Economic Performance
Economic performance adalah kinerja perusahaan secara relative (berubah-
berubah dari tahun ke tahun) dalam suatu industri sejenis (industri yang bergerak
dalam usaha yang sama) yang ditandai dengan return tahunan perusahaan tersebut
(Almilia, 2007).
Economic performance diungkapkan ke dalam laporan keuangan tahunan
perusahaan. Pada era perekonomian pasar yang disertai dengan terwujudnya
kondisi good economic performance, tidak saja menuntut terciptanya economic
performance efisien yang secara ekonomi membawa keuntungan besar bagi
20
perusahaan tetapi juga perlu disertai adanya perilaku economic performance
berkualitas etis, yakni dengan perwujudan secara baik tanggung jawab sosial
perusahaan.
Tuntutan economic performance etis berimplikasi pada perwujudan
aktivitas industri sebagai interaksi harmonis antara stakeholders (pihak-pihak
yang berkepentingan) dengan shareholders atau para pelaku bisnis itu sendiri.
Oleh karena itu, semua tindakan bisnis dan economic performance akan menjadi
penilaian para stakeholders. Semakin etis para pelaku bisnis, maka tujuan
perusahaan akan tercapai dengan sendirinya dan bisnisnya akan berjalan dalam
koridor yang diharapkan (Wibisono, 2011)

Environmental Disclosure


Environmental Disclosure adalah pengungkapan informasi yang berkaitan dengan
lingkingan di dalam laporan tahunan perusahaan. Hendriksen (2000) dalam
Emillia Nurdin (2006), menyatakan bahwa dalam pengertian luasnya,
pengungkapan berarti penyampaian informasi (release of information). Para
akuntan cenderung menggunakan kata ini dalam pengertian yang agak terbatas,
yaitu penyampain informasi lingkungan tentang suatu perusahaan di dalam
laporan keuangan, biasanya laporan tahunan. Penyampaian informasi di dalam
neraca, laporan laba rugi, serta laporan arus kas termasuk dalam pengakuan dan
pengukuran. Pengungkapan dalam arti sempitnya menyangkut hal-hal seperti
pembahasan dan analisis manajemen, catatan kaki dan laporan pelengkap
(Wibisono, 2011)

Kualitas Pelayanan


Salah satu strategi yang dipakai perusahaan untuk bisa memenangkan
persaingan adalah dengan kualitas layanan yang baik. Pelanggan tertarik membeli
sebuah produk atau jasa karena kualitas layanan yang baik. Kualitas pelayanan
merupakan dasar bagi pemasar jasa, karena inti produk yang dipasarkan adalah
suatu kinerja yang berkualitas dan kinerjalah yang dibeli oleh konsumen. Seperti
yang diketahui bahwa kualitas pelayanan dapat digunakan sebagai salah satu alat
untuk mencapai keunggulan bersaing dan menentukan keberhasilan. Semakin baik
pelayanan yang diberikan dimata pelanggan berarti semakin tingi pula tingkat
keberhasilan dan kualitas perusahaan yang dicapai.
Menurut Tjiptono (2012) mendefinisikan kualitas pelayanan adalah ukuran
seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi
pelanggan. Definisi lain kualitas pelayanan menurut Wyckof dalam Lovelock
dalam Tjiptono (2012) merupakan tingkat keunggulan (excellence) yang
diharapkan dan pengendalian atas keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan.
Kualitas pelayanan memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk
menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan lembaga atau instansi pemberi
pelayanan jasa. Ikatan hubungan yang baik ini akan memungkinkan lembaga
pelayanan jasa untuk memahami dengan seksama harapan pelanggan serta
kebutuhan mereka. Kualitas telah menjadi harapan dan impian bagi setiap
konsumen dari sebuah produk yang dibelinya. Konsumen dalam kesehariannya
menggunakan produk baik yang berwujud ataupun tidak berwujud (jasa) tidak
akan lepas dari kualitas baik yang diharapkan konsumen


Menurut Kotler dan Keller dalam Sabran (2011) kualitas produk memiliki
indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Bentuk (form)
    Bentuk sebuah produk dapat meliputi ukuran, bentuk, atau struktur fisik
    produk.
  2. Kualitas Kesesuaian (Conformance Quality)
    Tingkat dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi
    spesifikasi yang dijanjikan.
  3. Ketahanan (Durability)
    Merupakan ukuran umur operasi harapan produk dalam kondisi biasa atau
    penuh tekanan, merupakan atribut berharga untuk produl-produk tertentu

Indikator Harga


Menurut Kotler (2016:52) indikator yang digunakan untuk mengukur
harga, yaitu :

  1. Keterjangkauan harga produk.
    Kemampuan daya beli konsumen atas produk yang dibelinya.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
    Harga merupakan salah satu indikator dalam menentukan suatu kualitas
    barang itu sendiri. Tidak selalu harga yang mahal itu menunjukan bahwa
    kualitas dari barang tersebut adalah bagus.
  3. Daya saing harga produk.
    Kemampuan suatu produk untuk bersaing dengan produk sejenisnya
    dipasaran dengan harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan, meskipun
    harga yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan dengan produk sejenis.
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat produk.
    Harga yang mahal tidak menjadi persoalan untuk suatu produk apabila
    berbanding lurus dengan manfaat yang dapat diperoleh dari membeli
    produk tersebut.

Kualitas Produk


Pengertian kualitas produk memiliki inti pada upaya pemenuhan
kebutuhan pelanggan yang bertujuan untuk mengimbangi harapan pelanggan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:236) Kualitas produk didefinisikan sebagai
sesuatu yang dapat ditawarkan kedalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki,
dipakai, atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan
Kualitas merupakan faktor yang terdapat dalam suatu produk yang menyebabkan
produk tersebut bernilai sesuai dengan maksud untuk apa produk itu di produksi.
Kualitas biasanya berhubungan dengan manfaat atau kegunaan serta fungsi dari
suatu produk.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012) “Product quality is the
characteristic of a product or service that bear onits ability to satisfy stated or
implied customer needs” yang bila diartikan dalam Bahasa Indonesia: “kualitas
produk adalah karakter yang dimiliki sebuah produk yang mempunyai
kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan”. Sedangkan Menurut Kotler
dan Armstrong (2012:283) dalam Kresnamurti (2012) “kualitas produk adalah
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk
keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan
reparasi produk juga atribut produk lainnya”

Strategi Penetapan Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2014) Strategi penetapan harga
berdasarkan bauran produk sebagai berikut :

  1. Penetapan harga lini produk, yaitu menetapkan jenjang harga diantara
    barang- barang pada lini produk.
  2. Penetapan harga produk tambahan, yaitu menetapkan harga produk
    tambahan atau pelengkap yang dijual beserta produk utama.
  3. Penetapan harga produk terikat, yaitu menetapkan harga produk yang
    harus digunakan bersama produk utama.
  4. Penetapan harga produk sampingan, yaitu menetapkan harga rendah pada
    produk – produk sampingan untuk menyingkirkan mereka.
  5. Penetapan harga paket produk, yaitu menetapkan harga untuk paket
    produk yang dijual bersama

Harga


Rangsangan dari perusahaan yang berperan sangat penting dalam
penjualan suatu produk adalah harga. Menurut Kotler dan Armstrong (2012:439)
Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk, atau jumlah dari
nilai yang ditukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki dan
menggunakan produk atau jasa tersebut. Harga merupakan elemen bauran
pemasaran yang dapat menghasilkan pendapatan melalui penjualan. Oleh karena
itu, perusahaan harus dapat menetapkan harga produknya dengan baik dan tepat
sehingga konsumen tertarik dan mau membeli produk yang ditawarkan agar
perusahaan mendapatkan keuntungan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012:345) harga dapat didefenisikan
secara sempit sebagai jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa.
Atau dapat didefenisikan secara luas harga sebagai jumlah nilai yang ditukarkan
konsumen untuk keuntungan memiliki dan menggunakan produk atau jasa yang
memungkinkan perusahaan mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar
untuk nilai pelanggan yang diciptakannya

Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli Ulang


Menurut Kotler & Armstrong (2011:135-150) dalam Puspitasari (2016)
faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk melakukan pembelian
ulang, yaitu sebagai berikut ini :

  1. Faktor Kultur
    Kultur dan kelas sosial seseorang dapat mempengaruhi minat seseorang
    dalam melakukan pembelian. Konsumen memiliki persepsi, keinginan dan
    tingkah laku yang dipelajari sedari kecil, sehingga pada akhirnya akan
    membentuk persepsi yang berbeda-beda pada masing-masing konsumen. Faktor
    nasionalitas, agama, kelompok ras dan wilayah geografis juga berpengaruh pada
    masing-masing individu.
  2. Faktor Psikologis
    Meliputi pengalaman belajar individu tentang kejadian di masa lalu, serta
    pengaruh sikap dan keyakinan individu. Pengalaman belajar dapat didefinisikan
    sebagai suatu perubahan perilaku akibat pengalaman sebelumnya. Timbulnya
    minat konsumen untuk melakukan pembelian ulang sangat dipengaruhi oleh
    pengalaman belajar individu dan pengalaman belajar konsumen yang akan
    menentukan tindakan dan pengambilan keputusan membeli.
  3. Faktor Pribadi
    Kepribadian, umur, pekerjaan, situasi ekonomi dan juga lifestyle dari
    konsumen itu sendiri akan mempengaruhi persepsi dan pengambilan keputusan
    dalam membeli. Oleh karena itu, peranan restoran penting dalam memberikan
    pelayanan yang baik kepada konsumennya. Faktor pribadi ini termasuk di
    dalamnya konsep diri. Konsep diri dapat didefinisikan sebagai cara kita melihat
    diri sendiri dan dalam waktu tertentu sebagai gambaran tentang upah yang kita
    pikirkan. Dalam hubungan dengan minat beli ulang, restoran perlu menciptakan
    situasi yang diharapkan konsumen. Begitu pula menyediakan dan melayani
    konsumen dengan produk yang sesuai dengan yang diharapkan konsumen.
  4. Faktor Sosial
    Mencakup faktor kelompok anutan (small reference group). Kelompok
    panutan didefinisikan sebagai suatu kelompok orang yang mempengaruhi sikap,
    pendapat, norma dan perilaku konsumen. Kelompok panutan ini merupakan
    kumpulan keluarga, kelompok atau orang tertentu. Dalam menganalisis minat beli
    ulang, faktor keluarga berperan sebagai pengambil keputusan, pengambil inisiatif,
    pemberi pengaruh dalam keputusan pembelian, penentu apa yang dibeli, siapa
    yang melakukan pembelian dan siapa yang menjadi pengguna. Pengaruh
    kelompok acuan terhadap minat beli ulang antara lain dalam menentukan produk
    dan merek yang mereka gunakan yang sesuai dengan aspirasi kelompoknya. Ke
    efektifan pengaruh niat beli ulang dari kelompok anutan sangat tergantung pada
    kualitas produksi dan informasi yang tersedia pada konsumen

Repurchase Intention (Minat Beli Ulang)


Minat beli ulang menunjukkan keinginan pembeli untuk melakukan
kunjungan ulang di masa yang akan datang. Perilaku pembelian ulang seringkali
dikaitkan dengan loyalitas. Namun keduanya berbeda. Perilaku pembelian ulang
hanya menyangkut pembelian ulang merek tertentu yang sama secara berulang-
ulang, sedangkan loyalitas merek mencerminkan komitmen psikologis terhadap
merek tertentu.
Pengertian minat beli ulang menurut Peter dan Olson (2014:289) adalah
kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa kali.
Kepuasan yang diperoleh seorang pelanggan, dapat mendorong seseorang untuk
melakukan pembelian ulang, menjadi loyal terhadap produk tersebut ataupun
loyal terhadap toko tempat dia membeli barang tersebut sehingga konsumen dapat
menceritakan hal-hal yang baik kepada orang lain.
Menurut Keller dalam Sulistyari (2012:20), minat beli ulang adalah
seberapa besar kemungkinan pelanggan membeli suatu merek atau seberapa besar
kemungkinan pelanggan untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya. Bila
manfaat yang dirasakan lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk
mendapatkannya, maka dorongan untuk membelinya semakin tinggi

Pemasaran


AMA (American Marketing Association) dalam Kotler dan Keller
(2017:124-135) menjelaskan bahwa “Marketing is the activity, set of institutions,
and processes for creating, communicating, delivering, and exchanging offerings
that have value for customers, client, partners, and society large” yang artinya
bahwa pemasaran merupakan suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses
untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan memberikan nilai kepada
pelanggan, klien, rekan, dan cakupan sosial yang lebih luas dan untuk mengelola
hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku
kepentingan.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2017:124-135) sebagai berikut :
“Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what
they need and want through creating, offering, and freely exchanging products
and services of value with others”. Artinya pemasaran adalah sebuah proses
kemasyarakatan dimana individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka
butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran dan secara bebas saling
bertukar produk dan jasa yang bernilai satu sama lainnya.
Menurut Kotler dan Armstrong (2017:124-135) Pemasaran adalah sebagai
berikut : “Marketing as the process by which companies create value from
customers and build strong customers relationship in order to capture value from
customers in return”. Artinya pemasaran sebagai proses dimana perusahaan
menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan
pelanggan untuk mendapat nilai dari pelanggan sebagai imbalan.
Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya
pemasaran bukan hanya kegiatan menjual barang maupun jasa tetapi juga meliputi
kegiatan untuk memenuhi keingian dan kebutuhan dengan berusaha
mempengaruhi konsumen untuk bersedia membeli barang dan jasa perusahaan
melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran produk yang bernilai. Hal ini
sangat penting bagi manajer pemasaran untuk memahami tingkah laku konsumen
tersebut. Sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga,
mempromosikan dan mendistribusikan prduk secara lebih baik.

Hubungan antara Brand Trust, Kepuasan Pelanggan dan MinatBeli Ulang


Semakin meningkatnya pengaruh kepercayaan merek terhadap minat
beli ulang yang disebabkan oleh kepuasan konsumen yang tinggi.
Pelanggan yang percaya kepada suatu produk atau jasa tentu saja
akan melakukan transaksi secara berulang secara konsisten dimasa yang
akan datang (Rifa’i et al., 2020). Haron et al., (2020) Terciptanya rasa
kepuasan terhadap produk atau jasa yang digunakan oleh pelanggan
akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan merek karena apa yang
diharapkan oleh konsumen sudah terpenuhi sehingga minat beli ulang
tentu saja akan terjadi secara berulang. Hal ini sejalan dengan
meningkatnya kepercayaan pelanggan maka pelanggan akan terus
menerus menggunakan jasa atau produk tersebut secara konsisten.
Japarianto & Agatha (2020) brand trust memiliki pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen karena konsumen memiliki kepercayaan
terhadap suatu produk, maka produsen harus konsisten membangun
kepercayaan konsumen.

Hubungan Social Media Marketing, Kepuasan Pelanggan danMinat Beli Ulang


Peranan media sosial untuk meningkatkan minat beli ulang konsumen
dapat dipengaruhi oleh hubungan kerja sama yang baik antara
produsen dan konsumen dalam berkomunikasi melalui media sosial
sehingga mampu meningkatkan minat beli ulang konsumen, dimana hal
ini berdampak terhadap kepuasan konsumen yang dirasakan oleh
konsumen saat berbelanja melalui media sosial. Kepuasan konsumen
dirasakan saat tidak adanya keluhan atas produk yang dibelinya sehingga
akan mempengaruhi minat beli konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut (Lestari & Iswati, 2021). Menurut oliver dalam jurnal
Dwipayana & Sulistyawati (2018) kepuasan secara positif berkaitan
dengan niat beli ulang baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada tahap akhir dalam proses pembentukan kepuasan, kepuasan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut disebabkan oleh pengaruh pemasaran di media sosial.
Dilanjutkan menurut Tong & Subagio (2020) terdapat pengaruh
positif antara pemasaran media sosial yang menjadi faktor penting
dalam meningkatkan minat beli ulang dengan bantuan media
promosi dimedia sosial. Adanya pengaruh kepercayaan dari
promosi yang dilakukan terhadap minat beli ulang, karena
dengan semakin meningkatnya kepercayaan maka minat beli ulang juga
akan meningkat (Nur et al., 2021).

Kepuasan Pelanggan terhadap Minat Beli Ulang


Kepuasan pembeli meliputi seberapa dekat harapan pembeli atas
suatu produk dengan kinerja yang dirasakan pembeli atas produk tersebut.
Kepuasan konsumen memegang peran penting dalam menentukan antara
harapan konsumen dan kemampuan produk dalam memuaskan konsumen.
Pengaruh yang signifikan antara kepuasan pelanggan dengan minat beli
ulang, dimana semakin tinggi tingkat kepuasan suatu pelanggan maka
akan semakin tinggi pula minat beli ulang yang dilakukan oleh pelanggan
tersebut (Maulana & Sukresna, 2022). Tingkat kepuasan pelanggan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali ulang
produk atau membeli ulang produk.
Jadi semakin tinggi konsumen merasa puas terhadap produk maka
semakin banyak konsumen yang melakukan pembelian ulang pada produk.
Kepuasan pelanggan berpengaruh secara parsial terhadap minat beli
pelanggan. Kepuasan pelanggan nantinya dapat menanamkan kepercayaan
bagi konsumen. Kepercayaan yang terbentuk dapat memicu keinginan
pelanggan untuk melakukan pembelian secara berulang (Dwipayana &
Sulistyawati, 2018).

Brand trust terhadap minat beli ulang


Terdapat pengaruh langsung antara kepercayaan merek terhadap
minat beli ulang, karena dengan semakin meningkatnya kepercayaan
terhadap merek maka minat beli ulang juga akan meningkat. Membangun
dan menjaga kepercayaan merek merupakan hal yang sangat penting,
karena berdampak langsung terhadap minat pembelian ulang. Brand trust
menjadi aspek nilai yang mengikat konsumen dengan merek dan sebagai
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Fandiyanto & Endriyasari, 2019). Brand trust
merupakan sebuah kemampuan merek untuk meyakinan pelanggannya
bahwa suatu produk mampu memberikan nilai dan ide yang dijanjikan.
Memiliki kepercayaan pada produk didapatkan ketika menerima respon
baik dari konsumen. Jadi jika produk mendapat kepercayaan,
kemungkinan untuk terjadi niat beli ulang akan besar (Nur et al., 2021).
Minat beli ulang pada dasarnya tentang perilaku pelanggan ketika
pelanggan bereaksi positif terhadap kualitas layanan perusahaan dan
berniat untuk kembali atau mengkonsumsi produk perusahaan lagi.
Sehingga minat membeli ulang akan terjadi jika ada rasa puas dari seorang
konsumen

Brand Trust Terhadap Kepuasan Pelanggan


Kepercayaan merek memiliki pengaruh terhadap kepuasan
pelanggan karena ketika konsumen memiliki kepercayaan terhadap suatu
produk maka konsumen akan merasa puas bahkan akan
merekomendasikan kepada orang lain. Untuk membentuk suatu brand
trust, penjual produk perlu untuk secara konsisten membangun
kepercayaan konsumen. brand trust yang telah terbentuk akan
menimbulkan rasa nyaman dalam diri konsumen, Konsumen akan
cenderung merasa lebih nyaman dengan satu brand yang telah dipercaya
daripada memilih produk atau jasa dari brand lain (Japarianto & Agatha,
2020). Pelanggan akan percaya pada suatu merek walaupun adanya risiko
yang akan dihadapi. Faktor yang mempengaruhi kepercayaan meliputi tipe
suatu merek, tipe perusahaan dan hubungan pelanggan – merek. Terdapat
pengaruh yang baik antara kepercayaan merek dengan kepuasan pelanggan
dengan menandakan apabila tingkat kepuasan pelanggan tinggi maka
sudah dipastikan pelanggan sangat mempercayai merek tersebut.
(Anggraeni & Syuhada Sofyan., 2017). Kepercayaan merek yang telah
menjadi patokan dalam membangun dan menjalin hubungan bisnis
terutama yang berkaitan dengan unsur resiko sehingga dapat merasakan
kepuasan yang diinginkan (Ihsan & Sutedjo, 2022).

Indikator Kepuasan Pelanggan


Indikator kepuasan pelanggan yang digunakan dalam penelitian,
sebagaimana dikemukakan oleh (Kotler dan Keller 2016:120) pada
meliputi:

  1. Pengalaman: Ini merujuk pada pengalaman atau aktivitas
    yang telah dialami atau dilakukan oleh pelanggan dengan
    produk atau layanan yang mereka gunakan. Kepuasan
    pelanggan dapat muncul sebagai hasil dari pengalaman
    positif yang mereka alami dalam berinteraksi dengan
    perusahaan atau merek.
  2. Harapan Pelanggan: Harapan pelanggan mencakup sejauh
    mana harapan mereka terhadap produk atau layanan tertentu
    cocok dengan kinerja aktual yang mereka terima dari
    perusahaan. Jika kinerja produk atau layanan memenuhi atau
    bahkan melebihi harapan pelanggan, maka hal ini dapat
    berkontribusi positif terhadap kepuasan pelanggan.
    3) Kebutuhan: Indikator ini mengacu pada kesesuaian antara
    kebutuhan atau keperluan pelanggan dengan produk atau
    layanan yang ditawarkan oleh perusahaan. Ketika produk
    atau layanan secara efektif memenuhi kebutuhan pelanggan,
    maka pelanggan cenderung merasa puas.
    Ketiga indikator ini membantu dalam memahami faktor-faktor
    yang mempengaruhi kepuasan pelanggan. Menganalisis dan
    memahami hubungan antara pengalaman, harapan pelanggan,
    dan pemenuhan kebutuhan dengan kepuasan pelanggan dapat
    membantu perusahaan dalam merancang strategi pemasaran yang
    lebih efektif, meningkatkan kualitas produk atau layanan, dan
    mempertahankan hubungan yang kuat dengan pelanggan.

Definisi Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan (customer satisfaction) adalah suatu tingkatan
dimana perkiraan kinerja produk sesuai dengan harapan pembeli
(Kotler and Keller, 2013:150). Kepuasan pelanggan bergantung
pada perkiraan kinerja produk dalam memberikan nilai, relatif
terhadap harapan pembeli. Kepuasan pelanggan merupakan kunci
dalam menciptakan loyalitas pelanggan. Banyak manfaat yang
diterima oleh perusahaan dengan tercapainya tingkat kepuasan
pelanggan yang tinggi yaitu selain dapat meningkatkan loyalitas
pelanggan tapi juga dapat mencegah terjadinya perputaran
pelanggan, mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga,
mengurangi biaya kegagalan pemasaran, mengurangi biaya operasi
yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah pelanggan,
meningkatkan efektivitas iklan dan meningkatkan reputasi bisnis
(Aryani dan Rosinta, 2010)

Indikator Brand Trust


Menurut Lau dan Lee (1999) dalam jurnal penelitiannya yang
berjudul “Consumers’ Trust in a Brand and Link to Brand Loyalty”
mengemukakan bahwa terdapat tiga indikator yang dapat digunakan
untuk mengukur Brand Trust, yaitu:

  1. Brand Characteristic (Karakteristik Merek)
    Karakteristik merek berperan penting dalam menentukan seorang
    konsumen memutuskan untuk mempercayainya. Karakteristik
    sebuah merek terdiri dari reputasi merek yang baik yang dapat
    terwujud dari iklan dan hubungan masyarakat yang baik pula.
    Namun, hal ini juga dapat dilihat dari kualitas dan performa dari
    sebuah produk. Reputasi merek juga terwujud dari brand
    predictability yang berdampak pada harapan positif konsumen
    terhadap merek, dan brand competence, yaitu seberapa kompeten
    merek tersebut dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan
    pelanggan.
  2. Company Characteristic (Karakteristik Perusahaan)
    Tingkat kepercayaan pelanggan terhadap suatu brand juga
    dipengaruhi oleh atribut perusahaan tersebut. Nilai suatu merek bisa
    dipengaruhi oleh pengetahuan konsumen tentang perusahaan di balik
    merek tersebut. Saat sebuah perusahaan mendapatkan kepercayaan
    dari konsumennya, maka sebuah merek produk yang muncul dari
    perusahaan tersebut juga akan mendapatkan kepercayaan dari
    konsumen. Karakteristik perusahaan ini terdiri dari reputasi
    perusahaan dan integritas perusahaan.
  3. Consumer-Brand Characteristic (Karakteristik Konsumen-Merek)
    Atribut merek bisa berdampak pada kepercayaan pelanggan terhadap
    merek tersebut. Ciri-ciri ini terdiri dari pengalaman merek, kesukaan,
    kepuasan, dan dampak merek dari konsumen lain (word of mouth),
    serta kesamaan antara konsep diri konsumen dan citra merek.

Definisi Brand Trust


Kepercayaan Merek (Brand Trust) diartikan sebagai konsumen yang
mempercayai suatu produk dengan segala resikonya karena adanya
harapan atau ekspektasi tinggi terhadap merek tersebut akan
memberikan hasil yang positif sehingga konsumen akan memberikan
rasa kesetiaan dan kepercayaan terhadap suatu merek (Hidayah &
Apriliani, 2019). Kepercayaan Merek (Brand Trust) didefinisikan
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Tong & Subagio, 2020). Kepercayaan
melibatkan kesediaan seseorang untuk bertingkah laku tertentu
karena keyakinan bahwa mitranya akan memberikan apa yang ia
harapkan (Rodiques & Rahanatha, 2018).

Indikator social media marketing


Variabel social media marketing dalam penelitian ini diukur
dengan mengacu pada indikator-indikator yang telah ditentukan
oleh Oktriyanto, dkk. (2021). Indikator-indikator tersebut
mencakup:
1) Entertainment (Hiburan): Mencerminkan sejauh mana
pemasaran melalui media sosial memberikan aspek hiburan
yang menarik bagi konsumen.
2) Interaction (Interaksi): Mengukur tingkat interaksi dan
keterlibatan konsumen dengan konten yang dipromosikan
melalui media sosial.
3) Trendiness (Keterkinian): Menggambarkan sejauh mana
pemasaran melalui media sosial mengikuti tren dan
perkembangan terkini dalam industri atau pasar.
4) Customization (Penyesuaian): Mencerminkan tingkat
penyesuaian konten pemasaran dengan preferensi dan
kebutuhan individu konsumen
5) Advertisement (Iklan): Mengukur efektivitas iklan yang
disebarkan melalui media sosial sebagai bagian dari strategi
pemasaran.

Definisi Social Media Marketing


Social media adalah platform online di mana orang-orang dengan
minat yang sama mendukung satu sama lain dengan berbagi,
memberi komentar, dan memberikan dukungan (Weber, 2007).
Penggunaan platform komunikasi online yang didasarkan pada
penggunaan internet dan teknologi berbasis seluler dalam strategi
pemasaran oleh bisnis sangat penting karena mempengaruhi
bagaimana konsumen merespons produk dan merek mereka, serta
bagaimana produk dan merek tersebut disajikan kepada konsumen
lain (Sigala & Marinidis, 2009; Chen et al., 2011) (Fahmi et al.,
2019).
Menurut Santoso, Baihaqi, & Persada (2017), pemasaran media
sosial adalah bentuk pemasaran yang digunakan untuk menciptakan
kesadaran, pengakuan, ingatan, dan tindakan terhadap suatu merek,
produk, bisnis, individu, atau kelompok, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dengan menggunakan alat dari web sosial
seperti blogging, microblogging, dan jejaring sosial. Menurut
Ariadi & Saino (2014), pemasaran media sosial adalah upaya untuk
membujuk konsumen agar memilih suatu perusahaan, produk, atau
jasa yang ditawarkan. Pemasaran media sosial melibatkan
penggunaan jaringan sosial, blog pemasaran, dan berbagai platform
lainnya. Qurniawati (2018) menyatakan bahwa pemasaran media
sosial dilakukan untuk melibatkan pelanggan di platform online di
mana mereka secara alami menghabiskan waktu (Arif, 2021).
Social media marketing (SMM) melibatkan metode yang terkait
dengan pemasaran langsung dan tidak langsung untuk menciptakan
kesadaran, pengakuan, dan minat ulang terhadap suatu produk,
orang, atau merek. Ini dilakukan melalui alat-alat seperti jejaring
sosial, penyebaran konten, dan microblogging (Gunelius, 2011).
Dalam istilah yang lebih sederhana, SMM dapat dijelaskan sebagai
praktik periklanan yang dilakukan secara online, memanfaatkan
karakteristik etnis suatu masyarakat melalui jejaring sosial (seperti
Facebook dan YouTube), jejaring virtual (seperti Second Life), dan
situs yang berfokus pada pendapat (seperti Eopinions) untuk
mencapai tujuan pemasaran strategis (Tuten, 2008) (Fahmi et al.,
2019).

Indikator Minat Beli Ulang


Ferdinand dalam (Bahar & Sjaharuddin,2015) mengatakan bahwa
Indikator yang dapat diidentifikasikan dalam minat beli ulang
yaitu:

  1. Minat transaksional, yang merupakan kecenderungan
    seseorang untuk membeli ulang produk yang telah
    dikonsumsinya.
  2. Minat referensial, merupakan kecenderungan seseorang
    untuk mereferensikan produk yang sudah dibeli, agar dibeli
    juga oleh orang lain, dengan referensi pengalaman
    konsumsinya;
  3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan
    perilaku seseorang yang selalu memiliki preferensi utama
    pada produk yang telah dikonsumsi.
  4. Minat eksploratif, yaitu menggambarkan perilaku seseorang
    yang selalu mencari informasi mengenai produk yang
    diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-
    sifat positif dari produk yang dilanggananinya

Definisi Minat Beli Ulang


Menurut Kotler (2016) minat beli ulang yakni sebagaimana
perilaku individu yang termotivas untuk menukarkan uangnya
untuk menikmati atas barang yang yang telah dialami oleh
individu. Sedangkan konsep minat beli ulang menurut Belopa
(2015) faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang untuk
melakukan pembelian ulang yaitu psikologis, pribadi, dan sosial.
Minat beli ulang (Repurchase Intention) adalah niat atau keinginan
seorang pelanggan untuk kembali melakukan pembelian produk
atau layanan dari suatu perusahaan atau merek yang telah dia beli
sebelumnya. Ini mencerminkan tingkat kepuasan pelanggan
terhadap pengalaman sebelumnya dengan produk atau layanan
tersebut dan sejauh mana mereka memiliki niat untuk
mempertahankan hubungan bisnis dengan perusahaan atau merek
yang sama. Minat beli ulang adalah indikator penting dalam
mengukur kesetiaan pelanggan dan dapat menjadi petunjuk bagi
perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan hubungan
dengan pelanggan yang sudah ada. Menurut Ferdinand (2014)
perilaku pembeli condong membeli produk, kecendurangan orang
merenferensikan produk kepada orang lain, tingkah laku seseorang
yang memiliki preferensi utama pada produk, dan mencar nformasi
untuk mendukung sifat – sifat baik produk tersebut

Pengaruh Promosi Terhadap Minat Beli


Promosi merupakan salah satu kegiatan pemasaran yang penting
bagi perusahaan dalam mempertahankan kontinuitas serta
meningkatkan kualitas penjualan, dan untuk meningkatkan kegiatan
pemasaran terhadap barang atau jasa dari suatu perusahaan. Menurut
Tjiptono (2010) Promosi merupakan suatu ungkapan dalam arti luas
tentang kegiatan-kegiatan yang secara efektif dilakukan perusahaan
untuk mendorong konsumen menggunakan produk atau jasa yang
ditawarkan.Perusahaan yang mampu mempromosikan suatu produk
dengan baik maka akan meningkatkan minat beli. Hasil penelitian ini
didukung dengan adanya penelitian dari Martono dan Iriani (2014)
yang berhasil membuktikan bahwa promosi berpengaruh signifikan
terhadap minat beli

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Minat Beli


Kualitas produk merupakan segala sesuatu yang ditawarkan ke
pasar untuk mendapatkan perhatian, dibeli, digunakan atau dikonsumsi
yang dapat memuaskan keinginan konsumen. Pemasar yang tidak
memperhatikan kualitas produk yang ditawarkan akan menanggung
tidak loyalnya konsumen sehingga penjualan produknya pun cenderung
menurun. Menurut Kotler dan Amstrong dalam Nurdiansyah (2017),
menyatakan bahwa pemasar harus memperhatikan kualitas, bahkan
diperkuat dengan periklanan dengan harga yang wajar maka konsumen
tidak akan berfikir panjang untuk melakukan pembelian terhadap
produk. Minat beli konsumen adalah tahap dimana konsumen
membentuk pilihan mereka diantara beberapa merk yang tergabung
dalam perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Hasil penelitian Martono dan
Iriani (2014) berhasil membuktikan bahwa kualitas produk berpengaruh
signifikan terhadap minat beli.

Pengaruh Harga Terhadap Minat Beli


Harga sering kali dikaitkan dengan kualitas, konsumen cenderung
untuk menggunakan harga sebagai indikator kualitas atau kepuasan
potensial dari suatu produk. Menurut Umar dalam Widyaningrum
(2011), menyatakan bahwa produk dengan harga yang lebih murah,
fasilitas yang mudah didapatkan dan murah akan lebih diminati
masyarakat. Perusahaan yang mampu meluncurkan produk dengan
kualitas yang baik maka akan meningkatkan minat beli. Dalam
menentukan minat beli, informasi tentang harga sangatlah dibutuhkan
dimana informasi ini akan diperhatikan, dipahami dan makna yang
dihasilkan dari informasi harga ini dapat mempengaruhi perilaku
konsumen.

Tujuan promosi


Menurut Tjiptono (2015) Setiap perusahaan yang melakukan
kegiatan promosi tentu tujuan utamanya adalah untuk mencari laba
(keuntungan), pada umumnya kegiatan promosi harus mendasarkan
kepada tujuan sebagai berikut :

  1. Menginformasikan
    Kegiatan promosi yang bertujuan untuk berusaha
    menginformasikan konsumen akan merek atau produk tertentu
    baik itu produk maupun merek baru atau produk dan merek
    yang sudah lama tetapi belum luas terdengar oleh konsumen.
  2. Membujuk
    Kegiatan promosi yang bersifat membujuk dan mendorong
    konsumen untuk melakukan pembelian atas produk yang
    ditawarkan. Perusahaan lebih mengutamakan penciptaan kesan
    positif kepada konsumen agar promosi dapat berpengaruh
    terhadap perilaku pembeli dalam waktu lama.
  3. Mengingatkan
    Kegiatan promosi yang bersifat mengingatkan ini dilakukan
    untuk mempertahankan merek produk dihati masyarakat, dan
    mempertahankan pembeli yang akan melakukan transaksi
    pembelian.

Indikator-indikator promosi


Menurut Kotler (2012) indikator promosi adalah sebagai berikut :

  1. Advertising (periklanan)
    Semua yang bentuk presentasi dan promosi nonpersonal yang
    dibayar oleh sponsor untuk mempersentasikan gagasan, dan
    barang atau jasa. Periklanan di anggap sebagai manajemen citra
    yang bertujuan menciptakan dan memelihara cipta dan makna
    dalam benak konsumen. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup broadcast, print, internet, outdoor, dan dalam
    bentuk lainnya.
  2. Sales promotion (promosi penjualan)
    Intensif-intensif jangka pendek untuk mendorong pembelian
    atau penjualan suatu produk atau jasa. Bentuk promosi yang
    digunakan mencakup discounts, coupons, displays,
    demonstrations, contests, sweepstake, dan event.
  3. Personal selling (penjualan perseorangan)
    Persentasi personal oleh tenaga penjualan dengan tujuan
    menghasilkan penjualan dan membangun hubungan dengan
    konsumen. Bentuk promosi yang digunakan mencakup
    presentations, trade shows, dan incentive programs.
  4. Public relations (hubungan masyarakat)
    Membangun hubungan yang baik dengan berbagai publik
    perusahaan supaya memperoleh publisitas yang
    menggantungkan, membangun citra perusahaan yang bagus,
    dan menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang
    tidak menguntungkan. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup press releases, ponsorships, special event, dan web
    pages.
  5. Direct marketing (penjualan langsung)
    Hubungan langsung dengan sasran konsumen dengan tujuan
    untuk memperoleh tanggapan segera dan membina hubungan
    yang abadi dengan konsumen. Bentuk promosi yang digunakan
    mencakup catalogs, telephone marketing, kiosks, internet,
    mobile marketing, dan lainnya

Pengertian Promosi


Promosi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan
mengkomunikasikan produk kepada konsumennya, sehingga
konsumen tersebut ikut merasakan kegunaan produk yang
dihasilkan sertan kualitas produk yang dihasilkan oleh perusahaan.
Oleh karena itu, betapa pun tingginya kualitas produk yang
dihasilkan bila tanpa produk promosi yang optimal atau proses
menginformasikan yang baik kepada konsumen maka aktivitas
pemasaran tidak akan pernah efektif dan efisien. Menurut Kotler
(2012:10) promosi adalah usaha yang dilakukan oleh marketer,
berkomunikasi dengan calon audiens, komunikasi adalah proses
membagi ide, informasi atau perasaan audiens.
Menurut Alma (2014:179) promosi adalah suatu bentuk
komunikasipemasaran, yang merupakan aktivitas pemasaran yang
berusahamenyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan
atau mengingatkanpasar sasaran atas perusahaan dan produknya
agar bersedia menerima,membeli, dan loyal pada produk yang
ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Dalam usaha
menunjangpenjualan suatu produk dan memperkenalkannya kepada
orang lain ataukonsumen, serta menarik konsumen untuk membeli
produk maka diperlukansuatu usaha untuk mempromosikan produk
tersebut.Selain mempunyai mamfaat dalam memperkenalkan
produk baru, promosi juga penting sekali dalam hal
mempertahankan selera konsumen untuktetap mengkonsumsi
produk yang sudah ada. Namun betapun gencarannyakegiatan
promosi yang dilakukan perusahaan, perlu pula didukung oleh
hargadan kualitas dari produk yang dipromosikan.
Lalu Buchari Alma (2012) juga mengatakan promosi adalah
sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang menyakinkan
calon konsumen tentang barang dan jasa. Menurut Kotler dan
Keller (2016) promosi adalah aktifitas yang mengkomunikasikan
keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk
membelinya. Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa promosi adalah suatu kegiatan komunikasi
antara pembeli dan penjual mengenai keberadaan produk dan jasa,
menyakinkan, membujuk, dan meningkatkan kembali akan produk
dan jasa tersebut sehingga mempengaruhi sikap perilaku yang
mendorong kepada pertukaran dalam pemasaran

Tingkatan kualitas produk


Menurut Arif (2012), terdapat lima tingkatan didalam kualitas
produk, yaitu :

  1. Manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat inti
    sesungguhnya yang dibeli dan diperoleh oleh konsumen.
  2. Manfaat dasar tambahan (basic product), tingkat selanjutnya
    seorang pemasar harus mampu merubah manfaat inti menjadi
    produk dasar.
  3. Harapan produk (expected product), adalah serangkaian kondisi
    yang diharapkan dan disenangi, dimiliki atribut produk
    tersebut.
  4. Kelebihan yang dimiliki produk (augmented product), yaitu
    salah satu manfaat dan pelayanan yang dapat membedakan
    produk tersebut dengan pesaing.
  5. Potensi masa depan produk (potensial product), artinya
    bagaimana harapan masa depan produk tersebut apabila terjadi
    perubahan dan perkembangan teknologi serta selera konsumen.

Indikator dari kualitas produk


Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas produk memiliki
indikator sebagai berikut :

  1. Bentuk (form), bentuk sebuah produk dapat meliputi ukuran,
    bentuk, atau struktur fisik produk.
  2. Fitur (feature), fitur produk yang melengkapi fungsi dasar suatu
    produk.
  3. Penyesuaian (customization), pemasar dapat
    mendiferensiasikan produk dengan menyesuaikan produk
    tersebut dengan keinginan perorangan.
  4. Kualitas kinerja (performance quality), tingkat dimana
    karakteristik utama produk beroperasi.
  5. Kualitas kesesuaian (conformance quality), tingkat dimana
    semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi
    yang dijanjikan.
  6. Ketahanan (durability), merupakan ukuran umur operasi
    harapan produk dalam kondisibisa atau penuh tekanan.
  7. Keandalan (reliability),ukuran profitabilitas bahwa produk akan
    bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu
    tertentu.
  8. Kemudahan perbaikan (repairability), ukuran kemudahan
    perbaikan produk ketika produk itu tidak berfungsi atau gagal.
  9. Gaya (style), menggambarkan penampilan dan rasa produk
    kepada pembeli.
  10. Desain (design), totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan,
    rasa, dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan pelanggan

Pengertian Kualitas Produk


Produk merupakan inti dari sebuah kegiatan pemasaran karena
produk merupakan output atau hasil dari salah satu kegiatan atau
aktivitas perusahaan yang dapat ditawarkan kepasar sasaran untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada dasarnya
dalam membeli suatu produk, seorang konsumen tidak hanya
membeli produk, akan tetapi konsumen juga membeli manfaat atau
keunggulan yang dapat diperoleh dari produk yang dibelinya. Oleh
karna itu suatu produk harus harus memiliki keunggulan dari
produk-produk yang lain, salah satunya dari segi kualitas produk
yang ditawarkan. Menurut Kotler dan Keller (2012) kualitas
produk adalah kemampuan sebuah produk dalam mempergerakan
fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas,
ketepatan, kemudahan pengoperasian, dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya. Sedangkan menurut Garvin (2010) kualitas
adalah keunggulan yang dimiliki produk tersebut. Kualitas dalam
pendangan konsumen adalah hal yang mempunyai ruang lingkup
tersendiri yang berbeda dengan kualitas dalam pandangan produsen
saat mengeluarkan suatu produk yang biasa dikenal sebagai
kualitas sebenarnya.
Menurut Fandy Tjiptono (2015:231), dari sudut pandang
pemasar, kualitas produk merupakan segala sesuatu yang dapat
ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, dan dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan
atau keinginan pasar bersangkutan. Dan jika dari perspektif
konsumen, produk adalah segala sesuatu yang diterima konsumen
dari sebuah pertukaran dengan pemasar. Sedangkan menurut
Mowen (2012) kualitas produk adalah proses evaluasi secara
keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk.
Kualitas produk memiliki suatu ketertarikan bagi konsumen dalam
mengelola hubungan yang baik dengan perusahaan penyedia
produk. Berdasrkan beberapa definisi diatas dapat disimpukan
bahwa kualitas produk adalah kemampuan suatu produk dalam
memenuhi keinginan konsumen. Keinginan konsumen tersebut
diantaranya daya tahan produk, keandalan produk, kemudahan
pemakaian, serta atribut bernilai lainnya yang bebas dari
kekurangan dan kerusakan

Tujuan dalam menetapkan harga


Menurut Fandy Tjiptono dalam Hadiyuda (2014) menyatakan
bahwa terdapat empat (4) macam tujuan dalam menetapkan harga,
yaitu:

  1. Tujuan mengacu terhadap laba, perusahaan memilih harga
    untuk dapat mengasilkan laba yang tinggi.
  2. Tujuan mengacu pada citra, perusahaan dapat menetapkan
    harga tinggi dalam membentuk citra prestisius dan harga
    tertentu citra nilai tertentu.
  3. Tujuan mengacu pada volume penjualan, menetapkan harga
    agar bisa mencapai target volume penjualan.
  4. Tujuan mengacu pada stabilitas harga, perusahaan
    mempertahankan untuk hubungan yang stabil antara harga dari
    perusahaan dengan harga pemimpin

Indikator dari harga


Menurut Kotler dan Amstrong (2012) indikator yang dimiliki
harga adalah sebagai berikut:
1) Keterjangkauan harga, konsumen bisa menjangkau harga yang
telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya ada beberapa
jenis dalam satu merk dan harganya juga berbeda dari termurah
sampai termahal.
2) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga, konsumen
sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
lainnya. Dalam hal ini mahal murahnya harga suatu produk
sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat membeli
produk tersebut.
3) Kesesuaian harga dengan kualitas produk, harga sering kali
dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering
memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena
mereka melihat adanya perbedaan kualitas.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, konsumen memutuskan
membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar
atau sama dengan yag telah dikeluarkan untuk mendapatkannya.
Menurut Kotler dan Amstrong (2012) didalam variabel harga
ada beberapa unsur kegiatan utama yaitu, meliputi imbalan, diskon,
dan bonus. Teori nilai ini kemudian berkembang melahirkan teori
imbalan yang dikemukakan oleh Lorenzo (2016:37) bahwa setiap
aktivitas transaksi produk dan jasa selalu menyertakan harga
imbalan sebagai kesepakatan. Imbalan adalah balas jasa atas
kegiatan transaksi produk yang saling menguntungkan oleh pihak
produsen dan konsumen atau dengan kata lain provider dan
pelanggan. Pada berbagai kegiatan pemasaran produk dan jasa,
aktivitas penentuan harga menjadi penting dan krusial. Umumnya
pelanggan atau konsumen menghendaki harga yang lebih murah.
Teori potong harga atau diskon merupakan konsepsi tentang
penghargaan dan kejadian transaksi. Muller (2013:25)
mengemukakan bahwa teori potong harga (discount) merupakan
sebuah tindakan dan perilaku yang mengapresiasikan pentingnya
harga untuk menarik keuntungan. Artinya, pemberian diskon
merupakan sebuah daya tarik untuk mendapatkan keuntungan
dengan memberikan penghargaan dan manfaat atas produk dan jasa
yang dibeli. Pemberian bonus menjadi nilai keuntungan yang
dirasakan oleh pelanggan dan menjadi keuntungan bagi pemberi
bonus. Bonus merupakan dua sisiyang saling menguntungkan baik
dari pihak produsen dan konsumen atau dari provider dan
pelanggan

Pengertian Harga


Perusahaan mampu bertahan ditengah persaingan yang ketat
apabila perusahaan tersebut berhasil dalam memadukan keempat
varial bauran pemasaran, yaitu harga, produk, promosi, dan saluran
distribusi dengan tepat. Harga memiliki peranan yang sangat
penting dalam mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli
produk atau jasa, sehingga sangat menentukan keberhasilan
pemasaran suatu produk dan jasa. Disamping itu harga merupakan
unsur dari bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, yang artinya
dapat diubah dengan cepat. Definisi harga menurut Kotler dan
Amstrong (2012) dalam artian sempit harga dapat didefiniskan
sebagai jumlah uang yang ditagihkan untuk suatu produk atau jasa,
atau dapat didefiniskan secara luas harga adalah sebagai jumlah
nilai yang ditukarkan konsumen untuk keuntungan memiliki dan
menggunakan produk atau jasa yang memungkinkan perusahaan
mendapatkan laba yang wajar dengan cara dibayar untuk nilai
pelanggan yang diciptakannya.
Definisi harga menurut Buchari Alma (2015) harga adalah
nilai suatu produk untuk ditukarkan dengan produk lain. Nilai ini
dapat dilihat dalam situasi barter yaitu pertukaran barang dengan
barang. Sekarang ini ekonomi kita tidak melakukan barter lagi,
akan tetapi menggunakan uang sebagai ukuran yang disebut harga.
Lalu Kotler (2014) juga menjelaskan bahwa harga adalah
penetapan balas jasa sesuai dengan nilai produk.Harga sangat
penting dalam menentukan nilai suatu produk nilai produk
tergantung pada harganya, nilai produk ditentukan berdasarkan
harganya. Pernyataan ini biasa dikenal dengan teori nilai. Semakin
mahal harga produk, maka semakin tinggi nilainya.
Menurut Philip Kotler (2012) harga adalah jumlah uang yang
harus dibayar pelanggan untuk produk yang akan dibelinya.
Menurut kebijakan mengenai harga sifat hanya sementara, itu
berarti produsen harus mengikuti perkembangan harga dipasar dan
harus mengetahui posisi perusahaan dalam situasi pasar secara
keseluruhan. Dari beberapa definisi menurut para ahli diatas dapat
disimpulkan harga adalah nilai uang yang harus dibayarkan oleh
konsumen kepada penjual atas barang atau jasa yang dibelinya,
dengan kata lain harga adalah nilai suatu barang yang ditentukan
oleh penjual

Indikator minat beli


Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) ada beberapa
indikator yang menentukan minat beli, yaitu :
a) Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang dalam
membeli produk.
b) Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang
mereferensikan produk kepada orang lain.
c) Minat preferensial, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
memiliki preferensial utama pada produk tersebut.
d) Minat eksploratif, yaitu menunjukkan perilaku seseorang yang
selalu mencari informasi mengenai produk yang diminati dan
mencari produk lain yang akan mendukung sifat-sifat positif
dari produk tersebut.
d. Aspek-aspek minat beli
Menurut Lucas dan Britt dalam Wisnu (2016) aspek-aspek
yang terdapat dalam minat beli adalah :
1) Aspek ketertarikan adalah perilaku konsumen yang
menunjukkan adanya pemusatan perhatian yang disertai rasa
senang terhadap suatu produk.
2) Aspek keinginan adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya dorongan untuk berkeinginan memiliki suatu produk.
3) Aspek keyakinan, adalah perilaku konsumen yang menunjukkan
adanya rasa percaya diri terhadap kualitas, daya guna dan
manfaat dari membeli suatu produk

Faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli


Faktor-faktor yang membentuk minat beli menurut Kotler
dalam Abzari, et al (2014), yaitu :
a) Faktor kualitas produk, merupakan atribut produk yang
dipertimbangkan dari segi manfaat fisiknya.
b) Faktor brand / merek, merupakan atribut yang memberikan
manfaat non material, yaitu kepuasan emosional.
c) Faktor kemasan, atribut produk berupa pembungkus dari pada
produk utamanya.
d) Faktor harga, pengorbanan riel dan material yang diberikan oleh
konsumen untuk memproleh atau memiliki produk.
e) Faktor ketersediaan barang, merupakan sejauh mana sikap
konsumen terhadap ketersediaan produk yang ada.
f) Faktor promosi, merupakan pengaruh dari luar yang ikut
memberikan rangsangan bagi konsumen dalam memilih produk

Pengertian Minat Beli


Banyak pakar yang mendefinisikan tentang minat beli
berdasarkan perspektifnya masing-masing meskipun tidak terdapat
satu definisi tunggal yang menjadi rujukan bersama mengenai
minat beli, namun pada intinya mereka menyatakan subtansi yang
sama tentang minat beli. Salah satu bentuk dari perilaku konsumen
yaitu minart atau keinginan membeli suatu produk atau layanan
jasa. Bentuk dari konsumen minat beli adalah konsumen potensial
yaitu konsumen yang belum melakukan tindakan pembelian pada
masa sekarang dan kemungkinan akan melakukan tindakan
pembelian pada masa yang akan datang atau bisa disebut sebagai
calon pembeli.Menurut Kotler dalam Abzari, et al (2014) minat
beli adalah perilaku konsumen dimana konsumen memiliki
keinginan dalam memilih dan mengkonsumsi suatu produk. Minat
beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah berpengaruh
terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk dan informasi suatu
produk. Menurut Engel dalam Nih Luh Julianti (2014) berpendapat
bahwa minat beli sebagai kekuatan pendorong atau sebagai motif
yang bersifat instristik yang mampu mendorong seseorang untuk
menaruh perhatian secara spontan, wajar, mudah, tanpa paksaan
dan selektif pada suatu produk untuk kemudian mengambil
keputusan membeli. Hal ini dimungkinkan oleh adanya kesesuaian
dengan kepentingan individu yang bersangkutan serta memberi
kesenangan dan kepuasan pada dirinya. Jadi sangatlah jelas bahwa
minat beli diartikan sebagai suatu sikap menyukai yang ditunjukan
dengan kecenderungan untuk selalu membeli yang sesuai dengan
kesenangan dan kepentingannya. Sedangkan Menurut Durianto
(2013) minat beli adalah keinginan untuk membeli produk.
Menurut Assael Sukmawati dan Suyono dalam Pramono
(2012) minat beli adalah tahap dimana konsumen membentuk
pilihan mereka diantara beberapa merek yang tergabung dalam
perangkat pilihan. Kemudian pada akhirnya melakukan suatu
pembelian pada suatu alternatif yang paling disukainya atau proses
yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang
didasari oleh bermacam pertimbangan. Kemudian Kotler, Bowen,
dan Makens (2014) menyatakan bahwa minat beli timbul setelah
adanya proses evaluasi alternatif. Dalam proses evaluasi seseorang
akan membuat suatu rangkaian pilihan mengenai produk yang
hendak dibeli atas dasar merek maupun niat. Menurut Ferdinand
(2016) minat beli konsumen dapat diartikan sebagai minat beli
yang mencerminkan hasrat dan keinginan konsumen untuk
membeli suatu produk. Berdasarkan dari beberapa definisi diatas
dapat ditarik kesimpulan bahwa minat beli adalah perilaku
konsumen dimana konsumen memiliki keinginan dalam memilih
dan mengkonsumsi suatu produk dengan merk yang berbeda,
kemudian melakukan suatu pilihan yang disukainya dengan cara
membayar uang atau dengan pengorbanan

Hubungan Citra Merek terhadap Minat Beli Ulang


Citra merek diartikan sebagai ingatan akan suatu merek atau produk yang
terbentuk di benak konsumen. Sehingga konsumen akan lebih bersedia untuk
memilih produk yang sudah dikenal memiliki citra merek yang positif. Oleh karena
itu, sangat penting bagi produsen untuk menjaga citra merek yang baik dari
produknya di benak konsumen. Munculnya niat beli kembali suatu produk pada
konsumen disebabkan oleh pengaruh dari produk itu sendiri
Brand image juga merupakan pondasi penting untuk menarik minat beli
ulang konsumen. Ketika konsumen mengukur suatu merek melalui kualitas,
keandalan, dan nilai tambah, minat beli ulang cenderung akan meningkat. Sebuah
brand image yang kuat akan membangun kepercayaan dan loyalitas, dapat
menimbulkan minat beli ulang yang kuat, serta pengaruh positif terhadap
pertumbuhan dan kesuksesan merek dalam pasar.
Citra merek memiliki keterkaitan terhdap minat beli ulang, karena dengan
adanya citra merek yang positif dapat menarik dan juga meningkatkan minat
konsumen untuk membeli kembali produk atau layanan yang ditawarkan. Dengan
adanya keyakinan oleh konsumen terhdap suatu merek maka citra merek dianggap
memiliki hubungan yang signifikan terhadap minat beli ulang

Hubungan Kredibilitas Selebrity Endorser terhadap Minat Beli Ulang


Kredibilitas celebrity endorser di artikan sebagai sebuah kepercayaan
kepada seorang celebrity endorser, dengan adanya kepercayaan yang dibangun
oleh celebrity endorser maka akan mempengaruhi kepercayaan para pengikutnya
melalui segala informasi yang di sampaikan, dengan kepercayaan yang telah di
bangun dengan baik maka seorang celebrity endorser akan sangat mudah
mempengaruhi minat beli ulang jika melakukan promosi kepada para konsumen.
Kredibilitas selebrity endorser memiliki peran penting dalam
mempengaruhi minat beli ulang calon konsumen terhadap produk atau jasa yang
iklankan. Apabila seorang selebriti mempunyai reputasi yang baik dan dihormati
dalam bidangnya, pengikutnya cenderung untuk mengaitkan reputasi positif
tersebut dengan produk yang diiklankan.
Selain itu pemilihan selebrity sebagai endorser suatu produk harus
disesuaikan menurut sikap maupun karakteristik agar sesuai dengan produk yang
akan ditawarkan sehingga calon konsumen akan lebih mudah menerima pesan yang
di sampaikan dan berminat untuk membeli kembali.

Kredibilitas Selebrity Endorser


Kredibilitas merupakan keadaan atau kondisi dapat dipercaya dan bisa
dipertanggung jawabkan. Kredibilitas celebrity endorser bisa diartikan tingkat
kepercayaan dari seorang tokoh endorser dimata perusahaan, pelangan, dan
masyarakat (Seti, 2022). Selebriti digunakan untuk menarik perhatian khalayak
dan meningkatkan citra produk. Penggunaan selebriti menimbulkan kesan bahwa
konsumen selektif dalam memilih dan meningkatkan status dengan memiliki apa
yang digunakan oleh selebriti (Indah et al, 2023)
Dalam prosesnya Celebrity Endorser dapat memperlihatkan dukungannya
dengan cara memberikan kesaksian, dorongan, dan penguatan secara individu
kepada konsumen atau dengan cara bersikap sebagai seorang aktor maupun aktris
di dalam sebuah iklan serta menjadi pembicara yang mampu mewakili perusahaan.
Celebrity Endorser juga memiliki manfaat serta fungsi yang positif ataupun
signifikan dikarenakan memiliki popularitas, bakat, kharisma, dan kredibilitas. Dari
keempat unsur tersebut kredibilitas merupakan unsur terpenting bagi konsumen.
25
Karena dengan kredibilitas yang tinggi menggambarkan persepsi konsumen
terhadap keahlian, dan pengetahuan selebriti mengenai produk yang di iklankan dan
kepercayaan selebriti mengenai produk tersebut (Anas & Ahmad Aulia, 2020)
Selebrity yang baik digunakan dalam iklan adalah selebrity yang sudah
dikenal banyak masyarakat karena dianggap memiliki kemampuan, kualitas, dan
kekuatan yang dapat menciptakan rasa kepercayaan konsumen serta mendorong
minat beli konsumen terhadap produk yang dipromosikannya (Siti Barokah,.dkk
2021). Celebrity endorser sudah lama digunakan seperti pada media televisi.
Promosi melalui televisi memiliki sifat umum sehingga pada saat ditampilkan iklan
mengakibatkan terpecahnya perhatian penonton disebabkan banyaknya pilhan
program lain. Sedangkan celebrity endorser melalui media sosial memiliki sifat
pribadi. Disaat seseorang telah menjadikan selebriti tersebut sebagai trendsetter
maka calon konsumen akan mengunjungi media sosial selebriti tersebut dan
mengikutinya. Suatu iklan dengan menggunakan celebrity endorser melalui media
sosial dapat dibilang praktis dan efektif karena tidak butuh banyak biaya dan
peraturan, namun hasilnya sangat berpengaruh terhadap penjualan. (Riva’i & Intan,
2022)
Penggunaan selebriti dalam suatu iklan biasa digunakan untuk mendukung
penjualan dari suatu produk, salah satunya produk kosmetik kecantikan yang sangat
erat kaitannya dengan model cantik & tampan dan sering dijadikan brand
ambassador produk tersebut. Produk kosmetik kecantikan sudah begitu marak
dipasaran dan semakin banyak persaingan, oleh karenanya pentingnya suatu
perusahaan tersebut untuk menginformasikan produknya kepasaran harus semakin
kreatif, menarik dan mudah diingat untuk menarik hati para calon konsumen
(Aditya,.dkk 2020)
Endorser adalah salah satu metode yang paling diminat, dengan
menggunakan selebriti yang menarik, mempunyai popularitas yang tinggi serta
dapat dipercaya oleh publik yang dituju dapat membuat produk yang dipromosikan
menjadi dikenal, diketahui dan diminati (Riani et al., 2023) Kredibilitas endorser
mengacu pada tokoh terkenal atau selebriti yang dipekerjakan untuk
mempromosikan brandnya (Trissetianto & Wibowo, 2024). Sedangkan (Angelica
& Loisa, 2023) mengatakan Seorang celebrity endorser diharapkan dapat menjadi
juru bicara merek, mampu menciptakan citra yang baik untuk merek itu sendiri dan
mampu menarik perhatian konsumen.
Celebrity Endorser adalah individu yang secara aktif mendukung
promosi atau pengiklanan suatu produk, seringkali dengan cara yang meyakinkan.
Para celebrity endorser ini biasanya tokoh terkenal, selebritis tingkat atas, atau
bahkan influencer yang memiliki popularitas di kalangan masyarakat, celebrity
endorser tersebut berfungsi untuk dapat menarik perhatian calon konsumen (Lisa
et al, 2024)
Celebrity atau Celebrity Endorser adalah Seorang celebrity endorser
adalah seseorang yang dikenal oleh publik karena prestasinya selain dari produk
yang mereka promosikan (Nugraha & Dirgantara, 2024). Endorser adalah seorang
selebritis atau non-selebriti yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan
membawa minat terhadap strategi pemasaran suatu perusahaan sehingga
masyarakat atau konsumen dapat terpengaruh oleh kegiatan promosi yang
dipasarkan oleh Endorser (D. N. Oktaviani & Narsih, 2023).
Seseorang yang sudah terkenal dapat dijadikan sebagai Celebrity Endorser
untuk menarik minat beli karena banyak orang yang memiliki sifat meniru apa yang
digunakan atau apa yang dimiliki selebrity yang disukai (Ningsih & Muzdalifah,
2024). Celebrity Endorser merupakan orang yang telah dipilih untuk mewakili
citra suatu produk, karena seorang yang dikenal di masyarakat pasti mempunyai
karakter yang kuat dan suatu daya tarik tertentu (F. Putri & Hendratmi, 2022)
Kredibilitas selebrity adalah sekelompok publik figur yang memiliki talenta
serta memiliki hubungan sosial yang baik atau dikenal oleh masyarakat menjadi
daya tarik tersendiri bagi konsumen (Nurdiyanto & Malik, 2019). Menurut
(Nurdiyanto & Malik, 2019) mengatakan bahwa ada beberapa indikator Celebrity
Endorser, Indikator ini dapat digunakan oleh perusahaan sebagai acuan dalam
memilih Celebrity Endorser agar iklan yang di bintanginya bisa efektif dalam
mempengaruhi respon konsumen, Indikator di antaranya :

  1. Dapat dipercaya mengacu pada kejujuran, integritas dan dapat
    dipercayainya seorang endorser.
  2. Keahlian mengacu pada pengetahuan, pengalaman dan keahlian yang
    dimiliki oleh seorang endorser.
  3. Daya tarik fisik mengacu pada diri yang dianggap sebagai hal yang menarik
    untuk dilihat

Minat Beli Ulang


Menurut Natalia et al (2022) berpendapat bahwa minat pembelian ulang
yaitu minat pembelian ulang mеnunjukаn perilaku pеmbеliаnselanjutnya tеrhаdаp
brand produk serta jаsа yаng sаmа, dikarenakan konsumеn tidаk mеmpunyai
perilaku kеtеrtаrikаn еmosionаl pada produk dаn jаsа yang lаinnya. Menurut
(Permatasari & Ali Hapzi, et al., 2022) minat pembelian ulang adalah seseorang
yang telah melakukan pembelian, dan berencana melakukan pembelian lagi
dikatakan mempunyai niat membeli kembali.
Menurut (Mehta, 2018) mendefinisikan minat beli ulang sebagai
kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan
yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian. Minat membeli ulang yang tinggi mencerminkan
tingkat kepuasan yang tinggi dari konsumen ketika memutuskan untuk
mengkonsumsi produk yang diberikan setelah mencoba produk tersebut dan
kemudian timbul rasa suka atau tidak suka terhadap (Firni et al., 2024).
Minat beli ulang merupakan perangsang yang berasal dari produk yang
terlihat dengan tujuan untuk menarik konsumen agar membeli produk tersebut
dengan cara membuat mereka ingin membeli produk tersebut (Axana et al., 2024).
minat beli ulang adalah keinginan dan tindakan konsumen untuk melakukan
pembelian ulang suatu produk karena adanya kepuasan sesuai dengan yang
diinginkan dari produk tersebut (Putri et al., 2024). Minat pembelian ulang
merupakan efek dari kepuasan konsumen yang tercipta dari penanganan yang tepat
terhadap keluhan konsumen (Hermawan, 2023).
Menurut (Kotler & Keller, 2021) Minat beli ulang yakni sebagaimana
perilaku individu yang termotivasi untuk menukarkan uangnya untuk menikmati
atas barang yang yang telah dialami oleh individu. Menurut (Teressa et al., 2024),
mendefinisikan minat beli ulang sebagai niat konsumen untuk membeli produk atau
layanantertentu di masa depan. minat beli ulang merupakan suatu dorongan yang
terjadi dari sebuah aktivitas konsumen yang diharapkan akan melakukan suatu
pembelian kembali sebagai hasil dari adnya penilaian terhadap produk dan jasa
yang telah digunakan untuk dikonsumsi (Wahyuningsih et al., 2022)

Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk memahami “Mengapa konsumen
melakukan dan apa yang mereka lakukan” (Schiffman, 2020) mengemukakan
bahwa studi perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang
individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia
(waktu, uang, usaha dan energi). Konsumen memiliki keragaman yang menarik
untuk dipelajari karena meliputi seluruh individu dari berbagai usia, latar belakang
budaya, pendidikan, dan keadaan sosial ekonomi. Menurut (Kotler & Keller, 2021)
Perilaku konsumen adalah studi bagaimana individu, kelompok dan organisasi
memilih, membeli, menggunakan dan menempatkan barang, jasa, ide atau
pengalaman untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.
Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh keadaan dan situasi lapisan
masyarakat di mana perilaku dilahirkan dan berkembang. Ini berarti konsumen
berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang berbeda akan mempunyai
penilaian, kebutuhan, pendapat, sikap dan selera yang berbeda-beda, sehingga
pengambilan keputusan dalam tahap pembelian akan dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut (Kotler & Keller,
2021) terdiri dari :

  1. Faktor Kebudayaan : Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan
    mendalam terhadap perilaku konsumen. Faktor kebudayaan terdiri dari:
    budaya, sub budaya, kelas sosial .
  2. Faktor Sosial : Selain faktor budaya, perilaku konsumen dipengaruhi
    oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status
    sosial.
  3. Faktor Pribadi : Faktor pribadi yang memberikan kontribusi terhadap
    perilaku konsumen terdiri dari; usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan
    dan lingkungan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri.
  4. Faktor Psikologis : Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat
    faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, seta
    keyakinan dan pendirian

Peran Pembeli


Seorang pemasar perlu mengetahui siapa yang berperan dalam
kegiatan pembelian, karena semua itu mengandung implikasi yang akan
digunakan untuk merancang produk yang akan diproduksi, penentu pesanan
dan penentu anggaran biaya produksi. Beberapa peranan dalam keputusan
pembelian menurut Philip Kotler (2007 :225)

  1. Initiator
  2. Influencer
  3. Decider
  4. Buyer
  5. User

Pengertian Keputusan Pembelian


Untuk mendapat gambaran mengenai keputusan pembelian, berikut
ini akan dikemukakan definisi mengenai keputusan pembelian menurut para
ahli.Menurut Philip Kotler (2007; 223). Keputusan Pembelian yaitu: beberapa
tahapan yang dilakukan oleh konsumen sebelum melakukan keputusan
produk.

Kualitas Produk


Produk yang mempunyai kualitas yang sama dengan produk lain
tetapi ditetapkan pada harga yang lebih murah akan memberikan nilai yang
lebih tinggi kepada pelanggannya.
Produk didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat ditawarkan ke
dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai, atau dikonsumsi
sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan (Kotler, 2002).
Konsumen akan menyukai produk yang menawarkan kualitas,
kinerja, dan pelengkap inovatif yang terbaik (Simamora, 2004). Produk
yang berkualitas adalah produk yang mampu memberikan hasil yang
lebih dari yang diharapkan.
Fandy Tjiptono mengartikan produk sebagai: “segala sesuatu
yang ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan/dikonsumsi pasar sebagai pemenuh kebutuhan/keinginan
pasar yang bersangkutan” (1999:95). Produk yang ditawarkan tersebut
meliputi: barang fisik, jasa, orang/pribadi, organisasi, dan ide. Secara
lebih rinci, konsep produk meliputi: barang, kemasan, merk, warna,
label, harga, kualitas, pelayanan dan jaminan.
Konsep-konsep yang bersaing yang telah digunakan oleh
organisasi pada kegiatan pemasaran mencakup: konsep produksi,
konsep produk, dan kosnep penjualan. Dalam buku Philip Kotler
(2009, hal 18).
a. Konsep Produksi
Konsep produksi adalah salah satu dari konsep tertua dalam bisnis.
Konsep itu menegaskan bahwa konsumen akan memilih produk
yang tersedia dimana-mana dan murah.
b. Konsep Produk
Konsep produk menyatakan bahwa konsumen akan lebih menyukai
produk-produk yang menawarkan fitur-fitur paling bermutu,
berprestasi, atau inovatif. Para manajer dalam organisasi ini
berfokus pada membuat produk yang superior dan meningkatkan
nya sepanjang waktu.
c. Konsep Penjualan
Konsep penjualan menyatakan bahwa konsumen dan bisnis, jika
ditinggalkan sendiri biasanya tidak akan membeli cukup banyak
produk-produk organisasi. Oleh karena itu, organisasi harus
melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.

Mengukur Minat Beli Konsumen


Minat beli pelanggan dapatdilihat dari hasil (Outcome) yang
dirasakan atas penggunaan produk dan jasa, sama atau melebihi harapan yang
diinginkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa metode yang digunakan untuk
mengukur minat beli konsumen.
Kotler dalam Tjiptono dan Diana (2005: 104-105) mengemukakan
beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur minat beli
konsumen, metode tersebut antara lain :
1) Sistem keluhan dan saran
2) Ghost Shopping
3) Lost CustomerAnalysis
Menurut (Christina Whidya Utami, 2006) faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan berbelanja. Keputusan belanja dipengaruhi oleh
kepercayaan, sikap dan nilai-nilai pelanggan, serta berbagai faktor dalam
lingkungan sosial pelanggan.

Pengertian Minat Konsumen


Minat merupakan suatu kecendrungan untuk melakukan tindakan
terhadap obyek. Minat terkait dengan sikap dan perilaku, minat dianggap
sebagai suatu penangkap atau perantara antara faktor-faktor motivasional
yang mempengaruhi perilaku, perilaku minat juga mengindinfikasikan
seberapa keras seseorang mempunyai kemauan untuk mencoba. Minat
menunjukkan seberapa banyak upaya yang direncanakan seseorang untuk
melakukan sesuatu dan minat berhubungan dengan perilaku.
Galaksi (2009:1), Konsep AIDA+S terdiri atas lima komponen yaitu
sebagai berikut:

  1. Attention, yaitu Pertama kali kosumen dihubungi atau ditawari oleh
    perusahaan tertentu sehingga muncul perhatian (attention) pada
    dirikonsumen.
  2. Interest, yaitu timbulnya minat konsumen terhadap barang yang sudah dia
    perhatikan.
  3. Desire, yaitu Adanya ketertarikan tersebut akan menimbulkan hasrat,
    keinginan (desire) konsumen untuk membeli dan menggunakan produk
    yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
  4. Action, yaitu Pada tahap tindakan (action) perusahaan harus dapat
    mewujudkan kebutuhan dan harapan konsumendan memberikan keyakinan
    bahwa barang, jasa, dan ide yang dibeli merupakan langkah yang tepat
    yang dapat memberikan keuntungan bagi konsumen.
  5. Satisfaction, yaitu Pada tahap kepuasan (satisfaction) perusahaan harus
    dapat memastikan bahwa kualitas barang, jasa dan ide yang dibeli
    sesuai denganharapan konsumen.
    Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa
    yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
    keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk
    diperdagangkan. Konsumsi dari bahasa belanda consumpite, ialah suatu
    kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu
    benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan
    kepuasan secara langsung. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia
    lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena
    itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya
    memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.

Pengaruh Kualitas Produk dan Promosi terhadap Minat Belimelalui Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan adalah target setiap perusahaan karena
dengan meningkatnya kepuasan pelanggan dapat menjamin
kelangsungan hidup suatu perusahaan. Jika pelanggan merasa puas
pada suatu produk akan menimbulkan kurangnya keinginan untuk
melihat produk merek lain. Semakin bagus produk yang ditawarkan
akan meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap suatu produk.
Produk yang memiliki kualitas tinggi adalah produk yang
mempunyai banyak manfaat. Selain kualitas produk, kemampuan
perusahaan dalam aktivitas promosi juga merupakan hal yang utama
dilakukan untuk menciptakan kepuasan pelanggan. Pelanggan akan
melakukan pembelian dengan mempertimbangkan harga, promosi
dan produk (Indah Sari & Raymond, 2019)

Pengaruh Kepuasan Pelanggan terhadap Minat Beli Konsumen


Imran (2018) kepuasan pelanggan adalah faktor penting yang
harus diperhatikan oleh perusahaan apabila ingin mendapatkan minat
beli dari konsumen. Setiap perusahaan dituntut untuk membuat
kepuasan pada pelanggan dengan memberikan penawarna dan juga
pelayanan yang baik, karena suatu perusahaan harus mampu
bersaing dan mempertahankan posisi pasar yang semakin ketat.
Kepuasan konsumen, dapat mendorong untuk melakukan pembelian
ulang (repeat purchase), dengan begitu konsumen akan loyal
terhadap suatu produk maupun loyal terhadap toko tempat membeli
produk tersebut.

Pengaruh Promosi Penjualan terhadap Minat Beli Konsumen


Silaningsih & Utami, (2018) strategi pemasaran banyak
kaitannya dengan komunikasi. Promosi adalah salah satu bentuk
khusus dari komunikasi untuk memenuhi fungsi dari pemasaran.
Dalam menjalankan fungsi pemasaran harus dilakukan kegiatan
promosi untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Promosi
harus dapat membujuk konsumen agar tertarik terhadap suatu produk
yang ditawarkan yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan dan
keuntungan. Suatu promosi akan mengarahkan konsumen untuk
membeli produk-produk yang ditawarkan, guna memenuhi
kebutuhan konsumen dan memberikan tingkat kepuasan pada
konsumen. Melalui promosi inilah dapat menarik perhatian para
konsumen untuk membeli suatu produk dan juga memberikan respon
timbal balik yang kuat dan meningkatkan penjualan dalam jangka
pendek

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Minat Beli Konsumen


Pada dasarnya, seseorang membeli produk untuk memenuhi
kebutuhan atau keinginan. Silaningsih & Utami, (2018) produk yang
berkualitas mempunyai kaitan erat dengan sikap konsumen, dimana
produk berkualitas akan memberikan dorongan minat kepada
konsumen untuk membeli suatu produk. Dikarenakan produk yang
ditawarkan akan menggambarkan kondisi suatu perusahaan, jika
perusahaan melakukan kesalahan dalam kegiatan pemasaran kepada
konsumen maka tingkat minat beli konsumen akan turun, bahkan
dapat berakibat pada image yang kurang bai

Pengaruh Promosi Penjualan terhadap Kepuasan Pelanggan


Promosi penjualan adalah salah satu kegiatan terpenting
bagi sebuah perusahaan, karena tujuan promosi itu sendiri agar
konsumen mengetahui produk yang diciptakan oleh suatu
perusahaan. Sebaik apapun kualitas produk yang ditawarkan jika
perusahaan tidak cermat dalam promosi maka konsumen tidak
mengetahui adanya produk tersebut, maka tidak ada kegiatan
pembelian dan target penjualan tidak akan tercapai. Maka suatu
perusahaan butuh kejelian dalam melihat promosi seperti apa yang
cocok digunakan. (Revyola et al., 2019). Promosi yang digunakan
perusahaan juga dapat mempengaruhi apakah banyak konsumen
akan membeli produk yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
Memilih promosi yang tepat akan membuat konsumen ingin
mencoba produk yang ditawarkan suatu perusahaan, promosi perlu
membangun hubungan yang baik dengan konsumen tentang seberapa
puas mereka dengan produk yang di tawarkan

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Kepuasan Pelanggan


Kualitas sangat penting karena merupakan salah satu faktor
keunggulan yang kompetitif. Kedudukan kualitas menjadi penting
sejak persaingan pasar dunia semakin ketat. Persaingan yang ketat
tersebut antara lain dipicu oleh kondisi globalisasi yang semakin
cepat kemajuannya (Afnina & Hastuti, 2018). Salah satu faktor
utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah kualitas
produk. Pelanggan akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
Faktor harga produk juga berperan penting, dimana produk yang
memiliki kualitas sama tetapi menetapkan harga yang relatif
terjangkau akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
pelanggannya. Menurut Roselina & Niati, (2019) kualitas adalah
sesuatu yang diputuskan oleh konsumen,artinya kualitas didasarkan
pada pengalaman aktual konsumen terhadap produk atau jasa. Maka
dapat disimpulkan bahwa ukuran kepuasan pelanggan merupakan
hasil evaluasi setelah melakukan pembelian.

Kepuasan Pelanggan


Sulistyani & Umi, (2021) kepuasan pelanggan adalah faktor
penting untuk menentukan keberhasilan suatu perusahaan.
Perusahaan harus memenuhi kebutuhan serta keinginan konsumen
sehingga dapat mencapai kepuasan konsumen. Apabila konsumen
puas dengan produk atau jasa yang didapatkan, kemungkinan besar
konsumen akan melakukan pembelian ulang atas apa yang
didapatkan dan mungkin akan menambah jumlah dari pembelian
sebelumnya.
Kepuasan pelanggan sebagai “sejauh mana kinerja yang
dirasakan dari suatu produk atau layanan memenuhi harapan
pembeli”. Pelanggan tidak puas ketika kinerja produk jauh dari
harapan mereka tetapi pelanggan akan puas ketika kinerja produk
melebihi harapan pelanggan (Indah Lestari, 2021).
Menurut Rahadi menunjukkan bahwa perusahaan yang
memberikan layanan berkualitas benar-benar dapat memenuhi
beragam kebutuhan pelanggan dan kepuasan pelanggan adalah suatu
evaluasi keseluruhan produk dan layanan berdasarkan pengalaman
masa lalu pelanggan. Sedangkan menurut Tjahjaningsih menjelaskan
bahwa kepuasan pelanggan dianggap sebagai evaluasi keseluruhan
dari produk nyata dan produk tidak berwujud (Indah Lestari, 2021).
Mempertahankan pelanggan berarti mengharapkan mereka
untuk melakukan pembelian ulang atas produk atau jasa pada saat
kebutuhan yang sama muncul sewaktu-waktu. Menurut Kotler
kepuasan pelanggan yaitu perasaan senang atau kecewa yang muncul
ketika seseorang membandingkan antara harapan dengan kenyataan
yang dicapai. Tingkat kepuasan atau rasa senang yang tinggi
menciptakan ikatan emosional dengan merek atau perusahaan yang
bersangkutan (Roselina & Niati, 2019)
Kepuasan pelanggan (Sholihah et al., 2022) merupakan hasil
dari penelitian konsumen bahwa produk atau pelayanan telah
memberikan tingkat kenikmatan dimana pemenuhan ini bisa lebih
atau kurang. Dari definisi tersebut dapat disimpulakan bahwa
kepuasan pelanggan merupakan tingkat persepsi,harapan dan
perilaku konsumen terhadap pembelian suatu produk atau jasa yang
dirasakan setelah melakukan pembelian.
(Sholihah et al., 2022) pengukuran kepuasan pelanggan
sangat penting untuk dilakukan karens memberikan informasi
bermanfaat bagi perusahaan, industri, investor, pemerintah dan
konsumen. Terdapat enam indikator kepuasan pelanggan sebagai
berikut:
a. Kepuasan pelanggan keseluruhan, ialah kepuasan pelanggan
diukur berdasarkan produk dan membandingkan produk
pesaing;
b. Penilaian pelanggan ialah pelanggan memberikan nilai
terhadap produk dan produk pesaing;
c. Konfirmasi harapan ialah kesesuaian/ketidaksesuaian
pelanggan antara harapan dan kinerja aktual produk;
d. Minat pembelian ulang, ialah perilaku pelanggan dalam
berbelanja dan menggunakan produk kembali;
e. Kesediaan untuk merekomendasikan, ialah keinginan
pelanggan untuk memberikan rekomendasi produk kepada
teman atau keluarga; dan
f. Ketidakpuasan pelanggan meliputi komplain, retur, dan
konsumen beralih ke pesaing lain.

Minat Beli


Minat beli konsumen adalah faktor pendorong dalam
pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk (A. S.
Akbar, 2021). Menurut Wijaya & Oktavianti (2019) minat beli
konsumen adalah evaluasi purna beli atau hasil evaluasi setelah
membandingkan apa yang dirasakan dengan harapannya. Minat beli
merupakan perilaku yang muncul sebagai respon terhadap objek
yang menunjukan keinginan seseorang untuk melakukan pembelian
(Kurniawan & Krismonita, 2020).
Minat beli merupakan keinginan untuk membeli produk,
minat beli akan muncul apabila seseorang konsumen sudah
terpengaruh terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk, informasi
seputar produk, contoh seperti harga, cara membeli dan kelemahan
serta keunggulan produk dari merek lain (Maino et al., 2022)
Minat beli pelanggan menurut Nursadiah & Maharani,
(2018) adalah sebuah perilaku konsumen yang ingin membeli atau
memillih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam hal memilih,
menggunakan, dan mengkonsumsi atau menginginkan suatu produk.
Menurut Setiawan minat beli mempunyai indikator-
indikator sebagai berikut (A. S. Akbar, 2021):
a. Minat transaksional adalah kecenderungan seseorang untuk
membeli suatu produk setelah dikonsumsi
b. Minat referensial adalah kecenderungan individu untuk
merekomendasikan produk yang sudah dibelinya, agar orang
lain juga membelinya, berdasarkan pengalaman konsumsi
mereka
c. Minat preferensial adalah minat yang menggambarkan
perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama terhadap
produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat diubah jika terjadi
sesuatu pada produk pilihannya
d. Minat eksploratif adalah minat ini menggambarkan perilaku
seseorang yang selalu mencari informasi tentang produk yang
diminati dan mencari informasi untuk mendukung kualitas
positif dari produk yang menjadi langganannya

Promosi Penjualan


Promosi adalah proses komunikasi pemasaran untuk
menginformasikan, membujuk, mengingatkan dan mempengaruhi
konsumen atau pengguna dalam mendukung produk atau jasa
(Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020). Promosi merupakan
serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada
sasaran pasarnya. Singkatnya promosi adalah tindakan
menginformasikan kepada masyarakat tentang suatu produk,
dilakukan secara efektif dan praktis, dengan tujuan menciptakan
transaksi jual beli. Pemberian informasi harus didasarkan pada
kejujuran dan kebenaran yang nyata sesuai dengan produk yang
diinformasikan. Meskipun promosi dimaksudkan untuk
mempengaruhi selera dan keinginan, keputusan akhir tetap di tangan
konsumen yang bersangkutan (Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020).
Desi & Sri, (2018) promosi merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh perusahaan untuk mendorong suatu permintaan.
Promosi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian. Karena promosi dipandang sebagai sarana untuk
menunjang penjualan. Dengan promosi perusahaan dapat
menunjukkan keunggulan produknya agar konsumen tertarik untuk
membeli produk tersebut.
Menurut Kotler dan Amstrong terdapat lima indikator
promosi yaitu periklanan (Advertising), promosi penjualan (sales
promotion), penjualan perseorangan (personal selling), hubungan
masyarakat (public relations), penjualan langsung (direct marketing)
(Krisna Marpaung et al., 2021).

Kualitas Produk


Kualitas adalah isu yang dominan di banyak perusahaan,
bersamaan dengan waktu yang pesat, fleksibilitas untuk memenuhi
permintaan konsumen (produk selalu dibuat untuk memenuhi
permintaan konsumen) dan harga jual yang rendah, kualitas
merupakan pilihan yang penting dan strategis (Afnina & Hastuti,
2018).
Nurhayati (2011) kualitas produk adalah kesesuaian produk
dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Menurut Assauri dalam
Arumsari (2012:45) kualitas produk digambarkan sebagai faktor-
faktor yang terkandung dalam suatu barang atau hasil yang membuat
barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan yang dimaksudkan
(Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020).
Kualitas produk merupakan suatu usaha untuk memenuhi
harapan konsumen, dimana suatu produk tersebut memiliki kualitas
yang sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan, dan
kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah karena selera
maupun harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah
(Krisna Marpaung et al., 2021).
Menurut Gito Sudarma (2018) indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur kualitas produk sebagai berikut:
a. Berbagai macam variasi produk
b. Daya tahan produk
c. Kualitas produk sesuai spesifikasi dari konsumen
d. Penampilan kemasan produk (estetika)
e. Kualitas produk terbaik dibandingkan dengan merek
lain

Pengaruh Promosi dari mulut ke mulut Terhadap KeputusanPembelian


Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu usaha
yang digunakan dalam program pemasaran. Promosi ini merupakan cara
memperkenalkan dan menarik konsumen. Promosi merupakan salah satu variabel
dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam
memasarkan produk jasa. dan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen
dalam kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan
kebutuhannya, dengan promosi konsumen dapat mengetahui suatu produk dan
spesifikasi yang diwarkan oleh perusahaan dan bisa menjadi salah satu alat untuk
menarik konsumen agar melakukan keputusan pembelian. Berdasarkan (Wibi
Anindra Lukito & Aswin Fahmi D, 2020), Hasil penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa variabel promosi masih cukup signifikan pengaruhnya
terhadap keputusan pembelian, variabel promosi ini masih memberikan kontribusi
terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Minat Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian


Minat pembeli terhadap keputusan pembelian bisa dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Salah satunya adalah nilai tambah atau keuntungan yang
diperoleh dari produk atau layanan yang ditawarkan. Jika produk atau layanan
dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan pembeli dengan baik, kemungkinan
besar mereka akan lebih tertarik untuk melakukan pembelian.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Pembelian


Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Pembelian merujuk pada sejauh mana
tingkat kualitas suatu produk dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk
melakukan pembelian. Kualitas produk mencakup berbagai atribut seperti
keandalan, kinerja, fitur, desain, dan daya tahan, yang bersama-sama membentuk
persepsi konsumen tentang nilai produk. Dalam konteks ini, “pengaruh”
mencerminkan daya tarik atau kekuatan kualitas produk dalam memotivasi atau
mempengaruhi konsumen untuk memilih dan membeli produk tersebut. Jika
konsumen percaya bahwa suatu produk memiliki kualitas yang baik, mereka
cenderung lebih mungkin untuk membeli produk tersebut.
Menurut, (Wanda Intan Aghitsni & Nur Busyra, (2022). Kualitas produk
merupakan sesuatu yang bisa memuaskan keinginan dan kebutuhan yang
ditawarkan kepasar agar dapat dimiliki, diperhatikan, digunakan, ataupun
dikonsumsi Kualitas produk juga merupakan salah satu hal penting yang ditelaah
oleh calon pembeli saat akan membeli sesuatu, baik berupa barang maupun
berupa jasa

Word of Mouth


Word of Mouth, atau komunikasi dari mulut ke mulut, adalah suatu bentuk
proses komunikasi di mana individu atau kelompok memberikan rekomendasi
terhadap suatu produk secara personal, baik kepada individu maupun kelompok
lainnya. Kotler & Keller (2016) menekankan bahwa tujuan dari Word of Mouth
ini adalah untuk memberikan informasi pribadi mengenai produk tersebut.
Sweeney, Soutar, dan Mazzarol (2012) mengidentifikasi tiga dimensi Word of
Mouth yang berasal dari pemberi pesan (sender) dan penerima pesan (receiver).
Ini mencerminkan kompleksitas dalam proses komunikasi ini yang melibatkan
berbagai aspek dari kedua belah pihak. Faktor keberhasilan word of mouth
marketing yaitu :

  1. Kepercayaan dan Kredibilitas
    Kepercayaan dan kredibilitas adalah pondasi utama dalam menciptakan
    word of mouth yang positif. Kepercayaan pelanggan adalah kunci,
    Dengan melihat pelanggan merasa bahwa sebuah merek dapat
    dipercaya dan kredibel, mereka lebih cenderung merekomendasikannya
    kepada orang lain.
  2. Inovasi dan Unikasi
    Di dalam produk atau layanan yang mempunyai ciri khas tersendiri
    serperti rasa, bentuk, dan tampilan dapat menjadi pendorong kuat agar
    terciptanya word of mouth yang positif. Hal ini dapat membuat
    perbedaan antara produk pesaing dan produk yang dimiliki agar para
    konsumen dapat melihat perbedaan dan dapat menjadi daya tarik besar.
  3. Insentif untuk direkomendasikan
    Memberikan insentif atau reward kepada pelanggan dapat menjadi daya
    tarik pemikat untuk calon konsumen baru. Membuat program
    penghargaan atau loyalitas dapat memberikan keuntungan kepada
    pelanggan guna untuk di rekomendasikan ke teman maupun kerabat

Minat Konsumen


Minat konsumen adalah aspek penting dalam perilaku konsumen dan telah
menjadi fokus penelitian oleh berbagai ahli pemasaran. Beberapa ahli yang
mengkaji minat konsumen melibatkan faktor-faktor psikologis, sosial, dan
ekonomi yang mempengaruhi keinginan dan preferensi konsumen. Niat untuk
kembali membeli merupakan respons terhadap suatu produk yang menunjukkan
keinginan pembeli untuk melakukan pembelian lagi. Menurut Kotler & Keller
(2009), minat beli ulang adalah fase di mana konsumen memiliki kecenderungan
untuk bertindak sebelum keputusan pembelian sebenarnya diambil. Kotler
menekankan bahwa minat konsumen dipengaruhi oleh faktor seperti kebutuhan,
keinginan, dan persepsi terhadap produk atau layanan. Faktor psikologis, seperti
motivasi dan persepsi, berperan dalam membentuk minat konsumen. Beberapa
faktor kunci termasuk kebutuhan, keinginan, dan persepsi terhadap produk
tersebut.

  1. Kebutuhan: Konsumen cenderung memiliki minat terhadap produk yang
    dapat memenuhi kebutuhan mereka.
  2. Keinginan: Selain kebutuhan, keinginan juga memainkan peran penting
    dalam membentuk minat konsumen. Keinginan mencerminkan preferensi
    pribadi dan selera konsumen terhadap fitur atau atribut tertentu dari suatu
    produk.
  3. Persepsi terhadap Produk: Cara konsumen melihat dan memahami
    produk juga mempengaruhi minat mereka. Persepsi ini mencakup citra
    merek, kualitas produk, dan pengalaman sebelumnya yang dapat
    membentuk minat positif atau negatif

Kualitas Produk


Menurut Lupiyoadi (2014) kualitas produk adalah sejauh mana produk
memenuhi spesifikasi spesifikasinya. Nilai yang diberikan oleh pelanggan diukur
berdasarkan kepercayaan (reliability), ketahanan (durability), dan kinerja
(performance) terhadap bentuk fisik dan citra
produk. Kualitas produk menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam
pembelian suatu produk karena mengetahui bagaimana kualitas atau kondisi
produk yang akan dibeli tersebut.
Kualitas produk adalah bagaimana produk tersebut memiliki nilai yang
dapat memuaskan konsumen baik secara fisik maupun secara psikologis yang
menunjukkan pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu barang atau
hasil (Kotler dan Amstrong (2015:224).
Philip Kotler mendefinisikan produk sebagai sesuatu yang dapat disajikan
kepada pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi guna
memuaskan keinginan atau kebutuhan. Klasifikasi produk melibatkan beberapa
kelompok, antara lain:
a. Produk Berdasarkan Ketahanan Dan Keberwujudannya:

  1. Barang tidak tahan lama merupakan barang berwujud yang umumnya
    digunakan dalam satu atau beberapa kali penggunaan, seperti sabun,
    pasta gigi, makanan, dan minuman ringan.
  2. Barang tahan lama adalah barang berwujud yang dapat digunakan untuk
    jangka waktu lama, contohnya lemari pendingin, mesin fotokopi, dan
    pakaian.
  3. Jasa adalah produk yang tidak berwujud, tak terpisahkan, bervariasi, dan
    dapat musnah, seperti salon, nasihat hukum, dan perbaikan peralatan.
    b. Produk Industri
  4. Bahan dan suku cadang adalah barang yang menjadi bagian dari produk
    produsen, seperti kapas, gandum, dan beras.
  5. Barang modal adalah barang tahan lama yang memfasilitasi
    pengembangan atau pengelolaan produk jadi, misalnya bangunan pabrik,
    mesin produksi, dan kantor.
  6. Layanan bisnis dan pasokan melibatkan barang dan jasa jangka pendek
    yang mendukung pengembangan atau pengelolaan produk jadi,
    contohnya pelumas mesin, bahan bakar, dan alat tulis.
    c. Produk konsumen:
  7. Barang sehari-hari, seperti makanan dan minuman, sering dibeli
    konsumen dengan segera dan usaha minimum.
  8. Barang belanja adalah barang yang dibandingkan oleh konsumen
    berdasarkan kecocokan, kualitas, harga, dan gaya, misalnya pakaian,
    sepatu, dan kosmetik.
  9. Barang yang tidak dicari adalah barang yang tidak dikenal atau biasanya
    tidak terpikirkan untuk dibel

Manfaat Kepuasan Pelanggan


Pada prinsipnya, kualitas jasa berpotensi menciptakan kepuasan pelanggan yang
pada gilirannya akan memberikan sejumlah manfaat seperti :

  1. Hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya menjadi harmonis.
  2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
  3. Mendorong terciptanya loyalitas pelanggan.
  4. Membentuk suatu rekomendasi informal dari mulut ke mulut yang
    menguntungkan bagi perusahaan
  5. Reputasi perusahaan menjadi baik dimata pelanggan
  6. Laba yang diperoleh dapat meningkat.

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan menurut Lupiyoadi
dalam Indrasari (2019 : 91 – 92) :

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan puas apabila produk yang digunakan kualitasnya bagus
  2. Kualitas Pelayanan
    Kepuasan terhadap kualitas pelayanan biasanya sulit ditiru. Kualitas pelayanan
    merupalan driver yang mempunyai banyak dimensi, salah satunya yang sangat
    populer adalah servqual
  3. Biaya dan Kemudahan
    Pelangan akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman dan efesiensi dalam
    mendapatkan produk dan pelayan
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetap menetapkan harga yang relatif
    murah akan memberikan nilai yang tinggi
  5. Emosional
    Konsumen merasa puas ketika memuji dia karena menggunakan merek yang
    maha

Kepuasan Pelanggan


Fitria Halim mengumukakan bahwa kata “kepuasan“ atau satsisfaction berasal dari
bahasa latin “satis” (artinya cukup baik, mamadai) dan ‘Facio’ (melakukan atau
membuat), secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu. Kemudian
Fatihudin dan Firmansyah dalam Fitria Halim,at all (2021 : 157-158) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan juga dipandang sebagai salah satu indikator terbaik untuk laba masa
depan, faktanya bahwa menarik pelanggan baru jauh lebih mahal dari pada
mempertahankan pelanggan, namun saat ini juga menjadi salah satu pemicu
meningkatnya perhatian pada kepuasan pelanggan perusahaan, berkurangnya elastisitas
harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan meningkatnya efisiensidan
produktivitas keryawan. Wilkie dalam Tjiptono (2019 : 378) mengumukakan bahwa
kepuasan pelanggan sebagai tanggapan emosional pada evaluasi tentang pengalaman
konsumsi suatu produk atau jasa.
Menurut Tjiptono dan Diana (2019:123) menyampaikan bahwa kepuasan
konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang didapatkan setelah
membandingkan kinerja suatu produk yang dipikirkan terhadap kinerja produk yang
diharapkan. Memperhatikan dan meningkatkan kepuasan pelanggan sangat berguna di
dunia persaingan bisnis. Perusahaan yang memiliki level kepuasan pelanggan yang tinggi
cenderung lebih unggul dibandingkan pesaing lainnya. Volume kepuasan pelanggan yang
tinggi akan menjaga stabilitas penjualan produk atau jasa sehingga arus kas perusahaan
menjadi meningkat.
Menurut Yazid (2012 dalam Lesmana dan Ratnasari, 2019:118) kepuasan
pelanggan adalah ketiadaan perbedaan antara harapan yang dimiliki dan unjuk kerja yang
senyatanya diterima. Apabila harapan tinggi, sementara unjuk kerjanya biasa-biasa saja,
kepuasan tidak akan tercapai (sangat mungkin pelanggan akan merasa kecewa).
Sebaliknya, apabila unjuk kerja melebihi dari yang diharapkan, kepuasan meningkat.
Menurut Indrasari (2019:92) ada beberapa indikator yang mempengaruhi
kepuasan konsumen terdiri dari :

  1. Kesesuaian Harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
    disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan
    pelanggan dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
  2. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan
    apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.
  3. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut
    kepada orang lain seperti, keluarga, teman dan lainnya.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Lupiyoadi dan Hamdani dalam Indrasari (2019 : 63-64) Indikator kualitas
pelayanan sebagai berikut :

  1. Tangibels, kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya
    kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik
    perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan
    bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.
  2. Reliability, kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan
    yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Keinerja harus sesuai dengan
    harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk
    semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang
    tinggi
  3. Responsiveness, suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
    yang cepat (responsive) dan teapat kepada pelanggan, dengan penyampaian
    informasi yang jelas.
  4. Assurance, pengetahuan, kesopan santunan dan kemampuan para pegawai
    perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada
    perusahaan.
  5. Emphaty, memberikan perhatian yamg tulus dan bersifat individual atau pribadi
    yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan
    konsumen. Dimana suatu perushaan diharapkan memiliki pengertian dan
    pengetahuan tentang pelanggan.

Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dalam Indrasari (2019 : 61) kualitas pelayanan adalah suatu
keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk, jasa, sumber daya manusia, serta
proses dan lingkungan yang setidaknya dapat memenuhi atau malah dapat melebihi
kualitas pelayanan yang diharapkan. Menurut Tjiptono, definisi kualitas pelayanan ini
adalah upaya pemenuhan kebutuhan yang dibarengi dengan keinginan konsumen serta
ketepatan cara penyampaiannya agar dapat memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan
tersebut, dikatakan bahwa service quality atau kualitas layanan adalah pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi
harapan pelanggan.
Menurut Rambat dan Lupiyoadi dalam Indrasari (2019:62) Service quality adalah
seberapa jatuh perbedaan antara harapan dan kenyataan para pelanggan atas pelayanan
yang mereka terima. Service quality dapat diketahui dengan cara membandingkan
persepsi pelanggan atas pelayanan yang benar-benar mereka terima dengan layanan
sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas Pelayanan yang menjadi hal pertama yang
diperhatikan serius oleh perusahaan, yang melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki
perusahaan.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Indrasari (2019 : 61-62 ) kualitas pelayanan
merupakan keseluruhan dari keistimewaan dan karakteristik dari produk atau jasa yang
menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan secara lansgung maupun tidak
langsung. Produk jasa yang berkualitas mempunyai peranan penting untuk membentuk
kepuasan pelanggan.Kepuasan pelayanan adalah sesuatu yang harus di berikan dan di
upayakan oleh penyedia jasa dengan baik kepada konsumen. Kualitas pelayanan seperti
yang dirasakan oleh para konsumen, berasal dari suatu perbandingan antara apa yang di
harapkan konsumen dengan apa yang di berikan oleh perusahaan.
Kualitas pelayanan atau customer service ini dapat dibedakan kedalam dua kriteria
yaitu jenis kualitas pelayanan yang baik atau kualitas pelayanan yang buruk. Kualitas
pelayanan ini bukanlah suatu hal yang permanen atau kaku, melainkan fleksibel dan dapat
dirubah. Dalam proses perubahan kualitas pelayanan diperlukan beberapa hal untuk
menunjang prosesnya. Misalnya survei atau observasi kepada pelanggan, termasuk
didalam nya berupa masukan, pendapat maupun feedback tentang pelayanan yang telah
diberikan. kualitas pelayanan (service quality) berdasarkan persepsi pelanggan , sebagai
tingkat kesenjangan antara harapan- harapan atau keinginan pelanggan selaras dengan
kenyataan yang mereka alami.
Kualitas menurut ISO 9001 merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik
yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan kebutuhan
pelanggan. Pelanggan yang menentukan dan menilai sampai seberapa jauh sifat dan
karakteristik itu memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan definisi tersebut, kualitas adalah
suatu keseluruhan ciri dan karakteristik yang dimiliki suatu produk atau jasa yang dapat
memberikan kepuasan konsumen. Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang
dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud
dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Pelayanan adalah perilaku produsen dalam
rangka memenuhi kebutuhan dan keingian konsumen demi tercapainya kepuasan terhadap
konsumen itu sendiri

Pemasaran Jasa


Rangkuti (2002) menyebutkan bahwa jasa merupakan pemberian suatu
kinerja atau tindakan tak kasat mata dari suatu pihak ke pihak lain. Sedangkan
menurut Kotler (2002), mendefinisikan jasa sebagai setiap tindakan atau kegiatan
yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain, pada dasarnya bersifat intangible
(tidak berwujud) dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Jadi dapat
disimpulkan bahwa jasa bukanlah barang, tetapi suatu aktifitas yang tidak dapat
dirasakan secara fisik dan membutuhkan interaksi antara satu pihak ke pihak lain.
Kotler (2000) mengemukakan bahwa terdapat empat karakteristik jasa, antara
lain:

  1. Intangibility (tidak berwujud)
    Jasa tidak berwujud, tidak dapat dilihat, dicicipi, dirasakan, dan didengar
    sebelum membeli.
  2. Inseparability (tidak dipisahkan)
    Jasa tidak dapat dipisahkan dari pengguna jasa itu, baik pengguna jasa itu
    adalah orang maupun mesin. Jasa tidak dapat dijejerkan pada rak-rak
    penjualan dan dapat dibeli oleh konsumen kapan saja dibutuhkan.
  3. Variability (keanekarupaan)
    Jasa sangat beraneka rupa karena tergantung siapa yang menyediakannya dan
    kapan serta dimana disediakan. Seringkali pengguna jasa menyadari akan
    keanekarupaan yang besar ini, sehingga pengguna jasa akan membicarakan
    dengan pengguna yang lain sebelum memilih satu penyedia jasa.
  4. Perishability (tidak tahan lama)
    Jasa tidak dapat tahan lama, karenanya tidak dapat disimpan untuk penjualan
    atau penggunaan di kemudian hari. Sifat jasa yang tidak tahan lama tidak akan
    bermasalah apabila permintaan tetap atau teratur, karena jasa-jasa sebelumnya
    dapat dengan mudah disusun terlebih dahulu, apabila permintaan berfluktuasi,
    permintaan jasa akan dihadapkan pada berbagai masalah sulit. Pemasaran jasa
    tidak sama dengan pemasaran produk. Pertama, pemasaran jasa lebih bersifat
    intangible dan immaterial karena produknya tidak kasat mata dan tidak dapat
    diraba. Kedua, produksi jasa dilakukan saat konsumen berhadapan dengan
    penyedia jasa sehingga pengawasan kualitasnya dilakukan dengan segera. Hal
    ini lebih sulit daripada pengawasan produk fisik. Ketiga, interaksi antara
    konsumen dan penyedia jasa adalah penting untuk mewujudkan produk
    9
    (Rangkuti, 2002). Berdasarkan klasifikasi Organisasi Perdagangan Dunia
    (World Trade Organization-WTO), ruang lingkup klasifikasi bisnis jasa
    meliputi (Rambat Lupiyoadi, 2006):
    a. Jasa bisnis,
    b. Jasa komunikasi,
    c. Jasa konstruksi dan jasa teknik,
    d. Jasa distribusi,
    e. Jasa pendidikan,
    f. Jasa lingkungan hidup,
    g. Jasa keuangan,
    h. Jasa kesehatan dan jasa sosial,
    i. Jasa kepariwisataan dan jasa perjalanan,
    j. Jasa rekreasi, budaya dan olahraga,
    k. Jasa transportasi,
    l. Jasa lain-lain

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Produk atau jasa berkualitas mempunyai peranan penting untuk
membentuk kepuasan pelanggan (Kotler dan Armstrong, 2001). Semakin
berkualitas produk dan jasa yang diberikan, maka kepuasan yang dirasakan oleh
pelanggan semakin tinggi. Bila kepuasan pelanggan semakin tinggi, maka dapat
menimbulkan keuntungan bagi badan usaha tersebut. Pelanggan yang puas akan
terus melakukan pembelian pada badan usaha tersebut. Demikian pula sebaliknya
jika tanpa ada kepuasan, dapat mengakibatkan pelanggan pindah pada produk atau
jasa lain. Tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang
dirasakan dengan harapan (Kotler, 2005). Dengan demikian, harapan pelanggan
melatarbelakangi mengapa dua organisasi pada jenis bisnis yang sama dapat
dinilai berbeda oleh pelanggannya. Dalam konteks kepuasan pelanggan,
umumnya harapan merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa
yang akan diterimanya. Harapan mereka dibentuk oleh pengalaman pembelian
dahulu, komentar teman dan janji dari perusahaan tersebut. Harapan-harapan
pelanggan ini dari waktu ke waktu berkembang seiring dengan semakin
bertambahnya pengalaman pelanggan. Menurut Tjiptono (2006) kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evolusi
ketidaksesuaian (disinformation) yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan
kinerja aktual jasa yang dirasakan bahwa pada persaingan yang semakin ketat ini,
semakin banyak penyedia jasa konstruksi yang terlibat dalam pemenuhan
kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga hal ini menyebabkan setiap badan
usaha harus menempatkan orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan
utama. Badan usaha dapat mengetahui kepuasan dari para konsumennya melalui
umpan balik yang diberikan oleh konsumen kepada badan usaha tersebut sehingga
dapat menjadi masukan bagi keperluan pengembangan dan implementasi serta
peningkatan kepuasan pelanggan. Sehingga dapat diketahui pada saat pelanggan
komplain. Hal ini merupakan peluang bagi badan usaha untuk dapat mengetahui
kinerja dari badan usaha tersebut

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan menurut Laksana (2008:9) adalah harapan sama dengan
kenyataan. Kemudian menurut kotler dalam Laksana (2008:9) kepuasan
pelanggan yaitu: “Customer satisfaction is the outcome felt by buyer who have
experienced a company performance that has fulfilled expectations”.
Maksudnya yaitu menyangkut komponen harapan dan kinerja/hasil yang
dirasakan. Pada umumnya harapan pelanggan merupakan perkiraan atau
keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterima apabila ia membeli atau
mengkonsumsi suatu produk baik bartang maupun jasa, sedangkan kinerja atau
hasil yang dirasakan merupakan persepsi pelanggan terhadap apa yang ia terima
setelah mengkonsumsi produk yang ia beli. Untuk itu manajemen harus
memiliki persepsi yang sama dengan pelanggan agar supaya diperoleh hasil
yang melebihi atau paling tidak sama dengan harapan pelanggan. Keadaan ini
sama seperti yang dikemukanan Gasperz dalam Laksana (2008:10) “Kepuasan
pelanggan dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu keadaan dimana
kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan dapat terpenuhi melalui produk
yang dikonsumsi”.
Day (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa “kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi
ketidaksesuaian (disconfirmation) yang dirasakan antara harapan sebelumnya
(atau norma kinerja lainnya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah
pemakaiannya”.
Engel, et al., 1990 (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa
“kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan,
sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil (outcome) tidak memenuhi
harapan”.
Kotler, et al., 1996 (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa
“kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaaan seseorang setelah
membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan
harapannya”

Kualitas Jasa


Sebenarnya tidaklah mudah mendefinisikan kualitas dengan tepat.
Menurut Goetsh dan Davis dalam Tjiptono (2004:51) yaitu “bahwa kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,
manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.
Sedangkan definisi kualitas jasa berpusat pada upaya pemenuhan
kebutuhan dan kinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan

Karakteristik Jasa


Menurut Griffin dalam Lupiyoadi (2011:6) karakteristik jasa terdiri dari:

  1. Intangibility (tidak berwujud). Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba,
    didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai penting dari hal ini
    adalah nilai tak berwujud yang dialami pelanggan dalam bentuk
    kenikmatan, kepuasan, atau kenyamanan.
  2. Unstorability (tidak dapat disimpan). Jasa tidak mengenal persediaan atau
    penympanan dari produk yang telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut
    juga inseparability (tidak dapat dipisahkan), mengingat pada umumnya jasa
    dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
  3. Customization (kustomisasi). Jasa sering kali didesain khusus untuk
    memenuhi kebutuhan pelanggan.
    Sedangkan menurut Gasperz dalam Laksana (2008:86) Karakteristik jasa
    terdiri dari 12 karakteristik, yaitu:
    a. Pelayanan merupakan output tak berbentuk (intangible output).
    b. Pelayanan merupakan output variable, tidak standar
    c. Pelayanan tidak dapat disimpan dalam inventori, tetapi dapat dikonsumsi
    dalam produksi.
    d. Terdapat hubungan langsung yang erat dengan pelanggan melalui proses
    pelayanan.
    e. Pelanggan berpartisipasi dalam proses memberikan pelayanan.
    f. keterampilan personil diserahkan atau diberikan secara langsung kepada
    pelanggan.
    g. Pelayanan tidak dapat diproduksi secara masal.
    h. Membutuhkan pertimbangan pribadi yang tinggi dari individu yang
    memberikan pelayanan.
    i. Perusahaan jasa pada umumnya bersifat padat karya.
    j. Fasilitas pelayanan berada dekat lokasi pelanggan.
    k. Pengukuran efektivitas pelayanan bersifat subyektif.
    l. Option penetapan harga lebih rumit

Definisi Jasa


Menurut Kotler dalam Yazid (2008:2) jasa dirumuskan sebagai “setiap
tindakan atau unjuk kerja yang ditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain
yang secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan perpindahan
kepemilikan apa pun. Produksinya bisa terkait dan bisa juga tidak terikat pada
suatu produk fisik”.
Sedangkan menurut Berry, dalam Yazid (2008:2) mendefinisikan “jasa
sebagai deeds (tindakan, prosedur, aktivitas); proses-proses, dan unjuk kerja
yang intangible”

Dimensi Kualitas Pelayanan Jasa


Konsep ServQual atau dimensi kualitas pelayanan adalah konsep yang
paling banyak digunakan oleh pelaku bisnis di seluruh dunia yang
berkecimpung dalam hal pelayanan pelanggan. Menurut Parasuraman, Berry
dan Zeithaml dalam Irawan (2002: 57), konsep ServQual (dimensi kualitas
pelayanan) terbagi menjadi 5 (lima) dimensi yaitu:

  1. Bukti Fisik (Tangible)
    Dimensi pertama dari kualitas pelayanan adalah Tangible. Karena suatu
    jasa tidak bisa dilihat, dicium, dan juga tidak bisa diraba, maka aspek tangible
    menjadi penting sebagai ukuran terhadap pelayanan. Pelanggan akan
    menggunakan indra penglihatan untuk menilai suatu kualitas pelayanan.
    Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan
    keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang
    diberikan oleh pemberi jasa. Tangible yang baik akan mempengaruhi persepsi
    pelanggan. Pada saat yang bersamaan aspek tangible ini juga merupakan
    salah satu sumber yang mempengaruhi harapan pelanggan, karena tangible
    yang baik, maka harapan pelanggan menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu,
    penting bagi suatu perusahaan untuk mengetahui seberapa jauh aspek tangible
    yang paling tepat, yaitu masih memberikan impresi yang positif terhadap
    kualitas pelayanan yang diberikan tetapi tidak menyebabkan harapan
    pelanggan yang terlalu tinggi.
  2. Kehandalan (Reliability)
    Kepuasan pelanggan terhadap pelayanan juga ditentukan oleh dimensi
    reliability, yaitu dimensi yang mengukur kehandalan dari perusahaan dalam
    memberikan pelayanan kepada pelanggannya, dibandingkan dengan dimensi
    yang lain, dimensi ini sering dianggap paling penting bagi pelanggan dari
    berbagai industri jasa. Ada 2 (dua) aspek dalam dimensi ini. Pertama adalah
    kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan seperti yang dijanjikan.
    Kedua adalah seberapa jauh suatu perusahaan mampu memberikan pelayanan
    yang akurat atau tidak ada error (kesalahan).
  3. Daya Tanggap (Responsiveness)
    Responsiveness adalah dimensi kualitas pelayanan yang paling dinamis.
    Harapan pelanggan terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat dipastikan
    akan berubah dengan kecenderungan naik dari waktu ke waktu.
    Responsiveness merupakan suatu kemauan untuk membantu dan memberikan
    pelayanan yang cepat dan tepat kepada pelanggan dengan penyampaian
    informasi yang jelas. Pelayanan yang cepat atau tanggap juga sangat
    dipengaruhi oleh sikap front-line staff. Salah satunya adalah kesigapan dan
    ketulusan dalam menjawab pertanyaan atau permintaan pelanggan. Kepuasan
    pelanggan dalam hal ini juga sering ditentukan melalui pelayanan melalui
    telepon.
  4. Jaminan (Assurance)
    Dimensi assurance yaitu dimensi kualitas yang berhubungan dengan
    kemampuan perusahaan dan perilaku front-line staff dalam menanamkan rasa
    percaya dan keyakinan kepada para pelanggannya. Ada 4 (empat) aspek
    dalam dimensi ini. Aspek pertama adalah keramahan, merupakan salah satu
    aspek kualitas pelayanan yang paling mudah diukur dan juga relatif mudah.
    Aspek kedua yaitu kompetensi, pelanggan sulit percaya bahwa kualitas
    pelayanan akan dapat tercipta dari front-line staff yang tidak kompeten. Oleh
    karena itu sangatlah penting untuk memberikan pelatihan kepada karyawan
    mengenai pengetahuan produk dan hal-hal lain yang sering menjadi
    pertanyaan pelanggan. Aspek ketiga yaitu kredibilitas, keyakinan pelanggan
    terhadap kualitas pelayanan suatu perusahaan banyak dipengaruhi oleh
    kredibilitas atau reputasi dari perusahaan tersebut. Aspek keempat yaitu
    keamanan, pelanggan mempunyai rasa aman dalam melakukan transaksi.
    Aman karena perusahaan jujur dalam bertransaksi.
  5. Empati (Empathy)
    Dimensi empathy adalah dimensi yang memberikan perhatian yang tulus
    dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan
    dengan berupaya memahami keinginan pelanggan. Dimensi empathy adalah
    dimensi yang memberikan peluang besar untuk memberikan pelayanan yang
    bersifat “surprise”. Sesuatu yang tidak diharapkan pelanggan, ternyata
    diberikan oleh penyedia jasa. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk
    menyenangkan pelanggan. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan
    memberikan hadiah saat anak atau orang tua pelanggan ulang tahun.
    Pelayanan yang berempati, akan mudah diciptakan kalau setiap karyawan
    perusahaan mengerti kebutuhan spesifik pelanggannya dan menyimpan hal ini
    dalam hatinya

Pengertian Kualitas Pelayanan Jasa


Menurut Gravin dan Davis dalam Nasution (2004: 144), “kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berpengaruh dengan produk, jasa,
manusia, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan pelanggan”. Sedangkan, Pelayanan (service) menurut Kotler dalam
Laksana (2008: 85), “adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat
ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun”.
“Pada dasarnya kualitas jasa berfokus pada upaya pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan” (Tjiptono, 2004: 59). Sementara itu,
menurut Wyckof (Tjiptono, 2004: 59), menyatakan bahwa “kualitas jasa
merupakan tingkat kesempurnaan yang diharapkan dan pengendalian atas
kesempurnaan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan”.

Definisi Pelanggan


Pelanggan adalah orang yang menjadi pembeli produk yang telah dibuat
dan dipasarkan oleh sebuah perusahaan, dimana orang ini bukan hanya sekali
membeli produk tersebut tetapi berulang-ulang.
Sedangkan menurut Nasution (2004:102) pelanggan suatu perusahaan
adalah orang yang memebeli dan menggunakan produk suatu perusahaan.
Menurut Gasperz dalam Laksana (2008:10) pengertian pelanggan ada tiga
yaitu:

  1. Pelanggan internal (Internal Customer)
    Merupakan orang yang berada dalam perusahaan dan memiliki pengaruh
    pada performansi (Performance) pekerjaan atau perusahaan kita.
  2. Pelanggan antara (Intermedieate Customer)
    Merupakan mereka yang bertindak atau berperan sebagai perantara bukan
    sebagai pemakai akhir produk itu.
  3. Pelanggan Eksternal (Eksternal Customer)
    Merupakan pembeli atau pemakai akhir produk itu, yang sering disebut-
    sebut sebagai pelanggan nyata (Real Customer).

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen


Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan
hubungan yang kuat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang, ikatan seperti ini
memungkinkan perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan konsumen serta
kebutuhan mereka sehingga perusahaan dapat meningkatkan kepuasan konsumen dengan cara
memaksimalkan pengalaman konsumen yang menyenangkan dan meminimalkan atau
meniadakan pengalaman pelanggan yang kurang menyenangkan. Sehingga dengan konsumen
merasa puas pada pelayanan yang diberikan akan membangun kepuasan paa diri konsumen
tersebut.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Konsumen


Teori yang di kemukakan oleh (Supriyadi, 2004 :84)yaitu “berkaitan dengan berbagai
hal seperti wujud atau produk, warna dan bahan pembuatnya. Bentuk produk yang menarik akan
meningkatkan daya beli konsumen untuk menggunakan produknya”. Kualitas produk
merupakan suatu kondisi yang dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Jika kualitas produk yang dirasakan
konsumen memenuhi harapan mereka, maka konsumen akan merasa puas dan diharapkan
kembali membeli produk tersebut

Tujuan Penetapan Harga


Penjual barang dalam menetapkan harga dapat mempunyai tujuan yang berbeda satu sama lain
antar penjual maupun antar barang yang satu dengan yang lain. Tujuan penetapan harga menurut
Harini (2008: 55) adalah sebagai berikut:

  1. Penetapan harga untuk mencapai penghasilan atas investasi. Biasanya besar keuntungan dari
    suatu investasi telah ditetapkan prosentasenya dan untuk mencapainya diperlukan penetapan
    harga tertentu dari barang yang dihasilkannya.
  2. Penetapan harga untuk kestabilan harga. Hal ini biasanya dilakukan untuk perusahaan yang
    kebetulan memegang kendali atas harga. Usaha pengendalian harga diarahkan terutama untuk
    mencegah terjadinya perang harga, khususnya bila menghadapi permintaan yang sedang
    menurun.
  3. Penetapan harga untuk mempertahankan atau meningkatkan bagiannya dalam pasar. Apabila
    perusahaan mendapatkan bagian pasar dengan luas tertentu, maka ia harus berusaha
    mempertahankannya atau justru mengembangkannya. Untuk itu kebijaksanaan dalam
    penetapan harga jangan sampai merugikan usaha mempertahankan atau mengembangkan
    bagian pasar tersebut.
  4. Penetapan harga untuk menghadapi atau mencegah persaingan. Apabila perusahaan baru
    mencoba-coba memasuki pasar dengan tujuan mengetahui pada harga berapa ia akan
    menetapkan penjualan. Ini berarti bahwa ia belum memiliki tujuan dalam menetapkan harga
    coba-coba tersebut.
  5. Penetapan harga untuk memaksimir laba. Tujuan ini biasanya menjadi anutan setiap usaha
    bisnis. Kelihatannya usaha mencari untung mempunyai konotasi yang kurang enak seolah-olah
    menindas konsumen. Padahal sesungguhnya hal yang wajar saja. Setiap usaha untuk bertahan
    hidup memerlukan laba. Memang secara teoritis harga bisa berkembang tanpa bata

Harga


Kotler dan Amstrong (2001:73) mengatakan bahwa harga (price) adalah sejumlah uang
yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh produk. Variabel ini merupakan hal yang
dapat dikendalikan dan menentukan diterima atau tidaknya suatu produk oleh konsumen. Harga
semata-mata tergantung pada kebijakan perusahaan tetapi tentu saja dengan mempertimbangkan
berbagai hal. Murah atau mahalnya harga suatu produk sangat relatif sifatnya. Oleh karena itu,
perlu dibandingkan terlebih dahulu dengan harga produk serupa yang diproduksi atau dijual oleh
perusahaan lain. Dengan kata lain, perusahaan harus selalu memonitor harga yang ditetapkan oleh
para pesaing, agar harga yang ditentukan oleh perusahaan tersebut tidak terlalu tinggi atau
sebaliknya. Sedangkan menurut Kotler (2005: 340) harga adalah salah satu bauran pemasaran yang
menghasilkan pendapatan, unsur lainnya menghasilkan biaya.Menurut Basu Swastha (2005:185)
harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk
mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa harga memiliki fungsi sebagai alat ukur
nilai suatu barang, cara membedakan suatu barang, menentukan jumlah barang yang akan
diproduksi dan pembagiannya kepada konsumen.
Menurut Kotler dan Armstrong yang dialihbahasakan oleh Alexander Sindoro dan Benyamin
Molan (2012: 318), menjelaskan ada empat ukuran yang dapat mencirikan harga, yaitu
keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, kesesuaian harga dengan manfaat
dan daya saing.

  1. Keterjangkaun Harga
    Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya
    ada beberapa jenis dalam satu merek harganya juga berbeda dari yang termurah sampai termahal.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
    Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering memilih
    harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka melihat adanya perbedaan kualitas.
    Apabila harga lebih tinggi orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
  3. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar
    atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika konsumen merasakan
    manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa
    produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang.
  4. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
    Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk lainnya, dalam hal
    ini mahal murahnya suatu produk sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan
    membeli produk tersebut.

Kualitas Pelayanan


Layanan yang baik menjadi salah satu syarat kesuksesan dalam perusahaan. Kualitas
layanan sering diartikan sebagai perbandingan antara layanan yang diharapkan dengan layanan
yang diterima secara nyata. Dalam Tjiptono (2005) menyatakan bahwa Lewis & Booms (1983)
merupakan pakar yang pertama kali mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai ukuran seberapa
bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan Poin utamanya
adalah pelayanan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang penjual kepada pembeli
/ konsumennya demi memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Perilaku tersebut bertujuan
pada tercapainya kepuasan pelanggan itu sendiri. Sebuah pelayanan dapat dilakukan pada saat
konsumen memilih produk maupun setelah selesai melakukan transaksi pembelian produk.
Kualitas pelayanan yang baik akan memberikan dampak yang baik pula bagi perusahaan karena
akan menjadi pelanggan yang royal dan memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Kualitas pelayanan memiliki beberapa dimensi atau unsur kualitas pelayanan. Unsur-unsur
kualitas pelayanan merupakan hasil temuan penelitian dari teori kualitas pelayanan yang
disampaikan oleh A. Pasuraman. Sebagai salah satu tokoh pionir dalam pengukuran kualitas
pelayanan, Pasuraman mencetuskan dimensi servqual. Dimensi ini dibuat untuk mengukur
kualitas pelayanan dengan menggunakan suatu kuisioner. Teknik servqual dapat mengetahui
seberapa besar jarak harapan pelanggan dengan ekspektasi pelanggan terhadap pelayanan yang
diterima. Servqual memiliki 5 dimensi, diantaranya adalah:

  1. Tangibles (Berwujud)
    Tangibles adalah bukti konkret kemampuan suatu perusahaan untuk menampilkan yang terbaik
    bagi pelanggan. Baik dari sisi fisik tampilan bangunan, fasilitas, perlengkapan teknologi
    pendukung, hingga penampilan karyawan
  2. Realibility (Keandalan)
    Reliability adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan
    harapan konsumen terkait kecepatan, ketepatan waktu, tidak ada kesalahan, sikap simpatik, dan
    lain sebagainya.
  3. Responsiveness (Ketanggapan)
    Responsiveness adalah tanggap memberikan pelayanan yang cepat atau responsif serta diiringi
    dengan cara penyampaian yang jelas dan mudah dimengerti.
  4. Assurance (Jaminan)
    Assurance adalah jaminan dan kepastian yang diperoleh dari sikap sopan santun karyawan,
    komunikasi yang baik, dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga mampu menumbuhkan rasa
    percaya pelanggan.
  5. Empathy (Empati)
    Empathy adalah memberikan perhatian yang tulus dan bersifat pribadi kepada pelanggan, hal ini
    dilakukan untuk mengetahui keinginan konsumen secara akurat dan spesifik

Kualitas Produk


Pengertian Kualitas Produk. Perusahaan selalu berusaha memuaskan
konsumen mereka dengan menawarkan produk berkualitas. Produk yang
berkualitas adalah produk yang memiliki manfaat bagi pemakainya (konsumen).
Seseorang yang membutuhkan suatu produk akan membayangkan manfaat apa saja
yang bisa diperoleh dari produk yang akan dipergunakan. Manfaat suatu produk
merupakan konsekuensi yang diharapkan konsumen ketika membeli dan
menggunakan suatu produk. Menurut Kotler (2007: 49), kualitas produk
merupakan ciri dan karakteristik suatu barang atau jasa yang berpengaruh pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Produk yang
berkualitas tinggi sangat diperlukan agar keinginan konsumen dapat dipenuhi. Keinginan
konsumen yang terpenuhi sesuai dengan harapannya akan membuat konsumen menerima
suatu produk bahkan sampai loyal terhadap produk tersebut.
Menurut Tjiptono (2008), kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk
yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggan. Kualitas suatu produk baik berupa
barang atau jasa ditentukan melalui dimensi-dimensinya. Dimensi kualitas produk menurut
Tjiptono (2008) adalah::
a) Kinerja (performance) hal ini berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan
merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang
tersebut
b) Ciri-ciri atau keisitimewaan tambahan (features), yaitu
aspek performansi yang berguna untuk menambah fungsi dasar, berkaitan dengan
pilihan-pilihan produk dan pengembangannya.
c) Keandalan (reliability), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau
gagal dipakai
d) Serviceability yaitu karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, kompetensi, kemudahan,
dan akurasi dalam memberikan layanan untuk perbaikan barang.
e) Kualitas yang dipersepsikan (perceives quality) yaitu citra dan reputasi produk serta
tanggung jawab perusahaan terhadapnya

Strategi Kepuasan Konsumen


Menurut Tjiptono (2008:40), terdapat beberapa strategi kepuasan konsumen
yaitu:

  1. Relationship Marketing
    Strategi dimana stransaksi pertukaran antara konsumen dan perusahaan
    berkelanjutan, tidak berakhir setelah pembelian pertama.
  2. Superior Customer Service
    Strategi dimana perusahaan menerapkan/menawarkan pelayanan yang lebih unggul
    dari perusahaan lainnya.
  3. Unconditional Guarantees
    Strategi dimana perusahaan memberikan jaminan kualitas produk yang ditawarkan.
  4. Strategi penanganan keluhan yang efisien
    penyebab jasa akan mengetahui hal yang perlu diperbaiki dalam pelayanan saat ini,
    penyedia jasa akan mengetahui sumber masalah operasainya, karyawan dapat
    termotivasi untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dengan lebih baik.
    Berdasarkan studi literatur dan pengalaman, (Irawan, 2002: 37- 40),
    mengemukakan beberapa faktor yang membentuk kepuasan konsumen

Ciri-Ciri Konsumen Yang Tidak Puas


Salah satu alasan yang menyebabkan ketidakpuasan konsumen adalah tidak
terpenuhinya harapan seperti yang diinginkan. Misalkan alasan kualitas yang tidak
bagus, pelayanan yang tidak memuaskan, harga yang mahal. Menurut Tjiptono
(2008:50), konsumen yang puas akan membeli dan mencoba lagi tetapi jika
sebaliknya kemungkinan akan melakukan komplain dan komplain tersebut harus
dapat terselesaikan sampai konsumen terpuaskan

Ciri-Ciri Konsumen Yang Puas


Kotler (2009) menyatakan ciri-ciri konsumen yang merasa puas sebagai
berikut:
a) Loyal terhadap Produk
Konsumen yang puas terhedap suatu produk cenderung akan menjadi
konsumen yang loyal terhadap suatu produk
b) Adanya komunikasi yang positf dari mulut ke mulut
Komunikasi dari mulut ke mulut yang positif akan bersifat rekomendasi,
dari konsumen 1 ke konsumen yang lain. Sehingga nama dari produk akan naik
secara sendirinya. Calon konsumen akan berdatangan dan menambah penghasilan

Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen


Lupiyoadi (2001) mengungkapkan bahwa ada lima faktor dalam
menentukan kepuasan konsumen yang harus diperhatikan oleh perusahaan, yaitu:
a. Kualitas produk, yaitu konsumen akan merasa puas bila produk yang mereka
gunakan berkualitas baik.
b. Kualitas pelayanan atau jasa, yaitu konsumen akan merasa puas bila mereka
mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan.
c. Emosi, yaitu konsumen akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan merek
tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
d. Harga, yaitu produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan
harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
konsumen.
e. Biaya, yaitu konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak
perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung puas
terhadap produk atau jasa tersebut.
Menurut Umar (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen ada
dua, yaitu:
a. Mutu produk merupakan ciri serta sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada
kemampuannya memenuhi kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat.
b. Pelayanan, terdiri dari kegiatan penjualan dan setelah penjualan, kegiatan
penjualan merupakan penghasil serangkaian sikap tertentu konsumen mengenai
perusahaan, produk dan tingkat kepuasan yang diharapkan oleh konsumen dan
kegiatan setelah penjualan merupakan sikap sebagai penilaian konsumen atas
pelayanan perusahaan

Aspek-Aspek Kepusan Konsumen


Menurut Kotler (2009:86) mengatakan bahwa kepuasan (satisfaction)
adalah perasaan senang atau kecewa yang timbul karena membandingkan kinerja
yang di persepsikan produk atau hasil terhadap ekspetasi mereka. Jika kinerja
gagal memenuhi ekspetasi, pelanggan akan tidak merasa puas. Jika kinerja sesuai
dengan ekspetasi, maka konsumen akan merasa puas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen mengatakan bahwa
kepuasan konsumen sangat bergantung kepada persepsi dan harapan konsumen.
Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan konsumen antara
lain :
a. Faktor Personal
Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang dirasakan
konsumen ketika sedang mencoba melakukan transaksi dengan produsen produk.
b. Faktor Situasi
Pengalaman masa lalu ketika mengkonsumsi produk dari perusahaan maupun
pesaing- pesaingnya.
Tjiptono dan Diana (2015) mengemukakan pendapat bahwa terdapat lima aspek
pada kepuasan konsumen yaitu:
a. Expectations (harapan) diartikan konsumen menyusun harapan tentang apa yang
akan diterima dari produk.
b. Performance (kinerja) yaitu selama kegiatan konsumsi, konsumen merasakan
kinerja dan manfaat dari produk secara aktual dilihat dari dimensi kepentingan
konsumen.
c. Comparison (perbandingan) yaitu setelah mengkonsumsi, baik harapan sebelum
pembelian dan persepsi kinerja aktual dibandingkan oleh konsumen.
d. Confirmation atau disconfirmation yaitu penegasan dari harapan konsumen,
apakah harapan pra-pembelian dengan persepsi pembelian sama atau tidak.
e. Discrepancy (ketidaksesuaian) yaitu diskonfirmasi yang negatif menentukan
kinerja yang aktual ada dibawah tingkat harapan maka semakin besar
ketidakpuasan konsumen.
Menurut Dutka (dalam Saidani & Arifin, 2012) terdapat tiga dimensi dalam
mengukur kepuasan konsumen secara universal yaitu:
a. Attributes related to product yaitu dimensi kepuasan yang berkaitan dengan
atribut dari produk seperti penetapan nilai yang didapatkan dengan harga,
kemampuan produk menentukan kepuasan, benefit dari produk tersebut.
b. Attributes related to service yaitu dimensi kepuasan yang berkaitan dengan
atribut dari pelayanan misalnya dengan garansi yang dijanjikan, proses pemenuhan
pelayanan atau pengiriman, dan proses penyelesaian masalah yang diberikan.
c. Attributes related to purchase yaitu dimensi kepuasan yang berkaitan dengan
atribut dari keputusan untuk membeli atau tidaknya dari produsen seperti
kemudahan mendapat informasi, kesopanan karyawan dan juga pengaruh reputasi
perusahaan

Pengertian Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen menurut Kotler (2000) adalah tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang konsumen rasakan
dibandingkan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan konsumen adalah fungsi
dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Konsumen dapat
mengalami salah satu dari tiga tingkat kepuasan yang umum. Kalau kinerja di
bawah harapan, konsumen kecewa. Kalau kinerja sesuai harapan, konsumen puas.
Kalau kinerja melebihi harapan, konsumen sangat puas, senang atau gembira.
Kotler dan Keller (2008) mengungkapkan bahwa kepuasan konsumen
adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan
kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspektasi konsumen. Jika
kinerja gagal memenuhi ekspektasi, konsumen akan tidak puas atau kecewa. Jika
kinerja sesuai dengan ekspektasi, konsumen akan puas. Jika kinerja melebihi
ekspektasi, konsumen akan sangat puas atau senang.
Kepuasan konsumen (consumer satisfaction) merupakan keseluruhan sikap
yang ditunjukkan konsumen atas barang dan jasa setelah konsumen memperoleh
dan menggunakannya. Ini merupakan penilaian evaluatif paska pemilihan yang
disebabkan oleh seleksi pembelian khusus dan pengalaman menggunakan atau
mengkonsumsi barang atau jasa tersebut Ini juga berarti bahwa tingkat kepuasan
merupakan fungsi dari perbedaan antara harapan dengan kinerja layanan. (Mowen
&Minor, 2002).
Mohsan (2011;263) mengungkapkan bahwa kepuasan adalah keseluruhan
dari sikap atau perilaku pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan atau sebuah
reaksi emosional terhadap perbedaan anatara apa yang diharapkan pelanggan dan
apa yang mereka terima, mengenai pemenuhan beberapa kebutuhan, keinginan atau
tujuan. Menurut Robert-Lombard (dalam vuuren 2012:84) kepuasan pelanggan
adalah sejauh mana suatu produk atau kinerja pelayanan dalam sebuah bisnis sesuai
dengan harapan pelanggan. Jika kinerja sesuai atau melebihi harapan, maka
pelanggan akan puas, jika kinerja dibawah harapan maka pelanggan tidak puas.
Winardi (2001) mengemukakan bahwa kepuasan pelanggan adalah
perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah mendapat dan
membandingkan atau kesannya terhadap kinerja suatu produk dan harapan-
harapannya.
Supranto (2002) mengemukakan tiga hal yang dibutuhkan pelanggan
terhadap pelayanan :
a.Keberadaan pelayanan yaitu kecepatan karyawan dalam membantu pelanggan,
ketika tiba untuk melaksanakan janji.
b.Ketanggapan pelayanan yaitu lamanya waktu menunggu dan kecepatan
pelayanan terhadap pelanggan.
c.Profesionalisme dalam pelayanan yaitu sikap para karyawan ketika berhadapan
dengan pelanggan.
Kepuasan dan ketidakpuasan merupakan respons pelanggan terhadap
evaluasi ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja
produk jasa yang dirasakan setelah pemakaiannya (Day dalam Tjiptono, 2008).
Dengan demikian, Kepuasaan merupakan perbedaan antara kinerja yang dirasakan
dengan harapan.

Teori SOR (Stimulus, Organism, Respon)


Teori S-O-R sebagai singkatan dari Stimulus – Organism – Response ini
semula berasal dari psikolog. Kalau kemudian menjadi juga teori komunikasi,
tidak mengherankan karena objek material dan psikologi dan ilmu komunikasi
adalah sama, yaitu manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen sikap,
opini, perilaku, kognisi, afeksi dan konasi (Effendi, 2003:254). Menurut stimulus
respon ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus,
sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara
pesan dan reaksi komunikan.
Teori S-O-R menjelaskan bagaimana suatu rangsangan mendapatkan
respon. Tingkat interaksi yang paling sederhana terjadi apabila seseorang
melakukan tindakan dan diberi respon oleh orang lain. Menurut Fisher istilah S-R
kurang tepat karena adanya intervensi organisme antara stimulus dan response
sehingga dipakai istilah S-O-R (Stimulus-Organism-Response).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen Lupiyoadi
(2001), menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan dalam kaitannya
dengan kepuasan konsumen, antara lain:
a. Kualitas produk konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan
berkualitas bagi seseorang, jika produk itu dapat memenuhi kebutuhanya
(Montgomery dalam Lupiyoadi, 2001). Kualitas produk ada dua yaitu eksternal
dan internal. Salah satu kualitas produk dari faktor eksternal adalah citra merek.
b. Kualitas pelayanan konsumen akan merasa puas bila mendapatkan
pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan harapan.
c. Emosional konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena
menggunakan merek yang mahal.
d. Harga produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan
harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi.
e. Biaya konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau
tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa
cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut. Berdasarkan uraian di atas
maka faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen menurut Lupiyoadi
(2001) salah satunya adalah kualitas produk. Produk dikatakan berkualitas jika
terpenuhi harapan konsumen berdasarkan kinerja aktual produk

Elemen Kepuasan Pelangggan


Elemen kepuasan konsumen menurut Wilkie (1994) yaitu:

  1. Expectations: Harapan konsumen terhadap suatu barang atau jasa telah
    dibentuk sebelum konsumen membeli barang atau jasa tersebut. Pada saat proses
    pembelian dilakukan, konsumen berharap bahwa barang atau jasa yang mereka
    terima sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka. Barang atau jasa
    yang sesuai dengan harapan konsumen akan menyebabkan konsumen merasa
    puas.
  2. Performance: Pengalaman konsumen terhadap kinerja aktual barang atau
    jasa ketika digunakan tanpa diperngaruhi oleh harapan mereka. Ketika kinerja
    aktual barang atau jasa berhasil maka konsumen akan merasa puas.
  3. Comparison: Hal ini dilakukan dengan membandingkan harapan kinerja
    barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi kinerja aktual barang atau jasa
    tersebut. Konsumen akan merasa puas ketika harapan sebelum pembelian sesuai
    atau melebihi perepsi mereka terhadap kinerja aktual produk.
  4. Confirmation/disconfirmation: Harapan konsumen dipengaruhi oleh
    pengalaman mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa yang
    berbeda dari orang lain. Confirmation terjadi bila harapan sesuai dengan kinerja
    aktual produk. Sebaliknya disconfirmation terjadi ketika harapan lebih tinggi atau
    lebih rendah dari kinerja aktual produk, konsumen akan merasa puas ketika tejadi
    confirmation / discofirmation.
    Ada empat komponen yang membentuk kepuasan pelanggan, yaitu:
  5. Stimulus, Stimulus adalah rangsangan yang dapat diterima pelanggan
    dengan baik melalui indra (mata, telinga, rasa, bau). Rangsangan bisa berupa fisik
    (tempat parkir, alatcanggih, ruangan perawatan) dan non fisik seperti sikap dan
    perilaku perawatan atau dokter serta prosedur pemeriksaan. Rangsangan akan
    diamati oleh pasien dan dinilai (dipersepsi) serta direspons pasien secara sadar
    atau tidak sadar.
  6. Penilaian pelanggan, Value dapat dinyatakan dalam atribut baik, jelek,
    dingin, lucu, membantu, sikap positif, negatif, dan netral.
  7. Reaksi, Reaksi pelanggan dalam konteks afektif dan kognitif dapat berupa
    perasaan puas, tidak puas, senang, tidak senang, marah, atau sedih. Reaksi
    maupun penilaian atas stimulus dipengaruhi pula oleh perbedaan karakteristik
    individu.
  8. Perbedaan karakteristik individu., Yaitu predisposisi (umur, jenis
    kelamin), perilaku sebelumnya dan pengalaman pribadi dalam pelayanan
    kesehatan sebelumnya

Ciri-Ciri Pelanggan yang Puas


Ciri konsumen yang puas Kotler, (2014) menyatakan ciri-ciri konsumen yang
merasa puas sebagai berikut:
a. Loyal terhadap produk konsumen yang puas cenderung loyal dimana
mereka akan membeli ulang dari produsen yang sama.
b. Adanya komunikasi dari mulut ke mulut yang bersifat positif. Komunikasi
dari mulut ke mulut (word of mouth communication) yang bersifat positif yaitu
rekomendasi kepada calon konsumen lain dan mengatakan hal-hal yang baik
mengenai produk dan perusahaan. Akhirnya perusahaan harus menyerahkan
kepuasan yang dapat diterima kepada pihak berkepentingan lainnya. Ini
membutuhkan keseimbangan yang amat halus, pemasar harus terus menghasilkan
nilai dan kepuasan bagi pelanggan lebih tinggi tetapi tetap tidak memberikan
segala-segalanya.
c. Perusahaan menjadi pertimbangan utama ketika membeli merek lain.
Ketika konsumen ingin membeli produk yang lain, maka perusahaan yang telah
memberikan kepuasan kepadanya akan menjadi pertimbangan yang utama.
Sebagai contoh pada pelayanan kesehatan. Ciri – ciri pasien yang puas
dengan pelayanan di rumah sakit yaitu: menggunakan pelayanan rumah sakit bila
suatu hari membutuhkan kembali, menganjurkan orang lain menggunakan tempat
kita, dan membela kita bila ada orang lain menjelekkan pelayanan kita. Pada
akhirnya menjadikan rumah sakit berlaba, bisa hidup terus, dan berkembang.
Keuntungan pada karyawan dan manajemen akan menimbulkan etos kerja serta
pelayanan yang lebih berkualitas. Sebaliknya, pasien yang tidak puas akan
meninggalkan rumah sakit dan tidak membela kita, lalu akhirnya rumah sakit akan
rugi dan tidak beroperasi lagi.

Strategi Kepuasan Pelanggan


Berbicara mengenai strategi artinya juga berada dalam kondisi persaingan
dengan kompetitor. Masing-masing berusaha menarik lebih banyak pelanggan
demi kelangsungan usahanya. Dalam era persaingan bebas tidak ada satupun yang
aman tanpa persaingan. Dalam pemasaran Jasa menyatakan bahwa:
Ada dua strategi yang menjadi dasar dalam menghadapi perilaku
konsumen/pelanggan yaitu:

  1. Strategi menyerang bersikap agresif dalam menjerat pelanggan, agresif
    dalam arti memiliki persiapan menyerang yang matang dan cukup kuat untuk
    menyerang. Caranya menerapkan strategi ini dengan cara Melakukan promosi
    atau advertisement yang menerangkan bahwa perusahaan anda memiliki fasilitas
    pelayanan lebih baik dibanding sebelumnya. Banyak jalan untuk mempromosikan
    usaha, misalnya dengan iklan dimedia massa maupun spanduk, billboard yang
    dipasang dilokasi strategis. Memberikan hadiah (dapat berupa service gratis atau
    souvenir kecil) kepada pelanggan lama yang dapat membawa beberapa pelanggan
    baru (jumlah pelanggan baru ditetapkan berdasarkan atas biaya untuk hadiah yang
    diberikan).
  2. Strategi defensif atau bertahan. Strategi mempertahankan yang sudah ada,
    dilakukan untuk meningkatkan fasilitas pelayanan yang dimiliki. Seperti:
    Menyediakan beberapa fasilitas yang dapat memberikan kenyamanan pelanggan,
    Memberikan souvenir kecil pada pelanggan setelah beberapa kali menggunakan
    layanan anda, dan Mengirimkan kartu ucapan selamat pada hari-hari besar
    keagamanan bagi pelanggan setia, yang telah menjadi pelanggan cukup lama.

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kepuasan Konsumen menurut Swan, dkk. (1980) dalam bukunya Fandy
Tjiptono, 2004 mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai evaluasi secara sadar
atau penilaian kognitif menyangkut apakah kinerja produk relatif bagus atau jelek
atau apakah produk bersangkutan cocok atau tidak cocok dengan tujuan/
pemakaiannya.
Philip Kotler (2014:150) mendefinisikan Kepuasan Pelanggan merupakan
Perasaan senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan
kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang
diharapkan. Pelanggan merasa puas kalau harapan mereka terpenuhi dan merasa
amat gembira kalau harapan mereka terlampaui. Pelanggan yang puas cenderung
tetap loyal lebih lama, membeli lebih banyak, kurang peka terhadap perubahan
harga dan pembicaraannya menguntungkan perusahaan. Dalam rangka
menciptakan kepuasan pelanggan, produk yang ditawarkan organisasi/perusahaan
harus berkualitas.
Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang
menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggan. Dalam kaitannya dengan
kepuasan Konsumen/pelanggan, kualitas memiliki beberapa dimensi pokok,
tergantung pada konteksnya. Dalam kasus pemasaran barang, ada delapan dimensi
utama yang biasanya digunakan (Gregorius Chandra, 2002), yaitu:

  1. Kinerja (performance): Karakteristik operasi dasar dari suatu produk,
    misalnya kecepatan pengiriman barang serta jaminan keselamatan barang.
  2. Fitur (features): karakteristik pelengkap khusus yang dapat menambah
    pengalaman pemakaian produk, contohya minuman gatis pada saat
    penerbangan.
  3. Reliabilitas, yaitu probabilitas terjadinya kegagalan atau kerusakan produk
    dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya
    kerusakan, semakin andal produk bersangkutan.
  4. Konformasi (conformance), yaitu tingkat kesesuaian produk dengan standar
    yang telah ditetapkan, misalnya ketepatan waktu keberangkatan dan
    kedatangan kereta api.
  5. Daya Tahan (Durability), yaitu jumlah pemakaian produk sebelum produk
    bersangkutan harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian normal
    yang dimungkinkan, semakin besar pula daya tahan produk.
  6. Serviceablility, yaitu kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta
    kompetensi dan keramahtamahan staf layanan.
  7. Estetika (aesthetics), menyangkut penampilan produk yang bisa dinilai
    dengan panca indra (rasa, bau, suara dst).
  8. Persepsi terhadap kualitas (perceived quality), yaitu kualitas yang dinilai
    berdasarkan reputasi penjual. Misal BMW, SONY dll.

Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)


Para pemasar membutuhkan informasi yang akurat, tepat waktu, dan
reliabel mengenai para konsumennya dan keterampilan khusus untuk
menganalisis dan menginterpretasikan inforrnasi tersebut guna menunjang
perancangan strategi pemasaran yang efektif dan efisien. Kebutuhan ini akan
berkontribusi pada pengembangan perilaku konsumen sebagai bahan studi yang
spesifik dalam pemasaran. Menurut Kotler dan Keller (2008:166), perilaku
konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi
memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau
pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Perilaku
konsumen mengacu pada perilaku yang ditunjukkan oleh para individu dalam
membeli dan menggunakan suatu barang atau jasa.
Saat ini tampaknya istilah kepuasan pelanggan sudah menjadi bagian yang
tak terpisahkan dalam setiap rumusan visi, misi, tujuan, kredo, maupun motto
organisasi, baik perusahaan maupun lembaga nirlaba. Wacana bisnis, manajemen
strategik, dan pemasaran juga selalu mengulas isu peran strategik kepuasan
pelanggan.
Dalam konteks lebih luas, penganugrahan award tahunan bagi produk,
jasa, maupun perusahaan yang sukses memuaskan pelanggan telah mampu
menciptakan semacam “demam kepuasan pelanggan”. Perusahaan menjadikan
award sebagai testimony akan keberhasilannya dan sebagai daya pikat untuk
menjaring lebih banyak lagi pelanggan baru. Bagi pelanggan, testimoni semacam
ini cukup ampuh untuk dijadikan acuan mengambil keputusan dalam melakukan
pembelian

Hubungan Citra Merek terhadap Kepuasan Konsumen


Secara umum, kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang
yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk terhadap
ekspektasi mereka. Jika kinerja gagal memenuhi ekspektasi, konsumen tidak akan
puas. Jika kinerja sesuai dengan ekspektasi, konsumen akan puas. Jika kinerja
melebihi ekspektasi, pelanggan akan sangat puas atau senang. Penilaian konsumen
atas kinerja produk tergantung pada banyak faktor, terutama jenis hubungan
loyalitas yang dimiliki pelanggan dengan persepsi terhadap citra merek.
Konsumen sering membentuk persepsi yang lebih menyenangkan tentang sebuah
produk dengan merek yang sudah mereka anggap positif.
Perusahaan yang berpusat pada konsumen berusaha menciptakan kepuasan
konsumen yang tinggi, tetapi bukan tujuan akhirnya. Jika perusuhaan
meningkatkan kepuasan konsumen dengan menurunkan harganya atau
meningkatkan pelayanannya mungkin laba akan menurun.
Menurut Sumarwan (2004: 139) tentang membentuk ekpektasi konsumen.
Ekspektasi berasal dari pengalaman pembelian masa lalu, nasihat teman dan
rekan, serta informasi dan janji pemasar dan pesaing. Jika pemasar meningkatkan
ekspektasinya terlalu tinggi, pembeli akan kecewa. Meskipun demikian, jika
perusahaan menetapkan ekspektasi terlalu rendah, perusahaan tidak akan menarik
cukup pembeli, meskipun perusahaan akan dapat memuaskan mereka yang
membeli.
Keputusan konsumen bersikap loyal atau tidak loyal merupakan akumulasi
dari banyak masalah kecil dalam perusahaan. Sekarang banyak perusahaan
berusaha menciptakan pengalaman konsumen bermerek.
Kotler dan Keller (2008: 259) merek mengidentifikasi sumber atau
pembuat produk dan memungkinkan konsumen untuk menuntut tanggung jawab
atas kinerjanya kepada pabrikan atau distributor tertentu. Konsumen dapat
mengevaluasi produk yang sama secara berbeda tergantung pada bagaimana
pemerekan produk tersebut. Mereka belajar tentang persepsi terhadap citra merek
melalui pengalaman masa lalu dengan produk tersebut dan mana yang tidak.
Ketika hidup konsumen menjadi semakin rumit terburu-buru, dan kehabisan
waktu, kemampuan merek untuk menyederhanakan pengambilan keputusan dan
mengurangi resiko adakah suatu yang berharga

Aspek-aspek Persepsi Terhadap Citra Merek


Young dan Rubicam (2008: 265) berpendapat mengenai aspek-aspek
persepsi terhadap citra merek. Ada lima komponen pilar kunci atau aspek-aspek
dari persepsi terhadap citra merek:
a. Diferensiasi, mengukur tingkat sejauh mana merek dianggap berbeda dari
merek lain
b. Energi, mengukur arti momentum merek
c. Relevansi, mengukur cakupan daya tarik merek
d. Harga diri, mengukur seberapa baik merek dihargai dan dihormati
e. Pengetahuan, mengukur kadar keakraban dan keintiman konsumen dengan
merek
Ada enam aspek-aspek persepsi terhadap citra merek menurut Koller dan
Ketler (2008: 269) dalam menghadapi peluang dan keterbatasan:
a. Dapat diingat, seberapa mudah merek itu diingat dan dikenali.
b. Berarti, merek itu kredibel dan mengindikasikan kategori yang berhubungan
dengannya.
c. Dapat disukai, seberapa menarik estetika elemen merek.
d. Dapat ditransfer, merek dapat digunakan untuk memperkenalkan produk baru
dalam kategori yang sama atau berbeda.
e. Dapat disesuaikan, seberapa mudah merek itu disesuaikan dan diperbarui.
f. Dapat dilindungi, seberapa mudah merek itu dapat dilindungi secara hukum.
29
Menurut Arnold (1996: 14-15) agar merek mampu mempersembahkan
keunggulan kualitas, maka sebuah merek harus pula menyampaikan banyak
aspek-aspek dari persepsi konsumen dan permintaan. Mengingat kualitas
bukanlah suatu karakteristik fisik namun persepsi si konsumen sendiri, aspek-
aspek kriteria persepsi terhadap citra merek sebagai berikut:
a. Dilihat dari level produk, persepsi terhadap citra merek harus mampu
memberikan keuntungan fungsional untuk memenuhi kebutuhan pasar, juga
persaingan.
b. Perpepsi terhadap citra merek akan menawarkan keuntungan yang lebih besar
dibanding produk.
c. Keuntungan beragam yang ditawarkan sebuah merek haruslah konsisten satu
sama lain dan memberikan kesatuan karakter atau kepribadian.
d. Nilai-nilai yang ditawarkan harus sesuai dengan keinginan konsumen.