Tahapan Pelaksanaan Assertive (skripsi dan tesis)

Training Pelaksanaan assertive training memiliki beberapa tahapan atau prosedur yang akan dilalui ketika pelaksanaan latihan. Pada umumnya teknik untuk 24 melakukan latihan asertif, mendasarkan pada prosedur belajar dalam diri seseorang yang perlu diubah, diperbaiki dan diperbarui. Masters (Gunarsih, 2007) meringkas beberapa jenis prosedur latihan asertif, yakni:

1. Identifikasi terhadap keadaan khusus yang menimbulkan persoalan pada pasien atau klien.

2. Memeriksa apa yang dilakukan atau dipikirkan pasien atau klien pada situasi tersebut.
3. Dipilih sesuatu situasi khusus di mana pasien atau klien melakukan permainan peran (role play) sesuai dengan apa yang ia perlihatkan.
4. Terapis memberikan umpan balik secara verbal, menekankan hal yang positif dan menunjukkan hal-hal yang tidak sesuai ( tidak cocok, inadekuat) dengan sikap yang baik dan dengan cara yang tidak menghukum atau menyalahkan.
5. Terapis memperlihatkan model perilaku yang lebih diinginkan, pada pasien atau klien menerima model perilaku jika sesuai ( terjadi pergantian peran).
6. Terapis membimbing, menjelaskan hal-hal yang mendasari perilaku yang diinginkan.
 7. Selama berlangsung proses peniruan, terapis meyakinkan pernyataan dirinya yang positif yang diikuti oleh perilaku.
8. Pasien atau klien kemudian berusaha untuk mengulangi respon tersebut.
9. Terapis menghargai perkembangan yang terjadi pada pasien atau klien dengan strategi “pembentukan”(shaping) atau dukungan tertentu yang menyertai pebentukan respon baru.
 (Langkah nomor lima, enam, tujuh dan delapan, diulang sampai terapis dan pasien atau klien puas terhadap respon-responnya yang setidaknya sudah berkurang ansietasnya dan tidak membuat pernyataan diri(selfsentiment) yang negatif.)
10. Sekali pasien atau klien dapat menguasai keadaan sebelumnya menimbulkan sedikit ansietas, terapis melangkah maju ke hierarki yang lebih tinggi dari keadaannya yang menjadi persoalan.
11. Kalau interaksinya terjadi dalam jangka waktu lama, harus dipecah menjadi beberapa bagian yang diatur waktunya. Selanjutnya terapis bersama pasien atau klien menyusun kembali urutan keseluruhannya secara lengkap
. 12. Diantara waktu-waktu pertemuan, terapis menyuruh pasien atau klien melatih dalam imajinasinya, respon yang cocok pada beberapa keadaan. Kepada mereka juga diminta menyertakan pernyataan diri yang terjadi selama melakukan imajinasi. Hasil apa yang dilakukan pasien atau klien, dibicarakan pada pertemuan berikutnya.
13. Pada saat pasien atau klien memperlihatkan ekspresi yang cocok dari perasaan-perasaannya yang negatif, terapis menyuruhnya melakukan dengan respon yang paling ringan. Selanjutnya pasien atau klien harus memberikan respons yang kuat kalau respon tidak efektif.
14. Terapis harus menentukan apakah pasien atau klien sudah mampu memberikan respon yang sesuai dari dirinya sendiri secara efektif terhadap keadaan baru, baik dari laporan langsung yang diberikan maupun dari keterangan orang lain yang mengetahui keadaan pasien atau klien. 26 Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa assertive training merupakan terapi perilaku yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan individu yang diganggu kecemasan dengan berbagai teknik yang ada agar individu tersebut dapat memiliki perilaku asertif yang diinginkan

Tujuan Assertive Training (skripsi dan tesis)

Teknik assertive training dalam pelaksanaannya tentu memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh konselor dan klien. Day (2008) menjelaskan bahwa assertive training membantu klien belajar kemandirian sosial yang diperlukan untuk mengekspresikan diri mereka dengan tepat. Sedangkan menurut Corey (2009) terdapat beberapa tujuan assertive training yaitu :

a. Mengajarkan individu untuk menyatakan diri mereka dalam suatu cara sehingga memantulkan kepekaan kepada perasaan dan hak-hak orang lain;
b. Meningkatkan keterampilan behavioralnya sehingga mereka bisa menentukan pilihan apakah pada situasi tertentu perlu berperilaku seperti apa yang diinginkan atau tidak;
 c. Mengajarkan pada individu untuk mengungkapkan diri dengan cara sedemikian rupa sehingga terefleksi kepekaanya terhadap perasaan dan hak orang lain;

d. Meningkatkan kemampuan individu untuk menyatakan dan mengekspresikan dirinya dengan enak dalam berbagai situasi sosial;
e. Menghindari kesalahpahaman dari pihak lawan komunikasi.   Berdasarkan paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan latihan assertif adalah untuk melatih individu mengungkapkan dirinya, mengemukakan apa yang dirasakan dan menyesuaikan diri dalam berinteraksi sehingga dapat menghindari terjadinya kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

Hubungan Antara Kecemasan dengan Religiusitas (skripsi dan tesis)

Chaplin mendefenisikan kecemasan sebagai suatu. Jadi kecemasan menghadapi masa depan merupakan suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan dimana seseorang merasa ada tekanan perasaan, ancaman, kekhawatiran, hambatan terhadap keinginan pribadi atau perasaan kecewa, rasa tidak puas dan tidak aman. Kecemasan dalam penelitian ini diartikan sebagai suatu emosi yang ditandai dengan keadaan yang tidak menyenangkan, penuh kekhawatiran dan kegelisahan yang penyebab timbulnya tidak jelas atau tidak kelihatan, selain itu kecemasan juga merupakan bentuk dari keprihatinan mengenai masa-masa mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut.[1]

Hambly mengatakan kalau kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah religiusitas, religiusitas disini maksudnya adalah individu mempunyai kedekatan dengan Maha Pencipta yang mana dengan kedekatan tersebut dapat membuat seseorang tenang, aman sehingga rasa cemas dapat dihindari. [2]Dapat dikatakan bahwa semakin religiusitas seseorang maka kemungkinan mengalami kecemasan semakin rendah. Berdasarkan pendapat dari Hamly di atas penulis mengambil variabel religiusitas sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kecemasan menghadapi depan religiusitas merupakan salah satu faktor yang paling mendasar dalam diri individu, yang faktor tersebut berhubungan langsung dengan pencipta individu itu sendiri. Anggasari yang mengartikan religiusitas sebagai keberagaman, yang berarti adanya unsur internalisasi agama itu dalam diri individu. Dalam penelitian menyatakan bahwa manusia religius adalah manusia yang mempunyai hati nurani serius, taat, saleh dan teliti menurut norma atau ajaran agama Islam.[3]

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Religiusitas (skripsi dan tesis)

Thouless, membedakan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan menjadi empat macam, yaitu [1]:

  1. Pengaruh pendidikan atau pengajaran dan berbagai tekanan sosial

Faktor ini mencakup semua pengaruh sosial dalam perkembangan keagamaan itu, termasuk pendidikan dari orang tua, tradisi-tradisi sosial, tekanan dari lingkungan sosial untuk menyesuaikan diri dengan berbagai pendapat dan sikap yang disepakati oleh lingkungan itu.

  1. Faktor pengalaman

Berkaitan dengan berbagai jenis pengalaman yang membentuk sikap keagamaan. Terutama pengalaman mengenai keindahan, konflik moral dan pengalaman emosional keagamaan.

  1. Faktor kehidupan

Kebutuhan-kebutuhan ini secara garis besar dapat menjadi empat, yaitu : (a). Kebutuhanm akan keamanan atau keselamatan, (b). kebutuhan akan cinta kasih, (c). kebutuhan untuk memperoleh harga diri, dan (d). kebutuhan yang timbul karena adanya ancaman kematian.

  1. Faktor intelektual

Berkaitan dengan berbagai proses penalaran verbal atau rasionalisasi.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa setiap individu berbeda-beda tingkat religiusitasnya dan dipengaruhi oleh dua macam faktor secara garis besarnya yaitu internal dan eksternal.

Faktor internal yang dapat mempengaruhi religiusitas seperti adanya pengalamanpengalaman emosional keagamaan, kebutuhan individu yang mendesak untuk dipenuhi seperti kebutuhan akan rasa aman, harga diri, cinta kasih dan sebagainya. Sedangkan pengaruh eksternalnya seperti pendidikan formal, pendidikan agama dalam keluarga, tradisi-tradisi sosial yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, tekanan-tekanan lingkungan sosial dalam kehidupan individu.

 

[

Dimensi Dalam Religiusitas Islam (skripsi dan tesis)

Religiusitas diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan manusia, aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan perilaku ritual (beribadah) saja, tetapi juga ketikan melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan lahir. Oleh karenanya menurut Shihab bahwa agama meliputi tiga persoalan pokok yaitu tata keyakinan, tata peribadatan dan kaidah[1].

Adapun untuk mengetahui tinggi rendahnya tingkat religiusitas seseorang, kita dapat melihat dari ekspresi keagamaannya  yaitu terhadap kemampuan seseorang untuk mengenali/memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragamanya. Jadi kematangan beragama terlihat dari kemampuan sesorang untuk memahami, mengahayati  serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang menganut suatu agama karena menurut keyakinannya agama tersebut yang baik, karena itu ia berusaha menjadi penganut yang baik. Keyakinan itu ditampilkannya dalam setiap tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketataan terhadap agamanya[2]

Beberapa dimensi yang dapat dijadikan sebagai indikator religiusitas seseorang menurut Ancok, yaitu[3] :

  1. Ideological Involvement (Dimensi Keyakinan), yaitu tingkatan sejauhmana orang menerima hal-halyang dogmatik di dalam agamanya. Misalnya apakah seseorang yang beragama percaya tentang adanya malaikat, surga, neraka dan lain-lain yang bersifat dogmatik.
  2. Ritual Involvement (Dimensi Peribadatan/Praktek Agama), yaitu tingkatan sejauhmana orang mengerjakan kewajiban ritual agamanya. Misalnya shalat, puasa, zakat dan lain-lain.
  3. Intellectual Involvement (Dimensi Pengetahuan Agama), yaitu sejauhmana seseorang mengetahui tentang ajaran agamanya. Misalnya mengetahui makna diadakannya nuzulul Qur’an, hari raya Idul Adha dan lain-lain.
  4. Experiental Involvement (Dimensi Penghayatan), yaitu dimensi yang berisikan pengalaman-pengalaman unik dan spektakuler yang merupakan keajaiban yang datang dari Tuhan. Misal apakah seseorang pernah dekat dengan Tuhan, merasa takut berbuat dosa, merasakan bahwa doanya dikabulkan Tuhan atau pernah merasakan bahwa jiwanya selamat dari bahaya karena pertolongan Tuhan, dan lain-lain.
  5. Consequential Involvement (Dimensi Pengamalan), yaitu dimensi yang mengukur sejauhmana perilaku seseorang dimotivasikan oleh ajaran agamanya.

Menurut Ancok, rumusan Glock dan Stark diatas mempunyai kesesuaian dengan Islam, sehingga ia membaginya juga dalam lima dimensi yaitu[4] :

  1. Dimensi Akidah/iman, yaitu mencakup keyakinan dan hubungan manusia dengan Tuhan, malaikat, kitab suci, nabi, hari akhir serta qadha dan qadar. Iman adalah segi teoritis yang pertama-tama dipercayai dengan suatu keimanan yang tidak boleh dicampuri oleh keragu-raguan dan prasangka.

Iman adalah engkau percaya (membenarkan dan mengaku) kepada Allah dan malaikat-Nya dan dengan Rosul-Nya, dan engkau percaya dengan hari Kebangkitan.

  1. Dimensi Ibadah, yaitu sejauh mana tingkat frekuensi, intensitas pelaksanaan ibadah seseorang. Dimensi ini mencakup pelaksanaan shalat, puasa, zakat dan haji. Secara umum ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT karena didorong dan dibangkitkan oleh akidah tauhid. Beribadah dengan menyembah Allah berarti memusatkan penyembahan kepada Allah semata, tidak ada yang disembah dan mengabdikan diri kecuali kepada-Nya. Pengabdian berarti penyerahan mutlak dan kepatuhan sepenuhnya secara lahir dan batin bagi manusia kepada kehendak ilahi, itu semua dilakukan dengan kesadaran baik dalam hubungan secara vertical maupun secara horizontal.
  2. Dimensi ihsan, yaitu mencakup pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Tuhan dalam kehidupan, ketenangan hidup, takut melanggar perintah Tuhan, keyakinan menerima balasan, perasaan dekat dengan Tuhan dan dorongan melaksanakan perintah agama.
  3. Dimensi ilmu, yaitu tingkatan seberapa jauh pengetahuan seseorag tentang ajaran agamanya. Yang dimaksud dengan ilmu adalah segala macam ilmu yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya, baik kebutuhan duniawi maupun ukhrowi. Ilmu adalah kehidupan hati dari kebutaan, cahaya mata dari kezaliman dan kekuatan tubuh dari kelemahan. Dengan ilmu seorang hamba akan sampai pada kedudukan orang-orang baik dan tingkatan yang paling tinggi. Ilmu adalah pemimpin dan pengamalan adalah pengikutnya. Ilmu diilhamkan kepada orang-orang yang berbahagia dan diharamkan bagi orang-orang yang celaka.
  4. Dimensi Amal, yaitu meliputi bagaimana pengamalan keempat diatas ditunjukkan dalam tingkah laku seseorang. Dimensi ini menyangkut hubungan manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh para pedagang.

Tingkat religiusitas seseorang tidak dapat lepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi di sekitarnya, karena manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan lingkungannya. Dalam interaksi tersebut terjadi saling mempengaruhi antara hubungan manusia dengan lingkungannya. Dalam hal ini Siti Partini, menyatakan bahwa terbentuknya suatu sikap itu banyak dipengaruhi oleh rangsangan dari lingkungan sosial maupun kebudayaan, misalnya keluarga, norma, golongan, agama dan adat-istiadat.[5]

Pengertian Religiusitas (skripsi dan tesis)

Religiusitas berasal dari bahasa latin religio yang berarti agama; kesalehan; jiwa keagamaan. Henkten Nopel mengartikan religiusitas sebagai keberagaman, tingkah laku keagamaan, karena religiusitas berkaitan dengan erat dengan segala hal tentang agama (Henkten, 1994),

Secara etimologis religi yang berakar dari kata religare berarti mengikat yaitu merujukkan pada hal yang dirasakan sangat dalam, yang bersentuhan dengan keinginan seseorang yang menumbuhkan ketaatan dan memberikan imbalan atau mengikat seseorang dalam suatu masyarakat. [1] hal ini senada dengan pernyataan bahwa Kata religi berasal dari bahasa latin religio yang akar katanya adalah religere yang berarti mengikat (Gazalba, 1985). Matdarwan mengemukakan bahwa religere berarati melaksanakan dengan sangat teliti atau dapat pula dirartikan menyatukan diri. Disamping istilah religi sering pula dalam masyarakat digunakan istilah lain, seperti agama (Bahasa Indonesia), dien (Bahasa Arab) atau religion (Bahasa Inggris). Meskipun masing-masing mempunyai termonologis sendiri-sendiri akan tetapi dalam arti terminologis dan teknis yang berbeda akan tetapi semua istilah tersebut berartikan makna yang sama.

Religiusitas secara umum dapat dikaitkan dengan agama oleh karenanya pengertian dari religiusitas dapat dirujukkan pada pengertian agama. Agama sendiri dapat diartikan sebagai sistem simbol, sistem keyakinan, sistem nilai dan sistem perilaku yang terlembagakan yang semuanya berpusat pada persoalan-persoalan yang dihayati sebagai sesuatu yang paling maknawi (ultimate meaning).[2] Sedangkan Shihab menyatakan bahwa agama adalah ketetapan illahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya utnuk menjadi epdoman manusia.smeentara Shihab menyimpulkan bahwa agama adalah hubungan antara makhluk dengan khaliknya yang terwujud dalam sikap batinnya serta tampak dalam ibadah yang dilakukan dan tercermin p[ula dalam sikap kesehariannya.[3]

Dister mengatakan kalau religiusitas merupakan suatu keadaan dimana individu merasakan dan mengakui adanya kekuasaan tertinggi yang menaungi kehidupan manusia, dan hanya kepada-Nya manusia merasa bergantung serta berserah diri. Semakin seseorang mengakui adanya Tuhan dan kekuasaan-Nya, maka akan semakin tinggi tingkat religiusitasnya. Pernyataan ini juga mengemukakan tentang kesadaran agama yang merupakan aspek kognisi dari aktivitas agama dan pengalaman agama yang membawa perasaan pada keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan amaliah. Ilmu jiwa agama hanya mengungkap bagaimana perasaan dan pengalaman orang-orang secara individual terhadap Tuhan, tidak selamanya orang mampu menghadapi kesukaran yang menimpanya, dan tidak selamanya pula orang berhasil mencapai tujuannya dengan usaha yang terencana, teratur, dan telah diperhitungkan sebelumnya [4].

Sulaiman merumuskan secara sederhana pengertian dari religi atau religion yaitu[5] :

  1. Percaya pada kekuatan gaib yang mengikuti alam semesta dan bersifat suci.
  1. Bersikap terhadap kekuatan gaib itu untuk menerima kebaikan-kebaikan dan mencari keselamatan.
  2. Membentuk pribadi dalam kehidupan karena kepercayaan itu (pa[da masing-masing kelompok.

Anggasari membedakan antara istilah religi atau agama dengan istilah religiusitas. Agama atau religi menunjuk pada aspek formal yang berkaitan dengan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban, sedangkan religiusitas menunjuk pada aspek yang dihayati oleh individu. [6]Hal ini selaras dengan pendapat Dister yang mengartikan religiusitas sebagai keberagaman, yang berarti adanya unsur internalisasi agama itu dalam diri individu. menyatakan bahwa manusia religius adalah manusia yang mempunyai hati nurani serius, taat, saleh dan teliti menurut norma atau ajaran agama Islam.[7]

Sumber Koping (skripsi dan tesis)

Sumber koping, pilihan, atau strategi membantu untuk menetapkan apa yang dapat dilakukan sebagaimana yang telah ditetapkan. Lazarus, mengidentifikasikan lima sumber koping yang dapat membantu individu beradaptasi dengan stressor yaitu, ekonomi, keterampilan dan kemampuan, tehnik pertahanan, dukungan sosial dan motivasi.[1]

Kemampuan menyelesaikan masalah termasuk kemampuan untuk mencari informasi, identifikasi masalah, mempertimbangkan alternatif dan melaksanakan rencana. Social skill memudahkan penyelesaian masalah termasuk orang lain, meningkatkan kemungkinan memperoleh kerjasama dan dukungan dari orang lain. Aset materi mengacu kepada keuangan, pada kenyataannya sumber keuangan meningkatkan pilihan koping seseorang dalam banyak situasi stress. Pengetahuan dan intelegensia adalah sumber koping yang lainnya yang memberikan individu untuk melihat cara lain untuk mengatasi stress. Sumber koping juga termasuk kekuatan identitas ego, komitmen untuk jaringan sosial, stabilitas kultural, suatu sistem yang stabil dari nilai dan keyakinan, orientasi pencegahan kesehatan dan genetik atau kekuatan konstitusional [2]

Sumber koping yang menolong manusia untuk beradaptasi terhadap stres, yaitu [3]:

  1. Aset ekonomi
  2. Kemampuan dan ketrampilan individu
  3. Teknik-teknik pertahanan
  4. Dukungan sosial

Respon Koping (skripsi dan tesis)

Respon koping sangat berbeda antar individu dan sering berhubungan dengan persepsi individual dari kejadian yang penuh stress. Koping dapat diidentifikasi melalui respon, manifestasi (tanda dan gejala) dan pernyataan klien dalam wawancara. Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek yaitu fisiologis dan psikososial. Reaksi fisiologis merupakan indikasi klien dalam keadaan stress.

Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi dua yaitu Mekanisme koping adaptif dan mekanisme koping maladaptif. Mekanisme koping adaptif adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Katagorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif. Sedangkan mekanisme koping maladaptif adalah mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan. Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar.

Koping dapat diidentifikasi melalui respon, manifestasi (tanda dan gejala) dan pernyataan klien dalam wawancara. Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek : fisiologis dan psikososial: [1]

  1. Reaksi fisiologis merupakan manifestasi tubuh terhadap stress.
  2. Reaksi psikososial terkait beberapa aspek antara lain :
  • Reaksi yang berorientasi pada ego yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental, seperti denial (menyangkal), projeksi, regresi, displacement, isolasi dan supresi.
  • Reaksi yang berkaitan dengan respon verbal seperti, menangis, tertawa, teriak, memukul dan menyepak, menggenggam, mencerca respon.
  • Reaksi yang berorientasi pada penyelesaian masalah. Jika mekanisme pertahanan mental dan respon verbal tidak menyelesaikan masalah secara tuntas karena itu perlu dikembangkan kemampuan menyelesaikan masalah. Ini merupakan koping yang perlu dikembangkan. Koping ini melibatkan proses kognitif, afektif dan psikomotor. Koping ini meliputi : Berbicara dengan orang lain tentang masalahnya dan mencari jalan keluar dari informasi orang lain. Mencari tahu lebih banyak tentang situasi yang dihadapi melalui buku, masmedia, atau orang ahli. Berhubungan dengan kekuatan supernatural. Melakukan ibadah secara teratur, percaya diri bertambah dan pandangan positif berkembang. Melakukan penanganan stress, misalnya latihan pernapasan, meditasi, visualisasi, otigenik, stop berpikir. Membuat berbagai alternatif tindakan dalam menangani situasi. Belajar dari pengalaman yang lalu. Tidak mengulangi kegagalan yang sama.

 

Pelaksanaan Mekanisme Koping (skripsi dan tesis)

 

Sarafino ( dalam Smet 1994 ) menyatakan bahwa dalam menghadapi stressor ada dua jenis koping yang digunakan, yaitu :

  1. Emotional focus Coping, digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Pengaturan ini melalaui perilaku individu, seperti: penggunaan alcohol, bagaimana meniadakan fakta – fakta yang tidak menyenangkan, melalui strategi kognitif. Bila individu tidak mampu mengubah kondisi yang ‘stresfull’ individu akan cenderung untuk mengatur emosinya.
  2. Problem focus Coping, digunakan untuk mengurangi stressor, individu akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau keterampilan-keterampilan yang baru. Individu akan cenderung menggunakan strategi ini, bila yakin akan dapat menubah situasi.

Koping menurut Carver, dibagi dua bagian, yaitu memfokuskan pada pemecahan masalah dan memfokuskan pada emosi. Jenis-jenis koping yang memfokuskan pada pemecahan masalah berupa:

  1. Keaktifan diri, adalah suatu tindakan yang mencoba menghilangkan atau mengelabuhi penyebab stres atau untuk memperbaiki akibat yang ditimbulkan, dengan kata lain bertambahnya usaha seseorang untuk melakukan koping, antara lain dengan bertindak langsung.
  2. Perencanaan, adalah memikirkan tentang bagaimana mengatasi penyebab stres, contohnya dengan membuat strategi untuk bertindak, memikirkan tentang langkah apa yang perlu diambil dalam menangani suatu masalah.
  3. Control diri, adalah individu membatasi keterlibatannya dalam aktivitas kompetisi atau persaingan dan tidak bertindak terburu-buru, menunggu sehingga layak untuk melakukan suatu tindakan dengan mencari alternatif lain.
  4. Mencari dukungan sosial, adalah mencari nasehat, pertolongan, informasi, dukungan moral, empati dan pengertian

Sedangkan koping yang memfokuskan pada emosi, yaitu berupa [1]:

  1. Mengingkari, adalah suatu tindakan atau pengingkaran terhadap suatu masalah.
  2. Penerimaan diri, adalah suatu situasi yang penuh dengan tekanan sehingga keadaan ini memaksanya untuk mengatasi masalah tersebut.
  3. Religius, adalah sikap individu untuk menenangkan dan menyelesaikan masalah-masalah secara keagamaan.

Mekanisme koping juga dibedakan menjadi dua tipe menurut Kozier yaitu [2]:

  1. Mekanisme koping berfokus pada masalah (problem focused coping), meliputi usaha untuk memperbaiki suatu situasi dengan membuat perubahan atau mengambil beberapa tindakan dan usaha segera untuk mengatasi ancaman pada dirinya. Contohnya adalah negosiasi, konfrontasi dan meminta nasehat.
  2. Mekanisme koping berfokus pada emosi (emotional focused coping), meliputi usaha-usaha dan gagasan yang mengurangi distress emosional. Mekanisme koping berfokus pada emosi tidak memperbaiki situasi tetapi seseorang sering merasa lebih baik.

Mekanisme koping juga dilihat sebagai mekanisme koping jangka pendek dan jangka panjang. Mekanisme koping jangka panjang merupakan cara konstruktif dan realistik. Sebagai contoh, dalam situasi tertentu berbicara dengan orang lain tentang masalah dan mencoba untuk menemukan lebih banyak informasi tentang situasi. Mekanisme koping yang selanjutnya adalah mekanisme koping jangka pendek, cara ini digunakan untuk mengurangi stress untuk sementara tetapi merupakan cara yang tidak efektif untuk menghadapi realitas.

Sedangkan metode koping menurut Folkman adalah[3] :

  1. Planful problem solving (problem-focused)

Individu berusaha menganalisa situasi untuk memperoleh solusi dan kemudian mengambil tindakan langsung untuk menyelesaikan masalah.

  1. Confrontative coping (problem-focused)

Individu mengambil tindakan asertif yang sering melibatkan kemarahan atau mengambil resiko untuk merubah situasi.

  1. Seeking social support (problem or emotion- focused)

Usaha individu untuk memperoleh dukungan emosional atau dukungan informasional.

  1. Distancing (emotion-focused)

Usaha kognitif untuk menjauhkan diri sendiri dari situasi atau menciptakan pandangan yang positif terhadap masalah yang dihadapi.

  1. Escape-Avoidanceting (emotion-focused)

Menghindari masalah dengan cara berkhayal atau berpikir dengan penuh harapan tentang situasi yang dihadapi atau mengambil tindakan untuk menjauhi masalah yang dihadapi.

  1. Self Control (emotion-focused)

Usaha individu untuk menyesuaikan diri dengan perasaan ataupun tindakan dalam hubungannya dengan masalah.

  1. Accepting responcibility (emotion-focused)

Mengakui peran diri sendiri dalam masalah dan berusaha untuk memperbaikinya.

  1. Positive Reappraisal (emotion-focused)

Usaha individu untuk menciptakan arti yang positif dari situasi yang dihadapi. menekan.

Smet  menyebutkan  bahwa  kemampuan  koping  terhadap  stres merupakan  kemampuan individu  untuk  mengelola  jarak  yang  ada  antara  tuntutan-tuntutan  (baik  itu tuntutan  yang  berasal  dari  individu  maupun  tuntutan  yang  berasal  dari lingkungan)  dengan  sumber-sumber  daya  yang  mereka  gunakan  dalam menghadapi  situasi  yang  menekan.[4]  Sarafino, selanjutnya menyatakan bahwa koping terhadap stres terdiri dari dua bagian, yaitu koping berfokus masalah dan koping berfokus emosi. [5]

Carver  menyatakan aspek-aspek  kemampuan  koping  terhadap  stres  yang  diambil  dari  dua  bagian koping  tersebut,  yaitu  koping  yang  berfokus  masalah  terdiri  dari  koping  aktif, perencanaan,  pembatasan  aktivitas,  koping  penundaan,  dan  pencarian  dukungan sosial untuk mendapatkan bantuan, sedangkan koping berfokus emosi terdiri dari pencarian  dukungan  sosial  untuk  alasan-alasan  yang  emosional, penginterpretasian  kembali  secara  positif,  penerimaan,  pengingkaran,  dan pengalihan ke agama.[6]

Ada dua mekanisme koping yang dikembangkan oleh Mc Bell, yaitu[7]:

  1. Koping jangka panjang, sifatnya konstruktif serta realistik.
  2. Koping jangka pendek, sifatnya bisa destruktif dan sementara.

Mekanisme koping adalah perilaku yang diperlukan atau usaha untuk mengurangi stres dan kecemasan. Tipe perilaku atau koping untuk kecemasan ringan antara lain meliputi : menangis, tertawa, tidur dan memaki, aktivitas fisik dan latihan, merokok dan minum-minum, kontak mata kurang, membatasi persahabatan dan menarik diri. Sedangkan mekanisme koping yang digunakan untuk tingkat kecemasan yang tinggi dikategorikan sebagai tugas reaksi orientasi atau mekanisme pertahanan.8

Stuart dan Sudden mengidentifikasi mekanisme koping menjadi 3, yaitu:

  1. Melawan perilaku : terjadi ketika seseorang berusaha mengatasi hambatan untuk melawan masalah, mungkin konstruktif, dengan penyelesaian masalah asertif atau melawan (merusak) dengan perasaan yang agresif marah dan permusuhan.
  2. Perilaku menarik diri meliputi : menarik diri dari ancaman, reaksi emosional seperti mengaku kalah, menjadi apatis atau perasaan bersalah dan mengisolasi.
  3. Perilaku kompromi : biasanya konstruktif, mengutarakan tujuan atau negoisasi untuk sebagian atau semua yang dibutuhkan.

Mekanisme koping lain yang sering digunakan atau muncul dalam menghadapi masalah antara lain :

  1. Strategi terfokus pada masalah

Untuk mengurangi stresor individu akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau ketrampilan-ketrampilan baru. Individu akan cenderung menggunakan strategi ini, bila dirinya yakin akan dapat mengubah situasi.

Strategi yang biasa digunakan untuk memecahkan masalah antara lain[8]: menentukan masalah, menciptakan pemecahan alternaif, menimbang-nimbang alternatif berkaitan dengan biaya dan manfaat, memilih salah satunya dan mengimplementasikan alternatif yang dipilih.

  1. Strategi terfokus emosi

Digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Pengaturan ini melalui perilaku individu seperti : penggunaan alkohol, bagaimana meniadakan fakta-fakta tidak menyenangkan, strategi kognitif. Termasuk dalam strategi terfokus emosi, yaitu:

  • Represi

Seseorang cenderung untuk melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan di masa lalunya dan hanya mengingat hal-hal yang menyenangkan. Freud menganggap represi sebagai mekanisme pertahanan yang paling dasar dan penting. Dalam represi, impuls atau memori yang terlalu menakutkan atau menyakitkan dikeluarkan dari kesadaran.[9]

  • Rasionalisasi

Rasionalisasi adalah motif yang dapat diterima secara logika atau sosial yang kita lakukan sedemikian rupa dengan mengembangkan alasan rasional yang menyimpangkan fakta sehingga kita tampaknya bertindak secara rasional

  • Pembentukan reaksi

Sebagian individu dapat mengungkapkan suatu motif bagi dirinya sendiri dengan memberikan ekspresi kuat pada motif yang berlawanan.[10]

  • Proyeksi

Semua orang memiliki sifat yang tidak diinginkan yang tidak diakui, bahkan oleh dirinya sendiri. Salah satu mekanisme bawah sadar, proyeksi melindungi kita dari mengetahui kualitas diri kita yang tidak layak dengan menampakkan sifat itu secara berlebihan pada diri orang lain.

  • Intelektualisasi

Intelektualisasi adalah upaya melepaskan diri dari situasi stres dengan memutarbalikkan realita untuk mempertahankan harga diri dan biasanya menggunakan istilah-istilah yang abstrak dan intelektualisasi.

  • Penyangkalan

Terjadi ketika seseorang menolak untuk menerima kondisi yang tidak menyenangkan dalam dirinya.

  • Pengalihan

Melalui mekanisme pengalihan, suatu motif yang tidak dapat dipuaskan dalam suatu bentuk diarahkan ke saluran lain.15

Ada 2 mekanisme koping) yang dikembangkan oleh Mc. Cubbin, yaitu:[11]

  1. Mekanisme koping yang konstruktif yang meliputi : mencari dukungan sosial, mengkaji ulang stress (reframing), mencari dukungan spiritual dan menggerakkan keluarga untuk mencari atau meminta bantuan.
  2. Mekanisme koping yang destruktif berupa penampilan secara positif.

Berdasarkan uraian di atas maka disimpulkan terdapat dua mekanisme koping yang dilaksanakan seeorang ketika mengalami perubahan atau kecemasan. Hal ini didasarkan pada penerimaan sseorang itu sendiri. Oleh karenanya koping bisa saja destruktif atau konstruktif. Dikatakan sebagai koping yang konstruktif apabila kecemasan dianggap sebagai sinyal peringatan dan individu menerima kecemasan itu sebagai tantangan untuk diselesaikan. Koping yang konstruktif membentuk pengalaman masa lalu untuk memenuhi kebutuhan di masa yang akan datang, sedangkan koping yang destruktif, apabila seseorang lebih memilih menghindari kecemasan, memecahkan suatu konflik dengan melakukan pengelakan terhadap solusi.

Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek, salah satunya adalah aspek psikososial (Keliat, 1999) yaitu :

  1. Reaksi Orientasi Tugas

Berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntunan dan situasi stres secara realistis, dapat berupa konstruktif atau destruktif. Misal :

  • Perilaku menyerang (agresif) biasanya untuk menghilangkan atau mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan.
  • Perilaku menarik diri digunakan untuk menghilangkan sumber- sumber ancaman baik secara fisik atau psikologis. masalah yang timbul dan berusaha untuk mengatasi agar tidak menimbulkan efek yang buruk dan stres berkepanjangan. Koping berfokus pada masalah misalnya : dengan mengatasi masalah-masalah interpersonal dengan menggunakan berbagai gaya komunikasi dan interaksi yang berbeda untuk merubah aspek ancaman dari lingkungan, mengubah persepsi (penilaian-penilaian) dari ancaman berdasarkan konsekuensi individu.

Koping dibagi menjadi dua bagian, yaitu memfokuskan pada pemecahan masalah dan memfokuskan pada emosi. Jenis – jenis koping yang memfokuskan pada masalah berupa [12]:

  • Keaktifan diri, adalah suatu tindakan yang mencoba menghilangkan atau mengelabuhi penyebab stres atau untuk memperbaiki akibat yang ditimbulkan, dengan kata lain bertambahnya usaha seseorang untuk melakukan koping, antara lain dengan bertindak langsung.
  • Perencanaan, adalah memikirkan tentang bagaimana mengatasi penyebab stres, contohnya dengan membuat strategi untuk bertindak, memikirkan tentang langkah apa yang perlu diambil dalam menangani suatu masalah.
  • Control diri, adalah individu membatsi keterlibatannya dalam aktivitas kompetensi atau persaingan dan tidak bertindak terburu–buru, menunggu sehingga layak untuk melakukan suatu tindakan dengan mencari alternative lain.
    1. Emotional Focus Coping atau koping berfokus pada emosi

Koping berfokus pada emosi digunakan untuk mengatur respon emosional terhadap stres. Pengaturan menilai perilaku individu bagaimana meniadakan fakta – fakta yang tidak menyenangkan dengan mekanisme kognitif bila individu tidak mampu mengubah kondisi stres, individu akan cenderung untuk mengatur emosinya. Jenis koping ini terjadi ketika seseorang merasa bahwa hal yang menekannya (stressor) dapat dengan mudah untuk ditekan atau ditahannya. Emotion focused coping berorientasi hanya pada meredakan ketegangan dan emosi. Mekanisme koping berfokus pada emosi misalnya : mengingkari masalah terus – menerus, kegiatan yang menyenangkan dapat membuat individu merasa lebih baik dalam waktu pendek yang dapat menjadi suatu ancaman terhadap kesehatan (makan berlebihan, minum kopi atau alkohol yang berlebihan, merokok).

  1. Problem Focus Coping

Koping yang berfokus pada masalah digunakan untuk mengurangi stressor, individu akan mengatasi dengan mempelajari cara-cara atau ketrampilan-ketrampilan yang baru. Individu akan cenderung menggunakan strategi ini, bila yakin akan dapat merubah situasi. Metode ini lebih sering digunakan mereka yang sudah matang psikologisnya (dewasa). Pada saat individu menghadapi masalah akan selalu bereaksi baik yaitu dengan cara menghadapi masalah serta berusaha memecahkannya.

Pengertian Mekanisme Koping (skripsi dan tesis)

Dalam kehidupan sehari-hari, individu menghadapi pengalaman yang mengganggu ekuilibirium kognitif dan afektifnya. Individu dapat mengalami perubahan hubungan dengan orang lain dalam harapannya terhadap diri sendiri cara negatif. Munculnya ketegangan dalam kehidupan mengakibatkan perilaku pemecahan masalah (mekanisme koping) yang bertujuan meredakan ketegangan tersebut. Equilibrium merupakan proses keseimbangan yang terjadi akibat adanya proses adaptasi manusia terhadap kondisi yang akan menyebabkan sakit. Proses menjaga keseimbangan dalam tubuh manusia terjadi secara dinamis dimana manusia berusaha menghadapi segala tantangan dari luar sehingga keadaan seimbang dapat tercapai.

Dengan demikian coping dapat diartikan sebagai suatu perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima. Dikaitkan dengan mekanisme coping maka pengertian ini berubah menjadi suatu perubahan menjadi apa yang harus dilakukan dalam menghadapi tantangan perubahan. Dengan demikian coping merujuk pada perubahan sementara mekanisme coping merupakan orientasi untuk menghadapi perubahan. Apabila mekanisme coping ini berhasil, seseorang akan dapat beradaptasi terhadap perubahan atau beban tersebut.

Menurut Lazarus, koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. [1] Koping juga dapat digambarkan sebagai berhubungan dengan masalah dan situasi, atau menghadapinya dengan berhasil / sukses (Kozier, 2004). Sedangkan koping menurut Rasmun adalah proses yang dilalui oleh individu dalam menyelesaikan situasi stressful. Koping tersebut merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik fisik maupun psikologik. [2]

Koping adalah menejemen stres yang dilalui oleh manusia dan emosi secara umum (kognitif dan usaha perilaku untuk mengatur tuntutan spesifik eksternal dan internal yang dinilai melebihi kemampuan manusia). Koping dapat dihubungkan dengan lingkungan atau seseorang atau sesuatu dan perasaan terhadap stres.[3]

Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam[4]. Sedangkan menurut Lazarus, koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.[5]

Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dari perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam. [6] Jika individu berada pada kondisi stress ia akan menggunakan berbagai cara untuk mengatasinya, individu dapat menggunakan satu atau lebih sumber koping yang tersedia. [7] Sedangkan menurut Stuart, mekanisme koping dapat didefenisikan sebagai segala usaha untuk mengatasi stress.[8]

Seorang ahli medis bernama ZJ Lipowski dalam penelitiannya memberikan definisi mekanisme coping:

 all cognitive and motor activities which a sick person employs to preserve his bodily and psychic integrity, to recover reversibly, impaired function and compensate to limit for any irreversible impairment.

 

Dalam pernyataan tersebut dikemukakan bahwa semua aktivitas kognitif dan motorik yang dilakukan oleh seseorang yang sakit untuk mempertahankan integritas tubuh dan psikisnya, memulihkan fungsi yang rusak, dan membatasi adanya kerusakan yang tidak bisa dipulihkan.

Alat Ukur Kecemasan (skripsi dan tesis)

Menurut Nursalam, Alat ukur yang dipakai untuk mengetahui tingkat kecemasan adalah menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scalen (HARS) yang sudah dikembangkan oleh kelompok psikiatri Biologi Jakarta (KPBJ) dalam bentuk Anxiety Analog Scale (AAS). Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing dirinci lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (skor). Skor dari ke 14 kelompok gejala tersebut, kemudian dijumlahkan, kemudian skor diinterpretasikan sesuai derajat kecemasan [1]

Menurut Hawari, untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat atau panik, maka digunakan alat ukur yang dikenal dengan Hamilton Ansiety Rating Scale (HARS). Adapun cara penilaian tingkat kecemasan menggunakan skala HARS yang terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi bobot skor 0 – 4, yaitu:[2]

Nilai    0 = tidak ada gejala (keluhan)

1 = gejala ringan

2 = gejala sedang

3 = gejala berat

4 = gejala berat sekali

Selanjutnya masing-masing nilai angka kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang dengan menggunakan pengukuran tingkat kecemasan HARS, yaitu:

Total nilai (score) :

Kurang dari 14 = tidak ada kecemasan

14 – 20      = kecemasan ringan

21 – 27      = kecemasan sedang

28 – 41     = kecemasan berat

42 – 56      = kecemasan berat sekali

Perlu diketahui bahwa alat ukur HRS-A ini bukan dimaksudkan untuk menegakkan diagnosis gangguan cemas. Diagnose gangguan cemas ditegakkan dari pemeriksaan klinis oleh dokter (psikiater), sedangkan untuk mengukur derajat berat ringannya gangguan kecemasan itu digunkaan alat ukur HRS-A. Adapun hal-hal yang dinilai dengan alat ukur skala HARS ini adalah gejala yang meliputi:[3]

  1. Perasaan cemas

Cemas, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri.

  1. Ketegangan

Merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat, mudah terkejut, mudah menangis, gemetar dan gelisah.

  1. Ketakutan

Pada gelap, pada orang asing, ditinggal sendiri, pada binatang besar, kerumunan orang banyak, pada keramaian lalu lintas.

  1. Gangguan tidur

Sukar tertidur, terbangun dimalam hari, tidur tidak nyeyak, bangun dengan lesu, mimpi buruk, mimpi menakutkan.

  1. Gangguan kecerdasan

Sukar konsentrasi, daya ingat buruk, daya ingat menurun.

  1. Perasaan depresi atau murung

Hilangnya minat, berkurang kesenangan pada hobi, sedih, bangun dini hari, perasaan berubah-rubah sepanjang hari.

  1. Gejala somatik atau otot sakit dan nyeri otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil.
  2. Gejala sensorik

Tinitus atau telinga berdengung, penglihatan kabur, merasa lemas

  1. Gejala kardivaskuler

Jantung berdebar-debar, nyeri dada, , rasa lesu dan lemas seperti mau                    pingsan, detak jantung menghilang atau berhenti sekejab.

  1. Gejala pernafasan

Rasa sesak, rasa tercekik, sering menarik nafas, nafas pendek.

  1. Gejala gastrointestinal

Sulit menelan, perut melilit, nyeri sebelum dan sesudah makan, perasaan  terbakar diperut, kembung, mual, muntah, sukar buang air besar.

  1. Gejala urogenital dan kelamin

Sering buang air kecil, tidak dapat menahan buang air kecil, tidak    datang bulan atau haid, darah haid berlebihan, masa haid berkepanjangan, ejakulasi dini, ereksi melemah, impotensi.

  1. Gejala autonom

Mulut kering, muka merah, muka berkeringat, kepala pusing, kepala terasa berat, kepala terasa sakit, bulu-bulu berdiri.

  1. Tingkah laku pada saat wawancara

Gelisah, tidak tenang, jari gemetar, muka tegang, kerut pada kening, nafas pendek, muka pucat, otot tegang atau mengeras.

Salah satu alat ukur lain yang digunakan adalah

 

Tingkat Kecemasan (skripsi dan tesis)

Kecemasan dalam pengertian yang lebih mendalam seringkali digolongkan ke dalam beberapa pengertian. Shaw ( Sinambela, 1994) membagi kecemasan menjadi :

  1. Manifest Anxiety, yaitu suatu tingkat kecemasan yang merupakan suatu pengungkapan seseorang pada saat-saat tertentu.
  2. Test anxiety, yaitu kecemasan yang dihubungkan dengan pengambilan keputusan dengan melalui proses evaluasi.
  3. State anxiety, yaitu suatu predisposisi untuk kecemasan.

Tingkat kecemasan yang dikemukakan oleh Townsend, ada empat tingkat yaitu[1] :

  1. Kecemasan Ringan

Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada. Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah kelelahan, iritabel, kesadaran meningkat, mampu untuk belajar, motivasi meningkat dan tingkah laku sesuai dengan situasi.

  1. Kecemasan Sedang

Manifestasi yang muncul pada tingkat ini yaitu kelelahan meningkat, denyut jantung dan pernapasan meningkat, ketegangan otot meningkat, bicara cepat dengan volume tinggi, mampu untuk belajar namun tidak terfokus pada rangsang yang tidak menambah kecemasan, mudah tersinggung, tidak sabar, mudah lupa, marah dan menangis.

  1. Kecemasan Berat

Manifestasi yang muncul pada tingkat ini adalah mengeluh pusing, sakit kepala, mual, tidak dapat tidur (insomnia), sering kencing, diare, palpitasi, tidak mau belajar secara efektif, berfokus pada dirinya sendiri, perasaan tidak berdaya, bingung dan disorientasi.

  1. Panik

Panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan, teror karena mengalami kehilangan kendali. Orang yang sedang panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan pengarahan. Tanda dan gejala yang terjadi pada keadaan ini adalah susah bernafas, dilatasi pupil, palpitasi, pucat, diaphoresis, pembicaraan inkoheren, tidak dapat berespon terhadap perintah yang sederhana, berteriak-teriak, menjerit, mengalami halusinasi dan delusi. Panik dapat menagakibatkan peningkatan motorik, penurunan kemampuan berhubungan dengan orang lain dan tidak mampu berfikir rasional.

Menurut poplou ada empat tingkat kecemasan yang dialami oleh individu-individu yang ringan, sedang, berat dan panik[2] :

  1. Kecemasan ringan

Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari, individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas, contohnya:

  1. Seseorang yang menghadapi ujian akhir
  2. Pasangan dewasa yang akan memasuki jenjang pernikahan
  3. Individu yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
  4. Individu yang tiba-tiba dikejar anjing menggonggong
  5. Kecemasan sedang

Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya. Terjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain. Contohnya:

  1. Pasangan suami istri yang menghadapi kelahiran bayi pertama dengan resiko tinggi
  2. Keluarga yang menghadapi perpecahan (berantakan)
  3. Individu yang mengalami konflik dalam pekerjaan
  4. Kecemasan berat

Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada detil yang kecil (spesifik) dan tidak dapat berfikir tentang ha-hal lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu perintah atau arahan untuk terfokus pada area lain. Contohnya:

  1. Individu yang mengalami kehilangan harta benda dan orang yang dicintai dengan bencana alam.
  2. Individu dalam penyanderaan
  3. Panik

Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatiannya hilang karena hilangnya kontrol, maka tidak mampu melaksanakan apapun meskipun dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif biasanya disertai dengan disorganisasi kepribadian. Contohnya: Individu dengan kepribadian pecah/depersonalisasi.

Tingkat kecemasan menurut Stuart dan Sundeen, dibagi menjadi empat tingkatan, yaitu [3]:

  1. Cemas ringan (mild anxiety)

Cemas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kemampuan melihat dan mendengar menjadi meningkat. Cemas ringan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan kreativitas (Stuart & Sundeen, 2000).

  1. Cemas sedang (moderate anxiety)

Cemas sedang memungkinkan seseorang berfokus pada masalah yang sedang dihadapi dan mengesampingkan yang lain sehingga menyebabkan lapang persepsi menyempit dan kemampuan melihat dan mendengarnya menurun. Beberapa kemampuan menjadi tertutup tetapi masih bisa dilakukan dengan petunjuk.

  1. Cemas berat

Cemas berat sangat mempengaruhi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung berfokus pada hal-hal yang kecil dan tidak dapat berfikir tentang hal lain. Semua perilaku yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi rasa cemas dan perlu arahan untuk befokus pada area lain.

  1. Panik

Pada tingkat ini lahan persepsi sudah tetrtutup dan orang bersangkutan tidak dapat melakukan apa-apa walaupun sudah diberi pengarahan. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, penurunan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, gangguan persepsi, kehilangan kemampuan berfikir secara rasional. Panik merupakan pengalaman yang menakutkan dan bisa melumpuhkan seseorang

Nevid  membagi tipe-tipe kecemasan tersebut atas lima tipe, yaitu[4]:

  1. Gangguan Panik

Terjadinya serangan panik yang berulang, yang merupakan episode teror yang luar biasa disertai dengan simtom fisiologis yang kuat, pikiran-pikiran tentang bahaya yang segera datang atau malapetaka yang akan tiba, dan dorongan untuk melarikan diri.

  1. Gangguan Kecemasan Menyeluruh

Kecemsan yang persisten yang tidak terbatas pada suatu situasi tertentu.

  1. Gangguan Fobia

Ketakutan yang berlebihan terhadap objek atau situasi tertentu.

  1. Gangguan Obsesif Kompulsif

Obsesi berulang-ulang (pikiran intrusif yang berulang) dan/atau kompulsi (tingkah laku repetitf yang dirasakan sebagai sesuatu yang harus dilakukan).

  1. Gangguan Stress Traumatik

Reaksi maladaptif akut yang segera timbul setelah peristiwa traumatis (gangguan stress akut) atau reaksi maladaptif berkelanjutan terhadap suatu peristiwa yang traumatis (gangguan stress pasca trauma).

Gejala Kecemasan (skripsi dan tesis)

Gejala kecemasan didasarkan pada respon fisiologis serta psikologis yang dihadapi seseorang ketika mengalami kecemasan. Oleh karenanya gejala kecemasan memiliki beberapa variasi tergantung tingkat kecemasan yang dialami seseorang. Menurut Capernito, sindrom kecemasan sendiri dapat diuraikan menjadi seperti di bawah ini[1]:

  1. Gejala fisiologis

Peningkatan frekuensi nadi, TD, nafas, diaforosis, gemetar, mual dan muntah, sering berkemih, diare, insomnia, kelelahan, kemerahan atau pusat pada wajah, mulut kering, nyeri (khususnya dada, leher), gelisah, ringan/pusing, rasa panas.

  1. Gejala emosional

Individu mengatakan merasa ketakutan, tidak berdaya, gugup, kehilangan percaya diri, tegang, tidak mau rileks. Individu juga memperlihatkan peka terhadap rangsangan, tidak sabar, mudah marah, menangis, cenderung menyalahkan orang lain, mengkritik diri sendiri dan orang lain.

  1. Gejala kognitif

Tidak mampu berkontraksi, kurang orientasi lingkungan, pelupa, memblok pikiran (ketidakmampuan untuk menggigil) dan perhatian yang berlebihan.

Secara langsung kecemasan dapat diekspresikan melalui respons fisiologis dan psikologis dan secara tidak langsung melalui pengembangan mekanisme koping sebagai pertahanan melawan kecemasan[2] :

  1. Respons fisiologis: secara fisiologis respon tubuh terhadap kecemasan adalah dengan mengaktifkan sistem saraf otonom (simpatis maupun parasimpatis). Sistem saraf simpatis akan mengaktivasi proses tubuh, sedangkan sistem saraf parasimpatis akan meminimalkan respons tubuh. Reaksi tubuh terhadap stress (kecemasan) adalah “fliht” atau “flight”.
  2. Respons psikologis: kecemasan dapat mempengaruhi aspek interpersonal maupun personal. Kecemasan tinggi akan mempengaruhi koordinasi dan gerak refleks. Kesulitan mendengarkan akan mengganggu hubungan dengan orang lain. Kecemasan dapat membuat individu menarik diri dan menurunkan keterlibatan dengan orang lain.
  3. Respons kognitif: kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berfikir baik proses pikir maupun isi pikir diantaranya adalah tidak mampu memperhatikan, konsentrasi menurun, mudah lupa, menurunnya lapangan persepsi, bingung.
  4. Respons efektif: secara efektif klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan dan curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan.

Dampak kecemasan terhadap sistem saraf sebagai neuro transmitter terjadi peningkatan sekresi kelenjar norepinefrin, serotonin, dan gama aminobuyric acid sehingga mengakibatkan terjadinya gangguan: a) fisik (fisiologis), antara lain perubahan denyut jantung, suhu tubuh, pernafasan, mual, muntah, diare, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, berat badan menurun ekstrim, kelelahan yang luar biasa; b) gejala gangguan tingkah laku, antara lain aktivitas psikomotorik bertambah atau berkurang, sikap menolak, berbicara kasar, sukar tidur, gerakan yang aneh-aneh; c) gejala gangguan mental; antara lain kurang konsentrasi, pikiran meloncat-loncat, kehilangan kemampuan persepsi, kehilangan ingatan, phobia, ilusi dan halusinasi.[3]

Gejala klinis kecemasan baik yang bersifat akut maupun kronik (menahun) merupakan komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan atau psychiatric disorder. Orang dengan tipe kepribadian pencemas tak selamanya mengeluh hal-hal yang sifatnya psikis tapi sering juga disertai dengan keluhan-keluhan fisik (somatik) dan juga tumpang tindih dengan ciri-ciri kepribadian depresif, dengan kata lain batasnya sering kali tidak jelas.

Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain : cemas, khawatir, firasat buruk, takut, banyak pikiran, mudah tersinggung, merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut, takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang, gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan, gangguan konsentrasi dan daya ingat, keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging (tinitus), jantung berdebar-debar, sesak napas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, dan sakit kepala[4].

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nadia berjudul Kecemasan Pada Penderita Gagal Ginjal Kronis di Laboratorium Dialisis Rumah Sakit Pusat TNI AU dr. Esnawan Antariksa diketahui beberapa gejala kecemasan yang ditemui berupa respon-respon kognitif lebih banyak dialami penderita dibandingkan respon-respon fisiologis dan psikis. Dengan demikian pasien lebih banyak merasakan Secara spesifik maka dalam penelitian tersebut menguraikan bahwa gejala kecemasan dalam menghadapi kematian pada individu yang mengalami penyakit gagal ginjal diantaranya adalah terjadinya perubahan yang drastis dari kondisi fisiknya yang menyebabkan timbulnya penyakit tertentu dan menimbulkan kecemasan. Kecemasan tersebut akan berupa gangguan pencernaan, detak jantung bertambah cepat berdebar-debar akibat dari penyakit yang dideritanya kambuh, sering merasa pusing, tidur tidak nyenyak, nafsu makan hilang. Kemudian secara psikologis kecemasan dalam menghadapi kematian pada individu yang mengalami penyakit kronis adalah seperti adanya perasaan khawatir, cemas atau takut terhadap kematianitu sendiri, tidak berdaya, lemas, tidak percaya diri, ingin bunuh diri, tidak tentram, dan gelisah[5].

Dalam penelitian Devi Dwiawan yang berjudul Dampak Dukungan Sosial Dalam Mengurangi Kecemasan Pada Pasien Wanita Penderita Gagal Ginjal Kronis Di Rumah Sakit Khusus Ginjal RA. Habibie Bandung menunjukkan bahwa salah satu gelaja yang timbul dari seseorang yang menderita penyakit gagal ginjal akan merasa khawatir, merasa tidak berdaya, tegang, takut, bingung, merasa tidak pasti[6].

Oleh karenanya gejala yang timbul dari kecemasan menghadapi kematian seringkali ditemukan dalam bentuk-bentuk gejala kognitif . Gejala ini tidak mengesampingkan munculnya gejala lainnya yaitu gejala fisiologis dan emosional. Oleh karenanya gejala-gejala ini seringkali ditemukan bersamaan dalam satu karakter individu pasien.

Faktor Penyebab Kecemasan (skripsi dan tesis)

Dalam uraian di atas disebutkan bahwa individu/kelompok mengalami kecemasan setelah dalam merespon terhadap ancaman yang tidak jelas atau non spesifik. Hal ini mengindikasikan bahwa factor-faktor yang berkaitan dengan penyebab kecemasan sangatlah beraneka ragam serta memiliki perbedaan respon bagi setiap individu. Melalui berbagai penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik suatu garis besar yang menghubungkan suatu factor yang mempengaruhi kondisi kecemasa sesseorang secara rata.

Kecemasan dirasakan oleh individu yang akan lebih terkait dengan perubahan sosial, misalnya kecemasan akan indentitas sosial, perasaan takut diasingkan dan cemas karena merasa tidak mampu bersosialisasi lebih luas. Oleh karenanya sebagai bagian menghadapi perubahan dalam kehidupannya maka proses menghadapi kematian menyebabkan seseorang lebih mudah mengalami kecemasan. Termasuk diantaranya adalah para penderita gagal ginjal.[1]

Menurut Mighwar (2006), secara psikologis, kecemasan tersebut merupakan pengembangan-pengembangan negatif berbagai masalah sebelumnya yang semakin menguat yang diakibatkan oleh tiga hal, yaitu :

  1. Kurangnya pengetahuan sehingga kurang mampu menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangannya serta tidak mampu menerima apa yang dialaminya.
  2. Kurangnya dukungan dari orangtua, teman sebaya atau lingkungan masyarakat sekitar.
  3. Tidak mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tekanan yang ada.

Menurut Mighwar, secara psikologis, kecemasan tersebut merupakan pengembangan-pengembangan negatif berbagai masalah sebelumnya yang semakin menguat yang diakibatkan oleh tiga hal, yaitu [2]:

  1. Kurangnya pengetahuan sehingga kurang mampu menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangannya serta tidak mampu menerima apa yang dialaminya.
  2. Kurangnya dukungan dari orangtua, teman sebaya atau lingkungan masyarakat sekitar.
  3. Tidak mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tekanan yang ada.

Menurut Stuart dan Sundeen, faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan adalah :

  1. Usia

Usia mempengaruhi psikologi seseorang, semakin tinggi usia semakin  baik tingkat kematangan emosi seseorang serta kemampuan dalam menghadapi berbagai persoalan

  1. Status kesehatan jiwa dan fisik

Kelelahan fisik dan penyakit dapat menurunkan mekanisme pertahanan alami seseorang

  1. Nilai-nilai budaya dan spiritual

Budaya dan spiritual mempengaruhi cara pemikiran seseorang. Religiusitas yang tinggi menjadikan seseorang berpandangan positif atas masalah yang dihadapi

  1. Pendidikan

Tingkat pendidikan rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan, semakin tingkat pendidikannya tinggi akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir

  1. Respon koping

Mekanisme koping digunakan seseorang saat mengalami kecemasan. Ketidakmampuan mengatasi kecemasan secara konstruktif sebagai penyebab tersedianya perilaku patologis.

  1. Dukungan sosial

Dukungan sosial dan lingkungan sebagai sumber koping, dimana kehadiran orang lain dapat membantu seseorang mengurangi kecemasan dan lingkungan mempengaruhi area berfikir seseorang

  1. Tahap perkembangan

Pada tingkat perkembangan tertentu terdapat jumlah dan intensitas stresor yang berbeda sehingga resiko terjadinya stres pada tiap perkembangan berbeda. Pada tingkat perkembangan individu membentuk kemampuan adaptasi yang semakin baik terhadap stresor.

  1. Pengalaman masa lalu

Pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menghadapi stresor yang sama

  1. Pengetahuan

Ketidaktahuan dapat menyebabkan kecemasan dan pengetahuan dapat digunakan untuk mengatasi masalah

Demikian pula Wikjosastro yang mengidentifikasikan faktor-faktor yang mendukung kecemasan: [3]

  1. Umur

Wikjosastro menspesifikasikan umur ke dalam tiga kategori, yaitu : kurang dari 30 tahun (tergolong muda), 20-30 tahun(tergolong menengah), dan lebih dari 30 tahun (tergolong tua), umur yang lebih muda menderita stres daripada umur tua.

  1. Status ekonomi

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kecemaan adalah stres psikososial, yang termasuk stres klinik adalah kemelaratan. Status ekonomi yang tinggi pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut tidak mudah mengalami stres dan kecemasan

  1. Tingkat pendidikan

Status pendidikan yang rendah akan menyebabkan seseorang mudah mengalami stres. Stres dan kecemasan ini biasa terjadi pada orang yang tingkat pendidikannya rendah, disebebkan kurangnya informasi yang dapat didapat orang tersebut.

  1. Keadaan Fisik

Individu yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, operasi, abortus dan cacat badan akan mengalami cemas dan stres.

  1. Sosial Budaya

Cara hidup orang dimasyarakat juga sangat mempengaruhi timbulnya kecemasan. Individu yang mempunyai cara hidup yang telatur dan falsafah hidup yang jelas pada umumnya lebih sukar mengalami kecemasan.

Secara spesifik, maka disebutkan beberapa faktor yang menyebabkan kecemasan pada pasien. Menurut Kaplan dan Sadock, faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien antara lain [4]:

  1. Faktor-faktor intrinsik, antara lain:
    • Usia pasien

Gangguan kecemasan dapat terjadi pada semua usia, lebih sering pada usia dewasa dan lebih banyak pada wanita. Sebagian besar kecemasan terjadi pada umur 21-45 tahun.

  • Pengalaman pasien menjalani pengobatan

Pengalaman awal pasien dalam pengobatan merupakan pengalaman-pengalaman yang sangat berharga yang terjadi pada individu terutama untuk masa-masa yang akan datang. Pengalaman awal ini sebagai bagian penting dan bahkan sangat menentukan bagi kondisi mental individu di kemudian hari. Apabila penga laman individu tentang pengobatan gagal ginjal kurang, maka cenderung mempengaruhi peningkatan ke cemasan saat menghadapi tindakan pengobatan.

  • Konsep diri dan peran

Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu terhadap dirinya dan mempengaruhi individu berhubungan dengan orang lain. Menurut Stuart & Sundeen peran adalah pola sikap perilaku dan tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat. [5] Banyak faktor yang mempengaruhi peran seperti kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran, konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran, kesesuaian dan keseimbangan antara peran yang dijalaninya. Juga kese larasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran. Disamping itu pemisahan

situasi yang akan menciptakan ketidaksesuaian perilaku peran, jadi setiap orang disibukkan oleh beberapa peran yang berhubungan dengan posisinya pada setiap waktu. Pasien yang mempunyai peran ganda baik di dalam keluarga atau di masyarakat ada kecenderungan mengalami kecemasan yang berlebih disebabkan konsentrasi terganggu.

  1. Faktor-faktor ekstrinsik, antara lain:
  • Kondisi medis (diagnosis penyakit)

Terjadinya gejala kecemasan yang berhubungan dengan kondisi medis sering ditemukan walaupun insidensi gangguan bervariasi untuk masing-masing kondisi medis, misalnya: pada pasien sesuai hasil pemeriksaan akan mendapatkan diagnosa pembedahan, hal ini akan mempengaruhi tingkat kecemasan klien. Sebaliknya pada pa sien yang dengan diagnosa baik tidak terlalu mempengaruhi tingkat kecemasan.

2) Tingkat pendidikan

Pendidikan bagi setiap orang memiliki arti masing-masing. Pendidikan pada umumnya berguna dalam merubah pola pikir, pola bertingkah laku dan pola pengambilan keputusan.  Tingkat pendidikan yang cukup akan lebih mudah dalam mengidentifikasi stresor dalam diri sendiri maupun dari luar dirinya. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi kesadaran dan pemahaman terhadap stimulus.[6]

3) Akses informasi

Adalah pemberitahuan tentang sesuatu agar orang membentuk pendapatnya berdasarkan sesuatu yang diketahuinya. Informasi adalah segala penjelasan yang didapatkan pasien sebelum pelaksanaan tindakan pengobatan terdiri dari tujuan, proses, resiko dan komplikasi serta alternatif tindakan yang tersedia, serta proses adminitrasi[7].

4) Proses adaptasi

Kozier and Oliveri mengatakan bahwa tingkat adaptasi manusia dipengaruhi oleh stimulus internal dan eksternal yang dihadapi [8]. Individu dan membutuhkan respon perilaku yang terus menerus. Proses adaptasi sering menstimulasi individu untuk mendapatkan bantuan dari sumber-sumber di lingkungan dimana dia berada. Dokter serta tenaga kesehatan lainnya merupakan sumber daya yang tersedia di lingkungan rumah sakit yang mempunyai pengetahuan dan ketrampilan untuk membantu pasien mengembalikan atau mencapai ke seimbangandiri dalam meng hadapi lingkungan yang baru.

5) Tingkat sosial ekonomi

Status sosial ekonomi juga berkaitan dengan pola gangguan psikiatrik. Berdasarkan hasil penelitian Durham diketahui bahwa masyarakat kelas sosial ekonomi rendah prevalensi psikiatriknya lebih banyak. Jadi keadaan ekonomi yang rendah atau tidak memadai dapat mempengaruhi peningkatan kecemasan pada klien menghadapi tindakan pengobatan.

6) Jenis tindakan pengobatan

Adalah klasifikasi suatu tindakan terapi medis yang dapat men datangkan kecemasan karena terdapat ancaman pada inte gritas tubuh dan jiwa seseorang Semakin mengetahui tentang tindakan pengobatan, akan mempengaruhi tingkat kecemasan pasien.[9]

7) Komunikasi terapeutik

Komunikasi sangat dibutuhkan baik bagi perawat maupun pasien. Terlebih bagi pasien yang akan menjalani proses pengobatan. Hampir sebagian besar pasien yang tindakan pengobatan terutama hemodialisa mengalami kecemasan. Pasiensangat mem butuhkan penjelasan yang baik dari perawat. Komunikasi yang baik diantara

mereka akan menentukan tahap pengobatan selanjutnya. Pasien yang cemas saat akan menjalani hemodialisa kemungkinan mengalami efek yang tidak menyenangkan bahkan akan membahayakan.

Demikian pula terdapat beberapa konsep mengenai kecemasan pada pasien yang sedang menjalani tindakan pengobatan. Berikut merupakan uraian faktor berdasarkan tipe kepribadian sebagai berikut:

  1. Faktor predisposisi
    • Teori psikoanalitik

Menurut Freud struktur kepribadian terdiri dari 3 elemen yaitu Id,

Ego, dan Super ego. Id melambangkan dorongan insting dan impuls primitif, super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang, sedangkan ego digambarkan sebagai mediator antara tuntutan dari Id dan super ego. Ansietas merupakan konflik emosional antara id dan super ego yang berfungsi untuk memperingatkan ego tentang sesuatu bahaya yang perlu diatasi

  • Teori Interpersonal

Ansietas terjadi dari ketakutan akan penolakan interpersonal. Hal ini juga dihubungkan dengan trauma pada masa pertumbuhan, seperti kehilangan, perpisahan yang menyebabkan seseorang menjadi tidak berdaya individu yang mempunyai harga diri rendah biasanya sangat mudah untuk mengalami ansietas yang berat.

  • Teori Perilaku

Ansietas merupakan hasil frustasi dari segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Para ahli perilaku menganggap ansietas merupakan sesuatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan untuk menghindarkan rasa sakit. Teori ini menyakini bahwa manusia yang pada awal kehidupannya dihadapkan pada rasa takut yang berlebihan akan menunjukkan kemungkinan ansietas yang berat pada kehidupan masa dewasanya [10]

  1. Faktor Presipitasi

Kecemasan adalah keadaan yang tidak dapat dielakkan pada kehidupan manusia dalam memelihara keseimbangan. Pengalaman ansietas seseorang tidak sama pada beberapa situasi dan hubungan interpersonal.

Ada 2 faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien :

  1. Faktor eksternal :
  • Ancaman integritas diri, meliputi ketidakmampuan fisiologis atau gangguan terhadap kebutuhan dasar (penyakit, trauma fisik, pembedahan yang akan dilakukan).
  • Ancaman sistem diri antara lain : ancaman terhadap identitas diri, harga diri, dan hubungan interpersonal, kehilangan serta perubahan status/peran
  1. Faktor Internal :

Menurut Stuart & Sundeen kemampuan individu dalam merespon terhadap penyebab kecemasan ditentukan oleh :

  • Potensi Stressor.

Stressor psikososial merupakan setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi

  • Maturitas

Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih sukar mengalami gangguan akibat kecemasan, karena individu yang matur mempunyai daya adaptasi yang lebih besar terhadap kecemasan [11]

  • Pendidikan dan status ekonomi.

Tingkat pendidikan dan status ekonomi yang rendah padan seseorang akan menycbabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. Tingkat pendidikan seseorang atau individu akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir, semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir rasional dan menangkap informasi baru termasuk dalam menguraikan masalah yang baru ( Stuart & Sundeen, 1998 ).[12]

  • Keadaan fisik

Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, operasi akan mudah mengalami kelelahan fisik sehingga lebih mudah mengalami kecemasan, di samping itu orang yang mengalami kelelahan fisik lebih mudah mengalami kecemasan. [13]

  • Tipe Kepribadian.

Orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada orang dengan kepribadian B. Adapun ciri-ciri orang dengan kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, merasa diburu-buru waktu, mudah gelisah, tidak dapat tenang, mudah tersinggung, otot-otot mudah tegang. Sedangkan orang dengan tipe kepribadian B mempunyai ciri-ciri yang berlawanan dengan tipe kepribadian A. Karena tipe kepribadian B adalah orang yang penyabar, tenang, teliti, dan rutinitas

  • Lingkungan dan situasi

Seseorang yang berada di lingkungan asing ternyata lebih mudah mengalami kecemasan dibanding bila dia berada di lingkungan yang bisa dia tempati

  • Umur

Seseorang yang mempunyai umur lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada seseorang yang lebih tua, tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya ( Varcoralis, 2000 ).

  • Jenis kelamin.

Gangguan panik merupakan suatu gangguan cemas yag ditandai oleh kecemasan yang spontan dan episodik. Ganguan ini lebih sering dialami wanita daripada pria (Varcoralis, 2000 ).

Disamping itu juga, ada beberapa faktor lain yang dapat menimbulkan kecemasan ini, salah satunya adalah situasi. Menuruk bahwa jika setiap situasi yang mengancam keberadaan organisme dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan dalam kadar terberat dirasakan sebagai akibat dari perubahan sosial yang sangat cepat.[14]

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya kecemasan dalam menghadapi kematian pada individu yang mengalami penyakit kronis diantaranya adalah selalu memikirkan penyakit yang dideritanya, kendala ekonomi, waktu berkumpul dengan keluarga yang dimiliki sangat sedikit sering merasa kesepian, kadang sulit tidur dan kurangnya nafsu makan karena selalu memikirkan penyakit yang dideritanya

 

Sikap Terhadap Kecemasan Menghadapi Kematian (skripsi dan tesis)

Secara umum manusia ingin hidup panjang dengan berbagai upaya yang dilakukan, proses hidup yang dialami manusia yang cukup panjang ini telah menghasilkan kesadaran pada diri setiap manusia akan datangnya kematian sebagai tahap terakhir kehidupannya di dunia ini. Namun demikian, meski telah muncul kesadaran tentang kepastian datangnya kematian ini, persepsi tentang kematian dapat berbeda pada setiap orang atau kelompok orang. Bagi seseorang atau sekelompok orang, kematian merupakan sesuatu yang sangat mengerikan atau menakutkan, walaupun dalam kenyataannya dari beberapa kasus terjadi juga individu-individu yang takut pada kehidupan (melakukan bunuh diri) yang dalam pandangan agama maupun kemasyarakatan sangat dikutuk ataupun diharamkan (Lalenoh, 1993 : 1). Sartre (dalam Hasan 1973) memandang kematian sebagai kefaktaan yang terakhir. Setiap eksisitensi harus di akhiri dengan maut atau kematian, sehingga kematian menjadi salah satu halangan kebebasan manusia.

Sebaliknya, bagi seseorang atau sekelompok orang, pertambahan usia cenderung membawa serta makin besarnya kesadaran akan datangnya kematian, dan kesadaran ini menyebabkan sebagian orang yang menghadapi kematian tidak merasa takut terhadap kematian. Kematian diterima sebagai seorang sahabat. Demikian pula konsep kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuh kembangkan semangat pengabdian. [1]

Menurut pandangan agama Kristen, kematian membuat hidup manusia berhenti. Menurut theolog Kristen Yohanes Calvin, pada saat kematian, jiwa dibebaskan dari kungkungan tubuh. Tubuh yang fana (mortal body) identik dengan tubuh yang penuh dosa (sinful flesh). Kematian telah mengakhiri perjuangan individu yang percaya pada Tuhan dalam peperangan menghadapi keinginan-keinginan duniawi. Setelah kematian, jiwa menikmati damai sorgawi (heavenly peace) sambil menunggu kebangkitan tubuh. [2]Agama Islam berpendapat bahwa mati adalah perpisahan roh atau jiwa dari jasad. Surat Al-Zumar ayat 47 menggambarkan bahwa kematian sama dengan tidur. Roh atau jiwa tanpa tubuh pada saat kematian akan segera pergi ke alam barzakh sebelum seseorang dibangkitkan untuk masuk surga atau terjerumus ke neraka, oleh sebab itu, Al-quran mengingatkan agar setiap orang selalu berbuat amal kebaikan selama hidupnya.[3]

Perbedaan pandangan agama mengenai sikap menghadapi kematian tentu akan mempengaruhi kondisi masyarakat tersebut. Oleh karenanya terdapat keterkaitan antara nilai religiusitas dengan persepsi masyarakat mengenai kematian. Sikap budaya dan agama terhadap kematian mempengaruhi bagaimana individu dari usia tertentu memandang kematian.[4] Sikap agama yang dianut individu dapat menjadi prediktor penting untuk menentukan sikap individu terhadap kematian. Religiusitas secara positif berhubungan dengan sikap positif terhadap kematian dan secara negatif berkaitan dengan sikap negatif terhadap kematian. [5]Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian. Oleh karenanya religiusitas dapat mempengaruhi seseorang dalam melewati kecemasan dalam kematian.

Demikian pula sikap kecemasan menghadapi kematian dalam perspektif perkembangan pemikiran individu akan bervariasi sepanjang siklus kehidupan manusia. Kita akan memiliki harapan-harapan yang berbeda tentang kematian. Hal ini seiring dengan perkembangan serta sepanjang masa hidup manusia sendiri. Dengan demikian kita akan memiliki sikap yang berbeda terhadap kematian pada fase berbeda dalam perkembangan diri.

Seperti yang telah dikemukakan diatas, menghadapi kematian merupakan proses yang wajar dan terjadi pada setiap orang. Permasalahannya adalah bagaimana manusia tersebut bisa menyadari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Di sisi lain, ada sebuah anggapan atau pencitraan yang negatif dan positif. Semakin bisa berfikir positif, orang akan semakin bisa menerima kenyataan namun “ menerima ” itu bukan berarti kita menerima apa adanya. Maksudnya adalah bagaimana cara kita menyesuaikan diri dengan usia, melakukan aktivitas secara wajar sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis usia tua. Oleh karenanya berkembang dua sikap yang dibangun atas kecemasan terhadap kematian yaitu: Pertama, kematian akan diterima dengan wajar melalui kesadaran yang mendalam. Kedua, manusia yang menghadapi kematian dalam menyikapi hidupnya cenderung menolak datangnya kematian, kelompok ini tidak mau menerima realitas yang ada. [6]

Rocfouhauld memberikan ungkapan bahwa kematian secara utuh merupakan cerminan manusia modern terhadap persoalan yang sangat menggugah dan sekaligus menakutkan. Maut atau kematian merupakan suatu yang absurd. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa maut merupakan sesuatu pengharapan.[7] Manusia tidak bisa memilih tibanya kematian dan kematian merupakan sumber utama kecemasan.Selama belum menemukan alasan yang logis dan rasional mengenai bayangan kematian, maka bayangan tersebut akan berubah menjadi penyakit yang mengakar kuat di dasar perasaan manusia. Penyakit ini merupakan kecemasan dan ketakutan. Dan pada akhirnya akan menimbulkan penyakit kejiwaan yang paling kritis dan sulit, yang sering kali menguasai emosi dan perilaku manusia. [8]

Oleh karenanya menurut Kalish, orang-orang dewasa muda yang mengalami gagal ginjal sering merasa tertipu dibandingkan mereka yang berusia lebih tua. Orang-orang dewasa muda sering merasa tidak diberi kesempatan untuk melakukan apa yang mereka inginkan dalam hidup. Mereka merasa kehilangan apa uang seharusnya mereka capai, sedangkan sebaliknya orang dewasa lanjut mereka merasa kehilangan apa yang telah mereka miliki.[9]

Kecemasan akan kematian dapat berkaitan dengan datangnya kematian itu sendiri, dan dapat pula berkaitan dengan caranya kematian serta rasa sakit atau siksaan yang mungkin menyertai datangnya kematian, karena itu pemahaman dan pembahasan yang mendalam tentang kecemasan lansia penting untuk, khususnya individu yang mengalami penyakit kronis, dalam menghadapi kematian menjadi penting untuk diteliti. Sebab kecemasan bisa menyerang siapa saja. Namun, ada spesifikasi bentuk kecemasan yang didasarkan pada usia individu. Umumnya, kecemasan ini merupakan suatu pikiran yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan kekhawatiran, rasa tidak tenang, dan perasaan yang tidak baik atau tidak enak yang tidak dapat dihindari oleh seseorang.[10]

Elizabeth Kubler Ross membagi perilaku dan proses berpikir seseorang yang mengalami kecemasan menghadapi kematian menjadi 5 fase: penolakan dan isolasi, kemarahan, tawar menawar, depresi dan penerimaan [11]:

  1. Penolakan dan isolasi (denial and isolation) merupakan fase pertama yang diusulkan Kubler Ross di mana orang menolak bahwa kematian benar-benar ada. Orang tersebut mungkin berkata “tidak”, “itu tidak dapat terjadi pada saya”. Hal ini merupakan reaksi utama pada penyakit yang tidak tertolong lagi namunpenolakan merupakan baian dari pertahanan diri yang bersifat sementara dan kemudian akan digantikan dengan rasa penerimaan yang meningkat saat seseorang dihadapkan dengan beberapa hal seperti pertimbangan keuangan, urusan yang belum selesai dan kekhawatiran mengenai kehidupan anggota keluaraga lain nantinya.
  2. Kemarahan (anger) merupakan fase ke dua di mana orang yang menjelang kematian menyadari bahwa penolakan tidak dapat lagi dipertahankan. Penolakan seringkali memunculkan rasa benc, marah dan iri. Pertanyaan yang biasanya muncul pada diri orang yang sekarat adalah “mengapa saya?”. Pada titik ini seseorang makin sulit dirawat karena amarahnya seringkali salah sasaran dan diproyeksikan kepada dokter, perawat anggota keluarga juga Tuhan. Realisasi dari kehilangan ini besar dan mereka yang menjadi symbol dari kehidupan, energi dan fungsi-fungsi yang merupakan target utama dari rasa benci dan cemburu orang tersebut.
  3. Tawar menawar (bargaining) merupakan fase ketiga menjelang kmetian di masa seseorang mengmebngkan harapan bahwa sewaktu-waktu kematian dapat ditunda atau diundur. Beberapa orang ytawar menawar atau negoisasi seringkali dengan Tuhan sambil mencoba untuk menunda kematian. Secara psikologis seseorang berkata “Ya, saya , tapi…” dalam usaha mendapatkan perpanjangan waktu untuk beberapa hari, minggu atau bulan dari kehidupan, seseorang berjanji untuk mengubah kehidupannya, seseorang berjanji untuk mengubah kehidupannya yang didedikasikan hanya untuk Tuhan atau melayani orang lain
  4. Depresi (depression) merupakan fase keempat menjelang kematian di mana orang yang sekarat akhirnya menerima kematian. Pada titik ini satu periode depresi atau persiapan berduka mungkin akan muncul. Orang yang menjelang kemtiannya mungkin akan menjadi pendiam serta menghabiskan waktunya untuk menangis dan berduka. Perilaku ini normal dalam situasi tersebut dan sebenarnya merupakan usaha untuk membahagiakan orang yang menjelang kemtianya pada fase ini justru menjadi penghalang karena orang tersebut untuk merenungkan ancaman kematian
  5. Penerimaan (acceptance) merupakan fase kelima menjelang kematian di mana seseorang mengembangkan rasa damai, menerima takdir dan dan dalam beberapa hal ingin ditinggal sendiri. Pada fase ini perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang. Kubler-Ross menggambarkan fase kelima ini sebagai akhir perjuangan menjelang kematian.

Tidak ada satu orang pun yang dapat mengkonfirmasikan bahw seseorang akan secara pasti melewati fase yang digambarkan Kubler Ross. Oleh karenanya terdapat variasi pada setiap inividual mengenai bagaimana kita menghadapi kematian namun urutan yang telah dikemukakan secara optimal akan sesuai.

Kecemasan terhadap kematian justru akan memperpanjang fase seseorang dalam fase penolakan. Pemahaman terhadap kontrol dapat bekerjasama sebagai suatu strategi adaptasi pada beberapa orang dewasa yang sedang menghadapi kematian. Pada individu yang dapat mempengaruhi dan mengkontrol kejadian seperti kecemasan menghadapi kematian akan menjadi lebih waspada dan ceria. Hal ini akan membawa perubahan diantaranya peningkatan kondisi tubuh serta penerimaan diri. [12]

Berdasarkan uraian diatas maka dapat diambil kesimpulan sikap seseorang ketika menghadapi kematian secara garis besar dapat dibagi menjadi dua sikap yaitu menerima dan menolak kematian itu sendiri. Namun berdasarkan proses Penolakan dan isolasi (denial and isolation), Kemarahan (anger), Tawar menawar (bargaining), Depresi (depression) dan  Penerimaan (acceptance). Selain itu, sikap terhadap kematian meliputi sikap tentang diri individu pada saat sekarat, sikap tentang kematian diri, sikap tentang apa yang akan terjadi pada diri setelah kematian, serta sikap yang berkaitan dengan kematian atau rasa kehilangan orang lain yang dicintai.

Pengertian Kecemasan Menghadapi Kematian (skripsi dan tesis)

Kecemasan dalam pengertiannya selalu dikaitkan dengan suatu kondisi perubahan yang harus dihadapi oleh seseorang. Perubahan tersebut pada umumnya bersifat sesuatu yang mengejutkan dan tidak bisa dikontrol oleh individu tersebut. Perbandingan tingkat atau besarnya suatu faktor yang menyebabkan seseorang dianggap cemas tersebut sangat subjektif. Dimana factor yang sama tentu akan mengakibatkan tingkat kecemasan yang berbeda pula bagi setiap individu. Hal inilah yang kemudian menjadi pijakan bagi penelitian mengenai kecemasan yaitu menarik kesimpulan secara rata-rata apakah factor yang sama akan memberikan perbedaan tingkat atau efek kecemasan bagi seseorang. Pada akhirnya respon tersebut muncul dalam gejala-gejala psikologis maupun fisiologis.

Secara umum maka dalam bahasan tulisan mengenai kecemasan maka tidak akan terpisah dari respon, factor serta tingkat kecemasan itu sendiri. Khususnya pada pengertian kecemasan maka terdapat beberapa perbedaan pembahasan. Beberapa tokoh hanya menyebutkan bahwa kecemasan hanya menyangkut mengenai perasaan yang mendatangkan ketidaknyamanan bagi seseorang sedangkan beberapa tokoh lain secara utuh menyebutkan bahwa kecemasan merupakan respon secara psikologis maupun fisiologis yang dihadapi setelah seseorang mengalami perubahan.

Dalam pengertian yang menyebutkan bahwa kecemasan merupakan suatu perasaan yang mendatangkan ketidaknyamanan maka beberapa tokoh dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama, menurut Nettina bahwa kecemasan adalah perasaan kekhawatiran subyektif dan ketegangan yang dimanifestasikan untuk tingkah laku psikologis dan berbagai pola perilaku.[1] Hal yang sama diutarakan oleh Hurlock yaitu kecemasan adalah bentuk perasaan khawatir, gelisah dan perasaan-perasaan lain yang kurang menyenangkan. Biasanya perasaan-perasaan ini disertai oleh rasa kurang percaya diri, tidak mampu, merasa rendah diri, dan tidak mampu menghadapi suatu masalah.[2] Demikian pula Bryne yang mengutarakan bahwa kecemasan adalah suatu perasaan yang dialami individu, seperti apabila ia mengalami ketakutan. Pada kecemasan perasaan ini bersifat kabur, tidak realistis atau tidak jelas obyeknya sedangkan pada ketakutan obyeknya jelas. [3] Dalam pengertian dari ketiga tokoh ini maka diambil kesamaan bahwa kecemasan adalah suatu perasaaan yang dimanifestasikan dalam bentuk perasaan-perasaan yang mendatangkan ketidaknyamanan. Pernyataan diatas berujung pada suatu pendapat bahwa kecemasan hanya menyangkut perasaan saja tapi tidak mengkaitkan dengan suatu kondisi pencetus kecemasan itu sendiri.

Berbeda dengan pernyataan yang ada dalam uraian di atas maka uraian di bawah menjelaskan keterkaitan antara kondisi kecemasan sebagai suatu proses. Dengan demikian kecemasan merupakan suatu kondisi yang dihadapi seorang individu ketika menghadapi perubahan dalam hidupnya. Kecemasan seringkali lekat dengan perasaan takut karena pada awalnya kecemasan timbul bersamaan dengan rasa takut menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan oleh individu tersebut. Kecemasan dirasakan oleh individu yang akan lebih terkait dengan perubahan sosial, misalnya kecemasan akan indentitas sosial, perasaan takut diasingkan dan cemas karena merasa tidak mampu bersosialisasi lebih luas. [4] Dalam hal ini bisa saja adalah proses menghadapi kematian.

Dalam pernyataan lain diutarakan bahwa kecemasan adalah keadaan dimana seseorang mengalami perasaan gelisah atau cemas dan aktivitas sistem saraf otonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik. Ditambahkan bahwa kecemasan sendiri diartikan sebagai keadaan dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi system syaraf autonom keadaan. Dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi system saraf autonom dalam merespon terhadap ancaman yang tidak jelas atau non spesifik. [5]

Menurut Ramaiah, kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada waktu tertentu dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap situasi yang sangat menekan kehidupan seseorang. [6] Teori psikoanalitis klasik menyatakan bahwa pada saat individu menghadapi situasi yang dianggapnya mengancam, maka secara umum ia akan memiliki reaksi yang biasanya berupa rasa takut. Kebingungan menghadapi stimulus yang berlebihan dan tidak berhasil diselesaikan oleh ego, maka ego akan diliputi kecemasan. Kecemasan sebagai syarat bagi ego untuk melakukan tindakan-tindakan yang tepat.[7]

Kecemasan juga didefinisikan sebagai suatu bagian dari pengalaman. Kecemasan adalah pengalaman emosi yang tidak menyenangkan, datang dari dalam dan bersifat meningkat, menggelisahkan dan menakutkan yang dihubungkan dengan suatu ancaman bahaya yang tidak diketahui oleh individu. Perasaan ini disertai oleh komponen somatik, fisiologik, otonomik, biokimiawi, hormonal dan perilaku. [8]

Di luar dua perbedaan mengnai kecemasan maka dalam pendapat lain juga memberikan pandangan mengenai keterkaitan antara kecemasan dengan stress. Kecemasan merupakan suatu respon terhadap situasi yang penuh dengan tekanan. Dengan demikian pernyataan ini mengkaitkan kecemasan dengan kondisi stress suatu individu. Dimana stress dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi ancaman terhadap suatu harapan yang mencetuskan cemas. Hasilnya adalah bekerja untuk melegakan tingkah laku stress dapat berbentuk psikologis, sosial atau fisik. Beberapa teori memberikan kontribusi terhadap kemungkinan factor etiologi dalam pengembangan kecemasan[9].

Kecemasan merupakan pengalaman emosional yang berlangsung singkat dan merupakan respon yang wajar, pada saat individu menghadapi tekanan atau peristiwa yang mengecam kehidupanya.[10] Menurut Post, kecemasan adalah kondisi emosional yang tidak menyenangkan ditandai oleh perasaan-perasaan subjektif seperti ketegangan, ketakutan, kekhawatiran dan juga ditandai dengan aktifnya sistem syaraf pusat.[11] Freud menggambarkan dan mendefinisikan kecemasan sebagai suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yang diikuti oleh reaksi fisiologis tertentu seperti perubahan detak jantung dan pernafasan. Kecemasan melibatkan persepsi tentang perasaan yang tidak menyenangkan dan sebuah reaksi fisiologis, yaitu reaksi atas situasi yang dianggap berbahaya. [12]

Lefrancois menyatakan bahwa kecemasan merupakan reaksi emosi yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan ketakutan, namun pada kecemasan bahaya hal ini bersifat kabur, misalnya ada ancaman, adanya hambatan terhadap keinginan pribadi, ataupun adanya perasaan-perasaan tertekan yang muncul dalam kesadaran. Kecemasan dapat terjadi karena kekecewaan, ketidakpuasan, perasaan tidak aman atau adanya permusuhan dengan orang lain[13]

Pemikiran tentang kematian merupakan bagian yang penting pada tahap akhir kehidupan bagi banyak individu. Dengan kata lain kematian merupakan proses yang pasti dilewati seorang individu. Dalam kenyataannya, kematian mendatangkan kecemasan bagi seseorang. Apalagi bagi seseorang yang sedang mengalami penyakit. Hal ini berbeda dengan kecemasan yang dihadapi oleh seseorang yang menghadapi proses kematian karena usia lanjut.. Pada usia tua, kematian seseorang lebih wajar dibicarakan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pemikiran dan pembicaraan mengenai kematian meningkat, perkembangan integritas pun meningkat melalui peninjauan hidup yang positif dan hal ini mungkin dapat membantu mereka untuk menerima kematian. [14]

Kematian sendiri mempunyai beberapa pengertian namun secara umum kematian dikaitkan dengan hilangnya kemampuan biologis seseorang. Oleh karenanya muncul berbagai pendapat yang mengkaitkan natra kematian dengan ketidakberfungsian tubuh. Misalkan, Papalia yang menyatakan bahwa kematian secara umum dipandang sebagai proses musnahnya tubuh. [15] Kematian dapat disebabkan empat faktor, yaitu berhentinya pernafasan, matinya jaringan otak, tidak berdenyutnya jantung serta adanya pembusukan pada jaringan tertentu oleh bakteri-bakteri. Individu dinyatakan mati menurut Sunatrio bilamana fungsi spontan pernafasan atau paru-paru dan jantung telah berhenti secara pasti atau telah terbukti terjadi kematian pada batang otak. Dengan demikian, kematian berarti berhentinya kerja paru-paru, jantung dan otak secara total pada manusia.[16]

Dalam pernyataan lain maka kematian juga dikaitkan dengan keberakhiran eksistensi manusia dalam kehidupan. Kematian mengandung arti berakhirnya eksistensi manusia atas keadaan yang nyata di dunia ini dan putusnya relasi atas sesama manusia di dunia sementara relasi dengan yang di alam seberang belum diketahui. [17]Kematian adalah suatu siklus kehidupan yang alami yang akan dihadapi manusia seperti juga kelahiran. Masyarakat di sepanjang sejarah peradaban manusia memiliki keyakinan filosofis atau kepercayaan keagamaan yang berkaitan dengan kematian. [18] Moody  mengartikan kematian sebagai tidak adanya tanda-tanda kehidupan secara klinis, tidak ada kegiatan gelombang otak dan hilangnya fungsi-fungsi penting yang tidak bisa di ubah.[19] Menurut Harvard Medical School, konsep kematian sendiri menyangkut hilangnya lima kemampuan dasar individu, yaitu ketidakmampuan menerima dan merespon stimulus, tidak memiliki kemampuan dalam hal gerak atau pernafasan, tidak mempunyai reflek, EEG datar, dan tidak adanya sirkulasi dalam otak.[20]

Dalam pengertian lain maka definisi kata ‘mati’  sebagai suatu proses. Dimana pengertian mati dalam kamus yaitu transisi antara kehidupan dan ketiadaan hidup. [21]Namun dalam pengertian lain selain membahas kematian secara biologis penting maka terdapat pengertian menyangkut konsep kematian secara psikologis terjadi ketika pikiran seseorang berhenti untuk berfungsi. Menurut Aiken, kematian secara sosial terjadi ketika orang lain melakukan tindakan untuk orang yang sudah dinyatakan meninggal.[22]

Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dengan Kontrol diri pada Penderita Diabetes Mellitus (skripsi dan tesis)

Diabetes mellitus bisa disebabkan faktor keturunan atau genetik, obesitas atau kegemukan, kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi serat, tinggi lemak, merokok, hiperkolesterol dan lain-lain. Diabetes mellitus yang tidak tertangani dengan baik, dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi yang dapat terjadi misalnya jantung, stroke, disfungsi ereksi, gagal ginjal dan kerusakan sistem syaraf. Tetapi menderita diabetes bukanlah akhir dari segalanya. Diabetes mellitus dapat dikendalikan antara lain dengan kontrol gula darah secara teratur, makan dengan gizi seimbang dan terencana, tidak merokok, karena merokok dapat mengakibatkan kondisi yang tahan terhadap insulin serta berolahraga secara teratur. .Jika penderita diabetes dapat menjaga berat badan, menjaga pola makannya, dan menjaga agar terhindar dari stress, kemungkinan untuk mengalami komplikasi yang lebih parah sangat kecil.

Kontrol diri dapat diartikan sebagai perasaan bahwa mereka dapat membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif untuk menghasilkan hasil yang diinginkan dan menghindari hasil yang tidak diinginkan (Sarafino, 1998). Menurut Heteringthon (1984) mendefinisikan kontrol diri sebagai kemampuan untuk melarang atau mengarahkan tingkah laku sesuai dengan aturan atau norma sosial.  Kontrol diri ini tidak hanya sebatas pada kontrol perilaku dan sikap saja, pasien tidak hanya mengendalikan perilakunya untuk tidak makan makanan manis tetapi juga meliputi kontrol informasi berupa segala sesuatu mengenai diabetes mellitus, kontrol kognitif, kontrol putusan untuk memilih diantara prosedur alternatif dan kontrol retrospektif.

Shaffer (2001), mengatakan bahwa kontrol diri adalah sesuatu yang sangat penting. Jika seseorang tidak mampu mengatasi segala tekanan dan mengontrol dirinya, maka yang terjadi adalah perilaku yang tidak diinginkan. Kontrol diri mempunyai peran yang penting terhadap diri seseorang karena merupakan suatu pegangangan dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, dalam membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif tersebut, dibutuhkan suatu pertimbangan-pertimbangan yang berhubungan dengan kognitif seseorang. Pertimbangan yang berhubungan dengan kognitif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan.

Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa, apabila pengetahuan seseorang telah positif terhadap objek yang diketahui, maka akan terbentuk pula sikap yang positif terhadap objek yang sama dan sebaliknya. Apabila pengetahuan tentang sesuatu itu lebih banyak negatifnya, maka akan terbentuk pula sikap yang negative terhadap suatu objek yang sama.

Hal ini didukung dari beberapa hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan dengan sikap dan perilaku atau kontrol diri dari beberapa peneliti sebelumnya yaitu mengenai hubungan tingkat pengetahuan bahaya rokok dengan perilaku merokok pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia angkatan 2004 didapat hasil 97,3% memiliki pengetahuan yang tinggi dan 86% memiliki perilaku tidak merokok (Budi Setyo, 2007). Selain itu ada pula hasil penelitian dari Endang Setyaningsih (2007) mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap anak jalanan tentang NAPZA di rumah singgah Girlan Nusantara Yogyakarta mendapatkan hasil 51,2% dari 43 koresponden memiliki tingkat pengetahuan yang baik dan 55,8% sikap anak jalanan tentang NAPZA adalah mendukung terhadap pernyataan yang diberikan. Muaman Aqib (2010) juga membuktikan bahwa ada hubungannya antara tingkat pengetahuan ibu dengan sikap ibu dalam pemberian imunisasi dasar pada balita di desa Sidokarto kecamatan Godean, Kabupaten Sleman yang didapatkan hasil ibu-ibu dengan tingkat pengetahuan rendah dan sikap kurang sebanyak 28,3% orang, ibu-ibu dengan tingkat pengetahuan rendah dan sikap baik sebanyak 12,9% orang, ibu-ibu dengan tingkat pengetahuan tinggi dan sikap kurang sebanyak 22,3% orang dan ibu-ibu dengan tingkat pengetahuan tinggi dnegan sikap baik sebanyak 36,4% orang.

Dalam hal ini, pengetahuan diartikan sebagai sesuatu yang diketahui atau diketahui berkenaan dengan sesuatu hal (Poerwadarminta,1983). Sedangkan pengetahuan tentang diabetes mellitus adalah segala sesuatu yang diketahui oleh seseorang, dalam hal ini adalah pasien diabetes mellitus, dimana tubuh penderitanya tidak dapat secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya, penderita diabetes tidak dapat memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup, atau tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga terjadilah kelebihan gula di dalam darah.

Sebelum pasien diabetes mellitus tersebut merubah perilakunya, mereka harus mengetahui terlebih dahulu apa manfaat yang dapat diambil dari perubahan perilaku tersebut, apa akibat yang dapat ditimbulkan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain jika mereka tidak merubah perilakunya dan tetap pada kebiasaan-kebiasaan lamanya, bagaimana cara pengobatan dan pencegahan agar penyakit diabetes mellitus tersebut tidak menjadi bertambah parah. Setelah terbentuk pengetahuan baru mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan penyakitnya, proses selanjutnya adalah bagaimana pasien akan menilai atau mensikapi penyakit tersebut, bagaimana penilaian atau pendapat pasien mengenai gejala, tanda, penyebab, cara pengobatan dan cara pencegahan dari diabetes mellitus. Proses terakhir, setelah pasien mengetahui dan mengadakan penilaian terhadap penyakit diabetes mellitus adalah berupa tindakan, apakah pasien akan melaksanakan kontrol diri ataukah pasien tidak melaksanakan kontrol diri (Notoatmodjo, 2007).

Seseorang yang memiliki penyakit diabetes mellitus, pasti akan memperoleh informasi dari dokter atau keluarga mengenai penyakitnya itu. Bahkan dia mencari informasi sendiri mengenai diabetes, baik itu gejalanya, penyebabnya, cara pengobatannya sampai cara pencegahannya. Pengetahuan ini akan membawa pasien untuk berpikir dan berusaha agar penyakitnya tidak bertambah parah. Di sini pasien mengadakan penilaian mengenai segala sesuatu tentang diabetes mellitus. Pasien memiliki sikap tertentu terhadap penyakit diabetes. Sikap ini yang akan membuat pasien dapat mengambil keputusan untuk memilih dengan sengaja tindakan apa yang akan dilakukan oleh pasien berdasarkan informasi yang diperoleh. Jika pasien bersikap positif terhadap penyakitnya, dia akan berusaha mencegah penyakitnya bertambah parah dengan menghindari segala sesuatu yang dapat memicu kenaikan kadar gula darah, ini menunjukkan bahwa pasien memiliki kontrol diri yang tinggi, sehingga dapat terhindar dari komplikasi seperti jantung, ginjal, kebutaan dan lain-lain. Sebaliknya, jika pasien bersikap negatif terhadap penyakitnya, dia cenderung menghiraukan penyakitnya, tidak berusaha untuk mencegah agar tidak bertambah parah dan tetap melaksanakan kebiasaan-kebiasaan yang dapat memicu kenaikan kadar gula darah, ini menunjukkan bahwa pasien memiliki kontrol diri yang rendah, yang pada akhirnya dapat terjadi komplikasi yang lebih parah

Pengobatan Diabetes Mellitus (skripsi dan tesis)

Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran yang normal. Kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan, tetapi semakin mendekati kisaran normal, maka kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang akan semakin berkurang.

Pengobatan diabetes meliputi pengendalian berat badan, olahraga dan diet. Seseorang yang obesitas yang menderita diabetes mellitus tipe II tidak akan memerlukan pengobatan jika mereka menurunkan berat badannya dan berolahraga secara teratur.

Pengaturan diet sangat penting. Biasanya penderita tidak boleh terlalu banyak makan makanan manis dan harus makan dalam jadwal yang teratur. Penderita diabetes cenderung memiliki kadar kolesterol yang tinggi, karena itu dianjurkan untuk membatasi jumlah lemak jenuh dalam makanannya. Tetapi cara terbaik untuk menurunkan kadar kolesterol adalah mengontrol kadar gula darah dan berat badan. Semua penderita hendaknya memahami bagaimana menjalani diet dan olahraga untuk mengontrol penyakitnya. Mereka harus memahami bagaimana cara menghindari terjadinya komplikasi.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa diabetes mellitus dapat dicegah dengan menerapkan hidup sehat sedini mungkin yaitu dengan menerapkan hidup sehat sedini mungkin yaitu dengan mempertahankan pola makan sehari-hari yang sehat dan seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayuran, buah dan serat, membatasi makanan yang tinggi karbohidrat, protein dan lemak, mempertahankan berat badan yang normal sesuai dengan umur dan tinggi badan serta olahraga teratur sesuai umur dan kemampuan.

Tujuan pengobatan penderita diabetes mellitus adalah untuk mengurangi gejala, menurunkan berat badan bagi yang kegemukan dan mencegah terjadinya komplikasi.

  1. Diet

Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari prenatalaksanaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini :

  1. Memberikan semua unsure makanan esensial (misalnya vitamin, mineral)
  2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
  3. Memenuhi kebutuhan energi
  4. Mencegah fluktasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis.
  5. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.

Penderita diabetes mellitus sangat dianjurkan untuk menjalankan diet sesuai yang dianjurkan, yang mendapat pengobatan anti diuretic atau insulin, harus mentaati diet terus menerus baik dalam jumlah kalori, komposisi, dan waktu makan harus diatur.

Diet diabetes merupakan langkah kedisiplinan bagi penderitanya untuk mengontrol diabetes dengan baik. Diet diabetes yang ideal mencakup karbohidrat 60%, lemak harus tidak lebih dari 30%, serta protein sekitar 15%.

  1. Obat-obatan

Pengobatan diabetes dilakukan dengan cara obat oral dan melalui. Obat oral biasanya diberikan oleh dokter sesuai dengan dosis yang telah di tentukan.

  1. Terapi insulin

Suntikan insulin untuk pengobatan diabetes dinamakan terapi insulin. Tujuan terapi ini terutama untuk mempertahankan gluukosa darah dalam kadar yang normal atau mendekati normal dan menghambat kemungkinan timbulnya komplikasi kroni diabetes. Penyuntikkan insulin ini bias dilakukan sendiri oleh pasien atau dengan bantuan orang lain. Tempat penyuntikkannya bisa dilakukan di lengan, perut atau paha. Bila penyuntikkan dilakukan oleh orang lain, penyuntikkan dilakukan di lengan. Sedangkan penyuntikkan dilakukan diri  sendiri, lakukan di perut atau dipaha. Jarak suntikan dengan suntikan berikutnya haruslah 2 cm. sedangkan pada penyuntikkan di perut harus berjarak sekitar 5 cm dari pusar.

  1. Olahraga

Dengan olahraga teratur, sensitivitas sel terhadap insulin menjadi lebih baik, sehingga insulin yang ada walaupun relatif kurang, dapat dipakai dengan lebih efektif. Lakukan olahraga 1-2 jam sesudah makan terutama pagi hari selama ½ – 1 jam perhari minimal 3 kali/minggu.

Dengan demikian dapat disimpulkan Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis, yang ditandai dengan kadar gula (glukosa) di dalam darah yang tinggi melebihi kadar gula yang normal. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian tentang Diabetes Mellitus menggunakan pendapat dari Notoatmodjo (2007).

Gejala Diabetes Mellitus (skripsi dan tesis)

Diabetes Mellitus memiliki gejala dan tanda penyakit itu sendiri. Gejala dan tanda-tanda penyakit Diabetes Mellitus dapat digolongkan menjadi gejala akut dan kronik (Askandar, 2002). Adapun gejalan Diabetes Mellitus sebagai Berikut :

  1. Gejala akut Penyakit Diabetes Mellitus

Gejala penyakit Diabetes Mellitus antara penderita dengan yang lain tidaklah selalu sama. Gejala yang umumnya timbul dengan tidak mengurangi kemungkinan adanya variasi dengan gejala yang lain. Bahkan ada pasien Diabetes Mellitus yang tidak menunjukkan gejala apapun sampai pada saat tertentu banyak makanan (polifagia), banyak kencing (Polyuria), banyak minum (Poliydipsi). Penderita akan mengalami peningkatan berat badan yang cenderung naik karena pada saat ini jumlah insulin masih mencukupi, bila keadaan tersebut diatas tidak segera diobati, maka akan timbul gejala yang disebabkan oleh kemunduran kerja insulin dan tidak lagi Polyfagia, Polydipsia, Polyuria (3P) lagi melainkan hanya 2P saja yaitu nafsu makan mulai berkurang dan kadang-kadang disusul dengan mual, banyak minum, banyak kencing, mudah dicapai atau lelah, berat badan turun dengan cepat (5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu) (Askandar, 2002).

  1. Gejala kronik Penyakit Diabetes Mellitus

Kadang-kadang pasien Diabetes Mellitus tidak menunjukkan gejala akut (mendadak), tetapi penderita tersebut baru menunjukkan gejala sesudah beberapa bulan atau beberapa tahun mengidap penyakit Diabetes Mellitus. Gejala ini disebut gejala kronik atau menahun. Gejala kronik yang sering timbul adalah kesemutan, kulit terasa panas, rasa tebal dikulit, kram, mudah capai, mata kabur, gatal disekitar kemaluan, gigi mudah goyah dan mudah lepas, kemampuan seks menurun atau impoten, para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin dalam kandungan atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg (Askandar, 2002).

Selain itu, ada pula sumber lain menyebutkan, gejala diabetes mellitus tergantung pada tipe diabetes yang dideritanya, yaitu :

  1. Penderita Diabetes Mellitus tipe I

Pada penderita diabetes tipe I, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat kedalam suatu keadaan yang disebut ketoasidosis diabetikum. Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan kencing yang berlebihan, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernapasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma. Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe I bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stress akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.

  1. Penderita Diabetes Mellitus tipe II

Penderita diabetes tipe II bisa tidak menunjukkan gejala-gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbulah gejala yang berupa sering kencing dan sering merasa haus. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1000 mg/dl, biasanya terjadi akibat stress, misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing kejang.

(http://medicastore.com , diakses 13 Maret 2011)\

Penyebab Diabetes Mellitus (skripsi dan tesis)

Penyebab Diabetes Mellitus ini tergantung dari tipe diabetesnya. Ada dua tipe diabetes, yaitu:

  1. Diabetes Mellitus tipe I (tergantung insulin)

Penderita diabetes mellitus tipe I menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin. Sebagian besar diabetes melitus tipe I terjadi sebelum usia 30 tahun. Faktor lingkungan (mungkin berupa infeksi virus atau faktor gizi pada masa kanak-kanak atau dewasa awal) menyebabkan sistem kekebalan menghancurkan sel penghasil insulin di pankreas. Untuk terjadinya hal ini, diperlukan kecenderungan genetik. Pada diabetes mellitus tipe I, 90% sel penghasil insulin (sel beta) mengalami kerusakan permanen. Terjadi kekurangan insulin yang berat dan penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur (http://medicastore.com, diakses 13 Maret 2011)

  1. Diabetes Mellitus tipe II (tidak tergantung insulin)

Pada diabetes mellitus tipe II, pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal. Tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya, sehingga terjadi kekurangan insulin relatif. Diabetes tipe II ini bisa terjadi pada anak-anak dan dewasa, tetapi biasanya terjadi setelah usia 30 tahun. Faktor resiko untuk diabetes tipe II adalah obesitas, sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas (http://medicastore.com , diakses 13 Maret 2011).

Pengertian Diabetes Mellitus (skripsi dan tesis)

Pengertian Diabetes Mellitus menurut WHO (1985) adalah keadaan Hiperglikemi menahun yang akan mengenai seluruh sistem tubuh dan merupakan hasil interaksi antara lingkungan dan genetik. Keadaan ini karena kekurangan hormon insulin atau jumlah kerja insulin menurun, atau kelebihan faktor-faktor yang kerjanya berlawanan dengan cara kerja insulin. Hal yang sama juga disebutkan oleh Brunner (2001) Diabetes Mellitus adalah sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa darah dalam darah atau hiperglikemia.

Penyakit Diabetes Mellitus adalah suatu penyakit, di mana tubuh penderitanya tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (Glukosa) dalam darahnya (Sustrani dkk, 2004). Tugas pengaturan pengiriman glukosa dibebankan pada hormon insulin yang di produksi oleh kelenjar pankreas. Pada tubuh yang sehat, pankreas melepas hormon insulin yang bertugas mengangkut gula melalui darah ke otot-otot dan jaringan lain untuk memasok energi.

Diabetes Mellitus adalah penyakit seumur hidup dimana badan seseorang tidak memproduksi insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi dengan baik (Johnson, 2005). Insulin adalah hormon, cairan kimia yang menolong, mengatur dan mengendalikan jumlah glukosa di dalam darah. Glukosa sebenarnya yaitu sumber energi (tenaga); bahan bakar untuk tubuh, dan glukosa adalah makanan bagi berbagai sel dalam tubuh. Bila tubuh mencerna makanan yang dimakan, hidrat arang (karbohidrat), demikian juga protein dan lemak, diubah menjadi glukosa (Johnson, 2005).

Pada dasarnya Diabetes Mellitus disebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak mencukupi atau tidak efektif sehingga tidak dapat bekerja secara normal. Padahal, insulin mempunyai peran utama mengatur kadar glukosa di dalam darah, yaitu sekitar 60-120 mg/dl waktu puasa, dan dibawah 200 mg/dl pada 2 jam setel

Tingkatan dalam Pengetahuan (skripsi dan tesis0

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Menurut Notoatmodjo (2007),  Pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu :

  • Tahu (know)

Merupakan tingkat pengetahuan paling rendah. “tahu” diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Yang termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalh mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima, contohnya menyebutkan makanan apa saja yang harus dihindari oleh penderita Diabetes Mellitus.

  • Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek yang dipelajari, contohnya dapat menjelaskan mengapa harus meninggalkan makanan yang mengandung karbohidrat.

  • Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau pengguna hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi lain.

 

  • Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.

  • Sintesis (Syntesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi yang ada.

  • Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria-kriteria yang telah ada.

Pengertian Tingkat Pengetahuan (skripsi dan tesis)

Pengetahuan merupakan hasil dari “tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan dapat diukur dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan dairtikan sebagai sesuatu yang diketahui atau yang tidak diketahui berkenaan dengan sesuatu hal (Poerwadarminta, 1983). Menurut Van Peursen (Adiwitanti, 2006), tingkah laku manusia digerakkan oleh dorongan rasa ingin tahu yang dimiliki di dalam diri manusia itu sendiri. Jadi dengan kata lain, pengetahuan dapat memberikan informasi atau fakta yang benar mengenai perilaku seseorang. Sedangkan menurut Aristoteles (Adiwitanti, 2006), salah satu cara manusia bertindak adalah dengan mengenal dan mengetahui. Jadi, seseorang dalam bertindak sebaiknya harus memiliki pengetahuan yang cukup, sehingga dapat mempertimbangkan segala sesuatunya dan mengambil keputusan yang tepat. Hal ini didukung oleh Piaget yang menyatakan bahwa pengetahuan manusia pada dasarnya aktif dan pengetahuan merupakan suatu konstruksi (bentukan) dari kegiatan atau tindakan seseorang. Sehingga dapat dikatakan bahwa mengetahui sesuatu berarti bertindak atas sesuatu itu.

Sesuai yang dikatakan Notoatmodjo (2003), pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan domain diatas. Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkapkan determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, antara lain teori Lawrence Green (Notoatmodjo, 2007) mencoba menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Hurlock (1990), ada dua hal yang menjadi faktor penentu kontrol diri yaitu :

  1. Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah bagian yang penting dalam proses ini, dengan anggota keluarga sebagai model perilaku, sebagai agen penguatan, dan sebagai standar untuk perbandingan. Orangtua yang perhatian, member harapan, dan konsisten dalam standar perilaku mereka cenderung mempunyai anak yang berkembang dengan internal locus of control dan memiliki rasa keyakinan yang tinggi

  1. Usia

Semakin bertambah usia seseorang, semakin baik kontrol diri orang tersebut

  1. Kematangan kognitif (pengetahuan)

Kematangan kognitif terjadi selama masa pra sekolah dan masa kanak-kanak secara bertahap akan meningkatkan kapasitas individu untuk membuat pertimbangan sosial dan mengontrol perilakunya. Di mana ketika individu beranjak dewasa akan memiliki kemampuan berpikir dan pengetahuan yang lebih kompleks (Santrock,2003).

 

Aspek-aspek kontrol diri (skripsi dan tesis)

Averill (1973) menyebutkan ada tiga aspek kemampuan yang tercakup dalam kontrol diri. Averill menyebutkan self control dengan sebutan control personal, yaitu mengontrol perilaku (behavioral control ), mengontrol kognisi (cognitive control), dan mengontrol keputusan (desicional control). Lebih lanjut tiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Mengontrol perilaku (self control)

Aspek ini didefinisikan sebagai suatu kesiapan seseorang dalam merespon sesuatu yang dapat secara langsung mempengaruhi keadaan tidak menyenangkan dan langsung mengantisipasinya. Kontrol diri diperinci menjadi dua komponen, yaitu mengatur pelaksanaaan (regulated administration) dan kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability). Mengatur pelaksanaan berarti menentukan siapa yang mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau orang yang diluar dirinya. Individu yang kontrol dirinya baik akan mampu mengatur perilaku menggunakan kemampuan dari dalam dirinya. Bila tidak mampu, maka individu akan menggunakan sumber ekternal diluar dirinya.

Kemampuan mengatur stimulus yang datang dari luar merupakan salah satu cara mengatasi bagaimana dan kapan suatu stimulus yang tidak dikehendaki dan sesuai dapat diarahkan dan dihadapi, dengan cara bmencegah serta mengarahkannya, denagn menempatkan sesuai dengan posisi dan kedudukan stimulus tersebut secara positif dan dapat diterima norma, etika serta peraturan yang berlaku di masyarakat.

  1. Mengontrol kognisi (congnitive control)

Kemampuan mengontrol kognisi berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam menangkap, menilai atau menggabungkan suatu peristiwa dalam kerangka kognitif. Kemampuan mengontrol kognisi  dapat pula diartikan sebagai kemampuan dalam mengolah informasi yang didapat dan tidak diinginkan untuk mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri dari dua komponen, yaitu memperoleh informasi (information gain), dan melakukan penilaian (appraisal). Dengan informasi yang dimiliki mengenai suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi mengontrol kognisi dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

  1. Mengontrol stimulus

Kemampuan dalam mengolah informasi yang datang, didapat serta tidak diinginkan untuk mengurangi tekanan yang terjadi dari informasi yang ada, yang menurut individu tersebut kurang menyenangkan atau mengganggu.

  1. Mengantisipasi suatu peristiwa

Kemampuan individu dalam mengantisipasi suatu keadaan di mana keadaan tersebut baik atau tidak menurut individu itu. Dengan berbagai pertimbangan melalui pengetahuan yang diperoleh.

  1. Menafsirkan suatu peristiwa

Kemampuan individu dalam menilai dan menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi.

  1. Mengontrol keputusan (desicional control)

Kemampuan mengontrol keputusan berkaitan dengan kemampuan  seseorang untuk memilih hasil atau tujuan yang diinginkan. Kemampuan akan berfungsi baik bila ada kesempatan, kebebasan atau kemungkinan dalam diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan atas tindakan yang diambil.

Menurut Shaffer (1985), ada dua aspek dalam kontrol diri, yaitu:

  1. Menahan Aktifitas (Motor Inhibition)

Motor inhibition atau menahan aktivitas motorik adalah kemampuan untuk mengendalikan atau menahan perilaku motorik ketika diperintahkan demikian. Terdapat juga hubungan antara motor inhibition dengan model kognitif seseorang. Orang yang reflektif, yaitu orang yang mampu bekerja dengan hati-hati dan akurat, lebih dapat mampu menahan perilaku motoriknya dibanding orang yang impulsif.

  1. Penundaan Kepuasan (Delay of Gratification)

Delay of gratification atau penundaan kepuasan adalah kemampuan untuk mengontrol impuls atau tindakan dan mengendalikan perilaku mereka dengan harapan untuk memperoleh tujuan jangka panjang yang diinginkan. Aspek ini terdiri dari dua fase, yaitu keputusan untuk menunda kepuasan dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan dan kemampuan untuk bersabar dan menjaga keputusan yang telah diambil hingga hasil yang dituju telah didapat.

Menurut Mischel (Ghufron, 2003) ada tiga faktor yang mempengaruhi seseorang mau untuk menunda mendapatkan kepuasan, yaitu :

  1. a) Kepercayaan diri bahwa orang tersebut akan menerima apa yang seharusnya dia terima ketika memutuskan untuk menunggu mendapatkan kepuasan tersebut
  2. b) Keuntungan relatif yang didapat jika orang tersebut menunda memperoleh kepuasan dibanding dengan keuntungan yang didapat jika orang tersebut tidak menunda pemenuhan kepuasan.
  3. c) Jangka waktu yang harus ditempuh dalam penundaan kepuasan, semakin lama jangka waktu penundaan, maka orang akan lebih memilih untuk mendapatkan kepuasan dengan segera.

Menurut Sarafino (1998), ada dua aspek kontrol diri, yaitu:

  1. Pengendalian Tempat (Locus of control)

Orang yang percaya bahwa mereka mempunyai kontrol yang lebih terhadap kesuksesan dan kegagalan, dideskripsikan sebagai locus of control internal. Sedangkan orang yang percaya bahwa hidup mereka dikontrol oleh kekuatan dari luar diri mereka sendiri, misalnya seperti keberuntungan, berarti mereka mempunyai locus of control eksternal.

 

 

  1. Efikasi Diri (Self efficacy)

Keyakinan atau kepercayaan bahwa kita dapat sukses atas sesuatu yang kita ingin lakukan.

Menurut Santrock (2003), ada tiga aspek dalam kontrol diri, meliputi:

  1. Penundaan Kepuasan (Delay of Gratification)

Orang yang dapat menunda kepuasan segera untuk memperoleh hasil yang diinginkan di masa depan akan menunjukkan pentingnya faktor kognitif / orang dalam menentukan perilaku mereka sendiri.

  1. Efikasi Diri (Self Efficacy)

Kepercayaan atau keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan menghasilkan hasil yang positif. Bandura (1977) telah menunjukkan bahwa self efficacy berhubungan dengan sejumlah pengembangan positif dalam hidup seseorang, meliputi pemecahan masalah yang menjadi lebih bersifat sosial.

  1. Pengendalian tempat (Locus of Control)

Locus of control mengacu pada kepercayaan individu mengenai apakah hasil dari tindakan mereka tergantung pada apa yang mereka lakukan atau pada peristiwa-peristiwa di luar kontrol diri mereka. Orang yang dikontrol secara internal, mengasumsikan bahwa perilaku dan tindakan mereka sendiri bertanggungjawab atas konsekuensi yang terjadi pada diri mereka sendiri. Orang yang dikontrol secara eksternal, mengabaikan bagaimana perilaku mereka. Mereka tunduk pada nasib, keberuntungan dan orang lain.

Individu yang kontrol dirinya rendah tidak akan mampu mengarahkan dan mengatur perilakunya, sehingga jelas bahwa kontrol diri merupakan kemampuan penting bagi individu di mana kontrol diri memiliki beberapa aspek.

 

 

Menurut Smet (1994), kemampuan mengontrol diri memiliki 5 aspek yaitu :

  1. Behavioral Control (Kemampuan Mengontrol Perilaku)

Kemampuan dalam mengambil tindakan nyata untuk mengurangi dampak dari stressor, kemungkinan tindakan ini dapat mengurangi tingkat ketegangan suatu atau mempersingkat durasi masalah.

  1. Cognitive Control (Kemampuan Mengontrol Kognitif)

Kemampuan seseorang dalam menggunakan proses berpikir atau strategi keika menghadapi masalah. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memfokuskan pikiran terhadap hal-hal yang menyenangkan, netral, atau suatu sensasi yang berbeda dengan situasi yang dihadapi.

  1. Decision Control (Kemampuan Mnegontrol Informasi)

Suatu kesempatan untuk memilih antar pilihan alternatif atau tindakan yang umum.

  1. Informational control (Kemampuan Mengontrol Informasi)

Meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan tentang masalah yang dihadapinya, seperti apa yang akan terjadi, mengapa dan kosnekuensi apa yang akan diterimanya. Kontrol informasi ini sangat membantu seseorang dalam mengurangi stress karena seseorang dapat memperkirakan dan mempersiapkan diri terhadap apa yang akan terjadi. Selain itu, seseorang juga merasakan berkurangnya rasa takut terhadap hal-hal yang diketahuinya dengan pasti.

  1. Retrospective Control (Kontrol Retrospektif)

Kontrol terhadap pengalaman masa lalu adalah keyakinan terhadap apa atau siapa yang menyebabkan suatu permasalahan tersebut. Seseorang seringkali mencoba untuk mencari arti dari berbagai kejadian dalam kehidupan mereka. Meskipun demikian, al tersebut tidak membantu seseorang dalam mengontrol apa yang akan terjadi tetapi dapat membantu seseorang atau sesuatu untuk disalahkan, bahkan dirinya sendiri seringkali membantu seseorang meringankan kecemasannya.

Tipe Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Menurut Block dan Block (dalam Zulkarnain, 2002), ada tiga jenis kualitas kontrol diri, yaitu:

  1. Over Control

Kontrol diri yang dilakukan oleh individu secara berlebihan yang menyebabkan individu banyak menahan diri dalam bereaksi terhadap stimulus.

  1. Under Control

Suatu kecenderungan individu untuk melepaskan impuls dengan bebas tanpa perhitungan yang masak.

  1. Appropriate Control

Kontrol individu dalam upaya mengendalikan impuls secara tepat.

Sarafino (1998) mengemukakan jenis-jenis kontrol diri yang digunakan individu ketika menghadapi stimulus :

  1. Behavioral Control

kemampuan untuk mengambil tindakan konkrit untuk mengurangi akibat dari stresor. Tindakan ini dapat berupa pengurangan intensitas kejadian atau memperpendek durasi kejadian.

  1. Cognitive Control

Kemampuan untuk menggunakan proses berpikir atau strategi untuk memodifikasi akibat dari stresor. Strategi dapat berupa penggunaan cara yang berbeda dalam memikirkan kejadian tersebut atau memfokuskan pada pemikiran yang menyenangkan atau netral

  1. Declaration Control

Kesempatan untuk memilih antara prosedur alternatif atau tindakan yang dilakukan.

  1. Informational Control

Kesempatan untuk mendapatkan pengetahuan mengenai kejadian yang menekan, kapan akan terjadi, mengapa dan apa konsekuensinya.

 

  1. Retrospective Control

Menyinggung kepercayaan mengenai apa atau siapa yang menekan setelah kejadian tersebut terjadi.

Pengertian Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Chaplin (2006) mengatakan bahwa kontrol diri adalah kemampuan untuk mebimbing tingkah laku sendiri, kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau tingkah laku impulsif. Menurut Sarafino (1994), kontrol diri dapat diartikan sebagai keyakinan dalam membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan dan menghindari hasil yang tidak diinginkan. Hetherington (1984) mendefinisikan kontrol diri sebagai kemampuan untuk melarang atau mengarahkan tingkah laku sesuai dengan aturan atau norma sosial. Kontrol diri benar-benar terpengaruh oleh faktor keadaan atau situasi. Bagian dari situasi dan tipe perilaku tersebut dapat berjalan bersamaan dan lebih konsisten dari pengaturan moral yang terjadi.

Burger (1989) mendefinisikan kontrol diri sebagai kemampuan yang dirasakan dapat mengubah kejadian secara signifikan. Individu dianggap mempunyai kemampuan dalam mengelola perilakunya. Kemampuan tersebut membuat individu mampu memodifikasi kejadian yang dihadapinya, sehingga berubah sesuai dengan kemampuannya. Hurlock (1973) mengatakan bahwa kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan dari dalam dirinya. Kontrol emosi menunjukkan kemasakan emosi. Kriteria dari kemasakan emosi adalah kemampuan untuk menilai situasi secara kritis sebelum bereaksi dan selanjutnya memutuskan bagaimana reaksi yang tepat terhadap situasi tersebut.

Menurut Calhoum dan Acocella (1995), kontrol diri adalah pengaturan proses-proses fisik, psikologis dan perilaku seseorang dengan kata lain serangkaian proses yang membentuk dirinya sendiri. Kontrol diri dianggap sebagai lawan dari kontrol eksternal. Kontrol diri mengandung pengertian individu menentukan standar perilaku. Kontrol diri akan memberi ganjaran bila memenuhi standar tersebut. Pada kontrol eksternal, orang lain menentukan standar dan memberi atau menahan ganjaran.

Kontrol diri merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu selama proses-proses dalam kehidupan, termasuk dalam menghadapi kondisi yang terdapat di lingkungan tempat tinggalnya. Para ahli berpendapat bahwa selain dapat mereduksi efek-efek psikologis yang negatif dari stresor-stresor lingkungan, kontrol diri juga dapat digunakan sebagai suatu intervensi yang bersifat pencegahan (Gustinawati, 2002).

Dalam penelitian ini, peneliti menyamakan istilah kontrol pribadi sama dengan istilah kontrol diri. Hal ini dikarenakan keduanya mempunyai pengertian yang sama, yaitu sama-sama menjelaskan mengenai kepercayaan atau keyakinan seseorang dalam melakukan perubahan perilaku dengan mengambil tindakan yang efektif demi memperoleh hasil yang lebih baik untuk masa depannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa kontrol diri dalam penelitian ini diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat membuat keputusan dalam menunda kepuasan segera dan mengambil tindakan yang efektif dalam mengendalikan perilaku, bertujuan untuk memperoleh hasil yang menguntungkan di masa yang akan datang dan menghindari hasil yang tidak menguntungkan lewat tindakannya sendiri. Untuk seterusnya, peneliti tetap menggunakan istilah kontrol diri.

Teori sistem keluarga (skripsi dan tesis)

Teori sistem keluarga dikemukakan oleh Minuchin (1974) dengan mengajukan skema konsep memandang keluarga sebagai sebuah sistem yang bekerja dalam konteks sosial dan memiliki tiga komponen.  Pertama, struktur keluarga berupa sistem sosiokultural yang terbuka dalam transformasi.  Kedua, keluarga senantiasa berkembang melalui sejumlah tahap yang mensyaratkan penstrukturan.  Ketiga, keluarga beradaptasi dengan perubahan situasi dalam usahanya untuk mempertahankan kontinuitas dan meningkatkan pertumbuhan psikososial tiap anggotanya (Lestari, 2012).

Struktur keluarga adalah serangkaian tuntutan fungsional tidak terlihat yang mengorganisasi cara-cara anggota keluarga dalam berinteraksi.  Sebuah keluarga merupakan sistem yang beroperasi melalui pola transaksi.  Pengulangan transaksi membentuk pola bagaimana, kapan, dan dengan siapa berelasi, dan pola tersebut menyokong sistem (Lestari, 2012).

Keluarga menghadapi tekanan dari dalam yang berasal dari perubahan perkembangan para anggotanya dan tekanan dari luar yang berasal dari kebutuhan untuk mengakomodasi institusi sosial yang berpengaruh signifikan terhadap anggota keluarga.  Dalam menghadapi tekanan tersebut, keluarga mempertahankan kontinuitasnya sambil melakukan restukturisasi yang dimungkinkan.  Untuk itu, dibutuhkan perubahan konstan terhadap posisi anggota keluarga dalam bereasi agar anggota keluarga dapat tetap tumbuh sementara sistem keluarga mempertahankan kontinuitasnya (Lestari, 2012).

Keluarga dianggap sebagai sebuah sistem yang memiliki bagian-bagian saling berhubungan dan saling berkaitan serta memiliki sistem hierarki yang berarti terdapat subsistem yang membuat kualitas keluarga ditentukan oleh kombinasi dari kualitas individu atau relasi dua pihak (Lestari, 2012).  Proses saling mempengaruhi sesama anggota keluarga dapat terjadi secara langsung misalnya dalam hubungan suami-istri, ayah-anak, ibu-anak; dan terjadi secara tidak langsung berupa pengaruh satu pihak terhadap hubungan dua pihak lain misalnya sikap suportif ayah akan mempengarui kualitas hubungan ibu dengan bayinya (Lestari, 2012).

Berdasarkan teori sistem keluarga yang sudah dipaparkan, pelatihan manajemen konflik dirancang untuk membantu pasangan menemukenali konflik dalam hubungan interpersonal dan cara untuk menemukan solusi yang efektif sehingga diharapkan pasangan suami istri dapat meningkatkan kualitas individu dan kualitas hubungan menjadi lebih baik.  Kualitas hubungan yang baik akan mempengaruhi kuatnya ikatan antar anggota keluarga.  Bila ikatan yang terjalin cukup kuat maka antar anggota keluarga dapat bersikap luwes dalam berinteraksi dan didukung terpeliharanya saat-saat kebersamaan akan mewujudkan keluarga yang harmonis  (Lestari, 2012).

Relasi dalam keluarga dimulai dengan relasi pasangan suami-istri kemudian diikuti relasi orangtua-anak dan relasi antar saudara.  Relasi yang ada dalam keluarga bersifat dinamis dan dapat membawa pengaruh positif atau negatif tergantung pada pola hubungan yang terjadi (Lestari, 2012).  Terwujudnya keharmonisan keluarga merupakan tanggung jawab bersama antara suami dan istri yang perlu diusahakan secara terus-menerus.  Keharmonisan perkawinan merupakan suatu hal yang perlu diupayakan oleh pasangan suami istri sebagaimana hasil penelitian menunjukkan bahwa keharmonisan perkawinan berpengaruh positif terhadap kesehatan dan kesejahteraan psikologis (Williams, 2003).

Dalam usaha menciptakan dan meningkatkan keharmonisan dalam keluarga inilah dibutuhkan kemampuan baik suami maupun istri untuk mengelola konflik yang muncul, sehingga efek dari keberadaan konflik justru mampu mengeratkan ikatan suami istri (Supraktiknya, 1995).  Dobos, dkk. (Benokraitis, 1996) menyatakan, beberapa hal yang dapat menimbulkan masalah dalam perkawinan, yaitu masalah keuangan, mengurus anak, adanya perbedaan gaya hidup, hubungan dengan teman, perbedaan kepribadian, masalah dengan mertua, masalah keagamaan, perbedaan politik, serta masalah seks.

Menurut Supraktiknya (1995), pengelolaan konflik yang baik akan membawa pada perkawinan harmonis yang akan mendewasakan masing-masing pribadi. Pengelolaan konflik secara sehat dan baik dapat digunakan untuk memertahankan kualitas hubungan dalam perkawinan.  Melalui pelatihan manajemen konflik, pasangan suami istri belajar bekerja sama dalam mengelola konflik perkawinan menggunakan manajemen konflik konstruktif sehingga dapat menemukan solusi permasalahan yang sehari-hari dihadapi.

Pengaruh Pelatihan Manajemen Konflik untuk Peningkatan Keharmonisan Keluarga pada Pasangan Suami Istri (skripsi dan tesis)

Pelatihan manajemen konflik ialah serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memerluas pengetahuan individu dalam kapasitasnya sebagai suami atau istri dalam menyusun strategi untuk mengendalikan konflik agar dihasilkan resolusi konflik konstruktif yang diinginkan oleh pasangan suami istri.  Pengetahuan tersebut diharapkan akan memengaruhi perubahan perilaku sesuai situasi konflik yang dihadapi pasangan suami istri. Komunikasi yang terjalin di antara pasangan suami istri dalam menangani konflik dapat memupuk keeratan hubungan dalam keluarga.  Proses yang dijalani pasangan dalam mengelola konflik dan komitmen menjalani resolusi konflik juga dapat meningkatkan rasa saling menghargai dan saling memercayai yang pada akhirnya akan memengaruhi keharmonisan keluarga.

Pemahaman mengenai pengelolaan konflik dalam rumah tangga merupakan pengetahuan dan teknik ketrampilan yang diperlukan oleh pasangan suami istri.  Pengetahuan dan ketrampilan tersebut dapat dipelajari melalui pendidikan atau pelatihan.  Pelatihan adalah sebuah proses yang direncanakan untuk mengubah sikap, pengetahuan atau keterampilan perilaku melalui pengalaman belajar untuk mencapai kinerja yang efektif dalam berbagai kegiatan atau kegiatan tertentu yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan individu dan untuk memenuhi kebutuhan saat ini dan masa depan.  Byadgi (2011) menyatakan bahwa manajemen konflik merupakan proses untuk mendapatkan kesesuaian pada individu yang mengalami konflik.

Bagaimana pasangan yang memiliki konflik mengatasi konfliknya memengaruhi perkembangan pribadi mereka. Keberadaan konflik tidak otomatis berdampak negatif terhadap hubungan maupun individu yang terlibat dalam hubungan.  Konflik baru akan berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik.  Menurut Supraktiknya (1995) pengelolaan konflik yang baik akan membawa pada perkawinan yang harmonis dan dari proses tersebut akan mendewasakan masing-masing pribadi. Pengelolaan konflik secara sehat dan baik dapat digunakan untuk memertahankan kualitas hubungan dalam perkawinan.

Dalam manajemen konflik, seseorang dapat memilih bermacam-macam strategi. Sebelum memutuskan untuk memilih strategi manajemen konlik yang akan diambil, seseorang harus memikirkan segala resiko dan konsekuensi yang akan didapat. Seseorang akan menjalankan strategi yang benar jika ia telah memersiapkan diri, mengikuti alur konflik dengan baik, mengerti dampak dari pemilihan strategi manajemen konflik, dan mengaplikasikan tahapan-tahapan di dalam manajemen konflik.

Pelatihan manajemen konflik mengacu pada gaya manajemen konflik dari Thomas & Kilmann (2004); yakni competitive, collaboration, compromising, avoiding, dan accomodation.  Dari kelima gaya tersebut, gaya manajemen konflik collaborate dan compromising merupakan gaya manajemen konflik konstruktif.    Dalam gaya collaborate (kolaborasi) pasangan suami istri berusaha menciptakan situasi yang memungkinkan tujuan kedua belah pihak tercapai dengan tetap memerhatikan keberlangsungan hubungan.  Suami istri bersikap kooperatif dengan bersedia saling terbuka dalam mengkomunikasikan permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai dan tidak mengesampingkan sudut pandang dan tujuan pasangan.  Gaya kolaborasi memiliki tingkat keasertifan (ketegasan) dan kerjasama yang tinggi dengan tujuan untuk mencari alternatif, bersama, dan sepenuhnya memenuhi harapan kedua belah pihak yang terlibat konflik.

Selanjutnya gaya manajemen konflik konstruktif compromising (kompromi).  Di dalam gaya kompromi, pasangan suami istri berusaha berunding dengan mengurangi tuntutan masing-masing untuk menemukan jalan tengah bagi masing-masing kepentingan sebagai penyelesaian masalah.  Pada gaya manajemen konflik ini, tercapainya tujuan bersama dan keberlangsungan hubungan memiliki nilai yang sama pentingnya walaupun tujuan yang dicapai tidak maksimal.  Gaya kompromi diterapkan pasangan suami istri dalam merumuskan penyelesaian ketika gaya kolaborasi tidak dapat dijalankan karena adanya keterbatasan.  Gaya kompromi akan menghasilkan jalan keluar yang efektif terutama jika pasangan harus sesegera mungkin memutuskan suatu penyelesaian. Penerapan gaya kolaborasi dan gaya kompromi memerlukan ketrampilan komunikasi yang baik diantaranya kesediaan mendengar, keterbukaan, empati, dan bersikap positif terhadap opini pasangan sehingga tercapai resolusi konflik integratif.

Langkah manajemen konflik mengacu pada pendapat yang dikemukakan Pruitt & Rubin (2004) yaitu memastikan adanya konflik dengan cara memahami kemungkinan terdapat konflik tidak nyata akibat kesalahpahaman, melakukan analisis konflik dengan membicarakan kepentingan pihak yang terlibat, mencari cara untuk merekonsiliasi, dan menurunkan ego dan bernegosiasi.  Di dalam mengelola konflik komunikasi interpersonal yang efektif, bekerja sama, dan saling menahan diri antara pasangan suami istri dilatihkan, sehingga konflik dihadapi dengan kepala dingin dan terdapat komitmen untuk melaksanakan resolusi konflik yang telah diputuskan bersama.  Komunikasi efektif, kesabaran, dan resolusi konflik merupakan aspek-aspek yang membentuk keluarga harmonis menurut Kovikondala dkk. (2015), sehingga pengetahuan dan keterampilan mengelola konflik yang dikuasai oleh pasangan suami istri akan menunjang peningkatan keharmonisan keluarga.

Keharmonisan, salah satunya dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas konflik yang minim (Stinnet & DeFrain dalam Hawati, 1996).  Kualitas dan kuantitas konflik yang dialami pasangan suami istri dapat diturunkan melalui pelatihan manajemen konflik.  Pelatihan tersebut diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan ketrampilan baru kepada pasangan suami istri untuk digunakan bersama-sama dalam merumuskan resolusi konflik yang konstruktif, sehingga konflik yang dialami pasangan suami istri tidak menjadi destruktif namun menjadi dasar bagi hubungan yang lebih erat dan komunikasi yang lebih efektif.  Melalui pengelolaan konflik yang lebih baik diharapkan akan berdampak pada keharmonisan keluarga (Supratiknya, 1995).  Hal itu didukung hasil penelitian Dewi & Sudhana (2013) yang menyatakan adanya hubungan positif antara komunikasi interpersonal dengan keharmonisan.  Senada dengan Najoan (2015) yang menyatakan bahwa komunikasi terbuka yang didasari kejujuran dan saling percaya antara pasangan suami istri menjadi salah satu faktor yang berkontribusi dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

Nilai dalam perkawinan dan pemaafan merupakan faktor yang berkontribusi dalam mewujudkan keluarga harmonis (Nancy, dkk., 2012). Pasangan yang menunjung tinggi nilai dalam perkawinan akan memadang perkawinan sebagai sesuatu yang bernilai, berharga dan patut untuk dipertahankan.  Keluarga yang harmonis dicapai melalui usaha bersama dari masing-masing anggota keluarga salah satunya ditandai dengan sikap dan cara yang konstruktif dalam resolusi konflik.  Melalui pelatihan manajemen konflik, pasangan suami istri belajar merumuskan bersama resolusi konflik konstruktif yang pada akhirnya dapat mewujudkan keharmonisan keluarga dengan minimnya kuantitas konflik.

Tahapan Pelatihan Manajemen Konflik (skripsi dan tesis)

Pelatihan manajemen konflik dalam penelitian ini disusun oleh peneliti dengan mengacu pada langkah manajemen konflik yang dikemukakan oleh Pruitt & Rubin (2004), dipadu dengan gaya manajemen konflik yang dikemukakan oleh Thomas & Kilmann (Byadgi, 2011).  Pelatihan ini akan dilaksanakan selama 2 hari dan terdiri dari 6 sesi yang masing-masing sesi berlangsung selama 15-50 menit.

Langkah-langkah manajemen konflik konstruktif yang digunakan dalam pelatihan dijabarkan sebagai berikut (Pruitt & Rubin, 2004):

  1. Memastikan adanya konflik dengan melihat dan menyadari bahwa konflik sedang terjadi antara pihak satu dengan pihak lain. Pasangan suami istri dilatih untuk bersedia mengakui dan menyatakan mempunyai masalah yang nyata dengan tujuan bekerja sama untuk mengatasi masalah tersebut.  Sebab-sebab munculnya konflik perlu dipahami pasangan termasuk berbagai hal yang terkait dengan konflik.  Terkadang sebab konflik yang nampak bukanlah sebab sebenarnya.  Masing-masing pihak perlu memahami adanya kemungkinan kesalahpahaman terhadap pendapat atau kepentingan pasangan.  Kesalahpahaman dapat menimbulkan konflik tidak nyata /ilusory.

Kesalahpahaman mungkin terjadi jika salah satu pihak mempunyai kesan yang salah mengenai niat pihak lain, salah satu pihak berpikir bahwa tindakan pihak lain akan menimbulkan pengorbanan tertentu, dan atau salah satu pihak menganggap pihak lain sewenang-wenang.  Langkah awal dalam manajemn konflik ini akan diberikan dalam pelatihan pada pertemuan hari pertama sesi ketiga.

  1. Melakukan analisis konflik yang sedang terjadi dengan berusaha mengoreksi dan introspeksi diri. Kebanyakan masalah bisa diselesaikan melalui beragam cara sehingga untuk pemecahan masalah ada baiknya tidak terpaku pada satu cara saja.  Pasangan perlu saling mengingatkan bahwa tujuan mengelola konflik adalah mengatasi keluhan yang ada dan tidak meningkatkan konflik, sehingga masing-masing perlu mawas diri untuk tidak menuduh atau membuat diri menjadi defensif.  Analisis konflik dilakukan dengan membicarakan kepentingan atau tujuan dari masing-masing pihak yang terlibat dalam konflik.  Hambatan yang mungkin muncul dalam langkah kedua ini yaitu terkadang orang tidak paham mengenai alasan yang mendasari preferensi mereka atau adanya ketidakpercayaan antara kedua belah pihak.  Langkah kedua dalam manajemen konflik ini akan dilatihkan pada pertemuan hari pertama sesi ketiga setelah langkah awal diberikan.
  2. Mencari cara untuk merekonsiliasi aspirasi kedua belah pihak (kompromi). Cara ini dilakukan melalui berkoordinasi dengan pihak terlibat konflik untuk menyelesaikan konflik. Pasangan suami istri perlu saling memahami dalam menjalani tahap ini.  Saran yang diajukan masing-masing pihak untuk rekonsiliasi perlu dikaitkan dengan nilai bersama, kepentingan bersama, dan hambatan bersama.  Solusi integratif dapat dicapai dengan memilih salah satu atau mengkombinasikan gaya manajemen konflik untuk diterapkan dalam langkah ketiga.  Gaya manajemen konflik yang sesuai dalam satu situasi konflik, belum tentu sesuai diterapkan dalam situasi lain.  Langkah ketiga dalam manajemen konflik ini akan disampaikan dalam pelatihan hari kedua sesi keenam.
  3. Menurunkan aspirasi dan mencari beberapa aspirasi lagi (bernegosiasi). Satu pihak menurunkan aspirasi atau pendapatnya dengan cara mengalah atau mengabaikan kepentingan yang prioritasnya rendah, begitu pula sebaliknya. Namun tidak berarti salah satu pihak kalah atau berpura-pura setuju pada pendapat pasangannya.  Pasangan yang menyepakati beberapa aspirasi penyelesaian masalah walaupun mungkin tidak seluruhnya, menciptakan dasar yang sama mengenai solusi yang hendak dicapai.  Apabila pasangan memutuskan untuk menerima solusi yang telah disepakati maka pasangan harus memiliki komitmen untuk melaksanakan alternatif solusi tersebut sehingga tercapai pemecahan masalah.  Langkah terakhir dalam manajemen konflik ini merupakan materi pelatihan hari kedua sesi keenam yang diberikan seusai langkah ketiga.

Pelatihan manajemen konflik dapat meningkatkan kerja sama diantara pasangan suami istri, menambah pemahaman mengenai pribadi pasangannya, serta meningkatkan kemampuan komunikasi interpersonal.  Komunikasi interpersonal yang terjalin antar suami istri berperan penting untuk menjaga kelangsungan berumah tangga (Dewi & Sudhana, 2012).  Selain itu, manajemen konflik merupakan usaha mengakomodasi kebutuhan, keinginan, dan harapan yang berbeda dari pasangan suami istri.  Usaha mengakomodasi kepentingan yang berbeda merupakan konsep penyesuaian perkawinan untuk mencapai keharmonisan keluarga (Rachmawati, 2010).

Gaya Manajemen Konflik (skripsi dan tesis)

Keberadaan konflik tidak otomatis berdampak negatif terhadap hubungan maupun individu yang terlibat dalam hubungan.  Konflik baru akan berdampak negatif jika tidak dikelola dengan baik.  Thomas & Kilmann (Byadgi, 2011) memaparkan lima model manajemen konflik perkawinan yaitu:

  1. Competitive (kompetitif)

Kompetitif merupakan perilaku asertif dan tidak kooperatif yang terwujud dari adanya unsur persaingan antar individu. Dalam model kompetitif, individu cenderung agresif, memaksakan kehendak dan berusaha untuk menang tanpa ada keinginan untuk menyesuaikan tujuan dan keinginannya terhadap orang lain. Individu saling melawan dengan memerlihatkan keunggulan masing-masing.

  1. Collaboration (kerjasama)

Kerjasama merupakan sikap bekerjasama dengan tujuan mencari alternatif solusi dari permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga memenuhi harapan kedua belah pihak yang terlibat konflik. Gaya pengelolaan konflik dengan menggunakan kerjasama memiliki tingkat keasertifan (ketegasan) dan kerjasama yang tinggi dengan tujuan untuk mencari alternatif, dasar bersama, dan sepenuhnya memenuhi harapan kedua belah pihak yang terlibat konflik.

 

 

  1. Compromising (kompromi)

Kompromi merupakan gaya mengelola konflik tingkat menengah, dimana gaya ini berada di antara gaya kompetisi dan gaya kolaborasi. Kompromi dapat berarti saling mengurangi tuntutan masing-masing pihak, serta saling berkoordinasi untuk menyelesaikan konflik dengan cara membuka pikiran untuk berbicara, berunding, memberikan informasi tentang situasi kepada pihak bersangkutan dan mencari model penyelesaian konflik yang baik di antara kedua belah pihak.

  1. Avoiding (menghindar)

Menghindar memiliki tingkat keasertifan dan kerja sama yang rendah. Kedua belah pihak terlibat konflik berusaha menghindari konflik. Bentuk penghindaran tersebut berupa menjauhkan diri dari pokok permasalahan, menunda pokok masalah hingga waktu yang tepat, atau menarik diri dari konflik yang mengancam dam merugikan.

  1. Accommodation (akomodasi).

Akomodasi merupakan sikap cenderung mengesampingkan keinginan pribadi dan berusaha untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan orang lain. Gaya ini juga disebut dengan obliging style, dimana seseorang yang menggunakan gaya manajemen konflik ini akan berusaha untuk mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri.

Kelima gaya manajemen konflik yang dipaparkan di atas dapat dikelompokkan menjadi gaya manajemen konflik konstruktif yang meliputi collaborate dan compromise, serta gaya manajemen konflik destruktif yang terdiri dari competition, accomodate, dan avoidance.

DeGenova (2008) membagi metode menghadapi konflik dalam pernikahan menjadi tiga macam, yakni:

  1. Avoidance

Metode pertama ini merupakan metode ketika pasangan menghadapi konflik dengan cara menghindar. Pasangan mencoba mencegah konflik dengan menghindari orang bersangkutan, situasinya dan atau hal-hal yang berhubungan dengan pemicu terjadinya konflik. Dengan menghindari penyebab masalah untuk sementara keadaan memang cukup tenang tetapi permasalahannya tidak akan selesai, masalah akan berlarut-larut dan dapat merusak hubungan.

Pasangan yang melakukan usaha untuk menghindari pertentangan, secara berkala akan menarik diri satu sama lainnya secara perlahan dan pengasingan diri terjadi ketika pasangan berhenti berkomunikasi dan memberi perhatian satu sama lain. Sebagai hasilnya akan terjadi peningkatan dalam kesendirian, hilangnya intimasi dan berdampak pada hal lainnya.

  1. Ventilation and catharsis

Metode menghadapi konflik yang kedua ini merupakan kebalikan dari avoidance, yaitu individu tidak menghindari konflik melainkan mencoba menyalurkan konflik tersebut. Ventilation berarti mengekspresikan emosi dan perasaan negatif. Sama halnya dengan catharsis dimana individu yang sedang dalam masalah akan menyalurkan emosi dan perasaan negatif yang dirasakannya, seperti berteriak, bernyanyi sekeras-kerasnya, dan yang lainnya. Diharapkan setelah proses ini dilakukan, seluruh emosi dan perasaan negatif yang ada akan keluar dan diganti dengan emosi dan perasaan yang lebih positif.

  1. Constructive and destructive

Metode konstruktif yaitu pasangan menghadapi masalah pernikahannya dengan lebih memahami dan berkompromi atau menerima solusi yang ditawarkan untuk dipertimbangkan. Hal ini lebih kepada meminimalisasi emosi negatif, menaruh hormat dan percaya kepada pasangan serta dapat menyebabkan hubungan menjadi lebih dekat.

Metode destruktif berbentuk menyerang orang yang dianggap bermasalah dengan individu. Mereka mencoba untuk mempermalukan pasangannya, mengucilkan atau menghukum orang yang menjadi lawan konfliknya dengan menghina dan menjelek-jelekkan.

Menurut Rubin (Lestari, 2014), pengelolaan konflik sosial dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Bersifat konstruktif,
  • Negotiation atau tawar-menawar, ketika pihak-pihak berkonflik saling bertukar gagasan dan melakukan tawar-menawar untuk menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan masing-masing pihak,
  • Campur tangan pihak ketiga, ketika ada pihak yang tidak terlibat konflik menjadi penengah untuk menghasilkan persetujuan pada pihak-pihak yang berkonflik.
  1. Bersifat destruktif
  • Penguasaan/domination, ketika salah satu pihak berupaya memaksakan kehendak, baik dilakukan secara fisik maupun psikis,
  • Penyerahan/capitulation, ketika salah satu pihak, secara sepihak menyerahkan kemenangan kepada pihak lain,
  • Pengacuhan/inaction, ketika salah satu pihak tidak melakukan apa-apa sehingga cenderung membiarkan terjadinya konflik,
  • Penarikan diri/withdrawal, ketika salah satu pihak menarik diri dari keterlibatan dengan konflik.

Dari berbagai penelitian dan sesi konseling keluarga, para peneliti dan terapis mengenali adanya gaya resolusi konflik yang digunakan individu dalam mengelola konflik.  Lerner (Olson & Olson, 2000) membedakan cara individu menyelesaikan konflik menjadi lima macam, yaitu:

  1. Pemburu/pursuer, adalah individu yang berusaha membangun ikatan lebih dekat. Individu dengan ciri ini akan berusaha untuk meningkatkan kualitas relasinya dengan orang-orang terdekatnya.  Ketika terjadi konflik dalam interaksi, mereka akan dengan sadar menghadapi konflik tersebut, berusaha mencari pokok masalah, berdiskusi untuk memahami perspektif masing-masing kemudian bernegosiasi untuk mencapai kompromi yang saling menguntungkan.  Dalam hal ini konflik dimaknai secara positif dan dikelola secara konstruktif.
  2. Penghindar/distancer, adalah individu yang cenderung mengambil jarak secara emosi. Individu tipe ini akan memilih menarik diri dari kancah konflik, tidak memiliki kesediaan untuk berunding dan biasanya cenderung memilih untuk membiarkan waktu yang menyelesaikan masalah.  Cara pengelolaan demikian membiarkan konflik terpendam yang beresiko menimbulkan gejala depresi.
  3. Pecundang/underfunctioner adalah individu yang gagal menunjukkan aspirasi atau kompetensinya. Dalam upaya menghindari pertengkaran, individu dengan ciri pecundang akan memilih untuk selalu mengalah dan menuruti apa yang menjadi kemauan pihak lain.  Dalam taraf tertentu, cara ini dapat memertahankan hubungan dari situasi yang buruk namun hanya bersifat stagnan dan tidak mampu meningkatkan kualitas hubungan.
  4. Penakluk/overfunctioner, adalah individu yang cenderung mengambil alih dan merasa lebih tahu yang terbaik bagi pihak lain. Individu dengan ciri penakluk akan menghadapi konflik dengan unjuk kekuasaan, berupaya mendominasi dan mengedepankan egonya.  Tipe penakluk akan menghadapi konflik dengan pertikaian dan pertengkaran yang beresiko memunculkan perilaku agresi.
  5. Pengutuk/blamer, adala individu yang selalu menyalahkan orang lain atau keadaan. Individu dengan ciri pengutuk akan menjadikan konflik sebagai ajang pertengkaran, mengumbar amarah, bahkan seringkali mengungkit masalah lain yang tidak relevan dengan pokok masalah yang menjadi sebab perselisihan.  Individu demikian cenderung tidak mau mengakui kesalahan, selalu membela diri, dan menimpakan kesalahan pada pihak lain atau keadaan.  Perilaku demikian beresiko memunculkan agresi.

Senada dengan Lerner, Kurdek (Lestari, 2014) mengajukan empat macam gaya resolusi konflik, yaitu penyelesaian masalah secara positif (positive problem solving; misalnya melakukan negosiasi dan perundingan), pertikaian (conflict engagement;  misalnya melakukan kekerasan, marah, selalu membela diri, menyerang, dan lepas kontrol), penarikan diri (withdrawal; misalnya mendiamkan, menutup diri, menolak berunding, dan menjaga jarak dari konflik), dan tunduk (compliance; misalnya selalu mengalah).

Pengertian Pelatihan Manajemen Konflik (skripsi dan tesis)

Menurut Agochiya (Rosdiana, 2009), pelatihan merupakan suatu proses terdiri dari serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memerluas pengetahuan individu, sehingga mengakibatkan perubahan perilaku sesuai dengan situasi dalam hidupnya.  Pelatihan membantu pesertanya mengeksplorasi dan menyadari potensi serta bakat yang dimiliki.  Melalui pelatihan pula, peserta terfasilitasi dalam mengidentifikasi kekurangan serta kelebihan dalam mencapai standar yang ditetapkan.  Pelatihan merupakan cara efektif untuk memanfaatkan pengetahuan dan kompetensi yang telah ada untuk memaksimalkan hasil usaha seseorang.  Prinsip-prinsip belajar dalam pelatihan merupakan prinsip adult learning yang berhubungan dengan pelatihan dan pendidikan.

Agochiya (Rosdiana 2009) mengungkapkan bahwa penggunaan teknik dan metode pelatihan dimaksudkan untuk memasilitasi proses pembelajaran selama program pelatihan dilaksanakan dengan cara meningkatkan partisipasi dan mendorong adanya interaksi di antara peserta pelatihan.  Pemilihan teknik dan metode pelatihan memertimbangkan hasil pembelajaran yang diinginkan, keahlian trainer mengoptimalkan penggunaan suatu metode, serta fasilitas yang tersedia selama pelatihan.  Beberapa metode dalam pelatihan yaitu ceramah, membaca, diskusi kelompok, permainan, dan bermain peran.  Diskusi kelompok dibagi menjadi diskusi terstuktur, diskusi terbuka, dan diskusi panel.

Dalam penelitian ini intervensi yang diberikan adalah pelatihan manajemen konflik.  Manajemen konflik menurut Wirawan (2010) ialah proses yang dilakukan dua pihak terlibat atau pihak ketiga dalam menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan konflik agar menghasilkan resolusi yang diinginkan.  Pruitt & Rubin (2004) mendefinisikan manajemen konflik sebagai berbagai macam usaha yang dilakukan untuk menemukan solusi bagi kontroversi yang terjadi yang dapat diterima oleh semua pihak.

Konflik perkawinan menurut Esere (2003) adalah perbedaan persepsi dan harapan-harapan di antara pasangan suami-istri tentang masalah pernikahan. Masalah-masalah itu antara lain tentang latar belakang pengalaman yang berbeda, kebutuhan-kebutuhan dan nilai-nilai yang mereka anut sebelum memutuskan untuk menjalin ikatan perkawinan.  Konflik dalam perkawinan berjalan ke arah positif atau negatif bergantung pada ada atau tidaknya proses yang mengarah pada saling pengertian dalam hubungan.  Keterikatan antar pasangan berada dalam tingkat tertinggi dalam hal kelekatan, afeksi, komitmen, maupun intensitas.  Ketika masalah muncul dalam sifat hubungan demikian, perasaan positif yang selama ini dibangun secara mendalam dapat berubah menjadi perasaan negatif yang mendalam juga.  Walaupun demikian, banyak keluarga sering mengalami konflik, namun tetap dapat berfungsi dengan baik (Lestari, 2014).  Salah satu faktor penting yang tetap membuat keluarga dapat berfungsi ialah karena konflik tersebut diselesaikan, tidak dibiarkan atau dianggap hilang seiring waktu. Seperti diungkapkan Rueter & Conger (Lestari 2012), keluarga yang memiliki interaksi hangat akan menghasilkan pemecahan masalah yang konstruktif, adapun keluarga dengan interaksi bermusuhan cenderung menggunakan pemecahan masalah yang destruktif.

Menurut Walgito (2002), kemampuan mengelola konflik dalam perkawinan adalah kecakapan dan kesanggupan suami istri dalam mengendalikan dan mencari cara penyelesaian masalah dalam perkawinannya.  Konflik akan berdampak negatif bila tidak terkelola dengan baik, untuk itu diperlukan kemampuan memanajemen konflik.

Kemampuan pasangan dalam mengelola dan menyelesaikan konflik merupakan prediktor utama di dalam sebuah hubungan perkawinan (Byadgi, 2011). Oleh karena itu, pasangan yang menjalani perkawinan perlu mengetahui bagaimana mengelola konflik dengan baik. Manajemen konflik merupakan salah satu faktor signifikan yang dapat membantu pasangan perkawinan mengelola konflik. Manajemen konflik merupakan proses pihak yang terlibat konflik dalam menyusun strategi konflik dan menerapkannya untuk mengendalikan konflik agar menghasilkan penyelesaian konflik yang diinginkan (Gunawan, 2011).

Byadgi (2011) menjelaskan bahwa manajemen konflik merupakan proses untuk mendapatkan kesesuaian pada individu yang mengalami konflik. Dalam manajemen konflik, seseorang dapat memilih bermacam-macam strategi. Sebelum memutuskan untuk memilih strategi manajemen konlik yang akan diambil, seseorang harus memikirkan segala resiko dan konsekuensi yang akan didapat. Seseorang akan menjalankan strategi yang benar jika ia telah memersiapkan diri, mengikuti alur konflik dengan baik, mengerti dampak dari pemilihan strategi manajemen konflik, dan mengaplikasikan tahapan-tahapan di dalam manajemen konflik.  Oleh karena itu, pelatihan manajemen konflik dapat menjadi salah satu sumber pengetahuan bagi pasangan suami istri untuk dapat mengelola konflik dengan lebih baik.

Menurut Supraktiknya (1995), pengelolaan konflik yang baik akan berdampak pada perkawinan yang harmonis dan akan mendewasakan masing-masing pribadi. Pengelolaan konflik secara sehat dan baik dapat digunakan untuk mempertahankan kualitas hubungan dalam perkawinan.

Faktor-faktor Determinan dalam Keharmonisan Keluarga (skripsi dan tesis)

Menurut Sarwono (1982), dalam menentukan ukuran kebahagiaan keluarga perlu diperhatikan faktor-faktor berikut:

  1. Faktor kesejahteraan jiwa

Rendahnya frekuensi pertengkaran atau percekcokan di rumah, saling mengasihi dan saling membutuhkan serta saling tolong-menolong antara sesama anggota keluarga, kepuasan dalam pekerjaan dan pelajaran masing-masing, menjadi indikator-indikator jiwa yang bahagia, sejahtera dan sehat.

 

 

  1. Faktor kesehatan fisik

Faktor ini tidak kalah penting dari faktor pertama karena jika anggota keluarga sering sakit maka akan berakibat banyaknya pengeluaran untuk dokter, obat-obatan dan rumah sakit, hal tersebut tentu akan mengurangi dan menghambat tercapainya kesejahteraan keluarga.

  1. Faktor perimbangan antara pengeluaran uang dan penghasilan keluarga

Tidak semua keluarga beruntung dapat memeroleh penghasilan mencukupi.  Masalahnya tidak lain adalah kurang mampunya keluarga-keluarga bersangkutan merencanakan hidupnya, sehingga pengeluaran-pengeluaran pun menjadi tidak terencana.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keharmonisan keluarga  (Dewi & Sudhana, 2012; Purba, 2012; Nancy, dkk., 2014; Rachmawati, 2010) adalah:

  1. Komunikasi interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan antara dua orang atau kelompok kecil dengan feed back, baik secara langsung maupun tidak langsung (Dewi & Sudhana, 2012).    Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antara orang-orang secara tatap muka, yang memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara langsung, baik secara verbal maupun nonverbal (Mulyana, 2008).  Salah satu tipe komunikasi interpersonal yang digunakan dalam berinteraksi pada pasangan suami istri adalah yang bersifat diadik yaitu melalui komunikasi dalam situasi lebih intim, lebih dalam dan personal.  Komunikasi interpersonal yang terjalin antar suami istri berperan penting untuk menjaga kelangsungan berumah tangga.    Apabila pasangan suami istri saling menunjukkan sikap yang positif terhadap pasangannya maka komunikasi interpersonal dapat berjalan secara efektif.   Terciptanya komunikasi efektif yang ditandai dengan adanya sikap terbuka, empati, saling mendukung, sikap positif, dan kesetaraan, antara pasangan suami istri membuat hubungan interpersonal menjadi baik sehingga dapat terwujud keharmonisan dalam pernikahan yang ditandai adanya saling mengerti, saling menerima, saling menghargai, saling percaya, dan saling mencintai (Dewi & Sudhana, 2012).

  1. Kecerdasan spiritual

Kecerdasan spritual adalah kemampuan seseorang untuk menghadapi dan memecahkan masalah yang berhubungan dengan nilai, batin, kejiwaan dan kemampuan potensial untuk menentukan makna, nilai, moral serta cinta terhadap kekuatan yang lebih besar dalam sesama mahluk hidup. Kecerdasan ini terutama berkaitan dengan abstraksi pada suatu hal di luar kekuatan manusia yaitu kekuatan penggerak kehidupan dan semesta dan dapat menempatkan diri dalam kehidupan yang lebih positif dengan penuh kebijaksanaan, kedamaian, dan kebahagiaan hakiki (Purba, 2012).  Dengan memiliki kecerdasan spiritual, pasangan suami istri mampu bersikap fleksibel dalam menghadapi konflik rumah tangga dan mampu menempatkan perilakunya dengan lebih bermakna.  Untuk menciptakan keluarga harmonis diperlukan eksistensi dan peran dari masing-masing anggota keluarga serta tanggung jawab terhadap fungsi dalam keluarga.  Untuk menumbuhkan kesadaran akan peran dan tanggung jawab dalam keluarga, diperlukan pemahaman dan kecerdasan spiritual (Purba, 2012).

  1. Nilai dalam pernikahan

Nilai-nilai yang dianut dalam perkawinan adalah sesuatu yang dihayati oleh pasangan mengenai apa yang baik, berharga, disukai, patut diusahakan, patut diperjuangkan dan dipertahankan dalam perkawinan.  Melvile (Nancy, dkk., 2014) menyatakan, nilai-nilai dalam perkawinan adalah bagian-bagian yang dianut dalam kehidupan perkawinan. Nilai dalam perkawinan dapat dipandang berbeda oleh setiap orang.  Redd (Nancy, dkk., 2014) menyatakan bahwa jika nilai dalam perkawinan rendah, perkawinan menjadi kurang sehat.  Hal ini dapat dijelaskan bahwa pasangan yang memandang perkawinan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, sesuatu yang bermakna akan berusaha untuk memelihara kesatuan rumah tangga dengan memandang pasangan sebagai mitra sehingga tidak terdapat kesenjangan peran antara suami dan istri sehingga terwujud perkawinan yang egaliter, otonom, dan serasi.   Gambaran nilai dalam perkawinan yang otonomi, egaliter dan serasi akan menciptakan perkawinan yang harmonis dan akan berdampak pada kondisi keluarga yang harmonis (Nancy, dkk., 2014).

  1. Pemaafan

Pemaafan adalah suatu solusi dari risiko logis antar pribadi.  Ketidakmampuan untuk memaafkan atau dimaafkan akan menjadi sumber hancurnya suatu relasi, tak terlepas dari hubungan suami-istri yang tentunya akan mengarah kepada keretakan keluarga (Subiyanto, 2011).    Pasangan suami-istri yang memiliki sikap pemaaf kemungkinan besar akan memertahankan keutuhan keluarganya. Mereka menyadari bahwa manusia mudah melakukan kesalahan.  Apabila diketahui bahwa salah satu pasangan melakukan kesalahan, maka pihak lain dengan usaha sangat kuat akan memaafkan pihak yang berbuat salah. Pemaafan adalah suatu perjalanan sangat kompleks, termasuk kemampuan untuk mengubah sistem afektif, kognitif dan tingkah laku (Nancy, dkk., 2014).

Pemaafan memiliki implikasi yang substansial untuk relasi jangka panjang sebagai interaksi dari sebuah hubungan.  Pemaafan merupakan modalitas yang secara signifikan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperbaiki hubungan interpersonal.  Hubungan interpersonal yang terjalin baik antara suami istri akan berpengaruh terhadap kebahagiaan dan kepuasan hubungan sehingga dapat terwujud keharmonisan dalam keluarga (Nancy, dkk., 2014).

  1. Penyesuaian perkawinan

Penyesuaian perkawinan adalah perubahan yang terjadi selama masa pernikahan antara suami istri untuk dapat memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan masing-masing pihak, serta untuk menyelesaikan masalah yang ada, sehingga kedua belah pihak merasakan kepuasan.  Munandar (Rachmawati, 2010) menyatakan bahwa penyesuaian perkawinan berarti adanya saling pengertian antara suami-istri dalam menyatakan perbedaan-perbedaan di antara suami-istri dengan melakukan hal-hal yang dapat menambah kepuasan supaya tercapai hubungan keluarga yang harmonis.

Laswell & Laswell (Rachmawati, 2010) menyatakan bahwa konsep penyesuaian perkawinan secara tidak langsung menunjukkan adanya dua individu yang saling belajar untuk mengakomodasi kebutuhan, keinginan, dan harapannya dengan kebutuhan, keinginan dan harapan dari pasangannya.

Aspek-aspek Keharmonisan Keluarga (skripsi dan tesis)

Stinnet & DeFrain (Hawari, 1996) mengemukakan enam kriteria keluarga harmonis, yaitu:

  1. Menciptakan kehidupan beragama dalam keluarga.

Sebuah keluarga harmonis ditandai dengan terciptanya kehidupan beragama dalam rumah tersebut. Hal ini penting karena dalam agama terdapat nilai-nilai moral dan etika kehidupan. Berdasarkan beberapa penelitian ditemukan bahwa keluarga tidak religius yang penanaman komitmennya rendah atau tanpa nilai agama sama sekali cenderung terjadi konflik dan percekcokan dalam keluarga.

 

  1. Memiliki waktu bersama keluarga

Keluarga harmonis selalu menyediakan waktu untuk bersama keluarganya, baik itu hanya sekedar berkumpul, makan bersama, menemani anak bermain dan mendengarkan masalah dan keluhan-keluhan anak, dalam kebersamaan ini anak akan merasa dirinya dibutuhkan dan diperhatikan oleh orangtuanya, sehingga anak akan betah tinggal di rumah.

  1. Ada komunikasi yang baik antar anggota keluarga.

Komunikasi merupakan dasar bagi terciptanya keharmonisan dalam keluarga. Anak akan merasa aman apabila orangtuanya tampak rukun, karena kerukunan tersebut akan memberikan rasa aman dan ketenangan bagi anak, komunikasi yang baik dalam keluarga juga akan dapat membantu anak untuk memecahkan permasalahan yang dihadapinya di luar rumah, dalam hal ini selain berperan sebagai orangtua, ibu dan ayah juga harus berperan sebagai teman, agar anak lebih leluasa dan terbuka dalam menyampaikan semua permasalahannya.

  1. Saling menghargai antar sesama anggota keluarga.

Keluarga harmonis adalah keluarga yang memberikan tempat bagi setiap anggota keluarga menghargai perubahan yang terjadi dan mengajarkan ketrampilan berinteraksi sedini mungkin pada anak dengan lingkungan lebih luas.

  1. Kualitas dan kuantitas konflik yang minim.

Jika dalam keluarga sering terjadi perselisihan dan pertengkaran maka suasana dalam keluarga tidak lagi menyenangkan. Dalam keluarga harmonis setiap anggota keluarga berusaha menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan mencari penyelesaian terbaik dari setiap permasalahan.

  1. Adanya hubungan atau ikatan yang erat antar anggota keluarga.

Hubungan yang erat antar anggota keluarga juga menentukan harmonisnya sebuah keluarga, apabila dalam suatu keluarga tidak memiliki hubungan erat, maka antar anggota keluarga tidak ada lagi rasa saling memiliki dan rasa kebersamaan akan kurang. Hubungan yang erat antar anggota keluarga ini dapat diwujudkan dengan adanya kebersamaan, komunikasi yang baik antar anggota keluarga dan saling menghargai.

Kovikondala dkk. (2015) juga mengemukakan lima dimensi keharmonisan keluarga yaitu:

  1. Komunikasi efektif, komunikasi yang tercipta dengan baik di antara anggota keluarga ketika peran dalam keluarga berfungsi secara optimal, sehingga setiap anggota keluarga dapat saling berbicara dengan bebas, saling mendengarkan, peduli, dan mampu mengekspresikan kasih sayang.
  2. Resolusi konflik, yakni sebuah kondisi dimana keluarga dapat menyelesaikan masalah dengan konstruktif, saling menghargai dan mau menerima perbedaan pendapat serta tetap menjalankan perannya dengan baik. Penyelesaian masalah dalam keluarga juga dilakukan dengan tenang.
  3. Kesabaran atau menahan diri, setiap anggota keluarga saling memahami dan memiliki kesabaran satu dengan yang lain serta mau menyesuaikan diri untuk berusaha meredakan ketegangan yang mungkin terjadi.
  4. Waktu berkualitas bersama keluarga. Anggota keluarga merasakan kepuasan dan nyaman berada di tengah keluarga, setiap anggota keluarga merasa dekat satu dengan yang lain dan saling merawat.
  5. Identitas sebagai keluarga yang berarti bangga dan mengakui sebagai anggota keluarga serta mau menjadi bagian dari cita-cita keluarga.

Pengertian Keharmonisan Keluarga (skripsi dan tesis)

Keharmonisan, secara terminologi berasal dari kata harmonis yang berarti serasi dan selaras (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2012).  Menurut Walgito (1991) keharmonisan keluarga adalah berkumpulnya unsur fisik dan psikis yang berbeda antara pria dan wanita sebagai pasangan suami istri, dilandasi oleh berbagai unsur persamaan; seperti saling dapat memberi dan menerima cinta kasih tulus dan memiliki nilai-nilai serupa dalam perbedaan. 

Hawari (1996) menyatakan bahwa keharmonisan keluarga sesungguhnya terletak pada erat-tidaknya hubungan antar anggota keluarga, misalnya hubungan antara ayah dengan ibu, hubungan antara orangtua dengan anak, dan hubungan antar anak. Masing-masing anggota keluarga memiliki peran dalam menjaga keharmonisan hubungan satu sama lain.  Gunarsa (2004) berpendapat bahwa keharmonisan keluarga ialah bilamana seluruh anggota keluarga merasa bahagia, ditandai oleh berkurangnya ketegangan, kekecewaan dan puas terhadap seluruh keadaan dan keberadaan dirinya (eksistensi dan aktualisasi diri), meliputi aspek fisik, mental, emosi dan sosial.

Menurut Sahli (Rachmawati, 2010), keharmonisan keluarga adalah hidup bahagia dalam ikatan cinta kasih suami istri, didasari oleh kerelaan dan keselarasan hidup bersama. Suami istri hidup dalam ketenangan lahir dan batin karena suami istri tersebut merasa cukup dan puas atas segala sesuatu yang ada dan telah dicapai ke dalam ataupun ke luar keluarga, menyangkut nafkah, seksual, dan pergaulan dengan masyarakat.

Surya (2001), menyatakan bahwa keharmonisan merupakan kondisi hubungan interpersonal yang melandasi keluarga bahagia.  Keharmonisan keluarga dibuktikan dengan adanya tanggung jawab dalam membina suatu keluarga didasari oleh saling menghormati, saling menerima, menghargai, saling memercayai, dan saling mencintai (Purba, 2012).

Jenis-jenis pola asuh orang tua (skripsi dan tesis)

Gerungan (2004) berpendapat bahwa pola asuh orang tua tidak berbeda halnya dengan cara kepemimpinan dalam kelompok yang terdiri dari tiga cara yakni otoriter, demokratis dan laissez-faire. Hal senada juga diungkapkan oleh Soesilowindradini yang mengungkapkan tiga macam cara menanamkan ketertiban yang diikuti orang tua antara lain cara otoriter yang menuntut anak hanya menurut pada orang tua dan cara demokratis dimana orang tua lebih banyak menunjukkan pengertian terhadap kebutuhan dan kemampuan anak, serta cara permisif dimana orang tua membiarkan saja anak mengerjakan apa yang dikehendakinya dengan harapan akan adanya pembelajaran diri dari anak.

Menurut Gunarsa (1981), ada empat penggolongan cara mendidik orang tua sesuai dengan sifat dan titik berat orang tua dalam berhubungan dengan anak. Pertama, cara pendidikan otokratis yang mengharapkan kepatuhan mutlak dari pihak remaja oleh sebab kekuasaan terletak di pihak orang tua. Kedua, cara pendidikan otoriter yang memperbolehkan remaja memberikan pandangan dan pendapatnya tanpa turut dipertimbangkan sedangkan orang tua tetap menentukan dan mengambil keputusan. Ketiga, cara pendidikan demokratis dimana remaja boleh mengemukakan pendapatnya sendiri, mendiskusikan pandangan-pandangannya dengan orang tua, menentukan dan mengambil keputusan. Dalam pendidikan yang demokratis ini orang tua masih melakukan pengawasan dalam hal mengambil keputusan terakhir dan bila diperlukan persetujuan orang tua. Keempat, cara pendidikan dengan hak yang sama dimana antara orang tua dan anak tidak terlihat adanya perbedaan peranan dalam hal penentuan arah oleh karena dalam mengambil keputusan orang tua dan anak memiliki hak yang sama.

Pola asuh yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada tiga pola asuh yang diungkapkan Diana Baumrind (1966) yaitu Authoritarian Parents (otoriter), Permissive/Indulgent Parents (permisif) dan Authoritative Parents (demokratis).

  1. Authoritarian parents. Orang tua berusaha untuk membentuk, mengontrol dan mengevaluasi perilaku dan sikap anak sesuai dengan standar etika, biasanya berupa standar mutlak, motivasi teologis dan nilai normatif yang diyakini. Sedangkan anak harus menurut pada kehendak orang tua yang biasanya terdapat hukuman (hukuman badan) apabila anak tidak mau menurut pada orang tua (Soesilowindradini). Anak yang dididik secara otoriter akan membentuk anak menjadi rendah diri atau menarik diri, gelisah, tergantung, pasif dan keyakinan diri rendah serta kemampuan adaptasi sosial yang rendah. Disisi lain anak yang dididik secara otoriter justru cenderung kurang suka berperilaku anti sosial dan berprestasi.
  2. Permissive parents. Orang tua membiarkan saja anak mengerjakan apa yang dikehendakinya dengan pemikiran bahwa anak akan belajar sendiri hal-hal mana yang baik dan yang tidak benar sesuai dengan akibat perbuatannya sendiri (Soesilowindradini). Orang tua berusaha untuk bersikap tidak menghukum, menerima dengan cara menyetujui kehendak, keinginan dan tindakan anaknya. Pola asuh yang permisif ini cenderung membentuk anak menjadi kurang dapat mengatur emosi (kematangan emosional), memberontak dan menantang jika keinginannya tdak terpenuhi, kurang bertanggung jawab menghadapi tugas-tugas yang bersifat menantang serta memiliki perilaku yang cenderung antisosial.
  3. Authoritative parents. Orang tua memberi kesempatan pada anak untuk mengemukakan pendapatnya, menentukan dan mengambil keputusan bersama dengan orang tua, akan tetapi orang tua masih melakukan pengawasan dalam hal pengambilan keputusan akhirnya (Gunarsa, 1981). Ada tingkat kesederajatan yang sama antara orang tua dan anak dalam pola asuh ini sehingga tidak ada batasan komunikasi diantara keduanya tetapi setara seperti layaknya teman bahkan sahabat (Manuhutu, 2003). Anak yang dididik secara demokratis akan cenderung menjadi anak yang bertanggung jawab, percaya diri, memiliki penguasaan dan penyesuaian diri yang baik terutama dalam kemampuan sosialnya. Seorang anak yang diasuh secara otoriter juga cenderung kritis atas keingintahuannya secara intelektual karena jiwa eksplorasi dan kreativitas yang dimilikinya (Baumrind, 1966).

Pengertian pola asuh orang tua (skripsi dan tesis)

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang dikenal anak dalam kehidupannya. Orang tua berperan besar dalam mengajar, mendidik serta memberi contoh atau teladan kepada anak-anaknya mengenai tingkah laku yang baik dan yang tidak baik atau perlu dihindari (Gunarsa, 2003). Peranan orang tua terhadap perkembangan kehidupan remaja tidak pernah lepas dengan adanya pola asuh orang tua. Dalam hal ini pola asuh menjadi unsur yang penting dalam perkembangan kehidupan remaja.

Menurut Lolytaerti (2004), pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang digunakan orang tua untuk berhubungan dengan anak-anaknya. Pola interaksi inilah yang menurut Muryati meliputi cara pandang pengasuhan terhadap anak, cara berkomunikasi, penerapan disiplin dan kontrol serta cara pemenuhan kebutuhan anak sehari-hari (Jurnal Psikologika No. 4, 1997). Bentuk interaksi tidak hanya dalam aspek social interaction tetapi juga dalam hal moral interaction sehingga memungkinkan anak belajar mengenai moral judgement mengenai hal-hal yang bersifat abstrak dan simbol (Indati dan Ekowarni dalam Jurnal Psikodinamik Vol. 8, 2006).

Hurlock (1973) menyatakan pola asuh orang tua atau pola pemeliharaan orang tua mencakup cara pemenuhan kebutuhan, cara penerapan disiplin atau aturan dan cara komunikasi. Hal ini diperkuat juga dengan pernyataan Diana Baumrind (1966) berdasarkan hasil observasinya terhadap orang tua dan anak. Menurut Baumrind ada beberapa dasar pengasuhan orang tua yang meliputi kemauan untuk melaksanakan kontrol atau aturan, harapan akan kematangan perilaku, komunikasi dengan anak dan pemenuhan kebutuhan.

Dasar-dasar pengasuhan tersebut kemudian diintegrasikan oleh Baumrind (1966) ke dalam dua dimensi pengasuhan orang tua. Pertama, Parental Responsiveness yakni derajat respon orang tua terhadap kebutuhan anak dalam penerimaan dan pemenuhan kebutuhan. Kedua, Parental Demandingness yakni derajat harapan orang tua dan permintaan kematangan perilaku yang bertanggung jawab dari anak.

Perilaku seksual siswi SMA (skripsi dan tesis)

Secara akademis, usia 16 sampai 18 tahun pada umumnya merupakan usia dimana sebagian besar remaja akhir tersebut duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Menurut Berk (2006) late adolescene atau remaja akhir terjadi pada usia 16 sampai 18 tahun. Usia ini merupakan masa dimana remaja tersebut sepenuhnya mencapai penampilan orang dewasa dan mengharapkan penerimaan akan peranannya sebagai orang dewasa.

Dewasa ini, sekolah-sekolah menengah lanjutan seperti SMA mempertahankan orientasinya yang komprehensif. Sekolah dirancang bagi remaja bukan hanya untuk melatih remaja secara intelektual tetapi juga secara kejuruan dan sosial (Santrock, 2002). Transisi dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) ke SMA merupakan suatu pengalaman normatif bagi remaja. Santrock (2002) menyebutkan bahwa pengalaman tersebut menarik perhatian oleh karena proses transisi berlangsung pada suatu masa ketika banyak perubahan terjadi pada individu remaja baik di keluarga dan sekolah secara serentak.

Siswi SMA merupakan salah satu bagian dalam kehidupan seorang remaja. Pada dasarnya seorang remaja putri cenderung rentan terhadap sejumlah masalah khususnya dalam menghadapi kematangan fisik yang lebih awal. Kematangan fisik yang lebih awal pada remaja putri cenderung memberi keuntungan bagi remaja karena memiliki tubuh dan kecantikan yang lebih ideal. Ini merupakan faktor berkembangnya perilaku seksual yang lebih awal, karena perubahan tersebut mengundang respon laki-laki yang mengarah pada berkencan lebih dini dan melakukan pengalaman seksual lebih awal (Santrock, 2002).

Faktor lain yang dapat juga mendorong perilaku seksual siswi SMA tersebut adalah citra diri yang menyangkut body images dan kontrol diri (Sarwono, 1989). Menurut Sarwono (1989) penilaian diri atas keaadan tubuh yang kurang sempurna cenderung dikompensasikan dengan perilaku seksual. Keberhasilan dalam berperilaku seksual tersebut diperkirakan akan menutupi kekurangpuasan terhadap keadaan tubuh sendiri.

Dalam perkembangan sosial, remaja putri juga cenderung membangun kebersamaan dengan teman dan menilai persahabatan sebagai bentuk dukungan emosional dan pengutaraan diri (Berk, 2006). Lingkungan sosial, situasi dan kesempatan juga merupakan sebagian dari sekian banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seksual (Dariyo, 2004). Itulah sebabnya siswa putri SMA lebih cenderung rentan terhadap sejumlah masalah dan konsekuensi atas perilaku seksual yang dilakukannya.

Perilaku seksual remaja cenderung meningkat karena penyebaran informasi dan rangsangan seksual melalui media massa. Remaja menjadi terdorong untuk mengetahui dan mencobanya dengan meniru perilaku yang dilihat dan didengarnya dari media massa, terlebih remaja yang belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orang tuanya (Mu’tadin, 2002).

Umumnya remaja putri memiliki waktu yang lebih lama untuk memulai perilaku seksual yang lebih dalam (hubungan seks) dan sangat didasarkan pada perasaan-perasaan yang menyertai perilakunya. Remaja putri seringkali tidak dapat mengendalikan diri untuk berperilaku seksual, terlebih apabila keinginan tersebut didukung oleh dorongan dari pacarnya (Sarwono, 1989).

Pengalaman seksual yang lebih awal tersebut membawa remaja pada perilaku-perilaku seksual yang lebih awal pula. Perilaku yang dilakukan tersebut umumnya terjadi dengan frekuensi dan intensitas perilaku yang bertambah, yang tentu saja semakin hari perilaku seksual justru semakin tinggi dari sebelumnya. Perilaku yang benar akan disertai dengan sikap yang mendukung perilaku, sedangkan perilaku yang salah akan diikuti dengan perilaku yang menolak perilaku.

Perilaku seksual remaja akhir (skripsi dan tesis)

Berk (2006) mengungkapkan bahwa masa adolescentia merupakan proses transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang diawali dengan tanda-tanda pubertas. Pendapat ini diperkuat oleh Santrock (2006) yang menyatakan bahwa dalam memandang dampak masa pubertas, dunia seorang remaja meliputi perubahan fisik, kognitif serta perubahan sosial.

Perkembangan fisik remaja ditandai dengan terjadinya perubahan secara biologis yang ditandai dengan kematangan organ seks primer maupun sekunder yang dipengaruhi oleh kematangan hormon seksual (Dariyo, 2004). Pada remaja putra ditandai dengan berkembangnya testes dan scrotum, diikuti dengan pertumbuhan organ-organ seks primer dan sekunder lainnya. Perubahan fisik pada remaja putri meliputi pertumbuhan payudara, pertumbuhan bulu kemaluan, pertumbuhan badan, menarche, tumbuhnya bulu ketiak Papalia, Olds, Felman, 2005.

Kemampuan kognitif remaja berkembang pada saat remaja tersebut mampu untuk mengembangkan hipotesa pemikirannya dalam memecahkan masalah dan menarik kesimpulan dalam menentukan pemecahan masalahnya (Santrock, 2002). Perkembangan sosial terjadi saat remaja berupaya mencari dan membentuk persahabatan dengan kelompok sebayanya.

Para ahli perkembangan berpendapat bahwa dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada tiga tahap perkembangan remaja antara lain remaja awal (early adolescene), remaja madya (middle adolescene) dan remaja akhir (late adolescene). Menurut Berk (2006), late adolescene terjadi pada pada usia 16 sampai 18 tahun. Usia ini merupakan masa dimana remaja tersebut sepenuhnya mencapai penampilan orang dewasa dan mengharapkan penerimaan akan peranannya sebagai orang dewasa.

Blos (dalam Sarwono, 1989) menyatakan bahwa late adolescene merupakan masa konsolidasi remaja menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian 5 hal. Pertama, minat yang makin kuat terhadap fungsi-fungsi intelektual. Kedua, ego untuk mencari kesempatan dan bersatu dengan orang lain dalam mewujudkan pengalaman-pengalaman baru. Ketiga, terbentuk identitas seksual. Keempat, egosentrisme (berpusat pada diri sendiri) yang diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan orang lain. Kelima, tumbuhnya batasan yang memisahkan diri sendiri dan masyarakat umum.

Perilaku seksual muncul sebagai hasil kematangan seksual pada remaja sehingga memunculkan minat seksual dan keingintahuan remaja terhadap seks. Seksualitas tidak diakui sebagai sesuatu yang alamiah dan hanya sah dibicarakan dalam lembaga perkawinan, seiring derasnya informasi dan perkembangan gaya hidup yang sangat mempengaruhi perkembangan seksualitas remaja yang sedang bergejolak (Iriany, 2005).

Remaja akhir merasa dirinya telah dewasa secara fisik dan mengharapkan adanya pengakuan atau penerimaan dari orang lain akan peranan dan tugas sebagai seorang dewasa (Berk, 2006). Remaja ingin diberi kebebasan tetapi masih bergantung pada orang tua dan ingin dianggap dewasa sementara masih bergantung pada orang tua (Sarwono, 1989). Kondisi inilah yang menimbulkan adanya ketegangan dan kebingungan peran sosial yang tiba-tiba berubah pada diri remaja sehingga remaja cenderung untuk melakukan perilaku seksual yang tidak semestinya (Mu’tadin, 2002)

 

 

 

Masa remaja akhir (skripsi dan tesis)

Masa remaja adalah salah satu bagian dalam rentang kehidupan manusia yang merupakan periode peralihan atau masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Masa remaja dianggap sebagai masa badai dan stres (storm and stress), karena mereka telah memiliki keinginan secara bebas untuk menentukan nasibnya sendiri (Hall dalam Santrock, 1999). Mereka berusaha mengidentifikasikan diri mereka sendiri dengan orang lain untuk menemukan sebuah jati diri mereka.

  1. Pengertian dan batasan

Masa remaja menurut Stanley Hall (dalam Dariyo, 2006) dianggap sebagai masa topan badai stres (storm and stress). Dalam perkembangannya, masa remaja seringkali disebut dengan masa pubertas dan adolescentia (Gunarsa dalam Dariyo, 2004). Santrock (2002) mendefinisikan pubertas ialah suatu periode dimana kematangan seksual dan pertumbuhan tulang-tulang terjadi secara pesat pada masa remaja. Adolescentia merupakan suatu periode pergolakan manusia yang menyerupai masa dimana manusia berkembang dari liar atau tidak beradab menjadi makhluk yang sopan atau beradab (Berk, 2006). Berk (2006) lebih lanjut mengungkapkan bahwa masa adolescentia merupakan proses transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa yang diawali dengan tanda-tanda pubertas. Pendapat tersebut senada dengan definisi remaja menurut Dariyo (2004) yang menyatakan bahwa remaja adalah masa transisi atau peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan aspek fisik, psikis dan psikososial.

Pembagian tahapan masa remaja berdasarkan usia semakin hari semakin berkembang maju pada tahapan awal remaja dan berkurang pada tahapan akhir usianya. Berdasarkan usia kronologis, Thornburg (dalam Dariyo, 2004) membagi penggolongan remaja menjadi tiga tahap, yaitu remaja awal (usia 13-14 tahun), remaja tengah (usia 15-17 tahun) dan remaja akhir (18-21 tahun). Lebih lanjut Papalia, Olds dan Feldman (2005) menyatakan rentang usia masa remaja adalah 11 sampai dengan 20 tahun. Pendapat tersebut memutus perkembangan remaja menurut Thornburg tersebut menjadi dua tahun lebih cepat pada awal masa remaja dan satu tahun berkurang dari usia akhir masa remaja.

Berk (2006) membagi masa remaja menjadi tiga fase yakni early adolescene (remaja awal), middle adolescene (remaja tengah) dan late adolescene (remaja akhir). Early adolescene dimulai pada usia 11-12 sampai 14 tahun yang ditandai sebagai periode perubahan pubertas yang cepat. Middle adolescene terjadi pada usia 14 hingga 16 tahun dimana pada masa ini perubahan pubertas mendekati sempurna. Late adolescene pada usia 16 sampai 18 tahun merupakan masa dimana remaja tersebut sepenuhnya mencapai penampilan orang dewasa dan mengharapkan penerimaan akan peranannya sebagai orang dewasa. Dalam penelitian ini batasan usia yang digunakan adalah batasan usia menurut Berk (2006) yaitu late adolescene atau remaja akhir yang berusia 16 sampai 18 tahun.

  1. Perkembangan pada masa remaja

Sejak dalam kandungan hingga lahir seorang individu berkembang menjadi anak, remaja atau dewasa. Ini berarti terjadi proses perubahan pada diri setiap individu (Dariyo, 2004). Dalam memandang dampak masa pubertas, dunia seorang remaja meliputi perubahan fisik, kognitif serta perubahan sosial (Santrock, 2002).

  • Perkembangan fisik

Perkembangan fisik remaja berlangsung sangat cepat oleh karena kematangan hormon seks. Menurut Dariyo (2004) perubahan fisik remaja merupakan terjadinya perubahan secara biologis yang ditandai dengan kematangan organ seks primer maupun sekunder yang dipengaruhi oleh kematangan hormon seksual.

Para ahli psikologi perkembangan menyatakan ada dua karakteristik perubahan fisik yang dimiliki oleh seorang remaja dalam memasuki masa dewasa yaitui seks primer dan seks sekunder. Yang dimaksud seks primer adalah perubahan-perubahan organ seksual yang berfungsi untuk melakukan proses reproduksi. Sedangkan seks sekunder adalah perubahan atau tanda-tanda identitas seks yang diketahui melalui penampakan fisik akibat kematangan seks primer (Dariyo, 2004).

Papalia, Olds dan Felman (2005) mengungkapkan karakteristik perubahan fisik seksual primer dan sekunder pada remaja putra dan putri. Tanda pubertas pada remaja putra diawali dengan berkembangnya testes dan scrotum. Pada remaja putra karakteristik perubahan fisik antara lain pertumbuhan penis dan kelenjar prostat, munculnya bulu kemaluan, pertumbuhan badan, ejakulasi pertama dengan mengeluarkan sperma, tumbuh bulu wajah dan bulu ketiak.

Karakteristik seks primer pada remaja putri antara lain ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina. Pertumbuhan seks primer pada remaja putri tidak dapat diamati secara jelas karena pertumbuhan organ-organ seks yang bersifat internal. Perubahan fisik pada remaja putri meliputi pertumbuhan payudara, pertumbuhan bulu kemaluan, pertumbuhan badan, menarche, tumbuhnya bulu ketiak. Disisi lain, karakteristik seks sekunder pada remaja putra dan putri ditandai dengan perubahan suara dan tekstur kulit dan  perkembangan otot tubuh.

Santrock (2002) menyatakan bahwa kematangan fisik yang lebih awal pada anak perempuan meningkatkan kerentanan remaja putri atas sejumlah masalah. Remaja putri yang lebih cepat matang pada akhir masa remaja mengalami perubahan yang cenderung menguntungkan karena remaja tersebut memiliki tubuh dan kecantikan yang lebih ideal. Perubahan tersebut mengundang respon dari remaja laki-laki yang mengarah pada berkencan lebih dini dan pengalaman-pengalaman seksual lebih awal.

  • Perkembangan kognitif

Setiap individu akan mengalami proses pertumbuhan struktur dan skema mentalnya dari yang bersifat sederhana sampai yang bersifat kompleks. Ini terjadi karena faktor perkembangan yaitu perubahan struktur mentalnya dan faktor belajar yaitu perubahan isi mental (Dariyo, 2004).

Menurut Santrock (2002) ciri pemikiran remaja masih bersifat egosentris. Keegoisan remaja nampak bahwa mereka menganggap dirinya sebagai individu yang unik dan berbeda dengan orang lain. Pemikiran mereka semakin abstrak, sistematis, logis dan idealis, lebih mampu menguji pemikiran diri sendiri, pemikiran orang lain dan apa yang orang lain pikirkan tentang diri mereka. Hal ini merupakan ciri-ciri dari pemikiran operasional formal menurut Jean Piaget yang berlangsung antara usia 11 tahun hingga 15 tahun (Santrock, 2002). Kemampuan kognitif mengembangkan hipotesa terbaik dalam memecahkan masalah dan menarik kesimpulan secara sistematis untuk menentukan pola pemecahan masalah tersebut disebut Piaget sebagai hypothetical-deductive reasoning (Santrock, 2002).

  • Perkembangan sosial

Sebagai individu yang berkembang, remaja mulai mengadakan hubungan dengan berbagai tipe individu lain. Pergaulannya mulai berkembang luas tidak hanya dengan anggota keluarga dan orang tua tetapi juga dengan teman-teman sebayanya dan masyarakat di sekitarnya (Dariyo, 2004). Mereka berusaha untuk melepaskan diri dari kekuasaan orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya dan tidak bergantung pada orang lain.

Seorang remaja akan berupaya untuk mencari dan membentuk persahabatan dengan teman kelompok sebayanya sebagai bentuk pembelajaran dan mengembangkan ketrampilan sosialnya. Dalam persahabatan tersebut, intimacy (kekariban) dan loyalty (kesetiaan) merupakan ciri-ciri utama dalam menjalin hubungan dengan teman-temannya (Berk, 2006). Remaja putri cenderung membangun kebersamaan dengan teman dan menilai persahabatan sebagai bentuk dukungan emosional dan pengutaraan diri. Keberhasilan remaja dalam menghadapi krisis akan meningkatkan dan mengembangkan kepercayaan dirinya, sehingga remaja tersebut akan mampu untuk mewujudkan jati diri atau identitas dirinya.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku seksual (skripsi dan tesis)

Dalam realitas kehidupan ada banyak faktor yang mempengaruhi perilaku seksual. Secara umum Dariyo (2004) memandang bahwa perilaku seksual itu dipengaruhi oleh faktor lingkungan sosial, situasi dan kesempatan. Perilaku yang dianggap benar akan disertai dengan sikap yang mendukung perilaku tersebut dan perilaku yang dianggap salah akan disertai dengan sikap yang tidak mendukung perilaku tersebut (Asmarayasa, 2004).

Hurlock (1980) menyatakan bahwa ada dua unsur yang mempengaruhi minat dan perilaku seksual terhadap lawan jenis (heteroseksualitas). Pertama, perkembangan pola perilaku yang melibatkan anggota kedua kelompok seks. Kedua, perkembangan sikap sehubungan dengan hubungan kedua kelompok seks. Dari pernyataan tersebut kemudian disimpulkan (Hurlock dalam Widiastuti, 2004) bahwa perilaku seksual dipengaruhi oleh:

  1. Faktor internal, yaitu stimulus yang berasal dari dalam diri individu yang menimbulkan dorongan seksual pada individu. Faktor internal tersebut meliputi fisik, kognitif dan kepribadian (Sarwono, 1989).
  • Fisik. Stimulus fisik berupa fungsi alat-alat reproduksi, berkembangnya hormon-hormon yang berpengaruh pada seksualitas dan munculnya tanda-tanda seksual sekunder.
  • Kognitif. Keseluruhan kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.
  • Kepribadian. Stimulus yang timbul akibat ketegangan mental dan kebingungan peran dalam mewujudkan jati diri atau identitas dirinya.
  1. Faktor eksternal, yakni stimulus yang berasal dari luar diri individu yang mendorong untuk memunculkan perilaku seksualnya.
  • Sosial. Konflik peran yang terjadi pada diri remaja dimana secara fisik remaja telah mencapai penampilan orang dewasa dan mengharapkan penerimaan akan peranannya sebagai orang dewasa (Berk, 2006).
  • Pendidikan seks dari orang tua. Cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong remaja untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual (Mu’tadin, 2002).
  • Pola asuh orang tua. Pola interaksi orang tua dan anak yang meliputi cara pemenuhan kebutuhan, penanaman disiplin dan komunikasi, terlebih saat orang tua masih bersikap mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak (Sarwono, 1989).

Bentuk-bentuk perilaku seksual (skripsi dan tesis)

Sarwono (dalam Asmarayasa, 2004) menjabarkan bentuk perilaku seksual sebagai berikut:

  1. Memegang tangan
    • Bergandengan tangan saat berjalan
    • Memegang tangan saat berduaan
  2. Mencium
    • Mencium pipi
    • Mencium bibir
  3. Memeluk
    • Merangkul bahu
    • Berpelukan
  4. Meraba tubuh
    • Meraba tubuh bagian atas di luar maupun di dalam pakaian
    • Meraba bagian tubuh bawah di luar maupun di dalam pakaian
  5. Menempelkan alat kelamin (petting)
    • Petting dengan berpakaian lengkap
    • Petting masih memakai pakaian
    • Petting tanpa busana
  6. Masturbasi
    • Masturbasi diri sendiri
    • Saling memasturbasi dengan pasangannya
  7. Hubungan seksual

Menurut Taufik (1994), perilaku seksual di Indonesia melalui beberapa bentuk yaitu dari mulai menunjukkan perhatian pada lawan jenis, pacaran, berkencan, lips kissing, deep kissing, genital stimulabon, petting dan sexual intercourse. Hurlock (1980) menggambarkan pola keintiman seksual dalam berkencan dan berpacaran memiliki urutan yakni, berciuman, bercumbu ringan, bercumbu berat hingga bersenggama.

Pengertian perilaku seksual (skripsi dan tesis)

 

Perilaku adalah segala sesuatu yang dilakukan individu secara langsung maupun tidak langsung dapat di observasi, bersifat sederhana atau kompleks dan timbul akibat adanya stimulus (Retiayu, 2003). Menurut Dariyo (2004) dalam realitas kehidupan ada banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku seseorang seperti lingkungan sosial, situasi atau kesempatan. Retiayu (2003) menyatakan seksualitas adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan individu akan keturunan, pernyataan cinta dan kesenangan yang terjadi akibat adanya perbedaan jenis kelamin atau sesama jenis. Seksualitas meliputi karakteristik fisik dan kapasitas untuk berperilaku seks, yang dipadukan dengan proses belajar psikososial (nilai, sikap, norma) sehubungan dengan perilaku-perilaku tersebut (Thornburg dalam Dwiardiani, 2004).

Sarwono (1994) mendefinisikan perilaku seksual sebagai upaya tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Perilaku seksual mencakup segala bentuk ekspresi seksual yang dilakukan oleh seseorang, untuk mencapai kepuasan seksual baik secara biologis maupun psikologis (Kinsey dkk dalam Dwiardiani, 2003). Perilaku seksual merupakan manifestasi dari dorongan seksual, baik kepada lawan jenis maupun sesama jenis yang dapat diamati secara langsung ataupun tidak langsung.

Komplikasi Psikiatrik Penderita Kanker (skripsi dan tesis)

Suatu penyelidikan psikologik telah dilakukan terhadap para penderita kanker yang telah menjalani tindakan operatif. Berbagai reaksi kejiwaan, yaitu masing-masing penderita menunjukkan satu atau lebih gejala-gejala tersebut. Ada enam gejala klinis gangguan jiwa sebagai komplikasi psikiatrik (kejiwaan) dan salah satunya adalah kecemasan (anxiety). Reaksi kecemasan ini sering muncul tidak saja sewaktu penderita diberitahu mengenai penyaktnya, tetapi juga setelah menjalani operasi, kecemasan tersebut lazimnya mengenai masalah finansial, kekhawatiran tidak dterima di lingkungan keluarga atau masyarakat (Hawari, 2009).

Kecemasan yang dialami pasien yang akan dioperasi disebabkan oleh bermacam- macam alasan di antaranya adalah : cemas menghadapi ruangan operasi dan peralatan operasi, cemas menghadapi body image yang berupa cacat anggota tubuh, cemas dan takut mati saat dibius, cemas bila operasi gagal, cemas masalah biaya yang membengkak. Beberapa pasien yang mengalami kecemasan berat terpaksa menunda jadwal operasi karena pasien merasa belum siap mental menghadapi operasi (Sawitri, 2008).

Perbedaan tingkat kecemasan dapat mempengaruhi persiapan operasi. Tingkat kecemasan sedang merupakan waktu yang optimal untuk mengembangkan mekanisme strategi koping pada pasien yang bersifat membangun. Perawat dalam melakukan tindakan proses keperawatan komunikasi terapeutik tetap harus berpegang pada konsep bahwa pasien adalah manusia yang bersifat unik dan kompleks yang dipengaruhi oleh faktor biopsikososial dan spiritual (Sawitri, 2008).

. Aspek Kejiwaan Penderita Kanker (skripsi dan tesis)

 

Bagi kebanyakan orang, kanker adalah suatu jenis penyakit yang amat mengerikan. Masyarakat sadar akan besarnya potensi bahaya yang ditimbulkannya, sehinga orangpun berpendapat dan yakin bahwa manakala sekali seseorang didiagnosis mengidap kanker, maka berarti seolah-olah “surat kematian telah ditandatangani”. Cara, sikap atau reaksi orang dalam menghadapi penyakit kanker yang menyerang dirinya, berbeda satu sama lain tergantung pada sifat individualnya. Hal ini juga tergantung pada sebagaimana jauhkah individu yang bersangkutan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi yang mengancam kehidupannya (Hawari, 2009).

Hal tersebut di atas juga tergantung pada usia, kematangan emosional, perilaku, reaksi-reaksi emosional dalam mengahadapi stress, hubungan kekeluargaan, keadaan sosial ekonomi dan juga pendidikan ataupun pengetahuan umum tentang kanker. Berbagai faktor psikososial di atas akan mempengaruhi kondisi jiwa seseorang untuk bereaksi. Hal ini perlu diketahui, kira-kira di antara faktor-faktor psikososial tadi, mana yang dominan.

Kepentingan untuk mengetahui reaksi emosional penderita tersebut adalah dalam rangka menentukan sikap atau pendekatan (appoach) berbagai tehnik pengobatan dan perawatan yang menyangkut empat aspek, yaitu aspek organobiologik, psikologik, soaial-kultural dan spiritual. Berbagai reaksi penderiata kanker di bidang kejiwaan antara lain kecemasan (anxiety), ketakutan (fear), dan depresi. Demikian pula halnya dengan macam-macam kepercayaan yang hidup di masyarakat (traditional beliefs), perlu mendapatkan perhatian dalam penatalaksanaan penderita kanker.

Penatalaksanaan penderita kanker dilakukan dengan pendekatan holistic yang meliputi terapi fisik, psikologik, sosial dan agama (WHO, 1984). Oleh karena itu pada penderita kanker seyogyanya tidak hanya dokter ahli bedah yang terlibat, tetapi juga psikiater/psikolog dan rohaniawan/agamawan. Sedangkan bagi perawat, dokter ataupun tenaga kesehatan lainnya juga harus mampu untuk membangkitkan motivasi penderita agar yang bersangkutan dapat menerima kenyataan manakala kanker yang diidapnya tidak lagi dapat diobati, namun masih ada alternatif lain, yang diatur dan dikontrol.

Faktor risiko kanker serviks (skripsi dan tesis)

Kejadian kanker serviks dapat disebabkan oleh beberapa factor risiko (Maharani, 2009) antara lain adalah :

  1. Hubungan seks pada usia muda atau pernikahan pada usia muda
  2. Berganti-ganti pasangan
  3. Defisiensi zat gizi
  4. Trauma kronis pada serviks seperti persalinan, infeksi, dan iritasi
  5. Gangguan system kekebalan
  6. Pemakaian pil KB
  7. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun
  8. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap Smear secara rutin)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan (skripsi dan tesis)

  1. Umur

Wiknjosastro (2006) menspesifikasikan umur ke dalam tiga kategori, yaitu : kurang dari 30 tahun (tergolong muda), 20-30 tahun(tergolong menengah), dan lebih dari 30 tahun (tergolong tua), umur yang lebih muda menderita stres daripada umur tua.

  1. Status ekonomi

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kecemaan adalah stres psikososial, yang termasuk stres klinik adalah kemiskinan. Status ekonomi yang tinggi pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut tidak mudah mengalami stres dan kecemasan

  1. Tingkat pendidikan

Status pendidikan yang rendah akan menyebabkan seseorang mudah mengalami stres. Stres dan kecemasan ini biasa terjadi pada orang yang tingkat pendidikannya rendah, disebabkan kurangnya informasi yang dapat didapat orang tersebut.

  1. Keadaan Fisik

Individu yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, operasi, abortus dan cacat badan akan mengalami kecemasan dan stres.

  1. Sosial Budaya

Cara hidup orang dimasyarakat juga sangat mempengaruhi timbulnya kecemasan. Individu yang mempunyai cara hidup yang teratur dan falsafah hidup yang jelas pada umumnya lebih sukar mengalami kecemasan.

Respons fisiologis dan psikologisKecemasan (skripsi dan tesis)

Secara langsung kecemasan dapat diekspresikan melalui respons fisiologis dan psikologis dan secara tidak langsung melalui pengembangan mekanisme koping sebagai pertahanan melawan kecemasan :

  1. Respons fisiologis: secara fisiologis respon tubuh terhadap kecemasan adalah dengan mengaktifkan sistem saraf otonom (simpatis maupun parasimpatis). Sistem saraf simpatis akan mengaktivasi proses tubuh, sedangkan sistem saraf parasimpatis akan meminimalkan respons tubuh. Reaksi tubuh terhadap stres (kecemasan) adalah “flight”.
  2. Respons psikologis: kecemasan dapat mempengaruhi aspek interpersonal maupun personal. Kecemasan tinggi akan mempengaruhi koordinasi dan gerak refleks. Kesulitan mendengarkan akan mengganggu hubungan dengan orang lain. Kecemasan dapat membuat individu menarik diri dan menurunkan keterlibatan dengan orang lain.
  3. Respons kognitif: kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir baik proses pikir maupun isi pikir di antaranya adalah tidak mampu memperhatikan, konsentrasi menurun, mudah lupa, menurunnya lapangan persepsi, bingung.
  4. Respons efektif: secara efektif klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan dan curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan. (Suliswati, dkk, 2005: 115)

 

Teori Membahas Kecemasan (skripsi dan tesis)

Beberapa teori yang membahas mengenai kecemasan pada individu antara lain (Stuart dan Sundeen, 1998):

  1. Teori Psikoanalitik

Menurut Freud dalam Stuart dan Sudeen (1998), penyebab kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian Id dan Super ego-Id yang mewakili dorongan insting dan impuls primitive seseorang sedangkan super ego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikembangkan oleh norma-norma budayanya.

  1. Teori Interpersonal

Menurut pandangan interpersonal kecemasan timbul dari perasaan  takut terhadap adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan dan kecemasan yang berat.

  1. Teori Prilaku

Kecemasan merupakan produk dari perilaku frustrasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

  1. Teori Biologi

Menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzoadiazepin. Reseptor ini mungkin membantu mengatur ansietas.

 

  1. Kajian Keluarga

Menunjukkan bahwa ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam suatu keluarga. Ada tumpang tindih dalam gangguan ansietas dan gangguan depresi.

Tingkat Kecemasan (skripsi dan tesis)

Menurut Poplou (1998) dalam Suliswati dkk (2005) ada empat tingkat kecemasan yang dialami oleh individu-individu yaitu kecemasan ringan, sedang, berat dan panik :

  1. Kecemasan ringan

Dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari, individu masih waspada serta bidang persepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas, contohnya:

  • Seseorang yang menghadapi ujian akhir
  • Pasangan dewasa yang akan memasuki jenjang pernikahan
  • Individu yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi
  • Individu yang tiba-tiba dikejar anjing menggonggong
  1. Kecemasan sedang

Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya. Terjadi penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain. Contohnya:

  • Pasangan suami istri yang menghadapi kelahiran bayi pertama dengan risiko tinggi
  • Keluarga yang menghadapi perceraian
  • Individu yang mengalami konflik dalam pekerjaan
    1. Kecemasan berat

Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada detil yang kecil (spesifik) dan tidak dapat berfikir tentang hal-hal lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu perintah atau arahan untuk terfokus pada area lain. Contohnya:

  • Individu yang mengalami kehilangan harta benda dan orang yang dicintai karena bencana alam.
  • Individu dalam penyanderaan
    1. Panik

Individu kehilangan kendali diri dan detil perhatiannya hilang karena hilangnya kontrol, sehingga tidak mampu melaksanakan apapun meskipun dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif biasanya disertai dengan disorganisasi kepribadian.

Tanda dan Gejala kecemasan (skripsi dan tesis)

Sindrom kecemasan bervariasi tergantung tingkat kecemasan yang dialami seseorang. Menurut Capernito (1998), sindrom kecemasan sendiri dapat diuraikan menjadi:

  1. Gejala fisiologis

Peningkatan frekuensi denyut nadi, TD, nafas, diaforosis, gemetar, mual dan muntah, sering berkemih, diare, insomnia, kelelahan, kemerahan atau pucat pada wajah, mulut kering, nyeri (khususnya dada, leher), gelisah, pusing, rasa panas.

  1. Gejala emosional

Individu mengatakan merasa ketakutan, tidak berdaya, gugup, kehilangan percaya diri, tegang, tidak mau rileks. Individu juga memperlihatkan kepekaan terhadap rangsangan, tidak sabar, mudah marah, menangis, cenderung menyalahkan orang lain, mengkritik diri sendiri dan orang lain.

  1. Gejala kognitif

Tidak mampu berkonsentrasi, kurang orientasi lingkungan, pelupa, memblok pikiran dan perhatian yang berlebihan.

 

Pengertian Kecemasan (skrispi dan tesis)

Menurut Mappiare (2006) anxiety adalah suatu perasaan kacau atau tidak enak yang memperingatkan individu akan adanya suatu ancaman atau bahaya namun wujudnya tidak jelas atau belum nampak.  Davidoff (1991) mendefinisikan kecemasan sebagai emosi yang ditandai oleh perasaan bahaya yang akan diantisipasi, termasuk juga ketegangan dan stres yang menghadang disertai bangkitnya system saraf parasimpatetik. Kecemasan dan ketakutan sering kali dibedakan dalam dua dimensi yaitu :

  1. Objek suatu ketakutan biasanya mudah dispesifikasikan, sedangkan objek kecemasan biasanya tidak.
  2. Intensitas rasa takut itu sesuai dengan besar kecilnya ancaman, sedangkan intensitas kecemasan sering kali jauh lebih besar dari pada objek yang belum begitu jelas pula.

Nevid dkk (2007) menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Kecemasan adalah respons yang tepat terhadap ancaman, tetapi kecemasan bisa menjadi abnormal bila tingkatnya tidak sesuai dengan proporsi ancaman. Menurut American Psychiatric Association dalam Durand dan Barlow (2009) kecemasan adalah keadaan suasana, perasaan (mood) yang ditandai oleh gejala-gejala jasmaniah seperti ketegangan fisik dan kekhawatiran tentang masa depan. Kekhawatiran terjadi karena kita tidak dapat memprediksi atau mengontrol kejadian yang akan datang.             Menurut Hawari (2009) definisi kecemasan adalah gangguan alam perasaan (afektif) yang ditandai dengan perasaan ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan. Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami gangguan kecemasan antara lain :

  1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung
  2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut
  3. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang
  4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan
  5. Gangguan konsentrasi dan daya ingat
  6. Keluhan-keluhan somatic misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala, dsb.

 

Ciri-Ciri Pengelolaan Emosi (skripsi dan tesis)

Menurut Safaria dan Saputra (2009: 8) bahwa individu yang memiliki kemampuan mengelola emosi akan lebih cakap menangani ketegangan emosi, akan lebih. Kemampuan mengelola emosi dikarenakan adanya pengaturan terhadap Pengekspresian emosi, baik negatif maupun positif merupakan hal yang sehat dan konstruktif asalkan dilakukan dengan tepat. Reivich & Shatte (dalam Khoerunisya, 2015) mengemukakan dua hal penting yang terkait dengan regulasi emosi, yaitu ketenangan (calming) dan fokus (focusing). Individu yang mampu mengelola kedua ketrampilan ini dapat membantu meredakan emosi yang ada, memfokuskan pikiran-pikiran yang mengganggu dan mengurangi stres Hal ini dapat dilihat bahwa individu dengan kemampuan mengelola emosi dengan baik cenderung terhindar dari stres, kegelisahan, ketakutan, dan kecemasan yang berlebihan. Sebaliknya, individu dengan kemampuan mengelola emosinya rendah akan cenderung mudah stres, marah, tersinggung, mudah kehilangan semangat. mampu menghadapi dan memecahkan konflik secara efektif.

 

Aspek Kemampuan Mengelola Emosi (skripsi dan tesis)

Kemampuan mengelola emosi merupakan salah satu dari kelima unsur kecerdasan emosi (mengenali emosi diri/ kesadaran diri, mengelola emosi/ pengaturan diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain/empati, dan kecakapan membina hubungan dengan orang lain) (Goleman, 2007: 57-59). Penelitian ini berfokus pada kemampuan mengelola emosi. Aspek-aspek kemampuan mengelola emosi menurut Goleman (1999: 115-166) adalah sebagai berikut:
1) Mampu mengendalikan diri (menjaga emosi yang merusak agar tetap terkendali). Orang yang memiliki kemampuan mengelola emosi dalam mengendalikan diri akan mampu untuk:
a) Mengelola dengan baik emosi yang menekan mereka: kemampuan untuk menghadapi situasi buruk.
b) Tetap tenang kendati dalam tekanan: bertindak tenang meskipun dalam tekanan.
2) Menunjukkan sifat dapat dipercaya (menunjukkan kejujuran dan integritas). Orang yang memiliki kemampuan mengelola emosi dalam sifat dapat dipercaya akan mampu untuk:
a) Bertindak menurut etika: tindakannya sesuai dengan etika yang berlaku.
b) Membangun kepercayaan melalui keandalan diri: membuktikan pada orang bahwa dirinya dapat dipercaya.
c) Berpegang pada prinsip: tetap teguh pada prinsipnya.
3) Menunjukkan sikap bersungguh-sungguh (menunjukkan tanggung jawab dalam mengelola diri). Orang yang memiliki kemampuan mengelola emosi dalam kehati-hatian akan mampu untuk:
a) Memenuhi komitmen: melakukan sesuatu yang sudah menjadi janjinya.
b) Bertanggung jawab untuk memperjuangkan tujuan: ketika memiliki tujuan maka akan terus berjuang untuk mencapai tujuan tersebut.
c) Cermat dalam bekerja: teliti ketika mengerjakan sesuatu hal.
4) Menunjukkan adaptabilitas (kemampuan menyesuaikan diri dari berbagai situasi). Orang yang memiliki kemampuan mengelola emosi dalam adaptabilitas akan mampu untuk
a) Terampil menangani perubahan situasi: mampu untuk menghadapi hal-hal yang tidak terduga.
b) Siap mengubah tanggapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan
5) Menunjukkan inovasi (kemampuan untuk terbuka terhadap perubahan). Orang yang memiliki kemampuan mengelola emosi dalam inovasi akan mampu untuk:
a) Kreatif.
b) Mengambil resiko akibat pilihannya.

Kemampuan Mengelola Emosi (skripsi dan tesis)

Goleman (2007: 58) mengatakan bahwa kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan untuk mengatasi emosinya sendiri agar terungkap dengan pas. Individu yang tingkat kemampuan mengelola emosinya rendah akan terus menerus bertarung melwan perasaan murung, sementara orang yang pintar akan dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan kejauhan dalam kehidupan. Orang-orang Romawi dan gereja-gereja Kristen kuno menyebut kemampuan ini temperantia atau kedali diri, pengendalian diri, pengendalian tindakan emosional yang berlebihan. Fatimah (2006: 116) kemampuan mengelola emosi berarti kemampuan untuk menangani perasaan agar terungkap dengan tepat. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat.

Safaria dan Saputra (2009: 14) mengungkapkan bahwa orang yang mampu memahami emosi apa yang sedang mereka alami dan rasakan, akan lebih mampu mengelola emosinya secara positif. Sebaliknya orang-orang yang sedang kesulitan memahami emosi apa yang sedang bergejolak dalam perasaannya, menjadi rentan dan terpenjara oleh emosinya. Dalam pernyataan Solovey (dalam Azizah, 2009: 1) menyatakan bahwa pengelolaan emosi merupakan kesadaran diri dalam membantu, dan mengungkapkan perasaan. Berbagai pengertian di atas menunjukkan bahwa pengertian pengelolaan emosi adalah kemampuan kesadaran diri individu untuk menyalurkan emosi dalam bentuk tindakan tepat yang harus dilakukan.

Cara mengungkapkan emosi (skripsi dan tesis)

Johnson (Supratiknya 1995: 55–65) mengungkapkan bahwa ada terdapat dua cara dalam mengungkapkan emosi yaitu:

  • Mengungkapkan emosi secara verbal

Yang dimaksud secara verbal yaitu mengungkapkan emosi melalui kata-kata, baik secara langsung mendeskripsikan emosi yang kita alami maupun tidak. Misalnya, seseorang yang sedang kecewa mengungkapkan emosi dengan berkata, “ saya kecewa kepadamu”

  • Mengungkapkan emosi secara nonverbal

Yang dimaksud secara nonverbal yaitu mengungkapkan emosi dengan menggunakan isyarat lain selain kata-kata, misalnya raut muka, sorot mata, bahasa tubuh, dll. Sebagai contoh, seseorang yang sedang sedih menunjukkan raut muka yang sayu.

Kegunaan emosi (skripsi dan tesis)

Emosi berguna untuk menuntun kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas berat. Emosi akan menawarkan pola persiapan tindakan tersendiri; masing-masing menuntun kita ke arah yang telah terbukti berjalan dengan baik ketika menangani tantangan yang dating berulang-ulang dalam hidup manusia (Goleman, 2009: 4).

Safaria dan Saputra (2009: 16) mengemukakan pendapatnya bahwa emosi dapat digunakan sebagai berikut:

  • Sebagai bentuk komunikasi yang dapat mempengaruhi orang lain. Guratan ekspresi yang terlihat pada raut muka seseorang adalah bagian dari emosi. Guratan ekspresi merupakan bentuk komunikasi yang lebih cepat dari kata-kata.
  • Emosi dapat digunakan untuk mengorganisasi dan memotivasi tindakan. Emosi secara teoritis dapat memotivasi perilaku. Manusia perlu mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi situasi penting karena emosi akan mempersiapkan segalanya untuk dapat melewati rintangan yang ada dalam pikiran dan lingkungan manusia.

Coleman dan Hamen (Sobur, 2009: 400) menjelaskan empat kegunaan emosi sebagai berikut:

  1. Emosi adalah pembangkit energi (energizer). Tanpa emosi kita tidak sadar atau mati. Orang yang hidup akan merasai, mengalami, bereaksi, bertindak. Emosi membangkitkan dan memobilisasi energi kita; takut menggerakkan kita untuk berlari, cinta menggerakkan kita untuk saling berdekatan dan bermesraan.
  2. Emosi adalah pembawa informasi (messenger). Keadaan diri kita dapat diketahui dari emosi kita. Jika senang, kita berhasil mencapai sebuah tujuan, sedih berarti kita kehilangan sesuatu yang berharga.
  3. Emosi bukan saja pembawa informasi dalam komunikasi intrapersonal, tetapi juga pembawa pesan dalam komunikasi intrapersonal. Kita mengetahui bahwa pembicaraan di depan umum atau pidato yang melibatkan seluruh emosi dipandang lebih hidup, lebih dinamis, dan lebih meyakinkan.
  4. Emosi juga merupakan sumber informasi tentang keberhasilan kita. Kita mendambakan kesehatan dan mengetahuinya ketika kita merasa tubuh kita sehat. Kita mencari keindahan dan mengetahui bahwa kita memperolehnya ketika merasakan kenikamatan estetis dalam diri kita.

Macam-macam emosi (skripsi dan tesis)

Safaria dan Saputra (2009: 13) mengungkapkan bahwa pada dasarnya emosi dibagi menjadi dua:

  1. Emosi Positif: memberikan dampak menyenangkan dan menenangkan. Macam-macam emosi positif seperti tenang, santai, rileks, gembira, lucu, haru, dan senang)
  2. Emosi Negatif: memberikan dampak yang tidak menyenangkan dan menyusahkan. Macam-macam emosi negative ini diantaranya sedih, kecewa, putus asa, depresi, tidak berdaya, frustrasi, marah, sedih, dendam.

Menurut Goleman (2007: 411) ada beberapa golongan emosi, yaitu:

  • Amarah: beringas, mengamuk, benci, marah besar, kesal, jengkel, kebencian, tersinggung, rasa pahit,bermusuhan, tindak kekerasan.
  • Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi berat.
  • Rasa takut: cemas, takut, khawatir, gugup, waspada, idak tenang, ngeri, phobia, dan panic.
  • Kenikmatan: bahagia, gembira, ringan, puas, riang, senang, terhibur bangga, takjub, terpesona.
  • Cinta: penerimaan, persahabatan, kebaikan hati, kepercayaan diri, bakti, hormat, kasmaran, kasihm dan rasa dekat.
  • Terkejut: terkesiap, terkesima, takjub, terpana.
  • Jengkel: hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah.
  • Malu; rasa salah, kesal hati, sesal, hina, aib, malu hati, dan hati hancur lebur.

Pengertian Emosi dan Perasaan (skripsi dan tesis)

Safaria dan Saputra (2009: 12) berpendapat bahwa emosi berasal dari kata e yang berarti energi dan motion yang berarti getaran. Emosi kemudian bisa dikatakan sebagai sebuah energy yang terus bergerak dan bergetar. Oxford English Dictionary (Goleman, 1996: 411) mendefiniskan emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap. Emosi merujuk pada suatu perasan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak (Goleman, 1996: 411).

Chaplin (Safaria dan Saputra (2009: 12) merumuskan emosi sebagai suatu keadaan yang merangsang perubahan-perubahan yang disadari seperti perubahan perilaku. Emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah (approach) atau menyingkir (avoidance) terhadap sesuatu (Safaria dan Saputra, 2009: 13). Menurut Gohm & clore (Safaria dan Saputra, 2009: 13) emosi manusia terbagi menjadi dua yaitu emosi positif dan emosi negatif. Emosi positif adalah emosi yang menenangkan dan menyenangkan, seperti ceria, gembira, semangat, senang, rileks, dll. Emosi positif ini akan membuat keadaan psikologis manusia menjadi positif. Sebaliknya emosi negatif adalah emosi yang menyusahkan dan tidak menyenangkan seperti marah, dendam, kecewa, depresi, putus asa, frustrasi. Emosi negatif  ini akan membuat keadaan psikologis manusia menjadi negatif. Ketika manusia gagal menyeimbangkan emosi negatif  ini maka keadaan suasana hati menjadi buruk.

Walgito (2004: 203) mengemukakan bahwa perasaan adalah keadaan sebagai akibat dari persepsi terhadap stimulus baik eksternal maupun internal, sedangkan emosi merupakan reaksi yang kompleks yang mengandung aktivitas dengan derajat yang tinggi dan adanya perubahan dalam kejasmaniannya serta berkaitan dengan perasaan yang kuat. Oleh karena itu, emosi lebih intens daripada perasaan, dan sering terjadi perubahan perilaku, hubungan dengan lingkungan kadang-kadang terganggu. Sobur (2009: 427) berpendapat bahwa perasaan (feeling) mempunyai dua arti berdasarkan tinjauan fisologis dan psikologis; ditinjau secara fisiologis, perasaan berarti penginderaan, sehingga merupakan salah satu fungsi tubuh untuk mengadakan kontak dengan dunia luar. Dalam arti psikologis, perasaan mempunyai fungsi menilai, yaitu menilai suatu hal; misalnya “saya rasa Mike akan mampu menyelesaikan skripsi dengan hasil yang memuaskan”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa menurut penilaian saya, Mike akan berhasil.

Definisi Masa Dewasa Awal (skripsi dan tesis)

Masa dewasa awal menurut (Hurlock, 1980: 246). adalah merupakan periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Masa dewasa awal dimulai pada umur 18 sampai 40 tahun. Menurut Jahja (dalam Bramantya 2015; 5) maka masa dewasa awal adalah masa awal seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-harapan sosial baru. Pada masa ini, seseorang dituntut untuk memerankan peran ganda seperti peran sebagai suami/istri dan peran dalam dunia kerja (berkarier).

Laura King (2012: 4) mengemukakan bahwa masa dewasa awal adalah periode transisi dari masa remaja menuju usia dewasa. Rentang usia dewasa awal adalah 18-25 tahun. Tahap ini ditandai dengan adanya keinginan individu untuk melakukan berbagai eksperimen dan eksplorasi. Pada tahap ini, banyak individu  yang ingin mengeksplor lebih dalam karier yang ingin digeluti, identitas yang mereka inginkan, dan jenis hubungan dekat yang akan mereka jalin.

Pengertian Terapi Relaksasi Religius (skripsi dan tesis)

Relaksasi adalah salah satu teknik di dalam terapi perilaku yang pertama kali dikenalkan oleh Jacobson, seorang psikolog dari Chicago, yang mengembangkan metode fisiologis melawan ketegangan dan kecemasan. Teknik ini disebut relaksasi progresif yaitu teknik untuk mengurangi ketegangan otot. Jacobson berpendapat bahwa Semua bentuk ketegangan termasuk ketegangan mental didasarkan pada kontraksi otot (Sheridan dan Radmacher, 1992). Jika seseorang dapat diajarkan untuk merelaksasikan otot mereka, maka mereka benar-benar relaks. Seseorang yang tetap mengalami ketegangan mental atau emosional, sementara otot mereka relaks adalah orang yang mengalami ketegangan semu (Sheridan dan Radmacher, 1992). Latihan relaksasi dapat digunakan pada pasien nyeri untuk mengurangi rasa nyeri melalui kontraksi otot, mengurangi pengaruh dari situasi stres, dan mengurangi efek samping dari kemoterapi pada pasien kanker (Sheridan dan Radmacher, 1992). Relaksasi dapat juga digunakan untuk mengurangi denyut jantung, meningkatkan daya hantar kulit (skin conductance), mengurangi ketegangan otot, tekanan darah dan kecemasan (Taylor, 1995).

Relaksasi religius merupakan pengembangan dari respon relaksasi yang dikembangkan oleh Benson (2000), dimana relaksasi ini merupakan gabungan antara relaksasi dengan keyakinan agama yang dianut. Dalam metode meditasi terdapat juga meditasi yang melibatkan faktor keyakinan yaitu meditasi transendental (trancendental meditation). Meditasi ini dikembangkan oleh Mahes Yogi (Sothers, 1989) dengan megambil objek meditasi frase atau mantra yang diulang-ulang secara ritmis dimana frase tersebut berkaitan erat dengan keyakinan yang dianut.

Fokus dari relaksasi ini tidak pada pengendoran otot namun pada frase tertentu yang diucapkan berulang kali dengan ritme yang teratur disertai sikap pasrah kepada objek transendensi yaitu Tuhan. Frase yang digunakan dapat berupa nama-nama Tuhan, atau kata yang memiliki makna menenangkan.

Pelatihan relaksasi bertujuan untuk melatih peserta agar dapat mengkondisikan diri untuk mencapai kondisi relaks. Pada waktu individu mengalami ketegangan dan kecemasan yang bekerja adalah sistem saraf simpatis, sedangkan pada waktu relaksasi yang bekerja adalah sistem saraf parasimpatis, dengan demikian relaksasi dapat menekan rasa tegang dan rasa cemas dengan cara resiprok, sehingga timbul counter conditioning dan penghilangan.

Pelatihan relakasi religius cukup efektif untuk memperpendek waktu dari mulai merebahkan hingga tertidur dan mudah memasuki tidur. Hal ini membuktikan bahwa relaksasi religius yang dilakukan dapat membuat lebih relaks sehingga keadaan kesulitan ketika mengawali tidur dapat diatasi dengan treatmen ini. Penggunaan kaset relaksasi religius cukup membantu subjek dalam mengawali tidur. Pada umumnya subjek melaporkan bahwa dengan mengikuti kaset relaksasi dirinya lebih mudah untuk tertidur, ada beberapa hal yang menyebabkan mereka mudah tertidur antara lain instruksi diucapkan dengan pelan dan mudah diikuti.

Pelatihan relaksasi dapat memunculkan keadaan tenang dan relaks dimana gelombang otak mulai melambat semakin lambat akhirnya membuat seseorang dapat beristirahat dan tertidur. Hal ini sesuai dengan pendapat Panteri (1993) yang menggambarkan neurofisiologi tidur sebagai berikut : Pada saat berbaring dalam keadaan masih terjaga seseorang berada pada gelombang otak beta, hal ini terjadi ketika subjek mulai merebahkan diri tidur dan mengikuti instruksi relaksasi religius yaitu pada tahap pengendoran otot dari atas yaitu kepala hingga jari jari kaki. Selanjutnya dalam keadaan yang lelah dan siap tidur mulai untuk memejamkan mata, pada saat ini gelombang otak yang muncul mulai melambat frekwensinya, meninggi tegangannya dan menjadi lebih teratur.

Kecemasan Menghadapi Kematian (skripsi dan tesis)

Rocfouhauld (Ghozali, 2000) memberikan ungkapan bahwa kematian secara utuh merupakan cerminan manusia modern terhadap persoalan yang sangat menggugah dan sekaligus menakutkan. Maut atau kematian merupakan suatu yang absurd. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa maut merupakan sesuatupengharapan. Manusia tidak bisa memilih tibanya kematian dan kematianmerupakan sumber utama kecemasan.Selama belum menemukan alasan yang logis dan rasional mengenai bayangan kematian, maka bayangan tersebut akan berubah menjadi penyakit ynag mengakar kuat di dasar perasaan manusia. Penyakit ini merupakan penyakit kejiwaan yang paling kritis dan sulit, yang sering kali menguasai emosi danperilaku manusia. Dan pada akhirnya akan menimbulkan kecemasan dan ketakutan (Syarif, 2000).

Sedangkan kecemasan terhadap kematian akan berkembang seiring dengan berbagai factor pengubah misalkan kebudayaa serta keadaan histories. Apabila dikaitkan dengan kecemasan menghadapi kematian dalam perspektif perkembangan pemikiran inividu tentang kematian maka akan bervariasi sepanjang siklus kehidupan manusia. Kita akan memiliki harapan-harapan yang berbeda tentang kematian seiring dengan perkembangan serta sepanjang masa hidup sehingga kita akan memiliki sikap yang berbeda terhadap kematian pada fase berbeda dalam perkembangan kota.

Oleh karenanya menurut Kalish (1987) orang-orang dewasa muda seperti halnya pengidap AIDS sering merasa tertipu dibandingkan mereka yang berusa lebih tua. Orang-orang dewasa muda sering merasa tidak diberi kesempatan untuk melakukan apa yang mereka inginkan dalam hidup. Mereka merasa kehilangan apa uang seharusnya mereka capai, sedangkan sebaliknya orang dewasa lanjut mereka merasa kehilangan apa yang telah mereka miliki (Cavanaugh, 1990).

Kecemasan akan kematian dapat berkaitan dengan datangnya kematian itu sendiri, dan dapat pula berkaitan dengan caranya kematian serta rasa sakit atau siksaan yang mungkin menyertai datangnya kematian, karena itu pemahaman dan pembahasan yang mendalam tentang kecemasan lansia penting untuk, khususnya lansia yang mengalami penyakit kronis, dalam menghadapi kematian menjadi penting untuk diteliti. Sebab kecemasan bisa menyerang siapa saja. Namun, ada spesifikasi bentuk kecemasan yang didasarkan pada usia individu. Umumnya, kecemasan ini merupakan suatu pikiran yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan kekhawatiran, rasa tidak tenang, dan perasaan yang tidak baik atau tidak enak yang tidak dapat dihindari oleh seseorang (Hurlock, 1990:91).

Disamping itu juga, ada beberapa faktor lain yang dapat menimbulkan kecemasan ini, salah satunya adalah situasi. Menuruk Hurlock (1990:93) bahwa jika setiap situasi yang mengancam keberadaan organisme dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan dalam kadar terberat dirasakan sebagai akibat dari perubahan sosial yang sangat cepat.

Sikap Dalam Kematian (skripsi dan tesis)

Secara umum manusia ingin hidup panjang dengan berbagai upaya yang dilakukan, proses hidup yang dialami manusia yang cukup panjang ini telah menghasilkan kesadaran pada diri setiap manusia akan datangnya kematian sebagai tahap terakhir kehidupannya di dunia ini. Namun demikian, meski telah muncul kesadaran tentang kepastian datangnya kematian ini, persepsi tentang kematian dapat berbeda pada setiap orang atau kelompok orang. Bagi seseorang atau sekelompok orang, kematian merupakan sesuatu yang sangat mengerikan atau menakutkan, walaupun dalam kenyataannya dari beberapa kasus terjadi juga individu-individu yang takut pada kehidupan (melakukan bunuh diri) yang dalam pandangan agama maupun kemasyarakatan sangat dikutuk ataupun diharamkan (Lalenoh, 1993 : 1). Sebaliknya, bagi seseorang atau sekelompok orang, pertambahan usia cenderung membawa serta makin besarnya kesadaran akan datangnya kematian, dan kesadaran ini menyebabkan sebagian orang yang menghadapi kematian tidak merasa takut terhadap kematian. Kematian diterima sebagai seorang sahabat (Tony 1991 : 15).

Terdapat dua sikap yang umumnya dilakukan ketika menghadapi kematian: Pertama, kematian akan diterima dengan wajar melalui kesadaran yang mendalam. Kedua, manusia yang menghadapi kematian dalam menyikapi hidupnya cenderung menolak datangnya kematian, kelompok ini tidak mau menerima realitas yang ada (Hurlock, 1996 : 439).

Seperti yang telah dikemukakan diatas, menghadapi kematian merupakan proses yang wajar dan terjadi pada setiap orang. Permasalahannya adalah bagaimana manusia tersebut bisa menyadari dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Di sisi lain, ada sebuah anggapan atau pencitraan yang negatif dan positif. Semakin bisa berfikir positif, orang akan semakin bisa menerima kenyataan namun “ menerima ” itu bukan berarti kita menerima apa adanya. Maksudnya adalah bagaimana cara kita menyesuaikan diri dengan usia, melakukan aktivitas secara wajar sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis usia tua.

Elizabeth Kubler Ross (1969) membagi perilaku dan proses berpikir seseorang yang sekarat menjadi 5 fase: penolakan dan isolasi, kemarahan, tawar menawar, depresi dan penerimaan.

  1. Penolakan dan isolasi (denial and isolation) merupakan fase pertama yang diusulkan Kubler Ross di mana orang menolak bahwa kematian benar-benar ada. Orang tersebut mungkin berkata “tidak”, “itu tidak dapat terjadi pada saya”. Hal ini merupakan reaksi utama pada penyakit yang tidak tertolong lagi namun penolakan merupakan bagian dari pertahanan diri yang bersifat sementara dan kemudian akan digantikan dengan rasa penerimaan yang meningkat saat seseorang dihadapkan dengan beberapa hal seperti pertimbangan keuangan, urusan yang belum selesai dan kekhawatiran mengenai kehidupan anggota keluaraga lain nantinya.
  2. Kemarahan (anger) merupakan fase ke dua di mana orang yang menjelang kematian menyadari bahwa penolakan tidak dapat lagi dipertahankan. Penolakan seringkali memunculkan rasa benci, marah dan iri. Pertanyaan yang biasanya muncul pada diri orang yang sekarat adalah “mengapa saya?”. Pada titik ini seseorang makin sulit dirawat karena amarahnya seringkali salah sasaran dan diproyeksikan kepada dokter, perawat anggota keluarga juga Tuhan. Realisasi dari kehilangan ini besar dan mereka yang menjadi symbol dari kehidupan, energi dan fungsi-fungsi yang merupakan target utama dari rasa benci dan cemburu orang tersebut.
  3. Tawar menawar (bargaining) merupakan fase ketiga menjelang kematian di masa seseorang mengembangkan harapan bahwa sewaktu-waktu kematian dapat ditunda atau diundur. Beberapa orang tawar menawar atau negoisasi seringkali dengan Tuhan sambil mencoba untuk menunda kemtian. Secara psikologis seseorang berkata “Ya, saya , tapi…” dalam usaha mendapatkan perpanjangan waktu untuk beberapa hari, minggu atau bulan dari kehidupan, seseorang berjanji untuk mengubah kehidupannya, seseorang berjanji untuk mengubah kehidupannya yang didedikasikan hanya untuk Tuhan atau melayani orang lain
  4. Depresi (depression) merupakan fase keempat menjelang kematian di mana orang yang sekarat akhirnya menerima kematian. Pada titik ini satu periode depresi atau persiapan berduka mungkin akan muncul. Orang yang menjelang kemtiannya mungkin akan menjadi pendiam serta menghabiskan waktunya untuk menangis dan berduka. Perilaku ini normal dalam situasi tersebut dan sebenarnya merupakan usaha untuk membahagiakan orang yang menjelang kemtianya pada fase ini justru menjadi penghalang karena orang tersebut untuk merenungkan ancaman kematian
  5. Penerimaan (acceptance) merupakan fase kelima menjelang kematian di mana seseorang mengembangkan rasa damai, menerima takdir dan dan dalam beberapa hal ingin ditinggal sendiri. Pada fase ini perasaan dan rasa sakit pada fisik mungkin hilang. Kubler-Ross menggambarkan fase kelima ini sebagai akhir perjuangan menjelang kematian.

Tidak ada satu orang pun yang dapat mengkonfirmasikan bahw seseorang akan secara pasti melewati fase yang digambarkan Kubler Ross. Oleh karenanya terdapat variasi pada setiap inividual mengenai bagaimana kita menghadapi kematian namun urutan yang telah dikemukakan secara optimal akan sesuai.

Oleh karenanya kecemasan terhadap kematian justru akan memperpanjang fase seseorang dalam fase penolakan. Pemahaman terhadap kontrol dapat bekerjasama sebagai suatu strategi adaptasi pada beberapa orang dewasa yang sedang menghadapi kematian. Pada individu yang dapat mempengaruhi dan mengkontrol kejadian seperti kecemasan menghadapi kematian akan menjadi lebih waspada dan ceria. Hal ini akan membawa perubahan diantaranya peningkatan kondisi tubuh serta penerimaan diri (Rodin dan Langer, 1977)

Pengertian Kematian (skripsi dan tesis)

Harvard Medical School (1997), mengembangkan konsep kematian menjadi lima, yaitu ketidakmampuan menerima dan merespon stimulus, tidak memiliki kemampuan dalam hal gerak atau pernafasan, tidak mempunyai reflek, EEG datar, dan tidak adanya sirkulasi dalam otak. Meskipun kematian secara biologis penting, konsep kematian secara psikologis terjadi ketika pikiran seseorang berhenti untuk berfungsi. Menurut Aiken (sitat dalam Bishop, 1994), kematian secara sosial terjadi ketika orang lain melakukan tindakan untuk orang yang sudah dinyatakan meninggal.

Kematian dalam agama-agama samawi mempunyai peranan yang sangat besar dalam memantapkan akidah serta menumbuh kembangkan semangat pengabdian. Tanpa kematian, manusia tidak akan berpikir tentang apa sesudah mati, dan tidak akan mempersiapkan diri menghadapinya. Karena itu, agama-agama menganjurkan manusia untuk berpikir tentang kematian

Pengertian Kecemasan (skripsi dan tesis)

Kecemasan yang dimaksud adalah suatu kondisi psikologis yang ditandai dengan perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan, khawatir, takut, dan tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang (Lazarus, 1976). Sedangkan menurut Desy Chriswandani (2007) definisi dari kecemasan adalah keadaan dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah dan aktivasi sistem saraf autonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas, non spesifik. Pada umumnya, kecemasan yang dirasakan oleh individu yang akan lebih terkait dengan perubahan sosial, misalnya kecemasan akan indentitas sosial, perasaan takut diasingkan dan cemas karena merasa tidak mampu bersosialisasi lebih luas, (Fletcher & Hansson, 1991).

Teori Motivasi Kerja (skripsi dan tesis)

  • Teori Kebutuhan (Maslow’s Model)

Model Maslow Ini sering disebut dengan model hierarki kebutuhan. Karena menyangkut kebutuhan manusia, maka teori ini digunakan untuk menunjukkan butuhan seseorang yang harus dipenuhi agar individu tersebut termotivasi untuk kerja.

  1. Kebutuhan fisiologik (physiological needs), misalnya makanan, minuman, istirahat/tidur, seks. Kebutuhan inilah yang merupakan kebutuhan pertama dan utama yang wajib dipenuhi pertama-tama oleh tiap individu. Karena dengan terpenuhinya kebutuhan ini, orang dapat mempertahankan hidup dari kematian.
  2. Kebutuhan aktualisasi diri, yakni senantiasa percaya kepada diri sendiri. Pada puncak hirarki, terdapat kebutuhan untuk realisasi diri atau aktualisasi diri.
  • Teori Penguatan (Reinforcement Theory)

Teori ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

M = f ( R & C )

M = Motivasi

R = Reward (penghargaan) – primer/sekunder

C = Consequens (Akibat) – positif/negative

Penguatan adalah segala sesuatu yang digunakan seorang pimpinan untuk meningkatkan atau mempertahankan tanggapan khusus individu. Jadi menurut teori ini, motivasi seseorang bekerja tergantung pada penghargaan yang diterimanya dan akibat dari yang akan dialaminya nanti. Teori ini menyebutkan bahwa perilaku seseorang di masa mendatang dibentuk oleh akibat dari perilakunya yang sekarang (Arep Ishak & Tanjung Hendri, 2003).

Jenis reinforcement ada empat, yaitu: (a) positive reinforcement (penguatan positif), yaitu penguatan yang dilakukan ke arah kinerja yang positif; (b) negative reinforcement (penguatan negatif), yaitu penguatan yang dilakukan karena mengurangi atau menghentikan keadaan yang tidak disukai. Misalnya, berupaya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan karena tidak tahan mendengar atasan mengomel terus-menerus; (c) extinction (peredaan), yaitu tidak mengukuhkan suatu perilaku, sehingga perilaku tersebut mereda atau punah sama sekali. Hal ini dilakukan untuk mengurangi perilaku yang tidak diharapkan; (d) punishment, yaitu konsekuensi yang tidak menyenangkan dari tanggapan perilaku tertentu.

Reward adalah pertukaran (penghargaan) yang diberikan perusahaan atau jasa yang diberikan penghargaan, yang secara garis besar terbagi dua kategori, yaitu: (a) gaji, keuntungan, liburan; (b) kenaikan pangkat dan jabatan, bonus, promosi, simbol (bintang) dan penugasan yang menarik.

Sistem yang efektif untuk pemberian reward (penghargaan) kepada para karyawan harus: (a) mcmenuhi kebutuhan pegawai; (b) dibandingkan dengan reward yang diberikan oleh perusahaan lain; (c) di distribusikan secara wajar dan adil; (d) dapat diberikan dalam berbagai bentuk; (e) dikaitkan dengan prestasi.

  • Teori Harapan (Expectacy Theory)

Teori ekspetansi menyatakan bahwa motivasi kerja dideterminasi oleh keyakinan-keyakinan individual sehubungan dengan hubungan upaya-kinerja dan di dambakannya berbagai macam hasil kerja, yang berkaitan dengan tingkat kinerja yang berbeda-beda. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa teori tersebut berlandaskan logika: “Orang-orang akan melakukan apa yang dapat mereka lakukan, apabila mereka berkeinginan untuk melakukannya”.

Vroom (dalam Winardi, 2002:109-110) berpendapat bahwa motivasi terhadap kerja merupakan hasil dari ekspektansi kali instrumentalitas, kali valensi. Hubungan multiplikatif tersebut berarti bahwa daya tarik motivasional jalur pekerjaan tertentu, sangat berkurang, apabila salah satu di antara hal berikut: ekspektansi, jnstrumentalilas, atau valensi mendekati nol. Sebaliknya agar imbalan tertentu memiliki sebuah dampak motivasional tinggi serta positif sebagai hasil kerja, maka ekspektansi, instrumentalitas, dan valensi yang berkaitan dengan imbalan tersebut harus tinggi serta positif.

Motivasi = Ekspektansi x Instrumen x Valensi (M = E x I x V). Hubungan antara motivasi seseorang melakukan suatu kegiatan dengan kinerja yang akan diperolehnya yakni apabila motivasinya rendah jangan berharap hasil kerjanya (kinerjanya) baik. Motivasi dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan pribadi seperti rasa tertarik atau memperoleh harapan.

sederhana, dalam teori ini, motivasi merupakan interaksi antara harapan sctelah dikurangi prestasi, dengan kontribusi penilaian yang dikaitkan dengan prestasi dikurangi hasil. Karena kebutuhan di atas merupakan generalisasi, kenyataannya kebutuhan orang tidak sama, maka dikenai The Expectacy Model yang menyatakan. “Motivasi adalah fungsi dari berapa banyak yang diinginkan dan berapa besar kemungkinan pencapaiannya” (lihat Gambar 2.6).

  • Teori Penetapan Tujuan Locke

Suprihanto, dkk (2003:52-53) menyatakan bahwa teori penetapan tujuan (goal-setting theory) ini merupakan suatu teori yang menyatakan bahwa tujuan yang sifatnya spesifik atau sulit cenderung menghasilkan kinerja (performance) yang lebih tinggi. Pencapaian tujuan dilakukan melalui usaha partisipasi. Meskipun dcmikian pencapaian tujuan belum tentu dilakukan oleh banyak orang. Dalam pencapaian lujuan yang partisipatif mempunyai dampak positif bcrupa timbulnya penerimaan (acceptance), artinya sesulit apapun apabila orang telah menerima suatu pekerjaan maka akan dijalankan dengan baik. Sementara itu dalam pencapaian tujuan yang partisipatif dapat pula berdampak negatif yaitu timbulnya superioritas pada orang-orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi.

Pengertian Motivasi Kerja (skripsi dan tesis)

Untuk mempermudah pemahaman motivasi kerja, dibawah ini dikemukakan pengertian motif, motivasi dan motivasi kerja. Abraham Sperling (dalam Mangkunegara, 2002:93) mengemukakan bahwa motif di definisikan sebagai suatu kecenderungan untuk beraktivitas, dimulai dari dorongan dalam diri (drive) dan diakhiri dengan penyesuaian diri, penyesuaian diri dikatakan untuk memuaskan motif. William J. Stanton (dalam Mangkunegara, 2002:93) mendefinisikan bahwa motif adalah kebutuhan yang di stimulasi yang berorientasi kepada tujuan individu dalam mencapai rasa puas. Motivasi didefinisikan oleh Fillmore H. Stanford (dalam Mangkunegara, 2002:93) bahwa motivasi sebagai suatu kondisi yang menggerakkan manusia ke arah suatu tujuan tertentu

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa motif merupakan suatu dorongan kebuluhan dalam diri pegawai yang perlu dipenuhi agar pegawai tersebut dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, sedangkan motivasi adalah kondisi yang menggerakkan pegawai agar mampu mencapai tujuan dari motifya. Sedangkan motivasi dikatakan sebagai energi untuk membangkitkan dorongan dalam diri (drive arousal). Dalam hubungannya dengan lingkungan kerja, Ernest L. McCormick (dalam Mangkunegara, 2002:94) mengemukakan bahwa motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja.

Dinamika Hubungan Antara Harga Diri Dan Narsisme (skripsi dan tesis)

 

Steinberg (2009) mengatakan bahwa harga diri merupakan konstruk yang penting dalam kehidupan sehari-hari juga berperan serta dalam menentukan tingkah laku seseorang. Seseorang dengan harga diri yang baik akan mampu menghargai dirinya sendiri. Menurut Dariyo dan Ling (2012) bahwa harga diri sebagai evaluasi yang dibuat oleh individu mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dirinya, yang mengekspresikan suatu sikap setuju atau tidak setuju dan menunjukkan tingkat dimana individu itu meyakinkan diri sendiri bahwa dia mampu, penting, berhasil, dan berharga. Dengan kata lain harga diri merupakan suatu penilaian pribadi terhadap perasaan berharga yang diekspresikan di dalam sikap-sikap yang dipegang oleh individu tersebut. Hal ini mengarahkan bahwa pengertian dari harga diri adalah adalah evaluasi diri yang dibuat oleh setiap individu, sikap orang terhadap dirinya sendiri. Dimana dimensi dalam harga diri sendiri adalah Perasaan diterima (Felling Of Belonging), Perasaan Mampu (Felling Of Competence), Perasaan Berharga ( Felling Of Worth ).

Khera (2012) menyebutkan beberapa manfaat dari harga diri yang tinggi, yaitu membentuk pendirian yang kuat, membangkitkan kemauan untuk menerima tanggung jawab, membentuk sikap optimistik, meningkatkan hubungan dan hidup lebih berarti, membuat seseorang lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan mengembangkan sikap saling mengasihi, memotivasi diri dan berambisi, membuat seseorang bersikap terbuka terhadap peluang dan tantangan baru, memperbaiki kinerja dan meningkatkan kemampuan mengambil resiko, membantu seseorang dalam memberi dan menerima kritik dan penghargaan dengan bijaksana dan mudah. Sebaliknya harga diri yang rendah akan berpikir buruk tentang diri sendiri,tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, cenderung pesimis tentang masa depan, mengingat masa lalu mereka lebih negatif dan berkubang dalam suasana hati negatif mereka dan lebih rentan terhadap depresi ketika mereka menghadapi stress (Taylor, Peplau dan Sears 2009).

Harga diri merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku narsis. Dalam penelitian Bakti (2016) serta Kartika (2010) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara harga diri dengan kecenderungan narsisme. Hal ini sesuai dengan penelitian Clarke (2014) menyebutkan bahwa banyak alasan yang melatarbelakangi narsis yakni harga diri, depresi, kecemasan dan perkembangan superego. Penelitian Drestya (2013) menemukan jawaban pengguna media sosial adalah untuk eksis atau menunjukan identitas diri. Dimana identitas diri berhubungan dengan harga diri seseorang. Dengan demikian seseorang dengan harga diri yang tinggi akan memiliki kemampuan mengendalikan penggunaan media sosial.

Menurut Maulina (2017) bahwa remaja dengan harga diri tinggi akan mampu mengontrol penggunaan akun. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan  mengembangkan tanggungjawab sosial, mempunyai kreativitas dalam melakukan aktivitas dengan menampilkan diri sesuai dengan realitas, dapat mengaktualisasi diri dengan baik dan mampu menyaring informasi yang ada di media jejaring sosial.

Pengertian dari narsisme sendiri adalah perilaku yang ditandai dengan kecenderungan untuk memandang dirinya dengan cara yang berlebihan, senang sekali menyombongkan dirinya dan berharap orang lain memberikan pujian, selain itu tertanam dalam dirinya perasaan paling mampu, paling unik (beda sendiri) dan merasa khusus dibandingkan dengan orang lain. Perilaku yang ditunjukkan oleh individu narsisme yaitu suka memamerkan tentang komentar dari orang lain yang mengakui keunikannya, keberhasilannya ataupun idealisme yang dijunjung tinggi oleh dirinya. Hal tersebut dilakukan ketika individu narsisme merasa harga dirinya mulai terancam saat menerima masukan atau kritikan yang mengoreksi kebiasaan atau pola pikirnya. Serta tuntutan akan perhatian yang terus menerus bukan berasal dari keegoisannya namun dari kebutuhannya untuk menyingkirkan perasaan tidak adekuat () Dimana dimensi dalam narsisme yaitu meliputi Leadership (autority)  Superiority (arogance), Self absorption (self admiration), dan Exploitiveness (entitle ment)

Dimensi Dalam Harga Diri (skripsi dan tesis)

Harga diri terdiri empat aspek yang dikemukakan oleh Coopersmith (dalam Tyas, 2010), yaitu:

  1. Kekuatan (Power)

Kekuatan atau power menunjuk pada adanya kemampuan seseorang untuk dapat mengatur dan mengontrol tingkah laku dan mendapat pengakuan atas tingkah laku tersebut dari orang lain. Kekuatan dinyatakan dengan pengakuan dan penghormatan yang diterima seorang individu dari orang lain dan adanya kualitas atas pendapat yang diutarakan oleh seseorang individu yang nantinya diakui oleh orang lain.

  1. Keberartian (significance)

Keberartian atau significance menunujuk pada kepedulian, perhatian, afeksi, dan ekspresi cinta yang diterima oleh seseorang dari orang lain yang menunjukkan adanya penerimaan dan popularitas individu dari lingkungan sosial. Penerimaan dari lingkungan ditandai dengan adanya kehangatan, respon yang baik dari lingkungan dan adanya ketertarikan lingkungan terhadap individu dan lingkungan menyukai individu sesuai dengan keadaan diri yang sebenarnya.

  1. Kebajikan (virtue)

Kebajikan atau virtue menunjuk pada adanya suatu ketaatan untuk mengikuti standar moral dan etika serta agama dimana individu akan menjauhi tingkah laku yang harus dihindari dan melakukan tingkah laku yang diizinkan oleh moral, etika, dan agama. Seseorang yang taat terhadap nilai moral, etika dan agama dianggap memiliki sikap yang positif dan akhirnya membuat penilaian positing terhadap diri yang artinya seseorang telah mengembangkan harga diri positif pada diri sediri.

  1. Kemampuan (competence)

Kemampuan atau competence menunjuk pada adanya  bperformansi yang tinggi untuk memenuhi keutuhan mencapai prestasi dimana level dan tugas-tugas tersebut tergantung pada variasi usia seseorang.

Felker (dalam Churaisin, 2014) mengemukakan bahwa komponen harga diri terdiri dari:

  1. Perasaan diterima (Felling Of Belonging)

Perasaan individu bahwa dirinya merupakan bagian dari suatu kelompok dan dirinya diterima seperti dihargai oleh anggota kelompoknya. Kelompok ini dapat berupa keluarga kelompok teman sebaya, atau kelompok apapun. Individu akan memiliki penilaian yang positif tentang dirinya apabila individu tersebut merasa diterima dan menjadi bagian dalam kelompoknya. Namun individu akan memiliki penilaian negatif tentang dirinya bila mengalami perasaan tidak diterima, misalnya perasaan seseorang pada saat menjadi anggota kelompok suatu kelompok tertentu.

  1. Perasaan Mampu (Felling Of Competence )

Perasaan dan keyakinan individu akan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri dalam mencapai suatu hasil yang diharapkan, misalnya perasaan seseorang pada saat mengalami keberhasilan atau kegagalan.

  1. Perasaan Berharga ( Felling Of Worth )

Perasaan dimana individu merasa dirinya berharga atau tidak, dimana perasaan ini banyak dipengaruhi oleh pengalaman yang lalu. Perasaan yang dimiliki individu yang sering kali ditampilkan dan berasal dari pernyataan-pernyataan yang sifatnya pribadi seperti pintar, sopan, baik dan lain sebagainya.

Dalam penelitian ini akan menggunakan alat ukur yang disusun berdasarkan teori Felker (dalam Churaisin, 2014) yang membagi harga diri dalam dimensi yaitu: Perasaan diterima (Felling Of Belonging), Perasaan Mampu (Felling Of Competence), Perasaan Berharga ( Felling Of Worth )

Pengertian Harga Diri (skripsi dan tesis)

Baron & Byrne (2012)   berpendapat bahwa harga diri adalah evaluasi diri yang dibuat oleh setiap individu, sikap orang terhadap dirinya sendiri dalam rentang dimensi positif sampai negatif. Ditambahkan pula bahwa harga diri juga berkaitan dengan sikap seseorang terhadap dirinya sendiri, mulai dari sangat negatif sampai sangat positif, individu yang ditampilkan nampak memiliki sikap negatif terhadap dirinya sendiri. Harga diri yang tinggi berarti seorang individu menyukai dirinya sendiri, evaluasi positif ini sebagian berdasarkan opini orang lain dan sebagian berdasarkan dari pengalaman spesifik. Sikap terhadap diri sendiri dimulai dengan interaksi paling awal antara bayi dengan ibunya atau pengasuh lain, perbedaan budaya juga mempengaruhi apa yang penting bagi harga diri seseorang.

Sejalan dengan pendapat di atas maka menurut Branden (2011) harga diri adalah apa yang individu pikirkan dan rasakan tentang dirinya, bukan apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain tentang siapa dirinya sebenarnya. Menurut Santrock (2012) bahwa harga diri merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara positif atau negatif. Evaluasi ini memperlihatkan bagaimana individu menilai dirinya sendiri dan diakui atau tidaknya kemampuan dan keberhasilan yang diperolehnya. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya. Individu yang memiliki harga diri positif akan menerima dan menghargai dirinya sendiri apa adanya.

Faktor penyebab Narsisme (skripsi dan tesis)

Sedikides, et al (2004) memberikan hasil risetnya mengenai faktor-faktor narsistik, adalah sebagai berikut:

  1. Self-esteem (Harga Diri)

Harga dirinya tidak stabil dan terlalu tergantung pada interaksi sosialnya.

  1. Depression (Depresi)

Depresi sebagai suatu pemikiran negatif tentang dirinya, dunia, dan masa depannya, adanya rasa bersalah dan kurang percaya dalam menjalani hidup

  1. Loneliness (Kesepian)

Kesepian adalah suatu perasaan yang tidak menyenangkan, yaitu hal ini disebabkan oleh kurang mempunyai hasrat untuk berhubungan dengan orang lain.

  1. Subjective (“Perasaan Subyektif”)

Individu merasa bahwa dirinya seakan-akan menjadi pribadi yang sempurna.

Faktor lain yang dianggap mempengaruhi Menurut Millon, Grossman, Millon,Meagher, dan Ramnath (dalam Miller dan Campbell 2008: 454) berpendapat bahwa narsistik berkembang sebagai hasil dari orang tua yang menilai terlalu tinggi prestasi anak mereka dan memberikan penguatan yang tidak bergantung pada perilaku aktual. Ditambahkan pula menurut Kohut (dalam Bertens, 2016) bahwa kegagalan mengembangkan citra diri yang sehat terjadi bila orang tua tidak merespons dengan baik kompetensi yang ditunjukkan oleh anak-anaknya. Dengan demikian, anak tidak bernilai bagi harga diri mereka sendiri, tetapi berharga untuk meningkatkan citra diri orang tua.

Disebutkan pula bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi narsisme adalah faktor gen atau gen. Menurut Bertens, 2016: menunjukkan bahwa patologi narsistik disebabkan oleh faktor genetik asal-usul di awal perkembangan. Walaupun masih belum jelas penyebab pada masa kanak-kanak dan menjadi lebih terang-terangan terlihat pada individu dewasa ketika menghadap orang lain dan mengerjakan tugas dengan cara yang lebih narsistik.

Ciri-Ciri Dalam Narsisme (skripsi dan tesis)

Ada beberapa tanda-tanda atau ciri-ciri narsisme dari Diagnostics and Statistik Manual, Fourth Editions Text Revision (Handayani, 2012) antara lain:

  1. Pengidap narsisme juga yakin kalau dirinya unik dan istimewa, serta berpikiran bahwa tidak ada yang bisa menyaingi dirinya. Dia akan merasa lebih tinggi statusnya serta lebih cantik atau ganteng dibandingkan dengan yang lain.
  2. Orang narsisme selalu ingin dipuji dan diperhatikan. Mereka kurang peka terhadap kebutuhan orang lain, karena yang ada dalam pikirannya adalah dirinya sendiri.
  3. Orang narsisme sangat sensitif terhadap kritikan, kritikan yang kecil bisa berarti besar bagi mereka, dan tidak mau disalahkan.
  4. Orang narsisme membutuhkan pengakuan dari orang lain demi memompa rasa percaya dirinya.

Sedangkan menurut Barlow dan Durand (2006) ciri-ciri narsisme yaitu:

  1. Kurang memiliki empati
  2. Suka foto selfie
  3. Bersikap arogan dengan memakai aksesoris yang berlebihan, seperti gelang, kalung, anting-anting, dll.
  4. Mempunyai fantasi-fantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau cinta ideal yang tanpa batas.

Pengertian Narsisme (skripsi dan tesis)

Menurut Kartono (2010) narsisme ialah  perhatian yang sangat  berlebihan kepada diri sendiri, dan kurang atau tidak adanya perhatian kepada orang lain. Dengan demikian narsisme juga bersangkutan dengan cinta ekstrim, paham yang mengharapkan diri sendiri sangat superior dan amal penting, ada ektreme self importancy menganggap diri sendiri sebagai yang paling pandai, paling hebat, paling berkuasa, paling bagus dan segalanya. Individu yang bersangkutan tidak perlu memikirkan orang lain dan sangat egoistis. Bagi dirinya yang paling penting adalah diri sendiri dan ia tidak peduli pada dunia luar.

Menurut Chaplin (2009) narsisme adalah cinta diri dimana memperhatikan diri sendiri secara berlebihan, paham yang mengharapkan diri sendiri sangat superior dan amat penting, menganggap diri sendiri sebagai yang paling pandai, paling hebat, paling berkuasa, paling bagus dan paling segalanya. Ditambahkan pula bahwa individu narsisme memiliki kecenderungan untuk memanfaatkan hubungan sosial untuk mencapai popularitas, selalu asyik dan hanya tertarik dengan hal-hal yang menyangkut kesenangan diri sendiri (Mehdizadeh, 2010).

Menurut John & Robins (Buffardi & Campbell, 2008), narsisme juga berhubungan dengan self-views (pandangan diri) yang melambung tinggi dan positif pada sifat-sifat seperti inteligensi, kekuatan, dan keindahan fisik. Nevid, dkk (2005) menambahkan orang dengan gangguan kepribadian narsistik umumnya berharap orang lain melihat kualitas khusus mereka, bahkan saat prestasi mereka biasa saja, dan mereka menikmati bersantai di bawah sinar pemujaan

Faktor-faktor yang mempengaruhi Rasa ketidakamanan dalam bekerja (job insecurity) (skripsi dan tesis)

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi munculnya rasa ketidakamanan
dalam bekerja pada diri karyawan. Faktor yang pertama adalah karakteristik
demografis yang meliputi jenis kelamin, usia, masa kerja, status pernikahan dan tingkat pendidikan (Kinnunen, et al, 2000). Pria memiliki tingkat rasa
ketidakamanan dalam bekerja yang lebih tinggi dibandingkan wanita karena
berkaitan dengan peran pria sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga,
sehingga pria akan lebih khawatir ketika menghadapi kehilangan pekerjaan. Usia memiliki hubungan positif dengan rasa ketidakamanan dalam bekerja. Semakin tinggi usia seseorang, semakin tinggi tingkat rasa ketidakamanan dalam bekerjanya. Sebaliknya, pendidikan dan masa kerja berhubungan negatif dengan rasa ketidakamanan dalam bekerja, yaitu semakin rendah pendidikan dan semakin pendek masa kerja maka semakin tinggi rasa ketidakamanan dalam bekerja seseorang.
Faktor yang kedua adalah karakteristik pekerjaan. Menurut Jacobson dan
Hartley (Hassenlink & Vuuren, 1999) karakteristik pekerjaan itu dapat
mempengaruhi rasa ketidakamanan dalam bekerja pada karyawan. Rasa
ketidakamanan dalam bekerja biasanya rentan terjadi pada karyawan yang masa depan pekerjaannya tidak pasti, yang bisa dialami oleh: Karyawan tetap yang terancam kehilangan pekerjaan, Freelancer (pekerja jasa yang tidak terikat pada suatu organisasi) dan karyawan kontrak, karyawan baru yang berada dalam masa percobaan, karyawan dari secondary labour market, seperti kelompok suku bangsa minoritas, pekerja yang cacat, pekerja musiman dan karyawan yang berasal dari agen penyedia karyawan kontrak.
Faktor ketiga adalah kondisi lingkungan. Lingkungan merupakan sumber
ancaman yang berada di luar individu. Ancaman yang berasal dari lingkungan ini meliputi merger, akuisisi, pengurangan jumlah karyawan, reorganisasi dan
penggunaan teknologi baru (Ashford, et al, 1989).
Faktor keempat, ketidak jelasan peran yang berkaitan dengan seberapa
banyak informasi yang dimiliki oleh tenaga kerja mengenai tuntutan pekerjaan
dan prosedur kerja. Karyawan yang tidak mengetahui dengan jelas apa yang
menjadi tanggung jawabnya, prosedur kerja dan kurang adanya umpan balik
menyebabkan karyawan tidak dapat melaksanakan tugasnya. Pada akhirnya
karyawan tidak mampu memenuhi kontrak psikologisnya sebagai karyawan dan dapat memperbesar rasa ketidakamanan dalam bekerja dalam dirinya (Ashford, et al, 1989).
Faktor kelima adalah karakteristik personal karyawan (internal-external
locus of control, pesimis-optimis). Karyawan dengan locus of control internal
mempunyai persepsi bahwa lingkungan cenderung dapat dikontrol sehingga
mampu melakukan perubahan sesuai dengan keinginannya mengatasi kondisi
dari rasa ketidakamanan dalam bekerja. Sebaliknya, karyawan dengan locus of
control eksternal berhubungan dengan sikap pasif dan keadaan
ketidakberdayaan individu dalam menghadapi lingkungan (Rotter, 1992)
mengganggap lingkungan memberikan peran yang lebih besar terhadap nasibnya
dibandingkan dengan kemampuannya sendiri.
Faktor yang keenam adalah nilai pekerjaan. Nilai dari suatu pekerjaan
tentunya dimaknai secara berbeda oleh setiap orang. Sebagian orang
beranggapan bahwa pekerjaan merupakan faktor utama dalam memenuhi
kebutuhan ekonomi dan kebutuhan sosial (Sverke & Hellgren, 2002), namun di
sisi lain pekerjaan tidak hanya dianggap sebagai sumber pendapatan, tetapi juga
memungkinkan individu untuk melakukan hubungan sosial, mempengaruhi
struktur waktu dan berkontribusi dalam perkembangan pribadi individu tersebut.
Oleh karena itu ancaman kehilangan pekerjaan dapat menimbulkan rasa
ketidakamanan dalam bekerja dalam diri karyawan.

Aspek-aspek Rasa ketidakamanan dalam bekerja (Job Insecurity) (skripsi dan tesis)

Greenhalgh dan Rosenblatt (1984) mengemukakan bahwa ketidakamanan
dalam bekerja memiliki konstruk yang bersifat multidimensional dan terdiri dari lima komponen, yaitu:
a) Persepsi terhadap pentingnya faktor pekerjaan. Apabila seorang karyawan
mempersepsikan adanya ancaman terhadap faktor pekerjaan yang
dimilikinya, maka pada diri karyawan tersebut muncul ketidakamanan dalam
bekerja. Seorang karyawan yang bekerja dengan perasaan ketidakamanan
secara terus menerus akan berdampak pada kinerjanya.
b) Kemungkinan perubahan faktor pekerjaan. Apabila perusahaan melakukan
restrukturisasi, kemungkinan besar terjadi perubahan secara menyeluruh
pada faktor pekerjaan. Hal ini akan menimbulkan ketidakpastian dan
kebimbangan pada karyawan dalam menjalankan pekerjaannya.
Ketidakpastian dan kebimbangan yang dialami oleh karyawan akan
mempengaruhi munculnya rasa ketidakamanan dalam bekerja.
c) Pentingnya kejadian negatif dalam pekerjaan. Pekerjaan merupakan hal
penting yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan baik secara psikologis
maupun secara fisiologis. Seorang karyawan yang mengalami kejadian
negatif seperti diberhentikan untuk sementara waktu atau dipecat oleh
perusahaan, maka akan mengurangi kesejahteraan karyawan baik secara
psikologis maupun fisiologis yang disebabkan karena rasa khawatir dan rasa
ketidakamanannya dalam bekerja.
d) Kemungkinan terjadinya kejadian negatif. Seorang karyawan yang
merasakan dan mempersepsikan kemungkinan adanya kejadian negatif
seperti timbulnya konflik dengan karyawan lain, diberhentikan untuk
sementara waktu dapat menyebabkan timbulnya rasa ketidakamanan dalam
bekerja.
e) Perasaan tidak berdaya karena kehilangan kontrol terhadap pekerjaan.
Seorang karyawan yang merasa dirinya tidak berdaya untuk melakukan
kontrol terhadap pekerjaan yang dimilikinya, maka akan memicu timbul rasa
ketidakamanan dalam bekerja.

Teori Rasa ketidakamanan dalam bekerja (Job Insecurity) (skripsi dan tesis)

Ashford, et al, (1989) mencoba mencari bukti empiris tentang aspek rasa
ketidakamanan dalam bekerja dalam lingkungan kerja organisasi. Aspek ini
dianggap penting karena memiliki konsekuensi-konsekuensi terhadap organisasi.
Ashford, et al, (1989) mereaktualisasikan rasa ketidakamanan dalam bekerja dari
sudut pengukuran dengan mengimplementasikan pengukuran yang bersifat
multidimensional seperti yang dikembangkan oleh Greenhalgh dan Rosenblatt
(1984). Pengukuran secara multidimensional adalah mengukur konstruk rasa
ketidakamanan dalam bekerja yang terdiri atas lima komponen, yaitu (1)
persepsi terhadap pentingnya faktor pekerjaan, (2) kemungkinan perubahan
pada faktor pekerjaan, (3) pentingnya kejadian negatif dalam pekerjaan, (4)
kemungkinan terjadinya kejadian negatif (5) perasaan tidak berdaya karena
kehilangan kontrol terhadap pekerjaan.
Greenhalgh dan Rosenblatt (1984) serta Ashford, et al (1989)
mengungkapkan rasa ketidakamanan dalam bekerja sebagai ketidakberdayaan
untuk mempertahankan kesinambungan yang diinginkan dalam kondisi kerja
yang terancam. Rasa ketidakamanan dalam bekerja dapat menimbulkan rasa
takut, kehilangan kemampuan dan kecemasan. Pada akhirnya jika dibiarkan
berlangsung lama maka karyawan dapat menjadi stres, akibatnya adanya rasa
tidak aman dan pasti dalam pekerjaan. Rasa ketidakamanan dalam bekerja
terdiri dari lima dimensi yaitu tingkat kepentingan aspek kerja, kemungkinan
hilangnya aspek kerja, tingkat kepentingan peristiwa yang mempengaruhi
keseluruhan pekerjaan, kemungkinan terjadinya peristiwa negatif dan tingkat
ketidakberdayaan dalam menghadapi ancaman.
Ashford, et al, (1989) mengatakan bahwa rasa ketidakamanan dalam
bekerja memberikan pengaruh terhadap kepuasan kerja. Karyawan yang merasa
dirinya tidak aman (insecure) tentang kelangsungan pekerjaannya, cenderung
merasa tidak puas dibandingkan mereka yang merasakan kepastian masa depan
pekerjaan mereka.
Rosenblatt dan Ruvio (1996) melakukan penelitian dengan mengkaji
pengaruh rasa ketidakamanan dalam bekerja terhadap sikap dalam bekerja
(work attitude) melalui pendekatan regresional. Penelitian ini menemukan bahwa
rasa ketidakamanan dalam bekerja mempunyai dampak yang merugikan
terhadap komitmen organisasi dukungan pada organisasi dan keinginan
berpindah. Keadaan karyawan yang merasa terancam akan mengakibatkan
komitmennya serta dukungan terhadap organisasi akan menurun. Kondisi inilah
yang akan menjadi potensi untuk mempengaruhi niat karyawan untuk pindah
kerja.
Hasil riset Barling dan Kelloway (Greenglass, et al, 2002) menyatakan bahwa
rasa ketidakamanan dalam bekerja berhubungan dengan turnover intentions,
selain itu juga mengindikasikan bahwa rasa ketidakamanan dalam bekerja
mengakibatkan psychological well-being berkurang.
Hasil penelitian mengenai Job insecurity and Work Intensification yang
dilakukan oleh Universitas Cambrige dan ESRC Centre for Bussiness Research
yang dilakukan terhadap 340 karyawan menunjukkan hubungan yang negatif
antara rasa ketidakamanan dalam bekerja dan tingkat motivasi (Burchell,1999).
Individu dengan rasa ketidakamanan dalam bekerja tinggi memiliki motivasi yang
lebih rendah dibandingkan individu yang rasa ketidakamanan dalam bekerjanya
rendah.

Pengertian Rasa ketidakamanan dalam bekerja (Job Insecurity) (skripsi dan tesis)

Banyak pengertian yang diberikan oleh para ahli mengenai rasa
ketidakamanan dalam bekerja. Namun perlu diketahui bahwa job loss dan job
insecurity adalah dua hal yang berbeda. Job loss adalah suatu peristiwa dimana seseorang kehilangan pekerjaan sedangkan pada job insecurity, individu belum mengalami kehilangan pekerjaan, melainkan masih berada pada situasi yang dapat menyebabkan munculnya perasaan tidak aman akan kelanjutan pekerjaannya saat ini (Sverke & Hellgren, 2002).
Greenhalg dan Rossenblatt (1984) mendefinisikan rasa ketidakamanan
dalam bekerja sebagai ketidakberdayaan untuk mempertahankan kelanjutan
pekerjaan karena ancaman situasi dari suatu pekerjaan. Adanya berbagai
perubahan yang terjadi dalam organisasi memungkinkan karyawan merasa
terancam, gelisah dan tidak aman disebabkan karena potensi perubahan tersebut mempengaruhi kondisi kerja dan kelanjutan hubungan serta balas jasa yang diterimanya dari organisasi.
Smithson dan Lewis (2000) mendefinisikan rasa ketidakamanan dalam
bekerja sebagai kondisi psikologis seorang karyawan yang menunjukkan rasa
bingung atau merasa tidak aman dikarenakan kondisi lingkungan kerja yang
berubah-ubah (perceived impermanence). Kondisi ini muncul karena banyaknya jenis pekerjaan yang sifatnya sesaat atau pekerjaan kontrak. Makin banyaknya jenis pekerjaan dengan durasi waktu yang sifatnya sementara atau tidak permanen maka menyebabkan semakin banyaknya peluang karyawan yang akan mengalami perasaan ketidakamanan dalam bekerja.
Sverke dan Hellgren (2002) mengartikan rasa ketidakamanan dalam bekerja
sebagai pandangan subjektif seseorang mengenai situasi atau peristiwa di
tempatnya bekerja. Green (2003) menyatakan rasa ketidakamanan dalam
bekerja sebagai kegelisahan pekerjaan, yaitu sebagai suatu keadaan dari
pekerjaan yang terus menerus dan tidak menyenangkan. Karyawan yang
mengalami rasa ketidakamanan dalam bekerja dapat mengganggu semangat
kerja sehingga efektifitas dan efisiensi dalam pelaksanaan tugas tidak dapat
diharapkan dan akan mengakibatkan turunnya produktivitas kerja.
Berdasarkan beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli maka
dapat disimpulkan bahwa rasa ketidakamanan dalam bekerja adalah pandangan individu terhadap situasi yang ada dalam organisasi tempatnya bekerja yang menimbulkan ketidakamanan akan kelanjutan pekerjaannya dan menyebabkan individu merasa tidak berdaya.

Tahap-Tahap Konseling Kelompok (skripsi dan tesis)

Winkel dan Hastuti (2007:607-613) mengatakan konseling kelompok terdiri dari beberapa tahap, yaitu: (a) pembukaan, (b) penjelasan masalah, (c) penggalian latar belakang masalah (d) penyelesaian masalah (e) penutup.

Tahapan-tahapan yang telah disebutkan dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pada tahap ini diletakkan dasar bagi pengembangan hubungan antarpribadi (working relationship) yang baik, yang memungkinkan pembicaraan terbuka dan terarah pada penyelesaian masalah.
  2. Penjelasan masalah. Masing-masing konseli mengutarakan masalah yang dihadapi berkaitan dengan materi diskusi, sambil memngungkapkan pikiran dan perasaannya secara bebas. Selama seseorang konseli mengungkapkan apa yang dipandangnya perlu dikemukakan, konseli lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan berusaha ikut menghayati ungkapan pikiran dan persaan temannya. Mereka dapat menanggapi ungkapan teman dengan memberikan komentar singkat, yang menunjukkan ungkapan itu telah ditangkap dengan tepat
  3. Penggalian latar belakang masalah. Pada tahap ini konselor membawa kelompok masuk ke fase analisis kasus, dengan tujuan supaya para konseli lebih memahami latar belakang masalahnya sendiri-sendiri dan masalah teman, serta sekaligus mulai sedikit mengerti tentang asal-usul permasalahan yang dibahas bersama.
  4. Penyelesaian masalah. Berdasarkan apa yang telah digali dalam fase analisis kasus, konselor dan para konseli membahas bagaimana persoalan dapat diatasi. Kelompok konseli selama fase ini harus ikit berpikir, memandang, dan mempertimbangkan.
  5. Bilamana kelompok sudah siap untuk melaksanakan apa yang telah diputuskan bersama, proses konseling dapat diakhiri dan kelompok dibubarkan pada pertemuan terakhir. Bilamana proses konseling belum selesai, pertemuan yang sedang berlangsung ditutup untuk dilanjtkan pada lain hari. Dalam fase ini konselor harus membantu kelompok merefleksi atas manfaat yang diperoleh dari pengalaman dalam kelompok ini. Untuk itu konselor meringkas jalannya proses konseling, mempersilahkan masing-masing konseli mengungkapkan pengalamannya dan menyatakan hal-hal apa yang terasa belum tuntas untuk kemudian diperdalam sendiri (evaluasi terhadap kelompok dan diri sendiri). Kemudian, konselor menegaskan kembali apa yang telah disepakati bersama dan mengusulkan beberapa cara menilai kemajuan pada diri sendiri.

Unsur-Unsur Layanan Konseling Kelompok (skripsi dan tesis)

Prayitno (1995:60) mengatakan sebagai kegiatan kelompok, konseling kelompok secara penuh mengandung empat unsur, yaitu (a) tujuan kelompok, (b) anggota kelompok, (c) pemimpin kelompok, (d) aturan kelompok.

Berdasarkan unsur-unsur layanan konseling kelompok yang telah disebutkan, maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Tujuan kelompok, yaitu tujuan bersama yang ingin dicapai oleh kedua kelompok ialah pengembangan pribadi semua peserta dan peralihan-peralihan lainnya melalui perubahan dan pendalaman masalah pribadi peserta
  2. Anggota kelompok, yaitu seluruh peserta kelompok masing-masing melibatkan diri dalam kegiatan itu
  3. Pemimpin kelompok, ialah orang yang bertanggung jawab atas berlangsungnya kegiatan masing-masing kelompok itu
  4. Aturan kelompok, ialah berbagai ketentuan yang hendaknya dijalankan dan dipatuhi oleh semua anggota kelompok dan pemimpin kelompok

Berdasarkan unsur-unsur dalam layanan konseling kelompok yang telah disebutkan, peneliti mengacu pada semua unsur tersebut serta memperhatikan kegiatan di dalam konseling kelompok guna meningkatkan kedisiplinan siswa terhadap tata tertib sekolah, karena di dalam kelompok tersebut terdapat proses keterbukaan untuk memberikan masukan satu sama lain guna menanggulangi masalah yang sedang mereka alami.

Pengertian Konseling Kelompok (skripsi dan tesis)

Gazda (dalam Nursalim dan Hariastuti, 2007) menyebutkan bahwa konseling kelompok diartikan sebagai suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada kesadaran berpikir dan tingkah laku, serta melibatkan fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan, serta berorientasi pada kenyataan-kenyataan, membersihkan jiwa, saling percaya dan mempercayai pemeliharaan, pengertian, penerimaan dan bantuan. Fungsi-fungsi dari terapi itu diciptakan dan dipelihara dalam wadah kelompok kecil melalui sumbangan (saling berbagi) dari tiap anggota kelompok dan konselor. Tujuan konseling kelompok dalam seting sekolah adalah untuk membantu individu dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan dalam tujuh bidang yaitu: psikososial, vokasional, kognitif, fisik, seksual, moral dan afektif. (Nursalim dan Hariastuti, 2007)

Menurut Damayanti (2012:21) layanan konseling kelompok, yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melaui dinamika kelompok, masalah yang dibahas itu adalah masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok. Lain halnya dengan yang dikatakan oleh Shertzer dan Stones, yaitu dalam konseling kelompok seorang konselor terlibat dalam suatu hubungan dengan sejumlah konseli dalam waktu yang sama. Konseling kelompok merupakan jenis aktivitas kelompok, berciri proses antarpribadi yang dinamis, berfokus pada kesadaran pikiran dan tingkah laku yang melibatkan fungsi-fungsi terapi dalam menyediakan bantuan konseling secara serentak pada empat sampai dua belas orang konseli normal mengelola masalah-masalah penyesuaian dan keprihatinan perkembangan, pemecahan bersama berbagai bidang masalah sosiopsikologis individu dalam kelompok.

Berdasarkan penjelasan yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan, yaitu konseling kelompok dapat dimaknai sebagai suatu upaya pembimbing atau konselor membantu memecahkan masalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota kelompok melalui kegiatan kelompok agar tercapai perkembangan yang optimal. Dengan kata lain, konseling kelompok juga bisa dimaknai sebagai suatu upaya pemberian bantuan kepada individu (siswa) yang mengalami masalah-masalah pribadi melaui kegiatan kelompok agar tercapai perkembangan yang optimal.

Cara-Cara Menanamkan Disiplin (skripsi dan tesis)

Berbagai cara dilakukan orang tua, guru, dan orang yang berkuasa untuk menerapkan disiplin pada anak. Menurut Harlock ( 2000 : 93 ), cara-cara menanamkan disiplin pada anak ada tiga yaitu :

  1. Cara mendisiplin otoriter

Disiplin otoriter dapat berkisar antara pengendalian perilaku anak yang wajar hingga yang kaku yang tidak memberi kebebasan bertindak, kecuali yang sesuai denagn standar yang ditentukan. Disiplin otoriter selalu berarti mengendalikan melalui kekuatan eksternal dalam bentuk hukuman, terutamma hukuman badan. Orang tua yang menamkan disiplin otoriter tidak mendorong anak untuk dengan mandiri mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan tindakan mereka. Mereka hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, dan tidak menjelaskan mengapa hal itu haru dilakukan. Jadi anak – anak kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana mengendalikan perilaku mereka sendiri.

  1. Cara mendisiplin permisif

Disiplin permisif artinya sedikit disiplin atau tidak disiplin. Biasanya disiplin perm isif tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara sosial dan tidak menggunakan hukuman. Beberapa orang tua dan guru, yang menganggap kebebasan ( permissiveness ) sama denagn ( assezfaire ), membiarkan anak-anak meraba-raba dalam situasi yang terlalu sulit untguk ditanggulangi oleh mereka sendiri tanpa bimbingan atau pengendalian.

  1. Cara mendisiplin demokratis

Metode disiplin demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti megapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin daripada aspek hukumannya. Disiplin demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan , dengan penekanan yang lebih besar pada penghargaan. Hukuman tidak perlu keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan. Hukuman hanya digunakan bila terdapat buktu bahwa anak-anak secara sadar menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak sesuai dengan standar yang diharapkan, orang tua yang demokratis akan menghargainya dengan pujian.

 

Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Hurlock (2008: 85) “menyatakan bahwa bila kedisiplinan diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan kelompok sosial mereka, ia harus meliputi empat faktor prnting yaitu peraturan, hukuman, penghargaan dan konsistensi.”       Berikut ini dijelaskan masing-masing faktor penting dalam kediplinan.

  1. Peraturan

Peraturan  adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola tersebut mungkin ditetapkan orang tua, guru atau teman bermain. Tujuannya ialah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam kondisi tertentu. Dalam peraturan sekolah misalnya, peraturan ini mengatakan pada anak apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan sewaktu berada di dalam kelas, koridor sekolah. Sebaliknya mereka tidak mengatakan apa yang tidak boleh di lakukan dirumah, lingkungan sekitar rumah atau kelompok bermain yang tidak diawasi guru.

Peraturan mempunyai fungsi yang sangat penting  dalam membantu anak menjadi makhluk bermoral. Pertama, peraturan mempunyai nilai pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan anak perilaku yang disetujui anggota kelompok ersebut. Misalnya, anak belajar dari peraturan tentang memberi dan mendapat bantuan dalam tugas sekolahnya, bahwa  mneyerahkan tugas yang dibuatnya sendiri merupakan satu-satunya metode yang dapat diterima di sekolah untuk menilai prestasi siswa. Kedua, peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Bila merupakan peraturan keluarga bahwa tidak seorang anak pun boleh mengambil mainan atau milik saudaranya tanpa pengetahuan dan izin si pemilik, anaka segra belajar bahwa hal ini dianggap perilaku yang tidak diterima karena mereka dimarahi atau dihukum bila melakukan tindakan terlarang ini.

Agar peraturan dapat memenuhi kedua fungsi diatas, peraturan itu harus dimengerti, diingat dan diterima oleh si anak. Bila peraturan diberikan dalam kata-kata yang tidak dimengerti atau hanya sebagian dimengerti, peraturan itu tidak berharga sebagai pedoman perilaku yang tidak dinginkan.

  1. Hukuman

Pokok disiplin kedua ialah hukuman. Hukuman berasal dari kata kerja latin, punir yang berarti menjatuhkan hukuman pada seorang karena kesalahan, perlawanan atau pelanggran sebagai ganjaran atau pembalasan. Walaupun tidak dikatkan secara jelas, tersirat didalamnya bahwa kesalahan , perlawanan atau pelanggaran ini disengaja, dalam arti bahwa orang itu mengetahui bahwa perbuatan itu salah tetapi tetap melakukannya.

Menurut Hurlock ( 2008 : 87 )” fungsi hukuman mempunayai tiga peranan penting dalam penerapan kedisiplian pada anak yaitu menghalangi, mendidik dan memeberi motivasi “. Fungsi pertama ialah menghalangi. Hukuman menghalangi pengulangan tindkan yang tidak diinginkan oleh mayarakat, bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan dihukum, mereka biasanya urung melakukan tindakan tersebut karena tringat akan hukuman yang dirasakan di waktu lampau akibat tindakan tersebut.

Fungsi kedua dari hukuman ialah mendidik. Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan trtentu benar dan yang lain salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindkan yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakan yang diperbolahkan.Fungsi ketiga, ialah memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat. Pengetahuan akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut. Bila anak mampu mempertimbanglan tindakan alternatif dan akibat masing-masing alternative, mereka harus belajar memutuskan sendiri apakah suatu tindakan yang salah cukup menarik untuk dilakukan.

 

 

 

  1. Penghargaan

Pokok ketiga dari disiplin adalah penggunaan penghargaan. Penghargaan tidak perlu berbentuk materi, tetapi dapat berupa kata-kata pujian, senyuman atau teoukan di punggung. Penghargaan mempunyai tiga peranan yang penting dalam mengajarkan anak berperilaku sesuai dengan cara yang direstui masyarakat  pertama, penghargaan mempunyai nilai mendidik. Bila suatu tindakan disetujui, anak merasa bahwa hal itu baik. Sebagaimana hukuman mengisyarakatkan pada anak bahwa perilaku mereka itu buruk, demikian juga penghargaan mengisyarakan pada mereka bahwa perilaku itu baik.

Kedua, penghargaan berfunsi sebagai motivasi untuk mengulangi perilaku yang disetujui secara sosial. Karena anak bereaksi dengan positif terhadap persetujuan yang dinyatakan dengan penghargaaan, dimasa mendatang mereka berusaha untuk berperilaku dengan cara yang akan lebih banyak memberinya penghargaan. Ketiga, penghargaan berfungsi untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial, dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulang perilaku ini. Bila anak harus belajar berperilaku dengan cara yang disetujui secara sosial, ia harus bahwa berbuat demikian cukup menguntungkan baginya. Karenanya penghargaan harus digunakan untuk membentuk asoiasi yang menyenangkan dengan perilaku yang diinginkan.

  1. Konsistensi

Pokok keempat disiplin adalah konsistensi. Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Konsistensi memungkinkan orang menghadapi kebutuhan perkembangan yang berubah sambil pada waktu yang bersamaan, cukup mempertahankan ragaman sehingga anak-anak tidak akan kebingungan mengenai apa yang diharapkan dari mereka.

Konsistensi dalam disiplin mempunyai tiga peran yang penting. Pertama, konsistensi memiliki nilai mendidik yang besar. Bila peraturannya konsisten, ia memacu proses belajar. Ini disebabkan  karena nilai pendorongnya. Kedua, konsistensi memiliki nilai motivasi yang kuat. Anak yang menyadari bahwa penghargaan selalu mengikuti perilaku yang disetujui dan hukuman selalu mengikuti perilaku yang dilarang, ia akan mempunyai keinginan yang jauh lebih besar untuk menghindari tindakan yang dilarang, ia akan mempunyai keinginan yang jauh lebih besar untuk menghindari tindakan yang dilarang dan melakukan  tindakan yang disetujui dripada anak yang merasa ragu mengeanai bagaiman reaksi terhadap tindakan tertentu. Ketiga, konsistensi mempertinggi penghargaan terhadap peraturan dan orang yang berkuasa.

Kedisiplinan diterapkan sebagai usaha untuk membimbing, melatih, mendidik, mengarahkan dan mempengaruhi kepribadian seseorang, sehingga ia dapat mencapai apa yang menjadi dan tujuan, terutama tujuan belajar. Usaha-usaha tersebut dapat tercapai apabiala guru dan orang tua mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kediplinan belajar siswa.

Tulus (2004 : 48 )“menyatakan bahwa ada empat hal yang mempengaruhi kedisiplinan belajar siswa yaitu : kesadaran diri, kepatuhan dan ketatan tetaatan terhadap peraturan, alat pendidikan, dan hukuman”. Keempat faktor ini merupakan faktor dominant yang mempengaruhi kediplinan belajar siswa.  Alasannya sebagai berikut :

  1. Kesadaran diri sebagai pemahaman diri bahwa diplin dianggap penting bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Selain itu, kesadaran diri menjadi motif sangat kuat terwujudnya disiplin. Kedisiplinan belajar dapat terwujud jika masing-masing individu memiliki kesadaran pada diri.
  2. Kepatuhan dan ketaatan sebagai langkah penerapan dan praktik atas peraturan – peraturan yang mengatur perilaku individunya. Kepatuhan dan ketaatan merupakan faktor penting untuk terwujudnya kedisiplinan belajar.
  3. Alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina dan membentuk perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan . yang termasuk dalam alat pendidikan salah satunya adalah kondisi likngkungan belajar disekolah, seperti kondisi guru, gedung sekolah, teman-teman sekolah, tenaga administrative, media belajar, dan sebagainya.
  4. Hukuman sebagai upaya menyadarkan , mengoreksi dan meluruskan yang salah sehingga orang kembali kepada perilaku yang sesuai dengan harapan. Penerapan hukuman pada individu yang melanggar aturan harus bersifat mendidik, yaitu hukuman yang dapat menyadarkan individu untuk berperilaku tidak menyimpang dari aturan yang berlaku.

Sedangkan menurut Hamalik ( 2008: 105)  “ faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan belajar adalah faktor internal yang terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis ; dan faktor eksternal yang meliputi faktor kemanusiaan dan faktor kebendaan” Berdasarkan pendapat hamalik, peneliti menguraikan faktor – faktor yag mempengaruhi kedisiplinan belajar sebagai berikut :

  1. Faktor internal

Faktor internal yaitu faktor yang ada dalam diri si pelajar itu sendiri, yang pada dasarnya individu tersebut terdiri dari jasmani atau fisiologis dan rohani atau psikologis yang keduanya saling mempengaruhi dan tidak dipisahkan. Untuk lebih jelasnya dapat diterangkan sebagai berikut :

  1. Faktor fisiologis yang bersumber pada jasmani.

Faktor jasmani mempunyai hubungan yang erat dengan kedisiplinan belajar siswa. Keadaan jasmani yang kurang sehat akan mengganggu kegiatan belajar yang akhirnya akan mengganggu pelaksanaan kedisiplinan belajar siswa. Untuk menghindari hal tersebut, jika jasmani sakit maka harus segera pergi ke dokter.

  1. b) Faktor fisiologis yang bersumber pada rohani, meliputi : kecerdasan, daya ingat tinggi, kebutuhan yang terpuaskan, konsentrasi dan perhatian.
  • Faktor eksternal.

Faktor eksternal adalah faktor yang berada di luar si pelajar atau siswa, yang berupa kemanusiaan dan kebendaan. Fakto eksternal meliputi :

  1. Faktor kemanusiaan

Faktor kemanusiaan merupakan suatu kancah dimana terjadi hubungan antara orang yang satu dengan yang lain, meliputi cara guru mengajar efektif, sikap guru yang mendidik dan adil sehingga menarik minat belajar.

  1. Faktor kebendaan , yaitu : tempat belajar yang telalu dekat dengan kebisingan, alat-alat belajar dan bahan pelajaran yang memadai.

Berdasarkan teori diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kedisiplinan belajar terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor fisiologis yang bersumber pada jasmani, yang dapat dikatakan melatarbelakangi aktifitas belajar, keadaan jasmani yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadan jasmani yang kurang segar; keadaan jasmani yang lelah lain pengaruhnya dengan keadaan jasmani yang tidak lelah. Dan faktor psikologis yang berfaktor pada rohani dimana kecerdasan, daya ingat tinggi, kebutuhan yang terpuasakan dan konsentrasi atau perhatian harus ada pada diri individu dan yang akan memunculkan minat serta disiplin belajar yang tinggi Sehingga dapat mencapai prestasi belajar yang baik pula, sedangkan faktor eksternal meliputi : faktor kemanusiaan dan kebendaan dimana faktor-faktor tersebut biasanya mengganggu konsentrasi, sehingga perhatian tidak dapat ditnjukkan padahal yang dipelajari atau aktifitas  belajar itu semata-mata.

Aspek dalam kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Seseorang dapat mewujudkan kedisiplinan dalam dirinya, pada umumnya ada unsur-unsur yang mendasarinya. Menurut Sutrisno (1984 :34), unsur-unsur yang terdapat dalam kedisiplinan pada individu dalam kaitannya melakukan aktivitas adalah sebagai berikut :

  1. Pengetahuan tentang pekerjaan yang harus dilaksanakan
  2. Kesadaran bahwa individu adalah sebagai orang yang dipercaya untuk melaksanakan tugas dan kewajiaban sehingga mempunyai rasa tanggung jawab.
  3. Ketaatan atau kepatuhan terhadap segala peraturan atau ketentuan yang berlaku
  4. Ketertiban didalam melaksanakan segala apa yang dikerjakan sehingga dapat dihindari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi
  5. Inisiatif yang menunjang apa yang harus dilakukan sehingga dapat dihindari penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi
  6. Inisiatif yang menunjang kelancaran pelaksananaan tugas sehingga tidak melakukan seperti halnya melakukan dengan pola-pola yang itu-itu saja
  7. Rasa senang hati, tidak dipaksa auatu terpaksa
  8. Dilakukan sanksi dengan sungguh-sungguh

Menurut  Sukardi (2005 : 10) aspek penting yang berkaitan dengan disiplin siswa yaitu : tempat, waktu dan aturan – aturan. Seorang siswa dapat dikatakan disiplin apabila :

  1. Segala perilakunya disesuaikan dengan tempatnya
  2. Segala pekerjaannya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, dan segala perbuatannya disesuiakan dengan aturan yang berlaku.

Selanjutnya, Gunarsa ( 1992 : 143) mengemukakan aspek-aspek kedisiplinan sebagai berikut : a) pembagian waktu, b) menepati janji, c) pemanfaatan waktu, d) mematuhi peraturan yang berlaku.

  1. Pembagian waktu

Pembagian waktu merupakan suatu cara bagaimana siswa membuat rencana jadwal belajar. Untuk membagian waktu ini harus dipertimbangkan dengan baik, karena ini akan berpengaruh dalam kegiatan siswa. Ketrampilan siswa dalam membagi waktu merupakan suatu hal yang sangat penting dalam masa studi maupun masa seluruh kegiatan siswa. Bagi setiap siswa ketrampilan mengelola waktu harus dikembangkan, dimahirkan, dan diterapkan.

  1. Menepati jadwal

Menepati jawdwal merupakan pelaksanaan dari jadwal kegiatan yang harus di usahakan dan dipatuhi karena akan berhubungan dengan hasil yang akan didapat. Utuk mendapatkan hasil yang lebih baik maka perlu dipatuhi, namun bila jadwal itu telah dibuat tetapi tidak dipenuhi maka efisiensi hasil tidak akn terwujud.

  1. Pemanfaatan waktu

Pemanfaatan waktu merupakan cara bagaimana seorang siswa menggunakan waktunya dengan baik.

  1. Mematuhi aturan yang berlaku

Mematuhi aturan-aturan yang berlaku merupakan wujudkedisiplinan di sekolah, seperti kedisiplinan dalam ujian, dan kedisiplinan tata tertib kelas dan sekolah.

Bertitik tolak dari delapan unsur pokok disiplin tersebut, dapat ditentukan unsur-unsur disiplin dalam malaksanakan tata tertib disekolah meliputi :

  1. Pengetahuan
  2. Kepatuhan
  3. Keterlibatan dalam melaksanakan tugas
  4. Inisiatif dalam mengerjakan tugas

Fungsi dan Tujuan Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Kedisiplinan berperan sangat penting untuk mencapai tujuan hidup individu terutama tujuan belajar. Disiplin akan menciptakan kemauan belajar secara teratur dengan dukungan dari sekolah, orang tua dan siswa itu sendiri. Siswa yang telah membiasakan diri untuk belajar dan bekerja dengan recana yang telah disusun akan mematuhi rencana tersebut dan tidak mencari alasan untuk mematuhinya. Jadi, siswa yang memiliki kedisiplinan yang tinggi serta keteraturan dalam belajar akan memperoleh prestasi belajar yang baik sesuai yang diinginkan.

Menurut Hurlock (2000 : 83) ada beberapa fungsi dan tujuan penerapan kedisiplinan pada anak yaitu :

  1. Kedisiplinan memberi rasa aman dengan memberitahukan apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jadi penerapan kedisiplinan pada anak akan mebentuk pribadi yang bertanggung jawab terhadap segala peraturan yang telah diterapkan.
  2. Kedisiplinan memunkinkan anak hidup menurut standar yang disetujui kelompok sosial dan dengan demikian memperoleh persetujuan sosial. Dengan demikian, perilaku anak dapat diterima oleh masyarakat.
  3. Kedisiplinan yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yan diharapkan darinya.
  4. Kedisiplinan membantu anak mengembangkan hati nurani dalam mengambil keputusan dan pengendalian perilaku.

Menurut Rahman ( Tu’u, 2004 : 35-36) tujuan disiplin pada siswa adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan dukungan bagi terciptanya perilaku yang tidak menyimpang.
  2. Membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan yang lingkungan
  3. Cara menyelesaikan tuntutan yang ingin ditunjukkan peserta didik terhadap lingkungannya
  4. Untuk mengatur keseimbangan keinginan individu satu dengan individu lainnya.
  5. Menjauhkan siswa melakukan hal-hal yang baik dan benar.
  6. Peserta didik belajar hidup dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik, positif dan bermanfaat baginya dan lingkungannya.

Kebiasaan baik menyebabkan ketenangan jiwanya dan lingkungannya

Pengertian Kedisiplinan (skripsi dan tesis)

Pada umumnya penerapan disiplin menganut standar yang diterapkan masyarakat dan yang harus dipatuhi anak agar perilaku anak dapat diterima masyarakat. Melalui disiplinlah mereka dapat belajar berperilaku dengan cara yang diterima masyarakat, dan sebagai hasilnya mereka memiliki rasa tanggung jawab terhadap segala sesuatu yang telah mereka kerjakan. Menurut Arikunto, ( 1993 : 114 ) “ disiplin menunjuk pada kepatuhan siswa untuk mengikuti peraturan atau tata tertib di dorong oleh kesadaran yang ada pada hatinya bukan karena paksaan”. Disiplin merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang terhadap bentuk-bentuk aturan. Peraturan dimaksut dapat ditetapkanoleh orang yang bersangkutan maupun yang berasal dari luar.

Selanjutnya, menurut Tulus ( 2004 : 3 ) disiplin kerap kali terkait dan menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban. Istilah ketertiban mempunyai arti kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorang  atau disebabkan oleh sesuatu yang datang dari  luar dirinys. Sebaliknya istilah  disiplin sebagai kepatuhan dan ketaatan yang muncul karena adanya kesadaran dan dorongan dari dalam diri siswa. Sedangkan menurut Gunarsa ( 1992: 143 ) “disiplin merupakan bimbingan untuk pembentukan kepribadian tertentu, antara lain kejujuran, ketetapan waktu, menjalankan kewajiban secara langsung, mengerti larangan – larangan , serta tingkah laku yang baik dan buruk”.

.

Komponen Dalam Motivasi Berprestasi (skripsi dan tesis)

Heckhausen (dalam Djaali, 2008) mendefinisikan motivasi berprestasi sebagai suatu usaha untuk meningkatkan atau menjaga setinggi mungkin kemampuan seseorang pada semua kegiatan yang berdasarkan standar keunggulan. Standar keunggulan di sini dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Taskrelated standard of excellence, yaitu keunggulan dalam pencapaian atau penyelesaian tugas. Suatu ukuran keberhasilan yang dilihat dari kemampuan individu dalam menyelesaikan tugas dengan hasil yang memuaskan dan sempurna.
  2. Self-related excellence, yaitu suatu perbandingan dengan prestasi yang pernah tercapai pada masa lalu oleh individu. Individu membuat standar prestasi yang akan dicapai berdasarkan perbandingannya dengan prestasi yang pernah dicapainya pada masa lalu.
  3. Other-related of excellence, yaitu perbandingan dengan prestasi orang lain. Individu menjadikan prestasi yang dicapai oleh orang lain sebagai patokan atau ukuran keberhasilan diri sendiri.

Tiga standar keunggulan tersebut merupakan prinsip dasar untuk memeriksa adanya motivasi berprestasi.

McClelland (1987) mengemukakan beberapa ciri yang membedakan individu dengan motivasi berprestasi yang tinggi, yaitu :

  1. Resiko pemilihan tugas

Cenderung memilih tugas dengan derajat kesulitan yang sedang, yang memungkinkan berhasil. Mereka menghindari tugas yang terlalu mudah karena sedikitnya tantangan atau kepuasan yang didapat. Mereka yang menghindari tugas yang terlalu sulit kemungkinan untuk berhasil sangat kecil.

  1. Membutuhkan umpan balik

Lebih menyukai bekerja dalam situasi dimana mereka dapat memperoleh umpan balik yang konkret tentang apa yang mereka lakukan karena jika tidak, mereka tidak dapat mengetahui apakah mereka sudah melakukan sesuatu dengan, baik dibandingkan dengan yang lain. Umpan balik ini selanjutnya digunakan untuk memperbaiki prestasinya.

  1. Tanggung jawab

Lebih bertanggung jawab secara pribadi pada awal kinerjanya, karena dengan begitu mereka dapat merasa puas saat dapat menyelesaikan sesuatu tugas dengan baik.

  1. Ketekunan

Lebih bertahan atau lebih tekun dalam mengerjakan tugas, bahkan saat tugas tersebut menjadi sulit.

  1. Kesempatan untuk unggul

Lebih tertarik dan tugas-tugas yang melibatkan kompetisi dan kesempatan untukunggul. Mereka juga lebih berorientasi pada tugas dan mencoba untuk mengerjakan dan menyelesaikan lebih banyak tugas dari pada individu dengan motivasi berprestasi rendah.

  1. Berprestasi

Lebih tertarik untuk berprestasi dalam bekerja.

Pengertian Motivasi Berprestasi (skripsi dan tesis)

Istilah motivasi berprestasi pertama kali diperkenalkan oleh Murray pada tahun 1930-an (Davidoff, 1991, hal. 37). Selanjutnya istilah tersebut dikembangkan oleh David C. Mc Clelland. Mc Clelland membagi motivasi manusia menjadi tiga jenis, yaitu motivasi untuk berafiliasi (berhubungan dengan orang lain), motivasi untuk berkuasa, dan motivasi berprestasi. Motivasi berprestasi menjadi hal yang paling penting diteliti jika dikaitkan dengan bidang pendidikan. Motivasi berprestasi menurut McClelland (1987, hal. 233) diartikan sebagai suatu dorongan yang muncul karena adanya suatu rangsang (stimulus) yang menggerakkan individu untuk dapat menyelesaikan suatu tugas dengan lebih baik, lebih cepat, dan lebih efisien untuk mencapai prestasi yang diinginkan.

Menurut Atkinson dan Raynor (2008) motivasi berprestasi adalah factor-faktor yang nenentukan perilaku manusia dalam mencapai prestasi yang berkaitan dengan beberapa kriteria-kriteria keunggulan. Motivasi berprestasi terjadi ketika individu tahu bahwa terdapat penilaian (dari diri sendiri ataupun dari orang lain). Menurut Morgan dkk (dalam Tresnawati, 2001) merumuskan bahwa motivasi berprestasi adalah suatu usaha untuk mecapai sesuatu dan menjadi sukses dalam menampilkan tugas. Santrock (dalam Sobur, 2003) merumuskan bahwa motivasi berprestasi adalah suatu dorongan untuk menyempurnakan sesuatu, untuk mencapai sebuah standar keunggulan dan mencurahkan usaha atau upaya untuk mengungguli.

Komponen Dalam Kecerdasan Emosi (skripsi dan tesis)

Goleman (2003) membagi kecerdasan emosional menjadi lima bagian yaitu tiga komponen berupa kompetensi emosional (pengenalan diri, pengendalian diri dan motivasi) dan dua komponen berupa kompetensi sosial (empati dan keterampilan sosial). Lima komponen kecerdasan emosional tersebut adalah sebagai berikut:

  • Pengenalan Diri (Self Awareness)

Pengenalan diri adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui perasaan dalam dirinya dan digunakan untuk membuat keputusan bagi diri sendiri, memiliki tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Unsur-unsur kesadaran diri, yaitu:

  1. Kesadaran emosi (emosional awareness)
  2. Penilaian diri secara teliti (accurate self awareness)
  3. Percaya diri (self confidence)
  • Pengendalian Diri (Self Regulation)

Pengendalian diri adalah kemampuan menangani emosi diri sehingga berdampak positif pada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati, sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, dan mampu segera pulih dari tekanan emosi. Unsur-unsur pengendalian diri, yaitu:

  1. Kendali diri (self-control)
  2. Sifat dapat dipercaya (trustworthiness)
  3. Kehati-hatian (conscientiousness)
  4. Adaptabilitas (adaptability)
  5. Inovasi (innovation)
  • Motivasi (Motivation)

Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat agar setiap saat dapat membangkitkan semangat dan tenaga untuk mencapai keadaan yang lebih baik, serta mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif. Unsur-unsur motivasi, yaitu:

  1. Dorongan prestasi (achievement drive)
  2. Komitmen (commitmen)
  3. Inisiatif (initiative)
  4. Optimisme (optimisme)
  • Empati (Emphaty)

Empati adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Mampu memahami perspektif orang lain dan menimbulkan hubungan saling percaya, serta mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe individu. Unsur-unsur empati, yaitu:

  1. Memahami orang lain (understanding others)
  2. Mengembangkan orang lain (developing other)
  3. Orientasi pelayanan (service orientation)
  4. Memanfaatkan keragaman (leveraging diversity)
  5. Kesadaran politis (political awareness)
  • Ketrampilan Sosial (Social Skills)

Ketrampilan sosial adalah kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, bisa mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah, menyelesaikan perselisihan, dan bekerjasama dalam tim. Unsur-unsur ketrampilan sosial, yaitu:

  1. Pengaruh (influence)
  2. Komunikasi (communication)
  3. Manajemen konflik (conflict management)
  4. Kepemimpinan (leadership)
  5. Katalisator perubahan (change catalyst)
  6. Membangun hubungan (building bond)
  7. Kolaborasi dan kooperasi (collaboration and cooperation)
  8. Kemampuan tim (tim capabilities)

Pengertian Kecerdasan Emosi (skripsi dan tesis)

Kecerdasan emosional erat hubungannya dengan perasaan dasar manusia. Menurut Goleman (2003) emosi menuntut kita menghadapi saat-saat kritis dan tugas-tugas yang terlampau riskan bila hanya diserahkan kepada otak. Perasaan biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya, sugesti, kelelahan dan perhatian inteligensi sehingga ikut mewarnai emosi. Agustin (2005) mengungkapkan secara sederhana emotional quontient (EQ) adalah kemampuan untuk merasa, kunci kecerdasan emosi anda adalah pada kejujuran suara hati anda. Kecerdasan emosional bukanlah muncul dari pemikiran intelek yang jernih, tetapi dari pekerjaan suara hati manusia.

Menurut Widyarto Adi (2004 ) Emotional Quontient adalah kemampuan atau kecerdasan emosional yang mempengaruhi perilaku menyangkut lima bidang yaitu (1) pengenalan emosi diri (2) pengendalian emosi (3) kemampuan untuk memotivasi diri (4) sehingga mampu mengenali emosi orang lain (empati) dan (5) akhirnya mampu mengendalikan hubungan antar manusia.

Komponen Dalam Kecerdasan Spiritual (skripsi dan tesis)

Sinetar (2001 dalam Safaria, 2007) menjelaskan beberapakarakteristik seseorang yang memiliki potensi kecerdasan spiritual yangtinggi. Adapun karakteristik tersebut antara lain adalah :

  1. Memiliki kesadaran diri yang mendalam dan intuisi yang tajam.

Ciri utama munculnya kesadaran diri yang kuat pada seseorang adalah iamemiliki kemampuan untuk memahami dirinya sendiri serta memahamiemosi-emosinya yang muncul, sehingga mampu berempati dengan apayang terjadi pada orang lain. Selain itu seseorang juga memiliki intuisiyang tajam sehingga ia memiliki kemampuan untuk mengendalikanperilakunya sendiri. Disamping itu seseorang juga memiliki kepercayaandiri yang tinggi dan kemauan yang keras untuk mencapai tujuannya sertamemiliki keyakinan dan prinsip-prinsip hidup

  1. Memiliki pandangan yang luas terhadap dunia dan alam.

Seseorang melihat dirinya dan orang lain saling terkait, menyadari bahwa bagaimanapun kosmos ini hidup dan bersinar sehingga seseorang dapat melihat bahwa alam adalah sahabat manusia, muaranya ia memiliki perhatian yang mendalam terhadap alam sekitarnya, dan mampu melihat bahwa alam raya ini diciptakan oleh zat yang Maha Tinggi, yaitu Tuhan.

  1. Memiliki moral yang tinggi dan kecenderungan merasa gembira.

Seseorang memiliki moral yang tinggi, mampu memahami nilai-nilai kasih sayang, cinta, penghargaan kepada orang lain, senang berinteraksi,cenderung selalu merasa gembira dan membuat orang lain gembira.

  1. Memiliki pemahaman tentang tujuan hidupnya.Seseorang dapat merasakan arah nasibnya, melihat berbagai kemungkinan, seperti cita-cita yang suci diantara hal-hal yang biasa.
  2. Memiliki keinginan untuk selalu menolong orang lain, menunjukkan rasakasih sayang terhadap orang lain, dan pada umumnya memilikikecenderungan untuk mementingkan kepentingan orang lain.f. Memiliki pandangan pragmatis dan efesien tentang realitas.Seseorang memiliki kemampuan untuk bertindak realistis, mampu melihatsituasi sekitar, dan mau perduli dengan kesulitan orang lain.

Menurut Robert (dalam Saifullah, 2005) menjelaskan lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual yaitu :

  1. Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material.

Seseorang menyadari bahwa kehadiran dirinya di dunia merupakan anugerah dankehendak Tuhan dan menyadari bahwa Tuhan selalu hadir dalamkehidupannya.

  1. Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak.

Seseorang menyadari bahwa ada dunia lain di luar dunia kesadaran yangditemuinya sehari-hari sehingga ia meyakini bahwa Tuhan pasti akanmembantunya dalam menyelesaikan setiap tantangan yang sedang dihadapinya. Dengan demikian, ia terhubung dengan kesadaran kosmis diluar dirinya

  1. Kemampuan mensakralkan pengalaman sehari-hari.

Ciri ketiga ini, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuanyang agung dan mulia.

  1. Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah dan kemampuan untuk berbuat baik.

Orang yang cerdas secara spiritual, dalam memecahkan persoalan hidupnya selalu menghubungkannya dengan kesadaran nilai yang lebih mulia daripada sekadar menggenggam kalkulasi untung rugi yang bersifat materi.

  1. Memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan

Seseorang tidak akan kehilangan pijakan kakinya di bumi realitas, hal ini ditunjukkan dengan menebar kasih sayang pada sesam

Menurut Zohar dan Marshal (2004) komponen dalam kecerdasan spiritual adalah :

1) Kemampuan bersikap fleksibel(adaptif secara spontan dan aktif),

2) Tingkat kesa-daran tinggi,

3) Kemampuan mengadaptasi dan memanfaatkan penderitaan,

4) Kemampuan meng-hadapi dan melampaui rasa sakit,

5) Kualitas hidupyang diilhami oleh visi dan misi,

6) Keengganan untukmenyebabkan kerugian yang tidak perlu,

7) Kecen-derungan untuk melihat keterkaitan antara berbagaihal (berpendangan holisitik),

8) Kecenderungan nyatauntuk bertanya ”mengapa atau bagaimana jika” untukmencari jawaban mendasar,

9) Pemimpin yang penuhpengabdian dan bertanggung jawab

Pengertian Kecerdasan Spiritual (skripsi dan tesis)

Spiritual berasal dari bahasa Latin spiritus yang berati prinsip yang memvitalisasi suatu organisme. Sedangkan, spiritual dalam SQ berasal dari bahasa Latin sapientia (sophia) dalam bahasa Yunani yang berati ’kearifan’ (Zohar dan Marshall, 2001). Zohar dan Marshall (2001) menjelaskan bahwa spiritualitas tidak harus dikaitkan dengan kedekatan seseorang dengan aspek ketuhanan, sebab seorang humanis atau atheis pun dapat memiliki spiritualitas tinggi. Kecerdasan spiritual lebih berkaitan dengan pencerahan jiwa. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual tinggi mampu memaknai hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif akan mampu membangkitkan jiwa dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.

Eckersley (2000) memberikan pengertian yang lain mengenai kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual didefinisikan sebagai perasaan intuisi yang dalam terhadap keterhubungan dengan dunia luas didalam hidup kita. Konsep mengenai kecerdasan spiritual dalam hubungannya dengan dunia kerja, menurut Ashmos dan Duchon (2000) memiliki tiga komponen yaitu kecerdasaan spiritual sebagai nilai kehidupan dari dalam diri, sebagai kerja yang memiliki arti dan komunitas.

Mccormick (1994, 20) dan Mitroff and Denton (1999, 111), dalam penelitiannya membedakan kecerdasan spriritual dengan religiusitas di dalam lingkungan kerja.Religiusitas lebih ditujukan pada hubungannya dengan Tuhan sedangkan kecerdasan spiritual lebih terfokus pada suatu hubungan yang dalam dan terikat antara manusia dengan sekitarnya secara luas.

Berman (2001) mengungkapkan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) dapat memfasilitasi dialog antara pikiran dan emosi, antara jiwa dan tubuh. Dia juga mengatakan bahwa kecerdasan spiritual juga dapat membantu sesorang untuk dapat melakukan transedensi diri. Pengertian lain mengenai kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia yang seutuhnya dan memiliki pola pemikiran integralistik serta berprinsip hanya karena Allah (Agustian, 2001).

Tahapan Dalam Perilaku Pacaran (skripsi dan tesis)

Adapun perilaku berpacaran menurut Umsoniah (2008), yaitu :

  1. Perilaku Berpacaran dalam Bentuk Ekspresi Fisik

Perilaku berpacaran ini mengarah ke hubungan seksual seperti berpegangan tangan, mencium kening, berciuman bibir, mencium leher, saling meraba (payudara dan kelamin), dan melakukan hubungan seksual (Sugiyati, 2008).

  1. Perilaku Berpacaran dalam Bentuk Pernyataan Verbal

Untuk memastikan dan mendapat perlakuan dari orang  yang dicintainya, berani dan percaya diri mengungkapkan rasa dan cinta baik melalui telepon, memberi suatu benda yang berupa lambang cinta seperti cokelat, bahkan mengungkapkan rasa cinta di hadapan pacar dan teman-temannya.

  1. Perilaku Berpacaran dalam Bentuk Pengungkapan Diri

Mengungkapkan rasa hatinya kepada pacar dalam bentuk pengungkapan perasaan (express feeling) agar perasaan yang terpendam atau permasalahan yang dipendam dapat dibantu untuk dicarikan solusinya. Selain itu, dengan memberikan pujian demi menjalin hubungan yang lebih akrab.

  1. Perilaku Berpacaran dengan Memberi Materi atau Hadiah

Memberikan hadiah sebagai bentuk perhatian, memberikan hadiah di saat berulang tahun, mendapat prestasi ataupun setelah bertengkar sebagai penebusan rasa dosa dan permohonan maaf.

Hasil penelitian GRK (Gerakan Remaja untuk Kependudukan) dalam Trisnawati (2005) mengemukakan perilaku seksual remaja meliputi:

  1. Berkunjung ke rumah pacar atau dikunjungi pacar
  2. Berjalan berdua
  3. Berpegangan tangan
  4. Mencium pipi
  5. Mencium bibir
  6. Memegang payudara
  7. Memegang organ seksual dari luar baju
  8. Memegang organ seksual dari dalam baju
  9. Melakukan hubungan seksual

Sementara Issriati (2009) mengemukakan bahwa perilaku seksual remaja terhadap lawan jenisnya dimulai dari adanya rasa tertarik, mencari dan member perhatian, kencan, memberikan rasa cinta, berpacaran tapi belum melakukan cumbuan, melakukan cumbuan ringan, cumbuan sedang hingga berat dan melakukan hubungan seksual.

Apabil dispesifikkan pada perilaku seksual maka menurut Hurlock (1999) perilaku seksual terdiri dari beberapa tahapan yaitu berciuman, bercumbu ringan, bercumbu berat dan bersenggama. The Diagram Group (1993) menyatakan bahwa secaraumum terdapat dua tipe umum prosesperkenalan yaitu proses sosial dan proses perkawinan. Proses perkawin-an merupakan tahapan persiapanpasangan untuk melakukan hubunganseksual yang ditunjukkan padatahapan: Eye to body, Eye to eye,Voice to voice, Hand to hand, Arm toshoulder,  Arm to waist, Mouth tomouth,  Hand to head, Hand to body,Mouth to breast, Hand to genital, dan Genital to genital.

Perilaku seksual menurut Sarwono (2009) dibagi dalam beberapa kegiatan yaitu:

  1. Memegang dan bergandengan tangan adalah salah satu bentuk dari sentuhan. Sentuhan adalah satu bentuk perilaku dan dapat berarti beberapa hal.
  2. Berpelukan
  3. Berciuman adalah salah satu bentuk sentuhan yang dapat berarti simbol afeksi dan dapat bersifat sangat sensual.
  4. Menyentuh dengan memberi stimulasi untuk kesenangan seksual pada bagian tubuh yang peka
  5. Memegang alat kelamin adalah memberi stimulasi pada alat vital akan memberi kesenangan secara seksual, sebab daerah genital adalah tempat yang sangat sensitif untuk disentuh.
  6. Petting kontak fisik antara pria dan wanita dalam usaha menghasilkan kesenangan seksual tanpa masuknya penis ke vagina.
  7. Oral genital seks adalah perilaku seksual yang menekankan pemberian stimulasi genital oleh mulut.
  8. Cointal seks play dalam hubungan heteroseksual sering disebut vaginal seks. Perilaku ini dianggap paling wajar dan normal. Cointal seks play adalah hubungan badan dengan masuknya penis ke vagina

Berdasarkan uraian di atas maka perilaku dalam pacaran meliputi Perilaku Berpacaran dalam Bentuk Ekspresi Fisik, Perilaku Berpacaran dalam Bentuk Pernyataan Verbal, Perilaku Berpacaran dalam Bentuk Pengungkapan Diri dan             Perilaku Berpacaran dengan Memberi Materi atau Hadiah. Sedangkan tahap perilaku seksual secara afeksi sendiri dimulai dari memegang dan bergandengan tangan, berpelukkan, berciuman, menyentuh dengan memberi pada stimulasi untuk kesenangan seksual bagian tubuh yang peka, memegang alat kelamin, petting, oral genital seks, cointal seks play.

Pengertian Pacaran (skripsi dan tesis)

Pacaran adalah proses bertemunya seseorang dengan seorang lainnya dalam konteks sosial yang bertujuan untuk menjajaki kemungkinan sesuai atau tidaknya orang tersebut untuk dijadikan pasangan hidup (Benokraitis, dalam Wongso 2014). Menurut Hurlock, tujuan berpacaran dalam kehidupan remaja adalah sebagai hiburan, sosialisasi, status, masa pacaran, dan pemilihan teman hidup. Pacaran berfungsi sebagai sumber status dan prestasi, masa rekreasi, proses sosialisasi, untuk membantu atau melayani individu lain jenis, sarana untuk berbagi cerita (sharing), masa penyesuaian normatif, masa pengembangan identitas, dan sebagai masa pemilihan calon pasangan hidup (Paul & White, dalam Dariyo, 2004).

Ada 2 aspek yang mempengaruhi ketertarikan antar remaja yang berpacaran yaitu: intimasi dan passion.

  1. Intimasi adalah hubungan yang akrab, intim, menyatu, saling percaya, dan saling menerima antar individu yang satu dengan individu yang lain.
  2. Passion adalah terjadinya hubungan antar individu tersebut, lebih dikarenakan oleh unsur-unsur biologis seperti ketertarikan fisik atau dorongan seksual.

Dengan adanya kedua faktor ini, maka para ahli menyebutnya sebagai masa percintaan atau pacaran yang romantis (Dariyo, 2004).

Aspek Dalam Kecerdasan Emosi (skripsi dan tesis)

Goleman (2004) mengadaptasi model kecerdasan emosi dari Salovey
dan Meyer ke dalam sebuah versi yang menurutnya paling bermanfaat untuk
memahami cara kerja kecerdasan emosi dalam kehidupan sehari‐hari ataupun
kehidupan kerja. Goleman mengadaptasi lima komponen dasar kecakapan
emosi dan kecakapan sosial sebagai berikut:
a. Kesadaran Diri
Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali apa yang individu
rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu
pengambilan keputusan diri sendiri; memiliki tolok ukur yang realistis
atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Kesadaran diri
dapat diuraikan menjadi tiga kemampuan, yaitu kesadaran emosi,
penilaian diri secara teliti, dan percaya diri. Sadar emosi berarti
individu dapat mengenali emosi diri sendiri dan efeknya. Kemampuan
menilai diri secara teliti menunjukkan seberapa luas pengetahuan individu
tentang kekuatan dan batas‐batas diri sendiri. Kepercayaan diri menunjukkan
seberapa besar keyakinan individu tentang harga diri dan kemampuan
diri sendiri.
b. Pengaturan Diri
Pengaturan diri adalah kemampuan menangani emosi sedemikian rupa
sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas; peka terhadap
kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya
suatu sasaran; mampu pulih kembali dari tekanan emosi. Kemampuan
pengaturan diri dapat diuraikan menjadi:
(1) kendali diri, yaitu kemampuan mengelola emosi‐emosi dan desakan‐desakan hati yang bersifat merusak, (2) sifat dapat dipercaya,
yaitu kemampuan memelihara norma kejujuran dan integritas, (3) kewaspadaan, yaitu sikap bertanggung jawab atas kinerja pribadi, (4) adaptibilitas, yaitu keluwesan dalam menghadapi perubahan, dan (5) inovasi, yaitu kemampuan mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi-informasi baru.
c. Motivasi
Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat yang paling dalam
untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu mengambil
inisiatif dan bertindak sangat efektif, serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustrasi. Motivasi dapat diuraikan menjadi :
(1) dorongan prestasi, yaitu dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi
standar keberhasilan, (2) komitmen, yaitu kemampuan menyesuaikan
diri dengan tujuan kelompok, (3) inisiatif, yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan, (4) optimisme, yaitu kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan.
d. Empati
Empati adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan
saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam‐macam orang.
Empati dapat diuraikan menjadi: (1) memahami orang lain, yaitu kemampuan
mengindra perasaan dan perspektif orang lain, serta menunjukkan
minat aktif terhadap kepentingan mereka, (2) orientasi pelayanan, yaitu mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan, (3) mengembangkan orang lain, yaitu merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka, (4) menerima
keragaman, yaitu menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan
berbagai macam orang, (5) kesadaran politik, yaitu mampu membaca arusarus
emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.
e. Keterampilan Sosial
Keterampilan sosial adalah kemampuan menangani emosi dengan baik
ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca
situasi serta jaringan sosial; berinteraksi dengan lancar; menggunakan
berbagai keterampilan ini untuk  mempengaruhi dan memimpin,
bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja
sama dalam tim. Keterampilan sosial dapat diuraikan menjadi: (1)
pengaruh, yaitu memiliki berbagai taktik dan strategi untuk melakukan
persuasi, (2) komunikasi, yaitu mengirimkan pesan yang jelas dan
meyakinkan, (3) kepemimpinan, yaitu kemampuan membangkitkan
inspirasi dan memandu kelompok serta orang lain, (4) katalisator perubahan,
yaitu kemampuan memulai dan mengelola perubahan, (5)
manajemen konflik, yaitu negosiasi dan pemecahan silang pendapat, (6)
pengikat jaringan, yaitu kemampuan menumbuhkan hubungan sebagai
alat, (7) kolaborasi dan kooperasi, yaitu kerja sama dengan orang lain
demi tujuan bersama, (8) kemampuan tim, yaitu menciptakan sinergi
kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Konformitas Teman Sebaya (skripsi dan tesis)

Konformitas (conformity) muncul ketika individu meniru
sikap atau tingkah laku orang lain dikarenakan tekanan yang
nyata maupun yang dibayangkan oleh mereka. Tekanan untuk
mengikuti teman sebaya menjadi sangat kuat pada remaja.
Konformitas dapat terjadi dalam beberapa bentuk dan
mempengaruhi aspek-aspek kehidupan remaja. Apakah remaja
melakukan joging karena orang lain juga melakukan hal yang
sama? Apakah remaja memanjangkan rambutnya selama setahun
kemudian dipotong pada tahun berikutnya karena mode? Atau
apakah remaja menggunakan kokain jika didorong oleh orang
lain atau apaah mereka menolak dorongn tersebut?
Konformitas terhadap tekanan teman sebaya pada remaja
dapat menjadi positif atau negative (Camarena, 1991; Foster-
Clark & Blyth, 1991; Pearl, Bryan & Herzog, 1990; Wall, 1993).
Remaja terlibat dengan tingkah laku sebagai akibat dari
konformitas yang negative, seperti misalnya menggunakan
bahasa yang asal-asalan, mencuri, mencoret-coret, dan
memperminkan orang tua dan guru. Namun, banyak konformitas
pada remaja yang tidak negative dan merupakan keinginan untuk
terlibat dalam dunia teman sebaya, misalnya berpakaian seperti
teman-temannya dan ingin menghabiskan waktu dengan anggota
dari perkumpulan. Keadaan seperti ini dapat melibatkan aktvitas
social yang baik, misalnya ketika suatu pekumpulan
mengumpulkan dan untuk alasan yang benar.
Sementara hampir semua remaja mengikuti tekanan teman
sebaya dan ukuran lingkungan social, beberapa remaja ada juga
yang non konformis atau antikonformis. Nonkonformitas
(nonconformity) muncul ketika individu mengetahui apa yang
diharapkan oleh orang-orang di sekitarny, tapi mereka tidak
16
menggunakan harapan tersebut untukmengarahkan tigkah laku
mereka. Remaja yang non-konformitas sangat mandiri, sama
seperti seorang siswa sekolah menengah atas yang memilih untuk
tidak menjadi anggota dari perkumpulan. Anti-konformitas (anticonformity)
muncul ketika individu bereaksi menolak terada
harapan kelompok dan kemudian dengan sengaja menjauh dari
tindakan atu kepercayaan yang dianut oleh kelompok.
Tekanan teman sebaya merupakan ide yang umum dalam
kehidupan remaja. Orang tua, guru, dan orang desa lainnya dpat
membantu remaja untuk menghadapi tekanan teman sebaya
(Brown, 1990; Clasen & Brown, 1987). Para remaja
membutuhkan banyak kesempatan untuk berbicara dengan teman
sebaya dan orang dewasa tentang dunia social mereka dan
tekanan-tekanan yang ada. Perubahan perkembangan yang terjadi
pada remaja kadang membawa rasa tidak aman. Pra remaja muda
snga mudah terganggu karena ras tidak mn tersebut dan
banyaknya perubahan perkembangan yang terjadi dalam
kehidupan mereka. Untuk mengatasi tekanan ini, remaja muda
perlu mengalami kesempatan untuk sukses, baik di dalam
maupun di luar sekolah, yang meningkatkan rasa kepemilikan
akan control atas dirinya sendiri. Remaja mempelajari bahwa
dunia social dapat dikontrol. Orang lain mungkin berusaha untuk
mengontrolnya, tapi para remaja ini dapat memunculkan control
pribadi atas tindakan mereka dan pengaruh yang lain (Bandura,
1989, 1991)

Definisi Kelompok dan Teman Sebaya (skripsi dan tesis)

Teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan
tingkat usia yang sama (Hartup, 1983). Kelompok (crowd) ialah
kelompok-kelompok remaja yang terbesar dan kurang bersifat
pribadi. Anggota kelopok bertemu karena kepentingan /minat
mereka yang sama dalam berbagai kegiatan. Bukan karena
mereka saling tertarik. Klik (cliques) ialah kelompok-kelompok
yang lebih kecil, memiliki kedekatan yang lebih besar diantara
anggota-anggota, dan lebih kohesif daripada kelompok. Selain
kedua bentuk kelompok teman sebaya di atas, terdapat pula
bentuk kelompok yang kekerabatannya lebih tinggi dibandingkan
dengan klik (clique), yaitu persahabatan (Friendship).
Persahabatan sendiri merupakan kelompok dimana remaja
bersahabat karib dengan ikatan persahabatan yang kuat, terdiri
dari 2-3 orang dengan jenis kelamin yang sama dan mempunyai
minat, kemampuan, dan kemauan yang serupa. (Santrock, 2003).
Salah satu fungsi utama dari kelompok teman sebaya
adalah untuk menyediakan berbagai informasi mengenai dunia di
luar keluarga. Dari kelompok teman sebaya, remaja menerima
umpan balik mengenai kemampuan mereka. Remaja belajar
tentang apakah yang mereka lakukan lebih baik, sama baiknya ,
atau bahkan lebih buruk dari apa yang dilakukan remaja lain.
Menurut WF Connell (1972) kelompok teman sebaya (peer
frienship group) adalah kelompok anak-anak atau pemuda yang
berumur sama atau berasosiasi sama dan mempunyai
kepentingan umum tertutup, seperti persoalan-persoalan anakanak
umur sekolah sampai dengan masa remaja (adolesence).
Kelompok teman sebaya merupakan kelompok utama,
dimana masing-masing anggota terjalin hubungan yang erat dan
bersifat pribadi.Sebagai hasil hubungan yang bersifat pribadi
adalah peleburan dan individu dalam kelompok, sehingga tujuan
individu menjadi tujuan kelompoknya. Kelompok-kelompok
sebaya di kampung-kampung mereka bersatu dalam Satu
permainan, berdiskusi tentang sesuatu masalah. Dalam kelompok
ini mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka ketemukan di
14
rumah. Saling hubungan yang bersifat pribadi itu menyebabkan
seseorang dapat mencurahkan isi hatinya kepada temantemannya
baik sesuatu yang menyenangkan atau sesuatu yang
menyedihkan. Oleh karena itu anak-anak ini sering meninggalkan
rumah dalam waktu yang berjam-jam lamanya. Dalam kelompok
ini terjadi kerja sama, tolong-menolong, akan tetapi sering juga
terjadi persaingan, dan pertentangan. WF Connell menyatakan
bahwa kelompok utama itu mempunyai ciri-ciri :
1) Jumlah anggotanya kecil,
2) Ada kepentingan yang bersifat umum dan dibagi secara
langsung,
3) Terjadi kerja sama dalam suatu kepentingan yang
diharapkan,
4) Pengertian pribadi dan saling hubungan yang tertinggi antar
anggota dalam kelompok biarpun dapat terjadi pertentangan
(WF. Connell, 1972, p.76).
Kelompok teman sebaya baik yang terjadi di masyarakat
maupun di sekolah terdiri kelompok-kelompok sosial yang
beranggotakan beberapa orang. Dalam kelompok ini sering
terjadi tukar-menukar pengalaman, berbagai pengalaman, kerja
sama, tolong-menolong, tenggang masa dalam kelompok sebaya
adalah tinggi. Dalam kelompok sosial terjadi empati, simpati, dan
antipati. Antipati yang terjadi dalam kelompok disebabkan oleh
adanya ketidak cocokan antara individu sehingga tenjadi
pertentangan dan percecokan antar anggota.
Untuk mengetahui kelompok sebaya sebagai kelompok
utama, maka perlu beberapa hal. Kingley Davis (1960)
menyatakan bahwa untuk memahami kelompok utama perlu
diperhatikan :
1) kondisi pisik dari kelompok utama,
2) sifat-sifat hubungan primair dan
3) kelompok-kelompok yang konknit dan hubungan primair
15
(Soenjono Soekanto, 1981, p.102)

Definisi Perilaku (skripsi dan tesis)

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun
yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme tersebut
merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau
Stimulus – Organisme – Respon. Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus, maka perilaku dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :
1) Perilaku tertutup (convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
2) Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain. Perilaku manusia adalah refleksi dari berbagai gejala kejiwaan seperti pengetahuan, persepsi, minat, keinginan dan sikap. Hal-hal yang mempengaruhi perilaku seseorang sebagian terletak dalam diri individu sendiri yang disebut juga faktor internal sebagian lagi terletak di luar dirinya atau disebut dengan faktor eksternal yaitu faktor lingkungan. Menurut WHO, yang dikutip oleh Notoatmodjo (1993), perubahan perilaku dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu :
1) Perubahan alamiah (natural change), ialah perubahan yang
dikarenakan perubahan pada lingkungan fisik, sosial, budaya
ataupun ekonomi dimana dia hidup dan beraktifitas.
2) Perubahan terencana (planned change), ialah perubahan ini
terjadi, karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.
3) Perubahan dari hal kesediaannya untuk berubah (readiness to change), ialah perubahan yang terjadi apabila terdapat suatu inovasi atau program-program baru, maka yang terjadi adalah sebagian orang cepat mengalami perubahan perilaku dan sebagian lagi lamban. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda

Kesehatan Fisik (skripsi dan tesis)

Barangkali elemen fisik (materi, tubuh) paling mudah dipahami, mudah dikenali oleh pancaindera manusia. Elemen fisik mencakup segala yang kasat mata (dunia fisik maupun tubuh fisik) (Ray, 2009). Tubuh (fisik) manusia merupakan sistim yang luar biasa yang terbentuk dari triliunan sel-sel. Sel-sel ini membentuk berbagai jaringan yang sangat rumit tapi semua jaringan ini di samping berfungsi sendiri-sendiri, juga mampu melakukan kerja sama dan koordinasi antar jaringan dengan kecermatan yang sangat tinggi. Dengan demikian, sel-sel tubuh manusia ini juga mempunyai kecerdasan,
(Chopra, 2004).
Schwartz (dalam Al-Kusayer, 2009) mengatakan bahwa jantung memiliki kekuatan khusus yang sanggup menyimpan berbagai informasi dan mengobatinya sekaligus. Ini menunjukkan bahwa daya ingat bukan hanya di otak saja, tetapi jantungpun terkadang menjadi penggerak dan pengendali daya ingat tersebut. Tubuh manusia merupakan seperangkat mesin cerdas yang mengalahkan bahkan komputer tercanggih sekalipun (Covey, 2007). Walaupun elemen fisik (tubuh) manusia merupakan mesin yang luar biasa,
namun hampir semua kondisi ketahanan/kesehatan fisik jangka panjang ditentukan oleh hasil dari tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan setiap orang yang telah terakumulasi selama beberapa waktu (Shinya, 2007).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa KF adalah kondisi kesehatan yang
berhubungan dengan keseluruhan anatomi tubuh(fisik) manusia yang terbentuk dari elemen mineral, nabati dan hewani, dimana kualitas kesehatannya ditentukan oleh hasil dari tingkah laku dan kebiasaan- kebiasaan seseorang yang telah terakumulasi selama beberapa waktu.

Kecerdasan Spiritual (skripsi dan tesis)

 Istilah spiritual berasal dari bahasa Latin spiritus yang
berarti prinsip yang memvitalisasi suatu organisme, atau bisa juga berasal dari bahasa Latin sapientia (sophia dalam bahasa Yunani) yang berarti ‘kearifan’ – kecerdasan kearifan (Zohar & Marshall, 2005b). Sifat spiritual manusia diketahui dari agama-agama besar di dunia yang mengabarkan bahwa manusia adalah makhluk spiritual yang kini tengah melewati eksistensi fisik sebagai bagian dari perjalanan spiritual kekal manusia (Khavari, 2000). Selman, et al., (2005) mengatakan bahwa: “Spiritual Intelligence is about
having a direction in life, and being able to heal ourselves of all the resentment— It is thinking of ourselves as an expression of a higher reality”.
Madhu Jain dan Prema Purohit (2006) mencoba meyakinkan bahwa hidup menjadi manusia (human beings) berarti menjalani kehidupan yang bersifat spiritual. Dari beberapa penjelasan tentang KS di atas, dapat disimpulkan bahwa KS adalah kemampuan manusia untuk menghayati keterhubungan dirinya dengan kekuatan tak terbatas (Tuhan), serta menyadari tingkat kebermaknaan hidup dan sifat-sifat keilahian yang ada di dalam
diri manusia

Kecerdasan Emosional (skripsi dan tesis)

Sebelum Gardner (dalam Amstrong, 2002) mengemukakan kecerdasan ganda, kebudayaan Amerika Serikat telah terlalu banyak memusatkan perhatian pada pemikiran verbal dan logis – kemampuan yang secara tipikal dinilai dalam tes KI. Gardner mengatakan bahwa ma usia sekurang-kurangnya mempunyai tujuh kecerdasan sehingga teorinya sering disebut sebagai kecerdasan ganda (multiple intelligence). Kecerdasan tersebut ialah: kecerdasan linguistik, logis-matematis, spasial,
musikal, kinestetik-jasmani, antarpribadi, dan intrapribadi.
Istilah EQ (KE) pertama kali dilontarkan oleh Salovey dan Mayer (1990), namun
konsep KE dipopulerkan oleh Goleman pada tahun 1995 (Shapiro, 1997). Jordan (2006) mengemukakan pula bahwa kecerdasan emosional memegang peranan penting untuk memprediksi kinerja suatu tim. Segal (1997) mengatakan bahwa emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan, dimana wilayah KE adalah hubungan pribadi dan antarpribadi; KE bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan kemampuan adaptasi sosial. Sementara itu, pakar ESQ Indonesia yang telah dikenal luas, Ary Ginanjar Agustian (2001) memandang KE dalam konteks hubungan manusia dengan manusia lainnya. Reuven Bar-On (dalam Stein & Book, 2000) menjabarkan KE ini ke dalam lima domain yang terdiri dari domain intrapribadi, antar pribadi, pengendalian stres, penyesuaian diri, dan suasana hati umum. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa KE adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan pribadi dan kemampuan sosial