Tujuan Penetapan Harga


Pada umumnya para produsen di dalam menetapkan tingkat harga dari
setiap barang atau jasa yang dihasilkan memiliki sejumlah tujuan dan sasaran
yang akan dicapai dari setiap kebijakan yang diambil. Pemilihan secara jelas
antara tujuan penetapan harga dan sasaran penetapan harga dalam setiap
kebijakan harga, tentunya dengan tujuan utama untuk lebih memudahkan
manajemen untuk melakukan analisis dan evaluasi terhadap setiap kebijakan
yang diambil, sehingga berdasarkan hasil analisis dan evaluasi yang dilakukan,
manajemen akan segera membuat/menetapkan kebijakan baru guna
memperbaiki kesalahan/kekurangan dari berbagai kebijakan harga yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Untuk bertahan dalam pasar yang persaingannya sangat kompetitif akhir-
akhir ini, perusahaan memerlukan sasaran penetapan harga yang khusus yang
dapat dicapai dan dapat diukur. Tujuan penetapan harga yang realistis kemudian
memerlukan pengawasan secara periodik untuk menentukan efektivitas dari
strategi perusahaan yang bersangkutan. Tujuan penetapan harga perlu ditentukan
terlebih dahulu, agar tujuan perusahaan dapat tercapai. Hal ini penting karena
tujuan perusahaan merupakan dasar atau pedoman bagi perusahaan dalam
menjalankan kegiatan pemasaran, termasuk kebijakan penetapan harga.
Sebelum harga itu ditetapkan, terlebih dahulu manajer harus menetapkan
tujuan penetapan harga tersebut. Adapun tujuan penetapan harga menurut
Gitosudarmo (2008 : 232) sebenarnya ada bermacam-macam yaitu:

  1. Mencapai target pengembalian investasi atau tingkat penjualan netto suatu
    perusahaan.
  2. Memaksimalkan profit
  3. Alat persaingan terutama untuk perusahaan sejenis
  4. Menyeimbangkan harga itu sendiri
  5. Sebagai penentu market share, karena dengan harga tertentu dapat
    diperkirakan kenaikan atau penurunan penjualannya

Pengertian Harga


Menurut Kotler (2009:76), harga adalah sejumlah uang yang harus
dibayar oleh pembeli untuk mendapatkan produk tertentu. Harga juga dapat
mengkomunikasikan posisi nilai tentang produk atau merek tersebut kepada
pasar.
Sedangkan Menurut Durianto (2013:62) harga jumlah uang yang
ditagihkan untuk suatu produk atau sejumlah nilai yang dipertukarkan
konsumen untuk manfaat memiliki atau menggunakan produk. Perusahaan
harus menetapkan harganya secara tepat, agar sukses dalam memasarkan suatu
barang atau jasa. Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang
memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan.
Adapun pendapat lain Menurut Tjiptono (2008:151) Harga merupakan
unsur bauran pemasaran yang bersifat fleksibel, artinya dapat dirubah dengan
cepat. Harga bisa diungkapkan dengan berbagai istilah, misalnya iuran, tarif
sewa, bunga, premium, komisi, upah, gaji, horarium dan sebagainya.
Tingkat harga yang ditetapkan mempengaruhi kuantitas yang terjual. Selain
itu, secara tidak langsung harga juga mempengaruhi biaya, karena kuantitas yang
terjual berpengaruh pada biaya yang ditimbulkan dalam kaitannya dengan
efisiensi produksi.

Indikator Suasana Toko (Store Atmosphere)


Menurut Barry dan Evans (2010:509) :

  1. Exterior (bagian depan toko).
    Bagian depan toko adalah bagian yang terkemuka. Maka hendaknya
    memberikan kesan yang menarik, dengan mencerminkan kemantapan
    dan kekokohan. Maka bagian depan dan bagian luar ini dapat
    menciptakan kepercayaan dan googwill. Disamping itunhendaklah
    menunjukkan spirit perusahaan dan sifat kegiatan yang ada didalamnya.
    Karena bagian adepan dan eksterior berfungsi sebagai identifikasi atau
    tanda pengenalan maka sebaiknya dipasang lambang-lambang (papan
    nama toko)
  2. General interior
    Berbagai motif konsumen memasuki toko, hendaknya memperoleh kesan
    yang menyenangkan. Kesan ini dapat diciptakan misalnya dengan warna
    dinding toko yang menarik, music yang diperdengarkan, serta
    aroma/baud an udara didalam toko.
  3. Store Layout (tata letak)
    Merupakan rencana untuk menentukan lokasi tertentu dan pengaturan
    dari jalan/gang di dalam toko yang cukup lebar dan memudahkan orang
    untuk berlalu-lalang, serta fasilitas toko yang meberikan kesan yang baik
    dan nyaman.
  4. Interior display
    Sangat menentukan bagi toko karena memberikan informasi kepada
    konsumen. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan penjualan dan
    laba rugi toko. Yang termasuk interior display ialah : poster, tanda
    penunjuk lokasi, display barang-barang

Tujuan Store Athmosphere


Penggunaan store athmosphere mempunyai sejumlah tujuan, antara lain
bahwa penampilan eceran took membantu menentukan citra toko dan
memposisikan eceran took dalam benak konsumen, serta bahwa tata letak took
yang efektif tidak hanya akan menjamin kenyamanan dan kemudahan
melainkan juga mempunyai pengaruh yang besar pada pola lalu lintas
pelanggan dan perilaku belanja.

Suasana Toko (Store Atmosphere)


Menurut Purnama (2011:62).Suasana toko merupakan salah satu
bagian dari bauran eceran yang memiliki arti yang sangat penting dalam
menjalankan bisnis ritel. Dengan adanya suasana toko yang baik, maka akan
menarik pengunjung dan melakukan pembelian. Suasana toko adalah suatu
karakteristik fisik yang sangat penting bagi setiap bisnis ritel hal ini berperan
sebagai penciptaan suasana yang nyaman sesuai dengan keinginan konsumen
dan membuat konsumen ingin berlama-lama berada di dalam toko dan secara
tidak langsung merangsang konsumen untuk melakukan pembelian.
Pengertian lain Levy dan Weitz (2009:530) menyatakan “Atmospherics
refers to the design of an environment through visual communications,
lighting, colors, music, and scent that stimulate customers perceptual and
emotional responses and ultimately affect their purchase behavior”. Menurut
definisi tersebut dapat dapat disimpulkan bahwa atmosfer mengacu pada
perancangan suasana pada komunikasi visual, pencahayaan, warna, musik, dan
aroma yang menstimuli persepsi dan respon emosional konsumen serta
mempengaruhi perilaku mereka.
Secara umum store atmosphere merupakan gambaran suasana
keseluruhan dari sebuah toko yang diciptakan oleh elemen fisik (eksterior,
interior, layout, display) dan elemen psikologis (kenyamanan, pelayanan,
kebersihan, ketersediaan barang, kreatifitas, promosi, teknologi).

Bauran Eceran (Retailing Mix)


Menurut Kotler (2008:77) Retailing merupakan kegiatan yang
berhubungan dengan penjualan barang atau jasa secara langsung kepada
konsumen akhir untuk pemakai pribadi dan non-bisnis.
Sedangkan, Menurut Tjiptono (2008:191) Retailing merupakan semua
kegiatan penjualan barang dan jasa secara langsung kepada konsumen akhir
untuk pemakaian pribadi dan rumah tangga, bukan untuk keperluan bisnis.
Selain itu, Menurut Foster (2008:51) bauran penjualan eceran adalah
semua variabel yang dapat digunakan sebagai strategi pemasaran untuk
berkompetensi pada pasar yang dipilih
Bauran ritel menurut Ma’ruf(2010:114) terdiri dari 7 komponen yaitu :

  1. Tempat/lokasi (Place)
    Tempat adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk membuat
    produk agar dapat diperoleh dan tersedia bagi pelanggan.
  2. Barang dangangan (Merchandise)
    Barang dagangan adalah kegiatan pedagangan barang-barang yang sesuai
    dengan bisnis yang dijalankan gerai, untuk disediakan gerai pada jumlah,
    keberagaman produk, jumlah waktu dan harga yang sesuai untuk mencapai
    sasaran peritel.
  3. Harga(Price)
    Harga adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk
    mendapatkan uang.
  4. Promosi(Promotion)
    Promosi adalah kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk
    mengkomunikasikan keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran
    untuk membelinya
  5. Atmosfer toko(Store Athmosphere)
    Athmosfer toko adalah desain lingkungan melalui komunikasi visual,
    pencahayaan, warna untuk merancang respon emosional dan persepsi
    pelanggan dan untuk mempengaruhi pelanggan untuk membeli barang.
  6. Pelayanan(retail Service)
    Merupakan pelayanan yang diberikan kepada konsumen untuk
    mendeferensisasikan suatu gerai dengan gerai lainnya.
  7. Orang(people)
    Orang adalah pelaku yang turut ambil bagian dalam pengujian jasa dan dalam
    hal ini mempengaruhi persepsi pembeli. Yang termasuk elemen ini adalah
    personil perusahaan dan konsumen

Fungsi-fungsi yang dijalankan ritel


Ritel memiliki fungsi-fungsi yang dapat meningkatkan nilai produk dan
jasa yang mereka jual pada konsumen dan memudahkan distribusi produk-produk
tersebut bagi mereka yang memproduksinya. Fungsi yang dijalankan oleh ritel
memiliki manfaat baik bagi produsen maupun bagi konsumen.
Menurut Utami (2010:12) fungsi ritel adalah sebagai berikut :

  1. Menyediakan berbagai macam produk dan jasa
    Konsumen selalu mempunyai pilihan sendiri-sendiri terhadap berbagai
    macam produk dan jasa yang dibutuhkan untuk itu, dalam fungsinya
    sebagai ritel maka pelaku bisnis ritel berusaha menyediakan berbagai
    macam kebutuhan konsumen yaitu beraneka ragam produk dan jasa
    (providing assortmen) baik dari sisi keanekaragaman jenis, merek, dan
    ukuran dari barang dagangan.
  2. Memecah
    Memecah (breaking bulk ) disini berarti memecah beberapa ukuran
    produk menjadi lebih kecil yang akhirnya menguntungkan produsen dan
    konsumen . jika produsen memproduksi barang dan jasa dalam ukuran
    besar, maka harga atau barang tersebut menjadi tinggi. Sedangkan
    konsumen juga membutuhkan barang atau jasa tersebut tidak dalam
    ukuran besar dan mereka menghendaki harga yang lebih rendah.
  3. Perusahaan penyimpanan persediaan
    Ritel juga dapat berposisi sebagai perusahaan yang menyimpan stok
    atau persediaan (holding inventory) dengan ukuran lebih kecil .dalam hal
    ini pelanggan akan diuntungkan karena terdapat jaminan ketersediaan
    barang-barang atau jasa yang disimpan ritel. Fungsi utama ritel adalah
    mempertahankan inventaris yang sudah ada. Sehingga produk akan
    tersedia saat para pelanggan mengingikannnya. Jadi para konsumen bias
    mempertahankan inventaris kecil produk di rumah karena mereka tahu
    ritel akan menyediakan produk tersebut bila mereka menginginkan produk
    tersebut.
  4. Penghasilan jasa.
    Dengan adanya ritel, maka konsumen akan mendapat kemudahan
    dalam mengkonsumsi produk-produk yang dihasilkan produsen. Selain itu,
    ritel juga dapat mengantar produk hingga dekat ke tempat produsen. ritel
    menyediakan (providing service) yang membuatnya mudah bagi
    konsumen dalam membeli dan menggunakan produk. mereka menawarkan
    kredit sehingga konsumen bisa memiliki produknya sekarang dan
    membayarnya nanti. Mereka memperlihatkan atau memajang produk
    sehingga konsumen bisa melihat dan memilihnya untuk kemudian
    menentukan produk yang akan dibeli.
  5. Meiningkatkan nilai produk dan jasa.
    Dengan adanya beberapa jenis barang atau jasa, maka untuk
    aktivitas pelanggan yang memerlukan beberapa barang, pelanggan akan
    membutuhkan ritel karena tidak semua barang dijual dalam keadan
    lengkap. pembelian salah satu barang ke ritel tersebut akan menambahkan
    nilai barang tersebut terhadap kebutuhan konsumen

Pengertian Pemasaran


Para ahli banyak mendefinisikan pengertian dari pemasaran. Diantaranya
menurut Assauri (2009:5) pemasaran sebagai kegiatan manusia yang diarahkan
untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta keinginan melalui proses
pertukaran.
Menurut Basu Swasta (2008:5), Pemasaran adalah suatu sistem
keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan,
menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang
memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli
potensial.
Sedangkan Menurut WY. Staton (2010:1) pemasaran adalah sesuatu
yang meliputi seluruh sistem yang berhubungan dengan tujuan untuk
merencanakan dan menentukan harga sampai dengan mempromosikan dan
mendistribusikan barang dan jasa yang bisa memuaskan kebutuhan pembeli
aktual maupun potensial.
Dengan adanya persaingan yang semakin ketat dan berkembangnya
pengetahuan konsumen akan kebutuhan dan keinginan yang lebih tinggi dari
konsumen, maka muncullah konsep baru dibidang pemasaran yaitu konsep
pemasaran. Konsep pemasaran ini berorientasi kepada kepuasan konsumen.
Menurut Assauri (2009:81) Konsep pemasaran adalah suatu falsafah
manajemen dalam bidang pemasaran yang berorientasi kepada kebutuhan dan
keinginan konsumen dengan didukung oleh kegiatan pemasaran terpadu yang
diarahkan untuk memberikan kepuasan konsumen sebagai kunci keberhasilan
organisasi dalam usahanya mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Manajemen Pemasaran


Perusahaan memerlukan berbagai cara untuk dapat mengukur kegiatan
pemasarannya dengan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan, dengan demikian
diperlukan suatu pengaturan atau manajemen dalam hal ini adalah manajemen
pemasaran.
Menurut Kotler (20Manajemen Pemasaran
Perusahaan memerlukan berbagai cara untuk dapat mengukur kegiatan
pemasarannya dengan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan, dengan demikian
diperlukan suatu pengaturan atau manajemen dalam hal ini adalah manajemen
pemasaran.
Menurut Kotler (2010:11) manajemen pemasaran sebagai
proses penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program-
program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan passer yang dituju
dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan.
Sedangkan menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2012 : 15)
pengertian manajemen pemasaran sebagai berikut: “ marketing managementas
the art and science of choosing targetmarkets and getting, keeping, and growing
customers through creating, delivering, and communicatinng superior costumer
value.” (manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran
dan mendapatkan, menjaga dan tumbuh pelanggan melalui penciptaan,
memberikan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul)

10:11) manajemen pemasaran sebagai
proses penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan program-
program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan passer yang dituju
dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan.
Sedangkan menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2012 : 15)
pengertian manajemen pemasaran sebagai berikut: “ marketing managementas
the art and science of choosing targetmarkets and getting, keeping, and growing
customers through creating, delivering, and communicatinng superior costumer
value.” (manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran
dan mendapatkan, menjaga dan tumbuh pelanggan melalui penciptaan,
memberikan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul)

Dimensi Keputusan Pembelian


Aaker dalam Siburian (2016:90-99), mengungkapkan bahwa
dimensi untuk mengukur keputusan pembelian konsumen terdiri
dari:

  1. Benefit Association menyatakan bahwa konsumen menemukan
    manfaat dari pembelian produk dan menghubungkannya dengan
    karakteristik merek. Kriteria manfaat yang bisa diambil adalah
    kemudahan mengingat nama produk ketika dihadapkan dalam
    keputusan membeli produk.
  2. Prioritas dalam membeli, terhadap salah satu produk yang
    ditawarkan bisa dilakukan oleh konsumen apabila perusahaan
    menawarkan produk yang lebih baik dari produk pesaingnya.
  3. Frekuensi pembelian ialah ketika konsumen membeli produk
    tertentu dan ia merasa puas dengan kinerja produk tersebut,
    maka ia akan sering membeli kembali produk tersebut kapanpun
    ia membutuhkannya

Pengertian Keputusan Pembelian


Setiap orang dalam melakukan berbagai aktivitas akan
merencanakan aktivitas tersebut pada waktu sebelumnya dan
kemudian membuat suatu keputusan. Misalnya saja seseorang
akan memilih satu dari beberapa pakaian yang mereka miliki di
dalam lemari pakaiannya dan kemudian mereka membuat
keputusan untuk memakai pakaian yang cocok dengan selera
hatinya pada saat itu. Begitu halnya saat akan membeli suatu
barang, setiap orang setidaknya akan mencari informasi pada
barang yang akan dibeli. Selanjutnya mereka membandingkan
barang tersebut dengan barang yang lain. Jika calon pembeli
merasa yakin dengan barang tersebut, karena dapat memenuhi
kebutuhan dan keinginannya maka mereka akan mengambil
keputusan untuk membeli.
Menurut Fandy Tjiptono (2014:21) keputusan pembelian
adalah sebuah proses dimana konsumen mengenal masalahnya,
mencari informasi mengenai produk atau merek tertentu dan
mengevaluasi seberapa baik masing-masing alternatif tersebut
dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian mengarah
kepada keputusan pembelian Keputusan pembelian dapat
diartikan sebagai suatu proses penilaian dan pemilihan dari
berbagai alternatif sesuai dengan kepentingan – kepentingan
tertentu yang dianggap paling menguntungkan dengan
menetapkan suatu pilihan (Priyanto dkk, 2014:262).
Kotler dan Armstrong (2018:158) menyatakan bahwa
“consumer buyer behavior refers to the buying behavior of final
consumers, individuals and households that but goods and
services for personal consumption”. Artinya, perilaku pembeli
konsumen mengacu pada perilaku pembelian konsumen akhir,
individu dan rumah tangga yang selain barang dan jasa untuk
konsumsi pribadi. Berikut merupakan tahap-tahap proses
keputusan pembelian konsumen menurut Kotler dan Armstrong
(2018:175) beserta penjelasannya :

  1. Pengenalan masalah
    Proses pembelian dimulai dengan pengakuan kebutuhan.
    Pembeli mengenali masalah atau kebutuhan. Kebutuhan
    dapat dipicu oleh rangsangan internal ketika salah satu
    kebutuhan normal orang tersebut.
  2. Pencarian informasi
    Konsumen yang tertarik mungkin atau mungkin tidak
    mencari informasi lebih lanjut. Jika dorongan konsumen
    kuat dan produk yang memuaskan sudah dekat, ia
    kemungkinan akan membelinya kemudian. Jika tidak,
    konsumen dapat menyimpan kebutuhan dalam memori atau
    melakukan pencarian informasi terkait dengan kebutuhan.
    Konsumen dapat memperoleh informasi dari salah satu dari
    beberapa sumber:
    A. Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga, kenalan.
    B. Sumber komersial: iklan, tenaga penjualan, situs web
    dan seluler.
    C. Sumber publik: media massa, pencarian online, dan
    ulasan sejawat.
    D. Sumber pengalaman: memeriksa dan menggunakan
    produk.
  3. Evaluasi alternatif
    Kami telah melihat bagaimana konsumen menggunakan
    informasi untuk sampai pada serangkaian pilihan merek
    akhir. Bagaimana konsumen mengevaluasi pembelian
    alternatif tergantung pada konsumen individu dan situasi
    pembelian tertentu
  4. Keputusan pembelian Ada tahap evaluasi, konsumen
    membuat peringkat merek dan membentuk niat beli. Secara
    umum, keputusan pembelian konsumen adalah membeli
    merek yang paling disukai, tetapi dua faktor dapat muncul
    antara niat pembelian dan keputusan pembelian

Dimensi Kualitas Produk


Dimensi kualitas produk menurut Kotler dan Keller (2016:400) antara
lain:

  1. Performance (Kinerja), berkaitan dengan aspek fungsional dari produk
    dan merupakan karateristik utama yang mempertahankan konsumen
    ketika ingin membeli suatu produk.
  2. Features (Keistimewaan tambahan), yaitu aspek kedua dari kinerja yang
    menambahkan fungsi dasar.
  3. Realibility (Kehandalan), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
    kegagalan pada waktu konsumen menggunakan produk.
  4. Conformance to specification (Kesesuain dan Spesifikasi), yaitu
    berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk terhadap spesifikasi yang
    telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan konsumen.
  5. Durability (Daya Tahan), berapa lama produk tersebut dapat terus
    digunakan
  6. Ashethic (Estetika), yaitu daya tarik produk terhadap panca indra seperti
    daya tarik produk, corak, selera, rasa dan lain-lain.

Pengertian Kualitas Produk


Salah satu nilai utama yang diharapkan oleh pelanggan dari
produsen adalah kualitas produk yang tertinggi. Kualitas produk merupakan
bagaimana menggambarkan produk tersebut dapat memberikan sesuatu
yang dapat memuaskan konsumen. Kotler dan Keller, (2016: 12)
menyatakan bahwa kualitas produk ialah keahlian sebuah barang
memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahakan melampauhi dari apa
yang diinginkan konsumen.
Seorang konsumen cenderung mencari produk dengan melihat
kualitas yang ditampakkan. Semakin tinggi kualitas yang ditawarkan
perusahaan atas produk maka minat konsumen terhadap produk akan besar.
Karena konsumen saat ini sangat kritis dalam memilih dan memilah produk
yang akan mereka beli. Mereka sangat detail dalam mencari informasi
terhadap produk yang diminatinya tersebut. Pada umumnya konsumen akan
mencari tahu kualitas produk dari teman atau keluarga karena mereka lebih
percaya kepada orang terdekatnya. Cara yang biasa dilakukan adalah
mencoba, merasakan tekstur, melihat bahan baku yang dipakai dan atribut
lain yang ada pada produk.
Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh
setiap perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing di pasar untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Kotler dan Armstrong
(2016: 347) kualitas produk adalah kemampuan suatu produk untuk
melakukan fungsi-fungsinya, kemampuan itu meliputi daya tahan,
kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan
diperbaiki, dan atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan.
Menurut Tjiptono (2015: 51), kualitas produk adalah suatu kondisidinamis
yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan
yang memenuhi atau melebihi harapan. Beberapa definisi diatas maka dapat
disimpulkan bahwa kualitas produk merupakan kemampuan suatu produk
dalam memenuhi keinginan pelanggan. Keinginan pelanggan tersebut
diantaranya keawetan produk, keandalan produk, kemudahan pemakaian
serta atribut bernilai lainnya.
Menurut Riyono dan Gigih Erlik Budiharja (2016:177) kualitas
produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
mendapatkan perhatian, dibeli, dipergunakan atau dikonsumsi yang dapat
memuaskan keinginan atau kebutuhan. Pembuatan produk lebih baik
diorientasikan pada keinginan pasar atau selera konsumen. Salah satu faktor
pertimbangan konsumen untuk membeli produk yang diinginkan adalah
kualitas dari produk yang akan dibeli tersebut. Perusahaan harus dapat
memberikan kualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan
konsumen dengan memperhatikan standar-standar kualitas pasar yang ada
(Puspita dkk, 2016:263)

Tahap loyalitas berkembang


Irawan dkk (2013) mengungkapkan Loyalitas berkembang Menurut Hasan (2008:86),
empat tahap, yaitu :

  1. Loyalitas Kognitif
    Konsumen yang mempunyai loyalitas tahap ini menggunakan basis informasi yang
    memaksa menunjuk pada satu merek atas merek lainnya, loyalitasnya hanya
    didasarkan pada aspek kognisi saja.
  2. Loyalitas Afektif
    Loyalitas tahap ini didasarkan pada aspek afektif konsumen. Sikap merupakan fungsi
    dari kognisi (pengharapan) pada periode awal pembelian (masa prakonsumsi) dan
    merupakan fungsi dari sikap sebelumnya plus kepuasan di periode berikutnya (masa
    pascakonsumsi).
  3. Loyalitas Konatif
    Dimensi konatif (niat melakukan) yang dipengaruhi oleh perubahan-perubahan afektif
    terhadap merek. Konatif menunjukkan suatu niat atau komitmen untuk melakukan
    sesuatu kearah tujuan tertentu.
  4. Loyalitas Tindakan
    Meskipun pembelian ulang adalah suatu hal yang sangat penting bagi pemasar,
    penginterpretasian loyalitas hanya pada pembelian ulang saja tidak cukup, karna
    pelanggan yang membeli ulang belum tentu mempunyai sikap positif terhadap barang
    atau jasa yang dibeli. Pembelian ulang dilakukan bukan karena puas, melainkan
    mungkin karena terpaksa atau fakor lainnya, ini tidak termasuk dimensi loyal. Oleh
    karena itu, untuk mengenali perilaku loyal dilihat dari dimensi ini ialah dari komitmen
    pembelian ulang yang ditujukan pada suatu produk dalam kurun waktu tertentu secara
    teratur. Banyak yang menyaksikan betapa sulitnya menjamin bahwa pelanggan akan
    membeli ulang dari penyedia yang sama jika ada pilihan lan yang lebih menarik baik
    dari segi harga maupun pelayanannya.

Indikator dari loyalitas yang kuat


Japarianto dkk (2007) mengungkapkan tujuan akhir keberhasilan perusahaan menjalin
hubungan relasi dengan pelanggannya menurut Zeithaml et. al. (1996) adalah untuk
membentuk loyalitas yang kuat. Indikator dari loyalitas yang kuat adalah:

  1. Say positive things, adalah mengatakan hal yang positif tentang produk yang telah
    dikonsumsi.
  2. Recommend friend, adalah merekomendasikan produk yang telah dikonsumsi kepada
    teman.
  3. Continue purchasing, adalah pembelian yang dilakukan secara terus menerus terhadap
    produk yang telah dikonsumsi

Loyalitas Pelanggan


Mardikawati (2013) mengungkapkan loyalitas konsumen menurut Tjiptono (2000)
adalah komitmen pelanggan terhadap suatu merek, toko atau pemasok berdasarkan sifat yang
sangat positif dalam pembelian jangka panjang. Artinya, bahwa kesetiaan terhadap merek
diperoleh karena adanya kombinasi dari kepuasan dan keluhan. Sedangkan kepuasan
pelanggan tersebut hadir dari seberapa besar kinerja perusahaan untuk menimbulkan
kepuasaan tersebut dengan meminimalkan keluhan sehingga diperoleh pembelian jangka
panjang yang dilakukan oleh konsumen.
Loyalitas didefinisikan sebagai suatu sikap yang ditunjukan oleh konsumen terhadap
penyedia produk atau jasa. Seorang konsumen akan menunjukkan sikap loyalnya jika suatu
perusahaan mampu memberikan kepuasan kepada konsumennya. Konsumen yang loyal
adalah seorang konsumen yang selalu membeli kembali dari provider atau penyedia jasa yang
sama dan memelihara suatu sikap positif terhadap penyedia jasa itu dimasa yang akan datang
(Pramudyo, 2012)
Ersi dkk (2014) mengungkapkan loyalitas pelanggan menurut Griffin (2005) disini
dapat diartikan sebagai loyalitas seorang kepada suatu perusahaan. Oleh karena itu, loyalitas
pelanggan akan menjadi tujuan akhir setiap perusahaan, karena dengan adanya loyalitas dari
pelanggan akan menjamin kontinuitas sebuah perusahaan dalam jangka panjang.
Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa konsumen yang loyal tidak diukur dari berapa
banyak dia membeli, tapi dari berapa sering dia melakukan pembelian ulang, termasuk disini
merekonmendasikan orang lain untuk membeli. Pelanggan (Customer) berbeda dengan
konsumen (Consumer), seorang dapat dikatakan sebagai pelanggan apabila orang tersebut
mulai membiasakan diri untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan oleh suatu
perusahaan. Kebiasaan tersebut dapat dibangun melalui pembelian berulamg-ulang dalam
jangka waktu tertentu, apabila dalam jangka waktu tertentu tidak melakukan pembelian ulang
maka orang tersebut tidak bisa dikatakan sebagai pelanggan tetapi seorang pembeli atau
konsumen (Iriyanti dkk, 2016).

Faktor Pendorong Kepuasan Pelanggan


Iriyanti dkk (2016) menyatakan bahwa Faktor – faktor pendorong kepuasan kepada
pelanggan menurut Tjiptono (2006) yaitu :

  1. Kualitas produk
    Pelanggan akan merasa puas setelah membeli dan menggunakan produk tersebut yang
    memiliki kualitas produk baik.
  2. Harga
    Biasanya harga murah adalah sumber kepuasan yang penting. Akan tetapi biasanya
    faktor harga bukan menjadi jaminan suatu produk memiliki kualitas yang lebih baik.
    3 Kualiatas jasa
    Pelanggan merasa puas apabila mereka memperoleh jasa yang baik atau sesuai
    dengan yang diharapkan dari pegawai maupun karyawan perusahaan.
    4 Emotional factor
    Kepuasannya bukan karena kualitas produk saja,tetapi harga diri atau nilai sosial yang
    menjadikan pelanggan puas terhadap merek produk tertentu.
    5 Biaya atau kemudahan untuk mendapatkan produk atau jasa
    Kenyamanan dan efisien dalam mendapatkan suatu produk dapat memberikan nilai
    tersendiri bagi kepuasan pelanggan.

Pengukuran Kepuasan Pelangan


Iriyanti,dkk (2016) menyatakan ada 4 metode untuk mengukur kepuasan pelangaan
Menurut Kotler (2003) yaitu :

  1. Sistem Keluhan dan Saran
    Perusahaan yang berorientasi pada pelanggan (Customer-Oriented) menyediakan
    kesempatan seluas – luasnya bagi para pelanggannya untuk menyampaikan saran,
    kritik dan keluhan mereka.
  2. Ghost Shopping
    Mempekerjakan beberapa orang yang berperan sebagai pelanggan atau pembeli
    potensial produk perusahaan dan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam
    pembelian produk – produk tersebut. Kemudian melaporkan hal – hal yang berkaitan
    dengan kekuatan dan kelemahan produk, mengamati dan menilai cara penanganan
    yang lebih baik.
  3. Lost Customer Analysis
    Perusahaan berusaha menghubungi para pelanggannya yang telah berhenti membeli
    atau beralih ke perusahaan lain. Perusahaan berusaha mengamati apa yang
    menyebabkan pelanggan bisa pindah ke produk yang lainnya.
  4. Survei kepuasan pelanggan
    Survei perusahaan akan memperoleh tanggapan dan umpan balik secara langsung dari
    pelanggan dan sekaligus juga memberikan tanda positif bahwa perusahaan menaruh
    perhatian terhadap para pelanggannya.

Ciri-Ciri Pelanggan yang Puas


Mengungkapkan perilaku pelanggan yang merasa puas tentu akan berbeda dengan
perilaku pelanggan yang tidak puas. Sembiring Dkk (2014) menyatakann ciri-ciri konsumen
merasa puas menurut Kotler (2007: 48) menyatakan sebagai berikut:

  1. Loyal terhadap produk
  2. Adanya komunikasi dari mulut ke mulut yang bersifat positif
  3. Perusahaan menjadi pertimbangan utama.

Kepuasan Pelanggan


Jatra (2015) menyatakan bahwa kepuasaan pelanggan menurut Suprapti (2010:285),
merupakan sikap keseluruhan yang diperlihatkan oleh pelanggan terhadap suatu produk
setelah menggunakan atau mengkonsumsi produk itu. Dilihat dari perspektif
manajerial,mempertahankan dan meningkatkan kepuasan pelanggan merupakan hal yang
sangat penting. Menurut Irawan (2008:37), kepuasan pelanggan ditentukan oleh persepsi
pelanggan atas performance produk atau jasa dalam memenuhi harapan pelanggan. penentu
kepuasan pelanggan yaitu: kualitas produk, harga, service quality, emotional factor, dan
biaya. Mardikawati, (2013) menyatakan bahwa nilai pelanggan menurut Kotler (2007)
adalah perbedaan antara nilai pelanggan total dengan biaya pelanggan total. Nilai yang
dipikirkan pelanggan (customer perceive value) adalah selisih antara evalusi calon pelanggan
atas semua manfaat serta biaya tawaran tertentu dan alternatif-alternatif lain yang dipikirkan.
Nilai pelanggan total (total customer value) adalah nilai moneter yang dipikirkan dan
sekumpulan manfaat ekonomis, fungsional dan psikologis yang diharapkan oleh pelanggan
atas tawaran pasar tertentu.
Sukri et al., (2020) Sebagaimana diketahui bahwa tujuan dari suatu bisnis adalah
untuk menciptakan para pelanggan merasa puas. Terciptanya kepuasan pelanggan dapat
memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara perusahaan dengan
pelanggannya menjadi harmonis sehingga memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang
dan terciptanya kesetiaan terhadap merek serta membuat suatu rekomendasi dari mulut ke
mulut (word of mouth). Karena setiap usaha harus menempatkan orientasinya kepuasaaan
pelanggan sebagai tujuan utama pelanggan merasa puas dengan penjualan produk .
Musanto ( 2004) menyatakan kepuasaan atau tidak kepuasaan pelanggan menurut
Tjiptono (1997:24) adalah respon pelanggan terhadap evolusi ketidaksesuaian
(discinfirmation) yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja aktual produk yang
dirasakan bahwa pada persaingan yang semakin ketat ini, semakin banyak produsen yang
terlibat dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga hal ini menyebabkan
setiap badan usaha harus menempatkan orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan
utama, antara lain dengan semakin banyaknya badan usaha yang menyatakan komitmen
terhadap kepuasan pelanggan dalam pernyataan misi, iklan

Dimensi Kualitas Pelayanan


Vieira (2003) mengungkapkan Terdapat lima dimensi kualitas layanan yang dapat
digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap kualitas pelayanan menurut Valerie Zeithaml,
A. Parasuraman, dan Leonard Berry yaitu :

  1. Tangible (berwujud)
    Tangible (berwujud) yaitu berupa penampilan fasilitas fisik, peralatan, pegawai,
    dan material yang dipasang. Dimensi ini menggambarkan wujud secara fisik dan
    layanan yang akan diterima oleh konsumen. Contohnya dalam jasa restoran, maka
    karyawannya memakai seragam yang rapi, jumlah meja makan, dan peralatan makan
    yang lengkap.
  2. Reliability (keandalan)
    Reliability (keandalan) yaitu kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan
    dengan handal dan akurat. Dalam arti luas, keandalan berarti bahwa perusahaan
    memberikan janji-janjinya tentang penyediaan, penyelesaian masalah dan harga.
  3. Responsiveness (daya tanggap)
    Responsiveness (daya tanggap) yaitu kesadaran dan keinginan untuk membantu
    pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat. Dimensi ini menekankan pada
    perhatian dan ketepatan ketika berurusan dengan permintaan, pertanyaan, dan keluhan
    pelanggan.
  4. Assurance (kepastian)
    Assurance (kepastian) yaitu pengetahuan, sopan santun, dan kemampuan
    karyawan untuk menimbulkan keyakinan dan kepercayaan. Dimensi ini mungkin akan
    sangat penting pada jasa layanan yang memerlukan tingkat kepercayaan cukup tinggi
    dimana pelanggan akan merasa aman dan terjamin.
  5. Empathy (empati)
    Empathy (empati) yaitu kepedulian, dan perhatian secara pribadi yang diberikan
    kepada pelanggan. Inti dari dimensi empati adalah menunjukkan kepada pelanggan
    melalui layanan yang diberikan bahwa pelanggan itu special, dan kebutuhan mereka
    dapat dipahami

Manfaat Kualitas Pelayanan


Kusumasitta (2014) menyatakan bahwa manfaat kualitas pelayanan menurut Bilson
(2001) yaitu :

  1. Layanan yang istimewa (nilai yang benar-benar dialami melebihi harapan konsumen)
    atau sangat memuaskan suatu basisi untuk penetapan harga premium. Perusahaan
    yang memberikan kepuasaan tinggi bagi pelangganya dapat menetapkan suatu harga
    yang signifikan.
  2. Layanan istimewa membuka peluang uruk diversifikasikan produk dan harga.
    Misalnya pelayanan dibedakan menurut kecepatan hal dibebankan terhadap layanan
    yang membutuhkan penyelesaian yang paling cepat.
  3. Menciptakan loyalitas pelanggan. Pelanggan loyal tidak hanya pontensial untuk
    penjualan produk yang sudah ada tetapi juga untuk produk-produk baru diperusahaan.
  4. Pelanggan yang terpuaskan merupakan sumber informasi positif dari perusahaan dan
    produk-produk bagi pihak luar bahkan mereka dapat menjadi pembela bagi
    perusahaan khususnya dalam menangkalnisu-isu negatif.
  5. Pelanggan merupakan sumber informasi bagi perusahaan dalam hal intelenjensi
    pemasaran dan pengembangan pelayanan atau produk perusahaan pada umumnya

Faktor-faktor Kualitas Pelayanan


Musanto (2004) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan pelayanan
yaitu:

  1. Jaminan Merupakan suatu jaminan yang ditawarkan oleh perusahaan untuk
    pengembalian harga pembelian atau mengadakan perbaikan terhadap produk yang
    rusak setelah pembelian.
  2. Respon dan cara pemecahan masalah Response to and Remedy of Problems
    merupakan sikap dari karyawan dalam menanggapi keluhan serta masalah yang
    dihadapi oleh pelanggan

Kualitas Pelayanan


Rahmadani et al. (2020) menyatakan kualitas pelayanan merupakan salah satu
komponen penting dalam mempertahankan loyalitas konsumen. Dengan kualitas pelayanan
yang bagus diharapkan konsumen akan semakin loyal terhadap perusahaan.
Pengertian pelayanan yaitu setiap kegiatan yang manfaatnya dapat diberikan dari
satu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak berwujud (intangible) dan tidak
berakibat pemilikan sesuatu (Kotler, 1985). Sedangkan definisi dari pelayanan itu sendiri
menurut Sugiarto (2002:216) adalah upaya maksimal yang diberikan oleh petugas pelayanan
dari sebuah perusahaan industri untuk memenuhi harapan dan kebutuhan pelanggan sehingga
tercapai kepuasan. Menurut pendapat para ahli tentang pelayanan: Menurut dari Cravens
(1998) menyampaikan pengertian pelayanan yaitu upaya dalam memenuhi permohonan
untuk menspesifikasikan produk-produk seperti data kinerja, permohonan untuk rincian,
pemrosesan pesanan pembelian, penyelidikan status pesanan, dan layanan garansi. Pelayanan
sering disebut sebagai jasa yang diberikan oleh perusahaan, artinya bahwa adanya suatu
perbuatan yang dilaksanakan suatu pihak terhadap pihak lain (Tunggal, 1996).
Helien (2004:7) mengemukakan Pelayanan pelanggan adalah kegiatan yang
berorientasi kepada pelanggan yang terdiri dari elemen-elemen nyata berupa faktor yang bisa
diraba, didengar dan dirasakan seperti ukuran, berat, warna dan sebagainya. Kemudian
adanya elemen-elemen tidak nyata yaitu lebih sulit diukur dan sering kali subyektif karena
tergantung pada sikap-sikap yang bisa dipengaruhi namun tidak diajarkan, sebagai contoh
rasa nyaman, rileks, percaya dan lain sebagainya (Maulana, 2016).
Wyckof dalam Tjiptono (2005:260) kualitas pelayanan adalah tingkat keunggulan yang
diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan. Kualitas pelayanan berpusat pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinganan
serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan. Lupioyadi
(2001:144) menyatakan bahwa “Kualitas pelayanan adalah keseluruhan ciri-ciri dan
karakteristik-karakteristik dari suatu produk atau jasa dalam hal kemampuannya untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”. Apabila
pelayanan yang diterima atau dirasakan sudah sesuai dengan yang diharapkan, maka kualitas
dipersepsikan baik dan dapat memuaskan pelanggan. Sebaliknya jika yang diterima lebih
rendah daripada yang diharapkan, maka kualitas dipersepsikan buruk atau tidak memuaskan
(Basith, 2014)

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Menurut Assauri (2001:123) faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas suatu produk
yaitu:
1) Fungsi suatu produk
Fungsi untuk apa produk tersebut digunakan atau dimaksudkan.
2) Wujud luar
Faktor wujud luar yang terdapat dalam suatu produk tidak hanya terlihat dari bentuk
tetapi warna dan pembungkusnya.
3) Biaya produk bersangkutan.
Biaya untuk perolehan suatu barang, misalnya harga barang serta biaya untuk barang
itu sampai kepada pembeli.

Kualitas Produk


Kualitas adalah hal penting yang diikuti oleh sebuah produk, sehingga kualitas
produk menjadi salah satu faktor seorang pelanggan dalam memutuskan membeli suatu
produk. Kualitas mempunyai dampak langsung pada kinerja produk atau jasa;oleh karena itu,
kualitas berhubungan erat dengan nilai dan kepuasan pelanggan. Kualitas produk merupakan
kemampuan suatu produk untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan seorang pelanggan
yang membeli atau menggunakan barang atau jasa tersebut. Kualitas produk ini juga
merupakan penilaian terhadap suatu produk, kualitas produk berkaitan dengan pengorbanan
yang dikeluarkan pelanggan relatif terhadap apa yang akan diterimanya. Pengertian dan
pendapat kualitas produk dari para ahli yaitu : Menurut Kotler dan Armstrong (2001:354)
“kualitas produk merupakan senjata strategis yang potensial untuk mengalahkan pesaing”.
Jadi hanya perusahaan dengan kualitas produk paling baik yang akan tumbuh dengan pesat,
dan dalam jangka panjang perusahaan tersebut akan lebih berhasil dari perusahaan yang
lain.(Basith, 2014)
William. J Stanton dalam (Sembiring Dkk, 2014) , Produk adalah seperangkat atribut
yang berwujud maupun tidak berwujud termasuk didalamnya warna, harga, nama baik
produk, nama baik toko yang menjual (pengecer) dan pelayanan pabrik serta pelayanan
pengecer yang diterima oleh pembeli guna memuaskan kebutuhan dan keinginan. kebutuhan
dan keinginan konsumen. Aspek yang perlu diperhatikan mengenai produk adalah kualitas
produk. Menurut Putro, Semuel, & Brahmana (2014) suatu kondisi yang dinamis yang
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau
melebihi harapan.
Kualitas mempunyai arti yang sangat penting bagi konsumen dalam keputusan
pembeliannya terhadap suatu produk. Apabila kualitas produk yang dihasilkan baik maka
konsumen akan cenderung untuk melakukan pembelian ulang sedangkan bila kualitas produk
tersebut tidak sesuai dengan yang diinginkan konsumen maka akan mengalihkan pembelian
berikutnya pada produk lain yang sejenis. Pengaruh kualitas produk dan jasa, kepuasan
pelanggan, dan profitabilitas perusahaan adalah tiga hal yang terkait erat. Semakin tinggi
tingkat kualitas produk, semakin tinggi pula tingkat kepuasan pelanggan yang dihasilkan,
yang mendukung harga menjadi lebih tinggi dan (sering kali) biaya yang lebih murah
(Iriyanti Dkk,2016).
Faktor produk adalah hal penting yang dipertimbangkan oleh setiap konsumen
sebagai pertimbangan mereka dalam menentukan pilihan. W. J. Stanton dalam Buchari
(2014: 139) dalam (Sukri Dkk, 2020) menyatakan bahwa yang dikatakan produk ialah
seperagkat atribut baik berwujud maupun tidak berwujud, yang diterima oleh pembeli guna
memuaskan keinginannya

Dimensi Kualitas Layanan


Kualitas telah menjadi salah satu faktor terpenting dalam persaingan global saat ini.
Oleh karena itu, setiap perusahaan dalam persaingan global saat ini harus fokus
pada kualitas. Salah satu cara supaya penjualan jasa suatu penisahaan lebih
unggul dibandingkan para pesaingnya adalah dengan memberikan pelayanan yang
berkualitas dan bermutu, yang memenuhi tingkat kepentingan konsumen. Tingkat
kepentingan konsumen terhadap jasa yang akan mereka terima dapat dibentuk
berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh Tingkat kualitas pelayanan tidak
dapat dinilai berdasarkan sudut pandang perusahaan tetapi harus dipandang dari
sudut pandang penilaian pelanggan. Oleh karena itu perusahaan dalam merumuskan
strategi dan program pelayanan, harus berorientasi pada kepentingan pelanggan
dengan memperhatikan komponen kualitas pelayanan [14]. Salah satu perhatian
yang paling penting untuk organisasi meningkatkan kualitas layanan dan
memastikan loyalitas pelanggan jangka panjang. Meningkatkan layanan kualitas
dan peningkatan kepuasan pelanggan menjadi kebutuhan bagi semua organisasi.
Tantangan besar bagi semua organisasi di industri yang berbeda terus
menghadirkan layanan berkualitas tinggi. yang disajikan layanan melibatkan
manfaat yang tidak terlihat atau tidak berwujud bagi pelanggan, dan dengan
demikian pelanggan jarang memperhatikannya kualitas layanan. Biasanya,
pelanggan tidak memperhatikan layanan berkualitas tinggi dan hanya menyadari
ketika pelayanan adalah kegagalan dan ketidakpuasan

Faktor-faktor Pendorong Kepuasan Pelanggan


Pada pendorong kepuasan pelanggan terdapat lima komponen yang dapat
mendorong kepuasan pelanggan, yaitu :

  1. Kualitas produk
    Kualitas produk mencangkup enam elemen, yaitu performance, durability,
    feature, reliability, consistency, dan design. Setelah membeli dan
    menggunakan suatu produk, pembeli akan puas bila ternyata kualitas
    produknya baik, contohnya pelanggan akan puas terhadap televisi yang
    telah dibelinya bila mampu menghasilkan suara dan gambar yang baik, tidak
    cepat rusak dan desainnya menawan.
  2. Harga
    Komponen harga sangat penting karena dinilai mampu menberikan
    kepuasan yang relatif besar dalam industri retail. Harga yang murah akan
    memberikan kepuasan bagi pelanggan yang sensitive terhadap harga karena
    mereka akan mendapatkan value for money yang tinggi.
  3. Kualitas pelayanan
    Salah satu konsep service quality adalah ServQual sangat tergantung dari
    tiga faktor, yaitu : 1) sistem 2) teknologi 3) manusia. Berdasarkan konsep
    ServQual, komponen ini mempunyai banyak dimensi, yaitu : reliability,
    responsiveness, assurance, emphaty, dan tangible.
  4. Faktor emosional Kepuasan yang diperoleh pada saat menggunakan suatu
    produk (mobil, televisi, pakaian, dan sebagainya) yang berhubungan dengan
    gaya hidup. Kepuasan pelanggan didasari atas rasa bangga, rasa percaya 20
    diri, simbol sukses, bagian dari kelompok orang penting, dan sebagainya.
  5. Kemudahan Komponen ini berhubungan dengan biaya untuk memperoleh
    produk atau jasa. Pelanggan akan semakin puas apabila relatif mudah,
    nyaman, dan efisien dalam mendapatkan produk atau pelayanan. Secara
    umum, kualitas adalah dimensi yang global dan relatif tidak sensitif
    terhadap perbedaan segmen. Komitmen terhadap kualitas akan memberikan
    payoff yang setimpal bila suatu perusahaan ingin membangun total
    kepuasan pelanggan dalam jangka panjang

Manfaat Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan memberikan banyak manfaat bisnis, dan tingkat kepuasan
yang lebih tinggi mengarah pada loyalitas pelanggan yang lebih besar. Pada
akhirnya, mempertahankan pelanggan yang baik lebih berharga daripada
memperoleh dan mempertahankan pelanggan baru untuk menggantikan mereka
yang meninggalkan bisnis. Tenaga penjual yang antusias menyebarkan berita baik,
menjadi iklan yang berjalan, dan berbicara untuk bisnis. Ini mengurangi biaya untuk
mendapatkan pelanggan baru. Agar jelas, nilai kepuasan pelanggan mencegah
pelanggan bersaing, dapat menciptakan keuntungan yang berkelanjutan,
mengurangi biaya keuangan, membuat pelanggan kembali dan mempertahankan
mereka, meningkatkan dan mendukung persyaratan yang baik, dan mengurangi
biaya transaksi.[

Strategi Kepuasan Pelanggan


Mempertahankan pelanggan yang sudah ada lebih sulit daripada mencari pelanggan
baru, tetapi keduanya harus dilakukan untuk mempertahankan bisnis. Strategi
pemasaran penting untuk mempertahankan pelanggan yang sudah ada [7].
Misalnya, dengan memperoleh keuntungan, meningkatkan profitabilitas,
mengidentifikasi strategi pengurangan biaya dan menerapkan strategi promosi yang
tepat. Proses ini menghasilkan margin keuntungan yang lebih tinggi. Selain itu,
bisnis dapat menggunakan strategi pemasaran yang agresif untuk menarik
pelanggan baru. Dalam rencana ini, perusahaan dapat melakukan upaya-upaya
seperti meningkatkan penjualan, memperbaiki nama atau citra produk dengan
membuat dan menerapkan rencana kompensasi biaya. Dalam rencana ini,
perusahaan akan menghasilkan margin keuntungan yang rendah, tetapi memiliki
pertumbuhan keuangan yang tinggi. Kombinasi dari dua strategi ini akan
menciptakan nilai yang luar biasa.
Tujuan dari strategi kepuasan pelanggan adalah untuk memastikan bahwa
pelanggan tidak mudah beralih ke pesaing. Strategi yang dapat dilakukan untuk
mencapai dan meningkatkan kepuasan pelanggan adalah:

  1. Strategi relationship marketing dalam strategi ini, hubungan antara penjual
    dan pembeli berlanjut setelah penjualan selesai. Perusahaan terus bekerja
    sama dengan pelanggan, yang pada akhirnya akan mengarah pada retensi
    pelanggan, yang mengarah pada pemulihan bisnis. Agar pemasaran
    relasional dapat berjalan, perlu dibuat database pelanggan, khususnya daftar
    nama pelanggan yang dianggap perlu oleh perusahaan untuk menjaga
    hubungan yang baik dalam jangka panjang. Dengan tersedianya informasi
    tentang nama pelanggan, frekuensi dan jumlah pembelian, bisnis akan lebih
    mampu memuaskan pelanggan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan
    loyalitas pelanggan.
  2. Summarize check plag gammar reset strategi unconditional Service
    Guarantee strategi memberikan garansi atau jaminan spesial secara mutlak
    yang dibuat buat meringankan risiko atau kerugian di pihak pelanggan.
    Garansi tersebut menjanjikan kualitas prima serta kepuasan pelanggan yang
    optimal sebagai akibatnya bisa menciptakan loyalitas pelanggan yang
    tinggi. Cara yang dilakukan pada strategi ini adalah dengan memberikan
    komitmen buat menyampaikan kepuasan pelanggan kepada pelanggan,
    yang pada gilirannya akan menjadi sumber penyempurnaan. Mutu produk
    atau jasa serta akan meningkatkan motivasi para karyawan buat mencapai
    taraf kinerja yang lebih baik asal sebelumnya.
  3. Strategi Superior customer service strategi ini menawarkan pelayanan yang
    lebih baik dari yang ditawarkan oleh pesaing. Perusahaan membutuhkan
    modal yang besar, sumber daya manusia yang handal dan upaya yang gigih
    untuk memberikan pelayanan yang unggul.
  4. Strategi penanganan keluhan yang efektif Strategi ini menangani keluhan
    pelanggan secara cepat dan tepat, dimana perusahaan harus menunjukkan
    kepedulian, kepedulian dan penyesalan atas kekecewaan pelanggan
    sehingga pelanggan tersebut dapat menjadi pelanggan yang senang dan
    mulai menggunakan produk atau jasa tersebut kembali. Proses remediasi
    yang efektif dimulai dengan mengidentifikasi dan mengidentifikasi sumber
    masalah yang menyebabkan pelanggan tidak puas dan mengeluh.
  5. Strategi penanganan keluhan yang efektif Strategi ini menangani keluhan
    pelanggan secara cepat dan tepat, dimana perusahaan harus menunjukkan
    kepedulian, kepedulian dan penyesalan atas kekecewaan pelanggan
    sehingga pelanggan tersebut dapat menjadi pelanggan yang senang dan
    mulai menggunakan produk atau jasa tersebut kembali. Proses remediasi
    yang efektif dimulai dengan mengidentifikasi dan mengidentifikasi sumber
    masalah yang menyebabkan pelanggan tidak puas dan mengeluh.

Kualitas Jasa


Kualitas jasa didefinisikan sebagai perbedaan antara fenomena dan harapan
pelanggan tentang layanan yang diterimanya. Bila realisasi lebih besar dari harapan,
maka pelayanan dikatakan berkualitas, sedangkan jika realisasi lebih kecil dari
harapan, maka pelayanan dikatakan tidak berkualitas. serta Bila kenyataan sama
dengan harapan, maka pelayanan diklaim memuaskan. Kualitas jasa berpusat pada
upaya pemenuhan kebutuhan dan harapan pelanggan serta penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan. Konsumen didefinisikan menilai kualitas jasa
melalui 5 komponen sebagai berikut :

  1. Keandalan (reliability)
    Kemampuan untuk memberikan layanan secara andal, akurat dan konsisten.
    Keandalan memberikan layanan yang tepat sejak awal. Komponen ini
    dianggap paling penting bagi konsumen.
  2. Bukti Fisik (tangibles)
    Kemampuan perusahaan untuk menjelaskan eksistensinya kepada pihak
    ekternal. Penampilan dan kinerja peralatan dan infrastruktur perusahaan,
    serta keadaan lingkungan, mewujudkan asal layanan yang diberikan oleh
    penyedia layanan. Ini termasuk bangunan fisik (gedung, gudang), fasilitas
    dan peralatan yang digunakan (teknis), dan penampilan karyawan.
  3. Cepat tanggap (responsiveness)
    Kesediaan untuk membantu pelanggan, memberikan informasi yang jelas,
    dan memberikan pelayanan yang cepat (quick) dan tepat. Membuat
    konsumen menunggu tanpa alasan yang jelas menyebabkan persepsi negatif
    terhadap kualitas layanan.
  4. Kepastian (assurance)
    Pengetahuan dan kesopanan karyawan serta kemampuan untuk menjaga
    kepercayaan. Karyawan yang berkeahlian memperlakukan konsumen
    dengan hormat serta membuat mereka merasa bahwa mereka dapat
    mempercayai kapastian seperti ditunjukkan parusahaan.
  5. Perhatian (empathy)
    memberikan perhatian yang tulus serta bersifat individual atau pribadi yang
    diberikan kepada para pelanggan menggunakan berupaya memahami hasrat
    konsumen.dimana suatu perusahaan diperlukan mempunyai pengertian dan
    pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan secara
    spesifik dan memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan

Definsi Kepuasan pelanggan


Definisi Kepuasan Kepuasan merupakan tingkatan rasa pada seseorang dalam
membandingkan hasil yang dikerjakan atau yang dirasakan terhadap harapannya
Oliver, 1980 dalam. Maka dapat diartikan kepuasan adalah fungsi dari
perbedaan antara kinerja yang dirasa terhadap harapan. Jika kinerjanya berada
dibawah harapan, maka pelanggan dapat kecewa. Jika kinerja dapat sesuai terhadap
harapannya, pelanggan merasa puas. Sedangkan kinerja yang didapat lebih dari
harapan, konsumen akan sangat puas. Pada dasarnya definisi kepuasan mencakup
perbedaan antara tingkat kepentingan dan kinerja yang dirasakan .
Upaya untuk memenuhi pelanggan, perusahaan harus mengidentifikasi atribut
layanan yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan berdasarkan wawancara
dan pengamatan, untuk mengetahui keinginan pelanggan yang beragam dan atribut
layanan yang harus di prioritaskan untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan
dan terus melakukan perbaikan terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

Definisi Kepuasan


Kepuasan merupakan tingkatan rasa pada seseorang dalam membandingkan hasil
yang dikerjakan atau yang dirasakan terhadap harapannya Oliver. Maka dapat
diartikan kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasa terhadap
harapan. Jika kinerjanya berada dibawah harapan, maka pelanggan dapat kecewa.
Jika kinerja dapat sesuai terhadap harapannya, pelanggan merasa puas. Sedangkan
kinerja yang didapat lebih dari harapan, konsumen akan sangat puas. Pada dasarnya
definisi kepuasan mencakup perbedaan antara tingkat kepentingan dan kinerja yang
dirasakan.
Upaya untuk memenuhi pelanggan, perusahaan harus mengidentifikasi atribut
layanan yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan berdasarkan wawancara
dan pengamatan, untuk mengetahui keinginan pelanggan yang beragam dan atribut
layanan yang harus di prioritaskan untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan
dan terus melakukan perbaikan terhadap kelangsungan hidup perusahaan.

Karakteristik Jasa


Produk jasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan barang (produk fisik).
Griffin [6] menyebutkan beberapa karakteristik sebagai berikut :
a. Tidak berwujud (Intangible)
Jasa memiliki sifat tidak berwujud dan tidak dapat dirasakan atau dinikmati oleh
pelanggan sebelum digunakan.
b. Tidak terpisahkan (Inseparibility)
Pada dasarnya, layanan yang diberikan dan layanan yang dinikmati diberikan
pada saat yang bersamaan, jika diperbolehkan pada seorang dalam
menyerahkan kepada lain pihak, maka ia tetap bagian pelayanan tersebut.
c. Bervariasi (Variability)
Isi layanan dapat berubah tergantung pada perusahaan layanan, pengguna
layanan, dan status penyediaan layanan.
d. Mudah hilang (Perishability)
Kualitas layanan tergantung pada kondisi yang diciptakan oleh berbagai faktor

Definisi Jasa


Jasa didefinisikan menjadi pemberian suatu kinerja atau tindakan tak kasat mata
dari satu pihak pada pihak lain. dapat diartikan jasa artinya suatu kinerja
penampilan yang tidak berwujud dan cepat berpindah, lebih bisa dirasakan daripada
dimiliki, serta pelanggan lebih mampu berpartisipasi aktif dalam proses
mengkonsumsi jasa tersebut.
Jasa artinya setiap aktifitas, manfaat atau performance yang ditawarkan oleh satu
pihak ke pihak lain yang bersifat intangible (tidak berwujud fisik) dan tidak
menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun dimana pada produksinya dapat
terikat maupun tidak menggunakan produk fisik. Keadaan produk serta jasa di
suatu negara tidak luput di tuntutan persaingan tidak diragukan lagi Jika kualitas
ialah karakter utama pada perusahaan supaya kelangsungan hidup perusahaan
mampu bertahan. dengan demikian, hanya produk atau jasa yg berkualitas yang
mampu bersaing di pasar.

Tahapan minat pembelian konsumen


Tahapan minat pembelian konsumen oleh kotler dan keller 2012 (dalam
Prisa,2017) adalah sebagai berikut;

  1. Perhatian (Attention)
    Merupakan tahap awal dalam menilai suatu produk atau jasa sesuai dengan
    kebutuhan calon pelanggan, selain itu cale pelanggan juga mempelajari
    produk atau jasa yang ditawarkan.
  2. Tertatik (Interest)
    Pelanggan mulai tertarik untuk memulai produk atau jasa yang ditawarkan,
    setelah mendapatkan informasi yang lebih teperinci mengenai produk atau
    jaa yang ditawarkan.
  3. Hasrat (Desire)
    Calon pelanggan mulai memikirkan serta berdiskusi mengenai produk atau
    jasa yang ditawarakan, karena hasrat dan keinginan untuk membeli mulai
    timbul. Dalam tahapan ini calon pelanggan mulai berminat terhadap
    produk atau jasa yang ditawarkan. Tahap ditandai dengan munculnya
    minat yang kuat dari calon pelanggan untuk membeli mencoba produk
    atau jasa yang ditawarkan.
  4. Tindakan (Action)
    Pada tahap ini calon pelanggan telah mempunyai kemantapan yang tinggi
    untuk membeli atau menggunakar produk atau jasa yang ditawarkan

Cost Of Poor Quality (COPQ)


Cost Of Poor Quality (COPQ) adalah sebagai alat untukmengkonversikan
banyaknya kegagalan ke dalam biaya kegagalan kualitas, karena biaya tidak
disinggung dalam nilai sigma maka digambarkan dalambentuk lain. Apabila pada
seluruh proses nilai sigma dan DPMO akan terlihatsama, maka perlu
ditambahkan pembeda, yaitu dengan menggunakan jumlahkerugian dengan
perhitungan satuan uang. Satuan uang merupakan satuanyang mudah dimengerti
dan banyak dijadikan patokan peningkatan kualitastanpa perlu menerapkan Six
Sigma sekalipun. Dengan demikian bahasa uangini dapat menjembatani antara
pihak manajemen dengan lantai produksi.Beberapa perusahaan kelas dunia
menggunakan ukuran biaya kualitassebagai indikator keberhasilan program
peningkatan kualitas Six Sigma secaraterus-menerus, yang dapat dihubungkan
dengan ukuran-ukuran seperti(Garpersz, 2002).
 Biaya kualitas total dibandingkan terhadap nilai penjualan (persentasebiaya
kualitas total dibandingkan terhadap nilai penjualan).
 Biaya kualitas total dibandingkan keuntungan (persentase biaya kualitastotal
dibandingkan terhadap nilai keuntungan).
 Biaya kualitas total dibandingkan terhadap harga pokok penjualan (cost
ofgood sold) (persentase biaya kualitas total dibandingkan terhadap nilaiharga
pokok penjualan).• Biaya kegagalan internal dibandingkan terhadap biaya
produksi total(persentase biaya kegagalan internal terhadap biaya produksi
total).
 Biaya kegagalan eksternal dibandingkan terhadap nilai penjualan
bersih(persentase biaya kegagalan eksternal terhadap nilai penjualan bersih).
 Biaya penilaian untuk memperoleh material dibandingkan terhadap biayatotal
pembelian material (persentase biaya penilaian untuk memperolehmaterial
terhadap biaya total pembelian material)

Define, Measure, Analyze, Improve, Control (DMAIC)


Perbaikan proses Six Sigma ada 5 fase yang harus dilalui yakniDefine,
Measure, Analyze, Improve dan Control (DMAIC). Berikut adalah penjelasan dari
beberapa tahap tersebut(Sumber: www.copisindonesia.com/).

  1. Define : pada tahap ini, team pelaksana mengidentifikasi permasalahan,
    mendefinisikan keinginan pelanggan, mendengarkan keinginan
    mereka (voice of customer), mencari tahu apa yang sebenarnya
    diinginkan oleh mereka sedetail dan se-spesifik mungkin. Dengan
    mengetahui keinginan ini maka kita akan mengetahui apakah proses
    yang dimiliki pada saat ini sudah mampu menjawab (memuaskan)
    keinginan pelanggan tersebut. Langkah ini juga termasuk
    menentukan siapa-siapa yang akan terlibat dalam melakukan
    perbaikan, dari ketua tim, anggota, sponsor yang diperlukan.
    Langkah terakhir di define adalah membuat garis besar process map,
    yang menunjukkan hubungan dari Supplier, input, process, output
    sampai ke customer (SIPOC) sehingga memberikan gambaran
    atasproses mana yang akan diperbaiki.
  2. Measure : Tahap ini dilakukan untuk memvalidasi permasalahan,
    mengukur/menganalisis permasalahan dari data yang ada. Langkah
    pertama di bagian pengukuran ini adalah mengetahui besaran output
    yang akan diukur dan diperbaiki dalam tahap selanjutnya. Caranya
    dengan mengolah informasi yang diperoleh pada saat Define
    kemudian melakukan pengumpulan data. Selain pencatatan data,
    pada saat yang sama kita juga melakukan pencatatan proses yang
    sesungguhnya terjadi.3. Analyze : Pada tahap ini ditentukan faktor-
    faktor yang paling mempengaruhi proses, artinya mencari satu atau
    dua faktor yang kalau ia diperbaiki akan memperbaiki proses secara
    dramatis. Dan pada tahap ini akan didapat sigma level atau
    kemampuan proses pada saat ini.
  3. Improve:Pada tahap ini merupakan tahap kreatifitas yang memiliki peran besar.
    Langkahnya adalah menyeleksi dan mencari solusi dari hasil analisa
    dengan melakukan eksperimen terhadap faktor-faktor yang
    signifikan, maupun mencari solusi tanpa melakukan eksperimen.
    Perbaikan proses juga dilakukan dengan redesign aktivitas-aktivitas
    sehingga proporsi nilai tambah (value added) meningkat.
  4. Control : Perbaikan yang sudah diraih harus bisa dipertahankan. Perbaikan
    yang sudah terjadi akan secara terus menerus diperbaiki sehingga
    selalu memuaskan pelanggan. Tahap terakhir DMAIC ini adalah
    tahap untuk memastikan perbaikan yang telah terjadi akan selalu
    tetap terjadi

Six Sigma


Six Sigma menurut S. Pande et. al, 2002 merupakan sebuah sistemyang
komprehensif dan fleksibel untuk mencapai, mempertahankan dan
memaksimalkan sukses bisnis. Six Sigma secara unik dikendalikan oleh
pemahaman yang kuat terhadap kebutuhan pelanggan, pemakaian yang disiplin
terhadap fakta, data dan analisis statistik dan perhatian yang cermat untuk
mengelola, memperbaiki dan menanamkan kembali proses bisnis. SixSigma
adalah sebuah keinginan kuat untuk melayani pelanggan dan suatudorongan atas
ide-ide baru yang luar biasa, seperti hal statistik dan jumlah kepentingan,
sehingga nilai statistik dapat diterapkan pada pemasaran, jasa, sumber daya
manusia, keuangan dan penjualan serta proses manufaktur dan engineering.
Banyak sekali manfaat dari Six Sigma apabila diterapkan pada sebuah perusahaan
antara lain:

  1. Pengurangan biaya
  2. Peningkatan produktivitas
  3. Pertumbuhan pangsa pasar
  4. Retensi pelanggan
  5. Pengurangan waktu siklus
  6. Pengurangan defect (cacat)
  7. Pengembangan produk atau jasa

Tipe Aktivitas Organisasi


Tipe aktivitas dalam organisasi adalah ( Hines dan Taylor, 2000 )
a. Value added(VA), aktivitas ini menurut consumen mempunyai nilai
tambah terhadap produk atau jasa.
b. Non-value added (NVA), aktivitas ini menurut konsumen tidak
mempunyai nilai tambah terhadap produk atau jasa. Aktivitas ini
termasuk waste dan harus dieliminasi.
c. Necessary but Non-value added (NVA), aktivitas ini menurut konsumen
tidak mempunyai nilai tambah terhadap produk produk atau jasa tetapi
dibutuhkan, misalnya proses infeksi.

Kualitas


Kualitas merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam
setiap proses produksi. Pengertian tradisional tentang konsep kualitas hanya
berfokus pada aktifitas inspeksi untuk mencega lolosnya produk-produk cacat ke
tangan pelanggan.Kegiatan inspeksi dipandang dari perspektif kualitas modern
adalah sia-sia, karena tidak memberikan kontribusi kepada peningkatan kualitas
(quality improvement).
Sedangkan pengendalian kualitas adalah salah satu aktivitas manajemen
untuk mengukur ciri-ciri kualitas produk dan membandingkan dengan spesifikasi
yang ada sehingga dapat diambil tindakan perbaikan yang sesuai apabila ada
perbedaan antara karakteristik yang sebenarnya dengan standar yang telah
ditetapkan (Montgomery, 1993).

Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong dan Keller (2018:180), keputusan pembelian
adalah keputusan pembeli tentang merek mana yang dibeli. Proses pengambilan
keputusan yang rumit sering melibatkan beberapa keputusan. Keputusan ini melibatkan
pilihan antara dua atau lebih alternatif. Keputusan pembelian konsumen adalah tahap
dimana konsumen juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk yang paling
disukai, dimana keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda, atau menghindar
sangat dipengaruhi resiko yang dirasakan. Sunyoto dalam Nasib (2018:39) menjelaskan
pengambilan keputusan merupakan proses kognitif yang mempersatukan memori,
pemikiran, pemrosesan informasi, dan penilaian-penilaian secara evaluatif. Proses
pengambilan keputusan melibatkan proses kognitif yang kompleks, di mana individu
harus memperhitungkan informasi yangtersedia, mengevaluasi pilihan yang tersedia, dan
kemudian membuat keputusan berdasarkan analisis dan evaluasi mereka. Proses ini
melibatkan penggunaan memori, pemikiran, dan pemrosesan informasi secara kritis.
Selain itu, individu juga harus membuat penilaian evaluatif tentang konsekuensi dari
setiap pilihan yang tersedia sebelum memutuskan langkah yang akan diambil. Proses
keputusan konsumen untuk mengambil keputusan pembelian tidak bisa terjadi tiba-tiba
atau dengan sendirinya, pasti terdapat stimulus atau rangsangan dari luar kendali
konsumen. Rangsangan pemasaran untuk pembelian produk terdiri dari 4P untukproduk
fisik dan 7P untuk produk jasa, yaitu: produk, harga, tempat, promosi, orang, proses dan
bukti fisik. Rangsangan lain adalah kekuatan-kekuatan utama dalam lingkungan, yaitu:
ekonomi, teknologi, politik dan budaya. Rangsangan-rangsangan ini mempengaruhi
pembeli dan berubah menjadi tanggapan pembeli untuk memutuskan pilihan produk
atau jasa, merek, toko, waktu dan jumlah yang juga akan dijadikan indikator dalam
keputusan pembelian. Menurut Fandy Tjiptono (2018:92) agar tujuan tercapai, maka
setiap perusahaan harus berusaha menghasilkan dan menyampaikan barang dan jasa.

Kualitas pelayanan


Pelayanan Adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh satu pihak kepada pihak
lain yang membantu penerima jasa dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan tertentu
dengan cara yang lebih baik daripada seandainya tindakan tersebut tidak dilakukan,
pelayanan adalah “Satisfaction is a person’s feelings of pleasure or disappointment that
result from comparing a product or service’s perceived performance (or outcome) to
expectations”. Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang dihasilkan
dari membandingkan kinerja produk atau hasil yang dirasakan dengan harapan menurut
Fandy Tjiptono dalam buku “Pemasaran Jasa” edisi keenam (2018:213) , Dalam definisi
ini, pelayanan disajikan sebagai suatu tindakan yang membantu memenuhi kebutuhan dan
keinginan pelanggan dengan memberikan nilai tambah yang lebih baik. Pelayanan
biasanya melibatkan interaksi langsung antara pelanggan dan penyedia jasa.
Lewis dan Booms dalam Tjiptono dan Candra (2020:142) mengemukakan bahwa
Kualitas pelayanan bisa diartikan sebagai tolak ukur seberapa bagus tingkat layanan yang
diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi atau harapan dari pelanggan. Dalam Karlina,
Rosanto dan Saputra (2019) diberikan definisi bahwa kualitas pelayanan berfokus pada
upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan penyampaian
untuk mengimbangi harapan konsumen. Berdasarkan kutipan diatas dapat disimpulkan
bahwa kualitas pelayanan adalah ukuran layanan yang diberikanpenjual kepada pelanggan
dalam memenuhi kebutuhan konsumen demi tercapainyakepuasan pelanggan.
Pelayanan yang baik adalah kemampuan perusahaan memberikan pelayanan yang
dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan
keinginannya. Menurut Fandy Tjiptono dalam buku “Pemasaran Jasa” edisi ketujuh
(2020:84) faktor dominan atau penentu kualitas pelayanan terdiri dari enam indikator
sebagai berikut:

  1. Tangibles atau Bukti Fisik: Merupakan aspek fisik dari pelayanan, seperti tampilan
    karyawan, gedung, peralatan, kemasan produk dan fasilitas lainnya. Bukti fisik yang
    baik dapat meningkatkan persepsi konsumen terhadap Kualitas pelayanan yang
    diberikan.
  2. Reliability atau Keandalan: Merupakan kemampuan penyedia jasa untuk
    memberikan layanan dengan konsisten dan tepat waktu. Keandalan dapat diukur
    dengan seberapa sering penyedia jasa dapat memenuhi janji dan kebutuhan
    pelanggan.
  3. Responsiveness atau Daya Tanggap: Merupakan kemampuan penyedia jasa untuk
    memberikan layanan secara cepat dan tanggap terhadap permintaan atau masalah
    pelanggan. Daya tanggap yang baik dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan
    terhadap penyedia jasa.
  4. Assurance atau Jaminan: Merupakan kemampuan penyedia jasa untuk memberikan
    rasa percaya dan keyakinan pada pelanggan. Hal ini dapat diwujudkan dengan
    kesesuaian antara kemampuan karyawan dan tugas yang diberikan, serta memberikan
    rasa aman dan kepercayaan pada pelanggan.
  5. Empathy atau Empati: Merupakan kemampuan penyedia jasa untuk memahami
    kebutuhan dan perasaan pelanggan, serta memberikan perhatian dan perasaan positif
    pada pelanggan. Hal ini dapat diterapkan dengan cara memberikan layanan yang
    ramah dan sopan, serta mendengarkan dengan seksama keluhan dan permintaan
    pelanggan.
  6. Technology atau Teknologi : Merupakan kemampuan penyedia jasa untuk
    menggunakan teknologi terbaru dalam memberikan layanan. Teknologi dapat
    digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan, serta
    memudahkan pelanggan dalam berinteraksi dengan penyedia jasa.
    Faktor yang mempengaruhi Pelayanan menurut Kasmir (2020:380) dalam buku
    “Pengantar Bisnis: Teori dan Aplikasi” edisi 9 tahun diantaranya adalah:
  7. Jumlah tenaga kerja, Jumlah tenaga kerja yang memadai dalam suatu perusahaan
    dapat mempengaruhi kualitas pelayanan yang diberikan. Dengan adanya tenaga kerja
    yang cukup, perusahaan dapat memperoleh efisiensi dalam memberikan pelayanan
    yang lebih baik.
  8. Kualitas tenaga kerja, Kualitas tenaga kerja merupakan faktor yang sangat penting
    dalam memberikan pelayanan yang baik. Kualitas ini mencakup pengetahuan dan
    keterampilan yang dimiliki oleh tenaga kerja dalam melaksanakan tugas dan
    tanggung jawabnya.
  9. Motivasi karyawan, Motivasi karyawan yang tinggi akan mendorong mereka untuk
    memberikan pelayanan yang lebih baik dan memuaskan pelanggan. Oleh karena itu,
    perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat meningkatkan motivasi
    karyawan, seperti memberikan penghargaan atau bonus, pelatihan, dan
    pengembangan karir.
  10. Kepemimpinan, Kepemimpinan yang efektif dapat membantu meningkatkan kualitas
    pelayanan yang diberikan oleh perusahaan. Kepemimpinan yang baik akan
    mendorong karyawan untuk berprestasi dan bekerja dengan semangat yang tinggi.
  11. Budaya organisasi, Budaya organisasi yang kuat dan positif dapat membantu
    menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk memberikan pelayanan yang
    berkualitas. Budaya organisasi juga dapat mempengaruhi cara karyawan berinteraksi
    dengan pelanggan dan kolega.
  12. Kesejahteraan karyawan, Kesejahteraan karyawan yang terjamin dapat
    mempengaruhi motivasi dan kinerja karyawan dalam memberikan pelayanan yang
    baik. Perusahaan dapat memberikan fasilitas atau program yang dapat meningkatkan
    kesejahteraan karyawan, seperti asuransi kesehatan, tunjangan kesejahteraan, dan
    program kesehatan.
  13. Lingkungan kerja dan faktor lainnya, Lingkungan kerja yang kondusif, sarana dan
    prasarana yang memadai, teknologi yang up-to-date, serta kualitas produk atau jasa
    yang baik juga dapat mempengaruhi kualitas pelayanan yang diberikan oleh
    perusahaan.

Kualitas Produk


Sesuatu yang di perlukan dalam dunia bisnis adalah dapat memenuhi atau
memuaskan kebutuhan atau keinginan konsumen, baik yang berwujud maupun yang tidak
berwujud. Produk merupakan segala sesuatu yang ditawarkan kepada konsumen untuk di
konsumsi atau digunakan (Budi, 2023:16). Sedangkan kualitas dapat dirumuskan sebagai
“kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, sumber daya manusia, proses
dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan (Fandy Tjiptono, 2022:137).
Menurut buku “Pengukuran dan Analisis Kualitas Produk: Teori dan Praktik” (Aris
Soeharto,2022:2) kualitas produk meliputi aspek-aspek seperti kinerja, fitur, keandalan,
kemudahan pemeliharaan, estetika,dan keamanan. Untuk mencapai kualitas produk yang
optimal, perusahaan harus mengidentifikasi kebutuhan dan keinginan pelanggan,
mengukur dan menganalisis kualitas produk secara sistematis, dan mengembangkan
strategi perbaikan kualitas yang efektif.
Dalam buku “Total Quality Management: Key Concepts and Case Studies” oleh
Pramod Batra dan et al. (2020:28) Kualitas produk terdiri dari beberapa aspek seperti
kinerja, keandalan, kesesuaian, ketepatan waktu, kemudahan penggunaan, fitur, dan
desain. Untuk mencapai kualitas produk yang optimal, perusahaan harus melibatkan
seluruh karyawan dalam proses perbaikan kualitas dan menerapkan prinsip-prinsip
manajemen mutu secara holistik. Menurut Sari, Tjahjaningsih dan Hayuningtias
(2018:677), kualitas produk adalah karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau
diimplikasikan.
Menurut buku “Pengukuran dan Analisis Kualitas Produk: Teori dan Praktik”
oleh Aris Soeharto (2022:2), mengungkapkan bahwa kualitas produk meliputi aspekaspek seperti kinerja, fitur, keandalan, kemudahan pemeliharaan, estetika, dan keamanan.
Untuk mencapai kualitas produk yang optimal, perusahaan harus mengidentifikasi
kebutuhan dan keinginan pelanggan, mengukur dan menganalisis kualitas produk secara
sistematis, dan mengembangkan strategi perbaikan kualitas yang efektif. Dalam buku
“Manajemen Pemasaran” oleh Kotler dan Keller (2019: 221) menyatakan bahwa produk
adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, dibeli,
digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Menurut
Kotler dalam Hurriyati (2019:50) yang dikatakan bahwa produk ialah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan atau
dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan.
Menurut Fandy Tjiptono dalam bukunya “Pemasaran Strategik”(2018:30) menjelaskan
bahwa produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan,
diinginkan, digunakan, atau dikonsumsi yang dapat memenuhikebutuhan atau keinginan
pelanggan. Definisi produk ini termasuk barang, jasa, orang, tempat, organisasi, atau
gagasan yang ditawarkan ke pasar.
Selain itu, Fandy Tjiptono juga menjelaskan bahwa produk memiliki empat
dimensi, yaitu dimensi fisik, dimensi fungsional, dimensi psikologis, dan dimensi sosial.
Dimensi fisik meliputi segala sesuatu yang dapat dilihat, diraba, atau didengar dari
produk. Dimensi fungsional berkaitan dengan kinerja atau manfaat yang dapat diberikan
oleh produk kepada konsumen. Dimensi psikologis berkaitan dengan citra, merek, atau
status sosial yang dapat dirasakan oleh konsumen dari penggunaan produk. Sedangkan
dimensi sosial berkaitan dengan norma-norma sosial, seperti nilai, budaya, atau
keyakinan yang dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap produk. Produk dapat
berupa barang, jasa, ide, organisasi, atau orang. Pada dasarnya setiap produk beberapa
tingkatan (Suparyanto dan Rosad dalam Widayat 2018:70) diantaranya: (1) Manfaat inti,
yaitu manfaat dasar yang sebenarnyadibeli oleh konsumen, (2) Produk dasar, dimana
merupakan wujud konkrit dari suatu produk, serta (3) Produk yang diharapkan yaitu suatu
kondisi yang diharapkan konsumen saat membeli produk.
Produk adalah sesuatu yang ditawarkan pada pasar baik produk nyata ataupun
produk tidak nyata (jasa) sehingga dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan pasar.
Suatu produk jika dilihat dari nilai tambahnya memiliki beberapa tingkatan, seperti
diungkapkan oleh Kotler dalam Hurriyati dalam buku “Marketing Management”
(2019:51) yaitu:
16

  1. Produk Utama/Inti (Core benefit), yaitu manfaat yang sebenarnya dibutuhkandan
    akan dikonsumsi oleh pelanggan dari setiap produk.
  2. Produk Generik (generik product), yaitu produk dasar yang mampu memenuhi fungsi
    produk yang paling dasar (rancangan produk minimal agar dapat berfungsi).
  3. Produk Harapan (expected product), yaitu produk formal yang ditawarkan dengan
    berbagai atribut dan kondisinya secara normal (layak) diharapkan dan disepakati
    untuk dibeli.
  4. Produk Pelengkap (augmented product), yaitu berbagai atribut produk yang
    dilengkapi atau ditambahi berbagai manfaat dan layanan, sehingga dapat memberikan
    tambahan kepuasan dan dapat dibedakan dengan produk pesaing.
  5. Produk Potensial, yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin
    dikembangkan untuk suatu produk dimasa mendatang.

Tujuan Pengendalian Kualitas


Tujuan diadakannya aktifitas pengendalian kualitas dalam suatu
perusahaan adalah agar sebagai berikut :
a. Agar barang hasil produksi dapat mencapai standar mutu yang telah
ditetapkan.
b. Memantau kegiatan produksi agar dapat berjalan sesuai dengan rencana
yang telah ditetapkan.
c. Mengusahakan agar segala penyimpangan yang terjadi di dalam suatu proses
produksi dapat diketahui serta ditemukan sebab-sebabnya secepat mungkin
sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan atau perbaikan.
d. Mengusahakan agar biaya produksi dapat menjadi seminimal mungkin.

Pengendalian kualitas


Pengendalian kualitas adalah suatu sistem verifikasi dan penjagaan
atau perawatan dari suatu derajat kualitas produk atau proses yang
dikehendaki dengan cara yang seksama, pemakaian peralatan yang sesuai,
inspeksi yang terus menerus serta tindakan korektif bilamana diperlukan
(Wignjosoebroto S. 2003). Jadi pengendalian kualitas adalah suatu proses
yang ditetepkan terhadap masalah kualitas produksi yang terjadi dan
membandingkannya dengan standar yang telah ditetapkan serta melakukan
tindakan bila terjadi suatu kelainan atau penyimpangan pengendalian
kualitas. pengendalian kualitas sangat penting karena dalam proses produksi
selalu ada faktor-faktor penyimpangan yang terjadi disebabkan oleh mesin,
operator dan lain-lain. Selain itu pengendalian kualitas juga dapat berfungsi
untuk melakukan suatu penghematan material dalam produksi.
Sehingga dengan dilakukan kontrol secara terus menerus terhadap
proses berlangsung, bertujuan untuk mencegah kerugian lebih besar akibat
produk cacat dengan mengamati output yang dihasilkan pada tahap-tahap
proses produksi untuk mengetahui adanya penyimpangan dan dilakukan
tidakan yang diperlukan sehingga dapat mengurangi kerugian yang
diakibatkan oleh produksi yang tidak sesuai spesifikasi yang diharapkan

Pengertian Kualitas


Kualitas saat ini dipandang sebagai titik kepuasan pelanggan, atau
dianggap wilayah kebutuhan pengguna atau ruang kecukupan penggunaan
atau daerah pemenuhan kebutuhan. Dalam membeli suatu produk
konsumen selalu berharap agar barang yang dibeli dapat memuaskan
segala keinginan dan kebutuhan konsumen. Maka perusahaan harus dapat
memahami keinginan konsumen, sehingga perusahaan dapat menciptakan
produk yang sesuai dengan harapan konsumen. Kualitas produk yang baik
merupakan harapan konsumen yang harus dipenuhi oleh perusahaan, oleh
karena itu kualitas produk yang baik merupakan kunci perkembangan
produktivitas perusahaan.
Menurut (Moses L. Singgih dan Renanda. 2008) kualitas merupakan
salah satu jaminan yang diberikan dan harus dipenuhi oleh perusahaan
kepada pelanggan, karena kualitas suatu produk merupakan salah satu
criteria penting yang menjadi pertimbangan pelanggan dalam memilih
produk. Berdasarkan pemaparan tersebut, yang dimaksud dengan kualitas
adalah totalitas bentuk, dan kesesuian antara produk yang dihasilkan oleh
perusahaan dengan kebutuhan yang diinginkan konsumen.
Kualitas dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pemilihan proses
pembuatan, latihan dan pengawasan tenaga kerja, jenis sistem jaminan
kualitas (pengendalian proses, pengujian, aktivitas pemeriksaan) yang
digunakan, seberapa jauh prosedur jaminan kualitas diikuti, dan motivasi
tenaga kerja untuk mencapai kualitas produk.

Indikator Minat Beli


Menurut Ferdinand dalam Septyadi et al., (2022) Minat beli diidentifikasi
melalui indikator-indikator sebagai berikut :

  1. Minat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli suatu
    produk.
  2. Minat referensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
    produk kepada orang lain.
  3. Minat preferensial, yaitu minat yang menggambarkan perilaku seseorang
    yang memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini
    hanya dapat diganti jika terjadi sesuatu dengan produk preferensinya

Pengertian Minat Beli


Menurut Nanda Bella Fidanty Shahnaz, dan Wahyono (2016), minat beli
adalah kemungkinan konsumen akan melakukan pembelian dengan mencari
informasi dari berbagai sumber. Konsumen memiliki ketertarikan terhadap suatu
suatu produk atau jasa tetapi belum tentu konsumen akan melakukan pembelian
produk atau jasa tersebut
Menurut David L. Loudon dan Albert J. Della Bitta (2018) Minat beli adalah
tahap dalam proses pengambilan keputusan konsumen di mana individu
mengevaluasi produk atau layanan dan mengembangkan keinginan untuk
membelinya

Indikator Variasi Produk


Menurut Kotler (2015) menyatakan bahwa terdapat empat indikator variasi
produk diantaranya, sebagai berikut:

  1. Variasi merek produk variasi merek produk merupakan banyaknya jenis
    merek yang ditawarkan.
  2. Variasi kelengkapan produk, variasi kelengkapan produk adalah sejumlah
    kategori barang yang berbeda didalam toko atau department store. Toko
    dengan banyak jenis atau tipe produk barang yang dijual dapat dikatakan
    mempunyai banyak ragam kategori produk yang ditawarkan.
  3. Variasi ukuran produk atau keberagaman (assormen) merupakan sejumlah
    standar kualitas umum dalam kategori toko dengan keberagaman yang luas
    dapat dikatakan mempunyai keadaan yang baik.
  4. Variasi kualitas produk, Kualitas produk merupakan standar kualitas
    umum dalam kategori barang berkaitan dengan kemasan, label, ketahanan
    suatu produk, jaminan, bagaimana produk dapat memberikan manfaat.

Pengertian Variasi Produk


Variasi produk mengacu pada beragam jenis produk atau layanan yang
ditawarkan oleh suatu perusahaan atau bisnis kepada konsumen. Menurut
Umamsyah dkk (2020) definisi variasi produk adalah sebuah desain yang berbeda
dan di buat oleh satu perusahaan, keragaman produk tersebut yang dapat
membedakan produk yang sama dari perusahaan yang berbeda. Menurut
Ichsannudin & Purnomo (2021) variasi produk adalah produk yang dihasilkan oleh
suatu perusahaan yang mengharapkan memproduksi produk tidak tunggal,
melainkan bisa dalam berbagai macam dan jenis. Sedangkan menurut Indrasari
(2019) variasi produk adalah kondisi yang tercipta dari ketersediaan barang dalam
jumlah dan jenis yang sangat variatif, sehingga menimbulkan banyaknya pilihan
dalam proses belanja konsumen.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Variasi produk
adalah beragam jenis produk atau layanan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan
kepada konsumen. Menurut beberapa peneliti, variasi produk termasuk desain yang
berbeda dari produk-produk tersebut, yang dapat membedakan produk dari satu
33
perusahaan dengan yang lainnya. Secara khusus, variasi produk adalah hasil dari
upaya suatu perusahaan untuk memproduksi lebih dari satu jenis produk.
Menurut Tjiptono (2019) menyatakan bahwa variasi produk sebagai Salah
satu unsur pemasaran yang tepat digunakan dan dikonsumsi apabila tujuannya
mengambil manfaat dari kinerja sebuah produk guna diterapkan sebagai upaya
melakukan persaingan dengan perusahaan dan produsen lain yang memiliki standar
produk atau produk sejenis.Dapat memperoleh alternatif untuk memenuhi
kebutuhannya.

Bauran Pemasaran


Kotler dan Armstrong (2018) mendefinisikan bauran pemasaran sebagai
kombinasi dari empat elemen utama yang dikenal sebagai 4P, yaitu Product
(produk), Price (harga), Place (tempat/distribusi), dan Promotion (promosi).
Menurut mereka, keempat elemen ini perlu diintegrasikan untuk menciptakan nilai
bagi konsumen dan mencapai tujuan pemasaran. Berikut adalah penjelasan singkat
tentang setiap elemen:

  1. Product (Produk):
    Produk adalah barang atau layanan yang ditawarkan kepada pasar untuk
    memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen. Strategi pemasaran
    dalam elemen produk mencakup:
    a. Pengembangan produk: Menciptakan produk yang inovatif dan
    relevan dengan kebutuhan pasar.
    b. Diferensiasi: Membedakan produk dari pesaing melalui fitur unik,
    kualitas, atau merek.
    c. Kualitas: Memastikan produk memiliki kualitas yang memadai
    sesuai dengan harapan konsumen.
  2. Price (Harga):
    Harga adalah jumlah uang yang harus dibayar konsumen untuk
    memperoleh produk atau layanan. Strategi pemasaran harga meliputi:
    a. Penetapan harga: Menentukan harga yang sesuai dengan nilai yang
    dirasakan oleh konsumen dan menguntungkan perusahaan.
    b. Diskon dan promosi harga: Menggunakan diskon, kupon, atau
    penawaran khusus untuk menarik konsumen dan meningkatkan
    penjualan.
    c. Strategi penetapan harga: Memilih antara harga yang premium,
    harga yang bersaing, atau harga yang disesuaikan dengan kebijakan
    perusahaan.
  3. Place (Tempat):
    Tempat mencakup saluran distribusi dan lokasi penjualan produk atau
    layanan. Strategi pemasaran tempat meliputi:
    a. Saluran distribusi: Memilih saluran distribusi yang efisien dan
    efektif untuk menjangkau target pasar.
    b. Distribusi fisik: Mengelola logistik dan penyimpanan produk untuk
    memastikan ketersediaan di tempat yang tepat dan waktu yang
    tepat.
    c. Lokasi ritel: Memilih lokasi toko atau outlet yang strategis untuk
    menarik konsumen dan memudahkan aksesibilitas produk.
  4. Promotion (Promosi):
    Promosi melibatkan berbagai kegiatan komunikasi yang bertujuan untuk
    meningkatkan kesadaran, minat, dan pembelian produk atau layanan.
    Strategi pemasaran promosi termasuk:
    a. Periklanan: Menggunakan media seperti televisi, radio, atau
    internet untuk menjangkau konsumen dengan pesan promosi.
    b. Promosi penjualan: Menawarkan insentif jangka pendek seperti
    diskon, kupon, atau hadiah untuk mendorong pembelian.
    c. Hubungan masyarakat: Membangun citra merek melalui publikasi,
    acara khusus, atau sponsorship.
    d. Pemasaran langsung: Mengirim pesan promosi langsung kepada
    konsumen melalui email, surat, atau telepon

Tujuan Pemasaran


Tujuan pemasaran adalah serangkaian sasaran yang ingin dicapai oleh
perusahaan melalui kegiatan pemasaran untuk menciptakan, mengomunikasikan,
dan menyediakan nilai bagi pelanggan.
Menurut Belch, George E., dan Belch, Michael A. (2018) tujuan promosi
adalah untuk mengkomunikasikan informasi yang relevan tentang produk atau
layanan kepada target pasar, membujuk mereka untuk mencoba atau membeli
produk, dan mengingatkan mereka tentang manfaat serta fitur unik dari produk
tersebut.

Pengertian Pemasaran


Pemasaran umumnya adalah proses yang melibatkan berbagai tindakan
untuk memahami kebutuhan dan keinginan konsumen, kemudian membuat,
mengkomunikasikan, dan menyediakan produk atau layanan yang memenuhi
kebutuhan tersebut. Tujuannya adalah untuk membangun dan mempertahankan
hubungan yang menguntungkan dengan pelanggan sambil menciptakan nilai bagi
mereka.
Menurut Kumar dan Reinartz (2018) Pemasaran adalah proses
mengidentifikasi kebutuhan konsumen dan menyediakan produk atau layanan yang
memuaskan kebutuhan tersebut dengan cara yang memberikan nilai kepada
konsumen dan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan.
Menurut American Marketing Association (AMA) (2017) Pemasaran adalah
aktivitas, serangkaian institusi, dan proses untuk menciptakan, mengomunikasikan,
mengirimkan, dan menukar penawaran yang memiliki nilai bagi pelanggan, klien,
mitra, dan masyarakat umum

Karakteristik Produk


Tjiptono (2015) menjelaskan karakteristik produk sebagai seluruh atribut
fisik dan non-fisik yang membentuk persepsi konsumen terhadap produk, seperti
fitur utama, manfaat tambahan, kemasan, dan layanan pendukung. Menurut
Tjiptono, karakteristik ini menciptakan nilai yang ditawarkan produk kepada
konsumen. Setiap produk memiliki fitur unik, dan setiap produsen selalu berusaha
membuat produk yang memiliki fitur unik sehingga konsumen memiliki persepsi
unik terhadap produk tersebut. Perusahaan menghadapi persaingan untuk merebut
pangsa pasar dengan menawarkan berbagai macam produk

Keterkaitan Desain Produk dengan Keputusan Pembelian Konsumen


Produk merupakan sesuatu yang diciptakan oleh perusahaan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk ditawarkan ke pasar untuk diamati,
disukai dan dibeli, yang pada akhirnya akan digunakan dan dikonsumsi oleh
konsumen.
Perusahaan diharapkan dapat menghasilkan produk yang baik, unggul dan
sesuai dengan harapan konsumen. Produk yang memiliki desain dapat
menghasilkan daya pikat tersendiri untuk menarik minat konsumen. Karena desain
tidak hanya memberikan tampilan pada produk namun juga dapat memberikan nilai
kegunaan produk tersebut yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Ketika
kebutuhan tersebut sudah terpenuhi oleh suatu produk, maka konsumen pun
berkeinginan untuk melakukan pembelian pada produk tersebut.
Menurut Saladin (2007:96) bahwa:
”Desain produk merupakan bagian dari teknis pengembangan produk. Hasil
pengalaman konsumen dalam melihat orang lain menggunakan suatu produk akan
menghasilkan penilaian kosumen terhadap produk teknologi tersebut. Apabila produk
tersebut dapat memuaskan keinginan konsumen maka konsumen akan memberikan
penilaian positif terhadap produk tersebut. Dengan penilaian tersebut maka konsumen
akan mempertimbangkan spesifikasi produk seperti desain sebagai pertukaran
pengorbanan uang yang digunakan konsumen untuk membeli sebuah produk”.

Jenis-jenis Perilaku Keputusan Pembelian


Pengambilan keputusan konsumen berbeda-beda, bergantung pada masing-
masing produk. Pembeli yang rumit dan mahal mungkin melibatkan lebih banyak
pertimbangan pembeli. Menurut Assael yang dikutip oleh Kotler (2002:202)
“membedakan empat jenis perilaku pembelian konsumen berdasarkan
tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan merek, yaitu: perilaku
pembelian yang rumit, perilaku pembelian pengurang ketidaknyamanan,
perilaku pembelian karena kebiasaan, perilaku pembelian yang mencari
variasi”.

  1. Perilaku Pembelian Yang Rumit
    Perilaku pembelian yang rumit terdiri dari proses tiga langkah. Pertama,
    pembeli mengembangkan keyakinan tentang produk tersebut. Kedua, ia
    membangun sikap tentang produk tersebut. Ketiga, ia membuat pilihan pembelian
    yang cermat. Konsumen terlibat dalam perilaku pembelian yang rumit bila mereka
    sangat terlibat dalam pembelian dan sadar akan adanya perbedaan-perbedaan besar
    diantara merek. Sebagai contoh, seseorang yang membeli computer pribadi,
    mungkin tidak mengetahui atribut apa yang harus dicari. Banyak ciri produk yang
    tidak mengandung arti kecuali kalau pembeli telah melakukan pengamatan.
    Pemasar perlu mendiferensiasikan ciri-ciri merek mereka, menggunakan
    media cetak untuk menjelaskan manfaat merek tersebut, dan memotivasi staf
    penjualan toko serta kenalan dari pembeli untuk mempengaruhi pemilihan akhir
    merek.
  2. Perilaku Pembelian Pengurang Ketidaknyamanan
    Kadang-kadang konsumen sangat terlibat dalam sebuah pembelian namun
    melihat sedikit perbedaan diantara berbagai merek. Dalam kasus itu pembeli akan
    berkeliling untuk mempelajari apa yang tersedia namun akan membeli dengan
    cukup cepat, barangkali pembeli sangat peka terhadap harga yang baik atau
    terhadap kenyamanan belanja. Namun ada kalanya konsumen mengalami
    ketidaknyamanan setelah melakukan pembelian produk tersebut ditambah lagi
    dengan mendengar kabar bahwa produk lain itu lebih baik. Dalam hal ini pertama-
    tama konsumen bertindak, kemudian mendapatkan keyakinan baru, selanjutnya
    hasil akhirnya muncul sekumpulan sikap. Jadi komunikasi pemasar harus ditujukan
    pada penyedia keyakinan dan evaluasi yang membantu konsumen merasa puas
    dengan pilihan mereknya.
  3. Perilaku Pembelian Karena Kebiasaan
    Banyak produk dibeli dengan kondisi rendahnya keterlibatan konsumen dan
    tidak adanya perbedaan merek yang signifikan. Misalnya garam. Konsumen
    memiliki sedikit keterlibatan dalam jenis produk itu. Mereka pergi ke toko dan
    mengambil merek tertentu. Jika mereka tetap mengambil merek yang sama, hal itu
    karena kebiasaan, bukan karena kesetiaan terhadap merek yang kuat.
    Para pemasar memiliki empat teknik (strategi), yang pertama mereka dapat
    mengaitkan produk dengan beberapa isu yang menarik keterlibatan. Kedua, mereka
    dapat mengaitkan produk dengan beberapa situasi pribadi yang menarik
    keterlibatan. Ketiga, mereka dapat merancang iklan yang memicu emosi yang
    berhubungan dengan nilai-nilai pribadi. Keempat, mereka mungkin menambah ciri-
    31
    ciri khusus ke dalam produk. Strategi tersebut hanyalah meningkatkan keterlibatan
    konsumen dari tingkat rendah ke sedang.
  4. Perilaku Pembelian Yang Mencari Variasi
    Ditandai oleh keterlibatan konsumen yang rendah namun perbedaan merek
    yang signifikan. Konsumen sering melakukan peralihan merek karena bosan atau
    ingin merasakan hal yang berbeda. Perpindahan tersebut terjadi karena mencari
    variasi, bukan karena ketidakpuasan.
    Pemimpin pasar akan berusaha mendorong perilaku pembelian dengan
    mendominasi rak-rak penjualan, menghindari kekurangan pasokan dan sering
    mensponsori iklan-iklan untuk mengingatkan kosumen

Tahapan Proses Keputusan Pembelian Konsumen


Adapun tahap-tahap yang dilalui konsumen dalam proses pengambilan
keputusan menurut Kotler (2002:204) yaitu “Konsumen melewati lima tahap:
pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan
pembelian dan perilaku pasca pembelian”.

  1. Pengenalan masalah
    Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah masalah atau
    kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau
    eksternal.
  2. Pencarian Informasi
    Konsumen yang tergugah kebutuhannya akan terdorong untuk mencari
    informasi yang lebih banyak.
  3. Evaluasi berbagai alternatif merek
    Bagaimana konsumen memproses informasi merek yang bersaing dan
    membuat penilaian akhir. Dalam tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi
    atau merek-merek dalam kumpulan pilihan.
  4. Keputusan membeli
    Konsumen juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk yang paling
    disukai. Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub
    keputusan pembelian: keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas,
    keputusan waktu, dan keputusan metode pembayaran.
  5. Perilaku pasca pembelian
    Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami level kepuasan atau
    ketidakpuasan tertentu. Ada kemungkinan konsumen tidak puas dikarenakan ada
    ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan yang dirasakannya.
    2.3.2.3

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Fandi Tjiptono (2008:156) bahwa “Keputusan pembelian
didasari pada informasi tentang keunggulan suatu produk yang disusun
sehingga menimbulkan rasa menyenangkan yang akan merubah seseorang
untuk melakukan keputusan pembelian”.
Menurut Kotler (2002:186) “Keputusan pembelian adalah tindakan dari
konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk.”
Definisi lainnya mengenai keputusan pembelian menurut Kotler dan
Armstrong (2012:178) berpendapat bahwa “Keputusan pembelian adalah
keputusan pembeli (konsumen) tentang merek yang akan dibeli”.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku konsumen


Dengan memahami perilaku konsumen akan memberikan manfaat yang besar
untuk perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya yang ditawarkan kepada
konsumen. Perilaku Konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor-faktor penting.
Menurut Kotler (2002:183) faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen
dalam mengambil keputusan pembelian adalah:

  1. Faktor Budaya
    Kelas budaya, subbudaya, dan sosial sangat mempengaruhi perilaku pembelian
    konsumen. Budaya (culture) adalah determinan dasar keinginan dan perilaku
    seseorang. Melalui keluarga dan ilusi utama lainnya.
  2. Faktor Sosial
    Selain faktor budaya, perilaku seorang konsumen dipengaruhi oleh faktor-
    faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status sosial.
    Karena manusia merupakan makhluk sosial yang pada dasarnya sangat
    mendapatkan pengaruh dari orang-orang disekitarnya saat membeli suatu
    barang kebutuhannya.
  3. Faktor Pribadi
    Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi. Faktor
    pribadi meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli; pekerjaan dan
    keadaan ekonomi; kepribadian dan konsep diri; serta gaya hidup dan nilai.
    Karena banyak dari karakteristik ini yang mempunyai dampak yang sangat
    langsung terhadap perilaku konsumen, sehingga penting bagi pemasar untuk
    mengikuti secara seksama.
  4. Faktor Psikologis
    Aspek ini merupakan bagian dari pribadi individu konsumen, faktor psikologis
    mempunyai peran yang signifikan pada perilaku konsumen dari sekian banyak
    bidang dalam psikologi. Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat
    faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, serta keyakinan
    dan pendirian. Pembelian suatu produk dipengaruhi oleh keempat faktor
    tersebut meskipun pengaruhnya pada setiap konsumen berbeda-beda.

Pengertian Perilaku Konsumen


Menurut Engel dan kawan-kawan (1994) yang dikutip oleh Husein Umar
(2000:49) bahwa “Perilaku konsumen didefinisikan sebagai suatu tindakan
yang langsung dalam mendapatkan, mengkonsumsi serta menghabiskan
produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan penyusuli
tindakan tersebut”.
Kotler dan Keller (2012:173) menyatakan bahwa “Perilaku konsumen
adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih,
membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka”.
Definisi lainnya mengenai perilaku konsumen menurut Hawkins, Best dan
Coney (2007) yang dikutip oleh Oktavianti (2015:38) adalah “merupakan studi
tentang bagaimana individu, kelompok atau organisasi melakukan proses
pemilihan, pengamanan, penggunaan dan penghentian produk, jasa,
pengalaman atau ide untuk memuaskan kebutuhannya terhadap konsumen
dan masyarakat”.

Perilaku Konsumen


Tujuan pemasaran adalah memenuhi dan memuaskan kebutuhan serta
keinginan konsumen. Menurut Siswanto Sutojo (2009:59) bahwa “konsumen
adalah orang perorangan atau keluarga yang membeli barang atau jasa untuk
mereka konsumsi sendiri”.
Kebutuhan dan keinginan konsumen akan suatu produk (barang atau jasa)
selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa, dan mempengaruhi perilaku
mereka dalam melakukan pembelian produk.
Perilaku konsumen menjawab pertanyaan yang bersangkutan dengan
keputusan mereka membeli produk secara mendetail mengenai produk apa yang
konsumen beli, dimana mereka membelinya, bagaimana caranya, seberapa banyak,
dan kapan mereka membelinya. Hal tersebutlah yang selalu dilakukan oleh setiap
perusahaan untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan apa yang diharapkan
konsumen

Metode-metode Desain Produk


Menurut Imam Djati Widodo (2005) yang dikutip oleh Oktavianti
(2015:35) metode-metode desain produk adalah sebagai berikut:

  1. Rekayasa/Analisis Nilai
    Metode ini bersifat meningkatkan nilai dan pengurangan biaya melalui
    pendefinisian fungsi dan analisis fungsi biaya.
  2. Panduan Poduct Design
    Metode ini meliputi semua aturan dan teknik untuk perakitan untuk memproses
    manufaktur, terutama dalam pemilihan teknologi dan rancangan.
  3. Design for Assembly
    Meliputi semua aturan dan teknik untuk perbaikan perakitan dan perancangan
    untuk kemudahan handling dan perakitan.
  4. Metode Taguchi
    Metode perancangan untuk mendapatkan rancangan yang kuat dan
    perancangan percobaan

Strategi Desain Produk


Strategi desain produk berkaitan dengan tingkatan standarisasi produk,
Menurut Fandy Tjiptono (2008:435), perusahaan memilki tiga strategi, yaitu:

  1. Produk standar untuk meningkatkan skala ekonomis perusahaan melalui
    produksi massa.
  2. Customized product untuk bersaing dengan produsen produksi massa
    (produk standar) melalui fleksibilitas desain produk.
  3. Produk standar dengan modifikasi untuk mengkombinasi manfaat dari
    dua strategi diatas

Aspek Desain Produk


Menurut Kotler dan Keller (2009:10) terdapat aspek-aspek desain produk,
yaitu mencakup:

  1. Bentuk
    Banyak produk dapat diferensiasikan berdasarkan bentuk – ukuran, bentuk
    atau struktur fisik produk.
  2. Fitur
    Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan memvariasikan fitur yang
    melengkapi fungsi dasar mereka. Sebuah perusahaan dapat mengidentifikasi
    dan memilih fitur baru yang tepat dengan mensurvei pembeli terbaru dan
    kemudian menghitung perbandingan nilai pelanggan dan biaya perusahaan
    untuk setiap fitur potensial.
  3. Kinerja
    Merupakan tingkat dimana karakteristik utama produk beroprasi. Kualitas
    menjadi dimensi yang semakin penting untuk diferensiasi ketika perusahaan
    menerapkan sebuah model nilai dan memberikan kualitas yang lebih tinggi
    dengan uang yang lebih rendah.
  4. Kesesuaian
    Merupakan tingkat dimana semua unit yang diproduksi identik dan memenuhi
    spesifikasi yang dijanjikan.
  5. Ketahanan
    Merupakan ukuran umur operasi produk dalam kondisi biasa atau penuh
    tekanan, merupakan atribut berharga untuk produk-produk tertentu.
  6. Kehandalan
    Merupakan ukuran probabilitas bahwa produk tidak akan mengalami
    malfungsi atau gagal dalam periode waktu. Suatu produk dikatakan baik akan
    memilki keandalan sehingga dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.
  7. Gaya
    Gaya menggambarkan penampilan dan rasa produk kepada pembeli. Gaya
    adalah kelebihan dalam menciptakan perbedaan yang sulit ditiru. Gaya bisa
    menarik atau bahkan membosankan. Gaya sensasional bisa menarik perhatian
    dan menghasilkan estetika yang indah, tetapi gaya tersebut tidak benar-benar
    membuat kinerja produk menjadi lebih baik.
  8. Kemudahan Perbaikan
    Merupakan ukuran kemudahan perbaikan produk ketika produk itu rusak,
    tidak berfungsi atau gagal. Kemudahan perbaikan yang ideal terjadi jika
    pengguna dapat memperbaiki sendiri produk tersebut dengan sedikit biaya dan
    waktu

Tujuan Desain Produk


Desain produk mempunyai tujuan dalam membantu perusahaan menciptakan
dan mengembangkan suatu produk yang sesuai dengan keinginan pelanggan.
Menurut Kotler yang dikutip oleh Satria Adhi Wicaksono (2015:20)
mengemukakan tujuan desain produk adalah:

  1. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dan mempunyai nilai
    jual yang tinggi.
  2. Untuk menghasilkan produk yang tren pada masanya.
  3. Untuk membuat produk seekonomis mungkin dalam penggunaan bahan
    baku dan biaya-biaya dengan tanpa mengurangi nilai jual produk tersebu

Pengertian Desain Produk


Menurut John Echols (2005) dalam kamusnya mengatakan “Desain sebagai
potongan, pola, model, konstruksi, tujuan dan rencana”.
Siswanto Sutojo (2009:146) bahwa “Desain produk adalah guna
membedakan produk yang dihasilkan perusahaan dengan produk-produk
saingan”.
Kotler dan Keller (2009:10) berpendapat “Desain produk adalah totalitas
fitur yang mempengaruhi tampilan, rasa, dan fungsi produk berdasarkan
kebutuhan pelanggan”.
Definisi lain menurut Kotler dan Armstrong (2008:273) bahwa “Desain
produk adalah konsep yang lebih besar dari pada gaya. Gaya hanya
menggambarkan penampilan produk. Gaya bisa menarik atau membosankan.
Gaya yang sensasional bisa menarik perhatian dan menghasilkan estetika
yang indah, tetapi gaya tersebut tidak benar-benar membuat kinerja produk
menjadi lebih baik. Tidak seperti gaya, desain tidak hanya sekedar kulit luar,
desain adalah jantung produk”

Desain Produk


Para pengusaha saling bersaing untuk menghasilkan dan memberikan produk
yang sesuai dengan keinginan konsumen. Agar dapat memenangkan persaingan
bisnis, perusahaan harus dapat menciptakan atau mengembangkan sebuah produk
dengan desain yang menarik dan unggul

Atribut Produk


Untuk mempertahankan posisi pasar, perusahaan harus mampu membuat
produk unggulan yang sesuai dengan persepsi pembeli. Hal ini berkaitan dengan
atribut produk, yang mana secara fisik atribut produk membawa manfaat yang
dibutuhkan dan diinginkan pembeli.
Sesuai dengan pendapat Kotler dan Armstrong (2010:154) bahwa “Atribut
produk merupakan karakteristik dari produk atau jasa yang menghasilkan
kemampuan untuk memuaskan yang dinyatakan atau tersirat pada
kebutuhan konsumen”.
Definisi lain mengenai atribut produk menurut Fandy Tjiptono (2008:103)
bahwa “Atribut produk merupakan unsur-unsur produk yang dipandang
penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan, sehingga
akhirnya konsumen menjadi puas”.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa atribut produk mempunyai
pengaruh besar dalam pengambilan keputusan konsumen, karena dengan atribut
produklah perusahaan dapat mengembangkan suatu produk dengan komponen yang
sesuai dengan harapan konsumen. Dan komponen atribut produk tersebut menurut
Kotler dan Armstrong (2012:255) diantaranya:

  1. Kualitas Produk
    Kualitas produk adalah salah satu sarana positioning utama untuk pemasar.
    Mempunyai dampak langsung pada kinerja produk. Oleh karena itu kualitas
    berhubungan erat dengan nilai dan kepuasan pelanggan.
  2. Fitur Produk
    Fitur produk adalah sebuah produk dapat ditawarkan dalam beragam fitur,
    model dasar, model tanpa tambahan apapun, merupakan titik awal. Perusahaan
    dapat menciptakan tingkat model yang lebih tinggi dengan menambahkan lebih
    banyak fitur. Fitur adalah sarana kompetitif untuk mendiferensiasikan produk
    perusahaan dari produk pesaing. Menjadi produsen pertama yang
    memperkenalkan fitur baru yang bernilai merupakan salah satu cara paling
    efektif untuk bersaing.
  3. Gaya dan Desain Produk
    Desain memiliki konsep lebih luas daripada gaya (style). Desain selain
    mempertimbangkan faktor penampilan, juga bertujuan untuk memperbaiki
    kinerja produk, mengurangi biaya produksi, dan menambah keunggulan
    bersaing.
  4. Penetapan Merek
    Mungkin keahlian pemasar profesional yang paling istimewa adalah
    kemampuan mereka untuk membangun dan mengelola merek. Merek adalah
    sebuah nama, istilah, tanda, lambang atau desain, atau kombinasi semua ini,
    yang menunjukkan identitas pembuat atau penjual produk atau jasa. Konsumen
    akan memandang merek sebagai bagian penting dari produk, dan penetapan
    merek bisa menambah nilai bagi suatu produk.
  5. Kemasan
    Kemasan melibatkan perancangan dan produksi wadah atau pembungkus
    untuk sebuah produk. Fungsi utama kemasan adalah menyimpan dan
    melindungi produk. Kemasan yang didesain dengan buruk bisa menyebabkan
    konsumen pusing dan perusahaan kehilangan penjualan. Sebaliknya, kemasan
    yang inovatif bisa memberikan manfaat kepada perusahaan melebihi pesaing
    dan mendorong penjualan.
  6. Label
    Label berkisar dari penanda sederhana yang ditempelkan pada produk sampai
    rangkaian huruf rumit yang menjadi bagian kemasan. Label mempunyai
    beberapa fungsi. Setidaknya label menunjukkan produk atau merek, seperti
    nama Sunkist yang tercantum pada jeruk. Label juga bisa menggambarkan
    beberapa hal tentang produk: siapa yang membuatnya, dimana produk itu
    dibuat, kapan produk itu dibuat, kandungannya, cara pemakaiannya, dan
    bagaimana menggunakan produk itu dengan aman.
  7. Pelayanan Pendukung Produk
    Pelayanan pelanggan adalah elemen lain dalam strategi produk. Penawaran
    perusahaan biasanya meliputi beberapa pelayanan pendukung, yang bisa
    menjadi bagian kecil atau bagian besar dari seluruh penawaran.
    Atribut produk yang paling besar peranannya dalam menciptakan persepsi
    konsumen adalah mutu, corak, dan desain (Siswanto Sutojo, 2009:143)

Definisi Produk


Pengertian produk menurut beberapa para ahli adalah sebagai berikut:
Menurut Siswanto Sutojo (2009:133) menyatakan bahwa “Produk
merupakan titik keberangkatan keberhasilan pemasaran”.
Definisi lainnya menurut Kotler dan Keller (2009:4) menyatakan “Produk
adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pasar untuk memuaskan
suatu keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman,
acara, orang, tempat, properti, organisasi, informasi dan ide”

Bauran Pemasaran


Untuk menciptakan startegi pemasaran yang efektif dan efisien, perusahaan
harus memiliki pemahaman mengenai bisnis mereka dan pasar tempat mereka
beroperasi. Jangkauan pemasaran itu sangat luas, karena untuk menyampaikan
produk ke tangan konsumen itu membutuhkan berbagai tahap. Maka jangkauan
yang luas tersebut disederhanakan menjadi empat bauran pemasaran.
Beberapa para ahli mengemukakan bauran pemasaran (marketing mix)
sebagai berikut:
Menurut Kotler (2002:18) menyatakan bahwa “Bauran pemasaran
(marketing mix) adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan
perusahaan untuk terus-menerus mencapai tujuan pemasarannya di pasar
sasaran”.
Buchari Alma (2011:205) menyatakan “Marketing mix merupakan
strategi mencampur kegiatan-kegiatan marketing, agar dicari kombinasi
maksimal sehingga mendatangkan hasil paling memuaskan”.
Dari kedua definisi di atas dapat dipahami bahwa bauran pemasaran adalah
serangkaian alat pemasaran yang saling berkaitan yang digunakan untuk mencapai
tujuan perusahaan.
Menurut Kotler dan Armstrong (2012:75) mengklasifikasikan alat-alat dari
bauran pemasaran menjadi kelompok yang luas yang disebut dengan 4P dalam
pemasaran yaitu:

  1. Product
    Produk adalah kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada
    pasar sasaran.
  2. Price
    Harga adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan oleh pelanggan untuk
    mendapatkan barang.
  3. Place
    Tempat meliputi kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi
    pelanggan sasaran.
  4. Promotion
    Promosi berarti aktivitas yang menyampaikan manfaat produk dan membujuk
    pelanggan membelinya.

Pengertian Pemasaran


Pemasaran merupakan suatu ilmu yang digunakan oleh perusahaan.
Pemasaran ini salah satu kegiatan yang sangat penting dalam sebuah perusahaan,
karena perusahaan akan dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Dengan
perencanaan dan pelaksanaan yang matang dan baik akan menghasilkan pemasaran
yang baik pula.
Pemasaran dikenal dengan istilah dalam bahasa inggris yaitu marketing yang
artinya adalah aktivitas menciptakan dan memasarkan produk baik itu barang
ataupun jasa kepada pelanggan atau masyarakat umum. Pemasaran itu bermula dari
adanya kebutuhan yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. Proses
pemenuhan kebutuhan dan keinginan itulah yang menjadi konsep dari pemasaran.
Pemasaran menurut Kotler (2002:9) adalah “suatu proses sosial yang di
dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”.
William J. Stanton yang dikutip oleh Danang Sunyoto (2014:18)
berpendapat bahwa:
Marketing is a total system business designed to plan, price, promote and distribute
want satisfying products to target market to achieve organizational objective. Artinya:
Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk
merencanakan, menentukan harga, promosi, dan mendistribusikan barang-barang
yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan
perusahaan.
Definisi lain tentang pemasaran menurut AMA (American Marketing
Association) dalam Kotler (2009:5) “Pemasaran adalah fungsi organisasional
dan seperangkat proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan
menyerahkan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan dengan
pelanggan dengan cara-cara yang menguntungkan bagi organisasi dan semua
pemangku kepentingan.

Tahapan Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Amstrong (2012:179) terdapat beberapa tahap proses
dalam melakukan keputusan pembelian, yaitu:
1) Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian dimulai saat konsumen mengenali sebuah masalah atau
kebutuhan,dimana kebutuhan itu dapat dicetuskan oleh rangsangan internal
dan eksternal. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen,
pemasar dalam mengidentifikasi rangsangan yang paling sering
membangkitkan minat akan suatu kategori produk, sehingga pemasar dapat
mengembangkan strategi pemasaran yang memicu inat konsumen.
Pengenalan kebutuhan dapat dipicu oleh dua faktor, yaitu internal dan
eksternal. Faktor inernal adalah saat seseorang merasakan suatu keutuhan
sebagai manusi normal seperti merasalapar dan haus. Sementara faktor
eksternal berasal dari luar pribadi, seperti iklan bahkan berdiskusi dengan
teman yang dapat memicu timbulnya kebutuhan. Pada tahap ini seorang
pemasar harus mencari tahu kebutuhan dari konsumen serta mampu
membawa solusi dari kebutuhan konsumen tersebut.
2) Pencarian Informasi
Konsumen yang terungggah kebutuhannya akan terdorong untuk mencari
informasi yang lebih banyak, kita dapat membaginya kedalam dua tingkat.
Situasi yang pertama adalah pencarian informasi yang lebih ringan dinamakan
pencarian yang menguat.pada tingkat selanjutnya, orang akan memasuki
tingkatt pencarian aktif informasi dengan cara mencari bahan bacaan,
menelpon teman, dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk yang akan
dibelinya.
Konsumen dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber yaitu:
a) Personal source
Sumber pribadi bisa berasal dari teman, keluarga, tetangga, atau pribadi
yang dekat dengan orang tersebut.
b) Commercial source
Sumber komrsial adalah sumber informasi yang berasal dari iklan, sales
promotion, dan dari berbagai aktifitas promosi lainnya
c) Public source
Merupakan sumber informasi yang berasal dari berbagai media massa,
internet, organisasi kemasyarakatan, dan lain-lain.
d) Experiental source
Merupakan sumber informasi berdasarkan pengalaman yang elah
menggunakan suatu produk dan mengatasi masalah yang terjadi saat
mengkonsumsi suatu produk.
3) Evaluasi Alternatif
Konsumen menggunakan informasi internl dan eksternal untuk
mengevaluasi pilihn berkenaan dengan manfaat yang diperolehnya sehingga
pilihan berdasarkan evaluasi alternative ini merupakan pilihan terbaik untuk
konsumen.
Evaluasi alternative menggunakan kriteria yang dibuat oleh konsumen
untuk membandingkan produk yang ada di pasar dan membuat pilihan.
4) Keputusan Pembelian
Dalam tahap ini diawali dengan ppenilaian terhadap berbagai alternative
yang dapat dilihat dari atribut-atribut yang melekat pada produk itu. Dengan
indikasi itu maka konsumen membentuk pilihan di antara beberapa produk
yang trgabung dalam perangkat plihan. Dalam tahap ini konsumen juga
membentuk suatu maksud memilih suatu produk yang disukai.
Ada dua faktr yang berbeda di antara niat pembelian dan keputusan
pembelian, antara lain:
a) Sikap dari orang lain, skap orang lain mampu mempengaruhi seseorang
dalam melakukan keputusan pembeliannya.
b) Faktor situasi yang tidak bisa diantisipasi, yang dapat merubah keputusan
pembelian seperti kondisi ekonomi, inflasi, nilai tukar mata uang, dan
lain-lain.
5) Perilaku pasca pembelian
Setelah pembelian produk, konsumen akan mengalami suatu tingkat
kepuasan atau ketidakpuasan tertentu. Kepuasan atau ketidakpuasan
konsumen dengan suatu produk akan mempengaruh perilaku selanjutnya. Jika
konsumen merasa puas, dia akan menunjukkan probabilitas yang lebih tinggi
untuk membeli produk itu. Sedangkan konsumen tidak puas akan berusaha
untuk mengurani ketidakpuasan ini dengan membuang atau mengembalikan
produk tersebut.

Empat Tipe Perilaku Pembelian Konsumen


Kotler dan Armstrong (2012:177) juga membedakan empat tipe perilaku
pembelian konsumen berdasarkan pada keterlibatan konsumen dan derajat
perbedan antara merk yang ada, yaitu:
1) Perilaku pembelian yang rumit (complex buying behavior)
Perilaku pembelian konsumen dalam situasi yang ditentukan oleh
keterlibatan yang tinggi dalam pembelian dan perbedaan yang dianggap
signifikan antarmerek. Pemasar produk yang memerlukan keterlibatan yang
tinggi dalam pembelian dengan berusaha mnyadari perbedaan-perbedaan yang
jelas diantara merk-merk yang ada di pasar. Perilaku ini terjadi saat akan
melakukan pembelian pada produk yang relative mahal, jarang dibeli dan
mencerminkan pembelinya seperti mobil dan barang-barang fashion.
2) Perilau membeli untuk mengurangi ketidakcocokan (Dissonence reducing
buying behavior)
Perilaku membeli pada tipe ini mempunyai keterlibatan yang tinggi dan
konsumen menyadari hanya terdapat sedikit perbedaan antara berbagai merk
yang ada. Biasanya tipe perilaku pembelian ini dipaka saat membeli barang
yang mahal, tidak sering dibeli, dan membeli dengan cepat karena perbedaan
merk tidak terlihat. Contohnya, seperti keramik, pipa PVC, karpet dan lain-
lain. Konsumen akan merespon dengan harga atau yang mampumenjawab
kebutuhan dan kenyamanan konsumen.
3) Perilaku membeli akibat kebiasaan (Habbitual buying behavior)
Dalam hal ini, perilaku pembelian dilakukan atas dasar kebiasaan tanpa
kesetiaan terhadap suat merk. Tingkat keterlibatan konsumen rendah dan
sedikit yang signifikan terhadap merk.
4) Perilaku membeli karena mencari variasi (Variety seeking buying behavior)
Perliaku membeli ini memiliki keterlibatan yang rendah, namun masih
terdapat perbedaan merk yang jelas.perilaku ni terjadi untuk produk-produk
yang sering dibeli, relative murah dan konsumen ingin mencoba produk
lainnya

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk pada dasarnya erat
kaitannya dengan perilaku konsumen. Perilaku konsumen merupakan unsur penting
dalam kegiatan pemasaran suatu produk yang perlu diketahui oleh perusahaan, karena
perusahaan pada dasarnya tidak mengetahui mengenai apa yang ada dalam pikiran
seorang konsumen pada waktu sebelum, sedang, dan setelah melakukan pembelian
produk tersebut.
Adanya kecenderungan pengaruh kualitas produk, promosi terhadap keputusan
pembelian yang dilakukan oleh konsumen tersebut, mengisyaratkan bahwa manajemen
perusahaan perlu mempertimbangkan aspek perilaku konsumen, terutama proses
pengambilan keputusan pembeliannya.
Menurut Kotler dan Armstrong ( 2012 : 158 ) , bahwa perilaku keputusan pembelian
mengacu pada perlilaku pembelian akhir dari konsumen, baik individual, maupun rumah
tangga yang membeli barang dan jasa untuk konsumsi pribadi.
Maka dapat disimpulkan keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk
mau membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi
konsumen dalam melakukan pembelian produk atu jasa, biasanya konsumen selalu
mempertimbangkan kualitas, harga dan produk sudah dikenal oleh masyarakat sebelum
konsumen memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen melalui beberapa tahap
terlebih dahulu yaitu:
1) Pengenalan kebutuhan
2) Pencarian informasi
3) Evaluasi alternative
4) Keputusan membeli atau tidak
5) Perilaku pasca pembelian

Dimensi Promosi


Bauran Promosi merupakan alat komunikasi yang terdiri dari kombinasi alat-alat
promosi yang digunakan oleh perusahaan. Pada umumnya alat-alat promosi tersebut
memiliki hubungan yang erat,sehingga diantaranya tidak dapat dipisahkan,karena bersifat
saling mendukung dan melengkapi.
Menurut Kotler dan Armstrong ( 2012 : 432 ), bauran promosi terdiri atas lima alat-
alat promosi yaitu :
1) Advertising ( Periklanan ) : Yaitu semua bentuk presentasi dan promosi
nonpersonal yang dibayar oleh sponsor untuk mempresentasikan gagasan,
barang atau jasa. Periklanan dianggap sebagai manajemen citra yang bertujuan
menciptakan dan memelihara cipta dan makna dalam benak konsumen.
Bentuk promosi yang digunakan mencakup broadcast, print, internet,
outdoor, dan bentuk lainnya.
2) Sales Promotion ( Promosi Penjualan ) : Yaitu intensif-inensif jangka pendek
untuk mendorong pembelian atau penjualan suatu produk atau jasa. Bentuk
promosi yang digunakan mencakup discounts, coupons, displays,
demonstrations, contests, sweepstakes, dan events.
3) Personal Selling ( Penjualan Perseorangan ): Yaitu presentasi personal oleh
tenaga penjualan dengan tujuan menghasilkan penjualan dan membangun
hubungan dengan konsumen. Bentuk promosi yang digunakan mencakup
presentations, trade shows, dan incentive programs.
4) Public Relations ( Hubungan Masyarakat ) : Yaitu membangun hubungan
yang baik dengan berbagai public perusahaan supaya memperoleh publisitas
yang menguntungkan,membangun citra perusahaan yang bagus,dan
menangani atau meluruskan rumor, cerita, serta event yang tidak
menguntungkan. Bentuk promosi yang digunakan mencakup press releases,
sponshorships, special events, dan web pages.
5) Direct Marketing ( Penjualan Langsung ) : Yaitu hubungan langsung dengan
sasaran konsumen dengan tujuan untuk memperoleh tanggapan segera dan
membina hubungan yang abadi dengan konsumen. Bentuk promosi yang
digunakan mencakup catalogs, telephone marketing, kiosks, internet, mobile
marketing, dan lainnya

Pengertian Promosi


Dalam mengelola suatu system komunikasi pemasaran memerlukan suatu rancangan
strategi dan program-program penjualan yang efektif dan efisien. Promosi penjualan
merupakan unsur kunci dalam kampanye perusahaan dan promosi yang paling baik
adalah promosi yang dilakukan oleh pelanggan yang puas. Dengan demikian promosi
perlu ditangani secara cermat karena masalahnya bukan hanya menyangkut pada
bagaimana berkomunikasi dengan pelanggan tetapi juga menyangkut seberapa besar
biaya yang dikeluaran untuk biaya ini yang tentunya harus disesuaikan pada kondisi dan
kemampuan perusahaan.
Menurut Hasan ( 2013 : 603 ) Promosi adalah proses mengkomunikasikan variabel
bauran pemasaran ( marketing mix ) yang sangat penting untuk dilaksanakan oleh
perusahaan dalam memasarkan produk. Kegiatan promosi dimulai dari perencanaan,
implementasi dan pengendalian komunikasi untuk menjangkau target audience dan
promosi sering dimaknai sebagai “ The planning, implementing, and controlling of the
communication with its customers and other target audiences” .

Produk Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Pembelian


Menurut Hasan (2013:500) atribut produk setidaknya dipandang
konsumen untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian selain
merek, kemasan, labelling, garansi, dan pelayanan. Berikut adalah yang harus
diperhatikan dalam perusahaan :
1) Kemasan
(a) Sebagai pelindung dari kerusakan, kehilangan
(b) Memberikan kemudahan
(c) Sebagai daya tarik
(d) Sebagai identitas dari perusahaan/produk
(e) Cerminan inovasi produk
2) Pemberian Label
Pemberian label ( labeling ) sebagai bagian dari kemasan suatu produk
yang menyampaikan informasi mengenai produk dan penjual yang merupakan
tanda pengenal dari suatu produk. Labeling, packaging, dan branding merupakan
satu kesatuan yang dikenal sebagai :
a) Brand label : Nama merek yang dicantumkan pada kemasan
produk
b) Descriptive label : Label yang memberikan informasi objektif
mengenai penggunaan, pembuatan, perawatan, perhatian, dan kinerja
produk, serta karakteristik lainnya yang berhubungan dengan produk.
c) Grade label : Label yang mengidentifikasikan penilaian kualitas
produk dengan suatu huruf, angka, atau kata.
3) Layanan Pelengkap
Setiap produk apapun produknya sekarang ini disertai dengan unsur
layanan, baik itu jasa sebagai produk inti maupun layanan sebagai pelengkap.
Produk ini umumnya sangat bervariasi antara tipe bisnis yang satu dengan
tipe bisnis yang lainnya,tetapi layanan pelengkapnya memiliki kesamaan
yaitu :
(a) Informasi, misalnya informasi menuju tempat produsen, jadwal, harga,
instruksi, pemakaian.
(b) Konsultasi, seperti pemberian saran, auditing, konseling, konsultasi
manajemen dan sebagainya.
(c) Order taking, seperti aplikasi program langganan, aplikasi kualifikasi,
order entry, reservasi tempat duduk, meja, ruang.
(d) Hospitality, seperti penyambutan, food and beverages, toilet dan kamar
kecil, pelengkap kamar mandi, fasilitas tunggu, keamanan.
(e) Caretaking, seperti perhatian dan perlindungan terhadap barang milik
pelanggan, dengan menyediakan parker yang aman dan penitipan yang
aman.
(f) Exception, merupakan permintaan khusus sebelum penyampaian
produk, menangani komplain dan saran, pemecahan masalah.
(g) Billing, laporan rekening periodik, jumlah rekening.
4) Garansi
Garansi adalah janji yang merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh
produsen atas produknya kepada konsumen,misalnya konsumen akan diberi
ganti rugi bila produknya ternyata tidak berfungsi sesuai yang dijanjikan.
Jaminan atas produk misalnya jaminan kualitas produk, reparasi, ganti rugi
uang, produk ditukar dengan yang baru.
5) Standarisasi Produk
Perusahaan sukses melakukan standarisasi produk, maka semakin
memperkuat kemampuan strategi marketingnya khususnya menawarkan
rasio harga – manfaat yang lebih tinggi. Setidaknya ada 3 karakteristik
perusahaan yang berhasil dalam standarisasi:
(a) Bisnis mereka stabil
(b) Memiliki kemampuan merancang konfigurasi saluran pemasaran
(c) Melakukan investasi untuk meperdalam customer value
6) Pembedaan Produk
Pembedaan produk merupakan dasar bagi marketer dalam
menentukan motif motif pembelian dan menarik pembeli yang bersifat
selektif. Pembedaan produk merupakaan strategi untuk menarik perhatian
para pembeli. Diferensiasi produk secara kompetitif melalui inovasi bersifat
jangka panjang akan menghasilkan asset yang dapat menghalangi pesaing
untuk melakukan duplikasi atau membuat tandingan

Jenis Produk


Menurut Hasan (2013 : 496) Jenis produk dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Barang
Barang merupakan produk berwujud fisik, sehingga bisa diliat, diraba,
dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
b) Jasa
Jasa merupakan aktivitas, manfaat, atau kepuasan yang ditawarkan untuk
dijual, contohnya bengkel reparasi, salon kecantikan, kursus, hotel, lembaga
pendidikan dan lain lain

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Hasan (2013:99), kualitas produk dapat dimasukkan ke dalam 9
dimensi,yaitu :
a) Bentuk ( Form )
Produk dapat dibedakan secara jelas dengan yang lainya berdasarakan bentuk,
ukuran, atau struktur fisik produk.
b) Ciri- ciri produk ( features )
Keistimewaan fungsi dasar produk karakteristik sekunder atau pelengkap
yang berguna untuk menambah fungsi dasar yang berkaitan dengan pilihan-
pilihan produk dan pengembangannya.
c) Kinerja ( performance )
Kualitas dari karakteristik dasar produk. Berkaitan dengan aspek
fungsional suatu barang dan merupakan karakteristik utama yang
dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut.
d) Ketepatan/Keseuaian ( conformance )
Berkaitan dengan tingkat kesesuaian dengan spesifikasi yang ditetapkan
sebelumnya berdasarkan keingininan pelanggan. Kesesuaian merefleksikan
derajat ketepatan antara karakteristik desain produk dengan karakteristik
kualitas standar yang telah ditetapkan.
e) Ketahanan ( durability )
Berkaitan dengan berapa lama suatu produk dapat digunakan.
f) Kehandalan ( reliability )
Berkaitan dengan probabilitas atau kemungkinan suatu barang berhasil
menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu
dan dalam kondisi tertentu pula.
g) Kemudahan Perbaikan ( repairability )
Berkaitan dengan kemudahan perbaikan atas produk jika rusak. Idealnya
produk akan mudah diperbaiki sendiri oleh pengguna jika rusak
h) Gaya ( style )
Penampilan produk dan kesan konsumen terhadap suatu produk.
i) Desain ( design )
Keseluruhan keistimewaan produk yang akan mempengaruhi penampilan
dan fungsi produk terhadap keinginan konsumen.

Pengertian Kualitas Produk


Salah satu keunggulan dalam persaingan ini terutama adalah kualitas produk yang
dapat memenuhi keinginan konsumen. Bila tidak sesuai dengan spesifikasi maka produk
akan ditolak. Demikian juga konsumen dalam membeli suatu produk konsumen selalu
berharap agar barang yang dibelinya dapat memuaskan segala keinginan dan
kebutuhannya. Untuk itu perusahaan harus dapat memahami keinginan konsumen,
sehingga perusahaan dapat menciptakan produk yang sesuai dengan harapan konsumen.
Kualitas produk yang baik merupakan harapan konsumen yang harus dipenuhi oleh
perusahaan karena kualitas produk yang baik merupakan kunci perkembangan
produktivitas perusahaan.
Menurut Kotler dan Armstrong ( 2012 : 254 ) arti dari kualitas produk adalah “
Quality has a direct impact on product or service pervormance; thus, it is closely linked
to customer value and satisfaction. In the narrowest sense,quality can be defined as “
freedom from defects”. But most customer centered companies go beyond this narrow
definition. Instead,they defines quality terms of creating customer value and
satisfaction.” Artinya kualitas produk memiliki dampak langsung pada kinerja barang
dan jasa, dengan demikian hal tersebut sangat terkait dengan nilai pelanggan dan
kepuasan pelanggan. Dalam arti sempit, kepuasan pelanggan dapat diartikan sebagai “
Bebas dari kecacatan, tetapi sebagian besar perusahaan yang berpusat pada pelanggan
melampaui definisi sempit ini. Sebaliknya, mereka mendefinisikan kualitas dalam hal
menciptakan nilai kepuasan pelanggan

Konsep Produk


Menurut Hasan (2013:494) memasarkan produk adalah deals bauran rancangan
produk, pricing, place, promotion, packaging, dan positioning yang ditawarkan kepada
prospek, dan pelanggan. Produk menurut Kotler dan Armstrong ( 2012 : 248 ) adalah “ A
Product as anything that can be offered to a market for attention, acquisition, use or
consumption and that might satisfy a want or need “ Artinya produk adalah segala
sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan perhatian dibeli, dipergunakan dan
yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan.
Kotler dan Armstrong ( 2012 : 266 ), mendefinisikan produk adalah segala sesuatu
yang ditawarkan ke pasar agar menarik perhatian, akuisisi, penggunaa, atau konsumsi
yang dapat memuaskan suatu keinginan atau kebutuhan

Definisi Kualitas


Kualitas atau mutu adalah satu kata kunci yang harus terus dijaga oleh
suatu industry atau perusahaan untuk dapat memberikan kepuasan pelayanan
kepada pelanggan atau customer. Oleh karena itu perusahaan selalu berlomba-
lomba untuk meningkat kualitas dari hasil produksinya agar dapat
Fmempertahankan pelanggannya. Secara definitif kualitas dapat diartikan sebagai
derajat atau tingkat dimana produk dimana produk atau jasa tersebut dapat
memuaskan keinginan dari konsumen (fitness for use atau tailor made).
W.Edwards Deming menyatakan bahwa kualitas dapat diartikan sebagai suatu
tingkat yang dapat diprediksi dari keseragaman dan ketergantungan pada biaya
rendah dan sesuai dengan pasar.
Adapun tahap-tahap dalam siklus Deming untuk memenuhi kebutuhan pelanggan
terdiri dari :

  1. Mengadakan riset konsumen dan menggunakannya dalam perencanaan
    produk (Plan).
  2. Menghasilkan Produk (Do).
  3. Memeriksa produk apakah telah dihasilkan sesuai dengan rencana (Check).
  4. Memasarkan produk tersebut (Action).
  5. Menganalisis bagaimana produk tersebut diterima dipasar dalam hal
    kualitas, biaya, dan kriteria lainnya (Analize)

Teori Kualitas


Terdapat pengertian kualitas menurut:
a. Kotler dan Keller (2016) menyebutkan kualitas produk merupakan kemampuan
suatu barang berupa hasil atau kinerja yang telah sesuai bahkan melebihi dari
yang diinginkan konsumen yang dapat memenuhi perhatian, dapat digunakan atau
dikonsumsi. Kualitas produk yang berpengaruh pada kemampuan dalam
memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan membuat produk yang
berkualitas pada tampilan baik dari ciri luar (design) produk maupun inti (core)
produk itu sendiri.
b. Wijaya (2016) mengatakan bahwa kualitas produk dapat dijelaskan dan
dikomunikasikan menurut harapan pelanggannya dimana semua periklanan,
penjualan, promosi dan layanan pelanggan tidak banyak membantu dari kualitas
produk yang buruk. Perusahaan bekerja dalam memeriksa setiap produk yang
dipesan untuk menjamin dan meyakinkan bahwa tidak akan terjadi kesalahan dan
masalah pada kualitas produk yang menentukan nama baik perusahaan.
c.Menurut Tjiptono (2016) menyatakan bahwa kualitas produk adalah kualitas yang
menyesuaikan usaha dalam memenuhi atau melebihi harapan pelanggan, kualitas
mencakup produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan. Kualitas juga dapat
berubah-ubah misalnya kualitas yang dianggap mungkin kurang berkualitas pada
masa mendatang berdasarkan faktor penyebabnya

Pengaruh Harga Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Harga merupakan suatu nilai uang yang digunakan sebagai pertukaran
untuk membeli produk dan jasa (Abdurrahman, 2015:109). Penetapan harga
yang tepat sangat berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen
terhadap suatu produk. Dengan menetapkan harga yang tepat, maka
konsumen akan lebih selektif dalam memilih produk yang akan dibeli.
Sehingga, harga menjadi faktor krusial yang dilihat konsumen sebagai
bahan pertimbangan dalam memilih suatu produk. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Shalihah et al. (2021:91), menyimpulkan bahwa harga
berpengaruh positif dan siginifikan terhadap keputusan pembelian.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Kualitas produk merupakan unit atau fitur yang terkait dengan produk
atau layanan yang dapat melakukan tugasnya sedemikian rupa, sehingga
memberikan kepuasan kepada konsumen, dan memengaruhi keputusan
pembelian (Aini dan Andjarwati, 2020:21). Kualitas produk merupakan hal
utama yang perlu diperhatikan perusahaan atau produsen, mengingat
kualitas produk berkaitan erat dengan masalah keputusan pembelian
konsumen. Dimana, konsumen akan selalu mengutamakan kualitas suatu
produk sebelum memutuskan untuk membeli sebuah produk. Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Azizah et al. (2022:477), menyimpulkan
bahwa variabel kualitas produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan
pembelian. Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Sari dan
Soebiantoro (2022:856), menyimpulkan bahwa kualitas produk
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Inovasi Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Inovasi produk merupakan tahap penciptaan ide untuk barang dan
jasa, termasuk melakukan perubahan atau penambahan beberapa fitur utama
yang telah ada (Setyabudi dan Suranto, 2018:116). Dibutuhkan inovasi
produk untuk memengaruhi keputusan pembelian dan memajukan
pengembangan produk. Hal ini dapat menghasilkan perubahan yang dapat
mengurangi kemungkinan kesamaan dengan produk lainnya, terlebih
inovasi produk tersebut memiliki lebih banyak keunggulan daripada produk
pesaing. Sehingga, pelaku usaha akan lebih siap untuk menghadapi
persaingan yang ketat dan keputusan pembelian konsumen akan lebih sering
terjadi dalam jangka waktu yang lama. Menurut penelitian yang dilakukan
oleh Alfiyah dan Aminah (2023:988), menyimpulkan bahwa variabel
inovasi produk berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian.
Selain itu, pada penelitian yang dilakukan oleh Okhtavia dan Setiawan
(2022:367), menyimpulkan bahwa inovasi produk berpengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian

Indikator Harga Produk


Menurut Kotler dalam Fathorrahman (2021:219) ada empat
indikator harga produk, antara lain sebagai berikut.
1) Keterjangkauan harga, ialah perusahaan menetapkan harga yang
dapat dijangkau oleh para konsumen.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas, ialah ketika memilih antara dua
produk, konsumen cenderung memilih harga yang lebih tinggi
karena mereka menganggap perbedaan kualitas antara kedua produk
tersebut.
3) Daya saing harga, ialah konsumen umumnya membandingkan harga
dengan produk sejenis lainnya ketika akan membeli suatu produk,
sehingga harga yang lebih tinggi atau lebih rendah sangat
memengaruhi keputusan pembelian konsumen.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah keputusan pembelian
konsumen dipengaruhi oleh manfaat yang diperoleh dari produk
tersebut dibandingkan dengan nilai yang dibayarkan untuk
membelinya.
Adapun indikator harga produk menurut Lupiyoadi dalam Octavia
(2021:711), antara lain sebagai berikut.
1) Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah jika manfaat yang diperoleh
konsumen meningkat pada suatu level harga, maka nilai produk
tersebut juga akan meningkat. Sebaliknya, pada tingkat harga
tertentu, semakin besar manfaat yang dirasakan konsumen, maka
nilai barang atau jasa tersebut juga akan meningkat.
2) Keterjangkauan harga, ialah apabila harga suatu produk terlalu
tinggi, maka ada kemungkinan produk tersebut tidak dapat
dijangkau oleh segmen pasar tertentu atau bahkan dapat
menurunkan nilai produk di mata konsumen.
3) Daya saing harga, ialah strategi yang ditetapkan oleh perusahaan
dalam persaingan untuk memenangkan produk pesaing.

Strategi Penetapan Harga


Penetapan harga mencakup dimensi strategis dan taktis. Menurut
Tjiptono dan Chandra (2020:427—443), ada enam opsi strategi yang
dapat dikategorikan menurut konteks spesifik, yaitu sebagai berikut.
1) Penetapan harga produk baru
Dalam menetapkan harga produk baru harus ditentukan
dengan hati-hati, karena memengaruhi potensi pertumbuhan dan
kelangsungan hidup. Secara umum, ada dua strategi utama yang
dapat dipilih, antara lain:
a) Skimming pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang tinggi untuk produk baru. Biasanya setelah beberapa waktu
harga dikurangi dengan produk yang sama atau versi yang lebih
murah.
b) Penetration pricing, yaitu perusahaan membebankan harga awal
yang relatif rendah pada awal siklus hidup produk untuk
mendapatkan pangsa pasar yang besar dan mencegah pesaing
memasuki pasar.
2) Penetapan harga produk yang sudah mapan
Terdapat tiga opsi yang dapat digunakan dalam strategi
penetapan harga produk yang telah ada di pasaran, antara lain:
a) Mempertahankan harga, yaitu strategi yang diterapkan dengan
maksud menjaga posisi pasar serta memperkuat citra positif di
mata konsumen dan masyarakat.
b) Menurunkan harga, yaitu strategi mengurangi harga yang
diterapkan untuk menghadapi dan memenangkan persaingan
dengan faktor pertimbangan pengaruh jangka panjang, pengaruh
kualitas, pengaruh terhadap produk lain, dan pengaruh terhadap
daya kerja finansial. Sehingga, konsumen yang selektif dalam
membeli produk tidak akan berpaling ke pesaing lainnya yang
lebih murah.
c) Menaikkan harga, yaitu strategi yang diterapkan untuk menjaga
profitabilitas pada saat inflasi, memanfaatkan perbedaan produk,
atau untuk membagi pasar yang dilayani.
3) Strategi fleksibilitas harga
Terdapat dua jenis strategi dalam fleksibilitas harga, antara
lain sebagai berikut.
a) Strategi harga tunggal, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang sama untuk konsumen yang membeli
produk dengan kualitas dan kuantitas yang sama dalam kondisi
yang sama.
b) Strategi harga fleksibel, yaitu strategi yang dilakukan dengan
menetapkan harga yang berbeda untuk setiap konsumen yang
berbeda dengan kualitas produk yang sama.
4) Penetapan harga lini produk (price lining)
Strategi price lining dapat digunakan jika perusahaan
memasarkan lebih dari satu jenis atau lini produk. Harga produk lini
produk ini dapat bervariasi dan diatur pada tingkat harga yang
berbeda.
5) Leasing
Leasing yaitu sebuah perjanjian dimana pemilik suatu aset
(lessor) setuju untuk memberikan penggunaan aset tersebut kepada
pihak lain (lessee) untuk jangka waktu yang telah ditetapkan, dengan
imbalan yang telah disepakati. Ada dua jenis leasing, yaitu sebagai
berikut.
a) Operating lease, yaitu leasing yang memiliki masa berlaku yang
dapat dibatalkan dan umumnya berdurasi lebih pendek dari masa
manfaat ekonomis aset yang sedang dilakukan leasing.
b) Financial lease, yaitu leasing yang berlangsung dalam jangka
waktu yang lama dan tidak dapat dibatalkan, mengharuskan
penyewa untuk membayar biaya sewa hingga akhir masa
manfaat ekonomis aset tersebut.
6) Penetapan harga jasa
Produk jasa berbeda dari produk barang fisik karena tidak
berbentuk fisik, produksi dan konsumsinya tidak dapat dipisahkan,
kualitasnya bersifat subjektif, tidak tahan lama dan tidak dapat
disimpan. Ada tiga jenis strategi yang termasuk dalam kategori ini,
antara lain sebagai berikut.
a) Satisfaction-based pricing, yaitu faktor yang sering
memengaruhi pandangan konsumen saat membeli layanan, oleh
karena itu tujuan utama dari pricing ini adalah untuk mengurangi
risiko-risiko yang terkait dengan persepsi konsumen tersebut.
b) Relationship-pricing, yaitu strategi untuk menarik, memelihara,
dan meningkatkan hubungan dengan konsumen.
c) Efficiency pricing, yaitu strategi yang berkaitan tentang
memahami, mengelola, dan mengurangi biaya

Metode Penetapan Harga


Menurut Tjiptono (2015:298—309) metode penetapan harga
terdiri dari empat kelompok, antara lain sebagai berikut.
1) Metode Penetapan Harga Berbasis Permintaan
Metode ini berfokus pada faktor-faktor yang memengaruhi
keinginan dan kebiasaan konsumen. Metode penetapan harga
berdasarkan permintaan memiliki beberapa metode penetapan harga
yang digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Skimming pricing, ialah menetapkan harga tinggi pada tahap
perkenalan produk baru, kemudian mengurangi harga saat
terjadi persaingan.
b) Penetration pricing, ialah meluncurkan produk baru dengan
harga yang rendah, dengan tujuan untuk mencapai penjualan
yang besar dalam waktu yang singkat.
c) Prestige pricing, ialah harga dianggap sebagai penunjuk tingkat
kualitas atau keistimewaan sebuah produk atau jasa oleh
konsumen.
d) Price lining, ialah apabila perusahaan menjual lebih dari satu
jenis produk, maka harga yang digunakan akan berbeda-beda
dan ditentukan pada level harga yang berbeda pula.
e) Odd-even pricing, ialah harga tersebut hampir mencapai jumlah
genap yang telah ditentukan.
f) Demand-backward pricing, ialah harga yang diperkirakan pada
tingkat harga yang tinggi bagi produk tertentu, menentukan
margin yang perlu dibayarkan kepada grosir atau pengcer,
sehingga harga jual akhir dapat ditetapkan.
g) Product bundle pricing, ialah cara pemasaran yang
menggabungkan dua atau lebih produk ke dalam satu paket
harga.
h) Optional product pricing, ialah strategi yang menggabungkan
penawaran produk aksesoris atau operasional sebagai pelengkap
dari produk utama yang ditawarkan.
i) Captive product pricing, ialah strategi yang digunakan perlu
dipadukan dengan produk utama untuk dapat berfungsi dengan
efektif.
j) By-product pricing, ialah dalam mencari pasar untuk produk
tambahan, orang-orang yang bersedia membayar apapun untuk
menutupi biaya penyimpangan dan pengiriman, sehingga
produk dapat ditawarkan dengan harga yang lebih kompetitif
dengan mengurangi biaya produk.
2) Metode Penetapan Harga Berbasis Biaya
Metode ini mengutamakan faktor penawaran atau biaya
sebagai penentu harga utama. Harga ditentukan dengan cara
menambahkan biaya produksi dan pemasaran dengan jumlah
tertentu untuk menutupi biaya overhead serta memperoleh
keuntungan. Terdapat beberapa metode penetapan harga yang
mengacu pada biaya, antara lain sebagai berikut.
a) Standard markup pricing, ialah menetapkan harga dengan
menaikkan persentase biaya pada semua macam produk dalam
sebuah produk.
b) Cost plus percentage of cost pricing, ialah perusahaan
menaikkan persentase pada biaya produksi atau konstruksi.
c) Cost plus fixed fee pricing, ialah pemasok dan produsen akan
menerima penggantian biaya yang dikeluarkan, namun produsen
hanya akan menerima remunerasi sebagai keuntungan yang
sesuai dengan biaya proyek akhir yang disepakati.
d) Experience curve pricing, ialah biaya satuan barang dna jasa
akan turun sebesar 10%—30% ketika volume produksi dan
penjualan barang atau jasa mengalami peningkatan dua kali
lipat.
3) Metode Penetapan Harga Berbasis Laba
Metode ini menggunakan penyeimbangan antara pendapatan
dan biaya sebagai dasar penetapan harga, dengan tujuan untuk
mencapai target keuntungan tertentu dalam bentuk angka volume
laba atau persentase dari penjualan atau investasi. Metode penetapan
harga berbasis laba memiliki beberapa metode penetapan harga yang
digunakan, antara lain sebagai berikut.
a) Target profit pricing, ialah penetapan harga didasarkan pada
target keuntungan tahunan yang ditentukan secara spesifik.
b) Target return on sales pricing, ialah penetapan harga dilaukan
dengan menentukan tingkat harga tertentu yang mampu
memperoleh keuntungan pada persentase volume penjualan
tertentu.
c) Target return of investment (ROI) pricing, ialah penetapan harga
dilakukan berdasarkan target rasio antara keuntungan dan
investasi total perusahaan pada fasilitas produksi dan aset yang
menopang produk tertentu.
4) Metode Penetapan Harga Berbasis Persaingan
Metode penetapan harga ini berfokus pada persaingan. Dalam
metode ini, ada beberapa cara yang digunakan untuk menetapkan
harga, antara lain sebagai berikut.
a) Customary pricing, ialah harga ditetapkan berdasarkan faktor-
faktor yang termasuk budaya, saluran distribusi yang standar,
dan persaingan yang ada, yang merupakan cara penetapan harga
yang bergantung pada faktor-faktor eksternal.
b) Above, at, or below market pricing, ialah penetapan harga yang
lebih tinggi daripada harga pasar dilakukan dengan metode
above market pricing, penetapan harga yang mengikuti harga
pasar pesaing dilakukan dengan metode at market pricing,
sedangkan penetapan harga yang lebih rendah dari harga pasar
dilakukan dengan metode below market pricing, dan umumnya
harga ditentukan antara 8%—10% lebih murah dari harga
produk merek nasional pesaing.
c) Loss leader pricing, ialah meningkatkan penjualan produk dan
memikat konsumen untuk berkunjung ke toko, dengan cara
mempromosikan produk yang memiliki markup tinggi, sehingga
dapat menjadi daya tarik utama yang membuat konsumen
membeli produk lain yang tersedia.
d) Sealed bid pricing, ialah sistem yang melibatkan perantara
pembelian untuk memberikan penawaran harga

Harga Produk


Dalam menarik konsumen, sebuah bisnis harus menentukan harga
yang tepat terhadap produk yang akan dipasarkan, karena harga merupakan
faktor yang penting sebagai bahan pertimbangan konsumen untuk
memutuskan apakah akan membeli produk tersebut atau tidak.
a. Pengertian Harga Produk
Menurut Suhardi et al. (2022:54), harga merupakan ukuran
kepuasan seseorang berdasarkan besaran nilai yang diberikan terhadap
produk yang dibelinya.
Menurut Kotler dan Keller dalam Malonda et al. (2021:1200),
harga adalah jumlah uang yang perlu dikeluarkan oleh konsumen
sebagai pembayaran untuk memperoleh produk tersebut.
Menurut Weenas dan Hadi dalam Shalihah et al. (2021:87), harga
adalah nilai uang yang digunakan sebagai sarana pertukaran untuk
membeli suatu produk atau layanan, yang menjadi penentuan nilai
produk tersebut dalam pandangan konsumen.
Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:412), harga adalah jumlah
uang yang mencakup manfaat/kegunaan tertentu yang dibutuhkan untuk
menerima produk.
Menurut Abdurrahman (2015:109), harga merupakan suatu nilai
uang yang digunakan sebagai pertukaran untuk membeli produk dan
jasa

Indikator Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Keller dalam Indriani et al. (2023:78—79)
ada lima indikator kualitas produk, antara lain sebagai berikut.
1) Daya tahan produk, ialah ukuran berapa lama suatu produk dapat
bertahan dengan baik sebelum perlu diganti atau rusak.
2) Keistimewaan produk, ialah pandangan konsumen mengenai fitur-
fitur atau kelebihan produk tersebut.
3) Kehandalan produk, ialah karakteristik fungsional dan produk utama
yang dibeli.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi, ialah seberapa jauh desain dan
kinerja memenuhi standar yang telah ditentukan.
5) Estetika produk, ialah kemampuan produk untuk menarik perhatian
panca indera.

Tingkatan Produk


Menurut Limakrisna dan Purba (2019:76—77), terdapat tiga
tingkatan produk, antara lain sebagai berikut.
1) Produk inti (the core product), ialah produk inti dianggap sebagai
elemen sentral dari total produk, yang mencakup kebutuhan utama
yang dipenuhi, keinginan yang terpenuhi, serta masalah yang dapat
diatasi melalui penggunaan produk tersebut.
2) Produk sebenarnya (the actual product), ialah produk yang lebih
konkrit dan mencakup berbagai aspek seperti kualitas, fitur,
kemasan, gaya, desain, serta merek yang terkait. Dalam situasi yang
diinginkan, keputusan mengenai produk harus didasarkan pada
kebutuhan dan preferensi konsumen, serta mempertimbangkan
alternatif produk yang tersedia.
3) Produk tambahan (augmented product), ialah produk yang
mencakup fitur dan layanan yang memberikan nilai tambahan pada
transaksi yang melebihi harapan konsumen. Meskipun banyak
konsumen mungkin menganggapnya tidak penting, sebenarnya
dalam banyak situasi, hal tersebut dapat menjadi faktor penentu
yang membedakan antara pesaing

Kategori-kategori Produk


Menurut Limakrisna dan Purba (2019:88), orang-orang Indonesia
mengenal dua jenis makanan ringan yang umumnya dikonsumsi, yakni:
1) Makanan ringan basah, ialah makanan kecil basah yang biasanya
dipersiapkan oleh ibu rumah tangga untuk dikonsumsi oleh
keluarga. Dimana, setiap daerah di Indonesia memiliki makanan
kecil khas yang terkenal di daerah tersebut. Makanan kecil ini pun
dapat dibeli dari pedagang kaki lima, seperti pisang goreng,
singkong goreng, dan berbagai jenis lainnya.
2) Makanan ringan kering, ialah produk-produk yang biasanya terbuat
dari bahan tepung dan dijual dalam bentuk kemasan. Makanan
ringan kering ini dapat dibagi menjadi kategori, antara lain sebagai
berikut.
a) Makanan ringan kering tradisional, yaitu makanan ringan yang
biasanya dibuat di rumah dengan bentuk standar, dijual dalam
kemasan plastik transparan, dan hanya memiliki tiga rasa umum
seperti asin, manis, dan pedas.
b) Makanan ringan kering modern, yaitu makanan ringan yang
diproduksi dalam jumlah besar dan memiliki kemasan yang
modern, serta tersedia dalam kemasan tunggal

Pengertian Kualitas Produk


Menurut Suhardi et al. (2022:53), kualitas produk merupakan
kapasitas suatu produk dalam memenuhi kebutuhan dan harapan
konsumen.
Menurut Tjiptono dalam Okhtavia dan Setiawan (2022:360),
kualitas produk merupakan karakteristik unik yang dimiliki sebuah
produk, termasuk kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan tertentu,
dan mencakup karakteristik mendasar.
Menurut Kotler dan Armstrong dalam Sari dan Soebiantoro
(2022:853), kualitas produk merupakan kemampuan produk untuk
menjalankan fungsi-fungsi khusus, seperti kehandalan dan daya tahan,
ketepatan, dan kemudahan penggunaan, serta beberapa atribut lainnya.
Menurut Aini dan Andjarwati (2020:21), kualitas produk
merupakan unit atau fitur yang terkait dengan produk atau layanan yang
dapat melakukan tugasnya sedemikian rupa, sehingga memberikan
kepuasan kepada konsumen, dan memengaruhi keputusan pembelian.
Menurut Kotler dan Keller (2016:164), kualitas produk adalah
sekumpulan komponen dan ciri khas produk atau jasa yang
memengaruhi kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang
dinyatakan atau dirasakan

Indikator Inovasi Produk


Menurut Kotler dan Keller dalam Indriani et al. (2023:77—78)
ada enam indikator inovasi produk, yaitu sebagai berikut.
1) Produk baru bagi dunia, ialah produk baru yang menciptakan pasar
yang benar-benar baru, dimana pesaing belum pernah membuat
produk serupa, sehingga produk tersebut benar-benar baru untuk
membedakan produk baru ini dengan produk serupa.
2) Lini produk baru, ialah produk baru yang memungkinkan bisnis
memasuki pasar yang ada untuk pertama kalinya, dan lini produk
baru memengaruhi pilihan produk konsumen.
3) Tambahan pada lini produk yang telah ada, ialah produk baru yang
melengkapi atau menambah suatu lini produk bisnis yang sudah
mapan, sehingga produk menjadi lebih beragam dan menawarkan
banyak pilihan.
4) Perbaikan dan revisi produk yang telah ada, ialah cara untuk selalu
memperbaharui produk yang telah ada di pasaran. Produk yang
menawarkan kinerja atau nilai unggul dan menggantikan produk
yang sudah ada, menghasilkan produk baru dengan kinerja dan
kegunaan yang lebih baik.
5) Penentuan kembali, ialah produk yang sudah ada yang ditargetkan
atau dipasarkan ke pasar atau segmen pasar baru, yang diharapkan
dapat memperluas pemasaran dengan mendapatkan pangsa pasar
atau konsumen baru untuk meningkatkan penjualan.
6) Pengurangan biaya, ialah produk baru yang menawarkan produk
alternatif dengan kinerja atau manfaat serupa, tetapi dengan harga
yang lebih rendah atau terjangkau, yang bertujuan untuk
memengaruhi keputusan pembelian konsumen dan memengaruhi
pertumbuhan volume penjualan produk

Tipe-tipe Inovasi Produk


Menurut Tjiptono dan Chandra (2020:350—352), terdapat enam
tipe inovasi produk yang dihasilkan dari pengembangan produk baru,
yaitu sebagai berikut.
1) Produk baru bagi dunia (new-to-the-world products), ialah produk
yang mewujudkan sebuah pasar baru dan menjadikan siklus hidup
yang baru.
2) Lini produk baru (new product line), ialah produk baru suatu
perusahaan yang telah diluncurkan oleh pasar yang sudah ada.
3) Perluasan lini (line extension), ialah sebuah produk baru yang
memungkinkan perusahaan menjangkau pasar lebih luas dengan
penawaran manfaat yang memiliki pembeda.
4) Penyempurnaan produk yang telah ada (improvements to existing
products), ialah sebuah produk yang umumnya didesain sebagai
pengganti produk yang telah ada sebelumnya.
5) Repositioning, ialah kemungkinan penawaran aplikasi baru dalam
pemenuhan kebutuhan baru dengan pengembangan teknis suatu
produk.
6) Pengurangan biaya (cost reductions), ialah pemberian kemampuan
kerja produk yang ada sesuai harga yang lebih rendah

Jenis-jenis Inovasi Produk


Menurut Setiadi (2019:304—305), ada beberapa jenis inovasi
produk, yaitu sebagai berikut.
1) Inovasi berkelanjutan, yaitu mengubah produk yang telah ada dan
tidak menciptakan produk baru.
2) Inovasi berkelanjutan yang dinamis, yaitu penciptaan produk baru
atau perubahan produk yang telah ada, biasanya tidak mengubah
kebiasaan membeli dan penggunaan produk konsumen yang sudah
baik.
3) Inovasi terputus, yaitu produk yang benar-benar baru yang
memotivasi pembeli untuk mengubah perilaku konsumen mereka
secara signifikan.

Tujuan Inovasi Produk


Dalam menghasilkan sebuah produk, pelaku usaha diharapkan
agar selalu menciptakan inovasi produk dengan tujuan yang akan
dicapainya. Menurut Sudarmanto, dkk. (2022:54—56) terdapat
beberapa tujuan dari inovasi produk, yaitu sebagai berikut.
1) Meningkatkan Kualitas Produk
Seiring berjalannya waktu, produk yang diproduksi sebuah
perusahaan akan menjadi ketinggalan zaman dan tidak memenuhi
kebutuhan konsumen. Oleh karena itu, bagi perusahaan yang
berfokus pada jangka panjang yang selalu berorientasi pada kualitas,
perlu melakukan inovasi produk untuk meningkatkan kualitas dan
keunggulan produk agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen
saat ini. Konsumen cenderung lebih suka membeli produk yang
berkualitas dan akan melakukan pembelian lebih sering.
2) Memenuhi Kebutuhan Konsumen
Produk kreatif dan inovatif akan selalu bertahan dan dapat
memenangkan hati konsumen. Hal tersebut mendorong perusahaan
untuk melakukan inovasi pada produknya yang mampu memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen sesuai dengan tuntutan dan
harapan konsumen.
3) Menciptakan Pasar Baru di Masyarakat
Inovasi produk memengaruhi pengembangan pasar baru
sehingga memengaruhi laba perusahaan. Semakin banyak inovasi
produk yang ditawarkan, maka akan termotivasi untuk menjangkau
lebih banyak target pasar.
4) Pengembangan dan Penerapan Pengetahuan
Penerapan pengetahuan dan pengaplikasian pengetahuan
perusahaan dapat dikembangkan dan diimplementasikan dengan
tuntutan pembaharuan perkembangan ilmu pengetahuan terkini
melalui pembelajaran dan penambahan wawasan, sehingga pelaku
usaha dapat mengimplementasikan produk yang diproduksinya
dalam jangka panjang.
5) Mengubah atau Mengganti Produk
Pelaku usaha dapat melakukan perubahan produk yang sudah
usang dan tidak dapat dikembangkan lagi. Dimana, produk yang
tidak sesuai ditolak dan diganti dengan produk yang lebih baik.
6) Meningkatkan Efisiensi Produk
Inovasi produk dilakukan untuk meningkatkan efisiensi
produk agar pekerjaan dilakukan dengan benar, terarah, dan tanpa
menghabiskan banyak waktu. Sehingga, produk yang dihasilkan
mudah digunakan dan harganya terjangkau.
7) Meningkatkan Branding Perusahaan
Inovasi produk memiliki potensi untuk memperkuat citra
merek perusahaan. Konsumen dapat lebih mudah mengingat nama
produk dan dengan demikian meningkatkan branding perusahaan

Pengertian Inovasi Produk


Menurut Sudarmanto, dkk. (2022:52), inovasi produk adalah
strategi yang dijalankan oleh pengusaha untuk memperbaiki,
menyempurnakan, mengembangkan, dan melengkapi produk yang telah
diproduksi sebelumnya.
Menurut Prasetyo (2018:37), inovasi produk adalah sumber
inspirasi baru yang menarik, sehingga seseorang dapat secara sadar
mengajukan inovasi dengan tujuan pembangunan dan strategi yang
menarik.
Menurut Jauhari (2020:227), inovasi produk adalah promosi
keistimewaan produk yang dapat menjadikan produk lebih unggul
daripada pesaingnya, jika produk memiliki keunggulan, maka akan
menciptakan nilai tambah bagi konsumen.
Menurut Setiadi (2019:304), inovasi produk adalah konsep,
tindakan, atau objek yang memiliki perbedaan kualitatif dari bentuk
yang telah ada dalam hal keunggulan komparatif, kesesuaian,
kompleksitas, ketercobaan, dan visibilitas.
Menurut Setyabudi dan Suranto (2018:116), inovasi produk
merupakan tahap penciptaan ide untuk barang dan jasa, termasuk
melakukan perubahan atau penambahan beberapa fitur utama yang telah
ada