Hubungan antara Kepemimpinan Transformasional denganEmployee Engagement


Menurut penelitian Towers & Perrins (2003), yang harus dilakukan
oleh sebuah organisasi untuk dapat mencapai employee engagement yang
tinggi maka sebuah organisasi harus mempunyai kepemimpinan yang
efektif yang dapat menutup jarak dengan model kepemimpinan yang
tradisional. Hal ini dikarenakan engagement bukan merupakan suatu
keadaan yang alami tetapi suatu keadaan yang dibuat atau diciptakan.
Menurut Papalexandris dan Galanaki (2009:365-385) employee
engagement juga mempunyai hubungan dengan leadership. Kinerja
karyawan bergantung kepada pemimpin dan salah satu faktor yang
mempengaruhinya adalah kepemimpinan, karena pemimpin suatu
organisasi dapat menentukan berhasil tidaknya tujuan organisasi secara
keseluruhan. Oleh karena itu dalam upaya meningkatkan peran karyawan,
maka pelaksanaan prinsip-prinsip komunikasi perlu lebih ditingkatkan dan
gaya kepemimpinan perlu diperhatikan. Hubungan yang harmonis antara
karyawan dan pimpinan merupakan suatu masalah yang perlu
diperhatikan. Agar hubungan antara karyawan dan pimpinan tersebut dapat
berjalan dengan baik maka keefektifan peran pemimpin sangatlah
diperlukan

Faktor-faktor Pembentuk Kepemimpinan Transformasional


Faktor-faktor pembentuk kepemimpinan transformasional merupakan
indicator yang menunjukkan cara pemimpin dalam memotivasi kinerja
bawahannya. Menurut Bass (dalam Yukl 2006), faktor-faktor pembentuk
kepemimpinan transformasional adalah kharismatik (charisma),
rangsangan intelektual (intellectual stimulation), perhatian individual
(Individual Consideration), dan motivasi inspirasi (inspirational
motivation). Keempat faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Pengaruh Ideal / charisma (Idealised Influence)
Idealised Influence adalah pemimpin mendahulukan kepentingan
perusahaan dan kepentingan orang lain dari kepentingan sendiri.
Sebagai pemimpin perusahaan, bersedia memberikan pengorbanan
untuk perusahaan. Dia dapat menimbulkan kesan pada bawahannya
bahwa dia memiliki keahlian untuk melakukan tugas pekerjaannya
sehingga patut dihargai. Di samping itu dia dapat memberikan
wawasan serta kesadaran akan misi, membangkitkan kebanggaan serta
menumbuhkan sikap hormat dan kepercayaan pada para bawahannya.
b. Rangsangan Intelektual (Intellectual Stimulation)
Pemimpin mampu menumbuhkan ide – ide baru, memberikan solusi
yang kreatif dan memberikan motivasi pada bawahan untuk mencari
pendekatan – pendekatan baru dalam melaksanakan tugas organisasi.
c. Pertimbangan Individu (Individualised Consideration)
Pemimpin bersedia mendengarkan dengan penuh perhatian masukan-
masukan bawahan serta secara khusus mau memperhatikan
kebutuhan–kebutuhan bawahan akan pengembangan karir. Di samping
itu, pemimpin memberikan perhatian, membina, membimbing dan
melatih tiap orang secara khusus dan pribadi.
d. Motivasi Inspirasi (Inspirational Motivation)
Pemimpin mampu menimbulkan inspirasi pada bawahannya seperti
menentukan standar-standar tinggi dan memberikan keyakinan bahwa
tujuan dapat dicapai. Bawahan merasa mampu melaksanakan tugasnya
dan mampu memberikan berbagai macam gagasan. Secara tidak
langsung mereka merasa terinspirasi motivasinya oleh pemimpin

Aspek-aspek Kepemimpinan Transfromasional



Bass (1990) dan Landy & Conte (2004) menjelaskan ada 4 aspek
untuk mengukur gaya kepemimpinan transformasional yaitu:
a. Pengaruh yang diidealkan (karima) dimana pemimpin menjadi contoh
atau teladan yang baik sehingga dipercaya, dikagumi dan dihargai oleh
bawahannya (Rigio & Bass, 2006).
b. Motivasi Inspirasional yang dimiliki pemimpin yang mempunyai visi
ke depan, memberikan tantangan kepada bawahan dengan standar yang
tinggi, berbicara dengan optimis dan antusiasme, memberikan
dorongan dan semangat untuk mengerjakan sesuatu yang harus
dikerjakan.
c. Stimulasi intelektual dimana pemimpin mengajak bawahan
memikirkan masalah-masalah lama dengan cara pandang yang baru.
d. Perhatian individual menjadi tugas seorang pemimpin untuk
memberikan perhatian kepada masing-masing kebutuhan bawahan
untuk berprestasi dan tumbuh dengan berperan sebagai coach atau
mentor

Kepemimpinan Transformasional


Yukl (2006:35) berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan
penggerak dan penentu perjalanan suatu organisasi. Keberhasilan program
yang diberlakukan dalam organisasi ditentukan oleh kemampuan
kepemimpinan, melalui kemampuan inovatif, gagasan, perilaku, dan gaya
kepemimpinan seseorang maupun menghantarkan organisasi mencapai
tujuan. Upaya yang dapat dilakukan pemimpin adalah mengarahkan,
meningkatkan, dan menggerakkan potensi diri dan anggotanya agar secara
bersama-sama memfokuskan kegiatannya demi mencapai keberhasilan
organisasi.
Robbins (2003) mendefinisikan kepemimpinan sebagai
kemampuan mempengaruhi suatu kelompok kearah mencapai tujuan.
Thoha (2000) memberikan pengertian tentang kepemimpin adalah
suatu proses untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
Kartono (1993) pemimpin berfungsi sebagai penggerak,
dinamisator dan koordinator dari sumber daya, termasuk didalamnya
sumber daya dalam bentuk individu, dana dan alam yang dimiliki sebuah
organisasi.
Salah satu teori yang menekankan suatu perubahan dan yang paling
komprehensif berkaitan dengan kepemimpinan adalah teori kepemimpinan
transformasional dan transaksional (Bass). Pada tahun 1978, Burns
pertama kali mengemukakan konsep kepemimpinan transformasional yang
kemudian disebarluaskan oleh Bass (Liontois dalam Cashin, 2000)
Gaya kepemimpinan transformasional berfokus pada perubahan
organisasi dan individu di dalamnya dan mempengaruhi bawahan untuk
lebih mementingkan kepentingan organisasi dengan meningkatkan
komitmen individu yang merupakan salah satu elemen penting untuk
mencapai visi organisasi (Bass, 1990; Lutz, 2007). Berbeda dengan
kepemimpinan transaksional yang merupakan suatu pola hubungan antara
atasan dan bawahan dimana hubungan tersebut dibangun atas dasar
kesepakatan. Gaya kepemimpinan transaksional dipandang sebagai suatu
imbalan atas kepatuhan yang dilakukan oleh bawahan (Bass, 1990).
Kepemimpinan transformasional mampu mengkomunikasikan visi yang
memberi inspirasi dan mendorong para pengikut untuk mencapai hal-hal
yang lebih bersifat luas, tinggi dan bahkan luar biasa dapat meningkatkan
kesadaran diri individu (Bass, Riggio, 2006).
Kepemimpinan transformasional menurut Bass dan Avolio (dalam
Hickman, 1998:136) merupakan model kepemimpinan di mana pemimpin
memotivasi anggotanya dan muncul ketika pemimpin mampu memperluas
dan meningkatkan perhatian terhadap karyawan, membangkitkan
kesadaran terhadap tujuan atau misi kelompok serta mampu mengajak
karyawan melihat jauh ke depan melebihi kepentingan pribadi demi
kebaikan kelompok.
Menurut Burns (1978) kepemimpinan transformasional merupakan
proses dimana atasan dan bawahan menaikkan moral dan motivasinya ke
tingkat yang lebih tinggi. Pemimpin transformasional berusaha menaikkan
kesadaran bawahan dengan mendorong idealisme dan nilai moral ke
tingkat yang lebih tinggi, seperti yang terkait dengan kebebasan, keadilan,
kedamaian, kesinambunangan dan kemanusiaan
Munandar (2001) menyebutkan bahwa kepemimpinan
transformasional merupakan kepemimpinan yang berusaha untuk
mengubah perilaku bawahan agar memiliki kemampuan dan motivasi
tinggi, serta berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu
untuk mencapai tujuan bersama.
Seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin
transformasional diukur dalam hubungannya dengan pengaruh pemimpin
terhadap bawahan. Upaya pemimpin transformasional dalam
mempengaruhi bawahan dapat melalui tiga cara, yaitu (1) mendorong
bawahan lebih sadar akan pentingnya hasil suatu pekerjaan, (2)
mendorong bawahan untuk lebih mementingkan organisasi daripada
kepentingan individual, (3) mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan bawahan
pada tingkat yang lebih tinggi (Bass, dalam Purwanto & Adisubroto,
2011).
Pemimpin yang mengaplikasikan model kepemimpinan
transformasional dapat dikatakan pemimpin yang mampu untuk
memotivasi karyawan dalam mencapai tujuan (Hater dan Bass 1998 dalam
Aarons, 2006). Pemimpin transformasional akan mengarahkan
pengikutnya ke nilai moral yang baik, dapat mengarahkan pengikutnya
untuk dapat berkomitmen pada nilai–nilai organisasi, dapat menghargai
pengikutnya, mendorong pengikutnya bersikap kreatif dan menginspirasi
pengikutnya untuk mencapai tujuan (Politis, dalam Dyan, 2010:9).
Karenanya, seorang pemimpin harus dapat meramalkan masa depan suatu
organisasi, mengarahkan karyawan untuk dapat berkomitmen dan
mencapai tujuan organisasi (Barbuto, 1997 dalam Aarons, 2006)
Beberapa teori kepemimpinan transformasional menyatakan bahwa
sikap pemimpin transformasional berhubungan dengan emosi di mana
emosi pemimpin tersebut dapat memotivasi pengikutnya. Di samping itu,
para pengikutnya akan memiliki rasa kepercayaan dan rasa hormat yang
tinggi terhadap pemimpin transformasional (Barbuto, 1997 dalam Aarons,
2006)

    Karakteristik Kepemimpinan Transformasional


    Tichy dan Devana (1989) melakukan penelitian secara kualitatif
    terhadap beberapa orang eksekutif perusahaan besar dan menemukan
    bahwa pemimpin transformasional memiliki beberapa karekteristik, yaitu:
    a. Mencirikan diri mereka sendiri sebagai agen perubahan.
    b. Berani.
    c. Mempercayai orang lain
    d. Menggerakkan nilai (value driven).
    e. Merupakan pelajar seumur hidup (lifeelong learners).
    f. Mempunyai kemampuan untuk menghadapi kompleksitas, sesuatu
    yang serba mendua (ambiguity), dan ketidakpastian.
    g. Penuh visi (visionares).

    Faktor-faktor yang mempengaruhi engagement


    Kanexa (dalam Mujiasih, n. d:13) mengatakan bahwa ada empat
    prinsip dasar yang mempengaruhi engagement, yaitu
    a. Pemimpin yang memberikan inspirasi keyakinan terhadap masa depan,
    b. Manajemen yang menghargai karyawan,
    c. Pekerjaan yang menyenangkan dan
    d. Bagian top management yang memperlihatkan tanggungjawab nyata
    kepada karyawan.
    Sementara faktor-faktor yang dikatakan dapat mendorong terciptanya
    employee engagement oleh Branham dan Hirschfeld (Vibrayani, 2012:4)
    disebutkan adanya 6 faktor pendorong yang bersifat universal:
    a. Senior Leader yang peduli, kompeten dan engaged (terlibat).
    b. Manager yang efektif yang dapat membuat karyawan selaras dan
    engaged.
    c. Kerjasama yang efektif disegala tingkatan karyawan
    d. Pengkayaan pekerjaan (job enrichment) dan pertumbuhan professional
    (professional growth).
    e. Penghargaan terhadap kontribusi karyawan
    f. Peduli terhadap kesejahteraan karyawan
    Penggerak employee engagement akan berbeda di tiap jenis pekerjaan
    dan organisasi. Secara umum terdapat 3 (tiga) kluster utama yang menjadi
    penggerak employee engagement, yaitu (sridevi, 2010):
    a. Organisasi
    Hal-hal terkait organisasi yang dapat menjadi penggerak employee
    engagement adalah budaya organisasi, visi dan nilai yang dianut, brand
    organisasi. Budaya organisasi yang dimaksud adalah budaya organisasi
    yang memiliki keterbukaan dan sikap supportive serta komunikasi yang
    baik antara rekan kerja. Keadilan dan kepercayaan sebagai nilai
    organisasi juga memberikan dampak positif bagi terciptanya employee
    engagement. Hal-hal ini akan memberikan persepsi bagi karyawan
    bahwa mereka mendapat dukungan dari organisasi.
    b. Manajemen dan Kepemimpinan
    Engagement dibangun melalui proses, butuh waktu yang panjang serta
    komitmen yang tinggi dari pemimpin. Untuk itu, dibutuhkan
    kekonsistenan pemimpin dalam mementoring karyawan Dalam
    menciptakan employee engagement, pimpinan organisasi diharapkan
    memiliki beberapa keterampilan. Beberapa diantaranya adalah teknik
    berkomunikasi, teknik memberikan feedback dan teknik penilaian
    30
    kinerja (McBain, 2007). Hal-hal ini menjadi jalan bagi manajer untuk
    menciptakan employee engagement sehingga secara khusus hal-hal ini
    disebut sebagai penggerak employee engagement.
    c. Working life
    Kenyamanan kondisi lingkungan kerja menjadi pemicu terciptanya
    employee engagement. Ada beberapa kondisi lingkungan kerja yang
    diharapkan dapat menciptakan employee engagement. Pertama,
    lingkungan kerja yang memiliki keadilan distributif dan prosedural. Hal
    ini terjadi karena karyawan yang memiliki persepsi bahwa ia mendapat
    keadilan distributif dan prosedural akan berlaku adil pada organisasi
    dengan cara membangun ikatan emosi yang lebih dalam pada
    organisasi. Kedua, lingkungan kerja yang melibatkan karyawan dalam
    pengambilan keputusan. Kondisi ini mempengaruhi karyawan secara
    psikologis, mereka menganggap bahwa mereka berharga bagi
    organisasi. Hal ini membuat karyawan akan semakin terikat dengan
    organisasi. Ketiga, organisasi yang memperhatikan keseimbangan
    kehidupan kerja dan keluarga karyawan. Dalam banyak penelitian
    dijelaskan bahwa ketika konflik antara pekerjaan dan keluarga terjadi,
    karyawan akan cenderung memutuskan keluar dari pekerjaan. Oleh
    karena itu manajer harus menjaga keseimbangan keduanya sehingga
    karyawan merasa bahwa pekerjaan tidak mengancam kehidupan
    keluarganya.
    Sementara oleh Cook (2008) disebutkan faktor-faktor pendrorng
    tingkat engagement karyawan dibagi menjadi 4 elemen dasar, yaitu
    a. Well being
    Keadaan dimana karyawan merasa senang dengan organisasi
    karena organisasi menunjukkan kepedulian terhadap karyawan
    b. Information
    Information berhubungan dengan keadaan apakah perusahaan
    memiliki pandangan yang jelas kemana organisasi berjalan dan apa
    yang ingin dicapai, dan mengkomunikasikan hal tersebut secara
    jelas kepada karyawan merupakan aspek yang penting dalam
    mengikat karyawan
    c. Fairness
    Fairness atau keadilan bisa dilihat dari berbagai aspek perjalanan
    karir seorang karyawan, yang dimulai dari proses recruitment, yang
    mana pengalaman positif mendapatkan posisi tepat, sampai dengan
    proses performance management, dimana karyawan merasakan
    kejelasan terhadap ekspetasi terhadap pekerjaan mereka berikut
    umpan balik yang membangun dan dilakukan secara tepat waktu
    d. Karir dan talent management
    Proses ini berpengaruh terhadap peningkatan engagement
    karyawan, karena dengan adanya rencana pengambangan karyawan
    dan akses untuk mendpatkan training yang sesuai dengan
    kebutuhan mereka telah terbukti merupaka factor yang penting
    untuk meningkatkan budaya engagement seperti yang terungkap
    dalam penelitian Blessing white.
    e. Involvement
    Terjadinya komunikasi dua arah adalah salah satu cirri perusahaan
    yang memiliki tingkat engagement yang tinggi. Menurut penelitian
    yang dilakukan oleh Watson Wyatt World Wide, menemkan
    hubungan yang sangat kuat antara komunikasi di organisasi dengan
    engagement karyawan dan tingkat retention. Mereka juga memiliki
    20% turn over rate yang lebih rendah daripada perusahaan lain.
    Croston (2008) juga menyebutkan bahwa dari berbagai penelitian
    diketahui ada 10 faktor yang merupakan faktor kunci yang mendorong
    engagement karyawan, antara lain:
    a. Perilaku senior leadership
    b. Hubungan dengan atasan langsung
    c. Pekerjaan yang menarik dan menantang
    d. Kesempatan untuk tumbuh dan berkembang
    e. Keterlibatan dalam membuat keputusan
    f. Kewenangan untuk membuat kebijakan
    g. Budaya perusahaan yang kolaboratif
    h. Komunikasi internal yang efektif
    i. Pelatihan yang sesuai
    j. Struktur dan sistem yang mendukung

    Prinsip-Prinsip Dasar Employee Engagement


    Menurut Wiley & Blackwell (2009) employee engagement seorang
    karyawan yang tinggi akan menampilkan kinerja yang sangat baik. Ada 4
    prinsip utama yang menjadi syarat bagi seorang karyawan untuk memiliki
    engagement yaitu:
    a. The Capacity to Engagement
    Menciptakan karyawan yang memiliki keterikatan dibutuhkan
    lingkungan kerja yang tidak hanya bisa meminta lebih, tetapi juga
    menyediakan lahan informasi, kesempatan belajar, dan mampu
    menciptakan keseimbangan kehidupan karyawannya, yaitu dengan
    menciptakan suatu basis untuk menampung energi dan inisiatif
    karyawan.
    b. The Motivation to Engagement
    Engagement muncul ketika karyawan memiliki ketertarikan
    terhadap pekerjaan mereka dan sesuai dengan nilai pribadi mereka, dan
    karyawan diperlakukan dengan cara yang secara alami menimbulkan
    rasa ingin membalas dalam bentuk kebaikan.
    c. The Freedom to Engagement
    Engagement terjadi ketika karyawan merasa aman untuk
    bertindak berdasarkan inisiatif mereka. Oleh karena itu, kepercayaan
    menjadi hal yang paling penting di bawah kondisi sulit, tidak pasti, dan
    kebutuhan untuk berubah, terutama ketika employee engagement itu
    dianggap penting.
    d. The Focus of Strategic Engagement
    Ketika perusahaan menyediakan kesempatan untuk
    berkembang, jenis pekerjaan yang sesuai, pengawasan yang adil dan
    bijaksana, upah yang sesuai, jaminan keamanan, dan seterusnya,
    engagement akan muncul dengan sendirinya karena rasa percaya akan
    prinsip timbal balik.

    Ciri-ciri Employee Engagement


    Menurut Finney (2010) karyawan yang memiliki ikatan dengan
    pekerjaanya memiliki sifat umum yaitu,
    a. Mempercayai misi organisasi mereka
    b. Menyenangi pekerjaan mereka dan memahami kontribusi pekerjaan
    mereka pada tujuan yang lebih besar
    c. Tidak memerlukan pendisiplinan dan mereka hanya memerlukan
    kejelasan, komunikasi dan konsistensi
    d. Selalu meningkatkan kebenaran keterampilan mereka dengan sikap
    positif, fokus, keinginan, antusiasme, kreativitas dan daya tahan
    e. Dapat dipercaya dan saling percaya satu sama lain
    f. Menghormati manajer mereka
    g. Mengetahui bahwa manajer mereka menghormati mereka
    h. Merupakan sumber tetap ide-ide baru yang hebat
    i. Memberikan yang terbaik kepada organisasi
    Menurut Watson (2009) karyawan di kawasan Asia-Pasifik
    menunjukkan kecenderungan terbaginya karyawan menjadi tiga kelompok
    dasar yaitu:
    a. Security Motivated
    Karyawan cenderung bergabung dengan organisasi untuk keamanan
    pekerjaan, memilih berdasarkan karakteristik pekerjaan dan peduli
    dengan kunci masalah gaya hidup seperti keseimbangan kehidupan
    kerja, masa kerja dan hubungan dengan rekan kerja
    b. Financially Motivated
    Karyawan yang termasuk dalam financially motivate didorong oleh
    pertimbangan keuangan. Alasan yang paling sering dikutip bagi
    mereka untuk bergabung adalah basis gaji, diikuti dengan kesempatan
    menerima upah insentif dan manfaat tunjangan kesehatan
    c. Opportunity Motivated
    Karyawan yang menggunakan pengembangan karir, gaji, promosi dan
    insentif sebagai alasan mereka untuk bergabung dengan sebuah
    organisasi dan dibandingkan dengan kelompok pertama dan kedua,
    karyawan ini lebih fokus pada penghargaan jangka panjang.
    Menurut Fredrickson dalam Finney (2010) telah mengidentifikasi tiga
    kategori umum keadaan emosi yang memancarkan kebahagiaan.
    Walaupun sifatnya pribadi, keadaan emosi tersebut berdampak langsung
    ke tempat kerja.

    Jenis-jenis Engagement


    Menurut Wiley & Blackwell (2009) engagement adalah penghayatan
    seorang karyawan terhadap tujuan dan pemusatan energi yang muncul
    dalam bentuk inisiatif, adaptibilitas, usaha, dan kegigihan yang mengarah
    kepada tujuan organisasi. Pada dasarnya, engagement dibagi menjadi dua
    jenis, yaitu perasaan untuk memiliki engagement dan perilaku engagement
    itu sendiri. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut.
    a. The Feel of Engagement
    Ada 4 komponen penting dalam diri karyawan agar memiliki
    engagement. Kombinasi dari empat elemen ini adalah yang membuat
    engagement menjadi baik yaitu,
    1) Urgensi
    Urgensi adalah suatu determinasi dan energi yang mengarah
    kepada satu tujuan. Engagement tidak bisa muncul hanya karena
    suatu energi biasa, tetapi energi yang sudah mengarah kesatu
    tujuan. Urgensi juga diartikan sebagai suatu dorongan yang
    memaksa munculnya suatu perilaku untuk mencapai tujuan. Secara
    konseptual, urgensi memiliki kaitan dengan resiliensi, atau
    kapasitas untuk bangkit setelah mengalami kegagalan. Urgensi
    juga memiliki kaitan dengan kepercayaan diri, yang mencakup
    kepercayaan bahwa seseorang itu pasti bisa mencapai satu tujuan.
    2) Fokus
    Karyawan yang memiliki engagement akan merasa fokus ketika
    bekerja. Pada kondisi yang normal, mereka akan merasa tepat
    sasaran dalam menjalankan pekerjaan dan tidak mudah terdistraksi
    oleh gangguan dari luar, seperti mengobrol dengan rekan kerja,
    berdiskusi mengenai tempat makan siang, cuaca yang buruk, dan
    sebagainya. Agar terciptanya engagement, dibutuhkan perhatian
    yang harus dipertahankan dalam rentang waktu yang lebih lama.
    Hal ini setara dengan kemampuan untuk berkonsentrasi dan terlarut
    dalam pekerjaan, tetapi bukan berarti menjadi terisolasi terhadap
    pekerjaan lain yang bukan menjadi prioritas utama.
    3) Intensitas
    Intesitas diartikan sebagai kedalaman dari konsentrasi. Hal ini
    diarahkan dalam bagian alami dari tuntutan pekerjaan dan tingkat
    kemampuan karyawan yang bersangkutan. Ketika tingkat
    kemampuan cocok dengan tuntutan pekerjaan, karyawan harus
    menggabungkan perhatian dan energi ke dalam pekerjaan tersebut
    agar dapat diselesaikan. Sebaliknya, ketika tingkat kemampuan
    karyawan jauh melebihi tuntutan pekerjaan, maka karyawan
    tersebut akan merasa bosan, sehingga perhatian dan energi mereka
    dapat pindah ke hal lain. Intensitas mengarahkan karyawan untuk
    membuka diri mendekati semua sumber energi yang tersedia.
    4) Antusiasme
    Rasa antusias adalah kondisi psikologis yang secara simultan
    mencakup energi dan kebahagiaan. Hal ini merupakan kondisi
    emosi yang mengacu kepada perasaan positif, dan dikonotasikan
    sebagai positive well-being yang kuat. Ketika kita membayangkan
    tentang antusiasme karyawan, kita akan mendapatkan gambaran
    seorang karyawan yang terlibat secara aktif dalam pekerjaannya.
    Karyawan yang antusias dalam bekerja akan merasa lebih “hidup”
    dan bergairah dalam bekerja. Antusiasme menjadi pusat dari
    perasaan engagement di dalam pekerjaan. Gairah bukan merupakan
    suatu hasil dari energi dan fokus saja, melainkan suatu elemen dari
    keunikan engagement itu sendiri. Antusiasme menjadi alasan
    mengapa engagement dikategorikan sebagai suatu emosi.
    Komponen emosi yang positif itulah yang disebut dengan
    antusiasme.
    b. The Look of Engagement
    Ada empat perilaku utama yang menunjukkan karyawan yang
    memiliki perasaan engagement. Perilaku karyawan yang termasuk
    engagement dapat terlihat berbeda dari apa yang diamati dan
    diharapkan. Perbedaan tersebut dapat dilihat tidak hanya secara
    individual saja tetapi secara keseluruhan dari lingkungan kerja.
    Perilaku tersebut yaitu:
    1) Persistence
    Persistence diartikan sebagai suatu ketekunan. Bentuk perilaku
    mengenai ketekunan paling jelas yang dapat diperlihatkan oleh
    seorang karyawan adalah penyelesaian tugasnya, contohnya adalah
    karyawan yang bekerja keras, dalam jangka waktu yang lama tanpa
    beristirahat, dan dalam jam kerja yang lebih banyak selama hari
    kerja. Ketekunan ini mengikuti faktor energi yang mengarah ke
    tujuan yang sebelumnya dijelaskan sebagai urgensi. Kita dapat
    mengharapkan perilaku tekun ketika karyawan merasa antusias
    dikarenakan mereka percaya bahwa mereka mampu memberikan
    kontribusi terhadap keberhasilan perusahaan. Ketekunan juga akan
    muncul ketika karyawan secara intens fokus sehingga mereka
    memperoleh jalur alternatif untuk mencapai tujuan ketika menemui
    rintangan. Keuntungan dari ketekunan itu sendiri cukup jelas,
    mencakup kualitas kerja yang lebih tinggi, menghasilkan
    pelayanan yang lebih cepat dan tanggap, lebih sedikit
    kebutuhan/tuntutan karyawan, dan biaya yang lebih rendah.
    2) Proactivity
    Satu karakteristik penting dari karyawan yang memiliki
    engagement adalah mereka menjadi proaktif, tidak hanya reaktif,
    atau bahkan pasif. Menjadi proaktif berarti mengambil tindakan
    ketika kebutuhan untuk bertindak muncul pada diri karyawan,
    seperti memperbaiki performa kerja suatu mesin yang mulai
    memperlihatkan penurunan, dari pada hanya diam dan menunggu
    perintah dari atasan, atau inisiatif untuk mengerjakan pekerjaan
    kelompok pada saat anggota kelompok yang lain masih bersantai.
    Hubungan antara engagement dan memperlihatkan perilaku
    proaktif sebenarnya cukup jelas. Pertama, karyawan yang memiliki
    perasaan urgensi dan tingkat konsentrasi yang tinggi terhadap
    pekerjaan mereka akan lebih proaktif. Karyawan yang memiliki
    engagement akan mengambil inisiatif untuk menghindari atau
    mencegah suatu masalah. Kedua, karyawan yang memiliki
    engagement akan lebih banyak menggunakan sumber energi emosi
    dan pikiran mereka dalam pekerjaan, sehingga mereka menjadi
    lebih mungkin untuk mengenali masalah yang potensial, dan
    kebutuhan atau kesempatan untuk bertindak. Terakhir, karyawan
    yang merasa antusias terhadap bagaimana performa kerja mereka
    memengaruhi keberhasilan dari perusahaan dan
    menginternalisasikan tujuan kelompok dan perusahaan akan lebih
    mungkin untuk mendeteksi rintangan yang muncul dalam
    pencapaian tujuan.
    3) Role Expansion
    Role expansion diartikan sebagai perluasan peran kerja. Karyawan
    yang memiliki engagement cenderung akan memperlihatkan peran
    mereka secara lebih luas dan menyeluruh. Jenis perilaku seperti ini
    cukup sering terlihat dalam berbagai variasi, tetapi tidak semua
    perilaku itu memperlihatkan adanya loncatan ke dalam satu tipe
    pekerjaan lain di luar tanggung jawab karyawan yang
    bersangkutan. Role expansion juga mencakup pergantian peran
    kerja dalam jangka panjang atau bahkan menetap. Ada kalanya
    seorang atasan mendelegasikan tanggung jawab dan pekerjaannya
    kepada bawahannya sehingga kompetensi karyawan menjadi lebih
    jelas terlihat, atau sesuai dengan tuntutan perubahan itu sendiri.
    Karakteristik penting dalam role expansion adalah kesediaan untuk
    menerima suatu jenis pekerjaan yang berbeda dari perannya.
    4) Adaptability
    Seorang karyawan yang adaptif akan membantu perusahaannya
    mengantisipasi dan merespon terhadap perubahan dalam lingkup
    persaingan secara lebih cepat, lebih berhasil, dan dengan biaya
    yang lebih kecil. Karyawan yang adaptif akan mengembangkan
    keterampilan baru seiring dengan perubahan tuntutan, sehingga
    mengurangi kebutuhan untuk merekrut karyawan baru

    Employee engagement


    Komitmen terhadap kesuksesan pekerjaan sering disebut sebagai
    employee engagement. Employee engagement merupakan suatu istilah
    yang relatif baru dalam ilmu sumber daya manusia, dimana kata tersebut
    sering digunakan oleh lembaga konsultan yang khusus bergerak dalam
    bidang sumber daya manusia.
    Employee engagement merupakan gagasan dalam perilaku
    organisasi yang menjadi daya tarik dalam beberapa tahun terakhir. Daya
    tarik ini timbul karena employee engagement berpengaruh pada kinerja
    perusahaan secara keseluruhan. Hal ini telah didefinisikan oleh salah satu
    organisasi riset terkemuka sebagai hubungan emosional yang tinggi yang
    seorang karyawan rasakan terhadap organisasinya yang mempengaruhinya
    untuk mengerahkan usaha yang bebas dan lebih besar untuk pekerjaannya.
    (Risher, 2010:74).
    Gallup Oranization menyatakan bahwa karyawan yang mempunyai
    nilai engagement merupakan pekerja yang memiliki keterlibatan secara
    penuh serta antusias terhadap pekerjaan mereka (Tritch, 2003). Selain
    definisi tersebut, pandangan popular dari istilah ini menyatakan bahwa
    employee engagement tidak hanya membuat karyawan memberikan
    kontribusi lebih, namun juga membuat mereka memiliki loyalitas yang
    13
    lebih tinggi sehingga mengurangi keinginan untuk meninggalkan
    perusahaan secara sukarela (Macey & Schneider, 2008).
    Employee engagement menurut Thomas (2007) merupakan suatu
    keadaan psikologis yang stabil dan adalah hasil interaksi antara seorang
    individu dengan lingkungan tempat individu bekerja.
    Menurut Kahn (Nusatria, 2011:4) engagement merupakan gagasan
    multidimensi. Karyawan dapat secara emosi, kognitif, atau fisik terikat.
    Engagement terjadi ketika seseorang secara sadar waspada dan/atau secara
    emosi terhubung dengan orang lain. Disengaged employees, di sisi lain,
    melepaskan diri dari tugas kerja dan menarik diri secara sadar dan penuh
    perasaan (Luthans dan Peterson 2002 dalam Nusatria, 2011:4).
    Conference Board (dalam Vibrayani, 2012:10) meyebutkan bahwa
    engagement pada karyawan adalah sebuah hubungan yang kuat secara
    emosional dan intelektual yang dimiliki oleh karyawan terhadap
    pekerjaannya, organisasi, manajer atau rekan kerja, yang pada gilirannya,
    akan mempengaruhi dia untuk memberikan upaya lebih pada pekerjaanya

      Pengaruh Digital Engagement Terhadap Purchase Intention


      Hasil penelitian (Pambudi et al., 2023)Digital engagement berpengaruh
      positif dan signifikan terhadap purchase intention. Semakin tinggi keterlibatan
      konsumen secara kognitif dan emosional terhadap suatu produk, maka semakin
      besar kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian. Keterlibatan tersebut
      mendorong munculnya ketertarikan, kebutuhan, serta niat untuk membeli dan
      merekomendasikan produk.
      Temuan ini sejalan dengan Wachter et al. (2013) dan Anubha et al. (2020)
      yang menyatakan bahwa keterlibatan pelanggan yang tinggi akan meningkatkan
      niat pembelian.

      Pengaruh Influencer Marketing Terhadap Digital Engagement


      Pada Penelitian (Gross & Von Wangenheim, 2022) dan (Evania et al., 2023)
      Influencer marketing terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase
      intention. Kredibilitas, daya tarik, dan kepercayaan terhadap influencer menjadi
      faktor utama yang mendorong audiens menerima pesan promosi. Ketika influencer
      dianggap jujur, kompeten, dan sesuai dengan produk yang dipromosikan, konsumen
      cenderung membentuk sikap positif terhadap merek dan meningkatkan niat beli.
      Selain itu, kedekatan emosional antara influencer dan pengikutnya juga
      memperkuat pengaruh rekomendasi yang diberikan

      Pengaruh Content Marketing Terhadap Digital Engagement


      Penelitian terdahulu (Larissa, 2020) dan (Saputri, 2024) menunjukkan bahwa
      content marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap customer
      engagement. Konten yang relevan, informatif, dan bernilai mampu menciptakan
      interaksi antara perusahaan dan konsumen serta membentuk persepsi positif
      terhadap merek. Persepsi tersebut mendorong keterlibatan konsumen dalam bentuk
      perhatian, partisipasi, dan interaksi aktif di media digita

      Pengertian Purchase Intention


      Menurut Mahendra & Nugroho 2021 dalam Hashina Izzaty & Nur Utami
      (2024) menyatakan bahwa minat beli adalah keinginan membeli yang timbul ketika
      seseorang terpengaruh oleh kualitas dan informasi produk.
      Pembelian yang dilakukan oleh konsumen terhadap suatu produk didasari
      oleh minat beli konsumen terhadap produk tersebut Priyanti et al
      2022 dalam Hashina Izzaty & Nur Utami (2024).
      Niat Pembelian Pelanggan adalah kecenderungan konsumen untuk
      melakukan pembelian setelah berinteraksi dengan suatu produk atau layanan
      (Padmasari et al., 2025).
      Menelik Kotler dan Armstrong (2018:177) dalam Firdausi (2024) keputusan
      pembelian merupakan perilaku konsumen mengenai cara seseorang maupu
      organisasi dalam menentukan, melakukan pembelian, memakai produk, jasa,
      gagasan atau pengalaman dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya.
      Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
      Purcahse Intention (Minat beli) adalah keinginan seseorang untuk membeli produk
      tertentu, yang muncul setelah dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas
      produk itu sendiri, informasi yang diterima, serta pengalaman dan pertimbangan
      konsumen terhadap merek atau produk yang ada di pasaran.
      Menurut Priyanti et al dalam penelitian Hashina Izzaty & Nur Utami (2024)
      , ada empat indikator yang digunakan untuk mengukur Purchase Intention, yaitu
      minat transaksional, minat referensial, minat preferensial, dan minat eksploratif.

      1. Minat Transaksional: Kecenderungan seseorang untuk benar-benar
        melakukan pembelian produk. Indikator ini menunjukkan niat kuat konsumen
        untuk menukar uang mereka dengan produk yang ditawarkan.
      2. Minat Referensial: Kecenderungan seseorang untuk merekomendasikan
        produk yang ia minati kepada orang lain. Minat ini muncul karena adanya
        kepercayaan atau kesan positif terhadap produk tersebut.
      3. Minat Preferensial: Minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang
        memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Artinya, konsumen menjadikan
        produk ini sebagai pilihan utama dibandingkan produk pesaing lainnya.
      4. Minat Eksploratif: Kecenderungan seseorang untuk mencari informasi
        lebih mendalam mengenai produk yang diminati. Hal ini menunjukkan ketertarikan
        konsumen untuk mendukung atau memperkuat alasan mereka sebelum melakukan
        pembelian.

      Pengertian Digital Engagement


      Engagement adalah konsep yang mulai dikenal secara luas sejak tahun 2010
      dan memiliki berbagai penjelasan dari para peneliti yang berbeda. Secara umum,
      customer engagement merujuk pada cara pelanggan terlibat melalui pengalaman
      dan interaksi yang memengaruhi keputusan mereka dalam membeli produk atau
      layanan. Menurut Brodie et al. 2011 dalam (Ratnawati & Sanaji, 2024), engagement
      dapat diartikan sebagai kondisi psikologis dasar yang muncul dari pengalaman
      interaksi yang dialami oleh konsumen.
      So et al. 2014 dalam Ratnawati & Sanaji (2024) mengidentifikasi lima
      dimensi customer engagement, yaitu identification (hubungan emosional dengan
      merek), enthusiasm (kegembiraan dan minat terhadap merek), attention (fokus
      konsumen terhadap informasi tentang merek), absorption (keterlibatan penuh dan
      konsentrasi dengan merek), dan interaction (partisipasi aktif, baik online maupun
      offline).

      1. Identification: Tingkat di mana konsumen merasa memiliki hubungan
        emosional yang kuat atau kesamaan nilai dengan sebuah merek, sehingga mereka
        merasa menjadi bagian dari identitas merek tersebut.
      2. Enthusiasm: Merupakan perasaan gembira, semangat, dan minat yang
        besar dari konsumen dalam berinteraksi atau menggunakan produk dari merek
        tersebut.
      3. Attention: Fokus mental dan konsentrasi konsumen dalam menyerap
        berbagai informasi atau konten yang berkaitan dengan merek, yang menunjukkan
        tingkat kepedulian mereka.
      4. Absorption: Keadaan di mana konsumen merasa terlibat sepenuhnya dan
        terhanyut secara mendalam saat berinteraksi dengan merek, hingga sering kali lupa
        dengan waktu atau keadaan di sekitarnya.
      5. Interaction: Bentuk partisipasi aktif konsumen secara nyata, baik melalui
        komunikasi dua arah di media sosial (online) maupun kegiatan langsung (offline)
        yang melibatkan merek tersebut

      Pengertian Content Marketing


      Pemasaran konten adalah kegiatan menerbitkan konten yang
      memberdayakan, mengajak berinteraksi, mendidik, dan terhubung dengan pembaca
      (Murdiani et al., 2025).
      Content marketing dapat membantu perusahaan meningkatkan perhatian
      konsumen serta membangun loyalitas terhadap merek apabila diterapkan dengan
      baik menurut Chandra & Sari, 2021 dalam Oktaviani et al (2025)
      Content marketing adalah cara promosi yang digunakan untuk membuat dan
      menyebarkan materi yang berguna, menarik, bernilai, dan bisa membuat pemirsa
      tertarik, sehingga mendorong tindakan dari konsumen (Bharata et al., 2024).
      Menurut Gunelius Prasetya et al (2021), content marketing adalah proses
      mempromosikan bisnis atau merek baik secara langsung maupun tidak langsung
      melalui konten teks, video, atau audio yang bernilai tambah baik secara online
      maupun offline

      Pengertian Influencer Marketing


      Influencer merupakan individu yang mendapatkan suatu popularitas di
      media sosial dari berbagai partisipasi yang dilakukan oleh audiens menurut Forbes
      dalam Carissa & Aruman, 2019 dalam (Hashina Izzaty & Nur Utami, 2024a)
      Influencer marketing didefinisikan sebagai bentuk pemasaran yang
      memanfaatkan figur publik, seperti selebriti, blogger, atau pengguna media sosial
      dengan jumlah pengikut besar, untuk memengaruhi keputusan pembelian
      konsumen. Menurut Belanche et al. 2021 dalam Alfina Damayanti, Fia
      Amalia,Pupung Purnamasari (2025)
      Influencer memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini, preferensi, dan
      perilaku pembelian audiens melalui kredibilitas, daya tarik, serta hubungan
      emosional yang mereka miliki. Kredibilitas influencer, yang mencakup
      keahlian, kepercayaan, dan daya tarik, menjadi salah satu faktor utama dalam
      keberhasilan kampanye pemasaran menurut Al-Mu’ani et al., 2023 dalam Alfina
      Damayanti, Fia Amalia,Pupung Purnamasari (2025).
      Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
      Influencer merupakan orang yang mendapatkan ketenaran di media sosial dan
      memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pandangan, kesukaan, serta tindakan
      pembelian audiens melalui kepercayaan, daya tarik, dan keterikatan emosional yang
      mereka ciptakan dengan pengikutnya
      Ada 5 indikator untuk mengukur Influencer Marketing, yaitu terdiri dari
      Kredibilitas, Daya Tarik Fisik, Kepercayaan, Respect, Kesamaan.

      1. Kredibilitas: Merupakan keahlian, kompetensi, dan pengetahuan
        influencer yang membuat audiens yakin terhadap pesan promosi yang disampaikan.
      2. Daya Tarik Fisik: Penampilan visual atau pesona personal influencer yang
        berfungsi menarik perhatian dan membangun sikap positif audiens terhadap
        produk.
      3. Kepercayaan: Tingkat kejujuran dan objektivitas influencer yang dirasakan
        audiens, sehingga mereka merasa aman mengikuti rekomendasi pembelian.
      4. Respect: Rasa hormat atau kekaguman audiens terhadap kepribadian dan
        prestasi influencer, yang memperkuat hubungan emosional dan efektivitas pesan.
      5. Kesamaan: Adanya kemiripan karakteristik, nilai, atau gaya hidup antara
        influencer dan audiens, sehingga produk yang dipromosikan terasa lebih releva

      Pengertian Digital Marketing


      Digital Marketing biasa disebut pemasaran digital merupakan upaya
      pemasaran yang dilakukan melalui teknologi Digital. Digital marketing, menurut
      American Marketing Association (AMA), didefinisikan sebagai serangkaian
      kegiatan, organisasi, dan proses dengan memanfaatkan platform digital untuk
      menciptakan, berkomunikasi, dan menyampaikan nilai kepada konsumen serta
      pihak-pihak yang berkepentingan lainnya menurut Jasri et al., 2022 dalam Darma
      & Korespondensi (2025)
      Menurut Saputra & Ardani, 2020:2600 dalam (Mustakim & Priyono,
      2024)digital marketing merupakan salah satu kategori dalam dunia pemasaran yang
      berguna dalam mengiklankan suatu produk atau layanan dan untuk menjangkau
      para calon pembeli melalui media digital sebagai sarana komunikasinya.
      Rachmadi, T., & Kom, S. dalam Mustakim & Priyono, (2024) menyatakan
      digital marketing adalah kegiatan pemasaran online yang berguna untuk
      menjangkau pasar yang lebih luas menggunakan media internet, bertujuan untuk
      menghubungkan pebisnis dengan calon pemelinya melalui media internet.
      Menurut (Ningsih et al., 2026) Digital marketing didefinisikan sebagai
      perencanaan terstruktur yang memanfaatkan teknologi dan platform online untuk
      secara efektif mencapai tujuan pemasaran

      Teori SOR (Stimulus Organism Response)


      Dalam memahami perilaku konsumen pada platform digital seperti TikTok,
      teori Stimulus Organism Response (SOR) digunakan sebagai dasar untuk
      menjelaskan bagaimana strategi pemasaran digital memengaruhi niat beli. Menurut
      Mehrabian dan Russell (1974), perilaku seseorang muncul karena adanya
      rangsangan (stimulus) yang diterima, diproses secara internal (organism), dan
      menghasilkan respon tertentu (response).
      Pada penelitian ini, content marketing dan influencer marketing berperan
      sebagai stimulus yang diberikan oleh brand kepada konsumen melalui media sosial
      TikTok. Stimulus ini memunculkan reaksi psikologis pada individu dalam bentuk
      digital engagement sebagai organism, seperti rasa ketertarikan, keterlibatan
      emosional, hingga partisipasi aktif dalam interaksi digital (Sugiyono, 2023). Reaksi
      ini kemudian memengaruhi response berupa purchase intention, yaitu niat
      konsumen untuk membeli produk skincare Skintific.

      Pengaruh Kemampuan Adaptasi Terhadap Employee Engangement


      Sumber daya pribadi yang dapat dikombinasikan dengan sumber daya
      pekerjaan untuk memenuhi persyaratan pekerjaan adalah contoh kemampuan
      beradaptasi di tempat kerja (Shafa et al., 2022). Kapasitas seseorang untuk
      adaptasi karir digambarkan sebagai keterampilan gerbang, seperangkat
      keterampilan dan seperangkat kemampuan yang penting untuk pekerjaan mereka
      agar sesuai dengan kemampuan mereka si pekerjaan yang mereka lakukan.
      Kemampuan seseorang untuk beradaptasi melalui trauma memungkinkan mereka
      untuk menghadapi kondisi kerja yang Tidak menyenangkan, rumit, atau memberi
      energi, serta perubahan suasana hati dan trauma mereka selama shift mereka
      (Herlani, 2022).
      Seseorang yang memiliki kemampuan untuk dengan cepat menyesuaikan
      diri dengan situasi baru akan dapat menangani tekanan tempat kerja dan
      membangun kepercayaan dengan rekan kerja. Hasil research yang dilakukan
      peneliti (Shafa et al., 2022) hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan adaptasi
      berpengaruh positif terhadap employe engangement.

      Pengaruh Kepemimpinan transformasional, Budaya organisasi,Kecerdasan Emosional dan Kemampuan adaptasi TerhadapEmployee Engangement


      Employee engangement adalah elemen krusial yang memengaruhi
      produktivitas, kesetiaan, dan performa karyawan di dalam sebuah organisasi.
      Dalam era organisasi masa kini, keterlibatan karyawan dipengaruhi oleh berbagai
      faktor internal yang bersifat individu maupun organisasi. Berdasarkan tinjauan
      teori dan temuan penelitian sebelumnya, ada beberapa variabel yang diperkirakan
      dapat memengaruhi tingkat keterlibatan karyawan, seperti kepemimpinan
      transformasional, budaya organisasi, kecerdasan emosional, dan kemampuan
      beradaptasi (Febriasa, 2022)

      Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Employee Engangement


      Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali perasaan diri
      sendiri dan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan
      mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri serta dalam hubungan dengan
      orang lain (Tjiabrata et al., 2021). Untuk membantu seseorang mengembangkan
      rasa harga diri yang kuat, landasan emosional mungkin cukup membantu.
      Dimungkinkan untuk mengekspresikan integritas sendiri melalui cerdaan empati.
      Kekuatan emosional seseorang dapat mengatasi sedikit kemunduran, tetapi itu
      harus ditempa oleh organisasi komitmen terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai
      orang itu, serta rasa kesadaran diri yang kuat

      Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Employee Engangement


      Budaya organisasi merupakan keyakinan yang dimiliki secara bersama
      oleh seluruh anggota organisasi. Budaya organisasi merupakan sebuah aturan
      yang mengatur bagaimana karyawan berperilaku di tempat kerja, sehingga dapat
      dikatakan budaya organisasi merupakan pedoman yang digunakan dalam
      menjalankan aktivitas kinerja dalam sebuah organisasi (Soeharso & Nurika,
      2020). Budaya Organisasi merupakan hal yang penting bagi suatu organisasi atau
      organisasi karena akan selalu berhubungan dengan kehidupan yang ada di
      organisasi (Bharata & Prasetya, 2021)

      Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Terhadap EmployeeEngangement


      Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan dimana pemimpin
      yang menginspirasi para pengikutnya untuk menyampingkan kepentingan pribadi
      mereka demi kebaikan organisasi dan mampu memiliki pengaruh yang luar biasa
      pada diri para pengikutnya (Wahyuningtyas & Askafi, 2018). Pemimpin
      transformasional lebih sering memakai taktik legitimasi dan melahirkan tingkat
      identifikasi dan internalisasi yang lebih tinggi, memiliki kinerja yang lebih baik,
      dan mengembangkan pengikutnya (Mardiana & I Ketut R Sudiarditha, 2019).
      Kecerdasan
      Hal ini sejalan research yang dilakukan peneliti (Rumaharbo & Paijan, 2020) dan
      (Mardiana & I Ketut R Sudiarditha, 2019) hasilnya menunjukkan bahwa
      kepemimpinan transformasional berpengaruh positif terhadap employee
      engangement.

      Peran Kemampuan Adaptasi


      Kemampuan adaptasi sangat penting di era perubahan cepat dan VUCA
      (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Dalam organisasi, kemampuan
      adaptasi:
      1) Meningkatkan resiliensi karyawan dalam menghadapi transformasi digital,
      reorganisasi, atau perubahan target
      2) Mendorong employee engagement karena karyawan merasa mampu
      mengatasi tantangan
      3) Meningkatkan kinerja individu dan tim dalam kondisi kerja dinamis
      4) Mengurangi konflik dan resistensi terhadap perubahan.
      6) Indikator Kemampuan Adaptasi
      Indikator kemampuan adaptasi pada penelitian ini mengacu pada buku
      Zander, R. S., & Zander, B. (2000). The Art of Possibility: Transforming
      Professional and Personal Life. Penguin Books, yaitu sebagai berikut:
      1) Frekuensi pengalaman adaptif masa lalu
      yaitu dasar untuk pengembangan pengalaman dan kinerja masa lalu adalah
      sebagai prediktor terbaik dari kinerja masa depan. Apabila individu
      memiliki pengalaman beradaptasi dengan jenis situasi atau keadaan
      tertentu maka individu harus berhasil dalam situasi masa depan yang
      membutuhkan adaptasi yang sama;
      2) Minat dalam situasi adaptif
      yaitu mengukur sejauh mana ketertarikan bekerja dalam situasi yang
      menuntut untuk beradaptasi dengan baik
      3) Tugas khusus keberhasilan diri untuk beradaptasi
      yaitu penilaian seseorang bahwa individu memiliki ketrampilan dan
      kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan melaporkan keefektifan
      kinerja dengan penilaian berdasarkan cara adaptasi yang relevan.

      Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Adaptasi

      Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Adaptasi
      Beberapa faktor yang memengaruhi kemampuan adaptasi seseorang,
      antara lain:
      1) Kepribadian
      Individu dengan tingkat keterbukaan yang tinggi (openness) cenderung
      lebih adaptif.
      2) Kecerdasan Emosional
      Orang dengan kontrol emosi yang baik lebih mampu mengelola tekanan
      dan beradaptasi.
      3) Pengalaman Kerja
      Pengalaman menghadapi perubahan memperkuat kemampuan adaptasi
      seseorang.
      4) Lingkungan Organisasi
      Budaya organisasi yang suportif dapat mendorong peningkatan
      adaptabilitas karyawan.
      27
      5) Pelatihan dan Pengembangan
      Program pelatihan dapat meningkatkan keterampilan menghadapi
      perubahan

      Dimensi dan Aspek Kemampuan Adaptasi


      (Herlani, 2022) mengembangkan framework kemampuan adaptasi yang
      terdiri dari delapan dimensi utama, yaitu:
      1) Handling Emergencies or Crisis Situations
      Kemampuan tetap tenang dan bertindak cepat serta efektif saat
      menghadapi situasi darurat.
      2) Handling Work Stress
      Kemampuan mengelola stres dan tekanan kerja secara positif tanpa
      mengorbankan produktivitas.
      3) Solving Problems Creatively
      Kemampuan berpikir inovatif dan menemukan solusi baru dalam situasi
      yang tidak biasa.
      4) Dealing with Uncertain and Unpredictable Work Situations
      Kemampuan beradaptasi dengan situasi yang ambigu dan tidak terduga.
      5) Learning Work Tasks, Technologies, and Procedures
      Kemampuan untuk cepat mempelajari tugas baru, penggunaan teknologi
      baru, dan prosedur kerja yang berubah.
      6) Demonstrating Interpersonal Adaptability
      Kemampuan menyesuaikan perilaku dalam hubungan sosial dan bekerja
      dengan berbagai tipe orang.
      7) Demonstrating Cultural Adaptability
      Kemampuan bekerja secara efektif dengan individu dari latar belakang
      budaya yang berbeda.
      8) Demonstrating Physical Adaptability
      Kemampuan menghadapi tantangan fisik atau lingkungan kerja yang
      berubah (misalnya, suhu, lokasi, jam kerja).
      3) Karakteristik Kemampuan Adaptasi Tinggi
      Indikator Individu yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi biasanya
      menunjukkan karakteristik berikut:
      1) Terbuka terhadap pengalaman baru
      2) Tidak mudah panik dalam kondisi tidak terduga
      3) Fleksibel dan tidak kaku dalam pola pikir
      4) Cepat belajar dan responsif terhadap umpan balik
      5) Percaya diri dalam menghadapi tantangan
      6) Mampu bekerja sama dengan berbagai tipe oran

      Indikator Budaya Organisasi


      Berbagai ahli telah mengemukakan dimensi dalam budaya organisasi.
      Salah satu model yang banyak digunakan adalah buku Schein, E. H. (2010).
      Organizational Culture and Leadership. Jossey-Bass, yang membagi budaya
      organisasi ke dalam empat dimensi utama:
      1) Mission (Misi)
      Kejelasan arah, visi, dan tujuan organisasi yang menjadi pedoman
      bersama.
      2) Adaptability (Kemampuan Adaptasi)
      Tingkat fleksibilitas dan kemampuan organisasi dalam merespon
      perubahan lingkungan eksternal.
      3) Involvement (Keterlibatan)
      Tingkat partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan dan proses
      kerja.
      4) Consistency (Konsistensi)
      Sejauh mana nilai dan sistem internal organisasi diterapkan secara
      konsisten dalam aktivitas organisasi

      Karakteristik Budaya Organisasi


      Berikut ini adalah tujuh karakteristik budaya organisasi berdasarkan
      (Robbins & Judge, 2017) sebagai berikut:
      1) Orientasi
      Hasil Dimensi ini membedakan organisasi yang berorientasi pada proses
      dengan organisasi yang berorientasi pada hasil. Orientasi hasil, yaitu
      sejauh mana manajemen lebih berfokus pada hasil daripada teknik dan
      proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
      2) Inovasi dan Pengambilan Risiko
      Inovasi dan pengambilan risiko adalah karyawan yang didorong untuk
      berperilaku inovatif dan berani mengambil risiko.
      3) Orientasi Tim
      Orientasi tim adalah kegiatan kerja yang diselenggarakan dalam tim
      daripada secara individu.
      4) Agresif dan Kompetitif
      Agresivitas adalah ketika orang berperilaku agresif dan kompetitif
      daripada santai.
      5) Stabilitas
      Stabilitas adalah kegiatan organisasi yang menekankan pelestarian status
      quo dibandingkan dengan pertumbuhan.
      6) Perhatian terhadap detail
      Perhatian terhadap detail adalah karyawan diharapkan menjalankan
      ketepatan, analisis, dan perhatian terhadap detail.
      7) Orientasi Manusia
      Orientasi manusia adalah keputusan manajemen yang mempertimbangkan
      dampak dari hasil yang disebutkan di atas orang-orang yang ada dalam
      organisasi.
      3) Fungsi Budaya Organisasi
      Budaya organisasi memiliki beberapa fungsi penting dalam
      keberlangsungan organisasi (Maisoni et al., 2019), yaitu
      1) Memberikan identitas bagi anggota organisasi.
      2) Memfasilitasi komitmen terhadap tujuan organisasi.
      3) Meningkatkan stabilitas sistem sosial di dalam organisasi.
      4) Membentuk perilaku dan sikap karyawan secara tidak langsung

      Pengertian Budaya Organisasi


      Budaya organisasi merupakan keyakinan yang dimiliki secara bersama
      oleh seluruh anggota organisasi (Akbar & Manurung, 2020). Budaya organisasi
      merupakan sebuah aturan yang mengatur bagaimana karyawan berperilaku di
      tempat kerja, sehingga dapat dikatakan budaya organisasi merupakan pedoman
      yang digunakan dalam menjalankan aktivitas kinerja dalam sebuah organisasi
      (Soeharso & Nurika, 2020). Budaya Organisasi merupakan hal yang penting bagi
      suatu organisasi atau organisasi karena akan selalu berhubungan dengan
      kehidupan yang ada di organisasi (Bharata & Prasetya, 2021).
      Organisasi yang memiliki budaya organisasi yang kuat maka dapat
      dipastikan bahwa keterikatan karyawan juga tergolong tinggi dan sebaliknya
      organisasi yang memiliki budaya organisasi yang lemah dapat dipastikan
      keterikatan karyawannya juga rendah. Sehingga penting di dalam organisasi
      menanamkan budaya organisasi yang kuat agar meningkatkan keterikatan
      karyawan (employee engagement) (Indriyani et al., 2019).

      Karakteristik Kepemimipinan Transformasional


      Menurut (Shafa et al., 2022) mengidentifikasi empat dimensi utama
      kepemimpinan transformasional, yang dikenal dengan istilah “Four I’s”, yaitu:
      1) Idealized Influence (Pengaruh Ideal) Pemimpin menjadi panutan,
      dihormati, dan dipercaya. Mereka menunjukkan konsistensi nilai dan etika
      serta membangun rasa percaya dari para pengikutnya.
      2) Inspirational Motivation (Motivasi Inspirasional) Pemimpin mampu
      mengomunikasikan harapan yang tinggi, memotivasi pengikut melalui visi
      masa depan yang menarik, serta memberikan semangat dan antusiasme
      dalam bekerja.
      3) Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual) Pemimpin mendorong
      kreativitas, inovasi, serta memberikan kebebasan kepada bawahan untuk
      berpikir kritis dan mencari solusi baru terhadap permasalahan.
      4) Individualized Consideration (Pertimbangan Individual) Pemimpin
      memperhatikan kebutuhan dan potensi masing-masing individu, bertindak
      sebagai mentor atau coach, dan memberikan dukungan secara personal.
      3) Aspek Kepemimipinan Transformasional
      Menurut (Mardiana & I Ketut R Sudiarditha, 2019) mengemukakan ada
      enam aspek dalam kepemimpinan transformasional, yaitu :
      1) Mengidentifikasi dan mengartikulasikan visi.
      Perilaku pemimpin yang bertujuan dalam mengidentifikasi peluang baru
      untuk unit/divisi/perusahaannya untuk pengembangan, mengartikulasikan
      dan mengilhami orang lain dengan visinya tentang masa depan.
      2) Memberikan Model yang Tepat.
      Perilaku pemimpin yang bertujuan dalam menetapkan/memberikan contoh
      bagi karyawan yang tepat untuk diikuti agar konsisten dengan nilai-nilai
      yang dianut pemimpin.
      3) Membina Penerimaan Tujuan kelompok.
      Perilaku pemimpin yang bertujuan dalam mempromosikan kerja sama
      antar karyawan dan membuat mereka bekerja sama menuju tujuan
      bersama.
      4) Ekspektasi Kinerja Tinggi.
      Perilaku yang menunjukkan harapan pemimpin untuk keunggulan,
      kualitas, dan/atau kinerja tinggi dari pengikut.
      5) Memberikan Dukungan Individual.
      Perilaku pemimpin yang mengindikasikan bahwa pemimpin menghargai
      pengikut dan prihatin dengan perasaan dan kebutuhan pribadi pengikut.
      6) Stimulasi Intelektual.
      Perilaku pemimpin yang bertujuan dalam memberikan tantangan kepada
      pengikut untuk memeriksa kembali beberapa asumsi mereka tentang
      pekerjaan mereka dan memikirkan kembali bagaimana caranya untuk bisa
      dilakukan
      4) Indikator Kepemimipinan Transformasional
      Indikator kepemimpinan transformasional pada penelitian ini mengacu
      pada buku dari Bass, B. M. (1985). Leadership and Performance Beyond
      Expectations. The Free Press, yaitu sebagai berikut:
      1) Pengaruh idealis (idealized influence)
      Atau dikenal juga sebagai kepemimpinan karismatik berperilaku sebagai
      seorang panutan, dihormati, dikagumi, dan dipercaya.
      2) Inspirasi motivasi (inspirational motivation)
      Pemimpin ini menunjukkan antusiasme dan optimisme, serta menciptakan
      suasana kerja yang berkomitmen mencapai tujuan dan visi organisasi
      3) Stimulasi intelektual (intellectual stimulation)
      Pemimpin transformasional mendorong kreatifitas pengikutnya dan
      mendorong adanya terobosan baru dalam penyelesaian masalah.
      4) Pertimbangan individual (individualized consideration)
      Pemimpin transformasional berperan sebagai pelatih sekaligus mentor,
      serta menghargai kebutuhan dan keinginan individu.

      Pengertian Kepemimpinan Transformasional


      Kepemimpinan transformasional adalah orang-orang yang mampu
      mendorong dan menginspirasi para pengikutnya untuk mencapai kinerja luar biasa
      dan juga mengembangkan kemampaun kepemimpinan yang dimilikinya
      (Ferdiansyah, 2018). Sedangkan menurut (Rumaharbo & Paijan, 2020)
      kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan dimana pemimpin yang
      menginspirasi para pengikutnya untuk menyampingkan kepentingan pribadi
      mereka demi kebaikan organisasi dan mampu memiliki pengaruh yang luar biasa
      pada diri para pengikutnya.
      Menurut (Kurniawati et al., 2019) pemimpin transformasional adalah
      perspektif kepemimpinan yang menciptakan, mengomunikasikan, membuat model
      visi untuk organisasi, dan memberikan inspirasi kepada bawahan untuk berusaha
      menampakkan kinerja lebih baik sehingga secara global akan mengubah kinerja
      tim atau organisasi untuk pencapaian visi tersebut. Sehingga kepemimpinan
      transformasional adalah kepemimpinan dimana pemimpin yang dapat membuat
      para pengikutnya termotivasi, menginspirasi, kagum dan setia atas kemampuan
      dan pembawaan pemimpin tersebut yang fokus pada tujuan organisasi.

      Indikator Employee Engangement


      Indikator employe engangement pada penelitian ini mengacu pada buku
      Pink, D. H. (2009). Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us.
      Riverhead Books, yaitu sebagai berikut:
      1) Semangat
      2) Dedikasi
      3) Fokus

      Tingkatan Employee Engangement


      Menurut Gallup (2004), terdapat tiga tingkatan engegement pada
      karyawan, yaitu:
      1) Engaged.
      Karyawan yang engaged adalah seorang pembangun (builder). Mereka
      selalu menunjukkan kinerja dengan level yang tinggi. Karyawan ini akan
      bersedia menggunakan bakat dan kekuatan mereka dalam bekerja setiap
      hari serta selalu bekerja dengan gairah dan selalu mengembangkan inovasi
      agar organisasi berkembang.
      2) Not Engaged.
      Karyawan dalam tipe ini cenderung fokus terhadap tugas dibandingkan
      untuk mencapai tujuan dari pekerjaan itu. Mereka selalu menunggu
      perintah dan cenderung merasa kontribusi mereka diabaikan.
      3) Actively Disengaged.
      Karyawan tipe ini adalah penunggu gua (cave dweller). Mereka secara
      konsisten menunjukkan perlawanan pada semua aspek. Mereka hanya
      melihat sisi negatif pada berbagai kesempatan dan setiap harinya, tipe
      actively disengaged ini melemahkan apa yang dilakukan oleh pekerja yang
      engaged

      Pengertian Employee Engangement


      Employee engagement atau keterikatan karyawan adalah suatu kondisi,
      sikap atau perilaku positif seorang karyawan terhadap pekerjaan dan
      organisasinya yang ditandai dengan perasaan semangat (vigor), dedikasi
      (dedication) dan keasyikan (absorption) untuk tercapainya tujuan dan
      keberhasilan organisasi (Rumaharbo & Paijan, 2020). Keterlibatan karyawan
      dapat mengambil banyak bentuk, termasuk emosional, kognitif, atau bahkan fisik..
      Keterlibatan terjadi ketika satu orang terhubung dengan orang lain dengan cara
      yang menyedihkan dan euforia.
      Begitu seorang karyawan terlibat, mereka memiliki rasa tanggung jawab
      terhadap tujuan majikan mereka, sehingga mereka dapat memberikan sumber
      daya terbaik untuk pekerjaan itu (Bharata & Prasetya, 2021). Keterlibatan
      karyawan adalah keadaan di mana seseorang merasa seperti mereka tahu identitas
      mereka sendiri, memiliki motivasi untuk bekerja, dapat menerima dukungan dari
      orang lain secara positif, dan dapat bekerja secara efektif dan efisien di tempat
      kerja lingkungan (Shafa et al., 2022)
      2) Aspek Employee Engangement
      Menurut (Rumaharbo & Paijan, 2020) terdapat tiga aspek yang
      membangun dimensi employee engagement, yaitu sebagai berikut:
      1) Kekuatan (Vigor)
      Kekuatan dikarakteristikkan dengan energi dan resiliensi mental yang
      tinggi ketika sedang bekerja, kemauan berusaha sungguh-sungguh dalam
      pekerjaan dan gigih dalam menghadapi kesulitan. Individu dengan skor
      tinggi pada aspek kekuatan biasanya memiliki energi dan stamina tinggi
      serta bersemangat ketika bekerja. Sedangkan individu dengan skor rendah
      pada aspek kekuatan memiliki tingkat energi, semangat dan stamina yang
      rendah saat bekerja.
      2) Dedikasi (Dedication)
      Dedikasi mengacu pada perasaan yang penuh makna, antusias, inspirasi,
      kebanggaan dan tantangan. Individu yang memiliki skor tinggi pada aspek
      dedikasi secara kuat mengidentifikasi diri dengan pekerjaan karena adanya
      pengalaman bermakna, menginspirasi dan menantang. Selain itu, mereka
      selalu antusias dan bangga dengan pekerjaannya. Sedangkan individu
      dengan skor rendah tidak mengidentifikasi diri dengan pekerjaannya
      karena tidak memiliki pengalaman yang bermakna, menginspirasi dan
      menantang.
      3) Keasyikan (Absorption)
      Absorpsi atau keasyikan dikarakteristikkan dengan konsentrasi penuh,
      minat terhadap pekerjaan dan sulit melepaskan diri dari pekerjaan.
      Individu yang memiliki skor tinggi pada aspek absorpsi biasanya merasa
      tertarik dengan pekerjaan dan sulit untuk melepaskan diri dari
      pekerjaannya, begitupun sebaliknya

      Pengaruh Job Insecurity dan Employee Engagement Terhadap KinerjaPegawai


      Job insecurity dan employee engagement adalah beberapa faktor yang
      mempengaruhi kinerja pegawai dalam bekerja. Menurut Hvinden (2019:41) Job
      insecurity reflects the degree to which employees feel their jobs are threatened and
      feel powerless to do anything about keeping a job. Artinya: ketidakamanan
      pekerjaan mencerminkan sejauh mana karyawan merasa pekerjaan mereka
      terancam dan merasa tidak berdaya untuk melakukan apa pun untuk
      mempertahankan pekerjaan. Lain situasi dengan employee engagement menurut
      teori Shuck (2019:81) yaitu Employee engagement is define as a positive, fulfilling
      work-related state of mind that is characterized by vigor, dedication, and
      absorption. Artinya: Keterikatan kerja didefinisikan sebagai keadaan pikiran yang
      berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan yang dicirikan oleh
      semangat, dedikasi, dan menyatu.
      Berdasarkan studi penelitian Atik Koiroh (2021) menunjukan bahwa terdapat
      pengaruh antara job insecurity dan employee engagement terhadap kinerja pegawai.
      Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian dari Ludi Prasetyo Ardy
      (2018), penelitian Shengxian Yu, Xiaoxiao Gong, and Na wu, (2020) yang juga
      menunjukan adanya pengaruh yang signifikan terkait job insecurity terhadap
      kinerja pegawai atas keterlibatan Employee Engagemen

      Pengaruh Job Insecurity Terhadap Kinerja Pegawai


      Job insecurity atau ketidakamanan kerja merupakan kondisi yang
      berhubungan dengan rasa takut seseorang terkait pekerjaan yang dilakukanya,
      menurut Hvinden (2019:35) “Job insecurity reflects the degree to which employees
      feel their jobs are threatened and feel powerless to do anything about keeping a job
      “ artinya bahwa job insecurity atau ketidakamanan pekerja mencerminkan sejauh
      mana pegawai merasa pekerjaan mereka terancam dan merasa tidak berdaya untuk
      dapat mempertahankan pekerjaannya, sehingga hal tersebut dapat berdampak
      terhadap kinerja yang dapat diberikan oleh pegawai terhadap perusahaannya.
      Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sri Murni, & Yurnalis tahun
      (2018), mendapati hasil bahwa job insecurity berpengaruh negatif terhadap kinerja
      pegawai, dimana pegawai memiliki penurunan kualitas kerja ketika tingkat job
      insecurity pada diri individu pegawai meningkat. Pendapat tersebut selaras dengan
      penelitian yang dilakukan oleh Aulia Nur Amartha Satata Saraswati dan Herison
      Pandapotan Purba tahun (2019) dan penelitian yang dilakukan oleh Dhiana Pandan
      Arum dan Rr Sri Handari tahun (2020) yang sama-sama menyatakan bahwa job
      insecurity berpengaruh negatif secara signifikan terhadap kinerja pegawa

      Dimensi dan Indikator Kinerja Pegawai


      Dimensi dan indikator yang digunakan dalam penelitian ini mengadaptasi
      dari teori-teori dan pendapat para ahli. Menurut John Miner dalam Mangkunagara
      (2017:72) yang mengemukakan bahwa ada beberapa dimensi dan indikator kinerja
      yaitu sebagai berikut:

      1. Kualitas Kerja
        Kualitas kerja adalah sesuatu hal yang terkait dengan proses pekerjaan sampai
        hasil kerja yang bisa diukur dari tingkat efisiensi dan efektifitas seseorang
        dalam melakukan suatu pekerjaan yang didukung oleh sumber daya lainnya.
        Indikator dari kualitas kerja antara lain:
        a. Kerapihan
        b. Ketelitian
        c. Kehandalan
      2. Kuantitas Kerja
        Kuantitas merupakan satuan jumlah atau batas minimal dan maksimal yang
        harus dicapai oleh pekerja dengan waktu yang telah ditentukan oleh pimpinan
        perusahaan.
        Indikator dari kuantitas kerja antara lain:
        a. Ketepatan waktu
        b. Hasil kerja
        c. Kepuasan kerja
      3. Kerjasama
        Kerjasama merupakan usaha bersama baik antara individu dengan individu,
        kelompok dengan kelompok, atau individu dengan kelompok berupa sikap dan
        perilaku setiap pegawai yang menjalin hubungan kerjasama dengan pimpinan
        atau rekan kerja untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama.
        Indikator dari kerjasama antara lain:
        a. Jalinan kerjasama
        b. kekompakan
      4. Tanggung jawab
        Tanggung jawab merupakan hal yang terkait dengan hasil pekerjaan yang telah
        diselesaikan yang harus dipertanggungjawabkan para pegawai apabila masih
        ada pekerjaan yang belum sesuai dengan harapan pimpinan.
        Indikator dari tanggungjawab antara lain:
        a. Rasa tanggung jawab dalam mengambil keputusan
        b. Memanfaatkan sarana dan prasarana
      5. Inisiatif
        Inisiatif adalah segala bentuk dorongan dari dalam diri pegawai untuk
        melakukan pekerjaan serta mengatasi masalah. Indikator dari inisiatif yaitu:
        a. Kemandirian

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai


      Menurut Mangkunegara (2017:70) terdapat faktor-faktor yang
      mempengaruhi pencapaian kinerja seorang pegawai antara lain:

      1. Faktor personal/individual yaitu hal-hal yang terdiri dari Pengetahuan,
        keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, job insecurity, dan
        komitmen.
      2. Faktor kepemimpinan yaitu meliputi kualitas, dorongan, semangat, employe
        engagement, dan dukungan
      3. Faktor tim diantaranya adalah kerja sama, dan kekompakan
      4. Fakor sistem yang meliputi sistem kerja, fasilitas, proses organisasi, kultur
        kinerja dalam organisasi
      5. Faktor kontekstual (situasional) dimana faktor ini merupakan sebuah tekanan
        dan perubahan lingkungan eksternal dan internal

      Pengertian Kinerja Pegawai


      Kinerja adalah tingkat capaian atau sebuah hasil kerja yang dari
      implementasi rencana kerja yang dibuat oleh organisasi yang dilaksanakan oleh
      pimpinan dan pegawai sumber daya manusia yang bekerja di perusahaan, baik
      institusi maupun pemerintahan untuk mencapai tujuan baik individu, organisasi
      maupun masyarakat. Terdapat beberapa definisi kinerja menurut para ahli antara
      lain pendapat dari Mangkunegara, (2017:66) yang menyatakan bahwa “Kinerja
      pegawai adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
      pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diembannya.”
      Adapun pendapat lainnya:
      Menurut (Afandi, 2018:83):
      “Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
      kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan
      tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan organisasi
      secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral
      dan etika.”
      Menurut (Ahmad, 2020:31):
      “Kinerja atau performance, merupakan prestasi yang dicapai oleh seorang
      pegawai dalam setiap melakukan pekerjaan/tugasnya, dimana pegawai
      tersebut dapat menggunakan segenap kemampuan dan pengetahuan
      berbasis kompetensi, dimana kinerjanya dapat diukur berdasarkan
      kemampuan, keahlian, dan attitude-nya pada saat pelaksanaan tugasnya.

      Kinerja Pegawai


      Konsep kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi yang memiliki
      pengertian dalam bahasa inggris yaitu performance. Kinerja merupakan hasil dari
      fungsi-fungsi suatu profesi pekerjaan dalam kurun waktu tertentu, keberhasilan
      suatu organisasi dapat ditentukan oleh diantaranya dengan pengelolaan kinerja
      pegawainya

      Dimensi dan Indikator Employee Engagement


      Menurut (Shuck, 2019:68) mengemukakan bahwa terdapat tiga dimensi dan
      indikator dalam employee engagement diantaranya sebagai berikut.

      1. Vigor (Semangat).
        Ditandai dengan tingkatan energi yang tinggi, ketangguhan mental,
        berkeinginan untuk memberikan usaha terhadap pekerjaan dan juga ketahanan
        dalam menghadapi kesulitan. Indikator untuk dimensi ini antara lain:
        a) Energi dan stamina yang tinggi
        b) Kesungguhan dalam bekerja
        c) Kegigihan dan Ketekunan
      2. Dedication (Dedikasi).
        Ditandai oleh rasa antusias dalam bekerja, pegawai yang memiliki dedikasi
        yang tinggi terhadap pekerjaannya akan menjadikan pekerjaan sebagai
        pengalaman yang berharga, inspirasi, dan tantangan. Indikator untuk dimensi
        ini antara lain:
        a) Pengorbanan, tenaga, pikiran, dan waktu
        b) Rasa penuh makna
        c) Antusiasme
        d) Kebanggaan
      3. Absorption (Menyatu).
        Ditandai dengan perilaku pegawai yang memberikan perhatian penuh terhadap
        perusahaan dan serius dalam pekerjaannya. Dimana pegawai akan merasakan
        waktu cepat berlalu dan sulit memisahkan diri dari pekerjaanya.
        Indikator untuk dimensi ini antara lain:
        a) Konsentrasi
        b) Keseriusan
        c) Menikmati pekerjaan

      Faktor-fakor yang Mempengaruhi Employee Engagement


      Menurut Shuck, (2019:90) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat
      mempengaruhi employee engagement pegawai diantaranya adalah sebagai berikut:

      1. Lingkungan Kerja (Work environment).
        Lingkungan kerja yang mendukung seperti rasa nyaman, aman dan supportif
        akan mendorong terciptanya employee engagement yang tinggi dan positif.
        Selain itu fasilitas-fasilitas penunjang yang dimiliki organisasi akan
        mempermudah pegawai dalam mengoptimalkan kemampuannya dalam
        bekerja. Adapun lingkungan kerja yang berpengaruh terbagi menjadi dua jenis
        yaitu lingkungan kerja fisik (dimana semua keadaan yang berbentuk fisik
        diantaranya fasilitas, dan sarana prasarana yang diperuntukan pegawai) dan
        lingkungan kerja non-fisik (yaitu sesuatu hal berkaitan dengan hubungan kerja
        seperti keperdulian, kerja sama, kompensasi, asuransi).
      2. Kepemimpinan (Leadership)
        Konsistensi pemimpin dalam membina pegawai dapat menimbulkan
        keterikatan pegawai, pemimpin organisasi diharapkan dapat memiliki beberapa
        keterampilan seperti keterampilan dalam berkomunikasi, keterampilan dalam
        memberikan feedback, dan keterampilan dalam mengevaluasi pekerjaan yang
        baik untuk para pegawai, hal tersbut dapat berdampak kepada peningkatan
        employee engagement yang tinggi dan postif. Pemimpin yang diantaranya
        mampu menjadi sumber inspirasi, meningkatkan motivasi bekerja,
        komunikatif dan kreatif.
      3. Tim dan hubungan kerja (Team and co-worker).
        Tim dan hubungan kerja mencakup jalinan hubungan pegawai dengan rekan
        kerja lainnya di lingkungan kerja. Dalam ruang lingkup ini, rekan kerja yang
        dapat memberikan dukungan serta motivasi kepada rekan lainnya akan dapat
        menciptakan employee engagement yang baik dan positif.
      4. Pelatihan dan pengembangan karir (Training and career development).
        Ruang lingkup pelatihan dan pengembangan karir meliputi reward, jenjang
        karir, serta pengembangan diri. Pelatihan dan pengembangan karir yang
        diberikan perusahaan kepada pegawai dapat menciptakan hubungan baik yang
        memicu timbulnya employee engagement yang tinggi dan positif, yang tidak
        hanya baik untuk organisasi tetapi baik untuk individu pegawainya.
      5. Kompensasi (Compensation).
        Ruang lingkup kompensasi meliputi kewajiban yang harus dipenuhi
        perusahaan kepada pegawai. Kompensasi merupakan balas jasa yang diberikan
        perusahaan kepada pegawai dan tanggungjawabnya selama bekerja.
        Kompensasi meliputi gaji, tunjangan, serta fasilitas penunjang.
      6. Organizational policies, procedures, structure and system (kebijaksanaan
        organisasi, prosedur, struktur dan system)
        Ruang lingkup kebijakan organisasi meliputi design kerja yang dibuat
        perusahaan untuk pegawainya. Kebijakan organisasi tersebut memuat tentang
        kebebasan pegawai dalam bekerja serta aturan dan tututan dalam bekerja.
        Kebebasan yang dimaksud adalah apakah pegawai diizinkan untuk
        mengekspresikan diri dalam pekerjaannya.
      7. Workplace well-being (kesejahteraan kerja)
        Ruang lingkup kesejahteraan kerja meliputi keadaan nyaman yang dirasakan
        oleh pegawai ketika berada pada lingkungan kerja

      Jenis-jenis Employee Engagement


      Shuck, (2019:86) mengelompokan jenis-jenis employee engagement pada
      kinjera pegawai berdasarkan tingkat engagement, antara lain diantaranya:

      1. Terikat (Engaged).
        Dimana pegawai bekerja dengan semangat dan merasakan hubungan yang
        mendalam dengan perusahaan mereka. Mereka mendorong inovasi dan
        memajukan organisasi dengan tingkat kreativitas yang tinggi.
      2. Tidak terikat (Not Engaged).
        Pada jenis ini pegawai pada dasarnya cenderung “keluar”. Mereka tidak
        melakukan apa-apa, hanya menghabiskan waktu tanpa energi atau gairah
        dalam pekerjaan mereka (tidak ada semangat pada jenis employee engagement
        ini).
      3. Secara aktif melepaskan diri (Actively Disenganged).
        Pegawai tidak hanya tidak bahagia, mereka sibuk keluar dengan bertindak
        keluar dari ketidakbahagiaan mereka, (mereka cenderung tidak nyaman berada
        di lingkungan organisasi, tidak adanya motivasi yang biasanya dilatar
        belakangi rasa kecewa sebagai akibat situasi dan kondisi yang pernah terjadi).
        Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa terdapat jenis-jenis pegawai
        berdasarkan tingkat engagement yang dibagi menjadi tiga karakteristik yaitu
        engaged, not engaged, dan actively disengaged. Ketiganya memiliki tingkat
        keterikatan yang berbeda-beda dari semangat pegawai yang tinggi hingga tidak ada
        gairah dalam bekerja serta tingkat ketidaknyaman dalam bekerja

      Pengertian Employee Engagement


      Employee engagement merupakan salah satu faktor penting bagi kesuksesan
      suatu organisasi dan dapat memberikan competitive advantage bagi organisasi.
      Pegawai yang memiliki engagement yang tinggi, biasanya digambarkan dengan
      semangat, energi dan loyalitas yang tinggi, serta komitmen dan kebanggaan yang
      kuat terhadap organisasi.
      Adapun beberapa pengertian terkait employee engagement menurut para
      ahli diantaranya yaitu Shuck (2019:81)“Employee engagement is define as a
      positive, fulfilling work-related state of mind that is characterized by vigor,
      dedication, and absorption”. Artinya: Keterikatan kerja didefinisikan sebagai
      keadaan pikiran yang berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan
      yang dicirikan oleh semangat, dedikasi, dan menyatu. Pendapat serupa disampaikan
      oleh Brammer (2020:39) bahwa “Employee engagement is the employee’s
      willingness and ability to contribute to the company on an ongoing basis”. Artinya
      Keterikatan pegawai adalah kemauan dan kemampuan pegawai untuk berkontribusi
      pada perusahaan secara berkelanjutan. Adapun pendapat lain disampaikan oleh
      Segalla (2021:41) bahwa “Employee engagement is about how to achieve the
      company’s strategic goals by creating developing human resources, and every level
      starting from staff, managers, and executives is fully activated in their work so they
      can give their best effort.” Artinya: Keterlibatan karyawan adalah tentang
      bagaimana mencapai tujuan strategis perusahaan dengan menciptakan sumber daya
      manusia yang berkembang, dan setiap level mulai dari staf, manajer, dan eksekutif
      sepenuhnya aktif dalam pekerjaan mereka sehingga mereka dapat memberikan
      upaya terbaik mereka

      Employee Engagement


      Dalam ilmu sumber daya manusia employee engagement atau keterikatan
      pegawai merupakan sebuah istilah baru. Dimana employee Engagement merupakan
      sikap pegawai dengan perasaan semangat terhadap pekerjaannya untuk mencapai
      keberhasilan organisasi, employee engagement melihat bagaimana loyalitas yang
      dimiliki pegawai dalam bekerja yang tidak hanya selesai dengan waktu yang tepat
      akan tetapi dengan kualitas sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.

      Dimensi dan Indikator Job Insecurity


      Menurut (Hvinden, 2019:41) mengembangkan pengukuran dari konsep job
      insecurity yang dikemukakan oleh Greenhalgh dan Rosenblatt dan menyatakan
      bahwa dimensi job insecurity antara lain:

      1. Important Aspect of Work (Arti Penting Aspek Kerja)
        Seberapa penting aspek kerja tersebut bagi individu sehingga mempengaruhi
        tingkat insecure atau rasa tidak amannya dalam bekerja. Seberapa penting
        pegawai menganggap bagian-bagian (aspek) pekerjaan seperti gaji, jabatan,
        promosi, dan lingkungan kerja yang nyaman dapat mempengaruhi tingkat
        keamanan dan kenyamanan individu dalam menjalankan pekerjaan. Dengan
        kata lain bahwa aspek ini sebagai arti penting aspek kerja bagi pegawai.
        Indikator untuk dimensi ini antara lain:
        a) Kenaikan gaji sebagai tolak ukur keberhasilan dalam kerja
        b) Promosi sebagai ukuran kesuksesan dalam bekerja
      2. Possible Negative Changes in Work Aspects (Kemungkinan Perubahan Negatif
        Pada Aspek Kerja)
        Tingkat ancaman yang dirasakan pegawai mengenai aspek-aspek pekerjaan
        seperti kemungkinan untuk mendapat promosi, mempertahankan tingkat upah
        yang sekarang, atau memperoleh kenaikan upah. Individu yang menilai aspek
        kerja tertentu yang terancam (terdapat kemungkinan aspek kerja tersebut akan
        hilang) sehingga akan lebih gelisah dan merasa tidak berdaya. Seberapa besar
        kemungkinan yang dirasakan pegawai terhadap perubahan (Kejadian Negatif)
        yang mengancam bagian-bagian (aspek) pekerjaan. Berdasarkan uraian tersebut
        maka dengan kata lain dapat dikatakan bahwa aspek ini adalah kemungkinan
        perubahan negatif pada bagian-bagian (aspek) kerja.
        Indikator dari dimensi ini yaitu:
        a) Kekhawatiran pegawai akan dipecat jika melanggar peraturan perusahaan
        b) Kekhawatiran akan kehilangan harkat dan martabat
      3. Powelessness (Ketidakberdayaan)
        Ketidakberdayaan (Powerlessness) yaitu ketidakmampuan individu untuk
        mencegah munculnya ancaman yang berpengaruh terhadap aspek-aspek
        pekerjaan secara keseluruhan yang teridentifikasi pada komponen sebelumnya.
        Indikator dalam dimensi ini, yaitu:
        a) Ketidakberdayaan untuk mempertahankan pekerjaan
        b) Ketidakberdayaan dalam menghadapi keadaan yang ada pada lingkungan
        kerja

      Bentuk-bentuk Job Insecurity


      Menurut (Hvinden, 2019:40) menyatakan bahwa bentuk job insecurity
      terbagi menjadi dua antara lain:

      1. Quantitative Job Insecurity (Ketidakamanan Pekerja Kuantitatif)
        Dimana job insecurity pada bentuk ini merupakan sebuah perasaan khawatir
        akan kehilangan pekerjan itu sendiri, dan rasa kehilangan pekerjaan dimasa
        yang akan datang (ketidakpastian akan masa depan pekerjaan), hal ini umum
        mengacu pada kondisi individu perusahaan.
      2. Qualitative Job Insecurity (Ketidakamanan Pekerja Kualitatif)
        Dimana job insecurity pada bentuk ini mengacu pada adanya potensi kerugian
        dalam posisi organisasi, seperti memburuknya kondisi kerja, kurangnya
        kesempatan karir, dan penurunan gaji pengembangan (ketidakpastian terhadap
        posisi yang dimilikinya saat ini untuk masa depan), hal ini umum mengacu
        pada kondisi perusahaan dan kebijakan di dalamnya.
        2.1.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Job Insecurity
        Menurut (Probst, 2016:50) job insecurity dipengaruhi oleh beberapa faktor
        diantaranya:
      3. Kondisi organisasi dan lingkungan, antara lain perubahan organisasi,
        komunikasi organisasi atau organizational communication, dukungan dari
        organisasi, persepsi dapat dipekerjakan, fitur-fitur pada pekerjaan seperti
        ambiguitas peran atau role ambiguity.
      4. Karakteristik individu dan posisi pekerjaan antara lain usia, gender, status
        sosial ekonomi, tipe kontrak
      5. Karakteristik personal antara lain self-esteem, kepribadian, neuroticism.

      Pengertian Job Insecurity


      Job insecurity (ketidakamanan kerja) merupakan sebuah kondisi yang
      berhubungan dengan rasa takut seseorang akan kehilangan pekerjaannya atau
      prospek akan penurunan jabatan (demosi) serta berbagai ancaman lainnya terhadap
      kondisi kerja yang akan menurunkan kesejahteraan dan menurunnya kepuasan
      kerja.
      Berikut adalah pengertian job insecurity menurut beberapa para ahli
      diantaranya menurut Probst, (2016:135) mengatakan “Job insecurity is the degree
      to which a job feels able to maintain the desired continuity of work, even though it
      is under threat”. Artinya: Ketidakamanan kerja adalah sejauh mana suatu pekerja
      merasa mampu mempertahankan kesinambungan pekerjaan yang diinginkan,
      meskipun berada di bawah ancaman. Pendapat serupa juga dikatakan oleh Menurut
      Hvinden (2019:35) bahwa “Job insecurity reflects the degree to which employees
      feel their jobs are threatened and feel powerless to do anything about keeping a
      job”. Artinya: ketidakamanan pekerjaan mencerminkan sejauh mana karyawan
      merasa pekerjaan mereka terancam dan merasa tidak berdaya untuk melakukan apa
      pun untuk mempertahankan pekerjaan. Juga dikatakan R. Selfert (2020:68) bahwa
      “Job insecurity is a feeling of insecurity felt by individuals regarding the
      continuation of work and aspects related to the work itself, such as salary,
      promotion opportunities, and so on.”. Artinya job insecurity adalah perasaan tidak
      aman yang dirasakan oleh individu mengenai kelanjutan pekerjaan dan aspek-aspek
      yang berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri, seperti gaji, kesempatan promosi,
      dan sebagainya

      Job Insecurity


      Menurut studi yang diselenggarakan oleh (Greenhalgh & Rosenblatt
      1984:446) memaparkan bahwa pekerja akan memperlihatkan perilaku dan sikap
      yang kian buruk karena didorong oleh tingginya kekhawatiran yaitu job insecurity
      dan berakibat pada sikap resistensi terhadap perubahan. Selain itu, pegawai akan
      memperlihatkan penurunan produktivitas dan langkah inisiatif untuk melakukan
      turnover (pindah). Job Incecurity cenderung dapat menimbulkan dampak negatif,
      baik dalam aspek non psikologis maupun aspek psikologis

      Peran Manajemen Sumber Daya Manusia


      Manajemen sumber daya manusia mempunyai peranan penting dan
      dominan dalam sebuah organisasi, hal ini berhubungan dengan upaya mewujudkan
      hasil yang ingin dicapai. Menurut Hasibuan (2019:23) mengungkapkan bahwa
      peranan manajemen sumber daya manusia adalah sebagai berikut:

      1. Menetapkan jumlah, kualitas dan penempatan tenaga kerja yang efektif sesuai
        dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan job description, job specification,
        job requirement, dan job evaluation
      2. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan pegawai berdasarkan asas the
        right man in the right place and the right man in the right job
      3. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi, dan
        pemberhentian seperti pemberian tunjangan kesehatan juga dapat berupa
        pelatihan dan pengembangan pada karyawan
      4. Meramal penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang
        akan datang, dengan mentaksir kebutuhan skill pegawai yang akan dibutuhkan
        di masa depan
      5. Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan perkembangan
        perusahaan pada khususnya seperti menciptakan target-target khusus untuk
        dapat tetap stabil dan mampu bersaing
      6. Memonitor dengan cermat undang-undang perburuhan dan kebijaksanaan
        pemberian balas jasa perusahaan yang sejenis
      7. Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh (memonitor
        segala kebijakan terbaru)
      8. Melaksanakan pendidikan, latihan, penilaian prestasi pegawai seperti
        dilakukannya training-training kerja
      9. Mengatur mutasi pegawai baik vertikal maupun horizontal
      10. Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya

      Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


      Fungsi merupakan kegiatan pokok yang dilakukan dalam suatu organisasi
      atau perusahaan. Setiap pegawai pada hakikatnya melakukan dua fungsi, pertama
      yaitu fungsi manajerial dimana kegiatan-kegiatan dilakukan dengan pekerjaan
      pikiran atau menggunakan pikiran (mental), dan yang kedua yaitu fungsi operatif
      (teknis), dimana kegiatan-kegiatan dilakukan dengan fisik. Menurut Hasibuan
      (2019: 22) menyatakan bahwa fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia
      adalah sebagai berikut:

      1. Fungsi manajerial
        a. Perencanaan (Planning)
        Perencanaan (human resources planning) adalah kegiatan merencanakan
        tenaga kerja secara efektif serta efisien agar sesuai dengan kebutuhan
        organisasi dalam membantu mewujudkan tujuan. b. Pengorganisasian (Organizing)
        Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasikan semua
        pegawai dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
        wewenang, integrasi, dan koordinasinya dalam bagan organisasi.
        c. Pengarahan (Actuating)
        Pengarahan yaitu tindakan yang mengarahkan semua pegawai, agar mau
        bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu
        tercapainya tujuan perusahaan, pegawai, dan masyarakat.
        d. Pengendalian (Controlling)
        Pengendalian adalah kegiatan kontrol/evaluasi yang beruguna untuk
        memastikan bahwa apa yang sudah direncanakan, disusun, dan
        dijalankan dapat berjalan sesuai dengan prosedur, dengan kata lain
        sebagai monitor kemungkinan ditemukannya penyimpangan.
      2. Fungsi Operasional
      3. Pengadaan (Procurement)
        Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
        indikasi untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebutuhan
        perusahaan.
      4. Pengembangan (Development)
        Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis,
        konseptual, dan moral pegawai melalui pendidikan dan pelatihan agar
        dapat menjalankan tugas dengan baik.
      5. Kompensasi (Compensation)
        Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung
        baik metreial maupun non material yang adil dan layak kepada pegawai
        sebagai imbalan jasa yang diberikannya kepada organisasi.
      6. Integrasi (Integration)
        Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
        perusahaan dan kebutuhan pegawai, agar tercipta kerja sama yang serasi
        dan saling menguntungkan, fungsi ini merupakan usaha memperoleh
        keamanan, dan kenyamanan pegawai, perusahaan, dan masyarakat.
      7. Pemeliharaan (Maintanance)
        Pemeliharaan pegawai adalah kegiatan untuk meningkatkan dan
        memelihara atau mempertahankan kondisi fisik, mental dan loyalitas
        pegawai, secara berkesinambungan agar mereka tetap mau bekerja sama
        sampai purna bakti.
      8. Kedisiplinan (Discipline)
        Kedisiplinan merupakan kunci terwujudnya tujuan, Kedisiplinan adalah
        kesadaran untuk menaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-
        norma sosial.
      9. Pemberhentian (Separation)
        Pemberhentian adalah pemutusan hubungan kerja seseorang dari suatu
        organisasi. Biasanya disebabkan oleh keinginan pegawai, keinginan
        perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab lainnya.

      Manajemen Sumber Daya Manusia


      Sumber daya manusia merupakan aset penting yang berperan sebagai faktor
      penggerak utama dalam pelaksanaan seluruh kegiatan sebuah organisasi.
      pernyataan ini diperkuat oleh Ensiklopedia Bahasa Indonesia (dalam Rahman,
      2020) yang menyatakan bahwa sumber daya manusia atau SDM merupakan unsur
      penting yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi sebuah organisasi, baik
      perusahaan ataupun sebuah instansi, hal ini terjadi karena sumber daya manusia
      adalah barometer yang menentukan perkembangan sebuah organisasi dan
      merupakan modal serta kekayaan yang terpenting dari setiap kegiatan manusia.
      Berikut definisi manajemen sumber daya manusia (MSDM) menurut para
      ahli yaitu Menurut Dessler (2017:6) mengemukakan bahwa “Manajemen sumber
      daya manusia adalah suatu kebijakan dan praktik menentukan aspek “Manusia”
      atau sumber daya manusia dalam posisi manajemen termasuk merekrut, melatih,
      memberikan penghargaan dan penilaian”. Sama halnya dengan pendapat dari Henry
      Simamora (2016:3) yang menyatakan bahwa “Manajemen Sumber Daya Manusia
      adalah pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa dan
      pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok kerja”. Sama halnya
      Menurut Afandi (2018:3). menyatakan “Manajemen sumber daya manusia adalah
      penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan dan penggunaan sumber daya
      manusia untuk mencapai tujuan individu atau organisasi.” Lain halnya menurut
      Hasibuan (2019:20) menyatakan bahwa “Manajemen Sumber Daya Manusia
      adalah ilmu dan seni yang mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar aktif
      dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, pegawai dan masyarakat.”

      Unsur-unsur Manajemen


      Setiap organisasi harus memiliki unsur-unsur untuk membentuk sistem
      manajerial yang baik dan harmoni. Peranan unsur ini terkait dengan pelaksanaan
      fungsi manajemen, dimana apabila salah satu diantaranya tidak ada atau tidak
      berfungsi dengan baik, maka akan berdampak pada taraf pencapaian tujuan
      organisasi. berikut unsur-unsur manajemen menurut George R. Tery dalam
      Hasibuan, (2019:50):

      1. Manusia (Man)
        Manusia pada elemen ini merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki
        organisasi, artinya sumber daya manusia yang sudah memiliki kualifikasi dan
        kompetensi yang dibutuhkan oleh organisasi. faktor manusia adalah yang
        paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang
        melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses
        kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah mahluk kerja.
      2. Uang (Money)
        Uang merupakan alat tukar dan alat pengukuran nilai. Besar-kecilnya hasil
        kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh
        karena itu uang merupakan alat yang penting untuk mencapai tujuan karena
        segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan
        dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja,
        alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai
        dari suatu organisasi.
      3. Material (Materials)
        Material merupakan bahan mentah, bahan setengah jadi dan bahan jadi. Dalam
        dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli
        dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/material-material
        sebagai salah satu sarana. Sebab material dan manusia tidak dapat dipisahkan,
        tanpa material tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
      4. Mesin (Machines)
        Penggunaan mesin dalam proses produksi adalah hal yang mutlak. Penggunaan
        mesin akan membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih
        besar serta menciptakan efesiensi kerja.
      5. Metode (Methods)
        Metode dapat diartikan sebagai suatu cara untuk melakukan kegiatan agar
        diperoleh hasil yang berkualitas, efektif dan efisien. Suatu tata cara kerja yang
        baik akan memperlancar jalannya pekerjaan.
      6. Pasar (Market)
        Pasar merupakan tempat memasarkan produk atau jasa. Bagi organisasi yang
        bergerak di bidang industri yang motifnya adalah keuntungan, maka pasar
        merupakan unsur manajemen yang penting. Dengan adanya pasar, maka
        produk yang diproduksinya dapat terjual dengan sukses.

      Fungsi Manajemen


      Fungsi manajemen merupakan elemen-elemen dasar yang melekat pada
      proses manajerial. Fungsi ini dijadikan sebagai acuan untuk mengatur kegiatan di
      perusahaan agar berjalan dengan baik dan mencapai tujuan dengan efektif juga
      efisien. Menurut George R. Tery dalam Hasibuan (2019:130) terdapat empat
      elemen dari fungsi manajemen yaitu:

      1. Perencanaan (Planning)
        Perencanaan adalah proses yang mendefinisikan tujuan dari organisasi,
        membuat strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dari organisasi,
        serta mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
      2. Pengorganisasian (Organizing)
        Pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan atau
        alokasi sumber daya organisasi dalam bentuk desain organisasi atau struktur
        organisasi sesuai dengan tujuan perusahaan yang tertuang di dalam visi dan
        misi perusahaan, sumber daya organisasi, dan lingkungan bisnis perusahaan
        tersebut.
      3. Pengarahan (Actuating)
        Pengarahan adalah suatu tindakan eksekusi terhadap rencana yang telah
        dituangkan dalam bentuk plan. Serta pembagian kerja sumber daya yang ada
        pada organisasi agar kegiatan berjalan sesuai dengan rencana.
      4. Kontrol (Controling)
        Kontrol adalah bentuk pengawasan atau pengendalian dari sebuah gerakan
        yang telah dilakukan oleh organisasi agar berjalan sesuai dengan harapan

      Manajemen


      Secara etimologis, kata manajemen berasal dari berbagai bahasa, yang
      pertama yaitu dari bahasa perancis kuno yakni management, yang berarti seni
      melaksanakan dan mengatur. Lalu dalam bahasa italia yaitu meneggiare yang
      memiliki arti mengendalikan. Sedangkan dari bahasa inggris berasal dari kata to
      manage yang artinya mengelola atau mengatur.
      Berikut merupakan pengertian manajemen menurut para ahli diantaranya ada
      pendapat dari G.R Terry dalam Winardi (2016:11) mengemukakan bahwa
      manajemen merupakan suatu proses yang terdiri dari perencanaan (Planning),
      pengorganisasian (Organizing), pengawasan (Controlling) dan mobilisasi untuk
      menentukan dan mencapai tujuan yang ditetapkan melalui penggunaan sumber
      daya manusia dan sumber daya lainnya. Sedangkan pendapat Menurut Robbins dan
      Mary yang dialih bahasa oleh Ratna Saraswati yang mendefinisikan bahwa
      (2016:36) “Manajemen adalah proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan
      kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara efisien dan efektif dengan melalui
      orang lain.” Dan sama halnya dengan pendapat Menurut Hasibuan (2017:9)
      “Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya
      manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu
      tujuan tertentu.”
      Selain itu menurut Afandi (2018:1) mengemukakan bahwa :
      “Manajemen adalah bekerja dengan orang-orang untuk mencapai tujuan
      organisasi dengan pelaksanaan fungsi perencanaan (planning),
      pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian
      (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan
      (controlling).”

      Engagement Rate


      Engagement rate merupakan indikator yang sangat penting dipahami dan
      dimengerti oleh para influencer dan digital marketer untuk menilai keterlibatan
      audiens dengan post yang sudah dipublikasikan. Dikutip dari halaman resmi
      Hopperhq, engagement rate adalah suatu metrik standar yang dimanfaatkan
      dalam pemasaran media sosial dalam mengukutr performa pada suatu konten di
      platform media sosial, khususnya di Instagram. Jika suatu konten bisa
      mendapatkan banyak perhatian dari pihak followers dalam bentuk like maupun
      komen, maka pengetahuan publik pada suatu brand akan secara otomatis
      meningkat.
      Selain mengacu pada sebuah tindakan, komunikasi media sosial ini pun
      perlu memperhatikan apa yang disebut dengan user engagement. Maka user
      engagement di media sosial pun bisa memperhatikan empat indikator berikut :
      a. Reaksi terhadap konten (reacting to content).
      b. Berkomentar terhadap konten ( commenting on content).
      c. Berbagi konten ke pengguna lainya (sharing konten with others).
      d. Posting konten sebagai respons (posting user generated content

      Pengaruh Brand Engagement sebagai pemediasi terhadap Brand Experience dan Brand Loyalty


      Kesetiaan konsumen terhadap merek, dapat mempengaruhi tingkat brand
      engagement atau keterlibatan konsumen dengan merek. Konsumen yang loyal
      cenderung memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi dengan merek tersebut.
      Merek yang berhasil membangun kesetiaan konsumen dapat meningkatkan
      keterlibatan konsumen dengan merek melalui partisipasi dalam aktivitas merek,
      penyebaran kata tentang merek, dan interaksi dengan merek Vivek et al., (2012).
      Brand engagement atau keterlibatan konsumen dengan merek juga
      memiliki pengaruh terhadap brand experience. Konsumen yang terlibat secara
      aktif dengan merek cenderung memiliki pengalaman yang lebih kaya dan berarti
      dengan merek. Mereka akan mencoba berbagai produk dan layanan merek,
      berpartisipasi dalam kegiatan merek. Brand engagement memperkaya brand
      experience dengan memberikan konsumen peluang untuk merasakan merek secara
      lebih menyeluruh. Konsumen yang loyal terhadap merek cenderung memiliki
      brand experience yang lebih positif karena mereka telah mengembangkan
      hubungan emosional dan persepsi positif terhadap merek tersebut Batra et al.,
      (2021).

      Pengaruh Brand Engagement terhadap Brand Loyalty


      Dalam Bailey et al., (1999) dan Gremler et al., (2002) menyatakan
      bahwa brand engagement memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap
      brand loyalty. Dalam penelitiannya, dapat disimpulkan bahwa konsumen yang
      terlibat secara aktif dengan merek cenderung memiliki tingkat loyalitas yang lebih
      tinggi. Keterlibatan yang tercipta berperan untuk menciptakan ikatan emosional
      yang tinggi. Ketika konsumen merasa terlibat secara aktif dengan merek, baik
      melalui interaksi sosial, partisipasi dalam program loyalitas, atau pengalaman
      positif dengan produk atau layanan merek, mereka cenderung memiliki ikatan
      emosional yang lebih kuat dengan merek tersebut. Melalui brand engagement,
      konsumen dapat mengembangkan persepsi nilai yang tinggi terhadap merek.
      Mereka merasa terlibat dan terlibat secara aktif dengan merek, menghargai
      manfaat dan nilai yang diberikan oleh merek tersebut.
      Secara keseluruhan, brand engagement yang positif dan kuat dapat
      mempengaruhi brand loyalty dengan menciptakan keterikatan emosional, persepsi
      nilai yang tinggi, interaksi positif, rekomendasi, dan pembelian berulang. Merek
      yang mampu mendorong brand engagement yang baik memiliki peluang yang
      lebih tinggi untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen dan
      meningkatkan brand loyalty.

      Pengaruh Brand Experience terhadap Brand Engagement


      Pada hakikatnya brand experience itu dihasilkan dari pengalaman
      motivasi Waqas, (2022). Dalam kata lain bisa kita simpulkan bahwa brand
      experience yang baik memicu munculnya brand engagement. pengalaman yang
      positif dengan merek cenderung meningkatkan keterlibatan merek. Pelanggan
      yang memiliki pengalaman positif dengan produk atau layanan merek dan merasa
      puas dengan interaksi mereka dengan merek lebih mungkin untuk merasa terlibat
      dengan merek tersebut. Pengalaman positif ini dapat mencakup aspek-aspek
      seperti kualitas produk, pelayanan pelanggan, desain, dan emosi yang dirasakan
      oleh pelanggan saat berinteraksi dengan merek.
      Jadi, dapat dikatakan bahwa brand experience berpengaruh terhadap
      brand engagement apabila konsumen memiliki pengalaman yang tinggi dan
      menumbuhkan keterlibatan secara emosional dengan merek. sebagai reaksi
      internal dan subjektif siswa terhadap kontak langsung atau tidak langsung dengan
      merek tersebut perguruan tinggi di berbagai titik kontak Waqas, (2022). Ketika
      pelanggan memiliki pengalaman positif dengan merek, mereka cenderung
      menjadi lebih terlibat dengan merek tersebut. Dengan demikian, menciptakan
      brand experience yang positif dan membangun hubungan yang kuat dengan
      pelanggan merupakan strategi penting dalam mencapai brand engagement yang
      tinggi.

      Pengaruh Brand Experience terhadap Brand Loyalty


      Pada prinsipnya konsep pengalaman memiliki berbagai macam definisi
      yang berbeda menurut penjelasan para ahli, namun pada intinya tetap merujuk
      pada konsepsi dasar yang sama. Dasar terbentuknya perasan yang loyal adalah
      dari pengalaman yang pernah kita alami. Dimana brand experience yang positif
      dapat menghasilkan ikatan emosional antara merek dan konsumen, yang pada
      hakikatnya memperkuat brand loyalty, Smith & Keller, (2021). Ikatan ini tidak
      hanya didasarkan pada atribut rasional atau manfaat fungsional, tetapi juga pada
      hubungan emosional yang terjalin antara konsumen dan merek.
      Jadi, dapat dikatakan bahwa brand experience berpengaruh terhadap
      loyalitas karena apabila konsumen memiliki pengalaman dan menumbuhkan
      ikatan emosional dengan merek, mereka cenderung merasa terhubung secara
      pribadi dan setia terhadap merek tersebut. Ketika konsumen menerima brand
      experience yang baik, Maka konsumen merasa senang, terpenuhi, dan terkoneksi
      dengan merek, mereka cenderung lebih setia terhadap merek tersebut dan
      memilihnya kembali di masa depan.

      Loyalitas Merek (Brand Loyalty)


      Loyalitas merek adalah komitmen yang mendalam untuk membeli
      kembali produk atau layanan secara konsisten di masa depan, meskipun pengaruh
      situasional dan upaya pemasaran berpotensi menyebabkan perilaku beralih
      Teeroovegadum (2019). Loyalitas mahasiswa dalam konteks pendidikan tinggi
      melibatkan perilaku seperti memberikan word-of-mouth positif terkait universitas,
      merekomendasikan universitas kepada orang lain, dan memilih universitas yang
      sama lagi di masa depan Teeroovegadum (2019).
      Brand Loyalty menggambarkan keberpihakan konsumen terhadap suatu
      merek, yang tercermin dalam keinginan mereka untuk melakukan pembelian
      berulang dari merek tersebut. Brand loyalty adalah sikap positif dan kesetiaan
      yang konsisten yang dimiliki oleh konsumen terhadap suatu merek atau
      perusahaan. Loyalitas merek mengacu pada keterikatan individu pada merek
      tertentu, dan merupakan faktor penting dari manajemen merek Shaalan et al.,
      (2022) Dari definisi tersebut dapat disimpulkan Brand loyalty adalah hasil dari
      kepuasan konsumen yang berkesinambungan terhadap merek, yang mengarah
      pada kecenderungan untuk mempertahankan pembelian merek tersebut dan
      menghindari merek pesaing.
      Secara umum, brand loyalty melibatkan kecenderungan konsumen untuk
      membeli secara berulang dari suatu merek, merasa puas dengan pengalaman
      mereka, dan memiliki komitmen serta kepercayaan yang kuat terhadap merek
      tersebut. Berikut Indikator untuk mengukur Brand Loyalty:
      a. Tingkat Pembelian Berulang
      Indikator utama brand loyalty adalah sejauh mana konsumen melakukan
      pembelian berulang dari suatu merek. Jika konsumen secara konsisten
      memilih dan membeli produk atau layanan dari merek tertentu, itu
      menunjukkan adanya tingkat brand loyalty yang tinggi.
      b. Partisipasi dalam Program Loyalitas
      Jika konsumen secara aktif terlibat dalam program loyalitas merek, seperti
      mengumpulkan poin atau menggunakan kartu keanggotaan, hal ini
      menunjukkan tingkat brand loyalty yang tinggi. Konsumen yang terlibat
      dalam program loyalitas biasanya memiliki motivasi untuk terus membeli
      dari merek tersebut.
      c. Tingkat Penolakan terhadap Merek Pesaing
      Jika konsumen menunjukkan penolakan terhadap merek pesaing dan secara
      konsisten memilih merek tertentu, itu dapat dianggap sebagai indikator
      brand loyalty yang tinggi. Konsumen yang setia akan tetap memilih merek
      mereka bahkan ketika ada alternatif yang tersedia.
      d. Tingkat Kesetiaan Merek
      Mengukur sejauh mana konsumen setia terhadap merek tertentu juga
      merupakan indikator brand loyalty yang penting. Ini dapat dilakukan
      dengan melihat seberapa sering konsumen memilih merek tersebut
      dibandingkan dengan merek pesaing dalam situasi pembelian yang sama.

      Keterlibatan Merek (Brand Engagement)


      Waqas, (2022) mendefinisikan brand engagement sebagai upaya
      kognitif, emosional, dan perilaku konsumen untuk berinteraksi dengan merek
      yang digunakan konsumen. Brand engagement adalah keterikatan mahasiswa
      secara kognitif, emosional dan behavioral dengan sumber daya yang terkait
      dengan pengalaman pendidikan mereka di suatu perguruan tinggi Waqas, (2022).
      Definisi ini juga digunakan dalam penelitian Sohaib et. al., (2023) yang
      menjelaskan bahwa brand engagement adalah kombinasi faktor afektif, kognitif,
      dan perilaku yang dalami konsumen dengan merek.
      Wijaya, (2019) mendefinisikan brand engagement sebagai sikap,
      perilaku, tingkat keterhubungan antara pelanggan, antara pelanggan dengan
      karyawan, dan antara pelanggan dengan karyawan dalam perusahaan. Terdapat
      beberapa hal untuk menganalisis tiga dimensi Brand Engagement, antara lain:

      1. Kognitif
        Tingkat keterlibatan objek pelanggan terkait dengan proses berpikir,
        konsentrasi, dan minat pada objek tertentu.
      2. Emotional
        Dapat dinyatakan sebagai “lampiran” konsumen, yaitu perasaan positif
        untuk merek tertentu seperti produk yang sesuai dengan harapan
        konsumen dan konsumen memiliki rasa kebanggaan setelah
        menggunakan produk.
      3. Behavioral
        Behavioral berhubungan dengan makna dari kata “terlibat

      Pengalaman Merk (Brand Experience)


      Brand Experience didefinisikan sebagai sensasi, perasaan, perilaku dan
      intelektualitas yang merupakan tanggapan akibat adanya ransangan merek yang
      meliputi desain, identitas merek, kemasan, komunikasi, dan lingkungan dalam
      Waqas, et al. (2022) yang menggunakan definisi ini untuk meneliti brand
      experience pada perguruan tinggi. Adapun menurut Yu et al., (2021), brand
      experience adalah pengalaman merek didefinisikan sebagai keyakinan konsumen
      bahwa pengalaman mereka konsisten di seluruh saluran pemasaran (yaitu, online
      dan saluran luring). Hal ini didukung oleh pendapat Wijaya, (2019) yang
      menyatakan bahwa brand experience merupakan perasaan pelanggan karena
      interaksi mereka dengan barang, layanan, dan atmosfer.
      Waqas, (2022) mendefinisikan brand experience sebagai subjektif, respon
      konsumen internal dan respon pelanggan terhadap rangsangan merek, seperti
      nama,logo, maskot, pengemasan, komunikasi pemasaran, suasana toko dan
      lingkungan. Pada pandangan tersebut dapat dipahami bahwa brand experience
      merupakan variabel yang dapat menjadi alat ukur untuk melihat respon pelanggan
      terhadap produk yang telah dibeli. Hal tersebut juga didukung oleh dimensi
      pengukuran yang terdapat pada brand experience. Waqas, (2022) menyatakan
      terdapat empat dimensi brand experience, antara lain:

      1. Sensasi (sensory): melibatkan rangsangan dari organ indera dengan
        melihat, mendengar, dan menyentuh
      2. Perasaan (Affection): mengacu pada aktivasi perasaan dan emosi pada
        saat interaksi dengan objek
      3. Intelektual (kognisi/pengetahuan): stimulasi kognitif, pemikiran,
        elaborasi informasi terkait merek, dan rasa ingin tahu.
      4. Perilaku (behavior): adanya perilaku fisik atau tindakan yang merupakan
        gaya hidup konsumen sejak lama

      Pengaruh Employee engagement Terhadap Kinerja Karyawan Melalui KepuasanKerja


      Employee engagement dan kepuasan kerja memiliki hubungan yang erat dan
      saling memengaruhi. Employee engagement, yang mencakup keterlibatan,
      motivasi, dan komitmen karyawan terhadap pekerjaan dan organisasi, dapat secara
      langsung mempengaruhi tingkat kepuasan kerja. Sebaliknya, tingkat kepuasan kerja
      yang tinggi dapat memperkuat keterlibatan karyawan dan berkontribusi pada
      peningkatan kinerja mereka. Ketika karyawan merasa terlibat dalam pekerjaan
      mereka, mereka cenderung memiliki tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi.
      Keterlibatan menciptakan rasa koneksi emosional dan komitmen terhadap tujuan
      organisasi, yang pada gilirannya meningkatkan kepuasan karyawan terhadap
      kontribusi mereka. Karyawan yang merasa diakui, dihargai, dan memiliki peran
      yang bermakna dalam mencapai tujuan organisasi cenderung merasakan tingkat
      kepuasan yang lebih tinggi (Niken Ayu Safitri, 2020)

      Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan


      Kepuasan kerja karyawan memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja
      mereka dalam suatu organisasi. Ketika karyawan merasa puas dengan pekerjaan
      mereka, mereka cenderung menunjukkan tingkat motivasi dan komitmen yang
      lebih tinggi terhadap tugas-tugas mereka. Kepuasan kerja menciptakan lingkungan
      di mana karyawan merasa diakui, dihargai, dan puas dengan kondisi kerja mereka,
      yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas pekerjaan.
      Karyawan yang puas dengan pekerjaan mereka lebih mungkin untuk terlibat secara
      positif dalam tugas sehari-hari mereka. Mereka cenderung berkontribusi lebih aktif
      dalam mencapai tujuan organisasi karena merasa terhubung dengan visi dan nilai-
      nilai perusahaan. Selain itu, tingkat kepuasan yang tinggi seringkali berdampak
      positif pada retensi bakat, mengurangi turnover karyawan, dan menciptakan
      kestabilan dalam organisasi (Isnaeni, 2018).
      Kepuasan kerja juga dapat mempengaruhi aspek-aspek lain dari kinerja
      karyawan, seperti kreativitas dan inovasi. Karyawan yang merasa senang dengan
      pekerjaan mereka lebih mungkin untuk berpikir kreatif, mengemukakan ide baru,
      dan mencari solusi inovatif untuk tantangan yang dihadapi oleh organisasi.
      Sementara itu, kepuasan kerja yang rendah dapat menyebabkan ketidakpuasan,
      kurangnya motivasi, dan penurunan kinerja. Karyawan yang tidak puas mungkin
      tidak terlibat sepenuhnya dalam pekerjaan mereka, mengalami stres, dan memiliki
      tingkat absensi yang lebih tinggi (Puspita and Atmaja 2020)

      Pengaruh Employee engagement Berpengaruh Terhadap Kepuasan Kerja


      Employee engagement berperan penting dalam membentuk kepuasan kerja
      karyawan. Keterlibatan karyawan menciptakan ikatan emosional dan komitmen
      terhadap pekerjaan serta organisasi. Karyawan yang terlibat cenderung lebih
      termotivasi, merasa dihargai, dan memiliki tanggung jawab yang kuat terhadap
      kesuksesan perusahaan. Motivasi ini membawa dampak positif pada kepuasan
      kerja, karena karyawan merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki arti dan
      memberikan kontribusi yang berarti. Selain itu, Employee engagement memperkuat
      hubungan positif antara karyawan dan rekan kerja serta atasan, menciptakan
      lingkungan kerja yang mendukung dan memuaskan. Adanya pengakuan dan
      penghargaan atas kinerja karyawan juga meningkatkan kepuasan kerja, karena
      karyawan merasa diakui dan dihargai. Peluang untuk pengembangan profesional
      dan partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan karyawan rasa
      memiliki, yang dapat meningkatkan kepuasan mereka terhadap pekerjaan. Secara
      keseluruhan, Employee engagement tidak hanya memengaruhi kinerja, tetapi juga
      secara positif membentuk pengalaman kerja yang memuaskan dan bermakna bagi
      karyawan (Rohana Manalu et al., 2021).

      Pengaruh Employee engagement terhadap Kinerja Karyawan


      Employee engagement, atau keterlibatan karyawan, memiliki peran yang
      sangat signifikan dalam membentuk dan meningkatkan kinerja individu di
      lingkungan kerja. Ketika karyawan merasa terlibat, mereka cenderung lebih
      termotivasi untuk memberikan usaha maksimal dalam pekerjaan mereka.
      Keterlibatan menciptakan koneksi emosional dan psikologis antara karyawan dan
      organisasi, memotivasi mereka untuk bekerja menuju tujuan bersama. Karyawan
      yang terlibat juga cenderung memiliki tingkat komitmen yang tinggi terhadap visi
      dan nilai-nilai perusahaan, menciptakan rasa tanggung jawab yang kuat terhadap
      kesuksesan organisasi. Di samping itu, lingkungan kerja yang mendorong
      keterlibatan juga merangsang kolaborasi yang baik dan peningkatan kinerja tim,
      karena karyawan merasa terhubung dengan rekan kerja mereka dan bersama-sama
      bergerak menuju tujuan Bersama (Sucahyowati & Hendrawan, 2020).
      Employee engagement juga berkontribusi pada stimulasi inovasi, karena
      karyawan yang terlibat lebih cenderung untuk berbagi ide, mengambil risiko yang
      sehat, dan mencari solusi kreatif. Dengan memberikan peluang untuk
      pengembangan pribadi dan profesional, Employee engagement juga dapat
      meningkatkan keterampilan karyawan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan
      kinerja individu secara keseluruhan. Oleh karena itu, keterlibatan karyawan tidak
      hanya menciptakan atmosfer kerja yang positif, tetapi juga memiliki dampak yang
      positif secara langsung pada produktivitas, kepuasan pelanggan, dan pertumbuhan
      jangka panjang organisasi (Rohana Manalu et al., 2021)

      Indikator Kepuasan Kerja


      Menurut Herzberg dalam Atthohiri and Wijayati (2021) terdapat beberapa
      indicator yang mempengaruhi kepuasan kerja meliputi :

      1. Achievement (Prestasi Kerja)
        Merupakan prestasi kerja seseorang. Hal ini dapat termasuk penyelesaian
        pekerjaan dengan sukses, solusi untuk sebuah masalah, pembuktian, dan
        melihat hasil kerja seseorang.
      2. Recognition (Pengakuan)
        Merupakan pengakuan yang diberikan kepada karyawan atas hasil kerjanya.
        Kriteria utama dari recognition adalah tindakan pengakuan. Sumbernya bisa
        terdapat dari semua orang: supervisor, beberapa individu lain dalam
        manajemen, manajemen sebagai kekuatan impersonal (tidak bersifat pribadi),
        klien, rekan kerja, rekan profesional atau masyarakat umum. Beberapa tindakan
        yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah pujian atau kesalahan.
      3. Work it Self
        Tantangan pekerjaan yang dirasakan oleh karyawan. Work it self digunakan saat
        responden menyebutkan pekerjaan sebenarnya atau tugas pekerjaan sebagai
        sumber dari perasaan baik atau buruk tentang hal itu. Pekerjaan ini bisa bersifat
        monoton atau bermacam-macam, menginspirasi atau melemahkan semangat,
        terlewat mudah atau terlampau susah.
      4. Advancement (Kemajuan)
        Merupakan besar kecilnya peluang untuk dapat maju di perusahaannya.
      5. Growth (Pertumbuhan)
        Merupakan kemungkinan karyawan tumbuh dan berkembang dalam
        perusahannya. Perubahan status yang secara resmi dan memungkinkan
        seseorang dapat naik di perusahaan, atau sebaliknya

      Pengertian Kepuasan Kerja


      Seorang individu yang bekerja pada suatu organisasi, juga memiliki
      kebutuhan yang ingin dipenuhi. Ketika kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh
      suatu organisasi di mana ia bekerja, maka seorang individu akan merasakan
      kepuasan kerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan kebutuhan yang harus
      dipenuhi pada diri setiap karyawan. Dengan terpenuhinya kebutuhan tersebut, maka
      seorang karyawan akan merasa terdorong untuk lebih menyukai pekerjaannya
      (Isnaeni, 2018).
      Dalam Yordan Kalos et al. (2023) menyatakan, kepuasan kerja merupakan
      pemikiran karyawan yang menghasilkan persepsi karyawan mengenai seberapa
      tinggi tingkat manfaat dari pekerjaan mereka memberikan hal-hal yang mereka
      anggap penting. Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa kepuasan
      kerja merupakan sebuah sikap dan pernyataan yang menggambarkan keadaan
      emosi yang menyenangkan atau positif yang didapatkan dari pemikiran serta
      penilaian seseorang terhadap pekerjaannya atau pengalaman kerjanya.
      Sinurat (2017) mengatakan kepuasan kerja merupakan penerapan dari rasa
      mencintai pekerjaan yang dilihat dari moral kerja, kedisiplinan serta prestasi yang
      dicapai. Sedangkan Puspita and Atmaja (2020) mengemukakan definisi kepuasan
      kerja adalah upah, kondisi lingkungan kerja, kondisi fisik dan juga psikologis yang
      sesuai dengan perspektif diri

      Indikator Employee engagement


      Menurut Schaufeli dalam Winowoda (2018) keterikatan karyawan
      merupakan pemikiran yang positif dan bahagia mengenai pekerjaan yang dapat
      dilihat dari beberapa tanda yakni vigor, dedication, dan absorption. Ketiga elemen
      tersebut adalah.

      1. Vigor (Semangat)
        Elemen ini adalah engaged karyawan yang ditunjukkan karyawan melalui
        kekuatan fisik dan mentalnya ketika mengerjakan tugas yang diberikan. Vigor
        dapat dilihat dari tingginya tingkat power dan mental dalam bekerja,
        mencurahkan energi yang dimiliki sepenuhnya, berani dalam menyelesaikan
        pekerjaan dengan sekuat tenaga, kesungguhan dalam melaksanakan pekerjaan
        yang diberikan, tidak putus asa dan bertahan ketika menghadapi kesulitan dalam
        menyelesaikan suatu pekerjaan.
      2. Dedication (Dedikasi)
        Dedikasi adalah sebuah engaged karyawan secara emosional terhadap
        pekerjaannya. Dedikasi dilihat melalui antusiasme karyawan ketika bekerja,
        membanggakan pekerjaan yang dilakukan dan bangga dengan tempat dia
        bekerja, selalu terinspirasi dan tekun sampai akhir pada perusahaan tanpa adanya
        rasa terancam dengan tantangan yang dihadapi kedepannya. Karyawan yang
        memiliki rasa dedikasi tinggi menyatukan diri dengan pekerjaan karena mereka
        menganggap pekerjaan mereka adalah pengalaman berharga, inspirasi dan
        tantangan. Mereka selalu antusias dengan pekerjaan dan hasilnya serta antusias
        dengan perusahaan yang di tempatinya. Sedangkan karyawan yang memiliki
        rasa dedikasi yang rendah tidak memiliki pengalaman yang berharga karena
        mereka tidak antusias dan bangga terhadap apa yang mereka kerjakan dan tidak
        bangga dengan perusahaan mereka.
      3. Absorption (Penyerapan)
        Elemen ini digambarkan dengan gerak gerik dan perilaku karyawan yang
        mencurahkan perhatian secara penuh kepada pekerjaannya. Penyerapan
        menunjukkan karyawan yang tenggelam secara penuh dalam tugas yang di
        kerjakannya, mereka berkonsentrasi tinggi, serta serius dalam menyelesaikan
        pekerjaannya. Karyawan yang memiliki absorption yang tinggi merasa waktu
        berjalan dengan cepat ketika mereka mengerjakan tugas sehingga sulit untuk
        melepaskan diri dari pekerjaan

      Tipe Karyawan Berdasarkan Tingkat Employee engagement


      Menururt Gallup dalam (Rohana Manalu et al., 2021) terdapat beberapa tipe
      karyawan didalam suatu organisasi yang dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan
      tingkat keterikatan yang dijabarkan sebagai berikut:

      1. Engaged
        Seorang penggerak atau pembangun dalam perusahaan adalah karyawan
        yang engaged (terikat). Karyawan ini akan bekerja secara penuh dalam
        menyelesaikan semua tanggung jawab pekerjaan yang telah diberikan
        kepadanya. Ketika bekerja karyawan ini tidak memiliki keraguan untuk
        menunjukkan dan mencurahkan segala energi mereka sepenuhnya, serta
        karyawan ini akan selalu berusaha mengembangkan talenta yang dimiliknya.
      2. Not Engaged
        Karyawan not engaged akan condong untuk fokus pada tugas yang
        diberikan dibandingkan dengan hasil dari pekerjaan yang diberikan. Mereka
        hanya melaksanakan pekerjaan sesuai dengan bagian tugas yang diberikan dan
        sesuai dengan bayaran yang didapatkan dari perusahaan. Dalam mengerjakan
        sesuatu karyawan ini tidak memiliki inisiatif dan hanya menunggu perintah yang
        diberikan serta sering tidak bertenaga dan semangat yang rendah ketika
        menyelesaikan pekerjaan.
      3. Actively Disengaged
        Tipe ini adalah seorang karyawan yang tidak terikat, karyawan ini secara
        terus terang dan tidak sembunyi-sembunyi dalam memperlihatkan perasaan yang
        kurang bahagia dan tidak puas mengenai hal yang mereka kerjakan. Karyawan
        ini terus menerus memperlihatkan perlawanan dan hanya berpikiran negatif serta
        melihat sisi buruk di berbagai kesempatan yang ada.
        Didapatkan kesimpulan bahwa tingkat tertinggi dalam keterikatan
        karyawan adalah engaged, not engaged adalah karyawan yang tidak terlalu
        merasa terikat dengan pekerjaan yang berarti karyawan tersebut hanya bekerja
        sesuai porsi pekerjaan mereka dan sesuai dengan bayaran yang mereka dapatkan,
        dan actively disengaged adalah tipe karyawan yang benar-benar tidak terikat
        dengan perusahaan dan mereka secara langsung memperlihatkan hal tersebut.

      Pengertian Employee engagement


      Employee engagement secara sederhana dapat diartikan sebagai keterikatan
      karyawan dengan perusahaan dimana karyawan tersebut bekerja. Keterikatan
      karyawan dapat semakin berkembang disebabkan karena adanya suatu kecocokan
      antara karyawan dengan visi serta misi yang dijalani oleh perusahaan. Perusahaan
      perlu memperhatikan keterikatan karyawan, karena semakin tinggi tingkat
      keterikatan karyawan terhadap pekerjaan maupun perusahaannya maka semakin
      tinggi dampak positif yang mempengaruhi kepada komitmen, loyalitas, bahkan
      kinerja perusahaan (Sucahyowati & Hendrawan, 2020).
      Dalam Rohana Manalu et al., (2021) berpendapat bahwa employee
      engagement dapat dilhat dalam bentuk energi, keterlibatan serta usaha yang
      terfokus untuk mencapai tujuan organisasi. Pengertian employee engagement yang
      dikemukakan oleh Wicaksono and Rahmawati (2020) yang mengartikan atau
      mendefinisikan keterikatan karyawan sebagai pemikiran positif mengenai
      pekerjaan yang mempengaruhi dedikasi, semangat, dan perhatian penuh karyawan.

      Indikator Kinerja Karyawan


      Meningkat atau menurunnya kinerja karyawan dapat dicermati melalui
      beberapa aspek. Untuk meningkatkan kinerja perusahaan ada aspek yang harus
      dimiliki oleh karyawan sebuah perusahaan. Menurut Bernadin dan Russell dalam
      Sucahyowati and Hendrawan (2020) ada enam kriteria untuk mengukur kinerja
      karyawan yang yaitu:

      1. Kualitas
        Kesempurnaan hasil kerja karyawan yang sudah memenuhi standar dan tujuan
        yang telah ditetapkan oleh peraturan perusahaan sebelumnya.
      2. Kuantitas
        Tingkat penyelesaian kerja karyawan sesuai dengan standar penyelesaian yang
        telah ditetapkan oleh perusahaan.
      3. Timeliness
        Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar waktu yang telah ditetapkan
        oleh perusahaan.
      4. Cost Effectiveness
        Menghemat biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan menggunakan
        energi serta kemampuan karyawan untuk menghasilkan keuntungan yang
        maksimal.
      5. Need for Supervision
        Karyawan selalu bekerja dengan baik tanpa perlu adanya sebuah pengawasan
        untuk mencapai peningkatan.
      6. Interpersonal Impact
        Karyawan yang berusaha mencapai hasil kerja yang terbaik karena memiliki rasa
        harga diri yang tinggi terhadap pekerjaan yang dimilikinya.

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


      Di dalam dunia kerja, ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kinerja
      karyawan dalam menjalankan tanggung jawabnya.Faktor-faktor yang
      mempengaruhi kinerja karyawan ada yang berasal dari intenal dan eksternal
      perusahaan maupun dari diri karyawan itu sendiri serta dari lingkungan sekitar
      perusahaan.Jika kinerja karyawan baik, maka target dan sasaran yang ingin dicapai
      dalam sebuah perusahaan akan lebih mudah tercapai. Demikian sebaliknya, jika
      kinerja karyawan buruk, maka target dan sasaran yang ingin dicapai dalam sebuah
      perusahaan akan lebih sulit tercapai (Wahyudi, 2019).
      Menurut Davis dalam (Wahyudi, 2019) adapun faktor-faktor yang
      mempengaruhi pencapaian kinerja adalah sebagai berikut :

      1. Faktor Kemampuan (ability)
        Kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan
        kemampuan reality (knowledge skill). Artinya, pegawai yang memiliki IQ di atas
        rata-rata dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam
        mengerjakan pekerjaan seharihari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja
        yang diharapkan dan sebenarnya perusahaan atau organisasi memang sangat
        membutuhkan orang-orang yang memiliki IQ di atas rata-rata. Oleh karena itu,
        pegawai perlu ditempatkan padapekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
      2. Faktor Motivasi (motivation)
        Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi
        situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri
        pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). Sikap
        mental merupakan kondisi mental yang mendorong diri pegawai untuk berusaha
        mencapai pretasi kerja secara maksimal.

      Pengertian Kinerja Karyawan


      Salah satu faktor yang menjamin kemajuan suatu perusahaan adalah pengaruh
      dari SDA yang ada. Dengan performa yang baik maka pengaruh yang diberikan ke
      perusahaan juga baik. Sausan, Nasution, and Sabrina (2021) mengatakan, kinerja
      karyawan merupakan sebuah prestasi nyata atau hasil kerja yang benar telah
      dicapai. Mangkunegara dalam (Iwan Kurnia Wijaya, 2018) berpendapat kinerja
      karyawan merupakan penyelesaian tugas dengan baik yang sesuai dengan tanggung
      jawab yang telah diberikan

      Pengaruh Kepemimpinan dan Employee Engagement terhadap Kinerjakaryawan


      Kepemimpinan sangat penting dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan
      guna mencapai hasil kerja yang terbaik. Selain kepemimpinan, employee
      engagement juga sangat penting dalam sutau organisasi dan dapat meningatkan
      kinerja, yang dimana kepemimpinan dan employee engagement berpengaruh
      terhadap kinerja (Wahjosumidjo, 2018:132) . Employee engagement sebagai sikap
      yang positif yang dimiliki karyawan dengan penuh makna, dan motivasi yang
      tinggi, dan keingina untuk berusaha, dan tidak menyerah dalam menghadapi
      tantangan dengan konsentrasi penuh terhadap suatu tugas yang disesuaikan dengan
      nilai dan tujuan organisasi.

      Pengaruh Employee Engagement terhadap Kinerja Karyawan


      Perilaku yang membawa seseorang dan terikat terhadap pekerjaannya disebut
      juga employee engagement. Karyawan dengan keterikatan yang tinggi cenderung
      memiliki energi dan memiliki hubungan afektif dengan aktivitas pekerjaan mereka
      dan merasa mampu untuk menyelesaikan segala tuntutan pekerjaan yang diberikan.
      menurut Shuck (2019) employee engagement yaitu keadaan pikiran yang
      berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan yang dicirikan dengan
      semangat, dedikasi, dan menyatu

      Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan


      Kepemimpinan merupakan faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya
      suatu organisasi dalam mencapai tujuan dipengaruhi oleh cara seorang pimpinan.
      Menurut Thoha (2018:53) :“Kepemimpinan merupakan sifat, karakter, atau cara
      seseorang dalam upaya membina dan menggerakkan seseorang atau sekelompok
      orang agar mereka bersedia, komitmen dan setia untuk menjalankan kegiatan sesuai
      dengan tugas dan tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan organisasi yang telah
      ditetapkan sebelumnya.”

      Dimensi Kinerja Karyawan


      Dimensi dan indikator yang digunakan dalam penelitian ini mengadaptasi
      dari teori-teori dan pendapat para ahli. Menurut John Miner dalam Mangkunagara
      (2018:72) yang mengemukakan bahwa ada beberapa dimensi dan indikator kinerja
      yaitu sebagai berikut:

      1. Kualitas Kerja
        Kualitas kerja adalah sesuatu hal yang terkait dengan proses pekerjaan sampai
        hasil kerja yang bisa diukur dari tingkat efisiensi dan efektifitas seseorang
        dalam melakukan suatu pekerjaan yang didukung oleh sumber daya lainnya.
        Indikator dari kualitas kerja antara lain:
        a. Kerapihan
        b. Ketelitian
        c. Kehandalan
      2. Kuantitas Kerja
        Kuantitas merupakan satuan jumlah atau batas minimal dan maksimal yang
        harus dicapai oleh pekerja dengan waktu yang telah ditentukan oleh pimpinan
        perusahaan. Indikator dari kuantitas kerja antara lain:
        a. Ketepatan waktu
        b. Hasil kerja
        c. Kepuasan kerja
      3. Tanggung jawab
        Tanggung jawab merupakan hal yang terkait dengan hasil pekerjaan yang telah
        diselesaikan yang harus dipertanggungjawabkan para karyawan apabila masih
        ada pekerjaan yang belum sesuai dengan harapan pimpinan. Indikator dari
        tanggungjawab antara lain:
        a. Rasa tanggung jawab dalam mengambil keputusan
        b. Memanfaatkan sarana dan prasarana
      4. Kerjasama
        Kerjasama merupakan usaha bersama baik antara individu dengan individu,
        kelompok dengan kelompok, atau individu dengan kelompok berupa sikap dan
        perilaku setiap karyawan yang menjalin hubungan kerjasama dengan pimpinan
        atau rekan kerja untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama.
        Indikator dari kerjasama antara lain:
        a. Jalinan kerjasama
        b. kekompakan
      5. Inisiatif
        Inisiatif adalah segala bentuk dorongan dari dalam diri karyawan untuk
        melakukan pekerjaan serta mengatasi masalah. Indikator dari inisiatif yaitu:
        a. Kemandirian
        b. Kemampuan dalam bekerja

      Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Kinerja


      Kinerja diukur dengan instrumen yang dikembangkan dalam studi yang
      tergabung dalam ukuran kinerja secara umum kemudian diterjemahkan kedalam
      penilaian perilaku secara mendasar. Menurut Mangkunegara (2018:70) terdapat
      faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja seorang karyawan antara lain:

      1. Faktor personal/individual yaitu hal-hal yang terdiri dari Pengetahuan,
        keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, job insecurity, dan
        komitmen.
      2. Faktor kepemimpinan yaitu meliputi kualitas, dorongan, semangat, employee
        engagement, dan dukungan
      3. Faktor tim diantaranya adalah kerja sama, dan kekompakan.
      4. Faktor sistem yang meliputi sistem kerja, fasilitas, proses organisasi, kultur
        kinerja dalam organisasi
      5. Faktor kontekstual (situasional) dimana faktor ini merupakan sebuah tekanan
        dan perubahan lingkungan eksternal dan internal

      Pengertian Kinerja Karyawan


      Kinerja adalah tingkat capaian atau sebuah hasil kerja yang dari
      implementasi rencana kerja yang dibuat oleh organisasi yang dilaksanakan oleh
      pimpinan dan karyawan sumber daya manusia yang bekerja di perusahaan, baik
      institusi maupun pemerintahan untuk mencapai tujuan baik individu, organisasi
      maupun masyarakat. Terdapat beberapa definisi kinerja menurut para ahli antara
      lain pendapat dari Mangkunegara, (2018:66) yang menyatakan bahwa “Kinerja
      karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
      karyawan dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diembannya.”
      Adapun pendapat lainnya Menurut (Afandi, 2018:83) mengatakan bahwa kinerja
      adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam
      suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing
      dalam upaya pencapaian tujuan organisasi secara legal, tidak melanggar hukum dan
      tidak bertentangan dengan moral dan etika. Sedangkan Menurut (Ahmad, 2020:31)
      Kinerja atau performance, merupakan prestasi yang dicapai oleh seorang karyawan
      dalam setiap melakukan pekerjaan/tugasnya, dimana karyawan tersebut dapat
      menggunakan segenap kemampuan dan pengetahuan berbasis kompetensi, dimana
      kinerjanya dapat diukur berdasarkan kemampuan, keahlian, dan attitude-nya pada
      saat pelaksanaan tugasnya.

      Kinerja Karyawan


      Konsep kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi yang memiliki
      pengertian dalam bahasa inggris yaitu performance. Kinerja merupakan hasil dari
      fungsi-fungsi suatu profesi pekerjaan dalam kurun waktu tertentu, keberhasilan
      suatu organisasi dapat ditentukan oleh diantaranya dengan pengelolaan kinerja
      karyawannya

      Dimensi Employee Engagement


      Menurut (Shuck, 2019:68) mengemukakan bahwa terdapat tiga dimensi dan
      indikator dalam employee engagement diantaranya sebagai berikut.

      1. Semangat (Vigor)
        Ditandai dengan tingkatan energi yang tinggi, ketangguhan mental,
        berkeinginan untuk memberikan usaha terhadap pekerjaan dan juga ketahanan
        dalam menghadapi kesulitan. Indikator untuk dimensi ini antara lain:
        a. Energi dan stamina yang tinggi
        b. Kesungguhan dalam bekerja
        c. Kegigihan dan Ketekunan
      2. Dedikasi (Dedication)
        Ditandai oleh rasa antusias dalam bekerja, karyawan yang memiliki dedikasi
        yang tinggi terhadap pekerjaannya akan menjadikan pekerjaan sebagai
        pengalaman yang berharga, inspirasi, dan tantangan. Indikator untuk dimensi
        ini antara lain:
        a. Pengorbanan, tenaga, pikiran, dan waktu
        b. Rasa penuh makna
        c. Antusiasme
        d. Kebanggaan
      3. Menyatu (Absorption)
        Ditandai dengan perilaku karyawan yang memberikan perhatian penuh
        terhadap perusahaan dan serius dalam pekerjaannya. Dimana karyawan akan
        merasakan waktu cepat berlalu dan sulit memisahkan diri dari pekerjaanya.
        Indikator untuk dimensi ini antara lain:
        a. Konsentrasi
        b. Keseriusan
        c. Menikmati pekerjaan

      Tipe Employee Engangement


      Employee engagement dapat mendorong karyawan untuk melakukan
      pekerjaan lebih dari kewajiban serta dapat memberikan kontibusi terbaik
      kepada organisasi. Menurut Cintani dan Noviansyah (2020:34) terdapat tipe tiga
      pergawai, yaitu:
      a. Engaged
      Karyawan yang engaged (terikat) adalah seorang pembangun di dalam
      organisasi. Mereka cenderung akan selalu menunjukkan kinerja yang tinggi
      dan maksimal dalam menyelesaikan setiap pekerjaan yang diberikan
      kepadanya. karyawan jenis ini akan bersedia untuk memberikan kekuatan
      dan mengembangkan talenta mereka secara maksimal dalam bekerja agar
      organisasi berkembang.
      b. Not Engaged
      Karayawan dalam tipe ini cenderung fokus terhadap tugas dibandingkan
      pencapaian tujuan dari pekerjaan itu. Mereka hanya mengerjakan tugas
      sesuai dengan porsi mereka dan sesuai apa yang organisasi bayar kepada
      mereka.
      c. Actively Disengaged
      Karyawan tipe ini adalah karywana yang tidak terikat atau secara aktif
      melepaskan diri. Mereka akan secara terbuka menunjukan perasaaan tidak
      bahagia dan ketidapuasan mereka terhadap pekerjaan yang dilakukan.
      Mereka juga akan secara konsisten menunjukan perlawanan dan hanya
      melihay sisi negatif pada berbagai kesempatan yang ada. Setiap harinya,
      kinerja yang dihasilkan akan berbeda dengan teman kerja yag
      terikat(engaged)

      Pengertian Employee Engangement


      Employee engagement merupakan salah satu faktor penting bagi kesuksesan
      suatu organisasi dan dapat memberikan competitive advantage bagi organisasi.
      Karyawan yang memiliki engagement yang tinggi, biasanya digambarkan dengan
      semangat, energi dan loyalitas yang tinggi, serta komitmen dan kebanggaan yang
      kuat terhadap organisasi. Adapun beberapa pengertian terkait employee engagement menurut para
      ahli diantaranya yaitu Shuck (2019:81) “Employee engagement is define as a
      positive, fulfilling work-related state of mind that is characterized by vigor,
      dedication, and absorption”. Artinya: Keterikatan kerja didefinisikan sebagai
      keadaan pikiran yang berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan
      yang dicirikan oleh semangat, dedikasi, dan menyatu. Pendapat serupa disampaikan
      oleh Brammer (2020:39) bahwa “Employee engagement is the employee’s
      willingness and ability to contribute to the company on an ongoing basis”. Artinya
      Keterikatan karyawan adalah kemauan dan kemampuan karyawan untuk
      berkontribusi pada perusahaan secara berkelanjutan. Adapun pendapat lain
      disampaikan oleh Segalla (2021:41) bahwa “Employee engagement is about how to
      achieve the company’s strategic goals by creating developing human resources, and
      every level starting from staff, managers, and executives is fully activated in their
      work so they can give their best effort.” Artinya: Keterlibatan karyawan adalah
      tentang bagaimana mencapai tujuan strategis perusahaan dengan menciptakan
      sumber daya manusia yang berkembang, dan setiap level mulai dari staf, manajer,
      dan eksekutif sepenuhnya aktif dalam pekerjaan mereka sehingga mereka dapat
      memberikan upaya terbaik mereka

      Employee Engagement


      Dalam ilmu sumber daya manusia employee engagement atau keterikatan
      karayawan merupakan sebuah istilah baru. Dimana employee engagement
      merupakan sikap karyawan dengan perasaan semangat terhadap pekerjaannya
      untuk mencapai keberhasilan organisasi, employee engagement melihat bagaimana
      loyalitas yang dimiliki karaywan dalam bekerja yang tidak hanya selesai dengan
      waktu yang tepat akan tetapi dengan kualitas sesuai dengan yang diinginkan
      perusahaan.

      Dimensi Kepemimpinan


      Pemimpin berperan besar dalam menentukan setiap kebijakan sebuah
      organisasi. Pada hakikatnya pemimpin adalah seseorang yang mempunyai
      kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain dalam pekerjaannya. Berikut
      ini adalah dimensi dan indikator kepemimpinan menurut Thoha (2018:54), yaitu :

      1. Inovator
        a. Kemampuan pimpinan dalam berinovasi
        b. Kemampuan konseptual yang dimiliki oleh pemimpin
      2. Komunikator
        a. Kemampan pimpina dalam menyampaikan maksud dan tujuan
        berkomunikasi dengan bawahannya
        b. Kemampuan pimpinan dalam mengambil intisari pembicaraan
      3. Motivator
        a. Kemampuan pimpinan mendorong karyawan untuk bekerja sesuai tanggung
        jawabnya.
        b. Kemampuan piminan memberikan sumbangan terhadap keberhasilan
        pencapaian tujuan organisasi
      4. Kontroler
        a. kemampuan pimpinan dalam melakukan pengawasan
        b. kemampuan pimpinan dalam pemakaian sumber daya

      Gaya Kepemimpinan


      Dalam setiap organisasi terdapat pemimpin yang akan mengarahkan dan
      memberdayakan potensi anggota organisasi dengan gaya kepemimpinan yang
      berbeda. Gaya kepemimpnan seseorang bisa dianggap baik dan tepat disuatu
      organisasi namun dianggap kurang baik dan tidak teoat di tempat lain. Beberapa
      gaya kepemimpinan menurut Hasibuan (2018:172), yaitu :

      1. Kepemimpinan Otoriter
        Kepemimpinan otoriter jika wewenang sebagian besa mutlak berapa pada
        pimpinan. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaannya hanya ditetapkan
        sendiri oleh pimpinan, bawahan tidak diikutsertakan memberika ide apapun
        dalam prose pengambilan keputusan.
      2. Kepemimpinan Partisipatif
        Kepemimpinan partisipatif dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara
        persuaif, menciptkan kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan
        partisipasi para bawahan.
      3. Kepemimpianan Delegatif
        Pemimpin mendelagasikan wewenang kepada bawahan, sehingga bawahan
        dapat mengambil keputusan dengan bebas dalam melaksanakan pekerjaannya,
        sepenhnya diserahkan kepada bawahan. Dalam arti pimpinan mengingikan
        agar para bawahan bisa mengedalikan diri mereka sendiri dalam
        menyelesaikan pekerjaan tersbut. Dalam hal ini bawahan dituntut memiliki
        kemampuan dan kemauan.

      Fungsi Kepemimpinan


      Dalam upaya mewujudkan tujuan organisasi, tujuan organisasi bisa tercapai
      ketika seorang pemimpin mampu menjalakan tugas dan fungsinya dengan baik.
      Menurut Syamsu Badu dan Novianti Djafri (2019:47) secara operasional dapat
      dibedakan menjadi lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu :

      1. Fungsi instruktif
        Pemimpin berfungsi sebagai komunikator menentukan apa (isi perintah),
        bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai,
        melaksanakan, dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan
        perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi
        orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah.
      2. Fungsi konsultatif
        Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikassi dua
        arah. Hal tersebut digunakan mana kala pemimpin dalam usaha menetapkan
        keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan
        orang-orang yang dipimpinnya.
      3. Fungsi Partisipasi
        Dalam menjalankan fungsi partisipasi pemimpin harus berusaha dan mampu
        mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan
        keputusan maupun dalam melaksanakannya..
      4. Fungsi Delegasi
        Dalam menjalankan fungsi delegassi, pemimpin memberikan pelimpahan
        wewenang membuat atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnnya
        adalah kepercayaan seorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan
        untuk pelimpahan wewenang dengan melaksankannya secara bertanggung
        jawab.
      5. Fungsi Pengendalian
        Fungsi pengendalian berasumsi bahawa kepemimpinan yang efektif harus
        mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinassi
        yang efektif, sehingga tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam
        melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui
        kegiatan bimbingan, pengarahan, koordimasi dan pengawaan.
        Fungsi kepemimpinan merupakan usaha untuk mengarahkan anggota
        kelompok agar memiliki semangat yang tinggi dan bekerja sebaik mungkin. Fungsi
        kepemimpinan juga berkaitan dengan membangun hubungan antara individu atau
        kelompok dalam organisasi.

      Pengertian Kepemimpinan


      Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh yang di
      lakukan oleh pimpinan kepada pengikutnya, yang bertunjuan untuk mencapai
      tujuan organisasi. Kepemimpinan yang ditetapkan dalam organisasi dapat
      menciptkan integrasi yang serasi dan mendorong semeangat kerja karyawan untuk
      mencaoai tujuan yang maksimal. Pemimpin mengajak bawahannya untuk
      melaksanakan tugas yang sudah direncakan dengan baik. Adupun pendapat dari
      beberapa ahli mengenai definisi kepemimpinan yaitu :
      Pendapat dari Bernhard Tewal (2018:205) mengemukakan bahwa “
      Kepemimpinan adalah sifat penerapan pengaruh oleh seorang anggota kelompok
      atau organisasi terhadap anggota lainnya guna mendorong kelompok atau
      organisasi mencapai tujuan.” Pendapat dari Hasibuan (2019:170) mengemukakan
      bahwa” kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin memperngaruhi perilaku
      bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai
      tujuan organisasi”. Sedangkan menurut Thoha (2018:53) mengemukakan bahwa :
      “Kepemimpinan merupakan sifat, karakter, atau cara seseorang dalam upaya
      membina dan menggerakkan seseorang atau sekelompok orang agar mereka
      bersedia, komitmen dan setia untuk menjalankan kegiatan sesuai dengan tugas dan
      tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan
      sebelumnya.”

      Kepemimpinan


      Pemimpin memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan
      organisasi dengan mengatur, membuat, rencana, memiliki tanggung jawab, selektif
      dan memberikan arahan kepada bawahannya. Kepemimpinan yang dapat
      meningkatkab motivasi karyawan akan meningkatkan kinerja karyawan. Oleh
      karena itu, dibutuhkan kepemimpinan dalam organisasi untuk dapat menciptakan
      semnagat bekerja.

      Peran Manajemen Sumber Daya Manusia


      Manajemen sumber daya manusia mempunyai peranan penting dan
      dominan dalam sebuah organisasi, hal ini berhubungan dengan upaya mewujudkan
      hasil yang ingin dicapai. Menurut Hasibuan (2019:23) mengungkapkan bahwa
      peranan manajemen sumber daya manusia adalah sebagai berikut:

      1. Menetapkan jumlah, kualitas dan penempatan tenaga kerja yang efektif sesuai
        dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan job description, job specification,
        job requirement, dan job evaluation.
      2. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karaywan berdasarkan asas
        the right man in the right place and the right man in the right job
      3. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi, dan
        pemberhentian seperti pemberian tunjangan kesehatan juga dapat berupa
        pelatihan dan pengembangan pada karyawan
      4. Meramal penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang
        akan datang, dengan mentaksir kebutuhan skill karyawan yang akan
        dibutuhkan di masa depan
      5. Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan perkembangan
        perusahaan pada khususnya seperti menciptakan target-target khusus untuk
        dapat tetap stabil dan mampu bersaing.
      6. Memonitor dengan cermat undang-undang perburuhan dan kebijaksanaan
        pemberian balas jasa perusahaan yang sejenis.
      7. Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh (memonitor
        segala kebijakan terbaru).
      8. Melaksanakan pendidikan, latihan, penilaian prestasi karyawan seperti
        dilakukannya training-training kerja.
      9. Mengatur mutasi karyawan baik vertikal maupun horizontal.
      10. Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya.

      Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


      Fungsi merupakan kegiatan pokok yang dilakukan dalam suatu organisasi
      atau perusahaan. Setiap karyawan pada hakikatnya melakukan dua fungsi, pertama
      yaitu fungsi manajerial dimana kegiatan-kegiatan dilakukan dengan pekerjaan
      pikiran atau menggunakan pikiran (mental), dan yang kedua yaitu fungsi operatif
      (teknis), dimana kegiatan-kegiatan dilakukan dengan fisik. Menurut Hasibuan
      (2019: 22) menyatakan bahwa fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia
      adalah sebagai berikut:

      1. Fungsi manajerial
        a. Perencanaan (Planning)
        Perencanaan (human resources planning) adalah kegiatan merencanakan
        tenaga kerja secara efektif serta efisien agar sesuai dengan kebutuhan
        organisasi dalam membantu mewujudkan tujuan.
        b. Pengorganisasian (Organizing)
        Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasikan semua
        karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
        wewenang, integrasi, dan koordinasinya dalam bagan organisasi.
        c. Pengarahan (Actuating)
        Pengarahan yaitu tindakan yang mengarahkan semua karyawan, agar mau
        bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya
        tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
        d. Pengendalian (Controlling)
        Pengendalian adalah kegiatan kontrol/evaluasi yang beruguna untuk
        memastikan bahwa apa yang sudah direncanakan, disusun, dan dijalankan
        dapat berjalan sesuai dengan prosedur, dengan kata lain sebagai monitor
        kemungkinan ditemukannya penyimpangan.
      2. Fungsi Operasional
        a. Pengadaan (Procurement)
        Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
        indikasi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan
        perusahaan.
        b. Pengembangan (Development)
        Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis,
        konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan agar
        dapat menjalankan tugas dengan baik.
        c. Kompensasi (Compensation)
        Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung baik
        metreial maupun non material yang adil dan layak kepada karyawan sebagai
        imbalan jasa yang diberikannya kepada organisasi.
        d. Integrasi (Integration)
        Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
        perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi
        dan saling menguntungkan, fungsi ini merupakan usaha memperoleh
        keamanan, dan kenyamanan karyawan, perusahaan, dan masyarakat.
        e. Pemeliharaan (Maintanance)
        Pemeliharaan karyawan adalah kegiatan untuk meningkatkan dan
        memelihara atau mempertahankan kondisi fisik, mental dan loyalitas
        karyawan, secara berkesinambungan agar mereka tetap mau bekerja sama
        sampai purna bakti.
        f. Kedisiplinan (Discipline)
        Kedisiplinan merupakan kunci terwujudnya tujuan, Kedisiplinan adalah
        kesadaran untuk menaati peraturan-peraturan perusahaan dan normanorma
        sosial.
        g. Pemberhentian (Separation)
        Pemberhentian adalah pemutusan hubungan kerja seseorang dari suatu
        organisasi. Biasanya disebabkan oleh keinginan karyawan, keinginan
        perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab lainnya.

      Unsur – unsur Manajemen


      Setiap organisasi harus memiliki unsur-unsur untuk membentuk sistem
      manajerial yang baik dan harmoni. Peranan unsur ini terkait dengan pelaksanaan
      fungsi manajemen, dimana apabila salah satu diantaranya tidak ada atau tidak
      berfungsi dengan baik, maka akan berdampak pada taraf pencapaian tujuan
      organisasi. berikut unsur-unsur manajemen menurut George R. Tery dalam
      Hasibuan, (2019:50):

      1. Manusia (Man)
        Manusia pada elemen ini merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki
        organisasi, artinya sumber daya manusia yang sudah memiliki kualifikasi dan
        kompetensi yang dibutuhkan oleh organisasi. faktor manusia adalah yang
        paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang
        melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses
        kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah mahluk kerja.
      2. Uang (Money)
        Uang merupakan alat tukar dan alat pengukuran nilai. Besar-kecilnya hasil
        kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh
        karena itu uang merupakan alat yang penting untuk mencapai tujuan karena
        segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan
        dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja,
        alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai
        dari suatu organisasi.
      3. Material (Materials)
        Material merupakan bahan mentah, bahan setengah jadi dan bahan jadi. Dalam
        dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli
        dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/material-material
        sebagai salah satu sarana. Sebab material dan manusia tidak dapat dipisahkan,
        tanpa material tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
      4. Mesin (Machines)
        Penggunaan mesin dalam proses produksi adalah hal yang mutlak. Penggunaan
        mesin akan membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih
        besar serta menciptakan efesiensi kerja.
      5. Metode (Methods)
        Metode dapat diartikan sebagai suatu cara untuk melakukan kegiatan agar
        diperoleh hasil yang berkualitas, efektif dan efisien. Suatu tata cara kerja yang
        baik akan memperlancar jalannya pekerjaan.
      6. Pasar (Market)
        Pasar merupakan tempat memasarkan produk atau jasa. Bagi organisasi yang
        bergerak di bidang industri yang motifnya adalah keuntungan, maka pasar
        merupakan unsur manajemen yang penting. Dengan adanya pasar, maka
        produk yang diproduksinya dapat terjual dengan sukses

      Fungsi Manajemen


      Fungsi ini dijadikan sebagai acuan untuk mengatur kegiatan di perusahaan
      agar berjalan dengan baik dan mencapai tujuan dengan efektif juga efisien. Menurut
      George R. Tery dalam Hasibuan (2019:130) terdapat empat elemen dari fungsi
      manajemen yaitu:

      1. Perencanaan (Planning)
        Perencanaan adalah proses yang mendefinisikan tujuan dari organisasi,
        membuat strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dari organisasi,
        serta mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
      2. Pengorganisasian (Organizing)
        Pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan atau
        alokasi sumber daya organisasi dalam bentuk desain organisasi atau struktur
        organisasi sesuai dengan tujuan perusahaan yang tertuang di dalam visi dan misi
        perusahaan, sumber daya organisasi, dan lingkungan bisnis perusahaan
        tersebut.
      3. Pengarahan (Actuating)
        Pengarahan adalah suatu tindakan eksekusi terhadap rencana yang telah
        dituangkan dalam bentuk plan. Serta pembagian kerja sumber daya yang ada
        pada organisasi agar kegiatan berjalan sesuai dengan rencana.
      4. Kontrol (Controling)
        Kontrol adalah bentuk pengawasan atau pengendalian dari sebuah gerakan yang
        telah dilakukan oleh organisasi agar berjalan sesuai dengan harapan.
        Manajemen memiliki fungsi untuk dijadikan acuan sekaligus sebagai suatu
        bentuk kegunaan.

      Pengertian Manajemen


      Manajemen merupakan hal yang penting bagi suatu organisasi untuk
      mencapai tujuan dari organisasi tersebut. Manajemen sendiri bertujuan untuk
      mengatur dan mengelola sumber daya yang tersedia dalam organisasi. Berikut
      pengertian manajemen menurut beberapa pendapat ahli diantaranya adalah. Bob &
      Shidarta (2019:7) berpendapat bahwa Manajamen merupakan proses perencanaan,
      pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan terhadap usaha-usaha para anggota
      organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai
      tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Teori lain mengenai manajemen menurut
      Afandi (2018:1) mengemukakan bahwa Manajemen adalah bekerja dengan orang-
      orang untuk mencapai tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi perencanaan
      (planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia (staffing),
      pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).”
      Sedangkan menurut Manullang (2018:2) yaitu Manajemen adalah seni dan ilmu
      perencanaan, penggorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan
      sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan terlebih
      dahulu.

      Pengertian Keadilan Organisasi


      Menurut Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2008) keadilan
      organisasi merupakan persepsi keseluruhan mengenai apa yang adil di
      tempat kerja. Sedangkan menurut Moorhead dan Grifin (2013) keadilan
      organisasional merujuk pada persepsi orang-orang dalam organisasi
      mengenai keadilan.
      Teori keadilan menjelaskan bagaimana persepsi seseorang mengenai
      seberapa adil mereka diperlakukan dalam transaksi sosial di tempat kerja
      dapat mempengaruhi motivasi mereka. Teori motivasi ini didasarkan pada
      asumsi bahwa individu termotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan
      secara sama ditempat kerja.
      Menurut Jackson dan Schular (dalam Muslimin, 2017) memperlakukan
      pegawai dengan adil sangat baik bagi pegawai. Keadilan juga baik untuk
      bisnis, ketika pegawai diperlakukan dengan adil, mereka akan
      memperlakukan pelanggan dengan baik juga. Pegawai yang merasa tidak
      diperlakukan dengan adil bisa menjauhkan pelanggan. Keadilan merupakan
      keyakinan bahwa kita diperlakukan dengan adil dalam hubungan dengan
      orang lain sedangkan ketidakadilan sebagia keyakinan bahwa kita
      diperlakukan secara tidak adil dibandingkan dengan orang lain.
      Menurut Jhon M. Ivancevich dan Robert (dalam Muslimin, 2017) ada
      empat istilah penting dalam teori keadilan, yaitu:
      a. Orang (person) adalah kepada siapa keadilan dan ketidakadilan
      dipersepsikan.
      b. Perbandingan dengan orang lain (comparison other). Setiap kelompok
      atau orang yang digunakan oleh seseorang sebagai refrensi berkenaan
      dengan input dan hasil.
      c. Karakteristik individu yang dibawa oleh seseorang ketempat kerja.
      d. Hasil apa yang diterima seseorang dari pekerjaan (misalkan tunjangan,
      pengakuan, dan gaji).
      Keadilan muncul ketika karyawan mempersepsikan bahwa rasio dari
      input mereka (usaha) terhadap hasil mereka (penghargaan) sama dengan
      rasio pada karyawan yang lain. Ketidakadilan muncul ketika rasio tersebut
      tidak sama, rasio input dan hasil seorang individu dapat lebih besar, atau
      kurang dari milik orang lain.
      Apabila hasil tambahan orang lain disebabkan karena masukannya yang
      lebih besar, perasaan keadilan masih bisa muncul. Namun, apabila orang-
      orang yang diperbandingkan menghendaki hasil yang lebih besar dengan
      masukan yang sama, maka ketidakadilan negatif (negative inequity) yang
      akan dirasakan. Sedangkan seseorang akan mengalami ketidakadilan positif
      (positive inequity) ketika rasio hasil terhadap masukannya lebih besar dari
      pada rekan kerjanya

      Faktor yamg Mempengaruhi Kompensasi


      Menurut Hasibuan (2013), faktor-faktor yang mempengaruhi kompensasi
      antara lain sebagai berikut:
      a. Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan
      Apabila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin
      baik maka tingkat kompensasi akan semakin besar. Sebaliknya, jika
      kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar kurang maka
      tingkat kompensasi semakin kecil.
      b. Produktivitas Kerja Karyawan
      Jika prodiktivitas kerja karyawan baik dan banyak maka kompensasi
      akan semakin besar. Jika produktivitas kerja karyawan buruk serta sedikit
      maka kompensasinya kecil.
      c. Posisi Jabatan Karyawan
      Karyawan yang menduduki jabatan lebih tinggi akan menerima
      kompensasi lebih besar.
      d. Pendidikan dan Pengalaman Kerja
      Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja lebih lama maka
      kompensasi yang diterima semakin besar, karena kecakapan serta
      keterampilannya semakin baik.