Peter M. Blau hadir dalam analisis pertukaran sosial (Wallace and Wolf, 1986:
171; Ritzer and Goodman, 2004: 368). Kunci teori pertukaran sosial Blau (1964) adalah:
(1) perilaku dimotivasi oleh keinginan untuk meningkatkan hasil dan menghindari
kerugian; (2) hubungan pertukaran berkembang dalam struktur ketergantungan mutual,
baik karena adanya kesamaan alasan dari pihak-pihak yang terlibat dalam pertukaran
untuk mendapatkan sumberdaya atau karena tidak adanya keinginan membangun
jaringan hubungan pertukaran; (3) orang-orang yang terlibat dalam pertukaran saat ini,
secara timbal balik meningkatkan pertukaran dengan pasangan khusus pada kesempatan
yang lain; (4) implikasi bernilai akan mengikuti hukum ekonomi utilitas marjinal yang
semakin turun atau prinsip psikologi mengenai kepuasan.
Blau (1964) menyatakan dukungan organisasional merupakan dasar hubungan
pertukaran yang dijelaskan dalam prinsip sosial atau ekonomi. Dua cara utama pertukaran
sosial, yaitu: (1) pertukaran menyeluruh (global) antara karyawan dan organisasi, dan (2)
hubungan antara atasan dan bawahan. Hukum timbal balik (norm of reciprocity) menyatakan
bahwa individu yang diperlakukan dengan baik oleh pihak lain akan merasa berkewajiban
untuk membalasnya dengan perlakuan baik pula (Blau, 1964; Gouldner, 1960). Setton et al.
(1996) menyatakan bahwa dukungan organisasional yang dipersepsikan level tinggi akan
menciptakan kewajiban bagi individu untuk memberikan timbal baliknya.
Griffin and Moorhead (2013) menyatakan bahwa dukungan organisasi adalah
segala usaha yang dilakukan oleh organisasi dalam rangka membantu atau menghambat
prestasi kerja. Dukungan yang positif misalnya menyediakan kebutuhan sumber daya
untuk memenuhi kebutuhan dalam mencapai tujuan dan dukungan organisasi yang
negatif berarti organisasi gagal dalam menyediakan sumber daya yang dibutuhkan.
Menurut Schermerhorn (2010), prestasi secara langsung dipengaruhi oleh atribut
individu seperti kemampuan dan pengalaman, dukungan organisasi seperti sumber daya
dan teknologi dan usaha atau kerelaan individu untuk berkerja keras dalam mencapai apa
yang diinginkan.
Chandan (2009) menyatakan dukungan dan sumber daya dari organisasi sangat
mempengaruhi perilaku manusia secara signifikan sehingga prestasi yang dicapai
dipengaruhi oleh perilaku ini sendiri. Fasilitas fisik dan teknologi dalam organisasi, serta
saran dan arahan dari pemimpin sangat baik dan memberi dampak yang positif terhadap
prestasi, sehingga hal ini akan menghasilkan prestasi yang berkualitas tinggi.
