Kinerja Sosial (skripsi dan tesis)

Menurut Martin Freedman. 2009, ada tiga pendekatan yang
digunakan dalam melaporkan kinerja sosial perusahaan dalam kaitannya
dengan penerapan akuntansi sosial:
1. Pemeriksaan Sosial (Social Audit)
Yaitu dengan cara mengukur dan melaporkan dampak-dampak
ekonomi, sosial dan lingkungan dari operasi perusahaaan yang
berorientasi social lingkungan. Pelaporan ini dilakukan dengan
membuat daftar aktivitas-aktivitas perusahaan yang memiliki
konsekuensi sosial, lalu auditor sosial akan mengestimasi dan mengukur
dampak-dampaknya.
2. Laporan Sosial (Social Report)
Terdapat beberapa pendekatan dalam laporan sosial seperti yang telah
dirangkum oleh Billey and Weygandt dalam bukunya, “Intermediate
Accounting”, yaitu:
a). Inventory Approach
Yaitu suatu pendekatan yang menjelaskan bahwa perusahaan
mengkompilasi dan mengungkapkan sebuah data yang
komprehensif dari aktivitas-aktivitas sosial perusahaan.
Keterbatasan dari pendekatan ini adalah sulit dalam membuat
daftar yang sesuai dengan batasan yang realistis, serta sulit untuk
membandingkan pertanggung jawaban sosial terhadap lingkungan
antar perusahaan karena tidak ada standar yang tepat untuk mengukur
pertanggungjawaban tersebut.
b). Cost Approach
Pendekatan ini menguraikan bahwa perusahaan membuat daftar
aktivitas perusahaannya yang berkenaan dengan penanganan
15
terhadap lingkungannya dan mengungkapkan jumlah pengeluaran
masing-masing aktivitas tersebut. Biaya dan aktivitas tersebut
berhubungan dengan periode pelaporan yang berjalan dibebankan ke
expense pada periode berikutnya.
c). Program Management Approach
Perusahaan tidak hanya mengungkapkan aktivitas terhadap
lingkungan, tetapi juga tujuan dari kegiatan tersebut serta hasil
yang sudah dicapai oleh perusahaan sesuai dengan tujuan ysng telah
ditetapkan itu.
Kelebihan dari pendekatan ini adalah memudahkan pemakai
laporan keuangan untuk menilai tingkat keberhasilan aktivitas
sosial lingkungan perusahaan untuk mencapai tujuan. Sedangkan
keterbatasannya ialah tidak terdapatnya indikasi manfaat sosial yang
diperoleh dari pencapaian tujuan tersebut.
d). Cost-Benefit Approach
Pendekatan ini menjelaskan bahwa perusahaan mengungkapkan
aktivitas yang memiliki dampak positif terhadap lingkungan serta
biaya dan manfaat dari aktivitas tersebut. Kesulitan dari pendekatan
ini adalah mengukur biaya dan manfaat terhadap masyarakat.
3. Pengungkapan Sosial Lingkungan dalam Laporan Tahunan
Adalah pengungkapan informasi mengenai aktivitas perusahaan yang
berhubungan dengan lingkungan perusahaan, dilakukan melalui
berbagai media antara lain: laporan tahunan, laporan interim,
prospectus, pengumuman kepada bursa efek atau media massa.

Tanggungjawab Lingkungan (skripsi dan tesis)

Isu lingkungan sekarang ini sudah merupakan isu yang penting. Pentingnya isu lingkungan tersebut ditandai dengan maraknya pembicaraan dalam agenda politik, ekonomi, dan sosial, khususnya masalah pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas hidup. Dunia industri harus merespon secara proaktif terhadap gerakan kesadaran dan peraturan mengenai lingkungan hidup agar dapat bertahan dalam jangka panjang. Manajemen perusahaan sudah tidak lagi berfokus pada maksimalisasi laba dan bertanggung jawab kepada para pemegang saham, kreditur, dan pemerintah, tetapi juga memiliki bertanggung jawab sosial terhadap lingkungan di sekitarnya (Manuhara., 2000). Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Tentang tanggungjawab sosial dan lingkungan diatur secara spesifik dalam Pasal 74 UU Nomor 40 Tahun 2007:
 1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
 3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan dalam pasal ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang selaras, serasi dan seimbang sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Tanggung jawab sosial perusahaan timbul sebagai respon atau tindakan proaktif yang dilakukan oleh perusahaan terhadap harapan masyarakat atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan. Perkembangan harapan masyarakat melalui tiga tahap penting yaitu, pertama, harapan masyarakat hanya terbatas pada masalah fungsional ekonomi tradisional; kedua, masyarakat mengakui tangung jawab perusahaan untuk melakukan fungsi ekonomi dengan kesadaran atas perubahan tujuan, nilai dan  permintaan sosial; ketiga, masyarakat mengharapkan perusahaan membantu pencapaian tujuan masyarakat (Mondy, 2008). Konsep tanggung jawab sosial mengundang pro-kontra dikalangan masyarakat. Pihak yang pro memandang perusahaan sebagai sistem sosialekonomi yang harus tanggap terhadap kepentingan sosial, sedangkan pihak yang kontra memandang perusahaan sebagai sistem ekonomi yang hanya bertanggungjawab kepada pemilik perusahaan (Yudiani, 2008). Tanggung jawab sosial yang menjadi pro dan kontra ini setidaknya memiliki kepastian bagi perusahaan bahwa diakui atau tidak, mereka memiliki tanggungjawab sosial secara moral yang akan berdampak pada naik atau turunnya simpati masyarakat terhadap perusahaan tersebut. Masyarakat akan menilai perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi nilai tambah dalam kepercayaan sebagai lembaga penyejahtera kehidupan sekitarnya, demikian pula sebaliknya pandangan atas perusahaan yang sama sekali mengabaikan masalah sosial dilingkungan tempat usahanya bernaung. Respon perusahaan terhadap tanggungjawab sosial akan menimbulkan suatu kebutuhan untuk mengukur dan melaporkan kinerja perusahaan menjadi semakin luas (Murni, 2001).

Penilaian kinerja lingkungan (skripsi dan tesis)

Penilaian kinerha merupakan hasil dari suatu penialaian yang sistematik dan
didasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan yang berupa indikatorindikator masukan, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak. Penilaian tersebut tidak
terlepas dari proses yang merupakan kegiatan mengolah masukan menjadi
keluaran dan penilaian dalam proses penyusunan kebijakan yang dianggap
penting dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan.
Penilaian kinerja lingkungan digunakan sebagai dasar untuk menilai
keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan
tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi. Penilaian
kinerja dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja yang memanfaatkan
26
data kinerja yang diperoleh dari data internal yang ditetapkan oleh instansi
maupun data eksternal yang berasal dari luar instansi.
2.3.1. Indikator Penilaian Kinerja Lingkungan
Indikator kinerja lingkungan mungkin dibagi ke dalam tiga
kategori. Kategori ini tergantung kepada apakah mereka bertujuan di dalam
menilai aspek lingkungan dari aktivitas perusahaan dengan input/output arus
bahan, aktivitas dari manajemen lingkungan atau kondisi lingkungan dari sisi
luar perusahaan, indikator kinerja operasional, indikator kinerja manajemen,
dan pembedaan indikator kondisi lingkungan. Indikator kinerja lingkungan,
EPIs didefinisikan seperti mengikuti ISO 14031: “OPI, Indikator kinerja
operasional yang menyediakan informasi mengenai kinerja lingkungan dari
satu operasi organisasi (Ikhsan, 2009).
2.3.2. Indikator Kinerja Operasional
Indikator kinerja lingkungan diusulkan bagi perusahaan dan bentuk
dasar dari evaluasi aspek lingkungan. Contohnya dalah bahan, energi dan
konsumsi air, limbah dan emisi dalam jumlah keseluruhan dan dalam
hubungan dengan volume produksi. OPIs adalah satu landasan penting
komunikasi internal dan eksternal dari data lingkungan, misalnya pada laporan
lingkungan sesuai dengan peraturan EU EMAS atau dalam publikasi untuk
memberitahukan karyawan. “MPI, Indikator kinerja manajemen, menyediakan
informasi tentang usaha manajemen untuk mempengaruhi satu kinerja
lingkungan organisasi (Ikhsan, 2009).”
27
2.3.3. Indikator Kinerja Manajemen
Indikator kinerja manajemen secara tidak langsung mengukur
usaha perlindungan lingkungan oleh perusahaan dan hasil yang dicapai untuk
mempengaruhi aspek lingkungan. Mereka menyediakan data yang dapat
dihitung berdasarkan aktivitas manajemen lingkungnan untuk pengendalian
kecuali tidak ada infomasi berdasarkan kinerja atau dampak lingkungan.
“ECI , Indikator kondisi lingkungan, ungkapan spesifik yang
menyediakan informasi tentang lokal, regional, nasional atau kondisi global
lingkungan (Ikhsan, 2009).”
2.3.4. Indikator Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan lingkungan secara langsung mengukur kualitas
dari lingkungan. Biasanya digunakan untuk menilai dampak dari emisi gas di
udara atau kualitas air. Kondisi lingkungan di sekitar perusahaan, seperti air
dan kualitas udara, secara khas dimonitor oleh otoritas pemerintah.
Menurut Ikhsan (2009) untuk penilaian kinerja lingkungan
perusahaan dan dampak indkator operasional, berdasarkan pada
keseimbangan arus bahan adalah relevan.

Model Kualitas Biaya Lingkungan (skripsi dan tesis)

Menurut Hansen (2007), sebelum informasi biaya lingkungan dapat disediakan bagi manajemen, biaya-biaya lingkungan harus didefinisikan. Ada banyak kemungkinan, akan tetapi pendekatan yang menarik adalah dengan mengadopsi definisi yang konsisten dengan model kualitas lingkungan total. Dalam model kualitas lingkungan total, keadaan yang ideal adalah tidak ada kerusakan lingkungan (sama dengan keadaan cacat nol pada manajemen kualitas total). Kerusakan didefinisikan sebagai degradasi langsung dan lingkungan, seperti emisi residu benda padat, cair, atau gas ke dalam lingkungan (misalnya pencemaran air dan polusi udara), atau degradasi tidak langsung seperti penggunaan bahan baku dan energi yang tidak perlu. Menurut Arfan (2008) kualitas biaya merupakan suatu teknik standar industri untuk mengevaluasi kecenderungan dalam biaya penuh dalam menjamin masing-masing akhirproduk dan menyesuaikan jasa lebih dari yang dikehendaki pelanggan. Hansen dan Mowen (2007) menyatakan biaya kualitas adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau telah terdapat produk yang buruk kualitasnya. Tujuan utama dari pelaporan biaya kualitas adalah untuk memperbaiki dan mempermudah perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan manajerial. Arfan (2008) menyatakan keutamaan penggunaan laporan biaya kualitas berdasarkan perencanaan adalah penyediaan perencanaan manajemen dengan suatu alat untuk mengevaluasi kecenderungan perencanaan biaya terhadap kualitas. Dengan menelaah analisis biaya berdasarkan kualitas setiap waktu, tim perencanaan dapat mengidentifikasi daerah-daerah yang memungkinkan untuk diubah atau diperbaiki, serta implementasi tindakan yang benar tertuju pada peningkatan biaya terhadap kualitas. Kategori biaya kualitas dibagi dalam faktor-faktor sebagai berikut:

1. Biaya pencegahan Biaya pencegahan merupakan investasi yang dibuat dalam usaha untuk menjamin konfirmasi yang dibutuhkan. Misalnya, kegiatankegiatan yang termasuk ke dalam orientasi anggota tim, pelatihan dan pengembangan standard perencanaan serta prosedur.

2. Biaya penilaian Biaya penilaian merupakan biaya yang terjadi untuk mengidentifikasi kesalahan setelah kejadian. Misalnya, kegiatan-kegatan seperti pengujian.

3. Biaya kesalahan internal Biaya kesalahan internal merupakan biaya memperkerjakan kembali dan biaya perbaikan sebelum diserahkan kepada pelanggan. Misalnya adalah memperbaiki kesalahan yang dideteksi sepanjang pengujian internal. 4. Biaya kesalahan eksternal Biaya kesalahan eksternal merupakan biaya yang memperkerjakan kembali dan biaya perbaikan setelah diserahkan kepada pelanggan. Satu contoh akan memperkerjakan dan memperaiki hasil dari pengujian yang diterima. Contoh lainnya biaya aktual yang terjadi sepanjang jaminan dukungan.

3. Laporan Biaya Lingkungan Pelaporan biaya lingkungan adalah penting jika sebuah organisasi serius untuk memperbaiki kinerja lingkungannya dan mengendalikan biaya lingkungan. Langkah pertama yang baik adalah laporan yang memberikan perincian biaya lingkungan menurut kategori memberikan dua hasil yang penting (Hansen Mowen, 2009:416) yaitu dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas perusahaan dan jumlah relatif yang dihabiskan untuk setiap kategori

Definisi Biaya Lingkungan (skripsi dan tesis)

Biaya lingkungan adalah dampak, baik moneter atau non-moneter yang terjadi oleh hasil aktivitas perusahaan yang berpengaruh pada kualitas lingkungan. Menurut Ikhsan (2009), biaya lingkungan pada dasarnya berhubungan dengan biaya produk, proses, sistem atau fasilitas penting untuk pengambilan keputusan manajemen yang lebih baik. Tujuan perolehan biaya adalah bagaimana cara mengurangi biaya-biaya lingkungan, meningkatkan pendapatan dan memperbaiki kinerja lingkungan dengan memberi perhatian pada situasi sekarang, masa yang akan datang dan biaya-biaya manajemen yang potensial. Biaya lingkungan meliputi biaya internal dan eksternal serta berhubungan dengan semua biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kerusakan lingkungan dan perlindungan. Definisi-definisi tambahan antara lain meliputi:
 1. Biaya lingkungan meliputi biaya-biaya dari langkah yang diambil, atau yang harus diambil untuk mengatur dampak-dampak lingkungan terhadap aktivitas perusahaan dalam cara pertanggungjawaban lingkungan, seperti halnya biaya lain yang dikemudikan dengan tujuan-tujuan lingkungan dan keinginan perusahaan. 2. Biaya-biaya lingkungan meliputi biaya internal dan eksternal dan berhubungan terhadap seluruh biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kerusakan lingkungan dan perlindungan. 3. Biaya-biaya lingkungan adalah pemakaian sumber daya disebabkan atau dipandu dengan usaha-usaha (aktivitas) untuk: 1) Mencegah atau mengurangi bahan sisa dan polusi. 2) Mematuhi regulasi lingkungan dan kebijakan perusahaan 3) Kegagalan memenuhi regulasi dan kebijakan lingkungan. Biaya lingkungan dapat disebut biaya kualitas lingkungan (environmental quality costs). Sama halnya dengan biaya kualitas, biaya lingkungan adalah biaya-biaya yang terjadi karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau karena kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi. Maka, biaya lingkungan berhubungan dengan kreasi, deteksi, perbaikan, dan pencegahan degradasi lingkungan (Hanson dan Mowen, 2009). Menurut International Federation of Accountants (2005) terdapat enam kategori biaya: 1. Biaya bahan dan output produk. 20 2. Biaya bahan dan output non-produk 3. Biaya limbah dan kontrol emisi 4. Biaya pencegahan dan biaya manajemen lingkungan lainnya. 5. Biaya penelitian dan pengembangan 6. Biaya tak berwujud Menurut Hansen dan Mowen (2009), biaya lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori: 1. Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah dan atau sampah yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh-contoh aktivitas pencegahan adalah evaluasi dan pemilihan pemasok, evaluasi dan pemilihan alat untuk mengendalikan polusi, desain proses dan produk untuk mengurangi atau menghapus limbah, melatih pegawai, mempelajari dampak lingkungan, audit risiko lingkungan, pelaksanaan penelitian lapangan, pengembangan sistem manajemen lingkungan, daur ulang produk, dan pemerolehan sertifikasi ISO 14001. 2. Biaya deteksi lingkungan (environmental detection costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah produk, proses, dan aktivitas lainnya di perusahaan telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak. Standar lingkungan dan prosedur yang diikuti oleh perusahaan didefinisikan dalam tiga cara: (1) peraturan pemerintah, (2) standar 21 sukarela (ISO 14001) yang dikembangkan oleh International Standards Organization, dan (3) kebijakan lingkungan yang dikembangkan oleh manajemen. Contoh aktivitas deteksi adalah audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses (agar ramah lingkungan), pengembangan ukuran kinerja lingkungan, pelaksanaan pengujian pencemaran, verifikasi kinerja lingkungan dari pemasok, dan pengukuran tingkat pencemaran. 3. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya limbah dan sampah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar. Jadi biaya kegagalan internal terjadi untuk menghilangkan dan mengolah limbah dan sampah ketika diproduksi. Aktivitas kegagalan internal memiliki salah satu dari dua tujuan: 1) Untuk memastikan bahwa limbah dan sampah yang diproduksi tidak dibuang ke lingkungan luar. 2) Untuk mengurangi tingkat limbah yang dibuang sehingga jumlahnya tidak melewati standar lingkungan. Contoh-contoh aktivitas kegagalan internal adalah pengoperasian peralatan untuk mengurangi atau menghilangkan polusi, pengolahan dan pembuangan limbah-limbah beracun, pemeliharaan peralatan polusi, lisensi fasilitas untuk memproduksi limbah dan daur ulang sisa bahan. 22 4. Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan setelah melepas limbah atau sampah ke dalam lingkungan. Biaya kegagalan eksternal dapat dibagi lagi menjadi kategori yang direalisasi dan yang tidak direalisasi. Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi (realized external failure cost) adalah biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan. Biaya kegagalan yang tidak dapat direalisasikan (unrealized external failure cost) atau biaya sosial (societal cost), disebabkan oleh perusahaan tetapi dialami dan dibayar oleh pihakpihak di luar perusahaan

Jenis-Jenis Informasi yang Termasuk Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

 

.1. Informasi Fisik Untuk menilai biaya dengan benar, organisasi harus mengumpulkan data tidak hanya data moneter tetapi juga data non moneter. Menurut International Federation of Accountants (2005) Akuntansi manajemen lingkungan menempatkan satu penekanan tertentu pada materi dan materi memandu biaya karena:
1. Penggunaan energi, air dan materi, seperti halnya hasil dari limbah dan emisi, secara langsung terkait pada banyak dampak organisasi lingkungan mereka.
2. Biaya pembelian material merupakan satu pemicu biaya utama pada beberapa organisasi. Banyak organisasi membeli energi, air dan bahan lain untuk mendukung aktivitas mereka. Operasi manufaktur juga menggunakan energi, air dan bahan yang tidak pernah cenderung masuk ke dalam produk akhir kecuali dibutuhkan untuk membuat produk (seperti air untuk membilas keluar kimia diantara batches produk atau penggunaan bahan bakar untuk operasi angkutan). Banyak dari bahan ini lambat laun menjadi aliran limbah yang harus diatur. Operasi non pabrikasi (antara lain, agrikultur dan ternak, sektor ekstraksi sumber daya, sektor jasa, transport, sektor publik) juga dapat menggunakan satu pengaruh nyata dari sejumlah energi, air dan bahan lain untuk membantu menjalankan operasi mereka bergantung kepada bagaimana bahan itu diatur, dapat memimpin ke arah signifikan dari limbah dan emisi. Menjejaki dan mengurangi jumlah energi, air dan bahan yang digunakan oleh pabrikasi, jasa dan perusahaan lain juga dapat memiliki manfaat upstreams tidak langsung bagi lingkungan, karena ekstrasi dari hampir semua bahan baku memiliki dampak lingkungan. Secara efektif mengatur dan mengurangi dampak lingkungan yang potensial dari limbah dan emisi, sebaik seperti setiap produk fisik, organisasi harus memiliki data yang akurat pada jumlah dan tujuan dari seluruh energi, air dan materi yang digunakan untuk mendukung aktivitas ini. Kebutuhan untuk mengetahui yang mana dan berapa banyak energi, air dan materi yang dibawa masuk, yang menjadi produk fisik dan menjadi limbah dan emisi. Informasi akuntansi fisik ini tidak menyediakan semua data yang diperlukan untuk secara efektif mengelola seluruh dampak lingkungan yang potensial, tetapi informasi pokok adalah bahwa fungsi akuntansi dapat disediakan.
2. Informasi Moneter
 Organisasi mendefinisikan lingkungan terkait perbedaan biaya tergantung kepada kecenderungan pengguna dari informasi biaya. Taksonomi biaya yang menonjol dikembangkan untuk kepentingan pelaporan keuangan dan pelaporan nasional, dan telah mempengaruhi jenis lingkungan-terkait informasi biaya yang terkumpul dan dilaporkan terhadap stakeholders eksternal. Di balik lingkup dari dokumen pedoman untuk mendiskusikan  skema biaya individu yang digunakan di seluruh dunia dalam setiap perincian, tetapi beberapa historis dan kecenderungan keterlibatan dapat dicatat. Pertama, kebanyakan dari skema dikembangkan secara internasional meliputi jenis dari biaya dengan jelas dipandu oleh upaya untuk mengendalikan atau mencegah limbah dan emisi yang dapat merusak lingkungan atau kesehatan manusia. Contohnya meliputi: biaya yang terjadi untuk mencegah hasil dari limbah atau emisi, biaya-biaya untuk mengendalikan atau memperlakukan limbah yang telah dihasilkan dan biayabiaya untuk pengobatan pada bagian polusi. Jenis dari biaya ini sering dikenal sebagai perlindungan pembelanjaan lingkungan. Lingkungan-terkait biaya di bawah Akuntansi Manajemen Lingkungan meliputi tidak hanya perlindungan pembelanjaan lingkungan, tetapi juga informasi keuangan penting lainnya yang memerlukan efektivitas biaya untuk mengatur kinerja lingkungan. Salah satu contoh penting dalam hal ini adalah pembelian biaya bahan yang lambat laun menjadi limbah atau emisi. Perkembangan terbaru lainnya dalam area akuntansi manajemen lingkungan adalah sebuah dorongan untuk melihat biaya pembelian dari seluruh sumber daya alam (energi, air, bahan-bahan) saat lingkungan saling berhubungan. Dalam aturan perusahaan manufaktur, dimana kebanyakan dari pembelian bahan-bahan dikonversi ke dalam produk fisik, hal ini akan mengijinkan biaya lebih-efektivitas manajemen dari bahan-bahan terkait dampak lingkungan dari seluruh produk.Tentunya, organisasi mempertimbangkan biaya pembelian bahanbahan pada pembuatan keputusan internal manajemen mereka, tetapi tidak diperlukan pandangan mereka saat terkait lingkungan, karena satu organisasi harus memiliki informasi untuk memenuhi aspek penilaian keuangan dari manajemen lingkungan memberikan informasi untuk memenuhi aspek penilaian keuangan dari manajemen lingkungan terkait limbah fisik dan produk fisik. Sisi fisik akuntansi dari akuntansi manajemen lingkungan memberikan informasi yang dibutuhkan pada jumlah dan aliran dari energi, air, bahan, dan sisa biaya pembelian (Ikhsan, 2009)

Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Akuntansi manajemen lingkungan merupakan salah satu sub sistem dari akuntansi lingkungan yang menjelaskan sejumlah persoalan mengenai persoalan penguantifikasian dampak-dampak bisnis perusahaan ke dalam sejumlah unit moneter. Menurut International Federation of Accountants (2005) Environmental Management Accounting (Akuntansi Manajemen Lingkungan) adalah pengelolaan kinerja lingkungan dan ekonomi melalui pengembangan dan implementasi sistem akuntansi yang tepat. Akuntansi manajemen lingkungan dengan berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Akuntansi manajemen lingkungan merupakan hal yang tak terpisahkan dari unsur manajemen perusahaan, akuntansi manajemen lingkungan sendiri merupakan proses pengidentifikasian, pengumpulan, perkiraan-perkiraan, analisis, laporan dan pengiriman informasi tentang:
1. Informasi berdasarkan arus bahan dan energi
2. Informasi berdasarkan biaya lingkungan
 3. Informasi lainnya yang terukur, dibentuk berdasarkan akuntansi manajemen lingkungan untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan.
Akuntansi manajemen lingkungan pada dasarnya lebih menekankan pada akuntansi dari biaya-biaya lingkungan. Biaya lingkungan ini tidak hanya mengenai informasi tentang biaya-biaya lingkungan dan informasi lainnya yang terukur, akan tetapi juga tentang informasi material dan energi yang digunakan. Akuntansi manajemen lingkungan saling terkait dan terfokus pada arus nilai-nilai dan bahan dan energi, tingkat umum perusahaan yang sama baiknya dengan tingkat proses perusahaan perseroan, divisi-divisi, operasi dan lain-lain. Konsep akuntansi manajemen lingkungan digunakan untuk melakukan pemonitoran dan pengevaluasian informasi yang terukur dari keuangan maupun manajemen serta arus data tentang bahan dan energi yang saling berhubungan secara timbal balik guna meningkatkan efisiensi pemanfaatan bahan-bahan maupun energi, mengurangi dampak lingkungan dari operasi perusahaan, produkproduk dan jasa, mengurangi risiko-risiko lingkungan dan memperbaiki hasil-hasil dari manajemen perusahaan (Ikhsan, 2009). Akuntansi manajemen lingkungan memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi dan mengukur penghematan biaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Sehingga manajemen mempunyai informasi untuk mengontrol dan mengendalikan biaya lingkungan demi tercapainya produk yang efisien dan murah. Terdapat dua pendekatan dalam merumuskan EMA, yaitu :

1. Monetary Accounting (berbasis pada monetary procedure) merupakan upaya mengidentifikasi, mengukur dan mengalokasikan biaya lingkungan berdasarkan perilaku aliran keuangan dalam biaya tersebut.
2. Physical Accounting (berbasis pada material flow balance procedure) adalah suatu pendekatan untuk mengidentifikasi berbagai perilaku sumber biaya lingkungan. Hal ini akan berguna bagi manajemen untuk dasar alokasi biaya lingkungan yang terjadi.
Dengan pendekatan gabungan ini dapat dihasilkan alokasi biaya produksi yang tepat sehingga benar-benar mencerminkan harga pokok yang akurat setiap produk. Selain itu manajemen dapat melakukan pengendalian terhadap aktivitas produksi yang mengakibatkan munculnya berbagai biaya lingkungan. Menurut Ikhsan (2009), akuntansi lingkungan merupakan alat manajemen lingkungan yang digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan lingkungan berdasarkan ringkasan dan biaya lingkungan. Tujuan dari akuntansi lingkungan sendiri adalah untuk meningkatkan jumlah informasi relevan yang dibuat bagi mereka yang memerlukan atau dapat menggunakannya. Pengungkapan ini penting terutama bagi para stakeholders untuk dipahami, dievaluasi dan dianalisis hingga dapat member dukungan bagi usaha mereka. Keutamaan penggunaan konsep akuntansi lingkungan bagi perusahaan adalah kemampuan untuk meminimalisasi persoalan-persoalan lingkungan yang dihadapinya. Banyak perusahaan besar industry dan jasa kini menerapkan akuntansi lingkungan. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya dan manfaat atau efek.

Akuntansi Lingkungan (skripsi dan tesis)

Istilah akuntansi lingkungna mempunyai banyak arti dan kegunaan. Akuntansi lingkungan dapat mendukung akuntansi pendapatan, akuntansi keuangan maupun bisnis internal akuntansi manajerial. Fokus utamanya didasarkan pada penerapan akuntansi sebagai alat komunikasi manajerial untuk pengambilan keputusan bisnis internal. Menurut Ikhsan (2009) Akuntansi Lingkungan (AL) adalah istilah luas yang digunakan dalam jumlak konteks yang berbeda seperti: 1. Penialain dan pengungkapan terkait informasi keuangan dalam konteks akuntansi keuangan dan pelaporan. 2. Penilaian dan penggunaan lingkungan terkait informasi fisik dan keuangn dalam konteks Akuntansi Manajemen Lingkungan. 3. Estimasi atas dampak eksternal lingkungan dan biaya-biaya, sering mengacu pada Full Cost Accounting (FCA) Akuntansi lingkungan juga merupakan bidang yang terus berkembang dalam mengidentifikasi pengukuran-pengukuran dan mengomunikasikan biaya-biaya actual perusahaan atau dampak potensial lingkungannya. Fungsi dan peran akuntansi lingkungan : 1. Fungsi internal : untuk mengatur biaya konservasi lingkungan dan menganalisis biaya dari kegiatan-kegiatan konservasi lingkungan yang efektif dan efisiensi serta sesuai dengan pengmabilan keputusan. Dari 12 fungsi ini diharapkan akuntansi lingkungan sebagai alat manajemen bisnis yang dapat digunkan oleh menajer ketika berhubungan dengan unit-unit bisnis. 2. Fungsi eksternal : berkaitan dengan aspek pelaporan keuangan. Pada fungsi ini factor penting yang perlu diperhatikan adalah pengungkapan hasil dari kegiatan konservasi lingkungan dalam bentuk data akuntansi.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Inovasi Proses Produksi (skripsi dan tesis)

Menurut Ellitan (2009:42) faktor yang mempengaruhi inovasi proses produksi dibagi menjadi 6 faktor yaitu sebagai berikut:
1. Kompetensi Manajerial Kompetensi Manajerial sangat diperlukan dalam mengelola operasi perusahaan secara keseluruhan terutama dalam melakukan inovasi proses produksi. Inovasi proses produksi akan berhasil jika proses tersebut direncanakan dan diimplementasikan dengan baik, yaitu melalui beberapa tahap perencanaan seperti penelitian, pengembangan, rekayasa produksi, manufacturing dan pengenalan pasar.
2. Komitmen Pimpinan Perusahaan dan Partisipasi Aktif Karyawan Implementasi inovasi menuntut figur kepemimpinan yang komunikatif, memiliki dedikasi yang tinggi, dan komitmen tinggi terhadap perkembangan perusahaan. Di sisi lain agar karyawan bisa berpartisi aktif dalam proses produksi yang menghasilkan produk inovatif, pimpinan perusahaan perlu mendistribusikan informasi yang berkaitan dengan proses produksi pada karyawan-karyawan yang terlibat.
3. Kompetensi Sumber Daya Manusia SDM bertanggung jawab dalam mengoprasikan inovasi proses produksi sehingga dibutuhkan SDM yang tangguh, handal dan 50 kompeten. Pelatihan, seminar, lokakarya yang sifatnya jangka pendek, menengah dan panjang yang diadakan oleh perusahaan yang memiliki manajemen inovasi dan R&D canggih perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki.
4. Kepemilikan Fasilitas R&D Fasilitias R&D diperlukan untuk melakukan pengkajian secara terus menerus dan mendalam apakah proses produksi yang menghasilkan produk kompetitif dan inovatif dalam mengikuti dinamika tuntutan konsumen.
 5. Jaringan Sistem Informasi Pelayanan yang baik melalui penciptaan proses produksi dengan kualitas yang tinggi dan inovatif, waktu tunggu yang pendek, dan harga yang kompetitif menjadi keunggulan kompetitif perusahaan dalam era berbasis pelayanan saat ini
6. Timing Inovasi Pemelihan waktu yang tepat untuk memasuki pasar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan atau kegagalan inovasi proses produksi baru. Peluang dan resiko produk baru bergantung pada beberapa hal seperti perubahan keadaan ekonomi, perubahan pada referensi konsumen, dan daur hidup industri

Metodologi Inovasi Proses (skripsi dan tesis)

. Untuk mengendalikan atau mendukung proyek inovasi proses (reengineering) telah dikembangkan sebuah metodologi yang disebut REVISION (Khoong, 1995) dalam Ellitan (2009:75). Metodologi tersebut diorganisir menjadi tujuh tahap yaitu: Tahap 1: Initiate (Permulaaan) Umumnya penerapan inovasi proses dipicu oleh manajemen puncak, para penasehat organisasi, atau beberapa staf yang berkempentingan dalm organisasi tersebut. Tahap 2: Envision (Tahap Pembentukan Misi) Tahap pembentukan visi merupakan tahap yang paling penting dalam fase perencanaan karena hal ini menentukan lingkup bisnis yang menjadi target inovasi proses di samping penetapan tolak ukur guna menilai hasil pelaksanaan inovasi proses. Pada proses envisioning organisasi bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada definisi ulang yang radikal dari peran organisasi. Pertanyaanya sebagai berikut: 1. Apakah perusahaan telah dan atau sedang melayani pelanggan yang tepat. 48 2. Apakah perusahaan telah dan sedang menyampaikan produk dan jasa yang tepat, apa prioritas pelanggan. 3. Apakah perusahaan sudah menerapkan proses yang tepat, mana yang merupakan proses kunci dan keberhasilan kinerja lingkungan. Tahap 3: Analyze (Menganalisa) Sebuah kelompok kerja dibentuk untuk menjalankan tahap analisis dan disain ulang setiap proses dan masalah-masalah pokok. Ketergantungan antar proses (inter-procesess dependencies) diharapkan bisa dikembangkan untuk menunjukkan keterkaitan antar proses dalam organisasi. Tahap 4: Redesign (Mendisain Ulang) Redesaign adalah suatu cara mendisain ulang suatu proses dengan mempelajari peta proses, mempermudah untuk melihat bagian-bagian tertentu yang bisa diotomatiskan, disederhanakan, dan lebih ditekankan dengan lebih banyak menggunakan sumber-sumber daya dan perhatian manajemen. Tahap 5: Blueprint Tahap ini terletak di perbatasan antara fase studi dan fase implementasi inovasi proses. Blueprint mencakup strategi transisi dan jadwal implementasi untuk semua aspek rencana perubahan tersebut. Tahap 6: Implement (Implementasi) Tahap 7: Monitoring (Pengawasan atau Pengendalian)

Resiko dan Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Inovasi (skripsi dan tesis)

Proses Penerapan inovasi proses memang menjanjikan perubahan secara drastis pada organisasi perusahaan dan proses bisnis. Jika inovasi proses berhasil maka perusahaan akan bisa meningkatkan kinerja organisasi dan karyawannya (Davidson, 1993). Tetapi sebaliknya, jika upaya inovasi proses mengalami kegagalan maka resiko yang dialami perusahaan akan timbul. Menurut Clemons (1995) dalam Ellitan (2009:73) berbagai resiko yang mungkin dialami oleh perusahaan antara lain: 1. Resiko teknis (technical risk) yaitu resiko yang terjadi karena terbatasnya kapabilitas teknologi yang digunakan organisasi dalam proses inovasinya. 2. Resiko finansial (financial risk) terjadi proyek inovasi proses tidak berjalan sesuai dengan rencana atau jika tidak selesai tepat pada waktunya dan tidak sesuai dengan rencana atau jika tidak selesai  tepat pada waktunya dan tidak sesuai dengan biaya yang dianggarkan. 3. Resiko politis (political risk) yaitu terjadinya resitance to change terhadap proyek-proyek inovasi proses. 4. Resiko fungsional (functional risk) merupakan kesalahan disainer sistem dalam memahami kebutuhan organisasi dan kurangnya keterampilan dan pengetahuan pelaksana sehingga mengakibatkan kapabilitas sistem yang dirancang tidak tepat. 5. Resiko proyek (project risk) adalah risiko yang bisa terjadi jika peesonel pemroses data tidak memahami dan tidak familiar terhadap teknologi baru sehingga menimbulkan masalah-masalah yang kompleks. Menurut Ellitan (2009:74) terdapat empat faktor utama penyebab kegagalan inovasi proses antara lain: 1. Menolak untuk berubah (resistance to change) Resistance to change merupakan masalah utama inovasi proses yang bisa terjadi karena inovasi proses tidak hanya terkait dengan teknologi tetapi juga berpengaruh terhadap lingkungan, perilaku, nilai-nilai, dan budaya organisasi terlebih jika dilakukan rightsizing. Di samping itu, resistance to change juga dipicu oleh tidak adanya visi, dan lingkungan operasi, dan lingkungan bisnis radikal. 2. Kurangnya komitmen manajemen (lack of management commitment) Komitmen manajemen sangat diperlukan dalam melakukan inovasi proses dan akan mengahadapi kemungkinan kegagalan yang sangat besar tanpa adanya komitmen penuh pucuk pimpinan dalam arti mereka harus memahami bagaimana peran pimpinan dalam suatu organisasi yang sedang mengalami perubahan radikal dan membangun konsensus semua jenjang hirarki. 3. Sistem informasi yang kurang memadai Ellitan (2009) mengemukakan bahwa sebagian besar perusahaan yang gagal dalam proyek inovasi proses disebabkan oleh adanya sistem informasi yang kurang memadai dan tidak menempatkan sistem informasi sebagai mitra kerja yang benar (true partner). 4. Kurangnya keluasan (breadth) dan kedalaman (depth) analisis terhadap faktor-faktor kritis inovasi proses Kurangnya keluasan dan kedangkalan dalam mengidentifikasi faktor-faktor kritis inovasi proses menyebabkan kegagalan dalam proyek inovasi proses. Yang dimaksud keluasan disini meliputi aktivitas-aktivitas yang perlu dilakukan manajer untuk mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang akan dan sedang didesain kembali untuk menciptakan nilai dalam unit bisnis dan organisasi secara keseluruhan. Untuk kedalaman menyangkut identifikasi seberapa besar unsur-unsur peran, tanggung jawab, pengukuran dan 47 intensif, struktur organisasi, teknologi informasi, nilai-nilai bersama dan skill keberhasilan inovasi proses

Manfaat Inovasi Perusahaan (skripsi dan tesis)

Manfaat inovasi perusahaan menurut Youlanda (2012) sebagai berikut: 1. Melalui inovasi, perusahaan mampu menciptakan pasar-pasar baru (New Markets). 2. Inovasi diartikan sebagai manfaat dari barang dan jasa yang diterima oleh pelanggan harus melebihi uang (harga) yang dibayarkan oleh pelanggan.   3. Melalui inovasi, kita terbebas dari persaingan (membuat agar persaingan dan pesaing-pesaing tidak relevan). 4. Memberi nilai tambah terus menerus kepada pelanggan menuju target 100% customer satisfication (hanya berfokus kepada pelanggan yang sekarang atau pelanggan persfektif), 5. Semakin erat hubungan lintas perekonomian dalam menjalankan ekonomi, salah satunta adalah dampak keberhasilan atau kegagalan suatu perekonomian terhadap perekonomian lain.

Pengertian Inovasi (skripsi dan tesis)

Proses Inovasi Proses bisa juga diartikan sebagai reengineering atau perencanaan visi strategik dan strategi kompetitif baru serta pengembangan proses bisnis baru yang mendukung visi tersebut (Ellitan, 2009:72). Menurut Hamer dan Champy (1993) dalam Ellitan (2009) “inovasi proses (reengineering) adalah pemikiran ulang yang fundamental dan perancangan ulang yang radikal terhadap proses-proses bisnis organisasi yang membawa organisasi mencapai peningkatan yang dramatis dalam kinerja bisnisnya”. Menurut Herbkersman (1994) inovasi proses adalah perubahan secara drastis bagaimana cara anggota organisasi menyelesaikan cara kerja mereka. Ellitan (2009) menyebutkan esensi dan prinsip-prinsip inovasi proses antara lain:   1. Memfokuskan pada faktor-faktor sekitar hasil (outcome) bukan pada tugas, artinya bahwa suatu perusahaan hendaknya memiliki seseorang yang melaksanakan semua tahapan dalam suatu proses. 2. Suatu perusahaan hendaknya membentuk departemen-departemen terspesialisasi untuk menangani proses yang terspesialisasi juga. 3. Mengelompokkan pemrosesan informasi ke dalam fungsi yang menghasilkan informasi. 4. Memperlakukan sumber-sumber yang terpisah seolah-olah tersentralisasi. 5. Mengaitkan aktivitas-aktivitas pararel serta mengintegrasikan hasilhasilnya. Hal ini ditunjukkan untuk meningkatkan keterkaitan antar fungsi paralel sehingga unit-unti terpisah bisa melakukan satu fungsi. 6. Menghubungkan aspek-aspek keputusan untuk menyelesaikan tugas dan membangun sistem pengendalian dari suatu proses. 7. Memperoleh informasi sekaligus pada sumbernya

Pengertian Inovasi (skripsi dan tesis)

Menurut Ellitan (2009:3) Inovasi merupakan “sistem aktivitas organisasi yang mentransformasi teknologi mulai dari ide sampai komersialisasi”. Inovasi mengacu kepada pembaharuan suatu produk, proses dan jasa baru. Seperti yang dikatakan Samson (1989) inovasi secara spesifik terdapat tiga tipe inovasi yaitu inovasi produk, inovasi proses dan inovasi sistem manajerial. Salah satu alasan mengapa inovasi sangat diperlukan adalah cepatnya perubahan lingkungan bisnis yaitu semakin dinamik dan hostile. Sebuah organisasi yang inovatif memiliki ciri-ciri seperti kolaborasi organisasional yang intensif, melakukan manajemen terhadap ketidakpastian lingkungan, dan mengakui pentingnya kapabilitas teknologi (Ellitan, 2009). Selanjutnya Saleh dan Wang (1993) telah mengembangkan satu dari model komprehensif yang mengidentifikasi tiga kunci sukses organisasi untuk melakukan inovasi secara efektif yaitu: 1. Entreprenueral strategi yaitu, berani mengambil resiko, melakukan pendekatan bisnis yang proaktif, dan komitmen manajemen. 2. Struktur organisasi yaitu dengan struktur yang lebih fleksibel, adanya disiplin interfungsional, dan orientasi pada tim kerja lintas fungsional. 3. Iklim organisasi yaitu iklim yang promotif dan terbuka, kekuatan dan kekuasaan dalam organisasi disebarkan tidak terpusat pada jenjang atas, dan memberikan sistem imbalan yang efeketif. 41 Menurut Drucker (2011) “inovasi merupakan sebuah kebutuhan dan harus menjadi disiplin. Konsep inovasi mempunyai sejarah yang panjang dan pengertian yang berbeda-beda, terutama didasarkan pada persaingan antara perusahaan-perusahaan dan strategi yang berbeda yang diterapkan perusahaa itu sendiri. Schumpeter dalam Rustika (2011) menyebutkan bahwa inovasi terdiri dari lima unsur yaitu: 1. Memperkenalkan produk baru atau perubahan kualitatif pada produk yang sudah ada. 2. Memperkenalkan proses baru ke industri. 3. Membuka pasar baru. 4. Mengembangkan sumber pasokan baru pada bahan baku atau masukan lainnya. Perubahan pada organisasi industri.

Hubungan Strategi Operasi Dengan Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Penerapan akuntansi manajemen lingkungan (Environmental Manajement Accounting-EMA) dalam sebuah organisasi kemungkinan dipengaruhi oleh strategi bisnis perusahaan yang bersangkutan. Dalam hal ini sistempengendalian manajemen (SPM) diciptakan sedemikian rupa untuk memastikan bahwa manajer menggunakan sumber daya yang tersedia secaraefektif dan efesien demi pencapaian tujuan organisasi (Anthony, 2002). Gosselin (1997) dalam Ferreira et al (2009) menemukan bahwa strategi operasi dikaitkan dengan penerapan manajemen aktivitas. Disimpulkan juga bahwa strategi yang diikutioleh organisasi menentukan kebutuhan inovasi yang berkaitan dengan kegiatan pengolahan dan cenderung mengadopsi akuntansi inovasi. Penggunaan EMA (Environmental Management Accounting) dapat dikatakan sangat besar dalam organisasi yang melakukan strategi operasi karena dapat membantu sebuah organisasi yang inovatif

Daya Saing Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

Daya saing strategi operasi merupakan fungsi strategi yang tidak saja berorientasi kedalam (internal) tetapi juga keluar (ekstenal), yakni merespon pasarsasaran utamanya yang proaktif. Berdaya saing berarti memilki keunggulan kompetitif tidak hanya keunggulan komparatif. Dipahami bahwa setiap perusahaan tidak terkecuali perusahaan manufaktur maupun nonmanufaktur dituntut untuk memiliki keunggulan komparatif, karena semuanya menghasilkan suatu produk yang ditawarkan ke pasar. Daya saing strategi operasi penting dimiliki oleh semua level perusahaan, baik lokal, nasional, internasional, maupun global. Bagi setiap  perusahaan, tentunya tidak ada sesuatu yang dapat dipasarkan tanpa ada suatu produk yang dihasilkan. Tidak akan bermanfaat modal usaha yang dimiliki tanpa suatu produk yang diproduksi , dan tidak akan bernilai tambah keahlian (skill) dan kemampuan (ability) tenaga kerja yang tersedia, tanpa ada suatu produk yang akan dihasilkannya

Tahapan Dalam Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

Menurut David (2004:6-7) manajemen strategis terdapat 3 tahapan yaitu sebagai berikut: a. Perumusan strategi: meliputi kegiatan untuk mengembangkan visi dan misi organisasi, mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan internal organisasi, menetapkan tujuan jangka panjang organisasi, serta memilih strategi tertentu untuk digunakan. b. Pelaksanaan strategi: mengharuskan perusahaan untuk menetapkan sasaran tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan 38 mengalokasikan sumber daya sehingga perumusan strategis dapat dilaksanakan. Pelaksanaan strategi mencakup pengembagan budaya yang mendukung strategi, penciptaan struktur organisasi yang efektif, pengarahan kembali usaha-usaha pemasaran, penyiapan anggaran, pengemabangan dan pemanfaatan sistem informasi, serta menghubungkan kompetensi untuk karyawan dengan kinerja organisasi. c. Evaluasi Strategi: Tahap ini merupakan tahap terakhir dari manajemen strategis tiga kegiatan pokok dalam evaluasi strategi adalah 1. mengkaji ulang faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi landasan perumusan strategi yang diterapkan saat ini, 2. Mengukur kinerja dan 3. Melakukan tindakan korektif

Kerangka Kerja Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

 Chase et al, (2001:29) menyatakan “strategi operasi tidak dapat dirancang dalam kekosongan. Strategi operasi harus dikaitkan secara vertikal dengan konsumen dan secara horizontal dengan bagian-bagian lainnya perusahaan. Strategi operasi dirumuskan berdasarkan strategi mission, yang merupakan turunan dari strategic vision (Muhardi:30). Sehningga berdasarkan sepengetahuan penulis untuk merumuskan strategi operasi, terlebih dahulu perlu diidentifikasikan strategic vision-nya, yang dilanjutkan dengan strategi mission. Menurut Heizer dan Render (1999:35): “misi untuk fungsi operasi adalah dikembangkan guna mendukung misi keseluruhan perusahaan yang menjadi turunan dari visinya. Strategi operasi dipandang sebagai kekuatan manufaktur yang efektif yang merupakan senjata kompetitif untuk mencapai tujuan bisnis dan perusahaan. Strategi operasi mempengatuhi tujuan dan strategi bisnis yang memungkinkan fungsi-fungsi manufaktur untuk memberikan konstribusi dalam meningkatkan daya saing perusahaan dalam jangka panjang (Hayes dan Wheelright, 1985 dikutip dalam Ward dan Duray, 2000 dalam Ellitan, 2008: 152). Heizer dan Render (2004:40) mengemukakakan bahwa strategi operasi 36 yang sukses tidak hanya harus konsisten dengan permintaan konsumen, melainkan juga siklus hidup produk. Menurut beberapa peneliti, strategi operasi mewaakili prioritas kompetitif yang meliputi biaya, kualitas, fleksibilitas dan pengiriman (Wheelright, 1984; Leong et al., 1990; Rothn et al, 1991; Burgess et al., 1998, dalam Ellitan 2008).
Stonebraker dan Leong, 1994 (dikutip dalam Badri et al, 2000) mendifinisikan: 1. Strategi biaya sebagai produksi dan distribusi produk dengan biaya terendah dan sumber daya tersisa yang minimum. Harga yang rendah dapat meningkatkan permintaan produk atau jasa tetapi juga mengurangi keuntungan keuntungan perusahaan jika produk atau jasa tidak dapat diproduksi pada harga yang lebih rendah. 2. Strategi kualitas sebagai aktivitas perusahaan untuk memproduksi produk sesuai dengan spesifikasi atau memenuhi kebutuhan konsumen. Strategi kualtias memfokuskan pentingnya memproduksi barang dan jasa yang dapat memuaskan spesifikasi da kebutuhan konsumen 3. Strategi fleksibilitas sebagai kemampuan untuk merespon perubahan cepat dalam produk, jasa dan proses. Fleksibilitas mencakup mesin, proses, produk, volume, dan layout (Bragilia dan Patroni, 2000). Fleksibilitas manufaktur didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan manufaktur untuk mengalokasikan dan mengalokasikan 37 kembali sumber daya yang dimiliki secara efektif dalam merespon perubahan lingkungan dan kondisi internal (Gerwin, 1993; dalam Ellitan, 2008:153). 4. Strategi pengiriman meliputi kemampuan dalam merespon pemesanan konsumen. Ellitan (2008) mendifinisikan strategi pengiriman sebagai kemampuan pengiriman (dengan memenuhi jadwal pengiriman maupun janji pengiriman) dan kecepatan pengiriman (bertindak cepat atas pemesanan konsumen). Pengukuran kinerja pengiriman menekankan pada aktifitas yang mefokuskan pada peningkatan reliabilitas pengiriman misalnya pengiriman tepat waktu, akurasi dalam status persediaan, dan wakti tunggu pengiriman

Fungsi Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

Fungsi strategi operasi sebagai salah satu aktivitas penting dalam suatu perusahaan mempunyai tanggung jawab utama untuk menghasilkan atau menyediakan barang-barang dan jasa-jasa. Menurut Bozart and Handfield (2006:4) menyatakan bahwa fungsi strategi operasi adalah meliputi orang, teknologi, dan sistem dalam suatu organisasi yang mempunyai tanggung jawab utama untuk menghasilkan barang-barang dan jasa. Selain fungsi-fungsi lainnya dalam suatu perusahaan, fungsi strategi operasi merupakan kegiatan yang sangat mempengaruhi keberhasilan dan keberlangsungan hidup suatu perusahaan dalam jangka panjang. Fungsi operasi meliputi konversi input menjadi output. Input sering disebut dengan sumber daya 35 operasi. Sumber daya tersebut diantaranya landyakni berupa bahan baku atau material yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk; labor yakni tenaga kerja atau sumber daya manusia; capital yakni sumber daya buatan manusia (manmad resources)

Pengertian Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

Menurut Muhardi (2007:27) “Strategi operasi merupakan salah satu strategi tingkat fungsional yang krusial, selain strategi pemasaran, keuangan, sumberdaya manusia, dan strategi tingkat fungsional”. Strategi operasi, pemasaran, keuangan, sumberdaya manusia, dan lainnya harus mengarah pada pencipataan nilai terbaik dan inovasi bagi keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang. Sedangkan menurut Krajewski dan Ritzman (1993:22), bahwa “Operations strategy specifies how operations can achieve the organization’s  overall goals, within the framework of corporate strategy”. Perlu dipahami bahwa strategi operasi suatu perusahaan secara komprehensif harus diintegrasikan dengan strategi perusahaan. Karenannya strategi operasi dirumuskan untuk menentukan kebijakan-kebijakan dan rencana-rencana penggunaan sumberdaya guna mendukung strategi dengan strategi bersaing Menurut Chase et al (2002: 24) dalam Muhardi (2007) menyatakan bahwa strategi operasi meliputi keputusan-keputusan yang berhubungan dengan desain proses dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung proses tersebut. Hal ini berarti strategi operasi juga harus didesain untuk mengantisipasi kebutuhan masa datang. Pernyataan ini memperkuat arti pentingnya strategi operasi yang perlu dirumuskan untuk tujuan jangka panjang

Pengertian Strategi (skripsi dan tesis)

Untuk memahami arti penting strategi, dalam hal ini strategi operasi bagi suatu perusahaan, maka perlu dikemukakan terlebih dahulu berbagai definisi strategi dari para pakar. Stevenson (2002:45) dalam Muhardi (2007:25-26) mengartikan sebagai berikut: “Strategy are plans for achieving organizational goals”. Strategi merupakan rencana untuk mencapai tujuan organisasional. Di pihak lain, Heizer dan Render (2002:36) menyatakan: “Strategy is an organization’s action plan to achieve the mission”. Dengan demikian, Heizer dan Render mendefinisikan strategi sebagai suatu rencana mencapai misi organisasinya. Jadi strategi berhubungan dengan rencana yang menentukan arus suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Dalam lingkup yang lebih luas, strategi mempengaruhi kemampuan berorganisasi untuk bersaing, kemampuan untuk   melayani dalam mencapai tujuannya. Tanpa strategi, suatu perusahaan tidak akan terencana dan tidak berjalan dengan baik, artinya tidak akan terarah kemana perusahaan akan menuju. Strategi yang dibuat tidak hanya sekedar ada tetapi harus mempunyai nilai yang realistis, jelas, menantang dan berbatas waktu. Dengan rumusan strategi yang sudah memiliki tidak menjamin tujuan dapat dicapai, apalagi tanpa strategi, jelas sulit untuk mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuannya. Menurut Jones dan George (2003:275) dalam Muhardi (2007:27) “functional-level strategy is a plan of action to improve the ability of an organization’s departments to create value”. Strategi tingkat fungsional adalah suatu rencana tindakan untuk meningkatkan kemampuan dari bagian (departments) dalam suatu organisasi untuk menciptakan nilai. Dengan kata lain, strategi tingkat fungsional ini merupakan suatu rencana yang menujukkan bagaimana suatu fungsi intend terhadap pencapaian tujuaannya.

Penilaian Biaya Siklus Hidup (skripsi dan tesis)

Biaya proses lingkungan mungkin mengungkapkan kebutuhan untuk memberbaiki proses produksi perusahaan. Penatagunaan proses produksi adalah praktik perancangan pembuatan, pemeliharaan dan proses daur ulang untuk meminmalkan dampak lingkungan yang merugikan. Penilaian siklus hidup adalah sarana untuk meningkatkan pembenahan proses produksi (Hansen dan Mowen, 2005:788). Penilaian siklus hidup mengindetifikasi konsekuansi yang  timbul untuk lingkungan dari suatu produk sepanjang hidupnya dan kemudian mencari peluang untuk mendapatkan perbaikan lingkungan. Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya dan keuntungan pada pengaruh lingkungan dan perbaikan (Hansen dan Mowen, 2005:81)

Sudut pandang siklus hidup yang diadopsi menggabungkan pemasok, produsen dan sudut pandang pelanggan pelanggan. Keterkaitan internal dan eksternal organisasi dianggap penting dalam menilai konsekuensi lingkungan dari produk yang berbeda, desain produk dan desain proses. Jika sistem akuntansi biaya akann berperan dalam penilaian siklus hidup, maka langkah yang paling terlihat adalah menilai dan menetapkan biaya lingkungan yang disebabkan oleh produsen di setiap tahapan siklus hidup (Hansen dan Mowen , 2005:789). Hal ini memungkinkan manajer untuk membandingkan efek ekonomi dari inovasi perusahaan. Menurut Ikhsan (2009:65) berpendapat: “Pengaruh aktivitas akuntansi manajemen lingkungan dapat meningkatkan kegunaan keputusan manajemen lingkungan, tapi bagi semua aktivitas manajemen, antara lain: 1. Produk dan proses perancangan 2. Pengendalian harga dan alokasi pembebanan 3. Penganggara investasi 4. Pembelian 5. Jaringan penawaran manajemen 6. Penetapan harga produk 7. Evaluasi kinerja.” Adanya keterbatasan sistem akuntansi manajemen konvensional dan praktiknya membuat lebih sulit untuk secara efektif mengumpulkan dan mengavaluasi data terkait dengan lingkungan (Ikhsan, 2009:72). Sehingga kunci utama dalam akuntansi manajemen lingkungan perusahaan menurut Ikhsan (2009:52) adalah 32 1. “akuntansi manajemen lingkungan terpusat pada biaya-biaya internal perusahaan, akuntansi manajemen lingkungan tidak termasuk biaya, biaya eksternal individu, masyarakat, atau lingkungan di mana suatu perusahaan tidak menurut dan bertanggung jawab secara hukum. 2. Akuntansi manajemen lingkungan menempatkan penekanan tertentu pada akuntansi untuk biaya-biaya lingkungan. 3. Akuntansi manajemen lingkungan meliputi tidak hanya lingkungan dan informasi biaya lain, informasi juga menjelaskan tentang arus dan ketentuan-ketentuan fisik dari bahan-bahan energi. 4. Informasi akuntansi manajemen lingkungan dapat digunakan pada kebanyakan jenis-jenis dari aktivitas manajemen atau pengambilan keputusan dalam suatu organisasi, terutama sekali bermanfaat dalam aktivitas manajemen lingkungan yang proaktif.”

Biaya Lingkungan (skripsi dan tesis)

Biaya lingkungan menurut Hansen dan Mowen (2005:780) adalah “biaya yang dikeluarkan karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau karena kualitas lingkungan yang buruk yang mungkin terjadi, dengan demikian, biaya lingkungan dikaitkan dengan kreasi, deteksi, perbaikan, dan pencegahan degradasi lingkungan”. Dengan definisi ini, Hansen dan Mowen (2005: 780-782) dapat mengklasifikasi biaya lingkungan menjadi empat kategori yaitu:
 1. Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah 26 diproduksinya limbah dan/atau sampah yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh-contoh aktivitas pencegahan adalah evaluasi dan pemilihan pemasok, evaluasi dan pemelihan alat untuk megendalikan polusi, desai proses dan produk untuk mengurangi atau menghapus limbah, melatih pegawai, mempelajari dampak lingkungan, pelaksanaan penelitian lingkungan, pengembangan sistem manajemen lingkungan, daur ulang produk, dan pemerolehan sertifikat ISO 14001 (sertifikasi ISO 14001 diperoleh saat sebuah organisasi menerapkan sebuah sistem manajemen lingkungan yang memenuhi standar internasional yang ditetapkan secara khusus.
Standar ini berkaitan dengan prosedur manajemen lingkungan dan tidak secara langsung menunjukkan tingkat kinerja lingkungan yang dapat diterima. Oleh karena itu, sertifikasi berfungsi terutama sebagai sinyal bahwa perusahaan tertarik dan bersedia mempebaiki kinerja lingkungannya).
 2. Biaya deteksi lingkungan (environmental detection costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah produk, proses dan aktivitas lainnya diperusahaan telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak.
Standar lingkungan dan prosedur yang diikuti oleh perusahaan didefinisikan dalam tiga cara yaitu (1) undang-undang dan/atau peraturan pemerintah (2) standar sukarela (ISO 14001 voluntary standards)yang dikembangkan oleh International Standards Organization, dan (3) kebijakan lingkungan yang dikembangkan oleh manajemen. Contoh-contoh aktivitas deteksi adalah audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses agar ramah lingkungan, pengembangan ukuran kinerja lingkungan, pelaksanaan pengujian pencemaran, verivikasi kinerja lingkungan dari pemasok, dan pengukuran tingkar pencemaran.
3. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure costs) adalah biaya aktivitas yang dilakukan karena kontaminasi dan limbah telah diproduksi tapi tidak dibuang ke lingkungan. Dengan demikian, biaya kegagalan internal dikeluarkan untuk menghilangkan dan mengelola kontaminasi atau limbah sekali produksi. Kegiatan kegagalan internal memiliki dua tujuan: (1) memastikan bahwa kontaminasi dan limbah yang dihasilkan tidak dilepaskan ke lingkungan dan (2) mengurangi tingkat kontaminasi yang dilepaskan ke jumlah yang sesuai dengan standar lingkungan. Contoh-contoh aktivitas kegagalan internal termasuk operasi peralatan untuk meminimalkan atau menghilangkan polusi, merawat dan membuang racun, menjaga peralatan polusi, perizinan fasilitas untuk memproduksi kontaminasi dan bahan daur ulang.
4. Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure costs) adalah biaya aktivitas yang dilakukan setelah  pemakaian kontaminan dan limbah ke lingkungan. Realisasi kegagalan ekternal biaya adalah biaya yang dikeluarkan dan dibayar oleh perusahaan. Biaya kegagalan ekternal yang belum direalisasi (biaya sosial) disebabkan oleh perusahaan namun dikeluarkan dan dibayarkan oleh pihak-pihak di luar perusahaan.
Biaya sosial dapat diklasifikasikan lebih lanjut sebagai (1) hasil dari degradasi lingkungan dan (2) hal-hal yang terkait dengan dampak buruk pada properti atau kesejahteraan individu. Dalam kedua kasus tersebut, biaya ditanggung oleh orang lain dan bukan oleh perusahaan, meskipun mereka disebabkan oleh perusahaan. Dari empat kategori lingkungan yaitu biaya pencegahan lingkungan, biaya deteksi lingkungan, biaya kegagalan internal lingkungan dan yang terakhir biaya kegagalan ekternal lingkungan. Kategori kegagalan ekternal adalah yang paling berbahaya dan menghacurkan. Terdapat bukti bahwa biaya lingkungan bisa 20% atau lebih dari total biaya operasi organisasi (Hansen dan Mowen, 2005: 783). Pada sistem akuntansi konvesiona. Pada sistem akuntansi konvensional, biaya lingkungan seringkali tersembunyi di biaya overhead pabrik (Burrit et al, 2002), yang menyulitkan manajer untuk meninjau biaya lingkungan yang sesungguhnya berkaitan dengan aktivitas organisasi. Dibawah sistem AML, biaya ini diidentifikasi, klasifikasi dan alokasi, memungkinkan analisis biaya lanjut dan pengurangan biaya yang  mungkin akan terjadi (Bennet et al, 2003; Gibson dan Martin, 2004, dalam ferreira et al, 2009). Ferreira (2009) menemukan bahwa organisasi yang menghasilkan laporan sosial dan lingkungan (sustainability reports), mampu mengembangkan sistem pengendalian internal yang lebih baik. Dia juga menunjukkan bahwa penghematan biaya pada organisasi ini akan berakibat pada perbaikan berkelanjutan. Biaya lingkungan dari proses yang memproduksi, memasarkan, dan mengirmkan produk serta biaya lingkungan sesudah pembelian yang disebabkan oleh penggunaan dan pembuangan produk merupakan contoh-contoh biaya produk lingkungan. Pembebanan biaya lingkungan pada produk dapat menghasilkan informasi manajerial yang bermanfaat. Dengan membebankan biaya lingkungan secara tepat, maka akan diketahui apakah suatu produk menguntungkan atau tidak. Jika tidak menguntungkan, produk tersebut dapat dihentikan guna mencapai perbaikan yang signifikan dalam kineja lingkungan dan efisiensi ekonomi

Manfaat Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa manfaat potensial yang terhubung dalam penerapan akuntansi manajemen lingkungan. Hal ini termasuk pengurangan biaya (cost reduction), peningkatan harga produk (improved product pricing), daya tarik sumber daya manusia (attraction of human resources) dan peningkatan reputasi (Bennet et al, 2003; Burrit et al, 2002; de Beer et al, 2006; Gibson dan Martin, 2004; Hansen dan Mowen, 2005:778). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan akuntansi manajemen lingkungan umumnya akan bermanfaat bagi organisasi dengan menyediakan informasi berbeda untuk pengambilan keputusan (Adams dan Zuthsi, 2004; Bennet et al, 2003; Burrit et al., 2002). Seperti informasi yang mungkin akan mengungkapkan peluang, contohnya proses pengelolaan limbah yang lebih baik, mengurangi penggunaan energi dan  konsumsi bahan baku atau peluang untuk daur ulang material. Dari sudut pandang lingkungan informasi seperti ini juga digunakan dalam pengembangan proses yang lebih efisien dan dengan demikian mengarah kepada inovasi (Ferreira et al, 2009:923). Sebagai contoh, Hansen dan Mowen (2015) melaporkan manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh organisasi, seperti Baxter International and Interface Inc, dari penggunaan akuntansi manajemen lingkungan (EMA use) menggunakan penghematan masing masing sebesar $14 juta dan $12 juta per tahunnya. Dalam penggunaannya akuntansi manajemen lingkungan sangat penting bagi industri. Menurut ikhsan (2009;69) manfaat potensial penerapan akuntansi manajemen lingkungan diantaranya: 1. “Kemampuan secara akurat meneliti dan megatur penggunaan dan arus tenaga dan bahan-bahan, termasuk polusi/sisa volume, jenisjenis lain sebagainya. 2. Kemamuan secara akurat mengidentifikasi, mengestimasi, mengalokasikan, mengatur atau mengurangi, biaya-biaya, khususnya jenis lingkungan dari biaya-biaya. 3. Informasi yang lebih akurat dan lebih menyeluruh dalam mendukung, penetapan dari dan keikutsertaan di dalam programprogram sukarel, penghematan biaya untuk memperbaiki kinerja lingkungan. 4. Informasi yang lebih akurat dan menyeluruh untuk megukur dan melaporkan kinerja lingkungan, seperti meningkatkan citra perusahaan pada stakeholder, pelanggan, masyarakat lokal, karyawan, pemerintah, dan penyedia keuangan.”
 Menurut Guide to Corporate Environmental Cost Management (2003), manfaat dan keuntungan akuntansi manajemen lingkungan terdiri atas:  1. Kepatuhan (Compliance) Akuntansi manajemen lingkungan mendukung lingkungan lewat kepatuhan efisiensi biaya dengan regulasi lingkungan dan kebjakan yang dikenakan sendiri. 2. Eco-Effeciency Akuntansi manajemen lingkungan mendukung pengurangan simultan dari biaya-biaya dan dampak lingkungan lewat penggunaan energi yang lebih efisien, air dan material dalam operasi internal dan produk akhir. 3. Posisi Strategik (Strategic Position) Akuntansi manajemen lingkungan mendukung evaluasi dan implementasi dari program biaya efektif dan lingkungan sensitif untuk menjamin strategi jangka panjang

Tujuan Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Lingkungan organisasi merupakan variabel yang sangat penting dalam menentukan strategi bisnis suatu perusahaan. Perubahan lingkungan yang terjadi mengakibatkan individu, organisasi, dihadapkan pada perubahaan yang dinamis untuk tetap bertahan dan memiliki inovasi dalam persaingan bisnis (Ellitan, 2008:51). Dalam hal itu secara umum teknik akuntansi manajemen biasanya tidak memperdulikan buruknya perilaku perusahaan terhadap lingkungan. Perusahaan-perusahaan yang terintegrasi, multinasional, dan besar cenderung akan menerapakan Akuntansi Manajemen Lingkungan (AML) dalam proses akuntansi mereka melalui sejumlah pengidentifikasian terhadap biaya-biaya, 21 proses bisnis maupun proses produksi, produk-produk, dan jasa. Meskipun sistem akuntansi konvensional yang ada tidak cukup mampu untuk disesuaikan pada biaya-biaya lingkungan dan sebagai hasilnya hanya mampu menunjukkan akun untuk biaya umum tak langung (Rustika, 2011:13). Akuntansi manajemen lingkungan (AML) dikembangkann untuk berbagai keterbatasan dalam akuntansi manajemen konvensional. Beberapa poin berikut ini dapat menjadi alasan mengapa dan apa yang dapat diberikan oleh AML dibandingkan dengan akuntansi manajemen konvensional (Ikhsan, 2009):

 1. Meningkatnya tingkat kepentingan ‘biaya terkait lingkungan’. Seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, peraturan terkait lingkungan menjadi semakin ketat sehingga bisnis harus mengeluarkan investasi yang semakin besar untuk mengakomodasi kepentingan tersebut. Jika dulu biaya pengelolaan lingkungan relatif kecil, kini jumlahnya menjadi cukup signifikan bagi perusahaan. Banyak perusahaan yang kemudian menyadi potensi untuk meningkatkan efisiensi muncul dan besarnya biaya lingkungan yang harus ditanggung.
2. Lemahnya komunikasi bagian akuntansi dengan bagian lain dalam perusahaan. Walaupun keseluruhan perusahaan mempunyai visi yang sama tentang ‘biaya’, namun tiap-tiap departemen tidak selalu mampu mengkomunikasikannya dalam bahasa yang dapat diterima oleh semua pihak. Jika di satu sisi bagian keuangan menginginkan efesiensi dan  penekanan biaya, di sisi lain bagian lingkungan menginginkan tambahan biaya untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Walaupun ecoefficiency bisa menjadi jembatan antar kepentingan ini, namun kedua bagian tersebut berbicara dari sudut pandang yang bersebrangan.

3. Menyembunyikan biaya lingkungan dalam pos biaya umum (overhead). Ketidakmampuan akuntansi tradisional menelusuri dan menyeimbangakan akuntansi lingkungan dengan akuntansi keuangan menyebabkan semua biaya dari pengolahan limbah, perizinan dan lainlain digbungkan dalam biaya overhead; sebagai konsekuensinya biaya overhead menjadi ‘membengkak’.

 4. Ketidakpastian alokasi biaya lingkungan sebagai biaya tetap. Karena secara tradisional biaya lingkungan tersembunyi dalam biaya umum, pada saat diperlukan, akan menjadi sulit untuk menelusuri biaya sebenarnya dari proses, produk atau lini produksi tertentu. Jika biaya umum dianggap tetap, biaya limbah sesungguhnya merupakan biaya variabel yang mengikuti volume limbah yang dihasilkan berbanding lurus dengan tingkat produksi. 5. Ketidaktepatan perhitungan atas volume (dan biaya) atas bahan baku yang terbuang. Berapa sebenarnya biaya limbah? Akuntansi tradisional akan menghitungnya sebagai biaya pengelolaannya, yaitu biaya pembuangan atau pengolahan. AML akan mengjhitung biaya limbah sebagai pengolahan ditambah biaya pembelian bahan baku. Sehingga 23 biaya limbah yang dikeluarkan lebih besar (sebenarnya) daripada biaya yang selama ini diperhitungkan. 6. Tidak dihitungnya keseluruhan biaya lingkungan yang relevan dan signifikan dalam catatan akuntansi. Banyak sekali biaya yang terkait dengan pengelolaan lingkungan yang seharusnya diperhitungkan dengan benar agar tidak terjadi kesalahan pengambilan keputusan. Biaya tersebut umumnya meliputi biaya pengelolaan limbah, biaya material dan energi, biaya pembelian material dan energi dan biaya proses.

Definisi Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Menurut Ikhsan (2009:49-50) Akuntansi manajemen lingkungan merupakan sub bagian dari akuntansi lingkungan yang digunakan untuk menyediakan informasi dalam pengambilan keputusan suatu organisasi, walaupun informasi yang dihasilkan untuk tujuan yang lain, seperti pelaporan ekternal, dengan pelaporan dan pengiriman informasi tentang: a.) Informasi berdasarkan arus bahan dan energi b.) informasi biaya lingkungan c.) Informasi lainnya yang terukur, dibentuk berdasarkan akuntansi manajemen lingkungan untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan. Menurut pernyataan IFAC (2005:13) pengertian Akuntansi manajemen lingkungan atau environmental management accounting (EMA) adalah: “akuntansi manajemen lingkungan merupakan istilah yang digunakan dalam sejumlah konteks yang berbeda termasuk:
1. Penilaian dan pengungkapan informasi keuangan terkait lingkungan dalam konteks akuntansi dan pelaporan keuangan
2. Penilaian dan penggunaan informasi fisik dan moneter yang berkaitan dengan lingkungan dalam konteks akuntansi manajemen lingkungan (AML)
3. Estimasi dampak dan biaya lingkungan luar biasa, sering dianggap sebagai full cost accounting
 4. Akuntanis untuk persediaan dan arus sumber daya alam baik secara fisik dan moneter, yaitu natural resourcing accounting (NRA)

 5. Pelaporan informasi tingkat organisasi, informasi natural resource accounting dan informasi lainnya untuk tujuan informasi keuangan eksternal 6. Pertimbangan informasi fisik dan moneter terkait lingkungan dalam konteks pembangungan keberlanjutan.” The United Nations Division for Sustainable Development (UNDSD) (2011) dalam Ikhsan (2009:54) menyediakan suatu definisi yang lain dari akuntansi manajemen lingkungan. Definisi akuntansi manajemen lingkungan adalah informasi yang dihasilkan dari sistem akuntansi manajemen lingkungan untuk pengambilan keputusan internal, dimana informasi dapat berfokus secara fisiki atau moneter. Dalam pengambilan keputusan internal tersebut terdapat prosedul akuntansi manajemen lingkungan yang meliputi prosedur secara fisik untuk material dan pemakian energi, arus dan sisa akhir, dan memoneterisasi prosedur untuk biaya-biaya, penghematan dan pendapatan yang berhubungan terhadap aktifitas-aktifitas dengan dampak lingkungan potensial. Menurut Hansen dan Mowen (2005:778): “Environmental Management Accounting essentially maintains that organizations can produce more useful goods and services while simultaneously reducing negative environmental impacts, resource consumption, and costs”. Akuntansi manajemen lingkungan pada dasarnya merupakan gabungan dari informasi dari akuntansi keuangan dan akuntansi biaya untuk meningkatkan  efisiensi, mengurangi dampak dan resiko lingkungan serta mengurangi biaya perlindungan lingkungan. (Hansen dan Mowen 2005:778) Untuk kategori biaya tersebut berbeda dari skema biaya lingkugan lingkungan, petunjuk diberikan berdasarkan di mana untuk menemukan mereka dan bagaimana caranya yang sesuai dengan mereka ketika pembelanjaan atau biaya dinilai Akuntansi manajemen lingkungan yang dikembangkan oleh Burrit et al. (2002) mengintegrasikan dua komponen lingkungan, yaitu:
1. Moneter Akuntansi Manajemen Lingkungan (MAML), berbasis pada monetary procedure merupakan upaya mengidentifikasi, mengukur dan mengalokasikan dalam biaya. MAML didasarkan pada akuntansi manajemen konvensional yang diperluas untuk masalah lingkungan, dan merupakan alat utama untuk mengambil keputusan manajemen internal.
 2. Pisik Akuntansi Manajemen Lingkungan (PAML), berbasis pada material flow balance procedure merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi berbagai perilaku sumber daya lingkungan. Hal ini akan berguna bagi manajemen untuk dasar alokasi biaya lingkungan yang terjadi. Pada tingkat organisasi, akuntansi manajemen lingkungan terdapat dalam konteks akuntansi manajemen (penliaian pengeluaran organisasi terhadap peralatan pengendalian pencemaran dari bahan daur ulang; pendapatan dari bahan daur ulang; penghematan moneter tahunan dari peralatan hemat energi) dan Akuntansi keuangan (evaluasi dan pelaporan suatu kewajiban terkait lingkungan organisasi saat ini) (IFAC, 2005:14)

Penggunaan tenaga TI eksternal berpengaruh positif terhadap keselarasan TI dan bisnis (skripsi dan tesis)

Disamping tenaga TI eksternal, Chung et al. (2003) melakukan penelitian lanjut yang menghasilkan kesimpulan bahwa keterampilan staf TI internal merupakan faktor yang juga harus disertakan sebagai faktor keselarasan strategi TI dan bisnis (as cited in Makhloufi, 2018). Staf bagian TI yang menguasai pemanfaatan berbagai bentuk teknologi, memiliki wawasan dan pengetahuan tentang manajemen maupun bisnis, serta mampu bekerja secara kooperatif dengan siapapun dan dari bagian manapun dalam organisasi, akan mampu membantu organisasi dalam memberi tanggapan terhadap berbagai perubahan lingkungan eksternal perusahaan (Chung et al., 2003). Luftman (1999) juga mengidentifikasi hal tersebut sebagai faktor yang mendorong terwujudnya keselarasan TI dan bisnis

Komitmen manajemen puncak UMRI terhadap TI berpengaruh positif terhadap keselarasan TI dan bisnis (skripsi dan tesis)

Faktor selanjutnya adalah tenaga TI eksternal, Hasil Evaluasi Diri dalam Renstra Pengembangan UMRI 2014-2018 menyebutkan bahwa UMRI memiliki keterbatasan dalam jumlah dan kompetensi staf operasional TI yang belum optimal. Dengan demikian, terbatasnya jumlah sumber daya manusia pada UPT Teknologi Informasi menjadi salah satu kendala dalam menjalankan strategi TI di UMRI. Untuk mengatasi hal tersebut, UMRI 15 bermitra dengan Universitas Muhammadiyah lain yang tersebar diberbagai Provinsi diseluruh Indonesia dan juga memiliki pihak eksternal seperti vendor dan konsultan yang kompeten dalam bidang TI untuk membantu implementasi TI di UMRI. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Hussin et al. (2002), bahwa tenaga eksternal TI adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keselarasan strategi TI dan bisnis. Begitu juga dengan yang disampaikan oleh Gressgard et al. (2014), bahwa pengetahuan dari pihak eksternal atau provider layanan TI adalah sebuah sumber informasi pendukung yang up-to date dalam melakukan inovasi teknologi informasi didalam sebuah organisasi

Pengaruh Penyelarasan Strategik Terhadap Pencapaian Misi Organisasi (skripsi dan tesis)

Chan, et al. (1997) menemukan bahwa perusahaan yang dapat meraih misi dan menjalankan visi dengan baik adalah perusahaan yang memiliki keselarasan antara strategi bisnis dan strategi sistem informasi yang direalisasikan. Lebih lanjut lagi peran penyelarasan strategi TI dan bisnis dalam pencapaian visi dan misi organisasi adalah untuk:
1. Memastikan bahwa sistem informasi ditargetkan pada daerah penting untuk mencapai visi dan misi bisnis yang sukses (Das, 1991)
2. Memastikan bahwa fungsi sistem informasi mendukung tujuan dan kegiatan organisasi di setiap tingkatan (Lederer, 1989)
3. Meningkatkan pemahaman manajemen puncak tentang pentingnya sistem informasi, dan meningkatkan pemahaman manajemen untuk tujuan bisnis (Newkirk, 2006)
4. Memfasilitasi akuisisi dan penyebaran teknologi informasi yang kongruen dengan kebutuhan kompetitif organisasi daripada pola penggunaan yang ada dalam organisasi (Bowman, 1983)
 5. Meningkatkan sistem informasi dalam organisasi, sehingga secara efektif memfasilitasi dukungan finansial dan manajerial yang diperlukan untuk menerapkan sistem yang inovatif (Das et al., 1991) (Henderson et al., 1987) 6. Memaksimalkan pengembalian investasi teknologi informasi (Avison et al., 2004) 7. Memberikan arahan dan fleksibilitas untuk bereaksi terhadap peluang baru (Avison et al., 2004)

Arti Penting Penyelarasan Strategik (skripsi dan tesis)

Telah banyak literatur yang merujuk pada pentingnya fenomena penyelarasan strategi TI dan dan bisnis.Luftman dan Brier (1999) menyatakan bahwa penyelarasan strategi TI dan bisnis dibutuhkan agar penerapan TI harmoni dengan tujuan, strategi, dan kebutuhankebutuhan bisnis.Boar (1994) menyebutkan bahwa organisasi perlu membangun, menyelaraskan, dan mengembangkan keunggulan kompetitif melalui pemberdayaan sistem/teknologi informasi untuk menjawab tantangan kompetisi global. Khandelwal (2001) menegaskan bahwa perusahaan yang ingin mewujudkan tujuan perusahaan mereka, Teknologi Informasi yang mendukung proses bisnis organisasi harus memberikan informasi manajemen yang tepat, pada waktu yang tepat. Untuk itu, TI dalam suatu perusahaan wajib selaras dengan tujuan organisasi. Menurut Premkumar dan King (1999), penyelarasan strategik adalah hubungan harmonis antara rencana sistem informasi dengan rencana bisnis. Melalui penyelarasan antara rencana sistem informasi dan rencana bisnis, sumber daya informasi akan mendukung tujuan bisnis dan meraih keuntungan dalam meraih peluang guna pemanfaatan strategis sistem informasi. 13 Dalam keselarasan TI dan bisnis, terdapat empat tingkatan integrasi yaitu sebagai berikut (Jogiyanto, 2005): 1. Administrative integration adalah integrasi yang terjadi antara perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi masih sangat lemah. Tidak ditemukan usaha yang signifikan dari penggunaan sistem teknologi informasi untuk mendukung rencana-rencana bisnis. 2. One-way sequential integration adalah hubungan yang terjadi hanya satu arah, yaitu perencanaan strategi sistem teknologi informasi mendukung perencanaan strategi bisnis. 3. Two-way reciprocal integration adalah integrasi yang terjadi pada perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi saling mendukung untuk mempengaruhi strategi-strategi bisnis. 4. Full integration, Integrasi ini menunjukkan tidak adanya perbedaan antara perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi dan keduanya dilakukan bersamaan di dalam satu perencanaan yang terintegrasi. Dengan demikian, peningkatan kinerja dapat dicapai dan keunggulan kompetitif akan diperoleh sehingga organisasi dapat terus bertumbuh serta mampu bertahan dalam kompetisi yang kian sengit.

Definisi Keselarasan Bisnis – TI (skripsi dan tesis)

Keselarasan strategi TI – strategi bisnis adalah implementasi aplikasi teknologi informasi dengan benar, tepat waktu, dan sejalan dengan strategi bisnis, tujuan maupun kebutuhan perusahaan. Definisi keselarasan tersebut menunjuk pada dua hal, yaitu bagaimana TI diselaraskan dengan bisnis, dan bagaimana bisnis mampu atau dapat selaras dengan TI (Luftman, 2000). Integrasi dari fungsi-fungsi yang ada didalam organisasi perlu diperhatikan dalam proses menyelaraskan strategi TI dan bisnis. Hal tersebut penting dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa TI selalu berada diarah yang benar sesuai dengan bisnis organisasi. Mengingat bahwa strategi bisnis itu sendiri bersifat dinamis dan mudah berubah mengikuti kondisi pasar. Lebih rinci Kefi dan Kalika (2005) menjabarkan perspektif penyelarasan strategi sebagai berikut: a. Persepsi peran strategis sistem/teknologi informasi diukur dari tingkat komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan pemanfaatan sumberdaya sistem/teknologi informasi. Tingkat komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan sistem/teknologi informasi menunjukkan tingkat strategis sistem/teknologi informasi tersebut dalamsuatu organisasi. Dengan kata lain, komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan sistem/teknologi informasi berbanding lurus dengan ketangguhan peran strategis suatu organisasi. b. Kompetensi sistematis sistem/teknologi informasi membangun keunggulan komparatif unik yang dimiliki oleh perusahaan. Artinya jika semakin kompeten sistem/teknologi informasi semakin menunjukkan nilai diferensi atau keunikan suatu organisasi, begitu pula sebaliknya.
 Beberapa literatur yang lain, penyelarasan strategik didefinisikan sebagai: a. Relationship, yang mana tujuan khusus dari strategi sistem/teknolog informasi perlu dikustomisasi dengan tujuan organisasi (Zviran, 1990). b. Partnership, yang mana digunakan untuk menggambarkan hubungan kerja yang mencerminkan komitmen jangka panjang, rasa saling kerjasama risikodan manfaatnya, dan kualitas lain yang sesuai dengan konsep dan teori -eori pengambilan keputusan (Henderson, 1990). c. Sejauh mana strategi teknologi/sistem informasi saling mendukung strategi bisnis (Luftman et al., 1993). d. Integrasi kemampuan internal dan fungsional antara strategi bisnis dan strategi IS/IT dan bagaimana integrasi ini penting untuk mendapatkan keuntungan kompetitif (Henderson & Venkatraman, 1993). e. Sejauh mana misi, tujuan, dan perencanaan teknologi/sistem informasi yang mendukung misi, tujuan, dan perencanaan bisnis (Reich & Benbasat, 1996)

Strategi TI (skripsi dan tesis)

Dalam sebuah perusahaan, strategi TI secara umum memiliki beberapa peranan penting yang tidak dapat diabaikan, diantaranya adalah sebagai berikut: a. Minimize Risk Bisnis selalu akrab dengan risiko, hal tersebut tidak dapat dihindari namun dapat diminimalisir. Risiko kerap muncul dari lingkungan dan faktor eksternal yang berada diluar kontrol perusahaan. Untuk itu TI berperan dalam mengurangi risiko dengan bantuan software forecasting, planning, decision support, dan lain-lain. b. Reduce Cost Upaya untuk mengurangi biaya operasional perusahaan secara langsung akan menambah profitabilitas perusahaan tersebut. Penerapan TI mampu mengurangi biaya operasional perusahaan dengan cara menghilangkan proses yang tidak perlu, mempersingkat alur proses bisnis, otomatisasi proses, serta mengurangi tenaga kerja. c. Added Value Kepuasan pelanggan dapat diciptakan dengan pemanfaatan TI.Nilai tersebut selain untuk memuaskan pelanggan juga digunakan sebagai pembentuk hubungan baik dengan pelanggan untuk jangka panjang. d. Create New Realities Munculnya berbagai teknologi baru dalam dunia internet mempengaruhi gaya hidup manusia. Mulai dari berbelanja online melalui e-commerce, transaksi pembayaran online melalui mobile banking, hingga layanan publik yang diadakan pemerintah melalui egovernment. Hal ini membuktikan bahwa TI dapat menciptakan realita baru didalam masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi maka persaingan juga semakin ketat. Oleh sebab itu pihak manajemen sangat dituntut untuk memiliki strategi TI yang baik untuk menopang jalannya strategi bisnis perusahaan.Perencanaan strategis TI harus selalu meningkat dari waktu ke waktu dan hal ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi manajemen organisasi.

Strategi Bisnis (skripsi dan tesis)

Strategi bisnis adalah rangkuman pernyataan misi atau visi organisasi sehingga ada titik fokus yang jelas dan konsisten (King, 1978).Strategi bisnis berguna untuk memahami kompleksitas kompetitif melalui pendekatan yang sistematis dengan tujuan untuk mencapai keunggulan kompetitif (Venkatraman, 1993). Henderson & Venkatraman (1993)menjabarkan strategi bisnis dan TI dalam beberapa poin, yaitu: a. Digunakan sebagai alat untuk mempercepat perubahan dengan mendefinisikan arah yang harus diikuti untuk mengubah keadaan saat ini. b. Dirumuskan dengan melakukan analisa lingkungan dan dapat digunakan sebagai alat analisis untuk memprediksi risiko bisnis dan peluang masa depan. c. Dapat digunakan untuk mengalokasikan sumber daya perusahaan sebagai pengambil keputusan. d. Sebagai acuan untuk memastikan keputusan yang sejalan dengan fokus perusahaan. e. Alat manajemen analisis yang digunakan untuk perencanaan masa depan bisnis.

Pengaruh Sistem Informasi akuntansi terhadap Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Ivana Mamic (2006) bahwa informasi akuntansi yang berkualitas dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang mengoptimalkan operasi sistem akuntansinya, karena Sistem informasi akuntansi yang berkualitas akan dijadikan manajer untuk pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian. Dan juga sistem informasi akuntansi yang berkualitas akan menghasilkan manajemen bisnis yang berkualitas. 39 Sistem informasi akuntansi bervariasi antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya walaupun satu jenis. Sistem informasi akuntansi mengolah data dalam jumlah besar karena didalamnya meliputi berbagai aktivitas pengolahan transaksi seperti aktivitas pengumpulan data, pengolahan, penyimpanan, dan dokumentasi diberbagai fungsi operasi atau bagian suatu organisasi. Jadi walaupun sistem informasi akuntansi mengadopsi konsep informasi yang berkualitas akan tetapi bobot aktivitasnya lebih banyak berorientasi kepada pengolahan data. (Azhar Susanto, 2010) Menurut Hongjiang Xu (2009) bahwa dalam Sistem Informasi Akuntansi yang berkualitas, maka kualitas informasi yang dihasilkan akan mempengaruhi keberhasilan suatu struktur organisasi. Artinya, kualitas informasi merupakan suatu keunggulan kompetitif bagi suatu organisasi. Di dalam suatu satuan usaha ditunjukkan dengan struktur organisasi. Pemahaman pola – pola distribusi, wewenang, dan tanggung jawab adalah esensiil bagi penetapan kebutuhan informasi dalam suatu organisasi. Sebaliknya kebutuhan informasi menentukan struktur kegiatan pengumpulan dan pengolahan data yang diperlukan di dalam sistem informasi akuntansi. Oleh karena itu, struktur kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan pelaporan data di dalam suatu sistem informasi akuntansi harus secara pararel erat dengan struktur organisasi. Pilihan suatu perusahaan mengenai struktur organisasinya mempunyai implikasi yang penting bagi SIA, tujuannya untuk menyediakan informasi keuangan bagi setiap unit organisasi untuk membantu dalam perencanaan dan pengendalian 40 operasinya. Agar dapat menyediakan informasi keuangan yang relevan salah satunya harus memahami struktur organisasi. (Barry, 1982) Keberadaan suatu SIA dalam suatu organisasi tidak lain adalah untuk dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi para penggunanya dalam proses pengambilan keputusan. Hal itu dikarenakan untuk dapat menghasilkan informasi yang berkualitas, diperlukan adanya suatu SIA yang handal dalam memproses data dan transaksi sehingga informasi yang dihasilkan dapat bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan (Krismiaji, 2002). Kemudian menurut (Romney & Steinbart:2003), SIA yang dapat diandalkan adalah sistem yang mempunyai pengendalian memadai sehingga informasi yang dihasilkan oleh sistem tersebut dapat diandalkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan, dalam hal ini pengendalian merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari sistem informasi akuntansi yang ada. Semakin baik kualitas informasi yang dimiliki oleh suatu organisasi, maka akan semakin baik pulalah komunikasi yang terjadi di dalamnya. Dan semakin terintegritasinya suatu organisasi, informasi yang berkualitas akan meningkatkan kualitas pemahaman para pengelola organisasi tersebut dalam melihat perubahan – perubahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi, sehingga para pengelola organisasi akan dengan cepat dan akurat menanggapi perubahan yang timbul. Melihat peran informasi yang begitu tinggi bagi organisasi maka organisasi menjadi sangat tergantung pada sistem informasi. Dalam hal ini sistem informasi akuntansi memperlakukan informasi sebagai sumber daya yang sangat 41 berrharga yang turut menentukan dapat tidaknya terus beroperasi dan bersaing. (Azhar Susanto, 2004) Salah satu komponen SIA adalah software atau perangkat lunak yang merupakan kumpulan dari perintah-perintah yang tersusun secara sistematis untuk melakukan pengolahan data. Adapun software yang digunakan DJP dalam menghimpun penerimaan negara melalui pembayaran pajak adalah suatu core system aplikasi Modul Penerimaan Negara (MPN) yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2007. Sistem aplikasi MPN memungkinkan penerimaan negara disajikan secara realtime melalui jaringan sistem informasi yang terhubung secara online dengan Bank Persepsi, Bank Devisa Persepsi, dan Pos Persepsi (Heryanto Sijabat:2011). Sistem aplikasi MPN sendiri merupakan modul penerimaan yang memuat serangkaian prosedur mulai dari penerimaan, penyetoran, pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan yang berhubungan dengan penerimaan negara dan merupakan bagian dari Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara atau biasa disebut SPAN (PMK No: 02/PMK.05/2007).

Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak Terhadap Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Organisasi adalah pembinaan hubungan wewenang dan dimaksudkan untuk mencapai koordinasi yang struktural, baik secara vertikal, maupun secara horizontal diantara posisi–posisi yang telah diserahi tugas–tugas khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama. Jadi organisasi adalah hubungan struktural yang mengikat/menyatukan perusahaan dan kerangka dasar tempat individu–individu berusaha, dikoordinasi (Koontz & Donnel:2010). Sedangkan menurut Selznick (2010) organisasi adalah suatu sistem yang dinamis yang selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan tekanan internal dan ekstern dan selalu dalam proses evolusi yang kontinu. Keberhasilan suatu sistem informasi tertentu (kepuasan pengguna, penggunaan sistem, dirasakan kegunaan, kualitas sistem), dan hubungan IS keberhasilan konstruk dengan empat pengguna yang terkait dengan konstruksi (pengguna pengalaman dengan ISS, pelatihan pengguna di ISS, pengguna sikap terhadap ISS, dan partisipasi pengguna dalam pengembangan tertentu IS) dan dua konstruksi yang mewakili konteks (topmanajemen dukungan untuk ISS dan memfasilitasi kondisi untuk ISS). (Rajiv Sabherwal and Anand Jeyaraj: 2006). Sistem informasi sebagai salah satu komponen organisasi didekomposisikan menjadi dua subsistem dasar, salah satunya adalah Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Dekomposisi sistem merupakan proses membagi sistem menjadi berbagai bagian subsistem yang lebih kecil untuk menyajikan, melihat, dan memahami berbagai hubungan antara subsistem (Hall:2007). SIA merupakan kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya ke dalam informasi (Bodnar & Hopwood: 2010)

Hubungan Sistem Informasi Akuntansi dengan Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Manirath Wongsim dan Jing Gao (2011) menyatakan bahwa Penerapan Sistem Informasi Akuntansi berpengaruh Terhadap Kualitas Informasi, yaitu sebagai berikut: “Informasi dimensi Kualitas memiliki hubungan positif dengan proses Sistem Informasi Akuntansi adopsi. Selanjutnya, Informasi dimensi Kualitas memainkan peran penting dalam proses adopsi AIS” Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan kurang lebih sebagai berikut: Dimensi Kualitas Informasi memiliki hubungan yang positif dengan proses adopsi Sistem Informasi Akuntansi. Kemudian, dimensi Kualitas Informasi memainkan peranan yang penting dalam proses adopsi Sistem Informasi Akuntansi

Hubungan Dukungan Manajemen Puncak dengan Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Rajiv Sabherwal dan Anand Jeyaraj (2006) bahwa dukungan manajemen berpengaruh pada penerapan sistem informasi akuntansi, yaitu sebagai berikut: “sistem informasi (kepuasan pengguna, penggunaan sistem, manfaat pengguna, kualitas sistem), dan hubungan ini dengan IS berhasil dengan empat konstruksi userrelated (pengalaman pengguna dengan ISS, pelatihan pengguna di ISS, sikap pengguna terhadap ISS, dan partisipasi pengguna dalam pengembangan dari spesifik IS) dan dua konstruksi yang mewakili konteks (top-manajemen dukungan untuk Iss).

Indikator Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Mc. Leod Mc. Leod & Schell (2007:46) mengatakan bahwa suatu informasi yang berkualitas harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Akurat Artinya informasi harus mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pengujian terhadap hal ini biasanya dilakukan melalui pengujian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda dan apabila hasil pengujian tersebut menghasilkan hasil yang sama maka dianggap data tersebut akurat. 2. Tepat Waktu Artinya informasi itu harus tersedia atau ada pada saat informasi tersebut diperlukan, tidak besok atau beberapa jam lagi. 3. Relevan Artinya informasi yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Kalau kebutuhan informasi ini untuk suatu organisasi maka informasi tersebut harus sesuai dengan kebutuhan informasi diberbagai tingkatan dan bagian yang ada dalam organisasi tersebut. 4. Lengkap Artinya informasi harus diberikan secara lengkap. Misalnya informasi tentang penjualan tidak ada bulannya atau tidak ada data fakturnya.

Adapun karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut Kieso et all (2010:44-47) adalah sebagai berikut:
1. Relevansi Informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam suatu keputusan. Informasi yang tidak ada bantalan maka suatu keputusan dikatakan tidak relevan. a. Nilai prediktif Informasi keuangan memiliki nilai prediktif sebagai masukan dalam proses prediksi yang digunakan oleh investor dalam membentuk ekspektasi mereka sendiri tentang masa depan. b. Nilai konfirmasi Informasi yang relevan juga membantu pengguna mengkonfirmasi atau mengoreksi harapan sebelumnya, dan memiliki nilai conformatory.

 2. Representasi setia Representasi Setia berarti bahwa angka dan deskripsi sesuai dengan apa yang benar-benar ada atau terjadi. Representasi setia adalah suatu keharusan karena sebagian besar pengguna tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi informasi faktual. a. Kelengkapan Kelengkapan berarti bahwa semua informasi yang diperlukan untuk representasi setia disediakan. Sebuah kelalaian dapat menyebabkan informasi palsu atau menyesatkan dan dengan demikian tidak akan membantu pengguna laporan keuangan. 29 b. Kenetralan Netralitas berarti bahwa perusahaan tidak dapat memilih informasi untuk mendukung satu set pihak yang berkepentingan atas yang lain. c. Bebas dari Kesalahan Informasi yang bebas dari kesalahan akan menjadi lebih akurat (representasi setia).

 3. Meningkatkan Kualitas Karakteristik kualitatif yang meningkatkan saling melengkapi dengan karakteristik kualitatif yang mendasar. Karakteristik ini membedakan informasi yang lebih-kurang berguna dari informasi yang berguna. a. Komparabilitas Informasi yang diukur dan dilaporkan dengan cara yang sama untuk perusahaan yang berbeda dianggap sebanding. Komparabilitas memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi similiarities nyata dan perbedaan dalam peristiwa-peristiwa ekonomi antara perusahaan. b. Pemastian Pemastian terjadi ketika tindakan independen, dengan menggunakan metode yang sama, memperoleh hasil yang sama. c. Ketepatan waktu Ketepatan waktu berarti memiliki informasi yang tersedia bagi para pengambil keputusan sebelum kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan. Setelah informasi relevan yang tersedia cepat 30 dapat meningkatkan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan, dan kurangnya ketepatan waktu dapat merampok informasi usefullness nya. d. Understandability. Para pembuat keputusan sangat luas dalam jenis keputusan yang mereka buat, bagaimana mereka membuat keputusan, informasi yang sudah mereka miliki atau dapat memperoleh dari sumber lain, dan kemampuan mereka untuk memproses informasi. Untuk informasi yang akan berguna, harus ada koneksi (hubungan) antara pengguna dan keputusan yang mereka buat

Pengertian Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Shiper dan Vincent dalam (Bavega:2003) menjelaskan bahwa : “Kualitas informasi akuntansi merupakan konsep kompleks dan memiliki banyak definisi. Literatur tentang kualitas kualitas informasi akuntansi keuangan terletak di berbagai bidang seperti relevansi nilai informasi akuntansi, konservatisme akuntansi, dan manajemen laba. Keputusan kegunaan adalah ciri utama kualitas akuntansi keuangan seperti menangkap nilai informasi akuntansi bagi pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan mereka.” Sedangkan Menurut Mc. Leod dalam Azhar Susanto (2009:40) menjelaskan tentang kualitas informasi sebagai berikut, “Informasi dikatakan berkualitas apabila memiliki ciri-ciri yaitu seperti : Akurat, relevan, tepat waktu, dan lengkap.” Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka kesimpulan kualitas informasi akuntansi adalah data yang telah diolah melalui suatu proses menjadi suatu bentuk yang lebih bernilai dan berguna bagi yang menerimanya serta dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan baik pada saat ini maupun dimasa yang akan datang dan sangat penting bagi pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan

Pengertian Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Definisi sistem menurut James A. Hall (2007:6) adalah sebagai berikut: “Sistem adalah kelompok dari dua atau lebih komponen atau subsistem yang saling berhubungan yang berfungsi dengan tujuan yang sama” Sedangkan definisi sistem menurut Azhar Susanto (2009:18) adalah sebagai berikut: “Sistem adalah kumpulam/group dari subsistem/bagian/komponen apapun baik phisik ataupun non-phisik yang saling berhubungan satu smaa lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai tujuan tertentu” Definisi informasi menurut Mardi (2011:13) adalah sebagai berikut: “Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya” Kemudian definisi informasi menurut Marhall B. Romney & Paul J. steinbart (2011:25) adalah sebagai berikut: “information is data have been organized and processed to provide meaning and improove the decision-making process. As a rule, users make better decisions as the quantity of information increase”
Definisi Sistem Informasi menurut James A. Hall (2007:4) adalah sebagai berikut “Sistem informasi adalah serangkaian prosedur formal dimana data dikumpulkan diproses menjadi informasi dan di distribusikan ke para pengguna” Sedangkan definsi Sistem Informasi menurut Laudon dalam Azhar Susanto (2009:55) adalah sebagai berikut : “Sistem Informasi merupakan komponen-komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarkan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan, koordinasi, pengendalian, dan untuk memberikan gambaran aktivitas didalam perusahaan” Definisi Sistem Informasi Akuntansi menurut George H. Bodnar & William S. Hopwood (2006:3) adalah sebagai berikut: “Sistem Informasi Akuntansi merupakan kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya ke dalam informasi” Sedangkan definisi Sistem Informasi Akuntansi menurut Azhar Susanto(2009:124) adalah sebagai berikut : “Sistem Informasi Akuntansi dapat di definisikan sebagai kumpulan dari subsistem-subsistem yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mengolah data keuangan menjadi informasi keuangan yang diperlukan oleh pengambil keputusan dalam proses pengambilan keputusan”. Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka sistem informasi akuntansi adalah kumpulan dari sumber-sumber seperti orang dan peralatan yang dirancang untuk mentransformasikan data keuangan dan data lainnya menjadi informasi, dan informasi ini akan dikomunikasikan kepada para pembuat keputusan.

Indikator Dukungan Manajemen Puncak (top management support) (skripsi dan tesis)

 

Adapun komponen – komponen Dukungan Manajemen Puncak menurut Chen dan Paulraj (2004) adalah sebagai berikut : 1. Decision Quality (Keputusan yang berkualitas) Keputusan yang berkualitas adalah inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah. Sesuai keinginan dan harapan. 2. Decision Acceptance (Penerimaan Keputusan) Penerimaan keputusan adalah suatu reaksi terhadap beberapa solusi alternatif yang dilakukan secara sadar dengan cara menganalisa kemungkinan-kemungkinan dari alternatif tersebut bersama konsekuensinya. Setiap keputusan akan membuat pilihan terakhir, dapat berupa tindakan atau opini. 3. Satisfaction with the Decision Process (Kepuasan dengan proses Keputusan) Kepuasan dengan proses keputusan bahwa kepuasan sebagai respon emosional menunjukkan perasaan yang menyenangkan berkaitan dengan pandangan karyawan terhadap keputusan . . Development of Participant Skills (Membangun keahlian partisipan). Membangun keahlian partisipan adalah keterlibatan mental dan emosi serta pisik pegawai dalam memberikan respon terhadap kegiatan yang dilaksanakan dalam proses pengambilan keputusan serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya

Pengertian Dukungan Manajemen Puncak (skripsi dan tesis)

Setiap oganisasi dalam usaha mencapai tujuan, dan mengukurnya sampai sejauh mana keberhasilan yang dapat dicapai, dan itu memerlukan dukungan manajemen puncak. Menurut Chen dan Paulraj (2004) mendefinisikan dukungan manajemen puncak sebagai berikut: “Berkomitmen pada waktu, biaya, dan sumber daya untuk mendukung supplier agar terjadi kemitraan pada jangka panjang dan perusahaan juga dapat berlangsung berproses secara stabil. Salah satu hal yang penting bagi manajemen puncak dalam menjalankan bisnis adalah harus dapat selalu mengembangkan dan menciptakan satu nilai bagi perusahaan agar dapat meningkatkan kinerja organisasi.” Sedangkan dukungan manajemen puncak menurut Hasmi (2004) menurut adalah sebagai berikut: “Pihak yang bertanggungjawab atas penyediaan pedoman umum bagi kegiatan sistem informasi. Tingkat dukungan yang diberikan oleh manajemen puncak bagi sistem informasi organisasi dapat menjadi suatu faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan semua kegiatan yang berkaitan dengan sistem informasi” Berdasarkan definisi-definisi diatas maka disimpulkan bahwa dukungan manajemen pucak adalah pihak yang bertanggung jawab atas penyediaan pedoman dengan komitmen dalam hal waktu, biaya, dan sumber daya untuk mendukung kegiatan sistem informasi.

Pengaruh Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Terhadap Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Leitch dan Davis , 1992; Boockholdt , 1999; Joia , 2003; Schaltegger et al , 2008; Hansen et al , 2009; Nikolai et al , 2010; Hall, 2011 dalam Norman Alvi 42 Tripambudi (2014) Tujuan keseluruhan dari sistem informasi akuntansi adalah untuk memberikan informasi kepada pengguna maka dari itu kualitas data di awal yang diproses dengan baik maka sangat mempengaruhi kualitas data. Pada teori kegunaan keputusan dalam asasnya menerangkan bahwa diperlukan sistem yang menyajikan suatu informasi; maka sistem informasi akuntansi merupakan dasar penting dalam dasar pembuatan keputusan atau dasar untuk memperoleh kembali konsekuensi keputusan. Tanpa kualitas sistem informasi akuntansi, tidak akan ada informasi akuntansi yang berkualitas (Sacer et al, 2006: 62). Setiap perusahaan menggunakan sistem informasi akuntansi (Chandra, 2002: 34; Boockholdt, 1999: 1) mulai dari manual, dan beberapa menggunakan kombinasi komputer (Davis, 1999: 1; Wilkinson et al, 2000:. 7; Hansen et al ., 2009: 4). Azhar Susanto (2008: 72) mengatakan sistem informasi akuntansi merupakan integrasi dari hardware, software, brainware, prosedur, jaringan telekomunikasi dan data base yang terintegrasi, sistem informasi akuntansi merupakan fungsi penting dalam organisasi, sebagai pengaruh untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi dan untuk mendukung kegiatan manajerial untuk menghasilkan informasi dalam pengambilan keputusan manajemen (Gelinas et al, 2012: 18). Untuk memberikan nilai tambah, untuk menghasilkan keunggulan informasi kompetitif bagi organisasi, manajemen akan menggunakan alat yang disebut sistem informasi akuntansi (Stair Dan Reynolds, 2006: 6).
Menurut Mitchell et al (2000) sistem informasi akuntansi yang digunakan sebagai alat manajemen dalam mengendalikan jangka pendek danjangka panjang, sehingga keberadaan sumber daya informasi ini membuat perusahaan strategis, keunggulan taktis dan keunggulan operasional (McLeod Dan Schell, 2008: 29). informasi akuntansi akan digunakan dalam proses pengambilan keputusan bagi pengguna baik untuk manajemen internal dan manajemen eksternal (Mitchell et al, 2000), dan informasi akuntansi tersebut yang dihasilkan oleh sistem informasi akuntansi (Hall, 2004: 21). Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Norman Alvi Tripambudi (2014) menyatakan bahwa variabel Sistem Informasi Akuntansi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Informasi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem informasi akuntansi yang baik akan berpengaruh pada informasi sehingga informasi yang dihasilkan semakin berkualitas. Dengan adanya informasi yang berkualitas tersebut, maka pemakai sistem akan mudah mengambil keputusan untuk perusahaan dengan menggunakan informasi yang berkualitas sebagai sumber informasi yang dapat memandu dan membantu pemakai sistem dalam menyelesaikan tugas. Pada teori kegunaan keputusan dalam asasnya menerangkan bahwa diperlukan sistem yang menyajikan suatu informasi; maka sistem informasi akuntansi merupakan dasar penting dalam dasar pembuatan keputusan atau dasar untuk memperoleh kembali konsekuensi keputusan. Ketiga variabel tersebut berperan penting menghasilkan kualitas informasi yang baik secara simultan (bersama-sama).

Pengaruh Struktur Organisasi Terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Mirmasoudi et al (2012) dalam Norman Alvi Tripambudi (2014) menyatakan bahwa struktur organisasi adalah sistem formal, tugas dan hubungan otoritas yang mengendalikan bagaimana orang mengkoordinasikan tindakan mereka dan sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh sebab itu, struktur organisasi memiliki dampak penting pada pengaturan komponen pemakai sistem informasi. Wilkinson et al (1999: 39) dalam Rapina (2014) Ada beberapa hubungan penting yang harus dipahami oleh pengembang sistem. Struktur organisasi menentukan banyak alur kunci umum yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi dan Sistem Informasi Manajemen. Ini adalah alur vertikal yang membawa informasi yang dibutuhkan oleh manajer untuk melaksanakan tanggung jawab mereka (Wilkinson et al, 1999: 39). Stair Dan Reynolds (2011: 41) menyatakan bahwa struktur organisasi dapat berdampak pada jenis sistem  informasi yang digunakan. Meskipun ada sejumlah besar kemungkinan, struktur organisasi biasanya jatuh ke dalam salah satu kategori ini: tradisional, proyek, tim, atau multidimensi. Gordon dan Narayanan (1984) melaporkan temuan mereka ada hubungan antara lingkungan, struktur dan sistem informasi organisasi. Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Norman Alvi Tripambudi (2014) mengatakan bahwa hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel struktur organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap sistem informasi akuntansi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik struktur organisasi yang berkembang dalam organisasi maka akan meningkatkan penggunaan sistem informasi akuntansi dalam organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan dengan semakin baiknya sebuah struktur organisasi, maka struktur organisasi yang ada telah mendukung akan perkembangan organisasi sehingga proses adopsi sistem informasi akuntansi yang dapat berguna untuk majunya perusahaan merupakan langkah yang tidak menyalahi struktur dan peraturan perusahaan.. Semakin tinggi tingkat saling ketergantungan akan mempengaruhi terhadap tugas yang dilakukan manajer karena manajer banyak melakukan aktivitas yang saling berkaitan atau berhubungan dengan departemen lain

Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak Terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Galliers dan Currie (2011: 508) dalam Rapina (2014) mengatakan bahwa kriteria yang paling penting untuk menilai keberhasilan pelaksanaan sistem informasi akuntansi adalah komitmen manajemen. Hal ini karena dengan memiliki dukungan manajemen puncak yang kuat akan membantu mengarahkan kekurangan dalam implementasi sistem. Raghunathan dan Raghunathan (1988) Top manajemen bertanggung jawab atas penyediaan pedoman umum bagi kegiatan sistem informasi. Tingkat dukungan yang diberikan oleh top manajemen bagi sistem informasi organisasi dapat menjadi suatu faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan semua kegiatan yang berkaitan dengan sistem informasi. Tjhai Fung Jen (2002) dalam Putri Aryani Septianingrum (2014), semakin besar dukungan yang diberikan manajemen puncak akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi. Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Riri Yulianty Raflis (2007). Dari penelitian menunjukkan bahwa dukungan manajemen puncak berpengaruh signifikan positif terhadap penerapan Sistem Informasi Akuntansi. Ini berarti bahwa hubungan antara dukungan manajemen puncak searah dengan penerapan Sistem Informasi Akuntansi. Semakin baik dukungan dari manajer puncak akan semakin baik pula penerapan Sistem Informasi Akuntansi suatu perusahaan. Hal ini sama dengan 40 teori yang dinyatakan oleh Arpan dan Ishak (2005:7), bahwa dukungan manajemen puncak merupakan faktor penting dalam menentukan efektifitas penerapan sistem informasi dalam organisasi. Dengan adanya keterlibatan atasan dalam kemajuan proyek dan menyediakan sumber daya yang diperlukan maka akan dapat menentukan keberhasilan penerapan suatu sistem. Jika suatu perusahaan dalam penerapan sistem tidak adanya dukungan manajemen puncak maka tujuan tersebut tidak akan tercapai

Ciri-ciri Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Mc. Leod dalam Azhar Susanto (2009: 40), informasi yang berkualitas apabila informasi tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Akurat Artinya informasi harus mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pengujian akurasi dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda apabila pengujian tersebut menghasilkan hasil yang sama maka data tersebut disebut akurat. b. Tepat Waktu Artinya informasi itu harus tersedia atau ada pada saat yang informasi tersebut diperlukan, tidak besok atau tidak beberapa jam lagi. c. Relevan Artinya informasi yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh individu yang ada di berbagai tingkatan dan bagian dalam organisasi d. Lengkap Artinya informasi harus diberikan secara lengkap. Misalnya informasi tentang penjualan tidak ada bulannya atau tidak ada data fakturnya

Pengertian Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Azhar Susanto (2013: 14) informasi yang berkualitas adalah: “…informasi yang mempunyai keakurasian, kecepatan dan kesesuaian dengan kebutuhan manajemen dan kelengkapan dari informasi yang dihasilkan.”  Schonberger dan Lazer (2007: 244) mengatakan bahwa kualitas informasi yang baik adalah: “…informasi yang tepat untuk digunakan dan memiliki nilai tinggi untuk penggunanya, karena informasi tersebut bebas dari kesalahan atau kekurangan lainnya..” Mc Leod dan George (2007: 86) menyatakan bahwa kualitas informasi adalah: “…informasi yang harus tersedia untuk pemecahan sebelum situasi krisis mengembang atau kesempatan akan hilang.” Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas informasi adalah informasi yang tersedia saat di butuhkan, berisi keadaan sebenarnya dan informasi yang diberikan lengkap.”

Karakteristik Kualitas Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Marcus Heidmann (2008:87) mengemukakan karakteristik kualitas sistem informasi akuntansi, yaitu: 1. Integrasi Langkah-langkah integrasi “tingkat dimana suatu sistem memfasilitasi kombinasi informasi dari berbagai sumber untuk mendukung keputusan akuntansi bisnis . Nelson et al. (2005), p. 206. Sistem dapat memfasilitasi integrasi informasi dari area fungsional yang berbeda, yang sering saling melengkapi. 2. Fleksibilitas Langkah-langkah fleksibilitas, sejauh mana sistem dapat beradaptasi dengan berbagai kebutuhan pengguna dan kondisi yang berubah. 3. Aksesibilitas Tindakan aksesibilitas, sejauh mana sistem dan informasi yang dikandungnya dapat diakses dengan usaha yang relatif rendah. 4. Formalisasi Formalisasi mengukur sejauh mana suatu sistem berisi aturan atau prosedur. Untuk mengkoordinasikan kegiatan, organisasi menetapkan prosedur tentang bagaimana bereaksi terhadap rangsangan dari sistem akuntansi manajemen. Hal ini dapat melibatkan persyaratan pelaporan, analisis penyimpangan yang diperlukan dan saluran khusus untuk interaksi dengan departemen lain atau atasan. 5. Kekayaan Media Kekayaan Media mengukur sejauh mana sistem menggunakan saluran yang memungkinkan tingkat tinggi interaksi pribadi. isu-isu strategis yang sulit untuk dihitung dan memerlukan berbeda sudut pandang dalam rangka menciptakan interpretasi bersama. pertemuan tatapmuka dan media yang kaya lainnya yang paling cocok untuk bertukar interpretasi dari isu-isu strategis.

Pengertian Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Menurut Azhar Susanto (2013: 72), sistem informasi akuntansi adalah: “…kumpulan (integrasi) dari sub-sub sistem/komponen baik fisik maupun non fisik yang saling berhubungan dan bekerja sama satu sama lain secara harmonis untuk mengolah data transaksi yang berkaitan dengan keuangan menjadi informasi keuangan.” Menurut Anastasia Diana dan Lilis Setiawati (2011: 4), sistem informasi akuntansi adalah: “…sistem yang bertujuan untuk mengumpulkan dan memproses data serta melaporkan informasi yang berkaitan dengan transaksi keuangan.” Menurut James hall yang dialihbahasakan oleh Dewi Fitriasari (2007: 10) sistem informasi akuntansi adalah: “…sekumpulan perangkat sistem yang berfungsi untuk mencatat data transaksi, mengolah data, dan menyajikan informasi akuntansi kepada pihak internal (manajemen perusahaan) dan pihak eksternal (pembeli, pemasok, pemerintah, kreditur dan sebagainya).” Berdasarkan beberapa pengertian sistem informasi akuntansi di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi akuntansi merupakan suatu sistem dalam sebuah organisasi yang bertanggung jawab untuk penyiapan informasi yang diperoleh dari pengumpulan dan pengolahan data transaksi yang berguna bagi semua pemakai baik di dalam maupun di luar perusahaan

Jenis-jenis Akuntansi (skripsi dan tesis)

Menurut Rudianto (2012:09) akuntansi dapat dibagi menjadi beberapa jenis spesifikasi dalam praktiknya. Adapun jenis-jenis akuntansi yang lebih khusus, terdiri dari: 1. Akuntansi Manajemen Akuntansi manajemen adalah bidang akuntansi yang berfungsi menyediakan data dan informasi untuk pengambilan keputusan manajemen menyangkut operasi harian dan perencanaan operasi di masa depan. Sebagai contoh, menyediakan data biaya guna penentuan harga jual produk tertentu dan pertimbangan terkait. 2. Akuntansi Biaya Akuntansi biaya adalah bidang akuntansi yang fungsi utamanya sebagai aktivitas dan proses pengendalian biaya selama proses produksi yang dilakukan perusahaan. Kegiatan utama bidang ini adalah menyediakan data biaya aktual dan biaya yang direncanakan oleh perusahaan. 3. Akuntansi Keuangan Akuntansi keuangan adalah bidang akuntansi yang bertugas menjalankan keseluruhan proses akuntansi sehingga dapat menghasilkan informasi keuangan bagi pihak eksternal. Informasi tersebut antara lain: laporan laba rugi, laporan perubahan laba ditahan, laporan posisi keuangan dan laporan keseluruhan transaksi serta keadaan keuangan suatu badan usaha bagi kepentingan pihak-pihak diluar perusahaan. 4. Auditing Auditing adalah bidang akuntansi yang fungsi utamanya melakukan pemeriksaan atas laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan. Jika pemeriksaan dilakukan oleh staf perusahaan, maka disebut internal auditor. Hasil pemeriksaan tersebut digunakan untuk kepentingan internal perusahaan itu sendiri. Jika pemeriksaan laporan keuangan dilakukan oleh pihak di luar perusahaan, maka disebut auditor independen atau akuntan publik. 5. Akuntansi Pajak Akuntansi pajak adalah bidang akuntansi yang fungsi utamanya mempersiapkan data tentang segala sesuatu yang terkait dengan kewajiban dan hak perpajakan atau setiap transaksi yang dilakukan perusahaan. Lingkup kerja di bidang ini merupakan aktivitas perhitungan pajak yang harus dibayar dari setiap transaksi yang dilakukan perusahaan, hingga perhitungan pengembalian pajak (restitusi pajak) yang menjadi hak perusahaan tersebut. 6. Sistem Akuntansi Sistem akuntansi adalah bidang akuntansi yang berfokus pada aktivitas mendesain dan mengimplementasikan prosedur serta pengamanan data keuangan perusahaan. Tujuan utama dari setiap aktivitas bidang ini adalah mengamankan harta yang dimiliki perusahaan. 7. Akuntansi Anggaran Akuntansi anggaran adalah bidang akuntansi yang berfokus pada pembuatan rencana kerja perusahaan di masa depan, dengan menggunakan data aktual masa lalu. Di samping menyusun rencana kerja, bidang ini juga bertugas mengendalikan rencana kerja tersebut, yaitu seluruh upaya untuk menjamin agar aktivitas operasi harian perusahaan sesuai dengan rencana yang telah dibuat. 8. Akuntansi Internasional Akuntansi internasional adalah bidang akuntansi yang berfokus pada persoalan-persoalan akuntansi yang terkait dengan transaksi internasional (transaksi yang melintas batas negara) yang dilakukan oleh perusahaan multinasional. Hal-hal yang termasuk dalam bidang ini adalah seluruh upaya untuk memahani hukum dan aturan perpajakan setiap negara dimana perusahaan multinasional beroperasi. 9. Akuntansi Sektor Publik Akuntansi sektor publik adalah bidang akuntansi yang berfokus pada pencatatan dna pelaporan transaksi organisasi pemerintahan dan organisasi nirlaba lainnya. Hal ini diperlukan karena organisasi nirlaba adalah organisasi yang didirikan dengan tujuan bukan menghasilkan laba usaha, sebagaimana perusahaan komersial lainnya. Contohnya adalah instansi pemerintahan, rumah sakit, yayasan sosial, panti jompo, dan sebagainya.

Pengertian Akuntansi (skripsi dan tesis)

Menurut V. Wiratna Sujarweni (2015: 1) akuntansi adalah: “…proses dari transaksi yang dibuktikan dengan faktur, lalu dari transaksi dibuat jurnal, buku besar, neraca jalur, sehingga menghasilkan informasi dalam bentuk laporan keuangan yang dapat digunakan oleh pihak-pihak terntetu.” Menurut Mursyidi (2010: 17) akuntansi adalah: “…proses pengindentifikasian data keuangan, memproses pengolahan dan penganalisisan data yang relevan untuk di ubah menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pembuatan keputusan.” Menurut Accounting Principles Board (APB) dalam Indah Rahmawati (2014: 03), akuntansi adalah: “akuntansi sebagai seni pencatatan, pengelolaan dan peringkasan transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang, dan penginterpretasian hasil dari proses tersebut.” Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa akuntansi adalah kegiatan mengumpulkan, mengklasifikasikan, mencatat transaksi kemudian mengolahnya sehingga menghasilkan informasi yang berupa laporan keuangan yang berguna untuk pihak internal maupun eksternal suatu organisasi

Pengertian Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Anastasia Diana dan Lilis Setiawati (2011: 4), sistem informasi adalah: “…sistem buatan manusia yang biasanya terdiri dari sekumpulan komponen, baik manual ataupun berbasis komputer yang terintegrasi untuk mengumpulkan, menyimpan, dan mengelola data serta menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan sebagai pemakai informasi tersebut.” 33 Sistem informasi menurut Laudon dalam Azhar Susanto (2013: 52) adalah: “…komponen-komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarkan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan, koordinasi, pengendalian, dan untuk memberikan gambaran aktivitas di dalam perusahaan.” Menurut Azhar Susanto (2013: 52), sistem informasi adalah: “…kumpulan dari sub-sub sistem baik phisik maupun non phisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan yaitu mengolah data menjadi informasi yang berguna.” Berdasarkan pengertian sistem informasi di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi merupakan sekumpulan komponen yang saling terintegrasi untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarkan informasi untuk pihak-pihak yang berkepentingan

Pengertian Komitmen Manajemen Puncak (skripsi dan tesis)

Menurut O’Reilly and Chatman (2006) menyatakan tentang komitmen manajemen puncak sebagai berikut : “Commitment more broadly as a psychological state of attachment that defines the relationship between a person and an entity”. Menurut Dominic Cooper (2006:2) menyatakan tentang komitmen manajemen puncak sebagai berikut : “Management commitment is defined as enganging in and maintain behaviours that help others achieve a goal”. Menurut ISO 9000 komitmen manajemen puncak adalah : “Tanggung jawab manajemen perusahaan untuk menetapkan sasaran objective yang strategis dan sasaran mutu manajemen harus memiliki komitmen dalam penerapannya”. Selanjutnya definisi menurut Wilkinson, A., Redman, T. and Snape yang dikutif oleh Keith Goffin and Marek Szwejczewski (2006): “Top management commitment is recognized by all quality „gurus‟ as being an essential precondition for the success of quality management” and “having recognized the need for Quality Improvement, the first objective is to secure management commitment”. 9 Menurut Kinball et al, (2008) adalah : “The most important criteria for assessment. This is because having strong management backing will help overcome shortcomings elsewhere in the project”. Sedangkan pengertian komitmen manajemen puncak menurut Brown (2006) menyatakan bahwa : “This relationship can be viewed in terms of depth (strength), focus and terms, which are common in all types and forms of commitments”. Menurut Kerstin V.Siakasi and Elli Georgiadou (2007): “Management commitment and leadership are the driving factors for motivating employees to strive for continous process improvement”. Dari pengertian-pengertian yang terdapat di atas maka penulis menyimpulkan bahwa komitmen manajemen puncak itu adalah prasyarat penting bagi keberhasilan manajemen untuk peningkatan mutu.Selain itu merupakan faktor pendorong untuk memotivasi karyawan agar berupaya meningkatkan kualitas proses yang berkesinambungan. Dengan tujuan membantu mengatasi kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan suatu tugas atau proyek tertentu. Selain itu komitmen manajemen puncak juga harus terlibat langsung dan mempertahankan kinerja yang lain untuk membantu mencapai tujuan. Komitmen manajemen puncak adalah partisipasi secara langsung oleh manajemen baik top maupun middle pada aspek penting tertentu dari organisasi, Business Dictionary (2010). Menurut Dominic Cooper (2006) ,dalam manajemen mutu itu meliputi : 10 1. Setting up and serving on a quality committee (Pengaturan dan melayani pada kualitas komite) 2. Formulating and establishing quality policies and objectives (Merumuskan dan menetapkan kebijakan mutu dan sasaran) 3. Providing resources and training (Menyediakan sumber daya dan pelatihan) 4. Overseeing implementation at all levels of the organization Mengawasi pelaksanaan di semua tingkat organisasi), dan 5. Evaluating and revising the policy in light of results achieved (Mengevaluasi dan merevisi kebijakan dalam terang hasil yang dicapai)

Pengaruh Komponen Manajemen Kontraktor Terhadap Capaian Mutu Penelitian (skripsi dan tesis)

Permana dan Mulyono dalam Jurnal HPJI Vol.2 No.1, Januari 2016:1-12 dengan judul pengaruh komponen manajemen kontraktor terhadap capaian mutu rekonstruksi perkerasan lentur di Provinsi Daerah Istimewa 5 Yogyakarta. Data yang digunakan dalam pelaksanaan proyek pekerjaan jalan di lingkungan Dinas Bina Marga, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Faktorfaktor yang mempengaruhi pencapaian mutu rekonstruksi jalan provinsi di Provinsi DIY adalah tenaga kerja, peralatan, material, metode kerja, administrasi proyek, dan lingkungan. Analisis data dilakukan dengan melakukan kajian terhadap indikator-indikator yang dapat berpengaruh terhadap capaian mutu rekonstruksi jalan di Ruas Jalan Provinsi DIY dilakukan dengan model persamaan struktural, yakni SEM (Structural Equation Modeling) untuk mengkaji hubungan antara faktor-faktor beserta indikatornya terhadap capaian mutu rekonstruksi dengan menggunakan 93 indikator yang mempengaruhi faktor terhadap capaian mutu pelaksanaan pekerjaan rekonstruksi. Dari hasil studi menggunakan indikator-indikator diatas menunjukkan bahwa manajemen kontraktor sebesar 46,6% terhadap capaian mutu rekonstruksi. Sedangkan hubungan komponen manajemen kontraktor terhadap capaian mutu rekonstruksi adalah tenaga kerja memberikan kontribusi sebesar 77%, peralatan sebesar 90,7%, material sebesar 93%, metode kerja sebesar 89%, administrasi proyek sebesar 74,9%, dan lingkungan sebesar 67,1% masing-masing terhadap manajemen kontraktor.

Penerapan Standar Sistem Manajemen Mutu (ISO) 9001:2008 (skripsi dan tesis)

Penelitian Santosa dkk pada Jurnal Ilmiah Elektronik Infrastruktur Teknik Sipil Volume 2 No.1, Februari 2013 dengan judul penerapan standar sistem manajemen mutu (ISO) 9001:2008 pada Kontraktor PT. Tunas Jaya Sanur yang bertujuan untuk mengetahui penerapan standar mutu ISO 9001:2008 dan faktorfaktor yang menjadi kendala dalam penerapan standar mutu yang dipengaruhi nilai penerapan ISO 9001:2008. PT. Tunas Jaya Sanur sebagai suatu perusahaan yang bergerak pada bidang jasa konstruksi telah mendapatkan sertifikat ISO 9001:2008 dan menerapkannya dalam pelaksanaan proyek-proyek jasa konstruksi, salah satunya pada proyek pembangunan Apartemen dan Shopping Arcade Sea Sentosa Hotel. Dalam pelaksanaan proyek konstruksi tersebut, maka dilakukan wawancara dengan personel yang terkait dalam pelaksanaan proyek konstruksi dan observasi pada pelaksanaan konstruksi tersebut. Penilaian penerapan standar mutu ISO 9001:2008 (klausul 4 sampai dengan klausul 8) ini didapat dengan metode skor audit dan skala pengukuran variabel menggunakan Skala Likert. Dari hasil analisis data penerapan standar mutu ISO 9001:2008 pada proyek pembangunan Apartement dan Shopping Arcade Sea Sentosa Hotel didapat persentase rata-rata penilaian penerapan klausul 4 sampai dengan klausul 8 sebesar 85,69% termasuk kategori sangat baik (81% < Skor < 100%). Faktorfaktor yang menjadi kendala dalam penerapan ISO 9001:2008 adalah faktor tenaga kerja (SDM), metode atau prosedur kerja, dan material atau form atau dokumen

Kepuasan kerja memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (skripsi dan tesis)

Seorang karyawan yang puas dengan pekerjaannya akan membuat karyawan tersebut mendapatkan tingkat produktivitas dan efisiensi yang tinggi, pencapaian tersebut merupakan tujuan perusahaan. Untuk mampu mencapai tujuan tersebut perusahaan harus menyadari pentingnya faktor kepuasan kerja untuk memaksimalkan kinerja karyawannya. Kepuasan kerja mengarah pada perluasan upaya untuk meningkatkan prestasi kerja seorang karyawan agar bekerja lebih keras dan lebih baik. Jika seroang karyawan merasa puas dengan pekerjaannya maka meraka akan melakukan upaya untuk selalu meningkatkan kinerjanya. Sehingga semakin tinggi tingkat kepuasan karyawan maka akan semakin tinggi pula kinerja karyawan pada sebuah perusahaan manufaktur. Dengan adanya sistem penghargaan seperti promosi yang adil, mampu memotivasi karyawan untuk selalu meningkatkan kinerjanya, dimana penghargaan tersebut akan membuat karyawan merasa puas atas apa yang telah dikerjakannya sehingga kerja mampu memberikan dampak   yang positif atas meningkatnya kinerja karyawan (Nimalathasan, 2012). Kepuasan kerja dalam sebuah perusahaan merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan kinerja karyawan yang mengarah pada kinerja optimal (Prasanga & Gamage, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Almutairi et al. (2013) pada Three-Five Star Hotel di Saudi Arabia mengatakan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Pada akhirnya perusahaan yang memiliki tingkat kepuasan yang tinggi mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi organisasi secara keseluruhan selaras dengan tujuan perusahaan.

Implementasi ISO 9001:2008 memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (skripsi dan tesis)

Perusahaan yang menerapkan sertifikasi ISO 9001:2008 akan membuat seorang karyawan memilki kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap pekerjaan mereka. Dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab tersebut secara psikologis akan mendorong seorang karyawan untuk lebih bersemangat dalam bekerja. Semangat kerja inilah yang mampu untuk memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan kinerja karyawan. Sehingga semakin tinggi implementasi ISO 9001:2008 maka akan semakin tinggi pula kinerja karyawan pada sebuah perusahaan manufaktur. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Feng et al. (2007) menemukan pengaruh yang positif antara ISO 9001:2008 terhadap kinerja karyawan jika ISO mampu diimplementasikan dengan baik dan benar. Hal ini juga didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Psomas et al. (2013) menemukan pengaruh yang positif dan signifikan antara ISO terhadap kinerja karyawan. 14 Rakha & Abouzid (2015) dalam penelitiannya menyatakan bahwa implementasi ISO 9001:2008 mempunyai dampak yang positif terhadap kinerja karyawan dengan sistem manajemen kualitas (ISO 9001:2008) diterapkan pada semua aspek organisasi untuk memastikan pebaikan kinerja karyawan secara terus menerus.

Implementasi ISO 9001:2008 memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja (skripsi dan tesis)

Sertifikat ISO 9001:2008 merupakan sertifikasi untuk standarisasi kualitas pada sebuah perusahaan, dimana standar tersebut harus sesuai dengan standar Internasional. Implementasi standar ISO 9001:2008 sangat di pengaruhi oleh Sumber Daya Manusia, yaitu karyawan pada perusahaan manufaktur. Penerapan standar ISO 9001:2008 ini, sebagai perbaikan manajemen kualitas dalam tubuh sebuah perusahaan, akan memberikan dampak yang positif terhadap sikap individu karyawan berupa kepuasan kerja. Dengan adanya perbaikan manajemen mutu dengan menerapkan standar ISO 9001:2008 akan berdampak positif terhadap kepuasan kerja seorang karyawan, sehingga semakin tinggi penerapan sertifikasi ISO 9001:2008 maka semakin tinggi pula kepuasan kerja seorang karyaawan. Penelitian yang dilakukan oleh Ooi et al. (2005) yang mengatakan bahwa implementasi ISO dengan memperhatikan faktor fokus pada pelanggan dan kerjasama karyawan yang terjalin dalam sebuah perusahaan akan memberikan dampak yang positif terhadap kepuasan kerja karyawan. Valmohammadi & Khodapanahi (2011) dalam penelitiannnya yang dilakukan di perusahaan makanan di Iran Utara menyimpulkan bahwa implementasi ISO 9001:2000 berdampak positif terhadap kepuasan kerja Penelitian yang dilakukan oleh Juana dkk. (2016) mengatakan dalam penelitiannya ada hubungan yang positif dan signifikan antara implementasi ISO 9001:2008 dengan kepuasan kerja. Sejalan dengan penelitian tersebut yang dilakukakan oleh Bekele E. & Zewedie S. (2017) menyatakan bahwa implementasi ISO 9001:2008 mempunyai dampak yang positif terhadap kepuasan kerja.

Kinerja Karyawan (skripsi dan tesis)

Kinerja karyawan merupakan sebuah kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh individu atau kelompok dalam melaksanakan suatu tugas (Schermerhorn, 1989). Kinerja didefinisikan sebagai jumlah dari total barang, jasa dan pemikiran yang didapatkan melalui proses penyelesain tugas yang diberikan kepada karyawan terhadap realisasi organisasi sesuai dengan ketentuan kriteria dan kualifikasi pribadi karyawan (Pugh, 1991). Viswesvaran & Ones (2000) mendefinisikan 11 kinerja karyawan sebagai perilaku dan hasil yang melibatkan karyawan terkait dengan kontribusi pada tujuan organisasi. Kinerja karyawan dapat diukur, dipantau, dan dievaluasi pada tingkat individu (Munchinsky, 2003). Wall et al. (2004) mengatakan kinerja karyawan merupakan salah satu dimensi penting dalam menilai suatu organisasi secara keseluruhan. Sarmiento & Beale (2007) berpendapat kinerja pekerjaan sebagai hasil dua elemen, yaitu kemampuan dan keterampilan baik secara alami ataupun dilatih oleh seorang karyawan dalam rangka pemenuhan tugas yang lebih baik. Tinofirei (2011) berpendapat bahwa kinerja karyawan merupakan keberhasilan menyelesaikan tugas, sebagaimana ditetapkan dan diukur oleh supervisor bedasarkan standar yang dapat diterima dan telah ditetepkan dengan memanfaatkan sumber daya secara efektif dan efisien. Kinerja karyawan menjadi faktor penting dalam peningkatan hasil akhir, peningkatan perilaku dan karakteristik positif karyawan sekaligus meningkatkan produktifitas organisasi (Zahargier & Balasundaram, 2011). Oleh karena itu dari definisi di atas kinerja karyawan merupakan sejauh mana seorang karyawan dapat menyelesaikan tugas yang yang dibebankan kepadanya dan bagaimana tugas tersebut berkontribusi terhadap realisasi tujuan perusahaan (Mawoli & Babandoko, 2011).

Kepuasan Kerja (skripsi dan tesis)

Kepuasan kerja adalah sebuah konsep yang rumit dengan berbagai dimensi di dalamnya. Salah satu definisi tertua yang mengungkapkan definisi kepuasan kerja dikemukakan oleh Hoppock yang mendefiniskan kepuasan kerja sebagai reaksi emosional yang ditunjukkan karyawan terhadap pekerjaan mereka (Hoppock, 1935). Hackman & Oldham (1975) melihat kepuasan dengan bekerja sebagai kebahagiaan yang dimiliki karyawan dengan pekerjaan yang mereka lakukan. Kepuasan kerja merupakan tingkat dimana seorang karyawan merasa puas dan suka terhadap pekerjaannya (Spector, 1997). Pada tingkatan organisasi, organisasi dengan karyawan yang lebih puas cenderung lebih efektif dibandingkan organisasi dengan karyawan yang kurang puas (Robbins, 2001). Kidd (2006) menjelaskan kepuasan kerja sebagai perasaan bahwa karyawan memiliki pekerjaan baik itu pengalaman hubungan terhadap pengalaman kerja masa lalu, harapan saat ini dan ekspektasi terhadap masa depan. Kepuasan kerja mampu menimbulkan kenikmatan mental, fisik dan lingkungan yang dimiliki karyawan yang digambarkan sebagai perilaku afektif dan kognitif terhadap aspek-aspek tertentu dari pekerjaannya (Pool & Pool, 2007). Karyawan yang puas dengan pekerjaan yang dilakukan cenderung lebih terlibat dalam setiap kegiatan organisasi dan lebih berkontribusi 10 memberikan layanan berkualitas tinggi (Yee et al, 2008). Bhatti & Shahzad (2008) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa karyawan yang puas dengen pekerjaan mereka akan berbanding lurus dengan kualitas kerja dan komitmen yang lebih tinggi terhadap perusahaan, sehingga keinginan karyawan untuk meninggalkan perusahaan akan menurun. Kepuasan kerja dan kinerja karyawan dianggap sebagai bagian dalam organisasi yang memberikan hasil yang paling signifikan terhadap kesejahteraan individu maupun organisasi (Hart & Cooper, 2001). Prasanga & Gamage (2012) mengungkapkan bahwa kepuasan kerja merupakan salah satu faktor terpenting dalam menentukan kinerja karyawan yang mengarah pada kinerja maksimal. Ayranci, E. & Ayranci, A. E. (2015) mengatakan bahwa kepuasan kerja menekankan pada emosi positif terhadap peran seseorang ditempat kerja sehingga mampu meningkatkan kinerja secara maksimal.

Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008 (skripsi dan tesis)

Sistem manajemen mutu (SMM) merupakan kumpulan dari beberapa prosedur dokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses pembuatan produk baik barang maupun jasa terhadap kebutuhan atau persyaratan yang dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi (Gaspersz, 2005). Sistem Manajemen Mutu (SMM) mengintegrasi organisasi untuk menerapkan praktek-praktek manejemen mutu secara menyeluruh dan konsisten guna memenuhi kebutuhan pasar (Gaspersz, 2005). Sistem menajemen mutu berisi seperangkat praktik dan prinsip manajemen universal yang tidak memiliki batas tertentu pada organisasi maupun wilayah negara tertentu (Jun M. et al, 2006). Valmohammadi (2011) mengatakan bahwa tujuan dari Manajemen Mutu adalah untuk menciptakan budaya atau sebuah proses, dimana proses operasional yang diimplementasikan pertama kali dalam suatu organisasi mampu diterapkan secara penuh dan efisien. ISO 9001 merupakan standar manajemen mutu bertaraf Internasional (Duraitman S. et al, 2011). Standar tersebut menjelaskan berbagai persyaratan sistem manajemen mutu yang perlu di   implementasikan secara konsisten oleh perusahaan sehingga mampu menghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan, mencapai kepuasan pelanggan dan mencapai peningkatan yang berkelanjutan terhadap efektifitas manajemen mutu yang diterapkan (Psomas et al, 2013). Persyaratan ISO 9001 merupakan praktik terbaik dalam Sistem Manajemen Mutu (Van den Heuvel et al, 2005). Standar ISO merupakan standar yang paling banyak diadopsi oleh organisasi di seluruh dunia (Zeng et al, 2005). Standar ini pertama kali diterbitkan dan digunakan pada tahun 1987 dan diperbarui pada tahun 1994, 2000 dan 2008 (Hoyle, 2009). Martinez-Costa et al. (2009) mengatakan sejak diperbarui pada tahun 2000, ISO 9001 lebih mengintegrasikan prinsip prinsip Total Quality Mangement dan lebih fokus pada proses dan kinerja kedalam standar ISO 9001 daripada dokumentasi. Disamping itu ISO 9001 juga mengadopsi konsep PDCA (Plan Do Check Act) ) sebuah siklus yang menggabungkan perencanaan, pelaksanaan, pengendalian serta perbaikan secara terus menerus dan diimplementasikan pada setiap proses keseluruhan organisasi (Rakha & Abouzid, 2015). Hackman dan Wageman (1995) dalam Bekele E. & Zewedie S. (2017) mengatakan bahwa dalam standar kualitas ISO 9001 dan konsep kualitas lainnya, karyawan diyakini puas dan berkomitmen dalam pekerjaan yang mereka lakukan sebagai hasil peningkitan 9 partisipasi dan keterlibatan karyawan dalam proses pengambilan keputusan.

Karakteristik Pelayanan (skripsi dan tesis)

Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh pelayanan menurut Zemke (dalam Ratminko dan Atik, 2005:3) yaitu: a. Konsumen memiliki kenangan atau memori atas pengalaman menerima pelayanan, yang tidak bisa dijual atau diberikan kepada orang lain. b. Tujuan penyelenggaraan pelayanan adalah keunikan, setiap konsumen dan setiap kontak adalah dianggap sesuatu yang “spesial”. c. Suatu pelayanan terjadi pada saat tertentu, ini tidak dapat disimpan di gudang atau dikirimkan barang contohnya. d. Konsumen melakukan control kualitas dengan cara membandingkan harapan dan pengalaman yang diperolehnya. e. Jika terjadi kesalahan, satu-satunya cara yang bisa dilakukan oleh karyawan untuk memperbaiki adalah meminta maaf. f. Moral karyawan sangat menentukan untuk kelancaran pemberian pelayanan. Dalam memberikan pelayanan kepada konsumen, karyawan perlu memahami faktor rasional dan emosional konsumen agar dapat memberikan kepuasan. Dalam hal ini, beberapa aspek yang perlu dicermati dari konsumen adalah karyawan menurut Tjiptono (2005:117): a. Suasana lingkungan yang bisa membuat konsumen nyaman dan senang. b. Pelatihan dan pengembangan serta pemberdayaan karyawan agar dapat memahami dan menangani respon emosional pelanggan. c. Sistem penanganan keluhan yang responsif, empatik, fair, dan efektif. d. Menggunakan pendekatan komunikasi berbeda untuk kategori individu yang berlainan. e. Menawarkan nilai sosial dan emosional tertentu. f. Mendirikan kelompok konsumen eksklusif yang mengelola aktivitas khusus. g. Menerapkan pengalaman untuk menciptakan kegembiraan kepada konsumen

Sifat dan Klasifikasi Pelayanan (skripsi dan tesis)

Penawaran suatu perusahaan pada pasar biasanya mencakup beberapa jenis pelayanan. Komponen pelayanan ini dapat merupakan bagian terkecil atau bagian utama dari keseluruhan penawaran tersebut. Penawaran bisa saja murni berupa barang pada satu sisi dan layanan murni pada sisi lainnya. Oleh karena itu, maka penawaran suatu perusahaan dapat diklasifikasikan menjadi lima kategori menurut Simamora (2001:172) yaitu: a. Produk berwujud murni Penawaran semata-mata hanya terdiri dari produk fisik misalnya sabun mandi, pasta gigi, atau sabun cuci tanpa pelayanan lainnnya yang menyertai produk tersebut. b. Produk berwujud disertai dengan layanan pendukung Pada kategori ini penawaran terdiri dari suatu produk fisik yang disertai dengan satu atau beberapa layanan untuk meningkatkan daya tarik kepada konsumennya. Disini pelayanan didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk pelanggan yang telah membeli produknya. Misalnya seperti seseorang yang baru membeli sepeda motor Honda, maka konsumen tersebut akan diberi pelayanan service sepeda motor gratis untuk beberapa bulan. c. Hybrid Penawaran yang terdiri dari barang dan layanan dengan proporsi yang sama. d. Pelayanan utama yang disertai barang dan layanan tambahan (pelengkap) dan barang-barang pendukung lainnya. e. Pelayanan murni Penawaran seluruhnya berupa layanan seperti konsultan psikologi

Pengertian Kualitas Pelayanan (skripsi dan tesis)

Menurut Goetsh dan Davis (dalam Tjiptono, 2005:51) Kualitas adalah kondisi yang berhubungan dengan produk atau jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau memiliki harapan. Menurut American Society for Quality Control (dalam Lupiyoadi, 2001:144) Kualitas adalah “keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk/jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”. Konsep kualitas pelayanan pada dasarnya bersifat relatif yaitu tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas pelayanan yang seharusnya konsisten satu sama lainnya, yaitu: persepsi pelanggan, produk dan pelayanan, dan proses. Ketiga orientasi ini dapat dibedakan dengan jelas bahkan produknya adalah proses itu sendiri (Lupiyoadi, 2001:144). Menurut Parasuraman (dalam Lupiyoadi, 2001:148) ada 5 dimensi dalam menentukan kualitas pelayanan yaitu: 1. Tangibles, atau bukti fisik yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa meliputi fasilitas fisik (gedung, gudang, dan lain sebagainya), perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan (teknologi) serta penampilan pegawainya. 2. Reliability, atau kehandalan yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu. Pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan akurasi yang tinggi. 3. Responsiveness, atau ketanggapan yaitu suatu kemauan untuk membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat kepada pelanggan, dengan menyampaikan informasi yang jelas. Membiarkan konsumen menunggu tanpa adanya suatu alasan yang jelas menyebabkan persepsi yang negatif dalam kualitas pelayanan. 4. Assurance atau jaminan dan kepastian yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya pelanggan kepada perusahaan. Terdiri dari beberapa komponen antara lain komunikasi, kredibilitas, keamanan, kompetensi dan sopan santun. 5. Empathy, yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.

Pengertian Pelayanan (skripsi dan tesis)

Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi akibat adanya interaksi antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan konsumen/pelanggan (Ratminto dan Atik, 2005:2). Sedangkan menurut Simamora (2001:172) menyatakan bahwa pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.

Persyaratan Standar dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 (skripsi dan tesis)

Karena sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 merupakan sistem manajemen mutu yang berfokus pada proses dan pelanggan, maka pemahaman terhadap persyaratan-persyaratan dari ISO 9001:2000 ini akan membantu organisasi dalam menetapkan dan mengembangkan sistem manajemen mutu secara sistematik untuk memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dan peningkatan proses terus-menerus (continious process impovement). Berikut klausul-klausul yang perlu diperhatikan oleh manajemen organisasi (Gaspersz: 2003): Klausul 1. Ruang Lingkup Ruang lingkup ISO 9001: 2000 telah dikembangkan atau diperluas. Dalam hal ini persyaratan-persyaratan standar telah menekankan untuk memenuhi kepuasan pelanggan melalui efektivitas dari aplikasi sistem mutu, termasuk proses-proses untuk meningkatkan terus-menerus dan jaminan kesesuaian. Klausul 2. Referensi Normatif Klausul ini hanya memuat referensi-referensi dari ISO 9001:2000. Klausul 3. Istilah dan Definisi Klausul ini menyatakan bahwa istilah dan definisi-definisi yang diberikan dalam ISO 9000:2000 (Quality Management System Fundamental and Vocabulary). Klausul 4. Sistem Manajemen Mutu Klausul ini lebih menekankan pada kebutuhan untuk peningkatan terus-menerus (continual improvement). Manajemen organisasi harus menetapkan langkahlangkah untuk implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Klausul 5. Tanggung Jawab Manajemen Klausul ini menekankan pada komitmen dari manajemen puncak menuju perkembangan dan peningkatan sistem manajemen mutu ISO 9001:2000. Klausul ini juga .memaksa keterlibatan manajemen puncak dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan, menetapkan kebijakan untuk mutu, menetapkan tujuan-tujuan mutu, perencanaan sistem manajemen mutu, menetapkan tanggung jawab dan wewenang organisasi, mengangkat secara formal seorang yang mewakili manajemen dan menjamin proses komunikasi internal yang tepat, serta harus melakukan peninjauan ulang sistem manajemen mutu. Klausul 6. Manajemen Sumber Daya Manusia Klausal ini menyatakan bahwa suatu organisasi hasus menetapkan dan memberikan sumber-sumber daya yang diperlukan secara tepat, personel yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas harus didefinisikan dalam sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 serta memiliki kompetensi yang berkaitan dengan pendidikan yang relevan, pelatihan, keterampilan dan pengalaman. Klausul 7. Realisasi Produk Klausul ini menyatakan bahwa organisasi harus menjamin bahwa proses realisasi produk berada di bawah pengendalian agar memenuhi persyaratan produk. Klausul 8. Pengukuran, Analisis dan Peningkatan Menurut klausul ini organisasi harus menetapkan rencana-rencana dan menerapkan proses-proses pengukuran, pemantauan, analisis dan peningkatan yang diperlukan agar menjamin kesesuaian dari produk, menjamin kesesuaian dari sistem manajemen mutu dan meningkatkan terus-menerus efektivitas dari sistem manajemen mutu

Manfaat Penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 (skripsi dan tesis)

Manfaat dari penerapan ISO 9001:2000 telah diperoleh banyak perusahaan. Beberapa manfaat dapat dicatat sebagai berikut: 1. Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui jaminan mutu yang terorganisir dan sistematik. Proses dokumentasi dalam ISO 9001:2000 menunjukkan bahwa kebijakan, prosedur dan instruksi yang berkaitan dengan mutu telah direncanakan dengan baik. 2. Perusahaan yang telah bersertifikat ISO 9001:2000 diizinkan untuk mengiklankan pada media massa bahwa sistem manajemen mutu dari perusahaan itu telah diakui secara internasional. Hal ini berarti meningkatkan image perusahaan serta daya saing dalam memasuki pasar global. 3. Audit sistem manajemen mutu dari perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 dilakukan secara periodik oleh registrar dari lembaga registrasi, sehingga pelanggan tidak perlu melakukan audit sistem mutu. Hal ini akan menghemat biaya dan mengurangi duplikasi audit. 4. Perusahaan yang telah memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 secara otomatis terdaftar pada lembaga registrasi, sehingga apabila pelanggan potensial ingin mencari pemasok bersertifikat ISO 9001:2000, akan menghubungi lembaga registrasi. Jika nama perusahaan itu telah terdaftar pada lembaga registrasi bertaraf internasional, maka hal itu berarti terbuka kesempatan pasar baru. 5. Meningkatkan mutu dan produktivitas dari manajemen melalui kerjasama dan komunikasi yang lebih baik, sistem pengendalian yang konsisten serta pengurangan dan pencegahan pemborosan. Meningkatkan kesadaran mutu dalam perusahaan. 6. Memberikan pelatihan secara sistematik kepada seluruh karyawan dan manajer organisasi melalui prosedur-prosedur dan instruksi-instruksi yang terdefinisi secara baik. 7. Terjadi perubahan positif dalam hal kultur mutu dari anggota organisasi, karena manajemen dan karyawan terdorong untuk mempertahankan sertifikasi ISO 9001:2000 yang umumnya hanya berlaku selama tiga tahun

Langkah-Langkah Membangun dan Mengembangkan Sistem Manajemen Mutu (skripsi dan tesis)

Definisi dari Standar ISO 9000 untuk sistem manajemen mutu (Quality Management System, QMS) adalah struktur organisasi, tanggung jawab, prosedurprosedur; proses-proses dan sumber-sumber daya untuk penerapan manajemen mutu (Gasperst: 2003). Suatu sistem manajemen mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktik-praktik standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Kebutuhan atau persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi. Sistem manajemen mutu mendefinisikan bagaimana organisasi menerapkan praktik manajemen mutu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari sistem manajemen mutu: 1. Sistem manajemen mutu mencakup suatu lingkup yang luas dari aktivitasaktivitas dalam organisasi moderen. Mutu dapat didefinisikan melalui lima pendekatan utama: a. transcendent quality, yaitu suatu kondisi ideal menuju keunggulan; b. product-based quality, yaitu suatu atribut produk yang memenuhi mutu; c. user-based quality, yaitu kesesuaian atau ketepatan dalam penggunaan produk; d. manufacturing-based quality, yaitu kesesuaian terhadap persyaratanpersyaratan standar, dan e. value-based quality, yaitu derajat keunggulan pada tingkat harga yang kompetitif. 2. Sistem manajemen mutu berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja. 3. Sistem manajemen mutu berlandaskan pada pencegahan kesalahan sehingga bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif. Patut diakui pula bahwa banyak sistem manajemen mutu tidak akan efektif 100% pada pencegahan semata, sehingga sistem manajemen mutu juga harus berlandaskan pada tindakan korektif terhadap masalah-masalah yang ditemukan. Dalam kaitan dengan hal ini, sistem manajemen mutu merupakan suatu closed loop system yang mencakup deteksi, umpan balik dan koreksi. Bagaimanapun proporsi yang terbesar (lebih dari 85%) harus diarahkan pada pencegahan kesalahan sejak tahap awal. 4. Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (costumers), hasil-hasil (out-put), pemasok (suppliers) dan pengukuran untuk umpan balik (measurements for feedback and feedforward).

Pengertian ISO (International Organization for Standardization) (skripsi dan tesis)

ISO 9001:2000 adalah suatu standar internasional untuk sistem manajemen mutu. ISO 9001:2000 menetapkan persyaratan-persyaratan dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen mutu, yang bertujuan untuk menjamin bahwa organisasi akan memberikan produk (barang atau jasa) yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Persyaratan-persyaratan yang ditetapkan ini dapat merupakan kebutuhan dari pasar tertentu, sebagaimana ditentukan oleh organisasi. ISO 9001:2000 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyatakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh produk (barang atau jasa). Tidak ada kriteria penerimaan produk dalam ISO 9001:2000, sehingga kita tidak dapat menginspeksi suatu produk terhadap standar-standar produk. ISO 9001:2000 hanya merupakan standar sistem manajemen mutu. Dengan demikian apabila ada perusahaan yang mengiklankan bahwa produknya telah memenuhi standar internasional, itu merupakan hal yang salah dan keliru, karena seyogianya manajemen perusahaan hanya boleh menyatakan standar internasional, karena tidak ada kriteria pengujian produk dalam ISO 9001:2000. Bagaimanapun diharapkan, meskipun tidak selalu, bahwa produk yang dihasilkan dari suatu sistem manajemen mutu internasional akan bermutu baik (standar). Persyaratan- persyaratan dan rekomendasi dalam ISO 9001:2000 diterapkan pada manajemen organisasi yang memasok produk, sehingga akan mempengaruhi bagaimana produk itu didesain, diproduksi, dirakit, ditawarkan dan lain-lain. The International Organization for Standardization (IS0) Technical Committee (TC) 176 bertanggung jawab untuk standar-standar sistem manajemen mutu ISO 9000 (www.iso.ch). Sejak pertama kali dikeluarkan standar-standar ISO 9000 pada tahun 1987, ISO/TC 176 menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna menjamin bahwa standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to date dan relevan untuk organisasi. Revisi terhadap standar ISO 9000 telah dilakukan pada tahun 1994 dan tahun 2000. Dengan demikian standar ISO 9000 yang terbaru adalah ISO 9000 Versi Tahun 2000. ISO 9000 Versi Tahun 2000 mencakup beberapa seri berikut: 1. ISO 9000:2000 QMS Fundamentals and Vocabulary Replacing ISO 8402 and ISO 9001. 2. ISO 9001:2000 QMS Requirements Replacing the 1994 Versions of ISO 9001, 9002 and 9003. 3. ISO 9004: 2000 QMS Guidance for Performance Improvement Replacing ISO 9004 with Most Parts. 4. ISO 19011 Guidance for Auditing Management Systems Replacing ISO 10011 and 14011

Pengertian Manajemen Kualitas Terpadu (skripsi dan tesis)

Manajemen kualitas (quality manajemen) atau kualitas terpadu (total quality manajemen = TQM) didefinisikan sebagai sauatu cara meningkatkan kinerja manajemen secara terus menerus pada setiap level operasi, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia.1 Sedangkan ISO 8402 (quality vocabulary) mendefinisikan manajemen kualitas sebagai semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang menentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan- tujuan dan tanggung jawab, serta mengimplementasikannya melalui alat- alat seperti perencanaan kualitas (quality planning), pengendalian kualitas (quality control), jaminan kualitas (quality assurance) dan peningkatan kualitas (quality improvement).2 Definisi umum mengenai kualitas dikemukakan oleh empat guru kualitas: (1) Joseph M.Juran, mendefinisikan kualitas sebagai kecocokan untuk pemakaian (fitness for use), yang menekankan orientasi pada pemenuhan harapan pelanggan, (2) Philiph B. Crosby, mengemukakan pentingnya melibatkan setiap orang dalam organisasi pada proses, yaitu dengan menekankan kesesuaian individual terhadap persyaratan maupun tuntutan, (3) W. Edwars Deming, penekanan utama adalah perbaikan dan pengukuran kuaitas secara terus menerus, (4) Taguchi, filosofi didasarkan pada premis bahwa biaya dapat diturunkan dengan cara memperbaiki kualitas dan kualitas secara otomatis dapat diperbaiki dengan cara mengurangi variasi dalam produk atau proses. Stragi Taguchi difokuskan pada loss function. 3 Manajemen kualitas sendiri dapat diartikan sebagai pengelolaan kualitas semua komponen yang berkepentingan dengan visi dan misi organisasi. Pada dasarnya manajemen kualitas itu bukanlah pembebananataupun pemeriksaan, tetapi manajem kualitas terpadu adalah lebih dari usaha untuk melakukan sesuatu yang benar setiap waktu, dari pada melakukan pemeriksaan pada waktu tertentu ketika terjadi kesalahan.4 Manajemen kualitas terpadu merupakan perluasan dan pengembangan dari jaminan mutu. Manajemen kualitas terpadu adalah tentang usaha menciptakan kultur mutu, yang mendorong semua anggota stafnya untuk memuaskan para pelanggan. Dalam konsep mutu terpadu pelanggan adalah raja.5 Menurut Bennet and Kerr, manajemen mutu total (TQM) adalah konsep dan metode yang memerlukan komitmen dan keterlibatan pihak manajemen dan seluruh pengelola perusahaan untuk memenuhi keinginan atau kepuasan pelanggan secara konsisten. Dalam TQM tidak hanya manajemen yang bertanggung jawab dalam memenuhi keinginan pelanggan, tetapi juga peran aktif seluruh anggota untuk memperbaiki mutu produk atau jasa yang dihasilkannya.6 Sedangkan menurut Tobin, mendefeinisikan TQM sebagai usaha untuk mendapatkan manfaat kompetitif dengan cara secara terus menerus memperbaiki setiap fase budaya onal.

Proses untuk Mendapatkan ISO 9001:2015 (skripsi dan tesis)

Bagi Kontraktor Kontraktor yang ingin mendapatkan sertifikat ISO 9001:2015 dapat mengikuti langkah-langkah yang secara garis besar sebagai berikut (Gaspersz, 2001): 1. Adanya komitmen dari pimpinan puncak. Tanpa komitmen dari pimpinan puncak, implementasi sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 tidak mungkin serta sangat sulit dilakukan. 2. Membentuk komite pengarah atau koordinator ISO. Komite berfungsi mengangkat atau menunjuk salah satu atau lebih auditor internal untuk ISO 9001:2015. Auditor internal merupakan orang yang dilatih terlebih dahulu sebagai penilai. Komite pengarah juga berfungsi sebagai sumber informasi dan penasihat yang berkaitan dengan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015. Komite ini juga akan memantau proses agar sesuai dengan persyaratan standar dalam sistem manajemen mutu ISO 9001:2015. 13 3. Mempelajari persyaratan-persyaratan standar dari sistem manajemen mutu ISO 9001:2015. 4. Mengimplementasikan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015. Pengimplementasian sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 berpedoman pada persyaratan standar dari klausal/elemen 1 sampai dengan elemen 10. 5. Audit sistem manajemen mutu perusahaan secara internal Manajemen dalam hal ini auditor internal melakukan audit terhadap sistem manajemen mutu perusahaan, sehingga telah terbukti persyaratan standar dari sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 telah terpenuhi. 6. Memilih registrasi Setelah manajemen yakin dan percaya bahwa sistem manajemen mutu organisasi telah memenuhi persyaratan standar sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 maka manajemen perlu memilih registrar untuk mulai melakukan penilaian. Biasanya registrar akan meninjau ulang dan memberitahukan tentang kelengkapan dokumen perusahaan. Pada tahap ini apabila masih ada kekurangan, dokumen itu harus diperbaiki dan dilengkapi. 7. Registrasi Jika sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 yang diimplementasikan dalam organisasi telah sesuai dengan persyaratan, dan oleh karena itu dinyatakan lulus dalam penilaian, kepada organisasi itu akan diberikan sertifikat ISO 9001:2015

Manfaat Penerapan ISO 9001:2015 (skripsi dan tesis)

Manfaat dari penerapan ISO 9001:2015 yang telah diperoleh oleh perusahaan diantaranya sebagai berikut (Gaspersz, 2006). 1. Menempatkan penekanan lebih besar pada keterlibatan 2. Membantu menunjukan resiko pada organisasi dan memberikan peluang yang tersrtuktur 3. Menggunakan Bahasa yang disederhanakan dan struktur umum dan istilah, sangat bermanfaat untuk organisasi yang menggunakan beberapa sistem manajemen 4. Mengarahkan manajemen rantai pasokan yang lebih efektif 5. Lebih User-Friendly untuk layanan dan organisasi berbasis pengetahuan

Pengertian ISO 9001 : 2015 (skripsi dan tesis)

Dalam kaitan ini ISO (International Organization for Standardization) adalah suatu badan standar dunia yang dibentuk untuk meningkatkan perdagangan internasional yang berkaitan dengan barang dan jasa. ISO merupakan organisasi internasional yang bertanggung jawab dalam penyusunan standar baru ataupun revisi ISO standar yang telah ada. Standar yang dikeluarkan oleh ISO, dipersiapkan oleh Technical Committee yang mewakili organisasi serta kalangan industri. ISO membawahi sejumlah badan sertifikasi nasional yang terdiri dari 135 negara atau lebih di seluruh dunia. Pada umumnya, ISO terkait dengan mutu produk maupun jasa, standar-standar yang telah ditetapkan akan ditinjau kembali dalam kurun waktu 3 tahun untuk memastikan standar tersebut masih relevan dengan perkembangan dunia usaha. Standar yang ditetapkan oleh ISO tidak bersifat teknis pelaksanaan, tetapi merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan dalam penerapannya (Silaban, 2011). Berbagai standar telah dikeluarkan oleh ISO antara lain untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Jenis-jenis standar yang sudah dikeluarkan antara lain (Silaban, 2011). 1. ISO 14000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu organisasi yang berkaitan dengan tanggung jawabnya terhadap lingkungan. 2. ISO 22000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu organisasi yang memproduksi makanan/minuman yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap keamanan konsumsi para konsumen (Food Safety). 3. ISO 27000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan sistem informasi suatu usaha yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap pengamanan dan keselamatan informasi (Information Security). 4. OHSAS 18000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu proyek yang berkaitan dengan tanggung jawab proyek tersebut terhadap keselamatan dan kesehatan kerja bagi personil yang terlibat didalamnya. 5. ISO 9000 adalah standar internasional yang merupakan persyaratan yang digunakan dalam penerapan sistem manajemen mutu perusahaan. 8 Untuk standar ISO 9000 dibuat oleh “TC-176”, dan telah mengeluarkan tiga seri ISO 9000 yang lebih dikenal dengan “The ISO 9000 Family” (Keluarga ISO 9000), yaitu sebagai berikut (Silaban, 2011). 1. ISO 9000; Sistem Manajemen Mutu – Dasar-Dasar dan Kosakata (“Quality Management System – Fundamentals and Vocabulary”), berisikan tentang dasar-dasar dan konsep sistem manajemen mutu dan kosakata beserta definisi yang digunakan dalam setiap serinya. 2. ISO 9001; Sistem Manajemen Mutu – Persyaratan (“Quality Management System – Requirements”), berisikan standar yang diterbitkan oleh organisasi internasional yang mencakup persyaratan manajemen mutu yang harus dipenuhi dalam penerapan sistem manajemen mutu yang terdapat di dalam ISO 9001 lebih menekankan pada pendekatan proses. 3. ISO 9004; Sistem Manajemen Mutu – Petunjuk untuk Peningkatan secara Berkelanjutan (“Quality Management System Guidelines for Performance Improvements”), merupakan pedoman organisasi untuk mencapai kesempurnaan melalui peningkatan secara berkelanjutan (Continual Improvement). Selanjutnya, ISO 9001 merupakan standar internasional yang mengatur sistem manajemen mutu (quality management system). Oleh karena itu, sering kali disebut sebagai “ISO 9001, QMS”. Tulisan 2015 menunjukkan tahun revisi sehingga ISO 9001:2015 adalah sistem manajemen mutu ISO 9001 hasil revisi tahun 2015. Secara garis besar ISO 9001:2015 tidak terlalu jauh berbeda dengan pendahulunya, yaitu ISO 9001:2008. Adapun perbedaan antara versi 2008 dan 2015 secara signifikan pada pendekatan proses yang menggabungkan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) dengan ‘risk-based thinking’. ISO 9001:2015 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyertakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh produk (barang/jasa). Tidak ada kriteria penerimaan produk dalam ISO 9001:2015, sehingga kita tidak dapat menginspeksi suatu produk terhadap standar-standar produk. ISO 9001:2015 hanya merupakan standar sistem manajemen mutu. Dengan demikian apabila ada perusahaan yang mengiklankan bahwa produknya telah 9 memenuhi standar internasional, itu adalah hal yang keliru, karena seyogyanya manajemen perusahaan hanya boleh menyatakan bahwa sistem manajemen mutu yang telah memenuhi standar internasional, karena tidak ada kriteria pengujian produk dalam ISO 9001:2015 (Gaspersz, 2011).

Pengertian Sistem Manajemen Mutu (skripsi dan tesis)

Sistem manajemen mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi serta praktik-praktik standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin 6 kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang/jasa) terhadap kebutuhan dan persyaratan tertentu (Gasperz, 2006). Sistem manajemen mutu memberi gambaran bagaimana organisasi menerapkan praktik-praktik manajemen mutu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari manajemen mutu antara lain (Gasperz, 2006): 1. Sistem manajemen mutu berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja. 2. Sistem manajemen mutu berlandaskan pada pencegahan terhadap kesalahan-kesalahan yang akan timbul. 3. Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (customer), hasil-hasil (output), proses-proses (processes), masukan-masukan (input), pemasok (suppliers), dan pengukuran umpan balik dan umpan maju (measurements for feedback and feedforward). Dalam sistem manajemen mutu sering terdengar istilah Quality Control dan Quality Assurance. Quality Control adalah kegiatan teknik dan kegiatan memantau, mengevaluasi dan menindaklanjuti agar persayaratan yang telah ditetapkan tercapai, sedangkan istilah Quality Assurance berarti semua tindakan terencana dan sistematis yang diterapkan, untuk meyakinkan pelanggan bahwa proses hasil kerja kontraktor akan memenuhi persyaratan. Dalam mengontrol kualitas produk yang dihasilkan, harus mempersiapkan dokumen–dokumen yang berupa panduan–panduan kerja secara tertulis, serta catatan/rekaman hasil kerja. Dalam setiap lingkungan, pelaksanaan proses yang konsisten merupakan kunci untuk peningkatan terus menerus yang efektif agar selalu memberikan produk (barang/jasa) yang memenuhi harapan pelanggan atau pasar

Pengertian Mutu (skripsi dan tesis)

Kata mutu memiliki banyak definisi yang berbeda, dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Pengertian mutu ditinjau dari definisi konvensional pada umumnya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk seperti: performansi, keandalan, mudah dalam penggunaan, dan sebagainya. Sedangkan pengertian mutu ditinjau dari definisi strategik menyarankan bahwa mutu adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. (Gasperz, 2006). Di samping pendapat tersebut para pakar mutu telah mencoba mendefinisikan mutu sebagai berikut (Tjiptono dan Diana, 2003): 1. Menurut Joseph Juran, mutu adalah kecocokan pengguna produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. 2. Menurut Philip B. Crosby, mutu adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan standar yang disyaratkan atau distandarkan. 3. Menurut Feigenbaum, mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). 4. Menurut Garvin, mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa elemen yang membahas mengenai definisi mutu/kualitas yang diterima secara universal dan dari definisi yang telah ada dapat dilihat beberapa persamaannya diantaranya adalah: 1. Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. 2. Mutu mencakup produk, jasa manusia, proses dan lingkungan. 3. Mutu merupakan kondisi yang selalu berubah

Pengertian Metode Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Metode Economic Order Quantity (EOQ), Economic Order Quantity (EOQ) merupakan salah satu model klasik yang pertama kali diperkenalkan oleh FW Harris pada tahun 1915, tetapi lebih dikenal dengan metode Wilson dikarenakan pada tahun 1934 metode EOQ dikembangkan oleh Wilson (Sofyan, 2013:54). Menurut Carter (2012:314) Kuantitas pesanan ekonomis atau EOQ adalah jumlah persediaan yang dipesan pada suatu waktu yang menimbulkan biaya persediaan tahunan. Sedangkan menurut Freddy Rangkuti (2004;11) Economic Order Quantity, dapat diartikan sebagai : “Jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pesan dengan biaya yang paling rendah”. Metode EOQ digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan persediaan yang meminimumkan biaya langsung penyimpanan persediaan dan biaya kebalikannya (inverse cost) pemesanan persediaan. Menurut (Handoko, 2008 : 113) Asumsi dasar untuk menggunakan metode EOQ adalah :
 1. Permintaan dapat ditentukan secara pasti dan konstan sehingga Biaya stocout dan yang berkaitan dengan kapasitasnya tidak ada. 2. Item yang dipesan independent dengan item yang lain. 3. Pemesan diterima dengan segera dan pasti. 4. Harga item yang konstan. Menurut Prawirosentono (2009:186) Unsur metode EOQ adalah biaya pemesanan, biaya penyimpanan, jumlah kebutuhan bahan per tahun, dan jumlah kuantitas bahan setiap kali pemesanan.

Model EOQ di atas dapat diterapkan bila anggapan-anggapan berikut terpenuhi : 1. Permintaan akan produk adalah konstan, seragam dan diketahui. 2. Harga per unit adalah konstan. 3. Biaya penyimpanan per unit per tahun (C) adalah konstan 4. Biaya pemesanan per pesanan (S) adalah konstan. 5. Waktu antara pesanan dilakukan dan barang-barang diterima adalah Konstan 6. Tidak terjadi kekurangan bahan atau back orders.

Jenis-jenis Bahan Baku (skripsi dan tesis)

Menurut Adisaputro dan Asri dalam Jurnal Nathalia (2012: 12) jenis-jenis bahan baku antara lain: 1. Bahan Baku Langsung (Direct material) Bahan baku langsung atau direct material adalah semua bahan yang merupakan bagian dari pada barang jadi yang dihasilkan. Biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku langsung ini mempunyai hubungan yang erat dan sebanding dengan jumlah barang jadi yang dihasilkan. 2. Bahan Baku Tidak Langsung (Indirect material) Bahan baku tidak langsung disebut juga dengan indirect material, adalah bahan baku yang ikut berperan dalam proses produksi tetapi tidak secara langsung tampak pada barang jadi yang dihasilkan.

Pengertian Bahan Baku (skripsi dan tesis)

Menurut Nasution (2003 : 103) ”bahan baku, yaitu yang merupakan input dari proses transformasi menjadi produk jadi. Cara membedakan apakah bahan baku termasuk bahan penolong dengan mengadakan penelusuran terhadap elemen-elemen atau bahan-bahan kedalam produk jadi. Cara pengadaan bahan baku bisa diperoleh dari sumber-sumber alam, petani atau membeli, misalnya serat diolah menjadi benang-benang”. Perusahaan perlu mengadakan persediaan bahan baku, hal ini dikarenakan bahan baku tidak bisa tersedia setiap saat. Menurut Ahyari (2012 : 150) perusahaan akan menyelenggarakan persediaan bahan baku, hal ini disebabkan oleh : 1. Bahan baku yang digunakan untuk proses produksi dalam perusahaan tidak dapat didatangkan secara satu persatu sebesar jumlah yang tidak diperlukan serta pada saat bahan tersebut dipergunakan. 2. Apabila bahan baku belum atau tidak ada sedangkan bahan baku yang dipesan belum datang maka kegiatan produksi akan berhenti karena tidak ada bahan baku untuk kegiatan proses produksi. 3. Persediaan bahan baku yang terlalu besar kemungkinan tidak menguntungkan perusahaan karena biaya penyimpanannya terlalu besar. Menurut Ahyari (2012 : 150) Faktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku antara lain: a. Perkiraan pemakaian bahan baku 14 b. Harga bahan baku c. Biaya-biaya persediaan d. Kebijaksanaan pembelanjaan e. Pemakaian bahan baku f. Waktu tunggu g. Model pembelian bahan

Tujuan Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Assauri (2008 : 177) pengendalian persediaan bahan baku bertujuan untuk : 1. Menjaga agar jangan sampai perusahaan kehabisan persediaan yang dapat mengakibatkan terhentinya proses produksi. 2. Menjaga agar persediaan tidak berlebihan sehingga biaya yang ditimbulkan tidak menjadi lebih besar pula. 3. Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari karena mengakibatkan biaya pemesanan yang tinggi. “Pengendalian persediaan bertujuan untuk menentukan dan menjamin tersedianya persediaan yang tepat dalam kuantitas dan waktu yang tepat”. (Herjanto,2008 : 220).

Pengertian Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Sofjan Assauri (2008 :176) Pengendalian persediaan bahan baku merupakan suatu kegiatan untuk menentukan tingkat dan komposisi daripada persediaan bahan baku dan barang hasil produksi sehingga perusahaan dapat melindungi kelancaran produksi dengan efektif dan efisien. Pengendalian persediaan merupakan serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan pesanan untuk menambah persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan harus diadakan (Herjanto, 2008: 219)

Biaya-biaya dalam keputusan Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Yamit (2003 : 219) biaya dalam keputusan persediaan terdapat lima kategori, sebagai berikut : 1. Biaya pemesanan (ordering cost) Adalah biaya yang dikaitkan dengan usaha untuk mendapatkan bahan baku atau barang dari luar. 2. Biaya penyimpanan (carrying cost atau holding cost) Adalah biaya yang memiliki komponen utama yaitu biaya modal, biaya simpan, dan biaya resiko. 3. Biaya kekurangan persediaan (stock-out cost) Adalah biaya yang terjadi apabila persediaan tidak tersedia di gudang ketika dibutuhkan untuk produksi atau ketika langganan memintanya. 4. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas (capacity associated costs) Adalah biaya yang terjadi karena perubahan dalam kapasitas produksi. 5. Biaya bahan atau barang itu sendiri Adalah harga yang harus dibayar atas item yang dibeli. Biaya ini akan dipengaruhi oleh besarnya diskon yang diberikan oleh supplier.

Fungsi-fungsi Persediaan (skripsi dan tesis)

Fungsi Persediaan Menurut Freddy Rangkuti dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Persediaan, Aplikasi di Bidang Bisnis” (2004;15-16) fungsi-fungsi persediaan adalah sebagai berikut : 1.Fungsi Decoupling Apabila persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan pelanggan tanpa tergantung pada suplier. Persediaan bahan mentah diadakan agar perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada pengadaanya dalam hal kuantitas dan waktu pengiriman.   2. Fungsi Economic Lot Sizing Persediaan lot siza ini perlu mempertimbangkan penghematan atau potongan pembeliaan, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya. Hal ini disebabkan perusahaan melakukan pembelian dalam 13 kuantitas yang lebih besar dibandingkan biaya yang timbul karena besarnya persediaan. 3. Fungsi Antisipasi Apabila perusahaan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan diramalkan berdasar penglaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman. Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasonal inventories)

Jenis-jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

Jenis – Jenis Persediaan Persediaan yang terdapat dalam perusahaan dapat dibedakan menurut beberapa cara. Dilihat dari fungsinya, menurut Sofjan Assauri (2008;170) persediaan dapat dibedakan, yaitu : 1.Batch Stock atau Lot Size Inventory, yaitu persediaan yang timbul dimana barang – barang yang dibeli, dikerjakan/dibuat atau diangkut dalam jumlah yang besar, sehingga barang – barang diperoleh lebih banyak dan cepat daripada penggunaan atau pengeluarannya, dan untuk sementara tercipta suatu  persediaan. 2.Fluctuation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Dalam hal ini perusahaan mengadakan persediaan untuk dapat memenuhi permintaan konsumen apabila tingkat permintaan menunjukkan yang tidak beraturan atau tidak tetap dan fluktuasi permintaan tidak dapat diramalkan terlebih dahulu. 3.Anticipation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat  dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan permintaan yang meningkat. Di samping perbedaan menurut fungsi, persediaan dapat pula dibedakan atau dikelompokkan menurut jenis dan posisi barang tersebut di dalam urutan pengerjaan produk, yaitu : 1. Persediaan bahan baku (Raw material stock) Persediaan dari barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi, barang mana dapat diperoleh dari sumber – sumber alam ataupun dibeli dari suplier atau perusahaan yang menghasilkan bahan baku bagi perusahaan pabrik yang menggunakannya. 2. Persediaan bagian produk (Purchased parts/komponen stock) Persediaan barang – barang yang terdiri dari bagian yang diterima dari perusahaan lain, yang dapat secara langung dirakit dengan bagian lain, tanpa melalui proses produksi sebelumnya. 3. Persediaan bahan – bahan pembantu atau barang – barang perlengkapan (supplies stock) Persediaan barang-barang atau bahan-bahan yang diperlukan dalam proses produksi untuk membantu berhasilnya produksi atau yang dipergunakan dalam bekerjanya suatu perusahaan, tetapi tidak merupakan bagian atau komponen dari barang jadi. 4. Persediaan barang-barang jadi dalam proses (work in process/progress stock) Persediaan barang-barang yang keluar dari tiap-tiap bagian dalam satu pabrik atau bahan-bahan yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi lebih perlu diproses kembali untuk kemudian menjadi barang jadi. 5. Persediaan barang jadi (finished goods stock) Persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual kepada pelanggan atau perusahaan lain. Jadi barang jadi ini adalah merupakan produk selesai dan telah siap untuk dijual

Pengertian Persediaan (skripsi dan tesis)

Setiap perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan produksi akan memerlukan persediaan bahan baku. Dengan tersedianya persediaan bahan baku maka diharapkan sebuah perusahaan industri maupun manufaktur dapat melakukan proses produksi sesuai kebutuhan atau permintaan konsumen. Selain itu dengan adanya persediaan bahan baku yang cukup tersedia digudang juga diharapkan dapat memperlancar kegiatan produksi perusahaan dan dapat menghindari terjadinya kekurangan bahan baku. Menurut Sofjan Assauri (2008; 169) Persediaan adalah merupakan sejumlah bahan-bahan, parts yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yangdisediakan untuk memenuhi permintaan dari komponen atau langganan setiap waktu. “Menurut Kusuma (2009;132) Persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang”

Metode Gabungan EOQ dengan JIT (JIT/EOQ) (skripsi dan tesis)

Berdasarkan rumus EOQ, serangkaian rumus JIT dan EOQ digunakan untuk membantu menjembatani transisi dari EOQ ke JIT. Rumus-rumus JIT/EOQ ini didasarkan pada kenyataan bahwa JIT mengurangi lot pengiriman, sebagai arti dari pelaksanaan JIT dalam lingkup lot besar EOQ. Asumsi-asumsi yang harus digunakan pada kombinasi metode JIT/EOQ menurut Schniederjan (Dalam Sulistyowati, 2006) yaitu biaya unit tidak dipengaruhi oleh jumlah pesanan, biaya pengiriman tidak dipengaruhi oleh jumlah pesanan, dan biaya pemesanan adalah konstan, tidak masalah berapa banyak pengiriman yang dijadwalkan  Asumsi-asumsi ini sama dengan asumsi dari model dasar EOQ dan beralasan dari sudut pandang pemberian kontrol pembeli dalam negosiasi kontrak jangka panjang JIT. Model JIT/EOQ merupakan kombinasi antara model EOQ dan sistem JIT. Berikut beberapa macam persamaan yang digunakan dalam perhitungan model JIT/EOQ (Schniederjans dalam Sulistyowati, 2006).

Keunggulan dan kelemahan metode Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Keunggulan metode EOQ adalah dapat digunakan untuk mengetahui berapa banyak persediaan yang harus dipesan dan kapan seharusnya pemesanan dilakukan, dapat mengatasi ketidakpastian permintaan dengan adanya persediaan pengaman (safety stock), mudah diaplikasikan pada proses produksi secara massal, umum digunakan pada rumah sakit, yaitu pada persediaan obat (Heizer dan Render, 2011). Adapun kelemahan yang terdapat pada metode EOQ adalah menempatkan pemasok sebagai mitra bisnis sementara karena paradigma untung-rugi diterapkan oleh mereka, sehingga penggunaan model ini menyebabkan berganti-ganti pemasok, dan hal ini dapat mengganggu proses produksi akibat relasi perusahaan dengan pemasok yang tidak berdasar pada hubungan kerjasama yang erat(Heizer dan Render, 2011).

Metode Pengendalian Persediaan Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Economic Order Quantity (EOQ) merupakan jumlah pembelian bahan mentah pada setiap kali pesan dengan biaya yang paling rendah (Rangkuti, 2007). Menurut Heizer dan Render (2011) EOQ merupakan salah satu teknik pengendalian persediaan tertua dan paling terkenal. Teknik ini relatif mudah digunakan, tetapi didasarkan pada beberapa asumsi yaitu tingkat permintaan diketahui dan bersifat konstan, Lead Time diketahui dan bersifat konstan, persediaan diterima dengan segera, tidak mungkin diberikan diskon, biaya variabel yang muncul hanya biaya pemesanan dan biaya peyimpanan persediaan sepanjang waktu, keadaan kehabisan stock (kekurangan) dapat dihindari sama sekali bila pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat. Hampir semua model persediaan bertujuan untuk meminimalkan biaya – biaya total. Dari total biaya – biaya yang muncul, terdapat dua biaya yang penting untuk diperhatikan yaitu biaya pemesanan dan biaya penyimpanan, sedangkan biaya – biaya lain seperti persediaan itu sendiri adalah konstan. Biaya pemesanan (ordering cost) mencakup biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya. Ketika pesanan sedang diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah bagian dari biaya penyetelan. Biaya penyimpanan (holding cost) adalah biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga (Heizer dan Render, 2011). Model EOQ adalah merupakan model yang tangguh. Tangguh (Robust) berarti ia memberikan jawaban yang memuaskan meskipun terdapat beragam variasi dan parameternya. Seperti yang telah banyak diamati, sering kali sulit menentukan biaya pemesanan dan biaya penyimpanan yang akurat. Sebagai konsekuensinya, sebuah model tangguh merupakan sebuah keberuntungan. Biaya total EOQ berubah sedikit secara minimal. Hal ini berarti bahwa variasi biaya setup, biaya penyimpanan, permintaan, atau bahkan EOQ relatif sedikit dalam biaya total (Heizer dan Render, 2011).

Tujuan Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Assauri (2008), tujuan dari adanya pengendalian persediaan dalam sebuah organisasi atau perusahaan adalah menjaga agar proses produksi tidak terhenti akibat habisnya persedian bahan baku, menjaga agar biaya – biaya yang ditimbulkan dari persediaan bahan baku sekecil mungkin dengan menjaga jumlah persediaan yang tidak terlalu berlebihan, dan menghindari pembelian dalam jumlah kecil yang dapat mengakibatkan biaya pemesanan menjadi besar. Sedangkan menurut Baroto (2002) fungsi dari pengendalian persediaan adalah untuk menetapkan dan menjamin tersedianya produk jadi, barang dalam proses,  komponen dan bahan baku secara optimal, dalam kuantitas yang optimal, dan pada waktu yang optimal

Pengertian pengendalian persediaan (skripsi dan tesis)

Pengendalian adalah proses managemen yang memastikan dirinya sendiri sejauh hal itu memungkinkan, bahwa kegiatan yang dijalankan oleh anggota dari suatu organisasi sesuai dengan rencana dan kebijaksanaannya (Indrayati, 2007). Pengendalian persediaan adalah serangkaian kebijakan pengendalian untuk menentukan tingkat persediaan yang harus dijaga, kapan pesanan untuk menambah  persediaan harus dilakukan dan berapa besar pesanan harus diadakan, jumlah atau tingkat persediaan yang dibutuhkan berbeda – beda untuk setiap perusahaan pabrik, tergantung dari volume produksinya, jenis perusahaan dan prosesnya (Herjanto, 2008). Robert J. Mockler menyatakan bahwa pengendalian merupakan suatu upaya sistematis untuk menetapkan standar prestasi dengan sasaran – sasaran perencanaan, merancang sistem umpan balik informasi, membandingkan prestasi sesungguhnya dengan standar yang lebih dahulu ditetapkan, menentukan apakah ada penyimpangan yang mengukur identifikasi penyimpangan tersebut dan mengambil tindakan perbaikan – perbaikan yang perlu dilakukan untuk menjamin bahwa sumber daya perusahaan yang digunakan sedapat mungkin dengan cara yang paling efektif dan efisien guna tercapainya sasaran perusahaan (Mariyam, 2008)

Biaya – Biaya Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Heizer dan Render (2011) biaya persediaan meliputi biaya penyimpanan (holding cost), biaya pemesanan (ordering cost), dan biaya penyetelan (setup cost). Biaya penyimpanan (holding cost) adalah biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Oleh karena itu, biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaran bunga. Biaya pemesanan (ordering cost) adalah biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya. Ketika pesanan sedang 9 diproduksi, biaya pesanan juga ada, tetapi mereka adalah bagian dari biaya penyetelan. Biaya penyetelan (setup cost) adalah biaya untuk mempersiapkan sebuah mesin atau proses untuk membuat sebuah pesanan. Ini menyertakan waktu dan tenaga kerja untuk membersihkan serta mengganti peralatan atau alat penahan. Manajer operasi dapat menurunkan biaya pemesanan dengan mengurangi biaya penyetelan serta menggunakan prosedur yang efisien, seperti pemesanan dan pembayaran elektronik. Sedangkan, menurut Ristono (2009), biaya persediaan dapat dibedakan atas ongkos pembelian (purchase cost), ongkos pemesanan atau Biaya persiapan (order cost/set up cost), Ongkos simpan (carrying cost / holding cost / storage cost), dan Biaya kekurangan persediaan (stockout cost).

 Ongkos pembelian adalah harga per unit apabila item dibeli dari pihak luar, atau biaya produksi per unit apabila diproduksi dalam perusahaan atau dapat dikatakan pula bahwa biaya pembelian adalah semua biaya yang digunakan untuk membeli suku cadang. Penetapan dari biaya pembelian ini tergantung dari pihak penjualan barang atau bahan sehingga pihak pembeli hanya bisa mengikuti fluktuasi harga barang yang ditetapkan oleh pihak penjual. Ordering cost adalah biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan pemesanan barang ke supplier. Besar kecilnya biaya pemesanan sangat tergantung pada frekuensi pesanan, semakin sering memesan barang maka biaya yang dikeluarkan akan semakin besar dan sebaliknya. Biaya pemesanan secara terperinci meliputi biaya persiapan pesanan (biaya telepon atau ongkos menghubungi supplier, pengeluaran surat menyurat), biaya penerimaan barang, seperti (biaya pembongkaran dan pemasukan ke gudang, biaya laporan penerimaan barang, biaya pemeriksaan barang atau biaya pengecekan), biaya pengiriman pesanan ke gudang, dan biayabiaya proses pembayaran (biaya pembuatan cek, pengiriman cek, atau biaya transfer ke bank supplier, dan sebagainya). Ongkos simpan adalah biaya yang dikeluarkan atas investasi dalam persediaan dan pemeliharaan maupun investasi sarana fisik untuk menyimpan persediaan, atau dapat pula dikatakan biaya yang timbul akibat penyimpanan barang maupun bahan (diantaranya: fasilitas penyimpanan, sewa gudang, keusangan, asuransi, pajak dan lain-lain). Yang termasuk dalam biaya simpan adalah biaya sewa atau penggunaan gudang, biaya pemeliharaan barang, biaya pemanasan atau pendinginan, bila untuk menjaga ketahanan barang dibutuhkan faktor pemanas atau pendingin dan biaya menghitung dan menimbang barang. Biaya kekurangan persediaan (stockout cost) adalah biaya yang ditimbulkan akibat hilang kesempatan penjualan sebagai dampak dari kekurangan persediaan. Biaya yang timbul adalah kehilangan pendapatan, selisih harga komponen, terganggunya operasi

Fungsi persediaan (skripsi dan tesis)

 Menurut Heizer dan Render (2011), persediaan dapat melayani beberapa fungsi yang menambal fleksibilitas bagi operasi perusahaan. Pertama, fungsi persediaan sebagai “Decouple” atau memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi contohnya jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan untuk melakukan decouple proses produksi dari pemasok. Kedua, melakukan “decouple” perusahaan dari fluktuasi permintaan dan menyediakan persediaan barang-barang yang akan memberikan pilihan bagi pelanggan, persediaan seperti ini digunakan secara umum pada bisnis eceran. Ketiga, mengambil keuntungan dari diskon kuantitas karena pembelian dalam jumlah besar dapat mengurangi biaya pengiriman barang. Keempat, melindungi terhadap inflasi dan kenaikan harga. Menurut Assauri (2008), persediaan yang diadakan mulai dari yang bentuk bahan mentah sampai dengan barang jadi, mempunyai fungsi yaitu menghilangkan risiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan, menghilangkan risiko dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan, untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran, mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi, mencapai penggunaan mesin yang optimal, memberikan pelayanan (service) kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya dimana keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi atau memberikan jaminan tetap tersediaanya barang jadi tersebut, serta membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaannya atau penjualannya.
Sedangkan Rangkuti (2007), membagi jenis-jenis persediaan berdasarkan fungsinya menjadi Batch stock/ lot size inventory, Fluctuation stock, dan Anticipation stock. Batch stock/ lot size inventory adalah persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan atau barang-barang dalam jumlah yang besar dari jumlah yang dibutuhkan saat itu. Keuntungannya adalah potongan harga pada harga pembelian, efisiensi produksi dan penghematan biaya angkutan. Fluctuation stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diramalkan. Anticipation stock adalah persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pola musiman yang terdapat dalam satu tahun dan untuk menghadapi penggunaan atau penjualan atau permintaan yang meningkat

Jenis – jenis persediaan (skripsi dan tesis)

Dalam bukunya, Daft (2006) membagi jenis persediaan menjadi tiga yaitu barang jadi sebelum pengiriman, barang setengah jadi, dan bahan baku. Persediaan 6 barang jadi (finished-goods inventory) adalah barang – barang yang telah melewati proses produksi tetapi belum dijual. Ini merupakan persediaan yang sangat kelihatan. Persediaan barang jadi bersifat mahal karena perusahaan telah menginvestasikan tenaga kerja dan biaya – biaya lainnya untuk membuat produk jadi. Persediaan barang setengah jadi (work-in-process inventory) adalah bahan – bahan yang melewati tingkat proses produksi tetapi belum merupakan produk jadi. Persediaan bahan baku (raw material inventory) adalah bahan – bahan dasar untuk proses produksi perusahaan. Persediaan ini adalah yang paling murah karena organisasi belum menginvestasikan tenaga kerja ke dalamnya. Menurut Heizer dan Render (2005) persediaan dapat dikelompokkan kedalam empat jenis, yaitu persediaan bahan baku (raw material inventory), Persediaan barang setengah jadi (working in process inventory), Persediaan MRO (maintenance / repair / operating inventory), dan Persediaan barang jadi (finished goods inventory). Persediaan bahan baku (raw material inventory) adalah material yang pada umumnya dibeli tetapi belum memasuki proses pabrikasi, sedangkan persediaan barang setengah jadi (working in process inventory) adalah bahan baku atau komponen yang sudah mengalami beberapa perubahan tetapi belum selesai atau menjadi produk jadi. Persediaan MRO (maintenance / repair / operating inventory) yaitu persediaan yang khusus diperuntukkan bagi pasokan pemeliharaan, perbaikan, dan operasi untuk menjaga agar proses produksi tetap produktif, dan persediaan barang jadi (finished goods inventory) adalah persediaan yang telah selesai diproses atau produk yang sudah selesai dan menunggu pengiriman

Pengertian persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Ristono (2009), persediaan dapat diartikan sebagai barang – barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang. Persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan bahan setengah jadi, dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku dan bahan setengah jadi di simpan sebelum digunakan atau dimasukan ke dalam proses produksi, sedangkan persediaan barang jadi atau barang dagangan di simpan sebelum dijual atau dipasarkan. Menurut Heizer dan Render (2011), persediaan adalah salah satu aset termahal dari banyak perusahaan, mewakili sebanyak 50% dari keseluruhan modal yang diinvestasikan. Manajer operasi diseluruh dunia telah menyadari bahwa manajemen persediaan sangatlah penting. Di satu sisi, sebuah perusahaan dapat mengurangi biaya dengan mengurangi persediaan. Di sisi lain, produksi dapat berhenti dan pelanggan menjadi tidak puas ketika sebuah barang tidak tersedia. Tujuan manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan

Economic Order Quantity (EOQ) (skripsi dan tesis)

Economic Order Quantity (EOQ) adalah teknik kontrol persediaan yang meminimalkan biaya total dari pemesanan dan penyimpanan. Namun, untuk menerapkan model EOQ ada beberapa asumsi yang harus terpenuhi, beberapa asumsi dalam EOQ adalah sebagai berikut (Heizer & Render, 2015): a. Jumlah permintaan diketahui, cukup konstan, dan independen. b. Waktu tunggu (lead time), yakni waktu antara pemesanan dan penerimaan barang diketahui dan bersifat konstan. c. Persediaan segera diterima seluruhnya. Dengan kata lain, persediaan yang dipesan tiba dalam satu kelompok pada suatu waktu. d. Tidak tersedia diskon kuantitas. e. Biaya variabel hanya biaya untuk memasang atau melakukan pemesanan (biaya pemasangan atau pemesanan) dan biaya untuk menyimpan persediaan dalam waktu tertentu (biaya penyimpanan). f. Kehabisan persediaan (kekurangan persediaan) dapat sepenuhnya dihindari jika pemesanan dilakukan pada waktu yang tepat (Heizer & Render, 2015).

Demikian pula menurut Stevenson & Chuong (2014), ada enam asumsi yang digunakan untuk menerapkan model EOQ, yakni sebagai berikut: a. Hanya satu produk yang terlibat b. Kebutuhan permintaan tahunan diketahui c. Permintaan tersebar secara merata sepanjang tahun sehingga tingkat permintaan cukup konstan d. Waktu tunggu tidak bervariasi e. Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman tunggal f. Tidak terdapat diskon kuantitas

Model Persediaan (skripsi dan tesis)

Model persediaan menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memecahkan dua permasalahan utama, yaitu (1) berapa unit barang yang harus dipesan pada waktu tertentu; dan (2) kapan persediaan tersebut harus dipesan (Anderson dkk. dalam Nugroho dkk. 2012). Model persedian digunakan oleh perusahaan untuk memenuhi permintaan pelanggan. Dalam hubungannya dengan model persediaan, permintaan memiliki dua sifat (Nugroho dkk., 2012), yaitu:  a. Permintaan dependen Permintaan dependen adalah permintaan yang terjadi pada bahan mentah atau bahan dalam proses, dimana permintaan itu berasal dari dalam perusahaan untuk menghasilkan barang jadi. b. Permintaan independen Permintaan independen adalah permintaan yang pada umumnya terjadi pada barang jadi, dimana permintaan itu berasal dari luar perusahaan, sehingga tidak tergantung kegiatan internal perusahaan dan diluar kontrol perusahaan. Permintaan independen memiliki dua model penting, yaitu : 1) Model deterministik Model deterministik mengasumsikan bahwa permintaan dan parameter yang lain bersifat konstan dan cenderung dapat diprediksi. Model deterministik terbagi menjadi empat bagian yaitu: (a) Economic order quantity (b) Economic production lot size (c) EOQ with planned shortages (d) EOQ with quantity discounts 2) Model probabilistik Model probabilistik mengasumsikan bahwa permintaan dan parameter lain memiliki derajat ketidakpastian yang tinggi, sehingga sulit diprediksi. 21 Lantaran penelitian ini berfokus pada penerapan Economic Order Quantity, yang mana merupakan bagian dari model deterministik, maka pembahasan selanjutnya akan berfokus pada Economic Order Quantity.

Biaya dalam Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Heizer & Render (2015) ada tiga jenis biaya dalam persediaan, yaitu:
a. Biaya penyimpanan (holding cost) Biaya penyimpanan adalah biaya yang terkait dengan menyimpan atau “membawa” persediaan selama waktu tertentu. Biaya penyimpanan juga mencakup biaya barang usang dan biaya yang terkait dengan penyimpanan, seperti asuransi, pegawai tambahan, dan pembayaranbunga. Banyak perusahaan yang tidak berhasil menyertakan semua biaya penyimpanan persediaan. Konsekuensinya, biaya penyimpanan persediaan sering ditetapkan kurang dari sebenarnya. b. Biaya pemesanan (ordering cost) Biaya pemesanan mencakup biaya dari persediaan, formulir, proses pesanan, pembelian, dukungan administrasi, dan seterusnya.
c. Biaya pemasangan (setup cost) Biaya pemasangan adalah biaya untuk mempersiapkan sebuah mesin atau proses untuk membuat sebuah pesanan. Ini menyertakan waktu dan tenaga kerja untuk membersihkan serta mengganti peralatan atau alat penahan.
Demikian pula Stevenson & Chuong (2014) mengatakan bahwa terdapat tiga biaya dasar yang berhubungan dengan persediaan, antara lain sebagai berikut:

 a. Biaya penyimpanan (holding/carrying) Biaya penyimpanan adalah biaya untuk menyimpan sebuah barang dalam persediaan untuk jangka waktu tertentu, biasanya satu tahun. Biaya penyimpanan berhubungan dengan kepemilikan barang secara fisik dalam penyimpanan. Biayanya meliputi bunga, asuransi, pajak (di beberapa negara), depresiasi, keusangan, kemunduran, kebusukan, pencurian, kerusakan, dan biaya pergudangan.

 b. Biaya pemesanan (ordering costs) Biaya pemesanan adalah biaya untuk memesan dan menerima persediaan. Di samping biaya pengiriman, biaya ini meliputi penentuan berapa banyak yang dibutuhkan, penyiapan faktur, biaya pengiriman,inspeksi pada saat kedatangan untuk mutu dan kuantitas, dan memindahkan barang ke penyimpanan sementara.
c. Biaya kekurangan (shortage costs) Biaya kekurangan adalah biaya yang terjadi ketika permintaan melebihi pasokan persediaan; seringkali berupa laba per unit yang tidak terwujud. Biaya ini meliputi biaya kesempatan untuk tidak melakukan penjualan, kehilangan niat baik pelanggan, pembebanan terlambat, dan biaya-biaya serupa.
Sedangkan menurut Yamit (2011) terdapat lima kategori biaya yang dikaitkan dengan keputusan persediaan, yaitu :
a. Biaya pemesanan (order cost) Biaya pemesanan adalah biaya yang dikaitkan dengan usaha untuk mendapatkan bahan atau bahan dari luar. Biaya pemesanan dapat berupa: biaya penulisan pemesanan, biaya proses pemesanan, biaya materai/perangko, biaya faktur, biaya pengetesan, biaya pengawasan, dan biaya trasnportasi. Sifat biaya pemesanan ini adalah semakin besar frekuensi pembelian semakin besar biaya pemesanan.
b. Biaya penyimpanan (carrying cost) Komponen utama dari biaya penyimpanan meliputi:
 1) Biaya modal. Meliputi: opportunity cost atau biaya modal yang diinvestasikan dalam persediaan, gedung, dan peralatan yang diperlukan untuk mengadakan dan memelihara persediaan.
 2) Biaya simpan. Meliputi: sewa gudang, perawatan dan perbaikan bangunan, gaji personel keamanan, pajak atas persediaan, pajak dan asuransi peralatan, biaya penyusutan dan perbaikan peralatan. Biaya tersebut adalah yang sifat tetap, variabel, maupun semi tetap atau semi variabel.
 3) Biaya resiko. Biaya resiko persediaan meliputi: biaya keusangan, asuransi persediaan, biaya susut secara fisik, dan resiko kehilangan. Sifat biaya penyimpanan adalah semakin besar frekuensi pembelian bahan, semakin kecil biaya penyimpanan.
 c. Biaya kekurangan persediaan Biaya kekurangan persediaan (stockout) terjadi apabila persediaan tidak tersedia digudang ketika dibutuhkan untuk produksi. Biaya yang dikaitkan dengan stockout meliputi biaya penjualan atau permintaan yang hilang (biaya ini sangat sulit dihitung), biaya yang dikaitkan dengan proses pemesanan kembali seperti, biaya ekspedisi khusus, penangan khusus, biaya penjadwalan kembali produksi, biaya penundaan, dan biaya bahan penggant
. d. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas Perubahan kapasitas produksi diperlukan karena perusahaan untuk memenuhi fluktuasi dalam permintaan. Perubahan kapasitas produksi,  menghendaki adanya perubahan dalm persediaan. Biaya yang dikaitkan dengan kapasitas dapat berupa : biaya kerja lembur untuk meningkatkan kapasitas, latihan tenaga kerja baru, dan biaya perputaran tenaga kerja (labour turn over cost).’
 e. Biaya bahan atau barang Biaya bahan atau barang adalah harga yang harus dibayar atas item yang dibeli. Selain biaya-biaya yang dijelaskan di atas terdapat satu lagi jenis biaya yang berhubungan dengan persediaan, yaitu total biaya persediaan atau total inventory cost/ total cost (TIC/TC).

Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

Demi menjalankan fungsi-fungsi persediaan, perusahaan harus memelihara empat jenis (Heizer & Render, 2015), yaitu : a. Persediaan bahan mentah (raw material inventory) Yaitu bahan bahan yang biasanya dibeli tetapi belum memasuki proses produksi. b. Persediaan barang dalam proses Yaitu komponen-kompenen atau bahan mentah yang telah melewati beberapa proses perubahaan, tetapi belum selesai. c. MRO (maintenance, repair, operating) Persediaan yang disediakan untuk perlengkapan pemeliharaan/ perbaikan/operasi yang dibutuhkan untuk menjaga mesin dan proses tetap produktif.   d. Persediaan barang jadi Barang yang sudah siap dijual, tetapi masih merupakan aset dalam pembukuan perusahaan. Sedangkan menurut Stevenson & Chuong (2014), jenis persediaan dapat dikelompokkan menjadi lima, antara lain sebagai berikut: a. Bahan mentah dan suku cadang yang dibeli b. Barang setengah jadi c. Persediaan barang jadi d. Suku cadang pengganti, alat-alat, dan pasokan e. Barang dalam transit ke gudang atau pelanggan (persediaan pipa saluran) Sedangkan Fahmi (2012) mengelompakkan persediaan secara umum menjadi tiga, yaitu: a. Persediaan dalm bentuk barang mentah. b. Persediaan dalam bentuk barang setengah jadi atau barang dalam proses. c. Persediaan dalam bentuk barang jadi.

Fungsi Persediaan (skripsi dan tesis)

Persediaan dapat memiliki berbagai fungsi yang menambah fleksibelitas operasi perusahaan. Keempat fungsi persediaan adalah sebagai berikut (Heizer & Render, 2015): a. Memberikan pilihan barang agar dapat memenuhi permintaan pelanggan yang diantisipasi dan memisahkan perusahaan dari fluktuasi permintaan. Persediaan seperti ini digunakan secara umum pada perusahaan ritel. b. Memisahkan beberapa tahapan dari proses produksi. Contohnya jika persediaan sebuah perusahaan berfluktuasi, persediaan tambahan mungkin diperlukan agar bisa memisahkan proses produksi dari pemasok. c. Mengambil keuntungan dari potongan jumlah karena pembelian dalam jumlah besar dapat menurunkan biaya pengiriman barang. d. Menghindari inflasi dan kenaikan harga. Sementara itu Stevenseon & Chuong (2014) menjelaskan fungsi persediaan dengan lebih rinci, antara lain sebagai berikut: a. Memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan. Persediaan ini di rujuk sebagai persediaan antisipasi karena di simpan untuk memuaskan permintaan yang di perkirakan. b. Memperlancar persyaratan produksi. Perusahaan yang mangalami pola musiman dalam permintaan seringkali membangun persediaan selama periode pramusim untuk mememnuhi keperluan yang luar biasa tinggi selama periode musiman. Persediaan ini di sebut dengan nama yang sesuai yaitu persediaan musiman. c. Memisahkan operasi. Secara historis, perusahaan manufaktur telah menggunakan persediaan sebagai penyangga antara operasi yang berurutan untuk memelihara kontinuitas. d. Perlindungan terhadap kehabisan persediaan. Pengiriman yang tertunda dan peningkatan yang tidak terduga dalam permintaan akan menigkatkan resiko kehabisan persediaan. Resiko kehabisan persediaan dapat di kurangi dengan menyimpan persediaaan aman yang merupakan persediaaan berlebih dari permintaan rata-rata untuk mengkompensasi variabilitas dalam permintaan dan waktu tunggu. e. Mengambil keuntungan dari siklus pesanan. Untuk meminimalkan biaya pembelian dan persediaan, perusahaan seringkali membeli dalam jumlah yang melampaui kebutuhan jangka pendek. f. Melindungi dari peningkatan harga. Secara berkala perusahaan akan menduga bahwa peningkatan harga yang substansial akan terjadi dan membeli jumlah yang lebih besar dari normal untuk mengalahkan kenaikan tersebut. g. Memungkinkan operasi. Fakta bahwa operasi (produksi) membutuhkan waktu tertentu (yaitu, tidak secara instan) berarti bahwa akan terdapat sejumlah persediaan barang dalam proses. Hukum little (littes law) dapat berguna dalam menghitung persediaan pipa saluran. Hukum tersebut menyatakan bahwa jumlah perseidaan rata-rata dalam sebuah sistem sama dengan produk dari tingkat rata-rata permintaan dan waktu rata-rata sebuah unit berada dalam sistem (yaitu tingkat permintaan rata-rata). h. Mengambil keuntungan dari diskon kuantitas. Pemasok dapat memberikan diskon untuk pesanan besar. Fungsi-fungsi yang telah disebutkan diatas sangat diperlukan perusahaan, karena perusahaan menghadapi berbagai faktor resiko sebagai berikut (Yamit, 2011) : a. Adanya unsur ketidakpastian permintaan (permintaan yang mendadak). b. Adanya unsur ketidakpastian dari pasokan supplier. c. Adanya unsur ketidakpastian tenggang waktu pemesanan

Tujuan Manajemen Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Heizer & Render (2015) tujuan manajemen persediaan adalah menentukan keseimbangan antara investasi persedian dengan pelayanan pelanggan. Menurut Nugroho dkk. (2012) tujuan dari manajemen persediaan adalah menentukan persediaan yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan pada biaya yang paling minimum. Riskatania dalam Sakkung (2011) mengatakan terdapat dua tujuan dari sistem manajemen persediaan yaitu memberikan tingkat pelayanan pelanggan dan untuk meminimalkan biaya penyediaan layanan tersebut. Sedangkan menurut Yamit (2011) sasaran akhir dari manajemen persediaan adalah untuk meminimumkan total biaya dalam perubahan tingkat persediaan. Berdasarkan penjelasan tujuan manajemen persediaan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan manajemen persediaan adalah melakukan pengelolaan persediaan dengan tepat, sehingga biaya yang dikeluarkan efisien dan di saat yang bersamaan juga mampu memberikan pelayanan yang optimal kepada pelanggan dengan cara selalu memenuhi permintaan

Manajemen Persediaan (Inventory Management) (skripsi dan tesis)

Manajemen persediaan adalah kemampuan suatu perusahaan dalam mengatur dan mengelola setiap kebutuhan barang baik barang mentah, barang setengah jadi, dan barang jadi agar selalu tersedia baik dalam kondisi pasar yang stabil dan berfluktuasi (Fahmi, 2012). Menurut Riskatania dalam Sakkung (2011), mendefinisikan manajemen persediaan sebagai berikut: manejemen persediaan meliputi perencanaan, koordinasi, dan pengendalian kegiatan yang berkaitan dengan aliran persediaan masuk, melalui, dan keluar dari sebuah organisasi.