Pengertian Persepsi Terhadap Citra Merek


Menurut Kotler dan Keller (2008: 259 ) persepsi terhadap citra merek
mengidentifikasi sumber atau pembuat produk dan memungkinkan konsmen
untuk menuntut tanggung jawab atas kinerja dan produknya kepada perusahaan.
Konsumen dapat mengevaluasi produk secara berbeda tergantung pada bagaimana
pemerekan produk tersebut. Mereka belajar tentang merek melalui pengalaman
masa lalu dengan produk tersebut dan program pemasarannya, menemukan merek
mana yang memuaskan kebutuhan mereka dan mana yang tidak. Ketika hidup
konsumen menjadi semakin rumit, terburu-buru, dan kehabisan waktu,
kemampuan merek untuk menyederhanakan pengambilan keputusan dan
mengurangi resiko adalah sesuatu yang berharga.
Persepsi terhadap citra merek juga melaksanakan fungsi yang berharga
bagi perusahaan.
a. Persepsi terhadap citra merek menyederhanakan penanganan atau penelusuran
produk.
b. Persepsi terhadap citra merek membantu mengatur catatan persediaan dan
catatan akuntansi.
c. Persepsi terhadap citra merek juga menawarkan perlindungan hukum kepada
perusahaan untuk fitur-fitur atau aspek nilai produk.
d. Persepsi terhadap citra merek dapat dilindungi melalui nama dagang terdaftar,
proses manufaktur dapat dilindungi melalui hak paten, dan kemasan dapat
dilindungi melalui hak cipta dan rancangan hak milik.
e. Hak milik intelektual memastikan bahwa perusahaan dapat berinvestasi dengan
aman dalam merek tersebut dan mendapatkan keuntungan dari sebuah aset
yang berharga

Faktor-faktor Kepuasan Konsumen


Menurut Ratnasari dan Aksa (2011: 117) untuk menentukan tingkat
kepuasan konsumen, faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh perusahaan
adalah:
a. Kualitas produk, konsumen akan merasa puas apabila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
b. Kualitas pelayanan, pada industri jasa, adalah mutlak bahwa konsumen akan
merasa puas bila mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan
yang konsumen harapkan.
c. Emosional, konsumen akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan merek
tertentu, sehingga membuatnya mengalami tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Kepuasan yang diperoleh bukan karena kualitas dari produk, tetapi nilai sosial
atau self-esteem yang membuat konsumen menjadi puas terhadap suatu merek
tertentu.
Menurut Tjiptono dan Candra (207: 209) faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan konsumen:
a. Produk, layanan produk yang baik dan memenuhi selera serta harapan
konsumen. Produk dapat menciptakan kepuasan konsumen. Dasar penilaian
terhadap pelayanan produk ini meliputi: jenis produk, mutu atau kualitas
produk dan persediaan produk.
b. Harga, merupakan bagian yang melekat pada produk yang mencerminkan
seberapa besar kualitas produk tersebut. Dasar penilaian terhadap harga
meliputi tingkat harga dan kesesuaian dengan nilai jual produk, variasi atau
harga terhadap produk.
c. Promosi, dasar penelitian promosi mengenai informasi produk dan jasa
perusahaan dalam usaha mengkomunikasikan manfaat produk dan jasa tersebut
pada konsumen sasaran. Penelitian dalam hal ini meliputi iklan produk dan
jasa, diskon barang dan pemberian hadiah-hadiah.
d. Lokasi, tempat merupakan bagian dari atribut perusahaan yang berupa lokasi
perusahaan dan konsumen. Penilaian terhadap atribut lokasi meliputi lokasi
perusahaan, kecepatan dan ketepatan dalam transportasi.
e. Pelayanan karyawan, merupakan pelayanan yang diberikan karyawan dalam
usaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dalam usaha memuaskan
konsumen. Dasar penilaian meliputi kesopanan, keramahan, kecepatan dan
ketepatan.
f. Fasilitas, bagian dari atribut perusahaan yang berupa perantara guna
mendukung kelancaran operasional perusahaan yang berhubungan dengan
konsumen. Dasar penilaian meliputi penataan barang, tempat penitipan barang,
kamar kecil dan tempat ibadah.
g. Suasana, merupakan faktor pendukung, karena apabila perusahaan
mengesankan maka konsumen mendapatkan kepuasan tersendiri. Dasar
peniliaian meliputi sirkulasi udara, kenyamanan dan keamanan.
Menurut Cravens (1996: 8) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
konsumen meliputi:
a. Sistem pengiriman
Memindahkan produk dari produsen ke konsumen atau pemakai akhir dalam
bisnis biasanya meliputi saluran distribusi dari para pemasok, pabrika, dan para
perantara.
b. Performa produk dan jasa
Performa dan keunggulan suatu produk dan jasa sangatlah penting dalam
mempengaruhi kepuasan konsumen.
c. Persepsi terhadap citra merek
Para eksekutif bisnis mengakui bahwa citra atau merek perusahaan yang baik
merupakan keunggulan bersaing yang mempengaruhi tingkat kepuasan
konsumen dari sudut positif.
d. Hubungan harga-nilai
Pembeli mengininkan nilai yang ditawarkan merek susai dengan harga yang
diberikan, oleh karenanya terdapat hubungan yang menguntungkan antara
harga dan nilai.
e. Persaingan
Kelemahan dan kekuatan para pesaing juga mempengaruhi kepuasan
konsumen dan merupakan peluang untuk memperoleh keunggulan bersaing

Pengertian Kepuasan Konsumen


Menurut Peter dan Olson (2016: 184) kepuasan konsumen adalah konsep
yang paling menentukan dalam pemikiran pemasaran dan riset konsumen. Secara
teori, konsumen yang merasa puas dengan produk, jasa, atau merek, kemungkinan
besar akan terus membelinya dan memberitahukan kepada yang lain perihal
tersebut. Bila tidak puas, kemungkinan besar konsumen akan berganti produk atau
merek dan mengadukan kepada produsen barang, pengecer, dan konsumen lain.
Sumarwan (2011: 387) mengungkapkan bahwa, teori yang menjelaskan
kepuasan atau ketidakpuasan konsumen terbentuk adalah The Expectancy
Disconfirmation Model, yang mengemukakan bahwa harapan konsumen sebelum
pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh oleh konsumen dari produk yang
dibeli tersebut. Ketika konsumen membeli suatu produk, maka ia memiliki
harapan tentang bagaimana produk tersebut berfungsi (product performance).
Produk akan berfungsi sebagai berikut:
a. Produk berfungsi lebih baik dari yang diharapkan, inilah yang disebut sebagai
diskonfirmasi positif (positive disconfirmation). Jika ini terjadi, maka
konsumen akan merasa puas.
b. Produk berfungsi seperti yang diharapkan, inilah yang disebut sebagai
konfirmasi sederhana (simple confirmation). Produk tersebut tidak memberikan
rasa puas, dan produk atau merek tersebut pun tidak mengecewakan konsumen.
Konsumen akan memiliki perasaan netral.
c. Produk berfungsi lebih buruk dari yang diharapkan, inilah yang disebut sebagai
diskonfirmasi negatif (negative disconfirmation). Produk yang berfungsi buruk,
tidak sesuai dengan harapan konsumen akan menyebabkan kekecewaan,
sehingga konsumen merasa tidak puas.
Konsumen akan memiliki harapan mengenai bagaimana produk tersebut
seharusnya berfungsi (performance expectation), harapan tersebut adalah standar
kualitas yang akan dibandingkan dengan fungsi atau kualitas produk yang
sesungguhnya dirasakan konsumen. Fungsi produk yang sesungguhnya dirasakan
konsumen (actual performance) sebenarnya adalah persepsi konsumen terhadap
kualitas produk tersebut.
Di dalam suatu proses keputusan, konsumen tidak akan berhenti hanya
sampai proses konsumsi. Konsumen akan melakukan proses evaluasi terhadap
konsumsi yang telah dilakukannya. Inilah yang disebut sebagai evaluasi alternatif
pasca pembelian atau pasca konsumsi. Proses ini bisa juga dapat disebut sebagai
proses evaluasi alternatif tahap kedua. Hasil dari proses evaluasi pasca konsumsi
adalah konsumen puas atau tidak puas terhadap konsumsi produk atau merek yang
telah dilakukannya. Setelah mengkonsumsi suatu produk atau jasa, konsumen
akan memiliki perasaan puas atau tidak puas terhadap produk atau jasa yang
dikonsumsinya. Kepuasan akan mendorong konsumen membeli dan
mengkonsumsi ulang produk tersebut (Sumarwan ,2002: 329). Teori yang
menjelaskan bagaimana kepuasan atau ketidakpuasan konsumen terbentuk adalah
the expectancy disconfirmation model, yang mengemukakan bahwa kepuasan dan
ketidakpuasan konsumen merupakan dampak dari perbandingan antara harapan
konsumen sebelum pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh oleh
konsumen dari produk yang dibeli tersebut. Produk berfungsi lebih baik dari yang
diharapkan, inilah yang disebut sebagai diskonfirmasi positif. Jika ini terjadi,
maka konsumen akan merasa puas, produk berfungsi seperti yang tidak
diharapkan, inilah yang disebut sebagai konfirmasi sederhana. Produk tersebut
tidak memberikan rasa puas, dan produk tersebut tidak mengecewakan konsumen.
Konsumen akan memiliki perasaan netral. Produk berfungsi lebih buruk dari yang
diharapkan, inilah yang disebut sebagai diskonfirmasi negatif. Produk yang
berfungsi buruk, tidak sesuai dengan harapan konsumen akan menyebabkan
kekecewaan, sehingga konsumen merasa tidak puas.
Woodside dalam Utama (2003: 8) menyatakan bahwa kepuasan atau
ketidakpuasan konsumen adalah respon konsumen terhadap evaluasi
ketidaksesuaian diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau
norms kinerja lainya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah
pemakaiannya. Engel dalam Utama (2003: 8) mengungkapkan bahwa kepuasan
konsumen merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang dipilih sekurang
kurangnya memberikan hasil (outcome) sama atau melampaui harapan konsumen,
sedangkan Kotler dalam Utama (2003: 8) menandaskan bahwa kepuasan
konsumen adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan harapannya.
Kepuasan didefinisikan disini sebagai evaluasi pasca konsumsi bahwa
suatu alternatif yang dipilih setidaknya memenuhi atau melebihi harapan.
Singkatnya, alternatif tersebut setidaknya bekerja sebaik yang anda harapkan.
Ketidakpuasan tentu saja adalah hasil dari harapan yang diteguhkan secara
negatif. Tekanan konsumerisme dan penghinaan publik yang semakin besar untuk
kualitas produk yang jelek telah membawa topik ini ke garis terdepan dalam
penelitian konsumen dalam dasawarsa terakhir (Engel, Blackwell, dan Miniard,
1995: 210).

Aspek-aspek Kepuasan Konsumen


Menurut Ratnasari dan Aksa (2011: 120) mengkonfigurasi ke dalam lima
dimensi perilaku sebagai berikut:
a. Loyalty (kesetiaan kepada perusahaan).
b. Switch (keinginan berganti produk).
c. Willingness to pay more (kemauan untuk membayar lebih harga produk).
d. External response to problem (respon ke eternal bila menghadapi masalah).
e. Internal response to problem (respon ke perusahaan bila menghadapi masalah).
Parasuraman dalam Ratnasari dan Aksa (2011: 120) membuat analisis faktor yang
menjadi pendorong (battery) perilaku konsumen yang didesain untuk mewakili
lima kategori perilaku seperti di atas. Battery dikelompokkan kedalam empat
kategori yaitu:

a. Komunikasi dari mulut ke mulut.
b. Keinginan membeli.
c. Sensitivitas terhadap harga.
d. Perilaku pengaduan.
Menurut riset yang dilakukan Zeithaml dalam Lupiyoadi (2013: 240)
aspek-aspek perilaku kepuasan konsumen meliputi:
a. Loyalitas (loyalitas).
b. Beralih (switch).
c. Membayar lebih (pay more).
d. Respon eksternal (external response).
e. Respon internal (internal response)

Aspek – Aspek Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dkk (dalam Syukron 2015:181) urutan aspek kualitas
pelayanan sesuai tingkat kepentingannya adalah sebagai berikut:
a. Reliabilitas (Reliability) yaitu berkaitan dengan kemampuan suatu
perusahaan untuk menyediakan layanan yang tepat secara akurat pada
percobaan pertama tanpa adanya kesalahan, serta memberikan jasanya
sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.
b. Jaminan (Assurance) yaitu perilaku para karyawan dan perusahaan yang
yang berkemampuan dalam menumbuhkan kepercayaan dan rasa aman para
pelanggan.
c. Daya tanggap (Responsiveness) yaitu mengacu pada keterkaitan antara
kesiapan dan kapabilitas karyawan dalam membantu pelanggan dan
merespons permintaan. Melibatkan memberikan informasi kepada
pelanggan tentang kapan produk atau layanan akan diberikan dan kemudian
menyampaikannya dengan cepat.
d. Empati (Emphaty) yaitu perusahaan perusahaan yang memiliki jam
operasional yang sesuai dan memahami dengan baik masalah pelanggan,
serta mampu memberikan perhatian khusus kepada para pelanggan.
e. Bukti Fisik (Tangibles) yaitu merujuk pada keberadaan daya tarik peralatan,
fasilitas, penampilan karyawan, dan material yang digunakan oleh
perusahaan.
Menurut Tjiptono dan Chandra (dalam Hidayati dkk 2021:78) terdapat 5
aspek dalam Kualitas Pelayanan yaitu:
a. Bukti Fisik (Tangibles)
Terkait dengan daya tarik fasilitas fisik perusahaan, termasuk penampilan
karyawan, peralatan, dan bahan yang digunakan.
b. Empati (Emphaty)
Menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memahami masalah
pelanggannya dan mengambil tindakan yang mengutamakan kepentingan
pelanggan. Ini juga melibatkan pemberian perhatian personal kepada para
pelanggan dan menyediakan jam operasional yang nyaman bagi pelanggan.
c. Keandalan (Reliability)
Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menyediakan layanan yang
akurat sejak pandangan pertama tanpa adanya kesalahan, dan juga untuk
mengirimkan jasanya sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama.
d. Daya tanggap (Responsiveness)
Berkaitan dengan kesiapan dan kapabilitas karyawan dalam membantu
pelanggan, merespon permintaan mereka, dan memberikan informasi
tentang kapan jasa akan diberikan, diikuti dengan penyediaan jasa secara
cepat.
e. Jaminan (Assurance)
Memberikan jaminan yang baik antara perusahaan dan pelanggan, yang
mencakup kompetensi, kesopanan, dan keandalan yang dapat dipercaya.
Menurut Zeithaml & Berry (dalam Dahlan 2023:115) Terdapat lima aspek
dalam kualitas pelayanan yaitu diantaranya:
a. Tangible (Bukti Fisik)
Suatu kemampuan untuk memperlihatkan keberadaanya kepada pihak lain
atau pihak eksternal. Seperti penampilan dan kemampuan fasilitas fisik serta
kondisi lingkungan sekitar, merupakan bukti konkret dari pelayanan yang
diberikan.
b. Reliability (Kehandalan)
Mencakup kemampuan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang
dijanjikan secara terpercaya dan akurat.
c. Responsiveness (Tanggapan)
Merujuk pada tekad untuk membantu dan memberikan pelayanan yang
cepat dan tepat kepada pelanggan, termasuk penyampaian informasi dengan
jelas.
d. Assurance (Jaminan dan Kepastian)
Pengetahuan, sikap yang sopan, dan kemampuan para pegawai dapat
membentuk rasa percaya dari pelanggan. Ini melibatkan beberapa
komponen, seperti komunikasi yang efektif, kredibilitas, keamanan,
kompetensi, dan sikap yang sopan santun.
e. Empathy (Empati)
Empati melibatkan kemampuan memberikan perhatian yang tulus dan
bersifat individual kepada pelanggan dengan usaha untuk memahami
keinginan pelanggan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (dalam Indrasari, 2019:54) kualitas pelayanan adalah
suatau keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan jasa, produk, sumber daya
manusia, dan lingkungan yang dimana dalam prosesnya dapat memenuhi atau
melebihi kualitas pelayanan yang diharapkan. Sejalan dengan pendapat
Tjiptono, Utami (2017:366) menjelaskan bahwa kualitas pelayanan adalah
kualitas yang konsisten antara persepsi konsumen, produk, dan proses dimana
ketiganya dapat menyumbang suatu keberhasilan perusahaan. Jasa atau produk
yang berkualitas mempunyai peranan yang penting dalam membentuk kepuasan
pelanggan. Kepuasan pelanggan dapat semakin tinggi sesuai dengan semakin
berkualitasnya suatu jasa atau produk. Salah satu cara untuk mempertahankan
kepuasan pelanggan yaitu dengan memberikan kualitas pelayanan yang lebih
tinggi dari kompetitor secara konsisten dan dapat memenuhi harapan
pelanggan.
Menurut pendapat Hidayati dkk (2021:75) Kualitas Pelayanan adalah
tingkatan suatu keunggulan yang dimana diharapkan untuk dapat memenuhi
harapan pelanggan yang diakui adanya korelasi positif, sedangkan menurut
Syukron (2015:180) Kualitas Pelayanan adalah segala sesatu upaya dan usaha
yang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan dan juga
disertai dengan ketepatan dalam penyampaiannya sehingga dapat tercipta
kesesuaian yang imbang dengan harapan pelanggan

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Ada beberapa faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan
menurut Indrasari (2019:87) diantaranya yaitu:
a. Kualitas produk
Kepuasan pelanggan selalu terjadi setelah melakukan evaluasi terhadap
produk yang memiliki standar kualitas yang tinggi atau berkualitas.
b. Harga
Produk dengan kualitas relatif serupa, namun ditawarkan dengan harga yang
lebih terjangkau, dapat memberikan nilai yang lebih tinggi dan kepuasan
kepada pelanggan.
c. Biaya
Kepuasan pelanggan meningkat ketika mereka tidak perlu mengeluarkan
biaya tambahan atau memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan
produk atau jasa.
d. Emosional
Kepuasan pelanggan tercapai ketika mereka merasa bangga dan puas,
terutama jika mereka yakin bahwa orang lain menghargai penggunaan
produk atau jasa tersebut.
e. Kualitas pelayanan
Pelanggan cenderung merasa puas jika menerima suatu pelayanan yang baik
dan sesuai dengan keinginan dan harapan mereka.
Menurut Tjiptono (dalam Hermanto 2019:24) ada 2 faktor yang
mempengaruhi kepuasan pelanggan yaitu:
a. Faktor External yaitu di luar kendali perusahaan seperti cuaca dan suasana
hati pelanggan.
b. Faktor Internal seperti karyawan, waktu, ketelitian.
Menurut Irawan (dalam Daga 2017:78) faktor – faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan adalah sebagai berikut:
a. Harga
Harga menjadi salah satu faktor penentu bagi konsumen dalam membuat
keputusan pembelian, karena konsumen bersedia membayar sejumlah uang
yang sesuai dengan nilai barang atau jasa yang mereka terima.
b. Faktor Emosional (Emotional Factor)
Kepuasan konsumen dapat dilihat dari aspek emosional, seperti rasa bangga,
percaya diri, dan persepsi bahwa produk yang dibeli merupakan simbol
kesuksesan.
c. Kemudahan
Pentingnya kemudahan, kenyamanan, dan efisiensi dalam mendapatkan
produk atau layanan menjadi faktor penting yang dapat menciptakan
kepuasan konsumen.
d. Kualitas Produk
Kualitas produk dapat diukur melalui enam elemen, yaitu kinerja, daya
tahan, fitur, reliabilitas, estetika, dan penampilan produk.
e. Kualitas Pelayanan (Service Quality)
Kualitas pelayanan memiliki lima dimensi utama, termasuk bukti fisik,
kehandalan, ketanggapan, jaminan, dan empati, yang berkontribusi pada
kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang diterima

Aspek – Aspek Kepuasan Pelanggan


Menurut Ferrinadewi (dalam Hidayati dkk 2021:85) terdapat 3 aspek
kepuasan pelanggan yaitu:
a. Kognitif yaitu merujuk pada pengetahuan atau keyakinan pelanggan yang
diperoleh melalui pengalaman.
b. Afektif yaitu mencakup gambaran emosi dan perasaan pelanggan saat
mereka secara langsung mengevaluasi suatu produk.
c. Konatif yaitu tindakan atau perilaku pelanggan yang menunjukkan
kecenderungan terhadap suatu produk.
Menurut Indrasari (2019:84) aspek – aspek kepuasan pelanggan diantaranya
yaitu:
a. Penanganan terhadap komplain dari pelanggan yaitu salah satu yang hal
penting untuk diperhatikan yaitu komplain/klaim dari pelanggan.
b. Warranty costs yaitu biaya garansi produk/jasa apat dihitung sebagai
persentase dari total penjualan.
c. Market Share yaitu pangsa pasar yang merupakan parameter yang perlu
diukur untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, fokusnya adalah pada
jumlah, bukan kualitas, dari pelayanan yang disediakan oleh perusahaan.
d. Costs of poor quality yaitu biaya kualitas buruk yang merupakan suatu
aspek yang dapat dianggap memuaskan apabila biaya untuk mendeteksi
cacat pelanggan dapat diestimasi.
Aspek – aspek kepuasan pelanggan menurut Ratnasari dan Aksa (2011:120)
sebagai berikut:
a. Loyalitas (Loyalty)
b. Beralih/keinginan berganti (switch)
c. Keinginan membayar lebih (Willingness to pay more)
d. Respon eksternal apabila menghadapi masalah (External response to
problem).
e. Respon internal perusahaan apabila menghadapi masalah (Internal response
to problem)

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Beberapa ahli mengemukakan pendapat mengenai kepuasan pelanggan
diantaranya menurut Diana dan Tjiptono (2022:155) sebagai hasil yang timbul
dari pengalaman konsumsi khusus, seperti situasi kognitif ketika pembeli
merasa dihargai atau setara dengan pengorbanan yang sudah dilakukan, respon
emosional terhadap pengalaman yang terkait dengan produk atau jasa tertentu,
dan kondisi psikologis sebelum dan sesudah menggunakan produk atau jasa
tersebut. Sangadji & Sopiah (2013:180) turut menjelaskan bahwa kepuasan
pelanggan merujuk pada perasaan yang muncul setelah membandingkan antara
kinerja atau hasil aktual suatu produk dengan harapan yang telah dipikirkan,
dapat berupa rasa senang atau kecewa.
Menurut Chandra (2019:262) kepuasan pelanggan yaitu tanggapan
emosional atau kognitif yang berkaitan dengan ekspetasi dari suatu produk atau
pengalaman konsumsi setelah memilih produk atau jasa tersebut, sedangkan
menurut Hermanto (2019:21) kepuasan pelanggan adalah suatu respon
emosional yang ditunjukkan oleh konsumen setelah proses pembelian
produk atau menggunakan layanan yang muncul dari perbandingan antara
harapan awal mereka dengan kinerja aktual dari produk atau layanan tersebut.
Hidayati dkk (2021:80) mendefinisikan bahwa kepuasan pelanggan dapat
dianggap sebagai hasil dari perbandingan antara persepsi terhadap kinerja suatu
produk atau layanan dan harapan yang dimiliki. Apabila kinerja memenuhi atau
melampaui harapan, pelanggan merasa puas; sebaliknya, apabila kinerja berada
di bawah harapan, pelanggan merasa tidak puas, sedangkan menurut Tjiptono
(2014:353) upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan sesuatu atau dilakukan
dengan baik adalah pengertian dari kepuasan pelanggan.
Menurut pendapat Adhari (2021:11) kepuasan pelanggan adalah penilaian
setelah pembelian yang minimalnya sejajar atau melebihi harapan pelanggan,
sementara ketidakpuasan muncul ketika hasilnya tidak memenuhi harapan
pelanggan. Menurut Fandy (2019:123) Kepuasan pelanggan merujuk pada
perasaan kegembiraan atau kekecewaan yang dirasakan seseorang setelah
sebelumnya membandingkan kinerja atau hasil produk dengan harapannya.
Kepuasan terjadi ketika harapan terpenuhi, sementara ketidakpuasan muncul
jika harapan tidak terpenuhi, dan yang terakhir dijelaskan oleh Chandra dkk
(2020:120) bahwa kepuasan pelanggan adalah tanggapan yang diberikan oleh
pelanggan terhadap pelayanan atau kinerja (hasil) yang mereka terima.
Selanjutnya, pelanggan akan mengevaluasi kinerja (hasil) atau hasil tersebut
dengan membandingkannya dengan harapan mereka

Kewajaran Harga


Price Fairness atau Kewajaran Harga digambarkan sebagai evaluasi
dari pelanggan apakah harga yang diberikan oleh toko untuk suatu produk
itu sesuai atau tidak (Jin, dkk, 2016). Harga telah diterima sebagai salah
satu faktor pemasaran yang dapat mempengaruhi perilaku pelanggan. Hal
ini juga digambarkan sebagai penilaian dari pelanggan apakah harga
tersebut wajar, acceptable atau tidak (Hanaysha, 2016). Jika harga untuk
sebuah produk dikatakan sesuai atau wajar oleh pelanggan dan masuk akal
itulah yang diartikan sebagai Price Fairness (Abdullah, dkk, 2018).
Mereka juga menyebutkan bahwa harga yang tidak adil atau tidak wajar
dapat menimbulkan emosi negative bagi pelanggan seperti kemarahan.
Selain itu, pelanggan dapat mengandalkan price fairness untuk
pembanding antar toko dan pesaingnya. Hanaysha (2016) juga menyatakan
bahwa kewajaran harga dapat memberikan pengaruh yang signifikan pada
reaksi pelanggan dalam mengambil keputusan soal pembelian suatu produk
atau jasa. Githiri (2018) juga menyatakan bahwa merek cenderung
berusaha memanfaatkan keuntungan mereka berdasarkan harga produk
atau layanan. Ini dikarenakan konsumen cenderung memilih produk yang
dapat memberi mereka nilai terbaik dengan harga terendah. Lebih lanjut
lagi, Ia juga berpendapat bahwa mengukur price fairness berdasarkan
ukuran prosi makanan dan minuman yang layak dan harga yang lebih baik
dibandingkan dengan para pesaing

Kualitas Pelayanan


Secara tradisional, kualitas layanan telah dikonseptualisasikan sebagai
perbedaan antara harapan pelanggan mengenai layanan yang akan diterima
dan persepsi layanan yang diterima (Setiawan and Sayuti, 2017). Dalam
penelitian sebelumnya, kualitas layanan berkaitan dengan sejauh mana
layanan dapat memenuhi kebutuhan atau harapan pelanggan (Dotchin &
Oakland, 1994). Ini juga telah dikonseptualisasikan sebagai kesan umum
konsumen tentang kerugian atau keuntungan relatif terhadap layanan
kepuasan (Zeithaml, Berry, dan Parasuraman, 1990). Kewajaran harga
juga sering menjadi pertimbangan bagi pelanggan, karena harga suatu
produk atau jasa mempengaruhi kepuasan pelanggan (Githiri, 2018;
Hanaysha, 2016). Dari injauan komprehensif studi kualitas layanan,
Asubonteng, McCleary, dan Swan (1996) menyimpulkan bahwa jumlah
dimensi kualitas layanan bervariasi di industri yang berbeda. Kettinger dan
Lee (1994) mengidentifikasi empat dimensi dalam studi kualitas sistem
informasi (SI), yang tidak memiliki dimensi nyata. Beberapa dimensi yang
dicantumkan untuk mengukur kualitas pelayanan ini adalah sebagai
berikut :

  1. Tangible atau Berwujud
    Menurut (Pakur’ar dkk, 2019) Dikarenakan pelanggan akan menilai
    kualitas dari layanan yang diberikan oleh organisasi, berbentuk atau
    berwujud menjadi citra fisiknya. Nguyen, dkk pada tahun 2018 dan
    Al-ababneh dkk. (2018) menyebutkan tangibles sebagai perasaan
    senang yang dapat dirasakan dari toko peralatan fisik dan fasilitas
    yang disediakan, termasuk penampilan dari karyawan atau personel.
  2. Reliability atau Keandalan
    Keandalan artinya kemampuan untuk melakukan layanan secara
    akurat (Nguyen dkk, 2018). Keandalan juga dianggap sebagai
    kemampuan penyedia produk atau layanan untuk melakukan sesuai
    dengan apa yang dijanjikan sebelumnya atau dengan kata lain tepat
    (Al-Ababneh dkk, 2018).
  3. Responsiveness atau Ketanggapan
    Ketanggapan adalah ketika perusahaan bersedia membantu
    pelanggan mereka secara akurat (Nguyen dkk, 2018) dan memberi
    mereka layanan yang cepat (Al-ababneh dkk, 2018). Dengan
    menginformasikan pelanggan waktu layanan akan diberikan.
  4. Assurance atau Jaminan
    Assurance adalah kesopanan, kompetensi dan kemampuan personel
    untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan (Nguyen dkk, 2018 ).
    Selain itu, Al-Ababneh dkk, (2018) menyatakan bahwa Jaminan
    adalah kondisi ketika karyawan memiliki kemampuan untuk
    mendapatkan kepercayaan pelanggan baik dengan membuat
    mereka merasa aman saat melakukan transaksi atau menanyakan
    sesuatu. Selain itu, semua karyawan juga harus bersikap sopan atau
    polite kepada semua pelanggan tanpa terkecuali.
  5. Empathy atau Empati
    Empati berarti menyesuaikan bantuan yang diberikan oleh
    perusahaan kepada pelanggannya (Nguyen dkk, 2018). Empati
    sendiri yang diberikan dari karyawan toko dapat memberikan
    dampak pada konsumen berupa perasaan istimewa dan perasaan
    unik (Pakur’ar dkk, 2019). Penting bagi karyawan untuk berusaha
    memahami masalah pelanggan dan memperlakukannya selayaknya
    mereka diperlakukan secara pribadi (Al-ababneh dkk, 2018)

Dimensi Kualitas Pelayanan


Dimensi servqual adalah sebuah bentuk kuisioner
yang digunakan untuk mengukur kualitas jasa. Cara ini
mulai dikembangkan pada tahun 1980-an oleh Zeithaml,
Parasuraman & Berry, dan telah digunakan dalam
mengukur berbagi kualitas jasa. Dengan kuisioner ini kita
bisa mengetahui seberapa besar celah (Gap) yang ada
diantara persepsi pelanggan dan ekspetasi pelanggan
terhadap suatu perusahaan jasa. Kuisioner Servqual dapat
disesuaikan (diubah) agar sesuai dengan industri jasa
yang berbeda-beda. Misalnya bank, restoran maupun
perusahaan telekomunikasi.
Perkembangan terakhir ditemukan bahwa dimensi
kualitas telah disederhanakan menjadi lima dimensi
kualitas jasa yaitu : Tangible, responsiveness, assurance,
emphaty, reliability (Tjiptono, 2016).

  1. Tangible : penampilan fisik, peralatan, personil,
    material-material, komunikasi.
  2. Reliability : kemampuan untuk melaksanakan
    service yang telah dijanjikan secara akurat dan
    dapat diandalkan.
  3. Responsiveness : kemampuan untuk membantu
    pengguna jasa dan penyediaan service yang cepat.
  4. Assurance : pengetahuan, kesopanan dan
    kemampuan karyawan untuk mendapatkan
    kepercayaan pengguna jasa.
  5. Empathy : sikap peduli, perhatian secara individu
    yang diberikan oleh perusahaan kepada pengguna
    jasa

Konsep Pelayanan


Pelayanan adalah kegiatan-kegiatan yang tidak
jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau
pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu
produk atau pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan
bahwa pelayanan adalah suatu urutan kegiatan yang
terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang atau
mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen
(Choliq Sabana 2015).
Pemerintah sebagai lembaga birokrasi mempunyai
fungsi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sebaliknya, masyarakat sebagai pihak yang memberikan
mandat kepada pemerintah mempunyai hak untuk
memperoleh pelayanan. Oleh karena itu, tuntutan
terhadap pelayanan umum melahirkan suatu studi, yaitu
servis bagaimana cara memberikan pelayanan sebaik-
baiknya dan meningkatkan kualitas pelayanan umum.
Aparat sebagai pelayan hendaknya memahami variable-
variabel pelayanan seperti yang terdapat dalam agenda
perilaku pelayanan prima sektor publik Sespanas LAN
(Choliq Sabana 2015). Variabel yang di maksud adalah
sebagai berikut:

  1. Pemerintah yang bertugas melayani
  2. Masyarakat yang dilayani pemerintah.
  3. Kebiksanaan yang dijadikan landasan pelayanan
    publik.
  4. Peralatan atau sasaran pelayanan yang canggih.
  5. Resources yang tersedia untuk diracik dalam
    bentuk kegiatan pelayanan.
  6. Kualitas pelayanan yang memuaskan masyarakat
    sesuai dengan standar dan asas-asas pelayanan
    masyarakat.
  7. Manajemen dan kepemimpinan serta organisasi
    pelayanan masyarakat.
  8. Perilaku yang terlihat dalam pelayanan dan
    masyarakat, apakah masing-masing menjelaskan
    fungsi.

Prinsip Dasar Kepuasan Pelanggan


Menurut Handi Irawan (2002), salah satu pencetus
Indonesia Customer Satisfaction Award (ISCA) dan
penggagas ide Hari Pelanggan Nasional 2003, ada lima
driver utama (faktor-faktor pendorong) yang membuat
pelanggan merasa puas, yaitu:

  1. Kualitas produk
  2. Harga
  3. Kualitas layanan (Service quality)
  4. Faktor emosional (Emotional factor)
  5. Berhubungan dengan biaya dan kemudahan untuk
    mendapatkan produk dan jasa.
    Secara terperinci dijelaskan bahwa kualitas
    produk terdiri dari enam elemen antara lain performance,
    durability, feature, realibility, consistency, dan design.
    Kualitas layanan juga terdiri dari lima dimensi yakni
    reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan
    tangible. Selain itu, faktor emosional adalah suatu
    keadaan ketika pelanggan puas terhadap produk tertentu
    karena produk tersebut memberikan emotional value
    yang terpancar dari citra merek yang baik

Klasifikasi Jasa


Industri jasa adalah suatu organisasi yang
mengutamakan pada pelayanan secara individu untuk
suatu yang tidak berwujud dan tidak menghasilkan
kepemilikan sesuatu yang berwujud. Menurut Tjiptono
(2002), jasa memiliki empat karakteristik utama yang
membedakan dari baranag, yaitu :

  1. Intangibility
    Jasa berbeda dengan barang. Jika barang
    merupakan suatu objek, alat atau benda maka jasa
    adalah suatu perbuatan kinerja atau usaha. Jasa
    bersifat intangibile maksudnya tidak dapat dilihat,
    dirasa, dicium, didengar atau diraba sebelum dibeli
    dan dikonsumsi.
  2. Inseparability
    Barang biasanya diproduksi, kemudian dijual lalu
    dikonsumsi. Sedangkan jasa umumnya dijual
    terlebih dahulu baru kemudian diproduksi dan
    dikonsumsi secara bersamaan.
  3. Variability
    Jasa bersifat variabel karena banyak variasi bentuk,
    kualitas dan jenis tergantung pada siapa, kapan, dan
    dimana jasa tersebut dihasilkan.
  4. Perishability
    Jasa merupakan komoditas tidak tahan lama dan
    tidak dapat disimpan untuk dipergunakan diwaktu
    yang lain.
    Menurut Parasuraman, Zeithmal, Berry (1990),
    Pada hakikatnya pengukuran kualitas jasa atau produk
    hampir sama dengan pengukuran kepuasan pelanggan
    yaitu ditentukan oleh variabel harapan dan kinerja yang
    dirasakan. Merumuskan model kualitas jasa, model ini
    mengidentifikasi 5 gap yang menyababkan kegagalan
    delievery jasa. 5 gap tersebut adalah :
  5. Gap antara harapan konsumen dan persepsi
    manajemen. Dimana manajemen tidak selalu dapat
    merasakan apa yang diinginkan para pelanggan
    secara tepat.
  6. Gap antara persepsi manajemen dan spesifikasi
    kualitas jasa. Dimana mungkin manajemen mampu
    merasakan secara tepat apa yang diingkan para
    pelanggan, tetapi pihak manajemen tersebut tidak
    menyusun suatu standar kinerja tersebut.
  7. Gap antara spesifikasi kualitas jasa dan
    penyampaian jasa. Ada banyak faktor yang
    mempengaruhi pemberian jasa. Tenaga kerja
    barangkali belum memperoleh cukup latihan atau
    mempunyai beban kerja yang terlalu banyak.
  8. Gap antara penyampaian jasa dan komunikasi
    eksternal. Dimanna harapan konsumen dipengaruhi
    akan janji yang diutarakan oleh pemberi jasa
    melalui komunikasi.
  9. Gap antara jasa yang dirasakan dan jasa yang
    diharapkan. Dimana Gap ini terjadi bila konsumen
    mengukur kinerja atau prestasi perusahaan dengan
    cara berlainan dan salah dalam mempersepsikan
    kualitas jasa tersebut

Jasa


Menurut Tjiptono (2002), mendefinisikan Jasa
adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh
suatu pihak pada pihak lain dan pada dasarnya tidak
berwujud serta tidak menghasilakn kepemilikan sesuatu.
Proses produksinya mungkin dikaitkan dan mungkin
tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik. Jasa
merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang
ditawarkan untuk dijual. Contohnya bengkel
motor/mobil, lembaga pendidikan, jasa telekomunikasi,
transportasi, dan lain-lain

Kualitas Pelayanan


Menurut Kuswanto (2017), Pemahaman konsep
kualitas sangat penting dalam mengembangkan aktifitas
perusahaan, sebab pertumbuhan suatu perusahaan sangat
ditentukan oleh kualitas produk atau jasa yang diberikan.
Ketidakpedulian terhadap kualitas akan menyebabkan
terjadinya kehilangan peluang menjual produk menjual
produk dalam pasar yang pada akhirnya berakibat
penurunan aktivitas dan pertumbuhan perusahaan.
American Society for Quality Control mendefinisikan
kualitas sebagai berikut, kualitas adalah keseluruhan ciri
atau sifat dari suatu produk atau pelayanan yang
berpengaruh pada kemampuannya untuk memuaskan
kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersisa.
Berdasarkan definisi kualitas diatas, kualitas
pelayanan dapat diartikan sebagai sesuatu yang
memfokuskan pada usaha-usaha untuk memenuhi
kebetuhan dan keinginan konsumen yang disertai
ketetapan dalam menyampaikannya, sehingga tercipta
kesesuaian yang seimbang dengan harapan konsumen.
Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan
yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang
dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan
menyediakan kepuasan pelanggan.
Menurut Tjiptono (2016), Layanan adalah suatu
sikap yang dapat mengakibatkan rasa puas atau tidak
puas yang dialami konsumen pada saat terjadinya proses
tindakan. Layanan merupakan pengantar bagi aliran nilai
tambah yang akan disampaikan kepada pelanggan,
sampai nilai tambah itu dapat memenuhi kebutuhan atau
harapan konsumen. Layanan adalah sesuatu yang tidak
gampang karena tiap pelanggan memiliki persepsi
sendiri-sendiri mengenai nilai berdasarkan nilai –nilai
yang mereka anut serta kebutuhan mereka sendiri.
Kunci utama dari kualitas layanan adalah
menyesuaikan atau melebihi kualitas layanan yang
diharapkan pelanggan. Bahwa sebelum membeli suatu
produk atau jasa, konsumen tentunya mempunyai
harapan yang dijadikan sebagai standart untuk menilai
kualitas layanan dari perusahaan. Tingkat kepuasan
konsumen satu akan berbeda dengan konsumen yang
lain, karena harapan setiap konsumen terhadap kualitas
layanan juga berbeda-beda. Beberapa faktor yang
mempengaruhi harapan meliputi :
1) Pengalaman masa lalu
2) Kata-kata orang lain
3) Komunikasi eksternal
4) Kebutuhan pribadi
Dari 4 faktor tersebut yang paling sulit dikontrol
oleh perusahaan adalah kebutuhan pribadi (Tjiptono,
2002). Konsumen yang memiliki harapan yang terlalu
tinggi akan lebih sulit untuk merasa puas dibandingkan
dengan konsumen yang memiliki harapan akan suatu
kualitas layanan lebih rendah. Harapan merupakan
keinginan atau kebutuhan dari konsumen, harapan
layanan tidak menggambarkan layanan yang akan di
tawarkan, tetapi layanan yang seharusnya di tawarkan

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan menurut Richard Gerson
adalah persepsi pelanggan bahwa harapannya telah
terpenuhi atau terlampaui. Sedangkan, menurut Handi
Irawan memgungkapkan bahwa kepuasan pelanggan
adalah Produk atau jasa yang sanggup memberikan
sesuatu yang dicari konsumen sampai pada tingkat yang
cukup (Handi Irawan 2002). Berdasarkan kedua teori
tersebut, maka kepuasan pelanggan terlatak pada
ekspetasi pelanggan terhadap suatu pelayanan. Dan
pelanggan akan merasa puas dengan jasa pelayanan yang
sesuai dengan keinginan.
Pemahaman terhadap harapan-harapan pelanggan
oleh supplier merupakan input untuk melakukan
perbaikan dan peningkatan kualitas produk, baik barang
maupun jasa. Pelanggan akan membandingkan dengan
produk jasa lainnya. Bilamana harapan-harapannya
terpenuhi, maka akan menjadikannya pelanggan loyal,
puas terhadap produk barang atau jasa yang di belinya.
Sebaliknya, bilamana pelanggan tidak puas,
supplier akan ditinggalkan oleh pelanggan. Kunci
keputusan pelanggan berkaitan dengan kepuasan
terhadap penilaian produk barang dan jasa. Kerangka
kepuasan pelanggan tersebut terletak pada kemampuan
supplier dalam memenuhi kebutuhan, keinginan dan
harapan pelanggan sehingga penyampaian produk, baik
barang maupun jasa oleh supplier sesuai dengan harapan
pelanggan. Selain fakor-faktor diatas, dimensi waktu juga
mempengaruhi tanggapan persepsi pelanggan terhadap
kualitas produk, baik barang maupun jasa.

Pengertian Bauran Promosi (Promotion Mix)


Promosi bukan program yang tidak terkendali dan terpadu pada
metode komunikasi material perusahaan atau produk yang dapat
memuaskan konsumen, mendorong penjualan serta memberi
kontribusi pada kinerja laba perusahaan. Promosi menunjukan
adanya lalu lintas informasi dua arah meliputi informasi produk, dan
segenap aspek informasi organisasi yang memerlukan pengolahan
dalam keberadaannya. Menurut Djaslim Saladin dan Herry Achmad
Buchory (2010 : 213) bauran promosi merupakan salah satu variabel
dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh
perusahaan dalam memasarkan produk untuk mencapai tujuan
program penjualan. Dharmmesta (2010 : 247) menyatakan bauran
promosi sebagai kombinasi strategi yang paling baik dari variabel-
variabel advertising, personal selling, dan alat promosi lainnya yang
semua direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan.
Sedangkan Kotler dan Keller yang diterjemahkan oleh Bob Sabran
(2012 : 497) mengemukakan terdapat delapan cara komunikasi
utama dari bauran komunikasi pemasaran yaitu:“Bauran komunikasi
pemasaran terdapat delapan model utama komunikasi diantaranya
periklanan, promosi penjualan, hubungan masyarakat dan publisitas,
event and experiences, pemasaran langsung, pemasaran interaktif,
word of mouth, dan penjualan pribadi”.

Tujuan Promosi


Promosi di rancang semenarik mungkin untuk menjangkau
masyarakat luas melalui bermacam – macam media, hal ini bertujuan
agar perusahaan dapat berkomunikasi dengan konsumen. Tujuan
promosi secara sederhana menurut Kuncoro (2010 : 134) terbagi
menjadi tiga jenis yaitu:

  1. Memberikan informasi pelanggan tentang produk atau
    fitur baru.
  2. Mengingatkan pelanggan tentang merek perusahaan.
  3. Mempengaruhi pelanggan untuk membeli

Promosi


Promosi merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk
mengkomunikasikan manfaat dari produk untuk meyakinkan pelanggan
agar membeli produk tersebut. Promosi juga merupakan cara bagaimana
memperkenalkan produk kepada pelanggan dan calon pelanggan melalui
periklanan, penjualan perorangan, promosi penjualan dan pemasaran
langsung. Dengan dilakukan promosi, produk akan dikenal oleh pelanggan
dan diharapkan pelanggan tertarik untuk membeli produk tersebut. Tanpa
promosi jangan diharapkan pelanggan dapat mengenal produk yang
ditawarkan. Promosi merupakan suatu cara untuk menarik perhatian dan
mempertahankan pelanggan. Salah satu tujuan promosi untuk
menginformasikan suatu produk yang ditawarkan dengan tujuan
memberikan kepuasan pelanggan. Untuk mempertahankan pelanggan dan
diharapkan pelanggan melakukan pembelian ulang.
Promosi merupakan salah satu variabel didalam bauran pemasaran
(marketing mix) yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam
memasarkan produk atau jasanya. Kadang-kadang istilah promosi ini
digunakan secara sinonim dengan istilah perjualan meskipun yang
dimaksud adalah promosi. Menurut Hermawan (2012 : 38) Promosi adalah
salah satu komponen prioritas dari kegiatan pemasaran yang
memberitahukan kepada konsumen bahwa perusahaan meluncurkan produk
baru yang menggoda konsumen untuk melakukan kegiatan pembelian.
Sedangkan menurut Daryanto (2011 : 94) Promosi adalah kegiatan terakhir
dari marketing mix yang sangat penting karena kebanyakan pasar lebih
banyak bersifat pasar pembeli dimana keputusan terakhir terjadinya
transaksi jual beli sangat dipengaruhi oleh konsumen. Dari kedua definisi
tersebut dapat disimpulkan bahwa promosi merupakan hal yang penting
dalam memasarkan suatu produk sehingga konsumen akan tertarik dan
melakukan pembelian terhadap produk tersebut, sehingga suatu promosi
perlu di rancang semenarik mungkin dan informasi yang disampaikan dapat
dimengerti dengan mudah oleh masyarakat

Metode Penetapan Harga


Metode penetapan harga secara garis besar dapat dikelompokan
menjadi empat kategori utama, yaitu metode pentapan harga
berbasi permintaan, berbasis biaya, berbasis laba, dan berbasis
persaingan. Menurut Fandy Tjiptono (2016 : 226) yang
menjelaskan metode-metode penetapan harga sebagai berikut:

  1. Metode Penetapan Harga Berbasis Permintaan
    Adalah suatu metode yang menekankan pada faktor-
    faktor yang mempengaruhi selera dan referensi
    pelanggan dari faktor-faktor seperti biaya, laba, dan
    persaingan. Permintaan pelanggan sendiri didasarkan
    pada berbagai pertimbangan, diantaranya yaitu:
    a. Kemampuan para pelanggan untuk membeli
    (daya beli).
    b. Suatu produk dalam gaya hidup pelanggan,
    yakni menyangkut apakah produk tersebut
    merupakan simbol status atau hanya produk
    yang digunakan sehari-hari.
    c. Manfaat yang dapat diberikan produk tersebut
    pada pelanggan.
    d. Harga produk-produk substitusi.
    e. Pasar potensial bagi produk tersebut.
    f. Karakteristik persaingan non harga.
    g. Perilaku konsumen secara umum.
    h. Segmen-segmen dalam pasar
  2. Metode Penetapan Harga Berbasis Biaya
    Dalam metode penetapan harga, faktor penentu harga
    dalam metode ini yang utama adalah aspek penawaran
    atau biaya, bukan aspek permintaan. Harga ditentukan
    berdasarkan biaya produksi dan pemasaran yang
    ditambah dengan jumlah tertentu sehingga dapat
    menutupi biaya-biaya langsung, biaya overhead dan
    laba.
  3. Metode Penetapan Harga Berbasis Laba
    Metode ini berusaha menyeimbangkan pendapatan dan
    biaya dalam penetapan harganya. Upaya ini dapat
    dilakukan atas dasar target volume laba spesifik atau
    dinyatakan dalam bentuk persentase terhadap penjualan
    atau investasi. Metode penetapan harga berbasis laba ini
    terdiri dari target profit pricing, target return on sales
    pricing, dan target return on investment pricing.
  4. Metode Penetapan Harga Berbasis Persaingan
    Selain berdasarkan pada pertimbangan biaya,
    permintaan atau laba, harga juga dapat ditetapkan atas
    dasar persaingan, yaitu apa yang dilakukan pesaing.
    Metode penetapan harga berbasis persaingan terdiri dari
    customary pricing; above at, or below market pricing;
    loss leader pricing dan sealed bid pricing

Tujuan penetapan harga


Tujuan penetapan harga pada setiap perusahaan berbeda-beda,
sesuai dengan kepentingan dan tujuan yang ingin dicapai oleh
perusahaan itu sendiri. Menurut Fandy Tjiptono (2016 : 220)
pada dasarnya terdapat beranekaragam tujuan penetapan harga,
yaitu:

  1. Survival
    Salah satu tujuan pokok penetapan harga adalah demi
    survival (kelangsungan hidup) perusahaan. Biasanya
    harga secara temporer ditetapkan murah, kadangkala
    lebih rendah daripada biaya, dalam rangka mendorong
    terjadinya penjualan. Tujuan survival biasanya
    ditempuh dengan harapan situasinya akan segera
    kembali normal.
  2. Laba
    Asumsi teori ekonomi klasik adalah setiap perusahaan
    berusaha memaksimumkan laba. Dalam praktik, tujuan
    seperti ini sulit diwujudkan karena begitu banyak
    variabel yang mempengaruhi tingkat penjualan. Oleh
    karenanya, tujuan laba biasanya dinyatakan dalam
    bentuk nilai rupiah atau persentase pendapatan
    penjualan yang dipandang memuaskan atau reaslistis
    dicapai oleh pemilik dan manajemen puncak.
  3. Return On Investment (ROI)
    Tujuan berorietasi pada ROI dinyatakan dalam bentuk
    rasio laba terhadap invetasi total yang dikeluarkan
    perusahaan dalam riset dan pengembangan, serta
    fasilitas produksi dan asset yang mendukung produk
    bersangkutan.
  4. Pangsa Pasar
    Perusahaan sering kali menetapkan peningkatan pangsa
    pasar sebagai tujuan penetapan harga. Pangsa pasar
    dapat berupa pangsa relatif dan pangsa pasar absolut.
    Pangsa pasar relatif adalah perbandingan antara
    penjualan produk perusahaan dan penjualan produk
    pesaing utama. Sedangkan pangsa pasar absolut adalah
    perbandingan antara penjual produk perusahaan dan
    penjualan industry secara keseluruhan.
  5. Aliran Kas
    Sebagian perusahaan menetapkan harga agar dapat
    menghasilkan kas secepat mungkin. Tujuan ini biasanya
    dipilih manakala perusahaan bermaksud menutup biaya
    pengembangan produk secepatnya. Selain itu, apabila
    siklus hidup produk diperkirakan berlangsung singkat,
    maka tujuan ini dapat menjadi pilihan stategik

Harga


Dalam proses jual beli, harga menjadi salah satu bagian terpenting,
karena harga adalah alat tukar dalam transaksi. Harga merupakan satu-
satunya unsur bauran pemasaran yang sifatnya fleksibel dimana setiap saat
dapat berubah-ubah. Harga juga merupakan salah satu faktor persaingan
dalam memasarkan produk. Setiap perusahaan berlomba-lomba
menawarkan harga yang menarik agar konsumen mau membeli produk yang
ditawarkannya. Menurut Fandy Tjiptono (2016 : 218) harga merupakan
satu-satunya unsur bauran pemasaran yang mendatangkan pemasukan atau
pendapatan bagi perusahaan. Sedangkan menurut Buchari Alma (2013 :
169), mengemukakan bahwa harga adalah nilai suatu barang yang
dinyatakan dengan uang

Citra Merek


Citra merek (brand image) adalah nama, istilah, tanda, simbol,
rancangan, atau kombinasi dari hal-hal tersebut, untuk mengidentifikasi
barang atau jasa dari seorang atau sekelompok penjual dan untuk
membedakannya dari produk pesaing (Kotler dan Keller, 2012). Citra merek
yang positif akan memiliki keuntungan karena dapat membangun persepsi
konsumen, dimana semakin kuat citra merek suatu produk maka akan
semakin menarik keinginan konsumen untuk terus membeli dan menjadi
pelanggan yang loyal terhadap citra merek tertentu.
Merek juga dapat membantu konsumen dalam mengidentifikasi
suatu produk yang dinilai berguna dan bermanfaat bagi konsumen. Merek
juga dapat menunjukan kualitas dari suatu produk . keputusan konsumen
dalam memilih sebuah merek bukanlah terjadi begitu saja tapi banyak
pertimbangan sebelum konsumen memutuskan untuk membeli suatu
produk misalnya kemasan, merek, harga. Merek mempunyai fungsi
identitas yang membedakan produk perusahaan dengan produk pesaing
sebagai bahan untuk memudahkan konsumen dalam melakukan identitas
suatu produk dan sebagai alat bantu promosi karena pada posisi tertentu
merek akan memiliki daya tarik yang sangat menarik bagi konsumen

Konsep Pengukuran Kepuasan Pelanggan Menurut Kotler


dalam Tjiptono (2014 : 367) menyatakan terdapat empat metode
untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu sebagai berikut :

  1. Sistem keluhan dan saran, artinya setiap perusahaan yang
    berorientasi pada pelanggan perlu memberikan kesempatan
    seluas-luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan
    saran, pendapat, dan keluhan mereka. Media yang bisa
    digunakan meliputi kotak saran yang terletak di tempat-tempat
    strategis, menyedikan kartu komentar, menyedikan saluran
    telepon.
  2. Survei kepuasan pelanggan, artinya kepuasan pelanggan
    dilakukan dengan menggunakan metode survei, baik melalui
    pos, telepon, maupun wawancara pribadi. Dengan melalui
    survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan
    balik secara langsung dari pelanggan sekaligus memberikan
    tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap
    para pelanggannya. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui
    metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya
    sebagi berikut :
    a. Directly reported satisfaction, yaitu pengukuran dilakukan
    secara langsung melalui pertanyaan, seperti sangat tidak
    puas, tidak puas, netral, puas, dan sangat puas.
    b. Derived dissatisfaction, yaitu pertanyaan yang menyangkut
    besarnya harapan pelanggan terhadap atribut.
    c. Problem analysis, artinya pelanggan yang dijadikan
    responden untuk mengungkapkan 2 (dua) hal pokok, yaitu:
  • Masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan
    dengan penawaran dari perusahaan.
  • Saran-saran untuk melakukan perbaikan.
    d. Importance-porformance analysis, artinya dalam teknik ini
    responden diminta untuk meranking berbagai elemen dari
    penawaran berdasaran pentingnya elemen.
  1. Ghost shopping, artinya metode ini dilaksanakan dengan cara
    memperkerjakan beberapa orang (ghost shopper) untuk
    berperan atau bersikap sebagai pelanggan/pembeli potensial
    produk perusahaan dan pesaing. Kemudian ghost shopper
    menyampaikan temuan-temuan mengenai kekuatan dan
    kelemahan produk perusahaan dan pesaing berdasarkan
    pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
  2. Lost customer, artinya perusahaan menghubungi para
    pelanggannya yang telah berhenti membeli atau yang telah
    beralih pemasok dan harapan diperoleh informasi penyebab
    terjadinya hal tersebut. Tingkat kepuasan pelanggan sangat
    tergantung pada mutu suatu produk. Suatu produk dikatakan
    bermutu bagi seseorang kalau produk tersebut dapat memenuhi
    kebutuhannya. Aspek mutu suatu produk dapat diukur.
    Pengukuran tingkat kepuasan erat hubungannya dengan mutu
    produk (barang atau jasa). Selain itu, pengukurn aspek mutu
    bermanfaat bagi pemimpin bisnis, yaitu :
    a. Untuk mengetahui dengan baik bagaimana jalannya proses
    bisnis.
    b. Mengetahui dimana harus melakukan perubahan dalam
    upaya melakukan perbaikan secara terus-menerus untuk
    memuaskan pelanggan.
    c. Menentukan apakah perubahan yang dilakukan mengarah
    keperbaikan. Salah satu cara untuk mengukur sikap
    pelanggan ialah dengan menggunakan kuesioner.
    Perusahaan harus mendesain kuesioner kepuasan pelanggan
    tentang mutu barang atau jasa. Penggunaan kuesioner
    kepuasan pelanggan harus benar-benar dapat mengukur
    dengan tepat presepsi dan sikap pelanggan

Prinsip-prinsip Dasar Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan sangat tergantung pada presepsi dan harapan
pelanggan. Sebuah perusahaan perlu mengetahui persepsi dan
harapan pelanggan. Faktor-faktor yang mempengaruhi presepsi dan
harapan pelanggan di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. kebutuhan dan keinginan berkaitan dengan hal-hal yang
    dirasakan.
  2. Pengalaman masa lalu saat mengkomsumsi produk pesaing.
  3. Pengalaman dari teman, dengan menceritakan kualitas produk
    yang dibeli.
  4. Komunikasi melalui iklan dan pemasaran dengan
    mempengaruhi pesepsi pelanggan

Kepuasan Pelanggan

Menurut Kotler (2013 : 138) kepuasan (satisfaction) adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan
kinerja yang dipersepsikan produk (hasil) terhadap ekspektasi mereka. Jika
kinerja berada di bawah harapan, pelanggan akan tidak puas. Jika kinerja
memenuhi harapan, pelanggan puas. Maka jika kinerja melebihi harapan,
pelanggan akan sangat puas atau senang. Perusahaan pemasaran
terkemuka akan mencari cara sendiri untuk mempertahankan kepuasan
pelanggannya. Pelanggan yang merasa puas akan membeli kembali, dan
mereka akan memberi tahu kepada yang lain tentang pengalaman baik
mereka dengan produk tersebut. Kuncinya adalah menyesuaikan harapan
pelanggan dengan kinerja perusahaan. Perusahaan yang pintar bermaksud
untuk memuaskan pelanggan dengan hanya menjanjikan apa yang dapat
mereka berikan, kemudian memberikan lebih banyak dari mereka janjikan.
Kepuasan pelanggan berkaitan erat dengan kualitas.
Mencapai tingkat kepuasan pelanggan tertinggi adalah tujuan utama
pemasaran. Pada kenyataan, akhir-akhir ini banyak perhatian terarah pada
konsep kepuasan “total”, yang implikasinya adalah mencapai kepuasan
sebagian saja tidaklah cukup untuk membuat pelanggan setia dan kembali
lagi. Ketika pelanggan merasa puas akan pelayanan yang didapat pada saat
proses transaksi dan juga puas akan barang dan jasa yang mereka dapatkan,
besar kemungkinan mereka akan kembali lagi dan melakukan pembelian-
pembelian yang lain dan juga akan merekomendasikan kepada teman-
teman dan keluarganya tentang perusahaan tersebut dan produk-
produknya. Mempertahankan kepuasan dari waktu ke waktu akan
membina hubungan yang baik dengan pelanggan. Hal ini dapat
meningkatkan keuntungan perusahaan dalam jangka panjang. Pemasaran
bukanlah semata-mata membuat penjualan melainkan tentang bagaimana
memuaskan pelanggan terus-menerus. Ketika pelanggan merasa puas,
penjualan berikutnya akan terjadi. Pelanggan yang senang dan puas
cenderung akan berperilaku positif, mereka akan membeli kembali barang
atau jasa tersebut

Metode Pengukuran Kepuasan Masyarakat


Menurut Philip Kotler yang dikutip oleh Mu’ah (2014:122), Bakti
(2017:55), Tjiptono (2016:219) dan Hermanto (2019:23), pengukuran kepuasan
masyarakat dapat dilakukan dengan empat metode, sebagaimana berikut :
1) Analisis komplain dan keluhan pelanggan, metode ini dilakukan dengan
cara mempelajari keluhan para pelanggan dengan tujuan analisis keluhan
pelanggan dilakukan agar setiap keluhan dapat ditangani dengan baik,
tidak berulang, jumlah keluhan dapat diminimalisir, keluhan tidak
menjadi masalah yang lebih besar, dan kinerja produk atau jasa dapat
ditingkatkan.
2) Ghost (mystery) shopping, metode ini dilakukan dengan cara mengamati
proses yang terjadi dalam pemberian produk kepada pelanggan dengan
cara menugaskan seseorang atau beberapa pengamat untuk berpura-pura
menjadi pelanggan. Pelanggan yang menyamar ini bertugas mengamati
dan memberikan penilaian dengan beberapa aspek yang dinilai seperti
informasi, pelayanan, prosedur pelayanan, sarana, dan prasarana.
3) Analisis hilangnya pelanggan (lost customer analysis), metode ini
dilakukan dengan cara mengidentifikasi seberapa banyak pelanggan yang
berhenti untuk bertransaksi atau beralih ke produk pesaing. Hal yang
harus dilakukan dalam penerapan metode ini adalah tidak semua
pelanggan bersedia memberi masukan perbaikan kinerja organisasi karena
bisa jadi pelanggan sudah beralih ke pesaing dan merasa puas dan loyal.
Metode ini lebih cocok digunakan pada jenis pelanggan B2B (business to
business).
4) Survei kepuasan pelanggan, metode ini dilakukan dengan cara meminta
beberapa pelanggan untuk menjawab sejumlah pertanyaan yang diajukan
pewawancara atau pertanyaan dari Kuesioner yang mereka terima.
Metode ini adalah metode pengukuran kepuasan pelanggan yang paling
populer dibandingkan beberapa metode yang disebutkan sebelumnya. Hal
ini disebabkan oleh beberapa hal diantaranya seperti hasil survei memiliki
kemampuan generalisasi populasi secara luas, instrumen pengukuran
yang dipakai sudah terstandar sehingga hasil dianggap lebih tepat,
pengaruh subjektivitas peneliti terhadap hasil kecil, dan respons
pelanggan untuk menjawab lebih tinggi. Dalam praktiknya metode survei
kepuasan masyarakat dapat dilakukan dengan wawancara dan atau
Kuesioner

Kepuasan Masyarakat


Menurut paradigma New Public Service (NPS), Kepuasan Masyakarat
adalah penilaian masyarakat yang disebut citizen terhadap pelayanan instansi
pemerintah, dengan sepuluh indikator yaitu kemudahan proses, kejelasan
petugas, keadilan dalam pelayanan, kejelasan informasi, jadwal pelayanan,
kenyamanan, biaya pelayanan, ketepatan waktu penyelesaian, keramahan petugas
dan kecepatan pelayanan. Citizen tidak hanya menerima kepuasan tetapi turut
mewujudkan kolaborasi antara citizen dan penyelenggara layanan publik (Semil,
2018).
Rangkuti (2013:68) menyatakan bahwa konsumen atau pelanggan adalah
bagian dari masyarakat, yang dipengaruhi oleh kelas sosial, budaya, sub-budaya,
dan kelompok acuan. Sedangkan menurut Permenpan RB Nomor 14 Tahun
2017, Kepuasan masyarakat adalah pendapat, hasil dan penilaian dari masyarakat
terhadap kinerja pelayanan yang diberikan kepada penyelenggara pelayanan
publik baik pemerintah pusat maupun daerah. Pelayanan publik dalam arti sempit
(mikro) adalah semua kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh instansi
pemerintah baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dan
pengelolaannya dapat dilakukan hanya oleh satu unit kerja atau sub unit kerja
(Ratminto; et al., 2017).

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan memerlukan definisi yang jelas supaya
pengukurannya dapat ditentukan dengan tepat karena kepuasan pelanggan
merupakan variabel abstrak. Para ahli menyatakan definisi kepuasan sebagai
proses evaluasi dan disisi lain kepuasan pelanggan juga diartikan sebagai respon
terhadap proses evaluasi. Kepuasan pelanggan juga dapat diartikan sebagai
kemampuan suatu layanan membuat pelanggan merasa tercukupi kebutuhannya
(Bakti and Sumaedi, 2017). Bahkan, Juran, Barkelay dan Saylor seperti yang
dikutip Hermanto (2019:21) mengatakan bahwa kepuasan pelanggan sama
dengan kualitas.
Kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja atau hasil yang ia rasakan dibandingkan dengan
harapannya dan kepuasan juga berjalan bersamaan dengan ketidakpuasan.
Respon pelanggan terhadap evaluasi dan ketidaksesuaian yang dirasakan antara
harapan dan kinerja pelayanan yang dirasakan setelah pelayanan itu diterima.
Kepuasan pelanggan merupakan suatu tanggapan emosional pelanggan pada saat
mereka menikmati pengalaman saat mendapatkan pelayanan jasa atau
mengkonsumsi suatu produk (Rangkuti, 2013; Indrasari, 2019). Sedangkan
Fatihudin (2019:210) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan merupakan
indikator sejauh mana pelanggan sangat senang dengan produk atau jasa yang
diterima (Fatihudin and Firmansyah, 2019)

Kepuasan


Secara etimologi, kepuasan berasal dari bahasa latin yaitu satis (cukup
baik, memadai) dan facio/facere (melakukan dan membuat), sehingga kepuasan
dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu atau membuat sesuatu menjadi
memadai (Tjiptono and Chandra, 2016; Bakti and Sumaedi, 2017). Kepuasan
merupakan penilaian evaluatif pilihan terakhir dari transaksi tertentu yang dinilai
secara langsung sebagai perasaan keseluruhan sehingga seseorang puas dengan
produk atau jasa dan disaat yang bersamaan mengevaluasi hasil seperti rata-rata
dibandingkan yang seharusnya (Mu’ah, 2014).
Ningsih dan Segoro (2014) menyatakan bahwa kepuasan merupakan
respon emosional komsumen setelah proses pelayanan yang diterima berasal dari
hasil membandingkan antara kinerja terhadap harapan serta evaluasi pengalaman
menerima layanan, sedangkan ketidakpuasan muncul jika hasil (outcome) tidak
memenuhi harapan (Ningsih and Segoro, 2014; Tjiptono and Chandra, 2016).

layanan.

Hubungan Jaminan (Assurance) Terhadap Kepuasan Masyarakat


Jaminan (Assurance) mencakup tentang pengetahuan petugas pelayanan pada
Kantor Kecamatan Bungah Gresik dalam melayani kebutuhan masyarakat, etika
para petugas dan jaminan mutu pelayanan yang diberikan oleh petugas untuk
masyarakat yang melakukan pelayanan. Kesopanan dan keramahan para petugas
akan membuat masyarakat merasa dihargai sehingga mereka puas dengan
pelayanan yang diberikan oleh instansi. Hubungan jaminan dan kepuasan
masyarakat memberikan dampak positif terhadap kepuasan masyarakat. Karena
jika persepsi masyarakat terhadap jaminan baik maka kepuasan masyarakat akan
meningkat. Sedangkan jika persepsi masyarakat terhadap jaminan buruk maka
kepuasan masyarakat terhadap kepuasan masyarakat akan menurun. Penelitian
yang dilakukan oleh Alfa Sakinata Marhardika (2016) menyebutkan bahwa variabel
Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Emphaty berpengaruh
Signifikan terhadap Kepuasan Masyarakat.

Hubungan Daya Tanggap (Responsivess) Terhadap KepuasanMasyarakat


Daya tanggap (Responsiveness) yang diberikan oleh petugas pelayanan dengan baik
akan menghasilkan kepuasan masyarakat. Indikator daya tanggap (Responsiveness)
adalah memberikan palayanan yang tepat, keinginan dan keikhlasan untuk
membantu/menolong masyarakat dan petugas pelayanan cepat tanggap terhadap
jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Hubungan daya tanggap (Responsiveness)
dan kepuasan masyarakat memberikan dampak positif terhadap kepuasan
masyarakat. Karena jika persepsi masyarakat terhadap daya tanggap
(Responsiveness) baik maka kepuasan masyarakat akan meningkat. Sedangkan jika
persepsi masyarakat terhadap daya tanggap buruk maka kepuasan masyarakat
terhadap kepuasa masyarakat akan menurun

Hubungan Keandalan (reliability) Terhadap KepuasanMasyarakat


Kinerja petugas pelayanan harus sesuai dengan harapan masyarakat, seperti :
ketepatan waktu dalam melakukan pelayanan, tidak membeda-bedakan pelayanan
antar masyarakat, melakukan pelayanan tanpa kesalahan. Hal ini dapat
mencerminkan kualitas pelayanan yang baik bagi kantor pelayanan pada Kantor
Kecamatan Bungah Gresik. Indikator yang dapat di ukur dari keandalan (reliability)
adalah memberikan pelayanan sesuai dengan peraturan perda, memberikan
pelayanan yang tepat. Hubungan keandalan (reliability) dan kepuasan masyarakat
memberikan dampak positif terhadap kepuasan masyarakat. Karena jika persepsi
masyarakat terhadap keandalan (reliability) baik, maka kepuasan masyarakat akan
meningkat. Sedangkan jika persepsi masyarakat terhadap keandalan (reliability)
buruk, maka kepuasan masyarakat terhadap kepuasan masyarakat akan menurun.

Hubungan Bukti Fisik (tangible) Terhadap Kepuasan Masyarakat


Bukti Fisik (tangible) yang baik akan mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap
pelayanan yang diberikan oleh petugas pelayanan dan memberikan kepuasan bagi
masyarakat. Indikator yang dapat diukur dari Bukti Fisik (tangible) adalah kondisi
gedung, kondisi sarana dan prasarana yang disediakan oleh Kantor Kecamatan
Bungah Gresik. Hubungan bukti fisik (tangible) dan kepuasan masyarakat
memberikan dampak positif terhadap kepuasan masyarakat. Karena jika persepsi
masyarakat terhadap bukti fisik (tangible) baik maka kepuasan masyarakat akan
meningkat. Sedangkan jika persepsi masyarakat terhadap bukti fisik (tangible)
buruk maka kepuasan masyarakat terhadap kepuasa masyarakat akan menurun.
Penelitian yang dilakukan oleh Juli Omar Sinaga (2016) menyebutkan bahwa
variabel Tangibles, Reliability, Responsiveness, Assurance, Emphaty berpengaruh
Signifikan terhadap Kepuasan Masyarakat.

Mengukur Kepuasan Masyarakat


Terdapat empat metode untuk mengukur kepuasan masyarakat yang dikemukakan
oleh Tjiptono (2014:369-370), yaitu :

  1. Sistem Keluhan dan Saran
    Industri yang berwawasan pelanggan akan menyediakan formulir bagi
    pelanggan untuk melaporkan kesukaan dan keluhannya. Selain itu dapat
    berupa kotak saran dan telepon pengaduan bagi pelanggan. Alur informasi ini
    memberikan banyak gagasan baik dan industri dapat bergerak lebih cepat
    untuk menyelesaikan masalah.
  2. Survei Kepuasan Pelanggan
    Industri tidak dapat menggunakan tingkat keluhan sebagai ukuran kepuasan
    pelanggan. Industri yang responsive mengukur kepuasan pelanggan dengan
    mengadakan survei berkala, yaitu dengan mengirimkan daftar pertanyaan atau
    menelpon secara acak dari pelanggan untuk mengetahui perasaan mereka
    terhadap berbagai kinerja industri. Selain itu ditanyakan tentang kinerja
    industri saingannya.
  3. Ghost Shopping (Pelanggan Bayangan)
    Pelanggan bayangan adalah menyuruh orang berpura-pura menjadi pelanggan
    dan melaporkan titik-titik kuat maupn titik-titik lemah yang dialami waktu
    membeli produk dari industri sendiri maupun industri saingannya. Selain itu
    pelanggan bayangan melaporkan apakah wiraniaga tersebut menanganinya
    dengan baik atau tidak.
  4. Analisis Pelanggan yang Beralih
    Industri dapat menghubungi pelanggan yang tidak membeli lagi atau berganti
    pemasok untuk mengetahui penyebabnya (apakah harganya tinggi, pelayanan
    kurang baik, produknya kurang dapat diandalkan dan seterusnya, sehingga
    dapat diketahui tingkat kehilangan pelanggan)

Faktor – Faktor Kepuasan Masyarakat


Menurut Barnes (2003) faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan
masyarakat terhadap penyedia jasa ataupun terhadap organisasi dapat dilihat ke
dalam lima level, yaitu :

Elemen emosional – dimensi afektif pelayanan inti dari level kelima ini adalah
bagaimana kita menumbuhkan perasaan positif dalam diri pelanggan. Kelima
level pemicu kepuasan pelanggan tersebut adalah sebagai berikut : (1) Perasaan
dan emosi yang dikomunikasikan: Pada intinya perasaan apa yang kita
timbulkan dalam diri mereka. (2) Tingkat pelayanan pribadi, perhatian,
kecepatan pelayanan, kualitas umum dari kontak; bagaimana orang
diperlakukan dan dilayani. (3) Mengikuti standar yang ada, penghantaran tepat
waktu, menepati janji, sedikit kesalahan pada produk dan jasa. (4). Sistem
penghantaran, rekening, penetapan harga, jaminan, jadwal penanganan
keluhan dan keistimewaan lain yang meningkatkan dan mnedukung produk
atau jasa inti. (5) Produk atau jasa inti: inti dari yang kita tawarkan

Produk atau jasa inti, adalah esensi dari penawaran yang mewakili produk atau
jasa inti yang disediakan oleh perusahaan.

Sistem dan layanan pendukung, meliputi layanan-layanan pendukung yang
bisa meningkatkan kelengkapan dan layanan atau produk inti.

Performa teknis, intinya berkaitan dengan apakah perusahaan menetapkan
produk inti dan layanan pendukungnya dengan benar. Penekanannya adalah
perusahaan menampilakan produk kepada pelanggan sesuai yang dijajnikan.

Elemen-elemen interaksi dengan pelanggan, level ini mengacu pada interaksi
penyedia jasa dengan pelanggan melalui tatap muka langsung atau melalui
kontak berbasis teknologi.

Pengertian Kepuasan Masyarakat


Kepuasan atau ketidak puasan adalah kesimpulan dari interaksi antara harapan dan
pengalaman sesudah memakai jasa atau pelayanan yang diberikan. Upaya untuk
mewujudkan kepuasan pelanggan total bukanlah hal yang mudah, Mudie dan
Cottom menyatakan bahwa kepuasan pelanggan total tidak mungkin tercapai,
sekalipun hanya untuk sementara. Kepuasan pelanggan/masyarakat adalah respon
emosional terhadap pengalaman – pengalaman berkitan dengan produk/jasa
tertentu yang dibeli (Tjiptono 2008:353).
Jika kinerja berada di bawah harapan, pelanggan tidak puas. Jika kinerja
memenuhi harapan pelanggan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelanggan amat
puas atau senang (Kotler, 2009). Kepuasan masyarakat adalah kesimpulan dari
interaksi sesudah menggunakan jasa atau pelayanan yang telah diberikan kemudian
membandingkan kinerja yang telah diberikan terhadap kinerja yang diharapkan.

Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (2012:182–189), terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam meningkatkan kualitas layanan :

  1. Mengidentifikasi determinan utama kualitas layanan
    Setiap penyedia layanan diwajibkan untuk menyampaikan layanan berkualitas
    terbaik kepada konsumen. Beberapa faktor yang menjadi penilaian konsumen
    seperti keamanan transaksi (pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit),
    keamanan, ketepatan waktu, dan lain-lain. Upaya ini dilakukan untuk
    membangun pandangan konsumen terhadap kualitas layanan yang telah
    diterima. Apabila terjadi kekurangan dalam beberapa faktor tersebut, perlu
    diperhatikan dan ditingkatkan. Sehingga akan terjadi penilaian yang lebih baik
    di mata pelanggan.
  2. Mengelola ekspektasi pelanggan
    Banyak perusahaan yang berusaha menarik perhatian pelanggan dengan
    berbagai cara sebagai salah satunya adalah melebih-lebihkan janji sehingga itu
    menjadi ‘bumerang’ untuk perusahaan apabila tidak dapat memenuhi apa yang
    telah dijanjikan. Karena semakin banyak janji yang diberikan, semakin besar
    pula ekspektasi pelanggan. Ada baiknya untuk lebih bijak dalam memberikan
    ‘janji’ kepada pelanggan.
  3. Mengelola bukti kualitas layanan
    Pengelolahan ini bertujuan untuk memperkuat penilaian pelanggan selama dan
    sesudah layanan disampaikan. Berbeda dengan produk yang bersifat tangible,
    sedangkan layanan merupakan kinerja, maka pelanggan cendrung
    memperhatikan “seperti apa layanan yang akan diberikan” dan “seperti apa
    layanan yang telah diterima”. Sehingga dapat menciptakan persepsi tertentu
    terhadap penyedia layanan di mata konsumen.
  4. Mendidik konsumen tentang layanan
    Upaya mendidik layanan kepada konsumen bertujuan untuk mewujudkan
    proses penyampaian dan pengkonsumsian layanan secara efektif dan efisien.
    Pelanggan akan dapat mengambil keputusan pembelian secara lebih baik dan
    memahami perannya dalam proses penyampaian layanan. Sebagai contoh :
    a. Penyedia layanan memberikan informasi kepada konsumen dalam
    melakukan sendiri layanan tertentu. Seperti mengisi formulir pendaftaran, menggunakan fasilitas teknologi (ATM, Internet banking, dan sebagainya),
    mengisi bensin sendiri (self-service), dan lain-lain.
    b. Penyedia layanan membantu konsumen dalam pemberitahuan kapan
    menggunakan suatu layanan secara lebih mudah dan murah, yaitu sebisa
    mungkin untuk menghindari periode waktu sibuk dan memanfaatkan
    periode di mana layanan tidak terlalu sibuk.
    c. Penyedia layanan menginformasikan konsumen mengenai prosedur atau
    cara penggunaan layanan melalui iklan, brosur, atau staff secara langsung
    mendampingi konsumen saat penggunaan layanan.
    d. Penyedia layanan meningkatkan kualitas layanan dengan cara penjelasan
    kepada konsumen tentang beberapa hal kebijakan yang mungkin akan
    mengecewakan konsumen, misalkan kenaikan harga.
  5. Menumbuhkan budaya kualitas
    Budaya kualitas dapat dikembangkan dalam sebuah perusahaan dengan
    diadakannya komitmen menyeluruh dari semua anggota organisasi dari yang
    teratas hingga terendah. Budaya kualitas terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap,
    norma, nilai, tradisi, prosedur, dan harapan yang berkenaan dalam peningkatan
    kualitas. Beberapa faktor yang dapat menghambat namun dapat pula
    memperlancar pengembangan kualitas layanan, yaitu :
    a. Sumber daya manusia, sebagai contoh dalam hal penyeleksian karyawan,
    pelatihan karyawan, deskripsi job desk, dan sebagainya.
    b. Organisasi/ struktur, meliputi intergrasi atau koordinasi antar fungsi dan
    struktur pelaporan.
    c. Pengukuran (measurement), yaitu melakukan evaluasi kinerja dan keluhan
    serta kepuasan konsumen.
    d. Pendukung sistem, yaitu faktor teknologi seperti komputer, sistem,
    database, dan teknis.
    e. Layanan, meliputi pengelolahan keluhan konsumen, alat-alat manajemen,
    alat-alat promosi/ penjualan.
    f. Komunikasi internal, terdiri dari prosedur dan kebijakan dalam operasional.
    g. Komunikasi eksternal, yakni edukasi pelanggan, manajemen ekspektasi
    pelanggan, dan pembentukan citra positif perusahaan.
  6. Menciptakan automating quality
    Otomatisasi berpotensi mengatasi masalah dalam hal kurangnya sumber daya
    manusia yang dimiliki perusahaan. Namun dibutuhkan perhatian dalam aspek-
    aspek sentuhan manusia (high touch) dan elemen-elemen yang memerlukan
    otomatisasi (high tech). Keseimbangan antara kedua hal tersebut sangat
    dibutuhkan untuk menghasilkan kesuksesan penyampaian layanan secara
    efektif dan efisien. Contoh, internet banking, phone banking, dan sejenisnya.
  7. Menindaklanjuti layanan
    Penindaklanjutan layanan diperlukan untuk memperbaiki aspek-aspek layanan
    yang kurang memuaskan dan mempertahankan yang sudah baik. Dalam rangka
    ini, perusahaan perlu melakukan survey terhadap sebagian atau seluruh
    konsumen mengenai layanan yang telah diterima. Sehingga perusahaan dapat
    mengetahui tingkat kualitas layanan perusahaan di mata konsumen.
  8. Mengembangkan sistem informasi kualitas layanan
    Service quality information system adalah sistem yang digunakan oleh
    perusahaan dengan cara melakukan riset data. Data dapat berupa hasil dari
    masa lalu, kuantitaif dan kualitatif, internal dan eksternal, serta informasi
    mengenai perusahaan, pelanggan, dan pesaing. Bertujuan untuk memahami
    suara konsumen (consumen’s voice) mengenai ekspektasi dan persepsi
    konsumen terhadap layanan yang diberikan perusahaan. Sehingga perusahaan
    dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan berdasarkan sudut
    pandang konsumen

Karakteristik Kualitas Pelayanan


Tjiptono (2011:28-51) mengemukakan bahwa jasa memiliki empat karakteristik
utama yaitu :

  1. Tidak berwujud (Intangibility)
    Jasa adalah tidak nyata, tidak sama dengan produk fisik (barang). Jasa tidak
    dapat dilihat, dirasakan, dibaui, atau didengar sebelum dibeli. Untuk
    mengurangi ketidakpastian, pembeli jasa akan mencari tanda atau bukti dari
    kualitas jasa, yakni dari tempat, orang, peralatan, alat komunikasi, simbol, dan
    harga yang mereka lihat. Karena itu, tugas penyedia jasa adalah mengelola
    bukti itu mewujudkan yang tidak berwujud.
  2. Tidak terpisahkan (Inseparability)
    Pada umumnya jasa yang diproduksi (dihasilkan) dan dirasakan pada waktu
    bersamaan, untuk selanjutnya apabila dikehendaki oleh seorang untuk
    diserahkan kepada pihak lainnya, maka dia akan tetap merupakan bagian dari
    jasa tersebut.
  3. Bervariasi (Variability)
    Jasa sangat bervariasi karena tergantung pada siapa, kapan dan di mana jasa
    tersebut disediakan.
  4. Mudah lenyap (Perishability)
    Jasa tidak dapat disimpan. Daya tahan suatu jasa tidak akan menjadi masalah
    bila permintaan selalu ada dan pasti, karena menghasilkan jasa di muka adalah
    mudah. Bila permintaan berubah-ubah naik dan turun, maka masalah yang sulit
    akan segera muncul.

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman, Zeithaml, dan Berry dalam Tjiptono (2011:174-175)
terdapat lima dimensi kualitas jasa yang dijadikan pedoman oleh pelanggan dalam
menilai kualitas jasa, yaitu:

  1. Berwujud (Tangible)
    Penampilan fasilitas fisik, peralatan, dan personil.
  2. Empati (Emphaty)
    Syarat untuk peduli, memberi perhatian pribadi bagi pelanggan.
  3. Keandalan (Reliability)
    Kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengan tepat dan
    terpercaya.
  4. Keresponsifan (Responsiveness)
    Kemauan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat atau
    tanggap.
  5. Keyakinan (Assurance)
    Pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan mereka untuk
    menimbulkan kepercayaan dan keyakinan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono & Chandra (2011:164), Konsep kualitas dianggap sebagai ukuran
kesempurnaan sebuah produk atau jasa yang terdiri dari kualitas desain dan kualitas
kesesuaian (conformance quality). Kualitas desain merupakan fungsi secara
spesifik dari sebuah produk atau jasa, kualitas kesesuaian adalah ukuran seberapa
besar tingkat kesesuaian antara sebuah produk atau jasa dengan persyaratan atau
spesifikasi kualitas yang ditetapkan sebelumnya.
Maka dari itu yang dimaksud kualitas adalah apabila beberapa faktor dapat
memenuhi harapan konsumen seperti pernyataan tentang kualitas oleh Goetsh dan
Davis dalam Tjiptono & Chandra (2011:164), “Kondisi dinamis yang berhubungan
dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses, dan lingkungan memenuhi atau
melebihi harapan”.
Menurut beberapa definisi di atas dalam kata lain, kualitas adalah sebuah
bentuk pengukuran terhadap suatu nilai layanan yang telah diterima oleh konsumen
dan kondisi yang dinamis suatu produk atau jasa dalam memenuhi harapan
konsumen.
Menurut Vargo & Lusch dalam Tjiptono (2011:3), “Service is an interactive
process of doing something for someone”. Diartikan bahwa layanan/ jasa
merupakan proses interaksi dalam melakukan sesuatu kepada seseorang.
Menurut Gummesson dalam Tjiptono & Chandra (2011:17)
mengungkapkan bahwa layanan/ jasa adalah “Something which can be bought and
sold but which you cannot drop on your feet”. Sehingga dikatakan bahwa layanan
merupakan hal yang dapat dipertukarkan melalui beli dan jual namun tidak dapat
dirasakan secara fisik.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Loyalitas Pelanggan MelaluiKepuasan Pelanggan


Pengaruh kualitas produk terhadap loyalitas pelanggan melalui kepuasan
pelanggan akan diteliti dalam penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu akan
membantu memberikan pengaruh dari ketiga variabel tersebut. Temuan yang
dilakukan oleh Sandy, dkk. (2024) menjelaskan bahwa secara umum loyalitas
berarti kesetiaan, kesetiaan ini muncul tanpa ada paksaan melainkan dari kesadaran
diri masa lalu. Upaya menciptakan kepuasan pelanggan lebih besar
kemungkinannya mempengaruhi sikap pelanggan. Pada saat yang sama, konsep
loyalitas pelanggan menekankan pada perilaku pembeli. Memang dengan loyalitas
diharapkan perusahaan akan memperoleh manfaat jangka panjang dari hubungan
timbal balik yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Temuan lain dilakukan
oleh Yulisetiarini, dkk. (2024) yang menjelaskan bahwa kualitas produk yang baik
memberikan dampak positif dengan menciptakan tingkat kepuasan konsumen yang
tinggi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan konsumen melakukan pembelian
berulang dan menggunakan layanan tersebut kembal

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Loyalitas Pelanggan MelaluiKepuasan Pelanggan


Pengaruh kualitas pelayanan terhadap loyalitas pelanggan melalui kepuasan
pelanggan akan diteliti di dalam penelitian ini. Beberapa temuan dari penelitian
terdahulu akan memberikan gambaran dari pengaruh ketiga variabel tersebut.
Kualitas pelayanan merupakan faktor pertama yang berpengaruh positif terhadap
kepuasan dan loyalitas pelanggan. Menurut Santos, dkk. (2023) penelitiannya
menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kepuasan pelanggan. Artinya jika kualitas pelayanan meningkat maka
kepuasan pelanggan akan meningkat. Telkomcel sebagai perusahaan jasa tentunya
memandang pelayanan pelanggan sebagai suatu hal yang penting dan mendasar
agar setiap pelanggan yang menggunakan produk Telkomcel memperoleh
kepuasan. Pengertian lain dari loyalitas pelanggan adalah komitmen pelanggan
terhadap suatu merek, toko, pemasok yang bergantung pada sikap yang sangat
positif. sikap. sikap dan tercermin dalam pembelian berulang (Salsabillah, dkk.,
2024)

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Loyalitas Pelanggan


Pengaruh kualitas produk terhadap loyalitas pelanggan akan diteliti di dalam
penelitian ini. Beberapa temuan dari penelitian terdahulu akan membantu
memberikan gambaran bagaimana pengaruh dari kualitas produk terhadap loyalitas
pelanggan. Kualitas produk penting untuk loyalitas pelanggan. Semakin tinggi
kualitas produk yang ditawarkan Rumah Makan Sakinah kepada pelanggan maka
semakin loyal pelanggan terhadap produk yang ditawarkan dan penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa kualitas produk mempunyai pengaruh terhadap
produk yang ditawarkan secara signifikan (Naini, dkk., 2022). Artinya kualitas
produk yang diberikan dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Pelanggan


Pengaruh kualitas produk terhadap kepuasan pelanggan akan diteliti di
dalam penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu akan membantu memberikan
gambaran pengaruh antara kedua variabel tersebut. Penelitian yang dilakukan oleh
Naini, dkk. (2022) menjelaskan bahwa kualitas produk terbukti berpengaruh positif
dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Penelitian menunjukkan bahwa
kualitas produk yang baik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan
pelanggan. Artinya kualitas produk akan meningkat dan kepuasan pelanggan akan
meningkat. Begitu pula ketika kualitas produk menurun maka kepuasan pelanggan
juga menurun. Mencapai tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi membawa
manfaat yang signifikan bagi bisnis, meningkatkan loyalitas pelanggan dan
mengurangi perpindahan pelanggan ke bisnis lain.
Kualitas produk secara umum dapat mempengaruhi prestise, niat beralih,
niat membeli lebih dari satu kali, kualitas pelayanan perusahaan, loyalitas
pelanggan, dan terakhir kepuasan pelanggan (Rosyidi, dkk., 2024). Kepuasan
pelanggan akan tercipta bila harapan pelanggan terpenuhi secara tepat untuk
memuaskan loyalitas pelanggan. Didukung oleh penelitian Salsabillah, dkk. (2024)
yang menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan adalah sejauh mana suatu produk
secara efektif memenuhi harapan konsumen. Mempertahankan kepuasan pelanggan
lebih bermanfaat bagi bisnis dibandingkan mempertahankan pelanggan yang sudah
ada atau menarik pelanggan baru

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pelanggan


Pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan akan diteliti
apakah berpengaruh didalam penelitian ini. Beberapa penelitian terdahulu akan
membantu memberikan gambaran bagaiman pengaruh dari dua variabel tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Sani, dkk. (2024) bahwa kualitas pelayanan dan
kepuasan pelanggan mempunyai hubungan yang erat dan mempunyai hubungan
positif yang. Loyalitas pelanggan dipengaruhi langsung oleh kualitas layanan yang
merupakan aspek penting dari kepuasan pelanggan. Temuan lain yang dilakukan
oleh Yulisetiarini, dkk. (2024) menjelaskan bahwa kualitas pelayanan yang baik
memberikan dampak positif dengan menciptakan tingkat kepuasan konsumen yang
tinggi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan konsumen melakukan pembelian
berulang dan mulai menggunakan layanan tersebut kembali.
Sebuah kedai kopi harus memberikan kualitas pelayanan yang baik untuk
memuaskan pelanggannya. Apalagi di era sekarang ini, permintaan akan kopi jenis
ini semakin meningkat dan menyebabkan persaingan yang ketat antar kedai kopi.
Hal ini tidak bisa dihindari dan membutuhkan lebih banyak keuntungan untuk
bertahan dalam lingkungan yang kompetitif (Taufik, dkk. 2022). Didukung oleh
penelitian yang dilakukan oleh Fitriani, dkk. (2024) bahwa kualitas pelayanan dapat
berdampak positif terhadap kepuasan pelanggan yang selanjutnya menyebarkan
informasi pelanggan dari mulut ke mulut dan memberikan dampak
positif. Perusahaan menganggap hubungan jangka panjang dengan pelanggan
sebagai aset, bisnis atau organisasi terus berupaya untuk mencapai kepuasan pelanggan yang tinggi

Loyalitas Pelanggan


Loyalitas pelanggan merupakan variabel dependen (Y) dari penelitian ini.
Grand Theory dari variabel loyalitas pelanggan didapatkan dari Griffin (2002) yang
menjelaskan bahwa ada empat faktor dimensi dari loyalitas pelanggan yaitu,
pembelian kembali (regular repurchase), membeli produk lainnya (buy others
product), bersedia merekomendasikan kepada orang lain (willing to recommend to
others), dan loyalitas (loyalty). Beberapa penelitian terdahulu juga akan membantu
memberikan gambaran pengertian dari loyalitas pelanggan. Penelitian dari
Mahsyar, dkk. (2020) loyalitas konsumen sangatlah penting bagi suatu bisnis baik
itu jasa maupun produk (barang) agar dapat meningkatkan keuntungan perusahaan,
karena jika konsumen tidak loyal terhadap produk bisnis maka pasti akan beralih
ke produk lain. Untuk menjaga loyalitas. konsumen, salah satu cara untuk
meningkatkan loyalitas pelanggan adalah dengan memberikan pelayanan yang
berkualitas, sehingga akan mendorong pelanggan untuk mengulangi transaksi.
Loyalitas pelanggan biasanya terjadi setelah pelanggan merasa nyaman dengan
suatu produk atau jasa yang digunakan dan yang sudah dialami oleh pelanggan
tersebut. Temuan dilakukan oleh Urbano, dkk. (2019) menjelaskan bahwa loyalitas
konsumen diperkirakan berdasarkan tiga kualitas utama yang diakui secara tertulis,
kepuasan dalam kerangka partai, pola pikir dan kemampuan menjaga waktu. Selain
itu, loyalitas pelanggan juga dinilai berdasarkan tiga karakteristik dasar yang
dibedakan secara tertulis, kepuasan terhadap pengalaman bersantap, suasana hati,
dan ketersediaan.

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan merupakan variabel mediasi (Z) dari penelitian ini.
Grand Theory kepuasan pelanggan didapatkan dari Wang & Lo (2002) yang
menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan memiliki dua faktor dimensi, yaitu
kepuasan terhadap semua yang diberikan (satisfaction a fulfillment) dan kepuasan
sebagai ambivalensi (satisfaction as ambivalence). Beberapa penelitian terdahulu
juga akan membantu menjelaskan bagaimana pengertian dari kepuasan pelanggan.
Penelitian yang dilakukan oleh Sani, dkk. (2024) menjelaskan bahwa pelanggan
yang puas dengan produk atau layanan yang dibelinya kemungkinan besar akan
terus berbisnis dengan merek atau perusahaan tersebut di masa mendatang.
Kepuasan pelanggan merupakan faktor utama yang mempengaruhi atau
menginspirasi loyalitas pelanggan. Pelanggan yang puas dengan suatu penawaran
atau layanan cenderung tidak mencari alternatif atau beralih ke pesaing. Hal ini
membantu perusahaan mempertahankan pangsa pasarnya. Temuan lain dari Taufik,
dkk. (2022) kepuasan merupakan penilaian pelanggan dari sudut pandang evaluatif
akibat kegagalan memenuhi harapan sebelum dan sesudah menggunakan produk.
Untuk itu kepuasan pelanggan akan tercipta apabila harapan dapat dipenuhi dengan
baik

Kualitas Produk


Haasya (2016) menjelaskan bahwa kualitas produk memiliki enam faktor dimensi, yaitu rasa
produk (taste), opsi kesehatan (healty option), keberagaman pilihan (diversity of
choice), presentasi makanan (the presentation of food), suhu (temperature), dan
kesegaran (freshness). Beberapa penelitian terdahulu juga akan membantu
memberikan gambaran bagaimana pengertian dari kualitas produk. Penelitian
Taufik, dkk. (2022) menjelasakan bahwa kualitas produk adalah kemampuan
spesifik suatu produk untuk menunjukkan kegunaannya, termasuk umur panjang
produk, keandalan, kemudahan penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai lainnya.
Selanjutnya produk merupakan hal terpenting yang dilihat pelanggan setelah
melakukan pembelian, baik berupa barang maupun jasa yang dapat mereka nikmati.
Mendefinisikan kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk
menjalankan fungsinya, termasuk ketahanan produk secara keseluruhan, keandalan,
keakuratan, kemudahan penggunaan dan perbaikan, serta sifat-sifatnya (Santos,
dkk., 2023). Perusahaan selalu memperhatikan kualitas produk yang dimiliki
perusahaan agar produk di mata pelanggan mempunyai kesan produk yang
berkualitas. Selain itu, kualitas produk juga dapat mempengaruhi loyalitas
pelanggan karena banyak konsumen yang mengutamakan kualitas produk yang
sesuai dengan kebutuhannya.
Temuan lain oleh Hongdiyanti, dkk. (2021) menjelaskan bahwa kualitas
produk mengacu pada karakteristik suatu produk atau layanan yang mempengaruhi
kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Kualitas mempengaruhi
kinerja produk dan terkait erat dengan nilai dan kepuasan pelanggan. Sementara,
penelitian yang dilakukan oleh Sandy, dkk. (2024) secara konseptual, produk
merupakan pemahaman subjektif produsen terhadap sesuatu yang dapat ditawarkan
sebagai upaya mencapai tujuan organisasi dengan memuaskan kebutuhan dan
aktivitas pelanggan, sesuai dengan keterampilan dan kemampuan organisasi
produksi serta daya belinya pasar. Selain itu, produk juga dapat dipahami sebagai
persepsi pelanggan yang diungkapkan oleh produsen melalui hasil produksinya.
Produk dianggap penting oleh pelanggan dan menjadi dasar pengambilan
keputusan.

Dimensi-Dimensi Pelayanan Publik


Menurut Ratminto dan Winarsih (2005:21), dimensi-dimensi pelayanan publik
adalah sebagai berikut :

  1. Kesederhanaan
    Kesederhanaan mengandung arti bahwa prosedur pelayanan tidak berbelit-
    belit, mudah dimengerti dan dipahami serta mudah dilaksanakan.
  2. Kejelasan
    Kejelasan ini mencakup persyaratan teknis dan administrasi pelayanan
    publik dan rincian biaya pelayanan publik
  3. Kepastian Waktu
    Kepastian waktu dalam pelayanan publik harus sesuai dengan waktu yang
    telah ditentukan dalam standar pelayanan.
  4. Akurasi
    Produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah.
  5. Keamanan
    Proses dan produk pelayanan publik harus memberikan rasa aman dan
    kepastian hukum.
  6. Tanggung Jawab
    Pimpinan penyelenggaraan pelayanan publik harus bertanggung jawab
    terhadap semua proses dan produk pelayanan yang diberikan kepada
    masyarakat.
  7. Kelengkapan sarana dan prasarana
    Tersedianya sarana dan prasarana yang memadai dalam mendukung
    pelayanan publik.
  8. Kemudahan Akses
    Tempat dan lokasi sarana pelayanan mudah dijangkau oleh masyarakat.
  9. Kedisiplinan dan Keramahan
    Pemberian pelayanan oleh petugas harus bersikap sopan, santun, ramah
    dan melakukan pelayanan dengan ikhlas.
  10. Kenyamanan
    Lingkungan tempat pelayanan harus tertib, teratur, bersih, disediakan
    ruang tunggu dan sarana lainnya

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Publik


Menurut Passolong (2007: 42-46), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
kualitas pelayanan publik yang antara lain sebagai berikut:
a. Struktur Organisasi
Menurut Passolong (2007: 42), struktur adalah susunan berupa kerangka yang
memberikan bentuk dan wujud, dengan demikian akan terlihat prosedur
kerjanya. Dalam organisasi pemerintahan, prosedur merupakan sesuatu
rangkaian tindakan yang ditetapkan lebih dulu, yang harus dilalui untuk
mengerjakan sesuatu tugas. Struktur organisasi dapat pula diartikan sebagai
suatu hubungan karakteristik, norma dan pola yang terjadi di dalam badan-
badan eksekutif yang mempunyai hubungan baik potensial atau nyata dengan
apa yang mereka miliki dalam menjalankan kebijaksanaan
Struktur organisasi menetapkan bagaimana tugas akan dibagi, siapa melapor
kepada siapa, mekanisme koordinasi yang formal serta pola interaaksi yang
akan diikuti. Struktur organisasi mempunyai tiga komponen, yaitu:
kompleksitas, formalisasi dan sentralisasi. Kompleksitas berarti dalam struktur
orgaisasi mempertimbangkan tingkat differensiasi yang ada dalam organisasi
termasuk di dalamnya tingkat spesialisasi atau pembagian kerja, jumlah
tingkatan dalam organisasi serta tingkat sejauh mana unit-unit organisasi
tersebar secara geografis. Formalisasi berarti dalam struktur organisasi
memuat tentang tata cara atau prosedur bagaimana kegiatan dilaksanakan
(Standard Operating Prosedures), apa yang boleh dan tidak dapat dilakukan.
Sentralisasi berarti dalam struktur organisasi memuattentang kewenangan
pengambilan keputusan, apakah disentralisasi atau didesentralisasi.
b. Kemampuan Aparat
Menurut Passolong (2007: 44), aparatur pemerintah, adalah kumpulan
manusia yang mengabdi pada kepentingan negara dan pemerintahan dan
berkedudukan sebagai pegawai negeri. Aparatur pemerintah adalah seluruh
jajaran pelaksana pemerintah yang memperoleh kewenangannya berdasarkan
pendelegasian dari Presiden.
Aparatur negara atau aparatur adalah pelaksana kegiatan dan proses
penyelenggaraan pemerintahan, baik yang bekerja dalam badan eksekutif,
legislatif dan yudikatif maupun mereka yang sebagai TNI dan pegawai negeri
sipil pusat dan daerah yang ditetapkan dengan peraturan peraturan pemerintah
Aparat negara dan atau aparatur pemerintah, diharapkan atau dituntut adanya
kemampuan baik berupa pengetahuan, keterampilan serta sikap perilaku yang
memadai, sesuai dengan tuntutan pelayanan dan pembangunan sekarang ini
Sementara itu, konsep lain mendefinisikan kemampuan (ability) sebagai sifat
yang dibawa lahir atau dipelajari yang memungkinkan seseorang melakukan
hal yang bersifat mental atau fisik, sedangkan skill atau keterampilan adalah
kecakapan yang berhubungan dengan tugas

Pengertian Pelayanan Publik


Menurut Moenir (2000: 13), pelayanan publik adalah kegiatan yang dilakukan
oleh seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor material melalui
sistem, prosedur dan metode tertentu dalam usaha memenuhi kepentingan orang
lain sesuai dengan haknya. Tujuan pelayanan publik adalah mempersiapkan
pelayanan publik tersebut yang dikehendaki atau dibutuhkan oleh publik, dan
bagaimana menyatakan dengan tepat kepada publik mengenai pilihannya dan cara
mengaksesnya yang direncanakan dan disediakan oleh pemerintah.
Selanjutnya menurut Moenir (2000: 13), pelayanan publik harus mengandung
unsur-unsur dasar sebagai berikut:
a. Hak dan kewajiban bagi pemberi maupun pelayanan umum harus jelas dan
diketahui secara pasti oleh masing-masing pihak;
b. Pengaturan setiap bentuk pelayanan umum harus disesuaikan dengan kondisi
kebutuhan dan kemampuan masyarakat untuk membayar berdasarkan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan tetap berpegang teguh
pada efisiensi dan efektivitas;
c. Kualitas, proses dan hasil pelayanan umum harus diupayakan agar dapat
memberi keamanan, kenyamanan, kepastian hukum yang dapat
dipertanggungjawabkan;
d. Apabila pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah terpaksa
harus mahal, maka instansi pemerintah yang bersangkutan berkewajiban
memberi peluang kepada masyarakat untuk ikut menyelenggarakannya.

Pengaruh Pelayanan Terhadap Kepuasan


Menurut TjahyaSupriatna (2003: 27), pelaksanaan pelayanan publik oleh aparatur
pemerintah kepada masyarakat berkaitan erat dengan upaya untuk menciptakan
kepuasan masyarakat sebagai penerima layanan. Hal ini sebenarnya merupakan
implikasi dari fungsi aparat negara sebagai pelayan masyarakat. Karena itu,
kedudukan aparatur pemerintah dalam pelayanan umum (public services) sangat
strategis karena akan sangat menentukan sejauhmana pemerintah mampu
memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi masyarakat, yang dengan
demikian akan menentukan sejauhmana negara telah menjalankan perannya
dengan baik sesuai dengan tujuan pendiriannya.
Pendapat di atas sesuai dengan penjelasan Moenir (2001: 76), tanggapan dan
harapan masyarakat pelanggan terhadap pelayanan yang mereka terima, baik
berupa barang maupun jasa akan menciptakan kepuasan dalam diri mereka. Hal
ini selaras dengan tujuan pelayanan publik pada umumnya yaitu mempersiapkan
pelayanan publik tersebut yang dikehendaki atau dibutuhkan oleh publik, dan
bagaimana menyatakan dengan tepat kepada publik mengenai pilihannya dan cara
mengaksesnya yang direncanakan dan disediakan oleh pemerintah untuk
menciptakan kepuasan pada public tersebut.
Upaya-upaya pelayanan yang ditempuh dalam rangka menciptakan kepuasan
publik pada umumnya dilakukan dengan menentukan pelayanan publik yang
disediakan, apa saja macamnya, memperlakukan pengguna pelayanan, sebagai
customers, berusaha memuaskan pengguna pelayanan, sesuai dengan yang
diinginkan mereka, mencari cara penyampaian pelayanan yang paling baik dan berkualitas. Upaya tersebut berangkat dari persoalan kepuasan masyarakat
terhadap apa yang diberikan oleh pelayan dalam hal ini yaitu administrasi publik
adalah pemerintah itu sendiri dengan apa yang mereka inginkan, maksudnya yaitu
sejauhmana publik berharap apa yang akhirnya diterima mereka

Faktor-Faktor Penentu Kepuasan Masyarakat


Menurut Lupioyadi (2006: 158), dalam menentukan tingkat kepuasan publik,
terdapat lima faktor yang harus diperhatikan oleh organisasi pelayanan yaitu:
a. Kualitas produk/jasa, publik akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk/jasa yang mereka gunakan berkualitas.
b. Kualitas pelayanan, publik akan merasa puas bila mereka mendapatkan
pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang diharapkan.
c. Emosional, publik akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
orang lain akan kagum terhadapnya bila menggunakan produk/jasa dengan
merek tertentu yang cendrung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
d. Harga, produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi mempunyai harga
yang lebih murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi.
e. Biaya, publik tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk tidak perlu
membuang waktu untuk mendapatkan barang atau jasa yang diinginkan.
Kepuasan masyarakat merupakan respon terhadap kinerja organisasi publik yang
dipersepsikan sebelumnya. Tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan
antara kinerja yang dirasakan (perceived performance) dan harapan (expectation)
masyarakat bisa mengalami salah satu dari tiga tingkat kepuasan yang umum. Jika
kinerja di bawah harapan, masyarakat akan tidak puas. Jika kinerja sesuai dengan
harapan, masyarakat akan puas. Apabila kinerja melampaui harapan, masyarakat
akan sangat puas, senang, atau bahagia

Pengertian Kepuasan


Kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan
harapan. Apabila kinerja di bawah harapan, maka masyarakat akan kecewa. Bila
kinerja sesuai dengan harapan, maka masyarakat akan puas. Sedangkan bila
kinerja melebihi harapan, masyarakat akan sangat puas. Harapan masyarakat
dapat dibentuk oleh masyarakat masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji
dan informasi pemasar dan saingannya. Masyarakat yang puas akan setia lebih
lama, kurang sensitif terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang
organisasi publik.
Menurut Supranto (1997: 23), kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah
membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dengan harapannya. Kepuasan
masyarakat merupakan perasaan senang atau kecewa sebagai hasil dari
perbandingan antara prestasi atau produk yang dirasakan dan diharapkan.
Menurut Lupiyoadi (2006: 155), faktor utama penentu kepuasan masyarakat
adalah persepsi terhadap kualitas jasa. Apabila ditinjau lebih jauh, pencapaian
kepuasan masyarakat melalui kualitas pelayanan dapat ditingkatkan dengan
beberapa pendekatan sebagai berikut:
a. Memperkecil kesenjangan yang terjadi antara pihak manajemen dengan
pihak masyarakat
b. Organisasi publik harus mampu membangun komitmen bersama untuk
menciptakan visi di dalam perbaikan proses pelayanan
c. Memberikan kesempatan pada masyarakat untuk menyampaikan keluhan
dengan membentuk sistem saran dan kritik
d. Mengembangkan pelayanan untuk mencapai kepuasan dan harapan
masyarakat

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam (Tjiptono dan Chandra, 2016:137) terdapat 5
(lima) indikator penentu dalam kualitas pelayanan sebagai berikut:

  1. Kehandalan (Reliability), berhubungan dengan keahlian perusahaan demi
    memberikan pelayanan yang akurat sejak pertama kali tanpa melakukan
    kesalahan dan menginformasikan jasanya sesuai dengan waktu yang disepakati.
  2. Daya Tanggap (Responsiveness), berkaitan dengan kesediaan dan keahlian
    karyawan untuk membantu para konsumen dan merespon permintaan mereka,
    serta memberitahukan kapan jasa hendak diberikan dan segera memberikan jasa
    secara cepat.
  3. Jaminan (Assurance), perilaku karyawan yang bisa menumbuhkan kepercayaan
    pelanggan terhadap perusahaan dan perusahaan dapat menciptakan rasa aman
    untuk para konsumennya. Jaminan juga berarti bahwa para karyawan selalu
    bersikap sopan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan
    untuk menangani setiap pertanyaan atau masalah konsumen.
  4. Empati (Empathy), menjelaskan bahwa perusahaan memahami masalah para
    konsumenya dan bertindak untuk kepentingan konsumen, serta memberikan
    perhatian khusus kepada para konsumen dan mempunyai jam operasi yang
    nyaman.
  5. Bukti Fisik (Tangible), berkenaan dengan kapabilitas fasilitas fisik, peralatan
    atau perlengkapan yang lengkap, dan bahan-bahan yang digunakan perusahaan
    bersih, serta penampilan dari karyawan rapi.

Pengertian Kualitas Pelayanan


Mutiawati et al., (2019:7), menyatakan kualitas pelayanan merupakan
kemampuan pemberi pelayanan dalam melayani pengguna barang atau jasa.
Sedangkan, menurut Usmara dalam (Pattaray et al., 2021:11) kualitas pelayanan
merupakan suatu sikap yang dihasilkan dari membandingkan harapan konsumen
terhadap kualitas pelayanan dengan kinerja perusahaan seperti yang dipersepsikan
konsumen.
Kotler dalam (Pertiwi, 2021:68) menyatakan bahwa, kualitas pelayanan
merupakan kinerja dari seseorang kepada orang lain yang dapat berupa tindakan yang tidak berwujud dan tidak mengarah pada kepemilikan suatu barang atau
kepada siapa pun

Tujuan Penetapan Harga Jasa

Tujuan penetapan harga merupakan bentuk strategi perusahaan dalam
menjalankan usahanya. Menurut Tjiptono (2014:207-209) setiap keputusan
mengenai strategi penetapan harga harus didasarkan atas tujuan spesifik yang
hendak dicapai. Berikut 3 (tiga) kategori tujuan spesifik penetapan harga jasa,
diantaranya:

  1. Tujuan Berorientasi Pendapatan, pada umumnya perusahaan swasta merupakan
    perusahaan yang mengejar keuntungan. Perusahaan semacam ini berupaya
    untuk memaksimalkan laba dibandingkan pengeluaran. Sebaliknya, perusahaan
    jasa publik cenderung lebih berfokus pada titik impas (break-even point).
    Namun, tidak sedikit perusahaan jasa publik yang menetapkan harga untuk
    mendapatkan profit pada beberapa unit lini produk jasanya.
  2. Tujuan Berorientasi Kapasitas, yaitu sejumlah perusahaan berusaha
    menyesuaikan permintaan dan penawaran guna mencapai taraf pemanfaatan
    kapasitas produktif secara optimal pada waktu tertentu.
  3. Tujuan Berorientasi Pelanggan, yaitu perusahaan-perusahaan yang berupaya
    memaksimalkan daya tariknya bagi tipe pelanggan spesifik harus menggunakan
    strategi penetapan harga yang mampu mengakomodasi perbedaan antar segmen
    pasar, perbedaan daya beli, perbedaan preferensi pelanggan atas berbagai
    alternatif tingkat layanan atau jasa.

Indikator Harga


Menurut Kotler (2017:308), terdapat empat indikator yang mencirikan harga:

  1. Keterjangkauan harga, yaitu tingkat kemampuan konsumen dalam membeli
    produk atau jasa yang ditawarkan.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, yaitu adanya sebuah hubungan
    yang positif dengan kualitas suatu produk yang satu dengan produk lainnya.
  3. Daya saing harga, didefinisikan sebagai posisi harga relatif dari salah satu
    pesaing yang lain.
  4. Kesesuaian harga dengan manfaat, yaitu manfaat yang dirasakan lebih besar
    atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan produk yang
    dibelinya.

Dimensi Harga


Tjiptono (2014:195-197), menyatakan harga adalah salah satu faktor bauran
pemasaran yang membutuhkan pertimbangan cermat. Sebab terdapat sejumlah
dimensi harga dalam berbagai faktor sebagai berikut:

  1. Harga adalah pernyataan nilai dari suatu produk. Nilai merupakan rasio atau
    perbandingan antara persepsi terhadap manfaat dengan biaya yang dikeluarkan
    untuk memperoleh produk.
  2. Harga adalah bagian yang terlihat jelas bagi para pembeli.
  3. Harga merupakan penentu utama permintaan. Berdasarkan hukum permintaan,
    kualitas produk dipengaruhi oleh besar kecilnya harga yang dibeli konsumen.
    Semakin mahal harga, maka semakin sedikit jumlah permintaan atas produk
    bersangkutan dan sebaliknya.
  4. Harga bersangkutan langsung dengan pendapatan. Harga merupakan satu-
    satunya elemen bauran pemasaran yang menghadirkan pemasukan bagi
    perusahaan yang pada gilirannya berpengaruh pada besar kecilnya profit dan
    pangsa pasar yang didapatkan.
  5. Harga bersifat fleksibel, yang berarti dapat disesuaikan dengan cepat.
  6. Harga mempengaruhi citra dan strategi positioning. Dalam pemasaran produk,
    harga menjadi salah satu elemen terpenting.
  7. Harga adalah masalah utama yang dihadapi oleh manaje

Pengertian Harga


Harga merupakan sebuah nilai tukar dari produk barang maupun jasa yang
pada dasarnya diakui dalam satuan mata uang (Dollar, Rupiah, Yen, dan lain-lain).
Sedangkan, definisi harga dari perspektif pemasaran yaitu satuan mata uang atau
satuan alat ukur (termasuk barang dan jasa) yang dapat ditukarkan agar
mendapatkan hak penggunaan atau kepemilikan suatu barang dan jasa (Tjiptono,
2014:193).
Menurut Kotler dan Amstrong dalam (Setiyaningrum et al., 2015:128),
mengatakan harga merupakan total semua nilai yang diberikan oleh pelanggan
untuk mendapatkan keuntungan (benefit) atas kepemilikan atau pemakaian suatu
produk atau jasa.

Indikator Kepuasan Pelanggan


Indikator untuk mengukur kepuasan pelanggan, menurut Indrasari (2019:92)
adalah:

  1. Kesesuaian harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
    disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan
    pelanggan dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
  2. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa
    perusahaan.
  3. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa
    tersebut kepada orang lain seperti, keluarga, teman, dan lainnya.

Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Menurut Indrasari (2019:87-88) dalam menentukan tingkat kepuasan
pelanggan, terdapat lima faktor utama dan harus diperhatikan oleh perusahaan
yaitu:

  1. Kualitas produk, pelanggan akan merasa puas bila evaluasi mereka
    menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan memang berkualitas.
  2. Kualitas pelayanan, pelanggan akan merasa puas apabila mendapatkan
    pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan.
  3. Emosional, pelanggan akan merasa bangga dan yakin bahwa orang lain akan
    kagum terhadap mereka, apabila memakai produk tertentu yang cenderung
    mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
  4. Harga, produk dengan kualitas yang sama tetapi harga yang relatif rendah
    menawarkan nilai yang lebih besar kepada pelanggan.
  5. Biaya, pelanggan yang tidak mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
    membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk cenderung merasa puas
    dengan produk tersebut.

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Menurut Park dalam (Irawan 2021:54), mengungkapkan kepuasan pelanggan
adalah suatu perasaan pelanggan sebagai respon terhadap produk barang atau jasa
yang telah dikonsumsi.
Kotler dan Keller (2016:33) mengatakan kepuasan pelanggan sebagai
berikut:
“Satisfaction reflects a person’s judgment of a product’s perceived
performance in relationship to expectations. If performance falls short of
expectations, the customer is disappointed. If it matches expectations, the customer
is satisfied. If it exceeds them, the customer is delighted” yang artinya kepuasan
mencerminkan penilaian seseorang tentang kinerja produk yang dirasakan dalam
kaitannya dengan harapan. Apabila kinerja jauh dari ekspektasi, pelanggan kecewa.
Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas. Jika melebihi ekspektasi,
pelanggan senang.
Bahrudin, M., dan Zuhro, S. (2016), menyatakan kepuasan pelanggan adalah
evaluasi pilihan yang disebabkan oleh keputusan pembelian tertentu dan
pengalaman dalam menggunakan atau mengkonsumsi barang atau jasa. Sedangkan,
Tjiptono (2014:353) mengkonseptualisasikan kepuasan pelanggan seperti perasaan
yang muncul menjadi output penilaian terhadap pengalaman pemakaian produk
atau jasa

Pengertian E-Commerce


E-Commerce merupakan transaksi elektronik yang berkaitan dengan
pembelian atau penjualan barang maupun jasa antara rumah tangga, individu,
pemerintah dan organisasi publik atau swasta lainnya yang dilakukan melalui
jaringan komputer (Pradana, M. 2017:167). Sedangkan, menurut Laudon dalam
(Prasetio et al., 2021:3), mengatakan E-Commerce adalah penggunaan internet,
web, aplikasi mobile dan bro

Indikator Handling Complaint


Fasilitas yang disediakan kepada pelanggan yang bermaksud
memudahkan penyampaian masukan seperti keluhan, kritik, pendapat
maupun saran. Menurut (Santoso, Arif Kurniawan, Rois Arifin 2021).
Indikator penanganan konsumen diuraikan sebagai berikut:

  1. Cepat dalam menangani keluhan.
  2. Kewajaran atau keadilan dalam memecahkan permasalahan atau
    keluhan.
  3. Kemudahan bagi konsumen untuk menghubungi perusahaan

Faktor Faktor yang mempengaruhi Handling Complaint


Setiap konsumen yang merasa tidak puas terhadap kinerja produk, jasa
dan atau perusahaan tertentu akan bereaksi dengan tindakan yang berbeda-
beda. Ada yang mendiamkan saja dan ada pula yang melakukan komplain.
Menurut Tjiptono (2020), keputusan seseorang untuk melakukan
komplain atau tidak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

  1. Tingkat kepentingan konsumsi yang dilakukan Apabila konsumen
    mempersepsikan tingkat kepentingan, biaya dan waktu yang
    dibutuhkan relatif besar, maka besar kemungkinan pelanggan
    bersangkutan akan melakukan komplain.
  2. Tingkat ketidakpuasan pelanggan Semakin tidak puas seorang
    pelanggan semakin besar pula kemungkinannya melakukan
    komplain.
  3. Manfaat yang diperoleh oleh komplain Semakin besar persepsi
    konsumen terhadap manfaat yang bisa diperoleh dari penyampaian
    komplain, semakin besar pula kemungkinannya melakukan
    complain

Handling Complaint


Kotler (2016) Keluhan atau komplain merupakan suatu ungkapan
ketidakpuasan dari pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan oleh
perusahaan. Pelanggan yang tidak puas dengan pelayanan dari perusahaan
yang menyebabkan kekecewaan akan mengatakan ketidakpuasannya kepada
orang lain. Penanganan komplain yang baik mampu memberikan peluang
mengubah pelanggan yang kurang puas menjadi loyal. Keluhan konsumen
yang ditanggapi dengan positif akan membuat pelanggan tersebut merasakan
diperhatikan oleh perusahaan tersebut. Pada hal ini, kepuasan dalam
penanganan keluhan menjadi tingi dari pada kepuasan terhadap barang atau
jasa yang telah pelanggan tersebut komsumsi ( Daengs,et all 2015) Keluhan
adalah artikulasi ketidakpuasan verbal atau tertulis yang mengirimkan
peringatan kepada perusahaan atau penyedia layanan tentang perilaku,
layanan, atau produknya Stauss B (2019) Pelanggan biasanya mengeluh
karena ada sesuatu yang salah tetapi mereka juga dapat mengeluh karena
harapan yang tidak terpenuhi atau ada gangguan dalam komunikasi.
Artinya Keluhan merupakan hal yang disampaikan oleh konsumen
karena mereka merasakan adanya ketidaksesuaian atas jasa yang diterima
dengan yang dijanjikan. Suatu pengaduan dan keluhan bisa dijadikan
kesempatan untuk perusahaan agar memperbaiki kesalahan yang ada. Dengan
demikian, perusahaan dapat mengembangkan ide-ide yang baru,
meningkatkan pemasaran ataupun pelayanan.

Indikator Kualitas Pelayanan


Tjiptono (2020)berhasil mengidentifikasi lima dimensi pokok kualitas
pelayanan jasa, yaitu:
1) Bukti langsung (tangibles) meliputi fasilitas fisik, perlengkapan,
pegawai, dan sarana komunikasi.
2) Keandalan (reliability), yakni kemampuan memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan
3) Daya tanggap (responsiveness), yaitu keinginan para staf untuk
membantu para pelanggan dan memberikan pelayanan dengan
tanggap.
4) Jaminan (assurance), mencakup pengetahuan, kemampuan,
kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki para staf, bebas
dari bahaya, risiko atau keragu-raguan.
5) Empati (emphaty), kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan
pada pelanggan

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan


Faktor-faktor yang diperhatikan dalam Pelaksanaan Pelayanan Menurut
(Januar Efendi 2016), faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh suatu
perusahaan dalam pelaksanaan pelayanan adalah:

  1. Ketepatan waktu pelayanan, seperti waktu tunggu dan proses
    pelayanan
  2. Akurasi pelayanan, yaitu berkaitan dengan reliabilitas pelayanan dan
    bebas kesalahan
  3. Kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan
  4. Tanggung jawab misalnya cara penerimaan pesanan,dan penanganan
    keluhan dari pelanggan external
  5. Kelengkapan, menyangkut lingkup pelayanan dan ketersediaan
    sarana pendukung
  6. Kemudahan mendapat pelayanan, berkaitan dengan banyak nya
    outlet,petugas, staf administrasi, dan fasilitas pendukung
  7. Variasi model pelayanan yaitu berkaitan dengan inovasi untuk
    memberikan pola-pola baru dalam pelayanan, features dari
    pelayanan
  8. Pelayanan pribadi, berkaitan dengan flexibilitas dan penangaanan
    permintaan khusus
  9. Kenyamanan dalam memperoleh pelayanan local, ruang pelayanan,
    dan kemudahan menjangkau pelayaanan

Kualitas Pelayanan


Kualitas memiliki hubungan yang erat dengan kepuasan pelanggan.
Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin
ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Tentang pengertian atau
definisi kualitas dapat berbeda makna bagi setiap orang, karena kualitas
memiliki banyak kriteria dan sangat tergantung pada konteksnya.
Menurut Kotler (2014) kualitas adalah kemampuan suatu barang untuk
memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang
diinginkan pelanggan. Menurut Tjiptono Fandy dan Chandra (2015), kualitas pelayanan merupakan ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan yang diwujudkan melalui
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
Menurut Tjiptono (2014:51) kualitas pelayanan didefinisikan sebagai
suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Tujuan
kualitas pelayanan akan terwujud apabila kualitas pelayanan yang diberikan
lebih dari apa yang diharapkan oleh para pasien. Pelayanan yang diberikan
oleh pasien harus secara keseluruhan bukan hanya kualitas pelayanan yang
diberikan oleh para dokter maupun suster ataupun perawat tetapi lebih pada
hal-hal yang terkait dengan pelayanan kepada pasien.

Faktor Faktor Kepercayaan


Menurut Harmilan (2018)mengemukakan agar pasien dapat percaya
terhadap perusahaan, perlu adanya aktivitas yang dilakukan. Terdapat tiga
aktivitas yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk menumbuhkan
kepercayaan pasien tersebut, diantaranya :

  1. Achieving Result
    Harapan pasien tidak lain ialah janji pasien yang harus dipenuhi bila
    ingin mendapatkan kepercayaan pasien. Dengan kata lain,
    kepercayaan pasien dapat ditumbuhkan melalui penetapan janji yang
    diberikan oleh pihak perusahaan.
  2. Acting with integrity
    Bertindak dengan integritas berarti adanya konsistensi antara ucapan
    dan tindakan dalam setiap situasi. Adanya integritas merupakan
    faktor kunci bagi salah satu pihak untuk percaya akan ketulusan dari
    pihak lain. Segala sesuatu yang diucapkan harus sesuai dengan
    tindakan.
  3. Demonstrate concern
    Kemampuan perusahaan untuk menunjukkan perhatiannya kepada
    pasien dalam bentuk menunjukan sikap pengertian kepada pasien
    jika pasien tersebut menghadapi masalah dengan produknya, hal ini
    digunakan untuk menumbuhkan kepercayaan terhadap merek

Kepercayaan


Menurut Peelen (2013)trust atau kepercayaan adalah sebuah kemauan
untuk bergantung terhadap rekan yang dapat dipercayai. Dimensi yang
digunakan untuk menilai trust adalah persepsi atau kepercayaan terhadap
kehandalan dan integritas dari seorang mitra.
Sedangkan Menurut Priansa (2017), kepercayaan terjadi karena adanya
keyakinan yang disertai reliabilitas dan integritas dari apa yang dipercaya
oleh konsumen. Keberlangsungan hidup suatu perusahaan tergantung kepada
kepercayaan dari pelanggan.
Sedangkan Kepercayaan pasien menurut Etta Mamang Sangadji (2013)
adalah semua pengetahuan yang dimilki oleh pasien dan semua kesimpulan
yang dibuat oleh pasien tentang objek, atribut, dan manfaatnya.sedangkan
menurut Diansyah (2018) Kepercayaan pasien merupakan sebuah jenis
refleksi emosional bagi dunia usaha klinik kesehatan. Hal tersebut tergantung
pada tingkat pemenuhan produk yang diharapkan atau layanan manfaat, serta
tingkat konsistensi harapan dan hasil aktual. Apabila pasien mengharapkan
suatu pelayanan pada tingkat tertentu, dan yang dirasakannya pelayanan yang
diterima lebih tinggi dari apa yang diharapkannya dan tetap menggunakan
produk atau pelayanan tersebut, maka pasien tersebut dapat dikatakan
percaya

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Irawan (2012) indikator yang akan diukur dari variable
kepuasan pelanggan sebagai berikut :
1) Kepuasan jasa secara menyeluruh. Para konsumen yang memakai
jasa akan merasa puas saat melihat pekerjaan yang di kerjakan
selesai dengan bagus dan tidak mengecewakan konsumen.
2) Merekomendasikan kepada pihak lain Konsumen yang merasa puas
akan memberi informasi kepada kerabat dan temannya, jika kinerja
itu bagus.
3) Akan menggunakan jasa kembali Konsumen puas dengan produk
dan pelayanan yang berikan, pelanggan pasti akan mengunakan
kembali produk dan jasa

Faktor Faktor yang mempengaruhi Kepuasan


Menurut Wijayanti (2017) Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
kepuasan adalah kebutuhan konsumen, harapan-harapan yang terselubung,
pelanggan khusus, sentuhan emosional, dan zona toleransi yang didasarkan
pada informasi dari beberapa sumber diantaranya:

  1. Dari mulut ke mulut (word of mouth) Pengaruh ini timbul dari segala
    sesuatu yang didengar oleh konsumen dari konsumen lainnya. Hal
    ini merupakan faktor potensial karena konsumen biasanya cenderung
    mempercayai konsumen lain yang pernah mencoba produk atau jasa
    yang diberikan perusahaan atau instansi. Kebutuhan Pribadi
    (Personal needs) Faktor ini bergantung pada kebutuhan pribadi
    masing-masing, konsumen biasanya tidak sama antar konsumen,
    sehingga harapan yang diperlukan oleh konsumen jadi tidak sama.
  2. Pengalaman masa lalu (Past experience) Keadaan yang diharapkan
    tidak terlepas dari pengalaman masa lalu dari masing-masing
    konsumen, karena semakin tinggi pengalamannya maka akan sangat
    berpengaruh terhadap harapannya dalam mempengaruhi kebutuhan.
  3. Komunikasi eksternal (external communication) Komunikasi
    eksternal seperti adanya promosi, penyuluhan yang mereka terima
    akan mempengaruhi harapan dari konsumen.
  4. Komunikasi eksternal (external communication) Komunikasi
    eksternal seperti adanya promosi, penyuluhan yang mereka terima
    akan mempengaruhi harapan dari konsumen

Kepuasan Pelanggan


Memahami kebutuhan dan keinginan pasien adalah hal penting yang
mempengaruhi kepuasan pasien. Pasien yang puas merupakan aset yang
sangat berharga karena apabila pasien merasa puas mereka akan terus
melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya, tetapi jika pasien merasa
tidak puas mereka akan memberitahukan dua kali lebih hebat kepada orang
lain tentang pengalaman buruknya Untuk menciptakan kepuasan pasien,
rumah sakit harus menciptakan dan mengelola suatu sistem untuk
memperoleh pasien yang lebih banyak dan kemampuan untuk
mempertahankan pasiennya.
Menurut Kotler (2014) menyatakan bahwa kepuasan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan kesannya
terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan – harapannya.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2013), kepuasan pasien adalah tingkat
perasaan seseorang setelah membandingkan (kinerja atau hasil) yang
dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Pasien dapat mengalami salah
satu dari tiga tingkat kepuasan umum yaitu kalau kinerja di bawah harapan,
pasien akan merasa kecewa tetapi jika kinerja sesuai dengan harapan
pelanggan akan merasa puas dan apabila kinerja bisa melebihi harapan maka
pelanggan akan merasakan sangat puas senang atau gembira. Menurut
Tjiptono Fandy 2015) mendefinisikan kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan sebagai suatu tanggapan emosional pada evaluasi terhadap
pengalaman pelanggan suatu produk atau jasa Kotler dan Keller (2012)
mengatakan bahwa kepuasan merupakan tingkat keadaan perasaan seseorang
setelah membandingkan kinerja suatu produk yang dirasakan dengan
harapannya.

Prinsip-Prinsip Kualitas Pelayanan


Untuk menciptakan suatu gaya menejemen dan lingkungan yang kondusif
bagi perusahaan jasa untuk memperbaiki kualitas, perusahaan harus mampu
memenuhi enam prinsip utama yang berlaku baik bagi perusahaan manufaktur
maupun perusahaan jasa. Keenam prinsip tersebut sangat bermanfaat dalam
membentuk dan mempertahankan lingkungan yang tepat untuk melaksanakan
penyempurnaan kualitas secara berkesinambungan dengan didukung oleh
pemasok, karyawan, dan pelanggan. Enam prinsip pokok tersebut meliputi
(Wolkins, dkk dalam Tjiptono, 2004) :

  1. Kepemimpinan
    Strategi kualitas perusahaan harus merupakan inisiatif dan komitmen
    manajemen puncak. Manajemen puncak harus memimpin perusahaannya
    untuk meningkatkan kinerja kualitasnya. Tanpa adanya kepemimpinan
    dari manajemen puncak, maka usaha untuk meningkatkan kualitas hanya
    berdampak kecil terhadap perusahaan.
  2. Pendidikan
    Semua personil perusahaan dari manajer puncak sampai karyawan
    operasional harus memperoleh pendidikan mengenai kualitas. Aspek-
    aspek yang perlu mendapat penekanan dalam pendidikan tersebut meliputi
    konsep kualitas sebagai strategi bisnis, alat dan teknik implementasi
    strategi kualitas, dan peranan eksekutif dalam implementasi strategi
    kualitas.
  3. Perencanaan
    Proses perencanaan strategik harus mencakup pengukuran dan tujuan
    kualitas yang dipergunakan dalam mengarahkan perusahaan untuk
    mencapai visinya.
  4. Review
    Proses review merupakan satu-satumya alat yang paling efektif bagi
    manajemen untuk mengubah perilaku organisasional. Proses ini
    merupakan suatu mekanisme yang menjamin adanya perhatian yang
    konstan untuk mencapai tujuan kualitas.
  5. Komunikasi
    Implementasi strategi kualitas dalam organisasi dipengaruhi oleh proses
    komunikasi dalam perusahaan. Komunikasi harus dilakukan dengan
    karyawan, pelanggan, dan stakeholder perusahaan lainnya, seperti
    pemasok, pemegang saham, pemerintah, masyarakat umum, dan lain-lain.
  6. Penghargaan dan Pengakuan
    Penghargaan dan pengakuan merupakan aspek yang penting dalam
    implementasi strategi kualitas. Setiap karyawan yang berprestasi baik
    perlu diberi penghargaan dan prestasinya tersebut diakui. Dengan
    demikian dapat meningkatkan motivasi, moral kerja, rasa bangga, dan rasa
    kepemilikan setiap orang dalam organisasi, yang pada gilirannya dapat
    memberikan kontribusi besar bagi perusahaan dan bagi pelanggan yang
    dilayani.

Dimensi-Dimensi Kualitas Pelayanan


Pada awalnya, Parasuraman, et al. (1985) mengidentifikasi sepuluh
dimensi pokok, yakni reliabilitas, daya tanggap, kompetensi, akses, kesopanan,
komunikasi, kredibilitas, keamanan, kemampuan memahami pelanggan, dan bukti
fisik. Namun pada penelitian berikutnya, ketiga pakar ini menyempurnakan dan
merangkum sepuluh dimensi tersebut. Kompetensi, kesopanan, kredibilitas, dan
kemampuan disatukan menjadi jaminan (assurance). Sedangkan akses,
komunikasi, dan kemampuan memahami pelanggan dikategorikan sebagai empati
(emphaty). Dengan demikian, terdapat lima dimensi utama yaitu:

  1. Kehandalan (Reliability), yaitu kemampuan perusahaan untuk melakukan
    pelayanan sesuai yang dijanjikan dengan segera, akurat, dan memuaskan.
  2. Ketanggapan (Responsiveness), yaitu kemampuan perusahaan untuk
    menolong pelanggan dan ketersediaan untuk melayani pelanggan yang
    baik.
  3. Keyakinan/Jaminan (Assurance), yaitu pengetahuan, kesopanan petugas,
    serta sifatnya yang dapat dipercaya sehingga pelanggan terbatas dari risiko.
  4. Kepedulian/Empati (Emphaty), yaitu rasa peduli untuk memberikan
    perhatian secara individual kepada pelanggan, memahami kebutuhan
    pelanggan, serta kemudahan untuk dihubungi.
  5. Penampilan/Bukti Fisik (Tangible), yaitu meliputi fasilitas fisik,
    perlengkapan karyawan, dan sarana komunikas

Pengertian Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan
pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi harapan
pelanggan (Lovelock dalam Tjiptono, 2004). Dalam model SERVQUAL, kualitas
pelayanan didefinisikan sebagai penilaian atau sikap global berkenaan dengan
superioritas suatu jasa (Parasuraman, et al., 1985). Definisi ini didasarkan pada
tiga landasan konseptual utama: (1) kualitas jasa lebih sukar dievaluasi konsumen
dibandingkan kualitas barang; (2) persepsi terhadap kualitas jasa merupakan hasil
dari perbandingan antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual jasa; (3)
evaluasi kualitas tidak hanya dilakukan atas hasil jasa, namun juga mencakup
evaluasi terhadap proses penyampaian jasa.
Majid (2009) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai suatu penyajian
produk atau jasa sesuai ukuran yang berlaku di tempat produk tersebut diadakan
dan penyampaiannya setidaknya sama dengan yang diinginkan dan diharapkan
oleh konsumen. Putro, dkk (2014) mengatakan bahwa kualitas pelayanan adalah
segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan guna memenuhi harapan
konsumen. Pelayanan dalam hal ini diartikan sebagai jasa atau service yang
disampaikan oleh pemilik jasa yang berupa kemudahan, kecepatan, hubungan,
kemampuan dan keramahtamahan yang ditujukan melalui sikap dan sifat dalam
memberikan pelayanan untuk kepuasan konsumen

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Kotler (2002) menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan
dalam kaitannya dengan kepuasan konsumen antara lain :

  1. Kualitas produk
    Konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa
    produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan berkualitas
    bagi seseorang, jika produk itu dapat memenuhi kebutuhannya. Kualitas
    produk ada dua yaitu eksternal dan internal. Salah satu kualitas produk
    dari faktor eksternal adalah citra merek.
  2. Kualitas Pelayanan
    Konsumen akan merasa puas bila mendapatkan pelayanan yang akan baik
    atau yang sesuai dengan harapan.
  3. Emosional
    Konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena menggunakan
    merek yang mahal.
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga
    yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi.
  5. Biaya
    Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
    membuang waktu untuk mendapatkan suatu jasa cenderung puas terhadap
    jasa tersebut.

Aspek-Aspek Kepuasan Pelanggan


Sureshchandar, Rajendran & Anantharaman (2002) mengatakan bahwa
terdapat lima dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur kepuasan pelanggan.
Kelima dimensi tersebut adalah:

  1. Layanan inti jasa (Core service)
    Layanan inti dari jasa menggambarkan isi layanan yaitu fitur apa saja yang
    ditawarkan dalam layanan yang diberikan seperti gamabaran dan suatu
    objek. Gambaran apa saja yang ditawarkan oleh biro jasa pada layanan
    jasa yang diberikan oleh konsumen
  2. Elemen manusia dalam penyampaian jasa (Human element of service
    delivery)
    Pada dimensi ini merujuk kepada semua aspek (keandalan, ketanggapan,
    jaminan, empati, saat kebenaran, insiden kritis dan pemulihan) yang akan
    berpengaruh pada elemen manusia dalam penyampaian jasa.
  3. Elemen sistem dalam penyampaian jasa (systematizatioon of service
    delivery)
    Pada aspek ini merupakan proses, prosedur, sistem dan teknologi yang
    akan membuat layanan yang baik. Pelanggan selalu ingin dan
    mengharapkan proses pelayanan yang benar-benar standar, efisien, dan
    sederhana sehingga mereka bisa menerima layanan tanpa gangguan, hal-
    hal yang tidak diinginkan atau banyak pertanyaan yang diajukan oleh
    penyedia layanan.
  4. Bukti fisik (Tangible of service)
    Merupakan aspek nyata dari fasilitas layanan (peralatan, mesin,
    penampilan karyawan, dan lain-lain) atau lingkungan fisik.
  5. Tanggung jawab sosial (Social responsibility)
    Merupakan tanggung jawab sosial membantu sebuah organisasi untuk
    memimpin sebagai warga yang bertanggungjawab dalam mendorong
    perilaku etis dalam segala hal

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kata kepuasan atau satisfaction berasal dari bahasa Latin “satis” (artinya
cukup baik, memadai) dan “facio” (melakukan atau membuat). Secara sederhana
kepuasan dapat diartikan sebagai ‘upaya pemenuhan sesuatu’ atau ‘membuat
sesuatu memadai’. Menurut Tjiptono (2000), bahwa kepuasan atau ketidakpuasan
pelanggan adalah respons pelanggan terhadap evaluasi ketidaksesuaian atau
diskonfirmasi, yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau norma kinerja
lainnya) dan kinerja aktual jasa yang dirasakan setelah pemakaiannya.
Wilkie (dalam Tjiptono, 2014) menyatakan bahwa kepuasan pelanggan
merupakan respon emosional terhadap evaluasi pengalaman mengkonsumsi
produk, toko atau jasa. Sedangkan Mowen & Minor (2002) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan merupakan keseluruhan sikap yang ditunjukkan pelanggan
atas jasa atau barang setelah mereka memperoleh dan menggunakannya.
Menurut Kotler (2002), kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesannya
terhadap kinerja (hasil) suatu jasa dan harapan-harapannya. Jika kinerja berada di
bawah harapan, konsumen tidak akan puas. Jika kinerja memenuhi harapan,
pelanggan akan puas. Jika kinerja melebihi harapan, pelangga amat puas atau
senang. Pelanggan yang puas cenderung akan memberikan referensi yang baik
terhadap jasa kepada orang lain.

Pengukuran Tingkat Kepuasan


Pemantauan dan pengukuran terhadap kepuasan pelanggan juga
menjadi hal yang sangat penting bagi setiap perusahaan. Hal ini
dikarenakan langkah tersebut dapat memberikan umpan balik dan masukan
bagi keperluan pengembangan dan implementasi strategi peningkatan
kualitas pelanggan. Pada prinsipnya kepuasan pelanggan itu dapat diukur
dengan berbagai macam metode dan tehnik.
Menurut Kotler (1994:41-43) ada beberapa macam metode
pengukuran kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Sistem keluhan dan saran, yaitu organisasi yang berpusat pelanggan
    memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya untuk
    menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan menyediakan kotak
    saran, kartu komentar, customer hot lines, dan lain-lain.
  2. Ghost Shopping, yaitu salah satu cara untuk memperoleh gambaran
    mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa
    orang untuk berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial,
    kemudian melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan
    kelemahan produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman
    mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
  3. Lost Customer analysis, yaitu perusahaan menghubungi para pelanggan
    yang telah berhenti atau yang telah pindah pemasok agar dapat
    memahami mengapa hal itu terjadi.
  4. Survei kepuasan pelanggan, yaitu salah satu konsep untuk penilaian
    kepuasan adalah konsep ServQual yang dikembangkan oleh
    Parasuraman, Berry dan Zeithaml. Konsep ini yang paling banyak
    digunakan oleh pelaku bisnis diseluruh dunia yang berkecimpung dalam
    pelayanan pelanggan. Menurut konsep ServQual Faktor yang
    mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap pelayanan yaitu
    Tanggible, Reability, Responsiveness, Assurance dan Empaty.
    Kelebihan dari konsep ini adalah karena didasarkan pada suatu riset
    yang sangat komprehensif, mudah dipahami dan mempunyai instrumen
    yang jelas untuk melakukan pengukuran

Definisi Pelayanan


Pelayanan adalah tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh
suatu pihak-pihak lain, yang pada dasarnya bersifat intangible (tidak
berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu dan
pelayanan merupakan perilaku produsen dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen demi tercapainya kepuasan pasien
(Kotler, 2011).
Menurut Algifari (2016) pelayanan adalah suatu bentuk layanan yang
diselenggarakan oleh penyedia layanan (produsen atau instansi
pemerintah) kepada pengguna layanan tersebut. Layanan dapat berupa
pelayanan yang ditawarkan. Pelayanan berhubungan dengan upaya
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pengguna layanan serta ketepatan
dalam penyampaian untuk memenuhi harapan pengguna layanan.
Menurut Lukman (Rahadi,2010) pelayanan adalah kegiatan-kegiatan
yang tidak jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau
pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu produk atau
pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa pelayanan adalah suatu
urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang
atau mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen.
Sebagai pelayanan kesehatan masyarakat umum, Rumah sakit
memiliki masalah utama yaitu mengenai pelayanan yang diberikan apakah
sudah sesuai harapan pasien atau tidak. Oleh karena itu, pihak Rumah
Sakit dituntut untuk selalu menjaga kepercayaan pasien dengan
meningkatkan mutu pelayanannya

Faktor-Faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien


Salah satu studi mengenai dimensi dari dari kualitas pelayanan adalah
hasil kajian dari Gronroos seorang pakar dari Swedia. Menurutnya ada 3
dimensi dari kualitas pelayanan. Pertama adalah technical quality, yaitu
yang berhubungn dengan outcome suatu pelayanan. Kedua adalah functional
quality yang lebih banyak berhubungan dengan proses delievery atau
bagaiman pelayanan yang diberikan kepada pelanggan. Ketiga adalah image
atau reputasi dari produsen yang menyediakan jasa.
Menurut Anderson (Rahadi, 2010) dengan pelayanan yang sama untuk
kasus yang sama bisa terjadi tingkat kepuasan yang dirasakan pasien akan
berbeda-beda. Hal ini tergantung dari latar belakang pasien itu sendiri,
karakteristik individu yang sudah ada sebelum timbulnya penyakit yang
disebut dengan predisposing factor. Faktor-faktor tersebut antara lain:
pangkat, tingkat ekonomi, kedudukan sosial, pendidikan, latar belakang
sosial budaya, sifat umum kesukuan, jenis kelamin, sikap mental dan
kepribadian seseorang.
Menurut Parasuraman terdapat dua faktor utama yang mempengaruhi
kepuasan oleh pelayanan, yaitu pelayanan yang diharapkan (expected
service) dan pelayanan yang diterima oleh pengguna (perceived service) apabila pelayanan yang diterima atau yang dirasakan (perceived service)
sesuai dengan pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan yang diberikan
di persepsikan baik dan memuaskan. Sebaliknya jika pelayanan yang
diterima lebih rendah daripada pelayanan yang diharapkan, maka pelayanan
yang diberikan dipersepsikan buruk. Dengan demikian, baik tidaknya
pelayanan tergantung kepada kemampuan penyelenggara pelayanan dalam
memenuhi harapan konsumennya secara konsisten.
Menurut Parasuraman, Berry dan Zeithamlmembagi pelayanan yang
mempengaruhi kepuasan Pasien, yaitu:
a. Tangible yang meliputi penampilan dan perfomansi dari fasilitas-
fasilitas fisik, peralatan, personel, dan material-material komunikasi
yang digunakan dalam proses penyampaian layanan.
b. Reliability meliputi kemampuan pihak penyedia jasa dalam
memberikan jasa atau pelayanan secara tepat dan akurat sehingga
konsumen dapat mempercayai dan mengandalkannya.
c. Responsivenees meliputi kemauan atau keinginan pihak penyedia jasa
untuk segera memberikan bantuan pelayanan yang dibutuhkan dengan
tanggap.
d. Assurance, yaitu pemahaman dan sikap sopan dari karyawan (contact
personnel) dikaitkan dengan kemampuan mereka dalam memberikan
keyakinan kepada konsumen bahwa pihak penyedia jasa mampu
memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya. Dimensi assurance

Definisi Kepuasan


Seorang pelanggan yang puas adalah pelanggan yang merasa mendapat
Value dari pemasok, produsen atau penyedia jasa. Value ini bisa berasal dari
produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi. Kalau
pengatakan bahwa value adalah produk yang berkualitas, maka kepuasan
terjadi kalau pelanggan mendapatkan produk yang berkualitas. Kalau value
bagi pelanggan adalah kenyamanan, maka kepuasan akan datang apabila
pelayanan yang diperoleh benar-benar nyaman. Kalau value dari pelanggan
adalah harga yang murah, maka pelanggan akan puas kepada produsen yang
memberikan harga yang paling kompetitif (Irawan, 2007:2).
Menurut Aritonang R dan Lerbin R (2005) Kepuasan pelanggan sebagai
hasil penilaian pelanggan terhadap apa yang diharapkannya dengan
membeli dan mengkonsumsi suatu produk. Harapan itu lantas dibandingkan
dengan persepsinya terhadap kinerja yang diterimanya dengan
mengkonsumsi produk tersebut. Jika harapannya lebih tinggi dari kinerja
produk, ia akan merasa tidak puas. Sebaliknya, jika harapannya sama
dengan atau lebih rendah daripada kinerja produk ia akan merasa puas.
Menurut Minor (Aprilia, 2015) kepuasan konsumen adalah keseluruhan
sikap yang ditunjukan konsumen atas barang atau jasa setelah memperoleh
dan menggunakannya

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan


Menurut Kotler dan Keller dalam Tjiptono (2014:369) ada
beberapa metode yang dapat digunakan dalam melakukan pengukuran
kepuasan pelanggan, diantaranya:

  1. Sistem keluhan dan saran
    Organisasi yang berpusat pelanggan (Customer Centered)
    memberikan kesempatan yang luas kepada para pelanggannya
    untuk menyampaikan saran dan keluhan. Informasi-informasi ini
    dapat memberikan ide-ide cemerlang bagi perusahaan dan
    memungkinkannya untuk bereaksi secara tanggap dan cepat untuk
    mengatasi masalah-masalah yang timbul.
  2. Pembeli bayangan (Ghost atau Mystery Shopping)
    Salah satu cara untuk memperoleh gambaran mengenai kepuasan
    pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang untuk
    berperan atau bersikap sebagai pembeli potensial, kemudian
    melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan
    produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka
    dalam pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost
    shopper juga dapat mengamati cara penanganan setiap keluhan.
  3. Analisis konsumen terakhir (Lost Customer Analysis)
    Perusahaan selayaknya menghubungi para pelanggan yang telah
    berhenti membeli atau yang telah pindah pemasok agar dapat
    memahami mengapa hal itu terjadi. Bukan hanya exit interview saja
    yang perlu, tetapi pemantauan customer loss rate juga penting,
    peningkatan customer loss rate menunjukkan kegagalan
    perusahaan dalam memuaskan pelanggannya.
  4. Survei kepuasan pelanggan
    Umumnya penelitian mengenai kepuasan pelanggan dilakukan
    dengan penelitian survei, baik melalui pos, telepon, maupun
    wawancara langsung. Perusahaan akan memperoleh tanggapan dan
    umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga memberikan
    tanda (signal) positif bahwa perusahaan menaruh perhatian
    terhadap para pelanggannya

Faktor-faktor Kepuasan pelanggan


Menurut Irawan (2004:37) ada lima faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan :

  1. Kualitas produk, yaitu pelanggan akan puas setelah membeli dan
    menggunakan produk tersebut dan ternyata kualitas produknya
    baik. Kualitas produk ini adalah dimensi global.
  2. Harga, yaitu untuk pelanggan yang sensitif, biasanya harga murah
    adalah sumber kepuasan yang penting karena mereka akan
    mendapatkan value of money yang tinggi. Komponen harga ini
    relatif tidak penting bagi mereka yang tidak sensitif terhadap harga.
  3. Kualitas layanan, yaitu sangat bergantung pada tiga hal, yaitu
    sistem, teknologi dan manusia. Kualitas layanan merupakan driver
    yang mempunyai banyak dimensi. Salah satu konsep kualitas
    layanan yang populer adalah ServQual. Berdasarkan konsep ini,
    kualitas layanan diyakini mempunyai lima dimensi yaitu reliability,
    responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible.
  4. Faktor perasaan, yaitu kepuasan pelanggan dapat timbul pada saat
    mengendarai mobil yang memiliki brand image yang baik. Rasa
    bangga, rasa percaya diri, simbol sukses, bagian dari kelompok
    orang penting dan sebagainya adalah contoh – contoh emotional
    value yang mendasari kepuasan pelanggan.
  5. Kemudahan, yaitu pelanggan akan semakin puas apabila relatif
    mudah, nyaman, dan efisien dalam mendapatkan produk atau
    layanan

Definisi Kepuasan Pelanggan


Menurut Kotler (2014:150) kepuasan pelanggan ialah perasaan
senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan kinerja
(hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (hasil) yang diharapkan.
Sedangkan menurut Daryanto (2011:9) kepuasan pelanggan adalah
tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang
dirasakan, dibandingkan dengan harapan

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam Lupiyoadi (2006:182), ada 5 (lima)
jenis dimensi dalam kualitas pelayanan (Service Quality), yaitu:

  1. Bukti fisik (Tangibles)
    Yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan
    eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan
    sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat diandalkan
    keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata dari
    pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini meliputi
    fasilitas fisik contoh: gedung, gudang, dan lain-lain, perlengkapan
    dan peralatan yang digunakan (teknologi), serta penampilan
    pegawainya.
  2. Keandalan (Reliability)
    Yaitu kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai
    dengan yang dijanjikan secara akurat dengan terpercaya. Kinerja
    harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti ketepatan
    waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa
    kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang tinggi.
  3. Ketanggapan (Responsivenes)
    Yaitu suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
    yang cepat (responsive) dan tepat kepada pelanggan, dengan
    penyampaian informasi yang jelas.
  4. Jaminan dan kepastian (Assurance)
    Yaitu pengetahuan, kesopansantunan, dan kemampuan para
    pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para
    pelanggan kepada perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen
    antara lain komunikasi (communication), kredibilitas (credibility),
    keamanan (security), kompetensi (competence), dan sopan santun
    (courstesy).
  5. Empati (Emphaty)
    Yaitu memberikan perhatian yang tulus dan bersifat individual atau
    pribadi yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya
    memahami keinginan konsumen. Dimana suatu perusahaan
    diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang
    pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta
    memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Lovelock yang dikutip oleh Laksana (2008:88) kualitas
pelayanan adalah tingkat mutu yang diharapkan, dan pengendalian
keragaman dalam mencapai mutu tersebut untuk memenuhi kebutuhan
konsumen. Untuk dapat memberikan kualitas pelayanan yang baik
maka perlu dibina hubungan yang erat antara perusahaan, dalam hal ini
adalah karyawan dengan pemakai jasa tersebut
Menurut Kotler (2005:153) kualitas layanan adalah model yang
menggambarkan kondisi pelanggan dalam membentuk harapan akan
layanan dari pengalaman masa lalu, promosi dari mulut ke mulut, dan
iklan dengan membandingkan pelayanan yang mereka harapkan dengan
apa yang mereka terima atau rasakan.
Tjiotono (2007:51) menyatakan bahwa kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan
konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi
harapan konsumen.
Parasuraman dalam Dimyati, 2005:25) salah satu pendekatan
kualitas pelayanan yang banyak dijadikan acuan riset pemasaran adalah
model SERVQUAL (Service Quality). SERVQUAL dibangun atas
adanya perbandingan dua faktor utama, yaitu persepsi pelanggan atas
layanan yang mereka terima (perceived service) dengan layanan yang
sesungguhnya diharapkan (expected service). Jika kenyataan lebih dari
yang diharapkan maka layanan dapat berkualitas, dan sebaliknya.
Singkat kata, kualitas pelayanan dapat didefinisikan sebagai seberapa
jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan pelanggan atas layanan
yang mereka terima.

Pengertian Pelayanan


Moenir (2010:26) pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan oleh
seseorang atau sekelompok orang dengan landasan faktor materi
melalui sistem, prosedur dan metode tertentu dalam rangka usaha
memenuhi kepentingan orang lain sesuai dengan haknya.
Loina (2001:38) mengatakan bahwa pelayanan merupakan suatu
proses keseluruhan dari pembentukan citra perusahaan, baik melalui
media berita, membentuk budaya perusahaan secara internal, maupun
melakukan komunikasi tentang pandangan perusahaan kepada para
pemimpin pemerintahan serta publik lainnya yang berkepentingan.

Pengertian Kualitas


Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Kualitas menurut Lupiyoadi
(2006:175) adalah perpaduan antara sifat dan karakteristik yang
menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan
kebutuhan pelanggan. Pelanggan yang menentukan dan menilai sampai
seberapa jauh sifat dan karakteristik itu memenuhi kebutuhannya.
Sementara Tjiptono (2008:67) mengatakan bahwa kualitas adalah
produk yang bebas cacat. Dengan kata lain produk sesuai dengan
standar (target, sasaran atau persyaratan yang bisa didefinisikan,
diobservasi, dan diukur). Kualitas mencerminkan semua dimensi
penawaran produk yang menghasilkan manfaat (benefit) bagi
pelanggan

Pengaruh Kualitas Pelayanan, Kualitas Produk dan Harga TerhadapKepuasan


Berdasarkan peneltian dari Freekley Stefly Maramis (2018:1666)
menyatakan bahwa kualitas produk, harga dan kualitas pelayanan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepuasan konsumen. Sedangkan menurut Rina
Sukmawati (2018: 141) menyatakan bahwa Terdapat pengaruh positif dan
signifikan secara bersama-sama dari variabel kualitas produk, harga, dan kualitas
pelayanan terhadap kepuasan konsumen.

Pengaruh Harga Terhadap Kepuasan


Berdasarkan teori Fandy Tjiptono (2015: 8) menyatakan bahwa harga
murah yang di dasari semata-mata aspek diskon tanpa dibarengi efisiensin biaya
berpotensi mengorbankan standar kualitas yang sejatinya merupakan hak
konsumen. Low cost tidak boleh diikuti pengurnagan kualitas. Dasar utama low
cost seharusnya adalah kemampuan menekan biaya dalam menghasilkan tingkat
kualitas yang setara. Dengan kata lain, murah tidak sama dengan murahan.
Masalah lain, dalam promosinya, banyak pemasar yang terjebak menekankan
“how cheap they are” dan bukannya “how valuable they are”. Konsumen
mungkin tertarik membeli sekali, namun jika ia tidak puas, jangan harap ia bakal
membeli lagi! Fokus pada kepuasan pelanggan merupakan upaya
mempertahankan pelanggan dalam rangka menghadapi para produsen yang
berbiaya rendah. Banyak perusahaan yang mendapati bahwa cukup banyak
pelanggan yang sebenarnya bersedia membayar harga yang lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas yang lebih baik.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan


Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa
perusahaan yang menerapkan program kepuasan pelanggan harus memiliki
produk yang berkualitas baik dan layanan prima. Berdasarkan teori dari John C
Mowen (2001: 89) menyatakan bahwa penilaian kinerja ini ternyata sangat erat
hubungan nya dengan penilaian kualitas produk. Konsumen membandingkan
persepsi mereka atas kualitas produk setelah menggunakan produk tersebut sesuai
dengan ekspektasi kinerja produk sebelum mereka membelinya. Tergantung pada
bagaimana kinerja aktial dibandingkan dengan kinerja yang diharapkan, mereka
akan mengalami emosi yang positif, negatif atau netral. Tanggapan emosional ini
bertindak sebagai masukan atau input dalam persepsi kepuasan/ ketidakpuasan
menyeluruh mereka

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Peserta


Berdasarkan teori dari Fandy Tjiptono (2015: 11) menyatakan bahwa pada
hakikatnya kepuasan pelanggan merupakan strategi jangka panjang, karena
dibutuhkan waktu cukup lama sebelum bisa membangun dan mendapatkan
reputasi dengan dasar kualitas pelayanan prima, dan kerapkali juga dituntut
investasi besar pada serangkaian aktivitas yang ditujukan untuk membahagiakan
pelanggan saat ini dan masa depan. Sedangkan teori dari Ali Hasan (2008: 66)
menyatakan bahwa surplus konsumen dengan konsep kepuasan pelanggan,
mempertimbangkan faktor harga dan kuantitas, kualitas pelayanan dan kemasan.
Berdasarkan teori dari Ali Hasan (2008: 72) menyatakan bahwa biasanya
perusahaan yang tingkat kepuasan pelanggannya tinggi menyediakan tingkat
layanan pelanggan yang tinggi pula. Untuk menciptakan kepuasan pelanggan,
diperlukan dukungan dari semua sumber daya organisasi, serta tanggung jawab
penuh pimpinan tingkat korporat. Karyawan seagai garis terdepan menjadi ujung
tombak perusahaan yang berinteraksi langsung dengan pelanggan dan
berkewajiban memberikan pelayanan kepada pelanggan, yaitu memuaskan
pelanggan

Indikator Kepuasan Peserta


Menurut Ali Hasan (2008:70) menyatakan bahwa indikator yang sebagai
determinasi kepuasan pelanggan pada produk jasa (intangible product) yaitu:

  1. Serviciability, yaitu tingkat kemudahan dan kecepatan pelayanan
  2. Accessibility, yaitu letak yang mudah di akses
  3. Communication, kemampuan berkomunikasi dengan bahasa konsumen
  4. Competence, tingkat keterampilan menyelesaikan masalah
  5. Courtesy, sikap sopan dan bersahabat dengan konsumen
  6. Reliability, kemampuan mewujudkan pelayanan sesuai promosi
  7. Security, keamanan, keterjaminan dan legalitas
  8. Tangibles, wujud fisik, gedung, peralatan-peralatan
  9. Understanding – customer, pemahaman kebutuhan dan keinginan
    pelanggan.
    Menurut Mowen dalam Fransiska Pramita (2010:30) menyatakan bahwa
    indikator atau dimensi kepuasan peserta adalah :
  10. Attributes related to product, atribut yang berhubungan dengan
    produk.
  11. Attributes related to service, atribut yang berhubungan dengan
    layanan.
  12. Attributes related to purchase, atribut yang berhubungan dengan
    penjualan.
    Sedangkan menurut Fandy Tjiptono (2015: 35) indikator yang
    mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah ekspektasi, diskonfirmasi (obyektif
    dan subyektif), perceived performance, dan sikap konsumen