Faktor-faktor yang mempengaruhi Corporate Branding


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi corporate branding antara lain:

  1. Visi, misi dan nilai perusahaan menjadi dasar untuk membentuk identitaas
    merek yang kuat.
  2. Kualitas produk atau layanan
    Kualitas produk atau layanan yang ditawarkan perusahaan faktor penting
    dalam pembentukan citra merek.
  3. Pengalaman pelanggan
    Pengalaman pelanggan dengan perusahaan dan mereknya sangat
    mempengaruhi dengan interaksi pelanggan merasa puas dengan perusahaan.
  4. Reputasi perusahaan
    Reputasi perusahaan baik dari keandalan, integritas atau tanggung jawab social
    yang dimiliki oleh suatu perusahaan akan lebih mudah membangun
    kepercayaan dengan konsumen dan pemangku kepentingan lainnnya.
  5. Komunikasi Identitas Visual
    Komunikasi merek yang efektif dan konsisten sangat penting, penggunaan
    identitas visual yang konsisten dalam semua saluran komunikasi Perusahaan
    dapat memperkuat kesan merek yang kohesif dan membedakan perusahaan
    dari pesaingnya.
    6.Inovasi dan Diferensiasi
    Kemampuan perusahaan untuk berinovasi dan memberikan nilai tambah yang
    unik dalam produk atau layanan, perusahaan yang terus menerus menciptakan
    produk atau layanan yang inovatif dan berbeda dapat membangun citra merek
    yang kuat sebagai pemimpin pasar.
  6. Respon terhadap perubahan
    Kemampuan perusahaan untuk merespons perubahan lingkungan bisnis dan
    memenuhi kebutuhan pelanggan yang berkembang, Perusahaan yang dapat
    beradaptasi dengan cepat dan memberikan solusi yang relevan

Pengaruh Brand Attachment terhadap Brand Loyalty


Menurut (Kumar, J., & Nayak, J. K., 2019) Keterikatan merek adalah
kekuatan ikatan penghubung merek dengan diri sendiri. Pada penelitian (Kumar,
J., & Nayak, J. K., 2019) keterikatan merek berpengaruh positif terhadap loyalitas
merek. Pada penelitian tersebut hubungan antara keterikatan merek dengan
loyalitas merek, dibuktikan dengan t-value sebesar 6,09 antara keterikatan merek
dengan loyalitas merek, sehingga dikatakan bahwa kedua variable tersebut
berpengaruh positif. Selain itu pada masing – masing variabel memiliki nilai
Cronbach’s alfa yang signifikan, karena >0,70. Pada penelitian (Kumar, J., &
Nayak, J. K., 2019) brand attachment dan brand loyalty, reliable yang terbukti
dari masing – masing nilai AVE yang signifikan karena >0.05.
Literatur Jitender Kumar, Jogendra Kumar Nayak, (2019) mengemukakan
bahwa keterikatan merek memiliki hubungan langsung dan positif dengan loyalitas
merek. Keterikatan merek bergantung pada hubungan jangka panjang dengan
merek (Thomson et al., 2005). Semakin tinggi keterikatan merek yang dirasakan
oleh konsumen maka akan semakin baik loyalitas merek tersebut

Brand Loyalty (Loyalitas Merek)


Loyalitas merek adalah konsistensi pilihan konsumen terhadap satu
merek tertentu, yang disebabkan oleh adanya kepercayaan konsumen pada
merek tersebut. Menurut (Bu et al., 2020) loyalitas merek terbentuk dari
nilai – nilai yang dirasakan oleh konsumen dan identifikasi merek yang
memicu konsistensi pembelian. Loyalitas merek adalah komitmen
psikologis dan ekspresi perilaku ketergantungan pada pembelian
berkelanjutan di masa depan yang dialami oleh konsumen karena kepuasan
yang dirasakan (Oliver, 1999) dalam (Bu et al., 2020).
Mengadopsi pendekatan stokastik murni menunjukkan bahwa
loyalitas merek pada konsumen memotivasi mereka untuk menunjukkan
perilaku pembelian kembali (Atulkar, 2020). Pada (Atulkar, 2020) loyalitas
merek dikonseptualisasikan lebih seperti loyalitas sikap, yang didefinisikan
sebagai keterikatan pelanggan terhadap merek sebagai fungsi dari proses
psikologis. Loyalitas merek adalah hasil akhir dari keterikatan emosional
yang mendalam, yang mempengaruhi perilaku pembelian kembali pada
pelanggan (Grisaffe and Nguyen, 2011) dalam (Atulkar, 2020). Loyalitas
merek telah digambarkan sebagai ukuran kekuatan hubungan pelanggan-
merek (Veloutsou, 2015) dalam (Kumar & Nayak, 2019). Menurut Pappu
dan Quester (2016) dalam (Atulkar, 2020) loyalitas merek adalah ukuran
keterikatan yang dimiliki pelanggan terhadap suatu merek, memotivasi
pelanggan untuk menunjukkan perilaku pembelian yang konsisten terhadap
merek yang disukai (Li et al., 2020)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Menurut Wirawan (2019), faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan
antara lain:
1) Faktor internal karyawan, yaitu faktor bawaan sejak lahir dan faktor yang
berkembang secara bertahap.
2) Faktor lingkungan internal organisasi, yaitu elemen pendukung organisasi di
mana ia beroperasi. Peningkatan ini sangat mempengaruhitingkat kinerja.
3) Kondisi, kejadian, atau keadaan yang mempengaruhi individu yang ada di
lingkungan eksternal organisasi.
Menurut Mangkunegara dalam (Wahyuni, 2020), langkah-langkah yang perlu
dipertimbangkan ketika mengevaluasi kinerja karyawan meliputi:
1) Kualitas kerja, yaitu adanya kualitas kerja dapat mencegah terjadinya kesalahan
penyelesaian pekerjaan dan efisiensi kerja yang bermanfaat bagi perkembangan
perusahaan. Hakikat pekerjaan yang dimaksud adalah ketelitian, kelengkapan
dan relevansi hasil pekerjaan, terlepas dari beban kerja.
2) Kuantitas kerja, yaitu menunjukkan jumlah pekerjaan yang dapat dilakukan
secara bersamaan dan menunjukkan jumlah jenis pekerjaan yang dapat
dilakukan sesuai dengan tujuan perusahaan. Jumlah tenaga kerja yang
disebutkan di atas adalah jumlah tenaga kerja yang dihasilkan dalam kondisi
normal.
3) Tanggung jawab, yang menunjukkan tingkat tanggung jawab karyawan atas
pekerjaan mereka, platform dan infrastruktur mereka, dan perilaku kerja
mereka.
4) Inisiatif, yaitu ini adalah inisiatif yang menunjukkan sejauh mana kemampuan
analisis, penilaian, solusi, dan pengambilan keputusan yang dialami karyawan.
5) Kolaborasi, yaitu kesempatan bagi karyawan untuk terlibat dan berkolaborasi
secara vertikal atau horizontal dengan karyawan lain di dalam dan di luar
pekerjaan.
6) Kepatuhan, yaitu kemampuan karyawan untuk mematuhi peraturan saat
menjalankan bisnis sesuai dengan perintah yang diberikan olehkaryawan

Kinerja Karyawan


Kinerja adalah hasil yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang
dalam organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing,
dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi.
Kinerja seorang karyawan merupakan hal yang bersifat individual, karena
setiap karyawan mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda – beda dalam
mengerjakan tugasnya. Pihak manajemen dapat mengukur karyawan atas unjuk
kerjanya berdasarkan kinerja dari masing – masing karyawan ( Heni
Rohaeni,2018:21).
Hasil kinerja karyawan dapat dilihat dari perkembangan kinerjanya. Kinerja
karyawan merupakan hasil dari kegiatan yang dilaksanakan. Kinerja timbul bukan saja
bersumber dari pendidikan formal, namun dalam praktek kerjanya di lapangan.
Kinerja timbul dari adanya berbagai latihan-latihan bagi karyawan operasional dan
pendidikan-pendidikan bagi para manajemen perusahaan. Pengembangan operasional
dan pendidikan-pendidikan bagi para manajemen perusahaan bertujuan untuk
meningkatkan hasil secara efektif sedangkan pengembangan teknis bertujuan untuk
meningkatkan konsep dan strategi dalam merencanakan dan mengembangkan potensi
yang ada pada setiap manajemen perusahaan. Untuk meningkatkan kinerja, pimpinan
harus berusaha dalam menyelesaikan pekerjaannya atau tugas yang dibebankan
kepadanya.

    Disiplin Kerja


    Disiplin kerja menjadi suatu syarat untuk mencapai hasil yang maksimal
    dalam organisasi baik organisasi dalam bentuk formal maupun nonformal, sehingga
    dalam setiap peraturan di instansi atau organisasi apapun mengenai disiplin kerja pasti
    selalu ada, hal ini disebabkan karena pentingnya pengaruh disiplin kerja dalam
    pencapaian tujuan organisasi.

    Indikator Disiplin Kerja


    Menurut Eti Hadiati (2018:6). Disiplin kerja dipengaruhi oleh faktor yang
    sekaligus menjadi indikator dari disiplin kerja adalah sebagai berikut:
    a. Patuh dan taat terhadap aturan dan tata tertib perusahaan.
    b. Bekerja sesuai prosedur atau norma yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
    c. Bekerja tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditetapkan perusahaan.
    d. Menghindari sanksi atau hukuman di perusahaan.

    Pengertian Disiplin Kerja


    Menurut Amin Alhusaini, Muhammad Kristiawan dan Syaiful Edi dalam
    jurnal Pengaruh Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Guru
    (2020:2167). “Secara umum disiplin kerja dapat diartikan sebagai suatu sikap atau
    tingkah laku yang sesuai dengan peraturan dari suatu organisasi baik dalam bentuk
    tulisan maupun tidak”.
    Disiplin adalah kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap
    aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut.
    Tindakan korektif sering berupa suatu bentuk hukuman dan disebut tindakan
    pendisiplinan. Sebagai contoh, tindakan pendisiplinan bisa berupa peringatan atau
    skorsing, sasaran-sasaran tindakan pendisiplinan hendaknya positif, bersifat mendidik
    dan mengoreksi, bukan tindakan negatif yang menjatuhkan karyawan yang berbuat
    salah.
    Disiplin berarti memberikan hukuman-hukuman yang lebih berat terhadap
    pelanggaran-pelanggaran yang berulang, tujuannnya adalah memberikan kesempatan
    kepada karyawan untuk mengambil tindakan korektif sebelum hukuman-hukuman
    yang lebih serius dilaksanakan. Disiplin juga memungkinkan manajemen untuk
    membantu karyawan memperbaiki kesalahan. Menurut Sutrisno (2019:654)
    menjelaskan bahwa “Disiplin kerja yang baik akan meningkatkan kinerja karyawan,
    sehingga mempercepat penyampaian tujuan organisasi”. Dari pengertian dan jenisjenis disiplin kerja di atas dapat kita simpulkan bahwa disiplin kerja sangat diperlukan
    oleh suatu organisasi karena dengan adanya disiplin kerja maka karyawan akan
    bersedia untuk mentaati dan melaksanakan peraturan yang ada dan siap menerima
    sanksi apabila ia melakukan pelanggaran sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh
    organisasi.

    Indikator motivasi kerja


    Menurut Ganyang (2018:127), indikator motivasi kerja adalah sebagai
    berikut:
    a. Perhatian
    Bentuk perhatian dari atasan dan perhatian dari rekan kerja dapat
    meningkatkan kinerja karyawan.
    b. Keinginan
    Keinginan untuk melaksanakan tugas dari atasan, dan berkeinginan untuk
    bekerja dengan baik.
    c. Keputusan
    Keputusan untuk bekarir di perusahaan yang diinginkan.
    d. Tindakan
    Tindakan yang dapat dilakukan karyawan seperti bekerja sesuai dengan tujuan
    perusahaan untuk dapat mewujudkan visi dan misi perusahan, karyawan
    berkerja dengan penuh tanggung jawab dalam menyelesaikan setiap pekerjaan,
    karyawan bekerja dengan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.
    e. Kepuasan
    Karyawan merasakan puas jika dapat menyelesaikan tugas dengan baik,
    begitupun atasan merasa puas atas tugas yang dikerjakan karyawan, dan
    perusahaan puas atas kinerja karyawan dan pejabat.

    Motivasi Kerja


    Tidak dapat dipungkiri dalam mencapai tujuan organisasi karyawan perlu
    diberikan motivasi agar dapat bekerja dengan baik. Semua hal tersebut sangat
    menentukan berhasil atau tidaknya tujuan yang akan dicapai, tentunya tidak terlepas
    dari seorang pemimpin didalam memberikan motivasi kepada karyawannya. Motivasi
    berperan penting dalam suatu yayasan, sehingga motivasi dapat diartikan berbeda oleh
    setiap individu sesuai dengan tempat dan keadaan dari masing-masing individu.

    Pengertian Motivasi
    Motivasi kerja adalah suatu kondisi yang menyebabkan pegawai melakukan
    pekerjaan untuk mencapai kebutuhan yang memberi kepuasan kepada pegawai dan
    berpengaruh terhadap pencapaian tujuan organisasi (Andhi Sukma Hanafi dan Chairil
    Almy, 2018:1867).
    Menurut Luthfia Hanik dalam jurnal Motivasi Karyawan (2018:51), motivasi
    merupakan hasil sejumlah proses yang bersifat internal atau eksternal bagi seorang
    individu, yang menyebabkan timbulnya sikap antusiasme dan presistensi dalam hal
    melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu motivasi mempersoalkan bagaimana caranya
    mengarahkan daya dan potensi bawahan, agar mau bekerja sama secara produktif,
    berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan.

    Latar Belakang Pemimpin


    Pemimpin mampu memengaruhi kegiatan kelompok yang terorganisir dalam
    upaya mencapai tujuan yang diinginkan. Kepemimpinan muncul sejak adanya
    peradaban ummat maanusia (Dr. Wendy Sepmady Hutahaean, S.E., M.Th, 2021:45),
    menurutnya ada beberapa yang teori yang melahirkan oemimpin diantaranya:
    a. Teori Genetis menyatakan bahwa pemimpin itu tidak dapat direkayasa melainkan
    muncul karena bakat yang luar biasa yang dibawa sejak lahir. Bisa dipengaruhi
    oleh gen keturunan orang tua. dapat muncul karena situasi dan kondisi tertentu.
    Teori genetis bertentangan dengan Teori Sosial.
    b. Teori Sosial menyatakan bahwa pemimpin tidak dapat lahir begitu saja, tetapi
    harus disiapkan dan dibentuk untuk menjadi pemimpin, tiap orang dapat menjadi
    pemimpin melalui usaha penyiapan/kaderisasi dan melalui proses
    pendidikan/pembelajaran.
    c. Teori Ekologis merupakan sintesa kedua teori di atas pemimpin yang baik jika
    sejak lahir telah memiliki bakat kepemimpinan kemudian bakat tersebut
    dikembangkan melalui pengalaman dan pendidikan yang disesuaikan dengan
    perkembangan lingkungan.

    Indikator Gaya Kepemimpinan


    Pemimpin harus memiliki sejumlah sifat-sifat utama agar kepemimpinannya
    dapat efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Pemimpin harus
    memiliki sejumlah nilai kepemimpinan dalam mengendalikan suatu organisasi (Dr.
    Wendy Sepmady Hutahaean, S.E., M.Th, 2021:44) diantaranya:
    a. Integritas.
    Integritas menyangkut mutu, sifat dan keadaan yang menunjukkan kesatuan yang
    utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang menunjukan kewibawaan
    dan kejujuran. Moralitas menyangkut ahlak, budi pekerti, susila dan ajaran tentang
    baik dan buruk.
    b. Tanggung jawab.
    Pemimpin harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukan dan tidak
    dilakukannya untuk mencegah terjadinya penyimpangan penyimpangan dalam
    organisasi.
    c. Visi pemimpin.
    Kepemimpinan seorang pemimpin nyaris identik dengan visi kepemimpinannya.
    Visi adalah arah kemana organisasi dan orang orang yang dipimpin akan dibawa
    oleh seorang pemimpin.
    d. Kebijaksanaan.
    Kebijaksanaan yaitu kearifan seorang pemimpin dalam memutuskan sesuatu
    sehingga keputusannya adil dan bijaksana. Kebijaksanaan memiliki makna lebih
    dari kepandaian atau kecerdasan.
    e. Keteladan.
    Keteladanan seorang pemimpin adalah sikap dan tingkah laku yang dapat menjadi
    contoh bagi orang-orang yang dipimpinnya. Keteladanan berkaitan erat dengan
    kehormatan, integritas dan moralitas pemimpin.
    f. Menjaga kehormatan.
    Seorang pemimpin harus menjaga kehormatan dengan tidak melakukan perbuatan
    tercela karena semua perbuatannya menjadi contoh bagi bawahan dan orang-orang
    yang dipimpinnya.

    Pengertian Gaya Kepemimpinan


    Gaya kepemimpinan merupakan gaya atau kebiasan yang digunakan oleh
    pemimpin untuk dapat mengelola sumber daya yang ada dalam organisasi, termasuk
    didalamnya sumber daya manusia. Peran pemimpin sangatlah penting dalam
    melakukan kegiatan motivasi kepada sumber daya manusia yang menjadi pegawainya
    untuk dapat bekerja lebih baik. Dengan meningkatnya motivasi kerja para pegawai
    diharapkan dapat meningkatkan kinerja pegawai yang ada dalam suatu organisasi,
    sehingga tujuan organisasi dapat tercapai dengan baik.
    Dari pembahasan di atas, seorang pemimpin harus dapat memahami tipe gaya
    kepemimpinan, dan menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan kondisi organisasi
    yang dipimpinnya, sehingga gaya kepemimpinan yang digunakan dapat meningkatkan
    motivasi kerja pegawai, meningkatnya kinerja pegawai, dan tercapainya tujuan
    organisasi. Dengan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan organisasi akan
    berpengaruh terhadap tingkat motivasi kerja pegawai, sehingga secara signifikan dapat
    meningkatkan kinerja pegawai dalam suatu organisasi
    Menurut jurnal (Fahmi, 2018:92), kepemimpinan adalah kemampuan seseorang
    untuk menguasai atau mempengaruhi orang lain atau masyarakat yang saling berbedabeda menuju kepada pencapaian tertentu.

    Gaya Kepemimpinan


    Dalam suatu organisasi, faktor kepemimpinn memegang peranan yang
    penting karena pimpinan itulah yang akan menggerakan dan mengarahkan organisasi
    dalam mencapai tujuan dan sekaligus merupakan perilaku tugas yang tidak mudah.
    Tidak mudah karena harus memahami setiap prilaku bawahan yang berbeda-beda.
    Seorang pemimpin harus mengetahui fungsi pemimpin dan sekaligus mengetahui
    unsur-unsur kepemimpinan sebagai aktivitas mempengaruhi, kemampuan mengajak,
    mengarahkan, menciptakan dan mencetuskan ide.
    Adapun beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli tentang
    kepemimpinan, diantaranya menurut Malayu S.P Hasibuan (2018:170), gaya
    kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan, agar
    mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi
    Menurut Thoha (dalam Teguh Sriwidadi dan Oey Charlie, 2018:388), gaya
    kepemimpinan adalah cara yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam
    mempengaruhi bawahan agar mau melaksanakan tugas dan kewajibannya sesuai
    dengan yang diharapkan agar tercapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
    Berdasarkan definisi gaya kepemimpinan diatas dapat disimpulkan bahwa
    kepemimpinan adalah kemampuan seseorang dalam mengarahkan, mempengaruhi,
    mendorong dan mengendalikan orang lain atau bawahan untuk bisa melakukan sesuatu
    pekerjaan atas kesadarannya dan sukarela dalam mencapai suatu tujuan tertentu.

    Pengertian Kepemimpinan


    Menurut Dr. Wendy Sepmady Hutahaean, S.E., M.Th. (2021:68)
    “Kepemimpinan merupakan kemampuan memengaruhi orang lain, bawahan atau
    kelompok serta kemampuan mengarahkan tingkah laku bawahan atau kelompok,
    pemimpin memiliki kemampuan atau keahlian khusus dalam bidang yang diinginkan
    oleh kelompoknya, untuk mencapai tujuan organisasi atau kelompok”. Kepemimpinan
    merupakan seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan
    pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai
    tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok. Pemimpin dapat menunjukkan dominasi
    yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang
    lain untuk berbuat sesuatu yang disetujui oleh kelompoknya dan memiliki keahlian
    khusus yang tepat pada situasi tertentu

    Indikator Kinerja


    Menurut Mangkunegara (dalam Anggraeni, 2019) indikator Kinerja adalah
    sebagai berikut:
    1) Kualitas kerja
    Yaitu menunjukkan kerapian, ketelitian, keterkaitan hasil kerja dengan tidak
    mengabaikan volume pekerjaan
    2) Kuantitas Kerja
    Yaitu menunjukkan banyaknya jumlah pekerjaan yang dilakukan dalam satu
    waktu sehingga efisiensi dan efektivitas dapat terlaksana sesuai dengan tujuan
    perusahaan
    3) Tanggung jawab
    Yaitu menunjukkan seberapa besar pegawai dalam menerima dan
    melaksanakan pekerjaanya, mempertanggungjawabkan hasil kerja serta
    sarana dan prasarana yang digunakan dan perilaku kerjanya setiap hari
    4) Kerjasama
    Yaitu kesediaan pegawai untuk berpartisipasi dengan pegawai yang lain
    secara vertikal dan horizontal baik didalam maupun diluar pekerjaan sehingga
    hasil pekerjaan akan semakin baik
    5) Inisiatif
    Yaitu inisiatif dalam diri anggota perusahaan untuk melakukan pekerjaan
    serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa menunggu perintah dari
    atasan atau menunjukkan tanggung jawab dalam pekerjaan yang sudah
    kewajiban seorang pegawai

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja


    Menurut Mangkunegara (dalam Hanafiah & Rusmana, 2019) faktorfaktor yang mempengaruhi kinerja adalah sebagai berikut:
    1) Faktor Kemampuan
    Secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan
    potensi (IQ) dan kemampuan reality (knowledge skill) artinya, pegawai yang
    memiliki IQ diatas rata-rata (IQ 110-120) dengan pendidikan yang mewadai
    untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari,
    maka ia akan lebih mudah mencapai prestasiyang diharapkan. Oleh karena
    itu pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan
    keahliannya.
    2) Faktor Motivasi
    Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi
    situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi menggerakkan diri pegawai yang
    terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja).

    Pengertian Kinerja


    Menurut Hasibuan (dalam Masrufi & jannah, 2018) kinerja merupakan
    hasil kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yqng
    dibebankan kepadanya didasarkan atas kecakapan, pengalaman, kesungguhan
    dan waktu.
    Sedangkan menurut Robbins (dalam Hanafiah & Rusmana, 2019)
    mendefinisikan kinerja sebagai hasil kerja seorang pegawai selama periode
    tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan misalnya, standar,
    target/sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah
    disepakati bersama.

    Disiplin Kerja dengan Kinerja


    Didalam sebuah organisasi menerapkan disiplin kerja sangat diperlukan
    untuk mencapai sebuah tujuan yang diharapkan, dengan begitu kinerja yang
    dihasilkanakan meningkat. Menurut Edi Santoso (2018) dalam penelitian
    Analisis Pengaruh Disiplin Kerja, Kompensasi, dan Kompetensi terhadap
    Kinerja Perangkat Desa membuktikan bahwa Disiplin Kerja berpengaruh positif
    dan signifikan terhadap Kinerja Perangkat Desa di Kecamatan Adimulyo
    Kabupaten Kebumen yang artinya semakin disiplin seorang pegawai dalam
    bekerja akan mempengaruhi hasil kerjanya

    Indikator Disiplin Kerja


    Terdapat delapan indikator disiplin kerja yang dikutip dari buku
    Manajemen Sumber Daya Manusia yang ditulis oleh Malayu S.P Hasibuan
    adalah sebagai berikut:
    1) Tujuan dan kemampuan
    Yaitu tujuan dan kemampuan mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan,
    tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup
    menantang bagi kemampuan karyawan
    2) Teladan pemimpin
    Yaitu dengan teladan pemimpin yang baik, kedisiplinan bawahan pun akan
    ikut baik, jika teladan pemimpin kurang baik, para bawahan pun akan kurang
    disiplin.
    3) Balas jasa
    Yaitu semakin besar balas jasa semakin baik kedisiplinan karyawan,
    sebaliknya apabila balas jasa kecil kedisiplinan karyawan menjadi rendah
    4) Keadilan
    Yaitu dengan keadilan yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik
    pula. Jadi, keadilan harus ditetapkan dengan baik pada setiap perusahaan
    supaya kedisiplinan karyawan perusahaan baik pula
    5) Waksat (pengawasan melekat)
    Yaitu tindakan nyata dan efektif dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan
    perusahaan
    6) Sanksi hukuman
    Yaitu dengan sanksi hukuman yang semakin berat karyawan akan semakin
    takut melanggar peraturan perusahaan, sikap dan perilaku indisipliner
    karyawan
    7) Ketegasan
    Yaitu ketegasan pemimpin dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi
    kedisiplinan karyawan perusahaan, pemimpin harus berani dan tegas,
    bertindak untuk menghukum setiap karyawan yang indisipliner sesuai dengan
    hukuman yang telah ditetapkan
    8) Hubungan kemanusiaan
    Yaitu hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama karyawan ikut
    menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan

    Pengertian Disiplin Kerja


    Menurut Hasibuan (dalam Farida & Hartono, 2016) menyatakan bahwa
    Disiplin Kerja adalah kesadaran dan kesediaan seorangmentaatiperaturan
    perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku.
    Sedangkan menurut Mangkunegara (dalam Masrufi & jannah, 2018)
    disiplin kerja adalah sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh
    pedoman-pedoman organisasi.
    Berdasarkan kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa disiplin
    kerja merupakan cara untuk meningkatkan kesadaran atas peraturan yang telah
    ditetapkan secara tertulis maupun tidak tertulis, dan bila melanggar suatu
    peraturan akan mendapatkan sanksi atau hukuman.
    b. Macam-macam Disiplin Kerja
    Terdapat dua macam disiplin kerja yang dikutip dari buku Manajemen
    Sumber Daya Manusia Perusahaan yang ditulis oleh Anwar Prabu
    Mangkunegara adalah sebagai berikut:
    1) Disiplin Preventif
    Disiplin Preventif adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai untuk
    mengikuti dan mematuhi pedoman kerja dan aturan-aturan yang digariskan
    oleh perusahaan. Disiplin preventif bertujuan untuk menggerakkan dan
    mengarahkan agar pegawai bekerja berdisiplin
    2) Disiplin korektif
    Disiplin korektif adalah suatu upaya menggerakkan pegawai dalam
    menyatukan suatu peraturan dan mengarahkan agar tetap mematuhi peraturan
    dengan pedoman yang berlaku pada perusahaan.

    Motivasi dengan Kinerja


    Didalam suatu organisasi untuk menghasilkan kinerja yang baik tentunya
    akan membutuhkan dorongan dari seorang pemimpin dengan cara memberikan
    motivasi kepada bawahannya agar bisa bekerjasesuai dengan arahan yang
    diberikan. Menurut Warsito dkk (2016) dalam penelitian Pengaruh Motivasi,
    kompetensi dan Lingkungan Kerja terhadap Kinerja Perangkat Desa
    membuktikan bahwa Motivasi berpengaruh signifikan terhadap Kinerja
    Perangkat Desa di Kecamatan Colomadu Kabupaten Karanganyar yaitu artinya
    dengan memberikan dorongan maupun arahan yang baik akan mempengaruhi
    kinerja pegawai.

    Jenis Motivasi


    Menurut Farida & Hartono (2016) ada dua jenis motivasi yaitu motivasi
    positif dan motivasi negatif.
    1) Motivasi Positif (Insentif Positif)
    Motivasi Positif (Insentif Positif) adalah manajer memotivasi
    (merangsang) bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang
    berprestasi diatas prestasi standar atau proses mempengaruhi orang lain agar
    menjalankan sesuatu yang kita inginkan dengan memberikan kemungkinan
    untuk mendapatkan hadiah.
    2) Motivasi Negatif (Insentif Negatif)
    Motivasi Negatif (Insentif Negatif) adalah manajer memotivasi
    bawahan dengan standar mereka akan mendapat hukuman atau proses untuk
    mempengaruhi seseorang agar mau melakukan sesuatu yang kita inginkan
    tetapi teknik dasar yang digunakan adalah lewat kekuatan ketakutan.
    c. Indikator Motivasi
    Menurut Sunyoto (dalam Hendri sembiring, 2019) indikator motivasi
    adalah sebagai berikut:
    1) Promosi
    Promosi adalah kemampuan seorang karyawan pada suatu tugas yang lebih
    baik, baik dipandang dari sudut tanggung jawab yang lebih berat, martabat
    atau status yang lebih tinggi, kecakapan yang lebih baik dan terutama
    tambahan pembayaran upah dan gaji.
    2) Prestasi kerja
    Pangkal tolak pengembangan karir seseorang adalah prestasi kerjanya,
    melakukan tugas yang dipercayakan kepadanya sekarang.
    3) Pekerjaan itu sendiri
    Semua pihak seperti pimpinan, atasan langsung, dan para spesialis di bagian
    kepegawaiannya hanya berperan memberikan bantuan
    4) Penghargaan
    Pemberian motivasi dengan melalui kebutuhan penghargaan seperti
    penghargaan atas prestasinya, pengakuan atas keahlian dan sebagainnya. Hal
    yang sangat diperlukan untuk memacu gairah kerja bagi para karyawan.
    5) Pengakuan
    Pengakuan atas kemampuan dan keahlian bagi karyawan dalam suatu
    pekerjaan merupakan suatu kewajiban bagi perusahaan
    6) Keberhasilan dalam bekerja
    Keberhasilan dalam bekerja dapat memotivasi para karyawan untuk lebih
    bersemangat dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh
    perusahaan.

    Gaya Kepemimpinan dengan Kinerja


    Melaksanakan tugas dan tanggung jawab merupakan suatu kewajiban
    yang harus dilaksanakan oleh seorang bawahan (Perangkat Desa) di dalam
    sebuah organisasi tentunya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Baik
    buruknya kinerja yang dihasilkan dipengaruhi bagaimana gaya kepemimpinan
    yang akan diterapkan. Menurut Winarni & Wisudani Rahmaningtyas (2020)
    dalam penelitian Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja, kompetensi
    Perangkat Desa dan Komitmen Organisasi terhadap Kinerja Perangkat Desa
    membuktikan bahwa Gaya Kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap
    Kinerja Perangkat Desa sekecamatan Padureso yang artinya jika gaya
    kepemimpinan dalam organisasi diterapkan dengan baik dan benar akan
    mempengaruhi kinerja yang dihasilkan.

    Pengertian Motivasi


    Menurut Mangkunegara (dalam Farida & Hartono, 2016) menyatakan
    bahwa Motivasi adalah kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan
    dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan.
    Sedangkan menurut Hasibuan (dalam Hendri Sembiring, 2019) motivasi
    adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang
    agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala
    daya upayanya untuk mencapai kepuasan.

    Indikator Gaya Kepemimpinan


    Menurut Hasibuan (dalam Liska Apriyanti Ariska, 2017) indikator gaya
    kepemimpinan adalah sebagai berikut:
    1) Gaya Kepemimpinan otoriter
    Kepemimpinan otoriter adalah jika kekuasaan atau wewenang sebagian
    besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau pemimpin itu menganut
    sistem sentralisasi wewenang. Pengambilan keputusan dan kebijksanaan
    hanya ditetapkan sendiri oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan
    untuk member saran, ide dan pertimbangan dalam proses pengambilan.
    2) Gaya Kepemipinan Partisipatif
    Kepemimpinan partisipatif adalah apabila dalam kepemimpinannya
    dilakukan dengan persuasif, menciptakan kerjasama yang serasi,
    menumbuhkan loyalitas, dan partisipatif para bawahan. Pemimpin
    memotovasi bawahan agar merasa ikut memiliki perusahaan.
    3) Gaya Kepemimpinan Delegatif
    Kepemimpinan delegatif apabila seorang pemimpin mendelegasikan
    wewenang kepada bawahan dengan lengkap. Dengan demikian, bawwahan
    dapat mengambil keputusan dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa
    dalam melaksanakan pekejaannya. Sepenuhnya diserahkan kepada bawahan.

    Tipe Gaya Kepemimpinan


    Menurut teori path goal (dalam Farida & Hartono, 2016) terdapat empat
    tipe gaya kepemimpinan yaitu:
    1) Kepemimpinan direktif (Directive Leadership)
    Yaitu segala keputusan berada ditangan pemimpin dan tidak ada partisipasi
    dari bawahan (dalam pengambilan keputusan)
    Kepemimpinan Suportif (Supportive Leadership)
    Yaitu pemimpin yang selalu bersedia menjelaskan segala sesuatu, ia
    menganggap sebagai teman, mudah didekati dan menunjukkan diri sebagai
    seorang sejati bagi bawahannya
    2) Kepemimpinan partisipatif(Participative Leadership)
    Yaitu pemimpin menerima dan mengemukakan sarana-sarana bawahan
    bawahan ikut berpartisipasi dalam segala hal tetapi keputusan akhir tetap
    berada pada pemimpin
    3) Kepemimpinan orientasi prestasi (Achievement Oriented Leadership)
    Yaitu pemimpin mengajukan tantangan-tantangan dengan tujuan menarik
    bagi bawahan untuk mencapai tujuan tersebut serta melaksanakannya
    dengan baik.

    Pengertian Gaya Kepemimpinan


    Gaya Kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih
    dandipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap, dan
    perilaku para anggota organisasi (Farida & Hartono, 2016).
    Bass, Berry dan Houston (dalam Heri Wijayanto, 2015) mendefinisikan
    gaya kepemimpinan sikap dan tindakan yang dilakukan pemimpin dalam
    menghadapi bawahan, mengatur suatu sistem operasional organisasi,
    menjalankan dan mengawal kebijakan dan menyelesaikan masalah baik internal
    maupun eksternal.

    Fungsi Kepemimpinan


    Menurut Suwatno (dalam Anggraeni, 2019) fungsi kepemimpinan adalah
    sebagai berikut:
    1) Perencanaan
    a) Mencari semua informasi yang tersedia
    b) Mendefinisikan tugas
    c) Maksud/tujuan kelompok
    d) Membuat rencana yang dapat terlaksana( dalam kerangka keputusan
    yang tepat)
    2) Pemerakasaan
    a) Memberikan pengarahan kepada kelompok mengenai sasaran dan
    rencana
    b) Menjelaskan mengapa menetapkan sasaran atau rencana merupakan
    hal yang penting
    c) Membagi tugas pada anggota kelompok
    d) Menetapkan standar kelompok
    3) Pengendalian
    a) Memelihara antara kelompok
    b) Mempengaruhi tempo
    c) Memastikan semua tindakan yang diambil dalam upaya meraih tujuan
    d) Menjaga relevansi diskusi
    e) Mendorong kelompok mengambil tindakan/keputusan
    4) Pendukung
    a) Mengungkapkan pengaruh terhadap orang dan kontribusi mereka
    b) Memberi semangat kepada kelompok/individu
    c) Menciptakan semangat tim
    d) Meredakan ketegangan dengan humor
    e) Merukunkan perselisihan atau meminta orang lain untuk
    menyelidikinya
    5) Penginformasian
    a) Memeperjelas tugas dan rencana
    b) Memberikan informasi baru kepada kelompok
    c) Menerima informasi dari kelompok
    d) Membuat ringkasan atau ulasan dan gagasan yang masuk akal
    6) Pengevaluasian
    a) Mengevaluasi kelayakan gagasan
    b) mengajukan kosekuensi yang diusulkan
    c) Mengevaluasi prestasi kelompok
    d) membantu kelompok mengevaluasi sendiri prestasi mereka
    berdasarkan prestasi yang ada

    Fungsi-fungsi Operasioanal Manajamen Sumber Daya Manusia (MSDM)


    Menurut Sedarmayanti (dalam Triyaningsih & Pangestu, 2019) Fungsi-fungsi
    operasional MSDM terdiri dari:
    a. Pengadaan Sumber Daya Manusia
    Kegiatan memperoleh Sumber Daya Manusia tepat pada kuantitas dan kualitas
    yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan perusahaan
    b. Pengembangan Sumber Daya Manusia
    Proses untuk meningkatkan ketrampilan, pengetahuan, sikap melalui latihan dan
    pengembangan agar dapat menjalankan tugas dengan baik
    c. Pemberian Kompensasi atau Balas Jasa
    Pemberian penghargaan langsung dan tidak langsung dalam bentuk material dan
    non material yang adil dan layak kepada para pegawai atau kontribusinya dalam
    pencapaian tujuan perusahaan
    d. Pengintegrasian Karyawan
    Fungsi pengintegrasian sebagai usaha memperoleh keamanan kepentingan pegawai,
    perusahaan dan masyarakat
    e. Pemeliharaan Karyawan
    Dua aspek utama pegawai yang dipertahankan dalam fungsi pemeliharaan yaitu
    sikap positif pegawai terhadap pekerjaan dan kondisi fisik karyawan
    f. Pemutusan Hubungan
    Proses pemutusan hubungan kerja yang sering terjadi adalah pemensiunan,
    pemberhentian, dan pemecatan karyawan yang tidak memenuhi harapan atau
    keinginan perusahaan

    Fungsi-fungsi Manajemen


    Menurut Umi farida (2019), fungsi-fungsi manajemen sumber daya
    manusia terdiri dari:
    a. Perencanaan
    Perencanaan adalah menentukan terlebih dahulu yang akan dilakukan/program
    sumber daya manusia yang akan membantu pencapaian tujuan perusahaan yang
    telah ditetapkan.
    b. Pengorganisasian
    Pengorganisasian adalah alat untuk mencapai tujuan, jika perusahaan telah
    menentukan fungsi-fungsi yang akan dijalankan oleh para karyawan maka
    manajer perusahaan harus membantu organisasi dengan merancang susunan dari
    berbagai hubungan antara jabatan, personalia dan faktor- faktor fisik.
    c. Pengarahan
    Pengarahan adalah proses melaksanakan rencana yang sudah mempunyai
    organisasi yaitu dengan cara memberikan perintah, saran-saran sehingga apa
    yang telah direncanakan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
    d. Pengawasan
    Pengawasan adalah proses mengamati dan membandingkan pelaksanaan dengan
    cara mengoreksi apabila terjadi penyimpangan atau jika perlu menyesuaikan
    kembali rencana yang telah dibuat.

    Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


    Sumber daya manusia merupakan aset yang paling penting dalam
    organisasi, karena keberadaannya sangat diperlukan untuk tercapainya
    tujuan organisasi. Manajemen sumber daya manusia (MSDM)
    merupakan orang yang bekerja dalam suatu organisasi yang sering pula
    disebut karyawan (Umi Farida, 2014)
    Definisi lain dari manajemen sumber daya manusia menurut
    Amstrong (dalam Umi Farida, 2014) merupakan orang-orang dapat
    dikelola dengan cara yang terbaik dalam kepentingan organisasi.

    Pengertian Manajemen


    Manajemen merupakan proses mengatur pemanfaatan sumber daya
    manusia dan sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai
    tujuan yang diharapkan. Menurut Handoko (dalam Hanafiah & Rusmana,
    2019) mendefinisikan manajemen adalah proses perencanaan,
    pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha dari para
    anggota organisasi dan penggunaan sumberdaya organisasi lainya agar
    mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan

    Indikator Kinerja Pegawai


    Kasmir (2020) menyatakan bahwa kinerja karyawan diukur menggunakan enam
    metrik, yaitu:

    1. Kualitas
      Sejauh mana proses penyelesaian atau hasil suatu kegiatan mendekati
      kesempurnaan dikenal sebagai kualitas. Semakin baik produk yang dihasilkan,
      semakin baik pula kinerjanya; jika pekerjaan yang dihasilkan berkualitas
      buruk, kinerjanya pun akan buruk.
    2. Jumlah
      Kuantitas (jumlah) hasil kerja seseorang juga dapat digunakan untuk mengukur
      kinerjanya.
    3. Waktu (Jangka Waktu)
      Terdapat tenggat waktu untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Ini menyiratkan
      adanya tenggat waktu yang harus dipenuhi, baik minimum maupun
      maksimum..
    4. Kolaborasi Karyawan
      Kerja sama antara pemimpin dan staf sering dikaitkan dengan kinerja.
      Interpersonal adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan
      interaksi ini. Hubungan ini menilai kapasitas karyawan untuk menumbuhkan
      rasa kolaborasi, kebaikan, dan rasa hormat satu sama lain.
    5. Manajemen Biaya
      Setiap pengeluaran kegiatan lembaga direncanakan sebelum dilaksanakan.
      Dengan kata lain, anggaran pengeluaran berfungsi sebagai panduan untuk
      memastikan pengeluaran tidak melebihi jumlah yang dialokasikan.

    Tujuan Penilaian Kinerja Pegawai


    Dengan meningkatkan kinerja sumber daya manusia suatu organisasi,
    evaluasi kinerja bertujuan untuk meningkatkan atau menyempurnakan kinerja
    organisasi. Lebih tepatnya, menurut Mangkunegara (2020), tujuan evaluasi kinerja
    adalah:

    1. Meningkatkan pemahaman karyawan terhadap kriteria kinerja satu sama lain.
    2. Mendokumentasikan dan memberikan penghargaan atas kinerja karyawan.
    3. Memberikan kesempatan kepada karyawan untuk membahas tujuan dan sasaran
      mereka serta meningkatkan kesadaran akan profesi atau posisi yang mereka
      miliki.
    4. Tetapkan atau susun ulang tujuan masa depan untuk mendorong anggota staf
      berkontribusi sesuai dengan kemampuan mereka.
    5. Periksa rencana pelatihan khususnya dan rencana implementasi serta
      pengembangan untuk memastikan kebutuhan pelatihan memadai. Jika tidak
      ada modifikasi yang diperlukan, setujui rencana tersebut.

    Pegertian Kinerja Pegawai


    Bose (2020) mendefinisikan kinerja karyawan sebagai kapasitas seseorang
    untuk memenuhi tugas dan kewajiban yang telah ditetapkan. Hasil, pencapaian,
    upaya kelompok, dan perilaku yang berkaitan dengan tujuan bisnis yang
    semuanya berada di bawah kendali karyawan juga berkaitan dengan kinerja
    karyawan. Kinerja, menurut Bernardin (2019), adalah catatan hasil yang dicapai
    dari fungsi pekerjaan tertentu selama periode waktu tertentu.
    Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan
    karyawan dalam menjalankan tugasnya, klaim Principalsa (2021). Ferine (2024)
    mendefinisikan kinerja sebagai suatu proses yang melibatkan tindakan-tindakan
    yang berkaitan dengan komponen-komponen yang terlibat dalam suatu proses
    untuk mencapai suatu hasil. Saputri dan Surendra (2024) mendefinisikan kinerja
    sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam suatu
    organisasi untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan wewenang dan tugas
    masing-masing.

    Indikator-indikator Disiplin Kerja


    Agar bisnis berhasil mencapai tujuannya, disiplin kerja sangatlah penting.
    Tingkat kedisiplinan karyawan di suatu perusahaan dipengaruhi oleh sejumlah
    variabel, menurut Hasibuan (2020), antara lain:

    1. Teladan Pimpinan.
    2. Keadilan
    3. Waskat
    4. Sanksi/ Hukuman dan Ketegasan
      Rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas yang diberikan tercermin
      dalam disiplin kerja seseorang. Hal ini mendorong etos kerja dan semangat kerja
      yang kuat, serta pencapaian tujuan organisasi, karyawan, dan masyarakat. Oleh
      karena itu, setiap manajer berupaya memastikan bahwa stafnya disiplin

    Fungsi Disiplin Kerja


    Tujuan organisasi, karyawan, dan masyarakat hanya dapat dicapai dengan
    disiplin kerja. Indikator disiplin kerja, seperti tujuan dan kemampuan, teladan
    kepemimpinan, penghargaan, keadilan, akuntabilitas, sanksi, ketegasan,
    hubungan antarmanusia, ketepatan waktu, penggunaan peralatan kantor,
    tanggung jawab yang tinggi, kepatuhan terhadap peraturan kantor, disiplin
    waktu, disiplin aturan, dan disiplin tanggung jawab, dapat membantu perusahaan
    mencapai tujuan mereka. Afandi (2020) menyatakan bahwa disiplin kerja suatu
    organisasi memiliki tujuan-tujuan berikut:

    Sanksi atau hukuman bagi yang melanggar disiplin
    Tahapan untuk membuat pegawai menjadi disiplin tidak mudah, karena akan
    ditemui satu atau dua pegawai yang melanggar. Untuk meminimasilir atau
    bahkan mencegah pegawai melanggar aturan, maka dibuatlah peraturan beserta
    sanksi apabila melanggarnya. Sanksi, hukuman atau ancaman menjadi
    dorongan yang kuat untuk pgawai mentaati peraturan.

    Membangun kehidupan sosial suatu organisasi
    Disiplin digunakan untuk mengendalikan interaksi sosial, baik dalam
    kelompok maupun masyarakat luas. Hubungan interpersonal yang positif
    dipupuk oleh disiplin yang baik.

    Membangun dan melatih kepribadian yang baik
    Apabila budaya organisasi memiliki disiplin yang baik maka akan membentuk
    kepribadian pegawai. Seperti suasana lingkungan organisasi yang kondusif
    tentu saja akan memengaruhi kenyamanan pegawai saat bekerja dan sangat
    membantu dalam membentuk kepribadian pegawai yang baik.

    Pemaksaan untuk mengikuti peraturan organisasi
    Organisasi membuat peraturan dan memaksa para pegawainya untuk mentaati.
    Tahapan pemaksaan kemudian pembiasaan dan latihan disiplin dapat
    menyadarkan arti penting disiplin bagi para pegawai.

    Macam-Macam Disiplin Kerja


    Untuk mendorong efisiensi operasional seluruh operasional organisasi dan
    memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi, disiplin kerja sangatlah penting.
    Dalam sebuah organisasi atau instansi, baik disiplin maupun indisipliner dapat
    menjadi contoh bagi orang lain dalam menjalankan tugasnya. Seorang karyawan
    akan didisiplinkan jika budaya organisasinya disiplin; sebaliknya, jika budaya
    organisasinya tidak disiplin, orang tersebut juga akan menjadi tidak disiplin.
    Dalam menginstruksikan karyawan untuk mematuhi peraturan, dua jenis disiplin
    kerja harus diperhatikan, menurut Mangkunegara (2020):

    1. Pelatihan Berbasis Pencegahan
      Tujuan disiplin preventif adalah mendorong staf untuk mematuhi aturan dan
      norma organisasi. Tujuan utamanya adalah mendorong disiplin diri di antara
      karyawan. Karyawan dapat terus mematuhi kebijakan perusahaan dengan
      mengambil tindakan pencegahan.
    2. Pelatihan Remedial
      Tujuan disiplin korektif adalah mendorong staf untuk mematuhi aturan dan
      memberikan panduan tentang cara melakukannya sesuai dengan kebijakan
      organisasi yang relevan. Karyawan yang melanggar aturan harus menghadapi
      konsekuensi sesuai dengan hukum yang berlaku terkait hukuman korektif..

    Definisi Disiplin Kerja


    Salah satu elemen yang memengaruhi mutu pelayanan publik adalah
    disiplin kerja. Disiplin pegawai akan mempermudah pencapaian kualitas yang
    tinggi. Disiplin kerja, menurut Saefullah (2022), adalah kesediaan seseorang
    untuk menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku. Disiplin kerja dicirikan
    oleh pegawai yang datang dan pulang tepat waktu, mengerjakan semua tugas
    secara efisien, dan mematuhi semua kebijakan perusahaan serta konvensi sosial
    yang relevan, menurut Silitonga dan Faddila (2023).
    Mangkunegara (2020) mendefinisikan disiplin kerja sebagai penggunaan
    manajemen untuk memperkuat kebijakan organisasi. Oleh karena itu, seseorang
    akan kurang disiplin kerja jika aturan atau kebijakan yang berlaku diabaikan atau
    sering dilanggar di dalam perusahaan. Pencapaian tujuan organisasi akan
    terhambat atau terhambat oleh kurangnya disiplin kerja pegawai

    Indikator Budaya Organisasi


    Menurut Afandi (2018), terdapat sejumlah penanda budaya organisasi,
    antara lain:

    1. Menerapkan standar
      Jawaban karyawan tentang apa yang dianggap pantas dan tidak pantas dalam
      situasi tertentu ditentukan oleh norma, yang merupakan pedoman perilaku.
      Para pendiri dan anggota organisasi secara bertahap menciptakan aturan
      organisasi. Karena aturan tersebut mengatur perilaku anggota dan membuatnya
      dapat diprediksi dan dikendalikan, standar organisasi menjadi penting.
    2. Menerapkan keyakinan
      Nilai adalah prinsip atau keyakinan yang digunakan orang atau organisasi
      untuk memengaruhi tindakan mereka ketika dihadapkan pada keputusan. Moral
      dan kode etik, yang menentukan apa yang seharusnya dilakukan orang dan
      organisasi, terkait erat dengan nilai. Orang dan organisasi yang menjunjung
      tinggi kejujuran, integritas, dan transparansi merasa berkewajiban untuk
      berperilaku terhormat dan berintegritas tinggi..
    3. Kepercayaan
      Kepercayaan organisasi berkaitan dengan keyakinan moral organisasi. Kualitas
      moral atau kode etik perusahaan dijelaskan oleh kepercayaan. Motivasi
      karyawan akan meningkat, misalnya, jika upah minimum ditetapkan pada
      tingkat yang dapat menutupi biaya hidup.
    4. Penerapan Kode Etik
      Kebiasaan positif suatu masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke
      generasi berikutnya membentuk kode etiknya. Kode etik berfungsi sebagai
      panduan bagi anggota organisasi

    Faktor Yang Mempengaruhi Budaya Organisasi


    Afandi (2021) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi budaya
    perusahaan sebagai berikut:

    1. Pendekatan seorang manajer untuk mengelola organisasi secara kompeten
      disebut kepemimpinan.. Ini meliputi kemampuan dalam mengambil keputusan,
      memotivasi tim, mengembangkan strategi, dan mengawasi pelaksanaan tugas.
      Seorang pemimpin yang efektif harus bisa menginspirasi timnya, mengarahkan
      mereka menuju tujuan bersama, dan memastikan penggunaan sumber daya
      organisasi secara optimal.
    2. Kedisiplinan adalah tentang patuh terhadap peraturan-peraturan yang berlaku
      di perusahaan. Ini mencakup mematuhi jadwal kerja, prosedur kerja, serta
      norma dan nilai-nilai yang telah ditetapkan. Kedisiplinan yang baik
      menunjukkan keseriusan karyawan dalam menjalankan tugasnya, menjaga
      kerja sama yang harmonis, dan mendukung produktivitas perusahaan secara
      keseluruhan.
    3. Komunikasi adalah aliran informasi yang efektif antara pimpinan dan
      karyawan. Ini melibatkan penyampaian instruksi, pertukaran gagasan, serta
      umpan balik yang memastikan pemahaman yang jelas dan kerjasama yang
      efisien dalam organisasi.

    Karakteristik Budaya Organisasi


    Robbins dan Judge (2019) menyatakan bahwa berikut ini adalah ciri-ciri
    budaya organisasi:
    1) Tempat kerja aktual
    Kondisi fisik di area kerja yang dapat memberikan dampak kepada karyawan
    dikenal dengan istilah budaya organisasi fisik. Berdasarkan pandangan Siagian
    (2019), aspek-aspek dari budaya organisasi fisik meliputi beberapa elemen
    penting, yaitu:

    1. Kreativitas dan keberanian mengambil risiko: Tingkat dorongan yang
      diberikan kepada karyawan untuk berpikir kreatif dan berani menghadapi
      tantangan.
    2. Fokus pada kedetailan: Tingkat tuntutan terhadap karyawan dalam hal
      ketelitian, kemampuan analisis, dan perhatian pada hal-hal mendetail.
    3. Fokus pada pencapaian: Tingkat prioritas manajemen terhadap capaian
      dibandingkan dengan strategi dan prosedur yang digunakan untuk
      meraihnya.
    4. Kepedulian terhadap SDM: Tingkat pertimbangan manajemen mengenai
      dampak keputusan mereka terhadap individu-individu dalam organisasi.
    5. Kerja sama tim: Tingkat desain aktivitas kerja organisasi yang
      mengutamakan kolaborasi tim dibandingkan pencapaian individual.
    6. Sikap kompetitif: Tingkat kompetitivitas dan ketegasan anggota organisasi
      dibandingkan dengan sikap santai.
    7. Konsistensi: Tingkat prioritas organisasi untuk mempertahankan kondisi
      yang sudah ada dibandingkan dengan melakukan pengembangan.

    Elemen Budaya Organisasi


    Usaha untuk mempertahankan budaya sering kali dilakukan dengan
    memahami unsur-unsur yang membentuknya, seperti keyakinan, nilainilai, dan
    tradisi. Semakin individu dalam masyarakat memahami, menghormati, menerima,
    dan menerapkan keyakinan, nilai-nilai, serta tradisi tersebut, serta semakin tinggi
    kesadaran mereka terhadap hal tersebut, budaya masyarakat akan tetap hidup dan
    dapat berkelanjutan. Menurut Greenberg dan Baron dalam Wibowo (2020),
    budaya organisasi ditandai oleh tujuh aspek, yaitu:

    1. Inovasi: Sejauh mana individu diharapkan memiliki imajinasi dan konsepkonsep baru.
    2. Stabilitas: Menghargai lingkungan yang stabil, dapat diprediksi, dan diatur oleh
      aturan.
    3. Orientasi terhadap orang lain: Fokus pada kejujuran, dorongan, dan
      penghormatan terhadap hak-hak orang lain.
    4. Orientasi pada hasil: Mencurahkan seluruh kekuatan untuk mencapai hasil
      yang diinginkan.
    5. Ketenangan dan kelonggaran: kondisi yang mendorong suasana santai di
      tempat kerja.
    6. Perhatian terhadap detail: Dirancang untuk komprehensif dan analitis.
    7. Pendekatan yang mengutamakan kerja sama tim daripada upaya individu
      dikenal sebagai orientasi kolaboratif (atau orientasi menuju kerja sama).

    Pengertian Budaya Organisasi


    Rivai (2019) menegaskan bahwa karyawan merasakan budaya perusahaan,
    dan sentimen ini menghasilkan ekspektasi, nilai, dan kepercayaan. Lebih lanjut,
    menurut Sule & Saeful (2019), budaya organisasi merupakan cerminan norma dan
    nilai yang dipegang dan dipraktikkan di dalam perusahaan, yang berkaitan dengan
    lingkungan tempat perusahaan tersebut beroperasi.
    Ernawan (2020) mendefinisikan budaya organisasi sebagai cara hidup dan
    gaya organisasi yang mencerminkan prinsip atau keyakinan yang dianut seluruh
    organisasi. Menurut Edison (2022), budaya organisasi adalah hasil dari proses
    pembentukan gaya atau perilaku setiap orang menjadi standar, pedoman, dan
    nilai-nilai baru dalam suatu bisnis. Proses ini menanamkan rasa bangga kelompok
    dalam mengatasi hambatan dan mencapai tujuan tertentu.

    Jenis-Jenis Gaya Kepemimpinan


    Menurut Hasibuan dalam Thamrin, et.al (2021), gaya kepemimpinan dapat
    dipandang dari berbagai perspektif. Ada empat macam gaya kepemimpinan yaitu:

    1. Gaya kepemimpinan otoriter adalah gaya kepemimpinan di mana pemimpin
      atau struktur terpusat biasanya memegang semua kekuasaan atau wewenang.
      Tanpa meminta masukan, ide, atau masukan dari bawahan, pemimpin
      bertindak sendiri ketika merumuskan pilihan dan kebijakan.
    2. Seorang pemimpin yang menggunakan strategi meyakinkan untuk mendorong
      kolaborasi yang bersahabat, menumbuhkan loyalitas, dan memotivasi
      keterlibatan aktif dari para pengikutnya dikatakan memiliki gaya
      kepemimpinan partisipatif. Pemimpin menginspirasi para pengikutnya untuk
      percaya bahwa mereka memainkan peran penting dalam perusahaan.
    3. Ketika seorang pemimpin memberikan banyak kekuasaan kepada pengikutnya,
      hal ini dikenal sebagai kepemimpinan delegatif. Hal ini memungkinkan
      bawahan untuk secara mandiri memutuskan kebijakan dan membuat keputusan
      sambil menjalankan tugas mereka. Pemimpin memberikan otonomi penuh
      kepada bawahan dan tidak menghalangi pengambilan keputusan mereka.
    4. Paul Hersey dan Kenneth H. Blanchard menciptakan model gaya
      kepemimpinan situasional di Center for Leadership Studies antara akhir 1960-
      an dan 1982. Hersey dan Blanchard terus bekerja sama untuk menciptakan
      gagasan kepemimpinan situasional. Gagasan ini menyatakan bahwa tidak ada
      satu cara terbaik untuk memengaruhi orang. Tingkat kesiapan seseorang atau
      kelompok untuk pekerjaan yang dihadapi menentukan gaya kepemimpinan
      terbaik yang akan diterapkan kepada mereka.

    Fungsi Gaya Kepemimpinan


    Menurut Rahmawati et al (2021), tugas utama kepemimpinan dapat
    dijabarkan secara operasional ke dalam beberapa kategori, seperti berikut:

    1. Peran instruksi. Untuk menjamin bahwa pilihan dilaksanakan secara efektif,
      pemimpin menggunakan komunikasi satu arah untuk memutuskan apa yang
      harus dilakukan, Di mana, bagaimana, dan kapan arahan akan diikuti.
      Kepemimpinan yang efektif membutuhkan kemampuan untuk memotivasi dan
      menginspirasi orang lain agar mengikuti pedoman ini.
    2. Fungsi konsultatif: Fungsi ini melibatkan komunikasi dua arah. Pemimpin
      mengumpulkan masukan dari bawahannya untuk membantu dalam
      pengambilan keputusan. Setelah keputusan diimplementasikan, pemimpin
      melakukan konsultasi untuk mendapatkan umpan balik guna memperbaiki dan
      menyempurnakan keputusan tersebut. Pendekatan konsultatif ini membantu
      memastikan dukungan luas terhadap keputusan pemimpin dan mempermudah
      implementasinya, sehingga kepemimpinan berjalan efektif.
    3. Fungsi Partisipasi: Dalam peran ini, para pemimpin berupaya mendorong
      pengikutnya untuk berpartisipasi dalam perumusan dan pelaksanaan keputusan.
      Keterlibatan ini dilakukan secara terarah dan teratur, sebagai bentuk kolaborasi
      tanpa melampaui batas atau mengambil alih tanggung jawab utama orang lain.
      Posisi pemimpin tetap berada dalam fungsi kepemimpinan, bukan sebagai
      pelaksana tugas operasional.
    4. Fungsi Delegasi: Fungsi ini dijalankan dengan menyerahkan wewenang
      pengambilan keputusan kepada orang lain tanpa persetujuan tegas dari
      pemimpin. Delegasi hanyalah pemberian kepercayaan. Penerima delegasi ini
      perlu dipercaya sebagai asisten pemimpin yang memiliki keyakinan, sudut
      pandang, dan tujuan yang sama.
    5. Fungsi pengendalian: Tujuan fungsi pengendalian adalah memastikan bahwa
      kepemimpinan yang efektif dapat merencanakan tindakan anggota secara
      metodis dan efektif untuk memaksimalkan pencapaian tujuan bersama.
      Kegiatan-kegiatan seperti supervisi, koordinasi, bimbingan, dan pengarahan
      digunakan untuk memenuhi peran ini.

    Pengertian Gaya Kepemimpinan


    Gaya kepemimpinan, menurut Saputra et al (2021), adalah pendekatan
    yang diambil seorang pemimpin untuk membimbing organisasi dengan
    memanfaatkan sumber dayanya guna mencapai tujuan organisasi. Cara pemimpin
    menginspirasi pengikutnya disebut sebagai gaya kepemimpinan. Menurut
    Sulaiman et al (2021), Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan sifat yang
    digunakan pemimpin untuk membujuk pengikutnya agar mencapai tujuan
    perusahaan. Definisi lain dari gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan
    aktivitas yang disukai dan sering digunakan.
    Di sisi lain, Kartono (2020) menggolongkan gaya kepemimpinan sebagai
    ciri, kepribadian, kebiasaan, kecenderungan, dan karakteristik yang membedakan
    seorang pemimpin dalam interaksi sosial. Gunawan (2019) mendefinisikan gaya
    kepemimpinan sebagai pola perilaku yang bertujuan untuk mencapai tujuan
    tertentu dengan memadukan ambisi perusahaan dan pribadi.
    Efendi et al (2019) mendefinisikan gaya kepemimpinan sebagai
    kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain atau memberikan dampak
    positif kepada mereka untuk mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan di semua
    tingkatan manajemen mencakup pengarahan karyawan dengan memanfaatkan
    sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan dan
    mencapai kinerja puncak

    Hubungan antara Iklim Organisasi dengan Perilaku Kerja Inovatif


    Perilaku kerja inovatif adalah semua perilaku individu untuk mencapai
    inisiasi dan pengenalan serta penerapan ide baru, barang baru, pelayanan baru dan
    cara-cara baru yang bermanfaat bagi pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan
    diberbagai level organisasi. Sedangkan iklim organisasi merupakan persepsi
    anggota organisasi baik individu maupun kelompok terhadap organisasinya yang
    berasal dari pengalamannya berinteraksi di lingkungan organisasi yang
    berpengaruh terhadap munculnya motivasi sehingga memengaruhi perilaku
    anggota organisasi dan kinerja organisasi.

    Hubungan antara Kepemimpinan Inklusif terhadap Perilaku Kerja Inovatif


    Sebelumnya telah disimpulkan bahwa perilaku kerja inovatif adalah semua
    perilaku individu untuk mencapai inisiasi dan pengenalan serta penerapan ide baru,
    barang baru, pelayanan baru dan cara-cara baru yang bermanfaat bagi pelaksanaan
    dan penyelesaian pekerjaan diberbagai level organisasi. Sedangkan Kepemimpinan
    inklusif adalah pemimpin yang memposisikan dirinya ke dalam posisi yang sama
    dengan orang lain atau kelompok lain sehingga membuat orang tersebut berusaha
    untuk memahami perspektif orang lain atau kelompok lain dalam menyelesaikan
    sebuah permasalahan (Arasli et al., 2020).
    Keterkaitan kepemimpinan inklusif dan perilaku inovatif dapat terbentuk
    dari saling menghargai keunikan dan keberagaman, yang mana terbuka akan hal
    baru dan mendukung perkembangan yang terjadi, cenderung lebih menerima ide
    dan hal baru, dengan karakteristik kepemimpinan yang seperti itu, pekerja
    cenderung memiliki perilaku inovatif, dengan demikian pekerja yang menunjukkan
    perilaku kerja yang inovatif lebih memungkinkan untuk mengambil risiko,
    tantangan, dan melampaui target (Javed, Khan, dan Quratulain, 2018). Pemimpin
    juga menjaga bawahan mereka dengan melakukan tanggung jawab kegagalan,
    dimana pemimpin yang menanggung kegagalan yang kemungkinan terjadi. Karena
    itu, bawahan akan merasa bahwa sedikit ancaman tentang konsekuensi kegagalan
    dalam proses inovasi (Mansoor et al., 2021).

    Indikator Perilaku Kerja Inovatif


    Menurut Kanter yang dikutip oleh De Jong & Den Hartog (2010)
    mengungkapkan bahwa terdapat tiga indikator perilaku kerja inovatif yaitu :

    1. Pembentukan Ide
      Untuk dapat berinovasi, selain mengetahui atau menemukan peluang,
      kemampuan untuk menciptakan cara-cara baru dalam memanfaatkan
      peluang tersebut juga penting. Dalam hal ini karyawan dituntut mampu
      untuk mengembangkan ide inovasi melalui proses menciptakan dan
      menyarankan ide untuk produk, jasa maupun proses baru serta mencoba
      memikirkan alternatif lainnya.
    2. Pembentukan Koalisi
      Pembentukan koalisi merupakan usaha untuk meyakinkan adanya nilai
      tambah dari inovasi atas ide yang diusulkan. Ide tersebut akan menjadi
      relevan ketika ide berhasil diciptakan, karena dalam tahap ini karyawan
      diharapkan terdorong untuk mencari dukungan dalam mewujudkan inovasi
      baru yang telah diciptakannya. Termasuk mencari koalisi agar ide baru bisa
      diimplementasikan dan percaya dengan keberhasilan ide tersebut.
    3. Implementasi Ide
      Implementasi ide dapat berarti merealisasikan ide dalam upaya
      meningkatkan produk, jasa maupun prosedur yang telah ada atau membuat
      sesuatu yang baru. Pada tahap ini karyawan dihadapkan pada usaha-usaha
      berorientasi hasil dengan keberanian untuk menerapkan ide baru kedalam
      praktik nyata.

    Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perilaku Kerja Inovatif


    Menurut (Robbins, 2002) perilaku kerja yang terjadi di perusahaan dapat
    dipengaruhi beberapa faktor, yaitu ;

    1. Lingkungan Kerja
      Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan harus benar-benar dapat
      memberikan rasa aman bagi para pekerja. Para pekerja atau karyawan tentu
      saja akan menaruh perhatian terhadap lingkungan kerja mereka, baik dari
      segi kenyamanan pribadi maupun kemudahan dalam melakukan pekerjaan
      dengan baik.
    2. Konflik
      Konflik dapat berupa konflik konstruktif atau destruktif terhadap fungsi dari
      suatu kelompok atau unit. Tetapi sebagian besar konflik dapat merusak
      perilaku kerja yang baik, karena konflik cenderung bersifat menghambat
      tujuan dari suatu pekerjaan.
    3. Komunikasi
      Dalam memahami perilaku kerja, komunikasi memegang faktor terpenting
      yang berperan sebagai penyampaian dan pemahaman akan arti dari sebuah
      informasi.
      West dan Farr yang dikutip oleh Monaco and Guimarães (2007), menyatakan
      terdapat tiga faktor yang memengaruhi inovasi, yaitu:
    4. Faktor Internal
      Faktor internal terdiri dari individual differences, kepribadian individu dan
      motivasi.
    5. Faktor Pekerjaan
      Faktor pekerjaan terdiri dari kompleksitas pekerjaan, karakteristik
      pekerjaan dan time pressure.
    6. Faktor Konstektual
      Faktor kontekstual terdiri dari dukungan, iklim organisasi, ketersediaan
      sumber daya, leader-member exchange,relationship at work, kelompok dan
      organisasi.
      Sedangkan menurut (Ancok, 2012) terdapat tiga faktor yang memengaruhi
      perilaku inovatif yakni :
    7. Faktor Manusia
      Faktor manusia dalam hal ini berperan sebagai penunjang dan pelaku dalam
      proses inovasi.
    8. Faktor Kepemimpinan
      Kepemimpinan disini berkontribusi dalam kemajuan inovasi anggota
      organisasi dengan jalan pemimpin mampu mengapresiasi setiap gagasan
      dan ide yang diberikan.
    9. Faktor Struktur
      Struktur organisasi berperan sebagai penghubung antara manusia dan
      organisasi, berfungsi dalam menyediakan sarana dan prasarana bagi
      anggotanya untuk berinovasi.
      Menurut Etikariena dan Muluk (2014), terdapat beberapa faktor yang
      memengaruhi munculnya perilaku kerja inovatif :
    10. Faktor Internal
      a. Tipe kepribadian
      Orang yang mempunyai tipe kepribadian tertentu akan cenderung
      berani mengambil resiko terhadap perilaku inovatif yang dibuat.
      b. Gaya individu dalam memecahkan masalah
      Orang dengan gaya pemecahan masalah intuitif lebih mudah untuk
      menghasilkan ide-ide baru dalam menghasilkan solusi baru.
    11. Faktor Eksternal
      a. Kepemimpinan
      Kepemimpinan dapat meningkatkan perilaku inovatif pada
      karyawan melalui dorongan langsung atau penetapan tujuan,
      memahami informasi emosional bawahan, dan melakukan evaluasi
      serta pemberian penghargaan (baik berupa materiil maupun
      penghargaan secara psikologis) untuk menunjukkan dukungan dan
      kekaguman terhadap inovasi yang telah dilakukan oleh karyawan.
      Terjaganya hubungan antara pimpinan dan bawahan adalah hal yang
      sangat penting. Jika hubungan bawahan dan pimpinan kurang baik,
      maka dapat membuat perilaku inovatif tidak terlihat. Sedangkan
      bawahan yang mempunyai hubungan baik dengan pimpinan,
      cenderung memicu munculnya perilaku inovatif pada bawahan.
      b. Dukungan untuk berinovasi
      Dukungan dari orang-orang disekitar individu akan sangat
      membantu dalam menciptakan suatu perilaku inovatif. Interaksi
      yang baik antar anggota organisasi mendorong hubungan timbal
      balik secara emosional dan kepercayaan yang tidak hanya
      menciptakan kondisi yang kondusif bagi karyawan untuk berbagi
      pengalaman dan pengetahuan, tetapi juga membantu dalam
      memperluas wawasan, mempromosikan gagasan baru, dan
      menghasilkan gagasan baru.
      c. Tuntutan dalam pekerjaan
      Tuntutan dari organisasi akan menjadi dorongan bagi karyawan
      yang kemudian cenderung meningkatkan semangat karyawan untuk
      berperilaku inovatif. Karyawan yang terbiasa dengan tugas atau
      pekerjaan yang kompleks, cenderung akan lebih mudah menemukan
      cara yang lebih variatif untuk menyelesaikan pekerjaannya,
      mengatasi rasa takut akan kegagalan berinovasi dan mempunyai
      kepercayaan diri dalam berinovasi.
      d. Iklim organisasi
      Iklim organisasi menggambarkan lingkungan organisasi
      dipersiapkan dan diinterpretasikan oleh karyawan. Hal ini
      menggambarkan persepsi individu tentang ketersediaan lingkungan
      yang kondusif untuk belajar dan berinovasi dalam organisasi.

    Pengertian Perilaku Kerja inovatif


    Farr & James L., (1990) berpendapat bahwa perilaku kerja inovatif adalah
    perilaku untuk mencapai inisiasi dan pengenalan secara sengaja (dalam workrole,
    kelompok atau organisasi) dari ide, proses, produk atau prosedur baru dan berguna.
    Sedangkan West dan Farr yang dikutip oleh Monaco dan Guimarães (2007),
    berpendapat bahwa perilaku kerja inovatif adalah semua perilaku individu yang
    diarahkan untuk menghasilkan, memperkenalkan dan mengaplikasikan hal-hal baru
    yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi.
    Menurut Gaynor yang dikutip oleh Prayudhayanti (2014), perilaku kerja
    inovatif adalah sebuah tindakan yang dilakukan untuk menciptakan dan mengambil
    ide-ide, pemikiran atau cara-cara baru untuk diterapkan dalam pelaksanaan dan
    penyelesaian pekerjaan.

    Indikator Iklim Organisasi


    Menurut (Stinger, 2002), terdapat enam dimensi dalam iklim organisai,
    yaitu:

    1. Struktur (structure)
      Kondisi dimana karyawan dalam melaksanakan tugasnya bertumpu
      pada aturan-aturan yang dikenakan terhadap anggota organisasi,
      sehingga karyawan dapat bekerja sesuai prosedur serta struktur
      organisasi.
    2. Standar-standar (standards)
      Adalah perasaan tekanan untuk meningkatkan kinerja dan tingkat atau
      derajat kebanggaan pegawai ketika melakukan pekerjaannya dengan
      baik dalam organisasi.
    3. Tanggung Jawab (responsibility)
      Setiap anggota dalam organisasi atau karyawan memiliki tanggung
      jawab masing-masing untuk mewujudkan tujuan perusahaan.
    4. Penghargaan (reward)
      Imbalan yang diterima oleh karyawan harus sesuai serta pemberian
      hadiah maupun penghargaan yang sepantasnya diterima oleh karyawan.
    5. Dukungan (support)
      Dukungan mengindikasikan perasaan percaya dan saling mendukung
      yang terus berlangsung diantara anggota kelompok kerja. Dukungan
      tinggi jika anggota organisasi merasa bahwa mereka bagian dari tim
      yang berfungsi dengan baik dan merasa memperoleh bantuan dari
      atasannya jika mengalami kesulitan dalam menjalani tugas. Jika
      dukungan yang diberikan rendah, anggota organisasi cenderung merasa
      terisolasi atau merasa bukan merupakan bagian dari organisasi tersebut.
    6. Komitmen (commitment)
      Komitmen merupakan gambaran atas rasa bangga anggota organisasi
      terhadap organisasinya dan derajat keloyalannya pada pencapaian
      tujuan organisasi. Perasaan komitmen kuat berasosiasi dengan loyalitas
      personal. Komitmen rendah berarti anggota organisasi merasa apatis
      terhadap organisasi dan tujuannya.

    Faktor-Faktor yang Memengaruhi Iklim Organisasi


    Iklim organisasi secara objektif selalu terjadi pada setiap organisasi dan
    bersifat memengaruhi perilaku anggota organisasi. Namun iklim organisasi hanya
    dapat diukur secara tidak langsung melalui persepsi anggota organisasi. Oleh
    karenanya untuk mengetahui informasi yang berkaitan dengan iklim organisasi,
    maka diperlukan pendapat dari anggota organisasi misalnya dengan menggunakan
    kuesioner, observasi atau wawancara.
    Menurut Zul, Zulheri (2014) terdapat lima faktor yang berpengaruh terhadap
    iklim organisasi yakni :

    1. Penempatan Personalia
      Penempatan merupakan hal yang sangat penting, karena jika terjadi
      kesalahan dalam penempatan dapat menjadikan perilaku karyawan tidak
      nyaman, terganggu dan akhirnya bersifat merusak iklim organisasi.
      Sebelum dilakukan penempatan, akan lebih baik jika memerhatikan
      berbagai aspek atau kondisi seperti spesialisasi yang dimiliki,
      kegemaran, keterampilan dan pengalaman.
    2. Pembinaan Hubungan Komunikasi
      Dalam lingkungan organisasi, komunikasi mempunyai peran yang sangat
      penting karena komunikasi yang dilakukan baik bersifat formal atau non
      formal akan memengaruhi hubungan antar anggota organisasi dan iklim
      organisasi juga tercipta karena adanya komunikasi.
    3. Pendinasan dan Penyelesaian Konflik
      Setiap organisasi akan mengalami perubahan dalam setiap aspeknya
      seiring dengan adanya perubahan lingkungan. Proses perubahan ini
      sangat penting untuk mengantisipasi adanya stagnasi atau bahkan
      kemunduran dalam organisasi. Untuk itu dibutuhkan suatu kondisi yang
      dinamis dengan cara memberi kebebasan pada karyawan untuk
      mengembangkan kreativitasnya dan merealisasikan ide-idenya.
    4. Pengumpulan dan Pemanfaatan Informasi
      Informasi memegang peranan penting dalam sebuah organisasi sebagai
      penghubung antar berbagai bagian organisasi sehingga tercipta keutuhan
      organisasi.
    5. Kondisi Lingkungan
      Kondisi lingkungan kerja mencakup keadaan fasilitas atau sarana yang
      ada, seperti ruang rapat, lobi, ruang kerja, dan lain sebagainya. Kondisi
      lingkungan ini sebenarnya tidak langsung memengaruhi sehat atau
      tidaknya iklim organisasi tapi memberikan efek terhadap suasana hati
      karyawan yang ada didalamnya.
      Menurut (Stinger, 2002) yang dikutip oleh juga mengemukakan bahwa ada
      lima faktor yang menyebabkan terjadinya iklim organisasi, yaitu :
    6. Lingkungan Eksternal
      Industri atau bisnis yang sama mempunyai iklim organisasi yang
      cenderung sama. Faktor umum yang sama tersebut disebabkan oleh
      adanya pengaruh lingkungan eksternal organisasi. Lingkungan eksternal
      yang dimaksud antara lain kecepatan perubahan dalam suatu jenis
      industri, level konsolidasi dan regulasi yang tinggi pada industri tanpa
      adanya persaingan, serta ekonomi yang kuat dan pasar kerja yang baik.
    7. Strategi Organisasi
      Kinerja organisasi bergantung pada strategi organisasi, energi yang
      dimiliki oleh karyawan untuk melaksanakan pekerjaan dan faktor-faktor
      lingkungan penentu dari level energi tersebut. Strategi yang berbeda akan
      menimbulkan iklim organisasi yang berbeda pula. Meskipun dalam
      beberapa kasus, strategi organisasi tidak secara langsung memengaruhi
      iklim organisasi, tetapi pada kasus-kasus tertentu strategi organisasi
      dapat mempunyai pengaruh langsung terhadap iklim organisasi.
    8. Pengaturan Organisasi
      Pengaturan organisasi mempunyai pengaruh yang kuat terhadap iklim
      organisasi.
    9. Kekuatan Sejarah
      Semakin tua umur suatu organisasi, semakin kuat juga pengaruh
      sejarahnya. Pengaruh tersebut berupa tradisi dan ingatan yang
      membentuk harapan anggota organisasi dan berpengaruh terhadap iklim
      organisasinya.
    10. Pemimpin
      Pemimpin bertugas sebagai pendorong utama untuk menciptakan
      peningkatan kinerja organisasi. Perilaku dari pemimpin dapat
      memengaruhi motivasi karyawan yang selanjutnya akan berpengaruh
      pada iklim organisasi.

    Pengertian Iklim Organisasi


    Menurut Wirawan yang dikutip oleh Sunarsih & Helmiatin, (2017) iklim
    organisasi adalah persepsi anggota organisasi (individu dan kelompok) dan mereka
    yang secara tetap berhubungan dengan organisasi mengenai apa yang ada dan
    terjadi di lingkungan internal organisasi secara rutin, yang memengaruhi sikap dan
    perilaku organisasi dan kinerja anggota organisasi yang kemudian menentukan
    kinerja organisasi.
    Menurut Susanty, (2013) iklim organisasi adalah studi persepsi individu
    mengenai berbagai aspek lingkungan organisasinya.
    Sedangkan menurut (Stinger, 2002) iklim organisasi adalah sebuah koleksi
    dan pola lingkungan yang menentukan motivasi. Stringer kembali mengungkapkan
    bahwa iklim organisasi berfokus pada persepsi-persepsi masuk akal atau dapat
    dinilai, terutama yang dapat memunculkan motivasi sehingga mempunyai pengaruh
    langsung terhadap kinerja organisasi.

    Indikator Kepemimpinan Inklusif


    Menurut (Purnamaningtyas dan Rahardja 2021), ada beberapa indikator
    kepemimpinan inklusif, yakni :
    1) Keterbukaan
    Memiliki sikap terbuka dan respek terhadap kesalahan.
    2) Keadilan Dalam Pemberian Kesempatan
    Pemimpin harus peduli secara personal dan empati terhadap semua anggota
    tim.
    3) Kepedulian Pemenuhan Kebutuhan
    Dimana seorang pemimpin harus menyadari bahwa sistem dan anggota tim
    pasti memiliki kelemahan, namun harus tetap mengedepankan meritrokasi
    dimana penghargaan dan pemberian insentif didasarkan pada kinerja setiap
    karyawan atau auditor internal.
    4) Keterlibatan Pegawai Dalam Pengambilan Keputusan
    Komitmen untuk menghormati diversity atau keberagaman yang ada di
    dalam tim/ organisasi.
    5) Menghargai Keberagaman Pegawai.
    Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan kultural atau mengerti dan
    menghormati latar belakang budaya setiap anggota tim

    Faktor-Faktor Kepemimpinan Inklusif


    Menurut (Lorilla, 2021) terdapat beberapa faktor yang terkait dengan
    kepemimpinan inklusi antara lain :
    a. Usia
    Keterlibatan antara kepemimpinan yang tidak membeda-bedakan
    umur dalam suatu organisasi.
    b. jenis kelamin
    keterlibatan antara kepemimpinan yang tidak membeda-bedakan
    gender.
    c. Etnis
    Keterlibatan kepemimpinan dalam menghormati identitas atau
    kebudayaan orang lain.
    d. Agama
    Keterlibatan kepemimpinan dalam saling menghargai antar penganut
    agama.
    e. Pendidikan
    Keterlibatan kepemiminan untuk saling berpikir bersama tanpa
    membedakan status pendidikan terakhir.
    f. keragaman kognitif
    Keterlibatan kepemimpinan dalam menghubungkan perilaku
    kemampuan untuk berpikir.

    Pengertian Kepemimpinan Inklusif


    Kepemimpinan inklusif (inclusive leadership) digambarkan sebagai
    pemimpin yang menunjukkan keterbukaan (openness), mudah diakses (accessible),
    dan ketersediaan (availability) dalam interaksi dengan anggota (Carmeli, ReiterPalmon, & Ziv, 2010) dan merupakan kepemimpinan yang menekankan perilaku
    pemimpin partisipatif dan terbuka. Inclusive leadership barangkali terlihat mirip
    dengan konsep gaya kepemimpinan lainnya yang juga memfasilitasi openness dan
    empowerment, namun penelitian Randel et al., (2018) menunjukkan tinjauan rinci
    tentang hubungan inclusive leadership dan gaya kepemimpinan terkait
    menyimpulkan bahwa, inclusive leadership merupakan bentuk kepemimpinan yang
    berbeda karena berfokus pada memfasilitasi keunikan dan juga rasa memiliki.
    Lebih jauh Randel et al., (2018) mengatakan kepemimpinan inklusif
    (inclusive leadership) sebagai seperangkat perilaku pemimpin yang positif dan
    memfasilitasi anggota tim untuk dapat merasakan rasa memiliki, sambil
    mempertahankan keunikan mereka dalam tim karena mereka berkontribusi penuh
    pada proses dan hasil kerja tim. Pemimpin yang rendah hati (humility) dan memiliki
    kepercayaan atas keberagaman (diversity beliefs) akan meningkatkan
    kecenderungan perilaku pemimpin inklusif (Randel et al., 2018)

    Pengertian Kepemimpinan


    Hartanto, (2016) mendefinisikan kepemimpinan sebagai usaha untuk
    memengaruhi anggota kelompok agar mereka bersedia menyumbangkan
    kemampuannya lebih banyak dalam mencapai tujuan kelompok yang telah
    disepakati.
    Menurut Wahyuniardi dan Nababan, (2018) kepemimpinan merupakan
    kemampuan untuk memengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk
    mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan juga merupakan
    masalah sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin
    dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara
    memengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengoordinasikan. Veiithzal, dkk juga
    berpendapat bahwa ada beberapa unsur pokok dalam pengertian kepemimpinan,
    antara lain :

    1. Kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau
      organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi;
    2. Dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses
      memengaruhi bawahan oleh pemimpin;
    3. Adanya tujuan bersama yang harus dicapai.
      Menurut Kurniawan dan Yani, (2019) kepemimpinan adalah proses dalam
      memengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui apa yang dibutuhkan
      dalam melaksanakan tugas dan bagaimana melakukan tugas itu, serta proses yang
      memfasilitasi upaya individu dan kolektif guna mencapai tujuan bersama.
      Coronel, Robbins, & Judge, (2012) mendefinisikan kepemimpinan sebagai
      kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok menuju pencapaian sebuah visi
      atau tujuan yang ditetapkan. Sumber dari pengaruh tersebut dapat secara formal,
      seperti yang dilakukan dalam peringkat manajerial organisasi. Tetapi tidak semua
      pemimpin adalah para manajer, demikian pula tidak semua manajer adalah para
      pemimpin. Hanya karena organisasi memberikan manajer hak-hak formal tertentu,
      tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan memimpin secara efektif. Organisasi
      membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan manajemen yang kuat untuk
      efektivitas yang optimal.

    Macam-Macam Gaya Kepemimpinan


    Dalam teori full range model of leadership ada tiga gaya
    kepemimpinan yaitu kepemimpinan transformasional, transaksional dan
    laissez faire. Kepemimpinan yang efektif adalah komponen yang paling
    penting yang mengarah organisasi untuk hasil yang efektif (Wong, 2008).
    Keberhasilan seorang pemimpin dalam mempengaruhi perilaku
    bawahan banyak dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan. Beberapa ahli
    mengemukakan pendapat tentang macam-macam gaya kepemimpinan,
    adalah sebagai berikut :

    1. Gaya kepemimpinan menurut pendapat (Hasibuan, 2009, p. 170) gaya
      kepemimpinan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
      a) Kepemimpinan Otoriter
      Kepemimpinan Otoriter adalah jika kekuasaan atau
      wewenang, sebagian besar mutlak tetap berada pada pimpinan atau
      kalau pimpinan itu menganut sistem sentralisasi wewenang.
      Pengambilan keputusan dan kebijaksanaan hanya ditetapkan sendiri
      oleh pemimpin, bawahan tidak diikutsertakan untuk memberikan
      saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
      Orientasi kepemimpinannya difokuskan hanya untuk peningkatan
      produktivitas kerja karyawan dengan kurang memperhatikan
      perasaan dan kesejahteraan bawahan.
      (Siagian, 2014) berpendapat tentang gaya kepemimpinan
      otoriter sebagai berikut, seorang pemimpin yang tergolong sebagai
      orang yang otoriter memiliki ciri-ciri yang umumnya negatif. Ciriciri yang menonjol adalah:
      a) Penonjolan diri yang berlebihan sebagai simbol keberadaan
      organisasi
      b) Kegemaran menonjolkan diri sebagai penguasa tunggal
      c) Biasanya dihinggapi penyakit megalomaniac, dalam arti gila
      hormat
      d) Tujuan pribadinya identik dengan tujuan organisasi
      e) Loyalitas para bawahan merupakan tuntutan yang sangat kuat.
      Demikian kuatnya sehingga mengalahkan kinerja, kejujuran,
      serta penerapan norma-norma moral dan etika
      f) Menerapkan disiplin organisasi yang kuat
      g) Menerapkan pengendalian dan pengawasan yang ketat
      b) Kepemimpinan Partisipatif
      Kepemimpinan Partisipatif adalah apabila dalam
      kepemimpinannya dilakukan dengan cara persuasif, menciptakan
      kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan partisipasi
      para bawahan. Pemimpin memotivasi bawahan agar merasa ikut
      memiliki perusahaan. Bawahan harus berpartisipasi memberikan
      saran, ide, dan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan.
      Pemimpin dengan gaya partisipatif akan mendorong kemampuan
      bawahan mengambil keputusan. Dengan demikian, pimpinan akan
      selalu membina bawahan untuk menerima tanggung jawab yang
      lebih besar.
      Kepemimpinan partisipatif termasuk model kepemimpinan
      situasi yang muncul karena model kepemimpinan dalam
      pembahasan sebelumnya tidak mampu memberikan jawaban
      terhadap persoalan-persoalan yang muncul dalam kepemimpinan
      saat ini. Perilaku kepemimpinan tersebut dapat ditunjukkan dengan
      tanda-tanda, sebagai berikut:
      1) Pendekatan akan berbagai persoalan dengan pikiran terbuka.
      2) Mau atau bersedia memperbaiki posisi-posisi yang telah
      terbentuk.
      3) Mencari masukan dan nasehat yang menentukan.
      4) Membantu perkembangan kepemimpinan yang posisional dan
      kepemimpinan yang sedang tumbuh.
      5) Bekerja secara aktif dengan perseorangan atau kelompok.
      6) Melibatkan orang lain secara tepat dalam pengambilan
      keputusan. (Wahjosumidjo, 2001, pp. 28-29)
      Sedangkan menurut H. Hadari Nawawi dalam bukunya
      kepemimpinan mengefektifkan organisasi menuliskan bahwa
      kepemimpinan partisipatif sama pemahamannya dengan
      kepemimpinan kompromi (compromiser) yang menunjukkan
      karakteristik, sebagai berikut:
      a. Seorang pemimpin dalam gaya ini untuk mempertahankan
      kekuasaanya tidak berorientasi pada anggota organisasi, tetapi
      pada pimpinan atasanya yang berpengaruh dan menentukan
      jabatan kepemimpinannya.
      b. Mengikutsertakan bawahan dalam mengambil keputusan, bukan
      untuk kesempatan menyampaikan gagasan, kreativitas dan lainlain.
      c. Dalam pembuatan keputusan dan pelaksanaan pekerjaan,
      pemimpin selalu memperhitungkan untung rugi bagi dirinya
      bukan bagi bawahan atau organisasinya.
      d. Tidak tertarik pada pengembangan pekerjaan dan organisasi
      melainkan untuk menjalankan tugas guna mempertahankan
      kepemimpinannya.
      e. Mampu bekerja sama dengan bawahan dalam melaksanakan
      pekerjaan.
      13
      f. Memberikan dorongan (motivasi) secara selektif pada anggota
      organisasi atau bawahan. (Nawawi, 2006, pp. 131-133)
      Dari beberapa pendapat diatas penulis simpulkan, ada
      beberapa ciri (karakteristik) dari model kepemimpinan partisipatif,
      ialah:
      a. Bekerja secara aktif dengan bawahan baik perseorangan maupun
      kelompok.
      b. Mengikutsertakan bawahan secara tepat dalam pengambilan
      keputusan.
      c. Mementingkan menjalankan tugas guna untuk mempertahankan
      kepemimpinan dan kekuasaanya.
      d. Menerima masukan dan nasehat yang bersifat membangun demi
      perkembangan organisasi.
      e. Memberikan motifasi secara penuh pada anggota organisasi.
      c) Kepemimpinan Delegatif
      Kepemimpinan Delegatif apabila seorang pemimpin
      mendelegasikan wewenangnya kepada bawahan dengan agak
      lengkap. Dengan demikian, bawahan dapat mengambil keputusan
      dan kebijaksanaan dengan bebas atau leluasa dalam melaksanakan
      pekerjaannya. Pemimpin tidak peduli cara bawahan mengambil
      keputusan dan mengerjakan pekerjaannya, sepenuhnya diserahkan
      kepada bawahan. Pada prinsipnya pemimpin bersikap menyerahkan
      dan mengatakan kepada bawahan inilah pekerjaan yang harus
      saudara kerjakan, saya tidak peduli, terserah saudara bagaimana
      mengerjakannya asal pekerjaan tersebut bisa diselesaikan dengan
      baik. Dalam hal ini bawahan dituntut memiliki kematangan dalam
      pekerjan (kemampuan) dan kematangan psikologis (kemauan).
      Kematangan pekerjaan dikaitkan dengan kemampuan untuk
      melakukan sesuatu yang berdasarkan pengetahuan dan
      keterampilan. Kematangan psikologis dikaitkan dengan kemauan
      atau motivasi untuk melakukan sesuatu yang erat kaitannya dengan
      rasa yakin dan keterikatan
    2. Gaya kepemimpinan menurut (Sutikno, 2014, p. 35) mengatakan gaya
      kepemimpinan atau perilaku kepemimpinan atau sering disebut Tipe
      Kepemimpinan. Tipe kepemimpinan yang luas dikenal dan diakui
      keberadaanya adalah sebagai berikut :
      a) Tipe Otokratik
      Tipe kepemimpinan ini menganggap bahwa
      kepemimpinan adalah hak pribadinya (pemimpin), sehingga ia
      tidak perlu berkonsultasi dengan orang lain dan tidak boleh ada
      orang lain yang turut campur. Seorang pemimpin yang tergolong
      otokratik memiliki serangkaian karateristik yang biasanya
      dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin
      otokratik adalah seorang yang egois. Seorang pemimpin otokratik
      akan menunjukan sikap yang menonjolakan keakuannya, dan
      selalu mengabaikan peranan bawahan dalam proses pengambilan
      keputusan, tidak mau menerima saran dan pandangan
      bawahannya.
      b) Tipe Kendali Bebas atau Masa Bodo (Laisez Faire)
      Tipe kepemimpinan ini merupakan kebalikan dari tipe
      kepemimpinan otokratik. Dalam kepemimpinan tipe ini sang
      pemimpin biasanya menunjukkan perilaku yang pasif dan
      seringkali menghindar diri dari tanggung jawab. Seorang
      pemimpin yang kendali bebas cenderung memilih peran yang
      pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya
      sendiri. Disini seorang pemimpin mempunyai keyakinan bebas
      dengan memberikan kebebasan yang seluas-luasnya terhadap
      bawahan maka semua usahanya akan cepat berhasil.
      c) Tipe Paternalistik
      Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang
      peranannya dalam kehidupan organisasi dapat dikatakan diwarnai
      oleh harapan bawahan kepadanya. Harapan bawahan berwujud
      keinginan agar pemimpin mampu berperan sebagai bapak yang
      bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya
      dan untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap
      kepentingan dan kesejahteraan bawahannya. Pemimpin yang
      paternalistik mengharapkan agar legitimasi kepemimpinannya
      merupakan penerimaan atas peranannya yang dominan dalam
      kehidupan organisasi.
      d) Tipe Kharismatik
      Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki
      karakteristik khusus yaitu daya tariknya yang sangat memikat,
      sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan
      para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkrit
      mengapa orang tersebut itu dikagumi. Hingga sekarang, para ahli
      belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang
      pemimpinmemiliki kharisma. Yang diketahui ialah bahwa
      pemimpin yang demikian mempunyai daya penarik yang amat
      besar.
      e) Tipe Militeristik
      Pemimpin tipe militeristik berbeda dengan seorang
      pemimpin organisasi militer. Pemimpin yang bertipe militeristik
      ialah pemimpin dalam menggerakan bawahannya lebih sering
      mempergunakan sistem perintah, senang bergantung kepada
      pangkat dan jabatannya, dan senang kepada formalitas yang
      berlebih-lebihan. Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari
      bawahannya, dan sukar menerima kritikan dari bawahannya.

    Definisi Gaya Kepemimpinan


    Untuk memahami gaya kepemimpinan terlebih dahulu kita ketahui
    definisi kepemimpinan menurut para ahli. Adalah sebagai berikut :
    Menurut House dalam (Yukl, 2009, p. 4) mengatakan bahwa :
    Kepemimpinan adalah kemampuan individu untuk mempengaruhi,
    memotivasi, dan membuat orang lain mampu memberikan kontribusinya
    demi efektivitas dan keberhasilan organisasi. Jadi dari pendapat House
    dapat dikatakan bahwa kepemimpinan merupakan cara mempengaruhi
    dan memotivasi orang lain agar orang tersebut mau berkontribusi untuk
    keberhasilan organisasi.
    Selanjutnya menurut Stogdill dalam (Stoner, 2003, p. 161)
    “Kepemimpinan adalah suatu proses mengarahkan dan mempengaruhi
    aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dan anggota kelompok” dari
    pendapat Stogdill dapat ditarik suatu pendapat bahwa kepemimpinan itu
    merupakan upaya dalam mempengaruhi dan mengarahkan suatu
    kelompok.
    Kepemimpinan dalam organisasi diarahkan untuk mempengaruhi
    orang-orang yang dipimpinnya, agar mau berbuat seperti yang diharapkan
    ataupun diarahkan oleh orang lain yang memimpinnya. (Sutikno, 2014, p.
    16).
    Setelah menguraikan pengertian tentang kepemimpinan, selanjutnya
    menjelaskan definisi gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan merupakan
    aspek penting untuk mencapai dan meningkatkan keberhasilan
    kepemimpinan seseorang dalam suatu organisasi.
    Sedangkan (Rivai, 2014, p. 42) menyatakan Gaya Kepemimpinan
    adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi
    bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa
    gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan
    sering diterapkan oleh seorang pemimpin.Gaya kepemimpinan yang
    menunjukkan, secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan
    seorang pimpinan terhadap kemampuan bawahannya.Artinya gaya
    kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari
    falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yang sering diterapkan seorang
    pemimpin ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya.
    Selanjutnya menurut (Stoner, 2003, p. 165) menyatakan bahwa gaya
    kepemimpinan adalah berbagai pola tingkah laku yang disukai oleh
    pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi pekerja.
    Gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang dipilih dan
    dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan
    perilaku para anggota organisasi bawahannya (Nawawi, 2003). Seorang
    pemimpin harus menerapkan gaya kepemimpinan untuk mengelola
    bawahannya, karena seorang pemimpin akan sangat mempengaruhi
    keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya (Guritno & Waridin,
    2005).

    Pengaruh Sarana Prasarana terhadap Kinerja


    Sarana dan prasana kerja yang kurang mendukung pelaksanaan
    pekerjaan seperti kurangnya alat-alat kerja, ruangan yang pengap, ventilasi
    yang kurang, rusaknya peralatan, dan penerangan yang kurang dapat
    menyebabkan kinerja menjadi buruk. Alat-alat yang kurang memadai
    sementara tuntutan pekerjaan yang memerlukan percepatan pekerjaan dapat
    menjadi masalah, yang pada akhirnya akan menjadi penyebab menurunnya
    produktifitas kerja. Dalam keadaan demikian, seorang pemimpin tidak bisa
    menyalahkan pegawai yang menjadi bawahannya untuk bekerja dengan cepat
    karena ketiadaan alat.
    Handoko (1985:193), mengatakan bahwa faktor linkungan terdiri
    penerangan/cahaya, suhu udara ditempat kerja, kenyamanan, kelembaban,
    sirkulasi udara, kebisingan, bau, warna dekorasi, musik, dan keamanan.
    Dekorasi yang sesuai dengan ruangan dan kebisingan suara yang dihindari
    mampu membuat pegawai nyaman bekerja tanpa lelah. Udara yang segar dan
    sejuk sangat dibutuhkan manusia sebab udara yang kotor dapat merusak
    pernapasan. Begitu pula dengan cahaya dan penerangan ruangan kerja, sangat
    besar pengaruhnya terhadap kondisi kerja. Penerangan yang kurang dapat
    menyebabkan kesalahan dalam bekerja serta terganggunya penglihatan. Cahaya
    bisa berasal dari matahari melalui ventilasi ataupun listrik.
    Fasilitas kerja seperti ruang kerja yang cukup akan memungkinkan
    pegawai untuk dapat bergerak dengan leluasa dan akan membangkitkan
    semangat dalam bekerja. Tempat kerja yang baik dapat merangsang pegawai
    untuk bekerja lebih giat dan lebih bersemangat sehingga pada akhirnya
    menimbulkan kinerja yang baik. Peralatan kerja yang cukup tidak membuat
    pegawai malas dalm bekrja karena segala alat yang diperlukan tersedia dalam
    jumlah dan mutu.Oleh karena itu harus diupayakan sarana prasarana yang
    memadai agar diperoleh suasana kerja yang sehat dan pegawai mampu bekerja
    secara efektif dan produktif.

    Pengaruh Kompensasi terhadap Kinerja


    Pengaruh kompensasi dengan kinerja menurut Simamora (1997:557),
    para karyawan mendambakan kinerja mereka akan berkorelasi dengan
    imbalan-imbalan yang diperoleh dari organisasi. Para karyawan menetukan
    pengharapan-pengharapan mengenai imbalan-imbalan dan kompensasi yang
    diterima jika tingkat kinerja tertentu tercapai. Jika karyawan melihat bahwa
    kinerja yang unggul diakui dan diberikan imbalan oleh organisasi, mereka akan
    mengharapkan hubungan yang terus berlanjut dimasa depan. Oleh karena itu,
    mereka akan menentukan tingkat kinerja yang lebih tinggi yang mengharapkan
    kompensasi yang lebih tinggi. Sebaiknya, jika karyawan memperkirakan
    hubungan yang lemah antara kinerja dan kompensasi, maka mereka mungkin
    akan menentukan tujuan-tujuan minimal guna mempertahankan pekerjaan
    mereka. Oleh sebab itu, penggunaan sistem kompensasi untuk memotivasi
    kinerja yang efektif membutuhkan kaitan yang jelas dan terlihat antara kinerja
    dan kompensasi serta iklim kepercayaan antara orang-orang yang bekerja
    dengan orang-orang yang memberikan kompensasi.
    Menurut Notoatmodjo (2009:142), kompensasi sangat penting bagi
    karyawan itu sendiri sebagai individu, karena besarnya kompensasi merupakan
    pencerminan atau ukuran nilai pekerjaan karyawan tersebut. Besar kecilnya
    kompensasi akan berpengaruh terhadap prestasi kerja, motivasi, dan kepuasan
    kerja karyawan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerjanya.
    Sedangkan menurut Umar (2008:16), salah satu cara manajemen untuk
    meningkatkan prestasi kerja, motivasi, dan kepuasan kerja para karyawan
    adalah melalui kompensasi.
    Simanjuntak (2005:14), mengatakan bahwa kinerja individu
    dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kompensasi sebagai
    bentuk dukungan organisasi terhadap upaya peningkatan kinerja pegawai.
    Pendapat ini semakin menguatkan pandangan bahwa, pengelolaan kompensasi
    yang tepat mampu mendongkrak upaya peningkatan kinerja pegawai yang
    sudah barang tentu berimplikasi terhadap peningkatan kinerja organisasi.
    Kompensasi yang diterima seorang pegawai akan memotivasi pegawai
    tersebut untuk melakukan usaha yang lebih giat lagi dalam bekerja. Namun
    kompensasi yang yang diberikan harus mencerminkan nilai atau hasil
    pekerjaan baik secara kuantitas maupun kualitas. Oleh sebab itu, kompensasi
    yang diberikan harus mencerminkan pula azas keadilan. Dengan kata lain,
    kompensasi yang diberikan dengan adil dan merujuk pada nilai/hasil pekerjaan
    akan mempengaruhi pegawai untuk saling berkompetisi meningkatkan
    kinerjanya

    Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja


    Keberhasilan suatu organisasi sangat dipengarui oleh manajemen
    kepemimpinan sebagaimana Katini Kartono (2008:170), mengatakan bahwa
    kepemimpin berkaitan erat dengan usaha manajemen bahkan menjadi unsur
    inti dari organisasi , manajemen, dan administrasi. Pada umumnya, pengertian
    manajemen itu lebih diperjelas dengan macam-macam fungsi manajemen,
    seperti perencanaan, pengorganisasian, aktualisasi/pengarahan, dan
    pengawasan yang harus dikuasai oleh setiap pemimpin. Dengan kata lain,
    seorang pemimpin yang efektif dituntut kompetensinya dalam mejalankan
    berbagai fungsi manajerial, termasuk di dalamnya bagaimana seorang
    pemimpin menerapkan dan mengembangkan sistem manajemen kinerja,
    manajemen karir, manajemen kompensasi pada organisasi yang dipimpinnya
    secara adil.

    Penilaian Kinerja


    Salah satu fungsi manajemen adalah pengarahan, yaitu meliputi bagaimana
    meningkatkan dan menilai kinerja pegawai. Penilaian secara luas dapat diartikan
    sebagai evaluasi dari sebuah organisasi, dan secara sempit berupa penilaian
    terhadap kinerja pegawai. Penilaian kinerja pegawai merupakan kegiatan untuk
    menilai keberhasilan atau kegagalan seorang pegawai dalam melaksanakan
    tugasnya. Oleh karena itu, penilaian ini harus berpedoman pada ukuran-ukuran
    yang telah disepakati bersama dalam standar kerja.
    Menurut Nawawi (2008:236-237), mendefinisikan arti penilaian kinerja
    sebagai berikut:
    a. Penilaian kinerja adalah pendadaran (deskripsi) secara sistematik (teratur)
    tentang relevansi antara tugas-tugas yang diberikan dengan pelaksanaannya
    oleh seorang pekrja;
    b. Penilaian kinerja adalah usaha mengidentifikasi, mengukur (menilai) dan
    mengelola (manajemen) pekerjaan yang dilaksanakan oleh para pekerja (SDM)
    di lingkungan organisasi;
    c. Penilaian kinerja adalah kegiatan mengidentifikasi pelaksanaan pekerjaan
    dengan menilai aspek-aspeknya, yang difokuskan pada pekerjaan yang
    berpengaruh pada kesuksesan organisasi;
    d. Penilaian kinerja adalah kegiatan pengukuran sebagai usaha menetapkan
    keputusan tentang kesuksesan atau gagal dalam melaksanakan pekerjaan oleh
    seorang pekerja.
    Simamora (1997:416) mengemukakan bahwa penilaian kinerja adalah
    proses organisasi mengevaluasi kerja individu. Dalam penilaian kinerja dinilai
    kontribusi karyawan kepada organisasi selama kurun waktu tertentu. Umpan balik
    kinerja memungkinkan karyawan mengetahui seberapa baik bekerja dibandingkan
    dengan standar organisasi.
    Hasibuan (2000:96) mendefinisikan penilaian kinerj sebagai kegiatan
    manajer untuk mengevaluasi kerja karyawan serta menetapkan kebijaksanaan
    selanjutnya. Selanjutnya dinyatakan pula bahwa penilaian kinerja adalah menilai
    rasio hasil kerja nyata dengan standat kualitas maupun kuantitas yang dihasilkan
    setiap karyawan.

    Pengertian Kinerja


    Untuk mencapai kepada pemahaman yang meyakinkan tentang
    kinerja, perlu diuraikan bahasan mengenai kinerja. Kinerja merupakan hasil
    atau output dari suatu proses, jika output itu dan atau sebagai hasil kerja
    pegawai, maka hal itu dinamakan kinerja pegawai. Nawawi (2006:62)
    mengemukakan, kinerja adalah kemampuan kerja atau prestasi yang dicapai
    dalam melaksanakan suatu pekerjaan.
    Menurut Usman (2008:456), kinerja adalah usaha yang dilakukan dari
    hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam
    suatu organisasi sesuai wewenang dan tanggungjawab masing-masing dalam
    rangka mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak
    melanggar hukum dan sesuai moral maupun etika. Sedangkan menurut
    Mangkuprawira (2009:218), kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan
    seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan
    tugas dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja,
    target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan
    telah disepakati bersama.
    Menurut Ilyas (2001:66), kinerja adalah penampilan hasil karya
    personel, baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja
    dapat merupakan penampilan individu maupun kelompok kerja personel
    dalam suatu organisasi.
    Prawirosentono (1999:2) yang menyatakan bahwa:
    Kinerja dalah hasil kinerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
    sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang
    dan tanggungjawab masing-masing, dalam rangka upaya mencapai
    tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak meanggar hukum
    dan sesuai dengan moral maupun etika.
    Sedangkan Bernardin (2001:143) menyatakan bahwa kenerja
    merupakan catatan hasil yang diproduksi (dihasilkan) atas fungsi pekerjaan
    tertentu atau aktivitas-aktivitas kegiatan pelayanan publik.
    Kinerja pemerintah sangat ditentukan oleh kinerja sumber daya
    manusia yang dimilikinya. Sebagaimana dikemukakan Ma’arif (2002:70-71),
    pemerintah harus mampu mengembangkan berbagai faktor keberhasilan
    pelaksanaan pemerintah yang dikontribusikan oleh keadaan sumber daya
    manusia (pegawai). Tercapai tujuan lembaga yang ditetapkan harus memiliki
    hanya dimungkinkan karena upaya para pelaku yang terdapat pada organisasi
    lembaga tersebut.
    Mangkuprawira (2009:222-224), mengatakan bahwa berdasarkan
    kenyataan empris dan praktis menunjukkan, perilaku seseorang, misalnya
    dalam pekerjaan yakni produktivitas kerja, dipengaruhi oleh faktor-faktor
    intrinsik dan ekstrinsik. Adapun yang termasuk dalam unsur intrinsik (Xi)
    antara lain:
    a. Tingkat pendidikan, dilihat dari penguasaan pengetahuan, sikap, dan
    keterampilan dalam penguasaan bidang;
    b. Tingkat pengetahuan, terkait dengan penguasaan penerapan ilmu dan
    pengetahuan dan teknologi yang dimiliki seseorang terhadap pelaksanaan
    pekerjaannya, semakin tinggi kinerjanya;
    c. Tingkat pengalaman, merupakan akulasi dari keberhasilan dan kegagalan
    serta gabungan dari kekuatan dan kelemahan di dalam melaksanakan
    pekerjaannya.
    Sedangkan yang termasuk dalam unsur ekstrinsik (Xe) antara lain:
    a. Lingkungan keluarga, yang dimaksud di sini adalah sikap dan motivasi
    anggota suatu keluarga di dalam memandang makna suatu pekerjaan.
    Ineraksi dalam bentuk sosialisasi keluarga yang intensif terhadap makna
    pekerjaan akan membantu setiap anggota keluarga untuk
    mengoptimumkan kinerjanya;
    b. Lingkungan sosial-budaya, seperti aspek kedisiplinan sosial, tanggung
    jawab sosial dan sistem nilai tentang pekerjaan akan mendorong seseorang
    terlibat aktif dalam meningkatkan kinerjanya
    c. Lingkungan ekonomi, antara lain dicirikan oleh pertumbuhan ekonomi,
    dan pendapatan perkapita. Jika seseorang memiliki persoalan dalam hal
    pendapatan, tentu hal ini akan mempengaruhi kinerjanya;
    d. Lingkungan belajar, dapat dilihat dari perilaku masyarakat dalam hal
    mengikuti pendidikan dan pelatihan. Lingkungan belajar yang semakin
    baik, mendorong masyarakat untuk meningkatkan kualitas belajarnya,
    sehingga akan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan serta
    produktivitas dalam bekerja;
    e. Lingkungan kerja termasuk budaya kerja, suasana kerja dirikan oleh
    aspek-aspek budaya produktif, kepemimpinan, hubungan karyawan
    dengan sesama rekan dan atasan, manajemen kompensasi. Beragam aspek
    lingkungan tersebut mempengaruhi motivasi, dan kinerja para karyawan;
    f. Teknologi, semakin tinggi kualitas atau efisiensi teknologi yang
    digunakan, semakin tinggi pula produktivitas kerja karyawan.
    Apa yang telah dikemukakan oleh Mangkuprawira, dapat ditarik
    kesimpulan bahwa untuk mengembangkan kompetensi pegawai berdasrkan
    unsur intrinsik dapat diupayakan melalui proses pendidikan dan pelatihan,
    sedangkan lingkungan keluarga, sosial, dan ekonomi yang termasuk dalam
    unsur ekstrinsik adalah sesuatu yang sulit disentuh sebagai bentuk upaya
    peningkatan kinerja pegawai. Hanya lingkungan kerja yang dapat dikemas
    sedemikian rupa oleh organisasi melalui unsur kepemimpinan guna
    meningkatkan kinerja pegawainya.

    Kriteria Pemberian Kompensasi


    Pemberian kompensas oleh suatu organisasi bukan merupakan sesuatu
    yang bersifat statis melainkan dinamis. Artinya, pemberian kompensasi
    sewaktu-waktu dapat berubah. Menurut Notoatmodjo (2009:147-148), faktorfaktor yang dapat mempengaruhi perubahan ketentuan pemberian kompensasi
    antara lain: keadaan perekonomian, kebijakan pemerintah, tuntutan organisasi
    pegawai, perkembangan ilmu dan teknologi, dan lain sebagainya. Namun
    demikian, agar perubahan yang terjadi tidak terlalu menimbulkan goncangan,
    ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam penentuan kebijakan
    pemberian kompensasi seperti dijelaskan sebagai berikut:
    a. Biaya hidup
    Kriteria ini sebenarnya berorientasi kepada karyawan, atau lebih
    mementingkan kebutuhan karyawan, dengan tujuan jika karyawan
    memperoleh kompensasi sebesar biaya hidup saat ini, maka diharapkan
    produktivitas lebih optimal.
    b. Produktivitas
    Produktivitas karyawan tentu berpengaruh terhadap peningkatan pencapaian
    tujun organisasi atau penghasilan organisasi. Artinya, karyawan memiliki
    andil cukup besar dalam pencapaian tujuan organisasi. Oleh sebab itu, wajar
    apabila hal ini dijadikan kriteria untuk pemberian kompensasi kepada
    karyawan.
    c. Skala upah atau gaji yang umum berlaku
    Memang sulit untuk mengambil skala pemberian kompensasi yang umum
    berlaku, karena variasi jenis organisasi, baik dilihat dari sifat maupun besar
    kecilnya organisasi yang bersangkutan dapat mengacu kepada organisasi
    yang sederajat dan sejeniis sebagai kriteria pemberian kompensasi bagi
    karyawan.
    d. Kemampuan membayar
    Setiap organisasi tentu selalu memperhitungkan besarnya biaya yang harus
    dikeluarkan untuk kompensasi bagi pegawainya dikaitkan dengan biaya
    keseluruhan organisasi. Begitu pula biaya-biaya operasional lainnya, harus
    diperhitungkan pula. Oleh sebab itu, dalam membuat kriteria pemberian
    kompensasi ini, kemampuan membayar dari suatu organisasi perlu
    diperhitungkan.
    e. Upah atau gaji sebagai alat untuk mempertahankan, dan memberikan
    motivasi kepada karyawan.
    Organisasi yang baik akan selalu menarik calon karyawan untuk bekerja di
    dalamnya, serta mempertahankan karyawan yang sudah bekerja. Di samping
    itu, kompensasi seharusnya mampu untuk memeotivasi karyawan apabila
    diberikan secara tepat.

    Jenis-jenis Kompensasi


    Menurut Nawawi (2008:316-317), kompensasi dapat dibedakan
    menurut jenisnya, yaitu:
    a. Kompensasi langsung (direct compensation)
    Kompensasi langsung adalah penghargaan/ganjaran yang disebut gaji atau
    upah, yang dibayar secara tetap berdasarkan tenggang waktu yang tetap.
    b. Kompensasi tidak langsung (indirect compensastion)
    Kompensasi tidak langsung adalah pemberian bagian keuntungan/manfaat
    lainnya bagi para pekerja di luar gaji atau upah tetap, dapat berupa uang
    atau barang. Dengan kata lain, kompensasi tidak langsung adalah program
    pemberian penghargaan/ganjaran dengan variasi yang luas.
    c. Insentif
    Insentif adalah penghargaan/ganjaran yang diberikan untuk memotivasi para
    pekerja agar produktivitas kerjanya tinggi, sifatnya tidak tetap atau sewaktuwaktu. Program insentif diberikan kepada pekerja yang bekerja sacara baik
    atau yang berprestasi, misalnya dalam bentuk pemberian bonus, dan dapat
    juga dalam bentuk berupa barang.
    Kompensasi sebagai imbalan jasa berdasrkan kemampuan nilai tukarnya
    yang memenuhi kebutuhan hidup tingkat yang rendah

    Pengertian Kompensasi dan Tujuan Kompensasi


    Dalam manajemen Sumber Data Manusia (SDM), kompensasi menjadi
    bagian yang sangat penting, karena kompensasi merupakan upaya organisasi
    mempertahankan SDM. Kompensasi yang tidak baik dapat menurunkan
    motivasi pegawai, prestasi kerja menurun sehingga berpotensi menurunkan
    kinerja organisasi. Dalam usaha mendukung pencapaian tenaga kerja yang
    memiliki motivasi dan bekerja tinggi, yaitu dengan cara memenuhi kebutuhankebutuhannya. Sistem kompensasi juga berpotensi sebagai salah satu saran
    terpenting dalam membentuk perilaku dan mempengaruhi kinerja. Dalam
    Peraturan Menteri Keuangan Tahun 2010 tentang Pemberian dan Tata Cara
    Pembayaran Uang Makan Bagi Pegawai Negeri Sipil bertujuan dalam rangka
    meningkatkan kinerja Pegawai Negeri Sipil.
    Menurut Sedarmayanti (2008:239), kompensasi adalah segala sesuatu
    yang diterima oleh pegawai sebagai balas jasa kerja mereka. Sedangkan
    menurut Simamora (1997:541), kompensasi merupakan istilah luas yang yang
    berkaitan dengan imbalan-imbalan (finance reward) yang diterima oleh orangorang melalui kepegawaian mereka dalam sebuah organisasi.
    Menurut Nawawi (2008:315), kompensasi bagi organisasi berarti
    penghargaan/ganjara pada para pekrja yang telah memberikan kontri busi
    dalam mewujudkan tujuannya, melalui kegiatan yang disebut bekerja.
    Sedangkan menurut Notoatmodjo (2009:142), kompensasi adalah segala
    sesuatu yang diterima oleh karyawan sebagai balas jasa kerja atau pengabdian
    mereka. Dalam suatu organisasi masalah kompensasi merupakan hal yang
    sangat kompleks, namun paling penting bagi karyawan maupun organisasi itu
    sendiri.
    Adapun tujuan sistem kompensasi menurut Sedarmayanti (2008:239)
    adalah: a) menghargai kinerja; b) menjamin keadilan; c) mempertahankan
    karyawan; d) memperoleh karyawan yang bermutu; e) mengendalikan biaya; f)
    memenuhi peraturan. Sedangkan tujuan pemberian kompensasi menurut
    Simamora (1997:548), adalah dalam rangka menahan karyawan dan memikat
    karyawan yang cakap, dan memberikan motivasi kepada karyawan.
    Menurut Notoatmodjo (2009:143), kompensasi dalam suatu organisasi
    harus diatur sedemikian rupa sehingga merupakan sistem yang baik dalam
    organisasi, karena sistem kompensasi memiliki tujuan yaitu:
    a. Menghargai prestasi
    Kompensasi yang memadai adalah suatu penghargaan organisasi terhadap
    prestasi kerja para karyawan, selanjutnya akan mendorong perilaku-perilaku
    atau performance karyawan sesuai dengan keinginan orhanisasi.
    b. Menjamin keadilan
    Dengan kompensasi yang baik menjamin terjadinya keadilan diantara
    karyawan dalam organisasi, dimana setiap karyawan akan memperoleh
    imbalan sesuai dengan tugas, fungsi, jabatan, dan prestasi kerjanya.
    c. Mempertahankan karyawan
    Kompensasi yang baik mampu mempertahankan karyawan, dengan kata
    lain, karyawan akan betah bekerja pada organisasi tersebut.
    d. Memperoleh karyawan yang bermutu
    Sistem kompensasi yang baik akan menarik lebih banyak calon karyawan,
    dengan banyaknya calon karyawan tentu memberikan peluang untuk
    memilih karyawan yang berkualitas.
    e. Pengendalian biaya
    Sistem kompensasi yang baik, akan mengurangi seringnya melakukan
    rekrutmen, sebagai akibat seringnya karyawan keluar mencari pekerjaan
    yang lebih baik. Hal ini tentu terjadi penghematan biaya untuk rekrutmen
    dan seleksi calon karyawan baru.
    Sistem penghargaan berkenaan dengan seluruh aspek kompensasi,
    bahkan termasuk juga di luar organisasi. Penghargaan pada dasarnya berarti
    menumbuhkan perasaan diterima/diakui di lingkungan kerja, yang
    menyentuh aspek kompensasi dan aspek hubungan antara pegawai yang satu
    dengan yang lainnya. Oleh sebab itu, pemberian kompensasi dalam suatu
    organisasi harus adil dan mampu menjadi motivator bagi pegawainya dalam
    bekerja. Terkait dengan hal itu, maka sistem pemberian kompensasi
    dipengaruhi oleh berbagai faktor.
    Faktor-faktor ini merupakan tantangan setiap organisasi untuk
    menentukan kebijakan kompensasi. Menurut Notoatmodjo (2009:144),
    faktor-faktor tersebut antara lain:
    a. Produktivitas
    Organisasi tentu selalu berkeinginan untuk memperoleh
    keuntungan baik material maupun non material. Oleh sebab itu,
    organisasi harus mempertimbangkan produktivitas pegawainya dalam
    kontribusinya terhadap keuntungan organisasi.
    b. Kemampuan untuk membayar
    Pemberian kompensasi akan bergantung pada kemampuan
    organisasi itu untuk membayar (abality to pay). Oleh sebab itu,
    organisasi tidak akan membayar karyawannya sebagai kompensasi
    melebihi kemampuannya.
    c. Kesediaan untuk mebayar
    Kesediaan untuk membayar (willingness to pay) akan berpengaruh
    terhadap kebijaksanaan pemberian kompensasi yang tinggi, namun
    belum tentu mereka mau membayar kompensasi yang memadai.
    d. Suplai dan permintaan tenaga kerja
    Banyak sedikitnya tenaga kerja di pasaran kerja akan
    mempengaruhi sistem pemberian kompensasi. Karyawan yang
    kemampuannya sangat banyak terdapat di pasaran kerja, mereka akan
    diberikan kompensasi lebih rendah daripa karyawan yang
    kemampuannya langka di pasaran kerja.
    e. Organisasi karyawan
    Dengan adanya organisasi-organisasi karyawan (serikat kerja)
    akan mempengaruhi kebijakan pemberian kompensasi. Organisasi
    karyawan ini biasanya akan memperjuangkan anggotanya untuk
    memperoleh kompensasi yang sepadan.
    f. Berbagai peraturan dan perundang-undangan
    Peraturan perundang-undangan jelas mempengaruhi sistem
    pemberian kompensasi karyawan oleh setiap organisasi, baik pemerintah
    maupun swasta.
    Sedangkan Sedarmayanti (2008:239) mengatakan, secara umum,
    tujuan pengelolaan kompensasi adalah membantu organisasi mencapai
    keberhasilan strategis dan menjamin hak internal dan eksternal secara adil.
    Keadilan internal menjamin bahwa posisi yang lebih banyak persyaratannya
    atau orang yang lebih cakap/mampu di dalam organisasi diberi kompensasi
    lebih tinggi. Sedangkan keadilan eksternal, menjamin bahwa pekerja diberi
    imbalan yang wajar, sebanding dengan pekerjaan serupa di pasar kerja.
    Berdasarkan berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa
    tujuan utama organisasi merancang sistem kompensasi adalah untuk
    memotivasi pegawi dalam rangka meningkatkan kinerja serta sebagai usaha
    untuk mempertahankan pegawai yang kompeten. Program kompensasi bagi
    suatu organisasi merupakan hal yang penting karena mencerminkan upaya
    organisasi untuk mempertahankan sumber daya manusianya. Disamping itu,
    kompensasi (dalam bentuk pengupahan dan balas jasa lainnya) sering
    merupakan komponen-komponen biaya yang paling besar dan penting.

    Gaya Kepemimpinan


    Selanjutnya untuk memahami lebih luas mengenai kepemimpinan,
    terlebih dahulu kita akan mengenali gaya-gaya seorang pemimpin dalam
    memimpin organisasinya. Gaya kepemimpinan yang harus diterapkan pada
    individu atau kelompok tergantung pada tingkat kematangan dari orang-orang
    yang akan dipengaruhi pemimpin. Menurut Siagian (2003:16), terdapat dua
    pandangan mengenai konsistensi gaya kepemimpinan, yaitu:
    a. Pendapat yang mengatakan bahwa gaya kepemimpinan seseorang tidak
    berubah menghadapi situasi yang bagaimanapun; sedangkan
    b. Pendapat lain mengatakan bahwa gaya kepemimpinan seseorang sangat
    bersifat situasional.
    Pandangan yang mengatakan bahwa kepemimpinan seseorang bersifat
    situasional memiliki makna bahwa tidak ada pemimpin yang secara konsisten
    menggunakan satu gaya kepemimpinan tertentu dalam memimpin organisasi.
    Artinya, efektivitas kepemimpinan sangat tergantung pada kemampuannya
    dengan situasi tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, Siagian pun mengatakan
    (2003:17), bahwa teori yang sangat dominan tentang kepemimpinan yang
    situasinal, yang dikenal juga dengan istilah “contingency theory”.
    Kepemimpinan yang situasional berarti sekaligus memperhitungkan faktor
    kondisi, waktu dan ruang yang turut berperan dalam penentuan pemilihan gaya
    kepemimpinan yang paling tepat.
    Menurut Wahjosumidjo (1987:99-100), teori kepemimpinan model
    kontingensi yang dikembangkan oleh Fiedler, dan dikembengkan lebih lanjut
    oleh Paul Hersey dan Kenneth Blanchard, bahwa gaya kepemimpinan yang
    paling efektif adalah kepemimpinan yang disesuaikan dengan tingkat
    kemantapan usia atau emosi (age or emotional stability). Oleh sebab itu, dalam
    kepemimpinan situasional penting bagi setiap pemimpin untuk mendioknosa
    dengan baik tentang situasi. Sehingga, pemimpin yang baik menurut teori ini,
    harus mampu mengubah-ubah perilakunya sesuai dengan situasinya, dan
    mampu memperlakukan bawahan sesuai dengan kebutuhan dan motif yang
    berbeda-beda.
    Jadi, berdasarkan teori kepemimpinan situasional, semua variabel
    situasi (waktu, tuntutan tugas, iklim organisasi, harapan dan kemampuan
    atasan, teman sejawat,dan bawahan) adalah sangat penting yaitu tingkah laku
    pemimpin dalam hubungannya dengan para bawahan:
    a. Gaya otokratis, pemimpin otokrasi merasa mengetahui apa yang diinginkan
    dan cenderung mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan itu sebagai perintah
    langsung kepada para karyawannya;
    b. Gaya partisipatif atau demokrasi, pemimpin denan gaya ini cenderung
    mengasumsikan bahwa para anggota individu dari suatu kelompok yang
    ambil bagian secara pribadi dalam proses pengambilan keputusan lebih
    mungkinkan, sehingga mempunyai komitmen yang lebih besar pada sasaran
    dan tujuan organisasi;
    c. Gaya kendali bebas, pendekatan kendali bebas atau laissez faire, tidak berarti
    tidk ada sama sekali pemimpin, ini hanya berarti tidak adanya pimpinan
    langsung, pemimpin kendali bebas harus bekerja melalui tujuan organisasi.
    Dengan pendekatan ini, tugas-tugas yang diberikan kepada para anggota yang
    biasanya menetukan teknik-teknik mereka sendiri guna mencapai apa yang
    menjadi tujuan organisasi.
    Setelah kita memahami gaya kepemimpinan sebagaiman diuraikan di
    atas, perlu diketahui pula tipe-tipe pemimpin. Gaya kepemimpinan seseorang
    akan identik dengan tipe kepemimpinannya. Artinya, tipe dan gaya dapat
    dipandang sebagai sinonim seperti pendapat Siagian (2003:31) yang membagi
    beberapa tipe kepemimpinan sebagai berikut:
    a. Tipe yang Otokratik, yaitu pemimpin yang bersifat egois yang cenderung
    memberlakukan bawahan seperti peralatan atau mesin, mengabaikan peran
    bawahan dalam mengambil suatu keputusan, dan memiliki orientasi
    terhadap pelaksanaan/penyelesaian tugas tanpa memperhatikan kebutuhan
    para bawahannya;
    b. Tipe yang Paternalistik, yaitu kepemimpinan yang mengutamakan
    kebersamaan dengan sikap kebapakan yang menyebabkan hubungan dengan
    bawahan lebih bersifat informal;
    c. Tipe yang Kharismatik, yaitu pemimpin yang memiliki daya tarik yang
    sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya
    sangat besar;
    d. Tipe yang Laissez Faire, yaitu pemimpin yang cenderung memilih peranan
    yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan dengan temponya sendiri
    tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi harus berjalan dan
    bergerak;
    e. Tipe yang Demokraktik, yaitu pemimpin yang memposisikan dirinya
    sebagai koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen
    organisasi, dan sangat menghargai bawahannya.

    Fungsi Kepemimpinan


    Interaksi anatara pemimpin dan bawahannya dapat dilakukan dengan
    cara partisifatif dan intruksi, dan cara berinteraksi yang dilakukan pimpinan
    sangat tergantung pada cara pandang seseorang pemimpin terhadap
    bawahannya. Dalam peranan kepemimpinan bagi peningkatan kinerja pegawai
    maka fungsi kepemimpinan mempunyai peran yang sangat pentinga. Fungsi
    tersebut menurut Nawawi (2003:46) adalah sebagai berikut:
    a. Fungsi Instruksi
    Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi satu arah. Pemimpin
    sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya
    pada orang-orang yang dipimpin. Pemimpin sebagai komunikator
    merupakan pihak yang menentukan ada (isi perintah), bagaimana (cara
    mengerjakan perintah), bilamana (waktu mulai, melaksanakan dan
    melaporkan hasilnya) dan dimana (tempat mengerjakan perintah) agar
    keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Fungsi orang yang dipimpin
    hanya sebagai melaksanakan perintah. Inisiatif tentang segala sesuatu yang
    ada kaitannya dengan perintah itu sepenuhnya merupakan fungsi pimpinan.
    Fungsi ini berarti juga keputusan yang ditetapkan pimpinan tidak
    akan ada artinya tanpa kemampuan mewujudkan atau menterjemahkannya
    menjadi instruksi atau erintah. Selanjutnya perintah tidak akan ada artinya
    jika tidak dilaksanakan. Oleh karena itu sejalan dengan pengertian
    kepemimpinan, intinya adalah kemampuan pimpinan menggerakkan orang
    lain agar melaksanakan perintah, yang bersumber dari keputusan yang telah
    ditetapkan.
    b. Fungsi Konsultatif
    Fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah, meskipun
    pelaksanaan sangat tergantung pada pihak pimpinan. Konsultasi itu dapat
    dilakukannya secara terbatas hanya dengan orang-orang tertentu saja, yang
    dinilainya mempunyai berbagai bahan informasi yang diperlukannya dalam
    menetapkan keputusan.
    Dengan menjalankan fungsi konsultatif dapat diharapkan keputusankeputusan pimpinan, akan mendapat dukungan dan lebih mudah
    menginstruksikannya sehingga kepemimpinan berlangsung efektif. Fungsi
    konsultatii ini mengharuskan pemimpin belajar menjadi pendengar yang
    baik, yang biasanya tidak mudah melaksanakannya, mengingat pemimpin
    libih banyak menjalankan peran sebagai pihak yang didengarkan.
    c. Fungsi Partisipatif
    Fungsi ini tidak sekedar berlangsung dan bersifat dua arah, tetapi
    juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang efektif, antara
    pemimpin dengan dan sesama orang yang dipimpin. Dalam menjalankan
    fungsi ini pemimpin berusaha mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya,
    baik dalam keikutsertaan mengambil keputusan maupun dalam
    melaksanaknnya. Setiap anggota kelompoknya memperoleh kesempatan
    yang sama untuk berpartisipasi dalam melaksanakan kegiatan yang
    dijabarkan dari tugas-tugas pokok, sesuai dengan posisi dan jabatan masingmasing. Partisipasi tidak berarti bebas berbuat semaunya, tetapi dilakukan
    secara terkendal dan terarah berupa kerja sama dengan tidak mencampuri
    atau mengambil tugas pokok orang lain.
    d. Fungsi Delegatif
    Fungsi ini dilakukan dengan memberikan pelimpahan wewenang
    membuat atau menetapkan keputusan, baik melalui persetujuan maupun
    tanpa persetujuan pimpinan. Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilahmilah tugas pokok organisasinya mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat
    dilimpahkan pada orang-orang yang dipercayainya. Fungsi delegasi pada
    dasarnya berarti keprcayaan. Pemimpin harus bersedia dan dapat
    mempercayai orang-orang lain, sesuai dengan posisi/jabatannya, apabila
    diberi/mendapat pelimpahan wewenang. Sedangkan penerima delegasi
    harus mampu memelihara kepercayaan itu, dengan melaksanakannya secara
    bertanggung jawab.
    Fungsi pendelegasian harus diwujudkan seorang pemimpin karena
    kemajuan dan perkembangan kelompok atau organisasinya tidak mungkin
    diwujudkannya sendiri. Oleh karena itu sebagian wewenangnya perlu
    didelegasikan pada para pembantunya, agar dapat dilaksanakan secara
    efektif dan efisien.
    e. Fungsi Pengendalian
    Fungsi ini cenderung bersifat komunikasi satu arah, meskipun tidak
    mustahil untuk dilakukan dengan cara komunikasi dua arah. Fungsi
    pengendalian yang dimaksud bahwa pemimpin yang sukses/efektif mampu
    mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinasi yang
    efektif, sehingga memungkinkan tercapainya tujuan bersama secara
    maksimal. Dalam keiatan tersebut pemimpin harus aktif, namun tidak
    mustahil untuk dilakukan dengan mengikutsertakan anggota
    kelompok/organisasi. Fungsi pengendalian selanjutnya dapat dilaksanakan
    melalui kegiatan pengawasan terhadap pelaksanaan volume dan beban kerja
    atau perintah pimpinan.

    Pengertian Kepemimpinan


    Kepemimpinan merupakan faktor utama dalam kehidupan suatu
    organisasi, karena diharapkan mampu memecahkan permasalahan yang
    timbul. Pemimpin merupakan unsur esensial dari kepemimpinan, tanpa
    pemimpin tidak ada kepemimpinan. Peranan pemimpin yang dominan itu
    tampak lebih jelas lagi apabila dikaitkan dengan keharusan berintekrasi
    dengan lingkungannya yang selalu berubah dan berkembang, antara lain
    karena kemajuan peast yang terjadi di bidang ilmu pengetahuan dan
    teknologi.
    Kartini Kartono (2008:14)
    Keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang ingin diraih
    bergantung kepada kepemimpinannya, yaitu apakah kepemimpinan itu
    mampu menggerakkan semua sumber daya manusia, sumber daya
    alam, sarana, dana, dan waktu secara efekti-efisien serta dalam proses
    manajemen. Karena itu, kepemimpinan merupakan inti dari
    organisasi, manajemen, dan administrasi.
    Kepemimpinan dapat diartikan sebagai proses mempengaruhi aktifitas
    seseorang atau sekelompok orong untuk mencapai tujuan dalam situasi
    tertentu. (Hersey & Blanchard, 1995:99). Sejalan dengan hal tersebut, Terry
    dalam Hersey & Blanchard (1997:98) menyatakan kepemimpinan sebagai
    aktivitas mempengaruhi orang-orang untuk berusaha mencapai tujuan
    kelompok secara sukarela.
    Sementara Siagian (1995:24), mengartikan kepemimpinan sebagai
    kemampuan dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan sebagai
    pemimpin satuan kerja untuk mempengaruhi perilaku orang lain terutama
    bawahannya, untuk berfikir ia memberikan sumbangsih nyata dalam
    pencapaian tujuan organisasi.
    Pemimpin pada hakekatnya adalah seseorang yang mempunyai
    kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, artinya kepemimpinan
    terjadi jika ada pemimpin mempengaruhi pengikutnya. Sedangkan
    kepemimpinan adalah suatu proses interaksi sosial diantara sosok yang
    berperan sebagai pemimpin yang mampu mempengaruhi orang lain yang
    berkedudukan sebagai pengikut atau pihak yang dipimpin untuk melakukan
    sesuatu dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Kepemimpinan didefinisikan
    sebagai kemauan untuk mempengaruhi sesuatu kelompok ke arah pencapaian
    tujuan.
    Menurut Yulk (1987) seperti dikutip oleh Usman (2008:273), beberapa
    definisi yang dianggap cukup mewakili selama seperampat abad adalah
    sebagai berikut:

    Para pemimpin adalah mereka yang secara konsisten meberikan
    kontribusi yang afektif terhadap orde sosial, serta yang diharapkan dan
    dipersiapkan melakukannya.

    Kepemimpinan adalah perilaku dari seseorang individu yang memimpin
    aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai
    bersama (shared goald);

    Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu
    situasi sistem tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi kearah
    pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu;

    Kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur
    dalam harapan dan intekrasi;

    Kepemimpinan adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit, pada
    dan beberapa di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan
    rutin organisasi;

    Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah
    kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan;

    Kepemimpinan adalah sebuah proses memberikan arti (pengarahan yang
    berarti) terhadap usaha kolektif, dan yang mengakibatkan kesediaan untuk
    melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran;

    Indikator Kinerja


    Menurut (Afandi, 2018:89) indikator-indikator kinerja pegawai adalah sebagai berikut :
    a) Kuantitas hasil kerja
    Segala macam bentuk satuan ukuran yang berhubungan dengan jumlah hasil kerja
    yang bisa dinyatakan dalam ukuran angka atau padanan angka lainnya.
    b) Kualitas hasil kerja
    Segala macam bentuk satuan ukuran yang berhubungan dengan kualitas atau mutu
    hasil kerja yang dapat dinyatakan dalam ukuran angka atau padanan angka lainnya.
    c) Efesiensi dalam melaksanakan tugas
    Berbagai sumber daya secara bijaksana dan dengan cara yang hemat biaya.
    d) Inisiatif
    Kemampuan untuk memutuskan dan melakukan sesuatu yang benar tanpa harus
    diberi tahu, mampu menemukan apa yang seharusnya dikerjakan terhadap sesuatu
    yang ada di sekitar, berusaha untuk terus bergerak untuk melakukan beberapa hal
    walau keadaan terasa semakin sulit.
    e) Ketelitian
    Tingkat kesesuaian hasil pengukuran kerja apakah kerja itu udah mencapai tujuan
    apa belum.

    Faktor-Faktor Penilaian Kinerja


    Menurut (Mangkunegara, 2015:67) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah :
    a. Faktor kemampuan Secara psikologis kemampuan dan kemampuan reality artinya
    pegawai dengan IQ di atas rata-rata (110-120) dengan pendidikan yang memadai
    untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, maka akan
    lebih mudah mencapai kinerja diharapkan. Oleh karena itu pegawai perlu
    ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
    b. Faktor motivasi Motivasi berbentuk sikap seorang pegawai dalam menghadapi
    situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah
    untuk mencapai tujuan kerja

    Pengertian Kinerja Karyawan


    Menurut (Afandi, 2018:83) Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang
    atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab
    masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan organisasi secara illegal, tidak melanggar
    hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan etika. Sedangkan menurut (Kasmir,
    2016:182) menyebutkan: “Kinerja merupakan hasil kerja dan perilaku kerja yang telah
    dicapai dalam menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu
    periode tertentu. Kinerja merupakan gambaran prestasi yang dicapai perusahaan dalam
    kegiatan operasionalnya baik menyangkut aspek pemasaran, aspek penghimpunan dana dan
    penyaluran dana, aspek teknologi, maupun aspek sumber daya manusianya (Jumingan,
    2016:239).

    Jenis-jenis Komitmen Organisasi


    Adapun Beberapa jenis Komitmen Organisasional (Robbins Dan Judge, 2008), Yaitu:
    a. Komitmen Afektif
    Komitmen afektif memiliki perasaan emosional untuk organisasi dan
    keyakinan dalam nilai-nilainya. Seseorang yang memiliki komitmen afektif
    menunjukkan tingkat dimana tujuan individu dan nilai menyatu dengan organisasi
    yang diperkirakan secara langsung mempengaruhi keinginan individu untuk tetap
    tinggal dalam organisasi, sehingga karyawan yang masih bergabung dengan
    organisasi karena memiliki keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi
    dapat dikatakan memiliki afektif yang tinggi. Komitmen afektif berkaitan dengan:

    1. Emosional Komitmen afektif menyatakan bahwa organisasi akan membuat
      karyawan memiliki keyakinan yang kuat untuk mengikuti segala nilai-nilai
      organisasi, dan berusaha unutk mewujudkan tujuan organisasi sebagai
      prioritas utama.
    2. Identifikasi Komitmen afektif muncul karena kebutuhan, dan memandang
      bahwa komitmen terjadi karena adanya ketergantungan terhadap aktivitasaktivitas yang telah dilakukan dalam organisasi pada masa lalu dan hal ini
      tidak dapat ditinggalkan karena akan merugikan.
    3. Keterlibatan karyawan dalam organisasional
      b. Komitmen Continuance
      Seseorang yang memiliki komitmen continuance akan bertahan apabila merasa
      adanya nilai ekonomi ketika bertahan di organisasi bila dibandingkan dengan
      meninggalkan organisasi tersebut. Sehingga, seorang karyawan akan
      berkomitmen pada organisasi apabila adanya kompensasi yang tinggi dan
      apabila mengundurkan diri akan menghancurkan keluarganya. Karyawan
      dengan dasar organisasional tersebut disebabkan karena karyawan tersebut
      membutuhkan organisasi.
    4. Kerugian bila meninggalkan organisasi Komitmen berkelanjutan merujuk pada
      kekuatan kecenderungan seseorang untuk tetap bekerja di suatu organisasi
      karena tidak ada alternatif lain. Komitmen berkelanjutan yang tinggi meliputi
      waktu dan usaha yang dilakukan dalam mendapatkan keterampilan yang tidak
      dapat ditransfer dan hilangnya manfaat yang menarik atau hak-hak istimewa
      sebagai senior.
    5. Karyawan membutuhkan organisasi karyawan yang tetap bekerja dalam
      organisasi karena karyawan mengakumulasikan manfaat yang lebih yang akan
      mencegah karyawan mencari pekerjaan lain.
      c. Komitmen Normatif
      Seseorang yang memiliki komitmen normatif merasa mempunyai
      kewajiban untuk bertahan dalam organisasi karena alasan moral atau etis.
      omponen normatif berkembang sebagai hasil dari pengalaman sosialisasi,
      tergantung dari sejauh apa perasaan kewajiban yang dimiliki karyawan.
    6. Kesetiaan yang harus diberikan karena pengaruh orang lain Komitmen yang
      terjadi apabila karyawan terus bekerja untuk organisasi disebabkan oleh
      tekanan dari pihak lain untuk terus bekerja dalam organisasi tersebut.
      Karyawan yang mempunyai tahap komitmen normatif yang tinggi sangat
      mementingkan pandangan orang lain terhadap dirinya jika karyawan
      meninggalkan organisasi
    7. Kewajiban yang harus diberikan kepada organisasi
      komitmen ini mengacu kepada refleksi perasaan akan kewajibanya untuk
      menjadi karyawan perusahaan. Karyawan dengan komitmen normatif yang
      tinggi merasa bahwa karyawan tersebut memang seharusnya tetap bekerja pada
      organisasi tempat bekerja sekarang. Dengan kata lain komitmen yang ada dalam
      diri karyawan desebabkan oleh kewajiban-kewajiban pekerjaan karyawan
      terhadap organisasi. (Dwiarta, 2010, p.27)

    Indikator Komitmen Organisasi


    (Kaswan, 2015:127), ada empat indikator perilaku umum dari komitmen organisasi,
    yaitu:
    1.Ada kerelaan untuk membantu kolega menyelesaikan tugas-tugas organisasi.

    1. Menyatukan aktivitas dan prioritas yang dimiliki untuk mencapai tujuan-tujuan
      organisasi yang lebih besar.
    2. Memahami kebutuhan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang lebih besar.
    3. Memilih kebutuhan-kebutuhan organisasi yang pantas daripada mengikuti beberapa
      minat profesional.
    4. keinginan untuk bekerja keras

    Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi


    Faktor Faktor yang mempengaruhi Komitmen Organisasi (Steers dan Porters, 2015)
    berpendapat bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi komitmen
    karyawan pada organisasi. Faktor- faktor tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat
    kategori, yaitu:
    1) Karakteristik pribadi yang berkaitan dengan usia dan masa kerja, tingkat pendidikan,
    status perkawinan, dan jenis kelamin.
    2) Karakteristik pekerjaan yang berkaitan dengan peran, self employment, otonomi, jam
    kerja, tantangan dalam pekerjaan, serta tingkat kesulitan dalam pekerjaan.
    3) Pengalaman kerja dipandang sebagai suatu kekuatan sosialisasi utama yang
    mempunyai pengaruh penting dalam pembentukan ikatan psikologi dengan
    organisasi.
    4) Karakteristik struktural yang meliputi kemajuan karier dan peluang promosi, besar
    atau kecilnya organisasi, dan tingkat pengendalian yang dilakukan organisasi
    terhadap karyawan.

    Pengertian Komitmen Organisasi


    Menurut (Luthans, 2012:249), komitmen organisasi ialah kemauan karyawan untuk tetap
    menjadi anggota atau bagian dalam organisasi perusahaan itu sendiri, dan keinginan berkarir
    dalam mengeksplorisasi kemampuan untuk mencapai tujuan perusahaan. (Robbins dan
    Judge, 2011) mendefinisikan Komitmen Organisasi sebagai suatu keadaan karyawan
    memihak kepada perusahaan tertentu dan tujuan tujuannya, serta berniat memelihara
    keanggotaannya dalam perusahaan itu. Dengan kata lain, komitmen organisasional
    berkaitan dengan keinginan karyawan yang tinggi untuk berbagi dan berkorban bagi
    perusahaan.Komitmen organisasi adalah hal yang berharga untuk seluruh organisasi, dan
    bukan hanya untuk pekerjaan, maupun kelompok kerja. Komitmen karyawan sendiri
    bersifat relatif dari individu dalam mengidentifikasikan keterlibatan dirinya ke dalam bagian
    organisasi itu sendiri (Lambert, 2015)

    Teori-teori Motivasi

    1. Teori Hierarki Kebutuhan Manusia Menurut Maslow
      Maslow menganggap bahwa kebutuhan yang paling rendah harus dipenuhi dahulu
      baru kemudian kebutuhan menengah hingga yang paling tinggi. Teori motivasi
      menurut abraham maslow motivasi perkembangan ini berdasarkan pada kapasitas
      manusia untuk tumbuh dan berkembang. Sedangkan motivasi kekurangan bertujuan
      untuk mengatasi kekurangan kebutuhan manusia. Berikut hierarki kebutuhan manusia
      menurut Maslow.
      a. Kebutuhan Fisioligis
      Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling dasar bagi manusia dan
      berhubungan dengan kebutuhan fisik. Contohnya, kebutuhan makan, minum, bernapas,
      tidur dan yang berkaitan dengan kebutuhan fisik lainnya. Kebutuhan fisiologis harus
      terpenuhi terlebih dahulu. Jika sudah terpenuhi maka akan melakukan pemenuhan
      kebutuhan selanjutnya. Jika manusia lapar dan kemudian makan dan setelah kenyang
      barulah manusia bisa melakukan aktivitas lainnya.
      b. Kebutuhan Rasa Aman dan Perlindungan
      Setelah kebutuhan fisiologis terpenuhi maka selanjutnya pemenuhan kebutuhan rasa
      aman dan terlindungi. Rasa aman dari teror, penyakit, cemas, takut, bencana alam.
      Menurut Maslow orang-orang yang tidak merasa aman memiliki tingkah laku berbeda.
      Mereka akan bertingkah laku seperti ketakutan yang berlebihan atau seolah-olah ada
      ancaman besar yang menghantuinya.
      c. Kebutuhan Sosialisasi
      Kebutuhan sosial merupakan kebutuhan yang menempati posisi ketiga dari hierarki
      Maslow. Kebutuhan sosial ini meliputi kebutuhan kasih sayang, rasa memiliki,
      bersosialisasi, penerimaan dan persahabatan. Manusia sejati artinya mahkluk sosial,
      tidak mengherankan jika manusia membutuhkan sosialisasi dalam menjalani hidupnya.
      d. Kebutuhan Akan Harga Diri atau Penghargaan
      Menurut Maslow kebutuhan akan penghargaan ini terbagi menjadi dua tingkatan.
      Pertama tingkatan rendah yaitu kebutuhan untuk menghormati orang lain, kebutuhan
      akan ketenaran, status, reputasi, apresiasi, martabat. Kedua yaitu kebutuhan tingkat
      tinggi, seperti kebutuhan harga diri seperti keyakinan, kompetensi, prestasi, perasaan,
      kemandirian dan kebebasan. Apabila kebutuhan ini sudah terpenuhi maka kemudian
      akan memenuhi kebutuhan tingkat selanjutnya.
      e. Kebutuhan Akan Aktualisasi Diri
      Kebutuhan akan aktualisasi diri merupakan tingkatan kebutuhan paling tinggi.
      Kebutuhan ini yaitu adanya keinginan terus menerus untuk mencapai keterampilan atau
      potensi diri. Menurut Maslow manusia akan melibatkan diri untuk mengasah dan
      mengembangkan potensinya sesuai dengan minatnya.

    Indikator Motivasi Kerja


    Menurut (Siagian 2008:138), terdapat 5 indikator motivasi kerja yang terdiri dari :
    a) Daya Pendorong
    Daya pendorong adalah semacam naluri, yang berupa suatu dorongan kekuatan untuk
    menggerakkan seseorang dalam berperilaku guna mencapai tujuan. Namun, cara-cara
    yang digunakan berbeda-beda dari tiap-tiap individu menurut latar belakang
    kebudayaannya masing-masing.
    b) Kemauan
    Kemauan adalahdorongan untuk melakukan sesuatu karena terstimulasi/terpengaruh dari
    luar (orang lain atau lingkungan). Kemauan mengindikasikan adanya reaksi tertentu
    sebagai akibat adanya tawaran dari orang lain.
    c) Kerelaan
    Kerelaan adalah suatu bentuk persetujuan atas permintaan orang lain agar dirinya
    mengabulkan permintaan tersebut tanpa merasa adanya keterpaksaan (ikhlas).
    d) Membentuk Keahlian
    Membentuk keahlian adalah proses penciptaan atau pembetukkan, proses mengubah
    kemahiran seseorang dalam suatu bidang ilmu tertentu.
    e) Membentuk Keterampilan
    Keterampilan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan pola-pola tingkah laku
    yang kompleks dan tersusun rapi secara mulus dan sesuai dengan keadaan untuk
    mencapai hasil/prestasi tertentu. Membentuk keterampilan bukan hanya mencakup
    gerakan motoriknya saja, melainkan juga pada penguasaan fungsi mental yang bersifat
    kognitif

    Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi


    Menurut (Siagian 2010:294) terdapat dua faktor yang mempengaruhi motivasi sebagai
    berikut:
    a) Faktor di dalam diri individu

    1. Persepsi seseorang mengenai diri sendiri
    2. Harga diri
    3. Harapan pribadi
    4. Kebutuhan
    5. Keinginan
    6. Kepuasan kerja
    7. Prestasi kerja yang dihasilkan
      b) Faktor di luar diri individu
    8. Jenis dan sifat pekerjaan
    9. Kelompok kerja dimana seseorang bergabung
    10. Organisasi tempat orang bekerja
    11. Situasi lingkungan kerja

    Tujuan Motivasi


    Menurut (Hasibuan, 2010:97) motivasi memiliki tujuan sebagai berikut:

    1. Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan
    2. Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
    3. Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
    4. Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan
    5. Meningkatkan kedisiplinan dan menurunkan tingkat absensi karyawan
    6. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
    7. Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan
    8. Meningkatkan tingkat kesejahteraan karyawan
    9. Mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya
    10. Meningkatkan efisiensi penggunaan alat-alat dan bahan baku
    11. Meningkatkan kinerja karyawan.

    Pengertian Motivasi


    (Rivai dan Sagala, 2010:837) motivasi adalah serangkaian sikap dan nilai-nilai yang
    mempengaruhi individu untuk mencapai hal yang spesifik sesuai dengan tujuan individu.
    (Mangkunegara, 2005:61) menyatakan bahwa motivasi terbentuk dari sikap karyawan dalam
    menghadapi situasi kerja di perusahaan. Motivasi merupakan kondisi atau energi yang
    menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju untuk mencapai tujuan organisasi
    perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan positif terhadap situasi kerja itulah yang
    memperkuat motivasi kerjanya untuk mencapai kinerja maksimal. (Robbins, 2006:241)
    mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan untuk melakukan sebagai kesediaan untuk
    mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan-tujuan organisasi, yang dikondisikan
    oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi suatu kebutuhan individual.

    Indikator Gaya Kepemimpinan


    Indikator Gaya Kepemimpinan menurut (Irwanto, 2012) ada beberapa indikator Gaya
    kepemimpinan yaitu :

    Hubungan yang bersifat formal dan informal terhadap karyawan

    karyawan untuk mematuhi prosedur dan standar kerja.

    Melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan.

    Dapat menerima kritik dan saran.

    Peduli terhadap kehidupan pribadi karyawan.

    Fungsi-fungsi Gaya Kepemimpinan


    Menurut (Baharuddin dan Umiarso, 2012), terdapat lima fungsi pokok gaya
    kepemimpinan, sebagai berikut:
    a. Fungsi Instruktif
    Pemimpin sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaannya
    pada orang-orang yang dipimpin. Pemimpin sebagai komunikator merupakan pihak
    yang menentukan apa (isi perintah), bagaimana (cara mengerjakan perintah), kapan
    (waktu memulai, melaksanakan, dan melaporkan hasilnya), dan di mana (tempat
    mengerjakan perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif.
    b. Fungsi Konsultatif
    Pemimpin kerap kali memerlukan bahan pertimbangan yang mengharuskannya
    berkonsultasi dengan orang-orang yang dipimpinnya. Konsultasi dapat pula
    dilakukan melalui arus sebaliknya, yakni dari orang-orang yang dipimpin kepada
    pemimpin yang menetapkan keputusan dan memerintahkan pelaksanaannya. Hal ini
    berarti fungsi ini berlangsung dan bersifat komunikasi dua arah, meskipun
    pelaksanaannya sangat tergantung pada pihak pemimpin.
    c. Fungsi Partisipatif
    Fungsi ini berarti kesediaan pemimpin untuk tidak berpangku tangan pada saat-saat
    orang yang dipimpin melaksanakan keputusannya. Pemimpin tidak boleh sekedar
    mampu membuat keputusan dan memerintahkan pelaksanaannya, tetapi juga ikut
    dalam proses pelaksanaannya, dalam batas-batas tidak menggeser dan mengganti
    petugas yang bertanggung jawab melaksanakannya.
    d. Fungsi Delegatif
    Fungsi ini mengharuskan pemimpin memilah-milah tugas pokok organisasinya dan
    mengevaluasi yang dapat dan tidak dapat dilimpahkan kepada orang-orang yang
    dipercayainya. Fungsi delegasi pada dasarnya berarti kepercayaan. Pemimpin harus
    bersedia dan dapat mempercayai orang lain sesuai dengan posisi/jabatannya.
    e. Fungsi Pengendalian
    Pemimpin mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam
    koordinasi

    Unsur-unsur Gaya Kepemimpinan


    Menurut (Vietzal, 2013), terdapat unsur gaya kepemimpinan sebagai berikut:

    1. Pengaruh. Seorang pemimpin adalah seorang yang memiliki orang-orang yang
      mendukungnya yang turut membesarkan nama sang pimpinan. Pengaruh itu
      menjadikan sang pemimpin diikuti dan membuat orang ain tunduk pada apa yang
      dikatakan sang pemimpin.
    2. Kekuasaan/power. Seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain karena ia
      memiliki kekuasaan yang membuat orang lain menghargai keberadaannya. Tanpa
      kekuasaan atau kekuatan yang dimiliki sang pemimpin tentunya tidak ada orang yang
      mau menjadi pendukungnya. Kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki seorang pemimpin
      ini menjadikan orang lain akan tergantung pada apa yang dimiliki seorang pemimpin,
      tanpa itu ia tidak akan bisa berbuat apa-apa. Hubungan ini menjadikan hubungan yang
      bersifat simbiosis mutualisme, dimana kedua belah pihak merasa saling diuntungkan.
    3. Wewenang. Wewenang adalah hak yang diberikan kepada pemimpin untuk
      menetapkan sebuah keputusan dalam melaksanakan suatu hal/kebijakan. Wewenang
      disini juga dapat dialihkan kepada karyawan oleh pimpinan apabila pemimpin percaya
      bahwa karyawan tersebut mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan
      baik, sehingga karyawan diberi kepercayaan untuk melaksanakan tanpa perlu campur
      tangan dari segi sang pemimpin.
      Pengikut. Seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaan dan wewenang tidak
      dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila dia tidak memiliki pengikut yang berada di
      belakangnya yang memberi dukungan mengikuti apa yang dikatakan pemimpin.

    Pengertian Gaya Kepemimpinan


    (Baharudin dan Umiarso, 2012) mengemukakan gaya kepemimpinan adalah suatu
    kegiatan mempengaruhi orang lain agar orang tersebut mau bekerja sama (mengolaborasi dan
    mengolaborasikan potensinya) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Gaya
    kepemimpinan adalah perilaku di mana seseorang dapat memberikan motivasi kepada orang
    lain agar mau bekerja keras untuk mencapai tujuan sebuah perusahaan atau organisasi.
    Kepemimpinan merupakan jenis kemampuan yang dimiliki seseorang untuk dapat
    mempengaruhi orang lain agar mau bekerja keras untuk mencapai tujuan tertentu.
    Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang
    lain agar mau bekerja mencapai tujuan dan saran (Hasibuan dan Sudjiman, 2009).
    Berhasil ataupun tidaknya seorang pemimpin memberikan motivasi kepada sumber
    daya manusia (SDM) untuk meningkatkan efektivitas kinerja yang dicapai perusahaan
    bergantung pada besar kecilnya perhatian yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan yang memberikan semangat dan doronganya bagi bawahan agar menjadi lebih bergairah dalam melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan tujuan yang diinginkan oleh perusahaan
    (Sudarmayanti,2007; Fuad et al., 2017).

    Pengertian Kepemimpinan


    Kepemimpinan memegang peranan yang sangat penting dalam manajemen
    organisasi. Kepemimpinan dibutuhkan manusia karena adanya keterbatasan- keterbatasan
    tertentu pada diri manusia. Faktor kepemimpinan memegang peranan yang penting karena
    pemimpin itulah yang menggerakan dan mengarahkan organisasi dalam mencapai tujuan.
    Kepemimpinan didefinisikan ke dalam ciri-ciri individual, kebiasaan, cara
    mempengaruhi orang lain, interaksi, kedudukan dalam organisasi dan persepsi mengenai
    pengaruh yang sah. Menurut Daft dalam Zahratulfarhah, dkk (2022:120) kepemimpinan
    dan pengaruh adalah hubungan antara pemimpin dan pengikut yang menginginkan
    perubahan nyata dan hasil yang mencerminkan tujuan bersama mereka. Artinya,
    kepemimpinan adalah upaya untuk mempengaruhi hubungan antara pemimpin dan
    pengikut yang menginginkan perubahan dan hasil nyata yang mencerminkan tujuan
    bersama mereka. Yulk dalam Zahratulfarhah, dkk (2022:120) menyatakan bahwa
    kepemimpinan adalah proses di mana orang lain memahami dan menyetujui apa yang
    perlu dilakukan dan bagaimana melakukan tugas secara efektif, serta proses yang
    memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama.
    Menurut George R. Terry dalam Nadila (2022) menjelaskan “kepemimpinan
    adalah keseluruhan aktivitas atau kegiatan orang lain untuk mempengaruhi kemauan
    orang lain untuk mencapai tujuan bersama”. Definisi kepemimpinan secara luas adalah
    meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku
    pengikut untuk mencapai tujuan, mempengaruhi interpretasi mengenai peristiwa peristiwa
    para pengikutnya, memelihara hubungan kerjasama dan kerja kelompok, perolehan
    dukungan dan kerjasama dari orang-orang di luar kelompok atau organisasi. Dari definisidefinisi di atas, terlihat bahwa kepemimpinan adalah bagian penting dari manajemen,
    dimana seorang pemimpin harus dapat menciptakan integrasi yang serasi dengan para
    bawahannya juga termasuk dalam membina kerjasama, mengarahkan dan mendorong
    gairah kerja para bawahan, mempengaruhi, dan memberikan sikap serta perilaku individu
    dan kelompok, sehingga membentuk gaya kepemimpinan yang pimpinan tetapkan

    Manajemen Sumber Daya Manusia


    Manajemen sumber daya manusia (MSDM) adalah proses menangani berbagai
    masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai, buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya
    untuk dapat menunjang aktivitas organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang
    telah ditentukan. Oleh karena itu, Manajer harus menjamin bahwa perusahaan atau suatu
    organisasi memiliki tenaga kerja yang tepat di tempat yang tepat dan pada saat yang tepat,
    yang memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang akan menolong
    perusahaan tersebut mencapai sasaran sasaran secara keseluruhan secara efektif dan
    efisien (Nadila, 2022:8 ).
    Menurut Sunyoto dalam Neneng (2022:17) menyatakan bahwa sumber daya
    manusia adalah potensi manusiawi yang melekat keberadaannya pada seseorang yang
    meliputi potensi fisik dan non-fisik. Potensi fisik adalah kemampuan fisik yang
    terakumulasi pada seorang pegawai, sedangkan potensi non-fisik adalah kemampuan
    seorang pegawai yang terakumulasi baik dari latar belakang pengetahuan, intelegensia,
    keahlian, keterampilan, human relation. Terry & Leslie dalam Wiguna (2022) kegiatan
    pengelolaan sumber daya manusia di dalam suatu organisasi dapat diklasifikasikan ke
    dalam beberapa fungsi, yaitu:
    1) Fungsi Perencanaan (Planning)
    Merupakan fungsi penetapan program-program pengelolaan sumber daya manusia
    yang akan membantu pencapaian tujuan perusahaan.
    2) Fungsi Pengorganisasian (Organizing)
    Merupakan fungsi penyusunan dan pembentukan suatu organisasi dengan mendesain
    struktur dan hubungan antar para pekerja dan tugas – tugas yang harus dikerjakan,
    termasuk menetapkan pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab.
    3) Fungsi Pengarahan (Directing)
    Merupakan fungsi pemberian dorongan pada para pekerja agar dapat dan mampu
    bekerja secara efektif dan efisien sesuai tujuan yang telah direncanakan.
    10
    4) Fungsi Pengendalian (Controlling)
    Merupakan fungsi pengukuran, pengawasan dan pengendalian terhadap kegiatankegiatan yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana rencana yang telah
    ditetapkan, khususnya di bidang tenaga kerja telah dicapai.

    Motivasi Kerja


    Winardi (2002 : 1) mengemukakan bahwa “istilah motivasi (motivation)
    berasal dari kata latin yakni movere yang berarti menggerakkan (to move)”.
    Motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja
    seseorang agar mereka mau bekerja dengan segala daya upaya untuk mencapai
    kepuasan, Hasibuan (2007 : 95). Ishak dan Hendri (2003 : 12) mengemukaan
    bahwa “motivasi sebagai suatu hal pokok yang menjadi dorongan setiap motif
    untuk bekerja”. Motivasi sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong
    perilaku seseorang.
    Motivasi merupakan serangkaian nilai-nilai yang dapat mempengaruhi
    individu untuk mencapai hal spesifik yang sesuai dengan tujuan individu tersebut.
    Sikap dan nilai itu adalah suatu kekuatan untuk mendorong individu agar bertekad
    dalam mencapai tujuannya. Dorongan tersebut terdiri dari dua komponen, yaitu
    arah perilaku kerja (kerja untuk mencapai tujuan), dan kekuatan perilaku
    (kekuatan usaha individu dalam bekerja). Motivasi adalah cara memuaskan
    dengan memenuhi kebutuhan seorang karyawan, yang berarti bahwa ketika
    kebutuhan seseorang dipenuhi oleh faktor-faktor tertentu, orang tersebut akan
    mengerahkan upaya terbaik untuk mencapai tujuan organisasi, Robbins (2007).
    Menurut Robbins (2008 : 222) motivasi sebagai proses yang menjelaskan
    intensitas, arah, dan ketekunan seseorang individu untuk mencapai tujuan.
    Motivasi merupakan kegiatan yang mengakibatkan, menyalurkan dan
    memelihara perilaku manusia. Motivasi ini merupakan subjek yang penting bagi
    pimpinan, karena pimpinan harus bekerja dengan dan melalui orang lain.
    Pimpinan perlu memahami orang-orang yang berperilaku secara tertentu agar
    dapat mempengaruhi untuk bekerja sesuai dengan yang diinginkan perusahaan,
    (Handoko, 2005).
    Maslow yang dikutip oleh Hasibuan (2008 : 157) bahwa motivasi kerja
    pegawai dipengaruhi oleh kebutuhan fisik, kebutuhan akan keamanan dan
    keselamatan, kebutuhan sosial, kebutuhan akan penghargaan diri, dan kebutuhan
    akan perwujudan diri. Kemudian dari faktor-faktor tersebut turunlah indikator-
    indikator untuk mengetahui tingkat motivasi pada pegawai, yaitu :

    1. Kebutuhan fisik
      Ditunjukkan dengan pemberian gaji, pemberian bonus, uang makan, uang
      transport, fasilitas perumahan dan sebagainnya.
    2. Kebutuhan rasa aman dan keselamatan
      Ditunjukkan dengan fasilitas keamanan dan keselamatan kerja yang
      diantaranya jaminan sosial tenaga kerja, dana pensiun, asuransi kesehatan,
      asuransi kecelakaan, dan perlengkapan keselamatan kerja.
    3. Kebutuhan sosial
      Ditunjukkan dengan melakukan interaksi dengan orang lain yang diantaranya
      untuk diterima dikelompok dan kebutuhan untuk dicintai dan mencintai.
    4. Kebutuhan akan penghargaan
      Ditunjukkan berdasarkan kemampuannya yaitu kebutuhan untuk dihormati dan
      dihargai oleh pegawai lain dan pimpinan terhadap prestasi kerja.
    5. Kebutuhan perwujudan diri
      Ditunjukkan dengan sifat pekerjaan yang menarik dan menantang, dimana
      pegawai tersebut mengerahkan kemampuan, kecakapan, keterampilan, dan
      potensinya. Dalam pemenuhan kebutuhan ini dapat dilakukan oleh perusahaan
      dengan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan

    Kepemimpinan


    Pemimpin pada suatu perusahaan atau organisasi merupakan salah satu unsur
    yang paling penting karena memiliki kemampuan yang dapat mempengaruhi dan
    menggerakkan manusia lainnya untuk bekerja guna mencapai suatu tujuan.
    Kepemimpinan merupakan suatu proses dimana seorang pemimpin dapat
    mempengaruhi sikap dan perilaku anggotanya untuk mencapai tujuan yang telah
    ditetapkan. Suatu perusahaan atau organisasi yang berhasil dalam mencapai tujuan
    serta mampu memenuhi tanggung jawab sosialnya akan sangat tergantung pada
    pimpinannya. Menurut Ordway Tead dalam buku Kartini Kartono (2010),
    kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang-orang agar mau bekerja
    sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
    Robbins (dalam Suwatno dan Juni Priansa, 2013:140) kepemimpinan adalah
    kemampuan untuk mempengaruhi kelompok menuju pencapaian sasaran. Menurut
    Kartono (dalam Suwatno dan Juni Priansa, 2013:140) kepemimpinan adalah
    kemampuan untuk memberikan pengaruh yang konstruktif kepada orang lain
    untuk melakukan suatu usaha kooperatif mencapai tujuan yang sudah
    direncanakan. Kepemimpinan adalah cara mengajak karyawan agar bertindak
    benar, mencapai komitmen dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan
    bersama (Sudarmanto, 2009:113).
    Kepemimpinan adalah upaya mempengaruhi banyak orang melalui
    komunikasi untuk mencapai tujuan, cara mempengaruhi orang dengan petunjuk
    atau perintah, tindakan yang menyebabkan orang lain bertindak atau merespon
    dan menimbulkan perubahan positif, kekuatan dinamis penting yang dapat
    memotivasi dan mengkoordinasikan dalam rangka mencapai tujuan, kemampuan
    untuk menciptakan rasa percaya diri dan dukungan diantara bawahan agar tujuan
    organisasional dapat tercapai.
    Dalam teori sifat mengemukakan bahwa seseorang telah memiliki sifat
    kepimpinannya akan tetapi tergantung bagaimana seseorang tersebut dapat
    mengelolanya, Mangkunegara (2013). adapun sifat – sifat tersebut dapat tumbuh
    dengan adanya pelatihan dan pendidikan. Seorang pemimpin harus mampu
    berkomitmen tinggi, pemimpin yang berkomitmen tinggi yaitu pemimpin yang
    banyak berkorban untuk terwujudnya sebuah visi misi perusahaan.
    Berdasarkan penjelasan diatas menurut Mangkunegara (2013) dan Karim
    (2010) mengenai sifat – sifat kepemimpinan, maka indikator kepemimpinan yang
    disesuaikan dengan kepemimpinan sebenarnya adalah :
    a) Kerendahan hati
    b) Kejujuran, keadilan, dan dapat dipercaya
    c) Berkomitmen
    d) Kesabaran
    e) Transparant

    Pengertian Kepemimpinan Inklusif


    Kepemimpinan inklusif (inclusive leadership) digambarkan sebagai
    pemimpin yang menunjukkan keterbukaan (openness), mudah diakses (accessible),
    dan ketersediaan (availability) dalam interaksi dengan anggota (Carmeli, Reiter-
    Palmon, & Ziv, 2010) dan merupakan kepemimpinan yang menekankan perilaku
    pemimpin partisipatif dan terbuka. Inclusive leadership barangkali terlihat mirip
    dengan konsep gaya kepemimpinan lainnya yang juga memfasilitasi openness dan
    empowerment, namun penelitian Randel et al., (2018) menunjukkan tinjauan rinci
    tentang hubungan inclusive leadership dan gaya kepemimpinan terkait
    menyimpulkan bahwa, inclusive leadership merupakan bentuk kepemimpinan yang
    berbeda karena berfokus pada memfasilitasi keunikan dan juga rasa memiliki.
    Lebih jauh Randel et al., (2018) mengatakan kepemimpinan inklusif
    (inclusive leadership) sebagai seperangkat perilaku pemimpin yang positif dan
    memfasilitasi anggota tim untuk dapat merasakan rasa memiliki, sambil
    mempertahankan keunikan mereka dalam tim karena mereka berkontribusi penuh
    pada proses dan hasil kerja tim. Pemimpin yang rendah hati (humility) dan memiliki
    kepercayaan atas keberagaman (diversity beliefs) akan meningkatkan
    kecenderungan perilaku pemimpin inklusif (Randel et al., 2018)

    Pengertian Kepemimpinan


    Hartanto, (2016) mendefinisikan kepemimpinan sebagai usaha untuk
    memengaruhi anggota kelompok agar mereka bersedia menyumbangkan
    kemampuannya lebih banyak dalam mencapai tujuan kelompok yang telah
    disepakati.
    Menurut Wahyuniardi dan Nababan, (2018) kepemimpinan merupakan
    kemampuan untuk memengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang untuk
    mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan juga merupakan
    masalah sosial yang didalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin
    dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara
    memengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengoordinasikan. Veiithzal, dkk juga
    berpendapat bahwa ada beberapa unsur pokok dalam pengertian kepemimpinan,
    antara lain :

    1. Kepemimpinan melibatkan orang lain dan adanya situasi kelompok atau
      organisasi tempat pemimpin dan anggotanya berinteraksi;
    2. Dalam kepemimpinan terjadi pembagian kekuasaan dan proses
      memengaruhi bawahan oleh pemimpin;
    3. Adanya tujuan bersama yang harus dicapai.
      Menurut Kurniawan dan Yani, (2019) kepemimpinan adalah proses dalam
      memengaruhi orang lain untuk memahami dan menyetujui apa yang dibutuhkan
      dalam melaksanakan tugas dan bagaimana melakukan tugas itu, serta proses yang
      memfasilitasi upaya individu dan kolektif guna mencapai tujuan bersama.
      Coronel, Robbins, & Judge, (2012) mendefinisikan kepemimpinan sebagai
      kemampuan untuk memengaruhi suatu kelompok menuju pencapaian sebuah visi
      atau tujuan yang ditetapkan. Sumber dari pengaruh tersebut dapat secara formal,
      seperti yang dilakukan dalam peringkat manajerial organisasi. Tetapi tidak semua
      pemimpin adalah para manajer, demikian pula tidak semua manajer adalah para
      pemimpin. Hanya karena organisasi memberikan manajer hak-hak formal tertentu,
      tidak menjadi jaminan bahwa mereka akan memimpin secara efektif. Organisasi
      membutuhkan kepemimpinan yang kuat dan manajemen yang kuat untuk
      efektivitas yang optimal.
      Dari pengertian-pengertian tersebut di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
      kepemimpinan adalah kemampuan dalam memengaruhi seseorang atau kelompok
      orang untuk memahami dan menyetujui apa yang dibutuhkan dalam melaksanakan
      tugas menuju sebuah pencapaian visi dan tujuan yang telah disepakati

    Profitabilitas


    Profitabilitas merepresentasikan salah satu parameter mendasar dalam
    mengukur performa keuangan suatu perusahaan. Tujuan utamanya ialah menilai
    kemampuan entitas dalam menghasilkan laba melalui efektivitas pengelolaan
    pendapatan, optimalisasi aset, serta pengaturan modal ekuitas yang dimiliki secara
    efisien. Rasio ini mengindikasikan tingkat efisiensi dan efektivitas operasional
    dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia guna menciptakan keuntungan
    dalam suatu periode tertentu. Bagi kalangan investor berorientasi jangka panjang,
    analisis terhadap profitabilitas memiliki urgensi tersendiri karena memberikan
    gambaran mengenai potensi imbal hasil di masa depan, termasuk kemungkinan
    distribusi dividen kepada pemegang saham (Zulfia & Widijoko, 2019)
    Secara konseptual, profitabilitas menggambarkan sejauh mana perusahaan
    mampu menciptakan laba, dan kerap dijadikan tolok ukur utama dalam
    mengevaluasi keberhasilan operasional. Aspek ini tergolong elemen fundamental
    yang memiliki implikasi strategis, sebab tak hanya menarik minat investor dalam
    menanamkan modal, tetapi juga memperlihatkan sejauh mana efektivitas dan
    efisiensi penggunaan sumber daya dalam aktivitas bisnis. Kian besar laba yang
    berhasil diraih oleh perusahaan, maka semakin tinggi pula daya tarik investasi
    terhadap entitas tersebut, yang secara simultan akan berdampak pada peningkatan
    nilai perusahaan (Ramdhonah dkk 2019). Penelitian ini, profitabilitas diproksikan
    menggunakan rasio Net Profit Margin (NPM) sebagai indikator kinerjanya

    Teori Legitimasi (Legitimacy Theory)


    Teori legitimasi pertama kali diperkenalkan oleh Dowling & Pfeffer (1975),
    yang menitikberatkan pada adanya hubungan timbal balik antara perusahaan dan
    komunitas sosial di sekitarnya. Teori ini mengasumsikan bahwa keberlangsungan
    operasional suatu perusahaan sangat bergantung pada penerimaan serta legitimasi
    yang diberikan oleh masyarakat, yang memiliki kewenangan normatif dalam
    menentukan kesesuaian tindakan perusahaan dengan nilai-nilai sosial yang berlaku.
    Oleh sebab itu, perusahaan akan senantiasa berupaya untuk memperoleh pengakuan
    serta mempertahankan keselarasan hubungan dengan lingkungan sosial tempat ia
    beraktivitas. Apabila suatu perusahaan gagal memenuhi ekspektasi norma dan
    aturan sosial yang berlaku, maka legitimasi yang diberikan masyarakat dapat
    dicabut kapan saja. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, perusahaan perlu
    menjalankan aktivitas bisnis yang selaras dengan ketentuan normatif agar
    keberlanjutan usahanya tetap terpelihara.
    Legitimasi mencerminkan suatu mekanisme sosial yang menuntut
    perusahaan agar menunjukkan sensitivitas terhadap kepentingan masyarakat.
    Dalam konteks ini, masyarakat berperan sebagai elemen strategis yang
    memengaruhi kelangsungan entitas bisnis. Oleh karena itu, perusahaan dituntut
    menjalin interaksi yang konstruktif dengan lingkungan sosial dan komunitas
    sekitarnya. Untuk memenuhi ekspektasi tersebut, diperlukan kontribusi yang
    sejalan dengan nilai-nilai serta harapan publik. Dengan cara ini, perusahaan dapat
    menjaga eksistensi dan mendukung perwujudan visi jangka panjangnya. Hal ini
    memperlihatkan bahwa keberlanjutan suatu perusahaan sangat erat kaitannya
    dengan bagaimana entitas tersebut membangun dan memelihara relasi dengan
    masyarakat serta lingkungan sosialnya (Putri & Mardenia, 2019).
    Salah satu representasi konkret dari hubungan timbal balik tersebut
    terwujud dalam implementasi Corporate social responsibility, yakni bentuk
    tanggung jawab sosial yang dijalankan perusahaan terhadap komunitas sekitar.
    Praktik Corporate social responsibility mencerminkan penerapan prinsip-prinsip
    dalam teori legitimasi, karena melalui aktivitas ini perusahaan diharapkan dapat
    berperilaku sesuai dengan norma sosial dan batasan nilai yang dianut oleh
    masyarakat tempat ia beroperasi (Safira & Widajantie, 2021).

    Teori Sinyal (Signalling Theory)


    Teori sinyal pertama kali diinisiasi oleh Spence (1973), yang
    mengemukakan bahwa pihak yang menguasai informasi (disebut pengirim) dapat
    menyampaikan sinyal tertentu berupa informasi relevan guna mencerminkan
    kondisi aktual perusahaan kepada pihak penerima, yakni investor. Penyampaian
    sinyal tersebut dimaksudkan untuk memfasilitasi investor dalam melakukan
    pengambilan keputusan ekonomi secara lebih rasional.
    Ketika manajemen puncak memiliki pengetahuan yang lebih mendalam
    terkait kondisi intrinsik perusahaan, mereka cenderung terdorong untuk
    mengomunikasikan informasi tersebut sebagai bentuk sinyal positif kepada calon
    investor. Penyampaian sinyal semacam ini berpotensi membentuk persepsi yang
    lebih optimis terhadap prospek perusahaan, yang pada akhirnya dapat
    meningkatkan nilai pasar saham perusahaan secara signifikan (Purba, 2023).
    Teori sinyal menegaskan bahwa laporan keuangan berfungsi sebagai
    medium utama dalam mengomunikasikan sinyal, baik yang bersifat positif maupun
    negatif, kepada seluruh pengguna informasi. Substansi dan mutu pengungkapan
    informasi di dalam laporan tersebut menjadi penentu utama dari sinyal yang
    ditransmisikan. Melalui perspektif teori ini, pihak manajemen selaku agen, investor
    selaku prinsipal, serta pihak eksternal lainnya dapat menggunakan laporan
    keuangan berkualitas sebagai sarana untuk menekan tingkat asimetri informasi
    yang terjadi. Penyusunan laporan keuangan merupakan kewajiban bagi setiap
    entitas usaha, karena laporan ini menjadi instrumen krusial dalam menilai posisi
    keuangan serta kinerja operasional perusahaan secara menyeluruh. Informasi yang
    termuat di dalamnya memegang peranan vital dalam mengantisipasi potensi
    kegagalan usaha di masa mendatang. Bagi investor, kualitas pengungkapan
    informasi dalam laporan keuangan memiliki daya pengaruh yang signifikan
    terhadap proses penilaian serta pengambilan keputusan investasi. Investor akan
    menganalisis dan menafsirkan informasi tersebut secara kritis sebagai representasi
    sinyal yang mencerminkan kondisi perusahaan. Apabila informasi yang
    dipublikasikan mengandung sinyal positif, maka hal itu akan memperkuat minat
    serta komitmen investasi. Sebaliknya, jika sinyal yang ditampilkan bersifat negatif,
    maka investor cenderung menarik investasinya dan mengalihkan perhatian pada
    perusahaan lain yang dinilai memiliki informasi yang lebih kredibel dan prospektif
    (Sutra & Mais, 2019).

    Teori Agensi (Agency Theory)


    Landasan konseptual dari teori keagenan pertama kali dikemukakan oleh
    Jensen dan Meckling. Menurut pandangan Jensen & Meckling (1976), hubungan
    keagenan terbentuk ketika individu atau sekelompok entitas yang bertindak sebagai
    prinsipal memberikan arahan kepada pihak lain, yang disebut sebagai agen, untuk
    melaksanakan suatu aktivitas atau jasa tertentu, sembari mendelegasikan sebagian
    kewenangan dalam pengambilan keputusan kepada agen tersebut. Dalam hal ini,
    agen merupakan pihak yang menjalankan aktivitas operasional perusahaan,
    sedangkan pemilik saham atau investor berperan sebagai prinsipal.
    Relasi keagenan ini ditandai dengan adanya pemisahan fungsi antara
    pengelola (manajemen) dan pemilik modal. Pemisahan fungsi tersebut berpotensi
    menimbulkan konflik kepentingan, karena manajemen tidak senantiasa bertindak
    sejalan dengan kepentingan pemilik. Ketidaksinkronan tujuan antara agen dan
    prinsipal inilah yang menjadi akar dari konflik keagenan. Dalam konteks ini, biaya
    keagenan mencerminkan pengeluaran ekonomi yang dikeluarkan oleh prinsipal
    sebagai upaya untuk mengimplementasikan mekanisme kontrol dan pembatasan
    terhadap tindakan manajerial, yang ditujukan untuk memitigasi risiko dari
    ketidaksamaan kepentingan tersebut. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara
    keputusan manajemen yang seharusnya memberikan hasil optimal bagi pemilik
    namun justru merugikan, maka akan timbul kerugian yang dikenal sebagai kerugian
    residual, yakni nilai ekonomi yang hilang akibat deviasi keputusan tersebut (Purba,
    2023).
    Menurut teori keagenan, interaksi antara pemilik dan manajemen
    melahirkan hubungan yang bersifat kontraktual. Ketika pemilik memperkerjakan
    agen untuk menyelenggarakan layanan tertentu, maka hubungan keagenan secara
    otomatis terbentuk. Karena terdapat disparitas antara tujuan pemilik dan agen dalam
    mengelola kinerja perusahaan, maka potensi terjadinya konflik keagenan menjadi
    semakin besar (Anggraini & Fidiana, 2021).
    Upaya untuk mereduksi konflik tersebut dapat dilakukan melalui penerapan
    mekanisme kontrol yang efektif, salah satunya melalui struktur kepemilikan dan
    pengawasan internal. Pendekatan yang diyakini mampu menekan
    ketidakharmonisan tersebut adalah dengan menerapkan Good corporate
    governance. Penerapan Good corporate governance berfungsi sebagai instrumen
    pengawasan dan pengendalian terhadap perilaku manajemen (agent) agar tetap
    selaras dengan kepentingan pemilik (principal). Dengan demikian, kemungkinan
    timbulnya konflik dapat diminimalisir. Good corporate governance juga
    memberikan keyakinan kepada para pemegang saham bahwa dana yang mereka
    investasikan akan dikelola secara akuntabel, dan bahwa para agen bertindak sesuai
    dengan tanggung jawabnya serta demi keberlangsungan perusahaan.

    Hubungan komite audit dengan kinerja keuangan


    Komite audit merupakan sekelompok orang yang dipilih oleh dewan
    komisaris perusahaan yang bertanggung jawab untuk membantu auditor
    dalam mempertahankan independensinya. Tugas dari komite audit adalah
    mengawasi penyusunan laporan keuangan agar terhindar dari kesalahan atau
    kecurangan dan diharapkan dapat memperkecil upaya manajemen untuk
    memanipulasi data-data yang berkaitan dengan keuangan. Komite audit
    berperan dalam meningkatkan kredibilitas laporan keuangan perusahaan.
    Keberadaan komite audit akan membuat laporan keuangan terus terkendali
    sehingga kinerja keuangan juga akan semakin membaik (Anggraini, 2018).
    Menurut Sari dan Setiyowati (2017), Agatha et al., (2020) dan Gill dan
    Obradovich (2012) mengatakan bahwa komite audit berpengaruh positif
    signifikan terhadap kinerja keuangan.