produk tersebut yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Ketika
kebutuhan tersebut sudah terpenuhi oleh suatu produk, maka konsumen pun
berkeinginan untuk melakukan pembelian pada produk tersebut.
Menurut Saladin (2007:96) bahwa:
”Desain produk merupakan bagian dari teknis pengembangan produk. Hasil
pengalaman konsumen dalam melihat orang lain menggunakan suatu produk akan
menghasilkan penilaian kosumen terhadap produk teknologi tersebut. Apabila produk
tersebut dapat memuaskan keinginan konsumen maka konsumen akan memberikan
penilaian positif terhadap produk tersebut. Dengan penilaian tersebut maka konsumen
akan mempertimbangkan spesifikasi produk seperti desain sebagai pertukaran
pengorbanan uang yang digunakan konsumen untuk membeli sebuah produk”.

Jenis-jenis Perilaku Keputusan Pembelian


Pengambilan keputusan konsumen berbeda-beda, bergantung pada masing-
masing produk. Pembeli yang rumit dan mahal mungkin melibatkan lebih banyak
pertimbangan pembeli. Menurut Assael yang dikutip oleh Kotler (2002:202)
“membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen berdasarkan
tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan merek, yaitu: perilaku
pembelian yang rumit, perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan,
perilaku pembelian karena kebiasaan, perilaku pembelian yang mencari
variasi”.

  1. Perilaku Pembelian Yang Rumit
    Perilaku pembelian yang rumit terdiri dari proses tiga langkah. Pertama,
    pembeli mengembangkan keyakinan tentang produk tersebut. Kedua, ia
    membangun sikap tentang produk tersebut. Ketiga, ia membuat pilihan pembelian
    yang cermat. Konsumen terlibat dalam perilaku pembelian yang rumit bila mereka
    sangat terlibat dalam pembelian dan sadar akan adanya perbedaan-perbedaan besar
    diantara merek. Sebagai contoh, seseorang yang membeli computer pribadi,
    mungkin tidak mengetahui atribut apa yang harus dicari. Banyak ciri produk yang
    tidak mengandung arti kecuali kalau pembeli telah melakukan pengamatan.
    Pemasar perlu mendiferensiasikan ciri-ciri merek mereka, menggunakan
    media cetak untuk menjelaskan manfaat merek tersebut, dan memotivasi staf
    penjualan toko serta kenalan dari pembeli untuk mempengaruhi pemilihan akhir
    merek.
  2. Perilaku Pembelian Pengurang Ketidaknyamanan
    Kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam sebuah pembelian namun
    melihat sedikit perbedaan diantara berbagai merek. Dalam kasus itu pembeli akan
    berkeliling untuk mempelajari apa yang tersedia namun akan membeli dengan
    cukup cepat, barangkali pembeli sangat peka terhadap harga yang baik atau
    terhadap kenyamanan belanja. Namun ada kalanya konsumen mengalami
    ketidaknyamanan setelah melakukan pembelian produk tersebut ditambah lagi
    dengan mendengar kabar bahwa produk lain itu lebih baik. Dalam hal ini pertama-
    tama konsumen bertindak, kemudian mendapatkan keyakinan baru, selanjutnya
    hasil akhirnya muncul sekumpulan sikap. Jadi komunikasi pemasar harus ditujukan
    pada penyedia keyakinan dan evaluasi yang membantu konsumen merasa puas
    dengan pilihan mereknya.
  3. Perilaku Pembelian Karena Kebiasaan
    Banyak produk dibeli dengan kondisi rendahnya keterlibatan konsumen dan
    tidak adanya perbedaan merek yang signifikan. Misalnya garam. Konsumen
    memiliki sedikit keterlibatan dalam jenis produk itu. Mereka pergi ke toko dan
    mengambil merek tertentu. Jika mereka tetap mengambil merek yang sama, hal itu
    karena kebiasaan, bukan karena kesetiaan terhadap merek yang kuat.
    Para pemasar memiliki empat teknik (strategi), yang pertama mereka dapat
    mengaitkan produk dengan beberapa isu yang menarik keterlibatan. Kedua, mereka
    dapat mengaitkan produk dengan beberapa situasi pribadi yang menarik
    keterlibatan. Ketiga, mereka dapat merancang iklan yang memicu emosi yang
    berhubungan dengan nilai-nilai pribadi. Keempat, mereka mungkin menambah ciri-
    31
    ciri khusus ke dalam produk. Strategi tersebut hanyalah meningkatkan keterlibatan
    konsumen dari tingkat rendah ke sedang.
  4. Perilaku Pembelian Yang Mencari Variasi
    Ditandai oleh keterlibatan konsumen yang rendah namun perbedaan merek
    yang signifikan. Konsumen sering melakukan peralihan merek karena bosan atau
    ingin merasakan hal yang berbeda. Perpindahan tersebut terjadi karena mencari
    variasi, bukan karena ketidakpuasan.
    Pemimpin pasar akan berusaha mendorong perilaku pembelian dengan
    mendominasi rak-rak penjualan, menghindari kekurangan pasokan dan sering
    mensponsori iklan-iklan untuk mengingatkan kosumen

Tahapan Proses Keputusan Pembelian Konsumen


Adapun tahap-tahap yang dilalui konsumen dalam proses pengambilan
keputusan menurut Kotler (2002:204) yaitu “Konsumen melewati lima tahap:
pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan
pembelian dan perilaku pasca pembelian”.

  1. Pengenalan masalah
    Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah masalah atau
    kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau
    eksternal.
  2. Pencarian Informasi
    Konsumen yang tergugah kebutuhannya akan terdorong untuk mencari
    informasi yang lebih banyak.
  3. Evaluasi berbagai alternatif merek
    Bagaimana konsumen memproses informasi merek yang bersaing dan
    membuat penilaian akhir. Dalam tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi
    atau merek-merek dalam kumpulan pilihan.
  4. Keputusan membeli
    Konsumen juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk yang paling
    disukai. Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub
    keputusan pembelian: keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas,
    keputusan waktu, dan keputusan metode pembayaran.
  5. Perilaku pasca pembelian
    Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami level kepuasan atau
    ketidakpuasan tertentu. Ada kemungkinan konsumen tidak puas dikarenakan ada
    ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang dirasakannya.
    2.3.2.3

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Fandi Tjiptono (2008:156) bahwa “Keputusan pembelian
didasari pada informasi tentang keunggulan suatu produk yang disusun
sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan merubah seseorang
untuk melakukan keputusan pembelian”.
Menurut Kotler (2002:186) “Keputusan pembelian adalah tindakan dari
konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk.”
Definisi lainnya mengenai keputusan pembelian menurut Kotler dan
Armstrong (2012:178) berpendapat bahwa “Keputusan pembelian adalah
keputusan pembeli (konsumen) tentang merek yang akan dibeli”.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku konsumen


Dengan memahami perilaku konsumen akan memberikan manfaat yang besar
untuk perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya yang ditawarkan kepada
konsumen. Perilaku Konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor penting.
Menurut Kotler (2002:183) faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen
dalam mengambil keputusan pembelian adalah:

  1. Faktor Budaya
    Kelas budaya, subbudaya, dan sosial sangat mempengaruhi perilaku pembelian
    konsumen. Budaya (culture) adalah determinan dasar keinginan dan perilaku
    seseorang. Melalui keluarga dan ilusi utama lainnya.
  2. Faktor Sosial
    Selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-
    faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial.
    Karena manusia merupakan makhluk sosial yang pada dasarnya sangat
    mendapatkan pengaruh dari orang-orang disekitarnya saat membeli suatu
    barang kebutuhannya.
  3. Faktor Pribadi
    Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Faktor
    pribadi meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli; pekerjaan dan
    keadaan ekonomi; kepribadian dan konsep diri; serta gaya hidup dan nilai.
    Karena banyak dari karakteristik ini yang mempunyai dampak yang sangat
    langsung terhadap perilaku konsumen, sehingga penting bagi pemasar untuk
    mengikuti secara seksama.
  4. Faktor Psikologis
    Aspek ini merupakan bagian dari pribadi individu konsumen, faktor psikologis
    mempunyai peran yang signifikan pada perilaku konsumen dari sekian banyak
    bidang dalam psikologi. Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat
    faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan
    dan pendirian. Pembelian suatu produk dipengaruhi oleh keempat faktor
    tersebut meskipun pengaruhnya pada setiap konsumen berbeda-beda.

Pengertian Perilaku Konsumen


Menurut Engel dan kawan-kawan (1994) yang dikutip oleh Husein Umar
(2000:49) bahwa “Perilaku konsumen didefinisikan sebagai suatu tindakan
yang langsung dalam mendapatkan, mengkonsumsi serta menghabiskan
produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan penyusuli
tindakan tersebut”.
Kotler dan Keller (2012:173) menyatakan bahwa “Perilaku konsumen
adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih,
membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka”.
Definisi lainnya mengenai perilaku konsumen menurut Hawkins, Best dan
Coney (2007) yang dikutip oleh Oktavianti (2015:38) adalah “merupakan studi
tentang bagaimana individu, kelompok atau organisasi melakukan proses
pemilihan, pengamanan, penggunaan dan penghentian produk, jasa,
pengalaman atau ide untuk memuaskan kebutuhannya terhadap konsumen
dan masyarakat”.

Perilaku Konsumen


Tujuan pemasaran adalah memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta
keinginan konsumen. Menurut Siswanto Sutojo (2009:59) bahwa “konsumen
adalah orang perorangan atau keluarga yang membeli barang atau jasa untuk
mereka konsumsi sendiri”.
Kebutuhan dan keinginan konsumen akan suatu produk (barang atau jasa)
selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa, dan mempengaruhi perilaku
mereka dalam melakukan pembelian produk.
Perilaku konsumen menjawab pertanyaan yang bersangkutan dengan
keputusan mereka membeli produk secara mendetail mengenai produk apa yang
konsumen beli, dimana mereka membelinya, bagaimana caranya, seberapa banyak,
dan kapan mereka membelinya. Hal tersebutlah yang selalu dilakukan oleh setiap
perusahaan untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan apa yang diharapkan
konsumen

Metode-metode Desain Produk


Menurut Imam Djati Widodo (2005) yang dikutip oleh Oktavianti
(2015:35) metode-metode desain produk adalah sebagai berikut:

  1. Rekayasa/Analisis Nilai
    Metode ini bersifat meningkatkan nilai dan pengurangan biaya melalui
    pendefinisian fungsi dan analisis fungsi biaya.
  2. Panduan Poduct Design
    Metode ini meliputi semua aturan dan teknik untuk perakitan untuk memproses
    manufaktur, terutama dalam pemilihan teknologi dan rancangan.
  3. Design for Assembly
    Meliputi semua aturan dan teknik untuk perbaikan perakitan dan perancangan
    untuk kemudahan handling dan perakitan.
  4. Metode Taguchi
    Metode perancangan untuk mendapatkan rancangan yang kuat dan
    perancangan percobaan

Strategi Desain Produk


Strategi desain produk berkaitan dengan tingkatan standarisasi produk,
Menurut Fandy Tjiptono (2008:435), perusahaan memilki tiga strategi, yaitu:

  1. Produk standar untuk meningkatkan skala ekonomis perusahaan melalui
    produksi massa.
  2. Customized product untuk bersaing dengan produsen produksi massa
    (produk standar) melalui fleksibilitas desain produk.
  3. Produk standar dengan modifikasi untuk mengkombinasi manfaat dari
    dua strategi diatas

Aspek Desain Produk


Menurut Kotler dan Keller (2009:10) terdapat aspek-aspek desain produk,
yaitu mencakup:

  1. Bentuk
    Banyak produk dapat diferensiasikan berdasarkan bentuk – ukuran, bentuk
    atau struktur fisik produk.
  2. Fitur
    Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan memvariasikan fitur yang
    melengkapi fungsi dasar mereka. Sebuah perusahaan dapat mengidentifikasi
    dan memilih fitur baru yang tepat dengan mensurvei pembeli terbaru dan
    kemudian menghitung perbandingan nilai pelanggan dan biaya perusahaan
    untuk setiap fitur potensial.
  3. Kinerja
    Merupakan tingkat dimana karakteristik utama produk beroprasi. Kualitas
    menjadi dimensi yang semakin penting untuk diferensiasi ketika perusahaan
    menerapkan sebuah model nilai dan memberikan kualitas yang lebih tinggi
    dengan uang yang lebih rendah.
  4. Kesesuaian
    Merupakan tingkat dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi
    spesifikasi yang dijanjikan.
  5. Ketahanan
    Merupakan ukuran umur operasi produk dalam kondisi biasa atau penuh
    tekanan, merupakan atribut berharga untuk produk-produk tertentu.
  6. Kehandalan
    Merupakan ukuran probabilitas bahwa produk tidak akan mengalami
    malfungsi atau gagal dalam periode waktu. Suatu produk dikatakan baik akan
    memilki keandalan sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.
  7. Gaya
    Gaya menggambarkan penampilan dan rasa produk kepada pembeli. Gaya
    adalah kelebihan dalam menciptakan perbedaan yang sulit ditiru. Gaya bisa
    menarik atau bahkan membosankan. Gaya sensasional bisa menarik perhatian
    dan menghasilkan estetika yang indah, tetapi gaya tersebut tidak benar-benar
    membuat kinerja produk menjadi lebih baik.
  8. Kemudahan Perbaikan
    Merupakan ukuran kemudahan perbaikan produk ketika produk itu rusak,
    tidak berfungsi atau gagal. Kemudahan perbaikan yang ideal terjadi jika
    pengguna dapat memperbaiki sendiri produk tersebut dengan sedikit biaya dan
    waktu

Tujuan Desain Produk


Desain produk mempunyai tujuan dalam membantu perusahaan menciptakan
dan mengembangkan suatu produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan.
Menurut Kotler yang dikutip oleh Satria Adhi Wicaksono (2015:20)
mengemukakan tujuan desain produk adalah:

  1. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan mempunyai nilai
    jual yang tinggi.
  2. Untuk menghasilkan produk yang tren pada masanya.
  3. Untuk membuat produk seekonomis mungkin dalam penggunaan bahan
    baku dan biaya-biaya dengan tanpa mengurangi nilai jual produk tersebu

Pengertian Desain Produk


Menurut John Echols (2005) dalam kamusnya mengatakan “Desain sebagai
potongan, pola, model, konstruksi, tujuan dan rencana”.
Siswanto Sutojo (2009:146) bahwa “Desain produk adalah guna
membedakan produk yang dihasilkan perusahaan dengan produk-produk
saingan”.
Kotler dan Keller (2009:10) berpendapat “Desain produk adalah totalitas
fitur yang mempengaruhi tampilan, rasa, dan fungsi produk berdasarkan
kebutuhan pelanggan”.
Definisi lain menurut Kotler dan Armstrong (2008:273) bahwa “Desain
produk adalah konsep yang lebih besar dari pada gaya. Gaya hanya
menggambarkan penampilan produk. Gaya bisa menarik atau membosankan.
Gaya yang sensasional bisa menarik perhatian dan menghasilkan estetika
yang indah, tetapi gaya tersebut tidak benar-benar membuat kinerja produk
menjadi lebih baik. Tidak seperti gaya, desain tidak hanya sekedar kulit luar,
desain adalah jantung produk”

Desain Produk


Para pengusaha saling bersaing untuk menghasilkan dan memberikan produk
yang sesuai dengan keinginan konsumen. Agar dapat memenangkan persaingan
bisnis, perusahaan harus dapat menciptakan atau mengembangkan sebuah produk
dengan desain yang menarik dan unggul

Atribut Produk


Untuk mempertahankan posisi pasar, perusahaan harus mampu membuat
produk unggulan yang sesuai dengan persepsi pembeli. Hal ini berkaitan dengan
atribut produk, yang mana secara fisik atribut produk membawa manfaat yang
dibutuhkan dan diinginkan pembeli.
Sesuai dengan pendapat Kotler dan Armstrong (2010:154) bahwa “Atribut
produk merupakan karakteristik dari produk atau jasa yang menghasilkan
kemampuan untuk memuaskan yang dinyatakan atau tersirat pada
kebutuhan konsumen”.
Definisi lain mengenai atribut produk menurut Fandy Tjiptono (2008:103)
bahwa “Atribut produk merupakan unsur-unsur produk yang dipandang
penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan, sehingga
akhirnya konsumen menjadi puas”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa atribut produk mempunyai
pengaruh besar dalam pengambilan keputusan konsumen, karena dengan atribut
produklah perusahaan dapat mengembangkan suatu produk dengan komponen yang
sesuai dengan harapan konsumen. Dan komponen atribut produk tersebut menurut
Kotler dan Armstrong (2012:255) diantaranya:

  1. Kualitas Produk
    Kualitas produk adalah salah satu sarana positioning utama untuk pemasar.
    Mempunyai dampak langsung pada kinerja produk. Oleh karena itu kualitas
    berhubungan erat dengan nilai dan kepuasan pelanggan.
  2. Fitur Produk
    Fitur produk adalah sebuah produk dapat ditawarkan dalam beragam fitur,
    model dasar, model tanpa tambahan apapun, merupakan titik awal. Perusahaan
    dapat menciptakan tingkat model yang lebih tinggi dengan menambahkan lebih
    banyak fitur. Fitur adalah sarana kompetitif untuk mendiferensiasikan produk
    perusahaan dari produk pesaing. Menjadi produsen pertama yang
    memperkenalkan fitur baru yang bernilai merupakan salah satu cara paling
    efektif untuk bersaing.
  3. Gaya dan Desain Produk
    Desain memiliki konsep lebih luas daripada gaya (style). Desain selain
    mempertimbangkan faktor penampilan, juga bertujuan untuk memperbaiki
    kinerja produk, mengurangi biaya produksi, dan menambah keunggulan
    bersaing.
  4. Penetapan Merek
    Mungkin keahlian pemasar profesional yang paling istimewa adalah
    kemampuan mereka untuk membangun dan mengelola merek. Merek adalah
    sebuah nama, istilah, tanda, lambang atau desain, atau kombinasi semua ini,
    yang menunjukkan identitas pembuat atau penjual produk atau jasa. Konsumen
    akan memandang merek sebagai bagian penting dari produk, dan penetapan
    merek bisa menambah nilai bagi suatu produk.
  5. Kemasan
    Kemasan melibatkan perancangan dan produksi wadah atau pembungkus
    untuk sebuah produk. Fungsi utama kemasan adalah menyimpan dan
    melindungi produk. Kemasan yang didesain dengan buruk bisa menyebabkan
    konsumen pusing dan perusahaan kehilangan penjualan. Sebaliknya, kemasan
    yang inovatif bisa memberikan manfaat kepada perusahaan melebihi pesaing
    dan mendorong penjualan.
  6. Label
    Label berkisar dari penanda sederhana yang ditempelkan pada produk sampai
    rangkaian huruf rumit yang menjadi bagian kemasan. Label mempunyai
    beberapa fungsi. Setidaknya label menunjukkan produk atau merek, seperti
    nama Sunkist yang tercantum pada jeruk. Label juga bisa menggambarkan
    beberapa hal tentang produk: siapa yang membuatnya, dimana produk itu
    dibuat, kapan produk itu dibuat, kandungannya, cara pemakaiannya, dan
    bagaimana menggunakan produk itu dengan aman.
  7. Pelayanan Pendukung Produk
    Pelayanan pelanggan adalah elemen lain dalam strategi produk. Penawaran
    perusahaan biasanya meliputi beberapa pelayanan pendukung, yang bisa
    menjadi bagian kecil atau bagian besar dari seluruh penawaran.
    Atribut produk yang paling besar peranannya dalam menciptakan persepsi
    konsumen adalah mutu, corak, dan desain (Siswanto Sutojo, 2009:143)

Definisi Produk


Pengertian produk menurut beberapa para ahli adalah sebagai berikut:
Menurut Siswanto Sutojo (2009:133) menyatakan bahwa “Produk
merupakan titik keberangkatan keberhasilan pemasaran”.
Definisi lainnya menurut Kotler dan Keller (2009:4) menyatakan “Produk
adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan
suatu keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman,
acara, orang, tempat, properti, organisasi, informasi dan ide”

Bauran Pemasaran


Untuk menciptakan startegi pemasaran yang efektif dan efisien, perusahaan
harus memiliki pemahaman mengenai bisnis mereka dan pasar tempat mereka
beroperasi. Jangkauan pemasaran itu sangat luas, karena untuk menyampaikan
produk ke tangan konsumen itu membutuhkan berbagai tahap. Maka jangkauan
yang luas tersebut disederhanakan menjadi empat bauran pemasaran.
Beberapa para ahli mengemukakan bauran pemasaran (marketing mix)
sebagai berikut:
Menurut Kotler (2002:18) menyatakan bahwa “Bauran pemasaran
(marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan
perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar
sasaran”.
Buchari Alma (2011:205) menyatakan “Marketing mix merupakan
strategi mencampur kegiatan-kegiatan marketing, agar dicari kombinasi
maksimal sehingga mendatangkan hasil paling memuaskan”.
Dari kedua definisi di atas dapat dipahami bahwa bauran pemasaran adalah
serangkaian alat pemasaran yang saling berkaitan yang digunakan untuk mencapai
tujuan perusahaan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012:75) mengklasifikasikan alat-alat dari
bauran pemasaran menjadi kelompok yang luas yang disebut dengan 4P dalam
pemasaran yaitu:

  1. Product
    Produk adalah kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada
    pasar sasaran.
  2. Price
    Harga adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan oleh pelanggan untuk
    mendapatkan barang.
  3. Place
    Tempat meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi
    pelanggan sasaran.
  4. Promotion
    Promosi berarti aktivitas yang menyampaikan manfaat produk dan membujuk
    pelanggan membelinya.

Pengertian Pemasaran


Pemasaran merupakan suatu ilmu yang digunakan oleh perusahaan.
Pemasaran ini salah satu kegiatan yang sangat penting dalam sebuah perusahaan,
karena perusahaan akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan
perencanaan dan pelaksanaan yang matang dan baik akan menghasilkan pemasaran
yang baik pula.
Pemasaran dikenal dengan istilah dalam bahasa inggris yaitu marketing yang
artinya adalah aktivitas menciptakan dan memasarkan produk baik itu barang
ataupun jasa kepada pelanggan atau masyarakat umum. Pemasaran itu bermula dari
adanya kebutuhan yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. Proses
pemenuhan kebutuhan dan keinginan itulah yang menjadi konsep dari pemasaran.
Pemasaran menurut Kotler (2002:9) adalah “suatu proses sosial yang di
dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”.
William J. Stanton yang dikutip oleh Danang Sunyoto (2014:18)
berpendapat bahwa:
Marketing is a total system business designed to plan, price, promote and distribute
want satisfying products to target market to achieve organizational objective. Artinya:
Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk
merencanakan, menentukan harga, promosi, dan mendistribusikan barang-barang
yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan
perusahaan.
Definisi lain tentang pemasaran menurut AMA (American Marketing
Association) dalam Kotler (2009:5) “Pemasaran adalah fungsi organisasional
dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan
menyerahkan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan dengan
pelanggan dengan cara-cara yang menguntungkan bagi organisasi dan semua
pemangku kepentingan.

Tahapan Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Amstrong (2012:179) terdapat beberapa tahap proses
dalam melakukan keputusan pembelian, yaitu:
1) Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian dimulai saat konsumen mengenali sebuah masalah atau
kebutuhan,dimana kebutuhan itu dapat dicetuskan oleh rangsangan internal
dan eksternal. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen,
pemasar dalam mengidentifikasi rangsangan yang paling sering
membangkitkan minat akan suatu kategori produk, sehingga pemasar dapat
mengembangkan strategi pemasaran yang memicu inat konsumen.
Pengenalan kebutuhan dapat dipicu oleh dua faktor, yaitu internal dan
eksternal. Faktor inernal adalah saat seseorang merasakan suatu keutuhan
sebagai manusi normal seperti merasalapar dan haus. Sementara faktor
eksternal berasal dari luar pribadi, seperti iklan bahkan berdiskusi dengan
teman yang dapat memicu timbulnya kebutuhan. Pada tahap ini seorang
pemasar harus mencari tahu kebutuhan dari konsumen serta mampu
membawa solusi dari kebutuhan konsumen tersebut.
2) Pencarian Informasi
Konsumen yang terungggah kebutuhannya akan terdorong untuk mencari
informasi yang lebih banyak, kita dapat membaginya kedalam dua tingkat.
Situasi yang pertama adalah pencarian informasi yang lebih ringan dinamakan
pencarian yang menguat.pada tingkat selanjutnya, orang akan memasuki
tingkatt pencarian aktif informasi dengan cara mencari bahan bacaan,
menelpon teman, dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk yang akan
dibelinya.
Konsumen dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber yaitu:
a) Personal source
Sumber pribadi bisa berasal dari teman, keluarga, tetangga, atau pribadi
yang dekat dengan orang tersebut.
b) Commercial source
Sumber komrsial adalah sumber informasi yang berasal dari iklan, sales
promotion, dan dari berbagai aktifitas promosi lainnya
c) Public source
Merupakan sumber informasi yang berasal dari berbagai media massa,
internet, organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain.
d) Experiental source
Merupakan sumber informasi berdasarkan pengalaman yang elah
menggunakan suatu produk dan mengatasi masalah yang terjadi saat
mengkonsumsi suatu produk.
3) Evaluasi Alternatif
Konsumen menggunakan informasi internl dan eksternal untuk
mengevaluasi pilihn berkenaan dengan manfaat yang diperolehnya sehingga
pilihan berdasarkan evaluasi alternative ini merupakan pilihan terbaik untuk
konsumen.
Evaluasi alternative menggunakan kriteria yang dibuat oleh konsumen
untuk membandingkan produk yang ada di pasar dan membuat pilihan.
4) Keputusan Pembelian
Dalam tahap ini diawali dengan ppenilaian terhadap berbagai alternative
yang dapat dilihat dari atribut-atribut yang melekat pada produk itu. Dengan
indikasi itu maka konsumen membentuk pilihan di antara beberapa produk
yang trgabung dalam perangkat plihan. Dalam tahap ini konsumen juga
membentuk suatu maksud memilih suatu produk yang disukai.
Ada dua faktr yang berbeda di antara niat pembelian dan keputusan
pembelian, antara lain:
a) Sikap dari orang lain, skap orang lain mampu mempengaruhi seseorang
dalam melakukan keputusan pembeliannya.
b) Faktor situasi yang tidak bisa diantisipasi, yang dapat merubah keputusan
pembelian seperti kondisi ekonomi, inflasi, nilai tukar mata uang, dan
lain-lain.
5) Perilaku pasca pembelian
Setelah pembelian produk, konsumen akan mengalami suatu tingkat
kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Kepuasan atau ketidakpuasan
konsumen dengan suatu produk akan mempengaruh perilaku selanjutnya. Jika
konsumen merasa puas, dia akan menunjukkan probabilitas yang lebih tinggi
untuk membeli produk itu. Sedangkan konsumen tidak puas akan berusaha
untuk mengurani ketidakpuasan ini dengan membuang atau mengembalikan
produk tersebut.

Empat Tipe Perilaku Pembelian Konsumen


Kotler dan Armstrong (2012:177) juga membedakan empat tipe perilaku
pembelian konsumen berdasarkan pada keterlibatan konsumen dan derajat
perbedan antara merk yang ada, yaitu:
1) Perilaku pembelian yang rumit (complex buying behavior)
Perilaku pembelian konsumen dalam situasi yang ditentukan oleh
keterlibatan yang tinggi dalam pembelian dan perbedaan yang dianggap
signifikan antarmerek. Pemasar produk yang memerlukan keterlibatan yang
tinggi dalam pembelian dengan berusaha mnyadari perbedaan-perbedaan yang
jelas diantara merk-merk yang ada di pasar. Perilaku ini terjadi saat akan
melakukan pembelian pada produk yang relative mahal, jarang dibeli dan
mencerminkan pembelinya seperti mobil dan barang-barang fashion.
2) Perilau membeli untuk mengurangi ketidakcocokan (Dissonence reducing
buying behavior)
Perilaku membeli pada tipe ini mempunyai keterlibatan yang tinggi dan
konsumen menyadari hanya terdapat sedikit perbedaan antara berbagai merk
yang ada. Biasanya tipe perilaku pembelian ini dipaka saat membeli barang
yang mahal, tidak sering dibeli, dan membeli dengan cepat karena perbedaan
merk tidak terlihat. Contohnya, seperti keramik, pipa PVC, karpet dan lain-
lain. Konsumen akan merespon dengan harga atau yang mampumenjawab
kebutuhan dan kenyamanan konsumen.
3) Perilaku membeli akibat kebiasaan (Habbitual buying behavior)
Dalam hal ini, perilaku pembelian dilakukan atas dasar kebiasaan tanpa
kesetiaan terhadap suat merk. Tingkat keterlibatan konsumen rendah dan
sedikit yang signifikan terhadap merk.
4) Perilaku membeli karena mencari variasi (Variety seeking buying behavior)
Perliaku membeli ini memiliki keterlibatan yang rendah, namun masih
terdapat perbedaan merk yang jelas.perilaku ni terjadi untuk produk-produk
yang sering dibeli, relative murah dan konsumen ingin mencoba produk
lainnya

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk pada dasarnya erat
kaitannya dengan perilaku konsumen. Perilaku konsumen merupakan unsur penting
dalam kegiatan pemasaran suatu produk yang perlu diketahui oleh perusahaan, karena
perusahaan pada dasarnya tidak mengetahui mengenai apa yang ada dalam pikiran
seorang konsumen pada waktu sebelum, sedang, dan setelah melakukan pembelian
produk tersebut.
Adanya kecenderungan pengaruh kualitas produk, promosi terhadap keputusan
pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut, mengisyaratkan bahwa manajemen
perusahaan perlu mempertimbangkan aspek perilaku konsumen, terutama proses
pengambilan keputusan pembeliannya.
Menurut Kotler dan Armstrong ( 2012 : 158 ) , bahwa perilaku keputusan pembelian
mengacu pada perlilaku pembelian akhir dari konsumen, baik individual, maupun rumah
tangga yang membeli barang dan jasa untuk konsumsi pribadi.
Maka dapat disimpulkan keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk
mau membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi
konsumen dalam melakukan pembelian produk atu jasa, biasanya konsumen selalu
mempertimbangkan kualitas, harga dan produk sudah dikenal oleh masyarakat sebelum
konsumen memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen melalui beberapa tahap
terlebih dahulu yaitu:
1) Pengenalan kebutuhan
2) Pencarian informasi
3) Evaluasi alternative
4) Keputusan membeli atau tidak
5) Perilaku pasca pembelian

Dimensi Promosi


Bauran Promosi merupakan alat komunikasi yang terdiri dari kombinasi alat-alat
promosi yang digunakan oleh perusahaan. Pada umumnya alat-alat promosi tersebut
memiliki hubungan yang erat,sehingga diantaranya tidak dapat dipisahkan,karena bersifat
saling mendukung dan melengkapi.
Menurut Kotler dan Armstrong ( 2012 : 432 ), bauran promosi terdiri atas lima alat-
alat promosi yaitu :
1) Advertising ( Periklanan ) : Yaitu semua bentuk presentasi dan promosi
nonpersonal yang dibayar oleh sponsor untuk mempresentasikan gagasan,
barang atau jasa. Periklanan dianggap sebagai manajemen citra yang bertujuan
menciptakan dan memelihara cipta dan makna dalam benak konsumen.
Bentuk promosi yang digunakan mencakup broadcast, print, internet,
outdoor, dan bentuk lainnya.
2) Sales Promotion ( Promosi Penjualan ) : Yaitu intensif-inensif jangka pendek
untuk mendorong pembelian atau penjualan suatu produk atau jasa. Bentuk
promosi yang digunakan mencakup discounts, coupons, displays,
demonstrations, contests, sweepstakes, dan events.
3) Personal Selling ( Penjualan Perseorangan ): Yaitu presentasi personal oleh
tenaga penjualan dengan tujuan menghasilkan penjualan dan membangun
hubungan dengan konsumen. Bentuk promosi yang digunakan mencakup
presentations, trade shows, dan incentive programs.
4) Public Relations ( Hubungan Masyarakat ) : Yaitu membangun hubungan
yang baik dengan berbagai public perusahaan supaya memperoleh publisitas
yang menguntungkan,membangun citra perusahaan yang bagus,dan
menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang tidak
menguntungkan. Bentuk promosi yang digunakan mencakup press releases,
sponshorships, special events, dan web pages.
5) Direct Marketing ( Penjualan Langsung ) : Yaitu hubungan langsung dengan
sasaran konsumen dengan tujuan untuk memperoleh tanggapan segera dan
membina hubungan yang abadi dengan konsumen. Bentuk promosi yang
digunakan mencakup catalogs, telephone marketing, kiosks, internet, mobile
marketing, dan lainnya

Pengertian Promosi


Dalam mengelola suatu system komunikasi pemasaran memerlukan suatu rancangan
strategi dan program-program penjualan yang efektif dan efisien. Promosi penjualan
merupakan unsur kunci dalam kampanye perusahaan dan promosi yang paling baik
adalah promosi yang dilakukan oleh pelanggan yang puas. Dengan demikian promosi
perlu ditangani secara cermat karena masalahnya bukan hanya menyangkut pada
bagaimana berkomunikasi dengan pelanggan tetapi juga menyangkut seberapa besar
biaya yang dikeluaran untuk biaya ini yang tentunya harus disesuaikan pada kondisi dan
kemampuan perusahaan.
Menurut Hasan ( 2013 : 603 ) Promosi adalah proses mengkomunikasikan variabel
bauran pemasaran ( marketing mix ) yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh
perusahaan dalam memasarkan produk. Kegiatan promosi dimulai dari perencanaan,
implementasi dan pengendalian komunikasi untuk menjangkau target audience dan
promosi sering dimaknai sebagai “ The planning, implementing, and controlling of the
communication with its customers and other target audiences” .

Produk Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Pembelian


Menurut Hasan (2013:500) atribut produk setidaknya dipandang
konsumen untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian selain
merek, kemasan, labelling, garansi, dan pelayanan. Berikut adalah yang harus
diperhatikan dalam perusahaan :
1) Kemasan
(a) Sebagai pelindung dari kerusakan, kehilangan
(b) Memberikan kemudahan
(c) Sebagai daya tarik
(d) Sebagai identitas dari perusahaan/produk
(e) Cerminan inovasi produk
2) Pemberian Label
Pemberian label ( labeling ) sebagai bagian dari kemasan suatu produk
yang menyampaikan informasi mengenai produk dan penjual yang merupakan
tanda pengenal dari suatu produk. Labeling, packaging, dan branding merupakan
satu kesatuan yang dikenal sebagai :
a) Brand label : Nama merek yang dicantumkan pada kemasan
produk
b) Descriptive label : Label yang memberikan informasi objektif
mengenai penggunaan, pembuatan, perawatan, perhatian, dan kinerja
produk, serta karakteristik lainnya yang berhubungan dengan produk.
c) Grade label : Label yang mengidentifikasikan penilaian kualitas
produk dengan suatu huruf, angka, atau kata.
3) Layanan Pelengkap
Setiap produk apapun produknya sekarang ini disertai dengan unsur
layanan, baik itu jasa sebagai produk inti maupun layanan sebagai pelengkap.
Produk ini umumnya sangat bervariasi antara tipe bisnis yang satu dengan
tipe bisnis yang lainnya,tetapi layanan pelengkapnya memiliki kesamaan
yaitu :
(a) Informasi, misalnya informasi menuju tempat produsen, jadwal, harga,
instruksi, pemakaian.
(b) Konsultasi, seperti pemberian saran, auditing, konseling, konsultasi
manajemen dan sebagainya.
(c) Order taking, seperti aplikasi program langganan, aplikasi kualifikasi,
order entry, reservasi tempat duduk, meja, ruang.
(d) Hospitality, seperti penyambutan, food and beverages, toilet dan kamar
kecil, pelengkap kamar mandi, fasilitas tunggu, keamanan.
(e) Caretaking, seperti perhatian dan perlindungan terhadap barang milik
pelanggan, dengan menyediakan parker yang aman dan penitipan yang
aman.
(f) Exception, merupakan permintaan khusus sebelum penyampaian
produk, menangani komplain dan saran, pemecahan masalah.
(g) Billing, laporan rekening periodik, jumlah rekening.
4) Garansi
Garansi adalah janji yang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh
produsen atas produknya kepada konsumen,misalnya konsumen akan diberi
ganti rugi bila produknya ternyata tidak berfungsi sesuai yang dijanjikan.
Jaminan atas produk misalnya jaminan kualitas produk, reparasi, ganti rugi
uang, produk ditukar dengan yang baru.
5) Standarisasi Produk
Perusahaan sukses melakukan standarisasi produk, maka semakin
memperkuat kemampuan strategi marketingnya khususnya menawarkan
rasio harga – manfaat yang lebih tinggi. Setidaknya ada 3 karakteristik
perusahaan yang berhasil dalam standarisasi:
(a) Bisnis mereka stabil
(b) Memiliki kemampuan merancang konfigurasi saluran pemasaran
(c) Melakukan investasi untuk meperdalam customer value
6) Pembedaan Produk
Pembedaan produk merupakan dasar bagi marketer dalam
menentukan motif motif pembelian dan menarik pembeli yang bersifat
selektif. Pembedaan produk merupakaan strategi untuk menarik perhatian
para pembeli. Diferensiasi produk secara kompetitif melalui inovasi bersifat
jangka panjang akan menghasilkan asset yang dapat menghalangi pesaing
untuk melakukan duplikasi atau membuat tandingan

Jenis Produk


Menurut Hasan (2013 : 496) Jenis produk dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Barang
Barang merupakan produk berwujud fisik, sehingga bisa diliat, diraba,
dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
b) Jasa
Jasa merupakan aktivitas, manfaat, atau kepuasan yang ditawarkan untuk
dijual, contohnya bengkel reparasi, salon kecantikan, kursus, hotel, lembaga
pendidikan dan lain lain

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Hasan (2013:99), kualitas produk dapat dimasukkan ke dalam 9
dimensi,yaitu :
a) Bentuk ( Form )
Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainya berdasarakan bentuk,
ukuran, atau struktur fisik produk.
b) Ciri- ciri produk ( features )
Keistimewaan fungsi dasar produk karakteristik sekunder atau pelengkap
yang berguna untuk menambah fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-
pilihan produk dan pengembangannya.
c) Kinerja ( performance )
Kualitas dari karakteristik dasar produk. Berkaitan dengan aspek
fungsional suatu barang dan merupakan karakteristik utama yang
dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut.
d) Ketepatan/Keseuaian ( conformance )
Berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan
sebelumnya berdasarkan keingininan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan
derajat ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik
kualitas standar yang telah ditetapkan.
e) Ketahanan ( durability )
Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan.
f) Kehandalan ( reliability )
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil
menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu
dan dalam kondisi tertentu pula.
g) Kemudahan Perbaikan ( repairability )
Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak. Idealnya
produk akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak
h) Gaya ( style )
Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap suatu produk.
i) Desain ( design )
Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi penampilan
dan fungsi produk terhadap keinginan konsumen.

Pengertian Kualitas Produk


Salah satu keunggulan dalam persaingan ini terutama adalah kualitas produk yang
dapat memenuhi keinginan konsumen. Bila tidak sesuai dengan spesifikasi maka produk
akan ditolak. Demikian juga konsumen dalam membeli suatu produk konsumen selalu
berharap agar barang yang dibelinya dapat memuaskan segala keinginan dan
kebutuhannya. Untuk itu perusahaan harus dapat memahami keinginan konsumen,
sehingga perusahaan dapat menciptakan produk yang sesuai dengan harapan konsumen.
Kualitas produk yang baik merupakan harapan konsumen yang harus dipenuhi oleh
perusahaan karena kualitas produk yang baik merupakan kunci perkembangan
produktivitas perusahaan.
Menurut Kotler dan Armstrong ( 2012 : 254 ) arti dari kualitas produk adalah “
Quality has a direct impact on product or service pervormance; thus, it is closely linked
to customer value and satisfaction. In the narrowest sense,quality can be defined as “
freedom from defects”. But most customer centered companies go beyond this narrow
definition. Instead,they defines quality terms of creating customer value and
satisfaction.” Artinya kualitas produk memiliki dampak langsung pada kinerja barang
dan jasa, dengan demikian hal tersebut sangat terkait dengan nilai pelanggan dan
kepuasan pelanggan. Dalam arti sempit, kepuasan pelanggan dapat diartikan sebagai “
Bebas dari kecacatan, tetapi sebagian besar perusahaan yang berpusat pada pelanggan
melampaui definisi sempit ini. Sebaliknya, mereka mendefinisikan kualitas dalam hal
menciptakan nilai kepuasan pelanggan

Konsep Produk


Menurut Hasan (2013:494) memasarkan produk adalah deals bauran rancangan
produk, pricing, place, promotion, packaging, dan positioning yang ditawarkan kepada
prospek, dan pelanggan. Produk menurut Kotler dan Armstrong ( 2012 : 248 ) adalah “ A
Product as anything that can be offered to a market for attention, acquisition, use or
consumption and that might satisfy a want or need “ Artinya produk adalah segala
sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian dibeli, dipergunakan dan
yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan.
Kotler dan Armstrong ( 2012 : 266 ), mendefinisikan produk adalah segala sesuatu
yang ditawarkan ke pasar agar menarik perhatian, akuisisi, penggunaa, atau konsumsi
yang dapat memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan

Definisi Kualitas


Kualitas atau mutu adalah satu kata kunci yang harus terus dijaga oleh
suatu industry atau perusahaan untuk dapat memberikan kepuasan pelayanan
kepada pelanggan atau customer. Oleh karena itu perusahaan selalu berlomba-
lomba untuk meningkat kualitas dari hasil produksinya agar dapat
Fmempertahankan pelanggannya. Secara definitif kualitas dapat diartikan sebagai
derajat atau tingkat dimana produk dimana produk atau jasa tersebut dapat
memuaskan keinginan dari konsumen (fitness for use atau tailor made).
W.Edwards Deming menyatakan bahwa kualitas dapat diartikan sebagai suatu
tingkat yang dapat diprediksi dari keseragaman dan ketergantungan pada biaya
rendah dan sesuai dengan pasar.
Adapun tahap-tahap dalam siklus Deming untuk memenuhi kebutuhan pelanggan
terdiri dari :

  1. Mengadakan riset konsumen dan menggunakannya dalam perencanaan
    produk (Plan).
  2. Menghasilkan Produk (Do).
  3. Memeriksa produk apakah telah dihasilkan sesuai dengan rencana (Check).
  4. Memasarkan produk tersebut (Action).
  5. Menganalisis bagaimana produk tersebut diterima dipasar dalam hal
    kualitas, biaya, dan kriteria lainnya (Analize)

Teori Kualitas


Terdapat pengertian kualitas menurut:
a. Kotler dan Keller (2016) menyebutkan kualitas produk merupakan kemampuan
suatu barang berupa hasil atau kinerja yang telah sesuai bahkan melebihi dari
yang diinginkan konsumen yang dapat memenuhi perhatian, dapat digunakan atau
dikonsumsi. Kualitas produk yang berpengaruh pada kemampuan dalam
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan membuat produk yang
berkualitas pada tampilan baik dari ciri luar (design) produk maupun inti (core)
produk itu sendiri.
b. Wijaya (2016) mengatakan bahwa kualitas produk dapat dijelaskan dan
dikomunikasikan menurut harapan pelanggannya dimana semua periklanan,
penjualan, promosi dan layanan pelanggan tidak banyak membantu dari kualitas
produk yang buruk. Perusahaan bekerja dalam memeriksa setiap produk yang
dipesan untuk menjamin dan meyakinkan bahwa tidak akan terjadi kesalahan dan
masalah pada kualitas produk yang menentukan nama baik perusahaan.
c.Menurut Tjiptono (2016) menyatakan bahwa kualitas produk adalah kualitas yang
menyesuaikan usaha dalam memenuhi atau melebihi harapan pelanggan, kualitas
mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan. Kualitas juga dapat
berubah-ubah misalnya kualitas yang dianggap mungkin kurang berkualitas pada
masa mendatang berdasarkan faktor penyebabnya

Pengaruh Harga Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Harga merupakan suatu nilai uang yang digunakan sebagai pertukaran
untuk membeli produk dan jasa (Abdurrahman, 2015:109). Penetapan harga
yang tepat sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen
terhadap suatu produk. Dengan menetapkan harga yang tepat, maka
konsumen akan lebih selektif dalam memilih produk yang akan dibeli.
Sehingga, harga menjadi faktor krusial yang dilihat konsumen sebagai
bahan pertimbangan dalam memilih suatu produk. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Shalihah et al. (2021:91), menyimpulkan bahwa harga
berpengaruh positif dan siginifikan terhadap keputusan pembelian.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Kualitas produk merupakan unit atau fitur yang terkait dengan produk
atau layanan yang dapat melakukan tugasnya sedemikian rupa, sehingga
memberikan kepuasan kepada konsumen, dan memengaruhi keputusan
pembelian (Aini dan Andjarwati, 2020:21). Kualitas produk merupakan hal
utama yang perlu diperhatikan perusahaan atau produsen, mengingat
kualitas produk berkaitan erat dengan masalah keputusan pembelian
konsumen. Dimana, konsumen akan selalu mengutamakan kualitas suatu
produk sebelum memutuskan untuk membeli sebuah produk. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Azizah et al. (2022:477), menyimpulkan
bahwa variabel kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan
pembelian. Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Sari dan
Soebiantoro (2022:856), menyimpulkan bahwa kualitas produk
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Inovasi Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Inovasi produk merupakan tahap penciptaan ide untuk barang dan
jasa, termasuk melakukan perubahan atau penambahan beberapa fitur utama
yang telah ada (Setyabudi dan Suranto, 2018:116). Dibutuhkan inovasi
produk untuk memengaruhi keputusan pembelian dan memajukan
pengembangan produk. Hal ini dapat menghasilkan perubahan yang dapat
mengurangi kemungkinan kesamaan dengan produk lainnya, terlebih
inovasi produk tersebut memiliki lebih banyak keunggulan daripada produk
pesaing. Sehingga, pelaku usaha akan lebih siap untuk menghadapi
persaingan yang ketat dan keputusan pembelian konsumen akan lebih sering
terjadi dalam jangka waktu yang lama. Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Alfiyah dan Aminah (2023:988), menyimpulkan bahwa variabel
inovasi produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Okhtavia dan Setiawan
(2022:367), menyimpulkan bahwa inovasi produk berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian

Indikator Harga Produk


Menurut Kotler dalam Fathorrahman (2021:219) ada empat
indikator harga produk, antara lain sebagai berikut.
1) Keterjangkauan harga, ialah perusahaan menetapkan harga yang
dapat dijangkau oleh para konsumen.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas, ialah ketika memilih antara dua
produk, konsumen cenderung memilih harga yang lebih tinggi
karena mereka menganggap perbedaan kualitas antara kedua produk
tersebut.
3) Daya saing harga, ialah konsumen umumnya membandingkan harga
dengan produk sejenis lainnya ketika akan membeli suatu produk,
sehingga harga yang lebih tinggi atau lebih rendah sangat
memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah keputusan pembelian
konsumen dipengaruhi oleh manfaat yang diperoleh dari produk
tersebut dibandingkan dengan nilai yang dibayarkan untuk
membelinya.
Adapun indikator harga produk menurut Lupiyoadi dalam Octavia
(2021:711), antara lain sebagai berikut.
1) Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah jika manfaat yang diperoleh
konsumen meningkat pada suatu level harga, maka nilai produk
tersebut juga akan meningkat. Sebaliknya, pada tingkat harga
tertentu, semakin besar manfaat yang dirasakan konsumen, maka
nilai barang atau jasa tersebut juga akan meningkat.
2) Keterjangkauan harga, ialah apabila harga suatu produk terlalu
tinggi, maka ada kemungkinan produk tersebut tidak dapat
dijangkau oleh segmen pasar tertentu atau bahkan dapat
menurunkan nilai produk di mata konsumen.
3) Daya saing harga, ialah strategi yang ditetapkan oleh perusahaan
dalam persaingan untuk memenangkan produk pesaing.

Strategi Penetapan Harga


Penetapan harga mencakup dimensi strategis dan taktis. Menurut
Tjiptono dan Chandra (2020:427—443), ada enam opsi strategi yang
dapat dikategorikan menurut konteks spesifik, yaitu sebagai berikut.
1) Penetapan harga produk baru
Dalam menetapkan harga produk baru harus ditentukan
dengan hati-hati, karena memengaruhi potensi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup. Secara umum, ada dua strategi utama yang
dapat dipilih, antara lain:
a) Skimming pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang tinggi untuk produk baru. Biasanya setelah beberapa waktu
harga dikurangi dengan produk yang sama atau versi yang lebih
murah.
b) Penetration pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang relatif rendah pada awal siklus hidup produk untuk
mendapatkan pangsa pasar yang besar dan mencegah pesaing
memasuki pasar.
2) Penetapan harga produk yang sudah mapan
Terdapat tiga opsi yang dapat digunakan dalam strategi
penetapan harga produk yang telah ada di pasaran, antara lain:
a) Mempertahankan harga, yaitu strategi yang diterapkan dengan
maksud menjaga posisi pasar serta memperkuat citra positif di
mata konsumen dan masyarakat.
b) Menurunkan harga, yaitu strategi mengurangi harga yang
diterapkan untuk menghadapi dan memenangkan persaingan
dengan faktor pertimbangan pengaruh jangka panjang, pengaruh
kualitas, pengaruh terhadap produk lain, dan pengaruh terhadap
daya kerja finansial. Sehingga, konsumen yang selektif dalam
membeli produk tidak akan berpaling ke pesaing lainnya yang
lebih murah.
c) Menaikkan harga, yaitu strategi yang diterapkan untuk menjaga
profitabilitas pada saat inflasi, memanfaatkan perbedaan produk,
atau untuk membagi pasar yang dilayani.
3) Strategi fleksibilitas harga
Terdapat dua jenis strategi dalam fleksibilitas harga, antara
lain sebagai berikut.
a) Strategi harga tunggal, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang sama untuk konsumen yang membeli
produk dengan kualitas dan kuantitas yang sama dalam kondisi
yang sama.
b) Strategi harga fleksibel, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang berbeda untuk setiap konsumen yang
berbeda dengan kualitas produk yang sama.
4) Penetapan harga lini produk (price lining)
Strategi price lining dapat digunakan jika perusahaan
memasarkan lebih dari satu jenis atau lini produk. Harga produk lini
produk ini dapat bervariasi dan diatur pada tingkat harga yang
berbeda.
5) Leasing
Leasing yaitu sebuah perjanjian dimana pemilik suatu aset
(lessor) setuju untuk memberikan penggunaan aset tersebut kepada
pihak lain (lessee) untuk jangka waktu yang telah ditetapkan, dengan
imbalan yang telah disepakati. Ada dua jenis leasing, yaitu sebagai
berikut.
a) Operating lease, yaitu leasing yang memiliki masa berlaku yang
dapat dibatalkan dan umumnya berdurasi lebih pendek dari masa
manfaat ekonomis aset yang sedang dilakukan leasing.
b) Financial lease, yaitu leasing yang berlangsung dalam jangka
waktu yang lama dan tidak dapat dibatalkan, mengharuskan
penyewa untuk membayar biaya sewa hingga akhir masa
manfaat ekonomis aset tersebut.
6) Penetapan harga jasa
Produk jasa berbeda dari produk barang fisik karena tidak
berbentuk fisik, produksi dan konsumsinya tidak dapat dipisahkan,
kualitasnya bersifat subjektif, tidak tahan lama dan tidak dapat
disimpan. Ada tiga jenis strategi yang termasuk dalam kategori ini,
antara lain sebagai berikut.
a) Satisfaction-based pricing, yaitu faktor yang sering
memengaruhi pandangan konsumen saat membeli layanan, oleh
karena itu tujuan utama dari pricing ini adalah untuk mengurangi
risiko-risiko yang terkait dengan persepsi konsumen tersebut.
b) Relationship-pricing, yaitu strategi untuk menarik, memelihara,
dan meningkatkan hubungan dengan konsumen.
c) Efficiency pricing, yaitu strategi yang berkaitan tentang
memahami, mengelola, dan mengurangi biaya

Metode Penetapan Harga


Menurut Tjiptono (2015:298—309) metode penetapan harga
terdiri dari empat kelompok, antara lain sebagai berikut.
1) Metode Penetapan Harga Berbasis Permintaan
Metode ini berfokus pada faktor-faktor yang memengaruhi
keinginan dan kebiasaan konsumen. Metode penetapan harga
berdasarkan permintaan memiliki beberapa metode penetapan harga
yang digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Skimming pricing, ialah menetapkan harga tinggi pada tahap
perkenalan produk baru, kemudian mengurangi harga saat
terjadi persaingan.
b) Penetration pricing, ialah meluncurkan produk baru dengan
harga yang rendah, dengan tujuan untuk mencapai penjualan
yang besar dalam waktu yang singkat.
c) Prestige pricing, ialah harga dianggap sebagai penunjuk tingkat
kualitas atau keistimewaan sebuah produk atau jasa oleh
konsumen.
d) Price lining, ialah apabila perusahaan menjual lebih dari satu
jenis produk, maka harga yang digunakan akan berbeda-beda
dan ditentukan pada level harga yang berbeda pula.
e) Odd-even pricing, ialah harga tersebut hampir mencapai jumlah
genap yang telah ditentukan.
f) Demand-backward pricing, ialah harga yang diperkirakan pada
tingkat harga yang tinggi bagi produk tertentu, menentukan
margin yang perlu dibayarkan kepada grosir atau pengcer,
sehingga harga jual akhir dapat ditetapkan.
g) Product bundle pricing, ialah cara pemasaran yang
menggabungkan dua atau lebih produk ke dalam satu paket
harga.
h) Optional product pricing, ialah strategi yang menggabungkan
penawaran produk aksesoris atau operasional sebagai pelengkap
dari produk utama yang ditawarkan.
i) Captive product pricing, ialah strategi yang digunakan perlu
dipadukan dengan produk utama untuk dapat berfungsi dengan
efektif.
j) By-product pricing, ialah dalam mencari pasar untuk produk
tambahan, orang-orang yang bersedia membayar apapun untuk
menutupi biaya penyimpangan dan pengiriman, sehingga
produk dapat ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif
dengan mengurangi biaya produk.
2) Metode Penetapan Harga Berbasis Biaya
Metode ini mengutamakan faktor penawaran atau biaya
sebagai penentu harga utama. Harga ditentukan dengan cara
menambahkan biaya produksi dan pemasaran dengan jumlah
tertentu untuk menutupi biaya overhead serta memperoleh
keuntungan. Terdapat beberapa metode penetapan harga yang
mengacu pada biaya, antara lain sebagai berikut.
a) Standard markup pricing, ialah menetapkan harga dengan
menaikkan persentase biaya pada semua macam produk dalam
sebuah produk.
b) Cost plus percentage of cost pricing, ialah perusahaan
menaikkan persentase pada biaya produksi atau konstruksi.
c) Cost plus fixed fee pricing, ialah pemasok dan produsen akan
menerima penggantian biaya yang dikeluarkan, namun produsen
hanya akan menerima remunerasi sebagai keuntungan yang
sesuai dengan biaya proyek akhir yang disepakati.
d) Experience curve pricing, ialah biaya satuan barang dna jasa
akan turun sebesar 10%—30% ketika volume produksi dan
penjualan barang atau jasa mengalami peningkatan dua kali
lipat.
3) Metode Penetapan Harga Berbasis Laba
Metode ini menggunakan penyeimbangan antara pendapatan
dan biaya sebagai dasar penetapan harga, dengan tujuan untuk
mencapai target keuntungan tertentu dalam bentuk angka volume
laba atau persentase dari penjualan atau investasi. Metode penetapan
harga berbasis laba memiliki beberapa metode penetapan harga yang
digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Target profit pricing, ialah penetapan harga didasarkan pada
target keuntungan tahunan yang ditentukan secara spesifik.
b) Target return on sales pricing, ialah penetapan harga dilaukan
dengan menentukan tingkat harga tertentu yang mampu
memperoleh keuntungan pada persentase volume penjualan
tertentu.
c) Target return of investment (ROI) pricing, ialah penetapan harga
dilakukan berdasarkan target rasio antara keuntungan dan
investasi total perusahaan pada fasilitas produksi dan aset yang
menopang produk tertentu.
4) Metode Penetapan Harga Berbasis Persaingan
Metode penetapan harga ini berfokus pada persaingan. Dalam
metode ini, ada beberapa cara yang digunakan untuk menetapkan
harga, antara lain sebagai berikut.
a) Customary pricing, ialah harga ditetapkan berdasarkan faktor-
faktor yang termasuk budaya, saluran distribusi yang standar,
dan persaingan yang ada, yang merupakan cara penetapan harga
yang bergantung pada faktor-faktor eksternal.
b) Above, at, or below market pricing, ialah penetapan harga yang
lebih tinggi daripada harga pasar dilakukan dengan metode
above market pricing, penetapan harga yang mengikuti harga
pasar pesaing dilakukan dengan metode at market pricing,
sedangkan penetapan harga yang lebih rendah dari harga pasar
dilakukan dengan metode below market pricing, dan umumnya
harga ditentukan antara 8%—10% lebih murah dari harga
produk merek nasional pesaing.
c) Loss leader pricing, ialah meningkatkan penjualan produk dan
memikat konsumen untuk berkunjung ke toko, dengan cara
mempromosikan produk yang memiliki markup tinggi, sehingga
dapat menjadi daya tarik utama yang membuat konsumen
membeli produk lain yang tersedia.
d) Sealed bid pricing, ialah sistem yang melibatkan perantara
pembelian untuk memberikan penawaran harga

Harga Produk


Dalam menarik konsumen, sebuah bisnis harus menentukan harga
yang tepat terhadap produk yang akan dipasarkan, karena harga merupakan
faktor yang penting sebagai bahan pertimbangan konsumen untuk
memutuskan apakah akan membeli produk tersebut atau tidak.
a. Pengertian Harga Produk
Menurut Suhardi et al. (2022:54), harga merupakan ukuran
kepuasan seseorang berdasarkan besaran nilai yang diberikan terhadap
produk yang dibelinya.
Menurut Kotler dan Keller dalam Malonda et al. (2021:1200),
harga adalah jumlah uang yang perlu dikeluarkan oleh konsumen
sebagai pembayaran untuk memperoleh produk tersebut.
Menurut Weenas dan Hadi dalam Shalihah et al. (2021:87), harga
adalah nilai uang yang digunakan sebagai sarana pertukaran untuk
membeli suatu produk atau layanan, yang menjadi penentuan nilai
produk tersebut dalam pandangan konsumen.
Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:412), harga adalah jumlah
uang yang mencakup manfaat/kegunaan tertentu yang dibutuhkan untuk
menerima produk.
Menurut Abdurrahman (2015:109), harga merupakan suatu nilai
uang yang digunakan sebagai pertukaran untuk membeli produk dan
jasa

Indikator Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Keller dalam Indriani et al. (2023:78—79)
ada lima indikator kualitas produk, antara lain sebagai berikut.
1) Daya tahan produk, ialah ukuran berapa lama suatu produk dapat
bertahan dengan baik sebelum perlu diganti atau rusak.
2) Keistimewaan produk, ialah pandangan konsumen mengenai fitur-
fitur atau kelebihan produk tersebut.
3) Kehandalan produk, ialah karakteristik fungsional dan produk utama
yang dibeli.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi, ialah seberapa jauh desain dan
kinerja memenuhi standar yang telah ditentukan.
5) Estetika produk, ialah kemampuan produk untuk menarik perhatian
panca indera.

Tingkatan Produk


Menurut Limakrisna dan Purba (2019:76—77), terdapat tiga
tingkatan produk, antara lain sebagai berikut.
1) Produk inti (the core product), ialah produk inti dianggap sebagai
elemen sentral dari total produk, yang mencakup kebutuhan utama
yang dipenuhi, keinginan yang terpenuhi, serta masalah yang dapat
diatasi melalui penggunaan produk tersebut.
2) Produk sebenarnya (the actual product), ialah produk yang lebih
konkrit dan mencakup berbagai aspek seperti kualitas, fitur,
kemasan, gaya, desain, serta merek yang terkait. Dalam situasi yang
diinginkan, keputusan mengenai produk harus didasarkan pada
kebutuhan dan preferensi konsumen, serta mempertimbangkan
alternatif produk yang tersedia.
3) Produk tambahan (augmented product), ialah produk yang
mencakup fitur dan layanan yang memberikan nilai tambahan pada
transaksi yang melebihi harapan konsumen. Meskipun banyak
konsumen mungkin menganggapnya tidak penting, sebenarnya
dalam banyak situasi, hal tersebut dapat menjadi faktor penentu
yang membedakan antara pesaing

Kategori-kategori Produk


Menurut Limakrisna dan Purba (2019:88), orang-orang Indonesia
mengenal dua jenis makanan ringan yang umumnya dikonsumsi, yakni:
1) Makanan ringan basah, ialah makanan kecil basah yang biasanya
dipersiapkan oleh ibu rumah tangga untuk dikonsumsi oleh
keluarga. Dimana, setiap daerah di Indonesia memiliki makanan
kecil khas yang terkenal di daerah tersebut. Makanan kecil ini pun
dapat dibeli dari pedagang kaki lima, seperti pisang goreng,
singkong goreng, dan berbagai jenis lainnya.
2) Makanan ringan kering, ialah produk-produk yang biasanya terbuat
dari bahan tepung dan dijual dalam bentuk kemasan. Makanan
ringan kering ini dapat dibagi menjadi kategori, antara lain sebagai
berikut.
a) Makanan ringan kering tradisional, yaitu makanan ringan yang
biasanya dibuat di rumah dengan bentuk standar, dijual dalam
kemasan plastik transparan, dan hanya memiliki tiga rasa umum
seperti asin, manis, dan pedas.
b) Makanan ringan kering modern, yaitu makanan ringan yang
diproduksi dalam jumlah besar dan memiliki kemasan yang
modern, serta tersedia dalam kemasan tunggal

Pengertian Kualitas Produk


Menurut Suhardi et al. (2022:53), kualitas produk merupakan
kapasitas suatu produk dalam memenuhi kebutuhan dan harapan
konsumen.
Menurut Tjiptono dalam Okhtavia dan Setiawan (2022:360),
kualitas produk merupakan karakteristik unik yang dimiliki sebuah
produk, termasuk kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan tertentu,
dan mencakup karakteristik mendasar.
Menurut Kotler dan Armstrong dalam Sari dan Soebiantoro
(2022:853), kualitas produk merupakan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsi-fungsi khusus, seperti kehandalan dan daya tahan,
ketepatan, dan kemudahan penggunaan, serta beberapa atribut lainnya.
Menurut Aini dan Andjarwati (2020:21), kualitas produk
merupakan unit atau fitur yang terkait dengan produk atau layanan yang
dapat melakukan tugasnya sedemikian rupa, sehingga memberikan
kepuasan kepada konsumen, dan memengaruhi keputusan pembelian.
Menurut Kotler dan Keller (2016:164), kualitas produk adalah
sekumpulan komponen dan ciri khas produk atau jasa yang
memengaruhi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang
dinyatakan atau dirasakan

Indikator Inovasi Produk


Menurut Kotler dan Keller dalam Indriani et al. (2023:77—78)
ada enam indikator inovasi produk, yaitu sebagai berikut.
1) Produk baru bagi dunia, ialah produk baru yang menciptakan pasar
yang benar-benar baru, dimana pesaing belum pernah membuat
produk serupa, sehingga produk tersebut benar-benar baru untuk
membedakan produk baru ini dengan produk serupa.
2) Lini produk baru, ialah produk baru yang memungkinkan bisnis
memasuki pasar yang ada untuk pertama kalinya, dan lini produk
baru memengaruhi pilihan produk konsumen.
3) Tambahan pada lini produk yang telah ada, ialah produk baru yang
melengkapi atau menambah suatu lini produk bisnis yang sudah
mapan, sehingga produk menjadi lebih beragam dan menawarkan
banyak pilihan.
4) Perbaikan dan revisi produk yang telah ada, ialah cara untuk selalu
memperbaharui produk yang telah ada di pasaran. Produk yang
menawarkan kinerja atau nilai unggul dan menggantikan produk
yang sudah ada, menghasilkan produk baru dengan kinerja dan
kegunaan yang lebih baik.
5) Penentuan kembali, ialah produk yang sudah ada yang ditargetkan
atau dipasarkan ke pasar atau segmen pasar baru, yang diharapkan
dapat memperluas pemasaran dengan mendapatkan pangsa pasar
atau konsumen baru untuk meningkatkan penjualan.
6) Pengurangan biaya, ialah produk baru yang menawarkan produk
alternatif dengan kinerja atau manfaat serupa, tetapi dengan harga
yang lebih rendah atau terjangkau, yang bertujuan untuk
memengaruhi keputusan pembelian konsumen dan memengaruhi
pertumbuhan volume penjualan produk

Tipe-tipe Inovasi Produk


Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:350—352), terdapat enam
tipe inovasi produk yang dihasilkan dari pengembangan produk baru,
yaitu sebagai berikut.
1) Produk baru bagi dunia (new-to-the-world products), ialah produk
yang mewujudkan sebuah pasar baru dan menjadikan siklus hidup
yang baru.
2) Lini produk baru (new product line), ialah produk baru suatu
perusahaan yang telah diluncurkan oleh pasar yang sudah ada.
3) Perluasan lini (line extension), ialah sebuah produk baru yang
memungkinkan perusahaan menjangkau pasar lebih luas dengan
penawaran manfaat yang memiliki pembeda.
4) Penyempurnaan produk yang telah ada (improvements to existing
products), ialah sebuah produk yang umumnya didesain sebagai
pengganti produk yang telah ada sebelumnya.
5) Repositioning, ialah kemungkinan penawaran aplikasi baru dalam
pemenuhan kebutuhan baru dengan pengembangan teknis suatu
produk.
6) Pengurangan biaya (cost reductions), ialah pemberian kemampuan
kerja produk yang ada sesuai harga yang lebih rendah

Jenis-jenis Inovasi Produk


Menurut Setiadi (2019:304—305), ada beberapa jenis inovasi
produk, yaitu sebagai berikut.
1) Inovasi berkelanjutan, yaitu mengubah produk yang telah ada dan
tidak menciptakan produk baru.
2) Inovasi berkelanjutan yang dinamis, yaitu penciptaan produk baru
atau perubahan produk yang telah ada, biasanya tidak mengubah
kebiasaan membeli dan penggunaan produk konsumen yang sudah
baik.
3) Inovasi terputus, yaitu produk yang benar-benar baru yang
memotivasi pembeli untuk mengubah perilaku konsumen mereka
secara signifikan.

Tujuan Inovasi Produk


Dalam menghasilkan sebuah produk, pelaku usaha diharapkan
agar selalu menciptakan inovasi produk dengan tujuan yang akan
dicapainya. Menurut Sudarmanto, dkk. (2022:54—56) terdapat
beberapa tujuan dari inovasi produk, yaitu sebagai berikut.
1) Meningkatkan Kualitas Produk
Seiring berjalannya waktu, produk yang diproduksi sebuah
perusahaan akan menjadi ketinggalan zaman dan tidak memenuhi
kebutuhan konsumen. Oleh karena itu, bagi perusahaan yang
berfokus pada jangka panjang yang selalu berorientasi pada kualitas,
perlu melakukan inovasi produk untuk meningkatkan kualitas dan
keunggulan produk agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen
saat ini. Konsumen cenderung lebih suka membeli produk yang
berkualitas dan akan melakukan pembelian lebih sering.
2) Memenuhi Kebutuhan Konsumen
Produk kreatif dan inovatif akan selalu bertahan dan dapat
memenangkan hati konsumen. Hal tersebut mendorong perusahaan
untuk melakukan inovasi pada produknya yang mampu memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen sesuai dengan tuntutan dan
harapan konsumen.
3) Menciptakan Pasar Baru di Masyarakat
Inovasi produk memengaruhi pengembangan pasar baru
sehingga memengaruhi laba perusahaan. Semakin banyak inovasi
produk yang ditawarkan, maka akan termotivasi untuk menjangkau
lebih banyak target pasar.
4) Pengembangan dan Penerapan Pengetahuan
Penerapan pengetahuan dan pengaplikasian pengetahuan
perusahaan dapat dikembangkan dan diimplementasikan dengan
tuntutan pembaharuan perkembangan ilmu pengetahuan terkini
melalui pembelajaran dan penambahan wawasan, sehingga pelaku
usaha dapat mengimplementasikan produk yang diproduksinya
dalam jangka panjang.
5) Mengubah atau Mengganti Produk
Pelaku usaha dapat melakukan perubahan produk yang sudah
usang dan tidak dapat dikembangkan lagi. Dimana, produk yang
tidak sesuai ditolak dan diganti dengan produk yang lebih baik.
6) Meningkatkan Efisiensi Produk
Inovasi produk dilakukan untuk meningkatkan efisiensi
produk agar pekerjaan dilakukan dengan benar, terarah, dan tanpa
menghabiskan banyak waktu. Sehingga, produk yang dihasilkan
mudah digunakan dan harganya terjangkau.
7) Meningkatkan Branding Perusahaan
Inovasi produk memiliki potensi untuk memperkuat citra
merek perusahaan. Konsumen dapat lebih mudah mengingat nama
produk dan dengan demikian meningkatkan branding perusahaan

Pengertian Inovasi Produk


Menurut Sudarmanto, dkk. (2022:52), inovasi produk adalah
strategi yang dijalankan oleh pengusaha untuk memperbaiki,
menyempurnakan, mengembangkan, dan melengkapi produk yang telah
diproduksi sebelumnya.
Menurut Prasetyo (2018:37), inovasi produk adalah sumber
inspirasi baru yang menarik, sehingga seseorang dapat secara sadar
mengajukan inovasi dengan tujuan pembangunan dan strategi yang
menarik.
Menurut Jauhari (2020:227), inovasi produk adalah promosi
keistimewaan produk yang dapat menjadikan produk lebih unggul
daripada pesaingnya, jika produk memiliki keunggulan, maka akan
menciptakan nilai tambah bagi konsumen.
Menurut Setiadi (2019:304), inovasi produk adalah konsep,
tindakan, atau objek yang memiliki perbedaan kualitatif dari bentuk
yang telah ada dalam hal keunggulan komparatif, kesesuaian,
kompleksitas, ketercobaan, dan visibilitas.
Menurut Setyabudi dan Suranto (2018:116), inovasi produk
merupakan tahap penciptaan ide untuk barang dan jasa, termasuk
melakukan perubahan atau penambahan beberapa fitur utama yang telah
ada

Keputusan Pembelian


Konsumen umumnya dihadapkan dengan berbagai pilihan saat
membeli suatu produk barang maupun jasa yang ditawarkan untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Dalam menghadapi banyaknya
berbagai pilihan tersebut, konsumen akan mempertimbangkan keputusan
untuk membeli atau tidaknya suatu produk.
a. Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Islamey dan Maskur (2023:767), keputusan pembelian
adalah proses pengambilan keputusan saat hendak melakukan
pembelian berdasarkan keinginan dan kebutuhan konsumen, dengan
tujuan konsumen merasa puas terhadap produk yang dibelinya.
Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Pramana dan Soebiantoro
(2023:988), keputusan pembelian adalah pilihan antara dua atau lebih
pilihan alternatif, dimana seseorang perlu memiliki berbagai pilihan
alternatif pada saat pengambilan keputusan.
Menurut Tjiptono dalam Sari dan Soebiantoro (2022:854),
keputusan pembelian merupakan upaya konsumen dalam mencari
informasi dan menilai kemampuan suatu produk atau merek untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Menurut Kotler dalam Shalihah et al. (2021:88), keputusan
pembelian merupakan tindakan dimana konsumen secara sungguh-
sungguh memilih untuk membeli dan mengkonsumsi barang atau jasa
tertentu dari beragam opsi alternatif yang tersedia.
Menurut Aini dan Andjarwati (2020:21), keputusan pembelian
merupakan suatu proses dimana konsumen menghadapi berbagai
pilihan, lalu membuat keputusan untuk membeli penawaran produk
tersebut.

Tahap-tahap Pengendalian Kualitas dengan Six Sigma DMAIC


Menurut Gaspersz (2002:8), metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve,
Control) merupakan proses untuk peningkatan terus menerus menuju target six sigma
dengan mengurangi kecacatan. Metode DMAIC memiliki lima langkah utama, yaitu:

  1. Define
    Tahap define merupakan langkah operasional pertama dalam program
    peningkatan kualitas six sigma. Pada tahap ini kita perlu mendefinisikan beberapa hal
    yang terkait dengan :
    a. Kriteria pemilihan proyek six sigma
    b. Peran dan tanggung jawab dari orang – orang yang akan terlibat dalam proyek six
    sigma
    c. Kebutuhan pelatihan untuk orang – orang yang terlibat dalam proyek six sigma
    d. Proses – proses kunci dalam proyek six sigma beserta pelanggannya
    e. Kebutuhan spesifik dari pelanggan
    f. Pernyataan tujuan proyek six sigma
  2. Measure
    Measure merupakan langkah operasional kedua dalam program peningkatan
    kualitas six sigma. Tahap ini dilakukan dengan memilih dan mengidentifikasi
    karakteristik kualitas dalam suatu produk, mengembangkan rencana pengumpulan data
    melalui pengukuran yang dapat dilakukan pada tingkat proses, output, atau outcome,
    dan menyediakan sebuah kesimpulan untuk sebuah evaluasi yang dilakukan untuk
    beberapa karakteristik yang didasarkan pada pengumpulan data observasi.
    Menurut Gaspersz (2002:96), Pengukuran karakteristik kualitas dapat dilakukan
    pada tiga tingkat yaitu:
    a. Pengukuran pada tingkat proses (Process level) adalah mengukur setiap langkah
    atau aktivitas dalam proses dan karakteristik kualitas input yang diserahkan oleh
    pemasok yang mengendalikan dan mempengaruhi karakteristik kualitas output
    yang diinginkan.
    b. Pengukuran pada tingkat output (Output level) adalah mengukur karakteristik
    kualitas output yang dihasilkan dari suatu proses dibandingkan terhadap
    spesifikasi karakteristik kualitas yang diinginkan oleh pelanggan.
    c. Pengukuran pada tingkat outcome (Outcome level) adalah mengukur bagaimana
    baiknya suatu produk (barang dan/atau jasa) itu memenuhi kebutuhan spesifik dan
    ekspektasi rasional pelanggan. Pengukuran pada tingkat outcome merupakan
    tingkat tertinggi dalam pengukuran kinerja kualitas

Tujuan Pengendalian Kualitas


Manajemen perusahaan di dalam kegiatannya mengendalikan kualitas berusaha
agar produknya sesuai dengan apa yang telah ditentukan. Dengan melaksanakan
pengendalian kualitas mengandung beberapa tujuan (Assauri, 1993:274), yaitu :

  1. Agar output dapat mencapai standar mutu yang telah ditetapkan
  2. Mengusahakan agar biaya inspeksi menjadi rendah
  3. Mengusahakan agar biaya desain produk dan proses menjadi rendah
  4. Mengusahakan agar biaya kualitas menjadi rendah

Pengertian Pengendalian Kualitas


Pengertian pengendalian kualitas menurut Cawley dan Harrold dalam Ariani
(2004:54) merupakan teknik penyelesaian masalah yang digunakan untuk memonitori,
mengendalikan, menganalisis, mengelola dan memperbaiki produkdengan
menggunakan metode-metode yang dianjurkan. Sedangkan pengendalian kualitas
menurut Goetch dan Davis dalam Ariani (2004:4) adalah suatu kondisi dinamis yang
berkaitan produk pelayanan, orang, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melatih
apa yang diharapkan. Kegiatan pengendalian itu sendiri dilaksanakan dengan cara
memonitor keluaran (output), membandingkan dengan standar, menafsirkan perbedaan-
perbedaan dan mengambil tindakan-tindakan untuk menyesuaikan kembali proses-
proses itu sehingga sesuai dengan standar. Dalam kegiatan pengendalian kulitas tersebut
tidak hanya meliputi penetapan standar produk atau proses dari pihak produsen
melainkan standar yang ditetapkan prodisen tersebut juga harus sesuai dengan
spesifikasi atau toleransi yang ditetapkan oleh pihak konsumen

DEFINISI KUALITAS


Menurut Garvin (1988:217), kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan
yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan
konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus
berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut diperlukan
perubahan peningkatan ketrampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas,
serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi
harapan konsumen.
Definisi kualitas menurut ISO 8402 dan dari Standar Nasional Indonesia (SNI 19-
8402-1991), kualitas adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa
yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan
secara tegas maupun tersamar. Konsep kualitas harus bersifat menyeluruh, baik bahan
baku, produk maupun proses (proses produksi, distribusi, dan jasa). Kualitas
memerlukan suatu proses perbaikan yang terus-menerus (continuous improvement
process) yang dapat diukur dengan dukungan manajemen, karyawan, dan pemerintah.

Kualitas Produk


Kepuasan konsumen dapat diukur akan kualitas produk yang berikan organisasi
atau perusahaan dari produk yang dihasilkan. Dasar kualitas produk berupa
kelebihan yang dimiliki pada sebuah produk dengan memiliki beberapa keunikan
yang digunakan sebagai pemikat keinginan pembelian. Kualitas produk dapat
dipengaruhi dari:
a. Material
Material yang digunakan akan dapat mempengaruhi kualitas dari produk.
Pemilihan dari material dalam membuat produk dari pesanan konsumen akan
mempengaruhi dari harga dan umur produk, sehingga kualitas dari produk
dapat diketahui secara langsung dari segi penggunaan material yang
diimplementasikan pada produk.
b. Pekerja
Pekerja merupakan seseorang yang membuat dan memproduksi produk.
Adanya sumber daya manusia yang kurang terlatih dapat menjadikan produk
memiliki defect yang dapat diketahui oleh konsumen. Namun, dengan sumber
daya manusia yang mumpuni dapat menjadikan konsumen puas dari produk
yang dihasilkan dan meminimalkan terjadinya defect saat memproduksi produk.
c. Lingkungan
Berdasarkan faktor lingkungan dapat mempengaruhi dari kualitas produk.
Faktor lingkungan yang mendukung saat dilakukan pemroduksian. Menjadikan
produk memiliki kualitas, keunikan, dan keunggulan tersendiri. Namun, dengan
lingkungan yang tidak mendukung dapat menyebabkan ketidakseimbangan
bekerja saat memproduksi produk. Contoh aspek lingkungan terdiri dari beban
dan tekanan pekerja, kebersihan lingkungan kerja, menunjangnya faktor tools
dan machine yang dapat memberikan produk sesuai dengan desain
perancangan.
d. Mesin
Mesin digunakan sebagai alat bantu dalam memproduksi produk. Penggunaan
jenis mesin saat memproduksi menyesuaikan kebutuhan dan fungsi saat
membuat produk yang diinginkan. Mesin yang mendukung saat membuat
produk dapat meminimalkan terjadinya kerusakan dan defect pada produk.
e. Metode
Kualitas produk diukur dari metode yang digunakan oleh pekerja. Metode
adalah tata cara atau prosedur yang digunakan dalam organisasi atau
perusahaan saat memproduksi produk. Penerapan metode dapat menjadikan
tercapainya tujuan yang dimaksud dalam memproduksi produk. Karena dengan
metode yang baik dan terencana dapat mempermudah pekerja dan
berpengaruh akan efisiensi waktu serta cost saat produksi

Kualitas


Mitra (2016) menyebutkan kualitas sebagai tanda yang digunakan untuk
mengidentifikasi keunggulan dari produk, layanan, dan jasa. Kualitas dapat
memberikan tingkat harapan menyesuaikan ekspektasi penggunaan yang
diinginkan konsumen, sedangkan Walujo dkk (2020) menyebutkan kualitas
digunakan sebagai pendukung untuk melakukan persaingan dari kompetitor di
perusahaan atau organisasi dan memberikan jaminan kepada konsumen. Kualitas
dapat memberikan keterkaitan dari pengaruh yang tidak hanya dapat dirasakan
konsumen. Namun, dapat membawa persepsi positif terhadap perusahaan dari
konsumen yang disebabkan adanya kepercayaan. Garvin (1984) menyebutkan
aspek kualitas memiliki 8 kerangka sebagai penentu kualitas yang terdiri dari:
a. Kinerja (Performance)
Kinerja dapat berupa karakteristik operasi saat pembuatan produk. Sebagai
contoh kinerja dapat dilihat pada kecepatan, kemudahan, dan kenyamanan
penggunaan.
b. Fitur (Features)
Fitur adalah ciri pelengkap dan penunjang penggunaan produk yang dapat
dimanfaatkan. Aspek penentu kualitas dari fitur tersebut memiliki sifat sebagai
pelengkap.
c. Keandalan (Reliability)
Keandalan dapat dari potensi yang rendah dari produk yang dapat mengalami
kerusakan selama pemakaian. Sebaliknya, jika produk memiliki potensi yang
tinggi dalam kerusakan. Dapat disimpulkan produk memiliki keandalan yang
kurang baik.
d. Kesesuaian (Conformance)
Kesesuaian yaitu spesifikasi produk agar dapat menyesuaikan standar tertentu.
Kesesuaian berkaitan dengan ketepatan yang harus dipenuhi dari harapan
konsumen.
e. Daya Tahan (Durability)
Daya tahan sebagai aspek penentu kualitas yang berpengaruh terhadap usia
pemakaian yang layak. Daya tahan dapat dikaitkan dengan kekuatan produk
dalam penggunaannya. Karena kekuatan menjadi pengaruh dari kerangka
kualitas.
22
f. Kemudahan Service (Serviceability)
Kemudahan dari pelayanan dapat berupa penanganan keluhan yang
diharapkan konsumen, kecepatan, kompetensi dari pekerja, dan kenyamanan.
g. Estetika (Aesthetics)
Estetika adalah daya tarik produk untuk dapat memikat hati keinginan
konsumen untuk dapat membeli sebuah produk. Kerangka estetika kualitas
produk berpengaruh mengenai desain dan dapat dilihat secara langsung
menggunakan mata.
h. Persepsi Kualitas (Perceived Quality)
Persepsi kualitas mempengaruhi 7 kerangka kualitas yang menjadikan
keunggulan dari produk atau layanan. Persepsi kualitas dapat berupa komentar
dan review seseorang mengenai produk yang dibeli

Kualitas Produk


Menurut (Kotler dan Armstrong, 2008 dalam Fatmawati dan Soliha,
2017) bahwa kualitas produk adalah salah satu faktor yang paling
diandalkan oleh seorang pemasar dalam memasarkan suatu produk.
(Oentoro, 2010 dalam Fatmawati dan Soliha, 2017) kualitas produk
adalah hal yang perlu mendapat perhatian utama dariperusahaan atau
produsen, mengingat kualitas suatu produk berkaitan erat dengan
kepuasan konsumen, yang merupakan tujuan dari kegiatan pemasaran
yang dilakukan perusahaan. Dapat disimpulkan kualitas produk adalah
suatu kondisi dinamis yang saling berhubungan meskipun dapat
memiliki definisi yang berbeda tetapi produk pada intinya memiliki
suatu spesifikasi terhadap suatu barang atau jasa yang dapat
menimbulkan kepuasan yang memenuhi atau melebihi harapan bagi
konsumen yang menggunakannya.
Menurut (Stanton, 2004 dalam Fatmawati dan Soliha, 2017), artinya
suatu produk adalah kumpulan dari atribut atribut yang nyata maupun
tidak nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan
merk ditambahdengan jasa dan reputasi penjualannya. Menurut
(Tjiptono, 1999 dalam Fatmawati dan Soliha, 2017) secara konseptual
produk adalah pemahaman subyektif dariprodusen atas “sesuatu” yang
bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi
melaluipemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan
kompetensi dan kapasitas organisasiserta daya beli.
Menurut (Kotler, 2000 dalam Fatmawati dan Soliha, 2017)
mengungkapkan ada tujuh dimensi kualitas produk, yaitu :
a. Performance (kinerja)
Kinerja merupakan karakteristik atau fungsi utama suatu produk. Ini
manfaat atau khasiat utama produk yang kita beli. Biasanya ini
menjadi pertimbangan pertama kita dalam membeli suatu produk.
b. Feature (keistimewaan)
Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan berbagai
keistimewaan seperti karakteristik yang melengkapi fungsi dasar
produk.
c. Reliability (kehandalan)
Ukuran kemungkinan sebuah proyek tak akan rusak atau gagal
dalam suatu periode tertentu. Pembeli pada umumnya akan
membayar lebih demi mendapatkan suatu produk yang diandalkan.
d. Conformance (mutu kinerja)
Mutu kinerja mengacu pada level dimana karakteristik dasar produk
itu beroperasi. Sebagian besar produk ditetapkan pada level kerja,
yaitu : rendah, rata-rata, tinggi, dan super.
e. Durability (daya tahan)
Suatu ukuran operasi yang diharapkan dalam kondisi normal atau
berat. Daya tahan merupakan atribut berharga dalam menawarkan
sebuah produk.
f. Serviceability (pelayanan)
Karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan kompetensi,
kemudahan dan akurasi dalam memberikan pelayanan untuk
perbaikan barang.
g. Estetika (keindahan / gaya)
Merupakan karakteristik yang subjektif mengenai nilai-nilai estetika
yang berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi serta
prefensi individu

Promosi


Menurut (Lupiyoadi, 2013 dalam Christian, dkk, 2019), promosi
merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat
penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk jasa.
Kegiatan bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara
perusahaan dan konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk
mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan
jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.
Menurut (Herlambang, 2014 dalam Christian, dkk, 2019), dengan
promosi menyebabkan orang yang sebelumnya tidak tertarik untuk
membeli suatu produk akan menjadi tertarik dan mencoba produk
sehingga konsumen melakukan pembelian.
Menurut (Setiyaningrum et.al, 2015 dalam Christian, dkk, 2019),
promosi berperan menginformasikan (to inform), membujuk (to
persuade), dan mengingatkan (to remind) konsumen agar menanggapi
(respond) produk atau jasa yang ditawarkan. Tanggapan yang
diinginkan dapat berbagai bentuk, dari kesadaran (awareness) akan
keberadaan produk atau jasa sampai pembelian sebenarnya

Harga


Pengertian harga menurut (Peter dan Olson, 2000 dalam Rasyid dan
Indah, 2018) adalah kondisi dimana konsumen harus menyerahkan
sesuatu untuk membeli produk atau jasa. Sedangkan menurut (Lamarto,
2006 dalam Rasyid dan Indah, 2018) harga adalah jumlah nilai
(kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk
memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang
menyertainya.
Selanjutnya pengertian harga menurut (Kotler dan Simamora, 2003
dalam Rasyid dan Indah, 2018) harga adalah nilai yang dipertukarkan
konsumen untuk suatu manfaat atas pengkonsumsian, penggunaan atau
kepemilikan barang atau jasa. Sedangkan harga menurut Swastha
(1984) adalah sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari barang serta pelayanan.
Ada 4 hal yang mencirikan harga menurut pendapat (Stanton, 1998
dalam Rasyid dan Indah, 2018) yaitu :
a. Keterjangkauan harga
Artinya konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh
perusahaan. Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek,
dan harganya juga berbeda dari termurah sampai termahal.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen.
Orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang
karena melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi
orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik
c. Daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan
produk lainnya. Mahal murahnya harga suatu produk sangat
dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli suatu
produk.
d. Kesesuaian harga dengan manfaat
Semakin tinggi manfaat yang dirasakan oleh konsumen dari barang
atau jasa tertentu, semakin tinggi pula nilai tukar barang atau jasa
tersebut, semakin besar pula alat penukar yang tersedia yang
dikorbankan konsumen.

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan suatu proses pengambilan
keputusan akan pembelian yang mencakup penentuan apa yang akan
dibeli atau tidak melakukan pembelian dan keputusan itu diperoleh dari
kegiatan-kegiatan sebelumnya (Assauri, 2004 dalam Rasyid dan Indah,
2018). Sedangkan keputusan pembelian menurut (Sutisna , 2002 dalam
Rasyid dan Indah, 2018), adalah pengambilan keputusan oleh
konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk diawali oleh
adanya kesadaran atas pemenuhan kebutuhan dan keinginan yang oleh
Assael disebut need arousal.
Keputusan pembelian konsumen merupakan keputusan pembelian
konsumen akhir perorangan dan rumah tangga yang membeli barang
dan jasa untuk konsumsi pribadi (Kotler, 2009 dalam rasyid dan indah,
2018), sedangkan menurut (Kotler dan Armstrong, 2012 dalam Rasyid
dan Indah, 2018), keputusan pembelian adalah membeli merek yang
paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain. Faktor
kedua adalah faktor situasional yang tidak diharapkan.
Pada saat konsumen membeli sebuah produk, umumnya konsumen
mengikuti suatu proses atau tahapan dalam pengambilan keputusan.
Menurut (Kotler, 2008 dalam Rasyid dan Indah, 2018), terdapat 5
tahapan proses pembelian, yakni :
a. Pengenalan kebutuhan
adalah tahapan pertama proses keputusan pembeli, dimana
konsumen menyadari suatu masalah atau kebutuhan.
b. Pencarian informasi
adalah tahap proses keputusan pembeli, dimana konsumen ingin
mencari informasi lebih banyak, konsumen mungkin hanya
memperbesar perhatian atau melakukan pencarian informasi secara
aktif.
c. Evaluasi alternatif
adalah tahap proses keputusan pembeli, dimana konsumen
menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dlam
sekelompok pilihan.
d. Keputusan pembelian
keputusan pembeli tentang merek mana yang di beli.
e. Perilaku pasca pembelian
Tahap proses keputusan pembelian dimana konsumen mengambil
tindakan selanjutnya setelah pembelian, berdasarkan kepuasan
mereka atau ketidakpuasan mereka

Indikator Keputasan Pembelian


Menurut Swastha dan Irawan (2000) dalam Tousalwa (2017:22) Indikator
keputusan pembelian adalah sebagai berikut:

  1. Keputusan tentang jenis produk, konsumen dapat mengambil
    keputusan tentang jenis produk apa yang akan dibeli.
  2. Keputusan tentang merek, konsumen harus mengambil keputusan
    tentang merek apa yang akan dibeli.
  3. Keputusan tentang penjualannya, konsumen harus mengambil
    keputusan tentang dimanan produk akan dibeli.
  4. Keputusan tentang jumlah produk, konsumen dapat mengambil
    keputusan seberapa banyak produk yang akan diambilnya.
  5. Keputusan tentang waktu pembelian, konsumen dapat mengambil
    keputusan tentang kapan harus melakukan pembelian.

Pengertian Keputusan Pembelian


Dalam buku Schiffman dan Kanuk (2010), sebuah keputusan adalah
pemilihan terhadap sebuah pilihan terhadap dua atau lebih alternatif pilihan.
Dengan kata lain, bagi seseorang untuk membuat sebuah pilihan, pilihan
alternatif harus ada. Ketika seseorang memiliki sebuah pilihan antara
membeli atau tidak membeli, sebuah pilihan antara brand X ataupun brand Y,
atau pilihan untuk melakukan A atau B, orang tersebut berada dalam posisi
untuk membuat suatu keputusan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2001:226) keputusan pembelian adalah
tahap dalam proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen
benar-benar membeli.
Menurut Swastha (2003:51) keputusan pembelianadalah tindakan nyata
dan merupakan mutu tindakan yang meliputi keputusan tentang jenis produk,
merek, harga, kualitas, waktu pembelian dan cara pembayaran

Manfaat Brand Image


Hasan menyebutkan (2013:215), manfaat brand image terbagi dua,
yaitu:

  1. Manfaat bagi pelanggan Ada tiga alasan sekaligus manfaat penting bagi
    pelanggan dari sebuah merek yang memiliki citra positif:
    a. Sebuah merek yang kuat akan memudahkan konsumen untuk
    mengevaluasi, menimbang dan membuat keputusan membeli dari
    semua rincian nilai-nilai yang terkait dengan kinerja produk, harga,
    pengiriman, garansi dan lain-lain.
    b. Sebuah merek yang kuat membuat pelanggan merasa percaya diri
    dalam pilihan mereka, menyederhanakan pilihan sehari-hari (untuk
    kebutuhan dasar).
    c. Sebuah merek yang kuat membuat pelanggan merasa lebih puas
    dengan pembelian mereka, memberikan manfaat dan ikatan emosional
    (untuk produk perawatan pribadi).
  2. Manfaat bagi produsen atau perusahaan
    a. Harga premium, sebuah merek dengan citra positif akan menciptakan
    margin yang lebih besar dan walaupun ada tekanan untuk menjual
    dengan harga rendah atau menawarkan diskon, akan tetapi relatif tidak
    atau kurang rentan terhadap kekuatan kompetitif.
    b. Klaim produk, sebuah merek dengan citra yang kuat akan
    menciptakan orang-orang melakukan permintaan secara khusus, orang
    akan mencari merek yang mereka inginkan.
    c. Kompetitif partier, sebuah merek yang kuat mampu bertindak sebagai
    penghalang untuk beralih ke produk lain.
    d. Komunikasi pemasaran lebih diterima, perasaan positif tentang suatu
    merek akan mengakibatkan orang mampu menerima klaim baru
    terhadap kinerja produk dan mereka akan welcome, sehingga lebih
    mudah dibujuk untuk membeli lebih banyak.
    e. Pengembangan merek, sebuah merek yang terkenal menjadi platform
    untuk pengembangan/menambah produk baru kerena beberapa aspek
    dari citra positif yang berpengaruh dan membantu dalam peluncuran
    produk baru.
    f. Kepuasan pelanggan, sebuah citra positif akan memberikan tingkat
    kepuasan pelanggan ketika mereka menggunakan produk. Mereka
    akan merasa lebih yakin membelinya. Pelanggan tidak menemukan
    alasan untuk membeli merek lain atau dari pemasok lain.
    g. Jaringan distribusi, sebuah merek yang kuat lebih mudah dijual ke
    pedagang grosir dan distributor yang sangat responsif terhadap apa
    yang diinginkan oleh pelanggan mereka.
    h. Perizinan dan peluang, sebuah merek yang kuat dapat mendukung
    transaksi usaha patungan atau mengizinkan merek dilisensikan untuk
    digunakan dalam aplikasi baru atau di negara lain (terbuka bagi semua
    orang atau negara manapun).
    i. Nilai harga jual yang lebih tinggi, sebuah perusahaan dengan nama
    merek-goodwill yang baik akan mendapatkan premi yang lebih tinggi
    jika akan dijual.

Pengertian Brand Image


Dalam Buku Tjiptono (2005:49) brand image merupakan deskripsi
tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu.
Kotler dan Amstrong dalam Firmansyah (2019:61), citra merek (brand
image) adalah seperangkat keyakinan konsumen merek tertentu.

Pengertian Brand (Merek)


Menurut American Marketing Association (AMA) dala Kotler (1997),
Merek yaitu nama, istilah, tanda, simbol, atau desaain atau panduam dari hal-
hal tersebut yang dimaksudkan untuk memberikan identitas bagi barang atau
jasa yang dibuat atau disediakan suatu penjual atau kelompok penjual serta
membedakannya dari barang atau jasa yang disediakan pesaing.
Stanton dan Lamarto juga berpendapat (1994:269) merek adalah nama,
istilah, simbol, atau sedain khusus, atau beberapa kombinasi unsur-unsur
yang dirancang untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan
penjual.

Dimensi Kualitas Produk


Orville, Larreche, dan Boyd (2005), Apabila perusahaan ingin
mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus
mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk
membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing.
Kotler dan Keller (2009) mengatakan, ada sembilan dimensi kualitas
produk seperti berikut ini:
a. Bentuk (form), meliputi ukuran, bentuk, atau struktur produksi.
b. Fitur (feature), karakteristik produk yang menjadi pelengkap
fungsi dasar produk.
c. Kualitas kinerja (performance quality), adalah tingkat dimana
karakteristik utama produk beroperasi.
d. Kesaan kualitas (perceived quality) sering dibilang merupakan
hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak
langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak
mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang
bersaangkutan.
e. Ketahanan (durability), ukuran umur operasi harapan produk
dalam kondisi biasa atau penuh tekanan, merupakan atribut
berharga untuk produk-produk tertentu.
f. Keandalan (reliability), adalah ukuran probabilitas bahwa
produk tidak akan mengalami malfungsi atau gagal dalam waktu
tertentu.
g. Kemudahan perbaikan (repairability), adalah ukuran
kemudahan perbaikan produk ketika produk itu tak berfungsi
atau gagal.
h. Gaya (style), menggambarkan penapilan dan rasa produk kepada
pembeli.
i. Desain (design), adalah totalitas fitur yang mempengaruhi
tampilan, rasa, dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan
palanggan

Pengertian Kualitas Produk


Pendapat dari Prawirosentono (2004), kualitas produk adalah keadaan
fisik, fungsi dan sifat produk bersaangkutan yang dapat memenuhi selera dan
kebutuhan konsumen dengan memuaskan sesuai nilai uang yang telah
dikeluarkan.
Goetdch dan Davis (2002) berkata, kualitas produk merupakan suatu
kondisi dinamis yang berhubungan dengan barang, jasa, manusia, produk, dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.

Pengertian Produk


Menurut Kotler (1995:508) produk merupakan apa saja yang dapat di
tawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, atau dikonsumsi yang dapat
memenuhi keinginan dan kebutuhan.

Bauran Pemasaran


Menurut Daryanto (2011:20) “Bauran pemasaran merupakan perangkat
alat pemasaran taktis yang dapat dikendalikan yang dipadukan oleh
perusahaan untuk menghasilkan respons yang diinginkan dalam pasar
sasaran”.
Adapun bauran pemasaran yang terdiri dari 4 unsur menurut Daryanto
(2011:20), sebagai berikut:

  1. Produk (Product), merupakan kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan
    oleh perusahaan kepada pasar sasaran.
  2. Harga (Price) yaitu jumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk
    memperoleh produk.
  3. Tempat (Place), merupakan tempat meliputi kegiatan perusahaan yang
    membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran
  4. Promosi (Promotion), merupakan aktivitas yang mengkomunikasikan
    keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya.

Pengertian Pemasaran


Jenahar (2009:1), menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu kegiatan
yang mengusahakan agar produk yang dipasarkan dapat diterima dan
disenangi oleh pasar. Produk yang diterima pasar, berarti produk laku dijual.
Sebelum dapat diterima terlebih dahulu produk tersebut harus dikenal. Tanpa
dikenal produk tak akan diterima apalagi disenangi.
Sedangkan menurut Swastha dan Irawan (2011:5), pemasaran adalah
salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang, dan
mendapatkan laba”

Pengandalian Kualitas dengan Metode New Seven Tools


Seven New Quality Tools merupakan pendekatan yang dikembangkan untuk
mengatasi keterbatasan dari Seven Basic Quality Tools. Menurut Fakhrudin (dalam
Handika dan Barnadi, 2017), New Seven Tools adalah seperangkat alat yang digunakan
untuk menganalisis permasalahan secara lebih mendalam guna mendukung proses
pengambilan keputusan dan meningkatkan koordinasi dalam tim kerja. Metode ini
dimanfaatkan untuk memetakan lingkup persoalan, menyusun diagram berbasis data,
menelusuri potensi penyebab suatu masalah, serta memperjelas fakta yang berkaitan
dengan isu yang dihadapi.
Ciri khas dari pendekatan ini mencakup pengolahan serta pengumpulan data
dalam bentuk verbal, pengembangan gagasan, hingga penyusunan rencana strategis.
Penerapan New Seven Tools berkontribusi dalam mengoptimalkan proses produksi dan
efisiensi biaya. Alat yang termasuk dalam metode ini antara lain Affinity Diagram,
Interrelationship Diagram, Tree Diagram, Arrow Diagram atau Activity Network
Diagram, serta Process Decision Program Chart (PDPC)

Prinsip Kualitas


Penerapan manajemen kualitas sangatlah penting bagi setiap perusahaan, terlepas
dari skala operasionalnya, baik yang berskala lokal, nasional bahkan internasional.
Manajemen sebagai suatu proses melalui kegiatan perusahaan atau organisasi dalam
mencapai tujuan yang telah direncanakan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip yang
relevan. Sistem jaminan kualitas menjadi topik utama diskusi, penelitian dan
pengembangan di kalangan para ahli internasional.
Menurut Julyanthry (2020:124), Versi ISO menitik beratkan dalam 8 (delapan)
prinsip kualitas, antara lain :

  1. Fokus pada pelanggan.
  2. Kepemimpinan.
  3. Partisipasi aktif seluruh personel.
  4. Pendekatan proses.
  5. Pendekatan sistem dalam manajemen.
  6. Peningkatan yang berkelanjutan.
  7. Pendekatan faktual dalam pengambilan keputusan.
  8. Kemitraan dengan pemasok yang memberikan manfaat timbal balik

Faktor yang mempengaruhi kualitas


Kesesuaian kualitas suatu produk dengan standar yang telah ditetapkan suatu
perusahaan terkadang memiliki bervariasi. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa faktor
yang memengaruhi kualitas suatu produk, yang mana faktor tersebut dapat
mempengaruhi suatu produk dapat memenuhi standar atau parameter yang telah
ditetapkan oleh perusahaan. Menurut Harjadi (2021:35) kualitas suatu produk dapat
dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :

  1. Fungsi suatu produk : Fungsi produk digunakan untuk tujuan apa.
  2. Wujud luar : Wujud yang dimiliki suatu produk tidak hanya dilihat dari bentuknya,
    tetapi juga dari warna dan kemasannya.
  3. Biaya produk : Memperhitungkan pengeluaran biaya dalam memperoleh suatu
    barang, perlu disertai biaya untuk barang itu sampai kepada konsumen.
    Kualitas dipengaruhi oleh 9 faktor (Gunawan, 2022), diantaranya sebagai berikut :
  4. Pasar (Market)
    Pasar mengalami pertumbuhan eksplosif dalam jumlah produk baru dan berkualitas.
    Konsumen diyakinkan akan ketersediaan suatu produk yang memenuhi berbagai
    kebutuhan mereka. Saat ini, konsumen mengharapkan produk yang lebih unggul. Pasar
    berkembang secara luas dan khusus dalam penawaran produk. Dengan meningkatnya
    jumlah perusahaan dan terbukanya pasar internasional. Bisnis dituntut untuk lebih
    fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan cepat.
  5. Uang (Money)
    Tekanan persaingan dan gejolak ekonomi dunia telah menyebabkan penurunan
    margin keuntungan. Sementara itu, kebutuhan akan otomatisasi dan investasi teknologi
    meningkatkan pengeluaran yang cukup besar. Investasi pabrik yang besar, yang
    membutuhkan peningkatan produktivitas, sering kali terhambat oleh produk cacat dan
    pengerjaan berulang. Hal ini mendorong pihak manajemen untuk memperhatikan biaya
    kualitas sebagai area untuk mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan.
  6. Manajemen (Management)
    Tanggung jawab kualitas kini terbagi dalam beberapa kelompok. Bagian pemasaran
    menentukan spesifikasi produk, bagian perancangan membuat desain yang memenuhi
    spesifikasi, bagian produksi meningkatkan proses produksi, dan bagian pengendalian
    kualitas memastikan hasil akhir sesuai standar yang telah ditentukan. Layanan purna
    jual juga menjadi bagian penting. Hal ini mempersulit manajemen puncak dalam
    menentukan tanggung jawab untuk mengoreksi penyimpangan kualitas.
  7. Manusia (Man)
    Seiring dengan pesatnya kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
    kemunculan disiplin-disiplin baru seperti komputer elektronik, terjadi peningkatan
    signifikan terhadap kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan pengetahuan
    spesifik. Kondisi ini juga mendorong munculnya permintaan akan insinyur sistem yang
    mampu menyatukan berbagai bidang keahlian untuk merancang, mengembangkan, dan
    mengoperasikan sistem yang mampu menjamin pencapaian hasil sesuai harapan.
  8. Motivasi (Motivation)
    Studi mengenai motivasi manusia menunjukkan bahwa pekerja saat ini, selain
    kompensasi berupa uang, mereka juga membutuhkan pengakuan atas pencapaian dan
    kontribusi mereka terhadap tujuan perusahaan. Hal ini menuntut peningkatan
    pendidikan kualitas dan komunikasi yang lebih baik tentang kesadaran kualitas.
  9. Bahan (Material)
    Faktor biaya produksi dan persyaratan kualitas yang semakin meningkat telah
    mendorong para ahli teknik dalam memilih bahan dengan parameter yang lebih spesifik
    dari pada sebelumnya. Konsekuensinya, semakin ketatnya pemilihan spesifikasi bahan
    dan variasi bahan yang tersedia menjadi lebih luas.
  10. Mesin dan Mekanik (Machine and Mecanization)
    Upaya perusahaan dalam menurunkan biaya dan meningkatkan volume produksi
    untuk memenuhi permintaan pelanggan telah mendorong penggunaan peralatan pabrik
    yang lebih kompleks dan bergantung pada kualitas bahan baku. Kualitas bahan baku
    yang baik menjadi kunci untuk menjaga operasional mesin dan memaksimalkan
    penggunaan fasilitas.
  11. Metode Informasi Modern (Modern Information Metode)
    Kemajuan teknologi komputer telah memungkinkan proses pengumpulan,
    penyimpanan, pengambilan, dan pengolahan informasi dalam skala yang sangat luas.
    Saat ini, teknologi informasi telah menjadi sarana untuk mengendalikan peralatan,
    proses produksi, hingga distribusi produk ke tangan konsumen. Inovasi dalam metode
    pengolahan data memberikan kemampuan dalam mengelola informasi yang relevan,
    akurat, tepat waktu, serta bersifat prediktif, yang menjadi dasar dalam pengambilan
    keputusan bisnis di masa mendatang.
  12. Persyaratan Proses Produksi (Mounting Product Requirement)
    Desain produk yang terus berkembang pesat membutuhkan pengawasan proses
    produksi yang lebih ketat. Persyaratan kinerja produk yang lebih tinggi menekankan
    pentingnya keamanan dan kecanggihan suatu produk. Oleh karena itu, berdasarkan
    faktor-faktor yang memengaruhi kualitas produk, dapat disimpulkan bahwa tampilan
    luar produk mencakup bentuk, warna, dan kemasan, serta biaya perolehan produk
    mencakup harga dan biaya pengiriman

Tujuan Pengendalian Kualitas


Pengendalian kualitas memiliki tujuan dalam peningkatan kualitas, menjaga
kualitas dan mengurangi jumlah barang cacat maupun rusak. Disisi lain, pengendalian
kualitas juga bertujuan meningkatkan minat konsumen dalam menentukan keputusan
dalam melakukan pembelian atau pemakaian suatu produk. Dalam tahapan produksi
agar pengeluaran biaya seminim mungkin sehingga diharapkan efisiensi biaya secara
optimal, dan waktu pelaksanaan dapat disesuaikan dengan jadwal pengerjaannya
(Reksohadiprojo dari Ekoanindiyo, 2015).

Pengendalian Kualitas


Pengendalian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menjamin keselarasan
antara pelaksanaan kegiatan produksi dan operasi dengan rencana yang telah ditetapkan.
Apabila ditemukan penyimpangan, tindakan korektif akan diambil untuk mencapai hasil
yang diharapkan (Tania, dkk., 2019).
Pengendalian kualitas (Prihatiningrum, dkk., 2020) merupakan serangkaian
aktivitas yang terstruktur, sistematis, dan objektif, yang bertujuan untuk memantau dan
menilai kualitas produk atau jasa, serta melakukan perbaikan berkelanjutan berdasarkan
standar yang ditetapkan.
Pengendalian kualitas merupakan teknik atau tindakan yang sistematis dan
terencana, dengan memiliki tujuan dalam mencapai, mempertahankan, dan
meningkatkan kualitas produk maupun jasa, sehingga memenuhi standar yang
ditetapkan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan (Prihatiningrum, dkk., 2020).
Pengendalian kualitas dilakukan agar dapat menghasilkan produk berupa barang atau
jasa yang memiliki standart kualitas yang diharapkan oleh perusahaan.
Pengendalian kualitas produk merupakan suatu langkah yang terstruktur dan
berkelanjutan yang memiliki tujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya cacat
atau kegagalan yang dapat merusak integritas suatu produk akhir. Tanpa adanya
parameter atau standar yang jelas dan terukur, produsen berisiko tinggi mengalami
kerugian finansial dan reputasi karena kesalahan produksi yang tidak terdeteksi sejak
dini. Menurut Purnomo (2018), kualitas produk tidak hanya mencakup kondisi fisik
yang terlihat, tetapi juga fungsi dan sifat produk secara keseluruhan yang mampu
memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen. Pengendalian kualitas yang efektif adalah
yang dilaksanakan secara konsisten dan sistematis, dapat menjadi dasar yang kuat untuk
perbaikan berkelanjutan dalam proses produksi, menghasilkan produk berkualitas tinggi
yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan konsumen, namun dapat melampaui
harapan konsumen, sehingga meningkatkan daya saing di pasar.

Definisi Kualitas


Kualitas merupakan standar yang ditetapkan oleh konsumen sebagai tolak ukur
kepuasan. Perusahaan yang mempunyai kualitas tinggi adalah perusahaan yang mampu
memenuhi standar tersebut. Menurut Lupiyoadi (2016), Kualitas adalah perpaduan antara
atribut dan ciri-ciri yang menentukan sejauh mana suatu produk mampu memenuhi
keinginan atau harapan konsumen.
Menurut Goetsch dan Davis (2016), kualitas sebagai suatu kondisi yang bersifat dinamis
dan berkaitan dengan produk, layanan, sumber daya manusia, proses, serta lingkungan, yang
semuanya ditujukan untuk mencapai atau melampaui ekspektasi pelanggan. Sementara itu,
pengertian kualitas menurut standar internasional (BS EN ISO 9000:2000) merujuk pada
tingkat pencapaian terhadap seperangkat karakteristik bawaan yang memenuhi kriteria
tertentu (Dale, 2003).
Rahman (2018) menyatakan bahwa kualitas produk sebagai tingkat efektivitas suatu
produk dalam melaksanakan fungsi yang ditetapkan, yang diukur melalui atribut-atribut
seperti keterampilan, durabilitas, presisi, kemudahan operasi, inovasi, dan nilai tambah
lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, kualitas didefinisikan sebagai tingkat kesesuaian antara
produk yang dihasilkan oleh perusahaan dengan standar yang ditetapkan, yang dicapai
melalui pelaksanaan proses produksi yang benar dan tepat.
Tingkat kesesuaian kualitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pemilihan
proses manufaktur, pelatihan dan pengawasan tenaga kerja, penerapan sistem penjaminan
kualitas (Seperti : pengendalian proses, pengujian, dan aktivitas inspeksi), kepatuhan
terhadap prosedur penjaminan kualitas, serta motivasi tenaga kerja dalam mencapai standar
kualitas yang ditetapkan.
Menurut Kualitas mempunyai banyak manfaat dan peran penting bagi perusahaan,
diantaranya sebagai berikut (Devani dan Diniati, 2015):

  1. Peningkatan Reputasi : Kualitas produk atau layanan yang unggul dapat
    meningkatkan citra perusahaan di mata konsumen.
  2. Efisiensi Biaya : Proses produksi yang berkualitas dapat meningkatkan efisiensi.
  3. Perluasan Pangsa Pasar : Kualitas yang baik memungkinkan perusahaan dapat
    bersaing secara efektif dan memperluas jangkauan pasar.
  4. Akuntabilitas Produk : Kualitas dapat meningkatkan tanggung jawab perusahaan
    terhadap produk maupun layanan yang ditawarkan.
  5. Dampak Internasional : Produk atau layanan berkualitas tinggi memiliki daya saing
    di pasar global.
  6. Penguatan Citra : Kualitas produk atau layanan yang terpercaya meningkatkan citra
    perusahaan secara keseluruhan

Hubungan lokasi usaha dengan kepuasan konsumen


Tjiptono (2005) mengatakan bahwa mood dan respon pelanggan
dipengaruhi secara signifikan oleh lokasi, desain dan tata letak fasilitas
jasa. Pemilihan lokasi dinilai sangat penting untuk kelangsungan hidup
sebuah usaha yang ada pada saat ini, karena lokasi yang strategis
memudahkan seorang konsumen untuk menjangkau tempat usaha
tersebut. Dengan demikian semakin strategis maka semakin baik
kepuasan konsumen. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa lokasi
mempengaruhi kepuasan konsumen dan dapat dibuktikan penelitian yang
dilakukan oleh Fadila dan Manurng (2021) menunjukkan bahwa lokasi
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan dan juga penelitan
yang dilakukan oleh Ramadhan (2020) menunjukkan bahwa lokasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan

Hubungan Kualitas Produk dengan Kepuasan Konsumen


Yoeti (2009:59) menjelaskan, produk adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan kepada masyarakat dan menjadi sumber pendapatan
bagi perusahaan. Hal ini berarti bahwa kepuasan konsumen karena
kualitas produk dapat dinilai dari kemampuan produk tersebut untuk
menciptakan kepuasan konsumen. Semakin baik tingkat kualitas produk
dalam memuaskan konsumen maka akan menyebabkan kepuasan
konsumen yang baik pula. Ini menunjukkan kualitas produk mempunyai
pengaruh terhadap kepuasan konsumen. Hal tersebut dibuktikan oleh
penelitian yang dilakukan Fadila dan Manurung (2021) yang
menunjukkan kualitas produk ada pengaruh signifikan terhadap kepuasan
pelanggan, penelitian yang dilakukan Ramadhan (2020) yang
menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh positif terhadap
kepuasan pelanggan, penelitian yang dilakukan Brigitte Tobeng et al.
(2019) menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepuasan konsumen

Kepuasan Konsumen


Menurut Kotler (2013) pada dasarnya tujuan dari suatu bisnis adalah
untuk menciptakan para konsumen yang merasa puas. Kepuasan
konsumen berkontribusi pada sejumlah aspek krusial, seperti terciptanya
loyalitas pelanggan, meningkatnya reputasi perusahaan, berkurangnya
elastisitas harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan
meningkatnya efisiensi.
Kepuasan merupakan tingkat perasaan dimana seseorang menyatakan
hasil perbandingan atas kinerja produk (jasa) yang diterima dan yang
diharapkan (Fitriyani,2016). Sementara Nurhuda (2015) berpendapat
bahwa kepuasan pelanggan merupakan respons emosional terhadap
pengalaman-pengalaman berkaitan dengan produk atau jasa tertentu yang
dibeli. Menurut Kurniawati (2015) menyatakan bahwa kepuasan
konsumen merupakan evaluasi purnabeli di mana alternatif yang dipilh
sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan konsumen, sedangkan
ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan.
Berdasarkan definisi-definisi di atas pada prinsipnya kepuasan
konsumen dapat diklasifikasikan kedalam lima kategori pokok, yaitu
perspektif defisit normatif, ekuitas/keadilan, standar normatif, keadilan
prosedural, dan atribusional. Kepuasan ini akan dirasakan oleh konsumen
apabila mereka sudah mengkonsumsi suatu produk. Jika konsumen
menyukai produk yang mereka konsumsi maka pelanggan sudah
merasakan kepuasan, begitu sebaliknya.

Persepsi Harga


Menurut Schiffman dan Kanuk (2007:173), persepsi adalah suatu
proses yang dilalui oleh seseorang dalam menyeleksi, mengorganisasikan,
dan menterjemahkan berbagai stimulus informasi menjadi suatu
gambaran yang menyeluruh. Kotler dan Armstrong (2012)
mendefinisikan harga sebagai jumlah uang yang ditagihkan atas suatu
produk atau jasa. Harga adalah sejumlah uang dengan ditambahkan
beberapa barang memungkinkan yang dibutuhkan untuk menambah
kombinasi dari barang dan pelayanannya.
Menurut Korler (2004:141) pengertian harga merupakan sejumlah
uang yang dibayarkan konsumen atas pembelian barang atau jasa.
Penetapan harga dan persaingan harga adalah masalah nomor satu yang
dihadapi oleh eksekutif pemasaran. Diperlukan ketelitian dalam
penetapan harga, jangan sampai harga yang ditawarkan tidak sesuai
dengan keadaan produk atau jasa yang ditawarkan. Sebelum menetapkan
harga, haruss memutuskan strategi produknya. Harga juga dapat
ditetapkan untuk mempertahankan kesetiaan dan dukungan pedagang atau
untuk menghindari campur tangan pemerintah (Kotler,2004). Dalam
penetapan harga memiliki tujuan, yaitu:

  1. Mendapatkan keuntungan sebesar-bersarnya.
    Dengan menetapkan harga yang kompetitif maka perusahaan akan
    mendulang untung yang optimal.
  2. Mempertahankan perusahaan
    Dari margin keuntungan yang didapat perusahaan akan digunakan
    untuk biaya operasional perusahaan. Contoh: untuk gaji karyawan,
    tagihan listrik, tagihan air, pembelian bahan baku dan lain
    sebagainya.
  3. Menggapai ROI (Return in Investment)
    Perusahaan pasti menginginkan balik modal dari investasi yang
    ditanam pada perusahaan sehingga penetapan harga yang tepat
    akan mempercepat tercapainya modal kembali.
  4. Menguasai pangsa pasar
    Dengan menetapkan harga rendah dibandingkan produk pesaing,
    dapat mengalihkan perhatian konsumen dari produk yang ada di
    pasaran.
  5. Mempertahankan status quo
    Ketika perusahaan memiliki pasar tersendiri, maka perlu adanya
    pengaturan harga yang tepat agar dapat tetap mempertahankan
    pangsa pasar yang ada.
    Swastha (2002) menyatakan harga sering dijadikan indikator kualitas
    bagi pelanggan dimana orang sering memilih harga yang lebih murah.
    Dalam hal ini, yang dimaksud murah adalah kesesuaian dengan kualitas
    produk dengan harga yang dibayarkan. Harga adalah sejumlah uang yang
    dibebankan untuk sebuah produk atau jasa.

Kualitas Produk


Produk adalah segala sesuatu baik yang bersifat fisik maupun non fisik
yang dapat ditawarkan kepada konsumen untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhannya (M. F. Laksana, 2019). Kualitas produk adalah salah satu
barang yang paling sering digunakan oleh pemasar untuk melakukan
positioning (Rangkuti, 2013). Selanjutnya menurut Kotler & Armstrong
(2008) kualitas produk adalah karakteristik produk atau jasa yang
bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan
yang dinyatakan atau diimplikasikan. Lupiyoadi (2013) menyatakan
konsep kualitas sendiri pada dasarnya bersifat relatif, yaitu tergantung dari
sudut pandang yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan
spesifikasinya. Sedangkan kualitas produk menurut Juran (2004), kualitas
produk adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.
Kualitas produk dapat disimpulkan dari penjelasan di atas keseluruhan
barang atau jasa yang berkaitan dengan keinginan konsumen yang dari
segi keunggulan produk telah memenuhi syarat untuk diperjualkan sesuai
harapan dari konsumen. Semakin tinggi tingkat kualitas produk dalam
memuaskan konsumen, maka akan menyebabkan kepuasan konsumen
yang tinggi pula.
13
Menurut Marsum WA (1991) mengenai mutu makanan, ada 7 dimensi
yang perlu di perhatikan yaitu:

  1. Flavour (rasa/bau), harus diperhatikan bahwa rasanya harus enak
    dan baunya pun harus sedap.
  2. Consistency (kemantapan, ketetapan), mutu hidangan/ menu yang
    disajikan harus dijaga supaya mantap atau tetap baik, baik mutu,
    rasa maupun aromanya.
  3. Texture/Form/Shape (susunan/bentuk/potongan), didalam
    menyajikan menu lengkap harus ada hidangan yang ringan dan ada
    hidangan yang berat.
  4. Nutritional Content (kandungan gizi), makanan yang disajikan
    tetap harus diperhatikan kandungan gizinya.
  5. Visual appeal (daya penarik lewat ketajaman mata), didalam
    menyusun suatu hidangan perlu di perhatikan penampilannya,
    harus diatur, disusun dengan rapi, seni dan baik agar benar-benar
    menarik sehingga menimbulkan selera makan bagi para
    konsumen. Menurut penyelidikan ternyata bahwa daya penarik
    lewat mata lebih kuat daripada daya penarik lewat bau harum
    makanan.
  6. Aromatic appeal (daya penarik lewat bau harum) dalam menyusun
    suatu hidangan perlu di perhatikan juga aromanya. Makanan yang
    disajikan harus sedap/harum aromanya sehingga lebih
    membangkitkan selera makan.
  7. Temperature (panas/suhu) artinya menyajikan makanan harus di
    perhatikan suhunya. Makanan panas harus disajikan dalam
    keadaan benar-benar panas, dengan piring yang panas. Begitu pula
    sebaliknya.
    Indikator kualitas produk makanan menurut Fiani dan Japrianto (2012:1)
    yaitu:
    1) Warna makanan
    2) Penampilan
    3) Porsi
    4) Bentuk
    5) Temperatur
    6) Tekstur
    7) Aroma

Jenis-jenis Pemborosan (waste)


Pemborosan (Waste) didefinisikan sebagai segala aktivitas pemakaian sumber daya
(resources) yang tidak memberikan nilai tambah (value added) pada produk. Pada
dasarnya semua waste yang terjadi berhubungan erat dengan dimensi waktu. Menurut
Liker (2006) terdapat 7 jenis pemborosan (waste) yaitu overproduction, waiting time,
transportation, overprocessing, inventory, motion, dan defect. Berikut adalah
penjelasannya.

  1. Produksi yang berlebih (overproduction)
    Kriteria overproduction adalah:
    a. Memproduksi sesuatu lebih awal dari yang dibutuhkan
    b. Memproduksi dalam jumlah yang lebih besar dari pada yang dibutuhkan oleh
    pelanggan.
    Memproduksi lebih awal atau lebih cepat dari yang dibutuhkan pelanggan
    menciptakan pemborosan lain seperti biaya kelebihan tenaga kerja, penyimpanan
    dan transportasi karena persediaan berlebih. Persediaan dapat berupa fisik atau
    antrian informasi.
  2. Waktu menunggu (waiting time)
    Kriteria waktu menunggu adalah:
    a. Pekerja hanya mengamati mesin otomatis yang sedang berjalan
    b. Pekerja berdiri menunggu tahap selanjutnya dari proses baik menunggu alat,
    pasokan, komponen dan lain sebagainya, atau menganggur karena kehabisan
    material, keterlambatan proses, kerusakan mesin dan bottleneck.
    c. Waktu menunggi informasi
    d. Material yang keluar dari satu proses dan tidak langsung dikerjakan di proses
    selanjutnya
  3. Transportasi (transportation)
    Kriteria transportasi adalah:
    a. Memindahkan barang dalam proses (WIP) dari satu tempat ke tempat yang lain
    dalam satu proses, bahkan jika hanya dalam jarak dekat.
    b. Menciptakan angkutan yang tidak efisien.
    c. Pemindahan yang repetitif dan menempuh jarak jauh.
  4. Proses yang berlebih (processing)
    Kriteria proses berlebih adalah:
    a. Melakukan langkah yang tidak diperlukan untuk memproses komponen.
    b. Melaksanakan pemrosesan yang tidak efisien karena alat dan rancangan produk
    yang buruk, menyebabkan gerakan yang tidak perlu sehingga memproduksi
    barang cacat.
  5. Persediaan berlebih (inventory)
    Salah satu kriteria persediaan berlebih adalah persediaan yang dapat meningkatkan
    resiko barang kadaluarsa, barang rusak. Menurut Toyota persediaan adalah
    pemborosan. Bahan baku, barang dalam proses atau barang jadi yang berlebih
    menyebabkan lead time yang panjang, peningkatan biaya pengangkutan dan
    penyimpanan, serta keterlambatan. Persediaan berlebih juga menyembunyikan
    masalah seperti ketidakseimbangan produksi, keterlambatan pengiriman dari
    pemasok, produk cacat, mesin rusak, dan waktu set up yang panjang.
  6. Gerakan yang tidak perlu (motion)
    Kriteria gerakan yang tidak perlu adalah:
    a. Gerakan tersebut tidak memberikan nilai tambah bagi produk seperti mencari,
    memilih atau menumpuk komponen, alat dan lain sebagainya.
    b. Berjalan juga merupakan pemborosan.
  7. Produk cacat (product defect)
    Memproduksi komponen cacat atau yang memerlukan perbaikan. Perbaikan atau
    pengerjaan ulang, scrap, memproduksi barang pengganti, dan inspeksi berarti
    tambahan penanganan, waktu, dan upaya yang sia-sia

Prinsip Utama Pendekatan Lean


Konsep Lean Thinking ini diprakarsai oleh sistem produksi Toyota di Jepang. Lean
dirintis di Jepang oleh Taichi Ohno dan Sensei Shigeo Shingo dimana implementasi
dari konsep ini didasarkan pada 5 prinsip utama (Hines dan Taylor, 2000) yaitu :

  1. Specify value
    Menentukan apa yang dapat memberikan nilai dari suatu produk atau pelayanan
    dilihat dari sudut pandang konsumen bukan dari sudut pandang perusahaan.
  2. Identify whole value stream
    Mengidentifikasikan tahapan-tahapan yang diperlukan, mulai dari proses desain,
    pemesanan, dan pembuatan produk berdasarkan keseluruhan value stream untuk
    menemukan pemborosan yang tidak memiliki nilai tambah (non value adding
    waste).
  3. Flow
    Melakukan aktivitas yang dapat menciptakan suatu nilai tanpa adanya gangguan,
    proses rework, aliran balik, aktivitas menunggu (waiting) ataupun sisa produksi.
  4. Pulled
    Hanya membuat apa yang diinginkan oleh konsumen.
  5. Perfection
    Berusaha mencapai kesempurnaan dengan menghilangkan waste (pemborosan)
    secara bertahap dan berkelanjutan

Tujuan Pendekatan Lean


Konsep lean merupakan konsep perampingan yang fokus utamanya adalah efisiensi
tanpa mengurangi efektivitas proses. Mekong Capital’s mendefinisikan lean
manufacturing yang disebut juga lean production sebagai sekumpulan alat dan
metodologi yang mempunyai tujuan untuk mengeliminasi waste secara kontinyu dalam
proses produksi. Keuntungan utama yang diperoleh adalah biaya produksi lebih rendah,
output meningkat dan lead time produksi lebih pendek.
Secara lebih spesifik, beberapa tujuan lean production antara lain sebagai berikut :

  1. Defects dan wastage
    Mengurangi defect dan scrap yang tidak diperlukan, termasuk penggunaan input
    bahan baku yang berlebihan, defect yang dapat dicegah, biaya yang dihubungkan
    dengan pengulangan proses untuk item yang cacat, dan karakteristik produk yang
    tidak diperlukan dimana tidak sesuai dengan keinginan customer.
  2. Cycle Time
    Mengurangi manufacturing lead time dan waktu siklus produksi dengan
    mengurangi waktu tunggu antar proses.
  3. Inventory Levels
    Meminimumkan level inventory pada semua tahap produksi per bagian pada work-
    in progress antar tahap pemrosesan. Inventory yang lebih rendah berarti
    membutuhkan working capital yang lebih rendah juga.
  4. Labor productivity
    Meningkatkan produktivitas tenaga kerja dengan mengurangi waktu idle dari
    pekerja dan memastikan bahwa pekerja sedang melakukan pekerjaannya, mereka
    menggunakan usaha yang seproduktif mungkin dalam bekerja (tidak melakukan
    tugas yang tidak diperlukan atau gerakan yang tidak perlu).
  5. Utilization of equipment and space
    Penggunaan peralatan dan ruang manufacturing lebih efisien dengan mengeliminasi
    bottleneck dan memaksimumkan tingkat produksi dengan peralatan yang ada,
    meminimasi downtime mesin.
  6. Flexibility
    Mempunyai kemampuan untuk memproduksi produk lebih fleksibel dengan
    meminimumkan change over cost dan change over time.
  7. Output
    Mengurangi waktu siklus, meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan
    mengeliminasi bottleneck dan downtime mesin yang dapat dicapai, perusahaan
    dapat meningkatkan output secara significan dengan fasilitas yang ada

Definisi Lean


Dalam bukunya Lean Thinking, James Womack dan Daniel Jones mendefinisikan
lean manufacturing sebagai suatu proses yang terdiri dari lima langkah: mendefinisikan
nilai bagi pelanggan, menetapkan value stream, membuatnya “mengalir”, “ditarik” oleh
pelanggan, dan berusaha keras untuk mencapai yang terbaik. Untuk menjadi perusahaan
manufaktur yang lean diperlukan suatu pola pikir yang terfokus pada membuat produk
mengalir melalui proses penambahan nilai tanpa interupsi (one-piece flow), suatu sistem
“tarik” yang berawal dari permintaan pelanggan, dengan hanya menggantikan apa yang
diambil oleh proses berikutnya dalam interval yang singkat, dan suatu budaya dimana
semua orang berusaha keras melakukan peningkatan secara terus-menerus.
Tujuan utama dari implementasi lean adalah untuk mengidentifikasi dan
mengeliminasi waste dari suatu stasiun kerja. Eliminasi waste dilakukan dengan
mengidentifikasi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah terhadap konsumen
karena aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah dapat menambah waktu dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan dan pada akhirnya akan mengurangi produktivitas dari
tiga faktor produksi yang mempengaruhi efisiensi proses antara lain pekerja, peralatan,
dan fasilitas. Lean pada awalnya merupakan terminologi yang digunakan untuk
mendeskripsikan pendekatan yang dilakukan di industri otomotif Jepang yaitu Toyota
untuk membedakannya dengan pendekatan produksi massal yang ada di Barat

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian


Berdasarkan yang disampaikan Boone & Kurtz (2017) Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Keputusan Pembelian Ada dua faktor yang mempengaruhi seorang
konsumen dalam proses pengambilan keputusan pembelian, yaitu:
a. Pengaruh dari dalam diri
1) Kebutuhan
yaitu ketidaksesuaian antara keadaan konsumen sebenarnya dengan keadaan yang
diharapkan.
2) Persepsi
yaitu gambaran seseorang terhadap rangsangan yang masuk melalui panca indranya.
Saat seseorang melihat logo merek Apple dan Huawei, maka dia memiliki persepsi
yang berbeda terhadap masing-masing merek.
3) Sikap
kondisi suka atau tidak suka seseorang pada kecenderungan dalam evaluasi,
perasaan, atau tindakan terhadap sesuatu hal.Berdasarkan pengalamannya terhadap
sesuatu, maka sikapnya akan sulit berubah, karena sikap sangat dipengaruhi oleh
persepsi.
4) Pembelajaran
dalam konteks pemasaran, diartikan sebagai pengetahuan atau kemampuan yang
didapatkan dari pengalaman yang dapat merubah perilaku konsumen.
5) Teori konsep diri,
yaitu gambaran seseorang terhadap dirinya sendiri. Saat seorang paruh baya
memandang dirinya sebagai seorang yang masih muda, maka dia bisa membeli
mobil sport dan pakaian yang modis untuk mewujudkan konsep dirinya.
b. Pengaruh dari Lingkungan
1) Budaya,
budaya dapat diartikan sebagai nilai, kepercayaan, kesukaan, dan selera yang
diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lain.
2) Keluarga
pada umumnya, setiap orang adalah bagian dari setidaknya dua keluarga, yaitu
keluarga dimana dia lahir dan keluarga yang dia bangun saat dewasa.
3) Sosial
sebagai seorang konsumen, kita selalu berada dalam beberapa kelompok sosial,
seperti sebuah keluarga, saat disekolah, mengikuti klub basket, klub bela diri, dan
lain sebagainya. Dan setiap kelompok tersebut mempengaruhi keputusan pembelian
anggotanya

Indikator keputusan pembelian


Berdasarkan yang disampaikan Kotler (2016:211), indicator- indicator seseorang
dalam keputusan pembelian adalah sebagai berikut:
a) Kemantapan pada sebuah produk
Merupakan keputusan yang dilakukan konsumen, setelah mempertimbangkan
berbagai informasi yang mendukung pengambilan keputusan.
b) Kebiasaan dalam membeli produk
Merupakan pengalaman sendiri dalam membeli produk ataupun orang terdekat
(orang tua, saudara) dalam menggunakan suatu produk.
c) Memberikan rekomendasi kepada orang lain
Merupakan penyampaian informasi yang positif kepada orang lain, agar tertarik
untuk melakukan pembelian.
d) Melakukan pembelian ulang
Merupakan pembelian ulang yang berkesinambungan setelah konsumen
merasakan kenyamanan atas produk jasa yang diterima

pengertian keputusan pembelian


Sebagaimana yang disampaikan Menurut Kotller (2016:185) mendefinisikan
keputusan pembelian konsumen ialah keputusan akhir perorangan yang membeli
barang maupun jasa untuk dia pribadi. Dan sebagaimana yang disampaikan Alfiyan
(2017), pengambilan keputusan pembelian merupakan sebuah pendekatan
penyelesaian masalah pada kegiatan manusia membeli suatu produk guna memenuhi
keinginan dan kebutuhan.
Dalam pengertian lainnya Sebagaimana yang disampaikan Olsonn (dalam
Sangadji, 2013:332) yang dimaksud keputusan pembelian adalah suatu proses
penyelesaian masalah yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan dan
keinginan, pencarian informasi, penilaian sumber-sumber seleksi terhadap alternatif
pembelian, dan perilaku setelah pembelian. Definisi lain menurut Amilia (2017),
keputusan pembelian adalah perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari,
memberi menggunakan mengevaluasi dan menghabiskan suatu produk dan jasa yang
diharapkan dapat memuaskan kebutuhannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi harga


Berdasarkan yang disampaikan Rambat Lupiyoadi (2011:100) Faktor-faktor yang
mempengaruhi atau perlu dipertimbangkan dalam penentuan harga yaitu:
1). Elastisitas permintaan
Mengukur seberapa besar kepekaan perubahan jumlah permintaan barang
terhadap perubahan harga.
2) Struktur biaya
Struktur biaya adalah keseluruhan struktur dan rincian biaya yang diperlukan
untuk menawarkan dan memberikan tawaran nilai kepada segmen pengguna.
3) Persaingan
Persaingan atau kompetisi adalah bersaingnya para penjual yang samasama
berusaha mendapatkan keuntungan, pangsa pasar, dan jumlah penjualan.
4) Positioning dari jasa yang ditawarkan
Strategi positioning merupakan strategi yang berusaha mencipatakan
diferensiasi yang unik dalam benak pelanggan sasaran, sehingga terbentuk citra
(image) merek atau produk yang lebih unggul dibandingkan merek/produk pesaing.
5) Sasaran yang ingin dicapai perusahaan
Meningkatkan potensi perusahaan untuk mendapatkan peluang usaha yang
menjamin masa depan perusahaan melalui sinergi internal dan eksternal.
6) Siklus hidup jasa
Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan
pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk.
7) Sumber daya yang digunakan
Sumber daya manusia adalah salah satu faktor produksi selain tanah, modal,
dan keterampilan.
8) Kondisi ekonomi
Kondisi Diinginkan adalah keadaan yang merupakan harapan atau kondisi
ideal bagi Perusahaan atau Bagian, agar Pemsahaan dapat tetap tumbuh dan
berkembang dengan baik.

Indikator harga


Berdasarkan yang disampaikan Kotler & Keller (2016:278) indikator harga yaitu:
a) Keterjangkauan Harga
Harga yang terjangkau adalah harapan konsumen sebelum mereka melakukan
pembelian. Konsumen akan mencari produk dengan harga yang dapat mereka
jangkau.
b) Kesesuaian Harga Dengan Kualitas Produk
Untuk beberapa produk tertentu, biasanya konsumen tidak keberatan apabila harus
membeli dengan harga relatif mahal asalkan kualitas produk baik. Namun konsumen
lebih menginginkan produk dengan harga murah dan kualitasnya baik.
c) Daya Saing Harga
Perusahaan menetapkan harga jual suatu produk dengan mempertimbangkan
harga produk yang dijual oleh pesaingnya agar produknya dapat bersaing di pasaran.
d) Kesesuaian Harga Dengan Manfaat
Konsumen terkadang mengabaikan harga suatu produk namun lebih
mementingkan manfaat dari produk tersebut.

Pengertian persepsi harga


Harga merupakan unsur bauran pemasaran yang sifatnya fleksibel dimana setiap
saat dapat berubah menurut waktu dan tempatnya. Harga bukan hanya angka nominal
yang tertera dilabel suatu kemasan, tapi harga mempunyai banyak bentuk dan
melaksanakan banyak fungsi, seperti sewa tempat, ongkos, upah, bunga, tarif, biaya
penyimpanan dan gaji. Semuanya merupakan harga yang harus dibayar untuk
mendapatkan barang dan jasa.
Sebagaimana yang disampaikan Kotler & Keller (2016) harga adalah sejumlah
uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukar
konsumen atas manfaat yang diterima karena memiliki atau menggunakan produk jasa
tersebut.
Sebagaimana yang disampaikan Fetrizen & Aziz (2019) harga merupakan salah
satu komponen yang penting bagi konsumen sehingga perusahaan maupun organisasi
perlu memahami dengan baik peran tersebut dalam mempengaruhi sikap konsumen,
harga sebagai atribut diartikan merupakan konsep keberagaman arti bagi setiap
konsumen tergantung dari karakteristik konsumen, situasi dan produk.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk


Berdasarkan yg disampaikan Tjipton0 (2012:44) kualitasproduk dipengaruhi
banyak faktor. industri setiap bidang bergantung padaa sejumlah besar kondisi yang
membebani produksi suatu cara yang tidak dialami dalam periode sebelumnya yaitu:
1) Market (Pasar)
2) Money (Uang)
3) Management (Manajemen)
4) Men (Manusia)
5) Motivation (Motivasi)
6) Material (Bahan)

Indikator Kualitas Produk


Berdasarkan yang disampaikan Kotler dan Keller (2012:7-11) kualitas produk
memilikii indikator-indikator sbb:
a. form (Bentuk)
meliputibentuk, ukuran atau struktur pisik produk.
b. Feature (pitur)
Fitur melengkapi fungsi dasar suatu produk
c. Customization (Penyesuaian)
penjual dapat mendiferensiasikan produk dg menyesuaikan produk dengan
keinginan perorangan.
d. Kualitas Kesesuaian (Conformanke Qualiti)
Tingkat dimana unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang telah
dijanjikan.
e. Durabiliti (Ketahanan)
Merupakan ukuran umur operasi produk dalam kondisi biasa atau penuh
tekanann,.
f. Performance Quality (Kualitas Kinerja)
Tingkat dimana karakteristik utama produk beroperasi. menjadi dimensi yang
semakin penting diferensiasi perusahaan menerapkan model nilai dan memberikan
kualitas yang lebih tinggi dengan uang yang lebih rendah.
g. Keandalan (Reliabiliti)
Ukuran probabilitas bahwa produk tidak akan mengalami malfungsi atau gagal
dalam periode waktu tertentu.
h. Repairability (Kemudahan Perbaikan)
Adalah ukuran kemudahan perbaikan produk ketika tidak berfungsi atau gagal.
i. Style (Gaya)
Mengambarkan penampilann.
j. Designn (Desain)
Adalah totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan, rasa, dan fungsii produk

Pengertian Kualitas produk


Sebagaimana yang disampaikan Kotler & Armstronng (2021:230) kualitas produk
ialah kerakteristik produk maupun jasa bergantung pada kemampuan untuk
memuaskan pelanggan yaitu diimplikasikan Dlam rangka menciptakan kepuasan
pelanggan, produk yang ditawarkan benar berkualitas baik. Kualitas mencerminkan
semua produk yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggannya. dengan
kepuasan pelangan, kualitas memiliki beberapa dimensi produk, yang bergantung pada
konteksnya.
Sebagaimana yang disampaikan Habibah (2016) kualitas adalah hal penting yang
dilakukan perusahaan, jika masih ingin produk tetap bersaing dipasar dan dapat
memuaskan konsumen. Perusahaan menjalankan suatu bisnis, produk ataupun jasa
yang dijual memiliki kualitas yang baik dan sesuai dengan harga yang ditawarkan agar
usaha atau perusahaan dapat bertahan menghadapi persaingan.
Sebagaimana yang disampaikan Yazia (2014) produk yang berkualitas ialah kunci
paling utama dalam memenangkan persaingan pasar, yang dapat memberikan nilai
kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumen.setiap produk harus memiliki kualitass
dan keunggulan yg bagus dibandingkan dg produk lainnyaa sehinggadapat mmberikan
nilai kepuasan bagii konsumen.

Pengertian manajemen pemasaran


Manajemen pemasaran berasal terdapat dua kata yaitu manajemen dan pemasaran.
Menurut Kotller & Kellar (2012:58) “Manajemen pemasaran termasuk kedalam bagian
penganalisaan pelaksanaan dan pengawasan program- program ini mengadakan terhadap
pasar yng ditujukan untuk mencapai tujuannya. mengadakan komunikasi dan distribusi
yang efektif untukmemberitahu, mendorong serta melayani pasar tersebut”
Dalam pengertian lainnya menurut pendapat (Ketler & Keller(2012:78), “manajemen
pemasaran yaitu seni dan ilmu dalam memilih target pasar untuk mempertahankan,
mendapatkan, meningkatkan konsumen dengan memberikan, membuat
mengkomunikasikan nilai konsumen yang superior dan membuat”

Pengertian pemasaran


Sebagimana yang disampaikan Malau (2017:1) mengemukakan bahwa Pemasaran
(Marketing) merupakan transaksi pertukaran antara masing – masing pihak, seperti
tukaran produk uang yang dimiliki oleh pelanggan. Dan terkait dengan sebagaimana yang
disampaikan Kotler & Amtrong (2016:60) pemasaran yaitu proses suatu perusahaan
memberikan nilai ke pelanggan serta membangun hubungan yang erat kepada pelanggan
dengan maksud untuk memperoleh nilai dari pelanggan sebagai imbalannya. kesimpulan
bahwasanya pemasaran termasuk kedalam sebuah proses terjadinya sebuah transaksi
antara penjual dan pembeli yang saling menguntungkan kedua belah pihak