Teori Atribusi


Menurut Friz Heider (1958) teori atribusi merupakan teori yang
menjelaskan tentang perilaku manusia. Teori atribusi menggambarkan mengenai
proses bagaimana kita menentukan penyebab atas perilaku seseorang. Teori atribusi
mengacu tentang bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain
atau dirinya sendiri yang akan ditentukan apakah dari internal misalnya sifat,
karakter, sikap, ataupun eksternal misalnya tekanan situasi atau keadaan tertentu
yang akan memberikan pengaruh terhadap perilaku individu. Friz Haider juga
berpendapat bahwa kekuatan internal seperti kemampuan, usaha dan kelelahan
maupun kekuatan eksternal seperti atribut lingkungan (aturan dan cuaca) itu dapat
menjadi penyebab perilaku manusia. Atribusi internal maupun eksternal telah
dinyatakan dapat berdampak terhadap kinerja seseorang misalnya dalam hal
menetapkan cara seorang atasan dalam memperlakukan bawahannya dan
mempengaruhi sikap serta kepuasan individu terhadap kerja.
Teori atribusi ini dijadikan sebagai pijakan untuk menganalisis penelitian
kinerja pegawai didalam suatu perusahaan, karena teori ini merupakan proses
tingkah laku kerja seseorang. Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua pegawai
mampu untuk meningkatkan kinerjanya, apabila mendapatkan situasi yang sama.
Kinerja pegawai dapat dipengaruhi oleh faktor individu maupun faktor situasi
perihal tersebut merupakan salah satu cara yang mampu digunakan untuk melihat
suatu perkembangan perusahaan. Dengan adanya teori atribusi pemimpin mampu
untuk melihat hasil dari peneilian kinerja pegawai. Ketika suatu perusahaan dapat
mengetahui bagaimana sifat, keadaan, dan perilaku setiap pegawai dengan baik.
Pegawai tersebut akan mengerti apa yang sebenarnya diinginkan sehingga dapat
menghasilkan sesuatu yang menjadikan tujuan dari pekerjaannya.

Pengaruh Role Ambiguity Terhadap Kinerja Auditee


“Menurut Jackson dan Schuler dalam Novia Grestianti (2017) peran
ambiguitas dan skala konflik peran merupakan ukuran yang baik dari kontruksi
peran. Ketidakjelasan peran dan konflik peran adalah dua komponen utama dari
stres peran yang bagaimana hal tersebut sering terjadi dalam pelaksanaan pekerjaan
yang dilakukan oleh auditor internal pada auditee. Penelitian Rahmawati (2011)
menyatakan bahwa role conflict dan role ambiguity secara bersama-sama
(simultan) berpengaruh signifikan terhadap kinerja auditee. Ketidakjelasan peran
dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dalam bekerja dan bisa menurunkan
motivasi kerja, karena mempunyai dampak negatif terhadap perilaku individu.

Pengaruh Role Conflict Terhadap Kinerja Auditee


“Konflik peran dapat berasal dari pertentangan yang berasal dari peran
mereka ketika melakukan jasa audit dan jasa konsultasi manajemen yang keduanya
mengandung perbedaan antara peraturan yang berasal dari profesi auditor internal
dan harapan dari manajemen perusahaan. Konflik peran juga dapat disebabkan oleh
adanya ketidaksesuaian antara nilai-nilai personal yang diyakini oleh auditor
internal ,auditee, dan harapan yang berasal dari manajemen dan organisasi profesi.
Konflik peran dapat menimbulkan tekanan pada auditor, sehingga

Hubungan Role Conflict dengan Kinerja Auditee after Auditor Internal


“konflik peran (role conflict) yaitu. konflik yang timbul dari mediasi
institusional yang tidak tepat standar, aturan, etika dan independensi
profesional. Fenomena ini terjadi karena ada dua order yang diterima pada saat
yang sama dan hanya satu yang dieksekusi hanya agar perintah lain diabaikan.
Peristiwa tersebut dapat menyebabkan Ketidaknyamanan di tempat kerja dan
dampaknya terhadap Kinerja Auditee after Auditor Internal berkurang.”

  1. Hubungan Role Ambiguity dengan Kinerja Auditee after Auditor Internal
    “Ketidakpastian peran (role ambiguity) adalah situasi yang terjadi ketika
    individu tidak mendapat informasi yang cukup untuk menyelesaikan perannya
    di suatu perushaan. Penyebab peristiwa ini terjadi yaitu tidak adanya informasi
    yang disampaikan oleh seseorang dan kurangnya pengetahuan mengenai peran
    yang telah diberikan kepadanya. Sehingga seseorang tidak mengetahui
    perannya dengan baik dan tidak menjalankan perannya sesuai dengan
    diharapkan dan berdampak pada mereka yang tidak efisien dan terarah dalam
    bekerja dan dapat menurunkan Kinerja Auditee after Auditor Internal.”
  2. Hubungan Role Overload dengan Kinerja Auditee after Auditor Internal
    “Kelebihan peran (role overload) adalah konflik dari berbagai prioritas
    yang timbul dari ekspektasi bahwa individu dapat melakukan tugas yang luas
    dan mustahil untuk dikerjakan dalam waktu yang terbatas. Kebutuhan tenaga
    kerja yang tidak direncanakan dapat membuat auditor mengalami kelebihan
    peran, terutama pada masa peak season ketika perusahaan kebanjiran pekerjaan
    dan staf auditee beserta auditor internal yang tersedia harus mengerjakan semua
    pekerjaan pada waktu yang sama. Semakin berat beban pekerjaan seorang
    auditee, maka semakin meningkat stres kerja yang dialami oleh auditee
    tersebut. Beban kerja yang dirasakan oleh auditee dapat menentukan kinerja
    dari auditee.”
  3. Hubungan Burnout dengan Kinerja Auditee after Auditor Internal
    “Memiliki lebih dari satu peran bisa memicu tekanan yang berlebihan.
    Hal ini disebabkan oleh seseorang dalam kesehariannya tidak hanya memiliki
    satu peran. Stres dapat terjadi jika individu sulit menginterpretasikan harapanharapan dari orang lain, terdapat konflik antara harapan atas peran yang satu
    dengan peran yang lainnya. Tekanan-tekanan pekerjaan dapat mengakibatkan
    kelelahan (burnout) secara emosional dan fisik, yang pada akhirnya dapat
    menurunkan kinerja auditee. Hal ini juga dapat menimbulkan keinginan untuk
    berpindah dan menurunnya kepuasan kerja auditee.

Pengertian Auditee


“Auditee adalah seseorang atau sebuah organisasi/perusahaan yang
diaudit. Auditee adalah subjek dari audit yang harus memberikan informasi
yang diperlukan oleh auditor untuk melakukan audit yang efektif. Auditor akan
bertanya kepada auditee tentang berbagai aspek operasi dan keuangan mereka
untuk memverifikasi bahwa semua hal tersebut sesuai dengan standar yang
ditetapkan. Tujuan audit adalah untuk menilai keandalan dan kewajaran
informasi keuangan, serta untuk memberikan opini yang independen kepada
pihak yang berkepentingan tentang apakah informasi tersebut dapat
diandalkan.”

  1. Perbedaan Auditor dan Auditee
    “Perbedaan utama antara auditor dan auditee adalah posisi yang mereka
    miliki dalam proses audit. Auditor adalah seseorang atau sebuah organisasi
    yang bertanggung jawab untuk melakukan audit, yaitu menilai keandalan dan
    kewajaran informasi keuangan. Sedangkan auditee adalah seseorang atau
    sebuah organisasi yang menjadi subjek dari audit, yaitu yang harus memberikan
    informasi yang diperlukan untuk melakukan audit yang efektif.”
  2. Tugas Auditee
    Tugas auditee dalam proses audit adalah:
    a. Memberikan akses kepada auditor untuk melakukan audit, termasuk
    memberikan informasi yang diperlukan dan menyediakan fasilitas yang
    diperlukan.
    b. Menjawab pertanyaan-pertanyaan dari auditor dan memberikan informasi
    yang diperlukan untuk membantu auditor melakukan audit yang efektif.
    c. Menjalankan operasional perusahaan/organisasi dan keuangan organisasi
    sesuai dengan standar yang ditetapkan, sehingga informasi yang disajikan
    dapat diandalkan dan dapat dipertanggungjawabkan.
    d. Menindaklanjuti rekomendasi yang diberikan oleh auditor, jika diperlukan,
    untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi operasi dan keuangan
    organisasi.
    e. Bekerja sama dengan auditor untuk memastikan bahwa proses audit berjalan
    lancar dan hasil audit dapat diterima oleh pihak yang berkepentingan.
  3. Contoh Auditee
    “Contoh auditee adalah perusahaan, badan usaha, organisasi nirlaba,
    atau entitas lain yang menjadi subjek dari audit. Auditor akan melakukan audit
    terhadap organisasi tersebut untuk memverifikasi bahwa semua aspek operasi
    dan keuangan organisasi tersebut sesuai dengan standar yang ditetapkan.”
    “Sebagai contoh, sebuah perusahaan publik mungkin menjadi auditee
    dalam audit tahunan yang dilakukan oleh auditor eksternal untuk memastikan
    bahwa laporan keuangan perusahaan tersebut dapat diandalkan dan sesuai
    dengan standar akuntansi yang berlaku.”
  4. Hubungan Auditee dengan Auditor
    “Azas ketergantungan antara auditor dengan auditee merupakan hal
    sifatnya akan terus terjadi. Tentu saja diperlukan batasan yang mengatur bahwa
    pola ketergantungan ini dapat dipertanggungjawabkan kepada stakeholder
    (pemangku kepentingan) masing-masing. Stakeholder auditee yang utama
    adalah pemegang sahamnya, sedangkan stakeholder auditor adalah kepada
    Ikatan Profesi Auditor. Sungguh tidak masuk akal apabila auditor karena
    dianggap menerima jasa pembayaran dari auditee, menjadi tidak independen
    dalam berhubungan dengan auditee disebabkan masing-masing pihak
    bertanggungjawab kepada stakeholdernya.”
    “Secara praktis dapat disimpulkan bahwa pada organisasi manapun,
    proses audit pasti merepotkan auditee. Apalagi apabila auditee sistem kerjanya
    belum mapan atau memadai, mungkin tidak bisa dilakukan proses audit, namun
    lebih kepada asistensi pembenahan sistem kerjanya terlebih dahulu. Untuk
    membuat pola hubungan auditee dengan auditor yang efektif dan efisien tentu
    harus disepakati sejak awal oleh auditee dengan auditor bagaimana cara kerja
    simultan dari auditor dengan memperhatikan kesibukan auditee dalam
    menjalankan rutinitas pekerjaan.”
  5. Tindak Lanjut Hubungan Auditee dengan Auditor
    “Hubungan keseimbangan antara auditee dengan auditor adalah faktor
    utama yang harus dipegang, berdiri sama tinggi berdiri sama rendah.
    Transparansi auditee dan auditor dalam penilaian operasi organisasi tentu
    memberikan dampak kepada jangka panjang operasi bisnis organisasi auditee
    dan auditor. Untuk itulah auditee harus memahami standar atau aturan yang
    melandasi pekerjaan auditor, dan auditor pun juga harus memahami standar atau
    aturan kerja yang melandasi operasi bisnis auditee.”

Role Stress

  1. Role Conflict
    “Konflik peran (Role Conflict) perselisihan muncul dari keberadaan
    tidak ada kecocokan antara peran yang dimainkan etika, standar, aturan dan
    profesionalisme. Di sisi lain, Fanani dkk. (2008), hal ini terjadi karena adanya
    beberapa instruksi mana yang bertemu dan mendapat satu instruksi kursus dapat
    mengarah ke tutorial lain tidak dilakukan. Konflik ini adalah pemenuhan
    persyaratan peran menyebabkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
    Di Sini ketidakcocokan antara instruksi dan misalkan peran membuat mereka
    muncul Konflik peran (Rahmawati, 2011).”
    “Jika tetap berlarut-larut, konflik ini menimbulkan stres mental, baik
    fisik maupun mental atau fisik. Konflik peran muncul di lingkungan kerja
    auditor karena tidak mengikuti petunjuk Kepemimpinan (Utami & Nahartyo,
    2013). Umumnya,auditor memiliki dua peran, pertama, bagaimana pakar etika
    peraturan saat ini dan yang kedua adalah anggota dalam sebuah organisasi
    dengan sistem kontrol sendiri. Ini sering mengarah ke pengawas mereka
    terbalik. Konflik peran disebabkan oleh adanya dua “perintah” yang berbeda.
    diterima secara bersamaan saat mengeksekusi hanya satu instruksi dan
    mengabaikan hasil dan perintah lainnya. (Wolfe & Snoke, 1962 dan Arfan
    İkhsan dan Muhammad İshak, 2005).”
  2. Role Ambiguity
    “Ambiguitas peran tidak cukup informasi bagi seseorang untuk
    menjalankan memainkan peran yang memuaskan (Kahn et al. 1964 dan Dyah
    2002). (Rebele & Michaels, 1990) Ambiguitas peran adalah ketidakpastian
    tentang prospek pekerjaan, metode harapan yang diketahui dan/atau hasil
    kinerja harus dipenuhi atau peran tertentu. Tentang ambiguitas peran dengan
    ketidakpastian dalam harapan bekerja untuk memenuhi harapan ini, atau
    pengaruh peran atau kinerja tertentu (Rebele dan Michael, 1990).”
    “Menurut Munandara (2001:34), Jenis konflik ini terjadi ketika terjadi
    kelaparan. pengalaman pengetahuan sebagai individu dan melaksanakan tugas
    pokok dan fungsi atau tidak selesai menunggu pekerjaan terkait peran tertentu
    (Maslach dan Jackson, 1984) menjelaskan auditor memiliki informasi ini lebih
    atau kurang menyelesaikan tugas atau peran terkait pekerjaannya dan juga
    informasi tidak cukup untuk menimbulkan tujuan dan arah kerja menjadi tidak
    jelas, kesannya seperti. jangan lakukan itu karena membutuhkan energi mental
    yang tinggi menyelesaikan ambiguitas peran individu (Maslach dan Jackson,
    1984).”
  3. Role Overload
    “Kelebihan peran adalah perselisihan yang muncul pada gagasan bahwa
    individu mampu untuk menyelesaikan misi anda tepat dalam waktu singkat
    tidak mungkin (Abraham, 1997). (Yustrianthe, 2008) menyimpulkan bahwa
    mungkin juga ada peran penyederhanaan yang berlebihan terjadi ketika
    keterampilan dan waktu tidak cocok dengan beban kerja. di musim ramai dari
    Oktober sampai bulan April , KAP akan menerima banyak pekerjaan tahun
    depan sehingga auditor sering memacu waktu dan didorong untuk
    menyelesaikan pekerjaan bekerja untuk waktu yang terbatas padahal harus
    dilakukan oleh lebih dari satu orang.”

Kinerja Audit internal


“Meski memasuki era New Normal, kondisi saat ini diyakini masih
menimbulkan ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir. Tidak ada yang
tahu kapan kita akan kembali hidup normal tanpa masker seperti dulu. Dewan
Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI)
menemukan bahwa, seiring dengan evolusi situasi pandemi global Virus
Corona (Covid-19), ketidakpastian muncul dari pandemi. penilaian kinerja dan
audit. Organisasi dalam penyusunan laporan keuangan. . Untuk memastikan
konsistensi penerapan SAK, DSAK IAI memutuskan untuk mengeluarkan
pedoman penerapan beberapa standar terkait dampak pandemi Covid-19.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) (2019: 1), Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan (PSAK) memiliki beberapa penerapan yang perlu
diperhatikan selama wabah Covid 19”
a. PSAK 8
“Peristiwa pasca periode dimaksudkan untuk memberikan petunjuk
apakah wabah Covid-19 merupakan peristiwa pasca periode yang dapat
mempengaruhi laporan keuangan tahun 2019.”
b. PSAK 71
“Instrumen Keuangan – Diimplementasikan pada awal 1 Januari 2020
untuk memberikan penjelasan dan panduan apakah wabah Covid-19 akan
mempengaruhi perhitungan Expected Credit Loss (ECL). ) pada tanggal
penerapan awal PSAK 71 pada 1 Januari 2020 atau tidak.”
c. PSAK 71
Instrumen Keuangan Expected Credit Loss (SEE), indikator dampak
wabah Covid-19 dalam perhitungan ELC 2020, terutama terkait berbagai
kebijakan pelonggaran Proses audit adalah serangkaian langkah-langkah yang
dilakukan oleh auditor untuk menilai keandalan dan kewajaran informasi
keuangan. Proses audit meliputi beberapa tahap, yaitu:
1) Persiapan: Auditor akan menyiapkan semua dokumen dan informasi yang
diperlukan untuk melakukan audit, termasuk mengatur jadwal audit dan
menetapkan tujuan dan sasaran audit.
2) Pengumpulan bukti: Auditor akan mengumpulkan bukti-bukti yang relevan
untuk mendukung penilaian yang akan dilakukan. Bukti-bukti ini dapat
berupa dokumen, catatan, dan informasi lain yang dikumpulkan melalui
wawancara, observasi, atau pengujian sampel.
3) Penilaian: Auditor akan menilai bukti-bukti yang telah dikumpulkan untuk
memverifikasi bahwa semua aspek operasi dan keuangan auditee sesuai
dengan standar yang ditetapkan.
4) Laporan: Auditor akan menyusun laporan audit yang menyajikan hasil
penilaian dan rekomendasi untuk perbaikan, jika diperlukan. Laporan audit
akan diberikan kepada auditee dan pihak yang berkepentingan lainnya.
5) Tindak lanjut: Auditee akan menindaklanjuti rekomendasi yang diberikan
oleh auditor, jika diperlukan, untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
operasi dan keuangan organisasi.instansi/pemerintah.

Pengertian Audit Internal


“Menurut Hery (2018:1), pengertian audit internal adalah sebagai
berikut: “Audit internal adalah serangkaian proses dan teknik yang digunakan
karyawan perusahaan untuk memastikan keakuratan informasi keuangan dan
kinerja operasi sesuai dengan aturan yang ditetapkan.”
“Sementara itu, Faiz Zamzami dkk (2015:7) menjelaskan pentingnya
audit internal sebagai berikut: “Audit internal adalah kegiatan yang independen
dan objektif yang memberikan jasa asurans dan konsultasi yang dirancang
untuk meningkatkan operasi organisasi dan menambah nilai. pengendalian dan
proses manajemen.”
“Kemudian, Moeller (2016:4) menjelaskan pengertian audit internal
sebagai berikut: “Audit internal adalah fungsi evaluasi independen yang
dibentuk dalam suatu organisasi yang memeriksa dan mengevaluasi kegiatan
organisasi tersebut sebagai layanan kepada organisasi tersebut.”
“Pernyataan di atas masuk akal ketika kita fokus pada istilah kunci.
Audit memberikan ide yang berbeda. Ini dapat dipahami secara sempit sebagai
pemeriksaan akurasi numerik atau keberadaan catatan akuntansi yang
sebenarnya, atau lebih luas lagi, sebagai tinjauan dan evaluasi di tingkat
tertinggi organisasi.”

Tekanan Peran


“(Hardy dan Conway, 1978) mendefinisikan role stress sebagai
konstruksi social, kondisi dimana tanggung jawab peran tidak jelas, sulit,
kontradiktif, atau tidak mungkin dipenuhi Dengan kata lain, tekanan peran
merupakan kondisi struktur sosial. peran tidak jelas, sulit, kontradiktif atau tidak
mungkin Tekanan silinder pada dasarnya adalah suatu kondisi peran setiap
orang memiliki harapan yang berbeda yang mempengaruhi harapan orang lain,
ketika harapan ini mungkin bertentangan, Perannya ambigu dan kompleks,
karenanya perannya tidak pasti, sulit, kontradiktif atau tidak mungkin.
Penelitian sebelumnya tentang stres peran dalam profesi akuntan publik
menggunakan dua elemen ketegangan peran; di sini Unsur tekanan peran
berdasarkan pengalaman dan persepsi auditor Terkait dengan karakteristik
organisasi akuntan publik adalah konflik peran. (konflik peran) dan ambiguitas
peran (Bamber, Snowball, dll. 1989). (Gregson, Wendell dan Aono, 1994).
(Sorensen, 1974) “Ini adalah ciri dari profesi akuntan publik,” katanya.
Kemungkinan konflik dan ketidakpastian dengan kata lain, profesi akuntan
publik dianggap sebagai salah satu pekerjaan dengan potensi konflik dan Peran
ambigu. Selain itu, ( Fogarty et al, 2000) dan (Almer dan Kaplan, 2002)
menambahkan unsur penelitiannya ke lingkungan akuntan publik Tekanan
Peran, kelebihan peran (role overload). Oleh karena itu, penelitian ini
menggunakan tiga elemen tekanan peran (role stress), seperti yang
dikemukakan oleh ( Fogarty et al, 2000) dan (Almer & Kaplan, 2002), yang
terdiri dari konflik peran (role conflict), ketidakjelasan peran (role ambiguity),
dan kelebihan peran (role overload)

Pengertian Peran


“Penekanan pada teori peran sifat individu dalam perilakunya di
masyarakat disinkronkan dengan posisi yang diduduki (Solomon et al., 1985).
(Harijanto dkk. 2013) mencerminkan konsep teori peran posisi rata-rata
individu masyarakat dalam suatu sistem sosial yang memiliki Hubungan antara
hak dan kewajiban dan kekuasaan serta tanggung jawab. Setiap orang memiliki
peran, dan keluarga, pekerjaan dan lingkungan sosial, di mana ia berperilaku di
masing-masing peran ini Jika tidak. Misalnya, pekerja bekerja Bisa ada lebih
dari satu orang di perusahaan satu, sebagai bagian dari perusahaan, Anggota
serikat atau ketika itu komite keselamatan Interaksi sosial memegang peranan
penting. dalam sebagai identitas interpretative Identitas dan siapa yang bisa
bertindak sekarang. Hasilnya adalah, Apa profesi yang mendefinisikan
seseorang, Mereka diharapkan berperilaku social dengan perannya masingmasing. Menurut (Agustina, 2009), peran stres atau Tekanan silinder pada
dasarnya adalah suatu kondisi di mana peran juga terpengaruh keinginan orang
lain, untuk Transisi bisa tidak pasti dan sulit. Hal Ini memperumit peran tidak
jelas, kontradiktif, atau sulit diadaptasi mengharapkan. Ada tiga jenis stres
peran: konflik peran, ambiguitas peran, dan kelebihan peran (Fogarty,et al.,
2000)”

Dampak Ketidakpuasan Kerja


Dampak Ketidakpuasan Kerja menurut Robbins dan Judge (2015)
1) Exit
Ini adalah merupakan salah satu respon langsung bila pekerja tidak
puas akan pekerjaan. Dan menunjukan perilaku ingin meninggalkan
organisasi.
2) Voice
Berusaha memperbaiki kondisi, menganjurkan perbaikan,
mendiskuasikan masalah dengan atasan dan melakukan beberapa
aktifitas yang berrentuk persyarikatan, baik secara aktif maupun
konstruktif.
3) Loyality
Pekerja menunggu kondisi untuk membaik secara pasif, termasuk
saat organisasi mendapatkan kritik eksternal dan mempercayai
organisasi dan manajemen melakukan hal yang benar.
4) Neglect
Neglect memperburuk keadaan termasuk kemangkiran atau
keterlambatan, dapat mengurangi usaha dan dapat meningkatkan
tingkat kesalahan, pengaruh itu sendiri bersifat pasif

Indikasi Kepuasan Kerja


Menurut Edison dkk (2017) beberapa indikasi kepuasan kerja:
1) Upah, kelayakan upah yang diberikan kepada pekerja.
2) Pekerjaan, dapat bertanggung jawab kepada pekerjaannya sendiri.
3) Kesempatan promosi, memberikan peluang untuk pekerja mendapat
promosi.
4) Penyelia, penyelia harus memberikan perhatian pada bawahannya.
5) Rekan sekerja, kontribusi yang diberikan rekan kerja selama
melaksanakan pekerjaan

Fakto-faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Factor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan menurut
Usman (2010):
1) Imbalan Jasa.
2) Rasa Aman.
3) Pengaruh antar pribadi.
4) Kondisi lingkungan kerja.
5) Kesempatan untuk pengembangan dan peningkatan diri.
Menurut Sinambela (2017) terdapat 6 faktor yang mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan:
1) faktor psikologi : minat, ketentraman dalam bekerja, sikap kerja,
bakat dan ketrampilan.
2) faktor sosial : fatror yang mengurus tentang interaksi sosial baik
dengan pegawai maupun dengan atasannya.
3) faktor fisik, faktor tentang kondisi fisik lingkungan dan pegawai.
4) faktor finansial, faktor tentang jaminan soasial serta kesejahteraan
sosial.
5) mutu pengawasan, faktor untuk meningkatkan hubungna baik
antara pemimpin dan bawahan.
6) faktor hubungan antar pegawai: manajer dan pegawai, fisik dan
kondisi kerja, hubungan sosial antar pegawai, sugesti, emosi dan
situasi kerja.
Penyebab kepuasan kerja menurut Menurut Sinambela (2017) ada 2
faktor:
1) faktor gaji, pekerja mendapatkan gaji yang bagus dan aktivitas
pekerjaan yang bervariasi.
2) perbedaan individu, fator tentang harga diri dan kepuasan kerja.

Teori-teori Kepuasan Kerja


Teori-teori tentang kepuasan kerja menurut Mangkunegara (2011)
antara lain:
1) Teori keseimbangan, komponennya input, outcome, comparason
person, equity in equity.
2) Teori perbedaan, menghitung antara selisih yang seharusnya dengan
kenyataan
3) Teori pemenuhan kebutuhan, kepuasan pegawai akan terpenuhi bila
merasa puas
4) Teori pandangan kelompok, bukan hanya pemenuhan saja tetapi
kepuasan juga tergantung pada kelompok.
5) Teori dua faktor dari Herzberg, untuk menganalisis puas atau tidak
puasnya
6) Teori penerapan

Pengertian Kepuasan Kerja


Menurut Robbins dan Judge (2015) kepuasan kerja adalah suatu
perasaan yang bersifat positif tentang pekerjaan mereka yang diperoleh dari
evaluasi karakteristiknya. Begitu juga Menurut Moorhead dan Griffin (2013)
kepuasan kerja adalah pencermianan tingkat dimana orang menemukan
kepuasan atau pemenuhan dalam pekerjaan mereka. Dan Menurut Wibowo
(2015) kepuasan kerja adalah suatu tingkat perasaan senang yang merupakan
penilaian positif terhadap pekerjaan maupun lingkungan tempat kerjanya.
Menurut Prihansa (2018) kepuasan kerja sekumpulan perasaan seorang
pegawai atas pekerjaannya, apakah merasa senang ataupun tidak senang dan
itu dihasilkan dari interaksi antara pekerja dengan lingkungan pekerjaan
maupun sebagai presepsi sikap mental, merupakan penilaian atas pegawai
pada pekerjaannya. Dan Menurut Badriyah (2015) kepuasan kerja sikap atau
perasaan pegawai terhadap aspek-aspek yang senang maupun yang tidak
senang mengnai pekerjaan yang sesuai dengan penilaian kerja masingmasing.
Menurut Sinambela (2017) kepuasan kerja perasaan seorang pegawai
atas pekerjaannya yang dihasilkan berdasarka usahanya sendiri dan
didukung oleh hal-hal yang berasal dari luar dirinya atas keadilan kerja, hasil
kerja dan kerja itu sendiri. Berdasarkan dari berbagai pendapat di atas dapat
disimpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan sikap seseorang yang merasa
puas terhadap pekerjaannya.

Cara Menciptakan Budaya Organisasi Yang Positif


Menurut Robbin dan Judge (2015) budaya organisasi yang positif bisa
dilakukan dengan cara:
1) Membangun kekuatan pekerja, hal ini digunakan untuk
menekankan dan memperlihatkan bahwa mereka dapat
mengapitalisasikan kekuatan mereka pada para pekerja, walaupun
budaya organisasi yang positif tidak mungkin mengabaikan
permasalahan yang ada.
2) Imbalan diberikan banyak daripada memberikan hukuman,
memberikan imbalan tidak lah sulit bisanya dilakukan dengan
memberikan gaji maupun promosi.
3) Menekankan pada vitalitas dan pertumbuhan, bukan hanya pekerja
memberikan kontribusi efektif bagi organisasional tetapi juga
menghargai perbedaan antara pekerja dengan karir.
4) Batasan dari budaya yang poistif, .pekerja menjadi bimbang apakah
mereka sudah melakukan dengan baik atau belum, meskipun
perusahan sudah memberlakukan semua aspek dan budaya
organisasi yang positif.

Cara Menciptakan Budaya Yang Baik dan Beretika


Menurut Robbin dan Judge (2015) menciptakan budaya yang baik dan
beretika bisa dilakukan dengan cara:
1) Menjadi panutan yang terlihat, manajemen puncak akan menjadi
patoka untuk pera pekerja dalam mengerjakan pekerjaannya.
2) Mengomunikasikan ekspektasi yang beretika, dengan cara
membagikan kode etik organisasional yang menyangkup prinsip
dasar dan aturan etika dapat meminimalkan ketidakjelasan.
3) Menyediakan pelatihan yang beretika, untuk menegakkan standar
etika perlu diadakan seminar, loka karya serta program pelatihan.
4) Memberi imbalan untuk tindakan yang beretika dan memberi
hukuman untuk tindakan yang tidak beretika, memberikan imbalan
yang tampak bagi mereka yang beretika dan memberika hukuman
yang mencolok bagi mereka yang tidak beretika, beretika atau tidak
beretika diukur atas kode etik perusahaan.
5) Menyediakan mekanismen perlindungan, melaporkan perilaku yang
tidak etis tanpa ketakutan dan teguran dapat dilakukan secara
formal karena tersedianya mekanisme perlindungan.

Cara Membuat Budaya Organisasi Yang Dominan


Menurut Wahjono (2010) budaya organisasi yang dominanv
1) Budaya kuat melawan budaya lemah
Budaya kuat menciptakan iklim internal dari kendali perilaku yang
tinggi itu dipengaruhi oleh perilaku setiap anggotanya karena
kingkat kebersamaan yang tinggi dan intens.
2) Budaya vs formalisasi
Jalan yang berkebalikan tetapi mempunyai tujuan yang sama dapat
dilakukan oleh budaya dan formalitas. Untuk mengontrol dan
bertindak sebagai sebuah substitute bagi formalisasi bisa
menggunakan budaya sebagai sarana yang kuat.
3) Budaya organisasi lewat budaya nasional
Dampak yang lebih besar pada para karyawan daripada organisasi
mereka sendiri dapat dilakukan oleh Budaya nasional

Cara Mempertahankan Suatu Budaya


Menurut Robbin dan Judge (2015) untuk mempertahankan suatu
budaya hidup bisa dilakukan dengan cara:
1) Pemilihan, untuk merekrut individu yang mempunyai keahlian,
pengetahuan dan kemampuan dalam bekerja adalah tujuan secara
eksplisit dari suatu proses pemilihan.
2) Manajemen puncak, dampak utama yang bisa terjadi pada budaya
organisasi bisa jadi itu akibat dari tindakan manajer puncak.
3) Sosialisasi, sosialisasi biasanya dibutuhkan oleh karyawan baru
untuk menyesuaikan diri dengan budaya yang berlaku di organisasi
tersebut, tanpa peduli sebaik apa perusahaan dalam merekrut dan
menyeleksi karyawan.
4) Tahap sebelum kedatangan, para pendatang baru membuat
ekspetasi mereka sendiri tentang pekerjaan dan organisasi, dan
perlu diketahui bahwa pendatang baru datang dengan serangkaian
nilai, tingkah laku.
5) Pertemuan, ditahap ini bisanya pendatang baru mempertentangkan
kemungkinan dari ekspektasi merekas sendiri karena bisa jadi
ekpektasi berbeda dengan realita.

Usaha Untuk Mempertahankan Budaya Organisasi


Menurut Wahjono (2010) usaha-usaha sosialisasi untuk mempertankan
budaya organisasi
1) Menyeleksi karyawan baru, perusahaan mengharapkan menemukan
sumberdaya yang cocok dengan visi pendiri atau yang mempunyai
potensi pengembanagan diri yang besar dengan adanya seleksi
karyawan baru perusahaan.
2) Penempatan kerja, sumberdaya yang baru diharapkan bisa disiplin
pada saat ditempatkan di unit kerja melalui pelatihan yang
dilakukan perusahaan.
3) Penguasaan kerja, jika karyawan sudah memasuki masa kerja yang
cukup maka penugasan akan didapatkan.
4) Mengukur dan memberi penghargaan, dilakuakan dengan seksama
sesuai dengan apa telah disepakati bersama.
5) Ketaatan pada nilai-nilai yang penting, saat pegawai tersebut
mempunyai rasa memiliki organisasi, maka dengan sendirinya akan
bersikap taat.
6) Hikmah terhadap sejarah organisasi, saat pegawai memiliki rasa
ketaatan, rasa cinta rasa memiliki organisasi tersebut maka hikmah
terhadap sejarah organisasi akan kita dapatkan dengan sendirinya.
7) Model peran konsisten dibutuhkan untuk proses sirkuler berikutnya,
melakukan perekrutan anggota organisasi baru membuat pegawai
lama akan melakukan kegiatan yang sama.

Fungsi Budaya Organisasi


Menurut Robbin dan Judge (2015) fungsi dari budaya organisasi itu
ada 5 yaitu:
1) Dalam menyampaikan menciptakan perbedaan antara suatu
organisasi dengan organisasi yang lain, bisa diggunakan saat
mendefinisi batasan.
2) Bagi para anggota organisasi bisa digunakan untuk menyampaikan
suatu perasaan dan identitas sendiri.
3) Daripada kepentingan dirisendiri, budaya akan memfasilitasi
komitmen yang lebih besar.
4) Dengan menyediakan standar bagi apa yang seharusanya dikatakan
dan dilakukan, budaya menjadi perekat sosoal untuk mendorong
stabilitas dari sistem sosial.
5) Tingkah laku dan perilaku dari para pekerja dapat dibentuk melalui
pengambilan perasaan dan mekanisme pengendalian.

Karakteristik Budaya Organisasi


Menurut Robbin dan Judge (2015) karakteristik budaya budaya
organisasi antaralain:
1) Inovasi dalam pengambilan resiko
Sejauh mana perusahaan dapat mendorong para pegawainya untuk
berinovasi dan mengambil resiko.
2) Perhatian kerincian
Sejauh mana perusahaan mendorong para karyawannya untuk
menunjukkan kecermatan, analisi dan perhatian kepada rincian.
3) Orientasi pada hasil
Perusahaan menitikberatkan orientasinya pada hasil dan bukan pada
proses dan teknik yang digunakan oleh karyawan tersebut untuk
mencapai hasil.
4) Orientasi orang
Tingkat efek yang diberikan manajemen akibat dari pengambilan
keputusan oleh para manajemen dari hasil-hasil pada orang-orang
didalam organisasi itu.
5) Orientasi tim
Bukannya oleh individu-individu tetapi kegiatan tim
diorganisasikan sekitar tim-tim oleh perusahaan.
6) Keagresifan
Bukannya santai-santai, perusahaan lebih mengharapkan para
pegawai untuk agresif.
7) Kemantapan
Lebih menekankan untuk mempertahankan status quo dari pada
pertumbuhan suatu perusahaan.

Pengertian Budaya Organisasi


Menurut Robbins dan Coulter (2007) sepertiapa karyawan berperilaku
dalam sebuah organisasi yang ditentukan, oleh sebuah sistem makna dan
keyakinan bersama yang dianut oleh para anggotanya dalam sebuah
organisasi merupakan definisi dari budaya organisasi.
Menurut Robbin dan Judge (2015) sistem yang memiliki berbagai arti
yang dapat diggunakan untuk membedakaan suatu organisasi dengan
organisasi yang lain dimana itu dilakuan oleh pegawai organisasi tersebut
merupakan budaya organisasi.
Menurut Edison dkk (2017) budaya organisasi adalah norma-norma
dan filosofi yang baru yang memiliki energi serta kebanggaan kelompok
dalam menghadapi sesuatu dan tujuan tertentu dan itu didapat dari hasil
proses melebur gaya budaya atau perilaku setiap individu yang mereka bawa
kedalam organisasi.

Metode-metode Penanganan Konflik


Menurut Martoyo (2000) metode-metode penanganan konflik antara
lain:
1) Mengidentifikasi masalah.
Dilakukannya metode ini bertujuan untuk mengetahui pokok dari
permasalahnya agar tidak keliru dalam penanganannya.
2) Menentukan tujuan yang hendak dicapai.
Setelah masalahnya terpecahkan baru melakukan metode ini.
Tujuan tersebut dapat bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
3) Menentukan kreteria keberhasilan.
Untuk menilai keberhasilan pencapaian tujuan.
4) Menjabarkan alternatif-alternaif tindakan.
Beberapa alternatif pemecah masalah konflik perlu dirumuskan
dalam rangka mencari pemecahan yang terbaik.
5) Memilih alternatif terbaik.
Dalam pemilihan aternatif terbaik ini dipilih yang paling tepat
agar semua tujuan penanganan konflik dapat tercapai.
6) Percobaan dan penyempurnaan.
Setelah alternatif terbaik dipilih perlu beberapa percobaan, bila
dirasa kurang tepat maka akan disempurnakan lagi.
7) Pelakasaan.
Setelah dilakukan penyempurnan-penyempurnan yang matang
maka diharapkan konflik bisa diatasi dengan baik dan benar.

Akibat-akibat Konflik


Menurut Nitisemito (1996) akibat-akibat ada 2 yaitu akibat positif dan
akibat negatif:

  1. Akibat Positif
    a. Akan menimbulkan kemampuan mengoreksi diri.
    b. Dapat meningkatkan prestasi.
    c. Bisa menjadi pendekatan yang lebih baik.
    d. Bisa mengembangkan alternatif yang lebih baik
  2. Akibat Negatif
    a. Subyektif dan emosionil.
    b. Apriori.
    c. Saling menjatuhkan.
    d. Frustasi.

Penyebab Terjadinya Konflik


Menurut Mangkunegara (2011) penyebab terjadinya konflik kerja
antara lain:
1) Koordianasi kerja yang tidak dilakukan oleh pekerja.
2) Ketergantungan pegawai dalam pelaksanaan tugas.
3) Tugas yang diberikan tidak jelas.
4) Perbedaan dalam orientasi kerja.
5) perbedaan dalam memahami tujuan organisasi.
6) Perbedaan persepsi.
7) Sistem kompetensi insentif.
8) Strategi permotifasian yang tidak tepat.

Tipe dan Lokus Konflik


Menurut Robbin dan Judge (2015) tipe dan lokus konflik adalah:
1) Jenis konflik
Konflik tugas terkait dengan yang terjadi isi dan tujuan dari suatu
pekerjaan itu. Konflik hubungan konflik yang didasari atas
hubungan interpersonal dalam suatu organisasi tersebut. Konflik
proses adalah konflik yang terjadi saat sedang mengerjakan segala
pekerjaan yang sudah ada, tentang bagaimana cara
menyelesaikannya.
2) Lokus konflik
Konflik ini baru akan terjadi apabila ada 2 orang. Konflik
intragrup sudah bisa dipastikan bahwa konflik ini akan terjadi
didalam sebuah grup atau tim. Konflik antar kelompok, sudah bisa
dipastikan bahwa konflik ini akan terjadi di antar grup atau tim.

Pandangan Tentang Konflik


Ada beberapa pandangan tentang konflik menurut para ahli, antara lain
:
1) Pandangan tradisional atas konflik menurut Robbin dan Judge
(2015), menyatakan bahwa yang harus dihindari dan bahaya bisa
diyakini bahwa itu konflik. Akibat dari komunikasi yang buruk,
kurangnaya keterbukaan dan kepercayaan serta kegagalan dari
manajer untuk menjadi responsif terhadap kebutuhan dan masukan
dari para karyawan membuat konflik dipandang sebagai hasil dari
disfungsional atau sering disebut kegagalan fungsi.
2) Pandangan Interaksionis atas konflik menurut Robbin dan Judge
(2015), untuk perubahan dan inovasi kita harus membuat kerjasama
kelompok yang harmonis, damai dan tenang. Memahami bahwa
konflik mempunyai level yang minimal yang dapat membangun
suatu kelompok tetap bersemangat, kritis terhadap diri sendiri dan
kreatif. Semua konflik bukan konflik yang baik menurut pendapat
interakionis. Ada 2 jenis konflik menurut interasksionis. Yang
pertama, konflik fungsional ini adalah jenis konflik yang
membangun. Yang kedua adalah konflik disfungsional konflik ini
adalah konflik yang menghancurkan.

Pengertian Konflik Peran


Menurut Moorhead dan Griffin (2013) ketika pesan dan petunjuk yang
diberikan orang lain mengenai peran tersebut jelas, tetapi berkontradiksi atau
saling eksklusif itu disebut dengan konflik peran.
Menurut Robbin dan Judge (2015) situasi di mana seorang individu
sedang dihadapkan dengan sebuah ekspektasi-ekspektasi peran yang
berlainan dengan ekspektasinya bisa disebut dengan konflik peran.
Menurut Winardi (2015) sekelompok aktivitas yang telah
diekspektaksi oleh pihak lain dan akan segera dilaksanakan individu tersebut
pada posisinya dalam organisasi tempatnya bekerja sering juga disebut
sebagai konflik peran.
Menurut Rizzo et. al. (1970) Dimana kompatibilitas kongruensi dinilai
relatif terhadap standar kondisi yang mempengaruhi kinerja peran bisa
disebut dengan konflik peran. Berdasarkan berbagai macam pendapat dapat
di simpulkan bahwan konflik peran adalah konflik terjadi pada karyawan
karena adanya ketidak sesuaian saat menjalankan peran-peran tertentu.
Ketika seseorang menghadapi tuntutan yang saling bertentangan antara
pekerja dan keluarganya biasanya akan terjadi konflik peran. Kebingungan
untuk mengambil keputusan mana yang lebih baiktidaknya untuk dirinya
salah satu faktor yang menyebabkannya adalah konflik peran. Ketika
internalisasi nilai, etika, atau standar pribadi saling bertolak belakang dengan
harapan orang lain juga akan terjadi akibat adanya konflik peran.

Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Menurut Mitchel dalam Sedarmayanti (2001:51), menyebutkan aspekaspek yang meliputi kinerja yang dapat dijadikan ukuran kinerja seseorang,
yaitu sebagai berikut:
a. Kualitas Kerja (Quality of Work)

  1. Hasil kerja yang diperoleh
  2. Kesesuaian hasil kerja dengan tujuan organisasi
  3. Manfaat hasil kerja
    b. Ketepatan Waktu (Promptness)
  4. Penataan rencana kegiatan/ rencana kerja
  5. Ketepatan rencana kerja
  6. Ketepatan waktu dalam tugas
    c. Inisiatif (Initiative)
  7. Pemberian ide/ gagasan dalam berorganisasi
  8. Tindakan untuk menyelesaikan permasalahan
    d. Kemampuan (Capability)
  9. Kemampuan yang dimiliki
  10. Keterampilan yang dimiliki
  11. Kemampuan memanfaatkan sumber daya atau potensi
    e. Komunikasi (Communication)
  12. Komunikasi intern (ke dalam) organisasi
  13. Komunikasi ekstern (ke luar) organisasi
  14. Relasi dan kerjasama dalam pelaksanaan tugas Indikator
    Sedangkan menurut Bernadin dan Russel (2000:213), menjelaskan
    enam kriteria primer yang digunakan untuk mengukur kinerja :
    a. Quality, merupakan tingkat sejauh mana proses atau hasil
    pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati
    tujuan yang diharapkan.
    b. Quantity, merupakan jumlah yang dihasilkan, misalkan jumlah
    rupiah, jumlah unit, jumlah siklus, kegiatan yang diselesaikan.
    c. Timeliness, adalah tingkat sejauh mana suatu kegiatan diselesaikan
    pada waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan kordinasi
    output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan lain.
    d. Cost effectiviness, adalah tingkat sejauh mana penggunaan daya
    organisasi (manusia, keuangan, teknologi, material) dimaksimalkan
    utnuk mencapai hasil tertinggi atau pengurangan kerugian dari
    setiap unit penggunaan sumberdaya.
    e. Need for supervisor, merupakan tingkat sejauh mana seorang dapat
    melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan
    pengawasan seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang
    kurang diinginkan.
    f. Interpersonal impact, merupakan tingkat sejauh mana
    karyawan/pekerja memelihara harga diri, nama baik dan kerjasama
    di antara rekan kerja dan bawahan.

Pengertian Kinerja


Helfert dalam Rivai & Sagala (2010:604) menjelaskan bahwa kinerja
adalah suatu tampilan keadaan secara utuh atas perusahaan selama periode waktu tertentu, merupakan hasil atau perestasi yang dipengaruhi oleh
kegiatan operasional perusahaan dalam memanfaatkan sumber-sumber
daya yang dimiliki.
Sedangkan Hasibuan (2005:94) menjelaskan kinerja adalah suatu hasil
kerja yang dicapai seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang
dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan, pengalaman dan
kesungguhan serta waktu.
Menurut Robert L. Mathis dan John H. Jackson Terjamahaan Jimmy
Sadeli dan Bayu Prawira (2001:78) bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa
yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan. Kinerja karyawan yang
umum untuk kebanyakan pekerjaan meliputi elemen yaitu kuantitas dari hasil,
kualitas dari hasil, ketepatan waktu dari hasil, kehadiran, dan kemampuan
bekerja sama.
Irawan ( 2000:588 ) menyatakan bahwa : kinerja adalah hasil kerja
yang konkrit, dapat diamati, dan dapat diukur. Sehingga kinerja merupakan
hasil kerja yang dicapai oleh pegawai dalam pelaksanaan tugas yang
berdasarkan ukuran dan waktu yang telah ditentukan.
Sedangkan menurut Wibowo (2007:7) kinerja merupakan hasil
pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi,
kepuasan konsumen, dan memberikan kontribusi pada ekonomi. Dengan
demikian kinerja adalah tentang melakukan pekerjaan dan hasil yang dicapai
dari pekerjaan tersebut. Kinerja adalah tentang apa yang dikerjakan dan
bagaimana cara mengerjakannya.
Kemudian menurut Ambar Teguh Sulistiyani (2003:223) Kinerja
seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan
yang dapat dinilai dari hasil kerjanya.
Menurut Soeprihanto (2002:7), kinerja merupakan hasil kerja seorang
karyawan selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, misalnya standar, target atau kriteria yang telah ditentukan
terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.
Menurut Veizal Rivai ( 2004:309) Kinerja merupakan hasil atau
tingkatan keberhasilan seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu
dalam melaksanakan tugas dibandingkan dengan standar hasil kerja, target
atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah
disepakati bersama. Lebih lanjut Rivai menyatakan bahwa kinerja tidak
berdiri sendiri tapi berhubungan dengan kepuasan kerja dan kompensasi,
dipengaruhi oleh ketrampilan, kemampuan dan sifat – sifat individu. Dengan
kata lain kinerja ditentukan oleh kemampuan, keinginan dan lingkungan.
Oleh karena itu agar mempunyai kinerja yang baik, seseorang harus
mempunyai keinginan yang tinggi untuk mengerjakan dan mengetahui
pekerjaannya serta dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara
pekerjaan dan kemampuan.

Pengertian Konflik Peran Ganda


Konflik secara umum adalah bertemunya dua kepentingan yang berbeda
dalam waktu yang bersamaan dan dapat menimbulkan efek yang negatif.
Howard (2008) mengemukakan work family conflict terjadi ketika ada
ketidak sesuaian antara peran yang satu dengan peran lainnya (inter-role
conflict) dimana terdapat tekanan yang berbeda antara peran di keluarga dan
di pekerjaan. Menurut Triaryati (2003), work-family conflict (WFC)
merupakan suatu bentuk konflik peran dimana tuntutan peran dari pekerjaan
dan keluarga secara mutual tidak dapat disejajarkan dalam beberapa hal.
Work family conflict terjadi ketika adanya harapan yang bertentangan
yang dirasakan oleh individu terhadap peran-peran yang dimilikinya
sehingga pemenuhan kebutuhan sulit untuk dipenuhi .
Tuntutan pekerjaan berhubungan dengan tekanan yang berasal dari beban
kerja yang berlebihan dan waktu, seperti; pekerjaan yang harus diselesaikan
terburu-buru dan deadline. Tuntutan keluarga berhubungan dengan waktu
yang dibutuhkan untuk menangani tugas-tugas rumah tangga dan menjaga
anak. Tuntutan keluarga ini ditentukan oleh besarnya keluarga, komposisi
keluarga dan jumlah anggota keluarga yang memiliki ketergantungan
terhadap anggota yang lain. Yang, Chen, Choi & Zou (2000) dalam
Nyoman Triaryati (2003:86).

Sumber-Sumber Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict).


Green dan Beutell (2011) menyatakan bahwa seseorang yang mengalami
konflik peran ganda akan merasakan ketegangan dalam bekerja. Konflik
peran ini bersifat psikologis. Gejala yang terlihat pada individu yang
mengalami konflik peran ini adalah frustasi, rasa bersalah, kegelisahan,
dan keletihan
Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) ini terjadi ketika kehidupan
rumah seseorang berbenturan dengan tanggung jawabnya ditempat kerja,
seperti masuk kerja tepat waktu, menyelesaikan tugas harian, atau kerja
lembur. Demikian juga tuntutan kehidupan rumah yang menghalangi
seseorang untuk meluangkan waktu untuk pekerjaannya atau kegiatan yang
berkenaan dengan kariernya.
Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) muncul apabila wanita
merasakan ketegangan antara peran pekerjaan dengan peran keluarga.
Greenhaus dan Beutell dalam Adekola (2010:1070) mengidentifikasikan tiga
jenis Konflik Peran Ganda (Work Family Conflict) yaitu:

  1. Konflik Berdasarkan Waktu (Time-Based Conflict)
    Waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan salah satu tuntutan
    (keluarga atau pekerjaan) dapat mengurangi waktu untuk menjalankan
    tuntutan yang lainnya (pekerjaan atau keluarga). Bentuk konflik Ini secara
    positif berkaitan dengan:
    a. Jumlah jam kerja
    b. Lembur
    c. Tingkat kehadiran
    d. Ketidakteraturan shift
    e. Kontrol jadwal kerja
  2. Konflik Berdasarkan Tekanan (Strain-Based Conflict)
    Terjadi tekanan dari salah satu peran mempengaruhi kinerja peran
    lainnya.Dimana gejala tekanan, seperti:
    a. Ketegangan
    b. Kecemasan
    c. Kelelahan
    d. Karakter peran kerja
    e. Kehadiran anak baru
    f. Ketersediaan dukungan sosial dari anggota keluarga
    g. Konflik Berdasarkan Perilaku (Behavior-Based Conflict)
    Bentuk terakhir dari konflik pekerjaan-keluarga adalah Behavior-Based
    Conflict, di mana pola-pola tertentu dalam peran-perilaku yang tidak
    sesuai dengan harapan mengenai perilaku dalam peran lainnya. Misalnya,
    stereotip manajerial menekankan agresivitas, kepercayaan diri, kestabilan
    emosi, dan objektivitas. Hal ini kontras dengan harapan citra dan perilaku
    seorang istri dalam keluarga, yang seharusnya menjadi pemberi perhatian,
    simpatik, dan mengasuh. Dengan demikian seseorang dapat mengharapkan
    bahwa para eksekutif perempuan lebih mungkin untuk mengalami bentuk
    konflik daripada eksekutif laki-laki, sebagai perempuan harus berusaha
    keras untuk memenuhi harapan peran yang berbeda di tempat kerja
    maupun dalam keluarga.
    Terdapat 3 faktor yang mempengaruhi Konflik Peran Ganda ( Work
    Familiy Conflict ) menurut Bellavia & Frone (2005:123) yaitu :
  3. Dalam Diri Individu (General Intra Individual Predictors)
    Ciri demografis (jenis kelamin, status keluarga, usia anak terkecil)
    dapat menjadi faktor resiko; kepribadian (seperti emosi negatif, daya
    tahan, ketelitian); dapat membentengi dari potensi konflik peran.
    contohnya adalah wanita lebih berpotensi mengalami konflik peran karena
    tugas-tugas dalam rumah lebih dipandang sebagai tanggung jawab terbesar
    wanita dari pada laki-laki.
  4. Peran Keluarga (Family Role Predictors)
    Pembagian waktu dalam keluarga (pengasuhan dan tugas rumah
    tangga), stresor dari keluarga (terbebani oleh anggota keluarga, konflik
    peran dalam keluarga,).
  5. Peran Pekerjaan (Work Role Predictors)
    Pembagian waktu, terkena stressor kerja (tuntutan pekerjaan atau
    overload, konflik peran kerja, ambiguitas peran kerja, atau ketidakpuasan),
    karakteristik pekerjaan (kerjasama, rasa aman dalam kerja), dukungan
    sosial dari atasan dan rekan, karakteristik tempat kerja. Jumlah tugas yang
    terlalu banyak akan membuat karyawan harus kerja lembur, atau
    banyaknya tugas keluar kota membuat karyawan akan menghabiskan lebih
    banyak waktunya untuk pekerjaan dan untuk berada di perjalanan

Teori-Teori Mengenai Kepuasan Kerja


Pada umumnya terdapat banyak teori yang membahas masalah
kepuasan seseorang dalam bekerja.
Menurut Wexly dan Yukl (1977) dalam bukunya yang berjudul
Organizatioanl Behaviour And Personnel Psychology, teori – teori tentang
kepuasan kerja ada tiga macam yang sudah sering dikenal, yaitu :
1) Teori Keseimbangan (Equity Theory)
Prinsip dari teori ini adalah bahwa orang akan merasa puas atau tidak
puas, tergantung apakah ia merasakan adanya keseimbangan (equity) atau tidak
terhadap suatu situasi. Menurut teori ini equity terdiri dari tiga elemen, yaitu :
a. Input yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakn oleh
karyawan sebagai sumbangan atas pekerjaannya.
b. Out Comes yaitu segala sesuatu yang berharga yang dirasakan
oleh karyawan sebagai hasil dari pekerjaannya.
c. Comparison Persons yaitu Kepada atau dengan siapa karyawan
membandingkan rasio input – outcomes yang dimilikinya.
Comparisons Persons ini bisa berupa seseorang di perusahaan
yang sama, atau ditempat lain, atau bisa pula dengan dirinya
sendiri di waktu lampau.
Menurut teori ini, puas atau tidak puasnya karyawan merupakan hasil dari
membandingkan antara input-outcome dirinya dengan perbandingan inputoutcome karyawan lain (comparison person). Jadi jika perbandingan tersebut
dirasakan seimbang (equity) maka karyawan tersebut akan merasa puas. Tetapi
apabila terjadi tidak seimbang (inequity) dapat menyebabkan dua kemungkinan,
yaitu over compensation inequity (ketidakseimbangan yang menguntungkan
dirinya) dan sebaliknya, under compensation inequity (ketidakseimbangan yang
menguntungkan karyawan lain yang menjadi pembanding atau comparison
person).
2) Teori Perbedaan (Discrepancy Theory)
Teori Perbedaan dari Locke ini menyatakan bahwa kepuasan kerja
karyawan tergantung pada perbedaan antara apa yang didapat dan apa yang
diharapkan oleh karyawan. Apabila yang didapat karyawan ternyata lebih besar
daripada apa yang diharapkan maka karyawan tersebut menjadi puas.
Sebaliknya, apabila yang didapat karyawan lebih rendah daripada yang
diharapkan, akan menyebabkan karyawan tidak puas.
3) Teori Dua Faktor Herzberg (Herzberg’s Two Factor Theory)
Teori dua faktor dikembangkan oleh Frederick Herzberg (1966). Ia
menggunakan teori Abraham Maslow sebagai titik acuannya. Prinsip dari teori ini
adalah kepuasan dan ketidakpuasan kerja itumerupakan dua hal yang berbeda,
artinya kepuasan dan ketidakpuasan kerjaterhadap pekerjaan itu tidak
merupakan suatu variabel yang kontinyu (Herzberg dalam Hasibuan, 2005).
Teori ini pertama dikemukakan oleh Herzberg melalui hasilpenelitian beliau
dengan membagi situasi yang mempengaruhi sikap seseorangterhadap
pekerjaannya menjadi dua kelompok, yaitu :
a.Kelompok satisfiers yaitu situasi yang dibuktikannya sebagai sumber
kepuasan kerja yang terdiri dari tanggung jawab, prestasi,
penghargaan,promosi, dan pekerjaan itu sendiri. Kehadiran faktor ini akan
menimbulkan kepuasan, tetapi tidak hadirnya faktor ini tidak akan selalu
mengakibatkan ketidakpuasan.
b.Kelompok dissatisfiers ialah faktor – faktor yang terbukti menjadi
sumber ketidakpuasan, yang terdiri dari kondisi kerja, gaji, penyelia, teman
kerja,kebijakan administrasi, dan keamanan. Perbaikan terhadap kondisi ini akan
mengurangi atau menghilangkan ketidakpuasan, tetapi tidak akan menimbulkan
kepuasan karena ia bukan sumber kepuasan kerja. Yang menarik dari teori ini
justru terletak pada konsep dasar tentang pemisahan kepuasan dan
ketidakpuasan kerja, karena dianggap kontroversial. Penelitian yang dilakukan
oleh Mills (1967) terhadap 155 orang karyawandari dua buah pabrik besar di
Australia, dimana sampel terdiri dari berbagai tingkatan umur, kebangsaan, lama
dinas, dan macam jabatan.Hasilnya seratus persen mendukung teori dua faktor
tersebut (Moh. As’ad,1995:108-109).(www.scribd.com)
dan dibawah ini juga merupakan teori-teori tambahan mengenai
kepuasan kerja, antara lain :
4) Teori Pemenuhan Kebutuhan (Need Fulfillment Theory)
Teori ini pertama kali dipelopori A. H. Maslow. dikemukakan oleh A. H.
Maslow tahun 1943. Teori ini merupakan kelanjutan dari “Human Science
Theory” Elton Mayo (1880-1949) yang menyatakan bahwa kebutuhan dan
kepuasan seseorang itu jamak, yaitu kebutuhan biologis dan psikologis berupa
kebutuhan meteriil dan non-materiil. Dalam teori ini Maslow menyatakan adanya
suatu hirarki kebutuhan pada setiap orang. Setiap orang memberi prioritas pada
suatu kebutuhan sampai kebutuhan tersebut dapat terpenuhi. Jika suatu
kebutuhan sudah terpenuhi, maka kebutuhan yang kedua akan memegang
peranan, demikian seterusnya menurut urutannya.
5) Teori Pandangan Kelompok (Social Reference Group Theory)
Menurut teori ini, kepuasan kerja karyawan bukanlah bergatung pada
pemenuhan kebutuhan saja, tetapi sangat bergantung pada pandangan dan
pendapat kelompok yang oleh para karyawan dianggap sebagai kelompok
acuan. Kelompok acuan tersebut oleh karyawan dijadikan tolok ukur untuk
menilai dirinya maupun lingkungannya. Jadi, karyawan akan merasa puas
apabila hasil kerjanya sesuai dengan minat dan kebutuhan yang diharapkan oleh
kelompok acuan.

Kepuasan Kerja (Job Satisfaction )


Sebelum masuk kedalam bahasan kepuasan kerja maka terlebih dahulu
akan melihat pengertian dari kepuasan kerja itu sendiri. Kepuasan Kerja
menjelaskan bagaimana konten dari seorang individu dengan pekerjaannya.
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat individual.
Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan
sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan
dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi juga
kepuasannya terhadap kegiatan tersebut. Jadi secara garis besar kepuasan kerja
dapa diartikan sebagai hal yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan
yang mana karyawan pandang dalam pekerjaannya.
Ada berbagai faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepuasan kerja
seseorang, beberapa faktor termasuk tingkat gaji dan tunjangan, keadilan yang
dirasakan dari sistem promosi dalam perusahaan, kualitas kondisi kerja,
kepemimpinan dan hubungan sosial, dan pekerjaan itu sendiri (yang berbagai
tugas yang terlibat, kepentingan dan tantangan pekerjaan menghasilkan, dan
kejelasan deskripsi pekerjaan / persyaratan). Seseorang yang merasa senang
dan bahagia dengan pekerjaannya, dapat dikatakan juga kepuasaan mereka
terhadap pekerjaannya tinggi. Kepuasan kerja tidak sama dengan motivasi tetapi
hal ini jelas terkait satu sama lain.
Menurut Herzberg dalam Hasibuan (2005) ciri perilaku yang puas
adalah mereka yang mempunyai motivasi yang tinggi untuk bekerja , mereka
lebih senang dalam melakukan pekerjaannya, sedangkan ciri pekerja yang
kurang puas adalah mereka yang malas berangkat ke tempat bekerja, dan malas
dalam melaksanakan kewajibannya terhadap pekerjaan.
Sunyoto (2001) juga mengemukakan pendapat bahwa ketidakpuasan
kerja akan berdamapak pada tiga hal, yaitu : produktivitas kerja, kemangkiran
dan keluarnya tenaga kerja, serta kesehatan dari tenaga kerja yang
bersangkutan. Banyak pendapat yang ,menyatakan bahwa produktivitas dapat
ditingkatkan dengan manaikkan kepuasan kerja, namun hasil penelitian tidak
mendukung pandangan ini, karena hubungan antara produktivitas kerja dengan
kepuasan kerja sangat kecil. Produktivitas kerja dipengaruhi oleh banyak faktor
disamping kepuasan kerja itu sendiri. Lawler dan Porter dalam sunyoto (2001)
berpendapat bahwa produktivitas yang tinggi menyebabkan peningkatan dari
kepuasan kerja jika tenaga kerja mempresepsikan bahwa usaha yang telah
dikeluarkan dan hasil yang didapatkan dari usaha tersebut kedua-duanya dirasa
adil dan pantas untuk dibuktikan dengan hasil kerja yang terbaik.
Ketidakhadiran lebih bersifat spontan dan kurang mencerminkan
ketidakpuasan kerja, berbeda dengan berhenti atau keluar dari pekerjaan. Steers
dan Rhodes dalam sunyoto (2001) mengembangkan model pengaruh dari
ketidakhadiran. Ada dua faktor pada perilaku hadir yaitu motivasi untuk hadir dan
kemampuan untuk hadir. Mereka percaya bahwa motivasi untuk hadir
dipengaruhi oleh kepuasan kerja. Menurut Robbins (1998) ketidakpuasan kerja
pada karyawan dapat diungkapkan melalui berbagai cara selain meninggalkan
pekerjaan, karyawan dapat mengeluh, membangkang, mencuri barang milik
organisasi, menghindar dari tanggung jawab (Ashar SunyotoM, 2001: 365-366).

Hubungan Karakteristik Pekerjaan dengan Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja karyawan merupakan aspek yang paling penting
dalam pekerjaan. Ketidakpuasan kerja yang dimiliki karyawan
menyebabkan berbagai masalah yang sama terhadap diri karyawan
maupun perusahaan tempat karyawan bekerja. Perusahaan terpaksa
menanggung biaya yang cukup tinggi apabila kepuasan kerja karyawan
tidak diperhatikan. Hal ini dapat dilihat dari adanya karyawan yang
berhenti kerja, sering absen kerja, dan beberapa masalah pelanggaran
disiplin yang dapat menyebabkan biaya pengeluaran yang cukup tinggi
dalam perusahaan dan menurunnya produktivitas kerja perusahaan. Situasi
tersebut menyebabkan prestasi kerja karyawan menurun dan membuat
karyawan menjadi tidak produktif serta dapat berakibat munculnya stress
kerja dikalangan karyawan yang ada dalam perusahaan. As’ad (2004)
faktor manusia cukup berperan dalam mencapai hasil sesuai dengan tujuan
perusahaan, memberikan motivasi agar dicapai kepuasan kerja bagi para
karyawan merupakan kewajiban bagi setiap pemimpin.
Wijono (2012) kepuasan kerja karyawan adalah suatu hasil perkiraan
karyawan terhadap pekerjaan atau pengalaman positif dan menyenangkan
dirinya. Kepuasan kerja berarti rangsangan yang efektif yang diberikan
oleh karyawan terhadap pekerjaan mereka. Kepuasan kerja karyawan
dapat diklarifikasikan sebagai pengaruh refleksi dari pengalaman
karyawan dan persepsinya terhadap tempat kerja. Karyawan menganggap
bahwa kepuasan kerja karyawan juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik
pekerjaan. Robbins (2001) berpendapat bahwa karakteristik pekerjaan
adalah upaya mengidentifikasi karakteristik tugas dari pekerjaan,
bagaimana karakteristik tersebut digabung untuk membentuk pekerjaanpekerjaan yang berbeda, dan berhubungan dengan motivasi, kepuasan, dan
kinerja karyawan. Karakteristik pekerjaan meliputi bagaimana karyawan
menggunakan beragam keterampilan dan kemampuan untuk
menyelesaikan pekerjaan, tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan
secara keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai hasil
kinerja seseorang, tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak
yang berarti bagi kehidupan orang lain, seberapa besar kebebasan yang
dimiliki karyawan dalam menjadwalkan dan mengatur pekerjaan mereka,
serta besarnya informasi yang karyawan terima tentang efektivitas dan
kualitas pekerjaan yang karyawan laksanakan.
Ada beberapa karakteristik individu yang juga tidak kalah penting
dalam mempengaruhi produktivitas kerja karyawan terutama dapat terlihat
jelas ialah pada usia dan status perkawinan. Usia dapat mempengaruhi
kepuasan kerja karyawan dalam bekerja. Robbins (2001) menjelaskan
bahwa karyawan dengan usia lebih tua akan semakin mampu
menunjukkan kematangan jiwa, dalam arti semakin bijaksana, semakin
mampu berfikir rasional, semakin mampu mengendalikan emosi, semakin
toleran terhadap pandangan dan perilaku yang berbeda dari dirinya dan
semakin dapat menunjukkan kematangan intelektual dan psikologisnya.
Karyawan yang telah menikah lebih puas terhadap kerjanya dibandingkan
dengan karyawan yang belum menikah karena karyawan yang telah
menikah merasa mempunyai tanggungjawab yang besar pada
pekerjaannya. Apabila karakteristik pekerjaan sesuai dengan harapan maka
karyawan akan mempunyai kepuasan kerja yang tinggi dan sebaliknya.
Kepuasan kerja karyawan merupakan kondisi yang dibutuhkan oleh
setiap karyawan. Menurut Waluyo (2009) kepuasan kerja karyawan
merupakan suatu sikap yang positif yang menyangkut penyesuian diri
yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk
didalamnya upah, kondisi sosial, kondisi fisik, dan kondisi psikis. Perasaan
tersebut sangat penting karena kepuasan kerja karyawan yang didukung
dengan karakteristik pekerjaan yang sesuai dapat meningkatkan
produktivitas karyawan

Aspek-aspek Karakteristik Pekerjaan


Ada lima aspek dalam karakteristik pekerjaan menurut Hackman
and Oldham (1980) yaitu :
a. Keragaman keterampilan
Bagaimana karyawan menggunakan beragam
keterampilan dan kemampuan untuk menyelesaikan
pekerjaannya. Semakin menantang pekerjaannya, semakin
berarti pula keterampilannya.
b. Identitas tugas
Tingkat sejauh mana penyelesaian pekerjaan secara
keseluruhan dapat dilihat hasilnya dan dapat dikenali sebagai
hasil kinerja seseorang.
c. Tingkat pentingnya tugas
Tingkat sejauh mana pekerjaan mempunyai dampak yang
berarti bagi kehidupan orang lain, baik orang tersebut
merupakan rekan kerja dalam suatu perusahaan yang sama
maupun orang lain disekitarnya.
d. Otonomi
Seberapa besar kebebasan yang dimiliki para pekerja
dalam menjadwalkan dan mengatur pekerjaan mereka sendiri.
e. Umpan balik
Besarnya informasi yang pekerja terima tentang efektivitas
dan kualitas pekerjaan yang mereka laksanakan.

Faktor–faktor yang mempengaruhi Karakteristik Pekerjaan


Ada tujuh faktor dalam karakteristik pekerjaan menurut Wijono
(2012) yaitu :
1) Organisasi dan manajemen
Organisasi dan manajemen menjadi penting jika
karyawan mempunyai moral kerja yang rendah, karena hal itu
merupakan indikasi rendahnya ketidakpuasan karyawan dalam
bekerja.
2) Supervisi langsung
Kepuasan kerja adalah kesesuaian dengan kepentingan
pribadi supervisor secara langsung (immediate supervision) dan
dukungan terhadap karyawan.
Universitas Sahid Surakarta 21
3) Lingkungan sosial
Identitas kelompok kerja tampaknya menjadi sebuah
variabel penting terhadap kepuasan kerja. Individu didalam
kelompok akan lebih puas daripada yang tidak menjadi anggota
dalam kelompok. Sebaliknya, Veroll & Feld (Wijono, 2012)
mengatakan bahwa bekerja secara kelompok mempunyai
manfaat penting untuk memenuhi kebutuhan interpersonal dan
persahabatan yang dijelaskan sebagai sumber kepuasan kerja.
4) Komunikasi
Komunikasi adalah salah satu faktor penting dalam
keseluruhan proses moral. Komunikasi dapat dilihat dari
ketidakhadiran kerja yang cenderung menjadi sumber utama dari
ketidakpuasan dengan syarat individu diletakkan pada posisi
penting dalam satu jalinan komunikasi.
5) Keamanan
Keamanan dikatakan sebagai variabel yang paling penting
dalam kepuasan kerja oleh para peneliti. Walaupun demikian,
kepentingannya merupakan hasil dari ketidakhadirannya dalam
suatu situasi dibandingkan dengan kehadirannya.
6) Monoton
Kecenderungan untuk memperoleh kepuasan yang lebih
dalam terhadap pekerjaan yang dilakukan berulangkali secara
monoton.
7) Penghasilan
Terjadi perbedaan pendapatan di antara karyawan satu
dengan yang lain, tergantung pekerjaan masing-masing jabatan
dan pentingnya pekerjaan.

Pengertian Karakteristik Pekerjaan


Setiap pekerjaan mempunyai karakteristik atau aspek-aspek
tertentu yang menyertai individu dalam melaksanakan pekerjaannya.
Aspek-aspek tersebut dapat membuat individu bekerja dengan baik
atau malah sebaliknya. Oldham (Griffin, 2008) “Job characteristics is
a set of environmental variables that are widely thought to be
important causes of employee effect and behavior”. Artinya ialah
karakteristik pekerjaan adalah serangkaian variabel lingkungan yang
secara luas dirasa penting yang menyebabkan dan mempengaruhi
perilaku karyawan. Menurut Schurman (2011) mendefinisikan
karakteristik pekerjaan “The definition of job characteristics is
aspects specific to a job, such as knowledge and skill, mental and
physical demands, and working conditions that can be recognized,
defined, and assessed that are important causes of employee health”.
Artinya yaitu karakteristik pekerjaan merupakan aspek khusus yang
terdapat pada satu pekerjaan seperti pengetahuan dan keterampilan,
tuntutan mental dan fisik yang diperlukan, dan kondisi pekerjaan yang
dapat diketahui, didefinisikan dan dinilai yang merupakan penyebab
kesehatan karyawan. Kreitner & Kinicki (2007) menyatakan
karakteristik pekerjaan sebagai dimensi inti pekerjaan yaitu “Core job
dimensions are common characteristics found to a varying in all
jobs”. Dimensi inti pekerjaan ialah karakteristik pekerjaan yang
ditemukan dalam berbagai macam jenis pekerjaan.
Widowati (2015) mendefinisikan bahwa karakteristik pekerjaan
adalah wujud dari aspek internal pekerjaan itu sendiri mencakup
variasi keterampilan yang dibutuhkan, prosedur dan kejelasan tugas,
tingkat kepentingan tugas, kewenangan dan tanggungjawab, serta
umpan balik dari tugas yang dirancang agar karyawan dapat
meningkatkan motivasi internal serta kepuasan kerjanya. Menurut
Rahmawati (2013) karakteristik pekerjaan adalah sifat dari tugas yang
terkandung dalam suatu pekerjaan, meliputi berbagai dimensi yang
dapat mendorong efektivitas individu karyawan dalam bekerja.
Sementara itu Robbins (2001) berpendapat bahwa karakteristik
pekerjaan adalah upaya mengidentifikasi karakteristik tugas dari
pekerjaan, bagaimana karakteristik itu digabung untuk membentuk
pekerjaan-pekerjaan yang berbeda, dan berhubungan dengan motivasi,
kepuasan, dan kinerja karyawan. Karakteristik berdasarkan model
karakteristik pekerjaan yang dikembangkan oleh Hackman and
Oldham (Widowati, 2015) terdapat lima dimensi inti pekerjaan yaitu
variasi keterampilan, identitas tugas, tingkat pentingnya tugas,
otonomi dan umpan balik.

Aspek-aspek yang mempengaruhi Kepuasan Kerja Karyawan


Menurut Luthans (2006) aspek-aspek yang dapat mempengaruhi
kepuasan kerja, yaitu :
a. Tingkat upah / Gaji
Keuangan adalah hal yang paling mendasar yang harus
diperhatikan oleh perusahaan karena merupakan hal pokok yang
menjadi motivasi setiap individu dalam bekerja. Menurut Gito
Sudarmo & Sudita (2008) finansial dapat berbentuk gaji, upah,
dan bonus.
b. Pekerjaan itu sendiri
Berhubungan dengan perasaan terhadap pekerjaan yang
dilakukan dan kemampuan menyelesaikan tugas.
c. Rekan kerja
Rekan kerja dalam suatu perusahaan sangat diperlukan dalam
menyelesaikan suatu aktivitas terutama aktivitas yang
membutuhkan kerjasama tim.
d. Promosi karir
Promosi merupakan pemindahan secara vertikal ke jenjang yang
lebih tinggi disertai dengan adanya kenaikan tanggungjawab dan
imbalan dengan memperhatikan prestasi kerja, senioritas, dan
keadilan. Seseorang yang dipromosikan secara obyektif dan
sesuai aturan maka diharapkan tidak akan menimbulkan
ketidakpuasan diantara karyawan yang tidak terpilih untuk
dipromosikan. Promosi yang dilakukan kepada pekerja, erat
kaitannya dengan proses pengembangan karir.

Faktor–faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja Karyawan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepuasan karyawan
dari berbagai ahli. Menurut As’ad (2004) faktor–faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja karyawan ialah :
1) Faktor psikologi.
Faktor yang berhubungan dengan kejiwaan karyawan
meliputi minat, ketentraman kerja, sikap terhadap kerja, dan
perasaan kerja.
2) Faktor sosial.
Faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik
antara sesama karyawan, dengan atasan, maupun dengan
karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.
3) Faktor fisik.
Faktor yang berhubungan dengan fisik lingkungan kerja
dan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan, peraturan
waktu kerja, perlengkapan kerja, sirkulasi udara, dan kesehatan
karyawan.
4) Faktor finansial.
Faktor yang berhubungan dengan jaminan serta
kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem penggajian,
jaminan sosial, besarnya tunjangan, fasilitas yang diberikan, dan
promosi.
Menurut Wijono (2010) faktor–faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja karyawan ada dua, yaitu :
1) Karakteristik individu
Karakteristik individu memiliki beberapa aspek yang
dapat mempengaruhi kepuasan kerja yaitu perbedaan individu,
usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pernikahan dan
lama kerja.
2) Karakteristik pekerjaan
Ada beberapa faktor didalam karakteristik pekerjaan yang
dapat mempengaruhi kepuasan kerja yaitu organisasi dan
manajemen, supervisi langsung, lingkungan sosial, komunikasi,
keamanan, monoton, dan penghasilan.
Menurut Munandar (2001) faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kepuasan kerja karyawan yaitu :
1) Keragaman keterampilan, jati diri tugas, tugas yang penting,
otonomi dan umpan balik pada pekerjaan
2) Gaji penghasilan dan imbalan dirasa adil
3) Penyeliaan
4) Rekan-rekan kerja yang menunjang
5) Kondisi kerja yang menunjang

Pengertian Kepuasan Kerja Karyawan


Kepuasan kerja karyawan merupakan hal yang tidak boleh
diabaikan oleh suatu perusahaan karena kepuasan yang dirasakan oleh
karyawan merupakan media untuk meningkatkan semangat kerja.
Hiariey (2010) menjelaskan bahwa kepuasan kerja karyawan adalah
perasaan positif karyawan terhadap pekerjaannya, kepuasan kerja
karyawan merupakan salah satu elemen yang cukup penting pada
perusahaan karena kepuasan kerja dapat mempengaruhi perilaku kerja
karyawan seperti malas, rajin, produktif, apatis, dan lain-lain. Menurut
Widowati (2015) kepuasan kerja karyawan merupakan perasaan yang
dirasakan karyawan ketika bekerja, baik positif maupun negatif
terhadap berbagai aspek pekerjaan yang dihasilkan dari penelitian
maupun pengalaman kerja. Menurut As’ad (2004) faktor manusia
cukup berperan dalam mencapai hasil sesuai dengan tujuan
perusahaan. Memberikan motivasi agar dicapai kepuasan kerja bagi
para karyawan merupakan kewajiban bagi setiap pemimpin. Menurut
Wijono (2010) kepuasan kerja karyawan adalah suatu hasil perkiraan
karyawan terhadap pekerjaan atau pengalaman positif dan
menyenangkan dirinya. Kepuasan kerja karyawan dapat
diklarifikasikan sebagai pengaruh refleksi (reflective) dari pengalaman
karyawan dan persepsinya terhadap tempat kerja. Menurut Waluyo
(2009) kepuasan kerja karyawan merupakan suatu sikap yang positif
yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan
terhadap kondisi dan situasi kerja, termasuk didalamnya upah, kondisi
sosial, kondisi fisik, dan kondisi psikis. Hasibuan (2007)
mendefinisikan kepuasan kerja karyawan harus diciptakan sebaikbaiknya supaya moral kerja, dedikasi, kecintaan, dan kedisiplinan
kerja karyawan meningkat. Gibson (2005) menjelaskan bahwa
kepuasan kerja karyawan ialah suatu sikap positif ataupun negatif
yang dirasakan karyawan terhadap berbagai segi pekerjaan, tempat
kerja, hubungan dengan rekan kerja, hal ini dihasilkan dari intrinsik
dan ekstrinsik serta persepsi karyawan terhadap pekerjaannya.

Indikator–Indikator dalam Motivasi


Operasional variabel motivasi dapat dikembangkan dengan teori kebutuhan
dari (Maslow, 1943; Sari dan Dwiarti, 2018:61). Adapun indikator-indikator dari
motivasi yaitu:

  1. Physiological Needs atau Kebutuhan Fisiologis
    Kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan yang mendasar diantaranya yaitu
    makanan, air, udara dan istirahat dapat terpenuhi.
  2. Safety Needs atau Kebutuhan Rasa Aman
    Kebutuhan terkait keamanan termasuk semua kebutuhan terhadap dimana
    kondisi lingkungan terlindungi baik secara fisik maupun mental. Dalam lingkup
    bekerja, kebutuhan ini dapat dilihat menjadi keamanan kerja, pungutan liar,
    jenis pekerjaan yang aman, jaminan hari tua dan kebutuhan masa pensiun.
  3. Affection Needs atau Kebutuhan Untuk Disukai
    Kebutuhan ini adalah kebutuhan untuk bersosialisasi, memiliki teman, afiliasi,
    berkomunikasi, merasa dicintai dan mencintai serta dapat bergaul dan diterima
    dalam kelompok pekerja dan masyarakat dilinkungannya.
  4. Esteem Needs atau Kebutuhan Harga Diri
    Kebutuhan ini merupakan kebutuhan seseorang untuk berprestasi dan mendapat
    pengakuan serta penghargaan dari orang lain.
  5. Self Actualization atau Kebutuhan Pengembangan Diri
    Kebutuhan akan aktualisasi diri dengan menggunakan kemampuan,
    keterampilan dan potensial optimal agar mencapai prestasi kerja yang terbaik.

Teori Motivasi

  1. Teori Kebutuhan Hierarki oleh (Maslow, 1943)
    Maslow (1943), Sari dan Dwiarti (2018:61) menyatakan bahwa manusia
    dimotivasi untuk memuaskan sejumlah kebutuhan yang melekat pada diri setiap
    manusia yang cenderung bersifat bawaan. Kebutuhan merupakan suatu
    kesenjangan yang dirasakan antara kenyataan dengan dorongan yang ada pada
    diri individu. Bila kebutuhan karyawan tidak tercukupi maka karyawan tersebut
    akan menunjukkan kekecewaannya begitupun sebaliknya. Hierarki kebutuhan
    manusia menurut (Maslow, 1943; Sari dan Dwiarti, 2018:61) adalah sebagai
    berikut:
    a. Kebutuhan Fisiologis
    Makan, minum, terlindungi secara fisik, bernafas dan seksual merupakan
    suatu kebutuhan. Kebutuhan tersebut menjadi kebutuhan mendasar
    seseorang.
    b. Kebutuhan Rasa Aman
    Terlindungi dari ancaman, bahaya, pertengkaran dan lingkungan hidup
    merupakan suatu kebutuhan.
    c. Kebutuhan untuk Merasa Memiliki
    Diterima oleh individu lainnya, berafiliasi, berkomunikasi maupun
    kebutuhan merasa mencintai serta dicintai.
    d. Kebutuhan Akan Harga Diri
    Dihormati dan dihargai oleh orang lain merupakan kebutuhan yang harus
    dipenuhi oleh individu.
    e. Kebutuhan untuk Mengaktualisasikan Diri
    Menggunakan kemampuan, skill, dan potensi merupakan kebutuhan
    individu. Berpendapat dengan mengemukakan ide – ide yang dimiliki serta
    memberikan penilaian dan kritik terhadap sesuatu merupakan suatu
    kebutuhan.
  2. Teori (McClelland dan Lowell, 1961)
    Teori McClelland, menguatkan pada tiga kebutuhan (Bangun, 2012:325), yaitu:
    a. Need For Achievement
    Kebutuhan seseorang akan prestasi mencerminkan dorongan rasa tanggung
    jawab untuk pemecahan masalah. Karyawan memiliki kebutuhan
    berprestasi yang tinggi dan sering kali bersedia mengambil risiko.
    Kebutuhan berprestasi adalah kebutuhan untuk berbuat lebih baik dari
    sebelumnya dan selalu ingin mencapai yang terbaik.
    b. Need For Affiliation
    Kebutuhan untuk memiliki adalah dorongan untuk berinteraksi dengan
    orang lain, bergaul dengan orang lain, dan tidak ingin melakukan hal-hal
    yang dapat menyakiti mereka.
    c. Need For Power
    Kebutuhan akan kekuasaan mencerminkan dorongan untuk memiliki
    kekuatan untuk mempengaruhi orang lain.
  3. Teori ERG (Existence, Relatedness, Growth) dari (Aldefer, 1972)
    Teori ERG mengemukakan bahwa individu mencakup tiga kebutuhan (Priansa,
    2014:211), yaitu:
    a. Existence Needs
    Kebutuhan ini berkaitan dengan fisik dari kondisi pegawai seperti makan,
    minum, pakaian, bernapas, balas jasa, rasa aman di tempat kerja dan
    tunjangan.
    b. Relatedness Needs
    Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain di tempat kerja.
    c. Growth Needs
    Berkembang dan meningkatkan nilai yang dimiliki individu seperti potensi
    dan kecakapan pegawai merupakan suatu kebutuhan.

Tujuan Motivasi


Tujuan motivasi menurut Hasibuan (2017:146) antara lain sebagai berikut:

  1. Meningkatkan semangat kerja dan kepuasan kerja karyawan.
  2. Produktivitas karyawan meningkat.
  3. Menjaga stabilitas karyawan perusahaan.
  4. Kedisiplinan karyawan meningkat.
  5. Mengoptimalkan proses rekrutmen pekerja.
  6. Membangun suasana dan hubungan kerja yang harmonis.
  7. Loyalitas, kreativitas, dan kontribusi karyawan meningkat.
  8. Tingkatkan tunjangan karyawan.
  9. Meningkatkan rasa tanggung jawab karyawan atas pekerjaan mereka sendiri.
  10. Alat kerja dan bahan baku digunakan lebih efektif.

Motivasi


Hasibuan (2017:14) mengungkapkan motivasi yaitu metode untuk
membimbing kemampuan bawahan agar dapat berkolaborasi secara produktif
untuk mencapai tujuan organisasi yang sudah ditentukan sebelumnya.
Motif merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri individu yang harus
dipenuhi agar individu tersebut mampu menempatkan diri dengan kondisi
lingkungannya, sedangkan motivasi merupakan kondisi yang membuat karyawan
tergerak untuk mencapai tujuan dari motifnya (Mangkunegara, 2018:93).
Sutrisno (2016:111) mengungkapkan motivasi mempunyai bagian yakni
bagian luar dan dalam. Bagian dalam yaitu perubahan dalam diri individu, kondisi
saat kecewa dan tidak puas, dan ketegangan secara mental. Sedangkan bagian luar
yaitu keinginan individu menjadi tujuan tingkah lakunya. Sehingga bagian dalam
yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi sedangkan bagian luar adalah tujuan yang
ingin diperoleh

Indikator Role Overload


Role overload diidentifikasi terjadi karena beberapa indikator yang
dikemukakan oleh Jansen (2018:5) yaitu:

  1. Jam Kerja
    Banyak pekerja yang memilih tetap bekerja di luar jam operasional kantor. Hal
    ini biasa terjadi ketika perusahaan sedang dikejar target.
  2. Tidak Menyelesaikan Deadline Tepat Waktu
    Banyaknya pekerjaan membuat pekerja menjadi bingung harus
    memprioritaskan pekerjaan yang memang harus didahulukan, hal ini membuat
    banyaknya pekerjaan yang sudah dekat dengan tenggang waktu yang
    terbengkalai.
  3. Tuntutan Yang Sulit
    Banyaknya keharusan yang dikerjakan oleh pekerja dapat menimbulkan
    perasaan beban tersendiri bagi pekerja
  4. Waktu Istirahat Yang Cukup
    Waktu istirahat dalam perusahaan terbilang singkat dan masih banyak pekerja
    yang menggunakan waktu istirahat untuk menyelesaikan pekerjaannya.
  5. Kesibukan Yang Lain
    Banyaknya aktivitas pekerja dalam melakukan pekerjaannya sering kali
    membuat pekerjaan lain terhambat sehingga menjadi beban tersendiri bagi
    pekerja.

Role Overload


Menurut Gharib dan Suhail (2016:178) mengklasifikasikan beban kerja
menjadi dua yaitu Role overload dan Role Lower load. Role overload dapat bersifat
kuantitatif dan kualitatif. Menurut Landy, F. J. dalam buku Work In The 21st
Century (2015:401) role overload didefinisikan sebagai kelebihan peran yang
terjadi saat seseorang diharapkan memenuhi terlalu banyak peran pada saat yang
bersamaan. Role overload dapat menyebabkan orang bekerja berjam-jam,
meningkatkan stress dan ketegangan berikutnya.
Menurut Binalay dan Mandey (2016:65) role overload adalah stress kerja
yang terjadi saat seseorang merasa bahwa dia tidak memiliki waktu atau sumber
daya untuk menangani tugas mereka. Fenomena ini secara konseptual berbeda dari
kerja paksa, karena terlalu banyak kerja melibatkan jumlah jam yang dihabiskan
seseorang di tempat kerja. Dari ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa role
overload adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan suatu beban pekerjaan
berdasarkan peran dalam pekerjaannya.

Role Conflict


Konflik peran terjadi ketika seseorang diberikan peran yang membuatnya
sulit beradaptasi ke peran lain (Robbin dan Judge, 2015:183). Konflik peran terjadi
ketika mereka diinstruksikan oleh dua atau lebih peran pada saat yang sama, dan
dengan tugas yang berbeda sehingga menimbulkan ambiguitas (Choi dan Kim,
2015:13). Role conflict adalah jenis konflik yang dihasilkan dari berbagai peran.
Konflik ini terjadi karena individu secara bersamaan memainkan berbagai peran,
beberapa memiliki harapan yang saling bertentangan.
Role conflict, terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara harapan dan
persyaratan yang terkait dengan peran seseorang. Mencapai harapan dan dapat
memperumit harapan dan peran lainnya. Role conflict merupakan ketidaksesuaian
permintaan peran tugas dengan tugas yang biasa dikerjakan (Wiguna, 2017:506).
Role conflict ada dua pengertian yaitu keberadaan dari tujuan dan sasaran hasil
suatu pekerjaan yang telah didefinisikan dengan jelas (Goal Clarity) dan
keberadaan dari setiap individu di mana mereka merasa yakin tentang bagaimana
harus melakukan pekerjaannya (Process Clarity). Dari ulasan diatas dapat
disimpulkan bahwa role conflict adalah suatu keadaan yang dialami seseorang
dengan peran pekerjaan yang dialaminya.
2.1.2.1. Indikator Role Conflict
Menurut Rizzo dan Lirtzman (2017:3), konflik peran diukur menggunakan
indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Sumber Daya Manusia
    Setiap individu bekerja dengan cara yang berbeda dan beberapa menerima tugas
    tanpa bakat yang cukup untuk menyelesaikannya.
  2. Mengesampingkan Aturan
    Mengesampingkan peraturan yang ada supaya bisa menuntaskan tugas dan
    menerima permintaan dua pihak atau lebih yg tidak sinkron satu sama lain.
  3. Kegiatan Yang Tidak Perlu
    Pekerjaan yang dapat diterima oleh satu pihak tetapi tidak bagi pihak lain, dan
    kegiatan yang sebenarnya tidak menjadi prioritas.
  4. Instruksi Yang Ambigu
    Penjelasan tentang pekerjaan yang tidak jelas atau adanya perbedaan antara
    penjelasan dengan pelaksanaan pekerjaan yang seharusnya.

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Robbin dan Judge (2015:181-182) Indikator Kepuasan Kerja
Karyawan Sebagai berikut:

  1. Pekerja itu sendiri
    Pekerjaan itu sendiri yaitu keadaan di mana karyawan menemukan tugas-tugas
    yang menarik, kesempatan untuk belajar dan kesempatan untuk
    bertanggungjawab dalam pekerjaannya. Indikatornya memuat pekerjaan yang
    sesuai kemampuan serta pekerjaan yang secara mental menantang.
  2. Supervisi
    Supervisi menurut KBBI ialah pengawasan utama atau pengontrolan tertinggi.
    Indikatornya terkait dengan pengawasan yang diberikan pimpinan dan metode
    yang diambil pimpinan.
  3. Rekan Kerja
    Bagi kebanyakan karyawan, bekerja juga mengisi kebutuhan interaksi sosial.
    Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan apabila mempunyai rekan sekerja yang
    ramah dan mendukung mengarah ke kepuasan kerja yang meningkat. Perilaku
    atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan.
  4. Promosi
    Promosi yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan
    jabatan. Indikatornya terkait kesempatan karyawan untuk maju dan metode
    yang diambil pimpinan dalam melakukan promosi karyawan.
  5. Gaji
    Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka
    persepsikan sebagai adil dengan pengharapan. Bila upah dilihat sebagai adil
    yang didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan
    standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar dihasilkan kepuasan.

Dampak Ketidakpuasan Kerja


Menurut Robbin dan Judge (2015:185) ada beberapa cara untuk karyawan
menunjukan ketidak puasan terhadap pekerjaannya, yaitu:

  1. Keluar / Resign
    Ketidakpuasan karyawan memilih untuk bekerja ditempat lain. Termasuk
    mencari posisi baru atau mengundurkan diri. Jika traffic keluar-masuk
    karyawan terlalu banyak, akan berdampak pada performa kerja perusahaan.
    Karena karyawan belum bisa langsung bekerja secara normal, ada masa
    adaptasi dan probation.
  2. Menyuarakan
    Ketidakpuasan karyawan akan konsultasi terlebih dahulu atas masalah yang
    dihadapi kemudian memberi saran.
  3. Mengabaikan
    Ketidakpuasan karyawan membiarkan keadaan menjadi lebih buruk dengan
    cara sering absen atau sering membuat kesalahan.
  4. Kesetiaan
    Tipe ini cenderung untuk setia kepada perusahaan dan menunggu hingga
    keadaan membaik.

Faktor – Faktor Kepuasan Kerja


Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Sutrisno
(2017:27) yaitu:

  1. Faktor Psikologis
    Faktor ini berhubungan dengan kondisi kejiwaan karyawan yang meliputi
    minat, ketenteraman dalam bekerja, sikap terhadap pekerjaan, bakat dan
    keterampilan. Seseorang yang memiliki ketenteraman dalam bekerja akan
    bekerja dengan perasaan yang positif sehingga dapat meningkatkan
    produktivitas dan kinerja yang dapat berpengaruh pada kepuasan kerja.
  2. Faktor Sosial
    Faktor ini berhubungan dengan interaksi sosial antara karyawan dengan rekan
    kerja maupun karyawan dengan atasan.
  3. Faktor Fisik
    Faktor ini berhubungan dengan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan,
    pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruang, suhu,
    penerangan, sirkulasi udara, kondisi kesehatan karyawan, umur dan sebagainya.
  4. Faktor Finansial
    Faktor ini berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang
    meliputi sistem dan besarnya gaji, tunjangan, promosi, jaminan sosial, fasilitas
    yang diberikan dan sebagainya.

Jenis – Jenis Kepuasan Kerja


Menurut Afandi (2018:82) Kepuasan kerja dalam hal ini dibagi menjadi
beberapa jenis yaitu:

  1. Kepuasan Terhadap Atasan
    Kepuasan terhadap gaya kepemimpinan atasan ini ternyata memberikan
    pengaruh yang cukup besat terhadap kepuasan kerja karyawan. Terdapat
    berbagai macam tipe gaya kepemimpinan atasan yang memengaruhi kepuasan
    kerja diantaranya atasan yang berorientasi terhadap kinerja karyawan dan
    atasan yang menguatamakan partisipasi karyawannya.
  2. Kepuasan Terhadap Rekan Kerja
    Salah satu cara yang ditempuh oleh perusahaan dalam mempertahankan
    karyawannya adalah dengan meningkatkan kepuasan karyawan dalam
    melaksanakan tugasnya. Dengan meningkatkan kesejahteraan dan kepuasan
    karyawan, maka mereka akan dapat bekerja sama dengan baik dengan rekan
    sekerja, terlibat sepenuhnya dalam pekerjaan dan lebih bertanggung jawab.
  3. Kepuasan Terhadap Pekerja
    Ukuran dari tingkat kepuasan pekerja dengan jenis pekerjaan mereka yang
    berkaitan dengan sifat dari tugas pekerjaannya, hasil kerja yang dicapai, bentuk
    pengawasan yang diperoleh maupun rasa lega dan perasaan suka terhadap
    pekerjaan yang ditekuninya.
  4. Kepuasan Terhadap Peluang Promosi
    Dimana adanya suatu peluang untuk mendapatkan penghargaan atas prestasi
    kerja seseorang dimana diberikan jabatan dan tugas yang lebih tinggi dan
    disertai dengan kenaikan gaji. Promosi ini sangat mempengaruhi kepuasan kerja
    dapat dihargai dengan dinaikan posisinya disertai gaji yang akan diterimanya.
  5. Kepuasan Terhadap Pendapatan
    Kepuasan kerja bisa dilihat atau dikatakan puas dalam bekerja jika pendapatan
    yang diperoleh telah dapat mencukupi kebutuhan pekerja tersebut, dan dalam
    perusahaan tersebut pegawai merasakan nyaman dalam bekerja dan tidk
    mempunyai kekhawatiran lain seperti kurang cukup gaji yang diterima, tidak
    adanya jaminan kesehatan/keselamatan kerja dan jaminan masa tua atau
    pension

Kepuasan Kerja


Robbin dan Judge (2015:49) secara spesifik mendeskripsikan kepuasan
kerja sebagai perasaan positif seseorang atas pekerjaannya yang diperoleh dari
suatu evaluasi terhadap karakteriskik kepuasan itu sendiri. Perasaan positif ini
umumnya identik dengan rasa bahagia dan nyaman karena harapan seseorang
dari pekerjaannya telah banyak terpenuhi. Selanjutnya, menurut Sutrisno
(2019:74) Kepuasan Kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan
yang berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan
yang diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan
psikologis.
Kepuasan kerja jika dapat dinikmati, akan membuat individu merasa
percaya diri, merasa dihargai dan pada gilirannya menjadi motivator dalam
melakukan pekerjaan dengan lebih baik di masa depan. Menurut Citra dan
Fahmi (2019:214) dengan kepuasan kerja yang baik, seorang individu akan
dapat mempertahankan loyalitas dalam pekerjaan yang dilakukan. Berdasarkan
ulasan tersebut dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan positif
pada pekerja yang berdampak dalam menyelesaikan tugas yang telah
dilakukannya.

Indikator Produktivitas Bongkar Muat


Indikator produktivitas bongkar muat merupakan elemen penting dalam
menilai kinerja operasional di industri pelabuhan. Menurut Naidu et al. (2017),
indikator-indikator ini mencakup berbagai faktor seperti Kerja gang buruh,
kesiapan alat bongkar muat, kecepatan bongkar muat, alat pengangkutan
muatan, jumlah, jenis status dan kondisi muatan, serta factor alam.
Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas bongkar-muat adalah:
1) Kerja gang buruh (gang output/labour output)
kerja gang buruh (gang output/labour output) dihitung untuk mengetahui
tonase bongkarmuat yang dikerjakan satu gang dalam satu jam kerja (Lasse,
2014). Hasil hitungannya menunjukkan kekuatan dan kecepatan tenaga
kerja melaksanakan bongkar-muat didukung keterampilan, peralatan bantu,
dan karakteristik muatan;
2) Kesiapan alat bongkar muat
kesiapan alat bongkar muat dalam kegiatan bongkar-muat agar berjalan
secara efektif dan efisien;
3) Kecepatan bongkar muat
Kecepatan bongkar muat diukur melalui perhitungan ship output per waktu
pelayanan kapal (Lasse, 2014). Dimensi ship’s output yang digunakan
adalah tonase bongkar muat per waktu kerja kapal, tonase bongkar muat per
waktu kapal di dermaga, dan tonase bongka muat per waktu kapal di
pelabuhan;
4) Alat pengangkut muatan (trucking)
Alat pengangkut muatan (trucking) merupakan alat berat yang digunakan
untuk kegiatan bongkar muat dari kapal langsung keatas truk atau rel yang
ditangani khusus oleh tenaga profesional dengan memperhatikan segi
keamanan dan keselamatan kapal, barang dan manusia (operator);
5) Jumlah, jenis, status dan kondisi muatan
Jumlah, jenis, status dan kondisi muatan yang bermacam seperti jenis
muatan yang terdapat di dalam palka (general cargo, muatan curah kering
atau basah), jumlah dan kemasan muatan yang terdapat dalam palka (dalam
satuan kubik, ton, bundles, bag, drum, cartoon), status muatan (langsung
atau pindahan/’transhipment), dan sifat muatan (berbahaya atau berharga);
dan
6) Faktor Alam (Cuaca)
faktor alam (cuaca) dapat berubah secara tibatiba, namun hal tersebut
merupakan fenomena alam yang tak dapat dicegah dan diatasi oleh
kemampuan manusia.

Jenis – Jenis Peralatan Untuk Bongkar dan Muat


Peralatan bongkar muat peti kemas terdiri dari alat-alat angkat dan angkut
mulai dari operasi kapal, haulage, lift on lift off, receipt dan delivery. Uruturutan kegiatan operasi selengkapnya adalah :

  1. Ship Operation, meliputi memuat dan membongkar peti kemas antara kapal
    dengan dermaga. Semua peti kemas yang masuk maupun keluar mesti
    melalui operasi kapal, sehingga operasi kapal secara mutlak menentukan
    kecepatan handling pada keseluruhan terminal. Operasi kapal dengan
    alasan itu disebut juga sebagai “dominant system”.
  2. Gerakan pemindahan peti kemas antara dermaga lapangan (container yard)
    disebut Quay Transfer Operation (QTO) berperan mengatur dan
    mengimbangi kecepatan memuat dan membongkar peti kemas ke dan
    dari atas kapal. Kebanyakan sistem terminal peti kemas tidak melakukan
    kegiatan memuat atau membongkar secara langsung.
  3. Peti kemas pada umumnya ditempatkan sementara di lapangan sambil
    menunggu penyelesaian dokumen, administrasi dan formalitas lain.
    Karena lapangan dianggap sebagai gudang terbuka, maka kegiatan ini
    disebut Storage Operation yang berfungsi sebagai stok pengaman antara
    operasi penyerahan/ penerimaan dengan operasi kapal.
  4. Receipt/ Delivery Operation adalah kegiatan operasi penerimaan dan
    penyerahan peti kemas. Operasi ini menghubungkan terminal peti kemas
    dengan kendaraan angkutan jalan raya dan angkutan rel kereta api.
    Operasi ini berhubungan langsung dengan pihakpihak pengguna jasa
    meliputi importir, eksportir dan depo peti kemas.

Pengertian Produktivitas Bongkar Muat


Menurut Gurning dan Budiyanto (2018) produktivitas bongkar muat
adalah tingkat kemampuan dan kecepatan pelaksanaan penanganan kegiatan
pembongkaran barang dari atas kapal sampai ke gudang atau lapangan
penumpukan atau sebaliknya untuk kegiatan pemuatan barang sejak dari
gudang/lapangan penumpukan sampai ke atas kapal.
Tingkat kemampuan tersebut ditunjukkan oleh beberapa indicator, yakni:
1) jumlah rata-rata bongkar muat yang dicapai per jam dan dilakukan oleh 1
gang buruh ( 12 orang) di atas kapal yang diukur dengan satuan ton/gang/jam
(T/G/J);
2) jumlah ratarata bongkar muat barang yang dicapai per jam dan dilakukan
oleh alat bongkar muat petikemas diukur dengan satuan box/crane/hour
(B/C/H);
3) jumlah ratarata bongkar muat barang yang dicapai per jam dan dilakukan
oleh seluruh gang yang ketiga diatas kapal selama kapal berada di dermaga
(BWT) yang diukur dengan satuan ton/kapal/jam (T/K/J) dan lazim disebut
dengan ‘ship’s output’.
Menurut Tohardi dalam penelitian Sutrisno (2017). Produktivitas adalah
sikap mental yang selalu mencari perbaikan pada apa yang telah ada. percaya
bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaan dengan lebih baik hari ini
daripada hari kemarin dan esok daripada hari ini.
Produktivitas dalam penelitian Haryono, T. (2018) merupakan
produktivitas bongkar muat juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
teknologi, manajemen operasional, dan pelatihan tenaga kerja. Integrasi
teknologi canggih dalam operasional bongkar muat, seperti penggunaan crane
otomatis dan sistem manajemen data yang terintegrasi, dapat secara signifikan
meningkatkan produktivitas. Selain itu, manajemen operasional yang baik
dengan strategi perencanaan yang matang, seperti penjadwalan dan
penempatan optimal dari tenaga kerja dan peralatan, juga memainkan peran
penting. Tenaga kerja yang terlatih dengan baik dan memiliki kompetensi yang
diperlukan tentu saja akan menambah produktivitas bongkar muat
Produktivitas dalam penelitian Wahyudi, R. (2019), produktivitas
bongkar muat memiliki erat dengan kepuasan kerja para asisten operator crane.
Kepuasan kerja ini mencakup aspek-aspek seperti kondisi kerja, hubungan
antar rekan kerja, dan penghargaan yang diberikan oleh perusahaan. Ketika
asisten operator crane memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi, mereka
cenderung lebih bersemangat dan produktif dalam menjalankan tugas-tugas
mereka, yang pada gilirannya meningkatkan produktivitas bongkar muat.
Maka, menjaga dan meningkatkan kepuasan kerja para asisten operator
merupakan bagian integral dari strategi peningkatan produktivitas bongkar mua
Menurut Sutrisno (2016), produktivitas bongkar muat dapat diartikan
sebagai rasio antara output atau volume barang yang dibongkar dan dimuat
dengan input atau faktor produksi yang digunakan selama periode waktu
tertentu. Istilah ini mencerminkan kemampuan sistem pelabuhan dalam
mengoptimalkan penggunaan sumber daya untuk mencapai volume bongkar
muat maksimal diiringi dengan biaya dan waktu yang minimum. Oleh karena
itu, definisi produktivitas bongkar muat menekankan pada aspek keluaran dan
masukan dalam proses operasional pelabuhan.
Produktivitas bongkar muat juga dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
teknologi, manajemen operasional, dan pelatihan tenaga kerja. Integrasi
teknologi canggih dalam operasional bongkar muat, seperti penggunaan crane
otomatis dan sistem manajemen data yang terintegrasi, dapat secara signifikan
meningkatkan produktivitas. Selain itu, manajemen operasional yang baik
dengan strategi perencanaan yang matang, seperti penjadwalan dan
penempatan optimal dari tenaga kerja dan peralatan, juga memainkan peran
penting. Tenaga kerja yang terlatih dengan baik dan memiliki kompetensi yang
diperlukan tentu saja akan menambah produktivitas bongkar muat

Faktor- Faktor Untuk Meningkatkan Kualitas Kerja


Bitner dan Zeithaml (dalam Riorini, 2004:22) menyatakan untuk dapat
meningkatkan performance quality (kualitas kerja) ada beberapa cara yang
dapat dilakukan oleh perusahaan yaitu dengan memberikan pelatihan atau
training, memberikan insentive atau bonus dan mengaplikasikan atau
menerapkan teknologi yang dapat membantu meningkatkan efisiensi dan
efektifitas. Sunu (dalam Flippo, 1995:91) menyatakan bahwa penting untuk
menciptakan lingkungan untuk meningkatkan kualitas kerja, yaitu:

  1. Tanggung jawab dan kepentingan pimpinan untuk menciptakan lingkungan
    peningkatan kualitas.
  2. Nilai, sikap dan perilaku yang disetujui bersama diperlukan untuk
    meningkatkan mutu.
  3. Sasaran peningkatan kualitas yang diterapkan oleh organisasi.
  4. Komunikasi terbuka dan kerja sama tim baik.
  5. Pengakuan dapat mendorong tindakan yang sesuai dengan nilai, sikap dan
    perilaku untuk meningkatkan mutu.

Indikator Kualitas Kerja


Adapun indikator dari kualitas kerja pegawai menurut Hasibuan
(2008:95) yaitu;

  1. Potensi diri,
    merupakan kemampuan, kekuatan, baik yang belum terwujud maupun yang
    telah terwujud, yang dimiliki seseorang tetapi belum sepenuhnya terlihat
    atau dipergunakan secaramaksimal.
  2. Hasil kerja optimal,
    harus dimiliki oleh seorang pegawai, pegawai harus bisa memberikan hasil
    kerjanya yang terbaik, salahsatunya dapat dilihat dari produktivitas
    organisasi, kualitaskerja dan kuantitas kerja.
  3. Proses kerja,
    merupakan suatutahapan penting dimana pegawai menjalankan tugas dan
    perannyadalam suatu organisasi, melalui proses kerja ini kinerja pegawai
    dapat dilihat dari kemampuanmembuat perencanaan kerja, kreatif
    dalammelaksanakanpekerjaan, mengevaluasi tindakankerja, melakukan
    tindakanperbaikan.
  4. Antusiasme,
    merupakan suatusikap dimana seorang pegawai melakukan kepedulian
    terhadappekerjaannya yang berhubungandengan pelaksanaan
    pelayananyaitu kehadiran, pelaksanaantugas, motivasi kerja, komitmen
    kerja.

Pengertian Kualitas Kerja


Kualitas kerja adalah Meskipun setiap organisasi berbeda pandangan
tentang standar dari kualitas kerja pegawai, tetapi pada intinya efektifitas dan
efisiensi menjadi ukuran yang umum. Bertitik tolak dari definisi yang diberikan
oleh Flippo tersebut maka dapat dikatakan bahwa inti dari kualitas kerja adalah
suatu hasil yang dapat diukur dengan efektifitas dan efisiensi suatu pekerjaan
yang dilakukan oleh sumber daya manusia atau sumber daya lainnya dalam
pencapaian tujuan atau sasaran perusahaan dengan baik dan berdaya guna.
Menurut Nitisemito didalam penelitian (Hadi & Mustika, 2023), lingkungan
kerja terdiri dari semua kondisi yang ada di sekitar pekerja yang dapat
memengaruhi bagaimana mereka menyelesaikan tugas yang diberikan kepada
mereka. Lingkungan kerja merupakan sebuah kondisi yang menempatkan
tenaga kerja yang memiliki rasa semangat dan energi untuk bekerja dalam
upaya meningkatkan produktivitas kerja sesuai dengan tujuannya.
Menurut Hariandja (2017:292), kualitas kehidupan kerja merupakan
sebuah proses yang merespons pada kebutuhan pegawai dengan
mengembangkan suatu mekanisme yang memberikan kesempatan secara
penuh pada pegawai dalam pengambilan keputusan dan merencakanan
kehidupan kerja mereka. Indikator-indikator kualitas kehidupan kerja yaitu,
kompensasi yang tepat dan adil, lingkungan kerja yang aman dan sehat,
kesempatan untuk menggunakan dan mengembangkan kemampuan pekerja,
interaksi sosial ditempat kerja, hak- hak pegawai dalam kantor.
Lupiyoadi dan Hamdani (2018:162) mengemukakan pengertian kualitas
kerja adalah kualitas kerja yang ditunjukkan pegawai dalam rangka
memberikan kinerja yang terbaik bagi organisasi.Menurut beberapa paparan
para ahli di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Lingkungan Kerja adalah
situasi atau keadaan di sekitar para karyawan. Hal yang perlu ditekankan yaitu
bahwa situasi atau kondisi di sekitar karyawan tersebut memiliki pengaruh
terhadap dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
Menurut Marcana dalam Rao (2013:11) menyebutkan bahwa kualitas
kerja adalah wujud perilaku atau kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan
harapan dan kebutuhan atau tujuan yang dicapai secara efektif dan efisien.
Kualitas Kerja menurut Damanik, Sanny A. (2018). Kualitas atau mutu
dapat didefinisikan sebagai sifat-sifat yang dimiliki oleh suatu barang atau
jasa yang menunjukkan kepada pelanggan kelebihan-kelebihan yang dimiliki
barang atau jasa tersebut. Istilah “kualitas” dipandang sebagai suatu yang
rekatif, yang tidak selalu mengandung arti yang bagus, baik, atau sebagainya.
Menurut Hasibuan (2012:30), kualitas kerja adalah suatu standar fisik
yang diukur dari hasil kerja yang dilakukan atau dilaksanakan oleh karyawan
atau tugas-tugasnya. Sebaliknya menurut Susilo Martoyo (2011:33), kualitas
kerja adalah suatu proses dimana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi
kerja yang dilaksanakan dengan baik, tertib, dan benar. Kualitas kerja dapat
membantu meningkatkan motivasi kerja dan meningkatkan loyalitas
karyawan.

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Agustini (2019:64-65) indikator kepuasan kerja adalah :
a. Gaji/Imbalan
Merupakan imbalan atas jasa yang diterima pegawai
sesuai dengan jenis pekerjaan dan bebannya.
b. Pekerjaan Menyangkut karakteristik pekerjaan,
yaitu Apakah pekerjaan itu menantang, menarik, atau membosankan.
c. Supervisi Merupakan kualitas dan bentuk pengawasaan, instruksi dan
arahan yang diterima dari atasan.
d. Promosi merupakan komponen yang mengatur peluang pengembangan
dalam tugas dan jabatan.
e. Rekan Sekerja merupakan komponen yang mengukur apakah mungkin
untuk mengundang rekan kerja untuk bekerja sama, dan apakah ada
keterampilan saling mendukung, persahabatan, dan sikap membantu di
antara rekan kerja.

Fungsi-Fungsi Kepuasan Kerja

Fungsi kepuasan kerja (Michel 1992)
A. Untuk meningkatkan disiplin pekerja dalam bekerja. Pekerja akan datang
tepat Waktu dan akan menyelesaikan tugasnya sesuai dengan waktu yang
telah Ditentukan.
B. Untuk meningkatkan semangat kerja dan loyalitas pekerja terhadap
Perusahaan (Nulandari, 2015).Pada umumnya pekerja yang puas dengan
sesuatu yang diperoleh dari Perusahaan akan memberikan hasil yang lebih
dari yang diharapkan perusahaan Dan akan terus berusaha akan
memperbaiki kinerjanya. Untuk itu merupakan Keharusan bagi perusahaan
untuk mengenali faktor yang membuat pekerja puas di Perusahaan. Dengan
tercapainya kepuasan kerja pada pekerja, produktivitaspun Akan meningkat.

    Pengertian Kepuasan Kerja


    Kepuasan Kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan yang
    berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan yang
    diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis.
    Sikap tersebut dapat berupa sikap positif yang berarti karyawan atau anggota
    organisasi puas atau justru negatif yang berarti ia tidak puas terhadap segala
    aspek pekerjaan baik itu dari situasi kerja, beban tugas, imbalan, risiko, dan
    sebagainya. (Edy Sutrisno, 2019)
    Kepuasan kerja adalah pendapat karyawan yang menyenangkan atau
    tidak mengenai pekerjaannya, perasaan itu terlihat dari perilaku baik karyawan
    terhadap pekerjaan dan semua hal yang dialami lingkungan kerja. Dengan
    demikian kepuasan kerja juga berhubungan dengan rasa memiliki dan loyalitas
    karyawan karena merupakan pandangan afeksi atau perasaan mereka mengenai
    organisasi atau perusahaan(Handoko, 2020).
    Kepuasan Kerja merupakan sikap emosional yang menyenangkan serta
    mencintai pekerjaanya. Kepuasan Kerja karyawan harus diciptakan sebaik –
    baiknya supaya moral kerja, dedikasi, dan kedisiplinan karyawan dapat
    meningkat. (Prayogo, 2019)
    Kepuasan kerja secara pengertian diartikan sebagai bentuk positif dari
    karyawan dalam menerima evaluasi terhadap pekerjaan. Kepuasan kerja
    merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi kepuasan hidup
    karena sebagian besar waktu manusia dihabiskan ditempat kerja(Wijonarko,
    2023)
    Kepuasan Kerja adalah keadaan emosional yang menyenangkan atau
    tidak menyenangkan bagi para karyawan memandang pekerjaan mereka.
    Kepuasan Kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya dan
    segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya. (Edy Sutrisno, 2019)
    Kepuasan kerja adalah selisih antara tujuan individu dalam bekerja
    dengan kenyataan yang dirasakan. Menggunakan kata yang berbeda, dapat
    dinyatakan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja seorang pegawai
    dipengaruhi oleh selisih (discrappancy) antara apa yang telah didapatkan
    dengan apa yang diinginkan. (Sunarta, 2019)
    Kepuasan kerja didefinisikan sebagai Suatu sikap positif terhadap hasil
    pekerjaan seseorang dan merupakan hal yang Bersifat individual. Individual
    yang memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi Akan memiliki nilai positif
    terhadap pekerjaan tersebut, sedangkan individu yang Memiliki tingkat
    kepuasan yang rendah atau tidak puas akan memiliki nilai negatif Terhadap
    pekerjaan. (Cahyani, Sundari, & Dongoran, 2019)

    Pengaruh Kepemimpinan dengan Produktivitas Kerja


    Pemimpin mempunyai tanggung jawab menciptakan situasi yang
    dapat mendorong anggota agar dapat mencapai tujuan yang ditentukan.
    Kepemimpinan menjadi simbul kemampuan seseorang dalam
    mempengaruhi individu atau kelompok. Seorang pemimpin harus mampu
    menjaga keselarasan antara pemenuhan kebutuhan individu dengan
    pengarahan individu pada tujuan organisasi. Pemimpin yang efektif adalah
    pemimpin yang mengakui kekuatan-kekuatan penting yang terdapat dalam
    individu atau kelompok, serta fleksibel dalam cara pendekatan yang
    digunakan demi meningkatkan kinerja seluruh organisasinya.
    Kepemimpinan dalam perusahaan merupakan hal penting dalam
    sebuah era organisasi modern yang menghendaki adanya demokratisasi
    dalam pelaksanaan kerja dan kepemimpinan perusahaan. Kepemimpinan
    adalah suatu seni mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki dalam
    upaya mencapai tujuan dengan setrategi yang disesuaikan dengan kondisi
    lingkungan. Akibat yang mungkin timbul dari adanya kepemimpinan yang
    buruk adalah penurunannya produktivitas kerja karyawan yang akan
    membawa dampak kepada penurunan kinerja total perusahaan.
    Kepemimpinan merupakan cara pimpinan untuk mempengaruhi orang
    lain atau bawahannya sehingga bersedia melakukan kehendak pimpinan
    untuk mencapai tujuan organisasi meskipun secara pribadi hal tersebut
    mungkin tidak disenangi. Kepemimpinan berpengaruh positif terhadap
    produktivitas kerja dan juga berpengaruh signifikan terhadap struktur yang
    ada di dalam organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan
    seorang pemimpin sangat berpengaruh terhadap produktivitas kerja
    bawahannya, di samping itu untuk mendapatkan produktivitas kerja yang
    tinggi diperlukan juga adanya pemberian pembelajaran terhadap
    bawahannya.

    Pengaruh Kepemimpinan dengan Kepuasan Kerja


    Perilaku pemimpin merupakan salah satu faktor penting yang dapat
    mempengaruhi kepuasan kerja. Berdasarkan kajian teori yang telah
    disampaikan menunjukkan bahwa kepemimpinan mempunyai hubungan
    yang positif terhadap kepuasan kerja para pegawai. Hubungan yang akrab
    dan saling tolong-menolong dengan teman sekerja serta penyelia sangat
    penting dan memiliki hubungan kuat dengan kepuasan kerja dan tidak ada
    kaitannya dengan keadaan tempat kerja serta jenis pekerjaan.
    Kepemimpinan yang efektif merupakan kepemimpinan yang
    disesuaikan dengan situasi dan kondisi (contingency). Indikasi turunnya
    semangat dan kegairahan kerja ditunjukkan dengan tingginya tingkat
    absensi dan perpindahan pegawai. Hal itu timbul sebagai akibat dari
    kepemimpinan yang tidak disenangi.
    Salah satu faktor yang menyebabkan ketidakpuasan kerja ialah sifat
    penyelia yang tidak mau mendengar keluhan dan pandangan pekerja dan
    mau membantu apabila diperlukan. Seorang pekerja yang menerima
    penghargaan dari penyelia yang lebih tinggi dibandingkan dengan
    penilaian mereka sendiri akan lebih puas, akan tetapi penyeliaan yang
    terlalu ketat akan menyebabkan tingkat kepuasan yang rendah.

    Tipologi Kepemimpinan


    Terdapat banyak gaya yang digunakan untuk mengidentifikasi tipetipe kepemimpinan. salah satunya tipologi menurut Kartini Kartono
    (2003;69-73) yang membagi tipe kepemimpinan menjadi delapan tipe,
    antara lain :
    1) Tipe Kharismatis
    Pemimpin memiliki kekuatan energi, daya tarik dan perbawa yang
    luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai
    pengikut yang sangat besar jumlahnya yang dapat dipercaya.
    Pemimpin memiliki banyak inspirasi, keberanian, dan
    berkeyakinan teguh pada pendiriannya. Totalitas kepribadian
    pemimpin mencerminkan pengaruh dan daya tarik teramat besar.
    2) Tipe Paternalistis
    Merupakan tipe kepemimpinan kebapakan, dengan sifat-sifat
    antara lain:
    a) Menganggap bawahannya sebagai manusia yang belum dewasa
    atau anak sendiri yang perlu dikembangkan.
    b) Bersikap terlalu melindungi.
    c) Jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk
    mengambil keputusan sendiri.
    d) Jarang memberi kesemptan kepada bawahan untuk berinisiatif.
    e) Selau bersikap maha tahu dan maha benar.
    3) Tipe Militeris
    Bersifat militeris namun hanya gaya luarnya saja yang mencontoh
    gaya militer. Tetapi jika dilihat lebih seksama tipe ini mirip sekali
    dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat pemimpin
    yang militeris yaitu:
    a) Lebih banyak menggunakan sistem perintah atau komando.
    b) Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
    c) Senang dengan formalitas.
    d) Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya.
    e) Tidak menghendaki saran atau usul dari bawahan.
    f) Komunikasi searah.
    4) Tipe Otokratis
    Tipe pemimpin ini menganggap bahwa pemimpin adalah
    merupakan suatu hak. Ciri-ciri pemimpin tipe ini adalah sebagai
    berikut :
    a) Menganggap bahwa organisasi adalah milik pribadi.
    b) Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
    c) Menganggap bahwa bawahan adalah sebagai alat semata-mata.
    d) Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat dari orang lain
    karena dia menganggap dialah yang paling benar.
    e) Selalu bergantung pada kekuasaan formal.
    f) Dalam menggerakkan bawahan sering mempergunakan
    pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan ancaman.
    5) Tipe Laissez faire
    Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan
    berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi
    terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa
    yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang ingin
    dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing
    anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
    6) Tipe Populistis
    Tipe populistis ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat
    yang tradisional. Kurang mempercayai dukungan dan bantuan
    kekuatan dari luar. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan
    penghidupan kembali kecintaan terhadap orgnisasi yang dipimpin.
    7) Tipe Administratif
    Kepemimpinan tipe administratif adalah keemimpinan yang
    mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif.
    8) Tipe Demokratis
    Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia, dan
    memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya.
    Dari semua tipe kepemimpinan yang ada, tipe kepemimpinan
    demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang terbaik. Hal
    ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan
    kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.
    Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai
    berikut:
    a) Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari
    pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di
    dunia.
    b) Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi
    dengan kepentingan organisasi.
    c) Senang menerima saran, kritik dan pendapat.
    d) Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan
    pendidikan kepada bawahan agar jangan berbuat kesalahan
    dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisiatif dan
    prakarsa dari bawahan.
    e) Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
    f) Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses
    daripadanya.
    g) Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai
    pemimpin

    Teori-teori Kepemimpinan


    Banyak orang yang telah melakukan penelitian dan studi tentang
    kepemimpinan dan hasil dari penelitian tersebut berupa teori-teori
    tentang kepemimpinan. Salah satu orang yang menegemukakan teoriteori tentang kepemimpinan adalah George R. Terry yang di kutip oleh
    Kartini Kartono (2003;61-68) antara lain sebagai berikut:
    1) Teori Otokratis
    Menurut teori ini kepemimpinan didasarkan atas perintah-perintah,
    paksaan dan tindakan-tindakan yang arbitrer. Pemimpin melakukan
    pengawasan yang ketat, agar semua pekerjaan berlangsung secara
    efisien. Kepemimpinannya berorientasi pada struktur organisasi
    dan tugas-tugas.
    2) Teori Psikologis
    Teori ini menyatakan bahwa fungsi seorang pemimpin adalah
    memunculkan dan mengembangkan sistem motivasi terbaik, untuk
    merangsang kesediaan bekerja dari para pengikut dan anak buah.
    3) Tori Sosiologis
    Kepemimpinan dianggap sebagai usaha-usaha untuk melancarkan
    antar-relasi dalam organisasi dan sebagai usaha untuk
    menyelesaikan setiap konflik organisatoris antara para pengikutnya
    agar tercapai kerja sama yang baik.
    4) Teori Suportif
    Menurut teori ini para pengikut harus berusaha sekuat mungkin,
    dan bekerja penuh gairah, sedang pemimpinnya akan membimbing
    dengan sebaik-baiknya melalui policy tertentu.
    5) Teori Laissez Faire
    Seorang pemimpin memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada
    para pengikutnya dalam menentukan aktivitasnya. Pemimpin tidak
    berpartisipasi, kalaupun dilakukan partisipasi tersebut hampir tak
    berarti.
    6) Teori Kelakuan Pribadi
    Kepemimpinan jenis ini akan muncul berdasarkan kualitas-kualitas
    pribadi atau pola-pola kelakuan para pemimpinnya. Seorang
    pemimpin selalu berkelakuan kurang lebih sama, yaitu: ia tidak
    melakukan tindakan-tindakan yang identik sama dalam setiap
    situasi yang dihadapi.
    7) Teori Sifat
    Pemimpin harus mempunyai sifat-sifat diantaranya memiliki
    intelegensi tinggi, inisiatif, energik, kedewasaan emosional,
    persuasif, komunikatif, kepercayaan diri, peka, kreatif, dan juga
    partisipasi sosial.
    8) Teori Situasi
    Teori ini menjelaskan, bahwa harus terdapat daya lenting yang
    tinggi/flexibilitas pada pemimpin untuk menyesuaikan diri
    terhadap tuntutan situasi, lingkungan sekitar zamannya. Faktor
    lingkungan itu harus dijadikan tantangan untuk diatasi.
    9) Teori Humanistik
    Fungsi kepemimpinan menurut teori ini adalah merealisir
    kebebasan manusia dan memenuhi segenap kebutuhan insani, yang
    dicapai melalui interaksi pemimpin dengan bawahan

    Sifat-sifat Kepemimpinan


    Upaya untuk menilai sukses atau gagalnya pemimpin itu antara
    laian dilakukan dengan mengamati sifat-sifat dan kualitas perilakunya.,
    yang dipakai sebagai kriteria untuk menilai kepemimpinannya.
    Menurut Ordway Tead yang dikutip oleh Kartini Kartono (2003;37-41)
    menjelaskan terdapat 10 sifat yang harus dimiliki oleh seorang
    pemimpin, yaitu sebagi berikut :
    1) Energi jasmaniah dan mental, yaitu mempunyai daya tahan,
    keuletan, kekuatan baik jasmani maupun mental untuk mengatasi
    semua permasalahan.
    2) Kesadaran akan tujuan dan arah, mengetahui arah dan tujuan
    organisasi, serta yakin akan manfaatnya.
    3) Antusiasme, pekerjaan mempunyai tujuan yang bernilai,
    menyenangkan, memberikan sukses, dan dapat membangkitkan
    antusiasme bagi pimpinan maupun bawahan.
    4) Keramahan dan kecintaan, dedikasi pemimpin bisa memotivasi
    bawahan untuk melakukan perbuatan yang menyenangkan semua
    pihak, sehingga dapat diarahkan untuk mencapai tujuan.
    5) Integritas, pemimpin harus bersikap terbuka; merasa utuh bersatu,
    sejiwa dan seperasaan dengan anak buah sehingga bawahan
    menjadi lebih percaya dan hormat.
    6) Penguasaan teknis, setiap pemimpin harus menguasai satu atau
    beberapa kemahiran teknis agar ia mempunyai kewibawaan dan
    kekuasaan untuk memimpin.
    7) Ketegasan dalam mengambil keputusan, pemimpin yang berhasil
    pasti dapat mengambil keputusan secara cepat, tegas dan tepat
    sebagai hasil dari kearifan dan pengalamannya.
    8) Kecerdasan, orang yang cerdas akan mampu mengatasi masalah
    dalam waktu yang lebih cepat dan cara yang lebih efektif.
    9) Keterampilan mengajar, pemimpin yang baik adalah yang mampu
    menuntun, mendidik, mengarahkan, mendorong, dan
    menggerakkan anak buahnya untuk berbuat sesuatu.
    10) Kepercayaan, keberhasilan kepemimpinan didukung oleh
    kepercayaan anak buahnya, yaitu percaya bahwa pemimpin dengan
    anggota berjuang untuk mencapai tujuan.
    Hal yang sama disampaikan oleh George R. Terry yang dikutip
    oleh Kartini Kartono (2003;41-43) tentang sepuluh sifat pemimpin
    yang unggul, yaitu:
    1) Kekuatan. kekuatan badaniah dan rokhaniah merupakan syarat
    yang pokok bagi pemimpin sehingga ia mempunyai daya tahan
    untuk menghadapi berbagai rintangan.
    2) Stabilitas emosi. pemimpin dengan emosi yang stabil akan
    menunjang pencapaian lingkungan sosial yang rukun, damai, dan
    harmonis.
    3) Pengetahuan tentang relasi. Pemimpin memiliki pengetahuan
    tentang sifat, watak, dan perilaku bawahan agar bisa menilai
    kelebihan/kelemahan bawahan sesuai dengan tugas yang
    diberikan.
    4) Kejujuran. Pemimpin yang baik harus mempunyai kejujuran yang
    tinggi baik kepada diri sendiri maupun kepada bawahan.
    5) Obyektif. Pemimpin harus obyektif, mencari bukti-bukti yang
    nyata dan sebab musabab dari suatu kejadian dan memberikan
    alasan yang rasional atas penolakannya.
    6) Dorongan pribadi. Keinginan dan kesediaan untuk menjadi
    pemimpin harus muncul dari dalam hati agar ikhlas memberikan
    pelayanan dan pengabdian kepada kepentingan umum.
    7) Keterampilan berkomunikasi. Pemimpin diharapkan mahir menulis
    dan berbicara, mudah menangkap maksud orang lain, mahir
    mengintegrasikan berbagai opini serta aliran yang berbeda-beda
    untuk mencapai kerukunan dan keseimbangan.
    8) Kemampuan mengajar. Pemimpin diharapkan juga menjadi guru
    yang baik, yang membawa orang belajar pada sasaran-sasaran
    tertentu untuk menambah pengetahuan, keterampilan agar
    bawahannya bisa mandiri, mau memberikan loyalitas dan
    partisipasinya.
    9) Keterampilan sosial. Dia bersikap ramah, terbuka, mau menghargai
    pendapat orang lain, sehingga ia bisa memupuk kerjasama yang
    baik.
    10) Kecakapan teknis atau kecakapan manajerial. Pemimpin harus
    superior atau beberapa kemahiran teknis tertentu.

    Syarat-syarat Kepemimpinan


    Menurut Stogdill yang di kutip oleh Kartinin Kartono (2003;31)
    seorang pemimpin harus memiliki beberapa kelebihan, yaitu :
    1) Kapasitas : kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara,
    keaslian dan kemampuan menilai.
    2) Prestasi : gelar kesarjanaan, ilmu pengethuan dan perolehan dalam
    olah raga.
    3) Tanggung jawab : mandiri, berinisiatif, tekun, ulet, percaya diri,
    agresif, dan punya hasrat untuk unggul.
    4) Partisipasi : aktif, memiliki sosiabilitas tingg, mampu bergaul,
    koordinatif atau dapat bekerjasama, mudah menyesuaikan diri, dan
    punya rasa humor.
    5) Status : meliputi kedudukan sosial-ekonomi yang cukup tinggi,
    populer dan tenar.
    Nightingale dan Schult dalam bukanya “Creative Thinking – How
    to win Ideas”, yang dikutip oleh Kartini Kartono (2003;31)
    menuliskan bahwa syarat yang harus dimiliki seorang pemimpin ialah :
    1) Kemandirian, berhasrat memajukan diri sendiri.
    2) Besar rasa ingin tahu, dan cepat tertarik pada manusia dan bendabenda.
    3) Multi-terampil atau memiliki kepandaian beraneka ragam.
    4) Memiliki rasa humor, antusiasme tinggi, suka berkawan.
    5) Perfeksionis, selalu ingin mendapatkan yang sempurna.
    6) Mudah menyesuaikan diri.
    7) Sabar namun ulet.
    8) Waspada, peka, jujur, optimistis, gigih, ulet realistis.
    9) Komunikatif, serta pandai berbicara.
    10) Berjiwa wiraswasta.
    11) Sehat jasmaninya, dinamis sanggup dan suka menerima tugas yang
    berat , serta berani mengambil resiko.
    12) Tajam firasatnya, tajam dan adil pertimbangannya.
    13) Berpengetahuan luas, dan haus akan ilmu pengetahuan.
    14) Memiliki motivasi tinggi, dan menyadari target atau tujuan
    hidupnya yang ingin dicapai, dibimbing oleh idealisme yang tinggi.
    15) Punya imajinasi tinggi, daya kombinasi, dan daya inovasi

    Pengertian Kepemimpinan


    Kepemimpinan menurut Winardi (2000 ; 47) “merupakan suatu
    kemampuan yang melekat pada diri seorang yang memimpin, yang
    tergantung dari macam-macam faktor, baik faktor-faktor intern
    maupun faktor-faktor ekstern”.
    Pendapat lain menurut Wexley dan Yuki (2003 ; 189 )
    kepemimpinan adalah “mempengaruhi orang untuk melakukan usaha
    lebih banyak dalam sejumlah tugas atau mengubah perilakunya”.
    Sedangkan menurut Ordway Tead yang dikutip oleh Kartini Kartono
    (2003 ; 49) kepemimpinan adalah “kegiatan mempengaruhi orangorang agar mereka mau bekerja sama untuk mencapai tujuan yang di
    inginkan”.
    Pengertian kepemimpinan dari sejumlah ahli tersebut menunjukkan
    bahwa dalam suatu organisasi terdapat orang yang mempunyai
    kemampuan untuk mempengaruhi, mengarahkan, membimbing dan
    juga sebagian orang yang mempunyai kegiatan untuk mempengaruhi
    perilaku orang lain agar mengikuti apa yang menjadi kehendak dari
    pada atasan atau pimpinan mereka. Karena itu, kepemimpinan dapat
    dipahami sebagai kemampuan mempengaruhi bawahan agar terbentuk
    kerjasama di dalam kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.
    Apabila orang-orang yang menjadi pengikut atau bawahan dapat
    dipengaruhi oleh kekuatan kepemimpinan yang dimiliki oleh atasan
    maka mereka akan mau mengikuti kehendak pimpinannya dengan
    sadar, rela, dan sepenuh hati.

    Karakteristik Produktivitas Kerja


    Menurut Nasution (2001:205) pada dasarnya setiap karyawan yang
    produktif memiliki karakteristik sebagai berikut :
    1) Secara konsisten selalu mencari gagasan-gagasan yang lebih baik
    dan cara penyelesaian tugas yang lebih baik lagi.
    2) Selalu memberikan saran-saran untuk perbaikan secara sukarela.
    3) Menggunakan waktu secara efektif dan efisien.
    4) Selalu melakukan perencanaan dan menyertakan jadwal waktu.
    5) Bersikap positif terhadap pekerjaan.
    6) Dapat berlaku sebagai anggota kelompok yang baik, sebagaimana
    menjadi seorang pemimpin yang baik.
    7) Dapat memotivasi dirinya sendiri melalui dorongan dari dalam.
    8) Memahami pekerjaan orang lain yang lebih baik.
    9) Hubungan antar pribadi pada semua tingkatan dalam organisasi
    berlangsung dengan baik.
    10) Sangat menyadari dan memperhatikan masalah pemborosan dan
    biaya-biaya.
    11) Mempunyai tingkat kehadiran yang baik.
    12) Seringkali melampaui standar yang telah ditetapkan.
    13) Selalu mempelajari sesuatu yang baru dengan cepat.
    14) Bukan merupakan tipe orang yang selalu mengeluh dalam bekerja

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja


    Produktivitas kerja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik
    yang berhubungan dengan manusia itu sendiri maupun yang
    berhubungan dengan lingkungan dimana ia bekerja baik dari intern
    perusahaan itu sendiri maupun ekstern perusahaan (kebijakan
    pemerintah). Untuk mencapai produktivitas yang tinggi suatu
    perusahaan dalam proses operasional atau kinerja perusahaan, selain
    tenaga kerja harus juga didukung oleh faktor – faktor pendukung
    produktivitas kerja.
    Menurut Soedarmayanti (1996 ; 143) mengemukakan bahwa
    terdapat 6 (enam) faktor utama yang menentukan produktivitas tenaga
    kerja, yaitu :
    1) Sikap kerja, seperti : kesediaan untuk bekerja secara bergiliran
    (shift work) dapat menerima tambahan tugas dan bekerja dalam
    suatu tim.
    2) Tingkat keterampilan, yang ditentukan oleh pendidikan, latihan
    dalam manajemen dan supervise serta keterampilan dalam teknik
    industri.
    3) Hubungan antara tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang
    tercermin dalam usaha bersama antara pimpinan organisasi dan
    tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas.
    4) Manajemen produktivitas, yaitu manajemen yang efisien mengenai
    sumber dan sistem kerja untuk mencapai peningkatan
    produktivitas.
    5) Efisien tenaga kerja, seperti perencanaan tenaga kerja dan
    tambahan tugas.
    6) Kewirausahaan, yang tercermin dalam pengambilan risiko,
    kreativitas dalam berusaha, dan berada pada jalur yang benar dan
    berusaha.

    Pengertian Produktivitas


    Menurut George J. Washin yang diterjemahkan oleh Slamet
    Saksono (1997;113) mengemukaan bahwa :
    Produktivitas mengandung dua konsep utama, yaitu efisiensi dan
    efektivitas. Efisiensi mengukur tingkat sumber daya, baik manusia,
    keuangan, maupun alam yang dibutuhkan untuk memenuhi tingkat
    pelayanan yang dikehendaki, efektivitas mengukur hasil mutu
    pelayanan yang dicapai.
    Sedangkan menurut Sedarmayanti (1996 ; 142) produktivitas
    adalah “keinginan (the will) dan upaya (effort) manusia untuk selalu
    meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupan di segala bidang”.
    Produktivitas menurut Riyanto (1986 ; 22) mengandung pengertian
    ”produktivitas secara tidak langsung menyatakan kemajuan dari
    proses transformasi sumber daya menjadi barang atau jas, peningkatan
    berarti perbandingan yang naik antara sumber daya yang dipakai
    (input) dengan jumlah barang yang dihasilkan (output)”

    Meningkatkan Kepuasan Kerja


    Menurut Riggio (2005), peningkatan kepuasan kerja dapat
    dilakukan dengan cara sebagai berikut:
    1) Melakukan perubahan struktur kerja, misalnya dengan melakukan
    perputaran pekerjaan (job rotation), yaitu sebuah sistem perubahan
    pekerjaan dari salah satu tipe tugas ke tugas yang lainnya (yang
    disesuaikan dengan job description). Cara kedua yang harus
    dilakukan adalah dengan pemekaran (job enlargement), atau
    perluasan satu pekerjaan sebagai tambahan dan bermacam-macam
    tugas pekerjaan. Praktik untuk para pekerja yang menerima tugastugas tambahan dan bervariasi dalam usaha untuk membuat mereka
    merasakan bahwa mereka adalah lebih dari sekedar anggota dari
    organisasi.
    2) Melakukan perubahan struktur pembayaran, perubahan sistem
    pembayaran ini dilakukan dengan berdasarkan pada keahliannya
    (skill-based pay), yaitu pembayaran dimana para pekerja digaji
    berdasarkan pengetahuan dan keterampilannya daripada posisinya
    di perusahaan. Pembayaran kedua dilakukan berdasarkan jasanya
    (merit pay), sistem pembayaran dimana pekerja digaji berdasarkan
    performancenya, pencapaian finansial pekerja berdasarkan pada
    hasil yang dicapai oleh individu itu sendiri. Pembayaran yang
    ketiga adalah Gainsharing atau pembayaran berdasarkan pada
    keberhasilan kelompok (keuntungan dibagi kepada seluruh anggota
    kelompok).
    3) Pemberian jadwal kerja yang fleksibel, dengan memberikan
    kontrol pada para pekerja mengenai pekerjaan sehari-hari mereka,
    yang sangat penting untuk mereka yang bekerja di daerah padat,
    dimana pekerja tidak bisa bekerja tepat waktu atau untuk mereka
    yang mempunyai tanggung jawab pada anak-anak. Compressed
    work week (pekerjaan mingguan yang dipadatkan), dimana jumlah
    pekerjaan per harinya dikurangi sedang jumlah jam pekerjaan per
    hari ditingkatkan. Para pekerja dapat memadatkan pekerjaannya
    yang hanya dilakukan dari hari Senin hingga Jum’at, sehingga
    mereka dapat memiliki waktu longgar untuk liburan. Cara yang
    kedua adalah dengan sistem penjadwalan dimana seorang pekerja
    menjalankan sejumlah jam khusus per minggu (Flextime), tetapi
    tetap mempunyai fleksibilitas kapan mulai dan mengakhiri
    pekerjaannya.
    4) Mengadakan program yang mendukung, perusahaan mengadakan
    program-program yang dirasakan dapat meningkatkan kepuasan
    kerja para karyawan, seperti; health center, profit sharing, dan
    employee sponsored child care.

    Pengaruh Kepuasan Kerja


    1) Terhadap Produktivitas
    Orang berpendapat bahwa produktivitas dapat dinaikkan
    dengan meningkatkan kepuasan kerja. Kepuasan kerja mungkin
    merupakan akibat dari produktivitas atau sebaliknya. Produktivitas
    yang tinggi menyebabkan peningkatan dari kepuasan kerja hanya
    jika tenaga kerja mempersepsikan bahwa apa yang telah dicapai
    perusahaan sesuai dengan apa yang mereka terima (gaji/upah) yaitu
    adil dan wajar serta diasosiasikan dengan performa kerja yang
    unggul. Dengan kata lain bahwa performansi kerja menunjukkan
    tingkat kepuasan kerja seorang pekerja, karena perusahaan dapat
    mengetahui aspek-aspek pekerjaan dari tingkat keberhasilan yang
    diharapkan.
    2) Ketidakhadiran (Absenteisme)
    Menurut Porter dan Steers, ketidakhadiran sifatnya lebih
    spontan dan kurang mencerminkan ketidakpuasan kerja. Tidak
    adanya hubungan antara kepuasan kerja dengan ketidakhadiran.
    Karena ada dua faktor dalam perilaku hadir yaitu motivasi untuk
    hadir dan kemampuan untuk hadir.
    Sementara itu menurut Wibowo (2007:312) “antara kepuasan
    dan ketidakhadiran/kemangkiran menunjukkan korelasi negatif”.
    Sebagai contoh perusahaan memberikan cuti sakit atau cuti kerja
    dengan bebas tanpa sanksi atau denda termasuk kepada pekerja
    yang sangat puas.
    3) Keluarnya Pekerja (Turnover)
    Sedangkan berhenti atau keluar dari pekerjaan mempunyai
    akibat ekonomis yang besar, maka besar kemungkinannya
    berhubungan dengan ketidakpuasan kerja. Menurut Robbins
    (1998), ketidakpuasan kerja pada pekerja dapat diungkapkan dalam
    berbagai cara misalnya selain dengan meninggalkan pekerjaan,
    mengeluh, membangkang, mencuri barang milik
    perusahaan/organisasi, menghindari sebagian tanggung jawab
    pekerjaan mereka dan lainnya.
    4) Respon terhadap Ketidakpuasan Kerja
    Menurut Robbins (2003) ada empat cara tenaga kerja
    mengungkapkan ketidak puasan yaitu:
    a) Keluar (Exit) yaitu meninggalkan pekerjaan termasuk mencari
    pekerjaan lain.
    b) Menyuarakan (Voice) yaitu memberikan saran perbaikan dan
    mendiskusikan masalah dengan atasan untuk memperbaiki
    kondisi.
    c) Mengabaikan (Neglect) yaitu sikap dengan membiarkan
    keadaan menjadi lebih buruk seperti sering absen atau semakin
    sering membuat kesalahan.
    d) Kesetiaan (loyality) yaitu menunggu secara pasif samapi
    kondisi menjadi lebih baik termasuk membela perusahaan
    terhadap kritik dari luar.

    Korelasi Kepuasan Kerja


    Hubungan antara kepuasan kerja dengan variabel lain dapat
    bersifat positif atau negatif. Kekuatan hubungan mempunyai rentang
    dari lemah dampai kuat. Menurut Kreitner dan Kinicki (2001;226)
    Hubungan yang kuat menunjukkan bahwa atasan dapat mempengaruhi
    dengan signifikan variabel lainnya dengan meningkatkan kepuasan
    kerja. Beberapa korelasi kepuasan kerja sebagai berikut :
    1) Motivasi
    Antara motivasi dan kepuasan kerja terdapat hubungan yang positif
    dan signifikan. Karena kepuasan dengan pengawasan/supervisi
    juga mempunyai korelasi signifikan dengan motivasi,
    atasan/manajer disarankan mempertimbangkan bagaimana perilaku
    mereka mempengaruhi kepuasan pekerja sehingga mereka secara
    potensial dapat meningkatkan motivasi pekerja melalui berbagai
    usaha untuk meningkatkan kepuasan kerja.
    2) Pelibatan Kerja
    Hal ini menunjukkan kenyataan dimana individu secara pribadi
    dilibatkan dengan peran kerjanya. Karena pelibatan kerja
    mempunyai hubungan dengan kepuasan kerja, dan peran
    atasan/manajer perlu didorong memperkuat lingkungan kerja yang
    memuaskan untuk meningkatkan keterlibatan kerja pekerja.
    3) Organizational citizenship behavior
    Merupakan perilaku pekerja di luar dari apa yang menjadi
    tugasnya.
    4) Organizational commitment
    Mencerminkan tingkatan dimana individu mengidentifikasi dengan
    organisasi dan mempunyai komitmen terhadap tujuannya. Antara
    komitmen organisasi dengan kepuasan terdapat hubungan yang
    siknifikan dan kuat, karena meningkatnya kepuasan kerja akan
    menimbulkan tingkat komitmen yang lebih tinggi. Selanjutnya
    komitmen yang lebih tinggi dapat meningkatkan produktivitas
    kerja.
    5) Ketidakhadiran (Absenteisme)
    Antara ketidakhadiran dan kepuasan terdapat korelasi negatif yang
    kuat. Dengan kata lain apabila kepuasan meningkat, ketidakhadiran
    akan turun.
    6) Perputaran (Turnover)
    Hubungan antara perputaran dengan kepuasan adalah negatif.
    Dimana perputaran dapat mengganggu kontinuitas organisasi dan
    mahal sehingga diharapkan atasan/manajer dapat meningkatkan
    kepuasan kerja dengan mengurangi perputaran.
    7) Perasaan stres
    Antara perasaan stres dengan kepuasan kerja menunjukkan
    hubungan negatif dimana dengan meningkatnya kepuasan kerja
    akan mengurangi dampak negatif stres.
    8) Prestasi kerja/kinerja
    Terdapat hubungan positif rendah antara kepuasan dan prestasi
    kerja. Dikatakan kepuasan kerja menyebabkan peningkatan kinerja
    sehingga pekerja yang puas akan lebih produktif. Di sisi lain terjadi
    kepuasan kerja disebabkan oleh adanya kinerja atau prestasi kerja
    sehingga pekerja yang lebih produktif akan mendapatkan
    kepuasan.

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja

    Ada lima faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja menurut
    Kreitner dan Kinicki (2001; 225) yaitu sebagai berikut :
    1) Pemenuhan kebutuhan (Need fulfillment)
    Kepuasan ditentukan oleh tingkatan karakteristik pekerjaan
    memberikan kesempatan pada individu untuk memenuhi
    kebutuhannya.
    2) Perbedaan (Discrepancies)
    Kepuasan merupakan suatu hasil memenuhi harapan. Pemenuhan
    harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang diharapkan
    dan apa yang diperoleh individu dari pekerjaannya. Bila harapan
    lebih besar dari apa yang diterima, orang akan tidak puas.
    Sebaliknya individu akan puas bila menerima manfaat diatas
    harapan.
    3) Pencapaian nilai (Value attainment)
    Kepuasan merupakan hasil dari persepsi pekerjaan memberikan
    pemenuhan nilai kerja individual yang penting.
    4) Keadilan (Equity)
    Kepuasan merupakan fungsi dari seberapa adil individu
    diperlakukan di tempat kerja.
    5) Komponen genetik (Genetic components)
    Kepuasan kerja merupakan fungsi sifat pribadi dan faktor genetik.
    Hal ini menyiratkan perbedaan sifat individu mempunyai arti
    penting untuk menjelaskan kepuasan kerja disampng karakteristik
    lingkungan pekerjaan.
    Selain penyebab kepuasan kerja, ada juga faktor penentu kepuasan
    kerja. Diantaranya adalah sebagi berikut :
    1) Pekerjaan itu sendiri (work it self)
    Setiap pekerjaan memerlukan suatu keterampilan tertentu sesuai
    dengan bidangnya masing-masing. Sukar tidaknya suatu pekerjaan
    serta perasaan seseorang bahwa keahliannya dibutuhkan dalam
    melakukan pekerjaan tersebut, akan meningkatkan atau
    mengurangi kepuasan.
    2) Hubungan dengan atasan (supervision)
    Kepemimpinan yang konsisten berkaitan dengan kepuasan kerja
    adalah tenggang rasa (consideration). Hubungan fungsional
    mencerminkan sejauhmana atasan membantu tenaga kerja untuk
    memuaskan nilai-nilai pekerjaan yang penting bagi tenaga kerja.
    Hubungan keseluruhan didasarkan pada ketertarikan antar pribadi
    yang mencerminkan sikap dasar dan nilai-nilai yang serupa,
    misalnya keduanya mempunyai pandangan hidup yang sama.
    Tingkat kepuasan kerja yang paling besar dengan atasan adalah
    jika kedua jenis hubungan adalah positif. Atasan yang memiliki
    ciri pemimpin yang transformasional, maka tenaga kerja akan
    meningkat motivasinya dan sekaligus dapat merasa puas dengan
    pekerjaannya.
    3) Teman sekerja (workers)
    Teman kerja merupakan faktor yang berhubungan dengan
    hubungan antara pegawai dengan atasannya dan dengan pegawai
    lain, baik yang sama maupun yang berbeda jenis pekerjaannya.
    4) Promosi (promotion)
    Promosi merupakan faktor yang berhubungan dengan ada tidaknya
    kesempatan untuk memperoleh peningkatan karier selama bekerja.
    5) Gaji atau upah (pay)
    Merupakan faktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang
    dianggap layak atau tidak

    Teori Kepuasan Kerja


    Teori kepuasan kerja mencoba mengungkapkan apa yang membuat
    sebagian orang lebih puas terhadap suatu pekerjaan daripada beberapa
    lainnya. Teori ini juga mencari landasan tentang proses perasaan orang
    terhadap kepuasan kerja. Ada beberapa teori tentang kepuasan kerja
    yaitu :
    1) Two Factor Theory
    Teori ini menganjurkan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan
    merupakan bagian dari kelompok variabel yang berbeda yaitu
    motivators dan hygiene factors. Ketidakpuasan dihubungkan
    dengan kondisi disekitar pekerjaan (seperti kondisi kerja, upah,
    keamanan, kualitas pengawasan dan hubungan dengan orang lain)
    dan bukan dengan pekerjaan itu sendiri. Karena faktor mencegah
    reaksi negatif dinamakan sebagai hygiene atau maintainance
    factors.
    Sebaliknya kepuasan ditarik dari faktor yang terkait dengan
    pekerjaan itu sendiri atau hasil langsung daripadanya seperti sifat
    pekerjaan, prestasi dalam pekerjaan, peluang promosi dan
    kesempatan untuk pengembangan diri dan pengakuan. Karena
    faktor ini berkaitan dengan tingkat kepuasan kerja tinggi
    dinamakan motivators.
    2) Value Theory
    Menurut teori ini kepuasan kerja terjadi pada tingkatan dimana
    hasil pekerjaan diterima individu seperti diharapkan. Semakin
    banyak orang menerima hasil, akan semakin puas dan sebaliknya.
    Kunci menuju kepuasan pada teori ini adalah perbedaan antara
    aspek pekerjaan yang dimiliki dengan yang diinginkan seseorang.
    Semakiin besar perbedaan, semakin rendah kepuasan orang.

    Pengertian Kepuasan Kerja


    Setiap orang yang bekerja mengharapkan memperoleh kepuasan
    dari tempatnya bekerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan hal
    yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki tingkat
    kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku
    dalam diri setiap individu. Semakin banyak aspek dalam pekerjaan
    yang sesuai dengan keinginan individu, maka semakin tinggi tingkat
    kepuasan yang dirasakan.
    Menurut Kreitner dan Kinicki (2001;271) kepuasan kerja adalah
    “suatu efektifitas atau respons emosional terhadap berbagai aspek
    pekerjaan”. Davis dan Newstrom (1985;105) mendeskripsikan
    “kepuasan kerja adalah seperangkat perasaan pegawai tentang
    menyenangkan atau tidaknya pekerjaan mereka”. Menurut Robbins
    (2003;78) kepuasan kerja adalah “sikap umum terhadap pekerjaan
    seseorang yang menunjukkan perbedaan antara jumlah penghargaan
    yag diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya
    mereka terima”.
    Kepuasan kerja merupakan respon afektif atau emosional terhadap
    berbagai segi atau aspek pekerjaan seseorang sehingga kepuasan kerja
    bukan merupakan konsep tunggal. Seseorang dapat relatif puas dengan
    salah satu aspek pekerjaan dan tidak puas dengan satu atau lebih aspek
    lainnya. Kepuasan Kerja merupakan sikap (positif) tenaga kerja
    terhadap pekerjaannya, yang timbul berdasarkan penilaian terhadap
    situasi kerja. Penilaian tersebut dapat dilakukan terhadap salah satu
    pekerjaannya, penilaian dilakukan sebagai rasa menghargai dalam
    mencapai salah satu nilai-nilai penting dalam pekerjaan. Karyawan
    yang puas lebih menyukai situasi kerjanya daripada tidak
    menyukainya.
    Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan kepuasan dan
    ketidakpuasan kerja cenderung mencerminkan penaksiran dari tenaga
    kerja tentang pengalaman-pengalaman kerja pada waktu sekarang dan
    lampau daripada harapan-harapan untuk masa depan. Sehingga dapat
    disimpulkan bahwa terdapat dua unsur penting dalam kepuasan kerja,
    yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar.
    Nilai-nilai pekerjaan merupakan tujuan-tujuan yang ingin dicapai
    dalam melakukan tugas pekerjaan. Yang ingin dicapai ialah nilai-nilai
    pekerjaan yang dianggap penting oleh individu. Dikatakan selanjutnya
    bahwa nilai-nilai pekerjaan harus sesuai atau membantu pemenuhan
    kebutuhan-kebutuhan dasar. Dengan demikian dapat disimpulkan
    bahwa kepuasan kerja merupakan hasil dari tenaga kerja yang
    berkaitan dengan motivasi kerja.
    Kepuasan kerja secara keseluruhan bagi seorang individu adalah
    jumlah dari kepuasan kerja (dari setiap aspek pekerjaan) dikalikan
    dengan derajat pentingnya aspek pekerjaan bagi individu. Seorang
    individu akan merasa puas atau tidak puas terhadap pekerjaannya
    merupakan sesuatu yang bersifat pribadi, yaitu tergantung bagaimana
    ia mempersepsikan adanya kesesuaian atau pertentangan antara
    keinginan-keinginannya dengan hasil keluarannya (yang didapatnya).
    Sehingga dapat disimpulkan pengertian kepuasan kerja adalah
    sikap yang positif dari tenaga kerja meliputi perasaan dan tingkah laku
    terhadap pekerjaannya melalui penilaian salah satu pekerjaan sebagai
    rasa menghargai dalam mencapai salah satu nilai-nilai penting
    pekerjaan.

    Indikator Role Overload


    Role overload diidentifikasi terjadi karena beberapa indikator yang
    dikemukakan oleh Jansen (2018:5) yaitu:

    1. Jam Kerja
      Banyak pekerja yang memilih tetap bekerja di luar jam operasional kantor. Hal
      ini biasa terjadi ketika perusahaan sedang dikejar target.
    2. Tidak Menyelesaikan Deadline Tepat Waktu
      Banyaknya pekerjaan membuat pekerja menjadi bingung harus
      memprioritaskan pekerjaan yang memang harus didahulukan, hal ini membuat
      banyaknya pekerjaan yang sudah dekat dengan tenggang waktu yang
      terbengkalai.
    3. Tuntutan Yang Sulit
      Banyaknya keharusan yang dikerjakan oleh pekerja dapat menimbulkan
      perasaan beban tersendiri bagi pekerja
    4. Waktu Istirahat Yang Cukup
      Waktu istirahat dalam perusahaan terbilang singkat dan masih banyak pekerja
      yang menggunakan waktu istirahat untuk menyelesaikan pekerjaannya.
    5. Kesibukan Yang Lain
      Banyaknya aktivitas pekerja dalam melakukan pekerjaannya sering kali
      membuat pekerjaan lain terhambat sehingga menjadi beban tersendiri bagi
      pekerja.

    Role Overload


    Menurut Gharib dan Suhail (2016:178) mengklasifikasikan beban kerja
    menjadi dua yaitu Role overload dan Role Lower load. Role overload dapat bersifat
    kuantitatif dan kualitatif. Menurut Landy, F. J. dalam buku Work In The 21st
    Century (2015:401) role overload didefinisikan sebagai kelebihan peran yang
    terjadi saat seseorang diharapkan memenuhi terlalu banyak peran pada saat yang
    bersamaan. Role overload dapat menyebabkan orang bekerja berjam-jam,
    meningkatkan stress dan ketegangan berikutnya.
    Menurut Binalay dan Mandey (2016:65) role overload adalah stress kerja
    yang terjadi saat seseorang merasa bahwa dia tidak memiliki waktu atau sumber
    daya untuk menangani tugas mereka. Fenomena ini secara konseptual berbeda dari
    kerja paksa, karena terlalu banyak kerja melibatkan jumlah jam yang dihabiskan
    seseorang di tempat kerja. Dari ulasan diatas dapat disimpulkan bahwa role
    overload adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan suatu beban pekerjaan
    berdasarkan peran dalam pekerjaannya.

    Indikator Role Conflict


    Menurut Rizzo dan Lirtzman (2017:3), konflik peran diukur menggunakan
    indikator-indikator sebagai berikut:

    1. Sumber Daya Manusia
      Setiap individu bekerja dengan cara yang berbeda dan beberapa menerima tugas
      tanpa bakat yang cukup untuk menyelesaikannya.
    2. Mengesampingkan Aturan
      Mengesampingkan peraturan yang ada supaya bisa menuntaskan tugas dan
      menerima permintaan dua pihak atau lebih yg tidak sinkron satu sama lain.
    3. Kegiatan Yang Tidak Perlu
      Pekerjaan yang dapat diterima oleh satu pihak tetapi tidak bagi pihak lain, dan
      kegiatan yang sebenarnya tidak menjadi prioritas.
    4. Instruksi Yang Ambigu
      Penjelasan tentang pekerjaan yang tidak jelas atau adanya perbedaan antara
      penjelasan dengan pelaksanaan pekerjaan yang seharusnya.

    Role Conflict


    Konflik peran terjadi ketika seseorang diberikan peran yang membuatnya
    sulit beradaptasi ke peran lain (Robbin dan Judge, 2015:183). Konflik peran terjadi
    ketika mereka diinstruksikan oleh dua atau lebih peran pada saat yang sama, dan
    dengan tugas yang berbeda sehingga menimbulkan ambiguitas (Choi dan Kim,
    2015:13). Role conflict adalah jenis konflik yang dihasilkan dari berbagai peran.
    Konflik ini terjadi karena individu secara bersamaan memainkan berbagai peran,
    beberapa memiliki harapan yang saling bertentangan.
    Role conflict, terjadi ketika ada ketidaksesuaian antara harapan dan
    persyaratan yang terkait dengan peran seseorang. Mencapai harapan dan dapat
    memperumit harapan dan peran lainnya. Role conflict merupakan ketidaksesuaian
    permintaan peran tugas dengan tugas yang biasa dikerjakan (Wiguna, 2017:506).
    Role conflict ada dua pengertian yaitu keberadaan dari tujuan dan sasaran hasil
    suatu pekerjaan yang telah didefinisikan dengan jelas (Goal Clarity) dan
    keberadaan dari setiap individu di mana mereka merasa yakin tentang bagaimana
    harus melakukan pekerjaannya (Process Clarity). Dari ulasan diatas dapat
    disimpulkan bahwa role conflict adalah suatu keadaan yang dialami seseorang
    dengan peran pekerjaan yang dialaminya.

    Indikator Kepuasan Kerja


    Menurut Robbin dan Judge (2015:181-182) Indikator Kepuasan Kerja
    Karyawan Sebagai berikut:

    1. Pekerja itu sendiri
      Pekerjaan itu sendiri yaitu keadaan di mana karyawan menemukan tugas-tugas
      yang menarik, kesempatan untuk belajar dan kesempatan untuk
      bertanggungjawab dalam pekerjaannya. Indikatornya memuat pekerjaan yang
      sesuai kemampuan serta pekerjaan yang secara mental menantang.
    2. Supervisi
      Supervisi menurut KBBI ialah pengawasan utama atau pengontrolan tertinggi.
      Indikatornya terkait dengan pengawasan yang diberikan pimpinan dan metode
      yang diambil pimpinan.
    3. Rekan Kerja
      Bagi kebanyakan karyawan, bekerja juga mengisi kebutuhan interaksi sosial.
      Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan apabila mempunyai rekan sekerja yang
      ramah dan mendukung mengarah ke kepuasan kerja yang meningkat. Perilaku
      atasan juga merupakan determinan utama dari kepuasan.
    4. Promosi
      Promosi yaitu kemungkinan seseorang dapat berkembang melalui kenaikan
      jabatan. Indikatornya terkait kesempatan karyawan untuk maju dan metode
      yang diambil pimpinan dalam melakukan promosi karyawan.
    5. Gaji
      Para karyawan menginginkan sistem upah dan kebijakan promosi yang mereka
      persepsikan sebagai adil dengan pengharapan. Bila upah dilihat sebagai adil
      yang didasarkan pada tuntutan pekerjaan, tingkat keterampilan individu, dan
      standar pengupahan komunitas, kemungkinan besar dihasilkan kepuasan.

    Dampak Ketidakpuasan Kerja


    Menurut Robbin dan Judge (2015:185) ada beberapa cara untuk karyawan
    menunjukan ketidak puasan terhadap pekerjaannya, yaitu:

    1. Keluar / Resign
      Ketidakpuasan karyawan memilih untuk bekerja ditempat lain. Termasuk
      mencari posisi baru atau mengundurkan diri. Jika traffic keluar-masuk
      karyawan terlalu banyak, akan berdampak pada performa kerja perusahaan.
      Karena karyawan belum bisa langsung bekerja secara normal, ada masa
      adaptasi dan probation.
    2. Menyuarakan
      Ketidakpuasan karyawan akan konsultasi terlebih dahulu atas masalah yang
      dihadapi kemudian memberi saran.
    3. Mengabaikan
      Ketidakpuasan karyawan membiarkan keadaan menjadi lebih buruk dengan
      cara sering absen atau sering membuat kesalahan.
    4. Kesetiaan
      Tipe ini cenderung untuk setia kepada perusahaan dan menunggu hingga
      keadaan membaik.

    Kepuasan Kerja


    Robbin dan Judge (2015:49) secara spesifik mendeskripsikan kepuasan
    kerja sebagai perasaan positif seseorang atas pekerjaannya yang diperoleh dari
    suatu evaluasi terhadap karakteriskik kepuasan itu sendiri. Perasaan positif ini
    umumnya identik dengan rasa bahagia dan nyaman karena harapan seseorang
    dari pekerjaannya telah banyak terpenuhi. Selanjutnya, menurut Sutrisno
    (2019:74) Kepuasan Kerja adalah suatu sikap karyawan terhadap pekerjaan
    yang berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar karyawan, imbalan
    yang diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan
    psikologis.
    Kepuasan kerja jika dapat dinikmati, akan membuat individu merasa
    percaya diri, merasa dihargai dan pada gilirannya menjadi motivator dalam
    melakukan pekerjaan dengan lebih baik di masa depan. Menurut Citra dan
    Fahmi (2019:214) dengan kepuasan kerja yang baik, seorang individu akan
    dapat mempertahankan loyalitas dalam pekerjaan yang dilakukan. Berdasarkan
    ulasan tersebut dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja adalah perasaan positif
    pada pekerja yang berdampak dalam menyelesaikan tugas yang telah
    dilakukannya.

    Faktor – Faktor Kepuasan Kerja


    Faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Sutrisno
    (2017:27) yaitu:

    1. Faktor Psikologis
      Faktor ini berhubungan dengan kondisi kejiwaan karyawan yang meliputi
      minat, ketenteraman dalam bekerja, sikap terhadap pekerjaan, bakat dan
      keterampilan. Seseorang yang memiliki ketenteraman dalam bekerja akan
      bekerja dengan perasaan yang positif sehingga dapat meningkatkan
      produktivitas dan kinerja yang dapat berpengaruh pada kepuasan kerja.
    2. Faktor Sosial
      Faktor ini berhubungan dengan interaksi sosial antara karyawan dengan rekan
      kerja maupun karyawan dengan atasan.
    3. Faktor Fisik
      Faktor ini berhubungan dengan kondisi fisik karyawan meliputi jenis pekerjaan,
      pengaturan waktu kerja dan istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruang, suhu,
      penerangan, sirkulasi udara, kondisi kesehatan karyawan, umur dan sebagainya.
    4. Faktor Finansial
      Faktor ini berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan karyawan yang
      meliputi sistem dan besarnya gaji, tunjangan, promosi, jaminan sosial, fasilitas
      yang diberikan dan sebagainya.

    Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


    Ery (2019) Kepuasan kerja karyawan merupakan motivasi moral karyawan,
    kedisiplinan, dan prestasi kerja karyawan dalam mendukung terwujudnya tujuan
    yang ingin diraih sebuah perusahaan. Kepuasan kerja sebagai kondisi situasional
    yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dan bagaimana para karyawan
    memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja karyawan mencerminkan sikap
    seseorang terhadap pekerjaannya. Penelitian yang dilakukan oleh Derry (2020)
    menyatakan bahwa kepuasan kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja
    karyawan.

    Pengaruh Stres Kerja dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


    Triematy (2019) Kinerja karyawan dianggap sebagai apa yang dilakukan
    karyawan dan apa yang tidak dilakukannya, kinerja karyawan melibatkan kualitas
    dan kuantitas output, kehadiran di tempat kerja, sifat akomodatif dan bermanfaat
    serta ketepatan waktu output. Kinerja karyawan dipengaruhi oleh motivasi karena
    jika karyawan termotivasi maka mereka akan melakukan pekerjaan dengan lebih
    banyak upaya dan dengan mana kinerja pada akhirnya akan meningkat, oleh karena
    itu kinerja karyawan harus diperhatikan.

    Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


    Stres kerja dapat memengaruhi kepuasan dalam bekerja, dimana karyawan
    yang bekerja dalam tekanan akan merasakan ketidaknyamanan dalam mejalankan
    pekerjaan ini dapat memengaruhi tingkat kepuasan karyawan dalam bekerja, beban
    kerja misalnya target yang terlalu besar. Usaha untuk meningkatkan kinerja
    karyawan, diantaranya dengan memperhatikan tingkat stres kerja karyawan, tingkat
    stres kerja yang tinggi maupun rendah jika berlangsung terus menerus dalam jangka
    waktu yang lama dapat menurunkan kinerja karyawan dikarenakan ada rasa
    tertekan dalam melaksanakan pekerjaan (Wirya, Andiani, Telagawathi, 2020).
    Penelitian yang dilakukan oleh Saiful (2019) menyatakan bahwa ada pengaruh
    positif signifikan antara stres kerja terhadap kinerja karyawan.

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


    Dalam menggapai kesuksesan suatu perusahaan, ada banyak faktor yang
    harus diperhatikan. Salah satu hal yang menjadi kunci adalah kinerja karyawan.
    Karyawan selalu dituntut untuk selalu bekerja produktif untuk mencapai goal
    perusahaan. Tidak jarang perusahaan terlalu mengeksploitasi kinerja karyawan
    sehingga kurang memperhatikan apa saja yang menjadi kebutuhan karyawan,
    sehingga kinerja karyawan menjadi menurun. Perlu diketahui bahwa karyawan
    menjadi salah satu aset berharga perusahaan yang perlu diperhatikan. Safrida
    (2019) Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan, sebagai berikut:

    Faktor kepemimpinan
    Kepemimpinan merupakan kemampuan dan keterampilan sesorang yang
    menduduki jabatan sebagai pimpinan dalam suatu pekerjaan untuk
    memepengaruhi perilaku orang lain, terutama bawahannya supaya berpikir
    dan bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku positif ini
    memberikan sumbangan nyata dalam pencapaian tujuan organisasi.

    Faktor kemampuan
    Secara psikologis, kemampuan karyawan terdiri dari kemampuan potensi
    (IQ) dan kemampuan (knowledge skill) oleh karena itu karyawan perlu
    ditempatkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

    Faktor motivasi
    Motivasi terbentuk dari sikap seorang karyawan dalam menghadapi situasi
    kerja. Motivasi merupakan kondisi dimana yang menggerakkan diri
    karyawan yang telah ter-arah untuk mencapai tujuan organisasi atau tujuan
    kerja.

    Kinerja Karyawan


    Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan
    tujuan strategis perusahaan yang akan dikelola. Kinerja suatu perusahaan sangat
    ditentukan oleh sumber daya manusia yang berada didalamnya. Apabila sumber
    daya manusianya memiliki motivasi tinggi, kreatif, dan mampu mengembangkan
    inovasi, kinerjanya akan semakin baik. Oleh karena itu diperlukan adanya upaya
    untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.
    Kelvin, Edalmen (2022) Kinerja merupakan hasil atau tingkat keberhasilan
    seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu dalam melaksankan tugas
    dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau
    sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati
    bersama. Kinerja karyawan merupakan salah satu tolak ukur dalam menilai
    performa para karyawan yang bekerja di suatu perusahaan.
    Abdul, Bagas, Sadam, Ahmad (2023) Menyatakan kinerja adalah hasil
    kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
    organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing, dalam
    rangka upaya mencapai tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak
    melanggar hukum, dan sesuai dengan modal maupun etik.
    Bambang (2019) Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa
    banyak mereka memberi kontribusi kepada organisasi antara lain termasuk
    kuantitas output, kualitas output, jangka waktu output, kehadiran di tempat kerja
    dan sikap kooperatif

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


    Banyak faktor yang memengaruhi Kepuasan Kerja karyawan. Faktor-faktor
    itu sendiri dalam peranannya memberikan kepuasan kepada karyawan bergantung
    kepada pribadi masing-masing karyawan. Menurut Edy Sutrisno (2019, P.77),
    faktor-faktor yang mempengaruhi Kepuasan Kerja adalah:

    1. Kesempatan untuk maju
      Dalam hal ini ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh pengalaman
      dan peningkatan kemampuan selama kerja.
    2. Keamanan kerja
      Faktor ini disebut sebagai penunjang Kepuasan Kerja, baik bagi
      karyawan. keadaan yang aman sangat mempengaruhi perasaan
      karyawan saat kerja.
    3. Gaji
      Gaji lebih banyak menyebabkan ketidakpuasan, dan jarang orang
      mengekspresikan Kepuasan Kerjanya dengan sejumlah uang ynag
      diperolehnya.
    4. Perusahaan dan Manajemen
      Perusahaan dan Manajemen yang baik adalah yang mampu memberikan
      situasi dan kondisi kerja yang stabil, faktor ini yang menentukan
      Kepuasan Kerja karyawan.
    5. Pengawasan
      Sekaligus atasanya. Supervisi yang buruk dapat berakibat absensi dan
      Turn Over.
    6. Faktor instrisik dari pekerjaan
      Atribut yang ada dalam pekerjaan mensyaratkan keterampilan tertentu.
      Sukar dan mudahnya serta kebanggaan akan tugas dapat meningkatkan
      atau mengurangi kepuasan
    7. Kondisi kerja
      Termasuk disini kondisi tempat, ventilasi, penyiaran, kantin dan tempat
      parkir.
    8. Aspek sosial dalam pekerjaan
      Merupakan salah satu sikap yang sulit digambarkan tetapi dipandang
      sebagai faktor yang menunjang puas atau tidak puas atau tidak puas
      dalam bekerja.
    9. Komunikasi
      Komunikasi yang lancar antar karyawan dengan pihak manajemen
      banyak dipakai alasan untuk menyukai jabatannya. Dalam hal ini adanya
      kesediaan pihak atasan untuk mau mendengar, memahami dan
      mengakui pendapat ataupun prestasi karyawannya sangat berperan
      dalam menimbulkan rasa puas terhadap kerja.
    10. Fasilitas
      Fasilitas rumah sakit, cuti, dana pensiun, atau perumahan merupakan
      standar suatu jabatan dan apabila dapat dipenuhi akan menimbulkan rasa
      puas.

    Indikator Kepuasan Kerja


    Pengukuran kepuasan kerja haruslah dilakukan secara objektif melalui
    analisis dan pengenalan gejala konkret yang menjadi indikasi adanya kepuasan itu
    sendiri. Wirya, Andiani, Talagawathi (2020) Terdapat 5 indikator kepuasan kerja,
    sebagai berikut:

    1. Gaji
      Karyawan mendapatkan system gaji yang adil sesuai dengan pekerjaan yang
      dia kerjakan.
    2. Pekerjaan itu sendiri
      Karyawan menyukai pekerjaan yang memberi kesempatan untuk
      keterampilannya.
    3. Rekan Kerja
      Dalam pelaksanaan promosi, kegiatan perusahaan rekan kerja harus dapat
      saling mendukung dalam lingkungan kerja.
    4. Promosi
      Peluang karyawan dalam hal pengembangan karir di perusahaan agar
      karyawan termotivasi dalam bekerja.
    5. Supervisi
      kemampuan atasan memberikan pengaruh positif terhadap pekerjaan yang
      karyawan lakukan.

    Pengertian Kepuasan Kerja


    Menurut Edy Sutrisno (2019) Kepuasan Kerja adalah suatu sikap karyawan
    terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan situasi kerja, kerja sama antar
    karyawan, imbalan yang diterima dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor
    fisik dan psikologis. Sikap tersebut dapat berupa sikap positif yang berarti karyawan
    atau anggota organisasi puas atau justru negatif yang berarti ia tidak puas terhadap
    segala aspek pekerjaan baik itu dari situasi kerja, beban tugas, imbalan, risiko, dan
    sebagainya.
    Menurut Handoko (2020) kepuasan kerja adalah pendapat karyawan yang
    menyenangkan atau tidak mengenai pekerjaannya, perasaan itu terlihat dari perilaku
    baik karyawan terhadap pekerjaan dan semua hal yang dialami lingkungan kerja.
    Dengan demikian kepuasan kerja juga berhubungan dengan rasa memiliki dan
    loyalitas karyawan karena merupakan pandangan afeksi atau perasaan mereka
    mengenai organisasi atau perusahaan.
    Menurut Prayogo (2019) Kepuasan Kerja merupakan sikap emosional yang
    menyenangkan serta mencintai pekerjaanya. Kepuasan Kerja karyawan harus
    diciptakan sebaik-baiknya supaya moral kerja, dedikasi, dan kedisiplinan karyawan
    dapat meningkat.
    Menurut Edy Sutrisno (2019) Kepuasan Kerja adalah keadaan emosional
    yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi para karyawan memandang
    pekerjaan mereka. Kepuasan Kerja mencerminkan perasaan seseorang terhadap
    pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi di lingkungan kerjanya.
    Sunarta (2019) Kepuasan kerja adalah selisih antara tujuan individu dalam
    bekerja dengan kenyataan yang dirasakan. Menggunakan kata yang berbeda, dapat
    dinyatakan bahwa kepuasan dan ketidakpuasan kerja seorang pegawai dipengaruhi
    oleh selisih (discrappancy) antara apa yang telah didapatkan dengan apa yang
    diinginkan.
    Cahyani, Sundari, & Dongoran (2019) Kepuasan kerja didefinisikan sebagai
    suatu sikap positif terhadap hasil pekerjaan seseorang dan merupakan hal yang
    bersifat individual. Individual yang memiliki tingkat kepuasan kerja yang tinggi
    akan memiliki nilai positif terhadap pekerjaan tersebut, sedangkan individu yang
    memiliki tingkat kepuasan yang rendah atau tidak puas akan memiliki nilai negatif
    terhadap pekerjaan

    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Stres Kerja


    Sumber stres yang diasosiasikan sebagai faktor yang menjadi alasan
    penyebab seorang individu yaitu karyawan mengalami perasaan stres. Dari faktorfaktor stres memunculkan sebuah reaksi oleh individu dan melakukan penilaian
    atau persepsi terhadap hal tersebut dan terjadilah perasaan stres, namun reaksi atau
    penilaian individu terhadap sumber stres memiliki perbedaan dengan individu
    lainnya tergantung dari potensi individu yang dimiliki masing-masing. Menurut
    Nusran (2019 : 77) adanya dua faktor penyebab munculnya stres kerja, yaitu faktor
    lingkungan dan faktor personal. Faktor lingkungan meliputi kondisi fisik, hubungan
    dalam lingkungan pekerjaan, sedang faktor personal yaitu tipikal kepribadian,
    peristiwa pribadi maupun kondisi individu. Penjelasan Dwiyanti tersebut lebih luas,
    yakni:

    1. Tidak adanya dukungan dari lingkungan
      Tidak adanya dukungan dari lingkungan yang berarti stres cenderung
      mudah muncul pada individu yang tidak mendapatkan dukungan dari
      lingkungan. Dukungan ini bisa berupa dukungan dari lingkungan kerja yaitu
      rekan kerja, atasan, pemimpin. Dukungan dari lingkungan keluarga yaitu
      orangtua, menantu, mertua, anak, saudara. Dukungan dari luar yaitu teman
      bermain atau tetangga.
    2. Tidak berkesempatan berperan
      Tidak berkesempatan dan berpartisipasi dalam pembuatan keputusan di
      kantor meskipun memiliki kewenangan tersebut menjadi salah satu faktor
      penyebab terjadinya stres kerja karena merasa tidak dianggap dan merasa
      dikucilkan.
    3. Pelecehan seksual Pelecehan seksual yakni kontak atau komunikasi yang
      berhubungan atau dikonotasikan berkaitan dengan seks yang tidak
      diinginkan, menyentuh bagian tubuh yang paling sensitif, merayu, pujian
      bahkan senyuman yang tidak pada konteksnya.
    4. Kondisi lingkungan kerja
      Kondisi lingkungan kerja berupa suhu panas di lingkungan kerja, terlalu
      dingin, kurang cahaya atau terlalu terang, sesak secara sirkulasi udara atau
      sempit yang menyebabkan berkurangnya kenyamanan kerja sehingga
      memunculkan stres kerja.
    5. Manajemen yang tidak sehat
      Manajemen tidak sehat yaitu cara pemimpin memperlakukan karyawan
      seperti pemimpin yang terlalu sensitif, terlalu agresif, atau terlalu ambisius.
    6. Tipe kepribadian seseorang
      Jenis kepribadian individu menjadi salahsatu faktor penyebab stres karena
      kepribadian yang kurang sabar dan kurang telaten lebih rawan terkena stres
      kerja dibanding dengan individu yang memiliki tipe kepribadian sabar dan
      telaten.
    7. Pengalaman pribadi
      Pengalaman pribadi yaitu peristiwa yang pernah dialami karyawan
      berimbas kepada cara individu dalam menerima tekanan dalam kerja seperti
      peristiwa menyakitkan, kematian pasangan, perceraian, sekolah, anak sakit
      atau gagal, kehamilan yang tidak diinginkan, peristiwa traumatis dalam
      menghadapi masalah (pelanggaran) hukum.

    Dimensi dan Indikator Stres Kerja


    Sinambela (2019) tolak ukur konkrit yang dapat digunakan untuk mengukur
    serta mengamati stres kerja untuk penelitian maupun evaluasi perusahaan dapat
    dikelompokkan menjadi dua dimensi dan indikator-indikator sebagai berikut:
    a) Stres Individu
    merupakan stres yang berhubungan dengan pekerjaan atau tugas yang
    dilakukan karena berhubungan dengan keadaan lingkungan kerja, dengan
    indikator yang meliputi: a) konflik peran; b) beban karier; dan c) hubungan
    dalam pekerjaan.
    b) Stres Organisasi
    merupakan stres yang berhubungan dengan semua aktivitas yang ada dalam
    organisasi yang di mana aktivitas itu berpengaruh terhadap pekerjaan
    individu yang indikatornya meliputi: a) struktur organisasi; b) beban kerja;
    dan c) kepemimpinan.
    Sedangkan menurut Qoyyimah, Abrianto & Chamidah (2019) indikator dari
    stres kerja adalah sebagai berikut.
    12

    1. Tuntutan Tugas
      Tuntutan tugas yang berat dan berlebihan akan dapat menimbulkan Stres
      kerja, untuk itu dalam menghadapi pekerjaannya, seseorang harus dapat
      mengelola kondisi stres kerjanya dengan sebaik mungkin.
    2. Tuntutan Peran
      Yaitu berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai
      suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam suatu organisasi.
    3. Tuntutan Antar Pribadi
      Merupakan tekanan yang diciptakan oleh pegawai lain.
    4. Struktur Organisasi
      Gambaran instansi yang diwarnai dengan struktur organisasi yang tidak
      jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang, dan
      tanggung jawab.
    5. Kepemimpinan Organisasi
      Memberikan gaya manajemen pada organisasi. Beberapa pihak di dalamnya
      dapat membuat iklim organisasi yang melibatkan ketegangan, ketakutan dan
      kecemasan.

    Pengertian Stres Kerja


    Stres merupakan sebuah hal yang umum dialami oleh setiap orang diseluruh
    penjuru dunia. Menurut Nusran (2019 : 72) definisi stres adalah suatu keadaan yang
    bersifat internal karena oleh tuntutan fisik (badan), lingkungan, dan situasi sosial
    yang berpotensi merusak dan tidak terkontrol. Keadaan ini dapat menghambat
    kegiatan aktivitas sehari-hari termasuk saat bekerja
    Tekanan-tekanan yang didapatkan dalam pekerjaan dan keluarga
    menimbulkan peristiwa yang merupakan luapan emosi yaitu stres kerja. Teori-teori
    para ahli menurut Safitri & Astutik, (2019 : 15), Robbins menyatakan bahwa stres
    kerja adalah kondisi ketegangan yang memengaruhi emosi, jalan pikiran, dan
    kondisi fisik seseorang. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Safitri & Astutik (2019
    : 15) mengatakan jika stres kerja menciptakan ketidakseimbangan antara fisik dan
    psikis yang berpengaruh pada emosi, proses berfikir, dan kondisi seseorang.
    Definisi stres kerja menurut Vanchapo (2020 : 37) adalah keadaan
    emosional yang timbul karena adanya ketidaksesuaian beban kerja dengan
    kemampuan individu untuk menghadapi tekanan tekanan yang dihadapinya. Stres
    juga bisa diartikan sebagi suatu kondisi ketengan yang menciptakan adanya
    ketidakseimbangan fisik dan psikis yang memengaruhi emosi, proses berfikir, dan
    kondisi seorang pegawai.
    Sinambela (2019) mengungkapkan bahwa stres kerja adalah tuntutantuntutan eksternal yang mengenai seseorang, misalnya objek-objek dalam
    lingkungan atau suatu stimulus yang secara objektif adalah berbahaya. Selain itu,
    stres secara umum juga dapat diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguangangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.
    Dari kalangan pakar belum mendapatkan kata sepakat tentang persepsi
    batasan stres. Banyaknya definisi yang dijabarkan para ahli teori meluaskan arti dari
    stres kerja, namun stres kerja yang diutarakan oleh para ahli selalu berkutat pada
    aspek reaksi fisik, psikis, dan respon adaptif perilaku karena kesenjangan keinginan
    dengan kemampuan individu atas tuntutan kerja yang dibebankannya.

    Pengaruh Deskripsi Pekerjaan Terhadap Kinerja Karyawan


    Deskripsi Pekerjaan sangat penting bagi perusahaan sebagai untuk menjaga
    konsistensi dan keseragaman pada karyawan dalam melakukan pekerjaan dan
    tanggung jawabnya dan juga untuk mengurangi atau mencegah adanya perbedaan
    pemahaman mengenai apa saja yang harus dilakukan dalam suatu pekerjaan
    tersebut untuk mencapai tujuan perusahaan yang dapat meningkatkan Kinerja
    Karyawan. Oleh karena itu, perusahaan dapat meningkatkan Kinerja Karyawan
    dengan memberikan tugas sesuai keahlian karyawan.
    Adapun pengaruh Deskripsi Pekerjaan terhadap Kinerja Karyawan
    didukung dengan penelitian menurut Pitaloka et al (2019) yang menyimpulkan
    bahwa terdapat pengaruh Deskripsi Pekerjaan terhadap Kinerja Karyawan pada PT.
    Pos Indonesia Cabang Ciamis yaitu perusahaan BUMN yang bergerak dibidang
    jasa pengiriman surat maupun barang. Hal ini sepadan dengan penelitian menurut
    Wello et al (2019) menyatakan bahwa Deskripsi Pekerjaan berpengaruh positif dan
    signifikan terhadap Kinerja Karyawan PT. Sinar Lima Samudra yang bergerak di
    sektor industri otomotif.

    Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan


    Dalam meningkatkan kinerja karyawan, perusahaan dapat menempuh
    beberapa cara seperti melalui pelatihan, menciptakan kepuasan kerja yang baik, dan
    pemberian motivasi terhadap karyawan. Kepuasan kerja menjadi salah satu masalah
    yang menarik dalam manajemen organisasi atau perusahaan, sebab besar
    pengaruhnya bagi karyawan maupun perusahaan. Bagi karyawan kepuasan kerja
    akan menimbulkan perasaan yang menyenangkan dalam bekerja. Sedangkan bagi
    perusahaan kepuasan kerja bermanfaat dalam usaha meningkatkan produktivitas,
    perbaikan sikap dan tingkah laku karyawan. Kepuasan Kerja yang baik akan
    meningkatkan Kinerja Karyawan. Oleh karena itu, penting bagi karyawan maupun
    perusahaan untuk memberikan dukungan dan sumber daya yang memadai untuk
    meningkatkan kinerja karyawan.
    Adapun pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan ini didukung
    dengan adanya penelitian menurut Kirana et al (2022) menyimpulkan bahwa
    terdapat pengaruh positif serta signifikan pada variabel Kepuasan Kerja terhadap
    Kinerja Karyawan pada Super Dazzle Yogyakarta yaitu perusahaan yang bergerak
    pada sektor industry elektronik. Namun, hal ini berbeda dengan penelitian menurut
    Kristine (2017) yang menyatakan bahwa Kepuasan Kerja berpengaruh negatif dan
    signifikan terhadap Kinerja Karyawan di PT. Mitra Karya Jaya Sentosa. Hal ini
    dikarenakan penelitian tersebut bergerak pada sektor industri bahan bangunan.