Keputusan Pembelian


Konsumen umumnya dihadapkan dengan berbagai pilihan saat
membeli suatu produk barang maupun jasa yang ditawarkan untuk
memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Dalam menghadapi banyaknya
berbagai pilihan tersebut, konsumen akan mempertimbangkan keputusan
untuk membeli atau tidaknya suatu produk.
a. Pengertian Keputusan Pembelian
Menurut Islamey dan Maskur (2023:767), keputusan pembelian
adalah proses pengambilan keputusan saat hendak melakukan
pembelian berdasarkan keinginan dan kebutuhan konsumen, dengan
tujuan konsumen merasa puas terhadap produk yang dibelinya.
Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Pramana dan Soebiantoro
(2023:988), keputusan pembelian adalah pilihan antara dua atau lebih
pilihan alternatif, dimana seseorang perlu memiliki berbagai pilihan
alternatif pada saat pengambilan keputusan.
Menurut Tjiptono dalam Sari dan Soebiantoro (2022:854),
keputusan pembelian merupakan upaya konsumen dalam mencari
informasi dan menilai kemampuan suatu produk atau merek untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Menurut Kotler dalam Shalihah et al. (2021:88), keputusan
pembelian merupakan tindakan dimana konsumen secara sungguh-
sungguh memilih untuk membeli dan mengkonsumsi barang atau jasa
tertentu dari beragam opsi alternatif yang tersedia.
Menurut Aini dan Andjarwati (2020:21), keputusan pembelian
merupakan suatu proses dimana konsumen menghadapi berbagai
pilihan, lalu membuat keputusan untuk membeli penawaran produk
tersebut.

Tahap-tahap Pengendalian Kualitas dengan Six Sigma DMAIC


Menurut Gaspersz (2002:8), metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve,
Control) merupakan proses untuk peningkatan terus menerus menuju target six sigma
dengan mengurangi kecacatan. Metode DMAIC memiliki lima langkah utama, yaitu:

  1. Define
    Tahap define merupakan langkah operasional pertama dalam program
    peningkatan kualitas six sigma. Pada tahap ini kita perlu mendefinisikan beberapa hal
    yang terkait dengan :
    a. Kriteria pemilihan proyek six sigma
    b. Peran dan tanggung jawab dari orang – orang yang akan terlibat dalam proyek six
    sigma
    c. Kebutuhan pelatihan untuk orang – orang yang terlibat dalam proyek six sigma
    d. Proses – proses kunci dalam proyek six sigma beserta pelanggannya
    e. Kebutuhan spesifik dari pelanggan
    f. Pernyataan tujuan proyek six sigma
  2. Measure
    Measure merupakan langkah operasional kedua dalam program peningkatan
    kualitas six sigma. Tahap ini dilakukan dengan memilih dan mengidentifikasi
    karakteristik kualitas dalam suatu produk, mengembangkan rencana pengumpulan data
    melalui pengukuran yang dapat dilakukan pada tingkat proses, output, atau outcome,
    dan menyediakan sebuah kesimpulan untuk sebuah evaluasi yang dilakukan untuk
    beberapa karakteristik yang didasarkan pada pengumpulan data observasi.
    Menurut Gaspersz (2002:96), Pengukuran karakteristik kualitas dapat dilakukan
    pada tiga tingkat yaitu:
    a. Pengukuran pada tingkat proses (Process level) adalah mengukur setiap langkah
    atau aktivitas dalam proses dan karakteristik kualitas input yang diserahkan oleh
    pemasok yang mengendalikan dan mempengaruhi karakteristik kualitas output
    yang diinginkan.
    b. Pengukuran pada tingkat output (Output level) adalah mengukur karakteristik
    kualitas output yang dihasilkan dari suatu proses dibandingkan terhadap
    spesifikasi karakteristik kualitas yang diinginkan oleh pelanggan.
    c. Pengukuran pada tingkat outcome (Outcome level) adalah mengukur bagaimana
    baiknya suatu produk (barang dan/atau jasa) itu memenuhi kebutuhan spesifik dan
    ekspektasi rasional pelanggan. Pengukuran pada tingkat outcome merupakan
    tingkat tertinggi dalam pengukuran kinerja kualitas

Tujuan Pengendalian Kualitas


Manajemen perusahaan di dalam kegiatannya mengendalikan kualitas berusaha
agar produknya sesuai dengan apa yang telah ditentukan. Dengan melaksanakan
pengendalian kualitas mengandung beberapa tujuan (Assauri, 1993:274), yaitu :

  1. Agar output dapat mencapai standar mutu yang telah ditetapkan
  2. Mengusahakan agar biaya inspeksi menjadi rendah
  3. Mengusahakan agar biaya desain produk dan proses menjadi rendah
  4. Mengusahakan agar biaya kualitas menjadi rendah

Pengertian Pengendalian Kualitas


Pengertian pengendalian kualitas menurut Cawley dan Harrold dalam Ariani
(2004:54) merupakan teknik penyelesaian masalah yang digunakan untuk memonitori,
mengendalikan, menganalisis, mengelola dan memperbaiki produkdengan
menggunakan metode-metode yang dianjurkan. Sedangkan pengendalian kualitas
menurut Goetch dan Davis dalam Ariani (2004:4) adalah suatu kondisi dinamis yang
berkaitan produk pelayanan, orang, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melatih
apa yang diharapkan. Kegiatan pengendalian itu sendiri dilaksanakan dengan cara
memonitor keluaran (output), membandingkan dengan standar, menafsirkan perbedaan-
perbedaan dan mengambil tindakan-tindakan untuk menyesuaikan kembali proses-
proses itu sehingga sesuai dengan standar. Dalam kegiatan pengendalian kulitas tersebut
tidak hanya meliputi penetapan standar produk atau proses dari pihak produsen
melainkan standar yang ditetapkan prodisen tersebut juga harus sesuai dengan
spesifikasi atau toleransi yang ditetapkan oleh pihak konsumen

DEFINISI KUALITAS


Menurut Garvin (1988:217), kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan
yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen. Selera atau harapan
konsumen pada suatu produk selalu berubah sehingga kualitas produk juga harus
berubah atau disesuaikan. Dengan perubahan kualitas produk tersebut diperlukan
perubahan peningkatan ketrampilan tenaga kerja, perubahan proses produksi dan tugas,
serta perubahan lingkungan perusahaan agar produk dapat memenuhi atau melebihi
harapan konsumen.
Definisi kualitas menurut ISO 8402 dan dari Standar Nasional Indonesia (SNI 19-
8402-1991), kualitas adalah keseluruhan ciri dan karakteristik produk atau jasa
yang kemampuannya dapat memuaskan kebutuhan, baik yang dinyatakan
secara tegas maupun tersamar. Konsep kualitas harus bersifat menyeluruh, baik bahan
baku, produk maupun proses (proses produksi, distribusi, dan jasa). Kualitas
memerlukan suatu proses perbaikan yang terus-menerus (continuous improvement
process) yang dapat diukur dengan dukungan manajemen, karyawan, dan pemerintah.

Kualitas Produk


Kepuasan konsumen dapat diukur akan kualitas produk yang berikan organisasi
atau perusahaan dari produk yang dihasilkan. Dasar kualitas produk berupa
kelebihan yang dimiliki pada sebuah produk dengan memiliki beberapa keunikan
yang digunakan sebagai pemikat keinginan pembelian. Kualitas produk dapat
dipengaruhi dari:
a. Material
Material yang digunakan akan dapat mempengaruhi kualitas dari produk.
Pemilihan dari material dalam membuat produk dari pesanan konsumen akan
mempengaruhi dari harga dan umur produk, sehingga kualitas dari produk
dapat diketahui secara langsung dari segi penggunaan material yang
diimplementasikan pada produk.
b. Pekerja
Pekerja merupakan seseorang yang membuat dan memproduksi produk.
Adanya sumber daya manusia yang kurang terlatih dapat menjadikan produk
memiliki defect yang dapat diketahui oleh konsumen. Namun, dengan sumber
daya manusia yang mumpuni dapat menjadikan konsumen puas dari produk
yang dihasilkan dan meminimalkan terjadinya defect saat memproduksi produk.
c. Lingkungan
Berdasarkan faktor lingkungan dapat mempengaruhi dari kualitas produk.
Faktor lingkungan yang mendukung saat dilakukan pemroduksian. Menjadikan
produk memiliki kualitas, keunikan, dan keunggulan tersendiri. Namun, dengan
lingkungan yang tidak mendukung dapat menyebabkan ketidakseimbangan
bekerja saat memproduksi produk. Contoh aspek lingkungan terdiri dari beban
dan tekanan pekerja, kebersihan lingkungan kerja, menunjangnya faktor tools
dan machine yang dapat memberikan produk sesuai dengan desain
perancangan.
d. Mesin
Mesin digunakan sebagai alat bantu dalam memproduksi produk. Penggunaan
jenis mesin saat memproduksi menyesuaikan kebutuhan dan fungsi saat
membuat produk yang diinginkan. Mesin yang mendukung saat membuat
produk dapat meminimalkan terjadinya kerusakan dan defect pada produk.
e. Metode
Kualitas produk diukur dari metode yang digunakan oleh pekerja. Metode
adalah tata cara atau prosedur yang digunakan dalam organisasi atau
perusahaan saat memproduksi produk. Penerapan metode dapat menjadikan
tercapainya tujuan yang dimaksud dalam memproduksi produk. Karena dengan
metode yang baik dan terencana dapat mempermudah pekerja dan
berpengaruh akan efisiensi waktu serta cost saat produksi

Kualitas


Mitra (2016) menyebutkan kualitas sebagai tanda yang digunakan untuk
mengidentifikasi keunggulan dari produk, layanan, dan jasa. Kualitas dapat
memberikan tingkat harapan menyesuaikan ekspektasi penggunaan yang
diinginkan konsumen, sedangkan Walujo dkk (2020) menyebutkan kualitas
digunakan sebagai pendukung untuk melakukan persaingan dari kompetitor di
perusahaan atau organisasi dan memberikan jaminan kepada konsumen. Kualitas
dapat memberikan keterkaitan dari pengaruh yang tidak hanya dapat dirasakan
konsumen. Namun, dapat membawa persepsi positif terhadap perusahaan dari
konsumen yang disebabkan adanya kepercayaan. Garvin (1984) menyebutkan
aspek kualitas memiliki 8 kerangka sebagai penentu kualitas yang terdiri dari:
a. Kinerja (Performance)
Kinerja dapat berupa karakteristik operasi saat pembuatan produk. Sebagai
contoh kinerja dapat dilihat pada kecepatan, kemudahan, dan kenyamanan
penggunaan.
b. Fitur (Features)
Fitur adalah ciri pelengkap dan penunjang penggunaan produk yang dapat
dimanfaatkan. Aspek penentu kualitas dari fitur tersebut memiliki sifat sebagai
pelengkap.
c. Keandalan (Reliability)
Keandalan dapat dari potensi yang rendah dari produk yang dapat mengalami
kerusakan selama pemakaian. Sebaliknya, jika produk memiliki potensi yang
tinggi dalam kerusakan. Dapat disimpulkan produk memiliki keandalan yang
kurang baik.
d. Kesesuaian (Conformance)
Kesesuaian yaitu spesifikasi produk agar dapat menyesuaikan standar tertentu.
Kesesuaian berkaitan dengan ketepatan yang harus dipenuhi dari harapan
konsumen.
e. Daya Tahan (Durability)
Daya tahan sebagai aspek penentu kualitas yang berpengaruh terhadap usia
pemakaian yang layak. Daya tahan dapat dikaitkan dengan kekuatan produk
dalam penggunaannya. Karena kekuatan menjadi pengaruh dari kerangka
kualitas.
22
f. Kemudahan Service (Serviceability)
Kemudahan dari pelayanan dapat berupa penanganan keluhan yang
diharapkan konsumen, kecepatan, kompetensi dari pekerja, dan kenyamanan.
g. Estetika (Aesthetics)
Estetika adalah daya tarik produk untuk dapat memikat hati keinginan
konsumen untuk dapat membeli sebuah produk. Kerangka estetika kualitas
produk berpengaruh mengenai desain dan dapat dilihat secara langsung
menggunakan mata.
h. Persepsi Kualitas (Perceived Quality)
Persepsi kualitas mempengaruhi 7 kerangka kualitas yang menjadikan
keunggulan dari produk atau layanan. Persepsi kualitas dapat berupa komentar
dan review seseorang mengenai produk yang dibeli

Kualitas Produk


Menurut (Kotler dan Armstrong, 2008 dalam Fatmawati dan Soliha,
2017) bahwa kualitas produk adalah salah satu faktor yang paling
diandalkan oleh seorang pemasar dalam memasarkan suatu produk.
(Oentoro, 2010 dalam Fatmawati dan Soliha, 2017) kualitas produk
adalah hal yang perlu mendapat perhatian utama dariperusahaan atau
produsen, mengingat kualitas suatu produk berkaitan erat dengan
kepuasan konsumen, yang merupakan tujuan dari kegiatan pemasaran
yang dilakukan perusahaan. Dapat disimpulkan kualitas produk adalah
suatu kondisi dinamis yang saling berhubungan meskipun dapat
memiliki definisi yang berbeda tetapi produk pada intinya memiliki
suatu spesifikasi terhadap suatu barang atau jasa yang dapat
menimbulkan kepuasan yang memenuhi atau melebihi harapan bagi
konsumen yang menggunakannya.
Menurut (Stanton, 2004 dalam Fatmawati dan Soliha, 2017), artinya
suatu produk adalah kumpulan dari atribut atribut yang nyata maupun
tidak nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan
merk ditambahdengan jasa dan reputasi penjualannya. Menurut
(Tjiptono, 1999 dalam Fatmawati dan Soliha, 2017) secara konseptual
produk adalah pemahaman subyektif dariprodusen atas “sesuatu” yang
bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi
melaluipemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan
kompetensi dan kapasitas organisasiserta daya beli.
Menurut (Kotler, 2000 dalam Fatmawati dan Soliha, 2017)
mengungkapkan ada tujuh dimensi kualitas produk, yaitu :
a. Performance (kinerja)
Kinerja merupakan karakteristik atau fungsi utama suatu produk. Ini
manfaat atau khasiat utama produk yang kita beli. Biasanya ini
menjadi pertimbangan pertama kita dalam membeli suatu produk.
b. Feature (keistimewaan)
Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan berbagai
keistimewaan seperti karakteristik yang melengkapi fungsi dasar
produk.
c. Reliability (kehandalan)
Ukuran kemungkinan sebuah proyek tak akan rusak atau gagal
dalam suatu periode tertentu. Pembeli pada umumnya akan
membayar lebih demi mendapatkan suatu produk yang diandalkan.
d. Conformance (mutu kinerja)
Mutu kinerja mengacu pada level dimana karakteristik dasar produk
itu beroperasi. Sebagian besar produk ditetapkan pada level kerja,
yaitu : rendah, rata-rata, tinggi, dan super.
e. Durability (daya tahan)
Suatu ukuran operasi yang diharapkan dalam kondisi normal atau
berat. Daya tahan merupakan atribut berharga dalam menawarkan
sebuah produk.
f. Serviceability (pelayanan)
Karakteristik yang berkaitan dengan kecepatan kompetensi,
kemudahan dan akurasi dalam memberikan pelayanan untuk
perbaikan barang.
g. Estetika (keindahan / gaya)
Merupakan karakteristik yang subjektif mengenai nilai-nilai estetika
yang berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan refleksi serta
prefensi individu

Promosi


Menurut (Lupiyoadi, 2013 dalam Christian, dkk, 2019), promosi
merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat
penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk jasa.
Kegiatan bukan saja berfungsi sebagai alat komunikasi antara
perusahaan dan konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk
mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan
jasa sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.
Menurut (Herlambang, 2014 dalam Christian, dkk, 2019), dengan
promosi menyebabkan orang yang sebelumnya tidak tertarik untuk
membeli suatu produk akan menjadi tertarik dan mencoba produk
sehingga konsumen melakukan pembelian.
Menurut (Setiyaningrum et.al, 2015 dalam Christian, dkk, 2019),
promosi berperan menginformasikan (to inform), membujuk (to
persuade), dan mengingatkan (to remind) konsumen agar menanggapi
(respond) produk atau jasa yang ditawarkan. Tanggapan yang
diinginkan dapat berbagai bentuk, dari kesadaran (awareness) akan
keberadaan produk atau jasa sampai pembelian sebenarnya

Harga


Pengertian harga menurut (Peter dan Olson, 2000 dalam Rasyid dan
Indah, 2018) adalah kondisi dimana konsumen harus menyerahkan
sesuatu untuk membeli produk atau jasa. Sedangkan menurut (Lamarto,
2006 dalam Rasyid dan Indah, 2018) harga adalah jumlah nilai
(kemungkinan ditambah beberapa barang) yang dibutuhkan untuk
memperoleh beberapa kombinasi sebuah produk dan pelayanan yang
menyertainya.
Selanjutnya pengertian harga menurut (Kotler dan Simamora, 2003
dalam Rasyid dan Indah, 2018) harga adalah nilai yang dipertukarkan
konsumen untuk suatu manfaat atas pengkonsumsian, penggunaan atau
kepemilikan barang atau jasa. Sedangkan harga menurut Swastha
(1984) adalah sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan
sejumlah kombinasi dari barang serta pelayanan.
Ada 4 hal yang mencirikan harga menurut pendapat (Stanton, 1998
dalam Rasyid dan Indah, 2018) yaitu :
a. Keterjangkauan harga
Artinya konsumen bisa menjangkau harga yang telah ditetapkan oleh
perusahaan. Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek,
dan harganya juga berbeda dari termurah sampai termahal.
b. Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga sering dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen.
Orang sering memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang
karena melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi
orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik
c. Daya saing harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan
produk lainnya. Mahal murahnya harga suatu produk sangat
dipertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli suatu
produk.
d. Kesesuaian harga dengan manfaat
Semakin tinggi manfaat yang dirasakan oleh konsumen dari barang
atau jasa tertentu, semakin tinggi pula nilai tukar barang atau jasa
tersebut, semakin besar pula alat penukar yang tersedia yang
dikorbankan konsumen.

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan suatu proses pengambilan
keputusan akan pembelian yang mencakup penentuan apa yang akan
dibeli atau tidak melakukan pembelian dan keputusan itu diperoleh dari
kegiatan-kegiatan sebelumnya (Assauri, 2004 dalam Rasyid dan Indah,
2018). Sedangkan keputusan pembelian menurut (Sutisna , 2002 dalam
Rasyid dan Indah, 2018), adalah pengambilan keputusan oleh
konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk diawali oleh
adanya kesadaran atas pemenuhan kebutuhan dan keinginan yang oleh
Assael disebut need arousal.
Keputusan pembelian konsumen merupakan keputusan pembelian
konsumen akhir perorangan dan rumah tangga yang membeli barang
dan jasa untuk konsumsi pribadi (Kotler, 2009 dalam rasyid dan indah,
2018), sedangkan menurut (Kotler dan Armstrong, 2012 dalam Rasyid
dan Indah, 2018), keputusan pembelian adalah membeli merek yang
paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan
keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain. Faktor
kedua adalah faktor situasional yang tidak diharapkan.
Pada saat konsumen membeli sebuah produk, umumnya konsumen
mengikuti suatu proses atau tahapan dalam pengambilan keputusan.
Menurut (Kotler, 2008 dalam Rasyid dan Indah, 2018), terdapat 5
tahapan proses pembelian, yakni :
a. Pengenalan kebutuhan
adalah tahapan pertama proses keputusan pembeli, dimana
konsumen menyadari suatu masalah atau kebutuhan.
b. Pencarian informasi
adalah tahap proses keputusan pembeli, dimana konsumen ingin
mencari informasi lebih banyak, konsumen mungkin hanya
memperbesar perhatian atau melakukan pencarian informasi secara
aktif.
c. Evaluasi alternatif
adalah tahap proses keputusan pembeli, dimana konsumen
menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif dlam
sekelompok pilihan.
d. Keputusan pembelian
keputusan pembeli tentang merek mana yang di beli.
e. Perilaku pasca pembelian
Tahap proses keputusan pembelian dimana konsumen mengambil
tindakan selanjutnya setelah pembelian, berdasarkan kepuasan
mereka atau ketidakpuasan mereka

Indikator Keputasan Pembelian


Menurut Swastha dan Irawan (2000) dalam Tousalwa (2017:22) Indikator
keputusan pembelian adalah sebagai berikut:

  1. Keputusan tentang jenis produk, konsumen dapat mengambil
    keputusan tentang jenis produk apa yang akan dibeli.
  2. Keputusan tentang merek, konsumen harus mengambil keputusan
    tentang merek apa yang akan dibeli.
  3. Keputusan tentang penjualannya, konsumen harus mengambil
    keputusan tentang dimanan produk akan dibeli.
  4. Keputusan tentang jumlah produk, konsumen dapat mengambil
    keputusan seberapa banyak produk yang akan diambilnya.
  5. Keputusan tentang waktu pembelian, konsumen dapat mengambil
    keputusan tentang kapan harus melakukan pembelian.

Pengertian Keputusan Pembelian


Dalam buku Schiffman dan Kanuk (2010), sebuah keputusan adalah
pemilihan terhadap sebuah pilihan terhadap dua atau lebih alternatif pilihan.
Dengan kata lain, bagi seseorang untuk membuat sebuah pilihan, pilihan
alternatif harus ada. Ketika seseorang memiliki sebuah pilihan antara
membeli atau tidak membeli, sebuah pilihan antara brand X ataupun brand Y,
atau pilihan untuk melakukan A atau B, orang tersebut berada dalam posisi
untuk membuat suatu keputusan.
Menurut Kotler dan Amstrong (2001:226) keputusan pembelian adalah
tahap dalam proses pengambilan keputusan pembelian dimana konsumen
benar-benar membeli.
Menurut Swastha (2003:51) keputusan pembelianadalah tindakan nyata
dan merupakan mutu tindakan yang meliputi keputusan tentang jenis produk,
merek, harga, kualitas, waktu pembelian dan cara pembayaran

Manfaat Brand Image


Hasan menyebutkan (2013:215), manfaat brand image terbagi dua,
yaitu:

  1. Manfaat bagi pelanggan Ada tiga alasan sekaligus manfaat penting bagi
    pelanggan dari sebuah merek yang memiliki citra positif:
    a. Sebuah merek yang kuat akan memudahkan konsumen untuk
    mengevaluasi, menimbang dan membuat keputusan membeli dari
    semua rincian nilai-nilai yang terkait dengan kinerja produk, harga,
    pengiriman, garansi dan lain-lain.
    b. Sebuah merek yang kuat membuat pelanggan merasa percaya diri
    dalam pilihan mereka, menyederhanakan pilihan sehari-hari (untuk
    kebutuhan dasar).
    c. Sebuah merek yang kuat membuat pelanggan merasa lebih puas
    dengan pembelian mereka, memberikan manfaat dan ikatan emosional
    (untuk produk perawatan pribadi).
  2. Manfaat bagi produsen atau perusahaan
    a. Harga premium, sebuah merek dengan citra positif akan menciptakan
    margin yang lebih besar dan walaupun ada tekanan untuk menjual
    dengan harga rendah atau menawarkan diskon, akan tetapi relatif tidak
    atau kurang rentan terhadap kekuatan kompetitif.
    b. Klaim produk, sebuah merek dengan citra yang kuat akan
    menciptakan orang-orang melakukan permintaan secara khusus, orang
    akan mencari merek yang mereka inginkan.
    c. Kompetitif partier, sebuah merek yang kuat mampu bertindak sebagai
    penghalang untuk beralih ke produk lain.
    d. Komunikasi pemasaran lebih diterima, perasaan positif tentang suatu
    merek akan mengakibatkan orang mampu menerima klaim baru
    terhadap kinerja produk dan mereka akan welcome, sehingga lebih
    mudah dibujuk untuk membeli lebih banyak.
    e. Pengembangan merek, sebuah merek yang terkenal menjadi platform
    untuk pengembangan/menambah produk baru kerena beberapa aspek
    dari citra positif yang berpengaruh dan membantu dalam peluncuran
    produk baru.
    f. Kepuasan pelanggan, sebuah citra positif akan memberikan tingkat
    kepuasan pelanggan ketika mereka menggunakan produk. Mereka
    akan merasa lebih yakin membelinya. Pelanggan tidak menemukan
    alasan untuk membeli merek lain atau dari pemasok lain.
    g. Jaringan distribusi, sebuah merek yang kuat lebih mudah dijual ke
    pedagang grosir dan distributor yang sangat responsif terhadap apa
    yang diinginkan oleh pelanggan mereka.
    h. Perizinan dan peluang, sebuah merek yang kuat dapat mendukung
    transaksi usaha patungan atau mengizinkan merek dilisensikan untuk
    digunakan dalam aplikasi baru atau di negara lain (terbuka bagi semua
    orang atau negara manapun).
    i. Nilai harga jual yang lebih tinggi, sebuah perusahaan dengan nama
    merek-goodwill yang baik akan mendapatkan premi yang lebih tinggi
    jika akan dijual.

Pengertian Brand Image


Dalam Buku Tjiptono (2005:49) brand image merupakan deskripsi
tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu.
Kotler dan Amstrong dalam Firmansyah (2019:61), citra merek (brand
image) adalah seperangkat keyakinan konsumen merek tertentu.

Pengertian Brand (Merek)


Menurut American Marketing Association (AMA) dala Kotler (1997),
Merek yaitu nama, istilah, tanda, simbol, atau desaain atau panduam dari hal-
hal tersebut yang dimaksudkan untuk memberikan identitas bagi barang atau
jasa yang dibuat atau disediakan suatu penjual atau kelompok penjual serta
membedakannya dari barang atau jasa yang disediakan pesaing.
Stanton dan Lamarto juga berpendapat (1994:269) merek adalah nama,
istilah, simbol, atau sedain khusus, atau beberapa kombinasi unsur-unsur
yang dirancang untuk mengidentifikasikan barang atau jasa yang ditawarkan
penjual.

Dimensi Kualitas Produk


Orville, Larreche, dan Boyd (2005), Apabila perusahaan ingin
mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus
mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk
membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing.
Kotler dan Keller (2009) mengatakan, ada sembilan dimensi kualitas
produk seperti berikut ini:
a. Bentuk (form), meliputi ukuran, bentuk, atau struktur produksi.
b. Fitur (feature), karakteristik produk yang menjadi pelengkap
fungsi dasar produk.
c. Kualitas kinerja (performance quality), adalah tingkat dimana
karakteristik utama produk beroperasi.
d. Kesaan kualitas (perceived quality) sering dibilang merupakan
hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak
langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak
mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang
bersaangkutan.
e. Ketahanan (durability), ukuran umur operasi harapan produk
dalam kondisi biasa atau penuh tekanan, merupakan atribut
berharga untuk produk-produk tertentu.
f. Keandalan (reliability), adalah ukuran probabilitas bahwa
produk tidak akan mengalami malfungsi atau gagal dalam waktu
tertentu.
g. Kemudahan perbaikan (repairability), adalah ukuran
kemudahan perbaikan produk ketika produk itu tak berfungsi
atau gagal.
h. Gaya (style), menggambarkan penapilan dan rasa produk kepada
pembeli.
i. Desain (design), adalah totalitas fitur yang mempengaruhi
tampilan, rasa, dan fungsi produk berdasarkan kebutuhan
palanggan

Pengertian Kualitas Produk


Pendapat dari Prawirosentono (2004), kualitas produk adalah keadaan
fisik, fungsi dan sifat produk bersaangkutan yang dapat memenuhi selera dan
kebutuhan konsumen dengan memuaskan sesuai nilai uang yang telah
dikeluarkan.
Goetdch dan Davis (2002) berkata, kualitas produk merupakan suatu
kondisi dinamis yang berhubungan dengan barang, jasa, manusia, produk, dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.

Pengertian Produk


Menurut Kotler (1995:508) produk merupakan apa saja yang dapat di
tawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, atau dikonsumsi yang dapat
memenuhi keinginan dan kebutuhan.

Bauran Pemasaran


Menurut Daryanto (2011:20) “Bauran pemasaran merupakan perangkat
alat pemasaran taktis yang dapat dikendalikan yang dipadukan oleh
perusahaan untuk menghasilkan respons yang diinginkan dalam pasar
sasaran”.
Adapun bauran pemasaran yang terdiri dari 4 unsur menurut Daryanto
(2011:20), sebagai berikut:

  1. Produk (Product), merupakan kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan
    oleh perusahaan kepada pasar sasaran.
  2. Harga (Price) yaitu jumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk
    memperoleh produk.
  3. Tempat (Place), merupakan tempat meliputi kegiatan perusahaan yang
    membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran
  4. Promosi (Promotion), merupakan aktivitas yang mengkomunikasikan
    keunggulan produk dan membujuk pelanggan sasaran untuk membelinya.

Pengertian Pemasaran


Jenahar (2009:1), menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu kegiatan
yang mengusahakan agar produk yang dipasarkan dapat diterima dan
disenangi oleh pasar. Produk yang diterima pasar, berarti produk laku dijual.
Sebelum dapat diterima terlebih dahulu produk tersebut harus dikenal. Tanpa
dikenal produk tak akan diterima apalagi disenangi.
Sedangkan menurut Swastha dan Irawan (2011:5), pemasaran adalah
salah satu dari kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan oleh perusahaan
untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang, dan
mendapatkan laba”

Pengandalian Kualitas dengan Metode New Seven Tools


Seven New Quality Tools merupakan pendekatan yang dikembangkan untuk
mengatasi keterbatasan dari Seven Basic Quality Tools. Menurut Fakhrudin (dalam
Handika dan Barnadi, 2017), New Seven Tools adalah seperangkat alat yang digunakan
untuk menganalisis permasalahan secara lebih mendalam guna mendukung proses
pengambilan keputusan dan meningkatkan koordinasi dalam tim kerja. Metode ini
dimanfaatkan untuk memetakan lingkup persoalan, menyusun diagram berbasis data,
menelusuri potensi penyebab suatu masalah, serta memperjelas fakta yang berkaitan
dengan isu yang dihadapi.
Ciri khas dari pendekatan ini mencakup pengolahan serta pengumpulan data
dalam bentuk verbal, pengembangan gagasan, hingga penyusunan rencana strategis.
Penerapan New Seven Tools berkontribusi dalam mengoptimalkan proses produksi dan
efisiensi biaya. Alat yang termasuk dalam metode ini antara lain Affinity Diagram,
Interrelationship Diagram, Tree Diagram, Arrow Diagram atau Activity Network
Diagram, serta Process Decision Program Chart (PDPC)

Prinsip Kualitas


Penerapan manajemen kualitas sangatlah penting bagi setiap perusahaan, terlepas
dari skala operasionalnya, baik yang berskala lokal, nasional bahkan internasional.
Manajemen sebagai suatu proses melalui kegiatan perusahaan atau organisasi dalam
mencapai tujuan yang telah direncanakan dengan berpedoman pada prinsip-prinsip yang
relevan. Sistem jaminan kualitas menjadi topik utama diskusi, penelitian dan
pengembangan di kalangan para ahli internasional.
Menurut Julyanthry (2020:124), Versi ISO menitik beratkan dalam 8 (delapan)
prinsip kualitas, antara lain :

  1. Fokus pada pelanggan.
  2. Kepemimpinan.
  3. Partisipasi aktif seluruh personel.
  4. Pendekatan proses.
  5. Pendekatan sistem dalam manajemen.
  6. Peningkatan yang berkelanjutan.
  7. Pendekatan faktual dalam pengambilan keputusan.
  8. Kemitraan dengan pemasok yang memberikan manfaat timbal balik

Faktor yang mempengaruhi kualitas


Kesesuaian kualitas suatu produk dengan standar yang telah ditetapkan suatu
perusahaan terkadang memiliki bervariasi. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa faktor
yang memengaruhi kualitas suatu produk, yang mana faktor tersebut dapat
mempengaruhi suatu produk dapat memenuhi standar atau parameter yang telah
ditetapkan oleh perusahaan. Menurut Harjadi (2021:35) kualitas suatu produk dapat
dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :

  1. Fungsi suatu produk : Fungsi produk digunakan untuk tujuan apa.
  2. Wujud luar : Wujud yang dimiliki suatu produk tidak hanya dilihat dari bentuknya,
    tetapi juga dari warna dan kemasannya.
  3. Biaya produk : Memperhitungkan pengeluaran biaya dalam memperoleh suatu
    barang, perlu disertai biaya untuk barang itu sampai kepada konsumen.
    Kualitas dipengaruhi oleh 9 faktor (Gunawan, 2022), diantaranya sebagai berikut :
  4. Pasar (Market)
    Pasar mengalami pertumbuhan eksplosif dalam jumlah produk baru dan berkualitas.
    Konsumen diyakinkan akan ketersediaan suatu produk yang memenuhi berbagai
    kebutuhan mereka. Saat ini, konsumen mengharapkan produk yang lebih unggul. Pasar
    berkembang secara luas dan khusus dalam penawaran produk. Dengan meningkatnya
    jumlah perusahaan dan terbukanya pasar internasional. Bisnis dituntut untuk lebih
    fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan cepat.
  5. Uang (Money)
    Tekanan persaingan dan gejolak ekonomi dunia telah menyebabkan penurunan
    margin keuntungan. Sementara itu, kebutuhan akan otomatisasi dan investasi teknologi
    meningkatkan pengeluaran yang cukup besar. Investasi pabrik yang besar, yang
    membutuhkan peningkatan produktivitas, sering kali terhambat oleh produk cacat dan
    pengerjaan berulang. Hal ini mendorong pihak manajemen untuk memperhatikan biaya
    kualitas sebagai area untuk mengurangi biaya dan meningkatkan keuntungan.
  6. Manajemen (Management)
    Tanggung jawab kualitas kini terbagi dalam beberapa kelompok. Bagian pemasaran
    menentukan spesifikasi produk, bagian perancangan membuat desain yang memenuhi
    spesifikasi, bagian produksi meningkatkan proses produksi, dan bagian pengendalian
    kualitas memastikan hasil akhir sesuai standar yang telah ditentukan. Layanan purna
    jual juga menjadi bagian penting. Hal ini mempersulit manajemen puncak dalam
    menentukan tanggung jawab untuk mengoreksi penyimpangan kualitas.
  7. Manusia (Man)
    Seiring dengan pesatnya kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
    kemunculan disiplin-disiplin baru seperti komputer elektronik, terjadi peningkatan
    signifikan terhadap kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan pengetahuan
    spesifik. Kondisi ini juga mendorong munculnya permintaan akan insinyur sistem yang
    mampu menyatukan berbagai bidang keahlian untuk merancang, mengembangkan, dan
    mengoperasikan sistem yang mampu menjamin pencapaian hasil sesuai harapan.
  8. Motivasi (Motivation)
    Studi mengenai motivasi manusia menunjukkan bahwa pekerja saat ini, selain
    kompensasi berupa uang, mereka juga membutuhkan pengakuan atas pencapaian dan
    kontribusi mereka terhadap tujuan perusahaan. Hal ini menuntut peningkatan
    pendidikan kualitas dan komunikasi yang lebih baik tentang kesadaran kualitas.
  9. Bahan (Material)
    Faktor biaya produksi dan persyaratan kualitas yang semakin meningkat telah
    mendorong para ahli teknik dalam memilih bahan dengan parameter yang lebih spesifik
    dari pada sebelumnya. Konsekuensinya, semakin ketatnya pemilihan spesifikasi bahan
    dan variasi bahan yang tersedia menjadi lebih luas.
  10. Mesin dan Mekanik (Machine and Mecanization)
    Upaya perusahaan dalam menurunkan biaya dan meningkatkan volume produksi
    untuk memenuhi permintaan pelanggan telah mendorong penggunaan peralatan pabrik
    yang lebih kompleks dan bergantung pada kualitas bahan baku. Kualitas bahan baku
    yang baik menjadi kunci untuk menjaga operasional mesin dan memaksimalkan
    penggunaan fasilitas.
  11. Metode Informasi Modern (Modern Information Metode)
    Kemajuan teknologi komputer telah memungkinkan proses pengumpulan,
    penyimpanan, pengambilan, dan pengolahan informasi dalam skala yang sangat luas.
    Saat ini, teknologi informasi telah menjadi sarana untuk mengendalikan peralatan,
    proses produksi, hingga distribusi produk ke tangan konsumen. Inovasi dalam metode
    pengolahan data memberikan kemampuan dalam mengelola informasi yang relevan,
    akurat, tepat waktu, serta bersifat prediktif, yang menjadi dasar dalam pengambilan
    keputusan bisnis di masa mendatang.
  12. Persyaratan Proses Produksi (Mounting Product Requirement)
    Desain produk yang terus berkembang pesat membutuhkan pengawasan proses
    produksi yang lebih ketat. Persyaratan kinerja produk yang lebih tinggi menekankan
    pentingnya keamanan dan kecanggihan suatu produk. Oleh karena itu, berdasarkan
    faktor-faktor yang memengaruhi kualitas produk, dapat disimpulkan bahwa tampilan
    luar produk mencakup bentuk, warna, dan kemasan, serta biaya perolehan produk
    mencakup harga dan biaya pengiriman

Tujuan Pengendalian Kualitas


Pengendalian kualitas memiliki tujuan dalam peningkatan kualitas, menjaga
kualitas dan mengurangi jumlah barang cacat maupun rusak. Disisi lain, pengendalian
kualitas juga bertujuan meningkatkan minat konsumen dalam menentukan keputusan
dalam melakukan pembelian atau pemakaian suatu produk. Dalam tahapan produksi
agar pengeluaran biaya seminim mungkin sehingga diharapkan efisiensi biaya secara
optimal, dan waktu pelaksanaan dapat disesuaikan dengan jadwal pengerjaannya
(Reksohadiprojo dari Ekoanindiyo, 2015).

Pengendalian Kualitas


Pengendalian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menjamin keselarasan
antara pelaksanaan kegiatan produksi dan operasi dengan rencana yang telah ditetapkan.
Apabila ditemukan penyimpangan, tindakan korektif akan diambil untuk mencapai hasil
yang diharapkan (Tania, dkk., 2019).
Pengendalian kualitas (Prihatiningrum, dkk., 2020) merupakan serangkaian
aktivitas yang terstruktur, sistematis, dan objektif, yang bertujuan untuk memantau dan
menilai kualitas produk atau jasa, serta melakukan perbaikan berkelanjutan berdasarkan
standar yang ditetapkan.
Pengendalian kualitas merupakan teknik atau tindakan yang sistematis dan
terencana, dengan memiliki tujuan dalam mencapai, mempertahankan, dan
meningkatkan kualitas produk maupun jasa, sehingga memenuhi standar yang
ditetapkan dan memberikan kepuasan kepada pelanggan (Prihatiningrum, dkk., 2020).
Pengendalian kualitas dilakukan agar dapat menghasilkan produk berupa barang atau
jasa yang memiliki standart kualitas yang diharapkan oleh perusahaan.
Pengendalian kualitas produk merupakan suatu langkah yang terstruktur dan
berkelanjutan yang memiliki tujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya cacat
atau kegagalan yang dapat merusak integritas suatu produk akhir. Tanpa adanya
parameter atau standar yang jelas dan terukur, produsen berisiko tinggi mengalami
kerugian finansial dan reputasi karena kesalahan produksi yang tidak terdeteksi sejak
dini. Menurut Purnomo (2018), kualitas produk tidak hanya mencakup kondisi fisik
yang terlihat, tetapi juga fungsi dan sifat produk secara keseluruhan yang mampu
memenuhi kebutuhan dan harapan konsumen. Pengendalian kualitas yang efektif adalah
yang dilaksanakan secara konsisten dan sistematis, dapat menjadi dasar yang kuat untuk
perbaikan berkelanjutan dalam proses produksi, menghasilkan produk berkualitas tinggi
yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan konsumen, namun dapat melampaui
harapan konsumen, sehingga meningkatkan daya saing di pasar.

Definisi Kualitas


Kualitas merupakan standar yang ditetapkan oleh konsumen sebagai tolak ukur
kepuasan. Perusahaan yang mempunyai kualitas tinggi adalah perusahaan yang mampu
memenuhi standar tersebut. Menurut Lupiyoadi (2016), Kualitas adalah perpaduan antara
atribut dan ciri-ciri yang menentukan sejauh mana suatu produk mampu memenuhi
keinginan atau harapan konsumen.
Menurut Goetsch dan Davis (2016), kualitas sebagai suatu kondisi yang bersifat dinamis
dan berkaitan dengan produk, layanan, sumber daya manusia, proses, serta lingkungan, yang
semuanya ditujukan untuk mencapai atau melampaui ekspektasi pelanggan. Sementara itu,
pengertian kualitas menurut standar internasional (BS EN ISO 9000:2000) merujuk pada
tingkat pencapaian terhadap seperangkat karakteristik bawaan yang memenuhi kriteria
tertentu (Dale, 2003).
Rahman (2018) menyatakan bahwa kualitas produk sebagai tingkat efektivitas suatu
produk dalam melaksanakan fungsi yang ditetapkan, yang diukur melalui atribut-atribut
seperti keterampilan, durabilitas, presisi, kemudahan operasi, inovasi, dan nilai tambah
lainnya.
Berdasarkan uraian di atas, kualitas didefinisikan sebagai tingkat kesesuaian antara
produk yang dihasilkan oleh perusahaan dengan standar yang ditetapkan, yang dicapai
melalui pelaksanaan proses produksi yang benar dan tepat.
Tingkat kesesuaian kualitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pemilihan
proses manufaktur, pelatihan dan pengawasan tenaga kerja, penerapan sistem penjaminan
kualitas (Seperti : pengendalian proses, pengujian, dan aktivitas inspeksi), kepatuhan
terhadap prosedur penjaminan kualitas, serta motivasi tenaga kerja dalam mencapai standar
kualitas yang ditetapkan.
Menurut Kualitas mempunyai banyak manfaat dan peran penting bagi perusahaan,
diantaranya sebagai berikut (Devani dan Diniati, 2015):

  1. Peningkatan Reputasi : Kualitas produk atau layanan yang unggul dapat
    meningkatkan citra perusahaan di mata konsumen.
  2. Efisiensi Biaya : Proses produksi yang berkualitas dapat meningkatkan efisiensi.
  3. Perluasan Pangsa Pasar : Kualitas yang baik memungkinkan perusahaan dapat
    bersaing secara efektif dan memperluas jangkauan pasar.
  4. Akuntabilitas Produk : Kualitas dapat meningkatkan tanggung jawab perusahaan
    terhadap produk maupun layanan yang ditawarkan.
  5. Dampak Internasional : Produk atau layanan berkualitas tinggi memiliki daya saing
    di pasar global.
  6. Penguatan Citra : Kualitas produk atau layanan yang terpercaya meningkatkan citra
    perusahaan secara keseluruhan

Hubungan lokasi usaha dengan kepuasan konsumen


Tjiptono (2005) mengatakan bahwa mood dan respon pelanggan
dipengaruhi secara signifikan oleh lokasi, desain dan tata letak fasilitas
jasa. Pemilihan lokasi dinilai sangat penting untuk kelangsungan hidup
sebuah usaha yang ada pada saat ini, karena lokasi yang strategis
memudahkan seorang konsumen untuk menjangkau tempat usaha
tersebut. Dengan demikian semakin strategis maka semakin baik
kepuasan konsumen. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa lokasi
mempengaruhi kepuasan konsumen dan dapat dibuktikan penelitian yang
dilakukan oleh Fadila dan Manurng (2021) menunjukkan bahwa lokasi
berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pelanggan dan juga penelitan
yang dilakukan oleh Ramadhan (2020) menunjukkan bahwa lokasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan

Hubungan Kualitas Produk dengan Kepuasan Konsumen


Yoeti (2009:59) menjelaskan, produk adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan kepada masyarakat dan menjadi sumber pendapatan
bagi perusahaan. Hal ini berarti bahwa kepuasan konsumen karena
kualitas produk dapat dinilai dari kemampuan produk tersebut untuk
menciptakan kepuasan konsumen. Semakin baik tingkat kualitas produk
dalam memuaskan konsumen maka akan menyebabkan kepuasan
konsumen yang baik pula. Ini menunjukkan kualitas produk mempunyai
pengaruh terhadap kepuasan konsumen. Hal tersebut dibuktikan oleh
penelitian yang dilakukan Fadila dan Manurung (2021) yang
menunjukkan kualitas produk ada pengaruh signifikan terhadap kepuasan
pelanggan, penelitian yang dilakukan Ramadhan (2020) yang
menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh positif terhadap
kepuasan pelanggan, penelitian yang dilakukan Brigitte Tobeng et al.
(2019) menunjukkan bahwa kualitas produk berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepuasan konsumen

Kepuasan Konsumen


Menurut Kotler (2013) pada dasarnya tujuan dari suatu bisnis adalah
untuk menciptakan para konsumen yang merasa puas. Kepuasan
konsumen berkontribusi pada sejumlah aspek krusial, seperti terciptanya
loyalitas pelanggan, meningkatnya reputasi perusahaan, berkurangnya
elastisitas harga, berkurangnya biaya transaksi masa depan, dan
meningkatnya efisiensi.
Kepuasan merupakan tingkat perasaan dimana seseorang menyatakan
hasil perbandingan atas kinerja produk (jasa) yang diterima dan yang
diharapkan (Fitriyani,2016). Sementara Nurhuda (2015) berpendapat
bahwa kepuasan pelanggan merupakan respons emosional terhadap
pengalaman-pengalaman berkaitan dengan produk atau jasa tertentu yang
dibeli. Menurut Kurniawati (2015) menyatakan bahwa kepuasan
konsumen merupakan evaluasi purnabeli di mana alternatif yang dipilh
sekurang-kurangnya sama atau melampaui harapan konsumen, sedangkan
ketidakpuasan timbul apabila hasil tidak memenuhi harapan.
Berdasarkan definisi-definisi di atas pada prinsipnya kepuasan
konsumen dapat diklasifikasikan kedalam lima kategori pokok, yaitu
perspektif defisit normatif, ekuitas/keadilan, standar normatif, keadilan
prosedural, dan atribusional. Kepuasan ini akan dirasakan oleh konsumen
apabila mereka sudah mengkonsumsi suatu produk. Jika konsumen
menyukai produk yang mereka konsumsi maka pelanggan sudah
merasakan kepuasan, begitu sebaliknya.

Persepsi Harga


Menurut Schiffman dan Kanuk (2007:173), persepsi adalah suatu
proses yang dilalui oleh seseorang dalam menyeleksi, mengorganisasikan,
dan menterjemahkan berbagai stimulus informasi menjadi suatu
gambaran yang menyeluruh. Kotler dan Armstrong (2012)
mendefinisikan harga sebagai jumlah uang yang ditagihkan atas suatu
produk atau jasa. Harga adalah sejumlah uang dengan ditambahkan
beberapa barang memungkinkan yang dibutuhkan untuk menambah
kombinasi dari barang dan pelayanannya.
Menurut Korler (2004:141) pengertian harga merupakan sejumlah
uang yang dibayarkan konsumen atas pembelian barang atau jasa.
Penetapan harga dan persaingan harga adalah masalah nomor satu yang
dihadapi oleh eksekutif pemasaran. Diperlukan ketelitian dalam
penetapan harga, jangan sampai harga yang ditawarkan tidak sesuai
dengan keadaan produk atau jasa yang ditawarkan. Sebelum menetapkan
harga, haruss memutuskan strategi produknya. Harga juga dapat
ditetapkan untuk mempertahankan kesetiaan dan dukungan pedagang atau
untuk menghindari campur tangan pemerintah (Kotler,2004). Dalam
penetapan harga memiliki tujuan, yaitu:

  1. Mendapatkan keuntungan sebesar-bersarnya.
    Dengan menetapkan harga yang kompetitif maka perusahaan akan
    mendulang untung yang optimal.
  2. Mempertahankan perusahaan
    Dari margin keuntungan yang didapat perusahaan akan digunakan
    untuk biaya operasional perusahaan. Contoh: untuk gaji karyawan,
    tagihan listrik, tagihan air, pembelian bahan baku dan lain
    sebagainya.
  3. Menggapai ROI (Return in Investment)
    Perusahaan pasti menginginkan balik modal dari investasi yang
    ditanam pada perusahaan sehingga penetapan harga yang tepat
    akan mempercepat tercapainya modal kembali.
  4. Menguasai pangsa pasar
    Dengan menetapkan harga rendah dibandingkan produk pesaing,
    dapat mengalihkan perhatian konsumen dari produk yang ada di
    pasaran.
  5. Mempertahankan status quo
    Ketika perusahaan memiliki pasar tersendiri, maka perlu adanya
    pengaturan harga yang tepat agar dapat tetap mempertahankan
    pangsa pasar yang ada.
    Swastha (2002) menyatakan harga sering dijadikan indikator kualitas
    bagi pelanggan dimana orang sering memilih harga yang lebih murah.
    Dalam hal ini, yang dimaksud murah adalah kesesuaian dengan kualitas
    produk dengan harga yang dibayarkan. Harga adalah sejumlah uang yang
    dibebankan untuk sebuah produk atau jasa.

Kualitas Produk


Produk adalah segala sesuatu baik yang bersifat fisik maupun non fisik
yang dapat ditawarkan kepada konsumen untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhannya (M. F. Laksana, 2019). Kualitas produk adalah salah satu
barang yang paling sering digunakan oleh pemasar untuk melakukan
positioning (Rangkuti, 2013). Selanjutnya menurut Kotler & Armstrong
(2008) kualitas produk adalah karakteristik produk atau jasa yang
bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan
yang dinyatakan atau diimplikasikan. Lupiyoadi (2013) menyatakan
konsep kualitas sendiri pada dasarnya bersifat relatif, yaitu tergantung dari
sudut pandang yang digunakan untuk menentukan ciri-ciri dan
spesifikasinya. Sedangkan kualitas produk menurut Juran (2004), kualitas
produk adalah kecocokan penggunaan produk (fitness for use) untuk
memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan.
Kualitas produk dapat disimpulkan dari penjelasan di atas keseluruhan
barang atau jasa yang berkaitan dengan keinginan konsumen yang dari
segi keunggulan produk telah memenuhi syarat untuk diperjualkan sesuai
harapan dari konsumen. Semakin tinggi tingkat kualitas produk dalam
memuaskan konsumen, maka akan menyebabkan kepuasan konsumen
yang tinggi pula.
13
Menurut Marsum WA (1991) mengenai mutu makanan, ada 7 dimensi
yang perlu di perhatikan yaitu:

  1. Flavour (rasa/bau), harus diperhatikan bahwa rasanya harus enak
    dan baunya pun harus sedap.
  2. Consistency (kemantapan, ketetapan), mutu hidangan/ menu yang
    disajikan harus dijaga supaya mantap atau tetap baik, baik mutu,
    rasa maupun aromanya.
  3. Texture/Form/Shape (susunan/bentuk/potongan), didalam
    menyajikan menu lengkap harus ada hidangan yang ringan dan ada
    hidangan yang berat.
  4. Nutritional Content (kandungan gizi), makanan yang disajikan
    tetap harus diperhatikan kandungan gizinya.
  5. Visual appeal (daya penarik lewat ketajaman mata), didalam
    menyusun suatu hidangan perlu di perhatikan penampilannya,
    harus diatur, disusun dengan rapi, seni dan baik agar benar-benar
    menarik sehingga menimbulkan selera makan bagi para
    konsumen. Menurut penyelidikan ternyata bahwa daya penarik
    lewat mata lebih kuat daripada daya penarik lewat bau harum
    makanan.
  6. Aromatic appeal (daya penarik lewat bau harum) dalam menyusun
    suatu hidangan perlu di perhatikan juga aromanya. Makanan yang
    disajikan harus sedap/harum aromanya sehingga lebih
    membangkitkan selera makan.
  7. Temperature (panas/suhu) artinya menyajikan makanan harus di
    perhatikan suhunya. Makanan panas harus disajikan dalam
    keadaan benar-benar panas, dengan piring yang panas. Begitu pula
    sebaliknya.
    Indikator kualitas produk makanan menurut Fiani dan Japrianto (2012:1)
    yaitu:
    1) Warna makanan
    2) Penampilan
    3) Porsi
    4) Bentuk
    5) Temperatur
    6) Tekstur
    7) Aroma

Jenis-jenis Pemborosan (waste)


Pemborosan (Waste) didefinisikan sebagai segala aktivitas pemakaian sumber daya
(resources) yang tidak memberikan nilai tambah (value added) pada produk. Pada
dasarnya semua waste yang terjadi berhubungan erat dengan dimensi waktu. Menurut
Liker (2006) terdapat 7 jenis pemborosan (waste) yaitu overproduction, waiting time,
transportation, overprocessing, inventory, motion, dan defect. Berikut adalah
penjelasannya.

  1. Produksi yang berlebih (overproduction)
    Kriteria overproduction adalah:
    a. Memproduksi sesuatu lebih awal dari yang dibutuhkan
    b. Memproduksi dalam jumlah yang lebih besar dari pada yang dibutuhkan oleh
    pelanggan.
    Memproduksi lebih awal atau lebih cepat dari yang dibutuhkan pelanggan
    menciptakan pemborosan lain seperti biaya kelebihan tenaga kerja, penyimpanan
    dan transportasi karena persediaan berlebih. Persediaan dapat berupa fisik atau
    antrian informasi.
  2. Waktu menunggu (waiting time)
    Kriteria waktu menunggu adalah:
    a. Pekerja hanya mengamati mesin otomatis yang sedang berjalan
    b. Pekerja berdiri menunggu tahap selanjutnya dari proses baik menunggu alat,
    pasokan, komponen dan lain sebagainya, atau menganggur karena kehabisan
    material, keterlambatan proses, kerusakan mesin dan bottleneck.
    c. Waktu menunggi informasi
    d. Material yang keluar dari satu proses dan tidak langsung dikerjakan di proses
    selanjutnya
  3. Transportasi (transportation)
    Kriteria transportasi adalah:
    a. Memindahkan barang dalam proses (WIP) dari satu tempat ke tempat yang lain
    dalam satu proses, bahkan jika hanya dalam jarak dekat.
    b. Menciptakan angkutan yang tidak efisien.
    c. Pemindahan yang repetitif dan menempuh jarak jauh.
  4. Proses yang berlebih (processing)
    Kriteria proses berlebih adalah:
    a. Melakukan langkah yang tidak diperlukan untuk memproses komponen.
    b. Melaksanakan pemrosesan yang tidak efisien karena alat dan rancangan produk
    yang buruk, menyebabkan gerakan yang tidak perlu sehingga memproduksi
    barang cacat.
  5. Persediaan berlebih (inventory)
    Salah satu kriteria persediaan berlebih adalah persediaan yang dapat meningkatkan
    resiko barang kadaluarsa, barang rusak. Menurut Toyota persediaan adalah
    pemborosan. Bahan baku, barang dalam proses atau barang jadi yang berlebih
    menyebabkan lead time yang panjang, peningkatan biaya pengangkutan dan
    penyimpanan, serta keterlambatan. Persediaan berlebih juga menyembunyikan
    masalah seperti ketidakseimbangan produksi, keterlambatan pengiriman dari
    pemasok, produk cacat, mesin rusak, dan waktu set up yang panjang.
  6. Gerakan yang tidak perlu (motion)
    Kriteria gerakan yang tidak perlu adalah:
    a. Gerakan tersebut tidak memberikan nilai tambah bagi produk seperti mencari,
    memilih atau menumpuk komponen, alat dan lain sebagainya.
    b. Berjalan juga merupakan pemborosan.
  7. Produk cacat (product defect)
    Memproduksi komponen cacat atau yang memerlukan perbaikan. Perbaikan atau
    pengerjaan ulang, scrap, memproduksi barang pengganti, dan inspeksi berarti
    tambahan penanganan, waktu, dan upaya yang sia-sia

Prinsip Utama Pendekatan Lean


Konsep Lean Thinking ini diprakarsai oleh sistem produksi Toyota di Jepang. Lean
dirintis di Jepang oleh Taichi Ohno dan Sensei Shigeo Shingo dimana implementasi
dari konsep ini didasarkan pada 5 prinsip utama (Hines dan Taylor, 2000) yaitu :

  1. Specify value
    Menentukan apa yang dapat memberikan nilai dari suatu produk atau pelayanan
    dilihat dari sudut pandang konsumen bukan dari sudut pandang perusahaan.
  2. Identify whole value stream
    Mengidentifikasikan tahapan-tahapan yang diperlukan, mulai dari proses desain,
    pemesanan, dan pembuatan produk berdasarkan keseluruhan value stream untuk
    menemukan pemborosan yang tidak memiliki nilai tambah (non value adding
    waste).
  3. Flow
    Melakukan aktivitas yang dapat menciptakan suatu nilai tanpa adanya gangguan,
    proses rework, aliran balik, aktivitas menunggu (waiting) ataupun sisa produksi.
  4. Pulled
    Hanya membuat apa yang diinginkan oleh konsumen.
  5. Perfection
    Berusaha mencapai kesempurnaan dengan menghilangkan waste (pemborosan)
    secara bertahap dan berkelanjutan

Tujuan Pendekatan Lean


Konsep lean merupakan konsep perampingan yang fokus utamanya adalah efisiensi
tanpa mengurangi efektivitas proses. Mekong Capital’s mendefinisikan lean
manufacturing yang disebut juga lean production sebagai sekumpulan alat dan
metodologi yang mempunyai tujuan untuk mengeliminasi waste secara kontinyu dalam
proses produksi. Keuntungan utama yang diperoleh adalah biaya produksi lebih rendah,
output meningkat dan lead time produksi lebih pendek.
Secara lebih spesifik, beberapa tujuan lean production antara lain sebagai berikut :

  1. Defects dan wastage
    Mengurangi defect dan scrap yang tidak diperlukan, termasuk penggunaan input
    bahan baku yang berlebihan, defect yang dapat dicegah, biaya yang dihubungkan
    dengan pengulangan proses untuk item yang cacat, dan karakteristik produk yang
    tidak diperlukan dimana tidak sesuai dengan keinginan customer.
  2. Cycle Time
    Mengurangi manufacturing lead time dan waktu siklus produksi dengan
    mengurangi waktu tunggu antar proses.
  3. Inventory Levels
    Meminimumkan level inventory pada semua tahap produksi per bagian pada work-
    in progress antar tahap pemrosesan. Inventory yang lebih rendah berarti
    membutuhkan working capital yang lebih rendah juga.
  4. Labor productivity
    Meningkatkan produktivitas tenaga kerja dengan mengurangi waktu idle dari
    pekerja dan memastikan bahwa pekerja sedang melakukan pekerjaannya, mereka
    menggunakan usaha yang seproduktif mungkin dalam bekerja (tidak melakukan
    tugas yang tidak diperlukan atau gerakan yang tidak perlu).
  5. Utilization of equipment and space
    Penggunaan peralatan dan ruang manufacturing lebih efisien dengan mengeliminasi
    bottleneck dan memaksimumkan tingkat produksi dengan peralatan yang ada,
    meminimasi downtime mesin.
  6. Flexibility
    Mempunyai kemampuan untuk memproduksi produk lebih fleksibel dengan
    meminimumkan change over cost dan change over time.
  7. Output
    Mengurangi waktu siklus, meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan
    mengeliminasi bottleneck dan downtime mesin yang dapat dicapai, perusahaan
    dapat meningkatkan output secara significan dengan fasilitas yang ada

Definisi Lean


Dalam bukunya Lean Thinking, James Womack dan Daniel Jones mendefinisikan
lean manufacturing sebagai suatu proses yang terdiri dari lima langkah: mendefinisikan
nilai bagi pelanggan, menetapkan value stream, membuatnya “mengalir”, “ditarik” oleh
pelanggan, dan berusaha keras untuk mencapai yang terbaik. Untuk menjadi perusahaan
manufaktur yang lean diperlukan suatu pola pikir yang terfokus pada membuat produk
mengalir melalui proses penambahan nilai tanpa interupsi (one-piece flow), suatu sistem
“tarik” yang berawal dari permintaan pelanggan, dengan hanya menggantikan apa yang
diambil oleh proses berikutnya dalam interval yang singkat, dan suatu budaya dimana
semua orang berusaha keras melakukan peningkatan secara terus-menerus.
Tujuan utama dari implementasi lean adalah untuk mengidentifikasi dan
mengeliminasi waste dari suatu stasiun kerja. Eliminasi waste dilakukan dengan
mengidentifikasi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah terhadap konsumen
karena aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah dapat menambah waktu dalam
menyelesaikan suatu pekerjaan dan pada akhirnya akan mengurangi produktivitas dari
tiga faktor produksi yang mempengaruhi efisiensi proses antara lain pekerja, peralatan,
dan fasilitas. Lean pada awalnya merupakan terminologi yang digunakan untuk
mendeskripsikan pendekatan yang dilakukan di industri otomotif Jepang yaitu Toyota
untuk membedakannya dengan pendekatan produksi massal yang ada di Barat

Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian


Berdasarkan yang disampaikan Boone & Kurtz (2017) Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Keputusan Pembelian Ada dua faktor yang mempengaruhi seorang
konsumen dalam proses pengambilan keputusan pembelian, yaitu:
a. Pengaruh dari dalam diri
1) Kebutuhan
yaitu ketidaksesuaian antara keadaan konsumen sebenarnya dengan keadaan yang
diharapkan.
2) Persepsi
yaitu gambaran seseorang terhadap rangsangan yang masuk melalui panca indranya.
Saat seseorang melihat logo merek Apple dan Huawei, maka dia memiliki persepsi
yang berbeda terhadap masing-masing merek.
3) Sikap
kondisi suka atau tidak suka seseorang pada kecenderungan dalam evaluasi,
perasaan, atau tindakan terhadap sesuatu hal.Berdasarkan pengalamannya terhadap
sesuatu, maka sikapnya akan sulit berubah, karena sikap sangat dipengaruhi oleh
persepsi.
4) Pembelajaran
dalam konteks pemasaran, diartikan sebagai pengetahuan atau kemampuan yang
didapatkan dari pengalaman yang dapat merubah perilaku konsumen.
5) Teori konsep diri,
yaitu gambaran seseorang terhadap dirinya sendiri. Saat seorang paruh baya
memandang dirinya sebagai seorang yang masih muda, maka dia bisa membeli
mobil sport dan pakaian yang modis untuk mewujudkan konsep dirinya.
b. Pengaruh dari Lingkungan
1) Budaya,
budaya dapat diartikan sebagai nilai, kepercayaan, kesukaan, dan selera yang
diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lain.
2) Keluarga
pada umumnya, setiap orang adalah bagian dari setidaknya dua keluarga, yaitu
keluarga dimana dia lahir dan keluarga yang dia bangun saat dewasa.
3) Sosial
sebagai seorang konsumen, kita selalu berada dalam beberapa kelompok sosial,
seperti sebuah keluarga, saat disekolah, mengikuti klub basket, klub bela diri, dan
lain sebagainya. Dan setiap kelompok tersebut mempengaruhi keputusan pembelian
anggotanya

Indikator keputusan pembelian


Berdasarkan yang disampaikan Kotler (2016:211), indicator- indicator seseorang
dalam keputusan pembelian adalah sebagai berikut:
a) Kemantapan pada sebuah produk
Merupakan keputusan yang dilakukan konsumen, setelah mempertimbangkan
berbagai informasi yang mendukung pengambilan keputusan.
b) Kebiasaan dalam membeli produk
Merupakan pengalaman sendiri dalam membeli produk ataupun orang terdekat
(orang tua, saudara) dalam menggunakan suatu produk.
c) Memberikan rekomendasi kepada orang lain
Merupakan penyampaian informasi yang positif kepada orang lain, agar tertarik
untuk melakukan pembelian.
d) Melakukan pembelian ulang
Merupakan pembelian ulang yang berkesinambungan setelah konsumen
merasakan kenyamanan atas produk jasa yang diterima

pengertian keputusan pembelian


Sebagaimana yang disampaikan Menurut Kotller (2016:185) mendefinisikan
keputusan pembelian konsumen ialah keputusan akhir perorangan yang membeli
barang maupun jasa untuk dia pribadi. Dan sebagaimana yang disampaikan Alfiyan
(2017), pengambilan keputusan pembelian merupakan sebuah pendekatan
penyelesaian masalah pada kegiatan manusia membeli suatu produk guna memenuhi
keinginan dan kebutuhan.
Dalam pengertian lainnya Sebagaimana yang disampaikan Olsonn (dalam
Sangadji, 2013:332) yang dimaksud keputusan pembelian adalah suatu proses
penyelesaian masalah yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan dan
keinginan, pencarian informasi, penilaian sumber-sumber seleksi terhadap alternatif
pembelian, dan perilaku setelah pembelian. Definisi lain menurut Amilia (2017),
keputusan pembelian adalah perilaku yang diperlihatkan konsumen dalam mencari,
memberi menggunakan mengevaluasi dan menghabiskan suatu produk dan jasa yang
diharapkan dapat memuaskan kebutuhannya.

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi harga


Berdasarkan yang disampaikan Rambat Lupiyoadi (2011:100) Faktor-faktor yang
mempengaruhi atau perlu dipertimbangkan dalam penentuan harga yaitu:
1). Elastisitas permintaan
Mengukur seberapa besar kepekaan perubahan jumlah permintaan barang
terhadap perubahan harga.
2) Struktur biaya
Struktur biaya adalah keseluruhan struktur dan rincian biaya yang diperlukan
untuk menawarkan dan memberikan tawaran nilai kepada segmen pengguna.
3) Persaingan
Persaingan atau kompetisi adalah bersaingnya para penjual yang samasama
berusaha mendapatkan keuntungan, pangsa pasar, dan jumlah penjualan.
4) Positioning dari jasa yang ditawarkan
Strategi positioning merupakan strategi yang berusaha mencipatakan
diferensiasi yang unik dalam benak pelanggan sasaran, sehingga terbentuk citra
(image) merek atau produk yang lebih unggul dibandingkan merek/produk pesaing.
5) Sasaran yang ingin dicapai perusahaan
Meningkatkan potensi perusahaan untuk mendapatkan peluang usaha yang
menjamin masa depan perusahaan melalui sinergi internal dan eksternal.
6) Siklus hidup jasa
Siklus hidup produk adalah suatu konsep penting yang memberikan
pemahaman tentang dinamika kompetitif suatu produk.
7) Sumber daya yang digunakan
Sumber daya manusia adalah salah satu faktor produksi selain tanah, modal,
dan keterampilan.
8) Kondisi ekonomi
Kondisi Diinginkan adalah keadaan yang merupakan harapan atau kondisi
ideal bagi Perusahaan atau Bagian, agar Pemsahaan dapat tetap tumbuh dan
berkembang dengan baik.

Indikator harga


Berdasarkan yang disampaikan Kotler & Keller (2016:278) indikator harga yaitu:
a) Keterjangkauan Harga
Harga yang terjangkau adalah harapan konsumen sebelum mereka melakukan
pembelian. Konsumen akan mencari produk dengan harga yang dapat mereka
jangkau.
b) Kesesuaian Harga Dengan Kualitas Produk
Untuk beberapa produk tertentu, biasanya konsumen tidak keberatan apabila harus
membeli dengan harga relatif mahal asalkan kualitas produk baik. Namun konsumen
lebih menginginkan produk dengan harga murah dan kualitasnya baik.
c) Daya Saing Harga
Perusahaan menetapkan harga jual suatu produk dengan mempertimbangkan
harga produk yang dijual oleh pesaingnya agar produknya dapat bersaing di pasaran.
d) Kesesuaian Harga Dengan Manfaat
Konsumen terkadang mengabaikan harga suatu produk namun lebih
mementingkan manfaat dari produk tersebut.

Pengertian persepsi harga


Harga merupakan unsur bauran pemasaran yang sifatnya fleksibel dimana setiap
saat dapat berubah menurut waktu dan tempatnya. Harga bukan hanya angka nominal
yang tertera dilabel suatu kemasan, tapi harga mempunyai banyak bentuk dan
melaksanakan banyak fungsi, seperti sewa tempat, ongkos, upah, bunga, tarif, biaya
penyimpanan dan gaji. Semuanya merupakan harga yang harus dibayar untuk
mendapatkan barang dan jasa.
Sebagaimana yang disampaikan Kotler & Keller (2016) harga adalah sejumlah
uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukar
konsumen atas manfaat yang diterima karena memiliki atau menggunakan produk jasa
tersebut.
Sebagaimana yang disampaikan Fetrizen & Aziz (2019) harga merupakan salah
satu komponen yang penting bagi konsumen sehingga perusahaan maupun organisasi
perlu memahami dengan baik peran tersebut dalam mempengaruhi sikap konsumen,
harga sebagai atribut diartikan merupakan konsep keberagaman arti bagi setiap
konsumen tergantung dari karakteristik konsumen, situasi dan produk.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas produk


Berdasarkan yg disampaikan Tjipton0 (2012:44) kualitasproduk dipengaruhi
banyak faktor. industri setiap bidang bergantung padaa sejumlah besar kondisi yang
membebani produksi suatu cara yang tidak dialami dalam periode sebelumnya yaitu:
1) Market (Pasar)
2) Money (Uang)
3) Management (Manajemen)
4) Men (Manusia)
5) Motivation (Motivasi)
6) Material (Bahan)

Indikator Kualitas Produk


Berdasarkan yang disampaikan Kotler dan Keller (2012:7-11) kualitas produk
memilikii indikator-indikator sbb:
a. form (Bentuk)
meliputibentuk, ukuran atau struktur pisik produk.
b. Feature (pitur)
Fitur melengkapi fungsi dasar suatu produk
c. Customization (Penyesuaian)
penjual dapat mendiferensiasikan produk dg menyesuaikan produk dengan
keinginan perorangan.
d. Kualitas Kesesuaian (Conformanke Qualiti)
Tingkat dimana unit yang diproduksi identik dan memenuhi spesifikasi yang telah
dijanjikan.
e. Durabiliti (Ketahanan)
Merupakan ukuran umur operasi produk dalam kondisi biasa atau penuh
tekanann,.
f. Performance Quality (Kualitas Kinerja)
Tingkat dimana karakteristik utama produk beroperasi. menjadi dimensi yang
semakin penting diferensiasi perusahaan menerapkan model nilai dan memberikan
kualitas yang lebih tinggi dengan uang yang lebih rendah.
g. Keandalan (Reliabiliti)
Ukuran probabilitas bahwa produk tidak akan mengalami malfungsi atau gagal
dalam periode waktu tertentu.
h. Repairability (Kemudahan Perbaikan)
Adalah ukuran kemudahan perbaikan produk ketika tidak berfungsi atau gagal.
i. Style (Gaya)
Mengambarkan penampilann.
j. Designn (Desain)
Adalah totalitas fitur yang mempengaruhi tampilan, rasa, dan fungsii produk

Pengertian Kualitas produk


Sebagaimana yang disampaikan Kotler & Armstronng (2021:230) kualitas produk
ialah kerakteristik produk maupun jasa bergantung pada kemampuan untuk
memuaskan pelanggan yaitu diimplikasikan Dlam rangka menciptakan kepuasan
pelanggan, produk yang ditawarkan benar berkualitas baik. Kualitas mencerminkan
semua produk yang menghasilkan manfaat (benefits) bagi pelanggannya. dengan
kepuasan pelangan, kualitas memiliki beberapa dimensi produk, yang bergantung pada
konteksnya.
Sebagaimana yang disampaikan Habibah (2016) kualitas adalah hal penting yang
dilakukan perusahaan, jika masih ingin produk tetap bersaing dipasar dan dapat
memuaskan konsumen. Perusahaan menjalankan suatu bisnis, produk ataupun jasa
yang dijual memiliki kualitas yang baik dan sesuai dengan harga yang ditawarkan agar
usaha atau perusahaan dapat bertahan menghadapi persaingan.
Sebagaimana yang disampaikan Yazia (2014) produk yang berkualitas ialah kunci
paling utama dalam memenangkan persaingan pasar, yang dapat memberikan nilai
kepuasan yang lebih tinggi kepada konsumen.setiap produk harus memiliki kualitass
dan keunggulan yg bagus dibandingkan dg produk lainnyaa sehinggadapat mmberikan
nilai kepuasan bagii konsumen.

Pengertian manajemen pemasaran


Manajemen pemasaran berasal terdapat dua kata yaitu manajemen dan pemasaran.
Menurut Kotller & Kellar (2012:58) “Manajemen pemasaran termasuk kedalam bagian
penganalisaan pelaksanaan dan pengawasan program- program ini mengadakan terhadap
pasar yng ditujukan untuk mencapai tujuannya. mengadakan komunikasi dan distribusi
yang efektif untukmemberitahu, mendorong serta melayani pasar tersebut”
Dalam pengertian lainnya menurut pendapat (Ketler & Keller(2012:78), “manajemen
pemasaran yaitu seni dan ilmu dalam memilih target pasar untuk mempertahankan,
mendapatkan, meningkatkan konsumen dengan memberikan, membuat
mengkomunikasikan nilai konsumen yang superior dan membuat”

Pengertian pemasaran


Sebagimana yang disampaikan Malau (2017:1) mengemukakan bahwa Pemasaran
(Marketing) merupakan transaksi pertukaran antara masing – masing pihak, seperti
tukaran produk uang yang dimiliki oleh pelanggan. Dan terkait dengan sebagaimana yang
disampaikan Kotler & Amtrong (2016:60) pemasaran yaitu proses suatu perusahaan
memberikan nilai ke pelanggan serta membangun hubungan yang erat kepada pelanggan
dengan maksud untuk memperoleh nilai dari pelanggan sebagai imbalannya. kesimpulan
bahwasanya pemasaran termasuk kedalam sebuah proses terjadinya sebuah transaksi
antara penjual dan pembeli yang saling menguntungkan kedua belah pihak

Metode Failure Mode Effect Analysis


Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA) merupakan alat
perencanaan yang sistematis dan analitis untuk mengidentifikasi produk, layanan,
desain, dan pengembangan yang berpotensi menjadi masalah, baik dari produk
atau layanan, sehingga dapat membantu identifikasi kesalahan (Aldridge dan Dale,
2003). FMEA menjadi salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi
penyebab dan dampak kegagalan serta mengurangi sumber potensi kegagalan
dalam suatu proses sebelum produk sampai di tangan pelanggan (Stamatis, 2015).
Penggunaan FMEA menjadi alat bantu untuk meningkatkan perencanaan kualitas
yang dapat diterapkan pada berbagai macam masalah yang mungkin terjadi dalam
produk, layanan, proses, dan fungsi bisnis yang lain (Tang, 2022).

Sistem Manajemen Mutu


Sistem Manajemen Mutu (SMM) merupakan sistem yang bertujuan untuk
membantu perusahaan dalam peningkatan kepuasan pelanggan dan perbaikan
secara berkelanjutan. SMM adalah kemampuan perusahaan dalam menjaga kualitas
jasa atau barang yang dihasilkan perusahaan (Aslami, 2020). Menurut Dale (2003)
SMM harus mencakup dan menjelaskan semua aspek operasi organisasi, mulai dari
mengidentifikasi dan memenuhi kebutuhan atau persyaratan pelanggan hingga
merancang, merencanakan, instalasi, dan service. Tujuan dari sistem manajemen
kualitas sendiri adalah untuk menetapkan standar untuk memastikan dalam setiap
kali proses akan menggunakan informasi, metode, keterampilan dan kontrol yang
sama dan diterapkan secara konsisten (Dale, 2003). Dengan cara ini akan dapat
membantu menentukan persyaratan yang jelas, mengomunikasikan kebijakan dan
prosedur, memantau bagaimana kerja dilakukan dan meningkatkan kerja sama tim.
Standarisasi sistem manajemen mutu menjadi dasar dalam peningkatan
kualitas, efisiensi produksi, kelancaran transaksi jual beli, dan dapat mewujudkan
persaingan sehat antar perusahaan sejenis (Efansyah dan Nugraha, 2019). Salah
satu Lembaga yang berperan dalam standarisasi sistem mutu adalah The
International Organization for Standardization. Standar yang ditentukan oleh ISO
9001:2015 bukan berupa teknis pelaksanaan, akan tetapi berisikan persyaratan yang
harus dipenuhi perusahaan. Adanya ISO 9001:2015 akan mengarahkan pada
produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Six Sigma


Six sigma merupakan salah satu metode dalam pengendalian kualitas.
Produk yang memiliki banyak komponen biasanya memiliki banyak kesempatan
terjadinya kegagalan. Fokus dari six sigma adalah untuk mengurangi variasi dari
kualitas produk yang mengalami kegagalan atau cacat. Six yang artinya enam,
sedangkan sigma yang merupakan simbol dari standar deviasi, dan biasa
dilambangkan dengan σ. Menurut Montgomery (2009) six sigma menjadi program
untuk meningkatkan kinerja bisnis suatu perusahaan dengan meningkatkan kualitas
dan memfokuskan dalam mengurangi biaya.

Pengendalian Kualitas


Pengendalian dan peningkatan kualitas merupakan strategi bisnis yang
penting bagi berbagai pihak seperti produsen, distributor, transportasi, organisasi
jasa keuangan, penyedia layanan kesehatan, dan lembaga pemerintah
(Montgomery, 2009). Melalui pengendalian kualitas atau juga sering disebut
quality control dapat membantu untuk melihat kesesuaian produk dengan standar
kualitas yang ada. Perusahaan yang dapat meningkatkan kepuasan pelanggan
dengan mengendalikan kualitas dapat mendominasi pesaingnya (Montgomery,
2009). Pengendalian kualitas dapat diartikan sebagai aktivitas untuk menjaga dan
memperbaiki mutu produk, agar dapat memenuhi keinginan konsumen dan sesuai
dengan standar perusahaan.
Jadi quality control menjadi hal penting dalam menentukan keberhasilan
suatu produk dalam pasar industri. Pada umumnya, semua perusahaan pasti
menginginkan respons yang baik dari konsumen. Menurut Montgomery (2009),
untuk mendapatkan respons yang baik dari konsumen, tentunya sebuah
perusahaan harus dapat mengendalikan kualitas agar sesuai dengan standar.
Karena variasi produk tinggi menjadi sumber utama kualitas yang buruk. Oleh
sebab itu, quality control sangat penting untuk menjaga mutu produk dan juga
untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan menjadikan perusahaan untuk mampu
bersaing di pasaran. Salah satu metode untuk mengendalikan kualitas adalah
dengan metode Six Sigma

Pengertian Kualitas


Kualitas dari produk atau jasa menjadi hal yang penting untuk mengukur
kinerja perusahaan. Jika kualitas produk terjamin maka dapat meningkatkan
kepercayaan pelanggan dan menjadi nilai tambah untuk bersaing dengan
kompetitor. Kualitas menjadi inti dalam melakukan pengendalian kualitas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kualitas didefinisikan sebagai
tingkat baik atau buruknya sesuatu, taraf, atau mutu. Selain itu, kualitas produk
dapat diartikan sebagai faktor penting dalam mempengaruhi keputusan pelanggan
dalam membeli sebuah produk (Ernawati, 2019). Semakin tinggi kualitas suatu
produk, maka akan meningkatkan minat konsumen dalam membeli produk
tersebut. Herman dan Tobing (2021) menyatakan bahwa kualitas suatu produk
kemungkinan sebesar 36% akan mempengaruhi keputusan pelanggan dalam
membeli suatu produk. Jika suatu produk memiliki spesifikasi yang memenuhi
keinginan pelanggan membuat pelanggan menjadi puas dan memungkinkan
terjadi pembelian kembali.
Kualitas produk mempunyai delapan dimensi yang dikemukakan oleh
Garvin (1987) dalam Puspitasari dan Tjahjawati (2017) yaitu, kinerja (ciri khas
dari produk terkait sistem operasi), fitur (pelengkap karakteristik utama produk),
keandalan, kesesuaian dengan spesifikasi yang telah ditentukan, daya tahan (lama
suatu produk dapat digunakan), serviceability (kemudahan layanan jika
diperlukan), nilai estetika (nilai keindahan dari suatu produk), dan kesan kualitas
(persepsi konsumen terhadap kualitas produk)

Persediaan


Secara umum, persediaan merujuk pada barang-barang yang akan
dimanfaatkan di masa mendatang. Baik dalam konteks perusahaan
perdagangan maupun manufaktur, persediaan (inventory) selalu menjadi aspek
yang sangat penting. Di dalam perusahaan, persediaan dianggap sebagai aset
yang krusial untuk mencapai keuntungan. Menurut definisi Wild, dkk (2004),
persediaan (inventory) mencakup barang-barang yang dijual sebagai bagian
dari aktivitas operasional rutin perusahaan. Persediaan dapat terdiri dari
barang mentah, barang setengah jadi, atau barang jadi yang dikelola dan
dimanfaatkan untuk mendukung proses produks

Produksi


Produksi adalah proses transformasi bahan mentah menjadi barang jadi
yang memiliki nilai tambah. Produksi mencakup berbagai aspek seperti
perencanaan, pengendalian, dan pengawasan proses produksi untuk
memastikan efisiensi dan efektivitas (Heizer & Render, 2014).
Menurut Stevenson (2012) menyatakan bahwa produksi adalah aktivitas
yang menghasilkan barang atau jasa. Proses ini melibatkan kombinasi sumber
daya seperti tenaga kerja, teknologi, dan bahan baku untuk menghasilkan
produk yang memenuhi kebutuhan pasar

Biaya Kualitas (Quality Cost)


Biaya kualitas merupakan biaya yang bisa terjadi karena adanya produk atau jasa
yang buruk dari suatu perusahaan. Dalam proses pengukuran terdapat tiga
komponen, yakni biaya pencegahan, biaya penilaian dan biaya kegagalan.
a. Biaya Pencegahan (Prevention Costs)
Biaya yang digunakan untuk suatu pencegahan, yang juga termasuk biaya
termurah. Contoh-contoh dari biaya pencegahan seperti: perencanaan
kualitas, tinjauan produk baru, pengendalian proses, evaluasi kualitas
pemasok, pelatihan.
b. Biaya Penilaian (Appraisal Costs)
Biaya yang digunakan untuk memeriksa ataupun menguji produk pada proses
pembuatan barang jadi. Contoh biaya penilaian seperti: inspeksi dan
pengujian kedatangan material, inspeksi dan pengujian produk dalam proses,
inspeksi dan pengujian produk akhir, pemeliharaan akurasi peralatan
pengujian, evaluasi stok.
c. Biaya Kegagalan
i. Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Costs)
Biaya yang keluar saat terjadi produk yang cacat. Contoh dari biaya
kegagalan internal seperti: perbaikan produk yang rusak, biaya scrap,
inspeksi ulang dan pengujian ulang.
ii. Biaya Kegagalan Eksternal (External Failure Costs)
Biaya yang keluar saat produk memiliki kualitas yang buruk. Contoh dari
biaya kegagalan eksternal seperti: jaminan, penyelesaian keluhan,
produk dikembalikan.

Pendekatan Maintenance


Maintenance adalah suatu kegiatan yang dapat dijadikan proses pendukung
dikegiatan produksi dengan tujuan dari proses maintenance adalah dapat lebih
efektif dan biaya yang rendah. Dengan adanya proses maintenance mesin atau
peralatan produksi dapat digunakan dengan maksimal dan tidak mengalami
kerusakan (Sudrajat: 2011).
Menurut Sudrajat (2011), dengan adanya proses maintenance memiliki tujuan
seperti:

  1. Mesin atau alat produksi dapat memenuhi kebutuhan.
  2. Dapat menjaga kualitas dan kegiatan produksi yang tidak mengalami
    gangguan.
  3. Dapat mencapai biaya maintenance secara efektif dan efisien.
  4. Dapat menjaga keselamatan bagi operator.
  5. Dapat memaksimalkan peralatan sistem produksi (mengurangi downtime).
    Jenis-jenis Pemeliharaan
    Terdapat dua jenis dalam proses maintenance, yaitu:
  6. Preventive Maintenance (Pemeliharaan Pencegahan)
    Hal ini bertujuan untuk memperpanjang umur sistem atau mesin dan dapat
    meningkatkan kehandalan.
  7. Corective Maintenance (Pemeliharaan Perbaikan)
    Pemeliharaan yang terdiri dari proses pengembalian kondisi mesin yang
    gagal beroperasi Kembali ke kondisi beroperasi. Pemeliharaan perbaikan
    terjadi karena kegagalan yang tiba-tiba dan biasanya tidak direncanakan.

Pengertian Total Quality Management (TQM)


Manajemen kualitas terpadu adalah metode yang bertujuan untuk meningkatkan
kualitas produk secara berkelanjutan atau terus menerus (continues performance
improvement) baik dari segi proses, area fungsional dengan menggunakan SDM
dan modal dari perusahaan (Gaspersz 2001).
TQM adalah metode manajemen yang berhubungan dengan kualitas atau mutu
di sebuah perusahaan atau organisasi yang meliputi pekerjaan, proses, pekerja
yang menjalankan proses produksi dengan benar dan terpadu sehingga
menghasilkan output yang diharapkan oleh perusahaan untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan secara tepat waktu, tepat standar dan terbebas dari cacat
produk (Haming dan Nurnajamuddin, 2007).
Menurut Heizer dan Render (2013) terdapat 14 konsep yang digunakan oleh W.
Edwards Deming dalam mengimplementasi TQM, dan dikembangkan menjadi 7
konsep supaya lebih efektif, konsep tersebut adalah:
a. Perbaikan Berkelanjutan
Cara kerja dari total quality Management dengan cara mendapatkan
proses perbaikan secara terus menerus dari setiap aspek perusahaan
dengan tujuan mencapai kesempurnaan. Dalam pelaksanaannya
menggunakan konsep plan, do, check, act (PDCA).
b. Six Sigma
Six sigma adalah cara untuk mengurangi cacat produk, biaya yang keluar,
penghematan waktu dan peningkatkan kepuasan dari pelanggan.
c. Pemberdayaan Karyawan.
Pemberdayaan karyawan yang dimaksud adalah dapat melibatkan
karyawan dalam melakukan proses produksi di sebuah perusahaan.
d. Tolak Ukur (Benchmarking)
Dengan faktor pemilihan seperti standar barang, jasa, biaya, kinerja yang
baik untuk proses produksi.
e. Tepat Waktu (just in time)
Just in Time adalah pedoman pengendalian untuk menghilangkan
pemborosan atau bisa dikatakan memiliki tujuan memperbaiki proses
operasi dengan biaya yang serendah mungkin dan tanpa mengurangi
kualitas (Ma’arif dan Tanjung, 2003).
f. Konsep Taguchi
Terdapat 3 konsep untuk memperbaiki produk seperti kekuatan kualitas,
fungsi dari kerugian kualitas dan kualitas yang berorientasi pada sasaran.
g. Pemahaman Alat TQM
Tool yang dapat digunakan untuk TQM adalah: Statistical Process Control
(SPC), lembar periksa (Chechsheet), diagram sebab akibat (Fishbone
diagram), diagram pancar, diagram pareto, diagram alur, histogram

Pengertian Kualitas


Kualitas produk merupakan suatu komponen yang perlu diperhatikan oleh
perusahaan karena dengan kualitas merupakan cerminan dari kepuasan
pelanggan. Saat nilai dari tingkat kepuasan tinggi maka nilai dari tingkat kepuasan
pelanggan juga tinggi. Sehingga saat terjadi produk cacat atau kepuasan
pelanggan tidak terpenuhi, pelanggan merasa kecewa (Kotler dan Keller, 2009).
Kualitas produk dikatakan produk cacat atau produk tidak cacat merupakan hasil
dari proses produksi. Saat hasil produksi menunjukkan produk cacat yang tinggi
maka kualitas dari produksi rendah dan sebaliknya saat produk cacat yang
dihasilkan rendah maka tingkat kualitas produksi tinggi (Sumardi, 2017).
Dengan adanya produk cacat saat dilakukan proses produksi maka perusahaan
diperlukan adanya sistem pengendalian kualitas produksi. Hal ini bertujuan untuk
meminimalisir jumlah dari produk cacat, menjaga hasil dari proses produksi agar
memenuhi standar mutu dari perusahaan dan menghindari tingkat rasa kecewa
dari konsumen (Mardhy, 2014).
Six sigma adalah suatu cara untuk mengelola kualitas, cara untuk mengendalikan
dan perbaikan kualitas (Gaspersz, 2001). Six sigma bisa digunakan untuk
meningkatan kualitas dengan cara proses peninjauan dan proses perbaikan
dengan metode DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) (Haming
dan Nurnajamudding, 2007).
Terdapat beberapa pengertian menurut para ahli, yaitu sebagai berikut:
a. Menurut ISO-8402 (Loh, 2001), kualitas adalah perusahaan yang
berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan yang berhubungan dengan
kualitas fasilitas dan mempunyai karakteristik dari produk atau jasa yang
dihasilkannya.
b. Kadir (2001), Kualitas mempunyai tujuan dengan memenuhi sebuah
standar yang telah ditentukan dari perusahaan.
c. Kotler (1997), mendefinisikan kualitas adalah perusahaan yang
mempunyai sebuah ciri atau karakteristik berupa produk atau jasa yang
dihasilkan untuk mendukung dalam memenuhi kebutuhan customer.
Pengendalian kualitas yang memiliki tujuan untuk meningkatkan dan menjaga
tingkat kepuasaan dari Customer. Dalam pengendalian kualitas terdapat
keuntungan seperti:
a. Dapat meningkatkan kualitas produk
b. Dapat meningkatkan dari aliran proses produksi
c. Dapat meningkatkan dari kesadaran pekerja terkait pentingnya kualitas
produ

Pengertian Seven Steps Method Of Quality Improvement


Mitra (1998) menyatakan bahwa seven steps method merupakan suatu
pendekatan yang digunakan dalam pemecahan masalah dan perbaikan
proses.terdapat 7 fase dalam metode seven steps dan berikut penjelasan secara
singkat setiap fase dalam pemecahan masalah :
a. Menentukan Masalah
i. Menentukan masalah dengan perbedaan apa yang terjadi dan apa yang
seharusnya terjadi.
ii. Memberikan alasan mengapa masalah tersebut dianggap penting
iii. Menentukan data yang akan digunakan untuk menentukan proses tersebut
b. Mempelajari situasi sekarang
i. Mengumpulkan data-data dan menambahkan dalam grafik. Run chart
dan control chart biasanya digunakan untuk menunjukkan data.
ii. Membuat flow chart (diagram proses).
iii. Menyediakan sketsa atau gambar proses.
iv. Mengidentifikasikan semua variabel yang mungkin mempengaruhi
masalah tersebut, misalnya: apa, di mana, untuk apa, dan siapa.
v. Merancang alat yang digunakan untuk mengumpulkan data.
vi. Mengumpulkan data dan membuat uraian singkat tentang pengaruh
semua variabel yang ada terhadap masalah tersebut.
vii. Menentukan informasi tambahan yang dapat membantu.
c. Menganalisis penyebab potensial pada situasi sekarang.
i. Menentukan semua penyebab potensial pada situasi sekarang
ii. Menentukan apakah diperlukan data tambahan.
iii. Apabila mungkin, memeriksa penyebab melalui penelitian secara
langsung.
d. Menjalankan solusi masalah
i. Membuat daftar saran perbaikan.
ii. Memutuskan saran apa yang akan dilakukan.
iii. Menentukan bagaimana saran itu akan dilakukan, misalnya siapa yang
akan bertanggung jawab atas hasil implementasi saran perbaikan, dll.
iv. Melakukan saran perbaikan yang mungkin dilakukan.
e. Memeriksa hasil-hasil pelaksanaan solusi masalah
i. Menentukan apakah tindakan perbaikan yang telah dilakukan
merupakan tindakan yang efektif.
ii. Mendeskrepsikan apa yang telah dilakukan dan bagaimana cara
pelaksanaannya.
f. Menstardisasikan perbaikan
i. Menyebutkan hasil perbaikan
ii. Memutudkan apakah rencana perbaikan tersebut dapat dilakukan di
tempat lain dan merencanakan pelaksanaannya.
g. Membuat rencana selanjutnya
i. Menentukan apa rencana selanjutnya.
ii. Membuat catatan untuk perbaikan tim kerja

Pengertian Pengendalian Kualitas


Definisi pengendalian kualitas menurut para ahli adalah sebagai berikut:
a. Besterfield (1994) mendefinisikan pengendalian kualitas sebagai penggunaan
teknik dan kegiatan untuk mencapai, mempertahankan, dan meningkatkan
kualitas produk atau jasa.
b. Juran (1998) mendefinisikan pengendalian kualitas sebagai proses manajerial
universal untuk melakukan operasi sehingga memberikan stabilitas yang
bertujuan untuk mencegah perubahan yang merugikan dan untuk
mempertahankan status quo.
c. Montgomery (2012), Pengendalian kualitas mencakup serangkaian kegiatan
yang digunakan untuk memastikan bahwa produk dan layanan memenuhi
persyaratan dan diperbaiki secara terus menerus.
d. Menurut Mitra (2016), pengendalian kualitas dapat didefinisikan sebagai
sebuah sistem yang digunakan untuk menjaga tingkatan kualitas pada produk
atau jasa dan dilakukan secara terus-menerus hingga pengimplementasikan
dari perbaikan karakteristik yang tidak sesuai dengan sebuah standar
spesifikasi. Mitra membagi pengendalian kualitas menjadi tiga subareas utama,
yaitu:
i. Off-line quality control : Prosedur ini bertujuan untuk memilih parameter
produk dan proses yang dapat dikontrol sedemikian rupa sehingga
penyimpangan antara output produk atau proses dan standarnya akan
diminimalkan. prosedur ini dilakukan melalui desain produk dan proses.
ii. Statistical process control : Pengendalian proses statistik melibatkan
perbandingan output suatu proses atau layanan dengan standar dan
mengambil tindakan perbaikan jika terjadi perbedaan antara keduanya. Hal
ini bertujuan untuk menentukan apakah sebuah proses dapat menghasilkan
produk yang memenuhi spesifikasi atau persyaratan yang diinginkan.
Misalnya, untuk mengendalikan kesalahan dokumen di departemen
administratif, informasi dapat dikumpulkan setiap hari mengenai jumlah
kesalahan. Jika jumlah yang diamati melebihi standar yang ditentukan, maka
identifikasi penyebab yang mungkin terjadi, tindakan harus dilakukan untuk
mengurangi jumlah kesalahan.
iii. Acceptance Sampling Plans :merupakan inspeksi produk atau layanan.
Informasi yang diperoleh dari sampel digunakan untuk memutuskan apakah
akan menerima atau menolak keseluruhan batch atau lot. Jika jumlah item
yang tidak sesuai yang diamati kurang dari atau sama dengan jumlah
parameter, batch akan diterima

Pengertian Kualitas


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kualitas adalah tingkat baik
buruknya sesuatu. Banyak terdapat definisi kualitas menurut para ahli, yaitu:
a. Montgomery (2012) mendefinisikan kualitas sebagai sesuatu yang berkaitan
dengan satu atau lebih karakteristik yang diinginkan yang harus dimiliki suatu
produk atau layanan.
b. Mitra (2016) Kualitas adalah kesesuaian dari produk atau layanan untuk
memenuhi atau melampaui keinginan yang diminta oleh pelanggan.
c. Crosby (1979) dalam buku Mitra (2016) mendefinisikan Kualitas adalah
kesesuaian dengan persyaratan atau spesifikasi.
d. Besterfield (1994) Kualitas didefinisikan sebagai totalitas fitur dan karakteristik
produk atau jasa yang menunjang kemampuan untuk memenuhi atau
memuaskan kebutuhan pelanggan secara langsung maupun secara tidak
langsung.
e. Juran (1998) mendefinisikan kualitas sebagai berikut :
i. Kualitas berarti fitur produk yang memenuhi kebutuhan pelanggan dan
dengan demikian memberikan kepuasan pelanggan.
ii. Kualitas berarti bebas dari kekurangan – bebas dari kesalahan yang
mengharuskan dilakukannya pekerjaan lagi (rework) atau yang
mengakibatkan kegagalan, ketidakpuasan pelanggan, klaim pelanggan,
dan sebagainya.
Menurut Garvin (1987) dalam buku Montgomery (2012) kualitas terdiri dari delapan
dimensi, yaitu :
a. Performance : fungsi dari produk dan seberapa baik kinerja dari produk
tersebut. Contoh: kecepatan eksekusi dari sebuah PC
b. Reliability : lama waktu sebuah produk mempertahankan performance. Contoh
: mobil yang hanya membutuhkan perbaikan sesekali.
c. Durability : masa kerja yang efektif dari produk.
d. Serviceability : kemudahan dalam perbaikan produk.
e. Aetheties : daya tarik visual produk seperti gaya, warna, bentuk, alternatif
kemasan, karakteristik sentuhan, dan fitur sensorik lainnya. Contoh : produsen
minuman minuman ringan mengandalkan daya tarik visual kemasan mereka
untuk membedakan produk mereka dari pesaing lainnya.
f. Features : kelebihan lain yang dimiliki oleh produk. Contoh : perangkat PC.
g. Perceived Quality : pelanggan bergantung pada reputasi masa lalu perusahaan
mengenai kualitas produknya. Contoh : berkurangnya pelanggan maskapai
Lion Air akibat reputasi yang buruk.
h. Conformance to Standards : produk dibuat persis seperti yang dimaksudkan
oleh perancang.
Terdapat tiga tambahan dimensi kualitas dalam organisasi bisnis jasa dan
transaksional, yaitu :
a. Responsiveness : lama waktu yang dibutuhkan penyedia layanan dalam
menanggapi atau melayani konsumen.
b. Professionalism : pengetahuan dan keterampilan dari penyedia layanan, dan
berkaitan dengan kompetensi organisasi untuk memberikan layanan yang
dibutuhkan.
c. Attentiveness : keseriusan dan kehati-hatian penyedia layanan dalam
menangani konsumen.

Pengaruh kualitas produk, harga dan citra merek terhadap keputusan pembelian


Kualitas produk, harga dan citra merek berpengaruh terhadap keputusan
pembelian karena kualitas produk yang baik dan citra merek yang menarik serta harga
yang terjangkau akan berpengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. Seperti
penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Siti Fatimatul dan Tiara Syahrani (2022) bahwa
kualitas produk, harga dan citra merek pengaruh positif terhadap keputusan pembelian

Pengaruh citra merek terhadap keputusan pembeli


Pratama (2019) melakukan penelitian antara citra merek terhadap keputusan
pembelian berpengaruh positif. Didukung oleh penelitian terdahulu Suyoto (2020),
penelitian tersebut menjelaskan yaitu persektif konsumen terhadap citra merek positif
yang berpengaruh secara signifikan dengan keputusan pembelian

Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian


Kualitas produk berhubungan positif signifikan terhadap keputusan pembelian
pada hasil penelitian yang dilakukan oleh (Rahmawati, 2020) ; Setiawan (2019) ; Kusuma
(2019) ; Pamungkas (2019) juga menunjukan hasil yang sama, yaitu kualitas produk
berhubungan positif signifikan terhadap keputusan pembelian. Intinya, jika perusahaan
mampu memberikan suatu produk yang berkualitas baik, maka hal ini dapat berpengaruh
terhadap tingkat keputusan pembelian yang tinggi.

Faktor Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (dalam Amalia & Asmara, 2017) ada empat faktor
yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam memutuskan melakukan pembelian, yaitu:

  1. Faktor Budaya, faktor budaya mempunyai pengaruh lebih luas dan mendalam terhadap
    perilaku, mencakup budaya (kultur, sub budaya, dan kelas sosial).
  2. Faktor Sosial, selain faktor budaya, perilaku konsumen juga dapat dipengaruhi oleh
    faktor-faktor sosial seperti kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status.
  3. Faktor Pribadi, keputusan seorang pembeli juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik
    pribadi seperti umur pembeli dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya
    hidup dan kepribadian.
  4. Faktor Psikologis, pada faktor psikologis terdapat dua faktor diantarnya adalah sebagai
    berikut
    a. Motivasi, seseorng tentunya memiliki banyak kebutuhan pada setiap waktu tertentu.
    Sebagin kebutuhan dapat bersifat biogenic, kebutuhan yang demikian berasal dari
    keadaan psikologis berkaitan dengan tensi/ketegangan sepeti rasa lapar, haus dan tidak
    senang. Motivasi merupakan kebutuhan yang cukup mendorong seseorng agar
    bertindak.
    b. Persepsi, hal ini menyangkut proses bagaimana seseorng memilih, mengatur dan
    menginterpretasikan masukan informasi untuk menciptakan gambaran yang berarti.
    Menurut Kotler dan Keller (2016:235) indikator dari proses keputusan pembelian
    konsumen dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut:
  5. Pengenalan Kebutuhan
    Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah mesalah atau kebutuhan,
    pembeli merasakan perbedaan antara keadaan aktualnya dengan keadaan yang diinginkan.
  6. Pencarian Informasi
    Seseorng yang tergerak oleh stimulus akan berusaha mencari lebih banyak informasi
    yang terlibat dalam pencarian akan kebutuhan,pencarian informasi merupakan aktivitas
    termotivasi dari pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan dan peroleh informasi dari
    lingkungan.
  7. Evaluasi Alternatif
    Evaluasi Alternatif Merupakan proses dimana suatu alternatif pilihan disesuaikan dan
    dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
  8. Kebutuhan pembeli
    Keputusan untuk membeli di sini merupakan proses dalam pembelian yang nyata, jadi,
    setelah tahap-tahap di muka dilakukan, maka konsumen harus mengambil keputusan
    membeli atau tidak, konsumen mungkin juga akan membentuk suatu maksud meembeli
    dan cenderung membeli merek yang disukainya.
  9. Perilaku Pasca Pembelian
    Setelah pembelian produk terjadi, konsumen akan mengambil suatu tingkat kepuasan
    atau tidakpuasan. Kepuasan atau tidakpuasan pembeli terhadap produk akan mempengarui
    tingkah laku berikutnya, konsumen yang merasa puas akan memperlihatkan peluang
    membeli yang lebih tinggi dalam kesempatan berikutnya

Tahapan Keputusan Pembelian


Menurut Kwandy (2017), ada lima tahapan konsumen dalam melakukan keputusan
pembelian konsumen.

  1. Tahapan pengenalan masalah. Pada tahap ini konsumen menganali suatu kebutuhan,
    yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal.
  2. Tahapan mencari informasi. Pada tahap ini konsumen yang memilki kebutuhan
    kemudian akan mendorong untuk mencari informasi yamg lebih banyak mengenai
    kebutuhan dan produk atau jasa yang dapat memenuhi kebutuhan.
  3. Evaluasi tahap alternatif. Pada tahapini, setelah mengumpulkan informasi, konsumen
    akan mengevaluasi dan melakukan persiapan akhir sebelum memilih produk alternatif.
  4. Tahap keputusan pembelian. Pada tahap ini, setelah konsumen mengevaluasi alternatif,
    konsumen memutuskan menentukan produk mana yang paling disukai dan mengarah
    pada keputusan pembelian.
  5. Tahap perilaku pasca pembelian. Pada tahap ini konsumen akan menunjukkan pola
    perilaku apakah mereka puas dengan produk atau jasa yang telah dikomsumsinya

Pengertian Keputusan Pembelian


Pada pembuatan keputusan pembelian, kualitas dari pelayanan adalah hal yang penting
untuk dipertimbangkan. Kualitas pelayanan yang diberikan oleh perusahaan, yaitu
bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi konsumen. Setiap menjalankan proses bisnis
baik barang maupun jasa, konsumen harus diberikan pelayanan yang baik karena kualitas
pelayanan memiliki hubungan yang erat dengan keputusan pembelian. Perusahaan dapat
mempertahankan usahanya dan mampu bersaing dengan pesaing lainnya apabila
memberikan pelayanan yang baik (Permatasari, 2017). Pelayanan konsumen yang baik dan
memuaskan harus menjadi misis utama di sektor jasa dimana kepuasan konsumen menjadi
utama.
Arifin (2017) dalam penelitiannya memiliki hasil bahwa kualitas pelayanan
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Hal ini
sejalan dengan penelitian Amrullah (2016) menemukan hubungan yang positif dan
signifikan secara persial antara variabel kualitas pelayanan dan variabel kualitas pembelian
yang mengandung makna bahwa semakin tinggi kualitas pelayanan yang diberikan, maka
konsumen cenderung untuk melakukan pembelian di perusahaan tersebut.

Citra Merek (Brand Image)


Citra merek atau brand image adalah kesan atau persepsi konsumen terhadap suatu
merek, yang mana informasinya bisa diperoleh dari pengalaman langsung menggunakan
produk dari merek tersebut atau secara tidak langsung melalui mendengar, melihat atau
mempelajarinya. Citra merek juga berkaitan erat dengan reputasi dan kredibiltas suatu
produk, yang nantinya akan dijadikan acuan bagi para konsumen untuk mencoba
menggunakan produk tersebut. Gaya hidup konsumen sekarang lebih cenderung membeli
produk dengan merek yang terkenal, karena adanya asumsi bawah produk dari merek
terkenal memiliki kualitas yang tidak diragukan, murah dicari, sehingga produk dari merek
yang terkenal lebih sering dipilih oleh konsumen dari pada merek yang tidak terkenal.
Untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas mengenai citra merek, berikut ini ada
beberapa pandangan dari para ahli mengenai citra merek.
Menurut Kotler & Keller (2016:330), defenisi citra merek adalah: brand image
describes the extrinsic properties of the product or service, including theways in whicthe
attempts to meet coustumer erp psychological or social needs. Yang artinya Brand Image
menggambarkan sifat ekstridisic dari suatu produk atau jasa termasuk cara dimana merek
berusaha memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan
Sedangkan menurut Bayu Prawiro Ni Nyoman Kerti (2013) citra merek adalah
persepsi dan keyakinan akan banyaknya sekumpulan asosiasi merek yang datang pada
pikiran setiap para konsumen. ( Aaker, dalam Aris Ananda, 2013:69). Terdapat empat
dimensi merek yaitu:

  1. Recognition
    Mencerminkan dikenalnya sebuah merek oleh konsumen berdasarkan past
    exposure recognation berarti konsumen mengingat akan adanya atau mengingat
    keberadaan dari merek tersebut. Recognation ini sejajar dengan Brand awareness. Brand
    awareness diukur dari sejauh mana konsumen akan mengingat suatu merek, tingkatnya
    dimulai dari brandunaware, brand recognition brand recall top of mind dan dominant
    brand.
  2. Reputation
    Reputation ini sejajar dengan perceived quality. Sehingga reputation meletakkan
    status yang cukup tinggi bagi sebuah merek karena dimata konsumen merek atau brand
    memiliki suatu track record yang baik.
  3. Affinity
    Affinity adalah emotional relationship yang timbul antara sebuah merek dan
    konsumennya. Affinity sejajar dengan asosial positif yang membuat seorang konsumen
    menyukai suatu produk atau jasa, pada umumnya asosiasi positif merek ( terutama yang
    membentuk brand image ) menjadi pijakan konsumen dalam keputusan pembelian dan
    loyalitasnya pada merek tersebut.
  4. Domain
    Domain menyangkut seberapa besar scope dari suatru produk yang mau
    mengunakan merek yang bersengkutan. Damain ini mempunyai hubungan yang erat
    dengan scale of scopei.
    Berdasarkan beberapa defenisi dari para ahli diatas maka dapat diartikan bahwa cira
    merek atau brand image merupakan gambaran dari produk atau jasa yang dipegang oleh
    konsumen termasuk gambaran mengenai kemampuan suatu produk dalam memenuhi
    kebutuhan psikologis atau sosial konsumen. Sedangkan berdasarkan dimensi-dimensi citra
    merek diats muka penulis menarik beberapa faktor yang relevan dalam penelitian ini :
  5. Recognition sejajar dengan brand aweraness yaitu seberapa besar suatu merek
    dikenal oleh masing-masing konsumen.
  6. Reputation sejajar dengan perceived quality yaitu seberapa besar konsumen
    menilai dari ukuran suatu produk dan persepsi konsumen terhadap kualitas suatu produk.
  7. Affinity adalah keadaan emosional yang membuat seorang konsumen memiliki
    asosiasi positif terhadap suatu merek

Indikator Harga


Menurut (Indrasari, 2019:42) ada lima indikator yang mencirikan harga yaitu:

  1. keterjaungkauan harga
    Keterjangkauan harga merupakan harapan konsumen dalam melakukan pembelian,
    biasanya konsumen mencari produk yang bisa dijangkau harganya.
  2. kesesuaian harga dengan kualitas produk
    Dalam produk tertentu biasanya tidak merasa keberatan terhadap hargfa mahal,
    asalkan kualitas dari produk tersebut baik. Tetapi, konsumen juga sering menginginkan
    produk dengan harga murah tapi kualitas bagus.
  3. Daya saing harga
    Biasanya perusahan akan mempertimbangkan terhadap penetapan harga sebuah
    produk dengan melihat harga yang diberikan oleh pesaingnya, sehingga produk dapat
    bersaing di pasar dan konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
    lain.
  4. Kesusaian harga dengan manfaat
    Konsumen akan melihat terlebih dahulu seberapa besar manfaat dari produk yang
    akan dibeli, jika manfaaat banyak maka konsumen akan membelinya, dan sebaliknya jika
    konsumen tidak merasakan manfaat dari produk tersebut akan memikirkan kembali
    keputusan pembeliannya.
  5. Harga dapat mempengaruhi dalam mengambil keputusan
    Ketiukan harga tidak sesuai dengan kualitas dan konsumen tidak merasakan
    manfaat produk atau jasa tersebut, konsumen akan mengambil keputusan untuk tidak
    melakukan pembelian ulang terhadap produk tersebut

Tujuan Penepatan Harga


Bagi produsen atau penjual, penepatan harga yang tepat pada produk akan
berdampak pada besarnya keuntungaan dan loyalitas konsumen. Tujuan penempatan harga
adalah sebagai berikut. (Setyaningsih, 2021):

  1. Untuk Mendapatkan Pangsa Pasar
    Tujuan penempatan harga sangat berhubungan dengan terget penjualan barang dan
    jasa. Sebagian bisnis menetapkan harga yang murah dan kualitas yang baik pada barang
    yang dijualnya dengan tujuan untuk mendapatkan pangsa pasar atau market share yang
    lebih besar. Umumnya pembeli lebih mementingkan produk dengan harga yang terjangkau
    dan tentunya kualitas yang terjamin. Namun prosedun tentunya tetap memperhitungkan
    keuntungan dari penjualan tersbut.
  2. Meningkatkan Konsumen
    Penemtapan harga juga bertujuan untuk meningkatkan atau memaksimalkan
    keuntungan yang diperoleh. Semakin tinggi harga maka potensi keuntungan akan semakin
    besar. Namun tentu saj strategi penepatan harga harus memperhatikan daya beli konsumen,
    dan faktor-faktor lainnya.
  3. Menjaga Loyalitas Konsumen
    Penepatan harga dilakukan dengan berbagai pertimbangan, salah satunya untuk
    menjaga loyalitas konsumen agar tetap membeli dari produsen tertentu. Tidak cukup
    mendapatkan pangsa pasar, pembisnis juga harus menjaga loyalitas para konsumennya.
    Dan salah satu caranya adalah dengan menetapkan harga yang bersaing, yaitu harga yang
    murah dan kualitas produk yang baik.
  4. Menjaga Daya Saing
    Suatu perusahaan umumnya selalu berusaha untuk menjaga persaingan dengan para
    market leader atau pemimpin di pasar tersebut. Salah satu untuk menjaga daya saing dengan
    kompetitor adalah dengan penepatan herga yang tepat, misalnya menawarkan harga sedikit
    lebih murah atau memberikan harga yang sama dengan layanan tambahan

Fungsi Harga


Harga memiliki fungsi sebagai alat ukur nilai suatu barang, cara membedakan suatu
barang, menentukan jumlah barang yang akan diproduksi dan pembagiannya kepada
konsumen. Harga secara umum (prawiro, 2018):

  1. Menjadi acuan dalam memperhitungkan nilai jual suatu barang atau jasa.
  2. Untuk membantu aktivitas transaksi, dimana harga yang sudah terbentuk akan
    mempermudah proses jual-beli.
  3. Penetapan harga yang tepat akan memberikan keuntungan bagi penjual atau produsen.
  4. Menjadi salah satu acuan bagi konsumen dalam menilai kualitas suatu barang atau
    jasa.
  5. Membantu konsumen dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan manfaat
    produk dan daya beli konsumen

Pengertian Harga


Menurut Kotler dan Amstrong dalam Krisdayanto (2018:3) Harga adalah sejumlah
uang yang dibayarkan atas jasa, atau jumlah nilai yang konsumen tukar dalam rangka
mendapatkan manfaat dari memiliki atau menggunakan barang atau jasa. Menurut Tjiptono
dan Candra dalam Priansa (2017:209) mengatakan bahwa Harga merupakan bagian yang
melekat pada produk yang mencerminkan seberapa besar kualitas produk tersebut.
Menurut Habibah & Sumiati (dalam Melati dan Dwijayanti, 2020). Harga
merupakan jumlah nilai yang termasuk barang dan layanan yang ditawarkan guna
pengganti benda. Sedangkan menurut Riyono dan Budiharja (dalam Melati dan Dwijayanti,
2020) harga merupakan sesuatu yang dijadikan untuk pertukaran barang atau jasa oleh
konsumen

Indikator Kualitas Produk


Menurut (Asman Nasir, 2021) yang dapat simpulkan bahwa ada beberapa indikator
kualitas produk sebagai beriku:

  1. Produk dalam berapa lama dalam penggunaan produk dapat kita gunakan sebagai
    perbaikan produk yang Perfomance, yaitu suatu adanya berkaitan dengan kualitas
    barang yang dapat menggambarkan bagaimana keadaan sebenarnya atau apakah cara
    pelayann dengan baik atau belum.
  2. Range and type of features, yaitu suatu adanya berkaitan dengan sebuah fungsi
    terdapat dari produk atau pelanggan yang sering kali berbelanja produk yang memiliki
    keistimewaan atau kemampuan yang akan dimiliki produk dan pelayanan tersebut.
  3. Realibility atau durability, merupakan sebuah adanya berkaitan dengan kehandalan
    diperlukan.
  4. Sensory Characteristic, yang menjelaskan dengan penampilan, corak, dayantarik,
    variasi pada suatu produk dan juga beberapa faktor yang dapat menjadi sebuah
    kualitas yang penting dalam sebuah aspek tersebut.
  5. Ethical profile and image, yang dapat berkaitan dengan adanya bagian terbesar dari
    kesan seorang pembeli kepada sebuah produk dan pada pelayanaan perusahaan

Dimensi Produk


Menurut Kotler dan Keller (2016:164), ada beberapa diferensiasi produk yang harus
diperhatikan oleh setiap produsen untuk mengejar kepuasan pelanggan, antara lain:

  1. Form (Bentuk)
    Form mengacu pada ukuran, bentuk, atau struktur fisik suatu produk. Sebagai
    contoh, aspiran dapat dibedakan berdasarkan ukuran dosis, bentuk, warna,
    pelapisan, atau waktu tindakan.
  2. Features (Fitur)
    Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan berbagai fitur yang dilengkapi
    dengan fungsi dasar mereka. Perusahan dapat mengindentifikasi dan memili fitur
    baru dengan menaklukan survey terhadap pembeli baru dan kemudian mengitung
    nilai pelangggan beserta biaya perusahaan untuk fitur potensial. Pemasar harus
    mempertimbangkan berapa banyak yang menginginkan setiap fitur, berapa lama
    waktu yang dibutuhkan untuk memperkenalkan itu, dan apakah pesaing dapat
    dengan mudah menyalinya.
  3. Performance Quality (Kualitas Kinerja)
    Kualitas kinerja adalah tingkat dimana karakteristik utama produk bereporasi.
    Perusahaan harus merancang tingkat kinerja yang sesuai dengan target pasar dan
    persaingan mengelolah kinerja kulitas melalui waktu.
  4. Conformance Quality (Kesesuaian Kualitas)
    Pembeli mengharapkan kesesuaian yang tinggi, sejauh mana semua unit yang
    diproduksi indentik dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan. Produk dengan
    kesesuaian kualitas yang rendah akan mengecewakan beberapa pemnbeli.
  5. Durability (Daya Tahan)
    Durability adalah ukuran umur operasi produk yang diharpkan di bawah kondisi
    alami atau kerusakan, durability merupakan atribut yang berharga untuk ketahanan
    produk. Harga ekstra untuk daya tahan produk seharusnya tidak terlalu mahal, dan
    produk tidak boleh tertinggal oleh perkembangan teknologi yang cepat.
  6. Reliability (Perkenalan)
    Pembeli biasanya akan membayar premi untuk kendala khusus pada suatu produk
    sebagai ukuran probabilitas bahwa suatu produk tersebut tidak akan mengalami
    kegagalan fungsi atau gagal dalam periode yang ditentukan.
  7. repairability (Kemudahan Perbaikan)
    Repairability mengukur kemudahan dalam memperbaiki produk ketika produk
    gagal berfungsi. Perbaikan yang ideal akan ada jika penggunadapat memperbaiki
    produk sendiri dengan sedikit biaya dan waktu.
  8. Style (Gaya)
    Style menggabarkan tampilan dan nuansa produk kepada pembeli dan menciptakan
    ciri khas yang sulit untuk ditiru, walaupun style yang kuat tidak berarti kinerja
    tinggi. Style memainkan peran penting dalam pemasaran pada banyak merek,
    seperti table Apple.
  9. Customzation (Kustomisasi)
    Produk custom dan pemasaran yang disesuaikan memungkinkan perusahaan untuk
    menjadi sangat relevan dan berbeda dibandingkan yang lain dengan mencari tahu
    persis apa yang diinginkan seseorang dan mewujudkannya. Produk custom
    contohnya seperti M &M dengan pesanan khusus den mantel Burberry kain dan
    aksesori pilihan pelanggan.

Tingkat Produk


Menurut Kotler dan Keller (2016:163) produk memiliki lima tingkatan, diantarnya:

  1. Core Benefit
    Layanan atau manfaat yang benar-benar dibeli pelanggan.
  2. Basic Produtc
    Pemasar harus mengubah manfaat ini menjadi produk dasar.
  3. Expected product
    Serangkaian atribut dan ketentuan yang biasanya diharapkan pembeli ketika mereka
    membeli produk ini.
  4. Augmented Product
    Pemasar menyiapkan produk yang melebihi harpan pelangga.
  5. Pontetial Product
    Yang mencakup semua kemungkinan dan tranformasi yang mungkin dialami
    produk atau penawaran di di masa depan

Klasifikasi Produk


Produk yang tersedia di pasar sangat beranekaragam. Setiap produk memiliki ciri
masing-masiing dalam hal itulahyang menjadikan suatu produk terlihat unik dan berbeda
dari yang lain. Produk dapat menjadi beberapa kelompok yaitu berdasarkan wujudnya.,
berdasarkan aspek daya tahan produk dan berdasarkan kegunannya. Menurut Kotler dan
Koller (2016:164), klasifikasi produk diantaranya:

  1. Klarsifikasi Produk Berdasatkan Daya Tahannya
    a. Nondurable goods (Barang tidak tahan lama)
    Barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali
    penggunaan, seperti bir dan shampoo.
    b. Durable goods (Barang tahan lama)
    Barang berwujud yang dapat bertahan untuk pemakaian yang berulang-ulang,
    contohnya seperti, kulkas, peralatan besin, dan pakian.
  2. Klasifikasi Produk Berdasarkan Kegunaannya
    Berdasarkan kegunaanya produk diklasifikasikan menjadi dua yaitu:
    1.) Consumers Goods (Barang Konsumsi)
    Barang konsumsi merupakan suatu produk yang langsung dapat dikonsumsi
    tanpa memalui pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat dari produk
    tersebut. Barang konsumsi adalah barang yang dikonsumsi untuk kebutuhan
    konsumen akhir (individu dan rumah tanggan), bukan untuk tujuan bisnis. Pada
    umumnya barang konsumen dibedakan menjadi empat jenis.
    a. Convenience Goods (Barang Kenyamanan)
    Convenience goods biasanya adalah barang yang paling sering dibeli oleh
    konsumen dan untuk membelinya pun tidak mengeluarkan usaha yang besar.
    Contohnya adalah minuman bersoda, sabun, dan koran.
    Convenience goods sendiri masih dapat dikelompokan menjadi tiga jenis, yaitu
    staples, impulse goods, dan emergency goods.
  • Staples adalah barang yang dibeli konsumen secara teratur.seorang pembeli
    mungkin saja membeli saus tomat, past gigi, dan biskuit secara teratur.
  • Impulse goods adlaah barang yang dibeli tampa direncanakan terlebihg
    dahulu, seperti permen dan majalah.
  • Emergency goods adalah barang yang dibeli pada saat dibutuhkan atau
    sedang terdesak, contohnya payung yang dibutuhkan pada saat hujan.
    b. Shoppiing Goods (Barang Belanja)
    Shopping goods adalah barang-barang yang secara karakteristik konsumen
    bandingkan secara teliti seperti kesesuaian, kualitas, harga, dan gaya.
    Contohnya furnitur, pakian, danperalatan utama.
    Shoping goods terdiri dari dua jenis, yaitu barang belanjaan homogen dan
    heterogen.
  • Homogeneous shopping goods (Barang belanja yang homogen) memiliki
    kualitas yang serupa tetapi harganya cukup berbedea untuk perbandingan
    belanja. Contoh tape recorder dan TV.
  • Heterogeneous shopping goods (Belang belanja heterogen) berbeda dalam
    fitur produk dan layanan yang mungkin lebih penting daripada harga.
    c. Specialty Goods (Barang Khusus)
    Specialty goods meliki karakteristik unik atau identifikasi merek yang cukup
    banyak sehinggan banyak pembeli yang bersedia melakukan upaya
    pembelian khusus. Contohnya termasuk mobil, komponen audio-audio, dan
    setelan jas pria.
    d. Unsought Gooods (barang yang tidak dicari)
    Unsought Goods adalah barang yang tidak diketahui konsumen atau
    biasanya tidak dipikirkan untuk dibeli. Contohnya adalah asuransi jiwa, plot
    pemakamaan, dan batu nisan.
    2.) Industrial Goods (Barang Industri)
    Barang industri merupakan jenis produk yang masih memerlukan pemrosesan
    lebih lanjut untuk mendapatkan suatu manfaat tertentu. Pemrosesan tersebut
    memberikan nilai tambah bagi suatu produk. Biasanya hasil pemrosesan dari
    barang industri diperjual belikan kembali. Semakin banyak manfaat yang
    ditambahkan, barang tersebut akan semakin memiliki harga yang tinggi, begitu
    pula sebaliknya.
    Klasifikasi barang produksi dibagi menjadi tiga, diantaranya:
    a. Materials and parts (Bahan baku dan suku cadang)
    Materials and parts adalah barang yang sepenuhnya masuk nke produk
    pabrikan. Mereka terbagi dalam dua kelas: bahan baku dan bahan
    manufaktur dan suku cadang.
    b. Capital item’s (Barang modal)
    Capital item’s adalah barang tahan lama yang memfasiltasi pengembangan
    atau pengelolaan produk jadi.
    c. Supply and Businenss Survice ( Layanan bisnis dan pasokan)
    Supply and business service adalah barang dan jasa jangka pendek yang
    memfasilitasi pengembangan atau pengelolaan produk jadi. Persediaan
    terdiri dari dua jenis: peralatan untuk perawatan dan peralatan untuk
    perbaikan.

Pengertian Kualitas produk


Produk merupakan inti dari sebuah kegiatan pemasaran kerena produk merupakan
output atau hasil dari salah satu kegiatan atau aktivitas perusahaan yang dapat ditawarkan
ke pasar sasaran untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Pada dasarnya
dalam membeli suatu produk, seorang konsumen tidak hanya membeli suatu produk, akan
tetapi konsumen juga membeli manfaat atau keunggulana yang dapat diperoleh dari produk
yang dibelinya.oleh karena itu, suatu produk harus memiliki keunggulan produk-produk
yang lain, salah satunya dari segi kualitas produk yang ditawarkan. Kualitas produk
merupakan salah satu kunci persaingan diantara pelaku usaha yang ditawarkan kepada
konsumen.
Menurut Kotler dan Armstrong (2015:253) kualitas produk adalah karakteristik dari
suatu produk atau layanan yang bergantung pada kemampuannya untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan yang tersirat atau tersurat

Pengertian Produk


Produk merupakan titik pusat dari kegiatan pemasaran karena produk merupakan
hasil dari suatu kegiatan perusahaan yang dapat ditawarkan kepasar untuk dibeli, digunakan
atau dikonsumsi yang tujuannya untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen.
Menurut Kotler dan Armstrong (2017:244) produk didefinisikan sebagai apa pun
yang dapat ditawarkan ke pasar untuk mendapatkan peratian, akuisisi, penggunaan, atau
konsumsi yang mungkin memuaskan keinginan atau kebutuhan. Produk mencakup lebih
dari sekedar benda berwujud, seperti mobil, pakian, atau ponsel. Didefinisikan secara luas,
produk juga termasuk layanan, acara, orang, tempat, organisasi, dan ide atau campuran dari
ini.
Menurut Fandy Tjiptono (2015:231) produk adalah sebagai pemahaman subyektif
produsen atas ‘sesuatu’ yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan
organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan
kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli pasar

Definisi Keberlangsungan Usaha


Menurut Widayanto, et.al (2020) bahwa keberlangsungan usaha
(going concern) adalah kemampuan perusahaan untuk dapat
mempertahankan kelangsungan hidup usahanya. Suatu perusahaan akan
terus berlangsung kecuali pemilik bermaksud untuk melikuidasi usaha
tersebut atau menghentikan operasinya, atau tidak memiliki atau alternatif
lain kecuali melakukan hal-hal tersebut, melalui konsep going concern ini,
suatu perusahaan diasumsikan akan mampu mempertahankan kegiatan
usahanya selama-lamanya.
Perusahaan yang dapat mempertahankan keberlangsungan usahanya
akan dapat mempertahankan pangsa pasar, kapasitas produksi, dan kondisi
keuangannya atau bahkan dapat ditingkatkan. Sementara itu perusahaan
yang kinerjanya kurang baikmempunyai beberapa ciri, Standar Profesional
Akuntan Publik (SPAP) pada sekso 341 (Institusi Akuntan Publik
Indonesia, 2016) membahas berbagai macam faktor yang dapat
mempengaruhi kelangsungan usaha suatu unit usaha, sebagai berikut:
a. Kerugian usaha secara berulang-ulang atau kekurangan modal kerja.
b. Ketidakmampuan suatu unit usaha untuk membayar kewajiban pada
saatnya.
c. Kehilangan pelanggan utama.
d. Terjadi bencana yang tidak diasuransikan seperti gempa bumi atau
banjir yang merugikan asset perusahaan.
e. Masalah perburuhan seperti pemogokan kerja buruh.
f. Perkara pengadilan, atau masalah serupa yang telah terjadi yang
membahayakan kemampuan perusahaan untuk dapat beroperasi.

Karakteristik Jasa


Menurut Fandy Tjiptono (2011:136) bahwa karakteristik utama
yang membedakan barang dan jasa. Jasa memiliki empat karakteristik jasa
yaitu:

  1. Intagibility
    Jasa bersifat intangibility, yaitu tidak dapat melihat, diras, dicium,
    didengar,atau diraba sebelum dibeli sebelum dibeli dan dikonsumsi
    dan dipahami secara rohaniah. Sesorang tidak dapat menilai
    kualitas pelayanan sebelum mereka menggunakan/merasakannya
    sendiri. Konsumen hanya menggunakan, memanfaatkan atau
    menyewa layanan tersebut. Untuk mengurangi keraguan, setiap
    konsumen harus lebih memperhatikan kualitas yang dibeli. Mereka
    akan mengetahui kualitas pelayanan dari tempat, orang, peralatan,
    bahan-bahan komunikasi, symbol serta harga yang mereka amati.
  2. Inperability
    sebuah barang yang diproduksi, kemudia dijual setelah itu
    dikonsumsi. Sedangkan Jasa di lain pihak, pada umumnya dijual
    terlebih dahulu, setelah itu baru diproduksi dan digunakan secara
    bersamaan. Komunikasi antara penyedia jasa dan konsumen
    merupakan karakteristik khusu dalam pemasaran jasa. hasil dari
    jasa tersebut mempengaruhi hasil dari kedua pihak. Hubungan antar
    penyedia jasa dan konsumen, unsur penting dalam efektivitas
    individu yang menyampaikan jasa (contact-personel). Proses
    rektutmen, kompensasi, pelatihan dan pengembangan karyawam
    merupakan kunci keberhasilan bisnis jasa.
  3. Variability
    Non-standardized adalah jasa yang bersifat sangat variabel, yang
    berarti banyak variabel bentuk, kualitas dan jenis, tergantung pada
    siapa, kapan, dan dimana jasa tersebut dihasilkan. Sebelum
    memutuskan untuk memilih mereka meminta pendapat orang lain
    karena setiap pembeli jasa sangat peduli dengan variabilitas yang
    tinggi. Penyedia jasa dapat melakukan tiga tahap dalam
    pengendalian kualitasnya:
    a) Melakukan pelatihan personil yang baik dalam investasi
    b) Melakukan standarisasi proses pelaksanaan jasa (service-
    performance process). Jasa yang menggambarkan peristiwa
    dan proses jasa dalam suatu diagram alur dapat dilakukan
    dengan menyiapkan cetak biru, dengan maksud untuk
    mengetahui apa saja faktor-faktor potensial yang dapat
    menyebabkan kegagalsn dalam jasa tersebut.
    c) Membantu memberi kepuasan konsumen melalui sistem
    masukan dan keluhan yang dirasakan oleh konsumen,
    mendatangi konsumen, dan comparison shopping, sehingga
    pelayanan yang kurang baik dapat diketahui.
  4. Perishability
    Jasa adalah barang tidak tahan lama dan tidak dapat disimpan.
    Seperti kursi kereta api yang kosong, kamar hotel yang tidak ada
    penghuni atau jam tertentu tanpa pasien ditempat seorang dokter,
    maka akan hilang begitu jasa dan tidak bisa disimpan untuk
    digunakan diwaktu lain. Ketika permintaan berfluktuasi berbagai
    masalah muncul terkait dengan kapasitas menganggur (ketika
    permintaan rendah) dan konsumen tidak melayani dengan resiko
    kecewa atau beralih ke penyedia jasa (pada saatpermintaan naik)

Ciri-Ciri Pelayanan Yang Baik


Pelayanan yang baik memiliki karakteristik tersendiri dan hampir
semua perusahaan menggunakan kriteria yang sama untuk membentuk
kharakteristik pelayanan yang baik. Terdapat beberapa faktor pendukung
yang secara langsung mempengaruhi kualitas pelayanan yang diberikan.
Berikut ini beberapa ciri pelayanan yang baik yang harus diikuti oleh
karyawan dalam melayani konsumen yaitu: (Zulkarnain, et al:2020)

  1. Tersedia karyawan yang baik
  2. Tersedianya sarana dan prasaranan yang baik
  3. Bertanggung jawab kepada konsumen
  4. Mampu melayani konsumen dengan cepat tanggap
  5. Mampu berkomunikasi
  6. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi
  7. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik
  8. Berusaha memahami kebutuhan konsumen
  9. Mampu memberikan kepercayaan kepada konsumen

Dimensi Kualitas Pelayanan


Menurut Parasuraman dalam Jasfar (2012:51), terdapat lima dimensi
Kualitas pelayanan atau jasa sebagai berikut:

  1. Tangibles (Bukti Langsung)
    Tangiles merupakan bukti nyata kemampuan sebuah perusahaan
    dalam memberikan penyedia jasa yang terbaik bagi konsumen. Baik
    dilihat dari kualitas fisik, fasilitas pada perlengkapan teknologi yang
    mendukung hingga penampilan dari karyawan.
  2. Reliability (Kehandalan)
    Realiability merupakan kemampuan perusahaan dalam mewujudkan
    yang diharapkan sesuai dengan keinginan dari konsumen
    tersebut.terkait dengan kecepatan, ketepatan waktu, tidak ada kesalahan
    dan lain sebagainya. Karena jika perusahaan tidak dapat memberikan
    sesuai keinginan maka kepuasan konsumen akan menurun.
  3. Responsiveness (Daya Tanggap)
    Responsivenees adalah suatu kemampuan harus dimiliki
    perusahaan yang dilakukan langsung oleh karyawan untuk
    menyediakan pelayanan yang sesuai dengan keinginan konsumen dan
    melakukan pelayanan dengan cepat dan tanggap.
  4. Assurance (Jaminan)
    Assurance adalah kepastian yang harus diperoleh dari sikap sopan
    santun karyawan untuk membangun kepercayaan konsumen dengan
    memberikan jaminan atau kepastian kepada konsumen supaya mereka
    tidak merasa khawatir dengan jasa yang ditawarkan.
  5. Emphaty (Kepedulian)
    Emphaty adalah kemampuan perusahaan dalam memberikan
    perhatian kepada konsumen baik secara individu, termasuk kepekaan
    akan kebutuhan konsumen.

Indikator Kualitas Pelayanan.


Menurut Tjiptono (2019:77) dalam mengevaluasi layanan yang
bersifat tangible, variable, inseparable,dan perishable, pelanggan umumnya
menggunakan beberapa atribut atau faktor:

  1. Bukti fisik (tangible), meliputi bukti fisik, perlengkapan, pegawai
    dan saranan komunikasi.
  2. Keandalan (reliability), merupakan kemampuan setiap pelaku usaha
    dan pegawai memberikan pelyanan yang dijanjikan dengan segera,
    akurat dan memuaskan.
  3. Daya Tanggap (responsiveness), yaitu keinginan setiap pelaku usaha
    dan karyawan memberikan pelayanan dengan tanggap untuk
    membantu setiap konsumen.
  4. Jaminan (assurance) mencakup pengetahuan, kemampuan,
    kesopanan, dan sifat yang dapat dipercaya yang dimiliki oleh para
    pelaku usaha dari keraguan .
  5. Empati (empathy), yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan
    kepada konsumen dengan komunikasi yang baik, perhatian pribadi
    dan memahami kebutuhan

Pengertian Kualitas Pelayanan


Kata “Kualitas” banyak mengandung definisi dan makna karena
setiap orang akan mengartikan dengan berbeda, seperti kesesuaian dengan
persyaratan atau tuntutan, kecocokan dalam pemakaian berkelanjutan,
terbebas dari kerusakan , memenuhi kebutuhan konsumen, melakukan
segala hal yang bisa membahagiakan (Tjiptono dan Chandra (2012:2).
Menurut Gronroos dalam Jasfar (2012:15) bahwa Jasa adalah suatu
fenomena yang sulit. Arti jasa memiliki arti yang banyak dan ruang lingkup,
dari pengertian yang sederhana, yaitu hanya berupa pelayanan dari sesorang
terhadap orang lain, dapat diartikan sebgai yang diberikan dari mulai
pelayanan oleh manusia, baik yang bisa dilihat (eksplisit service)ataupun
yang tidak bisa dilihat, tetapi hanya bisa dirasakan (implisit service)
mencapai pada fasilitas-fasilitas pendukung yang masih tersedia dalam
berbagai penjualan jasa dan benda-benda lainnya.
Menurut Ratih Hurriyatih (2013:27) bahwa pelayanan merupakan
setiap tindakan atau kinerja yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak
lain yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak menyebabkan
perpindahan kepemilikan. Selanjutnya dalan buku Rambat Lupiyoadi
(2014:7) bahwa pelayanan merupakan suatu kegiatan yang ditawarkan oleh
satu pihak ke pihak lain pada dasarnya sulit dipahami dan tidak
menghasilkan pertukaran kepemilikan apapun.
Menurut Buchari alma (2011:243) layanan merupakan setiap tindakan
atau kegiatan yang dapat diketahui secara tidak berwujud, ditawarkan untuk
memenuhi kebutuhan konsumen, jasa dapat dihasilkan dengan
menggunakan benda berwujud maupun tidak berwujud.
Menurut Kotler dalam Nasution (2015:6) bahwa pelayanan
merupakan suatu tindakan atau langkah yang dapat ditawarkan kepada satu
pihak ke pihak yang lain, dasarnya tidak berwujuduh fisik atau intagiable
dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun, mungkin produk jasa dapat
berkaitan atau tidak dengan produk fisik.
Menurut Martiana dan Apriani (2019) bahwa kualitas pelayanan
adalah upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan
dan keinginin konsumen sesuai dengan yang diharapkan konsumen
sehingga konsumen merasa puas dengan kualitas pelayanannya.
Selanjutnya menurut Sugita et al (2017) bahwa kualitas pelayanan
merupakan segala bentuk aktifitas yang dilakukan oleh perusahaan untuk
memenuhi harapan konsumen, layanan dapat diartikan sebagai jasa yang
disampaikan oleh pemilik berupa hubungan, kecepatan dan
keramahatamahan dengan sifat ini dapat mmberikan pelayanan dan
kepuasan konsumen

Perspektif Kualitas Produk


Menurut Tjiptono dan Chandra, (2016:117) bahwa perspektif
produk diklasifikasikan dalam lima kelompok yaitu: transcendental
approach, product-based approach, user based approach, manufacturing-
based approach, dan value-based approach. Semua perspektif ini dapat
menjelaskan mengapa pelanggan menginterpretasikan kualitas secara
berbedan dalam konteks yang berlainan .

  1. Transcendental Approach
    Perspektif ini menjelaskan bahwa kualitas dapat dinilai dari apa
    yang dirasakan atau diketahui, namun sulit untuk dijelaskan,
    dirumuskan atau dioperasionalkan. Perspektif ini menegaskan
    bahwa setiap orang dapat memahami kualitas melalui berbagai
    macam pengalaman dari ekspor produk berkali-kali.
  2. Product-based Approach
    Perspektif ini mengasumsikan bahwa kualitas adalah objektif atribut
    yang saat dikuantitatifkan dan dapat diukur. Unsur atau atribut yang
    dimiliki produk mencerminkan perbedaan kualitas. Sebab perspektif
    ini sangat objektif, maka kelemehannya tidak bisa menjelaskan
    perbedaan yang selera, kebutuhsn atau segmen pasar terntentu.
  3. User-Based Approach
    Rancangan ini didasarkan atas pemikiran bahwa penilaian kualitas
    tergantung orang lain, sehingga produk yang memiliki kualitas
    paling tinggi sangat memuaskan preferensi seseorang. Perspektif
    yang bersifat subjektif dan demand-oriented ini juga mengatakan
    bahwa setiap konsumen memiliki kebutuhan dan keinginan masing-
    masing yang berbeda dengan yang lainnya, sehingga kualitas bagi
    seseorang adalah sama dengan kepuasan maksimum yang dirasakan.
    Apabila seseorang menilai produk tersebut baik belum tentu orang
    lain mengatakan kualitas itu baik.
  4. Manufacturing-based Approach
    Perspektif ini bersifat supply-based dan lebih berfokus pada praktik-
    praktik perekayasaan dan pemanufakturan, serta mendefinisikan
    kualitas sebagai kecocokan dengan persyaratan. Dalan konteks
    bisnis kualitas memiliki sifat operations-drivren. Penyesuaian
    spesifikasi produk dan operasi yang disusun secara internal
    menekankan ancaman semacam ini, yang dipicu oleh keinginan
    untuk meningkatkan produktivitas dan menekankan biaya. Jadi,
    yang bisa menentukan kualitas yaitu standar-standar yang telah
    ditetapkan pelanggan, bukan kepada pelanggan yang membeli dan
    menggunakan produk tersebut.
  5. Value-based Approach
    Aspek nilai (value) dan harga (price) termasuk rancangan kualitas.
    Dengan mempertimbangkan Trade-off antara kinerja dan harga,
    kualitas diartikan sebagai affordable excellence. Kualitas dalam
    perspektif ini bersifat relative, sehingga produk yang memiliki
    kualitas tinggi belum tentu memiliki produk yang bernilai. Akan
    tetapi, apabila konsumen yang membeli baranf atau jasa yang paling
    tepat akan paling bernilai.

Implikasi Kualitas Produk


Menurut Heizer dan Render (2012:223) menyatakan bahwa kualitas
adalah suatu hal yang sangat penting bagi operasional perusahaan. Selain
operasional perusaan kualitas juga memiliki implikasi yang lain yaitu:

  1. Reputasi Perusahaan
    Untuk brand yang baru, ketika konsumen merasa puas dengan produk
    yang baik maka reputasi perusahaan akan naik. Jika reputasi
    perusahaan terbangun dengan baik, konsumen akan percaya dengan
    produk baru yang dikerluarkan karena perusahaan tersebut sudah
    memiliki kualitas yang baik.
  2. Pertanggungjawaban Produk
    Semakin banyak meningkatnya suatu produk, maka perusahaan akan
    dituntut untuk mempertanggungjawabkan segala produk yang dijual
    supaya dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan sekaligus
    memberikan kepuasan kepada pelanggan.
  3. Penurunan Biaya
    Kualitas produk yang semakin baik, maka semakin efektif dan efisien
    juga proses produk. Karena dengan memberikan proses produk yang
    baik perusahaan akan semakin jarang menghasilkan produk yang gagal
    atau cacat. Quality control yang ketat akan mengurangi biaya sehingga
    perusahaan focus memproduksi produk sesuai dengan yang diharapkan
    oleh pelanggan.
  4. Peningkatan Pangsa Pasar
    Penurunan biaya akan mempengaruhi harga jual produk juga semakin
    murah, namu jika perusahaan tetep memiliki kualitas yang baik. Karena
    kualitas produk yang baik dan harga murah maka semakin jauh produk
    dalam menjangkau pasar. Hal ini akan memperluas pangsa pasar
    perusahaan.
  5. Dampak Internasional
    Kualitas produk yang semakin bagus, maka pangsa pasar yang dimiliki
    oleh perusahaan akan semakin besar, bahkan bisa memperoleh tahap
    internasional. Sebab itu, perusahan tidak hanya memenuhi standar
    kualitas local, akan tetapi standar kualitas internasional supaya produk
    dapat bersaing secara internasional.

Pengembangan Produk


Menurut Oentoro (2012:134) mengungkapkan bahwa barang yang
diterima di pasar dapat memberikan nilai tambah pada setiap perusahaan
atau dapat memimpin pasar dengan segmen tertentu. Berikut dalam
pengembangan produk untuk tercapainya hal tersebut terdiri dari beberapa
tahap sebagai berikut:

  1. Pencarian Ide Produk
    Mecari ide produk sesuai dengan tujuan perusahaan
  2. Menyaring Ide Produk
    Ketika memperoleh banyak ide produk, maka sebaiknya dipikirkan
    lebih matang lagi produk mana yang terbaik untuk direkomendasikan
    serta sesuai dengan tujuan dan kondisi perusahaan.
  3. Analisis Bisnis
    Perusahaan harus melakukan perkiraan pada produk tersebut seperti
    berapa besar perkiraan biaya produksi serta investasinya, seberapa
    besar peluang pasarnya. Seberapa perkiraan laba yang akan didapatkan,
    seberapa besar tingkat kepuasaan pelanggan dan lain sebagainya.
  4. Pengembangan produk
    Apabila ide yang dipilih sudah layak maju ke tahan selanjutnya, maka
    dilakukan percobaan untuk dilakukan uji kelayakan bisnis, produk diuji
    coca secara internal melalui perusahaan sendirimaupun perusahaan lain
    yang berkompeten dibidang tersebut.
  5. Uji Coba Pemasaran
    Ketika sudah menguji beberapa sampel segmentasi pasar yang
    memungkinkan akan dituju oleh perusahaan
  6. Komersialisasi Produk
    Tahap akhir yaitu memasarkan dengan menawarkan produk tersebut ke
    pelanggan yang telah dipilih perusahaan . produk baru harus selalu
    dilakukan pengecekan sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan produk
    berikutnya supaya mampu menghasilkan laba yang maksimal

Tingkatan Produk


Menurut Sangadji (2013:15) terdapat lima tingkatan produk antara lain:

  1. Manfaat inti, adalah sebuah produk yang memiliki manfaat dasar dapat
    dikonsumsi oleh pelanggan. Seperti perusahaan perhotelan dengan
    menawarkan produk yang memiliki manfaat utamanya yaitu untuk
    istirahan dan tidur.
  2. Produk dasar, adalah suatu produk dalam bentuk dasar yang dapat
    dikonsumsi pelanggan. Seperti kain.
  3. Produk yang diharapkan merupakan serangkaian atribut produk serta
    suatu kondisi-kondisi yang biasa diinginkan dan diterima pelanggan
    saat mereka membeli suatu barang. Seperti baju, celana, sepatu, sandal,
    tas dan lain sebagainya.
  4. Produk yang ditingkatkan merupakan produk yang sudah dalam
    perubahan sedemikian rupa sehinggan barang yang ditawarkan berbeda
    dengan barang pesaing. Seperti sepatu merek Adidas, baju merek
    Gucci, celanan merek Levi’s, dan lain sebagainya.
  5. Produk potensial, adalah sebuah produk yang dialami perubahan
    bentuk di masa sekarang. Seperti, mobil klasik, emas, saham dan lain
    sebagainya.

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Tjiptono (2015:315) menjelaskan bahwa dimensi kualitas
produk ini meliputi 8 dimensi yang terdiri dari :

  1. Hasil kinerja (Performance)
    Merupakan karakteristik operasi pokok dari produk inti (core
    product) yang dibeli kinerja dari produk yang memberikan manfaat
    bagi konsumen yang mengkonsumsi sehingga konsumen dapat
    memperoleh manfaat dari produk yang telah dikonsumsi. Untuk setiap
    produk atau jasa, dimensi performance bisa berlainan tergantung pada
    functional value yang telah dijanjikan oleh perusahaan. Dalam bisnis
    makan, dimensi kinerja dapat dilihat dari rasa yang enak.
  2. Ciri-Ciri atau Keistimewaan Tambahan (Features)
    Yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap dari produk ini
    keistimewaan tambahan produk juga dapat dijadikan ciri khas yang
    membedakan dengan produk pesaing yang sejenis. Ciri khas yang
    ditawarkan juga dapat mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen
    terhada suatu produk.
  3. Keandalan (Raliability)
    Yaitu keandalan sebuah produk merupakan ukuran kemungkinan
    kecil terhadap suatu produk tidak akan rusak atau gagal. kerusakan
    tingkat risiko kerusakan produk, menentukan tingkat kepuasan
    konsumen yang diperoleh dari suatu produk. Semakin besar risiko yang
    diterima oleh konsumen terhadap produk, semakin kecil tingkat
    kepuasan yang diperoleh konsumen.
  4. Kesesuaian dengan Spesifikasi (Conformance to Specfication)
    Yaitu kesesuaian kinerja dan kualitas produk dengan standar yang
    dinginkan oleh produsen yang sesuai dengan perencanaan perusahaan
    yang berarti produk-produk yang mayoritas sesuai dengan keinginan
    pelanggan. Pada dasarnya, setiap produk memiliki standar ataupun
    spesifikasi yang telah ditentukan. Karakteristik desain operasi
    memenuhi standar-sandar yang telah ditetapkan sebelumnya.
  5. Daya Tahan (Durability)
    Yaitu berkaitan dengan berapa lama produk tersebut bisa dapat
    digunakan dan dapat didefinisikan sebagai ukuran usia operasi produk
    yang diharapkan dalam kondisi normal
  6. Kemampuan melayani (Serviceability)
    Yaitu meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah
    direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan. Dapat
    didefinisikan apabila terjadi kerusakan atau gagal pada produk, maka
    dapat diartikan jika ada produk yang mengalami gagal atau rusak maka
    kesiapan dalam perbaikan produk tersebut diandalan sehingga
    konsumen tidak ada yang merasa dirugikan
  7. Estetika (Asthetics)
    Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera dapat dilihat dari
    bentuk fisik, warna, model atau desain, rasa, aroma dan lain-lain. Maka
    konsumen akan tertarik terhadap suatu produk ketika melihat tampilan
    awal.
  8. Kualitas yang Dirasakan (perceived quality)
    Yaitu persepsi konsumen terhadap kualitas produk atau
    keunggulan dari produk tersebut. Bilamana kurang memahami ciri-ciri
    produk yang dibeli maka konsumen akan mempersepsikan baik dari
    segi harga, merek dan negara pembuat.

Indikator Kualitas Produk


Terdapat beberapa tolak ukur kualitas produk menurut Kotler dan
Keller (2012:8), terdiri dari

  1. Bentuk yaitu sebuah produk dapat meliputi ukuran, atau struktur.
  2. Fitur yaitu melengkapi fungsi dasar produk.
  3. Penyesuaian yaitu menyesuaikan dengan keinginan konsumen.
  4. Kualitas kerja yaitu dimensi yang paling penting ketika perusahaan
    menerpkan sebuah model dam memberikan kualitas yang tinggi.
  5. Kualitas kesesuaian yaitu produkdi yang memenuhi spesifikasi yang
    dijanjikan
  6. Ketahanan yaitu ukuran atau umur suatu produk dalam kondisi biasa
    atau penuh tekanan
  7. Keandalan yaitu memngkinkan tidak mengalami kegagalan pada
    produk
  8. Kemudahan perbaikan yaitu kemudahan ketika produk tidak
    berfungsi
  9. Gaya yaitu penampilan dan rasa produk tersebut
  10. Desain yaitu mempengaruhi tampilan atau fungsi produk
    berdasarkan kebutuhan

Tujuan Produk


Menurut Oentoro (2012:111), tujuan produk yang diproduksi untuk
mencapai persaingan sebagai berikut:

  1. Fitur produk merupakan sebuah produk yang memiliki karakteristik
    sifat yang berbeda.
  2. Manfaat produk merupakan manfaat fitur produk bagi pelanggan.
  3. Desain produk merupakan fungsi produk yang mempunyai manfaat
    sesuai dengan kebutuhan, keinginan, serta harapan pelanggan.
  4. Kualitas produk merupakan spesifikasi produk yang sesuai dengan
    kinerja produk dan sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan harapan

Hubungan Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian


Perusahaan yang memiliki kualitas produk pakaian yang baik dan
mampu memenuhi kebutuhan serta keinginan konsumen dapat
menentukan konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. Selain
menguntungkan konsumen, perusahaan juga mendapat keuntungan
dikarenakan produknya dapat dikenal oleh khalayak masyarakat luas
dengan kualitas yang dimilikinya. Hal ini berarti kualitas produk dapat
mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
Dalam pembelian produk pakaian kualitas adalah faktor penentu
utama keputusan pembelian konsumen. Beberapa penelitian terdahulu
menunjukkan bahwa kualitas produk mempengaruhi keputusan pembelian
konsumen. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Shareef (2008) yang
menyatakan bahwa kualitas produk mempengaruhi keputusan pembelian
secara positif signifikan. Pernyataan tersebut didukung oleh Shahrudin
(2011) yang sependapat bahwa kualitas produk memainkan peran penting
dalam mengambil keputusan suatu pembelian. Hasil penelitian serupa juga
ditunjukkan oleh Ackaradejruangsri (2013), Tamunu dan Ferdinand (2014),
dan Kalicharan (2014).

Indikator Keputusan Pembelian


Sebagai konsumen, tentu kita memiliki beberapa pertimbangan sebelum
melakukan keputusan pembelian terhadap suatu produk yang akan kita
gunakan. Berarti terdapat beberapa indikator yang dapat mempengaruhi
keputusan pembelian.
Menurut Kotler & Keller (2009:184) dalam Prawiratmojo (2017)
menyatakan “bahwa dalam melakukan pembelian terdapat lima tahapan
bagaimana konsumen membuat keputusan pembeliannya, yaitu
pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan
pembelian, perilaku pascapembelian.Proses pengambilan keputusan
pembelian suatu produk dapat digambarkan dalam tahapan- tahapan
Keputusan pembelian sebagai berikut :
a. Pengenalan Masalah
Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenal suatu masalah
atau kebutuhan. Pengenalan kebutuhan ini mengenai adanya
kebutuhan dan keinginan yang belum terpenuhi dan terpuaskan.
b. Pencarian informasi
Seseorang yang penasaran akan berusaha mencari lebih banyak
informasi yang terlibat dalam pencarian akan kebutuhan. Pencarian
merupakan aktifitas termotivasi dari pengetahuan yang tersimpan
dalam ingatan dan perolehan informasi dari lingkungan.
c. Evaluasi alternatif
Evaluasi alternatif merupakan proses dimana suatu alternatif
pilihan disesuaikan dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan
konsumen.
d. Keputusan pembelian
Setelah tahap–tahap tersebut dilakukan, makakonsumen harus
mengambil keputusan.Bila konsumen juga membeli, konsumen
akan menjumpaiserangkaian keputusan yang harus diambil
menyangkut jenis produk,merek, penjual, kuantitas, dan lainnya
e. Perilaku setelah pembelian
Bagi perusahaan, perasaan dan perilaku sesudah pembelian
jugasangat penting. Perilaku mereka dapat mempengaruhi
penjualan ulang dan juga mempengaruhi ucapan-ucapan pembeli
kepada pihak lain tentang produk perusahaan.”

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah suatu keputusan akhir yang dimiliki
seorang konsumen untuk membeli suatu barang atau jasa dengan berbagai
pertimbangan-pertimbangan tertentu. Keputusan pembelian yang
dilakukan oleh konsumen menggambarkan seberapa jauh pemasar dalam
usaha memasarkan produknya ke konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2016:194) menyatakan bahwa “Buying
decision process all the experiences in learning, choosing, using, and even
disposing of a product.” Artinya “Keputusan pembelian adalah semua
pengalaman dalam pembelajaran, pemilihan, penggunaan, dan bahkan
pembuangan produk.” Sedangkan menurut Suharto (2016:30) menyatakan
bahwa “Keputusan pembelian adalah semua tindakan yang menentukan
semua pilihan yang ada untuk dipilih salah satu diantaranya, dengan
melalui tahap pengenalan, pencarian informasi, penilaian alternatif,
keputusan membeli, perilaku setelah pembelian.” Berdasarkan berbagai
pengertian dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian merupakan
suatu proses pemilihan alternatif-alternatif berdasarkan pengalaman
mereka sebagai penyelesaian masalah yang mereka hadapi

Indikator Kualitas Produk


Kualitas produk memiliki indikator yang dapat digunakan untuk
menganalisis karakteristik dari suatu produk. Karena dengan adanya
indikator kualitas produk, maka perusahaan dapat melihat apa saja yang
harus diberikan pada suatu produk agar dapat terlihat menarik oleh
konsumen.
Menurut Fandy Tjiptono (2016:134) “Kualitas produk memiliki
delapan indikator sebagai berikut:

  1. Performance (kinerja) merupakan karakteristik operasi dasar atau
    produk inti (core product) dari suatu produk. Misalnya kecepatan,
    kemudahan, dan kenyamanan dalam penggunaan.
  2. Features (fitur atau ciri-ciri tambahan) merupakan karakteristik
    atau ciri-ciri tambahan yang melengkapi manfaat dasar suatu
    produk. Fitur bersifat pilihan atau option bagi konsumen. Fitur
    bisa meningkatkan kualitas produk jika kompetitor tidak memiliki
    fitur tersebut, Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features),
    merupakan karakteristik sekunder atau pelengkap.
  3. Reliability (reliabilitas) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
    kerusakan atau gagal pakai. Semakin kecil kemungkinan
    terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
  4. Confermance to Specifications (kesesuaian dengan spesifikasi)
    yaitu sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk
    memenuhi standar tertentu dari konsumen atau tidak
    ditemukannya cacat pada produk. Ini semacam “janji” yang harus
    dipenuhi oleh produk. Produk yang memiliki kualitas dari
    dimensi ini berarti sesuai dengan standarnya
  5. Durability (daya tahan) berkaitan dengan berapa lama produk
    tersebut dapat terus digunakan. Semakin lama daya tahannya
    tentu semakin awet. Produk yang awet akan dipersepsikan lebih
    berkualitas disbanding produk yang cepat habis atau cepat diganti.
  6. Serviceability (kemampuan melayani)
    Yaitu kualitas produk ditentukan atas dasar kemampuan diperbaiki
    meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi
    serta penanganan keluhan yang memuaskan.
  7. Esthetics (Estetika)
    Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera, misalkan bentuk fisik,
    model atau desain yang artistik, warna dan sebagainya.
    Berhubungan dengan bagaimana penampilan produk.
  8. Perceived Quality (kualitas yang dipersepsikan),
    Yaitu persepsi konsumen terhadap keseluruhan kualitas atau
    keunggulan suatu produk. Biasanya karena kurangnya
    pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan
    dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dari aspek
    harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara
    pembuatnya.”

Pengertian Kualitas Produk


Kualitas produk adalah kemampuan suatu produk atau jasa untuk
melaksanakan fungsinya dengan mempertimbangkan berbagai aspek
seperti keandalannya, daya tahan yang dimilikinya, nilai kebutuhannya,
kemudahannya akan perbaikan, serta nilai-nilai lainnya yang juga perlu
diperhatikan. Menurut Sulistiyanto (2014:42) “Kualitas produk merupakan
keseluruhan ciri serta sifat barang dan jasa yang berpengaruh pada
kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan yang dinyatakan
maupun yang tersirat”. Sedangkan Menurut Kotler dan Keller (2009:143),
“Kualitas produk adalah totalitas fitur dan karakteristik produk atau jasa
yang bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang
dinyatakan atau tersirat.”

Klasifikasi Produk


Klasifikasi produk adalah suatu pembagian produk yang ada di
pasaran berdasarkan kriteria-kriteria produk tersebut, di mana klasifikasi
produk ini dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai macam sudut
pandang. Menurut Tjiptono (2008:98) “Produk dapat diklasifikasikan ke
dalam dua kelompok utama yaitu:

  1. Barang
    Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat,
    diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan
    diperlakuan fisik lainnya. Ditinjau dari aspek daya tahannya, terdapat
    dua macam barang, yaitu:
    a. Barang tidak tahan lama (Nondurable Goods) barang tidak tahan
    lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi
    dalam satu atau beberapa kali pemakaian.
    b. Barang tahan lama (Durable Goods) barang tahan lama
    merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama
    dengan pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal
    adalah satu tahun atau lebih).
  2. Jasa
    Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan
    untuk dijual. Contoh: bengkel reparasi, salon kecantikan, kursus, hotel,
    lembaga pendidikan, dan lain-lain. Selain berdasarkan daya tahannya,
    produk umumnya juga diklasifikasikan berdasarkan siapa konsumennya
    dan untuk apa produk tersebut dikonsumsi. Berdasarkan kriteria ini,
    produk dapat dibedakan menjadi barang konsumen (consumer’s goods)
    dan barang industri (industrial’s goods).
    A. Barang konsumen
    Barang konsumen adalah barang yang, dikonsumsi untuk
    kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga),
    bukan tujuan untuk bisnis. Umumnya barang konsumen dapat
    diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu convenience good, shopping
    goods, specialty goods, dan unsought goods yaitu:
  3. Convenience Goods
    Convenience goods merupakan barang yang pada umunya memiliki
    frekuensi pembelian tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu
    segera, dan hanya memerlukan usaha yang minimum (sangat kecil)
    dalam pembandingan dan pembeliannya. Contoh: beras, minyak,
    sabun, pasta gigi, dan lain-lain.
  4. Shopping Goods
    Shopping goods adalah barang-barang yang dalam proses
    pemilihan dan pembeliannya dibandingkan oleh konsumen di
    antara berbagai alternatif yang tersedia. Contoh; alat-alat rumah
    tangga, pakaian, dan furniture.
  5. Specialty Goods
    Specialty goods adalah barang-barang yang memiliki karakteristik
    atau identifikasi merek yang unik di mana sekelompok konsumen
    bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Umumnya
    jenis barang terdiri atas barang-barang mewah dengan merek dan
    model spesifik, seperti mobil Lamborgini, pakaian rancangan
    seperti Christian Dior dan Versace.
  6. Unsought Goods
    Unsought Goods merupakan barang-barang yang tidak diketahui
    konsumen atau kalaupun sudah diketahui, tetapi pada umumnya
    belum terpikirkan untuk membelinya.
    B. Barang Industri
    Barang industri adalah barang-barang yang dikonsumsi oleh
    industriawan (konsumen antara atau konsumen bisnis) untuk keperluan
    selain dikonsumsi langsung, yaitu:
  7. Untuk diubah, diproduksi menjadi barang lain kemudian dijual
    kembali (oleh produsen).
  8. Untuk dijual kembali (oleh pedagang) tanpa dilakukan
    transformasi fisik (proses produksi).”

Pengertian Produk


Produk adalah suatu substansi yang diproduksi oleh pihak produsen
dan ditawarkan ke pasar agar bisa memenuhi keperluan ataupun kebutuhan
konsumen. Menurut Wiliam dalam Sulistiyanto (2014:42) “Produk itu
sendiri adalah sekumpulan atribut yang nyata (tangible) dan tidak nyata
(intangible) di dalamnya sudah tercakup warna, harga, kemasan, dan
prestise lainnya yang terkandung dalam produk, yang diterima oleh
pembeli sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginannya.”
Pendapat lain, dikemukakan oleh Lupiyoadi (2013:28) “Produk
merupakan keseluruhan konsep objek atau proses yang memberikan
sejumlah nilai manfaat kepada konsumen.”

Loyalitas Pelanggan


Loyalitas pelanggan dapat dikatakan sebagai fondasi yang kuat bagi
keberhasilan jangka panjang suatu bisnis. Loyalitas pelanggan tidak hanya
dianggap sebagai hasil dari kepuasan pelanggan saja, tetapi juga sebagai dampak
dari berbagai faktor internal maupun eksternal yang dapat memengaruhi perilaku
pembelian dan kesetiaan konsumen. Loyalitas dapat didefinisikan sebagai
kesetiaan, tekad, dan kesanggupan untuk mematuhi, melaksanakan, dan
mengamalkan sesuatu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab (Heri 2018).
Menurut Kotler dan Keller (2016), loyalitas pelanggan adalah komitmen yang kuat
untuk membeli atau mendukung kembali produk atau jasa yang disukai di masa
depan, meskipun ada situasi dan usaha pemasaran yang bisa menyebabkan
pelanggan beralih.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan loyalitas pelanggan adalah hal
utama kesuksesan suatu bisnis. Kualitas produk yang suatu bisnis berikan kepada
konsumen akan berdampak positif pada kepuasan pelanggan. Kelangsungan hidup
jangka panjang suatu bisnis bergantung pada loyalitas pelanggan yang selalu
membeli barang yang ditawarkan oleh suatu bisnis. Indikator dari variabel loyalitas
pelanggan menurut Zeithaml et al. (1996) dalam Rua et al. (2020) adalah sebagai
berbicara positif tentang perusahaan; merekomendasikan perusahaan kepada orang
lain; mendorong orang lain dan tetangga untuk menjalin hubungan bisnis dengan
perusahaan; menganggap perusahaan sebagai pilihan pertama; dan terus melakukan
bisnis dengan perusahaan di masa depan. Sementara itu, menurut Cakici et al.
(2019), indikator loyalitas pelanggan adalah berniat untuk memilih perusahaan ini
secara terus-menerus; menganggap perusahaan sebagai pilihan pertama dan merasa
lebih baik ketika pergi ke satu perusahaan, meskipun ada perusahaan lain

Kepuasan Pelanggan


Kepuasan pelanggan dapat diukur dengan membandingkan pengalaman
pelanggan saat membeli barang atau jasa dari penjualnya dengan yang mereka
sendiri harapkan. Harapan ini dibantu oleh pengalaman pertama pelanggan saat
membeli barang atau jasa, komentar orang lain, janji dan informasi pemasar, dan
persaingan. Kepuasan konsumen atau pelanggan adalah perasaan senang atau
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara kinerja (hasil)
produk yang diperkirakan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan (Kotler,
2018). Selain itu kepuasan pelanggan menurut menurut Fatihudin dan Firmansyah
(2019), kepuasan pelanggan merupakan ukuran atau indikator sejauh mana
pelanggan atau pengguna produk perusahaan merasa sangat puas dengan produk
atau jasa yang diterima. Kepuasan pelanggan ini adalah hasil dari perbandingan
antara harapan dengan persepsi pengalaman yang dirasakan atau diterima.
Berdasarkan uraian yang diberikan, dapat disimpulkan kepuasan pelanggan
merupakan suatu sikap konsumen yang mencerminkan rasa puas terhadap produk
atau jasa. Untuk mengukur kepuasan pelanggan dalam penelitian ini mengacu pada
indikator menurut Annamdevula & Bellamkonda (2016) yaitu puas dengan kualitas
peralatan, puas dengan kualitas layanan, puas dengan dukungan lain dari kualitas
layanan, sepenuhnya puas dengan semua layanan dari perusahaan, puas dengan
kualitas layanan administratif, dan puas dengan kualitas layanan akademik