Faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan


Faktor yang memengaruhi Pelayanan menurut Kasmir (2018:6-7) diantaranya
adalah:

  1. Jumlah tenaga kerja; banyaknya tenaga kerja yang ada dalam suatu perusahaan.
  2. Kualitas tenaga kerja; meliputi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh
    tenaga kerja.
  3. Motivasi karyawan; suatu dorongan yang dimiliki oleh karyawan untuk
    melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
  4. Kepemimpinan; proses mempengaruhi individu, biasanya dilakukan oleh atasan
    kepada bawahan supaya dapat bertindak sesuai dengan kehendak atasan demi
    tercapainya tujuan perusahaan.
  5. Budaya organisasi; sebuah sistem dalam suatu perusahaan yang dianut oleh semua
    anggota organisasi dan menjadi pembeda antara organisasi yang satu dengan
    organisasi yang lain.
  6. Kesejahteraan karyawan; pemenuhan kebutuhan-kebutuhan karyawan oleh suatu
    perusahaan.
  7. Lingkungan kerja dan faktor lainnya meliputi sarana dan prasarana yang
    digunakan, teknologi, layout gedung dan ruangan, kualitas produk dan lain
    sebagainya

Definisi Manajemen Pemasaran


Menurut Tjiptono dan Diana (2020:3), pemasaran adalah proses menciptakan,
mendistribusikan, mempromosikan, dan menetapkan harga barang, jasa dan gagasan
untuk memfasilitasi relasi pertukaran yang memuaskan dengan para pelanggan dan
untuk membangun dan mempertahankan relasi yang positif dengan para pemangku
kepentingan dalam lingkungan yang dinamis. Sedangkan menurut Laksana (2019:1)
pemasaran adalah bertemunya penjual dan pembeli untuk melakukan kegiatan
transaksi produk barang atau jasa. Sehingga pengertian pasar bukan lagi merujuk
kepada suatu tempat tapi lebih kepada aktifitas atau kegiatan pertemuan penjual dan
pembeli dalam menawarkan suatu produk kepada konsumen.
Menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (2018:34), Marketing
management the art and science of choosing target markets and building profitable
relationship with them. Sedangkan menurut Assauri (2018:12), manajemen
pemasaran merupakan kegiatan menciptakan, mempersiapkan, melaksanakan
rencana yang dilakukan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan.

Kualitas Jasa


Salah satu faktor penting yang dapat membuat pelanggan puas
adalah kualitas jasa Shellyana dan Basu, (2012).Kualitas jasa ini
mempunyai pengaruh terhadap kepuasan pelanggan Anderson dan
Sullivan (2016).Pemasar dapat meningkatkan kualitas jasa untuk
mengembangkan loyalitas pelanggannya. Produk yang berkualitas
rendah akan menanggung resiko pelanggan tidak setia. Jika kualitas
diperhatikan, bahkan diperkuat dengan periklanan yang intensif,
loyalitas pelanggan akan lebih mudah diperoleh. Kualitas dan
promosi menjadi faktor kunci untuk menciptakan loyalitas pelanggan
jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelanggan
akan menjadi loyal pada produk-produk berkualitas tinggi jika
produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga yang bersaing
Dharmmesta, (2014).

Definisi Loyalitas


Loyalitas secara harfiah diartikan kesetiaan, yaitu
kesetiaanseseorang terhadap suatu objek.Loyalitas menunjukkan
kecenderungan pelanggan untuk menggunakan suatu merek tertentu
dengan tingkat konsistensi yang tinggi Dharmmesta, (2014).Ini berarti
loyalitas selalu berkaitan dengan preferensi pelanggan dan pembelian
aktual.Definisi loyalitas dari pakar yang disebutkan di atas berdasarkan
pada dua pendekatan, yaitu sikap dan perilaku.Dalam pendekatan
perilaku, perlu dibedakan antara loyalitas dan perilaku beli ulang.
Perilaku beli ulang dapat diartikan sebagai perilaku pelanggan yang
hanya membeli suatu produk secara berulang-ulang, tanpa menyertakan
aspek perasaan dan pemilikan di dalamnya. Sebaliknya loyalitas
mengandung aspek kesukaan pelanggan pada suatu produk.Ini berarti
bahwa aspek sikap tercakup di dalamnya.Loyalitas berkembang
mengikuti tiga tahap, yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Biasanya
pelanggan menjadi setia lebih dulu pada aspek kognitifnya, kemudian
pada aspek afektif, dan akhirnya pada aspek konatif. Ketiga aspek
tersebut biasanya sejalan, meskipun tidak semua kasus mengalami hal
yang sama.

Loyalitas Pelanggan


Loyalitas pelanggan merupakan asset dan memiliki peran penting
dalam sebuah perusahaan. Menurut Griffin dalam Hurriyati, (2018)
“Loyalty is defined as noon random purchase expressed over time by
some decision making unit”. Berdasarkan pengertian tersebut bahwa
loyalitas lebih mengacu pada wujud perilaku dari unit-unit pengambilan
keputusan untuk melakukan pembelian secara terus menerus terhadap
barang atau jasa suatu perusahaan yang dipilih.Dengan demikian
kesimpulannya bahwa loyalitas terbentuk karena adanya pengalaman
dalam menggunakan suatu barang atau jasa.
Persaingan yang semakin hebat antara institusi penyedia produk
belakangan ini bukan hanya disebabkan globalisasi. Tetapi lebih
disebabkan karena pelanggan semakin cerdas, sadar harga, banyak
menuntut, kurang memaafkan, dan didekati oleh banyak produk.
Kemajuan teknologi komunikasi juga ikut berperan meningkatkan
intensitas persaingan, karena memberi pelanggan akses informasi yang
lebih banyak tentang berbagai macam produk yang ditawarkan. Artinya
pelanggan memiliki pilihan yang lebih banyak dalam menggunakan uang
yang dimilikinya.
Kotler, Hayes dan Bloom (2012) menyebutkan ada enam alasan
mengapa suatu institusi perlu mendapatkan loyalitas pelanggannya.

  1. Pelanggan yang ada lebih prospektif, artinya pelanggan loyal akan
    memberi keuntungan besar kepada institusi.
  2. Biaya mendapatkan pelanggan baru jauh lebih besar berbanding
    menjaga dan mempertahankan pelanggan yang ada.
  3. Pelanggan yang sudah percaya pada institusi dalam suatu urusan
    akan percaya juga dalam urusan lainnya.
  4. Biaya operasi institusi akan menjadi efisien jika memiliki banyak
    pelanggan loyal.
  5. Institusi dapat mengurangkan biaya psikologis dan sosial
    dikarenakan pelanggan lama telah mempunyai banyak pengalaman
    positif dengan institusi.
  6. Pelanggan loyal akan selalu membela institusi bahkan berusaha pula
    untuk menarik dan memberi saran kepada orang lain untuk menjadi
    pelanggan.

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan konsumen didefinisikan sebagai tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan
dibandingkan dengan harapannya Kotler, (2015) atau diartikan bawa
kepuasan merupakan fungsi dari kinerja yang dirasakan (perceived
performance) dan harapan (expectations).Jika kinerja produk atau jasa
lebih rendah dari harapan, konsumen akan merasa tidak puas. Jika kinerja
sesuai harapan maka konsumen akan merasa puas, jika kinerja sampai
melebihi harapan, maka konsumen akan merasa sangat puas (delighted).
Menurut Basu Swasta, (2014), kepuasan konsumen merupakan
evaluasi purna beli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama
atau melampaui harapan konsumen. Kepuasan konsumen ini akan terpenuhi
apabila mereka memperoleh apa yang mereka inginkan, pada saat mereka
membutuhkannya, di tempat yang mereka inginkan dan dengan cara yang
mereka tentukan. Ketidakpuasan akan timbul apabila hasil atau tidak
memenuhi harapan.Perilaku konsumen adalah perilaku konsumen yang
ditunjukkan melalui pencarian, pembelian, penggunaan, pengevaluasian
dan penentuan produk atau jasa mereka harapkan dapat memuaskan
kebutuhan mereka. Basu Swasta, (2014).
Kepuasan konsumen merupakan kunci keberhasilan suatu
perusahaan. Jangka panjangnya adalah meningkatkan keuntungan yang
ditentukan oleh terpenuhinya kebutuhan dan keinginan konsumen secara
memuaskan, karena dari sini akan menimbulkan terjadinya penggunaan
ulang dimasa yang akan datang.Pada dasarnya kepuasan konsumen
mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan.
Penilaian terhadap kepuasan konsumen dapat dibedakan menjadi :

  1. Positive disconfirmation, dimana hasil yang diterima lebih baik
    daripada hasil yang diharapkan.
  2. Simple confirmation, dimana hasil yang diterima sama dengan hasil
    yang diharapkan.
  3. Negative confirmation, dimana hasil yang diterima lebih buruk
    (rendah) daripada hasil yang diharapkan.
    Pada akhirnya konsumen yang merasa terpuaskan kebutuhan dan
    keinginannya akan menindaklanjuti dengan :
    1) Melakukan pembelian ulang (reselling) produk atau jasa.
    2) Menyatakan hal baik perusahaan kepada orang lain
    3) Kurang memperhatikan produk dan jasa pesaing.
    4) Membeli produk yang lain dari perusahaan tersebut
    Sedangkan konsumen yang merasa tidak terpuaskan dapat melakukan
    tindakan – tindakan yang dikhawatirkan dapat merugikan perusahaan
    seperti :
    1) Menghentikan pembelian produk dari perusahaan
    2) Menyatakan keluhan perusahaan kepada orang lain
    3) Membeli produk atau jasa lain pada perusahaan pesaing Sehingga
    kunci untuk memuaskan konsumen adalah memenuhi atau melebihi
    pengharapan konsumen mengenai kualitas jasa.

Kualitas Pelayanan

Menurut Philip Kotler
(2015), pelayanan merupakan kegiatan atau manfaat yang dapat diberikan
oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak terwujud dan
tidak berakibat pula pada pemilikan sesuatu. Menyadari akan pentingnya
pelayanan kepada konsumen sebagai sarana yang kompetitif, banyak
perusahaan telah membentuk pelayanan kepada pelanggan. Bentuk – bentuk
pelayanan tersebut antara lain :

  1. Pelayanan Kredit
    Perusahaan dapat menawarkan sejumlah pilihan kredit kepada
    pelanggan, meliputi : kontrak pembayaran secara kredit, rekening
    terbuka dan pinjaman.
  2. Pelayanan infomasi
    Perusahaan dapat membentuk suatu unit yang dapat menjawab
    pertanyaan para pelanggan dan menyebar informasi mengenai produk
    baru, spesifikasi, proses kemungkinan perubahan harga, status pesanan
    yang dipenuhi dan kebijakan. Pelayanan merupakan suatu tingkat usaha
    dari perusahaan dalam uapaya memberikan kenikmatan dan kepuasan
    kepada konsumen. Oleh karena itu pelayanan perlu mendapatkan
    perhatian khusus dari perusahaan karena merupakan kunci kesuksesan
    suatu perusahaan didalam menjalankan usahanya.Menurut American
    Society for Quality Control Kotler, (2015). “Kualitas adalah
    keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk
    atau jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi
    kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”.
    Selanjutnya menurut Duran dalam Lupiyoadi (2012), kualitas dapat
    diartikan sebagai biaya yang dapat dihindari (avoidable) dan yang tidak
    dapat dihindari (unavoidable).Yang termasuk dalam biaya yang dapat
    dihindari misalnya biaya akibat kegagalan produk, sementara yang
    termasuk biaya yang tidak dapat dihindari misalnya biaya kegiatan
    pengawasan kualitas.Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat
    disimpulkan bahwa definisi kualitas bersumber dari dua sisi, produsen
    dan konsumen.Produsen menentukan persyaratan atau spesifikasi
    kualitas, sedangkan konsumen menentukan kebutuhan dan keinginan.
    Pendefinisian akanakurat jika produsen mampu menerjemahkan
    kebutuhan dan keinginan atas produk ke dalam spesifikasi produk yang
    dihasilkan.
    Kualitas pelayanan (Service Quality) seperti yang dikatakan oleh
    Parasuraman dikutip oleh Lupiyoadi (2012) dapat didefinisikan yaitu:
    “Seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan konsumen atas
    pelayanan yang mereka terima atau peroleh”. Sementara menurut
    Freddy Rangkuti (2014) bahwa: “Kualitas jasa didefinisikan sebagai
    penyampaian jasa yang akan melebihi tingkat kepentingan konsumen”.
    Definisi tersebut menekankan pada kelebihan dari tingkat kepentingan
    konsumen sebagai inti dari kualitas jasa.Salah satu model kualitas
    pelayanan yang banyak dijadikan acuan dalam riset pemasaran adalah
    model ServQual (Service Quality) seperti yang dikembangkan oleh
    Parasuraman, Zeithmal, dan Berry seperti yang dikutip oleh Lopiyoadi
    (2012) dalam serangkaian penelitian mereka terhadap enam sektor jasa,
    reparasi, peralatan rumah tangga, kartu kredit, asuransi, sambungan
    telepon jarak jauh, perbankan ritel, dan pialang sekuritas. ServQual
    (Service Quality) dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama
    yaitu persepsi pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima
    (perceived service) dengan layanan yang sesungguhnya diharapkan atau
    diinginkan (expected service).
    Lebih lanjut Mowen, dkk (2012) dalam Wardhani (2013)
    mengemukakan bahwa kualitas kinerja layanan merupakan suatu proses
    evaluasi menyeluruh pelanggan mengenai kesempatan kinerja
    layanan.Kualitas pelayanan berkaitan erat dengan persepsi pelanggan
    tentang mutu suatu usaha. Semakin baik pelayanan yang akan
    mempengaruhi tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan sehingga
    usaha tersebut akan dinilai semakin bermutu. Sebaliknya apabila
    pelayanan yang diberikan kurang baik dan memuaskan, maka usaha
    tersebut juga dinilai kurang bermutu.Oleh karena itu usaha untuk
    meningkatkan kualitas pelayanan harus terus dilakukan agar dapat
    memaksimalkan kualitas jasa.
    Konsep kualitas sendiri pada dasarnya bersifat relatif yaitu
    tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri
    dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas yang
    seharusnya konsisten satu sama lain:
  3. Persepsi konsumen,
  4. Produk (jasa),
  5. Proses

Citra


Para pakar pemasaran memberikan berbagai definisi serta
pendapat tentang citra dan dengan penekanan yang beragam pula.
Walaupun demikian mereka sepakat akan semakin pentingnya citra
yang baik (positif) bagi sebuah produk. Bahkan Band (2018)
menambahkan satu lagi P „Public Image‟ sebagai bauran pemasaran
dari 4P yang sudah biasa dikenal, yaitu; Product (hasil), Price (harga),
Place (tempat), dan Promotion (promosi). Rintangan untuk
Berpindah. Faktor lain yang mempengaruhi loyalitas yaitu besar
kecilnya rintangan berpindah (switching barrier) Fornell, (2017).
Rintangan berpindah terdiri dari; biaya keuangan(financial cost),
biaya urus niaga (transaction cost), diskon bagi pelanggan loyal (loyal
customer discounts), biaya sosial (social cost), dan biaya emosional
(emotional cost). Semakin besar rintangan untuk berpindah akan
membuat pelanggan menjadi loyal, tetapi loyalitas mereka
mengandung unsur keterpaksaan.

Kualitas Jasa


Salah satu faktor penting yang dapat membuat pelanggan puas
adalah kualitas jasa Shellyana dan Basu, (2012).Kualitas jasa ini
mempunyai pengaruh terhadap kepuasan pelanggan Anderson dan
Sullivan (2016).Pemasar dapat meningkatkan kualitas jasa untuk
mengembangkan loyalitas pelanggannya. Produk yang berkualitas
rendah akan menanggung resiko pelanggan tidak setia. Jika kualitas
diperhatikan, bahkan diperkuat dengan periklanan yang intensif,
loyalitas pelanggan akan lebih mudah diperoleh. Kualitas dan
promosi menjadi faktor kunci untuk menciptakan loyalitas pelanggan
jangka panjang. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pelanggan
akan menjadi loyal pada produk-produk berkualitas tinggi jika
produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga yang bersaing
Dharmmesta, (2014)

Kepuasan Pelanggan


Definisi kepuasan yang terdapat dalam berbagai literatur cukup
beragam. Kotler (2015), mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai
perasaan suka/tidak seseorang terhadap suatu produk setelah ia
membandingkan prestasi produk tersebut dengan harapannya. Wilkie
(2005), mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai tanggapan
emosional yang positif pada evaluasi terhadap pengalaman dalam
menggunakan suatu produk atau jasa.Dari berbagai definisi di atas
dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya pengertian kepuasan
pelanggan mencakup perbedaan antara harapan dan prestasi atau hasil
yang dirasakan.
Proses Permbandingan (Sumber : Wilkie, 2005)
Baik praktisi ataupun akademisi memahami bahwa loyalitas
pelanggan dan kepuasannya adalah berkaitan, walaupun
keterkaitannya adalah tidak selalu beriringan Oliver,
(2018).Kepuasan adalah langkah yang penting dalam pembentukan
loyalitas tetapi menjadi kurang signifikan ketika loyalitas mulai
timbul melalui mekanisme-mekanisme lainnya.Mekanisme lainnya
itu dapat berbentuk kebulatan tekad dan ikatan sosial.Loyalitas
memiliki dimensi yang berbeda dengan kepuasan.Kepuasan
menunjukkan bagaimana suatu produk memenuhi tujuan pelanggan
Oliver, (2018).Kepuasan pelanggan senantiasa merupakan penyebab
utama timbulnya loyalitas.
Namun penelitian-penelitian lain mendapati kurangnya pengaruh
kepuasan terhadap loyalitas.Strewart (2013) menyimpulkan adalah
keliru untuk mengemukakan asumsi bahwa kepuasan dan loyalitas
adalah bergerak bersamasama. Reicheld (2013) mengemukakan bukti
bahwa dari para pelanggan yang puas atau sangat puas, antara 65%
sampai 85% akan berpindah ke produk lain. Dalam industri otomotif
pula dia menemukan 85% sampai 95% pelanggan yang puas, hanya
30% – 40% yang kembali kepada merek atau model sebelumnya.
Oliver (2018), mencoba mengelompokkan bentuk hubungan
kepuasan – loyalitas ke dalam 6 kelompok panel. Kelompok panel 1
berasumsi bahwa kepuasan dan loyalitas adalah manifesto yang
terpisah dari konsep yang sama dalam cara yang kebanyakan sama.
Panel 2 berpendapat bahwa kepuasan adalah konsep inti untuk
loyalitas yang mana loyalitas tidak akan ada tanpa kepuasan, dan
bahwa kepuasan adalah dasar dari loyalitas. Panel 3 mengecilkan
peranan dasar dari kepuasan dan mengemukakan bahwa kepuasan
adalah suatu unsur dari loyalitas. Panel 4 menunjukkan bahwa
keberadaan loyalitas tanpa batas di mana kepuasan dan loyalitas
„sederhana‟ menjadi komponennya. Panel 5 mengemukakan bahwa
kepuasan merupakan bagian dari loyalitas, tapi bukan bagian esensi
loyalitas. Panel 6 mengemukakan bahwa kepuasan adalah permulaan
dari suatu rangkaian transisi atau peralihan yang berkulminasi dalam
loyalitas. Enam panel tersebut nampak dalam gambar 2.Loyalitas
terjadi karena adanya pengaruh kepuasan/ketidakpuasan dengan
produk tersebut yang berakumulasi secara terus menerus di samping
adanya persepsi tentang kualitas produk Boulding, Staelin, dan
Zeithaml.

Mengukur Loyalitas


Secara umum, loyalitas dapat diukur dengan cara-cara berikut:

  1. Urutan pilihan (choice sequence) Metode urutan pilihan atau disebut
    juga pola pembelian ulang ini banyak dipakai dalam penelitian
    dengan menggunakan panel-panel agenda harian pelanggan lainnya,
    dan lebih terkini lagi, data scanner supermarket. Urutan itu dapat
    berupa:
    a. Loyalitas yang tak terpisahkan (undivided loyalty) dapat
    ditunjukkan dengan runtutan AA. AA. AA. Artinya pelanggan
    hanya membeli suatu produk tertentu saja. Misalnya: pelanggan
    selalu memilih clear setiap membeli shampo.
    b. Loyalitas yang terbagi (divided loyalty) dapat ditunjukkan dengan
    runtutan AB. AB. AB. Artinya pelanggan membeli dua merek
    secara bergantian. Misalnya: suatu ketika membeli shampo clear
    dan berikutnya shampo zink.
    c. Loyalitas yang tidak stabil (unstable loyalty) dapat ditunjukkan
    dengan runtutan AA. AB. BB. Artinya pelanggan memilih suatu
    merek untuk beberapa kali pembelian kemudian berpindah ke
    merek lain untuk periode berikutnya. Misalnya: selama 1 tahun
    pelanggan memilih shampo “Clear” dan tahun berikutnya shampo
    “Zink”.
    d. Tanpa loyalitas (no loyalty), ditunjukkan dengan runtutan
    ABCDEF. Artinya pelanggan tidak membeli suatu merek tertentu.
    Kotler (2015), mempunyai istilah lain untuk loyalitas di atas,
    yaitu; „Hard-core loyals, split loyals, shifting loyals, dan
    switchers‟.
  2. Proporsi pembelian (proportion of purchase) Berbeda dengan
    runtutan pilihan, cara ini menguji proporsi pembelian total dalam
    sebuah kelompok produk tertentu. Data yang dianalisis berasal dari
    panel pelanggan.
  3. Preferensi (preference) Cara ini mengukur loyalitas dengan
    menggunakan komitmen psikologis atau pernyataan preferensi.
    Dalam hal ini, loyalitas dianggap sebagai “sikap yang positif”
    terhadap suatu produk tertentu, sering digambarkan dalam istilah niat
    untuk membeli.
  4. Komitmen (commitment) Komitmen lebih terfokus pada komponen
    emosional/perasaan. Komitmen terjadi dari keterkaitan pembelian
    yang merupakan akibat dari keterlibatan ego dengan kategori merek
    Beatty, Kahle, Homer, (2015). Keterlibatan ego tersebut terjadi ketika
    sebuah produk sangat berkaitan dengan nilai-nilai penting, keperluan,
    dan konsep-diri pelanggan. Cara pertama dan kedua di atas
    merupakan pendekatan perilaku (behavioural approach). Cara ketiga
    dan keempat termasuk dalam pendekatan attitudinal (attitudinal
    approach).

Definisi Loyalitas


Loyalitas secara harfiah diartikan kesetiaan, yaitu
kesetiaanseseorang terhadap suatu objek.Loyalitas menunjukkan
kecenderungan pelanggan untuk menggunakan suatu merek tertentu
dengan tingkat konsistensi yang tinggi Dharmmesta, (2014).Ini berarti
loyalitas selalu berkaitan dengan preferensi pelanggan dan pembelian
aktual.Definisi loyalitas dari pakar yang disebutkan di atas berdasarkan
pada dua pendekatan, yaitu sikap dan perilaku.Dalam pendekatan
perilaku, perlu dibedakan antara loyalitas dan perilaku beli ulang.
Perilaku beli ulang dapat diartikan sebagai perilaku pelanggan yang
hanya membeli suatu produk secara berulang-ulang, tanpa menyertakan
aspek perasaan dan pemilikan di dalamnya. Sebaliknya loyalitas
mengandung aspek kesukaan pelanggan pada suatu produk.Ini berarti
bahwa aspek sikap tercakup di dalamnya.Loyalitas berkembang
mengikuti tiga tahap, yaitu kognitif, afektif, dan konatif. Biasanya
pelanggan menjadi setia lebih dulu pada aspek kognitifnya, kemudian
pada aspek afektif, dan akhirnya pada aspek konatif. Ketiga aspek
tersebut biasanya sejalan, meskipun tidak semua kasus mengalami hal
yang sama.

Loyalitas Pelanggan


Loyalitas pelanggan merupakan asset dan memiliki peran penting
dalam sebuah perusahaan. Menurut Griffin dalam Hurriyati, (2018)
“Loyalty is defined as noon random purchase expressed over time by
some decision making unit”. Berdasarkan pengertian tersebut bahwa
loyalitas lebih mengacu pada wujud perilaku dari unit-unit pengambilan
keputusan untuk melakukan pembelian secara terus menerus terhadap
barang atau jasa suatu perusahaan yang dipilih.Dengan demikian
kesimpulannya bahwa loyalitas terbentuk karena adanya pengalaman
dalam menggunakan suatu barang atau jasa.
Persaingan yang semakin hebat antara institusi penyedia produk
belakangan ini bukan hanya disebabkan globalisasi. Tetapi lebih
disebabkan karena pelanggan semakin cerdas, sadar harga, banyak
menuntut, kurang memaafkan, dan didekati oleh banyak produk.
Kemajuan teknologi komunikasi juga ikut berperan meningkatkan
intensitas persaingan, karena memberi pelanggan akses informasi yang
lebih banyak tentang berbagai macam produk yang ditawarkan. Artinya
pelanggan memiliki pilihan yang lebih banyak dalam menggunakan uang
yang dimilikinya.
Kotler, Hayes dan Bloom (2012) menyebutkan ada enam alasan
mengapa suatu institusi perlu mendapatkan loyalitas pelanggannya.

  1. Pelanggan yang ada lebih prospektif, artinya pelanggan loyal akan
    memberi keuntungan besar kepada institusi.
  2. Biaya mendapatkan pelanggan baru jauh lebih besar berbanding
    menjaga dan mempertahankan pelanggan yang ada.
  3. Pelanggan yang sudah percaya pada institusi dalam suatu urusan
    akan percaya juga dalam urusan lainnya.
  4. Biaya operasi institusi akan menjadi efisien jika memiliki banyak
    pelanggan loyal.
  5. Institusi dapat mengurangkan biaya psikologis dan sosial
    dikarenakan pelanggan lama telah mempunyai banyak pengalaman
    positif dengan institusi.
  6. Pelanggan loyal akan selalu membela institusi bahkan berusaha pula
    untuk menarik dan memberi saran kepada orang lain untuk menjadi
    pelanggan

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan konsumen didefinisikan sebagai tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan
dibandingkan dengan harapannya Kotler, (2015) atau diartikan bawa
kepuasan merupakan fungsi dari kinerja yang dirasakan (perceived
performance) dan harapan (expectations).Jika kinerja produk atau jasa
lebih rendah dari harapan, konsumen akan merasa tidak puas. Jika kinerja
sesuai harapan maka konsumen akan merasa puas, jika kinerja sampai
melebihi harapan, maka konsumen akan merasa sangat puas (delighted).
Menurut Basu Swasta, (2014), kepuasan konsumen merupakan
evaluasi purna beli dimana alternatif yang dipilih sekurang-kurangnya sama
atau melampaui harapan konsumen. Kepuasan konsumen ini akan terpenuhi
apabila mereka memperoleh apa yang mereka inginkan, pada saat mereka
membutuhkannya, di tempat yang mereka inginkan dan dengan cara yang
mereka tentukan. Ketidakpuasan akan timbul apabila hasil atau tidak
memenuhi harapan.Perilaku konsumen adalah perilaku konsumen yang
ditunjukkan melalui pencarian, pembelian, penggunaan, pengevaluasian
dan penentuan produk atau jasa mereka harapkan dapat memuaskan
kebutuhan mereka. Basu Swasta, (2014).
Kepuasan konsumen merupakan kunci keberhasilan suatu
perusahaan. Jangka panjangnya adalah meningkatkan keuntungan yang
ditentukan oleh terpenuhinya kebutuhan dan keinginan konsumen secara
memuaskan, karena dari sini akan menimbulkan terjadinya penggunaan
ulang dimasa yang akan datang.Pada dasarnya kepuasan konsumen
mencakup perbedaan antara harapan dan kinerja atau hasil yang dirasakan.
Penilaian terhadap kepuasan konsumen dapat dibedakan menjadi :

  1. Positive disconfirmation, dimana hasil yang diterima lebih baik
    daripada hasil yang diharapkan.
  2. Simple confirmation, dimana hasil yang diterima sama dengan hasil
    yang diharapkan.
  3. Negative confirmation, dimana hasil yang diterima lebih buruk
    (rendah) daripada hasil yang diharapkan.
    Pada akhirnya konsumen yang merasa terpuaskan kebutuhan dan
    keinginannya akan menindaklanjuti dengan :
    1) Melakukan pembelian ulang (reselling) produk atau jasa.
    2) Menyatakan hal baik perusahaan kepada orang lain
    3) Kurang memperhatikan produk dan jasa pesaing.
    4) Membeli produk yang lain dari perusahaan tersebut
    Sedangkan konsumen yang merasa tidak terpuaskan dapat melakukan
    tindakan – tindakan yang dikhawatirkan dapat merugikan perusahaan
    seperti :
    1) Menghentikan pembelian produk dari perusahaan
    2) Menyatakan keluhan perusahaan kepada orang lain
    3) Membeli produk atau jasa lain pada perusahaan pesaing Sehingga
    kunci untuk memuaskan konsumen adalah memenuhi atau melebihi
    pengharapan konsumen mengenai kualitas jasa

Kualitas Pelayanan


Sikap dan Layanan pihak PT. Indrajaya Swastika Semarang
merupakan kunci keberhasilan, juga usaha untuk menarik minat
konsumen.PT. Indrajaya Swastika Semarang dituntut untuk menekankan
pelayanan yangberkualitas. Mengingat bahwa PT. Indrajaya Swastika
Semarang selaluterlibat dalam pengadaan kontainer, maka faktor pelayanan
PT. Indrajaya Swastika Semarang merupakan faktor yang ikut menentukan.
Tanggungjawab penjual tidak hanya menjual barang saja, akan
tetapi perlu diperhatikan pemberian pelayanan. Menurut Philip Kotler
(2015), pelayanan merupakan kegiatan atau manfaat yang dapat diberikan
oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya tidak terwujud dan
tidak berakibat pula pada pemilikan sesuatu. Menyadari akan pentingnya
pelayanan kepada konsumen sebagai sarana yang kompetitif, banyak
perusahaan telah membentuk pelayanan kepada pelanggan. Bentuk – bentuk
pelayanan tersebut antara lain :

  1. Pelayanan Kredit
    Perusahaan dapat menawarkan sejumlah pilihan kredit kepada
    pelanggan, meliputi : kontrak pembayaran secara kredit, rekening
    terbuka dan pinjaman.
  2. Pelayanan infomasi
    Perusahaan dapat membentuk suatu unit yang dapat menjawab
    pertanyaan para pelanggan dan menyebar informasi mengenai produk
    baru, spesifikasi, proses kemungkinan perubahan harga, status pesanan
    yang dipenuhi dan kebijakan. Pelayanan merupakan suatu tingkat usaha
    dari perusahaan dalam uapaya memberikan kenikmatan dan kepuasan
    kepada konsumen. Oleh karena itu pelayanan perlu mendapatkan
    perhatian khusus dari perusahaan karena merupakan kunci kesuksesan
    suatu perusahaan didalam menjalankan usahanya.Menurut American
    Society for Quality Control Kotler, (2015). “Kualitas adalah
    keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik-karakteristik dari suatu produk
    atau jasa dalam hal kemampuannya untuk memenuhi
    kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten”.
    Selanjutnya menurut Duran dalam Lupiyoadi (2012), kualitas dapat
    diartikan sebagai biaya yang dapat dihindari (avoidable) dan yang tidak
    dapat dihindari (unavoidable).Yang termasuk dalam biaya yang dapat
    dihindari misalnya biaya akibat kegagalan produk, sementara yang
    termasuk biaya yang tidak dapat dihindari misalnya biaya kegiatan
    pengawasan kualitas.Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat
    disimpulkan bahwa definisi kualitas bersumber dari dua sisi, produsen
    dan konsumen.Produsen menentukan persyaratan atau spesifikasi
    kualitas, sedangkan konsumen menentukan kebutuhan dan keinginan.
    Pendefinisian akanakurat jika produsen mampu menerjemahkan
    kebutuhan dan keinginan atas produk ke dalam spesifikasi produk yang
    dihasilkan.
    Kualitas pelayanan (Service Quality) seperti yang dikatakan oleh
    Parasuraman dikutip oleh Lupiyoadi (2012) dapat didefinisikan yaitu:
    “Seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan konsumen atas
    pelayanan yang mereka terima atau peroleh”. Sementara menurut
    Freddy Rangkuti (2014) bahwa: “Kualitas jasa didefinisikan sebagai
    penyampaian jasa yang akan melebihi tingkat kepentingan konsumen”.
    Definisi tersebut menekankan pada kelebihan dari tingkat kepentingan
    konsumen sebagai inti dari kualitas jasa.Salah satu model kualitas
    pelayanan yang banyak dijadikan acuan dalam riset pemasaran adalah
    model ServQual (Service Quality) seperti yang dikembangkan oleh
    Parasuraman, Zeithmal, dan Berry seperti yang dikutip oleh Lopiyoadi
    (2012) dalam serangkaian penelitian mereka terhadap enam sektor jasa,
    reparasi, peralatan rumah tangga, kartu kredit, asuransi, sambungan
    telepon jarak jauh, perbankan ritel, dan pialang sekuritas. ServQual
    (Service Quality) dibangun atas adanya perbandingan dua faktor utama
    yaitu persepsi pelanggan atas layanan yang nyata mereka terima
    (perceived service) dengan layanan yang sesungguhnya diharapkan atau
    diinginkan (expected service).
    Lebih lanjut Mowen, dkk (2012) dalam Wardhani (2013)
    mengemukakan bahwa kualitas kinerja layanan merupakan suatu proses
    evaluasi menyeluruh pelanggan mengenai kesempatan kinerja
    layanan.Kualitas pelayanan berkaitan erat dengan persepsi pelanggan
    tentang mutu suatu usaha. Semakin baik pelayanan yang akan
    mempengaruhi tingkat kepuasan yang dirasakan pelanggan sehingga
    usaha tersebut akan dinilai semakin bermutu. Sebaliknya apabila
    pelayanan yang diberikan kurang baik dan memuaskan, maka usaha
    tersebut juga dinilai kurang bermutu.Oleh karena itu usaha untuk
    meningkatkan kualitas pelayanan harus terus dilakukan agar dapat
    memaksimalkan kualitas jasa.
    Konsep kualitas sendiri pada dasarnya bersifat relatif yaitu
    tergantung dari perspektif yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri
    dan spesifikasi. Pada dasarnya terdapat tiga orientasi kualitas yang
    seharusnya konsisten satu sama lain:
  3. Persepsi konsumen,
  4. Produk (jasa),
  5. Proses

Pengertian Fasilitas


Faktor fasilitas biasanya merupakan suatu faktor yang sangat
menunjang dalam usaha perusahaan memasarkan produk kepada konsumen
pengguna barang ataupun jasa. Adapun definisi fasilitas adalah segala hal yang
dapat memudahkan suatu produk untuk dipasarkan, Philip Kotler
(2015).Fasilitas juga dapat diartikan sebagai suatu bentuk pembelian manfaat
dai perusahaan kepada konsumen pengguna yang diberikan atas dasar
pembayaran sejumlah uang. Dengan kata lain, pada perusahaan jasa, fasilitas
yang disediakan berupa alat-alat yang dapat menunjang dalam memberikan
pelayanan yang memuaskan bagi konsumen.
Fasilitas biasa lainnya dipengaruhi oleh tingkat pelayanan,yang
artinya kenaikan atau penambahan fasilitas dalam suatu perusahaan akan
menyebabkan meningkatnya pelayanan. Fasilitas yang memadai dan lengkap
merupakan suatu daya tarik tersendiri bagi konsumen dalam menentukan
pilihannya atau dalam mengambil keputusan terhadap penggunaan suatu
produk.Dan sebaliknya fasilitas yang memadai yang tidak disesuaikan dengan
pelayanan, mendorong ke arah kegagalan perusahaan karena konsumen dapat
mengurungkan niatnya untuk membeli produk yang ditawarkan
perusahaan.Fasilitas merupakan segala sesuatu yang memudahkan konsumen
dalam menggunakan jasa perusahaan tersebut.
Fasilitas merupakan segala sesuatu yang memudahkan konsumen
dalam usaha yang bergerak di bidang jasa, maka segala fasilitas yang ada yaitu
kondisi fasilitas, kelengkapan, desain interior, dan eksterior serta kebersihan
fasilitas harus diperhatikan terutama yang berkaitan erat dengan apa yang
dirasakan atau didapat konsumen secara langsung.Pelanggan memang harus
dipuaskan, sebab kalau tidak puas akan meninggalkan perusahaan dan menjadi
pelanggan pesaing. Hal ini akan menjadikan penurunan penjualan dan pada
gilirannya akan menurunkan pendapatan perusahaan. Sedangkan
menurut Kotler (2015) mendefinisikan fasilitas yaitu segala sesuatu yang
bersifat peralatan fisik dan disediakan oleh pihak penjual jasa untuk mendukung
kenyamanan konsumen.
Menurut Tjiptono (2016) desain dan tata letak fasilitas jasa erat
kaitannya dengan pembentukan presepsi pelanggan.Sejumlah tipe jasa,
presepsi yang terbentuk dari interaksi antara pelanggan dengan fasilitas
berpengaruh terhadap kualitas jasa tersebut di mata pelanggan. Faktor-faktor
yang berpengaruh signifikan terhadap desain fasilitas jasa adalah sebagai
berikut:

  1. Sifat dan tujuan organisasi.
    Sifat suatu jasa seringkali menentukan berbagai persyaratan
    desainnya.Sebagai contoh desain rumah sakit perlu mempertimbangkan
    ventilasi yang memadai, ruang peralatan medis yang representatif, ruang
    tunggu pasien yang nyaman, kamar pasien yang bersih.Desain fasilitas
    yang baik dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya perusahaan
    mudah dikenali dan desain interior bisa menjadi ciri khas atau petunjuk
    mengenai sifat jasa didalamnya.
  2. Ketersediaan tanah dan kebutuhan akan ruang atau tempat.
    Setiap perusahaan jasa membutuhkan lokasi fisik untuk mendirikan
    fasilitas jasanya. Dalam menentukan lokasi fisik diperlukan beberapa
    faktor yaitu kemampuan finansial, peraturan pemerintah berkaitan
    dengan kepemilikan tanah dan pembebasan tanah, dan lain – lain.
  3. Fleksibilitas.
    Fleksibilitas desain sangat dibutuhkan apabila volume permintaan sering
    berfluktuasi dan jika spesifikasi jasa cepat berkembang, sehingga resiko
    keuangan relatif besar.Kedua kondisi ini menyebabkan fasilitas jasa
    harus dapat disesuaikan dengan kemungkinan perkembangan di masa
    datang.
  4. Faktor estetis.
    Fasilitas jasa yang tertata rapi, menarik akan dapat meningkatkan sikap
    positif pelanggan terhadap suatu jasa, selain itu aspek karyawan terhadap
    pekerjaan dan motivasi kerjanya juga meningkat. Aspek-aspek yang
    perlu ditata meliputi berbagai aspek.Misalnya tinggi langit–langit
    bangunan, lokasi jendela dan pintu, bentuk pintu yang beraneka ragam,
    dan dekorasi interior.
  5. Masyarakat dan lingkungan sekitar.
    Masyarakat (terutama masalah sosial dan lingkungan hidup) dan
    lingkungan disekitar fasilitas jasa memainkan peranan penting dan
    berpengaruh besar terhadap perusahaan.Apabila perusahaan tidak
    mempertimbangkan faktor ini, maka kelangsungan hidup perusahaan
    bisa terancam.
  6. Biaya kontruksi dan operasi.
    Kedua jenis biaya ini dipengaruhi desain fasilitas.Biaya kontruksi
    dipengaruhi oleh jumlah dan jenis bangunan yang digunakan.Biaya
    operasi dipengaruhi oleh kebutuhan energi ruangan, yang berkaitan
    dengan perubahan suhu.

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan


Menurut Hasan (2013 : 106) Metode yang digunakan untuk mengukur
kepuasan pelanggan sebagai berikut:
1) Sistem keluhan dan saran
Organisasi yang beroritasi pelanggan memberikan kesempatan kepada pelanggan
untuk menyampaikan saran secara langsung. Informasi-informasi yang diperoleh
melalui metode ini dapat memberikan ide-ide baru dan masukan yang berharga untuk
mengatasi keluhan pelanggan.
2) Ghost shopping
Metode ini efektif jika para manajer perusahaan bersedia sebagai ghost shoppers
untuk mengetahui secara langsung bagaimana karyawannya berinteraksi dan
memperlakukan pelanggan.
3) Lost customer analysis
Perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah berhenti membeli atau beralih
pemasok, agar dapat memahami alasan pelanggan berhenti membeli. Hal ini dapat
digunakan untuk mengambil kebijakan perbaikan.
4) Survei Kepuasan pelanggan
Sebagaian besar riset kepuasan pelanggan dilakukan dengan menggunakan metode
survei, baik survei melalui telepon, e-mail, website atau wawancara langsung.
Melalui survei, perusahaan akan memperoleh tanggapan langsung dari pelanggan dan
juga memberikan kesan positif bahwa perusahaan menaruh perhatian kepada para
pelanggannya.

Manfaat Kepuasan Pelanggan


Menurut Hasan (2013:102) Perencanaan, implementasi, dan pengendalian
program kepuasan pelanggan yang baik dapat memberikan bagi perusahaan, yaitu:
1) Pendapatan
Pelanggan yang benar-benar puas berkontribusi 17 kali terhadap pendapatan
dibanding pelanggan yang agak puas.
2) Reaksi terhadap produsen berbiaya rendah
Banyak fakta bahwa pelanggan yang bersedia membayar harga lebih mahal untuk
pelayanan dan kualitas produk yang baik. Hal ini merupakan alternatif yang baik
dalam mempertahankan pelanggan untuk menghadapi produsen berbiaya rendah.
3) Manfaat ekonomis
Biaya mempetahankan pelanggan lebih murah 4-6 kali lipat di bandingkan biaya
mencari pelanggan baru.
4) Reduksi sensitivitas harga
Pelanggan yang puas terhadap sebuah perusahaan cenderung lebih jarang untuk
menawar harga dalam setiap pembelian individualnya.
5) Key sukses bisnis masa depan
Kepuasan pelanggan merupakan strategi bisnis jangka panjang, membangun dan
memperoleh reputasi produk, perusahaan butuh waktu yang cukup lama, perlu
investasi besar pada serangkaian aktivitas bisnis untuk membahagiakan pelanggan

Dimensi Kepuasan Pelanggan


Menurut Parasuraman, Zeithaml, & Berry dalam Mohsen Nazari dan Vahid
Tabatabaie (2014). faktor- faktor yang menjadi indikator dalam pembentukan kepuasan
pelanggan adalah:
1) Overall customer satisfaction
Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau
hasil) yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan
adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
2) Perceived Value
Monroe dalam Vanessa (2007:65) menyatakan bahwa nilai pelanggan adalah rasio
antara keuntungan atau manfaat yang dirasakan dengan pengorbankan yang
dikeluarkan. Dimana keuntungan yang dirasakan adalah kombinasi dari atribut
fisik, atribut jasa dan teknik pendukung dalam pemanfaatan produk. Pengorbanan
yang dikeluarkan adalah total biaya yang dikeluarkan konsumen termasuk biaya
pembelian dan biaya tambahan (seperti biaya pemesanan, transportasi, instalasi,
penanganan pesanan).
3) Afektif Respon
Respon yang berhubungan dengan emosi, sikap dan menilai seseorang terhadap
sesuatu. Respon ini timbul apabila ada perubahan yang disenangi oleh khalayak
terhadap sesuatu.
4) Fulfilling important needs
Untuk mencapai kepuasan pelanggan, perusahaan harus bisa memenuhi kebutuhan
pelanggan dan memberikan pelayanan yang terbaik, tetapi jika perusahaan
memiliki tim pelayanan pelanggan yang buruk, maka membuat perusahaan
kehilangan pelanggan lama dan mungkin juga mengalihkan calon pelanggan. Agar
bisa memenuhi kebutuhan pelanggan dengan baik, terlebih dahulu Anda harus bisa
mengetahui apa itu. Cara terbaik untuk mengetahui hal ini adalah dengan meminta
pelanggan anda secara langsung menggunakan sejumlah teknik penelitian, seperti
survei.
5) Teori Kepuasan (The Expectancy Disconfirmation Model )
The Expectancy Disconfirmation Model, yang mengemukakan bahwa kepuasan
dan ketidakpuasan konsumen merupakan dampak dari perbandingan oleh harapan
konsumen sebelum pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh oleh
konsumen sebelum pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh konsumen
dari produk yang dibeli tersebut.
6) Fulfilling changing and new needs
Menurut Soekarno (2000:15) Pesaingan bisnis yang semakin ketat menjadi
tantangan maupun ancaman bagi pelaku usaha tersebut. Agar dapat memenangkan
persaingan, mempertahankan pasar yang dimiliki dan merebut pasar yang sudah
ada, perusahaan dituntut untuk mempunyai kemampuan mengadaptasi strategi
usahanya dan lingkungan yang terus-menerus berubah dan berkembang. Setiap
pelaku bisnis dituntut untuk mempunyai kepekaan terhadap setiap perubahan yang
terjadi, serta mampu memenuhi dan menanggapi setiap tuntutan pelanggan yang
terus berubah

Konsep Kepuasan pelanggan


Menurut Hasan (2013 : 94) Secara konseptual kepuasan pelanggan dapat
dikaji dari teori:
1) Experience affective feelings
Tingkat kepuasan pelanggan dipengaruhi perasaan positif dan negatif yang
telah diasosiasikan pelanggan dengan barang atau jasa tertentu setelah
pembeliannya. Dengan kata lain perasaan yang timbul setelah melalukan pembelian
dapat juga mempengaruhi perasaan atau tidak puas terhadap produk yang dibeli.
2) Expectancy disconfirmation theory
Pemakaian merek tertentu atau merek lainnya dalam kelas produk yang sama,
pelanggan membentuk harapan mengenai kinerja seharusnya dari merek yang
bersangkutan. Harapan atas kinerja dibandingkan dengan kinerja aktual produk
yaitu persepsi atas kualitas produk. Terdapat tiga kemungkinan yang terjadi:
a) Apabila kualitas lebih rendah dari harapan, yang terjadi adalah ketidakpuasan
emosional.
b) Apabila kinerja lebih besar dibandingkan harapan, terjadi kepuasan emosional.
c) Apabila kinerja sama dengan harapan, maka yang terjadi adalah konfirmasi
harapan

Definisi Kepuasan pelanggan


Menurut Brown dalam Sudaryono (2014 : 48) kepuasan pelanggan adalah
suatu kondisi dimana kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen terhadap sebuah
produk atau jasa, sesuai atau terpenuhi dengan penampilan dari produk dan jasa.
Konsumen atau pelanggan yang puas akan mengkonsumsi produk tersebut secara terus
– menerus, mendorong konsumen akan loyal terhadap produk dan jasa tersebut, dan
juga dengan senang hati mempromosikan produk atau jasa tersebut dari mulut ke
mulut. Menurut Mowen dan Minor dalam Sudaryono (2016 : 78) kepuasan pelanggan
didefinisikan sebagai keseluruhan sikap yang ditunjukan oleh konsumen atas barang
dan jasa setelah mereka memperoleh dan meggunakannya. Ini merupakan penilaian
evaluatif pasca pemilihan yang disebabkan oleh seleksi pembelian khusus dan
pengalaman mengunakan atau mengkonsumsi barang atau jasa tersebut.
Menurut Kotler dan Keller (2016 :153) kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan
produk terhadap ekspektasi mereka, jika kinerja sesuai dengan ekspektasi makan akan
puas. Dari berbagai pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan
pelanggan ialah perasaan senang atau kecewa yang dihasilkan dari upaya pemenuhan
kebutuhan oleh perusahaan melalui kinerja, perasaan puas muncul ketika konsumen
merasa kinerja sesuai dengan apa yang mereka harapkan.

Metode Pengukuran Promosi Penjualan


Menurut Laksana (2019 : 146) promosi penjualan untuk pasar – pasar
konsumen dapat mudah di uji dengan test pendahuluan, dimana konsumen diminta
untuk menyusun peringkat berbagai promosi atau uji coba dilakukan di daerah tertentu
yang terbatas luasnya. Menurut Laksana (2019 : 147 – 148) ada empat metode untuk
mengukur efektifitas promosi penjualan yaitu:
1) Memperbandingkan penjualan sebelum, sewaktu dan sesudah promosi.
2) Data panel konsumen : akan mengungkap macam – macam orang yang menanggapi
promosi penjualan dan apa yang mereka lakukan setelah promosi.
3) Survei konsumen : apabila di butuhkan banyak, untuk mengetahui berapa banyak
yang mengingat promosi, bagaimana pendapat mereka tentang promosi itu, berapa
orang yang mengambil keuntungan dari promosi tersebut dan bagaimana promosi
tersebut mempengaruhi perilaku mereka dalam memilih merek produk.
4) Lewat percobaan mengenai berbagai macam hal : misalnya nilai insentif, jangka
waktu, dan media distribusinya

Tujuan Promosi Penjualan


Tujuan merupakan petunjuk dalam menentukan alat – alat promosi penjualan
yang tepat dan juga sebagai dasar untuk mengevaluasi pelaksanaan program tersebut.
Tujuan – tujuan tersebut harus berdasarkan konsep dasarnya, yaitu program promosi
penjualan ini merupakan salah satu strategi pemasaran yang dilaksanakan perusahaan.
Karena pengaruh utama yang diharapkan dari program pejualan adalah untuk
mendorong konsumen atau distributor melakukan tindakan pembelian. Menurut
Laksana (2019 : 144) tujuan promosi penjulalan tebrbagi menjadi dua yaitu:
1) Tujuan umum : bersumber pada tujuan komunikasi pemasaran, yaitu untuk
mempercepat respon pasar yang di targetkan.
2) Tujuan Khusus :
a) Bagi konsumen (Consumer Promotion) : untuk mendorong konsumen antara
lain untuk lebih banyak menggunakan produk, unit pembeli produk dalam unit
besar, mencoba merek yang dipromosikan, dan untuk menarik pembeli merek
lain yang bersaing dengan produk yang sedang di promosikan.
b) Bagi pengecer (Trade Promotion) : membujuk pengecer untuk menjual barang
produk baru, menimbun lebih banyak persediaan barang, menngingatkan
pembeli ketika sedang tidak musim, membujuk agar menimbun barang –
barang dipromosikan dan memperoleh jalur pengeceran baru.
c) Bagi wiraniaga (Sales Force Promotion) : untuk member dukungan atau produk
atau model baru untuk merangsang mereka mencari pelanggan baru dan
mendorong penjualan di musim sepi.

Hubungan Antara Kualitas Pelayanan dengan Kepuasan Konsumen


Hubungan antara kualitas pelayanan dengan kepuasan konsuman sangat
berpengaruh, menurut Ibrahim Buddy (2000 : 1) mendefinisikan bahwa kualitas
adalah suatu strategi dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen baik internal maupun eksternal,
secara eksplisit dan implisit.
Menurut Parasuraman et, al (dalam Supranoto, 2001 : 236) ada tiga
pendekatan penciptaan nilai pelanggan sebagai kiat pemasaran yang dapat
digunakan perusahaan untuk mengembangkan ikatan serta kepuasan pelanggan
yang lebih kuat. Tiga pendekatan penciptaan nilai pelanggan tersebut adalah :

  1. Pendekatan I adalah memberikan kauntungan finansial bagi pelanggan
  2. Pendekatan II adalah meningkatkan ikatan sosial antara perusahaan dengan
    pelanggan dengan cara mempelajari kebutuhan masing-masing pelanggan serta
    memberikan pelayanan yang lebih pribadi sifatnya.
  3. Pendekatan III adalah meningkatkan ikatan sturktural
    Pemasaran yang didasarkan pada hubungan dengan pelanggan merupakan
    kunci mempertahankan pelanggan dan mencakup pemberian keuntungan
    finansial serta sosial disamping ikatan struktural dengan pelanggan, karena itu
    perusahaan harus dilakukan pada masing-masing segmen pasar dan pelanggan,
    dan tingkat pemasaran biasa, kreatif, bertanggung jawab, proaktif sampai
    kemitraan penuh

Teknik Pengukuran Kepuasan Pelanggan


Pada umumnya banyak penelitian mengenai bagaimana cara mengukur
kepuasan pelanggan dilakukan dengan menggunakan metode survei. Menurut
Tjiptono (2000 : 149) dalam mengukur kepuasan pelanggan dapat menggunakan
pengukuran sebagai berikut :

  1. Pengukuran yang dilakukan secara langsung
    Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka mengharapkan
    suatu atribut tertentu atas apa yang mereka rasakan.
  2. Responden dapat diminta untuk menuliskan masalah yang mereka hadapi
    berkaitan dengan penawaran dari perusahaan dan juga dminta menuliskan
    perbaikan yang mereka sarankan.
  3. Responden diminta untuk merangking berbagai elemen (atribut) dari
    penawaran berdasarkan derajat pentignya elemen dan seberapa baik kinerja
    perusahaan dan masing-masing elemen.

Metode Pengukuran Kepuasan Pelanggan


Philip Kotler (1994) dalam Fandy Tjiptono (2000) mengidentifikasikan
empat metode untuk mengukur kepuasan pelanggan, yaitu sebagai berikut :

  1. Sistem Keluhan dan Saran
    Organisasi yang beroriantasi pada pelanggan perlu memberikan
    kesempatan pada pelanggan dalam menyampaikan pendapatnya yang memang
    dirasa baik ataupun yang tidak sesuai. Cara atau media yang digunakan bisa
    berupa kotak saran, saluran telepon khusus bebas pulsa, dan lain-lain. dimana
    informasi melalui media seperti ini dapat memberikan ide-ide baru dan
    masukan kepada perusahaan agar dapat cepat dan tanggap mengatasi masalah
    masalah yang timbul.
  2. Ghost Shopping
    Yaitu suatu cara untuk mendapatkan gambaran mengenai kepuasan
    pelanggan dengan mempekerjakan beberapa orang yang berperan atau bersikap
    sebagai pelanggan atau pembeli potensial produk perusahaan dan pesaing
    mengenai kekuatan, kelemahan produk dan pesaing berdasarkan pengalaman
    merekadalam pembelian produk tersebut.
  3. Lost Customer Ananlisys
    Yaitu suatu strategi yang dilakukan oleh perusahaan dengan
    menghubungi pelanggan yang telah berhenti membeli atau berpindah tempat
    pemasok, hal ini dimaksudkan agar perusahaan bisa mengambil kebijakan
    perbaikan dan penyempurnaan selanjutnya.
  4. Survey kepuasan pelanggan
    Yaitu suatu cara yang dilakukan oleh perusahaan dalam memperoleh
    tanggapan dan umpan balik secara langsung dari pelanggan dan juga
    memberikan tanda positif bahwa perusahaan menaruh perhatian terhadap
    pelanggannya

Pengertian kepuasan konsumen


Untuk mengetahui kepuasan pelanggan bisa dengan melihat kesesuaian
antara harapan pelanggan dengan kinerja yang diujukan oleh produk atau jasa
yang ada, yaitu pelanggan akan merasa tidak puas jika kinerja tidak sesuai dengan
apa yang diharapkan, begitu juga sebaliknya. Harapan pelanggan dapat dibentuk
oleh pengalaman masa lampau, komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi
pasar serta saingannya.
Dengan kondisi tersebut diatas Supranoto (2001 : 233) berpendapat bahwa
kepuasan adalah tingkat kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja/hasil
yang dirasakannya dengan harapannya. Sehingga bisa dikatakan tingkat kepuasan
merupakan fumgsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan.
Agar kepuasan pelanggan dapat tercipta, perusahaan harus menciptakan
dan mengelola suatu sistem untuk memperoleh pelanggan yang lebih banyak dan
kemempuan untuk mempertahankan pelanggannya.
Yazid (2008) berpendapat bahwa kepuasan adalah ketiadaan perbedaan
antara harapan yang dimiliki dan unjukkerja yang senyatanya diterima. Kepuasa
konsumen selalu didasarkan kepada upaya peniadaan atau paling sedikit upaya
penyempitan gap antara keadaan yang diinginkan (harapan) dengan keadaan
sebenarnya yang dihadapi (perceived). Ada tiga macam kondisi kepuasan yang
bisa dirasakan oleh konsumen berkaitan dengan perbandingan antara harapan
dan kenyataan, yaitu jika harapan atau kebutuhan sama dengan layanan yang
diberikan maka konsumen akan merasa puas. Jika layanan yang diberikan
pada konsumen kurang atau tidak sesuai dengan kebutuhan atau harapan
konsumen maka konsumen menjadi tidak puas. Kepuasan konsumen
merupakan perbandingan antara harapan yang dimiliki oleh konsumen dengan
kenyataan yang diterima oleh konsumen dengan kenyataan yang diterima oleh
konsumen dengan kenyataan yang diterima oleh konsumen pada saat
mengkonsumsi produk atau jasa. Konsumen yang mengalami kepuasan
terhadap suatu produk atau jasa dapat dikategorikan ke dalam konsumen
masyarakat, konsumen instansi dan konsumen individu

Model Kualitas Pelayanan


Suatu cara perusahaan agar tetap bisa menjadi yang terbaik adalah dengan
memberikan jasa dengan kualitas yang lebih tinggi dari pesaingnya secara
konsisten. Harapan konsumen dibentuk dari pengalaman masa lampau,
pembicaraan dari mulut kemulut serta promosi yang dilakukan oleh perusahaan
jasa, kemudian membandingkannya.
Sebuah model kualitas pelayanan telah dikembangkan oleh parasuraman et,
al (dalam Yazid, 2008 : 58) membantu mengidentifikasi gap (kesenjangan) antara
kualitas jasa yang dipersepsikan dan diterima pelanggan dengan model yang
mereka harapkan.
Model ini mengidentifisi lima gap yaitu :

  1. Gap harapan-persepsi manajemen
    Merupakan perbedaan antara harapan pelanggan dengan persepsi
    manajemen mengenai harapan konsumen. Riset menunjukkan bahwa
    organisasi jasa finansial seringkali memperlakukan aspek privacy dan
    kerahasiaan sebagai sesuatu yang relatif tidak penting.
  2. Gap persepsi manajemen-harapan kualitas jasa
    Merupakan perbedaan antara persepsi manajemen terhadap harapan
    konsumen dan spesifikasi kualitas jasa.
  3. Gap spesifikasi kualitas jasa-penyampaian jasa
    Merupakan perbedaan antara spesifikasi kualitas jasa dengan jasa yang
    secara aktual disampaikan. Ini sangat penting bagi jasa yang sisitem
    penyampaiannya sangat tergantung pada sumber daya manusia.
  4. Gap penyampaian jasa komunikasi eksternal pada konsumen
    Merupakan perbedaan antara minat penyampaian jasa dan apa yang
    dikomunikasikan tentang jasa kepada pelanggan. Ini membentuk harapan
    didalam diri pelanggan yang mungkin tidak terpenuhi dan seringkali
    merupakan hasil komunikasi yang tidak memadai oleh penyedia jasa.
  5. Gap jasa diharapkan-jasa yang dipersepsikan
    Yaitu mencerminkan perbedaan antara kinerja aktual dan persepsi
    pelanggan terhadap jasa. Penilaian subyektif terhadap kualitas jasa akan
    dipengaruhi oleh banyak faktor, yang seluruhnhya bisa mengubah persepsi
    terhadap jasa yang telah disampaikan

Tahapan konsep kualitas pelayanan


Menurut Ibrahim Buddy (2000 : 6) ada enam tahap konsep kualitas yang
masing-masing tahap akan dijelaskan sebagai berikut :

  1. Konsep Tahap 1 sesuai standar (fitness to standard)
    Konsep ini menentukan kualitas produk sesuai petunjuk petunjuk
    standar berdasarkan desain yang telah ditentukan. Kelemahan konsep ini ialah
    :
    a. Sikap yang berorientasi pada inspeksi sehingga menimbulkan ketegangan
    antara bagian produksi dan bagian pemeriksa.
    b. Akibat sistem standar dan inspeksi maka orientasi ialah pada produk dan
    bukan pada kebutuhan pasar.
    c. Makin tinggi standar yang ditentukan maka makin rumit proses produksi
    dengan akibat banyak produk yang tidak sesuai sehingga biaya produksi
    meningkat makin tinggi.
  2. Konsep tahap 2 sesuai penggunaan pasar (fitness to use)
    Konsep ini membuat produk yang sesuai dengan penggunaan pasar.
    Hal ini tercapai apabila melakukan inspeksi. Kelemahan konsep ini adalah :
    a. Masih bertumpu pada inspeksi standard.
    b. Setiap proses produksi menimbulkan variabilitas produk walaupun untuk
    standar dan produk yang sama.
    c. Setiap produk baru akan mengundang persaingan yang dapat memberi
    harga jual yang lebih rendah apabila dapat mengurangi biaya produksi
    dalam proses inspeksi, sehingga pangsa pasar dapat berkurang.
  3. Prinsip tahap 3 sesuai harga (fitness of cost)
    Untuk memperoleh penurunan harga sambil mempertahankan tingkat
    yang tinggi, maka variabilitas proses produksi terus dikurangi sedemikian
    rupa sehingga tetap dalam batas inspeksi, serta diperlukan juga umpan balik
    dan koreksi dalam setiap langkah proses produksi. Kelemahan konsep ini
    adalah : para pesaing dan negara industri baru dapat membuat produk yang
    sama dengan biaya buruh yang lebih rendah sehingga dapat menawarkan
    harga jual yang lebih kompetitif.
  4. Konsep tahap 4 sesuai perkembangan kebutuhan (fitness to latent
    requirements)
    Konsep ini berusaha memberikan apa yang dibutuhkan konsumen
    meskipun saat itu produk belum ada di pasar, namun setelah di pasar
    langsung diminati oleh konsumen. Kelemahan konsep ini adalah : sekali
    konsumen tahu akan produk/jasa tersebut maka harus diusahakan perbaikan
    dan perubahan baru bersamaan dengan peningkatan kualitas.
  5. Konsep tahap 5 sesuai budaya perusahaan (fitness to corporate culture)
    Konsep ini mendasarkan kualitas sebagai landasan budaya perusahaan
    agar dapat memenuhui kebutuhan konsumen secara terus menerus dengan
    lebih baik.
  6. Konsep tahap 6 sesuai lingkungan global (fitness to global environ metal
    requirements)
    Konsep ini menghasilkan produk berkualitas yang melestarikan sumber
    daya alam yang langka sehingga terjaga dari kerusakan akibat penggunaan
    teknologi yang semakin canggih.

Karakteristik Kualitas Pelayanan


Dalam ibrahim buddy (2000 : 3) beberapa ahli pemasaran
mengidentifikasikan sebelas karakteristik yang menentukan kualitas pelayanan
akan jasa yang dijabarkan sebagai berikut :

  1. Reliability, yaitu konsistensi dalam kinerja dan ketahanannya.
  2. Responsiveness, yaitu tanggap terhadap klaim/protes konsumen, kesiapan
    karyawan dalam memberikan service pada waktu yang diperlukan,
    misalnya adanya teknologi, peraturan, yang berubah dan harus diantisipasi
    dengan kemungkinan penawaran baru untuk produk/jasa yang belum ada
    di pasar.
  3. Competence, yaitu menguasai ketrampilan dan pengetahuan yang memadai
    untuk memberikan service yang diperlukan.
  4. Acces, yaitu kemudahan pendekatan dan akses.
  5. Courtesy, yaitu diperlukannya sopan santun, perhatian yang tulus dan
    keramahan dari personil/karyawan service ketika mendengar keluhan
    pelanggan.
  6. Communication, yaitu pemberitahuan informasi kepada konsumen dengan
    bahasa yang mudah dipahami konsumen, menjelaskan perihal service/jasa
    yang ditawarkan bila diperlukan oleh konsumen.
  7. Credibility, yaitu kepercayaan, keandalan, kejujuran dari karyawan
    perusahaan.
  8. Security, yaitu bebas dari bahaya resiko, atau keraguan, keamanan fisik
    ataupun keamanan finansial serta kerahasiaan.
  9. Understanding the customer, yaitu memahami konsumen dengan cara
    berusaha mengerti kebutuhan konsumen.
  10. Assurance, yaitu memiliki sumber daya manusia dan teknologi serta
    fasilitas untuk memberikan jaminan dalam memenuhi kebutuhan
    konsumen dengan jasa purnajual jangka panjang dan bukan sesaat saja
    sewaktu menyerahkan barang.
  11. Tangibles, yaitu bukti fisik adanya jasa (service). Adanya fasilitas fisik,
    ketrampilan personil/karyawan yang baik dalam menyediakan jasa demi
    kemudahan dan efisiensi bagi konsumen

Pengertian Kualitas Pelayanan


Sebuah jasa atau produk tunggal tidak dapat memenuhi kebutuhan semua
pelanggan, tetapi dapat memenuhi kebutuhan pelanggan yang spesifik. Dengan
kondisi tersebut maka diperlukan kualitas pelayanan yang baik agar pelanggan
bisa merasa puas terhadap apa yang diinginkankannya. Pengertian atau definisi
kualitas itu sendiri menurut J. Supranoto (2001 : 285) adalah “sebuah kata yang
bagi penyedia jasa merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik”.
Sedangkan Ibrahim Buddy (2000 : 1) mendefinisikan bahwa kualitas
adalah suatu strategi dasar bisnis yang menghasilkan barang dan jasa yang
memenuhi kebutuhan dan kepuasan konsumen internal dan eksternal, secara
eksplisit dan implisit. Strategi kualitas ini menggunakan dan memerlukan
kemampuan sumber daya manajemen pengetahuan, kompetensi inti, modal,
teknologi, peralatan, material, sistem dan manusia perusahaan untuk
menghasilkan barang atau jasa bernilai tambah bagi manfaat masyarakat serta
memberikan keuntungan kepada pemegang saham. Selain itu keunggulan suatu
produk jasa tergantung dari keunikan yaitu apakah sudah sesuai dengan harapan
dan keinginan pelanggan atau tidak.
Bila ditinjau lebih jauh mengapa kualitas sangat diperlukan maka Ibrahim
Buddy (2000 : 5) bisa menjelaskan bahwa kualitas diperlukan karena 4-K yaitu
diharapkan agar :

  1. Konsumen menjadi labih canggih dalam selera dan pilihan.
  2. Kompetisi persaigan menjadi lebih ketat dan canggih.
  3. Kenaikan biaya, yang hanya dapat diatasi lewat perbaikan kualitas
    proses dapat meningkatkan produktivitas tanpa hentinya.
  4. Walaupun dengan adanya krisis apapun bentuknya baik dari pihak
    pemasok, bank, teknologi proses, pasar konsumen yang labil, moneter,
    ataupun ekonomi makro dan mikro bisa membuat kita siap menghadapi
    dan mengatasi krisis apabila menjadi kenyataan

Metode Untuk Mengukur Kepuasan Konsumen


Menurut Kotler yang dikutip Fandy Tjiptono (2014:315) ada beberapa
metode yang dipergunakan setiap perusahaan untuk mengukur dan
memantau kepuasan pelanggannya dan pelanggan pesaing. Kotler
mengidentifikasikan 4 (empat) metode untuk mengukur kepuasan
pelanggan, antara lain:
1) Sistem Keluhan dan Saran
Suatu perusahaan yang berorientasi pada pelanggan akan
memberikan kesempatan yang luas pada para pelanggannya
untuk menyampaikan saran dan keluhan, misalnya dengan
menyediakan kotak saran, kartu komentar, dan lain-lain.
Informasi dari para pelanggan ini akan memberi masukan dan
ide-ide bagi perusahaan agar bereaksi dengan tanggap dan cepat
dalam menghadapi masalah-masalah yang timbul. Sehingga
perusahaan akan tahu apa yang dikeluhkan oleh para
pelanggannya dan segera memperbaikinya. Metode ini berfokus
pada identifikasi masalah dan juga pengumpulan saran-saran dari
pelanggannya langsung.
2) Ghost Shopping / Mystery Shopper
Salah satu cara memperoleh gambaran mengenai kepuasan
pelanggan adalah dengan mempekerjakan beberapa orang ghost
shopers untuk berperan atau berpura-pura sebagai pelanggan
potensial. Sebagai pembeli potensial terhadap produk dari
perusahaan dan juga dari produk pesaing. Kemudian mereka akan
melaporkan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan
kelemahan dari produk perusahaan dan pesaing berdasarkan
pengalaman mereka dalam pembelian produk-produk tersebut.
Selain itu, para ghost shopers juga bisa mengamati cara
penanganan terhadap setiap keluhan yang ada, baik oleh
perusahaan yang bersangkutan maupun dari pesaingnya.
3) Lost Customer Analyze
Perusahaan akan menghubungi para pelanggannya atau
setidaknya mencari tahu pelanggannya yang telah berhenti
membeli produk atau yang telah pindah pemasok, agar dapat
memahami penyebab mengapa pelanggan tersebut berpindah ke
tempat lain. Dengan adanya peningkatan customer lost rate,
dimana peningkatan customer lost rate menunjukkan kegagalan
perusahaan dalam memuaskan pelanggannya.
4) Survei Kepuasan Konsumen
Sebagian besar riset kepuasan pelanggan dilakukan dengan
menggunakan metode survei, baik survei telepon, e-mail,
website, maupun wawancara langsung. Tujuan survei kepuasan
konsumen adalah untuk mengetahui secara objektif persepsi
konsumen terhadap kinerja produk atau jasa yang dihasilkan,
yang antara lain terkait dengan atribut-atribut tangible, empathy,
responsibility, responsiveness, dan assurance. Atribut-atribut
tersebut adalah yang langsung dirasakan oleh konsumen yang
bermuara pada tingkat kepuasan atas produk atau jasa yang
diterimanya.

Dimensi Untuk Mengukur Kepuasan Konsumen


Menurut Kotler dan Keller (20012:140) mempertahankan pelanggan
merupakan hal penting daripada memikat pelanggan. Oleh karena itu,
terdapat 5 (lima) dimensi untuk mengukur kepuasan pelanggan yaitu:
1) Membeli lagi
2) Mengatakan hal-hal yang baik tentang perusahaan kepada orang
lain dan merekomendasikan
3) Kurang memperhatikan merek dan iklan produk pesaing
4) Membeli produk lain dari perusahaan yang sama
5) Menawarkan ide produk atau jasa kepada perusahaan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen


Kotler (2012) mengemukakan bahwa kepuasan konsumen
dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:
1) Kualitas pelayanan
Kualitas pelayanan sangat bergantung pada tiga hal, yaitu
sistem, teknologi dan manusia.
2) Kualitas Produk
Konsumen puas jika setelah membeli dan menggunakan produk,
ternyata kualitas produknya baik. Kualitas barang yang diberikan
bersama-sama dengan pelayanan akan mempengaruhi persepsi
konsumen. Ada delapan elemen dari kualitas produk, yakni
kinerja, fitur, reliabilitas, daya tahan, pelayanan, estetika, sesuai
dengan spesifikasi, dan kualitas penerimaan.
3) Harga
Pembeli biasanya memandang harga sebagai indikator dari
kualitas suatu produk.Konsumen cenderung menggunakan harga
sebagai dasar menduga kualitas produk.Maka konsumen
cenderung berasumsi bahwa harga yang lebih tinggi mewakili
kualitas yang tinggi.
4) Faktor situasi dan personal
Faktor situasi dan pribadi, dapat mempengaruhi tingkat kepuasan
seseorang terhadap barang atau jasa yang dikonsumsinya. Faktor
situasi seperti kondisi dan pengalaman akan menuntut konsumen
untuk dapat kepada suatu penyedia barang atau jasa, hal ini akan
mempengaruhi harapan terhadap barang atau jasa yang akan
dikonsumsinya.
Menurut Tjiptono(2014) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
konsumen adalah:
1) Kualitas produk yaitu konsumen puas kalau setelah membeli dan
menggunakan produk tersebut ternyata kualitas produknya baik.
2) Harga yaitu untuk konsumen yang sensitive, biasanya harga
murah adalah sumber kepuasan yang penting karena konsumen
akan mendapatkan valuefor money (nilai uang) yang tinggi.
3) Service quality yaitu kepuasan terhadap kualitas pelayanan,
konsumen akan merasa puas bila mendapatkan pelayanan seperti
yang diharapkan.
4) Emotional factor yaitu konsumen akan merasa puas atau bangga
karena adanya emotional value yang diberikan oleh brand dari
produk tersebut.
5) Biaya dan kemudahan yaitu konsumen akan semakin puas
apabila relatif mudah, nyaman, dan efisiensi dalam mendapatkan
produk tersebut.

Kepuasan Konsumen


Menurut Brown (dalam Sunyoto, dkk 2015)
Kepuasan konsumen adalah suatu kondisi dimana kebutuhan, keinginan,
dan harapan konsumen terhadap sebuah produk dan jasa sesuai atau
terpenuhi dengan penampilan dari produk dan jasa. Konsumen yang puas
akan mengkonsumsi produk tersebut secara terus menerus, mendorong
konsumen akan loyal terhadap suatu produk dan jasa tersebut dan dengan
senang hati mempromosikan produk dan atau jasa tersebut dari mulut ke
mulut.
Menurut Kotler dan Keller (2012) Kepuasan konsumen sebagai
perasaan konsumen, baik itu berupa kesenangan atau kekecewaan yang
timbul dari membandingkan penampilan sebuah produk dihubungkan
dengan harapan konsumen atas produk tersebut

Dimensi Kualitas Pelayanan (SERVQUAL)


Dalam menghadapi persaingan antar rumah makan (khususnya
rumah makan yang menyajikan menu ayam geprek sebagai menu
khasnya) yang semakin ketat, maka setiap rumah makan yang
menyajikan menu ayam geprek sebagai menu utamanya bersaing
untuk dapat memikat konsumennya agar tetap loyal dalam
memanfaatkan pelayanan yang telah diberikan.Salah satu yang
menjadi sebuah aspek penting yang perlu mendapat perhatian penting
adalah kualitas pelayanan yang diberikan Mister Geprek Bandar
Lampung.Kualitas pelayanan yang baik adalah berpusat pada upaya
pemenuhan kebutuhan dan keinginan serta ketepatan pada saat
penyampaiannya untuk dapat mengimbangi harapan
pelanggan.Kualitas harus dimulai dari kebutuhan pelanggan dan
berpikir pada persepsi pelanggan, hal ini berarti pada citra kualitas
yang baik bukanlah berdasarkan sudut pandang atau persepsi
pelanggan.
Dimensi pengukuran kepuasan menurut Parasuraman dan
Zeithaml (Tjiptono, 2014), dalam melayani konsumen adalah:

  1. Berwujud (Tangible), yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam
    menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan
    dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat
    diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata
    dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa. Hal ini meliputi
    fasilitas fisik (contoh: gedung, gudang, dan lain-lain),
    perlengkapan dan peralatan yang digunakan (teknologi), serta
    penampilan pegawainya. Dimensi ini juga bisa menjadi fokus dari
    strategi posisi, karena tangible khususnya lingkungan fisik,
    11
    merupakan salah satu aspek organisasi yang dengan mudah
    terlihat oleh konsumen.
  2. Keandalan (reliability), yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara
    akurat dan terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan
    pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama
    untuk semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan
    dengan akurasi yang tinggi. Pemberi pelayanan harus melayani
    pelanggan dengan ramah, tidak membeda-bedakan pelanggan
    yang satu dengan yang lain.
  3. Ketanggapan (responsiveness), yaitu suatu kebijakan untuk
    membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan
    tepat kepada pelanggan, dengan penyampaikan informasi yang
    jelas. Memberikan konsumen menunggu persepsi yang negatif
    dalam kualitas pelayanan.
  4. Jaminan dan kepastian (assurance), yaitu pengetahuan,
    kesopansantunan, dan kemampuan para pegawai perusahaan
    untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada
    perusahaan. Hal ini meliputi beberapa komponen antara lain
    komunikasi (communication), kredibilitas (credibility), keamanan
    (security), kompetensi (competence), dan sopan santun (courtesy).
  5. Empati (empathy), yaitu memberikan perhatian yang tulus dan
    bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para
    pelanggan dengan berupaya memahami keinginan konsumen.
    Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian dan
    pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan
    secara spesifik, serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman
    bagi pelanggan. Dimensi empati adalah dimensi yang
    memberikan pelayanan yang bersifat “surprise”. Sesuatu yang
    tidak di harapkan oleh konsumen, ternyata diberikan oleh
    penyedia jasa

Pengertian Kualitas Pelayanan


Pelayanan membutuhkan komitmen dari perusahaan untuk
menyediakan pelayanan maksimal kepada konsumen. Kualitas
pelayanan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi para
konsumen atas pelayanan yang nyata-nyata mereka terima atau
peroleh dengan pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan atau
mereka inginkan terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan.
Hubungan antara produsen dan konsumen menjangkau jauh melebihi
waktu pembelian ke pelayanan purna jual melampaui masa
kepemilikan produk.
Ada beberapa definisi kualitas pelayanan menurut para ahli,
diantaranya:
Menurut Fandi Tjiptono (2014), kualitas pelayanan dapat
diartikan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan
konsumen serta ketepatan penyampaiannya dalam mengimbangi
harapan konsumen. Kualitas pelayanan (service quality) dapat
diketahui dengan cara membandingkan persepsi para konsumen atas
pelayanan yang nyata-nyata mereka terima atau peroleh dengan
pelayanan yang sesungguhnya mereka harapkan atau inginkan
terhadap atribut-atribut pelayanan suatu perusahaan. Mengacu pada
pengertian kualitas layanan tersebut maka konsep kualitas layanan
adalah adalah suatu daya tanggap dan realitas dari jasa yang
diberikan perusahaan.Kualitas pelayanan harus dimulai dari
kebutuhan pelanggan dan berakhir pada persepsi pelanggan (Kotler,
2010).
Kualitas pelayanan mengacu pada penilaian-penilaian pelanggan
tentang inti pelayanan, yaitu si pemberi pelayanan itu sendiri atau
keseluruhan organisasi pelayanan, sebagian besar masyarakat
sekarang mulai menampakkan tuntutan terhadap pelayanan prima,
mereka bukan lagi sekedar membutuhkan produk yang bermutu,
tetapi mereka lebih senang menikmati kenyamanan pelayanan .
Menurut Tjiptono (2014) kualitas atau mutu dalam industri jasa
pelayanan: “Suatu penyajian produk atau jasa sesuai ukuran yang
berlaku ditempat produk tersebut diadakan dan penyampaiannya
setidaknya sama dengan yang diinginkan dan diharapkan oleh
konsumen”. Dari definisi di atas bahwa mutu pelayanan berpusat
pada upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen serta
ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan konsumen,
yaitu adanya kesesuaian antara harapan dengan persepsi manajemen,
adanya kesesuaian antara persepsi atas harapan konsumen dengan
standar kerja karyawan, adanya kesesuaian antara standar kerja
karyawan dengan pelayanan yang diberikan, adanya kesesuaian
antara pelayanan yang diberikan dengan pelayanan yang dijanjikan
dan adanya kesesuaian antara pelayanan yang diterima dengan yang
diharapkan dengan konsumen

Pengertian Pelayanan


Menurut Parasuraman, Berry dan Zenthaml (dalam
Lupiyoadi,2014). Keberhasilan perusahaan dalam memberikan
pelayanan yang berkualitas dapat ditentukan dengan pendekatan
service quality.
Menurut Kotler (2009:129), menyatakan bahwa pengertian
pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh
suatu pihak kepada pihak lain dan pada dasarnya tidak berwujud,
serta tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu dalam memasarkan
produknya, perusahaan biasanya menyajikan beberapa jasa
pelayanan. Kotler (2009:437) juga berpendapat bahwa pelayanan
yang menyertai produk (product service) dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Pelayanan sebelum penjualan (Presale Product) termasuk
    didalamnya periklanan, pameran, nasehat, dan sebagainya.
  • Pelayanan sesudah penjualan (Post Sale Service) termasuk
    didalamnya mutu pelayanan seperti fasilitas dan harga barang itu
    sendiri yang dimaksud adalah dalam bentuk jasa.

Pengertian Kualitas


Berbicara tentang definisi atau pengertian dari kualitas akan
mendapatkan makna yang berbeda bagi setiap orang, karena kualitas
memiliki banyak kriteria dan sangat tergantung pada konteksnya.
Wijayanti (2018) menyatakan lima macam perspektif kualitas yang
berkembang. Adapun kelima macam perspektif kualitas tersebut
adalah:
1) Pendekatan transcendental (transcendental approach)
Dalam pendekatan ini kualitas dipandang sebagai keunggulan
bawaan (innate excellence), dimana kualitas dapat dirasakan
atau diketahui, tetapi sulit diartikan dan dioprasionalkan.
2) Pendekatan berbasis produk (product-based approach)
Pendekatan ini menganggap bahwa kualitas merupakan
karakteristik atau atribut yang dapat dikuantitatifkan dan
dapat diukur.
3) Pendekatan berbasis pengguna (user-based approach)
Didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
orang yang memandangnya sehingga produk yang paling
memuaskan preferensi seseorang (misalnya, kualitas yang
dirasakan [perceived quality] ) merupakan produk yang
berkualitas paling tinggi.
4) Pendekatan berbasis manufaktur (manufacturing-based
approach)
Perspektif ini bersifat berdasarkan pasokan (supply-based)
dan secara khusus memperhatikan praktik-praktik
perekayasaan dan kemanufakturan, serta mendefinisikan
kualitas sebagai kesesuaian atau kesamaan dengan
persyaratan (conformance to requirement).Penentu kualitas
dalam pendekatan ini adalah standar-standar yang ditetapkan
perusahaan, bukan oleh konsumen pengguna.
5) Pendekatan berbasis nilai (value-based approach)
Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif sehingga produk
yang paling bernilai adalah barang atau jasa yang paling tepat
untuk dibeli.

Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasaan Pelanggan


Hubungan antara kualitas pelayanan dan kepuasan secara luas
didokumentasikan dalam literatur terutama pemasaran, hubungan tersebut secara
teoritismaupun empiris adalah positif seperti yang telah diteliti oleh Wijayanti
(2016). Secara teoritis ketika pelayanan yang diberikan mampu memenuhi atau
melampauipengharapan atau ekpetasi pelanggan maka pelanggantersebut merasa
puas Parasuraman et al (1988). Secara empiris banyak penelitian dengan latar
belakang sampel yang berbeda-beda telah membuktikan bahwa kualitas
pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan seperti
yang diungkapkan oleh dan Wellyan (2017) juga mengungkap kan hal serupa
yakni kualitas pelayanan yang dilihat daril ima dimensi : tangible, reliability,
responsiveness, assurance, emphaty memiliki dampak positif bagi kepuasan
pelanggan.

Pengaruh E-tracking Terhadap Kepuasan Pelanggan


Pada penelitian ini Layanan mengacu pada keyakinan pelanggan pengguna
jasa pengiriman untuk memberikan kepercayaan, Dapat disimpulkan bahwa
kepercayaan dalam hal penggunaan jasa pengiriman merupakan keyakinan dan
harapan pengguna jasa pengiriman bahwa penyedia jasa pelayanan mempunyai
kompetensi dan tidak berlaku opertunis.
Menurut penelitian Irma Ayu Nuraini (2017) dengan judul Pengaruh
Tingkat Kepercayaan, Kualitas, Layanan dan Harga Terhadap Kepuasan
Pelanggan JNE Surabaya. Dari penelitian ini diperoleh hasil penelitian semakin
seseorang puas terhadap layanan yang diberikan oleh perusahaan maka pelanggan
akan merasa puas dan kembali menggnakan jasa atau barang yang ditawarkan.

Kepuasaan Pelanggan.


Kepuasan pelanggan adalah tanggapan atau evaluasi emosional dimana
pengalaman konsumsi suatu produk atau jasa. Kepuasan pelanggan merupakan
bahan evaluasi alternatif yang dapat dipilih sekurang-kurangnya melebihi
harapan pelanggan. Dewasa ini dapat dipastikan bahwa kunci utama untuk
memenangkan hati pelanggan dan persaingan adalah memberikan kepuasan
kepada pelanggan Tjiptono (2018). Maka dari itu konsep pemasaran yang
sebaiknya dianut oleh perusahaan ialah yang memiliki tema pokok yang
menyatakan seluruh elemen bahwa bisnis harus berorientasi kepada kepuasan
pelanggannya. Menurut Kotler dalam Januar (2016) kepuasan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya
terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya. Menurut
S.C.Chen (2017) semakin tinggi kepuasan seseorang maka semakin positif pula
sikap yang dimiliki pelanggan. Indikator Kepuasan Pelanggan menurut Brillyan
J.S dalam Sinaga,E (2017).

  1. Kesesuaian harapan dan kenyataan dalam arti ekspektasi atau harapan yang
    dituangkan dalam produk/jasa yang ditawarkan dan menjadi kenyataan
    seperti yang diinginkan pelanggan.
  2. Kualitas customer service dalam aeri Pelayanan yang responsif yang dapat
    dihubungi untuk menjawab kebutuhan pelanggan.
  3. Kesediaan merekomendasikan dalam hal ini Kepercayaan yang sudah
    didapat dan membuat pelanggan bersedia merekomendasikan tanpa diminta.
  4. Minat menggunakan kembali adalah manfaat dan bentuk dari Kepuasan
    pelanggan yang membuat pelanggan kembali menggunakan barang/jasa
    yang ditawarkan.

Indikator Ketepatan Pengiriman


Definisi ketepatan pengiriman adalah ketepatan waktu pengiriman dan
jaminan barang pesanan konsumen selamat hingga sampai tujuan menjadi ujung
tombak usaha agar tetap dapat memperoleh kepercayaan dan kesetiaan konsumen
Handoko (2016). Indikator ketepatan waktu yang digunakan dalam penelitian ini
menurut Handoko (2016) adalah :

  1. Ketepatan dalam jasa pengiriman barang.
  2. Ketepatan dalam menentukan harga.
  3. Ketepatan dalam menempuh waktu

Ketepatan Pengiriman.


Ketepatan waktu pengiriman merupakan hal yang sangat penting
mengingat ketepatan waktu pengiriman produk yang sudah dibeli akan menjadi
beberapa faktor yang penting didalam meningkatkan kepuasan pelanggan.
Waktu pengiriman merupakan estimasi jangka waktu dari ketika pelanggan
memesan produk hingga produk yang dipesan tiba dan diterima. Sugiarto
(2017) mendefinisikan ketepatan waktu sebagai suatu standar yang telah
ditetapkan dimana sarana transportasi tiba, berangkat atau lewat pada suatu
titik yang telah ditetapkan dan pada waktu yang telah ditetapkan.
Menurut Yazid dalam Huda (2016) Bagi sejumlah perusahaan jasa,
waktu adalah kendala utama untuk proses produksi jasanya, bila waktu mereka
tidak dipergunakan secara efektif, mereka akan kehilangan keuntungan.
Sebaliknya bila mereka menghadapi permintaan yang berlebihan, mereka tidak
bisa menciptakan waktu untuk memuaskan permintaan itu. Ketepatan waktu
didalam jasa pengiriman barang sering berhubungan dengan transportasi yang
digunakan oleh jasa pengiriman barang seperti melalui jalur darat, udara,
maupun laut. Hal lain yang biasanya menghambat alur pengiriman tersebut
biasanya berupa kondisi cuaca saat itu, kemacetan yang terjadi saat proses
pengiriman dan hal lainnya yang bisa menghambat pengiriman barang ketempat
tujuan

Indikator Kualitas Pelayanan.


Indikator kualitas pelayanan yang digunakan pada penelitian ini yaitu,
menurut Kotler dalam Fandy Tjiptono (2016) :

  1. Ketanggapan (Responsiveness)
    yaitu keinginan para staff untuk membantu para pelanggan dan memberikan
    pelayanan yang tanggap.
  2. Kehandalan (Reliability)
    Yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera,
    akurat dan memuaskan.
  3. Empati (Empaty)
    Yaitu kesediaan karyawan dan pengusaha untuk lebih peduli memberikan
    perhatian secara pribadi kepada pelanggan.

Kualitas Layanan


Kualitas adalah sebuah kata yang bagi penyedia pelayanan merupakan
sesuatu yang harus dikerjakan dengan baik. Keunggulan suatu produk jasa
adalah tergantung dari kualitas serta keunikan yang diperlihatkan oleh jasa
tersebut,apakah sudah sesuai dengan harapan pelanggan/penumpang. Kualitas
layanan pada umumya lebih ditekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan pelanggan serta ketepatan dalam penyampaiannya untuk
mengimbangi kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan dalam
penyampaiannya untuk mengimbangi kebutuhan pelanggan dengan harapan
mereka. Parasuraman dalam Tjiptono (2000) mengemukakan bahwa ada 2 (dua)
hal utama yang mempengaruhi kualitas jasa, yaitu :

  1. Jasa yang diharapkan (expected service) adalah standar jasa yang
    diinginkan.
  2. Jasa yang diterima (perceived service) adalah perbandingan antara jasa
    yang diharapkan dan jasa yang diterima.
    Perusahaan mempunyai strategi yang mencakup akan kualitas pelayanan
    itu sendiri, menurut Tjiptono (2016) strategi kualitas layanan yang dilakukan
    oleh perusahaan mencakup empat yaitu sebagai berikut :
  3. Atribut Pelayanan
    Atribut pelayanan adalah suatu tata cara atau etika penyampaian pelayanan
    kepada para konsumen. Melakukan jasa pelayanan, hendaknya pelayanan
    tersebut dapat membuat konsumen menjadi merasa dihormati. Oleh karena
    itu Atribut pelayanan sangat dipengaruhi atas berbagai faktor antara lain:
    Keterampilan hubungan antara pribadi, komunikasi, ilmu pengetahuan,
    sensitifitas, pemahaman dan berbagai perilaku eksternal.
  4. Pendekatan untuk menyempurnakan kualitas pelayanan
    Kualitas pelayanan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas konsumen.
    Agar kualitas jasa menjadi sempurna, maka perlu disertai beberapa faktor
    penunjang antara lain: faktor biaya, waktu penerapan program dan pengaruh
    pelayanan konsumen. Berdasarkan faktor-faktor tersebut maka kepuasan
    yang maksimal akan dapat dicapai.
  5. Sistem umpan balik
    Salah satu cara untuk mengevaluasi dan memperbaiki kualitas konsumen
    adalah dengan menggunakan sistem umpan balik. Adanya sistem umpan
    balik makaposisi tingkat kualitas konsumen dapat diketahui, agar
    memperoleh hasil yang baik maka informasi umpan balik harus difokuskan
    pada beberapa hal sebagai berikut:
    a. Mengukur dan memperbaiki kinerja perusahaan.
    b. Memahami persepsi konsumen.
    c. Menunjukan komitmen perusahaan pada kualitas produk pada para
    konsumen.
    Salah satu cara perusahaan jasa untuk tetap dapat unggul bersaing adalah
    dengan memberikan jasa dengan kualitas lebih inggi dari para pesaingnya.
    Kuncinya adalah memenuhi atau melebihi harapan kualitas jasa pelanggan
    sasaran .Harapan pelanggan (expectation) dibentuk oleh pengalaman masa
    lampaunya, pembicaraan dari mulut ke mulut dan iklan perusahaan jasa,
    kemudian membandingkannya. Parasuraman dalam Pratiwi (2018) menyatakan
    lima dimensi kualitas jasa yang merupakan harapan pelanggan, yaitu :
  6. Tangibles (bukti langsung/berwujud), meliputi penampilan fasilitas fisik,
    perlengkapan/peralatan, pegawai dan media komunikasi.
  7. Reliability (keandalan), yaitu kemampuan unntuk melaksanakan jasa yang
    dijanjikan dengan segera, akurat, terpercaya dan memuaskan.
  8. Responsiveness (daya tanggap), yaitu kemauan membantu para pelanggan
    dan memberikan jasa dengan cepat atau ketanggapan.
  9. Assurance (jaminan/kepastian), mencakup pengetahuan, kemampuan,
    kesopanan, dan sikap dapat dipercaya yang dimiliki para karyawan untuk
    menimbulkan kepercayaan dan keyakinan bebas dari bahaya, resiko atau
    keragu-raguan.
  10. Empathy (kepedulian), kesediaan karyawan untuk melakukan hubungan
    komunikasi yang baik kepedulian dan perhatian pribadi bagi pelanggan
    memahami kebutuhan para pelanggan.

Hubungan antara Motivasi Kerja Pramuniaga dengan Kualitas Pelayanan


Keberadaan kualitas pelayanan menjadi sangat penting bagi setiap
perusahaan karena dalam memberikan pelayanan yang berkualitas kepada
konsumen dapat meningkatkan kepuasan konsumen serta daya tarik produk demi
tercapainya tujuan organisasi. Selain itu, kualitas pelayanan sangat terkait dengan
proses evaluasi yang dilakukan oleh konsumen. Kasmir, (2017: 64) berpendapat
bahwa kualitas pelayanan adalah kemampuan dari suatu perusahaan dalam hal
memberikan pelayanan yang memberikan dampak langsung terhadap kepuasan
kepada pelanggan sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya. Kemampuan
memberikan kepuasan tersebut ditunjukkan oleh kemampuan sumber daya
manusia dalam melayani dan ketersediaan sarana serta prasarana yang dimiliki
suatu perusahaan untuk menunjang proses pemberian pelayanan tersebut.
Kualitas pelayanan yang buruk di Robinson Department Store Semarang
tampak dari pemberian pelayanan yang lambat, kurang adanya ketanggapan
kepada konsumen, membeda-bedakan standar pelayanan antara konsumen satu
dengan yang lainnya, tidak melaksanakan standar pelayanan konsumen yang
sudah ada di perusahaan, ketidaktepatan pemberian informasi terkait produk.
Sugiyanti dalam Muttaqin, dkk (2013: 248), juga berpendapat bahwa faktor
manusia dalam pemberian layanan sangat berpengaruh terhadap kepuasan total
pelanggan, sehingga untuk itu maka dalam memberikan pelayanan, motivasi dari
pemberi layanan merupakan hal yang mendasari. Motivasi kerja menurut Bangun,
(2012: 312) adalah suatu kondisi yang mendorong orang lain untuk dapat
melaksanakan tugas–tugas sesuai dengan fungsinya dalam organisasi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Pebriyanti, dkk (2017: 265) yang
mengukur pengaruh kompetensi dan motivasi kerja terhadap kualitas layanan
pada KPKNL Palu, menunjukkan bahwa motivasi kerja mempunyai peranan yang
penting dalam meningkatkan kualitas layanan. Adanya standar kualitas pelayanan
di suatu perusahaan, karyawan akan dapat memberikan pelayanan-pelayanan yang
berkualitas dan kepuasan konsumen juga akan terpenuhi. Kemampuan
memberikan pelayanan yang berkualitas sangat erat kaitannya dengan motivasi
kerja. Menurut Lupiyoadi dalam Lase, Dani T (2018: 15-16), kualitas pelayanan
yang ditampilkan oleh setiap karyawan merupakan gambaran dari motivasi kerja
yang dimiliki oleh karyawan itu sendiri, sehingga agar kualitas pelayanan
karyawan semakin meningkat maka karyawan perlu untuk memiliki motivasi
kerja.
Kualitas pelayanan dapat dikembangkan melalui peningkatan motivasi kerja
karyawan dan dukungan terhadap pelanggan internal yang memadai (Tjiptono,
2017: 160-164). Intensitas tenaga kerja yang tinggi mengakibatkan karyawan
terlibat secara intensif dalam penyampaian suatu layanan sehingga peningkatan
motivasi kerja dapat berdampak langsung terhadap peningkatkan kualitas
pelayanan. Dukungan terhadap pelanggan internal yang memadai juga merupakan
ujung tombak sistem penyampaian layanan. Misalkan karyawan mengikuti
kegiatan pemberdayaan karyawan seperti pelatihan untuk memiliki kemampuan
dalam mengendalikan dan menguasai cara melaksanakan pekerjaan dan tugasnya
maka karyawan tersebut akan memperoleh pengetahuan untuk menerapkannya di
lingkungan kerjanya sebagai salah satu bentuk perilaku pemberian layanan yang
berkualitas kepada konsumen. Kualitas pelayanan yang baik seperti ketanggapan
dalam melayani konsumen, kemampuan komunikasi yang baik kepada konsumen,
pemahaman dan pengetahuan informasi mengenai produk akan membantu
menciptakan pelayanan yang berkualitas dengan pencapaian hasil yang maksimal.
Kualitas pelayanan sangat penting untuk kemajuan dan pertumbuhan
organisasi serta dapat digunakan terutama untuk memotivasi karyawan agar dapat
memberikan pelayanan yang berkualitas kepada konsumen agar tercapainya
tujuan individu maupun tujuan organisasi. Menurut Haksever, dkk (2000: 329)
kualitas pelayanan bermanfaat untuk meningkatkan loyalitas konsumen,
meningkatkan pangsa pasar dan hasil yang lebih tinggi kepada investor,
persaingan harga walaupun dengan memerlukan biaya yang rendah.

Aspek-aspek Motivasi Kerja


Aspek-aspek dalam motivasi kerja menurut Sopiah (2008: 169-170) antara
lain:
a. Usaha
Karakteristik pertama dari motivasi kerja, yakni usaha, menunjuk kepada
kekuatan yang dimiliki seseorang untuk memunculkan perilaku kerja atau
jumlah yang ditunjukkan oleh seseorang dalam pekerjaannya. Tegasnya hal ini
melibatkan berbagai macam kegiatan atau upaya baik yang nyata maupun yang
kasat mata.
b. Kemauan keras
Karakteristik pokok motivasi kerja yang kedua menunjuk kepada tekad atau
kemauan keras yang ditunjukkan oleh seseorang ketika menerapkan usahanya
kepada tugas–tugas pekerjaannya. Dengan memiliki kemauan keras, maka
apabila segala usaha akan dilakukan mengalami kegagalan maka tidak akan
membuat orang tersebut patah arang untuk terus berusaha sampai tercapainya
tujuan.
c. Arah atau tujuan
Karakteristik motivasi kerja yang ketiga berkaitan dengan arah yang hendak
dituju oleh usaha dan kemauan keras yang dimiliki oleh seseorang.
Aspek-aspek motivasi kerja menurut Wood, dkk (2010: 78) antara lain:
a. Tingkatan (level) yaitu jumlah usaha yang dilakukan oleh individu,
b. Arah (direction) dapat diartikan sebagai usaha individu dalam mengarahkan
perilaku dengan mempertimbangkan perilaku apa yang akan dimunculkan
dengan melihat alternatif-alternatif yang ada,
c. Ketekunan (presistence) yaitu dengan melihat seberapa lama individu dapat
memunculkan perilaku tersebut.
Robbins dan Judge (2015: 127-128) menyatakan tiga aspek dalam motivasi
kerja diantaranya adalah:
a. Kekuatan (intensity) menggambarkan seberapa kerasnya seseorang dalam
berusaha,
b. Arahan (direction) memberikan hasil kinerja agar dapat disalurkan dalam suatu
arahan (direction) yang memberikan keuntungan bagi organisasi, c. Ketekunan (persistence) mengukur berapa lama seseorang dapat
mempertahankan upayanya.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas disimpulkan bahwa aspek-aspek
motivasi kerja meliputi usaha, kemauan keras, dan tujuan yang hendak dicapai
oleh karyawan maupun organisasi

Pengertian Motivasi Kerja


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (dalam Wardoyo, 2017: 47)
motivasi adalah dorongan-dorongan yang timbul pada diri seseorang baik secara
sadar maupun secara tidak sadar yang berfungsi untuk melakukan suatu tindakan
dengan tujuan tertentu. Menurut American Encyclopedia (dalam Hasibuan, 2007:
143) menyatakan bahwa motivasi adalah suatu kecenderungan yang ada dalam
diri seseorang yang dapat membangkitkan topangan dan mengarahkan tindak-
tanduknya. Menurut Rue dan Byars (2005: 271) motivasi selalu membutuhkan
motif yang mengarah pada pencapaian tujuan, sehingga motivasi kerja adalah hal-
hal yang berfungsi untuk mendorong perilaku seseorang, mengarahkan perilaku
tersebut ke arah tujuan tertentu, dan mengatur bagaimana perilaku ini
dipertahankan. Motivasi kerja adalah suatu keadaan di mana usaha dan kemauan
keras yang dimiliki oleh seseorang dapat diarahkan kepada pencapaian hasil–hasil
atau tujuan tertentu, hasil–hasil yang dimaksudkan disini dapat berupa
produktivas, kehadiran atau perilaku kerja kreatif lainnya. (Sopiah, 2008: 170).
Motivasi kerja menurut Sofyandi dan Garniwa (2007: 99) adalah suatu dorongan
untuk meningkatkan usaha seseorang dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi,
dalam batas-batas kemampuan yang dimiliki untuk memberikan suatu kepuasan
atas kebutuhan seseorang.
Moorhead dan Griffin (2013: 86), mengatakan bahwa motivasi kerja adalah
serangkaian kekuatan yang menyebabkan orang untuk terlibat dalam suatu
perilaku, bukan beberapa perilaku lainnya. Menurut Kertonegoro (dalam
Darodjat, 2015:188) berpendapat motivasi kerja merupakan kemauan yang
dimiliki oleh seseorang untuk melakukan tingkat upaya yang tinggi untuk
mencapai tujuan organisasi, sepanjang upaya itu juga memenuhi kebutuhan
individunya. Motivasi kerja mengacu pada proses dimana usaha seorang
karyawan diberi energi atau dorongan, kemudian diarahkan, dan terus menerus
secara berkelanjutan menuju tercapainya suatu tujuan yang hendak dicapai.
(Robbins dan Coulter, 2010:109). Motivasi kerja menurut Daft (2010: 373) dapat
diartikan sebagai kekuatan atau energi yang muncul dari dalam diri seorang
karyawan maupun dari luar diri

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kualitas Pelayanan


Faktor–faktor yang memengaruhi kualitas layanan agar dapat menyediakan
layanan yang melebihi standar menurut Utami (2006: 263-264) adalah:
a. Memberi informasi dan pelatihan; karyawan toko atau penyedia jasa harus
memahami barang dagangan yang ditawarkan, maupun kebutuhan pelanggan
sehingga dengan informasi ini karyawan dapat menjawab pertanyaan dan
menyarankan produk ke pelanggan.
b. Menyediakan dukungan emosional; layanan penyedia jasa harus mempunyai
pendukung untuk menyampaikan layanan yang diinginkan oleh pelanggan.
c. Meningkatkan komunikasi internal dan menyediakan pendukung; ketika
melayani pelanggan, karyawan sering harus mengatur konflik antara kebutuhan
pelanggan dan kebutuhan perusahaan. Ketika karyawan yang bertanggung
jawab diberi untuk menyediakan layanan diberi hak untuk membuat keputusan
penting, biasanya kualitas layanannya justru meningkat.
d. Menyediakan perangsang; beberapa ritel menggunakan perangsang, seperti
membayar komisi pengawas, memberikan komisi untuk target penjualan untuk
memotivasi karyawan, dan perangsang ini dapat memotivasi tingginya kualitas
layanan.
Faktor yang memengaruhi Pelayanan menurut Kasmir (2017: 6-7)
diantaranya adalah:
a. Jumlah tenaga kerja; banyaknya tenaga kerja yang ada dalam suatu perusahaan.
b. Kualitas tenaga kerja; meliputi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki
oleh tenaga kerja.
c. Motivasi karyawan; suatu dorongan yang dimiliki oleh karyawan untuk
melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
d. Kepemimpinan; proses mempengaruhi individu, biasanya dilakukan oleh
atasan kepada bawahan supaya dapat bertindak sesuai dengan kehendak atasan
demi tercapainya tujuan perusahaan.
e. Budaya organisasi; sebuah sistem dalam suatu perusahaan yang dianut oleh
semua anggota organisasi dan menjadi pembeda antara organisasi yang satu
dengan organisasi yang lain.
f. Kesejahteraan karyawan; pemenuhan kebutuhan-kebutuhan karyawan oleh
suatu perusahaan.
g. Lingkungan kerja dan faktor lainnya meliputi sarana dan prasarana yang
digunakan, teknologi, lay out gedung dan ruangan, kualitas produk dan lain
sebagainya.
Menurut Tjiptono (2017: 160-164) faktor–faktor yang memengaruhi
kualitas layanan adalah sebagai berikut:
a. Produksi dan konsumsi yang terjadi secara simultan; salah satu karakteristik
unik dari jasa atau layanan adalah inseparability, yang artinya jasa atau layanan
diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan sehingga hal ini kerap kali
membutuhkan kehadiran dan partisipasi pelanggan dalam proses penyampaian
layanan. Sehingga hal ini dapat memunculkan berbagai macam persoalan yang
berhubungan dengan interaksi antara penyedia layanan dan pelanggan layanan
bisa saja terjadi. Beberapa hal yang mungkin dapat memunculkan dampak
negatif terhadap persepsi kualitas layanan adalah:
1) Tidak terampil dalam melayani pelanggan,
2) Cara berpakaian karyawan kurang sesuai dengan konteks,
3) Tutur kata karyawan kurang sopan atau bahkan menyebalkan,
4) Bau badan karyawan yang mengganggu kenyamanan pelanggan,
5) Karyawan selalu cemberut atau pasang tampang “angker”

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Gronroos (dalam Utami, 2006: 246) menyatakan bahwa kualitas
layanan terdiri dari dua dimensi, yaitu:
a. Dimensi kualitas teknis (techincal quality), yaitu apa saja yang diperoleh
konsumen,
b. Dimensi fungsional (functional quality), yaitu dengan cara bagaimana
konsumen memperoleh jasa.
Menurut Brady dan Cronin (dalam Utami, 2006: 252) menyatakan adanya
tiga dimensi utama sebagai alternatif dari dimensi kualitas layanan, yaitu:
a. Kualitas interaksi (interaction quality): kontak yang terjadi pada proses
penyampaian jasa dalam pertemuan antara penyedia jasa dengan konsumen,
dan hal tersebut merupakan kunci penentu dari evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap kualitas layanan.
b. Kualitas hasil (outcome quality): didefinisikan sebagai evaluasi yang dilakukan
konsumen terhadap hasil dari aktivitas layanan jasa yang diterimanya,
termasuk ketepatan waktu dalam pelayanan jasa.
c. Kualitas lingkungan (environment quality) terkait dengan seberapa jauh dan
seberapa besar fitur berwujud (tangible feature) dari proses penyampaian
layanan yang kemudian memainkan peran dalam mengembangkan persepsi
konsumen terhadap kualitas layanan jasa secara keseluruhan.
Menurut Davis dan Heineke (2003: 295) kualitas layanan itu sendiri adalah
suatu konsep yang sangat luas yang mencakup banyak dimensi diantaranya
adalah:
a. Keramahan karyawan pada saat melayani pelanggan,
b. Kemudahan akses untuk mendapatkan layanan,
c. Pengetahuan karyawan,
d. Kecepatan pelayanan kepada pelanggan,
e. Kenyamanan saat menunggu pelayanan.
Menurut Lovelock dan Wright (2002: 266-267) membagi kualitas pelayanan
ke dalam lima dimensi sebagai berikut:
a. Keandalan (reliability) adalah perusahaan yang dapat diandalkan dalam
memberikan layanan seperti yang telah dijanjikan dari waktu ke waktu.
b. Berwujud (tangibles) adalah terkait apa saja yang dilakukan oleh penyedia
layanan atau perusahaan yang dapat berupa fasilitas fisik, situs website,
peralatan pekerja, dan penyampaian komunikasi.
c. Ketanggapan (responsiveness) adalah kemampuan yang dimiliki oleh
karyawan dalam suatu perusahaan untuk memberikan bantuan dan layanan
yang cepat kepada konsumen.
d. Jaminan dan Kepastian (assurance) adalah karyawan yang memiliki
pengetahuan dan kemampuan dalam memberikan pelayanan, sopan, kompeten,
dan dapat dipercaya oleh konsumen.
e. Empati (empathy) adalah kemampuan karyawan suatu perusahaan dalam
memberikan layanan yang penuh perhatian kepada konsumen.
Garvin (dalam Haksever dkk, 2000: 331) mengidentifikasi dimensi kualitas
pelayanan menjadi delapan dimensi, yaitu:
a. Kinerja adalah karakteristik dimensi dasar yang dimiliki oleh karyawan dan
dapat diukur.
b. Fitur dapat dikatakan sebagai suatu tambahan ekstra yang melengkapi
pemberian produk.
c. Keandalan mengacu pada kemungkinan bahwa suatu produk akan menjalankan
fungsi yang dimaksudkan untuk suatu periode waktu tertentu dalam kondisi
lingkungan tertentu pula.
d. Kesesuaian adalah dimana adanya suatu kesesuaian antara produk dengan
spesifikasi yang dimilikinya.
e. Daya tahan adalah jumlah penggunaan yang didapat konsumen dari suatu
produk sebelum secara fisik memburuk atau penggunaan dari suatu produk
yang bersifat berkelanjutan.
f. Kemampuan melayani mengacu pada kemudahan dan kecepatan perbaikan dan
pelayanan serta kesopanan karyawan dalam melayani konsumen.
g. Estetika termasuk sifat-sifat subjektif konsumen seperti bentuk produk yang
terlihat, terasa, suara, rasa atau bau dari produk tersebut.
h. Kualitas yang dirasakan adalah persepsi yang telah terbentuk dalam pemikiran
konsumen sebagai akibat dari iklan, promosi merek, dari mulut ke mulut, atau
pengalaman pribadi yang digunakan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Pelayanan menurut Kasmir (2017: 47) adalah tindakan atau perbuatan
seseorang atau suatu organisasi untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan,
sesama karyawan, dan juga pimpinan. Pelayanan dan pemberian dukungan kepada
pelanggan menurut Armistead dan Clark (1999: 56-57) adalah kemampuan
karyawan dalam melaksanakan tugasnya yaitu memberikan layanan dan dukungan
dengan penuh komitmen serta kemampuan memecahkan masalah pada saat
pemberian layanan itu berlangsung. Rusydi (2017: 39) berpendapat bahwa
kualitas pelayanan adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan
terbaik yang bermutu dibandingkan dengan pesaingnya.
American National Standards Institute (ANSI) dan American Society for
Quality (ASQ) (dalam Haksever dkk, 2000: 330-331) berpendapat bahwa kualitas
adalah totalitas dari setiap fitur dan karakteristik dari suatu produk atau jasa yang
mengandalkan pada tiap-tiap kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan
konsumen. Kualitas layanan dapat dijelaskan sebagai konsepsi multidimensional
yang dibangun melalui evaluasi terhadap kosntruksi dari sejumlah atribut yang
terkait dengan jasa (Utami, 2006: 245). Lewis dan Booms (dalam Tjiptono 2017:
142) mengemukakan bahwa kualitas layanan bisa diartikan sebagai tolak ukur
seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi
atau harapan dari pelanggan.
Menurut Lovelock dan Wright (2002: 265-266) mengatakan bahwa persepsi
tentang kualitas didasarkan dalam waktu yang jangka panjang, evaluasi kognitif,
dan proses pemberian layanan. Manfaat dari kualitas layanan terakumulasi dari
waktu ke waktu atau dapat dikatakan dalam jangka panjang sehingga perusahaan
jasa harus mengidentifikasi upaya pemberian kualitas pelayanan yang tepat dan
melaksanakannya secara efektif. Garvin (dalam Lovelock dan Wirtz, 2004: 407)
mengidentifikasi perspektif mengenai kualitas dalam lima arti yang berbeda
sesuai dengan konteksnya, salah satu diantaranya adalah definisi dalam kacamata
konsumen, yang berarti kualitas diawali dengan sebuah jaminan bahwa kualitas
terletak dimata orang yang melihatnya. Perspektif ini cenderung bersifat
subjektif, karena berorientasi pada permintaan dan mengakui bahwa pelanggan
yang berbeda memiliki keinginan serta kebutuhan yang berbeda.

Indikator Brand Loyalty

Menurut Oliver (1999) dalam Taghi Pourian (2015) indikator Brand
Loyalty, yaitu

  1. Cognitive Loyalty, kualitas produk dapat mempengaruhi preferensi
    konsumen, termasuk biaya produk dan pengetahuan tentang produk.
  2. Affective Loyalty, Tingkatan emosional yang kuat terhadap merek, kepuasan
    dan kesenangan pelanggan terhadap produk dari merek yang sama,
    menyampaikan reaksi emosional yang dapat menjadi postif atau negative.
  3. Conative Loyalty, Tingkat komitmen dan niat konsumen untuk bertindak
    secara aktif dan terus menurus terhadap merek, dukungan aktif terhadap
    merek.
    30
  4. Behavior Loyalty, Pola perilaku konsumen yang menunjukan kesetiaan
    pada merek, seberapa rutin konsumen membeli produk dari merek tertentu

Tingkatan Brand Loyalty


Untuk mengetahui level atau tingkatan pada brand loyalty terdapat bahasan
mengenai hal tersebut. Menurut Rangkuti (2002) dalam Sugiama (2017) dapat
dijelaskan sebagai berikut:

  1. Swither yaitu konsumen yang suka berpindah-pindah produk (level Brand
    Loyalty rendah).
  2. Habitual buyer adalah pembeli yang bersifat kebiasaan
  3. Satisfied buyer atau pembeli yang puas
  4. Likes the brand buyers atau pembeli yang membeli suatu produk karena
    menyukai produk tersebut.
  5. Comitted buyer atau pembeli yang sudah berkomitmen kepada suatu
    produk (level tertinggi dalam piramida Brand Loyalty)

Manfaat Brand Loyalty


Menurut Rusydi Fauzan et al (2023) Brand Loyalty menggambarkan
adanya keterkaitan antara pelanggan dengan sebuah merek, pelanggan dengan
Brand Loyalty tidak akan dengan mudahnya berpindah dengan melakukan
pembelian merek lain. Perusahaan yang memiliki pelanggan dengan loyalitas
merek yang tinggi dapat meminimalisir ancaman ataupun serangan merek dari
produk pesaingnya.
Brand Loyalty memberikan beberapa manfaat pada perusahaan antara lain:

  1. Peningkatan penjualan perusahaan
  2. Membangun hubungan pelanggan yang kuat
  3. Keunggulan yang kompetitif
  4. Peluang bisnis untuk bertumbuh

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Brand Loyalty


Menurut marconi (1993) dalam C Marvelyn (2020) menjelaskan bahwa
faktor yang mempengaruhi Brand Loyalty pada konsumen yaitu :

  1. Nilai harga dan kualitas merek.
    Penurunan standar kualitas tentu akan mengecewakan konsumen,
    terutama konsumen yang memiliki loyalitas yang tinggi terhadap merek
    tersebut, begitupun dengan perubahan harga yang memiliki loyalitas tinggi
    terhadap merek tersebut, begitupun dengan perubahan harga yang tidak
    layak.
  2. Reputasi dan karakteristik merek
    Merek yang memiliki reputasi yang diakui secara nasional bahkan
    internasional, akan lebih dipercayai oleh konsumen. Konsumen hanya
    melakukan pembelian yang didasarkan pada reputasi.
  3. Kenyaman dan kemudahan mendapatkan merek
    Faktor penentu paling penting untuk membangun brand loyalty pada
    konsumen terutama pada masyarakat yang cenderung menuntut merek atau
    perusahaan yang dapat berhasil adalah merek yang menawarkan pembelian
    produk secara nyaman, dapat dibeli lewat telepon/ internet, dapat dibayar
    dengan kartu kredit, dikirimkan dalam waktu yang layak, dan dapat
    dikembalikan dengan mudah.
  4. Kepuasan
    Faktor penentu kenapa konsumen cenderung menggantikan barang-
    barang mereka yang rusak atau yang lama dengan barang-barang bermerek
    sama. Kepuasan konsumen sebagai salah satu faktor penting yang
    mempengaruhi brand loyalty.
  5. Pelayanan pasca jual yang buruk
    Faktor utama dari tidak terciptanya kepuasan konsumen yang
    positif, terutama jika merek atau perusahaan tersebut tidak dapat memenuhi
    tingkat pelayanan yang dijanjikannya.
  6. Garansi atau jaminan.
    Tidak semua konsumen memanfaatkan garansi atau jaminan dari
    merek produk yang mereka beli, akan tetapi dengan adanya garansi atau
    jaminan, maka hal ini menambah nilai terhadap merek tersebut.

Brand Loyalty


Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Ratnawati (2015:927), loyalitas
merek adalah preferensi konsumen secara konsisten untuk melakukan pembelian
pada merek yang sama pada produk yang spesifik atau kategori pelayanan tertentu.
Brand Loyalty adalah sebuah komitmen yang kuat dalam berlangganan atau
membeli suatu merek secara konsisten di masa yang akan datang.
Menurut Oliver (1999: 34) dalam Putra (2020) brand loyalty merupakan “a
deeply held commitment to rebuy or repatronise a preferred product/service
consistently in the future, thereby causing repetitive same-brand or same brand-set
purchasing, despite situational influences and marketing efforts having the
potential to cause switching behavior”.
“Komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli kembali atau
berlanggangan kembali produk/jasa yang disukai secara konsisten dimasa depan,
sehingga menyebabkan pembelian merek yang sama atau rangakaian merek yang
sama secara berulang, meskipun pengaruh situsional dan upaya pemasan berpotensi
menyebabkan perilaku beralih”
Menurut Khan dan Mahmood (2012), Brand Loyalty dapat didefinisikan
sebagai komitmen tanpa syarat pelanggan dan hubungan yang kuat dengan merek,
yang tidak mungkin terpengaruh dalam keadaan normal.
Menurut firmansyah (2019) Bahwa Brand Loyalty didefinisikan sebagai
tingkatan dimana pelanggan memiliki sikap positif terhadap suatu merek, memiliki
komitmen dan cenderung untuk terus melanjutkan membeli produk dengan suatu
merek tertentu dimasa yang akan datang. Dengan demikian, Brand Loyalty secara
langsung dipengaruhi oleh kepuasan / ketidakpuasan pelanggan terhadap merek
tertentu.
Brand Loyalty berdasarkan teori relationship marketing merupakan tujuan
utama yang harus di pikirkan perusahaan untuk menjaga pelanggannya kamboj dan
rahman (2016). Pada penelitian yang dikembangkan oleh Habibi, Laroche dan
Richad (2016) terbentuk Brand Loyalty dipengaruhi oleh aktivitas value co creation
di dalam komunitas, dimana salah satu aktivitasnya adalah social networking

Indikator Emotional Attachment

Menurut Barreda et al (2020) menjelaskan bahwa indikator Emotional Attchment,
yaitu :

  1. Merasa terikat terhadap suatu merek
    Tingkat keterikatan emosional yang terbentuk antara konsumen dengan
    merek.
  2. Memberikan dampak positif
    Pengaruh yang timbul ketika konsumen memiliki keterikan yang
    positif terhadap suatu merek
  3. Merasa terhubung dengan merek
    Mencerminkan sejauh mana konsumen terlibat dalam hubungan
    emosional yang kuat dan positif dengan merek.
  4. Identifikasi terhadap preferensi merek
    Mencerminkan hubungan yang lebih mendalam dan personal antara
    konsumen dan merek.
  5. Mempengaruhi niat beli preferensi merek
    Melibatkan faktor- faktor emosional dan psikologis yang
    mempengaruhi hubungan konsumen dengan merek

Karakteristik Emotional Attachment


Emotional Attachment memiliki beberapa karakteristik diantaranya adalaha
sebagai berikut:

  1. Emotional attachment yang dalam intensitasnya
    Emotional attachment melibatkan ikatan emosional yang mendalam
    antara individu dan objek atau entitas tertentu.
  2. Pengaruh Positif pada Persepsi dan Sikap
    Emotional attachment dapat mempengaruhi persepsi individu
    terhadap objek yang terkait. Individu cenderung memiliki pandangan
    positif, lebih memihak.
  3. Keberlanjutan dan Konsistensi:
    Emotional attachment cenderung bertahan dalam jangka waktu yang
    lebih lama. Ini bukan hanya sekadar perasaan sesaat, tetapi mencerminkan
    hubungan yang berkelanjutan dan konsisten antara individu dan objek
    tersebut.
  4. Pemicu Respon Emosional
    Emotional attachment dapat memicu respons emosional yang kuat
    dari individu. Objek yang terkait dengan emotional attachment dapat
    membangkitkan perasaan gembira, sukacita, atau bahkan rasa kehilangan.
  5. Kesetiaan dan Loyalitas
    Emotional attachment seringkali dihubungkan dengan kesetiaan dan
    loyalitas yang tinggi terhadap objek atau entitas tersebut

Emotional Attachment


Emotional Attachment adalah konstruksi penting dalam literatur pemasaran
menggambarkan kekuatan ikatan yang dimiliki konsumen dengan merek. Ikatan ini
selanjutnya mempengaruhi perilaku mereka dan pada gilirannya mendorong
profitabilitas perusahaan dan nilai seumur hidup pelanggan Thomson (2005) dalam
(Andrew, 2013).
Menurut Barreda et al (2020) Emotional Attachment merupakan hubungan
antara individu yang satu dengan individu lainnya (interaksi) / barang yang
berpengaruh terhadap individu lain, serta bersedia untuk menjaga hubungan secara
berkelanjutan.
Menurut Dwivedi et al, (2018) Emotional Attachment didefinisikan sebagai
disposisi guna mencari kedekatan dan hubungan dengan individu lain yang menjadi
objek yang terikat dapat merasa terlindungi dengan aman, akan tetapi apabila objek
yang terikat hilang maka akan timbul adanya rasa kesedihan dan kesenangan atas
ketiadaan objek tersbut. Hal tersebut diakibatkan karena adanya rasa
ketergantungan.
Emotional Attachment didefinisikan mengacu pada sejauh mana konsumen
dengan seseorang atau merek menunujukan keterlibatan terhadap asosiasi dan
tingkat pengorbanan yang dilakukan terhadap suatu hubungan (Thakur, 2016)
Emotional Attachment merupakan ikatan target spesifik yang syarat emosi
antara individual atau objek lainnya. Hubungan dengan konsumen dapat
dikembangkan melalui adanya ikatan secara emosional terhadap suatu merek.
Attachment yang lebih kuat dikaitkan dengan adanya perasaan yang lebih kuat dari
kasih sayang, cinta, koneksi dan gairah. Emosi menjadi salah satu hal yang
mendorong konsumen agar tetap terhubung dengan suatu produk atau merek yang
dapat digunakan untuk mengetahui tingkat komitmen dan loyalitas konsumen
terhadap suatu produk atau merek. (Ladhari et al, 2020).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa Emotional Attachment
adalah dalam literatur pemasaran menggambarkan kekuatan ikatan yang dimiliki
konsumen dengan merek, hubungan antara individu yang satu dengan individu
lainnya (interaksi), mengacu pada sejauh mana konsumen dengan seseorang atau
merek menunujukan keterlibatan dan ikatan target spesifik yang syarat emosi

Indikator Corporate Branding

Indikator corporate branding menggunakan indikator yang dikembangkan
oleh Khan et al., (2016) yaitu :

  1. Corporate Association
    Mengacu pada evaluasi konsumen terhadap suatu merek yang ditentukan
    oleh pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan konsumen.
  2. Corporate Activities
    Mencakup semua tindakan yang diambil oleh perusahaan untuk secara aktif
    melibatkan konsumen dengan merek.
    20
  3. Corporates Values
    Nilai perusahaan dapat dihasilkan oleh semua hubungan baik dengan
    peserta lain dilingkungan diluar perusahaan, seperti pelanggan, pemasok
    dan kelompok lain.
  4. Corporates personalities
    Kepribadian perusahaan yang kuat memerlukan kreativitas, kasih saying,
    ketangkasan & kemampuan

Karakteristik Corporate Branding


a) Identitas Perusahaan yang Kuat
Corporate branding bertujuan untuk menciptakan identitas
perusahaan yang konsisten dan kuat. Ini melibatkan pengembangan elemen
visual seperti logo, warna, dan tipografi yang dapat dengan mudah
diidentifikasi dan dihubungkan dengan perusahaan. melibatkan
pengembangan elemen visual seperti logo, warna, dan tipografi yang dapat
dengan mudah diidentifikasi dan dihubungkan dengan perusahaan.
b) Penekanan pada Nilai Perusahaan
Corporate branding memfokuskan diri pada komunikasi nilai-nilai
inti perusahaan kepada pemangku kepentingan. Ini mencakup misi, visi,
budaya, dan prinsip-prinsip yang menjadi dasar operasional dan
pengambilan keputusan perusahaan.
c) Konsistensi dan Kontinuitas
Corporate branding berusaha untuk menjaga konsistensi dalam
semua aspek komunikasi perusahaan. Pesan, gaya visual, dan pengalaman
yang diberikan kepada pemangku kepentingan harus seragam dan
mencerminkan identitas perusahaan secara menyeluruh. Kontinuitas dalam
branding memperkuat pengenalan merek dan membangun kepercayaan.
d) Diferensiasi dari Pesaing
Corporate branding membantu perusahaan untuk membedakan diri
dari pesaing di pasar. Dengan menciptakan identitas yang unik dan berbeda,
perusahaan dapat menonjol dan menarik perhatian konsumen potensial.
Branding yang efektif menciptakan persepsi positif dan
mengkomunikasikan nilai tambah yang membedakan perusahaan dari yang
lain.
e) Perluasan Keberadaan Perusahaan
Corporate branding yang efektif dapat memfasilitasi perluasan dan
diversifikasi perusahaan. Dengan merek yang kuat dan diakui, perusahaan
dapat memperluas jangkauan produk atau layanan yang ditawarkan serta
memasuki pasar baru dengan lebih percaya diri

Faktor-faktor yang mempengaruhi Corporate Branding


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi corporate branding antara lain:

  1. Visi, misi dan nilai perusahaan menjadi dasar untuk membentuk identitaas
    merek yang kuat.
  2. Kualitas produk atau layanan
    Kualitas produk atau layanan yang ditawarkan perusahaan faktor penting
    dalam pembentukan citra merek.
  3. Pengalaman pelanggan
    Pengalaman pelanggan dengan perusahaan dan mereknya sangat
    mempengaruhi dengan interaksi pelanggan merasa puas dengan perusahaan.
  4. Reputasi perusahaan
    Reputasi perusahaan baik dari keandalan, integritas atau tanggung jawab social
    yang dimiliki oleh suatu perusahaan akan lebih mudah membangun
    kepercayaan dengan konsumen dan pemangku kepentingan lainnnya.
  5. Komunikasi Identitas Visual
    Komunikasi merek yang efektif dan konsisten sangat penting, penggunaan
    identitas visual yang konsisten dalam semua saluran komunikasi Perusahaan
    dapat memperkuat kesan merek yang kohesif dan membedakan perusahaan
    dari pesaingnya.
    6.Inovasi dan Diferensiasi
    Kemampuan perusahaan untuk berinovasi dan memberikan nilai tambah yang
    unik dalam produk atau layanan, perusahaan yang terus menerus menciptakan
    produk atau layanan yang inovatif dan berbeda dapat membangun citra merek
    yang kuat sebagai pemimpin pasar.
  6. Respon terhadap perubahan
    Kemampuan perusahaan untuk merespons perubahan lingkungan bisnis dan
    memenuhi kebutuhan pelanggan yang berkembang, Perusahaan yang dapat
    beradaptasi dengan cepat dan memberikan solusi yang relevan

Corporate Branding


Menurut American Marketing Association dalam kotler dan keller (2016)
brand adalah suatu nama, istilah, tanda, lambang, desain atau kombinasi dari
semuanya, yang diharapkan mengidentifikasikan barang atau jasa tersebut dari
produk-produk pesaing.
Menurut (Khan et al (2016:60) corporate branding dapat didefinisikan
sebagai proses penambahan nilai pada produk, baik barang maupun jasa yang
diberikan oleh suatu korporasi. Menurut (faridha, 2017) corporate branding
didefinisikan sebagai merek yang merepresentasikan perusahaan dimana nilai-nilai
korporat diperluas ke berbagai macam produk/jasa.
Menurut Ismanto, A. H. (2019) Corporate Branding didefinisikan sebagai
mewakili merek nilai perusahaan meluas ke perusahaan dari semua kategori
layanan produk. Dalam prosesnya, Corporate Branding menjadi sesuatu yang
berpengaruh dalam pencarian informasi, tidak hanya mereknya identitas dan
diferensiasi dari produk pesaing, tetapi yang lebih penting, merek menciptakan
ikatan emosional khusus antara konsumen dan konsumen produsen. Corporate
branding membawa citra perusahaan yang lebih baik, tidak hanya di benak investor,
tapi juga di benak karyawan.
Corporate branding Menurut (Triana 2022:123) dimaknai sebagai brand
yang merepresentasikan perusahaan dengan nilai-nilai tertentu yang ingin
dibangun oleh suatu perusahaan/lembaga. Brand menjadi tidak hanya sekedar
identitas suatu produk melainkan memiliki ikatan emosional antara konsumen
dengan produsennya. Corporate branding merupakan penerapan dari
penggunaan nama perusahaan atas merk tertentu, yang dengan mengatas
namakan perusahaan tersebut maka akan ada persepsi keterjaminan kualitas
sebuah produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan tersebut.

Pengaruh Brand Personality terhadap Brand Equity



Clow and Baack (2012) mendefinisikan brand equity sebagai seperangkat
karakteristik yang unik yang dimiliki oleh merek, brand equity juga merupakan
persepsi bahwa barang atau jasa merek terebut berbeda dan lebih baik dari
pesaing lain dan dapat digunakan untuk menarik perhatian konsumen untuk
melakukan pembelian. Sementara citra merek dapat diserahkan ke bagian
periklanan, brand equity perlu untuk ditingkatkan untuk menjadi bagian dalam
strategi bisnis (Aaker and McLoughlin, 2010). Produk yang memiliki brand
equity yang kuat akan lebih mudah memasarkan produk serta mematok harga
jual yang lebih mahal. Penelitian yang dilakukan oleh Valette-florence et al.
(2011) menunjukkan bahwa brand personality berpengaruh positif terhadap
brand equity.

Pengaruh Social Media Marketing terhadap Brand Equity


Dalam penelitian Godey dkk. (2016) menunjukkan social media marketing
berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap brand equity. Pada
kesimpulannya, penelitian oleh Godey (2016) menunjukkan bahwa social
media marketing dapat berpengaruh secara signifikan terhadap brand equity
yang mampu meningkatkan keuntungan bagi perusahaan. Penelitian tersebut
juga menganjurkan agar perusahaan tidak hanya meningkatkan investasi
pemasaran secara offline saja, namun juga secara online. Penelitian yang
dilakukan oleh Belinda Aretha et al. (2019) menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh Social Media Marketing terhadap Brand Equit

Pengaruh Brand Equity terhadap keputusan pembelian online


Brand memiliki pengaruh yang tinggi dalam hal keputusan pembelian,
sebagai identitas dari suatu perusahaan, dan merupakan pembeda dari produk
satu dengan yang lain. Brand merupakan simbol atau logo yang dapat
membangun persepsi konsumen terhadap suatu produk. Brand Equity sendiri
akan memberikan alasan untuk para konsumennya untuk melakukan pembelian
dengan berbagai pertimbangannya. Bila tidak ada merek, konsumen harus
mengevaluasi semua produk yang tidak memiliki merek setiap kali mereka akan
melakukan suatu pembelian. Adanya brand equity membuat sebuah merek
menjadi kuat dan dapat dengan mudah untuk menarik minat pelanggan
potensial, sehingga hal ini dapat memberikan kepercayaan, kepuasan, dan
keyakinan bahwa para konsumen telah terpuaskan oleh produk tersebut yang
membuat konsumen untuk melakukan pembelian. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Dicho Pradipta et al. (2016) dapat diketahui bahwa brand equity
memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Brand Personality terhadap keputusan pembelian online


Sebuah brand juga memiliki personality dan konsumen memiliki
kecenderungan untuk memilih brand sesuai dengan personality masing masing
individu. Berikut dasar kepribadian dengan menganalisis kata-kata yang
digunakan orang pada umumnya, yang tidak hanya dimengerti oleh para
psikolog, namun juga orang biasa. (Costa & McRae dalam Pervin, 2005).
Menurut Kotler dan Keller (2009:101) Brand personality adalah bauran yang
spesifik dari perbedaan sifat manusia yang dapat atributkan pada barang
tertentu. Merek dengan kepribadian cenderung lebih mengesankan dan lebih
baik dibanding dengan merek yang tanpa personality, sama seperti manusia
merek dapat memiliki berbagai kepribadian seperti menjadi professional
ataupun menjadi kompeten (Aaker, 2008: 165). Hasil penelitian Agnes Naibaho
et al. (2017) dapat diketahui bahwa brand personality yang terdiri dari sincerity,
excitement, competence, sophistication, dan ruggedness berpengaruh terhadap
minat beli.

Pengaruh Social Media Marketing terhadap keputusan pembelian online


Banyak perusahaan beranggapan bahwa mengaplikasikan social media
marketing saja dapat memudahkan dan menambah value bagi produknya,lebih
murah dan efisien. Menurut Kotler dan Keller (2012), social media merupakan
sarana bagi konsumen untuk berbagi informasi teks, gambar, audio dan video
dengan satu sama lain dan dengan perusahaan dan sebaliknya. Sedangkan,
social media marketing merupakan bentuk pemasaran yang dipakai untuk
meciptakan kesadaran, pengakuan, ingatan dan bahkan tindakan terhadap suatu
merk, produk, bisnis, individu, atau kelompok baik secara langsung maupun
tidak langsung dengan menggunakan alat dari web sosial seperti blogging,
microblogging, dan jejaring sosial (Setiawan, 2015)
Hasil penelitian Meatry Kurniasari et al. (2018) dapat diketahui bahwa
terdapat Pengaruh Social Media Marketing, Brand Awareness terhadap
Keputusan pembelian dengan minat beli sebagai Variabel Intervening. Menurut
Siswanto (2013) keberhasilan konsep social media marketing yang dijalankan
oleh perusahaan mampu untuk dijadikan media promosi, bahkan media sosial
juga digunakan sebagai alat pemasaran yang interaktif, pelayanan, dan
membangun hubungan dengan pelanggan dan calon pelanggan

Proses Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2012:176), konsumen akan melewati 5 (lima)
tahap proses keputusan pembelian
Rangkaian proses keputusan pembelian konsumen menurut Kotler dan
Armstrong (2012:179-181) diuraikan sebagai berikut:

  1. Need recognition (pengenalan kebutuhan), yaitu proses konsumen mengenali
    sebuah masalah atau kebutuhan. Pemasar perlu mengidentifikasi keadaan
    yang memicu kebutuhan tertentu, dengan mengumpulkan informasi dari
    sejumlah konsumen.
  2. Information search (pencarian informasi), yaitu proses konsumen terdorong
    untuk mencari informasi yang lebih banyak. Sumber informasi konsumen
    dibagi menjadi 4 (empat) kelompok, yaitu:
    a. Sumber pribadi, yaitu keluarga, teman, tetangga, kenalan.
    b. Sumber komersial, yaitu iklan, wiraniaga, penyalur, website,
    kemasan, pajangan.
    c. Sumber publik, yaitu media massa, organisasi penentu peringkat
    konsumen, pencarian internet.
    d. Sumber pengalaman, yaitu penanganan, pengkajian,
    pemakaian produk.
  3. Evaluation of alternatives (evaluasi alternatif), yaitu proses konsumen
    menggunakan informasi untuk mengevaluasi dalam menetapkan pilihan.
  4. Purchase decision (keputusan pembelian), yaitu proses konsumen
    membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam tahap evaluasi.
  5. Postpurchase behavior (perilaku pasca pembelian), yaitu proses konsumen
    akan mengalami kepuasan atau ketidakpuasan

Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2012:157), perilaku keputusan pembelian
mengacu pada perilaku pembelian akhir dari konsumen, baik individual, maupun
rumah tangga yang membeli barang dan jasa untuk konsumsi pribadi.
Keputusan pembelian menurut Schiffman dan Kanuk (2007) adalah “the
selection of an option from two or alternative choice”. Jadi, keputusan pembelian
adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa
alternatif pilihan yang ada.
Keputusan pembelian Menurut Peter Jerry C. Olson (2013), suatu keputusan
(decision) mencakup suatu pilihan diantara dua atau lebih tindakan atau perilaku
alternatif. Pemasar secarakhusus tertarik pada perilaku pembeli, terutama pilihan
konsumen mengenai merek-merek yang akan di beli. Proses inti dalam pengambilan
keputusan konsumen adalah proses integrasi yang digunakan untuk
mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku
alternatif dan memilih satu diantaranya. Hasil proses integrasi tersebut adalah suatu
pilihan (choice), serta kognitif menunjukkan intensi perilaku.
Berdasarkan definisi-definisi tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
keputusan pembelian adalah perilaku konsumen untuk membeli suatu barang atau
jasa yang telah melewati berbagai pilihan alternatif hingga akhirnya memutuskan
untuk membeli dan mengkonsumsinya

Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen melibatkan pertukaran. Peran pemasar adalah untuk
menciptakan pertukaran dengan konsumen melalui formulasi dan penerapan
strategi pemasaran. Perilaku konsumen melibatkan orang-orang dalam
pengeluaran mereka untuk memperoleh produk dan jasa. (Olson dan Peter, 2010).
Tujuan dari pemasaran adalah memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan
keinginan pelanggan sasaran dengan cara yang lebih baik daripada para pesaing.
Pemasar selalu mencari kemunculan tren pelanggan yang menunjukkan peluang
pemasaran baru (Kotler, 2009).
Maka dari itu, Kotler (2009) mengemukakan ada beberapa faktor yang
mempengaruhi perilaku pembelian konsumen, yaitu :
a. Faktor Budaya meliputi kelas budaya, subbudaya, dan kelas sosial.
b. Faktor Sosial meliputi kelompok referensi, keluarga, serta peran sosial dan
status.
c. Faktor Pribadi meliputi usia dan tahap dalam siklus hidup pembeli, pekerjaan
dan keadaan ekonomi, konsep diri, dan gaya hidup.
d. Faktor psikologis, meliputi motivasi, persepsi, proses belajar, kepercayaan,
dan sikap

Dimensi Brand Equity


Menurut David A. Aaker (2015:8) ekuitas merek ditentukan oleh tiga dimensi
atau elemen utama yaitu brand awareness, brand associations, brand loyalty.
a. Kesadaran merek
Kesadaran merek (Brand Awareness) adalah kemampuan pelanggan
untuk mengenali dan mengingat kembali sebuah merek dan mengaitkannya
dengan suatu produk tertentu. Kesadaran merek melibatkan pengakuan
merek dan ingatan tentang merek. Pengakuan merek melibatkan orang-orang
yang akan mampu mengenali merek tersebut sebagai sesuatu yang berbeda
dengan merek-merek lain, dengan mendengarnya, setelah mereka
diperkenalkan dengan merek tersebut. Logo, slogan, nama dan kemasan
yaitu identitas visual umum yang akan memfasilitasi. Sedangkan ingatan
tentang merek merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menjelaskan
seberapa baikkah orang-orang bisa mengingat nama kategori atau situasi
penggunaan. Ini penting ketika para konsumen merencanakan pembelian
kategori di muka.
b. Asosiasi merek
Asosiasi Merek (Brand associations) berkenaan dengan segala sesuatu
yang berkaitan dengan memory pelanggan terhadap sebuah merek. Karena
itu dalam asosiasi merek menurut Aaker (2015:44) “Agar benar-benar bisa
menonjol diantara merek-merek lainnya suatu merek harus mempunyai
hubungan emosional yang unik”.
Pada umumnya asosiasi merek yang membentuk brand image menjadi
pijakan konsumen dalam keputusan pembelian dan loyalitasnya pada merek
tersebut. Dalam prakteknya banyak sekali asosiasi dan variasi dari brand
association yang dapat memberikan nilai bagi suatu merek, dipandang bagi
sisi perusahaan maupun dari sisi pengguna berbagai fungsi asosiasi.
c. Loyalitas Merek
Loyalitas Merek (Brand Loyalty) adalah komitmen kuat dalam
berlangganan atau membeli kembali suatu merek secara konsisten di masa
mendatang. Konsumen yang loyal berarti konsumen yang melakukan
pembelian secara berulang-ulang terhadap merek tersebut dan tidak mudah
terpengaruhi oleh karakteristik produk, harga dan kenyamanan para
pemakainya ataupun berbagai atribut lain yang ditawarkan oleh produk
merek alternatif. Dengan pengelolaan dan pemanfaatan yang benar, loyalitas
merek menjadi aset strategis bagi perusahaan.
Secara umum, langkah-langkah untuk memelihara dan meningkatkan
brand loyalty adalah dengan melakukan pemasaran hubungan (relationship
marketing), pemasaran frekuensi (frequency marketing), pemasaran
keanggotaan (membership marketing) dan memberikan hadiah (reward)
(Aaker, 2013:206)

Brand Equity


Menurut David A.Aaker yang dialih bahasakan oleh Ananda (2018 : 22) ekuitas
merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu
merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi nilai yang diberikan
oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para pelanggan perusahaan.
Tingginya ekuitas merek dari suatu produk menandakan kuatnya merek tersebut
dibenak konsumen. Ketika melakukan pembelian, konsumen tidak akan
mempertimbangkan harga, melainkan mereka akan melihat merek produk terlebih
dahulu karena merek Yakult sudah dikenal. Harga menjadi faktor terakhir yang
dipertimbangkan konsumen saat mereka harus memilih antara merek, harga, serta
atribut dari suatu produk, maka nama mereklah yang akan dipilih pertama kali
(Rangkuti, 2018: 21). Sebagai contoh, ekuitas merek cenderung lebih tinggi jika
banyak konsumen yang puas berkeras membeli suatu merek dan jika peritel sangat
ingin menyimpan stok produk tersebut,.Hal tersebut hampir pasti menjamin profit
yang berkelanjutan

Dimensi Brand Personality


Aaker (2016:8) mengembangkan 5 dimensi brand personality yang terdiri dari
Sincerity, Excitement, Competence, Sophistication dan Rugedness.Dimensi
ketulusan merek terdiridari beberapa item yaitu rendah hati, jujur, sederhana, dan
ceria. Dimensi Excitement terdiri dari berani, semangat imaginative dan
modern.Dimensi competence terdiri dari dapat diandalkan, pandai dan
sukses.Dimensi sophistication terdiri dari glamor dan pesona. Dimensi ruggedness
terdiri dari gagah dan kuat.
a. Pertama adalah Sincerity (family-oriented, small town, honest, sincere,
realistic, wholesome, original, cheerful, sentimental and friendly). Dimensi
ini menunjukkan sifat manusia yang tulus. Jika diaplikasikan pada brand
dimensi sincerity atau kesungguhan hati ini mencerminkan bagaimana brand
benar-benar menunjukkan konsistensinya dalam memenuhi need (kebutuhan),
want (keinginan), dan expectation (harapan) dari konsumen.
b. Kedua adalah excitement (Contemporary, independent, up-to- date, unique,
imaginative, young, cool, sprited, exciting, trendy and daring) Excitement
artinya kegembiraan, bagaimana sebuah brand mampu memberikan
kesenangan pada pemakainya.
c. Ketiga adalah dimensi Competence (Reliable, hardworking, sincere,
intelligent, technical, corporate, successful, leader and confident). Dimensi
Competence ini menunjukkan bahwa suatu brand punya kemampuan untuk
menunjukkan keberadaanya di pasar.
d. Keempat adalah dimensi sophisticating (Upper class,glamor, good-looking,
charming, feminine and smooth) Dimensi ini lebih mengacu pada bagaimana
suatu brand memberikan nilai bagi konsumennya. Ada dua elemen yaitu upper
class dan charming.
e. Dimensi yang kelima adalah rugedness (Outdoorsy, masculine, western,
tough, and rugged) Dimensi ini menunjukkan bagaimana sebuah brand
mampu bertahan di tengah persingan brand-brand lain. Elemen
outdoorsy mengacu pada sifat kokoh dan maskulin, sedangkan tough
menunjukkan elemen yang kuat

Brand Personality


Brand personality merupakan salah satu faktor yang mendorong seseorang
untuk membeli suatu produk. Seperti manusia, brand/ merek juga memiliki
karakteristik yang berbeda – beda, seperti: elegan, natural, sederhana, mewah, unik,
lucu, dll, kemudian karakteristik brand tersebut dicocokan dengan karakteristik
konsumen sehingga hal inilah yang membuat brand personality menjadi salah satu
faktor yang mendorong minat beli konsumen. Pengertian dari brand personality
sendiri adalah bagian dari brand image yang dipegang oleh konsumen dan mengacu
pada antropomorfisasi brand, dimana atribut manusia melekat pada objek brand,
yang diperlakukan seperti orang dengan siapa mereka mungkin suka membentuk
suatu hubungan (Rutter et al., 2019)
Brand personality juga digunakan sebagai alat bagi perusahaan untuk
membedakan produk mereka dan mendapatkan peluang kompetitif. Walaupun
berada di pasar kompetitif brand personality dapat memberikan nilai tambah pada
merek yang sulit untuk diimitasi oleh kompetitor. Oleh karena itu, penting bagi
perusahaan untuk membuat brand personality, khususnya yang pada dasarnya
sudah disesuaikan dengan profil dan kepribadian target konsumen perusahaan
(Tsordia et al., 2018). Brand personality yang dikelola secara efektif dapat
meningkatkan keterikatan dan keterlibatan stakeholders (Cho & Auger, 2017).
Ketika brand personality berhasil membangun suatu hubungan dengan konsumen
berdasarkan kecocokan kepribadian mereka maka secara sistematis akan terbentuk
asosiasi merek, brand attachment, kepercayaan merek, dan loyalitas terhadap
merek tersebut (Garanti & Kissi, 2019)

Brand


Kotler dan Armstrong (2018:250) yang mendefenisikan merek yaitu “A brand
is a name, term, sign, symbol, or design or a combination of these that identifies the
maker or seller of a product or service”. Merek-merek yang kuat akan memberikan
jaminan kualitas dan nilai yang tinggi kepada pelanggan, yang akhirnya juga akan
berdampak luas terhadap perusahaan. Menurut Aaker (2018:9) Brand (Merek)
adalah nama dan/atau simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap,
atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang
penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu, dengan demikian dapat lebih mudah
membedakan barang dan jasa yang dihasilkan oleh para kompetitor. Merek-merek
tersebut bersaing dalam benak konsumen untuk menjadi yang terbaik

Dimensi Social Media Marketing


Menurut Kaplan dan Haenlein (2010) terdapat dua elemen di dalam social
media yang dapat dikembangkan menjadi empat dimensi yaitu media research.
(social presence, media richness) dan social processes (self presentation, self
disclosure).
a. Social presence didefinisikan oleh Short. Et. Al. (1976) dalam Kaplan dan
Hanlein (2010) sebagai kontak suara, visual maupun fisik yang terjadi ketika
terjadi proses komunikasi, menurut Kaplan dan Haenlein (2010) social
presence dipengaruhi oleh intimacy dan immediacy.
b. Media richness menurut Daft dan Lengel (1986) dalam Kaplan dan Haenlein
(2010) didasarkan pada tujuan komunikasi yaitu untuk mengurangi
ketidakjelasan dan ketidakyakinan pada saat sebuah informasi disampaikan
c. Self presentation menurut Goffman (1959) yang dikutip oleh Kaplan dan
Haenlein (2010) merupakan keinginan untuk mengendalikan kesan kepada
orang lain, pada satu sisi mempunyai tujuan untuk mempengaruhi orang lain
untuk mendapatkan keuntungan seperti menciptakan kesan positif kepada
mertua, menciptakan pencitraan yang konsisten pada satu identitas
kepribadian seperti mengenakan pakaian yang bergaya agar dipersepsikan
muda dan trendi.
d. Self disclosure menurut Kaplan dan Haenlein (2010) merupakan sebuah
langkah kritis yang penting dalam pengembangan hubungan dekat (seperti
selama pacaran) tetapi dapat terjadi antara orang asing, sebagai contoh
berbicara mengenai masalah pribadi dengan seseorang yang duduk di
sebelahnya di dalam pesawat. Self disclosure dilakukan melalui
pengungkapan diri baik sadar atau tidak sadar pembukaan informasi pribadi
(misalnya, pikiran, perasaan, suka, tidak suka) yang konsisten dengan satu
gambaran pribadi yang ingin ditampilkan.

Social Media Marketing


Social Media Marketing terdiri dari upaya untuk menggunakan media sosial
guna membujuk konsumen suatu perusahaan, untuk menggunakan produk
dan/atau layanan yang berharga (Ward, 2010), Rognerud (2008) menyatakan
bahwa social media marketing merupakan bentuk perpasaran internet yang
berupaya mencapai tujuan pemasaran merek dan komunikasi melalui partisipasi di
berbagai jaringan media sosial. Menurut Neti (2011) social media marketing terdiri
dari upaya untuk menggunakan media sosial untuk membujuk konsumen yang satu
perusahaan, produk dan/atau jasa yang berarti, social media marketing merupakan
pemasaran yang menggunakan komunitas- komunitas online, jejaring sosial, blog
pemasaran dan yang lainnya

Jenis Media Sosial

Media sosial menurut Kotler
(2012) terbagi menjadi tiga jenis yaitu :
a. Online Communities and forums
Online communities and forums dibentuk oleh konsumen dan sekelompok
konsumen tanpa adanya pengaruh iklan dan afiliasi perusahaan atau
mendapatkan dukungan dari perusahaan di mana anggota yang tergabung
dalam online communities dapat berkomunikasi dengan perusahaan dan satu
anggota dengan anggota lainnya melalui posting, instant messaging, dan
chat discussions tentang minat khusus yang berhubungan dengan produk dan
merek.
b. Blog-gers
Blog merupakan catatan jurnal online atau dicari yang diperbaharui secara
berkala dan merupakan saluran yang penting bagi Word of Mouth.
c. Social networks
Social networks merupakan kekuatan yang penting dalam kegiatan
pemasaran baik business to customer dan business to business. Social
networks dapat berupa situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace,
Linkedln, dan Twitter.

Sosial Media


Media sosial menurut Richter dan Koch (2007) merupakan aplikasi online,
sarana dan media yang ditujukan untuk memfasilitasi interaksi, kolaborasi dan
sharing materi. Definisi lain media sosial adalah sekelompok aplikasi berbasis
internet yang dibangun atas dasar ideologis dan teknologi web 2.0, yang
memungkinkan terjadi penciptaan dan pertukaran yang dihasilkan dari pengguna
konten (Kaplan dan Haenlein, 2010). Neti (2011) menyatakan bahwa media sosial
merupakan media untuk interaksi sosial dengan menggunakan teknik penerbitan
sangat mudah diakses dan terukur. Media sosial menggunakan teknologi berbasis
web untuk mengaktifkan komunikasi ke dialog interaktif.
Sedangkan menurut Kotler (2012) media sosial merupakan sarana bagi
konsumen untuk berbagi teks, gambar, audio, dan video informasi dengan satu
sama lain dan dengan perusahaan dan sebalikny

marketing communication mix

Kotler dan Keller (2012) mengemukakan bahwa
marketing communication mix terdiri dari delapan model komunikasi, yaitu :
1) Advertising
Merupakan segala bentuk presentasi nonpersonal berbayar dan promosi ide-
ide, produk dan jasa oleh sponsor yang dikenal, melalui media cetak (koran,
dan majalah), broadcast media (TV dan radio), network media (telepon,
cable, satelite, wireless), media elektronik (kaset, video tape, video disc, CD-
ROM, Web Page) dan media display (Billboards, Signs, Posters).
2) Sales Promotion
Merupakan variasi dari insentif jangka pendek untuk mendorong mencoba
atau membeli sebuah produk atau jasa termasuk consumer promotions
seperti sampel, kupon, dan premiums, trade promotions seperti advertising
dan display allowances; bisnis dan tim sales promosi seperti kontes sales
representatif.
3) Event and Experiences
Adalah sebuah aktifitas yang disponsori oleh perusahaan dan program yang
didesain untuk menciptakan keseharian atau kekhusussan dari brand yang
berhubungan dengan interaksi consumers, termasuk olah raga, seni,
entertainment, dan kegiatan yang tidak formal.
4) Public Relations and Publicity
Variasi dari program yang secara internal ditujukan kepada karyawan dan
secara eksternal ditujukan kepada consumers, perusahaan lain, pemerintah
dan media untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau
sebagai komunikasi produk secara individual
5) Direct Marketing
Menggunakan email, telepon, faksimili, atau internet untuk
mengkomunikasikan secara langsung dengan atau mengumpulkan respon,
atau percakapan dari customer yang spesifik dan mempunyai prospek.
6) Interactive Marketing
Aktifitas online dan program yang didesain untuk mendekati customer yang
prospek baik, secara langsung maupun tidak langsung untuk meningkatkan
awareness, meningkatkan citra, dan memperoleh produk dan jasa.
7) Word of Mouth Marketing
Hubungan masyarakat secara lisan, tulisan, atau dengan komunikasi
elektronik, yang berhubungan dengan manfaat atau pengalaman dari
membeli atau menggunakan produk dan jasa.
8) Personal Selling
Interaksi tatap muka dengan satu atau lebih pembeli yang prospektif dengan
tujuan membuat paparan, menjawab pertanyaan, dan memperoleh pesanan

Integrated Marketing Communication


Integrated Marketing Communication (IMC) menurut Belch dan Belch (2012)
merupakan sebuah strategi bisnis proses yang digunakan untuk mengembangkan,
mengeksekusi, mengevaluasi, mengukur, suatu program komunikasi merek dalam
jangka waktu tertentu kepada konsumen, pelanggan, karyawan, dan target lainnya
baik itu untuk pemirsa internal maupun eksternal perusahaan. Menurut Kotler dan
Keller (2012) IMC adalah sarana untuk menginformasikan, membujuk dan
mengingatkan konsumen secara langsung atau tidak langsung tentang produk dan
merek yang perusahaan jual. Kotler dan Armstrong (2010) menyatakan bahwa
IMC merupakan pengintegrasian secara hati-hati dan berkoordinasi dengan
banyak saluran komunikasi perusahaan untuk menyampaikan pesan yang jelas,
konsisten menarik, tentang perusahaan dan produknya. Sedangkan Shimp (2010)
mengemukakan bahwa IMC sebagai sebuah proses pengintegrasian dan penerapan
berbagai bentuk komunikasi pemasaran seperti iklan, promosi, publikasi, event
dan lain sebagainya yang disampaikan dari waktu ke waktu ditujukan kepada
konsumen, calon konsumen merek.
Berdasarkan definisi-definisi IMC di atas dapat disimpulkan bahwa IMC
merupakan sebuah konsep strategi komunikasi yang terencana, terintegrasi proses
komunikasinya antara langsung atau tidak langsung, bersifat menginformasikan
produk dan merek, dan bersifat membujuk, serta dapat diterapkan kepada
konsumen maupun pihak ketiga yang relevan dengan pesan yang
dikomunikasikan. Keller (2008) menyatakan bahwa IMC merupakan representasi
dari suara merek dan merek dapat membangun hubungan dengan konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2012) agar perusahaan mencapai tujuan dari
komunikasi, perusahaan dapat menggunakan alat bantu yang dinamakan
marketing communication mix

Pengaruh Brand Loyalty terhadap Community Loyalty.


Pada (Bu, Q., Jin, Y., & Li, Z., 2020) menjelaskan bahwa loyalitas
komunitas merupakan pelanggan yang sudah memiliki loyalitas merek dan
kemudian menjadi pengguna komunitas merek yang didirikan oleh perusahaan.
Loyalitas merek berpengaruh signifikan terhadap loyalitas komunitas. Hal tersebut
terbukti pada penelitian (Bu, Q., Jin, Y., & Li, Z., 2020) dimana untuk
membangun loyalitas komunitas pada merek, dibutuhkan kesetiaan yang
memunculkan loyalitas merek pelanggan dan akan berdampak pada peningkatan
loyalitas komunitas. Pada penelitian tersebut setelah diuji, semua variabel
memiliki kualitas internal model ideal dan reliabilitas kuesioner baik, karena nilai
CR nya >0,70. Selain itu Nilai rata-rata variance extract (AVE) dari kelima faktor
semuanya lebih besar dari 0,7, sehingga subskala memiliki validitas konvergensi
yang baik.
Pada penelitian (Bu, Q., Jin, Y., & Li, Z., 2020) brand loyalty berpengaruh
signifikan positif sebagai variabel mediasi terhadap loyalitas komunitas. Hal
tersebut dibuktikan dengan hasil pengujian nilai T antara brand loyalty terhadap
loyalty comunity sebesar 8,5 dan nilai β sebesar 0,67. Sehingga disimpulkan
loyalitas merek memainkan peran perantara sepenuhnya terhadap loyalitas
komunitas.

Pengaruh Brand Attachment terhadap Brand Loyalty


Menurut (Kumar, J., & Nayak, J. K., 2019) Keterikatan merek adalah
kekuatan ikatan penghubung merek dengan diri sendiri. Pada penelitian (Kumar,
J., & Nayak, J. K., 2019) keterikatan merek berpengaruh positif terhadap loyalitas
merek. Pada penelitian tersebut hubungan antara keterikatan merek dengan
loyalitas merek, dibuktikan dengan t-value sebesar 6,09 antara keterikatan merek
dengan loyalitas merek, sehingga dikatakan bahwa kedua variable tersebut
berpengaruh positif. Selain itu pada masing – masing variabel memiliki nilai
Cronbach’s alfa yang signifikan, karena >0,70. Pada penelitian (Kumar, J., &
Nayak, J. K., 2019) brand attachment dan brand loyalty, reliable yang terbukti
dari masing – masing nilai AVE yang signifikan karena >0.05.
Literatur Jitender Kumar, Jogendra Kumar Nayak, (2019) mengemukakan
bahwa keterikatan merek memiliki hubungan langsung dan positif dengan loyalitas
merek. Keterikatan merek bergantung pada hubungan jangka panjang dengan
merek (Thomson et al., 2005). Semakin tinggi keterikatan merek yang dirasakan
oleh konsumen maka akan semakin baik loyalitas merek tersebut

Pengaruh Customer trust terhadap Brand Loyalty.


Kepercayaan pelanggan memainkan peran penting dalam mendorong
ikatan antara penyedia layanan dan pelanggan (Li, M.-W., Teng, H.-Y., & Chen,
C.-Y., 2020). Pada penelitian (Li, M.-W., Teng, H.-Y., & Chen, C.-Y., 2020)
mengungkapkan bahwa kepercayaan pelanggan berperan positif meningkatkan
loyalitas merek. Hal tersebut terbukti dengan hasil dari pengolahan data yang
dilakukan, dimana hasil uji AVE sebesar 0,73 yang mengartikan bahwa data
tersebut signifikan. Pada penelitian (Li, M.-W., Teng, H.-Y., & Chen, C.-Y.,
2020) customer trust berpengaruh signifikan terhadap brand loyalty, yang
dibuktikan dengan hasil confidence interval nya sebesar (95% CI = 0.21, 0.47).
Pada penelitian (Li, M.-W., Teng, H.-Y., & Chen, C.-Y, 2020), (Palacios-
Florencio, del Junco, Castellanos-Verdugo, & Rosa-Díaz, 2018) menyatakan
bahwa kepercayaan pelanggan berhubungan positif dengan loyalitas. Kepercayaan
pelanggan yang tinggi, akan berpengaruh kepada loyalitas merek. Hal tersebut
sejalan dengan penelitian (Li, M.-W., Teng, H.-Y., & Chen, C.-Y, 2020) yang
menyatakan bahwa kepercayaan pelanggan tidak bisa diabaikan saat
mengelaborasi hubungan keterlibatan pelanggan dengan loyalitas merek

Indikator loyalitas komunitas

Menurut (Bu et al., 2020) loyalitas komunitas terdiri dari tiga indikator
yaitu:
a. Komentar positif layanan jasa: Tanggapan yang baik yang
dikatakan oleh pelanggan atas pengalaman yang dialami.
b. Merekomendasikan layanan merek: Memberikan saran yang baik
kepada masyarakat lain dengan bukti pengalaman pribadi.
c. Pelanggan setia: Konsistensi pilihan satu merek oleh pelanggan
secara jjangka panjang

Community Loyalty (Loyalitas Komunitas)


Loyalitas komunitas merupakan kumpulan dari beberapa
masyarakat yang menjadi suatu komunitas dan konsisten dalam
menentukan suatu pilihan. Menurut (Won-Moo et al., 2011) dalam (Bu et
al., 2020) loyalitas komunitas berarti nilai-nilai pengguna masyarakat
konsisten dengan nilai-nilai masyarakat, dan identitas ini kemudian
diwariskan menjadi emosi atau identifikasi dengan merek yang diusung
oleh masyarakat. Pada (Bu et al., 2020) menjelaskan bahwa loyalitas
komunitas merupakan pelanggan yang sudah memiliki loyalitas merek dan
kemudian menjadi pengguna komunitas merek yang didirikan oleh
perusahaan.
Menurut (Bu et al., 2020) loyalitas komunitas didorong dengan nilai
praktis dan sosial masyarakat terhadap suatu merek. Menurut (Xu, D.L.
and Jiang, R.C., 2012) dalam (Bu et al., 2020) loyalits komunitas
merupakan perpanjangan dari loyalitas pelanggan tradisional. Loyalitas
komunitas dipengaruuhi oleh beberapa faktor, salah satunya faktor yang
mepengaruhi loyalitas komunitas adalah loyalitas merek.. Terbentuknya
loyalitas merek pada pelanggan, akan memicu adanya loyaliats komunitas
pada merek tertentu, misalnya pada virtual komunitas (Bu et al., 2020)

Indikator Brand Loyalty (Loyalitas Merek)

Menurut (Atulkar, 2020) loyalitas merek terdiri dari tiga indikator
yaitu:
a. Kesetiaan konsumen pada merek: Ikatan yang baik antara
konsumen dengan merek yang menjadikan pilihan jangka panjang.
24
b. Persepsi membuat pembelian berulang: pemikiran baik yang
timbul dari pengalaman dan menjadikan pembelian berulang.
c. Adanya keterikatakan emosional: Ingatan yang hanya
tertuju pada satu fokus tertentu dalam memutuskan sesuatu.
Menurut (Bu et al., 2020) loyalitas merek terdiri dari lima indikator yaitu:
a. Perbandingan dengan tempat lain: Adanya dua tempat yang berbeda
dengan kelebihan dan kekurangan yang dijadikan perbandingan.
b. Rasa keakraban dengan merek: Adanya rasa terbiasa dalam memilih
satu merek karena sudah menjadi pilihan secara terus menerus.
c. Pembelian berulang: Pembelian yang dilakukan lebih dar satu kali
pada produk atau jasa tertentu.
d. Konsistensi pembelian: Pembelian yang dilakukan secara terus
menerus dalam jangka panjang dan keadaan apapun.
e. Rekomendasi merek kepada masyarakat: Pendapat sat individu
terhadap individu lain, yang mempengaruhi penentuan pilihan

Brand Loyalty (Loyalitas Merek)


Loyalitas merek adalah konsistensi pilihan konsumen terhadap satu
merek tertentu, yang disebabkan oleh adanya kepercayaan konsumen pada
merek tersebut. Menurut (Bu et al., 2020) loyalitas merek terbentuk dari
nilai – nilai yang dirasakan oleh konsumen dan identifikasi merek yang
memicu konsistensi pembelian. Loyalitas merek adalah komitmen
psikologis dan ekspresi perilaku ketergantungan pada pembelian
berkelanjutan di masa depan yang dialami oleh konsumen karena kepuasan
yang dirasakan (Oliver, 1999) dalam (Bu et al., 2020).
Mengadopsi pendekatan stokastik murni menunjukkan bahwa
loyalitas merek pada konsumen memotivasi mereka untuk menunjukkan
perilaku pembelian kembali (Atulkar, 2020). Pada (Atulkar, 2020) loyalitas
merek dikonseptualisasikan lebih seperti loyalitas sikap, yang didefinisikan
sebagai keterikatan pelanggan terhadap merek sebagai fungsi dari proses
psikologis. Loyalitas merek adalah hasil akhir dari keterikatan emosional
yang mendalam, yang mempengaruhi perilaku pembelian kembali pada
pelanggan (Grisaffe and Nguyen, 2011) dalam (Atulkar, 2020). Loyalitas
merek telah digambarkan sebagai ukuran kekuatan hubungan pelanggan-
merek (Veloutsou, 2015) dalam (Kumar & Nayak, 2019). Menurut Pappu
dan Quester (2016) dalam (Atulkar, 2020) loyalitas merek adalah ukuran
keterikatan yang dimiliki pelanggan terhadap suatu merek, memotivasi
pelanggan untuk menunjukkan perilaku pembelian yang konsisten terhadap
merek yang disukai (Li et al., 2020)

Indikator keterikatan pelanggan

Menurut (Kumar & Nayak, 2019) keterikatan pelanggan terdiri dari empat
indikator yaitu:

  1. Merek bagian diri konsumen: Merek tertentu menjadi pilihan dan selalu
    ada dalam ingatan konsumen setiap akan memutuskan transasksi pembelian.
  2. Perasaan terhubung dengan merek: Persepsi sesorang yang selalu tertuju
    pada satu merek tertentu dalam memutuskan pembelian.
  3. Pemikiran otomatis terhadap merek: Pemikiran yang tanpa disadari
    memberikan pengaruh atas sebuah keputusan.
  4. Perasaan instan terhadap merek: Ingatan yang tertuju pada satu piihan
    tertentu tanpa di sengaja

Brand Attachment ( Keterikatan Merek )


Keterikatan merek adalah ikatan yang terjalin antara konsumen dengan
merek tertentu, karena adanya kepuasan yang dirasakan oleh konsumen terhadap
produk dan jasa yang diterima. Menurut (Park et al., 2010) dalam (Kumar &
Nayak, 2019) keterikatan merek adalah kekuatan ikatan penghubung merek
dengan diri sendiri. Pada penelitian (Kumar & Nayak, 2019), (Thomson et al.,
2005) menyatakan bahwa keterikatan merek bergantung pada hubungan jangka
panjang dengan merek, yang dapat dipimpin oleh interaksi berulang melalui
keterlibatan.
Keterikatan merek menunjukkan kedekatan hubungan antara pelanggan
dan merek (Hwang & Lee, 2019) dalam (Li et al., 2020). Menurut (Jahn, Gaus, &
Kiessling, 2012) dalam (Li et al., 2020) keterikatan merek berarti bahwa
pelanggan terikat pada suatu produk atau merek secara emosional. Keterikatan
merek termasuk koneksi merek-diri dan keunggulan merek (Park et al., 2010)
dalam (Li et al., 2020). Pada (Li et al., 2020) menyatakan bahwa keterikatan
merek berarti bahwa pembeli secara psikologis terikat dengan merek tertentu.
Menurut (Belaid & Behi, 2011) dalam (Li et al., 2020) Keterikatan merek
yang tinggi menghasilkan pengalaman konsumsi yang menyenangkan, yang
akibatnya mendorong evaluasi merek yang positif. Menurut (Park et al., 2010;
Rizvi et al., 2020) keterikatan merek menyajikan aspek motivasi dan keterikatan
merek mengacu pada karakteristik evaluatif. Keterikatan diwujudkan oleh
pengalaman dan ingatan pelanggan akan suatu merek; mereka melaporkan bahwa
keterikatan merek memainkan peran penting dalam pengembangan niat perilaku
positif (Hwang dan Lee, 2018) dalam (Hwang, J., Choe, J. Y. (Jacey), Kim, H.
M., & Kim, J. J., 2021)

Indikator kepercayaan pelanggan

Menurut (Sun & Lin, 2010) dalam (Li et al., 2020) kepercayaan pelanggan terdiri
dari empat indikator yaitu:

  1. Kepercayaa pada merek: Keyakinan yang dirasakan terhadap pilihan
    merek karena sesuai dengan minat.
  2. Perasaan percaya pada merek: Pemikiran yang baik yang memunculkan
    perasaan percaya pada suatu pilihan.
  3. Keyakinan pada produk dan layanan: Persepsi yang baik atas produk dan
    jasa yang akan di terima.
  4. Perasaan akan kemampuan merek: Keyakinan atas kepampuan produk
    yang sesuai dengan ekspektasi.
    Menurut (Chen et al., 2015; Taufique et al., 2017) dalam (Issock Issock et al.,
    2020) kepercayaan pelanggan terdiri dari lima indikator yaitu:
  5. Kepercayaan terhadap keandalan: Keyakinan yang ada atas keandalan
    produk dan jasa yang akan diterima.
  6. Label pada merek: Kejelasan informasi yang ada sebagai pengenalan
    merek.
  7. Kepercayaan konsumen: Pemikiran positif yang memunculkan keyakinan
    karena adanya kepuasan yang dirasakan.
    21
  8. Sertifikasi pada merek: Ketetapan yang ada pada produk atau jasa sebagai
    pengenalan merek yang baik.
  9. Pengujian pada merek: Adanya uji coba yang dilakukan oleh perusahaan
    demi kebaikan konsumen dan perusahaan itu sendiri

Peranan Pasar Modal


“Pasar modal mempunyai peranan penting dalam suatu negara yang
bertujuan menciptakan fasilitas bagi keperluan industri dan keseluruhan
entitas dalam memenuhi permintaan dan penawaran modal. Terkecuali
dalam negara dengan perekonomian sosialis ataupun tertutup, pasar modal
bukanlah suatu keharusan. Menurut Sunariyah (2011) peranan pasar modal
pada suatu negara dapat dilihat dari 5 (lima) segi sebagai berikut ini”:
a) “Sebagai fasilitas melakukan interaksi antara pembeli dengan penjual
untuk menentukan harga saham atau surat berharga yang diperjualbelikan. Ditinjau dari segi lain, pasar modal memberikan kemudahan
dalam melakukan transaksi sehingga kedua belah pihak dapat
melakukan transaksi tanpa melalui tatap muka (pembeli dan penjual
bertemu secara tidak langsung). Pada dewasa ini, kemudahan tersebut
dapat dilakukan dengan lebih sempurna setelah adanya sistem
perdagangan efek melalui fasilitas perdagangan berkomputer.”
b) “Pasar modal memberi kesempatan kepada para pemodal untuk
menentukan hasil (return) yang diharapkan. Keadaan tersebut akan
mendorong perusahaan (emiten) untuk memenuhi keinginan para
pemodal. Pasar modal menciptakan peluang bagi perusahaan (emiten)
untuk memuaskan keinginan para pemegang saham, kebijakan
dividen dan stabilitas harga sekuritas yang relatif normal. Pemuasan
yang diberikan kepada pemegang saham tercermin dalam harga
sekuritas. Tingkat kepuasan hasil yang diharapkan akan menentukan
bagaimana pemodal menanam dananya dalam surat berharga atau
sekuritas dan tingkat harga sekuritas dipasar mencerminkan kondisi
perusahaan.”
c) Pasar modal memberi kesempatan kepada investor untuk menjual
kembali saham yang dimilikinya atau surat berharga lainnya. Dengan
beroperasinya pasar modal para investor dapat melikuidasi surat
berharga yang dimiliki tersebut pada setiap saat. Apabila pasar modal
tidak ada, maka investor terpaksa harus menunggu pencairan surat
berharga yang dimilikinya sampai dengan saat likuidasi perusahaan.
Keadaan semacam ini akan menjadikan investor kesulitan menerima
uangnya kembali, bahkan tertunda-tunda dan berakibat menerima
risiko rugi yang sulit diprediksi sebelumnya. Eksistensi operasi pasar
modal memberikan kepastian dalam menghindarkan risiko rugi, yang
pada dasarnya tidak seorangpun investor yang bersedia menanggung
kerugian tersebut. Jadi, operasi pasar modal dapat menghindarkan
ketidakpastian di masa yang akan datang dan segala bentuk risiko
dapat diantisipasi sebelumnya dengan baik.
d) Pasar modal menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk
berpartisipasi dalam perkembangan suatu perekonomian. Masyarakat
berpenghasilan kecil mempunyai kesempatan untuk
mempertimbangkan alternatif cara penggunaan uang mereka. Selain
menabung, uang dapat dimanfaatkan melalui pasar modal dan beralih
ke investasi yaitu dengan membeli sebagian kecil saham perusahaan
publik. Apabila sebagian kecil saham tersebut sedikit demi sedikit
berkembang dan meningkat jumlahnya maka ada kemungkinan bahwa
masyarakat dapat memiliki saham mayoritas.
e) Pasar modal mengurangi biaya informasi dan transaksi surat berharga.
Bagi para pemodal, keputusan investasi harus didasarkan pada
tersedianya informasi yang akurat dan dapat dipercaya. Pasar modal
dapat menyediakan kebutuhan terhadap informasi bagi para pemodal
secara lengkap, yang apabila hal tersebut harus dicari sendiri akan
memerlukan biaya yang sangat mahal. Dengan adanya pasar modal
tersebut, biaya memperoleh informasi ditanggung oleh seluruh pelaku
pasar bursa, yang dengan sendirinya akan jauh lebih mura

Instrumen Pasar Modal


“Pasar modal juga dikenal dengan istilah bursa efek. Di dalamnya,
terdapat berbagai jenis surat berharga yang setiap hari diperdagangkan.
Jenis-jenis surat berharga tersebut di antaranya adalah (Sunariyah, 2011)”:
a. Saham
“Saham adalah surat berharga yang diterbitkan Badan usaha
yang membutuhkan pendanaan, dan dijual kepada pemodal yang
mengakibatkan para pemodal tersebut dapat memiliki sebagian
perusahaan sebesar jumlah surat berharga yang dikuasainya. Saham
merupakan salah satu bentuk penanaman modal pada suatu entitas
(badan usaha) yang dilakukan dengan menyetorkan sejumlah dana
tertentu dengan tujuan untuk menguasai sebagian hak pemilikan atas
perusahaan tersebut. Sebagai pemodal mereka berhak mendapat
pembagian keuntungan secara perodik dari perusahaan sebagaimana
layaknya pemilik mula-mula, yang disebut dengan dividen. Sebagai
suatu surat berharga, saham dapat diperjual-belikan setiap saat apabila
saham tersebut dipandang mudah diuangkan oleh masyarakat
pemodal.”
Menurut Sunariyah (2011) jenis – jenis saham meliputi :
1) Saham Biasa
“Dalam undang-undang perseroan yang berlaku di
Indonesia, diatur hak dan kewaliban hukum para pesero dalam
bentuk saham biasa. Berdasarkan undang undang tersebut saham
adalah surat berharga sebagai bukti penyertaan atau pemillkan
individu maupun institusi yang dikeluarkan oleh sebuah
perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Saham
menyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik
sebagian dari perusahaan tersebut. Dengan demikian apabila
seorang Investor membeli saham, maka ia pun menjadi pemilik
dan disebut pemegang saham perusahaan.”
2) Saham Preferen
“Saham preferen adalah jenis saham lain sebagai alternatif
saham biasa. Disebut preferen karena pemegang saham preferen
mempunyai hak keistimewaan di atas pemegang saham biasa,
untuk hal-hal tertentu yang diperjanjikan saat emisi saham.
Keistimewaan ini bervariasi antara satu emiten dengan emiten
yang lain. Keistimewaan tersebut adalah kesepakatan antara
pemodal dengan emiten.”

Fungsi Pasar Modal


“Menurut Kurnia dan Arafat (2015) fungsi pasar modal merupakan
tempat bertemunya pihak yang memiliki dana lebih (lender) dengan pihak
yang memerlukan dana jangka panjang tersebut (borrower). Pasar modal
mempunyai dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Di
dalam ekonomi, pasar modal menyediakan fasilitas untuk memindahkan
dana dari lender ke borrower. Dengan menginvestasi dananya, lender
mengharapkan adanya imbalan atau return dari penyerahan dana tersebut.
Sedangkan bagi borrower, adanya dana dari luar dapat digunakan untuk
pengembangan usahanya tanpa menunggu dana dari hasil operasi
perusahaannya. Di dalam keuangan, dengan cara menyediakan dana yang
diperlukan oleh borrower dan para lender tanpa terlibat lansung dalam
kepemilikan aktiva riil.”
Selain itu pasar modal juga memiliki fungsi sebagai berikut
(Martalena dan Maya Malinda, 2011):

  1. Fungsi Saving
    Pasar modal dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin
    menghindari penurunan mata uang karena inflasi.
  2. Fungsi Kekayaan
    Masyarakat dapat mengembangkan nilai kekayaan dengan
    berinvestasi dalam berbagai instrumen pasar modal yang tidak akan
    mengalami penyusutan seperti rumah dan perhiasan.
  3. Fungsi Likuiditas
    Instrumen pasar modal pada umumnya mudah untuk dicairkan
    sehingga memudahkan masyarakat memperoleh kembali dananya
    dibandingkan rumah dan tanah.
  4. Fungsi Pinjaman
    Pasar modal merupakan sumber pinjaman bagi pemerintah maupun
    perusahaan membiayai kegiatannya.

Definisi Pasar Modal


“Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan
maupun institusi lain, dan sebagai sarana kegiatan investasi, dengan
demikian pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana
kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya. Dalam Undang-undang
Pasar Modal No.8 Tahun 1995 memberikan pengertian Pasar Modal yang
lebih spesifik yaitu kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum
dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek
yang diterbitkannya serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan
Efek.”
Pasar modal menurut Sunariyah, (2011) adalah tempat pertemuan
antara penawaran dengan permintaan surat berharga. “Di tempat ini para
pelaku pasar yaitu individu-individu atau badan usaha yang mempunyai
kelebihan dana (surplus fund) melakukan investasi dalam surat berharga
yang ditawarkan oleh emiten”. Menurut Martalena dan Malinda (2011)
“pasar modal adalah pasar untuk berbagi instrument keuangan jangka
panjang yang bisa diperjual belikan, baik surat utang, ekuitas, reksadana,
instrumen derivatif maupun instrumen lainnya”.

Investasi


“Menurut PSAK Nomor 13 dalam Standar Akuntansi Keuangan, investasi
adalah suatu asset yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan kekayaan
(accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga, royalti,
dividen, dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi, atau manfaat lain bagi
perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan
perdagangan.”
Sementara definisi investasi menurut Pajar (2017) investasi adalah
“langkah-langkah yang diambil seseorang dalam memanfaatan sumber daya baik
dalam bentuk uang atau kas atau lain miliknya di masa kini untuk ditanamkan dalam
bentuk barang tertentu atau di suatu perusahaan dengan tujuan memperoleh
keuntungan di masa yang akan datang.”
“Investasi adalah menempatkan dana dengan harapan memperoleh
tambahan uang atau keuntungan tersebut. Investasi pada hakikatnya merupakan
penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh
keuntungan dimasa mendatang (Adnyana, 2020). Investasi pada umumnya
merupakan suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan dengan
keuangan dan ekonomi, investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran yang
ditujukan untuk meningkatkan atau mempertahankan stok barang modal (Abdul
Aziz, 2010).”

Kriteria Pemilihan Investasi


Laily & Budiyono (2013;169) Menyatakan bahwa dalam pertimbanganpertimbangan utama yang perlu dilakukan dalam melakukan atau memilih suatu
jenis investasi adalah

  1. Tingkat bunga yang berlaku.
  2. Tingkat pengembalian (rate of return) dari proyek investasi dan;
  3. Pada waktu yang akan datang.
    Sedangkan kreteria untuk pengambilan keputusan investasi riil adalah dengan
    melihat tingkat pengembalian (rate of return) dari proyek investasi tersebut.
    Apabila tingkat penembalian dari proyek jenis ini lebih besar dari pada tingkat
    pengembalian dari proyek investasi jenis lain, maka proyek investasi riil akan
    menguntungkan jika dilaksanakan

Tujuan Investasi


Menurut Herlianto (2013;2) tujuan orang untuk melakukan investasi adalah untuk
mengembangkan dana yang dimiliki atau mengharapkan keuntungan di masa
depan. Tujuan investasi dibagi menjadi dua secara umum dan secara khusus,
secara umum tujuan investasi adalah sebagai berikut :

  1. Untuk memperoleh pendapatan yang tetap dalam setiap periode, antara lain
    seperti bunga, royalti, deviden, atau uang sewa dan lain-lainnya.
  2. Untuk membentuk suatu dana khusus, misalnya dana untuk kepentingan
    ekspansi, kepentingan sosial.
  3. Untuk mengontrol atau mengendalikan perusahaan lain, melalui kepemilikan,
    kepentingan sosial.
  4. Untuk menjamin tersedianya bahan baku dan mendapatkan pasar untuk
    produk yang dihasilkan.
  5. Untuk mengurangi persaingan di antara perusahaan-perusahaan yang sejenis.
  6. Untuk menjaga hubungan antar perusahaan.
    Menurut Herlianto (2013;2) secara khusus tujuan seseorang melakukan
    investasi adalah sebagai berikut :
  7. Untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak di masa datang. Orang yang
    bijaksana akan berfikir bagaimana meningkatkan taraf hidupnya dari waktu ke
    waktu untuk mempertahankan tingkat pendapatannya sekarang agar tidak
    berkurang di masa yang datang.
  8. Untuk mengurangi tekanan inflansi, dimana dengan melakukan investasi
    seseorang dapat menghindarkan diri dari risiko penurunan nilai kekayaan atau
    hak miliknya akibat adanya pengaruh inflasi. Contoh : Jika suku bunga bank
    5% per-tahun dan angka inflasi 10% per-tahun, maka secara jumlah uang kita
    akan bertambah karena suku bunga. Tetapi secra nilai atau budaya beli uang
    kita mengalami penurunan yang secara kasar adalah turun sekitar 5%. Oleh
    karena itu, untuk mengantisipasinya kita harus melakukan investasi dengan
    tingkat suku bunga lebih dari 10% atau minimal sama dengan tingkat inflasi.
  9. Dorongan untuk menghemat pajak, dimana beberapa negara mendorong
    tumbuhnya investasi di masyarakat melalui pemberian fasilitas perpajakan
    kepada masyarat yang melakukan investasi pada bidang-bidang tertentu.