Divestasi (skripsi dan tesis)

Istilah divestasi berasal dari terjemahan bahasa Inggris, yaitu divestment. Pengertian divestasi ditemukan dalam Pasal 1 Angka 13 Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Investasi Pemerintah dan Pasal 1 Angka 1 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 183/PM.05/2008 Tentang Persyaratan dan Tata Cara Divestasi terhadap Investasi Pemerintah.

Divestasi adalah: “Penjualan surat berharga dan/atau kepemilikan pemerintah baik sebagian atau keseluruhan kepada pihak lain.”Namun, dalam istilah lain. Para ahli yang menggunakan istilah Indonesianisasi. Indonesianisasi adalah tidak saja hanya berarti untuk mendapatkan keuntungan, tetapi lebih penting lagi adalah pengalihan kontrol terhadap jalannya perusahaan. Dalam definisi ini, divestasi dikonstruksikan sebagai jual-beli. Subjeknya adalah pemerintah dengan pihak lainnya. Pihak lainnya berupa orang atau badan hukum. Hal yang menjadi objek jual-belinya, yaitu surat berharga dan aset pemerintah. Definisi lain tentang divestasi dikemukakan oleh Sally Wehmeir, yaitu: “The act ot selling the shares you have bought in company or taking money away from where you have invested.”(Divestasi merupakan ketentuan yang mengatur tentang penjualan saham yang dimiliki oleh perusahaan atau cara mendapatkan uang dari investasi yang dimiliki oleh seseorang).
Ada dua (2) hal yang terkandung pada defenisi di atas, yaitu sebagai berikut : 1. Sebuah teori adalah seperangkat proposisi (pernyataan) yang terdiri atas konstruk-konstruk yang teridentifikasi dan saling berhubungan. 2. Teori menyusun antarhubungan seperangkat variable (konstruk) yang menyajikan suatu pandangan sistematis mengenai fenomena-fenomena yang dideskripsikan oleh variabel-variabel itu. Dari kedua hal tersebut, Kerlinger menyimpulkan bahwa pada hakikatnya teori itu menjelaskan suatu fenomena. Penjelasan itu dilakukan dengan cara menunjuk secara rinci variabel-variabel tertentu yang terkait dengan variabel tertentu lainnya. Variabel adalah simbol /lambang yang padanya dilekatkan bilangan atau nilai, seperti kelas sosial, jenis kelamin, aspirasi, dan lainnya. Secara etimologi divestasi merupakan terminologi ekonomi sebagai lawan kata dari investasi. Hal itu berarti divestasi hanya ada/terjadi jika telah ada investasi. Menurut Black Law Dictionary, investment adalah: “An expenditure to acquire property or other asset in order to produce revenue, the asset so acquired. The placing of capital or laying out of money in a way to secure income or profit from its employment. To purchase securites of a more or less permanent nature or to place money or property in business venture or real estatem, or otherwise let it out, so it may produce revenue or gain, or both in the future

 Selanjutnya, menurut Achmad Antoni K. Muda dalam Kamus Lengkap Ekonomi menyatakan divestasi adalah: “penyertaan/pelepasan sebuah investasi, seperti pelepasan saham oleh pemilik saham lama, tindakan penarikan kembali penyertaan modal perusahaan ventura dari perusahaan pasangan usahanya. Divestasi model ventura dapat dilaksanakan dengan beberapa cara.” Sementara itu menurut John Clark dalam Dictionary of Insurance and Finance, Divestment adalah : “sale or liquidation of parts of company, generally in an attempt to improve efficiency, by cutting-loss making business and/or concentrating one or more product or industry. Divestment is therefore the opposite process to merger. Definisi di atas sejalan dengan pengertian Haro Johansenn dan G. Terry Page dalam International Dictionary of Management, yakni Divestasi adalah : Establishing and eliminating of unprofitable activities of business. Berdasarkan definisi-definisi tersebut di atas, jelas bahwa pertimbangan divestasi dilihat dari pertimbangan bisnis semata untuk mempertahankan profitabilitas perusahaan. Namun dalam konteks penulisan ini, Divestasi adalah divestasi wajib yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian konsekwensi ekonomis dari kewajiban hukum yang demikian sudah diperhitungkan sebelumnya dalam koridor faktor-faktor dan variabel teknis dan ekonomis. Dengan demikian logikanya kegagalan melaksanakan divestasi akan berpotensi merugikan pemerintah dan kepentingan Negara secara nasional sedang kontraktor sebaliknya berpotensi memperoleh keuntungan ekstra. Sehingga patut dan wajar kiranya Universitas Sumatera Utara 23 diatur ketentuan penalti (liquidated damages). Bagi pihak yang terlambat atau gagal melaksanakan divestasi. Belum diaturnya ketentuan liquidated damages tersebut mungkin karena adanya itikad baik, tetapi juga mungkin dikarenakan keterbatasan modal pengusaha nasional.

Dimensi Nilai Pelanggan (skripsi dan tesis)

Menurut sweeny dan saoutar dalam Tjiptono (2005 :136) dimensi nilai terdiri dari empat yaitu : 1) Emotional value, utilitas yang berasal dari perasaaan atau afektif/emosi positif yang ditimbulkan dari mengkonsumsi produk 2) Social value, utilitas yang didapat dari kemamapuan produk untuk meningkatkan konsep diri social konsumen.   3) Quality/performance value, utilitas yang didapatkan dari produk karena reduksi biaya jangka pendek dan panjang panjang. 4) Price/value of maney, utilitas yang diperoleh dari persepsi terhadap kinerja yang yang diharapkan dari produk atau jasa.

Penciptaan Nilai Pelanggan (skripsi dan tesis)

Menurut Best dalam Sumarwan, dkk (2010: 33), bahwa nilai pelanggan dapat diciptakan melalui beberapa pendekatan, yaitu: 1) Biaya daur hidup dan penciptaan nilai Bagi nilai ekonomi superior, pelanggan harus memperoleh keuntungan ekonomi diatas daur hidup pengguna. Terdapat enam sumber utama biaya siklus hidup yang menciptakan nilai yaitu harga yang dibayarkan, biaya penggunaan, biaya pemeliharaan, biaya kepemilikan, serta biaya pembuangan. 2) Harga kinerja dan penciptaan nilai Walaupun nilai ekonomis menyediakan dasar yang kuat untuk menciptakan nilai pelanggan berdasarkan biaya tetapi terdapat aspek-aspek kinerja produk yang lebih sulit dihitung dalam pembiayaan total pembelian. Kinerja dapat juga meliputi fitur-fitur dan fungsi-fungsi produk yang tidak menghemat uang tetapi meningkatkan pemakaian sehingga menciptakan nilai pelanggan. 3) Benefit yang dipersepsikan dan penciptaan nilai Nilai relatif kinerja harga dan nilai ekonomi memberikan ukuran yang terbaik mengenai nilai pelanggan tetapi evaluasi pelanggan terhadap produk sering melampaui ukuran kinerja harga dan ekonomis. Persepsi pelanggan tentang kualitas layanan, reputasi merek, dan biaya-biaya lain selain harga juga mempengaruhi nilai pelanggan. Setelah diketahui persepsi manfaat dan persepsi biaya secara keseluruhan maka selisihnya merupakan nilai pelanggan yang dipersepsikan. 4) Benefit pelanggan Sebelum dapat menentukan keseluruhan nilai pelanggan yang diciptakan, perlu ditentukan biaya-biaya pembelian yang dipersepsikan. Posisi daya saing perusahaan terkait dengan pelayanan yang dipersepsikan lebih tinggi dari pada kompetitor yang pada gilirannya akan meningkatkan total biaya pembelian yang dipersepsikan. Apabila persepsi mengenai total biaya pembelian dan total manfaat telah diperoleh maka perusahaan dapat mengevaluasi tingkat nilai yang tercipta untuk pelanggan. 5) Benefit emosional dan penciptaan nilai Setiap manusia mempunyai kebutuhan fisik dan psikologis. Setelah kebutuhan fisik terpenuhi maka manusia memerlukan kebutuhan psikologi seperti hubungan yang hangat, afiliasi, status, pengakuan, dihormati, kegembiraan, semangat, dan pemenuhan diri. Kebutuhan psikologis dapat dilayani dengan membeli produk yang menawarkan serangkaian benefit emosional yang konsisten dengan kebutuhan itu karena banyak produk memiliki personalitas dengan makna psikologis.

Konsep dan Definisi Nilai Pelanggan (Consumer Value) (skripsi dan tesis)

Pembeli memilih di antara beraneka ragam tawaran yang dianggap memberikan nilai yang paling banyak. Nilai dapat dilihat terutama sebagai kombinasi mutu, jasa, dan harga (QSP: quality, service, price), yang disebut tiga serangkai nilai pelanggan. Nilai meningkat jika mutu dan layanannya meningkat serta menurun jika harganya meningkat. Pelanggan akan membeli dari 31 perusahaan yang mereka yakini menawarkan nilai yang dipikirkan pelanggan (CPV : customer perceived value) yang tertinggi. Nilai yang dipikirkan pelanggan, Menurut Kotler (2005:103) “Nilai pelanggan adalah selisih nilai pelanggan total dan biaya pelanggan total dimana nilai pelanggan total adalah sekumpulan manfaat yang diharapkan oleh pelanggan dari produk atau jasa tertentu dan biaya pelanggan total adalah sekumpulan biaya yang diharapkan oleh konsumen yang dikeluarkan untuk mengevaluasi, mendapatkan, menggunakan dan membuang produk atau jasa.” Nilai pelanggan atau customer perceived value yaitu “persepsi pelanggan terhadap nilai dimana perusahaan harus mempertimbangkan nilai dalam mengembangkan produk dan jasanya sehingga sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan” (Vanessa, 2007:65). Monroe dalam Vanessa (2007:65) menyatakan bahwa “nilai pelanggan adalah rasio antara keuntungan atau manfaat yang dirasakan dengan pengorbanan yang dikeluarkan. Dimana keuntungan yang dirasakan adalah kombinasi dari atribut fisik, atribut jasa dan teknik pendukung dalam pemanfaatan produk”. Pengorbanan yang dikeluarkan adalah total biaya yang dikeluarkan konsumen termasuk biaya pembelian dan biaya tambahan (seperti biaya pemesanan, transportasi, instalasi, penanganan pesanan) serta biaya diluar pembelian (mengganti kerusakan, resiko kegagalan atau pelayanan yang buruk). Buchari (2007:295) menyatakan bahwa “nilai pelanggan ialah selisih antara total nilai tambah yang diperoleh konsumen dibandingkan dengan total biaya yang dikeluarkan”. Menurut Hanny dalam Vanessa (2007:65) “Nilai adalah harga murah, apapun yang diinginkan dari suatu produk, kualitas yang diterima 32 konsumen atas biaya yang telah dikeluarkan dan apa yang diperoleh konsumen dari yang telah mereka berikan”. Nilai pelanggan adalah “preferensi yang dirasakan oleh pelanggan atas atribut produk, kinerja, dan konsekuensi yang timbul dari pemakaian fasilitas untuk memenuhi sasaran dan maksudnya (A. B. Susanto dalam Vanessa, 2007:66)”. Menurut Gale (1994) dalam Alida (2007:74) “nilai pelanggan adalah persepsi konsumen terhadap nilai atas kualitas yang ditawarkan relatif lebih tinggi dari pesaing akan mempengaruhi tingkat loyalitas konsumen, semakin tinggi persepsi nilai yang dirasakan oleh pelanggan, maka semakin besar kemungkinan terjadinya hubungan (transaksi)”. Dan hubungan yang diinginkan adalah hubungan yang bersifat jangka panjang, sebab usaha dan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan diyakini akan jauh lebih besar apabila harus menarik pelanggan baru atau pelanggan yang sudah meninggalkan perusahaan, daripada mempertahankannya. Menurut Best dalam suwarman, dkk (2010 : 30), “nilai pelanggan merupakan benefit yang diperoleh pelanggan dikurangi biaya pembelian. Berdasarkan konsep ini, nilai pelanggan bersumber dari benefit ekonomi, benefit pelanggan, dan benefit emosional”. Benefit ekonomi bersumber dari keunggulan harga dan biaya selain harga pembelian seperti biaya akuisisi, penggunaan kepemilikan, pemeliharaan, dan perbaikan serta biaya pembuangan. Benefit pelanggan bersumber dari penampilan produk, layanan dan reputasi. Benefit emosional adalah keunggulan produk dalam memenuhi kebutuhan emosional pelanggan yang terkait dengan kebutuhan psikologis, tipe – tipe kepribadian pelanggan, dan nilai personal pelanggan.

Cara Kerja Customer Relationship Management (skripsi dan tesis)

Banyak sekali manfaat yang diberikan Customer Relationship Management yang didapat perusahaan. Aktivitas CRM adalah untuk mendapatkan dan menyusun pengetahuan dari setiap pelanggan dan menggunakan informasi ini di 30 setiap lini perusahaan menjadi kontak poin tambahan bagi pelanggan, dengan tujuan untuk mengharmonisasikan pendapatan dan keuntungan dengan memaksimalkan kepuasan pelanggan. Sistem Customer Relationship Management menyuguhkan berbagai solusi yang beragam dalam mengatasi isu-isu perbankan solusi CRM yang berhasil saat ini adalah (Buttle, 2005:67) : 1) Keunggulan operasional : Solusi harus dapat memastikan secara responsif dan akurat terhadap permintaan nasabah dan juga interaksi yang langsung pada seluruh kanal interaksi dengan biaya rendah. Untuk mencapai keunggulan operasional, sebuah Bank harus mengintegrasikan fungsi penjualan dan pelayanan atas seluruh kanal yang menyediakan personalisasi portal untuk nasabah dan karyawan Bank, sehingga dapat meningkatkan loyalitas nasabah dengan memastikan harapan nasabah terkelola dan terpenuhi. 2) Analytical Insight : Secara konsisten meningkatkan customer experience pada seluruh kanal, baik tradisional maupun modern, analisa data nasabah harus mampu memperbaiki perkiraaan dan perencanaan penjualaan, menganalisa, memperkirakan dan mendorong perilaku nasabah dan mengidentifikasi waktu yang tepat untuk membuat penawaran yang tepat pada pasar yang tepat pula. Analytical Insight harus mampu memperpendek rantai penjualan (sales cycle) dengan memberikan hasil penjualan yang berkualitas pada agen penjualan yang bersangkutan pada waktu yang cukup. 3) Optimisasi Proses : Solusi CRM yang sukses pada industri keuangan akan memperhatikan seluruh proses bisnis yang mungkin melibatkan berbagai pihak seperti nasabah, Relationship Manager, Credit atau Risk Analiyst atau juga staf yang lain. Kunci utama bagi suatu Bank pada saat ini adalah kemampuan untuk menangani keinginan pasca prioritas nasabah secara efektif. Hal ini harus memahami nasabah lebih baik dari pada pesaingnya. Bank harus secara strategis menggunakan pemahaman ini pada semua area perusahaan untuk membangun dan menguatkan hubungan jangka panjang dengan para nasabahnya. Sehingga bisa menjaga kepuasan nasabah dan berdampak pada kepuasan nasabahnya.

Pengertian Custumer Relationship Management (CRM) (skripsi dan tesis)

 Pada dasarnya, Konsep Customer Relationship Management (CRM) muncul berdasarkan konsep relationship marketing. “Jika dalam relationship marketing perusahaan berusaha untuk menjalin hubungan dengan seluruh pihak yang berkepentingan dalam organisasi pelayanan, maka Customer Relationship Management (CRM) menekankan pada sisi pelanggan saja” (Vanessa Gaffar, 2007:86). Pelanggan yang dimaksud tentulah tidak hanya pada kepentingan 25 pelanggan eksternal saja melainkan juga pelanggan internal yaitu para karyawan dari organisasi pelayanan tersebut baik perusahaan ataupun lembaga pemerintahan. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Kevin L Keller (2007:189), CRM merupakan “proses mengelola informasi rinci tentang masing-masing pelanggan dan secara cermat mengelola semua titik sentuhan pelanggan demi memaksimalkan kesetiaan pelanggan”. Definisi Customer Relationship Management (CRM) menurut Buttle (2007:48) yaitu “CRM adalah strategi inti dalam bisnis yang mengintegrasikan proses-proses dan fungsi-fungsi internal dengan semua jaringan eksternal untuk menciptakan serta mewujudkan nilai bagi para konsumen sasaran secara profitabel”.
Sedangkan menurut Temporal dan Troot (2002:7) berpendapat bahwa “CRM pada intinya merupakan kolaborasi dengan setiap konsumen yang mampu menciptakan keadaan yang tidak merugikan salah satu pihak (win-win situation). anda menambah nilai pada kehidupan sehari-hari setiap konsumen, dan sebagai imbalannya, mereka memberikan kesetiaan kepada anda. Sesungguhnya, proses ini merupakan hal yang berhubungan dengan setiap konsumen secara individual”. Menurut Utami (2010:179) pengertian CRM adalah “Suatu proses interaktif yang mengubah data-data pelanggan kedalam kesetiaan pelanggan melalui beberapa kegiatan, yaitu mengumpulkan data pelanggan, menganalisis data pelanggan tersebut dan mengidentifikasi target pelanggan, mengembangkan program CRM, dan menerapkan program CRM”. Sedangkan menurut Kotler & Keller (2009:189) “Customer Relationship Management merupakan proses mengelola informasi rinci tentang masing-masing pelanggan dan secara cermat 26 mengelola semua “titik sentuhan” pelanggan demi memaksimalkan kesetiaan pelanggan”. CRM menurut Lovelock & Wirtz (2011:367) adalah “Customer Relationship Management systems should be seen as enabling the succesful implementation of the Wheel of Loyalty. CRM systems are particularly useful when firms have to serve large numbers of customers across many service delivery channels.” Sistem Customer Relationship Management harus dilihat sebagai memungkinkan pelaksanaan sukses dari Wheel of Loyalty. sistem CRM sangat berguna ketika perusahaan harus melayani sejumlah besar pelanggan di banyak saluran penyampaian layanan. Kotler & Armstrong (2012:36) mendefinisikan “Customer Relationship Management is the overall process of building and maintaining profitable customer relationship by delivering superior customer value and satisfaction.” Peneliti menyimpulkan, CRM sangat berguna untuk mengelola dan melayani konsumen dalam skala besar yang tersebar luas. Terlebih lagi, implementasi CRM yang terarah dan berhasil dapat meningkatkan bahkan memaksimalkan kepuasan konsumen dan loyalitas konsumen. Pengertian lain dari “Customer Relationship Marketing is an approach to marketing with its customers that promote both the company’s longterm growth and the customer’s maximum satisfaction” (Sanchez, 2012 dalam penelitan Afan dkk). Definisi tersebut memiliki arti bahwa pemasaran hubungan pelanggan adalah cara usaha pemasaran pada pelanggan yang meningkatkan pertumbuhan jangka panjang perusahaan dan kepuasan maksimum pelanggan. Pelanggan yang baik merupakan suatu aset apabila ditangani dan dilayani dengan baik akan 27 memberikan pendapatan dan pertumbuhan jangka panjang bagi suatu badan usaha. “Customer relationship marketing berfokus pada membangun hubungan dengan pelanggan satu demi satu. Hal ini dibutuhkan pengetahuan yang mendalam dan akurat dalam situasi, perilaku, kebutuhan, dan preferensi pelanggan. Studi mengenai pemasaran hubungan pelanggan penuh dengan anteseden, hasil, serta aktifitas dalam pemasaran hubungan pelanggan itu sendiri yang menawarkan semua aktifitas pemasaran mulai dari pendirian, pengembangan, dan pemeliharan” (Morgan and Hunt, 1994 : 4).
Masalah yang dihadapi dalam CRM adalah CRM mempunyai makna yang berbeda untuk orang yang berbeda, untuk sebagian orang menggap bahwa CRM berarti direct e-mails. Sedangkan untuk yang laiinya adalah mass customization atau pengembangan produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan. Sehingga muncul pertanyaan apa yang harus dilakukan oleh manajer untuk mengetahui tentang pelanggannya dan bagaimana informasi tentang pelanggan tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan CRM. Winner (2001) dalam adam (2014 : 74) mengembangkan suatu model dasar customer relethionship management yang efektif yang dapat digunkan oleh manajer, yang terdiri dari tujuh komponen dasar yaitu : 1) Membuat aktivitas data base pelanggan 2) Menganalisa data base tersebut 3) Custumer selection. Setelah selesai dianalisis, kemudian memilih pelanggan yang akan ditargetkan. 4) Customer targeting. Menentukan alat untuk mencapai pelanggan yang menjadi target. 5) Relathionship marketing. Membangun hubungan dengan target customer. 6) Privacy issue. 7) Metrics. Digunakan untuk mengukur sukses tidaknya suatu program CRM.Berdasarkan model dasar Winner dapat disimpulkan bahwa relethionship marketing merupakan bagian dari customer relethionship management. Istilah relethionship marketing telah lama digunakan untuk menjelaskan jenis aktivitas pemasraan untuk menciptakan hubungan yang luas dengan pelanggan.
Menurut Chan (2003:58), ada tujuh tahapan yang perlu diperhatikan oleh para pemasar dalam menerapkan konsep customer relationship marketing tersebut dengan berhasil: a) Mengenali pelanggan dan membangun database pelanggan. Pelanggan perlu dikenali secara personal, sehingga hal ini memunculkan era pemasaran individu di mana komunikasi pemasarannya didasarkan pada onetoone interaction. Pemasar dan pelanggan harus menjalin hubungan yang saling menguntungkan. Untuk itu para pemasar perlu benar-benar mengetahui pelanggannya satu per satu. Cara yang perlu ditempuh adalah membangun suatu database pelanggan yang didalamnya berisi mengenai semua informasi tentang pelanggan. b) Memilih pelanggan yang menjadi prioritas dengan membuat segmentasi pelanggan. Untuk mengetahui pelanggan mana yang harus diprioritaskan, para pemasar perlu membuat segmentasi pelanggan. Segmentasi pelanggan didasarkan pada 2 bagian yaitu segmentasi yang didasarkan pada monetary value dan didasarkan pada preferensi atau kebutuhan. c) Memberikan kemudahan bagi pelanggan untuk berinteraksi. Salah satu contoh yang paling umum adalah fungsi dari Automatic Teller Machine (ATM). Fungsi ATM terus bertambah dan hamper menyerupai fungsi yang dijalankan oleh kantor cabang atau kantor cabang pembantu sebuah bank. d) Memudahkan penanganan interaksi melalui teknologi internet. Dominasi teknologi internet dalam era one-to-one marketing memiliki peran yang sangat penting. Setiap perusahaan ingin tetap bertahan dalam persaingan bisnis yang semakin ketat. Internet tidak hanya berfungsi memperlancar transaksi, tapi juga sangat berperan dalam melaksanakan interaksi one-to-one yang sangat personal untuk memaksimalkan kepuasan masing-masing pelanggan. e) Memberikan pengalaman yang menarik. Konsep ini sangat sempurna diterapkan oleh Dell Computer yang merupakan pioneer penjualan komputer melalui direct marketing. Pelanggan dapat merakit sendiri komputer yang ingin dibelinya. Semua komponen yang tersedia di Dell Computer saling mendukung antara satu dengan yang lainnya. f) Memberikan pelayanan personal. Dengan memberikan penawaran unik yang berbeda antara satu pelanggan dengan pelanggan lainnya. g) Mempertahankan loyalitas pelanggan. Pelanggan yang loyal sangat diinginkan oleh setiap perusahaan. Oleh karena itu para pemasar perlu untuk mempertahankan loyalitas dari pelanggan agar 29 mereka tidak lari. Program loyalitas yang diterapkan oleh perusahaan merupakan salah satu usaha yang dibuat untuk mempertahankan loyalitas dari pelanggan. Tujuan CRM sendiri adalah mencari dan menjaga agar konsumen selalu dipertahankan sehingga terus berkembang menjadi langganan yang profitable. CRM memerlukan suatu fokus yang jelas terhadap atribut suatu jasa yang dapat menghasilkan nilai yang mengesankan bagi konsumen, sehingga mereka menjadi pelanggan yang loyal

Bauran Pemasaran Jasa (skripsi dan tesis)

Marketing mix (bauran pemasaran) adalah variabel-variabel yang akan diawasi yang disusun oleh perusahaan tersebut untuk memuaskan kelompok yang ditarget. “Marketing mix yang biasa dijumpai terdiri atas suatu produk, ditawarkan pada harga tertentu, dengan sejenis promosi untuk memberi tahu calon pelanggan mengena produk tersebut, dan suatu cara untuk mencapai tempat pelanggan” (Cannon et al, 2008 : 40). “Bauran yang berbeda diperlukan untuk tujuan yang berbeda dan berbagai model bauran pemasaran, masing-masing dengan bahan yang berbeda pula” (Charles, 2013 : 325) Bauran pemasaran jasa merupakan pengembangan bauran pemasaran. Bauran pemasaran (marketing mix) produk hanya mencakup 4P, yaitu : Product, Price, Place, dan Promotion, sedangkan untuk jasa keempat P tersebut masih kurang mencukupi, sehingga para ahli pemasaran menambahkan 3 unsur, yaitu : People, Process, dan Customer Service. Bauran pemasaran jasa yang terbagi menjadi 7 komponen tersebut adalah sebagai berikut : (Lupiyoadi, 2014 : 92) 1) Product (produk) Produk merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan sejumlah nilai kepada konsumen. Yang perlu diperhatikan dalam produk adalah konsumen tidak hanya membeli fisik dari produk saja, tetapi membeli manfaat dan nilai dari produk tersebut. 2) Price (harga) Penentuan harga juga berhubungan dengan pendapatan dan turut mempengaruhi permintaan dan saluran pemasaran. Yang paling penting adalah keputusan dalam penentuan harga harus konsisten dengan strategi pemasaran secara keseluruhan. 3) Place (tempat) Lokasi dalam jasa merupakan gabungan antara lokai dan keputusan atas saluran distribusi. Ini berhubungan dengan bagaimana cara penyampaian jasa kepada konsumen dan dimana lokasi yang strategis. 24 4) Promotion (promosi) Promosi adalah aktivitas pengenalan produk, spesifikasi produk, keunggulan produk dan manfaat produk terhadap pelanggan. Hal yang perlu diperhatikan dalam promosi adlaah pemilihan bauran promosi, dimana terdiri atas : periklanan, penjualan perseorangan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, informasi dari mulut ke mulut, surat langsung. 5) People (SDM) Dalam hubungannnya dengan pemasaran jasa, orang yang berfungsi sebagai penyedia jasa sangat mempengaruhi kualitas jasa yang diberikan. Keputusan dalam faktor “orang” ini berarti sehubungan dengan seleksi, pelatihan, motivasi, dan manajemen sumber daya manusia (MSDM). 6) Proccess (proses) Proses merupakan gabungan semua aktivitas, yang umumnya terdiri atas prosedur, jadwal pekerjaan, mekanisme, dan hal-hal rutin laiinya, dimana jasa ihasilkan dan disampaikan kepada konsumen. 7) Custumer Service (layanan pelanggan) Layanan pelanggan dalam pemasaran jasa lebih dilihat sebagai hasil (outcome) dari kegiatan distribusi dan logistik, di mana pelayanan diberikan kepada konsumen untuk mencapai kepuasan. Layanan pelanggan meliputi aktivitas untuk memberikan kegunaan waktu dan tempat, termasuk pelayanan prtansaksi, ssat transaksi, dan pascatransaksi. Dari semua unsur-unsur bauran pemasaran tersebut maka yang harus lebih diperhatikan dalam pengembangannya adalah sebagai berikut. a) Konsitensi, berhubungan dengan keserasian/kecocokan secara logis dan penggunaannya antarunsur yang satu dan unsur laiinya dlaam bauran pemasaran. b) Integrasi, hubungan yang harmonis di antar unsur-unsur dalam bauran pemasaran. c) Mendongkrak (leverage). Hal ini berhubugan dengan mengoptimalkan kinerja setiap undur secara lebih professional sehingga lebih mendukung bauran pemasaran untuk mendapatakan daya saing.(Lupioyadi, 2014:93)

Pengertian Pemasaran Jasa (skripsi dan tesis)

Kita mengetahui bahwa yang disalurkan oleh para produsen, bukan bendabenda berwujud saja, tapi juga jas-jasa. Sifat perusahaan yang menghasilakn jasa ialah bahwa jasa itu tidak bisa ditimbun, atau ditumpuk dalam gudang, seperti barang barang laiinya, sambil saat menunggu penjualan. “Selama ini pemasaran jasa, masih belom begitu diperhatikan, tapi melihat banyaknya jumlah uang yang 22 dibelanjakan untuk membeli jasa tersebut, maka para produsen jasa mulai memberi perhatian khusus. Hal ini ditambah pula dengan tingkat persaingan yang mulai ketat diantara para penghasil jasa” (Buchori, 2007 : 241-242). Menurut kotler & Keller, (2012 : 5) yang mendefinisikannya sebagai berikut “Pemasaran suatu fungsi organisasi dan sekumpulan proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai kepada pelanggan serta mengelola hubungan dengan pelanggan yang kesemuanya dapat memberikan manfaat organisasi dan para stakeholder-ny”. Menurut Chistopher Lovelock & Lauren K Wright dalam buku Adam Muhammad (2014 : 2) mendifinisikan pemasaran jasa adalah “bagian dari system jasa keseluruhan dimana perusahaan tersebut memiliki sebuah bentuk kontak dengan pelanggannya, mulai dari pengiklanan hingga penagihan, hal itu mencakup kontak yang dilakukan pada saat penyerahan jasa”. Menurut Lupiyoadi (2006; 5), pemasaran jasa adalah “setiap tindakan yang ditawarkan oleh salah satu pihak kepada pihak lain yang secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan perpindahan kepemilikan apapun”. Sedangkan menurut Umar (2003; 76), pemasaran jasa adalah “pemasaran yang bersifat intangible dan immaterial dan dilakukan pada saat konsumen berhadapan dengan produsen”. Dari beberapa definisi diatas menyatakan bahwa jasa pada dasarnya merupakan suatu yang tidak berwujud, yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. “Dalam memproduksi suatu jasa dapat menggunakan bantuan suatu produk fisik tetapi bisa juga tidak. Disamping itu juga jasa tidak mengakibatkan peralihan hak suatu produk fisik atau nyata, jadi jika seseorang pemberi jasa memberikan jasanya pada orang lain, maka tidak ada perpindahan hak milik secara fisik”. Adam Muhammad (2014 : 242)

Karakteristik Jasa (skripsi dan tesis)

Beberapa perbedaan antara jasa dan barang menurut Edward W. Wheatly dalam Buchori alma, 2014 : 244 : a. Pembelian jasa, sangat dipengaruhi oleh motif yang didorong oleh emosi. b. Jasa bersifat tidak berwujud, berbeda dengan barang yang bersifat berujud, dapat dilihat, dirasa, dicium, memiliki berat, ukuran dsb. c. Barang bersifat tahan lama, tetapi jasa tidak. Jasa dibeli dan dikonsumsi pada waktu yang sama. d. Barang dapat disimpan, sedangkan jasa tidak dapat disimpan. e. Ramalan permintaan dalam marketing barang merupakan masalah, tidak demikian halnya dengan marketing jasa. Untuk menghadapi masa-masa puncak, dapat dilatih dengan tenaga khusus. f. Usaha jasa sangat memetingkan unsur manusia g. Distribusinya bersifat langsung, dari produsen ke konsumen. h. Adanya puncak yang sangat padat, merupkan masalah tersendiri bagi marketing jasa, pada masa puncak, ada kemungkinan layanan yang dipersingkat, agar dapat melayani langganan sebanyak mungkin. Jika mutu jasanya tidak dikontrol maka, ini dapat berakibat negative terhadap perusahaan, karena banyak langganan merasa tidak puas. Sedangkan Leonard L. Berry mengemukakan ada 3 karakteristik jasa yaitu: a. Lebih bersifat tidak berwujud daripada berujud (more thanngible than tangible) b. Produksi dan konsumsi bersamaan waktu (simultaneous production and consumption). c. Kurang memiliki standard an keseragaman (less standardized and unifrom). (Buchori, 2014:245)

Definisi Jasa (skripsi dan tesis)

Jasa sering dipandang sebagai suatau fenomena yang rumit. Kata “jasa” itu sendiri mempunya banyak arti, dari mulai pelayanan pribadi (personal service) samapai jasa sebagai suatu produk. Sejauh ini, banyak pakar pemasaran jasa yang telah berusaha mendefinisikan pengertian jasa. Menurut Cannon dkk (2009 : 287) “Jasa merupakan tindakan yang dilakukan oleh satu pihak untuk pihak lain. Jasa pada dasarnya merupakan semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk dalam bentuk fisik atau kontruksi, yang umumnya dikonsumsi pada saat yang sama dengan waktu dihasilkan dan memberikan nilai tambah atau pemecahan atas maslah yang dihadapi konsumen”. (Rambat, 2014 : 07) Kotler (2004:42) Mendefinisikan “Jasa ialah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan perpindahan kepemilikan apa pun. Produksi jasa mungkin berkaitan dengan produk fisik atau tidak”. 21 Dari beberapa difinisi tersebut, tampak bahwa di dalam jasa selalu ada aspek interaksi antara pihak konsumen dan pemberi jasa, meskipun pihak-pihak yang terlibat tidak selalu menyadari. Jasa juga bukan merupakan barang, melainkan suatu proses atau aktivitas dimana berbagai aktivitas tersebut tidak berwujud.

Tugas Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

“Proses manajemen pemasaran merupakan (1) perencanaan aktivitas pemasaran, (2) pengarahan implementasi rencana-rencana tersebut, dan (3) pengelolaaan rencana-rencana tersebut. Perencanaan, implementasi, dan pengelolaan merupakan tugas-tugas dasar seorang manajer. Dalam tugas perencanaan, manajer menentukan panduan untuk implementasi dan menentukan hasil-hasil yang diharapkan. Mereka menggunakan hasil-hasil yang diharapkan ini dalam tugas pengawasan untuk menentukan apakah segala sesuatunya berjalan dengan baik. Kaitan dari tugas pengelolaan ke tugas perencanaan sangat penting. Masukkan ini sering kali mengarah pada perubahan rencana atau rencana baru. Lebih ringkasnya akan disajikan dalam gambar berikut”. (Cannon et al, 2009 : 40)

Fungsi Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Henry fayol mengidentifikasi adanya lima fungsi, yaitu : planning, organizing, commanding, coordianting dan controlling. Sedangkan luther Gulick menyatakan adanya tujuan unsur yang dihimpun dalam kata kata Posdocorb, yaitu: Palanning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reportir, Budgetting. Kemudian yang terakhir, lebih popular dan sederhana adalah fungsi – fungsi manajemen yang dikemukamam oleh G.R. Terry dengan istilah POAC, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controling. (Buchori, 2014 : 137) 1). Planning Merupakan kegiatan yang berkaitan dengan pemilihan alternatif-alternatif, kebijaksanaan-kebijaksanaan, prosedur-prosedur, dan program-program sebagai bentuk usaha untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dalam perencanaannya, terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Yaitu harus SMART yaitu: a) Specific yang berarti suatu perencanaan harus jelas maksud tujuannya ataupunruang lingkupnya. Tidak terlalu melebar serta tidak terlalu idealis. b) Measurable yang berarti suatu program kerja atau rencana yang harus dapat diukur tingkat keberhasilannya. c) Achievable yang berarti sesuatu dapat dicapai. Jadi bukan anggan-angan atau khayalan. d) Realistic yang berarti sesatu yang sesuai dengan kemampuan serta sumber daya yang ada. Tidak terlalu mudah serta tidak terlalu sulit. Tapi tetap ada tantangan didalamnya. e) Time yang berarti iyalah ada batas waktu yang jelas. Mingguan, bulanan, triwulan, semesteran atau tahunan. Sehingga mudah dinilai serta dapat dievaluasi.  2) Organizing Agar suatu tujuan tercapai maka harus dibutuhkan juga pengorganisasian. Dalam suatu perusahaan biasanya diwujudkan ke dalam bentuk bagan organisasi. Yang setelahnya kemudian dipecah menjadi berbagai jabatan. Pada setiap jabatan juga biasanya memiliki tugas, tanggung jawab, wewenang serta juga uraian jabatan (Job Description) masing – masing .Semakin tinggi suatu jabatan maka biasanya semakin tinggi tugas, tanggung jawab serta wewenangnya. Dan Biasanya juga semakin besar penghasilannya. 3). Actuating Perencanaan serta pengorganisasian yang kurang baik maka berarti tidak diikuti dengan pelaksanaan kerja yang baik pula. oleh karena itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas serta kerjasama. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan secara se’efiesien mungkin untuk mencapai visi, misi serta program kerja organisasi. Actuating Pelaksanaan kerja juga harus sejalan dengan rencana kerja yang telah disusun. Kecuali jika memang ada hal-hal khusus sehingga perlu dilakukan penyesuian ulang. Setiap Sumber Daya Manusia juga harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi serta peran, keahlian dan kompetensi masing-masing Sumber daya Manusia untuk mencapai visi, misi serta program kerja organisasi yang telah ditetapkan. 4). Controlling Agar pekerjaan dapat berjalan sesuai dengan visi, misi, aturan serta program kerja maka dibutuhkan pengontrolan. Baik itu dalam bentuk supervisi, pengawasan, inspeksi sampai audit. Kata-kata tersebut memang memiliki maknayang berbeda, tapi yang terpenting iyalah bagaimana sejak dini dapat diketahui  penyimpangan-penyimpangan atau kesalahan yang terjadi. Baik itu dalam tahap perencanaan, pelaksanaan ataupun pengorganisasian. Sehingga dari hal tersebut dapat segera dilakukan antisipasi , koreksi, serta penyesuaian-penyesuaian yang sesuai dengan situasi, kondisi serta perkembangan zaman

Pengertian Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Manajemen pemasaran atau marketing management berasal dari dua kata management dan marketing, yaitu dua ilmu yang terpisah kemudian dipadukan dalam satu kegiatan. Artinya, fungsi-fungsi yang ada dalam kedua ilmu tersebut digabungkan delam bentuk suatu kerjasama. Menurut William J. Shultz (1961:160) dalam buku Buchari, 2007:130 memberikan definisi “Marketing management is the planning, direction and control of the entire marketing activity of a firm or division of a firm”. 15 (Manajemen marketing ialah merencanakan, pengarahan dan pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian dari perusahaan). Manajemen Pemasaran menurut Kotler (2012:19) adalah “penganalisaan, pelaksanaan, dan pengawasan, program-program yang ditujukan utuk mengadakan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi”. Manajemen Pemasaran menurut Peter & Donelly (2007:15) adalah “the process of planning and executing the conception, pricing, promotion, and distribution of goods, services, and ideas to create exchanges with target groups that satisfy customer and organizational objectives”. Peneliti menyimpulkan, manajemen pemasaran dimulai dari proses merencanakan, menerapkan konsep, memberikan pelayanan, menciptakan ide hingga pada akhirnya memuaskan para konsumen ataupun organisasi terkait. Kemudian akan dikemukakan definisi dari Ben M. Enis (1974:28) “Marketing management is the process of increasing the effectiviness and or efficiency by which marketing activities are performed by individuals of organizations”. Secara ringkas ia menyatakan bahwa Manajemen pemasaran ialah proses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan pemasaran yang dilakukan individu atau oleh perusahaan. logika dari difinisi diatas ialah apabia seseorang atau perusahaan, ingin memperbaiki pemasarannya maka ia harus melakukan kegiatan pemasaran itu sebaik mungkin.(Buchori,2014 : 130 )

Konsep Pemasaran (skripsi dan tesis)

Konsep pemasaran adalah ketika suatu organisasi memusatkan seluruh upayanya untukn memuaskan pelanggannya-secara menguntungakan. Konsep pemasaran bukanlah sebuah ide yang baru, konsep ini sudah ada sejak lama. Namun, beberapa manajer tidak terlalu tertarik dengan kebutuhan pelanggan. Para manajer ini masih memiliki orientasi produksi membuat produk paapun yang mudah untuk diproduksi kemudian berusaha menjualnya. Mereka mengganggap pelanggan ada untuk membeli output perusahaan tersebut dan bukannya perusahaan ada untuk melayani pelanggan dan lebih luas lagi kebutuhan masyarakat. “Tiga ide dasar yang tercakup dalam difinisi konsep pemasaran ialah : kepuasan pelanggan, upaya total perusahaan, dan keuntungan bukan hanya penjualan sebagai sasaran”. (Cannon et al, 2009 : 20). Ada 5 (Lima) konsep pemasaran yang mendasari cara organisasi melakukan kegiatan pemasarannya. Kotler (2008 : 19), yaitu : 1) Konsep produksi Konsep produksi adalah salah satu konsep tertua dalam bisnis. Konsep ini menyatakan bahwa konsumen lebih menyukai produk yang tersedia dalam jumlah banyak dan tidak mahal. 2) Konsep produk Konsep produk berpendapat bahwa konsumen menyukai produk yang menawarkan kualitas, kinerja, atau fitur inovatif terbaik. Manajer dari organisasi ini berfokus untuk membuat produk yang unggul dan senantiasa memutakhirkannya. 14 3) Konsep penjualan Konsep penjualan beranggapan bahwa konsumen dan bisnis, jika dibiarkan tidak akan membeli cukup banyak produk organisasi. Karenanya oraganisasi tersebut harus melakukan upaya penjualan dan promosi yang agresif. 4) Konsep pemasaran Konsep pemasaran beranggapan bahwa kunci untuk mencapai tujuan organisasi menjadi lebih efektif daripada pesaing dalam menciptakan, menghantarkan, dan mengomunikasikan nilai pelanggan yang lebih baik kepada pasar sasaran yang dipilih. 5) Konsep pemasaran holistik Konsep pemasaran holistik didasarkan atas pengembangan, desain, dan pengimplementasian program pemasaran, proses, dan aktivitas-aktivitas yang menyadari keluasan dan sifat saling ketergantungannya. Pemasaran holistic adalah suatu pendekatan yang berusaha menyadari dan mendamaikan ruang lingkup dan kompleksitas pemasaran

Pengertian Dan Peranan Pemasaran (skripsi dan tesis)

Pemasaran ialah salah satu kegiatan pokok yang perlu dilakukan oleh perusahaan baik itu perusahaan barang atau jasa dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya, untuk mendapatkan laba dan untuk berkembang. Hal tersebut disebabkan karena pemasaran merupakan salah satu kegiatan perusahaan, dimana secara langsung berhubungan dengan konsumen. Pemasaran terjadi ketika paling tidak satu pihak yang mempunyai potensi pertukaran memikirkan tujuan – tujuan dan cara – cara mencapai respons yang diinginkan dari pihak lain. Inti dari pemasaran (Marketing) mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial. Salah satu definisi yang baik dan singkat dari pemasaran adalah “memenuhi kebutuhan dengan cara yang menguntungkan” (Kottler dan Keller 2008:9 ). American Marketing Association (AMA) “Mendefinisikan pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingannya” . Definisi lain tentang “pemasaran adalah suatu aktivitas yang bertujuan mencapai sasaran perusahaan, dilakukan dengan cara mengantisipasi kebutuhan pelanggan atau klien serta mengarahkan aliran barang dan jasa yang memenuhi 12 kebutuhan pelanggan atau klien dari produsen”. Cannon, Perreault dan McCarthy, (2008 : 23 ). Maynard and backman dalam bukunya Principle of Marketing menyatakan “Marketing embrace all bussines activitvies involved in the flow of goods and service from physical production to consumption.” Artinya : marketing berarti segala usaha yang meliputi penyaluran barang dan jasa dari sektor konsumsi. (Buchori, 2014 : 131) William J. Shultz dalam bukunya “Outlines of Marketing” menyebutkan bahwa Marketing or distribution is the performance of business activities that direct the flow of goods and service from producers to consumer or users. Marketing atau distribusi adalah usaha/kegiatan yang menyalurkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen.Buchori, (2014 : 130) Pemasaran menurut Saladin & Buchory (2010:2) adalah suatu “proses sosial dan manajerial menyangkut individu atau kelompok untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya melalui penciptaan, penawaran dan pertukaran (nilai) produk dengan yang lain”. Dari pengertian diatas peneliti menyimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah suatu kegiatan yang berorientasi dan dimulai dari perencanaan, penerapan konsep, memberikan pelayanan, menciptakan ide hingga pada akhirnya memuaskan para konsumen ataupun organisasi terkait.

Pengaruh kepuasan konsumen terhadap loyalitas konsumen (skripsi dan tesis)

Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara kinerja hasil yang dipikirkan terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan. Sebelum konsumen dapat loyal, konsumen terlebih dahulu mendapatkan rasa kepuasan yang sesuai dengan keinginannya bahkan lebih. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Tjiptono (2011) bahwa konsumen tidak akan bisa  mencapai tahap loyalitas jika sebelumnya tidak merasakan kepuasan dari produk ataupun jasa. Loyalitas berlanjut manakala konsumen merasa dipuaskan, dan sebaliknya jika produk jasa diterima tidak seperti yang diharapkan, maka konsumen menjadi tidak loyal. Hal ini terkait dengan harapan yang didasarkan pengalaman masa lalu konsumen, opini kawan atau komitmen janji pemasar jasa (Kotler and Keller, 2012). Penelitian yang dilakukan Victor dkk (2015) menunjukkan kepuasan konsumen berpengaruh secara signifikan terhadap loyalitas konsumen.

Pengaruh customer relationship management (CRM) terhadap loyalitas konsumen (skripsi dan tesis)

Keuntungan jangka panjang dari penerapan CRM adalah perusahaan mendapatkan konsumen yang loyal. Konsumen memiliki gambaran yang jelas mengenai produk dan pelayanan (service) yang diinginkan untuk dapat melihat status pemesanan. Masing-masing dari mereka berkomunikasi dengan pesan yang konsisten pada semua titik kontak (contact point), baik customer service, sales people, maupun technical support. Dengan penerapan CRM perusahaan dapat membuat target dan melayani konsumen dengan suatu cara sehingga dapat membuat konsumen untuk kembali.Menurut Tjiptono (2011) implementasi CRM menjanjikan manfaat utama berupa loyalitas pelanggan. Penelitian yang dilakukan Victor dkk (2015) menunjukkan Customer Relationship Management (CRM), berpengaruh secara signifikan terhadap loyalitas konsumen.

Pengaruh customer relationship management (CRM) terhadap kepuasan konsumen (skripsi dan tesis)

 

CRM bertujuan untuk menghasilkan kepuasan konsumen akan suatu produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan. Melalui CRM, perusahaan dapat membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen, dimana perusahaan dapat mengetahui kebutuhan konsumen dan menyediakan pilihan produk atau layanan yang sesuai dengan permintaan mereka. Jika perusahaan secara pasti mengetahui kebutuhan dari konsumennya, maka konsumen akan menjadi puas. Menurut Tjiptono (2011) implementasi CRM menjanjikan manfaat utama berupa kepuasan pelanggan. Penelitian yang dilakukan Ersi dan Samuel (2014), Winanda dan Othman (2013) serta Victor dkk (2015) menunjukkan Customer Relationship Management (CRM), berpengaruh secara parsial terhadap kepuasan konsumen

Loyalitas Konsumen (skripsi dan tesis)

Loyalitas atau kesetiaan didefinisikan sebagai komitmen yang dipegang kuat untuk membeli atau berlangganan lagi produk atau jasa tertentu di masa depan meskipun ada pengaruh situasi dan usaha pemasaran yang berpotensi menyebabkan perubahan perilaku (Kotler dan Keller, 2012). Loyalitas sebagai kondisi dimana konsumen mempunyai sikap positif terhadap suatu merek, mempunyai komitmen pada merek tersebut dan bermaksud meneruskan pembeliannya di masa mendatang (Mowen dan Minor, 2002). Loyalitas konsumen dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu loyalitas merek (brand loyalty) dan loyalitas toko (store loyalty). Loyalitas merek adalah sikap menyenangi terhadap suatu merek yang direpresentasikan dalam pembelian yang konsisten terhadap merek itu sepanjang waktu, sedangkan loyalitas toko juga ditunjukkan oleh perilaku konsisten tetapi perilaku konsistennya adalah dalam mengunjungi toko dimana di tempat tersebut konsumen bisa memebeli merek yang diinginkan (Sutisna, 2006). Konsumen yang dianggap loyal akan berlangganan atau melakukan pembelian ulang selama jangka waktu tertentu. Konsumen yang loyal sangat berarti bagi badan usaha karena biaya untuk mendapatkan konsumen baru lebih mahal daripada memelihara konsumen lama (Peter dan Olson, 2006). Loyalitas dapat diukur berdasarkan : a. Urutan pilihan (choice sequence) Metode urutan pilihan atau disebut juga pola pembelian ulang ini banyak dipakai dalam penelitian dengan menggunakan panel-panel agenda harian konsumen lainnya, dan lebih terkini lagi, data scanner supermarket. b. Proporsi pembelian (proportion of purchase) Berbeda dengan runtutan pilihan, cara ini menguji proporsi pembelian total dalam sebuah kelompok produk tertentu. Data yang dianalisis berasal dari panel konsumen. c. Preferensi (preference) Cara ini mengukur loyalitas dengan menggunakan komitmen psikologis atau pernyataan preferensi.Dalam hal ini, loyalitas dianggap sebagai “sikap yang positif” terhadap suatu produk tertentu, sering digambarkan dalam istilah niat untuk membeli. d. Komitmen (commitment) Komitmen lebih terfokus pada komponen emosional atau perasaan. Komitmen terjadi dari keterkaitan pembelian yang merupakan akibat dari keterlibatan ego dengan kategori merek .
Keterlibatan ego tersebut terjadi  ketika sebuah produk sangat berkaitan dengan nilai-nilai penting, keperluan, dan konsep diri konsumen (Mardalis, 2005). Indikator dari loyalitas konsumen adalah : a. Repeat Purchase yaitu kesetiaan terhadap pembelian produk b. Retention yaitu ketahanan terhadap pengaruh yang negatif mengenai perusahaan c. Referalls yaitu mereferensikan secara total esistensi perusahaan (Kotler dan Keller, 2012). Ada beberapa keuntungan yang diproleh perusahaan apabila mempunyai konsumen yang loyal : a. Mengurangi biaya pemasaran b. Mengurangi biaya transaksi c. Mengurangi biaya turn overkonsumen d. Meningkatkan penjualan silang yang akan memperbesar pangsa pasar perusahaan. e. Word of mouth yang lebih positif dengan asumsi bahwa konsumen yang loyal juga berarti mereka yang merasa puas f. Mengurangi biaya kegagalan (seperti biaya pergantian, dan lain-lain). Ada beberapa fakta penting sehubungan dengan loyalitas konsumenbagi perusahaan (Kotler dan Keller, 2012): a. Mendapatkan konsumen baru biayanya bisa mencapai lima kali lipat lebih besar daripada biaya yang tercakup dalam memuaskan dan mempertahankan konsumen. Diperlukan banyak usaha untuk membujuk konsumen yang puas untuk beralih ke pemasok mereka yang sekarang. 24 b. Rata-rata perusahaan kehilangan 10% dari konsumennya setiap tahun. c. Pengurangan 5% dari tingkat kehilangan konsumen dapat meningkatkan laba sebesar 25% sampai 85%, tergantung pada industrinya. d. Tingkat laba konsumen cenderung meningkat selama hidup konsumen yang tetap bertahan itu. Terdapat 2 cara dalam memperkuat retensi konsumen. Pertama dengan mendirikan rintangan beralih yang tinggi. Konsumen lebih enggan beralih ke perusahaan lainnya jika melibatkan biaya modal yang tinggi, biaya pencarian yang tinggi, kehilangan potongan harga dan sebagainya. Kedua dengan memberikan kepuasan yang tinggi kepada konsumen. Hal ini mempersulit pesaing untuk meruntuhkan rintangan beralih dengan hanya menawarkan harga yang lebih rendah atau perangsang lain untuk beralih (Kotler dan Keller, 2012)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen (skripsi dan tesis)

Lupiyoadi (2013) menyebutkan lima faktor utama yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan kepuasan konsumen, antara lain: 1) Kualitas Produk Konsumen akan puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas. Produk dikatakan berkualitas bagi seseorang, jika produk itu dapat memenuhi kebutuhanya (Montgomery dalam Lupiyoadi, 2013). Kualitas produk ada dua yaitu eksternal dan internal. Salah satu kualitas produk dari faktor eksternal adalah citra merek. 2) Kualitas Pelayanan Konsumen akan merasa puas bila mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan harapan. 3) Emosional Konsumen merasa puas ketika orang memuji dia karena menggunakan merek yang mahal.  4) Harga Produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi 5) Biaya Konsumen yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut

Tipe-tipe kepuasan dan ketidakpuasan konsumen (skripsi dan tesis)

Sumarwan (2003) menerangkan teori kepuasan dan ketidakpuasan konsumen terbentuk dari model diskonfirmasi ekspektasi, yaitu menjelaskan bahwa kepuasan atau ketidakpuasaan konsumen merupakan dampak dari perbandingan antara harapan konsumen sebelum pembelian dengan sesungguhnya yang diperoleh konsumen dari produk atau jasa tersebut. Harapan konsumen saat membeli sebenarnya mempertimbangkan fungsi produk tersebut (product performance). Fungsi produk antara lain: 1) Produk dapat berfungsi lebih baik dari yang diharapkan, disebut diskonfirmasi positif (positive disconfirmation). Bila hal ini terjadi maka konsumen akan merasa puas. 2) Produk dapat berfungsi seperti yang diharapkan, disebut konfirmasi sederhana (simple confirmation). Produk tersebut tidak memberi rasa  puas dan produk tersebut tidak mengecewakan sehingga konsumen akan memiliki perasaan netral. 3) Produk dapat berfungsi lebih buruk dari yang diharapkan, disebut diskonfimasi negatif (negatif disconfirmation). Bila hal ini terjadi maka akan menyebabkan kekecewaan, sehingga konsumen merasa tidak puas.

Elemen kepuasan konsumen (skripsi dan tesis)

Wilkie (1994) menyatakan bahwa terdapat 5 elemen dalam kepuasan konsumen yaitu : 1) Expectations Harapan konsumen terhadap suatu barang atau jasa telah dibentuk sebelum konsumen membeli barang atau jasa tersebut. Pada saat proses pembelian dilakukan, konsumen berharap bahwa barang atau jasa yang mereka terima sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka. Barang atau jasa yang sesuai dengan harapan konsumen akan menyebabkan konsumen merasa puas. 2) Performance Pengalaman konsumen terhadap kinerja aktual barang atau jasa ketika digunakan tanpa dipengaruhi oleh harapan mereka. Ketika kinerja actual barang atau jasa berhasil maka konsumen akan merasa puas. 3) Comparison Hal ini dilakukan dengan membandingkan harapan kinerja barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi kinerja aktual barang atau jasa tersebut. Konsumen akan merasa puas ketika harapan sebelum  pembelian sesuai atau melebihi perepsi mereka terhadap kinerja aktual produk. 4) Confirmation/disconfirmation Harapan konsumen dipengaruhi oleh pengalaman mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa yang berbeda dari orang lain. Confirmation terjadi bila harapan sesuai dengan kinerja aktual produk. Sebaliknya disconfirmation terjadi ketika harapan lebih tinggi atau lebih rendah dari kinerja aktual produk. konsumen akan merasa puas ketika tejadi confirmation / discofirmation

Ciri-ciri konsumen yang puas (skripsi dan tesis)

Kotler (2012) menyatakan ciri-ciri konsumen yang merasa puas sebagai berikut: 1) Loyal terhadap produk Konsumen yang puas cenderung loyal dimana mereka akan membeli ulang dari produsen yang sama 2) Adanya komunikasi dari mulut ke mulut yang bersifat positif Komunikasi dari mulut ke mulut (word of mouth communication) yang bersifat positif yaitu rekomendasi kepada calon konsumen lain dan mengatakan hal-hal yang baik mengenai produk dan perusahaan   3) Perusahaan menjadi pertimbangan utama ketika membeli merek lain. Ketika konsumen ingin membeli produk yang lain, maka perusahaan yang telah memberikan kepuasan kepadanya akan menjadi pertimbangan yang utama.

Komponen kepuasan konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Giese & Cote (2000) sekalipun banyak definisi kepuasan konsumen, namun secara umum tetap mengarah kepada tiga komponen utama, yaitu:   1) Respon : Tipe dan intensitas Kepuasan konsumen merupakan respon emosional dan juga kognitif. Intesitas responnya mulai dari sangat puas dan menyukai produk sampai sikap yang apatis terhadap produk tertentu. 2) Fokus Fokus pada performansi objek disesuaikan pada beberapa standar. Nilai standar ini secara langsung berhubungan dengan produk, konsumsi, keputusan berbelanja, penjual dan toko. 3) Waktu respon Respon terjadi pada waktu tertentu, antara lain : setelah konsumsi, setelah pemilihan produk atau jasa, berdasarkan pengalaman akumulatif. Durasi kepuasan mengarah kepada berapa lama respon kepuasan itu berakhir

Pengertian kepuasan konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler & Keller (2012), kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi/kesan terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapanharapannya. Sedangkan menurut Rangkuti (2011), kepuasan konsumen adalah respon atau reaksi terhadap ketidaksesuaian antara tingkat kepentingan sebelumnya dan kinerja actual yang dirasakan setelah penggunaan atau pemakaian. Gaspers dalam Nasution (2005) mengatakan bahwa kepuasan konsumen sangat bergantung kepada persepsi dan harapan konsumen. 16 Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dan harapan konsumen antara lain: 1) Kebutuhan dan keinginan yang berkaitan dengan hal-hal yang dirasakan konsumen ketika sedang mencoba melakukan transaksi dengan produsen produk. 2) Pengalaman masa lalu ketika mengkonsumsi produk dari perusahaan maupun pesaing-pesaingnya. 3) Pengalaman dari teman-teman. Engel, Roger & Miniard (2004) mengatakan bahwa kepuasan adalah evaluasi paska konsumsi untuk memilih beberapa alternative dalam rangka memenuhi harapan. Band dalam Nasution (2005) mengatakan bahwa kepuasan tercapai ketika kualitas memenuhi dan melebihi harapan, keinginan dan kebutuhan konsumen. Sebaliknya, bila kualitas tidak memenuhi dan melebihi harapan, keinginan dan kebutuhan konsumen maka kepuasan tidak tercapai. Konsumen yang tidak puas terhadap barang atau jasa yang dikonsumsinya akan mencari perusahaan lain yang mampu menyediakan kebutuhannya. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan definisi kepuasan konsumen yaitu tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja produk yang dia rasakan dengan harapannya

Cara Kerja CRM (skripsi dan tesis)

Menurut Temporal dan Trott (2002), CRM atau manajemen hubungan pelangan mempunyai cara kerja sebagai berikut:  1) Menciptakan lingkaran komunikasi secara terus-menerus antara merek dengan konsumen Tindakan ini dapat dilakukan dengan cara menelpon, tatap muka, surat-menyurat, internet atau kombinaasi dari cara-cara tesebut. Hal yang paling penting adalah membuka komunikasi dengan para konsumen untuk berinteraksi dengan perusahaan. 2) Mengetahui konsumen Menggunakan saluran komunikasi yang baru ditemukan untuk mengetahui konsumen tidak hanya nama dan alamat saja akan tetapi mengenai siapa mereka, siapa saja yang ada dalam keluarganya, apa pekerjaan mereka, apa ambisi-ambisi mereka, apa yang mereka suka dan tidak suka. Perusahaan dapat bertanya lansung dengan pihak konsumen. 3) Menggunakan data konsumen yang sudah ada Perusahaan perlu melihat informaasi yang seharusnya telah dimiliki oleh perusahaan mengenai konsumen, termasuk didalamnya adalah informasi mengenai, seberapa sering mereka membeli dari perusahaan, berapa uang yang mereka habiskan untuk membeli produk, kapan terahir mereka membeli. 4) Bertanya kepada konsumen mengenai apa yang mereka inginkan dari perusahaan Apa yang mereka beli jika hanya perusahaan yang menyediakan, Apa yang mereka sukai dari Merk perusahaan dan Apa yang tidak mereka sukai dari Merek. 15 5) Mengembangkan potensi yang belum terbuka Merk-merk apa yang mereka beli yang merupakan competitor, mengapa mereka tidak membeli dari segala sesuatu yang mereka butuhkan dari perusahaan jika perusahaan menawarkannya, dan Apa yang harus dilakukan untuk meyakinkan konsumen agar membeli lebih banyak. 6) Menciptakan pengetahuan Dengan cara menggabungkan seluruh data yang sudah ada untuk menciptakan database yang paling efektif dalam organisasi secara keseluruhan. Database ini akan menggerakkan setiap bagian penjualan yang ditargetkan dan aktifitas pemasaran pada basis konsumen. 7) Menggunakan kembali pengeahuan yang ada dari waktu ke waktu.

Langkah-langkah untuk memulai customer relationship management (skripsi dan tesis)

Menurut Suroso (2004), ada beberapa langkah–langkah untuk memulai CRM pada suatu perusahaan agar hubungan antara perusahaan dan konsumen terjalin dengan baik yaitu: 1) Mendefinisikan visi dari CRM 2) Memahami konsumen 3) Mengembangkan kasus bisnis 4) Mempelajari kesiapan perusahaan 5) Menentukan strategi dan sasaran dari CRM yang dikembangkan 6) Memilih aplikasi yang sesuai 7) Memperhatikan pendapat konsumen 8) Mencapai target 9) Menyerahkan tanggung jawab kepada manajer 10) Implementasi yang dilakukan bertahap 11) Membuat pengulangan CRM yang tertutup 12) Membuat perkiraan dari tujuan

Keuntungan customer relationship management (CRM)(skripsi dan tesis)

Menurut Chatranon, et.al (2000) dalam Montana dan Noor (2010), keuntungan CRM untuk bisnis dapat dirangkum sebagai berikut: 1) Usaha pemasaran yang lebih efektif: hal ini dapat diperoleh karena konsumen ditetapkan dengan lebih baik. Usaha pemasaran akan berinteraksi langsung dengan harapan dan keinginan konsumen. 2) Interaksi yang lebih efektif dengan konsumen: Personil pada semua titik kontak bisnis memiliki akses ke database yang akan mengijinkan mereka untuk mengerti dengan lebih baik tiap konsumen, baik dalam sejarahnya dengan perubahan dan minat mereka. 3) Keuntungan jangka panjang dari hubungan yang berkelanjutan: Perusaahaan mendapatkan konsumen yang loyal. Konsumen memiliki gambaran yang jelas mengenai produk dan pelayanan (service) yang 12 diinginkan untuk dapat melihat status pemesanan. Masing- masing dari mereka berkomunikasi dengan pesan yang konsisten pada semua titik kontak (contact point), baik customer service, sales people, maupun technical support. Dapat membuat target dan melayani konsumen dengan suatu cara akan membuat konsumen untuk kembali. Hal ini merupakan akhir dari pengertian keuntungan jangka panjang untuk perusahaan. 4) Berbagi pengetahuan: data konsumen akan disimpan sebagai dasar pengetahuan (knowledge based) pada suatu database di perusahaan, dan tidak dibatasi hanya pada satu unit bisnis. 5) Menghemat biaya: hubungan antara aplikasi front dan back office membuat konsumen dapat menghemat biaya untuk semua. Proses terotomatisasi dan mengurangi paper-driven system. Selain itu, seluruh siklus layanan (service cycle) dipercepat. 6) Tenaga penjualan yang lebih efektif dan efisien: Staff Penjualan memiliki alat yang tepat untuk membantu mereka menghabiskan waktu secara lebih efisien selama proses penjualan, dalam hal menetapkan harga dan konfigurasi, dan metodologi penjualan. Mereka dapat menghabiskan waktu lebih banyak dengan konsumen dan menjual lebih banyak produk.

Pengertian Customer Relationship Management(CRM) (skripsi dan tesis)

Customer Relationship Management adalah suatu strategi untuk mengidentifikasi, menarik, dan mempertahankan konsumen yang paling bernilai bagi perusahaan. CRM berkonsentrasi pada apa yang konsumen nilai, bukan pada apa yang perusahaan ingin jual (Tunggal, 2008). Sedangkan menurut Moore (2005) CRM adalah suatu cara mengkomputerisasi bisnis, pihak lain menyebut CRM adalah suatu rangkaian tehnik dan alat untuk menangani konsumen. Customer Relationship Management (CRM) merupakan konsep yang berbeda menurut pandangan berbagai pihak, bagi sebagian orang CRM adalah manajemen hubungan konsumenakan tetapi pihak lain berpendapat bahwa tidak semua konsumen menghendaki hubungan dengan suplie, menghapus kata hubungan menjadi manajemen konsumen alias Customer Management. Ada pula pihak-pihak yang yang lebih menyukai istilah Relationship Management (Buttle, 2007). CRM adalah usaha sebuah perusahaan untuk berkonsentrasi menjaga konsumen (supaya tidak lari ke pesaing) dengan mengumpulkan segala bentuk interaksi konsumen baik itu lewat telepon, email, masukan di situs atau hasil pembicaraan dengan staf sales dan marketing, atau CRM adalah sebuah strategi bisnis menyeluruh dari suatu perusahaan yang memungkinkan perusahaan tersebut secara efektif bisa mengelola hubungan dengan para konsumen (Heru, 2003). CRM (Customer Relationship Management) adalah sistem manajemen yang secara khusus menangani hubungan antara perusahaan dengan konsumennya dengan tujuan meningkatkan nilai perusahaan di mata para konsumennya. Pengertian lain mengatakan bahwa CRM adalah sebuah sistem informasi yang terintegrasi yang digunakan untuk merencanakan, menjadwalkan, dan mengendalikan aktivitas-aktivitas pra penjualan dan pasca penjualan dalam sebuah organisasi. CRM melingkupi semua aspek yang berhubungan dengan calon konsumen dan konsumen saat ini, termasuk di dalamnya adalah pusat panggilan (callcenter), tenaga penjualan (sales force), pemasaran, dukungan teknis (technical support) dan layanan lapangan (field service).

Tujuan dan Manfaat Customer Relationship Management (skripsi dan tesis)

Menurut Caesar (2009), tujuan CRM yaitu : 1. Menggunakan hubungan dengan pelanggan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan. 2. Menggunakan informasi untuk memberikan pelayanan yang memuaskan. 3. Mendukung proses penjualan berulang kepada pelanggan CRM menurut Kalakota dan Robinson (2001, p173) memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut: 1. Menggunakan hubungan yang sudah ada untuk meningkatkan pendapatan. Hal ini berarti mempersiapkan pandangan yang komprehensif dari pelanggan untuk memaksimalkan hubungan mereka dengan perusahaan baik melalui up-selling atau cross-selling dan pada saat yang sama, meningkatkan profit dengan identifikasi, menarik perhatian, dan mempertahankan pelanggan terbaik. 2. Menggunakan informasi yang terintegrasi untuk pelayanan yang memuaskan. Dengan menggunakan informasi dari pelanggan untuk meningkatkan pelayanan yang lebih baik berdasarkan kebutuhan mereka, perusahaan dapat menghemat waktu pelanggan dan menyingkirkan segala kekecewaan dari pelanggan. Sebagai contoh, pelanggan seharusnya tidak   perlu untuk mengulangi informasi yang sama ke berbagai departemen perusahaan secara terus-menerus. Pelanggan akan senang jika pihak perusahaan tahu banyak tentang apa yang mereka inginkan. 3. Menciptakan saluran proses dan prosedur komunikasi yang konsisten dan berulang. Dengan banyaknya saluran komunikasi dengan pelanggan, semakin banyak pula karyawan yang terlibat di dalam transaksi penjualan. Tanpa memperhatikan ukuran atau kompleksitas, perusahaan harus meningkatkan konsistensi proses dan prosedural di dalam pengaturan terhadap pelayanan, pemasaran dan penjualan. Adapun menurut Kotler (2005) tujuan CRM yaitu menghasilkan ekuitas pelanggan yang tinggi. Dimana ekuitas pelanggan adalah total nilai seumur hidup semua pelanggan perusahaan yang didiskontokan. Yang jelas semakin banyak pelanggan ,semakin tinggi pula ekuitas pelanggan. Manfaat yang didapat dari pelaksanaan CRM yang didapat oleh perusahaan menurut Wagner dan Zubbey (2007) antara lain: 1. Optimalisasi biaya 2. Identifikasi dan menetapkan sasaran pelanggan 3. Menurunkan biaya marketing promosi 4. Meningkatkan loyalitas pelanggan 5. Meningkatkan retensi pelanggan 6. Identifikasi trend dan pola konsumsi pelanggan 7. Membantu arus informasi bagi yang membutuhkan melalui informasi

Definisi CRM (skripsi dan tesis)

Fokus pada pelanggan merupakan kunci untuk mencapai keunggulan yang kompetitif berkelanjutan dalam persaingan bisnis saat ini. Untuk mencapai keunggulan kompetitif dengan fokus pada pelanggan, organisasi bisnis memerlukan informasi tentang siapa pelanggan mereka, apa yang pelanggan inginkan, bagaimana kebutuhan pelanggan mereka dipuaskan dan faktor-faktor lain yang terkait. CRM merupakan strategi tentang bagaimana mengoptimalkan profitabilitas melalui pengembangan kepuasan pelanggan. CRM merupakan suatu strategi yang menitikberatkan pada semua hal yang terkait dengan fokus pada pelanggan. Menurut Kotler dan Keller (2009), Customer Relationship Managemet (CRM) merupakan proses mengelola informasi rinci tentang masing- masing pelanggan dan secara cermat mengelola semua “titik sentuhan” pelanggan demi memaksimalkan kesetiaan pelanggan. Menurut Gordon (2002) “ CRM is a series of strategies and processes that create new and mutual value for individual customers, build preference for their organizations and improves business result over a lifetime of association with their customers”.  Menurut Dyche, Jill (2002 : 4) “CRM (Customer Relationship Management) is the infrastructure that enables the delineation of and increase in customer value, and the correct means by which to motivate valuable customers to remain loyalindeed, to buy again”.

Teknologi CRM (skripsi dan tesis)

Ada tiga jenis aplikasi CRM dikemukakan oleh Greenberg (2002, p24) yaitu:
1. Oporasional CRM
Adalah proses otomatisasi yang terintegrasi dari keseluruhan proses bisnis
yang berjalan di dalam perusahaan, baik penjualan maupun pemasaran.
Pada proses ini meliputi customer touch-point, frontback office dan
integration
Operasional CRM memberikan dukungan dalam proses bisnis,
misalnya untuk penjualan, pemasaran dan layanan staf. Interaksi dengan
pelanggan biasanya disimpan di kontak pelanggan dan pelanggan dapat
mengambil informasi yang diperlukan.
Riwayat kontak dengan anggota staf menyediakan akses langsung
ke pelanggan yaitu menyangkut informasi penting (produk yang dimiliki,
sebelum mendukung panggilan dll), menghilangkan kebutuhan individual
untuk mendapatkan informasi secara langsung dari pelanggan.
Operasional CRM proses data pelanggan untuk berbagai keperluan:
1. Mengelola promosi
2. Enterprise Marketing Automation
3. Sales Force Automation
4. Penjualan Manajemen Sistem
2. Analytical CRM
Adalah proses analisis dari data-data yang dihasilkan melalui proses
operational CRM meliputi data mining.
3. Collaborative CRM
Adalah proses aplikasi kolaboratif pelayanan meliputi email,
personalized, e-communities, forum diskusi dan sejenisnya yang
menyediakan fasilitas interaksi antara perusahaan dengan pelanggannya.
CRM yang terdiri dari ketiga komponen di atas memiliki tujuan secara umum
yaitu untuk memaksimalkan keuntungan perusahaan sejalan dengan
meningkatkan dan memelihara kepuasaan pelanggan. Operational CRM
mengoptimasi proses bisnis yang berinteraksi secara langsung dengan
pelanggannya (Beck and Summer, 2001, pp1-2). CRM memiliki berbagai
macam aplikasi yang diterapkan dalam pemasaran, penjualan, dan pelayanan
yang mendukung proses bisnis. Aplikasi proses bisnis yang menerapkan hal
diatas tergolong dalam aplikasi operasional.
Aplikasi operational CRM dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Customer-Facing Applications
Faktor utama dari aplikasi CRM Customer-Facing adalah
contact center, Sales Automation, dan field service. Disebut
Customer-Facing karena pada kenyataannya, pihak perusahaan ini
langsung berhubungan dengan pelanggannya.
2. Customer-Touching Applications
Faktor utama dari aplikasi CRM Customer-Touching
Applications adalah Compaign management, e-commerce, dan self-service
Customer Support. Disebut Customer-Touching karena pelanggan
berhubungan langsung dengan aplikasi sistem daripada berhubungan
dengan perwakilan perusahaan.

Tahapan CRM (skripsi dan tesis)

Ada tiga tahapan CRM menurut Kalakota dan Robinson : 2001, yaitu: a. Mendapatkan pelanggan baru (Acquire), pelanggan baru didapatkan dengan memberikan kemudahan pengaksesan informasi, inovasi baru, dan pelayanan yang menarik. b. Meningkatkan hubungan dengan pelanggan yang telah ada (Enhance), Perusahaan berusaha menjalin hubungan dengan pelanggan melalui pemberian 14 pelayanan yang baik terhadap pelanggannya (Customer Service). Penerapan cross selling atau up selling pada tahap kedua dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dan mengurangi biaya untuk memperoleh pelanggan (Reduce Cost). c. Mempertahankan pelanggan ( Retain ), merupakan usaha mendapatkan loyalitas pelanggan dengan mendengarkan pelanggan dan berusaha memenuhi keinginan pelanggan

Komponen CRM (skripsi dan tesis)

Komponen utama dari CRM adalah otomasi tenaga penjualan (Sales Force Automation “SFA”), yang mana dapat membantu para Sales Representative untuk mengatur account dan Track Opportunities pelanggan, mengatur daftar kontak yang pelanggan miliki, mengatur jadwal kerja mereka, memberikan layanan training online yang dapat menjadi solusi untuk training jarak jauh, serta membangun dan mengawasi alur penjualan mereka, dan juga membantu mengoptimalkan penyampaian informasi dengan news sharing

Manfaat CRM (skripsi dan tesis)

1. Jumlah konsumen bertambah, yaitu mencari konsumen baru di samping tetap memelihara tingkat kepuasan konsumen yang sudah ada. 2. Mengetahui tingkat kepemilikan perusahaan pada konsumen, yaitu dengan mengetahui kebutuhan konsumen. 3. Mengetahui kebutuhan konsumen pada masa yang akan datang, yaitu melalui hasil transaksi yang sudah dilakukan. dan dari hasil analisis data transaksi yang sudah terkumpul.  4. Mengetahui perbaikan yang harus dilakukan pada servis yang diberikan kepada konsumen. 5. Mampu menganalisis pola data transaksi, sebagai contoh mampu mengetahui kombinasi produk yang akan dijual pada waktu-waktu tertentu. 6. Mengurangi resiko operasional, yaitu dengan mengetahui prediksi yang akan terjadi dan kesalahan yang pernah dilakukan melalui customer history.

Tujuan CRM (skripsi dan tesis)

CRM sendiri menurut Kalakota dan Robinson (2001, p173) memiliki tujuantujuan sebagai berikut :
1. Menggunakan hubungan yang sudah ada untuk meningkatkan pendapatan.
Hal ini berarti mempersiapkan pandangan yang komprehensif dari pelanggan
untuk memaximalkan hubungan mereka dengan perusahaan baik melalui upselling atau cross-selling dan pada saat yang sama, meningkatkan profit,
menarik perhatian pelanggan dan mempertahankan pelanggan baik.
2. Menggunakan informasi yang terintegrasi untuk pelayanan yang memuaskan.
Dengan menggunakan informasi dari pelanggan untuk meningkatkan
pelayanan yang lebih baik berdasarkan kebutuhan mereka, perusahaan dapat
menghemat waktu pelanggan dan menyingkirkan segala kekecewaan
pelanggan. Sebagai contoh, pelanggan seharusnya tidak mengulangi informasi
yang sama ke berbagai departemen perusahaan secara terus-menerus.
Pelanggan akan senang jika pihak perusahaan tahu banyak tentang apa yang
mereka inginkan.
3. Menciptakan saluran proses dan prosedur komunikasi yang konsisten dan
berulang.
Dengan banyaknya saluran komunikasi dengan pelanggan, semakin banyak
pula karyawan yang terlibat dalam transaksi penjualan. Tanpa memperhatikan
ukuran dan kompleksitas, perusahaan harus meningkatkan konsistensi proses
dan prosedural di dalam pengaturan terhadap pelayanan, pemasaran dan
penjualan

Pengertian CRM (skripsi dan tesis)

Adapun beberapa pengertian CRM menurut para ahli, yaitu : Menurut Kalakota dan Robinson (2001), CRM sebagai integrasi dari strategi penjualan, pemasaran, dan pelayanan yang terkoordinasi. Menurut Laudon dan Traver (2002), CRM menyimpan informasi pelanggan dan menyimpan serta merekam seluruh kontak yang terjadi antara pelanggan dan perusahaan, serta membuat profil pelanggan untuk staf perusahaan yang memerlukan informasi tentang pelanggan tersebut. Menurut Kotler (2003), CRM mendukung suatu perusahaan untuk menyediakan pelayanan kepada pelanggan secara real time dan menjalin hubungan dengan tiap pelanggan melalui penggunaan informasi tentang pelanggan. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa : Manajemen hubungan pelanggan (Customer Relationship Management “CRM”) merupakan jenis manajemen yang secara khusus membahas teori mengenai penanganan hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya, yang mana tujuannya untuk   meningkatkan hubungan dengan tiap pelanggan demi mencapai pertumbuhan perusahaan yang sehat

Kinerja Sosial (skripsi dan tesis)

Menurut Martin Freedman. 2009, ada tiga pendekatan yang
digunakan dalam melaporkan kinerja sosial perusahaan dalam kaitannya
dengan penerapan akuntansi sosial:
1. Pemeriksaan Sosial (Social Audit)
Yaitu dengan cara mengukur dan melaporkan dampak-dampak
ekonomi, sosial dan lingkungan dari operasi perusahaaan yang
berorientasi social lingkungan. Pelaporan ini dilakukan dengan
membuat daftar aktivitas-aktivitas perusahaan yang memiliki
konsekuensi sosial, lalu auditor sosial akan mengestimasi dan mengukur
dampak-dampaknya.
2. Laporan Sosial (Social Report)
Terdapat beberapa pendekatan dalam laporan sosial seperti yang telah
dirangkum oleh Billey and Weygandt dalam bukunya, “Intermediate
Accounting”, yaitu:
a). Inventory Approach
Yaitu suatu pendekatan yang menjelaskan bahwa perusahaan
mengkompilasi dan mengungkapkan sebuah data yang
komprehensif dari aktivitas-aktivitas sosial perusahaan.
Keterbatasan dari pendekatan ini adalah sulit dalam membuat
daftar yang sesuai dengan batasan yang realistis, serta sulit untuk
membandingkan pertanggung jawaban sosial terhadap lingkungan
antar perusahaan karena tidak ada standar yang tepat untuk mengukur
pertanggungjawaban tersebut.
b). Cost Approach
Pendekatan ini menguraikan bahwa perusahaan membuat daftar
aktivitas perusahaannya yang berkenaan dengan penanganan
15
terhadap lingkungannya dan mengungkapkan jumlah pengeluaran
masing-masing aktivitas tersebut. Biaya dan aktivitas tersebut
berhubungan dengan periode pelaporan yang berjalan dibebankan ke
expense pada periode berikutnya.
c). Program Management Approach
Perusahaan tidak hanya mengungkapkan aktivitas terhadap
lingkungan, tetapi juga tujuan dari kegiatan tersebut serta hasil
yang sudah dicapai oleh perusahaan sesuai dengan tujuan ysng telah
ditetapkan itu.
Kelebihan dari pendekatan ini adalah memudahkan pemakai
laporan keuangan untuk menilai tingkat keberhasilan aktivitas
sosial lingkungan perusahaan untuk mencapai tujuan. Sedangkan
keterbatasannya ialah tidak terdapatnya indikasi manfaat sosial yang
diperoleh dari pencapaian tujuan tersebut.
d). Cost-Benefit Approach
Pendekatan ini menjelaskan bahwa perusahaan mengungkapkan
aktivitas yang memiliki dampak positif terhadap lingkungan serta
biaya dan manfaat dari aktivitas tersebut. Kesulitan dari pendekatan
ini adalah mengukur biaya dan manfaat terhadap masyarakat.
3. Pengungkapan Sosial Lingkungan dalam Laporan Tahunan
Adalah pengungkapan informasi mengenai aktivitas perusahaan yang
berhubungan dengan lingkungan perusahaan, dilakukan melalui
berbagai media antara lain: laporan tahunan, laporan interim,
prospectus, pengumuman kepada bursa efek atau media massa.

Tanggungjawab Lingkungan (skripsi dan tesis)

Isu lingkungan sekarang ini sudah merupakan isu yang penting. Pentingnya isu lingkungan tersebut ditandai dengan maraknya pembicaraan dalam agenda politik, ekonomi, dan sosial, khususnya masalah pencemaran lingkungan dan penurunan kualitas hidup. Dunia industri harus merespon secara proaktif terhadap gerakan kesadaran dan peraturan mengenai lingkungan hidup agar dapat bertahan dalam jangka panjang. Manajemen perusahaan sudah tidak lagi berfokus pada maksimalisasi laba dan bertanggung jawab kepada para pemegang saham, kreditur, dan pemerintah, tetapi juga memiliki bertanggung jawab sosial terhadap lingkungan di sekitarnya (Manuhara., 2000). Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan adalah komitmen Perseroan untuk berperan serta dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi Perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya. Tentang tanggungjawab sosial dan lingkungan diatur secara spesifik dalam Pasal 74 UU Nomor 40 Tahun 2007:
 1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
 3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan dalam pasal ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang selaras, serasi dan seimbang sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Tanggung jawab sosial perusahaan timbul sebagai respon atau tindakan proaktif yang dilakukan oleh perusahaan terhadap harapan masyarakat atas pelaksanaan kegiatan yang dilakukan. Perkembangan harapan masyarakat melalui tiga tahap penting yaitu, pertama, harapan masyarakat hanya terbatas pada masalah fungsional ekonomi tradisional; kedua, masyarakat mengakui tangung jawab perusahaan untuk melakukan fungsi ekonomi dengan kesadaran atas perubahan tujuan, nilai dan  permintaan sosial; ketiga, masyarakat mengharapkan perusahaan membantu pencapaian tujuan masyarakat (Mondy, 2008). Konsep tanggung jawab sosial mengundang pro-kontra dikalangan masyarakat. Pihak yang pro memandang perusahaan sebagai sistem sosialekonomi yang harus tanggap terhadap kepentingan sosial, sedangkan pihak yang kontra memandang perusahaan sebagai sistem ekonomi yang hanya bertanggungjawab kepada pemilik perusahaan (Yudiani, 2008). Tanggung jawab sosial yang menjadi pro dan kontra ini setidaknya memiliki kepastian bagi perusahaan bahwa diakui atau tidak, mereka memiliki tanggungjawab sosial secara moral yang akan berdampak pada naik atau turunnya simpati masyarakat terhadap perusahaan tersebut. Masyarakat akan menilai perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan akan menjadi nilai tambah dalam kepercayaan sebagai lembaga penyejahtera kehidupan sekitarnya, demikian pula sebaliknya pandangan atas perusahaan yang sama sekali mengabaikan masalah sosial dilingkungan tempat usahanya bernaung. Respon perusahaan terhadap tanggungjawab sosial akan menimbulkan suatu kebutuhan untuk mengukur dan melaporkan kinerja perusahaan menjadi semakin luas (Murni, 2001).

Penilaian kinerja lingkungan (skripsi dan tesis)

Penilaian kinerha merupakan hasil dari suatu penialaian yang sistematik dan
didasarkan pada kelompok indikator kinerja kegiatan yang berupa indikatorindikator masukan, keluaran, hasil, manfaat, dan dampak. Penilaian tersebut tidak
terlepas dari proses yang merupakan kegiatan mengolah masukan menjadi
keluaran dan penilaian dalam proses penyusunan kebijakan yang dianggap
penting dan berpengaruh terhadap pencapaian sasaran dan tujuan.
Penilaian kinerja lingkungan digunakan sebagai dasar untuk menilai
keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan
tujuan yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi. Penilaian
kinerja dilakukan dengan menggunakan indikator kinerja yang memanfaatkan
26
data kinerja yang diperoleh dari data internal yang ditetapkan oleh instansi
maupun data eksternal yang berasal dari luar instansi.
2.3.1. Indikator Penilaian Kinerja Lingkungan
Indikator kinerja lingkungan mungkin dibagi ke dalam tiga
kategori. Kategori ini tergantung kepada apakah mereka bertujuan di dalam
menilai aspek lingkungan dari aktivitas perusahaan dengan input/output arus
bahan, aktivitas dari manajemen lingkungan atau kondisi lingkungan dari sisi
luar perusahaan, indikator kinerja operasional, indikator kinerja manajemen,
dan pembedaan indikator kondisi lingkungan. Indikator kinerja lingkungan,
EPIs didefinisikan seperti mengikuti ISO 14031: “OPI, Indikator kinerja
operasional yang menyediakan informasi mengenai kinerja lingkungan dari
satu operasi organisasi (Ikhsan, 2009).
2.3.2. Indikator Kinerja Operasional
Indikator kinerja lingkungan diusulkan bagi perusahaan dan bentuk
dasar dari evaluasi aspek lingkungan. Contohnya dalah bahan, energi dan
konsumsi air, limbah dan emisi dalam jumlah keseluruhan dan dalam
hubungan dengan volume produksi. OPIs adalah satu landasan penting
komunikasi internal dan eksternal dari data lingkungan, misalnya pada laporan
lingkungan sesuai dengan peraturan EU EMAS atau dalam publikasi untuk
memberitahukan karyawan. “MPI, Indikator kinerja manajemen, menyediakan
informasi tentang usaha manajemen untuk mempengaruhi satu kinerja
lingkungan organisasi (Ikhsan, 2009).”
27
2.3.3. Indikator Kinerja Manajemen
Indikator kinerja manajemen secara tidak langsung mengukur
usaha perlindungan lingkungan oleh perusahaan dan hasil yang dicapai untuk
mempengaruhi aspek lingkungan. Mereka menyediakan data yang dapat
dihitung berdasarkan aktivitas manajemen lingkungnan untuk pengendalian
kecuali tidak ada infomasi berdasarkan kinerja atau dampak lingkungan.
“ECI , Indikator kondisi lingkungan, ungkapan spesifik yang
menyediakan informasi tentang lokal, regional, nasional atau kondisi global
lingkungan (Ikhsan, 2009).”
2.3.4. Indikator Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan lingkungan secara langsung mengukur kualitas
dari lingkungan. Biasanya digunakan untuk menilai dampak dari emisi gas di
udara atau kualitas air. Kondisi lingkungan di sekitar perusahaan, seperti air
dan kualitas udara, secara khas dimonitor oleh otoritas pemerintah.
Menurut Ikhsan (2009) untuk penilaian kinerja lingkungan
perusahaan dan dampak indkator operasional, berdasarkan pada
keseimbangan arus bahan adalah relevan.

Model Kualitas Biaya Lingkungan (skripsi dan tesis)

Menurut Hansen (2007), sebelum informasi biaya lingkungan dapat disediakan bagi manajemen, biaya-biaya lingkungan harus didefinisikan. Ada banyak kemungkinan, akan tetapi pendekatan yang menarik adalah dengan mengadopsi definisi yang konsisten dengan model kualitas lingkungan total. Dalam model kualitas lingkungan total, keadaan yang ideal adalah tidak ada kerusakan lingkungan (sama dengan keadaan cacat nol pada manajemen kualitas total). Kerusakan didefinisikan sebagai degradasi langsung dan lingkungan, seperti emisi residu benda padat, cair, atau gas ke dalam lingkungan (misalnya pencemaran air dan polusi udara), atau degradasi tidak langsung seperti penggunaan bahan baku dan energi yang tidak perlu. Menurut Arfan (2008) kualitas biaya merupakan suatu teknik standar industri untuk mengevaluasi kecenderungan dalam biaya penuh dalam menjamin masing-masing akhirproduk dan menyesuaikan jasa lebih dari yang dikehendaki pelanggan. Hansen dan Mowen (2007) menyatakan biaya kualitas adalah biaya-biaya yang timbul karena mungkin atau telah terdapat produk yang buruk kualitasnya. Tujuan utama dari pelaporan biaya kualitas adalah untuk memperbaiki dan mempermudah perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan manajerial. Arfan (2008) menyatakan keutamaan penggunaan laporan biaya kualitas berdasarkan perencanaan adalah penyediaan perencanaan manajemen dengan suatu alat untuk mengevaluasi kecenderungan perencanaan biaya terhadap kualitas. Dengan menelaah analisis biaya berdasarkan kualitas setiap waktu, tim perencanaan dapat mengidentifikasi daerah-daerah yang memungkinkan untuk diubah atau diperbaiki, serta implementasi tindakan yang benar tertuju pada peningkatan biaya terhadap kualitas. Kategori biaya kualitas dibagi dalam faktor-faktor sebagai berikut:

1. Biaya pencegahan Biaya pencegahan merupakan investasi yang dibuat dalam usaha untuk menjamin konfirmasi yang dibutuhkan. Misalnya, kegiatankegiatan yang termasuk ke dalam orientasi anggota tim, pelatihan dan pengembangan standard perencanaan serta prosedur.

2. Biaya penilaian Biaya penilaian merupakan biaya yang terjadi untuk mengidentifikasi kesalahan setelah kejadian. Misalnya, kegiatan-kegatan seperti pengujian.

3. Biaya kesalahan internal Biaya kesalahan internal merupakan biaya memperkerjakan kembali dan biaya perbaikan sebelum diserahkan kepada pelanggan. Misalnya adalah memperbaiki kesalahan yang dideteksi sepanjang pengujian internal. 4. Biaya kesalahan eksternal Biaya kesalahan eksternal merupakan biaya yang memperkerjakan kembali dan biaya perbaikan setelah diserahkan kepada pelanggan. Satu contoh akan memperkerjakan dan memperaiki hasil dari pengujian yang diterima. Contoh lainnya biaya aktual yang terjadi sepanjang jaminan dukungan.

3. Laporan Biaya Lingkungan Pelaporan biaya lingkungan adalah penting jika sebuah organisasi serius untuk memperbaiki kinerja lingkungannya dan mengendalikan biaya lingkungan. Langkah pertama yang baik adalah laporan yang memberikan perincian biaya lingkungan menurut kategori memberikan dua hasil yang penting (Hansen Mowen, 2009:416) yaitu dampak biaya lingkungan terhadap profitabilitas perusahaan dan jumlah relatif yang dihabiskan untuk setiap kategori

Definisi Biaya Lingkungan (skripsi dan tesis)

Biaya lingkungan adalah dampak, baik moneter atau non-moneter yang terjadi oleh hasil aktivitas perusahaan yang berpengaruh pada kualitas lingkungan. Menurut Ikhsan (2009), biaya lingkungan pada dasarnya berhubungan dengan biaya produk, proses, sistem atau fasilitas penting untuk pengambilan keputusan manajemen yang lebih baik. Tujuan perolehan biaya adalah bagaimana cara mengurangi biaya-biaya lingkungan, meningkatkan pendapatan dan memperbaiki kinerja lingkungan dengan memberi perhatian pada situasi sekarang, masa yang akan datang dan biaya-biaya manajemen yang potensial. Biaya lingkungan meliputi biaya internal dan eksternal serta berhubungan dengan semua biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kerusakan lingkungan dan perlindungan. Definisi-definisi tambahan antara lain meliputi:
 1. Biaya lingkungan meliputi biaya-biaya dari langkah yang diambil, atau yang harus diambil untuk mengatur dampak-dampak lingkungan terhadap aktivitas perusahaan dalam cara pertanggungjawaban lingkungan, seperti halnya biaya lain yang dikemudikan dengan tujuan-tujuan lingkungan dan keinginan perusahaan. 2. Biaya-biaya lingkungan meliputi biaya internal dan eksternal dan berhubungan terhadap seluruh biaya-biaya yang terjadi dalam hubungannya dengan kerusakan lingkungan dan perlindungan. 3. Biaya-biaya lingkungan adalah pemakaian sumber daya disebabkan atau dipandu dengan usaha-usaha (aktivitas) untuk: 1) Mencegah atau mengurangi bahan sisa dan polusi. 2) Mematuhi regulasi lingkungan dan kebijakan perusahaan 3) Kegagalan memenuhi regulasi dan kebijakan lingkungan. Biaya lingkungan dapat disebut biaya kualitas lingkungan (environmental quality costs). Sama halnya dengan biaya kualitas, biaya lingkungan adalah biaya-biaya yang terjadi karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau karena kualitas lingkungan yang buruk mungkin terjadi. Maka, biaya lingkungan berhubungan dengan kreasi, deteksi, perbaikan, dan pencegahan degradasi lingkungan (Hanson dan Mowen, 2009). Menurut International Federation of Accountants (2005) terdapat enam kategori biaya: 1. Biaya bahan dan output produk. 20 2. Biaya bahan dan output non-produk 3. Biaya limbah dan kontrol emisi 4. Biaya pencegahan dan biaya manajemen lingkungan lainnya. 5. Biaya penelitian dan pengembangan 6. Biaya tak berwujud Menurut Hansen dan Mowen (2009), biaya lingkungan dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori: 1. Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah diproduksinya limbah dan atau sampah yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh-contoh aktivitas pencegahan adalah evaluasi dan pemilihan pemasok, evaluasi dan pemilihan alat untuk mengendalikan polusi, desain proses dan produk untuk mengurangi atau menghapus limbah, melatih pegawai, mempelajari dampak lingkungan, audit risiko lingkungan, pelaksanaan penelitian lapangan, pengembangan sistem manajemen lingkungan, daur ulang produk, dan pemerolehan sertifikasi ISO 14001. 2. Biaya deteksi lingkungan (environmental detection costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah produk, proses, dan aktivitas lainnya di perusahaan telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak. Standar lingkungan dan prosedur yang diikuti oleh perusahaan didefinisikan dalam tiga cara: (1) peraturan pemerintah, (2) standar 21 sukarela (ISO 14001) yang dikembangkan oleh International Standards Organization, dan (3) kebijakan lingkungan yang dikembangkan oleh manajemen. Contoh aktivitas deteksi adalah audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses (agar ramah lingkungan), pengembangan ukuran kinerja lingkungan, pelaksanaan pengujian pencemaran, verifikasi kinerja lingkungan dari pemasok, dan pengukuran tingkat pencemaran. 3. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan karena diproduksinya limbah dan sampah, tetapi tidak dibuang ke lingkungan luar. Jadi biaya kegagalan internal terjadi untuk menghilangkan dan mengolah limbah dan sampah ketika diproduksi. Aktivitas kegagalan internal memiliki salah satu dari dua tujuan: 1) Untuk memastikan bahwa limbah dan sampah yang diproduksi tidak dibuang ke lingkungan luar. 2) Untuk mengurangi tingkat limbah yang dibuang sehingga jumlahnya tidak melewati standar lingkungan. Contoh-contoh aktivitas kegagalan internal adalah pengoperasian peralatan untuk mengurangi atau menghilangkan polusi, pengolahan dan pembuangan limbah-limbah beracun, pemeliharaan peralatan polusi, lisensi fasilitas untuk memproduksi limbah dan daur ulang sisa bahan. 22 4. Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan setelah melepas limbah atau sampah ke dalam lingkungan. Biaya kegagalan eksternal dapat dibagi lagi menjadi kategori yang direalisasi dan yang tidak direalisasi. Biaya kegagalan eksternal yang direalisasi (realized external failure cost) adalah biaya yang dialami dan dibayar oleh perusahaan. Biaya kegagalan yang tidak dapat direalisasikan (unrealized external failure cost) atau biaya sosial (societal cost), disebabkan oleh perusahaan tetapi dialami dan dibayar oleh pihakpihak di luar perusahaan

Jenis-Jenis Informasi yang Termasuk Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

 

.1. Informasi Fisik Untuk menilai biaya dengan benar, organisasi harus mengumpulkan data tidak hanya data moneter tetapi juga data non moneter. Menurut International Federation of Accountants (2005) Akuntansi manajemen lingkungan menempatkan satu penekanan tertentu pada materi dan materi memandu biaya karena:
1. Penggunaan energi, air dan materi, seperti halnya hasil dari limbah dan emisi, secara langsung terkait pada banyak dampak organisasi lingkungan mereka.
2. Biaya pembelian material merupakan satu pemicu biaya utama pada beberapa organisasi. Banyak organisasi membeli energi, air dan bahan lain untuk mendukung aktivitas mereka. Operasi manufaktur juga menggunakan energi, air dan bahan yang tidak pernah cenderung masuk ke dalam produk akhir kecuali dibutuhkan untuk membuat produk (seperti air untuk membilas keluar kimia diantara batches produk atau penggunaan bahan bakar untuk operasi angkutan). Banyak dari bahan ini lambat laun menjadi aliran limbah yang harus diatur. Operasi non pabrikasi (antara lain, agrikultur dan ternak, sektor ekstraksi sumber daya, sektor jasa, transport, sektor publik) juga dapat menggunakan satu pengaruh nyata dari sejumlah energi, air dan bahan lain untuk membantu menjalankan operasi mereka bergantung kepada bagaimana bahan itu diatur, dapat memimpin ke arah signifikan dari limbah dan emisi. Menjejaki dan mengurangi jumlah energi, air dan bahan yang digunakan oleh pabrikasi, jasa dan perusahaan lain juga dapat memiliki manfaat upstreams tidak langsung bagi lingkungan, karena ekstrasi dari hampir semua bahan baku memiliki dampak lingkungan. Secara efektif mengatur dan mengurangi dampak lingkungan yang potensial dari limbah dan emisi, sebaik seperti setiap produk fisik, organisasi harus memiliki data yang akurat pada jumlah dan tujuan dari seluruh energi, air dan materi yang digunakan untuk mendukung aktivitas ini. Kebutuhan untuk mengetahui yang mana dan berapa banyak energi, air dan materi yang dibawa masuk, yang menjadi produk fisik dan menjadi limbah dan emisi. Informasi akuntansi fisik ini tidak menyediakan semua data yang diperlukan untuk secara efektif mengelola seluruh dampak lingkungan yang potensial, tetapi informasi pokok adalah bahwa fungsi akuntansi dapat disediakan.
2. Informasi Moneter
 Organisasi mendefinisikan lingkungan terkait perbedaan biaya tergantung kepada kecenderungan pengguna dari informasi biaya. Taksonomi biaya yang menonjol dikembangkan untuk kepentingan pelaporan keuangan dan pelaporan nasional, dan telah mempengaruhi jenis lingkungan-terkait informasi biaya yang terkumpul dan dilaporkan terhadap stakeholders eksternal. Di balik lingkup dari dokumen pedoman untuk mendiskusikan  skema biaya individu yang digunakan di seluruh dunia dalam setiap perincian, tetapi beberapa historis dan kecenderungan keterlibatan dapat dicatat. Pertama, kebanyakan dari skema dikembangkan secara internasional meliputi jenis dari biaya dengan jelas dipandu oleh upaya untuk mengendalikan atau mencegah limbah dan emisi yang dapat merusak lingkungan atau kesehatan manusia. Contohnya meliputi: biaya yang terjadi untuk mencegah hasil dari limbah atau emisi, biaya-biaya untuk mengendalikan atau memperlakukan limbah yang telah dihasilkan dan biayabiaya untuk pengobatan pada bagian polusi. Jenis dari biaya ini sering dikenal sebagai perlindungan pembelanjaan lingkungan. Lingkungan-terkait biaya di bawah Akuntansi Manajemen Lingkungan meliputi tidak hanya perlindungan pembelanjaan lingkungan, tetapi juga informasi keuangan penting lainnya yang memerlukan efektivitas biaya untuk mengatur kinerja lingkungan. Salah satu contoh penting dalam hal ini adalah pembelian biaya bahan yang lambat laun menjadi limbah atau emisi. Perkembangan terbaru lainnya dalam area akuntansi manajemen lingkungan adalah sebuah dorongan untuk melihat biaya pembelian dari seluruh sumber daya alam (energi, air, bahan-bahan) saat lingkungan saling berhubungan. Dalam aturan perusahaan manufaktur, dimana kebanyakan dari pembelian bahan-bahan dikonversi ke dalam produk fisik, hal ini akan mengijinkan biaya lebih-efektivitas manajemen dari bahan-bahan terkait dampak lingkungan dari seluruh produk.Tentunya, organisasi mempertimbangkan biaya pembelian bahanbahan pada pembuatan keputusan internal manajemen mereka, tetapi tidak diperlukan pandangan mereka saat terkait lingkungan, karena satu organisasi harus memiliki informasi untuk memenuhi aspek penilaian keuangan dari manajemen lingkungan memberikan informasi untuk memenuhi aspek penilaian keuangan dari manajemen lingkungan terkait limbah fisik dan produk fisik. Sisi fisik akuntansi dari akuntansi manajemen lingkungan memberikan informasi yang dibutuhkan pada jumlah dan aliran dari energi, air, bahan, dan sisa biaya pembelian (Ikhsan, 2009)

Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Akuntansi manajemen lingkungan merupakan salah satu sub sistem dari akuntansi lingkungan yang menjelaskan sejumlah persoalan mengenai persoalan penguantifikasian dampak-dampak bisnis perusahaan ke dalam sejumlah unit moneter. Menurut International Federation of Accountants (2005) Environmental Management Accounting (Akuntansi Manajemen Lingkungan) adalah pengelolaan kinerja lingkungan dan ekonomi melalui pengembangan dan implementasi sistem akuntansi yang tepat. Akuntansi manajemen lingkungan dengan berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Akuntansi manajemen lingkungan merupakan hal yang tak terpisahkan dari unsur manajemen perusahaan, akuntansi manajemen lingkungan sendiri merupakan proses pengidentifikasian, pengumpulan, perkiraan-perkiraan, analisis, laporan dan pengiriman informasi tentang:
1. Informasi berdasarkan arus bahan dan energi
2. Informasi berdasarkan biaya lingkungan
 3. Informasi lainnya yang terukur, dibentuk berdasarkan akuntansi manajemen lingkungan untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan.
Akuntansi manajemen lingkungan pada dasarnya lebih menekankan pada akuntansi dari biaya-biaya lingkungan. Biaya lingkungan ini tidak hanya mengenai informasi tentang biaya-biaya lingkungan dan informasi lainnya yang terukur, akan tetapi juga tentang informasi material dan energi yang digunakan. Akuntansi manajemen lingkungan saling terkait dan terfokus pada arus nilai-nilai dan bahan dan energi, tingkat umum perusahaan yang sama baiknya dengan tingkat proses perusahaan perseroan, divisi-divisi, operasi dan lain-lain. Konsep akuntansi manajemen lingkungan digunakan untuk melakukan pemonitoran dan pengevaluasian informasi yang terukur dari keuangan maupun manajemen serta arus data tentang bahan dan energi yang saling berhubungan secara timbal balik guna meningkatkan efisiensi pemanfaatan bahan-bahan maupun energi, mengurangi dampak lingkungan dari operasi perusahaan, produkproduk dan jasa, mengurangi risiko-risiko lingkungan dan memperbaiki hasil-hasil dari manajemen perusahaan (Ikhsan, 2009). Akuntansi manajemen lingkungan memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi dan mengukur penghematan biaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan. Sehingga manajemen mempunyai informasi untuk mengontrol dan mengendalikan biaya lingkungan demi tercapainya produk yang efisien dan murah. Terdapat dua pendekatan dalam merumuskan EMA, yaitu :

1. Monetary Accounting (berbasis pada monetary procedure) merupakan upaya mengidentifikasi, mengukur dan mengalokasikan biaya lingkungan berdasarkan perilaku aliran keuangan dalam biaya tersebut.
2. Physical Accounting (berbasis pada material flow balance procedure) adalah suatu pendekatan untuk mengidentifikasi berbagai perilaku sumber biaya lingkungan. Hal ini akan berguna bagi manajemen untuk dasar alokasi biaya lingkungan yang terjadi.
Dengan pendekatan gabungan ini dapat dihasilkan alokasi biaya produksi yang tepat sehingga benar-benar mencerminkan harga pokok yang akurat setiap produk. Selain itu manajemen dapat melakukan pengendalian terhadap aktivitas produksi yang mengakibatkan munculnya berbagai biaya lingkungan. Menurut Ikhsan (2009), akuntansi lingkungan merupakan alat manajemen lingkungan yang digunakan untuk menilai keefektifan kegiatan lingkungan berdasarkan ringkasan dan biaya lingkungan. Tujuan dari akuntansi lingkungan sendiri adalah untuk meningkatkan jumlah informasi relevan yang dibuat bagi mereka yang memerlukan atau dapat menggunakannya. Pengungkapan ini penting terutama bagi para stakeholders untuk dipahami, dievaluasi dan dianalisis hingga dapat member dukungan bagi usaha mereka. Keutamaan penggunaan konsep akuntansi lingkungan bagi perusahaan adalah kemampuan untuk meminimalisasi persoalan-persoalan lingkungan yang dihadapinya. Banyak perusahaan besar industry dan jasa kini menerapkan akuntansi lingkungan. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya dan manfaat atau efek.

Akuntansi Lingkungan (skripsi dan tesis)

Istilah akuntansi lingkungna mempunyai banyak arti dan kegunaan. Akuntansi lingkungan dapat mendukung akuntansi pendapatan, akuntansi keuangan maupun bisnis internal akuntansi manajerial. Fokus utamanya didasarkan pada penerapan akuntansi sebagai alat komunikasi manajerial untuk pengambilan keputusan bisnis internal. Menurut Ikhsan (2009) Akuntansi Lingkungan (AL) adalah istilah luas yang digunakan dalam jumlak konteks yang berbeda seperti: 1. Penialain dan pengungkapan terkait informasi keuangan dalam konteks akuntansi keuangan dan pelaporan. 2. Penilaian dan penggunaan lingkungan terkait informasi fisik dan keuangn dalam konteks Akuntansi Manajemen Lingkungan. 3. Estimasi atas dampak eksternal lingkungan dan biaya-biaya, sering mengacu pada Full Cost Accounting (FCA) Akuntansi lingkungan juga merupakan bidang yang terus berkembang dalam mengidentifikasi pengukuran-pengukuran dan mengomunikasikan biaya-biaya actual perusahaan atau dampak potensial lingkungannya. Fungsi dan peran akuntansi lingkungan : 1. Fungsi internal : untuk mengatur biaya konservasi lingkungan dan menganalisis biaya dari kegiatan-kegiatan konservasi lingkungan yang efektif dan efisiensi serta sesuai dengan pengmabilan keputusan. Dari 12 fungsi ini diharapkan akuntansi lingkungan sebagai alat manajemen bisnis yang dapat digunkan oleh menajer ketika berhubungan dengan unit-unit bisnis. 2. Fungsi eksternal : berkaitan dengan aspek pelaporan keuangan. Pada fungsi ini factor penting yang perlu diperhatikan adalah pengungkapan hasil dari kegiatan konservasi lingkungan dalam bentuk data akuntansi.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Inovasi Proses Produksi (skripsi dan tesis)

Menurut Ellitan (2009:42) faktor yang mempengaruhi inovasi proses produksi dibagi menjadi 6 faktor yaitu sebagai berikut:
1. Kompetensi Manajerial Kompetensi Manajerial sangat diperlukan dalam mengelola operasi perusahaan secara keseluruhan terutama dalam melakukan inovasi proses produksi. Inovasi proses produksi akan berhasil jika proses tersebut direncanakan dan diimplementasikan dengan baik, yaitu melalui beberapa tahap perencanaan seperti penelitian, pengembangan, rekayasa produksi, manufacturing dan pengenalan pasar.
2. Komitmen Pimpinan Perusahaan dan Partisipasi Aktif Karyawan Implementasi inovasi menuntut figur kepemimpinan yang komunikatif, memiliki dedikasi yang tinggi, dan komitmen tinggi terhadap perkembangan perusahaan. Di sisi lain agar karyawan bisa berpartisi aktif dalam proses produksi yang menghasilkan produk inovatif, pimpinan perusahaan perlu mendistribusikan informasi yang berkaitan dengan proses produksi pada karyawan-karyawan yang terlibat.
3. Kompetensi Sumber Daya Manusia SDM bertanggung jawab dalam mengoprasikan inovasi proses produksi sehingga dibutuhkan SDM yang tangguh, handal dan 50 kompeten. Pelatihan, seminar, lokakarya yang sifatnya jangka pendek, menengah dan panjang yang diadakan oleh perusahaan yang memiliki manajemen inovasi dan R&D canggih perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki.
4. Kepemilikan Fasilitas R&D Fasilitias R&D diperlukan untuk melakukan pengkajian secara terus menerus dan mendalam apakah proses produksi yang menghasilkan produk kompetitif dan inovatif dalam mengikuti dinamika tuntutan konsumen.
 5. Jaringan Sistem Informasi Pelayanan yang baik melalui penciptaan proses produksi dengan kualitas yang tinggi dan inovatif, waktu tunggu yang pendek, dan harga yang kompetitif menjadi keunggulan kompetitif perusahaan dalam era berbasis pelayanan saat ini
6. Timing Inovasi Pemelihan waktu yang tepat untuk memasuki pasar merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan atau kegagalan inovasi proses produksi baru. Peluang dan resiko produk baru bergantung pada beberapa hal seperti perubahan keadaan ekonomi, perubahan pada referensi konsumen, dan daur hidup industri

Metodologi Inovasi Proses (skripsi dan tesis)

. Untuk mengendalikan atau mendukung proyek inovasi proses (reengineering) telah dikembangkan sebuah metodologi yang disebut REVISION (Khoong, 1995) dalam Ellitan (2009:75). Metodologi tersebut diorganisir menjadi tujuh tahap yaitu: Tahap 1: Initiate (Permulaaan) Umumnya penerapan inovasi proses dipicu oleh manajemen puncak, para penasehat organisasi, atau beberapa staf yang berkempentingan dalm organisasi tersebut. Tahap 2: Envision (Tahap Pembentukan Misi) Tahap pembentukan visi merupakan tahap yang paling penting dalam fase perencanaan karena hal ini menentukan lingkup bisnis yang menjadi target inovasi proses di samping penetapan tolak ukur guna menilai hasil pelaksanaan inovasi proses. Pada proses envisioning organisasi bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada definisi ulang yang radikal dari peran organisasi. Pertanyaanya sebagai berikut: 1. Apakah perusahaan telah dan atau sedang melayani pelanggan yang tepat. 48 2. Apakah perusahaan telah dan sedang menyampaikan produk dan jasa yang tepat, apa prioritas pelanggan. 3. Apakah perusahaan sudah menerapkan proses yang tepat, mana yang merupakan proses kunci dan keberhasilan kinerja lingkungan. Tahap 3: Analyze (Menganalisa) Sebuah kelompok kerja dibentuk untuk menjalankan tahap analisis dan disain ulang setiap proses dan masalah-masalah pokok. Ketergantungan antar proses (inter-procesess dependencies) diharapkan bisa dikembangkan untuk menunjukkan keterkaitan antar proses dalam organisasi. Tahap 4: Redesign (Mendisain Ulang) Redesaign adalah suatu cara mendisain ulang suatu proses dengan mempelajari peta proses, mempermudah untuk melihat bagian-bagian tertentu yang bisa diotomatiskan, disederhanakan, dan lebih ditekankan dengan lebih banyak menggunakan sumber-sumber daya dan perhatian manajemen. Tahap 5: Blueprint Tahap ini terletak di perbatasan antara fase studi dan fase implementasi inovasi proses. Blueprint mencakup strategi transisi dan jadwal implementasi untuk semua aspek rencana perubahan tersebut. Tahap 6: Implement (Implementasi) Tahap 7: Monitoring (Pengawasan atau Pengendalian)

Resiko dan Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Inovasi (skripsi dan tesis)

Proses Penerapan inovasi proses memang menjanjikan perubahan secara drastis pada organisasi perusahaan dan proses bisnis. Jika inovasi proses berhasil maka perusahaan akan bisa meningkatkan kinerja organisasi dan karyawannya (Davidson, 1993). Tetapi sebaliknya, jika upaya inovasi proses mengalami kegagalan maka resiko yang dialami perusahaan akan timbul. Menurut Clemons (1995) dalam Ellitan (2009:73) berbagai resiko yang mungkin dialami oleh perusahaan antara lain: 1. Resiko teknis (technical risk) yaitu resiko yang terjadi karena terbatasnya kapabilitas teknologi yang digunakan organisasi dalam proses inovasinya. 2. Resiko finansial (financial risk) terjadi proyek inovasi proses tidak berjalan sesuai dengan rencana atau jika tidak selesai tepat pada waktunya dan tidak sesuai dengan rencana atau jika tidak selesai  tepat pada waktunya dan tidak sesuai dengan biaya yang dianggarkan. 3. Resiko politis (political risk) yaitu terjadinya resitance to change terhadap proyek-proyek inovasi proses. 4. Resiko fungsional (functional risk) merupakan kesalahan disainer sistem dalam memahami kebutuhan organisasi dan kurangnya keterampilan dan pengetahuan pelaksana sehingga mengakibatkan kapabilitas sistem yang dirancang tidak tepat. 5. Resiko proyek (project risk) adalah risiko yang bisa terjadi jika peesonel pemroses data tidak memahami dan tidak familiar terhadap teknologi baru sehingga menimbulkan masalah-masalah yang kompleks. Menurut Ellitan (2009:74) terdapat empat faktor utama penyebab kegagalan inovasi proses antara lain: 1. Menolak untuk berubah (resistance to change) Resistance to change merupakan masalah utama inovasi proses yang bisa terjadi karena inovasi proses tidak hanya terkait dengan teknologi tetapi juga berpengaruh terhadap lingkungan, perilaku, nilai-nilai, dan budaya organisasi terlebih jika dilakukan rightsizing. Di samping itu, resistance to change juga dipicu oleh tidak adanya visi, dan lingkungan operasi, dan lingkungan bisnis radikal. 2. Kurangnya komitmen manajemen (lack of management commitment) Komitmen manajemen sangat diperlukan dalam melakukan inovasi proses dan akan mengahadapi kemungkinan kegagalan yang sangat besar tanpa adanya komitmen penuh pucuk pimpinan dalam arti mereka harus memahami bagaimana peran pimpinan dalam suatu organisasi yang sedang mengalami perubahan radikal dan membangun konsensus semua jenjang hirarki. 3. Sistem informasi yang kurang memadai Ellitan (2009) mengemukakan bahwa sebagian besar perusahaan yang gagal dalam proyek inovasi proses disebabkan oleh adanya sistem informasi yang kurang memadai dan tidak menempatkan sistem informasi sebagai mitra kerja yang benar (true partner). 4. Kurangnya keluasan (breadth) dan kedalaman (depth) analisis terhadap faktor-faktor kritis inovasi proses Kurangnya keluasan dan kedangkalan dalam mengidentifikasi faktor-faktor kritis inovasi proses menyebabkan kegagalan dalam proyek inovasi proses. Yang dimaksud keluasan disini meliputi aktivitas-aktivitas yang perlu dilakukan manajer untuk mengidentifikasi aktivitas-aktivitas yang akan dan sedang didesain kembali untuk menciptakan nilai dalam unit bisnis dan organisasi secara keseluruhan. Untuk kedalaman menyangkut identifikasi seberapa besar unsur-unsur peran, tanggung jawab, pengukuran dan 47 intensif, struktur organisasi, teknologi informasi, nilai-nilai bersama dan skill keberhasilan inovasi proses

Manfaat Inovasi Perusahaan (skripsi dan tesis)

Manfaat inovasi perusahaan menurut Youlanda (2012) sebagai berikut: 1. Melalui inovasi, perusahaan mampu menciptakan pasar-pasar baru (New Markets). 2. Inovasi diartikan sebagai manfaat dari barang dan jasa yang diterima oleh pelanggan harus melebihi uang (harga) yang dibayarkan oleh pelanggan.   3. Melalui inovasi, kita terbebas dari persaingan (membuat agar persaingan dan pesaing-pesaing tidak relevan). 4. Memberi nilai tambah terus menerus kepada pelanggan menuju target 100% customer satisfication (hanya berfokus kepada pelanggan yang sekarang atau pelanggan persfektif), 5. Semakin erat hubungan lintas perekonomian dalam menjalankan ekonomi, salah satunta adalah dampak keberhasilan atau kegagalan suatu perekonomian terhadap perekonomian lain.

Pengertian Inovasi (skripsi dan tesis)

Proses Inovasi Proses bisa juga diartikan sebagai reengineering atau perencanaan visi strategik dan strategi kompetitif baru serta pengembangan proses bisnis baru yang mendukung visi tersebut (Ellitan, 2009:72). Menurut Hamer dan Champy (1993) dalam Ellitan (2009) “inovasi proses (reengineering) adalah pemikiran ulang yang fundamental dan perancangan ulang yang radikal terhadap proses-proses bisnis organisasi yang membawa organisasi mencapai peningkatan yang dramatis dalam kinerja bisnisnya”. Menurut Herbkersman (1994) inovasi proses adalah perubahan secara drastis bagaimana cara anggota organisasi menyelesaikan cara kerja mereka. Ellitan (2009) menyebutkan esensi dan prinsip-prinsip inovasi proses antara lain:   1. Memfokuskan pada faktor-faktor sekitar hasil (outcome) bukan pada tugas, artinya bahwa suatu perusahaan hendaknya memiliki seseorang yang melaksanakan semua tahapan dalam suatu proses. 2. Suatu perusahaan hendaknya membentuk departemen-departemen terspesialisasi untuk menangani proses yang terspesialisasi juga. 3. Mengelompokkan pemrosesan informasi ke dalam fungsi yang menghasilkan informasi. 4. Memperlakukan sumber-sumber yang terpisah seolah-olah tersentralisasi. 5. Mengaitkan aktivitas-aktivitas pararel serta mengintegrasikan hasilhasilnya. Hal ini ditunjukkan untuk meningkatkan keterkaitan antar fungsi paralel sehingga unit-unti terpisah bisa melakukan satu fungsi. 6. Menghubungkan aspek-aspek keputusan untuk menyelesaikan tugas dan membangun sistem pengendalian dari suatu proses. 7. Memperoleh informasi sekaligus pada sumbernya

Pengertian Inovasi (skripsi dan tesis)

Menurut Ellitan (2009:3) Inovasi merupakan “sistem aktivitas organisasi yang mentransformasi teknologi mulai dari ide sampai komersialisasi”. Inovasi mengacu kepada pembaharuan suatu produk, proses dan jasa baru. Seperti yang dikatakan Samson (1989) inovasi secara spesifik terdapat tiga tipe inovasi yaitu inovasi produk, inovasi proses dan inovasi sistem manajerial. Salah satu alasan mengapa inovasi sangat diperlukan adalah cepatnya perubahan lingkungan bisnis yaitu semakin dinamik dan hostile. Sebuah organisasi yang inovatif memiliki ciri-ciri seperti kolaborasi organisasional yang intensif, melakukan manajemen terhadap ketidakpastian lingkungan, dan mengakui pentingnya kapabilitas teknologi (Ellitan, 2009). Selanjutnya Saleh dan Wang (1993) telah mengembangkan satu dari model komprehensif yang mengidentifikasi tiga kunci sukses organisasi untuk melakukan inovasi secara efektif yaitu: 1. Entreprenueral strategi yaitu, berani mengambil resiko, melakukan pendekatan bisnis yang proaktif, dan komitmen manajemen. 2. Struktur organisasi yaitu dengan struktur yang lebih fleksibel, adanya disiplin interfungsional, dan orientasi pada tim kerja lintas fungsional. 3. Iklim organisasi yaitu iklim yang promotif dan terbuka, kekuatan dan kekuasaan dalam organisasi disebarkan tidak terpusat pada jenjang atas, dan memberikan sistem imbalan yang efeketif. 41 Menurut Drucker (2011) “inovasi merupakan sebuah kebutuhan dan harus menjadi disiplin. Konsep inovasi mempunyai sejarah yang panjang dan pengertian yang berbeda-beda, terutama didasarkan pada persaingan antara perusahaan-perusahaan dan strategi yang berbeda yang diterapkan perusahaa itu sendiri. Schumpeter dalam Rustika (2011) menyebutkan bahwa inovasi terdiri dari lima unsur yaitu: 1. Memperkenalkan produk baru atau perubahan kualitatif pada produk yang sudah ada. 2. Memperkenalkan proses baru ke industri. 3. Membuka pasar baru. 4. Mengembangkan sumber pasokan baru pada bahan baku atau masukan lainnya. Perubahan pada organisasi industri.

Hubungan Strategi Operasi Dengan Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Penerapan akuntansi manajemen lingkungan (Environmental Manajement Accounting-EMA) dalam sebuah organisasi kemungkinan dipengaruhi oleh strategi bisnis perusahaan yang bersangkutan. Dalam hal ini sistempengendalian manajemen (SPM) diciptakan sedemikian rupa untuk memastikan bahwa manajer menggunakan sumber daya yang tersedia secaraefektif dan efesien demi pencapaian tujuan organisasi (Anthony, 2002). Gosselin (1997) dalam Ferreira et al (2009) menemukan bahwa strategi operasi dikaitkan dengan penerapan manajemen aktivitas. Disimpulkan juga bahwa strategi yang diikutioleh organisasi menentukan kebutuhan inovasi yang berkaitan dengan kegiatan pengolahan dan cenderung mengadopsi akuntansi inovasi. Penggunaan EMA (Environmental Management Accounting) dapat dikatakan sangat besar dalam organisasi yang melakukan strategi operasi karena dapat membantu sebuah organisasi yang inovatif

Daya Saing Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

Daya saing strategi operasi merupakan fungsi strategi yang tidak saja berorientasi kedalam (internal) tetapi juga keluar (ekstenal), yakni merespon pasarsasaran utamanya yang proaktif. Berdaya saing berarti memilki keunggulan kompetitif tidak hanya keunggulan komparatif. Dipahami bahwa setiap perusahaan tidak terkecuali perusahaan manufaktur maupun nonmanufaktur dituntut untuk memiliki keunggulan komparatif, karena semuanya menghasilkan suatu produk yang ditawarkan ke pasar. Daya saing strategi operasi penting dimiliki oleh semua level perusahaan, baik lokal, nasional, internasional, maupun global. Bagi setiap  perusahaan, tentunya tidak ada sesuatu yang dapat dipasarkan tanpa ada suatu produk yang dihasilkan. Tidak akan bermanfaat modal usaha yang dimiliki tanpa suatu produk yang diproduksi , dan tidak akan bernilai tambah keahlian (skill) dan kemampuan (ability) tenaga kerja yang tersedia, tanpa ada suatu produk yang akan dihasilkannya

Tahapan Dalam Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

Menurut David (2004:6-7) manajemen strategis terdapat 3 tahapan yaitu sebagai berikut: a. Perumusan strategi: meliputi kegiatan untuk mengembangkan visi dan misi organisasi, mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan internal organisasi, menetapkan tujuan jangka panjang organisasi, serta memilih strategi tertentu untuk digunakan. b. Pelaksanaan strategi: mengharuskan perusahaan untuk menetapkan sasaran tahunan, membuat kebijakan, memotivasi karyawan, dan 38 mengalokasikan sumber daya sehingga perumusan strategis dapat dilaksanakan. Pelaksanaan strategi mencakup pengembagan budaya yang mendukung strategi, penciptaan struktur organisasi yang efektif, pengarahan kembali usaha-usaha pemasaran, penyiapan anggaran, pengemabangan dan pemanfaatan sistem informasi, serta menghubungkan kompetensi untuk karyawan dengan kinerja organisasi. c. Evaluasi Strategi: Tahap ini merupakan tahap terakhir dari manajemen strategis tiga kegiatan pokok dalam evaluasi strategi adalah 1. mengkaji ulang faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi landasan perumusan strategi yang diterapkan saat ini, 2. Mengukur kinerja dan 3. Melakukan tindakan korektif

Kerangka Kerja Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

 Chase et al, (2001:29) menyatakan “strategi operasi tidak dapat dirancang dalam kekosongan. Strategi operasi harus dikaitkan secara vertikal dengan konsumen dan secara horizontal dengan bagian-bagian lainnya perusahaan. Strategi operasi dirumuskan berdasarkan strategi mission, yang merupakan turunan dari strategic vision (Muhardi:30). Sehningga berdasarkan sepengetahuan penulis untuk merumuskan strategi operasi, terlebih dahulu perlu diidentifikasikan strategic vision-nya, yang dilanjutkan dengan strategi mission. Menurut Heizer dan Render (1999:35): “misi untuk fungsi operasi adalah dikembangkan guna mendukung misi keseluruhan perusahaan yang menjadi turunan dari visinya. Strategi operasi dipandang sebagai kekuatan manufaktur yang efektif yang merupakan senjata kompetitif untuk mencapai tujuan bisnis dan perusahaan. Strategi operasi mempengatuhi tujuan dan strategi bisnis yang memungkinkan fungsi-fungsi manufaktur untuk memberikan konstribusi dalam meningkatkan daya saing perusahaan dalam jangka panjang (Hayes dan Wheelright, 1985 dikutip dalam Ward dan Duray, 2000 dalam Ellitan, 2008: 152). Heizer dan Render (2004:40) mengemukakakan bahwa strategi operasi 36 yang sukses tidak hanya harus konsisten dengan permintaan konsumen, melainkan juga siklus hidup produk. Menurut beberapa peneliti, strategi operasi mewaakili prioritas kompetitif yang meliputi biaya, kualitas, fleksibilitas dan pengiriman (Wheelright, 1984; Leong et al., 1990; Rothn et al, 1991; Burgess et al., 1998, dalam Ellitan 2008).
Stonebraker dan Leong, 1994 (dikutip dalam Badri et al, 2000) mendifinisikan: 1. Strategi biaya sebagai produksi dan distribusi produk dengan biaya terendah dan sumber daya tersisa yang minimum. Harga yang rendah dapat meningkatkan permintaan produk atau jasa tetapi juga mengurangi keuntungan keuntungan perusahaan jika produk atau jasa tidak dapat diproduksi pada harga yang lebih rendah. 2. Strategi kualitas sebagai aktivitas perusahaan untuk memproduksi produk sesuai dengan spesifikasi atau memenuhi kebutuhan konsumen. Strategi kualtias memfokuskan pentingnya memproduksi barang dan jasa yang dapat memuaskan spesifikasi da kebutuhan konsumen 3. Strategi fleksibilitas sebagai kemampuan untuk merespon perubahan cepat dalam produk, jasa dan proses. Fleksibilitas mencakup mesin, proses, produk, volume, dan layout (Bragilia dan Patroni, 2000). Fleksibilitas manufaktur didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan manufaktur untuk mengalokasikan dan mengalokasikan 37 kembali sumber daya yang dimiliki secara efektif dalam merespon perubahan lingkungan dan kondisi internal (Gerwin, 1993; dalam Ellitan, 2008:153). 4. Strategi pengiriman meliputi kemampuan dalam merespon pemesanan konsumen. Ellitan (2008) mendifinisikan strategi pengiriman sebagai kemampuan pengiriman (dengan memenuhi jadwal pengiriman maupun janji pengiriman) dan kecepatan pengiriman (bertindak cepat atas pemesanan konsumen). Pengukuran kinerja pengiriman menekankan pada aktifitas yang mefokuskan pada peningkatan reliabilitas pengiriman misalnya pengiriman tepat waktu, akurasi dalam status persediaan, dan wakti tunggu pengiriman

Fungsi Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

Fungsi strategi operasi sebagai salah satu aktivitas penting dalam suatu perusahaan mempunyai tanggung jawab utama untuk menghasilkan atau menyediakan barang-barang dan jasa-jasa. Menurut Bozart and Handfield (2006:4) menyatakan bahwa fungsi strategi operasi adalah meliputi orang, teknologi, dan sistem dalam suatu organisasi yang mempunyai tanggung jawab utama untuk menghasilkan barang-barang dan jasa. Selain fungsi-fungsi lainnya dalam suatu perusahaan, fungsi strategi operasi merupakan kegiatan yang sangat mempengaruhi keberhasilan dan keberlangsungan hidup suatu perusahaan dalam jangka panjang. Fungsi operasi meliputi konversi input menjadi output. Input sering disebut dengan sumber daya 35 operasi. Sumber daya tersebut diantaranya landyakni berupa bahan baku atau material yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu produk; labor yakni tenaga kerja atau sumber daya manusia; capital yakni sumber daya buatan manusia (manmad resources)

Pengertian Strategi Operasi (skripsi dan tesis)

Menurut Muhardi (2007:27) “Strategi operasi merupakan salah satu strategi tingkat fungsional yang krusial, selain strategi pemasaran, keuangan, sumberdaya manusia, dan strategi tingkat fungsional”. Strategi operasi, pemasaran, keuangan, sumberdaya manusia, dan lainnya harus mengarah pada pencipataan nilai terbaik dan inovasi bagi keberhasilan perusahaan dalam jangka panjang. Sedangkan menurut Krajewski dan Ritzman (1993:22), bahwa “Operations strategy specifies how operations can achieve the organization’s  overall goals, within the framework of corporate strategy”. Perlu dipahami bahwa strategi operasi suatu perusahaan secara komprehensif harus diintegrasikan dengan strategi perusahaan. Karenannya strategi operasi dirumuskan untuk menentukan kebijakan-kebijakan dan rencana-rencana penggunaan sumberdaya guna mendukung strategi dengan strategi bersaing Menurut Chase et al (2002: 24) dalam Muhardi (2007) menyatakan bahwa strategi operasi meliputi keputusan-keputusan yang berhubungan dengan desain proses dan infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung proses tersebut. Hal ini berarti strategi operasi juga harus didesain untuk mengantisipasi kebutuhan masa datang. Pernyataan ini memperkuat arti pentingnya strategi operasi yang perlu dirumuskan untuk tujuan jangka panjang

Pengertian Strategi (skripsi dan tesis)

Untuk memahami arti penting strategi, dalam hal ini strategi operasi bagi suatu perusahaan, maka perlu dikemukakan terlebih dahulu berbagai definisi strategi dari para pakar. Stevenson (2002:45) dalam Muhardi (2007:25-26) mengartikan sebagai berikut: “Strategy are plans for achieving organizational goals”. Strategi merupakan rencana untuk mencapai tujuan organisasional. Di pihak lain, Heizer dan Render (2002:36) menyatakan: “Strategy is an organization’s action plan to achieve the mission”. Dengan demikian, Heizer dan Render mendefinisikan strategi sebagai suatu rencana mencapai misi organisasinya. Jadi strategi berhubungan dengan rencana yang menentukan arus suatu organisasi untuk mencapai tujuannya. Dalam lingkup yang lebih luas, strategi mempengaruhi kemampuan berorganisasi untuk bersaing, kemampuan untuk   melayani dalam mencapai tujuannya. Tanpa strategi, suatu perusahaan tidak akan terencana dan tidak berjalan dengan baik, artinya tidak akan terarah kemana perusahaan akan menuju. Strategi yang dibuat tidak hanya sekedar ada tetapi harus mempunyai nilai yang realistis, jelas, menantang dan berbatas waktu. Dengan rumusan strategi yang sudah memiliki tidak menjamin tujuan dapat dicapai, apalagi tanpa strategi, jelas sulit untuk mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuannya. Menurut Jones dan George (2003:275) dalam Muhardi (2007:27) “functional-level strategy is a plan of action to improve the ability of an organization’s departments to create value”. Strategi tingkat fungsional adalah suatu rencana tindakan untuk meningkatkan kemampuan dari bagian (departments) dalam suatu organisasi untuk menciptakan nilai. Dengan kata lain, strategi tingkat fungsional ini merupakan suatu rencana yang menujukkan bagaimana suatu fungsi intend terhadap pencapaian tujuaannya.

Penilaian Biaya Siklus Hidup (skripsi dan tesis)

Biaya proses lingkungan mungkin mengungkapkan kebutuhan untuk memberbaiki proses produksi perusahaan. Penatagunaan proses produksi adalah praktik perancangan pembuatan, pemeliharaan dan proses daur ulang untuk meminmalkan dampak lingkungan yang merugikan. Penilaian siklus hidup adalah sarana untuk meningkatkan pembenahan proses produksi (Hansen dan Mowen, 2005:788). Penilaian siklus hidup mengindetifikasi konsekuansi yang  timbul untuk lingkungan dari suatu produk sepanjang hidupnya dan kemudian mencari peluang untuk mendapatkan perbaikan lingkungan. Penilaian biaya siklus hidup membebankan biaya dan keuntungan pada pengaruh lingkungan dan perbaikan (Hansen dan Mowen, 2005:81)

Sudut pandang siklus hidup yang diadopsi menggabungkan pemasok, produsen dan sudut pandang pelanggan pelanggan. Keterkaitan internal dan eksternal organisasi dianggap penting dalam menilai konsekuensi lingkungan dari produk yang berbeda, desain produk dan desain proses. Jika sistem akuntansi biaya akann berperan dalam penilaian siklus hidup, maka langkah yang paling terlihat adalah menilai dan menetapkan biaya lingkungan yang disebabkan oleh produsen di setiap tahapan siklus hidup (Hansen dan Mowen , 2005:789). Hal ini memungkinkan manajer untuk membandingkan efek ekonomi dari inovasi perusahaan. Menurut Ikhsan (2009:65) berpendapat: “Pengaruh aktivitas akuntansi manajemen lingkungan dapat meningkatkan kegunaan keputusan manajemen lingkungan, tapi bagi semua aktivitas manajemen, antara lain: 1. Produk dan proses perancangan 2. Pengendalian harga dan alokasi pembebanan 3. Penganggara investasi 4. Pembelian 5. Jaringan penawaran manajemen 6. Penetapan harga produk 7. Evaluasi kinerja.” Adanya keterbatasan sistem akuntansi manajemen konvensional dan praktiknya membuat lebih sulit untuk secara efektif mengumpulkan dan mengavaluasi data terkait dengan lingkungan (Ikhsan, 2009:72). Sehingga kunci utama dalam akuntansi manajemen lingkungan perusahaan menurut Ikhsan (2009:52) adalah 32 1. “akuntansi manajemen lingkungan terpusat pada biaya-biaya internal perusahaan, akuntansi manajemen lingkungan tidak termasuk biaya, biaya eksternal individu, masyarakat, atau lingkungan di mana suatu perusahaan tidak menurut dan bertanggung jawab secara hukum. 2. Akuntansi manajemen lingkungan menempatkan penekanan tertentu pada akuntansi untuk biaya-biaya lingkungan. 3. Akuntansi manajemen lingkungan meliputi tidak hanya lingkungan dan informasi biaya lain, informasi juga menjelaskan tentang arus dan ketentuan-ketentuan fisik dari bahan-bahan energi. 4. Informasi akuntansi manajemen lingkungan dapat digunakan pada kebanyakan jenis-jenis dari aktivitas manajemen atau pengambilan keputusan dalam suatu organisasi, terutama sekali bermanfaat dalam aktivitas manajemen lingkungan yang proaktif.”

Biaya Lingkungan (skripsi dan tesis)

Biaya lingkungan menurut Hansen dan Mowen (2005:780) adalah “biaya yang dikeluarkan karena adanya kualitas lingkungan yang buruk atau karena kualitas lingkungan yang buruk yang mungkin terjadi, dengan demikian, biaya lingkungan dikaitkan dengan kreasi, deteksi, perbaikan, dan pencegahan degradasi lingkungan”. Dengan definisi ini, Hansen dan Mowen (2005: 780-782) dapat mengklasifikasi biaya lingkungan menjadi empat kategori yaitu:
 1. Biaya pencegahan lingkungan (environmental prevention costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk mencegah 26 diproduksinya limbah dan/atau sampah yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Contoh-contoh aktivitas pencegahan adalah evaluasi dan pemilihan pemasok, evaluasi dan pemelihan alat untuk megendalikan polusi, desai proses dan produk untuk mengurangi atau menghapus limbah, melatih pegawai, mempelajari dampak lingkungan, pelaksanaan penelitian lingkungan, pengembangan sistem manajemen lingkungan, daur ulang produk, dan pemerolehan sertifikat ISO 14001 (sertifikasi ISO 14001 diperoleh saat sebuah organisasi menerapkan sebuah sistem manajemen lingkungan yang memenuhi standar internasional yang ditetapkan secara khusus.
Standar ini berkaitan dengan prosedur manajemen lingkungan dan tidak secara langsung menunjukkan tingkat kinerja lingkungan yang dapat diterima. Oleh karena itu, sertifikasi berfungsi terutama sebagai sinyal bahwa perusahaan tertarik dan bersedia mempebaiki kinerja lingkungannya).
 2. Biaya deteksi lingkungan (environmental detection costs) adalah biaya-biaya untuk aktivitas yang dilakukan untuk menentukan apakah produk, proses dan aktivitas lainnya diperusahaan telah memenuhi standar lingkungan yang berlaku atau tidak.
Standar lingkungan dan prosedur yang diikuti oleh perusahaan didefinisikan dalam tiga cara yaitu (1) undang-undang dan/atau peraturan pemerintah (2) standar sukarela (ISO 14001 voluntary standards)yang dikembangkan oleh International Standards Organization, dan (3) kebijakan lingkungan yang dikembangkan oleh manajemen. Contoh-contoh aktivitas deteksi adalah audit aktivitas lingkungan, pemeriksaan produk dan proses agar ramah lingkungan, pengembangan ukuran kinerja lingkungan, pelaksanaan pengujian pencemaran, verivikasi kinerja lingkungan dari pemasok, dan pengukuran tingkar pencemaran.
3. Biaya kegagalan internal lingkungan (environmental internal failure costs) adalah biaya aktivitas yang dilakukan karena kontaminasi dan limbah telah diproduksi tapi tidak dibuang ke lingkungan. Dengan demikian, biaya kegagalan internal dikeluarkan untuk menghilangkan dan mengelola kontaminasi atau limbah sekali produksi. Kegiatan kegagalan internal memiliki dua tujuan: (1) memastikan bahwa kontaminasi dan limbah yang dihasilkan tidak dilepaskan ke lingkungan dan (2) mengurangi tingkat kontaminasi yang dilepaskan ke jumlah yang sesuai dengan standar lingkungan. Contoh-contoh aktivitas kegagalan internal termasuk operasi peralatan untuk meminimalkan atau menghilangkan polusi, merawat dan membuang racun, menjaga peralatan polusi, perizinan fasilitas untuk memproduksi kontaminasi dan bahan daur ulang.
4. Biaya kegagalan eksternal lingkungan (environmental external failure costs) adalah biaya aktivitas yang dilakukan setelah  pemakaian kontaminan dan limbah ke lingkungan. Realisasi kegagalan ekternal biaya adalah biaya yang dikeluarkan dan dibayar oleh perusahaan. Biaya kegagalan ekternal yang belum direalisasi (biaya sosial) disebabkan oleh perusahaan namun dikeluarkan dan dibayarkan oleh pihak-pihak di luar perusahaan.
Biaya sosial dapat diklasifikasikan lebih lanjut sebagai (1) hasil dari degradasi lingkungan dan (2) hal-hal yang terkait dengan dampak buruk pada properti atau kesejahteraan individu. Dalam kedua kasus tersebut, biaya ditanggung oleh orang lain dan bukan oleh perusahaan, meskipun mereka disebabkan oleh perusahaan. Dari empat kategori lingkungan yaitu biaya pencegahan lingkungan, biaya deteksi lingkungan, biaya kegagalan internal lingkungan dan yang terakhir biaya kegagalan ekternal lingkungan. Kategori kegagalan ekternal adalah yang paling berbahaya dan menghacurkan. Terdapat bukti bahwa biaya lingkungan bisa 20% atau lebih dari total biaya operasi organisasi (Hansen dan Mowen, 2005: 783). Pada sistem akuntansi konvesiona. Pada sistem akuntansi konvensional, biaya lingkungan seringkali tersembunyi di biaya overhead pabrik (Burrit et al, 2002), yang menyulitkan manajer untuk meninjau biaya lingkungan yang sesungguhnya berkaitan dengan aktivitas organisasi. Dibawah sistem AML, biaya ini diidentifikasi, klasifikasi dan alokasi, memungkinkan analisis biaya lanjut dan pengurangan biaya yang  mungkin akan terjadi (Bennet et al, 2003; Gibson dan Martin, 2004, dalam ferreira et al, 2009). Ferreira (2009) menemukan bahwa organisasi yang menghasilkan laporan sosial dan lingkungan (sustainability reports), mampu mengembangkan sistem pengendalian internal yang lebih baik. Dia juga menunjukkan bahwa penghematan biaya pada organisasi ini akan berakibat pada perbaikan berkelanjutan. Biaya lingkungan dari proses yang memproduksi, memasarkan, dan mengirmkan produk serta biaya lingkungan sesudah pembelian yang disebabkan oleh penggunaan dan pembuangan produk merupakan contoh-contoh biaya produk lingkungan. Pembebanan biaya lingkungan pada produk dapat menghasilkan informasi manajerial yang bermanfaat. Dengan membebankan biaya lingkungan secara tepat, maka akan diketahui apakah suatu produk menguntungkan atau tidak. Jika tidak menguntungkan, produk tersebut dapat dihentikan guna mencapai perbaikan yang signifikan dalam kineja lingkungan dan efisiensi ekonomi

Manfaat Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Terdapat beberapa manfaat potensial yang terhubung dalam penerapan akuntansi manajemen lingkungan. Hal ini termasuk pengurangan biaya (cost reduction), peningkatan harga produk (improved product pricing), daya tarik sumber daya manusia (attraction of human resources) dan peningkatan reputasi (Bennet et al, 2003; Burrit et al, 2002; de Beer et al, 2006; Gibson dan Martin, 2004; Hansen dan Mowen, 2005:778). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan akuntansi manajemen lingkungan umumnya akan bermanfaat bagi organisasi dengan menyediakan informasi berbeda untuk pengambilan keputusan (Adams dan Zuthsi, 2004; Bennet et al, 2003; Burrit et al., 2002). Seperti informasi yang mungkin akan mengungkapkan peluang, contohnya proses pengelolaan limbah yang lebih baik, mengurangi penggunaan energi dan  konsumsi bahan baku atau peluang untuk daur ulang material. Dari sudut pandang lingkungan informasi seperti ini juga digunakan dalam pengembangan proses yang lebih efisien dan dengan demikian mengarah kepada inovasi (Ferreira et al, 2009:923). Sebagai contoh, Hansen dan Mowen (2015) melaporkan manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh organisasi, seperti Baxter International and Interface Inc, dari penggunaan akuntansi manajemen lingkungan (EMA use) menggunakan penghematan masing masing sebesar $14 juta dan $12 juta per tahunnya. Dalam penggunaannya akuntansi manajemen lingkungan sangat penting bagi industri. Menurut ikhsan (2009;69) manfaat potensial penerapan akuntansi manajemen lingkungan diantaranya: 1. “Kemampuan secara akurat meneliti dan megatur penggunaan dan arus tenaga dan bahan-bahan, termasuk polusi/sisa volume, jenisjenis lain sebagainya. 2. Kemamuan secara akurat mengidentifikasi, mengestimasi, mengalokasikan, mengatur atau mengurangi, biaya-biaya, khususnya jenis lingkungan dari biaya-biaya. 3. Informasi yang lebih akurat dan lebih menyeluruh dalam mendukung, penetapan dari dan keikutsertaan di dalam programprogram sukarel, penghematan biaya untuk memperbaiki kinerja lingkungan. 4. Informasi yang lebih akurat dan menyeluruh untuk megukur dan melaporkan kinerja lingkungan, seperti meningkatkan citra perusahaan pada stakeholder, pelanggan, masyarakat lokal, karyawan, pemerintah, dan penyedia keuangan.”
 Menurut Guide to Corporate Environmental Cost Management (2003), manfaat dan keuntungan akuntansi manajemen lingkungan terdiri atas:  1. Kepatuhan (Compliance) Akuntansi manajemen lingkungan mendukung lingkungan lewat kepatuhan efisiensi biaya dengan regulasi lingkungan dan kebjakan yang dikenakan sendiri. 2. Eco-Effeciency Akuntansi manajemen lingkungan mendukung pengurangan simultan dari biaya-biaya dan dampak lingkungan lewat penggunaan energi yang lebih efisien, air dan material dalam operasi internal dan produk akhir. 3. Posisi Strategik (Strategic Position) Akuntansi manajemen lingkungan mendukung evaluasi dan implementasi dari program biaya efektif dan lingkungan sensitif untuk menjamin strategi jangka panjang

Tujuan Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Lingkungan organisasi merupakan variabel yang sangat penting dalam menentukan strategi bisnis suatu perusahaan. Perubahan lingkungan yang terjadi mengakibatkan individu, organisasi, dihadapkan pada perubahaan yang dinamis untuk tetap bertahan dan memiliki inovasi dalam persaingan bisnis (Ellitan, 2008:51). Dalam hal itu secara umum teknik akuntansi manajemen biasanya tidak memperdulikan buruknya perilaku perusahaan terhadap lingkungan. Perusahaan-perusahaan yang terintegrasi, multinasional, dan besar cenderung akan menerapakan Akuntansi Manajemen Lingkungan (AML) dalam proses akuntansi mereka melalui sejumlah pengidentifikasian terhadap biaya-biaya, 21 proses bisnis maupun proses produksi, produk-produk, dan jasa. Meskipun sistem akuntansi konvensional yang ada tidak cukup mampu untuk disesuaikan pada biaya-biaya lingkungan dan sebagai hasilnya hanya mampu menunjukkan akun untuk biaya umum tak langung (Rustika, 2011:13). Akuntansi manajemen lingkungan (AML) dikembangkann untuk berbagai keterbatasan dalam akuntansi manajemen konvensional. Beberapa poin berikut ini dapat menjadi alasan mengapa dan apa yang dapat diberikan oleh AML dibandingkan dengan akuntansi manajemen konvensional (Ikhsan, 2009):

 1. Meningkatnya tingkat kepentingan ‘biaya terkait lingkungan’. Seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, peraturan terkait lingkungan menjadi semakin ketat sehingga bisnis harus mengeluarkan investasi yang semakin besar untuk mengakomodasi kepentingan tersebut. Jika dulu biaya pengelolaan lingkungan relatif kecil, kini jumlahnya menjadi cukup signifikan bagi perusahaan. Banyak perusahaan yang kemudian menyadi potensi untuk meningkatkan efisiensi muncul dan besarnya biaya lingkungan yang harus ditanggung.
2. Lemahnya komunikasi bagian akuntansi dengan bagian lain dalam perusahaan. Walaupun keseluruhan perusahaan mempunyai visi yang sama tentang ‘biaya’, namun tiap-tiap departemen tidak selalu mampu mengkomunikasikannya dalam bahasa yang dapat diterima oleh semua pihak. Jika di satu sisi bagian keuangan menginginkan efesiensi dan  penekanan biaya, di sisi lain bagian lingkungan menginginkan tambahan biaya untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Walaupun ecoefficiency bisa menjadi jembatan antar kepentingan ini, namun kedua bagian tersebut berbicara dari sudut pandang yang bersebrangan.

3. Menyembunyikan biaya lingkungan dalam pos biaya umum (overhead). Ketidakmampuan akuntansi tradisional menelusuri dan menyeimbangakan akuntansi lingkungan dengan akuntansi keuangan menyebabkan semua biaya dari pengolahan limbah, perizinan dan lainlain digbungkan dalam biaya overhead; sebagai konsekuensinya biaya overhead menjadi ‘membengkak’.

 4. Ketidakpastian alokasi biaya lingkungan sebagai biaya tetap. Karena secara tradisional biaya lingkungan tersembunyi dalam biaya umum, pada saat diperlukan, akan menjadi sulit untuk menelusuri biaya sebenarnya dari proses, produk atau lini produksi tertentu. Jika biaya umum dianggap tetap, biaya limbah sesungguhnya merupakan biaya variabel yang mengikuti volume limbah yang dihasilkan berbanding lurus dengan tingkat produksi. 5. Ketidaktepatan perhitungan atas volume (dan biaya) atas bahan baku yang terbuang. Berapa sebenarnya biaya limbah? Akuntansi tradisional akan menghitungnya sebagai biaya pengelolaannya, yaitu biaya pembuangan atau pengolahan. AML akan mengjhitung biaya limbah sebagai pengolahan ditambah biaya pembelian bahan baku. Sehingga 23 biaya limbah yang dikeluarkan lebih besar (sebenarnya) daripada biaya yang selama ini diperhitungkan. 6. Tidak dihitungnya keseluruhan biaya lingkungan yang relevan dan signifikan dalam catatan akuntansi. Banyak sekali biaya yang terkait dengan pengelolaan lingkungan yang seharusnya diperhitungkan dengan benar agar tidak terjadi kesalahan pengambilan keputusan. Biaya tersebut umumnya meliputi biaya pengelolaan limbah, biaya material dan energi, biaya pembelian material dan energi dan biaya proses.

Definisi Akuntansi Manajemen Lingkungan (skripsi dan tesis)

Menurut Ikhsan (2009:49-50) Akuntansi manajemen lingkungan merupakan sub bagian dari akuntansi lingkungan yang digunakan untuk menyediakan informasi dalam pengambilan keputusan suatu organisasi, walaupun informasi yang dihasilkan untuk tujuan yang lain, seperti pelaporan ekternal, dengan pelaporan dan pengiriman informasi tentang: a.) Informasi berdasarkan arus bahan dan energi b.) informasi biaya lingkungan c.) Informasi lainnya yang terukur, dibentuk berdasarkan akuntansi manajemen lingkungan untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan. Menurut pernyataan IFAC (2005:13) pengertian Akuntansi manajemen lingkungan atau environmental management accounting (EMA) adalah: “akuntansi manajemen lingkungan merupakan istilah yang digunakan dalam sejumlah konteks yang berbeda termasuk:
1. Penilaian dan pengungkapan informasi keuangan terkait lingkungan dalam konteks akuntansi dan pelaporan keuangan
2. Penilaian dan penggunaan informasi fisik dan moneter yang berkaitan dengan lingkungan dalam konteks akuntansi manajemen lingkungan (AML)
3. Estimasi dampak dan biaya lingkungan luar biasa, sering dianggap sebagai full cost accounting
 4. Akuntanis untuk persediaan dan arus sumber daya alam baik secara fisik dan moneter, yaitu natural resourcing accounting (NRA)

 5. Pelaporan informasi tingkat organisasi, informasi natural resource accounting dan informasi lainnya untuk tujuan informasi keuangan eksternal 6. Pertimbangan informasi fisik dan moneter terkait lingkungan dalam konteks pembangungan keberlanjutan.” The United Nations Division for Sustainable Development (UNDSD) (2011) dalam Ikhsan (2009:54) menyediakan suatu definisi yang lain dari akuntansi manajemen lingkungan. Definisi akuntansi manajemen lingkungan adalah informasi yang dihasilkan dari sistem akuntansi manajemen lingkungan untuk pengambilan keputusan internal, dimana informasi dapat berfokus secara fisiki atau moneter. Dalam pengambilan keputusan internal tersebut terdapat prosedul akuntansi manajemen lingkungan yang meliputi prosedur secara fisik untuk material dan pemakian energi, arus dan sisa akhir, dan memoneterisasi prosedur untuk biaya-biaya, penghematan dan pendapatan yang berhubungan terhadap aktifitas-aktifitas dengan dampak lingkungan potensial. Menurut Hansen dan Mowen (2005:778): “Environmental Management Accounting essentially maintains that organizations can produce more useful goods and services while simultaneously reducing negative environmental impacts, resource consumption, and costs”. Akuntansi manajemen lingkungan pada dasarnya merupakan gabungan dari informasi dari akuntansi keuangan dan akuntansi biaya untuk meningkatkan  efisiensi, mengurangi dampak dan resiko lingkungan serta mengurangi biaya perlindungan lingkungan. (Hansen dan Mowen 2005:778) Untuk kategori biaya tersebut berbeda dari skema biaya lingkugan lingkungan, petunjuk diberikan berdasarkan di mana untuk menemukan mereka dan bagaimana caranya yang sesuai dengan mereka ketika pembelanjaan atau biaya dinilai Akuntansi manajemen lingkungan yang dikembangkan oleh Burrit et al. (2002) mengintegrasikan dua komponen lingkungan, yaitu:
1. Moneter Akuntansi Manajemen Lingkungan (MAML), berbasis pada monetary procedure merupakan upaya mengidentifikasi, mengukur dan mengalokasikan dalam biaya. MAML didasarkan pada akuntansi manajemen konvensional yang diperluas untuk masalah lingkungan, dan merupakan alat utama untuk mengambil keputusan manajemen internal.
 2. Pisik Akuntansi Manajemen Lingkungan (PAML), berbasis pada material flow balance procedure merupakan suatu pendekatan untuk mengidentifikasi berbagai perilaku sumber daya lingkungan. Hal ini akan berguna bagi manajemen untuk dasar alokasi biaya lingkungan yang terjadi. Pada tingkat organisasi, akuntansi manajemen lingkungan terdapat dalam konteks akuntansi manajemen (penliaian pengeluaran organisasi terhadap peralatan pengendalian pencemaran dari bahan daur ulang; pendapatan dari bahan daur ulang; penghematan moneter tahunan dari peralatan hemat energi) dan Akuntansi keuangan (evaluasi dan pelaporan suatu kewajiban terkait lingkungan organisasi saat ini) (IFAC, 2005:14)

Karakteristik Jurnalistik Online (skripsi dan tesis)

 Kreativitas dan inovasi yang ditopang dengan dispilin team work akan menghasilkan karya yang luar biasa. Sejak bedirinya NET TV 4 tahun lalu sudah dapat di kases di media platform digital melalui TV Free-to-air sekaligus lembaga platform digital seperti live streaming, video on demand kolaborasi dengan youtube dan media sosial. Konten yang berkualitas harus dapat diakses kapanpun dan dimanapun sehingga platform digital adalah sebuah keharusan yang menciptakan engagement konten dengan penontonnya dengan hal ini dapat dilihat berapa besar amino dari real-people penonton yang sebenarnya NET saat ini telah memiliki sedikitnya empat aplikasi Platform Digital, yaitu NET. Citizen Journalist, NET. Z,Zulu dan NET. Connect . Jurnalistik online yang bekerja mempertimbangkan format multimedia untuk menyusun isi liputan yang memungkinkan terjadinya interaksi antara jurnalist dan audiens dengan menghubungkan beberapa elemen berita dalam pemilihan konten berita. Kebenaran factual terletak pada praktik jurnalistik karena hanya wartawan yang tahu dan memutuskan informasi macam mana yang dibutuhkan oleh khalayak .
Rey G. Rosales dalam The Elements of Online Journalism (iUniverse, 2006) dengan elemen yang mencangkup. 1. Headline: Judul berita yang ketika diklik akan membuka tulisan secara lengkap dengan halaman tersendiri. 2. Text: tubuh tulisan dalam satu halaman utuh atau terpisah kedalam beberapa tautan (link) 3. Ghraphic: Garis-biasanya berupa logo, gambar, atau ilustrasi yang terkait dalam berita. 4. Related Link: Tulisan yang terkait yang menambah informasi dan pembahasan wawasan bagi pembaca, biasanya di akhiri dengan tulisan di sampingnya. 5. Audio: Suara, music atau rekaman yang di gabung sendiri dalam slide show atau video. 6. Slide shows: koleksi foto yang mirip galeri yang disertasi keterangan foto atau sound,voice. 7. Animation: animasi atau gambar bergerak yang diproduksi untuk menambah dampak cerita. 8. Interaktive Features: grafis yang didesain untuk interkasi dengan pengguna (user), misalnya termasuk peta lokasi (map, google map). 9. Interaktive Games: biasanya didesain seperti mini-video games yang bisa dimainkan oleh user (play the news). Habermas menerangkan pada prinsip universal tentang penggunan bahasa tentang tidak komunikatif yang didasarkan pada speech acts theory yang pertama pembicara yang diasumsikan memiliki kompetensi untuk mengunakan kalimat dalam suatu tindakan. Kedua kompetensi yang didasarkan pada invitide rule consciousness aturan yang diketahui tanpa memandang bahasa atau budaya. Ketiga tujuan universal pragmatics adalah menemukan system universal

Tinjauan New Media (skripsi dan tesis)

 Definisi New Media menurut Chun yakni, New Media adalah penyederhanaan istilah (simplifikasi) terhadap bentuk media di luar media massa konvensional televisi, radio, majalah, Koran dan film. Sifat New Media adalah cair (Fluid), konektivitas individual, dan menjadi sarana untuk membagi peran kontrol dan kebebasan1 . Dalam perspektif studi media komunikasi massa media online menjadi objek kajian teori “media baru” yang mengacu pada permintaan akses ke konten (isi/Informasi) kapan saja, dimana saja, pada setiap perangkat digital serta umpan balik pengguna interaktif, partisipasi kreatif, dan pembentukan komunitas sekitar konten media sebagai aspek generasi “Real-Time”. New Media merujuk pada perkembangan teknologi digital namun new media tidak serta merta media digital. Video, teks, gambar, grafik yang dibutuhkan menjadi data digital berbentuk byte dalam New Media. Dalam hal ini media online sebagai produk jurnalistik online atau cyber journalisme dengan didefinisikan sebagai pelaporan fakta atau peristiwa yang di produksi dan ditrisbusikan melalui internet  . Richard Hunter (2002) dengan world without secrets bahwa kehadiran media baru (new media/ cybermedia) menjadikan informasi sesuatu yang mudah dicari dan terbuka. Dalam media penyiaran broadcast dimana media merupakan pusat dari produksi pesan, dalam stasiun televisi, dan pesan itu disebarkan serta bisa dinikmati oleh siapa saja asal memiliki pesawat televisi atau sampai pada bagaimana khalayak mengakses media lama atau baru .
Dalam proses distribusi pesan media juga mampu menciptakan makna dan budaya dimana media tidak akan membawa konten semata, tetapi juga membawa konteks didalamnya. Menurut Van Dijk (2013) media sosial adalah Platform media memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu media sosial dapat dilihat sebagai medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antarpengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial. Media sosial menjadikan sebuah medium di internet yang memungkinkan pengguna mempresentasikan dirinya maupun berintegrasi, bekerja sama, berkomuikasi dengan penguna lain dengan virtual.

Peran Sektor Perkebunan Dalam Perekonomian (skripsi dan tesis)

Pengembangan dan pembangunan perkonomian suatu wilayah diawali dengan melakukan analisis terhadap struktur dan tingkat kinerja kegiatan ekonomi atau perkonomian wilayah yang bersangkutan. Analisis ini berguna untuk mengetahui karakteristik dari struktur perekonomian yang ada dalam suatu wilayah serta mengetahui pertumbuhan atau kemampuan tumbuh kembang perekonomian wilayah dari tahun-ketahun, serta peran dari masing-masing sektor ekonomi pada suatu wilayah, sehingga dapat mengenali sektor unggulan yang dapat dikembangkan sehinggga mempercepat pertumbuhan ekonomi wilayah. Peran sektor unggulan dalam usaha pengembangan dan pembangunan ekonomi wilayah ditujukan guna mengatasi keterbatasan dana dan sumber daya serta meningkatkan efisiensi pemanfataan sumber daya yang tersedia untuk dapat melaksanakan pembangunan dan pengembangan kota yang optimal dan dalam rangka optimasi dan efisiensi pembangunan perekonomian daerah sebagai landasan dalam perencanaan pembangunan. Dalam lingkup pengarahan pembangunan diperlukan adanya suatu prioritas. Penentuan prioritas 34 pembangunan dapat didasarkan kepada suatu pendapat yang menyangkut bahwa pertumbuhan dari suatu wilayah akan dapat dioptimalkan apabila kegiatan pembangunan dapat dikonsentrasikan pada aktivitas-aktivitas sektor ekonomi yang dapat memanfaatkan kekuatan atau kelebihan yang secara alamiah dimiliki oleh wilayah yang bersangkutan (Syafizai, 1985). Penentuan prioritas pembangunan diperlukan karena adanya keterbatasan dalam hal waktu, pendanaan, tenaga, dan sumber daya yang tersedia. Salah satu cara untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah adalah dengan cara melakukan kajian dan analisis terhadap kegiatan perekonomian atau sektor ekonomi unggulan yang ada guna mengetahui kemampuan kinerja serta tumbuh kembang dari masing-masing sektor ekonomi. Kemampuan tumbuh kembang pada salah satu sektor ekonomi akan menjadi faktor penunjang dan penentu atau pemacu dari pertumbuhan sektor yang lainnya. Salah satu faktor terpenting didalam pengembangan wilayah adalah pertumbuhan perekonomian wilayah dengan cara mengembangkan sektor-sektor unggulan yang ada. Pemahaman terhadap struktur ekonomi wilayah menjadi hal yang sangat penting untuk dapat menilai permasalahan dan potensi serta peluang yang dimiliki oleh suatu wilayah atau daerah yang bersangkutan. Suatu gambaran yang komprehensif mengenai struktur ekonomi wilayah sangat bermanfaat dalam prencanaan wilayah (Sitohang, 1977). Francois Perroux mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi wilayah disebabkan oleh adanya berbagai kegiatan industri dalam suatu daerah, perkembangan yang terjadi pada kutub-kutub pertumbuhan akan menyebar sepanjang saluran-saluran yang beraneka ragam dengan efek yang beragam pula terhadap keseluruhan kegiatan perekonomian (Sitohang, 1977). (Boundeville,1966), mengemukakan bahwa setiap wilayah mempunyai perbedaan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia pada wilayah tersebut. Sementara cara untuk menyebarkan pertumbuhan ekonomi dengan memilki kutub pertumbuhan yang akan mendorong efek kumulatif kegiatan ekonomi dan menyebarkan ke hinterland, kemampuan suatu sektor kegiatan untuk menyebabkan pertumbuhannya tergantung multiplier effect yang dibuatnya seperti tenaga kerja dan pendapatan.  Seperti diungkapkan tersebut diatas menunjukkan bahwa setiap daerah memilki kekuatan atau kelebihan berupa sumber daya alam maupun sumber daya manusia, yang berbeda yang secara alamiah dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Hal ini menyebabkan sektor unggulan tiap daerah akan berbedabeda. Daerah pedesaan biasanya akan menitik beratkan kegiatan ekonominya pada sektor tersier (pertanian), daerah perkotaan biasanya menitik beratkan kegiatan pada kegiatan sekunder (industri) dan sektor kegiatan tersier (jasa).

Prinsip – Prinsip Ekonomi Dalam Usaha Tani (skripsi dan tesis)

Istilah intensifikasi banyak sekali digunakan di negara kita dan menjadi sangat populer terutama dalam hubungan usaha peningkatan produksi padi. Intensifikasi dimaksudkan penggunaan lebih banyak faktor produksi tenaga kerja dan modal atas sebidang tanah tertentu untuk mencapai hasil produksi yang lebih besar. Sebaliknya ekstensifikasi pada umumnya diartikan sebagai perluasan pertanian dengan cara mengadakan pembukaan tanah – tanah pertanian baru. Pengertian ekstensifikasi yang demikian sebenarnya tidak tepat karena ditekankan pada akibat baru atau konsekuensi dari pengerjaan tanah yang tidak intensif. Kalau dalam pengerjaan tanah yang makin intensif petani terus menerus menambah tenaga modal atas tanah yang sudah ada maka dalam pengerjaan tanah yang ekstensif penggunaan tenaga dan modal dikurangi untuk dipindahkan ke tanah pertanian lainnya (Mubyarto, 1889). Terdapat beberapa sebab ekonomi mengapa usahatani memproduksikan lebih dari satu komoditi saja atau usaha bagian (enterprise). Bagi petani yang mengusahakan tanaman tumpangsari di Kecamatan Soreang tujuan utamanya adalah mendapatkan hasil produksi yang optimal dari sawah atau ladang. Selain itu karena umur tanaman – tanaman yang bersangkutan tidak sama, maka ini berarti menjamin tersedianya bahan makanan sepanjang tahun. Dengan cara ini resiko dapat dikurangi. Kalau satu macam tanaman tidak berhasil maka diharapkan tanaman lainnya akan memberikan hasil. Alasan untuk mengurangi resiko kerugian dengan semacam diversifikasi ini merupakan praktek yang biasa bagi petani yang memang biasanya tidak berdaya menghadapi kekuatan – kekuatan alam yang tidak dapat dikontrolnya. Dengan adanya keperluan petani yang beraneka ragam, hasil – hasil produksi petani dijual untuk ditukarkan dengan hasil – hasil produksi pertanian lainnya yang dihasilkan keluarga lain dan akhirnya timbullah spesialisasi. 31 Perdaganan merupakan akibat logis dari adanya spesialisasi antar daerah yang merupakan faktor ekonomi yang sangat penting. Adanya spesialisasi dalam produksi pertanian antar daerah yang satu dengan daerah yang lain yang menimbulkan perdagangan dapat diterangkan secara sederhana dengan teori keuntungan absolut (law of absolute advantage) dan teori keuntungan komparatif (law of comparatif advantage). Prinsip keuntungan absolut adalah suatu negara akan berspesialisasi dalam produksi barang di mana negara tersebut mempunyai absolute advantage. Apabila spesialisasi dijalankan terlalu jauh, maka suatu daerah tertentu dapat menjadi terlalu tergantung pada satu jenis hasil pertanian saja. Dalam berbagai daerah nampaknya baik spesialisasi maupun diversifikasi masing – masing mempunyai tempat dan pertimbangan sendiri – sendiri. Adapun faktor – faktor yang mendorong spesialisasi bagi suatu daerah dapat berupa: 1. Tidak adanya sumber – sumber alam yang berarti; 2. Keuntungan komparatif yang tinggi dalam suatu produk, baik dalam persediaan bahan baku maupun dalam permodalan dan keterampilan manusia; 3. Hubungan transpor dan komunikasi yang cukup baik dengan daerah – daerah lain sehingga keburukan – keburukan spesialisasi tidak perlu tumbul; 4. Industri pertanian yang bersangkutan memungkinkan pembagian kerja yang baik dengan daerah – daerah sekitarnya, sehingga membawa keuntungan secara nasional. Sebaliknya ada faktor – faktor lain yang membenarkan kecenderungan ke arah diversifikasi, antara lain: 1. Prosepek jangka panjang yang kurang menentu dari satu hasil utama; 2. Tersedianya sumber – sumber alam lain yang mempunyai prospek yang baik dan permintaan yang lebih elastis; 3. Biaya transpor yang tinggi dalam ekspor – impor antar daerah. Spesialisasi tidak hanya pada satu hasil pertanian saja tetapi pada dua atau tiga, sedangkan diversifikasi juga tidak dijalankan terlalu jauh tetapi hanya pada beberapa hasil pertanian yang benar – benar dapat diusahakan dengan cukup mengungtukan (Mubyarto, 1989)

Teori – Teori Pembangunan dan Pengembangan Ekonomi Pertanian (skripsi dan tesis)

Pembangunan ekonomi dengan pemberian prioritas pada sektor pertanian bukan hanya kasus yang terjadi di Negara Indonesia terutama di Kecamatan Soreang saja, tetapi merupakan garis kebijaksanaan yang mulai populer sejak awal tahun enam puluhan. Pembangunan pertanian didorong dari segi penawaran dan dari segi fungsi produksi melalui penelitian – penelitian, pembangunan teknologi pertanian yang terus menerus, pembangunan prasarana sosial dan ekonomi di pedesaan dan investasi – investasi oleh suatu negara dalam jumlah besar. Pertanian di suatu wilayah kini dianggap sebagai sektor pemimpin (leading sector) yang diharapkan mendorong perkembangan sektor – sektor lainnya. Untuk keberhasilan suatu pembangunan pertanian diperlukan beberapa syarat atau pra – kondisi untuk setiap daerah. Pra – kondisi tersebut meliputi bidang teknis, sosial budaya dan lain – lain. Menurut (A. T Mosher dalam Myrna, 2005), menjelaskan bahwa Mosher telah menganalisa syarat – syarat mutlak 28 dibanyak negara dan menggolongkannya menjadi syarat mutlak dan syarat pelancar. Menurut Mosher ada lima (5) syarat yang tidak boleh dihilangkan dalam pelaksanaan pembangunan pertanian. Syarat – syarat mutlak tersebut adalah: 1. Adanya pasar untuk hasil – hasil usaha tani; 2. Teknologi yang senantiasa berkembang; 3. Tersedianya bahan – bahan dan alat – alat produksi secara lokal; 4. Tersedianya pengangkutan yang lancar dan kontinu. Selain syarat – syarat mutlak, terdapat syarat – syarat yang tidak mutlak tetapi jika ada benar – benar sangat memperlancar pembangunan pertanian. Syarat – syarat tersebut adalah: 1. Pendidikan Pembangunan; 2. Kredit produksi; 3. Kegiatan gotong – royong petani; 4. Perencanaan sosial pembangunan pertanian. Menurut (Hanani, Ibrahim, Purnomo, 2003), dalam mengembangkan usaha pertanian kegiatan utama yang harus dilakukan peningkatan produksi barang pertanian serta mendorong petani, meningkatkan produktifitas pertanian serta mendorong pengembangan komoditas yang sesuai dengan potensi wilayah. Kualitas dan kuantitas yang baik dari produk pertanian yang dihasilkan petani sangat mempengaruhi pendapatan petani. Pasarpun sangat menuntut kualitas produk sejalan dengan semakin meningkatnya kesadaran dan tingkat pendapatan masyarakat. Syarat – syarat dalam pengembangan pertanian yaitu: 1. Kelestarian Lingkungan Pertanian merupakan usaha yang sangat tergantung pada alam. Iklim dan lahan merupakan komponen utama yang mempengaruhi keberhasilan usahatani. Kelestarian alam merupakan upaya yang harus dilakukan petani agar usahataninya berhasil dan berkelanjutan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pengembangan pola – pola usahatani terpadu diantara komoditi pangan, holtikultura, peternakan dan perkebunan. Sebagai contoh 29 pengusahaan pertanian tanaman pangan didukung oleh usaha peternakan dengan menyediakan bahan organik bagi lahan. 2. Dukungan Kelembagaan Agribisnis Dari sisi pengelolaan, pengembangan pertanian selama ini belum terpola. Struktur pertanian yang diperluan dan dikembangkan adalah sturktur pertanian industrial (proses konsolidasi usahatani disertai dengan koordinasi secara vertikal) yang memungkinkan terjadinya hubun gan fungsional saling menguntungkan di antara pelaku pertanian. Kegiatan yang diperlukan dalam membangun struktur pertanian industrial tersebut antara lain: (i) pengembangan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) pelaku pertanian terutama petani dalam kewirausahaan agribisnis, (ii) peningkatan pelayanan usaha agribisnis, (iii) pengembangan kelembagaan usaha seperti organisasi petani, kemitraan, kelembagaan pemasaran, koperasi pertanian, dan kelompok usaha lain, dan (iv) pengembangan kemampuan pelayanan seperti penyuluhan, informasi pasar, lembaga finansial dan lainnya. 3. Teknologi Strategis Berbasis Lokal Hal lain yang sangat penting dalam mengembangkan teknologi berbasis lokal adalah tunjangan kelembagaan teknologi. 4. Pendayagunaan dan Perlindungan Sumberdaya Hayati Indonesia mempunyai keanekaragaman sumberdaya hayati dan kekayaan alami yang besar mencakup tanaman pangan, holtikultura, tanaman industri, perkebunan, peternakan, dan perikanan. Keanekaragaman yang melimpah tersebut masih bersifat semu karena baru berupa potensi, sedangkan kemampuan untuk menggali, memanfaatkan dan mengembangkan berdasarkan teknologi mutakhir, belum optimal. Dengan ketersediaan sumberdaya hayati yang lengkap dan aman maka berbagai kegiatan pendukung dalam mengembangkan teknologi dan perluasan tanaman dapat dengan aman dilakukan. 5. Sistem Informasi Yang Tangguh. Pengembangan sistem informasi pertanian memerlukan dukungan data yang akurat, sistem informasi dan layanan data dan informasi pertanian yang baik.   Dengan sistem informasi yang baik akan dapat dilakukan pemantauan dan penyebarluasan informasi pertanian secara cepat, akurat dan murah.

Pertumbuhan Ekonomi Wilayah (skripsi dan tesis)

Yang disebut dengan pertumbuhan ekonomi (economic growth) adalah perkembangan output per unit input. Sedangkan yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi wilayah adalah pertambahan pendapatan masyarakat yang terjadi diwilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi diwilayah tersebut. Pertambahan pendapatan diukur dalam nilai riil, artinya dinyatakan dalam harga konstan. Hal itu juga sekaligus menggambarkan balas jasa bagi faktor – faktor produksi yang beroperasi di daerah tersebut (tanah, 27 modal, tenaga kerja, dan teknologi), yang berarti secara kasar dapat menggambarkan kemakmuran daerah tersebut (Tarigan, 2005). Menurut (Boediono dalam Tarigan, 2005), pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output itu harus lebih tinggi dari persentase pertambahan jumlah penduduk dan ada kecenderungan dalam jangka panjang bahwa pertumbuhan itu akan berlanjut. Menurut (Lewis dalam Jhingan, 1994), pendorong utama pertumbuhan ekonomi ialah upaya untuk berhemat (ekonomis), peningkatan pengetahuan dan penerapannya di bidang produksi, dan peningkatan jumlah modal atau sumber lain per kepala. Tiga pendorong ini, meski secara konsep dapat dibedakan, namum biasanya nampak berbarengan. Pertumbuhan ekonomi bukanlah suatu proses sederhana berupa peningkatan volume modal per kepala tetapi juga merupakan hasil pengubahan pandangan masyarakat dan lembaga perkenomian (Jhingan, 1994).

Pembangunan Ekonomi Wilayah (skripsi dan tesis)

Negara terbelakang yang berhasrat maju harus memenuhi prasyarat – prasyarat dasar bagi pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi tidak dapat dicapai semata – mata dengan menyingkirkan hambatan yang menghalangi kemajuan ekonomi (Jhingan, 1994). Menurut (Jhingan 1994), Pengertian pembangunan (development) berbeda dengan pertumbuhan (growth). Adapun yang dimaksud pembangunan ekonomi (economic development) tidak hanya mempersoalkan output yang dihasilkan dan didistribusikan, tetapi juga perubahan komposisi output dalam sektor-sektor ekonomi, tetapi pertuPembangunan ekonomi berkaitan erat dengan “kekayaan manusia, sikap sosial, kondisi politik dan latar sejarah” maka kondisi ekonomi saja tidaklah cukup. Kondisi politik, psikologi, sosial dan budaya merupakan syarat yang sama pentingnya dengan kondisi ekonomi. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa syarat – syarat dari pembangunan ekonomi, yaitu:
1. Atas Dasar Kekuatan Sendiri Proses pertumbuhannya harus bertumpu pada kemampuan perekonomian di dalam negeri. Pembangunan harus diprakarsai oleh negara dan tak dapat dicangkokkan dari luar.
2. Menghilangkan ketidaksempurnaan pasar Ketidaksempurnaan pasar menyebabkan immobilitas faktor dan menghambat ekspansi sektoral, dan pembangunan. Untuk menghilangkan hal ini, lembaga sosio – ekonomi yang ada harus diperbaiki dan diganti dengan yang lebih baik. Tujuan perekonomian yang demikian adalah penggarapan secara maksimum dan penggunaan secara efisien sumber – sumber yang ada.
3. Perubahan Struktural Perubahan struktural semacam ini menyebabkan kesempatan kerja semakin banyak, dan produktivitas buruh stok modal, pendayagunaan sumber – sumber baru serta perbaikan teknologi akan semakin tinggi.
 4. Pembentukan Modal Merupakan faktor yang paling penting dan strategis di dalam proses pembangunan ekonomi. Pembentukan modal bahkan disebut sebagai “kunci utama menuju pembangunan ekonomi”.
 5. Kriteria Investasi Yang Tepat
6. Persyaratan Sosio – Budaya, dan
7. Administrasi.

Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) (skripsi dan tesis)

 

Pencarian penyebab dari permasalahan tidak akan menyelesaikan permasalahan apabila tidak diberikan solusi perbaikan. Apabila suatu penyebab permasalahan telah ditemukan, maka harus diberikan solusi perbaikan agar kedepannya kegagalan tersebut tidak muncul kembali. Solusi perbaikan tidak harus diberikan kepada semua permasalahan apabila terdapat banyak permasalahan, tetapi dapat dikategorikan berdasarkan tingkat permasalahan. Alat yang dapat membantu untuk mencarikan solusi berdasarkan tingkat kepentingan adalah Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). FMEA adalah suatu prosedur terstruktur untuk mengidentifikasi dan mencegah sebanyak mungkin mode kegagalan (Gaspersz, 2002). FMEA digunakan untuk mengidentifikasi sumber-sumber dan akar penyebab dari suatu masalah. Mode kegagalan adalah hal hal apa saja yang termasuk dalam kecacatan atau kegagalan dalam desain, kondisi diluar batas spesifikasi yang telah ditetapkan atau direncanakan, atau perubahan dalam produk yang menyebabkan terganggunya fungsi dari produk itu. Dari definisi FMEA diatas dapat disimpulkan bahwa FMEA adalah suatu perangkat yang ditujukan untuk melakukan langkah pencegahan yang paling penting dalam sistem, desain, proses atau pelayanan untuk mencegah kegagalan dan kesalahan sebelum sampai pada pelanggan.
 a. Menentukan Nilai Severity, Occurrence, Detection
 Setelah memehami proses produksi, langkah berikutnya dalam menjalankan FMEA adalah melakukan identifikasi serta memperkirakan semua kerusahakan yang terjadi. dalam identifikasi tersebut dapat ditentukan besarnya RPN (Risk Priority Number). RPN merupakan peringkat atas permasalahan kegagalan yang dihadapi oleh 18 perusahaan. RPN didapat dari perkalian antara 3 kriteria (Chysler, 2008), yaitu:
1) Severity Severity yaitu mengidentifikasi tingkat keseriusan akibat sebuah kerusakan yang dilihat dari sudut pandang keseluruhan sistem yang ada. Severity juga dapat diartikan bahwa tingkat pengaruh permaslahan terhadap proses lainnya atau proses tersebut. Seperti halnya waiting time yang terjadi sehingga menyebabkan keterlambatan, dapat diukur dengan perbedaan waktu yang dijalan dengan yang direncanakan.

2) Occurrence Occurrence yaitu mengidentifikasi tingkat frekuesi atau keseringan terjadinya kerusakan. Apabila permasalahan yang sering terjadi dalam proses maka akan tinggi nilai occurrence nya, Dengan memperkirakan kemungkinan occurrence pada skala 1 sampai 10
3)Detection Detection yaitu mengidentifikasi kemungkinan atau probabilitas bahwa suatu kerusakan dapat ditemukan.
Dari ketiga kriteria tersebut kemudian dilakukan penilaian dengan memberikan bobot untuk setiap kriteria. Setelah itu dilakukan perhitungan untuk mendapatkan RPN dengan mengalikan ketiga kriteria tersebut. RPN merupakan peringkat dari keseriusan akibat (Severity), tingkat keseringan terjadinya kegagalan disebut Occurrence, dan kemampuan untuk mendeteksi kegagalan sebelum terjadi pada pelanggan (Detection). RPN dapat ditunjukkan dengan persamaan sebagai berikut : RPN = S * O * D Dari hasil perhitungan RPN dilakukan pengurutan berdasarkan nilai RPNnya, dimulai dari nilai terbesar hingga terkesil. Yang paling kritis ditandakan dengan nilai RPN yang tertinggi, sehingga dapat ditentukan skala prioritas. Dengan demikian dapat dilakukan langkah 22 pencegahan untuk mencegah terjadinya permasalahan yang ada pada masa mendatang.

Metode Diagram sebab akibat (skripsi dan tesis)

Permasalahan pasti timbul karena ada suatu hal yang memicunya. Hal hal yang menyebabkan permasalahan biasa disebut dengan penyebab permasalahan. Penyebab permasalahan bisa terjadi karena beberapa hal. Karena itu, perusahaan harus mengidentifikasikan penyebab penyebab yang muncul sehingga dapat memilah penyebab yang terjadi dari suatu permasalahan. Alat analisis yang dapat digunakan dalam mencari penyebab permasalahan adalah diagram sebab akibat. Diagram sebab akibat menurut heizer dan render (2009) adalah sebuah teknik yang skematis yang digunakan untuk mengetahui letak letak masalah kualitas yang mungkin terjadi. Diagram Cause and Effect atau Diagram Sebab Akibat adalah alat yang membantu mengidentifikasi, memilah, dan menampilkan berbagai penyebab yang mungkin dari suatu masalah atau karakteristik kualitas tertentu. Diagram ini menggambarkan hubungan antara masalah dengan semua faktor penyebab yang mempengaruhi masalah tersebut. Mengenali akar penyebab masalah atau sebab mendasar dari akibat, masalah, atau kondisi tertentu. Diagram sebab akibat ini terdiri dari beberapa bagian seperti permasalahan yang terjadi yang terletak dibagian kepala sebelah kanan diagram, 16 yang kedua adalah faktor manusia, mesin, metode dan material yang biasa disebut 4M yang terletak dibagian atas dan bawah tulang utama diagram.

Kualitas (skripsi dan tesis)

Setiap perusahaan menginginkan produknya dapat diterima oleh masyarakat. Profit akan didapat apabila produk yang dijual oleh perusahaan dapat dibeli oleh perusahaan. Untuk mendapatkan tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaan, manajemen harus memikirkan bagaimana kualitas yang ada pada produk perusahaan. Kualitas adalah kemampuan sebuah produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Kualitas dapat juga diartikan sebagai kemampuan perusahaan dalam memenuhi rancangan atau spesifikasi atas produk dan jasa yang telah ditetapkan oleh perusahaan (Heizer dan Render, 2009). Bagi manajer operasional kualitas berbasis manufaktur. Dengan membuat produk dengan benar sejak awal merupakan kualitas yang memandang dari sisi operasional Dengan demikian kualitas dapat disimpulkan menjadi kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan dan 15 rancangan dan spesifikasi yang telah ditetapkan dengan menjalankan proses yang benar sejak awal.

Metode Pemetaan Fungsi Waktu (skripsi dan tesis)

Dalam mempertimbangkan untuk menganalisis desain proses, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan sewaktu melakukan analisis dan desain proses seperti manfaat proses yang diajukan mampu atau tidak untuk menghilangkan langkah-langkah yang tidak memberi nilai tambah. Untuk menangani kompleksitas desain dan lakukan desain ulang terhadap proses dapat dilakukan dengan bantuan sejumlah alat. Salah satunya adalah pemetaan fungsi waktu (Heizer dan Render, 2009). Dalam proses pasti terdiri dari berbagai aktivitas yang harus dilakukan, tersusun dari input hingga menjadi output. Permasalahan dapat terjadi di beberapa aktivitas atau bahkan dapat terjadi di seluruh aktivitasnya. Perusahaan harus menemukan aktivitas yang bermasalah dan mencarikan solusi atas permasalahan yang terjadi. Maka dari itu, pemetaan fungsi waktu dapat dilakukan dalam hal ini. Dengan pemetaan fungsi waktu (time-function mapping) membantu untuk mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan seperti langkah tambahan, pengulangan, dan keterlambatan yang tidak perlu. Pemetaan fungsi waktu terdiri dari dua diagram, yaitu diagram waktu dasar dan diagram waktu target. Diagram waktu dasar merupakan proses atau aktivitas yang dilakukan sebelum melakukan penghematan waktu. Pemetaan waktu target merupakan proses yang dilakukan dalam produksi setelah dilakukannya penghematan (Heizer dan Render, 2009)

Pemetaan fungsi waktu pada umumnya adalah untuk menghilangkan
pemborosan. Pemborosan (waste) dapat didefinisikan sebagai segala aktivitas
kerja yang tidak memberi nilai tambah dalam proses transformasi input menjadi
output. Terdapat tujuh pemborosan (waste) yang dikenal dalam dunia industri
dan ikut mempengaruhi biaya produksi. Ketujuh jenis pemborosan tersebut yang
dirumuskan oleh Mr. Taiichi Ohno (2009) yaitu :
a. Produksi yang berlebih (Overproduction)
Overproduction (produksi berlebih) adalah memproduksi melebihi
dari yang dibutuhkan, overproduction merupakan waste yang
memberi dampak paling serius. Memproduksi sesuatu lebih awal dan
dalam jumlah yang lebih besar dari pada yang dibutuhkan merupakan
overproduction.
b. Menunggu (waiting)
Waiting (menunggu) adalah semua hal yang membuat aktivitas
terhenti, baik pada mesin maupun pekerja sehingga menimbulkan
pemborosan. Dapat berupa proses menunggu kedatangan material,
informasi, peralatan dan perlengkapan sedangkan Pekerja hanya
mengamati mesin yang sedang berjalan, atau material yang keluar
dari satu proses dan tidak langsung dikerjakan di proses selanjutnya.
c. Transportasi yang berlebih (Transportation)
13
Transportasi adalah perpindahan produk antar proses merupakan
kegiatan yang tidak menambah nilai dapat berupa pemborosan waktu
karena jarak gudang atau bahan baku dari mesin satu ke mesin lainya.
d. Proses yang berlebih (Overprocessing)
Overprocessing (proses yang tidak tepat) adalah melakukan proses
atau aktivitas yang tidak perlu dan tidak memberi nilai tambah pada
produk hanya menambah biaya dan waktu produksi.
e. Persedian yang tidak perlu ( Unnecessary inventory)
Inventory adalah simpanan cadangan yang berlebih. Inventory dapat
berupa bahan baku, work in process, dan produk jadi yang berlebih,
adanya inventory berlebih membutuhkan perlakuan ekstra yang
seharusnya bisa diminimalkan, seperti lokasi penyimpanan,
administrasi, dan biaya. Dampak lain dari inventory adalah
meningkatnya lead time.
f. Gerakan yang tidak perlu (Unnecessary motion)
Unnecessary Motion adalah dapat berupa gerakan-gerakan yang
berlebih atau tidak diperlukan. Dengan kata lain operator mesin tidak
memberi nilai tambah kepada produk.
g. Produk cacat (Defect)
Defect (produk cacat) adalah hasil produksi yang tidak sesuai dengan
harapan, adanya proses pengerjaan ulang (rework) dan klaim dari
pelanggan. Ini merupakan pemborosan, karena perusahaan harus
mengeluarkan biaya, material, tenaga dan waktu ekstra untuk
memperbaiki atau membuat produk pengganti.
Pemborosan di atas adalah berbagai permasalahan yang dapat terjadi di
dalam suatu aktivitas sehingga menjadikan suatu aktivitas terlambat. Dapat
disimpulkan bahwa pemetaan fungsi waktu berfungsi untuk mengidentifikasikan berbagai aktivitas aktivitas yang dijalankan oleh perusahaan dan menilai apakah suatu aktivitas terjadi permasalahan atau tidak.

Tipe Proses Produksi (skripsi dan tesis)

Dalam penentuan tipe proses produksi harus didasarkan pada beberapa faktor seperti kapasitas produk yang akan dihasilkan, kualitas produk yang direncanakan, dan peralatan yang dimiliki internal. Berdasarkan pertimbangan cermat mengenai faktor-faktor tersebut ditetapkan tipe proses produksi yang paling cocok untuk setiap situasi produksi. Menurut Yamit (2002), Macam tipe proses produksi dari berbagai industri dapat dibedakan menjadi 3. Pertama proses produksi terus-menerus adalah proses produksi barang atas dasar aliran produk dari satu operasi ke operasi berikutnya tanpa penumpukan disuatu titik dalam proses. Kedua, proses produksi terputus atau intermitten process. Tipe proses produksi ini sering digunakan di perusaahaan yang memiliki variasi atau jenis produk yang banyak. Ketiga, proses produksi campuran. Tipe tipe tersebut dapat digunakan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki perusahaan .Dapat ditarik kesimpulan bahwa desain atau tipe produksi adalah jenis jenis dalam tahapan transformasi atau 10 penambahan nilai dari input menjadi input yang penentuannya berdasarkan kapasitas, kualitas dan peralatan yang dimiliki oleh perusahaan

Strategi Proses (skripsi dan tesis)

Dalam memproduksi produk atau jasa, perusahaan harus mengetahui sumber daya yang dimiliki dan kapasitas produksi internalnya guna menentukan strategi yang tepat guna untuk produksinya. Strategi operasi berhubungan dengan keputusan tentang desain mengenai proses, dan infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung proses yang bersangkutan. Strategi proses yang dipilih akan berdampak jangka panjang terhadap efisiensi dan produksi, serta fleksibilitas, biaya, dan kualitas barang yang diproduksi Haming dan Nurnajamudin (2011) menjelaskan bahwa strategi pada dasarnya adalah penerjemah visi perusahaan ke dalam rumusan kebijakan jangka panjang untuk dijadikan pedoman dalam menggerakan perusahaan ke tujuan yang telah direncanakan dengan konsisten serta untuk membuat keputusan yang relevan mengenai pemberdayaan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Selanjutnya, strategi operasi merupakan perumusan keputusan tentang desain proses menyangkut tentang pemilihan teknologi produksi, penentuan skala produksi, perencanaan dan pengendalian persediaan, serta pemilihan operasi. Dapat disimpulkan bahwa strategi proses merupakan salah satu metode atau strategi yang dapat menciptakan produk dengan 9 menyesuaikan biaya yang dapat memenuhi keinginan pelanggan. Atau bisa dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan kegiatan produksi dan pelayanan kepada pelanggan guna mewujudkan tujuan perusahaan dan menciptakan kepuasaan pelanggan

Proses Produksi (skripsi dan tesis)

Sebelum produk berada di tangan konsumen, banyak hal yang sudah dilalui suatu produk agar menjadi seperti produk yang diinginkan oleh konsumen. Produk-produk tersebut sudah melalui tahapan transformasi dari masukan menjadi keluaran. Rangkaian atau tahapan transformasi disebut juga proses. Suatu proses adalah setiap bagian dari organisasi yang mengambil input dan mentransformasikannya menjadi output, yang diharapkan akan memiliki nilai tambah bagi organisasi dibandingkan dengan input awalnya (Aulia Ishak,2010). Sementara itu, menurut Ahyari (2002) proses produksi adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah kegunaan suatu barang dan jasa dengan menggunakan faktor produksi yang ada. Melihat kedua definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan memanfaatkan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku agar dapat mendapatkan produk sesuai dengan keinginan perusahaan dan konsumen

Penggunaan tenaga TI eksternal berpengaruh positif terhadap keselarasan TI dan bisnis (skripsi dan tesis)

Disamping tenaga TI eksternal, Chung et al. (2003) melakukan penelitian lanjut yang menghasilkan kesimpulan bahwa keterampilan staf TI internal merupakan faktor yang juga harus disertakan sebagai faktor keselarasan strategi TI dan bisnis (as cited in Makhloufi, 2018). Staf bagian TI yang menguasai pemanfaatan berbagai bentuk teknologi, memiliki wawasan dan pengetahuan tentang manajemen maupun bisnis, serta mampu bekerja secara kooperatif dengan siapapun dan dari bagian manapun dalam organisasi, akan mampu membantu organisasi dalam memberi tanggapan terhadap berbagai perubahan lingkungan eksternal perusahaan (Chung et al., 2003). Luftman (1999) juga mengidentifikasi hal tersebut sebagai faktor yang mendorong terwujudnya keselarasan TI dan bisnis

Komitmen manajemen puncak UMRI terhadap TI berpengaruh positif terhadap keselarasan TI dan bisnis (skripsi dan tesis)

Faktor selanjutnya adalah tenaga TI eksternal, Hasil Evaluasi Diri dalam Renstra Pengembangan UMRI 2014-2018 menyebutkan bahwa UMRI memiliki keterbatasan dalam jumlah dan kompetensi staf operasional TI yang belum optimal. Dengan demikian, terbatasnya jumlah sumber daya manusia pada UPT Teknologi Informasi menjadi salah satu kendala dalam menjalankan strategi TI di UMRI. Untuk mengatasi hal tersebut, UMRI 15 bermitra dengan Universitas Muhammadiyah lain yang tersebar diberbagai Provinsi diseluruh Indonesia dan juga memiliki pihak eksternal seperti vendor dan konsultan yang kompeten dalam bidang TI untuk membantu implementasi TI di UMRI. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Hussin et al. (2002), bahwa tenaga eksternal TI adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keselarasan strategi TI dan bisnis. Begitu juga dengan yang disampaikan oleh Gressgard et al. (2014), bahwa pengetahuan dari pihak eksternal atau provider layanan TI adalah sebuah sumber informasi pendukung yang up-to date dalam melakukan inovasi teknologi informasi didalam sebuah organisasi

Pengaruh Penyelarasan Strategik Terhadap Pencapaian Misi Organisasi (skripsi dan tesis)

Chan, et al. (1997) menemukan bahwa perusahaan yang dapat meraih misi dan menjalankan visi dengan baik adalah perusahaan yang memiliki keselarasan antara strategi bisnis dan strategi sistem informasi yang direalisasikan. Lebih lanjut lagi peran penyelarasan strategi TI dan bisnis dalam pencapaian visi dan misi organisasi adalah untuk:
1. Memastikan bahwa sistem informasi ditargetkan pada daerah penting untuk mencapai visi dan misi bisnis yang sukses (Das, 1991)
2. Memastikan bahwa fungsi sistem informasi mendukung tujuan dan kegiatan organisasi di setiap tingkatan (Lederer, 1989)
3. Meningkatkan pemahaman manajemen puncak tentang pentingnya sistem informasi, dan meningkatkan pemahaman manajemen untuk tujuan bisnis (Newkirk, 2006)
4. Memfasilitasi akuisisi dan penyebaran teknologi informasi yang kongruen dengan kebutuhan kompetitif organisasi daripada pola penggunaan yang ada dalam organisasi (Bowman, 1983)
 5. Meningkatkan sistem informasi dalam organisasi, sehingga secara efektif memfasilitasi dukungan finansial dan manajerial yang diperlukan untuk menerapkan sistem yang inovatif (Das et al., 1991) (Henderson et al., 1987) 6. Memaksimalkan pengembalian investasi teknologi informasi (Avison et al., 2004) 7. Memberikan arahan dan fleksibilitas untuk bereaksi terhadap peluang baru (Avison et al., 2004)

Arti Penting Penyelarasan Strategik (skripsi dan tesis)

Telah banyak literatur yang merujuk pada pentingnya fenomena penyelarasan strategi TI dan dan bisnis.Luftman dan Brier (1999) menyatakan bahwa penyelarasan strategi TI dan bisnis dibutuhkan agar penerapan TI harmoni dengan tujuan, strategi, dan kebutuhankebutuhan bisnis.Boar (1994) menyebutkan bahwa organisasi perlu membangun, menyelaraskan, dan mengembangkan keunggulan kompetitif melalui pemberdayaan sistem/teknologi informasi untuk menjawab tantangan kompetisi global. Khandelwal (2001) menegaskan bahwa perusahaan yang ingin mewujudkan tujuan perusahaan mereka, Teknologi Informasi yang mendukung proses bisnis organisasi harus memberikan informasi manajemen yang tepat, pada waktu yang tepat. Untuk itu, TI dalam suatu perusahaan wajib selaras dengan tujuan organisasi. Menurut Premkumar dan King (1999), penyelarasan strategik adalah hubungan harmonis antara rencana sistem informasi dengan rencana bisnis. Melalui penyelarasan antara rencana sistem informasi dan rencana bisnis, sumber daya informasi akan mendukung tujuan bisnis dan meraih keuntungan dalam meraih peluang guna pemanfaatan strategis sistem informasi. 13 Dalam keselarasan TI dan bisnis, terdapat empat tingkatan integrasi yaitu sebagai berikut (Jogiyanto, 2005): 1. Administrative integration adalah integrasi yang terjadi antara perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi masih sangat lemah. Tidak ditemukan usaha yang signifikan dari penggunaan sistem teknologi informasi untuk mendukung rencana-rencana bisnis. 2. One-way sequential integration adalah hubungan yang terjadi hanya satu arah, yaitu perencanaan strategi sistem teknologi informasi mendukung perencanaan strategi bisnis. 3. Two-way reciprocal integration adalah integrasi yang terjadi pada perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi saling mendukung untuk mempengaruhi strategi-strategi bisnis. 4. Full integration, Integrasi ini menunjukkan tidak adanya perbedaan antara perencanaan strategi bisnis dan perencanaan strategi sistem teknologi informasi dan keduanya dilakukan bersamaan di dalam satu perencanaan yang terintegrasi. Dengan demikian, peningkatan kinerja dapat dicapai dan keunggulan kompetitif akan diperoleh sehingga organisasi dapat terus bertumbuh serta mampu bertahan dalam kompetisi yang kian sengit.

Definisi Keselarasan Bisnis – TI (skripsi dan tesis)

Keselarasan strategi TI – strategi bisnis adalah implementasi aplikasi teknologi informasi dengan benar, tepat waktu, dan sejalan dengan strategi bisnis, tujuan maupun kebutuhan perusahaan. Definisi keselarasan tersebut menunjuk pada dua hal, yaitu bagaimana TI diselaraskan dengan bisnis, dan bagaimana bisnis mampu atau dapat selaras dengan TI (Luftman, 2000). Integrasi dari fungsi-fungsi yang ada didalam organisasi perlu diperhatikan dalam proses menyelaraskan strategi TI dan bisnis. Hal tersebut penting dilakukan secara berkala untuk memastikan bahwa TI selalu berada diarah yang benar sesuai dengan bisnis organisasi. Mengingat bahwa strategi bisnis itu sendiri bersifat dinamis dan mudah berubah mengikuti kondisi pasar. Lebih rinci Kefi dan Kalika (2005) menjabarkan perspektif penyelarasan strategi sebagai berikut: a. Persepsi peran strategis sistem/teknologi informasi diukur dari tingkat komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan pemanfaatan sumberdaya sistem/teknologi informasi. Tingkat komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan sistem/teknologi informasi menunjukkan tingkat strategis sistem/teknologi informasi tersebut dalamsuatu organisasi. Dengan kata lain, komitmen manajemen puncak terhadap implementasi dan sistem/teknologi informasi berbanding lurus dengan ketangguhan peran strategis suatu organisasi. b. Kompetensi sistematis sistem/teknologi informasi membangun keunggulan komparatif unik yang dimiliki oleh perusahaan. Artinya jika semakin kompeten sistem/teknologi informasi semakin menunjukkan nilai diferensi atau keunikan suatu organisasi, begitu pula sebaliknya.
 Beberapa literatur yang lain, penyelarasan strategik didefinisikan sebagai: a. Relationship, yang mana tujuan khusus dari strategi sistem/teknolog informasi perlu dikustomisasi dengan tujuan organisasi (Zviran, 1990). b. Partnership, yang mana digunakan untuk menggambarkan hubungan kerja yang mencerminkan komitmen jangka panjang, rasa saling kerjasama risikodan manfaatnya, dan kualitas lain yang sesuai dengan konsep dan teori -eori pengambilan keputusan (Henderson, 1990). c. Sejauh mana strategi teknologi/sistem informasi saling mendukung strategi bisnis (Luftman et al., 1993). d. Integrasi kemampuan internal dan fungsional antara strategi bisnis dan strategi IS/IT dan bagaimana integrasi ini penting untuk mendapatkan keuntungan kompetitif (Henderson & Venkatraman, 1993). e. Sejauh mana misi, tujuan, dan perencanaan teknologi/sistem informasi yang mendukung misi, tujuan, dan perencanaan bisnis (Reich & Benbasat, 1996)

Strategi TI (skripsi dan tesis)

Dalam sebuah perusahaan, strategi TI secara umum memiliki beberapa peranan penting yang tidak dapat diabaikan, diantaranya adalah sebagai berikut: a. Minimize Risk Bisnis selalu akrab dengan risiko, hal tersebut tidak dapat dihindari namun dapat diminimalisir. Risiko kerap muncul dari lingkungan dan faktor eksternal yang berada diluar kontrol perusahaan. Untuk itu TI berperan dalam mengurangi risiko dengan bantuan software forecasting, planning, decision support, dan lain-lain. b. Reduce Cost Upaya untuk mengurangi biaya operasional perusahaan secara langsung akan menambah profitabilitas perusahaan tersebut. Penerapan TI mampu mengurangi biaya operasional perusahaan dengan cara menghilangkan proses yang tidak perlu, mempersingkat alur proses bisnis, otomatisasi proses, serta mengurangi tenaga kerja. c. Added Value Kepuasan pelanggan dapat diciptakan dengan pemanfaatan TI.Nilai tersebut selain untuk memuaskan pelanggan juga digunakan sebagai pembentuk hubungan baik dengan pelanggan untuk jangka panjang. d. Create New Realities Munculnya berbagai teknologi baru dalam dunia internet mempengaruhi gaya hidup manusia. Mulai dari berbelanja online melalui e-commerce, transaksi pembayaran online melalui mobile banking, hingga layanan publik yang diadakan pemerintah melalui egovernment. Hal ini membuktikan bahwa TI dapat menciptakan realita baru didalam masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi maka persaingan juga semakin ketat. Oleh sebab itu pihak manajemen sangat dituntut untuk memiliki strategi TI yang baik untuk menopang jalannya strategi bisnis perusahaan.Perencanaan strategis TI harus selalu meningkat dari waktu ke waktu dan hal ini menjadi tantangan yang sangat serius bagi manajemen organisasi.

Strategi Bisnis (skripsi dan tesis)

Strategi bisnis adalah rangkuman pernyataan misi atau visi organisasi sehingga ada titik fokus yang jelas dan konsisten (King, 1978).Strategi bisnis berguna untuk memahami kompleksitas kompetitif melalui pendekatan yang sistematis dengan tujuan untuk mencapai keunggulan kompetitif (Venkatraman, 1993). Henderson & Venkatraman (1993)menjabarkan strategi bisnis dan TI dalam beberapa poin, yaitu: a. Digunakan sebagai alat untuk mempercepat perubahan dengan mendefinisikan arah yang harus diikuti untuk mengubah keadaan saat ini. b. Dirumuskan dengan melakukan analisa lingkungan dan dapat digunakan sebagai alat analisis untuk memprediksi risiko bisnis dan peluang masa depan. c. Dapat digunakan untuk mengalokasikan sumber daya perusahaan sebagai pengambil keputusan. d. Sebagai acuan untuk memastikan keputusan yang sejalan dengan fokus perusahaan. e. Alat manajemen analisis yang digunakan untuk perencanaan masa depan bisnis.

Pengaruh Sistem Informasi akuntansi terhadap Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Ivana Mamic (2006) bahwa informasi akuntansi yang berkualitas dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi (SIA) yang mengoptimalkan operasi sistem akuntansinya, karena Sistem informasi akuntansi yang berkualitas akan dijadikan manajer untuk pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian. Dan juga sistem informasi akuntansi yang berkualitas akan menghasilkan manajemen bisnis yang berkualitas. 39 Sistem informasi akuntansi bervariasi antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya walaupun satu jenis. Sistem informasi akuntansi mengolah data dalam jumlah besar karena didalamnya meliputi berbagai aktivitas pengolahan transaksi seperti aktivitas pengumpulan data, pengolahan, penyimpanan, dan dokumentasi diberbagai fungsi operasi atau bagian suatu organisasi. Jadi walaupun sistem informasi akuntansi mengadopsi konsep informasi yang berkualitas akan tetapi bobot aktivitasnya lebih banyak berorientasi kepada pengolahan data. (Azhar Susanto, 2010) Menurut Hongjiang Xu (2009) bahwa dalam Sistem Informasi Akuntansi yang berkualitas, maka kualitas informasi yang dihasilkan akan mempengaruhi keberhasilan suatu struktur organisasi. Artinya, kualitas informasi merupakan suatu keunggulan kompetitif bagi suatu organisasi. Di dalam suatu satuan usaha ditunjukkan dengan struktur organisasi. Pemahaman pola – pola distribusi, wewenang, dan tanggung jawab adalah esensiil bagi penetapan kebutuhan informasi dalam suatu organisasi. Sebaliknya kebutuhan informasi menentukan struktur kegiatan pengumpulan dan pengolahan data yang diperlukan di dalam sistem informasi akuntansi. Oleh karena itu, struktur kegiatan pengumpulan, pengolahan, dan pelaporan data di dalam suatu sistem informasi akuntansi harus secara pararel erat dengan struktur organisasi. Pilihan suatu perusahaan mengenai struktur organisasinya mempunyai implikasi yang penting bagi SIA, tujuannya untuk menyediakan informasi keuangan bagi setiap unit organisasi untuk membantu dalam perencanaan dan pengendalian 40 operasinya. Agar dapat menyediakan informasi keuangan yang relevan salah satunya harus memahami struktur organisasi. (Barry, 1982) Keberadaan suatu SIA dalam suatu organisasi tidak lain adalah untuk dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi para penggunanya dalam proses pengambilan keputusan. Hal itu dikarenakan untuk dapat menghasilkan informasi yang berkualitas, diperlukan adanya suatu SIA yang handal dalam memproses data dan transaksi sehingga informasi yang dihasilkan dapat bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan (Krismiaji, 2002). Kemudian menurut (Romney & Steinbart:2003), SIA yang dapat diandalkan adalah sistem yang mempunyai pengendalian memadai sehingga informasi yang dihasilkan oleh sistem tersebut dapat diandalkan untuk digunakan dalam pengambilan keputusan, dalam hal ini pengendalian merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari sistem informasi akuntansi yang ada. Semakin baik kualitas informasi yang dimiliki oleh suatu organisasi, maka akan semakin baik pulalah komunikasi yang terjadi di dalamnya. Dan semakin terintegritasinya suatu organisasi, informasi yang berkualitas akan meningkatkan kualitas pemahaman para pengelola organisasi tersebut dalam melihat perubahan – perubahan yang terjadi baik di dalam maupun di luar organisasi, sehingga para pengelola organisasi akan dengan cepat dan akurat menanggapi perubahan yang timbul. Melihat peran informasi yang begitu tinggi bagi organisasi maka organisasi menjadi sangat tergantung pada sistem informasi. Dalam hal ini sistem informasi akuntansi memperlakukan informasi sebagai sumber daya yang sangat 41 berrharga yang turut menentukan dapat tidaknya terus beroperasi dan bersaing. (Azhar Susanto, 2004) Salah satu komponen SIA adalah software atau perangkat lunak yang merupakan kumpulan dari perintah-perintah yang tersusun secara sistematis untuk melakukan pengolahan data. Adapun software yang digunakan DJP dalam menghimpun penerimaan negara melalui pembayaran pajak adalah suatu core system aplikasi Modul Penerimaan Negara (MPN) yang berlaku efektif sejak 1 Januari 2007. Sistem aplikasi MPN memungkinkan penerimaan negara disajikan secara realtime melalui jaringan sistem informasi yang terhubung secara online dengan Bank Persepsi, Bank Devisa Persepsi, dan Pos Persepsi (Heryanto Sijabat:2011). Sistem aplikasi MPN sendiri merupakan modul penerimaan yang memuat serangkaian prosedur mulai dari penerimaan, penyetoran, pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan yang berhubungan dengan penerimaan negara dan merupakan bagian dari Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara atau biasa disebut SPAN (PMK No: 02/PMK.05/2007).

Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak Terhadap Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Organisasi adalah pembinaan hubungan wewenang dan dimaksudkan untuk mencapai koordinasi yang struktural, baik secara vertikal, maupun secara horizontal diantara posisi–posisi yang telah diserahi tugas–tugas khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama. Jadi organisasi adalah hubungan struktural yang mengikat/menyatukan perusahaan dan kerangka dasar tempat individu–individu berusaha, dikoordinasi (Koontz & Donnel:2010). Sedangkan menurut Selznick (2010) organisasi adalah suatu sistem yang dinamis yang selalu berubah dan menyesuaikan diri dengan tekanan internal dan ekstern dan selalu dalam proses evolusi yang kontinu. Keberhasilan suatu sistem informasi tertentu (kepuasan pengguna, penggunaan sistem, dirasakan kegunaan, kualitas sistem), dan hubungan IS keberhasilan konstruk dengan empat pengguna yang terkait dengan konstruksi (pengguna pengalaman dengan ISS, pelatihan pengguna di ISS, pengguna sikap terhadap ISS, dan partisipasi pengguna dalam pengembangan tertentu IS) dan dua konstruksi yang mewakili konteks (topmanajemen dukungan untuk ISS dan memfasilitasi kondisi untuk ISS). (Rajiv Sabherwal and Anand Jeyaraj: 2006). Sistem informasi sebagai salah satu komponen organisasi didekomposisikan menjadi dua subsistem dasar, salah satunya adalah Sistem Informasi Akuntansi (SIA). Dekomposisi sistem merupakan proses membagi sistem menjadi berbagai bagian subsistem yang lebih kecil untuk menyajikan, melihat, dan memahami berbagai hubungan antara subsistem (Hall:2007). SIA merupakan kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya ke dalam informasi (Bodnar & Hopwood: 2010)

Hubungan Sistem Informasi Akuntansi dengan Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Manirath Wongsim dan Jing Gao (2011) menyatakan bahwa Penerapan Sistem Informasi Akuntansi berpengaruh Terhadap Kualitas Informasi, yaitu sebagai berikut: “Informasi dimensi Kualitas memiliki hubungan positif dengan proses Sistem Informasi Akuntansi adopsi. Selanjutnya, Informasi dimensi Kualitas memainkan peran penting dalam proses adopsi AIS” Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan kurang lebih sebagai berikut: Dimensi Kualitas Informasi memiliki hubungan yang positif dengan proses adopsi Sistem Informasi Akuntansi. Kemudian, dimensi Kualitas Informasi memainkan peranan yang penting dalam proses adopsi Sistem Informasi Akuntansi

Hubungan Dukungan Manajemen Puncak dengan Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Rajiv Sabherwal dan Anand Jeyaraj (2006) bahwa dukungan manajemen berpengaruh pada penerapan sistem informasi akuntansi, yaitu sebagai berikut: “sistem informasi (kepuasan pengguna, penggunaan sistem, manfaat pengguna, kualitas sistem), dan hubungan ini dengan IS berhasil dengan empat konstruksi userrelated (pengalaman pengguna dengan ISS, pelatihan pengguna di ISS, sikap pengguna terhadap ISS, dan partisipasi pengguna dalam pengembangan dari spesifik IS) dan dua konstruksi yang mewakili konteks (top-manajemen dukungan untuk Iss).

Indikator Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Mc. Leod Mc. Leod & Schell (2007:46) mengatakan bahwa suatu informasi yang berkualitas harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Akurat Artinya informasi harus mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pengujian terhadap hal ini biasanya dilakukan melalui pengujian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda dan apabila hasil pengujian tersebut menghasilkan hasil yang sama maka dianggap data tersebut akurat. 2. Tepat Waktu Artinya informasi itu harus tersedia atau ada pada saat informasi tersebut diperlukan, tidak besok atau beberapa jam lagi. 3. Relevan Artinya informasi yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Kalau kebutuhan informasi ini untuk suatu organisasi maka informasi tersebut harus sesuai dengan kebutuhan informasi diberbagai tingkatan dan bagian yang ada dalam organisasi tersebut. 4. Lengkap Artinya informasi harus diberikan secara lengkap. Misalnya informasi tentang penjualan tidak ada bulannya atau tidak ada data fakturnya.

Adapun karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut Kieso et all (2010:44-47) adalah sebagai berikut:
1. Relevansi Informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam suatu keputusan. Informasi yang tidak ada bantalan maka suatu keputusan dikatakan tidak relevan. a. Nilai prediktif Informasi keuangan memiliki nilai prediktif sebagai masukan dalam proses prediksi yang digunakan oleh investor dalam membentuk ekspektasi mereka sendiri tentang masa depan. b. Nilai konfirmasi Informasi yang relevan juga membantu pengguna mengkonfirmasi atau mengoreksi harapan sebelumnya, dan memiliki nilai conformatory.

 2. Representasi setia Representasi Setia berarti bahwa angka dan deskripsi sesuai dengan apa yang benar-benar ada atau terjadi. Representasi setia adalah suatu keharusan karena sebagian besar pengguna tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi informasi faktual. a. Kelengkapan Kelengkapan berarti bahwa semua informasi yang diperlukan untuk representasi setia disediakan. Sebuah kelalaian dapat menyebabkan informasi palsu atau menyesatkan dan dengan demikian tidak akan membantu pengguna laporan keuangan. 29 b. Kenetralan Netralitas berarti bahwa perusahaan tidak dapat memilih informasi untuk mendukung satu set pihak yang berkepentingan atas yang lain. c. Bebas dari Kesalahan Informasi yang bebas dari kesalahan akan menjadi lebih akurat (representasi setia).

 3. Meningkatkan Kualitas Karakteristik kualitatif yang meningkatkan saling melengkapi dengan karakteristik kualitatif yang mendasar. Karakteristik ini membedakan informasi yang lebih-kurang berguna dari informasi yang berguna. a. Komparabilitas Informasi yang diukur dan dilaporkan dengan cara yang sama untuk perusahaan yang berbeda dianggap sebanding. Komparabilitas memungkinkan pengguna untuk mengidentifikasi similiarities nyata dan perbedaan dalam peristiwa-peristiwa ekonomi antara perusahaan. b. Pemastian Pemastian terjadi ketika tindakan independen, dengan menggunakan metode yang sama, memperoleh hasil yang sama. c. Ketepatan waktu Ketepatan waktu berarti memiliki informasi yang tersedia bagi para pengambil keputusan sebelum kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan. Setelah informasi relevan yang tersedia cepat 30 dapat meningkatkan kapasitasnya untuk mempengaruhi keputusan, dan kurangnya ketepatan waktu dapat merampok informasi usefullness nya. d. Understandability. Para pembuat keputusan sangat luas dalam jenis keputusan yang mereka buat, bagaimana mereka membuat keputusan, informasi yang sudah mereka miliki atau dapat memperoleh dari sumber lain, dan kemampuan mereka untuk memproses informasi. Untuk informasi yang akan berguna, harus ada koneksi (hubungan) antara pengguna dan keputusan yang mereka buat

Pengertian Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Shiper dan Vincent dalam (Bavega:2003) menjelaskan bahwa : “Kualitas informasi akuntansi merupakan konsep kompleks dan memiliki banyak definisi. Literatur tentang kualitas kualitas informasi akuntansi keuangan terletak di berbagai bidang seperti relevansi nilai informasi akuntansi, konservatisme akuntansi, dan manajemen laba. Keputusan kegunaan adalah ciri utama kualitas akuntansi keuangan seperti menangkap nilai informasi akuntansi bagi pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan mereka.” Sedangkan Menurut Mc. Leod dalam Azhar Susanto (2009:40) menjelaskan tentang kualitas informasi sebagai berikut, “Informasi dikatakan berkualitas apabila memiliki ciri-ciri yaitu seperti : Akurat, relevan, tepat waktu, dan lengkap.” Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka kesimpulan kualitas informasi akuntansi adalah data yang telah diolah melalui suatu proses menjadi suatu bentuk yang lebih bernilai dan berguna bagi yang menerimanya serta dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan baik pada saat ini maupun dimasa yang akan datang dan sangat penting bagi pihak yang berkepentingan dalam membuat keputusan

Pengertian Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Definisi sistem menurut James A. Hall (2007:6) adalah sebagai berikut: “Sistem adalah kelompok dari dua atau lebih komponen atau subsistem yang saling berhubungan yang berfungsi dengan tujuan yang sama” Sedangkan definisi sistem menurut Azhar Susanto (2009:18) adalah sebagai berikut: “Sistem adalah kumpulam/group dari subsistem/bagian/komponen apapun baik phisik ataupun non-phisik yang saling berhubungan satu smaa lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai tujuan tertentu” Definisi informasi menurut Mardi (2011:13) adalah sebagai berikut: “Informasi adalah data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya” Kemudian definisi informasi menurut Marhall B. Romney & Paul J. steinbart (2011:25) adalah sebagai berikut: “information is data have been organized and processed to provide meaning and improove the decision-making process. As a rule, users make better decisions as the quantity of information increase”
Definisi Sistem Informasi menurut James A. Hall (2007:4) adalah sebagai berikut “Sistem informasi adalah serangkaian prosedur formal dimana data dikumpulkan diproses menjadi informasi dan di distribusikan ke para pengguna” Sedangkan definsi Sistem Informasi menurut Laudon dalam Azhar Susanto (2009:55) adalah sebagai berikut : “Sistem Informasi merupakan komponen-komponen yang saling berhubungan dan bekerja sama untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarkan informasi untuk mendukung pengambilan keputusan, koordinasi, pengendalian, dan untuk memberikan gambaran aktivitas didalam perusahaan” Definisi Sistem Informasi Akuntansi menurut George H. Bodnar & William S. Hopwood (2006:3) adalah sebagai berikut: “Sistem Informasi Akuntansi merupakan kumpulan sumber daya, seperti manusia dan peralatan, yang dirancang untuk mengubah data keuangan dan data lainnya ke dalam informasi” Sedangkan definisi Sistem Informasi Akuntansi menurut Azhar Susanto(2009:124) adalah sebagai berikut : “Sistem Informasi Akuntansi dapat di definisikan sebagai kumpulan dari subsistem-subsistem yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mengolah data keuangan menjadi informasi keuangan yang diperlukan oleh pengambil keputusan dalam proses pengambilan keputusan”. Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka sistem informasi akuntansi adalah kumpulan dari sumber-sumber seperti orang dan peralatan yang dirancang untuk mentransformasikan data keuangan dan data lainnya menjadi informasi, dan informasi ini akan dikomunikasikan kepada para pembuat keputusan.

Indikator Dukungan Manajemen Puncak (top management support) (skripsi dan tesis)

 

Adapun komponen – komponen Dukungan Manajemen Puncak menurut Chen dan Paulraj (2004) adalah sebagai berikut : 1. Decision Quality (Keputusan yang berkualitas) Keputusan yang berkualitas adalah inti dari semua perencanaan adalah pengambilan keputusan, suatu pemilihan cara bertindak. Dalam hubungan ini kita melihat keputusan sebagai suatu cara bertindak yang dipilih oleh manajer sebagai suatu yang paling efektif, berarti penempatan untuk mencapai sasaran dan pemecahan masalah. Sesuai keinginan dan harapan. 2. Decision Acceptance (Penerimaan Keputusan) Penerimaan keputusan adalah suatu reaksi terhadap beberapa solusi alternatif yang dilakukan secara sadar dengan cara menganalisa kemungkinan-kemungkinan dari alternatif tersebut bersama konsekuensinya. Setiap keputusan akan membuat pilihan terakhir, dapat berupa tindakan atau opini. 3. Satisfaction with the Decision Process (Kepuasan dengan proses Keputusan) Kepuasan dengan proses keputusan bahwa kepuasan sebagai respon emosional menunjukkan perasaan yang menyenangkan berkaitan dengan pandangan karyawan terhadap keputusan . . Development of Participant Skills (Membangun keahlian partisipan). Membangun keahlian partisipan adalah keterlibatan mental dan emosi serta pisik pegawai dalam memberikan respon terhadap kegiatan yang dilaksanakan dalam proses pengambilan keputusan serta mendukung pencapaian tujuan dan bertanggung jawab atas keterlibatannya

Pengertian Dukungan Manajemen Puncak (skripsi dan tesis)

Setiap oganisasi dalam usaha mencapai tujuan, dan mengukurnya sampai sejauh mana keberhasilan yang dapat dicapai, dan itu memerlukan dukungan manajemen puncak. Menurut Chen dan Paulraj (2004) mendefinisikan dukungan manajemen puncak sebagai berikut: “Berkomitmen pada waktu, biaya, dan sumber daya untuk mendukung supplier agar terjadi kemitraan pada jangka panjang dan perusahaan juga dapat berlangsung berproses secara stabil. Salah satu hal yang penting bagi manajemen puncak dalam menjalankan bisnis adalah harus dapat selalu mengembangkan dan menciptakan satu nilai bagi perusahaan agar dapat meningkatkan kinerja organisasi.” Sedangkan dukungan manajemen puncak menurut Hasmi (2004) menurut adalah sebagai berikut: “Pihak yang bertanggungjawab atas penyediaan pedoman umum bagi kegiatan sistem informasi. Tingkat dukungan yang diberikan oleh manajemen puncak bagi sistem informasi organisasi dapat menjadi suatu faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan semua kegiatan yang berkaitan dengan sistem informasi” Berdasarkan definisi-definisi diatas maka disimpulkan bahwa dukungan manajemen pucak adalah pihak yang bertanggung jawab atas penyediaan pedoman dengan komitmen dalam hal waktu, biaya, dan sumber daya untuk mendukung kegiatan sistem informasi.

Pengaruh Kualitas Sistem Informasi Akuntansi Terhadap Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Leitch dan Davis , 1992; Boockholdt , 1999; Joia , 2003; Schaltegger et al , 2008; Hansen et al , 2009; Nikolai et al , 2010; Hall, 2011 dalam Norman Alvi 42 Tripambudi (2014) Tujuan keseluruhan dari sistem informasi akuntansi adalah untuk memberikan informasi kepada pengguna maka dari itu kualitas data di awal yang diproses dengan baik maka sangat mempengaruhi kualitas data. Pada teori kegunaan keputusan dalam asasnya menerangkan bahwa diperlukan sistem yang menyajikan suatu informasi; maka sistem informasi akuntansi merupakan dasar penting dalam dasar pembuatan keputusan atau dasar untuk memperoleh kembali konsekuensi keputusan. Tanpa kualitas sistem informasi akuntansi, tidak akan ada informasi akuntansi yang berkualitas (Sacer et al, 2006: 62). Setiap perusahaan menggunakan sistem informasi akuntansi (Chandra, 2002: 34; Boockholdt, 1999: 1) mulai dari manual, dan beberapa menggunakan kombinasi komputer (Davis, 1999: 1; Wilkinson et al, 2000:. 7; Hansen et al ., 2009: 4). Azhar Susanto (2008: 72) mengatakan sistem informasi akuntansi merupakan integrasi dari hardware, software, brainware, prosedur, jaringan telekomunikasi dan data base yang terintegrasi, sistem informasi akuntansi merupakan fungsi penting dalam organisasi, sebagai pengaruh untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi dan untuk mendukung kegiatan manajerial untuk menghasilkan informasi dalam pengambilan keputusan manajemen (Gelinas et al, 2012: 18). Untuk memberikan nilai tambah, untuk menghasilkan keunggulan informasi kompetitif bagi organisasi, manajemen akan menggunakan alat yang disebut sistem informasi akuntansi (Stair Dan Reynolds, 2006: 6).
Menurut Mitchell et al (2000) sistem informasi akuntansi yang digunakan sebagai alat manajemen dalam mengendalikan jangka pendek danjangka panjang, sehingga keberadaan sumber daya informasi ini membuat perusahaan strategis, keunggulan taktis dan keunggulan operasional (McLeod Dan Schell, 2008: 29). informasi akuntansi akan digunakan dalam proses pengambilan keputusan bagi pengguna baik untuk manajemen internal dan manajemen eksternal (Mitchell et al, 2000), dan informasi akuntansi tersebut yang dihasilkan oleh sistem informasi akuntansi (Hall, 2004: 21). Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Norman Alvi Tripambudi (2014) menyatakan bahwa variabel Sistem Informasi Akuntansi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Kualitas Informasi. Hal ini menunjukkan bahwa sistem informasi akuntansi yang baik akan berpengaruh pada informasi sehingga informasi yang dihasilkan semakin berkualitas. Dengan adanya informasi yang berkualitas tersebut, maka pemakai sistem akan mudah mengambil keputusan untuk perusahaan dengan menggunakan informasi yang berkualitas sebagai sumber informasi yang dapat memandu dan membantu pemakai sistem dalam menyelesaikan tugas. Pada teori kegunaan keputusan dalam asasnya menerangkan bahwa diperlukan sistem yang menyajikan suatu informasi; maka sistem informasi akuntansi merupakan dasar penting dalam dasar pembuatan keputusan atau dasar untuk memperoleh kembali konsekuensi keputusan. Ketiga variabel tersebut berperan penting menghasilkan kualitas informasi yang baik secara simultan (bersama-sama).

Pengaruh Struktur Organisasi Terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Mirmasoudi et al (2012) dalam Norman Alvi Tripambudi (2014) menyatakan bahwa struktur organisasi adalah sistem formal, tugas dan hubungan otoritas yang mengendalikan bagaimana orang mengkoordinasikan tindakan mereka dan sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasi. Oleh sebab itu, struktur organisasi memiliki dampak penting pada pengaturan komponen pemakai sistem informasi. Wilkinson et al (1999: 39) dalam Rapina (2014) Ada beberapa hubungan penting yang harus dipahami oleh pengembang sistem. Struktur organisasi menentukan banyak alur kunci umum yang dihasilkan oleh Sistem Informasi Akuntansi dan Sistem Informasi Manajemen. Ini adalah alur vertikal yang membawa informasi yang dibutuhkan oleh manajer untuk melaksanakan tanggung jawab mereka (Wilkinson et al, 1999: 39). Stair Dan Reynolds (2011: 41) menyatakan bahwa struktur organisasi dapat berdampak pada jenis sistem  informasi yang digunakan. Meskipun ada sejumlah besar kemungkinan, struktur organisasi biasanya jatuh ke dalam salah satu kategori ini: tradisional, proyek, tim, atau multidimensi. Gordon dan Narayanan (1984) melaporkan temuan mereka ada hubungan antara lingkungan, struktur dan sistem informasi organisasi. Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Norman Alvi Tripambudi (2014) mengatakan bahwa hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa variabel struktur organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap sistem informasi akuntansi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik struktur organisasi yang berkembang dalam organisasi maka akan meningkatkan penggunaan sistem informasi akuntansi dalam organisasi tersebut. Hal ini dikarenakan dengan semakin baiknya sebuah struktur organisasi, maka struktur organisasi yang ada telah mendukung akan perkembangan organisasi sehingga proses adopsi sistem informasi akuntansi yang dapat berguna untuk majunya perusahaan merupakan langkah yang tidak menyalahi struktur dan peraturan perusahaan.. Semakin tinggi tingkat saling ketergantungan akan mempengaruhi terhadap tugas yang dilakukan manajer karena manajer banyak melakukan aktivitas yang saling berkaitan atau berhubungan dengan departemen lain

Pengaruh Dukungan Manajemen Puncak Terhadap Kualitas Sistem Informasi Akuntansi (skripsi dan tesis)

Galliers dan Currie (2011: 508) dalam Rapina (2014) mengatakan bahwa kriteria yang paling penting untuk menilai keberhasilan pelaksanaan sistem informasi akuntansi adalah komitmen manajemen. Hal ini karena dengan memiliki dukungan manajemen puncak yang kuat akan membantu mengarahkan kekurangan dalam implementasi sistem. Raghunathan dan Raghunathan (1988) Top manajemen bertanggung jawab atas penyediaan pedoman umum bagi kegiatan sistem informasi. Tingkat dukungan yang diberikan oleh top manajemen bagi sistem informasi organisasi dapat menjadi suatu faktor yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan semua kegiatan yang berkaitan dengan sistem informasi. Tjhai Fung Jen (2002) dalam Putri Aryani Septianingrum (2014), semakin besar dukungan yang diberikan manajemen puncak akan meningkatkan kinerja sistem informasi akuntansi. Penelitian sebelumnya yang mendukung penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Riri Yulianty Raflis (2007). Dari penelitian menunjukkan bahwa dukungan manajemen puncak berpengaruh signifikan positif terhadap penerapan Sistem Informasi Akuntansi. Ini berarti bahwa hubungan antara dukungan manajemen puncak searah dengan penerapan Sistem Informasi Akuntansi. Semakin baik dukungan dari manajer puncak akan semakin baik pula penerapan Sistem Informasi Akuntansi suatu perusahaan. Hal ini sama dengan 40 teori yang dinyatakan oleh Arpan dan Ishak (2005:7), bahwa dukungan manajemen puncak merupakan faktor penting dalam menentukan efektifitas penerapan sistem informasi dalam organisasi. Dengan adanya keterlibatan atasan dalam kemajuan proyek dan menyediakan sumber daya yang diperlukan maka akan dapat menentukan keberhasilan penerapan suatu sistem. Jika suatu perusahaan dalam penerapan sistem tidak adanya dukungan manajemen puncak maka tujuan tersebut tidak akan tercapai

Ciri-ciri Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Mc. Leod dalam Azhar Susanto (2009: 40), informasi yang berkualitas apabila informasi tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. Akurat Artinya informasi harus mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pengujian akurasi dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda apabila pengujian tersebut menghasilkan hasil yang sama maka data tersebut disebut akurat. b. Tepat Waktu Artinya informasi itu harus tersedia atau ada pada saat yang informasi tersebut diperlukan, tidak besok atau tidak beberapa jam lagi. c. Relevan Artinya informasi yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan oleh individu yang ada di berbagai tingkatan dan bagian dalam organisasi d. Lengkap Artinya informasi harus diberikan secara lengkap. Misalnya informasi tentang penjualan tidak ada bulannya atau tidak ada data fakturnya

Pengertian Kualitas Informasi (skripsi dan tesis)

Menurut Azhar Susanto (2013: 14) informasi yang berkualitas adalah: “…informasi yang mempunyai keakurasian, kecepatan dan kesesuaian dengan kebutuhan manajemen dan kelengkapan dari informasi yang dihasilkan.”  Schonberger dan Lazer (2007: 244) mengatakan bahwa kualitas informasi yang baik adalah: “…informasi yang tepat untuk digunakan dan memiliki nilai tinggi untuk penggunanya, karena informasi tersebut bebas dari kesalahan atau kekurangan lainnya..” Mc Leod dan George (2007: 86) menyatakan bahwa kualitas informasi adalah: “…informasi yang harus tersedia untuk pemecahan sebelum situasi krisis mengembang atau kesempatan akan hilang.” Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas informasi adalah informasi yang tersedia saat di butuhkan, berisi keadaan sebenarnya dan informasi yang diberikan lengkap.”