Manfaat Penilaian Kinerja


Menurut Kaymaz (2011), penilaian kinerja menjadi sebuah alat pengukur
bagi karyawan untuk melihat hasil dari kerjanya, apakah telah mencapai targetnya
atau tidak sehingga dapat mempengaruhi kesuksesan pekerjaannya. Manfaat dari
penilaian kinerja yang dilakukan perusahaan adalah memberikan informasi
mengenai hasil yang diinginkan dari pekerjaan tersebut, diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas karyawan dengan adanya umpan balik maupun
reward dari perusahaan bagi karyawan yang berprestasi, dengan begitu karyawan
akan menganggap perusahaan menghargai kontribusinya terhadap proses
berjalannya perusahaan sehingga dapat menurunkan tingkat turnover karyawan

Tujuan Penilaian Kinerja


Proses berjalannya manajemen dalam perusahaan ataupun organisasi tidak
terlepas dari proses evaluasi dan salah satu evaluasi yang penting untuk dilakukan
adalah evaluasi serta penilaian kinerja terhadap anggota organisasi atau karyawan
pada perusahaan. Penilaian kinerja dibutuhkan perusahaan agar dapat mengambil
tindakan atas hasil yang menyimpang dari penilaian yang telah dilakukan, dengan
adanya evaluasi dan penilaian terhadap kinerja karyawan maka dapat memberikan
kesempatan komunikasi secara formal antara manajemen dengan karyawan,
karena dengan komunikasi yang baik dan lancar karyawan dapat memahami apa
perusahaan inginkan dan apa yang perlu mereka lakukan untuk memenuhi hasil
Julianty, Analisis dan Penerapan Performance Appraisal pada
yang di inginkan perusahaannya, sehingga ada timbal balik yang sesuai dengan
tujuan perusahaan. Informasi yang akurat dari penilaian kinerja ini juga bertujuan
sebagai acuan manajemen dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan
produktivitas perusahaan misalnya kenaikan gaji dan promosi. Secara rinci,
tujuan dari penilaian kinerja menurut Mondy dan Noe (2014):

  1. Dapat membuat rasa pengertian pada karyawan atas persyaratan hasil
    kinerja yang diingikan perusahaan lebih meningkat.
  2. Mengakui serta mendokumentasi hasil kerja dari karyawan, sehingga dapat
    memotivasi mereka untuk meningkatkan kinerja, atau mempertahankan
    prestasi yang telah dicapai.
  3. Membuka kesempatan pada karyawan agar dapat menyampaikan
    keinginan dan ide – idenya guna untuk meningkatkan rasa kepedulian
    terhadap pekerjaannya.
  4. Perusahaan dapat menyusun atau memperbaharui tujuan yang ingin
    dicapai kedepannya dan karyawan juga termotivasi untuk memberikan
    yang terbaik serta lebih berprestasi.
  5. Menjadi pertimbangan rencana pelaksanaan pelatihan atau pengembangan
    yang sesuai dengan kebutuhan karyawan.

Pengertian Penilaian Kinerja


Menurut Mayer dan Allen (2014), kinerja merupakan hasil dari pekerjaan
yang dapat dicapai karyawan pada tempatnya bekerja sesuai tanggung jawabnya
sebagai upaya dalam mencapai tujuan perusahaan. Pada dasarnya penilaian
kinerja ada dikarenakan adanya standar kinerja yang di inginkan perusahaan.
Hasil seperti apa yang diinginkan perusahaan menjadi acuan terhadap evaluasi
kinerja karyawan dan mengukur kinerja karyawan dapat dilakukan dengan
pengamatan setelah itu dituangkan dalam bentuk laporan tertulis yang sesuai
dengan fakta, tidak boleh memasukan perasaan dan dapat
dipertanggungjawabkan. Menurut Dessler (2013), Performance appraisal berarti
mengevaluasi kinerja dari karyawan pada saat ini ataupun masa lalu berdasarkan
standar kinerja perusahaan dan penilaian yang efektif mengharuskan perusahaan
menetapkan standar kinerja serta mengharuskan karyawan menerima feedback
dari hasil penilaian tersebut. Mathis dan Jackson (2015) menyatakan bahwa
penilaian kinerja karyawan merupakan bagian yang penting untuk perusahaan.
Kinerja yang sesuai serta memuaskan tidak akan terjadi begitu saja, dimana hal ini
akan terjadi jika perusahaan mempunyai dan menggunakan sistem penilaian yang
baik.

Rasio Profitabilitas


Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan
manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh
laba yang dihasilkan. Secara garis besar, laba yang dihasilkan perusahaan
berasal dari penjualan dan investasi yang dilakukan oleh perusahaan
(Sudarmadji dan Sularto, 2007). Rasio profitabilitas adalah rasio yang
mengukur efektifitas manajemen secara keseluruhan yang ditunjukkan
oleh besar kecilnya keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya
dengan penjualan dan investasi (Munawir, 2008). Adapun rasio yang
tergabung dalam rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:
a. Return on Assets (ROA)
Return on assets mengukur kemampuan perusahaan dalam
memanfaatkan asetnya untuk memperoleh laba. Rasio ini mengukur
tingkat kembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan
dengan menggunakan seluruh dana (aset) yang dimilikinya (Prastowo,
2005).
Analisis ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan
laba dengan menggunakan total aset (kekayaan) yang dipunyai
perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai
aset tersebut. Variasi dalam perhitungan ROA memasukkan biaya
pendanaan. Biaya-biaya pendanaan yang dimaksud adalah bunga yang
merupakan biaya pendanaan dengan hutang. Dividen yang merupakan
biaya pendanaan dengan saham dalam analisis ROA tidak
diperhitungkan. Biaya bunga ditambahkan ke laba yang diperoleh
perusahaan. ROA bisa diinterpretasikan sebagai hasil dari serangkaian
kebijakan perusahaan (strategi) dan pengaruh dari faktor-faktor
lingkungan (environmental factors). Analisis difokuskan pada
profitabilitas aset, dan dengan demikian tidak memperhitungkan caracara untuk mendanai aset tersebut (Hanafi, 2005).
b. Return on Equity (ROE)
Salah satu alasan utama mengapa perusahaan mengoperasikan
perusahaan adalah untuk menghasilkan laba yang akan bermanfaat bagi
para pemegang saham. Return on equity (ROE) merefleksikan seberapa
banyak perusahaan telah memperoleh hasil atas dana yang telah
diinvestasikan oleh pemegang saham (baik secara langsung atau dengan
laba yang ditahan). Rasio ROE sangat menarik bagi pemegang saham
maupun para calon pemegang saham, dan juga bagi manajemen karena
rasio tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari
shareholder value creation. Rasio ROE sangat tidak menarik bagi
manajer devisi karena manajer lebih berkepentingan dengan efisiensi
penggunaan aktiva, dari pada sumber dana untuk membiayai aktiva
tersebut (dari kreditor ataukah dari pemegang saham) (Munawir, 2008).
Tampaknya penggunaan utang yang semakin besar akan
semakin menguntungkan pemegang saham. Tetapi suatu saat
perusahaan akan mencapai batas utang yang optimal. Penggunaan utang
yang lebih besar dibandingkan dengan batas ini akan menurunkan ROE
(Hanafi, 2005).
c. Net Profit Margin
Net profit margin menghitung sejauh mana kemampuan
perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu.
Rasio ini bisa diinterpretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan
menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode
tertentu. Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan
perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan
tertentu. Profit margin yang rendah menandakan penjualan yang terlalu
tinggi untuk tingkat biaya yang tertentu, atau biaya yang terlalu tinggi
untuk tingkat penjualan yang tertentu, atau kombinasi dari kedua hal
tersebut. Secara umum rasio yang yang rendah bisa menunjukkan
ketidakefisienan manajemen. Rasio ini cukup bervariasi dari industri ke
industri, sebagai contoh industri retailer cenderung mempunyai profit
margin yang lebih rendah dibandingkan dengan industri manufaktur
(Hanafi, 2005).

Rasio Aktivitas


Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan serta
efisiensi perusahaan dalam menghasilkan penjualan dengan kemampuan
aset yang dimiliki. Adapun rasio yang tergabung dalam rasio aktivitas
adalah sebagai berikut:
a. Total Assets Turnover (TATO)
Total Assets Turnover merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur seberapa efisiennya seluruh aset perusahaan digunakan untuk
menunjang kegiatan penjualan (Ang, 1997). Perputaran total aset
menunjukkan bagaimana efektifitas perusahaan menggunakan
keseluruhan aset untuk menciptakan penjualan dalam kaitannya untuk
mendapatkan laba. Perusahaan dengan tingkat penjualan yang besar
diharapkan mendapatkan laba yang besar pula. Nilai TATO yang
semakin besar menunjukkan nilai penjualannya juga semakin besar dan
harapan memperoleh laba juga semakin besar pula.
b. Perputaran Piutang
Rasio perputaran piutang biasanya digunakan dalam
hubungannya dengan analisis terhadap modal kerja, karena memberikan
ukuran kasar tentang seberapa cepat piutang perusahaan berputar
menjadi kas. Angka jumlah hari puitang ini menggambarkan lamanya
suatu piutang bisa ditagih (jangka waktu pelunasan/penagian piutang).
Selain dihitung jumlah hari piutangnya, dalam mengevaluasi
piutang dagang ini perlu diperhatikan juga kepada siapa piutang dagang
ini diberikan. Selain itu, perlu diingat bahwa sebelum bias ditagih,
piutang dagang dapat juga dijual atau dijaminkan yang berarti
merupakan sumber dana (Prastowo dan Jualianty, 2002).
c. Perputaran Persediaan
Rasio perputaran persediaan mengukur berapa kali persediaan
perusahaan telah dijual selama periode tertentu, misalnya selama satu
tahun. Apabila suatu perusahaan memiliki rasio perputaran persediaan
yang lebih rendah disbanding rasio rata-rata industrinya maka hal ini
menunjukkan adanya persediaan yang sudah using atau persediaan yang
terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio perputaran persediaan yang lebih
rendah disbanding rata-rata industri member indikasi tingkat persdiaan
tidak cukup (Prastowo dan Jualianty, 2002).

Rasio Solvabilitas


Adapun rasio yang tergabung dalam rasio solvabilitas adalah sebagai
berikut:
a. Debt to Equity Ratio
Debt to equity adalah rasio antara total hutang dengan total
modal (shareholder’s equity) yang memberikan indikasi tentang
seberapa jauh kreditor terlindungi jika terjadi insolvensi. Dari perspektif
kemampuan membayar kewajiban jangka panjang semakin kecil rasio
tersebut maka semakin baik posisi perusahaan (Munawir, 2008).
b. Debt to Total Asset Ratio
Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan
hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini
menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai
oleh hutang.
c. Time Interest Earned
Rasio time interest earned digunakan untuk mengukur
kemampuan operasi perusahaan dalam memberikan proteksi kepada
kreditor jangka panjang khususnya dalam membayar bunga. Tidak ada
pedoman pasti tentang besarnya angka rasio time interest earned yang
dikatakan baik. Pada umumnya, laba dipandang cukup untuk
melindungi kreditor bila rasio time interest earned besarnya 2 kali atau
lebih. Sebelum mengambil kesimpulan final, sebaiknya dilihat terlebih
dahulu kecenderungan laba perusahaan dan kemudian menentukan
seberapa mudahnya perusahaan dipengaruhi oleh perubahan musiman
ekonomi (Prastowo dan Jualianty, 2002).

Rasio Likuiditas


Biasanya rasio yang digunakan adalah rasio modal kerja, current
ratio, dan acid-test/quick ratio.
a. Modal Kerja
Modal kerja merupakan selisih antara total aset lancar dan utang
lancar. Jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan menjadi
perhatian para kreditor jangka pendek, karena angka modal kerja
menunjukkan aset yang dibelanjai dari sumber dana jangka panjang
yang tidak memerlukan pembayaran kembali dalam jangka pendek.
Makin besar angka modal kerja berarti makin besar tingkat proteksi
kreditor jangka pendek dan makin besar kepastian bahwa hutang jangka
pendek akan dilunasi tepat waktu (Prastowo dan Jualianty, 2002).
b. Current Ratio
Current ratio memberikan indikasi kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajibannya atau utang lancarnya. Jika utang lancar
melebihi aset lancarnya berarti perusahaan tidak akan mampu
membayar tagihan utangnya (Munawir, 2008). Current ratio 200%
pada umumnya sudah memuaskan bagi suatu perusahaan, tetapi jumlah
modal kerja dan besarnya rasio tergantung pada beberapa faktor. Suatu
standar atas rasio yang umum tidak dapat ditentukan untuk seluruh
perusahaan. Current ratio 200% hanya merupakan kebiasaan (rule of
thumb) dan akan digunakan sebagai titik tolak untuk mengadakan
penelitian atau analisa yang lebih lanjut (Munawir, 2008).
c. Quick atau Acid Test Ratio
Persediaan merupakan rekening yang paling lama untuk berubah
menjadi kas (yang harus melewati bentuk piutang terlebih dahulu), dan
tingkat kepastian nilainya rendah (harga persediaan mungkin tidak
seperti yang dicantumkan dalam neraca, terutama untuk persediaan
barang dalam proses), maka rekening persediaan dikeluarkan dari
perhitungan.

Analisis Laporan Keuangan


Analisis kinerja keuangan perusahaan digunakan untuk mengetahui
sejauhmana efektivitas operasi perusahaan dalam mencapai tujuan. Analisis
kinerja keuangan perusahaan dapat dilakukan dengan melakukan analisis rasio
keuangan. Analisis rasio dapat dimulai dengan mencari hubungan berbagai pos
dalam laporan keuangan (Noor, 2011).
Laporan keuangan yang disajikan setiap periode merupakan informasi
yang sangat berharga bagi manajer, pemilik dan kreditur. Laporan keuangan
tersebut menyajikan data keuangan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk
mengetahui dan menilai hasil dari kegiatan operasi perusahaan dalam
melaksanakan kegiatan bisnis. Oleh karena itu, analisis keuangan dapat membantu
manajer, investor dan kreditur menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut:
a. Dapatkah perusahaan membayar bunga dan angsuran pinjaman ?
b. Apakah perusahaan mendapatkan pengembalian modal yang diinvestasikan?
c. Apakah gross profit margin (GPM) meningkat atau menurun ?
d. Apakah perusahaan efektif dalam menggunakan pembiayaan hutang ?
e. Apakah biaya dalam kendali pengawasan ?
f. Apakah pasar perusahaan mengalami pertumbuhan atau penurunan ?
g. Apakah perubahan yang terjadi merupakan peluang atau ancaman ?
h. Apakah alokasi investasi pada asset yang berbeda tinggi atau rendah ?
Oleh karena itu, analisis laporan keuangan dapat didefinisikan sebagai
proses keputusan dengan maksud untuk menilai posisi keuangan dan hasil operasi
perusahaan pada saat ini maupun yang akan datang, dengan tujuan utama untuk
menentukan prediksi dan estimasi terbaik tentang performance dan kondisi
dimasa datang (Samuels, 1995; Al-Rawi et al, 2008).
Munawir (2008) menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan alat
yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi
keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan.
Dengan melihat laporan keuangan suatu perusahaan akan tergambar di dalamnya
aktivitas perusahaan tersebut. Oleh karena itu, laporan keuangan perusahaan
merupakan hasil dari suatu proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat
untuk komunikasi dan juga digunakan sebagai alat pengukur kinerja perusahaan.
Melakukan analisis kinerja keuangan untuk mengetahui sejauh mana
efektivitas operasi perusahaan dalam mencapai tujuannya dan menilai kinerja
perusahaan dapat menggunakan analisis rasio yang dimulai dengan mencari
hubungan berbagai pos dalam laporan keuangan yaitu dengan menggunakan
laporan keuangan yang diperbadingkan termasuk data tentang perubahanperubahan yang terjadi dalam jumlah rupiah, presentase, dan trendnya. Rasio
tersebut akan menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu
jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, analisis rasio juga dapat menjelaskan
atau memberi gambaran tentang baik atau buruknya kondisi keuangan suatu
perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut diperbandingkan dengan angka
rasio pembanding yang digunakan sebagai standar. Oleh karena itu penganalisa
harus mampu menyesuaikan faktor-faktor yang ada pada periode atau waktu ini
dengan faktor-faktor di masa datang yang mungkin akan mempengaruhi posisi
keuangan atau hasil operasi perusahaan yang bersangkutan. Sehingga keguaan
atau manfaat suatu angka rasio sepenuhnya tergantung kepada kemampuan atau
kecerdasan penganalisa dalam menginterpretasikan data yang bersangkutan
(Munawir, 2008).

Kinerja Keuangan Perusahaan


Kinerja keuangan merupakan seluruh hasil kegiatan operasi perusahaan.
Kinerja keuangan perusahaan pada perusahaan ditunjukkan dari laba yang
diperoleh. Laba merupakan selisih antara revenue dan expenses (Munthe, 2009).
Kinerja keuangan perusahaan merupakan menunjukkan efektifitas dan efisien
suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuan. Efektifitas menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk memilih tujuan yang tepat. Efisiensi menunjukkan
perbandingan antara masukan dan keluaran yaitu dengan masukan tertentu
memperoleh keluaran yang optimal (Hastuti, 2005).
Tujuan penilaian kinerja keuangan perusahaan menurut Munawir (2008)
adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memperoleh kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau
    kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangannya pada saat ditagih.
  2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi
    baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Untuk mengetahui tingkat rentabilitas atau profitabilitas, yaitu menunjukkan
    kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
  4. Untuk mengetahui tingkat aktivitas, yaitu menunjukkan kemampuan
    perusahaan menghasilkan penjualan dengan aset yang dimiliki.
  5. Untuk mengetahui market value perusahaan.
    Kemapuan kinerja keuangan perusahaan untuk memperoleh kewajiban
    yang harus dipenuhi dan kemampuan keuangan pada asat waktu tempo,dapat
    dilihat dari laporan keuangan yang dijadikan sebagi sumber informasi bagi
    pimpinan perusahaan, pemegang sahan, dan pihak kreditur.

Performance Prism


Performance Prism merupakan sebuah teori yang
dikembangkan oleh Universitas Cranfield, kemudian pada tahun 2000
Neely, Adams, dan Kennerley mencoba memperkenalkannya sebagai
sebuah metode pengukuran kinerja perusahaan. Metode ini mencoba
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada metode-metode
sebelumnya seperti Balanced Scorecard. Kelebihan metode ini
dibanding dengan metode-metode sebelumnya adalah bahwa
Performance Prism mencoba mempertimbangkan seluruh stakeholder
dari perusahaan seperti investor, pelanggan, karyawan, Peraturan
Pemerintah sebagai bagian yang saling terintegrasi. Dengan kata lain
pengukuran kinerja yang dilakukan tidak hanya terbatas pada beberapa
stakeholder saja seperti yang dilakukan pada pengukuran kinerja pada
metode terdahulu.
Stakeholder itu sendiri dapat didefinisikan sebagai berikut.
“Individu atau kelompok, baik di dalam maupun di luar perusahaan,
yang mempunyai kepentingan terhadap hidup dan matinya perusahaan
dan sekaligus dapat mempengaruhi kinerja organisasi” (Mudrajad
Kuncoro, 2005: 8). Seperti yang dijelaskan dalam definisi tersebut,
stakeholder atau pemegang kepentingan di dalam perusahaan terdiri
dari banyak pihak, dan kepentingan dari masing-masing pihak tersebut
pun berbeda-beda. Walaupun di satu sisi kepentingan-kepentingan dari
masing-masing stakeholder tersebut berbeda-beda dan terkadang
saling berbenturan, namun di sisi lain masing-masing stakeholder
tersebut juga memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Oleh
karena itu, penting bagi perusahaan untuk mempertimbangkan masingmasing kebutuhan dan kontribusi dari para stakeholder.
Alasan lain mengenai pentingnya mempertimbangkan seluruh
stakeholder yang terlibat dalam perusahaan adalah untuk menjawab
tantangan dunia yang semakin berkembang. Setidaknya ada tiga alasan
yang mendasari hal tersebut, yaitu:
1) Adanya bahaya bahwa stakeholder akan memberontak dan
menolak untuk bekerja sama dengan organisasi apabila organisasi
tersebut tidak memenuhi kebutuhan dan keinginan khusus mereka.
2) Organisasi memiliki tanggungjawab legal, moral, dan etika
terhadap stakeholder mereka.
3) Di zaman ini, di mana selalu ada perhatian dari media dan
kelompok-kelompok kepentingan khusus, organisasi juga memiliki
reputasi yang harus dilindungi (Neely, et al., 2002: 158).

Manfaat Pengukuran Kinerja


Manfaat yang dapat diperoleh dengan dilakukannya
pengukuran kinerja menurut Mardiasmo (2009: 122), antara lain yaitu:
1) Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang
digunakan untuk menilai kinerja manajemen.
2) Memberikan arahan untuk mencapai target kinerja yang
telah ditetapkan.
3) Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian kinerja
dan membandingkannya dengan target kinerja serta
melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja.
4) Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan
hukuman (reward and punishment) secara objektif atas
pencapaian prestasi yang diukur sesuai dengan sistem
pengukuran kinerja yang telah disepakati.
5) Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan
dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi.
6) Membantu mengidentifikasikan apakah kepuasan
pelanggan sudah terpenuhi.
7) Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan
secara objektif.
Pendapat lain mengenai manfaat pengukuran kinerja juga
dijelaskan oleh Mulyadi (2007: 360) sebagai berikut.
1) Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien
melalui pemotivasian personel secara maksimal.
2) Membantu pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan penghargaan personel, seperti: promosi, transfer,
dan pemberhentian.
3) Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan
personel, dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan
evaluasi program pelatihan personel.
4) Menyediakan suatu dasar untuk mendistribusikan
penghargaan.
Selain itu, Veithzal Rivai, et al., (2008: 55-58) menjabarkan
manfaat pengukuran kinerja untuk beberapa pihak yang terlibat dalam
pengukuran kinerja secara umum, antara lain yaitu:
1) manfaat bagi karyawan
a) meningkatkan motivasi;
b) meningkatkan kepuasan kerja;
c) adanya kejelasan standar hasil yang diharapkan mereka;…
2) manfaat bagi penilai (supervisor/ manajer/ penyelia)
a) kesempatan untuk mengukur dan mengidentifikasi
kecenderungan kinerja karyawan untuk perbaikan manajemen
selanjutnya;
b) kesempatan untuk mengembangkan suatu pandangan umum
tentang pekerjaan individu dan departemen yang lengkap;
c) memberikan peluang untuk mengembangkan sistem pengawasan
baik untuk pekerjaan manajer sendiri, maupun pekerjaan dari
bawahannya;…
3) manfaat bagi perusahaan
a) Perbaikan seluruh simpul unit-unit yang ada dalam perusahaan,
karena:
(1)komunikasi menjadi lebih efektif mengenai tujuan
perusahaan dan nilai budaya perusahaan;
(2)peningkatan rasa kebersamaan dan loyalitas;
(3)peningkatan kemampuan dan kemauan manajer untuk
menggunakan keterampilan atau keahlian memimpinnya
untuk memotivasi karyawan dan mengembangkan kemauan
dan keterampilan karyawan.
b) meningkatkan pandangan secara luas menyangkut tugas yang
dilakukan oleh masing-masing karyawan;
c) meningkatkan kualitas komunikasi;…

Indikator Kinerja Kunci/Key Performance Indicator (KPI)


Dalam setiap proses pengukuran kinerja dibutuhkan suatu
ukuran untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau capaian dari
kinerja perusahaan tersebut. Salah satu ukuran yang digunakan dalam
proses pengukuran kinerja adalah Indikator Kinerja Utama/Key
Performance Indicator (KPI). Indikator Kinerja Utama/Key
Performance Indicator (KPI) merupakan suatu indikator yang
digunakan untuk mengetahui seberapa jauh strategi yang telah
dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan visi dan misi perusahaan
(Moeheriono, 2012: 1)
Indikator Kinerja Utama/Key Performance Indicator (KPI) ini
juga memiliki peran lain selain sebagai ukuran keberhasilan dalam
suatu perusahaan (Moeheriono, 2012: 47), antara lain yaitu:
1) Sebagai indikator bagi karyawan untuk mengetahui di mana area
karyawan tersebut harus bekerja dan menghasilkan output sesuai
dengan target yang telah ditentukan.
2) Sebagai alat komunikasi atasan dengan bawahan ataupun
perusahaan ke seluruh lini organisasi.
3) Sebagai media yang secara eksplisit menyatakan kemampuan
proses yang harus dicapai, sehingga target perusahaan juga
tercapai.
Ada beberapa kata kunci untuk mengidentifikasi Key Performance
Indicator (KPI), yaitu: (1) memiliki proses bisnis; (2) tujuan yang
jelas dari proses bisnis; (3) ada ukuran kuantitatif dan kualitatif dari
hasil dan dibandingkan dengan tujuan; (4) investigasi unsur-unsur
yang memengaruhi tujuan (Moeheriono, 2012: 50).
Darmin (2008) dalam Moh. Mahsun (2011: 168) menyatakan
bahwa Key Performance Indicator (KPI) yang baik perlu memenuhi
unsur-unsur sebagai berikut.
1) Dapat menjadi sarana perusahaan mengkomunikasikan strategi.
2) Terkait secara langsung dengan strategi yang dipilih perusahaan.
3) Indikator tersebut bersifat kuantitatif, memiliki formula tertentu
dalam penghitungannya.
4) Indikator tersebut dapat dihitung.
5) Frekuensi pemutahirannya bermanfaat.
6) Penetapan target untuk perbaikan dapat dilakukan.
7) Kemungkinan pembandingan dengan perusahaan lain dapat
dilakukan.
8) Pengukurannya masih valid.
9) Data dan sumber daya tersedia.
10) Biaya pengukurannya tidak melebihi manfaatnya

Langkah-langkah Pengukuran Kinerja


Moeheriono (2012: 27-28) menjelaskan mengenai beberapa
tahap dalam pengukuran kinerja perusahaan, yaitu:

  1. Mendesain
    Proses mendesain meliputi beberapa aktivitas, antara lain seperti
    menentukan model apa yang dipilih termasuk kerangka kinerjanya
    sampai penentuan indikator kinerja utama. Indikator tersebut harus
    dalam bentuk metrik yang dapat diukur dan dapat
    merepresentasikan tujuan strategis dari organisasi.
  2. Mengukur
    Indikator-indikator yang telah ditentukan dalam tahap desain
    kemudian diterapkan untuk mengukur kinerja perusahaan
    menggunakan data-data aktual perusahaan.
  3. Mengevaluasi
    Tahap selanjutnya adalah mengevaluasi hasil pengukuran yang
    telah dilakukan.
  4. Menindaklanjuti
    Hasil yang diperoleh pada tahap evaluasi kemudian ditindaklanjuti
    dengan menentukan indikator-indikator mana saja yang
    menunjukkan kinerja yang sudah baik dan indikator-indikator mana
    saja yang masih menunjukkan kinerja yang buruk.
  5. Mengevaluasi kembali
    Tahap selanjutnya adalah mengevaluasi kembali apakah sistem
    pengukuran kinerja yang telah disusun dan diterapkan tersebut
    telah sesuai atau belum dengan kebutuhan perusahaan. Sistem
    tersebut juga dievaluasi kembali apakah sudah dapat
    mencerminkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya atau belum.
    Mulyadi (2007: 345-358) menjelaskan ada beberapa langkah
    yang perlu dilaksanakan dalam pengukuran kinerja, namun demikian
    sebelum melakukan serangkaian langkah-langkah tersebut perlu
    didahului dengan mendesain sistem penghargaan terlebih dahulu.
    Sistem penghargaan tersebut didesain melalui enam langkah berikut.
    1) Menetapkan aspek kinerja yang hendak diberi penghargaan.
    2) Menentukan bobot setiap aspek dan komponen kinerja.
    3) Menentukan performance grade yang dipakai untuk menilai setiap
    aspek kinerja dan penghargaan yang diberikan untuk setiap
    performance grade. Performance grade merupakan standar nilai
    yang digunakan dalam proses penilaian kinerja.

Syarat-syarat Pengukuran Kinerja yang Berkualitas


Veithzal Rivai, et al., (2008: 19-24) mengungkapkan beberapa
syarat sebuah pengukuran kinerja perusahaan dikatakan berkualitas,
yaitu:
1) Input (potensi)
“Input merupakan sumber daya yang digunakan untuk
pelaksanaan suatu kebijakan, program, dan aktivitas” (Mardiasmo,
2009: 5). Input yang dimaksud sebagai syarat pengukuran kinerja
yang berkualitas tersebut diperoleh dengan menjawab pertanyaanpertanyaan sebagai berikut.
a) Who?
Pertanyaan ini ditujukan untuk mengetahui siapa sajakah pihak
yang harus dinilai dan siapakah pula pihak yang akan
melakukan pengukuran terhadap kinerja perusahaan tersebut.
b) What?
Pertanyaan ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan
objek atau materi yang dinilai, antar lain meliputi hasil kerja,
kemampuan sikap, motivasi kerja. Selain itu, pertanyaan ini
juga mencakup dimensi waktu yang menunjukkan kinerja yang
dicapai pada saat ini (current performance), dan potensi yang
dapat dikembangkan pada waktu yang akan datang.
c) Why?
Pertanyaan ini untuk menjelaskan mengenai tujuan dari
pengukuran kinerja itu sendiri, yang meliputi empat hal berikut.
(1) memelihara potensi kerja; (2) menentukan kebutuhan
pelatihan; (3) dasar untuk pengembangan karir; (4) dasar untuk
promosi jabatan.
d) When?
Pertanyaan ini merujuk pada waktu pelaksanaan pengukuran
kinerja itu sendiri. Waktu pengukuran kinerja ini bisa
dilakukan secara periodik seperti setiap bulan, triwulan, atau
setiap tahun, bisa juga dilakukan secara terus menerus pada
setiap hari kerja.
e) Where?
Pertanyaan ini merujuk pada di manakah akan dilakukan
pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja pada dasarnya dapat
dilakukan di tempat kerja atau perusahaan itu sendiri, bisa pula
di luar perusahaan, yaitu melalui konsultan.
f) How?
Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui metode apa yang
dipilih perusahaan untuk melakukan pengukuran kinerja.
2) Process (pelaksanaan)
Dalam fase pelaksanaan ini perlu dilakukan konsultasi
dengan sebanyak mungkin individu dan kelompok untuk menjamin
seluruh aspek dari pengukuran telah terhubung sehingga dapat
berjalan dengan baik. Proses ini dapat dilakukan dengan
melakukan briefing (penjelasan singkat) ataupun dengan pelatihan.
3) Output (hasil)
“Output merupakan hasil yang dicapai dari suatu program,
aktivitas, dan kebijakan” (Mardiasmo, 2009: 5). Agar pengukuran
kinerja perusahaan yang dilakukan berkualitas, maka syarat
selanjutnya yang harus dipenuhi adalah mengenai output dari
pengukuran kinerja itu sendiri, antara lain yaitu kejelasan hasil
penilaian dan keberhasilan pengukuran kinerja sebagai peningkat
kualitas kinerja

Pengukuran Kinerja Perusahaan


Dalam kaitannya dengan pengukuran kinerja sebuah
perusahaan, terdapat beberapa istilah yang biasa digunakan, antara lain
yaitu pengukuran kinerja (performance measurement), ukuran kinerja
(performance measure), metrik kinerja (performance metric). Istilahistilah tersebut seringkali digunakan secara bergantian, namun
demikian untuk menghindarkan kerancuan pemahaman diantara
istilah-istilah tersebut, maka perlu diberikan penjelasan mengenai
masing-masing perbedaannya.
Pengukuran kinerja dapat didefinisikan sebagai proses
pengkuantifikasian efisiensi dan efektivitas dari tindakan yang lalu.
Ukuran kinerja dapat didefinisikan sebagai sebuah parameter yang
digunakan untuk mengkuantifikasi efisiensi dan/atau efektivitas dari
tindakan yang lalu. Metrik kinerja adalah definisi dari cakupan, isi dan
bagian-bagian komponen dari sebuah ukuran kinerja yang berbasis
luas (Neely, 2002: xiv).
Dalam penelitian ini, untuk memudahkan pemahaman dan
menghindari kerancuan, maka penulis akan menggunakan istilah
pengukuran kinerja sebagai pokok bahasan utama dalam penelitian ini.
Neely (2002: xiii) juga mengungkapkan bahwa sebuah sistem
pengukuran kinerja memungkinkan keputusan yang diinformasikan
untuk dibuat dan tindakan untuk diambil karena ini
mengkuantifikasikan efisiensi dan efektivitas dari tindakan yang lalu
melalui akuisisi, pembandingan, penyortasian, analisis, dan interpretasi
dari data yang layak. Dalam konteks ini, aktivitas pemrosesan
informasi yang meliputi memperoleh, membandingkan, menyortir,
menganalisis, dan menginterpretasikan, dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1) Akuisisi data, merupakan proses mengumpulkan fakta-fakta yang
masih mentah.
2) Pembandingan data, merupakan proses mengkompilasikan faktafakta mentah ke dalam sebuah data-set tunggal yang terintegrasi.
3) Penyortasian data, merupakan proses menentukan fakta individual
di data-set ke dalam kategori yang bermakna sehingga data dapat
dianalisis.
4) Analisis data, merupakan proses mencari pola yang ada dalam
data-set yang telah disortasi.
5) Interpretasi data, merupakan proses menjelaskan implikasi dari
banyak pola yang teridentifikasi dalam data set yang telah
tersortasi.

Jenis-Jenis Rasio Keuangan


Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan rasiorasio keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa rasio keuangan. Setiap rasio
keuangan memiliki tujuan, kegunaan dan arti tertentu.
A. Rasio Profitabilitas
Profitabilitas adalah rasio yang mengukur efektivitas manajemen secara
keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh
dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi (Fahmi, 2010). Menurut
(Mafiroh et al., 2016), profitabilitas menunjukkan seberapa efisien dan efektif suatu
perusahaan dalam memanfaatkan serta menggunakan aset perusahaan dalam
menghasilkan laba. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik
menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.
Dalam penelitian ini sang penulis menggunakan rasio profitabilitas berupa
Return on Sales (ROS) dan Return on Assets (ROA), kedua rasio ini merupakan
indikator dalam rasio profitabilitas.
1.) Return on Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) merupakan salah satu bentuk rasio profitabilitas
yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan
dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan atau profit.
2.) Return on Sales (ROS)
Rasio Keuangan yang mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan
laba dari pendapatan penjualannya. Dengan kata lain, Rasio ROS atau Return on
Sales ini mengukur kinerja perusahaan dengan cara menganalisis persentase dari
total pendapatan perusahaan yang dapat dikonversikan menjadi keuntungan atau
laba perusahaan.
B. Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan suatu
perusahaan untuk melunasi hutangnya sebelum dan ketika jatuh tempo. Dengan
kata lain, kita dapat mengatakan rasio ini menunjukkan seberapa cepat perusahaan
dapat mengubah aset lancarnya menjadi uang tunai sehingga dapat melunasi
kewajibannya secara tepat waktu. Umumnya, Likuiditas dan solvabilitas jangka
pendek digunakan bersama-sama.
Menurut (Tamam & Wibowo, 2017), Likuiditas adalah kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo.
Menurut Hery (2016:23) Rasio Likuiditas (liquidity ratio) merupakan rasio yang
menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya yang segera jatuh tempo.
Perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi berarti
perusahaan tersebut mempunyai dana internal yang tinggi pula dengan demikian
perusahaan akan mengurangi pendanaan eksternalnya. Ini disebabkan karena
perusahaan dengan tingkat likuiditas tinggi mempunyai dana internal yang besar,
sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan dana internalnya terlebih
dahulu untuk membiayai investasinya sebelum menggunakan pembiayaan
eksternal melalui utang. Masalah likuiditas berhubungan dengan masalah
kemampuan suatu perusahan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang
segera harus dipenuhi. Suatu perusahaan yang mempunyai kemampuan membayar
belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban jangka pendeknya yang segera harus
dipenuhi.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Rasio Likuiditas berupa Quick
Ratio (QR), rasio ini merupakan salah satu indikator dalam rasio likuiditas.
C. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas membandingkan berbagai elemen laporan keuangan
perusahaan. Maksud dari perbandingan ini adalah untuk membedakan beban utang
perusahaan secara keseluruhan terhadap aset atau ekuitasnya. Rasio solvabilitas
biasanya digunakan oleh pemberi pinjaman dan departemen kredit internal untuk
menentukan kemampuan pelanggan untuk membayar kembali hutang mereka.
Menurut (Afrinda, 2013) Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan,
baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Ketika rasio likuiditas
menggunakan jangka pendeknya untuk meramalkan arus kas yang lebih akurat.
Sedangkan pada waktu jangka panjang tidak digunakan karena kurang tepat
diandalkan, dan karenanya rasio solvabilitas menggunakan ukuran analisis jangka
panjangnya (Mansur, 2015).
Rasio ini disebut juga rasio laverage, yang menggambarkan kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajibankewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Karena sebesar apa beban hutang
yang ditanggung perusahaan akan dibandingkan dengan aktivanya. Jika aset
perusahaan lebih banyak dimiliki oleh pemegang saham, maka perusahaan tersebut
kurang laverage. Jika kreditor memliki aset secara dominan, maka perusahaan
tersebut memiliki tingkat laverage yang tinggi.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Rasio Solvabilitas berupa Debt
to Asset Ratio (DAR), rasio ini merupakan salah satu indikator dalam rasio
solvabilitas.
D. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas (activity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya
atau dapat pula dikatakan rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi
(efektivitas) pemanfaatan sumber daya perusahaan (Kasmir, 2016). Dalam
praktiknya rasio aktivitas yang digunakan perusahaan memiliki beberapa tujuan
yang hendak dicapai. Rasio aktivitas juga memberikan banyak manfaat bagi
kepentingan perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaan, untuk masa sekarang
maupun di masa yang akan datang. Rasio aktivitas membandingkan antara tingkat
penjualan dengan investasi pada semua aktiva yang dimiliki.

Keunggulan Analisis Rasio Keuangan


Meurut Hery (2016:21) analisis rasio keuangan memiliki beberapa keunggulan
sebagai alat analisis, yaitu:
1) Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah
dibaca dan ditafsirkan.
2) Rasio merupakan pengganti yang cukup sederhana dari informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan yang pada dasarnya sangat rinci dan
rumit.
3) Rasio dapat mengidentifikasi posisi perubahan dalam industri.
4) Rasio sangat bermanfaat dalam pengambilan keputusan.Dengan rasio lebih
mudah untuk membandingkan suatu perusahaan terhadap perusahaan lain
atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik (time series).
5) Dengan rasio lebih mudah untuk melihat tren perusahaan serta melakukan
prediksi dimasa yang akan datang.

Manfaat analisis rasio keuangan


Menurut Fahmi (2014:53) manfaat yang bisa diambil dengan
dipergunakannya rasio keuangan yaitu:

  1. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat
    menilai kinerja dan prestasi perusahaan
  2. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai
    rujukan untuk membuat perencanaan.
  3. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi
    kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan
  4. Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor dapat digunakan
    untuk memperkirakan potensi risiko yang akan yang dihadapi dikaitkan
    dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan
    pengembalian pokok pinjaman.
  5. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak
    stakeholder organisasi

Analisis Rasio Keuangan


Analisis rasio keuangan adalah suatu aktivitas untuk menganalisis laporan
keuangan dengan cara membandingkan satu akun dengan akun yang lainnya yang
terdapat dalam laporan keuangan, perbandingan tersebut bisa antar akun dalam
laporan keuangan neraca maupun rugi laba (V. W. Sujarweni, 2017). Analisis rasio
keuangan ini dapat mengungkapkan hubungan yang penting antar perkiraan laporan
keuangan dan dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja
perusahaan. (Hery,2016:20).
Analisis rasio keuangan pada umumnya digunakan oleh 3 kelompok utama
pemakai laporan keuangan yaitu:

  1. Manajer perusahaan, menerapkan rasio untuk membantu menganalisis,
    mengendalikan, dan meningkatkan kinerja operasi serta keuangan
    perusahaan.
  2. Analisis kredit, termasuk petugas pinjaman bank dan analisis peringkat
    obligasi, yang menganalisis rasio-rasio untuk mengidentifikasi kemampuan
    debitor dalam membayar utang-utangnya.
  3. Analis saham, yang tertarik pada efisiensi, resiko, dan prospek pertumbuhan
    perusahaan.
    Berdasarkan sumber data analisis, analisis rasio keuangan dapat digolongkan
    menjadi sebagai berikut:
    1) Analisis rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka keuangan yang
    hanya bersumber dari neraca saja
    2) Analisis rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan angka-angka yang
    hanya bersumber dari laporan laba rugi saja.
    3) Analisis rasio antar laporan, yaitu membandingkan angka-angka yang
    bersumber dari dua laporan, yaitu neraca dan laporan laba rugi

Pihak-pihak yang memerlukan laporan keuangan


Laporan keuangan disusun berdasarkan berbagai tujuan. Tujuan uramanya
adalah untuk kepentingan pemilik dan manajemen perusahaan dan memberikan
informasi kepada berbagai pihak yang sangat berkepentingan terhadap perusahaan.
Artinya pembuatan dan penyusunan laporan keuangan ditujukan untuk memenuhi
kepentingan berbagai pihak, baik pihak intern maupun ekstern perusahaan.
Menurut Kasmir (2012 ; 19), Ada 5 (lima) pihak yang memiliki hak untuk
mendapatkan informasi seputar laporan keuangan, antara lain :

  1. Pemilik
    Pemilik pada saat ini adalah mereka yang memiliki usaha tersebut. Hal ini
    tercemin dari kepemilikam saham yang dimilikinya
  2. Manajemen
    Kepentingan pihak manajemen perusahaan terhadap laporan keuangan
    perusahaan yang mereka buat yang memiliki arti tertentu. Bagi pihak
    manajemen laporan keuangan yang dibuat merupakan cermin kinerja
    mereka dalam suatu periode tertentu
  3. Kreditor
    Kreditor adalah pihak penyandang dana bagi perusahaan. Artinya pihak
    pemberi dana seperti bank atau lembaga keuangan lainnya. Kepentingan
    pihak kreditor terhadap laporan keuangan perusahaan adalah dalam hal
    memberi pinjaman atau pinjaman yang telah berjalan sebelumnya.
  4. Pemerintah
    Pemerintah juga memiliki nilai penting atas laporan keuangan yang dibuat
    perusahaan. Bahkan pemerintah melalui Departemen Keuangan
    mewajibkan kepada setiap perusahaan untuk menyusun dan melaporkan
    keuangan perusahaan secara periodik.
  5. Investor
    Investor adalah pihak yang hendak menanamkan dana disuatu perusahaan.
    Jika suatu perusahaan memerlukan dana untuk memperluas usaha atau
    kapasitas usahanya disamping memperoleh pinjaman dari lembaga
    keuangan seperti bank dapat pula diperoleh dari para investor melalui
    penjualan saham.

Syarat-syarat laporan keuangan


Syarat-syarat laporan keuangan merupakan ciri khas membuat informasi dalam
laporan keuangan yang berguna bagi para pemakai dalam pengambilan keputusan
yang bernilai ekonomis (W. V. Sujarweni, 2017). Berikut syarat-syarat yang harus
dipenuhi didalam membuat laporan keuangan :
1) Dapat dipahami
Para pemakai harus dapat memahami kualitas penting informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan. Para pemakai harus mengetahui tentang
aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi dan juga ketentuan yang wajar.
2) Relevan
Informasi yang diberikan harus relevan agar dapat memenuhi kebutuhan
dalam proses pengambilan keputusan. Dengan adanya informasi yang
relevan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi para pemakai agar dapat
mengevaluasi kejadian masa lalu, masa kini atau masa yang akan datang.
3) Keandalan
Supaya lebih bermanfaat, Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
juga harus andal. Agar dapat diandalkan, Informasi yang disajikan harus
lengkap dalam batasan materialistis dan biaya, bebas dari pengertian
menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai
penyajian yang jujur dan wajar dari yang seharusnya disajikan.
4) Dapat dibandingkan
Para pengguna laporan keuangan harus bisa membandingkan laporan
keuangan perusahaan antar periode guna mengidentifikasi kecenderungan
posisi keuangan. Selain itu pengguna laporan keuangan juga harus bisa
membandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi
posisi keuangan serta posisi keuangan perusahaan secara relatif
5) Mempunyai daya uji
Laporan keuangan dapat diuji kebenarannya apabila telah disusun sesuai
dengan panduan konsep-konsep dasar akuntansi dan prinsip-prinsip
akuntansi yang telah disahkan
6) Netral
Laporan keuangan harus disajikan secara netral yaitu apabila disajikan
secara umum dan obyektif serta tidak memihak pada kepentingan para
pengguna tertentu.
7) Tepat waktu
Yang berarti bahwa laporan keuangan yang disajikan harus tepat waktu.
8) Lengkap
Artinya laporan keuangan yang disusun harus memenuhi syarat-syarat
seperti diatas agar tidak meyesatkan para pembaca.

Jenis jenis Laporan keuangan


Laporan keuangan perusahaan yang disusun oleh perusahaan terdiri dari
beberapa jenis, tergantung pada maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan
itu. Setiap laporan keuangan memiliki arti tersendiri dalam memandang kondisi
keuangan perusahaan, baik sebagian maupun secara keseluruhan. Namun dalam
prakteknya perusahaan diharuskan untuk menyusun beberapa jenis laporan
keuangan sesuai dengan standar yang telah ditentukan, terutama untuk kepentingan
mereka sendiri atau untuk kepentingan orang lain.
Menurut Kasmir (2014:82), secara umum ada lima jenis laporan keuangan yang
bisa disusun, yaitu:

  1. Laporan Posisi Keuangan
    Laporan Posisi Keuangan merupakan laporan yang menunjukkan posisi
    keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan
    dimaksudkan adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan pasiva
    (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan.
  2. Laporan Laba Rugi
    Laporan Laba Rugi merupakan laporan keuangan yang menggambarkan
    hasil usaha perusahaan dalam satu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi
    ini tergambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang
    diperoleh. Kemudian juga tergambar jumlah biaya dan jenis-jenis yang
    dikeluarkan selama periode tertentu.
  3. Laporan Perubahan Modal
    Laporan Perubahan Modal merupakan laporan yang berisi jumlah dan jenis
    modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga menjelaskan
    perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan modal di
    perusahaan.
  4. Laporan Arus Kas
    Laporan Arus Kas merupakan laporan yang menunjukkan arus kas masuk
    dan kas keluar perusahaan. Arus kas masuk merupakan pendapatan atau
    pinjaman dari pihak lain, sedangkan arus kas keluar merupakan biayabiaya
    yang telah dikeluarkan perusahaan. Baik arus kas masuk maupun arus kas
    keluar dibuat untuk periode tertentu.
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan
    Catatan Atas Laporan Keuangan merupakan laporan yang dibuat berkaitan
    dengan laporan keuangan yang disajikan. Laporan ini memberikan
    informasi tentang penjelasan yang dianggap perlu atas laporan keuangan
    yang ada sehingga menjadi jelas sebab penyebabnya. Tujuannya adalah agar
    pengguna laporan keuangan dapat memahami jelas data yang disajikan.

Tujuan Laporan keuangan


Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi
keuangan suatu perusahaan, yang ditujukan kepada pihak internal dan eksternal
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan
juga dapat disusun secara mendadak sesuai kebutuhan perusahaan maupun secara
berkala. Jelasnya adalah laporan keuangan mampu memberikan informasi
keuangan kepada pihak dalam dan luar perusahaan yang memiliki kepentingan
terhadap perusahaan.
Sesuai pendapat yang dikemukakan oleh Kasmir (2013; 11), “ada delapan
tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan yaitu:

  1. Memberikan data tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki
    perusahaan pada saat ini
  2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang
    dimiliki perusahaan pada saat ini
  3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh
    pada suatu periode tertentu
  4. Memberikan data tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan
    perusahaan dalam suatu periode tertentu
  5. Memberikan data tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap
    aktiva, pasiva, dan modal perusahaan
  6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu
    periode tertentu
  7. Memberikan informasi tentang Penataan data pada catatan atas laporan
    fiskal
  8. Informasi keuangan lainnya
    Menurut Mamduh M. Hanafi (2016:30), tujuan laporan keuangan adalah
    sebagai berikut :
  9. Informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan.
  10. Laporan keuangan harus memberikan informasi yang bermanfaat untuk
    pemakai eksternal dalam memperkirakan jumlah, waktu, dan ketidakpastian
    (risiko) penerimaan kas yang berkaitan.
  11. Laporan keuangan harus dapat memberikan informasi yang bermanfaat
    untuk memperkirakan aliran kas perusahaan.

Laporan Keuangan


Laporan keuangan pada dasarnya merupakan suatu informasi yang
menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi
tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut.
Adapun jenis laporan keuangan pada umumnya antara lain: neraca, laporan laba
rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Laporan keuangan hanyalah
sebagai “alat penguji” dari kegiatan-kegiatan perusahaan seperti kegiatan
pendanaan, kegiatan investasi, dan kegiatan operasional yang kemudian digunakan
untuk menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut dengan
menganalisisnya.
PSAK No. 1 (revisi 2009) menyatakan laporan keuangan adalah suatu
penyajian terstruktur dari kondisi keuangan dan kinerja keuangan suatu perusahaan.
Jadi laporan keuangan merupakan salah satu informasi yang sangat bermanfaat
dalam menilai perkembangan suatu perusahaan sehingga dapat digunakan untuk
menilai hasil kinerja yang diperoleh pada saat lampau, sekarang dan rencana waktu
yang akan datang pada perusahaan.
Menurut Kasmir (2014:7), laporan keuangan adalah laporan yang
menunjukkan kondisi keuangan perusahaan saat ini atau periode kedepannya.
Maksud dan tujuan laporan keuangan menunjukkan kondisi keuangan perusahaan.
Menurut Atma Hayat dkk (2018:81), bahwa pengertian laporan keuangan
adalah hasil akhir dari proses akuntansi, dimana dalam proses tersebut semua
transaksi yang terjadi akan dicatat, diklasifikasikan, diikhtisarkan untuk kemudian
disusun menjadi suatu laporan keuangan.

Pengukuran Kinerja Keuangan


Pengukuran kinerja keuangan adalah penting sebagai sarana atau indikator
dalam rangka memperbaiki kegiatan operasional diperusahaan agar dapat bersaing
dengan perusahaan lain lewat efisiensi dan efektivitas. Kinerja keuangan dapat
dinilai dengan menggunakan beberapa alat analisis. Pengukuran kinerja keuangan
juga berarti membandingkan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja
keuangan yang ada dalam perusahaan (Sujarweni, 2017).
Dengan adanya pengaruh kegiatan operasional pada kinerja keuangan ini
bisa diperbaiki apabila perusahaan dapat mengalami pertumbuhan keuangan yang
lebih baik dan dapat bersaing secara sehat melalui efisiensi dan efektivitas.
Pengukuran kinerja keuangan dilakukan bersamaan dengan proses analisis.
Analisis kinerja keuangan adalah proses pengkajian kinerja keuangan secara kritis
yang meliputi tinjauan keuangan, penghitungan, pengukuran, interpretasi dan
pemberian solusi terhadap masalah keuangan perusahaan pada periode tertentu
(Hery, 2015).
Menurut Jumingan (2018 ; 240), “ada beberapa tahap dalam pengukuran kinerja
keuangan adalah sebagai berikut:
1) Review data laporan
Maksud dari perlunya mempelajari data secara menyeluruh adalah untuk
meyakinkan pada penganalisis bahwa laporan sudah cukup jelas
menggambarkan semua data keuangan yang relevan dan telah
diterapkannya prosedur akuntansi maupun metode penilaian yang tepat,
sehingga penganalisis akan betul-brtul mendapatkan laporan keuangan yang
dapat diperbandingkan.
2) Menghitung
Dengan menggunakan berbagai metode dan tekhnik analisis dilakukan
perhitungan-perhitungan, baik metode perbandingan, persentase
perkomponen, analisis rasio keuangan, dan lain-lain. Dengan metode atau
tekhnik apa yang akan digunakan dalam perhitungan sangat bergantung
pada tujuan analisis.
3) Membandingkan atau mengukur
Langkah berikutnya setelah melakukan perhitungan adalah
membandingkan atau mengukur. Langkah ini diperlukan guna mengetahui
kondisi hasil perhitungan tersebut apakah sangat baik, baik, sedang, kurang
baik, dan seterusnya.
4) Menginterprestasi
Interprestasi merupakan inti dari proses analisis sebagai perpaduan antara
hasil pembandingan/pengukuran dengan kaidah teoritis yang berlaku. Hasil
interprestasi mencerminkan keberhasilan maupun permasalahan apa yang
ingin dicapai perusahaan dalam pengelolaan keuangan
5) Solusi
Langkah terakhir dari rangkaian prosedur analisis. Dengan memahami
problem keuangan yang dihadapi perusahaan akan menempuh solusi yang
tepat.

Tahapan-Tahapan dalam menganalisis kinerja Keuangan


Menurut Fahmi (2017:2) ada 5 tahap dalam menganalisis kinerja keuangan
perusahaan yaitu :

  1. Melakukan review terhadap data laporan keuangan Review dilakukan
    dengan tujuan agar laporan keuangan yang sudah dibuat tersebut sesuai
    dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam dunia
    akuntansi, sehingga dengan demikian hasil laporan keuangan tersebut dapat
    dipertanggungjawabkan.
  2. Melakukan perhitungan Penerapaan metode perhitungan disini yaitu
    disesuaikan kondisi dan permasalahan yang sedang dialami, sehingga hasil
    dari perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan yang sesuai
    dengan analisis yang di inginkan.
  3. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh Dari
    hasil perhitungan yang sesuai diperoleh tersebut kemudian dilakukan
    perbandingan dengan hasil perhitungan berbagai perusahaan lainnya.
    Metode yang paling umum dipergunakan untuk perbandingan ada dua yaitu:
    a. Time series analysis
    b. Cross sectional aproach
  4. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan
    yang ditemukan. Pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan
    perusahaan dan dilakukan penafsiran untuk melihat apa saja kendalakendala dan permasalahan yang dialami perusahaan tersebut.
  5. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap
    permasalahan yang ditemukan Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan
    berbagai permasalahan yang dihadapi maka dicarikan solusi sebagai
    masukan kepada perusahaan

Faktor faktor yang mempengaruhi kinerja Keuangan


Adapun faktor faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan adalah sebagai
berikut (Sujarweni, 2017) :
a) Pegawai, berkaitan dengan kemampuan dan kemajuan dalam bekerja.
b) Pekerjaan, menyangkut desain pekerjaan, uraian pekerjaan dan sumber daya
untuk melaksanakan pekerjaan.
c) Mekanisme kerja, mencakup sistem, prosedur pendelegasian dan
pengendalian serta struktur organisasi.
d) Lingkungan kerja, meliputi faktor faktor lokasi dan kondisi kerja, iklim
organisasi dan komunikasi.

Tujuan dan Manfaat Pengukuran Kinerja Keuangan


Setiap perusahaan harus mengukur kinerja keuangan perusahaanya. Adapun
tujuan dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan salah satunya adalah untuk
melihat perkembangan kinerja keuangan perusahaandan faktor yang menyebabkan
kinerja keuangan perusahaan meningkat atau menurun.
Menurut Munawir (2015:31) pengukuran kinerja keuangan perusahaan
mempunyai beberapa tujuan diantaranya :
1) Untuk mengetahui tingkat likuiditas yaitu kemampuan suatu perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang segera harus dipenuhi, atau
kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan saat ditagih.
2) Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan suatu perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuntungannya apabila perusahaan tersebut di
likuiditaskan, baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun keuangan
jangka panjang.
3) Untuk mengetahui tingkat profitabilitas yaitu suatu kemampuan perusahaan
menghasilkan laba pada periode tertentu.
4) Untuk mengetahui stabilitas usaha yaitu : kemampuan perusahaan untuk
melakukan usahanya dengan stabil yang diukur dengan mempertinggalkan
kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga atas hutang – hutang
tersebut tepat pada waktunya.
Sementara itu, menurut Rusmanto (2011: 621) dalam Ridhawati (2014)
perkiraan kinerja keuangan berencana untuk:
1) Menyampaikan data yang berharga dalam pilihan penting tentang sumber
daya untuk digunakan dan mendorong pimpinan untuk menetapkan pilihan
yang melayani kepentingan perusahaan
2) Memperkirakan kinerja unit usaha sebagai elemen perjuangan
3) Yang akan terjadi, estimasi kinerja digunakan sebagai alasan untuk
mensurvei kemungkinan perubahan aset keuangan yang mungkin
dikendalikan di kemudian hari.
Tak terhitung banyaknya pertemuan-pertemuan yang berhubungan dengan
suatu perusahaan tertentu yang membutuhkan data yang mendukung kepentingan
setiap pertemuan tersebut yang disampaikan oleh pembukuan sebagai rangkuman
anggaran perusahaan dan data lainnya. ini adalah pertemuan yang memanfaatkan
data tentang pelaksanaan keuangan perusahaan menurut Rudianto (2013:216).

Kinerja Keuangan


Kinerja adalah gambaran mengenai kemampuan atau tingkat pencapaian
perusahaan dal am mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang telah
tertuang dalam strategic planning perusahaan (Wahyuningsih & Widowati, 2016).
Kinerja perusahaan dapat dilihat dari berbagai aspek, yang paling mendasar dapat
dilihat dari aspek keuangan dan juga aspek non-keuangan. Laporan keuangan
merupakan aspek keuangan. Sedangkan kepuasan pelanggan, perkerja dan
perkembangan aktivitas bisnis perusahaan adalah aspek non keuangan
(Yulianingtyas, 2016).
Menurut Sutrisno (2009) dalam Hutabarat (2020) kinerja keuangan
perusahaan merupakan prestasi yang telah dicapai perusahaan dalam periode
tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut. Kinerja
Keuangan adalah kinerja manajemen, yang merupakan perluasan nilai keuangan
dan diperkirakan manfaatnya. Konsekuensi dari memperkirakan penanda keuangan
sangat penting sehingga mitra dapat memahami status fungsional perusahaan dan
tingkat pencapaian perusahaan.
Kinerja keuangan merupakan indikator dalam mengevaluasi dan mengukur
kondisi keuangan perusahaan melalui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba (Pang et al., 2020). Kinerja keuangan perusahaan yang stabil merupakan daya
tarik bagi investor untuk menginvestasikan modal pada perusahaan, sehingga
menjaga kestabilan kinerja keuangan menjadi salah satu tujuan yang harus dicapai
perusahaan. Kinerja keuangan dapat ditunjukkan melalui laporan keuangan.
Informasi yang diungkapkan perusahaan pada laporan keuangan merupakan
perwujudan tanggung jawab manajemen kepada pemilik perusahaan dan sebagai
indikator keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan, serta sebagai bahan
dalam pertimbangan pengambilan keputusan bagi para pemangku kepentingan
(Wijaya, 2017).
Menurut Hery (2016:13) kinerja keuangan merupakan suatu usaha formal
untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba
dan posisi kas tertentu. Dengan pengukuran kinerja keuangan dapat dilihat prospek
pertumbuhan dan perkembangan keuangan perusahaan dari mengandalkan sumber
daya yang dimilikinya. Perusahaan dikatakan berhasil apabila perusahaan telah
mencapai suatu kinerja tertentu yang telah ditetapkan.
Menurut Bastian (Handayani, 2013:6), kinerja adalah penggambaran suatu
tingkatan. Menyelesaikan pelaksanaan kegiatan/program/pendekatan untuk
memahami tujuan, tujuan, misi, dan visi perhimpunan yang dituangkan dalam
penyempurnaan rencana strategisnperusahaan (strategic plan).
Menurut Fahmi (2017:2), kinerja perusahaan merupakan suatu analisis yang
dilakukan guna mengetahui sejauh mana perusahaan sudah melaksanakan aturan
yang sudah ditetapkan terkait dengan penggunaan keuangan secara tepat dan benar.
Seperti dengan membuat suatu laporan yang telah memenuhi standar dan ketentuan
dalam SAK (Standar Akuntansi Keuangan) atau GAAP (General Acepted
Accounting Principle), dan lainnya.

Keunggulan dan Manfaat Balanced Scorecard


Balanced scorecard merupakan sistem pengukuran kinerja yang cocok
digunakan dalam manajemen kontemporer yang memanfaatkan teknologi
informasi dalam bisnis. Teknologi informasi tidak menentukan apa yang harus
dikerjakan pekerja, tetapi teknologi ini menyediakan kebebasan dan kemudahan
bagi pemakainya untuk mewujudkan kreativitasnya.
Moeheriono (2012:93), mengungkapkan sistem manajemen stratejik
berbasis balanced scorecard merupakan sistem manajemen stratejik yang didesain
Hasil
Kepuasan Kerja
Retensi Pekerja Produktifitas Kerja
Kompensasi Staff Infrastruktur Iklim Untuk Bertindak
untuk memperlakukan karyawan sebagai manusia dan memiliki empat
keunggulan, yaitu:

  1. Memotivasi personel untuk berpikir dan bertindak strategik dalam
    membangun masa depan perusahaan.
  2. Meningkatkan kemampuan perusahaan dalam melakukan tren perubahan
    lingkungan bisnis.
  3. Meningkatkan daya respons perusahaan terhadap tren perubahan
    lingkungan bisnis.
  4. Menghasilkan total business plan yang menyediakan dua macam aktivitas
    nilai, yaitu long range value creating activities dan short range value
    creating activities.
    Sedangkan menurut Rivai (2013:628), balanced scorecard memiliki
    keunggulan sebagai berikut: (1) mensinergikan strategi dengan indikator kunci di
    semua lini organisasi, (2) mengukur serta mengatur kinerja bisnis lebih efektif, (3)
    memudahkan feedback dan komunikasi strategis.
    Konsep balanced scorecard yang merupakan satu konsep pengukuran
    kinerja yang memberikan kerangka komprehensif untuk menjabarkan visi ke
    dalam sasaran-sasaran stratejik dengan menggunakan empat perspektif yang satu
    sama lainnya saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

Penyusunan Balanced Scorecard


Robert Simons dalam tunggal (2009:23) memberikan lima langkah dalam
membangun suatu balanced scorecard, antara lain :

  1. Mengembangkan tujuan/sasaran (goal) dan tolok ukur (measures) untuk
    variable kinerja keuangan yang kritikal.
  2. Mengembangkan tujuan dan tolok ukur untuk variable kinerja pelanggan
    yang kritikal.
  3. Mengembangkan tujuan dan tolok ukur untuk variable kinerja proses
    bisnis internal yang kritikal.
  4. Mengembangkan tujuan dan tolok ukur untuk variable kinerja
    pembelajaran dan pertumbuhan yang kritikal.
  5. Menggunakan balanced scorecard untuk mengkomunikasikan strategi.

Pengertian Balanced Scorecard


Maksud dari balanced scorecard adalah mengusulkan penciptaan suatu
daftar tolok ukur, finansial dan nonfinansial. Melalui mana perusahaan dapat
mengendalikan operasinya dan mengaitkan atau menyeimbangkannya secara
bersamaan karena balanced scorecard memfokuskan pada proses dan
memerlukan penggunaan informasi berbasis aktivitas untuk menerapkan banyak
tujuan dan tolak ukurnya dalam mengawasi kinerja jangka pendek maupun jangka
panjang.
Balanced scorecard merupakan suatu sistem manajemen strategik yang
secara komprehensif dapat memberikan pemahaman tentang kinerja suatu
organisasi dengan menjabarkan visi dan strateginya kedalam tujuan operasional.
Sistem manajemen tersebut memandang unit organisasi dari 4 (empat) perspektif,
yaitu : perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis
internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
Balanced scorecard melengkapi pengukuran finansial dan kinerja masa lalu
dengan pengukuran penggerak kinerja masa depan. Pengukuran menjadi suatu hal
vital sebelum melakukan evaluasi atau pengendalian terhadap suatu objek yang
dalam balanced scorecard diturunkan dari visi dan strategi perusahaan. Menurut
Tunggal (2009 : 2), mengemukakan bahwa :
“Balance scorecard merupakan suatu sistem manajemen (dan bukan
sekedar sistem pengukuran) yang memungkinkan perusahaan memperjelas
strategi mereka, menerjemahkan strategi menjadi tindakan dan
menghasilkan umpan balik yang bermanfaat”.
Sistem ini menghasilkan umpan balik atas proses bisnis internal dan hasil
eksternal agar secara terus-menerus dapat menyempurnakan kinerja dan hasil
strategis. Ketika digunakan secara penuh, balance scorecard ditujukan untuk
mengubah rencana strategis dari tindakan manajemen puncak yang dilakukan
terpisah menjadi pusat dari suatu perusahaan.
Balanced scorecard merupakan powerfull tool dalam perencanaan strategik
dan sebagai alat perencanaan. balanced scorecard harus memiliki isi, berupa
pengetahuan manajemen (management knowledge) yang bisa diimplementasikan
dalam pengelolaan suatu perusahaan (Moeheriono, 2012:89).

Konsep, Sejarah dan Perkembangan Balanced Scorecard


Pertama kali balanced scorecard dipopulerkan oleh Robert S. Kaplan,
seorang guru besar (professor) dari Harvard Business School dan David P. Norton
dari Kantor Akuntan Publik KPMG (Amerika Serikat). Kedua orang tersebut
berkolaborasi dari seorang dosen perguruan tinggi dan seorang praktisi ilmu
keuangan. Pada tahun 1990-an, Nolan Norton Institute bagian riset kantor akuntan
publik KPMG di USA yang dipimpin olah David P. Norton telah mensponsori
studi penelitian tentang : “Pengukuran kinerja dalam organisasi masa depan” pada
12 perusahaan terkenal di AS yang menjadi objek penelitiannya. Studi ini
didorong oleh kesadaran pada waktu itu ukuran kinerja keuangan yang digunakan
oleh semua perusahaan untuk mengukur kinerja eksekutif tidak lagi memadai.
Balanced Scorecard telah dimanfaatkan banyak perusahaan untuk
menyeimbangkan usaha dan perhatian eksekutif pada kinerja keuangan dan
nonkeuangan, pada kinerja jangka pendek dan kinerja jangka panjang. Hasil studi
tersebut telah diterbitkan dalam sebuah artikel yang berjudul “Balanced
Scorecard-Measures That Drive Performance” dalam Harvard Business Review
(Januari-Februari 1992). Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa untuk
mengukur kinerja eksekutif di masa yang akan datang dalam perusahaanperusahaan modern di dunia, diperlukan ukuran komprehensif yang mencakup 4
(empat) perspektif : perspektif keuangan (finance), perspektif pelanggan
(customer), perspektif proses (process), serta perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan (learning and growth).
Balanced scorecard berkembang sejalan dengan perkembangan
implementasi dari konsep tersebut. Oleh karenanya, balanced scorecard
dipandang cukup komprehensif untuk memotivasi para eksekutif dalam
mewujudkan kinerja mereka yang bersifat berkesinambungan (sustainable).
Berdasarkan konsep balanced scorecard, kinerja keuangan yang dihasilkan oleh
para eksekutif merupakan akibat diwujudkannya kinerja dalam memuaskan
kebutuhan customer, pelaksanaan proses yang produktif dan cost-effective, serta
pembangunan personel yang lebih produktif dan berkomitmen.
Pada awal implementasi balanced scorecard merupakan alat manajemen
kontemporer yang didesain untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam
melipatgandakan kinerja keuangan yang hasilnya sangat luar biasa secara
berkesinambungan (sustainable outstanding financial performance). Keberhasilan
ini didasari sebagai akibat dari penggunaan ukuran kinerja balanced scorecard
yang komprehensif. Dengan menambah ukuran kinerja nonkeuangan, eksekutif
dipacu untuk memperlihatkan dan melaksanakan usaha usaha yang merupakan
pemacu sesungguhnya untuk mewujudkan kinerja keuangan.

Karakteristik dalam Pengukuran Kinerja


Menurut Gaspersz (2011:181), karakteristik yang biasa digunakan oleh
organisasi kelas dunia dalam menerapkan balanced scorecard untuk
mengevaluasi sistem pengukuran kinerja mereka adalah:

  1. Biaya yang dikeluarkan untuk pengukuran kinerja tidak lebih besar
    daripada manfaat yang diterima.
  2. Pengukuran harus dimulai pada permulaan program balanced scorecard.
    Berbagai masalah yang berkaitan dengan kinerja beserta kesempatankesempatan untuk meningkakannya harus dirumuskan secara jelas.
  3. Pengukuran harus terkait langsung dengan tujuan-tujuan strategis yang
    dirumuskan kisi strategis dan harus memiliki paling sedikit satu
    pengukuran.
  4. Pengukuran harus sederhana serta memunculkan data yang mudah untuk
    digunakan, mudah dipahami, dan mudah melaporkannya.
  5. Pengukuran harus dapat diulang terus-menerus, sehingga dapat
    diperbandingkan.
  6. Pengukuran harus dilakukan pada sistem secara keseluruhan, yang menjadi
    ruang lingkup balanced scorecard.
  7. Pengukuran harus dapat digunakan untuk menetapkan target, mengarah ke
    peningkatan kinerja di masa mendatang.
  8. Ukuran-ukuran kinerja dalam program balanced scorecard yang diukur itu
    seharusnya telah dipahami secara jelas oleh semua individu yang terlibat.
  9. Pengukuran seharusnya melibatkan semua individu yang berada dalam
    proses terlibat dengan program balanced scorecard.
  10. Pengukuran harus akurat, dapat diandalkan, dapat diverifikasi sehingga
    dapat diterima dan dipercaya sebagai sahih (valid) oleh mereka yang akan
    menggunakannya.
  11. Pengukuran harus berfokus pada tindakan korektif dan peningkatan, bukan
    sekadar pada pemantau (monitoring) atau pengendalian

Tujuan dan Manfaat Pengukuran kinerja


Tujuan pengukuran kinerja adalah untuk menghasilkan data yang kemudian
apabila data tersebut dianalisis secara tepat akan memberikan informasi yang
akurat bagi manajemen dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan
kinerja perusahaan.
Sedangkan manfaat sistem pengukuran kinerja yang baik menurut Yuwono
(2008:29) adalah :

  1. Menelusuri kinerja terhadap harapan pelanggan sehingga akan membawa
    perusahaan lebih dekat pada pelanggannya dan membuat seluruh orang
    yang dalam organisasi terlibat dalam upaya memberikan kepuasan
    pelanggan.
  2. Memotivasi pegawai untuk melakukan pelayanan sebagai mata rantai
    pelanggan dan pemasok internal.
  3. Mengidentifikasi berbagai pemborosan sekaligus mendorong upaya-upaya
    pengurangan terhadap pemborosan tersebut (reduction of waste).
  4. Membuat tujuan strategis yang biasanya masih kabur menjadi lebih
    konkret sehingga mempercepat proses pembelajaran organisasi.
  5. Membangun konsensus untuk melakukan suatu perubahan dengan
    memberi “reward” atas perilaku yang diharapkan tersebut.

Pengertian Pengukuran Kinerja


Keberhasilan pencapaian strategi perlu diukur, karena pengukuran
merupakan aspek kunci dari manajemen kinerja atas dasar bahwa apabila tidak
diukur maka tidak akan dapat meningkatkannya (Dharma, 2012:93). Oleh karena
itu sasaran strategik yang menjadi basis pengukuran kinerja perlu ditentukan
ukurannya, dan ditentukan inisiatif strategik untuk mewujudkan sasaran tersebut.
Sasaran strategik beserta ukurannya kemudian digunakan untuk menetukan target
yang akan dijadikan basis penilaian kinerja, untuk menentukan penghargaan yang
akan diberikan kepada personel, tim atau unit organisasi.
Menurut Whittaker dalam Moeheriono (2012:72), pengukuran kinerja
merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk meningkatkan kualitas
pengambilan keputusan dan akuntabilitas, serta untuk menilai pencapaian tujuan
dan sasaran (goal sand objectives).
Sedangkan menurut Moeheriono (2012:96), pengukuran kinerja
(performance measurement) mempunyai pengertian suatu proses penilaian tentang
kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran dalam pengelolaan sumber daya
manusia untuk menghasilkan barang dan jasa, termasuk informasi atas efisiensi
serta efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan organisasi.
Dengan demikian dibutuhkan suatu pengukuran kinerja yang dapat
digunakan sebagai landasan untuk menilai kemajuan yang telah dicapai
dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan, sekaligus sebagai alat
komunikasi dan alat manajemen untuk memperbaiki kinerja organisasi.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan
bahwa pengukuran kinerja merupakan proses penilaian tentang kemajuan
pekerjaan yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
organisasi sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing dalam
upaya mencapai tujuan organisasi.
Namun, pengukuran kinerja sangat bergantung dengan indikator kinerja
yang digunakan. Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang
telah disepakati dan ditetapkan, yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu
sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Indikator kinerja harus merupakan
sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk
menilai atau melihat tingkat kinerja, baik dalam tahap perencanaan, tahp
pelaksanaan maupun tahap setelah kegiatan selesai dan berfungsi.

Perspektif Pembelajaran Dan Pertumbuhan


Proses pembelajaran dan pertumbuhan ini bersumber dari faktor sumber
daya manusia, sistem, dan prosedur organisasi. Perspektif pertumbuhan dan
pembelajaran merupakan fondasi keberhasilan bagi knowladge worker
organization dengan tetap mempertahankan faktor sistem dalam organisasi.
Dalam organisasi knowledge-worker, manusia adalah sumber daya utama
(yuwono. 2007).
Dalam perspektif ini, perusahaan melihat tolak ukur pada beberapa hal
berikut:

  1. Employee capabilities, yaitu bagaimana peran pegawai di organisasi.
    Perencanaan dan upaya implementasi re-skilling pegawai yang
    menjamin kecerdasan dan re-aktivitasnya dapat dimobilisasi untuk
    mencapai tujuan organisasi.
  2. Information systems capabilities, dengan kemampuan sistem informasi
    yang memadai, kebutuhan seluruh tingkatan manajemen dan pegawai
    atas informasi yang akurat dan tepat waktu dapat dipenuhi dengan
    sebaik-baiknya.
  3. Motivation, empowerment, and alignment, perspektif ini penting untuk
    menjamin adanya proses yang berkesinambungan antara upaya
    pemberian motivasi dan inisiatif yang besar dari pegawai. Paradigma
    manajemen terbaru menjelaskan bahwa proses pembelajaran penting
    bagi pegawai untuk melakukan trial and error sehingga turbulensi
    lingkungan mulai dikenali, dan tidak saja dikenali oleh jenjang
    manajemen strategis tetapi juga segenap pegawai di dalam organisasi
    sesuai kompotensinya masing-masing.upaya tersebut memerlukan
    dukungan motivasi yang besar dan pemberdayaan pegawai berupa
    delegasi wewenangyang memadai untuk pengambilan keputusan.

Perspektif Proses Bisnis Internal


Analisis proses bisnis internal perusahaan dilakukan dengan menggunakan
analisis value-chain. manajemen mengidentifikasi proses internal bisnis yang
kritis yang harus diunggulkan perusahaan. scorecard dalam perspektif ini
memungkinkan para manajer untuk mengetahui seberapa baik bisnis mereka
berjalan dan apakah produk dan atau jasa mereka sesuai dengan perspektif
pelanggan (Yuwono, 2007).
Menurut Kaplan dan Norton dalam membagi proses bisnis internal ke
dalam beberapa proses, sebagai berikut (Yuwono, 2007) :

  1. Proses inovasi, dalam proses ini unit bisnis menggali pemahaman
    mengenai kebutuhan laten dari pelanggan dan menciptakan produk dan
    jasa yang dibutuhkan konsumen. Proses inovasi dalam perusahaan
    biasanya dilakukan oleh bagian research and development, sehingga setiap
    keputusan pengeluaran suatu produk ke pasar telah memenuhi syarat
    pemasaran dan dapat dipasarkan.
  2. Proses operasi, adalah proses untuk membuat dan menyampaikan prosuk
    atau jasa. Aktivitas di dalam proses operasi terbagi ke dalam dua bagian
    yaitu proses pembuatan produk dan proses penyampaian produk kepada
    pelanggan. Pengukuran kinerja yang terkait dalam proses operasi
    dikelompokkan pada waktu, kualitas, dan biaya.
  3. Proses pelayanan purna jual, proses ini merupakan jasa pelayanan pada
    pelanggan setelah penjualan produk atau jasa tersebut dilakukan. Aktivitas
    yang terjadi dalam tahap ini, misalnya penanganan garansi dan perbaikan
    penanganan atas barang rusak dan dikembalikan serta pemrosesan
    pembayaran pelanggan. Untuk siklus waktu, perusahaan dapat
    menggunakan pengukuran waktu dari saat keluhan pelanggan diterima
    hingga keluhan tersebut diselesaikan

Perspektif Pelanggan


Filofosi manajemen saat ini telah menunjukkan peningkatan pengakuan
atas pentingnya customer fokus dan customer satisfaction. perspektif ini
merupakan leading indicator. sehinggan ketika pelanggan tidak puas mereka akan
mencari produsen lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. kinerja yang buruk
dari perspektif ini akan menurunkan jumlah pelanggan di masa depan meskipun
saat ini kinerja keuangan terlihat baik (Yuwono, 2007). perspektif pelanggan
memiliki dau kelompok pengukuran yaitu:

  1. Costumer core measurement
    Costumer core measurement memiliki beberapa komponen pengukuran
    yaitu market share, customer retention, customer acquisition, customer
    satisfaction, dan customer profitability.
    a. Market Share, pengukuran ini mencerminkan bagian yang dikuasai
    perusahaan atas keseluruhan pasar yang ada, yang meliputi jumah
    pelanggan, jumlah penjualan, dan volume unit penjualan.
    b. Customer retention, mengukur tigkat di mana perusahaan dapat
    mempertahankan hubungan dengan konsumen.
    c. Customer acquisition, mengukur tingkat di mana suatu unit bisnis
    mampu menarik pelanggan baru atau memenangkan bisnis baru.
    d. Customer satisfiction, menaksir tingkat kepuasan pelanggan terkait
    dengan kriteria kinerja spesifik dalam value proposition.
    e. Customer profitability, mengukur laba bersih dari seorang
    pelanggan atau segmen setelah dikurangi biaya yang khusus
    diperlukan untuk pelanggan tersebut.
  2. Customer value proposition
    customer value proposition merupakan pemicu kinerja. core value
    proposition didasarkan pada atribut, sebagai berikut:
    a. Product service atribute, meliputi fungsi dari produk jasa, harga,
    dan kualitas. pelanggan memiliki preferensi yang berbeda-beda
    atas produk yang ditawarkan, yaitu mengutamakan fungsi dari
    produk, kualitas, atau harga yang murah. perusahaan harus
    mengidentifikasi apa yang diinginkan pelanggan atas produk yang
    ditawarkan.
    b. Customer relationship, yaitu menyangkut perasaan pelanggan
    terhadap proses pembelian produk yang ditawarkan perusahaan.
    perasaan konsumen ini sangat dipengaruhi oleh responsivitas dan
    komitmen perusahaan terhadap pelanggan berkaitan dengan
    masalah waktu penyampaian. waktu merupakan komponen yang
    penting dalam persaingan perusahaan. konsumen biasanya
    menggap penyelesaian order yang cepat dan tepat waktu sebaigai
    faktor yang penting bagi kepuasan konsumen.
    c. Image and reputation, yaitu menggambarkan faktor-faktor
    intangible yang menarik seorang konsumen untuk berhubungan
    dengan perusahaan. membangun image dan reputasi dapat
    dilakukan melalui iklan dan menjaga kualitas seperti yang
    dijanjikan

Konsep Balanced Scorecard


Pada awalnya Balanced Scorecard menjadi alat manajemen kontemporer
yang digunakan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam melipatgandakan
kinerja keuangan. Pada dasarnya, organisasi adalah institusi pencipta kekayaan,
penggunaan Balanced Scorecard dalam mengelola menjanjikan peningkatan yang
signifikan atas kemampuan organisasi dalam menciptakan kekayaan. Balanced
Scorecard juga memperhatikan aspek-aspek non keuangan dalam penilaian
kinerja. Balanced Scorecard juga memperhatian unsur intangible asset dalam
penilaian kinerja keuangan. (Rudianto, 2013).
Balanced Scorecard adalah suatu mekanisme sistem manajemen yang
mampu menerjemahkan visi dan strategi organisasi ke dalam tindakan nyata di
lapangan. Balanced Scorecard adalah salah satu alat manajemen yang terbukti
telah membentuk banyak perusahaan dalam mengimplementasikan strategi
bisnisnya. (Rudianto, 2013).
Menurut Mulyadi (2011) Balanced Scorecard terdiri atas dua kata, yaitu
kartu skor (scorecard) dan berimbang (balanced). Pada kartu skor yaitu
digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja eksekutif, dimana skor yang hendak
diwujudkan eksekutif di masa depan dibandingkan dengan hasil kinerja
sesungguhnya. Kata berimbang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kinerja
eksekutif diukur secara berimbang dari dua perspektif, yaitu keuangan dan
nonkeuangan, jangka pendek dan jangka panjang, internal dan eksternal.

Faktor yang mempengaruhi Kinerja


Menurut Mahsun (2006) dari berbagai literatur secara umum disarikan
kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi
organisasi yang tertuang dalam perencanaan strategis suatu organisasi.
Sedangkan menurut Mahmudi (2010) kinerja diartikan sebagai suatu
konstruksi yang bersifat Multidimensional dan pengukurannya sangat bergantung
pada kompleksitas faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhinya, antara
lain:

  1. Faktor personal/individu, meliputi: pengetahuan, skill, kepercayaan diri,
    motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu.
  2. Faktor kepemimpinan, meliputi: kualitas dalam memberikan dorongan,
    semangat, arahan dan dukungan yang diberikan oleh manager atau
    teamleader.
  3. Faktor tim, meliputi: kualitas dan semangat yang diberikan oleh rekan
    dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim,
    kekompakkan dan keeratan anggota tim.
  4. Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur
    yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi dan kultur kinerja
    organisasi.
  5. Faktor kontekstual/situasional, meliputi: tekanan dan perubahan
    lingkungan eksternal dan internal organisasi.

Manfaat Pengukuran Kinerja


Menurut Rudianto (2013), manfaat pengukuran kinerja yaitu:

  1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui
    pemotivasian karyawan secara maksimal.
  2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan
    karyawan, seperti promosi, transfer, dan pemberhentian.
  3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan
    karyawan serta untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi
    program pelatihan karyawan.
  4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana
    atasan menilai kinerjanya.
  5. Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan

Laporan Keuangan


Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang
menggambarkan kondisi suatu perusahaan, dimana selanjutnya itu akan
menjadi suatu informasi yang menggambarkan tentang kinerja suatu
perusahaan. Laporan keuangan merupakan informasi yang diharapkan
mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat
keputusan ekonomi yang bersifat finansial.
Lebih lanjut Munawir mengatakan laporan keuangan merupakan
alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan
dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh
perusahaan yang bersangkutan. Dengan begitu laporan keuangan
diharapkan akan membantu bagi para pengguna untuk membuat
keputusan ekonomi yang bersifat finansial.

Kinerja Keuangan


Menurut Fahmi (2014), kinerja keuangan adalah suatu analisis
yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan
secara baik dan benar. Seperti dengan membuat suatu laporan keuangan
yang telah memenuhi standar dan ketentuan dalam SAK (standar
akuntansi keuangan) atau GAAP (general accepted accounting
principle).
Kinerja keuangan perusahaan adalah faktor yang sangat penting
yang harus dilihat oleh calon investmen untuk menentukan berapa besar
nilai investasi saham yang akan ditanamkan. Bagi setiap perusahaan,
menjaga serta mampu meningkatkan kinerja keuangan merupakan suatu
kewajiban agar saham-saham yang beredar tersebut masih tetap diminati
oleh para investor. Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh sebuah
perusahaan adalah sebuah contoh dari kinerja keuangan perusahaan

Keunikan e-commerce


Menurut Traver dan Laundon (2014) delapan identitas yang unik dari
penggunaan teknologi e-commerce yaitu terdiri dari:
1) Ubiquity
E-commerce merupakan teknologi yang selalu tersedia dimanapun dan
kapanpun. Hal inilah yang membedakan dengan perdagangan secara
tradisional yang lebih mengacu dengan adanya tempat yang berwujud fisik
untuk dikunjungi pada saat melakukan transaksi
2) Global Reach
Dengan e-commerce memungkinkan terjadinya transaksi lintas budaya, tidak
ada batasan wilayah regional dan nasional dengan biaya efisiensi biaya jika
dibandingkan dengan perdagangan secara tradisional.
3) Universal Standards
E-commerce bersifat universal. Hal ini tentunya sangat berbeda dengan
perdagangan secara tradisional dimana akan berbeda-beda antara satu negara
dengan negara lain.
4) Richness
Informasi yang tersedia do dalam e-commerce lebih kompleks dan lebih
bervarasi secara kontennya jika dibandingkan dengan perdagangan secara
tradisional.
5) Interactivity
Teknologi yang tersedia memungkinkan untuk melakukan komunikasi
interaksi antara penjual dan konsumen
6) Information Density
Teknologi yang tersedia menekan biaya proses, penyimpanan dan komunikasi
serta meningkatkan kualitas dari informasi yang tersedia baik dari segi
jumlahnya, ketepatan waktunya, dan akurasinya
7) Personalization dan customization
Teknologi yang tersedia memungkinkan mempersonalisasikan pesan yang
disampaikan kepada individu maupun grup. Pesan-pesan marketing kepada
individu yang spesifik dapat dilakukan dengan melakukan penyesuaian pesan
terhadap nama, keinginan, dan riwayat pembelian terdahulu dari suatu
individu.
8) Social Technology
E-commerce mengembangkan penggunanya untuk lebih sosial dengan
menyediakan penggunaan untuk menciptakan dan berbagi isi informasi
dengan komunitas dunia maya.

Manfaat E-commerce


Manfaat yang dapat diperoleh dari e-commerce bagi organisasi menurut
Suyanto (2003:50) adalah :

  1. Memperluas market place hingga ke pasar nasional dan international.
  2. Menurunkan biaya pembuatan, pemrosesan, pendistribusian, penyimpanan
    dan pencarian informasi yang menggunakan kertas.
  3. Memungkinkan pengurangan inventory dan overhead dengan
    menyederhanakan supply chain dan management tipe “pull”.
  4. Mengurangi waktu antara outlay modal dan penerimaan produk dan jasa.
  5. Mendukung upaya-upaya business process reengineering.

Pengertian E-commerce


Menurut Kotler et al (2012:460) pengertian e-commerce adalah penggunaan
website untuk bertransaksi atau memfasilitasi penjualan produk dan jasa secara
online dapat juga dijadikan alat untuk membeli dan menjual produk atau jasa
melalui internet dengan menggunakan sistem komputer untuk meningkatkan
efisiensi perusahaan secara keseluruhan.
Menurut Shelly Cashman (2007:83) e-commerce adalah transaksi bisnis
dengan menggunakan jaringan elektronik, seperti internet. Pengguna siapapun
yang mempunyai akses ke komputer, dapat terhubung ke internet, dan mengetahui
cara membayar saat melakukan transaksi sudah dapat dikatakan telah
berpartisipasi dalam e-commerce.

Manfaat Sistem Informasi Akuntansi


Adapun manfaat penggunaan sistem informasi akuntansi sebagai pengolah
transaksi (transaction processing) dan pengolah informasi (information
processing) adalah sebagai berikut:

  1. Pemrosesan Transaksi
    Transaksi memungkinkan perusahaan melakukan operasi, menyelenggarakan
    arsip dan catatan up on date, dan mencerminkan aktivitas organisasi.
    Transaksi akuntansi merupakan transaksi pertukaran yang mempunyai nilai
    ekonomis. Tipe transaksi dasar adalah : (1) transaksi penjualan baik produk
    maupun jasa, (2) transaksi pembelian bahan baku, barang dagang, jasa, dan
    aset tetap dari suplier, (3) penerimaan kas, (4) pengeluaran kas kepada
    suplier, dan (5) pengeluaran kas untuk penggajian karyawan. Sebagai
    pengolah suatu transaksi, SIA memilik peran yaitu mengatur serta
    mengoperasionalkan seluruh aktivitas transaksi perusahaan.
  2. Pengolahan Transaksi
    Tujuan kedua sistem informasi akuntansi adalah sebagai penyedia informasi
    yang dibutuhkan di dalam pengambilan keputusan yang dilaksanakan oleh
    aktivitas yang disebut pemrosesan transaksi. Sebagian keluaran yang
    diperlukan oleh pemrosesan transaksi disediakan oleh sistem pemrosesan
    transaksi. Tetapi sebagian besar didapatkan dari sumber lain, sumber tersebut
    bisa dari dalam perusahaan ataupun dari luar perusahaan. Pengguna utama
    pemrosesan transaksi adalah manajer perusahaan. Mereka mempunyai
    tanggung jawab pokok untuk mengambil keputusan yang berkenaan dengan
    perencanaan dan pengendalian operasi perusahaan. Pengguna output lainnya
    yaitu seperti para karyawan penting antara lain akuntan, insinyur, serta pihak
    luar seperti investor dan kreditor

Tujuan Sistem Informasi Akuntansi


Menurut Midjan dan Susanto (2001: 137) sistem informasi akuntansi
memiliki tujuan yaitu sebagai berikut:

  1. Guna meningkatkan kualitas dari informasi, dengan menggunakan sistem
    informasi akuntansi maka akan memperoleh informasi yang tepat, lengkap,
    andal, cepat, dan sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.
  2. Untuk meningkatkan kualitas internal cek atau sistem pengendalian intern, ini
    berarti bahwa sistem informasi akuntansi yang disusun harus juga
    mengandung kegiatan sistem pengendalian internal.
  3. Untuk dapat menekan biaya-biaya administrasi atau tata usaha, artinya bahwa
    tata usaha untuk sistem informasi akuntansi harus seefisien mungkin dan
    harus jauh lebih murah dari manfaat yang akan diperoleh dari penyusunan
    sistem akuntansi.

Komponen Sistem Informasi Akuntansi


Menurut Romney dan Steinbart (2015:11) menyatakan bahwa, lima
komponen pada sistem informasi akuntansi terdiri dari:
1) Pengguna (User)
Orang yang menggunakan adalah merupakan pihak yang berperan sebagai
operator pada penggunaan sistem atau dapat dikatakan sebagai pengendali
dan melaksanakan sebagai fungsi.
2) Prosedur dan instruksi
Prosedur merupakan suatu kegiatan baik proses manual maupun telah
terkomputerisasi, yang kegiatannya terdiri dari proses pengumpulan,
memprosesan, dan penyimpanan data mengenai aktivitas atau transaksi
perusahaan.
3) Data
Data adalah berupa fakta serta angka ataupun simbol yang belum mengalami
pengolahan dan akan menjadi bahan masukan atau input pada sistem
informasi akuntansi
4) Perangkat Lunak
Perangkat lunak adalah suatu program yang digunakan dalam pemrosesan
atau penglolahan data yang sudah terkomputerisasi, dimana akan memberikan
kemudahan dalam kegiatan operasional perusahaan.
5) Infrastruktur teknologi Informasi
Infrastruktur teknologi informasi adalah komponen dari perangkat keras yang
digunakan untuk melengkapi dalam kegiatan input data, memprosesan data,
dan output data. Seperti komputer, perangkat periferal, dan perangkat
jaringan komunikasi yang digunakan dalam SIA
6) Adanya pengendalian internal dan pengukuran pada tingkat keamanan dalam
penyimpanan data

Pengertian Profitabilitas


Menurut Harahap (2008:219) profitabilitas merupakan kemampuan
perusahaan dalam rangka mendapatkan keuntungan melalui kemampuan dari
seluruh sumber daya yang dimiliki seperti aktivitas penjualan, kas, modal, jumlah
pegawai atau karyawan, jumlah cabang dan lainnya.
Munawir (2004:33) mendefinisikan profitabilitas adalah kemampuan suatu
perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan pada periode tertentu.
Menurut Brigham dan Houston (2006:107) profitabilitas adalah hasil bersih
dari berbagai rangkaian kebijakan serta keputusan profitabilitas dapat ditetapkan
dengan perhitungan melalui tolak ukur yang relevan. Salah satu tolak ukur yang
dimaksud yaitu rasio-rasio keuangan sebagai alat analisis kondisi keuangan, hasil
operasi dan tingkat profitabilitas perusahaan.

Tujuan Kinerja Keuangan


Adapun tujuan dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan menurut Munawir
(2002:31) adalah :

  1. Mengetahui tingkat likuiditas, likuiditas sendiri merupakan kemampuan suatu
    perusahaan di dalam memenuhi kewajiban keuangan yang akan jatuh tempo atau
    kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan.
  2. Mengetahui tingkat solvabilitas, solvabilitas sendiri adalah kemampuan suatu
    perusahaan di dalam memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan
    tersebut dilikuidasi baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun keuangan
    jangka panjang.
  3. Mengetahui tingkat profitabilitas, profitabilitas sendiri yaitu kemampuan suatu
    perusahaan didalam hal menghasilkan laba pada suatu periode tertentu.
  4. Mengetahui stabilitas usaha, stabilitas usaha merupakan kemampuan dari suatu
    perusahaan dalam menjalankan usahanya dengan stabil serta mempertimbangkan
    kemampuan perusahaan untuk membayar deviden secara teratur.

Pengukuran Kinerja Keuangan


Pengukuran kinerja keuangan dapat dijadikan bahan perbaikan atas kegiatan
operasional perusahaan supaya mampu bersaing dengan perusahaan lainnya.
Di dalam menilai kinerja keuangan pada suatu perusahaan terdapat beberapa
alat analisis. Jika dilihat dari tekniknya, macam-macam analisis keuangan dibagi
menjadi 8 macam (Jumingan (2006:242) antara lain:

  1. Analisis perbandingan laporan keuangan
    yaitu suatu teknik analisis yang dilakukan dengan cara membandingkan
    antara dua periode maupun lebih laporan keuangan dimana dengan
    menunjukkan adanya suatu perubahan, baik perubahan jumlah ataupun
    perubahan dalam hal persentase.
  2. Analisis tren
    merupakan teknik analisis yang dilakukan untuk mengetahui tendensi dari
    kondisi keuangan perusahaan apakah memperlihatkan suatu kenaikan atau
    sebaliknya.
  3. Analisis persentase per komponen (common size)
    yaitu teknik analisis guna mengetahui besarnya persentase investasi pada
    masing-masing aktiva terhadap keseluruhan atau total aktiva maupun utang
  4. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
    yaitu teknik analisis guna mengetahui seberapa besar sumber maupun
    penggunaan modal kerja dengan cara membandingkan dua periode waktu.
  5. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas
    Adalah suatu teknik analisis untuk mengetahui kondisi kas serta penyebab
    terjadinya perubahan pada kas dalam periode tertentu.
  6. Analisis Rasio Keuangan
    Adalah suatu teknik analisis keuangan guna mengetahui adanya hubungan
    antara pos tertentu di dalam neraca ataupun di dalam laporan laba rugi baik
    secara individu maupun secara simultan.
  7. Analisis Perubahan Laba Kotor
    Adalah teknik analisis guna mengetahui posisi profit serta beberapa penyebab
    pada perubahan profit.
  8. Analisis Break Even
    Adalah suatu teknik analisis guna mengetahui tingkat penjualan yang seharusnya
    dicapai supaya perusahaan tidak mengalami kerugian.

Pengertian Kinerja Keuangan


Menurut Sawir (2005:6) kinerja keuangan adalah penilaian terhadap keadaan
suatu keuangan yang menjadi gambaran performa perusahaan dengan dilakukan
analisis menggunakan beberapa tolak ukur seperti rasio dan indeks sehingga dua
data mempunyai hubungan antara data satu dengan data yang lain.
Definisi kinerja keuangan menurut Fahmi (2012:2) merupakan analisis guna
mengetahui tingkat keberhasilan suatu perusahaan yang berupa hasil yang sudah
dicapai dari segala macam aktivitas yang telah dilakukan sesuai dengan aturanaturan pelaksanaan keuangan
Menurut Mulyadi (2007:2) kinerja keuangan adalah penentuan efektifitas
operasional pada suatu organisasi dan karyawan secara periodik berdasarkan
sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan.

Kriteria UMKM


Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 Usaha dikategorikan sebagai
usaha mikro jika kekayaan yang dimiliki paling banyak 50 juta tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha. Hasil penjualan tahunan maksimum 300 juta
rupiah.
Usaha dikategorikan kedalam usaha kecil jika kekayaan bersih yang dimiliki
mulai dari 50 juta rupiah dan maksimal 500 juta rupiah tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat mendirikan usaha, memiliki hasil penjualan tahunan sebesar 300
juta rupiah – 2,5 miliar rupiah.
Usaha dikategorikan ke dalam usaha menengah jika kekayaan bersih yang
dimiliki mulai 500 juta rupiah – 10 miliar rupiah dan tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha, dengan hasil penjualan lebih dari 2,5 miliar rupiah – 50
miliar rupiah.

Pengertian UMKM


Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2008. Usaha Mikro adalah usaha
produktif milik perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi
kriteria usaha mikro sebagaimana telah ditetapkan di dalam Undang-undang.
Usaha kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha
besar yang memenuhi kriteria usaha kecil sebagaimana telah diatur oleh UndangUndang.
Usaha menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak
perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian
baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar dengan
jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan yang telah diatur di dalam
Undang-Undang

Net Profit Margin (NPM)


Net Profit Margin (NPM) merupakan rasio yang membandingkan antara
laba bersih dengan penjualan perusahaan (Solihin & Verahastuti, 2020).
Kemampuan suatu perusahaan dalam memperoleh laba bersihnya di peroleh dari
setiap penjualan. Jika nilai rasio Net Profit Margin (NPM) semakin besar maka
kinerja perusahaan semakin produktif, sehingga akan meningkatkan investor
untuk menanamkan modalnya (Valentina, N,F 2021)
Perusahaan dengan nilai Net Profit Margin (NPM) yang tinggi
menggambarkan kinerja yang baik, berarti perusahaan mampu dalam menghasilkan laba bersih yang diperoleh dari tiap-taip penjualannya. Sehingga hal
ini akan meningkatkan kinerja perusahaannya dan akan meningkatkan pendapatan
perusahaan. Dimana hal ini membuat nilai plus bagi investor karena kinerja
perusahaan dalam keadaan yang baik.
Net Profit Margin (NPM) itu sendiri digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kaitannya dengan penjualan
yang dicapai atau mengukur seberapa besar keuntungan perusahaan dapat
diperoleh dari setiap rupiah penjualan. Dengan kata lain rasio ini mengukur laba
bersih setelah pajak terhadap penjualan (Alima, 2015). Adapun tujuan diukurnya
nilai Net Profit Margin (NPM) yaitu untuk menilai posisi laba perusahaan tahun
sebelumnya dengan tahun sekarang, mengukur produktivitas seluruh perusahaan
yang di gunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.

Debt to Equity Ratio (DER)


Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang digunakan untuk
menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dihitung dengan cara membandingkan
antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas
(Kasmir, 2017). Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio yang digunakan untuk
mengimplementasikan kemampuan suatu perusahaan dalam melunasi
kewajibannya jika perusahaan tersebut likuidasi. Rasio ini dihitung dari tahaptahap jangka panjang seperti aktiva tetap dan kewajiban tetap (Harahap, 2017).
Adapun menurut perspektif kreditor, jika semakin besar rasio Debt to
Equity Ratio (DER) ini maka akan semakin tidak menguntungkan bagi perusahaan
karena akan semakin besar risiko yang ditanggung perusahaan, begitupun
sebaliknya jika semakin kecil rasio ini maka akan semakin baik bagi perusahaan.
Dengan kata lain, semakin tinggi rasio Debt to Equity Ratio (DER) ini berarti
berdampak pada modal sendiri yang semakin sedikit dibanding dengan hutangnya.
Akan tetapi apabila perusahaan dapat menggunakan hutang untuk aktivitas
perusahaan secara efektif serta efisien, maka hal ini akan meningkatkan laba
perusahaan (Pratiwi et al., 2021).
Adapun kegunaan rasio Debt to Equity Ratio (DER) ini bertujuan untuk
mengetahui jumlah modal yang disediakan kreditor dengan pemilik perusahaan
(Kasmir, 2017). Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap
rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang dan untuk mengukur
tingkat penggunaan utang terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki
perusahaan. Jika angka Debt to Equity Ratio (DER) semakin tinggi maka
diasumsikan perusahaan memiliki resiko yang semakin tinggi terhadap likuiditas
perusahaannya begitupun sebaliknya, jika angka Debt to Equity Ratio (DER)
rendah maka perusahaan mampu mengelola modalnya dengan baik (Hasannudin,
2021).

Tujuan Laporan Keuangan


Dibuatnya laporan keuangan oleh perusahaan tentunya memiliki suatu
tujuan yaitu untuk mengukur hasil perkembangan keuangan, perubahan posisi
kinerja keuangan dari waktu ke waktu. Adapun menurut Kasmir (2017), tujuan
laporan keuangan adalah :
a) Untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang perusahaan miliki.
b) Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen dalam suatu periode.
c) Memberikan informasi tentang posisi keuangan perusahaan dalam satu
periode tertentu, baik aset, kewajiban, ekuitas.
d) Dapat digunakan sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis
tentang hasil yang mereka capai.
e) Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan.
f) Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang
dimiliki perusahaan pada saat ini.

Laporan Keuangan


Pengukuran kinerja keuangan mempunyai arti penting bagi pengambil
keputusan baik pihak intern maupun ekstern pada perusahaan. Adapun analisis
laporan keuangan dalam perusahaan itu merupakan hal yang penting bagi
perusahaan, yang berfungsi untuk memberikan informasi keuangan pada suatu
periode dan mengetahui kekuatan serta kelemahan dalam perusahaan tersebut. Hal
ini diperlukan agar bisa mengevaluasi kinerja perusahaan dimasa lalu, masa
sekarang dan dimasa yang akan datang.
Menurut Munawir dalam Sari (2017), laporan keuangan merupakan alat
yang sangat penting untuk mendapatkan informasi tentang situs keuangan dan
hasil-hasil yang dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan tersebut.
Menurut Suteja (2018), laporan keuangan adalah suatu laporan yang
menjelaskan tentang kedudukan keuangan sebagai hasil dari proses akuntansi
selama jangka waktu tertentu yang digunakan sebagai alat komunikasi bagi pihakpihak pemangku kepentingan.
Menurut pernyataan standar akuntansi keuangan (PSAK) No. 1, Laporan
keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas

Definisi Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan perusahaan merupakan suatu analisis yang dilakukan
untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan
menggunakan aturan-aturan pelaksanaakn keuangan secara baik dan benar
(Fahmi, 2012). Kinerja keuangan adalah usaha formal yang telah dilakukan oleh
perusahaan yang dapat mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan
laba, sehingga hal tersebut dapat melihat prospek pertumbuhan dan perkembangan
baik perusahaan dengan mengandalkan sumber daya yang ada (Dewika, 2019)
Dimana kinerja keuangan perusahaan merupakan pandangan yang
merefleksikan tentang sumber daya keuangan suatu perusahaan yang dijabarkan
dengan jelas menggunakan alat analisis keuangan (Rochmah, 2015). Adapun
menurut (Triyonowati, 2016) kinerja keuangan perusahaan adalah hasil kapasitas
keuangan yang berunsur dengan pemasukan, kegiatan operasional secara
menyeluruh, serta macam-macam hutang dan hasil keuntungan.
Selain itu kinerja keuangan perusahaan sangat bermanfaat bagi berbagai
pihak (stakeholder) seperti investor, kreditur, analisis, konsultan keuangan,
pemerintah dan pihak manajemen sendiri. Kinerja keuangan perusahaan sangat
ditentukan oleh kualitas kebijakan manajemen yang diambil dalam upaya
mencapai tujuan organisasi, sehingga untuk mengukur kinerja keuangan perlu
dilihat dari analisis laporan keuangan. Laporan keuangan memberikan gambaran
mengenai kondisi dan kinerja keuangan perusahaan dalam satu periode.

Pengertian Rasio Keuangan


Menurut James C Van Horne dalam Kasmir (2018) analisis rasio keuangan
merupakan indeks yang menghubungkan dua angka akuntansi dan diperoleh
dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Rasio keuangan digunakan
untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja perusahaan, dari hasil rasio
keuangan ini akan terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan.
Menurut Rudianto (2013) rasio keuangan yang dapat digunakan dapat dipilah
dalam beberapa kelompok sebagai berikut :

  1. Rasio Profitabilitas
  2. Rasio Aktivitas
  3. Rasio Solvabilitas
  4. Rasio Likuiditas

Pengertian Analisis Laporan Keuangan


Menurut Rudianto (2013) analisis laporan keuangan adalah meneliti
hubungan yang ada diantara unsur-unsur dalam laporan keuangan, dan
membandingkan unsur-unsur pada laporan keuangan tahun berjalan dengan unsurunsur yang sama tahun yang lalu atau angka pembanding lain serta menjelaskan
penyebab perubahannya. Teknik yang dapat digunakan untuk menganalisis
laporan keuangan antara lain :

  1. Analisis perbandingan laporan keuangan
    Perbandingan antara laporan keuangan yang satu dengan yang lain dapat
    dilakukan secara horizontal ataupun secara vertikal. Perbandingan secara
    horizontal adalah metode perbandingan antara laporan keuangan satu
    perusahaan dan perusahaan lain dalam tahun yang sama. Perbandingan tersebut
    harus dilakukan antara perusahaan sejenis (apple to apple). Perbandingan
    secara vertikal adalah perbandingan antara laporan keuangan suatu perusahaan
    di tahun-tahun yang berbeda.
  2. Analisis tren
    Merupakan metode untuk melihat tendensi atau kecendrungan kinerja suatu
    perusahaan dari tahun ke tahun, apakah kecendrungan menurun atau
    meningkat.
  3. Analisis proporsi per jenis akun
    Merupakan metode analisis untuk melihat perubahan proporsi antara satu akun
    dan akun lain atau dengan keseluruhan akun.
  4. Analisis Break Even Point
    Merupakan metode analisis untuk mengetahui tingkat penjualan minimal yang
    harus dicapai perusahaan agar tidak mengalami kerugian.
  5. Analisis Rasio keuangan
    Merupakan metode analisis untuk mengetahui perbandingan antara satu akun
    tertentu dan akun lain dalam laporan keuangan suatu perusahaan serta
    hubungan diantara akun-akun tersebut.
    Menurut Hary (2015), tujuan dan manfaat dari dilakukannya analisis
    laporan keuangan adalah :
  6. Untuk mengetahui posisi keuangan perusahaan dalam suatu periode tertentu,
    baik aset, liabilitas, ekuitas, maupun hasil usaha yang telah dicapai untuk
    beberapa periode.
  7. Untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yang menjadi kekurangan
    perusahaan.
  8. Untuk mengetahui kekuatan-kekuatan yang menjadi keunggulan perusahaan.
  9. Untuk menentukan langkah-langkah perbaikan yang perlu dilakukan dimasa
    mendatang, khususnya yang berkaitan dengan posisi keuangan perusahaan saat
    ini.
  10. Untuk melakukan penilaian kinerja manajemen.
  11. Sebagai pembanding dengan perusahaan sejenis, terutama mengenai hasil yang
    telah dicapai.

Pengertian Laporan Keuangan


Menurut Hery (2015) laporan keuangan adalah laporan akuntansi yang
disiapkan untuk memberikan informasi yang berguna bagi para pemakai laporan,
dan terutama sebagai dasar pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
Menurut Kasmir (2018) secara umum ada lima macam jenis laporan yang biasa
disusun, yaitu:

  1. Neraca (Balance Sheet)
    Merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada
    tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan yang dimaksud adalah posisi jumlah
    dan jenis aktiva (harta) dan pasiva (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan.
  2. Laporan Laba Rugi (Income Statement)
    Merupakan laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan
    dalam suatu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi ini tergambar jumlah
    pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang diperoleh.
  3. Laporan Perubahan Modal
    Merupakan laporan yang berisi jumlah dan jenis modal yang dimiliki pada saat
    ini. Laporan ini juga menjelaskan perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya
    perubahan modal di perusahaan.
  4. Laporan Arus Kas
    Merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek yang berkaitan dengan
    kegiatan perusahaan, baik yang berpengaruh langsung atau tidak langsung
    terhadap kas.
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan
    Merupakan laporan yang memberikan informasi apabila ada laporan keuangan
    yang memerlukan penjelasan tertentu. Hal ini perlu dilakukan agar pihak-pihak
    yang berkepentingan tidak salah dalam menafsirkannya.
    Tujuan penyusunan laporan keuangan yaitu :
  6. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki
    perusahaan pada saat ini.
  7. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang
    dimiliki perusahaan saat ini.
  8. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh
    pada suatu periode tertentu.
  9. Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan
    perusahaan dalam suatu periode tertentu.
  10. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap
    aktiva, pasiva dan modal perusahaan.
  11. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu
    periode.
  12. Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan.
  13. Informasi keuangan lainnya.

Pengertian Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan merupakan hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh
manajemen perusahaan dalam menjalankan fungsinya mengelola aset perusahaan
secara efektif selama periode tertentu. Kinerja keuangan sangat dibutuhkan oleh
perusahaan untuk mengetahui dan mengevaluasi sampai dimana tingkat
keberhasilan perusahaan berdasarkan aktivitas keuangan yang telah dilaksanakan
(Rudianto, 2013).

Pendapataan Daerah


Pendapataan daerah menurut ketentuan umum Undang-Undang No 32
Tahun 2004 pasal 1 poin 15 tentang pemerintan daerah adalah pendapaatan daerah
adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambahaan nilai kekayaan bersih
dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Sedangkan menurut (Abdul
Halim:2004) “pendapataan adalah semua penerimaan daerah dalam bentuk
peningkatan aktiva atau penurunan utang dari berbagai sumber dalam periode tahun
anggaran yang bersangkutan”

Piutang


Transaksi paling umum yang menciptakan piutang adalah penjualan barang
dagang atau jasa secara kredit. Dalam arti luas piutang digunakan untuk semua hak
atau klaim atas uang, barang, dan jasa. bila kegiatan oprasional perusahan pada
umumnya bergerak di bidang penjualan barang atau jasa secara kredit maka
piutang– piutang yang timbul merupakan unsur paling penting dari aktiva lancar.
Piutang ini timbul karena adanya penjualan kredit. Piutang ada yang
berbentuk wasel. Wasel ini merupakan kesanggupaan membayar dari pembeli
kepada penjual sejumlah uang tertentu di masa mendatang . penjual biasanya lebih
suka melakukan penjualan secara tunai karena uang hasil penjualaan dapat segara
diterima. Tetapi adanya persaingan memaksa perusahaan untuk melakukan
penjualan secara kredit. Dengan demikian , kebijakan penjualan kredit oleh
perusahaan akan meunculkan dua pos perkiraan dalam neraca . bagi penjual,
penjualan kredit ini akan menambah pos piutang dan mengurangi persedian barang.
Sedangkan bagi pembeli, maka pembelian kredit akan menambah hutang dagang
dan menambah persedian.

Manfaat kinerja


Praytino (2010:9) menyatakan manfaat penilian kinerja bagi manajemen
adalah untuk:

  1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui
    pemotifan karyawan secara maksimal
  2. Membantu pengambilan keputusan yang berhubungan dengan
    karyawan seperti promosi, trasnfer, dan pemberhentian
  3. Mengidentifikasikan kebutuhan pelatihan dna pengembangan karyawan
    dan menyediakan kriteria promosi dan evaluasi program pelatihan
    karyawan.
  4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan bagaimana atasan menilai
    kinerja mereka
  5. Menyediakan suatu dasar dengan distribusi penghargaan

Kinerja Keuangan.


Fahmi (2012:2) menyatakan kinerja keuangan adalah suatu analisis
yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan aturan aturan pelaksanan keuangan
dengan baik dan benar. Seperti dengan membuat suatu laporan keuangan
yang telah memenuhi standart dan kententuan dalam SAK (Standar
Akuntansi Keuangan) dll.

Bentuk Laporan Keuangan


Analisis terhadap laporan keuangan, sangatlah penting bagi perusahaan
untuk mengetahui kesehatan perusahan tersebut. Laporan keuangan
terbentuk menjadi :

  1. Neraca
    Neraca terdiri atas tiga bagian :
    a) Aktiva
    Kasmir (2008:39) menyatakan aktiva merupakan harta atauoleh
    perusahaan, baik pada saat tertentu maupun periode tertentu.
    Komponen aktiva secara umum :
    1) Aktiva lancar
    2) Investasi
    3) Aktiva tetap
    4) Aktiva tidak berwujud
    5) Aktiva lain lain
    b) Hutang/kewajiban
    Kewajiban adalah pengorbanan ekonomis yang dilakukan oleh
    perusahaan di masa yang akan datang dalam bentuk penyerahan
    aktiva atau pemberian jasa yang disebabkan oleh tindakan atau
    transaksi pada masa sebelumnya. Komponen dari kewajiban
    secara umum adalah :
    1) Kewajiban lancar
    2) Kewajiban jangka panjang
    3) Kewajiban lain-lain
    4) Kewajiban yang disubordinasi
    c) Modal
    Komponen terakhir dari neraca adalah modal sendiri, yaitu selisish
    dari aktiva dengan kewajiban (hutang). Modal ini adalah investasi
    yang dilakukan oleh pemilik perusahaan. Komponen modal
    adalah :
    1) Modal saham
    2) Agio saham
    3) Laba yang ditahan
    4) Laba tahun berjalan
    5) Selisih penilaian kembali aktiva tetap
  2. Laporan rugi laba
    Laporan rugi laba adalah laporan yang memberikan informasi tentang
    komposisi keuangan penjualan, harga pokok, dan biaya-biaya
    perusahaan selama satu periode tertentu. Melalui laporan rugi-laba dapat
    diketahui jumlah keuntungan yang diperoleh atau kerugian yang dialami
    oleh perusahaan selama periode tertentu tersebut.
    Bentuk laporan rugi-laba yang biasa digunakan menurut Kasmir
    (2008:49) sebagai berikut:
    1) Bentuk single step, yaitu merupakan gabungan dari jumlah
    seluruh penghasilan baik pokok (oprasional) maupun di luar
    pokok (nonoperasional) dijadikan satu, kemudian jumlah biaya
    pokok dan di luar pokok juga dijadikan satu.
    2) Bentuk multiple step, yaitu merupakan pemisahaan antara
    komponen usaha pokok (oprasional) dengan di luar pokok
    (nonoprasional).
  3. Laporan arus kas
    Laporann arus kas adalah laporan yang melaporkan arus kas selama
    periode teretntu dan diklasifikasikan menurut aktivitas operasi, investasi,
    dan pendanaan. Entitas melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan
    menggunakan salah satu dari metode berikut :
    1) Metode langsung, dengan metode ini kelompok utama dari
    penerimaan kas bruto diungkapkan
    2) Metode tidak langsung, dengan metode ini laba atau rugi
    disesuaikan dengan mengoreksi pengaruh transaksi yang bersifat
    nonkas, penangguhan, atau akural dari penerimaan atau
    pembayaran kas untuk operasi di masa lalu atau masa depan, dan
    pos penghasilan atau beban yang berhubungan dengan arus kas
    investasi atau pendanaan.
  4. Laporan perubahaan ekutias
    Laporan perubahan ekuitas merupakan laporan keuangan yang
    menyajikan perubahan laba ditahan dan perubahan ekuitas lainnya. Di
    dalam laporan arus kas menghitun perubahan modal dan cadangan satu
    periode contoh dari 2013 hingga 2014 terjadi perubahan apa tidak. Lalu
    ekuitas ekutias lainnya contoh adalah perubahan laba ditahan dalam
    satu periode.

Tujuan Laporan Keuangan


Kasmir (2012:10) menyatakan secara umum laporan keuangan
bertujuan untuk memberikan informasi keuangan suatu perusahaan, baik
pada saat tertentu maupun pada periode tertentu. Laporan keuangan juga
dapat disusun secara mendadak sesuai dengan kebutuhan perusahaan
maupun secara berkala

Pengertian Laporan keuangan

pada dasarnya merupakan hasil dari proses akuntansi
yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data
keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak – pihak yang
berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Laporan
Keuangan yang dibuat berdasarkan pedoman yang berlaku, mencerminkan
keputusan yang dibuat manajemen pada masa lalu maupun sekarang. Oleh
karena itu laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan
manajemen dalam mengambil keputusan atas sumber daya yang
dipercayakan kepadanya sehingga dapat mengetahui kinerja keuangan suatu
perusahaan ( Munawir, 2007;2)

Tahap tahap dalam menganalisis kinerja keuangan


Penilaian kinerja setiap perusahaan berbeda beda karena tergantung kepada
ruang lingkup bisnis yang dijalankannya. Maka disini ada lima tahapan dalam
menganalisis kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum yaitu:
a. Melakukan review terhadap laporan keuangan
Review disini dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang sudah
dibuat tersebut sesuai dengan penerapan kaidah kaidah yang berlaku umum
dalam dunia akuntansi, sehingga dengan demikian hasil laporan keuangan
dapat dipertanggung jawabkan.
b. Melakukan perhitungan.
Penerapan metode perhitungan disini adalah disesuaikan dengan kondisi dan
permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan
tersebut akan memberikan satu kesimpulan sesuai dengan analisis yang
diinginkan.
c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh.

Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja Perusahaan


Menurut Munawir S (2002: 31), Adapun tujuan dari penilaian kinerja keuangan
perusahaan adalah:

  1. Mengetahui Tingkat Likuiditas.
    Likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
    kewajibannya pada saat ditagih. Perusahaan yang mampu memenuhi
    kewajibannya pada saat ditagih berarti perusahaan tersebut berada
    dalam likuid. Sebaliknya apabila perusahaan tidak dapat memenuhi
    kewajiban keuangan tepat pada saat ditagih berarti perusahhan tersebut
    dikatakatan dalam keadaan unlikuid. Perusahaan dikatakan dapat
    memenuhi kewajiban keuangan tepat pada waktunya apabila
    perusahaan mempunyai aktiva lancar lebih besar dari hutang lancarnya.
  2. Mengetahui tingkat solvabilitas.
    Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
    keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi, baik keuangan
    jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Mengetahui tingkat Rentabilitas.
    Rentabilitas atau sering disebut juga dengan profitabilitas menunjukkan
    kemampuan untuk menghasilkan laba selama periode
    tertentu.Rentabilitas suatu perusahaan dapat diukur dengan kesuksesan
    perusahaan dalam menggunakan aktivanya secara produktif.
  4. Mengetahui tingkat stabilitas
    Menujukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya
    dengan stabil, yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan
    perusahaan untuk membayar semua hutang hutangnya serta membayar
    beban bunga atas hutang hutangnya tepat pada waktu yang ditentukan.
    Mulyadi (2001:415) dalam bukunya Akuntansi Manajemen mengatakan bahwa
    adapun manfaat dari penilaian kinerja keuangan adalah sebagai berikut:
  5. Untuk mengukur prestasi yang telah dicapai oleh suatu organisasi dalam
    suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat keberhasilan
    pelaksanaan kegiatannya.
  6. Selain digunakan untuk melihat kinerja organisasi secara keseluruhan,
    maka pengukuran kinerja juga dapat digunakan untuk melihat kontribusi
    suatu bagian dalam pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan.
  7. Dapat digunakan sebagai dasar penentuan strategi perusahaan untuk masa
    yang akan datang.
  8. Memberi petunjuk dalam pembuatan keputusan dan kegiatan organisasi
    pada umumnya dan divisi atau bagian organisasi pada khusunya.
  9. Sebagai dasar penentuan kebijaksanaan penanaman modal agar dapat
    meningkatkan efesiensi dan produktivitas perusahaan.
    Penilaian kinerja keuangan dimanfaatkan oleh manajemen untuk:
    a. Mengelola organisasi secara efektif dan efesien melalui memotivasi karyawan
    secara maksimal.
    b. Membantu dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan
    karyawan seperti promosi, transfer, dan pemberhentian.
    c. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan karyawan serta
    untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan karyawan.
    d. Menyediakan umpan balik bagi karyawan bagaimana atasan menilai kinerja
    mereka.
    e. Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.

Pengertian analisis kinerja keuangan


Analisis adalah kegiatan berfikir untuk menguraikan suatu pokok menjadi
bagian bagian atau komponen sehingga dapat diketahui ciri atau tanda tiap bagian,
kemudian hubungannya antara satu dengan yang lain serta fungsi masing masing
dari setiap bagian. Analisis laporan keuangan merupakan suatu proses yang penuh
pertimbangan dalam rangka membantu mengevaluasi posisi keuangan pada masa
sekarang dan masa lalu, dengan tujuan utama untuk menentukan estimasi dan
prediksi yang mungkin mengenai kondisi dan kinerja perusahaan pada masa
mendatang.
(A. Ikhsan, dkk, 2012:43), Analisis laporan keuangan digunakan untuk
mencapai beberapa tujuan. Misalnya, digunakan sebagai alat screening awal
dalam memilih alternatif investasi mengenai kondisi kinerja keuangan dimasa
yang akan datang, sebagai proses diagnose terhadap masalah masalah maanjemen,
operasi, atau masalah lainya.

Rasio Profitabilitas


Rasio Profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba
melalui semua kemampuannya, dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan,
kas, ekuitas, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. Dalam dunia
investasi laba yang tinggi dapat dilihat dari kinerja perusahaannya, dimana semakin
tinggi laba yang diharapkan maka semakin baik kinerjanya. Pertumbuhan laba tidak
dapat dipastikan, oleh karenanya diperlukan adanya suatu prediksi pertumbuhan
laba. Pertumbuhan laba tentunya akan berpengaruh terhadap keputusan investasi
para investor dan calon investor yang akan menanamkan modalnya ke dalaam
perusahaan, maupun para kreditur yang akan memberikan pinjaman ke dalam
perusahaan. Salah satu alternatif untuk mengetahui informasi keuangan yang
dihasilkan untuk memprediksi pertumbuhan laba, termasuk kondisi keuangan
perusahaan dimasa depan dalah analisis keuangan rasio (N.A. Bi Rahmani, 2017b).
a. Tingkat Pengembalian Aset (Return On Assets)
Rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan total asset. Rasio
ini menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh perusahaan bila diukur dari
nilai asetnya. Semakin besar rasionya semakin bagus karena perusahaan
dianggap mampu dalam menggunakan asset yang dimilikinya secara efektif
untuk menghasilkan laba.
b. Tingkat Pengembalian Ekuitas (Return On Equity)
Rasio ini merupakan perbandingan antara laba bersih dengan ekuitas. Rasio ini
mengukur berapa persen diperoleh laba bersih bila diukur dari modal pemilik.
Semakin besar rasionya semakin bagus karena dianggap kemampuan
perusahaan yang efektif dalam menggunakan ekuitasnya untuk menghasilkan
laba.

Rasio Solvabilitas


Rasio solvabilitas merupakan rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan yang
dibiayai oleh kewajiban atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang
digambarkan oleh ekuitas. setiap penggunaan utang oleh perusahaan akan berpengaruh
terhadap rasio dan pengembalian. rasio ini dapat digunakan untuk melihat seberapa
resiko keuangan perusahaan. Mengenai rasio rasio leverage sebagaimana yang
diutarakan dapat dilihat pada uraian sebagai berikut:
a. Rasio Hutang (Debt Ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara total kewajiban dengan total asset.
Rasio ini menunjukkan sejauh mana kewajiban dapat ditutupi oleh asset. Semkin
rendah rasio ini semakin baik karena aman bagi kreditor saat likuidasi.
b. Long Term Debt Equity Ratio (LTDtER)
Rasio ini merupakan rasio antara utang jangka panjang dengan modal sendiri.
Tujuannya adalah untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal
sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan modal sendiri yang
ada pada perusahaan.

Rasio Likuiditas


M. Harahap (2018:330) dalam bukunya Analisis Rasio Likuiditas mengatakan
bahwa rasio Likuiditas merupakan rasio yang menguukur kemampuan perusahaan
memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Untuk dapat memenuhi kewajibannya yang
sewaktu waktu, maka perusahaan harus mempunyai alat alat untuk membayar yang
berupa asset asset lancar yang jumlahnya harus jauh lebih besar dari pada kewajiban
kewajiban kewajiban yang harus segera dibayar berupa kewajiban lancar.
(Riyanto, 2010:322), Mengenai rasio rasio likuiditas sebagagaimana yang
diutarakan, dapat dilihat sebagai berikut:
a. Rasio Lancar ( Current Ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara asset lancar dengan kewajiban lancar.
Rasio ini merupakan cara untuk mengukur kesanggupan suatu perusahaan untuk
memenuhi kewajiban kewajibannya, dengan pedoman 2:1 atau 200% ini adalah
rasio minimum yang akan dipertahankan oleh suatu perusahaan. kondisi
perusahaan yang memiliki current ratio yang baik adalah dianggap sebagai
perusahaan yang baik dan bagus, namun jika current ratio terlalu tinggi juga
dianggap tidak baik karena dapat mengindikasikanadanya masalah seperti
jumlah persediaan yang relatif tinggi dibandingkan taksiran tingkat penjualan
sehingga tingkat perputaran persediaan rendah dan menunjukkan adanya over
investment dalam persediaan tersebut atau adanya saldo piutang yang besar tak
tertagih.
b. Rasio Sangat Lancar atau Cepat (Quict Ratio)
Rasio ini merupakan perbandingan antara asset lancar dikurangi persediaan
dengan kewajiban lancar. Rasio ini merupakan ukuran kemampuan perusahaan
dalam dalam memenui kewajiban kewajibannya dengan tidak memperhitungkan
persediaan, karena persediaan memerlukan waktu yang relatif lama untuk
direalisir menjadi uang kas, walaupun kenyataannya mungkin persediaannya
lebih likuid daripada piutang.
Apabila menggunakan rasio ini maka dapat dikatakan jika suatu perusahaan
mempunyai nilai quick ratio sebesar kurang dari 100% atau 1:1, hal ini dianggap
kurang baik tingkat likuiditasnya.

Faktor faktor yang mempengaruhi rasio keuangan


Faktor faktor yang mempengaruhi rasio keuangan dapat dilihat dari letak
geografis, aktiva tetap dan dalam sistem atau prosedur akuntansi, termasuk
penggolongan pos pos laporan keuangan, periode akuntansi, dan metode
penyusunan.
kondisi keuangan dan hasil usaha dari suatu perusahaan dengan perusahaan
lainnya mungkin dipengaruhi oleh faktor faktor sebagai berikut:
a) Perbedaan letak geografis yang membawa perbedaan dalam tingkat harga
dan biaya usaha.
b) Perbedaan dalam pemilikan aktiva tetap, ada yang memiliki sendiri ada
yang menyewa.
c) Perbedaan dalam tingkat harga yang dicerminkan daam pos pos aktiva
lancer.
d) Perbedaan dalam umur harta kekayaan yang dimiliki.
e) Perbedaan dalam banyaknya jenis barang yang diproduksi.
f) Perbedaan dalam tingkat kapasitas pabrik.
g) Perbedaan dalam penelitian First In Fits Out (FIFO), Last In First Out
(LIFO), metode rata rata tertimbang, atau metode lain).
h) Perbedaan dalam kebijaksanaan pembelian bahan dasar.
i) Perbedaan dalam kebijaksanaan menentukan tingkat persediaan (banyak
atau sedikit).
j) Perbedaan dalam kebijaksanaan penjualan barang dagangan (Tunai atau
kredit).
k) Perbedaan kebijaksanaan saluran pemasaran.
l) Perbedaan dalam banyak sedikitnya utang jangka panjang.
m) Kebijaksanan dalam pembayaran dividen.
n) Oerbedaan dalam sistem akuntansi dan prosedur akuntansi, termasuk
penggolongan pos pos laporan keuangan, periode akuntansi, dan metode
penyusunan

Bentuk Bentuk Rasio Keuangan


Untuk mengukur kesehatan perusahaan dengan menggunakan rasio rasio
keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa rasio. Setiap rasio memiliki tujuan,
kegunaan, dan arti tertentu. Kemudian, setiap hasil dari rasio yang diukur
diinterpretasikan sehingga menjadi berarti bagi pengambilan keputusan (Kasmir,
2014:106).
Berikut ini adalah bentuk bentuk rasio keuanganMenurut J. Fred bentuk rasio
keuangan antara lain:
1) Rasio likuiditas merupakan rasio yang memberikan gambaran mengenai
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek.
a. Rasio lancar.
b. Rasio sangat lancar atau Rasio cepat.
2) Rasio solvabilitas merupakan rasio yang memberikan gambaran mengenai
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjang. Rasio
ini menunjukkan seberapa besar aktivitas yang dijalankan perusahaan
dengan uang.
a. Total utang dibandingkan dengan total asset atau rasio utang.
b. Jumlah dikalikan dengan perolehan.
c. Lingkup biaya tetap.
d. Lingkungan arus kas.
3) Rasio aktivitas
a. Perputaran persediaan.
b. Rata rata jangka waktu penagihan.
c. Perputaran asset tetap.
d. Perputaran total asset.
4) Rasio profitabilitas
a. Margin laba penjualan.
b. Daya laba dasar.
c. Hasil pengembalian.
d. Hasil pengembalian ekuitas.
e. Hasil pengembalian total asset.
5) Rasio pertumbuhan yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan
mempertahankan posisi ekonominya ditengah pertumbuhan ekonomi dan
sektor usahanya.
a. Pertumbuhan penjualan.
b. Pertumbuhan laba bersih.
c. Pertumbuhan pendapatan per saham.
d. Pertumbuhan dividen per saham.
6) Rasio penilaian yaitu rasio yang memberikan ukuran kemampuan
manajemen dalam menciptakan nilai pasar usahanya diatas biaya investasi.
a. Rasio harga saham terhadap pendapatan.
b. Rasio nilai pasar saham terhadap nilai buku.

Pengertian rasio keuangan


Analisis laporan keuangan penting dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan
kelemahan suatu perusahaan. Informasi yang diperlukan untuk mngevaluasi
kinerja yang dicapai manajemen perusahaan dimasa lalu, dan juga jadi bahan
pertimbangan dalam menyusun rencana perusahaan kedepan. Salah satu cara
memperoleh informasi yang bermanfaat dari laporan keuangan perusahaan adalah
dengan melakukan analisis rasio keuangan. Rasio keuangan didesain untuk
memperlihatkan hubungan antar akun pada laporan keuangan (neraca dan laporan
laba rugi).
Penialaian keberhasilan atau terwujudnya tujuan perusahaan tersebut perlu
adanya suatu bentuk penilaian yang nantinya dapat menjadi ukuran dari
keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya. Disamping itu perlu juga
dilihat apakah dalam pelaksanaan kegiatannya itu perusahaan telah mendapatkan
keuntungan atau bahkan mengalami kerugian. Salah satu cara penilaian tentang
kesehatan suatu perusahaan dapat ditinjau dari laporan keuangan perusahaan yang
dibuat secara periodik atau dan biasanya dijadikan secara pertahun sebagai
laporan seluruh kegiatan yang telah dilaksanakan.
Perlunya dilakukan analisis laporan keuangan bagi pemilik ataupun
manajemen, agar dapat mengetahui posisi keuangan perusahaan saat ini. Dan
dengan mengetahui posisi keuangan tersebut maka akan terlihat apakah suatu
perusahaan dapat mencapai target yang telah direncanakan sebelummnya atau
tidak. analisa laporan keuangn perusahaan pada dasarnya merupakan perhitungan
rasio rasio untuk menilai laporan keuangan perusahaan dimasa lalu, saat ini dan
juga dimasa yang akan datang (L. Syafina & S.R, 2022).
Menurut S. Syafri (2009:297) mengatakan Rasio keuangan adalah angka yang
diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos
lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan. Rasio keuangan
sangat penting dalam melakukan analisis terhadap kondisi suatu perusahaan.

Kesehatan Perusahaan


Pengukuran tingkat kesehatan perusahaan merupakan suatu jalan
yang tepat untuk menjembatani kita dalam memberikan asumsi
terhadap suatu perusahaan. Hasil pengukuran akan informasi
bagaimana perusahaan dijalankan dari hari ke hari berikutnya.
Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, pemilik dan pihak pihak yang
berkepentingan yang berada didalam perusahaan dapat mengambil
keputusan keputusan atas perusahaan. Kesehatan perusahaan adalah
suatu pernyataan tertulis yang ditandatangani perusahaan dan
pengurus yang memuat keseluruhan visi misi dan tujuan perusahaan,
untuk mengukur tingkat kebangkrutan perusahaan yang mencakup
kegiatan perusahaan secara menyeluruh yang bersifat umum dan
operasional. Kesehatan perusahaan menunjukan kondisi kondisi
keuangan perusahaan

Tujuan Penilaian Kinerja Keuangan


Penilaian kinerja keuangan pada suatu perusahaan, diperlakukan
suatu alat berupa analisis laporan keuangan yang telah tercermin dalam
laporan keuangan yang telah dibuat pada masing-masing perusahaan.
Beberapa laporan keuangan yang telah dibuat tersebut dapat dihitung
dengan menggunakan rasio keuanganm hasil perhitungan rasio
dibandingkan dengan standart ketentuan yang telah ditetapkan oleh
pemerintah dengan perusahaan yang telah bersangkutan apakah rasio yang
telah diperoleh sesuai dengan standart yang telah ditetapkan atau belum
ditetapkan. Prinsip dalam menilai kinerja dilakukan karena memiliki
beberapa tujuan. Menurut Moin (2010 : 153), mengungkapkan bahwa
dalam melakukan suatu penilaian laporan keuangan mempunyai tujuan
sebagai berikut :

  1. Bagi para analis sekuritas melakukan suatu penilaian untuk membuat
    keputusan membeli atau menjual saham.
  2. Bagi analis kredit melakukan penilaian untuk mengetahui seberapa
    besar risiko perusahaan berkaitan dengan aktivitas pinjaman.
  3. Untuk para calon investor melakukan suatu penilaian untuk membeli
    atau tidak membeli saham yang ingin dijual

Kinerja Keuangan


Kinerja merupakan keberhasilan yang dicapai suatu perusahaan dalam
tahun tertentu yang menunjukan tingkat kesehatan perusahaan tersebut.
Kinerja merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan karena dapat
mencerminkan kemampuan perusahaan dalam mengelola dan
mengalokasikan sumber daya yang mereka miliki. Kinerja keuangan
merupakan penilaian sifat manusia dalam suatu ruang lingkup organisasi
untuk mencapai tingkat prestasi atau hasil kinerja yang positif. Kinerja
keuangan adalah kemampuan dibidang keuangan yang mempunyai unsurunsur yang berkaitan dengan pendapatan, pengeluaran, keadaan kegiatan
secara menyeluruh, struktur utang dan hasil dari investasi. Penilaian kinerja
keuangan berbeda dengan penilaian barang, baik berwujud maupun tidak
berwujud. Untuk melakukan suatu analisis penilaian aset, dapat diperiksa
dengan kondisi ekonomi. Penilaian kinerja keuangan terutama untuk
perusahaan dapat dilakukan untuk beberapa tujuan seperti pengambil alihan
suatu perusahaan, pemberian kredit dan perluasan suatu perusahaan.
Informasi mengenai kinerja perusahaan sangat penting diketahui bagi pihak
internal maupun eksternal. Di sisi lain informasi tersebut juga dapat
digunakan untuk mempertimbangkan tentang efektivitas perusahaan dalam
memanfaatkan suatu aset. Menurut Fahmi (2012 : 2), kinerja keuangan
merupakan suatu penilaian yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana
suatu perusahaan dapat melaksanakan dengan memakai peraturan-peraturan
dalam mengelola keuangan dengan baik dan benar. Kinerja keuangan adalah
hubungan antara penghasilan dan beban dari entitas yang sebagaimana yang
disajikan dalam laporan laba rugi. Laba sering digunakan untuk mengukur
kinerja atau sebagai ukuran kinerja atau sebagai dasar untuk pengukuran lain
seperti tingkat pengembalian investasi atau laba per saham. Unsur-unsur
laporan keuangan yang secara langsung berkaitan dengan mengukur laba
adalah penghasilan dan beban

Analisis Rasio Keuangan


Menurut Hery (2015 : 161 – 163), analisis rasio adalah analisis yang
dipakai dengan menghubungkan dari berbagai perkiraan yang ada pada
laporan keuangan koperasi dalam bentuk rasio keuangan. Rasio keuangan
adalah suatu cara yang dapat diperhitungan melalui rasio dengan
menggunakan laporan keuangan yang memiliki fungsi sebagai alat ukur
dalam menilai kondisi keuangan dan kinerja suatu perusahaan. Tujuan dari
analisis rasio adalah digunakan secara khusus oleh pemangku kepentingan
dalam hal mengenai keputusan investasi atau penyaluran modal. Rasio
keuangan disusun dengan menggabungkan angka-angka dalam laporan laba
rugi maupun neraca.

Laporan Keuangan Koperasi


Menurut Rudianto (2010: 11), Laporan Keuangan Koperasi adalah
laporan yang dipertanggungjawaban oleh para pegawai koperasi atas
hasil usaha koperasi pada tahun tertentu dan posisi keuangan koperasi
pada akhir tahun tertentu. Berdasarkan Standart Akuntansi Keuangan
(PSAK) Nomor 27 Tahun 1992, karakteristik laporan keuangan
koperasi meliputi :

  1. Laporan koperasi merupakan bagian dari pertanggungjawaban
    pengurus pada anggotanya di dalam rapat anggota tahunan.
  2. Laporan keuangan biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi dan
    laporan arus kas yang penyajiannya secara komparatif.
  3. Sesuai dengan isi koperasi sebagai bagian dari sistem jaringan
    koperasi, maka beberapa akun atau istilah yang sama akan muncul,
    baik pada kelompok aktiva maupun kewajiban.
  4. Laba rugi menyajikan hasil akhir yang disebut sebagai Sisa Hasil
    Usaha. SHU berasal dari usaha yang diselenggarakan untuk
    anggota dan bukan anggota. SHU yang dibagikan oleh anggota
    harus berasal dari usaha yang diselenggarakan oleh anggota. Pada
    rapat anggota tahunan SHU yang diputuskan untuk dibagi sesuai
    dengan ketentuan yang tercantum dalam undang-undang dan
    anggaran dasar koperasi. Komponen pembagian SHU menurut
    Undang-Undang adalah sebagai berikut :
    a) Sisa Hasil Usaha yang berasal dari anggota :
    a. Cadangan koperasi
    b. Anggota sebanding dengan jasa yang diberikan.
    c. Dana pengurus.
    d. Dana pegawai.
    e. Dana pendidikan koperasi.
    f. Dana sosial.
    g. Dana pembangunan daerah kerja.
    b) Sisa Hasil Usaha yang berasal dari bukan anggota :
    a. Cadangan koperasi
    b. Dana pengurus.
    c. Dana pegawai.
    d. Dana pendidikan koperasi.
    e. Dana sosial.
    f. Dana pembangunan daerah kerja.
    Komponen tersebut jika belum dicairkan, disajikan dalam
    kelompok kewajiban lancar pada neraca, sedangkan cadangan koperasi
    merupakan bagian SHU yang tidak dibandingkan dan dapat digunakan
    untuk memupuk modal sendiri dan menutup kerugian.
  5. Dengan adanya konsep sistem jaringan koperasi dan peraturan
    pemerintah , maka terdapat aktiva (sumber daya) yang dimiliki
    koperasi tetapi tidak dikuasainyadan sebaliknya jika terdapat aktiva
    (sumber daya) yang dikuasai oleh koperasi tetapi tidak miliknya.
  6. Laporan keuangan koperasi bukan merupakan laporan konsolidasi
    dari koperasi.

Laporan Keuangan


Laporan Keuangan merupakan suatu media komunikasi yang meringkas
suatu kegiatan koperasi. Informasi tersebut sangat berguna bagi pelaku bisnis
atau stakeholder guna untuk pengambilan suatu keputusan dan para
stakeholder dapat mengetahui bagaimana perkembangan dari suatu
perusahaan tersebut. Menurut Valeria (2016), Laporan Keuangan adalah
suatu alat untuk menyajikan keuangan secara berurutan atau bertahap dari
dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu koperasi . Laporan keuangan
adalah suatu informasi yang memaparkan keadaan keuangan suatu
perusahaan, dan digunakan secara berkelanjutan mengenai informasi tersebut
yang dijadikan sebagai gambaran atau kondisi kinerja keuangan perusahaan
tersebut (Fahmi, 2011: 2). Menurut Sutrisno (2009 : 53), laporan keuangan
merupakan proses akhir dari siklus akuntansi yang terdiri dari dua laporan
yaitu neraca dan laporan laba rugi. Laporan keuangan pada dasarnya
merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang dipergunakan sebagai
media komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan
dengan pihak-pihak yang berkepentingan (Munawir 2012 : 2). Dari pendapat
tersebut jika disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan sebuah
informasi yang berkaitan dengan keadaan atau kondisi keuangan pada periode
tertentu yang hasil akhirnya dipergunakan dalam hal pengambilan suatu
keputusan.
Pada dasarnya laporan keuangan adalah suatu hasil akhir dari sebuah
proses akuntansi yang telah digunakan sebagai alat atau media untuk dapat
mengkomunikasikan antara data keuangan dengan aktivitas dari kegiatan
suatu perusahaan kepada para pihak yang berkepentingan atau stake holder.
Laporan keuangan secara akuntansi dapat diartikan sebagai laporan keuangan
komersial. Laporan keuangan komersial ialah suatu alat yang dipakai guna
untuk menilai guna untuk menunjukkan aktivitas dan kinerja dari koperasi
tersebut. Sebuah bentuk dari kegiatan usaha tidak dapat dikatakan berhasil
jika tidak ada alat atau tolak ukur yang dijadikan sebagai pedoman untuk
keberlanjutannya usahanya.

Jenis Koperasi


Menurut Undang-undang No 17 Tahun 2012 pasal 82 jenis
koperasi didasarkan pada kesamaan kegiatan dan kepentingan ekonomi
anggotanya. Jenis koperasi terdiri dari 4 (empat) jenis yaitu :

  1. Koperasi simpan pinjam yaitu koperasi yang menjalankan usaha
    simpan pinjam sebagai satu-satunya usaha yang melayani anggota.
  2. Koperasi konsumen adalah koperasi yang beranggotakan para
    konsumen dengan menjalankan kegiatannya yaitu jual beli dengan
    menjual barang konsumsi.
  3. Koperasi produsen adalah koperasi yang beranggotakan para
    pengusaha kecil (UKM) dengan menjalankan kegiatan pengadaan
    bahan baku dan penolong untuk anggotanya.
  4. Koperasi jasa adalah koperasi yang menyelenggarakan kegiatan usaha
    pelayanan jasa non-simpan pinjam yang diperlukan oleh anggota dan
    non anggota

Pengertian Koperasi


Koperasi secara harfiah berasal dari bahasa inggris yaitu Coperation
yang terdiri atas dua suku kata yaitu “co” yang berarti bersama dan
“operation” yang dapat diartikan sebagai bekerja. Jadi secara keseluruhan
koperasi dapat diartikan sebagai bekerja secara bersama. Secara umum
koperasi merupakan suatu kelompok orang-orang yang bekerja secara
bersama-sama demi meningkatkan kesejahteraan bersama.
Pengertian koperasi menurut Undang-undang No 17 tahun 2012 pasal 1
tentang perkoperasian, koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh
orang perseorangan atau badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan
para anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi
aspirasi dan kebutuhan bersama dibidang ekonomi, sosial dan budaya sesuai
dengan nilai dan prinsip koperasi.
Menurut Lintang Gigih (2017 : 15), koperasi adalah perkumpulan
orang-orang yang mengakui adanya kebutuhan tertentu yang sama dikalangan
mereka. Kebutuhan dalam kelompok perorangan yang diusahakan untuk
memenuhi semua melalui usaha bersama dalam koperasi, jadi orang tersebut
membentuk sebuah kelompok secara suka rela dengan kesadaran akan
kebutuhan secara bersama, sehingga dalam menjalankan kegiatan koperasi
tidak ada paksaan, ancaman atau campur tangan dari pihak lain.
Jadi koperasi merupakan badan usaha yang beranggotakan terdiri dari
orang-orang atau badan hukum dan berlandasakan kegiatan sesuai dengan
prinsip koperasi sekaligus sebagai pengerak ekonomi yang berdasarkan asas
kekeluargaan yang mempunyai tujuan untuk mensejahterahkan anggota –
anggotanya. Prinsip dari koperasi ada 7 yaitu sebagai berikut :

  1. Keanggotaan bersifat sukarela.
  2. Pengelolaan dilakukan secara demokrasi.
  3. Pembagian SHU dilakukan secara adil sesuai dengan besarnya jasa usaha
    masing – masing anggota.
  4. Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal.
  5. Kemandirian.
  6. Pendidikan perkoperasian.
  7. Kerjasama antar koperasi.

Pengertian Rasio Keuangan


Rasio keuangan merupakan hasil dari perbandingan suatu bagian yang ada
pada laporan keuangan dengan bagian lainnya yang relevan dan signifikan
(Harahap,2002). Hasil dari perbandingan ini berguna untuk melihat kondisi
perusahaan.
Menurut Natan dan Setiana (2010) rasio adalah gambaran suatu hubungan
atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu
dengan jumlah yang lain. Analisis rasio adalah alat yang dapat digunakan untuk
menggambarkan kondisi atau posisi keuangan suatu perusahaan. Penganalisis
dapat membandingkan suatu rasio keuangan dengan rasio standar untuk
mengetahui baik buruknya suatu perusahaan
Keunggulan analisis rasio menurut Harahap (2002) yaitu:

  1. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca
    dan ditafsirkan.
  2. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan
    laporan keuangan yang sangat rinci.
  3. Mengetahui posisi keuangan perusahaan di tengah industri lain.
  4. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan
    keputusan dan model prediksi.
  5. Menstandardisasi ukuran perusahaan.
  6. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau
    melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau time series.
  7. Lebih mudah melihat tren perusahaan serta prediksi di masa yang akan
    datang.
    Sedangkan keterbatasan analisis rasio keuangan menurut Harahap (2002)
    adalah:
  8. Kesulitan dalam memilih rasio yang tepat yang dapat digunakan untuk
    keputuan pemakainya.
  9. Keterbatasan yang dimiliki akuntansi atau laporan keuangan juga menjadi
    keterbatasan teknik ini seperti:
    a. Bahan pertimbangan rasio atau laporan keuangan itu banyak
    mengandung taksiran dan judgement yang dapat dinilai bias atau
    subjektif.
    b. Nilai yang terkandung dalam laporan keuangan dan rasio adalah nilai
    perolehan (cost) bukan harga pasar.
    c. Klasifikasi dalam laporan keuangan bisa berdampak pada angka rasio
    d. Metode pencatatan yang tergambar dalam standar akuntansi bisa
    diterapkan berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
  10. Jika data untuk menghitung rasio tidak tersedia, maka akan menimbulkan
    kesulitan menghitung rasio.
  11. Sulit jika data yang tersedia tidak sinkron.
  12. Jika dua perusahaan dibandingkan bisa saja teknik dan standar akuntansi yang
    dipakai tidak sama. Oleh karena itu jika dilakukan perbandingan bisa
    menimbulkan kesalahan.

Teknik Analisis Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan dapat dinilai dengan menggunakan beberapa alat
analisis. Menurut Hery (2015) berdasarkan tekniknya, analisis kinerja keuangan
dapat dibedakan menjadi 9 macam, yaitu:
a. Analisis Perbandingan Laporan Keuangan, merupakan teknik analisis dengan
cara membandingkan laporan keuangan dari dua periode atau lebih untuk
menunjukkan perubahan dalam jumlah (absolut) maupun dalam persentase
(relatif).
b. Analisis Tren, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk mengetahui
tendensi keadaan keuangan dan kinerja perusahaan, apakah menunjukkan
kenaikan atau penurunan.
c. Analisis Presentase per Komponen,(common size), merupakan teknik analisis
yang digunakan untuk mengetahui persentase masing-masing komponen aset
terhadap total aset terhadap total aset, persentase masing-masing komponen
utang dan modal terhadap total passiva (total aset), persentase masing-masing
komponen laporan laba rugi terhadap penjualan bersih.
d. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja, merupakan teknik analisis
yang digunakan untuk mengetahui besarnya sumber dan penggunaan modal
kerja selama dua periode waktu yang dibandingkan.
e. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas, merupakan teknik analisis yang
digunakan untuk mengetahui kondisi kas dan perubahan kas pada suatu
periode waktu tertentu.
f. Analisis Rasio Keuangan, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk
mengetahui hubungan di antara pos tertentu dalam neraca maupun laporan
laba rugi.
g. Analisis Perubahan Laba Kotor, merupakan teknik analisis yang digunakan
untuk mengetahui posisi laba kotor dari satu periode ke periode berikutnya,
serta sebab-sebab terjadinya perubahan laba kotor tersebut.
h. Analisis Titik Impas, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk
mengetahui tingkat penjualan yang harus dicapai agar perusahaan tidak
mengalami kerugian.
i. Analisis Kredit, merupakan teknik analisis yang digunakan untuk menilai
layak tidaknya suatu permohonan kredit debitor kepada kreditor, seperti bank.

Tujuan Pengukuran Kinerja Keuangan


Menurut Munawir (2002) pengukuran kinerja keuangan perusahaan
mempunyai beberapa tujuan diantaranya :
a. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi pada saat
ditagih.
b. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi.
c. Untuk mengetahui tingkat profitabilitas dan rentabilitas, yaitu kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu yang
dibandingkan dengan penggunaan aset atau ekuitas secara produktif.
d. Untuk mengetahui tingkat aktivitas usaha, yaitu kemampuan perusahaan
dalam menjalankan dan mempertahankan usahanya agar tetap stabil, yang
diukur dari kemampuan perusahaan dalam membayar pokok utang dan beban
bunga tepat waktu, serta pembayaran dividen secara teratur kepada para
pemegang saham tanpa mengalami kesulitan atau krisis keuangan

Pengukuran Kinerja Keuangan


Sutrisno (2009) menjelaskan bahwa informasi dan perkembangan
keuangan atau kinerja perusahaan dapat diperoleh dengan mengadakan
interpretasi dari laporan keuangan, yaitu menghubungkan elemen-elemen yang
ada dalam laporan keuangan seperti elemen-elemen dari berbagai aktiva satu
dengan yang lainnya, elemen-elemen pasiva yang satu dengan lainnya, elemenelemen aktiva dengan pasiva, elemen-elemen neraca dengan elemen-elemen laba
rugi, akan diperoleh banyak gambaran mengenai kondisi keuangan atau kinerja
suatu perusahaan.
Penilaian kinerja keuangan dapat dilakukan dengan menganalisis laporan
keuangan menggunakan alat analisis berupa rasio-rasio keuangan. Bagi investor
analisis laporan keuangan bertujuan untuk meramalkan keuntungan atau deviden
di masa yang akan datang. Sedangkan bagi pihak manajemen analisis laporan
keuangan bermanfaat untuk mengantisipasi kondisi-kondisi di masa depan. Selain
itu hasil analisis laporan keuangan dapat dijadikan titik awal untuk melakukan
langkah-langkah atau strategi dalam meningkatkan kinerja perusahaan.
Pengukuran kinerja keuangan dapat dilakukan dengan beberapa macam
cara, salah satunya dengan menilai rasio profitabilitas. Rasio profitabilitas
dianggap tepat karena mampu mengukur kinerja keuangan perusahaan melalui
penggunaan aset dan ekuitas dalam menghasilkan laba. Aset dan ekuitas adalah
bagian penting yang berperan dalam kegiatan operasional kegiatan (Dwi Dkk,
2016).

Pengertian Kinerja Keuangan


Pada era ekonomi yang semakin berkembang serta persaingan dalam dunia
bisnis yang semakin ketat dapat berdampak pada keberlangsungan perusahaan
dalam suatu negara. Suatu perusahaan dapat dikatakan mampu menjaga
eksistensinya ketika perusahaan tersebut mampu menjaga kinerja perusahaan tetap
baik dan stabil. Kinerja keuangan perusahaan merupakan pencapaian perusahaan
dalam bidang keuangan yang berkaitan dengan pendapatan, kegiatan operasional,
struktur hutang dan hasil investasi.
Kinerja keuangan adalah gambaran dari pencapaian keberhasilan
perusahaan dapat diartikan sebagai hasil yang telah dicapai atas berbagai aktivitas
yang telah dilakukan. Menurut Munawir (2002) kinerja keuangan merupakan
pencapaian kerja yang diperoleh perusahaan yang dapat dilihat melalui laporan
keuangan perusahaan tersebut dalam suatu periode tertentu.
Jadi kinerja keuangan merupakan gambaran pencapaian kerja yang
diperoleh perusahaan dalam bidang keuangan pada periode tertentu yang dapat
digambarkan melalui laporan keuangan perusahaan. Pengertian kinerja keuangan
suatu perusahaan menunjukkan kaitan yang cukup erat dengan penilaian
mengenai sehat atau tidaknya suatu perusahaan. Ukuran kinerja keuangan
perusahaan meliputi rasio-rasio berikut :

  1. Rasio Likuiditas
  2. Rasio Aktivitas
  3. Rasio Solvabilitas
  4. Rasio Profitabilitas
  5. Rasio Pasar

Tujuan Laporan Keuangan


Laporan keuangan disusun dengan tujuan untuk menyediakan informasi
yang menyangkut posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan
keputusan ekonomi. Menurut Harahap (2002) tujuan laporan keuangan adalah
sebagai berikut :
a. Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai
aktiva dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.
b. Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan
dalam aktiva netto (aktiva dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang
timbul dari kegiatan usaha dalam rangka memperoleh laba.
c. Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai
laporan di dalam menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
d. Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai perubahan dalam
aktiva dan kewajiban suatu perusahaan, seperti informasi mengenai aktivitas
pembiayaan dan investasi.
e. Untuk mengungkapkan sejauh mungkin informasi lain yang berhubungan
dengan laporan keuangan yang relevan untuk kebutuhan pemakai laporan,
seperti informasi mengenai kebijakan akuntansi yang dianut perusahaan.

Jenis-jenis Laporan Keuangan


Menurut Hery (2015) laporan keuangan terdiri atas komponen-komponen
dibawah ini:

  1. Laporan Laba Rugi (Income Statement) merupakan laporan yang sistematis
    tentang pendapatan dan beban perusahaan untuk satu periode waktu tertentu.
    Laporan laba rugi ini pada akhirnya memuat informasi mengenai hasil kinerja
    manajemen atau hasil kegiatan operasional perusahaan, yaitu laba atau rugi
    bersih yang merupakan hasil dari pendapatan dan keuntungan dikurangi
    dengan beban dan kerugian.
  2. Laporan Ekuitas Pemilik (Statement of Owner’s Equity) adalah sebuah
    laporan yang menyajikan ikhtisar perubahan dalam ekuitas pemilik suatu
    perusahaan untuk satu periode waktu tertentu. Laporan ini sering dinamakan
    sebagai laporan perubahan modal.
  3. Neraca (Balance Sheet) adalah sebuah laporan yang sistematis tentang posisi
    aset, kewajiban dan ekuitas perusahaan per tenggal tertentu. Tujuan dari
    laporan ini tidak lain adalah untuk menggambarkan posisi keuangan
    perusahaan.
  4. Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows) adalah sebuah laporan yang
    menggambarkan arus kas masuk dan arus kas keluar secara terperinci dari
    masing-masing aktivitas, yaitu mulai dari aktivitas operasi, aktivitas investasi
    sampai pada aktivitas pendanaan atau pembiayaan untuk satu periode waktu
    tertentu. Laporan arus kas menunjukkan besarnya kenaikan/penurunan bersih
    kas dari seluruh aktivitas selama periode berjalan serta saldo kas yang
    dimiliki perusahaan sampai dengan akhir periode

Laporan Keuangan


Laporan keuangan adalah alat yang digunakan oleh perusahaan untuk
mengkomunikasikan data keuangan sebagai hasil dari proses akuntansi kepada
pihak-pihak yang mempunyai kepentingan (Hery, 2015). Sedangkan menurut
Munawir (2002) Laporan keuangan biasanya terdiri dari 3 bagian, yaitu Neraca,
Laporan Laba Rugi dan Laporan Perubahan Modal. Neraca berisi gambaran
jumlah aktiva, hutang dan ekuitas perusahaan pada periode tertentu, laporan laba
rugi menggambarkan hasil pendapatan perusahaan dan beban-beban yang terjadi
dalam satu periode dan laporan perubahan modal berisi sumber, penggunaan serta
perubahan modal yang terjadi dalam perusahaan.
Menurut Harahap (2002) laporan keuangan adalah output dan hasil akhir
dari proses pencatatan transaksi keuangan dalam perusahaan. Laporan keuangan
berguna bagi pihak yang berkepentingan sebagai salah satu bahan pertimbangan
dalam proses pengambilan keputusan. Laporan keuangan juga sebagai laporan
pertanggungjawaban atau accountability dari pihak manajemen mengenai
pencapaian tujuan yang ditetapkan

Analisis Du Pont System


Pada tahun 1919 Du Pont Corporation mempelopori salah satu metode analisa
kinerja perusahaan yang sampai dengan saat ini dikenal dengan nama Du Pont
Analysis. “Analisa Du Pont System adalah analisa yang mencakup seluruh rasio
aktivitas dan margin keuntungan atas penjualan untuk menunjukkan bagaimana rasio
ini mempengaruhi profitabilitas”.(Brigham & Houston, 2013). Analisis du pont
system merupakan pendekatan untuk mengevaluasi profitabilitas dan tingkat
pengembalian ekuitas (Keown et al., 2014).
Menurut Lianto dalam Yolanda dan Harimurti (2017), Du Pont system adalah
metode yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, karena dalam
analisis du pont terdapat unsur penjualan, aktiva yang digunakan serta laba yang
dihasilkan oleh perusahaan. Sedangkan Syafrida Hani, (2015) menyatakan bahwa
model Sistem DuPont adalah alat yang komprehensif untuk mengukur kinerja
keuangan karena dapat secara langsung menjelaskan 2 laporan utama yaitu laporan
laba rugi dan neraca.
Metode Du Pont ini memberikan informasi mengenai berbagai faktor penyebab
dari naik turunnya kinerja keuangan suatu perusahaan, hampir sama dengan analisis
laporan keuangan biasa, namun memerlukan pendekatan yang lebih terintegrasi
dengan menggunakan struktur laporan keuangan sebagai elemen analisis dan dengan
mengurangi elemen laporan keuangan sampai mendetail, yakni dengan menganalisis
rasio keuangan sehingga perusahaan dapat mengetahui berbagai faktor yang
mempengaruhi efektivitasnya dalam mengolah sumber daya perusahaan yang dimiliki
sehingga perencanaan keuangan mereka akan lebih baik di masa depan. Pendekatan
dengan Analisis Keuangan Sistem Dupont merupakan salah satu alat ukur kinerja
keuangan yang relevan digunakan untuk melihat sejauh mana efektivitas perusahaan
dalam pengembalian atas investasi yang dilakukan oleh perusahaan atau ROI (Return
On Investment).

Tujuan dan Manfaat Analisis Rasio Keuangan


Menurut Munawir (2010:64), tujuan dari analisis rasio keuangan antara lain
yaitu :

  1. Untuk mengukur kinerja keuangan secara menyeluruh (overall measures)
  2. Untuk mengukur profitabilitas atau rentabilitas, kemampuan perusahaan untuk
    mendapatkan keuntungan dari operasinya (profitability measures)
  3. Untuk keperluan pengujian investasi (test of invesment utilization)
  4. Untuk pengujian kondisi keuangan tentang tingkat likuiditas dan solvabilitas (test
    of finance condition)
    Manfaat dari penggunaan rasio keuangan sebagai alat analisis menurut
    (Fahmi:2014:109) yaitu :
  5. Analisis rasio keuangan yang sangat berguna digunakan sebagai alat untuk
    mengevaluasi kinerja dan kinerja suatu perusahaan.
  6. Analisis rasio keuangan sangat berguna bagi manajemen sebagai acuan untuk
    perencanaan.
  7. Analisis rasio keuangan dapat digunakan sebagai alat untuk menilai kesehatan
    bisnis dari sudut pandang keuangan.
  8. Analisis rasio keuangan juga berguna bagi kreditur yang dapat digunakan untuk
    menilai potensi risiko yang akan mereka hadapi terkait dengan adanya jaminan
    kelangsungan pembayaran bunga dan ketersediaan pembayaran pokok.
  9. Analisis rasio keuangan juga dapat digunakan sebagai penilaian bagi pihak
    stakeholder organisasi

Pengertian Analisis Rasio Keuangan


Menurut Sujarweni (2017:59) Analisis Rasio Keuangan merupakan aktivitas
untuk menganalisis laporan keuangan dengan cara membandingkan satu akun dengan
akun lainnya yang ada dalam laporan keuangan, perbandingan tersebut bisa antar akun
dalam laporan keuangan neraca maupun rugi laba. Menurut Kasmir (2014:104) Analisa
rasio keuangan yaitu kegiatan membandingkan angka-angka dalam laporan keuangan
dan perbandingan ini dapat dilakukan antara satu komponen dengan komponen yang
lain dalam satu laporan keuangan atau antar komponen yang ada di antara laporan
keuangan. Selanjutnya, angka yang diperbandingkan dapat berupa angka-angka dalam
satu periode pembukuan maupun beberapa periode.
Rasio keuangan adalah alat analisis keuangan perusahaan untuk mengevaluasi
kinerja suatu perusahaan atas dasar membandingkan data-data keuangan yang terdapat
dalam laporan keuangan (neraca, laporan arus kas, laporan laba rugi). Rasio juga
menggambarkan hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu
jumlah tertentu dengan jumlah lainnya. Penggunaan alat analisis berupa rasio dapat
menjelaskan tentang penilaian yang baik dan buruk tentang posisi keuangan suatu
perusahaan, terutama jika rasio tersebut dibandingkan dengan rasio-rasio pembanding
yang digunakan sebagai standar