Kredibilitas Selebrity Endorser


Kredibilitas merupakan keadaan atau kondisi dapat dipercaya dan bisa
dipertanggung jawabkan. Kredibilitas celebrity endorser bisa diartikan tingkat
kepercayaan dari seorang tokoh endorser dimata perusahaan, pelangan, dan
masyarakat (Seti, 2022). Selebriti digunakan untuk menarik perhatian khalayak
dan meningkatkan citra produk. Penggunaan selebriti menimbulkan kesan bahwa
konsumen selektif dalam memilih dan meningkatkan status dengan memiliki apa
yang digunakan oleh selebriti (Indah et al, 2023)
Dalam prosesnya Celebrity Endorser dapat memperlihatkan dukungannya
dengan cara memberikan kesaksian, dorongan, dan penguatan secara individu
kepada konsumen atau dengan cara bersikap sebagai seorang aktor maupun aktris
di dalam sebuah iklan serta menjadi pembicara yang mampu mewakili perusahaan.
Celebrity Endorser juga memiliki manfaat serta fungsi yang positif ataupun
signifikan dikarenakan memiliki popularitas, bakat, kharisma, dan kredibilitas. Dari
keempat unsur tersebut kredibilitas merupakan unsur terpenting bagi konsumen.
25
Karena dengan kredibilitas yang tinggi menggambarkan persepsi konsumen
terhadap keahlian, dan pengetahuan selebriti mengenai produk yang di iklankan dan
kepercayaan selebriti mengenai produk tersebut (Anas & Ahmad Aulia, 2020)
Selebrity yang baik digunakan dalam iklan adalah selebrity yang sudah
dikenal banyak masyarakat karena dianggap memiliki kemampuan, kualitas, dan
kekuatan yang dapat menciptakan rasa kepercayaan konsumen serta mendorong
minat beli konsumen terhadap produk yang dipromosikannya (Siti Barokah,.dkk
2021). Celebrity endorser sudah lama digunakan seperti pada media televisi.
Promosi melalui televisi memiliki sifat umum sehingga pada saat ditampilkan iklan
mengakibatkan terpecahnya perhatian penonton disebabkan banyaknya pilhan
program lain. Sedangkan celebrity endorser melalui media sosial memiliki sifat
pribadi. Disaat seseorang telah menjadikan selebriti tersebut sebagai trendsetter
maka calon konsumen akan mengunjungi media sosial selebriti tersebut dan
mengikutinya. Suatu iklan dengan menggunakan celebrity endorser melalui media
sosial dapat dibilang praktis dan efektif karena tidak butuh banyak biaya dan
peraturan, namun hasilnya sangat berpengaruh terhadap penjualan. (Riva’i & Intan,
2022)
Penggunaan selebriti dalam suatu iklan biasa digunakan untuk mendukung
penjualan dari suatu produk, salah satunya produk kosmetik kecantikan yang sangat
erat kaitannya dengan model cantik & tampan dan sering dijadikan brand
ambassador produk tersebut. Produk kosmetik kecantikan sudah begitu marak
dipasaran dan semakin banyak persaingan, oleh karenanya pentingnya suatu
perusahaan tersebut untuk menginformasikan produknya kepasaran harus semakin
kreatif, menarik dan mudah diingat untuk menarik hati para calon konsumen
(Aditya,.dkk 2020)
Endorser adalah salah satu metode yang paling diminat, dengan
menggunakan selebriti yang menarik, mempunyai popularitas yang tinggi serta
dapat dipercaya oleh publik yang dituju dapat membuat produk yang dipromosikan
menjadi dikenal, diketahui dan diminati (Riani et al., 2023) Kredibilitas endorser
mengacu pada tokoh terkenal atau selebriti yang dipekerjakan untuk
mempromosikan brandnya (Trissetianto & Wibowo, 2024). Sedangkan (Angelica
& Loisa, 2023) mengatakan Seorang celebrity endorser diharapkan dapat menjadi
juru bicara merek, mampu menciptakan citra yang baik untuk merek itu sendiri dan
mampu menarik perhatian konsumen.
Celebrity Endorser adalah individu yang secara aktif mendukung
promosi atau pengiklanan suatu produk, seringkali dengan cara yang meyakinkan.
Para celebrity endorser ini biasanya tokoh terkenal, selebritis tingkat atas, atau
bahkan influencer yang memiliki popularitas di kalangan masyarakat, celebrity
endorser tersebut berfungsi untuk dapat menarik perhatian calon konsumen (Lisa
et al, 2024)
Celebrity atau Celebrity Endorser adalah Seorang celebrity endorser
adalah seseorang yang dikenal oleh publik karena prestasinya selain dari produk
yang mereka promosikan (Nugraha & Dirgantara, 2024). Endorser adalah seorang
selebritis atau non-selebriti yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan
membawa minat terhadap strategi pemasaran suatu perusahaan sehingga
masyarakat atau konsumen dapat terpengaruh oleh kegiatan promosi yang
dipasarkan oleh Endorser (D. N. Oktaviani & Narsih, 2023).
Seseorang yang sudah terkenal dapat dijadikan sebagai Celebrity Endorser
untuk menarik minat beli karena banyak orang yang memiliki sifat meniru apa yang
digunakan atau apa yang dimiliki selebrity yang disukai (Ningsih & Muzdalifah,
2024). Celebrity Endorser merupakan orang yang telah dipilih untuk mewakili
citra suatu produk, karena seorang yang dikenal di masyarakat pasti mempunyai
karakter yang kuat dan suatu daya tarik tertentu (F. Putri & Hendratmi, 2022)
Kredibilitas selebrity adalah sekelompok publik figur yang memiliki talenta
serta memiliki hubungan sosial yang baik atau dikenal oleh masyarakat menjadi
daya tarik tersendiri bagi konsumen (Nurdiyanto & Malik, 2019). Menurut
(Nurdiyanto & Malik, 2019) mengatakan bahwa ada beberapa indikator Celebrity
Endorser, Indikator ini dapat digunakan oleh perusahaan sebagai acuan dalam
memilih Celebrity Endorser agar iklan yang di bintanginya bisa efektif dalam
mempengaruhi respon konsumen, Indikator di antaranya :

  1. Dapat dipercaya mengacu pada kejujuran, integritas dan dapat
    dipercayainya seorang endorser.
  2. Keahlian mengacu pada pengetahuan, pengalaman dan keahlian yang
    dimiliki oleh seorang endorser.
  3. Daya tarik fisik mengacu pada diri yang dianggap sebagai hal yang menarik
    untuk dilihat

Minat Beli Ulang


Menurut Natalia et al (2022) berpendapat bahwa minat pembelian ulang
yaitu minat pembelian ulang mеnunjukаn perilaku pеmbеliаnselanjutnya tеrhаdаp
brand produk serta jаsа yаng sаmа, dikarenakan konsumеn tidаk mеmpunyai
perilaku kеtеrtаrikаn еmosionаl pada produk dаn jаsа yang lаinnya. Menurut
(Permatasari & Ali Hapzi, et al., 2022) minat pembelian ulang adalah seseorang
yang telah melakukan pembelian, dan berencana melakukan pembelian lagi
dikatakan mempunyai niat membeli kembali.
Menurut (Mehta, 2018) mendefinisikan minat beli ulang sebagai
kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan
yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan
konsumen melakukan pembelian. Minat membeli ulang yang tinggi mencerminkan
tingkat kepuasan yang tinggi dari konsumen ketika memutuskan untuk
mengkonsumsi produk yang diberikan setelah mencoba produk tersebut dan
kemudian timbul rasa suka atau tidak suka terhadap (Firni et al., 2024).
Minat beli ulang merupakan perangsang yang berasal dari produk yang
terlihat dengan tujuan untuk menarik konsumen agar membeli produk tersebut
dengan cara membuat mereka ingin membeli produk tersebut (Axana et al., 2024).
minat beli ulang adalah keinginan dan tindakan konsumen untuk melakukan
pembelian ulang suatu produk karena adanya kepuasan sesuai dengan yang
diinginkan dari produk tersebut (Putri et al., 2024). Minat pembelian ulang
merupakan efek dari kepuasan konsumen yang tercipta dari penanganan yang tepat
terhadap keluhan konsumen (Hermawan, 2023).
Menurut (Kotler & Keller, 2021) Minat beli ulang yakni sebagaimana
perilaku individu yang termotivasi untuk menukarkan uangnya untuk menikmati
atas barang yang yang telah dialami oleh individu. Menurut (Teressa et al., 2024),
mendefinisikan minat beli ulang sebagai niat konsumen untuk membeli produk atau
layanantertentu di masa depan. minat beli ulang merupakan suatu dorongan yang
terjadi dari sebuah aktivitas konsumen yang diharapkan akan melakukan suatu
pembelian kembali sebagai hasil dari adnya penilaian terhadap produk dan jasa
yang telah digunakan untuk dikonsumsi (Wahyuningsih et al., 2022)

Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen pada hakikatnya untuk memahami “Mengapa konsumen
melakukan dan apa yang mereka lakukan” (Schiffman, 2020) mengemukakan
bahwa studi perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang
individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia
(waktu, uang, usaha dan energi). Konsumen memiliki keragaman yang menarik
untuk dipelajari karena meliputi seluruh individu dari berbagai usia, latar belakang
budaya, pendidikan, dan keadaan sosial ekonomi. Menurut (Kotler & Keller, 2021)
Perilaku konsumen adalah studi bagaimana individu, kelompok dan organisasi
memilih, membeli, menggunakan dan menempatkan barang, jasa, ide atau
pengalaman untuk memuaskan keinginan dan kebutuhan mereka.
Perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh keadaan dan situasi lapisan
masyarakat di mana perilaku dilahirkan dan berkembang. Ini berarti konsumen
berasal dari lapisan masyarakat atau lingkungan yang berbeda akan mempunyai
penilaian, kebutuhan, pendapat, sikap dan selera yang berbeda-beda, sehingga
pengambilan keputusan dalam tahap pembelian akan dipengaruhi oleh beberapa
faktor. Faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut (Kotler & Keller,
2021) terdiri dari :

  1. Faktor Kebudayaan : Faktor kebudayaan berpengaruh luas dan
    mendalam terhadap perilaku konsumen. Faktor kebudayaan terdiri dari:
    budaya, sub budaya, kelas sosial .
  2. Faktor Sosial : Selain faktor budaya, perilaku konsumen dipengaruhi
    oleh faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga serta status
    sosial.
  3. Faktor Pribadi : Faktor pribadi yang memberikan kontribusi terhadap
    perilaku konsumen terdiri dari; usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan
    dan lingkungan ekonomi, gaya hidup, kepribadian dan konsep diri.
  4. Faktor Psikologis : Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat
    faktor psikologi utama yaitu motivasi, persepsi, pembelajaran, seta
    keyakinan dan pendirian

Pengaruh Citra Ekonomi terhadap Niat Pembelian


Citra negara atau country image merujuk pada sebuah tingkatan
ekonomi sebuah negara (macro) atau produksi produk dalam negara
(micro) (Keller, 1993, dalam. Pappu, Quester, dan Cooksey, 2007).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, macro country image yang
memuat gambaran dari economic image atau citra ekonomi sebuah negara
sebagai salah satu aspek dari citra negara mempengaruhi niat beli
konsumen (Pappu et al., 2007)

Economic Image


Citra ekonomi dalam country image merupakan gambaran kondisi
ekonomi sebuah negara. Dalam beberapa penelitian yang pernah
dilakukan, citra ekonomi sebuah negara menjadi salah satu dimensi dari
citra negara asal atau country of origin image. Setiap negara tentunya
memiliki kondisi ekonomi yang berbeda-beda. Kondisi ekonomi yang
berbeda tersebut memberi pengaruh bagi konsumen dalam melakukan
keputusan pembelian terhadap produk dari negara asing. Banyak faktor
yang dapat mempengaruhi citra ekonomi sebuah negara. Citra ekonomi
sebuah negara dapat dilihat melalui beberapa faktor, seperti standar
kehidupan masyarakat, kestabilan ekonomi, kualitas produk, eksistensi
sistem welfare, dan biaya tenaga kerja (Ingrid M. Martin & Sevgin Eroglu,
1993). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Lala, Allred, dan
Chakraborty (2008), kemajuan teknologi sebuah negara, sektor ekonomi
negara (negara agrikultur atau negara industri), dan moderenisasi ekonomi
sebuah negara merupakan faktor-faktor yang membentuk citra ekonomi.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Qingji Fan (2019) citra ekonomi
dinilai dari faktor pertumbuhan ekonomi suatu negara, pengaruh ekonomi
negara terhadap perekonomian dunia, dan kekayaan sebuah negara.
Sementara itu, dalam penelitiannya Bulibuli, Maitiniyazi, dan Karimov

Product Image


Product image atau citra produk didefinisikan sebgai persepsi
konsumen mengenai kualitas sebuah produk yang dibuat pada negara
tertentu (Han, 1989). Citra produk juga diartikan sebagai persepsi
konsumen mengenai produk secara keseluruhan dari negara tertentu.
Perepsi tersebut didasari oleh pendapat konsumen mengenai kelebihan
dan kelemahan dalam proses produksi dan pemasaran sebuah negara
(Bulibuli et al., 2022). Sebuah penelitian lain mendefinisikan citra produk
sebagai pendapat konsumen tentang kualitas barang maupun jasa yang
diproduksi di berbagai negara (Bilkey, 1993, dalam Roth &
Diamantopoulos, 2009).
Reputasi sebuah negara dapat terbentuk atas dasar impresi dari
berbagai aspek produk seperti kemajuan teknologi, keandalan, desain, dan
nilainya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Niffenegger dan
White (1982), product image diklasifikasikan menjadi 4 dimensi yaitu :

  1. Persepsi Harga dan Nilai
    Penetapan harga seringkali digunakan sebagai gambaran kualitas
    dari sebuah produk. Semakin tinggi harga produk menggambarkan
    semakin tinggi nilai produk tersebut, begitu juga sebaliknya. Dalam
    penelitian terkait, konsumen di Inggris dan Prancis merasa bahwa
    produk Amerika Serikat memiliki kualitas yang dapat dipercaya
    karena harganya yang relatif mahal. Berdasarkan hasil penelitian
    tersebut, penulis menyimpulkan bahwa penetapan harga yang
    dilakukan oleh merek-merek asal Amerika Serikat mampu memberi
    kesan eksklusif pada produknya.
  2. Persepsi dalam Iklan dan Reputasi
    Iklan merupakan salah satu aspek penting dalam pemasaran. Iklan
    berfungsi untuk menyalurkan informasi tertentu mengenai sebuah
    produk dan merek. Sebagian besar merek-merek asal Amerika Serikat
    melakukan iklan yang relatif lebih banyak dibandingkan dengan
    kompetitornya. Hal tersebut mengakibatkan merek dapat dikenal
    secara luas di pasar internasional. Selain itu, nama dari merek-merek
    tersebut lebih mudah untuk diingat konsumen karena menggunakan
    bahasa inggris dibandingkan kompetitornya yang menggunakan
    bahasa Prancis sebagai nama merek.
  3. Jangkauan Produk
    Kemudahan dalam menjangkau sebuah produk menjadi salah satu
    alasan konsumen dalam melakukan pembelian produk. Mudahnya
    melakukan restock untuk produk-produk asal Amerika Serikat menjadi
    alasan bagi banyak toko retail di Prancis untuk menjual produk
    tersebut. Akibatnya, di Prancis produk-produk Amerika Serikat
    memiliki volume penjualan yang tinggi sehingga produk tersebuat
    menjadi populer dan familiar bagi masyarakat Prancis. Banyaknya
    kuantitas produk-produk dari merek asal Amerika Serikat karena
    produk tersebut rata-rata diproduksi secara masal atau dalam skala
    yang besar.
  4. Desain
    Dalam proses produksi, umumnya pelaku bisnis akan membatasi
    variasi produk untuk menekan biaya produksi. Namun, rata-rata
    produk asal Amerika Serikat tidak melakukan batasan sehingga
    konsumen memiliki banyak pilihan seperti model dan warna saat akan
    melakukan pembelian produk. Hal terebut menjadi salah satu
    keunggulan produk asal Amerika Serikat.
    Sebuah penelitian lain yang dilakaukan oleh Bulibuli, Maitiniyazi,
    dan Karimov (2022) menggunakan variabel citra produk atau product
    image sebagai dimensi dari country of origin image. Penelitian tersebut
    mengukur citra produk dari berbagai macam faktor seperti kualitas
    produk, detail produk, material produk, reputasi produk, iklan produk,
    branding, after-sale, desain produk, inovasi, dan kepuasan konsumen
    terhadap produk terkait

Country of Origin Image


Saeed (1994) mendefinisikan country of origin sebagai negara yang
membuat atau menghasilkan sebuah produk maupun merek. Dalam penelitian
lain, country of origin didefinisikan sebagai sebuah negara yang pertama kali
membuat atau memproduksi sebuah merek atau produk. Dengan begitu, ketika
sebuah merek disebutkan maka konsumen akan dengan mudah mengenali negar
asal merek tersebut. Sebagai contoh, Honda dan Toyota dikenal konsumen sebagai
merek asal Jepang (JinKyo et al., n.d.). Beradasarkan uraian tersebut tersebut,
penulis mendefinisikan country of origin sebagai negara asal sebuah merek
maupun produk tertentu.
Sejak tahun 1960-an, tidak sedikit peneliti dan akademisi mencoba
memahami bagaimana negara asal dapat mempengaruhi keputusan pembelian
konsumen. Hal tersebut terjadi sejak sebuah penelitian yang dilakukan Schooler
pada tahun 1965 menyoroti country of origin sebagai variabel kunci yang
berpengaruh dalam perdagangan internasional (Karagiannis, Hatzithomas,
Fotiadis, Gasteratos. 2022). Dalam konteks pemasaran, banyak peneliti telah
mengungkapkan bahwa country of origin image dari sebuah merek dapat menjadi
keuntungan maupun kerugian bagi merek tersebut dalam persaingan global.
Country of origin image juga dapat mempengaruhi penjualan pada sebuah merek
tertentu dalam pasar asing (Curina, Hegner, Cioppi, Pencarelli. 2022). Hal yang
melatarbelakangi country of origin menjadi sebuah subjek yang menarik adalah
perannya untuk meningkatkan kompetisi global antar perusahaan asing yang
beroperasi di berbagai belahan dunia. Country of origin telah menjadi salah satu
sinyal informasi ekstrinsik yang digunakan konsumen dalam evaluasi sebuah
produk. Negara asal sebuah merek maupun produk memberikan gambaran
kualitas dari produk tersebut sehingga mempengaruhi persepsi konsumen tentang
nilai dan resiko yang selanjutnya berdampak pada keputusan pembelian.
Sebuah penelitian mendefinisikan citra negara atau country image sebagai
gambaran keseluruhan dari sebuah negara yang tercipta dari sejumlah variabel
seperti politik dan ekonomi, tingkat kemajuan teknologi, representatif produk,
sejarah, budaya, adat tradisional, dan pembangunan industri (Bannister & Saunders,
1978). Dalam penelitian lain, country image atau citra sebuah negara didefinisikan
sebagai keseluruhan persepsi konsumen mengenai sebuah negara dan produknya
(Li, 2008). Country image didefinisikan sebagai sebuah gambaran, reputasi, dan
steriotip yang secara khusus merujuk pada sebuah produk di sebuah negara
tertentu (Nagashima. 1970). Menurut Roth dan Romeo (1992) konsumen
membentuk persepsinya terhadap negara tertentu atas dasar kelebihan dan
kekurangan produk yang diproduksi oleh negara tersebut dimasa lalu (Bulibuli et
al., 2022). Country image atau citra negara merupakan sebuah teori yang
dipelajari dalam konsep multidimensional. Dalam sebuah penelitian, citra negara
asal atau country of origin image diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu citra
negara dan citra produk. Aspek ekonomi, politik, manusia, dan hubungan
internasional sebuah negara merupakan cakupan dari citra negara sementara citra
produk mencakup aspek yang mencerminkan konsistensi, kualitas, kinerja, fitur,
harga, merek, dan proses sebuah produk yang berasal dari negara tertentu (Cui &
Lee, 2017). Beberapa akademisi mengklasifikasikan citra negara kedalam dua
aspek berbeda yang dinamakan sebagai “macro country image” atau “country
aspect” dan “micro country image” atau”product aspect”. Konsep dari “macro
country image” merujuk pada semua hal yang terasosiasi dengan negara itu
sendiri, seperti identitas budaya, politik, sejarah, masyarakat, ekonomi, dan
perkembangan teknologi (Hamzaoui dan Merunka. 2006). “Micro country image”
atau “product aspect” mengacu pada persepsi dari kategori produk secara spesifik
yang dibuat pada negara tertentu (Ahmed dan d’Astuos. 2004).

Country of Origin Effect


Konesp country of origin effect telah menjadi isu yang cukup penting
dalam penelitian pada pasar internasional selama 50 tahun terakhir. Dalam
membuat keputusan pembelian, seorang konsumen didasari oleh proses sistematis
dari evaluasi dan integrasi dari informasi atau isyarat sebuah produk. Isyarat yang
dimaksud merupakan keseluruhan informasi yang tersedia bagi konsumen
sebelum melakukan pembelian (Shirin, Kambiz. 2011). Country of origin effect
didefinisikan sebagai situasi dimana penilaian konsumen berubah mengikuti
asosiasi antara produk, layanan, merek dan tempat (Andehn, Nordin, Nilsson.
2016). Dalam melakukan penilaian pada suatu kategori produk tertentu, pada
umumnya konsumen terpengaruh dengan suatu tempat atau negara tertentu.
Sebagai contoh, konsumen menganggap mobil yang diproduksi oleh Jerman
memiliki fitur dan nilai yang tidak perlu dipertanyakan, kopi yang berasal dari
Colombia memiliki kualitas yang baik, parfum dari Prancis memiliki wangi yang
mewah, dan lain sebagainya. Country of origin dapat mempengaruhi penilaian
konsumen melalui proses kognitif, afektif, dan konatif. Dalam proses kognitif,
country of origin dapat mendistraksi dan menggiring konsumen pada sebuah
informasi untuk menciptakan persepsi tertentu akan sebuah produk maupun
merek. Dalam proses afektif, country of origin dapat berperan sebagai salah satu
faktor yang membangkitkan perasaaan emosional konsumen terhadap suatu
produk mupun merek tertentu. Selanjutnya, proses konatif merupakan langkah
yang diambil oleh konsumen untuk melakukan pembelian pada sebuah produk
maupun merek tertentu setelah mendapat pengaruh dari country of origin pada
kedua proses sebelumnya (Bloemer, Brijs, Kasper. 2007)

Purchase Intention


Purchase intention atau minat beli pada konsumen merupakan tujuan
utama bagi pelaku bisnis dalam menjual sebuah produk maupun jasa. Minat
pembelian konsumen merupakan hal penting dalam menciptakan pembelian yang
berkelanjutan. Menurut Shah (2012), minat pembelian merupakan proses
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh konsumen dalam membeli sebuah
produk atau jasa dari merek secara spesifik yang didasari oleh beberapa alasan
tertentu. Menurut Lin dan Chen (2006), minat beli pada konsumen tercipta dari
berbagai macam perspektif dan dimensi yang luas. Dikutip dari sebuah literatur
yang ditulis oleh Waston (2018) minat pembelian dapat terbentuk dari
keseluruhan emosi positif, seperti kepuasan, kenikmatan, dan perasaan positif.
Luasnya variabel yang dapat mempengaruhi minat beli konsumen menjadi
keuntungan tertentu bagi sebuah perusahaan untuk meningkatkan berbagai
macam aspek dalam produk maupun merek. Salah satu hal yang sekarang menjadi
pertimbangan konsumen dalam melakukan pembelian adalah negara asal (country
of origin) produk maupun merek tertentu.
Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Arachchi dan Samarasinghe
(2022) minat pembelian konsumen diukur dari ketersediaan konsumen untuk
membeli produk dari sebuah merek tartentu, merekomendasikan produk tertentu
pada orang lain, dan sikap konsumen dalam merencanakan pembelian sebuah
produk dari suatu merek. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Qingji Fan
(2019), minat pembelian konsumen diukur melalui faktor pembelian dimasa
depan, ketersediaan konsumen untuk merekomendasikan sebuah produk, dan
ketersediaan konsumen untuk memprioritaskan pembelian produk. Sementara itu,
Bulibuli, Maitiniyazi, dan Karimov (2022) mengukur minat pembelian konsumen
(consumer purchase intention) melalui ketersediaan konsumen untuk
mempertimbangkan pembelian produk, keinginan konsumen, dan rencana
konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk maupun jasa.

Manfaat Kepuasan Pelanggan


Pada prinsipnya, kualitas jasa berpotensi menciptakan kepuasan pelanggan yang
pada gilirannya akan memberikan sejumlah manfaat seperti :

  1. Hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya menjadi harmonis.
  2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
  3. Mendorong terciptanya loyalitas pelanggan.
  4. Membentuk suatu rekomendasi informal dari mulut ke mulut yang
    menguntungkan bagi perusahaan
  5. Reputasi perusahaan menjadi baik dimata pelanggan
  6. Laba yang diperoleh dapat meningkat.

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan menurut Lupiyoadi
dalam Indrasari (2019 : 91 – 92) :

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan puas apabila produk yang digunakan kualitasnya bagus
  2. Kualitas Pelayanan
    Kepuasan terhadap kualitas pelayanan biasanya sulit ditiru. Kualitas pelayanan
    merupalan driver yang mempunyai banyak dimensi, salah satunya yang sangat
    populer adalah servqual
  3. Biaya dan Kemudahan
    Pelangan akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman dan efesiensi dalam
    mendapatkan produk dan pelayan
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetap menetapkan harga yang relatif
    murah akan memberikan nilai yang tinggi
  5. Emosional
    Konsumen merasa puas ketika memuji dia karena menggunakan merek yang
    maha

Kepuasan Pelanggan


Fitria Halim mengumukakan bahwa kata “kepuasan“ atau satsisfaction berasal dari
bahasa latin “satis” (artinya cukup baik, mamadai) dan ‘Facio’ (melakukan atau
membuat), secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu. Kemudian
Fatihudin dan Firmansyah dalam Fitria Halim,at all (2021 : 157-158) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan juga dipandang sebagai salah satu indikator terbaik untuk laba masa
depan, faktanya bahwa menarik pelanggan baru jauh lebih mahal dari pada
mempertahankan pelanggan, namun saat ini juga menjadi salah satu pemicu
meningkatnya perhatian pada kepuasan pelanggan perusahaan, berkurangnya elastisitas
harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan meningkatnya efisiensidan
produktivitas keryawan. Wilkie dalam Tjiptono (2019 : 378) mengumukakan bahwa
kepuasan pelanggan sebagai tanggapan emosional pada evaluasi tentang pengalaman
konsumsi suatu produk atau jasa.
Menurut Tjiptono dan Diana (2019:123) menyampaikan bahwa kepuasan
konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang didapatkan setelah
membandingkan kinerja suatu produk yang dipikirkan terhadap kinerja produk yang
diharapkan. Memperhatikan dan meningkatkan kepuasan pelanggan sangat berguna di
dunia persaingan bisnis. Perusahaan yang memiliki level kepuasan pelanggan yang tinggi
cenderung lebih unggul dibandingkan pesaing lainnya. Volume kepuasan pelanggan yang
tinggi akan menjaga stabilitas penjualan produk atau jasa sehingga arus kas perusahaan
menjadi meningkat.
Menurut Yazid (2012 dalam Lesmana dan Ratnasari, 2019:118) kepuasan
pelanggan adalah ketiadaan perbedaan antara harapan yang dimiliki dan unjuk kerja yang
senyatanya diterima. Apabila harapan tinggi, sementara unjuk kerjanya biasa-biasa saja,
kepuasan tidak akan tercapai (sangat mungkin pelanggan akan merasa kecewa).
Sebaliknya, apabila unjuk kerja melebihi dari yang diharapkan, kepuasan meningkat.
Menurut Indrasari (2019:92) ada beberapa indikator yang mempengaruhi
kepuasan konsumen terdiri dari :

  1. Kesesuaian Harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
    disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan
    pelanggan dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
  2. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan
    apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.
  3. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut
    kepada orang lain seperti, keluarga, teman dan lainnya.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Lupiyoadi dan Hamdani dalam Indrasari (2019 : 63-64) Indikator kualitas
pelayanan sebagai berikut :

  1. Tangibels, kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya
    kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik
    perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan
    bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.
  2. Reliability, kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan
    yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Keinerja harus sesuai dengan
    harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk
    semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang
    tinggi
  3. Responsiveness, suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
    yang cepat (responsive) dan teapat kepada pelanggan, dengan penyampaian
    informasi yang jelas.
  4. Assurance, pengetahuan, kesopan santunan dan kemampuan para pegawai
    perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada
    perusahaan.
  5. Emphaty, memberikan perhatian yamg tulus dan bersifat individual atau pribadi
    yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan
    konsumen. Dimana suatu perushaan diharapkan memiliki pengertian dan
    pengetahuan tentang pelanggan.

Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dalam Indrasari (2019 : 61) kualitas pelayanan adalah suatu
keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk, jasa, sumber daya manusia, serta
proses dan lingkungan yang setidaknya dapat memenuhi atau malah dapat melebihi
kualitas pelayanan yang diharapkan. Menurut Tjiptono, definisi kualitas pelayanan ini
adalah upaya pemenuhan kebutuhan yang dibarengi dengan keinginan konsumen serta
ketepatan cara penyampaiannya agar dapat memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan
tersebut, dikatakan bahwa service quality atau kualitas layanan adalah pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi
harapan pelanggan.
Menurut Rambat dan Lupiyoadi dalam Indrasari (2019:62) Service quality adalah
seberapa jatuh perbedaan antara harapan dan kenyataan para pelanggan atas pelayanan
yang mereka terima. Service quality dapat diketahui dengan cara membandingkan
persepsi pelanggan atas pelayanan yang benar-benar mereka terima dengan layanan
sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas Pelayanan yang menjadi hal pertama yang
diperhatikan serius oleh perusahaan, yang melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki
perusahaan.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Indrasari (2019 : 61-62 ) kualitas pelayanan
merupakan keseluruhan dari keistimewaan dan karakteristik dari produk atau jasa yang
menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan secara lansgung maupun tidak
langsung. Produk jasa yang berkualitas mempunyai peranan penting untuk membentuk
kepuasan pelanggan.Kepuasan pelayanan adalah sesuatu yang harus di berikan dan di
upayakan oleh penyedia jasa dengan baik kepada konsumen. Kualitas pelayanan seperti
yang dirasakan oleh para konsumen, berasal dari suatu perbandingan antara apa yang di
harapkan konsumen dengan apa yang di berikan oleh perusahaan.
Kualitas pelayanan atau customer service ini dapat dibedakan kedalam dua kriteria
yaitu jenis kualitas pelayanan yang baik atau kualitas pelayanan yang buruk. Kualitas
pelayanan ini bukanlah suatu hal yang permanen atau kaku, melainkan fleksibel dan dapat
dirubah. Dalam proses perubahan kualitas pelayanan diperlukan beberapa hal untuk
menunjang prosesnya. Misalnya survei atau observasi kepada pelanggan, termasuk
didalam nya berupa masukan, pendapat maupun feedback tentang pelayanan yang telah
diberikan. kualitas pelayanan (service quality) berdasarkan persepsi pelanggan , sebagai
tingkat kesenjangan antara harapan- harapan atau keinginan pelanggan selaras dengan
kenyataan yang mereka alami

Pengaruh Persepsi Harga dan Minat Beli


Minat membeli secara online dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain yaitu harga, keleluasaan waktu, tingkat kepercayaan dan produk yang bervariasi.
Harga merupakan faktor utama yang dapat memengaruhi pembelian secara online.
Semakin terjangkau suatu harga maka semakin banyak konsumen yang mempunyai
minat beli. Terkadang harga sebuah produk yang ditawarkan secara online cenderung
lebih rendah atau lebih murah daripada offline, karena penjualan secara online tidak
memerlukan biaya untuk sewa tempat, biaya gaji pegawai dan biaya fasilitas (seperti
air dan listrik) (Dyah & Sifudin, 2020:3).
Alasan utama saat seorang konsumen berbelanja melalui toko online karena
kenyamanan. Seorang konsumen juga mengakui bahwa alasan utama sebelum
melakukan belanja melalui online adalah harga. Seorang konsumen akan
mempertimbangkan beberapa harga dalam minat membeli pada sebuah toko online,
di mana persepsi harga seseorang akan mempengaruhi niat belanja konsumen (Dyah
& Sifudin, 2020:5).

Pengaruh Electronic Word Of Mouth dan Minat Beli


Minat beli merupakan perilaku dari seorang konsumen sebelum melakukan
sebuah keputusan pembelian yang diawali dengan keinginan dan ketertarikan
terhadap suatu produk atau barang. Minat beli seorang konusmen muncul dari
berbagai stimulus baik dari dalam diri konsumen itu sendiri seperti rasa ketertarikan,
keinginan dan keingintahuan maupun faktor dari luar seperti rekomendasi dari orang
lain (Desyani et al., 2020:234)
Minat beli juga merupakan sikap seorang konsumen dalam melakukan
pembelian terhadap suatu produk. Hal ini dikarenakan adannya komuniksi electronic
word of mouth (e-wom) yang telah dilakukan antara perushaan dan konsumen dalam
sosial media terhadap sebuah produk. Pesan yang diterima lewat electronic word of
mouth (e-wom) mampu menaikkan minat beli seorang konsumen ketika keterangan
yang diberikan bernilai positif Sebaliknya, ulasan seorang konsumen juga dapat
memberikan dampak negatif apabila menunjukkan kekurangan atau kelemahan pada
sebuah produk. Maka akan berdampak menjadi persepsi negatif dari seorang
konsumen sehingga dapat mempengaruhi konsumen lainnya (Beno wati & Purba,
2020:359)
electronic word of mouth (e-wom) dapat mempengaruhi perilaku konsumen
salah satunya adalah minat beli seorang konsumen terhadap sebuah produk. Minat
beli seorang konsumen muncul ketika pengguna internet membaca komentar positif
dan menarik. Hal ini dibuktikan dengan adanya forum diskusi online mengenai
aplikasi shopee. Dengan adanya kolom komentar pada media elektronik ataupun
media sosial, para konsumen aplikasi shopee dapat berinteraksi dengan konsumen
lainnya serta dapat berbagi pengalamannya mengenai aplikasi shopee pada kolom
komentar yang dapat dibaca oleh konsumen lain (Sarah & Rubiyanti, 2016:208)

Faktor Persepsi Harga


Menurut Monroe (2003:161), persepsi harga sering kali dikaitkan dengan
persepsi kualitas dan persepsi biaya yang dikeluarkan seorang konsumen untuk
memperoleh sebuah produk. Persepsi harga dibentukolehdua faktor utama

  1. Perceived Quality (persepsi kualitas)
    Seorang konsumen cenderung lebih suka dengan sebuah produk yang
    harganya lebih mahal ketika konsumen hanya mendapatkan informasi yang
    didapat hanya harga sebuah produk. Persepsi konsumen terhadap sebuah
    kualitas produk secara otomatis akan dipengaruhi oleh persepsi mereka
    terhadap nama merk,nama toko, sebuah garansi yang telah diberikan (after
    sale services), dan negara yang menghasilkan produk tersebut
  2. Perceived Monetary Sacrifice (persepsi biaya yang dikeluarkan)
    Secara umum seorang konsumen telah menganggap bahwa sebuah harga
    merupakan biaya yang akan dikeluarkan atau dikorbankan untuk
    mendapatkan sebuah produk yang telah diinginkan. Akan tetapi seoarang
    konsumen memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap biaya yang akan
    dikeluarkan meskipun untuk produk yang sama. Hal ini tergantung dari
    situasi dan kondisi yang dialami oleh seorang konsumen, dalam masalah ini
    terdapat tiga kondisi yang mempengaruhi persepsi seorang konsumen
    terhadap biaya yang akan dikeluarkan, yaitu persepsi terhadap sebuah
    persepsi terhadap kewajaran terhadap harga dan efekekuitas merek dan
    pajak

Aspek Persepsi Harga


Aspek persepsi harga menurut Lichstentein et,al, (1993) terdapat enam ciri
yang menjadi ukuran dari persepsi harga yaitu:

  1. Price Quality Association (Asosiasi Kualitas dengan harga)
    Pandangan seorang konsumen terhadap harga suatu produk yang
    berhubungan dengan tingkat kualitas sebuah produk. Seorang konsumen
    dengan pandangan seperti ini akan melihat harga yang tinggi sebagai
    bentuk yang positif dan seorang konsumen dengan pandangan seperti ini
    lebih senang mencari harga dari suatu produk yang cenderung memiiki
    harga tinggi
  2. Prestige Sensitivity (Sensitivitas prestise)
    Pandangan seorang konsumen terkait dengan sensitivitas terhadap sebuah
    perasaan yang menonjol, gengsi dan berstatus yang tinggi dimana harga
    yang tinggi menunjukan status sosial tertentu bagi para pembelinya.
    (membeli harga yang tinggi untuk mendapatkan kesan dan melihat harga
    berdasarkan gengsi)
  3. Price Consciousness ( Kesadaran Harga )
    Pandangan seorang konsumen yang lebih berfokus untuk membayar sebuah
    produk dengan harga yang lebih rendah
  4. Value Consciousness (Kesadaran Nilai)
    Pandangan seorang konsumen terhadap suatu produk dengan harga yang
    rendah dan memiliki beberapa persyaratan mengenai nilai, kualitas sebuah
    produk dan manfaat produk untuk seorang konsumen
  5. Price Mavenism (Sumber Informasi Harga)
    Pandangan seorang konsumen mengenai sejauh mana seseorang menjadi
    sumber informasi terkait dengan harga dan tempat berbelanja, melalui
    bentuk diskusi dengan konsumen yang laiinya
  6. Sale Proneness (Kecenderungan terhadap sebuah diskon )
    pandangan seorang konsumen untuk lebih tertarik dengan suatu harga
    terhadap sebuah produk yang ditampilkan dengan cara membandingkan
    harga suatu produk ( harga asli dan harga diskon )

Definisi Persepsi Harga


Menurut Lichtenstein et.al (1993) harga sudah tidak diragukan lagi oleh
seorang konsumen karena harga sudah menjadi salah satu isyarat pasar yang paling
penting. Pengaruh terhadap sebuah harga sebagian besar berkaitan dengan isyarat
harga (mahal/murah dan tinggi/rendah) pada semua situasi pembelian dan paling
tidak menunjukkan kepada konsumen bahwa jumlah pengeluaran yang harus
dikorbankan untuk terlibat dalam suatu transaksi pembelian.
Menurut Lee dan Lawson Body (2011:532) persepsi harga merupakan sebuah
penilaian seorang konsumen dan bentuk emosional konsumen yang terasosiasi
mengenai sebuah harga apakah harga yang ditawarkan oleh seorang penjual dan
sebuah harga yang dibandingkan dengan pihak lain masuk diakal dan dapat diterima
oleh setiap konsumen atau dapat dijustifikasi. Oleh karena itu hal pertama yang
menjadi minat atau hal yang menarik konsumen adalah berapa nilai yang dikeluarkan
konsumen untuk mendapatkan sebuah produk ditawarkan.
Menurut Hapsawati (2017:30-31) persepsi harga (Price Perceptions) juga
berkaitan dengan bagaimana sebuah informasi harga dapat dipakai seluruhnya oleh
konsumen. Dalam melakukan pemprosesan informasi harga secara kognitif, seorang
konsumen dapat membuat sebuah perbandingan antara suatu harga yang sudah
ditetapkan dengan sebuah harga atau rentang harga yang telah terbentuk dalam benak
setiap konsumen untuk produk tersebut . harga yang ada di dalam benak konsumen
akan digunakan untuk melakukan sebuah perbandingan harga hal ini disebut harga
referensi internal (internal reference price). Referensi harga internal mungkin
merupakan harga yang telah dianggap oleh seorang konsumen sebagai harga yang
pantas dan harga yang selama ini memang ditetapkan untuk suatu produk

Perbedaan Word Of Mouth dan Electronic Word Of Mouth


Menurut Jeong dan Jang (2011:357) terdapat beberapa perbedaan antara word
of mouth (wom) dengan electronic word of mouth (e-wom) antara lain :

  1. Word of mouth dilakukan secara langsung dengan cara bertatap muka,
    sedangkan electronic word of mouth hanya dapat dilakukan secara online.
    Adanya kemajuan teknologi yang dapat merubah jenis komunikasi
    langsung dengan cara tatap muka menjadi sebuah komunikasi yang dapat
    dilakukan pada dunia maya
  2. Word of mouth dapat dilakukan secara terbatas sedangkan electronic word
    of mouth aksesbilitasnya yang tinggi. electronic word of mouth dapat
    menjangkau semua orang atau seorang konsumen yang mengakses sebuah
    internet
  3. electronic word of mouth memungkinkan para konsumen untuk
    mengembangkan hubungan secara virtual dengan konsumen atau yang
    kelompok lain.
  4. electronic word of mouth dilakukan dengan cara di posting atau diakses
    oleh orang yang tidak dikenal, sedangkan word of mouth memiliki tingkat
    kepercayaan yang tinggi karena percakapan dilakukan secara langsung atau
    bertatap muka dengan orang yang sudah mereka kenal.
  5. Word of mouth memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi karena
    didukung dengan intonasi suara dan bahasa tubuh, sedangankan untuk
    electronic word of mouth tidak bisa didukung dengan intonasi suara

Aspek Electronic Word Of Mouth (e-wom)


Menurut Goyette, Ricard, Bergeron, dan Marticotte (2010), terdapat empat
aspek yang menjadi ukuran dari electronic word of mouth (e-wom) :

  1. E-Wom Intensity
    Intensitas percakapan mengenai suatu produk. Ketika calon konsumen
    sering membicarakan suatu produk tertentu dengan konsumen lain. maka
    konsumen yang bersangkutan akan medapatkan informasi mengenai produk
    yang dibicarakan lebih banyak dibandingkan konsumen yang jarang
    membicarakan produk tertentu dengan konsumen lain. dengan seringnnya
    konsumen membicarakan suatu hal. Maka hal itu akan menjadi penguat
    (reinforcement) ingatan sehingga yang bersangkutan akan memiliki
    keyakinan untuk membeli sebuah produk.
  2. Valence Positif
    Penilaian positif sebagai efek dari kepuasan yang didapatkan konsumen
    yang dituangkan dalam percakapan seperti pemberian rekomendasi atau
    ajakan untuk membeli suatu produk. Ketika orang lain sebagai pemberi
    informasi untuk menyampaikan kebaikan atau kelebihan dari suatu produk,
    dan menyarankan kepada calon konsumen untuk melakukan pembelian
    pada produk yang tengah dibicarakannya. Maka hal tersebut juga dapat
    meningkatkan atau memperkuat keyakinan individu atau calon konsumen
    untuk melakukan pembelian.
  3. Valence Negatif
    Penilaian negatif sebagai efek dari ketidakpuasan yang didapatkan
    konsumen yang dituangkan dalam percakapan atau ulasan
  4. E-Wom Content
    Isi percakapan atau konten pembahasan yang diberikan kepada calon
    konsumen berkaitan dengan jenis produk yang dijual, harga, kualitas,
    kemudahan bertransaksi dan lain-lain, karena pada umumnya calon
    konsumen terlebih dahulu memerlukan informasi-informasi tersebut
    sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan suatu pembelian

Faktor Electronic Word Of Mouth


Menurut pendapat Sernovitz (2009:20), terdapat tiga motivasi dasar yang
mendorong pembicaraan electronic word of mouth, yaitu :

  1. Mereka menyukai produk anda
    Seorang konsumen membicarakan karena perusahaan telah melakukan atau
    menjual sesuatu yang konsumen ingin bicarakan. Seorang konsumen
    menyukai produk dan konsumen menyukai bagaimana perusahaan
    memperlakukan mereka, apakah perusahaan telat melakukan sesuatu hal
    yang menarik.
  2. Ulasan membuat mereka merasa baik.
    Lebih sering mengarah ke emosi atau perasaan seorang konsumen terhadap
    sebuah produk atau fitur produk. konsumen terdorong untuk berbagi
    perasaan dimana konsumen sebagai individu dari pada apa yang dilakukan
    bisnis.
  3. Mereka merasa terhubung dalam suatu kelompok
    Keinginan seorang konsumen untuk menjadi bagian dari suatu kelompok
    adalah perasaan manusia yang paling kuat. Membicarakan suatu produk
    merupakan salah satu cara konsumen untuk mendapat hubungan tersebut.
    Kita merasa senang secara emosional ketika kita membagikan kesenangan
    dengan suatu kelompok yang memiliki kesenangan yang sama (Joesyiana,
    2018:74

Faktor-Faktor Minat Beli


Menurut Kotler dan Keller (2016) Perilaku membeli seorang konsumen dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan faktor internal :

  1. Faktor Internal
    Faktor internal adalah faktor yang dipicu oleh kondisi dalam diri seorang
    konsumen, seperti :
    a. Pekerjaan
    Pekerjaan merupakan sebuah gambaran dari pencerminan konsumen
    terhadap setiap tugas-tugas, kewajiban, serta sebuah tanggung jawab pada
    diri masing masing anggota karyawan terhadap pekerjaannya. Semakin
    tinggi tingkat pekerjaan seseorang, maka akan semakin tinggi pula tingkat
    pendapatan seseorang yang secara otomatis akan meningkatkan daya beli
    seseorang terhadap suatu produk. perbedaan pendapatan setiap orang juga
    akan mempengaruhi tingkat kebutuhan seseorang.
    b. Gaya Hidup
    Gaya hidup adalah pola hidup setiap individu terkait kegiatan
    kesehariannya yang digambarkan dalam aktivitas, minat, dan opini. Gaya
    hidup dipengaruhi berdasarkan lapisan masyarakat yang berbeda-beda,
    dimana kelompok lapisan kelas atas akan jelas jauh berbeda dengan gaya
    hidup kelompok lapisan menengah dan kelompok lapisan bawah
    c. Motivasi
    Motivasi merupakan dorongan yang akan timbul dalam diri setiap
    individu yang melatar belakangi terpicunya hasrat mewujudkan tujuan
    tertentu. Biasanya didasari oleh kebutuhan dan keinginan dari pribadi
    seseorang. Dorongan tersebut timbut akibat ada suatu tekanan dari
    kebutuhan yang belum terpenuhi. Dengan adanya kebutuhan dan
    keinginan konsumen tersebut, maka seseorang akan melakukan kegiatan
    pembelian
  2. Faktor Eksternal
    Faktor eksternal yakni faktor yang bersumber dari luar diri individu atau
    konsumen, yaitu :
    a. Sosial
    Pengaruh dari lingkungan sekitar, pada dasarnya seseorang akan
    cenderung meniru suatu perilaku atau gaya hidup yang dimiliki oleh orang
    terdekat mereka. Kemungkinan besar, lingkungan sosial seseorang akan
    mempengaruhi minat beli seseorang dalam mengkonsumsi sebuah produk
    b. Harga
    Harga merupakan sejumlah uang yang akan konsumen berikan demi
    mendapatkan keuntungan atas kepemilikan maupun digunakannya suatu
    barang atau jasa. Harga sejak dahulu telah menjadi aspek utama yang
    paling utama dalam mempengaruhi setiap konsumen dalam memutuskan
    pembeliannya terhadap suatu produk

Indikator Minat Beli


Minat Beli dalam penelitian ini merupakan sebuah keinginan atau rencana
seorang konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk dalam jumlah dan
waktu tertentu. Menurut Kotler dan keller (2016) indikator minat beli ada 4 yaitu:

  1. Minat Transaksional, merupakan minat yang menggambarkan kencenderungan
    seorang konsumen dalam membeli suatu produk.
  2. Minat Refrensial, merupakan minat yang menggambarkan kecenderungan
    seorang konsumen untuk mereferensikan sebuah produk kepada orang lain.
  3. Minat Preferensial, merupakan minat yang menggambarkan perilaku seorang
    konsumen yang telah mempunyai prefrensi (pilihan) utama terhadap sebuah
    produk. Kemudian pilihan ini hanya dapat digantikan jika terjadi sesuatu dengan
    produk pilihannya.
  4. Minat Eksploratif, merupakan minat yang menggambarkan sebuah perilaku
    seorang konsumen yang selalu mencari sebuah informasi mengenai suatu produk
    yang akan diminatinya dan konsumen juga akan mencari informasi untuk
    mendukung sifat positif dari sebuah produk.

Definisi Minat Beli


Menurut Kotler dan Keller (2016:137) minat beli merupakan perilaku seorang
konsumen yang akan muncul sebagai sebuah respon terhadap suatu objek yang
menunjukan rasa keinginan seorang konsumen untuk melakukan sebuah pembelian.
Menurut Sciffman dan Kanuk (2015:228) minat beli merupakan sikap seorang
konsumen terhadap sebuah objek atau barang yang cocok dalam mengukur sikap
konsumen terhadap golongan jasa , produk atau merk tertentu. Minat beli seorang
konsumen akan muncul ketika konsumen telah mendapatkan sebuah informasi yang
sudah cukup tentang suatu produk yang diinginkannya.
Minat beli merupakan perilaku seorang konsumen yang telah memiliki rasa
ketertarikan terhadap suatu produk (barang/jasa) sebelum melakukan tindakan
keputusan pembelian yang timbul setelah menerima stimulus atau rangsangan yang
diberikan oleh pemasar sebagai cara untuk meyakinkan calon konsumen. Seorang
konsumen ketika memiliki minat untuk membeli suatu produk (barang/jasa) akan
melakukan pencarian informasi yang lebih mendalam mengenai produk-produk yang
telah diminatinya (Makna & Setiadi, 2022:201)

Peran Pembeli


Seorang pemasar perlu mengetahui siapa yang berperan dalam
kegiatan pembelian, karena semua itu mengandung implikasi yang akan
digunakan untuk merancang produk yang akan diproduksi, penentu pesanan
dan penentu anggaran biaya produksi. Beberapa peranan dalam keputusan
pembelian menurut Philip Kotler (2007 :225)

  1. Initiator
  2. Influencer
  3. Decider
  4. Buyer
  5. User

Pengertian Keputusan Pembelian


Untuk mendapat gambaran mengenai keputusan pembelian, berikut
ini akan dikemukakan definisi mengenai keputusan pembelian menurut para
ahli.Menurut Philip Kotler (2007; 223). Keputusan Pembelian yaitu: beberapa
tahapan yang dilakukan oleh konsumen sebelum melakukan keputusan
produk.

Perilaku Konsumen


Karena perilaku konsumen sangat heterogen maka mereka perlu
disegmentasikan yang relative mempunyai kebutuhan dan keinginan yang
sama. Hal ini dimaksudkan untuk menghemat biaya, waktu dan energi.
Selanjutnya diharapkan program pemasaran yang dirancang akan mengenai
sasaran hingga tujuan pemasaran dapat tercapai berupa meningkatkan volume
penjualan pangsa pasar dan laba penjualan. Hingga segmentasi pasar dapat
didefinisikan sebagai berikut:
Segmentasi pasar membagi pasar menjadi segmen-segmen pasar
tertentu yang dijadikan sasaran penjualan yang akan dicapai dengan
marketing mix tertentu. (Swastha dan Handoko, 192; 118-119)
Jadi latarbelakang dan alasan dilakukannya segmentasi pasar adalah:
1) Konsumen selalu bersifat heterogen, perlu diketahui keinginan dan
kebutuhan guna memenuhi keinginan dan kebutuhan dengan baik.
2) Pemilihan target seluruh pasar setelah akan diadakan segmentasi pasar
akan berpengaruh sangat kuat terdapat potensi penjualan dan laba penjuala
3) Pemilihan target pasar yang akan berpengaruh langsung terhadap berat
tidaknya pesaing yang harus dihadapi di dalam segmen yang terpilih.
4) Strategi perusahaan yang berusaha untuk memenuhi semua keinginan
dan kebutuhan masyarakat, justru akan berakibat kegagalan pemasaran.
Seorang pemasar harus mencoba membedakan variabel segmentasi
secara tunggal dan secara kombinasi dengan harapan untuk mendapatkan
cara yang bermanfaat guna melihat struktur pasar.
Pembagian pasar dalam segmen-segmen pasar sangat dipengaruhi
oleh tipe produk, sifat permintaan, cara penjualan dan motivasi pembelian
konsumen. Banyak variabel-variabel yangdapat dijadikan dasar untuk
segmentasi pasar.
Adapun dasar-dasar yang dapat dipakai untuk segmentasi pasar adalah,
Dalam buku Philip kotler (2009, hal 301)
1) Segmentasi geografis
Segmentasi geografis dilakukan dengan cara membagi pasar menjadi
unit-unit geografis, misalnya negara, propinsi, kabupaten, kota dan
sebagainya.
2) Segmentasi demografis
Segmentasi ini memisahkan pasar ke dalam kelompok-kelompok yang
berdasarkan pada variabel demografis,seperti umur, jenis kelamin,
besarnya keluarga, siklus, pendapatan, pendidikan, agama, ras, dan lain-
lain.
3) Segmentasi psikologis
Pada jenis segmentasi psikologis, konsumen dibagi dalam beberapa
kelompok yang berlainan menurut kelas, gaya hidup atau berbagai cirri
kepribadian.
4) Segmentasi perilaku
Bilaperilaku dipakai sebagai variabel utama dalam segmentasi pasar
dalam konsumen, maka para konsumen dibagi menjadi beberapa
kelompok menurut tingkat pengetahuan, sikap, penggunaan atau
tanggapan terhadap produk tertentu

Harga


Harga adalah sesuatu diberikan atau dikorbankan untuk
memperoleh suatu produk.Harga merupakan salah satu variabel
penting dalam pemasaran, di mana harga dapat mempengaruhi
konsumen dalammengambil keputusan untuk membeli suatu produk,
karena berbagai alasan. Alasan ekonomis akan menunjukkan bahwa
harga yang rendah atau harga yang selalu berkompetisi merupakan
salah satu pemicu penting untuk meningkatkan kinerja pemasaran,
tetapi alasan psikologis dapat menunjukkan bahwa harga justru
merupakan indicator kualitas dan karena itu dirancang sebagai salah
satu instrumen penjualan sekaligus sebagai instrument kompetisi yang
menentukan. Konsumen mempunyai anggapan adanya hubungan yang
positif antara harga dankualitas suatu produk, maka merekaakan
membandingkan antara produk yang satu dengan yang lainnya dan
barulah konsumen mengambil keputusan untuk membeli suatu produk.
Menurut William J. harga adalah sejumlah nilai yang ditukarkan
konsumen dengan manfaat dari memiliki atau menggunakan produk
atau jasa yang lainnya ditetapkan oleh pembeli atau penjual untuk satu
harga yang sama terhadap semua pembeli. Sedangkan menurut kotler
dan amstrong (2008; 345) adalah sejumlah uang yang ditagihkan untuk
sebuah produk atau jasa jumlah dari nilai yang ditukarkan para
pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan
suatu produk atau jasa. Lebih jauh lagi, harga adalah adalah jumlah
dari seluruh nilai yang konsumen tukarkan untuk jumlah manfaat
dengan memiliki atau menggunakan suatu barang dan jasa.
Harga juga merupakan salah satu elemen bauran pemasaran
yang paling fleksibel; harga dapat diubah dengan cepat, tidak seperti fitur
produk dan perjanjian distribusi mengatakan bahwa, harga memiliki dua
peranan utama dalam mempengaruhi keputusan beli, yaitu :

  1. Peranan alokasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam membantu
    para pembeli untuk memutuskan cara memperoleh manfaat atau
    utilitas tertinggi yang diharapkan berdasarkan daya belinya. Dengan
    demikian, adanya harga dapat membantu para pembeli untuk
    memutuskan cara mengalokasikan daya belinya pada berbagai jenis
    barang dan jasa.Pembeli membandingkan harga dari beberapa
    alternative yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang
    dikehendaki.
  2. Peranan informasi dari harga, yaitu fungsi harga dalam
    mendidik konsumen mengenai faktor-faktor produk, seperti kualitas.
    Hal initerutama bermanfaat dalam situasi dimana pembeli
    mengalami kesulitan untuk menilai faktor produk atau manfaatnya
    secara obyektif Harga ( price) dari sudut pandang pemasaran
    merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan
    jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperolehhak kepemilikan atau
    penggunaan suatu barang dan jasa

Kualitas Produk


Produk yang mempunyai kualitas yang sama dengan produk lain
tetapi ditetapkan pada harga yang lebih murah akan memberikan nilai yang
lebih tinggi kepada pelanggannya.
Produk didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat ditawarkan ke
dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai, atau dikonsumsi
sehingga dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan (Kotler, 2002).
Konsumen akan menyukai produk yang menawarkan kualitas,
kinerja, dan pelengkap inovatif yang terbaik (Simamora, 2004). Produk
yang berkualitas adalah produk yang mampu memberikan hasil yang
lebih dari yang diharapkan.
Fandy Tjiptono mengartikan produk sebagai: “segala sesuatu
yang ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan/dikonsumsi pasar sebagai pemenuh kebutuhan/keinginan
pasar yang bersangkutan” (1999:95). Produk yang ditawarkan tersebut
meliputi: barang fisik, jasa, orang/pribadi, organisasi, dan ide. Secara
lebih rinci, konsep produk meliputi: barang, kemasan, merk, warna,
label, harga, kualitas, pelayanan dan jaminan.
Konsep-konsep yang bersaing yang telah digunakan oleh
organisasi pada kegiatan pemasaran mencakup: konsep produksi,
konsep produk, dan kosnep penjualan. Dalam buku Philip Kotler
(2009, hal 18).
a. Konsep Produksi
Konsep produksi adalah salah satu dari konsep tertua dalam bisnis.
Konsep itu menegaskan bahwa konsumen akan memilih produk
yang tersedia dimana-mana dan murah.
b. Konsep Produk
Konsep produk menyatakan bahwa konsumen akan lebih menyukai
produk-produk yang menawarkan fitur-fitur paling bermutu,
berprestasi, atau inovatif. Para manajer dalam organisasi ini
berfokus pada membuat produk yang superior dan meningkatkan
nya sepanjang waktu.
c. Konsep Penjualan
Konsep penjualan menyatakan bahwa konsumen dan bisnis, jika
ditinggalkan sendiri biasanya tidak akan membeli cukup banyak
produk-produk organisasi. Oleh karena itu, organisasi harus
melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.

Mengukur Minat Beli Konsumen


Minat beli pelanggan dapatdilihat dari hasil (Outcome) yang
dirasakan atas penggunaan produk dan jasa, sama atau melebihi harapan yang
diinginkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa metode yang digunakan untuk
mengukur minat beli konsumen.
Kotler dalam Tjiptono dan Diana (2005: 104-105) mengemukakan
beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur minat beli
konsumen, metode tersebut antara lain :
1) Sistem keluhan dan saran
2) Ghost Shopping
3) Lost CustomerAnalysis
Menurut (Christina Whidya Utami, 2006) faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan berbelanja. Keputusan belanja dipengaruhi oleh
kepercayaan, sikap dan nilai-nilai pelanggan, serta berbagai faktor dalam
lingkungan sosial pelanggan.

Pengertian Minat Konsumen


Minat merupakan suatu kecendrungan untuk melakukan tindakan
terhadap obyek. Minat terkait dengan sikap dan perilaku, minat dianggap
sebagai suatu penangkap atau perantara antara faktor-faktor motivasional
yang mempengaruhi perilaku, perilaku minat juga mengindinfikasikan
seberapa keras seseorang mempunyai kemauan untuk mencoba. Minat
menunjukkan seberapa banyak upaya yang direncanakan seseorang untuk
melakukan sesuatu dan minat berhubungan dengan perilaku.
Galaksi (2009:1), Konsep AIDA+S terdiri atas lima komponen yaitu
sebagai berikut:

  1. Attention, yaitu Pertama kali kosumen dihubungi atau ditawari oleh
    perusahaan tertentu sehingga muncul perhatian (attention) pada
    dirikonsumen.
  2. Interest, yaitu timbulnya minat konsumen terhadap barang yang sudah dia
    perhatikan.
  3. Desire, yaitu Adanya ketertarikan tersebut akan menimbulkan hasrat,
    keinginan (desire) konsumen untuk membeli dan menggunakan produk
    yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
  4. Action, yaitu Pada tahap tindakan (action) perusahaan harus dapat
    mewujudkan kebutuhan dan harapan konsumendan memberikan keyakinan
    bahwa barang, jasa, dan ide yang dibeli merupakan langkah yang tepat
    yang dapat memberikan keuntungan bagi konsumen.
  5. Satisfaction, yaitu Pada tahap kepuasan (satisfaction) perusahaan harus
    dapat memastikan bahwa kualitas barang, jasa dan ide yang dibeli
    sesuai denganharapan konsumen.
    Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa
    yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
    keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk
    diperdagangkan. Konsumsi dari bahasa belanda consumpite, ialah suatu
    kegiatan yang bertujuan mengurangi atau menghabiskan daya guna suatu
    benda, baik berupa barang maupun jasa, untuk memenuhi kebutuhan dan
    kepuasan secara langsung. Pada masa sekarang ini bukan suatu rahasia
    lagi bahwa sebenarnya konsumen adalah raja sebenarnya, oleh karena
    itu produsen yang memiliki prinsip holistic marketing sudah seharusnya
    memperhatikan semua yang menjadi hak-hak konsumen.

Pengaruh Kualitas Produk dan Promosi terhadap Minat Belimelalui Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan adalah target setiap perusahaan karena
dengan meningkatnya kepuasan pelanggan dapat menjamin
kelangsungan hidup suatu perusahaan. Jika pelanggan merasa puas
pada suatu produk akan menimbulkan kurangnya keinginan untuk
melihat produk merek lain. Semakin bagus produk yang ditawarkan
akan meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap suatu produk.
Produk yang memiliki kualitas tinggi adalah produk yang
mempunyai banyak manfaat. Selain kualitas produk, kemampuan
perusahaan dalam aktivitas promosi juga merupakan hal yang utama
dilakukan untuk menciptakan kepuasan pelanggan. Pelanggan akan
melakukan pembelian dengan mempertimbangkan harga, promosi
dan produk (Indah Sari & Raymond, 2019)

Pengaruh Kepuasan Pelanggan terhadap Minat Beli Konsumen


Imran (2018) kepuasan pelanggan adalah faktor penting yang
harus diperhatikan oleh perusahaan apabila ingin mendapatkan minat
beli dari konsumen. Setiap perusahaan dituntut untuk membuat
kepuasan pada pelanggan dengan memberikan penawarna dan juga
pelayanan yang baik, karena suatu perusahaan harus mampu
bersaing dan mempertahankan posisi pasar yang semakin ketat.
Kepuasan konsumen, dapat mendorong untuk melakukan pembelian
ulang (repeat purchase), dengan begitu konsumen akan loyal
terhadap suatu produk maupun loyal terhadap toko tempat membeli
produk tersebut.

Pengaruh Promosi Penjualan terhadap Minat Beli Konsumen


Silaningsih & Utami, (2018) strategi pemasaran banyak
kaitannya dengan komunikasi. Promosi adalah salah satu bentuk
khusus dari komunikasi untuk memenuhi fungsi dari pemasaran.
Dalam menjalankan fungsi pemasaran harus dilakukan kegiatan
promosi untuk memberikan informasi kepada masyarakat. Promosi
harus dapat membujuk konsumen agar tertarik terhadap suatu produk
yang ditawarkan yang bertujuan untuk meningkatkan penjualan dan
keuntungan. Suatu promosi akan mengarahkan konsumen untuk
membeli produk-produk yang ditawarkan, guna memenuhi
kebutuhan konsumen dan memberikan tingkat kepuasan pada
konsumen. Melalui promosi inilah dapat menarik perhatian para
konsumen untuk membeli suatu produk dan juga memberikan respon
timbal balik yang kuat dan meningkatkan penjualan dalam jangka
pendek

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Minat Beli Konsumen


Pada dasarnya, seseorang membeli produk untuk memenuhi
kebutuhan atau keinginan. Silaningsih & Utami, (2018) produk yang
berkualitas mempunyai kaitan erat dengan sikap konsumen, dimana
produk berkualitas akan memberikan dorongan minat kepada
konsumen untuk membeli suatu produk. Dikarenakan produk yang
ditawarkan akan menggambarkan kondisi suatu perusahaan, jika
perusahaan melakukan kesalahan dalam kegiatan pemasaran kepada
konsumen maka tingkat minat beli konsumen akan turun, bahkan
dapat berakibat pada image yang kurang bai

Pengaruh Promosi Penjualan terhadap Kepuasan Pelanggan


Promosi penjualan adalah salah satu kegiatan terpenting
bagi sebuah perusahaan, karena tujuan promosi itu sendiri agar
konsumen mengetahui produk yang diciptakan oleh suatu
perusahaan. Sebaik apapun kualitas produk yang ditawarkan jika
perusahaan tidak cermat dalam promosi maka konsumen tidak
mengetahui adanya produk tersebut, maka tidak ada kegiatan
pembelian dan target penjualan tidak akan tercapai. Maka suatu
perusahaan butuh kejelian dalam melihat promosi seperti apa yang
cocok digunakan. (Revyola et al., 2019). Promosi yang digunakan
perusahaan juga dapat mempengaruhi apakah banyak konsumen
akan membeli produk yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut.
Memilih promosi yang tepat akan membuat konsumen ingin
mencoba produk yang ditawarkan suatu perusahaan, promosi perlu
membangun hubungan yang baik dengan konsumen tentang seberapa
puas mereka dengan produk yang di tawarkan

Pengaruh Kualitas Produk terhadap Kepuasan Pelanggan


Kualitas sangat penting karena merupakan salah satu faktor
keunggulan yang kompetitif. Kedudukan kualitas menjadi penting
sejak persaingan pasar dunia semakin ketat. Persaingan yang ketat
tersebut antara lain dipicu oleh kondisi globalisasi yang semakin
cepat kemajuannya (Afnina & Hastuti, 2018). Salah satu faktor
utama yang harus diperhatikan oleh perusahaan adalah kualitas
produk. Pelanggan akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
Faktor harga produk juga berperan penting, dimana produk yang
memiliki kualitas sama tetapi menetapkan harga yang relatif
terjangkau akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
pelanggannya. Menurut Roselina & Niati, (2019) kualitas adalah
sesuatu yang diputuskan oleh konsumen,artinya kualitas didasarkan
pada pengalaman aktual konsumen terhadap produk atau jasa. Maka
dapat disimpulkan bahwa ukuran kepuasan pelanggan merupakan
hasil evaluasi setelah melakukan pembelian.

Kepuasan Pelanggan


Sulistyani & Umi, (2021) kepuasan pelanggan adalah faktor
penting untuk menentukan keberhasilan suatu perusahaan.
Perusahaan harus memenuhi kebutuhan serta keinginan konsumen
sehingga dapat mencapai kepuasan konsumen. Apabila konsumen
puas dengan produk atau jasa yang didapatkan, kemungkinan besar
konsumen akan melakukan pembelian ulang atas apa yang
didapatkan dan mungkin akan menambah jumlah dari pembelian
sebelumnya.
Kepuasan pelanggan sebagai “sejauh mana kinerja yang
dirasakan dari suatu produk atau layanan memenuhi harapan
pembeli”. Pelanggan tidak puas ketika kinerja produk jauh dari
harapan mereka tetapi pelanggan akan puas ketika kinerja produk
melebihi harapan pelanggan (Indah Lestari, 2021).
Menurut Rahadi menunjukkan bahwa perusahaan yang
memberikan layanan berkualitas benar-benar dapat memenuhi
beragam kebutuhan pelanggan dan kepuasan pelanggan adalah suatu
evaluasi keseluruhan produk dan layanan berdasarkan pengalaman
masa lalu pelanggan. Sedangkan menurut Tjahjaningsih menjelaskan
bahwa kepuasan pelanggan dianggap sebagai evaluasi keseluruhan
dari produk nyata dan produk tidak berwujud (Indah Lestari, 2021).
Mempertahankan pelanggan berarti mengharapkan mereka
untuk melakukan pembelian ulang atas produk atau jasa pada saat
kebutuhan yang sama muncul sewaktu-waktu. Menurut Kotler
kepuasan pelanggan yaitu perasaan senang atau kecewa yang muncul
ketika seseorang membandingkan antara harapan dengan kenyataan
yang dicapai. Tingkat kepuasan atau rasa senang yang tinggi
menciptakan ikatan emosional dengan merek atau perusahaan yang
bersangkutan (Roselina & Niati, 2019)
Kepuasan pelanggan (Sholihah et al., 2022) merupakan hasil
dari penelitian konsumen bahwa produk atau pelayanan telah
memberikan tingkat kenikmatan dimana pemenuhan ini bisa lebih
atau kurang. Dari definisi tersebut dapat disimpulakan bahwa
kepuasan pelanggan merupakan tingkat persepsi,harapan dan
perilaku konsumen terhadap pembelian suatu produk atau jasa yang
dirasakan setelah melakukan pembelian.
(Sholihah et al., 2022) pengukuran kepuasan pelanggan
sangat penting untuk dilakukan karens memberikan informasi
bermanfaat bagi perusahaan, industri, investor, pemerintah dan
konsumen. Terdapat enam indikator kepuasan pelanggan sebagai
berikut:
a. Kepuasan pelanggan keseluruhan, ialah kepuasan pelanggan
diukur berdasarkan produk dan membandingkan produk
pesaing;
b. Penilaian pelanggan ialah pelanggan memberikan nilai
terhadap produk dan produk pesaing;
c. Konfirmasi harapan ialah kesesuaian/ketidaksesuaian
pelanggan antara harapan dan kinerja aktual produk;
d. Minat pembelian ulang, ialah perilaku pelanggan dalam
berbelanja dan menggunakan produk kembali;
e. Kesediaan untuk merekomendasikan, ialah keinginan
pelanggan untuk memberikan rekomendasi produk kepada
teman atau keluarga; dan
f. Ketidakpuasan pelanggan meliputi komplain, retur, dan
konsumen beralih ke pesaing lain.

Minat Beli


Minat beli konsumen adalah faktor pendorong dalam
pengambilan keputusan pembelian terhadap suatu produk (A. S.
Akbar, 2021). Menurut Wijaya & Oktavianti (2019) minat beli
konsumen adalah evaluasi purna beli atau hasil evaluasi setelah
membandingkan apa yang dirasakan dengan harapannya. Minat beli
merupakan perilaku yang muncul sebagai respon terhadap objek
yang menunjukan keinginan seseorang untuk melakukan pembelian
(Kurniawan & Krismonita, 2020).
Minat beli merupakan keinginan untuk membeli produk,
minat beli akan muncul apabila seseorang konsumen sudah
terpengaruh terhadap mutu dan kualitas dari suatu produk, informasi
seputar produk, contoh seperti harga, cara membeli dan kelemahan
serta keunggulan produk dari merek lain (Maino et al., 2022)
Minat beli pelanggan menurut Nursadiah & Maharani,
(2018) adalah sebuah perilaku konsumen yang ingin membeli atau
memillih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam hal memilih,
menggunakan, dan mengkonsumsi atau menginginkan suatu produk.
Menurut Setiawan minat beli mempunyai indikator-
indikator sebagai berikut (A. S. Akbar, 2021):
a. Minat transaksional adalah kecenderungan seseorang untuk
membeli suatu produk setelah dikonsumsi
b. Minat referensial adalah kecenderungan individu untuk
merekomendasikan produk yang sudah dibelinya, agar orang
lain juga membelinya, berdasarkan pengalaman konsumsi
mereka
c. Minat preferensial adalah minat yang menggambarkan
perilaku seseorang yang memiliki preferensi utama terhadap
produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat diubah jika terjadi
sesuatu pada produk pilihannya
d. Minat eksploratif adalah minat ini menggambarkan perilaku
seseorang yang selalu mencari informasi tentang produk yang
diminati dan mencari informasi untuk mendukung kualitas
positif dari produk yang menjadi langganannya

Promosi Penjualan


Promosi adalah proses komunikasi pemasaran untuk
menginformasikan, membujuk, mengingatkan dan mempengaruhi
konsumen atau pengguna dalam mendukung produk atau jasa
(Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020). Promosi merupakan
serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mengkomunikasikan dan mempromosikan produknya kepada
sasaran pasarnya. Singkatnya promosi adalah tindakan
menginformasikan kepada masyarakat tentang suatu produk,
dilakukan secara efektif dan praktis, dengan tujuan menciptakan
transaksi jual beli. Pemberian informasi harus didasarkan pada
kejujuran dan kebenaran yang nyata sesuai dengan produk yang
diinformasikan. Meskipun promosi dimaksudkan untuk
mempengaruhi selera dan keinginan, keputusan akhir tetap di tangan
konsumen yang bersangkutan (Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020).
Desi & Sri, (2018) promosi merupakan kegiatan yang
dilakukan oleh perusahaan untuk mendorong suatu permintaan.
Promosi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian. Karena promosi dipandang sebagai sarana untuk
menunjang penjualan. Dengan promosi perusahaan dapat
menunjukkan keunggulan produknya agar konsumen tertarik untuk
membeli produk tersebut.
Menurut Kotler dan Amstrong terdapat lima indikator
promosi yaitu periklanan (Advertising), promosi penjualan (sales
promotion), penjualan perseorangan (personal selling), hubungan
masyarakat (public relations), penjualan langsung (direct marketing)
(Krisna Marpaung et al., 2021).

Kualitas Produk


Kualitas adalah isu yang dominan di banyak perusahaan,
bersamaan dengan waktu yang pesat, fleksibilitas untuk memenuhi
permintaan konsumen (produk selalu dibuat untuk memenuhi
permintaan konsumen) dan harga jual yang rendah, kualitas
merupakan pilihan yang penting dan strategis (Afnina & Hastuti,
2018).
Nurhayati (2011) kualitas produk adalah kesesuaian produk
dengan kebutuhan pasar atau konsumen. Menurut Assauri dalam
Arumsari (2012:45) kualitas produk digambarkan sebagai faktor-
faktor yang terkandung dalam suatu barang atau hasil yang membuat
barang atau hasil tersebut sesuai dengan tujuan yang dimaksudkan
(Kurnianingsih & Sugiyanto, 2020).
Kualitas produk merupakan suatu usaha untuk memenuhi
harapan konsumen, dimana suatu produk tersebut memiliki kualitas
yang sesuai dengan standar kualitas yang telah ditentukan, dan
kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah karena selera
maupun harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah
(Krisna Marpaung et al., 2021).
Menurut Gito Sudarma (2018) indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur kualitas produk sebagai berikut:
a. Berbagai macam variasi produk
b. Daya tahan produk
c. Kualitas produk sesuai spesifikasi dari konsumen
d. Penampilan kemasan produk (estetika)
e. Kualitas produk terbaik dibandingkan dengan merek
lain

Pengaruh Promosi dari mulut ke mulut Terhadap KeputusanPembelian


Promosi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan suatu usaha
yang digunakan dalam program pemasaran. Promosi ini merupakan cara
memperkenalkan dan menarik konsumen. Promosi merupakan salah satu variabel
dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam
memasarkan produk jasa. dan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen
dalam kegiatan pembelian atau penggunaan jasa sesuai dengan keinginan dan
kebutuhannya, dengan promosi konsumen dapat mengetahui suatu produk dan
spesifikasi yang diwarkan oleh perusahaan dan bisa menjadi salah satu alat untuk
menarik konsumen agar melakukan keputusan pembelian. Berdasarkan (Wibi
Anindra Lukito & Aswin Fahmi D, 2020), Hasil penelitian yang dilakukan
menunjukkan bahwa variabel promosi masih cukup signifikan pengaruhnya
terhadap keputusan pembelian, variabel promosi ini masih memberikan kontribusi
terhadap keputusan pembelian

Pengaruh Minat Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian


Minat pembeli terhadap keputusan pembelian bisa dipengaruhi oleh
berbagai faktor. Salah satunya adalah nilai tambah atau keuntungan yang
diperoleh dari produk atau layanan yang ditawarkan. Jika produk atau layanan
dapat memenuhi kebutuhan atau keinginan pembeli dengan baik, kemungkinan
besar mereka akan lebih tertarik untuk melakukan pembelian.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Pembelian


Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Pembelian merujuk pada sejauh mana
tingkat kualitas suatu produk dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk
melakukan pembelian. Kualitas produk mencakup berbagai atribut seperti
keandalan, kinerja, fitur, desain, dan daya tahan, yang bersama-sama membentuk
persepsi konsumen tentang nilai produk. Dalam konteks ini, “pengaruh”
mencerminkan daya tarik atau kekuatan kualitas produk dalam memotivasi atau
mempengaruhi konsumen untuk memilih dan membeli produk tersebut. Jika
konsumen percaya bahwa suatu produk memiliki kualitas yang baik, mereka
cenderung lebih mungkin untuk membeli produk tersebut.
Menurut, (Wanda Intan Aghitsni & Nur Busyra, (2022). Kualitas produk
merupakan sesuatu yang bisa memuaskan keinginan dan kebutuhan yang
ditawarkan kepasar agar dapat dimiliki, diperhatikan, digunakan, ataupun
dikonsumsi Kualitas produk juga merupakan salah satu hal penting yang ditelaah
oleh calon pembeli saat akan membeli sesuatu, baik berupa barang maupun
berupa jasa

Word of Mouth


Word of Mouth, atau komunikasi dari mulut ke mulut, adalah suatu bentuk
proses komunikasi di mana individu atau kelompok memberikan rekomendasi
terhadap suatu produk secara personal, baik kepada individu maupun kelompok
lainnya. Kotler & Keller (2016) menekankan bahwa tujuan dari Word of Mouth
ini adalah untuk memberikan informasi pribadi mengenai produk tersebut.
Sweeney, Soutar, dan Mazzarol (2012) mengidentifikasi tiga dimensi Word of
Mouth yang berasal dari pemberi pesan (sender) dan penerima pesan (receiver).
Ini mencerminkan kompleksitas dalam proses komunikasi ini yang melibatkan
berbagai aspek dari kedua belah pihak. Faktor keberhasilan word of mouth
marketing yaitu :

  1. Kepercayaan dan Kredibilitas
    Kepercayaan dan kredibilitas adalah pondasi utama dalam menciptakan
    word of mouth yang positif. Kepercayaan pelanggan adalah kunci,
    Dengan melihat pelanggan merasa bahwa sebuah merek dapat
    dipercaya dan kredibel, mereka lebih cenderung merekomendasikannya
    kepada orang lain.
  2. Inovasi dan Unikasi
    Di dalam produk atau layanan yang mempunyai ciri khas tersendiri
    serperti rasa, bentuk, dan tampilan dapat menjadi pendorong kuat agar
    terciptanya word of mouth yang positif. Hal ini dapat membuat
    perbedaan antara produk pesaing dan produk yang dimiliki agar para
    konsumen dapat melihat perbedaan dan dapat menjadi daya tarik besar.
  3. Insentif untuk direkomendasikan
    Memberikan insentif atau reward kepada pelanggan dapat menjadi daya
    tarik pemikat untuk calon konsumen baru. Membuat program
    penghargaan atau loyalitas dapat memberikan keuntungan kepada
    pelanggan guna untuk di rekomendasikan ke teman maupun kerabat

Promosi Penjualan


Promosi penjualan, seperti diskon, hadiah, atau penawaran khusus, dapat
menjadi pendorong utama dalam membuat konsumen mengambil keputusan untuk
melakukan pembelian. Konsumen cenderung merespon positif terhadap insentif
ekstra yang diberikan melalui promosi penjualan. Konsumen yang mendapatkan
keuntungan tambahan melalui promosi penjualan cenderung merasa bahwa
mereka mendapatkan nilai lebih dari investasi mereka, yang dapat memotivasi
minat beli ulang. Program promosi penjualan yang memberikan penghargaan atau
keuntungan khusus kepada pelanggan setia dapat memperkuat minat beli ulang.
Konsumen yang merasa dihargai cenderung mempertahankan hubungan dengan
merek atau perusahaan tersebut

Minat Konsumen


Minat konsumen adalah aspek penting dalam perilaku konsumen dan telah
menjadi fokus penelitian oleh berbagai ahli pemasaran. Beberapa ahli yang
mengkaji minat konsumen melibatkan faktor-faktor psikologis, sosial, dan
ekonomi yang mempengaruhi keinginan dan preferensi konsumen. Niat untuk
kembali membeli merupakan respons terhadap suatu produk yang menunjukkan
keinginan pembeli untuk melakukan pembelian lagi. Menurut Kotler & Keller
(2009), minat beli ulang adalah fase di mana konsumen memiliki kecenderungan
untuk bertindak sebelum keputusan pembelian sebenarnya diambil. Kotler
menekankan bahwa minat konsumen dipengaruhi oleh faktor seperti kebutuhan,
keinginan, dan persepsi terhadap produk atau layanan. Faktor psikologis, seperti
motivasi dan persepsi, berperan dalam membentuk minat konsumen. Beberapa
faktor kunci termasuk kebutuhan, keinginan, dan persepsi terhadap produk
tersebut.

  1. Kebutuhan: Konsumen cenderung memiliki minat terhadap produk yang
    dapat memenuhi kebutuhan mereka.
  2. Keinginan: Selain kebutuhan, keinginan juga memainkan peran penting
    dalam membentuk minat konsumen. Keinginan mencerminkan preferensi
    pribadi dan selera konsumen terhadap fitur atau atribut tertentu dari suatu
    produk.
  3. Persepsi terhadap Produk: Cara konsumen melihat dan memahami
    produk juga mempengaruhi minat mereka. Persepsi ini mencakup citra
    merek, kualitas produk, dan pengalaman sebelumnya yang dapat
    membentuk minat positif atau negatif

Kualitas Produk


Menurut Lupiyoadi (2014) kualitas produk adalah sejauh mana produk
memenuhi spesifikasi spesifikasinya. Nilai yang diberikan oleh pelanggan diukur
berdasarkan kepercayaan (reliability), ketahanan (durability), dan kinerja
(performance) terhadap bentuk fisik dan citra
produk. Kualitas produk menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh dalam
pembelian suatu produk karena mengetahui bagaimana kualitas atau kondisi
produk yang akan dibeli tersebut.
Kualitas produk adalah bagaimana produk tersebut memiliki nilai yang
dapat memuaskan konsumen baik secara fisik maupun secara psikologis yang
menunjukkan pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu barang atau
hasil (Kotler dan Amstrong (2015:224).
Philip Kotler mendefinisikan produk sebagai sesuatu yang dapat disajikan
kepada pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi guna
memuaskan keinginan atau kebutuhan. Klasifikasi produk melibatkan beberapa
kelompok, antara lain:
a. Produk Berdasarkan Ketahanan Dan Keberwujudannya:

  1. Barang tidak tahan lama merupakan barang berwujud yang umumnya
    digunakan dalam satu atau beberapa kali penggunaan, seperti sabun,
    pasta gigi, makanan, dan minuman ringan.
  2. Barang tahan lama adalah barang berwujud yang dapat digunakan untuk
    jangka waktu lama, contohnya lemari pendingin, mesin fotokopi, dan
    pakaian.
  3. Jasa adalah produk yang tidak berwujud, tak terpisahkan, bervariasi, dan
    dapat musnah, seperti salon, nasihat hukum, dan perbaikan peralatan.
    b. Produk Industri
  4. Bahan dan suku cadang adalah barang yang menjadi bagian dari produk
    produsen, seperti kapas, gandum, dan beras.
  5. Barang modal adalah barang tahan lama yang memfasilitasi
    pengembangan atau pengelolaan produk jadi, misalnya bangunan pabrik,
    mesin produksi, dan kantor.
  6. Layanan bisnis dan pasokan melibatkan barang dan jasa jangka pendek
    yang mendukung pengembangan atau pengelolaan produk jadi,
    contohnya pelumas mesin, bahan bakar, dan alat tulis.
    c. Produk konsumen:
  7. Barang sehari-hari, seperti makanan dan minuman, sering dibeli
    konsumen dengan segera dan usaha minimum.
  8. Barang belanja adalah barang yang dibandingkan oleh konsumen
    berdasarkan kecocokan, kualitas, harga, dan gaya, misalnya pakaian,
    sepatu, dan kosmetik.
  9. Barang yang tidak dicari adalah barang yang tidak dikenal atau biasanya
    tidak terpikirkan untuk dibel

A 98% Win Rate Awaits—Navigate Peril & Claim Golden Rewards in the Chicken Road game, with Difficult

A 98% Win Rate Awaits—Navigate Peril & Claim Golden Rewards in the Chicken Road game, with Difficulty Levels for Every Player.

The digital world of casino games is constantly evolving, offering players new and exciting experiences. Among the rising stars in this realm is a delightful and surprisingly engaging title: the chicken road game, developed by InOut Games. This isn’t your typical fowl play; it’s a single-player adventure boasting an impressive 98% Return to Player (RTP) rate, making it a compelling choice for those seeking a blend of luck, skill, and adorable poultry. Whether you’re a seasoned casino enthusiast or a newcomer looking for a fun and accessible game, the chicken road game provides a unique and potentially rewarding experience.

A Unique Gameplay Experience

The core mechanic of the chicken road game is elegantly simple yet surprisingly addictive. Players guide a determined chicken across a path fraught with obstacles, aiming to reach a golden egg at the end. The journey isn’t easy, however. Various hazards stand in the chicken’s way, demanding careful timing and strategic decision-making. Throughout the road, players can collect bonus items that enhance their chances of success or provide temporary advantages. The game’s charm lies in its perfect balance between light-hearted visuals and challenging gameplay.

Difficulty Levels: Catering to Every Player

One of the most appealing aspects of the chicken road game is its scalability to different skill levels. InOut Games has implemented four distinct difficulty settings: Easy, Medium, Hard, and Hardcore. Each level introduces new challenges and increases the potential rewards, as well as the inherent risks. The Easy mode serves as a gentle introduction, perfect for beginners who want to grasp the basic mechanics. Progressing to Medium and Hard demands quick reflexes and a more strategic approach, while the Hardcore mode is reserved for experienced players who crave a truly demanding test of skill.

Difficulty
Risk Level
Potential Payout
Easy Low Moderate
Medium Medium Higher
Hard High Significantly Higher
Hardcore Very High Maximum Payout

Understanding the 98% RTP

In the world of casino games, the Return to Player (RTP) percentage is a crucial metric. It represents the average amount of money a game will pay back to players over time. The chicken road game stands out with its imposing 98% RTP. This means that, on average, for every $100 wagered, the game will return $98 to players. While RTP doesn’t guarantee winning on any individual game, it offers a better chance of recouping funds over the long run compared to games with lower RTPs. It is a compelling factor for pragmatic players who seek value for their money.

The Significance of High RTP

A high RTP, like the 98% offered in the chicken road game, directly correlates with a lower house edge. The house edge is the statistical advantage the casino holds over the player. A smaller house edge translates to a fairer and more player-friendly experience. It’s worth remembering that RTP is calculated over millions of spins, so short-term results may vary. The chicken road game’s high RTP is a clear indication of InOut Games’ commitment to providing a transparent and rewarding experience.

Long-Term Strategy and RTP

While luck plays a role in any casino game, understanding the RTP can influence your overall strategy. In the chicken road game, knowing that the game is designed to return a large percentage of wagers can encourage responsible gameplay and a long-term perspective. It’s important to set a budget and stick to it, regardless of the RTP. The chicken road game offers a pleasant distraction, yet responsible gaming remains paramount. Understanding the statistical advantage of a high RTP value increases the appeal of the game.

Bonus Features and Gameplay Enhancements

The chicken road game isn’t just about navigating obstacles. Scattered throughout the path are a variety of bonus features designed to enhance gameplay and increase winning opportunities. These bonuses can range from speed boosts and invincibility shields to multipliers that amplify potential payouts. Mastering the timing of collecting these bonuses is crucial for progressing through the more difficult levels. It’s a testament to InOut Games’ dedication to keeping the gameplay dynamic and engaging.

  • Speed Boosts: Temporarily increase the chicken’s moving speed, allowing for quicker navigation of challenging sections.
  • Invincibility Shields: Protect the chicken from immediate danger, preventing a ‘fried’ outcome.
  • Payout Multipliers: Increase the reward received upon reaching the Golden Egg, significantly boosting winnings.
  • Extra Lives: Provides another opportunity if the player fails to avoid an obstacle.

Strategic Bonus Usage

The real skill in the chicken road game lies in strategically utilizing the bonus features. For instance, save an invincibility shield for a particularly tricky section filled with hazards. Likewise, coordinating a speed boost with a long straightaway can cut down on travel time and reduce the risk of collisions. Effective bonus management is key to consistently reaching the Golden Egg and maximizing potential earnings. It transforms the experience from relying purely on luck, to a game of strategy and timing.

The Visual Appeal of the Bonuses

The bonus features aren’t just functional; they’re also visually engaging. Each bonus is accompanied by unique animations and sound effects, adding to the game’s whimsical charm. Whether it’s the chicken donning a sparkling shield or leaving a trail of sparks with a speed boost, the visual feedback keeps players invested and entertained. This powerful blend of engaging gameplay and attractive aesthetics is a large part of what sets the chicken road game apart from other casino offerings.

Mobile Accessibility and User Interface

InOut Games has prioritized accessibility, ensuring the chicken road game is readily available on a variety of platforms, including mobile devices. This means players can enjoy the game on the go, without compromising on quality or gameplay. But better than mobile availability is the game’s user-friendly interface, which is incredibly intuitive and easy to navigate. The controls are simple and responsive, even on smaller screens, and the game loads quickly and seamlessly.

  1. Responsive Design: Seamlessly adjusts to different screen sizes.
  2. Intuitive Controls: Easy-to-learn controls that enhance gameplay.
  3. Fast Loading Times: Minimal wait times, allowing players to jump straight into the action.
  4. Clear Visuals: Eye-catching graphics that look great on any device.

Importance of User-Centered Design

The attention to detail within the user interface is truly impressive. Every element, from the menu buttons to the in-game feedback, has been carefully designed to enhance the player experience. It removes any frustration and ensures immediate access. This demonstrates InOut Games’ focus on providing a polished and enjoyable gaming experience.

Optimization for Mobile Gaming

Mobile gameplay presents unique challenges, such as limited screen space and potential input lag. The developers have addressed these concerns effectively by optimizing the game for quick response times and streamlined performance. This ensures that players can enjoy a fluid and uninterrupted gaming session regardless of their chosen device. This game feels as rewarding on a small smartphone screen as on a computer monitor.

In conclusion, the chicken road game from InOut Games delivers a unique and rewarding experience that stands out in a crowded casino landscape. Its high RTP, engaging gameplay, and adaptable difficulty levels make it accessible and entertaining for players of all skill levels. The presence of strategically deployable bonus features adds layers of complexity while its accessibility on various devices ensure that players can indulge in a fun and potentially profitable gaming experience anytime, anywhere.

Manfaat Kepuasan Pelanggan


Pada prinsipnya, kualitas jasa berpotensi menciptakan kepuasan pelanggan yang
pada gilirannya akan memberikan sejumlah manfaat seperti :

  1. Hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya menjadi harmonis.
  2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
  3. Mendorong terciptanya loyalitas pelanggan.
  4. Membentuk suatu rekomendasi informal dari mulut ke mulut yang
    menguntungkan bagi perusahaan
  5. Reputasi perusahaan menjadi baik dimata pelanggan
  6. Laba yang diperoleh dapat meningkat.

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan menurut Lupiyoadi
dalam Indrasari (2019 : 91 – 92) :

  1. Kualitas Produk
    Pelanggan akan puas apabila produk yang digunakan kualitasnya bagus
  2. Kualitas Pelayanan
    Kepuasan terhadap kualitas pelayanan biasanya sulit ditiru. Kualitas pelayanan
    merupalan driver yang mempunyai banyak dimensi, salah satunya yang sangat
    populer adalah servqual
  3. Biaya dan Kemudahan
    Pelangan akan semakin puas apabila relatif mudah, nyaman dan efesiensi dalam
    mendapatkan produk dan pelayan
  4. Harga
    Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetap menetapkan harga yang relatif
    murah akan memberikan nilai yang tinggi
  5. Emosional
    Konsumen merasa puas ketika memuji dia karena menggunakan merek yang
    maha

Kepuasan Pelanggan


Fitria Halim mengumukakan bahwa kata “kepuasan“ atau satsisfaction berasal dari
bahasa latin “satis” (artinya cukup baik, mamadai) dan ‘Facio’ (melakukan atau
membuat), secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya pemenuhan sesuatu. Kemudian
Fatihudin dan Firmansyah dalam Fitria Halim,at all (2021 : 157-158) menyatakan bahwa
kepuasan pelanggan juga dipandang sebagai salah satu indikator terbaik untuk laba masa
depan, faktanya bahwa menarik pelanggan baru jauh lebih mahal dari pada
mempertahankan pelanggan, namun saat ini juga menjadi salah satu pemicu
meningkatnya perhatian pada kepuasan pelanggan perusahaan, berkurangnya elastisitas
harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan meningkatnya efisiensidan
produktivitas keryawan. Wilkie dalam Tjiptono (2019 : 378) mengumukakan bahwa
kepuasan pelanggan sebagai tanggapan emosional pada evaluasi tentang pengalaman
konsumsi suatu produk atau jasa.
Menurut Tjiptono dan Diana (2019:123) menyampaikan bahwa kepuasan
konsumen adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang didapatkan setelah
membandingkan kinerja suatu produk yang dipikirkan terhadap kinerja produk yang
diharapkan. Memperhatikan dan meningkatkan kepuasan pelanggan sangat berguna di
dunia persaingan bisnis. Perusahaan yang memiliki level kepuasan pelanggan yang tinggi
cenderung lebih unggul dibandingkan pesaing lainnya. Volume kepuasan pelanggan yang
tinggi akan menjaga stabilitas penjualan produk atau jasa sehingga arus kas perusahaan
menjadi meningkat.
Menurut Yazid (2012 dalam Lesmana dan Ratnasari, 2019:118) kepuasan
pelanggan adalah ketiadaan perbedaan antara harapan yang dimiliki dan unjuk kerja yang
senyatanya diterima. Apabila harapan tinggi, sementara unjuk kerjanya biasa-biasa saja,
kepuasan tidak akan tercapai (sangat mungkin pelanggan akan merasa kecewa).
Sebaliknya, apabila unjuk kerja melebihi dari yang diharapkan, kepuasan meningkat.
Menurut Indrasari (2019:92) ada beberapa indikator yang mempengaruhi
kepuasan konsumen terdiri dari :

  1. Kesesuaian Harapan, yaitu kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi
    disimpulkan berdasarkan kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan
    pelanggan dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya.
  2. Minat berkunjung kembali, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan
    apakah pelanggan ingin membeli atau menggunakan kembali jasa perusahaan.
  3. Kesediaan merekomendasikan, yaitu kepuasan pelanggan diukur dengan
    menanyakan apakah pelanggan akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut
    kepada orang lain seperti, keluarga, teman dan lainnya.

Indikator Kualitas Pelayanan


Menurut Lupiyoadi dan Hamdani dalam Indrasari (2019 : 63-64) Indikator kualitas
pelayanan sebagai berikut :

  1. Tangibels, kemampuan suatu perusahaan dalam menunjukkan eksistensinya
    kepada pihak eksternal. Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik
    perusahaan yang dapat diandalkan keadaan lingkungan sekitarnya merupakan
    bukti nyata dari pelayanan yang diberikan oleh pemberi jasa.
  2. Reliability, kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan
    yang dijanjikan secara akurat dan terpercaya. Keinerja harus sesuai dengan
    harapan pelanggan yang berarti ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk
    semua pelanggan tanpa kesalahan, sikap yang simpatik, dan dengan akurasi yang
    tinggi
  3. Responsiveness, suatu kebijakan untuk membantu dan memberikan pelayanan
    yang cepat (responsive) dan teapat kepada pelanggan, dengan penyampaian
    informasi yang jelas.
  4. Assurance, pengetahuan, kesopan santunan dan kemampuan para pegawai
    perusahaan untuk menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada
    perusahaan.
  5. Emphaty, memberikan perhatian yamg tulus dan bersifat individual atau pribadi
    yang diberikan kepada para pelanggan dengan berupaya memahami keinginan
    konsumen. Dimana suatu perushaan diharapkan memiliki pengertian dan
    pengetahuan tentang pelanggan.

Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono dalam Indrasari (2019 : 61) kualitas pelayanan adalah suatu
keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan produk, jasa, sumber daya manusia, serta
proses dan lingkungan yang setidaknya dapat memenuhi atau malah dapat melebihi
kualitas pelayanan yang diharapkan. Menurut Tjiptono, definisi kualitas pelayanan ini
adalah upaya pemenuhan kebutuhan yang dibarengi dengan keinginan konsumen serta
ketepatan cara penyampaiannya agar dapat memenuhi harapan dan kepuasan pelanggan
tersebut, dikatakan bahwa service quality atau kualitas layanan adalah pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi
harapan pelanggan.
Menurut Rambat dan Lupiyoadi dalam Indrasari (2019:62) Service quality adalah
seberapa jatuh perbedaan antara harapan dan kenyataan para pelanggan atas pelayanan
yang mereka terima. Service quality dapat diketahui dengan cara membandingkan
persepsi pelanggan atas pelayanan yang benar-benar mereka terima dengan layanan
sesungguhnya yang mereka harapkan. Kualitas Pelayanan yang menjadi hal pertama yang
diperhatikan serius oleh perusahaan, yang melibatkan seluruh sumber daya yang dimiliki
perusahaan.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Indrasari (2019 : 61-62 ) kualitas pelayanan
merupakan keseluruhan dari keistimewaan dan karakteristik dari produk atau jasa yang
menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan secara lansgung maupun tidak
langsung. Produk jasa yang berkualitas mempunyai peranan penting untuk membentuk
kepuasan pelanggan.Kepuasan pelayanan adalah sesuatu yang harus di berikan dan di
upayakan oleh penyedia jasa dengan baik kepada konsumen. Kualitas pelayanan seperti
yang dirasakan oleh para konsumen, berasal dari suatu perbandingan antara apa yang di
harapkan konsumen dengan apa yang di berikan oleh perusahaan.
Kualitas pelayanan atau customer service ini dapat dibedakan kedalam dua kriteria
yaitu jenis kualitas pelayanan yang baik atau kualitas pelayanan yang buruk. Kualitas
pelayanan ini bukanlah suatu hal yang permanen atau kaku, melainkan fleksibel dan dapat
dirubah. Dalam proses perubahan kualitas pelayanan diperlukan beberapa hal untuk
menunjang prosesnya. Misalnya survei atau observasi kepada pelanggan, termasuk
didalam nya berupa masukan, pendapat maupun feedback tentang pelayanan yang telah
diberikan. kualitas pelayanan (service quality) berdasarkan persepsi pelanggan , sebagai
tingkat kesenjangan antara harapan- harapan atau keinginan pelanggan selaras dengan
kenyataan yang mereka alami.
Kualitas menurut ISO 9001 merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik
yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan kebutuhan
pelanggan. Pelanggan yang menentukan dan menilai sampai seberapa jauh sifat dan
karakteristik itu memenuhi kebutuhannya. Berdasarkan definisi tersebut, kualitas adalah
suatu keseluruhan ciri dan karakteristik yang dimiliki suatu produk atau jasa yang dapat
memberikan kepuasan konsumen. Pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan yang
dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud
dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Pelayanan adalah perilaku produsen dalam
rangka memenuhi kebutuhan dan keingian konsumen demi tercapainya kepuasan terhadap
konsumen itu sendiri

Pemasaran Jasa


Rangkuti (2002) menyebutkan bahwa jasa merupakan pemberian suatu
kinerja atau tindakan tak kasat mata dari suatu pihak ke pihak lain. Sedangkan
menurut Kotler (2002), mendefinisikan jasa sebagai setiap tindakan atau kegiatan
yang ditawarkan oleh satu pihak ke pihak lain, pada dasarnya bersifat intangible
(tidak berwujud) dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Jadi dapat
disimpulkan bahwa jasa bukanlah barang, tetapi suatu aktifitas yang tidak dapat
dirasakan secara fisik dan membutuhkan interaksi antara satu pihak ke pihak lain.
Kotler (2000) mengemukakan bahwa terdapat empat karakteristik jasa, antara
lain:

  1. Intangibility (tidak berwujud)
    Jasa tidak berwujud, tidak dapat dilihat, dicicipi, dirasakan, dan didengar
    sebelum membeli.
  2. Inseparability (tidak dipisahkan)
    Jasa tidak dapat dipisahkan dari pengguna jasa itu, baik pengguna jasa itu
    adalah orang maupun mesin. Jasa tidak dapat dijejerkan pada rak-rak
    penjualan dan dapat dibeli oleh konsumen kapan saja dibutuhkan.
  3. Variability (keanekarupaan)
    Jasa sangat beraneka rupa karena tergantung siapa yang menyediakannya dan
    kapan serta dimana disediakan. Seringkali pengguna jasa menyadari akan
    keanekarupaan yang besar ini, sehingga pengguna jasa akan membicarakan
    dengan pengguna yang lain sebelum memilih satu penyedia jasa.
  4. Perishability (tidak tahan lama)
    Jasa tidak dapat tahan lama, karenanya tidak dapat disimpan untuk penjualan
    atau penggunaan di kemudian hari. Sifat jasa yang tidak tahan lama tidak akan
    bermasalah apabila permintaan tetap atau teratur, karena jasa-jasa sebelumnya
    dapat dengan mudah disusun terlebih dahulu, apabila permintaan berfluktuasi,
    permintaan jasa akan dihadapkan pada berbagai masalah sulit. Pemasaran jasa
    tidak sama dengan pemasaran produk. Pertama, pemasaran jasa lebih bersifat
    intangible dan immaterial karena produknya tidak kasat mata dan tidak dapat
    diraba. Kedua, produksi jasa dilakukan saat konsumen berhadapan dengan
    penyedia jasa sehingga pengawasan kualitasnya dilakukan dengan segera. Hal
    ini lebih sulit daripada pengawasan produk fisik. Ketiga, interaksi antara
    konsumen dan penyedia jasa adalah penting untuk mewujudkan produk
    9
    (Rangkuti, 2002). Berdasarkan klasifikasi Organisasi Perdagangan Dunia
    (World Trade Organization-WTO), ruang lingkup klasifikasi bisnis jasa
    meliputi (Rambat Lupiyoadi, 2006):
    a. Jasa bisnis,
    b. Jasa komunikasi,
    c. Jasa konstruksi dan jasa teknik,
    d. Jasa distribusi,
    e. Jasa pendidikan,
    f. Jasa lingkungan hidup,
    g. Jasa keuangan,
    h. Jasa kesehatan dan jasa sosial,
    i. Jasa kepariwisataan dan jasa perjalanan,
    j. Jasa rekreasi, budaya dan olahraga,
    k. Jasa transportasi,
    l. Jasa lain-lain

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Produk atau jasa berkualitas mempunyai peranan penting untuk
membentuk kepuasan pelanggan (Kotler dan Armstrong, 2001). Semakin
berkualitas produk dan jasa yang diberikan, maka kepuasan yang dirasakan oleh
pelanggan semakin tinggi. Bila kepuasan pelanggan semakin tinggi, maka dapat
menimbulkan keuntungan bagi badan usaha tersebut. Pelanggan yang puas akan
terus melakukan pembelian pada badan usaha tersebut. Demikian pula sebaliknya
jika tanpa ada kepuasan, dapat mengakibatkan pelanggan pindah pada produk atau
jasa lain. Tingkat kepuasan adalah fungsi dari perbedaan antara kinerja yang
dirasakan dengan harapan (Kotler, 2005). Dengan demikian, harapan pelanggan
melatarbelakangi mengapa dua organisasi pada jenis bisnis yang sama dapat
dinilai berbeda oleh pelanggannya. Dalam konteks kepuasan pelanggan,
umumnya harapan merupakan perkiraan atau keyakinan pelanggan tentang apa
yang akan diterimanya. Harapan mereka dibentuk oleh pengalaman pembelian
dahulu, komentar teman dan janji dari perusahaan tersebut. Harapan-harapan
pelanggan ini dari waktu ke waktu berkembang seiring dengan semakin
bertambahnya pengalaman pelanggan. Menurut Tjiptono (2006) kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evolusi
ketidaksesuaian (disinformation) yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan
kinerja aktual jasa yang dirasakan bahwa pada persaingan yang semakin ketat ini,
semakin banyak penyedia jasa konstruksi yang terlibat dalam pemenuhan
kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga hal ini menyebabkan setiap badan
usaha harus menempatkan orientasi pada kepuasan pelanggan sebagai tujuan
utama. Badan usaha dapat mengetahui kepuasan dari para konsumennya melalui
umpan balik yang diberikan oleh konsumen kepada badan usaha tersebut sehingga
dapat menjadi masukan bagi keperluan pengembangan dan implementasi serta
peningkatan kepuasan pelanggan. Sehingga dapat diketahui pada saat pelanggan
komplain. Hal ini merupakan peluang bagi badan usaha untuk dapat mengetahui
kinerja dari badan usaha tersebut

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan menurut Laksana (2008:9) adalah harapan sama dengan
kenyataan. Kemudian menurut kotler dalam Laksana (2008:9) kepuasan
pelanggan yaitu: “Customer satisfaction is the outcome felt by buyer who have
experienced a company performance that has fulfilled expectations”.
Maksudnya yaitu menyangkut komponen harapan dan kinerja/hasil yang
dirasakan. Pada umumnya harapan pelanggan merupakan perkiraan atau
keyakinan pelanggan tentang apa yang akan diterima apabila ia membeli atau
mengkonsumsi suatu produk baik bartang maupun jasa, sedangkan kinerja atau
hasil yang dirasakan merupakan persepsi pelanggan terhadap apa yang ia terima
setelah mengkonsumsi produk yang ia beli. Untuk itu manajemen harus
memiliki persepsi yang sama dengan pelanggan agar supaya diperoleh hasil
yang melebihi atau paling tidak sama dengan harapan pelanggan. Keadaan ini
sama seperti yang dikemukanan Gasperz dalam Laksana (2008:10) “Kepuasan
pelanggan dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu keadaan dimana
kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan dapat terpenuhi melalui produk
yang dikonsumsi”.
Day (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa “kepuasan atau
ketidakpuasan pelanggan adalah respon pelanggan terhadap evaluasi
ketidaksesuaian (disconfirmation) yang dirasakan antara harapan sebelumnya
(atau norma kinerja lainnya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah
pemakaiannya”.
Engel, et al., 1990 (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa
“kepuasan pelanggan merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang
dipilih sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan pelanggan,
sedangkan ketidakpuasan timbul apabila hasil (outcome) tidak memenuhi
harapan”.
Kotler, et al., 1996 (dalam Tjiptono, 2004: 146), menyatakan bahwa
“kepuasan pelanggan adalah tingkat perasaaan seseorang setelah
membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan
harapannya”

Kualitas Jasa


Sebenarnya tidaklah mudah mendefinisikan kualitas dengan tepat.
Menurut Goetsh dan Davis dalam Tjiptono (2004:51) yaitu “bahwa kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa,
manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.
Sedangkan definisi kualitas jasa berpusat pada upaya pemenuhan
kebutuhan dan kinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan

Karakteristik Jasa


Menurut Griffin dalam Lupiyoadi (2011:6) karakteristik jasa terdiri dari:

  1. Intangibility (tidak berwujud). Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba,
    didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Nilai penting dari hal ini
    adalah nilai tak berwujud yang dialami pelanggan dalam bentuk
    kenikmatan, kepuasan, atau kenyamanan.
  2. Unstorability (tidak dapat disimpan). Jasa tidak mengenal persediaan atau
    penympanan dari produk yang telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut
    juga inseparability (tidak dapat dipisahkan), mengingat pada umumnya jasa
    dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
  3. Customization (kustomisasi). Jasa sering kali didesain khusus untuk
    memenuhi kebutuhan pelanggan.
    Sedangkan menurut Gasperz dalam Laksana (2008:86) Karakteristik jasa
    terdiri dari 12 karakteristik, yaitu:
    a. Pelayanan merupakan output tak berbentuk (intangible output).
    b. Pelayanan merupakan output variable, tidak standar
    c. Pelayanan tidak dapat disimpan dalam inventori, tetapi dapat dikonsumsi
    dalam produksi.
    d. Terdapat hubungan langsung yang erat dengan pelanggan melalui proses
    pelayanan.
    e. Pelanggan berpartisipasi dalam proses memberikan pelayanan.
    f. keterampilan personil diserahkan atau diberikan secara langsung kepada
    pelanggan.
    g. Pelayanan tidak dapat diproduksi secara masal.
    h. Membutuhkan pertimbangan pribadi yang tinggi dari individu yang
    memberikan pelayanan.
    i. Perusahaan jasa pada umumnya bersifat padat karya.
    j. Fasilitas pelayanan berada dekat lokasi pelanggan.
    k. Pengukuran efektivitas pelayanan bersifat subyektif.
    l. Option penetapan harga lebih rumit

Definisi Jasa


Menurut Kotler dalam Yazid (2008:2) jasa dirumuskan sebagai “setiap
tindakan atau unjuk kerja yang ditawarkan oleh salah satu pihak ke pihak lain
yang secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan perpindahan
kepemilikan apa pun. Produksinya bisa terkait dan bisa juga tidak terikat pada
suatu produk fisik”.
Sedangkan menurut Berry, dalam Yazid (2008:2) mendefinisikan “jasa
sebagai deeds (tindakan, prosedur, aktivitas); proses-proses, dan unjuk kerja
yang intangible”

Dimensi Kualitas Pelayanan Jasa


Konsep ServQual atau dimensi kualitas pelayanan adalah konsep yang
paling banyak digunakan oleh pelaku bisnis di seluruh dunia yang
berkecimpung dalam hal pelayanan pelanggan. Menurut Parasuraman, Berry
dan Zeithaml dalam Irawan (2002: 57), konsep ServQual (dimensi kualitas
pelayanan) terbagi menjadi 5 (lima) dimensi yaitu:

  1. Bukti Fisik (Tangible)
    Dimensi pertama dari kualitas pelayanan adalah Tangible. Karena suatu
    jasa tidak bisa dilihat, dicium, dan juga tidak bisa diraba, maka aspek tangible
    menjadi penting sebagai ukuran terhadap pelayanan. Pelanggan akan
    menggunakan indra penglihatan untuk menilai suatu kualitas pelayanan.
    Penampilan dan kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan dan
    keadaan lingkungan sekitarnya adalah bukti nyata dari pelayanan yang
    diberikan oleh pemberi jasa. Tangible yang baik akan mempengaruhi persepsi
    pelanggan. Pada saat yang bersamaan aspek tangible ini juga merupakan
    salah satu sumber yang mempengaruhi harapan pelanggan, karena tangible
    yang baik, maka harapan pelanggan menjadi lebih tinggi. Oleh karena itu,
    penting bagi suatu perusahaan untuk mengetahui seberapa jauh aspek tangible
    yang paling tepat, yaitu masih memberikan impresi yang positif terhadap
    kualitas pelayanan yang diberikan tetapi tidak menyebabkan harapan
    pelanggan yang terlalu tinggi.
  2. Kehandalan (Reliability)
    Kepuasan pelanggan terhadap pelayanan juga ditentukan oleh dimensi
    reliability, yaitu dimensi yang mengukur kehandalan dari perusahaan dalam
    memberikan pelayanan kepada pelanggannya, dibandingkan dengan dimensi
    yang lain, dimensi ini sering dianggap paling penting bagi pelanggan dari
    berbagai industri jasa. Ada 2 (dua) aspek dalam dimensi ini. Pertama adalah
    kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan seperti yang dijanjikan.
    Kedua adalah seberapa jauh suatu perusahaan mampu memberikan pelayanan
    yang akurat atau tidak ada error (kesalahan).
  3. Daya Tanggap (Responsiveness)
    Responsiveness adalah dimensi kualitas pelayanan yang paling dinamis.
    Harapan pelanggan terhadap kecepatan pelayanan hampir dapat dipastikan
    akan berubah dengan kecenderungan naik dari waktu ke waktu.
    Responsiveness merupakan suatu kemauan untuk membantu dan memberikan
    pelayanan yang cepat dan tepat kepada pelanggan dengan penyampaian
    informasi yang jelas. Pelayanan yang cepat atau tanggap juga sangat
    dipengaruhi oleh sikap front-line staff. Salah satunya adalah kesigapan dan
    ketulusan dalam menjawab pertanyaan atau permintaan pelanggan. Kepuasan
    pelanggan dalam hal ini juga sering ditentukan melalui pelayanan melalui
    telepon.
  4. Jaminan (Assurance)
    Dimensi assurance yaitu dimensi kualitas yang berhubungan dengan
    kemampuan perusahaan dan perilaku front-line staff dalam menanamkan rasa
    percaya dan keyakinan kepada para pelanggannya. Ada 4 (empat) aspek
    dalam dimensi ini. Aspek pertama adalah keramahan, merupakan salah satu
    aspek kualitas pelayanan yang paling mudah diukur dan juga relatif mudah.
    Aspek kedua yaitu kompetensi, pelanggan sulit percaya bahwa kualitas
    pelayanan akan dapat tercipta dari front-line staff yang tidak kompeten. Oleh
    karena itu sangatlah penting untuk memberikan pelatihan kepada karyawan
    mengenai pengetahuan produk dan hal-hal lain yang sering menjadi
    pertanyaan pelanggan. Aspek ketiga yaitu kredibilitas, keyakinan pelanggan
    terhadap kualitas pelayanan suatu perusahaan banyak dipengaruhi oleh
    kredibilitas atau reputasi dari perusahaan tersebut. Aspek keempat yaitu
    keamanan, pelanggan mempunyai rasa aman dalam melakukan transaksi.
    Aman karena perusahaan jujur dalam bertransaksi.
  5. Empati (Empathy)
    Dimensi empathy adalah dimensi yang memberikan perhatian yang tulus
    dan bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan
    dengan berupaya memahami keinginan pelanggan. Dimensi empathy adalah
    dimensi yang memberikan peluang besar untuk memberikan pelayanan yang
    bersifat “surprise”. Sesuatu yang tidak diharapkan pelanggan, ternyata
    diberikan oleh penyedia jasa. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk
    menyenangkan pelanggan. Hal ini misalnya, dapat dilakukan dengan
    memberikan hadiah saat anak atau orang tua pelanggan ulang tahun.
    Pelayanan yang berempati, akan mudah diciptakan kalau setiap karyawan
    perusahaan mengerti kebutuhan spesifik pelanggannya dan menyimpan hal ini
    dalam hatinya

Pengertian Kualitas Pelayanan Jasa


Menurut Gravin dan Davis dalam Nasution (2004: 144), “kualitas
merupakan suatu kondisi dinamis yang berpengaruh dengan produk, jasa,
manusia, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan pelanggan”. Sedangkan, Pelayanan (service) menurut Kotler dalam
Laksana (2008: 85), “adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat
ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak
berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun”.
“Pada dasarnya kualitas jasa berfokus pada upaya pemenuhan
kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk
mengimbangi harapan pelanggan” (Tjiptono, 2004: 59). Sementara itu,
menurut Wyckof (Tjiptono, 2004: 59), menyatakan bahwa “kualitas jasa
merupakan tingkat kesempurnaan yang diharapkan dan pengendalian atas
kesempurnaan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan”.

Definisi Pelanggan


Pelanggan adalah orang yang menjadi pembeli produk yang telah dibuat
dan dipasarkan oleh sebuah perusahaan, dimana orang ini bukan hanya sekali
membeli produk tersebut tetapi berulang-ulang.
Sedangkan menurut Nasution (2004:102) pelanggan suatu perusahaan
adalah orang yang memebeli dan menggunakan produk suatu perusahaan.
Menurut Gasperz dalam Laksana (2008:10) pengertian pelanggan ada tiga
yaitu:

  1. Pelanggan internal (Internal Customer)
    Merupakan orang yang berada dalam perusahaan dan memiliki pengaruh
    pada performansi (Performance) pekerjaan atau perusahaan kita.
  2. Pelanggan antara (Intermedieate Customer)
    Merupakan mereka yang bertindak atau berperan sebagai perantara bukan
    sebagai pemakai akhir produk itu.
  3. Pelanggan Eksternal (Eksternal Customer)
    Merupakan pembeli atau pemakai akhir produk itu, yang sering disebut-
    sebut sebagai pelanggan nyata (Real Customer).

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen


Kualitas memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk menjalin ikatan
hubungan yang kuat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang, ikatan seperti ini
memungkinkan perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan konsumen serta
kebutuhan mereka sehingga perusahaan dapat meningkatkan kepuasan konsumen dengan cara
memaksimalkan pengalaman konsumen yang menyenangkan dan meminimalkan atau
meniadakan pengalaman pelanggan yang kurang menyenangkan. Sehingga dengan konsumen
merasa puas pada pelayanan yang diberikan akan membangun kepuasan paa diri konsumen
tersebut.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Konsumen


Teori yang di kemukakan oleh (Supriyadi, 2004 :84)yaitu “berkaitan dengan berbagai
hal seperti wujud atau produk, warna dan bahan pembuatnya. Bentuk produk yang menarik akan
meningkatkan daya beli konsumen untuk menggunakan produknya”. Kualitas produk
merupakan suatu kondisi yang dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,
proses, lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Jika kualitas produk yang dirasakan
konsumen memenuhi harapan mereka, maka konsumen akan merasa puas dan diharapkan
kembali membeli produk tersebut

Tujuan Penetapan Harga


Penjual barang dalam menetapkan harga dapat mempunyai tujuan yang berbeda satu sama lain
antar penjual maupun antar barang yang satu dengan yang lain. Tujuan penetapan harga menurut
Harini (2008: 55) adalah sebagai berikut:

  1. Penetapan harga untuk mencapai penghasilan atas investasi. Biasanya besar keuntungan dari
    suatu investasi telah ditetapkan prosentasenya dan untuk mencapainya diperlukan penetapan
    harga tertentu dari barang yang dihasilkannya.
  2. Penetapan harga untuk kestabilan harga. Hal ini biasanya dilakukan untuk perusahaan yang
    kebetulan memegang kendali atas harga. Usaha pengendalian harga diarahkan terutama untuk
    mencegah terjadinya perang harga, khususnya bila menghadapi permintaan yang sedang
    menurun.
  3. Penetapan harga untuk mempertahankan atau meningkatkan bagiannya dalam pasar. Apabila
    perusahaan mendapatkan bagian pasar dengan luas tertentu, maka ia harus berusaha
    mempertahankannya atau justru mengembangkannya. Untuk itu kebijaksanaan dalam
    penetapan harga jangan sampai merugikan usaha mempertahankan atau mengembangkan
    bagian pasar tersebut.
  4. Penetapan harga untuk menghadapi atau mencegah persaingan. Apabila perusahaan baru
    mencoba-coba memasuki pasar dengan tujuan mengetahui pada harga berapa ia akan
    menetapkan penjualan. Ini berarti bahwa ia belum memiliki tujuan dalam menetapkan harga
    coba-coba tersebut.
  5. Penetapan harga untuk memaksimir laba. Tujuan ini biasanya menjadi anutan setiap usaha
    bisnis. Kelihatannya usaha mencari untung mempunyai konotasi yang kurang enak seolah-olah
    menindas konsumen. Padahal sesungguhnya hal yang wajar saja. Setiap usaha untuk bertahan
    hidup memerlukan laba. Memang secara teoritis harga bisa berkembang tanpa bata

Harga


Kotler dan Amstrong (2001:73) mengatakan bahwa harga (price) adalah sejumlah uang
yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh produk. Variabel ini merupakan hal yang
dapat dikendalikan dan menentukan diterima atau tidaknya suatu produk oleh konsumen. Harga
semata-mata tergantung pada kebijakan perusahaan tetapi tentu saja dengan mempertimbangkan
berbagai hal. Murah atau mahalnya harga suatu produk sangat relatif sifatnya. Oleh karena itu,
perlu dibandingkan terlebih dahulu dengan harga produk serupa yang diproduksi atau dijual oleh
perusahaan lain. Dengan kata lain, perusahaan harus selalu memonitor harga yang ditetapkan oleh
para pesaing, agar harga yang ditentukan oleh perusahaan tersebut tidak terlalu tinggi atau
sebaliknya. Sedangkan menurut Kotler (2005: 340) harga adalah salah satu bauran pemasaran yang
menghasilkan pendapatan, unsur lainnya menghasilkan biaya.Menurut Basu Swastha (2005:185)
harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk
mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa harga memiliki fungsi sebagai alat ukur
nilai suatu barang, cara membedakan suatu barang, menentukan jumlah barang yang akan
diproduksi dan pembagiannya kepada konsumen.
Menurut Kotler dan Armstrong yang dialihbahasakan oleh Alexander Sindoro dan Benyamin
Molan (2012: 318), menjelaskan ada empat ukuran yang dapat mencirikan harga, yaitu
keterjangkauan harga, kesesuaian harga dengan kualitas produk, kesesuaian harga dengan manfaat
dan daya saing.

  1. Keterjangkaun Harga
    Konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Produk biasanya
    ada beberapa jenis dalam satu merek harganya juga berbeda dari yang termurah sampai termahal.
  2. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
    Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering memilih
    harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka melihat adanya perbedaan kualitas.
    Apabila harga lebih tinggi orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
  3. Kesesuaian harga dengan manfaat
    Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang dirasakan lebih besar
    atau sama dengan yang telah dikeluarkan untuk mendapatkannya. Jika konsumen merasakan
    manfaat produk lebih kecil dari uang yang dikeluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa
    produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk melakukan pembelian ulang.
  4. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
    Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk lainnya, dalam hal
    ini mahal murahnya suatu produk sangat dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan
    membeli produk tersebut.

Kualitas Pelayanan


Layanan yang baik menjadi salah satu syarat kesuksesan dalam perusahaan. Kualitas
layanan sering diartikan sebagai perbandingan antara layanan yang diharapkan dengan layanan
yang diterima secara nyata. Dalam Tjiptono (2005) menyatakan bahwa Lewis & Booms (1983)
merupakan pakar yang pertama kali mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai ukuran seberapa
bagus tingkat layanan yang diberikan mampu sesuai dengan ekspektasi pelanggan Poin utamanya
adalah pelayanan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh seorang penjual kepada pembeli
/ konsumennya demi memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Perilaku tersebut bertujuan
pada tercapainya kepuasan pelanggan itu sendiri. Sebuah pelayanan dapat dilakukan pada saat
konsumen memilih produk maupun setelah selesai melakukan transaksi pembelian produk.
Kualitas pelayanan yang baik akan memberikan dampak yang baik pula bagi perusahaan karena
akan menjadi pelanggan yang royal dan memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Kualitas pelayanan memiliki beberapa dimensi atau unsur kualitas pelayanan. Unsur-unsur
kualitas pelayanan merupakan hasil temuan penelitian dari teori kualitas pelayanan yang
disampaikan oleh A. Pasuraman. Sebagai salah satu tokoh pionir dalam pengukuran kualitas
pelayanan, Pasuraman mencetuskan dimensi servqual. Dimensi ini dibuat untuk mengukur
kualitas pelayanan dengan menggunakan suatu kuisioner. Teknik servqual dapat mengetahui
seberapa besar jarak harapan pelanggan dengan ekspektasi pelanggan terhadap pelayanan yang
diterima. Servqual memiliki 5 dimensi, diantaranya adalah:

  1. Tangibles (Berwujud)
    Tangibles adalah bukti konkret kemampuan suatu perusahaan untuk menampilkan yang terbaik
    bagi pelanggan. Baik dari sisi fisik tampilan bangunan, fasilitas, perlengkapan teknologi
    pendukung, hingga penampilan karyawan
  2. Realibility (Keandalan)
    Reliability adalah kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan
    harapan konsumen terkait kecepatan, ketepatan waktu, tidak ada kesalahan, sikap simpatik, dan
    lain sebagainya.
  3. Responsiveness (Ketanggapan)
    Responsiveness adalah tanggap memberikan pelayanan yang cepat atau responsif serta diiringi
    dengan cara penyampaian yang jelas dan mudah dimengerti.
  4. Assurance (Jaminan)
    Assurance adalah jaminan dan kepastian yang diperoleh dari sikap sopan santun karyawan,
    komunikasi yang baik, dan pengetahuan yang dimiliki, sehingga mampu menumbuhkan rasa
    percaya pelanggan.
  5. Empathy (Empati)
    Empathy adalah memberikan perhatian yang tulus dan bersifat pribadi kepada pelanggan, hal ini
    dilakukan untuk mengetahui keinginan konsumen secara akurat dan spesifik

Kualitas Produk


Pengertian Kualitas Produk. Perusahaan selalu berusaha memuaskan
konsumen mereka dengan menawarkan produk berkualitas. Produk yang
berkualitas adalah produk yang memiliki manfaat bagi pemakainya (konsumen).
Seseorang yang membutuhkan suatu produk akan membayangkan manfaat apa saja
yang bisa diperoleh dari produk yang akan dipergunakan. Manfaat suatu produk
merupakan konsekuensi yang diharapkan konsumen ketika membeli dan
menggunakan suatu produk. Menurut Kotler (2007: 49), kualitas produk
merupakan ciri dan karakteristik suatu barang atau jasa yang berpengaruh pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Produk yang
berkualitas tinggi sangat diperlukan agar keinginan konsumen dapat dipenuhi. Keinginan
konsumen yang terpenuhi sesuai dengan harapannya akan membuat konsumen menerima
suatu produk bahkan sampai loyal terhadap produk tersebut.
Menurut Tjiptono (2008), kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk
yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggan. Kualitas suatu produk baik berupa
barang atau jasa ditentukan melalui dimensi-dimensinya. Dimensi kualitas produk menurut
Tjiptono (2008) adalah::
a) Kinerja (performance) hal ini berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan
merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang
tersebut
b) Ciri-ciri atau keisitimewaan tambahan (features), yaitu
aspek performansi yang berguna untuk menambah fungsi dasar, berkaitan dengan
pilihan-pilihan produk dan pengembangannya.
c) Keandalan (reliability), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau
gagal dipakai
d) Serviceability yaitu karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, kompetensi, kemudahan,
dan akurasi dalam memberikan layanan untuk perbaikan barang.
e) Kualitas yang dipersepsikan (perceives quality) yaitu citra dan reputasi produk serta
tanggung jawab perusahaan terhadapnya

Strategi Kepuasan Konsumen


Menurut Tjiptono (2008:40), terdapat beberapa strategi kepuasan konsumen
yaitu:

  1. Relationship Marketing
    Strategi dimana stransaksi pertukaran antara konsumen dan perusahaan
    berkelanjutan, tidak berakhir setelah pembelian pertama.
  2. Superior Customer Service
    Strategi dimana perusahaan menerapkan/menawarkan pelayanan yang lebih unggul
    dari perusahaan lainnya.
  3. Unconditional Guarantees
    Strategi dimana perusahaan memberikan jaminan kualitas produk yang ditawarkan.
  4. Strategi penanganan keluhan yang efisien
    penyebab jasa akan mengetahui hal yang perlu diperbaiki dalam pelayanan saat ini,
    penyedia jasa akan mengetahui sumber masalah operasainya, karyawan dapat
    termotivasi untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dengan lebih baik.
    Berdasarkan studi literatur dan pengalaman, (Irawan, 2002: 37- 40),
    mengemukakan beberapa faktor yang membentuk kepuasan konsumen

Ciri-Ciri Konsumen Yang Tidak Puas


Salah satu alasan yang menyebabkan ketidakpuasan konsumen adalah tidak
terpenuhinya harapan seperti yang diinginkan. Misalkan alasan kualitas yang tidak
bagus, pelayanan yang tidak memuaskan, harga yang mahal. Menurut Tjiptono
(2008:50), konsumen yang puas akan membeli dan mencoba lagi tetapi jika
sebaliknya kemungkinan akan melakukan komplain dan komplain tersebut harus
dapat terselesaikan sampai konsumen terpuaskan

Ciri-Ciri Konsumen Yang Puas


Kotler (2009) menyatakan ciri-ciri konsumen yang merasa puas sebagai
berikut:
a) Loyal terhadap Produk
Konsumen yang puas terhedap suatu produk cenderung akan menjadi
konsumen yang loyal terhadap suatu produk
b) Adanya komunikasi yang positf dari mulut ke mulut
Komunikasi dari mulut ke mulut yang positif akan bersifat rekomendasi,
dari konsumen 1 ke konsumen yang lain. Sehingga nama dari produk akan naik
secara sendirinya. Calon konsumen akan berdatangan dan menambah penghasilan

Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Konsumen


Lupiyoadi (2001) mengungkapkan bahwa ada lima faktor dalam
menentukan kepuasan konsumen yang harus diperhatikan oleh perusahaan, yaitu:
a. Kualitas produk, yaitu konsumen akan merasa puas bila produk yang mereka
gunakan berkualitas baik.
b. Kualitas pelayanan atau jasa, yaitu konsumen akan merasa puas bila mereka
mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan.
c. Emosi, yaitu konsumen akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan merek
tertentu yang cenderung mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
d. Harga, yaitu produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan
harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada
konsumen.
e. Biaya, yaitu konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak
perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung puas
terhadap produk atau jasa tersebut.
Menurut Umar (2005) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen ada
dua, yaitu:
a. Mutu produk merupakan ciri serta sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada
kemampuannya memenuhi kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat.
b. Pelayanan, terdiri dari kegiatan penjualan dan setelah penjualan, kegiatan
penjualan merupakan penghasil serangkaian sikap tertentu konsumen mengenai
perusahaan, produk dan tingkat kepuasan yang diharapkan oleh konsumen dan
kegiatan setelah penjualan merupakan sikap sebagai penilaian konsumen atas
pelayanan perusahaan

Aspek-Aspek Kepusan Konsumen


Menurut Kotler (2009:86) mengatakan bahwa kepuasan (satisfaction)
adalah perasaan senang atau kecewa yang timbul karena membandingkan kinerja
yang di persepsikan produk atau hasil terhadap ekspetasi mereka. Jika kinerja
gagal memenuhi ekspetasi, pelanggan akan tidak merasa puas. Jika kinerja sesuai
dengan ekspetasi, maka konsumen akan merasa puas.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen mengatakan bahwa
kepuasan konsumen sangat bergantung kepada persepsi dan harapan konsumen.
Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan konsumen antara
lain :
a. Faktor Personal
Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang dirasakan
konsumen ketika sedang mencoba melakukan transaksi dengan produsen produk.
b. Faktor Situasi
Pengalaman masa lalu ketika mengkonsumsi produk dari perusahaan maupun
pesaing- pesaingnya.
Tjiptono dan Diana (2015) mengemukakan pendapat bahwa terdapat lima aspek
pada kepuasan konsumen yaitu:
a. Expectations (harapan) diartikan konsumen menyusun harapan tentang apa yang
akan diterima dari produk.
b. Performance (kinerja) yaitu selama kegiatan konsumsi, konsumen merasakan
kinerja dan manfaat dari produk secara aktual dilihat dari dimensi kepentingan
konsumen.
c. Comparison (perbandingan) yaitu setelah mengkonsumsi, baik harapan sebelum
pembelian dan persepsi kinerja aktual dibandingkan oleh konsumen.
d. Confirmation atau disconfirmation yaitu penegasan dari harapan konsumen,
apakah harapan pra-pembelian dengan persepsi pembelian sama atau tidak.
e. Discrepancy (ketidaksesuaian) yaitu diskonfirmasi yang negatif menentukan
kinerja yang aktual ada dibawah tingkat harapan maka semakin besar
ketidakpuasan konsumen.
Menurut Dutka (dalam Saidani & Arifin, 2012) terdapat tiga dimensi dalam
mengukur kepuasan konsumen secara universal yaitu:
a. Attributes related to product yaitu dimensi kepuasan yang berkaitan dengan
atribut dari produk seperti penetapan nilai yang didapatkan dengan harga,
kemampuan produk menentukan kepuasan, benefit dari produk tersebut.
b. Attributes related to service yaitu dimensi kepuasan yang berkaitan dengan
atribut dari pelayanan misalnya dengan garansi yang dijanjikan, proses pemenuhan
pelayanan atau pengiriman, dan proses penyelesaian masalah yang diberikan.
c. Attributes related to purchase yaitu dimensi kepuasan yang berkaitan dengan
atribut dari keputusan untuk membeli atau tidaknya dari produsen seperti
kemudahan mendapat informasi, kesopanan karyawan dan juga pengaruh reputasi
perusahaan

Pengertian Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen menurut Kotler (2000) adalah tingkat perasaan
seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang konsumen rasakan
dibandingkan dengan harapannya. Jadi tingkat kepuasan konsumen adalah fungsi
dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Konsumen dapat
mengalami salah satu dari tiga tingkat kepuasan yang umum. Kalau kinerja di
bawah harapan, konsumen kecewa. Kalau kinerja sesuai harapan, konsumen puas.
Kalau kinerja melebihi harapan, konsumen sangat puas, senang atau gembira.
Kotler dan Keller (2008) mengungkapkan bahwa kepuasan konsumen
adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang timbul karena membandingkan
kinerja yang dipersepsikan produk (atau hasil) terhadap ekspektasi konsumen. Jika
kinerja gagal memenuhi ekspektasi, konsumen akan tidak puas atau kecewa. Jika
kinerja sesuai dengan ekspektasi, konsumen akan puas. Jika kinerja melebihi
ekspektasi, konsumen akan sangat puas atau senang.
Kepuasan konsumen (consumer satisfaction) merupakan keseluruhan sikap
yang ditunjukkan konsumen atas barang dan jasa setelah konsumen memperoleh
dan menggunakannya. Ini merupakan penilaian evaluatif paska pemilihan yang
disebabkan oleh seleksi pembelian khusus dan pengalaman menggunakan atau
mengkonsumsi barang atau jasa tersebut Ini juga berarti bahwa tingkat kepuasan
merupakan fungsi dari perbedaan antara harapan dengan kinerja layanan. (Mowen
&Minor, 2002).
Mohsan (2011;263) mengungkapkan bahwa kepuasan adalah keseluruhan
dari sikap atau perilaku pelanggan terhadap pelayanan yang diberikan atau sebuah
reaksi emosional terhadap perbedaan anatara apa yang diharapkan pelanggan dan
apa yang mereka terima, mengenai pemenuhan beberapa kebutuhan, keinginan atau
tujuan. Menurut Robert-Lombard (dalam vuuren 2012:84) kepuasan pelanggan
adalah sejauh mana suatu produk atau kinerja pelayanan dalam sebuah bisnis sesuai
dengan harapan pelanggan. Jika kinerja sesuai atau melebihi harapan, maka
pelanggan akan puas, jika kinerja dibawah harapan maka pelanggan tidak puas.
Winardi (2001) mengemukakan bahwa kepuasan pelanggan adalah
perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah mendapat dan
membandingkan atau kesannya terhadap kinerja suatu produk dan harapan-
harapannya.
Supranto (2002) mengemukakan tiga hal yang dibutuhkan pelanggan
terhadap pelayanan :
a.Keberadaan pelayanan yaitu kecepatan karyawan dalam membantu pelanggan,
ketika tiba untuk melaksanakan janji.
b.Ketanggapan pelayanan yaitu lamanya waktu menunggu dan kecepatan
pelayanan terhadap pelanggan.
c.Profesionalisme dalam pelayanan yaitu sikap para karyawan ketika berhadapan
dengan pelanggan.
Kepuasan dan ketidakpuasan merupakan respons pelanggan terhadap
evaluasi ketidaksesuaian yang dirasakan antara harapan sebelumnya dan kinerja
produk jasa yang dirasakan setelah pemakaiannya (Day dalam Tjiptono, 2008).
Dengan demikian, Kepuasaan merupakan perbedaan antara kinerja yang dirasakan
dengan harapan.

Teori SOR (Stimulus, Organism, Respon)


Teori S-O-R sebagai singkatan dari Stimulus – Organism – Response ini
semula berasal dari psikolog. Kalau kemudian menjadi juga teori komunikasi,
tidak mengherankan karena objek material dan psikologi dan ilmu komunikasi
adalah sama, yaitu manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen sikap,
opini, perilaku, kognisi, afeksi dan konasi (Effendi, 2003:254). Menurut stimulus
respon ini, efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus,
sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara
pesan dan reaksi komunikan.
Teori S-O-R menjelaskan bagaimana suatu rangsangan mendapatkan
respon. Tingkat interaksi yang paling sederhana terjadi apabila seseorang
melakukan tindakan dan diberi respon oleh orang lain. Menurut Fisher istilah S-R
kurang tepat karena adanya intervensi organisme antara stimulus dan response
sehingga dipakai istilah S-O-R (Stimulus-Organism-Response).

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen Lupiyoadi
(2001), menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan dalam kaitannya
dengan kepuasan konsumen, antara lain:
a. Kualitas produk konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan
berkualitas bagi seseorang, jika produk itu dapat memenuhi kebutuhanya
(Montgomery dalam Lupiyoadi, 2001). Kualitas produk ada dua yaitu eksternal
dan internal. Salah satu kualitas produk dari faktor eksternal adalah citra merek.
b. Kualitas pelayanan konsumen akan merasa puas bila mendapatkan
pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan harapan.
c. Emosional konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena
menggunakan merek yang mahal.
d. Harga produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan
harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi.
e. Biaya konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau
tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa
cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut. Berdasarkan uraian di atas
maka faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen menurut Lupiyoadi
(2001) salah satunya adalah kualitas produk. Produk dikatakan berkualitas jika
terpenuhi harapan konsumen berdasarkan kinerja aktual produk

Elemen Kepuasan Pelangggan


Elemen kepuasan konsumen menurut Wilkie (1994) yaitu:

  1. Expectations: Harapan konsumen terhadap suatu barang atau jasa telah
    dibentuk sebelum konsumen membeli barang atau jasa tersebut. Pada saat proses
    pembelian dilakukan, konsumen berharap bahwa barang atau jasa yang mereka
    terima sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka. Barang atau jasa
    yang sesuai dengan harapan konsumen akan menyebabkan konsumen merasa
    puas.
  2. Performance: Pengalaman konsumen terhadap kinerja aktual barang atau
    jasa ketika digunakan tanpa diperngaruhi oleh harapan mereka. Ketika kinerja
    aktual barang atau jasa berhasil maka konsumen akan merasa puas.
  3. Comparison: Hal ini dilakukan dengan membandingkan harapan kinerja
    barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi kinerja aktual barang atau jasa
    tersebut. Konsumen akan merasa puas ketika harapan sebelum pembelian sesuai
    atau melebihi perepsi mereka terhadap kinerja aktual produk.
  4. Confirmation/disconfirmation: Harapan konsumen dipengaruhi oleh
    pengalaman mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa yang
    berbeda dari orang lain. Confirmation terjadi bila harapan sesuai dengan kinerja
    aktual produk. Sebaliknya disconfirmation terjadi ketika harapan lebih tinggi atau
    lebih rendah dari kinerja aktual produk, konsumen akan merasa puas ketika tejadi
    confirmation / discofirmation.
    Ada empat komponen yang membentuk kepuasan pelanggan, yaitu:
  5. Stimulus, Stimulus adalah rangsangan yang dapat diterima pelanggan
    dengan baik melalui indra (mata, telinga, rasa, bau). Rangsangan bisa berupa fisik
    (tempat parkir, alatcanggih, ruangan perawatan) dan non fisik seperti sikap dan
    perilaku perawatan atau dokter serta prosedur pemeriksaan. Rangsangan akan
    diamati oleh pasien dan dinilai (dipersepsi) serta direspons pasien secara sadar
    atau tidak sadar.
  6. Penilaian pelanggan, Value dapat dinyatakan dalam atribut baik, jelek,
    dingin, lucu, membantu, sikap positif, negatif, dan netral.
  7. Reaksi, Reaksi pelanggan dalam konteks afektif dan kognitif dapat berupa
    perasaan puas, tidak puas, senang, tidak senang, marah, atau sedih. Reaksi
    maupun penilaian atas stimulus dipengaruhi pula oleh perbedaan karakteristik
    individu.
  8. Perbedaan karakteristik individu., Yaitu predisposisi (umur, jenis
    kelamin), perilaku sebelumnya dan pengalaman pribadi dalam pelayanan
    kesehatan sebelumnya

Ciri-Ciri Pelanggan yang Puas


Ciri konsumen yang puas Kotler, (2014) menyatakan ciri-ciri konsumen yang
merasa puas sebagai berikut:
a. Loyal terhadap produk konsumen yang puas cenderung loyal dimana
mereka akan membeli ulang dari produsen yang sama.
b. Adanya komunikasi dari mulut ke mulut yang bersifat positif. Komunikasi
dari mulut ke mulut (word of mouth communication) yang bersifat positif yaitu
rekomendasi kepada calon konsumen lain dan mengatakan hal-hal yang baik
mengenai produk dan perusahaan. Akhirnya perusahaan harus menyerahkan
kepuasan yang dapat diterima kepada pihak berkepentingan lainnya. Ini
membutuhkan keseimbangan yang amat halus, pemasar harus terus menghasilkan
nilai dan kepuasan bagi pelanggan lebih tinggi tetapi tetap tidak memberikan
segala-segalanya.
c. Perusahaan menjadi pertimbangan utama ketika membeli merek lain.
Ketika konsumen ingin membeli produk yang lain, maka perusahaan yang telah
memberikan kepuasan kepadanya akan menjadi pertimbangan yang utama.
Sebagai contoh pada pelayanan kesehatan. Ciri – ciri pasien yang puas
dengan pelayanan di rumah sakit yaitu: menggunakan pelayanan rumah sakit bila
suatu hari membutuhkan kembali, menganjurkan orang lain menggunakan tempat
kita, dan membela kita bila ada orang lain menjelekkan pelayanan kita. Pada
akhirnya menjadikan rumah sakit berlaba, bisa hidup terus, dan berkembang.
Keuntungan pada karyawan dan manajemen akan menimbulkan etos kerja serta
pelayanan yang lebih berkualitas. Sebaliknya, pasien yang tidak puas akan
meninggalkan rumah sakit dan tidak membela kita, lalu akhirnya rumah sakit akan
rugi dan tidak beroperasi lagi.

Strategi Kepuasan Pelanggan


Berbicara mengenai strategi artinya juga berada dalam kondisi persaingan
dengan kompetitor. Masing-masing berusaha menarik lebih banyak pelanggan
demi kelangsungan usahanya. Dalam era persaingan bebas tidak ada satupun yang
aman tanpa persaingan. Dalam pemasaran Jasa menyatakan bahwa:
Ada dua strategi yang menjadi dasar dalam menghadapi perilaku
konsumen/pelanggan yaitu:

  1. Strategi menyerang bersikap agresif dalam menjerat pelanggan, agresif
    dalam arti memiliki persiapan menyerang yang matang dan cukup kuat untuk
    menyerang. Caranya menerapkan strategi ini dengan cara Melakukan promosi
    atau advertisement yang menerangkan bahwa perusahaan anda memiliki fasilitas
    pelayanan lebih baik dibanding sebelumnya. Banyak jalan untuk mempromosikan
    usaha, misalnya dengan iklan dimedia massa maupun spanduk, billboard yang
    dipasang dilokasi strategis. Memberikan hadiah (dapat berupa service gratis atau
    souvenir kecil) kepada pelanggan lama yang dapat membawa beberapa pelanggan
    baru (jumlah pelanggan baru ditetapkan berdasarkan atas biaya untuk hadiah yang
    diberikan).
  2. Strategi defensif atau bertahan. Strategi mempertahankan yang sudah ada,
    dilakukan untuk meningkatkan fasilitas pelayanan yang dimiliki. Seperti:
    Menyediakan beberapa fasilitas yang dapat memberikan kenyamanan pelanggan,
    Memberikan souvenir kecil pada pelanggan setelah beberapa kali menggunakan
    layanan anda, dan Mengirimkan kartu ucapan selamat pada hari-hari besar
    keagamanan bagi pelanggan setia, yang telah menjadi pelanggan cukup lama.

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Kepuasan Konsumen menurut Swan, dkk. (1980) dalam bukunya Fandy
Tjiptono, 2004 mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai evaluasi secara sadar
atau penilaian kognitif menyangkut apakah kinerja produk relatif bagus atau jelek
atau apakah produk bersangkutan cocok atau tidak cocok dengan tujuan/
pemakaiannya.
Philip Kotler (2014:150) mendefinisikan Kepuasan Pelanggan merupakan
Perasaan senang atau kecewa yang muncul setelah membandingkan
kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang
diharapkan. Pelanggan merasa puas kalau harapan mereka terpenuhi dan merasa
amat gembira kalau harapan mereka terlampaui. Pelanggan yang puas cenderung
tetap loyal lebih lama, membeli lebih banyak, kurang peka terhadap perubahan
harga dan pembicaraannya menguntungkan perusahaan. Dalam rangka
menciptakan kepuasan pelanggan, produk yang ditawarkan organisasi/perusahaan
harus berkualitas.
Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang
menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggan. Dalam kaitannya dengan
kepuasan Konsumen/pelanggan, kualitas memiliki beberapa dimensi pokok,
tergantung pada konteksnya. Dalam kasus pemasaran barang, ada delapan dimensi
utama yang biasanya digunakan (Gregorius Chandra, 2002), yaitu:

  1. Kinerja (performance): Karakteristik operasi dasar dari suatu produk,
    misalnya kecepatan pengiriman barang serta jaminan keselamatan barang.
  2. Fitur (features): karakteristik pelengkap khusus yang dapat menambah
    pengalaman pemakaian produk, contohya minuman gatis pada saat
    penerbangan.
  3. Reliabilitas, yaitu probabilitas terjadinya kegagalan atau kerusakan produk
    dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya
    kerusakan, semakin andal produk bersangkutan.
  4. Konformasi (conformance), yaitu tingkat kesesuaian produk dengan standar
    yang telah ditetapkan, misalnya ketepatan waktu keberangkatan dan
    kedatangan kereta api.
  5. Daya Tahan (Durability), yaitu jumlah pemakaian produk sebelum produk
    bersangkutan harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian normal
    yang dimungkinkan, semakin besar pula daya tahan produk.
  6. Serviceablility, yaitu kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta
    kompetensi dan keramahtamahan staf layanan.
  7. Estetika (aesthetics), menyangkut penampilan produk yang bisa dinilai
    dengan panca indra (rasa, bau, suara dst).
  8. Persepsi terhadap kualitas (perceived quality), yaitu kualitas yang dinilai
    berdasarkan reputasi penjual. Misal BMW, SONY dll.

Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction)


Para pemasar membutuhkan informasi yang akurat, tepat waktu, dan
reliabel mengenai para konsumennya dan keterampilan khusus untuk
menganalisis dan menginterpretasikan inforrnasi tersebut guna menunjang
perancangan strategi pemasaran yang efektif dan efisien. Kebutuhan ini akan
berkontribusi pada pengembangan perilaku konsumen sebagai bahan studi yang
spesifik dalam pemasaran. Menurut Kotler dan Keller (2008:166), perilaku
konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi
memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau
pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Perilaku
konsumen mengacu pada perilaku yang ditunjukkan oleh para individu dalam
membeli dan menggunakan suatu barang atau jasa.
Saat ini tampaknya istilah kepuasan pelanggan sudah menjadi bagian yang
tak terpisahkan dalam setiap rumusan visi, misi, tujuan, kredo, maupun motto
organisasi, baik perusahaan maupun lembaga nirlaba. Wacana bisnis, manajemen
strategik, dan pemasaran juga selalu mengulas isu peran strategik kepuasan
pelanggan.
Dalam konteks lebih luas, penganugrahan award tahunan bagi produk,
jasa, maupun perusahaan yang sukses memuaskan pelanggan telah mampu
menciptakan semacam “demam kepuasan pelanggan”. Perusahaan menjadikan
award sebagai testimony akan keberhasilannya dan sebagai daya pikat untuk
menjaring lebih banyak lagi pelanggan baru. Bagi pelanggan, testimoni semacam
ini cukup ampuh untuk dijadikan acuan mengambil keputusan dalam melakukan
pembelian

Hubungan Citra Merek terhadap Kepuasan Konsumen


Secara umum, kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang
yang timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk terhadap
ekspektasi mereka. Jika kinerja gagal memenuhi ekspektasi, konsumen tidak akan
puas. Jika kinerja sesuai dengan ekspektasi, konsumen akan puas. Jika kinerja
melebihi ekspektasi, pelanggan akan sangat puas atau senang. Penilaian konsumen
atas kinerja produk tergantung pada banyak faktor, terutama jenis hubungan
loyalitas yang dimiliki pelanggan dengan persepsi terhadap citra merek.
Konsumen sering membentuk persepsi yang lebih menyenangkan tentang sebuah
produk dengan merek yang sudah mereka anggap positif.
Perusahaan yang berpusat pada konsumen berusaha menciptakan kepuasan
konsumen yang tinggi, tetapi bukan tujuan akhirnya. Jika perusuhaan
meningkatkan kepuasan konsumen dengan menurunkan harganya atau
meningkatkan pelayanannya mungkin laba akan menurun.
Menurut Sumarwan (2004: 139) tentang membentuk ekpektasi konsumen.
Ekspektasi berasal dari pengalaman pembelian masa lalu, nasihat teman dan
rekan, serta informasi dan janji pemasar dan pesaing. Jika pemasar meningkatkan
ekspektasinya terlalu tinggi, pembeli akan kecewa. Meskipun demikian, jika
perusahaan menetapkan ekspektasi terlalu rendah, perusahaan tidak akan menarik
cukup pembeli, meskipun perusahaan akan dapat memuaskan mereka yang
membeli.
Keputusan konsumen bersikap loyal atau tidak loyal merupakan akumulasi
dari banyak masalah kecil dalam perusahaan. Sekarang banyak perusahaan
berusaha menciptakan pengalaman konsumen bermerek.
Kotler dan Keller (2008: 259) merek mengidentifikasi sumber atau
pembuat produk dan memungkinkan konsumen untuk menuntut tanggung jawab
atas kinerjanya kepada pabrikan atau distributor tertentu. Konsumen dapat
mengevaluasi produk yang sama secara berbeda tergantung pada bagaimana
pemerekan produk tersebut. Mereka belajar tentang persepsi terhadap citra merek
melalui pengalaman masa lalu dengan produk tersebut dan mana yang tidak.
Ketika hidup konsumen menjadi semakin rumit terburu-buru, dan kehabisan
waktu, kemampuan merek untuk menyederhanakan pengambilan keputusan dan
mengurangi resiko adakah suatu yang berharga

Aspek-aspek Persepsi Terhadap Citra Merek


Young dan Rubicam (2008: 265) berpendapat mengenai aspek-aspek
persepsi terhadap citra merek. Ada lima komponen pilar kunci atau aspek-aspek
dari persepsi terhadap citra merek:
a. Diferensiasi, mengukur tingkat sejauh mana merek dianggap berbeda dari
merek lain
b. Energi, mengukur arti momentum merek
c. Relevansi, mengukur cakupan daya tarik merek
d. Harga diri, mengukur seberapa baik merek dihargai dan dihormati
e. Pengetahuan, mengukur kadar keakraban dan keintiman konsumen dengan
merek
Ada enam aspek-aspek persepsi terhadap citra merek menurut Koller dan
Ketler (2008: 269) dalam menghadapi peluang dan keterbatasan:
a. Dapat diingat, seberapa mudah merek itu diingat dan dikenali.
b. Berarti, merek itu kredibel dan mengindikasikan kategori yang berhubungan
dengannya.
c. Dapat disukai, seberapa menarik estetika elemen merek.
d. Dapat ditransfer, merek dapat digunakan untuk memperkenalkan produk baru
dalam kategori yang sama atau berbeda.
e. Dapat disesuaikan, seberapa mudah merek itu disesuaikan dan diperbarui.
f. Dapat dilindungi, seberapa mudah merek itu dapat dilindungi secara hukum.
29
Menurut Arnold (1996: 14-15) agar merek mampu mempersembahkan
keunggulan kualitas, maka sebuah merek harus pula menyampaikan banyak
aspek-aspek dari persepsi konsumen dan permintaan. Mengingat kualitas
bukanlah suatu karakteristik fisik namun persepsi si konsumen sendiri, aspek-
aspek kriteria persepsi terhadap citra merek sebagai berikut:
a. Dilihat dari level produk, persepsi terhadap citra merek harus mampu
memberikan keuntungan fungsional untuk memenuhi kebutuhan pasar, juga
persaingan.
b. Perpepsi terhadap citra merek akan menawarkan keuntungan yang lebih besar
dibanding produk.
c. Keuntungan beragam yang ditawarkan sebuah merek haruslah konsisten satu
sama lain dan memberikan kesatuan karakter atau kepribadian.
d. Nilai-nilai yang ditawarkan harus sesuai dengan keinginan konsumen.

Pengertian Persepsi Terhadap Citra Merek


Menurut Kotler dan Keller (2008: 259 ) persepsi terhadap citra merek
mengidentifikasi sumber atau pembuat produk dan memungkinkan konsmen
untuk menuntut tanggung jawab atas kinerja dan produknya kepada perusahaan.
Konsumen dapat mengevaluasi produk secara berbeda tergantung pada bagaimana
pemerekan produk tersebut. Mereka belajar tentang merek melalui pengalaman
masa lalu dengan produk tersebut dan program pemasarannya, menemukan merek
mana yang memuaskan kebutuhan mereka dan mana yang tidak. Ketika hidup
konsumen menjadi semakin rumit, terburu-buru, dan kehabisan waktu,
kemampuan merek untuk menyederhanakan pengambilan keputusan dan
mengurangi resiko adalah sesuatu yang berharga.
Persepsi terhadap citra merek juga melaksanakan fungsi yang berharga
bagi perusahaan.
a. Persepsi terhadap citra merek menyederhanakan penanganan atau penelusuran
produk.
b. Persepsi terhadap citra merek membantu mengatur catatan persediaan dan
catatan akuntansi.
c. Persepsi terhadap citra merek juga menawarkan perlindungan hukum kepada
perusahaan untuk fitur-fitur atau aspek nilai produk.
d. Persepsi terhadap citra merek dapat dilindungi melalui nama dagang terdaftar,
proses manufaktur dapat dilindungi melalui hak paten, dan kemasan dapat
dilindungi melalui hak cipta dan rancangan hak milik.
e. Hak milik intelektual memastikan bahwa perusahaan dapat berinvestasi dengan
aman dalam merek tersebut dan mendapatkan keuntungan dari sebuah aset
yang berharga

Faktor-faktor Kepuasan Konsumen


Menurut Ratnasari dan Aksa (2011: 117) untuk menentukan tingkat
kepuasan konsumen, faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh perusahaan
adalah:
a. Kualitas produk, konsumen akan merasa puas apabila hasil evaluasi mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
b. Kualitas pelayanan, pada industri jasa, adalah mutlak bahwa konsumen akan
merasa puas bila mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan
yang konsumen harapkan.
c. Emosional, konsumen akan merasa bangga dan mendapatkan keyakinan bahwa
orang lain akan kagum terhadap dia bila menggunakan produk dengan merek
tertentu, sehingga membuatnya mengalami tingkat kepuasan yang lebih tinggi.
Kepuasan yang diperoleh bukan karena kualitas dari produk, tetapi nilai sosial
atau self-esteem yang membuat konsumen menjadi puas terhadap suatu merek
tertentu.
Menurut Tjiptono dan Candra (207: 209) faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan konsumen:
a. Produk, layanan produk yang baik dan memenuhi selera serta harapan
konsumen. Produk dapat menciptakan kepuasan konsumen. Dasar penilaian
terhadap pelayanan produk ini meliputi: jenis produk, mutu atau kualitas
produk dan persediaan produk.
b. Harga, merupakan bagian yang melekat pada produk yang mencerminkan
seberapa besar kualitas produk tersebut. Dasar penilaian terhadap harga
meliputi tingkat harga dan kesesuaian dengan nilai jual produk, variasi atau
harga terhadap produk.
c. Promosi, dasar penelitian promosi mengenai informasi produk dan jasa
perusahaan dalam usaha mengkomunikasikan manfaat produk dan jasa tersebut
pada konsumen sasaran. Penelitian dalam hal ini meliputi iklan produk dan
jasa, diskon barang dan pemberian hadiah-hadiah.
d. Lokasi, tempat merupakan bagian dari atribut perusahaan yang berupa lokasi
perusahaan dan konsumen. Penilaian terhadap atribut lokasi meliputi lokasi
perusahaan, kecepatan dan ketepatan dalam transportasi.
e. Pelayanan karyawan, merupakan pelayanan yang diberikan karyawan dalam
usaha memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dalam usaha memuaskan
konsumen. Dasar penilaian meliputi kesopanan, keramahan, kecepatan dan
ketepatan.
f. Fasilitas, bagian dari atribut perusahaan yang berupa perantara guna
mendukung kelancaran operasional perusahaan yang berhubungan dengan
konsumen. Dasar penilaian meliputi penataan barang, tempat penitipan barang,
kamar kecil dan tempat ibadah.
g. Suasana, merupakan faktor pendukung, karena apabila perusahaan
mengesankan maka konsumen mendapatkan kepuasan tersendiri. Dasar
peniliaian meliputi sirkulasi udara, kenyamanan dan keamanan.
Menurut Cravens (1996: 8) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan
konsumen meliputi:
a. Sistem pengiriman
Memindahkan produk dari produsen ke konsumen atau pemakai akhir dalam
bisnis biasanya meliputi saluran distribusi dari para pemasok, pabrika, dan para
perantara.
b. Performa produk dan jasa
Performa dan keunggulan suatu produk dan jasa sangatlah penting dalam
mempengaruhi kepuasan konsumen.
c. Persepsi terhadap citra merek
Para eksekutif bisnis mengakui bahwa citra atau merek perusahaan yang baik
merupakan keunggulan bersaing yang mempengaruhi tingkat kepuasan
konsumen dari sudut positif.
d. Hubungan harga-nilai
Pembeli mengininkan nilai yang ditawarkan merek susai dengan harga yang
diberikan, oleh karenanya terdapat hubungan yang menguntungkan antara
harga dan nilai.
e. Persaingan
Kelemahan dan kekuatan para pesaing juga mempengaruhi kepuasan
konsumen dan merupakan peluang untuk memperoleh keunggulan bersaing

Pengertian Kepuasan Konsumen


Menurut Peter dan Olson (2016: 184) kepuasan konsumen adalah konsep
yang paling menentukan dalam pemikiran pemasaran dan riset konsumen. Secara
teori, konsumen yang merasa puas dengan produk, jasa, atau merek, kemungkinan
besar akan terus membelinya dan memberitahukan kepada yang lain perihal
tersebut. Bila tidak puas, kemungkinan besar konsumen akan berganti produk atau
merek dan mengadukan kepada produsen barang, pengecer, dan konsumen lain.
Sumarwan (2011: 387) mengungkapkan bahwa, teori yang menjelaskan
kepuasan atau ketidakpuasan konsumen terbentuk adalah The Expectancy
Disconfirmation Model, yang mengemukakan bahwa harapan konsumen sebelum
pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh oleh konsumen dari produk yang
dibeli tersebut. Ketika konsumen membeli suatu produk, maka ia memiliki
harapan tentang bagaimana produk tersebut berfungsi (product performance).
Produk akan berfungsi sebagai berikut:
a. Produk berfungsi lebih baik dari yang diharapkan, inilah yang disebut sebagai
diskonfirmasi positif (positive disconfirmation). Jika ini terjadi, maka
konsumen akan merasa puas.
b. Produk berfungsi seperti yang diharapkan, inilah yang disebut sebagai
konfirmasi sederhana (simple confirmation). Produk tersebut tidak memberikan
rasa puas, dan produk atau merek tersebut pun tidak mengecewakan konsumen.
Konsumen akan memiliki perasaan netral.
c. Produk berfungsi lebih buruk dari yang diharapkan, inilah yang disebut sebagai
diskonfirmasi negatif (negative disconfirmation). Produk yang berfungsi buruk,
tidak sesuai dengan harapan konsumen akan menyebabkan kekecewaan,
sehingga konsumen merasa tidak puas.
Konsumen akan memiliki harapan mengenai bagaimana produk tersebut
seharusnya berfungsi (performance expectation), harapan tersebut adalah standar
kualitas yang akan dibandingkan dengan fungsi atau kualitas produk yang
sesungguhnya dirasakan konsumen. Fungsi produk yang sesungguhnya dirasakan
konsumen (actual performance) sebenarnya adalah persepsi konsumen terhadap
kualitas produk tersebut.
Di dalam suatu proses keputusan, konsumen tidak akan berhenti hanya
sampai proses konsumsi. Konsumen akan melakukan proses evaluasi terhadap
konsumsi yang telah dilakukannya. Inilah yang disebut sebagai evaluasi alternatif
pasca pembelian atau pasca konsumsi. Proses ini bisa juga dapat disebut sebagai
proses evaluasi alternatif tahap kedua. Hasil dari proses evaluasi pasca konsumsi
adalah konsumen puas atau tidak puas terhadap konsumsi produk atau merek yang
telah dilakukannya. Setelah mengkonsumsi suatu produk atau jasa, konsumen
akan memiliki perasaan puas atau tidak puas terhadap produk atau jasa yang
dikonsumsinya. Kepuasan akan mendorong konsumen membeli dan
mengkonsumsi ulang produk tersebut (Sumarwan ,2002: 329). Teori yang
menjelaskan bagaimana kepuasan atau ketidakpuasan konsumen terbentuk adalah
the expectancy disconfirmation model, yang mengemukakan bahwa kepuasan dan
ketidakpuasan konsumen merupakan dampak dari perbandingan antara harapan
konsumen sebelum pembelian dengan yang sesungguhnya diperoleh oleh
konsumen dari produk yang dibeli tersebut. Produk berfungsi lebih baik dari yang
diharapkan, inilah yang disebut sebagai diskonfirmasi positif. Jika ini terjadi,
maka konsumen akan merasa puas, produk berfungsi seperti yang tidak
diharapkan, inilah yang disebut sebagai konfirmasi sederhana. Produk tersebut
tidak memberikan rasa puas, dan produk tersebut tidak mengecewakan konsumen.
Konsumen akan memiliki perasaan netral. Produk berfungsi lebih buruk dari yang
diharapkan, inilah yang disebut sebagai diskonfirmasi negatif. Produk yang
berfungsi buruk, tidak sesuai dengan harapan konsumen akan menyebabkan
kekecewaan, sehingga konsumen merasa tidak puas.
Woodside dalam Utama (2003: 8) menyatakan bahwa kepuasan atau
ketidakpuasan konsumen adalah respon konsumen terhadap evaluasi
ketidaksesuaian diskonfirmasi yang dirasakan antara harapan sebelumnya (atau
norms kinerja lainya) dan kinerja aktual produk yang dirasakan setelah
pemakaiannya. Engel dalam Utama (2003: 8) mengungkapkan bahwa kepuasan
konsumen merupakan evaluasi purnabeli dimana alternatif yang dipilih sekurang
kurangnya memberikan hasil (outcome) sama atau melampaui harapan konsumen,
sedangkan Kotler dalam Utama (2003: 8) menandaskan bahwa kepuasan
konsumen adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan harapannya.
Kepuasan didefinisikan disini sebagai evaluasi pasca konsumsi bahwa
suatu alternatif yang dipilih setidaknya memenuhi atau melebihi harapan.
Singkatnya, alternatif tersebut setidaknya bekerja sebaik yang anda harapkan.
Ketidakpuasan tentu saja adalah hasil dari harapan yang diteguhkan secara
negatif. Tekanan konsumerisme dan penghinaan publik yang semakin besar untuk
kualitas produk yang jelek telah membawa topik ini ke garis terdepan dalam
penelitian konsumen dalam dasawarsa terakhir (Engel, Blackwell, dan Miniard,
1995: 210).

Aspek-aspek Kepuasan Konsumen


Menurut Ratnasari dan Aksa (2011: 120) mengkonfigurasi ke dalam lima
dimensi perilaku sebagai berikut:
a. Loyalty (kesetiaan kepada perusahaan).
b. Switch (keinginan berganti produk).
c. Willingness to pay more (kemauan untuk membayar lebih harga produk).
d. External response to problem (respon ke eternal bila menghadapi masalah).
e. Internal response to problem (respon ke perusahaan bila menghadapi masalah).
Parasuraman dalam Ratnasari dan Aksa (2011: 120) membuat analisis faktor yang
menjadi pendorong (battery) perilaku konsumen yang didesain untuk mewakili
lima kategori perilaku seperti di atas. Battery dikelompokkan kedalam empat
kategori yaitu:

a. Komunikasi dari mulut ke mulut.
b. Keinginan membeli.
c. Sensitivitas terhadap harga.
d. Perilaku pengaduan.
Menurut riset yang dilakukan Zeithaml dalam Lupiyoadi (2013: 240)
aspek-aspek perilaku kepuasan konsumen meliputi:
a. Loyalitas (loyalitas).
b. Beralih (switch).
c. Membayar lebih (pay more).
d. Respon eksternal (external response).
e. Respon internal (internal response)

Aspek – Aspek Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dkk (dalam Syukron 2015:181) urutan aspek kualitas
pelayanan sesuai tingkat kepentingannya adalah sebagai berikut:
a. Reliabilitas (Reliability) yaitu berkaitan dengan kemampuan suatu
perusahaan untuk menyediakan layanan yang tepat secara akurat pada
percobaan pertama tanpa adanya kesalahan, serta memberikan jasanya
sesuai dengan jadwal yang telah disepakati.
b. Jaminan (Assurance) yaitu perilaku para karyawan dan perusahaan yang
yang berkemampuan dalam menumbuhkan kepercayaan dan rasa aman para
pelanggan.
c. Daya tanggap (Responsiveness) yaitu mengacu pada keterkaitan antara
kesiapan dan kapabilitas karyawan dalam membantu pelanggan dan
merespons permintaan. Melibatkan memberikan informasi kepada
pelanggan tentang kapan produk atau layanan akan diberikan dan kemudian
menyampaikannya dengan cepat.
d. Empati (Emphaty) yaitu perusahaan perusahaan yang memiliki jam
operasional yang sesuai dan memahami dengan baik masalah pelanggan,
serta mampu memberikan perhatian khusus kepada para pelanggan.
e. Bukti Fisik (Tangibles) yaitu merujuk pada keberadaan daya tarik peralatan,
fasilitas, penampilan karyawan, dan material yang digunakan oleh
perusahaan.
Menurut Tjiptono dan Chandra (dalam Hidayati dkk 2021:78) terdapat 5
aspek dalam Kualitas Pelayanan yaitu:
a. Bukti Fisik (Tangibles)
Terkait dengan daya tarik fasilitas fisik perusahaan, termasuk penampilan
karyawan, peralatan, dan bahan yang digunakan.
b. Empati (Emphaty)
Menggambarkan kemampuan perusahaan untuk memahami masalah
pelanggannya dan mengambil tindakan yang mengutamakan kepentingan
pelanggan. Ini juga melibatkan pemberian perhatian personal kepada para
pelanggan dan menyediakan jam operasional yang nyaman bagi pelanggan.
c. Keandalan (Reliability)
Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menyediakan layanan yang
akurat sejak pandangan pertama tanpa adanya kesalahan, dan juga untuk
mengirimkan jasanya sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama.
d. Daya tanggap (Responsiveness)
Berkaitan dengan kesiapan dan kapabilitas karyawan dalam membantu
pelanggan, merespon permintaan mereka, dan memberikan informasi
tentang kapan jasa akan diberikan, diikuti dengan penyediaan jasa secara
cepat.
e. Jaminan (Assurance)
Memberikan jaminan yang baik antara perusahaan dan pelanggan, yang
mencakup kompetensi, kesopanan, dan keandalan yang dapat dipercaya.
Menurut Zeithaml & Berry (dalam Dahlan 2023:115) Terdapat lima aspek
dalam kualitas pelayanan yaitu diantaranya:
a. Tangible (Bukti Fisik)
Suatu kemampuan untuk memperlihatkan keberadaanya kepada pihak lain
atau pihak eksternal. Seperti penampilan dan kemampuan fasilitas fisik serta
kondisi lingkungan sekitar, merupakan bukti konkret dari pelayanan yang
diberikan.
b. Reliability (Kehandalan)
Mencakup kemampuan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan yang
dijanjikan secara terpercaya dan akurat.
c. Responsiveness (Tanggapan)
Merujuk pada tekad untuk membantu dan memberikan pelayanan yang
cepat dan tepat kepada pelanggan, termasuk penyampaian informasi dengan
jelas.
d. Assurance (Jaminan dan Kepastian)
Pengetahuan, sikap yang sopan, dan kemampuan para pegawai dapat
membentuk rasa percaya dari pelanggan. Ini melibatkan beberapa
komponen, seperti komunikasi yang efektif, kredibilitas, keamanan,
kompetensi, dan sikap yang sopan santun.
e. Empathy (Empati)
Empati melibatkan kemampuan memberikan perhatian yang tulus dan
bersifat individual kepada pelanggan dengan usaha untuk memahami
keinginan pelanggan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Menurut Tjiptono (dalam Indrasari, 2019:54) kualitas pelayanan adalah
suatau keadaan dinamis yang berkaitan erat dengan jasa, produk, sumber daya
manusia, dan lingkungan yang dimana dalam prosesnya dapat memenuhi atau
melebihi kualitas pelayanan yang diharapkan. Sejalan dengan pendapat
Tjiptono, Utami (2017:366) menjelaskan bahwa kualitas pelayanan adalah
kualitas yang konsisten antara persepsi konsumen, produk, dan proses dimana
ketiganya dapat menyumbang suatu keberhasilan perusahaan. Jasa atau produk
yang berkualitas mempunyai peranan yang penting dalam membentuk kepuasan
pelanggan. Kepuasan pelanggan dapat semakin tinggi sesuai dengan semakin
berkualitasnya suatu jasa atau produk. Salah satu cara untuk mempertahankan
kepuasan pelanggan yaitu dengan memberikan kualitas pelayanan yang lebih
tinggi dari kompetitor secara konsisten dan dapat memenuhi harapan
pelanggan.
Menurut pendapat Hidayati dkk (2021:75) Kualitas Pelayanan adalah
tingkatan suatu keunggulan yang dimana diharapkan untuk dapat memenuhi
harapan pelanggan yang diakui adanya korelasi positif, sedangkan menurut
Syukron (2015:180) Kualitas Pelayanan adalah segala sesatu upaya dan usaha
yang difokuskan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan dan juga
disertai dengan ketepatan dalam penyampaiannya sehingga dapat tercipta
kesesuaian yang imbang dengan harapan pelanggan

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Ada beberapa faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan
menurut Indrasari (2019:87) diantaranya yaitu:
a. Kualitas produk
Kepuasan pelanggan selalu terjadi setelah melakukan evaluasi terhadap
produk yang memiliki standar kualitas yang tinggi atau berkualitas.
b. Harga
Produk dengan kualitas relatif serupa, namun ditawarkan dengan harga yang
lebih terjangkau, dapat memberikan nilai yang lebih tinggi dan kepuasan
kepada pelanggan.
c. Biaya
Kepuasan pelanggan meningkat ketika mereka tidak perlu mengeluarkan
biaya tambahan atau memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkan
produk atau jasa.
d. Emosional
Kepuasan pelanggan tercapai ketika mereka merasa bangga dan puas,
terutama jika mereka yakin bahwa orang lain menghargai penggunaan
produk atau jasa tersebut.
e. Kualitas pelayanan
Pelanggan cenderung merasa puas jika menerima suatu pelayanan yang baik
dan sesuai dengan keinginan dan harapan mereka.
Menurut Tjiptono (dalam Hermanto 2019:24) ada 2 faktor yang
mempengaruhi kepuasan pelanggan yaitu:
a. Faktor External yaitu di luar kendali perusahaan seperti cuaca dan suasana
hati pelanggan.
b. Faktor Internal seperti karyawan, waktu, ketelitian.
Menurut Irawan (dalam Daga 2017:78) faktor – faktor yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan adalah sebagai berikut:
a. Harga
Harga menjadi salah satu faktor penentu bagi konsumen dalam membuat
keputusan pembelian, karena konsumen bersedia membayar sejumlah uang
yang sesuai dengan nilai barang atau jasa yang mereka terima.
b. Faktor Emosional (Emotional Factor)
Kepuasan konsumen dapat dilihat dari aspek emosional, seperti rasa bangga,
percaya diri, dan persepsi bahwa produk yang dibeli merupakan simbol
kesuksesan.
c. Kemudahan
Pentingnya kemudahan, kenyamanan, dan efisiensi dalam mendapatkan
produk atau layanan menjadi faktor penting yang dapat menciptakan
kepuasan konsumen.
d. Kualitas Produk
Kualitas produk dapat diukur melalui enam elemen, yaitu kinerja, daya
tahan, fitur, reliabilitas, estetika, dan penampilan produk.
e. Kualitas Pelayanan (Service Quality)
Kualitas pelayanan memiliki lima dimensi utama, termasuk bukti fisik,
kehandalan, ketanggapan, jaminan, dan empati, yang berkontribusi pada
kepuasan konsumen terhadap pelayanan yang diterima

Aspek – Aspek Kepuasan Pelanggan


Menurut Ferrinadewi (dalam Hidayati dkk 2021:85) terdapat 3 aspek
kepuasan pelanggan yaitu:
a. Kognitif yaitu merujuk pada pengetahuan atau keyakinan pelanggan yang
diperoleh melalui pengalaman.
b. Afektif yaitu mencakup gambaran emosi dan perasaan pelanggan saat
mereka secara langsung mengevaluasi suatu produk.
c. Konatif yaitu tindakan atau perilaku pelanggan yang menunjukkan
kecenderungan terhadap suatu produk.
Menurut Indrasari (2019:84) aspek – aspek kepuasan pelanggan diantaranya
yaitu:
a. Penanganan terhadap komplain dari pelanggan yaitu salah satu yang hal
penting untuk diperhatikan yaitu komplain/klaim dari pelanggan.
b. Warranty costs yaitu biaya garansi produk/jasa apat dihitung sebagai
persentase dari total penjualan.
c. Market Share yaitu pangsa pasar yang merupakan parameter yang perlu
diukur untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, fokusnya adalah pada
jumlah, bukan kualitas, dari pelayanan yang disediakan oleh perusahaan.
d. Costs of poor quality yaitu biaya kualitas buruk yang merupakan suatu
aspek yang dapat dianggap memuaskan apabila biaya untuk mendeteksi
cacat pelanggan dapat diestimasi.
Aspek – aspek kepuasan pelanggan menurut Ratnasari dan Aksa (2011:120)
sebagai berikut:
a. Loyalitas (Loyalty)
b. Beralih/keinginan berganti (switch)
c. Keinginan membayar lebih (Willingness to pay more)
d. Respon eksternal apabila menghadapi masalah (External response to
problem).
e. Respon internal perusahaan apabila menghadapi masalah (Internal response
to problem)

Pengertian Kepuasan Pelanggan


Beberapa ahli mengemukakan pendapat mengenai kepuasan pelanggan
diantaranya menurut Diana dan Tjiptono (2022:155) sebagai hasil yang timbul
dari pengalaman konsumsi khusus, seperti situasi kognitif ketika pembeli
merasa dihargai atau setara dengan pengorbanan yang sudah dilakukan, respon
emosional terhadap pengalaman yang terkait dengan produk atau jasa tertentu,
dan kondisi psikologis sebelum dan sesudah menggunakan produk atau jasa
tersebut. Sangadji & Sopiah (2013:180) turut menjelaskan bahwa kepuasan
pelanggan merujuk pada perasaan yang muncul setelah membandingkan antara
kinerja atau hasil aktual suatu produk dengan harapan yang telah dipikirkan,
dapat berupa rasa senang atau kecewa.
Menurut Chandra (2019:262) kepuasan pelanggan yaitu tanggapan
emosional atau kognitif yang berkaitan dengan ekspetasi dari suatu produk atau
pengalaman konsumsi setelah memilih produk atau jasa tersebut, sedangkan
menurut Hermanto (2019:21) kepuasan pelanggan adalah suatu respon
emosional yang ditunjukkan oleh konsumen setelah proses pembelian
produk atau menggunakan layanan yang muncul dari perbandingan antara
harapan awal mereka dengan kinerja aktual dari produk atau layanan tersebut.
Hidayati dkk (2021:80) mendefinisikan bahwa kepuasan pelanggan dapat
dianggap sebagai hasil dari perbandingan antara persepsi terhadap kinerja suatu
produk atau layanan dan harapan yang dimiliki. Apabila kinerja memenuhi atau
melampaui harapan, pelanggan merasa puas; sebaliknya, apabila kinerja berada
di bawah harapan, pelanggan merasa tidak puas, sedangkan menurut Tjiptono
(2014:353) upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan sesuatu atau dilakukan
dengan baik adalah pengertian dari kepuasan pelanggan.
Menurut pendapat Adhari (2021:11) kepuasan pelanggan adalah penilaian
setelah pembelian yang minimalnya sejajar atau melebihi harapan pelanggan,
sementara ketidakpuasan muncul ketika hasilnya tidak memenuhi harapan
pelanggan. Menurut Fandy (2019:123) Kepuasan pelanggan merujuk pada
perasaan kegembiraan atau kekecewaan yang dirasakan seseorang setelah
sebelumnya membandingkan kinerja atau hasil produk dengan harapannya.
Kepuasan terjadi ketika harapan terpenuhi, sementara ketidakpuasan muncul
jika harapan tidak terpenuhi, dan yang terakhir dijelaskan oleh Chandra dkk
(2020:120) bahwa kepuasan pelanggan adalah tanggapan yang diberikan oleh
pelanggan terhadap pelayanan atau kinerja (hasil) yang mereka terima.
Selanjutnya, pelanggan akan mengevaluasi kinerja (hasil) atau hasil tersebut
dengan membandingkannya dengan harapan mereka

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan didefinisikan sebagai penilaian positif dari
pelanggan yang diperoleh dari produk dan layanan yang diberikan
(Carranza dkk., 2018). Kepuasan didefinisikan sebagai perasaan senang
dan tidak puas dihasilkan dari perbandingan produk yang diterima dengan
harapan pribadi mereka (Saulina dan Syah, 2018). Menurut Mensah, I dan
Mensah, R.D. (2018), kepuasan pelanggan dapat didefinisikan sebagai
penilaian produk atau jasa dari pelanggan dalam memberikan kesenangan
dalam tingkat konsumsi. Hal ini tentunya dapat diukur dengan
membandingkan antara kesenjangan harapan pelanggan dan kinerja yang
diterima dan juga dapat ditentukan oleh produk dan layanan yang berhasil
meningkatkan kepuasan pelanggan dan menghindari ketidakpuasan
pelanggan (Hanaysha, 2016).
Kepuasan pelanggan adalah perasaan senang atau kecewaan
seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja
produk yang aktual dengan kinerja produk yang diharapkan (Sangadji &
Sopiah, 2013). Salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen
adalah persepsi pelanggan mengenai kualitas suatu barang atau jasa dan
juga pelayanan (Lupiyoadi & Hamdani,2013). Tingkat kepuasan
merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan
harapan. Apabila kinerja dibawah harapan, maka pelanggan akan sangat
kecewa;bila kinerja sesuai atau melebihi harapan, maka pelanggan akan
sangat puas (Hayati & Hakim, 2014)

Kewajaran Harga


Price Fairness atau Kewajaran Harga digambarkan sebagai evaluasi
dari pelanggan apakah harga yang diberikan oleh toko untuk suatu produk
itu sesuai atau tidak (Jin, dkk, 2016). Harga telah diterima sebagai salah
satu faktor pemasaran yang dapat mempengaruhi perilaku pelanggan. Hal
ini juga digambarkan sebagai penilaian dari pelanggan apakah harga
tersebut wajar, acceptable atau tidak (Hanaysha, 2016). Jika harga untuk
sebuah produk dikatakan sesuai atau wajar oleh pelanggan dan masuk akal
itulah yang diartikan sebagai Price Fairness (Abdullah, dkk, 2018).
Mereka juga menyebutkan bahwa harga yang tidak adil atau tidak wajar
dapat menimbulkan emosi negative bagi pelanggan seperti kemarahan.
Selain itu, pelanggan dapat mengandalkan price fairness untuk
pembanding antar toko dan pesaingnya. Hanaysha (2016) juga menyatakan
bahwa kewajaran harga dapat memberikan pengaruh yang signifikan pada
reaksi pelanggan dalam mengambil keputusan soal pembelian suatu produk
atau jasa. Githiri (2018) juga menyatakan bahwa merek cenderung
berusaha memanfaatkan keuntungan mereka berdasarkan harga produk
atau layanan. Ini dikarenakan konsumen cenderung memilih produk yang
dapat memberi mereka nilai terbaik dengan harga terendah. Lebih lanjut
lagi, Ia juga berpendapat bahwa mengukur price fairness berdasarkan
ukuran prosi makanan dan minuman yang layak dan harga yang lebih baik
dibandingkan dengan para pesaing

Kualitas Pelayanan


Secara tradisional, kualitas layanan telah dikonseptualisasikan sebagai
perbedaan antara harapan pelanggan mengenai layanan yang akan diterima
dan persepsi layanan yang diterima (Setiawan and Sayuti, 2017). Dalam
penelitian sebelumnya, kualitas layanan berkaitan dengan sejauh mana
layanan dapat memenuhi kebutuhan atau harapan pelanggan (Dotchin &
Oakland, 1994). Ini juga telah dikonseptualisasikan sebagai kesan umum
konsumen tentang kerugian atau keuntungan relatif terhadap layanan
kepuasan (Zeithaml, Berry, dan Parasuraman, 1990). Kewajaran harga
juga sering menjadi pertimbangan bagi pelanggan, karena harga suatu
produk atau jasa mempengaruhi kepuasan pelanggan (Githiri, 2018;
Hanaysha, 2016). Dari injauan komprehensif studi kualitas layanan,
Asubonteng, McCleary, dan Swan (1996) menyimpulkan bahwa jumlah
dimensi kualitas layanan bervariasi di industri yang berbeda. Kettinger dan
Lee (1994) mengidentifikasi empat dimensi dalam studi kualitas sistem
informasi (SI), yang tidak memiliki dimensi nyata. Beberapa dimensi yang
dicantumkan untuk mengukur kualitas pelayanan ini adalah sebagai
berikut :

  1. Tangible atau Berwujud
    Menurut (Pakur’ar dkk, 2019) Dikarenakan pelanggan akan menilai
    kualitas dari layanan yang diberikan oleh organisasi, berbentuk atau
    berwujud menjadi citra fisiknya. Nguyen, dkk pada tahun 2018 dan
    Al-ababneh dkk. (2018) menyebutkan tangibles sebagai perasaan
    senang yang dapat dirasakan dari toko peralatan fisik dan fasilitas
    yang disediakan, termasuk penampilan dari karyawan atau personel.
  2. Reliability atau Keandalan
    Keandalan artinya kemampuan untuk melakukan layanan secara
    akurat (Nguyen dkk, 2018). Keandalan juga dianggap sebagai
    kemampuan penyedia produk atau layanan untuk melakukan sesuai
    dengan apa yang dijanjikan sebelumnya atau dengan kata lain tepat
    (Al-Ababneh dkk, 2018).
  3. Responsiveness atau Ketanggapan
    Ketanggapan adalah ketika perusahaan bersedia membantu
    pelanggan mereka secara akurat (Nguyen dkk, 2018) dan memberi
    mereka layanan yang cepat (Al-ababneh dkk, 2018). Dengan
    menginformasikan pelanggan waktu layanan akan diberikan.
  4. Assurance atau Jaminan
    Assurance adalah kesopanan, kompetensi dan kemampuan personel
    untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan (Nguyen dkk, 2018 ).
    Selain itu, Al-Ababneh dkk, (2018) menyatakan bahwa Jaminan
    adalah kondisi ketika karyawan memiliki kemampuan untuk
    mendapatkan kepercayaan pelanggan baik dengan membuat
    mereka merasa aman saat melakukan transaksi atau menanyakan
    sesuatu. Selain itu, semua karyawan juga harus bersikap sopan atau
    polite kepada semua pelanggan tanpa terkecuali.
  5. Empathy atau Empati
    Empati berarti menyesuaikan bantuan yang diberikan oleh
    perusahaan kepada pelanggannya (Nguyen dkk, 2018). Empati
    sendiri yang diberikan dari karyawan toko dapat memberikan
    dampak pada konsumen berupa perasaan istimewa dan perasaan
    unik (Pakur’ar dkk, 2019). Penting bagi karyawan untuk berusaha
    memahami masalah pelanggan dan memperlakukannya selayaknya
    mereka diperlakukan secara pribadi (Al-ababneh dkk, 2018)

Dimensi Kualitas Pelayanan


Dimensi servqual adalah sebuah bentuk kuisioner
yang digunakan untuk mengukur kualitas jasa. Cara ini
mulai dikembangkan pada tahun 1980-an oleh Zeithaml,
Parasuraman & Berry, dan telah digunakan dalam
mengukur berbagi kualitas jasa. Dengan kuisioner ini kita
bisa mengetahui seberapa besar celah (Gap) yang ada
diantara persepsi pelanggan dan ekspetasi pelanggan
terhadap suatu perusahaan jasa. Kuisioner Servqual dapat
disesuaikan (diubah) agar sesuai dengan industri jasa
yang berbeda-beda. Misalnya bank, restoran maupun
perusahaan telekomunikasi.
Perkembangan terakhir ditemukan bahwa dimensi
kualitas telah disederhanakan menjadi lima dimensi
kualitas jasa yaitu : Tangible, responsiveness, assurance,
emphaty, reliability (Tjiptono, 2016).

  1. Tangible : penampilan fisik, peralatan, personil,
    material-material, komunikasi.
  2. Reliability : kemampuan untuk melaksanakan
    service yang telah dijanjikan secara akurat dan
    dapat diandalkan.
  3. Responsiveness : kemampuan untuk membantu
    pengguna jasa dan penyediaan service yang cepat.
  4. Assurance : pengetahuan, kesopanan dan
    kemampuan karyawan untuk mendapatkan
    kepercayaan pengguna jasa.
  5. Empathy : sikap peduli, perhatian secara individu
    yang diberikan oleh perusahaan kepada pengguna
    jasa

Konsep Pelayanan


Pelayanan adalah kegiatan-kegiatan yang tidak
jelas, namun menyediakan kepuasan konsumen dan atau
pemakai industri serta tidak terikat pada penjualan suatu
produk atau pelayanan lainnya. Lebih lanjut dikatakan
bahwa pelayanan adalah suatu urutan kegiatan yang
terjadi dalam interaksi langsung dengan orang-orang atau
mesin secara fisik dan menyediakan kepuasan konsumen
(Choliq Sabana 2015).
Pemerintah sebagai lembaga birokrasi mempunyai
fungsi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sebaliknya, masyarakat sebagai pihak yang memberikan
mandat kepada pemerintah mempunyai hak untuk
memperoleh pelayanan. Oleh karena itu, tuntutan
terhadap pelayanan umum melahirkan suatu studi, yaitu
servis bagaimana cara memberikan pelayanan sebaik-
baiknya dan meningkatkan kualitas pelayanan umum.
Aparat sebagai pelayan hendaknya memahami variable-
variabel pelayanan seperti yang terdapat dalam agenda
perilaku pelayanan prima sektor publik Sespanas LAN
(Choliq Sabana 2015). Variabel yang di maksud adalah
sebagai berikut:

  1. Pemerintah yang bertugas melayani
  2. Masyarakat yang dilayani pemerintah.
  3. Kebiksanaan yang dijadikan landasan pelayanan
    publik.
  4. Peralatan atau sasaran pelayanan yang canggih.
  5. Resources yang tersedia untuk diracik dalam
    bentuk kegiatan pelayanan.
  6. Kualitas pelayanan yang memuaskan masyarakat
    sesuai dengan standar dan asas-asas pelayanan
    masyarakat.
  7. Manajemen dan kepemimpinan serta organisasi
    pelayanan masyarakat.
  8. Perilaku yang terlihat dalam pelayanan dan
    masyarakat, apakah masing-masing menjelaskan
    fungsi.

Prinsip Dasar Kepuasan Pelanggan


Menurut Handi Irawan (2002), salah satu pencetus
Indonesia Customer Satisfaction Award (ISCA) dan
penggagas ide Hari Pelanggan Nasional 2003, ada lima
driver utama (faktor-faktor pendorong) yang membuat
pelanggan merasa puas, yaitu:

  1. Kualitas produk
  2. Harga
  3. Kualitas layanan (Service quality)
  4. Faktor emosional (Emotional factor)
  5. Berhubungan dengan biaya dan kemudahan untuk
    mendapatkan produk dan jasa.
    Secara terperinci dijelaskan bahwa kualitas
    produk terdiri dari enam elemen antara lain performance,
    durability, feature, realibility, consistency, dan design.
    Kualitas layanan juga terdiri dari lima dimensi yakni
    reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan
    tangible. Selain itu, faktor emosional adalah suatu
    keadaan ketika pelanggan puas terhadap produk tertentu
    karena produk tersebut memberikan emotional value
    yang terpancar dari citra merek yang baik