Dimensi – Dimensi Gaya Kepemimpinan Transformasional


Formula asli dari Bass, (1985) meliputi tiga jenis perilaku
transformasional: pengaruh ideal, stimulasi intelektual, dan pertimbangan
intelektual. Pengaruh ideal adalah perilaku yang membangkitkan emosi dan
identifikasi yang kuat dari pengikut terhadap pemimpin. Stimulasi intektual
adalah perilaku yang meningkatkan kesadaran pengikut akan permasalahan dan
pengaruh para pengikut untuk memandang masalah dari perspektif yang baru.
Pertimbangan individual meliputi pemberian dukungan, dorongan, dan pelatihan
bagi pengikut. Sebuah revisi dari Bass &Avolio, (1990),menambahkan dimensi
motivasi inspirasional yang meliputi penyampaian visi yang menarik, dengan
menggunakan symbol untuk memfokuskan upaya bawahan dan membuat model
perilaku yang tepat (dalam Yulk, 2007).
Bass & Avolio, 1997 (dalam Muenjohn & Armstrong, 2008),
menunjukkan bahwa pemimpin transformasional biasanya menampilkan perilaku
mereka yang diasosiasikan dengan empat karakteristik (dimensi-dimensi) sebagai
berikut:
1) Idealized Influence, digambarkan ketika seorang pemimpin dapat
menjadi teladan bagi pengikutnya dan mendorong para pengikut untuk
berbagi visi dan tujuan bersama dengan memberikan visi yang jelas dan
rasa mencapai tujuan yang kuat.
2) Inspirational Motivation, mewakili perilaku ketika seorang pemimpin
mencoba untuk mengekspresikan pentingnya tujuan yang diinginkan
dengan sederhana, mengkomunikasikan harapan yang tinggi dan
meyakinkan pengikut bahwa pekerjaannya berarti dan menantang.
3) Intellectual Stimulation, mengacu pada pemimpin yang menantang ide-
ide pengikutnyadan nilai-nilai untuk memecahkan masalah. Dalam
Munandar (2001), pemimpin mendorong bawahan untuk memikirkan
kembali cara kerja mereka, untuk mencapai cara-cara baru dalam
melaksanakan tugas.
4) Individualised Consideration, mengacu pada pemimpin yang
menghabiskan lebih banyak waktu dan membina pengikutnya serta
memberikan perhatian pada pengikutnya dengan dasar individual
pengikut. Dalam Munandar (2001), dijelaskan bahwa pemimpin
memperlakukan setiap bawahannya sebagai seorang pribadi dengan
kecakapan, kebutuhan, dan keinginannya masing-masing. Ia memberi
nasihat yang bermakna, memberi pelatihan yang diperlukan dan bersedia
mendengarkan pandangan dan keluhan mereka.

Hubungan antara Kepemimpinan Transformasional dengan Kepuasan KerjaKaryawan


Seorang pemimpin yang transformasional akan menggunakan kemampuan dan
kelebihannya untuk mengarahkan, membimbing, dan menggerakkan karyawan atau
pengikut kepada suatu perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik, inovatif dan kreatif
untuk bersama-sama mencapai tujuan perusahaan.
Keller (1992), mengemukakan bahwa kepemimpinan transformasional mampu
meningkatkan kepuasan kerja bagi karyawan karena terkait dengan kebutuhan karyawan
yang lebih tinggi seperti kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri terpenuhi. Selain itu
Pawar dan Eastman (1997) bahwa praktik kepemimpinan transformasional mampu
membawa perubahan-perubahan yang lebih mendasar seperti nilai-nilai, tujuan, dan
kebutuhan karyawan dan perubahan-perubahan tersebut berdampak padameningkatnya
kepuasan kerja karyawan karena terpenuhinya kebutuhan yang lebih tinggi. Senada
dengan pendapat para ahli sebelumnya, Bycio dkk. (1995) serta Howell dan Avolio (1993)
mengemukakan bahwa kepmimpinan transformasional memiliki keterkaitan yang positif
terhadap kepuasan kerja karyawan kerena karyawan merasa dihargai eksistensinya.
Munandar (2006:357) kepuasan kerja dipengaruhi oleh empat faktor yaitu;
karakteristik pekerjaan, Kompensasi (gaji), pimpinan, hubungan dengan rekan kerja serta
kondisi tempat kerja.Salah satu faktor tersebut adalah persepsi atas pimpinan, faktor ini
sangat terkait bagaimana hubungan antara karyawan dengan pemimpin. Bagaimana
seorang karyawan akan menilai dan mengevaluasi kepemimpinan melalui kinerja karyawan
itu sendiri. Apabila karyawan merasakan kepemimpinan yang sesuai dan dapat memenuhi
kebutuhannya dalam bekerja maka dapat berdampak pada tercapainya kepuasan kerja
karyawan yang akan diintepretasikan dengan meningkatnya kinerja karyawan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Menurut Luthans (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Pekerjaan itu sendiri (The work it self).
    Kesenangan individu terhadap pekerjaannya merupakan sumber utama dari
    kepuasan kerja. Beberapa unsur yang penting dari kepuasan kerja adalah pekerjaan
    yang tidak monoton, bervariasi sehingga tidak menimbulkan kebosanan bagi
    pekerja.
  2. Imbalan atau kompensasi (Pay).
    Mengenai gaji, upah dan tunjangan, semuanya adalah penting, tetapi merupakan
    faktor yang komplek (rumit), multidimensi dalam kepuasan kerja. Uang tidak hanya
    membantu individu dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup, tetapi juga
    merupakan alat (instrument) dalam menaikkan tingkat kepuasan. Pegawai sering
    memandang imbalan sebagai sebuah cerminan dari pada cara pandang manajemen
    dalam menilai kontribusi pegawai kepada organisasi. Keuntungan bagi pegawai
    rendahan adalah perlu, walaupun mereka tidak terpengaruh, karena mereka tidak
    mengetahui nilai yang mereka sumbangkan bagi organisasi untuk memperoleh
    keuntungan. Penelitian terakhir menunjukkan jika semua pegawai mengikuti
    beberapa pilihan keuntungan yang fleksibel, mereka lebih menyukai paket
    menyeluruh, disebut rencana keuntungan yang fleksibel, ini merupakan suatu
    pengaruh yang nyata dari semua kepuasan yang diperoleh, dan keseluruhan dari
    kepuasan kerja.
  3. Promosi (Promotion)
    Kesempatan untuk dipromosikan merupakan sebuah variasi dampak dalam
    kepuasan kerja, karena promosi mengakibatkan perbedaan bentuk dan memperoleh
    bermacam-macam tunjangan dari perusahaan untuk level manajer, lain halnya
    apabila promosi pada pegawai biasa karena pengalaman kerjanya atau senioritas
    yang telah dimiliki. Dengan demikian kepuasan akan lebih besar bagi individu yang
    mendapat promosi untuk menduduki suatu jabatan, dibandingkan pegawai yang
    dipromosikan karena senioritasnya sehingga memperoleh kenaikan imbalan.
  4. Pengawasan/penyelia (Supervision).
    Pengawasan adalah sumber lain yang cukup penting dari kepuasan kerja.
    Sampai saat ini, bagaimanapun terdapat dua dimensi dari gaya pengawasan yang
    mempengaruhi kepuasan kerja. Pegawai yang bekerja bukan dikantor pusat dan
    kinerjanya dinilai oleh pengawas untuk menentukan besarnya imbalan yang pegawai
    peroleh, tentunya akan berpengaruh terhadap personal interens karena menentukan
    jumlah yang akan mereka peroleh. Pegawai di Amerika umumnya memprotes para
    pengawas yang tidak bekerja dengan baik pada pekerjaannya.Suatu survey skala
    besar menemukan bahwa lebih dari setengah responden merasa supervisor mereka
    secara reguler menampung umpan balik atau mencoba untuk memecahkan masalah
    mereka.
  5. Kelompok Kerja (Group Work).
    Sifat dasar kelompok kerja dapat mempengaruhi kepuasan kerja. Keramahan,
    kerja sama dalam kelompok kerja semuanya merupakan sumber terhadap kepuasan
    kerja bagi pegawai. Kelompok kerja dapat menjadi sumber bagi para pekerja untuk
    memperoleh dukungan, bantuan (hukum), saran/nasihat, dan tempat bertanya.
    Sedangkan menurut Munandar (2006:357) mengklasifikasikan beberapa faktor
    yang mempengaruhi kepuasan kerja diantaranya yaitu:
  6. Karakteristik Pekerjaan
    Menurut Locke, ciri-ciri intrinsik dari pekerjaan yang menentukan kepuasan
    kerja ialah keragaman, kesulitan, jumlah pekerjaan, tanggung jawab, otonomi,
    kendali terhadap metode kerja, kemajemukan dan kreativitas.
  7. Gaji Penghasilan, Imbalan yang Dirasakan Adil (Equittable Reward)
    Siegel & Lane mengutip kesimpulan yang diberikan oleh beberapa ahli yang
    meninjau kembali hasil-hasil penelitian tentang pentingnya gaji sebagai penentu dari
    kepuasan kerja, yaitu bahwa para sarjana psikologi telah secara tradisional dan
    salah meminimasi pentingnya uang sebagai penentu kepuasan kerja. Ternyata,
    menurut hasil penelitian yang dilakukan Theriault, kepuasan kerja merupakan fungsi
    dari jumlah absolute dari gaji yang diterima, derajat sejauh mana gaji memenuhi
    harapan tenaga kerja dan bagaimana gaji diberikan.
    Herzberg memasukkan faktor kompensasi kedalam faktor kelompok Hygiene.
    Jika dianggap gajinya terlalu rendah, tenaga kerja akan merasa tidak puas. Namun
    jika dirasakan tinggi atau dirasakan sesuai dengan harapan, maka istilah Herzberg
    adalah tenaga kerja tidak lagi tidak puas. Artinya tidak ada dampak pada kinerja
    karyawan.
  8. Penerimaan atas pimpinan
    Locke memberikan kerangka kerja teoritis untuk memahami kepuasan tenaga
    kerja dengan pimpinan. Locke menemukan dua jenis dari hubungan atasan-
    bawahan: hubungan fungsional dan keseluruhan (entity). Hubungan fungsional
    mencerminkan sejauh mana penyelia membantu tenaga kerja, untuk memuaskan
    nilai-nilai pekerjaan yang penting bagi tenaga kerja. Sedangkan hubungan
    keseluruhan didasarkan pada ketertarikan antar pribadi yang mencerminkan sikap
    dasar dan nilai-nilai yang serupa.
    Judge dan Locke (1993), menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan
    salah satu faktor penentu kepuasan kerja. Jenkins dalam (manajemen 1990),
    mengungkapkan keluarnya karyawan disebabkan oleh ketidakpuasan terhadap
    kondisi kerja karena karyawan merasa pimpinan tidak memberikan kepercayaan
    terhadap karyawan, tidak ada keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan,
    pimpinan berlaku tidak objektif dan tidak jujur terhadap karyawan. Pendapat ini
    didukung oleh Nanus (1992) yang mengemukakan bahwa alasan yang utama
    karyawan meninggalkan organisasi disebabkan karena pemimpin gagal dalam
    memahami karyawan dan pemimpin tidak memperhatikan kesejahteraan
    karyawannya.
  9. Rekan kerja yang Menunjang
    Hubungan yang ada antar rekan kerja adalah hubungan ketergantungan
    sepihak yang bercorak fungsional. Kepuasan kerja yang ada pada para pekerja
    timbul karena mereka, dalam jumlah tertentu, berada dalam satu ruangan kerja,
    sehingga mereka dapat saling berbicara (kebutuhan sosialnya dipenuhi).
  10. Kondisi tempat kerja
    Bekerja alam ruangan yang sempit, panas, yang cahaya lampunya
    menyilaukan mata, kondisi kerja yang tidak nyaman akan menimbulkan keengganan
    untuk bekerja. Maka dari itu biasanya karyawan akan mencari alasan untuk sering
    keluar dari ruang kerjanya. Untuk itu perusahaan harus memperhatikan kondisi dan
    tempat kerja untuk meningkatkan produktifitas dan kepuasan kerja.
    Berdasarkan pemaparan dari beberapa tokoh di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
    bahwa, Kepuasan Kerja adalah psikis yang menyenangkan karena terpenuhinya
    kebutuhan dasar dalam bekerja, baik itu yang berhubungan dengan persepsi atas
    pemimpin, karakteristik pekerjaannya, interaksi dengan rekan kerja dan jenjang karir.

Teori Kepuasan Kerja


Menurut Sutarto Wijono (2010:103) mengklasifikasikan beberapa teori tentang
kepuasan kerja, yaitu:
a. Teori Ketidaksesuaian (Discrepancy Theory)
Menurut Locke teori ketidaksesuaian mengungkapkan bahwa kepuasan atau
ketidakpuasan dari beberapa aspek pekerjaan menggunakan dasar pertimbangan
dua nilai (values), yaitu (1) ketidaksesuaian yang dipersepsikan antara apa yang
diinginkan individu dengan apa yang diterima dalam kenyataannya (2) apa
pentingnya pekerjaan yang dinginkan oleh individu tersebut. Kepuasan kerja secara
keseluruhan bagi individu adalah jumlah dari kepuasan kerja dari setiap aspek
pekerjaan individu. Contoh, seorang supervisor mempunyai keinginan lebih
mengutamakan aspek kenaikan jabatan (promotion) dari pada kenaikan gaji, maka
supervisor tersebut akan memberiranking yang lebih tinggi pada aspek kenaikan
jabatan dibanding dengan kenaikan gaji.
Sementara itu, Locke juga mangatakan bahwa perasaan puas atau tidak puas
yang dimiliki oleh indvidu sangat bersifat pribadi. Perasaan muncul tergantung dari
cara individu mempersepsikan ketidaksesuaian atau pertentangan antara keinginan
dan hasil yang dicapai oleh seorang karyawan.
b. Model dari Kepuasan Bidang/Bagian (Facet Satisfication)
Kepuasan bidang menurut model Lawler (1977) mempunyai kaitan erat dengan
teori keadilan J. Adams. Model Lawler mengatakan bahwa individu akan merasa
puas terhadap bidang tertentu dari pekerjaan mereka (misalnya, hubungan dengan
rekan kerja, atasan dan bawahan, dan/atau gaji). Individu dapat menerima dan
melaksanakan pekerjaannya dengan senang hati dalam bidang yang dia
persepsikan, maka hasilnya akan sama dengan jumlah yang dia persepsikan dari
yang secara aktual mereka terima.
Berikut ilustrasi untuk memperjelas pernyataan diatas, individu yang
mempersepsikan hubungan interaksinya dengan atasannya yang seharusnya
berjalan baik, lancar dan memuaskan. Jika hal tersebut terwujud, maka dapat
menunjang produktivitas kerjanya karena hubungan interaksi antara dirinya dengan
atasannya tersebut nyata terjadi dibandingkan dengan rekan-rekan kerjanya. Tetapi,
jika individu mempersepsikan tentang hubungan interaksinya dengan atasan jauh
melebihi dengan rekan kerja yang lain, maka individuakan merasa bersalah dan
tidak adil. Sebaliknya jika individu tersebut mempersepsikan bahwa hubungan
interaksinya yang dialami kurang baik dan lancar dari yang sesungguhnya yang
terjadi, maka individu akan merasa tidak puas.
Sementara itu, Lawler juga mengemukakan bahwa jumlah dari bidang yang
dipersepsikan individu akan menjadi lebih sesuai tergantung dari bagaimana individu
mempersepsikan nilai dari pekerjaan dan karakteristik pekerjaannya. Selain itu,
persoalan yang dipertanyakan adalah bagaimana individu mempersepsikan “input
dan output” dari orang lain yang digunakan sebagai pembanding bagi dirinya sendiri.
Akhirnya, jumlah dari bidang yang dipersepsikan orang terhadap apa yang individu
terima secara nyata tergantung dari hasil output yang secara nyata individu terima
dan hasil “output” yang dipersepsikan dari orang dengan siapa individu akan
membandingkan dirinya sendiri.
c. Teori Proses Bertentangan (Opponent-Process Theory)
Teori proses-bertentangan dari Landy memandang kepuasan kerja dari
perspektif yang berbeda secara mendasar daripada pendekatan yang lain. Teori ini
menekankan bahwa orang ingin mempertahankan suatu keseimbangan emosional
(emotional equilibrium).
Teori proses bertentangan mengasumsikan bahwa kondisi emosional yang
ekstrim tidak memberikan kemaslahatan. Kepuasan kerja atau ketidakpuasan kerja
(dengan emosi yang berhubungan) memacu mekanisme fisiologikal dalam sistem
pusat saraf yang membuat aktif emosi yang bertentangan atau berlawanan.
Dihipotesiskan bahwa emosi yang berlawanan, meskipun lebih lemah dari emosi
yang asli akan terus ada dalam jangka waktu yang lebih lama.
Teori ini menyatakan bahwa jika orang memperoleh ganjaran pada pekerjaan
mereka merasa senang, sekaligus ada rasa tidak senang (yang lebih lama). Setelah
beberapa saat rasa senang akan menurun sedemikian rupa sehingga orang merasa
agak sedih sebelum kembali ke normal.
Dengan asumsi bahwa kepuasan kerja bervariasi secara mendasar dari waktu
ke waktu, akibatnya ialah bahwa pengukuran kepuasan kerja perlu dilakukan secara
periodik dengan interval waktu yang sesuai.
Berdasarkan pendapat dari Sutarto Wijono (2010:103) dalam bukunya yang
berjudul psikologi industri dan organisasi mengklasifikasikan beberapa teori tentang
kepuasan kerja yaitu, teori ketidaksesuaian (discrepency theory), model kepuasan
bidang (faced satisfication), dan teori proses bertentangan (opponent-process theory)

Definisi Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan perasaan yang bersifat individual.
Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai yang
berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan yang dirasakan sesuai
dengan keinginan individu, maka makin tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut.
Dengan demikian, kepuasan merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas
perasaannya dalam bekerja.
Howell & Dipboye (1986, dalam munandar 2006:350) memandang bahwa
kepuasan kerja sebagai hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya
terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya. Dengan kata lain kepuasan kerja
mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaannya Contohnya apabila karyawan
bersikap positif terhadap pekerjaan yang dikerjakannya, maka ia akan memperoleh
perasaan puas terhadap apa yang dikerjakannya. Sebaliknya apabila karyawan bersikap
negatif (tidak suka), maka ia akan merasa tidak puas terhadap apa yang dikerjakannya.
Tiffin (dalamMinto Waluyo 2009:179) mengemukakan bahwa kepuasan kerja
berhubungan dengan sikap dari karyawan terhadap pekerjaan itu sendiri, situasi kerja,
kerja sama antar pemimpin dan sesama karyawan.
Menurut, Minto waluyo (2009:180) kepuasan kerja merupakan suatu sikap positif
yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan
situasi kerja termasuk di dalamnya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan
kerja.
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat individual.
Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai yang
berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan yang dirasakan sesuai
dengan keinginan individu, maka makin tinggi kepuasannya terhadap kegiatan tersebut.
Dengan demikian, kepuasan merupakan evaluasi yang menggambarkan seseorang atas
perasaannya senang atau tidak senang, puas atau tidak puas dalam bekerja.
Berdasarkan pendapat para tokoh di atas maka dapat disimpulkan bahwa
Kepuasan Kerja adalah keadaan psikis yang menyenangkan karena terpenuhinya
kebutuhan dasar dalam bekerja.

Ciri-ciri kepemimpinan Transformasional


Ciri-ciri kepemimpinan transformasional, sebagai berikut (Munandar, 2011:200)

  1. Kharismatik (Attribute Charisma)
    Karismatik merupakan kekuatan besar yang dimiliki oleh pemimpin untuk
    memotivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.Bawahan mempercayai pemimpin
    karena pemimpin dianggap mempunyai pandangan, nilai dan tujuanyang dianggap
    benar. Oleh sebab itu pemimpin yang mempunyai kharisma dapat lebih mudah
    mempengaruhi dan mengarahkan bawahan agar bertindak sesuai dengan apa yang
    diinginkan oleh pemimpin. Selanjutnya dikatakan kepemimpinan yang kharismatik
    dapat memotivasi bawahan untuk mengeluarkan upaya kerja keras karena mereka
    menyukai pemimpinnya.
  2. Inspirasional (Inspirational Leadership)
    Perilaku pemimpin yang inspirasional dapat merangsang antusias dan semangat
    bekerja bawahan terhadap tugas-tugas kelompok dan dapat mengatakan hal-hal
    yang dapat menumbuhkan kepercayaan bawahan terhadap kemampuan untuk
    menyelesaikan tugas dalam upaya untuk mencapai tujuan kelompok kerja.
  3. Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation)
    Stimulasi intelektual merupakan upaya pimpinan terhadap persoalan-persoalan
    dan mempengaruhi bawahan untuk melihat persoalan-persoalan tersebut melalui
    perspektif baru. Melalui stimulus intelektual, pemimpin merangsang kreativitas
    bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-pendekatan baru terhadap
    masalah-masalah lama. Jadi, melalui stimulus intelektual, bawahan didorong untuk
    berpikir mengenai relevansi cara, sistem nilai, kepercayaan, harapan dan didorong
    melakukan inovasi dalam menyelesaikan persoalan dan berkreasi untuk
    mengembangkan kemampuan diri serta didorong untuk menetapkan tujuan dan
    sasaran yang menantang.
    Kontribusi intelektual dari seorang pemimpin pada bawahan harus didasari
    sabagai suatu upaya untuk memunculkan kemampuan bawahan. Aspek stimulus
    intelektual berkolaborasi positif dengan extra effort. Maksudnya, pemimpin yang
    dapat memberikan kontribusi intelektual senantiasa mendorong staf supaya mampu
    mencurahkan upaya untuk perencanaan dan pemecahan masalah.
  4. Perhatian secara individual (Individualized Consideration)
    Perhatian atau pertimbangan terhadap perbedaan individual implikasinya adalah
    memelihara kontak langsung face to face dan komunikasi terbuka dengan pegawai.
    Pengaruh personal dan hubungan satu persatu atasan-bawahan merupakan hal
    yang terpenting yang utama. Perhatian secara individual tersebut dapat sebagai
    identifikasi awal terhadap para bawahan terutama bawahan yang mempunyai
    potensi untuk menjadi seorang pemimpin. Sedangkan monitoring merupakan bentuk
    perhatian individual yang ditunjukan melalui tindakan konsultasi, nasehat dan
    tuntutan yang diberikan oleh senior kepada yunior yang belum berpengalaman nilai
    dibandingkan dengan seniornya.
    John M. Ivancevich (2006), ciri-ciri kepemimpinan transformasional ada tiga, yaitu:
  5. Karisma. Pemimpin mampu menanamkan rasa kebernilaian, hormat, dan bangga
    serta mengartikulasi visi.
  6. Perhatian Individual. Pemimpin memperhatikan kebutuhan dari para pengikut dan
    memberikan proyek yang bermakna sehingga para pengikut akan tumbuh secara
    pribadi.
  7. Stimulasi Intelektual. Pemimpin membantu para pengikut untuk berpikir ulang
    dengan cara rasional bagaimana cara menganalisis situasi. Dia mendorong para
    pengikut untuk menjadi kreatif.
    Berdasarkan pemaparan beberapa teori di atas, bahwa dapat dipahami kepemimpinan
    transformasional adalah kepemimpinan yang mampu menginspirasi, mengarahkan dan
    menggerakkan pengikut kepada perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik dan inovatif
    untuk mencapai tujuan bersama yang ditandai dengan empat ciri, yaitu: karismatik,
    inspirasi, stimulasi intelektual dan perhatian individu

Kemampuan Kepemimpinan Transformasional


a. Kualitas Sebagai Agen Perubahan.
Pemimpin yang transformasional memiliki kreativitas, inovatif dan fleksibel dalam
berorganisasi. Kepribadian dan kesan professional membuatnya memungkinkan
memimpin orang-orang dilingkungannya. Selain itu juga menginsprirasi pengikut
untuk mementingkan kepentingan organisasi dibandingkan dengan kepentingan
pribadi.
b. Keberanian dan Optimisme.
Pemimpin yang transformasional siap dan mampu menunjukkan sikap yang
tepat untuk mengambil resiko dan menghadapi batasan-batasan dalam
organisasi.Kecakapan dan kemampuan intelektualnya membuat mereka mampu
menghadapi kenyataan yang sebenarnya, meskipun situasinya komplek, tidak
menentu dan hal tersebut tidak menyenangkan.
c. Keterbukaan dan Kepercayaan Pada Pengikut.
Pada saat menjalin hubungan dengan pengikut, pemimpin yang transformasional
menunjukkan sikap terbuka dan siap memberikan kepercayaan ketika dibutuhkan
(dapat berupa pemberian wewenang).
d. Memimpin Berdasarkan Nilai.
Pemimpin yang transformasional memformulasikan nilai-nilai dasar yang ingin
dicapai, menekankan nilai-nilai penting dan menunjukkan perilaku yang sesuai
dengan nilai tersebut
e. Proses Pembelajaran Secara Terus menerus.
Pemimpin transformasional akan menjelaskan pelajaran apa yang dapat diambil
dari pengalamannya, untuk menghadapi masa depan. Hal tersebut juga
menunjukkan upaya seorang pemimpin dalam mengembangkan para pengikut untuk
dapat menjadi pemimpin masa datang, serta memperhatikan kebutuhan para
pengikut dalam bekerja.
f. Visioner.
Pemimpin transformasional merupakan visioner yang baik.mereka mampu
menyatakan visi dengan jelas dan menarik, serta menjelaskan bagaimana visi
tersebut dapat tercapai sehingga dapat membuat pengikut lebih menyadari
pentingnya hasil tugas dalam mewujudkan tujuan organisasi.
Berdasarkan pemaparan beberapa hal tentang kemampuan yang dimiliki oleh
seorang pemimpin transformasional maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan
transformasional biasanya memiliki kualitas sebagai agen perubahan, memiliki
keberanian dan optimis, keterbukaan dan kepercayaan pada pengikut, memimpin
berdasarkan nilai, melakukan proses pembelajaran berkelanjutan serta memiliki visi
dalam menjalankan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Dan seorang pemimpin
memiliki beberapa ciri-ciri yang membedakan dengan model kepemimpinan lainnya

Teori Kepemimpinan


Sucipto (2008), mengklasifikasikan beberapa teori dan penelitian empiris tentang
kepemimpinan dalam lima pendekatan berikut:
(1) The Trait Approach (pendekatan sifat)
The trait approach leadership (teori sifat kepemimpinan) menekankan pada
atribut pemimpin, misalnya; kepribadian, nilai dan keterampilan. Pendekatan ini
berasumsi bahwa beberapa orang secara alami adalah pemimpin yang dianugerahi
sifat-sifat tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dalam perkembangannya
kepemimpinan lebih menekankan pada aspek kepribadian dibandingkan dengan
aspek fisik. Pendekatan ini berusaha mengidentifikasi kombinasi faktor psikologis,
yaitu dimana fungsi seorang pemimpin adalah memunculkan dan mengembangkan
sistem motivasi terbaik untuk merangsang bawahan, agar mereka mau bekerja
guna mencapai sasaran organisatori maupun tujuan pribadi. Karena dengan
mengidentifikasi faktor-faktor psikologis kita dapat membedakan pemimpin dengan
pengikut.
Keith Davis merumuskan empat sifat umum yang nampaknya mempunyai
pengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi (Thoha, 2005).

  1. Kecerdasan (Intellegence)
    Kecerdasan yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin itu merupakan
    kemampuan untuk melihat dan memahami dan mengerti sebab dan akibat
    kejadian atau permasalahan, menemukan hal-hal yang krusial dan cepat dalam
    menemukan penyelesaiannya.
    Selain itu juga seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan emosional
    (Emotional Intellegence). Seseorang bisa saja mempunyai pendidikan yang
    tinggi, kemampuan analisis yang tajam, visi yang hebat dan ide-ide yang
    cemerlang tetapi tetap saja, ia tidak bisa bertahan dalam menjadi pemimpin
    yang besar tanpa mempunyai kecerdasan emosional. Hal ini bisa terjadi Karena
    dalam kecerdasan emosional terdapat komponen inti yaitu empati. Pemimpin
    yang memiliki sifat empati bisa merasakan kebutuhan orang lain,
    mendengarkan apa yang dikatakan dan yang tidak terucapkan oleh anak
    buahnya, dan mampu membaca reaksi orang.
  2. Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial.
    Pemimpin yang baik itu memiliki sikap yang cenderung matang dan
    emosi yang stabil. Artinya pemimpin tidak mudah marah, tersinggung
    perasaannya, dan tidak meledak secara emosional. Pemimpin menghormati
    martabat bawahannya, toleran terhadap kelemahan bawahannya, dan bisa
    memaafkan kesalahan-kesalahan yang tidak terlalu prinsipil. Semua itu
    diarahkan untuk mencapai lingkungan sosial yang rukun damai, harmonis, dan
    menyenangkan.
  3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi.
    Para pemimpin secara umum memiliki dorongan motivasi yang kuat
    untuk berprestasi. Selain itu dukungan dari luar akan memperkuat hasrat sendiri
    untuk memberikan pelayanan dan pengabdian diri kepada kepentingan orang
    banyak.
  4. Sikap-sikap hubungan kemanusiaan.
    Pemimpin yang berhasil mau mengakui harga diri dan kehormatan para
    bawahannya dan mampu berpihak kepada bawahannya. Selain itu pemimpin
    juga bersikap ramah, terbuka, dan mudah menjalin persahabatan berdasarkan
    rasa saling percaya, pemimpin juga menghargai pendapat bawahannya, untuk
    bisa memupuk kerja sama yang baik dalam suasana rukun dan damai.
    (2) The Behaviour Approach
    Teori perilaku digunakan untuk mengidentifikasi perilaku pemimpin yang efektif
    yang ditunjukan dengan kemampuan pemimpin dalam mengelola konflik, mengatasi
    tuntutan, mengambil kesempatan/peluang dan mengatasi hambatan yang ada.
    Penelitian yang dilaksanakan oleh Ohio University telah menghasilkan dua kategori
    perilaku kepemimpinan. Yaitu Consideration dan Initiating Structure.
    Consideration (konsiderasi) adalah gaya kepemimpinan yang
    menggambarkan kedekatan hubungan antara bawahan dengan atasan, adanya
    saling percaya, kekeluargaan, menghargai gagasan bawahan, dan adanya
    komunikasi antara pimpinan dengan bawahan. Pemimpin yang memiliki
    konsiderasi yang tinggi menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan
    parsial. Initiating Structure (struktur inisiatif) merupakan gaya kepemimpinan yang
    menunjukkan bahwa pemimpin mengorganisasikan dan mendefinisikan
    hubungan dalam kelompok, cenderung membangun pola dan saluran komunikasi
    yang jelas, menjelaskan cara mengerjakan tugas yang benar (Armandi et al. 2003).
    Perilaku pemimpin dapat diterima oleh bawahan pada tingkatan yang ditinjau
    oleh mereka sebagai sebuah sumber kepuasan saat itu atau masa mendatang.
    Perilaku pemimpin akan memberikan motivasi sepanjang (1) membuat bawahan
    merasa butuh kepuasan dalam pencapaian kinerja yang efektif, dan (2)
    menyediakan ajaran, arahan, dukungan dan penghargaan yang diperlukan dalam
    kinerja efektif (Robins, 2002).
    (3) The Power-Influenced Approach
    The Power-Influenced Approach menekankan pada proses yang saling
    mempengaruhi antara pemimpin dengan pihak-pihak lain, penelitian tentang Power-
    Influenced approach mempunyai perspektif yang terpusat pada pemimpin (leader-
    centerd) dengan asumsi implisit bahwa hubungan sebab akibat (causality)
    mempunyai arah tunggal (pemimpin bertindak dan para pengikut bereaksi). Dalam
    hal ini melihat efektifitas pemimpin dalam kaitannya dengan jumlah dan jenis
    kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin dan dalam menggunakan kekuasaannya.
    (4) The Situational Approach
    Pendekatan situasional (situational approach) menekankan pada pentingnya
    faktor-faktor yang saling berhubungan dalam mempengaruhi proses kepemimpinan.
    Dalam era kepemimpinan situasional disadari bahwa tidak ada satupun gaya
    kepemimpinan yang terbaik dan berlaku universal untuk segala situasi dan
    lingkungan. Pendekatan situasional menekankan bahwa gaya kepemimpinan yang
    digunakan tergantung pada faktor-faktor situasi, bawahan, tugas dan lingkungan.
    Dengan kata lain seorang pemimpin harus menentukan gaya kepemimpinan secara
    tepat dalam menghadapi beberapa situasi tertentu.
    Menurut kartini kartono (2011:161) pendekatan situasional menyatakan bahwa
    sifat-sifat pribadi pemimpin itu bukan satu-satunya hal yang menentukan derajat dan
    kualitas pemimpin, melainkan situasi dan lingkunganlah yang merupakan faktor
    penentunya. Karena, belum tentu seorang pemimpin yang efisien pada saat
    sekarang ini, mampu menjabat tugas kepemimpinan pada saat lain dan dengan
    kondisi-kondisi yang berbeda.
    (5) The Integrative Approach
    Pada paruh sampai akhir tahun 1970an, paradigma kepemimpinan mulai
    berubah menjadi paradigma integratif atau teori kharismatik baru. Sesuai namanya,
    teori kepemimpinan integratif ini memadukan teori pembawaan, perilaku dan
    kontingensi untuk menjelaskan kesuksesan dan pengaruh hubungan antara
    pemimpin dan pengikut. Peneliti berusaha menjelaskan mengapa pengikut pemimpin
    tertentu mempunyai keinginan bekerja keras dan rela berkorban untuk mencapai
    tujuan kelompoknya. Di samping itu, menjelaskan bagaimana seorang pemimpin
    secara efektif mempengaruhi perilaku pengikutnya, serta mengapa perilaku
    pemimpin yang sama dapat membawa dampak yang berbeda pada pengikutnya
    dalam situasi tertentu.

Kepemimpinan Transformasional

Jp. Chaplin dalam kamus psikologi (2006:272) pemimpin adalah seseorang yang
membimbing, mengatur, menunjukkan, memerintah atau mengontrol kegiatan kelompok
yang dipimpinnya.
Kartini Kartono (2011:38) Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki
kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan dan kelebihan disatu atau beberapa
bidang, sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain atau pengikut untuk bersama-
sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa
tujuan.
Henry Pratt Fairchild (1960, dalam kartini kartono 2011:38) pemimpin dalam arti
luas ialah seorang yang memimpin dengan jalan memprakasai tingkah laku sosial
dengan mengatur, mengarahkan, mengorganisir atau mengontrol usaha/upaya pengikut
melalui prestise, kekuasaan dan posisi. Sedangkan dalam pengertian yang terbatas
pemimpin ialah seorang yang membimbing, memimpin dengan bantuan kualitas-kualitas
persuasifnya dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.
Hasibuan (2005), pemimpin adalah seseorang dengan wewenang
kepemimpinannya untuk mengarahkan bawahannya dalam mengerjakan sebagian dari
pekerjaannya untuk mencapai tujuan.
Kita sering mendengar, bahwa keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi
sebagian besar ditentukan oleh pemimpin dan kepemimpinannya, seperti yang
dikatakan oleh Miftah Thoha (1988:1) “Pemimpinlah yang bertanggung jawab atas
kegagalan pelaksanaan suatu pekerjaan”. Hal ini menunjukan bahwa posisi pemimpin
dalam suatu organisasi sangatlah penting.
Kepemimpinan menurut kamus besar Bahasa Indonesia (2002:874) adalah cara
memimpin suatu organisasi meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan
organisasi dan memotivasi perilaku pengikut untuk mencapai tujuan serta
mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya.
Menurut Sofyan Syafri Harahap (1996:233), Kepemimpinan adalah proses
mempengaruhi orang lain yang dimaksud untuk membentuk perilaku yang sesuai
dengan kehendak pemimpin.
Ngalim Purwanto (1991:26) Kepemimpinan merupakan sekumpulan dari
serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan
untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan para pengikut agar mereka
mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela,
penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.
Kepemimpinan menurut Kimball Young (kartini kartono, 2011:58) adalah bentuk
dominasi yang didasari kemampuan pribadi, yang sanggup mendorong atau mengajak
orang lain untuk berbuat sesuatu berdasarkan akseptansi/penerimaan oleh
kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi tertentu.
Gorda (2004) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah sifat atau karakter serta
cara seseorang dalam membina dan menggerakkan seseorang atau sekelompok orang
agar bersedia, berkomitmen, serta setia untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan
tugas dan tanggung jawabnya untuk mencapai tujuan perusahaan.
Menurut kamus karya ilmiah popular, bahwa transformasi adalah pengubahan,
pemindahan (Taufiqurrochman, 2003)
Suryo (2010), mengatakan kepemimpinan transformasional sebagai
“kepemimpinan untuk memberi inspirasi dan memotivasi para pengikut untuk mencapai
hasil-hasil yang lebih besar daripada yang direncanakan secara orisinil dan imbalan
internal. Kepemimpinan transformasional bukan sekedar mempengaruhi pengikutnya
untuk mencapai tujuan yang diinginkan, melainkan lebih dari itu bermaksud ingin
merubah sikap dan nilai-nilai dasar para pengikutnya melalui pemberdayaan.
Pengalaman pemberdayaan para pengikutnya meningkatkan rasa percaya diri untuk
terus melakukan perubahan walaupun mungkin ia sendiri akan terkena dampak dalam
perubahan itu.
Kepemimpinan transformasional didefinisikan sebagai kepemimpinan dimana
para pemimpin menggunakan kharisma, stimulasi intelektual untuk melakukan
transformasional dan merevitalisasi organisasinya. Menurut Hakim (2011), para
pemimpin yang transformasional lebih mementingkan revitalisasi para pengikut dan
organisasinya secara menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-instruksi yang
bersifat Top Down. Selain itu pemimpin yang transformasional lebih memposisikan
dirinya sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para bawahannya.
Sucipto (2008), pemimpin dikatakan transformasional terutama diukur dalam
hubungannya dengan efek kepemimpinan terhadap pengikut.Para pengikut seorang
pemimpin dengan kepemimpinan transformasional akanmerasa adanya kepercayaan,
kekaguman, kesetiaan, dan hormat terhadap dirinya.
Berdasarkan beberapa pendapat para tokoh di atas maka dapat disimpulkan
bahwa Kepemimpinan Transformasional adalah kepemimpinan yang mampu
menginspirasi, mengarahkan dan menggerakkan pengikut untuk melakukan perubahan
melalui pemberdayaan dalam mencapai tujuan tertentu

Teknik-teknik Kinerja


Menurut Mathis dan Jackson dalam Fahmi (2015) teknik-teknik
untuk meningkatkan kinerja karyawan sebagai berikut:
a. Quantity of work : jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode
yang ditentukan.
b. Quanlity of work : kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat-
syaratkesesuaian dan kesiapannya.
c. Job knowledge : luasnya pengetahuan mengenai pekerjaaan dan
ketrampilannya
d. Creatineness : keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan
tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang
timbul.
e. Cooperation : Kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain atau
sesame organisasi.
f. Dependability : kesadaran untuk dapat dipercaya dalam hal kehadiran
dan penyelesaian kerja.
g. Initiative : semangat untuk melakukan tugas-tugas baru dan dalam
memperbesar tanggungjawabnya.
h. Personal qualities : menyangkut kepribadian, kepemimpinann,
keramahtamahan dan integritas pribadi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Menurut Mathis dan Jackson dalam Fahmi (2015) faktor-faktor
yang mempengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu :
a. Sikap kerja, seperti: kesediaan untuk bekerja secara bergiliran (shift
work) dapat menerima tambahan tugas dan bekerja dalam suatu tim.
b. Tingkat keterampilan yang ditentukan oleh pendidikan latihan dalam
manajemen supervisi serta keterampilan dalam teknik industri.
c. Hubungan tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang tercermin dalam
usaha bersama antara pimpinan organisasi dan tenaga kerja untuk
meningkatkan produktivitas melalui lingkara pengawasan mutu.
d. Manajemen poduktiviatas, yaitu manajemen yang efisien mengenai
sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan produktivitas.
e. Efisiensi tenaga kerja, seperti: perencanaan tenaga kerja dan tambahan
tugas.
f. Kewiraswastaan, dalam pengambilan resiko, kreatifititas.
Disamping hal diatas terdapat pula berbagai faktor yang
mempengaruhi kinerja kerja, diantaranya adalah:
a. Sikap mental, berupa:
1) Motivasi kerja
2) Disiplin kerja
3) Etika kerja
b. Pendidikan
Pada umumnya orang yang memiliki pendidikan lebih tinggi akan
mempunyai wawasan yang lebih luas terutama penghayatan akan arti
pentingnya kinerja dapat mendorong pegawai yang bersangkutan
melakukan tindakan yang produktif.
c. Keterampilan
Pada aspek tertentu apabila pegawai semakin terampil, maka akan
lebih mampu bekerja serta menggunakan fasilitas kerja dengan baik.
Pegawai akan lebih terampil apabila mempunyai kecakapan (ability)
dan pengalaman yang cukup.
d. Manajemen
Manajemen di sini berkaitan dengan sistem yang dikaitkan oleh
pimpinan untuk mengelola ataupun memimpin serta mengendalikan
staf/ bawahannya. Apabila manajemennya tepat akan menimbulkan
semangat yang lebih tinggi sehingga dapat mendorong pegawai untuk
melakukan tindakan yang produktif.
e. Tingkat Penghasilan
Apabila tingkat penghasilan memadai makan dapat menimbulkan
konsentrasi kerja dan kemampuan yang dimiliki dapat dimanfaatkan
untuk meningkatkan kinerja.
f. Jaminan Sosial
Jaminan sosial yang diberikan oleh suatu organisasi kepada
pegawainya dimaksudkan untuk meningkatkan pengabdian dan
semangat kerja. Apabila jaminan sosial pegawai mencukupi maka akan
dapat menimbulkan kesenangan bekerja. Sehingga mendorong
pemanfaatan kemampuan yang dimiliki untuk meningkatkan
kinerjanya.
g. Lingkungan dan Iklim Kerja
Lingkungan dan iklim kerja yang baik akan mendorong pegawai
lebih senang bekerja dan meningkatkan tanggung jawab untuk
melakukan pekerjaan dengan lebih baik menuju ke arah peningkatan
kinerja.
h. Sarana Produksi
Mutu sarana produksi sangat berpengaruh terhadap peningkatan
kinerja. Apabila sarana produksi yang digunakan tidak baik kadang-
kadang dapat menimbulkan pemborosan bahan yang dipakai.
i. Teknologi
Apabila teknologi yang dipakai tepat dan lebih maju tingkatannya
maka akan memungkinkan:
1) Tepat waktu dalam penyelesaian proses produksi
2) Jumlah produksi yang dihasilkan lebih banyak dan bermutu
3) Memperkecil terjadinya pemborosan bahan sisa
j. Kesempatan Berprestasi
Pegawai yang bekerja tentu mengharapkan peningkatan karir atau
pengembangan potensi yang pribadi yang nantinya akan bermanfaat
baik bagi dirinya maupun bagi organisasi. Apabila terbuka untuk
berprestasi, maka akan menimbulkan psikologis untuk meningkatkan
dedikasi serta pemanfaatan potensi yang dimiliki untuk meningkatkan
kinerja

Metode Pengukuran Kinerja

Terdapat beberapa metode dalam mengukur prestasi kerja,
sebagaimana diungkapkan oleh Gomes (2008), yaitu :
a. Metode Tradisional. Metode ini merupakan metode tertua dan paling
sederhana untuk menilai prestasi kerja dan diterapkan secara tidak
sistematis maupun sistematis. Yang termasuk kedalam metode
tradisional adalah :rating scale, employee comparation, check list, free
form essay, dan critical incident.
1) Rating scale. Metode ini merupakan metode penilaian yang paling
tua dan banyak digunakan, dimana penilaian yang dilakukan oleh
atasan atau supervisor untuk mengukur karakteristik, misalnya
mengenai inisitaif, ketergantungan, kematangan, dan kontribusinya
terhadap tujuan kerjanya.
2) Employee comparation. Metode ini merupakan metode penilaian
yang dilakukan dengan cara membandingkan antara seorang
pegawai dengan pegawai lainnya. Metode ini terdiri dari :
a) Alternation ranking : yaitu metode penilaian dengan cara
mengurutkan peringkat (ranking) pegawai dimulai dari yang
terendah sampai yang tertinggi berdasarkan kemampuan yang
dimilikinya.
b) Paired comparation : yaitu metode penilaian dengan cara seorang
pegawai dibandingkan dengan seluruh pegawai lainnya, sehingga
terdapat berbagai alternatif keputusan yang akan diambil. Metode
ini dapat digunakan untuk jumlah pegawai yang relatif sedikit.
3) Porced comparation (grading) : metode ini sama dengan paired
comparation, tetapi digunakan untuk jumlah pegawai yang relatif
banyak.
4) Check list. Metode ini hanya memberikan masukan/informasi bagi
penilaian yang dilakukan oleh bagian personalia.
5) Freeform essay. Dengan metode ini seorang penilai diharuskan
membuat karangan yang berkenaan dengan orang/ karyawan/
pegawai yang sedang dinilainya.
6) Critical incident. Dengan metode ini penilai harus mencatat semua
kejadian mengenai tingkah laku bawahannya sehari-hari yang
kemudian dimasukan kedalam buku catatan khusus yang terdiri dari
berbagai macam kategori tingkah laku bawahannya. Misalnya
mengenai inisiatif, kerjasama, dan keselamatan.
b. Metode Modern. Metode ini merupakan perkembangan dari metode
tradisional dalam menilai prestasi kerja. Yang termasuk kedalam
metode modern ini adalah : assesment centre, Management By
Objective (MBO=MBS) dan human asset accounting.
1) Assessment centre. Metode ini biasanya dilakukan dengan
pembentukan tim penilai khusus. Tim penilai khusus ini bisa dari
luar, dari dalam, maupun kombinasi dari luar dan dari dalam.
2) Management by objective (MBO = MBS). Dalam metode ini
pegawai langsung diikutsertakan dalam perumusan dan pemutusan
persoalan dengan memperhatikan kemampuan bawahan dalam
menentukan sasarannya masing-masing yang ditekankan pada
pencapaian sasaran perusahaan.
3) Human asset accounting. Dalam metode ini, faktor pekerja dinilai
sebagai individu modal jangka panjang sehingga sumber tenaga
kerja dinilai dengan cara membandingkan terhadap variabel-variabel
yang dapat mempengaruhi keberhasilan perusahaan.

Teori Kinerja


Menurut Pramudyo (2010) terdapat kurang lebih dua syarat utama
yang diperlukan guna melakukan penilaian kinerja yang efektif, yaitu :
a. Adanya kriteria kinerja yang dapat diukur secara objektif; dan
b. Adanya objektivitas dalam proses evaluasi
Sedangkan dari sudut pandang kegunaan kinerja itu sendiri, Sondang
Siagian (2008) menjelaskan bahwa bagi individu penilaian kinerja
berperan sebagai umpan balik tentang berbagai hal seperti kemampuan,
keletihan, kekurangan dan potensinya yang pada gilirannya bermanfaat
untuk menentukan tujuan, jalur, rencana dan pengembangan karirnya.
Sedangkan bagi organisasi, hasil penilaian kinerja sangat penting dalam
kaitannya dengan pengambilan keputusan tentang berbagai hal seperti
identifikasi kebutuhan program pendidikan dan pelatihan, rekrutmen,
seleksi, program pengenalan, penempatan, promosi, sistem balas jasa, serta
berbagai aspek lain dalam proses manajemen sumber daya manusia.
Berdasarkan kegunaan tersebut, maka penilaian yang baik harus dilakukan
secara formal berdasarkan serangkaian kriteria yang ditetapkan secara
rasional serta diterapkan secara objektif serta didokumentasikan secara
sistematik.
Dengan demikian, dalam melalukan penilaian atas prestasi kerja para
pegawai harus terdapat interaksi positif dan kontinu antara para pejabat
pimpinan dan bagian kepegawaian

Hubungan Kompensasi dengan Kinerja


Kompensasi karyawan merupakan elemen hubungan kerja yang
sering menimbulkan masalah dalam hubungan industrial. Masalah
kompensasi, khususnya upah, selalu menjadi perhatian manajemen
organisasi, karyawan, dan pemerintah. Manajemen memperhitungkan upah
karena merupakan bagian utama dari biaya produksi dan operasi,
melukiskan kinerja karyawan yang harus dibayar, dan mempengaruhi
kemampuannya untuk merekrut tenaga kerja dengan kualitas tertentu.
Kompensasi karyawan menentukan kemampuan perusahaan untuk
mendapatkan keuntungan, terutama di perusahaan yang padat karya. Oleh
karena itu, jika memungkinkan, manajemen berupaya mengefisiensikan
upah karyawan dengan pembayaran minimal, tetapi karyawan harus
berkinerja secara maksimal. Ketika merekrut seorang karyawan,
manajemen organisasi mengharapkan karyawan melakukan pekerjaan atau
tugas tertentu dengan cara tertentu dan menghasilkan kinerja tertentu
untuk mencapai tujuan organisasi. Harapan organisasi dikemukakan dalam
bentuk deskripsi tugas (job description).
Jika seorang karyawan menghasilkan kinerja yang diharapkan
manajemen, ia akan mendapatkan kompensasi tertentu. Dalam waktu
tertentu, ia akan mendapatkan kenaikan kompensasi jika memenuhi
kriteria kinerja yang ditetapkan manajemen organisasi. Bagi karyawan,
upah menentukan standard dan kualitas hidupnya. Upah ukuran tenaga,
pikiran, waktu, risiko kerja, dan kinerja yang ia berikan kepada majikan.
Upah juga mencerminkan kualitas dan kebahagiaan hidupnya di hari tua.
Oleh karena itu, upah menentukan hubungan karyawan dengan
majikannya, terjadinya pemogokan, kepuasan kerja, dan komitmen
terhadap tempat kerja.
Sebagian besar pemogokan buruh di Indonesia disebabkan oleh
tuntutan buruh atas kenaikan upah minimum dan perbaikan jaminan sosial
mereka. Bagi pemerintah, kompensasi mempengaruhi kestabilan ekonomi
makro, yaitu tingkat pengangguran, inflasi, daya beli dan perkembangan
ekonomi, serta poltik dan sosial negara. Upah menentukan jumlah pajak
yang diterima pemerintah dan kemampuannya untuk memberikan layanan
publik bagi warga negaranya. Jumlah pajak penghasilan yang dipungut
pemerintah menentukan kemampuan pemerintah untuk memberikan
jaminan sosial kepada karyawan ketika sedang bekerja dan di hari tuanya.
Kompensasi memberikan kontribusi kepada kemakmuran
masyarakat. Di negara-negara maju, tingkat upah merupakan pencipta
kemakmuran negara-negara tersebut. Sebagian anggota masyarakat adalah
pekerja, baik pada sektor publik maupun pada sektor swasta. Upah
mempengaruhi daya beli mereka untuk membeli produk yang mereka
butuhkan. Selain itu, upah juga menentukan jumlah jenis, kuantitas dan
kualitas produk yang diproduksi oleh pekerja dan dibutuhkan oleh para
anggota masyarakat.
Upah merupakan tolak ukur kinerja karyawan. Upah diberikan
setelah karyawan menghasilkan kinerja tertentu. Tujuan mengaitkan upah
dengan kinerja antara lain sebagai berkut:
a. Upah merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mencapai tujuan
perusahaan secra efisien. Skema upah disusun berdasarkan tujuan
kinerja., seperti tingkat produktivitas dan keuntungan perusahaan.
b. Untuk mempertahankan dan mengembangkan budaya organisasi
dengan merekrut dan mempertahankan retensi karyawan dengan
kompetensi tinggi.
c. Menciptakan sistem manajemen SDM denga sistem imbalan intrinsik
dan ekstrinsik yang meningkatkan motivasi kerja karyawan.
d. Upah juga berkaitan dengan manajemen kinerja yang mengontrol,
mengembangkan, dan mempertahankan kinerja tinggi karyawan

Teori Kompensasi


Kompensasi merupakan cara perusahaan untuk meningkatkan
kualitas karyawannya untuk pertumbuhan perusahaan. Setiap perusahaan
memiliki suatu sistem kompensasi yang berbeda-beda sesuai dengan visi
misi, dan tujuannya. Menurut Gugup Kismono (2011) kompensasi dapat
dibedakan dalam dua kategori, yaitu:
a. Kompensasi Finansial (Uang)
Kompensasi langsung berupa pembayaran upah (pembayaran atas
dasar jam kerja), gaji (pembayaran secara tetap/bulanan), dan insentif
atau bonus. Pemberian gaji tetap setiap bulannya umumnya didasarkan
pada nilai pekerjaan yang diembannya. Semain tinggi nilai pekerjaan
atau jabatannya akan semakin tinggi pula gaji yang diterimanya tanpa
memeprtimbangkan kinerja yang dihasilkannya. Penentuan nilai sebuah
pekerjaan dilakukan melalui evaluasi pekerjaan. Sebaliknya, besar-
kecilnya gaji insentif atau bonus dikaitkan dengan kinerja seseorang
atau kinerja organisasi. Jika seseorang menunjukkan kinerja yang lebih
tinggi dibandingkan rekan kerjanya, maka dia berhak mendapatkan
insentif lebih besar walaupun mereka menduduki jabatan yang sama.
Kompensasi pelengkap atau tidak langsung (benefits), pemberian
pelayanan dan fasilitas kepada karyawan seperti program beasiswa
pendidikan, perumahan, program rekreasi, libur dan cuti, konseling
financial, dan lain-lain.
b. Kompensasi Non finansial (Non uang)
Kepuasan dari pekerjaan itu sendiri, yaitu yaitu tugas-tugas yang
menarik, tantangan, tanggung jawab, pengakuan, dan rasa pencapaian.
Kepuasan yang diperoleh dari lingkungan kerja karyawan, yaitu
kebijakan yang sehat, supervisi yang kompeten, kerabat kerja yang
menyenangkan, dan lingkungan kerja yang nyaman

Definisi Kompensasi


Kompensasi merupakan sejumlah uang yang di terima sebagai balas
jasa dari prestasi kerja termasuk juga berbagai macam layanan dan
tunjangan dari perusahaan kepada pegawainya. Pendapat lain yang
dikemukakan oleh Rivai (2010) Kompensasi merupakan sesuatu yang
diterima karyawan sebagai pengganti kontribusi jasa mereka pada
perusahaan. Pada dasarnya manusia bekerja juga ingin memperoleh uang
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kompensasi merupakan apa yang
diterima oleh para karyawan sebagai ganti kontribusi mereka kepada
organisasi (Simamora, 2004).
Kompensasi (compensation) meliputi kompensasi finansial dan non
finansial. Dimana pada kompensasi finansial terdapat kompensasi finansial
langsung (direct financial compentation) yaitu berbentuk gaji atau upah
dan kompensasi finansial tidak langsung (indirect financial compensation)
atau disebut juga dengan tunjangan. Sedangkan untuk kompensasi non
financial meliputi insentif, tunjangan dan fasilitas. Untuk sistem
kompensasi dibedakan oleh waktu, hasil (output) dan borongan.
Kompensasi merupakan salah satu faktor penting dan menjadi
perhatian pada banyak organisasi dalam mempertahankan dan menarik
sumber daya manusia yang berkualitas. Berbagai organisasi berkompetisi
untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas, karena kualitas
hasil pekerjaan ditentukan oleh kompetensi yang dimiliki sumber daya
manusianya. Alasan ini membuat banyak organisasi mengeluarkan
sejumlah dana yang relatif besar untuk mengembangkan sumber daya
manusianya agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhannya.
Kompensasi adalah imbalan yang dibayarkan kepada karyawan atas
jasa yang mereka sumbangkan pada pekerjannya (Bangun, 2012).
Kompensasi dapat diterima dalam bentuk finansial (kompensasi langsung
dan kompensasi tidak langsung) dan kompensasi bukan finansial.
Kompensasi finansial adalah bentuk kompensasi yang dibayarkan
kepada karyawan dalam bentuk uang atas jasa yang mereka sumbangkan
pada pekerjaannya (Bangun, 2012). Kompensasi dalam bentuk finansial
dapat dibayarkan secara langsung dan tidak langsung. Kompensasi
langsung adalah kompensasi yang dibayarkan secara langsung baik dalam
bentuk gaji pokok (base payment) maupun berdasarkan kinerja (bonus dan
insentif). Kompensasi langsung dapat berupa :
a. Perlindungan umum (jaminan sosial, pengangguran dan cacat)
b. Perlindungan pribadi (pensiun, tabungan, pesangon tambahan, dan
asuransi)
c. Bayaran tidak masuk kantor (pelatihan, cuti kerja, sakit, liburan, acara
pribadi, masa istirahat, hari libur nasional)
d. Tunjangan siklus hidup (bantuan hukum, perawatan orang tua,
perawatan anak, program kesehatan, konseling, penghasilan dan biaya
pindah).
Kompensasi tidak langsung adalah kompensasi yang dibayarkan
dalam bentuk uang tetapi sistem pembayarannya dilakukan setelah jatuh
tempo, atau pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa akan datang
yang telah disepakati sebelumnya. Kompensasi tidak langsung dapat
dibayarkan dalam bentuk tunjangan seperti asuransi, liburan atas biaya
perusahaan dan dana pensiun. Pembayaran tidak langsung akan diberikan
kepada seluruh karyawan.
Kompensasi non finansial adalah imbalan yang diberikan kepada
karyawan bukan dalam bentuk uang, tetapi lebih mengarah pada pekerjaan
yang menantang, imbalan karir, jaminan sosial atau bentuk-bentuk lain
yang dapat menimbulkan kepuasan kerja (Bangun, 2012). Imbalan non
finansial dapat berupa imbalan karir (berupa rasa aman, pengembangan
diri, fleksibilitas karir, dan peluang kenaikan penghasilan), dan imbalan
sosial (berupa simbol status, pujian dan pengakuan, kenyamanan tugas,
dan persahabatan).

23
b. Organisasi
1) Pemetaan yang akurat mengenai kompetensi angkatan kerja yang
ada yang dibutuhkan.
2) Meningkatnya efektifitas rekrutmen dengan cara menyesuaikan
kompetensi yang diperlukan dalam pekerjaan dengan yang dimiliki
pelamar.
3) Pendidikan dan pelatihan difokuskan pada kesenjangan keterampilan
dan persyaratan keterampilan perusahaan yang lebih khusus.
4) Akses pada pendidikan dan pelatihan yang lebih efektif dari segi
biaya berbasis kebutuhan industri dan identifikasi penyedia
pendidikan dan pelatihan internal dan eksternal berbasis kompetensi
yang diketahui.
5) Pengambil keputusan dalam organisasi akan lebih percaya diri
karena karyawan telah memiliki keterampilan yang akan diperoleh
dalam pendidikan dan pelatihan.
6) Penilaian pada pembelajaran sebelumnya dan penilaian hasil
pendidikan dan pelatihan akan lebih reliable dan konsisten.
7) Mempermudah terjadinya perubahan melalui identifikasi kompetensi
yang diperlukan untuk mengelola perubahan. .
Memiliki SDM adalah keharusan bagi perusahaan. Mengelola SDM
berdasarkan kompetensi diyakini bisa lebih menjamin keberhasilan
mencapai tujuan. Sebagian besar perusahaan memakai kompetensi sebagaiPengaruh Kepemimpinan Transformasional… , Hendra Kurniawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMP, 2016

24
dasar dalam memilih orang, mengelola kinerja, pelatihan dan
pengembangan serta pemberian kompensasi.
Komponen utama kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang saling terkait mempengaruhi sebagian besar
jabatan (peranan atau tanggung jawab), berkorelasi dengan kinerja pada
jabatan tersebut, dan dapat diukur dengan standar-standar yang dapat
diterima, serta dapat ditingkatkan melalui upaya-upaya pelatihan dan
pengembangan.
Kemudian Hutapea dan Thoha dalam Christina (2013)
mengungkapkan bahwa ada empat komponen utama pembentukan
kompetensi yaitu pengetahuan yang dimiliki seseorang, kemampuan,
pengalaman, dan perilaku individu. Keempat komponen utama dalam
kompetensi dapat dijelaskan lebih rinci sebagai berikut :
a. Pengetahuan
Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki oleh seseorang.
Pengetahuan adalah komponen utama kompetensi yang mudah
diperoleh dan mudah diidentifikasi.
Pengetahuan karyawan turut menentukan berhasil tidaknya
pelaksanaan tugas yang dibebankan kepadanya, karyawan yang
mempunyai pengetahuan yang cukup akan meningkatkan efisiensi
perusahaan. Namun bagi karyawan yang belum mempunyai
pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat-sendat. Pemborosan
bahan, waktu dan tenaga serta faktor produksi yang lain akan diperbuatPengaruh Kepemimpinan Transformasional… , Hendra Kurniawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMP, 2016

25
oleh karyawan berpengetahuan kurang. Pemborosan ini akan
mempertinggi biaya dalam pencapaian tujuan organisasi. Atau dapat
disimpulkan bahwa karyawan yang berpengetahuan kurang, akan
mengurangi efisiensi. Maka dari itu, karyawan yang berpengetahuan
kurang harus diperbaiki dan dikembangkan melalui pelatihan SDM,
agar tidak merugikan usaha-usaha pencapaian tujuan organisasi yang
sudah ditentukan sebelumnya. Pengetahuan dikategorikan sebagai
berikut :
1) Informasi yang didapatkan dan diletakkan dalam ingatan kita
(Deklaratif).
2) Bagaimana informasi dikumpulkan dan digunakan ke sesuatu hal
yang sudah kita ketahui (Procedural).
3) Mengerti tentang how, when dan why informasi tersebut berguna dan
dapat digunakan (Strategic).
b. Keterampilan
Faktor yang juga ikut mensukseskan pencapaian tujuan organisasi
adalah faktor keterampilan karyawan. Bagi karyawan yang mempunyai
keterampilan kerja yang baik, maka akan mempercepat pencapaian
tujuan organisasi, sebaliknya karyawan yang tidak terampil akan
memperlambat tujuan organisasi. Untuk karyawan-karyawan baru atau
karyawan dengan tugas baru diperlukan tambahan keterampilan guna
pelaksanaan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Keterampilan
merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan suatu aktivitasPengaruh Kepemimpinan Transformasional… , Hendra Kurniawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMP, 2016

26
atau pekerjaan. Lebih lanjut tentang keterampilan adalah sebagai
kapasitas yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu rangkaian tugas
yang berkembang dari hasil pelatihan dan pengalaman. Keahlian
seseorang tercermin dengan seberapa baik seeorang dalam
melaksanakan suatu kegiatan yang spesifik, seperti mengoperasikan
suatu peralatan, berkomunikasi efektif atau mengimplementasikan suatu
strategi bisnis.
c. Perilaku
Disamping pengetahuan dan ketrampilan karyawan, hal yang
perlu diperhatikan adalah sikap perilaku kerja karyawan. Apabila
karyawan mempunyai sifat yang mendukung pencapaian tujuan
organisasi, maka secara otomatis segala tugas yang dibebankan
kepadanya akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Menurut Gitosudarmo dan Sudita dalam Fahmi (2012)
mengemukakan bahwa : ”Perilaku kerja adalah sikap keteraturan
perasaan dan pikiran seseorang dan kecenderungan bertindak terhadap
aspek lingkungannya.”
d. Pengalaman kerja
Banyak perusahaan atau organisasi yang kerapkali menganggap
bahwa pengalaman sebagai indikator yang tepat dari kemampuan dan
sikap yang berhubungan dengan pekerjaan.
Pengalaman adalah keseluruhan pelajaran yang diperoleh
seseorang dari peristiwa-peristiwa yang dialami dalam perjalananPengaruh Kepemimpinan Transformasional… , Hendra Kurniawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMP, 2016

27
hidup. Pengalaman yang dapat membentuk kompetensi seseorang
misalnya pengalaman yang diperoleh dari bekerja dan berorganisasi.
Baik pengalaman manis maupun pahit berperan penting dalam
pembentukan kompetensi dari individu. Mengingat pengalaman
seseorang memiliki peran yang cukup besar dalam pembentukan
kompetensi, maka sudah sewajarnya seorang pemimpin mengetahui
latar belakang sumber daya manusianya.
Menurut Manullang dalam Christilia (2013) bahwa :
”Pengalaman kerja adalah proses pembentukan pengetahuan atau
keterampilan tentang metode suatu pekerjaan karena keterlibatan
karyawan tersebut dalam pelaksanaan tugas pekerjaan. Pengalaman
kerja sebagai suatu proses pembelajaran dan pertambahan
perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal
maupun non formal atau atau bisa diartikan sebagai suatu proses yang
membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi.
Komponen-komponen kompetensi terdiri dari motive (dorongan), traits
(ciri, sifat, karakter pembawaan), self image (citra diri), social role
(peran sosial), dan skills (keterampilan).
Untuk lebih jelasnya komponen-komponen kompetensi tersebut
akan diuraikan satu persatu sebagai berikut :
1) Motive (Dorongan)
Motif seringkali diartikan dengan istilah dorongan. Dorongan
atau tenaga tersebut merupakan gerak jiwa dan jasmani untukPengaruh Kepemimpinan Transformasional… , Hendra Kurniawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMP, 2016

28
berbuat. Jadi motif tersebut merupakan studi driving force yang
menggerakkan manusia untuk bertingkah-laku, dan di dalam
perbuatannya itu mempunyai tujuan tertentu. Setiap tindakan yang
dilakukan oleh manusia selalu dimulai dengan motivasi (niat).
Motivasi adalah pemberian atau penimbulan motif, dapat pula
diartikan hal atau keadaan menjadi motif. Sedangkan menurut
Mitchell dalam Christilia (2013) motivasi mewakili proses
persistensi kegiatan-kegiatan sukarela (volunter) yang diarahkan ke
tujuan tertentu. Motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus
merupakan aspek-aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah :
keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states), tingkah
laku yang didorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior), dan
tujuan dari pada tingkah laku tersebut, (Goals or ends of such
behavior).
Lebih lanjut motivasi sebagai suatu perubahan tenaga yang
ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi pencapaian tujuan.
Karena kelakukan manusia itu selalu bertujuan, kita dapat
menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberi kekuatan
bagi tingkah laku lmencapai tujuan, telah terjadi di dalam diri
seseorang. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi
adalah energi aktif yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan
pada diri seseorang yang nampak pada gejala/kejiwaan, perasaan,
dan juga emosi, sehingga mendorong individu untuk bertindak atauPengaruh Kepemimpinan Transformasional… , Hendra Kurniawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMP, 2016

29
melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebutuhan, atau
keinginan yang harus terpuaskan.
2) Traits (Ciri, sifat, karakter pembawaan)
Traits adalah elemen dasar dari kepribadian yang berperan
vital dalam usaha meramalkan tingkah laku. Hal ini tampak definisi
kepribadian menurut Cattell. Menurutnya, kepribadian adalah
struktur kompleks yang tersusun dalam berbagai kategori yang
memungkinkan prediksi tingkah laku seseorang dalam situasi
tertentu, mencakup seluruh tingkah laku baik yang konkrit atau yang
abstrak.
3) Self image (Citra diri)
Menurut Brisset dalam Christilia (2013) self image merupakan
suatu gambaran dan keadaan diri yang dimiliki oleh individu yang
bersangkutan. Self image berkenaan dengan karakteristik fisik dan
mentalnya. Proses perkembangan self image merupakan gambaran
diri yang dimiliki individu melalui interaksi dengan lingkungan.
Individu mendapat umpan balik dan persetujuan mengenai
perilakunya dari orang-orang di sekitar individu tersebut.
4) Social role (Peran sosial)
Social role merupakan seperangkat harapan dan perilaku atas
status sosial. Peran sosial merupakan tingkah laku individu yang
mementaskan suatu kedudukan tertentu. Dalam peranan
yang berhubungan dengan pekerjaannya, seseorang diharapkanPengaruh Kepemimpinan Transformasional… , Hendra Kurniawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMP, 2016

30
menjalankan kewajiban-kewajibannya yang berhubungan dengan
peranan yang dipegangnya

Teori Kompetensi


Konsep kompetensi berawal dari artikel David McClelland yang
mengegerkan, “Testing for competence rather than intelligence”. Artikel
tersebut meluncurkan gerakan kompetensi dalam psikologi industrial.
David McClelland menyimpulkan, berdasarkan hasil penelitian,
bahwa tes kecakapan akademis tradisional dan pengetahuan isi, serta nilai
dan ijazah sekolah; (1) tidak dapat memprediksi keberhasilan di
pekerjaan/kehidupan, (2) biasanya bias terhadap masyarakat yang sosial
ekonomi rendah.
Spencer dan Spencer (dalam Palan, 2008:6), mengemukakan bahwa
kompetensi merujuk kepada karakteristik yang mendasari perilaku yang
menggambarkan motif, karakteristik pribadi (ciri khas), konsep diri, nilai-
nilai, pengetahuan atau keahlian yang dibawa seseorang yang berkinerja
unggul (superior performer) di tempat kerja.
Selanjutnya, Spencer dan Spencer (dalam Palan, 2008:6),
menguraikan lima karakteristik yang membentuk kompetensi, sebagai
berikut:
a. Pengetahuan; merujuk pada informasi dan hasil pembelajaran.
b. Keterampilan; merujuk pada kemampuan seseorang untuk melakukan
suatu kegiatan.
c. Konsep diri dan nilai-nilai; merujuk pada sikap, nilai-nilai dan citra diri
seseorang, seperti kepercayaan seseorang bahwa dia bisa berhasil dalam
suatu situasi.
d. Karakteristik pribadi; merujuk pada karakteristik fisik dan konsistensi
tanggapan terhadap situasi atau informasi, seperti pengendalian diri dan
kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan.
e. Motif; merupakan emosi, hasrat, kebutuhan psikologis atau dorongan-
dorongan lain yang memicu tindakan.
Karakteristik kompetensi dibedakan berdasarkan pada tingkat mana
kompetensi tersebut dapat diajarkan. Keahlian dan pengetahuan biasanya
dikelompokkan sebagai kompetisi di permukaan sehingga mudah tampak.
Kompetisi ini biasanya mudah untuk dikembangkan dan tidak memerlukan
biaya pelatihan yang besar untuk menguasainya.

Definisi Kompetensi


Kompetensi menurut Grote dalam Pramudyo (2010) merupakan
seperangkat pengetahuan, keterampilan, perilaku yang harus dimiliki
seseorang dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya. Kompetensi
dapat digunakan untuk memprediksi kinerja, yaitu siapa yang berkinerja
baik dan kurang baik tergantung pada kompetensi yang dimilikinya, diukur
dari kriteria atau standar yang digunakan.
Selanjutnya kompetensi menurut Spence Jr. dalam Ruky (2006)
adalah “un under lying characteristic of an individual that is casually
realated to cretarion-referenced effective and/or superior performance in
a job or situation” atau karakteristik dasar seseorang (individu) yang
mempengaruhi cara berpikir dan bertindak membuat generalisasi terhadap
segala situasi yang dihadapi serta bertahan cukup aman dalam diri
manusia.
Menurut Mangkunegara dalam Nenny Anggraeni (2010)
mengemukakan bahwa kompetensi merupakan faktor mendasar yang
dimiliki seseorang yang mempunyai kemampuan lebih, yang membuatnya
berbeda dengan seseorang yang mempunyai kemampuan rata-rata atau
biasa saja.
Kompetensi menurut oleh Nick Boreham dalam Sahwan (2014:5)
sebagai berikut :
Contempory work related education and training policy represent
occupational competence as the outcome of individual performance
at work. This paper present a critique of this neo liberal assumption,
arguing that in many cases competence should be regreded as an atribure
of groups, teams and communities. It proposes a theory of collective
competence in terms of (1) making collective sense of event in the
workplace, (2) developing and using a collective knowledge base and (3)
developing a sense of interdependency.
Menurut Malthis dan Jackson dalam Christilia (2013) menjelaskan
bahwa kompetensi adalah karakteristik-karakteristik dasar yang dapat
dihubungkan dengan kinerja yang meningkat dari individu-individu atau
tim. Ada semakin banyak organisasi yang menggunakan beberapa segi
analisis kompetensi.
Kesimpulan dari definisi para ahli adalah kompetensi sebagai
kemampuan seseorang untuk menghasilkan pada tingkat yang memuaskan
di tempat kerja, termasuk di antaranya kemampuan seseorang untuk
mentransfer dan mengaplikasikan keterampilan dan pengetahuan tersebut
dalam situasi yang baru dan meningkatkan manfaat yang disepakati.

Pengertian Kepercayaan


Kepercayaan merupakan peranan penting dalam sebuah
hubungan sosial. Seorang individu memiliki kecenderungan menilai
orang lain dan memutuskan apakah akan mempercayai orang
tersebut atau tidak saat menjalin interaksi.
Menurut Mayer, Davis dan Schoorman (1995) kepercayaan
adalah kesediaan seseorang untuk menjadi rentan terhadap tindakan
pihak lain berdasarkan harapan bahwa yang lain akan melakukan
tindakan tertentu yang penting untuk trustor, terlepas dari
kemampuan untuk memantau atau untuk mengontrol pihak lain.
Kepercayaan refleksi sebuah harapan, asumsi atau keyakinan
sesorang tentang kemungkinan bahwa tindakan seseorang dimasa
mendatang akan bermanfaat baik dan tidak merusak
kepentingannya.
Menurut Lewicky dan Wiethoff (2000) mendeskripsikan
kepercayaan sebagai keyakinan individu dan kemauan untuk
bertindak atas dasar kata-kata, tindakan dan keputusan orang lain.
Hal yang dapat menyebabkan seseorang mempercayai orang lain
yaitu berkembangnya system kepercayaan melalui pengalaman
hidup seseorang, aturan atau norma yang ada pada lembaga atau
masyarakat dan adanya pengalaman saat menjalin hubungan

Bauran Pemasaran


Peranan strategis pemasaran mencakup setiap usaha yang
mencapai kesesuaian antara perusahaan dengan lingkungan dalam
rangka mencari pemecahan atas masalah penentuan dua
pertimbangan pokok. Terdapat beberapa variabel yang saling
mendukung dari variabel satu dengan lainnya, perusahaan dapat
menggabungkan variabel tersebut yang berguna untuk memperoleh
tanggapan yang sesuai dengan keputuhan konsumen dalam pasar.
Menurut Dharmmesta dan Irawan (2001) dalam mengatakan
bahwa dalam menyusun strategi pemasaran, diperlukan keputusan
dari manajemen tentang elemen bauran pemasaran, yaitu keputusan
yang dibidang perencanaan produk, perencanaan harga, promosi dan
penyaluran.
Menurut Dharmmesta dan Handoko (2000) dalam bauran
pemasaran adalah gabungan dari empat variabel yaitu produk,
struktur harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi. Empa unsut
tersebut berpengaruh dan saling berhubungan satu sama lain,
sehingga dapat menghasilkan kebijakan pemasaran dapat mengarah
terhadap keputusan pembelian. Adapun pengertian dari masing-
masing bauran pemasaran adalah :
1) Produk (product)
Produk iyalah variabel yang paling penting untuk
meningkatkan mutu dan memberikan perhatiannya terhadap
minat beli perusahaan. Produk juga merupakan faktor
keberhasilan dan gagalnya dari pemasaran, dikarenakan
produk merupakan titik dari kepuasan baik yang dirasakan
oleh konsumen. Tjiptomo (2001:95) dalam menyatakan
bahwa produk adalah segala sesuatu yang bisa ditawarkan
oleh produsen dengan tujuan untuk dicari, diperhatikan,
diminta, dibeli dan dikonsumsi atau digunakan untuk
memenuhi kebutuhan yang bersangkutan. Kotler (2007)
dalam mengatakan bahwa penjual sudah menghasilkan mutu
apabila produk yang dijual memenuhi atau memenuhi apa
yang diharapkan oleh konsumen.
2) Harga (price)
Menurut Dharmmesta dan Irawano (2001), harga adalah
sejumlah uang (ditambahkan produk jika mungkin) yang
digunakan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari
produk dan pelayanan. Sedangkan menurut Mulyadi
(2001:78) pada dasarnya harga jual mampu menutupi biaya
penuh serta dengan laba wajar. Kesimpulannya bahwa harga
jual adalah biaya yang digunakan oleh penjual dalam system
produksi barang atau jasa, ditambahkan dengan jumlah laba
yang digunakan dari penjual, salah satu caranya dengan
meningkatkan mutu dan memberikan minat pembeli.
3) Promosi
Promosi merupakan strategi perusahaan dalam memasarkan
produk untuk meningkatkan keputusan pembelian. Pada
dasarnya promosi adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk
menyampaikan tentang produk kepada pasar yang dituju serta
berisi tentang keistimewaan, keberadaan, dan kegunaannya,
untuk mendorong seseorang bertindak atau dalam hal
membeli produk. Hal yang diutamankan dalam promosi
adalah supaya produsen dapat mempengaruhi,
menghinformasikan, dan menginggatkan kembali kepada
konsumen.
4) Lokasi
Kotler (2009) menyatakan bahwa lokasi adalah suatu strategi
menentukan dimana dan bagaimana kita menjualsuatu produk.
Dalam strategi yang terpenting adalah menciptakan lokasi,
distribusi, atau outlate, dimana konsumen dapat melihat dan
membeli barang yang ditawarkan. Penjual hendaknya
mengusahakan agar produk yang dipasarkan tersedia dan
dapat dijangkau oleh konsumen.

Pengertian Pemasaran


Pengertian pemasaran menurut Kotler dan Armstrong
(2014:27) pemasaran merupakan proses dimana perusahaan
menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang
kuat degan pelanggan, tujuannya menangkap nilai dari pelanggan.
Dengan memperlihatkan bahwa adanya suatu usaha untuk
memenuhi kebutuhan dan adanya usaha yang diarahkan untuk
memperoleh kebutuhan dengan cara mengadakan hubungan
bersama pihak lain.
Pendapat yang lain megemukakan bahwa pemasaran adalah
proses mengidentifikasi, menciptakan dan mengkomunikasikan nilai,
serta memelihara hubungan yang memuaskan pelanggan untuk
memaksimalkan keuntungan perusahaan, Hasan (2013).
Definisi diatas dapat dipahami bahwa pemasaran adalah
proses sosial atau fungsi organisasi dalam kegiatan bisnis yang
bertujuan menyalurkan atau mendistribusikan barang dalam rangka
memuaskan konsumen, bertujuan untuk lebih mengenal dan
memahami pelanggan. Produk yang dihasilkan dapat diterima
pelanggan, idealnya pemasaran menyebabkan pelanggan siap
membeli barang. Sehingga tinggal bagaimana membuat prosuk
dapat tersedia

Perceived Quality (Persepsi Kualitas)


Perceived Quality (Persepsi Kualitas) Menurut Rahayu Mardika ningsih dkk.
(2019) pada bidang pemasaran, persepsi kualitas dianggap sebagai elemen yang
penting sebelum pengambilan keputusan karena sebelum proses pembelian para
konsumen akan membandingkan kualitas dan yang berhubungan dengan harga dari
produk tertentu. Sedangkan menurut Criest Roony, dkk. (2020) adalah dapat
diartikan keseluruhan ciri-ciri dan karakteristik suatu produk atau jasa yang
kemampuannya tergantung untuk memenuhi kebutuhan yang dinyatakan maupun
yang tersirat. Bisa juga persepsi konsumen terhadap kualitas pada umumnya atau
suatu produk atau jasa yang memiliki keunggulan tertentu dengan memperhatikan
tujuan dari produk atau layanan tersebut dibandingkan dengan alternatif lainnya.
Sedangkan menurut Yunanda Arpan & M. Rafiq (2011) Perceived Quality adalah
persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk
atau jasa layanan berkaitan dengan maksud yang diharapkan. Menurut Ya-Hui
Wang dan Chien- Cheng Lee (2016), Kualitas yang dirasakan adalah penilaian
konsumen tentang keunggulan dan keunggulan produk secara keseluruhan, bukan
kualitas produk yang sebenarnya. Konsumen sering membentuk keyakinan mereka
berdasarkan berbagai isyarat informasi (intrinsik dan ekstrinsik), dan kemudian
mereka menilai kualitas suatu produk dan membuat keputusan pembelian akhir
berdasarkan kepercayaan ini. Persepsi kualitas memiliki efek positif pada evaluasi
merek konsumen tentang suatu. Persepsi kualitas yang lebih tinggi meningkatkan
nilai persepsi konsumen dan kemudian memperkuat minat beli konsumen

Indikator Country Of Origin


Untuk mengukur Country of Origin, Laroche et al., (2005) dalam Dinata et
al, (2015) memiliki konsep yang terdiri dari tiga indikator, yaitu:

  1. Country belief
    Merupakan keyakinan calon konsumen tentang pembangunan industri
    dan kemajuan teknologi di Negara asal merek produk.
  2. People Affect
    Merupakan tanggapan efektif calon konsumen terhadap masyarakat
    Negara asal merek produk.
  3. Desire Interaction
    Merupakan kesediaan atau keinginan calon konsumen untuk
    membangun hubungan dengan Negara asal merek produk.

Country Of Origin (Negara Asal)


Country of origin merupakan negara asal dari suatu produk. Untuk menunjukan
country of origin seringkali ditulis dengan “made in” atau buatan pada produk.
Banyak yang kemudian sangat familiar dengan kata made in sehingga melihat kata
made in pada produk kemasan, mereka langsung mengartikan produk tersebut
berasal dari negara tertentu. Misal jika pada kemasan produk terdapat “Made In
USA” maka produk tersebut buatan Amerika Serikat (Kagean, 2013). Konsumen
cenderung mengevaluasi sebuah produk berdasarkan informasi negara asal atau
county of originnya (E Listiana, 2014). Definisi lain dari country of origin adalah
sekumpulan asosiasi mental dan kepercayaan seseorang akan suatu produk yang
dipicu oleh negara asal produk (Kotler & Keller, 2016). Dari beberapa pengertian
tersebut, dapat disimpulkan bahwa country of origin merupakan image sebuah
produk yang dipicu oleh asal negara dimana produk tersebut diproduksi. Kotler dan
Keller (2016) mengungkapkan beberapa penelitian dan menemukan beberapa hal
sebagai berikut:
a. Konsumen terkadang bersikap etnosentris dan cenderung nasionalis
terhadap produk dari negara sendiri, kecuali konsumen yang berasal
dari negara berkembang.
b. Semakin baik citra dari sebuah negara, maka semakin baik label
“Made In..: untuk ditampilkan.
c. Dampak dari negara asal atau country of origin bervariasi tergantung
jenis produk. Sebagai contoh, konsumen ingin tahu asal sebuah mobil
dibuat, tetapi berbeda halnya dengan oli pelumas.
d. Di Beberapa negara, konsumen memahami reputasi barang tertentu
berdasarkan negara asalnya: misalnya, Jepang untuk mobil dan barang
elektronik; Amerika Serikat untuk inovasi berteknologi tinggi,
minuman.
e. ringan, rokok, celana jeans; Prancis untuk anggur, parfum dan barang
barang mewah.
f. Terkadang persepsi country of origin dapat mencakup semua jenis
produk dari sebuah asal negara. Dalam sebuah penelitian, konsumen
China di Hongkong menganggap produk yang berasal dari Amerika
Serikat sebagai produk yang memiliki prestis, produk asal Jepang
yang inovatif dan produk China dengan harga murah

Indikator Social Media Marketing


Penggunaan sosial media yang berhubungan dengan aktivitas ecommerce
dimana perusahaan menginginkan perubahan dari “trying to sell” menjadi
“making connection” dengan pelanggan. Menurut (Pradiptarini, 2011)
indikator Social Media Marketing (SMM) adalah sebagai berikut :

  1. Kualitas Konten; Menunjukkan bahwa jutaan pengikut / penggemar
    bisa bertindak sebagai “pengikut hantu”, yang berarti pengikut ini /
    penggemar tidak pernah aktif terlibat dalam percakapan online. Ini
    juga menunjukkan bahwa manajer tidak harus benar-benar
    bergantung pada software monitoring untuk mengukur dan
    menganalisis kampanye media sosial mereka karena kualitas konten
    bukan lah kuantitas konten
  2. Membangun kepercayaan (hubungan) Ironisnya, beberapa kampanye
    pemasaran media sosial saat ini masih didorong oleh pemasaran dan
    fokus kuno pada efek jangka pendek (penjualan), yang juga dikenal
    sebagai perilaku insentif-diinduksi.
  3. Keterlibatan Salah satu alasan mengapa beberapa kampanye media
    sosial tidak bekerja adalah karena eksekutif tidak berkomitmen penuh
    untuk menghabiskan waktu dan pikiran mereka pada yang terlibat
    aktif di Social Media Marketing mereka.
  4. Integrasi dengan platform media lainnya. Beberapa manajer khawatir
    bahwa kampanye media sosial mereka dapat mempengaruhi jumlah
    pengunjung website utama mereka, karena semakin banyak
    pelanggan beralih ke Facebook atau Twitter. Jika program media
    sosial dilakukan dengan benar, pengunjung website tidak akan
    terpengaruh oleh pertumbuhan penggemar perusahaan / pengikut di
    situs media sosial.

Jenis-Jenis Social Media Marketing


Menurut (Supradono & Hanum, 2011) jenis sosial media dapat dikelompokkan
ke dalam beberapa kategori besar, meskipun beberapa aplikasi mungkin masuk
ke dalam lebih dari satu kategori tertentu tergantung pada bagaimana aplikasi
tersebut digunakan. Secara kategori dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Publikasi Web Situs Web yang memungkinkan pengguna untuk
    mengirim atau mempublikasikan konten untuk menjangkau khalayak
    secara luas dan mendapatkan umpan balik. Contoh alat ini diantaranya
    adalah: Microblogging (Twitter, Plurk), Blogs (WordPress, Blogger),
    Wiki (Wikispaces, PBWiki),Mashup (Google Maps, Popurls)
  2. Jejaring Sosial Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk
    membangun koneksi dan berbagi informasi dengan pengguna lain.
    Sebuah layanan jaringan sosial pada dasarnya terdiri dari perwakilan
    dari tiap pengguna, hubungan sosial pengguna, dan berbagai layanan
    tambahan. Platform Umum jaringan sosial meliputi: Alat Sosial
    Media (Facebook, LinkedIn, Google), Sosial Bookmark (Delicious,
    Digg), Virtual Worlds (Second Life, OpenSim), Crowdsourcing /
    Sosial Voting (IdeaScale, Chaordix)
  3. File Sharing dan Penyimpanan Sebuah layanan hosting file atau
    penyedia penyimpanan file secara online yang dirancang khusus
    untuk menyimpan konten. Platform umum untuk file sharing
    /penyimpanan meliputi: Perpustakaan Foto (Flickr, Picasa), Video
    Sharing (YouTube, Vimeo), Audio Sharing (Podcast, Itunes),
    Penyimpanan (Google Documents, Drop.io, MySpace) Manajemen
    Konten (SharePoint, Drupal).
    Sedangkan Menurut (Armstrong et al., 2014) ada tiga jenis utama untuk sosial
    media:
  4. Online Communities and Forums
    Komunitas online dan forum datang dalam segala bentuk dan ukuran.
    Banyak yang dibuat oleh pelanggan atau kelompok pelanggan tanpa
    bunga komersial atau afiliasi perusahaan. Sebagian disponsori oleh
    perusahaan yang anggotanya berkomunikasi dengan perusahaan dan
    dengan satu sama lain melalui posting, instant messaging, dan
    chatting diskusi tentang minat khusus yang berhubungan dengan
    produk perusahaan dan merek.
  5. Blogs
    Ada tiga juta pengguna blogs dan mereka sangat bervariasi, beberapa
    pribadi untuk teman-teman dekat dan keluarga, lainnya dirancang
    untuk menjangkau dan mempengaruhi khalayak luas.
  6. Social Networks
    Jaringan sosial telah menjadi kekuatan penting baik dalam bisnis ke
    konsumen dan pemasaran bisnis ke bisnis. Salah satunya adalah
    facebook, instagram, twitter, dll. Jaringan yang berbeda menawarkan
    manfaat yang berbeda untuk perusahaan.

Bentuk Komunikasi Pemasaran melalui Media Sosial


Menurut (Belch, 2015) Komunikasi pemasaran di era media sosial tidak
terlepas dari komunikasi pemasaran di media social yaitu:

  1. Periklanan melalui media sosial. Periklanan melalui media sosial
    adalah segala bentuk komunikasi nonpersonal berbayar, tentang
    sebuah organisasi, produk, jasa, atau ide yang menggunakan media
    sosial sebagai medianya. Kata “berbayar” menunjukkan bahwa
    sebuah pesan periklanan biasanya menggunakan media yang harus
    dibayar sedangkan kata “non personal” menunjukkan bahwa pesan
    dalam periklanan disampaikan kepada kelompok orang atau
    individual secara bersamaan dengan menggunakan media massa.
  2. Pemasaran melalui media sosial. Se-lain iklan online, para pemasar
    juga menggunakan social community yang terdiri dari berbagai
    bentuk interaksi mulai dari forum (Kaskus atau Fashionesdaily), situs
    jejaring sosial (Facebook atau Instagram), dunia virtual (Second Life,
    There, atau Kaneva), games, situs berbagi (Flickr atau YouTube),
    hingga mikroblogging (Twitter). Pemasaran melalui media sosial
    adalah salah satu bentuk periklanan yang menggunakan media social
    community dimana pengiklan dapat langsung berinteraksi dan
    membangun dialog dengan para konsumennya

Manfaat Social Media Marketing


Untuk mempermudah promosi penjualan perusahaan kini lebih memilih cara
yang praktis, salah satunya menggunakan social media. Menurut (Gunelius,
2013) tujuan paling umum penggunaan social media adalah sebagai berikut:

  1. Membangun hubungan: manfaat utama dari pemasaran media sosial
    adalah kemampuan untuk membangun hubungan dengan konsumen
    secara aktif.
  2. Membangun merek: percakapan melalui media sosial menyajikan
    cara sempurna untuk meningkatkan brand awareness, meningkatkan
    pengenalan dan ingatan akan merek dan meningkatkan loyalitas
    merek.
  3. Publisitas: pemasaran melalui media sosial menyediakan outlet di
    mana perusahaan dapat berbagi informasi penting dan memodifikasi
    persepsi negatif.
  4. Promosi: melalui pemasaran media sosial, memberikan diskon
    eksklusif dan peluang untuk audiens untuk membuat orang-orang
    merasa dihargai dan khusus, serta untuk memenuhi tujuan jangka
    pendek.
  5. Riset pasar: menggunakan alat-alat dari web sosial untuk belajar
    tentang pelanggan, membuat profil demografi dan perilaku
    pelanggan, belajar tentang keinginan dan kebutuhan konsumen, serta
    belajar tentang pesaing

Social Media Marketing


Social media marketing dipratekkan untuk melibatkan pelanggan pada lokasi sosial
online dimana para pelanggan secara alami menghabiskan waktu. Menurut
(Santoso et al., 2017) Pemasaran sosial media merupakan bentuk pemasaran yang
dipakai untuk menciptakan kesadaran, pengakuan, ingatan dan bahkan tindakan
terhadap suatu merek, produk, bisnis, individu, atau kelompok baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan menggunakan alat dari web sosial seperti blogging,
microblogging, dan jejaring sosial.
Menurut (Ariadi, 2014) pemasaran media sosial adalah upaya untuk menggunakan
media sosial guna membujuk konsumen kepada satu perusahaan, produk atau jasa
yang berharga. Pemasaran media sosial adalah pemasaran menggunakan jaringan
sosial, blog pemasaran dan banyak lagi. Menurut (Qurniawati, 2018) mengatakan
bahwa sosial media marketing dipratekkan untuk melibatkan pelanggan pada lokasi
sosial online dimana para pelanggan secara alami menghabiskan waktu.

Hubungan antara Komunikasi terhadap Kinerja Karyawan


Komunikasi merupakan hal yang paling penting dan harus terjadi
antara atasan dan bawahan maupun sesama karyawan suatu perusahaan.
Komunikasi yang baik dan efektif dapat membuat kinerja karyawannya
menjadi lebih baik, karena pada dasarnya sebagai sumber daya manusia
yang membutuhkan sesuatu untuk dapat memacu keinginan mereka untuk
dapat bekerja dengan giat sehingga mereka mampu meningkatkan
kreativitas dan semangat kerja sesuai dengan batas kemampuan masing-
masing (Ali Baba, 2018).
Penelitian tentang pengaruh komunikasi dengan kinerja karyawan
dilakukan oleh Ali Baba (2018) dengan hasil yang menyatakan bahwa
terdapat pengaruh positif dan signifikan antara komunikasi terhadap
kinerja karyawan, didukung pula oleh penelitian Junaidi (2018) yang
menyatakan bahwa komunikasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja karyawan, dan penelitian yang dilakukan oleh Anggriani
Atika (2017) yang menyatakan bahwa komunikasi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja karyawan

Indikator Minat Beli


Indikator-indikator minat beli, menurut Ferdinand (2006) adalah sebagai
berikut:

  1. Minat Transaksional, yaitu konsumen memiliki keinginan untuk
    melakukan pembelian suatu produk tertentu yang ia inginkan.
  2. Minat Referensial, yaitu seseorang konsumen yang sudah mempunyai
    keinginan untuk membeli akan menganjurkan orang terdekatnya
    untuk melakukan pembelian produk yang serupa.
  3. Minat Preferensial, ialah minat yang mendeskripsikan sikap seorang
    yang mempunyai pilihan penting pada produk itu.
  4. Minat Eksploratif, minat ini mendeskripsikan perilaku seorang sering
    mencari informasi tentang produk yang diminatinya serta mencari
    informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk itu.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Beli Konsumen


Konsumen dimanapun dan kapanpun akan dihadapkan dengan suatu minat
beli untuk melakukan transaksi pembelian. Menurut Lucas & britt (2012)
terdapat empat faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen, antara lain:
a. Perhatian (Attention) yaitu adanya perhatian yang besar dari
konsumen terhadap suatu produk (barang atau jasa).
b. Ketertarikan (Interest) yaitu menunjukkan adanya pemusatan
perhatian dan perasaan senang.
c. Keinginan (Desire) yaitu adanya dorongan untuk ingin memiliki.
d. Keyakinan (conviction) yaitu adanya perasaan percaya diri individu
terhadap kualitas, daya guna dan keuntungan dari produk yang akan
dibeli.

Pengertian Minat Beli


Minat beli (purchase intention) merupakan keinginan perilaku pelanggan yang
tergoda setelah itu mengutip kegiatan yang berkaitan dengan pembelian lewat
bermacam jenjang serta tingkatan mungkin hingga dengan keahlian untuk membeli
produk, pelayanan ataupun merek khusus. Minat beli ialah kemauan yang timbul
dalam diri pelanggan kepada sesuatu produk selaku akibat dari sesuatu cara
pemeriksaan serta pembelajaran pelanggan kepada sesuatu produk. Konsumen
yang berminat membeli produk akan menunjukkan perhatian dan kesenangannya
terhadap produk tersebut, dan kemudian menyadari hal tersebut dalam bentuk
perilaku membeli. Contohnya minat beli yang sering terjadi pada calon konsumen
Uniqlo yang berada di kisaran usia remaja memiliki minat akan produk fashion
sangat tinggi karena mereka ingin selalu terlihat mengikuti tren yang sedang terjadi.
Menurut (Durianto, 2013), minat beli adalah keinginan untuk memiliki produk,
minat beli akan timbul apabila seseorang konsumen sudah terpengaruh terhadap
mutu dan kualitas dari suatu produk, informasi seputar produk. Minat beli
konsumen adalah tahap dimana konsumen membentuk pilihan mereka diantara
beberapa merek yang tergabung dalam perangkat pilihan, kemudian pada akhirnya
melakukan suatu pembelian pada suatu alternative yang paling disukainya atau
proses yang dilalui konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa yang didasari
oleh bermacam pertimbangan (Suyono & Sri Sukmawati, 2012)
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa minat beli adalah
kesungguhan hati untuk memiliki sesuatu pengorbanan dimana minat beli itu timbul
karena konsumen merasa puas terhadap kualitas produk yang diberikan oleh
perusahaan. Perilaku seseorang sangat tergantung pada minatnya, sedangkan minat
berperilaku sangat tergantung pada sikap dan norma subyektif atas perilaku.
Keyakinan atas akibat perilaku sangat mmepengaruhi sikap dan norma
subyektifnya. Sikap individu terbentuk dari kombinasi antara keyakinan dan
evaluasi tentang keyakinan penting seseorang konsumen, sedangkan norma
subyektif ditentukan oleh keyakinan dan motivasi

Indikator Brand Awareness


Brand awarenessdikelompokkan pada 2 komponen yaitu
depth of awareness dan breadth of brand awareness(keller,
2013:73), dengan penjelasan sebagai berikut :
1). Depth of brand awarenessdi tentukan berdasarkan brand recall
dan brand recognition.
2). Breadth of brand awarenessdi tentukan berdasarkan jumlah
purchase dan consumption pada situasi dimana merek diingat.
Breadth of brand awarenessini bergantung pada banyaknya
pengetahuan atas produk dalam pikiran seseorang.
Kemudian diklasifikasikan seberapa jauh konsumen
aware terhadap sebuah merek, maka terdapat 4 indikator brand
awarenessmenurut Keller (2013:73) :

  1. Recall yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika
    ditanya merek apa saja yang mereka ingat. Secara umum,
    dipercaya bahwa untuk meningkatkan brand recall maka nama
    merek yang dipilih haruslah sederhana, pendek, mudah diingat,
    dan mudah di ucapkan. Idealnya nama merek harus jelas, dapat
    dipahami dan tidak memiliki arti ambigu. Seberapa jauh
    konsumen dapat mengingat di tanya apa saja yang di ingat.
  2. Recognition yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali
    merek tersebut dalam satu kategori tertentu. Untuk
    meningkatkan brand recognition maka nama merek haruslah
    berbeda, khusus, dan tidak biasa.
  3. Purchase yaitu seberapa jauh konsumen akan memasukkan
    suatu merek ke dalam alternative pilihan ketika akan membeli
    produk atau layanan
  4. Consumption yaitu seberapa jauh konsumen masih mengingat
    suatu merek ketika mereka sedang menggunakan produk atau
    jasa pesaing

Tingkatan Brand awareness


Kesadaran (Awareness) menggambarkan keadaan merek di
dalam pikiran konsumen, yang dapat menjadi penentu dalam
beberapa kategori dan biasanya mempunyai peranan kunci dalam
brand equity. Meningkatkan kesadaran (Awareness) juga
mempengaruhi persepsi dan tingkah laku. Kesadaran merek
merupakan key of brand asset atau kunci pembuka untuk masuk ke
elemen lainnya. Jadi jika itu sangat rendah maka hamper di pastikan
bahwa ekuitas merek juga rendah.
Menurut (Kertamukti 2015: 87) brand awareness(kesadaran
merek) Juga meliputi beberapa tingkatan kesadaran yang ikut
berperan dalam keutuhan ekuitas merek. Tingkat brand
awarenessmempunyai tingkatan sebagai berikut ini:

  1. Unaware of brand
    Tingkatan ini yang apabila diartikan ialah tingkat tidak
    menyadari Adanyasuatu merek. Tingkat ini ialah tingkatan yang
    amat dasar jika dilihat dari piramida tingkatan kesadaran merek,
    dan hal ini mengartikan bahwa sang konsumen tidak sadar
    adanya keberadaan merek tertentu.
  2. Brand Recognition
    Tingkatan ini ialah tingkat pengenalan akan suatu merek.
    Tingkat ini ialah tingkat minimum ataupun paling sedikit dari
    menyadari adanya suatu merek. Dan pencapaian pada tingkatan
    ini sangat penting terutama Dikala konsumen memilah merek
    saat mau melaksanakan pembelian.
  3. Brand Recall
    Brand recall ialah tingkat pengingatan kembali pada
    suatu merek. Tingkat ini ialah tingkatan dimana ketika orang
    dimintai melafalkan Satu merek yang termasuk dari kategori
    produk khusus tanpa adanya bantuan yang berasal dari luar
    dirinya.
  4. Top of mind
    Top of mind merupakan merek utama dari berbagai merek yang
    ada dalam benak konsumen. Tingkat kesadaran akan merek ini
    terjadi apabila pengingat, kemudian ia menyebut suatu nama
    dari merek dalam kategori produk tertentu, maka merek yang
    disebutkan Pertama Kali olehnya adalah top of mind.

Pengertian Brand awareness


Menurut Kertajaya ( dalam Febriandi, 2017: 35) brand
awarenessdi definiskan sebagai ukuran kekuatan eksistensi merek
di benak pelanggan. Definisi lain menurut Peter ( dalam Febriandi
2017: 36) brand awarenessadalah sebuah tujuan komunikasi umum
untuk semua strategi promosi.
Menurut Makmur (2018:12), tujuan dari Brand
awarenessadalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap kesadaran brand atau merek yang dipromosikan terhadap
suatuk produk. Brand awarenessdapat dicapai dan diperbaiki
dengan beberapa cara sebagai berikut:
a. Pesan yang disampaikan harus mudah diingat dan mempunyan
hubungan antara merek dan kategori produk
b. Memakai slogan maupun jingle yang menarik untuk membantu
konsumen mengingat merek
c. Simbol yang dipakai dapat dihubungkan dengan mereknya
d. Perluasan nama merek dipakai untuk perluasan konsumen
e. Brand Awarenees diperkuat dengan isyarat yang sesuai
kataegori produk, merek, dan keduanya.
f. Melakukan pengulangan untuk meningkatakan pengingatan

Karakteristik Media Sosial


Adapun karakteristik media sosial menurut Nasrullah
(2016:16-33) :

  1. Jaringan (network) antar pengguna
    Karakter media sosial adalah membentuk jaringan di antara
    penggunanya. Tidak peduli apakah di dunia nyata (offline)
    antarpengguna saling kenal atau tidak, namun kehadiran media
    sosial memberika medium bagi pengguna untuk terhubung
    secara mekanisme teknologi. Jaringan yang terbentuk ini
    akhirnya membentuk komunitas atau masyarakat yang secara
    sadar maupun tidak akan memunculkan nilai-nilai yang ada di
    masyarakat sebagaimana ciri masyarakat di dalam teori-teori
    sosial.
  2. Informasi (information)
    Informasi menjadi entitas yang penting di media sosial sebab
    tidak seperti media-media lainnya di internet, pengguna media
    sosial mengkreasikan representasi identitasnya, memproduksi
    konten dan melakukan interaksi berdasarkan informasi. Di
    media sosial, informasi menjadi komoditas yang di konsumsi
    oleh pengguna. Komoditas tersebut pada dasarnya merupakan
    komoditas yang di produksi dan didistribusikan antarpengguna
    itu sendiri. Dan kegiatan konsumsi inilah pengguna dan
    pengguna lain membentuk sebuah jaringan yang pada akhirnya
    sadar atau tidak bermuara pada institusi masyarakat berjejaring
    ( Network Society ).
  3. Arsip (Archive)
    Bagi pengguna medsos arsip menjadi sebuah karakter yang
    menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa di akses
    kapan pun melalui perangkat apapun setiap informasi apapun
    yang di unggah di Instagram, sebagai contoh, informasi itu tidak
    hilang begitu saja saat pergantian hari,, bulan, bahkan sampai
    tahun. Informasi itu akan terus tersimpan dan bahkan dengan
    mudahnya bisa di akses.
  4. Interaksi (Interactivity)
    Karakter dasar dari media sosial adalah terbentuknya jaringan
    antarpengguna. Jaringan ini tidak sekedar memperluas
    hubungan pertemenan atau pengikut (followers) di internet
    semata, tetapi juga harus dibangun dengan interaksi
    antarpengguna tersebut. Secara sederhana interaksi yang terjadi
    di media sosial minimal berbentuk saling mengomentari atau
    memberikan tanda, seperti tanda love di Instagram.
  5. Simulasi sosial (Simulation of Society)
    Menurut Jean Baudrillard, simulations and Simulacra dalam
    Nasrullah ( 2016:28 ), Baudrillard mengungkapkan gagasan
    simulasi bahwa kesadaran akan yang real di benak khalayak
    semakin berkurang dan tergantikan dengan realitas semu.
    Menurut Bell (2001) dalam Nasrullah (2016) proses simulasi
    terjadi dalam Cyberspace di mana proses simulasi itu terjadi dan
    perkembangan teknologi komunikasi sera kemunculan media
    baru menyebabkan individu semakin menjauhkan realitas,
    menciptakan sebuah dunia baru, yaitu dunia virtual.
  6. Konten oleh pengguna (User-generated content)
    Karaketeristik media sosial lainnya adalah konten oleh
    pengguna atau lebih disebut dengan User Generated Content
    (UGC). Term ini menunjukan bahwa di media sosial konten
    sepenuhnya milik dan berdasarkan kontribusi pengguna atau
    pemilik akun.
    UGC merupakan relasi simbiosis dalam budaya media
    baru yang memberikan kesempatan dan keleluasaan pengguna
    untuk berpartisipasi (Lister, et al 2003 dalam Nasrulla 2016).
    Situasi ini jelas berbeda jika dibandingkan dengan media lama
    (tradisional) dimana khalayaknya sebatas menjadi objek atau
    sasaran yang pasif dalam distribusi pesan.
  7. Penyebaran (Sharing)
    Media sosial tidak hanya menghasilkan konten yang dibangun
    dari dan dikonsumsi oleh penggunanya, tetapi juga
    didistribusikan sekaligus dikembangkan oleh penggunanya
    (Benkler : 2012; Cross : 2011 dalam Nasrullah 2016). Praktik ini
    merupakan ciri khas dari media sosial yang menunjukkan bahwa
    khalayak aktif menyebarkan konten sekaligus
    mengembangkannya. Maksud dari pengembangan ini adalah
    konten yang ada mendapatkan, misalnya, komentar yang tidak
    sekadar opini tetapi juga data atau fakta terbaru.

Jenis Media Sosial


Menurut Nashrullah (2018:46) media sosial memiliki jenis
yaitu:
1) Social Networking atau jaringan sosial merupakan media
yang paling populer dalam kategori media sosial. Jaringan
sosial adalah sarana yang bisa digunakan pengguna untuk
melakukan hubungan sosial termasuk konsekuensi atau efek dari
hubungan sosial tersebut, di dunia virtual.
2) Jurnal online (blog), merupakan media sosial yang
memungkinkan penggunanya untuk mengunggah aktivitas
keseharian, saling mengomentari, dan berbagi, baik tautan
web lain, informasi, dan sebagainya. Istilah blog berasal dari
kata webblog yang pertama kali diperkenalkan oleh Jorn
Berger pada 1997 merujuk pada jurnal pribadi online.
3) Jurnal online sederhana atau mikroblog (micro-blogging),
merupakan media sosial yang memfasilitasi penggunanya
untuk menulis dan mempublikasikan aktivitas serta atau
pendapatnya. Secara historis kehadiran jenis media sosial ini
merujuk pada munculnya Twitter yang hanya menyediakan
ruang tertentu atau maksimal 140 karakter.
4) Media berbagi (media sharing), merupakan jenis media
sosial yang memfasilitasi penggunanya untuk berbagi media,
mulai dari dokumen, video, audio, gambar dan sebagainya.
5) Penanda sosial (social bookmarking), adalah media sosial
yang berkerja untuk mengorganisasi, menyimpan, mengelola
dan mencari informasi atau berita tertentu secara online.
6) Media konten bersama atau wiki. Media konten bersama
merupakan situs yang kontennya hasil kolaborasi dari para
penggunanya. Wiki menghadirkan pengertian, sejarah, hingga
rujukan buku atau tautan tentang satu kata

Unsur-Unsur Media Sosial


Menurut (Chris Heuer (2010:263) dalam Arief dan
Millianyani 2015 ), dalam menggunakan media sosial terdapat
unsur-unsur empat C, sebagai berikut:

  1. Context:
    “How we frame our stories. ” Merupakan bagaimana kita dalam
    membentuk cerita atau pesan (informasi). Memperhatikan
    penggunaan bahasa maupun isi pesan yang disampaikan melalui
    media, mulai dari kata-kata yang dipilih, kejelasan isi pesannya,
    dan kemenarikan dari media sosialnya secara estetika.
  2. Communication:
    “The practice of sharing our story as well as listening,
    responding ,and growing.“Merupakan bagaimana kita berbagi
    cerita atau pesan (informasi) sebaik kita mendengar, merespon
    dan tumbuh.berbagai cara agar pengguna merasa nyaman dan
    pesan dapat tersampaikan dengan baik mulai dari ketepatan
    informasi yang diberikan, informasinya up to date, dan respon
    admin dalam menjawab pertanyaan.
  3. Collaboration:
    “Working together to make things better and more efficient and
    effective.”Merupakan bagaimana bekerjasama untuk membuat
    segala hal menjadi lebih baik, dan lebih efisien, serta efektif.
    Kedua belah pihak antara akun perusahaan dengan
    penggunanya, mulai dari hubungan admin dan pengguna media
    sosial dalam memberikan like, comment, feedback pada media
    sosial.
  4. Connection:
    “The relationships we forge and maintain.”Merupakan
    bagaimana kita memelihara hubungan yang telah lama terbina.
    media sosial memberikan manfaat bagi penggunanya agar dapat
    diakses secara berkelanjutan.
    Teori dari Chris Heuer yang menjelaskan unsur 4C
    merupakan komponen yang harus ada dalam media sosial agar
    komunikasi dapat mencapai tujuan perusahaan dan konten dapat
    tersampaikan pengguna. Media sosial semakin diminati oleh
    masyarakat di seluruh dunia. Dari berbagai pengertian media sosial
    menurut ahli tersebut, dapat disimpulkan media sosial adalah suatu
    medium baru yang dapat digunakan untuk berinterkasi maupun
    membentuk kelompok atau komunitas untuk bertukar informasi
    dengan internet atau media online. Interaksinya bisa berupa pesan
    teks, gambar, pesan suara maupun video. Terdapat berbagai macam
    media sosial, diantaranya: Instagram, facebook, twitter, ask.fm,
    youtube, dan lain sebagainya.

Pengertian Media Sosial


Salah satu kategori media online yang banyak digunakan
perusahaan dalam memasarkan produk dan menjadi media
pemasaran adalah media sosial. Menurut Dr Rulli Nasrullah media
sosial adalah medium di internet yang memungkinkan pengguna
merepresentasikan dirinya maupun berinteraksi, bekerja sama,
berbagi, berkomunikasi dengan pengguna lain, dan membentuk
ikatan sosial secara virtual. Dalam media sosial juga, Kotler dan
Keller menuliskan bahwa media sosial dapat digunakan oleh para
penggunakan untuk dapat memberikan informasi teks, gambar,
audio, dan video dengan pemakai lainnya dan dengan perusahaan
lainnya (Kotler & Keller, 2012:570).

Manfaat Social Media Marketing


Perkembangan social media yang sangat dinamis telah
memposisikan social media sebagai salah satu media komunikasi
yang paling efektif bagi perusahaan. Sejumlah manfaat media sosial
menurut puntoadi (2011:60).

  1. Personal branding is not only figure, it’s for everyone.
    Berbagai social media seperti facebook, twitter,
    youtube, Instagram dapat menjadi media untuk berkomunikasi,
    berdiskusi bahkan mendapatkan popularitas di social media.
    Keunggulan personal branding melalui social media adalah
    untuk mengenai trik atau popularitas semua, karena audiensnya
    lah yang akan menentukan.
  2. Fantastic marketing result trough social media. People don’t
    watch TV anymore, they watch their mobile Phone.
    Hasil pemasaran yang fantastis dapat di raih dari social
    media, orang sudah bosan dan cenderung mengurangi untuk
    melihat TV, mereka lebih sering menggunakan smartphone.
    Fenomena dimana secara hidup masyarakat saat ini cenderung
    lebih memanfaatkan telepon genggam mereka yang sudah
    terkenal dengan sebutan smartphone. Dengan smartphone kita
    dapat melihat berbagai informasi.
  3. Media sosial memberikan kesempatan untuk berinteraksi lebih
    dekat dengan konsumen.
    Social media memberikan kesempatan untuk
    berinteraksi lebih dekat dengan konsumen. Media sosial
    menawarkan bentuk komunikasi yang lebih individual, personal
    dan dua arah. Melalui media sosial para pemasar dapat
    mengetahui kebiasaan konsumen mereka dan melakukan
    interaksi secara personal serta membangun keterkaitan lebih
    mendalam.

Tujuan Social Media Marketing


Gurnelius (2011:15) menyatakan bahwa tujuan paling umum
dari pemasaran media sosial adalah :
a. Membangun hubungan; manfaat utama dari pemasaran media
sosial adalah kemampuan untuk membangun hubungan dengan
konsumen secara aktif.
b. Membangun merek; Percakapan melalui media sosial
menyajikan cara sempurna untuk Meningkatkan Brand
awareness, meningkatkan pengenalan dan ingatan akan
merek dan meningkatkan loyalitas merek.
c. Publisitas: pemasaran melalui media sosial menyediakan outlet
di mana perusahanaan dapat berbagi informasi penting
dan memodifikasi peserpsi negatif.
d. Promosi : melalui pemasaran media sosial, memberikan diskon
eksklusif dan peluang untuk audiens untuk membuat orang-
orang merasa di hargai dan khusus, serta untuk memenuhi tujuan
jangka pendek.
e. Riset pasar: Menggunakan alat-alat dari sosial web untuk belajar
tentang pelanggan, membuat profil demografi dan perilaku
pelanggan, belajar tentang keinginan dan kebutuhan konsumen,
serta belajar tentang pesaing.

Pengertian Social Media Marketing


Pemasaran media sosial atau sering disebut social media
marketing merupakan bentuk pemasaran langsung atau tidak
langsung yang digunakan guna membangun kesadaran, pengakuan,
ingat dan tindakan untuk merek, bisnis, produk, orang atau badan
lain. Pemasaran media sosial dilakukan dengan menggunakan alat-
alat dari web sosial seperti berbagai blogging, mikroblogging,
jejaring sosial, bookmark sosial dan konten (Gurnelius, 2011:10).
Social media marketing mencakup taktik tertentu seperti
berbagi kupon atau mengumumkan penjualan di facebook atau
twitter, atau bisa mencakup lebih luas membangun merek inisiatif
seperti berkomunikasi dengan orang-orang atau menciptakan konten
yang menarik di blog, dalam sebuah video yang diunggah ke
YouTube atau dalam presentasi bersama berbagi slide.
Pemasaran media sosial menawarkan kesempatan besar pada
pengusaha, usaha kecil, perusahaan menengah dam perusahaan
besar untuk membangun merek mereka dan bisnis mereka
(Gurnelius, 2011:10).

Bauran Komunikasi Pemasaran


Menurut Firmansyah (2020:7) bauran pemasaran
merupakan seperangkat alat pemasaran yang digunakan
perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran dalam memenuhi
target pasarnya. Menurut Kotler dan Keller (2016: 582) bauran
komunikasi pemasaran terdiri dari delapan model komunikasi
utama, yaitu:

  1. Periklanan (Advertising)
    Iklan merupakan setiap bentuk komunikasi non-personal
    tentang produk yang dihasilkan oleh perusahaan, baik barang
    maupun jasa. Perusahaan pada umumnya mengeluarkan biaya
    yang besar dalam melaksanakan kegiatan pemasaran
    periklanan melalui media periklanan, baik yang bersifat online
    maupun offline.
  2. Promosi penjualan (Sales Promotion)
    Promosi penjualan merupakan salah satu cara yang
    digunakan perusahaan untuk meningkatkan volume penjualan.
    Promosi berasal dari kata promote yang dapat dipahami
    sebagai mengembangkan atau meningkatkan. Promosi
    mencakup semua yang ada di dalam bauran pemasaran
    (marketing mix) yang peran utamanya adalah lebih
    mengadakan komunikasi yang sifatnya membujuk. Promosi
    merupakan segala macam bentuk komunikasi persuasi yang
    dirancang untuk menginformasikan pelanggan tentang produk
    atau jasa dan memengaruhi mereka agara membeli barang atau
    jasa yang dihasilkan perusahaan.
  3. Acara dan Pengalaman (Event and Experience)
    Kegiatan dan program yang disponsori perusahaan yang
    dirancang untuk menciptakan interaksi harian atau interaksi
    yang berhubungan dengan merek tertentu. Bentuknya seperti
    festival seni, hiburan, acara amal, dan lain-lain.
  4. Hubungan masyarakat dan Publisitas (Public Relations and
    Publicity)
    Jika suatu perusahaan merencanakan dan mendistribusikan
    informasi secara sistematis dalam upaya mengontrol dan
    mengelola citra serta publisitas yang diterimanya, hal itu
    berarti perusahaan tersebut sedang melakukan tugas hubungan
    masyarakat (humas) yang memiliki kaitan erat dengan
    manajemen. Humas berfungsi membantu manajemen dalam
    menetapkan suatu tujuan yang akan dicapai serta
    menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah.
  5. Pemasaran langsung (Direct Marketing)
    Direct marketing merupakan pemasaran dengan cara
    membina hubungan yang sangat dekat dengan target market
    yang memungkinkan terjadinya proses two ways
    communication. Pemasaran langsung bukanlah sekedar kegiatan
    mengirim surat (direct mail) atau mengirim katalog
    kepada pelanggan. Pemasaran langsung mencakup berbagai
    aktivitas termasuk pengelolaan data, telemarketing, dan iklan
    tanggapan langsung dengan menggunakan berbagai saluran
    komunikasi.
  6. Pemasaran online dan media sosial (online and social media
    marketing)
    Aktivitas online dan program yang dirancang untuk
    melibatkan pelanggan atau prospek dan secara langsung
    meningkatkan kesadaran, memperbaiki citra, atau
    memperoleh penjualan produk dan layanan.
  7. Pemasaran mobile (mobile marketing)
    Bentuk khusus pemasaran online yang menempatkan
    komunikasi pada konsumen ponsel, smartphone atau tablet.
  8. Penjualan personal (personal selling)
    Penjualan personal atau personal selling merupakan suatu
    bentuk komunikasi langsung antara penjual dan calon
    pembelinya (person-toperson communication). Dalam hal ini,
    penjual berupaya untuk membantu atau membujuk calon
    pembeli untuk membeli produk yang ditawarkan. Personal
    selling merupakan alat promosi yang berbeda dari periklanan
    karena penjualan personal menggunakan orang atau individu
    dalam pelaksanaanny

Strategi Komunikasi Pemasaran


Adapun strategi pemasaran mempunyai empat konsep dasar
yang dikenal dengan istilah 4P. Istilah ini dikemukakan oleh Kotler
(2016:580). Konsep strategi pemasaran ini terdiri dari hal berikut :
a. Product, produk disini dapat beerupa barang fisik, jasa, manusia,
tempat, ide kreatif, organisasi dan lainnya. Produk diciptakan
untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan dari para konsumen.
Srategi dalam hal produk dapat berupa keragaman produk,
kualitas produk, desain, fitur, nama brand, packaging penjualan
dan banyak lainnya.
b. Harga, harga merupakan komponen penting dalam strategi
pemasaran. Harga suatu produk seharusnya terjangkau untuk
target pasar produk tersebut. Strategi pemasaran yang berkaitan
dengan harga meliputi diskon, allwonce, jangka waktu
pembayaran, kredit dan sebagainya.
c. Place, place disini merupakan tempat yang digunakan dalam
menyalurkan barang ataupun jasa pada konsumen. Hal ini juga
berarti akses konsumen terhadap produk yang dijual. Tempat
atau saluran distribusi produk menjadi penting untuk
memastikan bahwa target konsumen dapat memperoleh barang
dan jasa dengan cara yang mudah. Strategi pemasaran tantang
place meliputi lokasi, channel distribusi, luas cakupan distribusi,
transportasi dari tempat/ke tempat tersebut, logistik dan lainnya.
d. Promotion, promosi juga merupakan hal yang penting dalam hal
menyampaikan informasi produk dan menciptakan citra produk
kepada khalayak. Promosi yang baik harus mampu membujuk
pelanggan agar membeli produk perusahaan. Bagian ini yang
merupakan strategi komunikasi pemasaran, yang akan dibahas
pada bagian berikutnya.

Tujuan Komunikasi Pemasaran


Menurut Prasetyo dkk (2018 : 10–11) tujuan komunikasi
pemasaran meliputi tiga tujuan utama, yaitu menyebarkan informasi
(komunikasi informatif), mempengaruhi untuk melakukan
pembelian atau menarik konsumen komunikasi persuasif), dan
mengingatkan khalayak untuk melakukan pembelian ulang
(komunikasi mengingatkan kembali). Tujuan komunikasi
pemasaran pada dasarnyaadalah untuk memberikan efek berikut:

  1. Efek kognitif, yaitu membentuk kesadaran informasi tertentu
    dalam benak konsumen
  2. Efek afektif, yaitu memberikan pengaruh untuk melakukan
    sesuatu yang diharapkan adalah reaksi pembelian dari
    pelanggan.
  3. Efek konatif atau perilaku, yaitu membentuk pola khalayak
    menjadi perilaku selanjutnya. Perilaku yang diharapkan adalah
    pembelian ulang

Pengertian Komunikasi Pemasaran


Menurut Kotler dan Keller (2016:51) yang dimaksud dengan
komunikasi pemasaran adalah “Marketing is an organizational
function and a set of processes for creating, communicating, and
delivering value to customers and for managing customer
relationships in ways that benefit the organization and its
stakeholders”. Pemasaran merupakan suatu fungsi organisasi dan
serangkaian proses untuk 27 menciptakan, mengkomunikasikan,
dan memberikan nilai kepada pelanggan untuk mengelola hubungan
pelanggan dengan cara yang menguntungkan bagi organisasi dan
pemangku kepentingan

Indikator Niat Beli


Menurut McClelland dan Wongweeranonchai (2016), untuk mengukur
niat beli menggunakan beberapa indikator sebagai berikut:
(1) Cari informasi tentang produk (find information about the product)
(2) Mempertimbangkan dalam membeli produk (consider buying the product)
(3) Membeli produk (purchase the product)

Faktor Niat Beli


Menurut Kotler dan Armstrong (2018:177), terdapat dua faktor yang
mempengaruhi niat beli konsumen sebagai berikut:
(1) Sikap orang lain (attitude of others)
Sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang disukai
seseorang akan bergantung pada dua hal yaitu, intensitas sifat negatif
orang lain terhadap alternatif yang disukai konsumen dan motivasi
konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.
(2) Faktor situasi yang tidak terduga (unexpected situational factors)
Faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen dalam
melakukan pembelian. Hal tersebut tergantung dari pemikiran konsumen
sendiri, apakah dia percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu
barang atau tidak

Pengertian Niat Beli


Menurut Kotler & Keller (2016:198), niat beli adalah tahap evaluasi
keputusan pembelian, dimana konsumen membentuk preferensi diantara
merek-merek dalam kumpulan pilihan dan juga dapat membentuk minat untuk
membeli suatu merek yang disukainya.
Menurut Asshidin, et al (2016), purchase intention adalah niat beli
yang sering digunakan sehingga dapat memprediksi penjualan dari produk dan
layanan pada saat ini. Hal itu juga biasa digunakan oleh para peneliti pasar
perusahaan untuk mengetahui potensi dari penjualan produk baru. Selain itu,
indeks niat beli juga sering digunakan untuk menentukan produk yang
memungkinkan akan dibeli dalam periode tertentu

Indikator Kesadaran Merek


Menurut Susanto dan Wijanarko (2004) dalam Anang Firmansyah
(2019;40), ada 4 (empat) indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui
seberapa jauh konsumen aware terhadap sebuah brand antara lain:
(1) Mengingat kembali (recall)
Seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya merek apa
saja yang diingat.
(2) Mengenali (recognition)
Seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut termasuk
dalam kategori tertentu.
(3) Pembelian (purchase)
Seberapa jauh konsumen akan memasukkan suatu merek ke dalam
alternatif pilihan ketika akan membeli produk/layanan.
(4) Konsumsi (consumption)
Seberapa jauh konsumen masih mengingat suatu merek ketika
sedang menggunakan produk/layanan pesaing

Tingkatan Kesadaran Merek


Menurut Susanto dan Wijanarko (2004), dalam Anang Firmansyah
(2019;39), Ada 4 (empat) tingkatan kesadaran merek yaitu:
(1) Tidak mengenal merek (unaware of brand)
Tingkat yang paling rendah dalam piramida kesadaran merek,
dimana konsumen tidak menyadari akan adanya suatu merek.
(2) Pengenalan merek (brand recognition)
Tingkat minimal dari kesadaran merek. Hal ini penting pada saat
seorang pembeli memilih suatu merek pada saat melakukan pembelian.
(3) Ingatan merek (brand recall)
Pengingatan kembali terhadap merek didasarkan pada permintaan
seseorang untuk menyebutkan merek tertentu dalam suatu kelas produk.
Hal ini diistilahkan dengan pengingatan kembali tanpa bantuan, karena
berbeda dari tugas pengenalan, responden tidak perlu dibantu untuk
memunculkan merek tersebut.
(4) Puncak pikiran (top of mind)
Apabila seseorang ditanya secara langsung tanpa diberi bantuan
pengingatan dan orang tersebut dapat menyebutkan satu nama merek,
maka merek yang paling banyak disebutkan pertama kali merupakan
puncak pikiran. Dengan kata lain, merek tersebut merupakan merek utama
dari berbagai merek yang ada di dalam benak konsumen

Faktor Kesadaran Merek


Menurut Anang Firmansyah (2019:45), terdapat beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi kesadaran merek sebagai berikut:
(1) Iklan (advert)
Komunikasi pemasaran yang menggunakan pesan non-pribadi yang
disponsori secara terbuka untuk mempromosikan atau menjual produk,
layanan, atau gagasan
(2) Produk (product)
Barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Dalam marketing,
produk adalah apapun yang bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa
memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan. Dalam tingkat pengecer,
produk sering disebut sebagai merchandise.
(3) Slogan (tagline)
Slogan atau frasa yang dibuat para pengiklan dalam bentuk visual
maupun verbal yang mengungkapkan betapa pentingnya manfaat dari
produk tertentu.
(4) Logo (logo)
Suatu gambar atau sekadar sketsa dengan arti tertentu, dan mewakili
suatu arti dari perusahaan, daerah, organisasi, produk, negara, lembaga,
dan hal lainnya membutuhkan sesuatu yang singkat dan mudah diingat
sebagai pengganti dari nama sebenarnya

Pengertian Kesadaran Merek


Menurut Kotler dan Keller (2016:587), kesadaran merek adalah
kemampuan konsumen untuk mengenali atau mengingat merek dengan cukup
terperinci untuk melakukan pembelian.
Menurut Anang Firmansyah (2019:86), kesadaran merek merupakan
tujuan umum komunikasi pemasaran, adanya brand awareness yang tinggi
diharapkan kapanpun kebutuhan kategori muncul, brand tersebut akan
dimunculkan kembali dari ingatan yang selanjutnya dijadikan pertimbangan
berbagai alternatif dalam pengambilan keputusan

Dimensi Pemasaran Viral


Menurut Kaplan dan Haenlein (2011:253), terdapat beberapa dimensi
yang dapat dijadikan tolak ukur dalam pemasaran viral sebagai berikut:
(1) Pembawa Pesan (messenger)
Elemen penting dalam menciptakan epidemi pemasaran viral
adalah memerlukan orang yang tepat untuk menyebarluaskan pesan. Tiga
kelompok utusan yang diperlukan dalam memastikan transformasi pesan
biasa menjadi fenomena viral yaitu pakar pasar, hubungan sosial, dan
penjual. Pembawa pesan dapat mencakup rekomendasi, komunitas, ruang
obrolan, dan mesin pencari.
(2) Isi Pesan (message)
Hanya pesan yang baik dan mengesankan serta cukup menarik
yang dapat diteruskan kepada orang lain sehingga dapat memacu
fenomena pemasaran viral. Isi pesan dapat mencakup buletin, penawaran
gratis, undian, tes produk.
(3) Kondisi lingkungan (environment)
Selain mendapatkan pesan yang tepat kepada orang yang tepat,
kondisi lingkungan dapat mempengaruhi keberhasilan dan kegagalan
dalam pemasaran viral. Memperjelas dan mengatur informasi yang
berhubungan dengan tindakan potensi pemasaran viral, kemungkinan
pengukuran kunci harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan tujuan
yang dirumuskan untuk kampanye viral. Kondisi lingkungan dapat
mencakup strategi menghubungkan, daftar konsumen potensial, daftar
referensi, dan rancangan afiliasi

Strategi Pemasaran Viral


Menurut Dorosh dalam Fitriana dan Utami (2017:60), Strategi untuk
mensukseskan pemasaran viral dilakukan dengan berbagai cara diantaranya:
(1) Kontes (contest)
Kompetisi merupakan langkah yang baik untuk membuat pelanggan
anda mengenalkan merek ke teman dan koneksi mereka. Kontes bisa
dilakukan dengan berbagai cara misalnya melakukan program giveaway
yang mana konsumen akan mendapatkan hadiah jika mengupload foto
mengenakan produk anda dan di tag ke beberapa temannya untuk
mengajak yang lain juga berbelanja, atau bisa dengan menulis komentar
dan lain sebagainya. Program giveaway ini biasa dilakukan di Instagram.
Dengan program ini bisa membuat masyarakat lain tertarik untuk
mencoba produk anda dengan bayangan hadiah yang akan didapatkan.
(2) Aplikasi (apps)
Media sosial dapat menghubungkan satu dengan yang lainnya.
Selain menggunakan media sosial yang telah ada di internet seperti
Instagram, Facebook, Twitter, Path, blog, ada cara yang lebih
memudahkan untuk memperluas jangkauan yaitu membuat aplikasi.
Aplikasi dibuat sesuai dengan kebutuhan, misalnya untuk memberikan
layanan perlengkapan kebutuhan sehari-hari maka dibuat aplikasi yang
menyediakan penjualan barang-barang harian secara lengkap. Jika
aplikasi itu benar-benar berguna, maka teman-temannya juga akan
menggunakannya untuk pernikahan mereka. Ini akan menyebar dari
orang ke orang dengan cara alami, dan membantu membawa pesan
pemasaran jauh ke dalam target pasar. Aplikasi dapat dimuat untuk
perangkat Android dan iPhone.
(3) Video (video)
Membuat video yang menarik yang dapat menggugah orang lain
untuk suka rela berbagi, jika video tersebut dapat bermanfaat. Video akan
menarik jika: dibuat dengan baik, bergerak, lucu, menginspirasi,
mengejutkan, dan berguna. Video dapat dibagikan ke seluruh jaringan
media sosial. Untuk video yang berdurasi panjang, bisa di upload di situs
Youtube dan jika orang lain tertarik maka akan melakukan subscribe
video tersebut.
(4) Infografis (infographics)
Infografis adalah cara yang bagus untuk membawa informasi yang
membosankan ke kehidupan. Infografis terbaik menarik dan
menceritakan sebuah cerita. Bila infografis berkualitas tinggi
menceritakan sebuah cerita yang orang ingin berbagi, mereka akan
mengirimkannya ke teman dan kenalan mereka. Sebagai contoh, Anda
bisa melihat viral marketing rujukan infografis yang saya bagikan di pos
lain.
(5) Gambar dengan caption (captioned pictures)
Gambar yang menarik dengan kutipan atau keterangan yang
merangkum opini atau sudut pandang yang kuat dapat dengan mudah
mendapatkan ribuan atau jutaan saham, dan mendorong pelanggan baru
ke saluran Anda. Membuat aset ini jauh lebih mudah dan lebih murah
daripada video atau infografis, namun bisa sangat mengejutkan di situs
seperti Facebook, Path, Instagram, dan Twitter

Ciri-ciri Pemasaran Viral


Menurut Rheee’ Q dan VHL dalam Fitriana dan Utami (2017:59), ciri-ciri
pemasaran viral antara lain:
(1) Produk dipromosikan melalui e-mail, jejaring sosial, komunitas atau situs
iklan
(2) Harga cukup murah karena biaya promosi sangat minim dan tidak
menggunakan media iklan konvensional
(3) Produk memiliki manfaat dan nilai guna (usable)
(4) Tidak tersedia di pasar, toko atau supermarket alias bersifat eksklusif
(5) Produk dijual langsung hanya oleh satu orang alias tidak melalui perantara
dan komisi penjualan diterima langsung oleh si penjual.
(6) Mirip direct selling namun bukan merupakan sistem DS, MLM atau sistem
piramid karena tidak ada sistem upline dan downline, kalaupun ada sangat
sedikit perusahaan viral marketing yang melakukannya.
(7) Tidak ada sistem komisi bertingkat seperti pada MLM atau sistem
piramida sehingga harga jual menjadi lebih murah. Kalaupun ada, sedikit
perusahaan Viral Marketing yang melakukan hal itu karena beresiko
menyebabkan harga produk menjadi lebih mahal atau komisi penjualan
yang diberikan menjadi terlalu kecil

Pengertian Pemasaran Viral


Menurut Kotler dan Armstrong (2018:519), pemasaran viral adalah
versi digital dari pemasaran dari mulut ke mulut, melibatkan pembuatan video,
iklan, dan konten pemasaran lainnya yang begitu menular itu pelanggan akan
mencari mereka atau memberikannya kepada mereka teman-teman.
Menurut Fitriana dan Utami (2017:55), pemasaran viral merupakan
keinginan untuk menciptakan dorongan penyebaran sebuah pesan atau
informasi ke dalam jaringan kelompok ataupun dalam lingkaran media
sosialnya.

Aspek-aspek Perilaku Inovatif


Janssen (2000) memaparkan tiga dimensi untuk pengukuran perilaku
inovatif di tempat kerja yaitu :
a. Menciptakan Ide (Idea Generation)
Karyawan mampu mengenali masalah yang terjadi dalam
organisasi kemudian menciptakan ide atau solusi baru yang berguna pada
bidang apapun. Ide atau solusi tersebut dapat bersifat asli maupun
dimodifikasi dari produk dan proses kerja yang sudah ada sebelumnya.
Contohnya ketika muncul masalah di dalam organisasi, karyawan mampu
untuk menemukan ide-ide sebagai pemecahan masalah.
b. Berbagi Ide (Idea Promotion)
Karyawan berbagi ide atau solusi baru yang telah diciptakan
kepada rekan-rekan kerja, sehingga ide tersebut dapat diterima. Selain
itu, terjadi pula pengumpulan dukungan agar ide tersebut memiliki
kekuatan untuk diimplementasikan dan direalisasikan dalam organisasi.
Contohnya ketika karyawan sudah menemukan ide sebagai sebuah
pemecahan masalah, maka selanjutnya karyawan berbagi ide tersebut
untuk mendapatkan dukungan yang nantinya dapat di terapkan di
organisasi.
c. Realisasi Ide (Idea Realization)
Karyawan memproduksi sebuah prototipe atau model dari ide
yang dimiliki menjadi produk dan proses kerja yang nyata agar dapat
diaplikasikan dalam lingkup pekerjaan, kelompok, atau organisasi secara
keseluruhan sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja organisasi.
Contohnya ketika karyawan sudah mendapatkan dukungan dari rekan
kerja untuk ide yang diciptakan, maka selanjutnya penerapan atau
aplikasi ide tersebut kedalam sebuah organisasi sebagai sebuah
pemecahan masalah.
Berdasarkan aspek-aspek perilaku kerja inovatif, maka dapat disimpulkan
bahwa aspek menciptakan ide (idea generation), berbagi ide (idea promotion),
dan realisasi ide (idea realization) adalah dasar dari munculnya perilaku kerja
inovatif

Pengertian Pemasaran


Menurut Laksana (2019:1), pemasaran adalah bertemunya penjual dan
pembeli untuk melakukan kegiatan transaksi produk barang atau jasa. Sehingga
pengertian pasar bukan lagi merujuk kepada suatu tempat tapi lebih kepada
aktifitas atau kegiatan pertemuan penjual dan pembeli dalam menawarkan suatu
produk kepada konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2016:26), Marketing is about identifying and
meeting human and social needs. One of the shortest good definitions of
marketing is meeting needs profitably. Yang dapat diartikan sebagai, pemasaran
adalah tentang mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan manusia dan sosial.
Salah satu definisi pemasaran terpendek yang baik adalah memenuhi kebutuhan
secara menguntungkan.
Menurut Tjiptono dan Diana (2020:3), pemasaran adalah proses
menciptakan, mendistribusikan, mempromosikan, dan menetapkan harga
barang, jasa dan gagasan untuk memfasilitasi relasi pertukaran yang memuaskan
dengan para pelanggan dan untuk membangun dan mempertahankan relasi yang
positif dengan para pemangku kepentingan dalam lingkungan yang dinamis

Bauran Pemasaran


Manajemen pemasaran mengenal empat strategi pemasaran Dalam
konteks Marketing 5.0 “Technology for Humanity”, konsep tradisional 4P
pemasaran (product, price, promotion, place) yang dikemukakan oleh
McCarthy ditambahkan dengan elemen baru yaitu “people, process, dan
physical evidence” (Hermawan Kartajaya, Iwan Setiawan, dan Philip
Kotler, 2021).
Marketing 5.0 “Technology for Humanity” menggabungkan
tradisional 4P pemasaran dengan teknologi berorientasi nilai manusiawi,
keberlanjutan, dan dampak positif. Ditambah 3P (people, process, physical
evidence) untuk pendekatan holistik memberikan nilai kepada pelanggan.
Manajemen pemasaran memiliki 4P (produk, distribusi, promosi,
harga) untuk pemasaran produk dan 7P (4P ditambah people, process,
physical evidence) untuk pemasaran jasa (Priansa, 2017). Fandy Tjiptono
juga menyatakan hal serupa (Priansa, 2017).

Strategi Pemasaran


Menurut Hermawan Kartajaya (2021) Strategi pemasaran yang
terkenal adalah konsep Marketing 5.0. Marketing 5.0 adalah pendekatan
yang menekankan pada pentingnya nilai-nilai manusiawi, keberlanjutan,
dan dampak positif bagi masyarakat dalam kegiatan pemasaran. Strategi
pemasaran dalam Marketing 5.0 menempatkan manusia, nilai-nilai sosial,
dan keberlanjutan sebagai fokus utama dalam kegiatan pemasaran. Dengan
pendekatan ini, perusahaan diharapkan dapat menciptakan dampak positif
yang lebih besar dan berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penetapan Harga


Dalam menentukan penetapan harga suatu perusahaan diperlukan suatu
penganalisaan yang tepat dan tajam kedepannya. Hal ini dikarenakan dalam
suatu penetapan harga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi penetapan harga. Bagi suatu perusahaan yang menetapkan
harga tidak harus memperhatikan harga pokok produk dan target keuntungan,
tetapi juga harus memperhatikan faktor-faktor lain. Menurut Tjiptono, F
(2013:146), menjelaskan ada dua faktor utama yang perlu dipertimbangkan
dalam menetapkan harga, yaitu faktor internal dan eksternal perusahaan.
Adapun yang termasuk kedalam faktor lingkungan internal perusahaan
adalah :
a. Tujuan pemasaran perusahaan
Faktor utama yang menentukan dalam penetapan harga adalah tujuan
pemasaran perusahaan. Tujuan tersebut bisa berupa maksimalisasi laba,
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, meraih pangsa pasar,
menciptakan kepemimpinan dalam hal kualitas, mengatasi persaingan, dan
melaksanakan tanggung jawab social dan lain-lain.
b. Strategi bauran pemasaran
Harga hanyalah salah satu komponen dari bauran pemasaran (marketing
mix). Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang sinergis dan saling
mendukung dengan bauran pemasaran lainnya.

Metode Penetapan Harga


Metode penetapan harga secara garis besar dapat dikelompokan
menjadi empat kategori utama, yaitu metode penetapan harga berbasis
permintaan, berbasis biaya, berbasis laba, dan berbasis persaingan. Menurut
Kotler dan Keller yang dialih bahasakan oleh Bob Sabran (2014:77) yang
menjelaskan metode metode penetapan harga sebagai berikut :
a. Metode penetapan harga berbasis permintaan adalah suatu metode yang
menekankan pada faktor-faktor yang mempengaruhi selera dan referensi
pelanggan dari faktor-faktor seperti biaya, laba, dan persaingan.
Permintaan pelanggan sendiri didasarkan pada berbagai pertimbangan,
diantaranya yaitu :
1) Kemampuan para pelanggan untuk membeli (daya beli).
2) Kemauan pelanggan untuk membeli.
3) Suatu produk dalam gaya hidup pelanggan, yakni menyangkut apakah
produk tersebut merupakan simbol status atau hanya produk yang
digunakan sehari-hari.
4) Manfaat yang dapat diberikan produk tersebut pada pelanggan.
5) Harga produk-produk substitusi.
6) Pasar potensial bagi produk tersebut.
7) Perilaku konsumen secara umum.
b. Metode penetapan harga berbasis biaya faktor penentu harga dalam
metode ini yang utama adalah aspek penawaran atau biaya bukan aspek
permintaan. Harga ditentukan berdasarkan biaya produksi dan pemasaran
yang ditambah dengan jumlah tertentu sehingga dapat menutupi biaya-
biaya langsung, biaya overhead dan laba.
c. Metode penetapan harga berbasis laba metode ini berusaha
menyeimbangkan pendapatan dan biaya dalam penetapan harganya. Upaya
ini dapat dilakukan atas dasar target volume laba spesifik atau dinyatakan
dalam bentuk presentase terhadap penjualan atau investasi.
d. Metode penetapan harga berbasis persaingan selain berdasarkan pada
pertimbangan biaya, permintaan atau laba, harga juga dapat ditetapkan atas
dasar persaingan, yaitu apa yang dilakukan pesaing. Metode penetapan
harga berbasis persaingan terdiri dari customary pricing; above at, or
below market pricing; loss leader pricing dan sealed bid

Tujuan Penetapan Harga

Tujuan penetapan harga bisa mendukung strategi pemasaran yang
berorientasi pada permintaan primer apabila perusahaan meyakini bahwa
harga yang lebih murah dapat meningkatkan jumlah pemakai, tingkat
pemakaian atau pembelian ulang dalam bentuk atau kategori produk tertentu.
Tujuan penetapan harga menurut Suparyanto dan Rosad (2015:142), terdapat
beberapa tujuan ditetapkannya harga suatu produk, antara lain:
a. Mencapai keuntungan-keuntungan merupakan hasil perkalian antara omset
dan harga jual lalu dikurangi harga pokok produksi, biaya pemasaran, dan
biaya distribusi. Dengan demikian harga menjadi salah satu indikator
untuk mencapai tingkat keuntungan tertentu.
b. Mencapai tingkat penjualan perusahaan dapat menetapkan harga tertentu,
misalnya dengan harga jual rendah diharapkan mencapai tingkat penjualan
yang tinggi.
c. Mencapai pangsa pasar pangsa pasar merupakan jumlah pelanggan potensi
yang dimiliki oleh perusahaan. Harga dapat dijadikan sebagai strategi
untuk mencapai pangsa pasar yang tinggi. Jika perusahaan menetapkan
harga jual yang paling rendah dibandingkan dengan semua harga produk
pesaing, maka diharapkan dapat mencapai omset yang besar.
d. Menciptakan good image konsumen tidak menutup kemungkinan
memberikan penilaian baik terhadap produk perusahaan. Pada saat
perusahaan menetapkan harga produk yang tinggi secara tidak langsung
memberikan informasi bahwa produk tersebut memiliki kualitas yang
tinggi pula.
e. Mengurangi persediaan produk pada saat persediaan produk tertentu masih
menumpuk digudang padahal sudah mendekati waktu kadaluarsa, maka
perusahaan dapat menjualnya dengan harga lebih rendah supaya jumlah
persediaan tersebut dapat dikurangi dan perusahaan masih memperoleh
pendapatan.
f. Menjadi strategi bersaing pada umumnya konsumen lebih menyukai
produk dengan harga murah.
Menurut Tjiptono, F (2016:154), terdapat beberapa hal yang menjadi
tujuan penetapan harga, yaitu:
a. Tujuan berorientasi pada laba Ini didasarkan pada asumsi teori ekonomi
klasik yang menyatakan bahwa setiap perusahaan selalu memilih harga
yang dapat menghasilkan laba yang maksimum. Dalam kondisi persaingan
yang ketat dan serba kompleks penerapannya sangat sulit untuk dilakukan.
karena sukar sekali untuk dapat memperkirakan secara akurat jumlah
penjualan yang dapat dicapai pada tingkat harga tertentu.
b. Tujuan berorientasi pada volume Tujuan ini berorientasi pada volume
dimana harga ditetapkan sedemikian rupa agar dapat mencapai target
volume penjualan, nilai penjualan, ataupun untuk menguasai pangsa pasar.
Misalnya, biaya operasional pemasangan jalur telepon untuk satu rumah
tidak berbeda jauh dengan biaya pemasangan untuk lima rumah. Selain itu
tujuan ini juga banyak diterapkan oleh perusahaan penerbangan, lembaga
pendidikan, perusahaan tour and travel, perusahaan bioskop, pemilik
perusahaan bisnis pertunjukan lainnya.
c. Tujuan berorientasi pada citra. Perusahaan dapat menetapkan harga tinggi
untuk membentuk atau mempertahankan citra perusahaan. Biasanya
perusahaan yang menetapkan harga tinggi, ingin membentuk citra yang
mewah dan berkelas terhadap produk dan perusahaan di kalangan
masyarakat. Tujuan ini banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan
fashion ternama atau perusahaan otomotif yang terkenal akan kendaraan-
kendaraan mewahnya. Sebaliknya, harga rendah dapat dipergunakan untuk
membentuk citra nilai tertentu.
d. Tujuan stabilisasi harga Tujuan stabilisasi harga dilakukan dengan
menetapkan harga untuk dapat mempertahankan hubungan yang stabil
antara harga suatu perusahaan dan harga pemimpin industri.
e. Tujuan-tujuan lainnya Penetapan harga dapat juga bertujuan untuk
mencegah masuknya pesaing, mempertahankan loyalitas konsumen,
mendukung penjualan ulang, atau menghindari campur tangan pemerintah.

Penetapan Harga


Penetapan harga merupakan pemilihan yang dilakukan perusahaan
terhadap tingkat harga umum yang berlaku untuk suatu produk maupun jasa,
relatif terhadap tingkat harga para pesaing. Penetapan harga memiliki peran
strategik yang krusial dalam menunjang implementasi strategi pemasaran.
Menurut Indriyo (2014:268), penetapan harga merupakan harga produk yang
ditetapkan oleh perusahaan berdasarkan tiga dasar pandangan yang meliputi:
a. Biaya penetapan harga yang dilandaskan atas dasar biaya adalah harga
jual produk atas dasar biaya produksinya dan kemudian ditambah
dengan margin keuntungan yang diinginkan.
b. Konsumen penetapan harga yang dilandaskan atas dasar konsumen
yaitu harga ditetapkan atas dasar selera konsumen. Apabila selera
konsumen atau permintaan konsumen menghendaki rendah sebaiknya
harga.
c. Persaingan penetapan harga harga menurut kebutuhan perusahaan yaitu
berdasarkan persaingannya dengan perusahaan lain yang sejenis dan
merupakan pesaing- pesaingnya. Dalam situasi tertentu, sering terjadi
perusahaan harus menetapkan harga jualnya jauh di bawah harga
produksinya.

Definisi Harga


Harga merupakan komponen penting dalam suatu pemasaran, dan harga
menjadi nilai ekonomis dari produk yang akan dijual. Sehingga harga yang
diberikan konsumen harus sebanding dengan apa yang didapatkan. Pengertian
harga menurut Indriyo Gitosudarmo (2014:271) harga merupakan ukuran
terhadap besar kecilnya nilai kepuasan seseorang terhadap produk yang
dibelinya.
Zakaria dan Astuti (2013:3) menjelaskan bahwa harga adalah sejumlah
uang yang dibutuhkan untuk mendapat sejumlah kombinasi dari barang
beserta pelayannya.
Lenzun et al., (2014:1239) menjelaskan bahwa harga adalah pernyataan
nilai dari suatu produk yang merupakan elemen bauran pemasaran yang
paling fleksibel.
Menurut Manus dan Lumanauw (2015:697) menyatakan harga
mempunyai peranan penting dalam proses pengambilan keputusan yaitu
peranan alokasi dari harga adalah membantu para pembeli untuk memperoleh
produk atau jasa dengan manfaat terbaik berdasarkan kekuatan daya belinya

Produk


Produk merupakan elemen dasar dan penting dari bauran pemasaran
karena dengan produk perusahaan dapat menetapkan harga yang sesuai,
mendistribusikan produk mereka, dan menentukan komunikasi secara tepat
untuk pasar sasaran. Produk diciptakan dengan tujuan untuk memenuhi
kebutuhan dan keinginan konsumen. Banyak orang menganggap produk
adalah suatu penawaran nyata, tetapi produk bisa lebih dari itu.
Definisi produk menurut Alma Buchari (2013:139) yaitu “Produk
adalah seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak berwujud, termasuk
di dalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik, nama baik toko yang
menjual (pengecer), dan pelayanan pabrik.
Menurut Tjiptono, F (2016:231) “produk merupakan segala sesuatu
yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan, atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau
keinginan pasar bersangkutan”. Berdasarkan perspektif konsumen, produk
adalah segala sesuatu yang diterima pelanggan dari sebuah pertukaran dengan
pemasar. serta pelayanan pengecer, yang diterima oleh pembeli guna
memuaskan keinginannya”.
Pendapat lain menurut Kotler dan Keller (2016:389) yang menyatakan
bahwa “A product is anything that can be offered to a market to satisfy a
want or need, including physical goods, ser vices, experiences, events,
persons, places, properties, organizations, information, and ideas”.
Lain halnya menurut Kotler dan Armstrong (2018:244) menyatakan
bahwa “A product as anything that can be offered to a market for attention,
acquisition, use, or consumption that might satisfy a want or need”

Indikator Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan dapat dilihat dari seberapa besar keinginan
pelanggan terhadap apa yang mereka dapatkan dari jasa atau pelayanan jasa
tersebut sesuai dengan kinerja yang mereka dapatkan. Indikator untuk
mengukur kepuasan pelanggan, menurut Indrasari (2019:92) adalah:
a. Kesesuaian harapan
kepuasan tidak diukur secara langsung tetapi disimpulkan berdasarkan
kesesuaian atau ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan
kinerja perusahaan yang sebenarnya.
b. Minat berkunjung kembali
Menunjukkan kepuasan fasilitas yang diukur dari perasaan puas
pelanggan terhadap fasilitas yang telah diberikan dan disediakan oleh
pihak perusahaan.
c. Kesediaan merekomendasikan
kepuasan pelanggan diukur dengan menanyakan apakah pelanggan
akan merekomendasikan produk atau jasa tersebut kepada orang lain
seperti, keluarga, teman, dan lainnya.
Menurut Hawkins dan Lonney dikutip dalam Tjiptono, F (2016:101)
indikator kepuasan pelanggan terdiri dari :
a. Kesesuaian harapan
merupakan tingkat kesesuaian antara kinerja jasa yang diharapkan oleh
konsumen dengan yang dirasakan oleh konsumen.
b. Minat berkunjung kembali
Merupakan kesediaan konsumen untuk berkunjung kembali atau
melakukan pemakaian ulang terhadap jasa terkait.
c. Kesediaan merekomendasikan
merupakan kesediaan konsumen untuk merekomendasikan jasa yang
telah dirasakan kepada teman atau keluarga.
Menurut Kotler & Keller (2016:140) indikator kepuasan pelanggan
terdiri dari :
a. Kesesuaian harapan
Merupakan tingkat kesesuaian antara kinerja produk yang diharapkan
oleh pelanggan, meliputi :
1). Produk yang diperoleh sesuai atau melebihi dengan yang
diharapkan.
2). Pelayanan oleh karyawan yang diperoleh sesuai atau melebihi
dengan yang diharapkan.
3). Fasilitas penunjang yang didapat sesuai atau melebihi dengan yang
diharapkan.
b. Minat berkunjung kembali
Merupakan kesedian pelanggan untuk berkunjung kembali atau
melakukan pembelian ulang terhadap produk terkait, meliputi:
1). Berminat untuk berkunjung kembali karena pelayanan yang
diberikan oleh karyawan memuaskan.
2). Berminat untuk berkunjung kembali karena manfaat yang diperoleh
setelah mengkonsumsi produk.
3). Berniat untuk berkunjung kembali karena fasilitas penunjang yang
disediakan memadai.
c. Kesediaan merekomendasikan
Merupakan kesediaan pelanggan untuk merekomendasikan produk
yang telah dirasakan kepada teman atau keluarga, meliputi :
1). Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk yang
ditawarkan karena pelayanan yang memuaskan.
2). Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk atau jasa
yang ditawarkan karena fasilitas penunjang yang disediakan memadai.
3). Menyarankan teman atau kerabat untuk membeli produk yang
ditawarkan karena nilai atau manfaat yang didapat setelah
mengkonsumsi sebuah produk jasa

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Menurut Zeithaml dan Bitner dalam Firmansyah (2018) faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan pelanggan sebagai berikut:
a. Kualitas pelayanan atau jasa, yaitu pelanggan akan merasa puas jika
mereka mendapatkan pelayanan yang baik dan sesuai dengan harapan.
b. Kualitas produk, yaitu pelanggan akan merasa puas jika produk yang
mereka gunakan berkualitas.
c. Harga, yaitu harga yang relatif murah dan produk yang memiliki
kualitas yang sama akan memberikan nilai yang lebih tinggi pada
pelanggan.
d. Faktor situasi, yaitu keadaan yang dialami pelanggan.
e. Faktor pribadi dari pelanggan, yaitu karakteristik yang sesuai dengan
kebutuhan pribadi

Elemen-Elemen Kepuasan Pelanggan


Menurut Donni juni priansa (2017: p,210) lima elemen yang
menyangkut kepuasan konsumen adalah sebagai berikut:
a. Harapan (expectations) harapan konsumen terhadap suatu barang atau
jasa yang disusun sebelum pembelian barang atau jasa tersebut. Ketika
tahapan pembelian dilakukan, konsumen berharap barang atau jasa
yang diterima sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka.
Jika sesuai dengan harapan konsumen maka ia akan merasa puas.
b. Kinerja (performance) pengalaman konsumen terhadap kinerja aktual
barang atau jasa ketika digunakan tanpa dipengaruhi oleh harapan
mereka. Ketika kinerja aktual barang atau jasa berhasil maka konsumen
akan merasa puas.
c. Perbandingan (comparison) hal ini dilakukan dengan membandingkan
harapan kinerja barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi
kinerja aktual barang atau jasa tersebut. Konsumen akan merasa puas
ketika harapan sebelum pembelian sesuai atau melebihi persepsi mereka
terhadap kinerja actual produk.
d. Pengalaman (experience) parapan konsumen dipengaruhi oleh
pengalaman mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa
yang berbeda dari orang lain.
e. Konfirmasi (confirmation) dan Diskonfirmasi (disconfirmation)
konfirmasi atau terkonfirmasi terjadi jika harapan sesuai dengan kinerja
aktual produk. Sebaliknya diskonfirmasi atau tidak terkonfirmasi terjadi
ketika harapan lebih tinggi atau lebih rendah dari kinerja aktual produk.
Konsumen akan merasa puas ketika terjadi
confirmation/disconfirmation.

Hubungan Suasana Toko Terhadap Minat Pembelian Konsumen


“Suasana adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan perasaan kita terhadap
pengalaman belanja yang tidak dapat dilihat. ” (Milliman, 1986) dalam penelitian
Hussain dan Ali (2015. Suasana yang menarik dan mengesankan toko
menciptakan pengalaman yang menyenangkan di antara konsumen, yang secara
langsung mempengaruhi niat beli konsumen dan proses pengambilan keputusan
mereka (Srinivasan dan Srivastava, 2010) dalam penelitian Hussain dan Ali
(2015).
(Wakefield dan Baker,1998) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015)
membuktikan bahwa probabilitas pelanggan tinggal lebih lama di toko meningkat
karena stimulus atmosfer. Ketika konsumen merasa puas di lingkungan toko, ia
menghabiskan lebih banyak waktu di toko tertentu dan membeli lebih karena
rangsangan lingkungan menyenangkan (Bohl, 2012) dalam penelitian Hussain dan
Ali (2015). Lingkungan memiliki dampak besar pada emosi dan kepuasan
konsumen. Suasana mengesankan dari jaringan ritel meningkatkan tingkat
kepuasan pelanggan dan pembelian pengalaman (Silva dan Giraldi, 2010) dalam
penelitian Hussain dan Ali (2015).

Minat Pembelian Konsumen


Dalam mencari dan menumbuhkan minat beli konsumen, terlebih dahulu harus
memahami bagaimana konsumen berkeputusan. Dalam penelitian Lin (2013;746)
Niat beli dianggap sebagai niat perilaku konsumen setelah menerima iklan.
Zeithaml (1988) dalam penelitian Lin (2013; 746) menunjukkan bahwa minat beli
konsumen sering ditentukan oleh keuntungan yang dirasakan dan nilai. Dodds etal
(1991) dalam penelitian Lin (2013; 746) menunjukkan minat beli sebagai
kemungkinan berniat untuk membeli produk, sebagai probabilitas, kemungkinan,
dan niat pelanggan bersedia untuk membeli produk.
Lin (2009) dalam penelitian Lin (2013; 746) mendefinisikan niat beli sebagai
probabilitas respon pelanggan membeli produk tertentu. He dan Hu (2008) dalam
penelitian Lin (2013; 746) menjelaskan bahwa minat beli adalah transaksi setelah
konsumen mengevaluasi produk secara keseluruhan, yaitu sikap terhadap perilaku
pembelian. Zeithaml (1988) dalam penelitian Lin (2013; 746) menunjukkan
bahwa minat beli konsumen akan terpengaruh oleh individu intrinsik dan
ekstrinsik karakter, nilai obyektif, persepsi kualitas, dan persepsi nilai

Pengertian Perilaku Kosumen


Pengertian perilaku konsumen menurut Kotler dan Keller (2009:166) adalah studi
tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli,
menggunakan, dan bagaimana, barang, jasa, ide, atau pengalaman untuk
memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Jadi perilaku konsumen adalah
perilaku yang ditunjukan oleh konsumen dalam memenuhi keinginannya terhadap
suatu produk maupun jasa

Elemen Suasana Toko


Dalam penelitian Hussain dan Ali (2015). Cakupan suasana toko ini meliputi
bagian Kebersihan (Cleanliness), Musik (Music), Aroma (Scent), Suhu
(Temperature), Pencahayaan (Lighting), Warna (Color), dan Tampilan atau
Tataletak (Display atau Layout).

  1. Kebersihan (Cleanliness)
    Kebersihan adalah munculnya jaringan toko yang meningkatkan suasana yang
    mempengaruhi pelanggan menuju toko. Pelanggan menciptakan kata positif atau
    negatif dari mulut tentang gerai toko dengan melihat kebersihan. (Banat dan
    Wandebori, 2012) dalam penelitian Hussain dan Ali ( 2015). Kebersihan dapat
    meningkatkan atmosfer ( Gajanayake dan Surangi, 2011) dalam penelitian
    Hussain dan Ali (2015). Kebersihan toko menciptakan kesan positif di kalangan
    konsumen dan membuat mereka tinggal lebih lama di toko. Display produk dan
    Kebersihan sangat penting untuk pemilihan gerai. (Wanninayake dan Randiwela,
    2007) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015). Kebersihan toko menciptakan
    citra kenyamanan dan kemewahan dalam pikiran pelanggan karena pelanggan
    akan tinggal lebih lama di toko dan membuat lebih banyak pembelian (Yun dan
    Baik, 2007) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015).
  2. Musik (Music)
    Musik dapat didefinisikan sebagai suara yang menyenangkan membuat keputusan
    konsumen sadar dan membuat dampak konsumen pada niat pembelian (Banat dan
    Wandebori, 2012) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015).
  3. Aroma (Scent)
    Ada atau tidak adanya aroma di toko memiliki dampak yang nyata pada niat
    pembelian konsumen. Scent adalah aroma yang menyenangkan yang
    mempengaruhi suasana hati pelanggan dan emosi yang membuat pelanggan tetap
    meluangkan banyak waktu dan merasa bersemangat berada di toko (Banat dan
    Wandebori, 2012) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015).
  4. Suhu (Temperature)
    Temperatur atau Suhu adalah variabel atmosfer yang sangat mempengaruhi niat
    beli konsumen. Suhu yang sangat rendah atau sangat tinggi menciptakan perasaan
    negatif antara pelanggan, itu menyebabkan ketidakpuasan di antara pelanggan
    dan akibatnya pelanggan menghabiskan lebih sedikit waktu di toko dan
    menghasilkan kata negatif dari mulut (Lam, 2001) dalam penelitian Hussain dan
    Ali (2015).
  5. Pencahayaan (Lighting)
    Pencahayaan ini digunakan untuk menerangi produk. Ini menciptakan
    kegembiraan dan memiliki dampak positif pada perilaku pembelian konsumen
    (Mehrabian dan Albert, 1976) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015). Ketika
    pencahayaan yang digunakan dalam gerai jaringan ritel adalah warna yang baik,
    konsumen cenderung untuk menyentuh produk untuk menilai kualitas (Areni dan
    Kim, 1994) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015). Pilihan konsumen dari toko
    ini cukup dipengaruhi oleh pencahayaan dan tata letak toko (Wanninayake dan
    Randiwela, 2007) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015). Toko dengan tepat
    pencahayaan, musik, warna, aroma dan tampilan akan memotivasi pelanggan
    untuk mengunjungi toko lagi di masa depan (Yoo, Park, dan MacInnis, 1998)
    dalam penelitian Hussain dan Ali (2015). Tujuan utama menggunakan
    pencahayaan terang di toko adalah untuk menarik perhatian pelanggan sehingga
    mereka mulai melakukan pembelian dari outlet karena kenyamanan mereka.
  6. Warna (Color)
    Warna membangun perasaan dan mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen
    (Banat dan Wandebori, 2012) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015).
  7. Tampilan atau Tata Letak (Display atau Layout)
    Produk di toko harus ditampilkan sedemikian rupa yang menarik konsumen.
    Display produk di toko adalah stimulus untuk menarik konsumen untuk membuat
    minat pembelian (Abratt, Russell, Goodey, dan Stephen, 1990) dalam penelitian
    Hussain dan Ali (2015). Tata letak didefinisikan sebagai divisi penjualan wilayah,
    ruang dimanfaatkan dan penataan produk (Banat dan Wandebori, 2012) dalam
    penelitian Hussain dan Ali (2015)

Pengertian Suasana Toko


“Suasana adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan perasaan kita terhadap
pengalaman belanja yang tidak dapat dilihat. ” (Milliman, 1986) dalam penelitian
Hussain dan Ali (2015). Suasana yang menarik dan mengesankan toko
menciptakan pengalaman yang menyenangkan di antara konsumen, yang secara
langsung mempengaruhi niat beli konsumen dan proses pengambilan keputusan
mereka (Srinivasan dan Srivastava, 2010) dalam penelitian Hussain dan Ali
(2015). Ketika konsumen merasa puas di lingkungan toko, ia menghabiskan lebih
banyak waktu di toko tertentu dan membeli lebih karena rangsangan lingkungan
menyenangkan (Bohl, 2012) dalam penelitian Hussain dan Ali (2015).
Lingkungan memiliki dampak besar pada emosi dan kepuasan konsumen. Suasana
mengesankan dari outlet jaringan ritel meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan
dan pembelian pengalaman (Silva dan Giraldi, 2010) dalam penelitian Hussain
dan Ali (2015)

Karakteristik Jasa


Produk jasa memiliki ciri – ciri yang berbeda dengan barang (produk fisik). Kotler
dan Keller (2009:39) menyebutkan ciri – ciri tersebut adalah Intangibility,
Inseparability, Variability, Perishability.
a) Intangibility (tidak berwujud)
artinya jasa tidak dapat dilihat, dirasakan, didengar, atau dicium sebelum dibeli
oleh konsumen. Oleh sebab itu pembeli atau pengonsumsi harus dapat melihat
tanda atau bukti dari mutu jasa yang dihasilkan. Dan ini bisa di dapat dari
tempat, orang , peralatan, alat komunikasi, simbol, dan harga yang mereka
lihat.
b) Inseparibility (tidak dapat dipisahkan)
artinya bahwa jasa tidak dapat dipisahkan dari penyedianya, walaupun
penyedianya itu manusia atau mesin.
c) Variability (bervariasi)
artinya bahwa mutu jasa tergantung pada siapa yang menyediakan jasa di
samping waktu, tempat, dan bagaimana disediakan. Contohnya jasa arsitektur,
jasa instalasi, jasa pelatihan, jasa keuangan, jasa perawatan dan lain-lain.
d) Perishability (tidak tahan lama)
artinya jasa tidak dapat disimpan untuk dijual atau dipakai kemudian.
Maksudnya adalah hubungan antara penyedia jasa dengan pengonsumsi akan
berhenti jika jasa yang dilakukan sudah selesai dikerjakan

Definisi Jasa


Jasa yang dikemukakan oleh Kotler dan Keller (2009:36) adalah setiap tindakan
atau kinerja yang dapat ditawarkan satu pihak ke pihak lain, yang pada dasarnya
tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan sesuatu. Produksinya dapat
dikaitkan atau tidak dikaitkan pada suatu produk fisik. Jasa sebagai aktivitas
ekonomi yang mempunyai sejumlah elemen (nilai dan manfaat) intangible yang
berkaitan dengannya, yang melibatkan sejumlah interaksi dengan konsumen atau
barang-barang milik, tetapi tidak menghasilkan transfer kepemilikan.

Definisi Pemasaran


Pada saat ini, konsep pemasaran tidak hanya mencakup kebutuhan dan keinginan
saja, tetapi juga mencakup pengharapan konsumen, dan hal ini berkaitan dengan
semakin banyaknya informasi yang diterima oleh konsumen sehingga
menimbulkan tuntutan yang lebih tinggi akan pemenuhan kebutuhan, keinginan
dan harapan itu sendiri. Oleh karena itu, konsumen perlu mendapatkan perhatian
yang lebih khusus, karena konsumen merupakan pasar bagi produk yang
dihasilkan perusahaan.
Definisi pemasaran menurut Kotler dan Keller (2009:5) pemasaran adalah suatu
proses sosial yang didalamnya individu atau kelompok mendapatkan apa yang
mereka inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas
mempertukarkan produksian yang bernilai dengan pihak lain.
American Marketing Association (AMA) dalam Kotler dan Keller (2009:5)
pemasaran adalah fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan,
mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk
mendefinisikan pemasaran sebagai berikut : mengelola hubungan pelanggan
dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku kepentingan.

Dimensi Niat Beli


Menurut Ferdinand (2002) niat beli dapat diidentifikasi melalui dimensi-
dimensi sebagai berikut :
a) Niat transaksional, yaitu kecenderungan seseorang untuk membeli produk.
b) Niat refrensial, yaitu kecenderungan seseorang untuk mereferensikan
produk kepada orang lain.
c) Niat preferensial, yaitu niat yang menggambarkan perilaku seseorang yang
memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Preferensi ini hanya dapat
diganti jika terjadi sesuatu dengan produk prefrensinya.
d) Niat eksploratif, niat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu
mencari informasi mengenai produk yang diniatinya dan mencari informasi
untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.
Menurut Ajay dan Goodstein yang dikutip Yoestini dan Eva (2007) jika
ingin mempengaruhi seseorang, maka cara yang terbaik adalah mempelajari apa
yang dipikirkannya, dengan demikian yang akan didapatkan tidak hanya sekedar
informasi tentang orang itu tentu lebih bagaimana proses infromasi itu dapat
berjalan dan bagaimana memanfaatkannya. Hal ini yang dinamakan “The Buying
Process” (proses pembelian)

Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Niat Beli


Swastha dan Irawan (2005) mengemukakan faktor-faktor yang
mempengaruhi niat membeli berhubungan dengan perasaan emosi, bila seseorang
merasa senang dan puas dalam membeli barang atau jasa maka hal itu akan
memperkuat niat membeli, kegagalan biasanya menghilangkan niat.
Tidak ada pembelian yang terjadi jika konsumen tidak pernah menyadari
kebutuhan dan keinginannya. Pengenalan masalah (problem recognition) terjadi
ketika konsumen meilhat adanya perbedaan yang signifikan antara apa yang dia
miliki dengan apa yang dia butuhkan. Berdasarkan pengenalannya akan masalah selanjutnya konsumen mencari atau mengumpulkan informasi sebanyak mungkin
tentang produk yang diainginkan. Terdapat dua sumber informasi yang digunakan
ketika menilai suatu kebutuhan fisik, yaitu persepsi individual dari tampilan fisik
dan sumber informasi luar seperti persepsi konsumen lain. Selanjutnya informasi-
informasi yang telah diperoleh digabungkan dengan informasi yang telah dimiliki
sebelumnya. Semua input berupa informasi tersebut membawa konsumen pada
tahap dimana dia mengevaluasi setiap pilihan dan mendapatkan keputusan terbaik
yang memuaskan dari perspektif dia sendiri. Tahapan terakhir ada tahap dimana
konsumen memutuskan untuk membeli atau tidak membeli produk

Pengertian Niat Beli


Niat beli diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang
membentuk suatu persepsi. Niat yang muncul dalam melakukan pembelian
menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benaknya dan menjadi suatu
kegiatan yang sangat kuat yang pada akhirnya ketika seorang konsumen harus
memenuhi kebutuhannya akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya
itu. Dengan demikian, Niat beli akan timbul saat dalam proses pengambilan
keputusan.
Definisi niat beli menurut Thamrin (2003) adalah merupakan bagian dari
komponen perilaku konsumen dalam sikap mengkonsumsi, kecenderungan
responden untuk bertindak sebelum keputusan membeli benar-benar dilaksanakan.
Niat beli merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau
mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan
tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian (Assael, 2010). Perilaku
konsumen dalam mengambil keputusan membeli mempertimbangkan barang
danjasa apa yang akan dibeli, dimana, kapan, bagaimana, berapa jumlah dan
mengapa membeli produk tersebut. Lucas dan Britt (2003) dalam Natalia (2008)
mengatakan bahwa aspek-aspek yang terdapat dalam niat beli antara lain:
a) Perhatian, adanya perhatian yang besar dari konsumen terhadap suatu
produk (barang atau jasa).
b) Ketertarikan, setelah adanya perhatian maka akan timbul rasa tertarik pada
konsumen.
c) Keinginan, berlanjut pada perasaan untuk mengingini atau memiliki suatu
produk tersebut.
d) Keyakinan, kemudian timbul keyakinan pada diri individu terhadap produk
tersebut sehingga menimbulkan keputusan (proses akhir) untuk
memperolehnya dengan tindakan yang disebut membeli.
e) Keputusan, langkah terakhir dari suatu proses pembelian untuk mengambil
keputusan berdasarkan informasi yang diterima.
Disimpulkan bahwa aspek-aspek dalam niat beli adalah sebagai berikut:
a) Ketertarikan (interest) yang menunjukan adanya pemusatan perhatian
danperasaan senang.
b) Keinginan (desire) ditunjukkan dengan adanya dorongan untuk memiliki.
c) Keyakinan (convicition) ditunjukkan dengan adanya perasaan percaya diri
individu terhadap kualitas, daya guna dan keuntungan dari produk yangakan
dibeli.
Pengertian niat beli menurut Howard yang dikutip dalam Durianto dan
Liana (2004) adalah niat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan
rencana konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak unit produk
yang dibutuhkan pada periode tertentu. Dapat dikatakan bahwa niat beli merupakan
pernyataan mental dari dari konsumen yang merefleksikan rencana pembelian
sejumlah produk dengan merek tertentu. Hal ini sangat diperlukan oleh para
pemesar untuk mengetahui niat beli konsumen terhadap suatu produk, baik para
pemasar maupun ahli ekonomi menggunakan variabel niat untuk memprediksi
perilaku konsumen dimasa yang akan datang

Pengertian Perilaku Konsumen


Adapun pengertian perilaku konsumen menurut Griffin dan Sopiah dan
Sangadji (2013:8)perilaku konsumen adalah :
“semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologi yang mendorong tindakan
tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan,
menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal diatas atau
kegiatan mengevaluasi”.
Sedangkan menurut Sumarwan (2011:5), mengemukakan :
“perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan serta proses
psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli,
ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah
melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi.”

Elemen-Elemen Store atmosphere


Menurut Berman dan Evans (2010:509) membagi elemen-elemen store
atmosphere ke dalam 4 elemen yaitu :

  1. Exterior
    Exterior toko memiliki pengaruh yang sangat kuat pada image toko tersebut dan
    harus di rencanakan sebaik mungkin. Exterior terdiri dari :
    a. Bagian Depan Toko (Storefront)
    Konsumen terkadang menilai sebuah toko dari bagian depannya. Bagian
    depan toko merupakan keseluruhan physical exterior dari sebuah toko,
    dan yang termasuk
    b. Papan Nama Toko (Marquee)
    Suatu tanda yang di gunakan untuk memajang nama atau logo suatu
    toko, papan nama toko biasanya terdiri dari nama atau logo saja atau
    kombinasi slogan toko dan informasi lain-lainnya untuk menarik
    konsumen.
    c. Pintu Masuk Toko (Store Entrance)
    Ada 3 hal utama dalam pintu masuk toko :
  2. Jumlah pintu masuk yang di butuhkan sebuah toko diharapkan dapat
    mengatur antara pintu keluar dan pintu masuk toko, karena pintu
    masuk dan pintu keluar memiliki tujuan yang berbeda sehingga
    memerlukan disain yang berbda pula.
  3. Pintu masuk yang di pilih apakan menggunaka pintu otomatis atau
    manual
  4. Jalan masuk. Jalan yang lebar dan lapang dapat mencitakan
    atmosphere yang berbeda dibandingkan dengan yang sempit dan
    kecil.
    d. Tampilan Pajangan (Display Windows)
    Memiliki 2 tujuan utama yaitu untuk mengidentifikasi suatu toko dan
    barang-barang yang di tawarkan serta untuk mendorong orang tertarik
    untuk mengunjungi toko.
    18
    e. Tinggi Bangunan (exteriorBulding Hight)
    Tinggi bangunan dapat di samarkan atau pun tidak disamarkan. Dengan
    tidak menyamarkan bangunan maka seluruh toko atau center dapat
    dilihat oleh pejalan kaki.
    f. Toko dan Area Sekitar (Surrounding Strore and Area)
    Lingkungan di sekitar toko dapat mengisyartkan kisaran harga,
    gayahidup orang-orang yang tinggal di sekitar toko.
    g. Fasilitas Tempat Parkir ( parking Facilities)
    Tempat parkir yang dekat dengan toko serta dekat dengan pintu masuk
    toko dan jika tidak ada pungutan biaya makan akan menciptakan kesan
    lebih positif.
  5. General Interior
    Generalinterior merupakan elemen-elemen yang dapat mempengaruhi perspsi
    konsumen ketika berada dalam sebuah toko. Dan terdiri dari :
  6. lampu yang terang dapat memberikan kontribusi terhadap atmosfir yang
    ada dalam toko
  7. suara dan aroma dapat mempengaruhi perasaan konsumen.
  8. perlengkapan toko yang dapat direncanakan berdasarkan kegunaan dan
    estetikanya.
  9. dinding toko juga mempengaruhi atmosphere toko seperti warna cat atau
    wallpaper toko.
  10. temperature udara dalam toko juga mempengaruhi atmosphere toko
  11. bentuk bangunan atau perlengkapan yang baru dapat mendukung
    atmosphere dalam toko.
  12. Store layout
    Store layout meliputi :
    Penataan penempatan ruang untuk mengisi luas lantai yang tersedia,
    mengklasifikasikan produk yang akan di tawarkan, pengaturan lalulintas dalam
    toko, pengaturan lebar ruangan yang di butuhkan, pemetaan ruangan toko, dan
    dapat menyusun produk yang ditawarkan secara individu.
  13. InteriorDisplay
    Poster, papanpetunjuk dan lain-lainnya dapat mempengaruhi atmosphere toko,
    karena dapat memberikan petunjuk kepada konsumen. Selain memberi petunjuk
    interior display juga dapat merangsang untuk melakukan pembelian. Mavan
    interior display antara lain :
    a. Assortment Display
    Merupakan interior display yang di gunakan untuk berbagai macam
    produk yang berbeda dan dapat mempengaruhi konsumen untuk
    merasakan, melihat, dan mencoba produk. Kartu ucapan, majalah, buku,
    dan produk jenis lainnya merupakam produk-produk yang
    menggunakan assortment display.
    b. Theme-Setting Display
    Merupakan bentuk interior display yang menggunakan tema-tema
    tertentu, yang tujuan untuk membangkitkan suasana atau nuansa
    tertentu. Biasanya, digunakan dalam even-even tertentu seperti
    menyambut hari kemerdekaan dan hari besar lainnya.
    c. Ensemble Display
    Merupakan bentuk interior display yang di gunakan untuk satu stel
    produk yang merupakan gabungan dari berbagai macam produk.
    Biasanya, digunakan untuk produk satu stel pakaian (sepatu, kasu kaki,
    celana, baju, dan jaket).
    d. Rack Display
    Merupakan interior display yang memiliki fungsi utama sebagai tempat
    atau gantungan untuk produk yang di tawarkan. Bentuk lain dari rack
    display adalah case display di gunakan untuk produk-produk seperti
    buku catatan, buku dan sejenisnya.
    e. Cut Case
    Merupakan interior display yang murah hanya menggunakan kertas
    biasa. Biasanya di gunakan di super market atau toko yang sedang
    menyelenggarakan diskon. Bentuk dari cut case adalah dump bin,
    merupakan tempat untuk menumpuk pakaian, pakaian atau buku-buku
    yang sedang diskon

Pengertian Store atmosphere


Menurut pengertian dari Levy dan Weitz (2012:490) suasana Toko adalah:
“Atmosfer mengacu pada desain lingkungan meskipun komunikasi visual,
pencahayaan, warna,musik dan aroma untuk merangsang respon pelangga
n persepsi dan emosional danakhirnya mempengaruhi
perilaku pembelian mereka”.
Pendapat lain menurut Kotler dan Keller (2012:457) berpendapat bahwa:
“Suasana toko adalah elemen lain dalam gudang toko. Setiap toko memiliki
tampilan dan tata letak fisik yang membuatnya sulit atau mudah untuk
bergerak di sekitar”

Faktor-faktor mempengaruhi daya Tarik sebuah lokasi


Masalah-masalah dalam mentukan suatu lokasi tertentu memiliki daya tarik
secara spesifik, berikut penjelasan dari masalah tersebut Utami (2010:145) :

  1. Aksesibilitas
    Aksesibilitas suatu lokasi adalah suatu kemudahan bagi konsumen untuk datang
    atau masuk dan keluar dari lokasi tersebut. Analisis ini memiliki dua tahap
    yaitu:
    a. Analisis Makro
    Mempertimbangkan area perdagangan primer, seperti area dua hingga
    tiga mil di sekitar lokasi tersebut dalam kasus sebuah supermarket atau
    toko obat.
    b. Analisis mikro
    Berkonsentrasi pada maslaah-masalah sekitar lokasi, seperti visibilitas,
    arus lalulintas, parkir, keramaian, dan jalan masuk atau jalan keluar

Bauran Ritel (retail)


Bisnis ritel memiliki beberapa strategi dalam melakukan kegiatan bisnisnya.
Slaah satu strategi yang di kenal dalam ritel yaitu bauran ritel atau (retail mix)
Penjelasan bauran ritel menurut Levy dan Weitz (2012:20) berpendapat, bauran
pemasaran ritel adalah :
“seperangkat keputusan peritel untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan
mempengaruhi keputusan pembelian mereka”.
Adapun bauran ritel, yaitu sebagai berikut :

  1. Produk
    Produk adalah keseluruhan dari penawaran yang dilakukan secara normal oleh
    perusahaan kepada konsumen dalam memberikan pelayanan, letak toko, dan
    nama barang dagangannya.
  2. Harga
    Harga sangat berhubungan dengan nilai dasar dari persepsi konsumen
    berdasarkan dari keseluruhan unsur bauran ritel dalam menciptakan suatu
    gambaran dan pengalaman bertransaksi.
  3. Lokasi
    Lokasi merupakan struktur fisik dari sebuah toko yang merupakan komponen
    utama yang terlihat dalam membentuk kesan sebuah toko yang dilakukan peritel
    dalam melakukan penempatan tokonya dan kegiatan dalam menyediakan
    saluran pelayanan yang dibutuhkan oleh konsumen.
  4. Tata letak Toko
    Penataan toko yang dirancang dan dibuat setelah lokasi toko dipilih. Semuanya
    ini bertujuan untuk memudahkan dan memberikan kenyamanan bagi konsumen
    dalam berbelanja.
  5. Promosi
    Promisi merupakan kegiatan yang mempengaruhi persepsi, sikap dan perilaku
    konsumen terhadap suatu tokok ritel dengan segala penawarannya.
  6. Pelayanan
    Pelayanan merupakan suatu keinginan konsumen untuk dilayani, dan pelayanan
    tersebut tentunya berhubungan dengan penjualan produk yang akan di beli oleh
    konsumen.

Pengertian Ritel (Retail)


Ritel merupakan salah satu cara penjualan dari manajemen pemasaran selain
dari periklanan (advertising), ritel merupakan penjualan suatu produk atau jasa
yang langsung kepada konsumen akhir. Adapun pengertian menurut Utami
(2012:5) mengemukakan bahwa :
“ Bisnis ritel dapat dipahami sebagai semua kegiatan yang terlibat dalam
penjualan barang atau jasa secara langsung kepada konsumen akhir untuk
penggunaan pribadi dan bukan untuk penggunaan bisnis”.
Selain yang di kemukakan di atas pengertian ritail menurut Agus
(2010:XVii) menjelaskan ritel sebagai berikut :
“Ritel (Retail) adalah sekumpulan aktivitas bisnis yang memberikan nilai
tambah untuk produk dan jasa yang di jual ke konsumen untuk digunakan
sendiri atau keluarganya”

Pengertian Bauran Pemasaran


Setiap perusahaan atau tempat usaha memiliki tujuan untuk memberikan
kesan terbaik kepada konsumen dan juga tercapainya tujuan perusahaan itu sendiri.
Tentu saja kesan baik dan tujuan perusahaan tersebut di atur oleh manajemen
pemasaran yang lansung berhubungan dengan masalah konsumen dalam
melakukan pembelian guna dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan calon
pembeli tersebut. Manajemen pemasaran biasanya menggunakan bauran pemasaran
atau marketing mix dalam membuat rencana agar calon konsumen tertarik
melakukan pembelian produk atau jasa tersebut. Adapun pengertian dari bauran
pemasaran (marketing mix) menurut Kotler dan Keller (2012:62), mengemukakan
bahwa :
“Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang di gunakan
perusahaan untuk mengejar tujuan perusahaannya”.
Bauran pemasaran biasa di gunakan sebagai alat pemasaran oleh perusahan
untuk menarik calon konsumen melakukan pembelian. Bauran pemasaran memiliki
komponen yaitu dikelan dengan singkatan 4p produk (product), harga (price),
tempat (place), promosi (promotion).
Penjelasan komponen-komponen bauran pemasaran menurut Kotler dan keller
(2012:47), menjelaskan bahwa :
“Bauran pemasaran sebagai seperangkat alat pemasaran perusahaan
menggunakan untuk mengejar tujuan pemasarannya di pasar sasaran.”
komponen bauran pemasaran yaitu :

  1. Produk (Product)
    Produk adalah segala sesuatu yang dapat di tawarkan ke suatu pasar untuk
    diperhatikan, dimiliki, dipakai atau dikonsumsi, sehingga dapat memuaskan
    keinginan dan kebutuhan. Pengertian produk bukan hanya dalam pengertian
    fisik (pengertian sempit) akan tetapi pengertian produk secara luas bisa juga
    jasa, manusia, tempat, organisasi, dan gagasan.
  2. Harga (Price)
    Harga adalah sejumlah uang sebagai alat ukur untuk memperoleh produk atau
    jasa. Harga juga dapat dikatakana penentuan nilai suatu produk atau jasa.
  3. Tempat (place)
    Tempat adalah seperangkat organisasi yang saling bergantung satu sama lain,
    yang dilibatkan dalam proses penyediaan suatu produk atau jasa, untuk
    gdigunakan atau dikonsumsi oleh konsumen atau pengguna bisnis.
  4. Promosi (promotion)
    Promosi adalah suatu komunikasi informasi penjual dan pembeli yang bertujuan
    untuk merubah sikap dan tingkah laku pembeli, yang tadinya tidak mengenal
    menjadi mengenal sehingga menjadi pembeli dan tetap mengingat produk
    tersebut

Pengertian Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran merupakan suatu aktivitas dalam organisasi yang
bertujuan untuk mengatur segala kegiatan tentang pemasaran. Adapun menurut
Kotler dan Keller (2012:45) mengemukakan bahwa :
“Manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan
mendapatkan, menjaga, dan menumbuhkan pelanggan dengan
menciptakan, menyerahkan dan mengomunikasikan nilai pelanggan yang
unggul”.
Sedangkan manajemen pemasaran menurut Buchari Alma (2013)mengemukakan
bahwa :
“Manajemen pemasaran adalah kegiatan menganalisa, merencanakan,
engimplementasi, dan mengawasi segala kegiatan (program), guna
memperoleh tingkat pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli
sasaran dalam rangka mencapai tujuan organisasi.”

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan


Menurut Zeithaml dan Bitner dalam Firmansyah (2018) faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan pelanggan sebagai berikut:
a. Kualitas pelayanan atau jasa, yaitu pelanggan akan merasa puas jika
mereka mendapatkan pelayanan yang baik dan sesuai dengan harapan.
b. Kualitas produk, yaitu pelanggan akan merasa puas jika produk yang
mereka gunakan berkualitas.
c. Harga, yaitu harga yang relatif murah dan produk yang memiliki
kualitas yang sama akan memberikan nilai yang lebih tinggi pada
pelanggan.
d. Faktor situasi, yaitu keadaan yang dialami pelanggan.
e. Faktor pribadi dari pelanggan, yaitu karakteristik yang sesuai dengan
kebutuhan pribadi

Faktor-Faktor Pendorong Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan terdapat faktor-faktor yang dapat mendorong
kepuasan pelanggan. Berikut adalah faktor-faktor yang dapat mendorong
kepuasan pelanggan menurut para ahli. Menurut Irawan (2015:37), adalah :
a. Kualitas produk. Pelanggan akan puas kalau membeli dan
menggunakan suatu produk yang ternyata kualitasnya baik. Kualitas
produk ini adalah dimensi yang global dan kualitas paling tidak ada
terdapat 6 elemen, yaitu performance, durability, feature, reliability,
consistency, dan design.
b. Harga. Bagi pelanggan yang sensintif harga, biasanya harga murah
adalah sumber kepuasan yang penting karena mereka akan
mendapatkan value of money yang tinggi. Komponen harga ini relatif
tidak penting bagi mereka yang tidak sensitif terhadap harga.
c. Service quality. Service quality sangat tergantung pada tiga hal, yaitu
sistem, teknologi dan manusia. Faktor manusia memegang kontribusi
sekitar 70 %. Pembentukan attitude dan perilaku konsumen yang
seiring dengan keinginan perusahaan, bukanlah pekerjaan mudah.
Pembenahan harus dilakukan mulai dari proses perekrutan, training,
budaya kerja dst yang hasilnya baru terlihat setelah 3 tahun.
Dipersepsikan baik dan memuaskan, jika jasa yang diterima melampaui
harapan konsumen, maka kualitas pelayanan dipersepsikan baik dan
berkualitas.
d. Emotional factor. Pelanggan akan merasa puas (bangga) karena adanya
emotional value yang diberikan oleh brand dari produk tersebut.
e. Biaya dan kemudahan. Pelanggan akan semakin merasa puas apabila
proses yang diberikan perusahaan relative mudah, nyaman dan efisien
dalam mendapatkan produk atau pelayanan.
24

  1. Elemen-Elemen Kepuasan Pelanggan
    Menurut Donni juni priansa (2017: p,210) lima elemen yang
    menyangkut kepuasan konsumen adalah sebagai berikut:
    a. Harapan (expectations) harapan konsumen terhadap suatu barang atau
    jasa yang disusun sebelum pembelian barang atau jasa tersebut. Ketika
    tahapan pembelian dilakukan, konsumen berharap barang atau jasa
    yang diterima sesuai dengan harapan, keinginan dan keyakinan mereka.
    Jika sesuai dengan harapan konsumen maka ia akan merasa puas.
    b. Kinerja (performance) pengalaman konsumen terhadap kinerja aktual
    barang atau jasa ketika digunakan tanpa dipengaruhi oleh harapan
    mereka. Ketika kinerja aktual barang atau jasa berhasil maka konsumen
    akan merasa puas.
    c. Perbandingan (comparison) hal ini dilakukan dengan membandingkan
    harapan kinerja barang atau jasa sebelum membeli dengan persepsi
    kinerja aktual barang atau jasa tersebut. Konsumen akan merasa puas
    ketika harapan sebelum pembelian sesuai atau melebihi persepsi mereka
    terhadap kinerja actual produk.
    d. Pengalaman (experience) parapan konsumen dipengaruhi oleh
    pengalaman mereka terhadap penggunaan merek dari barang atau jasa
    yang berbeda dari orang lain.
    e. Konfirmasi (confirmation) dan Diskonfirmasi (disconfirmation)
    konfirmasi atau terkonfirmasi terjadi jika harapan sesuai dengan kinerja
    aktual produk. Sebaliknya diskonfirmasi atau tidak terkonfirmasi terjadi
    ketika harapan lebih tinggi atau lebih rendah dari kinerja aktual produk.
    Konsumen akan merasa puas ketika terjadi
    confirmation/disconfirmation

Definisi kepuasan pelanggan


Upaya dalam memenuhi kepuasan pelanggan, perusahaan dituntut
untuk mengetahui perubahan kebutuhan dan keinginan pelanggan yang
hampir setiap saat berubah. Pembeli akan bergerak setelah membentuk
persepsi terhadap nilai penawaran, kepuasan sesudah pembelian tergantung
dari kinerja penawaran dibandingkan dengan harapannya. Kepuasan
pelanggan dapat dirasakan setelah pelanggan membandingkan pengalaman
mereka dalam melakukan pembelian barang/jasa dari penjual atau penyedia
barang/jasa dengan harapan dari pembeli itu sendiri. Harapan tersebut
terbentuk melalui pengalaman pertama mereka dalam membeli suatu
barang/jasa atas informasi pemasar dan pesaingnya. Pemasar yang ingin
berhasil dalam persaingan tentu harus memperhatikan apa yang diinginkan
pelanggan serta kepuasan pelanggannya.
Menurut Richard Oliver dalam Zeithaml., dkk (2018) kepuasan
pelanggan adalah respon pemenuhan dari pelanggan terhadap suatu produk
atau layanan itu sendiri yang telah memenuhi kebutuhan dan harapan
pelanggan.
Sedangkan menurut Pasuraman, Zeithaml, dan berry mengemukakan
kepuasan pelanggan adalah perasaan pelanggan terhadap jenis pelayanan
yang didapatkannya Firmansyah (2018).
Menurut Tjiptono, F (2016:200) kepuasan pelanggan adalah perasaan
senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara
persepsi terhadap kinerja (hasil) suatu produk dengan harapan-harapanya

Bauran Pemasaran


Bauran pemasaran atau marketing mix memiliki peranan penting dalam
pemasaran yang dapat menghubungi konsumen untuk membeli produk atau jasa
yang ditawarkan. Bauran pemasaran juga menentukan keberhasilan perusahaan
dalam mengejar keuntungan (profit).
Definisi bauran pemasaran menurut Alma Buchari (2016:205), merupakan
strategi mencampuri kegiatan-kegiatan pemasaran, agar dicari kombinasi
maksimal sehingga mendatangkan hasil yang memuaskan.
Kemudian menurut Setyabudi and Suranto (2018:59), bauran pemasaran
adalah memiliki peranan pentinng yang dapat mempengaruhi konsumen sehingga
membeli suatu produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.
Berbeda halnya menurut Kotler dan Keller dalam Marketing Management
(2016:47), mendefinisikan bauran pemasaran sebagai seperangkat alat pemasaran
perusahaan menggunakan untuk mengejar tujuan pemasarannya dipasar sasaran.
Berikut adalah bauran pemasaran untuk produk menggunakan 4P menurut
Kotler dan Keller dalam Marketing Management (2016:47):

  1. Produk (product) suatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk
    mendapatkan perhatian, agar produk yang dijual mau dibeli, digunakan
    atau dikonsumsi yang dapat memenuhi suatu keinginan atau kebutuhan
    dari konsumen.
  2. Harga (price) sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat
    dari memiliki atau menggunakan produk atau jasa yang nilainya
    ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar menawar, atau
    ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua
    pembeli.
  3. Tempat (place) tempat diasosiasikan sebagai saluran distribusi yang
    ditujukan untuk mencapai target konsumen. Sistem distribusi ini
    mencakup lokasi, transportasi, pergudangan, dan sebagainya.
  4. Promosi (promotion) sebagai salah satu cara pemasaran untuk
    mengkomunikasikan dan menjual suatu produk kepada konsumen yang
    berpotensi.

Pemasaran


Di dalam dunia usaha, salah satu kegiatan yang harus dilakukan yaitu
pemasaran. Ketika berbicara tentang pemasaran pasti membutuhkan manajemen
agar kegiatan pemasaran bisa berjalan dengan lancar dan tepat sasaran.
Manajemen merupakan suatu proses mengelola atau mengatur suatu kegiatan
untuk mencapai tujuan tertentu melalui sekelompok orang yang dapat
mendatangkan hasil. Manajemen pemasaran termasuk upaya untuk
mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan karena berhubungan langsung
dengan konsumen sebagai pemakai produk. Dalam era persaingan yang semakin
ketat pelaku usaha harus pandai dalam memilih strategi pemasaran yang
digunakan. Untuk lebih jelasnya berikut akan dijelaskan beberapa pengertian
manajemen yang dikemukakan para ahli.
Menurut Dayle dalam Sudaryono (2016:41), pemasaran adalah proses
manajemen yang berupaya memaksimumkan laba (retuns) bagi pemegang saham
dengan jalan menjalin relasi dengan pelanggan utama (valued customers) dan
menciptakan keunggulan kompetitif.
Berbeda halnya menurut Hasan (2014:1) menyatakan bahwa “pemasaran
merupakan sebuah konsep ilmu dalam strategi bisnis yang bertujuan untuk
mencapai kepuasan berkelanjutan bagi stakeholder (pelanggan, karyawan dan
pemegang saham)”.

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran terjadi ketika sebuah perusahaan dapat membuat
sebuah pertukaran pikiran tentang cara untuk menciptakan suatu tujuan pemasaran
produk untuk mencapai respons yang diinginkan pihak lain. Manajemen
pemasaran bertujuan untuk memenuhi keinginan konsumen, karenanya kita
memandang manajemen pemasaran (marketing management) sebagai seni dan
ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan
pelanggan dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengomunikasikan nilai
pelanggan yang unggul.
Definisi manajemen pemasaran menurut Suparyanto & Rosad (2015:1)
adalah: “Manajemen pemasaran merupakan kegiatan penganalisisan, perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian program – program yang dibuat untuk membentuk,
membangun, dan memelihara keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar
guna mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang”.
Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2016:27) mengatakan bahwa:
“Marketing management as the art and science of choosing target markets and
getting, keeping, and growing customers through creating, delivering, and
communicating superior customer value”.

Hubungan antara nilai yang dirasakan terhadap niat beli


(Graciola et al., 2020:3) Niat membeli adalah hasil dari pengalaman
pembelian pelanggan. Niat membeli , oleh karena itu, merupakan salah satu
indikator persepsi pelanggan terhadap sebuah toko. Studi yang dikembangkan
(Cronin et al dalam Graciola 2020:3)telah menggambarkan nilai yang dirasakan
sebagai pengaruh pada niat beli pelanggan. Nilai yang dirasakan telah disajikan
sebagai perantara dalam proses kognitif dengan hubungan mediasi. Dengan
demikian, dalam penelitian ini, nilai yang dirasakan juga meminkan peran mediasi
dalam niat beli. Atribut gambar toko membantu meningkatkan nilai yang
dirasakan, yang mempengaruhi niat beli

Hubungan antara aktivitas pemasaran media sosial terhadap niat beli


(Ibrahim, Aljarah and Ababneh, 2020:7) Perkembangan teoritis untuk niat
beli didasarkan pada teori niat perilaku. Dua teori telah menginformasikan peneliti
awal tentang bagaimana membuat konsep niat beli. Pertama , teori tindakan
beralasan (TRA) yang mendalilkan bahwa niat perilaku mengarah pada perilaku
yang sebenarnya (Fishbein and Azjen, 1975 dalam Blend Ibrahim 2020:7).
Aktivitas pemasaran media sosial bertujuan untuk meningkatkan kekuatan
hubungan dengan pelanggan yang mengarah pada sikap positif terhadap suatu
perusahaan atau merek, sehingga merangsang niat untuk membeli. Untuk alasan
ini, aktivitas pemasaran media sosial dikreditkan dengan efek positif pada niat
beli. Niat beli mempertimbangkan apakah konsumen mengembangkan niat atau
minat membeli produk atau jasa tertentu dengan menggunakan transaksi online.
Aktivitas pemasaran media sosial bertujuan untuk meningkatkan kekuatan
hubungan dengan pelanggan mengarah pada sikap positif terhadap perusahaan /
merek, sehingga merangsang niat untuk membeli. Untuk alasan ini, aktivitas
pemasaran media sosial memiliki pengaruh positif terhadap niat beli. Aktivitas
pemasaran media sosial bertujuan untuk meningkatkan kekuatan hubungan
dengan pelanggan yang mengarah pada sikap positif terhadap suatu perusahan
atau merek , sehingga merangsang niat membeli.

Hubungan antara aktivitas pemasaran media sosial dengan nilai yangdirasakan


(Chen and Lin, 2019:25) Manfaat dari komunitas ini termasuk
menyampaikan informasi pemasaran serta layanan pelanggan, mengeksplorasi
permintaan dan mengelola komunitas. Kegiatan tersebut dapat meningkatkan
kepuasan pelanggan dan meningkatkan hak konsumen. (Verhagen et al., 2011
dalam Chen 2019:25) menemukan bahwa ketika bertransaksi secara online ,
pelanggan akan memiliki kepuasan yang lebih tinggi terhadap website jika
memiliki pengalaman yang sangat menyenangkan. Studi ini menegaskan bahwa
aktivitas pemasaran media sosial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
nilai yang dirasakan yang pada gilirannya mempengaruhi kepuasan