Kualitas Pelayanan


Secara tradisional, kualitas layanan telah dikonseptualisasikan sebagai
perbedaan antara harapan pelanggan mengenai layanan yang akan diterima
dan persepsi layanan yang diterima (Setiawan and Sayuti, 2017). Dalam
penelitian sebelumnya, kualitas layanan berkaitan dengan sejauh mana
layanan dapat memenuhi kebutuhan atau harapan pelanggan (Dotchin &
Oakland, 1994). Ini juga telah dikonseptualisasikan sebagai kesan umum
konsumen tentang kerugian atau keuntungan relatif terhadap layanan
kepuasan (Zeithaml, Berry, dan Parasuraman, 1990). Kewajaran harga
juga sering menjadi pertimbangan bagi pelanggan, karena harga suatu
produk atau jasa mempengaruhi kepuasan pelanggan (Githiri, 2018;
Hanaysha, 2016). Dari injauan komprehensif studi kualitas layanan,
Asubonteng, McCleary, dan Swan (1996) menyimpulkan bahwa jumlah
dimensi kualitas layanan bervariasi di industri yang berbeda. Kettinger dan
Lee (1994) mengidentifikasi empat dimensi dalam studi kualitas sistem
informasi (SI), yang tidak memiliki dimensi nyata. Beberapa dimensi yang
dicantumkan untuk mengukur kualitas pelayanan ini adalah sebagai
berikut :

  1. Tangible atau Berwujud
    Menurut (Pakur’ar dkk, 2019) Dikarenakan pelanggan akan menilai
    kualitas dari layanan yang diberikan oleh organisasi, berbentuk atau
    berwujud menjadi citra fisiknya. Nguyen, dkk pada tahun 2018 dan
    Al-ababneh dkk. (2018) menyebutkan tangibles sebagai perasaan
    senang yang dapat dirasakan dari toko peralatan fisik dan fasilitas
    yang disediakan, termasuk penampilan dari karyawan atau personel.
  2. Reliability atau Keandalan
    Keandalan artinya kemampuan untuk melakukan layanan secara
    akurat (Nguyen dkk, 2018). Keandalan juga dianggap sebagai
    kemampuan penyedia produk atau layanan untuk melakukan sesuai
    dengan apa yang dijanjikan sebelumnya atau dengan kata lain tepat
    (Al-Ababneh dkk, 2018).
  3. Responsiveness atau Ketanggapan
    Ketanggapan adalah ketika perusahaan bersedia membantu
    pelanggan mereka secara akurat (Nguyen dkk, 2018) dan memberi
    mereka layanan yang cepat (Al-ababneh dkk, 2018). Dengan
    menginformasikan pelanggan waktu layanan akan diberikan.
  4. Assurance atau Jaminan
    Assurance adalah kesopanan, kompetensi dan kemampuan personel
    untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan (Nguyen dkk, 2018 ).
    Selain itu, Al-Ababneh dkk, (2018) menyatakan bahwa Jaminan
    adalah kondisi ketika karyawan memiliki kemampuan untuk
    mendapatkan kepercayaan pelanggan baik dengan membuat
    mereka merasa aman saat melakukan transaksi atau menanyakan
    sesuatu. Selain itu, semua karyawan juga harus bersikap sopan atau
    polite kepada semua pelanggan tanpa terkecuali.
  5. Empathy atau Empati
    Empati berarti menyesuaikan bantuan yang diberikan oleh
    perusahaan kepada pelanggannya (Nguyen dkk, 2018). Empati
    sendiri yang diberikan dari karyawan toko dapat memberikan
    dampak pada konsumen berupa perasaan istimewa dan perasaan
    unik (Pakur’ar dkk, 2019). Penting bagi karyawan untuk berusaha
    memahami masalah pelanggan dan memperlakukannya selayaknya
    mereka diperlakukan secara pribadi (Al-ababneh dkk, 2018)