Indikator Persepsi Harga (skripsi dan tesis)

Pengukuran pada variabel Persepsi Harga mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Tjiptono dalam Ferdinan dan Nugraheni (2013:134), yang terdiri dari: 1. Keterjangkauan Harga Keterjangkauan harga adalah harga sebenarnya dari suatu produk yang tertulis di suatu produk, yang harus dibayarkan oleh konsumen dengan maksud yaitu, konsumen cenderung melihat harga akhir dan memutuskan apakah akan memdapatkan nilai yang baik seperti yang diharapkan. Harapan konsumen dalam melihat harga yaitu : a. Harga yang ditawarkan mampu dijangkau oleh konsumen secara financial. b. Penentuan harga harus sesuai dengan kualitas produk sehingga konsumen dapat mempertimbangkan dalam melakukan pembelian suatu produk yang diinginkan. 2. Kesesuaian Harga Kesesuaian harga adalah penetapan harga yang dilakukan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan sasaran konsumen dan perubahan situasi. 3. Daya Saing Harga Daya Saing Harga berhubungan dengan bagaimana efektivitas suatu perusahaan dalam menentukan harga di pasar persaingan, dibandingkan dengan perusahaan lainnya yang menawarkan produk atau jasa-jasa yang sama atau sejenis. 4. Harga Sesuai Manfaat Harga Sesuai Manfaat adalah bagaimana suatu perusahaan menetapkan harga sesuai dengan manfaat produk yang dijual.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Harga (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan harga menurut Philip Kotler (1997:201), yaitu: 1. Faktor-faktor internal a. Keputusan harga disesuaikan dengan sasaran pemasarannya b. Keputusan harga disesuaikan dengan kebijakan bauran pemasarannya, dimana manajemen harus mempertimbangkan bauran pemasaran sebagai satu keseluruhan. c. Keputusan harga berdasarkan pada pertimbangan organisasi. 2. Faktor-faktor eksternal a. Pasar dan permintaan konsumen merupakan pelakon harga (harga tertinggi) b. Harga dan tawaran pesaing perlu diketahui untuk menentukan harga serta reaksi mereka setelah keputusan harga dilakukan. c. Faktor eksternal lainnya, yaitu kondisi ekonomi seperti tingkat inflasi, biaya bunga, resensi, booming, dan keputusan-keputusan pemerintah dapat mempengaruhi keefektifan kebijakan pendekatan harga.

Kebijakan Harga (skripsi dan tesis)

Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memungkinkan perusahaan memperoleh pendapatan, sedangkan unsur bauran pemasaran lainnya justru menyebabkan timbulnya biaya. Dengan demikian pemilik perusahaan harus memahami tentang harga yang meliputi makna dan pentingnya harga serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kebijakan harga adalah strategi pemasaran yang ditetapkan oleh perusahaan dengan mempertimbangkan factor-faktor biaya produksi dan harga pesaing sehingga dengan alternative harga yang dipilih dapat meningkatkan pembelian produk, meningkatkan permintaan non user, pelanggan yang menguntungkan dan menarik pelanggan baru dengan mutu (Guiltinan, 2001:219).

Strategi Penyesuaian Harga (skripsi dan tesis)

Adapun strategi penyesuaian harga menurut Kotler dan Killer (2007:102), yaitu: 1. Penetapan harga geografis Penetapan harga geografis melibatkan perusahaan tersebut memutuskan bagaimana cara menetapkan harga produknya untuk pelanggan yang berbeda dilokasi dan negara yang berbeda. 2. Diskon dan potongan harga Kebanyakan perusahaan akan menyesuaikan daftar harganya dan memberikan diskon dan potongan harga (discounts and allowances) untuk pembayaran yang lebih cepat, pembelian dalam jumlah besar, dan pembelian diluar musim. 3. Penetapan harga promosi Strategi penetapan harga promosi sering merupakan permainan kalah menang (zero-zum game). Apabila strategi tersebut berhasil, pesaing akan menirunya dan strategi itu akan kehilangan efektifitasnya. Jika strategi tersebut tidak berhasil, perusahaan membuang-buang uang yang mestinya dapat digunakan sebagai alat untuk pemasaran lainnya, seperti meningkatkan mutu produk dan layanan atau memperkokoh citra produk melalui iklan. 4. Penetapan harga diskriminatif Diskriminatif harga (price discrimination) terjadi apabila suatu perusahaan menjual produk atau jasa dengan dua harga atau lebih yang tidak mencerminkan perbedaan biaya secara proporsional.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan harga menurut Fajar Laksana (2008:117), yaitu: 1. Demand for the product, perusahaan perlu memperkirakan permintaan terhadap produk yang merupakan langkah penting dalam penetapan harga sebuah produk. 2. Target share of the market, yaitu market share yang ditargetkan oleh perusahaan. 3. Competitive reactions, yaitu reaksi dari pesaing. 4. Use of creams-skimming pricing of penetration pricing, yaitu mempertimbangkan langkah-langkah yang perlu diambil pada saat perusahaan memasuki pasar dengan harga yang tinggi atau dengan harga yang rendah. 5. Other parts of the marketing mix, yaitu perusahaan perlu mempertimbangkan kebijakan marketing mix (kebijakan produk, kebijakan promosi dan saluran distribusi). 6. Biaya untuk memproduksi atau membeli. 7. Product line pricing, yaitu penetapan harga terhadap produk yang saling berhubungan dalam biaya, permintaan maupun tingkat persaingan. 8. Berhubungan dengan permintaan: a. Cross elasticity positive (elastisitas silang yang positif), yaitu kedua macam produk merupakan barang substitusi atau pengganti. b. Cross elasticity negative (elastisitas silang yang negatif), yaitu kedua macam produk merupakan barang komplamenter atau berhubungan satu sama lain. c. Cross elasticity Nol (elastisitas silang yang nol), yaitu kedua macam produk tidak saling berhubungan. 9. Mengadakan penyesuaian harga : a. Penurunan harga, dengan alasan:  – Kelebihan kapasitas – Kemerosotan pangsa pasar – Gerakan mengejar dominasi dengan biaya lebih rendah. b. Mengadakan kenaikan harga, dengan alasan: – Inflasi biaya yang terus-terusan di bidang ekonomi – Permintaan yang berlebihan.

Sasaran Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Setiap tugas pemasaran dalam perusahaan harus memiliki tujuan yang akan dicapai, dalam hal ini perusahaan juga harus menentukan sasaran penetapan harga sebelum menetapkan harga itu sendiri. Menurut Stanton (1984:311) sasaran penetapan harga dibagi menjadi tiga, yaitu: 1. Berorientasi pada laba, untuk: a. Mencapai target laba investasi atau laba penjualan bersih b. Memaksimalkan laba 2. Berorientasi pada penjualan, untuk: a. Meningkatkan penjualan b. Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar 3. Berorientasi pada status quo, untuk: a. Menstabilkan harga b. Menangkal persaingan Berdasarkan sasaran penetapan harga diatas, perusahaan harus memilih sasaran penetapan harga yang benar-benar sesuai dengan tujuan perusahaan dan tujuan program pemasarannya, hal ini dikarenakan akan mempengaruhi cepat atau lambatnya perusahaan mencapai tujuannya.

Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Thamrin dan Francis (2012:171), ada enam langkah prosedur untuk menetapkan harga dalam perusahaan, yaitu: 1. Memilih sasaran harga Perusahaan pertama harus memutuskan apa yang ingin ia capai dengan suatu produk tertentu. Jika perusahaan tersebut telah memilih pasar sasaran dan penetapan promosi pasarnya dengan cermat, maka strategi bauran pemasarannya, termasuk harga akan cukup mudah. 2. Menentukan permintaan Setiap harga yang ditentukan perusahaan akan membawa kepada tingkat permintaan yang berbeda dan oleh karenanya akan mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap sasaran pemasarannya. Dalam kasus yang normal, hubungan permintaan dan harga adalah berlawanan, yaitu semakin tinggi harga maka semakin rendah permintaan dan sebaliknya. 3. Memperkirakan harga Permintaan umumnya membatasi harga tertinggi yang dapat ditentukan perusahaan bagi produknya dan perusahaan menetapkan biaya yang terendah. Perusahaan ingin menetapkan harga yang menutupi biaya dalam menghasilkan, mendistribusikan, dan menjual produk termasuk pendapatan yang wajar atas usaha dan resiko yang dihadapi. 4. Menganalisis harga dan penawaran pesaing Sementara permintaan pasar membentuk harga tertinggi dan biaya merupakan harga terendah yang ditetapkan, harga produk pesaing dan kemungkinan reaksi harga membantu perusahaan dalam menentukan harga dan mutu setiap penawaran pesaing. Hal ini dapat dilakukan dalam beberapa cara, yaitu perusahaan dapat mengirimkan pembelanja pembanding untuk mengetahui harga dan membandingkan penawaran pesaing. Perusahaan dapat memperoleh daftar harga pesaing dan membeli peralatan pesaing dan memisah-misahkannya. Perusahaan dapat menanyakan pembelian pesaing bagaimana pendapat mereka terhadap harga dan mutu setiap penawaran pesaing. 5. Memilih metode penetapan Skedul permintaan konsumen, fungsi biaya, dan harga pesaing, perusahaan kini siap untuk memilih suatu harga. Harga akan berada pada suatu tempat antara suatu yang terlalu rendah untuk menghasilkan permintaan dan satu yang terlalu tinggi untuk menghasilkan keuntungan. 6. Memilih harga akhir Metode-metode penetapan harga sebelumnya mempersempit cangkupan harga untuk memilih harga akhir. Dalam memilih harga akhir perusahaan harus mempertimbangkan bebrapa faktor tambahan, yaitu: a. Harga psikologis Penjualan harus mempertimbangkan psikologi selain nilai ekonominya. b. Pengaruh elemen bauran pemasaran lain terhadap harga Harga juga harus memperhatikan mutu merek dan iklan relatif terhadap pesaing. c. Kebijakan penetapan harga perusahaan Harga yang dikehendaki harus konsisten dengan kebijakan penentuan harga perusahaan.  d. Pengaruh harga kepada pihak lain Manajemen harga juga harus mempertimbangkan reaksi lain terhadap harga yang dikehendaki.

Pengertian Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Amstrong dalam Suparyanto dan Rosad (2015:09) harga adalah sejumlah uang yang dikorbankan untuk suatu barang atau jasa, atau nilai dari konsumen yang ditukarkan untuk mendapatkan manfaat atau kepemilikan atau penggunaan atas produk atau jasa.Sedangkan menurut Etzel, Walker, dan Stanton oleh Suparyanto dan Rosad (2015:09) harga adalah sejumlah uang atau sesuatu dalam bentuk lainnya yang memiliki nilai yang diperlukan untuk mendapatkan suatu produk. Menurut William J. Stanton dalam Fajar Laksana (2008:31) harga adalah sejumlah uang dibutuhkan untuk memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang menyertainya. Berdsarkan definisi tersebut maka penulis menyimpulkan bahwa harga merupakan jumlah uang yang diperlukan untuk memperoleh produk yang diinginkan. Harga haruslah dihubungkan dengan dengan bermacam-macam barang atau pelayanan, yang akhirnya aka sama dengan sesuatu yaitu produk atau jasa, hal ini seperti yang dikemukakan oleh E. Jerome MC dalam buku berjudul Manajemen Pemasaran oleh Fajar Laksana (2008:31)

Unsur-unsur Persepsi (skripsi dan tesis)

Menurut Schifman dan Kanuk (2008:137) unsur-unsur persepsi ada empat yaitu: 1. Sensasi Sensasi merupakan respon yang segera dan langsung dari alat panca indra terhadap stimuli yang sederhana (iklan, kemasan, merek). 2. Ambang Absolut Ambang absolut merupakan tingkat terendah dimana seseorang dapat mengalami sensasi. 3. Ambang Diferensiasi Ambang diferensiasi merupakan perbedaan minimal yang dirasakan antara dua macam stimuli yang hampir serupa. 4. Persepsi Subliminimal Stimulus berada dibawah ambang batas, atau “limen” kesadaran, walaupun jelas tidak dibawah ambang batas absolut penerima yang terlibat.

Pengertian Keragaman (skripsi dan tesis)

Produk Menurut Kotler (2007:15) keragaman produk adalah kumpulan seluruh produk dan barang yang ditawarkan oleh penjual tertentu kepada pembeli, sedangkan menurut Engels dan Blackwell (1995:258) keragaman produk adalah kelengkapan produk yang menyangkut kedalaman, luas dan kualitas produk yang ditawarkan juga ketersediaan produk tersebut setiap saat di toko. Pendapat lain mengenai definisi keragaman produk juga diungkapkan oleh Utami (2006:114) yang menyatakan bahwa keragaman produk merupakan banyaknya item pilihan dalam masing-masing kategori produk, sedangkan menurut Asep (2005:9) keragaman produk adalah kondisi yang tercipta dari ketersediaan barang dalam jumlah dan jenis yang sangat variatif sehingga menimbulkan banyaknya pilihan dalam proses belanja konsumen. Dari pendapat para ahli tentang pengertian keragaman produk diatas, maka penulis mengambil kesimpulan keragaman produk yaitu aneka jenis produk (bukan jasa) yang menyangkut pada kedalaman, luas produk, serta kualitas produk yang ditawarkan agar konsumen bisa memilih jenis produk yang diinginkan sesuai kebutuhan dan untuk meningkatkan daya saing karena semakin banyak ragam produk yang ditawarkan maka konsumen akan mudah menentukan produk mana yang akan dibeli.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Ada pun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut (Thamrin, 2015:113), yaitu: 1. Faktor Kebudayaan Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Perilaku konsumen mempelajari perilaku manusia, sehingga perilaku konsumen juga ditentukan oleh kebudayaan yang tercermin pada cara hidu, kebiasaan, dan tradisi dalam permintaan akan bermacam-macam barang dan jasa. Jadi, perilaku konsumen sangat ditentukan oleh kebudayaan yang melingkupinya, dan pengaruhnya akan selalu berubah setiap waktu sesuai dengan kemajuan atau perkembangan jaman dan masyarakat itu. 2. Faktor Sosial Sosial atau kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen yang bertahan lama dalam masyarakat, yang tersusun secara hrarki dan keanggotaanya mempunyai nilai minat dan perilaku yang sama. Kelas sosial mampu memegang peran penting dalam suatu program pemasaran, karena adanya perbedaan substansial diantara kelas-kelas tersebut mempengaruhi perilaku pemberian mereka. Jadi sampai sejauh mana pemasar mampu mempromosikan produk atau jasanya sehingga dirasa akan membantu keinginan konsumen untuk mencapai kelas sosial yang lebih tinggi. 3. Faktor Pribadi Keputusan seorang pembeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu usia pembeli dan tahapsiklus hidup, pekerjaan, kondisi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli. 4. Faktor Psikologi Pilihan pembeli seseorang dipengaruhi pula oleh empat faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan serta keyakinan sikap

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumen dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang- barang atau jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut (Sunyoto, 2013:66). Sedangkan menurut Swastha dan Handoko (2012:10), menyatakan bahwa perilaku konsumen adalah kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan-penentuan kegiatan tersebut. Menurut Sciffman dan Kanuk (2008:05) perilaku konsumen sebagai disiplin ilmu pemasaran yang terpisah dimulai ketika para pemasar menyadari bahwa para konsumen tidak selalu bertindak atau memberikan reaksi seperti yang dikemukakan oleh teori pemasaran. Berdasarkan beberapa pendapat diatas penulis menyimpulkan perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan konsumen untuk membeli atau tidak membeli suatu produk yang diinginkan atau dibutuhkan berdasarkan penilaian konsumen terhadap produk tersebut

Bauran Pemasaran (skripsi dan tesis)

Marketing mix merupakan taktik dalam mengintegrasikan tawaran, logistik, dan komunikasi produk atau jasa suatu perusahaan. marketing mix bisa dikelompokkan lagi menjadi dua bagian, yaitu penawaran (of ering) yang berupa product dan price, serta (access) yang berupa place dan promotion (Kotler dalam Situmorang, 2011:158) Menurut (Kotler dan Armstrong, 2012:75), “Marketing mix is the set of tactical marketing tools that the firm blends to produce the response it wants in the target market”, artinya menyatakan bahwa bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran taktis yang memadukan perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan dalam target pasar. Keempat unsur bauran pemasaran atau dikenal sebagai 4P meliputi: 1. Product (produk) adalah suatu barang, jasa, atau gagasan yang dirancang dan ditawarkan perusahaan untuk kebutuhan konsumen. 2. Price (harga) adalah jumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk mendapatkan produk. 3. Place (tempat, termasuk juga distribusi) adalah penempatan suatu produk agar tersedia bagi target konsumen, sejenis aktivitas yang berkaitan dengan bagaimana menyampaikan produk dari produsen ke konsumen. 4. Promotion (promosi) adalah aktivitas mengkomunikasikan dan menyampaikan informasi mengenai produk kepada konsumen, dan membujuk target konsumen untuk membeli produk.

Pemasaran (skripsi dan tesis)

Untuk menyiapkan diri menjadi pemasar, sesorang harus memahami apa arti pemasaran, bagaimana cara bekerjanya, apa yang akan dipasarkan dan siapa yang harus melaksanakan dan menjalankan pemasaran. Pemasaran berkenaan dengan mengenali dan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Pemasaran ialah suatu proses sosial dimana individu-individu dan kelompok mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain Kotler & Keller (2009:5). Sedangkan menurut The American Marketing Associaton dalam Nandan dan Wilhelmus dalam Ari, Jusuf, dan Efendi (2012:3) pemasaran adalah fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan dengan pelanggan dengan cara menguntungkan kedua belah pihak. Menurut Philip Kotler dalam Ari, Jusuf, dan Efendi (2015:7) pemasaran adalah kegiatan menganalisis, mengorganisasi, merencanakan, dan mengawasi sumber daya, kebijaksanaan, serta kegiatan yang menimpa para pelanggan perusahaan dengan maksud memuaskan kebutuhan dan keinginan para kelompok pelanggan. Definisi pemasaran ini bersandar pada konsep inti yang meliputi kubutuhan (needs), keinginan (wants), dan permintaan (demands). Manusia harus menemukan kebutuhannya terlebih dahulu, sebelum ia memenuhinya. Dengan demikian peneliti mengambil kesimpulan pemasaran yaitu segala kegiatan yang menawarkan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen dan dapat menguntungkan kedua belah pihak.Pemasaran Untuk menyiapkan diri menjadi pemasar, sesorang harus memahami apa arti pemasaran, bagaimana cara bekerjanya, apa yang akan dipasarkan dan siapa yang harus melaksanakan dan menjalankan pemasaran. Pemasaran berkenaan dengan mengenali dan memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Pemasaran ialah suatu proses sosial dimana individu-individu dan kelompok mendapatkan apa yang dibutuhkan dan diinginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain Kotler & Keller (2009:5). Sedangkan menurut The American Marketing Associaton dalam Nandan dan Wilhelmus dalam Ari, Jusuf, dan Efendi (2012:3) pemasaran adalah fungsi organisasi dan seperangkat proses untuk menciptakan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan dengan pelanggan dengan cara menguntungkan kedua belah pihak. Menurut Philip Kotler dalam Ari, Jusuf, dan Efendi (2015:7) pemasaran adalah kegiatan menganalisis, mengorganisasi, merencanakan, dan mengawasi sumber daya, kebijaksanaan, serta kegiatan yang menimpa para pelanggan perusahaan dengan maksud memuaskan kebutuhan dan keinginan para kelompok pelanggan. Definisi pemasaran ini bersandar pada konsep inti yang meliputi kubutuhan (needs), keinginan (wants), dan permintaan (demands). Manusia harus menemukan kebutuhannya terlebih dahulu, sebelum ia memenuhinya. Dengan demikian peneliti mengambil kesimpulan pemasaran yaitu segala kegiatan yang menawarkan suatu produk untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen dan dapat menguntungkan kedua belah pihak.

Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Kinner dan Kenneth dalam Ari Setiyaningrum, dkk. (2015:11) manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan kontrol dari putusan-putusan tentang pemasaran didalam bidang-bidang penawaran produk, distribusi, promosi, dan harga penentuan (pricing). Maksudnya adalah untuk mendorong dan memudahkan terjadinya pertukaran-pertukaran yang saling memuaskan dan yang memenuhi sasaran organisasi. Kotler dan Amstrong dalam Ari Setiyaningrum, dkk. (2015:11) mendefinisikan manajemen pemasaran ialah seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan pasar tersebut. Sedangkan menurut Philip Kotler dan Kevin Lane (2007:03) mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan mendapatkan, menjaga, dan menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, menyerahkan dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul. Manajemen pemasaran bertujuan memberi layanan yang baik kepada para pelanggan atau konsumen karena hanya dengan layanan yang baik, konsumen akan puas menggunakan produk/jasa perusahaan, sehingga ia akan selalu membeli kembali produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun sebuah strategi pemasaran yang tepat untuk mencapai tujuan tersebut.

Pengertian Impression Mangement (skripsi dan tesis)

Menurut Erving Goffman yang dikutip oleh Jalaludin Rakhmat dalam buku Psikologi Komunikasi mengatakan bahwa : Impression management (pengelolaan kesan) sebagai kecermatan persepsi interpersonal dimudahkan oleh petunjuk – petunjuk verbal 36 dan nonverbal, dan dipersulit oleh faktor-faktor personal penanggap. Kesulitan persepsi juga timbul karena personal stimuli berusaha menampilkan petunjuk-petunjuk tertentu untuk menimbulkan kesan tertentu pada diri penanggap (Jalaludin, 2011, h.94-95). Impression management (pengelolaan kesan) merupakan sebuah konsep dramaturgi, diperkenalkan oleh Erving Goffman, salah seorang sosiolog yang paling berpengaruh pada abad 20. Dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life yang diterbitkan pada tahun 1959. Ini menyoroti cara dimana seseorang yang ingin dilihat orang lain dan berusaha untuk menyajikan citra dirinya dalam cara-cara tertentu. Goffman memperkenalkan konsep ini yang bersifat penampilan teateris. Yakni memusatkan perhatian atas kehidupan sosial sebagai serangkaian pertunjukan drama yang mirip dengan pertunjukan drama di panggung. Ada actor dan ada juga penonton, tugas dari aktor hanya mempersiapkan dirinya dengan berbagai atribut pendukung dari peran yang di mainkan, sedangkan bagaimana makna itu tercipta, masyarakatlah atau lingkungan (penonton) yang member interpretasi.

Asas – Asas Komunikasi Karyawan (skripsi dan tesis)

Menurut Istijanto dalam bukunya berjudul Riset Sumber Daya Manusia mengungkapkan : Komunikasi dua arah yang baik antara manajemen dan karyawan didasarkan pada asas-asas berikut ini : 1. Manajemen harus bersedia secara sadar memberikan informasi kepada karyawannya. Setiap pelaksana harus memahami bahwa komunikasi merupakan tanggung jawab utuh kepada karyawannya. Setiap pelaksana harus memahami bahwa komunikasi merupakan tanggung jawab utama dan dalam evaluasi pelaksanaan secara keseluruhan. 2. Komunikasi harus berfungsi sebagai suatu sistem yang lengkap antara manajemen dengan karyawan. 3. Pesan tertulis harus digunakan untuk menghindari penyimpangan arti yang mungkin terjadi dalam komunikasi lisan. 4. Pesan harus disampaikan dengan menggunakan kata-kata yang lazim yang sesuai dengan tingkat pendidikan karyawan. 5. Media komunikasi harus dipilih dan pesan harus disiapkan oleh komunikasi tentang informasi penting tidak dipercayakan kepada orang dengan pengalaman komunikasi yang terbatas. 6. Komunikasi jangan secara sengaja disalahgunakan atau disesatkan tetapi harus faktual, seksama, dan tidak memihak. 7. Informasi harus diberikan tepat pada waktunya dan pesan harus disampaikan dengan cepat untuk menghindari kesalahpahaman. 8. Pengulangan adalah penting dalam komunikasi karyawan yang baik. Informasi harus diulang dalam cara yang berlainan agar mudah dipahami. Tanggung jawab terhadap komunikasi karyawan yang bersifat formal harus diserahkan kepada staff humas (Istijanto, 2005, h.235)

Pengertian Karyawan (skripsi dan tesis)

Karyawan merupakan asset bagi perusahaan. Setiap perusahaan membutuhkan karyawan untuk dapat melangsungkan kegiatan dan mengembangkan kualitas prosuknya. Tanpa keikut sertaan mereka, aktivitas tidak akan terjadi. . Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia menurut Poerwadarminta, karyawan didefinisikan sebagai pekerja atau pegawai (Poerwadarminta, 1976, h.448). Maka dari itu karyawan berperan aktif dalam menetapkan rencana, sistem, proses dan tujuan yang ingin dicapai. Pada intinya karyawan adalah penjual (pikiran dan tenaganya) dan mendapat kompensasi yang besarnya telah ditetapkan terlebih dahulu.

Tipe – Tipe Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Gaya kepemimpinan menurut Susilo Martoyo menyebutkan ada 5 tipe kepemimpinan, yaitu : 1. Tipe Non Pribadi Tipe ini tidak adanya kontak pribadi dengan bawahannya, karena diantara mereka ada sarana tertentu sehingga hubungan tersebut bersifat secara tidak langsung. 2. Tipe Otoriter Tipe ini berpendapat bahwa ia dapat menentukan apa saja dalam organisasi. 3. Tipe Demokratis Tipe ini lebih menitik beratkan pada partisipasi dan pendapat anggota kelompok/organisasi. 4. Tipe Paternalisitis Tipe ini cenderung lebih mengutamahkan kesejahteraan anak buahnya, terlalu melindungi dan membingbing. 5. Tipe Indigenous Tipe ini ditentukan oleh sifat dan pembawaan pemimpin Oleh karena itu Pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out).

Peran Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Para ahli mengemukakan bahwa peranan pemimpin yang perlu ditampilkan seorang pemimpin adalah : 1. Mencetuskan ide 2. Memberi informasi 3. Sebagai seorang perencana 4. Seseorang yang memberi sugesti 5. Mengaktifkan anggota organisasi 6. Mengawasi kegiatan 7. Memberi semangat kepada anggotanya unutk mencapai tujuan 8. Sebagai ahli dalam bidang yang dipimpinnya 9. Memberi rasa aman. Maka dari itu Secara umum pemimpin dalam suatu organisasi adalah orang yang bertanggungjawab penuh dalam menggerakkan akitivitas dan motivasi para anggota organisasi untuk mencapai tujuan bersama.

Tugas Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Tugas Pemimpin Menurut James A.F Stonen, tugas utama seorang pemimpin adalah 1. Pemimpin bekerja dengan orang lain, Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk bekerja dengan orang lain, salah satu dengan atasannya, staf, teman sekerja atau atasan lain dalam organjsasi sebaik orang diluar organisasi. 2. Pemimpin adalah tanggung jawab dan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas), Seorang pemimpin bertanggungjawab untuk menyusun tugas menjalankan tugas, mengadakan evaluasi, untuk mencapai outcome yang terbaik. 3. Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas, Proses kepemimpinan dibatasi sumber, jadi pemimpin hanya dapat menyusun tugas dengan mendahulukan prioritas. Dalam upaya pencapaian tujuan pemimpin harus dapat mendelegasikan tugas- tugasnya kepada staf. Kemudian pemimpin harus dapat mengatur waktu secara efektif,dan menyelesaikan masalah secara efektif. 4. Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual, Seorang pemimpin harus menjadi seorang pemikir yang analitis dan konseptual. Selanjutnya dapat mengidentifikasi masalah dengan akurat. Pemimpin harus dapat menguraikan seluruh pekerjaan menjadi lebih jelas dan kaitannya dengan pekerjaan lain. 5. Manajer adalah forcing mediator, Konflik selalu terjadi pada setiap tim dan organisasi. Oleh karena itu, pemimpin harus dapat menjadi seorang mediator (penengah). 6. Pemimpin adalah politisi dan diplomat, Seorang pemimpin harus mampu mengajak dan melakukan kompromi. Sebagai seorang diplomat, seorang pemimpin harus dapat mewakili tim atau organisasinya. 7. Pemimpin membuat keputusan yang sulit, Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah. (adieth12.blogspot.co.id) Oleh karena itu tugas dan tanggung jawab leader langkah pertama yang efektif adalah dapat menciptakan perbedaan diantara tim, meskipun terkadang perbedaan itu bisa baik atau tidak

Pengertian Leader (Pemimpin) (skripsi dan tesis)

Pemimpin mempengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu melebihi tugas yang diberikan dengan perintah secara wajar. Orang lain mengikutinya dengan kerelaan, tanpa paksaan, atau kekuatan. Menurut Kartini Kartono dalam bukunya berjudul Pemimpin dan Kepemimpinan mengungkapkan bahwa arti pemimpin yaitu : Seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan (Kartono, 1994, h.181). Pemimpin jika dialih bahasakan ke bahasa Inggris menjadi LEADER, yang mempunyai tugas untuk me-LEAD anggota disekitarnya. Sedangkan makna LEAD adalah : 1. Loyality, Seorang pemimpin harus mampu membangkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan. 2. Educate, Seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekanrekannya dan mewariskan tacit knowledge pada rekanrekannya. 3. Advice, Memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada 4. Discipline, Memberikan keteladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya ( adieth12.blogspot.co.id). Maka dari itu Menjadi seorang pemimpin di dunia kerja bukanlah hal mudah karena pemimpin harus memikul tanggung jawab besar. Tidak hanya itu saja pemimpin mempunyai kewajiban untuk membuat semua pegawainya nyaman dan dapat bekerja sama dengan baik

Persyaratan Customer Service (skripsi dan tesis)

Adapun persyarat yang mutlak harus dimiliki oleh seorang customer service dalam menjalankan tugasnya yaitu : 1. Persyaratan fisik 2. Persyaratan mental 3. Persyatan kepribadian  4. Persyaratan Sosial Pengertian di atas menjelaskan bahwa seorang Customer Service memegang peranan sangat penting di berbagai perusahaan. Dalam dunia usaha seorang Customer Service mau tidak mau harus memiliki persyaratan tersebut.

Tingkatan Sikap (skripsi dan tesis)

Menurut Soekidjo Notoatmojo dikuti dari buku Wawan, A dan Dewi, M berjudul Teori dan Pengukuran Pengetahuan sikap terdiri dari berbagai tingkatan yakni : 1. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek). 2. Merespon (responding) Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi skap karena degan suatu usaha untuk menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan. 3. Menghargai (valuing) Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga. 4. Bertanggung jawab (responsibel) Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah mempunyai sikap yang paling tinggi (Wawan, 2010, h.33-34).

Komponen Sikap (skripsi dan tesis)

Kothandapani yang dikutip oleh Saifuddin Azwar dalam bukunya berjudul Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya merumuskan tiga komponen tersebut, yakni : 1. Komponen Kognitif (Kepercayaan Atau Belief), Unsur kognisi dari keyakinan-keyakinan atau pengetahuanpengetahuan individu terhadap objek. Hal yang sangat penting dalam unsur kognisi adalah keyakinan atau pengetahuan yang bersifat evaluasi, yang akhirnya memberi arah kepada sikap terhadap suatu objek tertentu 2. Komponen Emosional (Perasaan), Komponen afeksi ini berhubungan dengan perasaan yang dimiliki seseorang. Suatu objek dapat dirasakan oleh seseorang sebagai rasa yang menyenangkan atau tidak menyenangkan atau disukai dan tidak disukai. 3. Komponen Perilaku (Tindakan). Komponen konasi atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukankan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek yang dihadapinya (Saifuddin, 2013, h.24)

Ciri – ciri Sikap Sikap (skripsi dan tesis)

merupakan faktor internal, tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap. Menurut W.A Gerungan dalam bukunya berjudul Psikologi Sosial mengemukakan bahwa : Untuk dapat membedakan antara attitude, motif kebiasaan dan lain-lain, faktor psychic yang turut menyusun pribadi orang, maka telah dirumuskan lima buah sifat khas dari pada attitude, adapun ciri-ciri sikap itu adalah : 1. Attitude bukan dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan itu dalam hubungan dengan objeknya. 2. Attitude dapat berubah-ubah karena itu sikap dapat dipelajari 3. Attitude tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek. 4. Objek attitude kumpulan dari hal-hal tertentu. 5. Attitude itu mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan, sifat alamiah yang membedakan attitude dari pada kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang (Gerungan, 2009, h.153).

Pengertian Sikap (skripsi dan tesis)

Sikap merupakan konsepsi yang bersifat abstrak tentang pemahaman perilaku manusia. Seseorang akan lebih mudah memahami perilaku orang lain apabila terlebih dahulu mengetahui sikap atau latar belakang terbentuknya sikap pada orang tersebut. Dalam buku Pengantar Umum Psikologi karya Sarlito Wirawan Sarwono menyebutkan bahwa : Sikap adalah kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu (Sarwono, 1976, h.94). Dari pengertian diatas bahwa yang dimaksud dengan sikap adalah suatu tindakan atau tingkah laku sebagai reaksi atau respon terhadap suatu rangsangan atau stimulus, yang disertai suatu pendirian atau perasaan. Dalam beberapa hal, keberadaan sikap merupakan penentu dalam tingkah laku manusia. Sebagai reaksi dari sikap, maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang atau tidak senang, menerima atau menolak, mendekati atau menjauhi dan sebagainya. Maka dari tiap- tiap orang mempunyai sikap yang berbeda-beda terhadap suatu perangsang yang sama.

Konsep Psikologi Tentang Manusia (skripsi dan tesis)

Konsep psikologi manusia menurut Jalaludin Rahmat dalam bukunya berjudul Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa konsep psikologi manusia terdiri dari 3 yaitu : 1. Konsep Manudia dalam Psikoanalisi Perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga substistem dalam kepribadian manusia yakni Id, Ego dan Superego. 2. Konsep Manusia dalam Behaviorisme Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar dan tidak tampak). 3. Konsep Manusia dalam Psikologi Kongnitif Manusia tidak lagi dipandang sebagai makhluk yang bereaksi secara pasif pada lingkungan, tetapi sebagai mahkluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya. 4. Manusia dalam Konsepsi Psikologi Humanistik Manusia bukan saja pelakon dalam panggung masyakarakat, buka saja pencari identitas, tetapi juga pencari makna (Jalaludin, 2011, h.19-30). Psikoanalisi, Behaviorisme, Kongnitif dan Humanistik merupakan empat konsep pendekatan yang paling dominan dimana setiap pendekatan ini memandang manusia dengan cara berlainan.

Pengertian Psikologi Komunikasi (skripsi dan tesis)

Menurut Abu Ahmadi dalam buku berjudul Psikologi Umum menurut Plato dan Aristiteles, berpendapat bahwa : Psikologi adalah ilmu yang memperlajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir. (Ahmadi,2002:9) Maka dari itu menurut Jalaludin Rahmat dalam bukunya berjudul Psikologi Komunikasi menjelaskan bahwa : Psikologi komunikasi menunjukan makna komunikasi sebagaiman digunakan dalam dunia psikologi, dalam psikologi, komunikasi mempunyai makna yang luas, meliputi segala penyampaian energi, gelombang suara, tanda diantara tempat, system atau organisme. Kata komunikasi sendiri dipergunakan sebagai proses, sebagai pesan, sebagai pengaruh, atau secara khusus sebagai pasien dalam psikoterapi (Jalaludi, 2011, h.4). Maka dari itu psikologi juga tertarik pada komunikasi di antara individu bagaimana pesan dari seorang individu menjadi stimulus yang menimbulkan respons pada individu yang lain.

Pengaruh Manajemen Impresi Terhadap Perilaku Kewargaan Organisasional (skripsi dan tesis)

Manajemen impresi merupakan bagian dari respon yang diinginkan secara sosial dan menyiratkan bahwa pengelolaan tayangan merupakan sarana untuk mencari yang baik atau yang diinginkan secara sosial daripada melihat pada yang buruk (Becker & Martin, 1995). Manajemen impresi dapat memengaruhi bagaimana bawahan dievaluasi. Oleh karena itu, karyawan dapat secara positif memengaruhi cara di mana atasan mereka mengadakan evaluasi terhadap bawahannya melalui interaksi antara bawahan dan pemimpinnya. Manajemen impresi juga memfasilitasi penciptaan hasil yang diinginkan di benak semua pemilik yang penting untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Manajemen impresi terdiri dari impresi yang baik (promosi diri, perilaku menjilat, dan perilaku memberi contoh atau teladan) dan impresi yang buruk (intimidasi dan perilaku memohon). Kecenderungan untuk mengelola impresi yang buruk harus berhubungan negatif dengan kecenderungan untuk mengelola impresi yang baik (Becker & Martin, 1995). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perilaku kewargaan organisasional terkait dengan evaluasi kinerja dan promosi (Borman, White, & Dorsey, 1995; Van Scooter & Motowidlo, 1996). Karyawan dapat terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional karena mereka ingin memiliki evaluasi kinerja yang lebih baik atau direkomendasikan untuk mendapatkan peluang dalam promosi jabatan. Karyawan yang terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional lebih cenderung menguntungkan babi orang lain dan dirasakan oleh orang lain (Bolino, 1999). Manajemen impresi merupakan fenomena umum dalam organisasi. Penelitian sebelumnya yang banyak dilakukan adalah penelitian mengenai manajemen impresi dalam organisasi kerja dalam kaitannya dengan penilaian kinerja (Wayne & Ferris, 1990). Asumsi yang umum adalah di sebagian besar pengaturan atau pengelolaan impresi akan negatif dan terkait dengan kinerja pekerjaan (Wayne & Liden, 1995). Hal ini karena kinerja bukan merupakan evaluasi subyektif. Di sisi lain, peneliti menemukan bahwa meskipun penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa manajemen impresi positif terkait dengan penilaian kinerja, hubungan ini dapat bervariasi, tergantung pada sifat kinerja pekerjaan (O’Connell et al., 2011). Para peneliti menyatakan bahwa dampak dari semua penelitian mengenai manajemen impresi kurang menghasilkan temuan yang konsisten. Beberapa peneliti menyatakan bahwa manajemen impresi dapat memotivasi perilaku kewargaan organisasional (Bolino 1999; Bolino et al., 2006; Rioux & Penner, 2000). Perilaku kewargaan organisasional dan manajemen impresi adalah perilaku berdasarkan pada hubungan pribadi dan hubungan jaringan sosial (Bowler & Brass, 2006). Eastman (1994) berpendapat bahwa perilaku menjilat yang merupakan suatu bentuk manajemen impresi adalah konstruk yang mirip dengan perilaku kewargaan organisasional. Para pemimpin akan merespon karyawan secara berbeda tergantung pada apakah perilaku tersebut merupakan manajemen impresi atau merupakan perilaku kewargaan organisasional. Hasil penelitian Eastman (1994) menunjukkan bahwa ada motif tertentu yang terkait dengan keputusan pengawasan terhadap hasil kerja karyawan. Ketika karyawan dikatakan sebagai warga organisasi yang baik, mereka diberi imbalan lebih besar daripada karyawan yang dicap sebagai penjilat atau mereka yang tidak menunjukkan perilaku kewargaan organisasionalnya. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa manajemen impresi mungkin tumpang tindih dengan beberapa dimensi perilaku kewargaan organisasional. Korelasi antara manajemen impresi dan perilaku kewargaan organisasional adalah positif secara signifikan (Eastman, 1994). Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan dalam perilaku kewargaan organisasional mungkin cukup dapat meningkatkan kesan atau impresi. Orang-orang yang terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional cenderung merasakan hal yang positif dalam organisasi mereka. Manajemen impresi juga memotivasi perilaku kewargaan organisasional, selain adanya motif-motif lain seperti pertukaran sosial dan kepribadian yang juga akan berpengaruh pada perilaku kewargaan organisasional. Manajemen impresi juga merupakan bagian dari kepribadian individu. Kepribadian cenderung menjadi prediktor yang lebih baik bagi perilaku dan kinerja kontekstual, sedangkan ukuran kemampuan, pengalaman, atau pengetahuan adalah prediksi yang lebih efektif dalam kinerja tugas (Motowidlo, Borman, & Schmidt, 1997). Manajemen impresi mungkin memiliki hubungan yang berbeda dengan kinerja tugas untuk pekerjaan yang berbeda. Manajemen impresi mungkin tidak dapat memrediksi kinerja secara keseluruhan. Beberapa peneliti telah berkomentar bahwa manajemen impresi sering keliru dan dikodekan sebagai perilaku kewargaan organisasional dan sebaliknya, perilaku kewargaan organisasional juga sering dikategorikan sebagai manajemen impresi (Bolino, 1999; Schnake, 1991). Bolino (1999) juga mengusulkan bahwa hubungan antara perilaku kewargaan organisasional dan citra warga organisasi yang baik akan dimoderatori manajemen impresi sebagai motif untuk terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional. Menurut Bolino (1999), perilaku kewargaan organisasional dapat meningkatkan impresi atau kesan yang mementingkan diri sendiri. Manajemen impresi memfasilitasi penciptaan gambar yang diinginkan dalam pikiran semua pemangku kepentingan untuk mendapatkan hasil yang ditujukan untuk promosi diri. Karyawan dengan manajemen impresi yang kuat cenderung memfokuskan pada tindakan yang bermanfaat bagi diri sendiri daripada bagi orang lain atau dan organisasi. Seorang individu mungkin termotivasi untuk melakukan perilaku kewargaan organisasional karena keinginan individu tersebut untuk dilihat sebagai warga organisasi yang baik dan untuk menciptakan hubungan interpersonal yang positif dan / atau memungkinkan beberapa jenis pengaruh (Chen, Lin, Tung, & Ko, 2008). Snell dan Wong (2007) menemukan bahwa meskipun manajemen impresi sebagai konstruk yang terpisah dan berbeda dari perilaku kewargaan organisasional, namun perilaku yang terkait dengan manajemen impresi tersebut tampak sangat mirip dengan perilaku kewargaan organisasional. Wayne dan Green (1993) menemukan bahwa manajemen impresi memang berkorelasi positif dengan perilaku kewargaan organisasional, terutama perilaku altruistik. Wayne dan Liden (1995) juga menemukan bahwa manajemen impresi bawahan akan berpengaruh dalam mengawasi penilaian kinerja melalui dampaknya terhadap keinginan dan persepsi atasan. Rioux dan Penner (2001) memandang manajemen impresi sebagai semacam motivasi individu dalam melakukan perilaku kewargaan organisasional dan menemukan bahwa motivasi manajemen impresi menjelaskan variansi yang signifikan dalam dimensi sportivitas dalam melakukan perilaku kewargaan organisasional. Berdasarkan asumsi bahwa karyawan yang terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional adalah prajurit yang baik, maka karyawan akan bersedia terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional akan terlihat baik atau membuat citra diri yang positif di mata orang lain (Eastman, 1994). Bolino (1999) mengusulkan bahwa karyawan dapat terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional karena didorong oleh motif manajemen impresi. Grant dan Mayer (2009) juga menemukan bahwa manajemen impresi dapat diprediksi oleh perilaku kewargaan organisasional yang diarahkan pada individu dan pada organisasi. Bolino (1999) menyatakan bahwa manajemen impresi akan sensitif terhadap target perilaku kewargaan organisasional mereka. Rioux dan Penner (2001) menyatakan bahwa tidak ada dasar teoritis yang jelas untuk memrediksi korelasi antara manajemen impresi dan dimensi perilaku kewargaan organisasional tertentu. Berdasarkan teori pertukaran sosial, manajemen impresi atau motif untuk dilihat secara positif dan menghindari penilaian negatif juga menyediakan dasar teoritis untuk memrediksi kinerja dan menerima perilaku kewargaan organisasional. Namun demikian, manajemen impresi berbeda dari perilaku pertukaran sosial, karena manajemen impresi tidak hanya baik dilakukan dengan kepercayaan bahwa ada balasan atau imbalan di masa depan yang akan terjadi. Manajemen impresi ini dilakukan dengan harapan individu dapat mengubah pendapat orang lain (Bowler & Brass, 2003). Manajemen impresi menunjukkan bahwa perilaku seseorang merupakan fungsi dari perilaku dan nilai-nilai dari para pengamat perilaku tersebut. Teori manajemen impresi juga menunjukkan bahwa perilaku kewargaan organisasional dapat dilakukan jika pihak yang kuat bisa mengamati perilaku tersebut.

Perilaku Kewargaan Organisasional (skripsi dan tesis)

Konsep perilaku kewargaan organisasional pertama kali diperkenalkan pada pertengahan 1980 oleh Dennis W. Organ. Teori mengenai perilaku tersebut telah berkembang pesat di tahun-tahun berikutnya. Organ (1997) mendefinisikan perilaku kewargaan organisasional sebagai kontribusi untuk pemeliharaan dan peningkatan konteks sosial dan psikologis yang mendukung kinerja tugas. Perilaku kewargaan organisasional adalah tipe khusus dari perilaku kerja dan didefinisikan sebagai perilaku individu yang bermanfaat bagi organisasi. Kehadiran perilaku kewargaan organisasional digunakan untuk meningkatkan efektivitas organisasi (Katz & Kahn, 1966; Podsakoff & MacKenzie, 1997). Individu yang menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan ini dianggap sebagai “warga organisasi yang baik” (Bateman & Organ, 1983). Perilaku kewargaan organisasional merupakan istilah yang lebih komprehensif dan populer yang menggambarkan berbagai perilaku kerjasama yang positif, sukarela, tidak wajib, dan melampaui satu set persyaratan di luar pekerjaan formal yang sesuai dengan deskripsi pekerjaannya. Perilaku kewargaan organisasional menggambarkan upaya yang dilakukan oleh karyawan untuk mengambil inisiatif untuk berkontribusi dengan cara yang tidak formal tetapi tetap diperlukan dalam organisasi (Smith, Organ, & Near, 1983). Perilaku kewargaan organisasional merupakan perilaku individu yang unik dalam organisasi yang dilakukan secara tidak formal, namun tetap dibutuhkan dan dapat mendukung pekerjaan, dan tidak secara eksplisit dan secara resmi dinyatakan dalam prosedur kerja dan sistem remunerasi. Organ mendefinisikan konsep perilaku kewargaan organisasional sebagai perilaku individu, yang diskresioner dan tidak secara langsung atau secara eksplisit diakui oleh sistem pemberian penghargaan yang bersifat formal, dan secara agregat, perilaku tersebut mampu mempromosikan fungsi efektif organisasi (Jain, 2012). Dengan perkembangan yang sangat cepat dari teori dan penelitian mengenai perilaku kewargaan organisasional, telah terjadi proliferasi konsep yang serupa dengan perilaku tersebut, seperti perilaku prososial organisasi (Brief & Motowidlo, 1986), perilaku organisasi sipil (Graham, 2000), spontanitas organisasi (George & Brief, 1992), kinerja kontekstual (Borman & Motowidlo, 1997), dan kesukarelaan dalam organisasi (Peloza & Hassay, 2006). Berbagai literatur menunjukkan bahwa perilaku kewargaan organisasional lebih dipengaruhi oleh variabel sikap dan karakteristik disposisional individu daripada oleh pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan karyawan (Konovsky & Organ, 1996; Organ & Ryan, 1995). Penelitian sebelumnya menemukan berbagai dimensi yang berbeda dari dalam perilaku kewargaan organisasional. Smith et al. (1983) menyatakan bahwa dimensi perilaku kewargaan organisasional itu termasuk di dalamnya terdapat altruisme, sopan santun, sportif, kesadaran, dan kesadaran sebagai warga organisasi. Van Scooter dan Motowidlo (1996) berpendapat bahwa perilaku kewargaan organisasional terdiri dari fasilitasi interpersonal dan dedikasi pekerjaan. McNeely dan Meglino (1994) dan Williams dan Anderson (1991) menyatakan bahwa perilaku kewargaan organisasional terdiri dari perilaku kewargaan organisasional pada organiosasi dan perilaku kewargaan organisasional pada individu. Kerangka lain mengenai dimensi perilaku kewargaan organisasional dikembangkan oleh Van Dyne, Graham, dan Dienesch (1994). Mereka secara empiris mengidentifikasi tiga dimensi perilaku kewargaan organisasional. Menurut Van Dyne et al. (1994), perilaku kewargaan organisasional terdiri dari kesetiaan, ketaatan, dan partisipasi. Kerangka kerja mereka memiliki beberapa tumpang tindih dengan dimensi perilaku kewargaan organisasional yang dicetuskan oleh Organ. Dimensi ketaatan berfokus pada mengikuti aturan dan prosedur dan memenuhi tenggat waktu tumpang tindih dengan dimensi kesadaran. Dimensi partisipasi yang melibatkan pengambilalihan tugas kerja ekstra dan relawan untuk tugas-tugas khusus, membuat saran, dan mempertahankan standar yang tinggi, tumpang tindih dengan dimensi kesadaran sebagai warga organisasi. Perilaku kewargaan organisasional sering dikonseptualisasikan sebagai kelas sosial diinginkan dari perilaku. Para peneliti sebelumnya bertujuan untuk menanggalkan segala bias dan atribusi untuk keinginan sosial dan untuk mengkaji perilaku dalam bentuk yang lebih ketat yang diamati oleh para peneliti tersebut. Perilaku kewargaan organisasional menggambarkan tindakan di mana karyawan bersedia untuk bertindak atau berperilaku melampaui persyaratan yang ditentukan dalam peran mereka. Perilaku kewargaan organisasional sering tidak tampak dan sulit untuk diukur (Schnake, 1991) namun perilaku tersebut menarik untuk diteliti karena sifatnya yang diskresioner dan adanya berbagai manfaat dari perilaku tersebut bagi organisasi (McNeely & Meglino, 1994). Dalam kebanyakan pekerjaan, perilaku kewargaan organisasional tersebut biasanya memang tidak mungkin untuk menggunakan langkah-langkah yang sama dengan tujuan kinerja. Meskipun ada kesepakatan yang cukup tentang arti pentingnya perilaku kewargaan organisasional dalam literatur yang masih ada, namun tidak ada konsensus tentang pemahaman mengenai perilaku kewargaan organisasional. Perilaku kewargaan organisasional sebagian besar dianggap sebagai masalah pilihan pribadi berdasarkan motif. Ada dua kekuatan motivasi di balik perilaku tersebut, yaitu perilaku kewargaan organisasional yang terkait dengan keinginan individu untuk terlihat seperti warga negara yang baik dan perilaku kewargaan organisasional yang dihasilkan dari keinginan tulus individu untuk membantu organisasi atau untuk membantu individu lain di tempat kerja berdasarkan pertukaran sosial atau karena kepribadian atau karakteristik disposisional mereka (Bolino, 1999). Bukti penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan jaringan sosial (kekuatan persahabatan) terkait dengan kinerja dan penerimaan perilaku kewarganegaraan antarpribadi (Bowler & Brass, 2006). Individu dapat terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional untuk meningkatkan citra diri mereka di dalam organisasi (Bolino, 1999). Bolino (1999) juga berpendapat bahwa karyawan dapat terlibat dalam perilaku kewargaan organisasional untuk meninggalkan kesan yang baik di antara rekan kerja dan supervisor. Hasil penelitian Bolino (1999) tersebut menunjukkan bahwa beberapa strategi manajemen impresi tumpang tindih dengan dimensi perilaku kewargaan organisasional

Manajemen Impresi (skripsi dan tesis)

Manajemen impresi didefinisikan sebagai perilaku yang berusaha mempertahankan citra seseorang di mata orang lain dan merupakan perilaku yang dimiliki sebagai tujuan untuk pencapaian beberapa nilai dalam organisasi (Villanova & Bernardin, 1990). Manajemen impresi juga didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan baik secara sadar maupun tidak sadar untuk mengontrol penggambaran diri yang diproyeksikan dalam interaksi sosial atau sama seperti proses di mana orang berusaha untuk memengaruhi citra orang lain terhadap mereka (McFarland, Yen, Harold, Viera, & Moore, 2005). Manajemen impresi mengacu pada proses di mana orang berusaha untuk memengaruhi cara orang lain memandang mereka. Manajemen impresi merupakan fenomena umum di tempat kerja di mana karyawan mungkin dapat terlibat dalam perilaku tersebut untuk meningkatkan citra diri mereka (Yun, Takeuchi, & Liu, 2007). Manajemen impresi juga telah didefinisikan sebagai perilaku individu yang dilakukan untuk melindungi citra diri mereka dan memengaruhi cara mereka dinilai oleh orang lain secara signifikan (Wayne & Liden, 1995). Manajemen impresi adalah perilaku individu yang dapat digunakan untuk menciptakan citra yang baik dari diri mereka sendiri di antara rekan-rekan mereka di hadapan supervisor (Bolino & Turnley, 2003). Manajemen impresi merupakan perilaku individu yang digunakan untuk melindungi citra diri mereka yang dapat memengaruhi cara mereka dipandang oleh orang lain. Beberapa dimensi yang berbeda-beda dari manajemen impresi telah dikembangkan oleh para peneliti yang berbeda (misalnya, Bozeman & Kacmar 1997; Wayne & Ferris, 1990; Leary & Kowalski, 1990). Manajemen impresi dapat memiliki banyak bentuk. Dua kategori utama dari strategi manajemen impresi muncul dalam banyak literatur, bersifat defensif dan asertif (Wayne & Liden, 1995l; Bozeman & Kacmar, 1997). Strategi defensif yang digunakan dalam menanggapi kinerja yang buruk seperti berbagai alasan yang dikemukakan, permintaan maaf, halangan atau keterbatasan diri, merasa tertekan, dan merasakan ketidakberdayaan dalam belajar (Cohen & Fang, 2008). Strategi asertif secara aktif digunakan untuk membangun reputasi tertentu dengan target tertentu, dan bukan hanya reaksi terhadap permintaan yang bersifat situasional (Wayne & Liden, 1995). Ada berbagai dimensi dalam manajemen impresi. Salah satu yang paling banyak digunakan adalah dimensi yang dikembangkan oleh Jones dan Pittman. Jones dan Pittman mengidentifikasi lima dimensi manajemen impresi yang sering digunakan oleh individu (Turnley & Bolino, 2001). Pertama, perilaku promosi diri, yang berarti bahwa individu yang memainkan peran sesuai dengan kemampuan atau prestasi mereka harus dilihat sebagai suatu kompetensi. Promosi diri ini menunjukkan penggambaran perhatian pada prestasi pribadi yang dapat dicapai oleh seseorang sehingga orang tersebut tampak memiliki kompetensi. Promosi diri menyoroti kemampuan atau prestasi seseorang agar dapat dilihat sebagai karyawan yang kompeten. Promosi diri dapat digunakan ketika individu berusaha untuk menciptakan atau mempertahankan kompetensinya. Promosi diri terdiri dari perilaku yang menunjukkan bahwa individu tersebut sangat kompeten, efektif, dan sukses. Contoh dari jenis perilaku tersebut tampak ketika karyawan memaparkan bakat, kompetensi, dan prestasinya. Kedua, perilaku menjilat, yang berarti bahwa individu menggunakan sanjungan atau memberikan dukungan yang dilakukan dalam upaya untuk dilihat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Menjilat adalah perilaku yang digunakan oleh individu untuk membuat individu tampil lebih menarik di hadapan orang lain. Perilaku menjilat ini dilakukan agar individu tersebut disukai. Perilaku menjilat meliputi memberikan pujian, memberikan pendapat yang membuat orang lain merasa senang, dan melakukan kebaikan bagi orang lain dalam rangka meningkatkan keinginan untuk disukai orang lain. Perilaku menjilat berfokus pada atribut yang diinginkan individu. Ketiga, perilaku pemberian contoh, yang berarti bahwa individu berperilaku dengan memposisikan diri berada di atas dan melampaui panggilan tugas untuk muncul sebagai individu yang berdedikasi. Individu yang berperilaku ingin menjadi contoh tersebut merasa selalu ingin dihormati dan dikagumi karena integritas dan kejujuran moralnya. Individu yang berperilaku demikian akan selalu tiba di tempat kerja lebih awal atau meninggalkan tempat kerja paling akhir untuk menciptakan citra dedikasi yang tinggi bagi pekerjaannya. Perilaku yang selalu ingin memberikan contoh akan menyoroti kualitas sosial dan estetika. Keempat, melakukan intimidasi, yang berarti bahwa individu tersebut selalu berusaha untuk tampil menakutkan dan mengancam, serta ingin orang lain melihat mereka sebagai orang yang disegani. Kelima, perilaku memohon, yang berarti bahwa individu memaparkan berbagai kekurangan mereka dalam upaya agar dipandang sebagai orang yang tidak mampu atau miskin. Perilaku memohon tersebut digambarkan sebagai mampu memenuhi kewajiban yang harus dilakukan namun tidak mau menunjukkannya. Becker dan Martin (1995) telah menunjukkan bahwa individu kadang-kadang mencoba untuk melihat di tempat kerja untuk menghindari tuntutan tugas. Perilaku promosi diri, menjilat, dan memberikan contoh tersebut bertujuan untuk menunjukkan hal-hal yang positif pada orang lain. Sementara itu, intimidasi dan perilaku memohon memungkinkan para pelaku untuk menciptakan persepsi negatif dari diri mereka sendiri dalam target pikiran mereka. Pada strategi pengelolaan lima kesan ini, peneliti paling sering menemukan penggunaan perilaku menjilat dan promosi diri (lihat misalnya Ralston, 1985; Liden & Mitchell,1988). Gordon (1996) menemukan bahwa perilaku promosi diri dan perilaku menjilat yang positif berkaitan dengan evaluasi kinerja dan daya tarik interpersonal. Perilaku promosi diri dan menjilat juga menunjukkan bahwa kedua dimensi positif dari manajemen impresi tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan ataupun yang tidak menguntungkan. Secara umum, penelitian mengenai perilaku pemberian contoh, intimidasi dan perilaku memohon jarang dilakukan (Turnley & Bolino , 2001). Menurut Leary dan Kowalski (1990), manajemen impresi adalah fungsi dari lima faktor, yaitu konsep diri, yaitu cara seseorang memandang dirinya sendiri, gambaran identitas yang diinginkan, yaitu bagaimana orang ingin melihat dirinya sendiri, kendala peran, yaitu harapan yang terkait dengan peran sosial, nilai-nilai yang menjadi target, yaitu preferensi orang lain yang signifikan, dan citra sosial yang saat ini atau yang mungkin akan terjadi di masa mendatang, yaitu bagaimana orang tersebut saat ini dianggap atau ingin dianggap oleh orang lain. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa bentuk tertentu manajemen impresi dapat memengaruhi bagaimana seorang karyawan dievaluasi, yang mengarah ke peringkat yang lebih baik dari kinerja yang dicapainya saat ini (Wayne & Liden, 1995). Manajemen impresi terdiri dari kesan yang baik atau menguntungkan dan kesan yang buruk atau tidak menguntungkan (Becker & Martin, 1995 ). Penelitian manajemen impresi berfokus pada cara-cara individu berperilaku dalam rangka menciptakan dan memanipulasi gambar dan persepsi diri dalam pikiran orang lain (Bozeman & Kacmar, 1997). Para peneliti perilaku manajemen impresi telah mengidentifikasi taktik yang digunakan oleh individu untuk meningkatkan citra mereka seperti yang dirasakan oleh orang lain. Drory dan Zaidman (2007) mengemukakan bahwa penelitian yang ada mengenai manajemen impresi dapat dibagi menjadi dua pendekatan utama, yaitu pendekatan universal dan pendekatan kontekstual. Pendekatan yang universal berfokus pada aktor dan studi manajemen impresi individu dalam budaya bebas. Pendekatan kontekstual mempelajari manajemen impresi yang seolah-olah dibangun dalam beberapa konteks seperti wawancara kerja, penilaian kinerja, dan kesuksesan karir. Para peneliti manajemen impresi telah mengidentifikasi fakta-fakta yang digunakan oleh orang lain Meskipun penelitian mengenai hubungan antara manajemen impresi dan penilaian kinerja telah banyak dilakukan, namun hanya beberapa studi yang mampu menujukkan secara empiris hubungan antara manajemen impresi dan penilaian kinerja (Ferris, Hakim, Rowland, & Fitzgibbons, 1994; Kipnis & Schmidt , 1988; Wayne & Ferris, 1990; Wayne & Kacmar,1991). Beberapa studi telah meneliti dampak manajemen impresi yang dilakukan oleh bawahan pada hasil penilaian kinerja. Bolino et al. (2008) menemukan bahwa manajemen impresi juga telah berguna dalam memeriksa berbagai fenomena kerja seperti kepemimpinan, mencari umpan balik atau masukan, dan perilaku kewargaan organisasional. Meskipun hubungan yang signifikan antara manajemen impresi dan penilaian kinerja telah muncul, hubungan kausal antara kedua variabel tersebut tidak jelas, proses intervensi tidak dipahami dengan baik, dan dampak manajemen impresi pada hasil penilaian kinerja dari waktu ke waktu tidak diketahui (Wayne & Liden , 1995)

Kemampuan Kognitif (skripsi dan tesis)

Kemampuan kognitif merupakan salah satu kemampuan dasar yang dimiliki anak usia 5-6 tahun. Apabila kita bicara kemampuan dasar, maka kita akan menghubungkannya dengan istilah”potensi”. Dalam banyak buku psikologis potensi sering diartikan sebagai pembawaan sejak lahir atau kesanggupan untuk berkembang yang dimiliki seorang manusia sejak lahir .ketika seorang manusia sejak lahir ia membawa segudang potensi, namun potensi tersebut harus didukung oleh orang dewasa yang ada disekitarnya agar dapat berkembang secara optimal dan maksimal. perkembangan kognitif merupakan perkembangan dari pikiran. Pikiran merupakan bagian dari otak, bagian yang digunakan untuk bernalar, berpikir dan memahami sesuatu. Setiap hari pikiran anak berkembang ketika mereka belajar tentang orang yang ada disekitarnya. Belajar, berkomunikasi dan membaca mendapatkan lebih banyak pengalaman lainnya, kognitif dapat diartikan sebagai kemampuan verbal, kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan Kemampuan Kognitif Kemampuan kognitif merupakan salah satu kemampuan dasar yang dimiliki anak usia 5-6 tahun. Apabila kita bicara kemampuan dasar, maka kita akan menghubungkannya dengan istilah”potensi”. Dalam banyak buku psikologis potensi sering diartikan sebagai pembawaan sejak lahir atau kesanggupan untuk berkembang yang dimiliki seorang manusia sejak lahir .ketika seorang manusia sejak lahir ia membawa segudang potensi, namun potensi tersebut harus didukung oleh orang dewasa yang ada disekitarnya agar dapat berkembang secara optimal dan maksimal. perkembangan kognitif merupakan perkembangan dari pikiran. Pikiran merupakan bagian dari otak, bagian yang digunakan untuk bernalar, berpikir dan memahami sesuatu. Setiap hari pikiran anak berkembang ketika mereka belajar tentang orang yang ada disekitarnya. Belajar, berkomunikasi dan membaca mendapatkan lebih banyak pengalaman lainnya, kognitif dapat diartikan sebagai kemampuan verbal, kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan

Pengertian Kognitif (skripsi dan tesis)

Beberapa pengertian kognitif menurut para ahli diantaranya; Menurut Drever yang dikutip oleh Yuliana Nurani dan Sujiono disebutkan bahwa “kognitif adalah istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penilaian, dan penalaran”.  Sedangkan menurut Piaget, menyebutkan bahwa “kognitif adalah bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian disekitarnya”.Piaget memandang bahwa anak memainkan peranan aktif didalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas, anak tidak pasif menerima informasi.Walaupun proses berpikir dan konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalamannya dengan dunia sekitar dia, namun anak juga aktif menginterpretasikan informasi yang ia peroleh dari pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi. Pengertian lain juga tentang kognitif menurut Chaplin yang di kutip oleh Winda Gunarti mengemukakan bahwa “kognitif adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk mengenal, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga dan menilai. Dari berbagai penilaian yang telah disebutkan diatas dapat dipahami bahwa kognitif adalah sebuah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktifitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikogis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menilai, dan memikirkan lingkungannya.

Keuntungan Belajar Mandiri (skripsi dan tesis)

Menurut Jerrold E.Kamp (1994: 156) mengemukakan bahwa keuntungan dari belajar mandiri adalah sebagai berikut: 1) Peningkatan baik dari segi jenjang belajar maupun kadar ingatan. Jumlah peserta didik yang gagal dalam menunjukkan kinerja yang tidak memuaskan dapat dikurangi secara nyata. 2) Memberikan kesempatan baik kepada peserta didik yang lamban maupun yang cepat untuk menyelesaikan pelajaran sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing dalam kondisi belajar yang cocok. 3) Rasa percaya diri dan tanggung jawab pribadi yang dituntut dari peserta didik berlanjut sebagai kebiasaan dalam kegiatan pendidikan lain, tanggung jawab atas pekerjaan dan tingkah laku pribadi. 4) Menyebabkan lebih banyak perhatian yang tercurah kepada peserta didik perseorangan dan memberi kesempatan yang lebih luas untuk berlangsungnya interaksi antar peserta didik. 5) Kegiatan dan tanggung jawab pengajar yang terlibat dalam program belajar mandiri berubah karena waktu untuk penyajian menjadi berkurang dan ia mempunyai waktu lebih banyak untuk memantau peserta didik dalam pertemuan kelompok dan untuk konsultasi perseorangan. 6) Memang pendekatan utama ke arah belajar mandiri mungkin menjadikan tidak efisien dari segi biaya dalam jangka pendek, namun karena teknik dan beranekan sumber digunakan berulang-ulang dengan kelompok selanjutnya, biaya program dapat dikurangi secara nyata. 7) Peserta didik cenderung lebih menyukai metode belajar mandiri daripada metode tradisional karena sejumlah keunggulan yang dinyatakan di atas. Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar mandiri memberikan keuntungan untuk diri sendiri, seperti peserta didik mempunyai rasa percaya diri tinggi, belajar lebih giat, dan mempunyai rasa tanggung jawab

Faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Belajar (skripsi dan tesis)

Menurut Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2008: 118-121) ada sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan kemandirian belajar, yaitu sebagai berikut: 1) Gen atau keturunan orang tua Orang tua yang memiliki sifat kemandirian tinggi seringkali menurunkan anak yang memiliki kemandirian juga. Namun, faktor keturunan  ini masih menjadi perdebatan karena ada yang berpendapat bahwa sesungguhnya bukan sifat kemandirian orang tuanya itu menurun langsung kepada anaknya, melainkan sifat orang tuanya muncul berdasarkan cara orang tua mendidik anaknya. 2) Pola asuh orang tua Cara orang tua mengasuh atau mendidik anak akan mempengaruhi perkembangan kemandirian anak. Orang tua yang terlalu banyak melarang atau mengeluarkan kata “jangan” kepada anak tanpa disertai dengan penjelasan yang rasional akan menghambat perkembangan kemandirian anak. Sebaliknya, orang tua yang menciptakan suasana aman dalam interaksi keluarganya yang akan dapat mendorong kelancaran perkembangan anak. Demikian juga orang tua yang cenderung sering membandingkan anak yang satu dengan yang lainnya juga akan berpengaruh kurang baik terhadap perkembangan kemandirian anak. 3) Sistem pendidikan di sekolah Proses pendidikan di sekolah yang tidak mengembangkan demokrasi pendidikan dan cenderung menekankan indoktrinasi tanpa argumentasi akan menghambat perkembangan kemandirian remaja. Pentingnya pemberian sanksi atau hukuman (punishment) juga dapat menghambat perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya proses pendidikan yang lebih menekankan pentingnya penghargaan terhadap potensi anak, pemberian reward, dan penciptaan kompetensi positif akan memperlancar kemandirian remaja atau peserta didik. 4) Sistem kehidupan di masyarakat Sistem kehidupan masyarakat yang terlalu menekankan pentingnya hierarki struktur sosial, merasa kurang aman atau mencekan serta kurang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif dapat menghambat kelancaran perkembangan kemandirian remaja. Sebaliknya, lingkungan masyarakat yang aman, menghargai ekspresi potensi remaja dalam bentuk berbagai kegiatan, dan tidak terlalu hierarkis akan merangsang dan mendorong perkembangan kemandirian remaja. Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar yaitu pola asuh orang tua, mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis, lingkungan masyarakat yang menghargai manifestasi potensi remaja dalam kegiatan produktif.

Aspek Kemandirian Belajar (skripsi dan tesis)

Kemandirian belajar adalah salah satu aspek penting dalam menunjang keberhasilan belajar peserta didik. Dengan kemandirian, peserta didik dapat belajar tanpa harus menunggu atau menggantungkan pada sumber belajar tertentu. Menurut Brookfiekd (1986: 41), kemandirian belajar diantaranya adalah analitis, mandiri secara sosial, dapat mengarahkan diri, individualis, dan memiliki rasa identitas yang kuat. Menurut Arends (2007: 384) dalam kemandirian belajar, guru berperan sebagai pembimbing yang selalu mendorong dan memberikan penghargaan kepada peserta didiknya untuk bertanya dan mencari solusi dalam masalah nyata dengan jalan mereka masing-masing. Peserta didik diharapkan dapat belajar untuk menerapkan apa yang telah dipelajari secara mandiri dalam kehidupan. Berdasar pada beberapa pengertian tentang kemandirian belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar adalah rasa ketidaktergantungan pada orang lain dan disertai rasa berani mengambil keputusan dengan mempertimbangkan konsekuensi yang akan diperoleh. Kemandirian meliputi tidak merasa tergantung pada orang lain, memiliki rasa identitas yang kuat atau percaya diri, dapat mengarahkan atau mengontrol diri, mempunyai motivasi, dan berani menanggung konsekuensi atau bertanggung jawab. Penjelasan dari aspek kemandirian belajar adalah sebagai berikut: 1) Tidak Tergantung pada Orang Lain Peserta didik yang tidak tegantung pada orang lain akan belajar dengan caranya sendiri dan menemukan cara penyelesaian soal dengan kreatif. Menurut M. Taufik Amir (2009: 84), proses problem based learning menuntut peserta didik untuk lebih bebas dalam urusan belajar. Tidak hanya mencari sumber belajar, peserta didik juga harus mampu menghasilkan pengetahuan sendiri, baik yang sudah ada maupun menciptakan pengetahuan yang belum ada. 2) Percaya Diri Percaya diri menurut Hamzah B. Uno (2008: 86) adalah keyakinan tentang harga diri dan kemampuan diri. Orang yang mempunyai kepercayaan diri mempunyai ciri-ciri: a) Berani tampil dengan keyakinan diri, b) Berani menyuarakan pandangannya, dan c) Tegas. Percaya diri peserta didik dapat dilihat dari semangat saat mempresentasikan hasil pekerjaannya, kemantapan saat bertanya maupun menjawab, dan percaya pada kemampuannya sendiri. 3) Mengontrol Diri Peserta didik yang mempunyai kemandirian belajar pasti dapat mengontrol atau mengendalikan diri. Hamzah B. Uno (2008: 86) menyatakan bahwa mengontrol diri atau mengendalikan diri diartikan sebagai mengelola emosi dan keinginan negatif. Golman (Hamzah B. Uno, 2008: 89) menyatakan orang yang dapat mengontrol atau mengendalikan diri adalah orang yang dapat: a) Mengelola dengan baik perasaan dan emosi; b) Tetap teguh dan tidak goyah walaupun dalam situasi yang berat; dan c) Berpikir dengan jernih dan tetap fokus. Dengan demikian, peserta didik yang dapat mengontrol diri harus dapat mengontrol waktu belajarnya, memperhatikan perkembangan prestasi belajarnya, serta berusaha meningkatkan hasil belajarnya. 4) Motivasi Menurut Sardirman (2011: 73), motif adalah daya atau upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Setelah mendefinisikan kata motif, Sardiman (2011: 73) menyimpulkan bahwa motivasi adalah daya penggerak yang telah menjadi aktif. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998: 593), motivasi diartikan sebagai dorongan yang timbul pada diri seseorang, baik secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi juga diartikan sebagai usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya. Dalam Sardiman (2011: 83) dijelaskan ciri-ciri motivasi, antara lain yaitu: a) Tekun menghadapi tugas, b) Ulet menghadapai kesulitan, c) Menunjukkan minat, d) Lebih senang bekerja mandiri, e) Cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, f) Dapat mempertahankan pendapatnya, g) Tidak mudah melepas hal yang diyakini, dan h) Senang memecahkan masalah. Sardiman (2011: 85) menyebutkan tiga fungsi motivasi, yaitu sebagai berikut: a) Mendorong manusia untuk bergerak Motivasi dapat mendorong manusia untuk bergerak melakukan sesuatu. b) Menentukan arah perbuatan Motivasi memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan. c) Menyeleksi perbuatan Dengan motivasi, kita dapat menentukan perbuatan apa yang harus dikerjakan untuk mencapai tujuan, serta kegiatan apa yang tidak bermanfaat untuk tujuan tersebut. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan untuk melakukan sesuatu. Peserta didik yang mempunyai motivasi akan berusaha menyelesaikan pekerjaannya, semangat dalam belajar, dan mempunyai antusiasme terhadap pembelajaran. 5) Tanggung Jawab Tanggung jawab dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 899) diartikan sebagai keadaan dimana wajib menanggung segala sesuatunya yang dimiliki peserta didik dapat diketahui dengan sikap peserta didik saat menerima saran dan kritik terhadap pekerjaannya, peserta didik mengumpulkan tugas tepat waktu, tidak menyontek saat ujian, dan memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh.

Pengertian Kemandirian Belajar (skripsi dan tesis)

Kemandirian belajar berasal dari kata mandiri yang merupakan salah satu aspek penting yang perlu ditingkatkan oleh peserta didik. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 555), kata mandiri diartikan sebagai keadaan dapat berdiri sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kata kemandirian, menurut Pengalaman Terdahulu Sumber Pembentuk Self-Efficacy Umpan Balik Pola yang Berkaitan dengan Perilaku Dampak Tinggi “Saya tahu dapat ,melakukan pekerjaan ini”  Aktif memilih kesempatan paling baik  Mengelola situasi menetralkan kesulitan  Menetapkan tujuan membangun standar  Mencoba dengan keras  Memecahkan persoalan secara kreatif  Belajar dari kegagalan  Membatasi stress  Pasif  Menghindari tugas yang sulit  Aspirasi yang lemah dan komitmen yang rendah  Jangan pernah mencoba/melakukan usaha yang lemah  Berhenti/tidak berani karena kegagalan  Menyalahkan kekurangan kemampuan atau nasib buruk  Berpikir mengenai alasan kegagalan Berhasil Model Perilaku Persuasi Verbal Kondisi Fisik dan Emosi SelfEfficacy Rendah “Saya pikir saya tidak dapat melakukan pekerjaan ini” Gagal Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988: 55), adalah hal atau keadaan dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Hal ini senada dengan pendapat Rusman (2011: 353) bahwa mandiri mempunyai arti tidak tergantung pada orang lain, bebas dan dapat melakukan sendiri. Menurut Hamzah B. Uno (2008: 77), kemandirian adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalika diri sendiri dalam berpikir dan bertindak, serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional. Orang yang mandiri dianggap mampu bekerja sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Selain itu, kemandirian juga dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan diri dan kekuatan batin seseorang. Menurut Mohammad Ali dan Mohammad Asrori (2008: 110), individu yang mandiri adalah individu yang berani mengambil keputusan yang dilandasi pemahaman akan segala konsekuensi atas tindakannya. Sebelum membahas kemandirian belajar, akan dibahas mengenai belajar mandiri terlebih dahulu. Menurut Haris Mudjiman (2007: 7) “Belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang didorong oleh niat atau motif untuk menguasai sesuatu kompetensi guna mengatasi sesuatu masalah, dan dibangun dengan bekal pengetahuan atau kompetensi yang dimiliki”. Menurut Martinis Yasmin (2008: 125) menjelaskan bahwa “Belajar mandiri bukanlah belajar individual, akan tetapi belajar yang menuntut kemandirian seorang peserta didik untuk belajar”. Menurut Paulina Pannen (dalam Martinis Yasmin 2008: 126) beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menciptakan belajar mandiri yaitu: 1) Guru harus mampu merencanakan kegiatan pembelajaran dengan baik dan teliti, termasuk beraneka ragam tugas yang dapat dipilih untuk dikerjakan oleh peserta didik. Perencanaan kegiatan pembelajaran dan tugas-tugasnya harus dilakukan sebelum proses pembelajaran dimulai (bukan pada saat kegiatan pembelajaran dikelas) 2) Perencanaan kegiatan pembelajaran dan tugas-tugasnya harus dilakukan berdasarkan kemampuan dan karakteristik awal peserta didik. 3) Guru dalam rangka penerapan belajar mandir, perlu memperkaya dirinya terus-menerus dengan pengetahuan dan keterampilan yang belum dimiliki dan dikuasainya serta juga pengetahuan dan keterampilan yang baru dalam bidang ilmunya. 4) Selain keterampilan guru dalam hal penguasaan ilmu dan perencanaan pembelajaran, belajar mandiri juga menuntut adanya sarana dan sumber belajar yang memadai, seperti perpustakaan, laboratorium, studio dan lain sebagainya. Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif yang didorong dari dalam diri sendiri untuk mengembangkan diri guna mencapai tujuan belajar. Guru yang menciptakan belajar aktif dalam proses belajar mengajar di kelas dengan tujuan menimbulkan kemandirian belajar dalam diri setiap peserta didik. Menurut Umar Tirtahardja dan La Sulo (2005: 50) mendefinisikan “Kemandirian Belajar adalah aktivitas belajar yang berlangsungnya lebih didorong oleh kemauan sendiri pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajar”. Berdasarkan pengertian di atas makan dapat diambil kesimpulan bahwa kemandirian belajar adalah suatu sikap yang berasal dari dalam individu itu sendiri untuk belajar mandiri karena adanya dorongan untuk menguasai suatu kompetensi yang diharapkan.

Fungsi Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

Self-efficacy mempunyai peran terhadap segala perasaan, pikiran, baik dalam tindakan individu maupun hasil yang ditampilkan oleh individu, begitu pula dalam hal berinteraksi dengan individu lain. Bandura (1986) dalam Noormania (2014) menyebutkan peran tersebut yang merupakan fungsi dari selfefficacy adalah: 1) Pilihan tingkah laku (behavior choosen) Self-efficacy mengacu pada sebuah keyakinan untuk mampu melakukan suatu perilaku yang diharapkan. Tanpa self-efficacy seseorang atau individu enggan melakukan suatu perilaku tertentu. Individu cenderung menghindari tugas dan situasi yang diyakini berada diluar kemampuannya, namun individu bersedia menangani kegiatan yang dinilainya mampu untuk 26 diatasi. Saat individu mempertimbangkan untuk mencoba melakukan hal tertentu, individu akan bertanya pada dirinya apakah mampu atau tidak untuk melakukannya dan disinilah self-efficacy berfungsi. 2) Usaha yang dilakukan dan penentu besarnya daya tahan dalam mengatasi hambatan Penilaian terhadap self-efficacy juga menentukan seberapa besar usaha yang akan dilakukan dan berapa lama individu mampu bertahan menghadapi segala hambatan dan gangguan dalam melakukan suatu tugas. King (2010: 153) menjelaskan, self-efficacy membantu orang orang dalam berbagai situasi yang tidak memuaskan dan mendorong mereka untuk meyakini bawah mereka dapat berhasil. 3) Pola berpikir dan reaksi emosional Self-efficacy akan memengaruhi pola berpikir dan reaksi emosi individu pada saat mengatasi dan melakukan aktivitas dengan lingkungan. Individu dengan self-efficacy tinggi memusatkan perhatian pada usaha yang diperlukan sesuai dengan tuntutan situasi dan melihat kegagalan akibat kurangnya usaha. Sebaliknya, individu dengan self-efficacy yang rendah melihat kegagalan sebagaiakibat dari ketidakmampuan dirinya. 4) Meramalkan tingkah laku selanjutnya. Greenberg dan Baron (2011) menyatakan, self-efficacy merupakan prediktor yang baik terhadap perilaku di masa depan. Seseorang dengan selfefficacy tinggi akan mencoba lebih keras dan berkomitmen tinggi untuk mengambil segala tindakan demi mencapai tujuan. Sebaliknya individu yang memiliki self-efficacy rendah cenderung memiliki komitmen yang rendah pula sehingga mereka memutuskan untuk tidak mencoba suatu tindakan. 5) Penentu kinerja selanjutnya Self-efficacy akan berpengaruh terhadap performance yang ditampilkan. Jika seseorang berhasil melaksanakan tugas tertentu maka keberhasilannya akan meningkatkan keyakinan dirinya dalam melaksanakan tugas yang lain. Individu tersebut akan memiliki pengalaman yang memuaskan dan memberikan peningkatan performancenya.

Faktor yang Mempengaruhi Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

Feist J. Dan Gregory J. F. (2011: 213) menyebutkan bahwa perkembangan self-efficacy pada seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut: 1) Pengalaman menguasai sesuatu (mastery experience) Menurut Bandura (dalam Feist J. Dan Gregory J. F., 2011: 214) pengalaman menguasai sesuatu atau mastery experiences adalah faktor yang paling mempengaruhi self-efficacy pada diri seseorang. Keberhasilan akan mampu meningkatkan ekspektasi tentang kemampuan, sedangkan kegagalan cenderung menurunkan hal tersebut. Pernyataan tersebut memberikan dampak: a) Keberhasilan akan mampu meningkatkan self-efficacy secara proporsional dengan kesulitan dari tugas. b) Tugas yang mampu diselesaikan oleh diri sendiri akan lebih efektif diselesaikan oleh diri sendiri daripada diselesaikan dengan bantuan orang lain. c) Kegagalan dapat menurunkan self-efficacy ketika seseorang merasa sudah memberikan usaha yang terbaik. d) Kegagalan yang terjadi ketika tekanan emosi yang tinggi tidak terlalu berpengaruh daripada kegagalan dalam kondisi maksimal. e) Kegagalan sebelum memperoleh pengalaman lebih berdampak pada selfefficacy daripada kegagalan setelah memperoleh pengalaman. f) Kegagalan akan berdampak sedikit pada self-efficacy seseorang terutama pada mereka yang memiliki ekspetasi kesuksesan yang tinggi. 2) Permodelan sosial (social modelling) Kesuksesan atau kegagalan orang lain sering digunakan sebagai pengukur kemampuan dari diri seseorang. Self-efficacy dapat meningkat saat mengobservasi keberhasilan seseorang yang mempunyai kompetensi setara, namun self-efficacy dapat berkurang ketika melihat orang lain yang setara gagal. Secara umum, permodelan sosial tidak memberikan dampak yang besar dalam peningkatan self-efficacy seseorang, tetapi permodelan sosial dapat memberikan dampak yang besar dalam penurunan self-efficacy, bahkan mungkin dampaknya dapat bertahan lama. 3) Persuasi sosial (social persuasion) Dampak dari persuasi sosial terhadap meningkatnya atau menurunnya self-efficacy tentunya cukup terbatas, dan harus pada kondisi yang tepat. Kondisi tersebut adalah bahwa seseorang haruslah mempercayai pihak yang melakukan persuasi karena kata-kata dari pihak yang terpercaya lebih efektif daripada kata-katadari pihak yang tidak terpercaya. Persuasi sosial paling efektif ketika dikombinasikan dengan performa sukses. Persuasi mampu meyakinkan seseorang untuk berusaha jika performa yang dilakukan terbukti sukses. 4) Kondisi fisik dan emosional (physical and emotional states) Ketika seseorang mengalami ketakutan, kecemasan yang kuat dan stres yang tinggi memungkinkan seseorang akan memilih self-efficacy yang rendah, sehingga emosi yang kuat cenderung mengurangi performa seseorang. Ormrod (2008: 23-27) juga menyebutkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan self-efficacy dari seseorang. Faktorfaktor tersebut diantaranya sebagai berikut: 1) Keberhasilan dan kegagalan sebelumnya Albert Bandura mengatakan bahwa seseorang akan lebih mungkin yakin bahwa dirinya dapat berhasil dalam tugas ketika dirinya telah berhasil pada tugas tersebut atau tugas yang mirip di masa lalu. Maka, strategi yang untuk dapat meningkatkan self-efficacy dari seseorang adalah dengan memberikan pengalaman keberhasilan dalam suatu tugas. Begitu seseorang telah mengembangkan self-efficacy yang tinggi, kegagalan sesekali tidak akan memberikan dampak yang begitu besar kepada optimismenya. 2) Pesan dari orang lain Zeldin & Pajares mengatakan bahwa self-efficacy dapat ditingkatkan dengan memberi alasan-alasan pada seseorang yang bersangkutan untuk percaya bahwa mereka dapat sukses di masa depan. Pernyataan seperti “Kamu pasti bisa jika berusaha” mampu meningkatkan kepercayaan diri dari seseorang. Tetapi menurut Schunk pengaruh optimistik tersebut cenderung cepat hilang kecuali usaha yang dilakukan benar-benar sukses. Selain itu, pesan-pesan yang tersirat juga memiliki dampak yang sama terhadap selfefficacy jika dibandingkan dengan pesan langsung. 3) Kesuksesan dan kegagalan orang lain Schunk berpendapat bahwa seseorang terkadang sering mempertimbangkan keberhasilan atau kegagalan orang lain yang dianggapnya memiliki kemampuan yang setara untuk dapat menilai peluang keberhasilan dirinya sendiri. Dengan demikian, self-efficacy dapat ditingkatkan dengan menunjukkan bahwa orang lain yang seperti mereka mampu memperoleh kesuksesan. 4) Kesuksesan dan kegagalan dalam kelompok yang lebih besar Seseorang memungkinkan memiliki self-efficacy yang lebih besar ketika mereka bekerja dalam kelompok daripada bekerja sendiri, self-efficacy tersebut dapat disebut juga dengan self-efficacy diri kolektif. Albert Bandura mengatakan bahwa self-efficacy diri kolektif tidak hanya tergantung kepada presepsi seseorang terhadap kemampuannya sendiri dan orang lain tetapi juga presepsi mereka tergantung bagaimana mereka dapat bekerja sama secara efektif dan mampu mengkoridinasikan tanggung jawab mereka. Berdasarkan uraian di atas tentang faktor yang mempengaruhi self-efficacy didapat dua pendapat. Pertama menurut Bandura yang berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi self-efficacy adalah pengalaman menguasai sesuatu, permodelan sosial, persuasi sosial, kondisi fisik dan emosional. Kedua, menurut Ormrod mengatakan faktor yang mempengaruhi self-efficacy yaitu, keberhasilan dan kegagalan sebelumnya, pesan dari orang lain, kesuksesan dan kegagalan orang lain, dan kesuksesan dan kegagalan kelompok yang lebih besar. Keempat faktor tersebut juga akan diseleksi dan disatukan oleh individu sehingga membenuk presepsi mengenai kemampuan yang dimilikinya, dan selanjutnya berpengaruh pada tinggi rendahnya self-efficacy seseorang. Tinggi rendahnya self-efficacy juga dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa reward yang nantinya akan diterima oleh individu tersebut. Kemampuan mengenali diri sendiri dan peran yang dimiliki seseorang juga cukup berpengaruh terhadap tinggi rendahnya self-efficacy seseorang.

Aspek-aspek Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

Albert Bandura (1997: 42-43) menyebutkan bahwa self-efficacy pada setiap individu terletak pada tiga aspek yaitu magnitude, strength dan generality. Masing-masing mempunyai implikasi penting dalam performansi, yang secara lebih jelas dapat diuraikan antara lain sebagai berikut: 1) Aspek Magnitude (Kesulitan Tugas) Aspek ini berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas yang harus diselesaikan seseorang dari tuntutan sederhana, moderat sampai yang membutuhkan performansi maksimal (sulit). Individu yang yakin akan mendekati tugas-tugas yang sulit sebagai tantangan untuk dikuasai dibanding sebagai ancaman untuk dihindari. Individu tersebut mempunyai minat yang besar dan merupakan keasyikan tersendiri dalam melakukan aktivitas, menetapkan tujuan, mempunyai komitmen yang tinggi dan mempertinggi usaha dalam menghadapi kegagalan. Individu tersebut lebih cepat memulihkan kepercayaan setelah mengalami kegagalan dan menunjukkan bahwa kegagalan tersebut karena usaha yang tidak cukup dan kurangnya pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. Individu diarahkan pada peningkatan prestasi, yang akhirnya menaikkan semangat dan keyakinannya. Sebaliknya efikasi diri yang rendah berhubungan dengan sifat menyerah. Individu akan memastikan kegagalan, membentuk keyakinan dan semangat juang yang rendah. Aspek kesulitan tugas dijabarkan dalam pelatihan menjadi sesi mencurahkan usaha yang tinggi/daya juang. 2) Aspek Generality (Generalisasi) Aspek ini merupakan aspek yang berkaitan dengan luas bidang tugas yang dilakukan. Beberapa keyakinan individu terbatas pada suatu aktivitas dan situasi tertentu dan beberapa keyakinan menyebar pada serangkaian aktivitas dan situasi yang bervariasi. Individu dengan efikasi diri yang tinggi lebih percaya mampu mempertahankan prestasi walaupun ada sumber-sumber stres dan cemas yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut. Individu dengan efikasi diri yang tinggi menggunakan cara-cara mencegah sumber stres dan cemas yaitu dengan merencanakan terlebih dahulu beban kerja agar supaya dapat menghindari kebingungan dan bekerja dalam batas waktu yang singkat. Pada dasarnya efikasi diri yang tinggi mengindikasikan bahwa mereka yakin mempunyai potensi untuk menangani sumber cemas dan stres lebih efektif dibandingkan dengan efikasi diri yang rendah. Individu dengan efikasi diri yang tinggi akan mampu menghadapi masalah secara aktif dan cenderung tidak akan menghindari masalah. Aspek generalisasi dalam penelitian dijabarkan dalam sesi meminimalisir sumber kecemasan dengan cara mengatur waktu/manejemen waktu dan sesi membuat strategi. 3) Aspek Strength (Kekuatan Keyakinan) Aspek kekuatan berkaitan dengan tingkat kemampuan individu terhadap aspek yang terkait dengan kekuatan/kemantapan individu terhadap keyakinannya (Bandura, 1986). Efikasi diri merupakan salah satu dasar untuk melakukan evaluasi diri yang berguna untuk memahami diri. Efikasi diri merupakan salah satu aspek pengetahuan tentang diri yang paling berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari karena efikasi diri yang dimiliki ikut mempengaruhi individu dalam menentukan suatu tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu, termasuk tantangan yang akan dihadapi. Pendapat lain tenang aspek-aspek self-efficacy tentunya diungkapkan pula oleh Corsini (1994: 368-369) yang berpendapat bahwa aspek-aspek self-efficacy diantaranya sebagai berikut: 1) Kognitif Kognitif merupakan kemampuan seseorang untuk memikirkan cara-cara yang digunakan dan merancang tindakan yang akan dilakukan untuk dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan yang diambil dipengaruhi oleh penilaian terhadap kemampuan diri sehingga semakin kuat self-efficacy yang dimiliki individu maka semakin tinggi pula tujuan yang ditetapkan oleh individu tersebut. 2) Motivasi Motivasi merupakan kemampuan seseorang untuk memotivasi diri melalui pikirannya agar dapat melakukan suatu tindakan dan keputusan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Motivasi dalam self-efficacy digunakan untuk memprediksikan kesuksesan atau kegagalan yang akan dicapai oleh seseorang. 3) Afektif Self-efficacy atau efikasi diri dapat mempengaruhi sifat dan intensitas pengalaman emosional, sehingga terdapat aspek afektif. Afektif merupakan kemampuan mengatasi emosi yang timbul pada diri demi mencapai tujuan yang diharapkan. Afektif digunakan untuk mengontrol kecemasan dan perasaan depresi seseorang dalam usahanya untuk mencapau tujuan yang diharapkan. 4) Seleksi Seleksi merupakan kemampuan untuk menyeleksi tingkah laku dan lingkungan yang tepat demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Seseorang akan cenderung untuk menghindari kegiatan atau situasi yang mereka yakini diluar kemampuan mereka, tetapi mereka akan mudah melakukan kegiatan atau tantangan yang dirasa sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, didapatkan dua pendapat tentang aspek-aspek self-efficacy. Pertama, menurut pendapat dari Albert Bandura yang mengatakan bahwa ada tiga aspek self-efficacy yaitu tingkat kesulitan, generalisasi dan tingkat kekuatan. Kedua, pendapat dari Corsini yang mengatakan bahwa terdapat empat aspek self-efficacy yaitu diantaranya kognitif, motivasi, afektif, dan seleksi. Penelitian ini menggunakan aspek self-efficacy yang di paparkan oleh Albert Bandura yang terdiri dari tiga aspek yaitu, tingkat kesulitan, generalisasi, dan tingkat kekuatan.

Pengertian Self-Efficacy (skripsi dan tesis)

Self-efficacy merupakan suatu kesatuan arti yang diterjemahkan dari Bahasa Indonesia yaitu efikasi diri. Konstruk tentang self-efficacy diperkenalkan pertama kali oleh Albert Bandura yang menyajikan suatu aspek pokok dari teori kognitif sosial. Kata efficacy berkaitan dengan kebiasaan hidup manusia yang didasarkan atas prinsip-prinsip karakter, seperti integritas, kerendahan hati, kesetiaan, pembatasan diri, keberanian, keadilan, kesabaran, kerajinan, kesederhanaan dan kesopanan yang seharusnya dikembangkan dari dalam diri menuju ke luar diri, bukan dengan pemaksaan dari luar ke dalam diri manusia. Seseorang dikatakan efektif apabila individu dapat memecahkan masalah dengan efektif, memaksimumkan peluang, dan terus menerus belajar serta memadukan prinsip-prinsip lain dalam spiral pertumbuhan. Pencetus teori self-efficacy, Bandura (1986) dalam Silfiana (2015) Mendefinisikan self-efficacy adalah judgment seseorang terhadap kemampuan dirinya sendiri dalam mencapai tingkatan kinerja yang diinginkan atau ditentukan, yang akan mempengaruhi tindakan selanjutya. Self-efficacy menurut Alwisol (2011: 287) adalah presepsi diri mengenai seberapa baik diri seseorang dapat memfungsikan dirinya dalam situasi tertentu. Menurut Feist, J. dan Gregory J. F (2010: 212) mendefinisikan efikasi diri atau self-efficacy sebagai keyakinan diri untuk mengetahui kemampuannya sehingga dapat melakukan suatu bentuk kontrol terhadap manfaat orang itu sendiri dan kejadian dalam lingkungan sekitarnya. Sementara itu, menurut Laura (2010: 152) self-efficacy adalah keyakinan seseorang sehingga dapat menguasai suatu situasi dan menghasilkan berbagai hasil yang bernilai positif dan bermanfaat. Dari penjelasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa self-efficacy adalah keyakinan dalam diri suatu individu akan kemampuannya untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang akan diterimanya dalam situasi tertentu. Sapariyah (2011) dalam Sari (2014) menyatakan bahwa individu dengan self-efficacy yang tinggi akan mencapai suatu kinerja yang lebih baik disebabkan karena individu tersebut memiliki motivasi yang kuat, tujuan yang jelas, dan emosi yang stabil. Hal tersebut diperkuat oleh Greenberg dan Baron (2011: 99) yang memberikan gambaran secara sederhana bagaimana cara kerja self-efficacy dalam kehidupan sehari-hari. Anggaplah terdapat dua orang bawahan yang diberikan sebuah tugas yang sama oleh atasan mereka. Orang pertama percaya terhadap kemampuannya untuk menangani tugas tersebut secara sukses, sedangkan orang kedua memiliki keraguan yang cukup besar terhadap peluang keberhasilannya menyelesaikan tugas tersebut. Asumsikan bahwa faktor lainnya (kemampuan dan motivasi) adalah konstan, sangat beralasan untuk diprediksi bahwa orang pertama akan lebih berhasil dalam menangani tugas tersebut. Dari gambaran di atas dapat dikatakan bahwa individu dengan self-efficacy yang tinggi cenderung untuk dapat berhasil dalam menyelesaikan tugasnya daripada individu yang memiliki self-efficacy yang lebih rendah.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja (skripsi dan tesis)

Menurut Mathis and Jackson (2002) dalam pembahasan mengenai permasalahan kinerja karyawan maka tidak terlepas dari berbagai macam faktor yang mempengaruhi diantaranya : 1) Faktor kemampuan (ability) Secara psikologis kemampuan pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge and skill) artinya pegawai yang memiliki IQ diatas rata-rata (110-120) dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari maka akan lebih mudah mencapai kinerja diharapkan dari pada pegawai yang memiliki IQ dibawah rata-rata. Oleh karena itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. 2) Faktor motivasi Motivasi terbentuk sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan kerja.

Pengertian Kinerja (skripsi dan tesis)

Kinerja (performance) menurut Mathis and Jackson (2006) merupakan segala sesuatu yang dilakukan atau yang tidak dilakukan oleh seorang pegawai yang nantinya dapat mempengaruhi keberhasilan sebuah organisasi. Kinerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral atau etika. Mangkunegara (2006) dan Malayu (2006) menyatakan bahwa kinerja adalah hasil atau prestasi kerja yang ditunjukkan secara kualitas dan kuantitas oleh seorang pegawai didalam melaksanakan tugas sesuai dengan beban tanggung jawab yang diberikan kepadanya berdasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan, serta waktu. Dari beberapa definisi tentang kinerja, dapat disimpulkan bahwa pengertian kinerja adalah seseorang atau sekelompok orang yang menunjukkan prestasi kerja sevara kuantitas dan kualitas yang dilakukan berdasarkan kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu sesuai dengan beban dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Menurut Mathis and Jackson (2006) kinerja pegawai mempengaruhi seberapa banyak kontribusi kepada organisasi antara lain termasuk : 1) Kualitas kerja Standar ini menekankan pada mutu kerja yang dihasilkan dibandingkan volume kerja. 2) Kuantitas kerja Standar ini dilakukan dengan cara membandingkan antara besarnya volume kerja yang seharusnya (standar kerja norma) dengan kemampuan sebenarnya. 3) Ketepatan waktu Diukur dari persepsi karyawan terhadap suatu aktifitas yang diselesaikan dari awal waktu sampai menjadi output. Dapat menyelesaikan pada waktu yang telah ditetapkan serta memaksimalkan waktu yang tersedia untuk aktivitas yang lain. 4) Efektifitas Pemanfaatan secara maksimal sumber daya dan waktu yang ada pada organisasi untuk meningkatkan keuntungan dan mengurangi kerugian. 5) Kerjasama Keterlibatan seluruh pegawai dalam mencapai target yang ditetapkan akan mempengaruhi keberhasilan bagian yang diawasi. Kerjasama antara pegawai dapat ditingkatkan apabila pimpinan mampu memotivasi pegawai dengan baik

Dimensi Persepsi Dukungan Organisasional (skripsi dan tesis)

Sebuah meta-analisis yang dilakukan oleh Rhoades dan Eisenberger (2002) mengindikasikan bahwa 3 kategori utama dari perlakuan yang dipersepsikan oleh karyawan memiliki hubungan dengan persepsi dukungan organisasi. Ketiga kategori utama ini adalah sebagai berikut: 1). Keadilan Keadilan prosedural menyangkut cara yang digunakan untuk menentukan bagaimana mendistribusikan sumber daya di antara karyawan. (Greenberg, dalam Rhoades and Eisenberger, 2002). Shore and Shore (1995) (dalam Rhoades and Eisenberger, 2002) menyatakan bahwa banyaknya kasus yang berhubungan dengan keadilan dalam distribusi sumber daya memiliki efek kumulatif yang kuat pada persepsi dukungan organisasi dimana hal ini menunjukkan bahwa organisasi memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan karyawan. Cropanzo and Greenberg pada tahun 1997 (dalam Rhoades and Eisenberger, 2002) membagi keadilan prosedural menjadi aspek keadilan struktural dan aspek sosial. Aspek struktural mencakup peraturan formal dan keputusan mengenai karyawan. Sedangkan aspek sosial seringkali disebut dengan keadilan interaksional yang meliputi bagaimana memperlakukan karyawan dengan penghargaan terhadap martabat dan penghormatan mereka. 2). Dukungan atasan Karyawan mengembangkan pandangan umum tentang sejauh mana atasan menilai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan mereka (Kottke and Sharafinski, 1980 dalam Rhoades and Eisenberger, 2002). Karena atasan bertindak sebagai agen dari organisasi yang memiliki tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengevaluasi kinerja bawahan, karyawan pun melihat orientasi atasan mereka sebagai indikasi adanya dukungan organisasi (Levinson et al., 1965 dalam Rhoades and Eisenberger, 2002). 3). Penghargaan Organisasi dan Kondisi Pekerjaan Bentuk dari penghargaan organisasi dan kondisi pekerjaan ini adalah sebagai berikut: – Gaji, pengakuan, dan promosi. Sesuai dengan teori dukungan organisasi, kesempatan untuk mendapatkan hadiah (gaji, pengakuan, dan promosi) akan meningkatkan kontribusi karyawan dan akan meningkatkan persepsi dukungan organisasi (Rhoades and Eisenberger, 2002). – Keamanan dalam bekerja. Adanya jaminan bahwa organisasi ingin mempertahankan keanggotaan di masa depan memberikan indikasi yang kuat terhadap persepsi dukungan organisasi (Eisenberger and Rhoades, 2002). – Kemandirian. Dengan kemandirian, berarti adanya kontrol akan bagaimana karyawan melakukan pekerjaan mereka. Dengan organisasi menunjukkan kepercayaan terhadap kemandirian karyawan untuk memutuskan dengan bijak bagaimana mereka akan melaksanakan pekerjaan, akan meningkatkan persepsi dukungan organisasi (Cameron et al., 1984 dalam Rhoades and Eisenberger, 2002). – Peran stressor. Stress mengacu pada ketidakmampuan individu mengatasi tuntutan dari lingkungan (Lazarus and Folkman, 1984 dalam Rhoades and Eisenberger, 2002). Stres berkorelasi negatif dengan persepsi dukungan organisasi karena karyawan tahu bahwa faktor-faktor penyebab stres berasal dari lingkungan yang dikontrol oleh organisasi. Stres terkait dengan tiga aspek peran karyawan dalam organisasi yang berkorelasi negatif dengan persepsi dukungan organisasi, yaitu: tuntutan yang melebihi kemampuan karyawan bekerja dalam waktu tertentu (work- overload), kurangnya informasi yang jelas tentang tanggung jawab pekerjaan (role-ambiguity), dan adanya tanggung jawab yang saling bertentangan (roleconflict) (Lazarus and Folkman, 1984, dalam Rhoades and Eisenberger, 2002). – Pelatihan. Pelatihan dalam bekerja dilihat sebagai investasi pada karyawan yang nantinya akan meningkatkan persepsi dukungan organisasi (Wayne et al., 1977 dalam Rhoades and Eisenberger, 2002).

Aspek-aspek dukungan organisasional (skripsi dan tesis)

Mathis dan Jackson (2001) mengemukakan aspek dari dukungan organisasi, yaitu sebagai berikut: a) Pelatihan adalah sebuah proses dimana orang mendapatkan kapabilitas untuk membantu pencapaian tujuan-tujuan organisasi. Dalam pengertian terbatas, pelatihan memberikan karyawan pengetahuan dan ketrampilan yang spesifik dan dapat di identifikasi untuk digunakan dalam pekerjaan mereka saat ini. b) Sarana dan prasarana merupakan perkakas/perlengkapan yang disediakan oleh perusahaan untuk menunjang proses kerja. Untuk mendapatkan kinerja yang baik dari karyawannya, maka sebuah perusahaan harus mempunyai peralatan dan teknologi yang mendukung karyawan tersebut telah bekerja keras. c) Tingkat harapan dan standar kerja merupakan intensitas kecenderungan untuk melakukan dengan cara tertentu tergantung pada intensitas harapan bahwa kinerja akan diikuti dengan hasil yang pasti dan pada daya tarik dari hasil kepada individu. d) Tim kerja yang produktif adalah satu set interaksi interpersonal yang terstruktur untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Tim dikatakan produktif jika dapat mencapai sasaran dan mengubah input menjadi output dengan cost yang rendah. Dalam hal ini, produktivitas mengimplikasikan efektivitas dan efisiensi.

Konsep dan pengertian dukungan organisasi (skripsi dan tesis)

Peter M. Blau hadir dalam analisis pertukaran sosial (Wallace and Wolf, 1986: 171; Ritzer and Goodman, 2004: 368). Kunci teori pertukaran sosial Blau (1964) adalah: (1) perilaku dimotivasi oleh keinginan untuk meningkatkan hasil dan menghindari kerugian; (2) hubungan pertukaran berkembang dalam struktur ketergantungan mutual, baik karena adanya kesamaan alasan dari pihak-pihak yang terlibat dalam pertukaran untuk mendapatkan sumberdaya atau karena tidak adanya keinginan membangun jaringan hubungan pertukaran; (3) orang-orang yang terlibat dalam pertukaran saat ini, secara timbal balik meningkatkan pertukaran dengan pasangan khusus pada kesempatan yang lain; (4) implikasi bernilai akan mengikuti hukum ekonomi utilitas marjinal yang semakin turun atau prinsip psikologi mengenai kepuasan. Blau (1964) menyatakan dukungan organisasional merupakan dasar hubungan pertukaran yang dijelaskan dalam prinsip sosial atau ekonomi. Dua cara utama pertukaran sosial, yaitu: (1) pertukaran menyeluruh (global) antara karyawan dan organisasi, dan (2) hubungan antara atasan dan bawahan. Hukum timbal balik (norm of reciprocity) menyatakan bahwa individu yang diperlakukan dengan baik oleh pihak lain akan merasa berkewajiban untuk membalasnya dengan perlakuan baik pula (Blau, 1964; Gouldner, 1960). Setton et al. (1996) menyatakan bahwa dukungan organisasional yang dipersepsikan level tinggi akan menciptakan kewajiban bagi individu untuk memberikan timbal baliknya. Griffin and Moorhead (2013) menyatakan bahwa dukungan organisasi adalah segala usaha yang dilakukan oleh organisasi dalam rangka membantu atau menghambat prestasi kerja. Dukungan yang positif misalnya menyediakan kebutuhan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai tujuan dan dukungan organisasi yang negatif berarti organisasi gagal dalam menyediakan sumber daya yang dibutuhkan. Menurut Schermerhorn (2010), prestasi secara langsung dipengaruhi oleh atribut individu seperti kemampuan dan pengalaman, dukungan organisasi seperti sumber daya dan teknologi dan usaha atau kerelaan individu untuk berkerja keras dalam mencapai apa yang diinginkan. Chandan (2009) menyatakan dukungan dan sumber daya dari organisasi sangat mempengaruhi perilaku manusia secara signifikan sehingga prestasi yang dicapai dipengaruhi oleh perilaku ini sendiri. Fasilitas fisik dan teknologi dalam organisasi, serta saran dan arahan dari pemimpin sangat baik dan memberi dampak yang positif terhadap prestasi, sehingga hal ini akan menghasilkan prestasi yang berkualitas tinggi. Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan dukungan organisasi adalah segala usaha yang dilakukan oleh organisasi yang dapat membantu atau menghambat prestasi kerja, dengan memberikan dukungan dan menyediakaan kebutuhan sumber daya ataupun dukungan organisasi yang negatif yang berarti organisasi gagal dalam menyediakan sumber daya yang dibutuhkan sehingga dapat mempengaruhi prestasi yang dicapai.

Implikasi efikasi diri (skripsi dan tesis)

di tempat kerja Bandura (2004) dalam penelitian yang berhubungan dengan pengaruh langsung dan tidak langsung dari efikasi diri pada efektivitas pribadi dan organisasi yang berhubungan dengan pekerjaan menyatakan dampak dari efikasi diri mencakup berbagai aspek seperti pelatihan dan pengembangan, bekerja sama, perubahan dan inovasi, kepemimpinan, dan stres. Ivancevich et al. (2011) dan Luthans et al. (2007) dalam penelitian tentang keyakinan diri, implikasi manajerial dan organisasi menemukan bahwa : 1) Seleksi / Keputusan Promosi Organisasi harus memilih calon pegawai yang memiliki tingkat efikasi diri, karena orang-orang ini yang nantinya akan termotivasi untuk terlibat dalam perilaku yang akan membantu mereka untuk bekerja lebih baik. Pengukuran mengenai tingkat efikasi diri dapat diberikan saat proses perekrutan/promosi. 2) Pelatihan dan pengembangan Organisasi harus mempertimbangkan tingkat efikasi diri pegawai ketika memilih antara kandidat untuk mengikuti program pelatihan dan pengembangan. Jika anggaran pelatihan terbatas, peluang yang lebih besar (yaitu, prestasi kerja) atas investasi pelatihan dapat direalisasikan dengan mengirimkan pegawai yang memiliki tingkat efikasi diri tinggi. Orang-orang ini akan cenderung belajar lebih banyak saat pelatihan yang pada akhirnya, akan lebih mungkin untuk menggunakan pembelajaran yang untuk meningkatkan kinerja pekerjaan mereka. 3) Menetapkan tujuan dan kinerja Organisasi dapat mencapai tujuan kinerja dengan lebih maksimal lewat pegawai yang memiliki tingkat efikasi diri yang tinggi, karena dengan tingkat efikasi diri pegawai yang tinggi maka akan dapat mendorong pegawai bekerja lebih baik dan membantu organisasi dalam mencapai tujuan kinerjanya dan hal ini sangat penting bagi organisasi pada era persaingan yang tinggi.

Faktor-faktor yang memengaruhi efikasi diri (skripsi dan tesis)

Menurut Bandura (1997), ada beberapa faktor yang mempengaruhi efikasi diri, yaitu : 1). Jenis kelamin Pada beberapa bidang pekerjaan tertentu pria memiliki efikasi diri yang lebih tinggi dibandingkan dengan wanita, bagitu juga sebaliknya efikasi diri wanita unggul dalam beberapa pekerjaan dibandingkan dengan pria. Pria biasanya memiliki efikasi diri yang tinggi dengan pekerjaan yang menuntut keterampilan teknis matematis. 2). Usia efikasi diri terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat berlangsung selama kehidupan. Individu yang lebih tua memiliki rentang waktu dan pengalaman yang lebih banyak dalam mengatasi suatu hal jika dibandingkan dengan individu yang lebih muda. 3). Tingkat pendidikan efikasi diri terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat terjadi pada institusi pendidikan formal. Individu yang memiliki jenjang pendidikan tinggi biasanya memiliki efikasi diri yang lebih tinggi. Karena pada dasarnya mereka lebih banyak menerima pendidikan formal dan lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan mengatasi suatu persoalan. 4). Pengalaman kerja efikasi diri terbentuk melalui proses belajar sosial yang dapat terjadi pada suatu organisasi maupun perusahaan. Efikasi diri terbentuk sebagai proses adaptasi dan pembelajaran yang ada dalam perusahaan tersebut. Semakin lama seseorang bekerja maka semakin tinggi efikasi diri yang dimilikinya dalam bidang pekerjaan tertentu. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan efikasi diri orang tersebut justru cenderung tetap atau menurun. Hal ini tergantung bagaimana keberhasilan dan kegagalan mempengaruhinya.

Dimensi efikasi diri (skripsi dan tesis)

Efikasi diri berbeda-beda pada setiap dimensi yang dimiliki oleh masing-masing pegawai untuk mencapai kinerja yang memuaskan. Bandura (1997) menyatakan bahwa terdapat tiga dimensi pada efikasi diri yaitu: 1) Tingkat kesulitan tugas (Magnitude) Menunjukkan kepada tingkat kesulitan yang diyakini oleh individu untuk dapat diselesaikan. Individu akan mencoba perilaku yang dirasakan mampu untuk dilakukan. Sebaliknya ia akan menghindari situasi dan perilaku yang dirasa melampaui batas kemampuannya. 2) Kekuatan keyakinan (Strength) Suatu kepercayaan diri yang ada dalam diri seseorang yang dapat ia wujudkan dalam meraih performa tertentu. Hal ini berkaitan dengan keteguhan hati terhadap keyakinan individu akan berhasil dalam menghadapi suatu permasalahan. 3) Generalitas (Generality) Menunjukkan apakah keyakinan diri akan berlangsung dalam domain tertentu atau berlaku dalam berbagai macam aktifitas dan situasi. Hal ini berkaitan dengan seberapa luas bidang perilaku yang diyakini untuk berhasil dicapai oleh individu. Tinggi rendahnya efikasi diri berkombinasi dengan lingkungan yang responsif dan lingkungan yang tidak responsif menghasilkan 4 kondisi yang bisa diprediksi (Bandura, 1997), yaitu : 1) Bila efikasi diri tinggi dan lingkungan responsif hasil yang dapat diperkirakan adalah kesuksesan. 2) Bila efikasi diri rendah dan lingkungan responsif hasilnya adalah manusia dapat menjadi depresi saat mereka mengamati orang lain berhasil menyelesaikan tugastugas yang sulit. 3) Bila efikasi diri tinggi dan lingkungan tidak responsif hasil yang dapat diperkirakan adalah manusia akan berusaha keras mengubah lingkungan. 4) Bila efikasi diri rendah dan lingkungan tidak responsif hasil yang dapat diperkirakan adalah manusia akan merasa mudah menyerah dan tidak berdaya.

Sumber-sumber efikasi diri (skripsi dan tesis)

Menurut Bandura (1997) penilaian seseorang mengenai tingkatan efikasi diri yang diyakininya berdasarkan empat sumber informasi, yaitu : 1). Pengalaman keberhasilan (mastery experiences) Pencapaian prestasi merupakan bagian yang paling berpengaruh dalam penentuan efikasi diri. Pengalaman sukses sebelumnya memberikan indikasi langsung dari tingkatan kompetensi individu. Tingkah laku atau hasil sebelumnya menunjukkan kemampuan individu dan menguatkan penilaiannya atas efikasi diri. Khususnya apabila kegagalan sebelumnya diulangi dengan kegagalan lagi, maka hal ini akan menurunkan efikasi diri. Individu dengan efikasi diri yang tinggi percaya bahwa mereka bisa berdamai secara efektif dengan kejadian yang mereka hadapi dalam kehidupannya. Mereka mengharapkan kesuksesan dalam rintangan yang akan dihadapi, oleh karena itu mereka gigih dalam tugas dan sering melakukan performansi yang baik. Mereka memiliki kepercayaan diri yang baik dalam kemampuan mereka dibandingkan individu dengan efikasi diri yang rendah, dan mereka hanya sedikit memperlihatkan keragu-raguan. Individu dengan efikasi diri yang tinggi melihat hal sulit sebagai tantangan dan aktif mencari situasi yang baru. 2). Pengalaman orang lain (vicarious experiences) Melihat kesuksesan orang lain akan menguatkan perasaan akan efikasi diri, khususnya jika seseorang yang menjadi objek observasi memiliki kemampuan yang sama dengan individu yang melakukan observasi. Sebaliknya jika individu melihat orang lain yang dianggap memiliki kesamaan tersebut mengalami kegagalan, maka hal ini akan menurunkan efikasi diri. Individu yang memiliki standar penampilan tinggi yang mengambil standar tersebut dari hasil mengobservasi model yang sukses akan memiliki harapan yang tinggi, namun jika kemudian gagal, maka individu tersebut akan menghukum dirinya sendiri dengan perasaan tidak berharga dan depresi. Jadi, hal yang terpenting adalah menentukan orang yang tepat kemampuan dan kompetensinya untuk dijadikan model. Model yang dipilih juga akan menunjukkan strategi dan teknik yang mungkin dilakukan pada situasi yang sulit. 3). Persuasi lisan (verbal persuasion) Mengatakan kemampuan yang dimiliki dan prestasi apa yang ingin dicapai dapat meningkatkan efikasi diri seseorang. Hal ini mungkin yang paling umum dari keempat sumber penilaian efikasi diri lainnya. Persuasi lisan ini sering dilakukan oleh orang tua, guru, suami/istri, teman, dan terapis. Agar efektif, persuasi haruslah realistik. 4). Keterbangkitan psikologis (psychological arousal) Keterbangkitan psikologis ini meliputi perasaan tenang atau ketakutan pada situasi yang membuat stres. Keterbangkitan psikologis ini biasa digunakan untuk melihat kemampuan individu dalam mengatasi masalah

Pengaruh Harapan atas Hasil terhadap Niat untuk Melakukan Tindakan Whistleblowing (skripsi dan tesis)

Faktor kedua yang mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan suatu hal menurut SCT yaitu Harapan atas Hasil. Bandura (1989) berpendapat bahwa harapan atas hasil merupakan suatu insentif berupa hasil-hasil yang akan diperoleh ketika melakukan suatu tindakan yang mendorong adanya pembelajaran observasional. Harapan atas hasil merupakan bagian atau komponen dari proses kognitif seseorang yang dihubungkan dengan konteks tujuan personal, moral dan standar yang akan menentukan apakah suatu tindakan akan dilakukan atau tidak dan bagaimana untuk melakukannya (Wang dkk., 2019). Semakin tinggi harapan seseorang atas hasil suatu tindakan maka akan semakin tinggi pula niat seseorang sebagai hasil dari proses kognitif yang berjalan di dalam diri seseorang (Bandura, 1989; Wang dkk., 2019) Pendapat dari Bandura (1989) dan Wang dkk. (2019) didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Cheng & Chu (2014). Hasil penelitian dari Cheng & Chu (2014) menunjukkan bahwa harapan atas hasil (outcome expectancy) berpengaruh positif signifikan terhadap niat mahasiswa untuk mengambil mata kuliah etika bisnis.

Pengaruh Efikasi Diri terhadap Niat untuk Melakukan Tindakan Whistleblowing (skripsi dan tesis)

SCT menyebut faktor pertama yang mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan suatu hal yaitu efikasi diri. Efikasi diri dapat diartikan sebagai suatu kepercayaan (belief) individu tentang kapasitas yang dimiliki dirinya untuk menyelesaikan misi suatu pekerjaan tertentu (Eizen & Desivilya, 2005). Seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi bahwa dia dapat menyelesaikan pekerjaannya secara sukses akan mengembangkan usahanya dan terus melanjutkan pekerjaannya walaupun dia sedang menghadapi kesulitan sehingga ketika efikasi diri seseorang tinggi maka semakin tinggi pula niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan (Eizen & Desivilya, 2005). Pendapat di atas sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hidayati dkk. (2016) dan (Cheng & Chu, 2014). Hasil dua penelitian tersebut menunjukkan bahwa efikasi diri atau self-efficacy memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan

Pengaruh Kontrol Perilaku Persepsian terhadap Niat Melakukan Tindakan Whistleblowing (skripsi dan tesis)

TPB menyebut faktor ketiga yang mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan sesuatu yaitu Kontrol Perilaku Persepsian (Perceived Behavioral Control). Daxini dkk. (2019) berpendapat bahwa kontrol perilaku persepsian 33 merupakan persepsi individu atas kemudahan atau kesulitan bagi dirinya untuk melakukan suatu tindakan dan juga terkait dengan kondisi yang memfasilitasi (facilitating condition) seseorang tersebut untuk melakukan suatu tindakan atau yang biasa disebut sebagai situational constraint. Variabel ini merupakan variabel pembeda model TPB dengan model sebelumnya yaitu TRA (Ajzen, 1991). Ajzen (1991) menyebut bahwa niat seseorang untuk melakukan sesuatu tidak hanya bergantung pada aspek motivasional semata, tetapi juga bergantung pada aspek kontrol aktual seseorang atas suatu tindakan. Wujud kontrol aktual seseorang atas suatu tindakan tersebut misalnya saja kesempatan dan sumber daya yang dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Semakin tinggi persepsi yang dimiliki seseorang atas kontrol terhadap perilakunya maka semakin tinggi pula niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan (Ajzen, 1991; Daxini dkk., 2019) Pendapat dari Ajzen (1991) dan Daxini dkk. (2019) tersebut sejalan dengan hasil penelitan yang dilakukan oleh Judge dkk. (2019), Cheng & Chu (2014), dan Solikhah (2014). Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa variabel kontrol perilaku persepsian atau Perceived Behavioral Control memiliki pengaruh positif signifikan terhadap niat atau intensi seseorang untuk melakukan suatu tindakan.

Pengaruh Norma Subjektif terhadap Niat Melakukan Tindakan Whistleblowing (skripsi dan tesis)

TPB menyebut faktor kedua yang mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan suatu hal yaitu norma subjektif. Norma subjektif merupakan suatu tingkat pressure dan ekspektasi sosial yang dimiliki dan dirasakan seorang individu yang berasal dari orang yang merupakan referensi signifikan bagi dirinya untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan (Daxini dkk., 2019). Norma subjektif juga dapat dikatakan sebagai tekanan sosial persepsian yang dirasakan seorang individu untuk melakukan atau tidak melakukan suatu action (Japutra dkk., 2019). Semakin tinggi norma subjektif untuk melakukan suatu tindakan, maka semakin tinggi pula dorongan dari lingkungan sosial seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Semakin tinggi dorongan untuk melakukan suatu tindakan akan berakibat pada semakin tinggi pula niat atau intensi seseorang untuk melakukan tindakan tersebut (Daxini dkk., 2019; Japutra dkk., 2019). Pendapat dari Daxini dkk. (2019) dan Japutra dkk. (2019) tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Judge dkk. (2019), Cheng & Chu (2014), dan Solikhah (2014). Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa variabel norma subjektif atau subjective norm memiliki pengaruh positif signifikan terhadap niat atau intensi seseorang untuk melakukan suatu tindakan

Pengaruh Sikap terhadap Niat Melakukan Tindakan Whistleblowing (skripsi dan tesis)

TPB menyebut bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan suatu hal yaitu sikap. Sikap atau attitude dapat diartikan sebagai suatu evaluasi yang dilakukan seseorang tentang hal positif maupun negatif atas suatu tindakan (Daxini dkk., 2019). Definisi lain dari sikap atau attitude yaitu suatu tingkat seseorang memiliki penilaian baik favorable atau unfavorable atas suatu perilaku atau behavior (Japutra dkk., 2019). Seseorang akan melakukan penilaian 31 terlebih dahulu tentang action yang akan dia lakukan dan kemungkinannya untuk melakukan action tersebut. Semakin tinggi atau semakin positif penilaian seseorang atas suatu action atau behavior, maka semakin tinggi pula niat atau intensi orang tersebut untuk melakukan tindakan atau action tersebut (Daxini dkk., 2019; Japutra dkk., 2019). Pendapat dari Japutra dkk. (2019) dan Daxini dkk. (2019) mengindikasikan adanya hubungan positif antara sikap dengan niat atau intensi seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Teori yang disampaikan Daxini dkk. (2019) dan Japutra dkk. (2019) tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Saud (2016), Judge dkk. (2019), Cheng & Chu (2014), dan Solikhah (2014). Empat penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa variabel sikap atau attitude memiliki pengaruh positif signifikan terhadap niat atau intensi seseorang untuk melakukan suatu tindakan.

Kategori Fraud (skripsi dan tesis)

Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) membagi kecurangan okupasional ke dalam tiga kategori yaitu (Silverstone & Sheetz, 2007) 27 a. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation) Fraud yang masuk ke dalam kategori ini yaitu pencurian aset dan penggunaan aset secara tidak benar atau tidak sesuai peruntukannya. b. Korupsi Korupsi adalah salah satu bentuk kecurangan dengan menyalahgunakan kewenangan jabatan atau kekuasaan untuk kepentingan pribadi atau orang lain. c. Laporan yang Menipu (Fraudulent Statement) Fraud dalam kategori ini yaitu memberikan suatu laporan yang bersifat menipu dan cenderung menyesatkan para pengguna laporan. Laporan keuangan merupakan salah satu jenis laporan yang sering kali digunakan untuk menyesatkan para pengguna. Hal ini dilakukan dengan cara menyembunyikan satu atau beberapa informasi keuangan, mengatur dan mengubah laporan keuangan sedemikian rupa dengan tujuan untuk mengelabui dan menyesatkan para pembaca laporan keuangan baik untuk kepentingan pribadi atau kepentingan perusahaan

Pengertian Fraud (skripsi dan tesis)

Fraud memiliki banyak bentuk dan pengadilan serta lembaga-lembaga lain kesulitan untuk menemukan definisi secara umum terhadap fraud (Silverstone & Sheetz, 2007). Silverstone & Sheetz (2007) sendiri memberi definisi terhadap kecurangan atau fraud sebagai suatu aktivitas yang terjadi di suatu lingkungan sosial yang memiliki konsekuensi negative yang parah terhadap ekonomi, perusahaan, dan individu. Silverstone & Sheetz (2007) juga berpendapat bahwa fraud terjadi ketika ada suatu pertemuan antara keserakahan dengan kesempatan untuk melakukan penipuan. Definisi lain terkait dengan fraud diberikan oleh biro investigasi Amerika Serikat, FBI. FBI menyebut bahwa kejahatan kerah putih ditandai dengan adanya penipuan, penyembunyian, atau pelanggaran kepercayaan dan tidak bergantung pada penerapan kekuatan fisik atau kekerasan. Tindakan kejahatan tersebut dilakukan oleh seorang individu atau sebuah organisasi untuk mendapatkan uang, properti, atau layanan; untuk menghindari pembayaran atau kehilangan uang atau layanan; atau untuk mengamankan keuntungan pribadi atau bisnis (Silverstone & Sheetz, 2007)

Regulasi Terkait Whistleblowing di Indonesia (skripsi dan tesis)

 

Di Indonesia terdapat beberapa regulasi yang dibuat oleh pemerintah terkait dengan aktivitas pelaporan pelanggaran atau yang biasa dikenal dengan istilah whistleblowing. Peraturan-peraturan ini berfungsi untuk melindungi dan juga pemberian reward bagi sang whistleblower. Regulasi terkait whistleblowing yang pertama yaitu Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2018. Peraturan ini secara tegas memberikan hak-hak kepada masyarakat terkait dengan partisipasinya dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. Peraturan ini menyebutkan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mencari, memperoleh, san juga memberikan informasi yang dimilikinya   tentang adanya dugaan telah terjadi tindak pidana korupsi. Masyarakat juga memiliki hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaannya tentang laporan yang telah diberikan kepada penegak hukum. Selain memberikan hak-hak bagi masyarakat, peraturan ini juga memberikan jaminan adanya perlindungan hukum bagi masyarakat yang telah melakukan pelaporan adanya tindak pidana korupsi. Salah satu hal yang menarik dalam peraturan ini yaitu peraturan ini selain memberikan hak dan perlindungan, juga memberikan reward bagi masyarakat yang secara aktif dan konsisten telah melakukan gerakan untuk pencegahan tindak pidana korupsi. Reward yang diberikan untuk masyarakat dapat berupa piagam penghargaan dan/atau premi. Sebelum PP No. 43 tahun 2018 tersebut disahkan, Indonesia juga telah memiliki regulasi yang kuat terkait dengan aktivitas whistleblowing. Regulasi tersebut tertuang dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Berbeda dengan PP No. 43 tahun 2018, UU No. 31 Tahun 2014 mencakup tindak pidana lebih luas atau umum, tidak hanya sekadar tindak pidana korupsi semata. UU ini menjamin bahwa saksi dan korban akan memperoleh perlindungan atas keamanan pribadinya, Keluarga, dan juga keamanan atas harta bendanya. Selain itu, saksi dan korban juga bebas dari Ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang telah atau akan diberikannya. UU ini dapat digunakan sebagai “pelindung” bagi para whistleblower di semua instansi termasuk organisasi swasta karena cakupan UU ini cukup luas yaitu mencakup tindak pidana secara umum, bukan hanya tindak pidana korupsi yang terjadi di sektor pemerintahan.

Kriteria Whistleblowing Yang Baik (skripsi dan tesis)

Beberapa kriteria whistleblowing yang baik dalam suatu praktik tindakan whistleblowing antara lain a. Whistleblower harus memahami dasar dan legitimasi tindakannya Salah satu hal penting yang perlu untuk diketahui dan dipahami oleh seorang whistleblower dalam melakukan tindakan pelaporan tentang adanya kecurangan yaitu dasar dan legitimasi tindakan-tindakannya dalam mengungkap rahasia (Semendawai dkk., 2011). Whistleblower harus yakin telah memiliki cukup bukti sebagai dasar bagi dirinya untuk melakukan pelaporan kecurangan. b. Adanya saluran dan prosedur yang dapat diakses setiap orang Dalam suatu sistem whistleblowing, harus terdapat saluran dan prosedur yang dapat diakses oleh semua orang atau karyawan (Semendawai dkk., 2011). Terdapat sejumlah pilihan mekanisme prosedur whistleblowing, salah satunya yaitu layanan hotline yang khusus ditujukan menerima laporan-laporan atau secara elektronik, seperti yang digunakan oleh institusi KPK (Semendawai dkk.,2011). c. Adanya langkah yang jelas sebagai tindak lanjut Laporan mengenai tindakan kecurangan harus segera ditanggapi lembaga atau pihak yang memiliki wewenang guna untuk memastikan bahwa prosedur dan mekanisme yang tersedia tidak akan menimbulkan rasa frustasi bagi para whistleblower, karena apabila pengungkapan yang mereka lakukan tidak ditindaklanjuti secara tepat dan juga serius, dapat membahayakan para whistleblowing itu sendiri (Semendawai dkk., 2011).   d. Jaminan terhadap Anonimitas Pelapor Anonimitas di sini dapat dipahami bahwa informasi mengenai identitas whistleblower hanya diketahui oleh pihak atau instansi penerima laporan saja, di mana pihak tersebut memiliki kewajiban untuk menjaga identitas whistleblower, baik terhadap organisasi tempat dia bekerja, pers maupun masyarakat (Semendawai, 2011). e. Adanya perlindungan bagi whistleblower Selain masalah anonimitas, whistleblower juga harus mendapatkan perlindungan yang memadai dari pihak yang menerima laporan. Perlindungan yang didapat ini sebagai timbal balik atau feedback atas tindakannya yang mau mengungkap adanya kecurangan yang dapat merugikan masyarakat atau organisasi (Semendawai, 2011).

Pentingnya Whistleblowing (skripsi dan tesis)

Whistleblowing tentu saja memiliki peran di dalam suatu organisasi atau perusahaan. Hal pertama yang harus dipahami yaitu perusahaan atau organisasi dapat menanggung cost yang besar jika suatu tindakan kecurangan terjadi di dalam perusahaan atau organisasi (Near & Miceli, 2016). Cost yang harus ditanggung oleh perusahaan atau organisasi pun dapat berupa baik finansial seperti kehilangan asset dan lain-lain dan juga dapat berupa cost reputasional seperti penarikan produk, tuntutan hukum, dan lain-lain (Near & Miceli, 2016). Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa whistleblowing diharapkan dapat menekan tingkat tindakan kecurangan yang terjadi di dalam suatu organisasi sehingga dampak lebih jauh yaitu dapat menekan atau menghindarkan organisasi atau perusahaan dari kerugiankerugian yang timbul akibat tindakan kecurangan (Near & Miceli, 2016). Semendawai dkk. (2011) menyebut bahwa whistleblowing memiliki peran penting tidak hanya untuk menjaga kesehatan perusahaan atau organisasi saja, tetapi lebih jauh lagi yaitu bagi kondisi perekonomian nasional. Hal ini dikarenakan efek yang timbul dari suatu tindakan kecurangan memiliki dampak yang bersifat multidimensional. Skandal keuangan tidak hanya akan membuat perusahaan bangkrut tetapi investor yang lari akan menggoyahkan pasar modal di suatu negara terdampak dan juga kebangkrutan perusahaan akan menyumbang pada kenaikan tingkat pengangguran di suatu negara (Semendawai dkk., 2011). Dari uraian tersebut terlihat jelas bahwa whistleblowing juga memiliki peran penting untuk menjaga kondisi perekonomian nasional suatu negara

Pengertian Whistleblowing (skripsi dan tesis)

Whistleblowing merupakan suatu tindakan melaporkan perilaku tidak etis seseorang kepada pihak ketiga (Dungan, Waytz, & Young, 2015). Whistleblowing secara umum juga sering diartikan sebagai suatu tindakan dari karyawan atau employee yang mengumumkan baik secara publik (terbuka) maupun secara privat (tertutup) jika organisasi atau perusahaannya terlibat kasus baik korupsi maupun aktivitas-aktivitas illegal dan tidak bermoral lainnya yang dapat mempengaruhi organisasi atau perusahaan secara keseluruhan (Nisar, Prabhakar, & Torchia, 2019). Pengertian lain dari whistleblowing yaitu tindakan dari karyawan, anggota organisasi, atau mantan karyawan untuk melaporkan tindakan illegal yang  dilakukan oleh organisasi yang akan memiliki dampak buruk atau negatif bagi kepentingan public (Valentine & Godkin, 2019). Dari berbagai pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa whistleblowing merupakan tindakan melaporkan baikan seseorang maupun organisasi atau perusahaan yang melakukan suatu tindakan illegal yang merugikan baik perusahaan sendiri maupun kepentingan publik (Dungan dkk., 2015; Nisar dkk., 2019; Valentine & Godkin, 2019). Vandekerckhove (2006) mendefinisikan whistleblowing ke dalam enam elemen pembentuk whistleblowing. Enam elemen pembentuk definisi whistleblowing ini yaitu tindakan (action), hasil (outcome), pelaku (actor), subjek (subject), target, dan penerima (recipient). Whistleblowing merupakan suatu tindakan pengungkapan, dengan outcome berupa laporan baik publik maupun nonpublik yang diberikan kepada pihak yang berwenang, yang dilakukan oleh seorang karyawan atau anggota organisasi tentang suatu tindakan ilegal, tidak bermoral, atau kecurangan-kecurangan lain yang dilakukan oleh anggota organisasi maupun orang di luar organisasi (Vandekerckhove, 2006). Seseorang yang melakukan tindakan whistleblowing disebut sebagai seorang whistleblower. Whistleblower yaitu orang yang melaporkan atau mengungkapkan suatu tindakan yang melanggar hukum yang terjadi di dalam organisasinya atau perusahaan tempat dia bekerja (Siringoringo, 2015). Siringoringi (205) menyebut bahwa whistleblower sering kali memiliki akses data dan informasi yang memadai terkait adanya tindakan melawan hukum yang terjadi di dalam organisasinya tersebut.  Semendawai dkk. (2011) menyebut bahwa terdapat dua kriteria mendasar untuk menyebut seseorang sebagai seorang whistleblower. Kriteria pertama yaitu seorang whistleblower menyampaikan informasinya kepada pihak atau otoritas yang berwenang atau kepada media masa (Semendawai dkk., 2011). Pelaporan ini diharapkan dapat mengungkap adanya tindakan kecurangan di dalam organisasi. Pada tahap awal, seorang whistleblower dapat melaporkan tindakan kecurangan pada otoritas yang berwenang secara internal di organisasinya (Semendawai dkk., 2011). Ketika laporan tersebut dirasa tidak mendapatkan tindak lanjut yang memadai, seorang whistleblower dapat membuat laporan ke pihak yang lebih tinggi semisal kepala kantor, direksi, komisaris, bahkan hingga ke media masa walaupun tidak dipungkiri sering kali pihak-pihak internal bukan menindaklanjuti laporan tersebut tetapi justru menutup rapat kasus-kasus yang dilaporkan tersebut (Semendawai dkk., 2011). Kriteria kedua untuk menyebut seseorang sebagai whistleblower yaitu orang tersebut merupakan orang yang berada di dalam organisasi tempat terjadinya tindak kecurangan atau dengan kata lain orang tersebut merupakan “orang dalam” (Semendawai dkk., 2011). Dengan kata lain, tindak kecurangan terjadi di dalam organisasi atau perusahaan tempat whistleblower tersebut bekerja atau berada. Semendawai dkk. (2011) bahkan menyebut jika sering kali whistleblower merupakan bagian dari para pelaku kecurangan yang terorganisir tersebut dan memilih untuk melaporkan tindak kecurangan yang telah terjadi. Dengan demikian, whistleblower merupakan orang yang benar-benar paham dan tahu mengenai tindak  kecurangan yang terjadi karena dia berada di dalam lingkungan di mana tindak kecurangan tersebut terjadi (Semendawai dkk., 2011). Semendawai dkk. (2011) menyebut bahwa whistleblower dapat dikategorisasikan menjadi dua kategori yaitu whistleblower sektor swasta dan whistleblower sektor pemerintahan. Kategori pertama yaitu whistleblower sektor swasta. Whistleblower kategori ini merupakan whistleblower yang bekerja untuk perusahaan atau instansi swasta, bukan instansi pemerintahan. Whistleblower di sektor swasta bermunculan karena saat ini banyak kasus kecurangan di sektor swasta yang memiliki efek atau dampak negatif bagi publik, bukan hanya bagi perusahaan saja (Semendawai dkk., 2011). Hal ini karena walau beroperasi dengan modal sendiri, sering kali pihak-pihak swasta memiliki hubungan kerja atau kepentingan kerja dengan instansi-instansi pemerintah sebut saja kantor pajak, bea cukai, dinas perijinan dan instansi-instansi lain. Kategori kedua yaitu whistleblower di sektor pemerintahan. Whistleblower kategori ini merupakan whistleblower yang bekerja di instansi pemerintahan yang mengungkap adanya tindakan kecurangan di dalam sektor pemerintahan. Semendawai dkk. (2011) menyebut bahwa whistleblower di sektor pemerintahan jumlahnya lebih sedikit disbanding sektor swasta. Hal ini dikarenakan kolegialisme di dalam birokrasi instansi pemerintahan telah menjadi referensi utama di dalam instansi-instansi pemerintah (Semendawai dkk., 2011). Whistleblower pemerintahan sering kali merupakan seorang pelaku atau tersangka tindakan kejahatan yang kemudian di dalam proses peradilan dirinya membongkar pihakpihak mana saja yang terlibat dengan dirinya.

Niat (skripsi dan tesis)

Niat atau intention merupakan sebuah keinginan dari seseorang untuk melakukan suatu perilaku atau tindakan (Jogiyanto, 2007). Niat dianggap dapat menangkap atau meng-capture faktor-faktor motivasional yang mempengaruhi suatu perilaku atau tindakan (Ajzen, 1991). Tingkat kemungkinan seseorang akan 18 melakukan suatu tindakan tertentu sangat bergantung pada niat atau intensi orang tersebut untuk melakukan action tersebut (Ajzen, 1991; Dewberry & Jackson, 2018). Niat atau intensi dapat dikatakan sebagai suatu motivasi atau keinginan seseorang untuk menginvestasikan suatu usahanya atau effort-nya untuk melakukan suatu tindakan (Daxini dkk., 2019). Niat merupakan suatu faktor yang ada di dalam diri individu yang memotivasinya untuk melakukan suatu perilaku tertentu (Ajzen, 1991). Niat seseorang terlihat dari seberapa besar keinginannya untuk mencoba dan menginvestasikan efforts atau usahanya untuk melakukan tindakan tertentu (Ajzen, 1991; Daxini dkk., 2019). Dengan kata lain, niat atau intensi sangat mempengaruhi kemungkinan seseorang untuk melakukan tindakan tertentu

Teori Kognitif Sosial atau Social Cognitive Theory (SCT) (skripsi dan tesis)

Model kedua yang biasa dipakai dalam kajian terkait dengan niat atau intensi seseorang untuk melakukan suatu tindakan yaitu Teori Kognitif Sosial atau Social Cognitive Theory (SCT). Teori ini dikembangkan oleh Bandura (1989). Wang, Hung, & Huang (2019) menyebut bahwa dalam model SCT ini, terjadi hubungan kausalitas timbal balik. Dalam model kausalitas timbal balik ini, faktorfaktor pribadi internal, seperti kognitif, afektif, dan juga peristiwa biologis, pola perilaku, dan pengaruh lingkungan, merupakan faktor penentu yang bersifat interaktif yang saling mempengaruhi secara dua arah (Wang dkk., 2019). SCT mendefinisikan perilaku manusia sebagai suatu interaksi yang bersifat triadik, dinamis, dan juga bersifat timbal balik antara faktor-faktor pribadi, perilaku, dan juga faktor lingkungan (Wang dkk., 2019). Interaksi-interaksi di dalam perilaku seorang individu tersebut membentuk suatu proses kognitif. Proses kognitif di dalam diri seorang individu dipengaruhi oleh persepsi tentang efikasi diri (self-efficacy) dan juga harapan atas hasil atau  outcome expectancies (Wang dkk., 2019). Efikasi diri dapat diartikan sebagai suatu kepercayaan (belief) individu tentang kapasitas yang dimilikinya untuk menyelesaikan suatu misi suatu pekerjaan tertentu (Eizen & Desivilya, 2005). Perbedaan antara standar internal dengan pencapaian apakah akan memotivasi atau justru men-discourage seseorang sangat bergantung pada kepercayaan seseorang (efikasi diri) bahwa dirinya bisa mencapai tujuan yang telah dicanangkannya (Bandura, 1989). Seseorang yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi bahwa dia dapat menyelesaikan pekerjaannya secara sukses akan mengembangkan usahanya dan terus melanjutkan pekerjaannya walaupun dia sedang menghadapi kesulitan (Eizen & Desivilya, 2005). Faktor kedua dalam model ini yaitu harapan atas hasil atau outcome expectancies. Bandura (1989) berpendapat bahwa harapan atas hasil merupakan suatu insentif yang mendorong adanya pembelajaran observasional. Harapan atas hasil merupakan bagian atau komponen dari proses kognitif seseorang yang dihubungkan dengan konteks tujuan personal, moral dan standar yang akan menentukan apakah suatu tindakan akan dilakukan atau tidak dan bagaimana untuk melakukannya (Wang dkk., 2019)

Teori Perilaku Terencana atau Theory of Planned Behavior (TPB) (skripsi dan tesis)

Salah satu teori klasik yang dapat digunakan untuk menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan adalah Teori Perilaku Terencana atau Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikemukakan oleh Ajzen (1985). Ajzen (1991) menyebut jika TPB merupakan pengembangan lebih lanjut dari teori sebelumnya yaitu Theory of Reasoned Action (TRA). TPB melengkapi TRA dengan cara melihat intensi untuk melakukan suatu hal tidak hanya dipengaruhi oleh faktor motivasional saja tetapi juga faktor kontrol yang dimiliki seseorang atas suatu tindakan misalnya saja kesempatan dan sumber daya untuk melakukan suatu tindakan (Ajzen, 1991). Titik fokus dari model TPB ini yaitu niat atau intensi yang dimiliki oleh seseorang. TPB menyebut bahwa kemungkinan seseorang akan melakukan suatu tindakan bergantung pada niat atau intensi orang tersebut untuk melakukan action tersebut (Ajzen, 1991; Dewberry & Jackson, 2018). Niat atau intensi dapat dikatakan sebagai suatu motivasi atau keinginan seseorang untuk menginvestasikan suatu usahanya atau effort-nya untuk melakukan suatu tindakan (Daxini, Ryan, Donoghue, & Barnes, 2019). Semakin tinggi niat atau intensi seseorang maka akan semakin tinggi pula kemungkinan orang tersebut untuk melakukan suatu tindakan atau action (Ajzen, 1991; Daxini dkk., 2019). Ajzen (1991) menyebut jika niat atau intensi ini secara lebih lanjut dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu sikap atas suatu tindakan (attitude), norma 14 subjektif atas suatu tindakan (subjective norm) dan kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control). Sikap atau attitude dapat didefinisikan sebagai suatu evaluasi seseorang baik positif maupun negatif atas suatu tindakan (Daxini dkk., 2019). Definisi lain dari sikap atau attitude ini yaitu suatu tingkat seseorang memiliki penilaian baik favorable atau unfavorable atas suatu perilaku atau behavior (Japutra, Maria, Loureiro, Molinillo, & Ekinci, 2019). Semakin tinggi atau semakin positif penilaian seseorang atas suatu tindakan, maka semakin tinggi pula niat orang tersebut untuk melakukan tindakan atau action tersebut (Daxini dkk., 2019; Japutra dkk., 2019). Faktor atau variabel kedua di dalam model TPB yaitu norma subjektif atau subjective norm. Norma subjektif merupakan suatu tingkat tekanan dan ekspektasi sosial yang dimiliki atau dirasakan seorang individu yang berasal dari orang yang merupakan referensi signifikan baginya untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan (Daxini dkk., 2019). Dengan kata lain, norma subjektif merupakan tekanan sosial persepsian yang dirasakan seorang individu untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan (Japutra dkk., 2019). Semakin tinggi norma subjektif untuk melakukan suatu tindakan, maka akan semakin tinggi pula niat atau intensi seseorang untuk melakukan tindakan tersebut (Daxini dkk., 2019; Japutra dkk., 2019). Faktor ketiga dari model TPB yaitu kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control). Variabel ini dapat dikatakan merupakan variabel pengembangan dari model TRA yang telah ada sebelumnya (Ajzen, 1991). Ajzen (1991) berpendapat bahwa niat seseorang untuk melakukan sesuatu tidak hanya 15 bergantung pada aspek motivasional semata, tetapi juga bergantung pada aspek kontrol aktual seseorang atas suatu tindakan. Wujud kontrol aktual seseorang atas suatu tindakan tersebut misalnya saja kesempatan dan sumber daya yang dimiliki seseorang untuk melakukan suatu tindakan (Ajzen, 1991). Daxini dkk. (2019) berpendapat bahwa kontrol perilaku persepsian merupakan persepsi individu atas kemudahan atau kesulitan bagi dirinya untuk melakukan suatu tindakan dan juga terkait dengan kondisi yang memfasilitasi (facilitating condition) seseorang tersebut untuk melakukan suatu tindakan atau yang biasa disebut sebagai situational constraint. Semakin tinggi persepsi yang dimiliki seseorang atas kontrol terhadap perilakunya maka semakin tinggi pula niat seseorang untuk melakukan suatu tindakan (Ajzen, 1991; Daxini dkk., 2019).

Teori perilaku terencana (Theory of Planned Behavior) (skripsi dan tesis)

Teori perilaku terencana (Theory of Planned Behavior) merupakan teori yang didasarkan pada asumsi bahwa manusia merupakan makhluk rasional yang menggunakan informasi yang memungkin bagi dirinya secara sistematis. Sebelum melakukan suatu tindakan, individu akan memikirkan implikasi atau maksud dari tindakannya sebelum memutuskan untuk melakukan perilaku tersebut atau tidak (Ajzen, 1991:184). Niat merupakan fungsi dari ketiga determinan dasar yaitu : mencerminkan sikap pribadi (personal nature), sifat sosial (social in nature), dan berhubungan dengan masalah kontrol (issues of control) (Ajzen, 2005: 117).

Lingkungan Kerja (skripsi dan tesis)

Lingkungan kerja meliputi kehidupan sosial, jiwa atau psikologi, dan fisik yang ada di dalam perusahaan yang akan memengaruhi pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Kehidupan manusia selalu berkaitan dengan lingkungan yang ada disekitarnya, antara lingkungan dan manusia terdapat hubungan yang tidak dapat dipisahkan dan merupakan hubungan yang erat. Lingkungan kerja yang ada disekitar manusia bermacam-macam, oleh karena itu seorang manusia sudah selazimnya untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Lingkungan dalam dunia kerja sering disebut sebagai lingkungan kerja, karyawan sebagai manusia tidak dapat dipisahkan hubunganya dari berbagai macam keadaan disekitar tempat kerja mereka. Setiap pegawai dalam menjalankan tugasnya atau dalam menyelesaikan pekerjaanya akan selalu 33 berinteraksi dengan berbagai macam kondisi lingkungan yang meliputi pekerjaan tersebut. Lingkungan kerja merupakan keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok. Kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatan secara optimal, sehat, aman, dan nyaman. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama lebih jauh lagi lingkungan-lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien (Sedarmayanti, 2001)

Penghargaan Finansial (skripsi dan tesis)

Penghasilan finansial atau gaji merupakan hasil yang diperoleh sebagai kontraprestasi dari pekerjaan yang telah diyakini secara mendasar bagi sebagian besar perusahaan sebagai daya tarik utama untuk memberikan kepuasan kepada karyawan (Byars dan Rue, 2000). Pada faktor gaji, biasanya mahasiswa akan memperhitungkan gaji yang diperoleh pada waktu mulai bekerja, mulai jaminan masa depan yangmenjamin yaitu adanya dana pensiun, selain itu persepsi mahasiswa juga memperhitungkan kapan kenaikan gaji akan diperoleh (Yendrawati, 2007). Alexander (2000) penghargaan dibagi menjadi 2 jenis yaitu penghargaan intrinsik dan penghargaan ekstrinsik. Penghargaan intrinsik yaitu penghargaan yang berasal dari kecenderungan dan kebutuhan diri yang ada dalam diri manusia sendiri, sedangkan penghargaan ekstrinsik yaitu pengahargaan yang berasal dari luar diri manusia sendiri, seperti halnya uang, bonus, jabatan ataupun reward/punishment. Apabila pengargaan dibagi berdasarkan karakternya, maka ada dua jenis penghargaan pula yaitu penghargaan finansial yang berarti penghargaan yang bersifat keuangan, dan juga ada penghargaan non-finansial yang berarti penghargaan yang berada diluar uang atau intangible. Setiap  pengargaan tersebut yaitu penghargaan finansial dan penghargaan non-finansial mempunyai sifat intrinsik dan sifat ekstrinsik. Dunia kerja memberikan penghargaan finansial bagi siapa saja yang melakukan hal yang dituntut oleh pemberi kerja. Penghargaan finansial menjadi faktor yang sangat mendorong seseorang mau untuk bekerja di dalam suatu pekerjaan, karena pada dasarnya mayoritas orang bekerja untuk mendapatkan penghargaan finansial seperti contohnya gaji. Gaji yang tinggi akan sangat menarik bagi pencari kerja, dan bonus yang merupakan salah satu dari bentuk penghargaan finansial akan dapat meningkatkan kinerja atau motivasi pekerja untuk melakukan suatu pekerjaan atau mencapai suatu target

Persepsi (skripsi dan tesis)

Menurut Asrori (2009) persepsi adalah proses individu dalam menginterprestasikan, mengorganisasikan dan memberi makna terhadap stimulus yang berasal dari lingkungan di mana individu itu berada yang merupakan hasil dari proses belajar dan pengalaman. Dalam pengertian persepsi tersebut terdapat dua unsur penting yakni interprestasi dan pengorganisasian. Interprestasi merupakan upaya pemahaman dari individu terhadap informasi yang diperolehnya. Sedangkan perorganisasian adalah proses mengelola informasi tertentu agar memiliki makna. Slameto (2010) menyatakan bahwa persepsi adalah proses yang menyangkut masuknya pesan atau informasi kedalam otak manusia, melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan lewat inderanya, yaitu indera pengelihat, pendengar, peraba, perasa, dan pencium. Persepsi yang terdapat dalam pikiran seseorang dapat mempengaruhui tindakan atau perilaku seseorang tersebut terhadap suatu objek dan kondisi lingkunganya. Dengan kata lain, tindakan atau perilaku seseorang terhadap  lingkungan sekitarnya dipengaruhi salah satunya oleh persepsi yang dimiliki seseorang. Persepsi pada penelitian ini merujuk kepada lembaga keuangan syariah syariah, yaitu anggapan mahasiswa/mahasiswi tentang lembaga keuangan syariah dan segala hal yang ada di dalam organisasi atau badan tersebut

Pengetahuan Syariah (skripsi dan tesis)

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui, segala sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal mata pelajaran (Tim penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002). Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu : indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoadmodjo, 2007). Pengetahuan adalah berbagai ilmu yang ditemui dan didapatkan manusia memalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul manakala seseorang menggunakan akalnya untuk mengenali benda-benda sekitar atau kejadiankejadian tertentu yang belum pernah dialami atau dilihat sebelumnya.   Pengetahuan juga dapat diartikan sebagai informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman seseorang dan potensi seseorang untuk menindaki yang kemudian melekat dalam benak seseorang. Secara umum, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif yang menjadikan manusia mampu memperkirakan sesuatu sebagai hasil pengenalan atau pengetahuan terhadap suatu pola. Manakala informasi dan data yang didapkan atau ditemui seseorang hanya mampu untuk menginformasikan atau justru menimbulkan kebingungan dalam pikiran seseorang maka pengetahuan dapat untuk mengarahkan tindakan. Hanafi (1984) menjelaskan syariah adalah segala hukum yang diadakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk hamba-hambaNya yang di disampaikan oleh salah seorang UtusanNya, baik hukum-hukum tersebut berhubungan dengan cara melakukan suatu perbuatan, atau sering disebut sebagai hukum-hukum cabang dan amalan. Oleh karena itu maka lahirlah ilmu Fiqih, ataupun mengenai hal yang berhubungan dengan kepercayaan yaitu yang disebut sebagai hukumhukum pokok atau keimanan, yang terhimpun dalam kajian ilmu kalam. Pengetahuan yang dimiliki seseorang sangat bermacam-macam, salah satu diantaranya adalah pengetahuan syariah. Pengetahuan syariah dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang dimiliki manusia tentang agamanya, meliputi hal-hal yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah subhanahu wa ta’ala, pengetahuan tentang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Hanafi, 1984). Pengetahuan syariah adalah pengetahuan paling penting yang harus dimiliki oleh seorang manusia khususnya seorang muslim, karena untuk menjalankan perintahperintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam agama Islam seseorang harus 30 mengetahui tentang apa-apa yang diperintahkan Allah. Pengetahuan tentang syariah inilah pengetahuan yang diajarkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mengangkat manusia dari jaman jahiliyyah, bangkit menuju zaman yang cemerlang penuh cahaya yaitu islam. Pengetahuan syariah pada penelitian ini juga mengarah pada pengetahuan atau pemahaman seseorang tentang akad-akad syariah dan perhitungan transaksi akuntansi syariah

Religiusitas (skripsi dan tesis)

Religiusitas seringkali diidentikkan dengan keberagamaan. Religiusitas diartikan sebagai seberapa jauh pengetahuan, seberapa kokoh keyakinan, seberapa pelaksanaan ibadah dan kaidah dan seberapa dalam penghayatan atas agama yang dianutnya. Bagi seorang Muslim, religiusitas dapat diketahui dari seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama Islam (Nashori dan Mucharam, 2002). Hawari (1996) menyebutkan bahwa religiusitas merupakan penghayatan keagamaan dan kedalaman kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci. Ancok dan Suroso (2001) mendefinisikan religiusitas sebagai keberagamaan yang berarti meliputi berbagai macam sisi atau dimensi yang bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah), tapi juga ketika melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Sumber jiwa keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak (sense of depend). Adanya ketakutan-ketakutan akan ancaman dari lingkungan alam sekitar  serta keyakinan manusia itu tentang segala keterbatasan dan kelemahannya. Rasa ketergantungan yang mutlak ini membuat manusia mencari kekuatan sakti dari sekitarnya yang dapat dijadikan sebagai kekuatan pelindung dalam kehidupannya dengan suatu kekuasaan yang berada di luar dirinya yaitu Tuhan. Religiusitas atau keagamaan seseorang ditentukan dari banyak hal, di antaranya: pendidikan keluarga, pengalaman, dan latihan-latihan yang dilakukan pada waktu kita kecil atau pada masa kanak-kanak. Seorang remaja yang pada masa kecilnya mendapat pengalaman-pengalaman agama dari kedua orang tuanya, lingkungan sosial dan teman-teman yang taat menjalani perintah agama serta mendapat pendidikan agama baik di rumah maupun di sekolah, sangat berbeda dengan anak yang tidak pernah mendapatkan pendidikan agama di masa kecilnya, maka pada dewasanya ia tidak akan merasakan betapa pentingnya agama dalam hidupnya. Orang yang mendapatkan pendidikan agama baik di rumah mapun di sekolah dan masyarakat, maka orang tersebut mempunyai kecenderungan hidup dalam aturan-aturan agama, terbiasa menjalankan ibadah, dan takut melanggar larangan-larangan agama (Syahridlo, 2004). Azra (2000) menyebutkan beberapa faktor yang memengaruhi religiusitas, yaitu: 1) Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan sosial (faktor sosial) yang mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan sikap keagamaan, termasuk pendidikan orang tua,  tradisi-tradisi sosial untuk menyesuaikan dengan berbagai pendapatan sikap yang disepakati oleh lingkungan 2) Berbagai pengalaman yang dialami oleh individu dalam membentuk sikap keagamaan terutama pengalaman mengenai: a) Keindahan, keselarasan dan kebaikan didunia lain (faktor alamiah) b) Adanya konflik moral (faktor moral) c) Pengalaman emosional keagamaan (faktor afektif) 3) Faktor-faktor yang seluruhnya atau sebagian yang timbul dari kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, terutama kebutuhan terhadap keamanan, cinta kasih, harga diri, dan ancaman kematian.

Minat (skripsi dan tesis)

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 2010). Menurut Djamarah (2008) minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa aktivitas. Seseorang yang berminat terhadap aktivitas akan memperhatikan aktivitas itu secara konsisten dengan rasa senang. Seseorang yang berminat terhadap suatu aktititas tertentu akan berusaha memperhatikan sesuatu tersebut secara terus menerus dan merasa senang ketika dia menjalankan aktivitas tersebut, dikarenakan hal tersebut muncul dari dorongan positif orang tersebut lantaran ia telah memiliki rasa suka untuk melakukan hal tersebut. Biasanya seseorang akan merasa tidak suka atau benci manakala dia harus melakukan sesuatu yang di perintahkan atau dipaksa oleh orang lain, padahal itu bukan termasuk hal yang dia sukai. Dengan kata lain, minat yaitu rasa  senang dan rasa ketertarikan terhadap suatu objek atau aktivitas, tanpa ada paksaan dari orang lain. Menurut Walgito (1997), karakteristik minat meliputi: 1) Menimbulkan sifat positif terhadap suatu objek. 2) Adanya sesuatu yang menyenangkan yang timbul dari objek tersebut. 3) Mengandung suatu pengharapan yang menimbulkan keinginan atau gairah untuk mendapatkan sesuatu yang menjadi minatnya

Lembaga Keuangan Syariah (skripsi dan tesis)

Menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) lembaga keuangan syariah
adalah lembaga keuangan yang mengeluarkan produk keuangan syariah dan yang
mendapat izin operasional sebagai lemabaga keuangna syariah (DSN-MUI, 2003).
Pengertian tersebut secara tegas menjelaskan bahwa suatu lembaga keuangan
syariah harus memenuhi dua unsur, yang pertama adalah unsur kesesuaian dengan
syariah islam dan yang kedua adalah unsur legalitas operasi sebagai lembaga
keuangan.
Unsur legalitas suatu lembaga keuangan syariah dengan syariah islam
diatur oleh Dewas Syariah Nasional secara tersentralisasi yang diwujudkan dalam
bentuk fatwa yang dikeluarkan oleh Dewas Syariah Nasional Majelis Ulama
Indonesia. Unsur legalitas operasi sebagai lembaga keuangan diatur oleh instansiinstansi yang memiliki wewenang untuk mengeluarkan izin operasi. Beberapa
institusi yang mempunyai hak tersebut antara lain:
1) Bank Indonesia
2) Departemen Keuangan
3) Kantor Menteri Koperasi
Fatwa-fatwa yang dikeluarkan Dewan Syariah Nasional pada umumnya
bersifat umum dan menyuluruh untuk semua lembaga keuangan syariah. Fatwafatwa tersebut dirumuskan mengacu pada prinsip-prinsip hukum syariah yang
sudah dirumuskan oleh para ulama. Diantara prinsip dalam muamalah adalah
sebagai berikut:
1) Muamalah harus dilakukan atas dasar saling rela dan suka sama suka,
tanpa disertai adanya unsur paksaan.
2) Pada dasarnya, semua bentuk muamalah itu diperbolehkan, kecuali ada
dalil yang melarangnya. Muamalah dilakukan atas dasar pertimbangan
manfaat dan mudhorot, yaitu muamalah dilakukan untuk mendapakan
manfaat dan muamalah dilakukan untuk menghindari mudhorot.
Kegiatan yang dilakukan lembaga keuangan syariah berada dalam hal-hal
dan prinsip-prinsip:
1) Universal
Prinsip ini menjelaskan bahwa kegiatan lembaga keuangan
syariah tidak membedakan suku, agama, dan ras yang ada dalam
masyarakat sejalan dengan prinsip agama islam yaitu rahmat bagi
semesta alam.
2) Keadilan
Prinsip ini menjelaskan bahwa semua profit atas operasional
riil disesuakan dengan peran kontribusi dan tanggung jawab resiko
masng-masing pihak yang ikut serta.
3) Kemitraan
Prinsip ini menjelaskan bahwa peran atau posisi penyimpan
dana, pengguna dana, dan lembaga keuangan syariah adalah sejajar
sebagai rekan usaha yang bersama-sama berusaha untuk mendapatkan
keuntungan.
4) Transparansi
Prinsip ini menjelaskan bahwa lembaga keuangan syariah akan
menyediakan laporan keuangan secara umum dan berkelanjutan yang
bertujuan supaya calon penyimpan dana dapat mengetahui keadaan
lembaga keuangan syariah dan keadaan dana yang diinvestasikanya.
Lembaga-lembaga keuangan syariah yang ada di Indonesia bukan hanya
bank. Secara garis besar lembaga-lembaga tersebut dapat digolongkan ke dalam
dua jenis yaitu lembaga keuangan syariah bank dan lembaga keuangan syariah
bukan bank. Lembaga keuangan syariah yang berada di Indonesia yaitu:
1) Bank Syariah
Menurut Sudarsono (2003) menyatakan bahwa bank syariah
adalah lembaga keuangan yang kegiatan pokoknya yaitu memberikan
kredit dan jasa-jasa yang lain dalam lalu lintas pembayaran serta
peredaran uang yang operasionalnya disesuaikan dengan prinsip-prinsi
syariah agama islam.
2) Asuransi Syariah
Asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong
menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi dalam
bentuk aset dan atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian
untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai
syariah (DSN MUI, 2001).
3) Pasar Modal Syariah
Pasar modal konvensional yaitu suatu sistem keuangan yang
terorganisasi, termasuk didalamnya adalah bank-bank komersial dan
semua lembaga perantara dibidang keuangan, serta keseluruhan suratsurat berharga yang beredar. Dalam arti sempit pasar modal adalah
suatu pasar yang digunakan untuk memperdagangkan saham-saham,
obligasi-obligasi, dan jenis surat berharga lainnya dengan memakai
jasa para perantara pedagang efek (Sunariyah, 2004).
Pengertian pasar modal syariah sama dengan pasar modal
konvensional hanya saja yang membedakan adalah efek-efek yang
diperdagangkan di pasar modal syariah adalah surat berharga yang
akadnya, pengelolaan perusahaanya, maupun cara penerbitanya
memenuhi prinsip-prinsip syariah (DSN MUI, 2003).
4) Koperasi Syariah
Menurut Undang-undang nomor 25 tahun 1992 menjelaskan
bahwa koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang
perorangan atau badan hukum koperasi, dengan melandaskan
kegiataannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan
ekonomi rakyat yang berdasar atas azas kekeluargaan.
Penegertian koperasi syariah menurut pengertian di atas dapat
disimpulkan yaitu koperasi syariah adalah badan usaha koperasi yang
menjalankan usahanya dengan prinsip-prinsip syariah. Apabila
koperasi memiliki unit usaha produktif simpan pinjam, maka seluruh
produk dan operasionalnya harus dilaksanakan dengan mengacu
kepada fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama
Indonesia.
5) Pegadaian Syariah
Pegadaian syariah sendiri berasal dari prinsip Islam yang
dikenal dengan sebutan Rahn, yang berarti tetap atau lama. Dengan
kata lain, penahanan suatu barang dalam jangka waktu tertentu.
Beberapa ahli juga menyatakan bahwa rahn juga berarti menjadikan
barang yang memiliki nilai harta sebagai jaminan pada utang-piutang

Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavior) (skripsi dan tesis)

Teori perilaku terencana atau theory of planned behavior (TPB) merupakan pengembangan lebih lanjut dari theory of reasoned action (TRA). Theory of reasoned action (TRA) didsasarkan kepada asumsi bahwa manusia berperilaku dengan cara yang sadar, dengan mempertimbangkan informasi yang tersedia dan juga mempertimbangkan implikasi-implikasi dari tindakan yang dilakukan. Menurut TRA, niat merupakan faktor yang memengaruhi terjadinya suatu tindakan (Ajzen dan Fishbein, 1975). Niat dipengaruhi oleh dua faktor dasar, yaitu faktor pribadi berupa sikap dan faktor pengaruh sosial yaitu norma subyektif (Ajzen, 1991). Ajzen (1991) menambahkan konstruk yang belum ada dalam TRA, yaitu persepsi kontrol keprilakuan (perceived behavioral control). Konstruk ini ditambahkan dalam upaya memahami keterbatasan yang dimiliki individu dalam rangka melakukan perilaku tertentu. Teori perilaku terencana atau theory of planned behavior (TPB) adala teori yang mencakup tiga hal, yang pertama adalah keyakinan tentang kemungkinan evaluasi dan hasil dari perilaku tersebut. Kedua yaitu keyakinan tentang norma perilaku yang diharapkan dan motivasi untuk sampai atau memenuhi harapan tersebut. Ketiga adalah keyakinan tentang adanya   faktor yang bisa mendukung atau menghambat perilaku dan kesadaran akan kekuatan faktor tersebut (control beliefs). Control beliefs memunculkan kontrol terhadap perilaku tersebut (Ajzen, 1991). Teori perilaku terencana memuat keyakinan-keyakinan berpengaruh pada sikap terhadap perilaku tertentu pada norma-norma subjektif, dan pada kontrol perilaku yang dihayati. Semua komponen tersebut berinteraksi dan menjadi faktor utama bagi intensi yang pada saatnya akan menunjukan apakah perilaku yang direncanakan akan dilakukan atau tidak. Model teoritik dari teori perilaku terencana mengandung beberapa variabel yaitu: 1) Latar belakang. Seperti jenis kelamin, usia, status sosial ekonomi, suku, sifat kepribadian, suasana hati, dan pengetahuan syariah. Ajzen (1991) menambahkan tiga faktor latar belakang yaitu personal, informasi, dan sosial. 2) Keyakinan perilaku (behavioral belief) adalah hal-hal yang diyakini oleh seseorang mengenai sebuah perilaku yang dilihat dari segi positif dan negatif, kecenderungan atau sikap terhadap perilaku untuk bereaksi secara afektif terhadap suatu perilaku, dalam bentuk suka atau tidak suka pada perilaku yang berhubungan. 3) Keyakinan normatif (normative belief), Lewin dalam Field Theory megemukakan secara tegas bahwa keyakinan normatif berkaitan langsung dengan perngaruh lingkungan.   4) Norma subjektif (subjective norm) adalah seberapa besar seseorang memiliki motivasi atau dorongan untuk mengikuti pandangan orang lain terhadap perilaku yang akan dilakukan. Kalau seseorang menganggap itu adalah hak pribadinya untuk memilih apa yang akan dia lakukan, bukan orang lain yang menentukanya, maka dia akan mengabaikan pandangan orang lain tentang perilaku yang akan dilakukanya. 5) Keyakinan bahwa suatu perilaku dapat dilakukan (control belief) didapat dari berbagai hal, yang pertama adalah pengalaman pernah melakukan perilaku yang sama sebelumnya atau pengalaman yang didapat karena melihat orang lain melakukan perilaku tersebut sehingga dia mempunyai keyakinan bahwa dia juga akan dapat melaksanakanya. Selain itu ketrampilan, pengalaman, pengetahuan syariah, dan keyakinan individu terhadap suatu perilaku akan dapat dilaksanakan ditentukan pula oleh adanya waktu untuk melakukan perilaku tersebut. 6) Persepsi kemampuan mengontor (perceived behavioral control), adalah keyakinan bahwa seseorang pernah melakukan atau tidak pernah melakukan perilaku tertentu, seseorang memiliki waktu dan fasilitas untuk melakukan perilaku tersebut, kemudian seseorang melakukan perkiraan atas kemampuan yang dimilikinya pakah dia mempunyai kemampuan atau tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan perilaku tersebut. 18 Niat untuk melakukan suatu perilaku adalah kecenderungan seseorang untuk menentukan apakah dia akan melakukan atau tidak melakukan suatu pekerjaan. Niat ini bergantung atau ditentukan oleh sejauh mana seseorang memiliki sikap positif pada suatu perilaku, dan sejauh mana apabila dia memilih untuk melakukan suat perilaku tersebut dia akan mendapat dukungan dari orang lain yang mempunyai pengaruh dalam kehidupanya. Kepercayaan perilaku, kepercayaan kontrol, kepercayaan normatif akan membentuk sikap norma subjektif dan kontrol perilaku persepsian. Norma subjektif, sikap dan kontrol perilaku persepsian akan membentuk niat perilaku yang nantinya akan menimbulkan perilaku. Teori perilaku terencana dapat digunakan untuk memperkirakan atau memprediksi niat mahasiswa untuk memilih suatu pekerjaan. Pengetahuan tentang norma subjektif, sikap, dan kontrol perilaku persepsian mahasiswa terhadap minat pada suatu pekerjaan, maka akan dapat diketahui niat mahasiswa untuk memilih karir di lembaga keuangan syariah.

Aspek Subjective Norm (skripsi dan tesis)

Aspek Subjective Norm Norma Subjektif diartikan sebagai dukungan orang-orang terdekat untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku (Ajzen, 2005). Norma subjektif ditentukan oleh dua aspek yaitu normative belief (keyakinan normatif), normative belief adalah keyakinan seseorang mengenai setuju atau tidak setuju yang berasal dari referent. Referent merupakan orang atau kelompok sosial yang sangat berpengaruh bagi seseorang baik itu orang tua, pasangan (istrri atau suami), teman dekat, rekan kerja dan lain-lain tergantung pada tingkah laku yang dimaksud. Keyakinan normatif (normative belief) berasal dari keyakinan seseorang mengenai orang-orang terdekatnya (significant others) yang mendukung atau menolak pada tampilan perilaku tersebut. Keyakinan normatif didapat dari significant others tentang apakah individu perlu, harus, atau dilarang melakukan perilaku tertentu dan dari seseorang yang berhubungan langsung dengan perilaku tersebut. Dan aspek kedua yaitu motivation to comply (keinginan untuk mengikuti), motivation to comply adalah motivasi individu untuk menampilkan atau mematuhi perilaku yang diharapkan significant others. Individu yang percaya bahwa significant others menyetujui suatu perilaku, maka ini akan menjadi tekanan sosial bagi individu untuk melakukan perilaku tersebut dan begitu sebaliknya. Hubungan antara dua aspek norma subjektif diatas dapat digambarkan pada persamaan berikut ini : Berdasarkan rumus di atas norma subjektif (SN) didapat dari penjumlahan hasil kali dari normative belief dengan motivation to comply. Dengan kata lain, orang percaya bahwa individu atau kelompok yang cukup berpengaruh terhadapnya akan mendukung ia untuk melakukan tingkah laku tertentu, maka hal ini menyebabkan ia menjadi terdorong untuk melakukaknnya. Sebaliknya, jika ia percaya individu atau kelompok yang cukup berpengaruh terhadap dirinya tidak mendukung ia untuk melakukan tingkah laku tertentu, maka hal ini membuat dirinya untuk tidak melakukan tingkah laku tersebut. Determinan ini dapat dinilai secara langsung dengan meminta responden untuk menilai seberapa besar kemungkinan bahwa kebanyakan orang-orang yang penting bagi mereka akan menyetujui mereka melakukan perilaku tertentu.

pengertian Subjective Norm (skripsi dan tesis)

“Subjective norm is the perceived social pressure to engage or not to engage in a behavioral” (Ajzen, 2015). Norma subjektif adalah tekanan yang dirasakan oleh seseorang yang berasal dari lingkungan sosialnya tentang harus atau tidak harus menampilkan suatu perilaku. Ajzen (2005) mengatakan norma subjektif merupakan fungsi yang didasarkan oleh belief yang disebut normative belief, yaitu belief mengenai kesetujuan dan atau ketidaksetujuan yang berasal dari referent atau orang dan kelompok yang berpengaruh bagi individu (significant others) seperti orang tua, pasangan, teman dekat, rekan kerja atau lainnya terhadap suatu perilaku. Norma subjektif didefinisikan sebagai persepsi individu tentang tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku (Ajzen, 2005). Norma subjektif ditentukan oleh kombinasi antara normative belief individu dan motivation to comply. Biasanya semakin individu mempersepsikan bahwa social referent yang mereka miliki mendukung mereka untuk melakukan suatu perilaku maka individu tersebut akan cenderung merasakan tekanan sosial untuk memunculkan perilaku tersebut. Dan sebaliknya semakin individu mempersepsikan bahwa social referent yang mereka miliki tidak menyetujui suatu perilaku maka individu cenderung merasakan tekanan sosial untuk tidak melakukan perilaku tersebut. Ketika seseorang ingin menampilkan perilaku, maka ia akan menyesuaikan perilaku tersebut dengan norma kelompoknya sehingga kecenderungan untuk menampilkan perilaku akan semakin besar jika kelompok bisa menerima perilaku tersebut. Kelompok ini bisa saja berupa orangtua, saudara, teman dekat, dan orang yang berkaitan dengan perilaku tersebut.

Aspek Attitude Toward Behavior (skripsi dan tesis)

Menurut Ajzen (2005) sikap terhadap perilaku didefinisikan sebagai derajat penilaian positif atau negatif individu terhadap perilaku tertentu. Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh kombinasi antara behavioral belief dan outcome evaluation. Behavioral belief adalah belief individu mengenai konsekuensi positif atau negatif dari perilaku tertentu dan outcome evaluation merupakan evaluasi individu terhadap konsekuensi yang akan ia dapatkan dari sebuah perilaku. Rumusnya adalah sebagai berikut: Berdasarkan rumus di atas sikap terhadap perilaku (AB) didapat dari penjumlahan hasil kali antara belief terhadap outcome yang dihasilkan (bi) dengan evaluasi terhadap outcome (ei). Dapat disimpulkan bahwa individu yang percaya melakukan suatu perilaku tertentu akan menyebabkan hasil tertentu dan sebagian besar hasil tertentu tersebut dievaluasi sebagai hasil yang positif bagi dirinya maka ia akan memiliki sikap yang baik terhadap perilaku tersebut. Sementara orang yang percaya bahwa melakukan perilaku tersebut sebagian besar akan membawa hasil negatif cenderung memiliki sikap yang kurang baik.

Pengertian Attitude Toward Behavior (skripsi dan tesis)

“Attitude toward a behavior is the degree to which performance of the behavior is positively or negatively valued” (Ajzen, 2005). Sikap terhadap perilaku adalah derajat penilaian positif atau negatif dari suatu perilaku tertentu (Ajzen, 2005). Ajzen (2005) mengatakan sikap merupakan suatu disposisi untuk merespon secara positif atau negatif suatu perilaku. Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh belief tentang konsekuensi dari sebuah perilaku, yang disebut sebagai behavioral beliefs (Ajzen, 2005). Menurut Ajzen (2005) setiap behavioral beliefs menghubungkan perilaku dengan hasil yang bisa didapat dari perilaku tersebut. Sikap terhadap perilaku ditentukan oleh evaluasi individu mengenai hasil yang berhubungan dengan perilaku dan dengan kekuatan hubungan dari kedua hal tersebut (Ajzen, 2005). Sikap merupakan evaluasi individu baik positif maupun negatif terhadap objek sikap berupa benda institusi, orang, kejadian, perilaku, maupun minat tertentu. Sikap ditentukan dari evaluasi seseorang mengenai konsekuensi suatu perilaku yang diasosiasikan dengan suatu perilaku, dengan melihat kuatnya hubungan antara konsekuensi tersebut dengan suatu perilaku. Maka dapat disimpulkan bahwa jika seseorang memiliki belief yang kuat bahwa suatu perilaku akan menghasilkan konsekuensi yang positif, maka sikap terhadap perilaku tersebut akan positif. Akan tetapi jika belief terhadap perilaku tersebut negatif, maka sikap yang terbentuk terhadap suatu perilaku tersebut akan negatif. Secara umum, semakin individu memiliki evaluasi bahwa suatu perilaku akan menghasilkan konsekuensi positif maka individu akan cenderung bersikap favorable terhadap perilaku tersebut; sebaliknya, semakin individu memiliki evaluasi negative maka individu akan cenderung bersikap unfavorable terhadap perilaku tersebut (Ajzen, 2005).

Theory of Planned Behavior (skripsi dan tesis)

Theory of planned behavior merupakan teori yang dikembangkan oleh Ajzen yang merupakan penyempurnaan dari reason action theory yang dikemukakan oleh Fishbein dan Ajzen. Fokus utama dari teori planned behavior ini sama seperti teori reason action yaitu intensi individu untuk melakukan perilaku tertentu. Intensi dianggap dapat melihat faktor-faktor motivasi yang mempengaruhi perilaku. Intensi merupakan indikasi seberapa keras orang mau berusaha untuk mencoba dan berapa besar usaha yang akan dikeluarkan individu untuk melakukan suatu perilaku. “Intention is an indication of a person’s readiness to perform a given behavior, and it is consider to be the immediate antecendent of behavior. The intention is based on attitude toward behavior, seubjective norm, and perceived behavioral contrh bol, with each predictor weighted for its importance in relation to the behavior and population of interest” (Ajzen, 2005). Intention adalah indikasi kesiapan seseorang untuk melakukan perilaku tertentu dan dianggap sebagai penentu langsung atau penyebab munculnya perilaku. Intention tersebut dibentuk berdasarkan sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan, dimana tiap-tiap prediktor ini memiliki bobot keterkaitan yang penting terhadap tingkah laku dan ketertarikan (Ajzen, 2005). Ajzen menyatakan bahwa niat untuk berperilaku (intenttion) dapat digunakan untuk meramalkan seberapa kuat keinginan individu untuk menampilkan tingkah laku dan seberapa usaha yang direncanakan atau akan dilakukan untuk menampilkan suatu tingkah laku. Ajzen menegaskan intensi sebagai pendahulu dari suatu perilaku yang dimunculkan seseorang. Jadi, sebelum perilaku muncul terlebih dahulu terbentuk intensi atau niat untuk memunculkan perilaku tersebut. Di dalam konsep Theory of planned behavior terdapat empat elemen yang sering dikenal dengan istilah TACT, yaitu : a. Target, yaitu objek yang menjadi sasaran perilaku. Objek yang menjadi sasaran dari perilaku spesifik dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu orang tertentu/objek tertentu (particular object), sekelompok orang/sekelompok objek (a class of object), dan orang atau objek pada umumnya (any object). b. Action, yang berati tindakan dan bisa diartikan pula sebagai perilaku yang akan diwujudkan secara nyata. c. Context, yang berarti konteks atau situasi. Situasi yang mendukung untuk dilakukannya suatu perilaku (bagaimana dan dimana perilaku itu akan diwujudkan). d. Time, yaitu waktu terjadinya perilaku yang meliputi waktu tertentu, dalam satu periode atau jangka waktu yang tidak terbatas. Menurut theory of planned behavior, intensi adalah fungsi dari tiga determinan dasar yaitu : 1. Faktor Personal merupakan sikap individu terhadap perilaku berupa evaluasi positif atau negatif terhadap perilaku yang akan ditampilkan. 2. Faktor sosial diistilahkan dengan kata norma subjektif yang meliputi persepsi individu terhadap tekanan sosial untuk menampilkan atau tidak menampilkan perilaku. 3. Faktor kendali yang disebut perceived behavioral control yang merupakan perasaan individu akan mudah atau sulitnya menampilkan perilaku tertentu. Umumnya seseorang menunjukkan intensi terhadap suatu perilaku jika mereka telah mengevaluasinya secara positif, mengalami tekanan sosial untuk melakukannya, dan ketika mereka percaya bahwa mereka memiliki kesempatan dan mampu untuk melakukannya. Sehingga dengan menguatnya intensi seseorang terhadap perilaku tersebut, maka kemungkinan individu untuk menampilkan perilaku juga semakin besar (Ajzen, 2005). Apabila ketika control diri mereka lebih besar dalam memiliki kesempatan dan mampu untuk melakukannya akan langsung mempengaruhi ke perilaku mereka. Teori ini berasumsi bahwa pentingnya attitude toward behavior, subjective norm dan perceived behavioral control adalah relati teragntung pada intensi yang diteliti. Pada beberapa intensi, pertimbangan attitudional lebih penting dibandingkan pertimbangan normatif, sementara untuk intensi yang lainnya pertimbangan normatif adalah yang lebih dominan. Begitu juga perceived behavioral control, mungkin akan lebih penting ada beberapa perilaku dibandingkan dengan determinan yang lain. pada beberapa hal, hanya satu atau dua faktor saja yang dibutuhkan untuk menjelaskan intensi, sedangkan pada yang lainnya, ketiga faktor adalah determinan yang sama pentingnya (Ajzen, 2015).

Teori Pedagang (skripsi dan tesis)

Pedagang adalah orang yang melakukan perdagangan, memperjualbelikan barang yang tidak diproduksi sendiri, untuk memperoleh suatu keuntungan. Pedagang dapat dikategorikan menjadi: a. Pedagang grosir, beroperasi alam rantai distribusi antara produsen dan pedagang eceran. b. Pedagang eceran, disebut juga pengecer, menjual produk komoditas langsung ke konsumen secara sedikit demi sedikit atau satuan.  Pengelompokan pedagang dapat juga dilakukan berdasarkan tempat dasar dari pedagang yang bersangkutan.

Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku (skripsi dan tesis)

Menurut Philip Kotler, terdapat empat faktor (variabel) yang mempengaruhi perilaku konsumen antara lain: a. Fakor Budaya Menurut Kotler faktor budaya memiliki pengaruh yang paling meluas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Faktor ini terdiri dari unsur kultur (kebudayaan), sub kultur, dan Kelas Sosial. Pertama, kultur (kebudayaan) adalah determinan paling fundamental dari keinginan dan perilaku seseorang. Seorang anak memperoleh seangkaian tata nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku melalui keluarga dan lembaga-lembaga kunci lainnya di masyarakat. Kedua, sub kultur menurut Kotler, kultur terdiri dari sub-sub kultur yang lebih kecil yang memberikan identifikasi dan sosialisasi anggotanya yang lebih spesifik. Sub kultur mencakup kebangsaan, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Sub kultur banyak membentuk segmen pasar yang penting, dan para pemasar sering merancang produk dan program pemasaran yang khusus dibuat untuk kebutuhan mereka (konsumen).  Dan ketiga kelas sosial. Di dalam lingkungan masyarakat, terdapat struktur yang menimbulkan stratifikasi sosial. Stratifikasi kadang-kadang berupa suatu sistem kasta dimana anggota dari kasta yang berbeda memiliki peranan-peranan tertentu. Stratifikasi sosial sering disebut sebagai kelas sosial. Kelas-kelas sosial ini memberikan prefrensi produk dan merk dalam bidang bidang tertentu seperti pakaian, perabitan rumah dan lain-lain. Kelas-kelas sosial memiliki beberapa karakteristik. a) Orang-orang dalam kelas sosial lebih cenderung untuk berperilaku yang lebih mirip daripada orangorang dari dua kelas sosial lainnya. b) Orang-orang dipandang mempunyai posisi yang lebih tinggi atau rendah menurut kelas sosial mereka. c) Kelas sosial seseorang ditandai oleh beberapa variabel dan tidak ditandai oleh satu variabel tertentu. Seperti pekerjaan, kekayaan, pendidikan, dan orientasi nilai lain. d) Individu-individu dapat bergerak dari satu kelas ke kelas lainnya (naik-turun) selama hidup mereka sampai dimana mobilitas ini tergantung pada fleksibilitas dan kekakuan sistem stratifikasi sosial yang ada di masyarakat.  b. Faktor Sosial Menurut Kotler, faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial memberikan pengaruh terhadap perilaku konsumen. c. Faktor Pribadi  Kotler mengungkapkan bahwa perilaku konsumen selain dipengaruhi oleh budaya dan faktor sosial, dipengaruhi juga oleh faktor karakteristik pribadi yaitu usia dan tahap sikus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep pribadi pembeli. d. Faktor Psikologi Menurut Kotler, empat faktor psikologis memberikan pengaruh terhadap perilaku konsumen. Faktor tersebut motivasi, persepsi, pengetahuan, kepercayaan dan pendirian. Pertama, manusia memiliki motivasi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Motivasi manusia dalam memenuhi kebutuhan tersebut bisa bermacam-macam. Kedua persepsi, perilaku dan tindakan konsumen menurut Kotler dipengaruhi oleh persepsi konsumen terhadap produk tertentu. Persepsi didefisinikan sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan input informasi untuk menyiptakan gambaran keseluruhan yang berarti. Dan poin sudah dijelaskan pada sub bab sebelumnya. Ketiga pengetahuan. Pada intinya setiap manusia mereka akan belajar mencari pengetahuan untuk bertindak. Ahli pengetahuan mengatakan bahwa pengetahuan seseorang dihasilkan suatu proses yang saling mempengaruhi dari dorongan, stimuli, petunjuk, tanggapan dan penguatan. Teori pengetahuan mengajarkan bahwa seorang pemasar harus bisa menciptakan permintaan akan suatu produk dengan menghubungkannya dorongan yang kuat, motivasi dan pengetahuan konsumen. Keempat kepercayaan dan sikap pendirian. Melalui bertindak dan belajar, manusia akan memperoleh kepercayaan dan pendirian. Dan hal ini mempengaruhi perilaku mereka dalam memenuhi kebutuhan. Suatu kepercayaan diartikan sebagai pikiran diskriptif yang dianut seseorang mengenai suatu hal. Sedangkan pendirian menjelaskan evaluasi kognitif yang menguntungkan, rasa emosional dan kecenderungan tindakan yang mapan dari seseorang terhadap suatu objek atau ide. Kebanyakan orang memiliki pendirian terhadap semua hal : agama, politik, budaya, pakaian, musik, makanan dan sebagainya

Teori Perilaku (skripsi dan tesis)

Menurut Hasan Langgulung “perilaku adalah gerak motorik yang termanifestasikan dalam bentuk aktivitas seseorang yang diamati”. Perilaku sebagai suatu gejala yang dapat ditangkap dengan panca indera mempunyai hubungan erat dengan sikap. Sikap adalah keadaan mental dan saraf dari kesiapan yang diatur melalui pengalaman yang memberikan pengaruh dinamik atau terarah respon individu pada semua objek da situasi yang berkaitan dengannya. Prof. Dr. Jalaudin membagi sikap kedalam tiga aspek: Kognitif berupa kepercayaan, afektif berupa perasaan emosional, dan psikomotorik berupa tindakan yang diambil. Perilaku atau aktivitas-aktivitas dalam pengertian yang luas yaitu perilaku yang nampak (overt behavior) dan periaku yang tidak nampak (innert behavior), demikian pula aktivitas-

Indikator-indikator Persepsi (skripsi dan tesis)

Adapun indikator dari persepsi adalah sebagai berikut: a. Tanggapan (respon) Yaitu gambaran tentang sesuatu yang ditinggal dalam ingatan setelah melakukan pengamatan atau setelah berfantasi. Tanggapan disebut pula kesan, bekas atau kenangan. Tanggapan kebanyakan berada dalam ruang bawah sadar atau pra sadar, dan tanggapan itu disadari kembali setelah dalam ruang kesadaran karena sesuatu sebab. Tanggapan yang berada pada ruang bawah sadar disebut talent (tersembunyi) sedang yang berada dalam ruang kesadaran disebut actueel (sungguh-sungguh).  b. Pendapat Dalam bahasa harian disebut sebagai: dugaan, perkiraan, sangkaan, anggapan, pendapat subjektif “perasaan”. Adapun proses pembentukan pendapat adalah sebagai berikut: 1. Menyadari adanya tanggapan/pengertian karena tidak mungkin kita membentuk pendapat tanpa menggunakan pengertian/tanggapan. 2. Menguraikan tanggapan/pengertian, misalnya: kepada seorang anak diberikan sepotong karton berbentuk persegi empat. Dari tanggapan yang majemuk itu (sepotong, karton, kuning, persegi empat) dianalisa. Kalau anak tersebut ditanya, apakah yang kau terima? Mungkin jawabannya hanya “karton kuning” karton kuning adalah suatu pendapat. 3. Menentukan hubungan logis antara bagian-bagian setelah sifat-sifat dianalisa, berbagai sifat dipisahkan tinggal dua pengertian saja kemudian satu sama lain dihubungkan, misalnya menjadi “karton kuning”. Beberapa pengertian yang dibentuk menjadi suatu pendapat yang dihubungkan dengan sembarangan tidak akan menghasilkan suatu hubungan logis dan tidak dapat dinyatakan dalam suatu kalimat yang benar. Suatu kalimat dinyatakan benar dengan ciri sebagai berikut: a) Adanya pokok (subjek) b) Adanya sebutan (predikat) c. Penilaian Bila mempersepsikan sesuatu maka kita memilih pandangan tertentu tentang hal yang dipersepsikan. Sebagaimana yang dikutip oleh Renato Tagulisi dalam bukunya Alo Liliwery dalam bukunya yang berjudul Persepsi Teoritis, Komunikasi Antar Pribadi, menyatakan bahwa persepsi seseorang mengacu pada proses yang membuatnya menjadi tahu dan berfikir, menilai sifat-sifat kualitas dan keadaan internal seseorang

Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi (skripsi dan tesis)

Ada dua faktor yang menentukan persepsi seseorang. Menurut Jalaludin Rahmat dua faktor tersebut antara lain: a. Faktor Fungsional Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk dalam faktorfaktor persona, yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respon pada stimuli itu. b. Faktor Struktural Faktor- faktor struktural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkanya pada sistem syaraf individu Maksudnya di sini yaitu dalam memahami suatu peristiwa seseorang tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah tetapi harus mamandangnya dalam hubungan keseluruhan, melihatnya dalam konteksnya, dalam lingkungannya dan masalah yang dihadapinya. Secara umum, menurut Sondang terdapat

 faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang, yaitu: a. Faktor pelaku persepsi, yaitu diri orang yang bersangkutan apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu. Ia dipengaruhi oleh karakteristik individual yang turut berpengaruh seperti sikap, motif kepentingan, minat, pengalaman dan harapan. b. Faktor sasaran persepsi, dapat berupa orang, benda atau peristiwa. c. Faktor situasi, faktor situasi merupakan keadaan seseorang ketika melihat sesuatu dan mempersepsinya. Sedangkan proses persepsi dapat dijelaskan melalui: a. Proses fisik yaitu dimulai dengan objek menimbulkan stimulus dan akhirnya stimulus mengenai alat indera atau reseptor. b. Proses fisiologis, yaitu stimulus yang diterima oleh alat indera dilanjutkan oleh saraf sensoris ke otak. c. Proses psikologis, yaitu proses yang terjadi dalam otak sehingga individu dapat menyadari apa yang ia terima dengan respon itu, sebagai suatu akibat dari stimulus yang diterimanya

Persepsi (skripsi dan tesis)

Persepsi dalam pandangan Islam adalah proses manusia dalam memahami suatu informasi baik melalui mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk penciuman, hati untuk merasakan yang disalurkan ke akal dan pikiran manusia agar menjadi suatu pemahaman. Menurut Matsumoto & Juang, Persepsi adalah proses mengumpulkan informasi mengenai dunia melalui pengindraan yang kita miliki. 1 Schiffman dan Kanuk mendefenisikan persepsi sebagai proses dimana dalam proses tersebut individu memilih, mengorganisasikan dan mengintepretasikan stimuli menjadi sesuatu yang bermakna.2 Menurut Kreitner dan Kinicki persepsi adalah merupakan proses kognitif yang memungkinkan kita menginterprestasikan dan memahami sekitar kita. Sedangkan menurut pendapat lain persepsi adalah merupakan proses menerima informasi membuat pengertian tentang dunia disekitar kita. Hal tersebut memerlukan pertimbangan informasi mana yang perlu diperhatikan, bagaimana mengkategorikan informasi, dan bagaimana menginterprestasikannya dalam kerangka kerja pengetahuan kita yang telah ada (McShane dan Von Glinow). Dengan demikian, dapat dirumuskan bahwa pada hakikatnya persepsi adalah merupakan suatu proses yang memungkinkan kita untuk mengorganisir informasi dan menginterpretasikan kesan terhadap lingkungan sekitarnya.3 Suatu proses presepsi akan diawali oleh suatu stimuli yang mengenai indera kita. Stimuli yang menimbulkan persepsi bisa bermacam-macam bentuknya, asal merupakan sesuatu yang langsung mengenai indera kita, seperti segala sesuatu yang bisa dicium, dilihat, didengar, dan diraba. Stimuli ini akan mengenai organ yang disebut sebagai sensory receptor (organ manisia yang menerima input stimuli atau indera). Adanya stimulus yang mengenai sensory receptor mengakibatkan individu merespon. Respon langsung atau segera dari organ sensory receptor tersebut dinamakan sensasi. Tingkat kepekaan dalam sensasi antara individu satu dengan yang lain berbeda-beda. Perbedaan sensitivitas tersebut karena kemampuan reseptor antar individu yang tidak sama. Ada individu yang peka sekali indera penciumanya tetapi ada yang tidak, ada yang taam penglihatannya, tetapi ada individu lain yang tidak dan sebaliknya. Selan faktor sensitivitas, faktor lain yang berpengaruh adalah intensitas dari stimuli. Stimuli yang mempunyai intensitas kuat akan memudahkan bagi reseptor untuk menerimannya

Batasan Usia Remaja (skripsi dan tesis)

Batasan usia remaja menurut Monk (2000) adalah umur antara 12 sampai 21 tahun dan dibagi mengjadi tiga, yaitu: 1. Remaja awal (12-15 tahun) Pada tahap ini remaja masih merasa bingung dan mulai beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Mereka mulai mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis dan mudah terangsang secara erotis.Kepekaan berlebihan ini ditambah dengan kurangnya pengendalian terhadap emosi dan menyebabkan remaja sulit mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa. 2. Remaja tengah (15-18 tahun) Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman-teman. Ada kecendrungan narsistik, yaitu mencintai dirinya sendiri, dengan cara lebih menyukai teman-teman yang mempunyai sifat yang sama dengan dirinya. Pada tahap ini remaja berada dalam kondisi kebingungan.Teman sebaya memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri (self direct).Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku. 3. Remaja akhir (18-21 tahun) Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri dari tahap ini. Saat remaja tidak bisa diterima oleh kelompok teman sebayanya, maka remaja akhir akan memiliki harga diri yang rendah. Batasan usia remaja menurut Monk (2000) adalah umur antara 12 sampai 21 tahun dan dibagi mengjadi tiga, yaitu: 1. Remaja awal (12-15 tahun) Pada tahap ini remaja masih merasa bingung dan mulai beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Mereka mulai mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis dan mudah terangsang secara erotis.Kepekaan berlebihan ini ditambah dengan kurangnya pengendalian terhadap emosi dan menyebabkan remaja sulit mengerti dan dimengerti oleh orang dewasa. 2. Remaja tengah (15-18 tahun) Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan teman-teman. Ada kecendrungan narsistik, yaitu mencintai dirinya sendiri, dengan cara lebih menyukai teman-teman yang mempunyai sifat yang sama dengan dirinya. Pada tahap ini remaja berada dalam kondisi kebingungan.Teman sebaya memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri (self direct).Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku. 3. Remaja akhir (18-21 tahun) Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri dari tahap ini. Saat remaja tidak bisa diterima oleh kelompok teman sebayanya, maka remaja akhir akan memiliki harga diri yang rendah.

Definisi Remaja Akhir (skripsi dan tesis)

Menurut Santrock (2012) bahwa remaja (adolescene) merupakan masa perkembangan transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, sosial emosional. Menurut Papalia dan Olds (2007), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Masa remaja secara umum dimulai dengan masa pubertas, yaitu proses yang mengarah kepada kematangan seksual dan kemampuan untuk bereproduksi. Perubahan biologis pubertas yang merupakan tanda akhir masa kanak-kanak, berakibat pada peningkatan pertumbuhan berat dan tinggi badan, perubahan dalam proporsi dan bentuk tubuh, serta pencapaian kematangan organ seksual (Papalia dan Olds (2007). Menurut Kartono (dalam Haryanto,2010) masa remaja ada pada usia berkisar antara 12 sampai 15 tahun yaitu dimana remaja awal pada usia12-15 tahun, remaja pertengahan usia15-18 tahun, dan remaja akhir usia 18-21 Tahun. Menurut Kartono (dalam Haryanto,2010) remaja akhir (18-21 Tahun) pada masa ini remaja sudah mantap dan stabil. Remaja sudah mengenal dirinya dan ingin hidup dengan pola hidup yang digariskan sendiri dengan keberanian.Remaja mulai memahami arah hidupnya dan menyadari tujuan hidupnya.Remaja sudah mempunyai pendirian tertentu berdasarkan satu pola yang jelas yang baru ditemukannya. Hurlock (2004) mengatakan bahwa pada masa remaja akhir, remaja akan belajar menyesuaikan diri terhadap pola-pola hidup baru, belajar untuk memiliki cita-cita yang tinggi, mencari identitas diri dan pada usia kematangannya mulai belajar memantapkan identitas diri, citra jasmani dirinya, dapat mewujudkan rasa cinta, mampu berpikir abstrak.

Sumber-sumber harga diri (skripsi dan tesis)

Menurut Eipstein (Mruk, 2006) bersumber dari: 1. Acceptance vs Rejection Menerima atau menolak dalam hubungan interpersonal. Contohnya: hubungan individu dengan orang tua, saudara, temana, dan lingkungan. 2. Virtue vs Guilt Virtue adalah dimana individu patuh terhadap standar moral dan etika yang berlaku, sedangkan.guilt merujuk pada kegagalan individu dalam mematuhi standar moral yang berlaku. Saat individu bertindak sesuai dengan nilai moral dan etika yang berlaku maka mereka akan mempengaruhi self esteem mereka secara positif, sebaliknya apabila individu tidak dapat mematuhi standar moral maka akan mempengaruhi harga dirinya secara negatif. 3. Power vs Powerlessness Power merupakan kemampuan individu dalam mengatur atau mengontrol lingkungannya. Dengan kata lain individu mampu memberi pengaruh kepada seseorang. 4. Achievement vs failure Achievement dapat mempengaruhi self esteem seseorang hal ini terjadi ketika individu dapat mencapai kesuksesan pada dimensi tertentu yang berhubungan dengan identitas diri mereka.

Dimensi dalam Harga Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Tafarodi dan Swann (2001) harga diri terbagi menjadi dua dimensi yaitu: 1. Self Competence bagaimana seorang individi menilai dirinya sebagai obyek pelaku apakah dirinya mampu atau tidak mampu dalam mencapai suatu tujuan. 2. Self Liking bagaimana seorang individu menilai pengalamannya sebagai obyek sosial, apakah dirinya orang baik atau buruk berdasarkan kriteria kebaikan yang ada didalam dirinya.

Tingakatan dalam harga diri (skripsi dan tesis)

Coopersmith (dalam Fakhrurrozi, 2008) membagi tingkatan harga diri menjadi tiga yaitu sebagai berikut: 1. Harga Diri Tinggi Seseorang dengan harga diri tinggi, akan memiliki ciri-ciri penuh percaya diri, mandiri, aktif dalam kegiatankegiatan fisik dan sosial, ambisius tetapi realistis terhadap kemampuannya, ekspresif, kreatif, dan memiliki skor tinggi dalam intelegensi. 2. Harga Diri Menengah Mereka menilai lebih baik dari kebanyakan orang, akan tetapi tidak termasuk dalam kelompok pilihan. Pada dasarnya penilaian mereka cenderung seperti kelompok dengan taraf harga diri tinggi dari pada kelompok dengan harga diri rendah. 3. Harga Diri Rendah Individu dengan harga diri rendah, memiliki ciri-ciri tidak percaya diri, tidak menghargai diri sendiri, gampang putus asa, kurang berusaha dan adanya kecenderungan berorientasi pada kegagalan

Harga Diri (skripsi dan tesis)

Harga Diri menurut Tafarodi dan Swann (2001) adalah dua aspek yang saling terkait dimana individu dapat merasa nyaman dengan dirinya (self-liking) dan menghargai kompetensi dirinya (self competence). Menurut Baron dan Byrne (dalam Geldard, 2010) harga diri merupakan penilaian individu terhadap diri sendiri dan dipengaruhi oleh karakteristik yang dimiliki oleh individu lain untuk  dijadikan pembanding. Hogg & Vaughan (2008) mendefinisikan harga diri sebagai evaluasi dan perasaan tentang diri pribadi. Rosenberg (dalam Mruk, 2006) mendefinisikan harga diri sebagai perasaan seseorang atas nilai dirinya sebagai individu. Harga diri yang tinggi dapat membuat seseorang merasa senang atas diri mereka sendiri (Hogg & Vaughan, 2008). Berdasarkan definisi dari beberapa tokoh diatas harga diri adalah perasaan dimana individu memberi penilaian terhadap dirinya sendiri dan menjadikan individu lain sebagai pembanding.

Aspek-aspek yang mempengaruhi perilaku konsumtif (skripsi dan tesis)

Tambunan (2001) berpendapat ada lima aspek yang mempengaruhi perilaku konsumtif, yaitu : 1. Adanya suatu keinginan mengkonsumsi secara berlebihan. Dimana seorang individu merasa bahwa ia tidak pernah puas, sehingga ia ingin terus menerus membeli barang-barang yang ia mau dengan berlebihan. 2. Pemborosan Perilaku konsumtif yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produknya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok. Perilaku ini hanya berdasarkan pada keinginan untuk mengkonsumsi barangbarang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. 3. Inefisiensi Biaya Pola konsumsi seseorang terbentuk pada usia remaja yang biasanya mudah terbujuk rayuan iklan, suka ikut-ikutan teman, tidak realistis, dan cenderung boros dalam menggunakan uangnya sehingga menimbulkan inefisiensi biaya. 4. Pengenalan kebutuhan Pengambilan keputusan membeli barang dengan mempertimbangkan banyak hal seperti faktor harga, faktor kualitas, faktor manfaat, dan faktor merk. 5. Emosional Motif pembelian barang berkaitan dengan emosi seseorang. Biasanya individu membeli barang hanya karena pertimbangan kesenangan indera atau bisa juga karena ikut-ikutan.

Indikator Perilaku Konsumtif (skripsi dan tesis)

Fromm (1995) mengemukakan 4 indikator perilaku konsumtif berdasarkan ciri perilaku konsumtif, yaitu : 1. Pemenuhan keinginan (wants) Rasa puas pada manusia tidak pernah habis dan semakin meningkat oleh karena itu manusia selalu ingin lebih untuk memenuhi rasa puasnya, walaupun sebenarnya tidak ada kebutuhan hal tersebut. 2. Barang diluar jangkauan Saat individu menjadi konsumtif maka semakin lama tindakan mengkonsumsi menjadi menjadi kompulsif dan tidak rasional. Individu akan selalu belum puas dan akan terus mencari kepuasan dengan terus membeli barang-barang baru. Individu tidak lagi melihat pada kebutuhan dirinya dan kegunaan barang itu bagi dirinya. 3. Barang tidak produktif Penggunaan barang berlebihan membuat konsumsi menjadi tidak jelas dan barang menjadi tidak produktif. Individu selalu tidak puas dengan apa yang dimilikinya sehingga dia selalu membeli barang walaupun sebenarnya barang tersebut belum tentu penting untuknya. 4. Status Perilaku individu bisa digolongkan sebagai konsumtif jika individu memiliki barang-barang lebih karena pertimbangan status. Tindakan konsumsi itu sendiri tidak lagi merupakan pengalaman yang berarti, manusiawi dan produktif karena hanya merupakan pengalaman “pemuasan angan-angan” untuk mencapai sesuatu (status) melalui barang atau kegiatan yang bukan merupakan bagian dari kebutuhan dirinya.

Definisi Perilaku Konsumtif (skripsi dan tesis)

Menurut Fromm (1995) perilaku konsumtif merupakan perilaku yang ditandai oleh adanya kehidupan berlebihan dan menggunakan segala hal yang dianggap mahal untuk memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik yang besar serta adanya dukungan pola hidup manusia yang didorong oleh rasa ingin hanya untuk memberi kesenangan. Lina (2008) mengatakan bahwa perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku yang tidak lagi didasarkan pada perlakuan rasional, melainkan karena adanya keinginan yang tidak rasional lagi. Aryani (dalam Rinata, 2010) mengatakan bahwa perilaku konsumtif dapat diartikan sebagai suatu kecenderungan manusia untuk melakukan konsumsi tiada batas, dimana manusia lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan. Suprana (Agustina, 2002) mengatakan bahwa perilaku konsumtif adalah sebagai kecenderungan seseorang yang berperilaku secara berlebihan dalam membeli sesuatu atau membeli secara tidak terencana. Tambunan (2001) perilaku konsumtif adalah memanfaatkan nilai uang lebih besar dari produksinya dan melakukan pembelian barang ataupun jasa yang bukan merupakan kebutuhan pokok. Sumartono (2002) berpendapat bahwa perilaku konsumtif dapat diartikan sebagai suatu tindakan memakai produk yang tidak tuntas artinya, belum habis sebuah produk yang dipakai seseorang telah menggunakan produk jenis yang sama dari merek lainnya atau dapat disebutkan, membeli barang karena adanya hadiah yang ditawarkan atau membeli suatu produk karena banyak orang memakai barang tersebut Menurut beberapa definisi diatas perilaku kosumtif merupakan tindakan seseorang yang melakukan konsumsi tiada batas pada suatu produk suatu produk dan membeli produk tersebut bukan karena butuh tapi hanya karena ingin. Peneliti menggunakan teori konsumtif dari Fromm (1995) dikarenakan teori konsumtif 8 dari Fromm merupakan landasan dari teori lainnya dan alat ukur yang digunakan oleh peneliti merupakan alat ukur dari Fromm.

Kriteria Rumah Sehat (skripsi dan tesis)

Adapun ketentuan persyaratan kesehatan rumah tinggal menurut Kemenkes No.829/Menkes/SK/VII/1999 sebagai berikut: a. Bahan bangunan: bahan-bahan yang digunakan aman untuk kesehatan, debu total kurang dari 150 μg/m2 , asbestos kurang dari 0,5 serat/m3 , plumbum (Pb) kurang dari 300 mg/kg bahan. b. Komponen penataan ruang: dinding rumah memiliki ventilasi, lantai kedap air dan mudah dibersihkan, kamar mandi dan kamar cuci kedap air dan mudah dibersihkan, langit-langit rumah mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan, bumbungan rumah 10 m dan ada penangkal petir, dapur harus memiliki sarana pembuangan asap, dan ruang ditata sesuai dengan fungsi. c. Pencahayaan: baik alami ataupun buatan, langsung maupun tidak langsung dapat menerangi seluruh ruangan, tidak menyilaukan mata dan intensitas penerangan minimal 60 lux. d. Kualitas udara: kelembaban udara 40-70%, suhu udara nyaman antara 18-30o C, gas SO2 kurang dari 0,10 ppm/24 jam, gas formaldehid kurang dari 120 mg/m3 , dan gas CO kurang dari 100 ppm/8 jam. e. Ventilasi: luas lubang ventilasi alamiah yang permanen minimal 10% luas lantai.  f. Vektor penyakit: tidak ada nyamuk, lalat, ataupun tikus yang bersarang di dalam rumah. g. Penyediaan air: kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih atau air minum, tersedia sarana penyediaan air bersih dengan kapasitas minimal 60 liter/orang/hari. Syarat fisik air yang baik adalah tidak berbau, air tidak berwarna, jernih dengan suhu di bawah suhu udara sehingga menimbulkan rasa nyaman. Syarat kimia: air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat kimia, terutama yang berbahaya bagi kesehatan. Syarat bakteriologis: air tidak boleh mengandung suatu mikroorganisme. Misal sebagai petunjuk bahwa air telah dicemari oleh feces manusia adalah adanya Escherichia coli karena bakteri ini selalu terdapat dalam feces manusia dan sukar dimatikan dengan pemanasan air. h. Sarana penyimpanan makanan: tersedia sarana penyimpanan makanan yang aman. i. Pembuangan Limbah: tidak menimbulkan bau, limbah cair yang berasal rumah tangga tidak mencemari sumber air, dan tidak mencemari permukaan tanah, limbah padat harus dikelola dengan baik agar tidak mencemari permukaan tanah, air tanah, dan tidak menimbulkan bau. j. Kepadatan hunian: tidak dianjurkan apabila lebih dari dua orang tidur dikamar dengan luas kamar tidur kurang lebih 8 m2

Rumah Sederhana Sehat (skripsi dan tesis)

Rumah Sederhana Sehat yaitu rumah yang di bangun menggunakan konstruksi dan bahan bangunan sederhana namun masih memenuhi standar keamanan, kesehatan, dan kenyamanan dengan mempertimbangkan dan memanfaatkan potensi lokal seperti iklim setempat, bahan bangunan, geologis, potensi sosial budaya seperti arsitektur lokal, dan cara hidup masyarakat (Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor: 403/KPTS/M/2007).

Rumah Sehat (skripsi dan tesis)

Rumah sehat merupakan bangunan tempat tinggal yang memenuhi syarat kesehatan yaitu sarana air bersih, sarana pembuangan air limbah, rumah yang memiliki jamban yang sehat, tempat pembuangan sampah, ventilasi yang baik, lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah dan kepadatan hunian rumah yang sesuai (Depkes RI, 2007).

Perilaku Pencegahan Penyakit (skripsi dan tesis)

Sikap mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti, beralasan dan dampaknya terbatas hanya pada 3 hal yaitu:  a. Perilaku tidak hanya ditentukan oleh sikap umum tetapi juga oleh sikap yang spesifik terhadap sesuatu. b. Perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tetapi juga oleh norma-norma subjektif yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita perbuat. c. Sikap terhadap dan norma-norma subjektif membentuk suatu niat untuk berperilaku tertentu. Seseorang akan melakukan suatu perbuatan apabila ia melihat perbuatan itu sebagai sesuatu yang positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin agar ia melakukannya. Dalam teori perilaku terencana, keyakinan-keyakinan berpengaruh pada sikap terhadap perilaku tertentu, pada norma-norma subjektif dan pada kontrol perilaku yang dia hayati. Ketiga komponen ini berinteraksi dan menjadi determinan yang pada gilirannya akan menentukan apakah perilaku yang bersangkutan dilakukan atau tidak. Selanjutnya perilaku itu sendiri terbentuk dari 3 faktor yaitu : a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam kepercayaan, keyakinan,  pengetahuan, persepsi, sikap, nilai-nilai dan sebagainya. b. Faktor-faktor pendukung (enabling factors) seperti tersedia atau tidak tersedianya fasilitasfasilitas atau sarana-sarana kesehatan misalnya alat-alat kontrasepsi, jamban, puskesmas, obatobatan, dan sebagainya. c. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factors), yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan. Perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan oleh pengetahuan, sikap, tradisi, dan kepercayaan dari orang atau masyarakat yang bersangkutan. Di samping itu sikap dan perilaku para petugas kesehatan serta ketersediaan fasilitas,juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya suatu perilaku. Pencegahan adalah segala kegiatan yang dilakukan untuk mencegah penyakit atau suatu masalah kesehatan (Notoatmodjo, 2010).

Perilaku Terhadap Lingkungan Kesehatan (Environmental behaviour) (skripsi dan tesis)

Perilaku ini adalah respon individu terhadap lingkungan sebagai faktor penentu kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini sesuai dengan: a. Perilaku terhadap air bersih, baik penggunaan air maupun manfaatnya bagi kesehatan. b. Perilaku sehubungan dengan pembuangan limbah cair dan kotoran meliputi hygiene, pemeliharaan, teknik dan pengolahannya. c. Perilaku sehubungan dengan pembuangan limbah, baik cair maupun padat. Dalam hal ini termasuk sistem pengelolaan yang baik dan dampak pembuangan limbah yang tidak baik. d. Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat. Rumah sehat menyangkut lantai, jendela ventilasi, pencahayaan, dan sebagainya. e. Perilaku terhadap pembersihan sarang-sarang dan vektor penyakit.