Indikator Brand Image (skripsi dan tesis)

Indikator Brand Image Menurut Kotler dan Keller (2016:72) indikator dalam mengukur Citra Merek terdiri dari 4 indikator yaitu: 1. Brand attribute merupakan fitur – fitur yang menjadi ciri deskriptif sebuah produk atau jasa. Fitur – fitur ini bisa meliputi bagaimana konsumen berfikir tentang produk atau jasa yang terlibat dalam proses pembelian. Atribut terbagi menjadi dua yaitu product related berupa (physical composition atau service requirement) dan non – product related berupa price, packaging atau product appearance information, user imagery, usage imagery. 2. Brand Benefit merupakan nilai pribadi konsumen yang berkenaan dengan produk dan jasa layanan, seperti apa yang konsumen fikirkan tentang kelebihan sebuah produk atau layanan jasa. 3. Favourability of Brand menunjukan apakah merek tersebut disukai atau tidak disukai khalayaknya. Terbentuk oleh keyakinan konsumen terhadap produk yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dengan demikian, keberhasilan sebuah merek dapat dilihat apabila merek dapat memenuhi keinginan konsumen 4. Uniqueness of Brand menunjukkan keunggulan perusahaan yang memberikan nilai lebih kepada konsumen agar memiliki suatu ketertarikan dengan sebuah produk atau layanan jasa. Keunggulan atau keunikan dari sebuah merek haruslah dimiliki oleh setiap perusahaan, hal ini dikarenakan keunggulan atau keunikan dapat menimbulkan memori yang kuat dalam benak pelanggan.

Teori Brand Image (skripsi dan tesis)

Merek menjadi simbol dan identitas tersendiri serta menjadi alat bantu dalam mengenalkan dan mengetahui kualitas produk. Selain itu, merek harus memiliki strategi yang baik untuk membangun citra merek dan keprrcayaan terhadap konsumen (Sopiah dan Sangadji, 2016:76). Menurut Kotler dan Keller (2016:70), ada lima pilihan dalam penentuan strategi merek, yaitu 1. Merek Baru (New Brand) Dilkukan ketika perusahaan tidak memiliki satu pun merek yang sesuai dengan produk yang akan dihasilkan atau apabila citra merek tersebut tidak membantu untuk produk tersebut. 2. Perluasan Lini (Line Extension) Perluasan lini terjadi ketika perusahaan memperkenalkan unit produk tambahan dalam kategori produk yang sama dengan merek yang sama, biasanya dengan tampilan baru 3. Perluasan Merek (Brand Extension) Perluasan merek terjadi ketika perusahaan memutuskan menggunakan merek yang sudah ada pada produknya dalam kategori baru. Strategi perluasan merek memberikan sejumlah keuntungan karena merek tersebut pada umumnya lebih cepat dihargai (karena sudah dikenal sebelumnya). Sehingga kehadirannya dapat cepat diterima oleh konsumen. 4. Multi Merek (Multy Brand Strategy) Terjadi ketika perusahaan memperkenalkan berbagai merek tambahan dalam kategori produk yang sama. Tujuannya untuk mencoba membentuk kesan, kenampakan, serta daya tarik lain kepada konsumen sehingga lebih banyak pilihan 5. Merek Bersama (Co-Brand) Co-Brand terjadi apabila dua merek atau lebih digabung dalam satu penawaran. Tujuannya adalah agar merek yang satu dapat memperkuat merek yang lain sehingga dapat menarik minat para konsumen

Definisi Brand Image (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2016:71) mengartikan Citra Merek adalah sebuah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan dan mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti. Sedangkan menurut Tjiptono (2016: 30), Citra Merek adalah deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Citra suatu merek dapat menentukan titik perbedaan yang mengindikasikan bagaimana suatu merek superior dibandingkan dengan alternatif merek lain dalam suatu kategori produk. Titik perbedaan suatu merek dapat diekspresikan melalui berbagai kelebihan merek, seperti (Alma, 2016:4): 1. Kelebihan fungsional yang mengklaim performansi superior atau keuntungan ekonomi, kenyamanan, penghematan uang dan efisiensi waktu, kesehatan, serta harga murah 2. Kelebihan emosional untuk membuat konsumen percaya bahwa dengan menggunakan suatu merek, ia akan menjadi penting, spesial, ataupun merasa senang. Merek menawarkan kesenangan, membantu atau meningkakan citra diri dan status. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa Brand Image merupakan pemahaman konsumen mengenai merek secara keseluruhan dimana tidak semata ditentukan oleh bagaimana pemberian nama yang baik pada sebuah produk tetapi juga dibutuhkan bagaimana cara memperkenalkan produk tersebut agar dapat menjadi sebuah memori bagi konsumen dalam membentuk suatu persepsi akan sebuah produk.

Indikator Country of Origin (skripsi dan tesis)

Dinata, et al (2015:3) mengukur Country of Origin melalui 3 indikator sebagai berikut: 1. Country beliefs, yaitu keyakinan terhadap suatu negara asal suatu produk atau merek. Negara yang memiliki teknologi industri yang tinggi akan menciptakan kepercayaan pada negaranya bahwa produk atau merek yang berasal dari negara tersebut memiliki mutu yang baik. 2. People affect, yaitu pengaruh orang-orang yang berasal dari negara asal suatu produk. Negara yang memiliki tingkat pembangunan manusia yang tinggi akan menimbulkan persepsi baik dari masyarakat luar tentang tenaga kerja negara tersebut, dimana hal ini akan menimbulkan persepsi baik mengenai kualitas produk 3. Desired interaction, yaitu keinginan untuk berinteraksi dengan negara asal suatu produk. Negara yang memiliki citra baik akan mendapatkan simpati oleh masyarakat luar atau konsumen. Mereka akan menginginkan untuk berhubungan dengan segala sesuatu tentang negara tersebut.

Definisi Country of Origin (skripsi dan tesis)

Menurut Tjiptono dan Candra, (2016:444) banyak penelitian yang mengungkap bahwa evaluasi yang dilakukan konsumen atas suatu produk tertentu tidak hanya didasarkan pada daya tarik dan karakteristik produk saja, tetapi juga berdasarkan negara asal (country of origin). Menurut Tjiptono dan Candra, (2016:444), country of origin effect adalah segala pengaruh dari negara asal terhadap persepsi positif maupun negatif konsumen atas produk dan merek tertentu. Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2016:338) country of origin atau negara asal suatu produk juga sangat diperhatikan dalam keputusan pembelian produk.negara asal adalah asosiasi dan kepercayaan mental yang dipicu oleh sebuah negara. Putra, et al (2016:194) mendefinisikan citra negara asal (country of 12 origin) menjadi tiga tingkat, yaitu: 1. Overall country image (citra negara keseluruhan); merupakan keseluruhan kepercayaan, ide dan kesan dari suatu negara tertentu sebagai hasil evaluasi konsumen atas persepsinya tentang kelebihan dan kelemahan negara tersebut 2. Aggregate product country image (kesan produk negara asal); Merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan produk dari negara tertentu atau kesan terhadap keseluruhan kualitas produk yang berasal dari suatu negara tertentu. 3. Specific product country image (citra negara asal dilihat pada kategori produk tertentu); merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan spesifikasi produk dari negara tertentu. Misalnya pandangan konsumen yang mengapresiasi kosmetik buatan Prancis dan barang elektronik Jepang.

Indikator Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Keputusan Pembelian menurut Kotler dan Keller (2016:185) dalam tahap evaluasi konsumen membentuk preferensi antar merek dalam kumpulan pilihan, konsumen mungkin juga membentuk maksud pembelian, konsumen dapat membentuk sub keputusan yaitu: 1. Pilihan Produk Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar yang bersangkutan. Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk tertentu. Keputusan tersebut menyangkut bagaimana karakteristik produk tersebut. Dalam hal ini perusahaan harus melakukan riset pemasaran untuk mengetahui kesukaan konsumen tentang produk bersangkutan agar dapat memaksimalkan daya tarik mereknya 2. Pilihan Merek Merek (brand) dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari salah satu penjual atau kelompok penjual dan mendiferensiasikan dari para pesaing. Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek mana yang akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. 3. Pilihan Penyalur Penyalur merupakan seseorang yang menjalankan usaha menyalurkan atau memasarkan sesuatu barang (produk) tertentu dalam jangka waktu tertentu. Konsumen harus mengambil keputusan di mana akan produk yang dibutuhkan tersebut akan dibeli. Dalam hal ini, produsen dan pedagang besar harus mengetahui bagaimana konsumen memilih penyalur atau penjual tertentu. 4. Jumlah Pembelian Jumlah pembelian merupakan banyaknya produk yang akan dibeli oleh konsumen. Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari satu unit. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyak produk sesuai dengan keinginan yang berbedabeda dari para pembeli 5. Waktu Pembelian Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus melakukan pembelian. Masalah ini akan menyangkut tersedianya uang untuk membeli. 6. Metode Pembayaran Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara pembayaran produk yang dibeli, apakah secara tunai atau dengan cicilan.

Proses Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Armstrong (2016:184), mengemukakan bahwa proses pengambilan keputusan pembelian dapat dibagi menjadi lima tahapan sebagai berikut : 1. Pengenalan Masalah (Problem Recognation) Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali suatu masalah atau kebutuhan pribadi konsumen. Kebutuhan dapat timbul ketika pembeli merasakan adanya rangsangan eksternal atau internal timbul dari dalam diri manusia itu sendiri, sedangkan dorongan eksternal berasal dari dalam diri manusia atau lingkungan. 2. Pencarian Informasi (Information Search) Konsumen sering mencari jumlah informasi yang terbatas. Konsumen dapat membedakan antara dua tingkat keterlibatan dengan pencarian. Keadaan pencarian yang lebih rendah disebut perhatian tajam. Pada tingkat ini seseorang hanya menjadi lebih reseptif terhadap informasi tentang sebuah produk. Pada tingkat selanjutnya, seseorang dapat memasuki pencarian informasi aktif, mencari bahan bacaan, menelpon teman, melakukan kegiatan online dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk tersebut. Sumber informasi utama konsumen dibagi menjadi empat kelompok yaitu pribadi, komersial, publik, dan eksperimental. Setiap sumber informasi melaksanakan fungsi yang berbeda dalam mempengaruhi keputusan pembelian. 3. Evaluasi Alterenatif (Evaluation of Alternative) Setelah menerima banyak informasi, konsumen akan mempelajari dan mengolah informasi tersebut sampai pada pilihan terakhir. Terdapat beberapa proses, dan sebagian besar model terbaru melihat konsumen membentuk sebagian besar penilaian secara sadar dan rasional. Beberapa konsep dasar yang akan membantu konsumen memahami proses evaluasi: pertama, konsumen berusaha memuaskan sebuah kebutuhan. Kedua, konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk. Ketiga, konsumen melihat masing-masing produk sebagai sekelompok atribut dengan berbagai kemampuan untuk menghantarkan manfaat yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut. 4. Keputusan Pembelian (Purchase Decision) Jika keputusannya adalah membeli, maka konsumen harus mengambil keputusan menyangkut merek, harga, penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayaran. Keputusan tersebut tidak terpaku harus dilakukan melalui proses urutan diatas dan tidak semua produk memerlukan proses keputusan tersebut. 5. Perilaku Pasca Pembelian (Post Purchase Behavior) Setelah membeli dan merasakan produk konsumen akan mengalami tingkat kepuasan dan ketidakpuasan serta akan terlibat dalam tindakan sesudah pembelian pada pasar. Apabila konsumen memperoleh kepuasan maka sikap konsumen terhadap produk tersebut menjadi lebih kuat atau sebaliknya. Para pemasar dapat melakukan sesuatu dari konsumen yang merasa puas misalnya dengan memasang iklan yang menggambarkan perasaan puas seseorang yang telah memilih salah satu merek atau lokasi belanja tertentu. Bagi konsumen yang tidak puas, pemasar dapat memperkecil ketidakpuasan tersebut dengan cara menghimpun saran pembeli untuk penyempurnaan produk, maupun pelayanan tambahan terhadap konsumen.

Definisi Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Keputusan Pembelian menurut Thamrin dan Francis (2016:83), adalah tahap dimana pembeli telah menentukan pilihannya dan melakukan pembelian produk serta mengkonsumsinya. Pembelian sendiri secara fisik bisa dilakukan oleh konsumen, namun bisa juga pilihan orang lain. Sedangkan menurut kotler dan amstrong (2016:181) keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek yang disukai dari berbagai alternative yang ada. Selanjutnya, menurun Kotler dan Keller (2016:184) Keputusan Pembelian adalah proses psikologi dasar memainkan peranan penting dalam memahami bagaimana konsumen benar-benar membuat keputusan pembelian mereka. Berdasarkan pendapat diatas maka dapat disampaikan bahwa keputusan pembelian adalah tindakan yang dilakukan konsumen untuk melakukan pembelian sebuah produk dari berbagai alternatif. Oleh karena itu, pada pengambilan keputusan pembelian konsumen harus melewati proses pemilihan yang diambil salah satu dari beberapa alternatif penyelesaian masalah dengan tindak lanjut yang nyata. Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat menentukan sikap yang akan diambil selanjutnya.

Peran dalam Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Abdullah & Francis Tantri (2014:124), membedakan lima peran yang dimainkan orang dalam keputusan pembelian: 1) Pencetus ide (initiator): orang yang mengusulkan untuk pertama kalinya dalam membeli produk atau jasa. 2) Pemberi pengaruh (influence): orang yang pendapatnya mempengaruhi keputusan pembelian. 3) Pengambil keputusan (decider): orang yang memutuskan dalam keputusan pembelian. 4) Pembeli (buyer): orang yang melakukan pembelian aktual. Pemakai (user): orang yang mengkonsumsi produk atau jasa yang dibeli.

Struktur Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Penjual perlu menyusun struktur keputusan pembelian secara keseluruhan untuk membantu konsumen dalam mengambil keputusan tentang pembeliannya Sunyoto (2013:85). Setiap keputusan pembelian mempunyai suatu struktur, komponen tersebut adalah: 1) Keputusan tentang jenis produk. Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk. 2) Keputusan tentang bentuk produk. Keputusan ini menyangkut ukuran, mutu, corak, dan sebagainya. 3) Keputusan tentang Merek. Konsumen harus mengambil keputusan tentang Merek mana yang akan dibeli. 4) Keputusan tentang penjualnnya. Konsumen harus mengambil keputusan dimana produk tersebut akan dibeli. 5) Keputusan tentang jumlah produk. Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat. 6) Keputusan tentang waktu pembelian. Konsumen dapat mengambil keputusan tentang kapan ia harus melakukan pembelian. 7) Keputusan tentang cara pembayaran. Konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara pembayaran produk yang akan dibeli.

Proses Pengambilan Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Setiadi (2013:14), proses pembelian yang spesifik terdiri dari urutan
kejadian sebagai berikut: pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi
alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pasca-pembelian. Tugas pemasar
adalah memahami perilaku pembeli pada tiap-tiap tahap dan pengaruh apa yang
bekerja dalam tahapan tersebut. Pelanggan yang puas akan terus menerus
melakukan pembelian, jika pelanggan tidak puas maka akan berhenti melakukan
pembelian.
Berikut tahap-tahap yang dapat diperinci dalam proses keputusan pembelian:
1) Pengenalan Masalah. Proses awal saat menyadari adanya masalah kebutuhan.
2) Pencarian Informasi. Konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong
mencari informasi lebih banyak.
3) Evaluasi Alternatif. Proses dimana konsumen memproses informasi untuk
membuat keputusan akhir.
4) Keputusan Membeli. Konsumen membentuk preferensi terhadap MerekMerek yang ada dalam pilihan.
5) Perilaku Sesudah Pembelian. Dimana konsumen merasakan suatu produk
pada beberapa tingkat kepuasan dan ketidakpuasan.
6) Kepuasan Sesudah Membeli. Konsumen mulai mendeteksi adanya kecacatan
dalam pada suatu produk yang dibelinya.
7) Tindakan Sesudah Pembelian. Kepuasan atau ketidakpuasan akan
mempengarui perilaku konsumen pada tahap selanjutnya.
8) Penggunaan dan Pembuangan Sesudah Pembelian. Para pemasar juga harus
mengontrol bagaimana pembeli menggunakan dan membuang suatu produk.

Indikator Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Sunyoto (2013:87), ada lima dimensi keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen yaitu: 1) Pengenalan Masalah. Masalah timbul dari dalam diri konsumen yang berupa kebutuhan, yang digerakan oleh rangsangan dari dalam diri maupun luar pembeli. 2) Pencarian Informasi. Konsumen akan mencari informasi tentang obyek yang bisa memuaskan keinginannya setelah timbul suatu masalah berupa kebutuhan dalam dirinya. 3) Penilaian Alternatif. Digunakan untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai alternatif-alternatif yang dihadapi oleh konsumen. 4) Keputusan Membeli. Konsumen membentuk prefrensi diantara alternatifalternatif Merek barang, biasanya barang dengan Merek yang disukainya adalah barang dengan yang akan dibelinya. 5) Perilaku Setelah Pembelian. Konsumen akan merasakan berupa kepuasan atau ketidakpuasan terhadap produk atau jasa yang telah dikonsumsinya.

Pengertian Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Pengambilan keputusan  yang rumit sering melibatkan beberapa keputusan. Suatu keputusan melibatkan pilihan diantara dua atau lebih alternatif tindakan. Keputusan selalu mensyaratkan pilihan diantara beberapa perilaku berbeda. Dalam mengambil keputusan pembelian, setiap konsumen melakukan berbagai macam keputusan tentang pencarian, pembelian, penggunaan beragam produk dan Merek pada setiap periode tertentu. Konsumen melakukan keputusan setiap hari atau setiap periode tanpa menyadari bahwa Mereka telah mengambil keputusan. Jika konsumen telah memutuskan alternatif yang akan dipilih, maka ia akan melakukan pembelian. Pembelian meliputi keputusan konsumen mengenai apa yang dibeli, apakah membeli atau tidak, kapan membeli, dimana membeli, dan bagaimana membayarnya (Sumarwan, 2011:357-377). Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2009:188), keputusan pembelian yaitu konsumen membentuk maksud untuk membeli Merek yang paling disukai sekaligus membentuk preferensi antar Merek dalam kumpulan pilihan. Kesimpulan yang diambil dari pengertian diatas yaitu keputusan pembelian merupakan kemampuan konsumen untuk memilih dan memutuskan membeli suatu barang atau jasa berdasarkan beberapa pilihan yang telah dipilihnya.

Indikator Word Of Mouth (skripsi dan tesis)

WOM dapat diukur dengan menggunakan sejumlah dimensi yang dapat menakar persebarannya (Priansa 2017:348), yaitu: 1) Talkers. Pembicara adalah konsumen yang telah mengonsumsi produk. Konsumen biasanya memakai produk karena saran talkers tersebut, atau biasanya disebut dengan referral, pihak yang Merekomendasikan suatu produk. 2) Topics. Pesan yang terkandung dalam WOM menjadi substansi yang dibicarakan. 3) Tools. Suatu alat untuk membantu agar pesan tersebut dapat berjalan dan tersebar sehingga bisa membuat orang mudah membicarakan atau menularkan produk kepada temannya

Pengertian Word Of Mouth (skripsi dan tesis)

Menurut Supranto & Limakrisna (2011:79) berpendapat bahwa, Word Of Mouth (WOM) yaitu dimana para individu saling menukar informasi, khususnya tentang hal-hal yang bagus sehingga dapat mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli dan akan membuat bisnis mencapai sukses. Andreas (2012) dalam Donni Juni Priansa (2017:338) mendefinisikan, WOM yaitu pesan tentang produk atau jasa suatu perusahaan, ataupun tentang perusahaan itu sendiri, dalam bentuk komentar tentang kinerja produk, keramahan, kejujuran, kecepatan pelayanan, dan hal lainnya yang dirasakan dan dialami oleh seseorang yang disampaikan kepada orang lain. Hasan (2010) dalam priansa (2017:339) menyatakan, WOM marketing yaitu bentuk tertua dari periklanan, adalah orang-orang yang memberikan informasi dan membuat rekomendasi jujur kepada orang lain tentang Merek, produk barang atau jasa, dan layanan. WOM marketing terjadi ketika pemasar meluncurkan kampanye untuk mempengaruhi dan mempercepat WOM marketing secara organik. WOM didefinisikan kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh sebuah Merek agar konsumen membicarakan, mempromosikan, dan mau menjual Merek perusahaan tersebut kepada orang lain (Sumardy et al., (2011) dalam Priansa, 2017:338). Priansa (2017:339) mendefinisikan, WOM sebagai kegiatan pemasaran dalam memberikan informasi suatu produk/jasa dari satu konsumen kepada konsumen lainnya untuk membicarakan, mempromosikan, dan mau menjual suatu Merek kepada orang lain. Berdasarkan beberapa definisi para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa WOM adalah penyampaian informasi oleh individu yang satu ke individu yang lain berupa barang/jasa yang telah dikonsumsinya dengan tujuan memberikan sebuah komentar mengenai produk/jasa. WOM juga sebagai alat pemasaran yang simple dan tidak memerlukan banyak biaya karena penyebaran informasinya dari mulut ke mulut. b. Indikator Word Of Mouth WOM dapat diukur dengan menggunakan sejumlah dimensi yang dapat menakar persebarannya (Priansa 2017:348), yaitu: 1) Talkers. Pembicara adalah konsumen yang telah mengonsumsi produk. Konsumen b

Bauran Produk (skripsi dan tesis)

Bauran produk disebut juga dengan pilihan produk merupakan kumpulan semua produk dan barang yang ditawarkan untuk dijual oleh penjual tertentu. Kotler dan Keller (2009:16) memberikan gambaran sebagai berikut: 1) Lebar bauran produk, mengacu pada berapa banyak inti lini produk yang berbeda yang dimiliki perusahaan tersebut. 2) Panjang bauran produk, mengacu pada jumlah total produk dalam bauran. 3) Kedalaman bauran produk, mengacu pada banyaknya varian yang ditawarkan masing-masing produk dalam inti. Konsistensi bauran produk, mengacu seberapa dekat hubungan dari berbagai lini produk pada penggunaan akhir, persyaratan produksi, saluran distribusi, atau dengan cara lain

Diferensiasi Produk (skripsi dan tesis)

Kotler & Keller (2009:8) berpendapat bahwa ada delapan tingkat diferensiasi
produk, yaitu:
1) Bentuk: dapat dideferensiasikan berdasarkan ukuran, bentuk, atau struktur
fisik produk.
2) Fitur: ditawarkan dengan memvariasikan yang melengkapi fungsi dasar fitur.
3) Penyesuaian: mendiferensiasikan produk dengan menyesuaikan produk
tersebut dengan keinginan perorangan.
4) Kualitas kinerja: ditetapkan pada satu dari empat tingkat kinerja: rendah, ratarata, tinggi, atau unggul. Kualitas kinerja adalah tingkat di mana karakteristik
utama produk beroperasi.
5) Kualitas penyesuaian: tingkat di mana semua unit yang diproduksi identik
dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan.
6) Ketahanan: ukuran umur operasi harapan produk dalam kondisi biasa atau
penuh tekanan, merupakan atribut berharga untuk produk-produk tertentu.
7) Keandalan: pembeli biasanya akan membayar lebih untuk produk yang lebih
diandalkan.
8) Kemudahan perbaikan: yaitu ukuran kemudahan perbaikan produk ketika
produk itu tidak berfungsi atau gagal

Klasifikasi Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Adisaputro (2010:171), produk dapat diklasifikasikan menurut: 1) Daya tahan dan perwujudan produk, yang terdiri dari a. Barang tahan lama b. Barang tidak tahan lama c. Jasa Dua produk yang pertama berwujud, sedangkan produk yang ketiga tidak berwujud. Oleh karena itu, produk sering dibagi menjadi barang dan jasa. 2) Klasifikasi barang konsumen, yaitu barang yang segera dapat dikonsumsikan yang dijual di pasar konsumen, terdiri dari: a. Barang konsumsi (convenien): yang harganya relatif murah, dibeli berkalikali dalam jumlah kecil, biasanya dapat diperoleh di toko-toko terdekat, tanpa harus memberikan korban waktu dan energi terlalu banyak. b. Barang shopping: yaitu barang yang harganya cukup mahal, dibeli tidak terlalu sering, dapat digunakan berkali-kali karena harganya agak mahal, pembeli biasanya lebih teliti untuk memilih dan membanding-bandingkan barang yang sama dengan berbagai Merek di berbagai toko. c. Barang spesial (speciality goods): yaitu barang yang mempunyai nilai khusus, berharga tinggi, dapat dipakai berulang kali dan dibeli relatif jarang seperti jam tangan, atau perhiasan, pakaian dari butik. Barang seperti ini mempunyai nilai khusus bagi pembelinya dapat memberikan kepuasan emsional yang subyektif. d. Barang yang kurang dicari atau disadari kebutuhannya (unsought goods): barang seperti ini baru disadari pada saat sangat dibutuhkan seperti batu nisan. 3) Klasifikasi barang industri Barang industri dapat berupa: a. Matrial dan suku cadang: barang seperti ini tidak dapat langsung digunakan tapi perlu diolah terlebih dahulu sebelum disajikan sebagai produk akhir. b. Barang modal: biasanya dibeli oleh produsen untuk menghasilkan atau memproses produk akhir seperti mesin dan instalasi pabrik. c. Supplies dan jasa bisnis: seperti kertas kebutuhan alat tulis untuk kantor, jasa notaris dan akuntansi, dan pengacara

Indikator Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Menurut David Garvin, Vincent Gasper dalam Umar (2005:37), menjelaskan bahwa untuk menentukan kualitas barang, dapat melalui delapan dimensi seperti berikut: 1) Performance, yaitu aspek fungsional suatu barang dan merupakan karakteristik utama 2) Features, yaitu aspek informasi yang berguna untuk menambah fungsi dasar 3) Reliability, yaitu berkaitan dengan probabilitas suatu barang berhasil dalam menjalankan fungsinya 4) Conformance, yaitu berkaitan dengan tingkat kesesuaian terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan berdasarkan keinginan pelanggan 5) Durability, yaitu refleksi umur ekonomis berupa ukuran daya tahan atau masa pakai barang 6) Serviceability, yaitu karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan, kompetensi, kemudahan, dan akurasi dalam memberikan layanan untuk perbaikan barang 7) Aesthetics, yaitu karakteristik yang bersifat subyektif mengenai nilai-nilai estetika 8) Fit and finish, yaitu sifat subyektif berkaitan dengan perasaan pelanggan

Pengertian Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Kotler dalam M. Mursid (2014:71) menjelaskan bahwa, produk adalah hasil akhir yang mengandung elemen-elemen fisik, jasa dan hal-hal yang simbolis yang dibuat dan dijual oleh perusahaan untuk memberikan kepuasan serta keuntungan bagi pembelinya. M. Mursid (2014:71) mendefinisikan, produk sebagai barang/jasa yang meliputi segi fisik dan hal-hal lain yang ditentukan oleh konsumen serta memiliki cakupan masalah jasa, psikologis seperti kepuasan, simbol status, segi artistik dan lain sebagainya. Wahyuni, Sulistiyowati, & Khamim (2015:3), kualitas merupakan aspek penting dan aspek kesuksesan bagi perkembangan perusahaan. Pada masa kini konsumen mulai menjadikan kualitas sebagai acuan untuk menjatuhkan pilihan terhadap suatu produk/layanan. Lebih dari itu, kualitas seringkali menjadi sarana promosi secara otomatis mampu menaikan/menurunkan nilai jual suatu produk perushaan. Konsumen tidak lagi menggunakan harga sebagai pegangan untuk membeli barang, tetapi lebih kepada keawetan suatu barang, jenis bahan baku, desain barang, content barang, kesesuaian dengan kebutuhan dan lain-lain. Oleh karena itu, saat ini kualitas merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk memenangkan persaingan diantara banyak produk sejenis yang beredar dipasaran. Sebagai faktor utama dalam mewujudkan kepuasan pelanggan, kualitas harus dikelola secara baik dan benar, melalui beberapa tahapan proses agar dapat terintegrasi dengan proses lain diperusahaan. Dalam buku Juran’s Quality Handbook (dalam wahyuni et al., 2015:8) dijelaskan bahwa tahapan dalam proses kualitas yang dikenal dengan Juran Trilogy, terdiri dari: 1) Quality Planning yaitu suatu proses perencanaan kualitas yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan 2) Quality Control yaitu tahap evaluasi terhadap capaian kualitas dengan rencana kualitas yang telah disusun sebelumnya 3) Quality Improvement yaitu suatu proses perbaikan yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi Sedangkan pendapat Limakrisna & Purba (2017:75), produk meliputi barang dan jasa, event, people, places, organisasi, informasi dan ide. Selanjutnya Tampubolon (2018:90). Produk atau jasa yang memiliki fase perkenalan, memiliki fungsi, serta desain agar dapat diterima pasar. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas produk adalah keseluruhan yang terdapat pada barang/jasa baik manfaat maupun keunggulan yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen dan dapat memengaruhi terhadap keputusan pembelian

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumen merupakan bagian dari ilmu manajemen pemasaran. Setiap konsumen memiliki pandangan yang berbeda-beda, yang perbedaan tersebut mempengaruhi perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan. Menurut Mangkunegara (2009:4) perilaku konsumen adalah tindakantindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa ekonomis yang dapat dipengaruhi lingkungan. Menurut Fahmi (2016:1) menyatakan bahwa, perilaku konsumen didefinisikan sebagai studi tentang unit pembelian dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi, dan pembuangan barang, jasa, pengalaman, serta ide-ide. Sedangkan menurut Engel et al., (1993) dalam Damiati (2017:11) mengartikan bahwa, perilaku konsumen sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan itu. Kanuk dan Schiffman (1994) dalam Damiati (2017:11) istilah perilaku konsumen, merujuk pada perilaku yang diperlihatkan oleh konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk barang dan produk jasa yang Mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan Mereka. Dari beberapa definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku konsumen merupakan suatu tindakan/analisa mengenai produk/jasa dalam proses memenuhi kebutuhan konsumen sebelum memutuskan untuk melakukan pembelian.

Bauran Pemasaran (skripsi dan tesis)

Dwyer dan Tenner (2006) dalam Oesman (2010:23), marketing mix merupakan dasar manfaat yang disampaikan pemasar kepada pembeli dan the four ps ini mengilustrasikan bahwa marketing adalah suatu proses penciptaan nilai. Ada tiga nilai yang diciptakan yaitu nilai yang diterima dari produk, nilai yang diterima dari pelayanan, dan ketiga nilai yang diterima dari relationship dengan penjual. Sedangkan menurut Kotler dan Keller dalam Oesman (2010:22), marketing mix didefinisikan sebagai serangkaian dari alat-alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan. Menurut Bitner dan Gremler (2006) dalam Oesman (2010:22), “bauran pemasaran terdiri dari Empat P (the four ps of marketing), yaitu produk (product), harga (price), saluran distribusi (place), dan promosi (promotion)”. Menurut Oesman (2010:22), tugas dari seorang pemasar adalah menciptakan aktivitas pemasaran dan mengumpulkan seluruh program pemasaran yang terintegrasi untuk menciptakan, mengkomunikasikan dan menyampaikan nilai pada pelanggan. Program pemasaran itu sendiri meliputi sejumlah keputusan dalam meningkatkan nilai aktivitas pemasaran yang digunakan. Aktivitas pemasaran datang dari segala bentuk. Gambaran aktivitas pemasaran secara tradisional disebut dengan istilah marketing mix. Marketing mix merupakan alat bagi pemasar yang berupa program pemasaran yang mempertajam segmentasi, targeting, dan positioning agar sukses (Ratnasari & Aksa, 2011:37). Menurut Lupiyoadi (2016:92), bauran pemasaran diartikan sebagai perangkat/alat bagi pemasar yang terdiri atas berbagai unsur suatu program pemasaran yang perlu dipertimbangkan agar implementasi strategi pemasaran dan penentuan posisi yang ditetapkan dapat berjalan sukses. Sedangkan menurut Lupiyoadi (2016:92) : Bauran pemasaran jasa terdiri atas tujuh hal, yaitu sebagai berikut: 1) Produk (product) : jenis jasa yang ingin ditawarkan 2) Harga (price) : bagaimana strategi penentuan harga 3) Lokasi/tempat (place) : bagaimana sistem penyampaian yang akan diterapkan 4) Promosi (promotion) : bagaimana promosi yang harus dilakukan 5) Orang/SDM (people) : tipe kualitas dan kuantitas SDM yang akan terlibat dalam pemberian jasa 6) Proses (process) : bagaimana proses dalam operasi jasa tersebut 7) Layanan pelanggan (customer service) : level layanan/jasa yang akan diberikan kepada konsumen Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa bauran pemasaran (marketing mix) adalah alat pemasaran atau suatu strategi pemasaran yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan oleh perusahaan untuk mencapai tujuan pemasaran dalam menentukan target sasarannya agar memperoleh keuntungan yang maksimal

Strategi Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Triton (2008:42), strategi pemasaran dapat dilihat dari dua matra, yaitu matra kekinian dan matra masa depan. Matra kekinian memandang dimensi pemasaran berdasarkan hubungan pengaruh, saling mempengaruhi, tergantung, dan saling ketergantungan antara perusahaan dengan lingkungan internal maupun eksternalnya. Matra masa depan memandang dimensi pemasaran dengan mencangkup hubungan-hubungan di masa mendatang yang mungkin terjalin, sehingga dapat ditentukan tujuan-tujuan pencapaian yang strategis, serta berbagai program tindakan yang diperlukan untuk mencapainya. Triton (2008:17), penyusunan strategi memerlukan tahapan-tahapan tertentu untuk dipenuhi. Maka sedikitnya ada enam tahapan umum yang perlu diperhatikan dalam merumuskan suatu strategi, yaitu: 1) Seleksi yang mendasar dan kritis terhadap permasalahan 2) Menetapkan tujuan dasar dan sasaran strategis 3) Menyusun perencanaan tindakan (action plan) 4) Menyusun rencana penyumberdayaan 5) Mempertimbangkan keunggulan 6) Mempertimbangkan keberlanjutan Sedangkan menurut Cannon, Perreault, & McCarthy (2008:40), strategi pemasaran didefinisikan sebagai pasar target dan bauran pemasaran yang terkait. Strategi ini merupakan gambaran besar mengenai yang akan dilakukan oleh suatu perusahaan di suatu pasar. Dibutuhkan dua bagian yang saling berkaitan : 1) Pasar target (target market) yaitu sekelompok pelanggan yang homogen yang ingin ditarik oleh perusahaan tersebut 2) Bauran pemasaran yaitu variabel-variabel yang akan diawasi yang disusun oleh perusahaan tersebut untuk memuaskan kelompok yang ditarget Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa strategi pemasaran adalah salah satu bagian terpenting bagi perusahaan untuk memasarkan produknya agar tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan konsumen

Tugas Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Khotler & Keller (2009:29), mengidentifikasi serangkaian tugas yang menentukan keberhasilan manajemen pemasaran dan kepemimpinan pemasaran, yaitu :  1) Mengembangkan Strategi dan Rencana Pemasaran Langkah pertama adalah mengidentifikasi potensi peluang dalam jangka panjang sesuai dengan analisis pasar sekaligus merencanakan pemasaran yang terstruktur dan taknik untuk maju. 2) Menangkap Pemahaman (atau gagasan) Pemasaran Diperlukan sebuah sistem informasi dan riset yang terpercaya serta dapat diandalkan untuk memantau lingkungan pemasaran secara erat. 3) Berhubungan dengan Pelanggan Mempertimbangkan cara terbaik untuk menciptakan nilai untuk pasar sasaran yang dipilihnya dan mengembangkan hubungan jangka panjang yang kuat serta mengutungkan bagi pelanggan. 4) Membangun Merek yang Kuat Harus memahami dan mengerti kelebihan serta kekurangan dari Merek yang diperoleh berdasarkan sudut pandang pelanggan agar Merek tertanam dibenak pelanggan. 5) Membentuk Penawaran Pasar Inti dari program pemasaran adalah produk penawaran perusahaan yang berwujud, yang mencangkup kualitas produk, fitur, desain, dan kemasan untuk memperoleh keunggulan kompetitif agar bisa memberikan lease, pengiriman, perbaikan, dan pelatihan sebagai bagian dari penawaran produknya. 6) Menghantarkan Nilai Nilai yang terkandung dalam produk dan layanan harus menghantarkan nilai kepada pasar sasarannya. Perusahaan mencangkup saluran aktivitas-aktivitas untuk membuat produk tersedia dan lebih mudah didapat oleh pelanggan. 7) Mengomunikasikan Nilai Melakukan komunikasi yang tepat sasaran kepada pasar sasaran nilai yang terkandung dalam produk dan layanannya. Program komunikasi pemasaran terintegrasi untuk memaksimalkan kontribusi individual dan kolektif dari semua aktivitas komunikasi. 8) Menciptakan Pertumbuhan Jangka Panjang Berdasarkan positioning produk harus memulai pengembangan, pengujian, dan peluncuran produk baru sebagai bagian dari visi jangka panjangnya. Strategi tersebut harus mempertimbangkan peluang dan tantangan global yang terus berubah

Pengertian Manajemen Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Wiliam J. Shultz (1961) dalam Alma (2011:130), manajemen pemasaran merupakan merencanakan, pengarahan dan pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian dari perusahaan. Sedangkan menurut Ben M. Enis dalam Manap (2016:80), manajemen pemasaran adalah suatu proses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh individu atau oleh perusahaan. Manajemen pemasaran dijelaskan sebagai suatu proses manajemen, yang meliputi penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan (Dharmmesta & Handoko, 2016:5). Menuru Donni Juni Priansa (2017:110), sebuah ilmu dan seni dalam melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, mengaktualisasikan, serta pengendalian dalam rangka menyampaikan produk dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dari pihak produsen dan konsumen adalah manajemen pemasaran. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah suatu penerapan ilmu dan seni fungsi manajemen untuk menciptakan produk dan jasa yang digunakan dalam proses pemenuhan kebutuhan manusia.

Fungsi Pemasaran (skripsi dan tesis)

Keberhasilan finansial seringkali tergantung pada kemampuan pemasaran perusahaan yang bersangkutan. Kemampuan operasi, keuangan, akuntansi, dan fungsi bisnis yang lain tidak akan banyak membantu bilamana tidak ada permintaan yang memadai untuk barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus memikirkan strategi baru untuk berbisnis Adisaputro (2010:4).

Konsep Pemasaran (skripsi dan tesis)

Menurut Assauri (2015:77), konsep pemasaran adalah orientasi manajemen yang menekankan bahwa kunci pencapaian tujuan organisasi terdiri dari kemampuan perusahaan/organisasi menentukan kebutuhan dan keinginan pasar sebagai sasaran dan kemampuan perusahaan/organisasi tersebut memenuhinya dengan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien dari para pesaing. Konsep ini lebih menekankan untuk mencintai langganan dan bukan produk serta menganggap langganan sebagai raja. Ada tiga landasan yang penting dari konsep pemasaran, yaitu: 1) Konsumen dapat dikelompokan ke dalam segmen pasar yang berbeda tergantung dari kebutuhan dan keinginannya 2) Konsumen dalam suatu segmen pasar tertentu lebih menyenangi atau tertarik akan apa yang ditawarkan perusahaan/organisasi yang dapat langsung memenuhi kepuasan dan keinginan tertentu dari Mereka 3) Tugas organisasi adalah untuk meneliti dan memilih pasar yang dituju (sasaran) dan berusaha mengembangkan usaha-usaha penawaran dan program-program pemasaran sebagai kunci untuk menarik dan mempertahankan/membina langganan Umunya konsep pemasaran ini lebih mengena untuk perusahaan yang menghasilkan barang konsumsi daripada perusahaan yang menghasilkan barang industri, serta untuk perusahaan besar dan kecil.

Pengertian Pemasaran (skripsi dan tesis)

Pemasaran merupakan salah satu fungsi strategis dalam perusahaan dalam menjalankan aktivitas bisnisnya, terutama saat persaingan dalam industri menunjukan intensitas yang semakin tinggi. Kata pemasaran sendiri berasal dari kata pasar, atau biasa diartikan dengan mekanisme yang mempertemukan permintaan dan penawaran. Menurut Manullang & Hutabarat (2016:3), pemasaran merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan melalui penciptaan produk barang dan jasa agar dibutuhkan, diminati, diinginkan serta dapat memuaskan konsumen, sehingga persaingan global yang ketat dapat dimenangkan melalui kualitas, harga, promosi dan pendistribusian yang tepat serta pelayanan berkualitas. Dharmmesta & Handoko (2016:4), pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditunjukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli yang potensial. Menurut Wibowo & Priansa (2017:108), pemasaran merupakan kegiatan dalam rangka penciptaan yang tidak hanya kegunaan tempat, utility, dan kegunaan waktu, tetapi juga penciptaan kegunaan kepemilikan. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa pemasaran adalah kegiatan penciptaan suatu barang atau jasa yang memiliki kegunaan serta dapat diperjual belikan guna memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen.

Manajemen (skripsi dan tesis)

Menurut Fahmi (2014:2), manajemen yaitu suatu ilmu yang mempelajari secara komprehensif tentang bagaimana mengarahkan dan mengelolah orangorang dengan berbagai latar belakang yang berbeda-beda dengan tujuan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Hasibuan (2015:2) berpendapat bahwa, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Sedangkan Siswanto (2015:7), ilmu dan seni untuk melakukan tindakan guna mencapai tujuan serta akumulasi pengetahuan yang disistematisasikan atau kesatuan pengetahuan yang terorganisasi adalah suatu ilmu manajemen. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah ilmu dan seni yang digunakan untuk mempengaruhi, mengatur, dan mengelolah sumber daya manusia secara sistematis untuk mencapai suatu tujuan yang diharapkan

Hubungan Citra Merek Terhadap Minat beli (skripsi dan tesis)

Minat Beli merupakan hal yang penting bagi perusahaan karena kalau produk tersebut banyak peminatnya maka produk tersebut akan mampu bersaing dipasaran, salah satu yang dapat memunculkan minat dibenak konsumen yaitu citra merek dari produk. Citra Merek menjadi hal penting yang harus dimiliki oleh sebuah produk, sehingga produsen dituntut untuk memberikan citra yang positif agar dapat menarik perhatiaan konsumen dan memenangkan pasar sehingga dalam proses pemasaran tidak mengalami kendala dan dapat menguasi pasar. Karena konsumen saat ini sangat kritis sebelum menentukan membeli suatu produk, apabila citra produk tersebut baik dimata konsumen maka konsumen tidak ragu untuk membeli produk tersebut jadi suatu produk harus memiliki citra positif agar mampu bersaing dipasaran, apabila citra merek produk tersebut jelek maka konsumen enggan untuk melakukan pembelian terhadap produk tersebut. Citra merek yang baik akan sangat mempengaruhi kelangsungan hidup suatu perusahaan begitu juga produknya agar dapat tetap bertahan dipasar yang nantinya dapat menentukan sikap selanjutnya yang dilakukan oleh konsumen jadi sikap konsumen selanjutnya itu dengan melihat citra dari produk tersebut. Hal ini sangat penting karena faktanya pelanggan akan selalu mencari produk atau jasa yang bermerek yang ada dilingkungan pasar yang kompetitif saat ini. Untuk membangun citra merek terkenal akan menarik pelanngn baru, dan hal ini menjadi tugas rumit untuk manajer pemasaran dalam suatu organisasi tersebut. Citra merek yang dimiliki positif maka akan menumbuhkan minat beli oleh konsumen. hal ini dibuktikan oleh penelitian terdahulu yang dilakukakan oleh A.A  Ngurah Dianta Esa Negara dkk (2018) bahwa Kualitas Produk dan Brand Image sangat berpengaruh signifikan terhadap Minat Beli konsumen.

Hubungan Kualitas Produk Terhadap Minat Beli (skripsi dan tesis)

Kualitas produk menjadi hal penting yang harus dimiliki oleh sebuah produk, sehingga produsen dituntut untuk menghasilkan produk yang berkualitas agar dapat menarik perhatiaan konsumen dan memenangkan pasar sehuingga kuaitas produk itu sangat penting agar memudahkan proses pemasarannya. Liecardo (2017) menyatakan bahwa Kepuasan konsumen sendiri ditimbulkan dari kualitas yang diberikan oleh perusahaan, semakin baik kualitasnya semakin banyak pula pelanggan yang dimiliki, perusahaan harus mempertahankan kualitas yang sudah di miliki atau menambah kualitas yang lebih baik agar konsumen tidak terpengaruh oleh pesaing yang lain dan tetap setia pada perusahaan. Menurut Hayati dan Sekartaji (2015) kualitas produk adalah keseluruhan ciri serta dari suatu produk atau pelayanan pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat sehingga tidak hanya segi tampilannya saja tetapi harus memunculkan manfaat seperti yang dibutuhkan konsumen. Produk yang ditawarkan perusahaan akan berpengaruh terhadap kegiatan perusahaan mulai dari mendesain, mengadakan sistem produksi dan operasi, menciptakan program pemasaran, mengadakan sistem distribusi, iklan dan mengarahkan tenaga penjual untuk menjual produk sehingga semua harus mengikuti prosedur dari prusahaan dan menguasai produk yang dijual, sehingga kualitas produk memiliki peran penting dalam mempengaruhi kepuasan pelanggan dan membentuk pelanggan untuk loyal terhadap produk yang ditawarkan perusahaan jadi apabila kualitas produk tersebut bagus maka para konsumen akan loyal terhadap produk tersebut. Hal ini dibuktikan oleh penelitian terdahulu yang dilakukakan oleh A.A Ngurah Dianta Esa Negara dkk (2018) Bahwa Kualitas Produk dan Brand Image berpengaruh yang signifikan terhadap Minat Beli konsumen.

Hubungan Negara Asal Terhadap Minat Beli (skripsi dan tesis)

Negara asal menjadi faktor yang dapat mempengaruhi munculnya minat beli suatu produk, sehingga Negara pembuat produk tersebut mempengaruhi minat konsumen untuk membeli suatu produk. Menurut Maksaoka dan Rahyuda (2016) negara asal adalah pandangan dari konsumen akan produk dari suatu negara dimana persepsi tersebut akan membentuk nilai baik dan buruknya suatu peroduk berdasarkan latar belakang negara yang memproduksi peroduk tersebut apabila persepsi terhadap negara tersebut baik maka produk yang dihasilkan oleh negara tersebut memiliki pandangan baik juga. Negara asal berpengaruh terhadap pandangan konsumen terhadap produk yang dihasilkan oleh Negara tersebut Hal ini dibuktikan oleh penelitian terdahulu yang dilakukakan oleh Jovita S. Dinata dkk (2015) Bahwa Country of Origin ( Negara Asal ) dan Persepsi Kualitas berpengaruh signifikan terhadap Minat Beli konsumen .

Pengertian Minat Beli (skripsi dan tesis)

Menurut Yathi dan Jatra (2015) minat beli adalah suatu tahapan awal untuk mempertimbangkan atau membuat keputusan dalam memilih suatu produk atau jasa. Menurut Ekawati (2015) minat beli adalah tahap kecenderungan konsumen untuk bertindak sebelum mengambil keputusan pembelian suatu produk, jadi minat beli itu tahap awal sebelum melakukan pembelian produk yang akan dibeli. Menurut Ambarwati ed.el (2015) minat beli adalah proses ketertarikan pada suatu produk atau jasa yang dialamai oleh setiap konsumen sebelum proses pembelian dilakukan, jadi sebelum proses pembelian yang pertama yaitu munculnya minat terhadap produk yang akan kita beli. Menurut risky dan yasin (2014) Minat beli yaitu keinginan seorag konsumen untuk memenuhi kebutuhannya serta keinginannya yang tersembunyi didalam benaknya konsumen selalu ada dalam benaknya sendiri tidak seorangpun mengetahui apa yang diinginkan dan yang diharapkan oleh konsumen supaya timbulnya minat  terhadap produk yang diproduksi. Minat beli dapat ditingkatkan dengan memperhatikan faktor–faktor, antara lain faktor psikis yang merupakan faktor pendorong yang berasal dari dalam diri konsumen yaitu motivasi, persepsi, pengetahuan dan sikap, selain itu faktor sosial yang merupakan proses dimana perilaku seseorang dipengaruhi oleh keluarga, status sosial dan kelompok acuan, kemudian pemberdayaan bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi dan juga distribusi sehingga konsumen berminat untu membeli produk yang dipasarkan

Indikator Citra Merek Produk (skripsi dan tesis)

Adapun indikator citra merek produk menurut Ratri (2007) dalam Amalia dan Asmara yaitu sebagai berikut: 1. Atribut produk (Product attribute) Merupakan hal-hal yang berkaitan dengan merek tersebut sendiri seperti ciri gambar atau logo. 2. Keuntungan konsumen (Consumer benefits) Merupakan kegunaan produk dari merek tersebut setelah proses pembelian. 3. Kepribadian merek (Brand personality) Merupakan asosiasi yang mengenai kepribadian sebuah merek apabila merek tersebut adalah manusia seperti sifat dan karakternya

Manfaat Citra Merek Positif (skripsi dan tesis)

Citra merek yang positif yang ada di mata konsumennya akan lebih mudah dikenali oleh konsumenya melalui persepsi yang ada dibenaknya sehingga perusahaan mendapatkan beberapa manfaat. Seperti yang dikemukakan oleh Aaker (2002) terdapat beberapa manfaat dari citra merek yang positif antara lain sebagai berikut: 1. Konsumen yang memiliki citra positif terhadap suatu merek lebih memungkinkan untuk melakukan pembelian terhadap produk yang akan mereka beli. 2. Perusahaan dapat mengembangkan lini produk dengan memanfaatkan citra positif yang telah terbentuk terhadap merek produk lama

Definisi Citra Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Tjiptono (2008), yang dimaksud dengan citra merek (brand image) adalah deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu yang akan dibelinya . Menurut Kotler dan Keller (2009), citra merek adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, dan mengartikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran produk dimata konsumen yang berarti. Kertajaya (2007) mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksud dengan citra merek adalah gebyar dari seluruh asosiasi yang terkait pada suatu merek yang sudah muncul di benak konsumen. Menurut Ratri (2007), citra merek merupakan asosiasi dari semua informasi yang tersedia mengenai produk, jasa dan perusahaan dari merek yang dimaksud apabila informasi produk tersebut jelek maka konsumen enggan untuk membeli. Informasi ini didapat dari dua cara, yang pertama melalui pengalaman konsumen secara langsung, yang terdiri dari kepuasan fungsional dan kepuasan emosional setelah menggunakan produk yang digunakan. Menurut Ratri (2007) Merek tersebut tidak cuma dapat bekerja maksimal dan memberikan performansi yang dijanjikan tapi juga harus dapat memahami kebutuhan konsumen, mengusung nilai-nilai yang diinginkan oleh konsumen dan juga memenuhi kebutuhan individual konsumen yang akan memberi kontribusi atas hubungan dengan merek tersebut sehingga citra yang baik akan muncul dibenak konsumen. Kedua, persepsi yang dibentuk oleh perusahaan dari merek tersebut melalui berbagai macam bentuk komunikasi, seperti iklan produk, promosi produk, hubungan masyarakat (public relations), logo produk, dan lain sebagainya. Citra merek yang baik akan sangat mempengaruhi kelangsungan suatu perusahaan begitu juga produknya agar dapat tetap bertahan dan dicintai dipasar yang nantinya akan menentukan sikap selanjutnya yang dilakukan oleh konsumenn terhadap merek tertentu yang akan dibelinya

Indikator Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Untarini (2014:114) menyatakan bahwa ada 8 dimensi produk yang dapat digunakan untuk menganalisis karakteristik kualitas produk, sebagai berikut yitu: 1. Kinerja (Performance) Merupakan karakteristik operasi dan produk inti (core product) yang akan dibeli oleh konsumen. 2. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (Features) Karakteristik pelengkap yang ada didalam produk yang tidak dimiliki oleh produk lain. 3. Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Spesification) Karakteristik desain dan operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh produsen sehingga kualitasnya terjaga. 4. Keandalan (Realibility) Kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal pakai sehingga produsen harus membuat produk yang benar-benar berkualitas. 5. Daya tahan (Durability) Berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan dan tidak mengalami kerusakan saat dipakai. 6. Estetika (Easthetica) Daya tarik produk terhadap panca indera biasanya produk yang memiliki estetika bagus maka konsumen kan tertarik untuk membelinya. 7. Kualitas yang dipersepsikan (Perceived Quality) Persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk yang akan dibeli apabila produk tersebut sesuai dengan yang dipersepsikan oleh konsumen kmaka konsumen akan tertarik pada produk tersebut. 8. Dimensi kemudahan perbaikan (Serviceability) Kecepatan, kemudahan, penanganan keluhan yang memuaskan konsumen sehingga konsumen tidak kebingungan kalau mau melakukan perbaikan.

Definisi Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Kualitas produk merupakan salah satu alat yang digunakan oleh para pemasar untuk menentukan positioning produknya di pasar agar sasarannya tepat. Setiap perusahaan harus memilih tingkat kualitas produk yang dihasilkannya sehingga akan membantu atau menunjang usaha untuk meningkatkan atau mempertahankan positioning produk itu dalam pasar sasarannya sehingga dalam proses pemasarannya tidak mengalami kendala. Kotler dan Amstrong (2008 ) menyebutkan bahwa kualitas adalah kemampuan produk untuk melaksanakan fungsi-fungsinya, kemampuan itu meliputi daya tahan, kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan diperbaiki dan atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan apabila itu semua dimiliki oleh suatu produk maka dapat dikatakan bahwa produk tersebut berkualitas. Sedangkan menurut Davis (dalam Lupiyoadi, 2008), kualitas produk adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan barang, jasa, manusia, produk, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan dari calon konsumen apabila sesuai dengan harapan konsumen maka produk tersebut bisa dikatakan berkualitas

Indikator Negara Asal (skripsi dan tesis)

Menurut Laroche et al. (2005) cara mengukur Negara Asal ( country of origin ) terdiri dari 3 komponen utama, yaitu: a) Country Beliefs, Keyakinan calon konsumen tentang pembangunan industri dan kemajuan teknologi di negara asal merek produk yang telah diproduksi oleh suatu negara. b) People Affect, Tanggapan afektif calon konsumen terhadap masyarakat negara asal merek produk, apabla tanggapannya bagus maka produk tersebut akan laku dipasaran. c) Desired Interaction, Kesediaan atau keinginan calon konsumen untuk membangun hubungan dengan negara asal merek produk sehingga konsumen tau informasi tentang kualitas produk yang sebenarnya.

Dampak Negara Asal (skripsi dan tesis)

Dampak dari Negara asal suatu produk ini telah banyak diteliti oleh para peneliti sebelumnya. Kajian ini membahas tentang dampak negara asal dari suatu produk tersebut lahir atau diproduksinya. Negara asal dapat memberikan berbagai macam pengaruh terhadap pemikiran seorang calon konsumen maupun konsumen. Salah satu pengaruh dari Negara asal dikemukakan oleh Hong dan Wyer dalam Rosyidi (2009), yaitu pengaruh stimulus terhadap calon konsumen maupun konsumen dalam mengevaluasi sebuah produk dan digunakan untuk mencari informasi lain tentang produk tersebut. 

Definisi Negara Asal (skripsi dan tesis)

Menurut Dinata, et.al (2015) Negara asal (country of origin) adalah bayangan atau image suatu produk yang dipicu oleh asal Negara produk tersebut. Ekawati (2015) Negara asal merupakan bagian dari informasi untuk membentuk konsep suatu produk yang dapat merangsang konsumen untuk berpikir lebih tentang produk lainnya sehingga dapat mempengaruhi konsumen. Simamora (2000: 534) Menyebutkan bahwa Negara asal merupakan unsurunsur yang dianggap khas produk asing yang dapat memberikan faedah di pasar asing. Negara asal suatu produk menjadi salah satu unsur penentu keberhasilan marketing suatu produk di negara pasarnya. Konsumen pun juga mulai cerdas untuk mengenali bahkan mengidentifikasi negara-negara produsen dari suatu produk 3. Chrisw ardana Bayu Dewa (2015) X= Country Of Origin dan Ekuitas Merek Sebagai Variabel Pemediasi Kuantitati f Kualitas Produk dan Brand Image berpengaruh signifikan terhadap Minat Beli, Ekuitas merek dan Country of origin berpengaruh positif terhadap miat beli 1. Menggunakan Variabel X Kualitas produk dan Citra merek 2. Populasi dalam penelitian ini unavaible  tertentu sehingga negara asal itu dapat menjadi pertimbangan bagi konsumen sebelum memutuskan membeli. Menurut Maksaoka dan Rahyuda (2016) Negara asal adalah Pandangan dari konsumen akan produk dari suatu negara dimana persepsi tersebut akan membentuk nilai baik dan buruknya suatu peroduk berdasarkan latar belakang negara yang memproduksi produk tersebut apabila latar belakang negaranya bagus maka akan terbentuk nilai postif dibenak konsumen. Produk yang ditawarkan kepada konsumen akan memiliki label dimana produk itu berasal, sehingga produk dengan citra negara yang baik akan memiliki persepsi yang baik juga terhadap minat beli konsumen. Negara asal dapat membentuk persepsi baik atau buruknya produk dimata konsumen. Apabila konsumen mempunyai persepsi baik maka konsumen akan terangsang untuk membelinya. Begitu sebaliknya ketika konsumen mempunyai persepsi yang buruk terhadap produk maka ia akan mengurungkan niatnya untuk membeli produk tersebut dan mencari yang presepsinya bagus dimata masyarakat umum. Sedangkan menurut Guntur (2010:413) Negara asal adalah asosiasi mental dan keyakinan konsumen yang di dasarkan pada negara yang membuat produk tersebut apabila negara tersebut diyakini bahwa kualitasnya bagus maka konsumen akan tertarik. Perusahaan akan menguatkan citra negara mereka untuk membantu mereka dalam melakukan ekspor dan menarik perusahaan lain atau investor asing supaya membeli produknya dengan cara bekerjasama dengan produsen yang sama tetapi sudah memiliki citra bagus.

Loyalitas (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller (2009;138) loyalitas (loyality) adalah sebagai komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli atau mendukung kembali produk atau jasa yang disukai di masa depan meski pengaruh situasi dan usaha pemasaran berpotensi menyebabkan pelanggan beralih. Menurut Swapna, et al. 2010 kualitas layanan dalam unit ritel adalah sangat penting untuk memuaskan pelanggan, mempertahankan mereka dan menciptakan loyalitas antara pelanggan. Menurut Sadi (2009) loyalitas adalah tujuan utama para pemasar atas produk, merk atau pelayanannya, kekuatan dari pelanggan sebagai salah satu kunci sukses dalam bisnis. Pelanggan yang loyal pada suatu produk tertentu akan memberikan prioritas pertama dalam berbelanja pada produk tersebut. Hal ini dapat berlangsung dalam jangka panjang dan berakhir pada saat terjadi ketidak cocokan yang akan memutus ikatan kuat antara pelanggan dengan produk. Menurut Palilati (2007) pelanggan yang loyal umumnya akan berlanjutkan pembelian merek tersebut walaupun dihadapkan pada banyak alternatif merek produk pesaing yang menawarkan karakteristik jasa yang lebih unggul dipandang dari berbagai sudut atributnya. Bila banyak pelanggan dari suatu merek masuk dalam kategori ini berarti merek terebut memiliki brand equity yang kuat. Loyalitas pelanggan terhadap suatu produk tentu bergantung pada beberapa faktor, yaitu: besarnya biaya untuk perpindah ke produk yang lain, adanya kesamaan mutu, kualitas atau layanan dari jenis barang atau jasa pengganti, adanya risiko perubahan biaya akibat barang atau jasa pengganti dan perubahnya tingkat kepuasan yang didapat dari produk sebelumnya yang pernah dipakai (Dimyati, 2012). Perusahaan yang memiliki basis pelanggan yang mempunyai loyalitas merek yang tinggi tentu memiliki keuntungan. Keuntungan pertama, mengurangi biaya pemasaran perusahaan karena biaya untuk mempertahankan pelanggan jauh lebih murah dibandingkan mendapat pelanggan baru. Keuntungan kedua, loyalitas merek yang tinggi dapat meningkatkan pelanggan. Keuntungan ketiga, dapat menarik minat pelanggan baru karena mereka memiliki keyakinan. Keuntungan ke empat, adalah loyalitas merek emberikan waktu, semacam ruang bernafas, pada suatu perusahaan untuk cepat merespon gerakan-gerakan pesaing (Haryanto dan Manurip, 2011). Menurut Sunarto (2006) indikator dalam loyalitas pelanggan, yaitu: kebiasaan transaksi, pembelian ulang, rekomendasi dan komitmen. Dapat disimpulkan bahwa loyalitas pelanggan adalah kemauan yang muncul pada diri konsumen untuk merasakan atau mengulang apa yang didapat ketika pembelian produk atau jasa dan dapat diartikan pula loyalitas adalah suatu kesetiaan yang timbul tanpa ada paksaan tetapi timbul dalam diri sendiri.

Persepsi Harga (skripsi dan tesis)

Persepsi didefinisikan sebagai sebuah proses yang dilalui seorang individu untuk memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasi stimuli ke dalam sebuah gambaran tentang dunia, yang memiliki arti atau makna dan bersifat koheren (Suprapti, 2010:68). Secara umum, harga bisa didefinisikan sebagai sejumlah uang yang harus dikorbankan oleh konsumen untuk mendapatkan suatu produk atau jasa. Harga bisa menjadi daya tarik atau penentu dalam pengambilan keputusan pembelian. Namun demikian harga juga bisa menjadi hambatan atau barrier dalam keputusan pembelian. Pengambilan keputusan yang kurang tepat dalam pricing akan menyebabkan turunnya minat beli konsumen pada produk tersebut (Krisjanti, 2007). Menurut Widagdo (2012) perceived price adalah persepsi dari konsumen yang berkaitan dengan sejumlah nilai yang ditukarkan konsumen dengan manfaat dari menggunakan barang atau jasa yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan penjual melalui tawar–menawar atau ditetapkan oleh penjual untuk suatu harga yang sama terhadap seorang pembeli. Dapat disimpulkan bahwa persepsi harga adalah proses yang dilakukan oleh konsumen untuk melakukan pembelian mendaptkan produk atau jasa yang diharapkannya.

Country of Origin (skripsi dan tesis)

Menurut Abdi (2009) country of origin (COO) merupakan gambaran reputasi stereotype konsumen dan pelaku bisnis lainnya terhadap suatu barang yang dikaitkan dengan suatu negara tertentu. Gambaran tersebut dapat berasal dari typical produk itu sendiri (representative products), karakteristik negara asal (national characteristic), aspek ekonomi dan politik (economic and political background), sejarah (history) dan kebiasaan atau tradisi dari negara asal (tradition). Country of origin itu sendiri memiliki definisi: gambar, reputasi, stereotype, pengusaha dan konsumen dalam mengkaitkan dengan produk spesifik suatu negara (Haryanto dan Manurip, 2011). Menurut Listiana (2013) evaluasi konsumen terhadap suatu produk seringkali tidak hanya didasarkan pada isyarat intrinsik produk (misalnya kualitas dan komposisi kandungan) namun juga isyarat ekstrinsiknya (misalnya country of origin, merek, dan kemasan). Menurut Giraldi (2012) efek country of origin telah memperoleh banyak definisi dalam literatur, mengacu pada umumnya untuk pengaruh informasi tentang suatu negara terhadap sikap dan perilaku terhadap produk atau merek. Masalah ini sangat penting karena pertumbuhan pasar internasional dan munculnya teknologi produksi baru. Para pemasaran profesional dapat mengambil keuntungan dari country of origin efek, yang menggunakan prasangka positif atau menetralkan yang negatif atas persepsi konsumen selama mereka melakukan proses mengambil keputusan. Menurut Rezvani et al. (2012) perusahaan dan pemasar internasional juga mencari peluang lainnya di pasar global dan perusahaan multinasional sehingga membuat kompetisi internasional antara perusahaan. Ada banyak faktor yang berdampak pada pertumbuhan evaluasi pasar, produk dan jasa konsumen internasional. Faktor-faktor seperti nama merek, persepsi negara dan banyak parameter yang negara asal adalah salah satu yang paling penting, berpengaruh juga signifikan pada pasar yang kompetitif. Dapat disimpulkan country of origin adalah negara asal suatu produk dihasilkan yang memiliki reputasi yang tinggi. Negara asal berpengaruh terhadap kualitas produk yang dihasilkan suatu negara.

Minat Beli (skripsi dan tesis)

Minat beli (willingness to buy) merupakan bagian dari komponen perilaku dalam sikap mengkonsumsi. Doods, Monroe dan Grewal, (1991) dalam Bernard (2004) menyatakan bahwa minat beli (willingness to buy) didefinisikan sebagai kemungkinan bila pembeli bermaksud untuk membeli produk. Minat beli merupakan perilaku konsumen yang menunjukkan sejauh mana komitmennya untuk melakukan pembelian. Menurut (Schiffman dan kanuk, 2009) minat beli dianggap sebagai pengukuran kemungkinan konsumen membeli produk tertentu dimana tingginya minat beli berdampak pada kemungkinan yang cukup besar dalam terjadinya keputusan pembelian. Rossiter dan Percy dalam Kumala (2012) mengemukakan bahwa minat beli merupakan instruksi diri konsumen untuk melakukan pembelian atas suatu produk, melakukan perencanaan, mengambil tindakan-tindakan yang relevan seperti mengusulkan, merekomendasikan, memilih dan akhirnya mengambil keputusan untuk melakukan pembelian.

Perceived Quality (skripsi dan tesis)

Menurut Schiffman dan Kanuk (2008) “Consumer often judgethe quality of a product or service onbasis of variety of informational cuesthat they associate with the product” dari definisi tersebut dijelaskan bahwa kesan kualitas adalah penilaian konsumen terhadap kualitas barang atau jasa yang berdasarkan informasi yang diterima berdasarkan asosiasi terhadap produk tersebut. Perceived quality menurut Aaker (2008) dapat didefinisikan sebagai persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Menurut Bruhn et al. (dalam Grebitus, dkk., 2007) dalam penelitiannya menemukan beberapa kriteria kualitas produk yang mempengaruhi seorang konsumen untuk membeli produk yang didasarkan pada isyarat intrinsik dan ekstrinsik dari produk. Menurut Orville et al (2005) apabila perusahaan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus mengerti dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing.

Brand Image (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler & Amstrong (2008) merek merupakan nama, istilah, tanda, symbol/lambang, desain, warna, gerak atau kombinasi atribut-atribut produk yang diharapkan dapat memberikan identitas dan differensiasi terhadap produk pesaing. Brand image yaitu deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu (Tjiptono, 2005). Sedangkan menurut Rangkuti (2004) brand image adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dan melekat di benak konsumen. Menurut Lin & Lin (2007) dalam penelitian Roslina (2009) brand image membuat konsumen dapat mengenal suatu produk mengevaluasi kualitas, serta dapat menyebabkan resiko pembelian yang rendah. Brand image memberikan suatu garansi kepada konsumen tentang produk yang digunakan. Merek yang terkenal 10 umumnya akan lebih disukai oleh konsumen ketika melakukan suatu pembelian meskipun harga yang ditawarkan cukup tinggi. Brand image mempresentasikan keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek tersebut (Setiadi, 2010). Brand yang dibentuk harus jelas dan memiliki keunggulan bila dibandingkan dengan merek lain. Pada dasarnya image terbentuk dari persepsi yang telah terbentuk lama.

Country of Origin (skripsi dan tesis)

Country of origin digambarkan sebagai efek pada merek global dan indikator dalam peningkatan aktivitas bisnis internasional telah menyebabkan munculnya pasar global, dimana merek dari suatu negara untuk konsumen di negara lain (hsieh et al., 2004). Banyak penelitian telah mengemukakan pentingnya efek country of origin pada branding suatu produk dengan menyatakan bahwa country of origin merupakan determinan penting dari persepsi konsumen terhadap keputusan pembelian dan keunggulan suatu produk (Chu et al.,2008; Lotz & Hu,2001;Pappu et al.,2006). Country of origin memainkan peran yang penting dalam mempengaruhi dan mengevaluasi suatu produk (Chu et al.,2008). Kartajaya (2006) mengatakan bahwa citra merek yang ditimbulkan dari negara asal merupakan upaya kritis dalam membangun ekuitas merek. Citra merek tersebutlah yang ditangkap dan dipercaya oleh konsumen. Citra merek yang baik membuat konsumen memiliki asumsi positif atas merek dari produk yang diproduksi oleh perusahaan.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Perilaku konsumen adalah studi tentang bagaimana individu, kelompok dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka (Kotler, 2007). Faktor – faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen; a. Faktor Kebudayaan Kebudayaan merupakan penentu keinginan dan perilaku yang paling mendasar untuk mendapatkan nilai, persepsi, preferensi dan perilaku dari dari lembaga – lembaga penting lainnya. Faktor kebudayaan memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada tingkah laku konsumen. b. Faktor Sosial Kelas sosial merupakan pembagian masyarakat yang relatif homogen dan permanen yang tersusun secara hierarkis dan yang anggotanya menganut nilai – nilai minat dan perilaku yang serupa. Kelas sosial ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, pendidikan, kekayaan dan variabel lain. Dalam sistem sosial, anggota dari kelas berbeda memelihara peran tertentu dan tidak dapat mengubah posisi sosial mereka. c. Faktor Pribadi Faktor pribadi didefinisikan sebagai karakteristik psikologis seseorang yang berbeda dengan orang lain yang menyebabkan tanggapan yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan. d. Faktor Psikologis Faktor psikologis sebagai bagaian dari pengaruh lingkungan dimana ia tinggal dan hidup pada waktu sekarang tanpa mengabaikan pengaruh dimasa lampau atau antisipasinya pada waktu yang akan datang.

Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Keputusan Pembelian Keputusan pembelian adalah tindakan konsumen untuk memilih produk dari beberapa alternatif yang akan digunakan oleh konsumen. Ini berarti bahwa keputusan pembelian adalah serangkaian pilihan yang dibuat oleh konsumen sebelum melakukan pembelian yang dimulai setelah konsumen menetapkan keinginan untuk membeli. Menurut Ruslim dan Tumewu (2015) keputusan pembelian konsumen merupakan sebagai seluruh proses yang dilalui konsumen untuk mendapatkan suatu produk dan layanan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Definisi tentang keputusan pembelian dijelaskan juga menurut Schiffman dan Kanuk (2013) keputusan pembelian didefinisikan sebagai sebuah pilihan dari dua tahu lebih alternatif pilihan. Menurut Tjiptono (2014) keputusan pembelian adalah sebuah proses di mana konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi mengenai produk atau merek tertentu dan mengevaluasi secara baik masing-masing alternatif tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian mengarah kepada keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Armstrong (2018) keputusan pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana konsumen benar-benar membeli produk (skripsi dan tesis) a. Pengenalan kebutuhan Merupakan tahap pertama proses keputusan pembeli, di mana konsumen menyadari suatu masalah atau kebutuhan. b. Pencarian informasi 17 Merupakan tahap proses keputusan pembeli di mana konsumen ingin mencari informasi lebih banyak; konsumen mungkin hanya memperbesar perhatian atau melakukan pencarian informasi secara aktif. c. Evaluasi alternatif Merupakan tahap proses keputusan pembeli di mana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dalam sekelompok pilihan. d. Keputusan pembelian Merupakan keputusan pembeli tentang merek mana yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan keputusan pembelian. e. Perilaku pasca pembelian Merupakan tahap proses keputusan pembeli di mana konsumen mengambil tindakan selanjutnya setelah pembelian, berdasarkan kepuasan atau ketidakpuasan mereka. Menurut Tjiptono (2014), faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan adalah ikatan emosional yang terjalin antara pelanggan dan produsen setelah pelanggan menggunakan produk dan jasa dari perusahaan dan mendapati bahwa produk atau jasa tersebut memberi nilai tambah. Dimensi nilai terdiri dari 4, yaitu: a. Nilai emosional, utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif atau emosi positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika konsumen mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat membeli atau menggunakan suatu merek, maka merek tersebut memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai emosional berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang akan dialami konsumen pada saat membeli produk. b. Nilai sosial, utilitas yang didapat dari kemampuan produk untuk meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu konsumen, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh konsumen. c. Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi biaya jangka pendek dan biaya jangka panjang. Nilai fungsional adalah nilai yang diperoleh dari atribut produk yang memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen nilai ini berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau layanan kepada konsumen. Pengambilan keputusan konsumen beraneka ragam sesuai dengan keputusan pembelian. Perilaku pembelian konsumen sangat berbeda untuk setiap produk. Pembelian yang lebih banyak dan mahal biasanya melibatkan lebih banyak pertimbangan dan lebih banyak peserta pembelian. Jenis-jenis perilaku keputusan pembelian sangat bergantung kepada jenis barang yang akan dibeli, harga dari barang serta rutin atau tidak barang tersebut dibeli. Terdapat empat tipe perilaku pembelian konsumen berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan tingkat perbedaan di antara merek. a. Perilaku Pembelian Kompleks Jenis perilaku pembelian yang paling kompleks dalam situasi yang ditentukan oleh keterlibatan tinggi dalam pembelian, biasanya diketemukan pada pembelian barang mahal dan pada umumnya barang yang jarang dibeli konsumen serta terdapat banyak perbedaan antar merek. Contoh: Laptop yang termasuk barang mahal dan jarang dibeli konsumen sehingga saat pembelian konsumen perlu mengetahui spesifikasi dan fitur produk yang terdapat di dalam laptop. b. Perilaku Pembelian Pengurangan Disonansi Jenis perilaku pembelian di mana situasi yang ditentukan oleh keterlibatan tinggi dalam pembelian tetapi konsumen tidak melihat 20 banyak perbedaan dalam merek. Contoh: Pembelian karpet merupakan keputusan yang mempunyai tingkat keterlibatan tinggi karena harga karpet yang relatif mahal dan termasuk barang yang jarang dibeli, tetapi pembeli menganggap kebanyakan merek karpet dalam kisaran harga adalah sama. c. Perilaku Pembelian Kebiasaan Jenis perilaku pembelian di mana situasi yang ditentukan oleh keterlibatan yang rendah dalam pembelian dan tidak ada perbedaan merek yang signifikan, biasanya diketemukan pada pembelian produk yang murah dan produk yang sering dibeli konsumen. Contoh: Pembelian mi instan, biasanya konsumen mempunyai keterlibatan yang rendah dalam kategori produk ini. d. Perilaku Pembelian Mencari Keragaman Jenis perilaku pembelian di mana situasi yang ditentukan oleh keterlibatan yang rendah tetapi anggapan perbedaan merek yang signifikan. Dalam hal ini, konsumen biasanya melakukan peralihan merek karena rasa bosan atau karena ingin mencoba rasa yang berbeda. Peralihan merek terjadi karena alasan untuk variasi dan bukan karena ketidakpuasan konsumen. Contoh: pembelian permen, biasanya konsumen memiliki sedikit keyakinan, memilih sebuah merek permen tanpa terlalu banyak mengevaluasi berbagai merek permen dan mengevaluasinya selama mengonsumsinya

Persepsi Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Schiffman dan Kanuk (2013) menjelaskan persepsi merupakan suatu proses seseorang individu dalam menyeleksi, mengorganisasi dan menerjemahkan stimulus informasi yang datang menjadi gambaran yang menyeluruh. Sedangkan Harga menurut Kotler dan Armstrong (2018) adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh produk. Maka dari itu, persepsi harga adalah nilai yang terkandung dalam suatu harga yang berhubungan dengan manfaat dan memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa. Menurut Tijptono (2008) persepsi harga berkaitan dengan bagaimana informasi harga dipahami seluruhnya oleh konsumen dan memberikan makna yang dalam bagi mereka. Definisi lain tentang persepsi harga dijelaskan oleh Peter & Olson (2013) yang mengatakan bahwa persepsi harga terkait dengan bagaimana informasi harga dipahami oleh konsumen dan memberi arti yang mendalam bagi mereka. Harga dapat menggambarkan suatu merek dan memberikan keunggulan kompetitif fungsional. Dalam menggambarkan merek, harga tinggi dapat diketahui sebagai produk berkualitas tinggi dan sering dinyatakan bahwa konsumen merasakan hubungan antara harga dan kualitas. Persepsi atas harga menyangkut bagaimana informasi harga dipahami oleh konsumen dan dibuat bermakna bagi mereka. Dalam pengolahan informasi harga secara kognitif, konsumen bisa membandingkan antara harga yang dinyatakan dengan sebuah harga atau kisaran harga yang mereka bayangkan atas produk tersebut. Harga yang ada dipikirkan sebagai bahan melakukan perbandingan tersebut disebut dengan harga acuan internal. Harga acuan internal menurut (Peter dan Olson, 2008) adalah harga yang dianggap pantas oleh konsumen, harga yang telah ada secara historis atau harga yang dibayangkan konsumen sebagai harga pasar yang tinggi atau rendah. Pada dasarnya harga acuan internal menjadi semacam panduan untuk mengevaluasi apakah harga yang tertera tersebut dapat diterima oleh konsumen atau tidak (Fatmawati dan Soliha, 2007).

Citra Merek (skripsi dan tesis)

Masing-masing merek produk yang berada di pasar memiliki citra tersendiri dimata konsumennya. American Marketing Assicoation mendefinisikan citra sebagai nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi dari semunya, yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari suatu penjual atau kelompok dan untuk membedakannya dari barang atau layanan dari pesaing. Citra tersebut 11 diciptakan oleh perusahaan untuk membedakan merek produknya dengan produk sejenis milik pesaing. Adapun merek memiliki berbagai definisi menurut pakar, salah satunya Kotler dan Armstrong (2018) yang menjelaskan bahwa merek adalah janji penjual untuk menyampaikan kumpulan sifat, manfaat, dan jasa spesifik secara konsisten kepada pembeli. Lebih jauh lagi Kotler dan Armstrong (2018) mengemukakan bahwa konsumen memandang merek sebagai bagian penting dari produk dan pemberian merek dapat menambah nilai suatu produk. Ia juga menjelaskan bagaimana pemberian merek membantu pembeli dalam beberapa hal. Selain itu, Kotler juga mengatakan bahwa perusahaan harus memberikan ingatan pada atributatribut tertentu dari suatu produk agar diminati oleh konsumen. Antara citra dan merek dapat digabungkan dan menjadi citra merek. Citra merek merupakan representasi keseluruhan persepsi terhadap suatu merek dan dibentuk melalui informasi dan pengalaman di masa lalu terhadap merek tersebut (Atika, 2018). Menurut Suria dkk (2016) citra merek merupakan persepsi yang konsumen miliki untuk setiap merek, persepsi tersebut meliput identitas, kualitas produk dan kinerja produk tersebut (Suria dkk., 2016). Menurut Tjiptono (2014) pengertian citra merek adalah deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Menurut Aaker (2013) citra merek adalah sekumpulan asosiasi yang biasanya dikelompokkan ke dalam cara yang memiliki arti. Definisi 12 tersebut serupa dengan definisi Keller (2013) yang mengatakan citra merek adalah asosiasi yang kuat, menguntungkan dan unik mengenai merek dalam ingatan konsumen. Menurut Kotler dan Keller (2012) menjelaskan bahwa semua perusahaan berjuang untuk membangun sebuah citra merek dengan sekuat mungkin, asosiasi merek yang kuat, menguntungkan dan unik. Jika melihat perkataan ini, semua perusahaan berusaha untuk menciptakan citra merek yang baik dan kuat dengan menciptakan suatu merek menjadi seunik mungkin yang dapat menguntungkan perusahaan. Kotler dan Keller (2012) juga menjelaskan bahwa setelah tingkat kesadaran merek yang mencakup tercipta, pemasar dapat lebih menekankan pada penciptaan merek. Dari pernyataan tersebut dapat dijelaskan bahwa citra merek adalah sesuatu yang lebih berharga daripada produk, ini berarti bahwa merek dapat digunakan sebagai perbedaan antara satu produk dengan produk serupa lainnya, terutama dengan menggunakan citra merek (Djatmiko dan Pradana, 2016). Kotler dan Armstrong (2018) menjelaskan bahwa sebuah merek terdiri dari simbol-simbol yang terdiri dari enam tingkat pemahaman sebagai berikut: a. Attribute: sebuah merek dapat mengingatkan pada atribut tertentu b. Benefit: atribut harus diterjemahkan ke dalam manfaat fungsional dan emosional c. Value: merek juga mengatakan sesuatu tentang the value of manufacturer d. Culture: merek juga dapat melambangkan budaya tertentu e. Personality; sebuah merek dapat mencerminkan kepribadian tertentu f. User brand: suat merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau menggunakan produk tersebut Menurut Tjiptono (2014) menjelaskan bahwa citra merek juga memiliki manfaat-manfaat tertentu, berikut adalah manfaat dari citra merek: a. Sarana identifikasi untuk memudahkan proses penanganan atau pelacakan produk bagi perusahaan, terutama dalam pengorganisasian sediaan dan pencatatan akuntansi. b. Bentuk proteksi hukum terhadap fitur atau aspek produk yang unik. Merek bisa mendapatkan perlindungan properti intelektual. Nama merek bisa diproteksi melalui merek dagang terdaftar (registered trademarks) proses pemanufakturan bisa dilindungi melalui hak paten dan kemasan bisa diproteksi melalui hak cipta (copyright) dan desain. c. Sinyal tingkat kualitas bagi para pelanggan yang puas, sehingga mereka bisa dengan mudah memilih dan membelinya lagi di lain waktu. d. Sarana untuk menciptakan asosiasi dan makna unik yang membedakan produk dari para pesaing. e. Sumber keunggulan kompetitif, terutama melalui perlindungan hukum, loyalitas pelanggan, dan citra unik yang terbentuk dalam benak konsumen. f. Sumber financial returns, terutama menyangkut pendapatan masa datang.

Country of Origin (skripsi dan tesis)

Negara asal di mana produk tersebut di hasilkan atau diproduksi dinamakan country of origin. Untuk menunjukkan country of origin sering ditulis kata “made in” pada kemasan produk. Kata “made in ” menjelaskan dari mana produk itu berasal dan di produksi. Sebagai contoh, label “made in China”, artinya produk tersebut berasal dari China. Konsep country of origin dengan kata “made in” pertama kali dikemukakan oleh Nagashima pada tahun 1960 (Tati dkk., 2015). Nagashima memperkenalkan konsep citra label “made in” sebagai gambar, reputasi, streotype sikap konsumen terhadap produk yang berasal dari negara tertentu. Konsep ini kemudian berkembang dan memunculkan definisi atau pengertian lainnya mengenai efek country of origin. Definisi Country of Origin menurut Kotler dan Keller (2012) merupakan asosiasi dan kepercayaan mental seseorang akan suatu produk yang dipicu oleh negara asal produk. Pemerintah didalam negara tersebut ingin memperkuat citra negara mereka dengan membantu perusahaan domestik yang melakukan ekspor sehingga menarik perusahaan asing dan investor. Perusahaan ingin menggunakan persepsi negara asal yang positif untuk menjual produk dan layanan mereka. Menurut Listiana dan Elida (2014), country of origin atau negara asal merupakan informasi (extrinsic cue) yang sering digunakan oleh konsumen ketika mengevaluasi suatu produk. Persepsi dan keyakinan konsumen terhadap citra country of origin memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk preferensi konsumen terhadap suatu produk. Persepsi ini bisa menjadi atribut dalam pengambilan keputusan atau mempengaruhi atribut lainnya dalam proses tersebut. Definisi tentang country of origin dikemukakan juga oleh Hamzoui dan Merunka dalam Tati dkk. (2015) yang menjelaskan bahwa country of origin sebagai unit persepsi yang mencakup berbagai asosiasi negara, seperti pengetahuan atau pemikiran mereka mengenai karakteristik suatu negara, rakyatnya, kebiasaan dan perilaku mereka serta produk-produk terkait. Model yang sering digunakan untuk menjelaskan pengaruh country of origin pada evaluasi kualitas produk, yaitu Halo Model dan Summary Construct Model. Halo model menunjukkan bahwa konsumen mengandalkan citra negara asal hanya apabila mereka tidak begitu familiar dengan suatu produk tertentu. Berbeda jika konsumen familiar dengan produk tersebut, mereka akan lebih mengandalkan informasi produk dari country image dan country belief yang berasal dari pengalaman mereka sebelumnya atau dikenal dengan Summary Construct Model (Tati dkk., 2015). Citra country of origin memiliki pengaruh terhadap perilaku konsumen khususnya pada keputusan pembelian konsumen. Citra country 10 of origin yang dipersepsikan positif dapat menimbulkan minat beli konsumen dan berakhir pada keputusan dalam membeli produk, sebaliknya citra country of origin yang dipersepsikan negatif oleh konsumen akan mengakibatkan mengurangi minat konsumen untuk membeli produk sehingga kemungkinan produk untuk dipilih menjadi berkurang. Kajian mengenai dampak country of origin suatu produk telah banyak diteliti sebelumnya. Kajian ini membahas tentang dampak country of origin dari suatu produk. country of origin memberi berbagai macam efek terhadap pemikiran seorang calon konsumen maupun konsumennya. Salah satu efek dari country of origin yang dikemukakan oleh Hong dan Wyer dalam Atika (2018), yaitu efek stimulus terhadap calon stimulan maupun konsumen dalam mengevaluasi sebuah produk dan digunakan untuk mencari informasi lain tentang produk tersebut. Persepsi dan keyakinan konsumen terhadap country of origin memainkan peran penting dalam membentuk perilaku pembelian konsumen.

Indikator Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut jurmal penelitian yang dilakukan Mongi, Mananeke, dan Repi (2013:2336), keputusan pembelian dapat diukur dengan 4 indikator berikut: 1) Kebutuhan dan keinginan akan suatu produk 2) Keinginan mencoba 3) Kemantapan akan kualitas suatu produk 4) Keputusan pembelian ulang

Tahap-tahap dalam Proses Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Armstrong (2016:183), terdapat lima tahap yang dilalui konsumen dalam proses pembelian, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pembelian. Model ini menekankan bahwa keputusan proses pembelian bermula sebelum pembelian dan berakibat jauh setelah pembelian 1) Pengenalan Kebutuhan Tahap pertama proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen mengenali suatu masalah atau kebutuhan 2) Pencarian Informasi Tahap proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen telah tertarik untuk mencari lebih banyak informasi: konsumen mungkin hanya meningkatkan perhatian atau mungkin aktif mencari informasi 3) Evaluasi berbagai alternatif Tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek-merek alternative dalam satu susunan pilihan. 4) Keputusan Pembelian Tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli produk. 5) Perilaku Pasca Pembelian Tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan kepuasan atau ketidakpuasan yang mereka rasakan.

Pengertian Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Menurut Schiffman dan Kanuk (2000) Dalam Etta Mamang Sangadji dan Sopiah, (2013:121) keputusan pembelian adalah keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua alternatif pilihan atau lebih. Setiadi (2003) dalam Sangadji dan Sopiah (2013:121) mendefinisikan bahwa inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah proses pengintegrasian yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua perilaku alternative atau lebih, dan memilih salah satu diantaranya. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong (2016:183) keputusan pembelian The buyer’s decision about which brand to purchase. Artinya, adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli dimana konsumen benar-benar membeli produk. Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusan pembelian adalah keputusan konsumen untuk memilih produk atau jasa dari sekian banyak alternative yang ada dan konsumen sudah melakukan evaluasi sebelumnya terhadap produk atau jasa yang dibeli

Dimensi Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Terdapat delapan dimensi kualitas produk yang dikemukakan oleh Tjiptono (2019:76-77) yang kerap kali digunakan sebagai pengukuran dalam sejumlah riset, meliputi: 1) Kinerja (Performance) Karakteristik informasi pokok dari produk inti (core product) yang dibeli 2) Fitur (features) Karakteristik sekunder atau pelengkap 3) Keandalan (reliability) kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal pakai 4) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications) Sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya 5) Daya tahan (durability) Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan 6) Serviceability Meliputi kecepatan, kompetisi, kenyamanan, mudah dioperasi serta penanganan keluhan yang memuaskan 7) Estetika Daya tarik produk terhadap panca indra 8) Persepsi terhadap kualitas (Perceived quality) Citra dan reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya

Pengertian Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Armstrong (2016:261) Kualitas Produk adalah “the characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied customer needs.” Artinya, kualitas produk adalah Karakteristik dari suatu produk atau layanan yang bergantung pada kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau tersirat. Sedangkan menurut Sangadji dan Sopiah (2013:188), kualitas produk didefinisikan sebagai evaluasi menyeluruh pelanggan atas kebaikan kinerja barang atau jasa. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kualitas produk adalah segala faktor pendukung untuk memenuhi dan melebihi harapan konsumen. Berbagai macam faktor harus dimiliki oleh suatu produk untuk mendukung performa suatu produk. Untuk mencapai kualitas produk yang diinginkan maka diperlukan suatu standardisasi kualitas. Jika pemasar memperhatikan kualitas, maka akan mendorong konsumen untuk tertarik melakukan pembelian terhadap produk.

Pengertian Kualitas (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler (2005) dalam Sangadji (2013:99) Kotler merumuskan bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Menurut American Society for Ouality dalam Kotler dan Keller (2016:156) “Quality is the totality of features and characteristics of a product or service that bear on its ability to satisfy stated or implied needs.” Yang mana kualitas adalah totalitas fitur dan karakteristik dari suatu produk atau layanan yang memikul kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat Sedangkan menurut Canon et al (2008:286) kualitas berarti kemampuan produk untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan pelanggan. Berdasarkan beberapa pengertian para ahli diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa kualitas adalah sebuah nilai terhadap suatu produk atau jasa berdasarkan karakteristik tertentu yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan

Pengertian Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Tjiptono (2019:231) produk adalah pemahaman subyektif produsen atas ‘sesuatu’ yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar. Menurut Kotler dan Keller (2016:389), product is anything that can be offered to a market to satisfy a want or need, including physical goods, services, experiences, events, persons, places, properties, organizations, information, and ideas. Yang artinya produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan, termasuk barang fisik, layanan, pengalaman, peristiwa, orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide. Sedangkan menurut Kotler dan Armstrong (2016:256) produk adalah “Anything that can be offered to a market for attention, acquisition, use, or consumption that might satisfy a want or need.” Artinya, produk adalah Apapun yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapat perhatian, akuisisi, penggunaan, atau konsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Berdasarkan beberapa definisi diatas, maka peneliti menyimpulkan bahwa produk adalah suatu barang atau jasa yang digunakan untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen.

Komponen Citra Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Biels dаlаm jurnаl Xiаn аnd Gou lie (2011:2), citrа merek terdiri dаri tigа komponen pendukung yang dapat digunakan sebagai pengukuran citra merek yaitu: 1) Citra Pembuat (corporate image) Merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu barang atau jasa. Citra pembuat meliputi: popularitas dan kredibilitas. 2) Citra Produk (product image) Sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa. Citra produk meliputi: atribut dari produk, manfaat bagi konsumen, serta jaminan kualitas produk. 3) Citra Pemakai (user image) Sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa. Meliputi: gaya hidup, atau kepribadian pemakai itu sendiri, serta status sosialnya

Definisi citra merek (skripsi dan tesis)

Menurut Sangadji dan Sopiah (2013:327), citra merek (brand image) dapat diangggap sebagai jenis asosiasi yang muncul di benak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu. Asosiasi tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek, sama halnya ketika kita berpikir mengenai orang lain. Menurut Firmansyah (2019:60), citra merek dapat didefinisikan sebagai sutau persepsi yang muncul di benak konsumen ketika mengingat suatu merek dari produk tertentu. Sedangkan menurut Ouersoot dan Tudorica (2001) dalam Firmansyah (2019:61), citra merek adalah kumpulan persepsi tentang sebuah merek yang saling berkaitan yang ada dalam pikiran manusia. Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan pengertian citra merek adalah representasi dari keseluruhan persepsi terhadap keseluruhan persepsi  terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan pengalaman masa lalu terhadap merek itu

Peran Merek (skripsi dan tesis)

Menurut Firmansyah (2019:56) pemakaian merek memiliki fungsi sebagai berikut: 1) Sebagai tanda pengenal untuk membedakan hasil produksi yang dihasilkan seseorang atau beberapa orang secara bersama-sama atau badan hukum dengan produksi orang lain atau badan hukum lainnya. 2) Sebagai alat promosi sehingga dalam mempromosikan hasil produksinya cukup dengan menyebut mereknya 3) Sebagai jaminan atas mutu barang 4) Sebagai petunjuk asal barang atau jasa yang dihasilkan

Pengertian Merek (skripsi dan tesis)

Merek merupakan unsur penting yang dapat membantu proses pemasaran barang dari sebuah perusahaan, merek juga turut mempengaruhi reputasi perusahaan karena merek adalah nilai yang akan diingat oleh konsumen atau pelanggan saat menentukan pembelian produk. Menurut Aaker (1997) dalam Sangadji dan Sopiah (2013:322) merek adalah nama dan / atau simbol yang bersifat membedakan (seperti logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang penjual tertentu yang mampu membedakannya dari barang-barang yang dihasilkan oleh para kompetitor. Sementara menurut Ginting (2011) dalam Firmansyah (2019:60), merek adalah suatu nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi dari padanya untuk manandai produk atau jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual dan membedakannya dari pesaing. Mendukung pendapat diatas American Marketing Association dalam Kotler dan Keller (2016:322) mendefinisikan merek sebagai “a name, term, sign, symbol, or design, or a combination of them, intended to identify the goods or services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those of competitors.” yang artinya merek didefinisikan sebagai “nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi dari mereka, dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakan mereka dari pesaing.” Menurut pengertian para ahli diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa merek adalah sebuah nama baik berupa tulisan, simbol ataupun gambar yang digunakan untuk membedakan produk yang dijual oleh suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya yang menjual produk sejenis.Pengertian Merek Merek merupakan unsur penting yang dapat membantu proses pemasaran barang dari sebuah perusahaan, merek juga turut mempengaruhi reputasi perusahaan karena merek adalah nilai yang akan diingat oleh konsumen atau pelanggan saat menentukan pembelian produk. Menurut Aaker (1997) dalam Sangadji dan Sopiah (2013:322) merek adalah nama dan / atau simbol yang bersifat membedakan (seperti logo, cap, atau kemasan) dengan maksud mengidentifikasi barang atau jasa dari seorang penjual tertentu yang mampu membedakannya dari barang-barang yang dihasilkan oleh para kompetitor. Sementara menurut Ginting (2011) dalam Firmansyah (2019:60), merek adalah suatu nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi dari padanya untuk manandai produk atau jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual dan membedakannya dari pesaing. Mendukung pendapat diatas American Marketing Association dalam Kotler dan Keller (2016:322) mendefinisikan merek sebagai “a name, term, sign, symbol, or design, or a combination of them, intended to identify the goods or services of one seller or group of sellers and to differentiate them from those of competitors.” yang artinya merek didefinisikan sebagai “nama, istilah, tanda, simbol, atau desain, atau kombinasi dari mereka, dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakan mereka dari pesaing.” Menurut pengertian para ahli diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa merek adalah sebuah nama baik berupa tulisan, simbol ataupun gambar yang digunakan untuk membedakan produk yang dijual oleh suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya yang menjual produk sejenis.

Komponen Utama Country of Origin (skripsi dan tesis)

Berdasarkan Laroche et al. (2005) dalam jurnal penelitian Dinata et al. (2015:3), menguraikan konsep-konsep dalam country of origin image yang terdiri dari 3 komponen utama yaitu: 1) Country beliefs Merupakan keyakinan calon pembeli konsumen tentang pembangunan industri dan kemajuan teknologi di negara asal merek produk. 2) People affects Merupakan tanggapan afektif calon konsumen terhadap masyarakat negara asal merek produk 3) Desired interactions Merupakan kesediaan atau keinginan calon konsumen untuk membangun hubungan dengan negara asal merek produk.

Country of origin effect (skripsi dan tesis)

Country of origin memberikan berbagai macam efek terhadap pemikiran calon konsumen. Menurut Keegan et al (2015:577), country-of-origin effect is Perceptions of, and attitudes toward, products or brands on the basis of the country of origin or manufacture.” Artinya, persepsi, dan sikap terhadap, produk atau merek berdasarkan negara asal atau manufaktur. Salah satu efek country of origin lainnya dikemukan oleh Cateora dan Graham (2007:71) “Country of origin effect dapat di definisikan sebagai pengaruh yang dimiliki negara yang memproduksi, merangkai atau mendesain terhadap persepsi positif maupun negatif konsumen atas produk.”  Menurut Jaffe dan Nebenzahl (2001:42) dalam jurnal Dinata. et al (2015:3) ada dua model konsep country of origin effect, yakni: 1) Halo Construct Model halo mengasumsikan bahwa ketika seseorang tidak mempunyai pengetahuan ataupun pengalaman dengan produk yang dibuat di suatu negara tertentu, maka dia masih memiliki gambaran tertentu tentang negara asal produk tersebut. 2) Summary construct Model summary construct mengasumsikan bahwa image sebuah negara didasarkan pada pengalaman dan atribut yang dirasakan dari produk tersebut. Menurut Hsieh et al. (2004) dalam Listiana (2013:25), pada dasarnya, citra negara dalam perspektif pemasaran dapat didefinisikan pada tiga tingkat, yaitu: 1) Overall country image (citra negara keseluruhan) Merupakan keseluruhan kepercayaan, ide dan kesan dari suatu negara tertentu sebagai hasil evaluasi konsumen atas persepsinya tentang kelebihan dan kelemahan negara tersebut. 2) Aggregate product country image (citra negara asal produk keseluruhan) Merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan produk dari negara tertentu atau kesan terhadap keseluruhan kualitas produk yang berasal dari suatu negara tertentu. Misalnya pandangan umum konsumen terhadap produk buatan Jepang berteknologi tinggi, produk buatan Cina harganya murah, dan produk buatan Jerman memiliki daya tahan tinggi.  3) Specific product country image (citra negara asal dilihat pada kategori produk tertentu) Merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan spesifikasi produk dari negara tertentu. Misalnya pandangan umum konsumen yang mengapresiasi susu olahan dari Belanda, barang elektronik dari Jepang

Pengertian Country of Origin Image (skripsi dan tesis)

Citra dari negara asal merupakan salah satu faktor penentu keputusan pembelian. Menurut Kotler dan Keller (2009:338), country of origin adalah asosiasi dan kepercayaan mental seseorang akan sesuatu produk yang dipicu oleh negara asal produk. Sedangkan menurut Michael R Solomon (2017:574) Country of Origin is original country from which a product is produced; it can be an important piece of information in the decision-making process. Dari pernyataan tersebut, Country of Origin merupakan negara asal dari mana suatu produk diproduksi, itu bisa menjadi informasi penting dalam proses pengambilan keputusan. Citra negara adalah deskripsi, reputasi, stereotip (pendapat atau prasangka pada pikiran seseorang) tentang negara tertentu tempat pengusaha dan konsumen menempelkan produk dari negara lain. Citra ini dihasilkan dari beberapa variabel yang mewakili produk, karakteristik nasional, ekonomi dan politik latar belakang, sejarah dan tradisi (Nagashima, 1970 dalam Listiana 2015:20) Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Country of Origin image merupakan negara asal suatu merek produk yang mempengaruhi persepsi dan image di benak konsumen dan dapat mempengaruhi konsumen dalam membuat keputusan pembelian suatu produk. Konsumen cenderung teliti dalam mencari informasi dan mengevaluasi darimana produk berasal dan konsumen cenderung memiliki kesan tertentu terhadap suatu produk yang di dihasilkan oleh suatu negara. Country of Origin sering dikaitkan dengan asosiasi merek kedua (secondary association) setelah merek dagang perusahaan, sedangkan untuk produk komoditi yang tidak menggunakan merek, maka Country of origin merupakan asosiasi utama dalam menilai suatu produk karena image yang diasosiasikan konsumen dengan negara asal tertentu sebagai citra, reputasi, stereotip yang melekat pada pengusaha dan konsumen pada produk-produk dari negara tertentu.

Pengaruh Country of Origin terhadap Brand Image (skripsi dan tesis)

Dalam bukunya, Keegan dan Green (2008) jelas menyebutkan bahwa COO adalah bagian dari citra merek dan berkontribusi terhadap nilai merek, teori tersebut hanya berlaku untuk beberapa jenis produk salah satunya fashion. Cordell dalam Kotabe dan Helsen (2011) juga menyebutkan bahwa konsumen cenderung menggunakan asal Negara jika mereka tidak familiar dengan merek produk karena mereka berpendapat citra merek dapat dilihat dari citra Negara asalnya. Koubaa (2008) mengatakan bahwa faktor internal adalah seperangkat karakteristik pribadi konsumen. Faktor eksternal adalah seperangkat fitur produk dan persepsi citra negara (Umbrella brand-image) (Meenaghan dalam Koubaa, 2008). Umbrella brand-image mengacu pada fakta bahwa persepsi citra merek dibawah persepsi citra negara. Persepsi citra negara (dari mana merek berasal atau diproduksi) terlalu dini untuk dijadikan persepsi citra merek di benak konsumen. Persepsi citra negara datang sebagai payung yang mencakup persepsi citra merek. Untuk beberapa hal, umbrella brand-image telah digambarkan sebagai bagian dari strategi di tingkat negara (Meeaghan dalam Koubaa, 2008).

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Brand Image menjadi salah satu hal yang dipertimbangkan dalam proses keputusan pembelian ketika konsumen mengevaluasi berbagai alternatif merek yang ada. Brand Image menjadi pengaruh psikologis saat konsumen melakukan keputusan pembelian. Kotler dan Amstrong (2008) mengatakan bahwa citra merek juga memberi tahu konsumen seberapa tinggi kualitas suatu produk. Pembeli yang selalu membeli suatu merek yang sama dapat mengetahui fitur, manfaat, dan kualitas yangisama setiap melakukan keputusan pembelian. Pada penelitian Oladepo dan Adimbola (2015) ditemukan bahwa citra merek dan bauran promosi memiliki pengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen

Pengaruh Country of Origin Terhadap Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Sikap dan keyakinan pembeli terhadap merek dari suatu Negara mempengaruhi atribut produk dalam proses peng ambilanokeputusan, dalam Kotler dan Keller (2012). Hasil penelitian Shirin dan Kambiz (2011) diperoleh bahwa COO, informasii produk, ddann keterlibatanBproduk mempengaruhi keputusan pembelian.Javed dan Hasnu (2013) menemukan pula bahwa COO mempengaruhi keputusan pembelian, namun pengaruh tersebut berbeda untuk setiap kategori produk yang berbeda. 

Brand Image (skripsi dan tesis)

Citra merek atau Brand Image adalah segala ssuatu yang berkaitan dengan pemikiran atau persepsi konsumen tehadap merek dari sebuah produk. Pemikiran konsumen seperti ini tercipta karena memori yang kuat setelah menerima kegunaan atau manfaat dari produk. Citra merek yang kuat serta didorong oleh produk yang berkuaitas baik nanti yang akan menguasai pasar. Brand Image adalah sekumpulan asosiasi merek yang terbentuk dan melekat dibenak konsumen menurut Rangkuti (2004). Sedangkan menurut Ferrinadewi (2008) berpendapat bahwa: ”Brand Image adalah persepsi tentang merek yang merupakan refleksi memori konsumen akan asosiasinya pada merek tersebut.” Dapat juga dikatakan bahwa Brand Image merupakan konsep yang diciptakan oleh konsumen karena alasan subyektif dan emosi pribadinya. Oleh karena itu dalam konsep ini persepsi konsumen menjadi lebih penting daripada keadaan sesungguhnya. Kotler dan Amstrong (2008) mengatakan bahwa citra merek yang kuat mampu menarik dan mempertahankan pelanggan. Kesimpulannya Brand Image (citra merek) merupakan gambaran atau kesan yang ditimbulkan oleh suatu merek dalam benak pelanggan. Penempatan citra merek dibenak konsumen harus dilakukan secara terus-menerus agar citra merek yang tercipta tetap kuat dan dapat diterima secara positif. Ketika sebuah merek memiliki citra yang kuat dan positif di benak konsumen maka merek tersebut akan selalu diingat dan kemungkinan konsumen untuk membeli merek yang bersangkutan sangat besar. Faktor- faktor pembentuk Brand Image dijelaskan oleh Keller (2003) sebagi berikut: 1) Keunggulan asosiasi merek (favorability of brand association) Asosiasi merek yang menguntungkan dimana konsumen percaya bahwa atribut dan manfaat yang diberikan oleh merek dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga konsumen membentuk sikap positif terhadap merek (Keller, 20 2008). Keller mendeskripsikan kesukaan terhadap merek melalui kebaikan dan keburukan suatu merek, atau hal yang disukai atau tidak oleh konsumen terkait dengan atribut dan manfaat merek tersebut 2) Keunikan asosiasi merek (uniqueness of brand association) Inti dari brand positioning adalah merek memiliki keuntungan bersaing yang terus-menerus atau unique selling proposition yang meberikan alasan yang menarik bagi konsumen mengapa harus membeli merek tersebut (Keller, 2008). Oleh karena itu, harus diciptakan keunggulan bersaing yang dapat dijadikan alasan bagi konsumen untuk memilih suatu merek tertentu. 3) Kekuatan asosiasi merek (strength of brand association) Tergantung pada bagaimana informasi masuk ke dalam ingatan konsumen dan bagaimana proses bertahan sebagai bagian dari citra merek. Ketika seseorang konsumen secara aktif menguraikan informasi suatu produk atau jasa maka akan tercipta asosiasi yang semakin kuat dalam ingatan konsumen. Indikator-indikator yang membentuk Brand Image menurut Aaker dan Biel (2009) adalah : a. Citra pembuat (Corporate Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu barang atau jasa. Meliputi: popularitas, kredibilitas, jaringan perusahaan, serta pemakai itu sendiri. b. Citra produk / konsumen (Product Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap suatu barang atau jasa. Meliputi: atribut dari produk, manfaat bagi konsumen, serta jaminan. c. Citra pemakai (User Image), yaitu sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa. Meliputi: pemakai itu sendiri, serta status sosialnya.

Country of Origin (skripsi dan tesis)

Kotler, Philip dan Keller (2009) menyebutkan bahwa persepsi COO adalah asosiasi mental dan keyakinan yang dipicu oleh suatu Negara. Pembeli memiliki sikap dan keyakinan yang berbeda terhadap merek dari berbagai Negara. Persepsi tersebut bisa saja mempengaruhi atribut dalam prosess pengambilann keputusan. Merek yang sukses di pasar global memberikan kredibilitas dan rasa hormat pada konsumennya. Menurut Shamidra dan Saroj (2011), Country of Origin sering dikaitkan dengan kualitas produk. Konsumen akan menggunakan Country of Origin sebagai standar kualitas suatu produk sebelum produk tersebut dibeli. Country of Origin mempengaruhi persepsi dan image di benak konsumen. Konsumen cenderung memiliki kesan tertentu terhadap suatu produk yang didihasilkan oleh suatu negara. Konsumen menganggap produk yang berasal dari Amerika merupakan produk yang prestisius, produk yang berasal dari Jepang merupakan produk yang inovatif sedangkan produk yang berasal dari China merupakan produk yang murah. Menurut (Listiana,2012) efek lain dari Country of Origin sebagai efek “made in” yang dimaksud adalah persepsi konsumen mengenai dimana suatu produk dihasilkan atau diproduksi. Penelitian COO dari waktu ke waktu semakin memperluas konsep-konsep COO yang ada. Sebelumnya, COO hanya dikaitkan dengan label “made in” dimana proses produksi dari awal sampai akhir hanya di satu negara tertentu. Namun kenyataannya saat ini, barang yang berlabelkan “made in” negara tertentu belum tentu proses produksi dari awal sampai akhirnya di negara tersebut. Contohnya saja, sebuah produk dengan label “made in” China bisa saja proses produksi dan perakitannya saja di China, namun asal mereknya (country of brand origin) dari Amerika. Menurut Abdi dalam Hananto (2015) Country of Origin merupakan identitas dalam atribut produk yang mempengaruhi evaluasi konsumen dalam mengidentifikasi asal negara suatu produk. Pada perilaku pembelian dalam keputusan pembelian, konsumen dapat menentukan keberhasilan strategi perusahaan di dalam negeri dan pasar luar negeri. Dalam beberapa penelitian disepakati bahwa konsumen mempunyai persepsi tertentu mengenai lokasi atau negara tempat suatu produk dihasilkan. Ketika konsumen hanya 16 mempunyai informasi lokasi suatu produk dihasilkan, maka dalam pengambilaan keputusan pembelian akan dipengaruhi oleh persepsi konsumen akan negara tersebut. Beberapa istilahistilah yang lahir dari konsep Country of Origin adalah country of design, country of manufacture, country of assembly, dan country of part dimana semua istilah tersebut menunjukkan bahwa beberapa perusahaan global dan transnasional tidak lagi melakukan keseluruhan rangkaian produksi di negaranya. Rangkaian produksi dilakukan di negara lain, tetapi tetap mengacu pada negara asalnya. Misalnya, perancangan dilakukan di Jepang, perakitannya dilakukan di Indonesia dan komponennya didatangkan dari Jepang. Menurut Setianingsih (2016) Country of Origin merupakan negara asal suatu merek yang mempengaruhi niat pembelian yang merupakan elemen penting dalam mempengaruhi minat beli suatu produk. Konsumen akan teliti dalam mengevaluasi darimana produk tersebut berasal. Suatu produk yang diproduksi pada suatu Negara dapat membawa suatu hambatan perdagangan barang dan jasa di dalam atau diluar negara. Preferensi konsumen untuk produk-produk dalam dan luar negeri dapat dipengaruhi oleh trust pada perusahaan asing, consumer ethnocentrisme dan perasaan negatif terhadap negara tertentu. Menurut Hsieh et al. dalam Setianingsih (2016) pada dasarnya, citra negara dalam perspektif pemasaran dapat didefinisikan pada tiga tingkat, yaitu : 1) Overall country image (citra negara keseluruhan) Merupakan keseluruhan kepercayaan, ide dan kesan dari suatu negara tertentu sebagai hasil evaluasi konsumen atas persepsinya tentang kelebihan dan kelemahan negara tersebut. 2) Aggregate product country image (citra negara asal produk keseluruhan) Merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan produk dari negara tertentu atau kesan terhadap keseluruhan kualitas produk yang berasal dari suatu negara tertentu. 3) Specific product country image (citra negara asal dilihat pada kategori produk tertentu) Merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan spesifikasi produk dari negara tertentu. Indikator-indikator Country of Origin menurut Yasin, Nasser dan Osman (2007) yaitu: 1) inovasi negara dalam berproduksi, 2) tingkat kemajuan teknologi negara asal merek, 3) desain produksi, 18 4) kreativitas berproduksi, 5) kualitas produksi, 6) prestise yang dimiliki negara asal merek, dan 7) citra negara asal merek sebagai negara maju

Faktor Budaya (skripsi dan tesis)

Budaya adalah susunan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari anggota suatu masyarakat dari keluarga dan institusi penting lainnya. Setiap kelompok atau masyarakat memiliki budaya, dan pengaruh budaya pada perilaku pembelian sangat beraneka ragam di tiap negara.

Keputusan Pembelian (skripsi dan tesis)

Swastha dan Irawan (2008) menyatakan bahwa keputusan pembelian adalah pemahaman konsumen tentang keinginan dan kebutuhan akan suatu produk dengan menilai sumber-sumber yang ada dan menetapkan tujuan pembelian serta mengidentifikasi alternatif, sehingga pengambilan keputusan untuk membeli disertai dengan perilaku setelah melakukan pembelian. Wibowo dan Karimah (2012) menyatakan keputusan pembelian merupakan proses dimana konsumen membuat keputusan untuk membeli berbagai produk dan merek. Swastha dan Irawan (2008) menyatakan bahwa keputusan pembelian adalah pemahaman konsumen tentang keinginan dan kebutuhan akan suatu produk dengan menilai sumber-sumber yang ada dan menetapkan tujuan pembelian serta mengidentifikasi alternatif, sehingga pengambilan keputusan untuk membeli disertai dengan perilaku setelah melakukan pembelian. Wibowo dan Karimah (2012) menyatakan keputusan pembelian merupakan proses dimana konsumen membuat keputusan untuk membeli berbagai produk dan merek. Keputusan pembelian yang dilakukan konsumen sangat bervariasi, ada yang sederhana dan komplek. Kotler & Keller (2012) mengemukakan bahwa proses pengambilan keputusan pembelian dapat dibagi menjadi lima tahapan sebagai berikut: 1) Pengenalan kebutuhan Proses pembelian diawali dengan pengenalan masalah atau kebutuhan. Kebutuhan dapat timbul ketika pembeli merasakan adanya rangsangan eksternal atau internal yang mendorong dirinya untuk mengenali kebutuhan. Rangsangan internal timbul dari dalam diri manusia itu sendiri, sedangkan dorongan eksternal berasal dari luar diri manusia atau lingkungan. Kebutuhan mempunyai tingkat intensitas tertentu. Makin besar tingkat intensitasnya, maka akan semakin kuat dorongan yang timbul untuk menguranginya dengan jalan mencari objek baru yang dapat memuaskan kebutuhannya. 2) Pencarian Informasi Konsumen yang merasakan rangsangan akan kebutuhannya kemudian akan terdorong untuk mencari dan mengumpulkan informasi sebanyakbanyaknya. Rangsangan tersebut dibagi dalam dua level. Level pertama adalah penguatan perhatian dimana pada level ini orang hanya sekedar lebih peka terhadap informasi produk. Level selanjutnya adalah pencarian informasi secara aktif dimana pada level ini orang mulai mencari bahan bacaan, menelepon teman, dan mengunjungi toko untuk mempelajari produk tertentu. Sumber informasi konsumen dapat digolongkan menjadi empat kelompok, yaitu sumber pribadi, sumber komersial, sumber publik, dan sumber eksperimental. Melalui pengumpulan informasi yang didapat dari berbagai sumber tersebut, konsumen kemudian dapat mempelajari merekmerek yang bersaing beserta fitur merek tersebut. 3) Evaluasi alternatif Setelah menerima banyak informasi, konsumen akan mempelajari dan mengolah informasi tersebut untuk sampai pada pilihan terakhir. Terdapat banyak proses evaluasi atau penilaian konsumen terhadap produk. Namun model yang terbaru adalah orientasi kognitif yang memandang konsumen sebagai pembuat pertimbangan mengenai produk terutama berlandaskan pada pertimbangan yang standar dan rasional. 4) Keputusan pembelian Jika keputusannya adalah membeli, maka konsumen harus mengambil keputusan menyangkut merek, harga, penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayaran. Keputusan tersebut tidak terpaku harus dilakukan melalui proses urutan seperti diatas, dan tidak semua produk memerlukan proses keputusan tersebut. Misalnya barang keperluan sehari-hari seperti makanan tidak perlu perencanaan dan pertimbangan membeli. 5) Perilaku pasca pembelian Setelah membeli suatu produk, konsumen akan mengalami kepuasan atau ketidakpuasan, hal ini akan mempengaruhi tindakan setelah pembelian. Apabila konsumen memperoleh kepuasan maka sikap konsumen terhadap produk tersebut menjadi lebih kuat atau sebaliknya. Para pemasar dapat melakukan sesuatu dari konsumen yang merasa puas misalnya dengan memasang iklan yang menggambarkan perasaan puas seseorang yang telah memilih salah satu merek atau lokasi belanja tertentu.bagi konsumen yang tidak puas, pemasar dapat memperkecil ketidakpuasan tersebut dengan cara menghimpun saran pembeli untuk penyempurnaan produk, maupun pelayanan tambahan terhadap konsumen dan sebagainya. Kotler & Keller (2012). Dari uraian di atas, maka keputusan pembelian dapat didefinisikan sebagai hasil pemilihan konsumen terhadap dua atau lebih alternatif pilihan produk suatu perusahaan. Menurut Kotler (2012) ada empat indikator keputusan pembelian, yaitu : 1. Kemantapan pada sebuah produk. 2. Kebiasaan dalam membeli produk. 3. Memberikan rekomendasi kepada orang lain. 4. Melakukan pembelian ulang.

Perilaku Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Engel (1994) mendefinisikan perilaku konsumen adalah sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk, dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusuli tindakan ini. Perilaku konsumen merupakan kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barangbarang dan jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Definisi perilaku konsumen menurut Sumawarman (2003). Menekankan dua elemen penting yakni proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik yang melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan, dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa ekonomis. Dari definisi-definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen adalah suatu proses pengambilan keputusan oleh individu atau organisasi yang bertindak secara langsung dalam merencanakan, mencari, membeli dan mempergunakan barang atau jasa sebagai akibat dari adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Perilaku konsumen memiliki lima komponen utama yang membentuk inti permasalahan studi: unit pembelian, proses pertukaran, strategi pemasar, pengaruh individu dan lingkungan. Unit pembelian (buying units) adalah para konsumen untuk produk, jasa, pengalaman, ide, yang ditawarkan oleh pemasar. Mereka berhubungan dengan para pemasar melalui hubungan pertukaran. Unit pembelian ini terdiri dari individu, keluarga, atau kelompok yang memutuskan untuk membeli. Selanjutnya unit pembelian dapat berupa konsumen (seperti individu, dan rumah tangga) atau organisasi pencari laba/nirlaba yang melakukan pembelian. Kesimpulannya, prinsip perilaku konsumen diterapkan baik pada pemasaran bisnis dengan bisnis (business to business) maupun pemasaran bisnis dengan konsumen (business to consumer). Strategi pemasaran (marketing strategy) diimplementasikan dengan penciptaan tujuan segmentasi dan pemosisian produk yang organisasi atau individu harapkan akan dipertukarkan dengan konsumen. Segmentasi mengacu pada pembagian pasar bisnis menjadi bagian konsumen yang homogen dengan kebutuhan dan keinginan yang hampir sama. Positioning mengacu pada bagaimana mempengaruhi pandangan konsumen tentang karakteristik merek relatif terhadap penawaran yang kompetitif. Agar terjadi pertukaran dan mencapai tujuan segmentasi serta positioning, para pemasar mengembangkan bauran pemasaran bukan hanya terdiri dari produk saja, tetapi juga bagaimana produk tersebut diterapkan harganya, dipromosikan dan didistribusikan. Untuk mengembangkan strategi pemasaran, para manajer melakukan studi analisis lingkungan guna mengantisipasi kemungkinan adanya dampak dari pengaruh lingkungan, dan kemudian menggunakan riset pasar untuk mendapatkan informasi tentang masing-masing konsumen berdasarkan analisis dari riset ini, mereka menciptakan strategi positioning dan segmentasi serta mengimplementasikannya melalui bauran pemasaran.

Niat Beli (skripsi dan tesis)

Niat beli seringkali digunakan untuk menganalisa perilaku konsumen. Sebelum melakukan pembelian, konsumen biasanya akan mengumpulkan informasi tentang produk berdasarkan pengalaman pribadi ataupun informasi yang berasal dari lingkungannya. Setelah informasi dikumpulkan, maka konsumen akan mulai melakukan penilaian terhadap produk, melakukan evaluasi serta membuat keputusan pembelian setelah membandingkan dan mempertimbangkan produk yang akan dibelinya. Menurut Mowen (1995), niat beli adalah penentuan dari pembeli untuk melakukan suatu tindakan seperti membeli suatu produk atau jasa. Hal ini juga merupakan komponen dari perilaku kognitif konsumen tentang bagaimana konsumen berniat untuk membeli produk, layanan, atau merek tertentu (kwek et al., 2010). Niat beli sendiri bisa diperoleh dari suatu proses belajar dan proses pemikiran yang membentuk suatu persepsi. Niat beli ini menciptakan suatu motivasi yang terus terekam dalam benak konsumen, dan menjadi suatu keinginan yang sangat kuat sehingga pada akhirnya ketika seseorang konsumen harus memenuhi kebutuhannya, ia akan mengaktualisasikan apa yang ada didalam benaknya tersebut. Shah et al. (2012) menyatakan bahwa niat beli adalah semacam pengambilan keputusan yang mempelajari alasan untuk membeli merek tertentu oleh konsumen (dikutip dari Mirabi et al., 2015). Bagi para pemasar, niat beli menjadi hal yang sangat berarti, karena perilaku konsumen yang bisa diprediksi sangat bergantung pada niat beli konsumen. Hal ini bisa mengukur kemungkinan konsumen untuk membeli suatu produk, dimana semakin tinggi niat beli konsumen, semakin tinggi juga kesediaan konsumen untuk membeli produk tersebut. Banyak hal yang mempengaruhi niat beli, terlebih dalam proses pengambilan keputusan. Contohnya dalam proses pencarian informasi, konsumen dapat dengan mudah terpengaruh oleh omongan dari orang lain, review produk dari internet, dan sebagainya. Dalam proses pembelian, niat beli akan dipengaruhi oleh berbagai atribut produk, seperti harga, negara asal, dll.

Persepsi Kualitas Penilaian (skripsi dan tesis)

tentang keunggulan atau kelebihan suatu produk akan membuat sebuah persepsi kualitas produk pada pikiran konsumen (Tsioutsou, 2006). 18 Akibatnya, konsumen akan mencari alternatif produk lain berdasarkan penilaian dari kualitas produk tersebut. Hal ini membuat persepsi kualitas menjadi salah satu alasan dalam keputusan pembelian konsumen. Diambil dari www.businessdictionary.com (diakses September 2017), persepsi kualitas (perceived quality) adalah opini atau pendapat dari konsumen tentang kemampuan sebuah produk (atau merek) dalam memenuhi harapannya. Persepsi kualitas didasarkan pada citra perusahaan, pengalaman yang dimiliki konsumen dengan produk lain dari perusahaan, serta pengaruh dari “pemimpin opini” terhadap konsumen. Menurut Zeithaml (1988) dan Aaker (1991), dikutip dari Listiana (2015), persepsi kualitas bukanlah kualitas yang sebenarnya dari produk, tetapi persepsi dari konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan dari suatu produk atau jasa terhadap alternatif-alternatif yang relevan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Jadi kualitas yang dipersepsikan tidak bisa ditetapkan secara objektif, karena kualitas yang dipersepsikan ini merupakan persepsi-persepsi yang juga melibatkan apa yang penting bagi pelanggan. Persepsi kualitas akan membentuk persepsi kualitas dari suatu produk yang dapat menentukan nilai dari produk tersebut dan berpengaruh secara langsung kepada keputusan pembelian konsumen dan loyalitas mereka terhadap merek. Karena persepsi kualitas merupakan persepsi konsumen, maka kita bisa memperkirakan jika persepsi kualitas konsumen negatif, maka produk tidak akan disukai dan tidak akan bertahan lama dipasar. Sebaliknya, jika persepsi kualitas positif, maka produk akan disukai dan akan bertahan lama dipasar.

Pembentukan Persepsi (skripsi dan tesis)

Proses pembentukan persepsi sebagai pemaknaan hasil pengamatan yang diawali dengan adanya stimuli. Setelah mendapat stimuli, pada tahap selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi dengan “interpretation”, begitu juga berinteraksi dengan “closure”. Proses seleksi terjadi pada saat seseorang memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang berurutan dan bermakna, sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara menyeluruh. Menurut Sobur (2010:447) pada fase interpretasi ini terjadi proses mengorganisasikan informasi sehingga mempunyai arti. Interpretasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pengalaman masa lalu, sistem nilai yang dianut, motivasi, kepribadian, dan kecerdasan. Interpretasi juga bergantung pada kemampuan seseorang untuk mengadakan pengategorian informasi yang diterimanya, yaitu proses mereduksi informasi yang kompleks menjadi sederhana.

Faktor yang Mempengaruhi Persepsi (skripsi dan tesis)

Faktor yang mempengaruhi persepsi menurut Vincent (1997:35): 1. Pengalaman masa lalu (terdahulu) dapat mempengaruhi seseorang karena manusia biasanya akan menarik kesimpulan yang sama dengan apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. 2. Keinginan dapat mempengaruhi persepsi seseorang dalam hal membuat keputusan. Manusia cenderung menolak tawaran yang tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. 3. Pengalaman dari teman-teman, dimana mereka akan menceritakan pengalaman yang telah dialaminya. Hal ini jelas mempengaruhi persepsi seseorang

Pengertian Persepsi (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Armstrong dalam Agyekum et al. (2015) persepsi adalah proses, dimana seorang individu memilih, mengatur dan menafsirkan masukan informasi untuk menciptakan gambaran yang berarti dari dunia. Ketika kita menafsirkan situasi atau peristiwa kita kemudian di posisi untuk merespon. Pendapat lain menurut Gregory dalam Agyekum et al. (2015), persepsi adalah satu set proses dimana seorang individu menjadi sadar dan menginterpretasikan informasi tentang lingkungan. Wagner dan Hollenbeck (1995) mengemukakan pendapatnya bahwa bahwa kita manusia memiliki lima indera dimana lewat indera-indera tersebut kita bisa mengalami dunia yang ada disekitar kita yaitu lewat indera penglihatan, pendengaran, perasa, penciuman dan pengecap. Persepsi merupakan proses dimana seseorang memilih, mengelola, menyimpan dan menginterpretasikan informasi yang dikumpulkan dari indera-indera tersebut. Pendapat senada juga disampaikan oleh Robbins (2003) yang mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. Sejumlah faktor yang mempengaruhi persepsi adalah pelaku persepsi, obyek atau target yang dipersepsikan dan situasi. Diantara karakteristik pribadi dari pelaku persepsi yang lebih relevan mempengaruhi persepsi adalah sikap, motif, kepentingan atau minat, pengalaman masa lalu dan pengharapan (ekspektasi). Obyek atau target bisa berupa orang, benda atau peristiwa. Sifat-sifat obyek atau target itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang yang melihatnya. Situasi adalah konteks objek atau peristiwa, yang meliputi unsurunsur lingkungan sekitar dan waktu

Country of Origin Image (skripsi dan tesis)

Efek dari country of origin sering dikaitkan dengan image produk dan juga country of origin image. Country of origin image atau citra negara asal adalah seperangkat keyakinan deskriptif, inferensial dan informasi yang ditujukan untuk negara tempat produk berasal (Martin dan Eroglu, 1993, dikutip dari Listiana, 2015). Produk yang berasal dari negara-negara yang memiliki citra positif dipersepsikan sebagai produk yang memiliki kualitas lebih baik jika dibandingkan dengan produk yang berasal dari negara bercitra buruk (Vrontis dan Thrassou, 2006). Pernyataan ini juga didukung oleh Yasin et al. (2007), yang mempercayai bawah sebuah merek dagang yang datang dari negara dengan image yang positif akan lebih mudah diterima dibandingkan dengan yang berasal dari negara dengan image negatif. Country of origin image atau bisa juga disebut country image pertama kali muncul dalam riset yang ditulis oleh Nagashima di tahun 1970. Nagashima mendefinisikan country image sebagai berikut; Konsumen memegang gambaran, reputasi, dan stereotip suatu produk dari negara tertentu. Citra ini terbentuk oleh gambaran representatif dari produk, latar belakang politik dan ekonomi, serta sejarah dan tradisi, yang mana semua ini menggambarkan citra negara secara keseluruhan (Nagashima, 1970, dikutip dari Lin dan Chen, 2006). Pernyataan ini kemudian didefiniskan kembali oleh Roth dan Romeo (1992) sebagai pemahaman konsumen akan negara tertentu berdasarkan pengetahuan konsumen akan keunggulan dan kelemahan suatu produk yang diproduksi dan dipasarkan oleh negara tertentu dimasa lalu (Lin dan Chen, 2006). Hsieh et al. (2004) dalam Demirbag et al. (2010) mendefinisikan country image pada tiga tingkat, yaitu: 1. Overall country image; merupakan keseluruhan kepercayaan, ide dan kesan dari suatu negara terntentu sebagai hasil evaluasi konsumen atas persepsinya tentang kelebihan dan kelemahan negara tersebut. 2. Aggregate product country image; merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan produk dari negara terntentu atau kesan terhadap keseluruhan kualitas produk yang berasal dari suatu negara terntentu. 3. Specific product country image; merupakan keseluruhan perasaan kognitif yang diasosiasikan dengan spesifikasi produk dari negara tertentu. Konsep lainnya tentang country image, dikemukakan oleh Lee dan Ganesh (1999) dalam Listiana (2015), adalah: a. Country image pada level produk. Dalam hal ini country image didefinisikan sebagai persepsi umum kualitas produk dari negara tertentu. Pendekatan ini menggambarkan country image sebagai elemen yang terbentuk dari totalitas produk, merek dan beragam organisasi khusus dari suatu negara. Definisi ini bersifat unidimensional dan berfokus pada persepsi umum kualitas produk. Dalam pandangan ini, faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan country image oleh konsumen lebih ditekankan dari atribut produk secara umum. b. Country image pada level negara. Dalam hal ini country image didefinisikan dari sudut citra negara secara umum, yang berbeda dari definisi citra negara yang berfokus pada level produk

Country of Origin (skripsi dan tesis)

Country of Origin atau negara asal dapat diartikan sebagai negara dimana sebuah produk berasal. Country of origin sendiri dapat mempengaruhi persepsi, image¸serta niat pembelian konsumen. Di saat konsumen akan membuat keputusan pembelian akan suatu produk, mereka akan membuat berbagai pertimbangan dari berbagai aspek, yang salah satunya adalah country of origin, karena konsumen cenderung memiliki kesan atau penilaian tersendiri terhadap suatu produk yang dihasilkan oleh suatu negara. Sudah banyak penelitian terdahulu yang mengangkat tema country of origin. Salah satu yang pertama kali mencetuskan konsep dari country of origin adalah Dichter (1962), yang mengatakan bahwa country of origin dari sebuah produk sangatlah penting untuk mendapatkan kesuksesan dan pengakuan dalam pasar global (Dichter, 1962, dikutip dari Coskun dan Burnaz, 2013). Penelitian yang dilakukan oleh Fournier (1998) juga menemukan bahwa country of origin menghubungkan produk dengan identitas nasional sebuah negara, yang mana menghasilkan keterikatan emosional yang kuat terhadap merek dan produk tertentu (Fournier, 1998, dikutip dari Verlegh dan Steenkamp, 1999). Beberapa penulis mempunyai pemahaman yang kurang lebih sama terhadap definisi dari country of origin, seperti misalnya Saeed (1994) yang mengartikan country of origin adalah negara tempat sebuah produk di produksi atau negara yang dikaitkan dengan suatu merek tertentu (Saeed, 1994, dikutip dari Lin dan Chen, 2006). Selain itu, penelitian lain oleh Ahmed et al. (2008) juga mengartikan country of origin sebagai negara tempat sebuah produk dibuat atau dirakit. Negara tersebut bisa diidentifikasi dari tulisan “made in” yang terdapat pada kemasan atau label produk. Country of origin juga bisa dipahami sebagai efek yang muncul dalam persepsi konsumen yang dipengaruh oleh lokasi dimana suatu produk dihasilkan (Czinkota dan Ronkainen, 2001).

Willingness To Pay (WTP) (skripsi dan tesis)

Kemauan untuk membayar atau yang biasa disebut dengan Willingness To Pay (WTP) di definisikan sebagai jumlah yang bersedia di bayar oleh seorang konsumen agar memperoleh output. Konsep Willingness To Pay dalam dunia binis pelayanan barang dan jasa, Willingness to Pay merupakan harga maksimum yang rela dibayarkan oleh seseorang untuk memperoleh kualitas pelayanan yang baik. Willingness To Pay merupakan salah satu bagian dari metode Contingent valuation method yang akan digunakan dalam penelitian peningkatan pelayanan jasa kereta api. Perhitungan WTP melihat seberapa besar seseorang mau membayar untuk memperbaiki kualitas lingkungannya agar lebih baik, (Fauzi, 2006 dalam Rahmawati 2014). Berikut ada beberapa pendekatan yang sering digunakan dalam menghitung seberapa besar peningkatan dan kemunduran kondisi lingkungan dengan menggunakan WTP yaitu adalah: a. Melakukan survei dalam menetukan pada level berapa seseorang bersedia membayar untuk meningkatkan kualitas lingkungan yang lebih baik dan mengurangi dampak negatif bagi lingkungan. b. Menghitung seberapa besar biaya yang bersedia di bayarkan oleh seseorang atau masyarakat untuk mengurangi efek buruk di lingkungan karena adanya kegiatan pembangunan. c. Mungukur seberapa besar pertambahan atau pengurangan harga barang karena adanya penurunan atau peningkatan kualitas lingkungan.

Keunggulan Bersaing (skripsi dan tesis)

Keunggulan bersaing telah meluas penerimaannya sebagai konpep utama sebuah strategi (Barney, 1997).
Setiap perusahaan berusaha untuk mengidentifikasikan, menciptakan sebuah keunggulan bersaing (Porter, 1985
dalam Ferdinand, 2003). Porter mendukung konsep keunggulan bersaing tapi mengharuskan keunggulan bersaing
tidak hanya selesai dengan melakukan improvisasi perusahaan yang efektif dan bahwa kenyataannya keunggulan
bersaing didapatkan untuk menjadi berbeda tidak menjadi lebih baik

Loyalitas Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Griffin (2005:22) ada empat jenis loyalitas yang berbeda muncul bila keterikatan rendah dan tinggi
diklasifikasi-silang dengan pola pembelian ulang yang rendah dan tinggi, yaitu:
1. Tanpa loyalitas. Untuk berbagai alasan, beberapa konsumen tidak mengembangkan loyalitas terhadap produk
atau jasa tertentu.
2. Loyalitas yang lemah. Keterikatan yang rendah digabung dengan pembelian berulang yang tinggi
menghasilkan loyalitas yang lemah (inertia loyalty).
3. Loyalitas tersembunyi. Tingkat preferensi yang relatif tinggi digabung dengan tingkat pembelian berulang
yang rendah menunjukkan loyalitas tersembunyi (latent loyalty).
4. Loyalitas premium. Jenis loyalitas yang paling dapat ditingkatkan, terjadi bila ada tingkat keterikatan yang
tinggi dan tingkat pembelian berulang yang juga tinggi.

Reputasi Merek (skripsi dan tesis)

Merek merupakan nama, istilah, tanda, simbol disain, ataupun kombinasinya yang mengidentifikasikan
suatu produk/jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan, (Duriatmo, 2001:1).
Menurut Herman, (dalam Ferrinadewi, 2008:138) menyatakan “A brand is the anticipation of consumer
feel, toward a specific benefit toward about to be derived from a identified source (a product, a service, and so
forth) often associated with a standardized set of symbolic representation (name, logo, emblem, color, tagline,
image, etc).” Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur variable Reputasi Merek diacu dari penelitian
Selness (1993). Adapun indikator-indikator tersebut adalah nama baik, reputasi disbanding pesaing, dikenal luas,
dan kemudahan diingat. Nama baik adalah persepsi para nasabah tentang sejauh mana nama baik yang berhasil
dibangun oleh bank. Reputasi disbanding pesaing adalah persepsi para nasabah bank mengenai seberapa baik
reputasi bank tersebut jika dibandingkan dengan bank-bank lain. Dikenal luas menunjukkan persepsi para nasabah
tentang sejauh mana nama bank yang dimaksud sudah dikenal oleh masyarakat luas. Sedangkan kemudahan
diingat adalah persepsi para nasabah akan kemudahan nasabah untuk mengingat nama bank yang dimaksud

Hubungan Kualitas Produk Terhadap Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Kepuasan konsumen merupakan kunci dalam menciptakan loyalitas
pelanggan. Banyak manfaat yang diterima oleh perusahaan dengan tercapainya
tingkat kepuasan pelanggan yang tinggi, yakni selain dapat meningkatkan
loyalitas pelanggan tapi juga dapat mencegah terjadinya perputaran pelanggan,
mengurangi sensitivitas pelanggan terhadap harga, mengurangi biaya kegagalan
pemasaran, mengurangi biaya operasi yang diakibatkan oleh meningkatnya
jumlah pelanggan, meningkatkan efektivitas iklan, dan meningkatkan reputasi
bisnis (Fornell, 1992).
Sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa harus
memperhatikan kualitas produk yang akan digunakan oleh pelanggan. Kualitas
produk yang sesuai dengan harapan pelanggan akan mengakibatkan pelanggan
merasa puas terhadap jasa yang diberikan oleh perusahaan.
Menurut Kotler & Keller (dalam Yulian, 2013) kepuasan adalah
perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan
kinerja (hasil) produk yang diharapkan jika kinerja berada dibawah harapan,
pelanggan tidak puas. Jika kinerja memenuhi harapan, pelanggan puas. Jika
kinerja melebihi harapan, pelanggan amat puas dan senang. Sama halnya
dengan pendapat Irwan yang menyatakan bahwa kepuasan sebagai persepsi
terhadap produk atau jasa yang memenuhi harapannya. Oleh karena itu
pelanggan tidak akan puas apabila pelanggan mempunyai persepsi bahwa
harapan belum terpenuhi, pelanggan akan merasa puas jika persepsinya sama
atau lebih dari yag diharapkan

Hubungan Persepsi Harga Terhadap Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut Schiffman dan Kanuk (2004:186), “how a consumer perceives
a price (as high, as low, as fair) has a strong influence on both purchase
intentions and purchase satisfaction” yang bearti persepsi harga adalah
pandangan atau persepsi mengenai harga bagaimana pelanggan memandang
harga tertentu (tinggi, rendah, wajar) mempengaruhi pengaruh yang kuat
terhadap maksud membeli dan kepuasan membeli.
Menurut Jarvenpaa and Todd (1997) dan Liu and Arnett (2000) dalam
kondisi penampilan barang yang tidak menentu, persepsi harga akan
memainkan peran dalam mempengaruhi kepuasan setelah pembelian dan
keinginan untuk kembali. Ini terjadi pada penjualan melalui internet karena
produk tidak tersedia untuk diperiksa oleh konsumen sebelum dibeli. Jadi,
konsumen dituntut tergantung pada isyarat harga. Dalam beberapa kasus,
kewajaran harga mungkin menjadi pengaruh dominan dari kepuasan dan
keinginan untuk membel

 Tipe-tipe Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Stauss & Neuhaus dalam Tjiptono & Gregorius, ( 2005:122)
membedakan tiga tipe kepuasan dan dua tipe ketidakpuasan, yakni :
1) Demanding customer satisfaction, Tipe ini merupakan tipe kepuasan
yang aktif. Adanya emosi positif dari konsumen, yakni optimisme dan
kepercayaan.
2) Stable customer satisfaction, Konsumen dengan tipe ini memiliki
tingkat aspirasi pasif dan perilaku yang menuntut. Emosi positifnya
terhadap penyedia jasa bercirikan steadiness dan trust dalam relasi yang
terbina saat ini. Konsumen menginginkan segala sesuatunya tetap sama.
3) Resigned customer satisfaction, Konsumen dalam tipe ini juga merasa
puas. Namun, kepuasannya bukan disebabkan oleh pemenuhan harapan,
namun lebih didasarkan pada kesan bahwa tidak realistis untuk
berharap lebih.
4) Stable customer dissatisfaction, Konsumen dalam tipe ini tidak puas
terhadap kinerjanya, namun mereka cenderung tidak melakukan apaapa.
5) Demanding dissatisfaction, Tipe ini bercirikan tingkat aspirasi aktif dan
perilaku menuntut. Pada tingkat emosi, ketidakpuasannya menimbulkan
protes dan oposisi.

Faktor-faktor Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Dalam menentukan kepuasan konsumen ada lima faktor yang harus
diperhatikan oleh perusahaan Lupyoadi (2008:77) antara lain :
1) Kualitas produk, yaitu pelanggan akan merasa puas bila hasil mereka
menunjukkan bahwa produk yang mereka gunakan berkualitas.
2) Kualitas pelayanan atau jasa, yaitu pelanggan akan merasa puas bila
mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang
diharapkan.
3) Emosi, yaitu pelanggan akan merasa bangga dan mendapatkan
keyakinan bahwa orang lain akan kagum terhadap dia bila
menggunakan produk dengan merek tertentu yang cenderung
mempunyai tingkat kepuasan yang lebih tinggi. Kepuasan yang
diperoleh bukan karena kualitas dari produk tetapi sosial atau self
esteem yang membuat pelanggan merasa puas terhadap merek tertentu.
4) Harga, yaitu produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi
menetapkan harga yang relatif murah akan memberikan nilai yang lebih
tinggi kepada pelanggan.
5) Biaya, yaitu pelanggan yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan
atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk
atau jasa cenderung puas terhadap produk atau jasa tersebut

Aspek-aspek Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Menurut pendapat Lovelock yang dikutip Tjiptono dalam Hutasoit
(2011:24), ada beberapa metode untuk mengevaluasi kepuasan, meliputi :
1) Kinerja, karekteristik pokok dari suatu produk dan merupakan
kareteristik utama yang dipertimbangkan konsumen dala membeli suatu
produk.
2) Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan, dari fungsi dasar berkaitan
dengan pilihan-pilihan produk dan pengembangannya, yaitu
karakteristik skunder atau pelengkap.
3) Keandalan, kecilnya kemungkinan suatu barang atau jasa rusak atau
gagal fungsi dalam periode waktu tertentu dan kondisi tertentu.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi, sejauh mana karekteristik desain dan
operasi memenuhi standar yang ditetapkan sebelumnya berdasarkan
keinginanan konsumen.
5) Daya tahan , berkaitan dengan umur teknis dan umur produk.
6) Mudah diperbaiki, meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan,
mudah direparasi, serta penanganan keluhan yang memuaskan.
7) Estetika, daya tarik produk menurut penginderaan konsumen, misalnya
model desain dan warna

Kepuasan Konsumen (skripsi dan tesis)

Kepuasan konsumen merupakan salah satu hal yang memiliki peranan
penting dalam bisnis. Kepuasan konsumen merupakan tonggak utama dalam
keberhasilan suatu perusahaan. Oleh karena itu, dalam upaya pemenuhan
kepuasan konsumen, perusahaan harus jeli dalam mengetahui pergeseran
kebutuhkan dan keinginan konsumen yang setiap saat berubah. Apabila
produsen dapat menghasilkan produk dan jasa sesuai dengan apa yang
diinginkan dan dibutuhkan konsumen maka konsumen akan merasa puas. Setiap
konsumen memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda. Menurut Philip
Kotler (Sunyoto, 2013:35), konsumen bisa mengalami salah satu dari tiga
tingkat kepuasan umum yaitu kalau kinerja dibawah harapan, pelangan akan
merasa kecewa tetapi kinerja sesuai dengan harapan konsumen akan merasa
puas dan bila kinerja bisa melebihi harapan maka konsumen akan merasakan
sangat puas senang atau gembira.
Kepuasan konsumen dapat diciptakan melalui kualitas, pelayanan dan
nilai. Kualitas mempunyai hubungan yang erat dengan kepuasan konsumen.
Kualitas akan mendorong konsumen untuk menjalin hubungan yang erat
dengan perusahaan. Dalam jangka panjang, ikatan ini memungkinkan
perusahaan untuk memahami harapan dan kebutuhan konsumen sehingga akan
dicapai kepuasan konsumen yang sesungguhnya

Indikator Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Dalam kaitannya dengan produk, Tjiptono (2008:68) ada delapan
dimensi kualitas produk yaitu:
1) Kinerja (performance) karakteristik operasi dari produk inti (core
product) yang dibeli.
2) Ciri-ciri atau keisitimewaan tambahan (features), yaitu karakteristik
sekunder atau pelengkap.
3) Keandalan (reliability), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
kerusakan atau gagal dipakai.
4) Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specification) yaitu
sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standarstandar yang telah ditetapkan sebelumnya.
5) Daya tahan (durability) yaitu berkaitan dengan berapa lama produk
tersebut dapat terus digunakan mencakup umur teknis maupun umur
ekonomis penggunaan produk.
6) Serviceability meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah
direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan.
7) Estetika yaitu daya tarik produk terhadap panca indera.
8) Kualitas yang dipersepsikan (perceives quality) yaitu citra dan
reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Secara umum faktor yang memengaruhi kualitas produk tersebut dapat
dikelompokkan menjadi dua hal, yaitu:
1) Faktor yang berkaitan dengan teknologi, yaitu mesin, bahan dan
perusahaan.
2) Faktor yang berkaitan dengan human resourses, yaitu operator,
mandor dan personal lain dari perusahaan.
Faktor terpenting bagi perusahaan adalah pada sumber daya manusia,
karena dengan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi perusahaan dapat
menciptakan suatu produk yang berkualitas tinggi pula

Kualitas Produk (skripsi dan tesis)

Menurut Kotler dan Keller, (2012:142) Kualitas produk adalah
kemampuan produk untuk melaksanakan fungsinya termasuk di dalamnya
keawetan, keandalan, ketetapan, kemudahan dipergunakan dan diperbaiki serta
atribut bernilai lainya. Menurut Prawirosentono (2006:6) kualitas atau mutu
suatu produk adalah keadaan fisik, fungsi, dan sifat suatu produk bersangkuatan
yang dapat memenuhi selera dan kebutuhan konsumen dengan memuaskan
sesuai nilai uang yang telah dikeluarkan

Tujuan Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Menurut Tjiptono (2008), ada empat jenis tujuan penetapan harga, yaitu:
1) Tujuan berorientasi pada laba asumsi teori ekonomi klasik menyatakan
bahwa setiap perusahaan selalu memilih harga yang dapat
menghasilkan laba paling tinggi. Tujuan ini dikenal dengan istilah
maksimalisasi laba.
2) Tujuan berorientasi pada volume Selain tujuan berorientasi pada laba,
ada pula perusahaan yang menentapkan harganya berdasarkan tujuan
yang berorientasi pada volume tertentu atau yang biasa dikenal dengan
istilah volume pricing objectives.
3) Tujuan berorientasi pada citra suatu perusahaan dapat dibentuk melalui
strategi penetapan harga. Perusahaan dapat menetapkan harga tinggi
untuk membentuk atau mempertahankan citra prestisius. Sementara itu
harga rendah dapat digunakan untuk membentuk nilai tertentu,
misalnya dengan memberikan jaminan bahwa harganya merupakan
harga yang terendah di suatu wilayah tertentu.
4) Tujuan stabilisasi harga dalam pasar yang konsumennya sangat sensitif
terhadap harga, bila suatu perusahaan menurunkan harganya, maka para
pesaingnya harus menurunkan pula harga mereka. Kondisi seperti ini
yang mendasari terbentuknya tujuan stabilisasi harga dalam
industryindustri tertentu yang produknya terstandardisasi. Tujuan
stabilisasi ini dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk
hubungan yang stabil antara harga suatu perusahaan dan harga
pemimpin industri

Proses Penetapan Harga (skripsi dan tesis)

Beberapa proses yang harus dilakukan oleh suatu perusahaan dalam
menetapkan harga suatu produk, yaitu (Lamb, Hair, McDaniel, 2001):
1) Menentukan tujuan penetapan harga.
2) Memperkirakan permintaan, biaya, dan laba.
3) Memilih strategi harga untuk membantu menentukan harga dasar.
4) Menyesuaikan harga dasar dengan teknik penetapan harga

Pengertian Persepsi Harga (skripsi dan tesis)

Harga merupakan unsur bauran pemasaran yang sifatnya fleksibel dimana
setiap saat dapat berubah menurut waktu dan tempatnya.Harga bukan hanya
angka-angka yang tertera dilabel suatu kemasan atau rak toko, tapi harga
mempunyai banyak bentuk dan melaksanakan banyak fungsi. Menurut Kotler
dan Keller (2012:67), harga adalah satu elemen bauran pemasaran yang
menghasilkan pendapatan, elemen lain menghasilkan biaya. Harga merupakan
elemen termudah dalam program pemasaran untuk disesuaikan, fitur produk,
saluran, dan bahkan komunikasi membutuhkan banyak waktu.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2011:137) persepsi merupakan suatu
proses seseorang individu dalam menyeleksi, mengorganisasikan, dan
menterjemahkan stimulus informasi yang datang menjadi suatu gambaran yang
menyeluruh,persepsi harga ialah bagaimana cara konsumen melihat harga
sebagai harga yangtinggi, rendah dan adil. Hal ini mempunyai pengaruh yang
kuat baik kepada minatbeli dan kepuasan dalam pembelian. Persepsi harga
berkaitan dengan bagaimana informasi harga dipahami seutuhnya dan
memberikan makna yang dalam oleh konsumen.
Harga merupakan nilai tukar suatu barang dan jasa yang dinyatakan
dengan uang atau harga keseimbangan yang disepakati oleh penjual dan
pembeli (Nurhadi,2015). Harga. Hal ini akanterjadi apabila (Mowen,1993):
1) Konsumen yakin bahwa harga mampu memprediksi kualitas.
2) Ketika kualitas yang konsumen ketahui/rasakan (Real perceived
quality) berbeda-beda diantara para pesaing.
3) Ketika konsumen sulit untuk membuat keputusan tentang kualitas
secara objektif, atau dengan menggunakan nama merek atau citra
toko.
Persepsi harga yaitu sesuatu yang dikorbankan oleh konsumen untuk
mendapatkan suatu produk (Zeithmal, 1988). Paul Peter dan Jery Olson (2000)
berpendapat bahwa persepsi harga berkaitan dengan bagaimana informasi harga
dipahami seluruhnya oleh konsumen dan memberikan makna yang dalam bagi
mereka. Penilaian terhadap harga sangat dipengaruhi oleh persepsi dari
konsumen itu sendiri hingga pada akhirnya suatu produk dapat dikatakan
memiliki harga mahal ataupun murah.