Experiential marketing berasal dari dua kataayaitu experience dan marketing.
Experience adalah pengalaman yang merupakan peristiwa-peristiwaa pribadi
yang terjadi dikarenakan adanya stimulusatertentu (misalnya yang diberikan
oleh pihak pemasar sebelum danasesudah pembelian barang atau jasa) (Schmitt,
1999).
Sedangkan pengertian marketing adalah suatu prosesasosial dan manajerial
yang membuat individu dan kelompokamemperoleh apa yang mereka butuhkan
dan inginkan lewatapenciptaan dan perukaran timbal balik produk dananilai
dengan orang lain (Kotler dan Keller, 2006).
Schmitt (1999) mendefinisikanabahwa experiential marketing sebagai sebuah
penghargaan daria konsumen dan pembelian dari produk atau jasa dari
perusahaana atau merek setelah mereka mengalami aktivitas dana merasakan
stimulasi. Lee, Hsiao, & Yang (2010) mendefinisikanaexperiential marketing
sebagai sebuah kenangan yangatidak bisa dilupakan atau pengalaman yang
sangataberkesan di dalam benak konsumen. Sedangkan menurutaAndreani
(2007) experiential marketing adalah pendekatan pemasaranayang sebenarnya
telah dilakukan sejak zaman dahulua sampai sekarang oleh para pemasar.
Pendekatan ini dianggapasangat efektif karena seiring dengan perubahan zaman
danateknologi, pemasar menekankan diferensiasi produkauntuk membedakan
produk mereka dengan produk pesaing.
Experiential marketing tidak hanya berfokus padaaproduk atau layanan, akan
tetapi juga pada seluruh pengalamana yang menjelaskan proses penciptaan
pengalaman pelanggan, termasuka sebelum adanya pembelian, saat terjadinya
pembelian, dana juga pasca pembelian (Yuan & Wu, 2008). Experiential
marketing bertujuan untuk memasoka faktor-faktor yang membantu
mengembangkan sisi pengalamana dari penawaran perusahaan membantu
konsumen untuka mengaksesnya (Schmitt, 1999). Experiential marketing
memberikanakerangka kerja yang luar biasa untuk mengintegrasikanaelemen
pengalaman dan hiburan ke dalam produka/ layanan yang ditawarkan (Zena &
Hadisumarto, 2013).
Experiential marketing memberikan peluang bagia konsumen untuk
mendapatkan serangkaiana pengalaman pada merek, produk, atau jasa yang
memberikana informasi yang cukup untuk membuat keputusana pembelian.
Berlawanan dengan pemasar tradisional, pemasaraberpengalaman berpikir
bahwa pelanggan mereka tidak hanyaamanusia yang rasional tetapi juga
emosional (Schmitt, 1999). Andreani (2007) menyatakana bahwa aspek
emosional dan rasional adalah aspek yangaingin ditargetkan pemasar melalui
strategi pemasaran ini, danatidak jarang kedua aspek ini memberikan efekayang
luar biasa pada perusahaan.
Schmitt (1999) berpendapat bahwa experientialamarketing dapat diukur
dengan menggunakan lima indikatorayaitu sense, feel, think, act, dan relate.
a. Sense / Sensory Experience. Sense Experience diartikan sebagai usaha
untuk penciptaanapengalaman yang berhubungan dengan panca indra
melaluiapenglihatan, suara, sentuhan, rasa dan juga bau dimanaadigunakan
untuk mendiferensiasikan badan usahaadan produknya di pasar, juga
memotivasi konsumen untuk maua membeli produk tersebut dan
menyampaikan nilai pada konsumennya.
b. Feel / Affective Experience. Feel Experience adalaha strategi dan
implementasi guna memberikanapengaruh merek kepada konsumen lewat
komunikasi (iklan), aproduk (kemasan dan isinya), dan identitas produk.
Setiap perusahaan harusa memahami dengan jelas bagaimana cara
penciptaanaperasaan melalui pengalaman ketika melakukanapembelian
yang dapat menggerakkan imajinasiakonsumen yang diharapkan dapat
membuat keputusan untukamembeli. Feel experience timbul sebagai hasil
kontak dan interaksiayang selalu berkembang sepanjang waktu, yang dapat
dilakukanamelalui perasaan dan emosi yang ditimbulkan. Selainaitu juga
dapat ditampilkanamelalui ide, kesenangan, juga reputasi akanapelayanan
konsumen. Tujuan dari feel experienceaadalah untuk menggerakkan
stimulus emosionalasebagai bagian dari feel strategies sehingga dapat
mempengaruhiaemosi dan suasana hati konsumen.
c. Think / Creative Cognitive Experience. Tujuannya adalah mendorong
konsumenasehingga tertarik dan berpikir secara kreatif sehinggaamungkin
dapat menghasilkan evaluasi kembaliamengenai perusahaan dan merek
tersebut. ThinkaExperience lebih mengacu pada future, focused, avalue,
quality, dan growth dan dapataditampilkan melalui inspirational, high
technology, surprise.
d. Act / Physical Experience dan Entitle Lifestyle. Merupakan teknik
pemasaranauntuk menciptakan pengalaman konsumen yangaberhubungan
dengan tubuh secara fisik, polaaperilaku, dan gaya hidup jangka serta
pengalamanayang terjadi dari interaksi dengan orang lain, adimana gaya
hidup yang direfleksikanadalam tindakan, minat dan pendapat. Act
experiencea yang berupa gaya hidup dapat diterapkana dengan
menggunakan trend yang sedangaberlangsung atau mendorong terciptanya
trendabudaya baru. Tujuan dari act experience adalah untukamemberikan
kesan terhadap pola perilakuadan gaya hidup, serta memperkaya pola
interaksiasosial melalui strategi yang dilakukan.
e. Relate / Social Identity Experience. Relate experience merupakan
gabunganadari keempat aspek experiential marketingayaitu sense, feel,
think, dan act. Padaaumumnya relate experience menunjukkanahubungan
dengan orang lain, kelompokalain (misalnya pekerjaan, gaya hidup) atau
komunitas sosial yang alebih luas dan abstrak (misalnya negara,
masyarakat, budaya). Tujuana dari relate experience adalah
menghubungkan pelangganadengan budaya dan lingkungan sosial yang
dicerminkanaoleh merek suatu produk.