Faktor-Faktor yang Menentukan Persediaan (skripsi dan tesis)

Agus Ristono (2009 : 6), mengemukakan bahwa yang menjadi masalah bagi perusahaan adalah bagaimana menemukan persediaan yang optimal, oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya persediaan. Besar kecilnya persediaan bahan baku dan penolong dipengaruhi oleh faktor : a. Volume atau jumlah yang dibutuhkan, yaitu yang dimaksudkan untuk menjaga kelangsungan (kontinuitas) proses produksi. b. Kontinuitas produksi tidak terhenti, diperlukan tingkat persediaan bahan baku yang tinggi dan sebaliknya c. Sifat bahan baku/penolong, apakah cepat rusak (durable good) atau tahan lama (undurable good). Barang yang tidak tahan lama tidak dapat disimpan lama, oleh karena itu bila bahan baku yang diperlukan tergolong barang yang tidak tahan lama maka tidak perlu disimpan dalam jumlah banyak.

Pengertian Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut pendapat para ahli definisi persediaan adalah : Menurut Sri Joko (2001 : 210) persediaan adalah sumber daya menganggur (idle resource) yang menunggu proses lebih lanjut. Sedangkan menurut Fredi Rangkuti (2002 : 7) persediaan adalah salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara kontinu diperoleh, diubah kemudian dijual kembali. Pada dasarnya persediaan akan mempermudah dan memperlancar jalannya operasi perusahaan pabrik. Persediaan yang diadakan mulai dari bahan baku sampai barang jadi, antara lain berguna untuk :menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang, menghilangkan resiko barang rusak, mempertahankan stabilitas operasi perusahaan, mencapai penggunaan mesin yang optimal, dan memberi pelayanan yang sebaik-baiknya bagi konsumen. Menurut Pontas M. Pardede (2003 : 412) sediaan (inventory) adalah sejumlah bahan atau barang yang tersedia untuk digunakan sewaktu-waktu dimasa yang akan datang. Sedangkan menurut Kusuma (2009 : 132) persediaan didefinisikan sebagai barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada periode mendatang. Dan menurut William J Stevenson dan Sum Chee Chuong (2015 : 179) Persediaan (inventory) adalah stok barang atau simpanan barang-barang. Dari definisi diatas dapat dijelaskan kembali pengertian persediaan adalah sejumlah barang yang disimpan yang nantinya akan digunakan sebagai produksi atau akan dijual kembali. Yang nantinya persediaan tersebut akan mempermudah dan memperlancar kegiatan produksi perusahaan.

Ruang Lingkup Manajemen Operasional (skripsi dan tesis)

Menurut Richard B Chase (1998) Manajemen operasi didefinisikan sebagai desain, operasi dan perbaikan sistem produksi yang menciptakan barang dan jasa utama perusahaan. Manajemen operasi mulai berkembang pesat sejak tahun 1910-an. Pada saat itu Frederick W Taylor mengembangkan konsep yang terkait dengan efisiensi dibidang produksi menggunkan perdekatan ilmiah untuuk menghitung produktivitas, menggunakan fungsi manajemen untuk menemukan dan menggunakan aturan dan prosedur dalam operasi sistem produksi. Ruang lingkup manajemen operasional mencakup tiga aspek utama yaitu 1. Perencanaan sistem produksi yang meliputi perencanaan produk, perencanaan lokasi pabrik, perencanaan lingkungan kerja, perencanaan standar produksi. 2. Sistem pengendalian produksi yang meliputi pengedalian proses produksi, bahan, tenaga kerja, kualitas dan pemeliharaan. 3. Sistem informasi produksi, aspek ini meliputi struktur organisasi, produksi atas dasar pesanan, mass production. Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2005 ; 9) ada empat alasan perlunya mempelajari manajemen operasional yaitu, 1. Manajemen operasi dipelajari untuk menegtahui bagaimana orang mengorganisasikan diri mereka untuk mendapatkan perusahaan yang produktif. 2. Mempelajari manajemen operasional untuk mengetahui bagaimana barang dan jasa diproduksi. 3. Kita mempelajari manajemen operasional untuk memahami apa yang dikerjakan oleh manajer operasi. 4. Mempelajari manajemen operasional karena bagian ini merupakan bagian paling banyak mengeluarkan biaya dalam sebuah organisasi, sebagian besar pengeluaran perusahaan terletak pada manajemen operasi namun manajemen operasi memberikan peluang untuk meningkatkan keuntungan dan pelayanan terhadap masyarakat. Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2015:6) manajemen operasi memiliki sepuluh keputusan strategi penting yang memperlihatkan dengan jelas bahwa masing-masing keputusan membutuhkan perencanaan, pengorganisasian, pengaturan karyawan, pengarahan, dan pengendalian. Sepuluh keputusan tersebut diantaranya : 1. Desain Produk dan Jasa sebuah strategi di manajemen operasional yang menjabarkan tentang apa saja yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu kegiatan operasi pada masing-masing keputusan. 2. Manajemen mutu adalah pembuatan kebijakan dan prosedur untuk mencapai ekspektasi kualitas dari pelanggan seperti yang diinginkan. 3. Desain proses dan kapasitas adalah Penentuan seberapa baik barang ataupun jasa pada saat proses produksi dengan menggabungkan manajemen terhadap kualitas, sumberdaya manusia, inestasi/ modal serta teknologi untuk menentukan biaya dasar perusahaan. 4. Lokasi adalah strategi yang yang berhubungan dengan tempat yang akan ditempati yang memiliki kiteria seperti kedekatan dengan konsumen, dekat dengan bahan baku maupun dekat dengan pemasok, namun juga harus mempertimbangkan mengenai biaya, infrastruktur, logistic maupun pemerintah. 5. Desain tata letak atau strategi tata ruang yaitu penyelarasan antara kapasitas, teknologi, jumlah karyawan, dan jumlah persediaan yang dibutuhkan terhadap tata letak ruang yang dipakai agar mencapai tujuan informasi, biaya, dan orang dalam arus yang lancar. 6. Sumber daya manusia dan system kerja adalah strategi dalam melaksanakan perekrutan calon tenaga kerja, memberikan motivasi, dan mempertahan mereka yang memiliki kemampuan yang dibutuhkan. 7. Manajemen rantai pasokan adalah penentuan rantai pasok kedalam manajemen perusahaan termasuk kedalam keputusan-keputusan yang menentukan barang apa yang harus dibeli dari siapa dan dengan syarat yang seperti apa. 8. Perawatan adalah pemeliharaan yang dilakukan kepada kapasitas fasilitas, pemintaan produksi, kebutuhan karyawan yang dapat diandalkan untuk menjaga setiap proses produksi. 9. Penjadwalan jangka pendek dan menengah adalah penentuan dalam penerapan jadwal jangka waktu baik menengah maupun pendek dan penggunaan tenaga kerja yang efektif dan efisien untuk memenuhi permintaan konsumen. 10. Manajemen persediaan adalah penentuan keputusan mengenai pemesanan dan penyimpanan persediaan dan sekaligus bagaimana cara pengoptimalan kapabilitas dari pemasok dan kapan persediaan tersebut akan diproduksi.

Manajemen Operasional (skripsi dan tesis)

Menurut para ahli pengertian manajemen operasional adalah sebagai berikut : Menurut Pontas M. Pardede (2003 : 13) manajemen operasi dan produksi secara umum dapat diartikan sebagai pengarahan dan pengendalian berbagai kegiatan yang mengolah berbagai jenis sumberdaya untuk membuat barangbarang atau jasa tertentu. Dalam pengertian yang luas manajemen operasi dan produksi mencakup segala bentuk dan jenis pengambilan putusan mulai dari penentuan jenis barang atau jasa yang dihasilkan, sumberdaya-sumberdaya yang dibutuhkan, cara mengolahnya, dan teknik-teknik operasi dan produksi yang akan digunakan, sampai barang atau jasa tersebut berada ditangan pemakai atau pengguna. Menurut Jay Heizer dan Barry Render (2005 ; 9) Produksi (production) adalah proses penciptaan barang dan jasa. Manajemen operasi (operation management – OM) adalah serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai dalam bentuk barang dan jasa dengan mengubah input menjadi output. Menurut Sofjan Assauri (2004 : 12), manajemen produksi dan operasi merupakan proses pencapaian dan pengoptimalisasian sumber-sumber daya untuk memproduksi atau menghasilkan barang-barang atau jasa-jasa yang berguna sebagai usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi. Dari berbagai pendapat para ahli dapat diuraikan bahwa manajemen operasional adalah serangkain proses produksi yang menghasilkan berbagai macam barang dan jasa mulai dari pemilihan bahan baku, cara mengolah, teknik operasi dan produksinya hingga produk tersebut menjadi produk jadi.

Manajemen (skripsi dan tesis)

Manajemen berasal dari bahasa inggris “Management” yang berarti pengelolaan atau tata laksanaan. Dari sini dapat diketahui secara istilah manajemen berarti usaha atau sebuah proses yang dilakukan untuk mencapai sebuah tujuan. Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu menurut Drs. Malayu S.P Hasibuan (2009 : 3). Selain itu menurut Hery (2016 : 7) manajemen adalah proses mengkoordinir kegiatan pekerjaan secara efektif dan efisien dengan melalui orang lain. Selain pengertian diatas, suatu perusahaan yang menginginkan manajemen yang baik, maka perlu menguasai 4 fungsi utama manajemen yaitu Planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating/directing (pengarahan), Controlling (pengontrolan). 1. Planning (Perencanaan) Proses ini menentukan tujuan awal perusahaan, merencanakan strategi-strategi yang cocok untuk mencapai tujuan tersebut. Perencanaan merupakan bagian terpenting terpenting dari fungsi manajemen, tanpa adanya perencanaan fungsi yang lainnya tidak akan berjalan secara maksimal. 2. Organizing (Pengorganisasian) Fungsi ini digunakan untuk membagi sub kegiatan yang besar menjadi sub bagian yang lebih kecil. Hal ini dilakukan untuk mempermudah manajer dalam melakukan pengawasan dan menentukan orang yang cocok dan kompeten untuk melaksanakan kegiatan yang telah di bagi tersebut. 3. Actuating/Directing (Pengarahan) Upaya yang diciptakan agar suasana kerja menjadi lebih dinamis dan kinerjannya menjadi lebih efektif dan efisien. Selain itu agar sesuai dengan yang dinginkan maka upaya tersebut dilakukan agar tujuan perusahaan dapat tercapai. 4. Controlling (Pengontrolan) Fungsi ini merupakan alat pengendalian atau penilaian kinerja, pengadaan evaluasi dan perbaikan jika dibutuhhkan.

Saving Matrix (skripsi dan tesis)

Tujuan dari metode “savings” adalah metode yang digunakan untuk menentukan rute distribusi produk ke wilayah pemasaran berdasarkan kapasitas alat angkut yang digunakan. Tujuannya adalah untuk memperoleh rute terpendek dan biaya distribusi yang minimal. Metode Saving Matrik juga merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk menjadwalkan sejumlah kendaran terbatas sehingga dapat meminimalisasikan jarak, waktu, dan biaya dengan mempertimbangkan kendala-kendala yang ada (Pujawan dan Mahendrawati. 2010).

Metode Vehicle Routing and Scheduling (VRS ) (skripsi dan tesis)

Salah satu keputusan operasional yang sangat penting dalam manajemen distribusi adalah penentuan jadwal rute pengiriman dari suatu lokasi ke beberapa lokasi tujuan. Keputusan seperti ini sangat penting bagi mereka yang harus mengirimkan barang dari suatu lokasi ( misalnya gedung regiona, pengangkutan sampah, pengambilan surat pada kotak pos) ke berbagai toko yang tersebar di sebuah kota. Perusahaan penerbitan Koran adalah salah satu contoh yang sangat tepat dimana permasalahan ini terjadi. Setiap pagi koran harus di distribusikan dari tempat dimana mereka dicetak ke tempat-tempat penjualan untuk seterusnya di edarkan juga ke pelanggan individu. Keputusan jadwal pengiriman serta rute yang akan di tempuh oleh tiap kendaraan akan sangat berpengaruh terhadap biaya-biaya pengiriman. Namun demikian biaya bukanlah satu-satunya factor pertimbangan dalam proses pengiriman, namun juga harus memeprtimbangkan jarak tempuh juga, dalam bahasa program matematis, salah satu tujuan tersebut bisa menjadi fungsi tujuan (objective function) dan lainya menjadi kendala (constraint), Misalnya, fungsi tujuannya adalah meminimumkan biaya pengiriman namun ada kendala-kendala di antaranya jumlah truk yang banyak dengan perbedaan kapasitas, perbedaan kecepatan dalam zona yang berbeda, rintangan dalam perjalanan (sungai, belokan, gunung), dan waktu istirahat untuk pengemudi adalah beberapa pertimbangan yang diperlukan dalam penentuan perancangan rute. Pekerjaan yang harus dilakukan adalah menentukan truk, artinya perlu diketahui truk mana yang akan mengunjungi toko yang mana. Tahap kedua nantinya adalah menentukan rute perjalanan masing-masing truk. Untuk menentukan rute yang paling baik dapat dikerjakan dengan satu metode yang dinamakan metode saving matrix (Pujawan dan Mahendrawati. 2010).

Macam Vehicle Routing Problem (skripsi dan tesis)

Menurut rute dapat dibedakan menjadi 3 menurut (Pujawan dan Mahendrawati. 2010) : 1. Daily routing yaitu rute dari sejumlah kendaraan yang harus di operasikan untuk 1 hari pengiriman. 2. Periode routing yaitu rute dari sejumlah kendaraan yang harus di operasikan untuk beberapa periode. 3. Fixed routing problem yaitu rute dari sejulah kendaraan yang harus di operasikan dan tidak berubah untuk beberapa periode tertentu.

Vehicle Routing Problem (VRP) (skripsi dan tesis)

Vehicle Routing Problem (VRP) merupakan manajemen distribusi barang yang memperhatikan pelayanan, periode waktu tertentu, sekelompok konsumen dengan sejumlah kendaraan yang beralokasi pada satu atau lebih depot yang dijalankan oleh sekelompok pengendara dengan menggunakan jaringan jalan (road network) yang sesuai. (Toth dan Vigo 2002) mendefinisikan VRP sebagai suatu pencarian solusi yang meliputi penentuan sejumlah rute, dimana masing-masing rute dilalui oleh satu kendaraan yang berawal dan berakhir di depot asalnya, sehingga permintaan semua pelanggan terpenuhi dengan tetap memenuhi kendala operasional yang ada dan juga meminimalisasikan biaya transportasi global Suatu perusahaan harus dapat mengoptimalkan sistem distribusinya agar dapat bersaing dengan perusahaan sejenis lainya. Salah satu caranya adalah dengan pengoptimalan transportasi. Salah satu permasalahan dalam transportasi adalah Vehicle Routing Problem (VRP) yaitu merancang m set rute kendaraan dengan jarak terpendek dimana tiap kendaraan berawal dan berakhir di depot, setiap konsumen hanya dilayani sekali oleh sebuah kendaraan, serta total permintaan yang dibawa tidak melebihi kapasitas kendaraan. Terdapat empat tujuan umum VRP (Toth dan Vigo, 2002) :   Meminimalkan biaya transportasi global, terkait dengan jarak dan biaya tetap yang berhubungan dengan kendaraan  Meminimalkan jumlah kendaraan ( pengemudi ) yang dibutuhkan untuk melayani semua konsumen  Menyeimbangkan rute, untuk waktu perjalanan dan jatan kendaraan  Meminmalkan penalti akibat service yang kurang memuaskan dari konsumen. VRP juga dapat dilihat sebagai kombinasi dari dua permasalahan optimasi lain, yaitu Travelling Saleman Problem (TSP). BPP dapat dieskripsikan sebagai berikut : “ Diberikan sejumlah angka, yang melambangkan ukuran dari sejumlah item, dan sebuah konstanta K, yang melambangkan kapasitas dari bin. Berapa jumlah bin minimum yang diperlukan?” Tentu saja satu item hanaya dapat berada dalam satu bin saja, dan total kapasitas item pada setiap bin tidak boleh melebihi kapasitas bin tersebut. Disamping itu, TSP adalah sebuah permasalahan tentang seorang salesman yang ingin mengunjungi sejumlah kota. Dia harus mengunjungi satu kota saja, dimulai dan diakhiri kota awal. Inti permasalahan adalah untuk menentukan jalur terpendek melalui semua kota yang ada. Hubungan keduanya dengan VRP adalah, Vehicle dapat dihubungkan dengan customer menggunakan BPP, dan urutan kunjungan vehicle terhadap tiap customer di selesaikan menggunakan TSP.

Perantara Saluran (skripsi dan tesis)

Perantara adalah individu atau kelompok (organisasi) bisnis yang beroperasi di antara produsen dan konsumen atau pembeli industri. Jenis-jenis perantara saluran distribusi produk, meliputi (Pujawan dan Mahendrawati. 2010) : 1. Pedagang besar (Wholesaler) adalah perantara yang menjual barang kepada pengecer, pedagang besar lain atau pemakai industri. Dikaitkan dengan pelaksanaan fungsi pemasran (penjualan, pengangkutan, dan penyimpanan), pedagang besar di bagi dua yaitu : a. Pedagang besar dengan fungsi penuh (pedagang yang melaksanakan seluruh fungsi pemasaran) b. Pedagang besar dengan fungsi terbatas (pedagang besar yang hanya melaksanakan beberapa fungsi pemasaran) 2. Pengecer (retailer) adalah perantara yang membeli produk ke produsen atau ke pedagang besar kemudian menjuaknya ke konsumen akhir. Berdasarkan produk line atau banyaknya jenis barang yang di jual, jenis pengecer (retailer) di bagi antara lain: General merchandise store, yaitu sebuah took yang menjual berbagai macam barang atau berbagai macam produk line. Misalnya: toko serba ada (department store) yang menjual berbagai macam produk. a. Single line store, yaitu sebuah toko yang menjual hanya satu kelompok atau beberapa macam produk terkait. Misal : toko makanan, toko bahan bangunan, dll. b. Speciaty store, yaitu toko yang mengkhususkan menjual satu garis produk. Misal : toko roti, sepatu pria dll. 3. Agen, yaitu perantara yang menyalurkan barang dari produsen ke pedagang besar, pengecer, pemakai industri dan tidak berhak memiliki barang (produk) yang di salurkan. Ada beberapa macam agen, yaitu : a. Agen penjualan, yaitu agen yang mempunyai tugas utama mencarikan pasar bagi produsen. b. Agen pembeli, yaitu agen yang mempunyai tugas utama menyarikan penyedia / supplier bagi pembeli.

Saluran distribusi (skripsi dan tesis)

adalah saluran yang di gunakan untuk menyalurkan suatu produk dari produsen ke konsumen (konsumen akhir atau pemakai produk industri). Fungsi saluran disitribusi (Pujawan dan Mahendrawati. 2010) : a. Mengumpulkan informasi yang di perlukan untuk perencanaan dan memudahkan pertukaran. b. Mengembangkan dan menyebarkan komunikasi lewat tawaran. c. Melakukan pencarian dan berkomunikasi dengan calon pembeli. d. Mengusahakan perundingan untuk mencapai persetujuan akhir atasa harga dan ketentuan lainya mengenai tawaran agar perpindahan kepemilikan dapat tercapai. e. Melaksanakan pengangkutan dan penyimpanan produk. f. Mengatur distribusi dana untuk menutup biaya saluran distribusi. g. Menerima resiko dalam hubugan dengan pelaksanaan pekerjaan saluran pemasaran

Fungsi Dasar Distribusi dan Transportasi (skripsi dan tesis)

Secara tradisional kita mengenal manajemen distribusi dan transportasi dengan berbagai sebutan. Sebagaian perusahaan menggunakan istilah manajemen logistik, sebagain lagi menggunakan istilah distribusi fisik. Apapun istilahnya, secara umum fungsi distribusi dan transportasi pada dasarnya adalah mengantarkan produk dari lokasi diman produk tersebut di produksi sampai dimana pelayanan kepada konsumen, serta layanan purna jual yang memuaskan. Kegiatan distribusi dan transportasi dapat di lakukan oleh perusahaan manufaktur dengan membentuk bagian distribusi atau transportasi sendiri atau di serahkan pihak ketiga. Dalam upayanya untuk memenuhi tujuan – tujuan di atas, siapapun yang melaksanakan (internal perusahaan atau mitra pihak ke tiga), manajemen distribusi dan transportasi pada umumnya melakukan sejumlah fungsi dasar yang terdiri dari (Pujawan dan Mahendrawati. 2010) : 1. Melakukan segmentasi dan melakukan target service level. Segmentasi konsumen perlu di lakukan karena kontribusi mereka pada revenue perusahaan bisa bervariasi dan karakteristik tiap konsumen bisa bebeda satu dengan lainya. Dengan memahami perbedaan karakteristik dan kontribusi tiap konsumen atau area distribusi, perusahaan bisa mengoptimalkan alokasi persediaan maupun kcepatan layanan. Misalnya, konsumen kelas 1, yang menyumbangkan pendapatan terbesar, memiliki target servis level yang lebih tinggi di bandingkan dengan konsumen kelas 2 atau kelas 3 yang kontribusinya lebih rendah. 2. Menentukan mode transportasi yang akan di gunakan. Tiap mode transportasi memiliki karakteristik yang beda dan memiliki keunggulan serta kelemahan yang berbeda juga, sebagai contoh, transportasi laut memiliki keunggulan dari segi biaya yang lebih rendah, namun lebih lambat di bandingkan dengan transportasi udara. Manajemen transportasi harus bisa menentukan mode apa yang akan di gunakan dalam mengirimkan produk – produk mereka ke konsumen, kombinasi dua atau lebih mode transportasi tentu bisa atau bahkan harus di lakukan tergantung pada situasi yang di hadapi. 3. Melakukan penjadwalan dan penetuan rute pengiriman. Salah satu kegiatan yang di lakukan oleh distributor adalah menetukan kapan kendaraan harus berangkat dan rute mana yang harus di lalui untuk memenuhi permintaan dari sejumlah konsumen. Apabila jumlah konsumen sedikit, keputusan ini dapat di ambil secara mudah. Namun perusahaan yang memiliki ribuan atau puluhan ribu toko atau tempat – tempat penjualan yang harus di kunjungi, penjadwalan dan penentuan rute pengiriman adalah pekerjaan yang sangat sulit dan kurang tepatan dalam mengambil dua keputusan tersebut bisa berimplikasi pada biaya pengiriman.

Transportasi (skripsi dan tesis)

Transportasi adalah suatu proses pemindahan barang dan manusia dari tempat asal ke tempat tujuan. Proses transportasi merupakan gerakan dari tempat asal (tempat awal kegiatan pengangkutan dimulai), menuju ke tempat tujuan (tempat dimana kegiatan pengangkutan diakhiri). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya transportasi, yaitu ketersedianya muatan yang diangkut, ketersedianya kendaraan sebagai alat angkutannya, dan adanya jalanan yang dapat dilalui (Nasution, 1996). Transportasi dapat berarti perpindahan produk dari suatu tempat lain yang membuat produk tersebut sampai ke tangan konsumen. Transportasi merupakan kunci utama dalam rantai persediaan, karena produk jarang di produksi dan di konsumsi pada tempat / lokasi yang sama. Transportasi adalah komponen biaya yang signifikan dari kebanyakan pengeluaran (Nasution, 1996). Ada 2 kunci di dalam transportasi yang berlangsung di dalam suatu rantai persediaan : a. Pengiriman adalah pihak yang memerlukan bergeraknya produk antara dua lokasi didalam rantai persediaan. b. Pengangkut adalah pihak yang memindahkan atau mengangkut produk.

Distribusi (skripsi dan tesis)

Distribusi adalah kegiatan untuk memindahkan produk dari pihak suplier kepada konsumen dalam bentuk suatu supply chain. Distribusi merupakan suatu kunci keuntungan yang akan di peroleh perusahaan karena distribusi secara langsung akan mempengaruhi biaya dari supply chain dan kebutuhan konsumen, jaringan distribusi yang tepat dapat digunakan untuk mencapai berbagai macam dari kebutuhan supply chain mulai dari biaya yang rendah dan respons yang tinggi terhadap permintaan konsumen. Istilah distribusi sama dengan place (penempatan) yaitu aktivitas penyaluran atau penempatan barang (produk) dari produsen ke konsumen. Perpindahan material terjadi pada semua siklus proses manufaktur produk, baik itu sebelum maupun sesudah proses produksi (Lubis 2004). Dalam distribusi terdapat dua kategori, yaitu: 1. Pemindahan bahan dan hasil produksi dengan menggunakan sarana disribusi. 2. Mengangkut penumpang dari suatu tempat ke tempat lain. Maka distribusi adalah proses pemindahan hasil produksi dari suatu tempat ke tempat lain menggunakan alat distribusi. Distribusi adalah istilah yang biasa digunakan dalam pemasaran untuk menjelaskan bagaimana suatu produk atau jasa dibuat secara fisik tersedia bagi konsumen. Distribusi meliputi kegiatan pergudangan, transportasi, persediaan dan penanganan pesanan. Distribusi merupakan elemen keempat dari pemasaran tradisional yang mengacu pada cara suatu produk atau layanan dirancang sedemikian rupa sehingga bisa didapatkan oleh pelanggan. Distribusi meliputi beberapa kegiatan seperti: pengawasan pencatatan, proses pemesanan dan transportasi.

Pendekatan Efektivitas (skripsi dan tesis)

Gibson (2000:38) mengungkapkan tiga pendekatan mengenai efektivitas yaitu: a. Pendekatan Tujuan Pendekatan tujuan untuk mendefinisikan dan mengevaluasi efektivitas merupakan pendekatan tertua dan paling luas digunakan. Menurut pendekatan ini, keberadaan organisasi dimaksudkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pendekatan tujuan menekankan peranan sentral dari pencapaian tujuan sebagai kriteria untuk menilai efektifitas serta mempunyai pengaruh kuat atas pengembangan teori dan praktik manajemen dan perilaku organisasi, tetapi sulit memahami bagaimana bagaimana melakukannya. Alternatif terhadap pendekatan tujuan ini adalah teori sistem. b. Pendekatan Teori Sistem Teori ini menekankan pada pertahanan elemen dasar masukan proses pengeluaran dan mengadaptasi terhadap lingkungan yang lebih luas yang menopang organisasi. c. Pendekatan Multiple Constituency Pendekatan ini adalah perspektif yang menekankan pentingnya hubungan relatif diantara kepentingan kelompok individual suatu organisasi. Dengan pendekatan yang memungkinkan mengkombinasikan tujuan pendekatan sistem guna memperoleh pendekatan yang lebih tepat bagi efektifitas organisasi. Robbins (1994:54) mengungkapkan juga mengenai pendekatan dalam efektivitas organisasi: a. Pendekatan pencapaian tujuan (goal attainment approach). Pendekatan ini memandang bahwa keefektifan organisasi dapat dilihat dari pencapaian tujuannya (ends) daripada caranya (means). Kriteria pendekatan yang populer digunakan adalah memaksimalkan laba, memenangkan persaingan dan lain sebaginya. Metode manajemen yang terkait dengan pendekatan ini dekenal dengan Manajemen By Objectives (MBO) yaiutu falsafah manajemen yang menilai keefektifan organisasi dan anggotanya dengan cara menilai seberapa jauh mereka mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. b. Pendekatan sistem. Pendekatan ini menekankan bahwa untuk meningkatkan kelangsungan hidup organisasi, maka perlu diperhatikan adalah sumber daya manusianya, mempertahankan diri secara internal dan memperbaiki struktur organisasi dan pemanfaatan teknologi agar dapat berintegrasi dengan lingkungan yang darinya organisasi tersebut memerlukan dukungan terus menerus bagi kelangsungan hidupnya. c.Pendekatan konstituensi-strategis. Pendekatan ini menekankan pada pemenuhan tuntutan konstituensi itu di dalam lingkungan yang darinya orang tersebut memerlukan dukungan yang terus menerus bagi kelangsungan hidupnya. d. Pendekatan nilai-nilai bersaing. Pendekatan ini mencoba mempersatukan ke tiga pendekatan diatas, masing-masing didasarkan atas suatu kelompok nilai. Masingmasing didasarkan atas suatu kelompok nilai. Masing-masing nilai selanjutnya lebih disukai berdasarkan daur hidup di mana organisasi itu berada.

Ukuran Efektifitas (skripsi dan tesis)

Menurut pendapat Gibson Ivancevich Donnelly dalam bukunya Prilaki, Struktur, Proses (1996:34) menyebutkan bahwa ukuran efektivitas organisasi, sebagai berikut : a. Produksi adalah merupakan kemampuan organisasi untuk memproduksi jumlah dan mutu output sesuai dengan permintaan lingkungan. b. Efesiensi adalah merupakan perbandingan (ratio) antara output dengan input. c. Kepuasaan adalah merupakan ukuran untuk menunjukan tingkat dimana organisasi dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. d. Keunggulan adalah tingkat dimana korganisasi dapat dan benarbenar tanggap terhadap perubahan internal dan eksternal. e. Pengembangan adalah merupakan mengukur kemampuan organisasi untuk meningkatkan kapasitasnya dalam menghadapi tuntutan masyarakat. Sehubungan dengan hal-hal yang dikemukakan di atas, maka ukuran efektivitas organisasi merupakan suatu standar akan terpenuhinya mengenai sasaran dan tujuan yang akan dicapai serta menunjukan pada tingkat sejauh mana organisasi, program/kegiatan melaksanakan fungsi-fungsinya secara optimal. Membahas masalah ukuran efektivitas memang sangat bervariasi tergantung dari sudut terpenuhinya beberapa kriteria akhir.

Pengertian Efektifitas. (skripsi dan tesis)

Menurut Mahmudi (2005:92) mendefinisikan efektifitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan, semakin besar kontribusi (sumbangan) output terhadap pencapaian tujuan, makasemakin efektif organisasi, program atau kegiatan Efektivitas berfokus pada outcome (hasil), program, atau kegiatan yang dinilai efektif apabila output yang dihasilkan dapat memenuhi tujuan yang diharapkan atau dikatakan spending wisely. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka efektivitas adalah menggambarkan seluruh siklus input, proses dan output yang mengacu pada hasil guna daripada suatu organisasi, program atau kegiatan yang menyatakan sejauhmana tujuan (kualitas, kuantitas, dan waktu) telah dicapai, serta ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai tujuannya dan mencapai target-targetnya. Hal ini berarti, bahwa pengertian efektivitas yang dipentingkan adalah semata-mata hasil atau tujuan yang dikehendaki. Menurut pendapat Markus Zahnd dalam bukunya Perancangan Kota Secara Terpadu mendefinisikan efektivitas dan efisiensi, sebagai berikut: “Efektivitas yaitu berfokus pada akibatnya, pengaruhnya atau efeknya,sedangkan efisiensi berarti tepat atau sesuai untuk mengerjakan sesuatudengan tidak membuang-buang waktu, tenaga dan biaya”.(Zahnd, 2006:200-2001) Berdasarkan penjelasan di atas, bahwa efektivitas lebih memfokuskan pada akibat atau pengaruh sedangkan efisiensi menekankan pada ketepatan mengenai sumber daya, yaitu mencakup anggaran, waktu, tenaga, alat dan cara supaya dalam pelaksanaannya tepat waktu. Lebih lanjut menurut Agung Kurniawan dalam bukunya Transformasi Pelayanan Publik mendefinisikan efektivitas, sebagai berikut: “Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya”.(Kurniawan, 2005:109). Sehubungan dengan hal-hal yang dikemukakan di atas, maka secara singkat pengertian daripada efisiensi dan efektivitas adalah, efisiensi berarti melakukan atau mengerjakan sesuatu secara benar, , sedangkan efektivitas melakukan atau mengerjakan sesuatu tepat pada sasaran. Tingkat efektivitas itu sendiri dapat ditentukan oleh terintegrasinya sasaran dan kegiatan organisasi secara menyeluruh, kemampuan adaptasi dari organisasi terhadap perubahan lingkungannya. Mengaju pada penjelasan diatas, maka untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif perlu adanya harmonisasi kemampuan sumberdaya dengan menggunakan sarana yang lain sehingga sasaran yang akan dacapai menjadi jelas.Pencapaian sasaran tersebut dapat dikatakan efektif apabila adanya keharmonisan. Setiap pekerjaan pegawai dalam organisasi sangat sangat menentukan bagi pencapaian hasil kegiatan seperti yang telah direncanakan terlebih dahulu. Untuk itu faktor keefektifannya banyak mempengaruhi kepada kemampuan aparatur dan organisasi dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya. Tingkat pencapaian tujuan aparatur dalam suatu organisasi dikatakan efektif apabila pencapaian itu sesuai dengan tujuan organisasi dan memberikan hasil yang bermanfaat.

Pencapaian Efisiensi Kerja (skripsi dan tesis)

Sedarmayanti (2001:114) menyatakan bahwa efisiensi kerja dapat tercapai apabila: a. Berhasil Guna atau Efektif. Usaha Tertentu A Hasil Tertentu B Hasil Lebih Besar C Hasil Terbesar Yaitu untuk menyatakan bahwa kegiatan telah dilaksanakan dengan tepat artinya target tercapai sesuai waktu yang ditetapkan. b. Ekonomis. Dalam usaha mencapai efektifitas yang termaksud, maka biaya tenaga kerja, material, peralatan, waktu, ruangan dan lain-lainya, telah dipergunakan dengan setepat-tepatnya. c. Pelaksanaan Kerja dapat Dipertanggungjawabkan. Yaitu untuk membuktikan bahwa dalam pelaksanaan kerja, sumber-sumber telah dimanfaatkan dengan setepat-tepatnya dan dilaksankan dengan penuh tanggung jawab sesuai dengan yang ditetapkan. d. Pembagian Kerja Nyata. Yakni berdasarkan pemikiran bahwa tidak mungkin manusia seorang diri mengerjakan segala macam pekerjaan dengan baik, sebab bagaimanapun juga kemauan setiap orang pasti terbatas (real and factual distribution of work/DW). Oleh sebab itu harus ada pembagian kerja yang nyata yaitu benar-benar berdasarkan beban kerja (volume of work/VW). Ukuran kemampuan kerja dan waktu yang tersedia. e. Rasionalitas Wewenang dan Tanggung Jawab. Artinya jangan sampai terjadi seseorang mempunyai wewenang yang lebih besar dan tanggung jawabnya. Wewenang harus sama dan seimbang dengan tanggung jawabnya. f. Prosedur Kerja Praktis, Bekerja, dan dapat dilaksanakan . Yaitu pelaksanaan kerja yang dapat dipertanggungjawabkan serta pelayanan kerja yang memuaskan tersebut haruslah merupakan kegiatan operasional yang dapat dilaksanakan dengan lancar. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa efisiensi kerja akan tercapai apabila berhasil guna atau efektif, ekonomis, pelaksanaan kerjanya dapat dipertanggungjawabkan, terdapat pembagian kerja yang nyata, rasionalitas wewenang dan tanggung jawab, terdapat keseimbangan, serta terdapat prosedur yang praktis yang dapat dipahami oleh seluruh pegawai lingkungan kantor.

Pengertian Efisiensi (skripsi dan tesis)

Efisiensi dan efektivitas merupakan 2 macam kriteria yang biasa digunakan untuk menentukan prestasi suatu pusat pertanggungjawaban. Menurut Dearden yang di terjemahkan oleh agus Maulana dalam bukunya yang berjudul “Sistem Pengendalian Manajemen”,pengertian efisiensi adalah kemampuan suatu unit usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan, efisiensi selalu dikaitkan dengan tujuan organisasi yang harus dicapai oleh perusahaan(Maulana, 1992:46). Dalam kamus besar (1995:250) pengertian efisiensi adalah kemampuan menjalankan tugas dengan baik dan tepat (dengan tidak membuang-buang waktu,tenaga dan biaya). Pengertian efisiensi itu sendiri telah didefinisikan oleh banyak pakar ekonomi dan manajemen, diantara adalah pengertian Efisiensi menurut Hasibuan(1994:07) yaitu perbandingan terbaik antara input (masukan ) dan output (hasil), antara keuntungan dengan biaya (antara hasil pelaksanaan dengan sumber yang digunakan), seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan sumber yang terbatas. Sedangkan menurut Supriyono (1997:35) dalam bukunya yang berjudul “Akuntansi Manajemen II” mendefinisikan efisiensi adalah juka suatu unit dapat bekerja dengan baik, sehingga dapat mencapai hasil atau tujuan yang diharapkan. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa efisiensi merupakan kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya untuk memperoleh hasil tertentu dengan menggunakan masukan (input yang serendah-rendahnya) untuk menghasilkan suatu keluaran (output), dan juga merupakan kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar. Suatu pusat pertanggungjawaban dikatakan efisiensi jika pusat pertanggungjawaban tersebut : a. Menggunakan sumber, atau biaya atau masukan lebih kecil untuk menghasilkan keluaran dalam jumlah yang sama. b. Mengguanakan sumber, atau biaya, atau masukan yang sama untuk menghasilkan keluaran dalam jumlah yang lebih besar.

Fungsi-fungsi saluran distribusi (skripsi dan tesis)

Saluran distribusi adalah jaringan organisasi yang melakukan fungsi-fungsi yang menghubungkan rodusen dengan pengguna akhir. Saluran distribusi terdiri dari berbagai lembaga atau badan yang saling tergantung dan saling berhubungan, yang berfungsi sebagai suatu sistem atau jaringan, yang bersama-sama berusaha menghasilkan dan mendistribusikan sebuah produk ke pengguna akhir (Cravens:28). Untuk menyampaikan produk-produk dari produsen ke pengguna akhir diperlukan beberapa fungsi. Fungsi-fungsi saluran distribusi diantaranya terdiri dari : 1. Transportasi. Transportasi menghilangkan jarak di antara pembeli dan penjual. Ini dilakukan dengan fungsi distribusi fisik. 2. Pemrosesan dan penyimpanan barang. Ini menyangkut pemecahan jumlah yang besar menjadi pesanan individual,sambil tetap menjaga persediaan dan mengumpulkan pesanan untuk dikirimkan. 3. Periklanan dan promosi penjualan. Mengkomunikasikan ketersediaan, tempat,dan ciri-ciri produk. 4. Penetapan harga. Menetepakan basis pertukaran diantara penjual dan pembeli. 5. Pengurangan resiko Dilakukan melalui mekanisme seperti asuransi, kebijakan retur yang kemungkinan terjual di masa depan. 6. Komunikasi Mencangkup kontak penjualan langsung, pesanan tertulis dan konfirmasi, dan arus informasi antara penjual dan pembelian

Tugas dan Fungsi Manajemen Produksi (skripsi dan tesis)

Menurut Taylor (1990) manajemen produksi semakin berkembang dan memiliki 4 tugas yaitu meliputi: a. Pengembangan terhadap ilmu pengetahuan bagi masing-masing unsur dari kerja untuk mengganti metode kerja yang telah dipraktekan. b. Seleksi secara ilmiah, latihan dan pengembangan para pekerja untuk membagikan kesempatan para pekerja untuk memilih spesilisasinya yang paling tepat bagi dirinya. c. Pengembangan terhadap semangat dan mental para pekerja dengan pendekatan antara pekerja dan manajer untuk menuimbulkan suasana kerja yang baik. d. Pembagian kerja dan tanggung jawab yang seimbang terhadap semua pekerja maupun manajer. Bidang ini merupakan pembagian kerja antara pekerja dan manajer yang merupakan bagian yang penting di dalam perencanaan dan pengawasan. Menurut Gitosudarmo (1976:13) di dalam manajemen produksi terdapat fungsi pengawasan yang meliputi: a. Supervisi yang menjamin agar kegiatan dilaksanakan dengan baik. b. Pembandingan berusaha mengecek apakah hasil kerja sesuai dengan yang dikehendaki. c. Koreksi berusaha menghilangkan kesulitan atau penyimpangan baik daripada pekerjaan maupun merubah rencana yang dipandang

Pengertian Produksi (skripsi dan tesis)

Produksi adalah salah satu faktor penting dalam kegiatan suatu perusahaan yang berhubungan untuk menciptakan atau menghasilkan barang atau jasa. Pengertian produksi atau operasi dapat lebih luas dan jelas dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli: Menurut Assauri dalam bukunya “Manajemen Produksi dan Operasi” (2004:10) mengemukakan bahwa pengertian produksi dan operasi dalam arti luas sebagai suatu kegiatan yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil keluaran (output) tercakup semua kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa serta kegiatan lain yang mendukung atau menunjang usaha untuk menghasilkan produk tersebut. Pengertian produksi menurut Prawirosentono dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Operasi” (2001:1)mengatakan bahwa produksi adalah proses kegiatan yang mengubah bahan baku menjadi barang lain yang mempunyai nilai tambah lebih tinggi. Sedangkan menurut Jay dan Renderdalam bukunya “Operations and Productivity” (2001:4)mengatakan bahwa:Productions is the creation of goods and services”. Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat dijelaskan bahwa pengertian produksi atau operasi adalah suatu kegiatan mentransformasikan input menjadi outputtermasuk segala kegiatan menghasilkan barang dan jasa serta kegiatan lainnya yang mendukung dengan menggunakan sumber daya yang dimiliki

Komponen-komponen sistem logistik (skripsi dan tesis)

Berjalannya kegiatan logistik tentu saja didukung oleh komponen-komponen yang ada dalam sistem logistik tersebut. Menurut Bowersox(2002:63) di dalam sistem logistik terdapat komponenkomponen yang antara lain terdiri dari: a) Struktur lokasi fasilitas Jaringan fasilitas suatu perusahaan merupakan serangkaian lokasi ke mana dan melalui mana material dan produk diangkut. Untuk tujuan perencanaan, fasilitas-fasilitas tersebut meliputi pabrik, gudang, dan toko pengecer. Jika digunakan jasa khusus dari perusahaan pengangkutan atau gudang, maka fasilitas ini merupakan bagian terpenting dari jaringan kerja tersebut. b) Transportasi Kecepatan pelayanan transport adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pengangkutan. Kecepatan itu berkaitan dengan transport yang mampu memberikan pelayanan yang lebih cepat dan tarif tinggi, selain itu berkaitan pada lebih cepat pelayanan maka lebih pendek waktu produksi barangnya. c) Persediaan Pengadaan material dilaksanakan dalam sistem logistik untuk alasan yang berbeda dengan pengadaan produk jadi. Dengan pentahapan waktu MRP, tuijuan yang terpenting adalah mempertahankan kontinuitas jadwal produksi dengan komitmen yang minimum pengadaan persedian. d) Komunikasi Komunikasi adalah kegiatan yang tidak boleh diabaikan dalam sistem logistik. Kecepatan arus informasi itu juga berkaitan langsung dengan integrasi dari fasilitas, transportasi dan persediaan. Semakin efisien desain sistem logistik suatu perusahaan maka akan semakin peka terhadap gangguan dalam arus informasi. e) Penanganan (handling) dan penyimpanan. Dalam arti luas, penanganan dan penyimpanan ini meliputi pergerakan atau movement, pengepakan, dan containerization (pengemasan). Jadi semakin sedikit produk ditangani maka semakin terbatas atau efisien arus total fisiknya. Jika diintegrasikan secara efektif maka handling dapat mengurangi masalah dengan kecepatan dan kemudahan melalui sistem tersebut. Dalam konteks yang strategis, fokus pusat pada logistik adalah komitmen pada persediaan. Produk dan material dipandang sebagai kombinasi dari kegunaan bentuk, waktu, tempat dan pemilikan. Jika sebuah perusahaan tidak secara konsisten memenuhi kebutuhan waktu dan tempat, maka ia tidak secara efisien dicapai, sehingga laba dan pengembalian atas investasi akan dibahayakan.

Proses Logistik (skripsi dan tesis)

menurut Saluran Menurut Revzan (dalam buku Manajemen Pemasaran Modern, 1990:285) mengatakan bahwa saluran merupakan suatu jalur yang dilalui oleh arus barang-barang dari produsen ke perantara akhirnya sampai pada pemakai. Menurut Walters (dalam buku Manajemen Pemasaran Modern,1990:286) mengatakan bahwa saluran merupakan sekelompok pedagang dan agen perusahaan yang mengkombinasikan antara pemindahan fisik dan nama dari suatu produk untuk menciptakan kegunaan bagi pasar tertentu. Menurut American Marketing Assosiation saluran merupakan suatu struktur unit organisasi dalam perusahaan dan luar perusahaan yang terdiri atas agen,dealer, pedagang besar, dan pengecer, melalui mana suatu produk atau jasa dipasarkan. Saluran logistik terdiri dari sejumlah perusahaan independen yang bersama-sama menyerahkan produk dan berbagai material ke lokasi yang tepat pada waktu yang tepat. Sejumlah fungsi harus dilaksanakan secara bersama-sama oleh anggota saluran ini dalam proses logistik tersebut. Arus logistik dalam suatu saluran adalah ibarat mekanisme gigi kunci inggris. Gerakan fisik yang paling ekonomis adalah gerakan satu arah yang menuju kepada lokasi terakhir nasabah. Menurut Simamora (2000:731) dari sudut distribusi fisik atau logistik, layanan pelanggan adalah kemampuan sistem saluran untuk memuaskan kebutuhan pelanggan, pemakai industrial, atau perantara saluran (seperti para pengecer) dalam hal-hal: a) Waktu siklus pesanan, yang mengacu kepada seberapa lama perusahaan menerima, memproses, dan menhirimkan sebuah pesanan. b) Keteladanan, yang berkaitan dengan konsistensi/keandalan pengiriman. Hal ini kemungkinan merupakan elemen yang paling penting dari layanan distribusi-terutama bagi perusahaan yang menerapkan sistem tepat waktu. c) Komunikasi yang terjadi diantara pembeli dan penjual, yang memungkinkan kedua belah pihak memecahkan masalah pada tahap yang sangat dini. d) Kemudahan, berarti bahwa sistem cukup luwes untuk mengakomodasikan kebutuhan khusus dari pelanggan yang berbeda.

Pengertian Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)

Secara historis dalam logistik atau distribusi fisik ini tercangkup dua kegiatan utama yaitu pengangkutan dan penyimpanan. Biasanya, kegiatan pengangkutan dan penyimpanan dipandang sebagai kegiatan yang terpisah. Menurut Swastha (1990:321) pengangkutan adalah pemindahan barang melalui suatu jalan atau jalur yang mengambil tempat di antara lembaga-lembaga saluran atau antara lembaga saluran dengan konsumen. Sedangkan, penyimpanan atau penggudangan merupakan pengamanan barang-barang selama dibutuhkan. Manajemen logistik merupakan aliran barang secara baik, efektif dan efisien mulai dari pengiriman barang dari pemasok atau supplier ke toko, penyimpanan yang baik di dalam gudang, pendistribusiannya hingga barang tersebut sampai kepada konsumen untuk dikonsumsi, selain itu juga di dalam manajemen logistik memiliki jasa pelayanan serta informasi mengenai produk yang dimilikinya di dalam penjualan barang. Manajemen Logistik merupakan suatu tanggungjawab untuk membuat dan mengatur sistem guna mengatasi aliran bahan baku dan barang jadi (Swasta, 1990:322). The Council of Logistic Management (1998) mendefinisikan Manajemen Logistik merupakan bagian dari proses Supply Chain yang berfungsi untuk merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan keefisienan dan keefektifan aliran dan penyimpanan barang, pelayanan dan informasi terkait dari titik permulaan (point of origin) hingga titik konsumsi (point of consumption) dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan. Menurut Swasta (1990) manajemen logistik mempunyai tugas lain yaitu dengan menentukan macam sistem logistik yang dipakai, memilih logistik privat atau logistik agen, memilih jenis alat angkutan umum, mendisain organisasi logistik, menentukan logistik mix menentukan operasi gudang, menentukan operasi gudang. Menurut Bowesox (2002:13) manajemen Logistik adalah unik karena ia nerupakan satu aktivitas perusahaan yang tertua tetapi juga termuda. Aktivitas logistik (lokasi fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi, dan pengurusan dan penyimpanan) telah dilaksanakan orang semenjak awal spesilisasi komersil. Pendapat Ballou (2004) mengenai definisi dari logistik adalah “Logistic or Supply Chain is a collection funtional activities (transportation, inventory, control, etc.) which are repeated many times throughout the chanel through which raw materials are converted into finished products and consumer value is added.”  Logistik atau Supply Chain adalah kegiatan pengumpulan fungsional (transportasi, persediaan, kontrol, dll) yang diulang berkalikali di seluruh chanel di mana bahan baku diubah menjadi produk jadi dan nilai konsumen ditambahkan. Logistik merupakan suatu bagian yang integral dalam kegiatan saluran. Adapun tugas umum dari manajemen logistik adalah mengadakan keseimbangan antara biaya dan penghasilan untuk mencapai laba tertentu (Swastha,1990:322) Logistik merupakan suatu istilah yang dipinjam dari militer yang menjelaskan suatu proses secara strategik mengelola aliran efisien dan penyimpanan sejumlah bahan mentah, persediaan dalam proses, dan persediaan barang jadi dari titik asal sampai ke titik konsumsi ( Daniel, 2001:31) Menurut Bowersox (2002:13) logistik merupakan proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplaier, di antara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para langganan. Menurut Simamora (2000:730) distribusi fisik atau logitik ini melibatkan perencanaan, penerapan dan pengendalian arus fisik bahanbahan baku dan barang jadi dari titik asal ke titik konsumen untuk memenuhi kebutuhan pelanggan pada keuntungan tertentu.

Metode Pengendalian Persediaan (skripsi dan tesis)

Metode yang banyak digunakan untuk pengendalian persediaan adalah metode visual. Metode visual dilakukan dengan cara petugas farmasi memeriksa sisa stok yang masih ada dan membandingkannya dengan jumlah stok yang harus ada. Jika jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang harus ada maka dilakukan pemesanan kembali (West, 2009). 1) Analisis ABC Jumlah obat-obatan di rumah sakit sangat banyak sehingga sulit untuk menerapkan metode yang sudah dijelaskan sebelumnya. Untuk itu, terdapat metode kontrol tambahan yakni metode kontrol ABC. Metode ini mebagi barang-barang ke dalam tiga tingkatan. Latar belakang metode ini lahir dari prinsip bahwa sebagaian kecil jumlah barang berperan dalam sebagaian besar investasi (prinsip pareto) (Paterson, 2004). Masing-masing jenis barang membutuhkan analisis tersendiri untuk mengetahui besarnya order size dan order poin. Namun, berbagai jenis barang yang ada dalam persediaan tersebut tidak seluruhnya memiliki tingkat prioritas yang sama. Sehingga, untuk mengetahui jenis-jenis barang yang perlu mendapat prioritas, dapat digunakan analisis ABC, karena analisis ini dapat mengklasifikasi seluruh jenis barang berdasarkan tingkat kepentingan (Rangkuti, 1996). Berdasarkan analisis ABC 10% barang berkontribusi pada 70% dari nilai dan disebut dengan kelompok A, kelompok B merupakan 20% barang berkontribusi pada 20% nilai, dan yang terakhir kelompok C merupakan 70% barang yang berkontribusi pada 10% nilai. Hal ini menunjukan bahwa degan mengontrol sebagaian kecil barang, yaitu 10% dari jumlah total barang akan menghasilkan kontrol tetap 70% dari nilai total persediaan (Reddy, 2008). Dalam membuat analisis ABC ada hal yang harus diperhatikan (Reddy, 2008), yaitu : a) Jika barang dapat saling mensubsitusi maka mereka di anggap sebagai satu barang. b) Dalam mengklasifikasi menjadi kelompok A, B, dan C yang harus dilihat adalah total nilai konsumsi, bukan harga per unit barang. c) Semua barang yang dikonsumsi oleh organisasi harus diklasifikasikan bersama-sama, tidak di kelompokan lagi. d) Periode konsumsi tidak harus selama 1 tahun, dapat disesuaikan dengan kebutuhan seperti misalnya 6 bulan, 4 bulan, dan bahkan 1 bulan. Keterbatasan melakukan analisis ABC (Reddy, 2008) : a) Harus ada standarisasi dan pengkodean setiap barang. b) Dapat menyebabkan kurangnya perhatian terhadap barang yang kritis tetapi nilainya rendah. c) Harus di review secara periodik sehingga perubahan harga dan konsumsi dapat dipertimbangkan kembali. Cara melakukan analisis ABC : 1) Analisis ABC Pemakaian a) Mengurutkan dari nilai pemakaian terbesar nilai pemakaian terkecil, kemudian dibuat kumulatif pemakaian. b) Mencari nilai presentase kumulatif pemakaian. c) Mengklasifikasi barang persediaan tersebut berdasarkan presentase kumulatif pemakaiannya. d) Jika nilai frekuensi kumulatifnya 0 sampai dengan 70%, maka dikategorikan sebagai A. Jika nilainya berkisar antara 70-90%, maka dikategorikan sebagai B. Sedangkan, nilai pada kisaran 90-100%, dikategorikan sebagai barang C. 2) Analisis ABC Nilai Investasi a) Menghitung jumlah pemakaian per tahun untuk setiap satuan unit barang. b) Mencari harga setiap barang tersebut. c) Mengkalikan pemakaian dengan biaya per barang untuk meperoleh nilai investasi. d) Mengurutkan nilai investasi dari yang terbesar sampai yang terkecil, kemudian dibuat presentase nilai investasi. e) Mencari nilai investasi kumulatif. f) Mengklasifikasi barang persediaan tersebut berdasarkan presentase kumulatif nilai investasinya. g) Jika nilai frekuensi kumulatifnya 0 sampai dengan 70%, maka dikategorikan sebagai A. Jika nilainya berkisaran antara 70-90%, maka dikategorikan sebagai B. Sedangkan, nilai pada kisaran 91- 100%, dikategorikan sebagai C. Setelah didapatkan kelompok barang A, B, dan C, maka selanjutnya dapat dibuat kebijakan untuk pengendaliannya sesuai dengan kepentingan kelompok barang tersebut.

Biaya-biaya Persediaan (skripsi dan tesis)

1) Biaya Penyimpanan (Holding Cost atau Carriying Cost) Merupakan biaya yang bersifat variabel terhadap kuantitas persediaan. Artinya, biaya penyimpanan per periode akan semakin besar apabila kuantitas barang yang dipesan semakin banyak atau rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya-biaya yang termasuk sebagai biaya penyimpanan adalah : biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan, dan sebagainya),biaya modal, biaya keusangan, biaya perhitungan fisik, biaya asuransi persediaan, biaya pajak persediaan, biaya pencurian, pengerusakan atau perampokan, biaya penanganan persediaan, dan sebagainya. Biaya penyimpanan persediaan biasanya berkisar antara 12 sampai 40 persen dari biaya atau harga barang. Biaya penyimpanan persediaan tahunan adalah 26% dari nilai persediaan per unit per tahun (Heizer, 2015). 2) Biaya Pemesanan atau Pembelian (Ordering Cost atau Procurement Cost) Berbeda dengan biaya penyimpanan, biaya pemesanan tidak naik (konstan) apabila kuantitas pemesanan bertambah besar. Namun, apabila semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan semakin banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan per periode turun, maka biaya pemesanan total pun akan turun. Hal ini berarti, biaya pemesanan total tahunan adalah sama dengan jumlah pesanan yang dilakukan setiap periode dikalikan biaya yang harus dikeluarkan setiap kali pesan. Komponen biaya pesanan meliputi : biaya pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi, upah, biaya telepon, pengeluaran surat menyurat, biaya pengepakan dan penimbangan, biaya pemeriksaan penerimaan, biaya pengiriman, biaya utang lancar, dan sebagainya. 3) Biaya Penyiapan (Set-up Cost) Biaya ini terjadi apabila bahan-bahan tidak dibeli, namun di produksi sendiri oleh perusahaan. Biasanya perusahaan manufacture akan menghadapi biaya ini meliputi : biaya mesin menganggur, biaya penyiapan tenaga kerja langsung, biaya penjadwalan, biaya ekspedisi, dan sebagainya. 4) Biaya Kehabisan atau Kekurangan Bahan (Shortage Cost) Biaya ini timbul apabila persediaan tidak mencukupi adanya permintaan bahan. Biaya-biaya tersebut meliputi : kehilangan penjualan, kehilangan langganan, biaya pemesanan khusus, biaya ekspedisi, selisih harga, tergantungnya operasi, tambahan pengeluaran manajerial, dan sebagainya.

Jenis-jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

Jenis-jenis persediaan (Lambert et al, 1998 dan West, 2009), yaitu : 1) Cycle Stock Merupakan persediaan yang diperlukan untuk memenuhi permintaan. Jika permintaan dan lead time diketahui dan konstan sehingga tidak diperlukan persediaan lain selain cycle stock. 2) Batch Stock Merupakan persediaan yang diadakan karena kita membeli atau membuat bahan-bahan dalam jumlah yang lebih besar dari pada jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Keuntungan yang diperoleh dari adanya batch stock adalah a. Memperoleh potongan harga pada harga pembelian b. Memperoleh efisiensi produk c. Adanya penghematan di dalam biaya angkutan 3) Safety atau Buffer stock Merupakan persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi lead time dan permintaan yang tidak dapat diramalkan. Bila terdapat fluktuasi permintaan yang sangat besar maka persediaan ini dibutuhkan sangat besar pula untuk menjaga kemungkinan naik turunya permintaan tersebut. 4) Anticipatory atau Spectulative Stock Merupakan persediaan yang diadakan untuk mengahadapi fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan, berdasarkan pula musiman yang terdapat dalam 1 tahun, atau karena adanya kenaikan harga.

Manfaat Persediaan (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya persediaan memperudah atau memperlancar jalannya operasi perusahaan secara berturut-turut untuk meproduksi barang-barang atau jasa selanjutnya disampaikan pada langganan atau konsumen. Persediaan bermanfaat antara lain (Waters, 2003) : 1) Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahanbahan yang dibutuhkan perusahaan. 2) Menghilangkan resiko akibat dari material yang dipesan tidak baik sehingga harus dikembalikan. 3) Mempertahankan stabilitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi. 4) Memberikan pelayanan pada pelanggan agar setiap waktu kebutuhan langganan dapat dipenuhi, atau memberikan jaminan tetap tersedianya barang-barang jadi tersebut. 5) Untuk menumpuk bahan-bahan yang dihasilakn secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan tersebut tidak dipasarkan. 6) Sangat menguntungkan jika terjadi inflansi.

Pengertian Persediaan (skripsi dan tesis)

Menurut Rangkuti (1996), persediaan adalah sejumlah bahan-bahan, bagian-bagian yang disediakan dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk proses produksi, serta bahan-bahan jadi atau produk yang disediakan untuk memenuhi permintaan konsumen atau langganan setiap waktu. Persediaan ini merupakan salah satu unsur yang paling aktif dalam operasi perusahaan yang secara kontinu diperoleh, diubah kemudian dijual lagi. Persediaan adalah aktiva yang disimpan untuk dijual dalam kegiatan normal perusahaan, jua aktiva yang tersedia untuk digunakan sebagai bahan dalam proses produksi (Skousen, 2009). Persediaan meliputi sebuah barang yang dimiliki dengan tujuan untuk dijual kembali dan atau dikonsumsi dalam operasional normal perusahaan (Hartanto, 2002). Kesimpulan dari pengertian persediaan adalah suatu istilah yang menunjukan segala sesuatu dari sumber daya yang ada dalam suatu proses yang bertujuan mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi baik karena adanya permintaan maupun adanya masalah lain (Yans, 2011)

Logistik di Rumah Sakit (skripsi dan tesis)

Rumah sakit sebagai unit usaha yang menghasilkan suatu jasa harus memperhatikan persediaan obat, barang atau peralatan yang dibutuhkan dalam memproduksi jasa tersebut (Aditama, 2002). Menurut Reddy (2008), peran rumah sakit berbeda dengan peran logistik secara umum karena : a. Kebutuhan atas material berkelanjutan terus menerus karena rumah sakit beroperasional 365 hari dan setiap saat dalam setahun. b. Persyaratan material sangatlah penting. Ketidaksediaan material tertentu bisa mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, seperti contohnya jika oksigen atau obat-obatan kritis tidak tersedia. c. Kualitas material yang dibeli sangatlah penting. Kualitas yang tidak memenuhi standar tidak dapat ditolerir. Contohnya, penggunaan jarum suntik sekali pakai yang terkontaminasi bisa menyebabkan reaksi berbahaya terhadap pasien; darah yang terinfeksi dapat menyebabkan hepatitis dan AIDS. d. Rumah sakit tidak memiliki departemen kontrol kualitas sendiri untuk memastikan kualitas material yang telah dibeli. Alat-alat medis yang telah dibeli untuk masing-masing departemen harus dicek sendiri oleh pengguna di departemen-departemen tersebut. e. Dokter-dokter berandil besar dalam keputusan pembelian. f. Persyaratan material didasarkan oleh jumlah pasien masuk, yang didasarkan juga dari berbagai macam faktor seperti reputasi rumah sakit, iklim, hari libur nasional, dan kondisi ekonomi pasien tersebut. Maka itu, perencanaan persyaratan material sangatlah susah untuk dibakukan. g. Tanggal kadaluarsa sangatlah penting dalam material rumah sakit. Kebanyakan obat-obatan yang dibeli memiliki masa pakai yang terbatas, yang tidak boleh digunakan lagi setelah melewati tanggal kadaluarsa. Menurut bidang pemanfaatannya, barang dan bahan yang harus disediakan di rumah sakit dapat dikelompokan menjadi : persediaan farmasi, persediaan makanan, serta persediaan logistik umum dan teknik. Munurut Aditama (2002), biaya rutin terbesar di rumah sakit pada umumnya terdapat pada pengadaan persediaan farmasi, yang meliputi : a. Persediaan obat, mencakup obat-obatan esensial, non esensial, obatobatan yang cepat dan lama terpakai. b. Persediaan bahan kimia, mencakup persediaan unuk kegiatan operasional laboraturium dan produksi farmasi intern, serta kegiatan non medis. c. Persediaan gas medik, kegiatan pelayanan bagi pasien di kamar bedah, ICU atau ICCU membutuhkan berbagai jenis gas medik. d. Peralatan kesehatan, berbagai peralatan yang dibutuhkan bagi kegiatan perawatan maupun kedokteran yang dapat dikelompokan sebagai barang habis pakai serta barang tahan lama atau peralatan elektronik dan non elektronik. Semua hal diatas perlu dilakukan pengendalian persediaan yang bertujuan menciptakan keseimbangan antara persediaan dan permintaan. Karena itu hasil stok opname harus seimbang dengan permintaan yang didasarkan atas satu kesatuan waktu tertentu, misal 1 bulan atau 2 bulan (Aditama, 2002). Pengadaan barang yang dalam sehari-hari disebut juga pembelian merupakan titik awal dari pengendalian persediaan. Jika pembelian tidak tepat, maka pengendalian akan sulit dikontrol. Pembelian harus sesuai dengan pemakaian, sehingga ada keseimbangan antara pemakaian dan pembelian. Keseimbangan ini tidak hanya antara pembelian dengan pemakaian tetapi harus lebih rinci lagi yaitu antara penjualan dan pembelian dari setiap jenis obat. Obat yang laku keras terbeli dalam jumlah relatif banyak dibanding obat yang laku lambat (Aditama, 2002).

Tujuan Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)

Tujuan manajemen logistik adalah menyampaikan barang jadi dan bermacam-macam material dalam jumlah yang tepat pada waktu dibutuhkan, dalam keadaan yang dapat dipakai, kelokasi dimana dibutuhkan, dan dengan total biaya terendah (Aditama, 2002). Dalam bukunya yang berjudul Manajemen Administrasi Rumah Sakit (Aditama, 2002) juga menjelaskan kegiatan logistik secara umum memiliki tiga tujuan yaitu : 1) Tujuan Operasional Tujuan operasional adalah agar tersedianya barang, serta bahan dalam jumlah yang tepat dan mutu yang memadai. 2) Tujuan Keuangan Tujuan keuangan meliputi pengertian bahwa upaya tujuan operasional dapat terlaksana dengan biaya yang serendah-rendahnya. 3) Tujuan Pengamanan Tujuan pengamanan bermaksud agar persediaan tidak terganggu oleh kerusakan, pembrosan, penggunaan tanpa hak, pencurian, dan penyusustan yang tidak wajar lainnya, serta nilai persediaan sesungguhnya dapat tercermin di dalam sistem akutansi.

Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)

Logistik adalah ilmu yang mempelajari aktivitas fungsional yang menentukan aliran bahan di sebuah perusahaan. Logistik menentukan semua kegiatan yang bertujuan untuk memastikan pembelian, aliran, dan pengelolaan bahan dengan benar. Masalah yang terjadi pada logistik akan menjadi masalah dalam pelayanan (Ghiani et al, 2013). Dalam suatu rumah sakit logistik adalah bagian yang bertanggung jawab pada pembelian sesuai dengan kebutuhan aktual rumah sakit (Amrollahi, 2012). Manajemen logistik adalah ilmu pengetahuan dan atau seni serta proses mengenai perencanaan dan penentuan kebutuhan, pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan pemeliharaan serta penghapusan material atau alat-alat. The Council of Logistic Management (1991) menyatakan definisi manajemen kurang lebih sama yaitu “the process of planning, implementing, and controlling the efficient, effective flow and stronge of goods, services, and related information from the point of origin to the point of consumption for the purpose of conforming to customer requirments”. Manajemen logistik merupakan proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para supplier, diantara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para langganan. Terdapat lima komponen yang membentuk sistem logistik, yaitu : struktur lokasi fasilitas, transportasi, persediaan (inventory), komunikasi, serta penanganan (handling) dan penyimpanan (storage) (Bowersox, 1995).

Instalansi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) (skripsi dan tesis)

Instalansi farmasi adalah bagaian dari rumah sakit yang bertugas menyelenggarakan, mengkoordinasi, mengatur, dan mengawasi seluruh kegiatan pelayanan farmasi (UU RI, 2009). Nstalansi farmasi memiliki pengaruh terhadap ekonomi dan biaya operasional rumah sakit karena bagian ini merupakan bagian di rumah sakit yang bertanggung jawab penuh atas pengelolaan dan pengendalian seluruh sediaan dan pemebekalan kesehatan yang beredar di rumah sakit (Siregar, 2003). Pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai di rumah sakit harus dilakukan oleh instalansi farmasi melalui sistem satu pintu, yaitu bahwa rumah sakit hanya memiliki satu kebijakan kefarmasian termasuk dalam pembuatan formalium, pengadaan, dan distribusi alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan pasien (UU RI, 2009). Pelayanan kefarmasian di rumah sakit meliputi 2 (dua) kegiatan, yaitu kegiatan farmasi klinik dan kegiatan yang bersifat manajerial berupa pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dan kegiatan pelayanan farmasi klinik. Kegiatan tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia, sarana, dan peralatan. Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai harus dilaksanakan secara multi disiplin, terkoordinir, dan menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya (Depkes RI, 2014a).

Missi Logistik (skripsi dan tesis)

Missi logistik suatu perusahaan adalah mengembangkan suatu sistem yang dapat memenuhi kebijaksanaan pelayanan dengan biaya pengeluaran serendah mungkin Bowersox(1995).Sistem logistik terutma menyangkut sokongan terhadap pembuatan (manufacturing) dan operasi pasar.Pada tahapan kebijaksanaan, masalah yang kritis adalah menentukan tahapan prestasi yang dikehendaki dan menetapkan biaya yang berhubungan dengan operasi logistik. Menurut Bowersox(1995) perencanaan sokongan logistik menyangkut 2 pertimbangan kebijksanaan yaitu prestasi pelayanan dan total pengeluaran biaya yang memberikan hasil tercapainya pengembalian yang dikehendaki atas investasi atau sasaran-sasaran tertentu lainya dari perusahaan. Keseimbangan ini adalah kebijaksanaan logistik yang selnjutnya akan memberikan mndt mnajerial untuk menuntun desain sistem. 1) Prestasi logistik Hampir setiap level pelayanan logistik dapat dicapai apabila perusahaan mau membayar harganya, pada akhirnya prestsi logistik itu adalah masalah prioritas dan biaya.Apabila suatu barang tidak tersedia pada waktu dibutuhkan oleh pabrik maka pabrik tersebut mungkin terpaksa ditutup dengan akibat kerugian biaya dan kemungkinan kerugian penjualan.Prioritas yang diberikan kepada prestasi ini dalam situasi tersebut biasanya tinggi. Prestasi logistik diukur dengan penyediaan (avaibility), kemampuan (capability) dan kualitas (quality).Avaibility adalah menyangkut kemampuan perusahaan untuk secara konsisten memenuhi kebutuhan material atau produk, jadi avaibility menyangkut ke persediaan.Umumnya, makin rendah frekwensi pengeluaran stok yang direncanakan, maka makin besar investasi dalam ratarata persediaan. Capability prestasi logistik adalah menyangkut jarak waktu antara penerimaan sutu pesanan dengan pengantaran barangnya.Capability ini menyangkut kecepatan pengantaran dan konsistenya dalam waktu tertentu.Suatu perusahaan penerima dari suatu sistem logistik lebih menghargai konsistensi daripada kecepatn pelayanan.Mutu (Quality) prestasi dalah menyangkut seberapa jauh baiknya tugas logistik secara keseluruhan dilaksanaka.Kualitas dapat dilihat dari besarnya kerusakan, item-item yang betul serta pemecahan masalah yang tidak terduga. Tidak ada gunanya pengantaran yang cepat dan konsisten jika mutu tidak terjaga.Hal tersebut dapat mengecewakan konsumen karena kualitas barang yang dipesan tidak sesuai dengan yang diharapkan konsumen.Standar prestasi hendaklah ditetapkan secara selektif.Sebagian produk lebih kritis daripada produk lainya karena pentingnya bagi pembeli dan arena profitabilityatau tingkat keuntunganya.Prestasi yang rendah atu dibawah standar karena kebijakan yang tidak tepat dapat menimbulkan masalah yang besar bagi perusahaan. 2) Biaya logistik Sistem logistik hendaklah dipandang sebagai pusat biaya.Sifat dari avaibility yang tinggi, capability yang cepat dan konsisten dan quality yang tinggi itu ada hubunganya masing-masing dengan biaya.Semakin tinggi masing-masing aspek ini dari total prestasi, makin tinggi masing-masing aspek ini maka semakin besar biaya logistiknya Bowersox (1995). Masalah perencanaan yang penting timbul dari fakta bahwa biaya logistik dan peningkatan prestasi itu mempunyai suatu hubungan yang tidak proposional. 3) Keseimbangan sistem logistik Biasanya perushaan akan mendapatkan bahwa hubungan yang terbaik antara prestasi logistik dengan biaya itu adalah hubungan yang berimbang antara prestasi yang layak dengan pengeluaran biaya yang realistis Bowersox(1995). Jarang sekali total biaya yang terendah itu atau prestasi pelayanan yang tinggi itu merupakan sasaran logistik yang terbaik. Kemajuan- kemajuan penting telah dicapai dalam perkembangan alat-alat pembantu bagi manajemen dalam mengukur imbalan biaya prestasi. Suatu kebijakan yang sehat hanya dapat dirumuskan apabila ada kemungkinan untuk menaksir pengeluaran-pengeluaran untuk tingkat-tingkat alternatif dari prestasi perusahaan tersebut, begitu pula tingkat-tingkat alternatif dari prestasi perusahan tidak akan ada artinya apabila tidak dilihat dari sudut kebutuhn pemasaran dan manufacturing. Membuat penetpaan missi logistik adalah tugas perumusan dan perencanaan kebijakan, jadi prestasi logistik adalah hasil yang ingin dicapai perusahaan saat menerapkan sistem logistik

Unsur – unsur sistem manajemen logistik (skripsi dan tesis)

Ada 5 unsur yang digabungkan untuk membentuk sistem logistik dlam organisasi perusahaan yaitu struktur fasilitas, transportasi, persediaan, komunikasi, pengelolaan dan penyimpanan Bowersox (1995). 1) Struktur fasilitas Bisnis tidak dapat mengabaikan dampak dari struktur lokasi terhadap kemampuanya memperoleh pengembalian yang memadai atas investsinya.Jaringan fasilitas yang dipilih merupakan sutu hal yang sangat fundamental bagi hasil akhir logistiknya.Jumlah dan pengaturan fasilitasnya yang dioperasikan dalam perusahaan mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan pelayanan terhadap penggunaan akhir produk, barang serta terhadap biaya logistiknya. Pasar pengguna produk akhir yang berbeda akan menyebabkan aktivitas logistik yang digunakan juga berbeda. Jaringan fasilitas suatu perusahaan merupakan suatu kegiatan logistik dengan kemana dan melalui mana material suku cadang, barang jadi diangkut.Guna tujuan perencanaan yang baik fasilitas tersebut meliputi pabrik, gudang, toko-toko pengecer jika umum maka fasilitas dari spesialis dianggap merupakan hal yang penting.Seleksi terhadap alternative lokasiyang unggul dapat memberikan banyak keuntungan yang kompetitif, karena efisiensi logistik dapat dicapai dengan baik. Peranan pemilihan jaringan fasilitas yang sebaik mungkin itu tidaklah berlebihan walaupun pemindahan (relocation) semua fasilitas pada satu waktu tidaklah masuk akal untuk suatu perusahaan, namun terdapat ruang gerak yang luas bagi perusahan dalam memilih lokasi dan desain fasilitas selama jangka waktu tertentu. 2) Transportasi Dalam suatu jaringan fasilitas, transportasi merupakan suatu mata rantai penghubung. Hampir setiap perusahaan dari ukuran apa saja mempunyai manajer lalu lintas yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan program transportasinya. Pada umumnya perusahaan mempunyai 3 alternatif untuk menetapkan kemmpun transportasinya.Pertama armada peralatan swasta dibeli atau disewa. Kedua, kontrak khusus dapat diatur dengan spesialis transport untuk mendapatkan kontrak jasa pengangkutan. Ketiga bentuk transport ini dikenl sebagai private (swasta), contract (kontrak) dan common carriage(angkutan umum). Jika dilihat dari sistem logistik terdapat 3 faktor yang memegang peranan dalam menentukan kemampun pelayanan transportasi. 16 Ketiga fakor tersebut menurut Bowersox (1995) adalah biaya, kecepatan, dan konsistensi.Biaya transportasi terdiri dari pembayaran sesungguhnya untuk pengangkutan diantara 2 tempat, plus ongkos yang berkaitan dengan pemilikan persediaan dalam perjalanan. Sistem logistik hendaklah dirancang untuk meminimumkan biaya transport dalam hubunganya dengan seluruh biaya sistem. Kecepatan pelayanan transport adalah wktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pengangkutan diantara 2 lokasi. Kecepatan dan biaya berkaitan dalam 2 hal. Pertama, spesialis transport yang mampu memberikan pelayann yang lebih cepat akan membebankan tarif yang lebih tinggi. Kedua, lebih cepat pelayanan makin pendek waktu material dan produk itu berd dalam perjalanan. Konsistensi pelayanan transport menunjukan prestasi waktu yang teratur dari sejumlah pengangkutan diantara 2 lokasi, jika kemampuan transport tidak konsisten maka haruslah diadakan penjagaan terhadap jumlah persediaan yang aman dalam sistem itu untuk perlindungan terhadap kemcetan pelayanan. Konsistensi transport itu mempengaruhi baik komitmen persediaan penjual dan pembeli maupun resiko yng dipikulnya. Dalam merancang suatu sistem logistik hendaklah dimantapkan suatu keseimbangan yang teliti antara biaya transportasi itu dengan mutu pelayanannya dalam beberapa hal adalah lebih baik pengangkutan yang lambat dengan biaya yang murah.Mendapatkan keseimbangan transportasi yang tepat merupakan salah satu tujuan utama dari analisa sistem logistik.Ada 3 aspek yang harus diperhatikan dalam transportasi yaitu pertama, seleksi fasilitas menetapkan suatu struktur atau jaringan yang membatasi ruang lingkup alternatif transport dan menentukan sifat dari usaha pengangkutan yang hendak diselesaikan.Kedua, biaya pengangkutan fisik itu menyangkut lebih daripada ongkos pengangkutan saja antara2 lokasi. Ketiga seluruh usaha mengintegrasikan kemmpuan transport kedalam suatu sistem terpadumungkin akn sia-sia jika pelayanan tidak teratur dan tidak konsisten. 3) Persediaan Kebutuhan akan transport di antara berbagai fasilitas itu didasarkan atas kebijaksanan persediaan yang dilaksnakan oleh suatu perusahaan. Secara teoritis, suatu perusahaan dapat saja mengadakan persediaan setiap barang yang ada dalam persediaanya pada setiap fasilitas dalam jumlah yang sama. Akan tetapi, jarang perusahaan yang akan melaksanakan program persediaan yang semewah itu, karena total biayanya sangat tinggi sekali. Tujuan dari intergrasi persediaan dalam sistem logistik adalah untuk mempertahankan jumlah item yang serendah mungkinyang sesuai dengan sasaran pelayanan konsumen. Program logistik hendaklah diadakan dengan tujuan mengingatkan sesedikit mungkin aktiva pada pengadaan persediaan.Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi persediaan menurut Bowersox (1995) yaitu mutu nasabah, mutu produk, integrasi transport dan kegiatan saingan. 4) Komunikasi Komunikasi adalah kegiatan yang seringkali diabaikan dalam sistem logistik.Dijaman lampau mengbaikan ini disebabkan oleh kurangnya peralatan pengolah data dan peralatan penyampaian data yang dapat menangani arus informasi yang diperlukan.Kurangnya komunikasi ini tentu berpengaruh terhadap prestasi logistik perusahaan.Kekurangan dalam mutu informasi dapat menimbulkan banyak sekali masalah. Kekurangan tersebut digolongkan menjadi 2 kategori besar.Pertama, informasi yang diterima mungkin tidak betul dalam penilaian trend dan peristiwa. Oleh karena itu banyak sekali arus logistik itu merupakan antisipasi bagi transaksi di masa depan, maka penilaian yang tidak akurat dapat menyebabkan kekurangan persediaan atau komitmen yang berlebihan. Kedua, informasi mungkin kurang akurat dalam hal kebutuhn suatu konsumen tertentu. Suatu perusahaan yang mengolah suatu pesanan yang tidak betul akan menanggung semua biaya tnpa memperoleh hasil penjualan.Biaya ini seringkali ditambah dengan dengan biaya barang yang dikembalikan dan jika kemungkinan penjualan masih ada, mka perushahaan harus berusaha lagi menyediakan barang yang tepat bagi konsumen. Semakin efisien desain sistem logistik suatu perusahaan, maka semakin peka ia terhadap gangguan-gangguan arus informasi. Informasi yang tidak betul dapat menimbulkan gangguan pada prestasi sistem dan keterlambatan dalam arus komunikasi dapat memperbesar permasalahan itu sehingga menyebabkan serangkian kegoncangan dalam sistem tersebut Karen koreksi yang berlebihan atau koreksi yang kurang. Mutu dan informs yang tepat waktu merupakan faktor penentu yang utama dalam kestabilan sistem. 5) Pengelolaan dan penyimpanan Pengelolaan dan penyimpanan juga merupkan bagian yang integral dalam sistem logistik, tetapi tidak cocok dengan skema struktural dan komponen-komponen yang lain. Pengelolaan dan penyimpanan menembus sistem ini dan langsung berhubungan dengan semua aspek operasi. Menyangkut arus persediaan melalui dan di antara fasilitas-fasilitas dengan arus tersebut yang hanya bergerak untuk mennggapikebutuhan akan suatu produk atau material. Dalam arti luas, pengelolaan dan penyimpanan ini meliputi pergerakan (movement), pengepakan dan pengemasan Bowersox (1995). Pengelolaan ini menimbulkan banyak sekali biaya logistik dilihat dari pemgeluaran untuk operasi juga pengeluaran untuk modal. Semakin sedikit kalinya produk ditangani dalam keseluruhan proses itu mka semakin terbatas dan makin efisien arus total fisiknya. Apabila di integrsikan secara efektif kedalam operasi logistik suatu perusahaan, maka pengelolaan dan penyimpanan ini dapat mengurangi masalah yang berkaitan dengan kecepatan dan kemudahan pengangkutan barang melalui sistem tersebut. Kekuatan utama logistik terletak pada pengembangan teknik dan konsep untuk penanganan komponen-komponen berdasarkansuatu basis yang terpadu.Teknologi sistem memberikn kerangka untuk menilai alternative-alternatif desain logistik atas basis total biaya. Didalam konteks yang strategis focus dan pusat dri logistik adalah komitmen pada persediaan. Produk dan material dipandang sebagaimana mestinyayaitu sebagai kombinasi dari kegunaan bentuk, waktu dan pemilikan. Persediaan tidak banyak gunanya sebelum bentuknya ditempatkan pada waktu yang tepat pada lokasi dimana ia memberikan kesempatan untuk menikmati pemilikan. Apabila suatu perusahaan tidak konsisten memenuhi kebutuhan waktu dan tempat maka ia secara efisien tidak dapat dicapai, maka laba pengembalian invests terancam. Sebelum kegunaan waktu dan tempat dicapai, maka sedikit sekali nilai yng ditambahkan dalam proses logistik dari teori tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur logistik adalah kegiatan yang membentuk sistem logistik di dalam perusahaan.Semua unsur tersebut harus dijalankan dengan baik untuk bisa menerapkan sistem logistik yang baik pada perusahaan.

Faktor –faktor sistem logistik (skripsi dan tesis)

Menurut Gitosudarmo (2000) ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam sistem logistic terpadu oleh organisasi perusahan. 1) Pengumpulan yang dimaksud adaaah kegiatan pengumpulan sejumlah barang dari sebagian barang yang ditunjuk guna penjualan akhir pada konsumen. Sejumlah barang ini merupakan kumpulan barang yang tersendiri dari sejumlah barng yang ada. 2) Penyimpanan yang dimaksud adalah kegiatan yang berkosentrasi pada penyimpanan barang. Fungsi penyimpanan ini biasanya disebar diantara perusahaan di dalam kelompoknya. Setiap perusahaan akan bersedia menanggung jumlah penyimpanan minimum yang perlu untuk menunjang kegiatan transaksinya. 3) Transfer adalah suatu mekanisme transformasi dari suatu atau beberapa macam barang yang harus diubah bentuknya secara fisik guna menunjang transaksi. 4) Penyebaran adalah kegiatan penempatan produk yang disesuaikan dengan jenis klasifikasi pada tempat tertentu yang tepat, waktu yang tepat. Penyebaran ini biasanya merupakan tahap akhir dari kegiatan logistik dan juga berkaitan dengan pelayanan terhadap pengguna produk akhir. 5) Pembiayaan adalah anggaran keuangan yang harus dikeluarkan oleh perusahaan guna melaksanakan kegiatan logistik. Pembiayaan yang disiapkan harus merupakan biaya yang benar-benar bisa digunakan dalam kegiatan logistik. Biaya logistik diusahakan seefisien mungkin sehingga perusahaan akan bisa mendapat kepemimpinan biaya logistik. 6) Komunikasi adalah penyampaian ide, konsep, gagasan, informasi ke arah hasil akhir yang diharapkan. Komunikasi juga digunakan di antara saluran transaksi dengan saluran logistik dalam hal serupa, kuantitas, lokasi dan waktu. Komunikasi terus berlangsung selama produk, barang ditransfer, disesuaikan dan disimpan dalam menghadapi perubahan transaksi di masa mendatang jadi faktor-faktor logistik adalah kegiatan yang mempengaruhi sistem logistik. Sangat penting bagi perusahaan untuk mengawasi setiap faktor logistik agar kegiatan logistik bisa berjalan dengan baik.

Sistem manajemen logistik (skripsi dan tesis)

Menurut Gitosudrmo (2000) manajemen logistik bisa terwujud apabila ada suatu sistem.Sistem manajemen logistik ini diharapkan mampu mengkoordinir kegiatan logistik secara terpadu di dalam perusahan.Manajemen kegiatan logistik biasanya diarahkan dan diawasi dari berbagai kegiatan dalam bagian yang ada dalam perusahaan. Bila terjadi kerancuan hak, wewenang dan tanggung jawab akan mengakibatkan terjdinya pemborosan yang sering menghambat tercapainya tujuan logistik itu sendiri. Konsep logistik terpadu akan memberikan logika yang utuh guna penentuan rencana kegiatan logistik dalam suatu struktur industri dalam kerangka saluran yang bekerja sama secara terpadu. Sistem ini memberikan kedalaman kegiatan terhadap segala usaha terpadu guna pencapaian logistik yang telah dibuat dan ditentukan sebelumnya.Tujuan logistik dari sistem logistik berbeda-beda tujuanya, mislnya tujuan biaya serendah mungkin atau tujuan penyimpnan barang yang awet atau sebagainya maka perlu desain suatu sistem logistik disesuaikn dengan tujuan yang ditentukan sehingga sistem tersebut akan mampu memberikan hasil yang dikehendaki. Keyakinan bahwa prestasi sistem terpadu akan memberikan suatu harapan tentang hasil akhir yang lebih baik daripada kegiatan yang kurang terkoodinir atau kegiatan yang terpisah-pisah, hal ini merupakan titik pusat perhatian konsep logistic teradu. Menurut Donald J. Bowersox (1995) konsep logistic terpadu terdiri dari operasi logistic dan koordinasi logistik.Operasi logistik adalah mengenai manajemen pemindahan (movement) dan penyimpanan material dan produk jadi perusahaan.Jadi, operasi logistik itu dapat dipandang sebagai berawal dari pengangkutan pertama material atau komponen-komponen dari sumber perolehany dan berakhir pada penyerahan produk yang dibuat atau diolah itu kepada langganan atau konsumen.Operasi logistik dapat dibagi kedalam 3 kategori yaitu manjemen distribusi fisik, mnajemen material, transfer persediaan barang di dalam perusahaan. Koordinasi logistik Menurut Donald J. Bowersox (1995) adalah mengenai identifikasi kebutuhan pergerakan dan penetapan rencana untuk memadukan seluruh operasi logistik.Koordinsi dibutuhkan untuk memantapkan dan mempertahankan kontinuitas operasi. Koordinasi dapat dibagi dalam 4 bidang manajerial yaitu peramalan (forecasting) pasar produk, pengelolaan pesanan, perencanaan operasi dan procurement atau perencanaan kebutuhan material. Dari teori diatas dapat disimpulkan sistem manajemen logistik adalah sistem untuk mengkoordinir jaringan operasi logistik agar dapat berjalan dengan baik.

Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)

Logistik adalah proses merencanakan, menerapkan dan mengendalikan yang efektif dan efisien dari aliran dan penyimpanan bahan baku persediaan dalam proses, dan barang jadi yang terhubung dengan informasi dari titik asal ke titik konsumsi, untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan (Ronald H. Ballou,1992).Sedangkan menurut pendapat Donald J Bowersox (1995) prosespengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan penyimpanan barang, suku cadang dan barang jadi dari para suplier, diantara fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan.Siahaya (2012) mendefinisikan bahwa Manajemen logistik adalah bagian dari Supply Chain Management (Manajemen Rantai Pasok) yang merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan aliran barang secara efektif dan efisien, meliputi transportasi, penyimpanan, distribusi dan jasa layanan serta informasi terkait mulai dari tempat asal barang sampai ke tempat konsumsi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan Persaingan bisnis yang semakin ketat di era globalisasi ini menuntut perusahaan untuk menyusun kembali strategi dan sistem logistik dalam perusahaan. Esensi dari persaingan terletak pada bagaimana perusahaan mengimplementasikan proses dalam menghasilkan produk baik, barang atau jasa yang lebih baik, lebih murah dan cepat dibanding pesaingnya, untuk itu sebuah perusahaan harus dapat memperbaiki kinerja sistem logistiknya agar dapat terus bersaing dan mengalami kemajuan. Suatu kegiatan usaha di butuhkan aktivitas logistik di dalamnya karena, logistik adalah bagian dari proses rantai pasokan atau (supply chain). Aktivitas logistik terdiri dari lokasi fasilitas, transportasi, inventarisasi, komunikasi, penaganan dan penyimpanan. Perusahaan harus mempertimbangkan masalah logistikagar dapat memastikan bahwa logistik mendukung strategi perusahan jika fungsi operasional mendukung daripada strategi perusahaan secara keseluruhan maka logistik harus mendukung strategi fungsi opersional. Sebaliknya, jika fungsi operasional tidak mendukung strategi perusahaan, maka operasional perusahaan akan terhambat seperti produksi yang terlambat karena ketiadaan bahan baku yang akan berimabs pada konsumen. Berdasarkan teori diatas logistik merupakan aliran bahan baku dari supplier sampai ke penyimpanan.

Pencatatan dan Pelaporan (skripsi dan tesis)

Pencatatan dan pelaporan terhadap seluruh rangkaian kegiatan dalam pengelolaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai, baik sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di puskesmas atau unit pelayanan lainnya (Permenkes RI. 2017).

Pendistribusian (skripsi dan tesis)

Distribusi merupakan pennyaluran/ menyerahkan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit pelayanan/ pasien dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah, dan ketetapan waktu (Kemenkes RI. 2010). Tujuan distribusi adalah sebagai berikut: a. Terlaksananya pengiriman obat secara merata dan teratur sehingga dapat diperoleh pada saat dibutuhkan. b. Terjaminnya mutu obat dan perbekalan kesehatan pada saat pendistribusian. c. Terjamin kecukupan dan terpeliharanya penggunaan obat di unit pelayanan kesehatan. d. Terlaksananya pemerataan kecukupan obat sesuai kebutuhan pelayanan dan program kesehatan. Kegiatan distribusi obat terdiri dari: a. Kegiatan distribusi rutin yag mencakup distribusi untuk kebutuhan pelayanan umum di unit pelayanan kesehatan. b. Kegiatan distribusi khusus yang mencakup distribusi obat untuk Pogram kesehatan, kejadian luar biasa (KLB). c. Bencana (alam dan sosial).

Penyimpanan (skripsi dan tesis)

Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dan menempatkan obat dan perbekalan kesehatan yang diterima pada tempat dan dinilai aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat dan perbekalan kesehatan. Sistem penyimpanan berdasarkan Alphabetis, Farmakologis, Bentuk sediaan, First in first out (FIFO) dan First expired first out (FEFO) (Kemenkes RI. 2010).

Penerimaan (skripsi dan tesis)

Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima. Semua dokumen terkait penerimaan barang harus tersimpan dengan baik (Kemenkes RI. 2010)

Pengadaan (skripsi dan tesis)

Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan perencanaan, yang bertujuan untuk memperoleh obat yang dibutuhkan dengan harga layak, mutu baik, pengiriman obat terjamin tepat waktu, proses berjalan lancar tidak memerlukan waktu dan tenaga yang berlebihan. Pengadaan dapat dlakukan melalui Tender Terbuka (Open Tender), Pembelan secara langsung dan sumbangan atau hibah (droping) (Kemenkes RI. 2010).

Perencanaan (skripsi dan tesis)

Para ahli di bidang manajemen telah mengemukakan definisi atau pengertian tentang perencanaan, namun setiap pengertian perencanaan senantiasa memiliki batasan yang berbeda tergantung ahli manajemen yang mengemukakan. Perencanaan di bidang kesehatan pada dasarnya merupakan suatu proses untuk merumuskan masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang harus disediakan, menetapkan tujuan yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah praktis untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Dari batasan tersebut, perencanaan akan menjadi efektif jika sebelumnya dilakukan perumusan masalah berdasarkan fakta (Hartono, 2007). Menurut (Azwar, 2010) perencanaan menurut ilmu administrasi kesehatan terdapat 3 aspek pokok yang harus diperhatikan meliputi: a. Hasil kerja perencanaan (outcome of planning). b. Perangkat perencanaan (mechanic of planning). c. Proses perencanaan (proces of planning). Menurut Handoko (2009) perencanaan adalah suatu proses yang tidak berakhir bila rencana telah ditetapkan, rencana harus diimplementasikan. Setiap saat selama proses implementasi dan pengawasan, rencana mungkin memerlukan modifikasi agar tetap berguna. Febriawati (2013) mengemukakan bahwa perencanaan adalah proses untuk merumuskan sasaran dan menentukan langkah langkah yang harus dilaksanakan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan. Handoko (2009) mengungkapkan bahwa salah satu aspek penting perencanaan adalah pembuatan keputusan (decision making), proses pengembangan dan penyeleksian sekumpulan kegiatan untuk mememecahkan suatu masalah tertentu. Perencanaan adalah pekerjaan mental untuk memilih sasaran, kebijakan, prosedur dan program yang diperlukan untuk mencapai apa yang diinginkan pada masa yang akan datang. Sedangkan rencana adalah sejumlah keputusan mengenai keinginan dan berisi pedoman pelaksanaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Jadi setiap rencana mengandung unsur tujuan dan pedoman. (Hasibuan, 2011). Anshari (2009) mengungkapkan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Perencanaan pada dasarnya merupakan sutu proses untuk menetapkan diawal berbagai hasil akhir (end result) yang ingin dicapai perusahaan di masa yang akan datang. Antara kegiatan perencanaan dengan hasil akhir yang ingin dicapai diasumsikan terdapat jeda waktu (time lag), dimana semakin panjang rencana yang dibuat maka jeda waktu antara perencanaan dengan hasil akhir yang ingin dicapai semakin besar dan derajat kepastian pencapaian hasil tersebut juga semakin meningkat. Sebaliknya, semakin pendek jeda waktu antara perencanaan yang dibuat dengan target hasil yang ingin dicapai maka derajat kepastian pencapaian hasil akan menurun (Solihin, 2009). a. Tahapan Perencanaan Perencanaan pada dasarnya memiliki tahapan. Tahapan perencanaan menurut Handoko (2009) yaitu: 1. Menetapkan tujuan atau serangkaian tujuan. Perencanaan dimulai dengan keputusan keputusan tentang keinginan atau kebutuhan organisasi atau kelompok kerja. Tanpa rumusan kerja yang jelas organisasi akan menggunakan sumber daya sumber dayanya secara tidak efektif. 2. Merumuskan keadaan saat ini. Pemahaman akan posisi perusahaan sekarang dari tujuan yang hendak dicapai atau sumber daya sumber daya yang tersedia untuk pencapaian tujuan, adalah sangat penting, karena tujuan dan rencana menyangkut waktu yang akan datang. 3. Mengidentifikasi segala kemudahan dan hambatan. Segala kekuatan dan kelemahan serta kemudahan dan hambatan perlu diidentifikasikan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu perlu diketahui faktor faktor lingkungan itern dan ekstern yang dapat membantu organisasi mencapai tujuannya, atau yang menimbulkan masalah. 4. Mengembangkan rencana atau serangkaian kegiatan pencapaian tujuan. Tahap terakhir dalam proses perencanaan meliputi pengembangan berbagai alternatif kegiatan untuk pencapaian tujuan, penilaian alternatif tersebut dan pemilihan alternatif terbaik (paling memuaskan) diantara berbagai alternatif yang ada. Muninjaya (2004) berpendapat ada lima langkah yang perlu dilakukan pada proses penyusunan sebuah perencanaan kesehatan yaitu: 1. Analisis situasi Analisis situasi adalah langkah pertama proses penyusunan perencanaan. Langkah ini dilakukan dengan analisis data laporan yang dimiliki oleh organisasi (data primer) atau mengkaji laporan lembaga lain (data sekunder) yang datanya dibutuhkan, observasi dan wawancara. 2. Mengidentifikasi masalah dan prioritasnya Melalui analisis situasi akan dihasilkan berbagai macam data. Data dianalisis lebih lanjut menggunakan pendekatan epidemiologi untuk dapat dijadikan informasi tentang distribusinya disuatu wilayah. Setelah masalah kesehatan masyarakat ditetapkan menjadi prioritas di suatu wilayah, selanjutnya ditetapkan tujuan programnya. 3. Menentukan tujuan program Setelah masalah kesehatan ditetapkan, manajer program menetapkan tujuan program. Perumusan sebuah tujuan operasional program kesehatan harus bersifat SMART (specific, measurable, appropriate, realistic, time bound). 4. Mengkaji hambatan dan kelemahan program Langkah keempat proses penyusunan adalah mengkaji kembali hambatan dan kelemahan program yang pernah dilaksankan. Tujuannya adalah untuk mencegah atau mewaspadai timbulnya hambatan serupa. Selain mengkaji hambatan yang pernah dialami, juga dibahas prediksi kendala dan hambatan yang mungkin akan terjadi dilapangan pada saat program dilakukan. 5. Menyusun rencana kerja operasional (RKO) Pada saat memasuki fase ini tim perencana sudah menetapkan tujuan dan target yang ingin dicapai. b. Maksud Perencanaan (Purpose of Planning) Salah satu maksud utama perencanaan adalah melihat bahwa program-program dan penemuan sekarang dapat dipergunakan untuk meningkatkan kemungkinan pencapaian tujuan-tujuan di waktu yang akan datang yaitu meningkatkan pembuatan keputusan yang lebih baik. (Handoko, 2009). Hasibuan (2011) mengungkapkan bahwa maksud dari suatu perencanaan antara lain adalah: 1. Perencanaan merupakan salah satu fungsi manajer yang meliputi seleksi atas alternatif alternatif tujuan, kebijaksanaan, prosedur dan program. 2. Perencanaan, sebagian merupakan usaha membuat hal-hal terjadi sebagaimana yang dikehendaki. 3. Perencanaan adalah suatu proses pemikiran, penentuan tindakan tindakan secara sadar berdasarkan keputusan menyangkut tujuan, fakta dan ramalan. 4. Perencanaan adalah usaha menghindari kekosongan tugas, tumpang tindih dan meningkatkan efektivitas potensi yang dimiliki. Perencanaan organisasi harus aktif, dinamis, berkesinambungan dan kreatif. c. Tujuan Perencanaan (Objective of Planning) Menurut Handoko (2009) ada dua alasan dasar perlunya perencanaan yaitu: 1. Protective benefits yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam pembuatan keputusan. 2. Positive benefits dalam bentuk meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi. Tujuan dari perencanaan secara objektif di kemukakan oleh Hasibuan (2011) antara lain: 1. Perencanaan bertujuan untuk menentukan tujuan, seleksi atas alternatif alternatif tujuan, kebijakan kebijakan, prosedur dan program serta memberikan pedoman cara-cara pelaksanaan yang efektif dalam mencapai tujuan. 2. Perencanaan adalah suatu usaha untuk memperkecil resiko yang dihadapi pada masa yang akan datang. 3. Perencanaan menyebabkan kegiatan-kegiatan dilakukan secara teratur dan bertujuan. 4. Perencanaan memberikan gambaran yang jelas dan lengkap tentang seluruh pekerjaan. 5. Perencanaan membantu penggunaan suatu alat pengukuran hasil kerja. 6. Perencanaan membantu peningkatan daya guna dan hasil guna organisasi. d. Manfaat perencanaan (Purpose of Planning) Manfaat perencanaan akan lebih terencana, terarah, efektif dan efisien karena dapat mengurangi suatu pekerjaan yang tidak pelu. Suatu perencanaan yang baik juga memerlukan dana mulai dari dana survey awal, pengumpulan data hingga pelaksanaan.(Hartono, 2007). Menurut Muninjaya (2004) mengungkapkan bahwa perencanaan terdapat manfaat, keuntungan dan kerugian yang dapat diperoleh suatu organisasi. Manfaat perencanaan adalah diketahui tujuan yang ingin dicapai, cara mencapainya, jenis, struktur yang dibutuhkan, dan bentuk serta standar yang dibutuhkan. Perencanaan mempunyai banyak manfaat antara lain membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perubahan lingkungan, membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah masalah utama, memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran operasi lebih jelas, membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat, memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi, memudahkan dalam melakukan koordinasi diantara berbagai bagian dalam organisasi, membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan mudah dipahami, meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti, menghemat waktu usaha dan dana. (Handoko, 2009). Muninjaya (2004) mengungkapkan beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari perencanaan antara lain: 1. Perencanaan memberikan landasan pokok fungi manajemen terutama pengawasan. 2. Perencanaan akan mengurangi atau menghilangkan jenis pekerjaan yang tidak produktif. 3. Perencanaan dapat dipakai untuk mengukur hasil kegiatan yang telah dicapai, karena dalam perencanaan ditetapkan berbagai standar. 4. Perencanaan dapat menyebabkan berbagai macam aktivitas organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dan dapat dilakukan secara teratur. Menurut Azwar (2010) untuk menilai keberhasilan dari sebuah rencana dikelompokkan dalam tiga macam yaitu: 1. Kriteria keberhasilan unsur masukan yakni menunjuk pada terpenuhinya unsur masukan, misalnya tersedianya tenaga, dana dan sarana sesuai dengan rencana. 2. Kriteria unsur proses yakni menunjuk pada terlaksananya unsur proses. 3. Kriteria keberhasilan unsur keluaran yakni menunjuk pada tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan adalah salah satu fungsi yang menentukan dalam proses pengadaan farmasi di Gudang Farmasi yang bertujuan agar tidak terjadi kesinambungan antara permintaan dan distribusi, sehingga distribusi obat berjalan lancar dari pihak gudang farmasi ke pihak yang memutuhkan serta menghindai terjadinya stock out (kekosongan) obat (Kemenkes RI. 2010). Ada beberapa metode perencanaan, yaitu: 1. Metode Epidemiologi Metode Epidemiologi berdasarkan kebutuhan obat yang digunakan berdasarkan pada penyakit yang sering muncul dimasyarakat. 2. Metode Konsumsi Metode Konsumsi berdasarkan pada kebutuhan obat pada periode lalu dengan penyesuaian dan koreksi berdasarkan pada penggunaan obat tahun sebelumnya. 3. Metode Kombinasi/Campuran Metode Kombinasi berdasarkaan metode konsumsi dan metode epdemiologi, disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

Pengelolaan Instalasi Farmasi (skripsi dan tesis)

Pengelolaan perbekalan farmasi merupakan suatu siklus kegiatan yang dimulai dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian, pencatatan, pelaporan dan pemusnahan serta monitoring dan evaluasi (Kemenkes RI, 2010).

Pengertian Logistik (skripsi dan tesis)

Logistik adalah suatu ilmu mengenai pengadaan, pemeliharaan dan penyediaan transportasi termasuk pelayanan persediaan dalam jumlah yang sangat besar kepada banyak orang ditempat-tempat yang jaraknya berjauhan. Dalam suplai mencakup semua aspek produsen, penyalur ke apotek, toko obat dan sampai pada penggunaan obat dalam hal ini adalah pasien bersangkutan. Menurut Aditama (2003) dalam Badaruddin (2015), kegiatan logistik secara umum ada 3 (Tiga) tujuan yakni:  Tujuan operasional adalah agar supaya tersedia barang serta bahan dalam jumlah yang tepat dan mutu yang memadai. Tujuan keuangan meliputi pengertian bahwa upaya tujuan operasional dapat terlaksanan dengan biaya yang serendahrendahnya. Tujuan pengamanan dimaksudkan agar persediaan tidak terganggu oleh kerusakan, pemborosan, penggunaan tanpa hak, pencurian dan penyusutan yang tidak wajar lainnya, serta nilai yang sesungguhnya dapat tercermin di dalam sistem akuntansi.  Menurut Seto (2004) Kegiatan logistik di Fasilitas Kesehatan dilakukan berdasarkan siklus yang berlangsung terus menerus secara berkesinambungan untuk kepentingan produksi jaya pelayanan kesehatan yang bermutu. Fungsi-fungsi tersebut tergambar dalam suatu siklus manajemen logistik yang satu sama lain saling berkaitan dan sangat menentukan keberhasilan kegitaan logistik dalam organisasi.

Penggerakan (Actuating)

Penggerakan yaitu untuk menggerakan organisasi agar berjalan sesuai dengan pembagian kerja masing-masing serta menggerakan seluruh sumber daya yang ada dalam organisasi agar pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan bisa berjalan sesuai rencana dan bisa mencapai tujuan.

Perencanaan (Planning) (skripsi dan tesis)

Perencanaan yaitu sebagai dasar pemikiran dari tujuan dan penyusunan langkah-langkah yang akan dipakai untuk mencapai tujuan. Merencanakan berarti mempersiapkan segala kebutuhan, memperhitungkan matang-matang apa saja yang menjadi kendala, dan merumuskan bentuk pelaksanaan kegiatan yang bermaksud untuk mencapai tujuan.

Pengertian Manajemen (skripsi dan tesis)

Menurut Siagian (2009), manajemen dapat didefinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Istilah logistik bersumber dari ilmu kemiliteran yang mengandung 2 aspek yaitu perangkat lunak dan perangkat keras. Termasuk perangkat lunak adalah kegiatan-kegiatan yang meliput perencanaan dan pelaksanaan dalam lingkup kegiatan-kegiatan produksi, pengadaan, penyimpanan, distribusi, evaluasi termasuk kontruksi. Sedangkan yang dimaksud perangkat keras adalah personil, persediaan dan peralatan (Mahmud, 2015). The Liang Gie dalam Mawaddah (2016) menjelaskan Manajemen adalah unsur yang merupakan rangkaian perbuatan menggerakkan karyawan-karyawan dan mengarahkan segenap fasilitas kerja agar organisasi yang bersangkutan benar-benar tercapai.

Gantt Chart (skripsi dan tesis)

Bantuan visual yang disebut bagan Gantt atau Gant charts digunakan untuk berbagai tujuan yang berhubungan dengan pembebanan dan penjadwalan. Tujuan dari bagan Gantt adalah untuk mengorganisasi dan secara visual menampilkan penggunaan sumber daya actual atau yang diinginkan dalam sebuah kerangka kerja waktu. Skala waktu diwakili secara horizontal dan sumber daya yang akan dijadwalkan ditampilkan secara vertikal. Penggunaan dan waktu menganggur Dario sumber daya tercerminkan dalam bagan tersebut (Stevenson W. J. & Chuong S.C., 2014:399). Gantt Chart banyak digunakan untuk penjadwalan, budgeting, dan manajemen proyek. Keseluruhan aktivitas ini telah melekat pada kehidupan berorganisasi. Timelines mewujudkan objektivis, asumsi monotemporal tentang waktu dan memungkinkan sub-kelompok kerja dan organisasi dengan perbedaaan asumsi untuk bernegosiasi dan mengolah waktu secara prospektif dan retrospektif. Gantt chart dengan representasi hubungan fakta dengan waktu menjadikannya kontribusi yang paling penting dalam seni manajemen yang dibuat dalam generasi ini. Bagan sederhana ini mempermudah pembaca untuk melihat dan mengatur suatu proyek (Yakura, E. K., 2002:956, Clark, 1922:3, 138). Penjadwalan adalah proses yang penting sekaligus kompleks dalam mengatur aktivitas-aktivitas koordinasi beberapa orang dalam suatu proyek yang besar. Penjadwalan proyek pada umumnya digambarkan dalam suatu bagan Gantt. Bagan Gantt atau Gantt chart sendiri adalah serangkaian aktivitas yang divisualisasi dengan bagan berbentuk batangan (bar chart) disertai suatu timeline berdasarkan kapan mengawali dan mengakhiri kegiatan (Huang, D. et al., 2009:951).

Definisi Penjadwalan (skripsi dan tesis)

Dalam sebuah organisasi, penjadwalan atau scheduling berhubungan dengan penetapan waktu dari penggunaan sumber daya spesifik dari organisasi tersebut. Penjadwalan berhubungan dengan penggunaan perlengkapan, fasilitas, dan aktivitas manusia. Penjadwalan terjadi di dalam setiap organisasi tanpa memandang sifat dari aktivitasnya. Penjadwalan yang efektif dapat menghasilkan penghematan biaya dan peningkatan produktivitas. Selain itu, penjadwalan efektif dapat menghasilkan keuntungan-keuntungan yang lain (Stevenson W. J. & Chuong S.C., 2014:394).

Jenis Warehousing (skripsi dan tesis)

Jenis warehouse dalam rantai apsokan sangat bervariasi, tergantung dari perannya dalam rantai pasokan, diantaranya (Rushton, A., dkk., 2010): a. By the stage in the supply chain, warehouse dikenal sebagai tempat penyimpanan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi. b. By geographic area, contohnya seperti sebuah regional warehouse yang diperuntukkan melayani seluruh dunia atau beberapa negara, warehouse nasional untuk melayani daerah-daerah di seluruh wilayah satu negara, atau warehouse lokal untuk melayani wilayah tertentu. c. By product type, warehouse untuk penyimpanan suku cadang, gudang perakitan (misalnya untuk perakitan mobil), makanan beku, makanan yang mudah rusak (perishable), dan barang-barang yang berbahaya. d. By function, warehouse untuk penyimpanan persediaan, warehouse untuk sortasi (misalnya sebagai hub dari kiriman warehouse pengolahan). e. By ownership, warehouse yang dikelola sendiri oleh penggunanya (misanya produsen atau pengecer) atau warehouse yang dikelola perusahaan penyedia jasa logistik (third-party logistics). f. By company usage, misalnya warehouse khusus untuk satu perusahaan (dedicated warehouse), atau warehouse yang digunakan bersama (sharedwarehouse). g. By area, warehouse dengan luas mulai dari 100 meter persegi atau kurang dan warehouse dengan luas lebih dari 100.000 meter persegi. h. By height, mulai dari warehouse sekitar 3 meter hingga warehouse “highbay” dengan tinggi lebih dari 45 meter. i. By equipment, dari warehouse yang mengoperasikan secara manual atau warehouse dengan operasi otomatis.

Definisi Warehousing (skripsi dan tesis)

Gudang atau warehouse merupakan komponen penting dari rantai pasokan modern. Rantai pasokan melibatkan kegiatan dalam berbagai tahap seperti sourcing, produksi, dan distribusi barang dari penanganan bahan baku dan barang dalam proses hingga produk jadi. Warehouse dapat digambarkan sebagai bagian dari suatu sistem logistik sebuah perusahaan yang berfungsi untuk menyimpan produk dan menyediakan informasi mengenai status serta kondisi material atau persediaan yang disimpan dalam gudang sehingga informasi tersebut selalu up-todate dan mudah diakses oleh siapapun yang berkepentingan. Warehouse merupakan bagian integral dari rantai pasokan. Tren tantangan dalam rantai pasokan seperti peningkatan volatilitas pasar, dan kebutuhan untuk memperpendek lead time pelanggan semua berdampak pada peran yang diharapkan dari adanya gudang (http://supplychainindonesia.com/, Rushton, A., dkk., 2010).

Jenis-Jenis Persediaan (skripsi dan tesis)

Untuk mengakomodasi fungsi-fungsi dari persediaan, perusahaan menetapkan empat jenis persediaan (Heizer dan Render 2013:512): a. Raw material inventory, adalah persediaan tempat menampung bahan baku yang telah dibeli namun belum di proses; b. Work-in-process inventory, adalah komponen-komponen atau bahan mentah yang telah mengalami suatu perubahan bentuk tetapi belum sempurna; c. Maintenance/repair/operating supply inventory (MRO), adalah persediaan yang digunakan untuk menjaga peralatan mesin dan proses produksi tetap produktif. Persediaan ini digunakan untuk keperluan merawat ataupun memperbaiki peralatan (maintenance); d. Finished-goods inventory, adalah persediaan akhir dimana suatu produk telah selesai diproduksi dan menunggu untuk dikirim (shipment). Barang jadi membutuhkan tempat dalam persediaan disebabkan ketidakpastian permintaan konsumen di masa depan.

Fungsi Persediaan (skripsi dan tesis)

Persediaan mempunyai sejumlah fungsi, diantaranya yang paling penting adalah (Stevenson W. J. & Chuong S.C., 2014): a. Untuk memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan; b. Untuk memperlancar persyaratan produksi; c. Untuk memisahkan operasi; d. Untuk perlindungan terhadap kehabisan persediaan; e. Untuk mengambil keuntungan dari siklus pesanan; f. Untuk melindungi dari peningkatan harga; g. Untuk memungkinkan operasi; h. Untuk mengambil keuntungan dari diskon kuantitas. Dalam penelitian ini, fungsi yang lebih ditekankan adalah mengenai untuk perlindungan terhadap kehabisan persediaan, untuk mengambil keuntungan dari diskon kuantitas dan untuk memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan. Fungsi memenuhi permintaan pelanggan yang diperkirakan memiliki arti persediaan yang mampu mengantisipasi untuk memuaskan permintaan yang telah diperkirakan. Fungsi perlindungan terhadap kehabisan persediaan memiliki arti persediaan yang mampu menghindari penundaan yang menyebabkan peningkatan risiko kehabisan produk dalam persediaan (stockout). Fungsi mengambil keuntungan dari diskon kuantitas memiliki arti bahwa pemasok dapat memberikan diskon untuk pesanan besar. Persediaan bahan baku bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian produksi akibat fluktuasi pasokan bahan baku. Persediaan penyangga dan komponen berguna untuk mengurangi ketidakpastian produksi akibat kerusakan mesin. Sementara itu persediaan produk jadi berguna untuk memenuhi fluktuasi permintaan yang tidak dapat dengan segera dipenuhi oleh produksi mengingat untuk produksi dibutuhkan bahan baku (Kusuma, H., 1999:135). Persediaan yang dimiliki perusahaan bertujuan untuk menjaga kelancaran usaha. Bagi perusahaan dagang persediaan barang dagang memungkinkan perusahaan untuk memenuhi permintaan pembeli. Sedangkan bagi perusahaan industri, persediaan bahan baku dan barang dalam proses bertujuan untuk memperlancar kegiatan produksi, sedangkan persediaan barang jadi ditujukan untuk memenuhi kebutuan pasar. Fungsi persediaan terbagi atas empat jenis yaitu : fungsi pemisah wilayah, fungsi decoupling, fungsi penyeimbang dengan permintaan, dan fungsi penyangga (Siagian, 2006:162-163).

Definisi Persediaan (skripsi dan tesis)

Persediaan (inventory) adalah stok atau simpanan barang-barang. Perusahaan biasanya menyimpang ratusan atau bahkan ribuan barang dalam persediaan. Persediaan merupakan bagian vital dari bisnis. Persediaan bukan hanya perlu untuk operasi tetapi juga berkontribusi terhadap kepuasan pelanggan. (Stevenson W. J. & Chuong S.C., 2014:179).

Biaya Transportasi (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa biaya transportasi yang akan dikaji dalam penelitian ini, diantaranya adalah (Ardianto, I.D., 2014): a. Biaya tenaga kerja langsung atau Direct Labor Cost, adalah biaya yang langsung dikeluarkan oleh perusahaan berdasarkan upah yang harus dibayarkan kepada karyawan yang bekerja di lantai produksi. b. Biaya tenaga kerja tidak langsung atau Indirect Labor Cost. c. Biaya lain-lain atau Other Cost. Biaya transportasi dalam penelitian kali ini sama dengan Biaya Operasional Kendaraan (BOK). Biaya Operasional Kendaraan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh seorang pengendara mobil meliputi beberapa komponen yaitu, konsumsi bahan bakar, konsumsi minya pelumas, konsumsi ban, pemeliharaan dan suku cadang, depresiasi, dan asuransi. Dalam analisis BOK, konsumsi bahan bakar menjadi komponen yang paling dominan (Subandriyo, E., dkk., 2014).

Definisi Transportasi (skripsi dan tesis)

Transportasi adalah suatu proses pergerakan atau perpindahan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan mempergunakan suatu sistem tertentu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan cara bergerak dan saling berhubungan. Fungsinya adalah menghubungkan orang dengan tata guna lahan, pengikat kegiatan dan memberikan kegunaan tempat dan waktu untuk komoditi yang diperlukan. (Ritonga, D., dkk., 2015).

Layout dan Dock-Door Assignment (skripsi dan tesis)

Riset sebelumnya ditemukan bahwa bentuk crossdock persegi atau bentuk “I” adalah bentuk yang mengedepankan efisiensi tenaga kerja dibanding bentukbentuk crossdock lainnya (bentuk “I” diperuntukkan crossdock usaha kecil yakni dibawah 150 pintu). Bentuk “T” lebih atraktif apabila digunakan untuk 150-200 pintu, dan untuk kebutuhan lebih dari 200 pintu, bentuk “X” lebih menunjukkan tingkat efisiensi dibanding bentuk lainnya. Tingkat efisiensi bergantung kepada cara trailer dikaitkan dengan pintu dermaga muatan (Luo, G., dan Noble, J.S., 2012, Bartholdi.

Jenis-Jenis Crossdocking (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa jenis dari crossdocking yang pada umumnya dapat diterapkan antara lain (http://logistics.about.com): a. Pre-Packed Cross Docking, kemasan (misalnya pallet, peti, dll) dipilih oleh supplier berdasarkan pesanan dari toko, diterima dan dibawa menuju outbound docks untuk digabungkan dengan kemasan yang sama dari supplier lain untuk dimuat ke dalam kendaraan pengiriman ke toko tanpa proses handling lebih lanjut. b. Intermediate Handling Cross Docking, kemasan diterima, lalu dibuka, kemudian diberi label kembali ke dalam kemasan baru oleh distribution center untuk dikirimkan kembali ke toko. Kemasan baru ini kemudia dikirim ke outbound dock untuk digabungkan dengan kemasan yang serupa dari supplier lain di dalam kendaraan pengiriman. Berikut adalah jenis crossdocking dalam skenario manajemen gudang: a. Manufacturing Cross Docking, jenis ini melibatkan prosedur penerimaan produk pembelian dan produk yang masuk yang dibutuhkan dalam kegiatan manufaktur. Gudang dapat menerima produk dan mempersiapkan subassemblies (rakitan) untuk pesanan produksi. b. Distributor Cross Docking, jenis ini memiliki proses konsolidasi produk yang masuk dari berbagai macam vendor yang berbeda menjadi satu campuran produk pallet yang dimana akan dihantarkan kepada pelanggan ketika bagian akhir dari barang tersebut telah diterima. Contohnya adalah distributor parts computer yang dapat memperoleh bagian-bagian rakitan komputer tersebut dari berbagai macam sumber dan mengombinasikannya menjadi satu kesatuan produk yang kemudian baru dikirimkan ke pelanggan. c. Retail Cross Docking, proses yang melibatkan penerimaan produk dari beberapa vendor dan menyusunnya untuk diarahkan ke truk keluar sesuai dengan jumlah toko ritel yang dituju. Metode ini sebelumnya digunakan oleh Wal-Mart pada tahun 1980. Mereka menyediakan dua jenis produk, produk yang mereka gunakan untuk dijual setiap hari sepanjang tahun disebut dengan staple stock, dan produk dengan kuantitas yang besar yang hanya dibeli sekali dan dijual pada toko-toko yang biasanya tidak dilakukan restock. Procurement pada jenis produk kedua disebut direct freight dan Wal-Mart meminimalisasikan seluruh biaya gudang direct freight dengan menggunakan crossdocking untuk mengurangi penggunaan gudang sekecil mungkin

Definisi Crossdocking (skripsi dan tesis)

Sistem crossdocking diterapkan secara luas dalam industri ritel dan truk untuk mengonsolidasikan pengiriman barang dari berbagai sumber secara cepat dan mempertimbangkan skala ekonomi saat pengeluaran barang keluar (outbound transportation). Crossdocking pada dasarnya digunakan untuk mengeliminasi fungsi tempat penyimpanan dari gudang (warehouse,) namun tetap dapat melakukan fungsi pengiriman (shipping). Ide besarnya adalah memindahkan muatan langsung dari pengiriman yang baru saja tiba kedalam trailer yang akan keluar tanpa menyimpannya dalam gudang pada waktu perpindahan tersebut. Berlandaskan sistem ini, barang-barang yang berada dalam fasilitas tersebut menghabiskan waktu kurang dari 24 jam bahkan kadang kurang dari satu jam. Sistem crossdocking adalah strategi bidang logistik yang penting terutama dalam perusahaan ritel, eceran dan industri-industri yang bergerak dalam bidang distribusi. Crossdocking mampu mengurangi biaya persediaan dan transportasi perusahaan di tengah persaingan harga yang ketat (Luo, G. & Noble, J.S., 2012:1, Bartholdi, J.J., 2003:1). Crossdocking adalah aplikasi dari ilmu logistik dimana memindahkan muatan material dari truk muatan yang datang ke truk muatan yang keluar, baik dengan memanfaatkan tempat penyimpanan maupun tidak sama sekali. Keberadaan konsep Just-in-time menjadikan implementasi operasi crossdock mereposisikan fokus selama ini yaitu warehousing inventory menjadi pengelolaan melalui alur transit dari pemasok langsung tertuju kepada pelanggan. Crossdocking menjadi suatu strategi yang penting untuk meningkatkan performa dari kinerja rantai pasokan dalam hal kecepatan pergerakan barang, persediaan dan respon (Li., Z., dkk., 2011). Konsep crossdocking adalah salah satu strategi distribusi yang pada penerapannya ditujukan untuk melancarkan aliran produk dari pabrik hingga ke ritel. Crossdocking adalah suatu konsep dimana warehouse tidak lagi sebagai tempat penyimpanan persediaan. Pada sistem distribusi crossdocking ini, produk dari pabrik yang tiba di warehouse, dipindahkan ke alat pengiriman yang ada di warehouse dan dikirim ke ritel atau distributor sesegera mungkin, sistem ini meminimasi inventory cost (Mubin, 2003, Levi, 2000). Crossdocking merupakan salah satu teknik logistik yang relatif masih baru, yang digunakan pada pusat distribusi dan industri transportasi. Sistem ini berfungsi untuk mengkonsolidasikan antara produk-produk yang tiba di pusat distribusi untuk selanjutnya dikirim ke ritel dengan memperhatikan faktor waktu dan beban muatan unit transportasi (Mubin, 2003). Crossdocking adalah suatu tipe jaringan operasi hub-and-spoke yang digunakan dalam bidang distribusi barang dari pemasok ataupun manufaktur kepada penjual dan ritel. Melalui proses konsolidasi, pengiriman dari berbagai pemasok tersebut dapat diatur untuk menciptakan full truckload shipments menuju ritel-ritel yang berbeda demi mencapai skala ekonomis transportasi. Segala macam bentuk penundaan (delay) dalam penanganan proses tersebut, dapat mengurangi performa keseluruhan jaringan operasi (Wang, J.F., 2008).

Fungsi-Fungsi Manajemen Logistik (skripsi dan tesis)

Menurut Prihantono, C.R. (2012), fungsi-fungsi manajemen logistik merupakan serangkaian suatu proses yang terdiri dari, (1) fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan, (2) fungsi penganggaran, (3) fungsi pengadaan, (4) fungsi penyimpanan dan penyaluran, (5) fungsi pemeliharaan, (6) fungsi penghapusan, (7) fungsi pengendalian.

Definisi Logistik (skripsi dan tesis)

Logistik adalah manajemen aliran perpindahan barang dari suatu titik asal yang berakhir pada titik konsumsi untuk memenuhi permintaan tertentu, contohnya tertuju kepada konsumen ataupun perusahaan-perusahaan. Jenis barang yang ada dalam bidang logistik terdiri dari benda berwujud fisik seperti makanan, bahanbahan bangunan, hewan, peralatan dan cairan. Sama halnya dengan perpindahan benda tidak berwujud (abstract) seperti waktu, informasi, partikel dan energi. Logistik benda fisik pada umumnya ikut melibatkan integrasi aliran informasi, penanganan bahan, produksi, packaging, persediaan, transportasi, warehousing, dan keamanan. Kompleksitas dalam logistik dapat dianalisa, diuraikan menjadi suatu model, divisualisasikan dan dioptimalisasi dengan simulation software yang ada (Li, X., 2014:1). Logistik adalah proses perencanaan, implementasi dan kontrol yang efisien, alur yang efektif dan penyimpanan barang dan jasa, dan seluruh informasi terkait dari suatu titik asal menuju titik konsumsi demi memenuhi kebutuhan pelanggan. Definisi ini mengikutsertakan inbound, outbound, pergerakan internal dan eksternal, dan return of materials untuk tujuan yang bersifat environmental. Logistik berperan efektif dalam persaingan yang secara luas dakui sebagai suatu kinerja pelayanan pelanggan yang unggul Pencapaian nilai logistik berdasarkan layaran berkualitas tinggi dan pengendalian biaya adalah dimensi penting dari suatu bisnis yang berfokus pada peningkatan perilaku pembelian konsumen (Bowersox, D.J., dkk., 1999). Peran logistik kini telah meluas bukan hanya sekadar memindahkan produk jadi dan bahan, tetapi juga menciptakan keunggulan kompetitif dengan memberikan layanan yang memenuhi permintaan konsumen. Memiliki jasa logistik yang kompetitif sangatlah penting bagi Indonesia dalam upaya membangun konektivitas nasional dan internasional (Salim, Z., 2015, Chapman, et al., 2002). Sektor jasa logistik merupakan sektor yang vital karena perannya dalam mendistribusikan barang dan jasa, mulai dari ekstraksi bahan baku, proses produksi, pemasaran, sampai barang dan jasa tersebut sampai di tangan konsumen (Salim, Z., 2015:147- 148).

Hubungan pemasaran (skripsi dan tesis)

Stanton (2008 : 120) mengatakan bahwa “Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan dan menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan, baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial”. Pemasaran hubungan (relationship marketing) atau pemasaran relasi mempunyai tujuan membangun hubungan jangka panjang yang saling memuaskan dengan pihak-pihak yang memiliki kepentingan utama dalam rangka untuk mendapatkan serta mempertahankan preferensi dan kelangsungan bisnis mereka [Christopher,et al., 1991; McKenna, 1991; Gummeson, 1999 dalam Kotler & Keller, 2012: 20]. Ada empat pihak yang memiliki kepentingan utama, yaitu: pelanggan, karyawan, mitra pemasaran (penyalur, pemasok, distributor, dealer, agen) dan anggota komunitas keuangan (pemegang saham, investor, analis). Pemasar harus menciptakan kemakmuran di antara semua pemilik kepentingan ini dan menyeimbangkan pengembalian ke semua pihak yang berkepentingan. Untuk mengembangkan hubungan yang kuat, perusahaan perlu memahami kebutuhan, keinginan, tujuan serta kemampuan dan sumber daya mereka. Hasil akhir dari pemasaran hubungan adalah terbentuknya aset perusahaan yang unik yang disebut dengan jaringan pemasaran (marketing network), yang terdiri dari perusahaan dan para stakeholder, pendukung (pelanggan, karyawan, pemasok, distributor, pengecer, dan sebagainya) yang dengannya perusahaan membangun hubungan bisnis yang saling menguntungkan. Prinsip operasinya sederhana saja: “Bangunlah suatu jaringan hubungan yang efektif dengan para stakeholder utama, dan profit akan mengikuti.” [Anderson, et al., 1994 dalam Kotler & Keller, 2012: 20]. Perusahaan juga membentuk penawaran, jasa, dan pesan yang terpisah kepada pelanggan individu (individual customers) berdasarkan informasi mengenai transaksi di masa lalu, demografi, psikografis, media serta distribusi preferensi. Dengan berfokus pada pelanggan, produk, dan saluran yang menguntungkan, perusahaan berharap mencapai pertumbuhan yang menguntungkan, menangkap bagian yang lebih besar dari pengeluaran setiap pelanggan dengan membangun loyalitas yang tinggi. Mereka memperkirakan nilai serta merancang penawaran pasar dan harga untuk menciptakan keuntungan bagi pelanggan seumur hidup. Definisi menurut Kotler 2003, hubungan pemasaran mendukung suatu perusahaan untuk menyediakan pelayanan kepada pelanggan secara real time dan menjalin hubungan dengan tiap pelanggan melalui penggunaan informasi tentang pelanggan. Laudon dan Traver et al (2002) hubungan pemasaran menyimpan informasi pelanggan dan merekam seluruh kontak yang terjadi antara pelanggan dan perusahaan, serta membuat profil pelanggan untuk staf perusahaan yang memerlukan informasi tentang pelanggan tersebut. Pada intinya hubungan pelanggan adalah suatu cara untuk melakukan analisa perilaku pelanggan jasa perusahaan. Dari analisa ini akhirnya   perusahaan bisa mengambil cara bagaimana melayani pelanggannya secara lebih personal sehingga efeknya, pelanggan menjadi loyal kepada perusahaan. Target utama hubungan pelanggan memang bukan customer satisfaction tetapi lebih kepada customer loyalty. Pelanggan tidak hanya puas dalam sekali pemakaian produk atau jasa, tetapi juga akan selalu terus menggunakannya.

Faktor-faktor Kecerdasan Emosi (skripsi dan tesis)

Kecerdasan emosional dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: 1. Faktor otak Faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan walaupun individu mempunyai kecenderungan emosi ketika lahir, tetapi rangkaian otak mereka tidak akan kaku pada tingkat tertentu, sehingga mereka dapat mempelajari keterampilan emosional dan sosial baru yang akan menciptakan jalur – jalur baru seta pola biokimia yang lebih adaptif. Arsitektur otak memberi tempat istimewa bagi amigdala sebagai penjaga emosi, penjaga yang mampu membajak otak. Amigdala berfungsi sebagai semacam gedung ingatan emosional. 2. Lingkungan Keluarga Khusunya orang tua memegang peranan penting terhadap perkembangan kecerdasan emosional anak. Lingkungan keluarga merupakan sekolah pertama bagi anak untuk mempelajari emosi. Dari keluargalah seorang anak mengenal emosi dan yang paling utama adalah bagaimana cara orang tua mengasuh dan memperlakukan anak dan itu merupakan tahap awal yang diterima oleh anak dalam mengenal kehidupan ini. 3. Lingkungan Sekolah Guru memegang peranan penting dalam mengembangkan potensi anak melalui teknik, gaya kepemimpinan dan metode mengajarnya sehingga kecerdasan emosi berkembang secara maksimal. Lingkungan sekolah mengajarkan anak sebagai individu untuk mengembangkan keintelektual dan besosial dengan sebayanya, sehingga anak dapat berekspresi secara bebas tanpa terlalu banyak diatur dan diawasi secara ketat. 4. Lingkungan Dan Lingkungan Sosial Dukungan dapat berupa perhatian, penghargaan, pujian, nasihat atau penerimaan masyarakat yang semua itu memberikan dukungan prakits bagi individu. Dukungan sosial diartikan sebagai hubungan interpersonal yang didalamnya satu atau lebih bantuan dalam bentuk fisik atau instrumental, informasi dan pujian (Goleman, 2006).

Definisi Remaja (skripsi dan tesis)

Remaja berasal dari bahasa Latin adolescere yang artinya “tumbuh” atau “tumbuh untuk mencapai dewasa”. Menurut Hurlock istilah adolescence memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik. Pandangan ini didukung oleh Piaget yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama. Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini. Sementara itu, Feldman, Olds, dan Papalia mendefinisikan masa remaja sebagai tahap perkembangan yang merupakan masa transisi antara masa kanakkanak dan masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan baik secara biologis, kognitif, maupun psikososial. Berdasarkan beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas, disimpulkan bahwa secara umum remaja diartikan sebagai salah satu tahap perkembangan yang merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan baik secara biologis, kognitif, maupun psikososial. Masa remaja ini oleh World Health Organization (WHO) dibatasi berdasarkan usia yaitu antara usia 10-20 tahun. Batasan usia ini kemudian dibagi lagi menjadi batasan usia remaja awal 10-14 tahun dan batasan usia remaja akhir 15-20 tahun. Di Indonesia, batasan usia remaja yang dipergunakan dalam sensus penduduk tahun 1980 yang mendekati batasan WHO adalah rentang usia 14-24 tahun (Sarwono, 2011).

Aspek-Aspek Kecerdasan Emosional (skripsi dan tesis)

Komponen dasar dari kecerdasan emosional menurut Goleman Daniel ialah: a. Kesadaran Diri Kesadaran diri yakni kemampuan untuk mengenal dan memilah- milah perasaan, memahami hal yang sedang kita rasakan dan mengapa hal itu kita rasakan, dan mengetahui penyebab munculnya perasaan tersebut, serta pengaruh perilaku kita terhadap orang lain. b. Pengaturan Diri Pengaturan diri ialah menangani emosi sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya satu gagasan, maupun pulih kembali dari tekanan emosi. c. Motivasi Diri Motivasi ialah menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntut kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif, serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi. d. Empati Diri Empati ialah merasakan yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang. e. Keterampilan Sosial 8 Keterampilan Sosial ialah menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim (Goleman, 2002).

Kecerdasan Emosional (skripsi dan tesis)

Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan oleh psikolog Peter Salovey dan John Mayer pada tahun 1990. Salovey dan Mayer menyatakan bahwa kecerdasan emosional ialah himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan (Goleman, 2002).  Menurut Robbins, kecerdasan emosional merujuk pada satu keanekeragaman keterampilan, kapabilitas, dan kompetensi kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam menghadapi tuntutan dan tekanan lingkungan. Kecerdasan emosional bukanlah lawan kecerdasan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, kecerdasan emosional tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan (Goleman, 2002). Menurut Gardner Goleman mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan interpersonal dan intrapersonal ini dinamakan kecerdasan pribadi oleh Gardner dan Daniel Goleman menyebutnya sebagai kecerdasan emosional(Goleman, 1995) Gardner menyatakan bahwa kecerdasan pribadi terdiri dari kecerdasan antar pribadi, yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif. Dan dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi ialah mencakup kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain. Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku (Goleman, 2002). Goleman mengemukakan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi, menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. Skala kecerdasan emosional terdiri dari aspek mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati), bekerjasama dengan orang lain (Goleman,2002).

Pengertian Pendidikan Karakter (skripsi dan tesis)

Pendidikan karakter merupakan sebuah istilah yang semakin hari semakin mendapatkan pengakuan masyarakat Indonesia saat ini. Terlebih dengan dirasakannya berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari perilaku lulusan pendidikan formal saat ini, semisal korupsi, perkembangan seks bebas pada kalangan remaja, narkoba, tawuran, pembunuhan, perampokan oleh pelajar, dan pengangguran lulusan sekolah menengah dan atas. Semuanya terasa lebih kuat ketika negara ini dilanda krisis dan tidak kunjung beranjak dari krisis yang dialami. Karakter merupakan gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian. Kepribadian dibebaskan dari nilai, sementara karakter lekat dengan nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian maupun karakter berwujud tingkah laku manusia yang ditunjukkan ke lingkungan sosial. Karakter, secara lebih jelas mengacu kepada serangkaian sikap(atitudes), perilaku(behaviors), motivasi(motivations), dan keterampilan(skills). Karakter meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, kapasitas intelektual, seperti berpikir kritis dan alasan moral, perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara efektif dalam berbagai keadaan, dan komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya

Penanaman (skripsi dan tesis)

Nilai Penanaman adalah proses (perbuatan atau cara) menanamkan.1 Artinya bagaimana usaha seorang guru menanamkan nilai-nilai dalam hal ini adalah nilai-nilai pendidikan karakter pada peserta didiknya yang dilandasi oleh pemahaman terhadap berbagai kondisi pembelajaran yang berbeda-beda. Nilai berasal dari bahasa latin vale’re yang artinya berguna, mampu akan berdaya, berlaku, sehingga nilai diartikan sebagai sesuatu yang dipandang baik, bermanfaat dan paling benar menurut keyakinan seseorang atau sekelompok orang. Nilai sebagai sesuatu yang abstrak mempunyai sejumlah indikator yang dapat kita cermati, yaitu: a. Nilai memberi tujuan atau arah (goals or purposes) kemana kehidupan harus menuju, harus dikembangkan atau harus diarahkan. b. Nilai memberikan aspirasi (aspirations) atau inspirasi kepada seseorang untuk hal yang berguna, yang baik,yang positif bagi kehidupan. c. Nilai mengarahkan seseorang untuk bertingkah laku (attitudes), atau bersikap sesuai dengan moralitas masyarakat, jadi nilai itu memberi acuan atau pedoman bagaimana seharusnya seseorang harus bertingkah laku. d. Nilai itu menarik (interests), memikat hati seseorang untuk dipikirkan, untuk direnungkan, untuk dimiliki, untuk diperjuangkan dan untuk dihayati. e. Nilai mengusik perasaan (feelings), hati nurani seseorang ketika sedang mengalami berbagai perasaan atau suasana hati, seperti senang, sedih, tertekan, bergembira, bersemangat dan lain-lain. f. Nilai terkait dengan keyakinan atau kepercayaan (beliefs and convictions) seseorang, suatu kepercayaan atau keyakinan terkait dengan nilai-nilai tertentu. g. Suatu nilai menuntut adanya aktivitas (activities), perbuatan atau tingkah laku tertentu sesuai dengan nilai tersebut, jadi nilai tidak berhenti pada pemikiran, tetapi mendorong atau menimbulkan niat untuk melakukan sesuatu sesuai dengan nilai tersebut. h. Nilai biasanya muncul dalam kesadaran, hati nurani atau pikiran seseorang ketika yang bersangkutan dalam situasi kebingungan, mengalami dilema atau menghadapi berbagai persoalan hidup (worries, problems, obstacles).

Pengaruh Nilai Kualitas terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Kualitas produk didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan (Durlanto, Sugiarto & Sitinjak, 2001). Karena persepsi terhadap kualitas merupakan persepsi dari pelanggan, maka tidak dapat ditentukan secara obyektif. Persepsi pelanggan akan melibatkan apa yang penting agar pelanggan karena setiap pelanggan memiliki kepentingan yang berbeda-beda terhadap suatu produk atau jasa.

Pengaruh Nilai Sosial terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Suminto (2000) bahwa kebudayaan sebagai suatu konsep yang luas, yang di dalamnya tercakup adanya sistem dari pranata nilai yang berlaku termasuk tradisi yang mengisyaratkan makna pewarisan norma-norma, kaidah-kaidah, adat istiadat dan harta-harta cultural. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu diketahui bahwa dengan apa yang diungkapkan dalam penelitian Choi et al. (2013) bahwa nilai sosial berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian ulang.

Pengaruh Nilai Emosional terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

David Aaker (1996) mengatakan nilai ekspresi diri merupakan bagian dari nilai emosional. Perbedaan antara nilai emosional dengan nilai ekspresi diri adalah nilai emosional berkaitan dengan perasaan bahagia, nyaman, dan bangga. Sedangkan nilai ekspresi diri berkaitan dengan bagaimana perasaan seseorang mengenai dirinya di mata orang lain maupun diri orang itu sendiri. Nilai emosional berpusat pada diri sendiri sedangkan nilai ekspresi diri berpusat pada publik. Nilai ekspresi diri berkaitan dengan bagaimana pandangan orang lain terhadap seseorang. Contohnya yaitu ekspresi diri yang “Ceria” yang diekpresikan oleh minuman Fanta.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Tjiptono, et al (2004), dimana faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli sepeda motor adalah dilihat dari nilai kualitas, nilai emosional, nilai fungsional dan nilai sosial. Sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Tjiptono (2006) faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan adalah ikatan emosional yang terjalin antara pelanggan dan produsen  setelah pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah. Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu : 1. Nilai emosional, utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif atau emosi positif yang ditimbulkan dari mengkonsumsi produk. Kalau konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang akan dialami konsumen pada saat membeli produk. 2. Nilai sosial, utilitas yang didapat dari kemampuan produk untuk meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu konsumen, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh konsumen 3. Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang. 4. Nilai fungsional adalah nilai yang diperoleh dari atribut produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen nilai ini berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen.

Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Keputusan berarti pilihan, yaitu pilihan dari dua atau lebih kemungkinan. Namun, hampir tidak merupakan pilihan antara yang benar dan yang salah, tetapi yang justru sering terjadi ialah pilihan antara yang ”hampir benar” dan yang ”mungkin salah”. Walaupun keputusan biasa dikatakan sama dengan pilihan, ada perbedaan penting di antara keduanya. Keputusan adalah ”pilihan nyata” karena pilihan diartikan sebagai pilihan tentang tujuan termasuk pilihan tentang cara untuk mencapai tujuan itu, apakah pada tingkat perorangan atau pada tingkat kolektif. Keputusan kaitannya dengan proses merupakan keadaan akhir dari suatu proses yang lebih dinamis, yang diberi label pengambilan keputusan. Keputusan dipandang sebagai proses karena terdiri atas satu seri aktivitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap sebagai tindakan bijaksana. Salusu (2003) mengemukakan bahwa: ”Pengambilan keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi”. Selanjutnya Amirullah (2002) bahwa : “Pengambilan keputusan adalah suatu proses penilaian dan pemilihan dari berbagai alternatif sesuai dengan kepentingan-kepentingan tertentu dengan menetapkan suatu pilihan yang dianggap paling menguntungkan”. Pengambilan keputusan mempunyai arti penting bagi maju mundurnya suatu organisasi, terutama karena masa depan suatu organisasi banyak ditentukan oleh pengambilan keputusan sekarang

Pengertian Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Mangkunegara (2009) bahwa : “Perilaku konsumen sebagai tindakan-tindakan individu yang secara langsung terlibat dalam usaha memperoleh dan menggunakan barang-barang jasa ekonomis termasuk proses pengambilan keputusan yang mendahului dan menentukan tindakan-tindakan tersebut.” Merujuk pada beberapa pengertian tentang perilaku konsumen, maka terlihat bahwa memahami perilaku konsumen bukanlah suatu pekerjaan yang mudah karena banyaknya variabel yang mempengaruhi dan variabel-variabel tersebut saling berinteraksi. Perilaku konsumen merupakan proses yang kompleks dan multi dimensional. Di dalam mempelajari perilaku konsumen ini pemasar tidak hanya berhenti pada perilaku konsumen semata saja namun juga perlu mengkaitkannya dengan strategi pemasaran yang akan disusunnya. Strategi pemasaran yang baik pada hakekatnya didasarkan pada apa yang diinginkan dan dibutuhkan konsumennya. Perusahaan yang mampu memahami perilaku konsumen akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar karena dapat menyusun strategi pemasaran yang tepat yang dapat memberikan kepuasan yang lebih baik dibandingkan pesaing.

Loyalitas Konsumen (skripsi dan tesis)

Loyalitas konsumen merupakan satu kunci penting menuju kesuksesan
bisnis dan menahan biaya konsumen yang telah ada jauh lebih sedikit dibanding
memperoleh konsumen yang baru, karena itu loyalitas konsumen menjadi aset
yang paling berharga bagi sebuah perusahaan. Beberapa penelitian sebelumnya mengungkapkan bahwa loyalitas konsumen mempunyai efek positif terhadap
tingkat profitabilitas perusahaan. Namun, dalam pasar dewasa ini, melaksanakan
loyalitas konsumeen menjadi tugas yang menakutkan. Pemasar harus sepenuhnya
mengerti konsep loyalitas, maka mereka dapat mengetahui hal yang mendahului
loyalitas dan menjalankan loyalitas dari pendahuluan tersebut.
Lovelock dan Wright (2004) mengungkapkan bahwa loyalitas adalah “a
customer’s voluntarily decision to continue patronizing a specific firm over an
extended period of time”. Loyalitas konsumen merupakan keputusan sukarela
pelanggan untuk secara terus menerus menjadi pelanggan pada suatu perusahaan
tertentu untuk jangka waktu yang panjang. Dengan melakukan pembelian secara
terus-menerus terhadap suatu perusahaan tertentu, Lovelock dan Wright sudah
mengkategorikan bahwa konsumen tersebut loyal.
Loyalitas konsumen mempunyai beberapa definisi. Assael (1998: 130)
mendefinisikan loyalitas sebagai “a favorable attitude toward brand resulting in
consistent purchase of the brand over time”. Literatur-literatur pemasaran
menyatakan bahwa loyalitas dapat dipahami dari dua dimensi sebagai berikut
(Jacoby dan Kyner, 1973 seperti dikutip oleh Hallowel, 1996):
1. Loyalty is behavioral, artinya loyalitas dapat dipahami sebagai konsep yang
menekankan pada runtutan pembelian, proporsi pembelian, probabilitas
pembelian (Dick dan Basu, 1994). Pemahaman ini sering disebut
pendekatan keperilakuan (behavioral approach).
2. Loyalty as an attitude, artinya loyalitas dipahami sebagai komitmen
psikologis pelanggan terhadap obyek tertentu (Dharmmesta, 1999).
Pemahaman ini sering disebut sebagai pendekatan attitudinal (attitudinal
approach).
Menurut Lovelock (2001), pengertian loyalitas konsumen adalah
“a customer’s willingness to continue patronizing a firm over long term,
purchasing and using it goods and services on a repeated and
preferably exclusive basis and voluntarily recommending the firm’s
products to friends and associates”.  Lovelock mengemukakan bahwa loyalitas konsumen merupakan keinginan
konsumen untuk terus menjadi pelanggan pada suatu perusahaan untuk jangka
waktu yang panjang, membeli dan menggunakan barang dan jasa perusahaan
tersebut secara terus menerus dan dengan dasar ekslusif yang lebih disukai dan
secara sukarela merekomendasikan produk perusahaan itu pada teman dan kolega.
Jadi menurut Lovelock, konsumen yang loyal tidak hanya melakukan pembelian
secara berulang, namun juga bagaimana konsumen tersebut merekomendasikan
produk atau jasa tersebut pada orang lain.
Lebih lanjut Assael (1998), menyebutkan bahwa loyalitas pelanggan adalah
pembelian ulang karena komitmen pada suatu merk atau perusahaan dimana
inertia (kebiasaan) adalah pembelian ulang tanpa komitmen. Konsumen dapat
melakukan pembelian ulang pada suatu produk dengan banyak alasan daripada
loyal. Sebagai contoh, alternatif harga yang paling murah lebih mudah
menghasilkan pembelian ulang. Banyak juga konsumen yang lain dapat
mengindikasikan loyal sebab tidak ada alternatif. Konsumen yang lain mungkin
saja tidak mencari alternatif (diasumsikan ada beberapa dari mereka) jika provider
lain tidak dapat memenuhi ekspektasi mereka.
Definisi lain dikemukakan Oliver (1997: 394) yaitu loyalitas sebagai
“a deeply held commitment to rebuy or repatronize a preferred
product/service consistently in the future, thereby causing repetitive
same-brand or same brand-set purchasing, despite situational influences
and marketing efforts having the potential to cause switching behavior”.
Definisi yang dikemukakan Oliver ini berfokus pada perilaku seseorang. Dari
sudut pandang perilaku, definisi, dan pengukuran, loyalitas konsumen berdasar
pada bagaimana perilaku konsumen dalam membeli. Ciri khasnya adalah adanya
pembelian yang sering terhadap merek tertentu jika dibanding dengan merek lain
dari sebuah produk atau jasa tertentu maka konsumen tidak akan berpaling ke
merek lain sehingga dikatakan bahwa konsumen tersebut loyal.
Oliver (1997) menjelaskan bahwa loyalitas berguna dalam empat cara
meningkatkan laba: (1) loyalty guarantees a customer base, (2) loyalty allows
more accurate budgeting inside a firm, (3) loyalty allows more strategic planning with the associated advantages that come along and (4) loyalty decreases
marketing cost. Karena hal tersebut, Jacoby dan Chestnut (1978) mengatakan “the
longterm success of the a particular brand is not based on the number of
consumer who purchase it only once, but on the number who become repeat
purchase”.
Kerangka kerja Oliver (1997) mengikuti pola kognitif—afektif—konatif
namun ia memperdebatkan bahwa konsumen dapat menjadi “loyal” pada masingmasing
fase perilaku yang berhubungan dengan elemen-elemen yang berbeda dari
struktur pengembangan perilaku. Secara spesifik, konsumen diteorikan untuk
menjadi loyal pada kesadaran kognitif, lalu selanjutnya pada kesadaran afektif,
masih selanjutnya pada kesadaran konatif, dan akhirnya pada kebiasaan tingkah
laku, yang dideskripsikan sebagai “aksi inersia” (action inertia).
Tahap pertama: Loyalitas Kognitif (cognitive loyalty). Pada fase loyalitas
pertama, informasi atribut merek yang tersedia untuk konsumen mengindikasikan
bahwa satu merek lebih disukai dibanding alternatif lain. Tahap ini menunjuk
pada sebagai loyalitas kognitif, atau loyalitas berdasarkan kepercayaan terhadap
merek saja. Pada tahap ini, konsumen akan menggunakan basis informasi yang
secara memaksa menunjuk pada satu merek atas merek lainnya. Jadi, loyalitasnya
hanya didasarkan pada kognisi.
Tahap kedua: Loyalitas Afektif (affective loyalty). Pada tahap kedua
perkembangan loyalitas, kegemaran atau perilaku terhadap suatu merek telah
terbentuk pada dasar waktu pemakaian yang memuaskan secara kumulatif.
Komitmen pada fase ini menunjuk pada loyalitas afektif dan tebentuk di benak
konsumen sebagai kognitif dan mempengaruhi. Pada tahap ini, loyalitas
konsumen didasarkan atas aspek afektif konsumen (Oskamp, 1991 seperti dikutip
oleh Dharmmesta, 1999).
Tahap ketiga: Loyalitas Konatif (conative loyalty). Konasi mengandung arti
sebuah komitmen untuk membeli ulang suatu merek. Konasi menunjukkan suatu
niat atau komitmen untuk melakukan sesuatu ke arah suatu tujuan tertentu. Oleh
karena itu, loyalitas konatif merupakan suatu kondisi loyal yang mencakup
Pengaruh customer…, komitmen mendalam untuk melakukan pembelian. Komitmen seperti ini sudah
melampaui affect.
Tahap keempat: Loyalitas Tindakan (action loyalty). Aspek konatif atau niat
melakukan adalah kondisi yang mengarah pada kesiapan bertindak dan pada
keinginan untuk mengatasi hambatan untuk mencapai tindakan tersebut. Hal ini
menunjukkan bagaimana loyalitas itu dapat menjadi kenyataan: loyalitas kognitif
􀃆 loyalitas afektif 􀃆 loyalitas konatif 􀃆 loyalitas tindakan (loyalitas yang
ditopang dengan komitmen dan tindakan)
Menurut Zeithaml et al. (1996), tujuan akhir keberhasilan perusahaan
menjalin hubungan relasi dengan pelanggannya adalah untuk membentuk loyalitas
yang kuat. Indikator dari loyalitas yang kuat adalah:
1. Say positive things
2. Recommend to a friend
3. Continue purchasing
Pengertian loyalitas menurut Griffin (1995) adalah “a loyal customer is one
who makes regular repeat purchase, purchase across product and service lines,
refers others and demonstrate an immunity to pull of the competition”. Hal ini
berarti bahwa konsumen yang loyal adalah konsumen yang memiliki ciri-ciri
antara lain:
1. makes regular repeat purchase
menunjukkan bahwa konsumen setia di mana konsumen akan melakukan
pembelian ulang terhadap produk dalam suatu periode tertentu.
2. purchase across producty and service lines
konsumen yang loyal tidak hanya membeli satu macam produk saja
melainkan membeli lini produk dan jasa lain pada badan usaha yang sama.
3. refers to other
menunjukkan bahwa konsumen yang setia akan merekomendasikan halhal
yang positif mengenai produk-produk badan usaha kepada rekan atau
pelanggan lain dan meyakinkan mereka bahwa produk tersebut baik
sehingga mereka juga ikut membeli produk badan usaha tersebut.
4. demonstrates an immunity to the pull of competition

Tipe-Tipe Nilai (skripsi dan tesis)

Masing-masing dari empat tipe utama nilai mempunyai aspek kunci atau
dimensi. Nilai fungsional/instrumental terkait dengan lingkup apakah sebuah
produk (barang atau jasa) mempunyai karakteristik yang diinginkan, berguna, atau
menampilkan fungsi yang diinginkan. Seperti yang disarankan oleh Woodruff
(1997), tiga aspek kunci dari nilai fungsional/instrumental adalah:
1. benar, akurat, atau fitur yang tepat, dungsi, atribut, atau karakteristik (seperti
estetika, kualitas, customization, atau kreativitas);
2. penampilan yang tepat (seperti reabilitas, kualitas kerja, atau hasil dukungan
pelayanan); dan
3. hasil atau konseluensi yang tepat (seperti nilai strategis, efektivitas,
keuntungan operasional, dan keuntungan lingkungan sekitar).
Bukti validitas konseptualisasi ini terlihat pada penerapannya. Beberapa
perusahaan, seperti Rubbermaid, berfokus pada penciptaan fitur dan atribut yang tepat yang menghasilkan keuntungan pada pelanggan. Yang lainnya, seperti Ford,
Sony, dan McDonals, berfokus pada perrforma, sedangkan perusahaan farmasi
seperti Pfizer atau Bayer befokus pada konsekuensi dan hasil akhir yang tepat.
Nilai eksperensial/hedonis terkait dengan lingkup apakah sebuah produk
menciptakan pengalaman, rasa, dan emosi yang tepat bagi pelanggan. Beberapa
organisasi, seperti sebagian besar restoran dan pengusaha retail, berfokus pada
nilai indrawi (seperti estetika, suasana, aroma, rasa/warna). Kebanyakan
organisasi dalam industri perjalanan (travel) dan entertainment berfokus pada
penciptaan nilai emosional (seperti kegembiraan/kesenangan,
permainan/kelucuan, excitement, petualangan, dan humor). Organisasi-organisasi
lain, seperti perusahaan game atau mainan, organisasi jasa profesional, dan
banyak organisasi business-to-business, berfokus pada nilai hubungan sosial
(seperti benefit jaringan atau relasi, keterikatan, interaksi pribadi, membangun
kepercayaan atau komitmen, dan responsivitas). Terakhir, perusahaan-perusahaan
seperti Disney dan beberapa perusahaan travel dan hotel, berfokus pada nilai
epistemik (seperti rasa penasaran, sesuatu yang baru, pengetahuan, atau fantasi).
Nilai simbolis/ekspresif terkait dengan lingkup di mana pelanggan
menghubungkan makna psikologis pada sebuah produk. Beberapa produk (barang
mewah, misalnya) menarik konsep diri dan nilai diri pelanggan—yang berarti
barang tersebut membuat pelanggan merasa dirinya berharga—baik berupa
kepemilikan (mis., membeli pakaian baru) atau berupa pemberian (mis.,
memberikan perhiasan pada pasangan, seperti yang disarankan DeBeers).
Holbrook (1999; 2005) menganggap bagian “kerohanian” ini—sebuah hubungan
dengan diri sendiri—namun Holbrook menganggap kerohanian menjadi “orientasi
lain”.

Kerangka Kerja Nilai Pelanggan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (1995), faktor-faktor yang membentuk customer value
yaitu:
1. Nilai produk (product value)
Variabel nilai dari produk adalah: ciri (features), mutu kinerja
(performance), mutu kesesuaian (conformance), ketahanan (durability),
kehandalan (reliability), mudah diperbaiki (repairability), gaya (style), dan
desain (design) (p. 358).
2. Nilai pelayanan (service value)
Variabel nilai pelayanan adalah sebagai berikut: pengantaran (delivery),
instalasi (instalation), pelatihan pelanggan (customer training), jasa
konsultasi (consulting service), dan perbaikan (repair) (p. 358-360).
3. Nilai personil (personnel value)
Variabel nilai personel terdiri dari: kompeten (competence), sopan
(courtesy), kredibilitas (credibility), dapat diandalkan (reliability), responsif
(responsiveness), dan komunikasi (communication) (p. 360-361).
4. Nilai citra (image value)
Variabel nilai citra terdiri dari: lambang (symbol), media, atmosfir
(atmosphere) dan acara (event) (p. 361-363).
Pada intinya, para pelanggan beroperasi dengan berbagai kendala dan
terkadang membuat pilihan berdasarkan kepentingan pribadinya daripada
kepentingan perusahaan. Tetapi memaksimalkan nilai yang diterima merupakan
acuan bermanfaat yang berlaku dalam banyak situasi dan memberikan banyak
pengertian

Nilai Pelanggan (Customer Perceived Value) (skripsi dan tesis)

Dilihat dari penjelasan mengenai nilai yang telah disebutkan sebelumnya,
maka dapat ditarik hubungan dengan nilai pelanggan yang dipakai dalam
penelitian ini. Jika nilai lebih merupakan keyakinan mengenai cara bertingkah
laku dan tujuan akhir yang diinginkan, dan digunakan sebagai prinsip atau standar
dalam hidup seorang individu, maka nilai pelanggan (customer perceived value)
lebih merupakan prinsip atau standar yang dimiliki suatu perusahaan atau badan
usaha untuk diberikan kepada pelanggannya.
Tujuan utama suatu bisnis adalah menciptakan konsumen karena konsumen
merupakan masa depan dan kesuksesan dari suatu bisnis serta fungsi dasar utama
dari suatu bisnis adalah pemasaran dan inovasi. Pada kenyataannya, tugas pertama
sebuah perusahaan adalah untuk menciptakan pelanggan dan pelanggan itu sendiri
selalu dihadapkan pada beraneka ragam pilihan produk, merek, dan harga. Pada
intinya, pelanggan selalu menginginkan nilai maksimal dari suatu penawaran,
dengan dibatasi biaya pencarian serta pengetahuan, mobilitas, dan penghasilan
yang terbatas. Karenanya usaha untuk menciptakan suatu nilai pelanggan
(customer perceived value) yang tertinggi sangat penting dalam memenuhi
harapan pelanggan, mempengaruhi kepuasannya serta menarik pelanggan.
Memberi nilai tertinggi bagi pelanggan merupakan suatu faktor yang sangat
penting bagi kesuksesan suatu perusahaan baik untuk masa kini maupun masa
yang akan datang. Hal ini telah memberikan dampak yang sangat signifikan
berupa implikasi positif terhadap loyalitas perilaku, juga bagi para manajer
pemasaran dalam mencapai suatu kinerja pemasaran yang terbaik.
Istilah nilai pelanggan mempunyai banyak pengertian (Woodall, 2003),
namun ada dua yang mendominasi—nilai untuk pelanggan (customer perceived
value atau customer received value) dan nilai untuk perusahaan (nilai untuk
pelanggan, sekarang biasanya disebut sebagai nilai seumur hidup pelanggan).
Woodruff mendefinisikan nilai pelanggan sebagai “preferensi yang diterima

Nilai (skripsi dan tesis)

Sejumlah ahli ilmu pengetahuan yang tertarik dengan tingkah laku manusia,
sejak lama telah tertarik dengan konsep nilai (mis, Kluckhohn, 1951; Allport,
1960; Rokeach, 1973; Schwartz, 1992, 1994; Feather, 1994, 1995). Kluckhohn
(dalam Zavalloni, 1975) sebagai seorang antropolog, misalnya, sejak tahun 1951
telah mendefinisikan nilai sebagai:
“… a conception explicit or implicit, distinctive of an individual or
characteristic of a group, of the desirable which influence the penting yang menurut Zavalloni (1975) perlu diperhatikan dalam
pemahaman tentang nilai adalah, nilai seseorang dapat sama seperti nilai semua
orang lainnya, sama dengan sebagian orang, atau tidak sama dengan semua orang
lain. Definisi Kluckhohn di atas menggambarkan bahwa nilai selain mewakili
keunikan individu, juga dapat mewakili suatu kelompok tertentu.
Untuk memahami pengertian nilai secara lebih dalam, berikut ini akan
disajikan sejumlah definisi nilai dari beberapa ahli (Nilai,
http://rumahbelajarpsikologi.com).
“Value is an enduring belief that a specific mode of conduct or
end-state of existence is personally or socially preferable to an
opposite or converse mode of conduct or end-state of
existence.” (Rokeach, 1973 hal. 5)
“Value is a general beliefs about desireable or undesireable
ways of behaving and about desireable or undesireable goals
or end-states” (Feather, 1994 hal. 21)
Lebih lanjut Schwartz (1994) juga menjelaskan bahwa nilai adalah (1)
suatu keyakinan, (2) berkaitan dengan cara bertingkah laku atau tujuan akhir
tertentu, (3) melampaui situasi spesifik, (4) mengarahkan seleksi atau evaluasi
terhadap tingkah laku, individu, dan kejadian-kejadian, serta (5) tersusun
berdasarkan derajat kepentingannya. Penjelasan Schwartz terlihat pada kutipan
berikut: “Value as desireable transsituatioanal goal, varying in importance, that
serve as guiding principles in the life of a person or other social entity” (hal. 21).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, terlihat kesamaan pemahaman
tentang nilai, yaitu (1) suatu keyakinan, (2) berhubungan dengan cara bertingkah
laku dan tujuan akhir tertentu. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai adalah suatu keyakinan mengenai cara bertingkah laku dan tujuan akhir yang diinginkan
individu, dan digunakan sebagai prinsip atau standar dalam hidupnya.

Nilai Emosional (skripsi dan tesis)

Nilai emosional (emotional value) yaitu utilitas yang berasal dari perasaan atau efektif/emosi positif yang ditimbulkan dari mengkonsumsi produk. (Sweeney & Soutar, 2001). Nilai emosional merupakan kepuasan emosional dan kesenangan yang diperoleh konsumen melalui penggunaan atau konsumsi barang atau jasa tertentu. Beberapa contoh diantaranya, meliputi menonton opera, beroloahraga, memancing, berlibur ke tempattempat eksotis, naik roller coaster dan memanjat tebing. Perusahaan dituntut untuk memberikan pengalaman menyenangkan yang menarik kepada konsumen agar konsumen merasa puas akan produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan. Menurut Aisyah (2004: 35) “Nilai emosional merupakan perasaan atau tanggapan konsumen pada saat ingin melakukan keputusan pembelian pada dasarnya hanya merupakan sedikit perhatian untuk mencapai nilai kepuasan diri dari penggunaan produk tersebut”. Sedangkan menurut Surachman (2008: 22), nilai emosional diperoleh jika pelanggan mengalami perasaan positif ada saat membeli atau menggunakan suatu merek, berarti merek tersebut memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif yang akan dialami oleh pelanggan pada saat membeli produk.

Nilai Fungsional (skripsi dan tesis)

 

Menurut Park (2003: 173) nilai fungsional merupakan penilaian pelanggan yang rasional, karena nilai dihubungkan dengan fungsi produk dan efisiensi bagi pelanggan. Nilai fungsional ritel meliputi pelayanan cepat, penilaian atas atau persepsi yang mencerminkan biaya bagi pelanggan, lokasi, dan kebersihan. Harga masih menjadi faktor dominan dalam penilaian fungsional. Menurut Guerin (2003) harga merefleksikan value of money. Dan uraian Guerin (2003) tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai fungsional meliputi harga, kualitas, dan kuantitas. Nilai yang paling mudah dilihat adalah nilai fungsional, yaitu nilai yang di peroleh dari kualitas produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen. Menurut Oesman (2010) mengemukakan bahwa nilai fungsional berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen. Jika memiliki keunggulan secara fungsional, maka sebuah merek mendominasi kategori. Menurut Surachman (2008:22): Nilai fungsional yakni nilai yang diperoleh dari atribut produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional pada pelanggan. Nilai tersebut berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk layanan kepada pelanggan.

Kualitas Layanan (skripsi dan tesis)

 

Menurut Rangkuti (2006: 47) definisi pelayanan adalah penyampaian jasa yang akan melebihi tingkat kepentingan pelanggan. Menurut Tjiptono (2007: 52), kualitas pelayanan adalah kemampuan penyedia jasa untuk menyampaikan jasa yang memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan. Menurut Gronroos (1984: 121), kualitas pelayanan dikelompokkan ke dalam 2 kategori, yaitu kualitas teknis dan kualitas fungsional. Kualitas teknis menyangkut pada apa yang benar-benar didapatkan pelanggan dari pelayanan yang diberikan. Kualitas fungsional lebih kepada keprihatinan pada pelayanan.Dari beberapa definisi mengenai kualitas pelayanan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan adalah pemberian jasa kepada pelanggan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan

Proses untuk Mendapatkan ISO 9001:2015 (skripsi dan tesis)

Proses untuk Mendapatkan ISO 9001:2015 Bagi Kontraktor
Kontraktor yang ingin mendapatkan sertifikat ISO 9001:2015 dapat
mengikuti langkah-langkah yang secara garis besar sebagai berikut (Gaspersz,
2001):
1. Adanya komitmen dari pimpinan puncak.
Tanpa komitmen dari pimpinan puncak, implementasi sistem manajemen
mutu ISO 9001:2015 tidak mungkin serta sangat sulit dilakukan.
2. Membentuk komite pengarah atau koordinator ISO.
Komite berfungsi mengangkat atau menunjuk salah satu atau lebih auditor
internal untuk ISO 9001:2015. Auditor internal merupakan orang yang
dilatih terlebih dahulu sebagai penilai. Komite pengarah juga berfungsi
sebagai sumber informasi dan penasihat yang berkaitan dengan sistem
manajemen mutu ISO 9001:2015. Komite ini juga akan memantau proses
agar sesuai dengan persyaratan standar dalam sistem manajemen mutu ISO
9001:2015.
13
3. Mempelajari persyaratan-persyaratan standar dari sistem manajemen mutu
ISO 9001:2015.
4. Mengimplementasikan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015.
Pengimplementasian sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 berpedoman
pada persyaratan standar dari klausal/elemen 1 sampai dengan elemen 10.
5. Audit sistem manajemen mutu perusahaan secara internal
Manajemen dalam hal ini auditor internal melakukan audit terhadap sistem
manajemen mutu perusahaan, sehingga telah terbukti persyaratan standar
dari sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 telah terpenuhi.
6. Memilih registrasi
Setelah manajemen yakin dan percaya bahwa sistem manajemen mutu
organisasi telah memenuhi persyaratan standar sistem manajemen mutu
ISO 9001:2015 maka manajemen perlu memilih registrar untuk mulai
melakukan penilaian. Biasanya registrar akan meninjau ulang dan
memberitahukan tentang kelengkapan dokumen perusahaan. Pada tahap ini
apabila masih ada kekurangan, dokumen itu harus diperbaiki dan
dilengkapi.
7. Registrasi
Jika sistem manajemen mutu ISO 9001:2015 yang diimplementasikan
dalam organisasi telah sesuai dengan persyaratan, dan oleh karena itu
dinyatakan lulus dalam penilaian, kepada organisasi itu akan diberikan
sertifikat ISO 9001:2015

Manfaat Penerapan ISO 9001:2015 (skripsi dan tesis)

Manfaat dari penerapan ISO 9001:2015 yang telah diperoleh oleh perusahaan diantaranya sebagai berikut (Gaspersz, 2006). 1. Menempatkan penekanan lebih besar pada keterlibatan 2. Membantu menunjukan resiko pada organisasi dan memberikan peluang yang tersrtuktur 3. Menggunakan Bahasa yang disederhanakan dan struktur umum dan istilah, sangat bermanfaat untuk organisasi yang menggunakan beberapa sistem manajemen 4. Mengarahkan manajemen rantai pasokan yang lebih efektif 5. Lebih User-Friendly untuk layanan dan organisasi berbasis pengetahuan

Pengertian ISO 9001 : 2015 (skripsi dan tesis)

Dalam kaitan ini ISO (International Organization for Standardization) adalah suatu badan standar dunia yang dibentuk untuk meningkatkan perdagangan internasional yang berkaitan dengan barang dan jasa. ISO merupakan organisasi internasional yang bertanggung jawab dalam penyusunan standar baru ataupun revisi ISO standar yang telah ada. Standar yang dikeluarkan oleh ISO, dipersiapkan oleh Technical Committee yang mewakili organisasi serta kalangan industri. ISO membawahi sejumlah badan sertifikasi nasional yang terdiri dari 135 negara atau lebih di seluruh dunia. Pada umumnya, ISO terkait dengan mutu produk maupun jasa, standar-standar yang telah ditetapkan akan ditinjau kembali dalam kurun waktu 3 tahun untuk memastikan standar tersebut masih relevan dengan perkembangan dunia usaha. Standar yang ditetapkan oleh ISO tidak bersifat teknis pelaksanaan, tetapi merupakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan dalam penerapannya (Silaban, 2011). Berbagai standar telah dikeluarkan oleh ISO antara lain untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Jenis-jenis standar yang sudah dikeluarkan antara lain (Silaban, 2011). 1. ISO 14000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu organisasi yang berkaitan dengan tanggung jawabnya terhadap lingkungan. 2. ISO 22000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu organisasi yang memproduksi makanan/minuman yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap keamanan konsumsi para konsumen (Food Safety). 3. ISO 27000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan sistem informasi suatu usaha yang berkaitan dengan tanggung jawab terhadap pengamanan dan keselamatan informasi (Information Security). 4. OHSAS 18000, merupakan standar internasional bagi pelaksanaan suatu proyek yang berkaitan dengan tanggung jawab proyek tersebut terhadap keselamatan dan kesehatan kerja bagi personil yang terlibat didalamnya. 5. ISO 9000 adalah standar internasional yang merupakan persyaratan yang digunakan dalam penerapan sistem manajemen mutu perusahaan. 8 Untuk standar ISO 9000 dibuat oleh “TC-176”, dan telah mengeluarkan tiga seri ISO 9000 yang lebih dikenal dengan “The ISO 9000 Family” (Keluarga ISO 9000), yaitu sebagai berikut (Silaban, 2011). 1. ISO 9000; Sistem Manajemen Mutu – Dasar-Dasar dan Kosakata (“Quality Management System – Fundamentals and Vocabulary”), berisikan tentang dasar-dasar dan konsep sistem manajemen mutu dan kosakata beserta definisi yang digunakan dalam setiap serinya. 2. ISO 9001; Sistem Manajemen Mutu – Persyaratan (“Quality Management System – Requirements”), berisikan standar yang diterbitkan oleh organisasi internasional yang mencakup persyaratan manajemen mutu yang harus dipenuhi dalam penerapan sistem manajemen mutu yang terdapat di dalam ISO 9001 lebih menekankan pada pendekatan proses. 3. ISO 9004; Sistem Manajemen Mutu – Petunjuk untuk Peningkatan secara Berkelanjutan (“Quality Management System Guidelines for Performance Improvements”), merupakan pedoman organisasi untuk mencapai kesempurnaan melalui peningkatan secara berkelanjutan (Continual Improvement). Selanjutnya, ISO 9001 merupakan standar internasional yang mengatur sistem manajemen mutu (quality management system). Oleh karena itu, sering kali disebut sebagai “ISO 9001, QMS”. Tulisan 2015 menunjukkan tahun revisi sehingga ISO 9001:2015 adalah sistem manajemen mutu ISO 9001 hasil revisi tahun 2015. Secara garis besar ISO 9001:2015 tidak terlalu jauh berbeda dengan pendahulunya, yaitu ISO 9001:2008. Adapun perbedaan antara versi 2008 dan 2015 secara signifikan pada pendekatan proses yang menggabungkan siklus PDCA (Plan-Do-Check-Action) dengan ‘risk-based thinking’. ISO 9001:2015 bukan merupakan standar produk, karena tidak menyertakan persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh produk (barang/jasa). Tidak ada kriteria penerimaan produk dalam ISO 9001:2015, sehingga kita tidak dapat menginspeksi suatu produk terhadap standar-standar produk. ISO 9001:2015 hanya merupakan standar sistem manajemen mutu. Dengan demikian apabila ada perusahaan yang mengiklankan bahwa produknya telah  memenuhi standar internasional, itu adalah hal yang keliru, karena seyogyanya manajemen perusahaan hanya boleh menyatakan bahwa sistem manajemen mutu yang telah memenuhi standar internasional, karena tidak ada kriteria pengujian produk dalam ISO 9001:2015 (Gaspersz, 2011).

Pengertian Sistem Manajemen Mutu (skripsi dan tesis)

Sistem manajemen mutu merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi serta praktik-praktik standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin 6 kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang/jasa) terhadap kebutuhan dan persyaratan tertentu (Gasperz, 2006). Sistem manajemen mutu memberi gambaran bagaimana organisasi menerapkan praktik-praktik manajemen mutu secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari manajemen mutu antara lain (Gasperz, 2006): 1. Sistem manajemen mutu berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja. 2. Sistem manajemen mutu berlandaskan pada pencegahan terhadap kesalahan-kesalahan yang akan timbul. 3. Sistem manajemen mutu mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (customer), hasil-hasil (output), proses-proses (processes), masukan-masukan (input), pemasok (suppliers), dan pengukuran umpan balik dan umpan maju (measurements for feedback and feedforward). Dalam sistem manajemen mutu sering terdengar istilah Quality Control dan Quality Assurance. Quality Control adalah kegiatan teknik dan kegiatan memantau, mengevaluasi dan menindaklanjuti agar persayaratan yang telah ditetapkan tercapai, sedangkan istilah Quality Assurance berarti semua tindakan terencana dan sistematis yang diterapkan, untuk meyakinkan pelanggan bahwa proses hasil kerja kontraktor akan memenuhi persyaratan. Dalam mengontrol kualitas produk yang dihasilkan, harus mempersiapkan dokumen–dokumen yang berupa panduan–panduan kerja secara tertulis, serta catatan/rekaman hasil kerja. Dalam setiap lingkungan, pelaksanaan proses yang konsisten merupakan kunci untuk peningkatan terus menerus yang efektif agar selalu memberikan produk (barang/jasa) yang memenuhi harapan pelanggan atau pasar

Pengertian Mutu (skripsi dan tesis)

Kata mutu memiliki banyak definisi yang berbeda, dari yang konvensional sampai yang lebih strategik. Pengertian mutu ditinjau dari definisi konvensional pada umumnya menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk seperti: performansi, keandalan, mudah dalam penggunaan, dan sebagainya. Sedangkan pengertian mutu ditinjau dari definisi strategik menyarankan bahwa mutu adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. (Gasperz, 2006). Di samping pendapat tersebut para pakar mutu telah mencoba mendefinisikan mutu sebagai berikut (Tjiptono dan Diana, 2003): 1. Menurut Joseph Juran, mutu adalah kecocokan pengguna produk (fitness for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. 2. Menurut Philip B. Crosby, mutu adalah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan standar yang disyaratkan atau distandarkan. 3. Menurut Feigenbaum, mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya (full customer satisfaction). 4. Menurut Garvin, mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Berdasarkan uraian di atas terdapat beberapa elemen yang membahas mengenai definisi mutu/kualitas yang diterima secara universal dan dari definisi yang telah ada dapat dilihat beberapa persamaannya diantaranya adalah: 1. Mutu meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. 2. Mutu mencakup produk, jasa manusia, proses dan lingkungan. 3. Mutu merupakan kondisi yang selalu berubah.

Fungsi-fungsi yang terkait dalam Sistem Akuntansi (skripsi dan tesis)

Penggajian Fungsi-fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi penggajian adalah sebagai berikut: 1. Fungsi kepegawaian Bagian ini bertanggungjawab untuk mencari karyawan baru, menyeleksi calon karyawan baru, membuat surat keputusan tarif gaji, mutasi karyawan, kenaikan pangkat dan golongan gaji, memberhentikan karyawan dan memonitoring statusstatus dalam penggajian. 2. Fungsi pencatat waktu Bagian ini bertanggungjawab untuk menyelenggarakan waktu hadir bagi semua karyawan perusahaan atau instansi, sistem pengendalian intern yang baik mensyaratkan fungsi pencatatan waktu hadir karyawan tidak boleh dilaksanakan oleh fungsi operasi atau oleh fungsi pembuat daftar gaji dan upah. 3. Fungsi pembuat daftar gaji dan upah Bagian ini bertanggungjawab untuk membuat daftar gaji dan upah yang berisi penghasilan bruto yang menjadi hak dan berbagai potongan yang menjadi beban setiap karyawan selama jangka waktu pembayaran gaji. daftar gaji diserahkan oleh pembuat daftar gaji kepada fungsi akuntansi guna pembuatan bukti kas keluar yang dipakai sebagai dasar untuk pembayaran gaji kepada pegawai.

Elemen-Elemen Sistem Akuntansi Penggajian (skripsi dan tesis)

Dalam sistem penggajian terdapat beberapa elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem didalamnya. Elemen-elemen tersebut saling berkaitan dan saling mendukung satu sama lain membentuk sebuah sistem penggajian yang baik, elemen-elemen tersebut diantaranya: fungsi-fungsi yang terkait, prosedurprosedur yang digunakan, dokumen yang digunakan, catatan akuntansi yang digunakan, laporan yang dihasilkan, serta sistem pengendalian intern yang digunakan. 

Pengertian Sistem Akuntansi Penggajian (skripsi dan tesis)

Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan digunakan untuk mengatasi kesalahan dan penyimpangan dalam perhitungan dan pembayaran gaji dan upah.Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan dirancang oleh perusahaan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai gaji dan upah karyawan sehingga mudah dipahami dan mudah digunakan. Menurut Mulyadi (2010:17) menyatakan bahwa Sistem akuntansi penggajian dan pengupahan dirancang untuk menangani transaksi perhitungan gaji dan upah karyawan dan pembayarannya, perancangan sistem akuntansi penggajian dan pengupahan ini harus dapat menjamin validitas, otorisasi kelengkapan, klasifikasi penilaian, ketepatan waktu dan ketepatan posting serta ikhtisar dari setiap transaksi penggajian dan pengupahan.

Sistem Akuntansi Penggajian (skripsi dan tesis)

Mulyadi (2001:373) menyebutkan bahwa Gaji umumnya merupakan pembayaran atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan yang mempunyai jenjang jabatan manajer yang dibayarkan secara tetap per bulan, sedangkan upah pada umumnya merupakan pembayaran atas penyerahan jasa yang dilakukan oleh karyawan pelaksana (buruh) yang dibayarkan berdasarkan hari kerja, jam kerja atau jumlah satuan produk yang dihasilkan oleh karyawan.

Sistem Penggajian (skripsi dan tesis)

Di dalam menerapkan sistem penggajian, Pegawai Negeri Sipil mempunyai sistem yang dinamakan sistem skala gabungan sistem ini merupakan perpaduan antara sistem skala tunggal dan sistem skala ganda. Dalam sistem skala gabungan besarnya gaji pokok pegawai negeri yang berpangkat sama di tentukan sama pula, di samping itu di berikan tunjangan kepada pegawai negeri yang memikul beban kerja, resiko dan tanggung jawab yang di jalankan (IG. Wursanto 2007:56). Sistem ini hanya mungkin dilaksanakan dengan memuaskan apabila ada analisis, klasifikasi, dan evaluasi jabatan atau pekerjaan yang lengkap. Sedangkan sistem penggajian di Dinas Perhubungan dan LLAJ Jawa Timur berdasarkan buku Perjanjian Kerja Bersama Bab IV pasal 49 tentang penghasilan dan kesejahteraan, sistem penggajian sama dengan yang di terapkan oleh Pegawai Negeri Sipil. Tetapi yang menjadi berbeda adalah skala gaji yang di peroleh pegawai Dinas Perhubungan dan LLAJ Jawa Timur. Penetapan gaji pokok yang lebih besar 10% dari skala gaji Pegawai Negeri Sipil yang berlaku. Jadi pegawai Dinas Perhubungan dan LLAJ Jawa Timur lebih besar gajinya daripada gaji Pegawai Negeri Sipil.

Pengertian Sistem Informasi Manajemen (skripsi dan tesis)

Menurut Davis (2010:3) sistem informasi manajemen adalah sebuah sistem manusia atau mesin yang terpadu (integrated) untuk menyajikan informasi guna mendukung fungsi operasi, menejemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi. Sedangkan menurut Moekijat (2009:17) berpendapat bahwa sistem informasi manajemen adalah jaringan prosedur pengolah data oleh suatu organisasi dan disatukan apabila dipandang perlu dengan maksud memberikan data yang bersifat intern maupun data yang bersifat ekstern untuk dasar pengambilan keputusan dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Sistem informasi manajemen didalam pelaksanaanya menggunakan beberapa komponen yaitu perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) komputer, berkas file atau sekumpulan data yang tersimpan baik, 17 prosedur atau pedoman di dalam pengoperasian sistem informasi, manusia atau (brainware) atau manusia yang terlibat di dalam pengoperasian sistem informasi.

Komponen Fisik Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

a. Perangkat keras komputer : CPU, Storage, perangkat Input/Output, Terminal untuk interaksi, Media komunikasi data, b. Perangkat lunak komputer : perangkat lunak sistem (sistem operasi dan utilitinya), perangkat lunak umum aplikasi (bahasa pemrograman), perangkat lunak aplikasi (aplikasi sistem penggajian, dll), c. Basis data : penyimpanan data pada media penyimpan komputer, d. Prosedur : langkah-langkah penggunaan sistem, e. Personil untuk pengelolaan operasi (SDM), meliputi: 1) Clerical personnel : untuk menangani transaksi dan pemrosesan data dan melakukan (inquiry) operator, 2) First level manager : untuk mengelola pemrosesan data didukung dengan perencanaan, penjadwalan, identifikasi situasi out-ofcontrol dan pengambilan keputusan level menengah ke bawah, 3) Staff specialist : digunakan untuk analisis untuk perencanaan dan pelaporan, 4) Management : untuk pembuatan laporan berkala, permintaan khsus, analisis khusus, laporan khsusus, pendukung identifikasi masalah dan peluang, f. Aplikasi : yaitu pemrograman yang mengarah kepada prosedur pengoperasian.

Pengertian Sistem Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Al Bahra Bin Ladja Mudin (2012:14) sistem informasi adalah suatu sistem di dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan yang diperlukan. Sedangkan Menurut Gordon B Davis dalam bukunya Hanif Al Fatta (2010:9) sisten informasi adalah data yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendatang. Definisi sistem informasi adalah sebuah sistem yang terintegrasi antara sistem manusia dan mesin, untuk menyediakan informasi untuk mendukung operasi manajemen dalam suatu organisasi. Sistem ini memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, prosedur manual, model manajemen dan basis data. Berbasis komputer dan sistem manusia dan mesin, berbasis komputer adalah perancang harus memahami pengetahuan komputer dan pemrosesan informasi. Sistem manusia mesin adalah adanya interaksi antara manusia sebagai pengelola dan mesin sebagai alat untuk memproses informasi. Ada proses manual yang harus dilakukan manusia dan ada proses yang terotomasi oleh mesin. Oleh karena itu diperlukan suatu prosedur atau manual sistem

Sistem Klasifikasi (skripsi dan tesis)

Sistem Klasifikasi  lebih dikenal juga dengan sistem terotomasi, sistem otomatisasi adalah sistem buatan manusia dan dengan menggunakan komputer sebagai media sistem. Sistem otomatisasi mempunyai sejumlah komponen yaitu ; a. Perangkat keras (CPU, disk, printer). b. Perangkat lunak (sistem operasi, sistem database, program pengontrol komunikasi, program aplikasi). c. Personil (yang mengoperasikan sistem, menyediakan masukan, mengkonsumsi keluaran dan melakukan aktivitas manual yang mendukung sistem). d. Data (yang harus tersimpan dalam sistem selama jangka waktu tertentu). e. Prosedur (instruksi dan kebijakan untuk mengoperasikan sistem). Sistem otomatisasi juga mempunyai beberapa kategori, kategori ini melengkapi di dalam media komputer. Kategori sistem ini sebagai penghubung komputer server dengan komputer yang lain, katagori sistem otomatisasi yaitu : a. On-line sistem. Sistem on-line adalah sistem yang menerima langsung masukan (input) yang berupa data pada area dimana masukan tersebut direkam dan menghasilkan keluaran (output) yang dapat berupa hasil komputerisasi pada area dimana mereka dibutuhkan. Area sendiri dapat dipisah-pisah dalam skala, misalnya ratusan kilometer. Biasanya digunakan bagi reservasi kereta api, perbankan dll. 12 b. Real-time sistem. Sistem real-time adalah mekanisme pengontrolan, perekaman data, pemrosesan yang sangat cepat sehinga keluran (output) yang dihasilkan dapat diterima dalam waktu yang relatif sama. Perbedaan dengan sistem on-line adalah satuan waktu yang digunakan real-time biasanya seperseratus atau seperseribu detik sedangkan on-line masih dalam skala detik atau bahkan kadang beberapa menit. Perbedaan lainnya, on-line biasanya hanya berinteraksi dengan pemakai, sedangkan real-time berinteraksi langsung dengan pemakai dan lingkungan yang dipetakan.