Sumber-sumber Resiliensi (skripsi dan tesis)

Menurut Grotberg (1999) ada beberapa sumber yang dapat
mempengaruhi terbentuknya sebuah resiliensi pada diri individu, yaitu
sebagai berikut :
a. I Have
Faktor I Have merupakan dukungan eksternal dan sumber untuk
meningkatkan resiliensi. Sebelum individu menyadari akan siapa dirinya (I
Am) atau apa yang bisa dilakukan (I Can), individu membutuhkan dukungan
eksternal dan sumber daya untuk mengembangkan perasaan keselamatan dan keamanan yang meletakkan fondasi, yaitu untuk mengembangkan resiliensi. I  Have merupakan bantuan dan sumber dari luar yang meningkatkan resiliensi.
Sumber sumbernya adalah sebagai berikut :
1) Trusting relationships (mempercayai hubungan)
Orang tua, anggota keluarga lainnya, guru, dan teman-teman yang
mengasihi dan menerima individu tersebut. Individu dari segala usia
membutuhkan kasih sayang tanpa syarat dari orang tuanya dan juga kasih
sayang dan dukungan emosional dari orang dewasa lainnya sehingga kasih
sayang dan dukungan dari orang lain diharapkan dapat mengimbangi
terhadap kurangnya kasih sayang dari orang tua.
2) Struktur dan aturan di rumah
Orang tua yang memberikan rutinitas dan aturan yang jelas
kepada anak-anaknya, mengharapkan anak-anaknya dapat melakukan
rutinitas tersebut, aturan dan rutinitas tersebut meliputi tugas-tugas yang
dapat dikerjakan individu, sehingga individu dapat memahami perannya
dan akibat dari tindakannya apabila aturan yang telah dibuat dilanggar.
Jika aturan itu dilanggar, individu dibantu untuk memahami bahwa apa
yang dilakukan tersebut salah, kemudian didorong untuk memberitahu
apa yang terjadi, jika perlu dihukum, kemudian dimaafkan dan
didamaikan layaknya orang dewasa. Orang tua tidak mencelakakan anak
dengan hukuman, dan tidak membiarkan orang lain mencelakakan anak
tersebut.
3) Role models
Orang tua, orang dewasa, kakak, dan teman sebaya bertindak
sebagai model perilaku yang diinginkan dan dapat diterima, baik dalam
keluarga dan orang lain. Menunjukkan bagaimana cara melakukan
sesuatu, seperti berpakaian atau menanyakan informasi dan hal ini akan
mendorong individu untuk meniru serta menjadi model moralitas dan
dapat mengenalkan aturan-aturan agama.
4) Dorongan agar menjadi otonom
Orang dewasa, terutama orang tua, mendorong remaja untuk
melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain dan berusaha menjadi alat
bantu yang diperlukan untuk membantu remaja menjadi otonom. Memuji
remaja ketika menunjukkan sikap inisiatif dan otonomi. Orang dewasa
sadar akan temperamen remaja, sebagaimana temperamennya sendiri,
jadi orang dewasa dapat menyesuaikan kecepatan dan tingkat
temperamen untuk mendorong remaja untuk dapat otonom.
5) Akses pada kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, dan layanan
keamanan.
Remaja maupun keluarga, memiliki layanan yang dapat
diandalkan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh
keluarganya yaitu rumah sakit dan dokter, sekolah dan guru, layanan
sosial, serta polisi dan perlindungan kebakaran atau layanan sejenisnya.
b. I Am
Faktor I Am merupakan kekuatan yang berasal dari dalam diri
individu. Hal ini meliputi perasaan, sikap, dan keyakinan di dalam diri
individu. Ada beberapa bagian-bagian dari faktor dari I Am yaitu :
1) Perasaan dicintai dan perilaku yang menarik
Remaja menyadari bahwa orang lain menyukai dan
mengasihinya. Remaja akan bersikap baik terhadap orang-orang yang
menyukai dan mencintainya sehingga remaja mampu mengatur sikap dan
perilakunya jika menghadapi respon-respon yang berbeda ketika
berbicara dengan orang lain.
2) Mencintai, empati, dan altruistik
Remaja mampu mengasihi orang lain akan menyatakan kasih
sayang tersebut dengan banyak cara. Remaja peduli akan apa yang
terjadi pada orang lain dan menyatakan kepedulian itu melalui tindakan
dan kata-kata. Remaja merasa tidak nyaman dan menderita melihat orang
lain kesusahan dan ingin melakukan sesuatu untuk berbagi penderitaan
atau kesenangan.
3) Bangga pada diri sendiri
Remaja mengetahui dirinya adalah seseorang yang penting dan
merasa bangga pada dirinya dan mampu untuk mengejar keinginannya.
Remaja tidak akan membiarkan orang lain meremehkan atau
merendahkannya. Ketika individu mempunyai masalah dalam hidup,
kepercayaan diri dan self esteem membantunya untuk dapat bertahan dan
mengatasi masalah tersebut.
4) Otonomi dan tanggung jawab
Remaja yang mampu melakukan banyak aktivitas dengan sendiri
dan menerima konsekuensi dari perilakunya tersebut merupakan remaja
yang merasa bahwa dirinya mandiri dan bertanggung jawab atas hal
tersebut. Individu yang otonom dan bertanggung jawab mengerti batasan
kontrolnya terhadap berbagai kegiatan dan mengetahui kapan orang lain
turut bertanggung jawab.
5) Harapan, keyakinan, dan kepercayaan
Remaja percaya bahwa ada harapan bagi dirinya dan ada orangorang dan komunitas disekitarnya yang dapat dipercayainya. Remaja
meyakini suatu perasaan benar dan salah, percaya yang benar akan
menang, dan melakukan hal tersebut. Remaja mempunyai rasa percaya
diri dan keyakinan dalam moralitas dan kebaikan, serta dapat
menyatakan hal ini sebagai kepercayaan pada Tuhan atau makhluk
rohani yang lebih tinggi.
c. I Can
I can adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk mengungkapkan
perasaan dan pikiran dalam berkomunikasi dengan orang lain, memecahkan
masalah dalam berbagai seting kehidupan (akademis, pekerjaan, pribadi dan
sosial) dan mengatur tingkah laku, serta mendapatkan bantuan saat
membutuhkannya. Ada beberapa fakor yang mempengaruhi faktor I can yaitu:
1) Berkomunikasi
Remaja memiliki kemampuan untuk mengekspresikan pemikiran
dan perasaan kepada orang lain dan dapat mendengarkan apa yang
dikatakan orang lain serta merasakan perasaan orang lain.
2) Pemecahan masalah
Remaja dapat menilai suatu permasalahan, penyebab munculnya
masalah dan mengetahui bagaimana cara memecahkannya. Remaja dapat
mendiskusikan permasalahannya dengan orang lain untuk menemukan
solusi yang baik, mempunyai ketekunan untuk bertahan dengan suatu
masalah hingga masalah tersebut dapat terpecahkan.
3) Mengelola berbagai perasaan dan rangsangan
Remaja dapat mengenali perasaannya, dan menyatakannya dengan
kata-kata dan perilaku yang tidak melanggar perasaan dan hak orang lain
atau dirinya sendiri. Remaja juga dapat mengelola rangsangan yang
timbul dalam dirinya untuk memukul, melarikan diri, merusak barang,
berbagai tindakan yang tidak menyenangkan, melainkan remaja mencari
cara yang positif untuk mengatasi rangsangan yang timbul.
4) Mengukur temperamen diri sendiri dan orang lain.
Individu yang dapat memahami temperamennya sendiri yaitu
bagaimana bertingkah, berkeinginan, dan menyesuaikan perilakunya
dalam situasi tertentu diam, reflek dan berhati-hati serta memahami
temperamen orang lain akan mampu menyesuaikan diri dalam kondisi
apa pun serta memiliki kecepatan untuk bereaksi, dan menagani berbagai
macam kondisi.
5) Mencari hubungan yang dapat dipercaya.
Remaja dapat menemukan seseorang misalnya orang tua, saudara,
teman sebaya untuk mendapatkan pertolongan, berbagi perasaan dan
perhatian, guna mencari cara terbaik untuk mendiskusikan dan
menyelesaikan masalah personal dan interpersonal

Aspek-aspek dan Karakteristik Individu yang Memiliki Resiliensi (skripsi dan tesis)

Reivich dan Shatte (2002), memaparkan tujuh kemampuan yang
membentuk kemampuan resiliensi pada individu, yaitu sebagai berikut :
a. Regulasi emosi
Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang di bawah kondisi
yang menekan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu yang kurang
memiliki kemampuan untuk mengatur emosi akan mengalami kesulitan dalam
membangun dan menjaga hubungan dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor yaitu : tidak ada orang yang mau menghabiskan waktu bersama orang yang marah, merengut, cemas, khawatir serta gelisah setiap saat. Emosi yang dirasakan oleh individu cenderung berpengaruh terhadap orang lain. Semakin individu terasosiasi dengan kemarahannya maka akan semakin menjadi seorang yang pemarah.
Tidak semua emosi yang dirasakan harus dikontrol seperti emosi marah,
sedih, gelisah dan rasa bersalah. Hal ini dikarenakan mengekspresikan emosi
yang dirasakan baik emosi positif maupun negatif merupakan hal yang sehat,
bahkan kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara tepat merupakan
bagian dari resiliensi.
Reivich dan Shatte (2002), mengungkapkan bahwa dua buah
keterampilan yang dapat memudahkan individu untuk melakukan regulasi
emosi, yaitu tenang (calming) dan fokus (focusing). Dua buah keterampilan ini
akan membantu individu untuk mengontrol emosi yang tidak terkendali,
menjaga fokus pikiran individu ketika banyak hal-hal yang mengganggu, serta
mengurangi stres yang dialami oleh individu. Regulasi emosi merupakan
kemampuan individu mengontrol emosi-emosi yang ditimbulkan dari sebuah
tekanan, agar individu tersebut tidak bertindak karena dikendalikan oleh
emosinya, supaya individu mampu bertindak secara tepat dan rasional.
b. Pengendalian Impuls
Pengendalian impuls adalah kemampuan individu untuk mengendalikan
keinginan, dorongan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri.
Individu yang memiliki kemampuan pengendalian impuls yang rendah akan
cepat mengalami perubahan emosi yang pada akhirnya sulit untuk
mengendalikan pikiran dan perilakunya. Individu yang menampilkan perilaku
mudah marah, kehilangan kesabaran, impulsif, dan berlaku agresif, hal ini akan
berdampak pada orang-orang sekitarnya, karena orang-orang yang berada
disekitarnya akan merasa tidak nyaman dan hal ini akan berakibat buruknya
hubungan sosial individu tersebut.
Individu yang mampu mengendalikan impuls, individu yang memiliki
pikiran yang positif sehingga dapat memberikan respon yang positif pula
terhadap permasalahannya. Reivich dan Shatte mengungkapkan hal ini dapat
dilakukan dengan mencari kebenaran mengenai apa yang dipikirkan dan
mengevaluasi manfaat dari pemecahan masalahan tersebut. Individu dapat
melakukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat rasional terhadap dirinya,
seperti ‘apakah kesimpulan yang saya lakukan mengenai permasalahan ini
berdasarkan fakta atau hanya menebak?’, ’apakah saya sudah melihat
permasalahan secara keseluruhan?’, ’apakah manfaat dari semua ini?’, dll.
Kemampuan individu untuk mengendalikan impuls sangat terkait dengan
kemampuan regulasi emosi yang individu miliki.
c. Optimisme
Individu yang memiliki kemampuan resiliensi adalah individu yang
optimis, optimis merupakan kemampuan individu untuk melihat masa depan
cemerlang. Optimisme yang dimiliki oleh individu menandakan bahwa
individu tersebut percaya bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan. Hal ini juga merefleksikan efikasi diri yang dimiliki oleh
individu, yaitu kepercayaan individu bahwa mampu menyelesaikan
permasalahan yang ada dan mengendalikan hidupnya. Optimisme akan
menjadi hal yang sangat bermanfaat bagi individu bila diiringi dengan efikasi
diri, hal ini dikarenakan dengan optimisme yang ada pada individu terus
didorong untuk menemukan solusi permasalahan dan terus bekerja keras demi kondisi yang lebih baik.
Tentunya optimisme yang dimaksud adalah optimisme yang realistis
(realistic optimism), yaitu sebuah kepercayaan akan terwujudnya masa depan
yang lebih baik dengan diiringi segala usaha untuk mewujudkan hal tersebut.
Berbeda dengan unrealistic optimism dimana kepercayaan akan masa depan
yang cerah tidak bersamaan dengan usaha yang signifikan untuk
mewujudkannya. Perpaduan antara optimisme yang realistis dan efikasi diri
adalah kunci resiliensi dan kesuksesan (Reivich & Shatte, 2002).
d. Causal Analysis
Causal analysis merujuk pada kemampuan individu untuk
mengidentifikasikan secara akurat penyebab dari permasalahan yang dihadapi. Individu yang tidak mampu mengidentifikasikan penyebab dari permasalahan yang dihadapi secara tepat, akan terus menerus berbuat kesalahan yang sama.
Causal analysis identifikasikan dengan gaya berpikir explanatory yang erat
kaitannya dengan kemampuan causal analysis yang dimiliki individu. Gaya
berpikir explanatory dapat dibagi dalam tiga dimensi: personal (saya-bukan
saya), permanen (selalu-tidak selalu), dan pervasive (semua-tidak semua).
Individu dengan gaya berpikir “Saya-Selalu-Semua” merefleksikan
keyakinan bahwa penyebab permasalahan berasal dari individu tersebut (Saya), hal ini selalu terjadi dan permasalahan yang ada tidak dapat diubah (Selalu), serta permasalahan yang ada akan mempengaruhi seluruh aspek hidupnya (Semua). Sementara individu yang memiliki gaya berpikir “Bukan Saya-Tidak  Selalu-Tidak semua” meyakini bahwa permasalahan yang terjadi disebabkan oleh orang lain (Bukan Saya), dimana kondisi tersebut masih memungkinkan untuk diubah (Tidak Selalu) dan permasalahan yang ada tidak akan mempengaruhi sebagian besar hidupnya (Tidak semua).
Gaya berpikir explanatory memegang peranan penting dalam konsep
resiliensi, individu yang terfokus pada “Selalu-Semua” tidak mampu melihat
jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Sebaliknya individu yang
cenderung menggunakan gaya berpikir “Tidak selalu-Tidak semua” dapat
merumuskan solusi dan tindakan yang akan dilakukan untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada.
Individu yang resilien adalah individu yang memiliki fleksibellitas
kognitif. Individu mampu mengidentifikasikan semua penyebab yang
menyebabkan kemalangan yang menimpanya, tanpa terjebak pada salah satu
gaya berpikir explanatory. Individu tidak mengabaikan faktor permanen
maupun pervasif. Individu yang resilien tidak akan menyalahkan orang lain
atas kesalahan yang perbuatnya demi menjaga self-esteem atau
membebaskannya dari rasa bersalah. Individu tidak terlalu terfokus pada
faktor-faktor yang berada di luar kendalinya, sebaliknya memfokuskan dan
memegang kendali penuh pada pemecahan masalah, perlahan mulai mengatasi permasalahannya yang ada, mengarahkan hidupnya, bangkit dan meraih kesuksesan.
e. Empati
Empati sangat erat kaitannya dengan kemampuan individu untuk
membaca tanda-tanda kondisi emosional dan psikologis orang lain,
kemampuan empati adalah mampu dalam menginterpretasikan bahasa-bahasa nonverbal yang ditunjukkan serta mampu menangkap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki kemampuan berempati cenderung memiliki hubungan sosial yang positif.
Ketidakmampuan untuk berempati berpotensi menimbulkan kesulitan
dalam hubungan sosial, individu yang tidak membangun kemampuan untuk
peka terhadap tanda-tanda nonverbal tersebut tidak mampu untuk
menempatkan dirinya pada posisi orang lain, merasakan apa yang dirasakan
orang lain dan memperkirakan maksud dari orang lain. Ketidakmampuan
individu untuk membaca tanda-tanda nonverbal orang lain dapat sangat
merugikan, baik dalam konteks hubungan kerja maupun hubungan personal,
hal ini dikarenakan kebutuhan dasar manusia untuk dipahami dan dihargai.
Individu dengan empati yang rendah cenderung mengulang pola yang
dilakukan oleh individu yang tidak resilien, yaitu menyamaratakan semua
keinginan dan emosi orang lain (Reivich & Shatte, 2002).
f. Efikasi Diri
Efikasi diri adalah hasil dari pemecahan masalah yang berhasil. Efikasi
diri merepresentasikan sebuah keyakinan bahwa individu mampu
memecahkan masalah yang dialami dan mencapai kesuksesan. Efikasi diri
merupakan hal yang sangat penting untuk mencapi resiliensi.
g. Reaching out
Individu yang mampu melakukan reaching out adalah individu yang
tidak menghidari kegagalan, melainkan yang berani untuk menghadapinya.
Individu yang reaching out tidak hanya menjalani kehidupan yang standar
tetapi, berani untuk menerima kegagalan kehidupan dan hinaan orang lain
untuk mengapai kesuksesannya. Individu yang tidak memiliki kemampuan
reaching out cenderung untuk melebih-lebihkan (overestimate) dalam
memandang kemungkinan hal-hal yang buruk yang akan terjadi di masa datang sehingga terjadi kegagalan dalam mengoptimalkan kemampuan remaja. Menurut Wolin dan Wolin (1999), terdapat tujuh karateristik utama
yang dimiliki oleh individu resilien. Karateristik inilah yang membuat individu
mampu beradaptasi dengan baik saat menghadapi masalah, mengatasi berbagai hambatan, serta mengembangkan potensi yang dimilikinya secara maksimal, yaitu:
a. Insight
Insight adalah kemampuan mental untuk bertanya pada diri sendiri dan
menjawab dengan jujur. Hal ini untuk membantu individu untuk dapat
memahami diri sendiri dan orang lain, serta dapat menyesuaikan diri dalam
berbagai situasi.
b. Kemandirian
Kemandirian adalah kemampuan untuk mengambil jarak secara
emosional maupun fisik dari sumber masalah dalam hidup seseorang.
Kemandirian melibatkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan antara
jujur pada diri sendiri dan peduli pada orang lain.
c. Hubungan
Individu yang resilien dapat mengembangkan hubungan yang jujur,
saling mendukung dan berkualitas bagi kehidupan, atau memiliki role model
yang sehat.
d. Inisiatif
Inisiatif melibatkan keinginan yang kuat untuk bertanggung jawab atas
diri sendiri atau masalah yang dihadapi. Individu yang resilien bersifat proaktif
bukan reaktif bertanggung jawab dalam pemecahan masalah, selalu berusaha
memperbaiki diri ataupun situasi yang diubah serta meningkatkan kemampuan untuk menghadapi hal-hal yng tidak dapat diubah.
e. Kreativitas
Kreativitas melibatkan kemampuan memikirkan berbagai pilihan,
konsekuensi dan alternatif dalam menghadapi tantangan hidup. Individu yang
resilien tidak terlibat dalam perilaku negatif sebab individu mampu
mempertimbangkan konsenkuensi dari setiap perilaku dan membuat keputusan yang benar. Kreativitas juga melibatkan daya imajinasi yang digunakan untuk mengekspresikan diri dalam seni, serta membuat seseorang mampu menghibur dirinya sendiri saat menghadapi kesulitan.
f. Humor
Humor adalah kemampuan untuk melihat sisi terang dari kehidupan,
menertawakan diri sendiri dan menemukan kebahagian dalam situasi apapun.
Individu yang resilien menggunakan rasa humornya untuk memandang
tantangan hidup dengan cara yang baru dan lebih ringan
g. Moralitas
Moralitas atau orientasi pada nilai-nilai ditandai dengan keinginan untuk
hidup secara baik dan produktif. Individu yang resilien dapat mengevaluasi
berbagai hal dan mebuat keputusan yang tepat tanpa rasa takut akan pendapat orang lain. Individu dapat mengatasi kepentingan diri sendiri dalam membantu orang lain membutuhkan

Fungsi Resiliensi (skripsi dan tesis)

Berdasarkan hasil penelitian di dalam buku Reivich dan Shatte, (2002) The resiliensce factor, kemampuan resiliensi dapat difungsikan oleh individu sebagai hal-hal berikut :
 a. Overcoming
 Setiap individu tidak terlepas dari permasalahan dalam kehidupannya, dan permasalahan tersebut terkadang sulit untuk dihindari. Permasalahan yang hadir dalam kehidupan terkadang sulit diterima akan tetapi hal tersebut harus tetap dijalani oleh individu tersebut untuk dapat merasa aman dalam menjalani kehidupannya. Resiliensi sebuah kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap individu, agar mampu menghadapi permasalahannya dan untuk menghindari keadaan yang dapat merugikan dirinya dari setiap akibat permasalahan tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengubah cara pandang individu untuk tetap berpikir positif, dan fokus untuk selalu berupaya menambah kemampuan diri agar mampu mengontrol kehidupannya. Sehingga, individu bisa tetap percaya diri, bahagia dan termotivasi walaupun dalam berbagai tekanan dalam kehidupan.
b. Steering through
 Walaupun kehidupan terlihat bahagia, kehidupan yang bercukupan, kasih sayang yang penuh dan banyak dukungan dari lingkungan. Resiliensi tetap diperlukan oleh setiap individu, karena semua individu akan menghadapi permasalahan dalam kehidupannya. Individu yang memiliki  resiliensi tidak akan bergantung dengan orang lain untuk menghadapi permasalahannya, tetapi akan menggunakan sumber daya dalam dirinya tanpa memandang negatif mengenai keadaan tersebut. Unsur penting dari steering through adalah keyakinan akan kemampuan dirinya, yaitu untuk berkomitmen memecahkan permasalahannya dan tidak akan menyerah walaupun solusi yang dilakukan tidak berhasil. Sebaliknya, individu yang tidak percaya dengan kemampuan dirinya, lebih pasif ketika dihadapkan dengan suatu masalah atau ketika ditempatkan dalam situasi baru.
 c. Bouncing back
Beberapa kejadian yang bersifat menimbulkan traumatis dan stress tinggi, membutuhkan kemampuan resiliensi yang tinggi untuk menghadapi dan mengendalikan diri dari sebuah permasalahan. Kesulitan yang dirasakan begitu ekstrim, menguras secara emosional, dan membutuhkan resiliensi dengan cara bertahap untuk menyembuhkan diri. Individu yang resilien biasanya menghadapi trauma dengan tiga karakteristik untuk menyembuhkan diri yaitu, menunjukkan task-oriented coping style dimana individu melakukan tindakan yang bertujuan untuk mengatasi kemalangan tersebut, mempunyai keyakinan kuat bahwa dapat mengontrol hasil dari kehidupan, dan mampu kembali ke kehidupan normal lebih cepat dari trauma serta mengetahui bagaimana berhubungan dengan orang lain sebagai cara untuk mengatasi pengalaman yang dirasakan.
 d. Reaching out
(skripsi dan tesis)Tidak hanya dibutuhkan untuk mengatasi pengalaman hidup yang pahit, negatif, mengatasi stress atau pulih dari trauma. Resiliensi juga berguna untuk mendapatkan pengalaman hidup yang lebih kaya dan bermakna serta berkomitmen dalam mengejar pembelajaran dan pengalaman baru. Individu yang berkarakteristik seperti ini melakukan tiga hal dengan baik, yaitu: tepat dalam memperkirakan risiko yang terjadi; mengetahui dengan baik dirinya sendiri; dan menemukan makna dan tujuan dalam kehidupannya

Pengertian Resiliensi (skripsi dan tesis)

Kata resiliensi berasal dari bahasa latin yang dalam bahasa inggris bermakna to jump (or bounce) back, artinya melompat atau melenting kembali (Resiliency Center, 2004). Menurut VanBreda (2013) resiliensi merupakan sebuah kekuatan dan sebuah sistem yang memungkinkan individu untuk terus kuat berada di sebuah keterpurukan. Resiliensi merupakan sebuah kapasitas bagi individu untuk bangun lagi dari kejatuhan serta bangkit kembali dari kesulitan (Setyoso, 2013). Walsh (Lestari, 2016) memaparkan bahwa resiliensi sebuah kemampuan individu untuk bangkit dari penderitaan, dengan keadaan tersebut mental akan menjadi lebih kuat dan lebih memiliki sumber daya. Resiliensi lebih dari sekedar kemampuan untuk bertahan (survive), karena resiliensi membuat individu untuk bisa sembuh dari luka menyakitkan, mengendalikan kehidupannya dan melanjutkan hidupnya dengan penuh cinta dan kasih sayang (Lestari, 2016). Individu yang memiliki resiliensi akan mampu untuk secara cepat kembali kepada kondisi sebelum trauma, terlihat kebal dari berbagai peristiwa-peristiwa kehidupan yang negatif, serta mampu beradaptasi terhadap stres yang ekstrim dan kesengsaraan (Holaday, dalam Widuri 2012). Individu yang resiliens akan mampu menanggulangi kesulitan hidup serta membangun kembali kehidupannya, dalam hal ini yaitu individu mentransformasi permasalahannya secara positif, dengan adanya resiliensi akan membantu individu untuk terbantu mengatasi kesulitannya (Winarsih dalam Ekasari, 2013).
Reivich dan Shatte (2002) memamparkan bahwa resiliensi merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi terhadap situasi-situasi yang sulit, individu dapat dikatakan memiliki resiliensi jika individu mampu untuk secara cepat kembali kepada kondisi sebelum trauma dan terlihat kebal dari berbagai peristiwa-peristiwa kehidupan yang negatif serta individu yang resiliens adalah individu yang merespon setiap permasalahan dengan cara yang sehat dan cara produktif, yaitu menjaga dirinya untuk tetap sehat dan tidak melukai dirinya serta orang lain, dalam kemampuan resiliensi ini hal yang terutama adalah mengelola stress secara baik (Reivich & Shatte, 2002). Berdasarkan beberapa teori dan penjelasan resiliensi di atas, dapat disimpulkan bahwa inti dari resiliensi adalah kemampuan individu untuk bangkit, kuat serta mampu untuk mengelola diri dalam menghadapi permasalahan dalam hidup sehingga dengan menghadapi permasalahan individu menjadi pribadi yang lebih baik. Individu dapat dikatakan resiliens apabila cepat pulih kembali kepada kondisi sebelum terjadi sebuah permasalahan serta dalam menghadapi permasalahan individu meresponnya dengan cara sehat.

Proses Resiliensi (skripsi dan tesis)

Menurut O’Leary dan Ickovics dalam Carver (1998) terdapat empat pola proses yang dapat terjadi ketika individu mengalami kondisi yang menekan. Pertama adalah Succumbing, yaitu sebuah sikap mengalah atau menyerah terhadap tekanan hidup yang terjadi pada diri individu. Tahapan ini dapat terjadi ketika individu mengalami tantangan hidup yang terlalu besar dan sulit. Houlmes dan Rahe dalam Gunawan (2012) menyebutkan bahwa pada orangtua tunggal pasca kematian pasangan hidup memiliki tingkatan stres paling tinggi pada skala stres. Semakin tinggi tingkat skala stres menunjukkan bahwa sejauh mana permasalahan hidup yang dihadapi seorang individu. Houlmes dan Rahe dalam teknik rating scale tentang tingkatan stres menyatakan bahwa semakin mendekati angka 500 maka stres yang dialami individu sangatlah berat. Tidak jarang karena saking cepatnya permasalahan yang terjadi menyebabkan ketidakseimbangan dan ketidaksiapan untuk beradaptasi dengan keadaan dan menyebabkan sakit psikologis (Houlmes dan Rahe, dalam Gunawan, 2012).
Tahap kedua adalah Survival, yaitu individu mampu bertahan dari kondisi yang
menekan. Akan tetapi, beberapa fungsi psikologis mengalami kemunduran, seperti mengalami perasaan-perasaan negatif, dan perilaku-perilaku negatif. Pada kehidupan awal memasuki orangtua tunggal fase ini adalah fase dimana individu mulai menyalahkan keadaan. Tidak jarang menyalahkan oranglain di luar diri Individu. Individu dituntut memiliki kemampuan analisis penyebab masalah yang baik untuk tetap mampu penyelesaian masalah yang sedang dihadapi tanpa menyalahkan pihak lain diluar kontrol individu (Reivich dan Shatte, 2002).
Tahap ketiga adalah tahap recovery, yaitu tahap dimana individu berada pada
kondisi semula, kondisi sebelum mengalami tekanan hidup. Pada tahapan ini, individu mampu bangkit dan beradaptasi setelah terjadinya kondisi menekan. Pada fase ini individu mulai belajar mengenai cara mengatur emosi dan dorongan-dorongan dari luar agar tidak menganggu individu. Reivich dan Shatte (2002) menyebutkan bahwa sikap optimis adalah salah satu sikap yang mendorong individu lebih cepat untuk mencapai tahap recovery kembali seperti semula.
Tahap terakhir adalah Thriving, yaitu individu tidak hanya dapat kembali bangkit ke kondisi semula, namun dapat melampaui fungsi psikologis yang lebih baik. Pada tahapan ini, individu dapat berfungsi lebih baik daripada sebelum terjadinya kondisi traumatik. Nasution (2011) menyebutkan hal ini dengan istilah gaya pegas, setiap individu yang menghadapi trauma kehidupan yang dihadapinya akan memiliki daya pegas yang tinggi untuk menjalani tantangan hidup serupa di depannya.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Furqon (2013) dijelaskan bahwa pada kedua janda mengalami empat proses resiliensi yang sama dengan proses resiliensi yang diungkapkan oleh O’Leary dan Ickovics (dalam Carver, 1998) yaitu: 1. Succumbing yaitu kedua responden mengalami rasa tepuruk pasca meninggal suami, bahkan salah satu responden mengalami kesedihan dan depresi yang lama, 2. Survival yaitu kedua responden mampu bertahan dan mulai menerima kondisi ditinggal suami walaupun masih sulit mengembalikan diri ke kondisi emosi positif, 3. Recovery yaitu kedua responden seiring waktu mulai kembali pada fungsi psikologis dan emosi yang positif, 4. Thriving yaitu kedua responden dapat kembali beraktifitas untuk menjalani kehidupan sehari-hari dan belajar dari pengalaman sebelumnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan, dapat dirangkum bahwa terdapat empat proses yang dilalui oleh individu untuk dapat beresiliensi, yaitu menyerah terhadap tekanan hidup, kondisi bertahan meskipun beberapa fungsi psikologis mengalami kemunduran, kembali ke kondisi semula, dan berkembang pesat terkait dengan beberapa fungsi psikologis jauh lebih baik.

Aspek-Aspek Resiliensi (skripsi dan tesis)

Reivich & Shatte (2002) mengemukakan bahwa terdapat tujuh aspek resiliensi pada individu, yaitu :
1. Pengendalian Emosi (Emotion Regulation)
Pengendalian emosi adalah kemampuan seseorang untuk tetap berada pada
keadaan tenang dan terkendali meskipun pada kondisi yang menekan. Kondisi yang menekan memiliki hubungan yang erat dengan emosi negatif. Individu yang kurang mampu mengendalikan emosi negatif dengan baik, maka akan cenderung tidak mampu dalam membina persahabatan dan mengalami kesulitan dalam bekerja (Reivich dan Shatte, 2002).
Reivich dan Shatte (2002) mengungkapkan ada dua buah keterampilan
untuk memudahkan individu mampu mengatur emosi yaitu tenang dan fokus. Dua buah keterampilan ini akan membantu individu untuk mengontrol emosi yang tidak terkendali, menjaga fokus pikiran individu dan mengurangi stres yang dialami oleh individu. Hal ini bukan berarti emosi harus selalu dikontrol dan tidak dapat diekspresikan, Reivich dan Shatte mengungkapkan mengekspresikan emosi baik negatif maupun positif adalah hal yang harus dilakukan. Mengekspresikan emosi secara tepat dan terkontrol merupakan ciri dari kemampuan resiliensi (Reivich dan Shatte,2002).
Gunawan (2012) mengungkapkan bahwa kemampuan mengendalikan emosi
negatif merupakan suatu hal yang penting untuk dimiliki individu. Hal ini
disebabkan jika emosi negatif dan destruktif semakin meningkat dan tidak
tersalurkan dengan bijak maka akan berdampak pada munculnya stres dan
penyakit-penyakit psikosomatis pada individu. Pada individu yang hidup sebagai orangtua tunggal, fase awal memasuki hidup sebagai orangtua tunggal adalah fase yang paling sulit untuk dihadapi (Heyman, 2010). Marah adalah emosi destruktif yang sering kali muncul ketika individu tidak dapat menerima keadaan hidup yang terjadi. Kemarahan dapat hadir akibat ketiadaaan pasangan hidup dan ketiadaan dukungan dari orang-orang terdekat dalam menghadapi masalah (Heyman, 2010).
Ketika individu tidak mampu untuk mengontrol dan menyalurkan emosi negatif dalam diri dengan baik, maka dapat berdampak pada emosi yang meledak-ledak dan sulit untuk di kontrol (Gunawan, 2012). Emosi yang tidak terkontrol sering kali membuat hubungan individu dengan lingkungan menjadi kurang harmonis (Heyman, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengendalikan emosi yang baik adalah salah satu aspek penting untuk individu mencapai kemampuan resiliensi.
2. Pengendalian Dorongan (Impuls Control)
Pengaturan emosi dan pengendalian dorongan memiliki hubungan yang
erat, ketika individu memiliki faktor pengendalian dorongan yang tinggi maka
individu akan lebih mudah dalam pengaturan emosi. Kemampuan individu dalam mengatur dorongan penting untuk menjaga agar setiap prilaku yang dilakukan oleh individu masih dalam kontrol individu sendiri dan tidak lepas kendali (Reivich dan Shatte, 2002). Pengendalian dorongan meliputi kemampuan untuk mengendalikan keinginan, kesukaan, serta tekanan yang muncul dari dalam diri (Reivich dan Shatte, 2002). Individu yang memiliki pengendalian dorongan yang rendah maka akan lebih cepat untuk mengalami perubahan-perubahan emosi yang kemudian mengendalikan pikiran dan perilaku individu (Reivich dan Shatte, 2002).
Gunawan (2012) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan
individu stres dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor stres dan faktor nonstres. Faktor stres adalah faktor yang muncul dari luar individu dan memberikan tekanan, seperti masalah hidup saat ini yang belum terselesaikan dan masalah dari masa lalu yang belum terselesaikan. Faktor nonstres adalah dorongan stres yang muncul dari konflik di dalam diri individu sendiri seperti motivasi, memori sakit, konflik di dalam diri, imprint, alter, kebiasaan menghukum diri sendiri dan ego stage (Gunawan, 2012).
Reivich dan Shatte (2002) menyebutkan bahwa pengendalian dorongan
bermanfaat untuk memberikan kesempatan individu untuk berpikir mengenai
respon yang tepat tentang masalah yang dihadapi. Kemampuan untuk menunda dan berespon yang tepat yang tepat adalah salah satu ciri-ciri individu yang mampu mengendalikan dorongan. Ketidakmampuan individu untuk menyalurkan dorongan-dorongan penyebab stres dengan bijak dapat berdampak pada timbulnya emosi-emosi destruktif yang terpendam, emosi yang tidak terkontrol atau bahkan sakit-sakit psikosomatis (Gunawan, 2012).
Gunawan (2012) mengungkapkan juga bahwa sumber stres yang paling
sering dijumpai adalah pengalaman masa lalu yang belum terselesaikan dan
masalah saat ini yang belum terselesaikan. Bagi individu yang menjadi orangtua tunggal dengan masalah perceraian dan kematian, dua sumber stres tersebut adalah sumber stres yang paling tinggi memiliki dampak bagi individu. Kemampuan untuk mengatur dorongan stres yang masuk serta penyaluran tekanan mental merupakan hal yang wajib untuk individu atur dengan baik agar sistem tubuh menjadi lebih seimbang (Gunawan, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk mengendalikan dorongan adalah salah satu aspek penting untuk individu yang menjadi orangtua tunggal mencapai kemampuan resiliensi.
3. Optimis (Optimist)
Individu yang mempunyai kemampuan resiliensi adalah individu yang
optimis. Optimis adalah kepercayaan pada diri bahwa segala sesuatu akan dapat berubah menjadi lebih baik, mempunyai harapan akan masa depan dan percaya bahwa individu dapat mengontrol kehidupan seperti apa yang individu inginkan (Reivich dan Shatte, 2002). Dalam resiliensi sikap optimis yang dimiliki adalah sikap optimis yang realistis, sehingga setiap sikap optimis dalam menghadapi keadaan selaras dengan usaha untuk merealisasikan (Reivich dan Shatte, 2002). Optimis sangat berhubungan sekali dengan self efficacy, semakin tinggi self efficacy seseorang maka sikap optimis akan semakin tinggi (Reivich dan Shatte, 2002).
Seligman (1991) mendefinisikan sifat optimis sebagai suatu sikap yang
mengharapkan hasil yang positif dalam menghadapi masalah, dan berharap untuk mengatasi stres dan tantangan sehari-hari secara efektif. Seligman (1991) menjelaskan bahwa sikap optimis yang tinggi berasal dari dalam diri individu dan dukungan dari lingkungan yang membuat individu merasa dihargai. Chalkoun (2010) menyatakan hidup sebagai orangtua tunggal memiliki banyak gambaran negatif baik dari dalam ataupun dari lingkungan. Individu yang mampu untuk mengadopsi sikap positif dan optimis dalam kehidupan sehari-hari akan memiliki dampak hidup yang lebih bertenaga dan memiliki resiliensi yang tinggi (Chalkoun, 2010). Fakta ini menunjukkan bahwa sikap optimis adalah aspek penting bagi orangtua tunggal dalam beresiliensi.
4. Analisis Penyebab Masalah (Causal Analysis)
Analisis penyebab masalah adalah kemampuan untuk mengidentifikasi
penyebab dari sebuah peristiwa yang dialami oleh individu. Individu dapat menilai penyebab dari suatu permasalahan dan tidak secara langsung menyalahkan orang lain sebagai sumber masalah. Hal ini penting untuk menjaga diri individu tidak mengambil tindakan yang salah dan merugikan diri sendiri ataupun orang lain (Reivich dan Shatte, 2002).
Seligman (1991) menyatakan bahwa pola pendekatan dalam analisis
penyebab masalah yang baik adalah ketika individu tidak berpikir bahwa setiap masalah selalu tidak dapat berubah dan hal tersebut mempengaruhi semua aspek hidup individu dengan buruk. Fleksibilitas dalam berpikir adalah ciri utama dari individu yang mampu mengembangkan kemampuan analisis masalah dengan baik (Reivich dan Shatte, 2002). Individu yang memiliki kemampuan analisis penyebab masalah yang baik maka akan mampu untuk fokus terhadap penyelesaian masalah yang sedang dihadapi tanpa menyalahkan pihak lain diluar kontrol individu (Reivich dan Shatte, 2002).
Morisette (2014) mengungkapkan bahwa kemampuan untuk berpikir
fleksibel adalah salah satu kemampuan yang diperlukan oleh orangtua tunggal. Konflik-konflik yang hadir baik antara orangtua dan antara orangtua dengan anak menyebabkan kemampuan berpikir fleksibel penting agar individu dapat
beradaptasi dengan kreatif dan percaya diri untuk mengatasi masalah yang dihadapi (Morisette, 2014).
5. Empati (Empathy)
Empati merupakan sebuah kemampuan individu untuk turut merasa atau
mengidentifikasi diri dalam keadaan, perasaan atau pikiran yang sama dengan
orang lain atau kelompok lain. Ketika individu mampu mengembangkan
kemampuan empati, maka individu akan menjadi lebih mudah untuk keluar dari perasaan dan mengkondisikan diri dengan keadaan terutama yang berhubungan dengan orang lain. Kemampuan seseorang individu untuk menjadi empati terhadap orang lain menimbulkan hubungan sosial yang lebih positif. Individu yang kurang mampu mengembangkan kemampuan empati maka cenderung tidak peka terhadap perasaan orang lain dan rentan menimbulkan konflik (Reivich dan Shatte, 2002).
Kemampuan untuk empati juga diperlukan pada individu yang hidup
sebagai orangtua tunggal. Pickhardt (2006) mengungkapkan sikap empati pada orangtua tunggal bermanfaat agar individu mampu merasakan bahwa ada orang lain yang juga memiliki masalah sebagai orangtua tunggal. Perasaan kesamaan untuk orangtua tunggal adalah hal penting untuk tidak terjebak pada masalah yang sama berulang-ulang (Pickhardt, 2006). Individu yang mampu mengembangkan kemampuan untuk empati dengan baik maka tidak akan merasa sendiri dan mampu untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain yang memiliki emosi yang berbedabeda (Reivich dan Shatte, 2002).
6. Efikasi Diri (Self-Efficacy)
Efikasi diri menggambarkan sebuah keyakinan bahwa individu dapat
memecahkan masalah dan dapat meraih kesuksesan. Individu yang memiliki
keyakinan untuk dapat memecahkan masalah akan muncul seperti seorang
pemimpin yang akan mampu mengarahkan diri dan tidak tergantung dengan
pendapat orang lain. Individu dengan efikasi diri tinggi cenderung mencoba-coba cara yang baru untuk mengatasi suatu permasalahan dan selalu percaya bahwa masalah yang dihadapi mampu untuk dilewati (Reivich dan Shatte,2002).
Priastuti (2011) mengungkapkan bahwa efikasi diri pada orangtua tunggal
dapat dilihat pada kemampuan yang dimiliki oleh individu tersebut dalam
menjalankan peran sebagai orangtua tunggal. Individu yang memiliki efikasi diri rendah maka akan cenderung mudah menyerah ketika mengalami kesulitan sedangkan individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan tetap teguh menghadapi masalah apabila dihadapkan pada tugas sebagai orangtua tunggal yang sulit. Hal tersebut menunjukkan bahwa Individu yang menjadi orangtua tunggal dengan efikasi diri tinggi maka akan menunjukkan sikap akan terus berusaha keras mewujudkan harapan dan resilien dengan keadaan yang dialami (Priastuti, 2011).
7. Kemampuan untuk meraih apa yang diinginkan (Reaching out)
Kemampuan meraih yang diinginkan merupakan kemampuan seseorang
untuk mencapai sesuatu kondisi yang diinginkan. Individu yang mampu untuk
memperbaiki dan mencapai keinginan yang dituju, maka akan memiliki aspek yang lebih positif. Individu yang gagal untuk mencapai keinginan adalah individu yang merasa takut gagal untuk mencoba sebuah keinginan sehingga resolusi keinginan tidak terealisasikan. Individu yang berhasil dengan keinginan adalah individu yang tidak takut gagal dan selalu bisa mengambil aspek positif dan pembelajaran dari setiap kegagalan dan keinginan yang tercapai (Reivich dan Shatte, 2002).
Indivara (2009) mengungkapkan bahwa ketika individu hidup sebagai
orangtua tunggal maka segala fokus diprioritaskan untuk anak. Keinginan pada orangtua tunggal yang utama adalah untuk menjaga agar kondisi anak dan diri untuk tetap tegar dan mampu bersyukur dalam menghadapi tekanan. Yuliawan (2014) mengungkapkan bahwa ketika seseorang mampu untuk mencapai keinginan maka hal tersebut akan menimbulkan emosi positif yang tinggi dan dapat digunakan untuk memancing emosi-emosi positif selanjutnya untuk timbul. Ketika individu sudah memiliki pilar sikap berpikir yang baik maka kegagalan tidak lagi dianggap sebagai kegagalan namun adalah sebuah pertanda ada kesalahan yang harus diperbaiki dari sebuah tindakan yang dilakukan (Yuliawan, 2014). Maka dari hal tersebut dapat dirangkum bahwa kemampuan untuk mencapai keinginan adalah hal penting bagi orangtua tunggal untuk beradaptasi dan bangkit terhadap keadaan.
Berdasarkan pemaparan yang telah dikemukakan mengenai aspek-aspek resiliensi dapat dilihat bahwa aspek-aspek dari resiliensi dibedakan kedalam tujuh aspek, yaitu pengendalian emosi, pengendalian dorongan, optimis, menganalisis penyebab masalah terkait dengan kemampuan mengidentifikasi masalah, empati, efikasi diri terkait dengan keyakinan bahwa individu dapat memecahkan masalah, dan kemampuan meraih sesuatu yang diinginkan.

Pengertian Resiliensi (skripsi dan tesis)

Resiliensi berasal dari bahasa latin “re-silere” yang memiliki makna bangkit kembali (Daveson, 2003). Grotberg (1999), menyatakan bahwa resiliensi merupakan kemampuan individu untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan ataupun mengubah diri dari keadaan yang membuat individu mengalami kesengsaraan dalam hidup. Barnet (2001) menyebutkan bahwa resiliensi adalah sebuah kemampuan individu untuk mengatasi peristiwa yang tidak terduga hingga kemudian kembali pada kondisi semula. Lebih spesifik Barnet (2001) mengungkapkan bahwa kemampuan resiliensi juga memiliki makna sebagai suatu kemampuan untuk belajar dari kesalahan dan membentuk sebuah kondisi akhir yang lebih baik. Reivich dan Shatte (2002) menyebutkan bahwa resiliensi merupakan kemampuan individu untuk merespon secara yang sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan ataupun trauma. Resiliensi adalah kemampuan seorang individu dalam mengatasi, melalui, dan kembali kepada kondisi semula setelah mengalami kejadian yang menekan. Kemampuan ini sangat penting digunakan untuk mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari. Individu yang mampu mengembangkan kemampuan resiliensi dengan baik maka akan lebih sukses menghadapi permasalahan hidup yang sedang dihadapi (Reivich dan Shatte, 2002).

Menurut Folke (2006) resiliensi adalah sebuah kemampuan untuk bertahan dan memunculkan inovasi-inovasi dalam melewati perubahan kehidupan. Zautra (2009) menjelaskan bahwa resiliensi juga dapat didefinisikan sebagai kesuksesan dalam 19 beradaptasi dalam menghadapi kesulitan. Menurut Kent terdapat tiga poin untuk mengidentifikasi resiliensi, yaitu adanya situasi yang negatif, kemampuan individu menghadapi, dan respon terhadap kondisi. Poin pertama mengenai adanya situasi yang negatif, berhubungan dengan kecenderungan sebuah kondisi negatif akan menimbulkan beberapa perubahan dalam fungsi psikologis individu seperti mengalami perubahan emosi, perubahan kinerja serta perubahan kesehatan mental atau fisik bagi individu. Poin kedua mengenai kemampuan individu dalam menghadapi, berhubungan dengan mampu atau tidaknya individu dalam menghadapi situasi yang menekan ketika pertama kali menghadapi kondisi yang menekan. Poin ketiga mengenai respon terhadap kondisi didefinisikan sebagai respon individu terhadap situasi yang menekan (Kent, 2011). Adanya kemampuan resiliensi pada setiap individu dalam kehidupan berkeluarga merupakan salah satu kemampuan yang penting untuk dikembangkan. Keluarga adalah fase penuh dengan penyesuaian akan perubahan baru dan tekanan kehidupan. Perubahan dan penyesuaian tersebut kian sulit apabila hubungan keluarga yang terbangun harus mengalami perpisahan. Walsh menyebutkan bahwa kehidupan individu yang mengalami perpisahan dalam perkawinan dan kemudian hidup sebagai orangtua tunggal mengalami dua kesulitan utama jika tidak mengembangkan kemampuan resiliensi dengan baik yaitu mengalami kekurangan dan kerusakan (Walsh, 2003). Coleman dan Ganog (2004) menyebutkan bahwa ada tiga perubahan dan penyesuaian yang perlu dilakukan pada keluarga dengan orangtua tunggal yaitu pada keadaan ekonomi yang berkurang, pembagian tugas dalam keluarga, dan dalam perawatan anak. Perempuan dalam keluarga juga membutuhkan pengembangan kemampuan resiliensi. Levine (2006) menjelaskan ketidakmampuan seseorang perempuan bereseliensi menyebabkan ganguan maladaptif pada diri seperti depresi 20 berkepanjangan. Hal yang tidak jauh berbeda juga juga dijelaskan McCallion & Toseland (1993) bahwa perempuan dalam keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus harus tetap menjaga suasana keluarga agar tetap positif karena orangtua adalah fokus keluarga dalam menguatkan perasaan yang memberdayakan Berdasarkan pemaparan tentang resiliensi dapat dirangkum bahwa resiliensi adalah kemampuan individu untuk beradaptasi dan bangkit dari suatu kondisi yang penuh tekanan menuju kondisi semula ataupun lebih positif lagi. Individu yang mengembangkan kemampuan resiliensi yang baik maka akan lebih mudah untuk mengembalikan diri kepada kondisi semula dibandingkan individu yang tidak mengembangkan kemampuan resiliensi yang baik. Pada kehidupan orangtua tunggal kemampuan untuk mengembangkan resiliensi adalah hal yang penting agar individu dapat bangkit dari keadaan yang menekan dalam mengahadapi permasalahan sebagai orangtua tunggal.

Hubungan Internal Locus of Control dengan Resiliensi (skripsi dan tesis)

Kehidupan sosial tidak pernah lepas dari kesukaran misalnya, hidup
penuh dengan kekecewaan, kegagalan, rintangan, kesengsaraan, kemunduran
hidup, frustrasi dan ketidakadilan. Keraguan diri dapat dengan cepat terbentuk
segera setelah mengalami hal-hal negatif seperti kegagalan. Hal yang terpenting adalah tidak perlu menimbulkan kesulitan dengan keraguan diri, hal tersebut adalah reaksi yang wajar atau alami, akan tetapi bagaimana kecepatan individu tersebut dapat pulih kembali, merasa yakin setelah mengalami kegagalan Bandura (dalam Ismail dan Yusuf, 2013).
Difabel fisik tentu saja dalam menjalankan kehidupan mempunyai
kendala, walaupun tidak sepenuhnya menghambat kegiatan dalam hidupnya.
Misalnya individu yang mengalami keterbatasan pendengaran ataupun
keterbatasan penglihatan tentu saja akan sulit untuk berkomunikasi dengan orang lain, individu dengan keterbatasan fisik tentu saja akan sulit untuk melakukan kegiatan secara cepat seperti orang normal pada umumnya, tentu saja hal itu sangat menghambat seseorang penyandang tunadaksa dalam melakukan aktivitas. Kondisi yang sulit ini akan memaksa difabel fisik untuk bangkit dari situasi sulit itu, agar bisa keluar dari situasi sulit dan terus berjuang untuk menjalankan hidupnya kembali.
Resiliensi sangat diperlukan oleh individu untuk bisa keluar dari maslah
dan situasi sulit yang di hadapi. Munculnya resiliensi pada diri individu di
pengaruhi oleh banyak fakor misalnya faktor jenis kelamin, faktor usia, faktor
budaya, faktor sosial dan ekonomi, faktor dukungan sosial, faktor religiusitas,
serta faktor kepribadian. Chugani (dalam Chairani dan dipayanti, 2006)
mengungkapkan salah satu faktor protektif internal yang berperan dalam
pembentukan resiliensi adalah locus of control.
Menurut Rooter (1966) locus of control dibedakan atas dua yakni
internal dan eksternal. Individu dengan locus of control eksternal adalah adalah individu yang percaya bahwa hasil yang ia dapat disebabkan oleh faktor dari luar dirinya serta keberuntungan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan dan kebahagiaan. Sedangkan individu yang memiliki locus of control internal memahami hasil yang ia peroleh tergantung pada seberapa besar usaha yang ia lakukan. Menurut Rahim (dalam Khan dkk, 2011) seseorang dengan internal
locus of control yang tinggi percaya bahwa mereka dapat mengatasi masalah
yang dihadapi secara fungsional dan lebih efektif. Individu dengan internal locus of control yang tinggi akan melihat bahwa ia mampu mengontrol perilakunya.
Iswati (dalam Jaya dan Rahmat, 2005) berpendapat bahwa secara konseptual
perbedaan kecenderungan locus of control internal dan eksternal akan
mempengaruhi ciri sifat dan kepribadian seseorang termasuk kemampuan
seseorang dalam bertahan dan mengatasi segala tekanan serta permasalahan
kehidupan. Perbedaan orientasi locus of control akan mempengaruhi perbedaan dalam penilaian terhadap situasi yang sedang dihadapi.
Locus of control dalam diri individu memiliki andil untuk menentukan
tinggi rendahnya kemampuan individu untuk bertahan, mengatasi segala tekanan dan permasalahan kehidupan dengan suatu hal yang positif sehingga tercapai suatu kesuksesan hidup. Individu yang mempunyai kemampuan locus of control akan lebih mudah membentuk resiliensi pada dirinya. Hal itu karena locus of control merupakan dasar dalam membangun keyakinan dan harapan untuk percaya bahwa individu bisa bangkit dari situasi sulit yang sedang di hadapi.

Penyebab Difabel Fisik (skripsi dan tesis)

Menurut France dan Koening (dalam Soemantri, 2006) kecacatan atau
difabel fisik disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
1) Faktor sebelum lahir
a. Pengaruh genetik (keturunan)
b. Trauma dan infeksi pada saat kehamilan
c. Usia ibu yang sudah lanjut saat melahirkan anak
d. Pendaharahan pada waktu kehamilan
e. Keguguran yang dialami ibu
2) Faktor saat kelahiran
a. Penggunaan alat bantu kelahiran (tang, tabung, vacum, dsb)
b. Obat bius
3) Faktor sesudah melahirkan
a. Infeksi
b. Trauma
c. Tumor
d. Kondisi-kondisi lainya
Soemantri (2006) berpendapat bahwa cacat tubuh atau difabel fisik
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
1. Penyakit yang datang dari luar, misalnya kelumpuhan, akibat folio yang
biasa menyerang pada anak.
2. Kecelakaan yang dapat menyebabkan patah tulang. Kelumpuhan dan
sebagainya.
3. Cacat sejak lahir, anak yang memang sejak lahir sudah dihinggapi suatu
kecacatan. Contohnya tidak memiliki tangan, kaki, organ yang tidak
sempurna.
4. Cacat akibat obat-obatan yang dikonsumsi ibu saat masa kehamilan.
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa difabel fisik
dapat terjadi karena adanya faktor-faktor bawaan sejak lahir, penyakit ataupun
karena kecelakaan

Jenis Difabel Fisik (skripsi dan tesis)

Koening (dalam Praviasari dan Wardoyo, 2012) menjelaskan tentang tiga
golongan difabel fisik antara lain:
1. Difabel fisik ringan
Difabel fisik jenis ini pada umumnya hanya sedikit mengalami gangguan
mental dan kecerdasannya. Kelompok ini lebih disebabkan adanya
kelainan anggota tubuh seperti lumpuh, anggota tubuh berkurang
(buntung), dan cacat fisik.
2. Difabel fisik sedang
Difabel fisik yang termasuk dalam ketegori ini adalah tunadaksa akibat
cacat bawaan, cerebral palcy, tunamental yang disertai dengan turunnya
daya ingat.
3. Difabel fisik berat
Yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah akibat cerebral palcy berat
akibat infeksi. Pada umumnya individu yang terkena kecacatan ini,
kecerdasannya tergolong dalam tinggat debil, embesil, dan idiot.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga jenis
difabel fisik yakni: ringan, sedang, dan berat

Pengertian Difabel Fisik (skripsi dan tesis)

Esherick (2009) berpendapat bahwa cacat fisik adalah kondisi yang
menyebabkan seseorang mengalami kesulitan pengeliatan, pendengaran,
berjalan, berbicara, menaiki tangga, mengangkat, membawa, atau melakukan
aktivitas sehari-hari. Kesulitan ini membuat individu tidak bisa melakukan
aktivitas sehari-hari secara sempurna seperti yang dilakukan individu lain pada
umumnya.
Damayanti dan Rostiana (dalam Machdan dan Hartini 2012), difabel
fisik adalah kerusakan /kecacatan/ketidaknormalan pada tubuh seperti kelainan pada tulang atau gangguan pada otot dan sendi yang menyebabkan kurangnya kapasitas normal individu untuk bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari.
Akibat dari kecacatan yang dimiliki, individu tunadaksa menghadapi berbagai
masalah, baik dari segi emosi, sosial, dan bekerja. Karyana dan Widati (2013)
berpendapat bahwa difabel fisik adalah salah satu jenis anak berkebutuhan
khusus yang memiliki kelainan atau kecacatan pada fisiknya yaitu pada sistem
otot, tulang dan persendian akibat dari adanya penyakit, kecelakaan, bawaan
sejak lahir, dan kerusakan otak.
Astati (dalamVirlia dan Wijaya 2015), mendefenisikan difabel fisik
sebagai bentuk kelainan atau kecacatan pada sistem otot, tulang, dan persendian
yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi,
mobilisasi, dan gangguan perkembangan. Difabel fisik/ketunadaksaan yaitu
individu yang mengalami kelainan atau kecacatan pada sistem otot, tulang dan
persendian, karena kecelakaan atau kerusakan otak yang dapat mengakibatkan gangguan gerak, kecerdasan, komunikasi, persepsi, koordinasi, perilaku, dan adaptasi sehingga mereka memerlukasn layanan informasi secara khusus menurut Aziz (2015).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian difabel
fisik adalah suatu jenis anak berkebutuhan khusus dengan kondisi dimana
individu mengalami kerusakan, kecacatan, atau ketidaknormalan pada tubuh
yang dapat mengakibatkan gangguan koordinasi, komunikasi, adaptasi, dan
persepsi sehingga memerlukan layanan informasi khusus

Aspek- aspek Internal locus of control (skripsi dan tesis)

Levenson (dalam Chairani dan Dipayanti, 2012) membagi pusat kendali
(locus of control) kedalam tiga aspek yakni:
a. Aspek Internal (I)
Merupakan keyakinan bahwa peristiwa yang terjadi dalam hidup individu
ditentukan dirinya sendiri.
20
b. Aspek powerfull others (P)
Merupakan keyakinan individu bahwa peristiwa yang terjadi dalam
hidupnya ditentukan oleh orang lain.
c. Aspek chance (C)
Merupakan keyakinan seeorang bahwa peristiwa yang terjadi dalam
hidupnya ditentukan oleh keberuntungan, nasib dan kesempatan.
Rotter (dalam Jaya dan Rahmat, 2005) mengklasifikasikan internal locus
of control kedalam tiga aspek, antara lain:
a. Kemampuan
Individu yang memiliki internal locus of control percaya pada kemampuan
yang ia miliki. Kesuksesan dan kegagalan sangat dipengaruhi oleh
kemampuan yang ia miliki.
b. Minat
Individu yang memiliki internal locus of control memiliki minat yang
lebih besar terhadap kontrol perilaku, peristiwa dan tindakan individu
sendiri.
c. Usaha
Individu yang memiliki internal locus of control bersikap pantang
menyerah dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengontrol
perilakunya.
Kutanis, Mesci, dan Ovdur (dalam Widjaja, 2014) menguraikan
mengenai tujuh aspek yang menentukan tingginya internal locus of control yang ada dalam diri seseorang, antara lain:
1. Kemampuan memilih kegiatan
Yang dijelaskan sebagai kesanggupan menunjukkan kemampuan dan
bukan karena adanya kesempatan untuk berperan.
2. Tanggung jawab atas keputusan
Yaitu bagaimana individu dengan internal locus of control bertanggung
jawab atas keputusannya sendiri dan merasa bahwa nasibnya ditentukan
oleh keputusannya sendiri.
3. Kemampuan mengendalikan perubahan
Ini berarti orang-orang yang memiliki internal locus of control bersikap
aktif menghadapi suatu perubahan.
4. Kemampuan mengendalikan lingkungan
Dengan mencari informasi yang berarti aktif mencari informasi baru dan
menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan masalah yang
kompleks sehingga ia dianggap memiliki kemampuan menyesuaikan diri.
5. Kemampuan coping terhadap stres
Artinya individu dengan internal locus of control memiliki kemampuan
coping yang baik terhadap stres.
6. Kepuasan belajar dengan menunjukkan prestasi
Artinya individu memiliki kepuasan belajar yang tinggi, memiliki
kemampuan belajar yang baik, dan akan cepat berkembang.
7. Motivasi belajar berdasarkan ekspektasi
Artinya individu dengan internal locus of control memiliki rasa percaya
diri dan mempunyai keyakinan pada kemampuannya. Individu percaya
bahwa dengan menunjukkan penampilan yang baik berarti individu akan
menerima reward yang layak dan individu tidak bergantung pada hadiah.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti menggunakan pendapat Levenson
yang menyatakan bahwa aspek-aspek internal locus of control yaitu: internal (I), powerfull others (P), dan chance (C).

Pengertian Interrnal Locus of Control (skripsi dan tesis)

Greenhaus (dalam Pinasti, 2011) mendefinisikan internal locus of control mengacu pada kecenderungan menempatkan persepsi atas suatu kejadian atau hasil yang di dapat dalam hidup individu apakah sebagai hasil dari dirinya sendiri. Internal locus of control juga dapat memberikan gambaran terhadap keyakinan individu mengenai sumber penentu perilakunya. Disisi lain individu juga harus memiliki tanggung jawab terhadap kegiatan yang terjadi di dalam kontrol yang dimilikinya. Rotter (dalam Purnomo, 2010) internal locus of control adalah suatu variabel kepribadian, yang didefinisikan sebagai keyakinan individu terhadap mampu tidaknya mengontrol nasib. Individu harus mempunyai keyakinan yang   kuat terhadap dirinya, karena segala tindakan yang terjadi pada diri individu merupakan tanggung jawab pribadi individu yang bersangkutan. Macdonald (dalam Utami dan Noegroho, 2007) mendifinisikan bahwa internal locus of control yaitu sejauh mana individu merasakan hubungan kontijensi antara tindakan dan hasil yang diperoleh. Tindakan yang dilakukan indiviu akan diukur dengan hasil yang yang didapat, dan harus saling berhubungan. Menurut Nesfvi (dalam Chairani dan Dipayanti, 2012) internal locus of control adalah derajat yang menentukan atribusi individu terhadap keputusan yang dibuat sendiri atau faktor dalam. Individu mempunyai keputusan sendiri dalam menentukan sikap hidupnya. Keputusan individu akan menentukan sejauh mana, dan apa yang akan dilakukan, serta apa yang akan di terima individu dimasa sekarang dan mendatang. Berdasarkan kesimpulan di atas, dapat disimpulkan bahwa internal locus of control adalah suatu kecenderungan dalam menempatkan persepsi atas suatu kejadian yang didapat dalam hidupnya, yang harus didasari pada keyakinan dalam berusaha namun tetap mengontrol nasibnya.

Pengertian dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Karakteristik Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Para pemasar membutuhkan informasi yang andal mengenai
konsumennya dan ketrampilan khusus untuk menganalisis dan
menginterpretasikan informasi. Kebutuhan ini berkontribusi pada
pengembangan perilaku konsumen sebagai bidang studi spesifik dalam
pemasaran. Secara sederhana, istilah perilaku konsumen mengacu pada
perilaku yang ditunjukkan oleh para individu dalam membeli dan
menggunakan barang dan jasa. Pada hakikatnya, lingkup studi perilaku
konsumen meliputi sejumlah aspek krusial.
Menurut Tjiptono (2006) bahwa aspek-aspek tersebut terdiri dari :
a) Siapa yang membeli produk atau jasa? b) Apa yang dibeli?, c) Mengapa
membeli produk atas jasa tersebut? d) Kapan membeli?, e) Dimana
membelinya?, f) Bagaimana proses keputusan pembeliannya?, dan g) Berapa
sering membeli atau menggunakan produk atau jasa tersebut ?
Selanjutnya Schiffman dan Kanuk (2000) menyatakan bahwa
“perilaku konsumen adalah perilaku yang ditunjukkan oleh konsumen dalam
mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghentikan
konsumsi produk, jasa, dan gagasan”.
7
8
Menurut Setiadi (2003) bahwa “ perilaku konsumen adalah tindakan
yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan
menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang
mendahului dan menyusuli tindakan ini.”
Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2002) bahwa perilaku konsumen
merupakan perilaku pembelian konsumen akhir, baik individu maupun
rumah tangga, yang membeli produk untuk konsumsi personal.
Dari beberapa pengertian perilaku konsumen yang diberikan oleh
para ahli pemasaran, maka dapat disimpulkan, yaitu :
1. Perilaku konsumen menyoroti individu dan rumah tangga.
2. Perilaku konsumen menyangkut suatu proses keputusan sebelum
pembelian serta tindakan dalam memperoleh, memakai, mengkonsumsi,
dan menghabiskan produk.
3. Perilaku konsumen meliputi perilaku yang dapat diamati seperti jumlah
yang dibelanjakan, kapan, dengan siapa, siapa saja, dan bagaimana
barang yang sudah dibeli dikonsumsi. Selain itu juga terdapat variabelvariabel yang tidak dapat diamati, seperti nilai-nilai yang dimiliki
konsumen, kebutuhan pribadi, persepsi, bagaimana konsumen
mengevaluasi alternatif, dan apa yang dirasakan konsumen tentang
kepemilikan dan penggunaan produk yang bermacam-macam.
Meskipun ada banyak faktor yang mempengaruhi dalam memahami
perilaku konsumen, namun bagi perusahaan sudah merupakan keharusan
untuk memahami perilaku konsumennya sehingga dengan demikian
perusahaan dapat menetapkan kegiatan pemasarannya secara lebih tepat

Teori Pengelolaan Kesan (Impression Management Theory)(skripsi dan tesis)

Impresson Management Theory atau teori pengelolaan kesan merupakan teori yang fokus membahas bagaimana seseorang atau institusi berusaha untuk membangun sebuah kesan yang baik dalam lingkungan sosial melalui interaksi. Ketika para ahli berbicara tentang pengeloaan kesan, mereka tidak membahas hal-hal yang terkesan kompleks, tetapi hal yang lebih sederhana, hanya sebatas melihat bagaimana penggambaran diri seseorang ketika sedang menampilkan dirinya ketika sedang berinteraksi. Para ahli menggunakan istilah social self dan private self untuk membedakan identitas sosial dengan diri pribadi (Littlejohn & Foss, 2009).
Ketika seseorang sedang berinteraksi dengan orang lain, maka secara otomatis kita terikat dengan beberapa hal, seperti kebiasaan, sopan santun, nilai, norma, latar belakang keluarga, dan sebagainya. Dengan demikian, ketika sedang berinteraksi pada ranah sosial, maka kita tidak bisa menunjukkan semua aspek yang ada pada diri kita secara apa adanya. Kita harus bisa memilah mana yang akan kita tunjukkan kepada orang lain yang dapat menggambarkan citra diri yang ingin kita bangun. Hal-hal tersebut perlu dilakukan dalam berbagai momen yang memang membutuhkan sebuah pencitraan diri yang baik. Tetapi tidak masalah jika kita juga melakukan pengelolaan pesan pada setiap saat dan kepada siapapun kita berinteraksi.
Menurut Littejohn dan Foss (2009) seseorang yang tidak melakukan pengelolaan kesan ketika sedang berinteraksi dalam ranah sosial, maka komunikasi yang terjadi tidak akan baik dan maksimal. Misal, jika seseorang berbicara sesuai dengan apa yang dipikirkannya saja, tanpa memandang nilai dan norma yang berlaku maka akan menciptakan kesan yang tidak baik kepada lawan bicara dan komunikasi yang terjadi tidak akan membuahkan hasil yang baik pula.
Teori ini berakar dari dua bahasan utama, yaitu (1) self-presentation, melihat bagaimana tingkah laku seseorang ketika menampilkan dirinya di ranah publik dan motif apa yang yang ia punya dibalik perilaku yang ia lakukan tersebut. (2) Situated social identity, pembahasan ini berfokus kepada prinsip pengorganisasian semua jenis interaksi adalah mengkoordinasikan pengelolaan identitas sosial. Pembahasan kedua ini digunakan oleh Goffman sebagai dasar konsep “panggung depan” dan “panggung belakang” dalam dramaturgi (John & Foss, 2009).
Alasan peneliti memilih teori ini adalah karena pada saat melakukan pra penelitian, peneliti menemukan adanya praktik pengelolaan kesan pada masing-masing informan. Mereka berpendapat bahwa apa yang ditampilkan melaui foto dan video yang diunggah di Instagram merupakan hasil dari pengelolaan kesan yang mereka lakukan agar mendapatkan respon yang baik dari pengguna Instagram yang lainnya. Tidak semua sisi private self mereka ditunjukkan dalam Instagram.

Circular Model of SoMe (skripsi dan tesis)

Di dalam media sosial, terdapat sebuah konsep atau model perencanaan dalam proses komunikasi yang dilakukan melalui media sosial, termasuk pada Instagram. Model tersebut dikenal dengan sebutan the Circular Model of SoMe for Social Communication. Model ini didasari pada pemikiran fundamental dari Cluetrain Manifesto and Grunig’s two way symmetrical model of communication (Lutrell, 2015).
Poin pertama dalam model tersebut adalah Share atau berbagi. Berbagi yang dimaksud disini adalah media sosial melalui jaringan sosial membantu menghubungkan seseorang dengan orang lain yang juga membagikan hal yang sama dengan apa yang ia bagikan. Misalnya kesamaan ketertarikan, passion, kepercayaan, dan sebagainya. Sebuah instansi yang menggunakan strategi jaringan tersebut, biasanya memungkinkan para konsumennya untuk berpartisipasi dalam percakapan dengan orang lain yang juga termasuk ke dalam sasaran instansi tersebut. Dalam setiap situs jaringan seperti ini, tingkat kepercayaan diantara pengguna akan terbentuk. Dari sinilah akan muncul pengguna yang dapat mempengaruhi konsumen, atau yang disebut dengan influencer. Karena faktanya, 90% pengguna Internet mempercayai rekomendasi dari orang yang mereka kenal, dan 70% percaya pada orang yang tidak dikenal. Oleh karena itu, orang atau instansi yang melakukan strategi ini harus memahami konsumen agar bisa mempengaruhinya.
Kedua, Optimize atau mengoptimalisasikan pesan yang akan disampaikan kepada audiens. Untuk mengoptimalisasikan pesan tersebut, maka pelaku dituntut untuk bisa mendengarkan dan belajar dari percakapan yang dilakukan oleh audiens. Namun, percakapan yang terjadi akan lebih maksimal apabila praktisi atau pelaku turut berpartisipasi dalam percakapan tersebut (Lutrell, 2015). Dalam hal ini, seorang selebgram ketika hendak menyampaikan pesan melalui akun Instagram miliknya baik berupa foto atau video haruslah terlebih dahulu melihat respon dari para pengikutnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara melihat banyaknya like dan view pada unggahan sebelumnya, serta membaca dan membalas percakapan yang terjadi di kolom komentar dan direct message.
Ketiga, Manage atau mengelola komunikasi yang terjadi. Dalam hal ini, praktisi dituntut agar dapat mengelola komunikasi yang terjadi pada media sosial secara cepat. Karena dalam percakapan yang terjadi pada sebuah situs sosial, biasanya konsumen atau audiens mengharapkan sebuah tanggapan yang cepat dari pihak praktisi, baik itu peroragan atau instansi. Jika tanggapan terhadap audiens diberikan secara cepat dan intens, maka akan memudahkan praktisi untuk menciptakan sebuah engagement dan mempengaruhi audiens tersebut. selebgram selaku praktisi dituntut untuk dapat memberikan balasan atau tanggapan secepat mungkin terhadap respon yang diberikan oleh pengikutnya. Karena jika hal ini tidak dilakukan, maka biasanya selebgram tersebut akan dinilai “sombong” dan ada kemungkinan bahwa pengikut Instagramnya akan berhenti untuk mengikutinya.
Keempat, Engage dapat diartikan sebagai keterlibatan atau keterikatan dalam komunikasi dengan audiens. Praktisi haruslah aktif terlibat dalam percakapan yang dilakukan oleh audiens. Hal tersebut dilakukan semata-mata untuk menciptakan sebuah kedekatan antara praktisi dengan audiens. Jika kedekatan sudah terbangun, maka audiens pun cenderung akan menjadi loyal dengan praktisi. Dalam hal ini, keterlibatan selebgram dalam percakapan yang dilakukan oleh para pengikutnya akan menciptakan kedekatan tersendiri antara selebgram dengan pengikut. Dengan adanya kedekatan tersebut, maka pengikutnya akan merasa dikenal dan dihargai oleh selebgram tersebut sehingga memungkinkan pengikut untuk tetap aktif menjadi follower Instagram selebgram tersebut.
Dengan demikian, dalam melakukan pengelolaan akun Instagram, selebgram haruslah menjalankan keempat poin yang terdapat dalam the Circular Model of SoMe for Social Communication. Hal-hal tersebut dijalankan tak lain untuk mendapatkan dan juga mempertahankan jumlah pengikut di akun Instagram miliknya

Pengelolaan Akun Instagram dalam Membangun Personal Branding dan Kegiatan Cyber Public Relation (E-PR) (skripsi dan tesis)

Personal branding yang dibangun oleh para selebgram dilakukan dengan cara mengelola akun Instagram milik mereka. Pengelolaan akun Instagram ini
dilakukan dengan cara yang strategis, konsisten, serta efektif, seperti yang dikatakan oleh Rampersad. Karena yang dijual selebgram adalah cerminan sosok dirinya yang ia tampilkan melalui akun Instagram, maka pengelolaan akun menjadi sangat penting untuk membangun sebuah personal branding yang kuat bagi selebgram tersebut.
Pengelolaan akun ini dilakukan mulai dari konten yag diunggah, dengan cara memilih foto dan video seperti apa yang akan diunggah. Momen, gaya berpakaian, make up, tempat, aksesoris, filter, dan hal lain yang digunakan oleh selebgram dalam setiap foto dan video yang ia unggah haruslah sesuai dengan personal branding yang sedang berusaha ia bangun. Foto dan video tersebut kemudian didukung dengan caption yang ia tulis dalam setiap unggahannya. Karena tulisan tersebut juga dapat menggambarkan dan membangun persepsi orang lain yang melihat unggahan tersebut. Selain itu, frekuensi atau banyaknya foto dan video yang diunggah ke akun Instagram juga menjadi salah satu faktor yang mendukung, dengan tujuan agar selebgram tersebut terus terlihat atau update di mata pengikutnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Syahida dan Qorib (2017) ditemukan bahwa sosok selebgram itu sendiri yang memiliki peran penting dalam membangun persepsi publik. Oleh karena itu, selebgram mengelola akun Instagramnya dengan cara menentukan topik, konten, dan pesan yang ingin disampaikan oleh selebgram tersebut yang sekiranya dapat menarik perhatian dan bahkan memengaruhi publik. Selain itu, pesan yang disampaikan tersebut juga sekaligus menggambarkan citra dan berusaha menciptakan kredibilitas dari sosok selebgram tersebut. Dengan mengelola akun Instagram miliknya, para selebgram secara tidak langsung tengah melakukan kegiatan e-public relations. Menurut Nova (2009), tujuan kegiatan public relations modern adalah membangun kegiatan komunikasi yang mempersentasikan citra perusahaan di mata publik.
Guna memasarkan dirinya sebagai produk dalam bidang jasa, selebgram secara otomatis menjadi PR bagi dirinya sendiri. Karena ranah kerja dan pasar selebgram adalah media sosial Instagram, maka seorang selebgram mengelola akun Instagramnya sebagai bentuk kegiatan cyber PR disamping upaya membangun personal branding. Dalam mengelola akun Instagram, terdapat dua hal penting yang harus diperhatikan oleh para selebgram, yaitu analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threats) dan STP (segmenting, targeting, positioning).
Menurut Jogiyanto (2005), SWOT digunakan untuk mengetahui kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya yang dimiliki oleh seseorang atau perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal serta tantangan-tantangan yang dihadapi. Dalam bisnis, masing-masing perusahaan memiliki kekuatan dan kelemahan yang berbeda. Kekuatan dan kelemahan internal yang dimiliki digabungkan dengan kesempatan dan tantangan eksternal serta pernyataan misi yang jelas menjadi dasar untuk menetapkan tujuan dan strategi yang akan digunakan. Tujuan dan strategi tersebut memanfaatkan kekuatan internal dan mengatasi kelemahan (Fred, 2008). Dalam hal ini, para selebgram dalam menjalakan strategi untuk mengelola akunnya haruslah terlebih dahulu
21
menganalisis SWOT yang ia miliki agar tujuan dan strategi yang digunakan efektif dan efisien.
Strength (kekuatan), keunggulan apa yang dimiliki oleh seorang selebgram yang ia tampilkan melalui akun Instagram miliknya. Misal, kecantikan, style fashion, prestasi, pemikiran, konten kreatid, dan sebagainya. Weakness (kelemahan), keterbatasan atau kekurangan yang terdapat pada akun Instagram selebgram tersebut yang dapat menghambat atau membuat jumlah audiens menurun. Opportunity (peluang), situasi penting yang menguntungkan selebgram yang terdapat pada lingkungan sekitar selebgram tersebut. Dan yang terakhir adalah Threats (ancaman), sbukan hanya situasi yang dapat menguntungkan, tetapi selebgram juga harus pandai membaca situasi di lingkungan sekitarnya yang dapat merugikan dirinya (Fred, 2008). Jika selebgram sudah melakukan analisis tersebut, maka ia akan memperoleh hasil berupa informasi dari analisis situasi dan memisahkannya dari pokok persoalan internal dan eksternal seperti yang dikatakan oleh Ferel dan Harline (2005).
Selain itu, selebgram juga harus melakukan STP (Segmenting, Targeting, Positioning) dalam mengelola akun Instagram miliknya. Dalam dunia kehumasan atau public relation STP merupakan kegiatan yang harus dilakukan dalam penerapan strategi komunikasi humas. Segmenting menurut Tjiptono dan Candra (2012:150) adalah proses mengelompokkan pasar keseluruhan yang heterogen menjadi kelompok-kelompok atau segmen-segmen yang memiliki kesamaan dalam hal kebutuhan, keinginan, perilaku, dan atau respon terhadap program pemasaran spesifik. Selebgram harus bisa melihat dan mengelompokkan audiens yang ada di Instagram berdasarkan dengan faktor-faktor yang disebutkan tadi. Targeting menurut Kotler dan Amstrong (2008) adalah sekelompok pembeli yang memiliki kebutuhan atau karakteristik yang sama yang menjadi tujuan promosi perusahaan. Dalam hal ini selebgram harus menyasar kepada audiens di Instagram yang memiliki ketertarikan yang sama dengan apa yang ia unggah. Serta positioning, pada tahap ini selebgram bukan lagi hanya sekedar menawarkan dirinya atau jasanya sebagai produk, tetapi yang ditawarkan adalah sebuah nilai. Hal ini dilakukan untuk membuat sosok yang ditampilkan dalam akun Instagram tertanam dengan sebagai sebuah citra dalam benak audiens dengan segmen tertentu. Hal tersebut diwujudkan dengan cara membangun komunikasi yang baik dengan audiens sehingga dapat tercipta hubungan yang positif.
Dengan demikian, dalam penelitian ini peneliti ingin melihat bagaimana dan cara apa saja yang dilakukan oleh para selebgram di Kota Pandeglang dalam membangun sebuah personal branding yang mereka harapkan. Tentu saja dengan memperhatikan strategi pengelolaan akun Instagram para selebgram tersebut. Serta mengetahui bagaimana analisis SWOT dan penerapan STP dari masing-masing akun Instagram selebgram yang diteliti.

Personal Branding Selebgram (skripsi dan tesis)

Selebgram atau selebriti Instagram pada saat ini menjadi sebuah fenomena bisnis yang sangat menjanjikan. Ketika diri sendiri dapat menjadi sebuah komoditi dan mendatangkan banyak keuntungan. Bukan hanya keuntungan dari segi materi saja, tetapi juga non materil seperti ketenaran, popularitas, citra diri, status sosial, dan sebagainya. Tetapi, menjadi selebgram tidak serta merta dilakukan dengan cara yang mudah. Hal tersebut terlihat bahwa dari 800 juta orang pengguna Instagram, tidak semuanya bisa menjadi selebgram yang ditandai dengan memiliki minimal 20 ribu orang pengikut di akun Instagram miliknya. Penyebabnya adalah terletak pada personal branding yang dibangun oleh para selebgram.
Dalam tulisan Hubert K. Rampersad yang berjudul “A New Blueprint for Powerful and Authentic Personal Branding” dikatakan bahwa setiap orang memiliki brand, namun sebagian besar orang tidak menyadarinya dan tidak mengelolanya secara strategis, konsisten, dan efektif. Setiap orang harus mengambil alih kendali atas brand dan pesan-pesan yang disampaikan, karena hal tersebut mempengaruhi bagaimana orang lain memandangnya. Berbeda dengan pengguna Instagram non selebgram, para selebgram secara langsung maupun tidak langsung menyadari hal tersebut. Mereka menyadari potensi diri yang mereka miliki, kemudian mengaktualisasikannya melalui Instagram kemudian melakukan branding terhadap dirinya. Oleh karena itu mereka memiliki sesuatu yang unik dan menarik yang dapat memikat pengguna Instagram lainnya untuk menjadi pengikut akun Instagram mereka.
Personal Branding adalah proses dimana individu dipandang sebagai sebuah brand oleh sasaran pasarnya, dengan tujuan untuk menarik lebih banyak klien dengan secara aktif membentuk persepsi publik. Dapat dikatakan bahwa manusia bisa mengendalikan cara bagaimana manusia itu sendiri dipersepsikan oleh target market yang ia tentukan (Rampersad, 2009). Menurut Timothy O‟Brien dalam (Haroen,2014:13) personal branding adalah identitas pribadi yang mampu menciptakan sebuah respon emosional terhadap orang lain mengenai kualitas dan nilai yang dimiliki orang tersebut. Sedangkan menurut Thomas Gad, personal branding adalah cara yang menyenangkan dan sistematis sebagai upaya untuk menjadikan diri semakin jelas dan semakin pasti sebagai seseorang, tidak hanya berdasarkan orang lain, tetapi juga menurut pemikiran diri sendiri. Dengan kata lain, Personal Branding adalah suatu proses membentuk persepsi positif pada masyarakat terhadap aspek-aspek yang dimiliki oleh seseorang , seperti kepribadian, kemampuan, nilai-nilai dan sebagainya yang pada akhirnya dapat dijadikan sebagai alat pemasaran diri untuk meningkatkan potensi dan karir yang dimiliki.
Dalam membangun sebuah personal branding, maka seseorang akan dihadapkan dengan real reality dan perceived reality. Menurut Immanuel Kant, mengklaim bahwa di dunia ini hanya terdapat personally perceived reality. Dimana yang dianggap sebagai realitas adalah apa yang dirasakan dan diterima oleh masing-masing individu. Segala hal yang kita lihat, dengar, rasakan, dan cium, dan sebagainya, itulah realitas versi kita. Oleh karena itu, bagaimanapun kita berusaha untuk bersikap terhadap orang lain, terkadang orang lain akan mengartikan hal tersebut secara berbeda dengan apa yang kita maksud. Karena mereka menginterpretasikan berdasarkan dirinya sendiri, berdasarkan pengalaman yang telah ia peroleh. Dengan demikian, masing-masing individu dalam membangun personal branding, haruslah merasa aware dengan hal tersebut. Tidak masalah jika menjadi diri sendiri, melakukan apapun yang kita mau dan kita inginkan, tetapi ingat, bahwa setiap orang memiliki perceived reality masing-masing (Gad dan Rosencreutz, 2002).
Menurut Thomas dan Anette (2002), yang terpenting dari membangun sebuah personal branding adalah bagaimana kita bisa menciptakan sebuah diferensiasi. Dalam menciptakan sebuah diferensiasi, maka dibutuhkan sebuah Brand Me Code. Jika DNA membuat seseorang berbeda dengan yang lainnya dari segi fisik, maka Brand Me Code membuat seseorang berbeda dengan yang lainnya dari segi personality. Dalam hal tersebut, bagaimana seseorang ingin dirasakan secara berbeda oleh orang lain. Oleh karena itu, Thomas dan Anette menjelaskan bahwa, untuk membangun personal brand yang kuat, diperlukan dua cara, yaitu diferentiation dan dramatization. Dalam melakukan diferensiasi memang sangatlah sulit, karena hal tersebut merupakan kombinasi dari beberapa kemampuan-kemampuan yang kita miliki yang dilakukan secara halus. Sedangkan dramatization bagaimana seseorang berusaha untuk memperbesar perbedaan-perbedaan kecil yang ia miliki sampai pada tahap hal tersebut dirasa cukup penting untuk membuat sebuah kesan di benak orang lain.
Dramatiasasi haruslah dilakukan jika seseorang tidak memiliki diferensisi atau keunikan yang „besar‟ dibandingkan dengan yang lainnya. Misal, pesulap Uri
Geller yang memiliki kekuatan magis dapat membengkokkan sendok tanpa perlu disentuh, ia tidak perlu melakukan dramatisasi, karena ia memiliki sebuah diferensiasi yang „besar‟ yang secara otomatis dapat menarik perhatian dan kesan orang lain. Karena kebanyakan orang tidak memiliki hal yang demikian, maka haruslah melakukan banyak dramatisasi agar personal brand yang dibangun kuat. Namun, yang menjadi kendala adalah, pada saat ini orang-orang sangat sulit untuk melakukan dramatisasi, membuat perbedaan-perbedaan kecil yang ia miliki menjadi sebuah keunikan yang besar. Kebanyakan orang cenderung merasa malu ketika harus melebih-lebihkan dirinya sendiri. Mendengar diri sendiri mengulangi hal yang sama, mendramatisir cerita tentang diri sendiri, seringkali membuat orang tersebut merasa lelah. Pada saat seperti ini, diri sendirilah yang memegang kendali, memilih untuk tetap bertahan dan mendapatkan hasil yang memuaskan atau memperoleh kegagalan karena tertahan oleh rasa lelah, bosan, dan muak dengan cerita diri sendiri.
Selain itu, menurut Montoya (Haroen, 2014) ada delapan konsep yang perlu diperhatikan oleh para selebgram dalam membangun sebuah personal branding di Instagram. (1) Spesialsasi, terfokus pada sebuah keahlian, kekuatan, atau pencapaian tertentu. (2) Kepemimpinan, sosok yang dapat memutuskan sesuatu dalam suasana penuh ketidakpastian dan memberikan suatu arahan yang jelas. (3) Kepribadian, mampu menggambarkan kepribadian yang baik dan apa adanya, tidak harus sempurna. (4) Perbedaan, menampilkan sosok yang berbeda dengan orang lain. (5) Terlihat, seseorang perlu memproosikan dirinya dan menggunakan setiap kesempatan untuk membuat dirinya terlihat. (6) Kesatuan, kehidupan pribadi menjadi cerminan dan citra yang diinginkan. (7) Keteguhan, mengikuti proses yang dilakukan sera memperhatikan setiap tahapan yang terjadi. (8) Nama baik, seseorang harus diaanggap memiliki citra yang positif dan sesuai dengan nilai yang diakui secara umum positif dan bermanfaat.
Sebagai sebuah produk, maka personal branding sangatlah penting dilakukan oleh para selebgram. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Agustina, Purnama, dan Abdurrahman (2017) ditemukan bahwa personal branding sangat penting bagi selebgram, dimana semakin banyak bermunculan individu dengan keahlian yang sama, personal branding dapat membantu seorang selebgram untuk memperkenalkan keahlian pribadi dan membuatnya lebih menonjol diantara yang lainnya. Selain itu, hal tersebut dapat membantu selebgram dalam membentuk koneksi dengan banyak orang yang memiliki ketertarikan yang sama akan sesuatu, sehingga hal tersebut akan memunculkan kemudahan untuk prospek karir ke depannya. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui bagaimana selebgram membangun personal branding di akun Instagram miliknya. Serta bagaimana proses diferensiasi dan dramatisasi yang dilakukan oleh para selebgram melalui akun Instagram miliknya.

Instagram Sebagai Media Aktualisasi Diri (skripsi dan tesis)

Dalam teori kebutuhan Maslow, manusia memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasikan dirinya. Menurut Maslow, aktualisasi dirin digambarkan sebagai kebutuhan seseorang untuk mencapai apa yang ingin dia lakukan. Selain itu, menurut Maslow, aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi psikologis yang unik yang dimiliki idividu. Misal, seorang musisi harus bermusik, seorang pelukis harus melukis, dan sebagainya. Bentuk aktualisasi diri seseorang haruslah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Jika kebutuhan tersebut tidak tercapai, maka akan mucul kegelisahan, ketegangan, tidak tenang, dan orang tersebut merasa kurang harga diri (Arinanto, 2009).
Pada saat ini, aktualisasi diri bukan hanya dilakukan manusia di dunia nyata, tetapi juga di dunia maya. Media sosial menjadi salah satu wadah yang tepat untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri seseorang. Melalui media sosial, seseorang dapat dengan bebas menunjukkan siapa dirinya, apa saja yang ia lakukan, bagaimana kehidupannya, dan sebagainya dengan tujuan untuk diketahui oleh orang lain secara luas. Salah satunya dengan menggunakan media sosial Instagram.
Instagram telah menyediakan berbagai macam fitur yang dapat memenuhi kebutuhan aktualisasi diri seseorang. Misalnya saja pada fitur galeri dan Insta
Story, para pemilik akun dapat dengan mudah dan bebas mengungah foto maupun video kesehariannya yang dapat menunjukkan siapa dirinya dan apa kemampuan serta potensi yang ia miliki. Dimana unggahan tersebut secara otomatis akan dilihat oleh para penguna Instagram lainnya, sehingga mereka mengetahui siapa dia, bagaimana kehidupannya, apa kemampuan yang dimilikinya, dan sebagainya. Jika penggambaran diri yang ia tunjukkan melalui akun Instagram miliknya dapat diterima oleh para pengguna Instagram lain, maka ia akan diakui keberadaannya.
Begitu pula dengan yang dilakukan oleh para selebgram. Mereka berusaha memenuhi kebutuhan mereka dengan cara mengaktualisasikan dirinya melalui akun Instagram miliknya. Semakin sering ia mengaktualisasikan diri melalui akun Instagram miliknya, maka keberadaannya akan semakin diakui di kalangan pengguna Instagram, dengan kata lain eksistensi dirinya akan semakin meningkat. Jika eksistensinya semakin meningkat, maka ia akan mendapatkan popularitas dengan banyaknya orang yang menjadi pengikut akun Instagram miliknya dan membuatnya mendapatkan status sebagai selebgram. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Laksita (2016),ditemukan bahwa personal branding yang dibangun oleh seseorang tidak serta merta menimbulkan asosiasi dan harapan kepada masyarakat, tetapi melalui proses aktualisasi diri yang nyata. Dengan kata lain, aktualisasi diri inilah yang menjadi pemicu selebgram unuk membangun sebuah personal branding. Karena untuk mempertahankan apa yang sudah ia dapat, dibutuhkan sebuah branding yang kuat pada dirinya.

Youtube (skripsi dan tesis)

Youtube adalah salah satu situs dengan pengunjung terbanyak hingga saat ini di dunia. Menurut Regina Luttrell (2015:147) Youtube adalah mesin pencari tempat atau media untuk promosi, sebuah jaringan sosial, dan situs komunitas dengan penonton yang setia. Secara lebih rinci Stefanone dan Lackfaff (2008:971) mendefinsikan Youtube sebagai situs berbagi video untuk mengunggah, menonton dan berbagi video. Youtube adalah situs berbagi video, dimana pengguna dapat mengunggah, menonton, dan berbagi video denga orang lain. Youtube membebaskan penggunanya untuk saling berbagi dan berdiskusi atas konten video yang diunggah dari webcam, telefon genggam, computer, dan sumber lainnya (Stefanone & Lacklaff, 2009:971). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Finamore dan Mellia (2011:1), Youtube merupakan situs terpopuler di internet saat ini. Pada tahun 2012 lebih dari 700 milyar pemutaran video dilakukan pada tahun 2010. Youtube adalah sebuah situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal pada Februari 2005. Situs ini memungkinkan pengguna mengunggah, menonton, dan berbagi video.1 Diciptakan pada tahun 2005 dan digandeng oleh Google pada November 2006, Youtube adalah layanan terpopuler di internet dengan 35 jam video diunggah setiap menitnya dan lebih dari 700 milyar pemutaran video dilakukan pada tahun 2010 silam (Finamore & Mellia, 2011:1)

Media Sosial (skripsi dan tesis)

Media sosial memiliki berbagai definisi menurut beberapa ahli. Media sosial dan perangkat lunak sosial merupakan alat untuk meningkatkan kemampuan pengguna untuk berbagi, bekerjasama di antara pengguna dan melakukan tindakan secara kolektif yang semuanya berada di luar kerangka institusional maupun organisasi (Shirky, 2008:21). Media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang menfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu media sosial dapat dilihat sebagai fasilitator online yang menguatkan hubungan antar pengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial (Van Dijck, 2013:11). Media Sosial mengalami perkembangan dari situs yang pertama kali diluncurkan hingga saat ini. Sejarah media sosial dijelaskan secara ringkas oleh Lutrell (2015:26-27) sebagai berikut: Situs jaringan sosial atau yang lebih dikenal dengan situs media sosial pertama kali dikenalkan pada tahun 1997 dengan munculnya ditus SixDegrees. SixDegrees adalah situs yang menawarkan pengguna dapat membuat profil personal, mengatur data teman, dan melihat daftar teman pengguna lain. Pada awal tahun 2000 situs media sosial semakin banyak bermunculan mulai dari Friendster, Myspace dan LinkedIn. Hingga pada tahun 2005 Youtube diluncurkan dan menjadi situs berbagi video terbesar pertama di dunia. Kemudian pada tahun 2006 Facebook dan Twitter mulai diluncurkan yang membuat dunia media sosial semakin berkembang pesat (Lutrell, 2015:26-27)

Personal Branding (skripsi dan tesis)

Pada dasarnya, personal branding merupakan kegiatan public relations dengan pembedanya adalah dalam public relations, yang dipresentasikannya adalah citra daripada sebuah organisasi atau perusahaan. Pada sebuah personal branding, yang dipresentasikan adalah citra diri seseorang tersebut. Sama seperti personal branding, public relations menurut Frank Jeffkins (2003:7) adalah sesuatu yang terdiri dari semua bentuk komunikasi berencana, baik ke dalam maupun ke luar dengan tujuan mendapatkan citra positif dan dukungan dari publiknya. Hubungan merek dengan suatu bisnis hampir selalu di mulai dari kompetensi produk atau jasa yang dirasakan oleh sang pelanggan- yakni kemampuannya untuk memenuhi suatu kebutuhan atau memuaskan suatu keinginan. Seiring berjalannya waktu, merek tersebut akan membedakan dirinya dari yang lain dengan cara melakukan hal-hal yang melampaui kompetensinya melalui apa yang dipandang oleh para pelanggan sebagai kombinasi antara standar dan gaya. Sebagaimana proses ini berevolusi, hubungan tersebut akan mengembangkan ekuitas merek-yakni tingkat kumulatif dari kredibilitas, kepercayaan dan nilai nilai di dalam benak para pelanggan. (Mcnally & Speak, 2004:43) Yulia Baltschun menggunakan dirinya atau pekerjaannya sebagai merek (brand). Yulia sebagai diet vlogger mempromosikan dan menkomunikasikan apa yang ada pada dirinya kepada orang lain secara terstruktur. Terdapat banyak sekali konsep yang dapat disajikan dasar landasan berpikir mengenai tinjauan personal branding. Untuk pembangunan merek pribadi, dengan cara serupa model tersebut diatas telah menggabungkan ketiga dimensi yang khas tetapi saling terkait tersebut.
Mcnally dan Speak (2004) mengerucutkan ide-ide mengenai personal branding dalam tiga dimensi yaitu:
1. Kompetensi
 Dimensi brand yang pertama merujuk kepada sifat-sifat hubungan dan hal-hal yang harus dilakukan secara profesional hanya untuk memenuhi harapan-harapan mendasar dari seseorang. Bersikap kompeten berarti harus (dalam tingkat tertentu) memenuhi persyaratan untuk melakukan sesuatu bagi seseorang. (Mcnally & Speak, 2004:44) Sebuah kompetensi akan menjadi inti dari hubungan yang biasanya relatif tidak berubah dalam waktu yang lama. Jikapun ada, perubahan itu akan bersifat progresif dan alami. Untuk mendukung sebuah personal branding, kompetensi memiliki 5 (lima) karateristik dasar yaitu pemahaman, keterampilan, konsep diri, bawaan (karakteristik) dan tujuan. (Djojonegoro:11).
2. Standar
Standar akan berpengaruh terhadap bagaimana orang lain melihat diri anda. Jauh melampaui kompetensi, standar mempertegas kekuatan personal branding seseorang. Oleh karena itu, meskipun kompetensi anda sama dengan orang lainnya, namun standar akan membantu anda menonjol dibandingkan dengan yang lain. Dimensi ini mulai menjadikan citra merek yang dibuat jauh lebih khusus dengan memusatkan perhatian kepada cara anda menyampaikan kompetensi yang dimiliki. Standar yang dimiliki adalah tingkat prestasi yang hendak dipatuhi secara konsisten. Standar akan cenderung lebih ditegaskan karena pengalaman akan memberikan penjelasan mengenai harapan.

Perubahan yang terjadi akan melibatkan ketepatan dan keakuratan yang lebih tinggi sebagaimana telah dipahami secara lebih terperinci apa yang diperlukan audiens terhadap diri kita.
3. Gaya
 Dimensi ketiga ini merupakan cara bagaimana kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Beginilah cara mengkhususkan kompetensi yang dimiliki sesuai konteks standar kinerja. Anggaplah gaya brand anda sebagai suatu gambaran emosional anda yang sudah terbentuk. Bukan hanya melalui kesan yang pertama, tetapi juga melalui hubungan yang berulang-ulang pada saat kita berinteraksi dengan orang lain. Perubahan gaya kemudian akan mencerminkan suatu tingkat keterbiasaan bahkan kedekatan yang sedang tumbuh. Sebagaimana setiap orang di dalam hubungan tersebut akan memperoleh pemahaman yang selalu menjadi semakin baik mengenai perilaku seperti apa yang paling baik ditujukan untuk mempertahankan, memupuk dan memperdalam pertalian diantara mereka, maka penyesuaian diri yang dilakukan terus-menerus akan memperkuat pertalian tersebut. (Mcnally dan Speak, 2004:44- 45). Secara sederhana, cara seseorang berkomunikasi dan bertindak ketika orang tersebut melakukan apa yang dikerjakannya (gaya) dan norma-norma yang diterapkan (standar) akan memperkenankan seseorang tersebut untuk memenuhi sebagian dari kebutuhan dasar dari orang lain (kompetensi). Secara sederhana bila kompetensi merupakan kata benda dari sebuah branding, maka standar dan gaya memiliki peran sebagai kata benda dan kata sifat untuk memodifikasinya. Untuk membangun personal branding yang khas, relevan dan konsisten, Yulia Baltschun harus memiliki kompetensi, standar dan gaya yang dapatmenunjang pembentukan personal branding.

Konsep Utama Personal Branding (skripsi dan tesis)

Delapan hal berikut adalah konsep utama yang dapat dijadikan acuan dalam personal branding seseorang (Peter Montoya, 2002).
1. Spesialisasi (The Law of Specialization) Montoya menyebut bahwa personal brand yang baik layaknya sinar laser, yakni terfokus dan bersinar intens pada satu area kecil. Sebuah personal brand harus terkonsentrasi pada kekuatan, keahlian atau pencapaian tertentu. Mencoba beragam bidang tanpa spesialisasi justru melemahkan perhatian audiens dan menimbulkan keraguan. Mereka mungkin berpikir bahwa seseorang yang melakukan banyak hal yang berbeda, tidak akan ahli dalam salah satunya.
 2. Kepemimpinan (The Law of Leadership) Menurut Montoya, pada dasarnya orang ingin dipengaruhi. Mereka menginginkan sosok pemimpin, yakni seseorang yang dapat menghilangkan rasa ketidakpastian dan menawarkan mereka kejelasan. Membentuk unsur kepemimpinan tidak berarti individu harus menjadi yang terbaik dalam semua bidang. Kepemimpinan dapat dibentuk melalui keunggulan (dipandang sebagai seorang ahli dalam bidang tertentu), posisi (memiliki posisi penting), atau pengakuan (misalnya, melalui penghargaan atas pencapaian tertentu).
 3. Kepribadian (The Law of Personality) Personal branding yang baik menggambarkan kepribadian individu dalam segala aspek, artinya bukan hanya kelebihan atau kesempurnaan, tetapi juga ketidaksempurnaan individu tersebut karena orang lain justru menyukai sosok yang apa adanya, yaitu yang memiliki kelemahan seperti selayaknya seorang manusia. Konsep ini berseberangan dengan Konsep Kepemimpinan yang menekankan individu untuk berkepribadian sangat baik.
4. Perbedaan (The Law of Distinctiveness) Sebuah personal brand yang efektif perlu memiliki kesan yang kuat dengan menjadi berbeda dari orang lain di dalam bidang atau bisnis yang sama.
5. Kenampakan (The Law of Visibility) Untuk menjadi sukses, personal brand harus terlihat secara konsisten atau terus-menerus hingga personal brand orang tersebut dikenal. Hal ini karena kenampakan lebih penting dibandingkan keahlian. Ada banyak orang dengan keahlian yang sama, karenanya individu harus membuat dirinya lebih nampak atau terlihat dibanding yang lain.
6. Kesatuan (The Law of Unity) Realita kehidupan pribadi seseorang harus sejalan dengan nilai dan perilaku yang telah ditentukan dari personal brand yang dibangun.
 7. Keteguhan (The Law of Persistence) Karena membentuk personal brand memerlukan waktu yang lama, individu harus memiliki keteguhan terhadap personal brand awal yang telah dibentuk, tanpa ragu atau ingin mengubahnya.
8. Maksud baik (The Law of Goodwill) Pengaruh sebuah personal brand akan lebih besar apabila individu tersebut dipersepsikan secara positif.

Ada beberapa karakteristik yang harus diperhatikan dalam merancang personal brand yang kuat, yakni sebagai berikut (McNally & Speak, 2012).
 a. Khas, yakni personal brand yang tidak hanya berbeda, tetapi merupakan cerminan dari ide-ide dan nilai-nilai dalam diri Anda yang membentuk kekhasan Anda.
 b. Relevan, yakni apa yang diwakili oleh personal brand tersebut relevan dengan apa yang dianggap penting atau dibutuhkan oleh orang lain.
c. Konsisten, yakni menjalankan personal brand yang dirancang secara terus-menerus sehingga audiens dapat mengidentifikasi personal brand Anda dengan mudah dan jelas. Menurut McNally, ketika personal brand yang dirancang memiliki kekhasan atau perbedaan, relevan, dan konsisten, maka audiens akan mulai melihat dan memahami personal brand tersebut.

Personal Brand dan Internet (skripsi dan tesis)

 Personal brand adalah identitas pribadi individu yang mampu menciptakan respon emosional orang lain terhadap kualitas dan nilai yang dimiliki individu tersebut (O’Brien T. , 2007). Pendapat lain menyatakan bahwa personal brand merupakan persepsi, pendapat, atau kesan seseorang terhadap kita (Hood, 2006; Peter Montoya, 2008; Subur, 2011). Hood bahkan menambahkan bahwa personal brand yang sukses akan secara tepat menggambarkan keseluruhan potensi, kualitas, dan nilai-nilai yang berada dalam diri seorang individu (Hood, 2006). Dengan personal brand, individu akan menjadi seseorang yang pertama terpikirkan ketika orang lain mencari atau membutuhkan potensi, kualitas, atau nilai-nilai tertentu yang ada dalam diri individu tersebut (Hood, 2006; William Arruda, 2010). Hal ini secara lebih sederhana dikatakan oleh Moentoya, yaitu bahwa personal brand yang baik dapat dengan mudah mengkomunikasikan perasaan atau gagasan yang jelas dan sederhana tentang individu (Peter Montoya, 2002). Saat ini, personal brand memang menjadi lebih penting dan signifikan pengaruhnya dibandingkan merek perusahaan (corporate brand). Hal ini karena pada dasarnya kita lebih mudah mempercayai individu dibandingkan perusahaan dan kita akan memilih untuk berhubungan atau berbisnis dengan seseorang yang membuat kita nyaman (Peter Montoya, 2008). Kegiatan atau aktivitas untuk membangun personal brand disebut personal branding. Lebih rinci, personal branding ialah mengkomunikasikan dan memastikan bahwa orang lain menerima dan percaya nilai-nilai dan kualitas yang dimiliki individu tersebut (O’Brien T. , 2007). Tidak hanya itu, personal branding tidak bisa sebatas mengkomunikasikan, tetapi juga terlebih dahulu harus mengidentifikasi hal unik, relevan, dan menarik dari individu sehingga dapat meningkatkan karir atau bisnis individu tersebut (Rampersad, 2009; Schawbel, 2015). Melalui personal branding, individu dapat mengambil kendali terhadap bagaimana orang lain mempersepsikan individu tersebut (Peter Montoya, 2008; Brown, 2014). Sayangnya, tidak semua orang melihat peluang dari pemanfaatan personal branding. Bahkan, sebagian orang juga tidak menyadari bahwa mau tidak mau, disadari atau tidak, dirinya telah memiliki sebuah personal brand paling tidak di kalangan orang-orang sekitarnya, rekan kerja atau tetangga (Peter Montoya, 2008).
 Hal ini lebih jelas dipahami melalui argumen McNally bahwa brand dari diri tiap orang merupakan refleksi dari apa yang orang tersebut lakukan dan apa yang menjadi kepercayaan orang tersebut yang direalisasikan melalui apa yang dilakukan dan bagaimana orang itu melakukannya. Dengan adanya kontak yang berulang dengan orang lain, brand tersebut akan menjadi lebih kuat dan terbentuk dalam persepsi orang lain (McNally & Speak, 2012). Dalam melakukan personal branding, Anda memerlukan sarana untuk menampilkan gagasan, ide, aktivitas, atau keahlian Anda dan dengan internet hal tersebut dapat dengan mudah dilakukan (Erik Deckers, 2012). Hal ini sejalan dengan pendapat Schawbel bahwa melalui sebuah situs internet setiap orang dapat dengan sangat mudah mengembangkan dan memasarkan personal brand mereka (Schawbel, 2015). Internet memungkinkan setiap orang untuk berbagi informasi, baik melalui tulisan, gambar, atau video kepada seluruh pengguna internet lainnya dan melahirkan berbagai forum diskusi online dan ruang menulis bebas, seperti blog (Erik Deckers, 2012). Blog adalah halaman web atau jurnal online yang memungkinkan pengguna untuk memposting apa yang mereka inginkan dan menyajikan posting ini dalam urutan kronologis (dari yang terbaru sampai yang terlama) (Stephen Quinn, 2012; John Dvorak, 2004; Spector, 2015; Yan, 2012). Dengan menjadi seorang blogger (sebutan untuk penulis blog), dalam sekejap seseorang dapat menerbitkan gagasannya secara maya ke seluruh dunia, diakses dan dibaca oleh miliaran orang tanpa perlu mendatangi penerbit (Solove, 2007). Tidak hanya itu, blog juga memungkinkan terbangunnya kedekatan personal karena penulis dapat berinteraksi dan berdiskusi dengan pembaca melalui kolom komentar (Solove, 2007; Peter Montoya, 2008). Karenanya, tidak heran bahwa blog dapat dijadikan pusat kegiatan personal branding melalui internet: kita perlu membuat diri kita diketahui oleh banyak orang dan blog merupakan cara termudah untuk melakukannya (Erik Deckers, 2012). Meskipun demikian, menurut Montoya, personal branding melalui blog juga memiliki kelemahan. Menulis blog memerlukan banyak waktu dalam arti seseorang tidak bisa hanya menulis satu atau dua kali. Anda harus menulis beberapa kali dalam suatu kurun waktu yang tentu akan sulit untuk dilakukan seorang profesional yang sibuk (Peter Montoya, 2008). Menggunakan internet, baik melalui blog maupun situs lainnya, untuk personal branding juga berarti Anda harus mempertimbangkan beragam konten yang akan Anda unggah karena segala informasi

Pemerekan (Branding) (skripsi dan tesis)

Menurut Ghodeswar, branding berarti membedakan nama dan atau simbol, seperti logo, merek dagang, atau desain dengan maksud mengidentifikasi dan membedakan produk satu penjual dengan kompetitornya (Ghodeswar, 2008). Branding juga dapat diartikan sebagai tindakan terusmenerus yang melibatkan pemasaran, penelitian, dan percakapan untuk mengelola pikiran dan perasaan konsumen Anda untuk memastikan produk andalah yang mereka inginkan (Sutedja, 2012). Branding juga dapat diartikan sebagai usaha untuk membedakan produk kita dengan produk pesaing kita sehingga akan memberikan keuntungan kompetitif di pasaran (Sutrisna, 2010). Berdasarkan ketiga pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa branding adalah proses yang melibatkan pemasaran, penelitian, dan percakapan secara terus-menerus untuk membuat suatu produk memiliki ciri khas sendiri di benak konsumen dan membedakan produk tersebut dengan produk pesaing agar dapat memberikan keuntungan kompetitif di pasaran. Branding sangat penting dilakukan karena seseorang akan memilih suatu produk tidak hanya karena pertimbangan rasional, tetapi lebih kepada pertimbangan emosional. Orang akan melihat dan membandingkan spesifikasi, harga, dan kegunaan, tetapi pada akhirnya mereka mengambil keputusan secara emosional. Branding menjadi penting karena dapat membangun ikatan emosional dengan klien atau pembeli (Peter Montoya, 2008).

Instagram (skripsi dan tesis)

 Instagram adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk membagi-bagikan foto dan video. Instagram sendiri masih merupakan bagian dari facebook yang memungkinkan teman facebook kita mem-follow akun Instagram kita. Makin populernya Instagram sebagai aplikasi yang digunakan untuk membagi foto membuat banyak pengguna yang terjun ke bisnis online turut mempromosikan produk- produknya lewat Instagram (Nisrina, 2015). Instagram merupakan salah satu media jejaring sosial yang dapat dimanfaatkan sebagai media pemasaran langsung. Melalui Instagram- lah produk barang/jasa ditawarkan dengan meng-upload foto atau video singkat, sehingga para calon konsumen dapat melihat jenis-jenis barang/jasa yang ditawarkan. Instagram memiliki fitur-fitur yang berbeda dengan jejaring sosial lainnya, diantara sekian banyak fitur yang ada di Instagram, ada beberapa fitur yang digunakan oleh akun instagram bandung makuta dalam menjalanan komunikasi pemasarannya, fitur tersebut adalah:
1. Followers (Pengikut)
 Sistem sosial di dalam Instagram adalah dengan menjadi pengikut akun pengguna lainnya, atau memiliki pengikut Instagram. Dengan demikian komunikasi antara sesama pengguna Instagram sendiri dapat terjalin dengan memberikan tanda suka dan juga mengomentari foto-foto yang telah diunggah oleh pengguna lainnya. Pengikut juga menjadi salah satu unsur yang penting, dimana jumlah tanda suka dari para pengikut sangat mempengaruhi apakah foto tersebut dapat menjadi sebuah foto yang populer atau tidak. Untuk menemukan teman-teman yang ada di dalam Instagram. 2. Upload Foto (Mengunggah Foto)
Kegunaan utama dari Instagram adalah sebagai tempat untuk mengunggah dan berbagi foto-foto kepada pengguna lainnya. Foto yang hendak ingin diunggah dapat diperoleh melalui kamera iDevice ataupun foto-foto yang ada di album foto di iDevice tersebut.
3. Kamera
 Foto yang telah diambil melalui aplikasi Instagram dapat disimpan di dalam iDevice tersebut. Penggunaan kamera melalui Instagram juga dapat langsung menggunakan efek-efek yang ada, untuk mengatur pewarnaan dari foto yang dikehendaki oleh pengguna. Ada juga efek kamera tilt-shift yang fungsinya adalah untuk memfokuskan sebuah foto pada satu titik tertentu. Foto-foto yang akan diunggah melalui Instagram tidak terbatas atas jumlah tertentu, melainkan Instagram memiliki keterbatasan ukuran untuk foto. Ukuran yang digunakan di dalam Instagram adalah dengan rasio 3 : 2 atau hanya sebatas berbentuk kotak saja.
4. Efek Foto
Pada versi awalnya, Instagram memiliki 15 efek-efek yang dapat digunakan oleh para pengguna pada saat mereka hendak menyunting sebuah foto. Efek tersebut terdiri dari: X-Pro II, Lomo-fi, Earlybird, Sutro, Toaster, Brannan, Inkwell, Walden, Hefe, Apollo, Poprockeet, Nashville, Gotham, 1977, dan Lord Kelvin. Namun tepat pada tanggal 20 September yang lalu Instagram telah menambahkan 4 buah efek terbaru yaitu; Valencia, Amaro, Rise, Hudson dan telah menghapus 3 efek, Apollo, Poprockeet, dan Gotham dari dalam fitur tersebut.
 5. Judul Foto
Setelah foto tersebut disunting, maka foto akan dibawa ke halaman selanjutnya, dimana foto tersebut akan diunggah ke dalam Instagram sendiri ataupun ke jejaring sosial lainnya. Dimana di dalamnya tidak hanya ada pilihan untuk mengunggah pada jejaring sosial atau tidak, tetapi juga untuk memasukkan judul foto, dan menambahkan lokasi foto tersebut.
 6. Arroba
 Seperti Twitter dan juga Facebook, Instagram juga memiliki fitur yang dimana para penggunanya dapat menyinggung pengguna lain yang juga, dengan manambahkan tanda arroba (@) dan memasukkan akun Instagram dari pengguna tersebut. Para pengguna tidak hanya dapat menyinggung pengguna lainnya di dalam judul foto, melainkan juga pada bagian komentar foto. Para pengguna dapat menyinggung pengguna lainnya dengan memasukkan akun Instagram dari pengguna tersebut. Pada dasarnya dalam menyinggung pengguna yang lainnya, yang dimaksudkan adalah untuk berkomunikasi dengan pengguna yang telah disinggung tersebut.
7. Geotagging
Setelah memasukkan judul foto tersebut, bagian selanjutnya adalah bagian Geotag. Bagian ini akan muncul ketika para pengguna iDevice mengaktifkan GPS mereka di dalam iDevice mereka. Dengan demikian iDevice tersebut dapat mendeteksi lokasi para pengguna Instagram tersebut berada.
 8. Jejaring Sosial
Dalam berbagi foto, para pengguna juga tidak hanya dapat membaginya di dalam Instagram saja, melainkan foto tersebut dapat dibagi juga melalui jejaring sosial lainnya seperti Facebook, Twitter, Foursquare, Tumblr, dan Flickr yang tersedia di halaman Instagram untuk membagi foto tersebut.
9. Tanda suka (like)
 Instagram juga memiliki sebuah fitur tanda suka yang fungsinya memiliki kesamaan dengan yang disediakan Facebook, yaitu sebagai penanda bahwa pengguna yang lain menyukai foto yang telah diunggah. Berdasarkan dengan durasi waktu dan jumlah suka pada sebuah foto di dalam Instagram, hal itulah yang menjadi faktor khusus yang mempengaruhi foto tersebut terkenal atau tidak.
10. Popular (Explore)
Bila sebuah foto masuk ke dalam halaman popular, yang merupakan tempat kumpulan dari foto-foto popular dari seluruh dunia pada saat itu. Secara tidak langsung foto tersebut akan menjadi suatu hal yang dikenal oleh masyarakat mancanegara, sehingga jumlah pengikut juga dapat bertambah lebih banyak.

Personal Branding (skripsi dan tesis)

 Menurut David A Aaker dalam Rangkuti (2009) “Brand adalah nama dan simbol yang bersifat membedakan (seperti sebuah logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mendefinisikan barang atau jasa dari seorang penjual atau sebuah kelompok penjual tertentu”. American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, lambang, simbol, desain, atau kombinasi dari halhal tersebut. Tujuan pemberian merek adalah untuk mengidentifikasikan produk atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual yang dihasilkan sehingga berbeda dari para pesaing (Kotler & Keller dalam Haroen, 2014). Agar brand suatu produk itu meresap kuat dalam hati khalayak sesuai dengan harapan yang punya produk maka dibutuhkan upaya dengan proses yang terus menerus untuk menancapkan brand itu ke hati publik dengan berbagai cara. Upaya dan proses inilah yang biasa disebut branding. Sedangkan menurut Peter Montonya dalam Rampersad (2008) “branding adalah sebuah proses menciptakan identitas yang dikaitkan dengan persepsi, emosi dan perasaan tertentu terhadap identitas tersebut. Branding terjadi sebelum pemasaran dan penjualan. Tanpa sebuah merek yang kuat, pemasaran tidaklah efektif. Menurut Haroen (2014) branding adalah aktivitas yang kita lakukan untuk membangun persepsi orang lain terhadap kita mengenai siapa kita. Dengan kata lain branding adalah kebutuhan dari semua orang yang punya kepentingan untuk mendapatkan sesuatu dari seseorang lain melalui proses-proses komunikasi. Branding sebagai upaya memperkenalkan produk hingga produk itu dikenal, diakui, dan digunakan oleh khalayak. Branding dilakukan dengan maksud untuk menciptakan pencitraan yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemilik produk. Personal branding merupakan sebuah kegiatan yang dapat mengontrol cara pandang/ persepsi orang lain terhadap diri seseorang, sehingga dengan melakukan Personal brandingmaka seseorang dapat mempengaruhi pandangan orang lain terhadap dirinya sesuai dengan kehendaknya. Menurut Kartajaya dkk (2005), bahwa brand bukanlah hanya produk saja, tetapi orangpun juga membuat dirinya menjadi sebuah brand, sehingga peneliti akan menjelaskan personal brand. Personal Brand menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dibahas, karena makin banyaknya seseorang yang sadar akan pentingnya merek diri yang dimiliki agar mendapatkan posisi yang diinginkan. Personal Branding menurut Montoya dalam Haroen (2014) adalah sebuah produk, baik barang atau jasa, agar brand itu terus menancap di hati masyarakat dengan segala atribut dan diferensiasinya maka dibutuhkan upaya yang disebut branding. Personal branding adalah segala sesuatu yang ada pada diri anda yang menjual dan membedakan, seperti pesan anda, pembawaan diri dan taktik pemasaran. Personal brandingadalah sebuah seni dalam menarik dan memelihara banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif. Personal branding dengan kata lain adalah proses membentuk persepsi masyarakat terhadap aspek-aspek yang dimiliki seseorang, diantaranya adalah kepribadian, kemampuan, atau nilai-nilai, dan sebagaimana semua itu menimbulkan persepsi positif dari masyarakat yang pada akhirnya dapat digunakan sebagai alat pemasaran. Menurut Montoya dalam Haroen (2014) terdapat delapan konsep pembentukan personal branding. Adapun delapan konsep pembentukan personal branding sebagai pondasi dari personal brand yang kuat, yaitu:

1. Spesialisasi (The Law of Specialization)

Ciri khas dari sebuah Personal brand yang hebat adalah ketepatan pada sebuah spesialisasi, terkonsentrasi hanya pada sebuah kekuatan, keahlian, atau pencapaian tertentu.

2. Kepemimpinan (The Law of Leadership)

Personal Brand dilengkap dengan sosok pemimpin yang dapat memutuskan sesuatu dalam suasana penuh ketidakpastian dan memberikan suatu arahan yang jelas.

3. Kepribadian (The Law of Personality)

Sebuah Personal brand yang hebat didasari pada sosok kepribadian yang apa adanya dan hadir dengan ketidaksempurnaan. Konsep ini menghapuskan beberapa tekanan

pada konsep kepemimpinan (The Law of Leadership). Seorang harus memiliki kepribadian yang baik, namun tidak harus sempurna.

4. Perbedaan (The Law of Distinctiveness)

Personal brand yang efektif harus ditampilkan dengan cara yang berbeda dari yang lainnya. Diferensiasi diperlukan supaya membedakan antara satu dengan lainnya. Selain itu, dengan perbedaan seorang akan lebih dikenal oleh khalayak.

5. Terlihat (The Law of Visibility)

Personal brand berarti harus dilihat secara konsisten dan terus menerus sampai personal brand seseorang dikenal. Maka visibility lebih penting dari ability. Supaya visible seseorang, seseorang perlu mempromosikan dirinya dan menggunakan setiap kesempatan untuk membuat dirinya terlihat. 6. Kesatuan (The Law of Unity)

Kehidupan pribadi yang berada di balik personal brand harus sejalan dengan etika moral dan sikap yang telah ditentukan dari brand tersebut. kehidupan pribadi selayaknya menjadi cerminan dan citra yang diinginkan dalam personal brand.

7. Keteguhan (The Law of Persistence)

Personal brand tidak bisa terjadi secara instan, ia membutuhkan waktu untuk tumbuh. Selama proses tersebut berjalan, penting untuk selalu memperhatikan tiap tahapan dan trand yang terjadi.

8. Nama Baik (The Law of Goodwill)

Sebuah personal brand akan memberikan hasil yang baik dan bertahan lebih lama, jika seseorang dibelakangnya dipersepsikan dengan citra yang positif. Seorang tersebut harus di aosiasikan dengan sebuah nilai atau ide yang diakui secara umum positif dan bermanfaat.

Komunikasi Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dalam Sanyoto (2012) Marketing is asocial and managerial process by which individuals and groups obtain what they need and what through, offering and exchanging products of value of with other (Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan pertukaran produk dan nilai). Promosi merupakan suatu bentuk komunikasi pemasaran. Komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk, dan/atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan (Tjiptono, 1997). Komunikasi pemasaran adalah sarana yang digunakan perusahaan dalam uapaya untuk menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen-langsung atau tidak langsung-tentang produk dan merek yang mereka jual. Dalam pengertian tertentu, komunikasi pemasaran menggambarkan “suara” merek dan merupakan sarana yang dapat digunakannya untuk membangun dialog dan membangun hubungan dengan konsumen. Selain itu komunikasi pemasaran juga memungkinkan perusahaan menghubungkan merek-merek mereka dengan orang lain, tempat, acara khusus, pengalaman merek, perasaan, dan barang. Komunikasi pemasaran dapat berkontribusi dapa ekuitas merek dengan membangun merek dalam ingatan dan menciptakan citra merek (Kotler & Keller, 2008). Menurut Morisan (2010) “Komunikasi pemasaran merupakan upaya untuk menjadikan seluruh kegiatan pemasaran dan promosi perusahaan dapat menghasilkan citra atau image yang bersifat satu dan konsisten bagi konsumen”. Komunikasi pemasaran yaitu semua elemenelemen promosi dari marketing mix yang melibatkan komunikasi antara organisasi dan target audience pada segala bentuknya yang ditujukan untuk performance pemasaran (Prisgunanto, 2006). Kegiatan komunikasi pemasaran merupakan rangkaian kegiatan untuk mewujudkan suatu produk, jasa, ide, dengan menggunakan bauran pemasaran (promotion mix) yaitu: iklan (advertising), penjualan tatap muka (personal selling), promosi penjualan (sales promotion), hubungan masyarakat dan publisitas (public relation and publicity) serta pemasaran langsung (direct marketing) (Purba, dkk, 2006).

Metode AIDA (skripsi dan tesis)

Efektivitas influencer dalam penelitian ini dapat diukur dengan menggunakan metode AIDA yang terdiri dari (Bosomworth, 2010):  Attention (Perhatian) Perhatian ada langkah pertama untuk model teori AIDA, dikarenakan perhatian para calon konsumen itu sangat penting dan upaya untuk mereka sadar akan produk/jasa yang dijual pertama harus mendapat perhatian mereka. Dapat diukur melalui seringnya nama merek atau produk dilontarkan di media sosial tersebut (Poetra & Christantyawati, 2017). Interest (Ketertarikan) Ketertarikan adalah langkah yang kedua dimana para calon konsumen sudah sadar akan keberadaan produk tersebut dan penjual harus identifikasi minat dan kebutuhan para calon konsumen dengan produk/jasa yang ditawarkan untuk menimbulkan ketertarikan. Di kasus ini dapat diukur ketertarikan melalui interaksi seperti like, comment & share. Desire (Keinginan) Keinginan adalah tahap berikutnya dan juga menjadi poin yang penting dalam proses ini seperti klik ke halaman produk yang lebih rinci dan berbagai fitur, harga, dan opsi. Desain media sosial akan menjadi lebih relevan pada tahap ini dan integrasi ke ulasan dan testimoni pendek sangat membantu untuk calon pelanggan pindah ke tahap berikutnya action. (Bosomworth, 2010). Action (Tindakan) Tahap ini adalah tahap terakhir, tindakan seorang calon customer. dalam arti hasil atau transaksi. Jadi secara khusus berpikir tentang pembelian, pendaftaran, panggilan balik, lead form, dll, dimana akan ada perpindahan dari pemasaran dan menjadi sales

Influencer di Instagram (skripsi dan tesis)

Menurut Pahlevi (2018), influencer adalah sosok individu yang mempunyai pengaruh yang kuat terhadap keputusan pembelian seseorang dikarenakan dia memiliki otoritas, kemahiran, dan hubungan yang kuat terhadap followers-nya. Tidak hanya itu, influencer juga meningkatkan kesadaran terhadap sebuah merek dengan memberikan dampak personal terhadap audiens yang dimiliki melalui pemasaran yang otentik. Populernya penggunaan influencer juga semakin marak di kalangan bisnis di Indonesia. Adapun hal ini tergambarkan dalam survei yang dilakukan oleh sociabuzz (2018) dimana dari 83 responden yang melakukan influencer marketing, ditemukan bahwa 98.8% di antaranya menggunakan Instagram.

terdapat dua jenis influencer yaituL
1. Macro influencer
Dengan karakteristik Follower: 100,000- 1jt>,  Berdasarkan dari lingkupan selebriti atau figur publik , . Engagement 5- 25% ,. Jangkauan yang luas ,. Jumlah followers yang banyak ,. Baik untuk visibilitas & awareness ,. Tidak terlalu ditargetkan , Seringkali tidak mendapatkan kesan otentik ,. Harga yang relatif lebih mahal
2. Micro influencer
Dengan karakteristik Follower: 500- 100,000, Berdasarkan dari kawasan pada umumnya, Engagement 25-50% , Followers yang nyata , Post yang personal/pengalaman pribadi untuk produk , Harga yang lebih terjangkau, Tidak efektif untuk meningkatkan visibilitas & awareness , Posting-an yang kurang terlihat profesional

Pentingnya Social Media Marketing Strategy dalam Bisnis Hotel (skripsi dan tesis)

Penggunaan Social Media Marketing untuk menjaring masyarakat dan sasaran pasarnya di dalam dunia maya mulai banyak digunakan oleh perusahaan berbagai skala di Indonesia termasuk hotel, terdapat 7 kelebihan yang menguntungkan hotel jikalau memakai Social Media Marketing (Puga, 2017).
a. Pamerkan & Perkuat Merek
Media sosial adalah cara yang luar biasa untuk memberitahu semua orang apa yang ingin dipamerkan karena perusahaan yang mengontrol konten untuk menunjukan bahwa brand mewah, terjangkau, berkelas tinggi atau santai. Merek dapat ditampilkan melalui foto, video, dan konten lainnya.
b Buat Harapan Realistis
 Dengan adanya media sosial, hotel pun bisa memberi gambar yang realistis seperti bentuk kamar dari segala sisi, resepsionis, restoran, dan lainnya tanpa disunting.
c Membentuk & Memperkuat Hubungan Kemudahan untuk berkomunikasi dengan pelanggan akan jauh lebih mudah dari pertanyaan, kritik dan saran.
d. Jangkau Pelanggan Baru Dengan adanya pemasangan iklan di media sosial hotel bisa bikin iklan sesuai dengan targetnya seperti hobi, umur, pekerjaan, jenis kelamin, lokasi, dan lain-lainnya.
e. Beri Nilai Lebih
Nilai lebih yang dapat diberikan hotel adalah selalu bisa memberi informasi yang terbaru seputar hotelnya atau sekitarnya contohnya kalau ada acara dekat dengan lokasi hotel.
f. Bersaing dengan Teknologi Modern
Penggunaan media sosial menunjukkan bahwa hotel tersebut mengikuti perkembangan zaman dan selalu up to date dengan perkembangan teknologi.
g. Berikan Suara
Media sosial memudahkan hotel untuk mengucapkan kata kata yang ingin disampaikan hotel secara umum seperti merayakan Natal, Paskah, dan tahun baru bahkan untuk berbela sungkawa yang membuktikan bahwa hotel peduli dengan lingkungan dan sekitar.

Aspek Social Media Marketing Strategy (skripsi dan tesis)

 Menurut Moriyansyah (2015), terdapat beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam social media marketing strategy, yaitu:
a. Customer engagement
 Definisi customer engagement adalah cara dimana perusahaan menciptakan hubungan dengan basis pelanggannya untuk menumbuhkan loyalitas dan kesadaran merek. Ini dapat dicapai melalui kampanye pemasaran, konten baru yang dibuat untuk dan diposting ke situs web, dan penjangkauan melalui media sosial.
b. Viral marketing
Viral Marketing adalah teknik pemasaran yang mampu menghasilkan minat dan potensi penjualan merek atau produk melalui pesan yang menyebar seperti virus, dengan kata lain, dengan cepat, dan dari orang ke orang. Idenya adalah untuk mendorong para penerima untuk membagikan konten tersebut secara sendirinya.
c. Buzz marketing
Buzz marketing adalah teknik pemasaran viral yang berfokus pada memaksimalkan potensi promosi atau produk dari mulut ke mulut, baik itu melalui percakapan di antara keluarga dan teman konsumen atau diskusi berskala lebih besar di platform media sosial biasa dilakukan dengan penggunaan produk/jasa oleh sebuah public figure tanpa sifat promosi.
d. Peer influence
Sebuah keadaan di mana setiap merek bersaing untuk mendapatkan pelanggan yang spesifik peer influence adalah solusi yang sempurna, dengan mencari sebuah niche dan mencari sosok figur yang terkenal dan produk/jasa itu akan diberikan untuk promosi contohnya influencer di media sosial. Online communities Dikarenakan dengan kemudahan untuk komunikasi, komunitas online pun sudah banyak, bisa ditargetkan iklan/promosi untuk komunitas tersebut seperti: Jika ada komunitas online pelancong bisa saja memberi diskon/ mengiklankan Hotel di komunitas online tersebut.

Dampak Positif Pemasaran melalui Media Sosial (skripsi dan tesis)

Menurut Demers et al. (2014), terdapat 10 keuntungan Social Media marketing dalam bisnis, yaitu:

 1. Increased brand awareness
Social Media Marketing mempermudah bisnis dalam bebagai skala untuk memperlihatkan konten dan meningkatkan visibilitasnya, hal ini sangat penting karena dengan ini menampilkan brand itu jauh lebih mudah, dengan akses yang gampang bagi pelanggan baru atau lama dengan sengaja atau tidak sengaja.
 2. Improve Brand Loyalty
Menurut sebuah laporan dari Texas Tech University, brand yang menggunakan media sosial akan mendapatkan brand loyalty lebih tinggi mengambil keuntungan dari media sosial jika itu berkaitan dengan Amerika yang mengikuti sebuah Brand akan lebih loyal terhadap Brand tersebut.
 3. More opportunities to convert
Media sosial memungkinkan sebuah bisnis untuk mendapatkan konsumen, baik itu konsumen yang sudah ada atau konsumen baru. Melalui unggahan dalam media sosial, sebuah brand dapat berinteraksi dengan konsumen-konsumen yang dimaksud di atas. Interaksi ini kemudian dapat berujung pada site visit ataupun pertukaran.

 4. Higher conversion rates
Pemasaran media resmi menghasilkan tingkat konversi yang lebih tinggi dalam beberapa cara berbeda. Mungkin yang paling penting adalah unsur kemanusiaannya; fakta bahwa merek menjadi lebih manusiawi dengan berinteraksi di saluran media sosial. Media sosial adalah tempat di mana merek dapat bertindak seperti orang lain, dan ini penting karena orang suka berbisnis dengan orang lain; tidak dengan perusahaan.
 5. Higher Brand Authority
 Adanya media sosial memungkinkan sebuah brand untuk meningkatkan nilainya di mata masyarakat. Hal ini dapat tercapai melalui interaksi yang diciptakan brand dengan konsumen. Semakin tinggi interaksi brand maka konsumen akan cenderung membicarakan brand tersebut secara positif, sehingga brand tersebut semakin dipercaya oleh konsumen baru.
6. Increased Inbound Traffic
Media sosial memperluas cakupan traffic atau konsumen produk atau jasa yang ditawarkan oleh sebuah brand. Beragamnya media sosial yang dimiliki oleh sebuah brand sama artinya dengan beragamnya jalan yang dapat membimbing konsumen ke brand tersebut atau dengan kata lain berarti kesempatan untuk konsumen baru.

7. Decreased Marketing Costs
Menurut salah satu penyedia jasa platform perangkat lunak pemasaran untuk pemasaran media sosial 6 jam setiap minggu sudah cukup untuk meningkatkan traffic brand, 6 jam bukanlah investasi yang besar untuk hasil yang didapatkan, tarif yang ditentukan untuk pasang iklan di media sosial pun relatif lebih murah (dapat diatur).
8. Better Search Engine Rankings
Keberadaan dan aktifnya sebuah brand di media sosial dapat menunjukkan bahwa brand yang bersangkutan merupakan bran yang sah, kredibel, dan dapat dipercaya.

9. Richer Customer Experiences
Media sosial memungkinkan adanya interaksi 2 arah, yaitu salah satunya dari konsumen ke brand. Kesempatan ini merupakan sarana bagi brand untuk mendapatkan insight, seperti apa yang diinginkan oleh konsumen. Hal ini dapat terjadi dengan cara brand memantau suara konsumen yang tertuang dalam kolom komentar. Contoh lainnya adalah brand dapat mengetahui topik seperti apa yang diminati oleh konsumen dan kemudian menyesuaikan konten dengan topik tersebut.
 10. Improve Customer Insights
 Kehadiran sebuah brand dalam media sosial memungkinkan brand tersebut untuk menyuguhkan customer service yang mengesankan, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan interaksi serta hubungan dengan konsumen secara publik. Pelayanan yang baik dapat ditunjukkan kepada publik dan publik pun mendapatkan kesan bahwa brand tersebut dapat diandalkan. Hal tersebut juga dapat menimbulkan kesan baik tersendiri bagi konsumen yang bersangkutan

Sarana Marketing di Social Media (skripsi dan tesis)

Menurut Evans (2015), sarana social media marketing strategy dapat
diklasifikasikan menjadi 3 kelompok yang terdiri dari:
Social Interactions: Sarana Social Media marketing strategy yang
termasuk dalam kategori ini adalah Social Media yang cenderung
mendukung komunikasi dua arah secara cepat singkat. Contohnya
adalah Whatsapp, LINE, dan WeChat.
Social Platforms: Kategori ini mencakup sarana yang memberikan
pihak bisnis untuk mengumumkan berita, promosi, dan lain sebagainya.
Contoh media sosial yang dimaksud adalah seperti Forum , Webpage,
dan Wiki.
Social Content: Konten yang menjadi fokus media sosial yang termasuk
dalam kategori ini adalah foto, video, dan audio. Pada dasarnya, media
sosial dalam kategori ini mengizinkan penggunanya untuk mengunggah
media dan media sosial inilah yang sedang menjadi tren di khalayak
umum, contohnya adalah Instagram, Twitter, dan Facebook

Social Media Marketing (skripsi dan tesis)

Strategy Social Media marketing adalah salah satu bentuk marketing yang menggunakan media sosial untuk memasarkan suatu produk, jasa, brand atau isu dengan memanfaatkan khalayak yang berpartisipasi di media sosial tersebut. Sedangkan pendapat Trattne dalam jurnalnya yang berjudul Facebook: A C mendefinisikan Social Media marketing sebagai sebuah proses untuk mendapatkan website traffic atau perhatian massa melalui media sosial yang tersedia. Media sosial tersebut juga dapat digunakan untuk mendorong seorang konsumen untuk mengutarakan pendapatnya terhadap produk atau jasa yang ditawarkan, dan mempublikasikan pendapatnya di dalam jaringan sosial di internet, yang nantinya dapat meningkatkan pengetahuan akan konsumen yang membaca komentar atau pendapat orang tersebut terhadap pasar maupun barang atau jasa yang ditawarkan (Pineiro & Martinez, 2016). Media sosial juga merupakan kumpulan dari aplikasi yang memberikan kebebasan terhadap penggunanya. Media sosial hanya akan berhenti berfungsi jika tidak ada lagi pengguna yang menulis atau mengutarakan pendapatnya ke dalam aplikasi tersebut. Media sosial juga memiliki karakteristik dimana pesan yang disampaikan oleh seorang pengguna tersampaikan tidak hanya pada satu pengguna tetapi tersampaikan kepada banyak pengguna sekaligus, sehingga pesan yang tersampaikan cenderung lebih cepat dari pada media lain (Tritama & Tarigan, 2016)

Promosi (skripsi dan tesis)

Menurut Tjiptono (2002), promosi adalah bentuk komunikasi pemasaran artinya aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang bersangkutan. Adapun tujuan dari promosi seperti yang disampaikan Kotler (2002) adalah: (1) untuk menyebarluaskan nformasi barang atau jasa perusahaan kepada pasar; mendapatkan konsumen baru dan menjaga kesetiaan konsumen untuk membeli dan menggunakan; (3) produk atau jasa perusahaan; (4) meningkatkan penjualan sehingga pendapatan perusahaan akan meningkat; (5) membedakan dan mengunggulkan produk perusahaan dibandingkan dengan produk pesaing; (6) membentuk citra produk atau jasa dan juga nama perusahaan dimata konsumen; (7) dan mengubah tingkah laku dan pendapat konsumen.

Digital Influencer (skripsi dan tesis)

Instagram Digital influence adalah kemampuan untuk mempengaruhi, merubah opini dan perilaku secara online, umumnya melalui social networking. Secara sederhana, digital influencer adalah mereka yang memiliki pengaruh yang besar di sosial media. Para individu berpengaruh ini telah memiliki kepercayaan dari rekanrekan online-nya, dan opini mereka dapat memiliki dampak luar biasa untuk reputasi online, termasuk untuk produk/brand (Ryan & Jones, 2009). Aspek yang dilihat dari seorang digital influencer adalah Reach, Resonance dan Relevance (Solis 2012). Jika seorang digital influencer membuat posting di media sosial, berapa banyak follower yang melakukan engagement dengan postingan mereka melalui like, share, retweet, comment, klik terhadap link atau URL dari iklan, atau lebih jauh melakukan tindakan seperti misalnya mengisi form/pembelian. Engagement ini bisa terjadi jika para digital influencer dimaksud konsisten membangun komunikasi dengan followernya dan memiliki citra/reputasi yang cocok dengan produk yang ditawarkan. Reach merujuk pada jumlah followers dari digital influencer. Namun jumlah follower yang besar tidak selalu menjamin sukses. Yang lebih penting adalah mengetahui fans mana yang sesuai dengan target khalayak dari brand. Resonance adalah tingkat engagement dari follower dengan konten yang dibagikan influencer. Resonance yang menentukan apakah khalayak akan aktif meneruskan konten dari influencer lalu membagikannya lagi. Relevance menggambarkan level kesesuaian dan kesamaan antara nilai-nilai yang dianut digital influencer dan brand image produk. Relevance dapat berupa konten yang dibuat influencer, dan apakah influencer memilki value, budaya dan demografis yang sama dengan target khalayak brand. Dari uraian mengenai digital influencer dapat ditarik kesimpulan bahwa akun digital influencer yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi, mengubah opini dan perilaku secara online di media sosial. Opini mereka memiliki dampak yang luar biasa untuk reputasi produk atau brand

Instagram (skripsi dan tesis)

Aplikasi instagram pertama kali dibuat pada tahun 2011. Kepopuleran Instagram tak dapat dilepaskan darinama Kevin Systrom dan Mike Krieger yang merupakan CEO perusahaan Burbn, Inc. Kedua orang tersebut merupakan tokoh dibalik kesuksesan Instagram yang telah mencapai ratusan juta pengguna aktif di seluruh dunia. Tentu saja hal itu menarik bagi perusahaan lain yang lebih dahulu populer, Facebook, Inc untuk mengambil alih kepemilikan Instagram (Kumparan.com, 19 November 2017). Sejarah media sosial Instagram diawali 9 April 2012. Instagram adalah aplikasi yang digunakan untuk mengunggah dan berbagi foto-foto kepada pengguna lainnya. Foto yang ingin diunggah dapat diperoleh melalui kamera iDevice ataupun foto-foto yang ada di album foto di iDevice tersebut. Foto yang telah diambil melalui aplikasi Instagram dapat disimpan di dalam iDevice tersebut. Penggunaan kamera melalui Instagram juga dapat langsung menggunakan efek-efek yang ada, untuk mengatur pewarnaan dari foto yang dikehendaki oleh sang pengguna. Ada juga efek kamera tilt-shift yang fungsinya memfokuskan sebuah foto pada satu titik tertentu. Setelah foto diambil melalui kamera di dalam Instagram, foto tersebut pun juga dapat diputar arahnya sesuai dengan keinginan para pengguna. Instagram merupakan salah satu media sosial paling populer untuk aplikasi berbagi foto dimana pemilik akun dapat mengupload foto, mengedit, memberi caption, dan membagikan foto di akun Instagram. (Atmoko, 2012). Penguna instagram diantaranya dapat dikategori sebagai berikut Beauty, Traveler, Fashion, Food Traveling dan Anak jajan. Foto-foto yang diunggah melalui Instagram tidak terbatas jumlahnya, namun Instagram memiliki keterbatasan untuk ukuran foto. Ukuran yang digunakan di dalam Instagram adalah dengan rasio 3:2 atau hanya sebatas berbentuk kotak saja. Para pengguna hanya dapat mengunggah foto dengan format itu saja, atau harus menyunting foto tersebut dulu untuk menyesuaikan format yang ada. Setelah para pengguna memilih sebuah foto untuk diunggah di dalam Instagram, maka pengguna akan dibawa ke halaman selanjutnya untuk menyunting foto tersebut  atau yang terbaru dan telepon kamera Android apapun dengan sistem operasi 2.2 (Froyo) atau yang terbaru. A

plikasi ini tersebar melalui Apple App Store dan Google Play. Konten yang dimiliki oleh Instagram adalah: (1) Home page: Halaman utama yang menampilkan linimasa (timeline) foto-foto terbaru dari sesama pengguna yang telah diikuti; (2) Komentar: Sebagai layanan jejaring sosial, Instagram tak lupa menyediakan fitur komentar. Setiap foto yang ada di Instagram bisa dikomentari dengan cara tekan ikon bertanda balon komentar dibawah foto. Maka akan membawa ke halaman komentar, kemudian tulis kesan – kesan mengenai foto pada kotak yang disediakan. Setelah itu tekan tombol ‘Send’; (3) Explore: di Twitter dikenal dengan istilah trending topic, yaitu topic atau pembahasan yang paling banyak diperbincangkan oleh para pengguna. Sedangkan di Instagram, istilahnya adalah ‘Explore’ dengan fungsi dasar yang sama yaitu menampilkan foto yang paling banyak disukai; (4) News feed: Fitur ini menampilkan notifikasi terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan oleh pengguna Instagram. News feed memiliki dua jenis tab yaitu “following” dan “news”: Tab following menampilkan aktivitas terbaru para user yang telah kita follow, mengetahui foto-foto yang disukainya (dengan memberikan ‘like’), pengguna baru yang di-follow, dan apa saja yang dikomentari dan Tab news menampilkan notifikasi terbaru terhadap aktivitas para pengguna Instagram terhadap foto kita, memberikan komentar maupun follow, maka pemberitahuan tersebut akan muncul di tab ini. Kemudian, (5) Follow : untuk mencari teman di Instagram, terdapat menu ‘Find friends’ di halaman ‘Settings’ yang menyediakan beberapa alternatif kanal pencarian. Terdapat lima kanal yang disediakan, yaitu ‘From My Contact List’, ‘Facebook friends’, ‘Twitter friends’, ‘search names and usernames’ dan ‘suggested friends’. Kelimanya dapat digunakan untuk memperbaiki hasil pencarian. (Atmoko, 2012); (6) Sharing setting: Instagram memberi kemudahan kepada penggunanya untuk sharing fotonya ke jejaring sosial lain yang populer. Saat ini ada lima jejaring sosial yang di dukung yaitu twitter, facebook, flickr, tumblr dan foursquare; (7) Filter:: Instagram berupaya untuk mengubah dengan cara sangat sederhana untuk mentransformasikan foto menggunakan beberapa preset filter hanya dengan satu klik. Judul: Membuat judul atau caption foto bisa memberikan kesenangan tersendiri. Tidak ada aturan baku dalam memberikan judul foto, pada umumnya caption lebih bersifat untuk memperkuat karakter atau pesan yang ingin disampaikan pada foto tersebut (Atmoko, 2012); (8) Hashtag: Suatu label (tag) berupa suatu kata yang diberi awalan simbol bertanda pagar (#). Fitur tagar ini penting karena sangat memudahkan pengguna untuk menemukan foto-foto yang tersebar di Instagram dengan label tertentu; (9) Lokasi: Semua ponsel pintar sekarang ini telah dilengkapi dengan fitur geotag. Instagram memaksimalkan teknologi ini dengan menyediakan fitur lokasi. Memanfaatkan fitur geotag yang sudah built-in di ponsel, Instagram memaksimalkan teknologi ini dengan menyediakan fitur lokasi. Sehingga setiap foto dengan fitur geotag yang diunggah akan menampilkan lokasi di mana pengambilannya; (10) Like: Jika menyukai foto yang ada di linimasa atau timeline jangan segan-segan untuk memberikan like. Cara pertama untuk memberikan tanda like adalah dengan menekan tombol ‘like’ dibawah bagian foto. Cara kedua, adalah dengan mengetuk sebanyak dua kali (double tap) pada foto yang ingin diberikan tanda like. tanda like (suka) yang berbentuk hati merah dari para pengikut sangat mempengaruhi postingan foto tersebut untuk menjadi sebuah foto viral. Untuk mendapatkan follower di Instagram terlebih dahulu kita following akun teman-teman kita. Following bisa di dapat dari teman-teman ang juga menggunakan Instagram melalui jejaring sosial seperti Twitter dan dan Facebook; (11) Mentions: Jejaring sosial populer seperti facebook, twitter, dan google plus memiliki fitur mentions yang memungkinkan untuk memanggil pengguna lain. Begitu juga dengan Instagram, kita bisa mentions pengguna lainnya untuk saling menyapa atau memanggil. Mentions bisa diterapkan baik di caption maupun komentar. (Atmoko, 2012). Fasiltas di Instagram antara lain sharing insta story. Tujuan dari mengupload insta story adalah untuk laporan ke teman sesama pengguna. Selain itu juga bertujuan untuk mendapatkan pengakuan dan self activation (aktivitas pribadi) yang menyatakan this is my style. Dengan berbagai fitur yang dikemukakan di atas, media sosial Instagram sangat sesuai dengan target audience-nya orang muda berkisar dari 18-34 tahun. Demikian juga dengan produk yang memiliki kesamaan target audience yang sama dengan target audience pengguna Instagram akan lebih mudah untuk mempromosikan produk maupun jasa

4 C dalam Penggunaan Media Sosial (skripsi dan tesis)

Menurut Chris Heuer, pendiri Social Media Club dan inovator media baru yang dimuat dalam Solis (2010:263) bahwa terdapat 4C dalam menggunakan Media Sosial, yaitu: (1) Context adalah bagaimana seseorang membingkai suatu cerita melalui penggunaan bahasa dan isi pesan. Hal ini dapat berupa grafik, warna dan disain yang menarik; (2) Communication adalah yaitu cara bagaimana menyampaikan dan berbagi (share) yang membuat seseorang mendengar, merespon, dan nyaman untuk membagikan pesan kepada khalayak; (3) Collaboration adalah kerja sama antara pemberi dan penerima pesan, antara akun dengan followers, sehingga pesan dapat tersampaikan dengan efektif dan efisien; (4) Connection adalah cara bagaimana menjalin hubungan yang berkelanjutan. Dari pernyataan Solis, dalam penggunaan media sosial ada konteks dalam isi pesan dan bahasa yang digunakan misalnya foto yang di-upload dalam konteks Hari Valentine, maka pesan dan bahasa yang digunakan berkaitan dengan kasih sayang yang dirayakan pada hari Valentine. Kemudian juga ada komunikasi yang terjadi dalam media sosial, yaitu membaca pesan, merespon dengan memberikan komen dan me-repost kepada pengguna lainnya. Dalam media sosial juga terjadi kerjasama dalam bentuk hastag misalnya mempromosikan produk Lipstik. Berikutnya adalah adanya koneksi yang dapat dilanjutkan dengan chat pribadi.

Computer Mediated Communication dan Media Sosial (skripsi dan tesis)

Shaff, Martin dan Gay (dalam Pearson dkk, 2006: 267) mendefinisikan computer mediated communication atau CMC sebagai interaksi antarmanusia menggunakan komputer berjaringan Internet. Menurut Miller (2009, dalam Ean, 2011), CMC adalah saluran interaktif yang memungkinkan pengguna untuk aktif dan terlibat dalam komunikasi dua arah. Teknologi-teknologi web baru memudahkan semua orang untuk membuat dan menyebarluaskan konten mereka sendiri. Post di Blog, tweet, atau video di YouTube dapat direproduksi dan dilihat oleh jutaan orang secara gratis. Pemasang iklan tidak harus membayar kepada penerbit atau distributor untuk memasang iklannya. Sekarang pemasang iklan dapat membuat konten sendiri yang menarik dan dilihat banyak orang (Zarrella, 2010: 2). Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content. Sedangkan menurut Nasrullah (2016), media sosial menawarkan perangkat atau alat serta teknologi baru yang memungkinkan khalayak (konsumen) untuk mengarsipkan, memberi keterangan, menyesuaikan, dan menyirkulasi ulang konten media (Jenkins, 2002) dan ini membawa pada kondisi produksi media yang Do-It-Yourself (Nasrullah, 2016). Menurut Van Djik, seperti dikutip dari (Nasrullah, 2016), media sosial adalah platformmedia yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu, media sosial dapat dilihat sebagai fasilitator online yang menguatkan hubungan antarapengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial. Dalam Media Sosial terdapat tiga aktivitas yang dapat dilakukan (Joeseph, 2011:27) yaitu: (1) Social Media Maintenance: Merawat Media Sosial dengan melakukan posting secara rutin di dalam Media Sosial, misalnya Facebook atau Twitter. Melakukan interaksi dengan membalas komentar dari anggota. Dalam hal ini harus ada tim kecil yang bertanggung jawab dalam melakukan posting rutin dan menghapus komentar yang kurang baik; (2) Social Media Endorsement: mencari public figure yang memiliki penggemar yang sangat banyak dan memberikan dukungan terhadap Media Sosial yang dimiliki perusahaan. Dalam memilih endorses harus disesuaikan bidangnya dengan produk perusahaan; (3) Social Media Activation: membuat kegiatan yang unik, sehingga dapat menciptakan Word of Mouth (WoM). WoM akan meningkatkan perhatian terhadap produk perusahaan secara signifikan. Dari pendapat di atas, dapat ditarik simpulan bahwa media sosial adalah media interaksi manusia dengan menggunakan komputer berbasis internet. Komunikasi yang terjadi dua arah dan masing-masing user dapat membuat konten (User Generated Content). Di dalam media sosial ada 3 (tiga) hal yang dapat dilakukan, pertama, rutin posting dan melakukan interaksi dengan anggota, kedua, aktivitas menjadi endoser untuk produk yang memiliki kesamaan target audiens dan ketiga melakukan aktivitas Word of Mouth yang mendistribusikan pesan termasuknya diantaranya promosi produk.

Pengaruh Employee Intensity Terhadap Tingkat Sticky Cost Pada Biaya Penjualan Administrasi dan Umum (skripsi dan tesis)

Employee Intensity adalah rasio jumlah karyawan terhadap penjualan bersih (Pithectkeun dan Panmanee, 2012). Biaya gaji termasuk dalam komponen biaya penjualan administasi dan umum, sehingga penjualan memperngaruhi biaya gaji. Menghentikan tenaga kerja sangat mahal karena perusahaan harus mengeluarkan biaya pesangon. Perusahaan akan kehilangan investasi yang spesifik ketika pekerja diberhentikan saat penjualan menurun dan menambah karyawan saat penjualan meningkat sehingga biaya gaji bersifta sticky (Windyastuti dan Biyanto, 2005 dalam Wahyuningtyas dan Nugrahanti, 2014). Namum apabila manajer mengambil keputusan untuk melakukan adjustment cost terhadap biaya gaji dengan kata lain manajer melakukan pemutusan hubungan kerja maka sticky cost tidak terjadi (Anderson et al, 2003 dalam Wahyuningtyas dan Nugrahanti, 2014)

Pengaruh Asset Intensity Terhadap Tingkat Sticky Cost (skripsi dan tesis)

Pada Biaya Penjualan, Administrasi dan Umum Ketika volume penjualan mengalami penurunan, manajer akan berusaha menurunkan skala pembelian pada persediaan bahan baku yang pengadaannya dengan melakukan pembelian dengan pihak luar. Manajer   akan lebih mudah untuk mengurangi atau menghentikan bahan baku tersebut. Akan tetapi untuk input yang diperoleh dari dalam perusahaan (Aset perusahaan), pelepasan aset ketika terjadi penurunan penjualan sangatlah mahal. Perusahaan harus membayar biaya pembelian aset dan kehilangan investasi perusahaan yang spesifik. Pada saat terjadi penurunan penjualan, perusahaan yang memiliki aset lebih tinggi akan mengalami kelengketan biaya karena menghadapi dilema yang lebih besar. Sehingga, semaki tinggi intensitas aset maka kelengketan biaya pada biaya penjualan, administrasi, dan umum akan semakin tinggi juga (Windyastuti dan Biyanto, 2005 dalam Nugroho dan Endarwaty 2013). Penelitian Widyastuti dan Biyanto (2005) dalam Nugroho dan Endarwaty (2013) menemukan bahwa tingkat sticky cost pada biaya penjualan, administrasi, dan umum meningkat sesuai dengan asset intensity karena biaya yang ada dalam aset sepeti biaya perawatan dan biaya depresiasi termasuk kedalam komponen biaya penjualan, administrasi dan umum.

Pengaruh Sticky Cost Pada Biaya Penjualan, Administrasi dan Umum (skripsi dan tesis)

Biaya dikatakan sticky apabila besarnya kenaikan biaya yang dihubungkan dengan kenaikan volume penjualan lebih besar dianding besarnya penurunan biaya yang dihubungkan dengan penurunan volume yang ekuivalen (Cooper dan Kaplan, 1998 dalam Anderson et al 2003). Sticky Cost terjadi karena adanya ketidakseimbangan penyesuaian sumber daya yaitu lebih lama dalam proses penyesuaian yang menurun dibanding proses penyesuaian yang meningkat. Menurut Balakrishnan dan Gruca (2008), model sticky cost mengakui bahwa biaya yang dikeluarkan dalam suatu periode tergantung ke beberapa derajat pada biaya yang dikeluarkan dalam periode sebelumnya. Secara khusus, sticky cost terjadi karena peran manajer dalam menyesuaikan sumber daya berkomitmen. Ketika manajer percaya bahwa penurunan volume penjualan cenderung bertahan, manajaer aka mengambil keputusan untuk melepas sumber dayanya pada saat volume penjualan mengalami penurunan. Penelitian Anderson et al (2003) menemukan biaya penjualan, administrasi dan umum bersifat sticky terhadap penjualan yaitu kenikan biaya penjualan, administrasi dan umum ketika penjualan mengalami penurunan. Banyak penelitian terdahulu yang menggunakan penjualan bersih sebagai proxy dari volume penjualan, karena volume penjualan tidak dapat diobservasi secara langsung. Perilaku biaya dapat dipelajari dengan menghubungkan aktivitas perusahaan dan biaya. Dalam hal ini, perilaku 28 biaya pada biaya penjualan, admninistrasi dan umum dihubungkan dengan volume penjualan karena volume penjualan memperngaruhi beberapa komponen biaya penjualan, administrasi dan umum. Biaya penjualan, administrasi dan umum memiliki komponen tetap dan komponen variabel maka biaya ini memiliki sifat semi variabel. Biaya penjualan, administrasi dan umum menjadi sticky ketika besarnya biaya penjualan, administrasi dan umum meningkat lebih tinggi pada saat volume penjualan naik, namum tidak sebaliknya ketika volume penjualan menurun tidak diikuti dengan penurunan yang tinggi pada biaya penjualan, administrasi dan umum (Wahyuningtyas dan Nugrahanti, 2014).

Variasi Tingkatan Sticky Cost (skripsi dan tesis)

a. Asset Intensity
 Aset merupakan kekayaan yang mempunyai manfaat ekonomi berupa benda berwujud dan benda tak berwujud yang dapat dikuasai oleh yang berhak akibat transaksi. Pada dasarnya aset diklasifikasikan menjadi bagian utama yaitu aset lancar dan aset tetap (aset tidak lancar). Aset lancar adalah aset perusahaan yang dimiliki oleh perusahaan dan mempunyai umur ekonomis paling lama satu tahun dalam siklus kegiatan yang normal (M. Nafarin, 2007:45). Sedangkan aset tetap merupakan komponen aset yang paling besar nilainya di dalam neraca (Laporan Posisi Keuangan) sebagian besar perusahaan, terutama perusahaan padat modal seperti perusahaan manufaktur. Martani et al (2012) dalam Amelia (2015) mendefinisikan aset tetap adalah aset berwujud yang :
a. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain atau untuk tujuan administrasi
 b. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode. Martani et al (2012) dalam Amelia (2015) menjelaskan bahwa aset tetap suatu entitas memiliki masa manfaat lebih dari satu periode dan seiring dengan pemakaian aset tersebut maka kemampuan potensial aset tersebut untuk menghasilak pendapatan akan semakin berkurang. Oleh  karena itu, biaya perolehan aset harus dialokasikan sepanjang umur dari aset tersebut secara sistematis. Depresiasi adalah metode pengalokasian biaya aset tetap untuk menyusutkan nilai secara sistematis selama periode manfaat dari aset tersebut. Dalam manajemen pajak, depresiasi dapat dijadikan sebagai pengurang beban pajak. Berdasarkan konsep-konsep diatas, asset intensity adalah rasio aset dibandingkan dengan penjualan yang digunakan untuk melihat adanya pengaruh sticky cost terhadap biaya penjualan, administrasi, dan umum. Ketika volume penjualan mengalami penurunan, manajer akan terus berusaha menurunkan
b. Employee Intensity
Employee intensity adalah rasio jumlah karyawan terhadap penjulan bersih. Biaya gaji termasuk dalam komponen biaya penjulan, administrasi, dan umum sehingga penjualan memperngaruhi biaya gaji. Menurut subri, karyawan merupakan setiap penduduk yang masuk ke dalam usia kerja (berusia di rentang 15 hingga 64 tahun), atau jumlah total seluruh penduduk yang ada pada sebuah negara yang memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan akan tenaga yang mereka produksi, dan jika mereka mau berkecimpung / berpartisipasi dalam aktivitas itu. Sedangkan menurut Hasibuan (2012) pengertian karyawan adalah setiap orang yang menyediakan jasa (baik dalam bentuk pikiran maupun dalam bentuk tenaga) dan mendapatkan balas jasa ataupun kompensasi yang besarannya telah ditentukan terlebih dahulu.

Sticky Cost Pada Biaya Penjualan, Administrasi dan Umum (skripsi dan tesis)

Model tradisional perilaku biaya terkait dengan biaya untuk berbagai tingkat aktivitas tanpa mempertimbangkan bagaimana intervensi manajerial memperngaruhi proses sumber daya penyesuaian, namum perilaku biaya berhubungan dengan keputusan manajer dalam menghadapi ketidakpastian permintaan dimasa mendatang. Biaya menyeseuaikan dengan perubahan volume sumber daya yang sudah dipesan manajer, sedangkan manajer perlu berhati-hati dalam perencanaan pesanan sumber daya, yaitu menunda pesanan sampai mendapat kepastian permintaan yang turun (Anderson et al, 2003 dalam Hidayatullah et al, 2011). Menurut Anderson et al (2006) dala Apriliawati dan Nugrahanti (2013) perilaku sticky cost pada biaya penjualan, administrasi dan umum dapat diperlajari dengan menghubungkan aktivitas penjualan karena volume penjualan memiliki pengaruh pada beberapa komponen biaya penjualan, admnistrasi dan umum. Ketika manajemen memutuskan untuk mempertahankan utilisasi sebenarnya menunda penyesuaian biaya yang pada akhirnya membiarkan biaya penjualan, admninistrasi dan umum tetap. Selain itu, penjualan bersih mempengaruhi biaya penjualan, administrasi dan umum. Komponen penyusun biaya penjualan, administrasi dan umum antara lain biaya gaji karyawan kantor, biaya perbaikan dan pemeliharaan aset kantor, dan biaya penyusutan gedung

Sticky Cost (skripsi dan tesis)

Biaya dikatakan sticky apabila kenaikan biaya cenderung mudah berubah ketika penjualan meningkat dibandingkan ketika penjualan menurun. Malcom (1991) dalam Apriliawati dan Nugrahanti (2013) menemukan bahwa beberapa biaya memang sulit untuk disesuaikan dengan aktivitas produksinya. Biaya  yang sulit untuk disesuaikan yaitu biaya tetap atau fixed cost karena biaya tersebut cenderung melekat dan sulit untuk mengikuti walaupun aktivitas perusahaan sedang menurun. Sifat biaya itulah yang menyebabkan biaya disebut sticky. Biaya dapat dikatakan sticky jika besaran peningkatan biaya ketika volume aktivitas perusahaan mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan ketika volume penjualan mengalami penurunan (Cooper dan Kaplan, 1998; Anderson et al, 2003; Subramanyam dan Weidenmier, 2003; Windyastuti dan Biyanto, 2005; Aprialiawati dan Nugrahanti, 2013). Menurut Windyatuti dan Biyanto (2005) sticky cost terjadi karena pertama, ketidakseimbangan penyesuaian sumber daya yaitu lebih lambat dalam proses penyesuaian yang menurun dibanding proses penyesuaian yang meningkat. Kedua, biaya penjualan, administrasi dan umum terjadi ketika manajer memutuskan tetap memakai sumber daya yang tak terpakai dibanding melakukan penyesuaian ketika volume menurun. Yasukata dan Kajiwara (2011) dalam Apriliawati dan Nugrahanti (2013) mengatakan hal sama yang berkaitan dengan the adjustment delay theory dan the deliberate decision theory dengan kesimpulan yang diambil bahwa biaya menjado sticky ketika manajer memperkirakan bahwa volume penjualan dimasa mendatang akan terjadi peningkatan. Manajer akan mengambil keputusan yang disengaja dengan tetap mempertahankan sumber dayanya yang berlebihan dalam jangka pendek sehingga manajer tidak melakukan adjustment cost, meskipun penjualan yang terjadi pada peridoe yang berjalan mengalami penurunan. Hal inilah yang akan menyebabkan terjadinya perilaku sticky cost.

Adjustment Cost Theory (skripsi dan tesis)

Adjustment Cost Theory diperkenalkan pertama kali oleh Lucas pada tahun 1967. Pada saat itu terjadi adanya goncangan pada perusahaan yang tidak bisa dengan langsung merubah faktor produksi tanpa biaya penyesuaian. Hal ini menunjukkan bahwa untuk merubah tingkat faktor produksi yang digunakan sangat memerlukan biaya yang mahal. Menurut Hamermesh (1996) dalam Pitchekeun dan Panmanee (2012) mengatakan bahwa penyesuaian biaya secara implisit dapat menghasilkan nilai output yang hilang karena biaya penyesuaian tidak dapat diukur pada dan dilaporkan pada laporan pengeluaran pendapatan yang dihasilkan oleh akun perushaan. Jika manajer membutuhkan kenaikan atau penurunan sumber daya, maka biaya penyesuaian harus dikeluarkan. Oleh karena itu, manajer mungkin ragu untuk mengurangi sumber daya saat penjualan menurun.

Pengaruh Leverage terhadap Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Leverage merupakan rasio antara total kewajiban dengan total aset. Semakin besar rasio leverage, berarti semakin tinggi nilai utang perusahaan. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Vorst (2016) dalam hipotesis debt covenant bahwa motivasi debt covenant disebabkan oleh munculnya perjanjian kontrak antara manajer dengan perusahaan yang berbasi kompensasi manajerial (Ang et al., 2015). Oleh sebab itu, perusahaan yang mempunyai rasio leverage yang tinggi menunjukkan bahwa proporsi hutangnya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya, dan akan cenderung melakukan manipulasi dalam bentuk manajemen laba. Jadi dapat disimpulkan bahwa leverageberpengaruh terhadap manajemen laba.  Leverage diketahui sebagai rasio antara total kewajiban dengan total aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Semakin besar rasio leverage, maka semakin tinggi juga nilai hutang suatu perusahaan. Perusahaan yang memiliki rasio leverage tinggi, berarti proporsi hutangnya lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya. Perusahaan yang memiliki rasio leverage tinggi akan lebih cenderung untuk melakukan manipulasi dalam bentuk manajemen laba. Karena perusahaan degan tingkat hutang yang tinggi tentunya memerlukan laporan keuangan yang terlihat baik agar para investor tetap tertarik untuk menanamkan modalnya di perusahaan. Penelitian Kothari et al., (2016) menunjukkan bahwa leverage, kualitas audit, dan profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan kepemilikan institusional, kepemilikan manajemen, komite audit, komisaris independen, independensi, tidak mmeiliki pengaruh terhadap manajemen laba. Farrel et al., (2014) memiliki hasil penelitian tersebut adalah leverage berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan kepemilikan institusional, kepemilikan manajerial, dan Komite audit tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba

Pengaruh Komite audit terhadap Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Komite audit adalah sebuah badan yang dibentuk oleh dewan direksi untuk mengaudit operasi dan keandalan. Badan ini bertugas untuk membantu Dewan Komisaris untuk memastikan bahwa laporan keuangan disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, struktur pengendalian internal perusahaan dilaksanakan dengan baik, pelaksanaan audit internal dan eksternal dilaksanakan sesuai dengan standar audit yang berlaku, dan tindak lanjut temuan hasil audit dilaksanakan oleh manajemen. Komite audit yang ada dalam suatu  perusahaan, maka proses pelaporan keuangan perusahaan akan diawasi dengan baik. Laporan keuangan digunakan untuk menilai posisi keuangan dan kinerja perusahaan pada suatu periode tertentu. Laporan keuangan berperan penting dalam pekerjaan seorang manajer, manajer menggunakan laporan keuangan sebagai sarana untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya atas sumber daya pemilik. Faktor penting dalam laporan keuangan yang dipergunakan untuk menilai kinerja manajer yaitu laba. Berdasarkan Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No. 1, informasi laba merupakan perhatian utama untuk menaksir kinerja atau pertanggungjawaban manajemen. Manajemen menyadari bahwa terdapat kecenderungan untuk memperhatikan laba dalam menilai kinerja seorang manajer, hal tersebut mendorong timbulnya perilaku yang menyimpang, salah satu bentuknya adalah laporan keuangan yang kurang konservatif. Komite Audit bertugas mengaudit laporan keuangan perusahaan dan secara independen memberikan opini terhadap laporan keuangan perusahaan. Penelitian Vorst (2016) menunjukkan bahwa variabel dependen manajemen laba dan variabel independen kepemilikan institusional, proporsi Dewan Komisaris independen, ukuran Dewan Komisaris, keberadaan komite audit, dan ukuran perusahaan. Hasil dari penelitian tersebut adalah kepemilikan institusional, proporsi Dewan Komisaris independen,   ukuran Dewan Komisaris, keberadaan komite audit, dan Komite audit tidak bepengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Rahardja (2013) hasil penelitiannnya temenunjukkan bahwa adalah kecakapan manajer, proporsi Dewan Komisaris independen, dan komite audit berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan kepemilikan institusional tidak berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen laba

 Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Houqe et al., (2017) menelaah tentang peran Dewan Komisaris dengan latar belakang bidang keuangan dalam mengurangi tindakan manajemen laba. Penelitian ini mengemukakan bahwa makin sering Dewan Komisaris bertemu, maka akrual kelolaan perusahaan makin kecil. Jadi dapat disimpulkan bahwa proporsi Dewan Komisaris independen berpengaruh terhadap manajemen laba. Agar laporan keuangan menghasilkan integritas laporan keuangan yang bermutu sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance maka corporate governance perusahaan harus mempunyai struktur yang dikelola dengan baik, salah satu struktur corporate governance yang mempunyai peranan dan posisi terbaik untuk melaksanakan fungsi pengawasan adalah peranan komisaris independen agar tidak terjadi manipulasi data akuntansi di dalam laporan keuangan. Keberadaan komisaris independen yang terdapat dalam perusahaan memiliki fungsi untuk mengawasi dan melindungi pihak diluar manajemen perusahaan, menjadi penengah dalam perselisihan yang terjadi diantara para manajer 32 internal dan mengawasi kebijakan manajemen serta memberikan nasihat kepada manajemen. Komisaris independen diproksikan menggunakan KI (Komsaris Independen), yaitu terdiri dari anggota Dewan Komisaris yang berasal dari luar perusahaan terhadap total Dewan Komisaris (Pham et al., 2011). Menurut Edmans (2014) menemukan bahwa kepemilikan manajerial, komposisi Dewan Komisaris independen, jumlah pertemuan komite audit, kepemilikan institusional, ukuran Dewan Komisaris, dan Komite audit mempunyai pengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Sedangkan leverage tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap manajemen laba

Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Kepemilikan institusional yang tinggi dapat membatasi manajer untuk melakukan manipulasi dalam manajemen laba. Investor intitusional mampu mengurangi insentif bagi perilaku oportunistik manajer dengan memberikan derajat monitoring yang lebih tinggi  terhadap perilaku manajerial dibandingkan dengan investor individu (Chang et al., 2017). Kolsi dan Grassa (2017) menemukan bahwa dengan adanya kepemilikan institusional yang tinggi mampu membatasi manajer untuk melakukan manajemen laba. Tetapi yang perlu menjadi perhatian adalah manajemen laba dapat bersifat efisien, tidak selalu oportunistik. Jika manajemen laba tersebut efisien, maka kepemilikan institusional yang tinggi justru akan meningkatkan keinformatifan laba dalam mengemukakan informasi privat, tetapi jika manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan bersifat oportunis maka kepemilikan institusional yang tinggi akan membatasi manajemen laba. Jadi dapat disimpulkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap manajemen laba. Kepemilikan instisusional merupakan kepemilikan saham oleh pemerintah, institusi keuangan, institusi berbadan hukum, institusi luar negeri, dana perwalian dan institusi lainnya. Kepemilikan institusional memiliki arti penting dalam memonitor manajemen karena dengan adanya kepemilikan oleh institusional akan mendorong peningkatan pengawasan yang lebih optimal (Rashid et al., 2018). Pengawasan oleh investor institusional dengan melakukan menempatkan dewan ahli (decision expert) dan tidak dibiayai oleh perusahaan. Dewan ahli tidak berada dibawah pengawasan Chief 31 Executive Official (CEO) sehingga dapat melakukan fungsi pengawasan terhadap kinerja manajer dengan lebih efektif.

Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Johl et al., (2016) menyatakan bahwa kepemilikan saham yang besar nilai ekonomisnya memiliki insentif untuk mengawasi. Ketika kepemilikan manajemen rendah, maka insentif terhadap kemungkinan terjadinya perilaku oportunistik manajer akan mengalami peningkatan. Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat menyeimbangkan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham dengan manajemen (Audousset et al., 2016). Oleh sebab itu permasalahan keagenan diasumsikan dapat hilang ketika seorang manajer juga merupakan seorang pemilik. Jadi dapat disimpulkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Kepemilikan manajerial merupakan kepemilikan saham oleh manajemen yang diukur dengan presentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen. Kepemilikan saham yang dilakukan oleh manajemen dapat menyetarakan kepentingan antara manajemen dan pemegang saham, jadi dengan adanya kepemilikan manajerial, manajer akan 29 cenderung bertindak dalam kepentingan pemegang saham karena mereka juga merupakan bagian dari pemegang saham, antara lain dengan tidak memanipulasi informasi yang ada dalam laporan keuangan. Proksi dapat digunakan untuk menghitung kepemilikan manajerial menggunakan MOWN (Managerial Ownwrship), yaitu jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen dibagi jumlah saham yang beredar (Claessens dan Yurtoglu, 2013). Penelitian Dai (2017) mengemukakan bahwa bahwa kepemilikan manajerial serta kepemilikan institusional berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Namun proporsi Dewan Komisaris independen dan Komite audit tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

Manajemen Laba (skripsi dan tesis)

Menurut Allen et al., (2013), definisi manajemen laba yaitu perilaku oportunistik yang dilakukan oleh manajemen perusahaan dengan tujuan asimetri informasidan keleluasaan dalam menggunakan dan memilih metode akuntansi. Menurut Ang et al., (2015), cara pemahaman atas manajemen laba dibagi menjadi dua. Pertama, melihatnya sebagai perilaku oportunistik manajer untuk memaksimumkan kemampuannya dalam menghadapi kontrak kompensasi, kontrak utang, dan political costs. Kedua, memandang manajemen laba dari perspektif efficient contracting, dimana manajemen laba dapat memberi manajer fleksibilitas untuk melindungi diri mereka dan perusahaan dalam mengantisipasi kejadian yang tak terduga untuk keuntungan berbagai pihak yang terlibat dalam kontrak. Dengan demikian, manajer dapat mempengaruhi nilai pasar saham perusahaannya melewati manajemen laba, misalnya dengan membuat perataan laba (income smoothing) dan pertumbuhan laba sepanjang waktu.
 Manajemen laba manipulasi data dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan maksud untuk memperoleh keuntungan pribadi. Perusahaan yang akan menjual sahamnya kepada publik, maka manajer perlu memberikan informasi kepada publik mengenai kondisi keuangan perusahaannya. Hal ini mendorong manajer untuk melakukan earnings smoothing. Kondisi ini terjadi, baik pada saat perusahaan melakukan intial public offering/IPO maupun pada saat melakukan penawaran seasoned equity offerings/SEO. Dua kondisi tersebut berbeda dalam hal tersedianya laporan keuangan yang dipublikasikan disebabkan dalam penawaran kedua dan seterusnya laporan keuangan yang dipublikasikan sudah disediakan kepada publik. Menurut Boissel et al., (2016), motivasi adanya manajemen laba ada tiga, yaitu: 1. Hipotesis program bonus (The bonus plan hypothesis), yang didasarkan adanya dorongan manajer perusahaan untuk mendapatkan bonus berdasarkan laba yang dilaporkan oleh manajer. Motivasi tersebut mendorong manajer untuk memilih prosedur akuntansi yang dapat menggeser laba dari periode yang akan datang ke periode saat ini (Scott, 2000). 2. Hipotesis perjanjian utang (The debt covenant hypothesis). Motivasi debt covenant disebabkan oleh munculnya perjanjian kontrak antara manajer dan perusahaan yang berbasis kompensasi manajerial. 3. Hipotesis biaya politik (The political cost hyphothesis). Motivasi politik timbul karena manajemen memanfaatkan kelemahan akuntansi yang 19 menggunakan estimasi akrual serta pemilihan metode akuntansi dalam rangka menghadapi berbagai regulasi yang dikeluarkan pemerintah. Manajemen laba merupakan suatu kejadian atau fenomena yang sulit untuk dihindari karena kegiatan ini merupakan dampak dari penggunaan dasar akrual dalam menyusun laporan keuangan. Manajemen laba merupakan dampak dari akuntansi sebagai salah sarana komunikasi antara pihak-pihak yang berkepentingan dan kelemahan inheren yang ada pada akuntansi yang menyebabkan adanya judgement (Edmans, 2014). Discretionary accrual merupakan komponen akrual yang memungkinkan manajer untuk melakukan intervensi dalam proses penyusunan laporan keuangan, sehingga laba yang dilaporkan dalam keuangan tidak mencerminkan nilai atau kondisi perusahaan yang sebenarnya. Kim et al., (2016) menyatakan konsep model akrual memiliki dua komponen, yaitu komponen non-discretionary dan discretionary. Komponen discretionary accruals merupakan bagian dari akrual yang memungkinkan manajer melakukan intervensinya dalam memanipulasi laba perusahaan. Komponen discretionary accruals diantaranya terdiri dari future warranty expense, dan capitalization assets. Sedangkan komponen non-discretionary accruals ditentukan oleh faktor-faktor lain yang tidak dapat diawasi oleh manajer perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Dai (2017) mengemukakan bahwa manajemen laba merupakan gambaran untuk hasil tata kelola perusahaan karena alasan berikut. Pertama, manajemen laba dapat diamati secara tepat waktu.
 Sebaliknya, mekanisme tata kelola, termasuk intervensi langsung dalam perubahan strategis atau dampak tidak langsung melalui perdagangan atau ancaman perdagangan, sering tidak dapat diamati. Kedua, sedangkan ada lebih sedikit kesepakatan mengenai mekanisme tata kelola yang optimal seperti ukuran dewan atau independensi dewan untuk perusahaan yang berbeda. Hasil tata kelola, seperti manajemen laba, adalah refleksi yang lebih komprehensif dari karakteristik tata kelola blokir dari pada mekanisme tata kelola khusus. Zainuldin dan Lui (2018) mengemukakan bahwa manajemen laba telah disorot sebagai salah satu masalah etika paling penting dalam literatur akuntansi. Manajemen laba terjadi ketika para manajer menggunakan keleluasaan mereka untuk menyesuaikan angka-angka laporan keuangan dengan maksud untuk menyesatkan beberapa pemangku kepentingan atau untuk mempengaruhi hasil kontrak. Oleh karena itu, manajemen laba ditandai oleh tindakan oportunistik manajer dalam memanipulasi angka akuntansi dengan tujuan membuat mereka lebih baik dengan mengorbankan pemangku kepentingan lainnya. Selain itu, manajemen laba juga mengurangi kualitas pelaporan keuangan karena angkaangka akuntansi yang dimanipulasi tidak secara akurat mencerminkan kondisi ekonomi mendasar yang sebenarnya dan karenanya, mengurangi kemampuan pengguna laporan keuangan untuk membuat keputusan. Penelitian yang dilakukan oleh Shan (2015), penelitian ini menyelidiki apakah manajemen laba mengurangi tingkat relevansi nilai dan apakah tata kelola perusahaan yang baik menahan manajemen laba. Menggunakan data hand collected yang terdiri dari 1.012 observasi tahun perusahaan dari semua perusahaan yang terdaftar di Shanghai SSE 180 dan Shenzhen SSE 100, hasilnya menunjukkan bahwa dampak negatif dari relevansi nilai bagi perusahaan yang terlibat dalam manajemen laba lebih besar daripada perusahaan yang tidak terlibat dalam keterlibatan manajemen laba. Selain itu, perusahaan dengan praktik tata kelola perusahaan yang baik lebih cenderung membatasi manajemen laba daripada yang tidak. Chang et al., (2018) melakukan penelitian untuk menyelidiki apakah manajemen laba nyata dikaitkan dengan manfaat pencegahan atau biaya agensi kepemilikan kas. Peneliti menemukan bahwa manajemen laba riil merusak nilai dari kepemilikan kas. Namun, nilai kepemilikan tunai tidak terkait dengan manajemen laba berbasis akrual, yang tidak berpengaruh pada arus kas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen laba riil merusak nilai kepemilikan kas terutama di perusahaan yang memiliki masalah agensi potensial atau perusahaan yang menghadapi kendala keuangan. Selain itu, manajemen laba yang nyata mempengaruhi arus kas dari aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan, dan merusak nilai arus kas dari kegiatan bisnis masing-masing. Secara keseluruhan, penelitian ini mendukung kesimpulan bahwa manajemen laba riil dikaitkan dengan biaya agensi kepemilikan kas. Penelitian tentang “Earnings management, corporate governance and expense stickiness” yang dilakukan oleh Xue dan Hong (2015) mengemukakan bahwa keluwesan biaya dan pengeluaran (Cost and expense stickiness) adalah masalah penting dalam penelitian akuntansi dan ekonomi, dan literatur telah menunjukkan bahwa kelengketan biaya tidak dapat dipisahkan dari motivasi manajer. Dalam penelitian ini, peneliti menguji efek yang manajemen laba pada kelengketan biaya. Mendefinisikan laba positif kecil atau laba kecil meningkat sebagai manajemen laba, peneliti mengamati kelonggaran biaya yang signifikan dalam sub-sampel non-pendapatan-manajemen, dibandingkan dengan subsampel pengelolaan laba. Ketika pengeluaran dibagi menjadi R & D, iklan dan pengeluaran umum lainnya, kita menemukan bahwa manajer mengendalikan pengeluaran terutama dengan mengurangi biaya umum. Peneliti lebih lanjut juga memeriksa efek corporate governance pada kelengketan pengeluaran. Dengan menggunakan analisis faktor, peneliti mengekstrak delapan faktor utama dan menemukan bahwa tata kelola perusahaan yang baik mengurangi cost stickiness. Akhirnya, peneliti menyelidiki efek interaksi manajemen laba dan tata kelola perusahaan pada cost stickiness. Hasil empiris menunjukkan bahwa good corporate governance dapat lebih mengurangi cost stickiness, meskipun efeknya tidak sekuat manajemen laba. Penelitian berjudul “Corporate Governance, Earnings Management and Tax Management” yang dilakukan oleh Mulyadi dan Anwar (2014) melakukan penelitian dengan fokus tata kelola perusahaan, pajak, serta manajemen laba, dimana peneliti mengungkapkan bahwa beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ada dampak yang signifikan dari tata kelola perusahaan terhadap manajemen laba perusahaan dan manajemen pajak perusahaan. Dalam 23 penelitian ini peneliti memfokuskan pada jumlah dewan, jumlah pengungkapan kompensasi dewan dan dewan independen sebagai proksi corporate governance. Peneliti menggunakan akrual diskresioner untuk mengukur manajemen laba, dan tarif pajak efektif sebagai pengukuran manajemen pajak. Temuan kami menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan dari tata kelola perusahaan terhadap manajemen laba dan manajemen pajak. Penelitian tentang “Employee Diff, Free Cash Flow, Corporate Governance and Earnings Management” yang dilakukan oleh Nasution dan Bukit (2015) mengemukakan bahwa manipulasi laba telah menjadi tren negatif dalam literatur akuntansi, yang dianggap sebagai alat bagi manajer untuk memenuhi kepentingan pribadi mereka. Dalam hal ini, para manajer mengubah dan memanipulasi laba, dengan tujuan untuk menipu dan menyesatkan pandangan pembaca laporan keuangan, tentang kondisi riil perusahaan. Karena manipulasi pendapatan adalah praktik yang tidak baik, itu mengurangi transparansi dan meningkatkan informasi penipuan. Manajemen laba yang dilakukan secara sengaja oleh manajer dapat dianggap sebagai penyimpangan atau penipuan. SEC di Amerika Serikat mengungkapkan beberapa perusahaan besar yang bangkrut disebabkan oleh praktik manipulasi laporan keuangan melalui manajemen laba. Manajer memanipulasi laba atas dorongan dua motif. Pertama, motif oportunis bahwa manajer mengubah angka laba perusahaan untuk menyesatkan investor untuk memenuhi kepentingan pribadi manajer. Kedua, motif informasi, yaitu manajer mengimplementasikan manajemen laba untuk 24 menyampaikan informasi pribadi mereka dan harapan tentang prospek masa depan perusahaan. Penelitian yang dilakukan Luthan dan Ilmainir (2015) yang berjudul “The effect of good corporate governance mechanism to earnings management before and after IFRS conergence”, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan dalam mekanisme “Good Corporate Governance” pada manajemen laba, sebelum dan sesudah PSAK converence IFRS, pada perusahaan yang terdaftar di BEI pada tahun 2010-2013. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 136 perusahaan manufaktur, dimana sampel yang didapat adalah 65 perusahaan sesuai dengan area pemilihan sampel. Mekanisme GCG adalah variabel independen yang mencakup mekanisme internal dan eksternal. Studi ini menyimpulkan bahwa pengaruh mekanisme GCG yang berbeda terhadap manajemen laba, tergantung pada proxy yang digunakan untuk mekanisme GCG. Riwayati et al., (2015) dengan penelitian tentang “Implementation of Corporate Governance Influence to Earnings Management”, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh implementasi tata kelola perusahaan terhadap praktik manajemen laba. Penelitian ini menggunakan data primer dengan mengumpulkan 70 responden. Responden terdiri dari para ahli, manajer, pembuat keputusan, dan pemilik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata kelola perusahaan yang baik mengurangi efek buruk dari manajemen laba. Kazemian dan Sanusi (2015) dengan penelitian tentang “Earnings Management and Ownership Structure”, penelitian mengemukakan bahwa  manajemen laba memiliki sejarah panjang dan kaya. Konflik keagenan, insentif, rasionalisasi, peluang plus memiliki kemampuan di antara para manajer untuk memanipulasi laporan keuangan membuat mereka melakukan penipuan. Celah dalam standar atau penyimpangan dari kegiatan operasional nyata mendorong situasi ini untuk memperpanjang. Menurut teori agensi, pemisahan kepemilikan dan kontrol memunculkan insentif manajer untuk memilih dan menerapkan estimasi dan teknik akuntansi yang bisa menambah kekayaan mereka sendiri. Masalah ini telah menjadi lebih penting dalam beberapa tahun terakhir karena lebih banyak perusahaan terdaftar di bursa saham sebagai perusahaan publik. Dalam ulasan ini, peneliti menekankan studi yang memajukan pemahaman manajerial manajemen laba dan teori agensi. Tulisan ini bertujuan untuk meninjau pada beberapa penelitian besar yang dilakukan dari berbagai negara, memeriksa hubungan antara struktur kepemilikan (dan subsetnya) dan manajemen laba. Nazir dan Afza (2018) dengan penelitian tentang “Does managerial behavior of managing earnings mitigate the relationship between corporate governance and firm value? Evidence from an emerging market” mengemukakan bahwa hubungan antara tata kelola perusahaan dan pilihan manajerial untuk penciptaan nilai adalah topik yang terus menarik minat para peneliti. Salah satu keputusan manajerial paling signifikan yang mempengaruhi nilai adalah Discretionary Earnings Management (DEM) yang merupakan penyesuaian penilaian dalam laba akuntansi perusahaan yang dilaporkan oleh manajer untuk  menaikkan nilai perusahaan untuk sementara. Struktur tata kelola perusahaan yang efektif untuk mengendalikan perilaku oportunistik para manajer ini mungkin dapat membuat laba akuntansi lebih dapat diandalkan dan lebih informatif bagi para pemangku kepentingan dan karenanya, meningkatkan nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tata kelola perusahaan dalam meningkatkan nilai perusahaan bersama dengan peran moderat DEM. Hasilnya melaporkan bahwa tata kelola perusahaan secara signifikan dan positif mempengaruhi nilai perusahaan yang menegaskan peran positif tata kelola perusahaan dalam memitigasi masalah agensi dan meningkatkan nilai perusahaan. Selain itu, mekanisme tata kelola perusahaan dapat mengurangi perilaku oportunistik manajer dalam memanipulasi laba yang dilaporkan. Lebih lanjut, hasil melaporkan bahwa perilaku manajer adalah oportunistik terhadap pengelolaan laba dan mereka menghancurkan nilai perusahaan saat ini dan selanjutnya dengan memanipulasi laba akuntansi yang dilaporkan. Akhirnya, perilaku oportunistik para manajer untuk memanipulasi laba secara negatif memoderasi hubungan positif yang positif dari tata kelola perusahaan dan nilai perusahaan

Teori Keagenan (skripsi dan tesis)

Manajemen laba merupakan suatu kegiatan manipulasi data laporan keuangan yang dilakukan oleh manajer dikarenakan manajer lebih banyak   mengetahui informasi tentang perusahaan yang dikelolanya. Pemisahan antara pemilik dan pengelola dapat menimbulkan masalah keagenan, masalah tersebut adalah ketidak sejajaran kepentingan antara pemegang saham atau prinsipal (principal) dengan manajer atau agen (agent). Teori keagenan terkait dengan hubungan kontraktual antara seluruh anggota di perusahaan. Razzaque et al., (2016) menjelaskan bahwa hubungan agensi terjadi ketika satu orang atau lebih (prinsipal) mempekerjakan orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa lalu kemudian menetapkan wewenang pengambilan keputusan. Prinsipal merupakan pemegang saham atau investor, sedangkan agen merupakan manajemen yang mengelola perusahaan atau manajer. hubungan keagenan pada dasarnya adalah pemisahan fungsi antara kepemilikan di investor dan pengendalian di pihak manajemen. Pemisahan pemilik perusahaan dan pengelolaan yang dilakukan oleh manajemen dapat menimbulkan konflik keagenan. Konflik kepentingan antara prinsipal dan agen terjadi karena kemungkinan agen tidak dapat berbuat sesuai dengan keinginan prinsipal, sehingga hal tersebut mengakibatkan timbulnya biaya keagenan (agency cost). Menurut Vorst (2016), agency cost itu meliputi tiga hal, yaitu monitoring cost, bonding cost, dan residual loss. Monitoring costmerupakan pengeluaran yang dibayar oleh prinsipal untuk mengukur, mengamati, dan mengontrol perilaku agen. Biaya tersebut timbul karena adanya ketidakseimbangan informasi antara prinsipal dan agen. Agen mungkin dapat membelanjakan sumber daya   perusahaan (bonding costs) untuk menjamin bahwa agen tidak akan melakukan tindakan yang dapat merugikan prinsipal atau untuk meyakinkan bahwa prinsipal akan memberikan kompensasi jika ada tindakan menyimpang. Namun masih dapat terjadi perbedaan antara keputusan-keputusan agen dengan keputusan yang dapat memaksimalkan kesejahteraan agen. Sedangkan residual loss adalah nilai uang yang ekuivalen dengan pengurangan kesejahteraan yang dialami oleh prinsipa

Teori Keagenan (skripsi dan tesis)

Manajemen laba merupakan suatu kegiatan manipulasi data laporan keuangan yang dilakukan oleh manajer dikarenakan manajer lebih banyak 16 mengetahui informasi tentang perusahaan yang dikelolanya. Pemisahan antara pemilik dan pengelola dapat menimbulkan masalah keagenan, masalah tersebut adalah ketidak sejajaran kepentingan antara pemegang saham atau prinsipal (principal) dengan manajer atau agen (agent). Teori keagenan terkait dengan hubungan kontraktual antara seluruh anggota di perusahaan. Razzaque et al., (2016) menjelaskan bahwa hubungan agensi terjadi ketika satu orang atau lebih (prinsipal) mempekerjakan orang lain (agen) untuk memberikan suatu jasa lalu kemudian menetapkan wewenang pengambilan keputusan. Prinsipal merupakan pemegang saham atau investor, sedangkan agen merupakan manajemen yang mengelola perusahaan atau manajer. hubungan keagenan pada dasarnya adalah pemisahan fungsi antara kepemilikan di investor dan pengendalian di pihak manajemen. Pemisahan pemilik perusahaan dan pengelolaan yang dilakukan oleh manajemen dapat menimbulkan konflik keagenan. Konflik kepentingan antara prinsipal dan agen terjadi karena kemungkinan agen tidak dapat berbuat sesuai dengan keinginan prinsipal, sehingga hal tersebut mengakibatkan timbulnya biaya keagenan (agency cost). Menurut Vorst (2016), agency cost itu meliputi tiga hal, yaitu monitoring cost, bonding cost, dan residual loss. Monitoring costmerupakan pengeluaran yang dibayar oleh prinsipal untuk mengukur, mengamati, dan mengontrol perilaku agen. Biaya tersebut timbul karena adanya ketidakseimbangan informasi antara prinsipal dan agen. Agen mungkin dapat membelanjakan sumber daya perusahaan (bonding costs) untuk menjamin bahwa agen tidak akan melakukan tindakan yang dapat merugikan prinsipal atau untuk meyakinkan bahwa prinsipal akan memberikan kompensasi jika ada tindakan menyimpang. Namun masih dapat terjadi perbedaan antara keputusan-keputusan agen dengan keputusan yang dapat memaksimalkan kesejahteraan agen. Sedangkan residual loss adalah nilai uang yang ekuivalen dengan pengurangan kesejahteraan yang dialami oleh prinsipal

Komite audit (skripsi dan tesis)

Komite audit dibentuk dengan tujuan membantu tugas dan tanggung jawab Dewan Komisaris dengan tugas dan tanggung jawab utama untuk menerapkan prinsip corpotare governance terutama prinsip transparansi yang harus dilakukan secara konsisten dan memadai oleh jajaran perusahaan (Garva, 2015). Menurut Houqe et al., (2017) menyebutkan bahwa tujuan utama dari pembentukan komite audit adalah untuk melakukan peningkatan efektifitas, akuntabilitas, transparansi, dan objektifitas Dewan Komisaris dan seluruh jajarannya. Komite audit memiliki tugas untuk memberikan nasehatbagi Dewan Komisaris terhadap laporan atau hal-hal yang disampaikan oleh direksi kepada Dewan Komisaris, kemudian mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian komisaris, dan melaksanakan pekerjaan lain  yang berkaitan dengan tugas Dewan Komisaris (Peraturan Bapepam No. KEP-29/PM/2004). Berbagai job desk komite audit menunjukkan bahwa peran sentral komite audit sebagai pengawas sistem keuangan dan transparansi pelaporan perusahaan ditentukan oleh keberhasilan komite audit dalam menjalankan berbagai kewajibannya. Berdasarkan tugas dari komite audit yang sentral dalam menentukan keterbukaan pada laporan keuangan, pada penelitian ini karakteristik komite audit diproksikan ke dalam beberapa hal yang terkait, yaitu terdiri dari Ukuran Komite Audit, Independensi Komite Audit, Kompetensi Komite Audit, Frekuensi Rapat Komite Audit. Ukuran komite audit berhubungan dengan jumlah anggota komite audit. Independensi komite audit berhubungan dengan seberapa besar keterlibatan anggota komite audit dengan aktivitas perusahaan. Aktivitas dari komite audit diwujudkan dengan frekuensi rapat yang dilakukan komite audit dalam kurun waktu satu tahun. Sedangkan kompetensi yang dimiliki oleh anggota komite audit berhubungan dengan pengetahuan akuntansi, keuangan dan audit serta pengalaman dalam corporate governance

Proporsi Dewan Komisaris Independen (skripsi dan tesis)

 Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No.8/4/PBI/2006 tentang pelaksanaan good corporate goverance bagi Bank Umum pasal 1 ayat 4, komisaris independen adalah: “Dewan Komisaris yang tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan Dewan Komisaris lainnya, direksi dan/atau pemegang saham pengendali atau hubungan lain yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen”. Penjelasan diatas menyiratkan bahwa komisaris independen merupakan seseorang yang tidak terafiliasi dengan direksi, anggota Dewan Komisaris lainnya dan bebas dari hubungan bisnis. Selain itu komisaris independen memahami undang-undang dan peraturan tentang pasar modal yang diusulkan oleh pemegang saham yang bukan merupakan pemegang saham pengendali dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Eksistensi dari komisaris independen diatur dalam peraturan BAPEPAM No: KEP-315/BEJ/06-2000 yang disempurnakan dengan surat keputusan No: KEP-339/BEJ/07-2001 yang mengemukakan bahwa setiap perusahaan publik harus membentuk komisaris independen yang anggotanya paling sedikit tiga puluh persen dari jumlah keseluruhan anggota Dewan Komisaris. Dewan yang terdiri dari Dewan Komisaris independen memiliki kontrol yang lebih besar atas keputusan manajerial. Dewan komisaris adalah dewan yang bertugas untuk melakukan pengawasan serta memberikan nasihat kepada direktur perseroan terbatas.
 Dalam komisaris independen terdapat jabatan komiaris independen yaitu anggota Dewan Komisaris yang bukan merupakan pegawai atau pihak yang behubungan langsung dengan organisasi, dan tidak dapat mewakili pemegang saham itu sendiri. Dewan komisaris merupakan puncak dari rantai pengelolaan internal perusahaan serta memiliki peranan yanng penting bagi perusahaan, terutama dalam pelaksanaan Good Corporate Governace. Dalam rangka penyelenggaraan pengelolaan perusahaan yang baik (Good Corvorate Governance), perusahaan yang tercatat wajib memiliki komisaris independen

Kepemilikan Institusional (skripsi dan tesis)

Kepemilikan institusional atau disebut juga persentase kepemilikan saham oleh investor institusional seperti perusahaan investasi, bank, perusahaan asuransi maupun kepemilikan lembaga dan perusahaan lain. Kepemilikan institusional dapat mendorong pengawasan yang lebih maksimal terhadap kinerja perusahaan. Hal ini berarti semakin besar persentase saham yang dimiliki oleh investor. Kepemilikan institusional dapat menyebabkan kegiatan pengawasanakan lebih efektif karena dapat mengendalikan perilaku oportunistik yang dilakukan oleh para manajer (Shan, 2014). Kegiatan pengawasan dapat mengurangi biaya keagenan karena memungkinkan perusahaan menggunakan tingkat hutang yang lebih rendah untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya financial distress dan kebangkrutan perusahaan (Al Najjar, 2018)

Kepemilikan Manajerial (skripsi dan tesis)

Manajer terbiasa untuk menggunakan hutang yang tinggi bukan dengan tujuan untuk maksimalisasi nilai perusahaan melainkan untuk kepentingan oportunistik mereka (Fhang et al., 2013). Investasi dengan risiko tinggi menyebabkan peningkatan pada agency cost. Peningkatan biaya keagenan dapat menyebabkan penurunan nilai perusahaan. Kepemilikan manajerial merupakan persentase kepemilikan saham pihak manajemen yang aktif ikut dalam pengambilan keputusan perusahaan (direktur dan komisaris).   Kepemilikan manajerial menyetarakan kepentingan manajemen dan pemegang saham, sehingga segala keputusan manajer akan dirasakan oleh berbagai pihak termasuk manajer. Manajer ikut serta dalam memiliki perusahaan dan tidak akan mengambil keputusan yang oportunistik dalam kebijakan hutang dengan meningkatkan jumlah hutang perusahaan. Manajer akan berusaha untuk mengurangi biaya keagenan dan akan meningkatkan nilai perusahaan.

Good Corporate Governance (skripsi dan tesis)

Corporate governance disebabkan oleh pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian perusahaan, atau seringkali dikenal dengan masalah keagenan. Permasalahan keagenan terkait hubungan antara pemilik modal dengan manajer yaitu bagaimana kesulitan sulit pemilik dalam memastikan bahwa dana yang ditanamkan tidak diambil alih pada kegiatan yang tidak menguntungkan bagi perusahaan. Corporate governance penting dalam mengurangi permasalahan keagenan antara pemilik dan manajer (Farrel et al., 2014). Corporate Governancemerupakan sebuah proses terstruktur yang digunakan untuk mengelola dan mengarahkan serta memimpin bisnis dan anak korporasi dan bertujuan untuk meningkatkan corporate value dan keberlanjutan usaha. Terdapat beberapa penelitian terdahulu tentang Corporate Governance yang dikemukakan oleh berbagai pihak baik pemegang saham (shareholder) dan pemangku kepentingan (stakeholders) lainnya. Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) mendefinisikan Corporate Governance sebagai berikut : “Seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan, serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan  hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengendalikan perusahaan. Tujuan Corporate Governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders)”. Corporate Governance menurut Kothari et al.,(2016) merupakan struktur dan mekanisme yang mengatur pengelolaan perusahaan sehingga menghasilkan nilai ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun pemangku kepentingan. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan diatas, GCG merupakan suatu sistem kompleks yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan value added bagi para stakeholders. Hal tersebut dikarenakan GCG menentukan pola kerja manajemen yang bersih, transparan dan profesional sesuai dengan prnsip GCG. Penerapan GCG di perusahaan akan menarik minat para investor, baik domestik maupun asing. Hal tersebut bermanfaat bagi perkembangan investasi perusahaan.

Metode Perhitungan Harga Pokok Pesanan (skripsi dan tesis)

Menurut Hansen dan Mowen (2006:207), perhitungan dan produksi biaya pesanan adalah sebagai berikut: Pada sistem produksi berdasarkan pesanan, biaya-biaya diakumulasikan berdasarkan pekerjaannya. Pendekatan untuk membebankan biaya ini dinamakan sistem perhitungan biaya pesanan. Dalam suatu perusahaan yang beroperasi berdasarkan pesanan, pengumpulan biaya per pekerjaan menyediakan informasi penting bagi pihak manajemen. Dunia dan Abdullah (2012:54), berpendapat bahwa, “Metode harga pokok pesanan merupakan suatu sistem akuntasi biaya yang menghimpun biaya menurut pekerjaan-pekjaan (job) tertentu. Berdasarkan pekerjaan-pekerjaan dan pesanan yang telah disetujui, maka biaya-biaya produksi secara terus-menerus dicatat dan dibebankan kepada masing-masing pekerjaan yang sedang dilaksanakan atau dihasilkan, seperti bahan langsung dan tanaga kerja langsung. Pekerjaan pesanan merupakan suatu jumlahunti satuan peoduk, sehingga harga pokok produk per unit yang dihasilkan dihitung dengan membagi total biaya produk untuk masing-masing pesanan dengan jumah satuan produk dari pesananpesanan tersebut. Berdasarkan metode perhitungan harga pokok pesanan menurut para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa metode tersebut merupakan suatu sistem akuntansi biaya yang berdasarkan pesanan yang telah disetujui pelanggan dan biaya tersebut diakumulasikan berdasarkan pekerjaan

Metode Penyusutan Aset Tetap (skripsi dan tesis)

beberapa metode penyusutan yang dapat digunakan untuk menghitung penyusutan aset menurut para ahli yaitu salah satunya menurut Rudianto (2012:261), menyatakan bahwa untuk mengalokasikan harga Perolehan suatu aset tetap ke periode yang menikmati aset tetap tersebut bukan hanya dapat digunakan satu metode saja, tetapi ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung beban penyusutan periodik yaitu:
1. Metode garis lurus (straight line method) Ini adalah metode perhitungan penyusutan aset tetap dimana setiap periode akuntansi diberikan beban yang sama secara merata. Beban penyusutan dihitung dengan cara mengurangi harga Perolehan dengan nilai sisa dan dibagi dengan umur ekonomis aset tetap tersebut.

2. Metode jam jasa (Service hour method) Ini adalah metode perhitungan penyusutan aset tetap dimana beban penyusutan pada suatu periode akuntansi dihitung berdasarkan berapa jam periode akuntansi tersebut menggunakan aset tetap itu.
3. Metode hasil produksi (productive output method) Ini adalah metode perhitungan penyusutan aset tetap, dimana beban penyusutan pada periode akuntansi dihitung berdasarkan berapa banyak produk yang dihasilkan selama periode akuntansi tersebut.
4. Metode beban menurun (reducing charge method)
Sedangkan menurut Sidik (2013:5), mengatakan bahwa untuk mengalokasikan biaya perolehan suatu aset tetap ke dalam periode-periode yang menikmati aset tetap tersebut. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung beban penyusutan yaitu:
1. Metode garis lurus (straight-line method) Adalah suatu metode perhitungan penyusutan aset tetap dan setiap periode akuntansi diberikan beban yang sama secara merata. Beban penyusutan dihitung dengan cara mengurangi biaya perolehan dengan nilai sisa dan dibagi dengan manfaat ekonomi dari aset tetap tersebut
2. Metode saldo menurun (diminishing balance method) Metode saldo menurun, beban penyusutan makin menurun dari tahun ke tahun. Pembebanan yang makin menurun didasarkan pada anggapan bahwa semakin tua, kapasitas aset tetap, dalam memberikan jasanya juga semakin menurun
3. Metode jumlah unit produksi (aum of the unit of production method). Adalah dihitung berdasarkan berapa banyak produk yang dihasilkan periode akuntansi tersebut dengan mempergunakan aset tetap tersebut.
Berdasarkan uraian dari berbagai macam metode penyusutan aktiva tetap menurut para ahli di atas, maka dalam menghitung metode penyusutan aktiva tetap penulis menggunakan metode jam jasa, karena perusahaan dalam operasi produksi lebih banyak menggunakan mesin.

Metode Perhitungan Harga Pokok Produksi (skripsi dan tesis)

Metode penentuan harga pokok produksi adalah cara memperhitungkan unsur-unsur biaya kedalam harga pokok produksi. Menurut Mulyadi (2010:17), dalam menghitung unsur-unsur biaya kedalam harga pokok produksi, terdapat dua pendekatan, yaitu: a. Full Costing Merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik. b. Variabel Costing Merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan biaya produksi yang berprilaku variabel, kedalam harga pokok produksi, yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tnaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel.  Berdasarkan penjelasan metode perhitungan harga pokok produksi di atas penulis menggunakan metode perhitungan harga pokok produksi dengan kalkulasi biaya penus (Full Costing).

Metode Pengumpulan Harga Pokok Produksi (skripsi dan tesis)

Menurut Mulyadi (2010:35), didalam perhitungan harga pokok produksi terdapat dua metode yaitu:   1. Metode harga pokok produk pesanan (job order costing) Yaitu biaya-biaya yang dikumpulkan untuk pesanan tertentu dan harga pokok persatuan hasilkan untuk memenuhi pesanan tersebut dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut dengan jumlah satuan produk dalam pesanan yang bersangkutan. 2. Metode harga pokok proses (process cost method) Yaitu biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk periode tertentu dan harga pokok produksi persatuan produk yang dihasilkan dalam periode tersebut dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk periode tersebut dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan. Menurut Siregar (2014:37), menyatakan bahwa dalam pengumpulan Harga pokok produksi terbagi menjadi dua yaitu: 1. Penentuan Biaya Pesanan Biaya proses adalah penentuan baya dengan cara mengumpulkan biaya berdasarkan pesanan produksi atau berdasarkan departemen. 2. Penentuan Biaya Proses Biaya proses adalah penentuan baya dengan cara mengumpulkan biaya berdasarkan proses produksi atau berdasarkan departemen. Berdasarkan menurut para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam pengumpulan harga pokok produksi terdapat dua metode yaitu metode harga pokok pesanan dan metode harga pokok proses

Unsur-unsur Harga Pokok Produksi (skripsi dan tesis)

Menurut Mulyadi (2010:24), di dalam penentuan kos produksi dipengaruhi oleh pendekatan yang digunakan untuk menentukan unsur-unsur biaya produksi yang diperhitungkan dalam kos produksi: metode full costing dan metode variabel costing. Dalam metode full costing, biaya produksi yang diperhitungkan dalam penentuan kos produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pari, baik yang berperilaku tetap maupun yang berperilaku variabel. Dalam metode variabel costing, biaya produksi yang diperhitungkan dalam penentuan kos produksi adalah hanya terdiri dari biaya produksi variabel, yaitu biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel.
 Dunia dan Abdullah (2012:23), mengatakan bahwa kegiatan manufaktur merupakan proses transformasi atas bahan-bahan menjadi barang dengan menggunakan tenaga kerja dan fasilitas pabrik. Biaya-biaya yang terjadi sehubungan dengan kegiatan manufaktur ini disebut biaya produksi (production costor manufacturing cost). Biaya ini diklasifikasikan dalam tiga elemen utama sehubungan dengan produk yang dihasilkan yaitu: 1. Biaya bahan langsung (direct material cost). Merupakan biaya Perolehan dan seluruh bahan langsung yang menjadi bagian yang integral yang membentuk barang jadi (finished goods). 2. Biaya tenaga kerja langsung (direct labour cost). Merupakan upah dari semua tenaga kerja langsung yang secara spesifik baik menggunakan tangan maupun mesin ikut dalam proses produksi untuk menghasilkan suatu produk atau barang jadi. 3. Biaya overhead pabrik (factory overhead). Adalah semua biaya untuk memproduksi suatu produk selain dari bahan langsung dan tenaga kerja langsung. Menurut Siregar (2014:28), biaya-biaya produksi dibedakan berdasarkan elemen-elemen, yang dimana elemen tersebut dibedakan menjadi tiga yaitu: 1. Biaya bahan baku langsung (raw material cost). Biaya bahan baku adalah besarnya nilai bahan baku yang dimasukkan ke dalam proses produksi untuk diubah menjadi barang jadi. 2. Biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost). Biaya tenaga kerja adalah besarnya biaya yang terjadi untuk menggunakan tenaga karyawan dalam mengerjakan proses produksi. 3. Biaya overhead pabrik (Manufacturer overhead cost). Biaya overhead pabrik adalah biaya-biaya yang terjadi di pabrik selain biaya bahan baku maupun biaya tenaga kerja langsung. Bedasarkan Unsur-unsur harga pokok produksi yang dinyatakan oleh para ahli diatas diatas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur harga pokok produksi adalah biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik

Pengertian Harga Pokok Produksi (skripsi dan tesis)

Harga pokok produksi atau product cost merupakan elemen penting untuk menilai keberhasilan (performance) dari perusahaan dagang maupun manufaktur. Harga pokok produksi mempunyai kaitan erat dengan indikator-indikator tentang sukses perusahaan. Harga pokok produksi pada dasarnya menunjukkan harga pokok produk (barang dan jasa) yang diproduksi dalam suatu periode akuntansi tertentu. Hal ini berarti bahwa harga pokok produksi merupakan bagian dari harga pokok, yaitu harga pokok dari produk yang terjual dalam satu periode akuntansi. Untuk lebih jelas berikut ini akan dijelaskan definisi Harga Pokok Produksi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli Menurut Raiborn dan Kinney (2011:56), Harga Pokok Produksi adalah “total produksi biaya barang-barang yang telah selesai dikerjakan dan di transfer ke dalam persediaan barang jadi selama sebuah periode. Dunia dan Abdullah (2012:42) menyatakan “Harga pokok produksi adalah biaya yang terjadi sehubungan dengan produksi, yaitu jumlah biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung”. Mulyadi (2010:14), mengungkapkan harga pokok produksi dalam pembuatan produk terdapat dua kelompok biaya yaitu biaya produksi dan biaya nonproduksi. Biaya produksi merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengolahan bahan baku menjadi produk, sedangkan biaya nonproduksi merupakan biaya biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan nonproduksi, seperti kegiatan pemasaran dan kegiatan administrasi umum. Biaya produksi membentuk harga pokok produksi, yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk yang pada akhir periode akuntansi masih dalam proses. Biaya nonproduksi ditambahkan pada harga pokok produksi untuk menghitung total harga pokok produk. Berdasarkan definisi para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa harga pokok produksi adalah semua biaya, baik langsung maupun tidak langsung yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu barang selama periode tertentu dimana biaya-biaya tersebut terdiri dari total biaya bahan langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

Tujuan Akuntansi Biaya (skripsi dan tesis)

akuntansi biaya merupakan proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan pelaporan biaya pabrikasi, dan penjualan produk dan jasa, dengan cara-cara tertentu,serta penafsiran terhadap hasil-hasilnya. Adapun dari tujuan akuntansi biaya menurut parah ahli sebagai berikut : Menurut Bustami (2010:11), akuntansi biaya bertujuan untuk: Menyajikan informasi biaya yang akurat dan tepat bagi manajemen dalam mengelola perusahaan atau divisi secara efektif. oleh karena itu biaya perlu  dikelompokkan sesuai dengan tujuan apa informasi biaya tersebut digunakan, sehingga dalam pengelompokan biaya dapat digunakan suatu konsep “Different Cost Different Purpose” artinya berbeda biaya berbeda tujuan. Selanjutnya Menurut Mulyadi (20010:7) mendefinisikan terdapat tiga tujuan pokok yang dimiliki akuntansi biaya yaitu: 1. Penentuan harga pokok produksi Untuk memenuhi tujuan penentuan harga pokok produksi, akuntansi biaya mencatat, menggolongkan dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau penyerahan jasa. 2. Pengendalian biaya. Pengendalian biaya harus didahului dengan penentuan biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk memproduksi satu satuan produk. Jika biaya yang seharusnya ini telah ditetapkan, akuntansi biaya bertugas untuk memantau apakah pengeluaran biaya yang sesungguhnya sesuai dengan biaya yang seharusnya tersebut. 3. Pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan khusus menyangkut masa yang akan datang. Oleh karena itu informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus selalu berhubungan dengan informasi yang akan datang. Informasi biaya ini tidak dicatat dalam catatan akuntansi biaya, melainkan hasil suatu proses peramalan. Disisi lain Siregar (2014:12), menyatakan “akuntansi biaya bertujuan untuk menghitung harga pokok penjualan dalam suatu periode. Harga pokok penjualan kemudian akan dibandingkan dengan pendapatan untuk menghitung laba”. Berdasarkan pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan akuntansi biaya adalah untuk memberikan informasi bagi manajemen yaitu dalam melakukan perencanaan, pengawasan dan pengendalian biaya yang diperlukan dalam membuat produk dengan menganalisis data biaya dan pendapatan yang telah dikumpulkan dan dicatat manajemen dapat menghitung laba bersih perusahaan secara tepat

Pengertian Akuntansi Biaya (skripsi dan tesis)

Akuntansi biaya merupakan bagian dari akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen. Dalam perusahaan manufaktur, akuntansi biaya berperan dalam menyediakan informasi biaya yang akan digunakan untuk membantu menetapkan harga pokok produksi suatu perusahaan. Akuntansi biaya dibutuhkan oleh perusahaan baik yang berorientasi pada laba atau perusahaan nirlaba. Kegunaan dari akuntansi biaya yaitu sebagai alat pelaporan kepada pihakinternal dan pihak eksternal perusahaan. Menurut Mulyadi (2010:07) menyebutkan bahwa Akuntansi biaya adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk dan jasa, dengan cara-cara tertentu, serta penafsiran terhadapnya. Menurut pandangan Bustami (2010:4), Akuntansi biaya merupakan perangkat yang dibutuhkan manajemen untuk aktivitas perencanaan dan pengendalian, memperbaiki kualitas, meningkatkan efisiensi serta membuat keputusan-keputusan yang bersifat rutin maupun yang bersifat strategis. Menurut Siregar dkk (2014:10) Akuntansi biaya dapat didefinisikan sebagai proses pengukuran, penganalisisan, perhitungan dan pelaporan biaya, profitabilitas, dan kinerja operasi untuk kepentingan internal perusahaan. Berdasarkan definisi akuntansi biaya tersebut, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa Dari pengertiaan di atas akuntansi biaya adalah suatu bidang akuntansi yang mempelajari bagaimana cara mencatat,mengukur dan melaporkan tentang insformasi biaya yang digunakan dan bagaimana manjemen memerlukan alat untuk aktivitas perencanaan dan pengendalian

Klasifikasi biaya (skripsi dan tesis)

Klasifikasi biaya diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu manajemen dalam mencapai tujuannya. Klasifikasi biaya adalah proses pengelompokkan atas keseluruhan elemen-elemen biaya secara sistematis ke dalam golongan-golongan tertentu untuk dapat memberikan informasi biaya yang lengkap bagi pimpinan perusahaan dalam mengelola dan menyajikan fungsinya. Menurut Mulyadi (2010:13) terdapat berbagai macam cara penggolongan biaya, yaitu: 8 Berbagai macam penggolongan biaya yaitu: 1. Penggolongan Biaya Menurut Objek Pengeluaran Objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama obyek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan bakar. 2. Penggolongan Biaya Menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan Dalam perusahaan industri, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum 3. Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang dibiayai 4. Penggolongan Biaya Menurut Perilaku dalam Hubungannya dengan Perubahan Volume Kegiatan 5. Penggolongan Biaya Atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya Menurut Bustami (2010:11), mengatakan pengklasifikasian biaya yang umum digunakan adalah biaya dalam hubungan dengan sebagai berikut: 1. Biaya dalam hubungan dengan produk. Adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi yang terdiri : a. Biaya bahan baku langsung, adalah bahan baku yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari produk selesai dan dapat ditelusuri langsung kepada produk selesai. b. Biaya tenaga kerja langsung, adalah tenaga kerja yang digunakan dalam merubah atau mengonversi bahan baku menjadi produk selesai dan dapat ditelusuri secara langsung kepada produk selesai. c. Biaya overhead pabrik, adalah biaya selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung tetapi membantu dalam mengubah bahan menjadi produk jadi. Biaya dalam hubungan dengan volume produksi. 2. Biaya dalam hubungan dengan volume atau perilaku biaya dapat Biaya dalam hubungan dengan departemen produksi. Adapun pengelompokkan biaya dalam hubungannya dengan departemen produksi yaitu: 4. Biaya dalam hubungan dengan periode waktu. 5. Biaya dalam hubungannya dengan pengambilan keputusan. Berdasarkan klasifikasi biaya menurut para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pengklasifikasian yaitu terdapat biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

Pengertian Biaya (skripsi dan tesis)

Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Menurut Carter (2009:30), mendefinisikan “biaya sebagai suatu nilai tukar, pengeluaran, atau pengorbanan yang dilakukan untuk menjamin perolehan manfaat”. Dunia dan Abdullah (2012:4) menyatakan bahwa, Akuntansi biaya adalah bagian dari akuntansi manajemen dimana merupakan salah satu dari bidang khusus akuntansi yang menekankan pada penentuan dan pengendalian biaya. Sedangkan dalam pengelolaan perusahaan, akuntansi biaya merupakan bagian penting dari ilmu akuntansi dan telah berkembang menjadi tools of management, yang berfungsi menyediakan informasi biaya bagi kepentingan manajemen agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Menurut Siregar dkk (2013:23) “biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh barang atau jasa yang diharapkan memberi manfaat sekarang atau masa yang akan datang”. Berdasarkan definisi biaya diatas dapat disimpulkan bahwa biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dengan satuan uang, untuk memperoleh barang atau jasa yang diharapkan memberikan manfaat saat ini maupun akan datang

Pengaruh Kepemilikan Pemerintah Daerah Terhadap Kelengketan Biaya (skripsi dan tesis)

Salah satu masalah pemerintahan yang dapat berpotensi mempengaruhi biaya lengket adalah kepemilikan negara. Keterlibatan pemerintahan dalam hal mencari keuntungan dari kegiatan telah didokumentasikan oleh beberapa artikel. Sapienza (2004) mengungkapkan bahwa perusahaan milik negara dikenakan biaya sosial, politik, dan biaya agensi. Kepemilikan pemerintah pada perbankan memiliki efek distorsi pada alokasi sumber daya, alokasi sumber daya yang dipolitisi ini mungkin akan berpengaruh pada perkembangan dan produktifitas perusahaan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sendiri juga dijadikan sebagai mekanisme untuk mengejar tujuan para politisi, seperti memaksimalkan pekerjaan atau pembiayaan perusahaan yang diinginkan para politisi saja untuk mengejar keuntungan pribadi dan dalam rangka mencapai tujuan politik mereka, politisi sering memberikan perintah kepada manajer BUMN untuk mentransfer sumber daya BUMN kepada konstituen mereka (Shleifer dan Vishny,1994). Boardman dan Vining (1989) berpendapat bahwa dari pandangan teori hak kepemilikan, dimana sebagai wakil dari pemegang saham mempunyai sedikit insentif untuk mengawasi manajer BUMN. Perusahaan yang dimiliki pemerintah berpotensi dikenakan biaya agensi yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan swasta. Selain itu, mekanisme pemantauan dan jalannya kegiatan di tingkat pemerintah kurang efektif sehingga menyebabkan politisi dan birokrat lebih berpotensi dalam melakukan intervensinya dengan mengorbankan kinerja perusahaan Wang et al (2008) menemukan bahwa perusahaan yang dikuasai pemerintah lokal seperti provinsi dan kabupaten lebih memilih untuk menyewa auditor lokal, hal ini dilakukan karena untuk alasan yang menguntungkan ( Pemerintah dapat mengintervensi pekerjaan auditor agar auditor dapat memberikan pendapat yang menguntungkan). Pemerintah menggunakan tekanan politik memaksa auditor lokal untuk berkolusi dengan mereka. Dengan kata lain, Pemerintah menggunakan kekuasaanya untuk mempengari keputusan auditor lokal untuk menutupi kinerja perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang relatif buruk. Selain itu, saat ini banyak perusahaan daerah yang kalah bersaing dengan sektor swasta dan salah satu penyebabnya adalah besarnya campur tangan dan lambatnya pemerintah dalam mengantisipasi perubahan situasi dan kondisi bisnis. Pemerintah juga sering melakukan eksploitatif terhadap perusahaan daerah dengan menargetkan penerimaan APBD dari perusahaan daerah tanpa melihat perusahaan daerah tersebut mengalami untung atau rugi (Yulianto, 2000). Pada BPR milik pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten diduga terdapat perbedaan dalam hal intervensi yang dilakukan oleh pemerintah, dimana karena BPR kabupaten berada dalam taraf yang lebih rendah dibandingkan dengan BPR provinsi sehingga pemerintah lebih leluasa untuk melakukan intervensinya kepada BPR kabupaten. Menurut Penowo (2011) intervensi yang dilakukan pemerintah di BPR kabupaten seperti menyalurkan kredit ke pegawai negeri sipil (PNS) ataupun anggota DPRD, serta menjadikan BPR milik kabupaten sebagai alat untuk membiayai proyek besar pemerintah. Jika pemerintah turut terjun dalam aktivitas BPR, dalam hal ini dikhawatirkan dapat menganggu kesehatan BPR milik kabupaten itu sendiri. Hal ini tentunya akan mempengaruhi kinerja BPR kabupaten. BPR dapat menderita kerugian jika dikelola secara tidak efisien dan produktifitas yang rendah sehingga membuat BPR tidak memiliki kemampuan untuk berkompetisi dengan lembaga keuangan lainnya. Biaya operasional pada BPR kabupaten diduga menimbulkan biaya lengket. Karena adanya perbedaan kepemilikan pemerintah pada kedua BPR tentunya akan ada perbedaan campur tangan ataupun intervensi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap BPR kabupaten. Ketika pendapatan meningkat, BPR milik pemerintah kabupaten cenderung akan meningkatkan biaya operasional seperti biaya untuk merekrut karyawan baru, meningkatkan kapasitas karyawan (memberikan training), biaya untuk memperoleh barang, ataupun biaya yang digunakan untuk membiayai proyek pemerintah. Tetapi ketika pendapatan menurun, sangat sulit bagi BPR milik pemerintah kabupaten untuk menurunkan sumber daya mereka (terutama karyawan) karena tekanan sosial dan politik yang dilakukan oleh pemerintah, sehingga hal tersebut dapat menyebabkan tingkat kelengketan biaya.

Kelengketan Biaya Pada Perusahaan Milik Pemerintah (skripsi dan tesis)

Biaya lengket timbul dari perilaku biaya di mana biaya mudah untuk ditambahkan tetapi sulit untuk diturunkan. Perilaku biaya yang tidak proporsional dalam menanggapi perubahan aktivitas telah dibahas dan didokumentasikan oleh beberapa artikel. Subramaniam dan Weidenmier (2003) menemukan bahwa total biaya meningkat 0,93% per kenaikan 1% pada pendapatan, tetapi turun sebesar 0,85% per penurunan 1%. Perilaku ini disebut sebagai biaya lengket dimana kenaikan biaya lebih besar dibandingkan dengan penurunannya pada perubahan volume aktivitas pada jumlah yang ekuivalen. Perilaku biaya lengket dapat disebabkan oleh hubungan antar biaya dan aktivitas. Pengurangan biaya dalam menanggapi pengurangan aktivitas tergantung pada kemampuan manajemen untuk mengurangi biaya kapasitas yang tidak terpakai. Tidak semua biaya dikatakan sebagai biaya lengket dan penyebab utama adanya biaya lengket adalah ketidakpastian mengenai permintaan di masa depan dari produk perusahaan sehingga membuat manajer untuk memperhitungkan penundaan pengurangan biaya sampai perusahaan yakin dengan penurunan volume. Menurut Subramaniam dan Weidenmier (2003) pada saat aktivitas perusahaan meningkat akan mengakibatkan peningkatan biaya secara langsung, tetapi pada saat perusahaan mengalami penurunan aktivitas perusahaan tidak dapat secara langsung mengurangi aset, karyawan, dan biaya lainnya dalam jangka pendek. Manajer perusahaan beranggapan bahwa penurunan aktivitas bersifat sementara. Manajer memiliki keyakinan bahwa aktivitas akan kembali normal, sehingga manajer melakukan penundaan dalam hal pengurangan biaya saat penurunan aktivitas. Porporato dan Werbin (2010) mengatakan bahwa biaya lengket adalah biaya yang dapat dengan mudah ditingkatkan pada saat terjadi peningkatan permintaan produk perusahaan, tetapi tidak turun seiring dengan penurunan permintaan produk. Penelitian Porporato dan Werbin (2010) pada perusahaan perbankan di negara Brasil, Argentina, dan Kanada menunjukan adanya perbedaan tingkat kelengketan biaya pada masing-masing negara karena adanya perbedaan struktur biaya dan kondisi ekonomi pada masing-masing negara, dimana bank yang beroperasi dilingkungan ekonomi yang tidak menentu seperti Argentina menunjukan penurunan biaya yang paling rendah pada saat terjadi penurunan pendapatan. Kelengketan biaya juga dapat mempengaruhi laba pada perusahaan, pada penelitian yang dilakukan Yudhi et al (2010) perusahaan yang memiliki biaya lengket yang lebih besar akan memperlihatkan penurunan laba yang lebih besar ketika level aktifitas menurun dibandingkan dengan perusahaan yang biaya lengketnya lebih kecil, hal ini dikarenakan biaya lengket yang tinggi dihasilkan dari penyesuaian biaya yang lebih sedikit ketika level aktivitas menurun, karena itu penghematan biaya lebih sedikit. Isu-isu tata kelola pemerintahan juga dapat menjelaskan perilaku biaya lengket. Calleja et al (2006) menemukan bahwa perusahaan di negara Jerman dan Perancis menunjukan biaya lengket yang lebih besar dari pada biaya lengket pada perusahaan di Inggris dan Amerika Serikat, mereka menduga bahwa kode sistem hukum pada perusahaan di negara Jerman dan Perancis tidak hanya membuat perusahaan menekankan pada kepentingan pemegang saham tetapi juga pemangku kepentingan lain termasuk karyawan. Karyawan memiliki posisi yang lebih kuat dalam tata kelola perusahaan, sehingga lebih sulit bagi perusahaan untuk memberhentikan karyawan ketika penurunan pendapatan. Ketatnya undangundang perlindungan ketenagakerjaan juga dapat menyebabkan munculnya biaya lengket. Karena sulit bagi perusahaan untuk mem-PHK karyawannya disaat penurunan aktivitas perusahaan. Sedangkan pada perusahaan yang terdapat di Inggris dan Amerika Serikat manajemen perusahaan dibawah tekanan pihak eksternal seperti pemegang saham, sehingga perusahaan dalam mengambil sebuah keputusan dilakukan demi kepentingan pemegang saham. Saat terjadi penurunan aktifitas perusahaan jauh lebih mudah untuk mengurangi sumber daya mereka. Biaya lengket juga ditemukan pada bidang kesehatan seperti rumah sakit milik pemerintah. Balakrishnan dan Soderstom (2008) meneliti pengaruh kepemilikan terhadap perilaku biaya, dimana menemukan bahwa rumah sakit milik pemerintah menunjukan adanya kelengketan biaya. Diduga bahwa rumah sakit milik pemerintah mengalami kendala dalam keuangan, mereka juga harus melalui proses birokrasi dan mekanisme politis yang rumit untuk memperoleh tambahan dana dari lembaga pemerintah. Karena terdapat ketidakpastian atau lambannya mengenai tambahan dana dari lembaga pemerintah membuat manajer rumah sakit lebih memilih untuk mempertahankan sumber daya mereka karena untuk menghindari adanya biaya penyesuaian saat aktivitas menurun. Penelitian Anderson et al (2003) menggunakan variabel biaya penjualan, umum, dan administrasi dalam memperhitungkan biaya lengket, karena biaya penjualan, umum, dan administrasi merupakan biaya yang aktivitas penggeraknya adalah volume penjualan. Untuk menguji adanya biaya lengket Anderson et al (2003) membandingkan variasi biaya penjualan, umum, dan administrasi terhadap penjualan di periode dimana terjadinya peningkatan penjualan dengan variasi biaya penjualan, umum, dan administrasi terhadap penjualan di periode terjadinya penurunan penjualan

Hubungan Kapabilitas Dinamik dengan Kinerja Inovasi (skripsi dan tesis)

Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa kapabilitas dinamik (dynamic capabilities) memengaruhi kinerja inovasi suatu perusahaan (Cabral, 2010; Chang et al., 2012). Menurut Cabral (2010), suatu perusahaan yang memiliki tingkat kapabilitas adaptif, absorptif, dan inovatif yang tinggi, pengembangan inovasinya tidak hanya berfokus orientasi pada tingkat keuntungan yang tinggi tetapi juga pada lingkungan dan ekuitas sosial. Dalam hal ini, perusahaan mengarahkan strategi inovasinya berfokus pada hasil-hasil yang berkelanjutan, yang kapabilitas dinamik menjadi pusat pengembangan kapabilitas perusahaan, yang menghasilkan tingkat kontinuitas penciptaan produk-produk atau jasa baru yang lebih tinggi. Sebaliknya, tingkat kapabilitas adaptif, absorptif, dan inovatif yang rendah menyebabkan tingkat kontinuitas penciptaan produk dan jasa baru yang rendah juga. Oleh karena itu, hasil inovasi yang berkelanjutan adalah lebih signifikan pada perusahaan-perusahaan yang tingkat kapabilitas adaptif, absorptif, dan inovatifnya tinggi, sehingga perusahaan-perusahaan yang menjalankan strategi inovatif lah yang akan berperan.
Menurut Chang et al (2012), perusahaan-perusahaan yang fokus pada pelanggan cenderung menyusun kembali kapabilitas organisasinya, yaitu dengan menginovasi produk dan jasanya agar sesuai dengan keinginan dan pengalaman pengunaan pelanggan. Inovasi dan kapabilitas dinamik perusahaan-perusahaan secara signifikan dipengaruhi oleh posisi dan alur perkembangan sebelumnya dalam industri tersebut. Adapun aspek-aspek kapabilitas dinamik (dynamic capabilities) yang berpengaruh terhadap kinerja inovasi adalah adaptive capabilities, absorptive capabilities, dan innovative capabilities (Wang dan Ahmed, 2007; Oktemgil dan Go

Level-level Kapasitas (skripsi dan tesis)

Kapasitas sebagai suatu kemampuan untuk melakukan suatu
pekerjaan mempunyai mempunyai level atau tingkatan. Setiap level
kapasitas terdiri dari elemen-elemen atau sub-komponen kapasitas
tertentu. Jumlah sub-komponen kapasitas sangat berkaitan erat dengan
level kapasitas tertentu.
Geene (2003: 5-6) mengetengahkan tiga tingkatan kapasitas, yaitu
tingkat sistem, organisasi, dan individu. Kapasitas tingkat sistem adalah
tingkat kapasitas yang paling tinggi. Dalam lingkup nasional, kapasitas
sistem meliputi seluruh sub-komponen wilayah negara, sedangkan
untuk lingkup sektoral, misalnya sektor kesehatan, maka kapasitas
tingkat sistem hanya mencakup komponen-komponen yang relevan
saja. Dimensi kapasitas sistem meliputi: 1) demensi kebijakan, 2)
dimensi hukum/peraturan, 3) dimensi manajemen/akuntabilitas, 4)
dimensi sumber daya, dan 5) dimensi proses antar-hubungan. Kapasitas
organisasi atau entitas meliputi: (1) manajemen sumber daya manusia,
(2) manajemen sumber daya keuangan, (3) partisipasi yang adil, (4)
keberlanjutan manfaat program, (5) kemitraan, (6) organisasi belajar,
dan (7) manajemen strategis. Kapasitas tingkat individual adalah
dimensi utama dari kapasitas, meliputi orang-orang, termasuk jaringan
kecil antar individu. Kapasitas tingkat individu termasuk manajemen,
para profesional, dan staf pendukung serta orang-orang yang
merupakan penerima manfaat atau sebaliknya mempengaruhi (misalnya
kelompok klien tertentu dan segmen masyarakat).
Matachi (2006: 6) mengetengahkan tiga level kapasitas. Pertama,
kapasitas pada tingkat individual, terdiri dari elemen-elemen
pengetahuan, keterampilan, sikap, kesehatan, kesadaran, dan lain-lain.
Kedua, kapasitas pada tingkatan organisasi terdiri dari: 1) sumber daya
manusia, misalnya kapasitas individu dalam organisasi; 2) sumber daya
fisik, misalnya fasilitas, perlengkapan, material, dan kapital; 3) sumber
daya intelektual, misalnya strategi organisasi, perencanaan strategis,
teknologi produksi, pengetahuan berbisnis, proses manajemen,
hubungan antar institusi; 4) struktur organisasi dan metode manajemen
yang berdampak pada pemanfaatan sumber-sumber daya; dan 5)
kepemimpinan manajerial. Ketiga, tingkat lingkungan, terdiri dari
elemen-elemen 1) aturan formal institusi (hukum, kebijakan, perintah,
undang-undang, peraturan keanggotaan); 2) institusi informal
(kebiasaan/adat-istiadat, budaya, norma, dan lain-lain); 3) kapital sosial,
infrastruktur sosial, dan lain-lain.
United National Development Programe (2008: 5-6)
mengetengahkan bahwa kapasitas tingkat organisasi disebut juga
sebagai kapasitas tingkat kelembagaan, dan kapasitas tingkat
institusional disebut juga sebagai kapasitas tingkat masyarakat atau
lingkungan. Kapasitas pada tingkat lingkungan digunakan untuk
menggambarkan sistem yang lebih luas di mana individu dan fungsi
organisasi satu sama lain dapat menfasilitasi atau menghambat
keberadaan kinerja mereka. Kapasitas lingkungan mencakup kebijakan,
legislasi, hubungan kekuasaan, dan norma-norma sosial. Kapasitas pada
tingkat organisasi terdiri dari kebijakan internal, pengaturan, prosedur,
dan kerangka kerja yang memungkinkan organisasi mengoperasikan
dan memenuhi mandatnya, dan individu secara bersama-sama bersatu
padu dengan berbagai sumber daya organisasi bekerja untuk mencapai
tujuan organisasi. Kapasitas pada tingkat individu meliputi
keterampilan, pengalaman, dan pengetahuan setiap orang yang
memungkinkan mereka melakukan aktivitas/pekerjaan di
lingkungannya. Kapasitas ini dapat diperoleh melalui pendidikan
formal, pelatihan, learning by doing, dan pengalaman. Ketiga tingkatan
kapasitas tersebut saling terhubung dan saling melengkapi dalam
rangka mewujudkan tujuan pengembangan kapasitas itu sendiri.

Definisi Kapasitas (skripsi dan tesis)

Sejumlah ahli dan praktisi telah mengemukakan arti kapasitas.
Pada umumnya kapasitas diartikan sebagai kemampuan untuk
melaksanakan tugas atau pekerjaan secara berhasil. Kapasitas juga
dipandang sebagai jaminan keberlangsungan hidup suatu organisasi
dan individu.
Kapasitas adalah kemampuan untuk melakukan tugas-tugas
yang sesuai secara efektif, efisien, dan berkelanjutan (Grindle (1997:
34). Kapasitas adalah kemampuan individu dan organisasi untuk
melakukan fungsi secara efektif, efisien dan berkelanjutan (Geene,
2003: 4). Kapasitas adalah sifat yang memungkinkan sebuah
organisasi atau sistem untuk bertahan hidup, tumbuh, diversifikasi,
dan menjadi lebih kompleks; kapasitas adalah kemampuan kolektif,
yaitu kombinasi dari atribut yang memungkinkan sistem untuk
melakukan, memberi nilai, membangun hubungan, dan untuk
memperbaharui diri, atau dengan kata lain merupakan cara dan
kemampuan yang memungkinkan sistem: individu, kelompok,
organisasi, kelompok organisasi dapat melakukan sesuatu dengan niat
dari waktu ke waktu secara efektif (Morgan, 2006: 6-7). Kapasitas
terdiri dari sejumlah kemampuan, keterampilan, pemahaman, sikap,
nilai, hubungan, tingkah laku, motivasi, sumber dan kondisi yang
memungkinkan individu, organisasi, jaringan/sektor dan sistem sosial
yang luas untuk melaksanakan fungsi-fungsi dan mencapai tujuantujuan mereka sepanjang waktu (Balger, 2000: 2).
Berdasarkan arti kata dan definisi kapasitas yang telah
dikemukakan dari berbagai sumber, dapat disimpulkan bahwa:
1) Kapasitas adalah kemampuan individu yang terdiri atas
pemahaman, keterampilan, nilai, sikap, motivasi, sumber-sumber,
kondisi tertentu, dan sifat-sifat tertentu;
2) Kapasitas adalah kemampuan untuk memperbaharui diri; esensi
perkembangan individu berada pada dirinya sendiri;
3) Kapasitas adalah elemen kunci bagi individu, organisasi, dan
sistem untuk tetap dapat hidup, tumbuh, dan berkembang;
4) Kapasitas juga merupakan kemampuan kolektif individu dalam
organisasi untuk melakukan fungsi atau tindakan-tindakan secara
efisien, efektif, dan berkelanjutan, seperti: membangun jaringan,
mengerjakan segala sesuatu secara cepat, tepat, dan benar,
mencapai hasil yang optimal, berdaya saing, dan beradaptasi;
5) Kapasitas juga mencakup suatu kemampuan potensial atau laten;
6) Kapasitas adalah suatu penciptaan nilai publik yang nampak
dalam keunggulan persaingan kekuasaan, kontrol, dan sumber
daya organisasi;
7) Kapasitas juga dapat meliputi berbagai sumber selain manusia,
namun manusia memegang peran utama dan kunci dalam
pengembangan kapasitas.

Arti Kapasitas (skripsi dan tesis)

Istilah kapasitas dalam berbagai kamus mempunyai sejumlah arti.
Kapasitas adalah jumlah total barang, jumlah total yang dapat
diproduksi, dan kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu
(Cambrigde Dictionary: http://dictionary.cambride.org/capacity).
Kapasitas adalah kekuatan daya tampung, jumlah yang bisa terkandung,
jumlah maksimum yang bisa diserap, kemampuan untuk belajar dan
memahami, dan kemampuan untuk melakukan (Colin Dictionary:
http://www.collinsdictionary.com). Kapasitas adalah sejumlah barang
atau orang, kemampuan untuk mengerti sesuatu atau kemampuan untuk
mengerjakan suatu pekerjaan, atau kuantitas yang diproduksi oleh
pabrik atau mesin, atau kekuatan mesin (Oxford Dictionary). Arti
kapasitas yang dikemukakan dalam kamus tersebut selalu dikaitkan
dengan objek kapasitas. Jika objeknya adalah peralatan maka kapasitas
dapat diartikan sebagai kekuatan daya tampung atau kekuatan produksi
yang bersifat kuantitas dan kekuatan mesin untuk melakukan produksi;
jika objeknya adalah manusia maka kapasitas dapat diartikan sebagai
kemampuan untuk memahami, mengerti, dan melakukan suatu
pekerjaan. Berikut ini dijelaskan arti kapasitas menurut pandangan ahli.

Pengertian Perilaku Inovatif (skripsi dan tesis)

Perkembangan dari inovasi ini membutuhkan kontribusi dari setiap
individu. Dalam perspektif psikologi organisasi, aktifitas-aktifitas tersebut
dinamakan innovative work behavioral (perilaku inovatif) (Janssen, 2000).
Janssen (2000) mendefinisikan perilaku inovatif sebagai penciptaan, pengenalan dan pengaplikasian gagasan-gagasan baru secara sengaja dalam suatu pekerjaan, kelompok, atau organisasi untuk memperoleh keuntungan dalam kinerja suatu pekerjaan, kelompok atau organisasi. Definisi ini membatasi perilaku inovatif sebagai usaha-usaha yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan hasil (outcome) baru yang menguntungkan.
Perkembangan dari inovasi ini membutuhkan kontribusi dari setiap
individu. Oleh karena itu penting untuk memahami tentang aktivitas individu
yang mengarah pada inovasi. Dalam perspektif psikologi organisasi, aktivitas –
aktivitas tersebut dinamakan innovative work behavior atau perilaku inovatif
(Janssen, 2000). Anderson, De Dreu, dan Nijstad (2004) menjelaskan bahwa
Psikologi Organisasi menekankan inovasi pada perspektif individu, termasuk di dalamnya adalah karakteristik individual dan kontekstual yang berpengaruh
terhadap keberhasilan suatu inovasi. Penelitian-penelitian mengenai perilaku
inovatif ini berusaha untuk menjelaskan mengenai perilaku yang indvidu
tunjukkan di lingkungan kerjanya ketika inovasi terjadi
Menurut De Jong & Hartog (2007) menyatakan perilaku inovatif kerja
adalah perilaku yang meliputi eksplorasi peluang dan ide-ide baru, juga dapat
mencakup perilaku mengimplementasikan ide baru, menerapkan pengetahuan baru dan untuk mencapai peningkatan kinerja pribadi atau bisnis. Perilaku inovatif sering dikaitkan dengan kreativitas. Kedua hal tersebut memang berkaitan tetapi memiliki konstrak yang berbeda. Perilaku kreatif adalah proses untuk menghasilkan sebuah ide, gagasan, atau pemikiran baru yang berkaitan dengan produk, servis, proses dan prosedur kerja. Sedangkan perilaku inovatif kerja tidak hanya sekedar menghasilkan ide baru tetapi juga melibatkan proses implementasi terhadap ide tersebut khususnya pada seting pekerjaan (De Jong & Hartog, 2010).
Messman (2012) mengatakan perilaku inovatif kerja adalah jumlah dari
aktivitas kerja fisik dan kognitif yang dilakukan oleh karyawan dalam konteks
pekerjaan mereka, baik sendiri maupun berkelompok untuk mencapai satu
rangkaian tugas yang dibutuhkan untuk tujuan pengembangan inovasi. Dari
sudut pandang pekerja, efektivitas perilaku kerja inovatif berhubungan dengan pengamatan pekerja dalam mengantisipasi permasalahan pekerjaan dan respon rekan kerja terhadap alternatif solusi yang diajukan (De Jong & Hartog 2010).

Definisi dan Pengertian Kualitas Inovasi (skripsi dan tesis)

Harner (2002) menunjukkan bahwa kualitas inovasi sebenarnya adalah
gabungan dari semua hasil inovasi. Hal ini mencakup kualitas produk dan layanan , kualiatas operasi perusahaan yang sebenarnya, serta kualiatas manajemen di perusahaan tingkat tertinggi. Kualitas Inovasi menunjukkan kapan suatu upaya perusahaan dalam mengejar inovasi melalui penciptaan produk baru, proses atau mode manajemen, dan apakah inovasi tersebut dapat memenuhi kepentingan pihak-pihak seperti pelanggan, karyawan dan pemasok. Jika jawabannya adalah ya, maka itu berarti inovasi memang memiliki “kualitas”.
Kualitas inovasi dapat dinilai sesuai dengan tujuan perusahaan dan hasil
kegiatan organisasi. Misalnya, produk baru R&D, rantai kerja dan pembaharuan
pendekatan kerja semua wilayah perusahaan yang inovatif. Ahmed dan Zairi (2000) mengemukakan bahwa kualitas inovasi harus mencakup 1) Produk/Jasa kualitas :
Peningkatan nilai pelanggan, kebutuhan konsumen, kualitas produk, peningkatan pengembalian investasi produk, dan kinerja produk. 2) Proses Kualitas Operasi :
Waktu rilis yang tepat, upgrade (proses) produktifitas , penataan personil dan
produk pembangunan, dan target kontrol serta fleksibilitas. 3) Mutu Manajemen :
Penerimaan karyawan, memahami kebutuhan pelanggan, penjualan produk-produk inovatif dan tingkat keberhasilan inovasi.
Dari penjelasan di atas, dapat diperhitungkan sementara bahwa dalam
melaksanakan inovasi, perusahaan manajer harus mengambil kualitas menjadi
pertimbangan. Hal ini dapat ditinjau dari tiga aspek utama, yaitu :
1. Products or Services (produk atau pelayanan) – Tingkat kualitas produk baru atau jasa perusahaan berkembang melalui penerapan teknologi baru.
2. Operation Process (operasi proses) – Produktivitas secara efektif ditingkatkan serta pengurangan biaya yang dicapai dalam proses produksi.
3. Quality Management (kualitas manajemen) – Kepemimpinan, konsep manajemen, inovasi dan strategi pengendalian memiliki tingkat tertentu langsung dan signifikan terhadap manajemen bisnis.

Dimensi Kualitas (skripsi dan tesis)

Berdasarkan perspektif kualitas, David Garvin dalam Harner (2002)
mengembangkan dimensi kualitas kedalam 8 dimensi yang dapat digunakan sebagai perencanaan strategis terutama bagi perusahaan yang menghasilkan barang.
Kedelapan dimensi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Peformance (kinerja) – hal ini berkaitan dengan aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam membeli barang tersebut, (kekuatan/keutamaan dari produk).
2. Features (ciri-ciri atau keistimewaan) – karakteristik sekunder atau pelengkap performansi yang berguna untuk menambah fungsi dasar, berkaitan dengan pilihanpilihan produk dan pengembangannya.
3. Realibility (keandalan) – Hal ini yang berkaitan dengan probabilitas atau
kemungkinan suatu barang berhasil menjalankan fungsinya setiap kali digunakan dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu pula.
4. Conformance (kesesuaian), hal ini berkaitan dengan tingkat kesesuaian terhadap spesifikasi yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan pelanggan.
5. Durability (daya tahan) yaitu suatu refleksi umur ekonomis berupa ukuran daya tahan atau masa pakai barang.
6. Service ability (pelayanan), berkaitan dengan penanganan pelayanan purna jual, seperti penanganan keluhan yang ditujukan oleh pelanggan.
7. Aesthetics (estetik), merupakan karakteristik yang bersifat subyektif mengenai nilai-nilai estetika yang berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi dari preferensi individual.
8. Perceived Quality (kualitas yang di persepsikan), berkaitan dengan perasaan
pelanggan mengenai keberadaan produk tersebut sebagai produk yang berkualitas.

Elemen-Elemen Struktur Organisasi (skripsi dan tesis)

Robbins, Stephen P. dan Timothy A. Judge (2011), Organizational Behavior,
Edisi 14, Pearson, Hal : 522-528, mengatakan ada enam elemen kunci yang
diperhatikan oleh para pemimpin ketika hendak mendesain struktur di dalam
organisasi, antara lain:
1. Spesialisasi Pekerjaan (work specialization) – Dalam hal ini sejauh mana tugastugas dalam organisasi dibagi-bagi ke dalam beberapa pekerjaan sendiri.
2. Departementalisasi (departementtalization) – Dasar yang dipakai untuk
mengelompokkan pekerjaan secara bersama-sama. Departementalisasi dapat berupa proses, produk, geografi, dan pelanggan, dengan kata lain menentukan bagaimana karyawan dan kegiatan mereka dikelompokkan bersama-sama.
3. Rantai komando (chain command) – Garis wewenang yang tanpa putus yang
membentang dari puncak organisasi ke level paling bawah dan menjelaskan siapa bertanggung jawab kepada siapa.
4. Rentang kendali (span of control) – Jumlah bawahan yang dapat diarahkan oleh seorang manajer secara efisien dan efektif.
5. Sentralisasi dan Desentralisasi (centralization and decentralization) – Sentralisasi mengacu pada sejauh mana tingkat pengambilan keputusan terkonsentrasi pada satu titik di dalam organisasi. Desentralisasi adalah lawan dari sentralisasi. Organisasi yang lebih besar cenderung desentralisasi, yaitu mereka menyebar otoritas pengambilan keputusan dan kekuasaan di seluruh organisasi.
6. Formalisasi (formalization) – Sejauh mana standarisasi prilaku organisasi melalui aturan, prosedural serta mekanisme terkait. Dengan kata lain, formalisasi merupakan pembentukan standarisasi sebagai mekanisme koordinasi.
Steven L. McShane dan Mary Ann Von Glinow (2003:510) dalam bukunya
Organizational Behavior, second edition, mengatakan ada empat elemen dasar struktur organisasi, yaitu:
1. Span of Control (Rentang Kendali), Rentang kendali mengacu pada jumlah orang yang melaporkan langsung ke tingkat berikutnya dalam hirarki.
2. Centralization and Decentralization ( Sentralisasi dan Desentralisasi),
Sentralisasi berarti bahwa secara formal pengambilan keputusan dipegang oleh sekelompok kecil orang, biasanya yang di puncak hirarki organisasi. Organisasi yang lebih besar cenderung desentralisasi yaitu mereka menyebar otoritas pengambilan keputusan dan kekuasaan di seluruh organisasi.
3. Formalization (Formalisasi), Formalisasi adalah sejauh mana standarisasi prilaku organisasi melalui aturan, prosedural, pelatihan formal, dan
mekanisme terkait. Dengan kata lain, formalisasi merupakan pembentukan
standarisasi sebagai mekanisme koordinasi.
4. Departmentalization (Departementalisasi), menentukan bagaimana karyawan dan kegiatan mereka dikelompokkan bersama-sama. Ini adalah strategi fundamental untuk mengkordinasikan kegiatan organisasi karena mempengaruhi perilaku organisasi.

Pengertian Kinerja (skripsi dan tesis)

Sampurno (2010: 248) Kinerja adalah hasil akhir dari aktivitas dan kinerja
perusahaan adalah akumulasi hasil akhir dari seluruh aktivitas dan proses kerja dari perusahaan. Atau kinerja adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber daya yang dimiliki.
Sampurno (2010: 248) mengatakan pengukuran kinerja perusahaan
mempunyai manfaat antara lain: (1) meningkatkan kemampuan untuk kepuasan customer, (2) dampak terhadap reputasi perusahaan, dan (3) pengetahuan atau kemampuan organisasi. Kinerja perusahaan penting untuk diukur karena manajemen perlu memahami faktor-faktor apa saja yang mempunyai kontribusi terhadap kinerja perusahaan yang tinggi atau sebaliknya untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kinerja perusahaan rendah.
Perusahaan akan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan bila
perusahaan tersebut memiliki manajemen kinerja yang baik dengan sistem kontrol yang efektif.

Karateristik Inovasi (skripsi dan tesis)

Cepat atau lambat penerimaan inovasi oleh masyarakat sangan tergantung
pada karakteristik inovasi itu sendiri. Karakteristik inovasi yang mempengaruhi cepat
lambat penerimaan informasi Everett M. Rogers (2003), sebagai berikut:
1. Keunggulan relatif (relative advantage) – Keunggulan relatif yaitu sejauh mana inovasi dianggap menguntungkan bagi penerimanya. Tingkat keuntungan atau kemanfaatan suatu inovasi dapat di ukur berdasarkan nilai ekonominya, atau dari faktor status sosial, kesenangan, kepuasan, atau karena mempunyai komponen yang sangat penting. Makin menguntungkan bagi penerima makin cepat tersebarnya inovasi.
2. Kompatibilitas (compatibility) – Kompatibel ialah tingkat kesesuaian inovasi
dengan nilai, pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai atau norma yang diyakini oleh penerima tidak akan diterima secepat inovasi yang sesuai dengan norma yang ada di masyarakat.
3. Kerumitan (complexity) – Kompleksitas ialah, tingkat kesukaran untuk memahami dan menggunakan inovasi bagi penerima. Suatu inovasi yang mudah dimengerti dan mudah digunakan oleh penerima akan cepat tersebar, sedangkan inovasi yang sukar dimengerti atau sukar digunakan oleh penerima akan lambat proses penyebarannya.
4. Kemampuan diujicobakan (triability) – Kemampuan untuk diujicobakan adalah di mana suatu inovasi dapat dicoba atau tidaknya suatu inovasi oleh penerima. Jadi agar dapat dengan cepat di adopsi, suatu inovasi harus mampu mengemukakan keunggulannya.
5. Kemampuan untuk diamati (observability) – Yang dimaksud dengan dapat diamati ialah mudah atau tidaknya pengamatan suatu hasil inovasi. Suatu inovasi yang hasilnya mudah diamati akan makin cepat diterima oleh masyarakat, dan sebaliknya bila sukar diamati hasilnya, akan lama diterima oleh masyarakat

Definisi dan Pengertian Inovasi (skripsi dan tesis)

Inovasi adalah salah satu pilihan korporasi dalam menghadapi persaingan
pasar dan pengelolaan yang berkelanjutan. Freeman (2004) menganggap inovasi sebagai upaya dari perusahaan melalui penggunaan teknologi dan informasi untuk mengembangkan, memproduksi dan memasarkan produk yang baru untuk industri. Dengan kata lain inovasi adalah modifikasi atau penemuan ide untuk perbaikan secara terus-menerus serta pengembangan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pervaiz K. Ahmed and Charles D. Shepherd (2010) inovasi perusahaan dapat
menghasilkan R&D (Research and Development), produksi serta pendekatan
pemasaran dan akhirnya mengarah kepada komersialisasi inovasi tersebut. Dengan kata lain inovasi adalah proses mewujudkan ide baru, yang berbeda dengan yang dulu, dengan cara produksi atau dengan membuatnya menjadi nyata, dimana inovasi termasuk generasi evaluasi, konsep baru dan implementasi. Dimana penggunaan metode baru dan berbeda serta teknologi untuk meningkatkan kualitas biaya atau lebih rendah, untuk memenuhi atau melampaui target perusahaan.
Pervaiz K. Ahmed and Charles D. Shepherd (2010) inovasi tidak hanya
terbatas pada benda atau barang hasil produksi, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Jadi, secara umum, inovasi berarti suatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktik-praktik baru yang  belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan atau diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan

Hubungan antara Kepemimpinan Transformasional dengan Perilaku Inovatif (skripsi dan tesis)

Perusahaan atau organisasi khususnya yang bergerak dibidang industri
kreatif memiliki tuntutan untuk selalu berinovasi. Hal tersebut berdampak
pada produktivitas perusahaan atau organisasi dan menjadikan organisasi atau perusahaan tersebut dapat tetap berjalan untuk mencapai target perusahaan atau organisasi. Namun, masih ada perusahaan atau organisasi yang belum  menjadikan inovasi sebagai kunci dari produktivitas perusahaan atau organisasi. Hal tersebut berdampak pada produktivitas perusahaan yang
menurun.
Perilaku inovatif adalah sebuah kegiatan yang dilakukan oleh individu
atau kelompok untuk menemukan solusi dari sebuah masalah dengan cara
menemukan ide-ide baru yang diterapkan pada perusahaan atau organisasi.
Oleh karena itu, dibutuhkan faktor yang dapat mendorong inovasi yang ada
pada diri karyawan. Penelitian yang dilakukan oleh De Jong dan Kemp
(2003) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku
inovatif adalah otonomi. Seseorang akan lebih berinovatif apabila mereka
memiliki pemimpin yang cukup mengawasi dan mengontrol ketika mereka
bekerja.
Robbins dan Judge (2008) dan Cavazotte (2012), terdapat empat
aspek kepemimpinan transformasional. Aspek pertama adalah idealized
influence (pengaruh ideal) yaitu perilaku pemimpin yang memberikan visi
dan misi, memunculkan rasa bangga, serta mendapatkan respek dan
kepercayaan bawahan. Aspek kedua adalah inspirational motivation
(motivasi inspirasional) yaitu perilaku pemimpin yang mampu
mengkomunikasikan harapan yang tinggi, menyampaikan visi bersama
secara menarik, dan menginspirasi bawahan untuk mencapai tujuan yang
menghasilkan kemajuan penting bagi organisasi.
Aspek ketiga adalah intellectual stimulation (stimulasi intelektual)
yaitu perilaku pemimpin yang mampu meningkatkan kreativitas dan
inovasi bawahan, meningkatkan rasionalitas, dan pemecahan masalah secara
cermat. Aspek keempat adalah individualized consideration (pertimbangan
individual) yaitu perilaku pemimpin yang memperlakukan masing-masing
bawahan sebagai seorang individu dengan kebutuhan, kemampuan, dan
aspirasi yang berbeda, serta melatih dan memberikan arahan.
Pengaruh ideal (idealized influence) mengacu kepada kemampuan
untuk mengartikulasikan visi dengan jelas, memotivasi pengikutnya dengan
melakukan hal yang sesuai atau benar, dan dapat menunjukkan standar etika
yang tinggi, sehingga pengikutnya termotivasi untuk dapat memiliki inovasi
untuk mewujudkan visi, misi, serta harapan perusahaan. Pemimpin
transformasional mampu untuk menginduksikan pengikutnya, melalui
intelectual stimulation, untuk mengevaluasi kembali masalah-masalah
potensial dan lingkungan kerja mereka, sehingga ide-ide inovatif dapat
berkembang (Reuvers, dkk., 2008).
Pemimpin transformasional mampu untuk menginduksi pengikutnya
dengan menggunakan inspirational motivation sehingga pengikutnya
memiliki keyakinan dalam kemampuan diri mereka, sehingga pengikutnya
sukses mengimplementasikan kompetensi mereka dan mudah untuk
menunjukan perilaku kerja inovatif (Reuvers, dkk., 2008). Melalui
individualized consideration, pemimpin transformasional dapat membuat
pengikutnya berperilaku kerja inovatif karena memberikan penekanan pada
keberagaman bakat

Aspek-aspek Kepemimpinan Transformasional (skripsi dan tesis)

Menurut Avolio dan Bass (1994), terdapat empat komponen
kepemimpinan transformasional, yaitu:
a. Pengaruh Ideal (Idealized Influence)
Pengaruh ideal atau idealized influence adalah perilaku pemimpin
yang memberikan visi dan misi, memunculkan rasa bangga, serta
mendapatkan respect dan kepercayaan bawahan. Pengaruh ideal juga
mengacu kepada kemampuan untuk mengartikulasikan visi dengan jelas,
memotivasi orang lain dengan , melakukan hal yang sesuai atau benar,
dan dapat menunjukkan standar etika yang tinggi. Kecenderungan kode
etik yang digunakan juga kuat, melibatkan orang lain dalam mengambil
resiko dan membangun harapan yang jelas dari organisasi di masa yang
akan datang. Seorang pemimpin transformasional akan mampu menarik
pengikutnya dengan meyakinkan pengikutnya melalui visi-visi yang jelas
dan menunjukan etika yang tinggi, sehingga pengikutnya yakin dan akan
percaya dengan pemimpin.
b. Motivasi Inspirasional (Inspirational Motivation)
Motivasi inspirasional adalah cara seorang pemimpin bertindak
untuk menginspirasi pengikutnya guna mencapai tujuan pribadi dan
organisai dengan cara memberikan makna tentang tugas, standarisai yang
tinggi, mengkomunikasikan optimisme tujuan masa depan dan
menggunakan simbol dan gambar. Oleh karena itu motivasi inspirasional
mengacu pada bagaimana pemimpin menginspirasi bawahannya dengan
cara menunjukan komitmen, optimism dan antusiasme untuk mencapa
itujuan organisasi dan individu. Seorang pemimpin memberikan
strandarisasi hasil yang tinggi guna memotivasi bawahannya agar dapat
meningkatkan strandarisasi diri.
c. Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation)
Stimulasi intelektual adalah perilaku pemimpin yang mampu
meningkatkan kesadaran akan masalah dan mempengaruhi pengikutnya
untuk melihat masalah dari sudut pandang baru. Pemimpin juga mampu
merangsang pengikutnya untuk menjadi kreatif dan inovatif, berani
mengambil resiko, serta menantang keyakinan diri mereka sendiri. Oleh
karena itu stimulasi intelektual dapat dikatakan sebagai sebuah
kemampuan membuat individu berfikir tentang cara-cara baru untuk
pekerjaan, untuk menjadi kreatif dalam pemecahan masalah mereka
sendiri dan mendorong orang lain untuk mencoba ide-ide baru tanpa harus
dikritik publik. Contohnya pemimpin yang akan mengarahkan
pengikutnya untuk menemukan pemecahan masalah yang baru untuk
menyelesaikan masalah.
d. Pertimbangan Individual(Individualized Consideration)
Adalah kemampuan untuk memahami dan berbagi dalam masalah
dan kebutuhan orang lain, serta memperlakukan seseorang secara unik.
Pertimbangan individual juga mengacu pada pemahaman setiap
kepribadian setiap bawahan secara meneyuluruh dengan menggunakan
pemberdayaan, pendampingan, mendengarkan dan memandang individus
ecara unik. Contohnya pemimpin yang dapat berkomunikasi, mengerti
bawahannya tanpa melihat kepribadian bawahannya.
Berdasarkan aspek-aspek kepemimpinan transformasional diatas,
maka dapat disimpulkan bahwa aspek pengaruh ideal (idealized
influence), motivasi inspirasional (inspirational motivation), stimulasi
intelektual (intellectual stimulation), dan pertimbangan individual
(individualized consideration) adalah indikator kepemimpinan
transformasioanal.

Pengertian Kepemimpinan Transformasional (skripsi dan tesis)

Pemimpin transformasional adalah pemimpin yang dapat
menstimulasi pengikutnya untuk melakukan hal-hal yang lebih dari apa yang
diharapkan dengan memotivasi mereka secara intrinsik. Pemimpin
transformasional mampu untuk menginduksikan pengikutnya, melalui
intelectual stimulation, untuk mengevaluasi kembali masalah-masalah
potensial dan lingkungan kerja mereka, sehingga ide-ide inovatif dapat
berkembang (Reuvers, Van Engen & Wilson, 2008). Kepemimpinan
transformasional juga dapat di definisikan sebagai pemimpin yang mampu
memotivasi, mendorong perubahan, menumbuhkan inovasi, dan menanamkan
keinginan untuk bekerja di luar dugaan (Fischer, 2016). Antonakis, Avolio
dan Sivasubramaniam (2003) mendefinisikan kepemimpinan
transformasional sebagai sebuah perilaku yang bersifat proaktif,
meningkatkan perhatian atas kepentingan bersama dan membantu para
pengikut mencapai tujuan pada tingkatan yang paling tinggi.
Kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang
mendorong para pengikutnya untuk merubah motif, kepercayaaan, nilai,
dan kemampuan sehingga minat dan tujuan pribadi dari para pengikut
dapat selaras dengan visi dan tujuan organisasi (Goodwin,Wofford &
Whittington, 2001).Pemimpin dengan gaya transformasional memberikan
inspirasi untuk pengikutnya agar tidak mementingkan kepentingan pribadi
demi kebaikan organisasi dan pemimpin dengan gaya transformasional
memiliki pengaruh yang besar pada diri pengikutnya (Bass, 1997).
Menurut Gracia, Jimenez, Barrionuevo dan Gutierrez (2012)
kepemimpinan transformasional mengacu pada kepemimpinan yang
meningkatkan hubungan emosional pengikutnya dengan minat mereka,
memberikan inspirasi yang lebih tinggi, dan membantu pengikutnya untuk
mencapai tujuan mereka. Ahli lain mengatakan bahwa kepemimpinan
transformasional mampu memotivasi seseorang untuk belajar dan perilaku
yang ideal untuk membangun modal sosial untuk mempertajam kemampuan
melebihi batas diri (Chen, Zheng, Yang& Bai, 2016). Fischer (2016)
mendefinisikan kepemimpinan transformasinal sebagai sebuah
kepemimpinan yang mampu mengarahkan bawahannya bekerja diluar
kemampuannya dengan cara menginspirasi, mendorong perubahan,
menumbuhkan inovasi.
Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan oleh beberapa
tokoh, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kepemimpinan transformasional
adalah tipe kepemimpinan yang bersifat proaktif dan menekankan bagaimana
bawahan dapat berinovasi dengan caramemberikan motivasi, menginspirasi.
Seorang pemimpin dengan tipe kepemimpinan transformasional juga mampu
menyatukan ide-ide dari pemikiran menjadi selaras dengan visi dan misi
perusahaan serta membuat pengikutnya bekerja melebihi batas kemampuan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku Inovatif (skripsi dan tesis)

De Jong and Kemp (2003) memaparkan beberapa faktor yang dapat
membengaruhi perilaku inovatif, yaitu :
a. Tantangan Kerja (Job Challenge)
Ketika karyawan menghadapi tantangan, mereka akan lebih
termotivasi secara intrinsik. Rekan kerja dapat dimotivasi oleh faktor
intrinsik dan ekstrinsik. Motif ekstrinsik meliputi insentif berdasarkan
kenaikan gaji, bonus, dll. Motivator intrinsik termasuk insentif yang
diterima oleh partisipasi. Motif intrinsik diharapkan memiliki pengaruh
yang lebih signifikan dalam membuat saran dan usaha implementasi.
b. Otonomi (Autonomy)
Seseorang akan lebih berinovatif apabila mereka memiliki
pemimpin yang cukup mengawasi dan mengontrol ketika mereka bekerja.
c. Perhatian Strategis (Strategic Attention)
Perhatian dapat mempengaruhi perilaku inovatif, terutama
ditujukan untuk meningkatkan tujuan bisnis yang lebih umum seperti
kepuasan kerja dan kinerja. Perusahaan yang mampu memberikan
perhatian yang baik untuk karyawan akan menjadikan karyawan menjadi
lebih bekerja dengan baik.
d. Situasi yang Mendukung (Supportive Climate)
Perusahaan diharapkan mampu mengetahui situasi yang diperlukan
dan diharapkan oleh karyawan, karena dengan mengetahui apa yang
diharapkan dari mereka, karyawan akan membuang sedikit waktu dalam
memutuskan bagaimana bertindak dalam situasi tertentu. Sehingga,
karyawan dapat lebih berinisiatif dengan melakkan inovasi.
e. Kontak Luar (External Contacts)
Semakin seringnya rekan kerja berinteraksi dengan klien dan
kompetitor maka hal ini memungkinkan pekerja untuk mengidentifikasi
peluang pasar dan ancaman dari pekerjaan mereka di lingkungan yang
lebih cepat dan menggunakannya untuk pengembangan layanan baru.
f. Perbedaan (Differentiation)
Perbedaan situasi, terutama perbedaan situasi pasar akan
mempengaruhi perilaku inovatif, karena karyawan tidak ingin
perusahaannya tertinggal dari perusahaan lain.
g. Variasi Permintaan (Variation in Demand)
Variasi permintaan diharapkan dapat mendorong perilaku inovatif.
ketika Pelanggan menginginkan layanan yang berbeda, maka hal itu
membuat karyawa di paksa untuk menghasilkan ide baru secara berurutan
untuk menghubungkan dengan kebutuhan pelanggan.
Berdasarkan faktor-faktor diatas, maka dapat disimpulkan bahwa factor
tantangan kerja (job challenge), otonomi (autonomy), perhatian startegis (strategic attention), situasi yang mendukung (supportive climate), kontakl uar (external contacts), perbedaan (differentiation), dan yang terakhir variasi permintaan (variation in demand) merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kerja inovatif

Aspek-aspek Perilaku Inovatif (skripsi dan tesis)

Janssen (2000) memaparkan tiga dimensi untuk pengukuran perilaku
inovatif di tempat kerja yaitu :
a. Menciptakan Ide (Idea Generation)
Karyawan mampu mengenali masalah yang terjadi dalam
organisasi kemudian menciptakan ide atau solusi baru yang berguna pada
bidang apapun. Ide atau solusi tersebut dapat bersifat asli maupun
dimodifikasi dari produk dan proses kerja yang sudah ada sebelumnya.
Contohnya ketika muncul masalah di dalam organisasi, karyawan mampu
untuk menemukan ide-ide sebagai pemecahan masalah.
b. Berbagi Ide (Idea Promotion)
Karyawan berbagi ide atau solusi baru yang telah diciptakan
kepada rekan-rekan kerja, sehingga ide tersebut dapat diterima. Selain
itu, terjadi pula pengumpulan dukungan agar ide tersebut memiliki
kekuatan untuk diimplementasikan dan direalisasikan dalam organisasi.
Contohnya ketika karyawan sudah menemukan ide sebagai sebuah
pemecahan masalah, maka selanjutnya karyawan berbagi ide tersebut
untuk mendapatkan dukungan yang nantinya dapat di terapkan di
organisasi.
c. Realisasi Ide (Idea Realization)
Karyawan memproduksi sebuah prototipe atau model dari ide
yang dimiliki menjadi produk dan proses kerja yang nyata agar dapat
diaplikasikan dalam lingkup pekerjaan, kelompok, atau organisasi secara
keseluruhan sehingga dapat meningkatkan efisiensi kerja organisasi.
Contohnya ketika karyawan sudah mendapatkan dukungan dari rekan
kerja untuk ide yang diciptakan, maka selanjutnya penerapan atau
aplikasi ide tersebut kedalam sebuah organisasi sebagai sebuah
pemecahan masalah.
Berdasarkan aspek-aspek perilaku kerja inovatif, maka dapat disimpulkan
bahwa aspek menciptakan ide (idea generation), berbagi ide (idea promotion),
dan realisasi ide (idea realization) adalah dasar dari munculnya perilaku kerja
inovatif.

Pengertian Perilaku Inovatif (skripsi dan tesis)

Secara etimologis inovatif adalah usaha seseorang dengan
mendayagunakan pemikiran, kemampuan imajinasi, berbagai stimulan, dan
individu yang mengelilinginya dalam menghasilkan produk baru, baik bagi
dirinya sendiri ataupun lingkungannya. Sedangkan menurut De Jong, dkk
(2008) perilaku inovatif atau Innovative Work Behaviour (IWB) adalah
perilaku individu yang bertujuan untuk mencapai tahap pengenalan atau
berusaha mengenalkan ide-ide, proses, produk atau prosedur yang baru dan
berguna di dalam pekerjaan, kelompok atau organisasi. Perilaku kerja
inovatif didefinisikan sebagai pembuatan, pengenalan, dan penerapan ide atau
gagasan baru dalam pekerjaan, kelompok, atau organisasi untuk
meningkatkan kinerja peran individu, kelompok, atau organisasi tersebut
(Janssen, 2000).
Perilaku inovatif juga didefinisikan sebagai sebuah tindakan yang
dilakukan untuk menciptakan dan mengambil ide-ide, pemikiran, atau cara-cara baru untuk di terapkan dalam pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan
(Gaynor, 2002). McGruirk, Lenihan dan Hart (2015) mendefinisikan perilaku
kerja inovatif sebagai penciptaan model bisnis, teknik manajemen, strategi
dan struktur organisasi diluar dari yang sudah ada. Perilaku inovatif mengacu
pada kemampuan untuk menciptakan sebuah ide yang original, menggunakan
hasil kerja sebagai sebuah ide yang berpotensi dan menerapkan ide-ide baru
kedalam praktek kerja (Birdi, Leach, & Magadley, 2016)
Pendapat lain dikemukakan oleh (Klesen & Street, 2001) yang
mendefinisikan perilaku inovatif sebagai keseluruhan tindakan individu yang
mengarah pada pemunculan, pengenalan dan menguntungkan pada seluruh
organisasi. Sesuatu yang baru meliputi pengembangan ide produk baru atau
teknologi-teknologi, perubahan dalam prosedur administratif yang bertujuan
untk meningkatkan relasi kerja atau penerapan dari ide-ide baru atau
teknologi-teknologi untuk proses kerja yang secara signifikan
meningkatkanefisiensi dan efektifitas mereka (Klesen & Street, 2001).
Perilaku inovatif karyawan mengacu pada sebuah kemampuan
individu untuk menciptakan sebuah ide-ide dan sudut pandang baru, yang
diubaha menjadi inovasi (Dysvik, Kuvaas & Buch, 2014). Kualitas yang
mendasar dari sebuah inovasi yang dilakukan karyawan adalah bagaimana
seseorang dapat mencari tahu masalah dalam proses belajar, menghasilkan
ide-ide dengan kreatifitas, kemudian mencari dukungan dan pengakuan yang
sah, lalu menerapkannya kedalam prakter kerja (Zhao & Shao, 2011).
Berdasarkan penjelasan beberapa tokoh diatas dapat disimpulkan
bahwa perilaku kerja inovatif adalah tindakan individu yang mampu
menciptakan ide-ide baru, produk, pemecahan masalah dan teknologi-teknologi. Hal yang paling penting dari sebuah perilaku kerja inovatif adalah
bagaimana karyawan dapat mencari ide-ide kreatif, kemudian mencari
dukungan dan diakhiri dengan penerapan pada praktek kerja.

Tipologi Inovasi (skripsi dan tesis)

Proses Inovasi merupakan suatu proses yang yang sifatnya kompleks dan
tidak dapat dianggap sederhana hanya dengan menunjukkan adanya suatu hal yang  baru. Akan tetapi, hal baru tersebut perlu melibatkan aspek-aspek lain didalam konteks organisasi sektor publik atau organisasi pemerintahan yang meliputi adanya proses politik, kebijakan, kualitas, dan lain sebagainnya. Menurut Mulgan dan Albury suatu inovasi dikatakan berhasil apabila inovasi tersebut merupakan kreasi dan implementasi dari proses, produk, layanan, dan metode pelayanan baru yang merupakan hasil pengembangan nayata dalam hal efisiensi dan efektivitas atau kualitas pelayanan.
Dengan demikian inovasi meliputi banyak aspek dan sangat
kompleks dengan berbagai faktor pendukung serta bukan hanya mengacu pada hal yang baru semata.
Inovasi bukan hanya dalam lingkup produk dan pelayanan semata. Inovasi
produk dan layanan meliputi perubahan bentuk dan desain produk atau lainnya.
Sedangkan proses berasal dari gerakan pembaharuan kualitas yang berkelanjutan dan mngacu pada kombinasi perubahan organisasi, prosedur, dan kebijakan yang terkaitdengan inovasi tersebut. adapun jenis-jenis inovasi pada organisasi sektor publik menurut Muluk sebagai berikut ini:
a) Inovasi Produk
Inovasi ini berangkat dari adanya perubahan pada desain dan produk suatu
layanan yang mana membedakan dengan produk layanan terdahulu atau
sebelumnya.

b) Inovasi Proses
Inovasi ini merujuk pada adanya pembaharuan kualitas yang berkelanjutan
dan adanya perpaduan antara perubahan, prosedur, kebijakan, dan
pengeorganisasian yang diperlukan organisasi dalam melakukan inovasi.
c) Inovasi Metode Pelayanan
Inovasi ini merupakan adanya perubahan yang baru dalam aspke interaksi
yang dilakukan pelanggan atau adanya cara yang baru dalam menyediakan
atau meberikan suatu layanan.
d) Inovasi strategi atau kebijakan
Inovasi ini merujuk pada pada aspke visi, misi, tujuan, dan strategi baru dan
juga menyangkut realitas yang muncul sehingga diperlukan suatu strategi dan
kebijakan baru.
e) Inovasi Sistem
Kebaruan dalam konteks interaksi atau hubungan yang dilakukan dengan
pihak aktor lain dalam rangka suatu perubahan pengelolaan organisasi.
Berdasarkan penjelasan dari Muluk diatas, dapat diketahui bahwasanya ada
beberapa jenis inovasi dalam sektor publik yang terdiri dari inovasi produk layanan, inovasi proses, inovasi dalam metode pelayanan, inovasi dalam strategi atau kebijakan, dan inovasi sistem. Hal ini menunjukkan inovasi memiliki tipe-tipe atau jenis-jenis yang beragam.

Aspek-Aspek Inovasi (skripsi dan tesis)

Suatu inivasi tidak lepas beberapa hal atau aspek penting yang menunjukkan
suatu organisasi telah melakukan inovasi. Menurut Suwarno6
ada lima hal yang perlu ada dalam suatu inovasi sebagaimana berikut ini:Sebuah Inovasi hadir sebagai pengetahuan baru bagi masyarakat dalam
sebuah sistem sosial tertentu. Pengetahuan baru ini merupakan faktor penting
penentu perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat .
b) Cara Baru
Inovasi juga dapat berupa cara baru bagi individu atau sekelompok orang
untuk memenuhi kebutuhan atau menjawab masalah tertentu. Cara baru ini
merupakan ini merupakan pengganti cara lama yang sebelumnya berlaku.
c) Objek Baru
Suatu inovasi merujuk pada adanya objek baru untuk penggunanya. Objek
baru ini dapat berupa fisik (tangible) atau tidak berwujud fisik (intangible).
d) Teknologi Baru
Inovasi sangat identik dengan kemajuan teknologi. Banyak contoh inovasi
yang hadir dari hasil kemajuan teknologi. Indikator kemajuan dari suatu
produk teknologi yang inovatif biasanya dapat dikenali dari fitur-fitur yang
melekat pada produk tersebut.
e) Penemuan Baru
Hasil semua inovasi merupakan hasil penemuan baru. Inovasi merupakan
produk dari sebuah proses yang sepenuhnya bekerja dengan kesadaran dan
kesengajaannya.

Definisi Inovasi (skripsi dan tesis)

Inovasi merupakan salah satu aspek yang berpengaruh dalam berkembangnya suatu organisasi. Beberpa organisasi baik itu organisasi sektor swasta ataupun sektor publik seperti organisasi pemerintahan berupaya untuk menemukan inovasi-inovasi. Inovasi menurut Said dimaknai sebagai suatu perubahan yang terencana dengan memperkenalkan teknologi dan penggunaan peralatan baru dalam lingkup instansi. Inovasi memiliki pengertian yang tidak hanya sebatas membangun dan memperbarui
namun juga dapat didefinisikan secara luas, memanfaatkan ide-ide baru menciptakan produk, proses, dan layanan.
Menurut Hamel, inovasi dimaknai sebagai peralihan
dari prinsip-prinsip, proses, dan praktik-praktik manajemen tradisional atau
pergeseran dari bentuk organisms yang lama dan memberi pengaruh yang siginifikan terhadap cara sebuah majanemen yang dijalankan.
Berdasarkan penjelasan tersebut inovasi identik tidak hanya pada pembaharuan dalam aspek teknologi atau peralatan
yang baru saja, namun juga dalam lingkup yang lebih luas seperti produk, proses, dan bentuk layanan yang menunjukkan adanya suatu perubahan dalam praktik penyelenggaraan suatu oraganisasi.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) (skripsi dan tesis)

PT. PLN (Perusahaan Listrik Negara) merupakan salah satu perusahaan BUMN di bidang kelistrikan yang bertugas melayani masyarakat seluruh Nusantara. PLN merupakan badan usaha tunggal yang diberi kepercayaan serta kewenangan oleh Pemerintah dalam pengadaan dan pemberdayaan energi listrik di pelosok negeri. Adapun kegiatan bisnis PLN dalam hal menjalankan usaha penyediaan tenaga listrik mulai dari kegiatan pembangkitan, penyaluran, distribusi tenaga listrik, sampai dengan perencanaan serta pembangunan sarana prasarana penyediaan tenaga listrik. Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai Badan Usaha Milik Negara yang berbentuk Perusahaan Perseroan (Persero) berkewajiban untuk menyediakan tenaga listrik bagi kepentingan umum dengan tetap memperhatikan tujuan perusahaan yaitu menghasilkan keuntungan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara.
Bidang usaha yang dilakukan perusahaan PT PLN (Persero) mencakup berbagai rangkaian kegiatan yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan serta anggaran Dasar perusahaan PT. PLN (Persero), diantaranya adalah:
1. Menjalankan usaha penyediaan tenaga listrik yang mencakup:
a. Pembangkitan tenaga listrik
b. Penyaluran tenaga listrik
c. Distribusi tenaga listrik
d. Perencanaan dan pembangunan sarana penyediaan tenaga listrik
e. Pengembangan penyediaan tenaga listrik
f. Penjualan tenaga listrik.
2. Menjalankan usaha penunjang tenaga listrik yang mencakup:
a. Konsultasi ketenagalistrikan
b. Pembangunan dan pemasangan peralatan ketenagalistrikan
c. Pemeliharaan peralatan ketenagalistrikan
d. Pengembangan teknologi peralatan yang menunjang penyediaan tenaga
listrik.
34
3. Menjalankan kegiatan-kegiatan lainnya mencakup:
a. Kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber energi
lainnya untuk kepentingan tenaga listrik
b. Pemberian jasa operasi dan pengaturan (dispatcher) pada pembangkitan,
penyaluran, distribusi dan retail tenaga listrik
c. Kegiatan perindustrian perangkat keras dan lunak di bidang ketenagalistrikan
dan peralatan lain terkait dengan tenaga listrik
d. Kerjasama dengan pihak lain atau badan penyelenggara bidang
ketenagalistrikan baik dari dalam maupun luar negeri di bidang
pembangunan, operasional, telekomunikasi dan informasi terkait dengan
ketenagalistrikan
e. Usaha jasa ketenagalistrikan.

Inovasi Pelayanan Publik (skripsi dan tesis)

Menurut Yogi dalam LAN (2007:113), Inovasi di sektor publik adalah salah satu
jalan atau bahkan breakthrough untuk mengatasi kemacetan dan kebuntuan
organisasi di sektor publik. Karakteristik dari sistem di sektor publik kaku harus mampu dicairkan melalui penularan budaya inovasi. Inovasi yang biasanya ditemukan di sektor bisnis kini mulai diterapkan dalam sektor publik. Budaya inovasi harus dapat dipertahankan dan dikembangkan dengan lebih baik. Hal ini tidak terlepas dari dinamika eksternal dan tuntutan perubahan yang sedemikian cepat, yang terjadi di luar organisasi publik. Selain itu perubahan di masyarakat juga begitu penting sehingga demikian, maka sektor publik dapat menjadi sektor yang dapat mengakomodasi dan merespon secara cepat setiap perubahan yang terjadi.
Menurut Yogi dalam LAN (2007) secara khusus inovasi dalam lembaga publik
dapat didefinisikan sebagai penerapan (upaya membawa) ide-ide baru dalam
implementasi, dicirikan oleh adanya perubahan langkah yang cukup besar,
berlangsung lama dan berskala cukup umum sehingga dalam proses
implementasinya berdampak cukup besar terhadap organisasi dan tata hubungan organisasi. Inovasi dalam pelayanan publik mempunyai ciri khas, yaitu sifatnya yang intangible karena inovasi layanan dan organisasi tidak semata berbasis pada produk yang dapat dilihat melainkan pada perubahan dalam hubungan pelakunya, yaitu antara service provider dan service receiver (user), atau hubungan antar berbagai bagian di dalam organisasi atau mitra sebuah organisasi.
Menurut Yogi dalam LAN (2007), ditinjau secara lebih khusus, pengertian inovasi dalam pelayanan publik bisa diartikan sebagai prestasi dalam meraih,
meningkatkan dan memperbaiki efektivitas, efisiensi dan akuntabilitas pelayanan publik yang dihasilkan oleh inisiatif pendekatan, metodologi dan atau alat baru dalam pelayanan masyarakat. Dengan pengertian ini, inovasi pelayanan publik tidak harus diartikan sebagai upaya menyimpang dari prosedur, melainkan sebagai  upaya dalam mengisi menafsirkan dan menyesuaikan aturan mengikuti keadaan setempat.
Proses kelahiran suatu inovasi, bisa didorong oleh bermacam situasi. Secara
umum inovasi dalam layanan publik ini bisa lahir dalam bentuk inisiatif, seperti:
1. Kemitraan dalam penyampaian layanan publik, baik antara pemerintah dan
pemerintah, sektor swasta dan pemerintah.
2. Penggunaan teknologi informasi untuk komunikasi dalam pelayanan publik.
3. Pengadaan atau pembentukan lembaga layanan yang secara jelas
meningkatkan efektivitas layanan (kesehatan, pendidikan, hukum dan
keamanan masyarakat).
Maka inovasi pelayanan publik dapat penulis simpulkan sebagai terobosan jenis pelayanan baik yang merupakan ide kreatif original dan/atau adaptasi atau modifikasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Inovasi pelayanan publik sendiri tidak mengharuskan suatu penemuan baru, tetapi dapat merupakan suatu pendekatan baru yang bersifat kontekstual.

Standar Pelayanan Publik (skripsi dan tesis)

Menurut Undang-Undang Nomor 25 Pasal 1 Tahun 2009 tentang Pelayanan
Publik, standar pelayanan adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah, terjangkau, dan terukur.
Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan dan dipublikasikan sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan.
Standar pelayanan merupakan ukuran yang dibakukan dalam penyelenggaraan
pelayanan publik yang wajib ditaati oleh pemberi atau penerima pelayanan.
Menurut Keputusan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara No. 63 Tahun 2004 dalam Ratminto dan Atik (2005:23) tentang pedoman umum penyelenggaraan
pelayanan publik, standar pelayanan harus meliputi:
1. Prosedur Pelayanan
Prosedur pelayanan yang dilakukan dalam hal ini antara lain kesederhanaan,
yaitu kemudahan dalam memenuhi persyaratan.
2. Waktu Penyelesaian
Waktu yang ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sama dengan waktu penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan haruslah berkaitan dengan kepastian waktu dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan lamanya waktu layanan masing-masing.
3. Biaya Pelayanan
Biaya atau tarif pelayanan termasuk rincian dalam proses pemberian
pelayanan, haruslah dengan pengenaan biaya yang secara wajar dan terperinci
serta tidak melanggar ketentuan yang berlaku.
4. Produk Layanan
Hasil layanan yang diterima harus sesuai dengan ketentuan yang telah
ditetapkan. Hal ini berkaitan dengan kenyataan dalam pemberian pelayanan
yaitu hasil pelayanan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang telah
ditentukan.
5. Sarana dan Prasarana
Penyedia sarana dan prasarana yang memadai oleh penyelenggara pelayanan
publik. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan perangkat penunjang pelayanan
yang memadai serta adanya kemudahan dan kenyamanan dalam memperoleh
suatu pelayanan.
6. Kompetensi Petugas Pemberi Pelayanan
Kompetensi petugas memberi pelayanan harus ditetapkan dengan tetap
berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, dan perilaku yang
dibutuhkan. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab petugas pelayanan
seperti pengetahuan, kedisiplinan, kesopanan, dalam memberikan pelayanan.
Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, standar pelayanan adalah ukuran kualitas pelayanan yang dilakukan oleh penyelenggara pelayanan publik terhadap masyarakat sebagai kewajiban dan janji yang berkualitas, juga dinilai dari ketersediaan waktu yang tepat, biaya pelayanan, menikmati produk pelayanan yang memuaskan yang didukung oleh sarana dan prasarana.

Prinsip Pelayanan Publik (skripsi dan tesis)

Menurut Sulistio dan Budi (2009:39) pelayanan publik yang diberikan oleh
Birokrasi hendaknya berdasarkan prinsip-prinsip dasar berikut ini:
1. Rasional, efektif dan efisien yang dilakukan melalui manajemen terbuka.
2. Ilmiah, berdasarkan kajian dan penelitian serta didukung oleh cabang-cabang ilmu pengetahuan lainnya.
3. Inovatif, pembaruan yang dilakukan terus-menerus untuk menghadapi
lingkungan yang dinamis, berubah dan berkembang.
4. Produktif, berorientasi kepada hasil kerja yang optimal.
5. Profesionalisme, penggunaan tenaga kerja profesional, terampil dalam istilah “The Right Man in The Right Pleace”. 6. Penggunaan teknologi modern yang tepat guna.
Islamy dalam Sulistio dan Budi (2009:41) menyatakan bahwa pelayanan publik harus dilaksanakan oleh Birokrasi Pemerintah berdasarkan kepada prinsip-prinsip
pelayanan prima berikut ini:
1. Appropriateness (kesesuaian)
2. Accesibility (keterjangakauan)
3. Continuity (keberlanjutan)
4. Technically (teknis)
5. Profitability (menguntungkan)
6. Equitability (adil)
7. Transparency (terbuka)
8. Accountability (bertanggungjawab)
9. Effectiveness and Efficiency (efektif dan efisien)

Kualitas Pelayanan Publik (skripsi dan tesis)

Kualitas pelayanan publik merupakan tolak ukur untuk menentukan bagaimana kinerja layanan publik di suatu lembaga penyedia layanan publik. Menurut Pasolong (2010:132), terkait kualitas pelayanan publik, adalah sbb:
“Kualitas pada dasarnya merupakan kata yang menyandang arti relatif
bersifat abstrak, kualitas dapat digunakan untuk menilai atau menentukan
tingkat penyesuaian suatu hal terdapat persyaratan atau spesifikasinya itu
terpenuhi berarti kualitas suatu hal yang dimaksud dapat dikatakan baik,
sebaliknya jika persyaratan tidak terpenuhi maka dapat dikatakan tidak baik.
Secara teoritis, tujuan pelayanan publik pada dasarnya adalah memuaskan
masyarakat”. Sinambela (2006:6) menjelaskan bahwa untuk mencapai kepuasan itu dituntut
kualitas pelayanan prima yang tercermin dari:
1. Transparansi, yakni pelayanan yang bersifat terbuka, mudah dan disediakan
secara memadai serta mudah dimengerti.
2. Akuntabilitas, yakni pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Kondisional, yakni pelayanan yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan
pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap berpegang pada prinsip
efisiensi dan efektivitas.
4. Partisipatif, yaitu pelayanan yang dapat mendorong peran serta masyarakat
dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi,
kebutuhan, dan harapan masyarakat.
5. Kesamaan hak, yaitu pelayanan yang tidak melakukan diskriminasi dilihat
dari aspek apa pun khususnya suku, ras, agama, golongan, status sosial, dan
lain-lain.
6. Keseimbangan hak dan kewajiban, yaitu pelayanan yang mempertimbangkan
aspek keadilan antara pemberi dan penerima pelayanan publik.
Gasperz dalam Sinambela (2006:7) mengemukakan bahwa pada dasarnya kualitas mengacu pada pengertian pokok:
1. Kualitas terdiri atas sejumlah keistimewaan produk, baik keistimewaan
langsung, maupun keistimewaan atraktif yang memenuhi keinginan
pelanggan dan memberikan kepuasan atas penggunaan produk.
2. Kualitas terdiri atas segala sesuatu yang bebas dari kekurangan atau
kerusakan.
Disamping itu, Zeithhalm-Parasuman-Berry dalam Pasolong (2010:135),
mengatakan bahwa untuk mengetahui kualitas pelayanan yang dirasakan secara nyata oleh konsumen, ada beberapa indikator ukuran kepuasan konsumen yang terletak pada lima dimensi kualitas pelayanan menurut apa yang dikatakan konsumen. Kelima dimensi tersebut antara lain yaitu :
1. Tangibles : kualitas pelayanan berupa sarana fisik perkantoran, komputerisasi
administrasi, ruang tunggu, tempat informasi.
2. Reliability : kemampuan dan kehandalan untuk menyediakan pelayanan yang
terpercaya.
3. Responsivess : kesanggupan untuk membantu dan menyediakan pelayanan
secara cepat dan tepat, serta tanggap terhadap keinginan konsumen.
4. Assurance : kemampuan dan keramahan serta sopan santun pegawai dalam
meyakinkan kepercayaan konsumen.
5. Emphaty : sikap tegas tetapi penuh perhatian dari pegawai terhadap konsumen.
Menurut Sinambela (2006:29), agar terdapat kepastian pelayanan publik perlu
segera disusun standar pelayanan yang jelas. Standar demikian diperlukan bukan hanya kepastian pelayanan, tetapi juga dapat digunakan untuk menilai kompetensi aparatur dan usaha untuk mewujudkan pertanggungjawaban publik. Hak-hak  masyarakat dalam pelayanan publik perlu diekspose untuk diketahui masyarakat, demikian pula kewajiban aparatur dalam memberi pelayanan

Pengertian Pelayanan Publik (skripsi dan tesis)

Terdapat banyak literatur ilmiah yang telah menyajikan defenisi tentang
pelayanan publik tetapi pada penelitian ini akan diuraikan beberapa penjabaran dari beberapa ahli diantaranya menurut Pasolong (2010:128), pelayanan pada dasarnya didefinisikan sebagai aktifitas seseorang, sekelompok dan atau organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan. Jadi dapat dikatakan bahwa dalam pelayanan terdapat dua aspek yaitu seseorang atau organisasi dan pemenuhan kebutuhan. Menurut Sinambela (2006:5) pelayanan publik diartikan, pemberian layanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah ditetapkan.
Sedangkan menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, Pelayanan publik adalah kegiatan atau kebutuhan pelayanan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik. Menurut Susanto dalam Sugandi (2011:124) bahwa dalam sistem pemerintahan dominan, perumus dan pelaksana layanan publik dilakukan oleh pemerintah, dan masyarakat sebagai penerima layanan. Namun menurut Dwiyanto dalam Sugandi (2011:124), pelayanan oleh birokrasi seharusnya digerakkan oleh visi dan misi pelayanan, namun pada kenyataannya justru digerakkan oleh peraturan dan anggaran yang tidak dimengerti oleh publik karena tidak disosialisasikan secara transparan.
Dalam Undang-undang Pelayanan Publik No. 25 Tahun 2009 disebutkan bahwa layanan publik oleh pemerintah dibedakan menjadi tiga kelompok layanan administratif, yaitu: Pertama, kelompok layanan yang mengahasilkan bentuk dokumen resmi yang dibutuhkan publik; Kedua, kelompok layanan yang menghasilkan berbagai bentuk atau jenis barang yang digunakan oleh publik; Ketiga, kelompok layanan yang menghasilkan barang jasa yang dibutuhkan oleh publik.
Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dalam Lukman (2013:16) memaparkan ruang lingkup pelayanan publik yang dapat digolongkan ke dalam dua bentuk, yaitu:
a. Pelayanan Barang dan Jasa Publik
Pelayanan pengadaan dan penyaluran barang dan jasa publik bisa dikatakan
mendominasi seluruh pelayanan yang disediakan pemerintah kepada
masyarakat. Pelayanan publik kategori ini bisa dilakukan oleh instansi
pemerintah yang sebagian atau seluruh dananya merupakan kekayaan negara
yang tidak bisa dipisahkan atau bisa diselenggarakan oleh badan usaha milik
pemerintah yang sebagian atau seluruh dananya berasal dari kekayaan negara
yang dipisahkan (Badan Usaha Milik Negara/BUMN).
b. Pelayanan Administratif
Pelayanan publik dalam kategori ini meliputi tindakan administratif
pemerintah yang diwajibkan oleh negara dan diatur dalam perundang- undangan dalam rangka mewujudkan perlindungan pribadi, keluarga,
kehormatan, dan harta benda juga kegiatan administratif yang dilakukan oleh
instansi nonpemerintah yang diwajibkan oleh negara dan diatur dalam
perundang-undangan serta diterapkan berdasarkan perjanjian dengan
penerima pelayanan.

Keberhasilan Inovasi (skripsi dan tesis)

Produk baru yang dibuat perlu diperkenalkan kepada pasar agar produk tersebut diterima dan dipakai secara meluas. Proses mulai dikenalkan hingga digunakan oleh masyarakat secara luas inilah yang disebut prosesdifusi. Rogers dalam Suryani (2008:305) mendefinisikannya sebagai proses dimana inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu, dalam suatu jangka waktu tertentu diantara anggota suatu sistem sosial. Menurut Rogers dalam difusi ini terdapat beberapa faktor yang menentukan keberhasilan difusi inovasi, yaitu ada empat faktor:
a. Karakteristik Inovasi (Produk)
Sebuah produk baru dapat dengan mudah diterima oleh konsumen
(masyarakat) jika produk tersebut mempunyai keunggulan relatif. Artinya
produk baru akan menarik konsumen jika produk tersebut mempunyai
kelebihan dibandingkan produk-produk yang sudah ada sebelumnya di pasar.
Contohnya, handphone. Dalam waktu yang relatif pendek telah banyak
digunakan oleh masyarakat karena produk tersebut mempunyai keunggulan
relatif dibandingkan dengan sarana komunikasi sebelumnya.
Faktor produk lain berupa compability juga berpengaruh terhadap hasil
inovasi. Produk yang kompatibel adalah produk yang mampu memenuhi
kebutuhan, nilai-nilai, dan keinginan konsumen secara konsisten. Faktor
ketiga dari karakteristik produk berpengaruh terhadap difusi adalah
kompleksitas. Semakin komplek, semakin sulit mengoperasikannya, semakin
tidak menarik konsumen. Konsumen akan memilih produk yang sederhana
dan mudah digunakan. Konsumen lebih menarik menggunakan produk yang
lebih sederhana dibandingkan dengan produk yang kesulitan dalam
pengoperasiannya. Faktor keempat adalah kemampuan untuk dicoba
(triability). Produk baru apabila memberikan kemudahan untuk dicoba dan
dirasakan oleh konsumen akan menarik bagi konsumen. Dan faktor lain
adalah kemampuan untuk dilihat konsumen (observability). Observability
lebih menunjuk pada kemampuan produk untuk dapat dikomunikasikan
kepada konsumen lainnya. Semakin mudah dilihat dan mampu
mengkomunikasikan kepada konsumen lain bahwa produk tersebut baru akan
semakin menarik karena artinya mampu memberikan petunjuk kepada
konsumen lain bahwa dirinya termasuk konsumen yang mengikuti
perkembangan.
b. Saluran Komunikasi
Inovasi akan menyebar pada konsumen yang ada di masyarakat melalui
saluran komunikasi yang ada. Suatu produk baru akan dapat dengan segera
dan menyebar luas ke masyarakat (konsumen) jika perusahaan memanfaatkan
saluran komunikasi yang banyak dan jangkauannya luas seperti media massa
dan jaringan interpersonal.
c. Upaya Perubahan dari Agen
Perusahaan harus mampu mengidentifikasi secara tepat opinion leader yang
akan digunakan dan mampu melibatkannya sebagai agen perusahaan untuk
mempengaruhi konsumen atau masyarakat dalam menerima dan
menggunakan produk baru (inovasi).
d. Sistem Sosial
Pada umumnya sistem sosial masyarakat modern lebih mudah menerima
inovasi dibandingkan dengan masyarakat yang berorientasi pada sistem sosial
tradisional karena masyarakat modern cenderung mempunyai sikap positif
terhadap perubahan, umumnya menghargai terhadap pendidikan dan ilmu
pengetahuan, mempunyai perspektif keluar yang lebih baik dan mudah
berinteraksi dengan orang-orang di luar kelompoknya, sehingga
mempermudah masukan penerimaan ide-ide baru dalam sistem sosial dan
anggotanya dapat melihat dirinya dalam peran yang berbeda-beda.
Penulis menyimpulkan bahwa suatu inovasi dikatakan berhasil maka harus
memiliki empat faktor berikut, yaitu: karakteristik, adanya saluran komunikasi,
adanya upaya dari agen dan dipengaruhi sistem sosia

Klasifikasi Produk (skripsi dan tesis)

Inovasi sering dihubungkan dengan produk baru. Menurut Sunyoto (2013:9), dari produk yang biasa dibeli konsumen, kita dapat melakukan penggolongan atau klasifikasi mengenai produk. Produk menurut daya tahannya dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a. Barang yang tahan lama
Barang yang tahan lama (durable goods) adalah merupakan barang nyata
yang biasanya melayani banyak kegunaan, misalnya pakaian, peralatan
otomotif, komputer, peralatan bengkel, lemari es, dan sebagainya.
b. Barang yang tidak tahan lama
Barang yang tidak tahan lama (nondurable goods) adalah merupakan barang
nyata yang biasanya dikonsumsi untuk satu atau beberapa kegunaan,
misalnya pasta gigi, kuliner, minuman energi, obat generik dan lainnya.
c. Jasa
Merupakan kegiatan, manfaat atau kegunaan yang ditawarkan untuk dijual,
misalnya bengkel sepeda motor, reparasi komputer dan televisi, loundry, jasa
angkutan barang, jasa olah data, rental mobil dan sepeda motor, kursus
bahasa asing, kursus program komputer, dan lainnya