PerkembanganKonsep Komunikasi Pemasaran dan Promosi (7)

Implikasi konseptual

Berdasarkan perkembangan tersebut, komunikasi pemasaran dapat didefinisikan sebagai proses strategis yang digunakan organisasi untuk merencanakan, menyampaikan, mengelola, dan mengevaluasi pesan melalui berbagai saluran guna membangun kesadaran, pengetahuan, citra, preferensi, keterlibatan, kepercayaan, keputusan pembelian, dan hubungan pelanggan jangka panjang.

Sementara itu, promosi dapat dipahami sebagai salah satu bagian dari komunikasi pemasaran yang berfokus pada aktivitas informatif dan persuasif untuk mendorong respons pelanggan. Dalam paradigma kontemporer, promosi tidak lagi cukup dilakukan melalui satu media atau satu kampanye. Organisasi perlu mengintegrasikan pesan, kanal, pengalaman layanan, data pelanggan, dan umpan balik pasar agar janji merek yang disampaikan konsisten dengan nilai yang benar-benar diterima pelanggan.

PerkembanganKonsep Komunikasi Pemasaran dan Promosi (6)

Sintesis perkembangan konsep

Tahap perkembanganFokus utamaKontributor utama
Tahap perkembanganFokus utamaKontributor utama
Promosi tradisionalInformasi dan persuasi untuk mendorong penjualanBorden (1964); McCarthy (1960)
Bauran promosiKombinasi periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, PR, dan pemasaran langsungKotler dan Armstrong (2018); Kotler dan Keller (2016)
Komunikasi pemasaranPengelolaan pesan untuk memengaruhi pengetahuan, sikap, dan perilaku audiensBelch dan Belch (2004); Fill (2009)
IMC awalPenyelarasan alat komunikasi untuk kejelasan, konsistensi, dan dampak maksimumSchultz (1989); Caywood et al. (1991); Schultz et al. (1993)
IMC strategisIntegrasi lintas fungsi, audiens, kanal, data, dan pengukuran hasilKitchen dan Schultz (2000); Kliatchko (2005)
Komunikasi digital interaktifDialog, media sosial, ulasan daring, dan konten buatan penggunaMangold dan Faulds (2009); Berthon et al. (2012)
Omnichannel dan customer journeyKonsistensi komunikasi serta pengalaman di seluruh titik kontak pelangganLemon dan Verhoef (2016); Wedel dan Kannan (2016)

PerkembanganKonsep Komunikasi Pemasaran dan Promosi (5)

Era digital dan relasional

Perkembangan internet, perangkat mobile, media sosial, platform e-commerce, analitik data, dan kecerdasan buatan telah mengubah komunikasi pemasaran dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi multidirectional. Mangold dan Faulds (2009) menjelaskan bahwa media sosial menjadi elemen hibrida dalam bauran promosi karena perusahaan dapat berkomunikasi kepada pelanggan, tetapi pelanggan juga dapat berkomunikasi dengan perusahaan dan dengan pelanggan lain dalam skala luas.

Dalam era digital, pelanggan tidak hanya menerima pesan dari merek. Mereka juga menciptakan, menyebarkan, mengkritik, memvalidasi, atau bahkan menolak pesan merek melalui ulasan daring, komentar media sosial, konten buatan pengguna, electronic word of mouth, dan komunitas digital. Berthon, Pitt, Plangger, dan Shapiro (2012) menekankan bahwa media sosial menggeser pelanggan dari posisi audiens pasif menjadi produsen, distributor, dan pengubah makna merek.

Lemon dan Verhoef (2016) menjelaskan bahwa pengalaman pelanggan terbentuk melalui banyak titik kontak sepanjang customer journey, termasuk titik kontak yang dikendalikan merek, dikelola mitra, diciptakan pelanggan, dan dipengaruhi faktor sosial atau eksternal. Oleh sebab itu, komunikasi pemasaran kontemporer perlu dikelola secara lintas kanal (omnichannel) dan diselaraskan dengan pengalaman nyata pelanggan, bukan hanya dengan materi promosi.

Dalam komunikasi digital, organisasi juga semakin menggunakan pendekatan berbasis data. Wedel dan Kannan (2016) menjelaskan bahwa marketing analytics memungkinkan perusahaan melakukan segmentasi, personalisasi pesan, prediksi respons, optimasi kampanye, dan evaluasi efektivitas komunikasi secara lebih presisi. Namun, penggunaan data pelanggan harus disertai perlindungan privasi, transparansi, persetujuan pengguna, dan tata kelola yang etis.

PerkembanganKonsep Komunikasi Pemasaran dan Promosi (4)

Perkembangan komunikasi terpadu

Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, fragmentasi media, meningkatnya persaingan, berkembangnya basis data pelanggan, serta kebutuhan membangun pesan yang konsisten mendorong lahirnya konsep Integrated Marketing Communications atau IMC. Konsep IMC berkembang dalam praktik bisnis Amerika Serikat pada dekade 1980-an dan kemudian dipromosikan secara luas oleh Schultz (1989).

American Association of Advertising Agencies atau 4As mendefinisikan IMC sebagai konsep perencanaan komunikasi pemasaran yang mengakui nilai tambah dari rencana komprehensif yang mengevaluasi peran strategis berbagai disiplin komunikasi—seperti periklanan, respons langsung, promosi penjualan, dan hubungan masyarakat—lalu mengintegrasikannya untuk menghasilkan kejelasan, konsistensi, dan dampak komunikasi yang maksimum.qrbd+1

Caywood, Schultz, dan Wang (1991) menekankan bahwa IMC bukan sekadar penggunaan banyak media secara bersamaan. IMC menuntut koordinasi strategis antaralat komunikasi agar pelanggan menerima pesan merek yang saling menguatkan. Gagasan konseptual IMC kemudian dipublikasikan secara lebih sistematis oleh Schultz, Tannenbaum, dan Lauterborn (1993) melalui buku Integrated Marketing Communications.

Misalnya, apabila suatu bank digital memosisikan dirinya sebagai layanan yang “cepat, aman, dan mudah,” maka iklan digital, desain aplikasi, promosi cashback, konten media sosial, layanan pelanggan, notifikasi transaksi, komunikasi krisis, dan pengalaman pengguna harus konsisten memperkuat tiga asosiasi tersebut. Ketidaksesuaian antara janji iklan dan pengalaman aktual akan melemahkan kredibilitas komunikasi merek.

Kitchen dan Schultz (2000) menjelaskan bahwa IMC berkembang dari koordinasi taktis atas berbagai elemen promosi menjadi proses manajemen strategis yang terintegrasi. Artinya, IMC tidak hanya menyatukan pesan eksternal, tetapi juga menuntut keselarasan komunikasi internal, pengelolaan data pelanggan, pengukuran hasil, dan pengambilan keputusan lintas fungsi.ejournal.uniramalang.ac+1

Kliatchko (2005) mendefinisikan IMC sebagai konsep dan proses pengelolaan program komunikasi merek yang berfokus pada audiens, berorientasi pada saluran, dan didorong oleh hasil secara strategis dalam jangka waktu tertentu. Definisi ini menunjukkan pergeseran penting: IMC tidak hanya berfokus pada konsistensi pesan, tetapi juga pada pemahaman audiens, pemilihan kanal, serta pengukuran dampak komunikasi terhadap tujuan organisasi

PerkembanganKonsep Komunikasi Pemasaran dan Promosi (3)

Bauran promosi

Pada pendekatan konvensional, komunikasi pemasaran diwujudkan melalui berbagai instrumen yang saling melengkapi. Kotler dan Keller (2016) mengelompokkan alat komunikasi pemasaran utama ke dalam beberapa bentuk berikut.

InstrumenFungsi utamaContoh
PeriklananMembangun kesadaran, citra, dan preferensi secara luasIklan televisi, radio, cetak, luar ruang, iklan digital
Promosi penjualanMendorong respons atau pembelian jangka pendekDiskon, kupon, cashback, bundling, kontes, sampel
Penjualan personalMembangun komunikasi langsung dan menyesuaikan penawaranPresentasi penjualan, konsultasi, demonstrasi produk
Hubungan masyarakatMembangun reputasi, kredibilitas, dan hubungan dengan publikSiaran pers, kegiatan sosial, media relations, event
Pemasaran langsungMenghubungi pelanggan secara lebih personal dan terukurEmail, SMS, katalog, telemarketing, notifikasi aplikasi
Pemasaran digital dan media sosialMendorong interaksi, keterlibatan, dan komunikasi dua arahKonten media sosial, influencer marketing, search advertising, komunitas daring

Periklanan berperan besar dalam membangun kesadaran dan citra merek karena mampu menjangkau audiens dalam jumlah besar. Namun, promosi penjualan lebih diarahkan untuk mendorong tindakan segera melalui insentif ekonomi atau non-ekonomi. Penjualan personal menjadi penting ketika produk bersifat kompleks, bernilai tinggi, membutuhkan konsultasi, atau memerlukan kepercayaan tinggi. Sementara itu, hubungan masyarakat sangat relevan untuk membangun legitimasi, reputasi, dan kredibilitas karena pesannya sering dianggap lebih objektif daripada iklan.

Kotler dan Keller (2016) menegaskan bahwa efektivitas setiap instrumen bergantung pada tujuan komunikasi, karakteristik pasar sasaran, tahap siklus hidup produk, anggaran, karakteristik produk, dan posisi merek. Karena itu, organisasi tidak seharusnya memilih media atau alat promosi secara terpisah, tetapi perlu merancang kombinasi komunikasi yang paling tepat bagi sasaran dan tujuan tertentu.

PerkembanganKonsep Komunikasi Pemasaran dan Promosi (2)

Dari promosi ke komunikasi pemasaran

Perkembangan berikutnya menunjukkan pergeseran istilah dari “promosi” menuju “komunikasi pemasaran.” Pergeseran ini penting karena promosi cenderung dipahami semata-mata sebagai upaya membujuk pelanggan agar membeli, sedangkan komunikasi pemasaran memiliki cakupan yang lebih luas: menyampaikan informasi, membangun pengenalan, membentuk citra, menegaskan nilai, menciptakan hubungan, menangani umpan balik, dan mempertahankan pelanggan.

Belch dan Belch (2004) mendefinisikan promosi sebagai koordinasi seluruh upaya yang diinisiasi penjual untuk membangun saluran informasi dan persuasi dengan tujuan menjual barang atau jasa atau mempromosikan gagasan. Definisi ini menekankan dua fungsi utama promosi, yaitu fungsi informatif dan fungsi persuasif.admin.ijbarr

Fill (2009) menjelaskan bahwa komunikasi pemasaran merupakan proses manajemen yang digunakan organisasi untuk berinteraksi dengan berbagai audiensnya. Dalam proses tersebut, organisasi mengembangkan, menyajikan, dan mengevaluasi serangkaian pesan untuk memengaruhi persepsi, sikap, serta perilaku audiens. Dengan perspektif ini, komunikasi tidak hanya bergerak satu arah dari perusahaan kepada pelanggan, tetapi dapat berlangsung dua arah melalui respons pelanggan, keluhan, ulasan, percakapan, dan interaksi sosial.

Shimp dan Andrews (2013) juga menekankan bahwa komunikasi pemasaran membantu perusahaan membangun kesadaran merek, menciptakan asosiasi merek, menumbuhkan preferensi, mengurangi ketidakpastian pelanggan, serta mendorong pembelian dan loyalitas. Oleh karena itu, komunikasi pemasaran dapat dipandang sebagai “suara” perusahaan dan merek yang menghubungkan organisasi dengan pelanggan, komunitas, mitra, serta pemangku kepentingan lain.

PerkembanganKonsep Komunikasi Pemasaran dan Promosi (1)

Konsep komunikasi pemasaran dan promosi berkembang dari kegiatan satu arah untuk menjual produk melalui iklan dan penjualan personal menjadi proses strategis, terintegrasi, berbasis data, interaktif, serta berorientasi pada hubungan dan pengalaman pelanggan. Dalam perspektif kontemporer, komunikasi pemasaran tidak hanya bertujuan memberi informasi dan membujuk pelanggan, tetapi juga membangun makna merek, menciptakan keterlibatan, memperkuat relasi, serta mendorong nilai pelanggan jangka panjang.

Awal konsep promosi

Pada tahap awal perkembangan pemasaran, promosi terutama dipahami sebagai aktivitas untuk menginformasikan keberadaan produk, membujuk calon pembeli, dan mendorong pembelian. Promosi memiliki orientasi transaksi, yaitu meningkatkan penjualan dalam jangka pendek melalui penyebaran pesan persuasif kepada pasar yang luas.

Borden (1964) memperkenalkan gagasan marketing mix sebagai kumpulan elemen pemasaran yang dapat dikombinasikan perusahaan untuk memengaruhi permintaan pasar. Dalam kerangka tersebut, unsur komunikasi seperti periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, publisitas, dan hubungan masyarakat menjadi bagian penting dari keputusan pemasaran perusahaan. Pemikiran Borden (1964) menegaskan bahwa promosi bukan kegiatan terpisah, melainkan salah satu instrumen yang harus diselaraskan dengan produk, harga, dan distribusi.

McCarthy (1960) kemudian menyederhanakan berbagai unsur pemasaran ke dalam konsep 4P, yaitu product, price, place, dan promotion. Dalam model ini, promosi diposisikan sebagai salah satu variabel bauran pemasaran yang digunakan organisasi untuk mengkomunikasikan nilai produk kepada pasar sasaran. McCarthy (1960) membantu mempopulerkan pandangan bahwa keberhasilan pemasaran tidak cukup bergantung pada kualitas produk, melainkan juga pada kemampuan perusahaan menyampaikan informasi, membangun minat, dan memengaruhi keputusan pelanggan.wikipedia

Kotler dan Armstrong (2018) menjelaskan bahwa bauran komunikasi pemasaran atau promotion mix merupakan perpaduan spesifik dari alat-alat komunikasi yang digunakan perusahaan untuk secara persuasif mengkomunikasikan nilai pelanggan dan membangun hubungan pelanggan. Dalam pendekatan tradisional, bauran promosi mencakup periklanan, promosi penjualan, penjualan personal, hubungan masyarakat, dan pemasaran langsung.

Perkembangan Analisis Pasar dan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) (7)

Implikasi konseptual

Berdasarkan perkembangan tersebut, analisis pasar dapat didefinisikan sebagai proses sistematis untuk memahami struktur, ukuran, pertumbuhan, pelanggan, kompetitor, kebutuhan, tren, dan peluang suatu pasar sebagai dasar pengambilan keputusan pemasaran. Sementara itu, STP merupakan kerangka strategi yang terdiri atas segmentasi pasar, pemilihan pasar sasaran, dan pembentukan posisi merek yang bernilai serta berbeda di dalam persepsi pelanggan sasaran.

Secara operasional, proses STP dapat dirumuskan sebagai berikut:

Analisis Pasar→Segmentasi→Evaluasi Segmen→Targeting→Positioning→Bauran Pemasaran\text{Analisis Pasar} \rightarrow \text{Segmentasi} \rightarrow \text{Evaluasi Segmen} \rightarrow \text{Targeting} \rightarrow \text{Positioning} \rightarrow \text{Bauran Pemasaran}Analisis Pasar→Segmentasi→Evaluasi Segmen→Targeting→Positioning→Bauran Pemasaran

Dalam penelitian atau penyusunan strategi, segmentasi dapat dianalisis menggunakan karakteristik geografis, demografis, psikografis, dan perilaku. Targeting dapat dievaluasi melalui daya tarik segmen serta kesesuaian dengan sumber daya organisasi. Positioning dapat diukur melalui persepsi pelanggan atas keunikan, relevansi, kredibilitas, kualitas, manfaat, dan perbedaan merek dibandingkan pesaing. Dengan demikian, STP berfungsi sebagai jembatan antara pemahaman pasar dan perancangan produk, harga, promosi, distribusi, serta pengalaman pelanggan yang lebih tepat sasaran

Perkembangan Analisis Pasar dan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) (6)

Sintesis perkembangan konsep

Tahap perkembanganFokus utamaKontributor dan gagasan
Tahap perkembanganFokus utamaKontributor dan gagasan
Pemasaran massalSatu penawaran bagi pasar yang diasumsikan homogenPraktik pemasaran awal
Segmentasi pasarPasar heterogen perlu dibagi menjadi kelompok yang relatif homogenSmith (1956)
Segmentasi berbasis manfaatKelompok pasar dibedakan berdasarkan manfaat utama yang dicari pelangganHaley (1968)
Analisis multi-basisSegmentasi dapat menggunakan kombinasi variabel demografis, psikografis, dan perilakuWind (1978)
Evaluasi dan pemilihan targetSegmen dipilih berdasarkan ukuran, aksesibilitas, profitabilitas, dan kesesuaian organisasiKotler (1984)
PositioningMerek membangun posisi berbeda dalam benak pelanggan dibandingkan pesaingRies dan Trout (1981)
Ekuitas merekPositioning dibentuk oleh asosiasi yang kuat, disukai, dan unikKeller (1993)
Segmentasi analitisPenggunaan metode statistik untuk membentuk dan mengevaluasi segmenWedel dan Kamakura (2000)
STP digital dan customer journeySegmentasi dinamis, personalisasi, dan konsistensi pengalaman di seluruh touchpointWedel dan Kannan (2016); Lemon dan Verhoef (2016)

Perkembangan Analisis Pasar dan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) (5)

Dari STP klasik ke pasar digital

Dalam model klasik, proses STP cenderung berlangsung secara linear: organisasi melakukan segmentasi, memilih target, lalu menentukan positioning. Namun, pasar modern menjadikan proses ini lebih dinamis. Perubahan perilaku pelanggan, interaksi media sosial, ulasan daring, data transaksi, algoritma rekomendasi, serta perubahan kompetitif dapat menyebabkan segmen dan posisi merek berubah dengan cepat.

Wedel dan Kamakura (2000) memperkuat pendekatan segmentasi melalui metode statistik dan analitik, seperti cluster analysis, latent class analysis, dan model probabilistik. Pendekatan ini memungkinkan peneliti dan perusahaan mengidentifikasi kelompok pelanggan berdasarkan pola data yang lebih kompleks daripada klasifikasi demografis sederhana.

Dalam ekonomi digital, Wedel dan Kannan (2016) menjelaskan bahwa analitik pemasaran memungkinkan perusahaan melakukan segmentasi berbasis data perilaku real-time, seperti riwayat pencarian, pola klik, transaksi, lokasi, waktu penggunaan, respons promosi, dan interaksi media sosial. Perkembangan ini mendorong pergeseran dari segmentasi statis menuju segmentasi dinamis dan personalisasi yang lebih kontekstual.

Lemon dan Verhoef (2016) juga menekankan bahwa pelanggan membentuk persepsi merek melalui berbagai titik kontak sepanjang customer journey. Konsekuensinya, positioning tidak cukup dikomunikasikan melalui iklan, melainkan harus dibuktikan secara konsisten pada seluruh pengalaman pelanggan, mulai dari pencarian informasi, pembelian, penggunaan, layanan purnajual, hingga penanganan keluhan.

Perkembangan Analisis Pasar dan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) (4)

Positioning: posisi dalam benak pelanggan

Positioning merupakan tahap ketiga STP, yaitu usaha merancang penawaran dan citra organisasi agar memperoleh posisi yang jelas, bernilai, dan berbeda dibandingkan pesaing dalam benak pelanggan sasaran. Ries dan Trout (1981) mempopulerkan positioning melalui buku Positioning: The Battle for Your Mind. Menurut Ries dan Trout (1981), positioning bukan terutama tindakan terhadap produk, tetapi tindakan untuk membentuk persepsi dalam pikiran calon pelanggan.opac.agulin.aoyama.ac+1

Sebelum konsep positioning berkembang secara formal, pemasaran banyak menekankan unique selling proposition atau USP. Reeves (1961) menyatakan bahwa iklan yang efektif perlu menawarkan manfaat spesifik yang jelas kepada pelanggan, bukan sekadar klaim umum. Pendekatan USP menekankan keunikan manfaat produk, sedangkan positioning memperluasnya dengan menekankan posisi relatif merek dibandingkan pesaing di dalam persepsi pelanggan.

Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa positioning yang efektif perlu didasarkan pada points-of-difference dan points-of-parity. Points-of-difference adalah atribut, manfaat, atau asosiasi yang diyakini pelanggan kuat, menguntungkan, dan unik bagi suatu merek dibandingkan pesaing. Sebaliknya, points-of-parity adalah asosiasi atau manfaat dasar yang harus dimiliki merek agar dianggap layak bersaing dalam kategori produk tertentu.

Sebagai contoh, suatu aplikasi pembayaran digital harus memiliki points-of-parity, seperti keamanan transaksi, kemudahan pembayaran, kecepatan proses, dan penerimaan merchant yang memadai. Namun, agar berbeda dari pesaing, aplikasi tersebut dapat membangun point-of-difference berupa integrasi terbaik dengan layanan transportasi, program keuangan mikro, pengalaman pengguna yang sangat sederhana, atau keunggulan dalam layanan pelanggan.

Keller (1993) menjelaskan bahwa posisi merek yang kuat akan terbentuk apabila pelanggan memiliki kesadaran terhadap merek serta asosiasi yang kuat, disukai, dan unik di dalam memori mereka. Oleh karena itu, positioning bukan hanya slogan atau pesan iklan. Positioning harus diwujudkan secara konsisten melalui kualitas produk, harga, distribusi, komunikasi, desain, pelayanan, pengalaman digital, dan cara organisasi merespons keluhan pelanggan.

Perkembangan Analisis Pasar dan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) (3)

Targeting: memilih pasar sasaran

Setelah pasar disegmentasi, tahap berikutnya adalah targeting, yaitu mengevaluasi daya tarik setiap segmen dan memilih segmen yang akan menjadi fokus pelayanan organisasi. Targeting menjawab pertanyaan strategis: “kelompok pelanggan mana yang paling tepat dan paling mampu dilayani oleh organisasi?”

Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa evaluasi segmen perlu mempertimbangkan ukuran serta pertumbuhan segmen, tingkat profitabilitas, intensitas persaingan, risiko pasar, kesesuaian dengan sumber daya perusahaan, dan keselarasan dengan tujuan organisasi. Oleh karena itu, segmen yang besar belum tentu menjadi target terbaik. Segmen kecil dapat lebih menarik apabila memiliki kebutuhan yang spesifik, margin yang baik, persaingan yang lebih rendah, dan sesuai dengan kompetensi perusahaan.

Dalam perkembangan strategi pemasaran, Kotler (1984) membedakan beberapa pola pemilihan pasar sasaran:

Strategi targetingKarakteristikContoh sederhana
Pemasaran tanpa diferensiasiSatu penawaran untuk seluruh pasarProduk kebutuhan dasar dengan variasi terbatas
Pemasaran terdiferensiasiPenawaran berbeda untuk beberapa segmenBank menyediakan produk untuk pelajar, pekerja, UMKM, dan nasabah prioritas
Pemasaran terkonsentrasiFokus pada satu atau sedikit segmen khususKlinik khusus ibu dan anak atau produk premium untuk kolektor
MicromarketingPenawaran disesuaikan hingga wilayah, kelompok kecil, atau individuRekomendasi produk personal pada e-commerce

Pemasaran tanpa diferensiasi cenderung digunakan bila kebutuhan pasar relatif serupa dan efisiensi skala menjadi pertimbangan utama. Sebaliknya, pemasaran terdiferensiasi cocok ketika perusahaan memiliki sumber daya untuk merancang penawaran yang berbeda bagi beberapa kelompok pasar. Pemasaran terkonsentrasi atau niche marketing lebih tepat bagi perusahaan dengan sumber daya terbatas yang ingin membangun keunggulan mendalam pada segmen khusus.

Perkembangan teknologi digital memperkuat micromarketing, yaitu kemampuan perusahaan menyesuaikan penawaran untuk wilayah tertentu, komunitas, atau bahkan individu. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa data pelanggan, analitik digital, kecerdasan buatan, dan platform daring memungkinkan organisasi melakukan personalisasi produk, promosi, rekomendasi, serta komunikasi secara lebih presisi. Namun, personalisasi harus dijalankan dengan memperhatikan etika penggunaan data, transparansi, keamanan informasi, dan perlindungan privasi pelanggan

Perkembangan Analisis Pasar dan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) (2)

Segmentasi pasar

Segmentasi merupakan tahap pertama dalam STP. Kotler dan Keller (2016) mendefinisikan segmentasi pasar sebagai proses membagi pasar yang luas menjadi kelompok-kelompok pelanggan yang berbeda berdasarkan kebutuhan, karakteristik, atau perilaku, yang kemungkinan memerlukan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Dengan kata lain, segmentasi membantu organisasi mengubah pasar yang besar dan heterogen menjadi kelompok-kelompok yang lebih mudah dipahami, diukur, serta dilayani secara tepat.ceopedia

Dalam perkembangannya, segmentasi tidak hanya didasarkan pada karakteristik demografis, tetapi mencakup berbagai dasar segmentasi. Kotler dan Keller (2016) mengelompokkan dasar segmentasi konsumen ke dalam empat kategori utama:

Dasar segmentasiFokus analisisContoh variabel
GeografisLokasi dan kondisi wilayahNegara, provinsi, kota, iklim, kepadatan wilayah
DemografisKarakteristik populasiUsia, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pekerjaan, ukuran keluarga
PsikografisGaya hidup dan karakter psikologisKelas sosial, gaya hidup, nilai, minat, kepribadian
PerilakuRespons dan pola tindakan pelangganManfaat yang dicari, tingkat penggunaan, status pengguna, loyalitas, kesiapan membeli

Segmentasi geografis berguna ketika kebutuhan pelanggan dipengaruhi oleh lokasi, akses, budaya lokal, atau karakteristik wilayah. Segmentasi demografis banyak digunakan karena relatif mudah diukur dan berkaitan dengan variasi kebutuhan serta daya beli. Segmentasi psikografis membantu perusahaan memahami gaya hidup, nilai, dan orientasi hidup pelanggan yang tidak selalu terlihat dari data demografis. Sementara itu, segmentasi perilaku semakin penting karena mengelompokkan pelanggan berdasarkan manfaat yang dicari, pengalaman penggunaan, intensitas penggunaan, respons promosi, dan loyalitas.

Haley (1968) menekankan pentingnya segmentasi berdasarkan manfaat (benefit segmentation). Menurut Haley (1968), pasar dapat dibagi berdasarkan manfaat utama yang dicari konsumen dari suatu produk atau jasa. Dalam pasar pasta gigi, misalnya, sebagian pelanggan terutama mencari pencegahan karies, sebagian mencari pemutihan gigi, sebagian mencari kesegaran napas, dan sebagian lagi mempertimbangkan harga. Pendekatan ini penting karena pelanggan yang memiliki karakteristik demografis serupa belum tentu menginginkan manfaat yang sama.

Wind (1978) mengembangkan pemahaman segmentasi dengan menunjukkan bahwa organisasi dapat menggunakan berbagai basis segmentasi secara bersamaan. Dalam praktiknya, perusahaan sering mengombinasikan variabel demografis, psikografis, dan perilaku untuk membentuk profil segmen yang lebih kaya. Sebagai contoh, platform fintech dapat menargetkan kelompok usia muda di wilayah urban, berpendapatan menengah, memiliki gaya hidup digital, aktif bertransaksi daring, serta mencari layanan pembayaran yang cepat dan aman.

Agar segmentasi efektif, Kotler (1984) menyatakan bahwa segmen pasar harus memenuhi beberapa kriteria: dapat diukur (measurable), dapat dijangkau (accessible), cukup besar atau menguntungkan (substantial/profitable), dapat dibedakan (differentiable), dan dapat dilayani melalui program pemasaran yang efektif (actionable). Segmen yang sangat kecil, tidak dapat diidentifikasi, sulit dijangkau, atau tidak sesuai dengan kemampuan perusahaan mungkin menarik secara konseptual, tetapi belum tentu layak menjadi dasar strategi pemasaran

Perkembangan Analisis Pasar dan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) (1)

Konsep analisis pasar dan STP (Segmentation, Targeting, Positioning) berkembang dari orientasi pemasaran massal menuju pendekatan strategis yang berpusat pada heterogenitas kebutuhan pelanggan, pemilihan pasar sasaran yang menguntungkan, serta penciptaan posisi merek yang berbeda dalam benak konsumen. Dalam kerangka modern, STP bukan hanya teknik promosi, melainkan proses inti untuk menerjemahkan hasil analisis pasar menjadi keputusan tentang siapa pelanggan yang dilayani, kebutuhan apa yang diprioritaskan, dan nilai pembeda apa yang harus ditawarkan.

Awal analisis pasar

Pada tahap awal perkembangan pemasaran, perusahaan banyak menggunakan pendekatan pemasaran massal (mass marketing). Pendekatan ini berasumsi bahwa pasar relatif homogen sehingga organisasi dapat menawarkan satu produk, satu pesan, dan satu bauran pemasaran kepada seluruh konsumen. Strategi tersebut cukup relevan ketika pilihan produk terbatas, media komunikasi masih bersifat massal, dan konsumen belum memiliki banyak alternatif.

Namun, perubahan struktur pasar, pertumbuhan pendapatan, diversifikasi kebutuhan, perkembangan media, dan meningkatnya persaingan menunjukkan bahwa konsumen tidak dapat diperlakukan sebagai kelompok yang seragam. Smith (1956) menjadi pelopor penting ketika memperkenalkan konsep segmentasi pasar dalam artikelnya, Product Differentiation and Market Segmentation as Alternative Marketing Strategies. Smith (1956) memandang pasar sebagai kumpulan kelompok pelanggan yang memiliki pola permintaan berbeda, bukan satu pasar tunggal yang homogen. Segmentasi, menurut Smith (1956), adalah upaya memandang pasar heterogen sebagai sejumlah pasar yang lebih kecil dan relatif homogen berdasarkan perbedaan preferensi pembeli.whichframework+1

Smith (1956) juga membedakan segmentasi pasar dari diferensiasi produk. Diferensiasi produk berupaya memengaruhi atau “membelokkan” permintaan agar sesuai dengan satu penawaran perusahaan, sedangkan segmentasi pasar menerima adanya keberagaman permintaan dan kemudian menyesuaikan penawaran dengan kelompok pelanggan yang berbeda. Pemikiran ini menjadi fondasi perubahan dari orientasi produk ke orientasi pasar dan pelanggan.

Analisis pasar kemudian berkembang menjadi proses sistematis untuk memahami ukuran pasar, pertumbuhan, struktur persaingan, profil pelanggan, kebutuhan, perilaku pembelian, kekuatan pemasok, saluran distribusi, tren teknologi, regulasi, serta peluang dan ancaman. Kotler (1967) menempatkan analisis pasar sebagai dasar bagi perencanaan pemasaran, karena keputusan produk, harga, distribusi, dan promosi seharusnya didasarkan pada pemahaman tentang kebutuhan pelanggan dan kondisi lingkungan pasar

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (11)

Implikasi penelitian

Berdasarkan perkembangan teori tersebut, TAM dapat didefinisikan sebagai model penerimaan teknologi yang menjelaskan bahwa seseorang cenderung memiliki niat dan perilaku penggunaan yang lebih tinggi apabila ia memandang suatu teknologi mudah digunakan dan bermanfaat bagi pencapaian tugas atau kinerjanya.

Untuk riset kuantitatif, model dasar TAM dapat dirumuskan sebagai berikut:

Perceived Ease of Use→Perceived Usefulness\text{Perceived Ease of Use} \rightarrow \text{Perceived Usefulness}Perceived Ease of Use→Perceived Usefulness

Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness→Behavioral Intention→Actual Use\text{Perceived Ease of Use},\ \text{Perceived Usefulness} \rightarrow \text{Behavioral Intention} \rightarrow \text{Actual Use}Perceived Ease of Use, Perceived Usefulness→Behavioral Intention→Actual Use

Apabila penelitian berfokus pada konteks organisasi atau teknologi yang penggunaannya dipengaruhi lingkungan sosial, TAM2 dapat digunakan dengan menambahkan norma subjektif, citra, relevansi tugas, kualitas keluaran, dan keterlihatan hasil. Apabila penelitian ingin menjelaskan faktor pembentuk kemudahan penggunaan, seperti literasi digital, kecemasan teknologi, dukungan teknis, kesenangan penggunaan, atau self-efficacy, maka TAM3 lebih sesuai digunakan.

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (10)

Perkembangan konsep TAM

TahapFokus utamaKontribusi utama
TahapFokus utamaKontribusi utama
Fondasi TRASikap dan norma membentuk niat serta perilakuFishbein dan Ajzen (1975)
TAM awalKegunaan dan kemudahan sebagai keyakinan inti penerimaan teknologiDavis (1986; 1989)
Pengujian dan penyederhanaan modelPeran langsung kegunaan terhadap niat menggunakanDavis et al. (1989); Venkatesh dan Davis (1996)
TAM2Pengaruh sosial dan faktor kognitif-instrumental sebagai anteseden kegunaanVenkatesh dan Davis (2000)
Model kemudahan penggunaanFaktor pembentuk PEOU sebelum dan sesudah pengalaman penggunaanVenkatesh (2000)
TAM3Integrasi determinan PU dan PEOU, termasuk pengalaman serta voluntaritasVenkatesh dan Bala (2008)
Teori terpaduIntegrasi TAM dan teori penerimaan teknologi lainVenkatesh et al. (2003)

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (9)

TAM dan teori terpadu

Perkembangan TAM juga mendorong munculnya kerangka yang lebih integratif. Venkatesh et al. (2003) mengembangkan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology atau UTAUT dengan mengintegrasikan delapan teori penerimaan teknologi, termasuk TRA, TPB, TAM, Motivational Model, Model of PC Utilization, Innovation Diffusion Theory, dan Social Cognitive Theory.research.skylineuniversity.ac

Venkatesh et al. (2003) mengemukakan empat determinan utama niat dan penggunaan teknologi, yaitu performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions. Secara konseptual, performance expectancy memiliki kemiripan dengan persepsi kegunaan dalam TAM, sedangkan effort expectancy memiliki kemiripan dengan persepsi kemudahan penggunaan. Namun, UTAUT memperluas perhatian pada pengaruh sosial dan kondisi fasilitasi, serta memasukkan moderator seperti gender, usia, pengalaman, dan voluntaritas penggunaan.

Walaupun UTAUT menawarkan daya jelaskan yang lebih luas, TAM tetap banyak digunakan karena strukturnya sederhana, mudah dioperasionalkan, dan relevan untuk penelitian pada teknologi spesifik, seperti mobile banking, e-wallet, e-commerce, fintech, e-learning, telemedicine, sistem informasi rumah sakit, aplikasi pemerintah digital, atau kecerdasan buatan generatif.

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (8)

TAM3: determinan kemudahan penggunaan

Venkatesh dan Bala (2008) mengembangkan TAM3 dengan mengintegrasikan TAM2 dari Venkatesh dan Davis (2000) dan model determinan persepsi kemudahan penggunaan dari Venkatesh (2000). TAM3 berupaya menjelaskan tidak hanya penyebab persepsi kegunaan, tetapi juga faktor yang membentuk persepsi kemudahan penggunaan.scielo+1

Venkatesh dan Bala (2008) mengelompokkan determinan perceived ease of use ke dalam dua kelompok besar:

  • Anchors, yaitu keyakinan umum yang dimiliki pengguna sebelum atau pada awal pengalaman penggunaan teknologi, yang mencakup computer self-efficacy, persepsi kontrol eksternal, kecemasan komputer, dan computer playfulness.
  • Adjustments, yaitu penilaian yang berkembang setelah pengguna memperoleh pengalaman langsung, yang mencakup perceived enjoyment dan objective usability.

Computer self-efficacy mengacu pada keyakinan pengguna atas kemampuannya menggunakan komputer atau teknologi. Persepsi kontrol eksternal berkaitan dengan keyakinan bahwa organisasi menyediakan sumber daya, bantuan teknis, infrastruktur, dan dukungan yang diperlukan. Kecemasan komputer mencerminkan rasa takut atau cemas ketika berhadapan dengan teknologi. Sementara itu, computer playfulness dan perceived enjoyment menangkap unsur kesenangan, rasa ingin tahu, dan pengalaman positif selama menggunakan teknologi.

TAM3 juga memasukkan efek moderasi pengalaman dan voluntaritas penggunaan. Artinya, pengaruh suatu konstruk dapat berbeda antara pengguna baru dan pengguna berpengalaman, atau antara situasi penggunaan wajib dan penggunaan sukarela. Bagi pengguna pemula, kemudahan penggunaan dan dukungan organisasi dapat menjadi sangat penting. Sebaliknya, bagi pengguna berpengalaman, relevansi tugas, kualitas hasil, manfaat nyata, dan efisiensi sistem mungkin lebih menentukan.

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (7)

TAM2: pengaruh sosial dan kognitif

TAM awal mampu menjelaskan hubungan inti penerimaan teknologi, tetapi belum menjelaskan secara memadai dari mana persepsi kegunaan pengguna terbentuk. Oleh karena itu, Venkatesh dan Davis (2000) mengembangkan TAM2 dengan menambahkan determinan persepsi kegunaan dan pengaruh sosial.open.ncl.ac+1

Venkatesh dan Davis (2000) membagi determinan perceived usefulness ke dalam dua kelompok utama:

KelompokKonstrukPenjelasan
Pengaruh sosialNorma subjektif, voluntariness, dan imagePengguna dapat menerima teknologi karena orang penting mengharapkannya, karena penggunaan bersifat wajib/sukarela, dan karena teknologi meningkatkan status atau citra sosial
Proses kognitif-instrumentalJob relevance, output quality, result demonstrability, dan perceived ease of usePengguna menilai teknologi berguna apabila relevan dengan tugas, menghasilkan keluaran bermutu, manfaatnya mudah diamati, dan mudah digunakan

Menurut Venkatesh dan Davis (2000), norma subjektif dapat memengaruhi niat menggunakan secara langsung, terutama ketika penggunaan teknologi bersifat wajib. Selain itu, norma subjektif dapat meningkatkan persepsi kegunaan melalui mekanisme internalization dan identification. Internalization terjadi ketika pengguna menerima pandangan kelompok penting karena kelompok tersebut dianggap memiliki pengetahuan yang benar. Identification terjadi ketika pengguna menerima teknologi untuk memperoleh atau mempertahankan citra positif di hadapan kelompok sosial tertentu.

Sementara itu, job relevance menunjukkan sejauh mana pengguna menilai teknologi relevan dengan pekerjaannya. Output quality mengacu pada penilaian bahwa sistem menghasilkan keluaran yang baik dan membantu penyelesaian tugas. Result demonstrability berkaitan dengan sejauh mana hasil penggunaan teknologi dapat dirasakan, dikomunikasikan, dan diamati secara jelas oleh pengguna. Konstruk-konstruk ini menjelaskan bahwa teknologi tidak cukup hanya mudah digunakan; teknologi juga perlu relevan dan menghasilkan manfaat yang nyata.

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (5)

Penyederhanaan TAM

Davis, Bagozzi, dan Warshaw (1989) menemukan bahwa persepsi kegunaan dapat memengaruhi niat menggunakan secara langsung tanpa harus selalu melalui sikap. Temuan ini memiliki implikasi penting: pengguna dapat mengadopsi teknologi yang dianggap sangat bermanfaat walaupun mereka tidak secara emosional menyukai atau menikmati penggunaannya.

Venkatesh dan Davis (1996) kemudian menyempurnakan struktur TAM dengan memperjelas hubungan antara kemudahan penggunaan, kegunaan, niat, dan penggunaan sistem. Dalam versi yang banyak digunakan, sikap terhadap penggunaan sering dihilangkan karena pengaruh persepsi kegunaan terhadap niat dianggap cukup kuat dan langsung. Perkembangan ini menghasilkan model TAM yang lebih parsimonious atau sederhana, terutama untuk penelitian empiris berbasis survei dan SEM.scielo+1

Model TAM yang disederhanakan dapat dituliskan sebagai:

PEOU→PUPEOU \rightarrow PUPEOU→PU

PEOU, PU→BI→AUPEOU,\ PU \rightarrow BI \rightarrow AUPEOU, PU→BI→AU

dengan PEOUPEOUPEOU sebagai perceived ease of use, PUPUPU sebagai perceived usefulness, BIBIBI sebagai behavioral intention, dan AUAUAU sebagai actual use.

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (4)

Persepsi kemudahan penggunaan

Davis (1989) menjelaskan bahwa persepsi kemudahan penggunaan adalah keyakinan bahwa teknologi dapat digunakan tanpa membutuhkan usaha mental atau fisik yang besar. Pada aplikasi digital, persepsi ini dapat diwujudkan melalui antarmuka yang intuitif, menu yang jelas, proses registrasi yang sederhana, instruksi yang mudah dipahami, navigasi yang konsisten, serta sedikitnya langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan transaksi.

Kemudahan penggunaan tidak hanya berpengaruh langsung terhadap sikap dan niat menggunakan, tetapi juga berpengaruh tidak langsung melalui persepsi kegunaan. Sistem yang terlalu rumit dapat membuat pengguna menilai teknologi tidak efisien, bahkan ketika sistem tersebut memiliki banyak fungsi yang sebenarnya bermanfaat.

Sikap, niat, dan penggunaan aktual

Dalam formulasi awal TAM, Davis, Bagozzi, dan Warshaw (1989) menempatkan sikap terhadap penggunaan (attitude toward using) sebagai respons evaluatif pengguna—positif atau negatif—terhadap penggunaan teknologi. Sikap yang positif akan meningkatkan behavioral intention to use, yaitu kemauan atau rencana pengguna untuk memanfaatkan teknologi di masa depan. Selanjutnya, niat berperilaku menjadi prediktor paling dekat bagi penggunaan sistem secara aktual.digitalcommons.unl+1

Secara sederhana, seorang mahasiswa dapat memiliki niat menggunakan learning management system apabila ia menilai platform tersebut memudahkan pengumpulan tugas, mempercepat akses materi, dan membantu komunikasi akademik. Jika niat tersebut cukup kuat serta tidak ada hambatan akses, maka peluang penggunaan aktual akan meningkat.

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (3)

Persepsi kegunaan

Menurut Davis (1989), persepsi kegunaan merupakan keyakinan pengguna bahwa teknologi dapat meningkatkan kinerja. Dalam konteks aplikasi mobile banking, persepsi kegunaan dapat terlihat ketika pengguna merasa aplikasi membantu mempercepat transaksi, memudahkan pembayaran, mengurangi kebutuhan datang ke kantor bank, meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan, dan mendukung aktivitas sehari-hari.

Konstruk ini bersifat instrumental karena berhubungan langsung dengan manfaat fungsional teknologi. Oleh sebab itu, pengguna cenderung menerima suatu sistem apabila mereka melihat bukti bahwa teknologi tersebut dapat membantu mencapai tujuan secara lebih efektif, produktif, atau efisien.

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (2)

Model TAM awal

Model awal TAM yang dikembangkan Davis (1989) menjelaskan bahwa variabel eksternal, seperti desain sistem, pelatihan, pengalaman penggunaan, karakteristik pengguna, kualitas informasi, dan dukungan organisasi, memengaruhi dua persepsi utama pengguna: persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan.

Hubungan dasar dalam TAM dapat diringkas sebagai berikut:

Variabel Eksternal→PEOU→PU→Sikap→Niat→Penggunaan Aktual\text{Variabel Eksternal} \rightarrow \text{PEOU} \rightarrow \text{PU} \rightarrow \text{Sikap} \rightarrow \text{Niat} \rightarrow \text{Penggunaan Aktual}Variabel Eksternal→PEOU→PU→Sikap→Niat→Penggunaan Aktual

Dalam model tersebut, perceived ease of use memengaruhi perceived usefulness. Davis (1989) berargumen bahwa sistem yang lebih mudah digunakan cenderung dinilai lebih bermanfaat karena pengguna dapat menyelesaikan tugas secara lebih cepat, dengan usaha lebih kecil, dan dengan kemungkinan kesalahan yang lebih rendah. Temuan empiris juga menunjukkan bahwa persepsi kegunaan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan niat maupun penggunaan teknologi dibandingkan persepsi kemudahan penggunaan dalam banyak konteks penggunaan sistem

Perkembangan Technology Acceptance Model (TAM)  (1)

Teori Technology Acceptance Model (TAM) berkembang dari teori psikologi sosial tentang niat berperilaku menjadi kerangka khusus untuk menjelaskan penerimaan teknologi informasi. Davis (1986; 1989) menempatkan persepsi kegunaan (perceived usefulness) dan persepsi kemudahan penggunaan (perceived ease of use) sebagai keyakinan utama yang mendorong niat dan penggunaan aktual teknologi.scielo+1

Latar belakang TAM

TAM lahir dari kebutuhan untuk menjelaskan mengapa sistem informasi yang secara teknis baik belum tentu diterima dan digunakan oleh pengguna. Dalam banyak organisasi, kegagalan implementasi teknologi tidak selalu disebabkan oleh kelemahan perangkat keras atau perangkat lunak, tetapi oleh rendahnya kemauan pengguna untuk mengadopsi sistem tersebut.

Davis (1986) mengembangkan TAM dalam disertasinya sebagai adaptasi Theory of Reasoned Action atau TRA dari Fishbein dan Ajzen (1975). TRA menyatakan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi secara langsung oleh niat berperilaku, sedangkan niat dipengaruhi oleh sikap dan norma subjektif. Davis (1986) menyederhanakan serta mengkhususkan kerangka tersebut untuk konteks teknologi informasi dengan mengganti keyakinan umum dalam TRA menjadi dua keyakinan yang lebih relevan bagi penggunaan sistem, yaitu persepsi kegunaan dan persepsi kemudahan penggunaan.scielo+1

Davis (1989) kemudian memvalidasi instrumen pengukuran TAM melalui studi empiris dan menunjukkan bahwa perceived usefulness dan perceived ease of use merupakan determinan penting penerimaan teknologi informasi. Davis (1989) mendefinisikan perceived usefulness sebagai tingkat keyakinan seseorang bahwa penggunaan suatu sistem tertentu akan meningkatkan kinerja pekerjaannya. Sementara itu, perceived ease of use didefinisikan sebagai tingkat keyakinan seseorang bahwa penggunaan sistem tertentu akan bebas dari usaha yang berat.

Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (8)

Kritik dan implikasi

Kelebihan utama TRA adalah kemampuannya menjelaskan perilaku melalui mekanisme yang jelas: keyakinan membentuk sikap dan norma subjektif, sikap serta norma membentuk niat, lalu niat memprediksi perilaku. TRA telah digunakan secara luas untuk meneliti perilaku kesehatan, penggunaan teknologi, niat membeli, perilaku keuangan, kepatuhan, adopsi layanan digital, dan perilaku pro-lingkungan. Studi meta-analitik atas 96 set data dengan total 22.594 partisipan juga melaporkan dukungan terhadap hubungan utama dalam teori reasoned action dan planned behavior, khususnya peran niat sebagai prediktor perilaku.

Namun, TRA memiliki beberapa keterbatasan. Pertama, TRA kurang memadai untuk perilaku yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali individu, sehingga pengembangan ke TPB menjadi relevan. Kedua, terdapat kemungkinan intention–behavior gap, yaitu individu telah berniat melakukan suatu perilaku tetapi tidak merealisasikannya karena kendala waktu, akses, kebiasaan, emosi, atau situasi yang tidak terduga. Ketiga, kekuatan sikap dan norma subjektif dapat berbeda menurut konteks budaya, jenis perilaku, karakteristik responden, serta tingkat risiko keputusan.

Untuk penelitian kuantitatif, TRA dapat digunakan apabila perilaku yang diteliti relatif sadar, direncanakan, spesifik, dan dapat dikendalikan responden. Model dasar penelitian dapat dirumuskan sebagai: sikap terhadap perilaku dan norma subjektif memengaruhi niat berperilaku, kemudian niat berperilaku memengaruhi perilaku aktual. Apabila objek penelitian melibatkan hambatan kemampuan, sumber daya, akses teknologi, atau kendali eksternal, TPB lebih tepat digunakan karena memasukkan perceived behavioral control sebagai prediktor tambahan.

Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (7)

Perbedaan TRA, TPB, dan RAA

AspekTRATPBReasoned Action Approach
AspekTRATPBReasoned Action Approach
Pengembang utamaFishbein dan Ajzen (1975)Ajzen (1985; 1991)Fishbein dan Ajzen (2010)
Fokus perilakuPerilaku yang berada dalam kendali sukarelaPerilaku sukarela dan perilaku yang dipengaruhi kendala sumber daya/kontrolPenjelasan lebih terintegrasi atas pembentukan niat dan perilaku
Prediktor niatSikap terhadap perilaku dan norma subjektifSikap, norma subjektif, dan perceived behavioral controlSikap, norma yang dirasakan, dan perceived behavioral control
Komponen normaNorma subjektifNorma subjektifNorma injunktif dan norma deskriptif
Peran kontrolBelum dimasukkan secara eksplisitMemengaruhi niat dan dapat memengaruhi perilaku langsungDibedakan antara kapasitas dan otonomi
Kekuatan utamaSederhana dan kuat untuk menjelaskan perilaku berencanaLebih sesuai untuk perilaku yang tidak sepenuhnya volisionalLebih rinci dalam diagnosis keyakinan dan pengembangan intervensi

Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (6)

Pengembangan pendekatan reasoned action

Fishbein dan Ajzen (2010) kemudian memperbarui kerangka tersebut melalui Reasoned Action Approach (RAA). Pendekatan ini mempertahankan asumsi inti bahwa perilaku dipengaruhi oleh niat, tetapi memberikan elaborasi yang lebih luas terhadap konstruk-konstruk penentu niat dan perilaku.

Fishbein dan Ajzen (2010) membedakan norma menjadi dua bentuk, yaitu norma injunktif (injunctive norm) dan norma deskriptif (descriptive norm). Norma injunktif berkaitan dengan persepsi bahwa pihak penting menyetujui atau mengharapkan seseorang melakukan suatu perilaku. Sementara itu, norma deskriptif berhubungan dengan persepsi bahwa orang-orang penting atau anggota kelompok sosial benar-benar melakukan perilaku tersebut. Pengembangan ini menegaskan bahwa seseorang dapat terdorong bertindak baik karena ingin memperoleh persetujuan sosial maupun karena melihat perilaku itu lazim dilakukan oleh orang lain.sagepub

Selain itu, Fishbein dan Ajzen (2010) membedakan persepsi kontrol ke dalam capacity dan autonomy. Capacity berkaitan dengan keyakinan individu bahwa ia mampu melakukan perilaku tersebut, sedangkan autonomy berkaitan dengan tingkat kendali atau kebebasan individu dalam memutuskan dan melaksanakan perilaku. Penguraian ini membantu peneliti mengidentifikasi apakah hambatan perilaku berasal dari rendahnya kemampuan pribadi atau dari keterbatasan kendali atas kondisi eksternal.

Montaño dan Kasprzyk (2015) menjelaskan bahwa model reasoned action menempatkan keyakinan perilaku, keyakinan normatif, dan keyakinan kontrol sebagai fondasi psikologis yang membentuk sikap, norma yang dirasakan, serta persepsi kontrol. Dengan demikian, intervensi perubahan perilaku sebaiknya tidak hanya berusaha meningkatkan niat, tetapi juga mengidentifikasi keyakinan spesifik yang membuat individu memandang perilaku sebagai menguntungkan, dapat diterima secara sosial, dan dapat dilakukan.

Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (5)

Perkembangan menjadi TPB

TRA dirancang terutama untuk menjelaskan perilaku yang berada dalam kendali volisional atau kehendak individu. Artinya, seseorang diasumsikan relatif bebas memutuskan apakah akan melakukan suatu tindakan. Keterbatasan ini muncul ketika perilaku dipengaruhi oleh hambatan sumber daya, keterampilan, kesempatan, biaya, waktu, akses, regulasi, atau kemampuan pribadi.

Ajzen (1985) kemudian memperluas TRA menjadi Theory of Planned Behavior (TPB) dengan menambahkan konstruk perceived behavioral control atau persepsi kontrol perilaku. Ajzen (1991) menjelaskan bahwa TPB mempertahankan sikap terhadap perilaku dan norma subjektif dari TRA, tetapi menambahkan persepsi individu mengenai kemudahan atau kesulitan untuk melakukan perilaku tertentu.sagepub+1

Dalam TPB, niat berperilaku menjadi fungsi dari tiga konstruk utama:

BI=w1(AB)+w2(SN)+w3(PBC)BI = w_1(AB) + w_2(SN) + w_3(PBC)BI=w1​(AB)+w2​(SN)+w3​(PBC)

dengan PBCPBCPBC sebagai perceived behavioral control. Selain memengaruhi niat, perceived behavioral control juga dapat memengaruhi perilaku aktual secara langsung, terutama jika persepsi kontrol tersebut mencerminkan ketersediaan sumber daya dan kemampuan yang nyata.

Contohnya, seseorang mungkin memiliki sikap positif terhadap penggunaan layanan telemedicine dan memperoleh dukungan dari keluarga. Namun, ia tetap tidak menggunakan layanan tersebut apabila tidak memiliki perangkat yang memadai, akses internet stabil, literasi digital, kemampuan pembayaran, atau rasa percaya diri dalam menggunakan aplikasi. Kondisi semacam ini tidak dapat dijelaskan secara memadai oleh TRA, tetapi lebih dapat dijelaskan melalui TPB

Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (4)

Norma subjektif

Norma subjektif adalah persepsi individu mengenai tekanan sosial untuk melakukan atau tidak melakukan suatu perilaku. Fishbein dan Ajzen (1975) mendefinisikan norma subjektif sebagai persepsi seseorang bahwa individu atau kelompok penting dalam kehidupannya menganggap ia seharusnya atau tidak seharusnya melakukan perilaku tertentu.edutechwiki.unige

Norma subjektif dibentuk oleh dua komponen, yaitu normative beliefs dan motivation to comply. Normative beliefs adalah keyakinan individu tentang apakah pihak-pihak penting—misalnya keluarga, teman, pasangan, rekan kerja, atasan, tokoh masyarakat, atau komunitas—mendukung atau tidak mendukung perilaku tersebut. Sementara itu, motivation to comply adalah tingkat kesediaan individu untuk mengikuti pandangan atau harapan dari pihak-pihak tersebut.

Dalam konteks penggunaan layanan pembayaran digital, seseorang dapat berniat menggunakannya bukan hanya karena menilai aplikasi tersebut praktis, tetapi juga karena keluarga, teman, rekan kerja, atau penjual di sekitarnya mendorong dan telah menggunakannya. Norma subjektif menjadi lebih kuat apabila individu menganggap opini kelompok tersebut penting dan bersedia menyesuaikan perilakunya dengan harapan mereka.

Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (3)

Sikap terhadap perilaku

Sikap terhadap perilaku adalah evaluasi positif atau negatif seseorang terhadap pelaksanaan tindakan tertentu. Fishbein dan Ajzen (1975) menjelaskan bahwa sikap berasal dari behavioral beliefs, yaitu keyakinan individu tentang konsekuensi yang mungkin muncul apabila ia melakukan suatu perilaku, serta penilaian individu terhadap konsekuensi tersebut.

Secara sederhana, seseorang akan memiliki sikap positif apabila ia meyakini bahwa tindakan tertentu menghasilkan konsekuensi yang menguntungkan dan ia menilai konsekuensi tersebut sebagai sesuatu yang bernilai. Sebaliknya, sikap negatif muncul ketika seseorang memandang tindakan itu menghasilkan konsekuensi yang merugikan, tidak penting, atau tidak diinginkan.

Sebagai contoh, niat menggunakan aplikasi mobile banking dapat meningkat apabila calon pengguna percaya bahwa aplikasi tersebut menghemat waktu, memudahkan transaksi, aman, dan efisien; lalu ia menilai manfaat-manfaat tersebut sebagai hal yang penting. Dalam TRA, keyakinan tersebut tidak langsung memengaruhi perilaku, tetapi terlebih dahulu membentuk sikap terhadap penggunaan aplikasi.

Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (2)

Struktur dasar TRA

Fishbein dan Ajzen (1975) menyatakan bahwa perilaku aktual terutama ditentukan oleh behavioral intention atau niat berperilaku. Niat mencerminkan kesiapan, kemauan, atau kemungkinan subjektif seseorang untuk melakukan suatu tindakan tertentu. Semakin kuat niat seseorang, semakin tinggi kecenderungannya untuk melakukan perilaku tersebut, selama perilaku tersebut berada dalam kendali sukarela individu.nationalacademies+1

Secara konseptual, TRA menjelaskan hubungan berikut:

Keyakinan→Sikap dan Norma Subjektif→Niat Berperilaku→Perilaku Aktual\text{Keyakinan} \rightarrow \text{Sikap dan Norma Subjektif} \rightarrow \text{Niat Berperilaku} \rightarrow \text{Perilaku Aktual}Keyakinan→Sikap dan Norma Subjektif→Niat Berperilaku→Perilaku Aktual

Menurut Fishbein dan Ajzen (1975), niat berperilaku ditentukan oleh dua konstruk utama:

BI=w1(AB)+w2(SN)BI = w_1(AB) + w_2(SN)BI=w1​(AB)+w2​(SN)

dengan BIBIBI sebagai behavioral intention, ABABAB sebagai sikap terhadap perilaku (attitude toward behavior), SNSNSN sebagai norma subjektif (subjective norm), serta w1w_1w1​ dan w2w_2w2​ sebagai bobot relatif dari pengaruh sikap dan norma subjektif pada konteks perilaku tertentu. Rumusan ini tidak berarti bobot sikap dan norma selalu sama; dalam beberapa perilaku, keputusan lebih dipengaruhi oleh pertimbangan pribadi, sedangkan pada perilaku lain tekanan atau dukungan sosial dapat lebih dominan.

Perkembangan Theory of Reasoned Action (TRA)  (1)

Teori Theory of Reasoned Action (TRA) berkembang dari tradisi penelitian sikap dalam psikologi sosial menuju model formal untuk menjelaskan bagaimana keyakinan, evaluasi pribadi, tekanan sosial, dan niat membentuk perilaku yang dilakukan secara sadar atau sukarela. Fishbein dan Ajzen (1975) menempatkan niat berperilaku sebagai prediktor paling dekat dari perilaku aktual, sedangkan niat dibentuk oleh sikap terhadap perilaku dan norma subjektif.academic.oup+1

Latar belakang TRA

Perkembangan TRA tidak dapat dipisahkan dari persoalan klasik dalam psikologi sosial, yaitu mengapa sikap umum seseorang sering kali tidak secara konsisten memprediksi perilaku spesifiknya. Banyak studi awal menemukan bahwa seseorang dapat memiliki sikap positif terhadap suatu objek, tetapi tidak selalu melakukan perilaku yang berkaitan dengan objek tersebut. Misalnya, individu dapat menyatakan bahwa menjaga lingkungan adalah hal penting, tetapi belum tentu memilah sampah rumah tangga secara konsisten.

Fishbein dan Ajzen (1975) menjawab masalah tersebut dengan menekankan prinsip kesesuaian (compatibility principle). Menurut Fishbein dan Ajzen (1975), sikap yang digunakan untuk memprediksi perilaku harus diukur secara spesifik dan selaras dengan perilaku sasaran dalam empat unsur: tindakan (action), objek atau target (target), konteks (context), dan waktu (time). Oleh sebab itu, sikap terhadap “penggunaan teknologi secara umum” tidak selalu tepat untuk memprediksi “niat menggunakan aplikasi pembayaran digital untuk membayar belanja harian dalam satu bulan ke depan.”

Perumusan TRA pada dasarnya berakar pada model expectancy-value, yaitu pandangan bahwa sikap seseorang dibentuk oleh keyakinan mengenai konsekuensi suatu perilaku dan evaluasi terhadap konsekuensi tersebut. Fishbein dan Ajzen (1975) mengembangkan pendekatan ini menjadi teori yang lebih sistematis dengan menambahkan peran pengaruh sosial melalui norma subjektif. Literatur menyebut bahwa teori ini diperkenalkan secara rinci dalam buku Belief, Attitude, Intention, and Behavior karya Fishbein dan Ajzen (1975), lalu secara formal diberi nama Theory of Reasoned Action pada 1979

Perkembangan Konsep Brand (7)

Implikasi definisional

Berdasarkan perkembangan konsep tersebut, brand dapat didefinisikan sebagai identitas multidimensional yang membedakan suatu produk, jasa, organisasi, atau platform dari alternatifnya serta memuat kumpulan nama, simbol, nilai, asosiasi, pengalaman, dan makna yang terbentuk dalam persepsi pelanggan dan para pemangku kepentingan.

Dalam penelitian pemasaran, brand dapat dioperasionalkan melalui beberapa konstruk yang saling berkaitan, seperti kesadaran merek, citra merek, identitas merek, asosiasi merek, persepsi kualitas, kepercayaan merek, pengalaman merek, kecintaan merek, keterikatan merek, ekuitas merek, dan loyalitas merek. Karena itu, pemilihan indikator perlu disesuaikan dengan fokus penelitian: apakah brand diposisikan sebagai identitas pembeda, sumber nilai atau ekuitas, objek hubungan pelanggan, pengalaman konsumsi, atau hasil proses ko-kreasi dalam ekosistem digital

Perkembangan Konsep Brand (6)

Sintesis perkembangan konsep

Periode konseptualFokus utamaPandangan tentang brandKontributor utama
Identifikasi dan diferensiasiNama, tanda, simbol, dan desainPenanda asal serta pembeda produk atau jasaAmerican Marketing Association; Aaker (1991)
Ekuitas merekKesadaran, asosiasi, kualitas, dan loyalitasAset strategis yang menambah nilai bagi pelanggan dan perusahaanAaker (1991); Keller (1993)
Identitas dan maknaKepribadian, budaya, citra, dan simbolSistem identitas serta makna yang melekat pada organisasi dan pelangganKapferer (1992); de Chernatony dan McDonald (2003)
Relasi pelanggan–merekKepercayaan, komitmen, dan keterikatanMitra relasional yang dapat membangun hubungan psikologis dengan pelangganFournier (1998)
Pengalaman merekRespons sensorik, afektif, kognitif, dan perilakuPengalaman menyeluruh pada berbagai titik kontak pelangganSchmitt (1999); Brakus et al. (2009); Keller (2001)
Ko-kreasi dan ekosistemKolaborasi, komunitas, dan nilai-dalam-penggunaanHasil interaksi perusahaan, pelanggan, dan pemangku kepentinganVargo dan Lusch (2004); Merz et al. (2009); Merz et al. (2018)

Perkembangan Konsep Brand (5)

Brand sebagai ko-kreasi nilai

Perkembangan kontemporer memandang brand tidak lagi sepenuhnya diciptakan dan dikendalikan oleh perusahaan. Vargo dan Lusch (2004) melalui service-dominant logic menjelaskan bahwa nilai tidak hanya diproduksi oleh perusahaan lalu diserahkan kepada pelanggan, tetapi diciptakan bersama melalui penggunaan, interaksi, dan integrasi sumber daya oleh berbagai aktor.

Merz, He, dan Vargo (2009) secara khusus menyatakan bahwa perkembangan pemikiran tentang brand mengarah pada logika baru yang melihat brand sebagai aktivitas kolaboratif penciptaan nilai bersama antara perusahaan dan seluruh pemangku kepentingannya. Dalam pandangan ini, nilai brand merupakan nilai-dalam-penggunaan (value-in-use) yang dipersepsikan secara kolektif oleh para pemangku kepentingan, bukan nilai yang sepenuhnya ditentukan oleh manajemen perusahaan.link.springer+1

Merz et al. (2009) mengidentifikasi perkembangan logika brand dalam empat tahap utama:

TahapOrientasi utamaPosisi brand
Goods-dominant logicProduk dan transaksiIdentitas atau penanda kepemilikan produk
Value-dominant logicNilai ekonomi dan ekuitas merekAset perusahaan yang menciptakan nilai tambah
Relationship-dominant logicHubungan pelanggan dan organisasiSarana membangun serta mempertahankan relasi
Stakeholder-dominant logicKolaborasi berbagai pemangku kepentinganHasil proses ko-kreasi nilai bersama

Dalam perspektif stakeholder-dominant logic, pelanggan bukan lagi penerima pasif komunikasi merek. Pelanggan, karyawan, komunitas, influencer, pemasok, media, dan masyarakat dapat ikut membentuk makna brand melalui pengalaman, ulasan, interaksi media sosial, konten buatan pengguna, kritik publik, maupun advokasi terhadap merek. Hatch dan Schultz (2010) juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun dan mengelola merek korporat.

Merz, Zarantonello, dan Grappi (2018) kemudian mendefinisikan brand value co-creation sebagai proses penciptaan nilai penggunaan yang dipersepsikan untuk sebuah brand melalui hubungan jaringan dan interaksi sosial di antara para aktor dalam ekosistem. Artinya, nilai suatu brand semakin dipengaruhi oleh kualitas interaksi sosial dan pengalaman aktual pengguna, bukan hanya oleh pesan komunikasi yang dikendalikan perusahaan

Perkembangan Konsep Brand (4)

Brand sebagai pengalaman

Pada era ekonomi pengalaman, brand semakin dipahami melalui pengalaman menyeluruh yang dialami pelanggan. Schmitt (1999) mengemukakan bahwa pemasaran tidak cukup berfokus pada fitur dan manfaat produk, tetapi perlu mengelola pengalaman sensorik, afektif, kognitif, perilaku, dan relasional pelanggan. Dalam konteks ini, brand dibentuk oleh seluruh titik kontak pelanggan, mulai dari iklan, kemasan, layanan pegawai, desain toko, aplikasi, kualitas produk, respons keluhan, hingga percakapan pelanggan di media sosial.

Brakus, Schmitt, dan Zarantonello (2009) mendefinisikan pengalaman merek (brand experience) sebagai respons subjektif pelanggan—baik sensasi, perasaan, kognisi, maupun respons perilaku—yang ditimbulkan oleh stimulus terkait merek. Stimulus tersebut dapat berupa identitas visual, desain, kemasan, komunikasi pemasaran, lingkungan fisik, maupun pengalaman digital. Brand experience menjadi penting karena pengalaman yang konsisten dan positif dapat memperkuat kepuasan, kepercayaan, keterikatan, dan loyalitas pelanggan.

Keller (2001) melalui kerangka customer-based brand equity pyramid menjelaskan bahwa pembangunan merek yang kuat berlangsung melalui beberapa tahapan: membangun saliens merek (brand salience), menciptakan makna merek melalui kinerja dan citra, membentuk respons pelanggan berupa penilaian dan perasaan, serta mencapai resonansi merek (brand resonance). Resonansi merek mencerminkan hubungan psikologis yang mendalam antara pelanggan dan brand, yang ditunjukkan oleh loyalitas perilaku, keterikatan sikap, rasa komunitas, dan keterlibatan aktif pelanggan.

Dalam layanan digital, misalnya, brand aplikasi fintech tidak hanya dibentuk oleh nama, logo, dan iklan. Brand juga terbentuk melalui kemudahan registrasi, kecepatan transaksi, keamanan data, transparansi biaya, desain antarmuka, kualitas layanan pelanggan, serta cara platform menangani kegagalan transaksi. Apabila pengalaman pada berbagai titik tersebut konsisten dengan janji merek, pelanggan akan lebih mudah membangun kepercayaan dan asosiasi positif.

Perkembangan Konsep Brand (3)

Brand sebagai identitas dan relasi

Perkembangan berikutnya menempatkan brand bukan hanya sebagai aset pemasaran, tetapi juga sebagai identitas organisasi dan basis hubungan dengan pelanggan. Kapferer (1992) mengembangkan gagasan brand identity untuk menjelaskan bahwa merek perlu memiliki identitas yang jelas, konsisten, dan terarah. Identitas merek mencerminkan bagaimana organisasi ingin mereknya dipahami oleh pasar, sedangkan citra merek (brand image) mencerminkan bagaimana pelanggan atau publik benar-benar mempersepsikan merek tersebut.

Kapferer (2012) mengembangkan brand identity prism yang mencakup enam elemen, yaitu fisik (physique), kepribadian (personality), budaya (culture), hubungan (relationship), refleksi pelanggan (reflection), dan citra diri (self-image). Melalui model tersebut, brand dipahami sebagai sistem identitas yang tidak hanya berhubungan dengan atribut produk, tetapi juga nilai organisasi, gaya komunikasi, pola relasi dengan pelanggan, dan identitas sosial yang ingin dibangun konsumen melalui konsumsi merek.

De Chernatony dan McDonald (2003) memandang brand sebagai konstruk multidimensional yang memberi nilai fungsional dan nilai emosional. Nilai fungsional berkaitan dengan kemampuan merek memenuhi kebutuhan praktis pelanggan, sedangkan nilai emosional berhubungan dengan perasaan, identitas, simbol status, rasa aman, atau kebanggaan yang muncul ketika pelanggan menggunakan merek tersebut.

Fournier (1998) memperkuat perspektif relasional dengan menjelaskan bahwa konsumen dapat membangun hubungan layaknya hubungan interpersonal dengan suatu merek. Hubungan pelanggan–merek dapat mencakup komitmen, kedekatan emosional, kepercayaan, ketergantungan, nostalgia, maupun keterikatan. Oleh sebab itu, pengelolaan brand tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan kesadaran, tetapi juga pada penciptaan hubungan yang bermakna dan bertahan lama.

Perkembangan Konsep Brand (1)

Brand sebagai nilai dan ekuitas

Pada akhir 1980-an hingga 1990-an, konsep brand berkembang menjadi brand equity atau ekuitas merek. Perubahan ini memindahkan perhatian dari elemen merek yang tampak ke nilai strategis yang muncul karena suatu nama merek dikenal, dipercaya, dan dipilih oleh pelanggan.

Aaker (1991) mendefinisikan ekuitas merek sebagai serangkaian aset dan liabilitas yang terkait dengan nama dan simbol merek, yang dapat menambah atau mengurangi nilai produk atau jasa bagi perusahaan maupun pelanggan. Aaker (1991) mengemukakan beberapa dimensi penting ekuitas merek, yaitu kesadaran merek (brand awareness), asosiasi merek (brand associations), persepsi kualitas (perceived quality), loyalitas merek (brand loyalty), dan aset merek lainnya seperti paten atau hubungan distribusi.

Dalam pandangan Aaker (1991), brand tidak hanya membedakan produk, melainkan menjadi aset yang dapat menciptakan preferensi, menurunkan sensitivitas pelanggan terhadap harga, memperkuat loyalitas, mempermudah perluasan merek, dan meningkatkan nilai ekonomi perusahaan. Dengan kata lain, pelanggan sering kali memilih merek tertentu bukan semata-mata karena karakteristik produk yang objektif, tetapi karena adanya kepercayaan, pengalaman, asosiasi, dan reputasi yang melekat pada merek tersebut.

Keller (1993) mengembangkan konsep customer-based brand equity atau CBBE. Menurut Keller (1993), ekuitas merek berbasis pelanggan terjadi ketika pelanggan memiliki tingkat kesadaran tinggi dan asosiasi yang kuat, positif, serta unik terhadap merek dalam memorinya. Keller (1993) menekankan bahwa brand adalah produk yang memperoleh dimensi tambahan sehingga berbeda dari produk lain yang memenuhi kebutuhan yang sama.dspace.easternuni.edu

Melalui pendekatan CBBE, kekuatan brand terletak pada apa yang dipelajari, dirasakan, dilihat, didengar, dan dialami pelanggan mengenai suatu merek sepanjang waktu. Oleh karena itu, merek yang kuat tidak cukup hanya dikenal luas; merek tersebut harus memiliki asosiasi yang relevan, menguntungkan, konsisten, dan sulit ditiru oleh pesaing.

Perkembangan Konsep Brand (1)

Konsep brand berkembang dari sekadar tanda identifikasi dan pembeda produk menjadi aset strategis, kumpulan makna dalam benak konsumen, identitas organisasi, pengalaman pelanggan, hingga hasil ko-kreasi antara perusahaan dan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, merek modern tidak hanya berupa nama atau logo, tetapi sistem makna dan nilai yang dibangun melalui seluruh interaksi pelanggan dengan organisasi.

Awal: brand sebagai identitas

Secara historis, merek berfungsi sebagai penanda asal, kepemilikan, dan pembeda suatu produk. Dalam pengertian tradisional, American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual serta membedakannya dari para pesaing. Definisi ini menempatkan brand terutama sebagai alat identifikasi dan diferensiasi di pasar.nscpolteksby.ac+1

Aaker (1991) menjelaskan bahwa brand merupakan nama dan/atau simbol pembeda, seperti logo, merek dagang, atau desain kemasan, yang berfungsi mengidentifikasi barang atau jasa penjual serta membedakannya dari produk pesaing. Pada tahap ini, brand dipahami sebagai atribut eksternal yang membantu pelanggan mengenali sumber produk, mengurangi kebingungan dalam memilih, dan membedakan penawaran perusahaan dari alternatif yang tersedia.library.binus.ac

Kotler dan Keller (2012) memperluas pemahaman tersebut dengan menyatakan bahwa brand adalah produk atau jasa yang memiliki dimensi pembeda dibandingkan produk atau jasa lain yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Dimensi pembeda itu dapat bersifat fungsional dan berwujud, seperti kinerja atau fitur produk, tetapi juga dapat bersifat simbolik, emosional, dan tidak berwujud, seperti citra, status, nilai, atau makna yang diasosiasikan pelanggan terhadap suatu merek.nscpolteksby.ac

Sebagai contoh, dua merek kopi dapat menawarkan fungsi dasar yang sama, yaitu minuman kopi. Namun, salah satu merek dapat dibedakan melalui rasa, harga, kemasan, aksesibilitas, dan konsistensi kualitas; sementara merek lain dapat memperoleh keunggulan melalui citra gaya hidup, suasana komunitas, keberlanjutan lingkungan, atau identitas sosial yang dirasakan konsumennya.

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (6)

Implikasi definisional

Berdasarkan perkembangan tersebut, kepuasan pelanggan dapat didefinisikan sebagai evaluasi kognitif dan afektif pelanggan setelah menggunakan produk atau jasa, yang terbentuk melalui perbandingan antara harapan awal, kinerja yang dirasakan, kualitas, nilai, dan pengalaman konsumsi secara keseluruhan. Kepuasan terjadi ketika pelanggan merasakan bahwa manfaat, kualitas, dan pengalaman yang diterima memenuhi atau melampaui standar harapannya, sedangkan ketidakpuasan terjadi ketika kinerja layanan berada di bawah standar tersebut.

Untuk penelitian empiris, kepuasan pelanggan lazim diukur melalui indikator seperti kepuasan secara keseluruhan, kesesuaian layanan dengan harapan, ketepatan keputusan memilih penyedia layanan, rasa senang setelah menggunakan layanan, serta penilaian bahwa pengalaman yang diperoleh mendekati kondisi ideal. Kerangka ini sejalan dengan pengukuran ACSI yang menempatkan penilaian keseluruhan, konfirmasi harapan, dan perbandingan dengan layanan ideal sebagai manifestasi kepuasan pelanggan

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (5)

Kepuasan dalam era pengalaman

Dalam perkembangan kontemporer, kepuasan pelanggan tidak lagi hanya dikaji sebagai evaluasi terhadap transaksi tunggal. Lemon dan Verhoef (2016) menekankan bahwa pelanggan membentuk pengalaman melalui serangkaian titik kontak (touchpoints) sepanjang customer journey, mulai dari pencarian informasi, komunikasi pemasaran, pembelian, penggunaan, layanan purnajual, penanganan keluhan, hingga interaksi antarpelanggan di media sosial.

Dengan perspektif tersebut, kepuasan bersifat kumulatif. Johnson, Anderson, dan Fornell (1995) membedakan kepuasan transaksional dan kepuasan kumulatif. Kepuasan transaksional berkaitan dengan evaluasi pelanggan terhadap pengalaman layanan tertentu, misalnya satu kali kunjungan ke restoran atau satu transaksi pada aplikasi digital. Sebaliknya, kepuasan kumulatif merupakan evaluasi menyeluruh berdasarkan akumulasi pengalaman pelanggan dalam jangka panjang terhadap suatu merek, organisasi, atau penyedia layanan.

Dalam ekonomi digital, Bhattacherjee (2001) mengadaptasi teori konfirmasi harapan ke dalam konteks keberlanjutan penggunaan sistem informasi. Bhattacherjee (2001) menjelaskan bahwa konfirmasi harapan, persepsi kegunaan, dan kepuasan pengguna berperan dalam membentuk niat untuk terus menggunakan sistem. Pendekatan ini sangat relevan untuk studi mengenai kepuasan pengguna aplikasi mobile banking, fintech, e-commerce, telemedicine, sistem pembelajaran daring, maupun layanan publik digital.

Misalnya, pengguna aplikasi mobile banking akan cenderung puas apabila aplikasi mudah digunakan, transaksi berhasil dengan cepat, sistem stabil, biaya transparan, data pribadi terlindungi, dan masalah diselesaikan dengan responsif. Jika pengalaman aktual tersebut memenuhi atau melebihi harapan awal pengguna, maka kepuasan akan meningkat dan dapat mendorong continuance intention atau niat untuk terus menggunakan aplikasi tersebut.

Sintesis perkembangan konsep

Tahap perkembanganFokus konsepKontribusi utama
Tahap perkembanganFokus konsepKontribusi utama
Pertukaran dan evaluasi kognitifImbalan dibandingkan dengan pengorbanan pelangganHoward dan Sheth (1969)
Harapan sebelum konsumsiHarapan dan usaha memengaruhi evaluasi pascapembelianCardozo (1965)
Diskonfirmasi harapanKepuasan berasal dari perbandingan harapan dan kinerja aktualOliver (1980)
Kinerja, nilai, dan diskonfirmasiKepuasan dipengaruhi kinerja, harapan, nilai, serta perbedaan harapan–kinerjaChurchill dan Surprenant (1982); Tse dan Wilton (1988)
Respons emosionalKepuasan mencakup perasaan atau respons afektif atas pengalaman konsumsiWestbrook dan Reilly (1983)
Pemenuhan konsumsiKepuasan sebagai respons terhadap pemenuhan yang menyenangkanOliver (1997)
Kinerja pasar dan loyalitasKepuasan dipengaruhi kualitas, nilai, dan harapan; berdampak pada keluhan serta loyalitasFornell (1992); Fornell et al. (1996)
Kepuasan kumulatifKepuasan dibentuk oleh akumulasi pengalaman pelangganJohnson et al. (1995)
Customer journey dan digitalKepuasan dibentuk sepanjang titik kontak fisik maupun digital dan memengaruhi keberlanjutan penggunaanBhattacherjee (2001); Lemon dan Verhoef (2016)

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (4)

Loyalitas dalam pemasaran relasional

Seiring berkembangnya relationship marketing, loyalitas tidak lagi dipahami hanya sebagai hubungan pelanggan dengan merek atau transaksi pembelian, tetapi sebagai hasil dari kualitas hubungan jangka panjang antara pelanggan dan organisasi. Morgan dan Hunt (1994) menjelaskan bahwa kepercayaan dan komitmen merupakan dua variabel utama dalam pemasaran relasional. Kepercayaan membuat pelanggan yakin bahwa perusahaan dapat diandalkan, jujur, kompeten, dan bertindak untuk kepentingan hubungan jangka panjang; sedangkan komitmen mencerminkan keinginan pelanggan untuk mempertahankan hubungan yang bernilai.

Garbarino dan Johnson (1999) menunjukkan bahwa kepuasan, kepercayaan, dan komitmen memiliki peran berbeda dalam membentuk loyalitas, terutama dalam relasi jasa yang berkelanjutan. Pada pelanggan dengan hubungan yang sudah kuat, kepercayaan dan komitmen sering menjadi penjelas yang lebih penting atas niat mempertahankan hubungan dibandingkan evaluasi kepuasan transaksional semata. Karena itu, dalam sektor perbankan, pendidikan, kesehatan, telekomunikasi, asuransi, maupun platform digital, loyalitas dapat dipahami sebagai kemauan pelanggan untuk menjaga relasi dengan penyedia layanan.

Chaudhuri dan Holbrook (2001) membedakan loyalitas merek menjadi loyalitas pembelian (purchase loyalty) dan loyalitas sikap (attitudinal loyalty). Loyalitas pembelian tercermin pada kecenderungan pelanggan membeli merek secara berulang, sedangkan loyalitas sikap terlihat melalui komitmen, preferensi, dan kesediaan pelanggan membayar lebih atau mempertahankan pilihan merek. Kedua dimensi tersebut penting karena pelanggan yang sering membeli belum tentu memiliki ikatan psikologis yang kuat, sementara pelanggan dengan sikap positif belum tentu dapat membeli ulang karena keterbatasan akses, harga, atau kondisi situasional.

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (3)

Model perkembangan loyalitas

Oliver (1997) mendefinisikan loyalitas sebagai komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli kembali atau menggunakan kembali produk atau jasa yang disukai secara konsisten pada masa depan, meskipun terdapat pengaruh situasional dan upaya pemasaran pesaing yang berpotensi menimbulkan perpindahan perilaku. Definisi tersebut menempatkan loyalitas sebagai komitmen jangka panjang yang tahan terhadap gangguan eksternal, bukan sekadar niat membeli ulang dalam waktu dekat.vjol.info+1

Oliver (1999) mengembangkan loyalitas sebagai proses bertahap yang terdiri atas empat fase berikut.

  • Loyalitas kognitif muncul ketika pelanggan memilih merek berdasarkan informasi, atribut, harga, kualitas, atau manfaat fungsional yang diyakini lebih unggul dibandingkan alternatif.
  • Loyalitas afektif terbentuk ketika pengalaman penggunaan berulang menghasilkan rasa suka, kepuasan, atau keterikatan emosional terhadap merek.
  • Loyalitas konatif tercermin dalam niat dan komitmen pelanggan untuk melakukan pembelian kembali atau terus menggunakan layanan pada masa mendatang.
  • Loyalitas tindakan terlihat ketika pelanggan benar-benar mempertahankan perilaku pembelian ulang dan mampu mengatasi hambatan atau godaan untuk beralih kepada pesaing.

Model Oliver (1999) menunjukkan bahwa loyalitas adalah proses dinamis. Pelanggan dapat mulai loyal secara kognitif karena harga atau kualitas, tetapi loyalitas baru menjadi lebih kuat ketika muncul pengalaman positif, kepuasan berulang, komitmen, dan tindakan nyata untuk tetap menggunakan merek. Literatur juga menjelaskan bahwa pendekatan kontemporer umumnya menggabungkan dimensi perilaku—seperti pembelian ulang—dan dimensi sikap—seperti keyakinan, afeksi, serta komitmen pelanggan.

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (3)

Loyalitas sebagai sikap dan perilaku

Dick dan Basu (1994) memberikan kontribusi utama dengan mendefinisikan loyalitas sebagai hubungan antara sikap relatif pelanggan terhadap suatu entitas—misalnya merek, toko, jasa, atau pemasok—dan perilaku pembelian ulang atau repeat patronage. Sikap relatif berarti seberapa jauh preferensi pelanggan terhadap merek tertentu lebih tinggi dibandingkan alternatif yang tersedia. Loyalitas sejati hanya tercapai ketika sikap relatif yang tinggi berjalan bersama dengan perilaku pembelian berulang.mpra.uni-muenchen

Dick dan Basu (1994) membedakan empat kondisi loyalitas, yaitu:

Sikap relatifPembelian ulangBentuk loyalitasPenjelasan
Sikap relatifPembelian ulangBentuk loyalitasPenjelasan
TinggiTinggiLoyalitas sejatiPelanggan menyukai merek dan terus melakukan pembelian atau penggunaan
RendahTinggiLoyalitas semu (spurious loyalty)Pelanggan membeli ulang karena kebiasaan, hambatan berpindah, kemudahan, atau situasi tertentu
TinggiRendahLoyalitas laten (latent loyalty)Pelanggan memiliki preferensi positif, tetapi kondisi situasional menghambat pembelian ulang
RendahRendahTidak loyalPelanggan tidak menunjukkan preferensi maupun pembelian ulang

Model tersebut sangat relevan bagi penelitian layanan. Sebagai ilustrasi, pengguna aplikasi pembayaran digital dapat melakukan transaksi berulang karena banyak pedagang hanya menerima aplikasi tertentu. Jika pengguna sebenarnya tidak puas, tidak memiliki ikatan positif, dan siap berpindah ketika tersedia alternatif yang lebih mudah, maka kondisi tersebut lebih tepat disebut loyalitas semu daripada loyalitas sejati.

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (2)

Pendekatan sikap dan komitmen

Jacoby dan Kyner (1973) menawarkan salah satu definisi klasik yang sangat berpengaruh. Mereka mendefinisikan loyalitas merek sebagai respons perilaku yang bias atau tidak acak, diekspresikan secara terus-menerus oleh unit pengambilan keputusan terhadap satu atau lebih merek alternatif, serta merupakan fungsi dari proses psikologis. Definisi ini menegaskan bahwa loyalitas bukan sekadar repetisi pembelian, tetapi perilaku pilihan yang disengaja dan didukung evaluasi psikologis pelanggan.elixirpublishers

Jacoby dan Chesnut (1978) kemudian mengelompokkan pendekatan loyalitas ke dalam tiga perspektif: pendekatan perilaku, pendekatan sikap atau komitmen psikologis, serta pendekatan gabungan. Pendekatan sikap menilai loyalitas melalui preferensi, keterikatan emosional, kepercayaan, komitmen, dan niat pelanggan untuk tetap menggunakan merek. Sementara itu, pendekatan gabungan memandang loyalitas secara lebih utuh karena mengintegrasikan apa yang pelanggan rasakan dan pikirkan dengan apa yang benar-benar mereka lakukan.

Dalam kerangka ini, pelanggan yang loyal memiliki kecenderungan untuk menyatakan preferensi terhadap suatu merek, percaya bahwa merek tersebut lebih baik dibandingkan alternatif, dan menunjukkan keinginan kuat untuk terus membeli atau menggunakan layanan tersebut. Sebaliknya, pelanggan yang melakukan pembelian ulang tetapi tidak memiliki keterikatan atau sikap positif belum tentu dapat disebut loyal secara sejati

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (1)

Konsep loyalitas pelanggan berkembang dari ukuran sederhana berupa pembelian ulang menuju pemahaman yang lebih komprehensif sebagai komitmen psikologis, sikap positif, perilaku pembelian berulang, relasi jangka panjang, advokasi, dan resistensi terhadap tawaran pesaing. Dengan demikian, pelanggan yang loyal bukan hanya pelanggan yang sering membeli, melainkan pelanggan yang secara sadar memilih, mempertahankan, dan merekomendasikan suatu merek atau penyedia layanan.

Awal: loyalitas sebagai pembelian ulang

Kajian awal loyalitas banyak berangkat dari pendekatan perilaku (behavioral approach). Dalam pendekatan ini, loyalitas diidentifikasi melalui pola pembelian ulang, frekuensi pembelian, proporsi pembelian pada merek tertentu, atau konsistensi pelanggan dalam menggunakan penyedia jasa yang sama. Tucker (1964) memandang loyalitas merek terutama sebagai pola pembelian berulang tanpa harus selalu mengaitkannya dengan sikap atau komitmen psikologis konsumen.

Pendekatan perilaku tersebut berguna karena data pembelian relatif mudah diamati dan diukur. Misalnya, pelanggan yang secara berulang menggunakan bank, restoran, aplikasi transportasi daring, atau platform e-commerce tertentu dapat dikategorikan loyal berdasarkan frekuensi penggunaan. Namun, ukuran pembelian ulang saja memiliki keterbatasan karena pelanggan mungkin tetap membeli bukan karena menyukai merek tersebut, melainkan karena tidak tersedia alternatif, biaya berpindah tinggi, lokasi yang dekat, kontrak layanan, promosi harga, atau kebiasaan.

Day (1969) mengkritik penyamaan loyalitas dengan pembelian ulang semata. Menurut Day (1969), loyalitas sejati perlu mencakup dua unsur, yaitu pola pembelian berulang dan sikap positif terhadap merek. Pandangan ini menjadi titik penting dalam perkembangan teori karena membedakan pelanggan yang benar-benar memiliki preferensi dengan pelanggan yang sekadar melakukan pembelian berulang secara situasional

Perkembangan Konsep Kepuasan Pelanggan (7)

Implikasi definisional

Berdasarkan perkembangan tersebut, kepuasan pelanggan dapat didefinisikan sebagai evaluasi kognitif dan afektif pelanggan setelah menggunakan produk atau jasa, yang terbentuk melalui perbandingan antara harapan awal, kinerja yang dirasakan, kualitas, nilai, dan pengalaman konsumsi secara keseluruhan. Kepuasan terjadi ketika pelanggan merasakan bahwa manfaat, kualitas, dan pengalaman yang diterima memenuhi atau melampaui standar harapannya, sedangkan ketidakpuasan terjadi ketika kinerja layanan berada di bawah standar tersebut.

Untuk penelitian empiris, kepuasan pelanggan lazim diukur melalui indikator seperti kepuasan secara keseluruhan, kesesuaian layanan dengan harapan, ketepatan keputusan memilih penyedia layanan, rasa senang setelah menggunakan layanan, serta penilaian bahwa pengalaman yang diperoleh mendekati kondisi ideal. Kerangka ini sejalan dengan pengukuran ACSI yang menempatkan penilaian keseluruhan, konfirmasi harapan, dan perbandingan dengan layanan ideal sebagai manifestasi kepuasan pelanggan.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (6)

Sintesis perkembangan konsep kepuasan Pelanggan

Tahap perkembanganFokus konsepKontribusi utama
Pertukaran dan evaluasi kognitifImbalan dibandingkan dengan pengorbanan pelangganHoward dan Sheth (1969)
Harapan sebelum konsumsiHarapan dan usaha memengaruhi evaluasi pascapembelianCardozo (1965)
Diskonfirmasi harapanKepuasan berasal dari perbandingan harapan dan kinerja aktualOliver (1980)
Kinerja, nilai, dan diskonfirmasiKepuasan dipengaruhi kinerja, harapan, nilai, serta perbedaan harapan–kinerjaChurchill dan Surprenant (1982); Tse dan Wilton (1988)
Respons emosionalKepuasan mencakup perasaan atau respons afektif atas pengalaman konsumsiWestbrook dan Reilly (1983)
Pemenuhan konsumsiKepuasan sebagai respons terhadap pemenuhan yang menyenangkanOliver (1997)
Kinerja pasar dan loyalitasKepuasan dipengaruhi kualitas, nilai, dan harapan; berdampak pada keluhan serta loyalitasFornell (1992); Fornell et al. (1996)
Kepuasan kumulatifKepuasan dibentuk oleh akumulasi pengalaman pelangganJohnson et al. (1995)
Customer journey dan digitalKepuasan dibentuk sepanjang titik kontak fisik maupun digital dan memengaruhi keberlanjutan penggunaanBhattacherjee (2001); Lemon dan Verhoef (2016)

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (5)

Kepuasan dalam era pengalaman

Dalam perkembangan kontemporer, kepuasan pelanggan tidak lagi hanya dikaji sebagai evaluasi terhadap transaksi tunggal. Lemon dan Verhoef (2016) menekankan bahwa pelanggan membentuk pengalaman melalui serangkaian titik kontak (touchpoints) sepanjang customer journey, mulai dari pencarian informasi, komunikasi pemasaran, pembelian, penggunaan, layanan purnajual, penanganan keluhan, hingga interaksi antarpelanggan di media sosial.

Dengan perspektif tersebut, kepuasan bersifat kumulatif. Johnson, Anderson, dan Fornell (1995) membedakan kepuasan transaksional dan kepuasan kumulatif. Kepuasan transaksional berkaitan dengan evaluasi pelanggan terhadap pengalaman layanan tertentu, misalnya satu kali kunjungan ke restoran atau satu transaksi pada aplikasi digital. Sebaliknya, kepuasan kumulatif merupakan evaluasi menyeluruh berdasarkan akumulasi pengalaman pelanggan dalam jangka panjang terhadap suatu merek, organisasi, atau penyedia layanan.

Dalam ekonomi digital, Bhattacherjee (2001) mengadaptasi teori konfirmasi harapan ke dalam konteks keberlanjutan penggunaan sistem informasi. Bhattacherjee (2001) menjelaskan bahwa konfirmasi harapan, persepsi kegunaan, dan kepuasan pengguna berperan dalam membentuk niat untuk terus menggunakan sistem. Pendekatan ini sangat relevan untuk studi mengenai kepuasan pengguna aplikasi mobile banking, fintech, e-commerce, telemedicine, sistem pembelajaran daring, maupun layanan publik digital.

Misalnya, pengguna aplikasi mobile banking akan cenderung puas apabila aplikasi mudah digunakan, transaksi berhasil dengan cepat, sistem stabil, biaya transparan, data pribadi terlindungi, dan masalah diselesaikan dengan responsif. Jika pengalaman aktual tersebut memenuhi atau melebihi harapan awal pengguna, maka kepuasan akan meningkat dan dapat mendorong continuance intention atau niat untuk terus menggunakan aplikasi tersebut.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (4)

Kepuasan sebagai konstruk multidimensi

Pada tahap berikutnya, kepuasan pelanggan semakin diposisikan sebagai variabel strategis dalam pemasaran dan manajemen. Fornell (1992) mengembangkan customer satisfaction barometer yang menempatkan kepuasan pelanggan sebagai hasil dari harapan pelanggan, persepsi kualitas, dan persepsi nilai. Dalam kerangka ini, kepuasan bukan hanya evaluasi atas pengalaman tunggal, melainkan indikator kinerja pasar yang dapat memengaruhi loyalitas pelanggan, keluhan pelanggan, profitabilitas, serta daya saing perusahaan.

Fornell et al. (1996) melalui American Customer Satisfaction Index atau ACSI mengoperasionalkan kepuasan pelanggan melalui tiga aspek: penilaian kepuasan secara keseluruhan, tingkat kesesuaian atau ketidaksesuaian antara kinerja dan harapan, serta penilaian kinerja dibandingkan kondisi ideal pelanggan. Model ACSI juga memposisikan kualitas yang dirasakan, nilai yang dirasakan, dan harapan pelanggan sebagai anteseden kepuasan; sementara keluhan pelanggan dan loyalitas pelanggan dipandang sebagai konsekuensinya.journals.sagepub+1

Anderson dan Sullivan (1993) menunjukkan bahwa kualitas yang dirasakan dan diskonfirmasi memiliki hubungan kuat dengan kepuasan pelanggan. Mereka juga menekankan bahwa dampak diskonfirmasi negatif terhadap kepuasan sering kali lebih kuat daripada dampak diskonfirmasi positif. Artinya, kekecewaan akibat kegagalan layanan—misalnya keterlambatan, kesalahan informasi, sistem yang bermasalah, atau respons keluhan yang buruk—dapat merusak kepuasan secara signifikan.

Dalam konteks pemasaran jasa, Zeithaml, Berry, dan Parasuraman (1996) menghubungkan kepuasan dengan konsekuensi perilaku, seperti kecenderungan pelanggan untuk tetap menggunakan layanan, merekomendasikannya kepada orang lain, meningkatkan pembelian, atau justru berpindah kepada penyedia lain. Karena itu, kepuasan pelanggan tidak hanya relevan sebagai indikator psikologis, tetapi juga sebagai prediktor penting bagi loyalitas dan keberlanjutan organisasi.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (3)

Dari evaluasi kognitif ke emosi

Perkembangan berikutnya memperluas kepuasan dari konstruk yang semata-mata kognitif menjadi respons yang juga bersifat afektif atau emosional. Westbrook dan Reilly (1983) memandang kepuasan pelanggan sebagai respons emosional yang muncul dari evaluasi pengalaman konsumsi. Dengan demikian, pelanggan tidak hanya melakukan perhitungan rasional mengenai kualitas dan harga, tetapi juga mengalami emosi seperti senang, lega, bangga, aman, kecewa, marah, atau frustrasi setelah berinteraksi dengan produk maupun penyedia jasa.

Oliver (1997) merumuskan kepuasan sebagai respons pemenuhan konsumen (consumer fulfillment response), yaitu penilaian bahwa suatu fitur produk atau jasa, atau produk dan jasa itu sendiri, memberikan tingkat pemenuhan konsumsi yang menyenangkan, termasuk kondisi ketika pemenuhan tersebut berada di bawah atau melampaui harapan. Rumusan Oliver (1997) penting karena mengintegrasikan dimensi evaluatif dan emosional: pelanggan tidak hanya menilai apakah layanan “sesuai standar”, tetapi juga apakah layanan tersebut menghasilkan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Dalam layanan kesehatan, misalnya, pasien dapat menilai kompetensi dokter, ketepatan diagnosis, dan kecepatan pelayanan secara kognitif. Namun, kepuasan pasien juga sangat dipengaruhi oleh rasa dihargai, empati tenaga kesehatan, rasa aman, kejelasan komunikasi, serta pengurangan kecemasan selama menjalani pelayanan.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (2)

Teori diskonfirmasi harapan

Perkembangan paling berpengaruh dalam studi kepuasan pelanggan adalah expectancy-disconfirmation theory. Oliver (1980) menjelaskan bahwa kepuasan muncul dari perbandingan antara harapan awal pelanggan dan kinerja aktual produk atau jasa yang mereka rasakan setelah konsumsi. Dalam model ini, pelanggan membentuk harapan sebelum membeli atau menggunakan layanan, lalu mengevaluasi apakah kinerja yang diterima sesuai dengan harapan tersebut.

Oliver (1980) membedakan tiga kemungkinan hasil evaluasi pelanggan:

  • Konfirmasi, terjadi ketika kinerja aktual sesuai dengan harapan pelanggan.
  • Diskonfirmasi positif, terjadi ketika kinerja aktual melebihi harapan pelanggan sehingga meningkatkan kepuasan.
  • Diskonfirmasi negatif, terjadi ketika kinerja aktual lebih rendah daripada harapan pelanggan sehingga menimbulkan ketidakpuasan.

Secara sederhana, logika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Kepuasan Pelanggan=f(Harapan,Kinerja yang Dirasakan,Diskonfirmasi)\text{Kepuasan Pelanggan} = f(\text{Harapan}, \text{Kinerja yang Dirasakan}, \text{Diskonfirmasi})Kepuasan Pelanggan=f(Harapan,Kinerja yang Dirasakan,Diskonfirmasi)

Churchill dan Surprenant (1982) memperluas pengujian empiris atas model tersebut dan menunjukkan bahwa kepuasan dipengaruhi oleh harapan, kinerja yang dirasakan, diskonfirmasi, serta nilai yang diperoleh pelanggan. Mereka menegaskan bahwa pengaruh setiap unsur dapat berbeda antara produk tahan lama dan produk tidak tahan lama, karena pelanggan menilai risiko, manfaat, serta pengalaman penggunaan secara berbeda menurut jenis produk atau jasa.

Tse dan Wilton (1988) kemudian memperkuat pendekatan diskonfirmasi dengan menempatkan kinerja yang dirasakan dan diskonfirmasi sebagai penentu penting kepuasan. Dalam model ini, pelanggan dapat tetap merasa puas apabila kualitas kinerja yang dirasakan tinggi, bahkan ketika harapan awalnya cukup tinggi. Sebaliknya, pelayanan yang objektifnya baik belum tentu menghasilkan kepuasan apabila pelanggan memiliki harapan yang jauh lebih tinggi daripada kinerja yang mereka rasakan.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (1)

Konsep kepuasan pelanggan berkembang dari pandangan yang semula menekankan evaluasi kognitif atas pertukaran ekonomi menjadi konstruk multidimensi yang mencakup evaluasi kinerja, emosi, pengalaman pelanggan, nilai yang dirasakan, relasi jangka panjang, dan perilaku pascapembelian. Secara umum, kepuasan pelanggan dapat dipahami sebagai penilaian pelanggan setelah menggunakan produk atau jasa mengenai sejauh mana pengalaman yang diterima memenuhi, sesuai, atau melampaui harapannya.

Awal konsep kepuasan

Pembahasan awal mengenai kepuasan pelanggan bertumpu pada teori perilaku konsumen dan pertukaran. Howard dan Sheth (1969) mendefinisikan kepuasan sebagai keadaan kognitif pembeli yang merasa memperoleh imbalan secara memadai atau tidak memadai atas pengorbanan yang telah dilakukan. Definisi tersebut menunjukkan bahwa kepuasan pada awalnya dipandang sebagai hasil evaluasi rasional pelanggan terhadap perbandingan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya, waktu, tenaga, serta risiko yang dikeluarkan.

Dalam perspektif ini, pelanggan tidak sekadar membeli produk atau menggunakan jasa, tetapi melakukan penilaian apakah hasil konsumsi sepadan dengan pengorbanan yang diberikan. Misalnya, seorang pelanggan jasa pendidikan dapat merasa puas apabila kualitas pengajaran, akses fasilitas, layanan administrasi, dan manfaat kompetensi yang diperoleh dianggap sepadan atau lebih tinggi daripada biaya pendidikan yang dibayarkan.

Cardozo (1965) memberikan kontribusi penting dengan menunjukkan bahwa harapan pelanggan dan usaha yang dikeluarkan pelanggan dapat memengaruhi evaluasi atas produk. Temuan tersebut menjadi dasar bagi pemahaman bahwa kepuasan bukan hanya konsekuensi dari kinerja objektif produk atau jasa, tetapi juga dipengaruhi oleh standar pembanding yang telah dimiliki pelanggan sebelum konsumsi.

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (6)

Sintesis konseptual

Secara keseluruhan, perkembangan konsep kualitas pelayanan dapat diringkas sebagai berikut.

Tahap perkembanganFokus utamaTokoh/konsep penting
Orientasi mutu internalKesesuaian terhadap spesifikasi, standar, dan prosedurCrosby (1979); Juran (1988)
Kualitas jasaPerbedaan antara hasil layanan dan proses penyampaianGrönroos (1984)
Orientasi pelangganKemampuan layanan memenuhi harapan pelangganLewis dan Booms (1983)
Model kesenjanganPerbandingan harapan dan persepsi pelangganParasuraman et al. (1985)
SERVQUALTangibles, reliability, responsiveness, assurance, empathyParasuraman et al. (1988)
Model berbasis kinerjaKualitas dinilai dari kinerja aktual pelayananCronin dan Taylor (1992)
Model multidimensiInteraksi, lingkungan fisik, dan hasil pelayananRust dan Oliver (1994); Brady dan Cronin (2001)
Kualitas layanan digitalEfisiensi, pemenuhan, ketersediaan sistem, privasiParasuraman et al. (2005)
Co-creation dan customer journeyPengalaman menyeluruh, partisipasi pelanggan, dan nilai bersamaLusch dan Vargo (2006); Zeithaml et al. (2018)

Dengan demikian, kualitas pelayanan dapat didefinisikan secara komprehensif sebagai penilaian pelanggan terhadap kemampuan organisasi dalam menyediakan layanan yang andal, responsif, aman, empatik, mudah diakses, serta memberikan hasil yang bernilai melalui proses interaksi dan pengalaman pelayanan yang konsisten. Definisi ini relevan digunakan dalam penelitian pada sektor bisnis, pendidikan, kesehatan, perbankan, pemerintahan, maupun layanan digital, dengan penyesuaian indikator terhadap karakteristik objek penelitian

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (5)

Kualitas pelayanan kontemporer

Dalam perkembangan kontemporer, kualitas pelayanan tidak lagi hanya dipahami sebagai kesesuaian antara harapan dan kinerja. Zeithaml, Bitner, Gremler, dan Wilson (2018) menjelaskan bahwa kualitas pelayanan merupakan penilaian pelanggan terhadap keunggulan layanan secara keseluruhan, yang terbentuk dari berbagai titik kontak selama perjalanan pelanggan (customer journey). Artinya, kualitas dinilai sejak pelanggan mencari informasi, melakukan pemesanan, menerima pelayanan, mengajukan keluhan, hingga menggunakan layanan purnajual.

Pada layanan digital, konsep ini berkembang menjadi electronic service quality atau kualitas pelayanan elektronik. Parasuraman, Zeithaml, dan Malhotra (2005) mengembangkan E-S-QUAL untuk mengukur kualitas layanan elektronik melalui efisiensi, pemenuhan janji layanan, ketersediaan sistem, dan privasi. Dalam konteks aplikasi perbankan digital, marketplace, telemedicine, atau layanan pemerintah elektronik, kualitas tidak hanya ditentukan oleh keramahan petugas, tetapi juga oleh kemudahan navigasi aplikasi, kecepatan sistem, keamanan data, kejelasan informasi, serta efektivitas penanganan masalah secara daring.

Lusch dan Vargo (2006) selanjutnya menempatkan layanan dalam kerangka service-dominant logic. Dalam pandangan ini, nilai tidak sepenuhnya diciptakan oleh organisasi dan diserahkan kepada pelanggan, melainkan diciptakan bersama melalui interaksi antara penyedia layanan dan pelanggan. Oleh sebab itu, kualitas pelayanan modern semakin menekankan partisipasi pelanggan, personalisasi, kolaborasi, pengalaman, dan penciptaan nilai bersama (value co-creation).

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (4)

Kritik dan pengembangan konsep

Meskipun sangat populer, pendekatan SERVQUAL mendapat kritik. Cronin dan Taylor (1992) berpendapat bahwa pengukuran kualitas pelayanan tidak harus selalu menggunakan selisih antara harapan dan persepsi. Mereka mengembangkan model SERVPERF, yang menilai kualitas pelayanan terutama berdasarkan kinerja aktual yang dirasakan pelanggan. Menurut Cronin dan Taylor (1992), ukuran berbasis kinerja sering kali lebih sederhana dan memiliki kemampuan prediktif yang baik terhadap kepuasan pelanggan serta niat perilaku pelanggan.

Selain itu, Brady dan Cronin (2001) mengembangkan model hierarkis kualitas pelayanan yang terdiri atas tiga dimensi tingkat pertama, yaitu kualitas interaksi, kualitas lingkungan fisik, dan kualitas hasil pelayanan. Kualitas interaksi berkaitan dengan hubungan antara pegawai dan pelanggan; kualitas lingkungan fisik mencakup kondisi fasilitas atau servicescape; sedangkan kualitas hasil berkaitan dengan manfaat akhir yang diperoleh pelanggan. Model ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh satu set dimensi yang seragam, tetapi dapat berbeda bergantung pada karakteristik sektor jasa.

Rust dan Oliver (1994) juga memandang kualitas pelayanan melalui tiga komponen utama, yaitu kualitas interaksi antara pelanggan dan penyedia jasa, kualitas lingkungan pelayanan, serta kualitas hasil. Dengan demikian, perkembangan teori menunjukkan bahwa pelanggan mengevaluasi pelayanan secara menyeluruh: mulai dari fasilitas, proses interaksi, kecepatan layanan, kompetensi petugas, hingga hasil akhir yang diperoleh.

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (3)

Era SERVQUAL

Melalui pengujian empiris lanjutan, Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) menyederhanakan sepuluh dimensi tersebut menjadi lima dimensi utama yang dikenal sebagai SERVQUAL, yaitu:

  • Tangibles atau bukti fisik, mencakup fasilitas, peralatan, penampilan pegawai, dan lingkungan pelayanan.
  • Reliability atau keandalan, yaitu kemampuan memberikan layanan secara akurat, konsisten, dan sesuai janji.
  • Responsiveness atau daya tanggap, yaitu kesediaan serta kecepatan pegawai dalam membantu pelanggan.
  • Assurance atau jaminan, yaitu pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan kemampuan pegawai membangun rasa aman serta kepercayaan.
  • Empathy atau empati, yaitu perhatian personal dan pemahaman terhadap kebutuhan khusus pelanggan.

SERVQUAL menjadi salah satu instrumen paling berpengaruh dalam studi kualitas pelayanan karena menyediakan ukuran yang relatif sistematis untuk membandingkan harapan pelanggan dengan persepsi kinerja pelayanan. Parasuraman et al. (1988) memandang kualitas pelayanan sebagai fungsi dari selisih antara persepsi kinerja layanan dan harapan pelanggan, yang secara sederhana dapat dituliskan sebagai:

Kualitas Pelayanan=Persepsi Kinerja−Harapan Pelanggan\text{Kualitas Pelayanan} = \text{Persepsi Kinerja} – \text{Harapan Pelanggan}Kualitas Pelayanan=Persepsi Kinerja−Harapan Pelanggan

Apabila nilai persepsi lebih tinggi daripada harapan, pelanggan akan menilai kualitas pelayanan sangat baik. Sebaliknya, kesenjangan negatif menunjukkan perlunya perbaikan dalam sistem pelayanan

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (2)

Pergeseran ke perspektif pelanggan

Perkembangan penting terjadi ketika Lewis dan Booms (1983) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai ukuran sejauh mana tingkat pelayanan yang diberikan mampu memenuhi harapan pelanggan. Definisi ini menandai pergeseran dari orientasi standar internal menuju orientasi eksternal, yaitu pelanggan sebagai pihak yang menentukan kualitas.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1985), yang mengemukakan bahwa kualitas pelayanan berkaitan dengan kesenjangan antara harapan pelanggan dan persepsi mereka atas pelayanan yang benar-benar diterima. Jika kinerja pelayanan lebih rendah daripada harapan, pelanggan cenderung menilai kualitasnya buruk. Sebaliknya, apabila kinerja pelayanan memenuhi atau melampaui harapan, pelanggan akan menilai pelayanan berkualitas.

Parasuraman et al. (1985) mula-mula mengidentifikasi sepuluh determinan kualitas pelayanan, yaitu reliabilitas, daya tanggap, kompetensi, akses, kesopanan, komunikasi, kredibilitas, keamanan, pemahaman terhadap pelanggan, dan bukti fisik. Model ini juga memperkenalkan gap model, yang menjelaskan bahwa kegagalan kualitas pelayanan dapat terjadi karena adanya kesenjangan antara harapan pelanggan, pemahaman manajemen, standar pelayanan, pelaksanaan pelayanan, komunikasi eksternal, dan persepsi pelanggan.

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (1)

Konsep kualitas pelayanan berkembang dari penekanan awal pada mutu teknis dan kesesuaian terhadap standar menuju penilaian yang berpusat pada pelanggan, pengalaman layanan, relasi, teknologi digital, serta penciptaan nilai bersama. Dalam literatur pemasaran jasa, kualitas pelayanan pada dasarnya dipahami sebagai evaluasi pelanggan atas keunggulan suatu layanan dibandingkan dengan harapan mereka.

Awal perkembangan konsep

Pemikiran awal mengenai kualitas berakar pada manajemen mutu. Juran (1988) memaknai kualitas sebagai fitness for use atau kesesuaian produk/jasa untuk digunakan, sedangkan Crosby (1979) menekankan kualitas sebagai kesesuaian dengan persyaratan (conformance to requirements). Dalam tahap ini, kualitas terutama dilihat dari sudut pandang internal organisasi: apakah proses pelayanan telah memenuhi spesifikasi, prosedur, dan standar yang ditetapkan.

Namun, penerapan konsep kualitas pada jasa menghadapi tantangan karena jasa bersifat tidak berwujud, diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan, heterogen, serta tidak dapat disimpan. Grönroos (1984) kemudian memperluas pembahasan dengan menyatakan bahwa pelanggan tidak hanya menilai apa yang diterima dari penyedia jasa, tetapi juga bagaimana jasa itu disampaikan. Karena itu, ia membedakan kualitas teknis (technical quality)—yakni hasil atau keluaran pelayanan—dan kualitas fungsional (functional quality)—yakni proses, cara, dan interaksi ketika pelayanan diberikan.

Sebagai contoh, pada layanan rumah sakit, keberhasilan diagnosis dan pengobatan merupakan kualitas teknis, sedangkan keramahan tenaga kesehatan, kejelasan informasi, kecepatan administrasi, dan empati terhadap pasien merupakan kualitas fungsional. Kedua aspek tersebut secara bersama-sama membentuk persepsi pelanggan terhadap mutu pelayanan.

Konsep Keputusan Pembelian (10)

Perilaku pascapembelian

Tahap pascapembelian menentukan apakah transaksi awal berkembang menjadi kepuasan, pembelian ulang, loyalitas, keluhan, atau perpindahan merek. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa konsumen membandingkan kinerja aktual produk dengan harapan sebelum pembelian. Jika kinerja memenuhi atau melampaui harapan, konsumen cenderung puas. Jika kinerja berada di bawah harapan, konsumen berpotensi mengalami ketidakpuasan.digilib.itb.ac+1

Engel et al. (1995) menambahkan bahwa evaluasi pascakonsumsi dapat menghasilkan respons berupa penggunaan ulang, rekomendasi positif, pengajuan keluhan, pengembalian produk, penghentian penggunaan, atau pembuangan produk.repository.up.ac+1

Dalam beberapa kasus, konsumen dapat mengalami post-purchase dissonance atau disonansi pascapembelian, yaitu rasa ragu atau tidak nyaman setelah memilih suatu produk. Kondisi ini sering muncul pada pembelian bernilai tinggi atau ketika konsumen harus menolak alternatif yang juga menarik. Organisasi dapat mengurangi disonansi melalui komunikasi pascapembelian, panduan penggunaan, jaminan, kebijakan pengembalian, layanan purnajual, dan respons keluhan yang cepat.

Implikasi penelitian

Dalam penelitian pemasaran, keputusan pembelian dapat ditempatkan sebagai variabel dependen yang dipengaruhi oleh faktor fungsional, psikologis, sosial, atau digital. Variabel yang sering digunakan antara lain kualitas produk, persepsi harga, promosi, citra merek, kepercayaan, ulasan daring, persepsi risiko, kualitas layanan, dan nilai yang dirasakan.

Contoh model konseptual:

Kualitas produk+Persepsi harga+Citra merek+Promosi→Keputusan pembelian\text{Kualitas produk} + \text{Persepsi harga} + \text{Citra merek} + \text{Promosi} \rightarrow \text{Keputusan pembelian}Kualitas produk+Persepsi harga+Citra merek+Promosi→Keputusan pembelian

Pada konteks e-commerce atau fintech, model dapat dikembangkan menjadi:

Kepercayaan+Persepsi kemudahan+Persepsi manfaat−Persepsi risiko→Keputusan penggunaan/pembelian\text{Kepercayaan} + \text{Persepsi kemudahan} + \text{Persepsi manfaat} – \text{Persepsi risiko} \rightarrow \text{Keputusan penggunaan/pembelian}Kepercayaan+Persepsi kemudahan+Persepsi manfaat−Persepsi risiko→Keputusan penggunaan/pembelian

Apabila penelitian menggunakan SEM-PLS atau CB-SEM, indikator keputusan pembelian perlu disesuaikan dengan objek penelitian. Indikator dapat mencakup kemantapan memilih produk, kemantapan memilih merek, kesediaan melakukan transaksi, pilihan saluran pembelian, ketepatan waktu pembelian, kecenderungan membeli ulang, dan kesediaan merekomendasikan. Namun, pembelian ulang dan rekomendasi sering lebih tepat diposisikan sebagai konsekuensi keputusan atau indikator loyalitas, bukan sebagai indikator keputusan pembelian awal.

Konsep Keputusan Pembelian (9)

Jenis keputusan pembelian

Tidak semua pembelian memerlukan tingkat pemikiran yang sama. Engel et al. (1995) menjelaskan bahwa proses keputusan dapat berlangsung secara ekstensif, terbatas, atau rutin, bergantung pada keterlibatan konsumen, pengalaman, dan risiko yang dirasakan.repository.up.ac+1

Jenis keputusanKarakteristikContoh
Jenis keputusanKarakteristikContoh
Keputusan ekstensifInformasi dicari secara mendalam; banyak alternatif dievaluasi; risiko tinggiMembeli rumah, kendaraan, laptop, asuransi, investasi
Keputusan terbatasKonsumen mengenal kategori produk, tetapi masih membandingkan beberapa merekMembeli telepon pintar, memilih bank digital, membeli kosmetik
Keputusan rutinBerdasarkan kebiasaan dan pengalaman sebelumnya; pencarian informasi minimalMembeli makanan harian atau merek kebutuhan rumah tangga yang sama
Keputusan impulsifTerjadi spontan dengan perencanaan minimal; sering dipengaruhi stimulus situasionalMembeli produk karena diskon terbatas atau tampilan menarik
Keputusan loyalBerulang karena kepuasan, kepercayaan, dan komitmen terhadap merekTetap menggunakan aplikasi, toko, atau merek yang dipercaya

Keputusan rutin tidak selalu menunjukkan loyalitas. Konsumen dapat membeli merek yang sama hanya karena kebiasaan, keterbatasan waktu, atau tidak adanya alternatif yang mudah dijangkau. Loyalitas yang lebih kuat biasanya mencakup sikap positif, kepercayaan, keinginan membeli ulang, dan kesediaan merekomendasikan merek kepada orang lain.

Konsep Keputusan Pembelian (8)

Faktor pribadi

Usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, gaya hidup, dan kondisi finansial membentuk kemampuan serta preferensi konsumen. Konsumen dengan pendapatan terbatas mungkin lebih mempertimbangkan harga, diskon, dan pilihan cicilan. Sebaliknya, konsumen dengan daya beli lebih tinggi dapat memberikan perhatian lebih besar pada kualitas, kenyamanan, personalisasi, dan reputasi merek.

Pada produk digital, kemampuan menggunakan teknologi dan literasi digital juga menjadi faktor penting. Konsumen mungkin memiliki sikap positif terhadap sebuah aplikasi, tetapi tidak menggunakannya apabila proses registrasi terlalu kompleks atau dianggap tidak sesuai dengan kemampuan teknologinya.

Faktor psikologis

Motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan, dan sikap berperan penting dalam pembentukan keputusan pembelian. Howard dan Sheth (1969) menjelaskan bahwa konsumen bukan penerima informasi yang pasif; mereka menyeleksi, menafsirkan, dan belajar dari informasi serta pengalaman sebelumnya sebelum membentuk preferensi merek.search.worldcat+1

Persepsi risiko sangat penting dalam keputusan pembelian. Risiko dapat berbentuk risiko finansial, fungsional, fisik, sosial, psikologis, waktu, dan privasi. Pada transaksi online atau layanan keuangan digital, risiko keamanan akun dan penyalahgunaan data dapat menghambat keputusan menggunakan layanan, bahkan ketika manfaat dan promosi yang ditawarkan cukup besar.

Konsep Keputusan Pembelian (7)

Faktor budaya

Budaya memengaruhi sistem nilai dan preferensi konsumsi. Nilai budaya dapat menentukan apakah konsumen lebih menekankan harga, kualitas, status, keberlanjutan, kehalalan, keamanan, atau manfaat sosial. Dalam konteks Indonesia, pertimbangan religius, keluarga, komunitas, dan reputasi sosial dapat berperan kuat dalam keputusan membeli makanan halal, kosmetik, jasa keuangan syariah, produk lokal, serta donasi digital.

Faktor sosial

Keluarga dan kelompok referensi dapat memengaruhi keputusan secara langsung atau tidak langsung. Engel et al. (1995) menjelaskan bahwa konsumen sering menggunakan informasi dari orang-orang yang dipercaya untuk mengurangi ketidakpastian, terutama dalam pembelian yang berisiko atau sulit dievaluasi sebelum digunakan.

Dalam era digital, kelompok referensi tidak hanya berupa keluarga atau teman dekat, tetapi juga komunitas daring, content creator, influencer, pengguna platform, serta pemberi ulasan. Namun, pengaruh tersebut sangat bergantung pada

Konsep Keputusan Pembelian (6)

Faktor yang memengaruhi keputusan

Keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh atribut produk. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa perilaku pembelian dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Faktor-faktor tersebut membentuk cara konsumen mengenali kebutuhan, menilai informasi, mempersepsikan risiko, serta memilih alternatif.digilib.itb.ac

FaktorUnsur utamaPengaruh terhadap keputusan
FaktorUnsur utamaPengaruh terhadap keputusan
BudayaNilai, norma, agama, subbudaya, kelas sosialMembentuk preferensi, standar kepantasan, dan pola konsumsi
SosialKeluarga, kelompok referensi, komunitas, statusMendorong atau menghambat pilihan melalui pengaruh sosial
PribadiUsia, pekerjaan, pendapatan, gaya hidup, tahap hidupMenentukan kebutuhan, daya beli, dan preferensi individu
PsikologisMotivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, kepercayaanMemengaruhi cara konsumen mengolah informasi dan menilai merek
SituasionalWaktu, promosi, stok, suasana, kondisi ekonomiMemengaruhi keputusan akhir pada saat pembelian

Konsep Keputusan Pembelian (5)

Keputusan pembelian

Keputusan pembelian merupakan tahap ketika konsumen menetapkan pilihan untuk membeli atau menggunakan suatu produk, merek, penyedia, saluran, waktu, jumlah, dan metode pembayaran. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa niat membeli tidak selalu berubah secara langsung menjadi pembelian aktual karena keputusan dapat dipengaruhi oleh sikap orang lain dan faktor situasional yang tidak terduga.digilib.itb.ac+1

Sikap orang lain dapat memengaruhi keputusan apabila pihak tersebut memiliki pengaruh kuat dan memberikan pandangan negatif atau positif terhadap produk tertentu. Misalnya, calon pengguna pinjaman digital mungkin membatalkan keputusan menggunakan suatu aplikasi setelah keluarga atau teman mengingatkan tentang risiko biaya, keamanan data, atau reputasi penyedia.

Faktor situasional yang tidak terduga dapat berupa perubahan pendapatan, kenaikan harga, stok habis, kesulitan akses, kegagalan sistem pembayaran, ulasan negatif yang baru muncul, krisis ekonomi, atau kebutuhan mendesak lain. Oleh karena itu, organisasi perlu meminimalkan hambatan pembelian dengan menyediakan informasi yang transparan, proses transaksi yang mudah, pilihan pembayaran yang aman, ketersediaan produk, serta layanan pelanggan yang responsif.

Keputusan pembelian dapat dirinci dalam beberapa keputusan berikut.

Dimensi keputusanPertanyaan konsumenContoh
Dimensi keputusanPertanyaan konsumenContoh
Pilihan produkProduk atau jasa apa yang dibutuhkan?Memilih layanan pembayaran digital
Pilihan merekMerek atau penyedia mana yang dipercaya?Memilih satu aplikasi tertentu
Pilihan saluranDi mana dan melalui saluran apa membeli?Membeli melalui marketplace atau toko fisik
Waktu pembelianKapan transaksi dilakukan?Membeli saat promosi atau ketika kebutuhan mendesak
Jumlah pembelianBerapa banyak yang dibeli atau digunakan?Memilih paket bulanan atau tahunan
Metode pembayaranBagaimana transaksi dilakukan?Tunai, transfer, kartu, cicilan, atau dompet digital

Konsep Keputusan Pembelian (4)

Evaluasi alternatif

Pada tahap evaluasi alternatif, konsumen membandingkan beberapa merek atau pilihan berdasarkan kriteria yang dipandang penting. Menurut Kotler dan Keller (2016), konsumen dapat mengevaluasi alternatif melalui atribut produk, tingkat kepentingan setiap atribut, keyakinan terhadap kinerja merek, dan nilai yang diharapkan dari setiap alternatif.

Atribut yang dievaluasi dapat berbeda antarproduk. Pada telepon pintar, konsumen mungkin mempertimbangkan harga, kapasitas baterai, kamera, sistem operasi, desain, merek, dan layanan purnajual. Pada layanan fintech, atribut penting dapat mencakup keamanan data, biaya, kemudahan penggunaan, reputasi penyedia, kecepatan transaksi, kelengkapan fitur, transparansi, dan dukungan pelanggan.

Secara sederhana, evaluasi konsumen dapat digambarkan dengan pendekatan multiatribut:

Aj=∑i=1nwixijA_j = \sum_{i=1}^{n} w_i x_{ij}Aj​=i=1∑n​wi​xij​

Keterangan:

  • AjA_jAj​ = evaluasi total konsumen terhadap alternatif atau merek ke-jjj.
  • wiw_iwi​ = bobot kepentingan atribut ke-iii.
  • xijx_{ij}xij​ = penilaian konsumen terhadap kinerja merek ke-jjj pada atribut ke-iii.
  • nnn = jumlah atribut yang dievaluasi.

Misalnya, seorang pengguna membandingkan tiga aplikasi investasi. Jika keamanan dan legalitas memiliki bobot tertinggi, aplikasi dengan promosi besar tetapi reputasi keamanan rendah mungkin tetap tidak dipilih. Ini menunjukkan bahwa konsumen tidak selalu memilih penawaran termurah, melainkan penawaran yang memberikan nilai paling sesuai dengan prioritasnya.

Konsep Keputusan Pembelian (3)

Pencarian informasi

Setelah mengenali kebutuhan, konsumen mencari informasi yang dapat membantu menemukan solusi. Menurut Kotler dan Keller (2016), informasi dapat berasal dari sumber pribadi, komersial, publik, dan pengalaman.cabi

  • Sumber pribadi mencakup keluarga, teman, rekan kerja, komunitas, dan orang yang dipercaya.
  • Sumber komersial mencakup iklan, tenaga penjualan, situs merek, katalog, aplikasi, promosi, dan komunikasi pemasaran lainnya.
  • Sumber publik mencakup berita, media sosial, ulasan konsumen, lembaga pemerintah, organisasi perlindungan konsumen, dan publikasi independen.
  • Sumber pengalaman mencakup penggunaan sebelumnya, percobaan produk, pengamatan, dan ingatan konsumen terhadap merek tertentu.

Engel et al. (1995) membedakan pencarian internal dan pencarian eksternal. Pencarian internal terjadi ketika konsumen menggunakan ingatan serta pengalaman masa lalu untuk membuat keputusan. Pencarian eksternal dilakukan ketika konsumen membutuhkan informasi tambahan dari lingkungan, terutama jika produk baru, mahal, kompleks, atau berisiko tinggi.

Intensitas pencarian informasi dipengaruhi oleh tingkat keterlibatan konsumen (consumer involvement), risiko yang dirasakan, ketersediaan waktu, pengalaman sebelumnya, pengetahuan produk, dan perbedaan antaralternatif. Konsumen cenderung mencari lebih banyak informasi ketika membeli rumah, kendaraan, produk investasi, pendidikan, atau layanan kesehatan dibandingkan ketika membeli produk kebutuhan sehari-hari.

Konsep Keputusan Pembelian (2)

Tahapan keputusan pembelian

Pengenalan masalah atau kebutuhan

Tahap pertama terjadi ketika konsumen menyadari adanya kesenjangan antara kondisi aktual dan kondisi yang diinginkan. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa pengenalan masalah dapat dipicu oleh rangsangan internal maupun eksternal. Rangsangan internal berasal dari kondisi dalam diri konsumen, seperti lapar, haus, kebutuhan keamanan, keinginan berprestasi, atau kebutuhan akan kenyamanan. Rangsangan eksternal dapat berasal dari iklan, rekomendasi teman, ulasan pelanggan, konten media sosial, perubahan tren, atau pengalaman melihat produk orang lain.

Sebagai contoh, seorang konsumen menyadari bahwa pengelolaan uang tunai kurang praktis untuk kebutuhan harian. Kesadaran tersebut menciptakan kebutuhan akan layanan pembayaran digital. Kebutuhan itu dapat menjadi semakin kuat setelah konsumen melihat promosi dompet digital, menerima rekomendasi dari teman, atau menemukan bahwa banyak pedagang telah menerima pembayaran berbasis QR.

Konsep Keputusan Pembelian (1)

Keputusan pembelian adalah keputusan konsumen untuk memilih dan membeli produk atau jasa tertentu setelah mengenali kebutuhan, mencari informasi, membandingkan alternatif, serta mempertimbangkan konsekuensi dari pilihannya. Keputusan ini tidak hanya berarti tindakan membayar atau melakukan transaksi, tetapi merupakan hasil dari proses psikologis, sosial, ekonomi, dan situasional yang berlangsung sebelum, selama, dan sesudah pembelian.

Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa keputusan pembelian merupakan perilaku konsumen dalam menentukan pilihan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya setelah mempertimbangkan informasi yang tersedia serta berbagai alternatif yang ada. Model keputusan pembelian klasik umumnya mencakup lima tahap: pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pascapembelian.

Hakikat keputusan pembelian

Keputusan pembelian merupakan salah satu hasil utama dari perilaku konsumen. Ketika konsumen menghadapi kebutuhan atau masalah, ia akan memilih apakah perlu membeli, produk atau merek apa yang dipilih, kapan membeli, di mana membeli, bagaimana melakukan pembayaran, dan berapa jumlah yang akan dibeli.

Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1995), pengambilan keputusan konsumen merupakan proses yang mencakup pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif sebelum pembelian, pembelian, konsumsi, evaluasi pascakonsumsi, dan pelepasan produk atau penghentian penggunaan. Model Engel–Blackwell–Miniard menunjukkan bahwa pembelian bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari proses konsumsi yang lebih luas.

Howard dan Sheth (1969) memandang keputusan pembelian sebagai keluaran dari proses belajar konsumen. Dalam model ini, konsumen menerima rangsangan pemasaran dan sosial, menafsirkan informasi, membentuk persepsi serta sikap, mengembangkan niat, lalu membuat pilihan merek atau keputusan membeli. Dengan demikian, kualitas informasi, pengalaman sebelumnya, kepercayaan pada merek, dan tingkat risiko yang dirasakan dapat memengaruhi keputusan akhir konsumen.

Secara konseptual, proses tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

Kebutuhan→Pencarian informasi→Evaluasi alternatif→Keputusan pembelian→Evaluasi pascapembelian\text{Kebutuhan} \rightarrow \text{Pencarian informasi} \rightarrow \text{Evaluasi alternatif} \rightarrow \text{Keputusan pembelian} \rightarrow \text{Evaluasi pascapembelian}Kebutuhan→Pencarian informasi→Evaluasi alternatif→Keputusan pembelian→Evaluasi pascapembelian

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (11)

Penciptaan nilai dan hubungan pelanggan

Konsep inti marketing pada akhirnya bermuara pada penciptaan nilai bagi pelanggan dan organisasi. Kotler dan Armstrong (2020) menyatakan bahwa perusahaan perlu menarik pelanggan dengan menawarkan nilai yang unggul, kemudian mempertahankan pelanggan dengan menciptakan kepuasan.worldsupporter+1

Penciptaan nilai dapat dilakukan melalui kualitas produk, harga yang adil, kemudahan akses, inovasi, pelayanan, pengalaman pelanggan, reputasi merek, personalisasi, serta tanggung jawab sosial. Nilai tersebut akan lebih berkelanjutan apabila pelanggan mempersepsikan bahwa organisasi tidak hanya mengejar transaksi, tetapi juga memahami kebutuhan dan melindungi kepentingan mereka.

Dalam penelitian pemasaran, konsep ini dapat dikembangkan dalam model berikut:

Kualitas layanan+Nilai yang dirasakan+Kepercayaan→Kepuasan pelanggan→Loyalitas pelanggan\text{Kualitas layanan} + \text{Nilai yang dirasakan} + \text{Kepercayaan} \rightarrow \text{Kepuasan pelanggan} \rightarrow \text{Loyalitas pelanggan}Kualitas layanan+Nilai yang dirasakan+Kepercayaan→Kepuasan pelanggan→Loyalitas pelanggan

Model tersebut dapat diterapkan pada penelitian mengenai perbankan digital, fintech, marketplace, pendidikan tinggi, rumah sakit, pariwisata, layanan publik, atau bisnis ritel. Kualitas layanan, nilai yang dirasakan, dan kepercayaan berfungsi sebagai faktor pembentuk evaluasi pelanggan; kepuasan menjadi respons evaluatif; sedangkan loyalitas mencerminkan kecenderungan untuk melakukan pembelian ulang, bertahan, dan merekomendasikan layanan kepada pihak lain.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (10)

Persaingan dan lingkungan pemasaran

Persaingan adalah kondisi ketika berbagai organisasi berupaya memenuhi kebutuhan konsumen yang sama atau menawarkan solusi alternatif terhadap masalah yang sama. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa pesaing tidak hanya berarti merek dalam kategori produk identik, tetapi juga semua alternatif yang dapat dipilih konsumen untuk memenuhi kebutuhannya.tup.tsinghua.edu

Misalnya, layanan transportasi daring tidak hanya bersaing dengan platform sejenis, tetapi juga dengan transportasi umum, kendaraan pribadi, taksi konvensional, berjalan kaki, atau keputusan konsumen untuk tidak bepergian. Demikian pula, aplikasi dompet digital tidak hanya bersaing dengan aplikasi lain, tetapi juga dengan uang tunai, transfer bank, kartu debit, kartu kredit, dan metode pembayaran pay later.

Lingkungan pemasaran mencakup faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kemampuan organisasi menciptakan nilai. Faktor eksternal meliputi kondisi ekonomi, teknologi, hukum dan regulasi, sosial-budaya, demografi, politik, serta lingkungan alam. Menurut Kotler dan Keller (2016), organisasi perlu memantau perubahan lingkungan karena perubahan tersebut dapat menciptakan peluang pasar baru atau menimbulkan risiko bagi strategi pemasaran yang sedang berjalan.tup.tsinghua.edu

Sebagai contoh, perkembangan teknologi digital menciptakan peluang bagi layanan keuangan berbasis aplikasi. Akan tetapi, inovasi tersebut juga meningkatkan tuntutan perlindungan data, keamanan siber, literasi digital, transparansi algoritma, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (9)

Saluran pemasaran dan komunikasi

Saluran pemasaran (marketing channels) adalah sarana yang digunakan organisasi untuk menjangkau, berkomunikasi, menyampaikan, dan menjual nilai kepada pelanggan. Kotler dan Keller (2016) membedakan saluran pemasaran menjadi saluran komunikasi, saluran distribusi, dan saluran layanan.tup.tsinghua.edu

Saluran komunikasi meliputi iklan, media sosial, situs web, email marketing, promosi penjualan, hubungan masyarakat, penjualan personal, komunitas daring, serta komunikasi dari mulut ke mulut. Saluran distribusi meliputi toko fisik, distributor, agen, marketplace, aplikasi, dan situs e-commerce. Sementara itu, saluran layanan mencakup layanan pelanggan, pusat bantuan, chatbot, fasilitas perbaikan, dan mekanisme pengaduan.

Pada pemasaran digital, organisasi tidak hanya mengelola media berbayar (paid media), seperti iklan digital, tetapi juga media milik sendiri (owned media), seperti situs web dan akun media sosial resmi, serta media yang diperoleh (earned media), seperti ulasan pelanggan, liputan media, dan rekomendasi organik. Kotler dan Keller (2016) memasukkan media berbayar, milik sendiri, dan diperoleh sebagai bagian dari konsep pemasaran modern.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (8)

Pasar, segmentasi, dan target market

Pasar (market) adalah kumpulan pembeli aktual dan potensial yang memiliki kebutuhan atau keinginan tertentu, serta bersedia dan mampu melakukan pertukaran untuk memenuhinya. Kotler dan Armstrong (2020) menjelaskan bahwa pasar terbentuk ketika terdapat konsumen dengan kebutuhan, kemampuan membeli, kesediaan membeli, dan akses terhadap penawaran.worldsupporter+1

Tidak semua konsumen memiliki kebutuhan, preferensi, daya beli, dan perilaku yang sama. Oleh sebab itu, organisasi perlu menjalankan segmentasi pasar (market segmentation), yaitu membagi pasar heterogen menjadi kelompok-kelompok konsumen yang relatif homogen berdasarkan karakteristik tertentu. Kotler dan Keller (2016) menempatkan segmentasi, target market, dan positioning sebagai konsep inti pemasaran.tup.tsinghua.edu

Dasar segmentasi dapat berupa:

  • Segmentasi geografis, seperti wilayah, negara, kota, atau karakteristik perkotaan dan pedesaan.
  • Segmentasi demografis, seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan tahap siklus hidup keluarga.
  • Segmentasi psikografis, seperti gaya hidup, kepribadian, nilai, minat, serta kelas sosial.
  • Segmentasi perilaku, seperti manfaat yang dicari, tingkat penggunaan, loyalitas, kesiapan membeli, dan respons terhadap promosi.

Setelah segmen diidentifikasi, organisasi menentukan pasar sasaran (target market), yaitu segmen yang akan diprioritaskan untuk dilayani. Selanjutnya, organisasi membangun positioning, yaitu persepsi atau posisi yang ingin ditempati merek dalam benak konsumen dibandingkan pesaing.

Sebagai ilustrasi, sebuah aplikasi pengelolaan keuangan dapat memilih segmen pekerja muda perkotaan yang aktif secara digital dan ingin mengontrol pengeluaran. Positioning yang digunakan dapat berupa “aplikasi pengelolaan keuangan sederhana dan aman untuk membantu pekerja muda mencapai tujuan finansial.” Posisi tersebut perlu dibuktikan melalui fitur aplikasi, harga, desain komunikasi, layanan, dan pengalaman pengguna secara konsisten

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (7)

Pertukaran, transaksi, dan hubungan

Pertukaran (exchange) adalah tindakan memperoleh sesuatu yang diinginkan dengan menawarkan sesuatu sebagai imbalan. Kotler dan Armstrong (2020) menjelaskan bahwa pemasaran terjadi ketika pihak-pihak yang terlibat membangun hubungan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan masing-masing.worldsupporter+1

Pertukaran tidak selalu hanya berbentuk uang untuk produk. Dalam lingkungan digital, konsumen dapat memperoleh layanan tanpa biaya uang langsung tetapi memberikan data pribadi, waktu, perhatian, ulasan, atau kesediaan menerima iklan sebagai bentuk nilai pengganti. Oleh karena itu, organisasi perlu menjaga transparansi dalam penggunaan data dan manfaat yang dijanjikan kepada konsumen.

Transaksi adalah pertukaran nilai yang terjadi antara dua atau lebih pihak. Misalnya, konsumen membayar harga tertentu untuk memperoleh produk, layanan, atau akses. Akan tetapi, marketing modern tidak berhenti pada transaksi tunggal. Kotler dan Keller (2016) menekankan pentingnya relationship marketing, yaitu upaya membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan pelanggan, pemasok, distributor, mitra, dan pemangku kepentingan lainnya.

Hubungan pemasaran yang kuat biasanya ditandai oleh kepercayaan, komitmen, komunikasi, kepuasan, nilai yang dirasakan, serta kesediaan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang. Dalam layanan digital, hubungan tersebut dapat dibangun melalui pengalaman pengguna yang konsisten, perlindungan data, layanan pelanggan responsif, komunikasi yang relevan, dan penanganan keluhan yang adil.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (6)

Nilai, biaya, dan kepuasan

Nilai pelanggan (customer value) adalah evaluasi konsumen mengenai manfaat yang diperoleh dibandingkan dengan pengorbanan yang harus dikeluarkan. Kotler dan Keller (2016) menempatkan nilai sebagai konsep sentral pemasaran dan mengaitkannya dengan kombinasi kualitas, layanan, serta harga atau quality–service–price (QSP).

Secara sederhana, nilai yang dirasakan dapat digambarkan sebagai:

Nilai pelanggan yang dirasakan=Total manfaat yang dirasakan−Total biaya yang dirasakan\text{Nilai pelanggan yang dirasakan} = \text{Total manfaat yang dirasakan} – \text{Total biaya yang dirasakan}Nilai pelanggan yang dirasakan=Total manfaat yang dirasakan−Total biaya yang dirasakan

Manfaat dapat mencakup kualitas fungsional, kemudahan, kenyamanan, keamanan, status sosial, pengalaman emosional, dan manfaat simbolik. Biaya dapat meliputi uang, waktu, tenaga, risiko, ketidakpastian, serta beban psikologis.

Sebagai contoh, pengguna aplikasi investasi mungkin memperoleh manfaat berupa kemudahan transaksi, akses informasi, fitur analisis, dan fleksibilitas waktu. Namun, pengguna juga dapat menanggung biaya berupa biaya transaksi, risiko kehilangan dana, waktu untuk belajar, serta kekhawatiran terhadap keamanan data. Apabila manfaat yang dirasakan melebihi biaya yang dirasakan, nilai pelanggan cenderung meningkat.

Kepuasan pelanggan (customer satisfaction) muncul ketika kinerja aktual penawaran dibandingkan dengan harapan konsumen. Kotler dan Armstrong (2020) menjelaskan bahwa pelanggan cenderung puas apabila kinerja produk sesuai atau melebihi harapannya, sedangkan kinerja di bawah harapan dapat menimbulkan ketidakpuasan.worldsupporter+1

Namun, organisasi perlu mengelola harapan secara realistis. Janji promosi yang terlalu tinggi mungkin meningkatkan minat awal, tetapi berpotensi menimbulkan kekecewaan apabila kinerja aktual tidak dapat memenuhi klaim tersebut. Karena itu, pemasaran yang berkelanjutan harus berorientasi pada penciptaan nilai nyata, bukan sekadar pembentukan harapan.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (5)

Penawaran pasar dan merek

Penawaran pasar (market offerings) adalah kombinasi produk, jasa, informasi, pengalaman, ide, atau solusi yang ditawarkan kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Kotler dan Armstrong (2020) menjelaskan bahwa penawaran pasar tidak terbatas pada barang fisik, tetapi dapat mencakup jasa, aktivitas, individu, tempat, organisasi, informasi, dan gagasan.worldsupporter+1

Contohnya, universitas tidak hanya menawarkan program studi sebagai produk pendidikan, tetapi juga pengalaman belajar, reputasi institusi, jaringan alumni, akses dosen, fasilitas akademik, peluang karier, dan identitas sosial. Demikian pula, platform fintech tidak hanya menawarkan aplikasi, melainkan keamanan transaksi, akses terhadap layanan keuangan, kemudahan penggunaan, edukasi keuangan, dan kepercayaan.

Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi unsur yang membedakan penawaran suatu organisasi dari penawaran pesaing. Menurut Kotler dan Keller (2016), merek berfungsi mengidentifikasi sumber produk, membedakan penawaran, menyederhanakan proses keputusan pelanggan, dan membentuk ekspektasi atas kualitas maupun pengalaman.tup.tsinghua.edu

Merek yang kuat dapat mengurangi risiko yang dirasakan konsumen, khususnya pada produk jasa atau produk dengan konsekuensi tinggi seperti perbankan, pendidikan, asuransi, investasi, layanan kesehatan, dan platform digital. Dalam konteks tersebut, kepercayaan terhadap merek sering menjadi pertimbangan sama pentingnya dengan harga atau fitur produk

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (4)

Permintaan

Permintaan (demands) adalah keinginan terhadap produk tertentu yang didukung oleh kemampuan dan kemauan untuk membeli. Kotler dan Keller (2016) menyatakan bahwa permintaan muncul ketika keinginan konsumen memperoleh dukungan dari daya beli.tup.tsinghua.edu

Seseorang mungkin menginginkan telepon pintar premium, tetapi keinginan tersebut belum tentu menjadi permintaan apabila tidak memiliki sumber daya keuangan yang cukup. Sebaliknya, ketika konsumen memiliki daya beli, akses kredit, atau fasilitas cicilan yang sesuai, keinginan tersebut dapat berubah menjadi permintaan aktual.

Bagi pemasar, penting membedakan ukuran pasar berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan permintaan. Pasar yang memiliki kebutuhan besar belum tentu menghasilkan penjualan tinggi apabila daya beli, akses produk, kepercayaan, atau kesediaan konsumen untuk membeli masih rendah.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (3)

Keinginan

Keinginan (wants) adalah bentuk kebutuhan yang dibentuk oleh budaya, lingkungan sosial, pengalaman, dan kepribadian individu. Kotler dan Keller (2016) membedakan keinginan dari kebutuhan karena dua orang dengan kebutuhan sama dapat memilih cara pemenuhan yang sangat berbeda.tup.tsinghua.edu

Sebagai contoh, seseorang yang merasa lapar memiliki kebutuhan fisiologis akan makanan. Namun, keinginannya dapat berupa nasi gudeg, makanan cepat saji, makanan sehat, atau layanan pesan-antar melalui aplikasi. Pilihan tersebut dipengaruhi oleh pendapatan, preferensi rasa, budaya, lokasi, gaya hidup, dan paparan komunikasi pemasaran.

Dalam pemasaran, tugas organisasi bukan menciptakan kebutuhan dasar manusia, tetapi memahami bentuk keinginan konsumen dan merancang penawaran yang relevan untuk memenuhinya.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (2)

Kebutuhan

Kebutuhan (needs) adalah keadaan kekurangan yang dirasakan manusia. Kebutuhan dapat berupa kebutuhan fisik, seperti pangan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan keamanan; kebutuhan sosial, seperti rasa memiliki, penerimaan, kasih sayang, dan status; serta kebutuhan individual, seperti pengetahuan, aktualisasi diri, dan ekspresi pribadi. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa kebutuhan manusia bukan diciptakan oleh pemasar, melainkan merupakan bagian mendasar dari kondisi manusia.tup.tsinghua.edu

Misalnya, kebutuhan akan keamanan merupakan kebutuhan dasar. Dalam konteks keuangan, kebutuhan tersebut dapat muncul dalam bentuk kebutuhan untuk menyimpan dana secara aman, melindungi data pribadi, mengelola risiko, atau mempersiapkan masa depan.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (1)

Konsep-konsep utama marketing menjelaskan bagaimana organisasi memahami kebutuhan pasar, menciptakan penawaran bernilai, mengomunikasikan manfaatnya, serta membangun pertukaran dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Marketing modern tidak terbatas pada kegiatan menjual atau mempromosikan produk, melainkan berorientasi pada penciptaan, penyampaian, dan pertukaran nilai bagi pelanggan, mitra, serta masyarakat. Menurut American Marketing Association (2017), pemasaran adalah aktivitas, seperangkat institusi, dan proses untuk menciptakan, mengomunikasikan, menyampaikan, serta mempertukarkan penawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat luas.ama

Pengertian dan orientasi marketing

Marketing merupakan proses manajerial dan sosial yang berangkat dari pemahaman atas kebutuhan manusia. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa pemasaran membantu individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, serta pertukaran produk dan jasa yang bernilai.

Dalam perspektif kontemporer, keberhasilan pemasaran tidak hanya diukur melalui volume penjualan jangka pendek. Organisasi juga perlu menciptakan kepuasan, kepercayaan, retensi, loyalitas, dan nilai pelanggan jangka panjang. Kotler dan Armstrong (2020) menegaskan bahwa pemasaran berfokus pada penciptaan nilai bagi pelanggan dan pembangunan hubungan pelanggan yang menguntungkan, sehingga perusahaan dapat memperoleh nilai kembali dari pelanggan dalam bentuk pembelian ulang, loyalitas, rekomendasi, dan profitabilitas.

Dengan demikian, konsep utama marketing dapat dipahami sebagai suatu alur berikut:

Kebutuhan konsumen→Keinginan dan permintaan→Penawaran pasar→Nilai dan kepuasan→Pertukaran→Hubungan pelanggan→Nilai bagi organisasi\text{Kebutuhan konsumen} \rightarrow \text{Keinginan dan permintaan} \rightarrow \text{Penawaran pasar} \rightarrow \text{Nilai dan kepuasan} \rightarrow \text{Pertukaran} \rightarrow \text{Hubungan pelanggan} \rightarrow \text{Nilai bagi organisasi}Kebutuhan konsumen→Keinginan dan permintaan→Penawaran pasar→Nilai dan kepuasan→Pertukaran→Hubungan pelanggan→Nilai bagi organisasi

Kebutuhan, keinginan, dan permintaan

Marketing Mix (9)

Keunggulan marketing mix tidak ditentukan oleh kekuatan satu unsur secara terpisah, melainkan oleh konsistensi antarunsurnya. Produk premium dengan kualitas tinggi, misalnya, membutuhkan harga yang mencerminkan posisi premium, distribusi melalui saluran yang sesuai, dan promosi yang menekankan eksklusivitas maupun kredibilitas. Sebaliknya, produk dengan strategi harga ekonomis perlu didukung distribusi luas dan promosi yang menekankan nilai serta keterjangkauan.

Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa nilai pelanggan terbentuk ketika manfaat yang diterima konsumen dipandang lebih besar daripada pengorbanan yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, marketing mix perlu dirancang dari sudut pandang pelanggan, bukan hanya dari kepentingan internal perusahaan.

Sebagai contoh, strategi pemasaran suatu aplikasi investasi tidak cukup hanya menawarkan fitur investasi (product). Platform perlu menetapkan biaya yang wajar dan transparan (price), menyediakan aplikasi yang mudah diakses dan stabil (place), mengedukasi risiko secara jujur melalui komunikasi yang terpercaya (promotion), memberikan bantuan profesional (people), menyediakan prosedur transaksi dan penanganan keluhan yang jelas (process), serta menghadirkan desain digital dan indikator keamanan yang meyakinkan (physical evidence).

Implikasi penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, marketing mix dapat digunakan sebagai konstruk eksogen yang menjelaskan kepuasan, keputusan pembelian, minat beli ulang, loyalitas, atau customer engagement. Namun, peneliti perlu berhati-hati karena 4P atau 7P tidak selalu harus diperlakukan sebagai satu konstruk reflektif.

Secara konseptual, unsur marketing mix lebih tepat diposisikan sebagai dimensi yang membentuk strategi pemasaran. Oleh karena itu, bila seluruh unsur digabungkan menjadi satu konstruk, pendekatan formatif sering lebih relevan: perubahan pada harga tidak harus selalu diikuti perubahan pada produk, tempat, atau promosi. Akan tetapi, apabila setiap unsur diuji secara terpisah—misalnya pengaruh kualitas produk, persepsi harga, akses distribusi, dan promosi terhadap kepuasan—setiap variabel dapat dikembangkan dengan indikator reflektif yang sesuai.

Marketing Mix (8)

Physical evidence

Physical evidence adalah bukti berwujud yang membantu konsumen mengevaluasi kualitas jasa yang secara alami tidak berwujud. Booms dan Bitner (1981) memasukkan unsur ini karena pelanggan membutuhkan tanda-tanda yang mengurangi ketidakpastian sebelum dan selama menggunakan jasa.archives.ju.edu+1

Bukti fisik dapat berupa desain kantor, kebersihan fasilitas, tata ruang, seragam pegawai, brosur, kartu nama, kemasan, situs web, desain aplikasi, notifikasi transaksi, testimoni pelanggan, laporan kinerja, serta sertifikat keamanan. Dalam layanan digital, antarmuka aplikasi yang profesional, informasi legal yang jelas, kebijakan privasi, bukti otorisasi regulator, dan konfirmasi transaksi yang akurat berperan sebagai physical evidence.

Marketing Mix (7)

Process

Process adalah prosedur, mekanisme, urutan kegiatan, dan sistem yang digunakan untuk menyampaikan jasa kepada konsumen. Booms dan Bitner (1981) memandang proses sebagai unsur penting karena pelanggan sering menilai kualitas bukan hanya dari hasil akhir, melainkan dari pengalaman selama memperoleh layanan.archives.ju.edu+1

Proses yang baik harus sederhana, konsisten, cepat, transparan, dan mampu mengurangi kesalahan. Misalnya, proses pembukaan rekening digital perlu menjelaskan tahap registrasi, verifikasi identitas, persetujuan syarat layanan, pengamanan akun, dan mekanisme penanganan kegagalan transaksi. Proses yang terlalu panjang atau tidak jelas dapat menciptakan customer effort, frustrasi, dan keputusan untuk menghentikan penggunaan layanan.

Marketing Mix (6)

People

People mengacu pada seluruh individu yang terlibat dalam penciptaan, penyampaian, dan penerimaan jasa. Mereka meliputi karyawan lini depan, customer service, tenaga penjualan, manajer, mitra, hingga pelanggan lain yang berinteraksi dalam lingkungan layanan. Booms dan Bitner (1981) menegaskan bahwa perilaku, kompetensi, penampilan, komunikasi, dan empati personel memengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas jasa.archives.ju.edu+1

Dalam layanan perbankan, rumah sakit, perguruan tinggi, pariwisata, dan platform digital, karyawan yang responsif dapat meningkatkan kepercayaan serta kepuasan pelanggan. Sebaliknya, layanan yang lambat, tidak ramah, dan tidak kompeten dapat menurunkan persepsi kualitas bahkan ketika fitur inti produk sebenarnya baik

Marketing Mix (6)

Perluasan menjadi 7P

Booms dan Bitner (1981) memperluas marketing mix dari 4P menjadi 7P untuk menjelaskan karakteristik jasa. Jasa memiliki sifat tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan dari proses penyampaiannya, bervariasi karena keterlibatan manusia, dan tidak dapat disimpan untuk digunakan di masa depan. Karena itu, people, process, dan physical evidence perlu dikelola secara strategis.archives.ju.edu+1

ElemenFokus keputusanContoh implementasi
ElemenFokus keputusanContoh implementasi
ProductNilai, manfaat, mutu, fitur, merek, variasi produkAplikasi pembayaran dengan fitur transfer, tagihan, keamanan, dan riwayat transaksi
PriceTarif, diskon, biaya, paket, cicilan, kebijakan pembayaranBiaya layanan transparan, cashback, tarif berjenjang
PlaceSaluran, akses, lokasi, distribusi, ketersediaanAplikasi tersedia di Android dan iOS serta didukung jaringan mitra
PromotionIklan, media sosial, edukasi, promosi penjualan, word of mouthKonten edukasi digital, program referal, kampanye keamanan transaksi
PeopleKompetensi, sikap, empati, responsivitas stafLayanan pelanggan cepat, ramah, dan mampu menangani keluhan
ProcessProsedur, alur layanan, waktu respons, standardisasiRegistrasi sederhana, verifikasi cepat, prosedur pengaduan jelas
Physical evidenceBukti visual dan fisik yang membangun kepercayaanDesain aplikasi profesional, kantor, sertifikasi, logo regulator, laporan transparansi

Manfaat Kepuasan


Adanya kepuasan konsumen akan memberikan beberapa manfaat antara lain:

  1. Hubungan antara perusahaan dan para konsumen menjadi harmonis.
  2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
  3. Dapat mendorong terciptanya loyalitas konsumen.
  4. Membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan bagi
    perusahaan.
  5. Reputasi perusahaan menjadi baik di mata konsumen.
  6. Laba yang diperoleh menjadi meningkat

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Tjiptono, (2013:348) indikator kepuasan pelanggan yaitu:
1) Melakukan pembelian secara ulang
2) Memberikan informasi atau rekomendasi positif kepada orang lain
3) Melakukan tindakan persuasif kepada orang lain
4) Memiliki kekebalan terhadap penawaran dari produk lain
5) Melakukan pembelaan

Dimensi Kepuasan Pelanggan


Menurut Griffin (2005) customer berasal dari kata kustom yang didefenisikan
sebagai “membuat sesuatu menjadi kebiasaan atau biasa” dan “mempraktikkan
kebiasaan”. Pelanggan yang puas dicirikan sebagai berikut:

  1. Makes regular repeat purchase (melakukan pembelian ulang secara teratur)
  2. Purchase across product and service lines (melakukan pembelian lini produk yang
    lainnya dari perusahaan anda)
  3. Refers others (memberikan refrensi pada orang lain)
  4. Demonstrates in immunity to the pull of the competition (menunjukkan kekebalan
    terhadap tarikan dari pesaing atau tidak mudah terpengaruh oleh bujukan pesaing)

Pengertian Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen telah menjadi konsep sentral dalam teori dan praktik
pemasaran, serta merupakan salah satu tujuan esensial bagi aktivitaas bisnis. Kepuasan
konsumen diyakini mempunyai peranan yang besar dalam kualitas produk. Oleh karena
itu, konsumen memegang peranan cukup penting dalam mengukur kepuasan terhadap
barang maupun jasa yang diberikan perusahaan.
Kepuasan (satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang
timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk (hasil) terhadap
ekspektasi mereka (Kotler dan Armstrong 2008:144). Jika kinerja gagal memenuhi
ekspektasi, pelanggan akan tidak puas. Jika kinerja sesuai dengan ekspektasi, pelanggan
akan puas. Jika kinerja melebihi ekspektasi, konsumen akan sangat puas atau senang.
Kinerja dari perusahaan sangat berpengaruh pada kepuasan konsumen karena layanan
perusahaan tidak dapat dipisahkan dari perusahaan itu sendiri. Konsumen akan merasa
puas bila keinginan konsumen telah terpenuhi oleh perusahaan sesuai dengan yang
diharapkan. Dengan adanya nilai tambah dari suatu produk, maka pelanggan menjadi lebih
puas dan kemungkinan untuk menjadi pelanggan suatu produk tersebut dalam waktu lama
akan sangat besar. Kepuasan konsumen dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor,
antara lain kualitas barang, pelayanan, aktivitas penjualan, dan nilai-nilai perusahaan.

Dimensi Kualitas


Mengacu kepada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ario Adiarto
mengenai Hubungan Kualitas Produk Levi’s Terhadap Loyalitas Pelanggannya,terdapat
8 dimensi kualitas yang digunakan dalam penelitian tersebut. 8 dimensi yang digunakan
adalah teori yang dikeluarkan oleh Garvin, yang dikutip oleh Fandy Tjiptono (2000:
27). Dimensi tersebut adalah :
1) Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari
sebuah produk
2) Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang
bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar
frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakinbesar pula daya
tahan produk.
3) Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana
karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari
konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
4) Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap
produk.
5) Reliabilty (kehandalan), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan
terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
6) Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa
dilihat dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.
7) Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari
penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat
kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas
produk yang bersangkutan. Jadi, persepsi konsumen terhadap produk didapat dari
harga, merek, periklanan, reputasi, dan negara asal.
8) Servicability (kemampuan pelayanan), meliputi kecepatan, kompetense,
kenyamanan, serta penanganan keluhan

Kualitas Produk


Kualitas produk merupakan hal yang penting yang selalu dipertimbangkan oleh
konsumen sebelum melakukan pembelian.Menurut American Society for Quality
Control kualitas yang ditulis oleh Barry Render dan Jay Heizer yang diterjemahkan oleh
Ariyoto (2001:92) dalam buku “Prinsip-Prinsip Manajemen Operasi” mendefinisikan
kualitas produk adalah adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang yang
menunjukkan kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak
jelas maupun yang tersembunyi.
Kualitas dianggap sebagai sifat dan karakteristik total dari sebuah produk atau
jasa yang berhubungan dengan kemampuannya memuaskan kebutuhan pelanggan.
Garvin dalam bukunya Managing Quality: The Strategic and Competitive Edge
(2008:41), medefinisikan kualitas dalam 5 hal yaitu : (1) Berdasarkan produk (product
base), (2) Berdasarkan produksi (manufacturing based), (3) Berdasarkan pemakai (user
based), (4) Berdasarkan Nilai (value based), (5) Berdasarkan produk yang sukar
dipahami (transcendent). Jika sebuah kualitas merupakan variabel yang dapat diukur
dan bernilai berdasarkan banyaknya atribut yang melekat pada produk tersebut dan
makin banyak konsumen yang menikmatinya maka produk tersebut akan semakin
tinggi kualitasnya. Lain halnya jika kualitas dilihat berdasarkan produksi, maka kualitas
di definisikan berdasarkan persyaratan atau spesifikasi tertentu seperti standar
produksinya,apakah produk tersebut diproduksi dengan hasil yang benar pada saat
pertama dibuat (tanpa adanya perbaikan). Jika kualitas dilihat berdasarkan
pemakai/konsumen maka produsen harus tahu bahwa setiap konsumen mempunyai
keinginan dan kebutuhan yang berbeda dengan yang lainnya, untuk itu produk yang
berkualitas tingi adalah produk yang dapat memuaskan keinginan kebutuhan dari
konsumen. Kualitas jika dilihat berdasarkan nilai adalah sebuah produk yang
mempunyai kinerja atau kesesuaian pada tingkat harga dan nilainya. Ketika kualitas
sukar dipahami maka konsumen harus menjelajahi terlebih dahulu suatu rangkaian
objek dan mengenal karakteristik keseluruhan dari sebuah produk.
Konsumen seringkali menilai kualitas dari sebuah produk berdasarkan berbagai
keadaan penilaian yang berhubungan dengan produk tersebut, penilaian tersebut dapat
berdasarkan pada keadaan luar produk itu seperti harga dan merek,serta penilaian
lainnya mengenai karakteristik spesifik produk itu sendiri dikatakan oleh Schiffman &
Kanuk dalam bukunya Consumer Behavior (1991: 176). Kotler & Amstrong
mengatakan definisi ini merupakan pengertian kualitas yang merupakan kemampuan
suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya,kemampuan itu meliputi daya tahan,
kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan diperbaiki, dan
atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan

Pengertian Produk


Produk merupakan segala sesuatu yang dihasilkan oleh perusahaan meliputi
barang dan jasa. Craven (2013:3) dalam pemasaran strategi juga menjelaskan mengenai
definisi dari produk sebagai berikut: “Sebuah produk adalah segala sesuatu yang memiliki
nilai di suatu pasar sasaran dimana kemampuannya memberikan manfaat dan kepuasan
termasuk benda, jasa, organisasi, tempat, orang dan ide”. Tjiptono (2000: 95) dalam
bukunya strategi pemasaran memberikan definisi produk sebagai: “Produk merupakan
segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar
yang bersangkutan

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2007), didalam variabel harga ada beberapa
unsur kegiatan utama harga yang meliputi daftar harga, diskon, potongan harga, dan
periode pembayaran. Menurut Kotler dan Armstrong (2007), ada enam indikator
yang harga yaitu:
1) Keterjangkauan harga.
Aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen/penjual yang sesuai dengan
kemampuan beli konsumen.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
Penawaran harga yang diberikan oleh produsen/penjual berbeda dan bersaing
dengan yang diberikan oleh produsen lain, pada satu jenis produk yang sama.
3) Daya saing harga.
Aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen/penjual yang sesuai dengan
kualitas produk yang dapat diperoleh konsumen.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, spek penetapan harga yang dilakukan oleh
produsen/penjual yang sesuai dengan manfaat yang dapat diperoleh konsumen
dari produk yang dibeli.
5) Harga mempengaruhi daya beli konsumen.
Harga yang ditetapkan oleh pihak perusahaan yang sesuai dengan daya beli
konsumen.
6) Harga dapat mempengaruhi konsumen dalam mengabil keputusan pembelian
konsumen. Harga yang ditetapkan oleh pihak perusahaan yang dapat
mempengaruhi keputusan menginap.

Metode Penetapan Harga


Menurut Kotler dan Keller (2007) metode penetapan harga yang digunakan
perusahaan antara lain:
1) Penetapan harga mark-up (mark-up pricing), metode penetapan harga yang
paling sederhana adalah menambahkan mark-up standar pada biaya produk
tersebut.
2) Penetapan harga sasaran pengembalian (target return pricing), perusahaan
menentukan harga yang akan menghasilkan tingkat pengembalian atas investasi
(ROI-return on investment) yang dibidiknya.
3) Penetapan harga persepsi nilai (perceived value pricing), dimana perusahaan
mendasarkan harganya pada persepsi nilai pelanggan.
4) Penetapan harga nilai (value pricing), dimana perusahaan memikat hati
pelanggan yang loyal dengan menetapkan harga yang lumayan rendah untuk
tawaran yang bermutu tinggi.
5) Penetapan harga umum (going rate pricing), perusahaan mendasarkan harganya
terutama pada harga pesaing mungkin akan mengenakan harga yang sama, lebih
tinggi, atau lebih rendah dari pada pesaing utamanya.
6) Penetapan harga tipe lelang (auction type pricing), penetapan harga dilakukan
dengan cara melelang suatu produk yang akan dijual.
Secara garis besar menurut Tjiptono (2000) metode penentuan harga dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1) Skimming pricing, yaitu metode yang diterapkan dengan jalan menetapkan
harga tinggi bagi suatu produk baru atau inovatife selama tahap perkenalan,
Kemudian menurunkan harga tersebut pada saat persaingan mulai ketat.
Strategi ini baru bisa berjalan dengan baik jika konsumen tidak sensitif terhadap
harga, tetapi lebih menekankan pada pertimbangan-pertimbangan kualitas,
inovasi dan kemampuan produk tersebut dalam memuaskan konsumen.
2) Penetration pricing, yaitu dalam metode ini perusahaan berusaha
memperkenalkan suatu produk baru dengan harga rendah sehingga akan dapat
memperoleh volume penjualan yang besar dalam waktu yang relative singkat.
Selain itu metode ini juga bertujuan untuk mencapai skala ekonomis dan
mengurangi biaya per unit. Pada saat yang bersamaan metode penetrasi juga
dapat mengurangi minat dan kemampuan pesaing karena harga yang rendah
menyebabkan marjin yang diperoleh setiap perubahan menjadi terbatas.
3) Prestige pricing, yaitu merupakan metode yang menetapkan tingkat harga yang
tinggi sehingga konsumen amat peduli dengan statusnya dan akan tertarik
dengan produk yang kemudian akan membelinya.
4) Price lining, yaitu metode yang digunakan perusahaan dalam menjual produk
yang lebih dari satu jenis. Harga untuk lini produk tersebut bervariasi dan
ditetapkan pada tingkat harga tertentu yang berbeda.
5) Odd-even pricing, yaitu metode yang digunakan perusahaan dalam menetapkan
harga dimana harga tersebut besarnya mendekati jumlah genap tertentu.
6) Demand backward pricing, yaitu metode yang berdasarkan suatu target harga
tertentu, kemudian perusahaan mnyusuaikan kualitas komponen-komponen
produknya. Dengan kata lain produk didesain sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi target harga yang ditetapkan.
7) Bundle pricing, yaitu gabungan dua atau lebih produk dalam satu harga paket

Tujuan Penetapan Harga


Menurut Kotler dan Keller (2007) tujuan penetapan harga antara lain:
1) Kelangsungan hidup, perusahaan dapat mengejar kelangsungan hidup sebagai
tujuan utamanya jika terjadi kelebihan kapasitas, persaingan yang sengit, atau
keinginan konsumen yang berubah-ubah.
2) Laba maksimum sekarang, perusahaan mencoba untuk menetapkan harga yang
akan memaksimalkan laba sekarang yaitu memperkirakan permintaan dan biaya
dengan menetapkan harga rendah.
3) Pangsa pasar maksimum, perusahaan ingin memaksimalkan pangsa pasarnya
yakni dengan volume penjualan yang lebih tinggi dengan biaya lebih rendah dan
laba jangka panjang yang lebih tinggi.
4) Kepemimpinan mutu produk, perusahaan bermaksud menjadi pemimpin mutu
produk di pasar yaitu produk dengan tingkatan yang tinggi soal mutu, selera,
serta harga yang cukup tinggi tapi masih bisa di jangkau konsumen.
5) Tujuan lain, menggunakan tujuan-tujuan penetapan harga lainnya untuk
mendapatkan pengembalian sebagian biaya.

Pengertian Harga


Menurut Pattinasarany (2009) Secara sederhana harga diartikan sebagai
jumlah uang (satuan moneter) dan aspek lain (non moneter) yang mengandung
kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan suatu produk. Sedangkan
arti harga yang lebih luas adalah sejumlah nilai yang bersedia dibayar konsumen
untuk memenuhi permintaan suatu produk atau jasa. Harga merupakan salah satu
unsur bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan sedangkan unsur-unsur
lainnya menghasilkan biaya

Gab Model Kualitas Layanan


Model Servqual (Service Quality), model ini juga dikenal dengan istilah gap
analysis modelyang dikembangkan oleh tiga peneliti Amerika, Zeithaml, A.
Parasuraman, dan Berry. Untuk mengetahui kulitas layanan digunakan gap model
serqual. Model ini meliputi analisis terhadap 5 gap yang berpengaruh terhadap
kualitas layanan (Tjiptono, 2014:271), berikut penjelasannya:

  1. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen.
    Pada kenyataannya pihak manajeman suatu perusahaan tidak selalu dapat
    merasakan atau memahami apa yang diinginkan konsumen secara tepat.
    Akibatnya manajemen tidak mengetahui bagaimana suatu layanan harus didesain,
    dan layanan-layanan pendukung atau sekunder apa saja yang diinginkan
    konsumen. Contohnya pengelola katering mungkin mengira para konsumennya
    lebih mengutamakan ketepatan waktu pengantaran makanannya, padahal para
    konsumen tersebut mungkin lebih memperhatikan variasi menu yang disajikan.
  2. Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan spesifikasi
    kualitas layanan.
    Kadangkala manajemen mampu memahami secara tepat apa yang
    diinginkan oleh konsumen, tetapi mereka tidak menyusun suatu standar kinerja
    tertentu yang jelas. Hal ini bisa dikarenakan tiga faktor, yaitu tidak adanya
    komitmen total manajemen terhadap kualitas jasa, kekurangan sumber daya, atau
    karena adanya kelebihan permintaan. Sebagai contoh, manajemen suatu bank
    meminta para stafnya agar memberikan pelayanan secara cepat tanpa menentukan
    standar atau ukuran waktu pelayanan yang dapat dikategorikan cepat.
  3. Gap antara spesifikasi kualitas layanan dan penyampaian pelayanan.
    Ada beberapa penyebab terjadinya gap ini, misalnya karyawan kurang
    terlatih (belum menguasai tugasnya), beban kerja melampaui batas, tidak dapat
    memenuhi standar kinerja yang ditetapkan. Selain itu mungkin pula karyawan
    dihadapkan pada standar-standar yang kadangkala bertentangan satu sama lain,
    misalnya para juru rawat diharuskan meluangkan waktunya untuk mendengarkan
    keluhan atau masalah pasien, tetapi disisi lain mereka juga harus melayani para
    pasien dengan cepat.
  4. Gap antara penyampaian pelayanan dan komunikasi eksternal.
    Seringkali harapan konsumen dipengaruhi oleh iklan dan pernyataan atau
    janji yang dibuat oleh perusahaan. Resiko yang dihadapi perusahaan adalah
    apabila janji yang diberikan ternyata tidak dapat dipenuhi. Akan tetapi saat
    konsumendatang dan merasakan bahwa ternyata fasilitas praktikum dan
    perpustakaannya biasa-biasa maka sebenarnya komunikasi eksternal yang
    dilakukan lembaga pendidikan tersebut telah mendistorsi harapan konsumen dan
    menyebabkan terjadinya persepsi negatif terhadap kulitas layanan lembaga
    tersebut.
  5. Gap antara pelayanan yang dirasakan dan pelayanan yang diharapkan
    Gap ini terjadi apabila konsumen mengukur kinerja atau prestasi
    perusahaan dengan cara yang berlainan atau bisa juga keliru mempersepsikan
    kualitas layanan tersebut. Misalnya seorang dokter bisa saja terus mengunjungi
    pasiennya untuk menunjukan perhatiannya.

Indikator Kualitas Pelayanan


Dalam rangka untuk menciptakan kepuasan konsumen pada produk jasa maka
secara langsung terkait erat dengan dimensi kualitas jasa yang ditawarkan oleh
perusahaan. Adapun dimensi kualitas jasa menurut Parasuraman dalam Tjiptono
(2000) yaitu meliputi:
1) Reliabilitas (reliabilility)
Yaitu kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat
dan memuaskan. Dengan indikator yaitu meliputi (1) Keandalan petugas dalam
memberikan informasi pelayanan,
(2) Keadalan petugas dalam melancarkan prosedur pelayanan, dan (3) Keadalanan
petugas dalam memudahkan teknis pelayanan.
2) Daya tanggap (responsiveness)
Yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan
layanan dengan tanggap. Indikator (1) Respon petugas pelayanan terhadap
keluhan warga, (2) Respon petugas pelayanan terhadap saran warga, dan (3)
Respon petugas pelayanan terhadap kritikan warga.
3) Jaminan (Assurance)
Yaitu mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan dan sifat yang dapat
dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari biaya, resiko atau keragu-raguan,
dengan indikator yaitu meliputi (1) Kemampuan administrasi petugas pelayanan,
(2) Kemampuan teknis petugas pelayanan dan (3) Kemampuan sosial petugas
pelayanan.
4) Empati (Empathy)
Yaitu meliputi kemudahan dalam menjalin relasi, komunikasi yang baik,
perhatian pribadi dan pemahaman atas kebutuhan individual para pelanggan.
Dengan indikator yaitu meliputi: (1) Perhatian petugas pelayanan, (2) Kepedulian
Petugas dan (3) Keramahan petugas pelayanan.
5) Bukti fisik (tangibles)
Yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi
dengan indikator yaitu (1) Ruang tunggu pelayanan, (2) Loket pelayanan, dan (3)
Penampilan petugas pelayanan.

Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan


Dalam usaha untuk memberikan kepuasan bagi pelanggan maka dengan sendirinya
jaminan atas kepuasan konsumen menjadi hal wajib yang harus dipenuhi oleh perusahaan
jasa. Strategi untuk meningkatkan kualitas jasa / pelayanan, menurut Tjiptono (2004),
ada 8, yaitu:
1) Mengidentifikasi determinasi utama jasa, melakukan riset untuk mengidentifikasi
determinan jasa yang penting bagi pasar sasaran lalu memperkirakan penilaian yang
diberikan pasar sasaran terhadap perusahaan dan pesaing berdasarkan determinan-
determinan tersebut.
2) Mengelola harapan konsumen, disini perusahaan berusaha mengetahui dan memenuhi
harapan konsumen.
3) Mengelola bukti (evidence) kualitas jasa, evidence ini untuk memperkuat persepsi
konsumen selama dan sesudah jasa diberikan.
4) Membidik konsumen tentang jasa, konsumen yang telah terbidik akan dapat
mengambil keputusan secara lebih baik, sehingga kepuasan konsumen dapat tercipta
lebih tinggi.
5) Mengembangkan budaya kualitas, dapat dilakuakan melalui pengembangan suatu
program yang terkoordinasi yang diawali dari seleksi dan pengembangan karyawan.
Sebab karyawan merupakan aset perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan
memeuaskan pelanggan.
6) Menciptakan automating quality, perusahaan perlu melakuan penelitian untuk
menentukan bagian yang memebutuhkan sentuhan manusia dan yang memerlukan
otomatisasi.
7) Menindak lanjuti jasa, perusahaan perlu mengambil inisiatif untuk menghubungi
sebagian atau semua konsumen untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen
terhadap jasa yang diberikan.
8) Mengembangkan sistem informasi kualitas jasa, diperlukan dengan pendekatan riset
untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi kualiutas jasa guna
mendukung pengambilan keputusan.
Menurut Tjiptono (2004), ketiga kriteria pokok dalam menilai kualitas jasa /
pelayanan dijabarkan menjadi enam unsur yaitu:

  1. Profesionalism and Skills
    Profesionalism and Skills merupakan outcome related criteria. Penyedia jasa
    (service provider), karyawan, sistem operasional dan sumber daya fisik memiliki
    pengetahuan dan keterampilan untuk memecahkan masalah pelanggan secara
    profesional.
  2. Attitudes and Behavior
    Attitudes and Behavior merupakan outcome related criteria. Karyawan perusahaan
    (contact personal) menaruh perhatian terhadap pelanggan dan berusaha membantu
    dalam memecahkan masalah secara spontan dan senang hati.
  3. Accesbility and Flexibility
    Accasbiliti and Flexibility termasuk process related criteria. Penyedia jasa, lokasi,
    jam kerja, karyawan dan sistem operasionalnya dioperasikan agar pelanggan dapat
    melakukan akses dengan mudah dan bersifat fleksibel dalam menyesuaikan
    permintaan dan keinginan pelanggan.
  4. Reliability and Trusworthiness
    Reliability and Trusworthiness termasuk process related criteria. Pelanggan
    memahami bahwa apapun yang terjadi, pelanggan bisa mempercayai segala
    sesuatunya kepada penyedia jasa beserta karyawan dan sistemnya.
  5. Recovery
    Recovery termasuk process related criteria. Penyedia jasa mengambil tindakan untuk
    mengendalikan situasi dan mencari pemecahan masalah yang tepat bila ada
    kesalahan.
  6. Repotation and Credibility
    Repotation and Credibility merupakan image ready criteria. Pelanggan meyakini
    bahwa operasional dari penyedia jasa memberikan nilai atau imbalan yang sesuai
    dengan pengorbanannya

Pengertian Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan menjadi salah satu ukuran atas keberhasilan dalam memberikan
jaminan atas kepuasan bagi konsumen, melalui kualitas pelayanan seorang konsumen
dapat memberikan penilaian secara obyektif dalam usaha menciptakan kepuasan
konsumen. Menurut Tjiptono (2004), Sebagai kecocokan untuk pemakaian (fitness for
use). Definisi ini menekankan orientasi pada pemenuhan harapan pelanggan.
Lupiyoadi (2001) menyatakan bahwa kualitas adalah keseluruhan ciri-ciri dan
karakteristik-karakteristik dari suatu produk atau jasa dalam hal kemampuannya untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten. Semakin
baiknya kualitas maka upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumen juga secara
maksimal dapat diberikan oleh perusahaan, sehingga memberikan dukungan dalam upaya
menciptakan kepuasan konsumen.