Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)

Menurut Bringham dan Houtson (2006,19) nilai perusahaan didefinisikan sebagai niali pasar karena nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran pemegang saham secara maksimal apabila harga saham perusahaan meningkat. Berbagai kebijakan yang diambil oleh manajemen dalam upaya untuk meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik dan para pemegang saham yang tercermin pada harga saham. Menurut Martono dan Agus (2011,3) niali perusahaan juga dapat menunjukkan nilai aset yang dimiliki perusahaan seperti surat-surat berharga. Saham merupakan salah satu aset berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan. Menurut Sunariyah (2010,54) pengertian nilai perusahaan dicerminkan pada kekuatan tawar menawar saham. Apabila perusahaan diperkirakan sebagai perusahaan mempunyai prospek pada masa yang akan datang, maka nilai sahamnya menjadi tinggi. Sebaliknya, apabila perusahaan dinilai kurang memiliki prospek maka harga saham menjadi rendah.Jadi dapat disimpulakn dari definisi para ahli di atas nilai perusahaan adalah nilai aset. Apabila perusahaan mempunyai prospek baik pada masa yang akan datang maka nilai pasarnya menjadi tinggi. nilai pasar yang tinggi dapat memberikan kemakmuran bagi pemegang saham

Profitabilitas (skripsi dan tesis)

Menurut Hery (2015,226) profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktivitas normal bisnisnya. Menurut Kasmir (2016,196) profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektifitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan. Menurut Fahmi (2015,135) profitabilitas merupakan rasio yang mengukur efektivitas manajemen secara keseluruhan yang ditunjukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi. Semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan. Jadi dapat disimpulkan dari definisi para ahli di atas profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur dan menilai kemampuan 23 perusahaan secara keseluruhan yang ditunjukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh.

Asset Growth (Pertumbuhan Aset) (skripsi dan tesis)

Menurut Munawir (2010,30) aktiva adalah sarana atau sumber daya
ekomomik yang dimiliki oleh suatu kesatuan usaha atau perusahaan yang
harga perolehannya atau nilai wajarnya harus diukur secara objektif. Menurut Putrakrisnanda (2009,5) pertumbuhan aset merupakan
pertumbuhan aktiva perusahaan yang akan mempengaruhi profitabilitas
perusahaan. Pertumbuhan aset dihitung sebagai persentase perubahan aset
pada saat tertentu terhadap tahun sebelumnya. Menurut Brigham dan Houston (2009,34) pertumbuhan perusahaan
adalah perubahan (peningkatan atau penurunan) total aset yang dimiliki
oleh perusahaan. Pertumbuhan perusahaan dalam pecking order theory
memiliki hubungan yang positif terhadap keputusan pendanaan. Dalam hal
ini, perusahaan dengan tingkat pertumbuhan perusahaan yang cepat harus
lebih banyak mengandalkan pada dana eksternal. Jadi dapat disimpulkan dari penjelasan para ahli diatas pertumbuhan
aset adalah perubahan total aset yang dimiliki oleh perusahaan dan
dihitung secara objektif.

Indeks Global Reporting Initiative (GRI) (skripsi dan tesis)

Menurut Dahlia dan Siregar (2008,22) Global Reporting Initiative (GRI) adalah sebuah jaringan berbasis organisasi yang telah mempelopori perkembangan dunia, paling banyak menggunakan kerangka laporan berkelanjutan dan berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan dan penerpan di seluruh dunia. Dalam standar GRI (GRI 3.0) indikator kinerja dibagi menjadi tiga komponen utama, yaitu ekonomi, lingkungan hidup, dan sosial yang mencakup ketenagakerjaan, HAM, masyarakat dan tanggung jawab atas produk. Jadi, dalam melakukan penilaian luas pengungkapan CSR, itemitem yang akan diberikan skor akan mengacu kepada indikator kerja atau intem yang disebutkan dalam GRI Guidelines, minimal harus ada antara lain: 1. Indikator kinerja ekonomi terdiri dari 9 item, meliputi aspek kinerja ekonomi; kehadiran pasar; dan dampak ekonomi tidak langsung.  2. Inidikator kinerja lingkungan terdiri dari 30 item, meliputi aspek material; energi; air; biodiversitas; emisi; efluensi; limbah; produk dan jasa; kepatuhan; transportasi; menyeluruh. 3. Indikator ketenagakerjaan terdiri dari 14 item, meliputi aspek pekerjaan; tenaga kerja; kesehatan dan keselamatan jabatan; pelatihan dan pendidikan; keberagaman dan kesempatan setara. 4. Indikator HAM terdiri dari 9 item, meliputi aspek praktek investasi dan pengadaan; non-diskriminasi; kebebasan berserikat dan berunding bersama berkumpul; pekerja anak; kerja paksa dan kerja wajib; tindakan pengamanan; hak penduduk asli. 5. Indikator masyarakat/sosial terdiri dari 8 item, meliputi aspek komunitas; korupsii; kebijakan publik; kelakuan tidak bersaing; kepatuhan. 6. Indikator tanggung jawab atas produk terdiri dari 9 item, meliputi aspek kesehatan dan keamanan pelanggan; pemasangan label bagi produk dan jasa; komuikasi pemanasan; keleluasaan pribadi pelanggan; kepatuhan.

Ownership (Kepemilikan Saham) (skripsi dan tesis)

Menurut I Made Sudana (2011,11) pemilik atau pemegang saham
adalah pihak yang menyertakan modal ke dalam perusahaan, sedangkan
manajer adalah pihak yang ditunjuk pemilik dan diberi kewenangan
mengambil keputusan dalam mengelola perusahaan, dengan harapan
manajer bertindak sesuai dengan kepentingan pemilik. Menurut Sugiarto (2009,59) struktur kepemilikan saham adalah
perbandingan jumlah saham yang dimiliki orang dalam dengan jumlah
saham yang dimilik oleh investor. Atau dengan kata lain struktur
kepemilikan saham adalah proporsi kepemilikan saham institusional dan
kepemilikan saham manajemen dalam kepemilikan saham perusahaan. Jadi dapat disimpulkan dari definisi para ahli di atas kepemilikan
saham adalah pihak yang menyertakan modal kedalam perusahaan dengan
proporsi kepemilikan yang berbeda.

Teori Stakeholder (skripsi dan tesis)

Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah suatu
entitas yang hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus
memberikan manfaat bagi stakeholdernya. Dengan demikian, keberadaan
suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh
stakeholder kepada perusahaan. Stakeholder merupakan semua pihak,
internal maupun eksternal, yang dapat mempengaruhi ataupun dipengaruhi
oleh perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung (Nor Hadi, 2014,93).

Teori Legitimasi (skripsi dan tesis)

Teori legitimasi berfokus pada interaksi antara perusahaan dengan masyarakat. Teori ini menyatakan bahwa organisasi bagian dari masyarakat, sehingga harus tetap memperhatikan norma masyarakat. Legitimasi masyarakat merupakan faktor strategis bagi perusahaan dalam rangka mengembangkan perusahaan ke depan. Hal itu, dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengonstruksi strategi perusahaan, terutama terkait dengan upaya memposisikan diri di tengah lingkungan masyarakat yang semakin maju. Legitimasi organisasi dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari perusahaan dari masyarakat. Dengan demikian, legitimasi merupakan manfaat atau sumber daya potensial bagi perusahaan untuk mempertahankan hidup (Nor Hadi, 2014,87).

Akuntansi Manajemen (skripsi dan tesis)

Menurut Henry Simamora (2012,13) akuntansi manajemen adalah proses pengindentifikasian, pengukuran, penghimpunan, penganalisaan, penyusunan, penafsiran, dan pengkomunikasian informasi keuangan yang digunakan oleh manajemen untuk merencanakan, mengevaluasi dan mengendalikan kegiatan usaha di dalam sebuah organisasi, serta untuk memastikan penggunaan dan akuntabilitas sumber daya yang tepat. Menurut Hansen dan Mowen (2013,7) akuntansi manajemen adalah proses mengidentifikasi, mengumpulkan, mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan informasi yang bermanfaat bagi pengguna internal guna dalam merencanakan, mengendalikan, dan mengambil keputusan. Menurut Rudianto (2013,9) akuntansi manajemen adalah sistem akuntansi dimana informasi yang dihasilkan ditunjukkan kepada pihak- pihak internal organisasi, seperti manajer keuangan, manajer produksi, manajer pemasaran, dan sebagainya guna pengambilan keputusan internal organisasi. Itu berarti informasi yang dihasilkan dari sistem akuntansi manajemen sebuah entitas dipakai oleh pihak internal perusahaan itu sendiri untuk mendukung pengambilan keputusan manajemen organisasi tersebut. 14 15 Jadi dapat disimpulkan dari definisi para ahli di atas akuntansi manajemen adalah sebuah sistem, dimana akan memproses sebuah informasi yang digunakan oleh manajemen untuk pengambilan keputusan dan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Hubungan Antara Struktur Modal dan Kepemilikan Terhadap Profitabilitas (skripsi dan tesis)

Dalam menjalankan kegiatan operasinya, setiap perusahaan menghadapi
masalah dari mana dana diperoleh dan untuk apa dana tersebut digunakan. Dalam
hal ini, struktur atau komposisi modal harus diatur sedemikian rupa sehingga
dapat menjamin tercapainya stabilitas finansial perusahaan. Memang tidak ada
ukuran yang pasti mengenai jumlah dan komposisi modal dari tiap-tiap
perusahaan, tetapi pada dasarnya pengaturan terhadap struktur modal dalam setiap
perusahaan harus berorientasi pada tercapainya stabilitas finansial dan
terjaminnya kelangsungan hidup perusahaan.
Selain itu juga struktur modal juga dapat didukung oleh struktur
kepemilikan perusahaan. Karena struktur kepemilikan perusahaan memiliki
pengaruh terhadap perusahaan (Mirawati,2014).
Keberhasilan kelangsungan perusahaan dapat dilihat dari tingkat
profitabilitas perusahaan sendiri. Karena tingkat profitabilitas perusahaan
merupakan gambaran dimana perusahaan memiliki tingkat keberhasilan di dalam
menghasilkan laba. Tingginya tingkat profitabilitas dapat menjadi pertimbangan
bagi investor dalam melakukan investasi. Investor beranggapan bahwa dengan
tingginya tingkat profitabilitas perusahaan, berarti perusahaan tersebut dapat
mampu menghasilkan laba dengan semaksimal mungkin (Taures, 2011 dalam
Rizki, dkk, 2012).

Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Kinerja keuangan adalah salah satu tolak ukur dalam menilai perusahaan,
kondisi keuangan yang bagus cenderung menarik perhatian investor. Untuk itu,
manajemen berusaha untuk memenuhi harapan dari analisis keuangan atau
manajemen. Hal ini yang mendorong para manajer untuk melakukan tindakantindakan
sebagai upaya pemenuhan harapan investor (Anggraini, 2010).
Kinerja keuangan mempunyai arti yang penting bagi pengambilan
keputusan baik bagi pihak intern maupun ekstern perusahaan. Laporan keungan
merupakan alat yang dijadikan acuan penilaian untuk meramalkan kondisi
keuangan, operasi dan hasil usaha perusahaan.
Rasio Keuangan sebagai pengukuran kinerja keuangan dalam laporan
keuangan perusahaan dapat digunakan sebagai salah satu dasar untuk
memprediksi laba bersih dan dividen pada masa yang akan datang. Cara yang
digunakan untuk mendukung prediksi tersebut adalah dengan menganalisis
laporan keuangan perusahaan. Analisis tersebut mengkombinasikan hubungan
antara komponen keuangan yang satu dengan komponen keuangan yang lain.
Pada umumnya, hubungan tersebut dilihat dari rasio antara komponen-komponen
keuangan yang satu dengan yang lain. Dalam konteks manajemen keuangan,
analisis tersebut dikenal dengan analisis rasio keuangan. Analisis rasio ini berguna
untuk membandingkan kinerja perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain
atau membandingkan kinerja satu perusahaan pada tahun ini dengan tahun yang
lainnya.
Analisis rasio keuangan dikelompokkan ke dalam empat macam kategori,
yaitu:
a. Rasio Likuiditas
Fred Weston menyebutkan bahwa rasio likuiditas (liquidity ratio) mrupakan
rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban (hutang) jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih,
perusahaan akan mampu untuk memenuhi hutang tersebut terutama hutang
yang sudah jatuh tempo. Rasio likuiditas atau sering juga disebut dengan
rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur
sekaligus mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Caranya adalah
membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aktiva lancar
dengan total passive lancar (hutang jangka pendek). Penilaian dapat
dilakukan untuk beberapa periode sehingga terlihat perkembangan likuiditas
perusahaan dari waktu ke waktu (Kasmir, 2011).
b. Rasio Laverage (Solvabilitas)
Rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh
mana aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang. Artinya seberapa besar beban
hutang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya. Dalam
arti luas dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur
kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik
jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan
(dilikuidasi). Pengukuran rasio solvabilitas dilakukan melalui dua
pendekatan, yaitu: mengukur rasio-rasio neraca dan sejauh mana pinjaman
digunakan untuk permodalan dan melalui pendekatan rasio-rasio laba rugi
(Kasmir, 2011).
c. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas
perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Rasio aktivitas
juga digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan
aktivitas sehari-hari. Penggunaan rasio aktiva adalah dengan cara
membandingkan antara tingkat penjualan dengan investasi dalam aktiva
untuk satu periode (Kasmir, 2011).
d. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan
dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat
efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang
dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi (Kasmir, 2011).
Analisis rasio keuangan tidak hanya berguna bagi kepentingan intern dan
ekstern perusahaan. Bagi para bankir berguna untuk mempertimbangkan
pemberian kredit jangka pendek maupun kredit jangka panjang kepada
perusahaan, untuk itu para bankir lebih tertarik pada rencana jangka pendek,
likuiditas, kemampuan memperoleh laba, tingkat efisiensi operasional dan
solvabilitas. Bagi para kreditur jangka panjang lebih tertarik pada kemampuan
laba dan tingkat efisiensi operasional. Sedangkan bagi para penanam modal lebih
tertarik pada kemampuan memperoleh laba jangka panjang dan tingkat efisiensi
perusahaan. Bagi manajer keuangan tentu saja sangat berkepentingan dengan
semua aspek rasio keuangan, karena harus mampu membayar hutang jangka
pendek, mampu membayar hutang jangka panjang, mampu meningkatkan
efisiensi perusahaan, mampu memaksimalkan nilai perusahaan dan mampu
memperoleh laba untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham.
Meskipun rasio keuangan mempunyai manfaat, akan tetapi J. Fred Weston
menyebutkan ada beberap kelemahan dari rasio keuangan adalah sebagai berikut:
1. Data keuangan disusun dari data akuntansi.
2. Prosedur pelaporan yang berbeda, mengakibatkan laba yang dilaporkan
berbeda pula, (dapat naik atau turun), tergantung prosedur pelaporan
tersebut.
3. Adanya manipulasi data, artinya dalam penyusunan data, pihak penyusun
tidak jujur dalam memasukkan angka-angka ke laporan keuangan yang
mereka buat.
4. Perlakuan pengeluaran untuk biaya-biaya antara satu perusahaan dengan
perusahaan lainnya berbeda.
5. Penggunaan tahun fiskal yang berbeda, juga dapat menghasilkan perbedaan.
6. Pengaruh musiman mengakibatkan rasio komperatif akan ikut berpengaruh.
7. Kesamaan rasio keuangan yang telah dibuat dengan standar industry belum
menjamin perusahaan berjalan normal dan telah dikelola dengan baik.
Dalam laporan keuangan, angka-angka yang berdiri sendiri sulit dikatakan
baik tidaknya. Untuk itu diperlukan pembanding yang bisa dipakai untuk melihat
baik tidaknya angka yang dicapai oleh perusahaan, oleh karena itu diperlukan
analisis rasio keuangan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan. Rata-rata
industri bisa dan biasa digunakan sebagai pembanding. Meskipun rata-rata
industri ini bukan merupakan pembanding yang paling tepat karena beberapa hal,
misalnya karena perbedaan karakteristik rata-rata perusahaan dalam industri
dengan perusahaan tersebut. Tetapi rata-rata industri tetap bisa dipakai untuk
perbandingan (Hanafi; 2003:70).

Teori Keagenan (Agency Theory) (skripsi dan tesis)

Teori agensi merupakan konsep yang menjelaskan hubungan kontraktual
antara principals dan agents. Pihak principals adalah pihak yang memberikan
mandat kepada pihak lain, yaitu agent, untuk melakukan semua kegiatan atas
nama principals dalam kapasitasnya sebagai pengambil keputusan (Jensen dan
Smith, 1984).
Tujuan dari teori agensi adalah pertama, untuk meningkatkan kemampuan
individu (baik prinsipal maupun agen) dalam mengevaluasi lingkungan dimana
keputusan harus diambil (The belief revision role). Kedua, untuk mengevaluasi
hasil dari keputusan yang telah diambil guna mempermudah pengalokasian hasil
antara prinsipal dan agen sesuai dengan kontrak kerja (The performance
evaluation role).
Teori keagenan (agency theory) mengimplikasikan adanya asimetri
informasi antara manajer sebagai agen dan pemilik (dalam hal ini adalah
pemegang saham) sebagai prinsipal. Asimetri informasi muncul ketika manajer
lebih mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan
datang dibandingkan pemegang saham dan stakeholder lainnya. Dikaitkan dengan
peningkatan nilai perusahaan, ketika terdapat asimetri informasi, manajer dapat
memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada investor guna
memaksimalkan nilai saham perusahaan. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan
melalui pengungkapan (disclosure) informasi akuntansi (Mirawati, 2013).
Menurut Eisenhard (1989) dalam Endrianto (2010), teori keagenan
dilandasi oleh 3 (tiga) buah asumsi yaitu:
a. Asumsi tentang sifat manusia
Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat
untuk mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan
rasionalitas (bounded rationality), dan tidak menyukai resiko (risk
aversion).
b. Asumsi tentang keorganisasian
Asumsi keorganisasian merupakan adanya konflik antara anggota
organisasi, efisiensi sebagai criteria produktivitas, dan adanya Asymmetric
Information (AI) antara principal dan agen.
c. Asumsi tentang informasi
Asumsi tentang informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai
barang komoditi yang bisa diperjual belikan.
Struktur kepemilikan merupakan jenis institusi atau perusahaan yang
memegang saham terbesar dalam suatu perusahaan (Wahyudi dan Pawestri,
2006), Struktur kepemilikan dapat berupa investor individual, pemerintah, dan
institusi swasta. Struktur kepemilikan terbagi dalam beberapa kategori. Secara
spesifik kategori struktur kepemilikan meliputi kepemilikan oleh institusi
domestik, institusi asing, pemerintah, karyawan dan individual domestik.
Struktur kepemilikan akan memiliki motivasi yang berbeda dalam
memonitor perusahaan serta manajemen dan dewan direksinya. Struktur
kepemilikan dipercaya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi jalannya
perusahaan yang nantinya dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. (Sabrina,
2010).
Anggraini (2010), struktur kepemilikan dapat dijelaskan dari dua sudut
pandang, yaitu pendekatan keagenan dan pendekatan informasi asimetri. Menurut
pendekatan keagenan, struktur kepemilikan merupakan mekanisme untuk
35
mengurangi konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham.
Pendekatan ketidakseimbangan informasi memandang mekanisme struktur
kepemilikan sebagai suatu cara umtuk mengurangi ketidakseimbangan informasi
antara insider dan outsider melalui pengungkapan informasi di dalam modal.
Ada dua jenis dalam struktur kepemilikan adalah:
1) Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan oleh
institusi keuangan seperti perusahaan asuransi, bank, dana pensiun, dan
investment banking. Adanya pemegang saham seperti institusional
ownership memiliki arti penting dalam memonitor manajemen. Adanya
kepemilikan oleh institusi-institusi akan mendorong peningkatan
pengawasan yang lebih optimal. Mekanisme monitoring tersebut akan
menjamin peningkatan kemakmuran pemegang saham. Signifikasi
institusional ownership sebagai agen pengawas ditekankan melalui
investasi mereka yang cukup besar dalam pasar modal. Apabila
institusional merasa tidak puas atas kinerja manajerial, maka mereka akan
menjual sahamnya ke pasar (Asbar, dkk; 2013 dalam Mirawati 2013).
Kepemilikan institusional memiliki kelebihan antara lain:
a. Memiliki profesionalisme dalam menganalisis informasi sehingga dapat
menguji keandalan informasi.
b. Memiliki motivasi yang kuat untuk melaksanakan pengawasan lebih
ketat atas aktivitas yang terjadi di dalam perusahaan.
Kepemilikan institusional diungkapkan melalui jumlah kepemilikan saham
yang dimiliki institusi dibagi dengan jumlah saham perusahaan yang
beredar.

Struktur Modal Optimal (skripsi dan tesis)

Untuk memahami struktur modal yang optimal dapat dilihat dari hubungan
dasr keuangan. Pada umumnya dapat dikatakan nilai perusahaan adalah maksimal
jiak biaya modal adalah minimal, dengan perkataan lain struktur modal optimal
adalah keadaan dimana WACC diminimalkan karenanya meminimalkan nilai
perusahaan.
Maksimalisasi kekayaan untuk digunakan dalam membuat keputusan
struktur modal tidak mudah. Meskipun kedua faktor utama, yaitu tingkat
pengembalian dan risiko dapat digunakan secara terpisah untuk membuat
keputusan struktur modal, menggabungkan tingkat pengembalian, dan risiko ke
dalam nilai pasar akan memberikan hasil yang terbaik.
Dalam menentukan nilai menurut alternatif struktur modal, perusahaan
harus mencari tingkat pengembalian yang harus diperoleh sebagai kompensasi
bagi investor dan para pemilik atas risiko yang ditanggungnya. Oleh karena itu,
risiko setiap struktur harus dihubungkan dengan tingkat pengembalian yang
diinginkan.
Tingkat pengembalian yang diinginkan perusahaan yang dihubungkan
dengan tingkat risiko keuangan tertentu dapat diestimasi dalam beberapa cara.
Secara teoritis, pendekatan yang dikuasai yaitu memperkirakan beta yang
dikaitkan dengan setiap alternatif struktur modal dan kemudian dapat
menggunakan CAPM untuk menghitung tingkat pengembalian yang diinginkan.
Pendekatan yang lebih operasional menghubungkan risiko keuangan dengan
setiap alternatif struktur modal langsung terhadap tingkat pengembalian.
Pendekatan disini termasuk memperkirakan tingkat pengembalian dihubungkan
dengan setiap tingkat risiko keuangan yang diukur dengan statistik seperti
koefisien variasi dari EPS. Tanpa memperkirakan pendekatan yang digunakan
diharapkan tingkat pengembalian akan meningkat dan meningkatnya risiko
keuangan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi struktur modal adalah:
1. Business Risk
Makin besar business risk maka makin rendah rasio hutang.
2. Tax Potision
Bunga hutang mengurangi pajak, yakni makin tinggi tarif pajak maka
makin besar keuntungan dari penggunaan hutang.
3. Managerial Consevartism or Aggresiveness
Manager yang konservatif akan menggunakan banyak modal sendiri,
sedangkan manajer yang agresif akan menggunakan banyak hutang.
4. Jenis Industri
Jenis industri ini merupakan penggambaran variasi struktur modal pada
berbagai industri.
5. Negara
Negara merupakan penggambaran variasi struktur modal yang ada pada
berbagai Negara.

Modal Sendiri/Ekuitas (skripsi dan tesis)

Modal sendiri/ekuitas adalah Modal dana jangka panjang pada suatu perusahaan yang meliputi semua
bagian disisi kanan neraca perusahaan kecuali hutang lancar. Jumlah hutang di
dalam neraca akan menunjukkan besarnya modal pinjaman yang digunakan
dalam operasi perusahaan. Modal pinjaman ini dapat berupa hutang jangka
pendek maupun hutang jangka panjang, tetapi umumnya pinjaman jangka
panjang jauh lebih besar dibandingkan dengan hutang jangka pendek. Pemberi
dana umumnya meminta pengembalian yang relatif rendah, karena mereka
memperoleh risiko yang paling kecil atas segala jenis modal jangka panjang,
antara lain:
a) Modal pinjaman mempunyai prioritas lebih dahulu bila terjadi tuntutan
atas pendapatan/aktiva yang tersedia untuk pembayaran;
b) Modal pinjaman mempunyai kekuatan hukum atas pembayaran
dibandingkan dengan pemegang saham preferen atau saham biasa;
c) Bunga pinjaman merupakan biaya yang dapat mengurangi pajak, maka
biaya modal pinjaman yang sebenarnya secara substansial menjadi lebih
rendah.
Menurut Sundjaja dan Barlian (2003, p.324), “hutang jangka panjang
merupakan salah satu dari bentuk pembiayaan jangka panjang yang memiliki
jatuh tempo lebih dari satu tahun, biasanya 5-20 tahun”. Pinjaman hutang jangka
panjang dapat berupa pinjaman berjangka (pinjaman yang digunakan untuk
membiayai kebutuhan modal kerja permanen, untuk melunasi hutang lain, atau
membeli mesin dan peralatan) dan penerbitan obligasi (hutang yang diperoleh
melalui penjualan surat-surat obligasi, dalam surat obligasi ditentukan nilai
nominal, bunga per tahun, dan jangka waktu pelunasan obligasi tersebut).
Mengukur besarnya aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur (debt
ratio) dilakukan dengan cara membagi total hutang jangka panjang dengan total
asset. Semakin tinggi debt ratio, semakin besar jumlah modal pinjaman yang
digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Beberapa hal yang menjadi pertimbangan manajemen sehingga memilih
untuk menggunakan hutang menurut Sundjaja et al (2003) adalah sebagai
berikut:
1. Biaya hutang terbatas, walaupun perusahaan memperoleh laba besar,
jumlah bunga yang dibayarkan besarnya tetap.
2. Hasil yang diharapkan lebih rendah daripada saham biasa.
3. Tidak ada perubahan pengendalian atas perusahaan bila pembiayaan
memakai hutang.
4. Pembayaran bunga merupakan beban biaya yang dapat mengurangi pajak.
5. Fleksibilitas dalam struktur keuangan dapat dicapai dengan memasukkan
peraturan penebusan dalam perjanjian obligasi.
Kreditur (investor) lebih memilih menanamkan investasi dalam bentuk
hutang jangka panjang karena beberapa pertimbangan. Menurut Sundjaja et al
(2003) yang dikutip oleh Denny Bagus (2010) dalam situs WordPress oleh Chris
Pearson , pemilihan investasi dalam bentuk hutang jangka panjang dari sisi
investor didasarkan pada beberapa hal berikut:
1. Hutang dapat memberikan prioritas baik dalam hal pendapatan maupun
likuidasi kepada pemegangnya.
2. Mempunyai saat jatuh tempo yang pasti.
3. Dilindungi oleh isi perjanjian hutang jangka panjang (dari segi resiko).
4. Pemegang memperoleh pengembalian yang tetap (kecuali pendapatan
obligasi).

Teori Struktur Modal (skripsi dan tesis)

Teori mengenai struktur modal modern bermula pada tahun 1958, ketika
Profesor Franco Modigliani dan Profesor Merton Miller (MM), mempublikasikan
apa yang disebut sebagai artikel keuangan yang paling berpengaruh yang pernah
ditulis, berdasarkan serangkaian asumsi yang sangat membatasi, MM
membuktikan bahwa nilai suatu perusahaan tidak dipengaruhi oleh struktur
modalnya. Dengan kata lain, hasil-hasil MM menyatakan bahwa tidak menjadi
masalah bagaimana perusahaan membiayai operasinya, jadi struktur modal tidak
relevan. Tetapi, studi MM didasarkan pada sejumlah asumsi yang tidak realistis,
antara lain:
1. Tidak ada biaya broker (pialang).
2. Tidak ada pajak.
3. Tidak ada biaya kebangkrutan.
4. Para investor dapat meminjam dengan tingkat suku bunga yang sama
dengan perseroan.
5. Semua investor mempunyai informasi yang sama seperti mamajemen
mengenai peluang investasi perusahaan dimasa datang.
6. EBIT tidak dipengaruhi oleh penggunaan hutang.
Meskipun dari beberapa asumsi-asumsi ini tidak terlihat realistis, hasilhasil
MM yang tidak relevan sangat penting artinya. Dengan menunjukkan
kondisi-kondisi di mana struktur modal tidak relevan, MM juga memberikan
beberapa petunjuk tentang apa yang diperlukan bagi struktur modal agar menjadi
relevan sehingga akan mempengaruhi nilai suatu perusahaan. Riset dalam bidang
ini sangat luas, tetapi garis besarnya yaitu:
a) Efek Pajak; dengan asumsi dapat dikurangkannya bunga untuk tujuan
pajak menguntungkan penggunaan biaya dengan hutang, tetapi perlakuan
pajak yang lebih menguntungkan atas penghasilan dari saham menurunkan
tingkat pengembalian yang disyaratkan pada saham dan dengan demikian
menguntungkan penggunaan pembelanjaan dengan ekuitas.
b) Efek Biaya Kebangkrutan; hasil-hasil MM yang tidak relevan juga
tergantung pada asumsi bahwa tidak ada biaya kebangkrutan. Namun,
dalam praktek kebangkrutan bisa sangat mahal. Perusahaan yang bangkrut
mempunyai biaya hukum dan akuntansi yang sangat tinggi, dan juga
mereka sangat sulit untuk menahan pelanggan, pemasok dan karyawan.
Masalah yang terkait kebangkrutan semakin cenderung muncul apabila
suatu perusahaan menyertakan lebih banyak hutang dalam struktur
modalnya. Karena itu, biaya kebangkrutan menghalangi perusahaan
penggunaan hutang yang berlebihan. Biaya yang terkait kebangkrutan
mempunyai dua komponen: terjadinya probabilitas dan biaya-biaya yang
akan timbul bila kesulitan keuangan telah muncul.
c) Teori Trade-Off; menyeimbangkan manfaat dari pendanaan dengan hutang
(perlakuan pajak perseorangan yang menguntungkan) dengan suku bunga
dan biaya kebangkrutan yang lebih tinggi. Dimana sejauh manfaat dari
penggunaan hutang lebih besar, maka tambahan hutang masih diperbolehkan.
Apabila pengorbanan atas penggunaan hutang sudah lebih besar, tambahan
hutang tidak diperbolehkan. Trade off theory telah mempertimbangkan
berbagai faktor, seperti corporate tax, biaya kebangkrutan dan personal tax
dalam menjelaskan mengapa suatu perusahaan memilih struktur modal
tertentu (Husnan, 2000 dalam Gata Niztiar 2013). Ringkasan teori trade-off
yaitu: penggunaan hutang mengakibatkan peningkatan porsi laba operasi
perusahaan (EBIT) yang mengalir ke investor, sehingga semakin besar
hutang perusahaan, semakin tinggi nilainya dan harga sahamnya. Dalam
kenyataannya, jarang ada yang menggunakan hutang 100 persen. Salah
satu alasannya adalah kenyataan bahwa pemegang saham mendapat
keuntungan modal yang lebih rendah. Lebih penting lagi, perusahaan
membatasi penggunaan hutang untuk menekan biaya-biaya yang berkaitan
dengan kebangkrutan. Tingkat ambang hutang di mana biaya
kebangkrutan mulai menjadi material. Struktur modal optimal, manfaat
marjinal dari perlindungan pajak = biaya kebangkrutan marjinal.
d) Pecking Order Theory ini pertama kali dikemukakan oleh Myers dan
Majluf (1984). Disebut teori pecking order karena teori ini menjelaskan
mengapa perusahaan akan menentukan hierarki sumber dana yang paling
disukai. Secara ringkas teori tersebut menyatakan bahwa (Brealey and
Myers, 1991);
1. Perusahaan menyukai internal financing (pendanaan dari hasil
operasi perusahaan).
2. Perusahaan mencoba menyesuaikan rasio pembagian deviden yang
ditargetkan dengan berusaha menghindari perubahan pembayaran
deviden secara drastis.
3. Kebijakan deviden yang relatif segan untuk diubah, disertai dengan
fluktuasi profitabilitas dan kesempatan investasi yang tidak bisa
diduga, mengakibatkan bahwa dana hasil operas kadang-kadang
melebihi kebutuhan dana untuk investasi, meskipun pada
kesempatan yang lain, mungkin kurang. Apabila dana hasil operasi
kurang dari kebutuhan investasi, maka perusahaan akan
mengurangi saldo kas atau menjual sekuritas yang dimiliki.
4. Apabila pendanaan dari luar (external financing) diperlukan, maka
perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling “aman”
terlebih dahulu yaitu dimulai dengan penerbitan obligasi, kemudian
diikuti oleh sekuritas yang berkarakteristik opsi (seperti obligasi
konversi), baru akhirnya apabila masih belum mencukupi, saham
baru diterbitkan.
Perusahaan-perusahaan yang profitable umumnya meminjam dalam
jumlah yang sedikit. Hal tersebut bukan karena mereka mempunyai target rasio
hutang yang rendah, tetapi karena memang mereka membutuhkan external
financing yang sedikit. Perusahaan–perusahaan yang kurang profitable cenderung
mempunyai hutang yang lebih besar karena alasan dana internal yang tidak
mencukupi kebutuhan dan karena hutang merupakan sumber eksternal yang lebih
disukai. Pendanaan internal lebih disukai karena hal tersebut memungkinkan
perusahaan untuk tidak membuka diri lagi terhadap pihak luar. Dalam pendanaan
eksternal, hutang lebih disukai daripada modal sendiri karena pertimbangan biaya
emisi obligasi akan lebih murah dibanding dengan biaya emisi saham. Selain itu
manajemen juga mengkhawatirkan apabila melakukan penerbitan saham baru
dipandang sebagai hal yang negatif oleh para pemodal, hal tersebut tentunya
berdampak buruk bagi harga saham (Husnan, 1996 dalam Gata Niztiar 2013).

Pengertian Struktur Modal (skripsi dan tesis)

Menurut Handono Mardiyanto (2009), struktur modal didefinisikan
sebagai komposisi dan proposi hutang jangka panjang dan ekuitas (saham
preferen dan saham biasa) yang ditetapkan perusahaan.
Menurut Lawrence, Gitman (2000, p.488), definisi struktur modal adalah
sebagai berikut: ”Capital Structure is the mix of long term debt and equity
maintained by the firm”. Struktur modal perusahaan menggambarkan
perbandingan antara hutang jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan
oleh perusahaan.
Weston dan Copeland (1992) memberikan definisi struktur modal sebagai
pembiayaan permanen yang terdiri dari hutang jangka panjang, saham preferen,
dan modal pemegang saham. Nilai buku dari modal pemegang saham terdiri dari
saham biasa, modal disetor atau surplus modal dan akumulasi laba ditahan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan, bahwa struktur modal
merupakan pembelanjaan permanen yang menceminkan pertimbangan antara
jangka panjang dan modal sendiri baik yang berasal dari sumber internal maupun
sumber eksternal.
Jika hutang sesungguhnya (realisasi) berada dibawah target pinjaman perlu
ditambah:
Jika rasio hutang melampaui target jual saham.
Kebijakan struktur modal trade off antara risk & return;
Hutang meningkat risk meningkat return meningkat;
Risk meningkat harga saham menurun;
Return meningkat harga saham meningkat.
Dalam struktur modal juga terdapat struktur modal optimum yang merupakan
struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara risk dan return sehingga
memaksimalkan harga saham. Menurut Brigham dan Houston (2010), dalam
Muhammad Syahril Ferdiansya dan Isnurhadi, struktur modal yang optimum adalah
struktur yang memaksimalkan harga dari saham perusahaan. Oleh karena itu,
manajemen dalam menetapkan struktur modal tidak bersifat kaku tetapi disesuaikan
dengan keadaan perusahaan. Dengan demikian, tujuan pihak manajemen untuk
memaksimumkan kemakmuran pemegang saham dapat tercapai.
Ada dua jenis risiko yang terdapat pada struktur modal optimal, yaitu:
1. Risiko Bisnis (business risk)
Merupakan tingkat risiko dari operasi perusahaan jika tidak menggunakan
hutang.
2. Risiko Keuangan (financial risk)
Merupakan risiko tambahan bagi pemegang saham biasa karena perusahaan
menggunakan hutang.

Kepemilikan Manajerial (skripsi dan tesis)

Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa kepemilkan saham manajerial dapat membantu penyatuan kepentingan antara pemegang saham dan manajer. Pernyataan tersebut menjelaskan bahwa kepemilikan saham oleh manajerial dapat mengurangi konflik keagenan. Hal tersebut dikarenakan segala keputusan yang diambil oleh pihak manajer akan dirasakan langsung oleh manajer karena turut serta memiliki perusahaan tersebut. Sehingga kepemilikin manajerial yang cukup tinggi berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Jahmani dan Ansari (2006) tentang pengaruh kepemilikan manajerial terhadap kinerja perusahaan menemukan hasil bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan salah satunya menggunakan Return on Asset. Penelitian tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wiranata dan Nugrahanti (2013) yang menemukan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan manufaktur di Indonesia.

Kepemilikan Institusional (skripsi dan tesis)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Chen dan Chen (2007) menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan Return on Asset dan nilai Tobins’Q. Kepemilikan institusional memiliki peranan penting dalam meminimalisasi konflik keagenan yang terjadi diantara pemegang saham dan manajer. Keberadaan investor institusional dianggap mampu mengoptimalkan pengawasan kinerja manajemen dengan memonitoring setiap keputusan yang diambil oleh pihak manajemen selaku pengelola perusahaan (Jensen dan Meckling, 1976). Tingkat kepemilikan institusional yang tinggi akan menimbulkan usaha pengawasan yang lebih besar oleh pihak investor institusional  sehingga dapat menghalangi perilaku opportunistic manajer (Wiranata dan Nugrahanti, 2013). Pengawasan yang dilakukan oleh institusional membuat para manajer harus memberikan informasi yang akurat terhadap kinerja perusahaan.

Kinerja Perusahaan (skripsi dan tesis)

Kinerja perusahaan merupakan tingkat keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan. Dalam mengukur kinerja perusahaan terdapat beberapa alat pengukuran yang dapat digunakan salah satunya menggunakan Return on Asset (ROA) dan nilai Tobins’Q. 2.5.1 Return on Asset (ROA) Return on Asset (ROA) banyak digunakan oleh peneliti untuk mengukur kinerja perusahaan. Pengertian ROA atau biasa disebut juga dengan rentabilitas ekonomis merupakan ukuran kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan (Sutrisno, 2000). 2.5.2 Tobins’Q Tobins’Q mencerminkan nilai perusahaan, sehingga banyak digunakan oleh peneliti untuk mengukur nilai perusahaan. Pengertian dari Tobins’Q merupakan penilaian terhadap nilai perusahaan dengan cara membandingkan nilai pasar perusahaan dengan nilai buku total aktiva. Indikator Tobins’Q digunakan untuk mengukur kinerja peruahaan khususnya nilai perusahaan, yang menunjukkan suatu performa manajemen dalam mengelola aktiva perusahaan serta. Apabila perusahaan memiliki nilai lebih besar dari nilai dasar sebelumnya, maka akan memiliki biaya untuk meningkatkan kembali, dan laba kemungkinan akan didapatkan (Sudiyatno dan Pustiptasri, 2010). Menurut lang, Slutt dan Walkling (1989) dalam Sudiyatno dan Puspitasari (2010) , nilai Tobins’Q menggambarkan suatu kondisi peluang investasi yang dimiliki perusahaan

Teori Agensi (skripsi dan tesis)

Teori agensi merupakan teori yang membahas tentang perilaku hubungan investor dengan manajer pada suatu perusahaan yang biasa disebut dengan agency relationship. Jensen dan Meckeling (1976) mendefinisikan agency relationship sebagai kontrak antara satu orang atau lebih (prinsipal) yang berhubungan dengan orang lain (agen) untuk melakukan suatu pekerjaan yang berkaitan dengan  pendelegasian dan memberikan kewenangan kepada agen untuk membuat suatu keputusan. Dalam pemberian kewenangan dari prinsipal kepada pihak agen, tidak selalu berjalan dengan maksimal dikarenakan kemungkinan akan terjadinya perbedaan kepentingan antara prinsipal dengan agen yang akan berdampak pada perilaku agen untuk menguntungkan dirinya sendiri. Prinsipal dapat mengurangi permasalahan keagenan dengan cara memberikan insentif yang tepat untuk para agen dan mengadakan biaya monitoring yang dirancang untuk mengawasi kegiatan menyimpang yang dilakukan oleh agen. Insentif tersebut bisa dalam bentuk pemberian uang secara langsung ataupun pembagian saham yang diberikan kepada pihak agen (Jensen dan Meckeling, 1976)

Corporate Governance (skripsi dan tesis)

Corporate Governance adalah sebuah prinsip dimana dewan direksi diharapkan untuk secara efektif mengawasi secara langsung kegiatan korporasi. Penerapan prinsip-prinsip Corporate Governance secara efektif akan memastikan bahwa kepentingan pemegang saham yang diwakilkan oleh dewan direksi dan korporasi akan memenuhi semua persyaratan hukum dan etika (Anand, 2008). Claessens (2003) mendefinisikan Corporate Governance sebagai batasan lembaga dan kebijakan yang terlibat pada fungsi mereka yang berhubungan dengan korporasi. Baik pasar maupun lembaga akan mempengaruhi fungsi Corporate 24 Governance untuk menghasilkan dan memberikan kualitas yang baik dan informasi yang transparan terhadap kinerja perusahaan. Corporate Governance dipengaruhi oleh hubungan antara partisipan pada sistem tata kelola pemerintahan. Pemegang saham pengendali seperti individu, kepemilikan keluarga, aliansi, perusahaan atau lainnya yang bertindak melalui perusahaan induk atau antar shareholder, dapat mempengaruhi perilaku perusahaan secara signifikan (OECD, 2004). Menurut Keputusan Menteri Badan Usahan Milik Negara Nomor KEP117/M-MBU/2002, Corporate Governance adalah suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika. Suatu sistem corporate governance yang efekif seharusnya mampu mengatur kewenangan direksi, yang bertujuan dapat menahan direksi untuk tidak menyalah gunakan kewenangan dan untuk memastikan bahwa direksi bekerja semata-mata untuk kepentingan perusahaan (Surya dan Yustiavandana, 2006).

Perusahaan Keluarga (skripsi dan tesis)

Menurut Sugiarto (2009), perusahaan keluarga didefinisikan sebagai suatu bentuk perusahaan dengan kepemilikan dan manajemen yang dikelola dan dikontrol oleh pendiri atau anggota keluarganya atau kelompok yang memiliki pertalian keluarga, baik yang tergolong keluarga inti atau perluasannya (baik yang memiliki hubungan darah atau ikatan perkawinan). Sebuah perusahaan dikatakan sebagai perusahaan keluarga jika salah satu dari tiga faktor yang terdiri dari modal ekutias, pengelolaan dan pengendalian didominasi sepenuhnya oleh keluarga, atau jika tidak ada pengaruh pada salah satu dari tiga faktor lain (Klein, 2004 dalam Kraus, Pohjola dan Koponen, 2011). Untuk dapat dikatakan sebagai perusahaan keluarga tentu harus memiliki kriteria. Martinez, Stohrdan Bernhard (2005) mendefinisikan perusahaan yang dikontrol oleh keluarga dengan memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Sebuah kepemilikan yang dikendalikan oleh keluarga, dan dimana anggota keluarga juga menjadi direksi dan top manajer. 2. Perusahaan yang secara jelas dikendalikan oleh keluarga, dan anggota keluarga menjadi dewan direksi utama. 3. Perusahaan yang dalam suatu kelompok bisnis yang berhubungan jelas dengan suatu keluarga bisnis. 4. Perusahaan yang secara jelas berhubungan dengan kelompok bisnis dengan seorang enterpreneur atau pelaku bisnis tanpa keturunan langsung, tetapi ada pertanda jelas bahwa diproyeksikan dalam waktu kedepan kontrol perusahaan akan dilanjutkan oleh keturuan tidak langsungnya (Saudara kandung, sepupu, keponakan, dan lain-lain). 5. Melakukan kontrol perusahaan dengan menunjuk sebagian anggota direksi yang didapatkan melalui mayoritas kepemilikan saham, pengaruh atas pemegang saham lain, karena untuk pengetahuan bisnis keluarga, tradisi, keyakinan atau kepercayaan, persahabatan dan lainlain. Dengan definisi yang disebutkan oleh berbagai peneliti dapat disimpulkan bahwa perusahaan dapat dikatakan sebagai perusahaan keluarga karena kontrol yang dominan keluarga terhadap perusahaan. Selain itu penempatan keluarga dalam jajaran dewan direksi merupakan suatu keharusan yang dilakukan oleh keluarga agar memenuhi salah satu kriteria untuk dapat dikatakan perusahaan keluarga.

Tingkat Profitabilitas Sebelum Dan Sesudah Suksesi (skripsi dan tesis)

Profitabilitas yaitu kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total asset maupun modal sendiri. Perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi cenderung menggunakan hutang yang relatif kecil karena tingkat profitabilitas yang tinggi menyediakan sejumlah dana internal yang relatif besar yang diakumulasikan sebagai laba yang ditahan (Mayangsari, 2001 dalam Joni dan Lina, 2010). Sebaliknya jika laba yang dihasilkan perusahaan rendah, maka perusahaan cenderung menggunakan hutang yang lebih besar karena dana internal yang dimiliki tidak cukup untuk mendanai kegiatan perusahaan. Menurut hasil yang didapatkan dari McConaughy dan Phillips (1999) perusahaan keluarga yang dikendalikan oleh generasi selanjutnya lebih menguntungkan daripada perusahaan keluarga dikontrol oleh pendiri. Meskipun pengendalian dari pendiri perusahaan memiliki kapasitas yang lebih tinggi untuk tumbuh, perusahaan keluarga yang dikelola oleh keturunan memiliki kemampuan yang lebih tinggi untuk menghasilkan keuntungan karena mereka dapat menuai keuntungan dari saat investasi awal aset dan R & D modal yang sudah dilakukan oleh pendiri.

perbedaan tingkat hutang sebelum dan sesudah suksesi (skripsi dan tesis)

Meskipun efek dari transfer generasi pada tingkat kewajiban hutang dapat bersifat positif atau negatif, ide stagnasi tampaknya berlaku, menyiratkan bahwa suksesi umumnya akan mengurangi tingkat pembiayaan utang. Namun, transfer dari pertama ke generasi kedua tidak akan selalu memiliki efek yang sama sebagai suksesi yang terjadi di generasi berikutnya. Ini dapat dikaitkan dengan peningkatan tingkat dispersi kepemilikan serta kebutuhan yang lebih tinggi untuk pembiayaan eksternal dalam mendanai transisi, di mana kedua masalah harus lebih jelas dalam suksesi generasi ketiga atau yang lebih baru. Hal tersebut juga didukung dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Kaye dan Hamilton (2004) yang menunjukkan bahwa keturunan biasanya memiliki kemauan yang lebih rendah untuk mengambil risiko dibandingkan dengan orang tua mereka. Menurut penelitian Molly et.al., (2010) dampak dari suksesi atau transfer generasi pertama ke generasi kedua negatif dalam mempengaruhi tingkat hutang perusahaan

Nilai Perusahaan (skripsi dan tesis)

Telah diketahui tujuan dasar dari sebuah perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan pemilik perusahaan-yaitu, untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Berdasarkan teori ekonomi neoklasik, nilai sebuah perusahaan adalah sebesar nilai sekarang dividen ekspektasian (berupa aliran kas bersih yang akan diterima dari perusahaan tersebut pada masa-masa mendatang). Nilai perusahaan ditentukan dengan seberapa banyak orang bersedia membayar untuk mendapatkan perusahaan tersebut, semakin orang menganggap suatu perusahaan bernilai, semakin mereka bersedia membayar banyak untuk memilikinya. Kemudian pemilik yang ada dapat menjualnya kepada investor di atas harga beli semula, sehingga meningkatkan kekayaan saat ini pemilik saham. Tugas manajer keuangan adalah  untuk membuat kebijakan yang akan membuat orang berpendapat perusahaan semakin menguntungkan, dan pada gilirannya membuat orang mau membayar lebih untuk membeli perusahaan. Timothy Gallagher (2000) dalam Widyaningrum (2010) menyatakan bagi perusahaan yang menjual sahamnya kepada publik, harga saham dapat mengindikasikan nilai dari sebuah bisnis (perusahaan) karena pemilik saham-orang yang membeli bagian saham perusahaan-menjadi bagian dari pemilik perusahaan. Jadi peran utama manajer keuangan adalah membantu membuat saham perusahaan lebih bernilai. Nilai perusahaan dipengaruhi oleh ukuran aliran kas masa depan, waktu terjadinya aliran kas, dan risiko aliran kas. a. Aliran kas masuk meningkatkan nilai perusahaan, sedangkan aliran kas keluar mengurangi nilai perusahaan. b. Semakin cepat aliran kas diharapkan diterima, semakin besar nilai perusahaan. Dan semakin lama aliran kas tersebut diperoleh, maka semakin kecil nilai perusahaan. c. Semakin kecil risiko yang diasosiasikan dengan aliran kas masa depan, semakin besar nilai perusahaan. Semakin besar risiko, semakin rendah nilai perusahaan.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal (skripsi dan tesis)

1. Profitabilitas Profitabilitas yaitu kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total asset maupun modal sendiri. Perusahaan yang memiliki tingkat pengembalian yang tinggi cenderung menggunakan hutang yang relatif kecil karena tingkat profitabilitas yang tinggi menyediakan sejumlah dana internal yang relatif besar yang diakumulasikan sebagai laba yang ditahan (Joni dan Lina, 2010). Sebaliknya jika laba yang 25 dihasilkan perusahaan rendah, maka perusahaan cenderung menggunakan hutang yang lebih besar karena dana internal yang dimiliki tidak cukup untuk mendanai kegiatan perusahaan. Hal ini sesuai dengan teori struktur modal yaitu pecking order theory yang menyatakan perusahaan dengan tingkat profit tinggi lebih cenderung menggunakan sumber pendanaan internal terlebih dahulu yaitu seperti dari laba yang ditahan untuk membiayai kegiatan investasi dan pembelanjaan perusahaannya. Tetapi hal tersebut berbeda dengan teori Modigliani, yang mengatakan bahwa perusahaan yang memiliki tingkat profit yang tinggi cenderung menggunakan hutang yang besar untuk mendapatkan keuntungan dari pajak yaitu pembayaran bunga hutang dapat mengurangi beban pajak yang harus dibayar perusahaan sehingga ada penghematan membayar pajak. Dari penjelasan diatas menunjukkan adanya ketidak jelasan informasi, tetapi dari uraian tersebut menunjukkan bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh terhadap keputusan pendanaan atau struktur modal perusahaan. 2. Struktur Asset Struktur Asset mengambarkan proporsi atau perbandingan antara total asset tetap yang dimiliki oleh perusahaan dengan total asset perusahaan (Joni dan Lina, 2010). Pengertian lainnya yaitu, menurut Delcoure (2006), struktur asset mencerminkan seberapa besar asset tetap mendominasi komposisi kekayaan atau asset yang dimiliki perusahaan. Selain itu, struktur asset (tangibility) ini atau lebih dikenal sebagai tangible assets menunjukkan komposisi relatif asset tetap yang dimiliki oleh perusahaan. Struktur Asset merupakan salah salah satu faktor yang penting pada capital structure atau keputusan pendanaan suatu perusahaan, karena apabila perusahaan dihadapkan pada kondisi kesulitan  keuangan dalam membayar hutangnya, aset-aset berwujud atau asset tetap yang dimiliki perusahaan dapat bertindak sebagai jaminan dalam memberikan jaminan kepada pihak luar yang memberikan pinjaman (Febriyani dan Srimindarti, 2010 dalam Hasni, 2013). Perusahaan yang sebagian besar modalnya tertanam dalam asset tetap akan mengutamakan pemenuhan kebutuhan dananya dari modal sendiri, tetapi belum tentu juga karena menurut Joni dan Lina (2010), pengadaan untuk asset tetap membutuhkan dana yang tidak sedikit dan memungkinkan munculnya beban penambahan hutang bagi perusahaan. Asset tetap berwujud yang digunakan sebagai jaminan dapat memperkecil resiko kebangkrutan perusahaan dan biaya kesulitan keuangan untuk membiayai kegiatan perusahaan (Indrajaya, 2011 dalam Hani,2013). Disamping itu, penggunaaan asset lancar jumlahnya terbatas. Semakin besar jumlah asset tetap yang dimiliki perusahaan maka semakin besar pula jaminannya sehingga dapat memberikan kepercayaan kepada pihak eksternal untuk memberikan pinjaman kepada perusahaan dalam jumlah yang besar dan mengakibatkan tingkat penggunaan hutang perusahaan akan lebih besar dari pada modal sendiri dalam struktur modal perusahaan. Dari penjelasan tersebut menunjukkan bahwa struktur asset memiliki pengaruh terhadap struktur modal. 3. Growth Opportunity Growth opportunity yaitu perusahaan yang memiliki kesempatan/peluang untuk bertumbuh atau mencapai tingkat pertumbuhan atau mengembangkan perusahaannya. Perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi lebih banyak membutuhkan dana di masa depan, terutama dana eksternal untuk memenuhi kebutuhan investasinya atau untuk memenuhi kebutuhan untuk membiayai pertumbuhannya (Indrajaya, Herlina, dan Setiadi, 2011). Perusahaan yang berpeluang untuk mencapai pertumbuhan yang tinggi pasti akan mendorong perusahaan untuk terus melakukan ekspansi usaha dan dana yang dibutuhkan pasti tidaklah sedikit dan kemungkinan dana internal yang dimiliki jumlahnya terbatas sehingga akan mempengaruhi keputusan struktur modal atau pendanaan suatu perusahaan. Perusahaan yang berada pada tingkat pertumbuhan yang tinggi juga cenderung dihadapkan pada situasi kesenjangan informasi yang tinggi antara manajer dan investor mengenai proyek investasi perusahaan sehingga mengakibatkan modal ekuitas saham lebih besar dibandingkan dengan biaya modal hutang, karena menurut pandangan investor, modal saham lebih beresiko dibandingkan hutang sehingga perusahaan cenderung menggunakan hutangnya terlebih dahulu sebelum menggunakan ekuitas saham baru. Dari penjelasan tersebut menunjukkan tingkat growth opportunity juga berpengaruh terhadap keputusan pendanaan atau struktur modal perusahaan.

Komponen Struktur Modal (skripsi dan tesis)

Untuk memahami tentang struktur modal maka perlu mengetahui komponen atau pembagian dari struktur modal itu sendiri. Riyanto (2001) menyatakan pada dasarnya struktur modal suatu perusahaan terdiri dari dua komponen, yaitu modal asing atau hutang jangka panjang dan modal sendiri (shareholder equity). Berikut ini beberapa penjelasan mengenai komponen struktur modal, yaitu : 1. Hutang jangka panjang atau Modal asing Hutang jangka panjang yang merupakan sumber dana eksternal yang didapat perusahaan adalah jenis hutang yang jangka waktunya panjang atau memilki jatuh tempo lebih dari satu tahun. Jenis pembiayaan dari hutang jangka panjang ini pada umumnya digunakan oleh perusahaan untuk membelanjai kegiatan-kegiatannya, seperti melakukan perluasan usaha (ekspansi pasar) dan pengembangan produk karena membutuhkan jumlah dana (modal) yang besar. Ada berbagai jenis dari hutang jangka panjang suatu perusahaan, antara lain seperti : a. Hutang Obligasi Obligasi (bond) merupakan salah satu jenis surat berharga atau bentuk surat utang yang dikenakan bunga dan nilai nominalnya harus dibayarkan kembali pada tangga jatuh tempo yang ditentukan, biasanya lebih dari satu tahun. (Reeve, 2010 : 219). b. Hutang Hipotik Hutang hipotik adalah jenis hutang jangka panjang yang dijamin pembayarannya dengan asset tetap atau asset tidak bergerak, seperti tanah dan bangunan.  c. Kewajiban sewa guna usaha jangka panjang (hutang sewa pembiayaan) Kewajiban ini termasuk bagian dari hutang jangka panjang. Menurut Stice dan Skousen (2010), beberapa jenis kegiatan sewa guna usaha perusahaan atas properti, pabrik, dan peralatan pada hakikatnya merupakan pembelian yang didanai dengan hutang. Untuk akuntansi sewa guna usaha modal (atau pembiayaan perusahaan), nilai sekarang dari pembayaran sewa masa datang dicatat sebagai utang jangka panjang (Stice dan Skousen, 2009: 128). 2. Modal Sendiri (Shareholder Equity) Modal sendiri atau ekuitas pemegang saham merupakan modal yang diperoleh atau berasal dari pemilik/ pemegang saham perusahaan itu sendiri dan modal tersebut tertanam dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak tertentu batasnya (Riyanto, 2001). Sumber modal sendiri yang diperoleh perusahaan ada dua macam, yaitu dari sumber intern dan sumber ekstern. Sumber intern ini diperoleh dari keuntungan (laba) yang dihasilkan perusahaan dari aktivitas operasinya, sedangkan sumber ekstern modal sendiri perusahaan diperoleh atau berasal dari pemilik/pemegang saham perusahaan, yaitu modal saham. 3. Laba yang ditahan (Retained Earnings) Laba ditahan atau saldo laba ini merupakan jenis modal sendiri perusahaan yang berasal dari sumber intern perusahaan. Laba yang ditahan yaitu sisa laba dari keuntungan perusahaan yang belum dibagikan kepada para pemegang saham sebagai deviden. Laba ditahan dihasilkan dari kegiatan operasi. Laba bersih dapat meningkatkan laba ditahan, sebaliknya dividen dapat mengurangi laba ditahan (Reeve, 2010: 136). Laba ditahan ini biasanya digunakan untuk kepentingan perusahaan yaitu digunakan oleh manajemen sebagai modal untuk mengembangkan atau memperluas kegiatan operasi sehingga perusahaan dapat terus berkembang. 4. Saham biasa (common stock). Saham biasa adalah salah satu jenis komponen modal sendiri jangka panjang perusahaan yang berasal dari sumber eksternal perusahaan yaitu jenis modal yang ditanamkan ke perusahaan oleh para pemegang saham/ pihak investor. Saham biasa merupakan surat berharga dalam bentuk sertifikat yang memiliki fungsi sebagai bukti kepemilikan suatu perusahaan. Pemilik saham akan mendapatkan hak untuk menerima sebagian pendapatan tetap/deviden dari perusahaan serta kewajiban menanggung resiko kerugian yang diderita perusahaan. 5. Saham preferen. Saham preferen adalah salah satu jenis saham yang pemilik saham preferen ini memiliki hak lebih dibandingkan hak pemilik saham biasa. Keistimewaan saham preferen ini yaitu pemegang saham mempunyai hak istimewa untuk mendapatkan dividen (Pembagian laba) lebih dahulu, mereka mempunyai kesempatan lebih besar untuk menerima dividen secara teratur dibandingkan dengan pemegang saham biasa (Reeve, 2010:138).

Definisi Struktur Modal (skripsi dan tesis)

Struktur modal adalah perimbangan antara jumlah hutang jangka panjang dengan ekuitas atau modal sendiri yang dimiliki perusahaan (Riyanto, 2001 dalam Kartika (2009)). Struktur permodalan disebut juga sebagai keputusan untuk memilih sumber pembiayaan atau komposisi pemilihan atas pendanaan yang merupakan perbandingan dalam menentukan pemenuhan kebutuhan belanja perusahaan dimana dana yang diperoleh merupakan kombinasi dari sumber yang berasal dari dana jangka panjang yang terdiri dari dua sumber utama, yaitu berasal dari dalam dan luar perusahaan (Rodoni dan Ali, 2010:137). Menurut Weston dan Brigham (1994:180), struktur modal yang optimal pada suatu perusahaan adalah gabungan dari hutang dan ekuitas yang memaksimumkan harga saham perusahaan. Struktur modal berbeda dengan struktur keuangan dimana struktur keuangan perusahaan terdiri dari seluruh utang yaitu utang jangka pendek, utang jangka 21 panjang, dan modal sendiri yang digunakan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan/belanjanya. Sedangkan struktur modal adalah pendanaan permanen perusahaan yang terdiri dari utang jangka panjang dan modal sendiri (shareholder’s equity) yang digunakan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan/belanjanya. Menurut Mardiyanto (2008) dalam Hasni (2013) struktur modal, utang jangka pendek tidak diperhitungkan karena jenis utang ini pada umumnya bersifat spontan (maksudnya berubah sesuai dengan perubahan tingkat penjualan), sedangkan utang jangka panjang bersifat tetap selama jangka waktu yang relatif lebih panjang (biasanya lebih dari satu tahun) sehingga perlu lebih dipikirkan keberadaannya oleh para manajer keuangan perusahaan. Oleh karena itu, didalam keputusan pendanaan, struktur modal hanya terdiri dari utang jangka panjang dan ekuitas didalam membiayai kegiatan usaha perusahaan. Struktur modal itu sendiri biasanya mengacu pada bagaimana sebuah perusahaan mengelola pendanaan untuk aset– asetnya melalui berbagai kombinasi dari dari modal sendiri (equity), utang (debt), serta melalui hybrid securities. Keputusan struktur modal atau pendanaan dilakukan dengan tidak tepat dan tidak cermat akan menimbulkan biaya modal yang tinggi sehingga akan berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Biaya modal (cost of capital) merupakan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan untuk mendapatkan pendanaan eksternal (Stice dan Skousen, 2009:387). Teori trade off struktur modal menyatakan suatu perusahaan tidak akan mencapai nilai optimal jika semua pendanaan dibiayai oleh hutang atau tidak menggunakan hutang sama sekali didalam membiayai kegiatan perusahaan sehingga untuk itu manajer perusahaan harus secara cermat dan tepat dalam mengelola komposisi modal perusahaan (Suhendra, 2005 dalam Joni dan Lina, 2010).

Pengelompokkan Rasio Keuangan. (skripsi dan tesis)

Weston dan Copeland (1995) membuat suatu tinjauan atas hubungan analisis keuangan dengan melakukan tiga pengelompokkan besar, yaitu : 1. Ukuran Kinerja (Performance Measures) Ukuran kinerja dianalisis dalam tiga kelompok : a. Rasio Profitabilitas (Profitabilitas Ratio). Mengukur efektivitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang dihasilkan dari penjualan dan investasi. b. Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio). Mengukur kemampuan perusahaan untuk mempertahankan posisi ekonomisnya dalam pertumbuhan perekonomian dan dalam industri atau pasar produk tempatnya beroperasi. c. Ukuran Penilaian (Valuation Measures). Mengukur kemampuan manajemen untuk mencapai nilai-nilai pasar yang melebihi pengeluaran kas.

Keunggulan Analisis Rasio Keuangan (skripsi dan tesis)

Dengan analisis rasio kita membandingkan berbagai perkiraan dalam kategori yang berbeda, yakni antara perkiraan yang satu dengan yang lainnya, baik antar perkiraan dalam laporan rugi laba sendiri maupun antara neraca dan laporan rugi laba. Analisis rasio digunakan oleh tiga kelompok utama : (1) Manajer yang menggunakan rasio untuk membantu, menganalisis, mengendalikan, dan memperbaiki operasi perusahaan; (2) Analis kredit, yang menganalisis rasio untuk membantu menentukan kemamapuan perusahaan membayar utang; (3) analis saham, yang berkepentingan dengan efisiensi, risiko, dan prospek pertumbuhan perusahaan. Keunggulan analisis rasio keuangan dibandingkan dengan teknik analisis yang lainnya, yaitu : a. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan signifikan. b. Merupakan pengganti yang lebih sederhana dari informasi yang disajikan laporan keuangan yang sangat rinci dan rumit. c. Mengetahui posisi perusahaan di tengah industri lain. d. Sangat bermanfaat untuk bahan dalam mengisi model-model pengambilan keputusan dan model prediksi (Z-score).  e. Standard size (ukuran) perusahaan. f. Lebih mudah memperbandingkan perusahaan dengan perusahaan lain atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik atau ”time series”. g. Lebih mudah melihat trend perusahaan serta melakukan prediksi di masa yang akan datang.

Pengertian Rasio Keuangan (skripsi dan tesis)

Menurut Munawir (2002), ”Rasio menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematical relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angka rasio pembanding yang digunakan sebagai standard”. Bagi manajer keuangan dengan menghitung rasio-rasio tertentu akan memperoleh suatu informasi tentang kekuatan dan kelemahan yang akan dihadapi oleh perusahaan di bidang keuangan, sehingga dapat 18 membuat keputusan-keputusan yang penting bagi kepentingan perusahaan untuk masa yang akan datang. Sedangkan bagi investor atau calon pembeli saham merupakan bahan pertimbangan apakah menguntungkan untuk membeli saham perusahaan yang bersangkutan atau tidak.

Hubungan Kinerja Keuangan dengan Harga Saham (skripsi dan tesis)

Hubungan antara kinerja keuangan dengan harga saham adalah harga saham yang bersedia dibayar oleh pemodal, mencerminkan arus kas bersih yang diharapkan setelah memperhitungkan waktu dan risiko investasi. Mengenai nilai dari suatu saham juga menyangkut dengan perkiraan prestasi sebuah perusahaan di masa depan. Prestasi perusahaan dapat dinilai dari kinerja perusahaan pada periode waktu tertentu. Kinerja keuangan dapat dilihat dari laporan keuangan tahunan yang dikeluarkan secara periodik, sehingga kinerja keuangan dapat digunakan sebagai sumber data untuk mengukur perubahan harga saham. Dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan dari aspek keuangan atau financial dapat mempengaruhi harga saham di bursa efek.

Pengukuran Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan analisis kinerja keuangan perusahaan harus terdapat ketegasan pemikiran mengenai cara-cara pengujian yang akan dicapai. Untuk alasan-alasan khusus yang bagaimana serta harus dibuat batasan oleh analis mengenai titik berat analisis, tujuan dan dasar perbandingan yang mungkin dipakai. Dalam menilai kinerja keuangan yang akan dihubungkan dengan harga saham dapat digunakan rasio keuangan. Pemakaian rasio keuangan biasanya digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai prestasi operasional perusahaan. Sedangkan prestasi perusahaan dapat dinilai dari besarnya kinerja perusahaan selama periode tertentu. Kinerja keuangan perusahaan bisa diamati dari laporan keuangan yang dikeluarkan secara periodik yaitu neraca dan laporan rugi laba. Munawir (2002) menjelaskan bahwa dalam menganalisis dan menilai posisi keuangan dan potensi atau kemajuan-kemajuan perusahaan, faktor yang paling utama untuk mendapatkan perhatian oleh penganalisis adalah : a. Untuk Mengetahui Tingkat Likuiditas. Menunjukkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangan pada saat ditagih. Kewajiban keuangan suatu perusahaan pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: 1. Kewajiban keuangan yang berhubungan dengan pihak luar perusahaan (Kreditur). 2. Kewajiban keuangan yang berhubungan dengan proses produksi (internal perusahaan). b. Untuk Mengetahui Tingkat Solvabilitas.  Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan, baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang. c. Untuk Mengetahui Tingkat Rentabilitas atau Profibilitas. Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Rentabilitas suatu perusahaan diukur dengan kesuksesan perusahaan dan kemampuan menggunakan aktivanya secara produktif, dengan memperbandingkan antara laba yang diperoleh dalam suatu periode dengan jumlah aktiva atau jumlah modal perusahaan tersebut. d. Untuk Mengetahui Tingkat Stabilitas Usaha. Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk melakukan usahanya dengan stabil yang diukur dengan mempertimbangkan kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga atas hutang-hutangnya dan perusahaan untuk akhirnya membayar kembali hutang-hutang tersebut tepat pada waktunya serta kemampuan perusahaan secara teratur kepada pemegang saham tanpa mengalami hambatan atau krisis keuangan. Faktor-faktor tersebut diatas akan dapat diketahui dengan cara menganalisis dan menginterpretasikan laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan dengan menggunakan metode atau teknik analisis yang tepat atau sesuai dengan tujuan analisis. Dengan kata lain laporan keuangan suatu perusahaan perlu dianalisis karena dengan analisis tersebut akan diperoleh semua jawaban yang berhubungan dengan  masalah posisi keuangan dan hasil-hasil yang dicapai oleh perusahaan yang bersangkutan.

Pengertian Kinerja Keuangan (skripsi dan tesis)

Analisis kinerja perusahaan berdasarkan data keuangan yang dipublikasikan pada laporan keuangan yang dibuat sesuai dengan prinsip akuntansi yang lazim digunakan. Laporan ini merupakan data yang paling umum tersedia untuk tujuan tersebut, walaupun seringkali tidak mewakili hasil dan kondisi ekonomi. Penilaian kinerja keuangan perusahaan yang ditimbulkan sebagai akibat pengambilan keputusan manajemen akan berkaitan dengan masalah efektifitas pemanfaatan modal, efisiensi dan profitabilitas dari kegiatan usaha serta menyangkut nilai dan keamanan dari tuntutan yang timbul dari pihak
ketiga. Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kinerja keuangan perusahaan adalah prestasi atau hasil yang dicapai oleh perusahaan sebagai akibat dari keputusan yang telah dibuat manajemen secara terus-menerus, yang menggambarkan keadaan atau posisi
keuangan dalam waktu tertentu. Kinerja keuangan yang mampu menjelaskan beberapa kekuatan dan kelemahan perusahaan adalah rasio keuangan. Sumber data utama dalam melakukan analisis berasal dari neraca dan laporan rugi laba perusahaan pada periode tertentu. Dengan menggunakan data yang tersedia pada kedua laporan tersebut, dapat diketahui berbagai rasio keuangan sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

Suksesi dalam Perusahaan Keluarga (skripsi dan tesis)

Hal yang krusial dalam perusahaan keluarga adalah pergantian pimpinan (suksesi). Banyak perusahaan yang tidak siap dengan pergantian kepemimpinan sehingga perusahaan tersebut harus terhenti di generasi pertama saja, seperti dalam kasus Surabaya Post, harian terkemuka yang terbit di Surabaya dengan cakupan wilayah edar seluruh Jawa Timur. Meskipun putra-putri pendiri (R. Abdul Azis dan istrinya) bersekolah tinggi di Amerika Serikat dengan gelar doktor ekonomi, tetapi tidak bisa menyelematkan perusahaan sehingga harus di pailitkan oleh Pengadilan Niaga di tahun 2002. Berbeda dengan Surabaya Post, Thayeb Mohammad Gobel, pendiri PT Gobel Dharma Nusantara dahulu PT. National Gobel, menyiapkan Rachmat Gobel, anak ke-lima dan anak lelaki tertua. Gobel tua telah menyiapkan Rachmat sejak usia 8 tahun dengan sesering mungkin dilibatkan dalam suasana kantor dan pabrik di kawasan Cawang, Jakarta. Selain itu Rachmat juga disekolahkan bisnis di Jepang (Chuo University) juga menjalani kerja magang di perusahaan keluarganya sendiri. Selepas dari kuliahnya di Jepang, Rachmat harus menjalani masa 6 tahun dengan bekerja mulai dari bawah sampai akhirnya memegang tampuk Direktur pada tahun 1990. Keputusan menyekolahkan Rachmat ke Jepang adalah visi cemerlang Gobel tua. Belakangan muncul banyak perusahaan baru hasil patungan dengan perusahaan raksasa elektonik Jepang, Matsushita (tabloit bisnis Kontan, edisi 42/XI, 16 Juli 2007). Rhenald Kasali (harian Suara Pembaharuan, 27 November 2008) juga menguatkan pendapat Gobel. Seperti yang terjadi dalam proses pergantian kepemimpinan perusahaan 11 yang sukses di PT Mustika Ratu, Tbk, dari BRA Mooryati Soedibyo ke anaknya Putri Koeswisnu Wardani juga didahului dengan mekanisme pemagangan yang sungguh- sungguh. Proses pemagangan itu dijalaninya selama 5 tahun, dengan melibatkan pada pekerjaan yang berbeda-beda. Mulai dari bekerja di bagian pemasaran, kemudian pindah ke bagian keuangan, dengan perlakuan yang sama dengan karyawan biasa yang lain. Untuk menghindari terjadi tumpang tindih peran, dan adanya kemungkinan “gangguan” dari anggota keluarga Putri yang lain, maka sang Ibu memberikan “mainan lain” kepada anak- anak yang tak kebagian tongkat suksesi. Ada yang mengelola spa, untuk perawatan kecantikan tubuh, juga ada yang mengelola kontruksi yang sesuai dengan bakat dan pendidikan anak. Sedang anak yang lain yang tidak kebagian jabatan eksekutif tetap dilibatkan dalam menjaga bendera perusahaan dengan menempatkannya dalam jabatan komisaris. Bagi pendiri perusahaan keluarga, keberhasilan suksesi adalah ujian akhir kejayaannya (Tracey, 2001: 115-116). Memang sulit untuk memahami mengapa suksesi seringkali merupakan isu yang sensitif, khususnya bagi perusahaan keluarga generasi pertama. Orang yang mendirikan dan membesarkan, merasa sedih kalau mengalami kebangkrutan, dan kegagalan, sehingga membuat rencana suksesi merupakan hal yang sia- sia. Menurut Brännback M., Carsrud, A. L., Hudd, I., Nordberg, L. & Renko, M. (2006) menyarankan beberapa hal untuk rencana suksesi yang berhasil (golden rules for succession-planning) yaitu:

1. Susun harapan tentang tugas dan peran secara jernih.

2. Gaji berbasis kinerja actual, bukan berdasar kebutuhan personal.

3. Atur untuk supervisi, pemantauan, dan saran bagi mentor yang bukan keluarga.

4. Sediakan tanggung jawab yang sesungguhnya atas kinerja yang sesungguhnya.

5. Putar penugasan untuk periode yang bermakna.

6. Sediakan prosedur tertulis bagi anggota keluarga yang ingin meninggalkan perusahaan keluarga.

Beberapa telah atas pustaka tentang perusahaan keluarga, seperti yang dikemukakan oleh Neubauer and Lank (1998: 133) yang menyarankan konklusi sebagai berikut:

1) Suksesi CEO sejauh ini merupakan isu yang paling sering dibicarakan.

2) Faktor kritis yang menentukan apakah suatu perusahaan keluarga dapat bertahan adalah kemampuan mengelola proses suksesi.

Sementara itu Moores and Barrett (2002: 6) menyatakan bahwa “sustainability of Family Business depends on success of succession”. Sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa masa depan perusahaan keluarga tergantung pada keberhasilan suksesi. Sehingga tidak salah manakala Moores and Barrett (2002) mendefinisikan suksesi adalah peralihan kepemilikan perusahaan keluarga kepada suksesor dari pemilik sebelumnya. Perusahaan keluarga seringkali mempunyai masalah dalam pengelolaan suksesi ketika pendiri bisnis atau generasi pengelola saat ini telah begitu lama mengelola perusahaan keluarganya dan mendekati masa pensiun. Jika generasi sesudahnya mengambil alih manajemen, ada kemungkinan terdapat kesenjangan antara kepemilikan dengan kemampuan mengendalikan bisnis yang memerlukan ketrampilan dan kerja keras dalam memelihara dan mempertanggung jawabkan perusahaan keluarganya. Disisi lain, generasi tua sulit untuk menerima kenyataan bahwa ketuaannya dan dominansi patriarchal sudah tidak bisa  diterima atau tidak sesuai lagi. Ketika pengelola dan pemilik awal pensiun, terdapat dua isu terpisah, yaitu:

1. Pensiun dari menjalankan bisnis atau

2. Pensiun sebagai pemilik dan pengendali utama.

Yang kedua seringkali seakan-akan berjalan dengan baik setelah kejadian yang pertama terjadi. Beberapa hal yang terjadi seperti permohonan saran dari generasi yang lebih muda adalah hal yang menyenangkan. Hal ini menyadarkan generasi tua bahwa roda bisnis sekarang telah beralih ke tangan generasi yang lebih muda. Meskipun demikian, selama kepemilikan masih berada di tangan generasi yang lebih tua, perasaan gundah dari generasi tua bisa diminimalisir. Perasaan inilah yang membuat banyak orang merasa nyaman untuk mencoba menjalankan bisnis meskipun mereka tidak memiliki kendali mutlak. Merujuk pada permasalahan kepemilikan dan pengendalian, Connolly, Graham and Christopher Jay, (1996: 177) merekomendasikan sejumlah 30% dari kepemilikan yang dipindahkan kepada generasi yang lebih muda agar generasi yang lebih muda bersemangat dalam mengelola dan memajukan perusahaan keluarga namun bagai generasi yang lebih tua merasa aman dan tanpa rasa khawatir atas kelajutan bisnisnya di perusahaan keluarga. Dalam hubungannya dengan suksesi, Craig (2003) dalam studinya menemukan beberapa hal, yaitu:

a. Generasi pendiri mempunyai derajat individualitas dan kepercayaan (self-belief) yang lebih tinggi dibanding generasi kedua atau ketiga dari perusahaan keluarga.

b. Generasi pendiri berbeda secara signifikan dengan generasi ketiga (tapi tidak dengan generasi kedua) pada masalah-masalah pelaksanaan (direction) dan perencanaan

Kelebihan Bisnis Keluarga (skripsi dan tesis)

Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, bisnis keluarga memberi kontribusi besar bagi perekonomian negara. Dibandingkan dengan non bisnis keluarga, bisnis keluarga memberi kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian suatu negara. Hal tersebut merupakan hal yang wajar mengingat, bahwa bisnis keluarga memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan sektor bisnis yang lain. Adapun mengenai kelebihan bisnis keluarga, beberapa penelitian telah memberikan gambaran secara jelas, antara lain : a. Bisnis keluarga memiliki orientasi jangka panjang. b. Memiliki independensi yang lebih besar dari pada jenis bisnis yang lain. c. Budaya keluarga sebagai sumber kebanggaan dan kelebihan bisnis keluarga. 9 d. Kemampuan membalik keadaan dalam waktu sulit. e. Tidak terlalu birokratis dan impersonal dari pada sektor bisnis lain, sehingga bisnis keluarga memiliki kelebihan dalam tingkat flexibilitas yang tinggi dan juga pengambilan keputusan bisa berlangsung cepat. f. Keuntungan secara material dan finansial yang besar. g. Memiliki pemahaman terhadap bisnis yang dijalani sehingga mampu memberi pengenalan lebih awal kepada para anggota keluarga

Mooring Factor (Faktor Penambat) (skripsi dan tesis)

Menurut Son et.al (2017:153) dalam kerangka kerja PPM, faktor penambat adalah faktor pribadi, sosial, budaya dan situasional yang memfasilitasi atau menghambat keputusan beralih. Indikator faktor penambat antara lain biaya beralih, norma subjektif, sikap terhadap perpindahan, dan kecenderungan mencari alternatif

Switching Intention (Niat beralih) (skripsi dan tesis)

 

Bansal et.al. (2005:96) Niat beralih adalah tingkat kemungkinan atau kepastian bahwa pelanggan akan berpindah dari penyedia jasa atau produk saat ini kepada penyedia jasa atau produk baru. Menurut Haryanto dalam Wulandari (2016:160) ada tiga jenis intensi yaitu intensi sebagai harapan, intensi sebagai keinginan, yaitu keinginan dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu dan intensi sebagai rencana

Teori Migrasi atau Perpindahan Pelanggan (skripsi dan tesis)

Bansal et.al. (2005:96) menjelaskan
bahwa penting bagi perusahaan untuk
mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan
pelanggan beralih dan tidak beralih layanan
untuk dapat menentukan strategi yang tepat
dalam menjalankan bisnis. Menurut Bansal
et.al. (2005:97) model PPM (Push, Pull dan
Mooring) diusulkan sebagai kerangka kerja
pemersatu dalam memahami peralihan
pelanggan dikarenakan literatur pemasaran
sebelumnya belum memiliki model peralihan
penyedia layanan yang komprehensif atau
lengkap

 Penelitian Psychological Ownership (skripsi dan tesis)

Beberapa penelitian telah mengeksplorasi tentang pengalaman-pengalaman individu dalam menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap suatu objek. Menurut Pierce et al. (2003) munculnya psikologis kepemilikan didasarkan pada pengalaman manusia. Beberapa penelitian telah menjelaskan pengaruh PO terhadap loyalitas penggunaan objek kepemilikan, diantaranya adalah: Zhao et al. (2016) melakukan penelitian guna mengeksplorasi antaseden PO dalam meningkatkan keterlibatan pelanggan dan menumbuhkan loyalitas jangka panjang pada penggunaan media sosial Line di Taiwan. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa model yang diusulkan memiliki pengaruh terhadap loyalitas. PO memiliki efek pada keinginan pengguna untuk menggunakan objek secara berkelanjutan dan kesediaan untuk menginvestasikan biaya lebih pada konteks media sosial Line. Pada penelitian ini integrasi model PO dan Technology Acceptance Model (TAM) dilakukan dalam mengembangkan model dan ditemukan bahwa efek PO memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibanding konstruksi yang dimiliki oleh (TAM). Kim et al. (2016) melakukan penelitian kuasi eksperimen untuk menguji hubungan antara PO dengan social recognition (pengakuan sosial) terhadap niat berbagi karya oleh pembuat konten dalam konteks remix online community di Korea Selatan. Dari hasil penelitiam ditemukan bahwa hopotesis yang diusulkan memiliki pengaruh positif terhadap niat berbagai. Pengakuan yang lebih besar dari orang lain meningkatkan niat pembuat konten untuk berbagi. Faktor ini menjadi faktor yang sangat berpengaruh. Begitupun dengan faktor PO, rasa kepemilikan yang sangat besar berpengaruh pada niat berbagi. Pengakuan sosial dan PO juga ditemukan memiliki hubungan. Semakin besar rasa kepemilikan individu maka semakin besar pula efek pengakuan sosial yang ditimbulkan dari keinginan berbagi. Penelitian ini juga dapat dijadikan sebagai informasi bagi penyedia layanan online untuk 24 merancang sistem yang efektif untuk mendorong para pembuat konten ingin membagikan kreasi mereka. Karahanna et al. (2015) dari hasil penelitiannya menjelaskan bahwa kepemilikan psikologis mendorong individu untuk terlibat pada penggunaan media sosial karena media sosial memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan mendasar dari PO. Hasil empiris dari penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan penggunaaan media sosial secara kolektif berkontribusi pada motivasi kepemilikan psikologis yang akan mendorong penggunaan media sosial. Paré et al. (2006) menjelaskan mengenai penerimaan dokter terhadap sistem informasi klinis (CIS). peneliti mengungkapkan pentingnya mendorong dan membina hubungan positif pada sistem baru.

Hubungan antara niat dan perilaku beralih (skripsi dan tesis)

Bansal et al. (2005) menjelaskan bahwa niat beralih (switching intention) sebagai kemungkinan akan atau kepastian bahwa pengguna beralih dari penyedia layanan saat ini yang digunakan kepada penyedia layanan baru. Dalam teori migrasi penduduk dijelaskan bahwa setiap individu mempunyai beberapa kebutuhan berupa kebutuhan ekonomi, sosial dan psikologis. Apabila kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi di daerah tempat
tinggalnya, maka akan menimbulkan tekanan yang mendorong timbulnya keinginan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di tempat lain (LIPI, 2013). Tidak jauh beda dengan motivasi individu melakukan migrasi pada penyedia layanan, faktor migrasi timbul akibat individu merasa tidak mendapatkan layanan fungsional yang diharapkan atau tidak terpenuhinya kesetaraan antara harapan dan kenyataan Studi mengenai niat beralih individu telah banyak di eksplorasi oleh peneliti untuk melihat faktor-faktor yang menyebabkan individu beralih dan tetap pada layanan yang
digunakan. Penelitian yang ada dominan melihat niat beralih dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor,
yaitu adanya efek pendorong (push), efek penarik (pull) dan efek penambat (mooring). Efek
pull dan push dinilai sebagai efek positif yang mempengaruhi niat beralih dan mooring
merupakan efek negatif yang berpengaruh pada niat beralih (Bansal et al., 2005; Avus et al.,
2014; Bhattacherjee & Park, 2014; I. C. Chang et al., 2014; J. K. Hsieh, Hsieh, Chiu, & Feng,
2012; Sun et al., 2017).
Niat pengguna dan perilaku pengguna (switching behavior) merupakan variabel yang
terpisah. Venkatesh et al. (2003) dalam Peng et al. (2014) menjelaskan teori Unified Theory
of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) tentang penerimaan dan penggunan
teknologi. Teori tersebut menjelaskan bahwa sebelum penerimaan sistem baru, pengguna
umumnya memiliki niat untuk mencoba menggunakannya. Hubungan positif antara niat
penggunaan dan perilaku aktual ditemukan berpengaruh dalam berbagai studi penelitian
beralih layanan seperti beralih layanan pada konteks jasa (Bansal et al., 2005), migrasi
browser (Ye & Potter, 2011), cloud computing (Bhattacherjee & Park, 2014), online service
(J. K. Hsieh et al., 2012).

Pengaruh Norma Subjektif terhadap Customers Switching Intention yang dimoderasi oleh Variabel Biaya Beralih (skripsi dan tesis)

Bansal., et all (2005) menerangkan bahwa Customers switching
intention dipengaruhi oleh mooring factors. Bansal., et all (2005)
menyebutkan bahwa customers switching behavior dipengaruhi oleh
mooring factors yang berarti bahwa faktor ini dapat memperkuat atau
memperlemah minat konsumen untuk berpindah.Berdasarkan Teori PPM
yang dikemukakan oleh Bansal., et all (2005), switching cost
berpengaruh terhadap customers switching intention yang kemudian akan
membentuk sebuah perilaku baru yang disebut dengan customers
switching intention.
Ye,C,, & Potter,R (2014) dalam penelitiannya yang berjudul The
Role of habit in Post-Adoption Switching of Personal Information
Technologies : An Empirical Investigation, Communications of the
Associations for Information Systems menyebutkan bahwa faktor
penambat memoderasi faktor penarik dengan menghambat keinginan
seseorang untuk beralih ke penyedia layanan lain. Avida Bellami (2018)
dengan judul penelitian Beralih Layanan Pembiayaan Berbasis Financial
Technology (Crowdlending) Dengan Pendekatan Push – Pull – Mooring
menyatakan bahwa faktor penambat memiliki efek moderasi terhadap
pengaruh faktor penarik terhadap perilaku beralih. Bansal., et all (2005)
“Migrating” to New Service Providers : Toward a Unifying Framework of
Consumers Switching Behaviors menyatakan bahwa norma subjektif
seperti ajakan dari keluarga atau kerabat dekat dapat berpengaruh dalam
perilaku beralih pengguna layanan.

Pengaruh Kualitas Layanan terhadap Customers Switching Intention yang dimoderasi oleh Variabel Biaya Beralih (skripsi dan tesis)

Bansal., et all (2005) menerangkan bahwa Customers switching
intention dipengaruhi oleh mooring factors. Bansal., et all (2005)
menyebutkan bahwa customers switching behavior dipengaruhi oleh
mooring factors yang berarti bahwa faktor ini dapat memperkuat atau
memperlemah minat konsumen untuk berpindah.Berdasarkan Teori PPM
yang dikemukakan oleh Bansal., et all (2005), switching cost berpengaruh
terhadap customers switching intention yang kemudian akan membentuk
sebuah perilaku baru yang disebut dengan customers switching intention.
Penelitian yang dilakukan oleh Kem Z.K.Zhang, Christy
M.K.Cheung, Matthew K.O.Lee (2012)dengan judul Online Service
Switching Behavior : The Case of Blog Service Providers menyatakan
bahwa Biaya beralih tidak memoderasi kepuasan konsumen dan
kemenarikan alternatif lain dalam penelitian ini. Ye,C,, & Potter,R (2014)
dalam penelitiannya yang berjudul The Role of habit in Post-Adoption
Switching of Personal Information Technologies : An Empirical
Investigation, Communications of the Associations for Information
Systems menyebutkan bahwa faktor penambat memoderasi faktor
pendorong dengan menghambat keinginan seseorang untuk beralih ke
penyedia layanan lain. Bansal., et all (2005) “Migrating” to New Service
Providers : Toward a Unifying Framework of Consumers Switching
Behaviors menyatakan bahwa mooring factors (faktor penambat)
mempengaruhi Customer Switching Intention secara signifikan.

Customers Switching Intention (Perilaku Berpindah Konsumen) (skripsi dan tesis)

Bansal., et all, (2005 ) menyebutkan bahwa intensi berpindah
(switching intention) sebagai tingkat kemungkinan atau kepastian bahwa
pelanggan akan berpindah dari penyedia jasa saat ini kepada penyedia jasa
baru. Switching intention (intensi berpindah) merupakan tingkat
kemungkinan atau kepastian bahwa pelanggan akan berpindah dari
penyedia jasa saat ini kepada penyedia jasa baru (Bansal., et all 2005
dalam Hizbul, 2017 : 25) . Roos, Edvardsoon dan Gustafsson (2004)
membagi migrasi pelanggan menjadi dua yakni migrasi internal dan
eksternal. Dimana migrasi internal adalah migrasi pelanggan yang terjadi
tetapi masih dalam lingkup perusahaan yang sama. Jenis migrasi ini secara
garis besar masih menguntungkan perusahaan karena masih dalam
perusahaan yang sama meskipun dalam unit yang berbeda. Sedangkan
migrasi eksternal adalah migrasi pelanggan ke penyedia jasa alternatif
diluar perusahaan. Menurut Haryanto (2007), ada tiga jenis intensi, yaitu
sebagai berikut :
a. Intensi sebagai harapan, yaitu harapan – harapan yang timbul dalam
diri seseorang untuk melakukan sesuatu.
b. Intensi sebagai keinginan, yaitu keinginan dalam diri seseorang untuk
melakukan sesuatu.
c. Intensi sebagai rencana, yaitu rencana seseorang untuk melakukan
sesuatu.
Menurut Lucas dan Britt ( 2003 : 101) mengatakan bahwa
indikator yang terdapat dalam minat / intensi sebagai berikut :
a. Perhatian (mention ) : adanya perhatian yang besar dari konsumen
terhadap suatu produk (barang atau jasa )
b. Ketertarikan (interest ) : setelah adanya perhatian maka akan timbul
rasa tertarik pada konsumen
c. Keinginan (desire ) : berlanjut pada perasaan untuk menginginkan atau
memiliki suatu produk tersebut
d. Keyakinan ( conviction ) : Kemudian timbul keyakinan pada diri
individu terhadap produk tersebut sehingga menimbulkan minat
(proses akhir) untuk memperolehnya
e. Perasaan senang : seseorang memiliki perasaan senang terhadap
sesuatu, maka tidak ada rasa terpaksa melakukan sesuatu

Biaya Beralih (Switching Cost) (skripsi dan tesis)

Nasabah yang akan melakukan perpindahan akan memerlukan
serangkaian biaya untuk berpindah. Jones (2007) dalam penelitiannya
mengatakan bahwa switching cost (biaya beralih) merupakan
pengorbanan atau hukuman yang dirasakan oleh konsumen ketika
melakukan pergantian salah satu layanan jasa ke layanan jasa lainnya.
Xavier (2008) menyatakan bahwa switching cost (biaya beralih)
merupakan biaya nyata atau yang dirasakan yang timbul sebagai akibat
ketika mengubah pemasok (supplier) tetapi tidak terjadi ketika masih
menggunakan pemasok saat ini. Switching cost (biaya beralih) dapat saja
menyebabkan niat untuk berpindah atau dapat membuat seseorang
enggan untuk berpindah (Pradnyawati, 2013). Patterson dan Smith
menyebutkan bahwa switching cost adalah persepsi tentang besarnya
biaya tambahan yang dibutuhkan untuk mengakhiri hubungan dan
mengamankan salah satu alternatif. Panther dan Farquhar menyebutkan
bahwa kerumitan untuk mengubah penyedia layanan dan sedikitnya
waktu yang dimiliki oleh konsumen untuk mengubah layanan atau
mengevaluasi penyedia layanan merupakan beberapa alasan mengapa
konsumen memilih untuk tidak beralih atau tetap tinggal dengan bank
yang sekarang (Goitom, 2011).
Simbolon (2011) menyebutkan switching cost tidak hanya dapat
diasosiasikan sebagai economic cost (biaya ekonomis). Hasil penelitian
dari Simbolon tersebut terjadi karena selama proses peralihan akan timbul
beberapa biaya seperti search cost, transaction costs, learning costs, loyal
customer discounts, customer habit, emotional cost dan cognitive effort,
coupled with financial, social, dan psychological risk on the part of buyer.
Switching cost diasumsikan sebagai faktor penting karena sebagai
kekuatan untuk memicu loyalitas dan menjaga perusahaan stabil selama
perubahan kualitas pelayanan yang konstan dalam waktu singkat.
Switching cost merupakan bagian dari pengambilan keputusan dan proses
pelaksanaan oleh pelanggan. Pada proses ini, pelanggan yang
mengabaikan switching cost harus memperkirakan dan mengevaluasi
beberapa alternatif dari kriteria yang berbeda seperti layanan pelanggan,
perbedaan keuangan, nilai tambah, waktu yang dibutuhkan, dan juga
ikatan sosial antara pelanggan dan tenaga pelayanan. Terdapat banyak
risiko yang diambil oleh pelanggan saat memutuskan untuk beralih ke
merek lain (Anahita, 2015).
Porter dalam Perves menyebutkan dimensi switching cost sebagai
berikut :
a. Economic Risk Cost : Biaya untuk menerima ketidakpastian dari
sesuatu yang berpotensi menjadi hasil yang negatif ketika mengadopsi
penyedia jasa baru dimana konsumen yang bersangkutan tidak
memiliki informasi yang cukup mengenai provider baru tersebut.
b. Evaluation Cost : Waktu dan usaha yang dikeluarkan dalam
mengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi
alternatif provider potensial sehingga konsumen tersebut dapat
membuat keputusan untuk beralih provider.
c. Learning cost : Waktu dan usha yang dikeluarkan jntuk mendapatkan
keahlian atau keterampilan baru dalam rangka agar dapat
menggunakan produk atau jasa baru secara efektif.
d. Setup cost : Waktu dan usaha yang dikeluarkan yang disebabkan oleh
proses memulai hubungan dengan penyedia jasa baru atau mengatur
produk baru pada penggunaan awal.
e. Benefit loss cost : Biaya kehilangan benefit dari provideryang
digunakan konsumen sekarang, misalnya kehilangan bonus-bonus dan
diskon – diskon yang tidak akan diberikan provider kepada pelanggan
– pelanggan baru.
f. Personal relationship loss cost : Kehilangan yang disebabkan karena
memutuskan hubungan yang telah terbentuk dengan personel yang
berinteraksi dengan konsumen.
g. Brand relationship loss cost : Kecenderungan kehilangan yang
disebabkan karena memutuskan ikatan yang telah terbentuk dengan
merek atau perusahaan yang mana sebelumnya konsumen telah lama
berhubungan dengan merek dan perusahaan tersebut.

Norma Subjektif (skripsi dan tesis)

Menurut Azjen dan Driver dalam Munandar (2014) norma
subjektif adalah perasaan atau pendugaan seseorang terhadap harapanharapan dari orang- orang yang ada dalam kehidupannya mengenai
dilakukan atau tidak dilakukan perilaku tertentu. Norma subjektif
(subjective norm) adalah persepsi atau pandangan seseorang terhadap
kepercayaan-kepercayaan orang lain yang akan mempengaruhi niat untuk
melakukan atau tidak melakukan perilaku yang sedang dipertimbangkan
(Jogiyanto, 2007). Menurut Triastity dan Saputro (2013) norma subjektif
merupakan keyakinan individu mengenai harapan orang-orang sekitar
yang berpengaruh (significant other) baik perorangan ataupun
perkelompok untuk menampilkan perilaku tertentu atau tidak. Seseorang
berperilaku tidak terlepas dari kegiatan melakukan keputusan untuk
berperilaku. Keputusan yang akan diambil seseorang dilakukan dengan
pertimbangan sendiri maupun atas dasar pertimbangan orang lain yang
dianggap penting. Keputusan yang dipilih bisa gagal untuk dilakukan jika
pertimbangan orang lain tidak mendukung, walaupun pertimbangan
pribadi menguntungkan, dengan demikian pertimbangan subjektif pihak
lain dapat memberikan dorongan untuk melakukan tindakan atau membuat
keputusan, hal demikian dinamakan norma subjektif. Menurut
Dharmmesta (2005) norma subjektif diartikan sebagai faktor sosial yang
menunjukkan tekanan sosial yang dirasakan untuk melakukan atau tidak
melakukan suatu hal.
a. Komponen Norma Subjektif
Menurut Fishbein dan Azjen dalam Triastity dan Saputro (2013),
norma subjektif secara umum mempunyai dua komponen berikut :
1) Normative beliefs : Persepsi atau keyakinan mengenai harapan
orang lain terhadap dirinya yang menjadi acuan untuk menampilkan
perilaku atau tidak. Keyakinan yang berhubungan dengan pendapat
tokoh atau orang lain yang penting dan berpengaruh bagi individu
atau tokoh panutan tersebut apakah subjek harus melakukan atau
tidak suatu perilaku tertentu.
2) Motivation to comply : Motivasi individu untuk memenuhi harapan
tersebut. Norma subjektif dapat dilihat sebagai dinamika antara
dorongan-dorongan yang dipersepsikan individu dari orang-orang
disekitarnya dengan motivasi untuk mengikuti pandangan mereka
(motivation to comply) dalam melakukan atau tidak melakukan
tingkah laku tersebut.

Kualitas Layanan (Service Quality) (skripsi dan tesis)

Kualitas merupakan suatu tingkat kesempurnaan yang diharapkan
dan pengendalian atas kesempurnaan tersebut untuk memenuhi keinginan
pelanggan. (Wyckof dalam Tjiptono, 2000:52). Kualitas dianggap sebagai
ukuran relatif kebaikan suatu produk atau jasa yang terdiri dari kualitas
disain dan kualitas kesesuaian. Kualitas disain merupakan fungsi
spesifikasi produk sedangkan kualitas kesesuaian merupakan suatu ukuran
seberapa jauh suatu produk memenuhi persyaratan atau spesifikasi kualitas
yang telah ditetapkan. (Tjiptono, 2003:3). Menurut American Society for
Quality, kualitas adalah keseluruhan fitur dan karakteristk produk atau jasa
yang mampu memuaskan kebutuhan yang tampak atau samar (Heizer dan
Render,2009:301). Menurut berbagai pengertian tersebut di atas kualitas
merupakan suatu kondisi yang dinamis, dari suatu tingkat kesempurnaan
yang diharapan dari suatu produk atau jasa dalam upaya untuk memenuhi
keinginan pelanggan.
Kualitas Layanan merupakan keseluruhan berbagai ciri dan
karakteristik dari suatu produk atau jasa dalam hal kemampuan untuk
memenuhi berbagai kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten
(Parasuraman ., et all, 1985 dalam Nelloh 2011). Menurut Kotler dan
Keller (2009 : 9) kualitas adalah tingkat dimana semua unit yang
diproduksi oleh perusahaan dapat memenuhi spesifikasi yang dijanjikan.
Persepsi kualitas dari suatu produk atau jasa akan berpengaruh secara
langsung terhadap kepuasan. Perusahaan yang tidak memperhatikan
kualitas jasa yang ditawarkannya akan mempunyai resiko dengan loyalitas
penggunanya, sehingga apabila pengguna merasa tidak puas terhadap
kualitas jasa yang diberikan maka pengguna akan cenderung
meninggalkan perusahaan tersebut. Menurut Zeithaml., et, all (1996)
kualitas yang diperoleh pengguna akan menegaskan baik secara langsung
maupun tidak langsung mengenai pengaruh pembelian atau penggunaan
kembali.
Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1985) menyebutkan bahwa
kualitas layanan dapat diukur dengan metode SERVQUAL dengan
membagi 5 dimensi yang paling menentukan untuk mengukur kualitas
layanan, yaitu :
a. Tangibles (Bukti fisik) : tangibles merupakan bukti nyata dari
kepedulian dan perhatian yang diberikan oleh penyedia jasa kepada
pelanggan dan kemampuan perusahaan untuk menunjukkan
eksistensinya kepada eksternal, penampilan, bukti nyata pelayanan
yang diberikan oleh pemberi jasa meliputi fasilitas fisik (gedung,
perlengkapan dan peralatan yang digunakan atau teknologi serta
penampilan karyawan. Pentingnya dimensi tangibles ini akan
menumbuhkan image penyedia jasa terutama bagi konsumen baru
dalam mengevaluasi kualitas pelayanan.
b. Emphaty (kepedulian) : Emphaty atau kepedulian yaitu memberikan
perhatian yang tulus bersifat individual atau pribadi yang diberikan
kepada pelanggan dengan berupaya untuk memahami keinginan
pelanggan. Dimana suatu perusahaan diharapkan memiliki pengertian
dan pengetahuan tentang pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan
secara spesifik serta memiliki waktu pengoperasian yang nyaman bagi
pelanggan.
c. Responsiveness (ketanggapan) : responsiveness merupakan suatu
kemauan untuk membantu memberikan pelayanan yang cepat dan
tepat. Tingkat kepekaan yang tinggi terhadap nasabah perlu diikuti
dengan tindakan yang tepat sesuai dengan kebutuhan tersebut.
d. Reliability (keandalan) : reliability adalah kemampuan perusahaan
untuk melaksanakan jasa sesuai dengan apa yang telah dijanjikan
secara tepat waktu. Pentingnya dimensi ini adalah karena kepuasan
konsumen akan menurun jika jasa yang diberikan tidak sesuai dengan
yang dijanjikan. Dimensi ini berkaitan dengan kemampuan
menyediakan pelayanan sesuai dengan yang disajikan, sikap simpatik,
ketetapan waktu pelayanan, dan sistem pencatatan yang akurat.
e. Assurance (jaminan) : Assurance atau jaminan yaitu pengetahuan,
kesopanan santunan dan kemampuan karyawan perusahaan untuk
menumbuhkan rasa percaya para pelanggan. Dimensi ini sangat
penting karena melibatkan persepsi yang tinggi terhadap kemampuan
penyedia jasa. Perusahaan membangun kepercayaan dan kualitas
konsumen melalui karyawan yang langsung menangani konsumen.
Pelayanan dalam Islam menurut Hafifudin dan Tanjung (2003 ; 56
) dalam Yanti (2019) antara lain sebagai berikut :
a. Shidiq, yaitu berarti jujur, tidak pernah berdusta dalam melakukan
berbagai macam transaksi bisnis. Larangan berdusta, menipu,
mengurangi takaran timbangan dan mempermainkan kualitas akan
menyebabkan kerugian yang sesungguhnya. Nilai shidiq disamping
bermakna tahan uji, ikhlas serta memiliki kesinambungan
emosional.
b. Kreatif, berani dan percaya diri. Ketiga hak tersebut mencerminkan
kemauan berusaha untuk mencari dan menemukan peluang bisnis
baru, prospektif dan berwawasan masa depan namun tidak
mengabaikan prinsip nkekinian. Hal ini hanya mungkin dapat
dilakukan bila seorang pembisnis memiliki kepercayaan diri dan
keberanian untuk berbuat sekaligus siap menanggung berbagai
macam resiko.
c. Amanah dan Fatonah merupakan kata yang paling sering
diterjemahkan dalam nilai bisnis dalam manajemen dan
bertanggungjawab, transparan, tepat waktu, memiliki manajemen
bervisi, manajer dan pemimpin yang cerdas, sadar produk dan jasa,
secara berkelanjutan.
d. Tablig yaitu kemampuan berkomunikasi dengan baik, istilah ini
jugs diterjemahkan dalam bahasa manajemen sebagai supel, cerdas,
deskripsi tugas, delegasi wewenang, kerja tim, cepat tanggap,
koordinasi, kendali, dan supervisi.
e. Istiqomah yaitu secara konsisten menampilkan ndan
mengimplementasikan nilai-nilai diatas walau mendapatkan
godaan dan tantangan. Hanya dengan istiqomah peluang-peluang
bisnis yang prospektif dan menguntungkan akan selalu terbuka
lebar.

Kepuasan konsumen (Customers Satisfaction) (skripsi dan tesis)

Teori yang digunakan sebagai acuan pada riset kepuasan pelanggan
salah satunya adalah teori expectancy disconfirmation models Tjiptono,
(2015 : 73). Teori ini mendefinisikan kepuasan sebagai evaluasi yang
memberikan hasil dimana pengalaman yang dirasa pelanggan, setidaknya
sesuai atau sama baiknya dengan yang diharapkannya. Berdasarkan
konsumsi atau pemakaian produk dan merek lain didalam kelas produk
yang sejenis, seorang pelanggan membentuk harapannya mengenai
kinerja seharusnya dari merek yang bersangkutan. Harapan atas kinerja
tersebut, kemudian dibandingkan dengan kinerja aktual produk. Jika
kinerja lebih rendah dari harapan, yang terjadi adalah ketidakpuasan
emosional (negatif disconfirmation), serta apabila kinerja cenderung lebih
besar dibanding dengan harapan, yang terjadi adalah kepuasan emosional
(positif disconfirmation).
Kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau kecewa yang
merupakan hasil dari perbandingan antara harapan atau jasa yang
didapatkan (Kotler dan Keller, 2012 dalam Jaya 2016). Kepuasan
pengguna merupakan suatu kondisi dimana seorang konsumen merasa
bahwa apa yang diberikan oleh penyedia jasa dapat memenuhi kebutuhan
dan keinginannya. Dalam Weni dan Rizal (2008) dikemukakan bahwa
konsumen yang merasa puas adalah konsumen yang akan bertahan
(Anderson dan Sullivan, 1993) sedangkan konsumen yang merasa tidak
puas akan mengeluh atau berpindah (Hirschman, 1970).
Hawkins dan Lonney dalam Tjiptono (2004) menyebutkan atribut
pembentuk kepuasan pelanggan sebagai berikut :
a. Kesesuaian harapan : Merupakan tingkat kesesuaian antara kinerja
produk yang diharapkan oleh pelanggan dengan yang dirasakan oleh
pelanggan , meliputi :
1) Produk yang diperoleh sesuai atau melebihi yang diharapkan
2) Pelayanan oleh karyawan yang diperoleh sesuai atau melebihi
dengan yang diharapkan
3) Fasilitas penunjang yang didapat sesuai atau melebihi dengan yang
diharapkan
b. Minat berkunjung kembali : merupakan kesediaan pelanggan untuk
berkunjung kembali atau melakukan ppembelian ulang terhadap
produk terkait, meliputi :
1) Berminat untuk berkunjung kembali karena pelayanan yang
diberikan oleh karyawan memuaskan
2) Berminat untuk berkunjung kembali karena nilai dan manfat yang
diperoleh setelah mengkinsumsi produk
3) Berminat untuk berjuang kembali karena fasilitas penunjang yang
disediakan
c. Kesediaan merekomendasikan : merupakan kesediaan pelanggan untuk
merekomendasikan produk yang telah dirasakannya kepada teman atau
keluarga, meliputi :
1) Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk yang
ditawarkan karena pelayanan yang memuaskan
2) Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk yang
ditawarkan karena fasilitas penunjang yamg disediakan memadai
3) Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk yang
ditawarkan karena nilai atau manfaat yang didapat setelah
mengkonsumsi sebuah produk jasa.

Theory of Planned Behavior (TPB) (skripsi dan tesis)

Theory of Reasoned Action yang diusulkan oleh Ajzen dan
Fishbein (1980), dan diperbaharui dengan teori perilaku direncanakan
(theory of planned behavior) oleh Ajzen (1991), telah digunakan dalam
beberapa dekade terakhir untuk meneliti keinginan dan perilaku. Teori
tindakan beralasan Ajzen dan Fishbein, (1980), mengasumsikan bahwa
perilaku ditentukan oleh keinginan individu untuk melakukan atau tidak
melakukan suatu perilaku tertentu atau sebaliknya. Sari Rochmawati (
2013) menyebutkan bahwa Theory of Planned Behavior (TPB), perilaku
aktual seseorang dalam melakukan suatu tindakan tertentu secara langsung
dipengaruhi oleh niat perilakunya, yang secara bersama-sama ditentukan
pula oleh sikap (attitude), norma subjektif (subjective norm), dan kontrol
perilaku persepsian (perceived behavioral control) terhadap perilaku
tersebut. Niat perilaku merupakan ukuran dari kemauan seseorang untuk
mengerahkan usaha saat melakukan perilaku tertentu (Lee, 2008).

Teori PPM (Push-Pull-Mooring) (skripsi dan tesis)

Peneliti menerapkan kerangka kerja PPM (Push, Pull dan
Mooring Factors) yang telah dijelaskan oleh Bansal.,et all (2005) yang
menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi perpindahan pelanggan
dikelompokkan menjadi 3 kelompok yang terkenal sebagai model PPM
(Push, Pull dan Mooring Factors) . Push factors (faktor pendorong)
adalah faktor yang memotivasi orang untuk meninggalkan jasa lamanya
(Stimson dan Minnery , dalam Bansal., at all : 2005). Push factors adalah
persepsi umum dari karakteristik variabel penyedia jasa lama yang dapat
mempengaruhi konsumen untuk melakukan keputusan berpindah (Bogue
1997 dalam Bansal et., all ; 2005). Dari kedua pengertian tersebut, maka
dapat disimpulkan bahwa push factors adalah faktor negatif yang berasal
dari penyedia jasa lama yang kemudian dapat mendorong konsumen untuk
melakukan perpindahan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua
variabel pendorong yang berasal dari penyedia jasa yang secara signifikan
mempengaruhi/mendorong nasabah untuk berpindah yaitu kepuasan
konsumen dan juga kualitas layanan.
Pull Factor atau faktor penarik adalah faktor-faktor yang terdapat
pada penyedia jasa lain atau alternatif tujuan yang dapat menarik pengguna
untuk melakukan perpindahan (Bansal.,et all., 2005). Berdasarkan
paradigma push-pull, faktor-faktor atraktif yang ada di tempat tujuan akan
menarik pengguna untuk berpindah dari penyedia jasa layanan yang
digunakan saat ini. Kemenarikan alternatif (alternative attractiveness)
adalah variabel dari pull factor yang didefinisikan sebagai karakteristik
positif dari penyedia jasa yang secara positif akan mempengaruhi niatan
pengguna untuk melakukan perpindahan. Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan norma subjektif sebagai faktor penarik konsumen untuk
berpindah. Mooring factor atau faktor penambat adalah faktor yang dapat
menghambat atau mendukung perpindahan pengguna dari penyedia jasa
lama kepada penyedia jasa lain (Bansal., et all 2005). Switching Cost
(Biaya Berpindah ) adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk berpindah
dari penyedia jasa lama kepada penyedia jasa yang lainnya ( Porter 1998,
dalam Rizal dan Weni). Switching cost terbagi dalam tiga tipe yaitu biaya
perpindahan prosedural mencakup pengeluaran waktu dan usaha, biaya
finansial yang diukur dengan kehilangan sejumlah sumber keuangan, dan
biaya hubungan yang mencerminkan psikologi dan ketidaknyamanan
emosional ( Matthews dan Murray, 2007 dalam Jaya : 2016).

Push Pull Mooring Factors (skripsi dan tesis)

Push-pull merupakan komponen dari model PPM migrasi yang memiliki sejarah panjang, bahkan sejak abad ke 19 (Bansal et al., 2005). Moon (1995) dalam Bansal et al. (2005), mendefinisikan faktor pendorong sebagai faktor-faktor yang memotivasi pelanggan untuk berpindah dari penyedia jasa (service provider) lama yang diasumsikan memiliki pengaruh negatif pada kualitas indikator kehidupan. Dalam jasa, faktor pendorong ini dapat dikaitkan dengan rendahnya kualitas layanan pada penyedia jasa, sehingga mendorong pelanggan untuk berpindah ke penyedia jasa baru. Faktor-faktor yang dapat mendorong perpindahan pelanggan antara lain: kualitas, kepuasan, nilai, kepercayaan, komitmen, dan persepsi harga. Faktor penarik merupakan faktor positif yang terdapat di penyedia jasa alternatif yang dapat menarik pelanggan untuk berpindah (Bansal et al., 2005). Salah satu alasan konsumen memiliki pertimbangan untuk berpindah ke produk subtitusi karena produk substitusi memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan produk asal. Menurut paradigma push-pull, faktor positif yang ada pada penyedia jasa alternatif akan menarik pelanggan untuk berpindah. Variabel yang merupakan faktor penarik ini adalah daya tarik alternatif, yaitu karakteristik positif dari penyedia jasa alternatif yang secara positif mempengaruhi intensi berpindah pelanggan. Bansal et al. (2005) menyatakan bahwa paradigma push-pull tidak cukup mampu untuk menggambarkan kompleksitas keputusan migrasi. Paradigma push- pull menjadi lebih kompleks dengan adanya variabel intervening. Adanya hambatan-hambatan seperti kewajiban dalam keluarga serta biaya perpindahan yang tinggi dapat menjadi hambatan dalam perpindahan. Jadi meskipun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang kuat, seseorang belum tentu akan melakukan migrasi. Variabelvariabel penghambat ini meliputi sikap terhadap perpindahan, norma subyektif (pengaruh sosial), biaya berpindah (switching cost), perilaku masa lalu, dan kecenderungan dalam mencari variasi.

Perpindahan Merek (skripsi dan tesis)

Istilah brand berasal dari kata kuno brandr yang berarti “to brand” yaitu aktivitas yang sering dilakukan para peternak sapi di Amerika dengan memberikan tanda pada ternak mereka untuk memudahkan identifikasi kepemilikan sebelum dijual ke pasar (Keller, 1998). Menurut Aaker (2000) merek jangan hanya dipandang sebagai sebuah merek tetapi harus disadari sebagai sebuah nyawa. Dari pernyataan itu pula ia menyarankan merek haruslah dianggap bukan sebagai produk atau jasa tetap sebagai sebuah organisasi, orang atau simbol yang membedakannya dari merek-merek lain. Perilaku perpindahan merek atau brand switching pada pelanggan merupakan suatu fenomena yang kompleks yang dipengaruhi oleh faktor-faktor perilaku, persaingan, dan waktu (Srinivasan 1996 dalam Kurniawan 2016). Menurut Van Trijp, Hoyer, dan Inman (1996) brand switching yang dilakukan konsumen disebabkan oleh pencarian variasi. Sedangkan menurut Assael (1995) brand switching terjadi pada produk-produk dengan karakteristik keterlibatan pembelian yang rendah (Low Involvement)

Pengertian Niat Belanja Online (skripsi dan tesis)

Niat belanja online adalah keinginan konsumen untuk mengikuti gaya hidup
masyarakat modern dan menjangkau semua lapisan wilayah, tidak terkecuali bagi mereka yang berada di berbagai macam daerah. Bagi yang berada di daerah yang tidak bisa mendapatkan barang di kota besar, belanja online bisa menjadi pilihan yang tepat (Halim, 2010:1). Belanja online menjadi tren dari Google Trends menyebutkan perilaku konsumen hampir di seluruh dunia, mulai beralih dari tradisional market menuju online market. Indonesia sendiri termasuk dalam tren yang mulai menyukai belanja online ini terbukti banyak situs online yang menjajakan barang-barang dagangannya (Halim, 2010:2). Konsumen yang mempunyai niat membeli secara online dalam lingkungan situs berbelanja akan
menentukan niat seseorang untuk melakukan pembelian yang ditentukan perilaku melalui internet (Haekal & Widjajanta, 2016).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa niat belanja online
adalah keinginan konsumen untuk melakukan tindakan pembelian barang atau
jasa dari penjual melalui perdagangan internet yang menggunakan perangkat
elektronik.

Jenis Serangan Keamanan di Internet (skripsi dan tesis)

Jenis serangan terhadap komputer atau jaringan suatu sistem informasi
otomatis dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1) Bentuk ancaman yang tidak disengaja meliputi diantaranya: kesalahan
manusia dapat terjadi karena salah dalam merancang hardware atau sistem
informasinya, gangguan lingkungan yang termasuk dalam gangguan
lingkungan diantaranya ialah gempa bumi, kebakaran dan sejenisnya yang
mengakibatkan komputer atau jaringan rusak, kerusakan pada sistem
komputer dapat diakibatkan karena kualitas komputer dari pabrik yang
rendah, bahan-bahan baku tidak berkualitas ataupun pemeliharaan yang
kurang baik.
2) Bentuk ancaman yang disengaja berupa serangan yang disengaja dan
tindakan kriminal , meliputi diantaranya: modifikasi dan pencurian data
karena iseng, serangan hacker, sabotase, pembajakan informasi saat
dikirimkan, perusakan jaringan, spionase bisnis dan sejenisnya (Sarwono &
Prihartono, 2012:159

Metode Serangan Keamanan di Internet (skripsi dan tesis)

Metode serangan yang menjadi ancaman dalam internet didasarkan pada:
1) Serangan, penyerang, dan strategi yang digunakan: serangan berkaitan
dengan jenis atau tipe serangan. Penyerang menyangkut siapa yang
melakukan serangan, misalnya hacker, pegawai atau pihak pesaing bisnis
atau dapat juga orang iseng yang menyalurkan hobinya menerobos ke
sistem jaringan orang lain. Strategi berkaitan dengan cara mereka
menyerang, misalnya melakukan deface, mengirimkan email spam,
mengirimkan file berisi virus dan sejenisnya.
2) Target serangan dan tujuan serangan: target serangan merupakan apa yang
menjadi sasaran serangan, misalnya komputer dapat berupa hardware
maupun software nya; email yang dibajak (hijacking) atau jaringan. Sedang
tujuan berkaitan dengan untuk apa orang melakukan penyerangan, misalnya
iseng-iseng untuk menguji sistem keamanan kita, untuk mencuri data, atau
untuk menghancurkan sistem karena persaingan bisnis.
3) Jenis pertahanan diantaranya berkaitan dengan: tindakan pencegahan,
deteksi dini, menghindar, membuat backup data, memproteksi email,
monitoring dan kendali.
4) Metode pertahanan dapat meliputi diantaranya: regulasi, kebijakan, strategi,
privasi, proteksi terhadap spyware, penilaian kerentanan sistem (Sarwono &
Prihartono, 2012:158).

Persoalan-persoalan Keamanan dalam e-Commerce (skripsi dan tesis)

Persoalan-persoalan keamanan dalam e-Commerce mencakup diantaranya:
1) Keamanan dalam menjalankan bisnis di internet untuk pihak penjual dan
pembeli.
2) Keamanan dalam melakukan transaksi pembelian dan pembayaran melalui
internet untuk pihak pembeli atau konsumen.
3) Keamanan pihak penjual atau perusahaan pada jaringan komputernya.
4) Keamanan pihak pembeli atau konsumen pada komputernya.
5) Perlindungan konsumen dari kecurangan atau fraud (Sarwono & Prihartono,
2012:158).

Filosofi Keamanan dalam Internet (skripsi dan tesis)

Filosofi keamanan dalam internet mencakup diantaranya ialah:
1) Hal yang penting adalah mencegah munculnya penerobos, karena sebelum
terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap komputer/ jaringan/ sistem yang
dibuat.
2) Pemulihan: setelah terjadi penerobosan atau penyerangan maka yang harus
dilakukan adalah mendeteksi dan memulihkan.
3) Dukungan: meningkatkan dan menjaga kemampuan sekuritas yang
melandasi jaringan teknologi informasi yang ada (Sarwono & Prihartono,
2012:145).

Pengertian Keamanan (skripsi dan tesis)

Bagian sistem keamanan komputer yang bertujuan untuk pengukuran dan
menetapkan aturan-aturan yang digunakan untuk menjaga keamanan dan
integritas suatu sistem diperlukan sistem keamanan yang memadai (Sarwono & Prihartono, 2012:145). Keamanan (security) adalah kemampuan dalam
mengendalikan dan melindungi data transaksi dari penyalahgunaan atau alternati kerugian yang tidak sah (Bailey & Pearson, 1983).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keamanan adalah
kemampuan bagian sistem komputer dalam mengendalikan dan melindungi data transaksi dari penyalahgunaan

Komponen-komponen Kepercayaan (skripsi dan tesis)

Komponen-komponen kepercayaan terdiri dari:
1) Kredibilitas (credibility)
Kredibilitas berarti bahwa karyawan jujur dan kata-katanya dapat dipercaya.
Believability dan truthfilness adalah bentuk lain yang berhubungan dengan
kredibilitas
2) Reliabilitas (reliability)
Reliabilitas berarti sesuatu yang bersifat reliable atau dapat dihandalkan.
predictability dan familiarity adalah bentuk lain yang berhubungan dengan
reliabilitas.
3) Intimasi (intimacy)
Integritas yang berarti karyawan memiliki kualitas sebagai karyawan yang
memiliki prinsip moral yang kuat adalah kata yang berhubungan dengan
intimasi (Peppers dan Rogers, 2004 dalam Priansa, 2017:126).

Dimensi Kepercayaan Konsumen (skripsi dan tesis)

Penelitian yang dilakukan lebih dari 40 tahun tentang kepercayaan, telah
menghasilkan dimensi yang dapat digunakan sebagai instrumen pengukuran
kepercayaan, yaitu kepuasan, skala interpersonal, terpercaya, dan hasil
kepercayaan.
1) Kepuasan
Sikap terhadap hasil transaksi dan akan mempengaruhi perilaku selanjutnya
dari konsumen, serta mempengaruhi tingkat loyalitas konsumen merupakan
kepuasan. Variabel mediator yang menghubungkan variabel kualitas
layanan, kepercayaan, dan kesetiaan konsumen merupakan kepuasan
konsumen.
2) Skala interpersonal (interpersonal scale)
Dalam skala interpersonal diukur mengenai hubungan interpersonal, yang
ada di lingkungannya dengan baik mengenai satu individu dengan individu
lain. Hubungan interpersonal juga dapat dipahami sebagai hubungan baik
antara konsumen dan organisasi bisnis.
3) Terpercaya (trustworthiness)
Terpercaya berkenaan dengan kepercayaan konsumen pada kemampuan,
kejujuran, intregitas, kebaikan, keandalan, dan ketulusan dalam pelayanan
yang diberikan.
4) Hasil kepercayaan (Out Comes of Trust)
Bukan hanya berhubungan dengan kognitif maupun efektif konsumen,
kepercayaan juga berkaitan dengan tindakan (Rawlins, 2007 dalam Priansa,
2017:123).

Mengembangkan Kepercayaan Konsumen (skripsi dan tesis)

Strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan dan pemasar dalam rangka
membangun kepercayaan konsumen adalah:
1) Integritas
Integritas pada dasarnya berarti kejujuran bagi banyak orang, integritas
artinya keterpaduan. Berani bertindak menurut keyakinan, konsisten luar
dalam.
2) Niat
Dalam menjalankan tugas kewajiban seseorang yang melakukan aktivitas
bisnis perlu mengawalinya dengan niat yang ikhlas. Yang sangat
menentukan arah suatu pekerjaan adalah niat.
3) Kemampuan
Menginspirasikan keyakinan, bakat-bakat, sikap, keterampilan,
pengetahuan, dan gaya merupakan kemampuan yang dimiliki.
4) Hasil
Pada prestasi, kinerja, keberhasilan menjadikan segalanya yang benar
terlaksana adalah hal yang mengacu (Priansa, 2017:122).

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Konsumen (skripsi dan tesis)

Integritas, reliabilitas, contact personnel, dan physical environment sebagai
faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan konsumen:
1) Integritas (integrity)
Integritas berarti komplit, komplit maksudnya adalah antara yang dikatakan
dan dilakukan perusahaan yang membuat konsumen menjadi percaya ada
kesesuaian.
2) Reliabilitas (reliability)
Dalam melakukan usahanya dari dulu sampai sekarang reabilitas
dimaksudkan untuk mengukur kekonsistenan perusahaan.
3) Kontak pegawai (contact personnel)
Orang yang menghubungkan perusahaan dan konsumen merupakan kontak
pegawai. Contact Personel dalam menyampaikan jasa, dalam hal seperti
resepsionis, operator telepon, sekertaris dal lain-lain dinilai berdasarkan
efektivitas individu.
4) Lingkungan fisik (physical environment)
Dapat diartikan sebagai kondisi dan suatu keadaan sekitar dimana seseorang
tersebut berada (Shamdasani dan Balakrishnan, 2000 dalam Priansa,
2017:121).

Jenis Kepercayaan Konsumen (skripsi dan tesis)

Tiga jenis kepercayaan, yaitu:
1) Kepercayaan atribut objek
Yang disebut kepercayaan atribut objek yaitu pengetahuan tentang sebuah
objek yang memiliki atribut khusus.
2) Kepercayaan manfaat produk
Persepsi konsumen tentang seberapa jauh sebuah atribut tertentu
menghasilkan, atau memberikan, manfaat tertentu.
3) Kepercayaan manfaat objek
Persepsi konsumen tentang seberapa jauh produk, orang atau jasa tertentu
yang akan memberikan manfaat merupakan kepercayaan manfaat objek
(Priansa, 2017:119).

Karakteristik Kepercayaan Konsumen (skripsi dan tesis)

Berbagai karakteristik yang berkenaan dengan kepercayaan adalah:
1) Menjaga hubungan
Karena ia menyadari bahwa hubungan yang baik akan memberikan dampak
yang menguntungkan bagi dirinya, baik saat ini maupun dimasa yang akan
datang, maka konsumen yang percaya akan senantiasa menjaga hubungan
yang baik antara dirinya dengan perusahaan.
2) Menerima pengaruh
Biaya perusahaan atau pemasar untuk progran pemasaran menjadi semakin
murah karena konsumen yang memiliki kepercayaan yang tinggi akan
mudah untuk dipengaruhi
3) Terbuka dalam komunikasi
Informasi yang kontruktif bagi perusahaan akan diberikan apabila
konsumen memiliki kepercayaan tinggi terhadap perusahaan sehingga
memudahkan perusahaan atau pemasar untuk bertindak dengan cepat karena
arus informasi tidak tersendat.
4) Mengurangi pengawasan
Kurangnya fungsi pengawasannya terhadap perusahaan atau pemasar terjadi
karena biasanya konsumen yang percaya jarang mengkritik.
5) Kesabaran
Kesabaran yang berlebih dibandingkan dengan konsumen biasa dimiliki
oleh konsumen yang percaya.
6) Memberikan pembelaan
Ketika produk yang dikonsumsinya dikritik oleh kompetitor atau bahkan
pengguna lainnya yang tidak suka, maka konsumen yang percaya akan
memberikan pembelaan kepada perusahaan atau pemasar.
7) Memberi informasi yang positif
Informasi positif dan membangun bagi perusahaan akan selalu diberikan
oleh konsumen yang percaya.
8) Menerima resiko
Risiko apapun ketika ia memutuskan untuk menggunakan produk yang
dihasilkan oleh perusahaan akan diterima oleh konsumen yang percaya
sehingga ketika mengkonsumsi produk ia tidak akan mudah mengeluh dan
mengkritik.
9) Kenyamanan
Karena ia percaya bahwa perusahaan atau pemasar memberikannya
kenyamanan untuk mengkonsumsi produk dalam jangka pendek maupun
panjang, konsumen yang percaya akan melakukan pembelian secara
berulang.
10) Kepuasan
Kepuasan konsumen dapat diwujudkan oleh perusahaan dengan mudah pada
konsumen yang percaya karena akan lebih mudah untuk diberikan kepuasan
daripada konsumen yang tidak percaya (Priansa, 2017:118).

Manfaat Kepercayaan Konsumen (skripsi dan tesis)

Hal yang penting bagi kesuksesan relationship adalah kepercayaan,
relationship benefit yang didasarkan pada kepercayaan memiliki pengaruh yang signifikan serta berkenaan dengan:
1) Kerjasama (cooperation)
Dengan meningkatkan kepercayaan kerjasama memberikan hasil yang lebih
banyak dibandingkan apabila dikerjakan sendiri.
2) Komitmen (commitment)
Komitmen akan dibentuk hanya dengan pihak-pihak yang saling percaya
karena komitmen merupakan komponen yang dapat membangun hubungan.
3) Durasi hubungan (relationship duration)
Kemungkinan bahwa pembeli akan terlibat dalam bisnis pada masa yang
akan datang berhubungan dengan kepercayaan dari penjual secara positif,
hal itu memberikan kontribusi untuk meningkatkan durasi hubungan.
4) Kualitas (quality)
Informasi yang diberikan pihak yang dipercaya lebih mungkin untuk
diterima oleh pihak yang percaya, dan dalam informasi tersebut akan
menghasilkan benefit yang lebih besar. Akhirnya perselisihan atau konflik
kemungkinan dapat dipecahkan dengan damai oleh kepercayaan,
perselisihan merupakan penyebab berakhirnya relationship dan tanda akan
adanya kesulitan pada masa yang akan datang (Peppers dan Rogers, 2004
dalam Priansa, 2017:117).

Pengertian Kepercayaan Konsumen (skripsi dan tesis)

Kepercayaan organisasi bisnis lain tersebut akan memberikan outcome yang
positif bagi organisasi bisnis menurut keyakinan organisasi bisnis terhadap
organisasi bisnis lainnya (Anderson dan Naurus, 1990 dalam Priansa, 2017:115).
Kepercayaan adalah dalam melakukan hubungan transaksi berdasarkan suatu
keyakinan bahwa orang yang dipercayainya tersebut sesuai dengan apa yang
diharapkan (Rofiq, 2007 dalam Priansa, 2017:116). Kepercayaan adalah objek,
atribut, dan manfaat dari pengetahuan yang dimiliki konsumen dan semua
kesimpulan yang dibuat konsumen (Mowen dan Minor, 2002 dalam Priansa,
2017:116). Kepercayaan berdasarkan harapan terhadap perilaku yang baik orang lain dari wilayah psikologis yang merupakan perhatian untuk menerima apa adanya (Rousseau, 1998 dalam Priansa, 2017:116). Kepercayaan adalah harapan yang sesuai dalam sebuah lingkungan yang penuh ketidakpastian merupakan penilaian hubungan seseorang dengan orang lain yang akan bertransaksi (Pavlou, 2002 dalam Priansa, 2017:116).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan adalah
harapan sesuai keyakinan yang didasarkan dari pengetahuan yang dimiliki
konsumen dalam melakukan hubungan transaksi.

Pengaruh Komitmen dan Kepuasan (skripsi dan tesis)

Dalam konteks layanan internet perbankan, kepercayaan telah didefinisikan sebagai keyakinan yang meyakinkan seorang pengguna terhadap kemampuan penyedia layanan internet banking untuk menyediakan layanan yang dapat diandalkan melalui internet (Boateng et al. 2016). Dan juga niat penggunaan berkelanjutan dari pengguna mungkin tidak secara langsung ditentukan oleh keterikatan emosionalnya atau anggapan akan hilangnya atau kehilangan ekonomi. Niat penggunaan berkelanjutan secara langsung ditentukan oleh kepuasan pengguna secara keseluruhan dengan layanan internet perbankan, yang dapat diproduksi oleh kedua jenis komitmen. Didalam (Gustafsson et al. 2005; Li et al. 2006; Tobing 2009; Yuan et al. 2017), ditemukan bahwa peran komitmen kalkulatif yang secara positif memengaruhi niat perilaku atau kepuasan pengguna. Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa komitmen kalkulatif berpengaruh positif terhadap kepuasan (Djamaludin 2009; Setyawan 2008; Safitri 2013; Haryanti 2014; Wulandari 2010; Commander 2011).

Di samping itu, Penelitian sebelumnya telah menemukan peran komitmen afektif yang secara positif mempengaruhi niat perilaku pengguna atau kepuasan pengguna (Gustafsson et al. 2005; Li et al. 2006; Tobing 2009; Yuan et al. 2017). Dan didalam (Djamaludin 2009; Setyawan 2008; Safitri 2013; Haryanti 2014; Wulandari 2010; Commander 2011), ditemukan bahwa peran komitmen afektif yang secara positif memengaruhi niat perilaku atau kepuasan pengguna

Pengaruh Kepuasan dan niat penggunaan berkelanjutan (skripsi dan tesis)

Penelitian kepuasan tentang penggunaan berkelanjutan menunjukkan bahwa pelanggan yang puas dan merasa senang akan pelayanan dialami maupun kualitas suatu produk yang dimiliki maka lebih cenderung bertahan dalam suatu bisnis tersebut (Zhao dan Lu 2012). Sejumlah penelitian telah menemukan hubungan positif antara kepuasan pengguna dan niat penggunaan berkelanjutan (Lien et al. 2017; Pereira et al. 2015; Zhou 2013; Deng et al 2010). Penelitian sebelumnya juga telah menemukan kepuasan pengguna secara positif mempengaruhi niat penggunaan berkelanjutan (Tsai et al 2014; Hutomo 2009; Aryani 2010; Nalendra 2018; Yuan et al. 2017; Chao 2015).

Kecemasan (skripsi dan tesis)

Kecemasan adalah suatu reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Dimana merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan. Perasaan yang tidak sesuai ataupun menentu mengakibatkan hal yang tidak menyenangkan sehinggan menimbulkan perubahan fisiologis dan psikologis (Rochman, 2010). Menurut Lubis (2009), kecemasan adalah suatu kejadian atau tanggapan yang dialami seseorang dari sebuah khayalan maupun ancaman. Seseorang mengalami Kecemasan karena adanya suatu ketidakpastian. Kecemasan ini dialami pada saat berpikir tentang sesuatu yang tidak menyenangkan yang akan terjadi. Dengan demikian kecemasan adalah suatu istilah yang menggambarkan gangguan psikologis dari seseorang karena adanya ketidakmampuan dalam menghadapi suatu masalah. Menurut Stuart (2013), faktor yang mempengaruhi kecemasan dibedakan menjadi beberapa bagian yaitu yang pertama adalah Faktor prediposisi yang menyangkut tentang teori kecemasan yang disebut sebagai teori psikoanalitik. Teori ini menjelaskan tentang suatu konflik emosional yang terjadi didalam dua elemen kepribadian yaitu ego dan id. Dan yang kedua adalah teori interpersonal dimana kecemasan merupakan suatu perwujudan penolakan dari individu yang menimbulkan perasaan takut. Dan yang ketiga adalah teori perilaku dimana penilaian yang berlebihan terhadap adanya suatu bahaya didalam situasi tertentu sehingga dapat menilai ataupun merasakan kemampuan dirinya sangat rendah untuk menyelesaikan suatu ancaman, hal itu yang menjadi penyebab dari kecemasan seseorang. Yang keempat adalah teori biologis dimana otak mengandung reseptor khusus yang mengambil peran penting dalam mekanisme biologis mengenai kecemasan.

Kualitas Alternatif (skripsi dan tesis)

Kualiatas alternatif adalah keinginan yang dirasakan dari alternatif terbaik yang tersedia dibandingkan dengan layanan internet perbankan dan dapat bertindak sebagai indikator bagi pengguna untuk merasakan biaya peluang dalam menggunakan suatu layanan (Yuan et al, 2017). Sedangkan menurut Kotler (2016), kualitas adalah kemampuan suatu barang atau jasa untuk memberikan hasil atau kinerja yang baik, sesuai, dan dapat memuaskan pelanggan dan juga bahkan melibihi dari apa yang diinginkan pelanggan. Menurut Kotler (2016), ada beberapa dimensi mengenai kualitas produk untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya. Yang pertama adalah bentuk dimana terdapat perbedaan struktur fisik secara jelas. Yang kedua adalah ciri – ciri produk dimana karakteristik yang berguna untuk menambah fungsi dasar. Yang ketiga adalah kinerja dimana berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang. Yang keempat adalah kesesuaian maupun ketetapan dimana berkaitan dengan kesesuaian terhadap spesifikasi keinginan pelanggan. Yang kelima adalah daya tahan yang berkaitan dengan jangka waktu produk digunakan tanpa menimbulkan suatu masalah pada saat penggunaan. Menurut Kotler dan Armstrong (2014), kualitas produk adalah kemampuan dimana sebuah produk memperagakan fungsinya, termasuk keseluruhan ketetapan, durabilitas, reabilitas, dan reparasi produk. Dengan demikian kualitas alternatif adalah kemampuan dimana sebuah produk memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan produk lain dan berdasarkan Kualitas yang dimiliki oleh suatu produk tersebut, maka tidak ada niat untuk berpindah ke produk yang lain atau juga tidak memiliki alternatif lain untuk berpindah.

Nilai Layanan yang Dirasakan (skripsi dan tesis)

Nilai layanan merupakan suatu kegiatan dan tindakan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak terhada pihak lain. pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun sehingga layanan yang ditawarkan dapat dirasakan oleh berbagai pihak yang menyetujui layanan itu sendiri (Kotler 2016). Nilai layanan juga adalah suatu proses dimana setiap konsumen mengalami suatu layanan sehingga membentuk satu nilai tersendiri bagi suatu layanan tersebut. Pelayanan menurut Yamit (2010), dinilai dari layanan yang dirasakan adalah yang pertama excellent dimana standart kualitas kinerja yang diperoleh. Yang kedua adalah customer dimana kelompok atau perorangan, perusaahan atau departemen yang menerima. Yang ketiga adalah layanan dimana kegiatan utama yang tidak secara langsung terlibat dalam proses pembuatan produk. Yang keempat adalah kualitas dimana sesuatu yang secara khusus tidak dapat dinilai sifat yang dimiliki produk atau jasa. Yang kelima adalah tingkatan dimana Suatu pernyataan atas sistem yang digunakan untuk mengevaluasi atau memonitor. Yang keenam adalah konsisten dimana tidak memiliki variasi dan semua pelayanan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan, dan yang ketujuh adalah delivery dimana memberikan pelayanan yang benar dengan cara yang benar dan dalam waktu yang tepat.

Kepercayaan (skripsi dan tesis)

Kepercayaan pada dasarnya adalah keadaan psikologis seseorang dalam melakukan suatu aktivitas, dimana kepercayaan ini mengampil peran penting pada saat melakukan pembelian suatu produk, yaitu dengan memberikan dukungan dalam melakukan proses pembelian suatu produk. Kepercayaan merupakan harapan orang lain maupun perusahaan yang orang tersebut berinteraksi dan tidak akan mengambil keuntungan yang tidak wajar dari pihak yang telah bergantung pada mereka (Leiva et al. 2016). Menurut Safitri (2011), kepercayaan adalah keyakinan bahwa suatu perusahaan akan memenuhi janjinya dalam hubungan dengan pelanggan. Kepercayaan juga merupakan keyakinan suatu pihak terhadap pihak lain atau terhadap suatu hubungan. Sedangkan menurut Kotler (2016), Kepercayaan adalah suatu kesediaan suatu perusahaan untuk bergantung pada perusahaan yang menjalin bisnis bersama. Kepercayaan juga bergantung pada beberapa faktor organisasi dan juga antar pribadi seperti integritas, kejujuran, dan kompetensi. Menurut Parvez (2009), kepercayaan sangat dibutuhkan agar terbangunnya sebuah hubungan yang kuat serta hubungan interaksi yang terlibat dari semua pihak yang ada. kepercayaan dapat didefiniskan sebagai keyakinan dari pengguna produk maupun layanan. Kepercayaan juga merupakan kemampuan dalam penyediaan layanan internet perbankan untuk memberikan layanan yang baik melalui internet sehingga menciptakan suatu hubungan yang baik antara suatu perusahaan dengan pengguna layanan (Yuan et al. 2017). Dengan demikian kepercayaan adalah suatu cara dimana seseorang menunjukkan kemauan untuk bertahan ataupun pecaya kepada orang lain dimana seseorang tersebut memiliki kenyakinan terhadap seseorang yang lain.

Komitmen Afektif (skripsi dan tesis)

Komitmen afektif terhadap internet perbankan mencerminkan sejauh mana pengguna bersedia untuk terus menggunakan layanan ini sebagai hasil dari sikap positif pengguna terhadap penggunaan layanan internet perbankan di masa lalu (Yuan et al. 2017). Sedangkan menurut Japarianto (2010), komitmen afektif itu merupakan suatu tindakan yang bersifat non instrumental dan juga komitmen ini mengandalkan kepecayaan dan kesukaan atas suatu hubungan dan juga suatu objek pemuasan. Menurut Greenberg dan Baron (2008), komitmen afektif merupakan suatu keterikatan emosional seseorang terhadap suatu organisasi. Orang-orang yang memiliki tingkat komitmen afektif yang tinggi merupakan orang yang ingin untuk tetap berada di dalam suatu organisasi. Dan juga mereka sangat mendukung tujuan dari organisasi tersebut dan bersedia untuk membantu meningkatkan maupun mencapai tujuan terssebut. Komitmen afektif merupakan hal yang berkaitan penuh dengan emosional, identifikasi, dan keterlibatan karyawan di dalam suatu organisasional (Allen dan Meyer, 2009). Dalam komitmen afektif terdapat sebuah ikatan emosional dimana dinyatakan bahwa suatu organisasi akan membuat karyawan akan memiliki suatu keyakinan yang kuat untuk mengikuti nilai-nilai dari pada organisasi dan juga mewujudkan tujuan organisasi sebagai prioritas utama. Keterlibatan karyawan dalam organisasional dimana sejauh mana seorang karyawan terlibat dalam suatu organisasi tertentu sehingga menciptakan suatu kepercayaan dalam keterlibatan organisasional.

Komimen Kalkulatif (skripsi dan tesis)

Komitmen kalkulatif adalah proses dimana pengguna akan kehilangan jika dia menggunakan layanan internet perbankan, dan atau dia akan mendapatkan jika terus menggunakan layanan internet perbankan (Yuan et al, 2017). Sedangkan menurut Japarianto (2010), komitmen kalkulatif memiliki sifat yang instrumental dimana terdapat pengertian bahwa pelanggan untuk tetap loyal dan juga melawan kehendaknya dalam kurun waktu yang ditentukan. Komitmen kalkulatif juga adalah keinginan seseorang untuk menjaga atau melanjutkan tingkat hubungan dengan mitranya (Nusair et al, 2010). Menurut Soekidjan (2009), komitmen adalah kemauan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Suatu komitmen kalkulatif akan bertahan jika biaya-biaya internal lebih rendah dibandingkan biaya-biaya eksternal. Menurut Allen dan Meyer (2009), terdapat alasan – alasan yang bisa mendorong seseorang untuk berkomitmen kalkulatif yaitu kurangnya alternatif atau kerelaan pengorbanan personal atau pribadi yang tinggi. Sedangkan menurut Muchlas (2008), ada beberapa yang mempengaruhi suatu komitmen, yaitu personal, posisi, dan siatuasional. Personal memiliki ciri kepribadian yaitu berpandangan positif, teliti, maupun ektrovert dan juga cenderung lebih berkomitmen sehingga dapat menjelaskan karakteristik dari personal yaitu jenis kelamin, pendidikan, usia, dan keterlibatan kerja. Dengan demikian komitmen kalkulatif juga merupakan suatu komitmen yang muncul dalam evaluasi kognitif seseorang, maupun secara hasil yaitu perhitungan dimana mengalami untung atau rugi, kalah atau menang, dan pengorbanan

Komitmen (skripsi dan tesis)

Komitmen adalah kesediaan seseorang untuk memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya serta berniat untuk memelihara keanggotaan dalam organisasi tersebut (Greenberg dan Baron 2008). Komitmen di dalam diri seseorang timbul karena adanya rasa tanggungjawab terhadap sesuatu. Sebagian orang berkomitmen karena menyukai yang dilakukannya, sedangkan sebagian orang lainnya berkomitmen karena adanya perasaan takut kehilangan sesuatu jika tidak menjalankan komitmennya. Terdapat beberapa ciri – ciri dari komitmen, yaitu yang pertama adanya perjanjian yang disepakati, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. Yang kedua adanya tujuan atau goal tertentu yang ingin dicapai setelah melaksanakan komitmen. Yang ketiga adalah semua pihak yang terlibat dalam suatu komitmen harus bertanggungjawab dengan isi perjanjian dan yang keempat adanya kesetiaan dari semua pihak terhadap tujuan yang ingin dicapai. Dan juga terdapat contoh dari bentuk komitmen yaitu komitmen organisasi

Niat Penggunaan Berkelanjutan (skripsi dan tesis)

Niat penggunaan berkelanjutan mengacu pada pelanggan akan melakukan pembelian atau penggunaan terhadap suatu produk secara berkelanjutan. Niat penggunaan berkelanjutan secara umum adalah kesetiaan seseorang atas suatu produk tertentu, baik barang maupun jasa. Menurut Swastha (2009), niat penggunaan berkelanjutan adalah kesetiaan pelanggan untuk terus menggunakan suatu produk yang sama dari suatu perusahaan. Hal ini merupakan gambaran dari perilaku yang diharapkan akan suatu produk atau jasa. Niat penggunaan berkelanjutan juga akan bernilai tinggi bagi konsumen jika suatu produk tersebut mampu memberikan kepuasan tertinggi sehingga membuat konsumen merasa nyaman maupun senang, maka konsumen tersebut akan merasa enggan untuk berpindah kepada merek yang lain maupun menggunakan merek produk yang lain. Dengan kata lain, niat penggunaan berkelanjutan adalah suatu ukuran dimana seberapa sering konsumen menggunakan merek tertentu.

Pengaruh Kepuasan Pelanggan Terhadap Niat Pembelian Ulang (Repurchase Intention) (skripsi dan tesis)

Berdasarkan pengujian hipotesis, telah dibuktikan terhadap pengaruh positif dari variabel satisfaction terhadap online repurchase intention, artinya semakin baik satisfaction, maka online repurchase intention juga akan semakin meningkat baik pada produk online Fesh Shop. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jika seorang konsumen merasa puas dengan belanja online, tentu akan membuat para konsumen untuk melakukan pembelian ulang terhadap produk Fesh Shop. Menurut hasil survey yang dilakukan mayoritas responden merasakan bahwa mereka puas terhadap kinerja transaksi vendor Fesh Shop, karena mereka menganggap transaksi via transfer bisa menghemat waktu, dan itu akan membuat mereka untuk melakukan pembelian ulang terhadap produk Fesh Shop. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chao Wen, Victor danChenyan (2011) yang berjudul “An Integrated Model For Customer Online Repurchase Intention” yang memberikan hasil penelitian bahwa variabel satisfaction secara signifikan berpengaruh positif terhadap online repurchase intention

Pengaruh Kepercayaan Terhadap Niat Pembelian Ulang (Repurchase Intention) (skripsi dan tesis)

Berdasarkan pengujian hipotesis, telah dibuktikan terhadap pengaruh positif dari variabel kepercayaan terhadap niat pembelian ulang( repurchase intention) online Shop, artinya semakin baik trust, maka online repurchase intention juga akan semakin meningkat baik pada produk online Fesh Shop. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepercayaan berpengaruh terhadap niat pembelian ulang jika konsumen sudah merasakan bahwa situs web bisa dipercaya, maka konsumen akan mencoba untuk membeli ulang produk yang ada di web tersebut. Menurut hasil survei yang dilakukan mayoritas responden merasakan bahwa mereka melakukan pembelian ulang terhadap produk Fesh Shop karena produk Fesh Shop bisa dipercaya dan sudah dikenal banyak orang, sehingga mereka percaya pada produk Fesh Shop tersebut. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chao Wen, Victor dan Chenyan (2011) yang berjudul “An Integrated Model For Customer Online Repurchase Intention” yang memberikan hasil penelitian bahwa variabel trust secara signifikan berpengaruh positif terhadap online repurchase intention

KEPERCAYAAN (TRUST) (skripsi dan tesis)

Kepercayaan konsumen adalah semua pengetahuan yang dimiliki oleh konsumen dan semua kesimpulan yang dibuat oleh konsumen tentang objek, atribut, dan manfaatnya Mowen & Minor (2002). Para manajer harus menyadari bahwa kepercayaan terhadap objek, atribut dan manfaat menunjukkan persepsi konsumen, dan karena itu umumnya kepercayaan seorang konsumen berbeda-beda. Hal utama yang dipertimbangkan seorang pembeli ketika melakukan kegiatan belanja secara online adalah apakah mereka percaya terhadap website yang menyediakan fasilitas layanan online shop dan percaya pada penjual online yang ada didalam di situs web tersebut beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kepercayaan adalah faktor penting dalam membangun komitmen antara perusahaan dan pelanggan. Semakin populer website online shoping tersebut maka tingkat kepercayaan pembeli kepada website online shoping tersebut semakin tinggi. Pembelipun akan semakin yakin dan percaya terhadap reabilitas  website, bahwa website tersebut nyata keberadaannya dan benar-benar ada. Kepercayaan ini merupakan suatu jaringan asosiatif dari arti yang saling dihubungkan dan tersimpan dalam ingatan. Karena kapasitas kognitif seseorang terbatas, hanya sebagian kecil dari kepercayaan ini yang dapat diaktifkan dan dikendalikan dengan baik pada suatu saat Peter & Olson (1999).

Selanjutnya adalah, kepercayaan pembeli terhadap penjual online yang terkait bagaimana penjual tersebut dengan keahliannya dapat meyakinkan pembeli menjamin keamanan ketika sedang melakukan transaksi pembayaran meyakinkan transaksi akan segera diproses. Kendala ini terkait dengan keberadaan penjual onilne. Teknologi yang semakin berkembang, begitu pula modus penipuan yang berbasis teknologi pada online shopping juga ikut berkembang. Tidak sedikit pula penjual online fiktif yang menjual dan memasarkan produk yang fiktif pada situs-situs online shopping. Oleh sebab itu sebelum membeli seorang pembeli harus mengecek terlebih dahulu keberadaan penjual online. Didalam situs online shopping biasanya situs akan menampilkan informasi tentang para penjual yang lapaknya sering di akses oleh pengunjung. Disitulah pembeli dapat memanfaatkan layanan dan informasi ini ketika akan membeli secara online agar mengetahui status dari penjual. Indikator kepercayaan menurut (Gefen, 2002) : a. Tingkat kepercayaan konsumen dengan penjual Online Shop b. Merasa aman dengan Online shop   c. Percaya administrator tidak menyalah gunakan privasi pembeli d. Transparan

Kepuasan Pelanggan (skripsi dan tesis)

Kepuasan konsumen (cutomer satisfaction) adalah konsep penting dalam konsep pemasaran dan penelitian konsumen. sudah menjadi pendapat umum bahwa jika konsumen merasa puas dengan suatu produ atau merek, mereka cenderung akan terus membeli dan menggunakannya serta memberitahu orang lain tentang pengalaman mereka yang menyenangkan dengan produk tersebut. Jika mereka tidak dipuaskan, mereka cenderung beralih merek serta menajukan keberatan pada produsen, pengecer, dan bahkan menceritakannya kepada konsumen lainnya Peter & Olson (1999). 16 Selama dan setelah pemakaian produk atau jasa, konsumen mengembangkan rasa puas dan tidak puas. Kepuasan konsumen (cutomer satisfaction) didefinisikan sebgai keseluruhan sikap yang ditunjukkan konsumen atas barang atu jasa setelah mereka memperoleh dan menggunakannya. Ini merupakan penilaian evaluatif pasca pemilihan yang disebabkan oleh seleksi pembelian khusus dan pengalaman menggunakan atau mengonsumsi barang atau jasa tersebut.dari perspektif manajerial, mempertahankan atau meningatkan kepuasan pelanggan adalah hal yang sangat kritis. Mowen 1995 dalam Fandy Tjiptono (2005), merumusan kepuasan pelanggan sebagai sikap keseluruhan terhadap suatu barang atau jasa setelah perolehan (acqusition) dan pemakaiannya. Dengan kata lain, kepuasan pelanggan merupakan penilaian alternatif purna beli yang dihasilkan dari seleksi pembelian spesifik. Disonasi purna beli yang dihadapi konsumen berkaitan dengan keragu-raguan atas pilihan dan keputusan pembelian yang dilakukan. Dalam situasi ini konsumen bimbang apakah ia telah memilih produk yang tepat atau tidak. Kepuasan dan ketidak puasan pelanggan akan suatu produk atau jasa sebagai akhir dari suatu proses penjualan memberikan dampak tersendiri kepada perilaku pelanggan akan produk tersebut. Bagaimana perilaku pelanggan dalam melakukan pembelian kembali, bagaimana pelanggan dalam mengekspresikan produk yang dipakainya dan jasa yang diperolehnya dan perilaku lain yang menggambarkan reaksi pelanggan atas produk dan jasa yang telah disarankan. Adapun indikator dari kepuasan konsumen yaitu Elitan (1999) : a. Tidak ada keluhan b. Perasaan senang pada keseluruhan produk c. Kesesuaian layanan dengan ekspektasi d. Harapan pelanggan yang terlampaui

Mengukur Minat Pembelian Ulang (skripsi dan tesis)

Dimensionalisasi variabel minat beli ulang dalam penelitian ini mengacu pada penelitian dari Grewal et al. (1998) dan Waldi & Santosa (2001) dalam Kuntjara (2007: 52-53). Terdapat tiga 15 indikator yang digunakan untuk mengukur minat pembelian ulang ini, yaitu: 1) Keinginan untuk menggunakan produk Keinginan konsumen untuk melakukan pembelian ulang dan menggunakan produknya kembali. 2) Rencana menggunakan produk di masa yang akan datang Ketika konsumen setelah membeli produk, maka merencanakan lagi untuk melakukan pembeian ulang. 3) Kebutuhan untuk menggunakan produk. Kebutuhan yang mengharuskan konsumen untuk melakukan pembelian ulang terhadap produk.

Niat Pembelian Ulang (Repurchase Intention) (skripsi dan tesis)

Pembelian ulang (repurchase) mempunyai definisi menurut Peter & Olson (2002), yaitu kegiatan pembelian yang dilakukan lebih dari satu kali atau beberapa kali. Dari definisi tersebut dapat dikatakan bahwa adanya niat dari pelanggan untuk kembali membeli produk atau jasa yang sama. Hal tersebut diperoleh dari pelanggan yang puas akan pelayanan yang diberikan sehingga dapat mendorong untuk melakukan pembelian ulang (repurchase), menjadi loyal terhadap produk tersebut ataupun loyal terhadap toko tempat pelanggan tersebut membeli barang, serta dapat menceritakan hal – hal baik kepada orang lain Novantiano (2007 : 19-20). Niat pembelian ulang (repurchase intention) erat kaitannya dengan konsep keinginan untuk berperilaku yang dibangun atas sikap konsumen terhadap objek dan sikap konsumen terhadap perilaku sebelumnya. Memahami konsumen berarti perusahaan harus memahami sikap dan perilaku dari konsumen itu sendiri. Peter dan Olson (1999:130) mendefinisikan sikap (attitude) sebagai evaluasi konsep secara menyeluruh yang dilakukan seseorang. Mowen dan Minor mengungkapkan beberapa definisi terbaru yang diperolehnya mengenai sikap, diantaranya sebagai berikut :

a. Sikap merupakan kategorisasi objek pada rangkaian kesatuan evaluatif.

b. Karakteristik utama yang membedakan sikap dari konsep lainnya adalah sifat evaluatif dan afektif.

c. Sikap merupakan inti dari rasa suka dan tidak suka bagi orang, kelompok, situasi objek dan ide-ide tak berwujud tertentu.

Niat pembelian ulang karena didasari oleh pelanggan yang puas akan pelayanan yang diberikan, serta sesuai dengan harapan atau persepsi para pelanggan. Harapan yang tidak sesuai akan dapat berdampak pada pandangan negatif dari pelanggan usai melakukan pembelian. Kebalikannya apabila harapan itu sesuai yang diinginkan pelanggan, maka akan berdampak positif dimasa mendatang serta akan memberitahukan kepada orang lain atas kinerja produk atau jasa yang dirasakan.

Perilaku Perpindahan Merek (Brand Switching Behavior) (skripsi dan tesis)

Menurut Nuruh Huda dan Nurchayati (2018: 129) mengemukakan bahwa
perpindahan merek (brand switching) adalah pola pembelian yang
dikarakteristikkan dengan perubahan atau pergantian dari suatu merek ke merek lain.
Menurut Linda Gusmara dan Hayu Y. Utami (2013: 55) mengemukakan
bahwa brand switching behavior adalah perilaku perpindahan merek yang
dilakukan konsumen karena berbagai alasan tertentu, atau diartikan juga sebagai kerentanan konsumen untuk berpindah ke merek lain.
Menurut Anandhitya (2013: 298) mengemukakan bahwa perilaku
perpindahan merek dapat disebabkan oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor instrinsik yaitu faktor yang dipengaruhi dari dalam diri atau individu itu sendiri, misalnya adanya keinginan untuk mencoba merek baru. Faktor ekstrinsik yaitu faktor yang berasal dari luar, misalnya adanya diskon dari produk atau ada yang menawarkan harga yang lebih murah.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku perpindahan
merek adalah suatu perilaku dimana konsumen berpindah kesetiaan dari satu
merek sebuah produk tertentu ke merek produk lainnya.

Indikator Kebutuhan Mencari Variasi (skripsi dan tesis)

Menurut Nuruh Huda dan Nurchayati (2018: 129) mengemukakan bahwa
indikator kebutuhan mencari variasi, yaitu:
1. Tawaran yang lebih menarik
Konsumen yang tidak memiliki loyalitas dengan merek dari produk yang
digunakan akan lebih tertarik dengan merek produk lain yang menggunakan
bauran pemasaran yang baik.
2. Kesadaran akan kebutuhan variatif
Suatu keadaan dimana konsumen merasa bahwa mereka membutuhkan suatu
merek produk yang lebih baik atau lebih banyak keunggulannya dari merek
dari produk sebelumnya yang konsumen pakai.
3. Keinginan untuk mencoba hal yang baru
Ini merupakan niat atau keinginan konsumen untuk mencoba merek lain
karena dengan banyaknya merek produk dari produsen-produsen, variasi
spesifikasi merek yang lain seperti keunggulan yang berbeda-beda dari merek
produk tersebut.

 Tipe Konsumen yang Mencari Variasi (skripsi dan tesis)

Menurut Schiffman dan Winsenblit (2015: 102) ada beberapa tipe
konsumen yang mencari variasi (variety-novelty seeking) yaitu:
1. Perilaku pembelian yang bersifat penyelidikan (Explatory Purchase
Behavior)
Merupakan keputusan perpindahan merek untuk mendapatkan pengalaman
baru dan kemungkinan alternatif yang lebih baik.
2. Penyelidikan pengalaman orang lain (Vicarious Exploration)
Menurut tipe ini konsumen mencari informasi tentang suatu produk yang baru
atau alternatif yang berbeda, kemudian mencoba menggunakannya.
3. Keinovatifan pemakaian (Use Inovativeness)
Menurut tipe ini konsumen melakukan perpindahan merek karena ingin lebih
menggunakan produk yang telah mengalami pembaharuan. Tipe ini sesuai
untuk produk-produk yang teknologi, dimana beberapa model menawarkan
sebuah kelebihan dari keistimewaan dan fungsi-fungsi dimana produk lain
hanya memiliki sedikit keistimewaan atau fungsi pokok saja. Konsumen yang
memiliki sifat mencari variasi akan lebih tertarik dan menyukai pada merekmerek yang selalu mengalami perubahan atau pembaharuan.

Kebutuhan Mencari Variasi (Variety Seeking) (skripsi dan tesis)

Menurut Nuruh Huda dan Nurchayati (2018: 128) mengemukakan bahwa
kebutuhan mencari variasi adalah sebuah komitmen kognitif untuk membeli
merek yang berbeda, keinginan baru atau timbulnya rasa bosan pada sesuatu yang telah lama dikonsumsi.
Menurut Anandhitya Bagus Arianto (2013: 298) mengemukakan bahwa
perilaku mencari variasi terjadi jika resiko kecil dan sedikit atau tidak ada
komitmen terhadap suatu merek.
Menurut Andry Irawan dkk (2010: 89) mengemukakan bahwa Perilaku
beralih dapat berasal dari sangat beragamnya penawaran produk lain, atau karena terjadinya masalah dengan produk yang sudah dibeli. Switching behavior atau variety seeking dapat didefinisikan sebagai kebebasan memilih yang lebih disukai terhadap sebuah item khusus.
Setiap konsumen memiliki kebutuhan untuk mencari variasi (variety
seeking), pembelian secara berulang memungkinkan adanya kejenuhan sehingga muncul adanya kebutuhan untuk bervariasi. Konsumen yang memiliki tingkat kebutuhan untuk bervariasi tinggi akan mudah tergoda dengan strategi promosi yang dilakukan oleh merek lain.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kebutuhan mencari
variasi adalah keinginan konsumen untuk mencoba produk yang baru dengan
berbagai alasan yang berbeda bisa karena keinginan baru atau munculnya rasa
bosan pada sesuatu yang telah lama dikonsumsi atau dipakai serta merubah
pembelian atau pengalaman menggunakan suatu produk.

Indikator Ketidakpuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Dalam penelitian Anandhitya Bagus Arianto (2013: 300) mengemukakan
bahwa indikator ketidakpuasan konsumen, yaitu:
1. Ketidakpuasan secara keseluruhan
Merupakan evaluasi secara keseluruhan yang didasarkan pada total pembelian
dan pengalaman mengkonsumsi barang atau jasa. Ketidakpuasan ini
ditunjukan dengan merasa tidak puas pada smartphone yang digunakan
sebelumnya.
2. Tidak sesuai harapan
Yakni tingkat kesesuaian antara kinerja dengan ekspetasi konsumen. Tidak
sesuainya harapan ini dengan kualitas smartphone merek sebelumnya yang
digunakan tidak sesuai dengan harapan.
3. Perbandingan yang tidak ideal.
Kinerja produk dibandingkan dengan produk ideal atau merek lain menurut
persepsi konsumen. Perbandingan yang tidak ideal ini ditunjukan dengan
merasa tidak senang dengan spesifikasi smartphone yang digunakan
sebelumnya.

Ketidakpuasan Konsumen (Customer Dissatisfaction) (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2009: 190) Ketidakpuasan konsumen terjadi apabila kinerja suatu produk tidak sesuai dengan persepsi atau harapan konsumen. Ketidakpuasan konsumen dapat timbul karena adanya proses informasi dalam evaluasi terhadap suatu merek. Menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2015: 23) Ketidakpuasan konsumen adalah perasaan kecewa yang didapatkan seseorang dari membandingkan antara kinerja (atau hasil) produk yang dipersepsikan dan ekspetasinya. Maka apakah seorang konsumen puas atau tidak, sangat bergantung pada kinerja produk (perceived performance) dibandingkan dengan ekspetasi konsumen bersangkutan. Apabila kinerja lebih rendah dibandingkan ekspetasi, maka konsumen bersangkutan akan merasa tidak puas. Menurut Daryanto dan Ismanto Setyabudi (2014: 37) mengemukakan bahawa ketidakpuasan timbul apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi harapan konsumen. Apabila kinerja dibawah harapan, pelanggan akan kecewa atau tidak puas. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan yang dimaksud dengan ketidakpuasan konsumen adalah keadaan dimana konsumen merasa kinerja suatu produk atau merek tidak sesuai dengan harapannya, mereka akan melakukan suatu   tindakan jika merasa ketidakpuasan seperti komplain atau memberikan saran kepada produsen atau pemberi layanan

Biaya Berpindah (skripsi dan tesis)

Biaya berpindah adalah biaya yang harus dikeluarkan pembeli apabila berpindah dari
poduk pemasok tertentu ke produk pemasok lainnya yang berupa biaya latihan, biaya
peralatan, dan biaya desain ulang. Apabila biaya berpindah yang diperlukan cukup besar,
maka pesaing yang baru harus mampu memberikan penawaran lebih menarik dibandingkan
dari produk sebelumnya terutama menyangkut harga (Umar, 2001:80).
Pandangan lain mengenai biaya berpindah merupakan biaya yang dikeluarkan oleh
pelanggan bila berpindah dari produk yang biasa dipakainya ke produk lain yang dibuat oleh
perusahaan lain. Misalnya biaya pelatihan kepada karyawan karena penggantian sistem
komputer, keterlambatan produksi karena pengujian bahan tertentu, dan lain sebagainya. Hal
ini juga merupakan hambatan masuk untuk perusahaan baru karena harus mengatasi biaya
ini untuk menguasai pasar (Jopie, 2007: 258). Dari dua pandangan tersebut, menurut penulis
juga bahwa biaya berpindah adalah resiko yang harus ditanggung konsumen jika ingin
berpindah. Dan seperti yang disampaikan menurut Whitten dan Wakefield (dalam setiarini
et al , 2018:33) bahwa biaya berpindah menunjukkan suatu resiko, investasi, dan kehilangan
pelanggan dengan perpindahan konsumen dari suatu merek tertentu ke merek lain atau dari
penyedia jasa tertentu ke penyedia jasa lainnya.
Setiarini (2018:34) juga mengatakan bahwa ada beberapa studi yang menjelaskan
bahwa biaya berpindah meliputi kehilangan financial, waktu, psikologis dan hubungan yang
dirasakan konsumen ketika berpindah ke penyedia lainnya. Hal itu biasanya dirasakan oleh
pelanggan ketika beberapa waktu kemudian setelah berpindah. Sehingga kepercayaan
kepada produk serta proses perhatian dan pemahaman kepada produk baru mulai dikuasai
oleh pelanggan.
Biaya berpindah menjadi penting menurut Feick et al (2001: 45) yaitu ketika
terdapat banyak perusahaan di dalam pasar dan biaya untuk melakukan perpindahan sangat
rendah maka pelanggan cenderung untuk beralih ke produk dari perusahaan yang satu ke
produk perusahaan yang lain. Sehingga hal ini menunjukkan tidak adanya sikap loyalitas
konsumen terhadap produk yang telah dipakai sebelumnya. Dan sebaliknya jika biaya
berpindah tinggi, maka pelanggan akan cenderung untuk tetap loyal terhadap produk lama.
Feick et al (2001: 46) juga mengemukakan bahwa biaya berpindah adalah bentuk
pengorbanan yang harus dilakukan oleh pelanggan. Pengorbanan tersebut meliputi : biaya
atas waktu artinya saat melakukan perpindahan butuh waktu untuk menguasasi dan
memahami penggunaan produk; biaya atas usaha artinya saat melakukan perpindahan butuh
usaha untuk mendapatkan produk; biaya atas resiko artinya saat melakukan perpindahan
akan mengalami kerugian baik kecil maupun besar untuk memiliki produk.
Burnham et al (2003) menyatakan bahwa tipologi dari biaya berpindah terdiri dari tiga
dimensi, antara lain : biaya finansial adalah biaya yang menyebabkan terjadinya kerugian
pada sumber daya finansial yang dapat diukur; biaya prosedural merupakan semua biaya
pengeluaran yang berhubungan dengan waktu dan usaha; biaya relasional adalah biaya yang
menimbulkan ketidaknyamanan secara psikologis dan disebabkan oleh hilangnya identitas
dan putusnya ikatan emosional. Pendapat yang dikemukakan oleh Jones (2007) juga
mengatakan bahwa biaya berpindah merupakan pengorbanan atau hukuman yang dirasakan
oleh konsumen ketika melakukan pergantian salah satu layanan jasa ke layanan jasa lainnya.
Selain itu, menurut Xavier (2000) menyatakan bahwa biaya berpindah merupakan biaya
nyata atau yang dirasakan yang timbul sebagai akibat ketika mengubah pemasok tetapi tidak
terjadi ketika masih menggunakan pemasok saat ini. Dan juga menurut Pradnyawati (2013)
Biaya berpindah dapat saja menyebabkan niat untuk berpindah atau dapat membuat
seseorang enggan untuk melakukan perpindahan. Patterson dan Smith (2003) juga
mengemukakan bahwa dalam pemasaran jasa terdapat beberapa jenis biaya berpindah yang
mempengaruhi niat konsumen untuk beralih ke yang lain yaitu Continuity costs, Learning
costs dan Sunk costs. Dalam penelitian ini, indikator yang digunakan untuk mengukur biaya
berpindah mengikuti beberapa indikator dari Bawanestri (dalam Wibowo 2013:15) yang
menjabarkan indikator dari variabel biaya berpindah sebagai berikut :kualitas produk yang
tidak sesuai harapan jika beralih ke produk lain; biaya atas waktu dan usaha untuk
mengevaluasi produk lain; biaya atas waktu dan usaha membiasakan diri dengan fitur baru
jika beralih ke produk lain; benefit yang hilang jika beralih ke produk lain; biaya atau
pengorbanan yang dikeluarkan dalam proses berpindah ke produk lain jika beralih.

Kemenarikan Alternatif (skripsi dan tesis)

Kemenarikan alernatif merupakan tingkatan mengenai sesuatu dalam hal ini produk
barang maupun jasa yang lebih buruk atau lebih baik berdasarkan berbagai perspektif
konsumen akan produk barang dan jasa tersebut (Julander dan Soderlund, 2003:20). Disisi
lain menurut Sulistiyani (2006) berpendapat bahwa kemenarikan alternatif adalah perspektif
konsumen yang berpikir bahwa lebih baik berpindah ke layanan produk yang lebih
memuaskan daripada menerima layanan dari penyedia produk yang tidak memuaskan.
Pendapat lain mengenai kemenarikan alternatif juga dikemukakan oleh Bansal et al (2005)
bahwa kemenarikan alternatif atau daya tarik pesaing adalah tersedianya alternatif jasa atau
barang yang sejenis yang dapat menarik perhatian pelanggan. Apabila pesaing dirasa lebih
menarik dan memuaskan, maka konsumen akan berpindah ke layanan yang lebih menarik,
lebih dapat dipercaya, atau dapat menyediakan kualitas layanan yang lebih tinggi.
Penulis berpendapat bahwa adanya proses daya tarik pesaing, ditimbulkan karena
adanya dorongan dari dalam diri konsumen bahwa produk yang ditawarkan pesaing lebih
menarik dari produk yang sebelumnya digunakan. Seperti yang disampaikan oleh Powell
(dalam Afandi 2008:70) yang menjelaskan bahwa prinsip-prinsip daya tarik produk
merupakan perwujudan dari mutu produk yang sangat baik. Dimana dapat dikatakan bahwa
mutu atau kualitas produk dapat menentukan keadaan dan keberadaan suatu produk. Jika
mutu dari suatu produk itu jelek maka daya tarik suatu produk tersebut akan rendah,
sebaliknya jika mutu dari suatu produk itu bagus maka daya tarik suatu produk tersebut akan
tinggi. Hal ini dikarenakan daya tarik merupakan sesuatu yang sangat penting bagi sebuah
produk. Sedangkan menurut Jones (2000) menyatakan bahwa kemenarikan alternatif adalah
alternatif lain yang dapat memberikan kualitas yang hampir sama dengan apa yang
ditawarkan. Kemenarikan alternatif merupakan aspek yang dapat mempengaruhi persepsi
pelanggan untuk berpindah ke penyedia alternatif karena adanya barang atau jasa alternatif
yang memiliki kualitas yang sama atau lebih baik. Dan hal tersebut mempengaruhi perilaku
perpindahan pelanggan dari produk lama ke produk baru. Maka, dapat dikatakan bahwa
kemenarikan alternatif mengacu pada persepsi pelanggan mengenai sejauh mana alternatif
yang bersaing tersedia di pasar. Oleh sebab itu, perusahaan harus mampu menguasai dan
memahami persepsi pelanggan di pasar dengan mempertahankan citra produknya atau mutu
produknya agar konsumen bisa tetap loyal dan tidak melakukan perpindahan. Hal ini berarti
bahwa sangat penting bagi perusahaan untuk mempertahankan imagenya di kalangan
konsumen.
Menurut Simamora (2004) mengatakan bahwa image adalah persepsi yang relative
konsisten dalam jangka panjang (enduring perception). Jadi tidak mudah untuk membentuk
image atau citra, bila terbentuk sulit untuk mengubahnya. Citra terhadap merek atau produk
berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi terhadap suatu merek atau
produk tersebut. Jadi, menurut Setiadi (2003) bahwa konsumen yang memiliki citra yang
positif terhadap suatu produk, akan lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian.
Dalam hal ini , Simamora (2004) membagi komponen image atau citra produk ada tiga
diantaranya : Citra pembuat adalah sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa; citra pemakai adalah sekumpulan
asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang
atau jasa yaitu meliputi pemakai itu sendiri, gaya hidup/kepribadian, serta status sosialnya;
citra produk adalah sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu produk
yang meliputi atribut produk tersebut, manfaat bagi konsumen, penggunaanya serta jaminan
yang diberikan. Dari komponen diatas tersebut, penulis simpulkan bahwa kemenarikan
alternatif adalah karakteristik positif yang dimiliki oleh produk pesaing melebihi produk
lama. Sehingga, perlu bagi perusahaan untuk membangun atau mengembangkan kualitas
produknya dengan mempertahankan brand image di mata konsumen. Maka, untuk
mendukung pendapat penulis tersebut Schiffman dan Kanuk (2010) menyebutkan faktorfaktor pembentuk brand image adalah sebagai berikut :
a. Kualitas atau mutu berkaitan dengan kualitas produk yang ditawarkan oleh
perusahaan. Hal ini menjadi salah satu aspek yang mempengaruhi daya tarik
pesaing.
b. Dapat dipercaya atau diandalkan artinya konsumen akan mempercayai dan
mengandalkan produk yang dianggapnya lebih memuaskan.
c. Kegunaan atau manfaat yang terkait dengan fungsi dari suatu produk yang bisa
dimanfaatkan oleh konsumen.
d. Pelayanan yang berkaitan dengan tugas perusahaan dalam melayani konsumennya.
e. Resiko berkaitan dengan untung rugi yang dialami oleh konsumen dalam
menggunakan produk.
f. Harga dalam hal ini berkaitan dengan tinggi rendahnya atau banyak sedikitnya
jumlah uang yang dikeluarkan konsumen untuk mempengaruhi suatu produk, juga
dapat mempengaruhi citra jangka panjang.
g. Image yang dimiliki merek itu sendiri yaitu berupa pelanggan, kesempatan dan
informasi yang berkaitan dengan suatu merek dari produk tertentu.
Berdasarkan teori-teori tersebut dapat penulis simpulkan juga bahwa kemenarikan
alernatif adalah suatu keadaan di mana konsumen memiliki pilihan untuk beralih ke produk
lain karena alternatif yang ditawarkan produk lain lebih banyak dan memiliki kualitas yang
sama atau lebih. Jadi, dapat memicu perilaku pelanggan untuk beralih ke produk lain,
sedangkan jika alternatif atau pesaing rendah maka kemungkinan pergeseran perilaku
konsumen akan berkurang bahkan tidak ada terjadi pergeseran. Sehingga Papalapu (2015)
menyatakan bahwa faktor penarik yang terdiri dari kemenarikan alternatif dapat
mempengaruhi perilaku perpindahan konsumen. Sama persis dengan pendapat Zhang
(2012) menyebutkan bahwa kemenarikan alternatif berpengaruh terhadap perilaku perpindahan atau niat beralih konsumen. Dalam penelitian ini hanya menggunakan 5
indikator dari 7 indikator kemenarikan alternatif yang dikemukakan oleh Ramada (dalam
Wibowo,2013) adalah sebagai berikut : reputasi produk yang dimiliki pesaing, kelengkapan
layanan produk yang dimiliki produk pesaing, kualitas layanan sms dan telepon produk yang
dimiliki produk pesaing, kualitas jangkauan atau jaringan produk yang dimiliki produk
pesaing, kualitas harga produk yang dimiliki produk pesaing.

Peran variabel pemoderasi citra perusahaan (skripsi dan tesis)

He & Lai (2014) menjelaskan bahwa image merupakan kriteria penting untuk
menentukan loyalitas pelanggan. Citra perusahaan sangat berperan dalam meningkatkan
kepuasan pelanggan dan mengatasi niat beralih pelanggan. Zhang (2009) membuktikan bahwa
reputasi/citra yang buruk dari sebuah perusahaan dapat meningkatkan niat beralih. Sebelum
pelanggan melakukan switching behavior, sudah terdapat niatan/ intensi dari pelanggan untuk
melakukan perpindahan. Dengan kata lain, niat beralih merupakan antecedent pelanggan
sebelum melakukan perpindahan yang sebenarnya. Selain berhubungan negatif dengan niat
beralih, citra perusahaan juga berpengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan, loyalitas dan
word of mouth communication (Walsh, Mitchell, Jackson, & Beatty, 2009).
Layanan yang baik dari perusahaan terbukti berpengaruh positif pada kepuasan
pelanggan dan berpengaruh negatif terhadap niat beralih pelanggan (Han et al., 2011; Martins et al., 2013; Sharma & Chaubey, 2014; Unyathanakorn & PCL, 2014; Vankateswarlu et al.,
2015).

Kualitas layanan dengan niat beralih (skripsi dan tesis)

Niat beralih didefinisikan sebagai keinginan pelanggan sebuah perusahaan untuk
beralih menggunakan produk dan layanan dari perusahaan lain (Han et al., 2011; Zhang,
Cheung, & Lee, 2012). Niat beralih dapat terjadi karena buruknya kualitas layanan yang ada di
sebuah perusahaan dan daya tarik perusahaan lain yang lebih menguntungkan bagi pelanggan
(Zhang, 2009). Sejalan dengan Martins et al., (2013), yang mengatakan bahwa kualitas layanan
yang buruk dapat menurunkan kepuasan pelanggan yang berujung pada niat beralih.
Perusahaan akan mengalami kerugian (kehilangan pelanggan) jika niat beralih pelanggan
diikuti dengan switching behavior. Selain kerugian tersebut, pelanggan yang melakukan
switching behavior karena kecewa dengan sebuah perusahaan, juga akan merekomendasikan
orang lain untuk tidak menggunakan jasa dari perusahaan tersebut.
Penelitian empiris telah membuktikan bahwa buruknya kualitas layanan sebuah
perusahaan dapat meningkatkan niat beralih (Martins et al., 2013; Nikbin, Ismail, Marimuthu,
& Armesh, 2012; Zhang, 2009). Zeithaml et al., (1996) mengatakan bahwa terdapat pengaruh
langsung antara layanan pelanggan dengan intensi keperilakuan seorang pelanggan. Jika
kualitas layanan yang dirasakan pelanggan buruk, maka akan muncul keinginan untuk
berpindah ke perusahaan lain. Adanya pelanggan yang merasakan pelayanan yang kurang
ramah, lambat dan tidak meyakinkan dari penyedia jasa yang merupakan ciri dari buruknya
kualitas layanan yang akan menimbulkan niat mereka untuk berpindah ke perusahaan lain

Kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan (skripsi dan tesis)

Berbeda dengan perusahaan manufaktur, kualitas layanan merupakan faktor penentu
daya saing dari perusahaan jasa. Melihat pentingnya kualitas layanan sebuah perusahaan,
banyak peneliti yang tertarik untuk melihat peran kualitas layanan yang terdapat dalam
sebuah perusahaan (Bawa et al., 2013; Casidy, 2014; Chawla & Sehgal, 2012; Dkudiene et al.,
2015; Maysami, Goby, & Mensah, 2014). Kualitas layanan ini dibentuk oleh beberapa dimensi
yang juga merupakan dimensi-dimensi pengukuran kualitas layanan yang terdapat dalam
sebuah perusahaan. Parasuraman et al., (1985) telah merumuskan dimensi-dimensi dari
kualitas layanan (SERVQUAL) yaitu dimensi bukti fisik, kehandalan, responsivitas, jaminan dan
empati. Kualitas layanan itu diartikan sebagai sejauh mana layanan sebuah perusahaan
memenuhi atau melebihi harapan pelanggan (Parasuraman et al., 1985; Zeithaml, Berry, &
Parasuraman., 1996).
Irina & Zait (2016) menjelaskan bahwa layanan pelanggan dapat mempengaruhi rasa
puas dari konsumen dan dapat menentukan loyalitas pelanggan. Layanan yang berkualitas
dari perusahaan akan meningkatkan kepuasan pelanggan yang berujung pada loyalitas
pelanggan seperti melakukan promosi kepada orang lain (Ledden, Kalafatis, & Mathioudakis,
2011). Kepuasan pelanggan itu sendiri merupakan kondisi afektif atau psikologis yang dimiliki
pasien mengenai produk dari perusahaan seperti barang atau layanan yang ditentukan oleh ekspektasi yang dimiliki pasien dengan pengalaman mengonsumsi barang maupun jasa
perusahaan (Oliver, 1980). Penelitian empiris lainnya juga telah membuktikan bahwa kualitas
layanan dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan secara langsung (Mutmainnah, 2017;
Unyathanakorn & PCL, 2014; Vankateswarlu, Ranga, & Sreedhar, 2015)

Hubungan antar Variabel (skripsi dan tesis)

a. Hubungan antara Kepercayaan dan Niat Belanja Online
Kepercayaan adalah dalam melakukan hubungan transaksi berdasarkan
suatu keyakinan bahwa orang yang dipercayainya tersebut sesuai dengan apa yang
diharapkan (Rofiq, 2007 dalam Priansa, 2017:116).
Faktor penting yang mempengaruhi hubungan internet adalah kepercayaan.
Dalam pasar online konsumen secara rutin akan berinteraksi dengan penjual yang
tidak dikenalnya. Kepercayaan dari konsumen terkait dengan kredibilitas penjual,
kualitas informasi jaringan, privasi dan pertimbangan keamanan. Kurangnya
kepercayaan merupakan faktor penting yang di pengaruhi belanja online, karena
dalam lingkungan online pelanggan tidak dapat memeriksa kualitas produk fisik
sebelum berbelanja. Akibatnya, kepercayaan antara pembeli dan penjual adalah
elemen inti yang menghasilkan niat belanja online (Shadkam, 2012).
b. Hubungan antara Keamanan dan Niat Belanja Online
Bagian sistem keamanan komputer yang bertujuan untuk pengukuran dan
menetapkan aturan-aturan yang digunakan untuk menjaga keamanan dan
integritas suatu sistem diperlukan sistem keamanan yang memadai (Sarwono &
Prihartono, 2012:145).
Internet adalah jaringan yang terbuka dan tidak memiliki fitur keamanan
yang banyak. Keamanan ketika memberikan informasi tentang diri kepada
seorang pedagang e-commerce, karena informasi ini dapat disalahgunakan
(Shadkam, 2012). Peningkatan angka-angka yang menunjukkan bahwa sebagian
besar bisnis online adalah penipuan. Seperti spamming, hacking, dan phishing
sehingga konsumen khawatir kejadian tersebut memunculkan penipuan baik
melalui hacking nomor kartu kredit untuk membocorkan informasi pribadi dan
spam yang berlebihan untuk pencurian identitas (Mukherjee, Arnott, & Nath,
2007). Oleh karena itu keamanan adalah salah satu faktor paling penting yang
mempengaruhi perilaku belanja online konsumen (Shadkam, 2012).

Niat Belanja Online (skripsi dan tesis)

a. Pengertian Niat Belanja Online
Niat belanja online adalah keinginan konsumen untuk mengikuti gaya hidup
masyarakat modern dan menjangkau semua lapisan wilayah, tidak terkecuali bagi
mereka yang berada di berbagai macam daerah. Bagi yang berada di daerah yang
tidak bisa mendapatkan barang di kota besar, belanja online bisa menjadi pilihan
yang tepat (Halim, 2010:1). Belanja online menjadi tren dari Google Trends
menyebutkan perilaku konsumen hampir di seluruh dunia, mulai beralih dari
tradisional market menuju online market. Indonesia sendiri termasuk dalam tren
yang mulai menyukai belanja online ini terbukti banyak situs online yang
menjajakan barang-barang dagangannya (Halim, 2010:2). Konsumen yang
mempunyai niat membeli secara online dalam lingkungan situs berbelanja akan
menentukan niat seseorang untuk melakukan pembelian yang ditentukan perilaku
melalui internet (Haekal & Widjajanta, 2016).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa niat belanja online
adalah keinginan konsumen untuk melakukan tindakan pembelian barang atau
jasa dari penjual melalui perdagangan internet yang menggunakan perangkat
elektronik.
b. Kelebihan dan Kekurangan Belanja Online
Ada banyak keuntungan yang akan didapatkan jika melakukan aktivitas
kegiatan seperti belanja online. Akan tetapi disamping itu ada juga beberapa
kekurangan dari belanja online.
Kelebihan:
1) Dapat dilakukan dimana saja
Belanja online bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, asalkan memiliki
koneksi internet yang memadai dan fasilitas lainnya seperti laptop atau
smartphone.
2) Tidak banyak mengeluarkan tenaga
Belanja online sangat menghemat tenaga, karena pembeli tidak perlu datang
langsung ke toko, mall, dan lain sebagainya. Cukup dengan mengakses
sebuah website melalui internet langsung bisa memilih barang yang
diinginkan.
3) Membandingkan antar produk akan sangat mudah
Tidak perlu pindah ke toko (offline) untuk mencari jenis produk yang
tersedia. Pilihan yang tersedia secara online sangat banyak dan ini adalah
salah satu fitur terbaik dari belanja online.
Kekurangan:
1) Sangat bergantung pada internet
Semua kegiatan yang berkaitan dengan bisnis ataupun belanja online
pastinya akan selalu membutuhkan koneksi internet, karena kegiatan ini
dilakukan di dalam sebuah jaringan.
2) Barang tidak bisa dilihat secara langsung
Karena barang tidak bisa dilihat secara langsung maka kualitas barang
terkadang tidak sesuai dengan keinginan. Apa yang ditampilkan di foto
Website bisa berbeda dengan apa yang diterima.
3) Masalah pengiriman barang atau produk
Salah satu penghambat jalannya berbisnis atau berbelanja online adalah
masalah pengiriman barang. Karena produk yang dibeli tidak langsung berada di
tangan konsumen, melainkan harus melalui proses pengiriman barang terlebih
dahulu (Husnan, 2015:4).
c. Tips Aman Belanja Online
Dalam melakukan belanja online tentunya harus bisa memahami terlebih
dahulu tips aman ketika ingin melakukan belanja online yang bertujuan untuk
mencegah hal yang tidak diinginkan ketika bertransaksi secara online.
1) Perhatikan testimoni dan reputasi penjual
Website atau akun jejaring sosial milik toko online biasanya memberikan
tempat para pengguna untuk memberikan testimoni tentang pengalaman mereka
selama berbelanja. Pengguna atau pembeli bisa menilai apakah toko online
tersebut memiliki reputasi yang bagus dan terpercaya atau tidak berdasarkan
testimoni yang ada di dalam toko tersebut. Hal ini sangat penting karena testimoni
para pembeli menentukan kredibilitas dari toko atau penjual barang tersebut. Hal
lain yang perlu diperhatikan dari penjual adalah melihat apakah bisa dengan
mudah menghubungi penjual. Jika ada pertanyaan atau keluhan mengenai barang
yang akan atau sudah kita pesan, biasanya penjual yang baik akan memberikan
kontak info yang lengkap seperti menyertakan nomor handphone, e mail dan
alamat lengkap.
2) Detail dan kondisi barang yang dijual
Perhatikan detail barang atau jasa yang akan dibeli, jangan pernah membeli
barang yang tidak disertai dengan informasi yang lengkap mengenainya, pastikan
jika sudah menerima info barang sejelas mungkin. Hal ini guna mencegah
kerugian jika barang atau jasa yang dibeli ternyata tidak sesuai dengan yang
diinginkan. Jangan pernah tergiur dengan harga murah karena jika harga barang
atau jasa yang akan dibeli itu sangat jauh perbandingannya dengan barang yang
sama beredar di pasaran, pasti ada suatu kekurangan contohnya jika ada barang
elektronik yang murah dan harganya jauh di bawah pasaran bisa jadi barang itu
tidak resmi atau ilegal.
3) Transaksi dan pembayaran
Dalam transaksi pembelian online, pembayaran biasanya dilakukan dengan
metode transfer ke rekening bank penjual. Gunakan sistem COD atau Cash On
Delivery untuk meminimalisasi terjadinya penipuan. COD merupakan sistem
pembayaran yang baru dilakukan bersamaan dengan sampainya barang ke tangan
pembeli. Biasanya pembeli diminta untuk bertemu di sebuah tempat atau bertemu
langsung dengan penjual. Keuntungan dari sistem pembayaran ini adalah pembeli
bisa memeriksa barang yang dipesan terlebih dahulu, sesuai tidak dengan
keterangan yang ada di website. Jika tidak sesuai, pembeli bisa langsung
mengembalikan atau bernegosiasi untuk menukar barang.
Sistem COD hanya bisa dilakukan apabila antara penjual dan pembeli
memiliki kesamaan domisili (satu kota). Pilihan yang lain, bisa menggunakan
rekber (rekening bersama) sebagai pihak ketiga dalam transaksi jual beli.
Rekening bersama adalah perantara pembayaran atau pihak ketiga yang
membantu keamanan dan kenyamanan transaksi antara penjual dan pembeli.
Pembeli tidak mentransfer langsung dananya ke rekening penjual, tetapi ke pihak
rekber dahulu sebagai pihak ketiga, sehingga tidak ada kemungkinan barang tidak
dikirim oleh penjual. Setelah barang diterima oleh pembeli, barulah pihak rekber
mentransfer ke rekening penjual. Sistem rekber dapat meminimalisasi penipuan
yang ada. Pastikan kapan barang yang dipesan akan dikirim kerumah atau tujuan
dan butuh waktu berapa lama proses pengiriman barang tersebut (Nugroho,
2013:23).
d. Indikator Niat Belanja Online
Indikator niat belanja online adalah sebagai berikut:
1) Belanja online lebih baik dari pada belanja tradisional
2) Secara keseluruhan konsumen puas dengan belanja online (Shadkam, 2012).

Keamanan (skripsi dan tesis)

a. Pengertian Keamanan
Bagian sistem keamanan komputer yang bertujuan untuk pengukuran dan
menetapkan aturan-aturan yang digunakan untuk menjaga keamanan dan
integritas suatu sistem diperlukan sistem keamanan yang memadai (Sarwono & Prihartono, 2012:145). Keamanan (security) adalah kemampuan dalam
mengendalikan dan melindungi data transaksi dari penyalahgunaan atau alternatif
kerugian yang tidak sah (Bailey & Pearson, 1983).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keamanan adalah
kemampuan bagian sistem komputer dalam mengendalikan dan melindungi data
transaksi dari penyalahgunaan.
b. Filosofi Keamanan dalam Internet
Filosofi keamanan dalam internet mencakup diantaranya ialah:
1) Hal yang penting adalah mencegah munculnya penerobos, karena sebelum
terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap komputer/ jaringan/ sistem yang
dibuat.
2) Pemulihan: setelah terjadi penerobosan atau penyerangan maka yang harus
dilakukan adalah mendeteksi dan memulihkan.
3) Dukungan: meningkatkan dan menjaga kemampuan sekuritas yang
melandasi jaringan teknologi informasi yang ada (Sarwono & Prihartono,
2012:145).
c. Persoalan-persoalan Keamanan dalam e-Commerce
Persoalan-persoalan keamanan dalam e-Commerce mencakup diantaranya:
1) Keamanan dalam menjalankan bisnis di internet untuk pihak penjual dan
pembeli.
2) Keamanan dalam melakukan transaksi pembelian dan pembayaran melalui
internet untuk pihak pembeli atau konsumen.
3) Keamanan pihak penjual atau perusahaan pada jaringan komputernya.
4) Keamanan pihak pembeli atau konsumen pada komputernya.
5) Perlindungan konsumen dari kecurangan atau fraud (Sarwono & Prihartono,
2012:158).
d. Metode Serangan Keamanan di Internet
Metode serangan yang menjadi ancaman dalam internet didasarkan pada:
1) Serangan, penyerang, dan strategi yang digunakan: serangan berkaitan
dengan jenis atau tipe serangan. Penyerang menyangkut siapa yang
melakukan serangan, misalnya hacker, pegawai atau pihak pesaing bisnis
atau dapat juga orang iseng yang menyalurkan hobinya menerobos ke
sistem jaringan orang lain. Strategi berkaitan dengan cara mereka
menyerang, misalnya melakukan deface, mengirimkan email spam,
mengirimkan file berisi virus dan sejenisnya.
2) Target serangan dan tujuan serangan: target serangan merupakan apa yang
menjadi sasaran serangan, misalnya komputer dapat berupa hardware
maupun software nya; email yang dibajak (hijacking) atau jaringan. Sedang
tujuan berkaitan dengan untuk apa orang melakukan penyerangan, misalnya
iseng-iseng untuk menguji sistem keamanan kita, untuk mencuri data, atau
untuk menghancurkan sistem karena persaingan bisnis.
3) Jenis pertahanan diantaranya berkaitan dengan: tindakan pencegahan,
deteksi dini, menghindar, membuat backup data, memproteksi email,
monitoring dan kendali.
4) Metode pertahanan dapat meliputi diantaranya: regulasi, kebijakan, strategi,
privasi, proteksi terhadap spyware, penilaian kerentanan sistem (Sarwono &
Prihartono, 2012:158).
e. Jenis Serangan Keamanan di Internet
Jenis serangan terhadap komputer atau jaringan suatu sistem informasi
otomatis dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1) Bentuk ancaman yang tidak disengaja meliputi diantaranya: kesalahan
manusia dapat terjadi karena salah dalam merancang hardware atau sistem
informasinya, gangguan lingkungan yang termasuk dalam gangguan
lingkungan diantaranya ialah gempa bumi, kebakaran dan sejenisnya yang
mengakibatkan komputer atau jaringan rusak, kerusakan pada sistem
komputer dapat diakibatkan karena kualitas komputer dari pabrik yang
rendah, bahan-bahan baku tidak berkualitas ataupun pemeliharaan yang
kurang baik.
2) Bentuk ancaman yang disengaja berupa serangan yang disengaja dan
tindakan kriminal , meliputi diantaranya: modifikasi dan pencurian data
karena iseng, serangan hacker, sabotase, pembajakan informasi saat
dikirimkan, perusakan jaringan, spionase bisnis dan sejenisnya (Sarwono &
Prihartono, 2012:159).
f. Indikator Keamanan
Indikator keamanan adalah sebagai berikut:
1) Kerahasiaan data.
2) Jaminan keamanan.
3) Tidak menyalahgunakan data pribadi (Raman & Annamalai, 2011)

Kepercayaan (skripsi dan tesis)

a. Pengertian Kepercayaan Konsumen
Kepercayaan organisasi bisnis lain tersebut akan memberikan outcome yang
positif bagi organisasi bisnis menurut keyakinan organisasi bisnis terhadap
organisasi bisnis lainnya (Anderson dan Naurus, 1990 dalam Priansa, 2017:115).
Kepercayaan adalah dalam melakukan hubungan transaksi berdasarkan suatu
keyakinan bahwa orang yang dipercayainya tersebut sesuai dengan apa yang
diharapkan (Rofiq, 2007 dalam Priansa, 2017:116). Kepercayaan adalah objek,
atribut, dan manfaat dari pengetahuan yang dimiliki konsumen dan semua
kesimpulan yang dibuat konsumen (Mowen dan Minor, 2002 dalam Priansa,
2017:116). Kepercayaan berdasarkan harapan terhadap perilaku yang baik orang
lain dari wilayah psikologis yang merupakan perhatian untuk menerima apa
adanya (Rousseau, 1998 dalam Priansa, 2017:116). Kepercayaan adalah harapan
yang sesuai dalam sebuah lingkungan yang penuh ketidakpastian merupakan
penilaian hubungan seseorang dengan orang lain yang akan bertransaksi (Pavlou,
2002 dalam Priansa, 2017:116).
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kepercayaan adalah
harapan sesuai keyakinan yang didasarkan dari pengetahuan yang dimiliki
konsumen dalam melakukan hubungan transaksi.
b. Manfaat Kepercayaan Konsumen
Hal yang penting bagi kesuksesan relationship adalah kepercayaan,
relationship benefit yang didasarkan pada kepercayaan memiliki pengaruh yang
signifikan serta berkenaan dengan:
1) Kerjasama (cooperation)
Dengan meningkatkan kepercayaan kerjasama memberikan hasil yang lebih
banyak dibandingkan apabila dikerjakan sendiri.
2) Komitmen (commitment)
Komitmen akan dibentuk hanya dengan pihak-pihak yang saling percaya
karena komitmen merupakan komponen yang dapat membangun hubungan.
3) Durasi hubungan (relationship duration)
Kemungkinan bahwa pembeli akan terlibat dalam bisnis pada masa yang
akan datang berhubungan dengan kepercayaan dari penjual secara positif,
hal itu memberikan kontribusi untuk meningkatkan durasi hubungan.
4) Kualitas (quality)
Informasi yang diberikan pihak yang dipercaya lebih mungkin untuk
diterima oleh pihak yang percaya, dan dalam informasi tersebut akan
menghasilkan benefit yang lebih besar. Akhirnya perselisihan atau konflik
kemungkinan dapat dipecahkan dengan damai oleh kepercayaan,
perselisihan merupakan penyebab berakhirnya relationship dan tanda akan
adanya kesulitan pada masa yang akan datang (Peppers dan Rogers, 2004
dalam Priansa, 2017:117).
c. Karakteristik Kepercayaan Konsumen
Berbagai karakteristik yang berkenaan dengan kepercayaan adalah:
1) Menjaga hubungan
Karena ia menyadari bahwa hubungan yang baik akan memberikan dampak
yang menguntungkan bagi dirinya, baik saat ini maupun dimasa yang akan
datang, maka konsumen yang percaya akan senantiasa menjaga hubungan
yang baik antara dirinya dengan perusahaan.
2) Menerima pengaruh
Biaya perusahaan atau pemasar untuk progran pemasaran menjadi semakin
murah karena konsumen yang memiliki kepercayaan yang tinggi akan
mudah untuk dipengaruhi
3) Terbuka dalam komunikasi
Informasi yang kontruktif bagi perusahaan akan diberikan apabila
konsumen memiliki kepercayaan tinggi terhadap perusahaan sehingga
memudahkan perusahaan atau pemasar untuk bertindak dengan cepat karena
arus informasi tidak tersendat.
4) Mengurangi pengawasan
Kurangnya fungsi pengawasannya terhadap perusahaan atau pemasar terjadi
karena biasanya konsumen yang percaya jarang mengkritik.
5) Kesabaran
Kesabaran yang berlebih dibandingkan dengan konsumen biasa dimiliki
oleh konsumen yang percaya.
6) Memberikan pembelaan
Ketika produk yang dikonsumsinya dikritik oleh kompetitor atau bahkan
pengguna lainnya yang tidak suka, maka konsumen yang percaya akan
memberikan pembelaan kepada perusahaan atau pemasar.
7) Memberi informasi yang positif
Informasi positif dan membangun bagi perusahaan akan selalu diberikan
oleh konsumen yang percaya.
8) Menerima resiko
Risiko apapun ketika ia memutuskan untuk menggunakan produk yang
dihasilkan oleh perusahaan akan diterima oleh konsumen yang percaya
sehingga ketika mengkonsumsi produk ia tidak akan mudah mengeluh dan
mengkritik.
9) Kenyamanan
Karena ia percaya bahwa perusahaan atau pemasar memberikannya
kenyamanan untuk mengkonsumsi produk dalam jangka pendek maupun
panjang, konsumen yang percaya akan melakukan pembelian secara
berulang.
10) Kepuasan
Kepuasan konsumen dapat diwujudkan oleh perusahaan dengan mudah pada
konsumen yang percaya karena akan lebih mudah untuk diberikan kepuasan
daripada konsumen yang tidak percaya (Priansa, 2017:118).
d. Jenis Kepercayaan Konsumen
Tiga jenis kepercayaan, yaitu:
1) Kepercayaan atribut objek
Yang disebut kepercayaan atribut objek yaitu pengetahuan tentang sebuah
objek yang memiliki atribut khusus.
2) Kepercayaan manfaat produk
Persepsi konsumen tentang seberapa jauh sebuah atribut tertentu
menghasilkan, atau memberikan, manfaat tertentu.
3) Kepercayaan manfaat objek
Persepsi konsumen tentang seberapa jauh produk, orang atau jasa tertentu
yang akan memberikan manfaat merupakan kepercayaan manfaat objek
(Priansa, 2017:119).
e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Konsumen
Integritas, reliabilitas, contact personnel, dan physical environment sebagai
faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan konsumen:
1) Integritas (integrity)
Integritas berarti komplit, komplit maksudnya adalah antara yang dikatakan
dan dilakukan perusahaan yang membuat konsumen menjadi percaya ada
kesesuaian.
2) Reliabilitas (reliability)
Dalam melakukan usahanya dari dulu sampai sekarang reabilitas
dimaksudkan untuk mengukur kekonsistenan perusahaan.
3) Kontak pegawai (contact personnel)
Orang yang menghubungkan perusahaan dan konsumen merupakan kontak
pegawai. Contact Personel dalam menyampaikan jasa, dalam hal seperti
resepsionis, operator telepon, sekertaris dal lain-lain dinilai berdasarkan
efektivitas individu.
4) Lingkungan fisik (physical environment)
Dapat diartikan sebagai kondisi dan suatu keadaan sekitar dimana seseorang
tersebut berada (Shamdasani dan Balakrishnan, 2000 dalam Priansa,
2017:121).
f. Mengembangkan Kepercayaan Konsumen
Strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan dan pemasar dalam rangka
membangun kepercayaan konsumen adalah:
1) Integritas
Integritas pada dasarnya berarti kejujuran bagi banyak orang, integritas
artinya keterpaduan. Berani bertindak menurut keyakinan, konsisten luar
dalam.
2) Niat
Dalam menjalankan tugas kewajiban seseorang yang melakukan aktivitas
bisnis perlu mengawalinya dengan niat yang ikhlas. Yang sangat
menentukan arah suatu pekerjaan adalah niat.
3) Kemampuan
Menginspirasikan keyakinan, bakat-bakat, sikap, keterampilan,
pengetahuan, dan gaya merupakan kemampuan yang dimiliki.
4) Hasil
Pada prestasi, kinerja, keberhasilan menjadikan segalanya yang benar
terlaksana adalah hal yang mengacu (Priansa, 2017:122).
g. Dimensi Kepercayaan Konsumen
Penelitian yang dilakukan lebih dari 40 tahun tentang kepercayaan, telah
menghasilkan dimensi yang dapat digunakan sebagai instrumen pengukuran
kepercayaan, yaitu kepuasan, skala interpersonal, terpercaya, dan hasil
kepercayaan.
1) Kepuasan
Sikap terhadap hasil transaksi dan akan mempengaruhi perilaku selanjutnya
dari konsumen, serta mempengaruhi tingkat loyalitas konsumen merupakan
kepuasan. Variabel mediator yang menghubungkan variabel kualitas
layanan, kepercayaan, dan kesetiaan konsumen merupakan kepuasan
konsumen.
2) Skala interpersonal (interpersonal scale)
Dalam skala interpersonal diukur mengenai hubungan interpersonal, yang
ada di lingkungannya dengan baik mengenai satu individu dengan individu
lain. Hubungan interpersonal juga dapat dipahami sebagai hubungan baik
antara konsumen dan organisasi bisnis.
3) Terpercaya (trustworthiness)
Terpercaya berkenaan dengan kepercayaan konsumen pada kemampuan,
kejujuran, intregitas, kebaikan, keandalan, dan ketulusan dalam pelayanan
yang diberikan.
4) Hasil kepercayaan (Out Comes of Trust)
Bukan hanya berhubungan dengan kognitif maupun efektif konsumen,
kepercayaan juga berkaitan dengan tindakan (Rawlins, 2007 dalam Priansa,
2017:123).
h. Komponen-komponen Kepercayaan
Komponen-komponen kepercayaan terdiri dari:
1) Kredibilitas (credibility)
Kredibilitas berarti bahwa karyawan jujur dan kata-katanya dapat dipercaya.
Believability dan truthfilness adalah bentuk lain yang berhubungan dengan
kredibilitas
2) Reliabilitas (reliability)
Reliabilitas berarti sesuatu yang bersifat reliable atau dapat dihandalkan.
predictability dan familiarity adalah bentuk lain yang berhubungan dengan
reliabilitas.
3) Intimasi (intimacy)
Integritas yang berarti karyawan memiliki kualitas sebagai karyawan yang
memiliki prinsip moral yang kuat adalah kata yang berhubungan dengan
intimasi (Peppers dan Rogers, 2004 dalam Priansa, 2017:126).
i. Indikator Kepercayaan
Indikator kepercayaan adalah sebagai berikut:
1) Kemampuan.
2) Kebaikan hati.
3) Integritas (Mayer, Davis, & Schoorman, 2014).

Hubungan Kepercayaan dengan Niat Beli pada Toko Online (skripsi dan tesis)

Kuan & Bock (2007) berpendapat, bahwa kepercayaan konsumen yang
tinggi, menghasilkan niat yang lebih besar untuk membeli produk di lingkungan
bisnis online. Kepercayaan konsumen dapat mempengaruhi niat beli, karena
mereka melihat, dan terkadang bertanya secara langsung (interaktif) kepada
konsumen pemberi rekomendasi, seperti bagaimana profil pedagang tersebut,
apakah pedagang tersebut jujur atau tidak, pelayanannya cepat atau tidak, pasti
mengirimkan barang atau tidak. Tidak hanya itu, konsumen potensial juga
berkomunikasi dengan pedagang toko online melalui media apapun (sms, telepon,
chatting, dan bertemu langsung jika daerah tempat tinggalnya berdekatan).
Pertanyaan yang diajukan konsumen potensial kepada pedagang toko online lebih
detil daripada pertanyaan yang diajukan kepada pemberi rekomendasi, seperti
bagaimana cara pemesanan, barang dikirim menggunakan jasa ekspedisi apa,
kapan barang sampai tempat tujuan.
Kemudian hasil komunikasi antara konsumen potensial dengan konsumen
innovator dan antara konsumen potensial dengan pedagang toko online
dibandingkan. Cara tersebut dilakukan konsumen potensial untuk memperkuat
keyakinannya dan membuktikan sendiri bahwa apa yang dikatakan kedua pihak (pedagang dan pemberi rekomendasi) itu benar atau tidak. Jika benar maka
dengan sendirinya kepercayaan konsumen potensial bertambah terhadap informasi
yang diberikan oleh kedua pihak tersebut, kemudian dapat menambah keyakinan
untuk membeli barang di pedagang toko online tersebut. Tidak jarang konsumen
potensial membatalkan niatnya untuk membeli barang pada toko online dan tidak
ada kepercayaan lagi terhadap pemberi rekomendasi dan toko online karena
ketidaksesuaian informasi awal yang di dapat dari pemberi rekomendasi dengan
kenyataan saat berkomunikasi langsung dengan pedagang toko online (Maister
dkk.: 2002, Hacker & Willard: 2002, Kuan & Bock: 2007).
Dengan kata lain niat beli muncul ketika konsumen potensial mempunyai
kepercayaan terhadap pedagang yang didukung dengan komunikasi antara
pembeli dan pedagang.

Hubungan Electronic Word of Mouth dengan Kepercayaan pada Toko Online (skripsi dan tesis)

Electronic word of mouth (e-WOM) dapat mempengaruhi kepercayaan
konsumen potensial yang akan bertransaksi dengan pedagang. Konsumen
potensial dapat mengetahui semua informasi mulai dari informasi mengenai
produk, pedagang online, hingga barang pesanan sampai ditangan dapat
dipaparkan dengan mudah dan cepat melalui internet. Informasi yang dapat
membuat konsumen potensial percaya terhadap pedagang toko online diantaranya
adalah mengenai kebeneran informasi produk yang disampaikan pedagang toko
online, kesesuaian janji yang diutarakan pedagang toko online dengan kenyataan
saat barang diterima, pengalaman orang lain yang telah membeli di toko online
tersebut, dan rekomendasi yang diberikan orang lain terhadap pedagang toko
online.
Jika salah satu dari beberapa informasi tersebut dapat dipenuhi oleh
pedagang toko online (terutama informasi rekomendasi), maka konsumen potensial dapat mempunyai rasa percaya. Karena konsumen potensial lebih
percaya pada rekomendasi seorang yang sudah membeli dan mengkonsumsi
barang atau jasa yang sama. Lin & Lu (2010) menambahkan, kepercayaan yang
ditunjukkan sebelum adanya transaksi jual beli, dipengaruhi oleh pendapat
konsumen yang puas setelah membeli produk atau jasa (testimoni).

Niat beli (skripsi dan tesis)

Niat beli menurut Shao dkk. (2004), adalah niat pembelian mengacu pada
upaya untuk membeli produk atau untuk mengunjungi toko yang menawarkan
produk atau jasa. Hsu (1987) mengartikan niat beli merupakan perubahan sikap
yang diciptakan setelah konsumen mengevaluasi produk secara umum termasuk
mengombinasikan dengan faktor eksternal.
Dodds dkk. (1991) mengemukakan bahwa niat beli merupakan
kemungkinan bagi konsumen untuk membeli suatu produk. Engel dkk. (2001)
mengusulkan bahwa niat beli melibatkan penilaian subyektif untuk perilaku masa
depan. Pavlou (2003) mengamati niat beli online adalah niat untuk menggunakan
situs kemudian menyelesaikannya dengan melakukan pembelian. Niat beli
merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai oleh pedagang toko online, dan dapat
dituntaskan oleh konsumen potensial dengan melakukan pembelian produk atau
jasa. Dengan demikian, niat pembelian mencakup beberapa arti penting, yaitu
mengacu pada kemungkinan konsumen menjadi ”bersedia” mempertimbangkan
melakukan pembelian, mewakili apa yang orang ”ingin” beli di masa depan dan
menuntaskannya dengan melakukan pembelian. Pengukuran niat beli berdasarkan
”mempertimbangkan untuk membeli”, baik saat itu juga atau di masa depan.