Aspek-Aspek Psychological Ownership (skripsi dan tesis)

Menurut Pierce, Kostova, Dirks (2002), aspek-aspek psikological ownership sebagai berikut: a. Controlling the ownership target Kontrol pada objek pada akhirnya akan meningkatkan perasaan kepemilikan dari sebuiah objek (Sartre, 1943, dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002). Pada studi semantik tentang kepemilikan oleh Rudmin dan Berry (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002) menemukan bahwa control adalah bagian yang terpenting dari suatu rasa memiliki. Suatu objek yang mana dapat dikontrol, dimanipulasi atau objek yang membentuk seseorang terafeksi, adalah objek-objek yang dipersepsikan sebagai bagian dari diri seseorang, daripada yang tidak dapat dikontrol (Prelinger, dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002). Ellowood (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002) menyatakan bahwa objek yang secara terus menerus digunakan oleh seseorang akan terasimilasi pada self penggunaannya. b. Coming to intimately know to the target Menurut Beggan dan Brown (1994) dan Rudmin dan Berry (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002), melalui proses asosiasi, kita akan mengenal sebuah benda. Semakin banyak informasi yang dimiliki seseorang mengenai target kepemilikan, semakin dekat hubungan yang terbentuk antara seseorang dengan target tersebut. Pierce, Kostova, Dirks (2002) menambahkan bahwa seseorang akan menyadari bahwa secara psikologis terikat dengan sebuah objek sebagai hasil dari partisipasi aktif atau terasisuasi dengan objek tersebut. Misalnya, seseorang yang tergabung dalam sebuah komunitas tertentu, akan merasa memiliki komunitas tersebut karena sudah bergabung dan bersama dalam setiap kegiatan komunitas tersebut. c. Investing the self into the target Menuirut Locke (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002), setiap orang memiliki hasil kerja sendiri. Bagaimanapun, seseorang akan merasa memiliki apa yang dikerjakan, dibentuk, dan dihasilkan sendiri. Mulai hasil pekerjaan sendiri, seseorang tidak hanya menginvestasikan waktu dan usaha fisik, namun juga energi psikis ke dalam hasil pekerjaannya. Benda atau sesuatu akan terlekat pada seseorang yang membuatnya karena benda atau sesuatu tersebut adalah hasil seseorang yang mengusahakannya, sehingga seseorang yang membuat benda tersebut merasa memiliki, sama seperti seseorang merasa memiliki dirinya (Durkheim, dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002). Usaha dan investasi dari diri seseorang pada suatu benda membuat seseorang merasa menjadi satu dengan objek tersebut dan membangun perasaan memiliki erhadap objek tersebut (Rochberg & Halton, dalam Deborah, 2012)

Pengertian Psychological Ownership (skripsi dan tesis)

Psychological ownership adalah pengalaman psikologis individu ketika mengembangkan rasa possesif (memiliki) akan suatu target (Van, Dyne, & Pierce, 2004). Menurut Furby hal yang mendasari kemunculan psychological ownership adalah sense of possession (Van, Dyne & Pierce, 2004). Sedangkan menurut Pierce, Kostova, dan Dirks (2002) psychological ownership (perasaan memiliki) sebagai keadaan dimana seseorang merasa seolah-olah target kepemilikan atau bagian dari target tersebut adalah milik mereka “milik mereka”. Pierce, Kostova, dan Dirks menjelaskan bahwa target atau objek dari psychological ownership dapat bersifat material (benda, fasilitas) tetapi juga non material seperti ide, seni artistic, suara dan lain-lain (Pierce, Kostova, Dirks, 2002). Psychological ownership mengacu pada hubungan antara individu dan objek di mana objek itu dialami sebagai terhubung dengan diri sendiri (Wilpert, 1991), atau menjadi bagian dari “diperpanjang diri” (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002). Mann (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002) menuliskan “what I own feels like a part of me.” Perasaan memiliki terhadap berbagai objek ini penting dan memiliki efek psikologis serta perilaku yang kuat. Target yang dimaksud dalam definisi tersebut biasanya berbentuk tangible (sesuatu yang nyata) seperti mainan, rumah, tanah, dan orang lain serta intangible berupa hasil pekerjaan seseorang, ide, dan kreasi. Menurut Dittmar (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002), merupakan hal yang biasa bagi seseorang secara psikologis mengalami koneksi antara diri dengan berbagai macam target kepemilikan seperti rumah, mobil, ruang, dan seseorang lain. perkembangan rasa kepemiliknnya, misalnya, menimbulkan efek positif dan menggembirakan (Formanek, 1991). Pierce, Kostova, Dirks (2002) berpendapat bahwa psychological ownership dapat dibedakan dari konstruk lainnya, berdasarkan inti konseptualnya sendiri yaitu possessiveness dan motivational bases. Rasa dari kepemilikan atau sense of ownership menyatakan makna dan emosi yang biasa dihubungkan dengan ‘my’, ‘mine’ dan ‘our’. Psychological ownership menjawab pertanyaan “what do I feel is mine?” dan konsep inti dari kepemilikan (Wilpert, 1991, dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002) terhadap target tertentu (contoh hasil pekerjaan seseorang, mainan, rumah, tanah, dan orang terdekat) baik legal maupun tidak adanya kepemilikan secara hukum Furby (dalam Dyne & Pierce, 2004) juga menyatakan bahwa sense of possession (merasakan seolah-olah sebuah objek, kesatuan, atau ide adalah ‘mine’ atau ‘ours’) adalah inti dari psychological ownership. Psychological ownership merefkesikan hubungan seseorang dan dengan sebuah objek (bersifat materi maupun immaterial), ketika objek tersebut memiliki hubungan yang dekat dengan seseorang (Furby 1978, dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002). Kepemilikan memegang peran dominan dalam identitas seseorang dan menjadi bagian dari extended self (Belk 1998, dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002). Seperti disebutkan Issac (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002), bahwa apa yang menjadi milik seseorang (dalam perasaan) juga merupakan bagian dari diri seseorang. Extended self yang dimaksud bukan kesatuan fisik, namun rasa kepemilikan secara psikologis sendiri (Scheibe, dalam Deborah 2012). Contohnya ketika seseorang menunjuk sebuah kursi sebagai kursi kesukaannya untuk duduk. Kursi etrsebut bukanlah bagian dari diri seseorang, namun sebaliknya, kata-kata ‘kesukaan’ yang seseorang rasakan sudah mewakili arti menjadi bagian dirinya. Extended self meliputi orang, benda, atau tempat yang menjadikan bagian dalam diri seseorang secara psikologis (Brown, dalam Deborah 2012).
Dalam Pierce, Kostova, Dirks (2002), kondisi psychological ownership adalah kondisi yang kompleks dan terdiri dari komponen kognitif dan afektif. Psychological ownership merupakan kondisi, dimana seseorang sadar melalui proses intelektual. Psychological ownership merefleksikan kesadaran, pemikiran, dan kepercayaan seseorang sehubungan dengan target kepemilikan. Kondisi kognitif ini juga melibatkan sensasi emosional atu komponen afektif. Perasaan memiliki disebutkan menghasilkan perasaan senang pada hakekatnya yang disertai dengan perasaan kompeten dan perasaan keberhasilan (White dalam Pierce, Michael, dan Coghlan, 2004). Komponen afektif akan terlihat jelas ketika seseorang mengaku bahwa target (objek) adalah milik dia ataupun mereka, atau milik sekelompok orang. Contohnya adalah, “karya itu milikku” atau “rumah itu milik kami”. Pemahaman tentang psychological ownership tersebut membantu membedakan antara psychological ownership dengan legal ownership. Meskipun mungkin saja terkait, legal dan psychological ownership berbeda secara signifikan. Legal ownership dikenal oleh masyarakat, dan oleh karena hak-hak kepemilikan dispesifikasikan dan dilindungi oleh system hukum. Sebaliknya, psychological ownership dikenal atau disadari oleh seseorang yang merasakan perasaan ini. sebagai hasilnya, individu tersebut akan menunjukkan hak-hak yang dirasakan dan diasosiasikan dengan psychological ownership. Menurut McCracken (dalam Peck, Joann & Shu, Suzanne B, 2011), seseorang dapat memiliki sebuah benda secara hukum, seperti contohnya mobil, rumah, namun tidak menyatakan benda secara hukum, seperti contohnya mobil, rumah, namun tidak menyatakan benda tersebut sebagai milik mereka. Kondisi ini menunjukkan bahwa seseorang tidak menyatakan sebuah benda sebagai milik mereka karena mereka tidak menemukan makna pribadi dari sebuah objek, sesuatu yang mengkondiskan untuk menyatakan sesuatu sebagai miliknya (McCracken, dalam Peck, Joann & Shu, Suzanne B, 2011).
Tanggung jawab yang muncul pada legal ownership, biasanya terbentuk karena adanya system hukum, sementara pada psychological ownership, tanggung jawab muncul dari individu itu sendiri untuk bertanggung jawab dan mengakui suatu objek yang bukan miliknya sebagai miliknya. Lebih jauh lagi, psychological ownership dapat muncul meskipun tidak ada legal ownership, seperti yang disebutkan Furby (1980) (dalam Pierce, Kostova, Dirks, 2002). Jadi, psychological ownership adalah perasaan memiliki oleh seseorang terhadap suatu benda baik material yang berupa benda dan fasilitas maupun non material berupa ide, seni artistic, suara dan lain-lain yang menyebabkan perasaan memiliki tersebut membuat seseorang merasa suatu objek adalah miliknya tanpa ada lisensi kepemilikan resmi pada objek tersebut.

Bullying (skripsi dan tesis)

Bullying menurut Olweus (1993) adalah suatu perilaku negatif berulang yang bermaksud menyebabkan ketidaksenangan atau menyakitkan yang dilakukan oleh orang lain oleh satu atau beberapa orang secara langsung terhadap seseorang yang tidak mampu melawannya. Menurut American Psychiatric Association (APA) (dalam Stein dkk., 2006), bullying adalah perilaku agresif yang dikarakteristikkan dengan 3 kondisi yaitu (a) perilaku negatif yang bertujuan untuk merusak atau membahayakan (b) perilaku yang diulang selama jangka waktu tertentu (c) adanya ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan dari pihak – pihak yang terlibat. Smokowski (dalam Surilena, 2016) menyatakan bahwa perilaku bullying bisa secara fisik (memukul, menendang, menggigit, dan lainnya), secara verbal (mengolok-olok, mengancam, dan lainnya) atau segala jenis perilaku yang membahayakan atau mengganggu, perilaku tersebut berulang dalam waktu berbeda dan terdapat kekuatan yang tidak seimbang. Selain itu, terdapat pula bentuk direct bullying dan indirect bullying. Direct bullying merupakan perilaku bullying yang bersifat langsung, verbal, ataupun fisik. Indirect bullying atau relational bullying merupakan jenis bullying yang kurang kasat mata, namun dampaknya bagi korban sama buruknya. Jenis bullying lain merupakan perundungan yang bersifat sosial yang terkait dengan penggunaan internet yang lebih dikenal dengan cyberbullying (Boyle dalam Surilena, 2016). Korban bullying adalah seseorang yang berulangkali mendapatkan perlakuan agresi dari kelompok teman sebaya, baik dalam bentuk serangan fisik, verbal, atau kekerasan psikologis (dalam Setiawati, 2008). Santrock (2008) menggambarkan masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi prosese pematangan fisik, maupun psikologis. Menurut Monks (2009), karakteristik masa remaja madya (15-18 tahun) sangat membutuhkan teman-teman. Ada kecenderungan narsistik, yaitu mencintai dirinya sendiri dengan cara lebih menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya. Pada tahap ini remaja berada dalam kondisi kebingungan karena masih ragu memilih yang mana, peka atau peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, dan sebagainya. Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan perilaku negatif berulang yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat (pelaku) kepada pihak yang lebih lemah (korban) yang bertujuan untuk menyakiti korbannya. Remaja korban bullying merupakan individu yang mengalami kekerasan secara berulang dari pihak yang lebih kuat, berada pada masa peralihan antara anak-anak dengan dewasa dan sangat membutuhkan peran teman-teman sebaya dalam perkembangannya

Kategori Help Seeking Behavior (skripsi dan tesis)

Barker (2007) membagi perilaku mencari bantuan pada remaja menjadi 3 kategori: 1) Membantu mencari kebutuhan kesehatan yang spesifik, termasuk layanan kesehatan (dalam sistem perawatan kesehatan formal atau dari penyembuh tradisional dan apoteker), serta mencari informasi terkait kesehatan. Hal ini umumnya disebut perilaku mencari bantuan kesehatan. 2) Membantu mencari kebutuhan perkembangan normatif, termasuk bantuan dalam menyelesaikan sekolah, atau bantuan yang terkait dengan orientasi/ pelatihan kejuruan, atau pencarian pekerjaan; formasi dan keprihatinan hubungan; memahami perubahan yang berhubungan dengan seksualitas atau pubertas; dan/atau masalah lain yang sering dikaitkan dengan masa remaja. 3) Perilaku mencari bantuan terkait dengan stres atau masalah pribadi, seperti dalam kasus krisis keluarga; kekerasan keluarga atau korban kekerasan; tekanan hubungan; kebutuhan finansial akut; tunawisma; dan/atau kebutuhan atau masalah yang berkaitan dengan penyakit kronis atau akut. Berdasarkan uraian diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa terdapat tiga kategori dalam help seeking behavior. Pertama, membantu mencari kebutuhan kesehatan spesifik, misalnya layanan kesehatan kanker. Kedua, membantu mencari 17 kebutuhan perkembangan normatif, misalnya bantuan memilih jurusan. Ketiga, membantu berkaitan dengan stres atau masalah pribadi, misalnya bantuan untuk korban kekerasan.

Faktor-faktor Help Seeking Behavior (skripsi dan tesis)

Liang dkk. (2005) mengemukakan ketiga tahap di atas akan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu:  1) Individu Faktor individu berkaitan dengan pemaknaan dan penilaian individu terhadap masalah yang dialami, sehingga muncul keinginan dalam diri individu untuk mencari bantuan sampai pada pemilihan sumber bantuan. 2) Interpersonal (relasinya dengan orang lain) Faktor interpersonal berkaitan pada hubungan individu dengan orang lain baik dengan pelaku maupun orang-orang terdekatnya yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk menilai masalah yang dialami, sehingga muncul keinginan untuk memutuskan mencari bantuan sampai pada pemilihan sumber bantuannya. 3) Kultur sosial Faktor kultur sosial berkaitan pada hubungan individu dengan kultur sosial yang menyangkut interaksi antar gender dan budaya, sehingga individu dapat memaknai dan menilai masalah yang dialami, sehingga muncul keinginan untuk memutuskan mencari bantuan sampai pada pemilihan sumber bantuan. Berdasarkan uraian diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa terdapat tiga faktor help seeking behavior, yaitu faktor individu, interpersonal dan kultur sosial. Faktor individu berkaitan dengan diri individu dalam menilai permasalahan yang dialaminya sehingga individu tersebut mencari bantuan. Faktor interpersonal berkaitan dengan individu dan orang lain untuk membantu menilai permasalahan yang dialami individu tersebut sehingga mencari bantuan. Faktor kultur sosial,   berkaitan dengan kultur sosial individu yang mempengaruhi individu dalam menilai permasalahannya sehingga mencari bantuan

Tahap-tahap Help Seeking Behavior (skripsi dan tesis)

Liang dkk. (2005) mengemukakan bahwa proses perilaku mencari bantuan yang cenderung berfokus pada internal (dalam diri) dan proses kognitif indvidu, mencakup tiga tahap, yaitu:  1) Pengakuan dan pendefinisian terhadap masalah Tahap ini dimulai dengan pemaknaan individu terhadap masalah yang sedang dihadapinya, mengevaluasi tingkat keparahan, dan menentukan kesulitan masalah. 2) Keputusan untuk mencari bantuan Pada tahap ini individu menyadari keterbatasan kemampuan untuk menyelesaikan masalah sehingga perlu mendapat bantuan orang lain untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. 3) Pemilihan sumber bantuan. Pemilihan bantuan melibatkan adanya pengidetifikasian sumber bantuan potensial (formal dan informal) untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Sumber bantuan akan menjadi pengalaman individu untuk dijadikan acuan dalam mencari bantuan selanjutnya. Berdasarkan uraian diatas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tahap individu dalam melakukan help seeking behavior dimulai dengan pengakuan dan pemahaman terhadap masalah yang sedang dihadapi. Tahap berikutnya, individu merasa perlu mendapat bantuan orang lain. Tahap terakhir, individu menentukan figur-figur yang berpotensi untuk membantu meneyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

Karakteristik Help Seeking Behavior (skripsi dan tesis)

Perilaku mencari bantuan memiliki 3 karakteristik, yaitu: berorientasi pada masalah, tindakan yang disengaja, serta merupakan instruksi interpersonal (Cornelly & McCarthy, 2011). Definisi tersebut secara jelas mengatakan bahwa perilaku mencari bantuan merupakan tindakan yang disengaja. Memilih secara aktif dan mengejar sumber bantuan diakui oleh para ahli sebagai aspek penting agar terjadi perilaku mecari bantuan (Rickwood, dkk, 2005) dan dapat digambarkan sebagai perilaku yang direncanakan (Cornally & McCarthy, 2011). Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku mencari bantuan melibatkan kesadaran individu akan kemampuan dan permasalahan yang individu hadapi, sehingga untuk menyelesaikan permasalahan tersebut berfokus pada masalah, mencari bantuan yang dilakukan secara sadar, disengaja dan merupakan saran dari oranglain.

Pengertian Help Seeking Behavior (skripsi dan tesis)

Asley & Vangie (2005) mendefinisikan help seeking behavior sebagai suatu pencarian bantuan kepada orang lain yang jelas memiliki peran karena akan menguntungkan bagi orang yang membutuhkan, misalnya, kemungkinan untuk mempercepat penemuan solusi dari masalah yang dialami seseorang. Pencarian bantuan akan mengandung tiga kategori dari dukungan atau bantuan sosial yaitu; (a) dukungan emosional (perhatian, penerimaan, pengertian, atau dorongan); (b) dukungan informasi (saran untuk membantu menyelesaikan masalah); dan (c) bantuan instrumental (bantuan dengan tugas dan kontribusi sumber daya material). Perilaku mencari bantuan juga didefinisikan oleh Rickwood dkk. (2005) sebagai bentuk komunikasi seseorang dengan orang lain untuk mendapatkan bantuan dalam memahami, memberi saran, memberi informasi, mengobati, dan memberi bantuan secara umum dalam menanggapi masalah atau pengalaman menyedihkan yang dialami. Bantuan yang dicari seseorang dapat diminta dari sumber bantuan secara (1) informal, yakni melalui anggota keluarga (orangtua, saudara kandung,keluarga/kerabat) atau rekan – rekan (teman atau sahabat); (2)   formal, yakni melalui profesional kesehatan (dokter, psikolog, guru, dan pekerja sosial) dan organisasi berbasis masyarakat (Rickwood, dkk., 2005). Definisi perilaku mencari bantuan pada remaja didasarkan pada literature tentang remaja dan perilaku coping (Frydenberg dalam Barker, 2007), perilaku mencari bantuan pada remaja didefinisikan sebagai tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh remaja yang merasa dirinya membutuhkan bantuan pribadi, psikologis, bantuan afektif atau kesehatan atau pelayanan sosial yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhannnya dengan cara yang positif. Mencari bantuan dari pelayanan formal, misalnya layanan klinik, konselor, psikolog, staf medis, dukun, tokoh agama atau program pemuda. Sumber informal mencakup kelompok sebaya dan teman – teman, anggota keluarga atau kelompok kekerabatan dan/atau orang dewasa lainnya di masyarakat. Bantuan yang disediakan terdiri dari layanan (misalnya konsultasi medis, perawatan klinis, perawatan medis atau sesi konseling), rujukan untuk layanan yang disediakan di tempat lain atau perawatan konsultasi dengan orang lain secara informal tentang kebutuhan yang bersangkutan. Menurut Frydenberg (dalam Barker, 2007) perilaku mencari bantuan pada remaja adalah setiap tindakan yang dilakukan oleh remaja yang memandang dirinya sebagai seseorang yang membutuhkan bantuan orang lain seperti bantuan psikologis, afektif, atau pelayanan kesehatan maupun sosial dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan secara positif. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa help seeking behavior adalah perilaku mencari bantuan yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dialami. Sumber bantuan dapat berupa (a) informal,   yang terdiri dari anggota keluarga (orangtua, saudara kandung,keluarga/kerabat) atau rekan – rekan (teman atau sahabat) maupun orang disekitar korban, (b) formal, yang terdiri dari profesional kesehatan (dokter, psikolog, guru, dan pekerja sosial) dan organisasi berbasis masyarakat

Teori Pelindungan Hukum (skripsi dan tesis)

Perlindungan hukum berdasar dari kata lindung. Menurut Kmaus Besar Bahasa Indonesia kata lindung adalah:1 menempatkan dirinya di bawah (di balik, di belakang) sesuatu supaya tidak terlihat atau tidak kena angin, panas, dan sebagainya, sedangkan perlindungan adalah tempat berlindung, hal (perbuatan dan sebagainya) memperlindungi. Menurut Satjipto Raharjo, kehadiran hukum dalam masyarakat berfungsi untuk mengadakan integritasi dan koordinasi kepentingan yang bisa berbenturan satu sama lain. Sehingga, hukum perlu melakukan koordinasi dengan cara membatasi dan melindungi kepentingankepentingan tersebut. Perlindungan terhadap kepentingan-kepentingan tersebut hanya dapat dilakukan dengan cara membatasi kepentingan di lain pihak. Hukum melindungi kepentingan seseorang dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam kepentingannya.2 Menurut Philipus M. Hadjon, saran perlindungan hukum (reschsbescherming) dapat ditinjau dari 2 (dua) hal, yakni perlindungan hukum secara preventif dan represif. Perlindungan hukum secara preventif dapat ditempuh dengan 2 (dua) sarana yakni melalui sarana peraturan perundang-undangan dan melalui sarana perjanjian, sedangkan perlindungan hukum secara represif dapat ditempuh melalui jalur peradilan.3 Philipus M. Hadjon, dalam merumuskan prinsip-prinsip perlindungan hukum bagi rakyat Indonesia, landasan pijak yang digunakan adalah Pancasila. Karena pancasila adalah dasar ideologi dan dasar falsafah Negara Indonesia. Konsepsi perlindungan hukum bagi rakyat di barat bersumber pada konsep-konsep pengakukan dan perlindungan terhadapt hak-hak asasi manusia dan konsepkonseprechtsstaat dan the rule of law. Konsep pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia memberikan isinya dan konsep rechsstaat dan rule of law menciptakan sarananya, sehingga pengakuan dan perlindungan hukum terhadap hak-hak asasi manusia akan subur dalam wadah rechtsstaat atau the rule of law. Sebagai kerangka pikir dengan landasan pijak pada Pancasila, prinsip perlindungan hukum bagi rakyat di Indonesia adalah prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia yang bersumber pada Pancasila dan Prinsip Negara hukum yang berdasarkan Pancasila

Pelaku Bullying dalam Remaja (skripsi dan tesis)

 

Menurut Carroll et al. (2009), terdapat empat faktor yang mempengaruhi remaja melakukan tindakan beresiko. Faktor tersebut adalah faktor individu, keluarga, peer group, dan faktor komunitas. Pelaku bullying, bila dikaitkan dengan teori tersebut, bisa dipengaruhi oleh lemahnya keterampilan sosial bully karena rasa simpati dan empati yang rendah dan memiliki tabiat yang menindas. Keluarga juga dapat menjadi faktor seorang remaja menjadi bully. Misalnya, buruknya hubungan anak dengan orang tua. Remaja bisa jadi kehilangan perhatian di rumah sehingga dia mencari perhatian di sekolah dengan menunjukkan kekuasaannya terhadap seseorang yang dianggap lebih lemah dari pada dirinya. Selain itu, kekerasan yang dilakukan di rumah terhadap anak bisa jadi salah satu alasan mengapa seseorang menjadi bully. Pelaku bullying melakukan penindasan sebagai pelarian di lingkungan rumah yang selalu menindasnya dan membuat dia tidak berdaya. Faktor lain yang merupakan faktor dominan yang merubah seseorang menjadi bully adalah kelompok bermain remaja. Faktor ini merupakan faktor yang muncul dan diadpsi ketika seorang individu tumbuh dan menjadi seorang remaja. Ketika remaja tidak memiliki pedoman dalam memilih kelompok bermain, remaja bisa jadi masuk ke dalam kelompokbermain yang mengarah pada kegiatan-kegiatan kenakalan remaja. Remaja merupakan individu dengan fase perkembangan psikologis di mana ia sangat membutuhkan pengakuan eksistensi diri. Kelompok bermain remaja yang menyimpang bisa jadi mencari pengakuan eksistensi diri dari menindas orang yang dirasa lebih lemah agar dia memiliki pengakuan dari lingkungannya bahwa ia memiliki keberanian dan kekuasaan. Lingkungan komunitas juga bisa menjadi faktor pemicu seseorang melakukan bullying. Misalnya keberadaan suatu kelompok minoritas di dalam komunitasnya. Hal ini umumnya bisa memicu terjadinya bullying verbal berupa labelling pada suatu individu atau kelompokminoritas tertentu. Berikut adalah hal-hal yang bisa dilakukan oleh kita sebagai pekerja sosial dengan remaja yang berperan sebagai konselor bagi remaja pelaku bullying (Lee, 2010).  Bicaralah dengan bully dan cobalah cari tahu mengapa mereka merasa perlu berperilaku seperti itu. Cari tahu apa yang mengganggu mereka atau apa yang memicu tingkah laku tersebut  Pastikan remaja bully mengerti bahwa perilaku merekalah yang tidak disukai, bukan mereka  Yakinkan bully bahwa Anda bersedia membantu mereka dan Anda akan bekerja dengan mereka untuk menemukan cara untuk mengubah perilaku mereka yang tidak dapat diterima  Bantu bully untuk menebus kesalahan pada korbannya. Jelaskan bagaimana cara meminta maaf karena telah membuat orang lain menderita dan bantu bully untuk menjelaskan alasan perbuatannya.  Berikan bully banyak pujian serta dukungan dan pastikan Anda mengatakan pada bully ketika mereka berperilaku baik dan berhasil mengatur emosi dan perasaannya.  Bersiap untuk mengkonfrontasi bully ketika mereka mulai membuat alasan atas perbuatannya seperti ‘itu cuma bercanda’ atau ‘dia yang salah’. Jelaskan bahwa lelucon tidak menyebabkan kesulitan dan ancaman.

Jenis Bullying (skripsi dan tesis)

 Bullying juga terjadi dalam beberapa bentuk tindakan. Menurut Coloroso (2007), bullying dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Bullying Fisik
Penindasan fisik merupakan jenis bullying yang paling tampak dan paling dapat diidentifikasi diantara bentuk-bentuk penindasan lainnya, namun kejadian penindasan fisik terhitung kurang dari sepertiga insiden penindasan yang dilaporkan oleh siswa. Jenis penindasan secara fisik di antaranya adalah memukul, mencekik, menyikut, meninju, menendang, menggigit, memiting, mencakar, serta meludahi anak yang ditindas hingga ke posisi yang menyakitkan, serta merusak dan menghancurkan pakaian serta barangbarang milik anak yang tertindas. Semakin kuat dan semakin dewasa sang penindas, semakin berbahaya jenis serangan ini, bahkan walaupun tidak dimaksudkan untuk mencederai secara serius.
 b. Bullying Verbal
 Kekerasan verbal adalah bentuk penindasan yang paling umum digunakan, baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki. Kekerasan verbal mudah dilakukan dan dapat dibisikkan dihadapan orang dewasa serta teman sebaya, tanpa terdeteksi. Penindasan verbal dapat diteriakkan di taman bermain bercampur dengan hingar binger yang terdengar oleh pengawas, diabaikan karena hanya dianggap sebagai dialog yang bodoh dan tidak simpatik di antara teman sebaya. Penindasan verbal dapat berupa julukan nama, celaan, fitnah, kritik kejam, penghinaan, dan pernyataan-pernyataan bernuansa ajakan seksual atau pelecehan seksual. Selain itu, penindasan verbal dapat berupa perampasan uang jajan atau barang-barang, telepon yang kasar, e-mail yang mengintimidasi, surat-surat kaleng yang berisi ancaman kekerasan, tuduhantuduhan yang tidak benar, kasak-kusuk yang keji, serta gosip.
c. Bullying Relasional
 Jenis ini paling sulit dideteksi dari luar. Penindasan relasionaladalah pelemahan harga diri si korban penindasan secara sistematis melalui pengabaian, pengucilan, pengecualian, atau penghindaran. Penghindaran, suatu tindakan penyingkiran, adalah alat penindasan yang terkuat. Anak yang digunjingkan mungkin akan tidak mendengar gosip itu, namun tetap akan mengalami efeknya. Penindasan relasional dapat digunakan untuk mengasingkan atau menolak seorang teman atau secara sengaja ditujukan untuk merusak persahabatan. Perilaku ini dapat mencakup sikap-sikap tersembunyi seperti pandangan yang agresif, lirikan mata, helaan napas, bahu yang bergidik, cibiran, tawa mengejek, dan bahasa tubuh yang kasar.
d. Cyber bullying Ini adalah bentuk bullying yang terbaru karena semakin berkembangnya teknologi, internet dan media sosial. Pada intinya adalah korban terus menerus mendapatkan pesan negative dari pelaku bullying baik dari sms, pesan di internet dan media sosial lainnya. Bentuknya berupa: 1. Mengirim pesan yang menyakitkan atau menggunakan gambar 2. Meninggalkan pesan voicemail yang kejam 3. Menelepon terus menerus tanpa henti namun tidak mengatakan apa-apa (silent calls) 4. Membuat website yang memalukan bagi si korban 5. Si korban dihindarkan atau dijauhi dari chat room dan lainnya 6. “Happy slapping” – yaitu video yang berisi dimana si korban dipermalukan atau di-bully lalu disebarluaskan Sedangkan Riauskina, dkk (2005, dalam Ariesto, 2009) mengelompokkan perilaku bullying ke dalam 5 kategori, yaitu: a) Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci, seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain); b) Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan (putdown), mengganggu, member panggilan nama (name-calling), sarkasme, mencela/mengejek, memaki, menyebarkan gosip); c) Perilaku non verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam, biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal) ; d) Perilaku non verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng); e) Pelecehan seksual (kadang-kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal).

Faktor Penyebab terjadinya Bullying (skripsi dan tesis)

 

Menurut Ariesto (2009), faktor-faktor penyebab terjadinya bullying antara lain:
 a. Keluarga.
Pelaku bullying seringkali berasal dari keluarga yang bermasalah : orang tua yang sering menghukum anaknya secara berlebihan, atau situasi rumah yang penuh stress, agresi, dan permusuhan. Anak akan mempelajari perilaku bullying ketika mengamati konflik-konflik yang terjadi pada orang tua mereka, dan kemudian menirunya terhadap teman-temannya. Jika tidak ada konsekuensi yang tegas dari lingkungan terhadap perilaku cobacobanya itu, ia akan belajar bahwa “mereka yang memiliki kekuatan diperbolehkan untuk berperilaku agresif, dan perilaku agresif itu dapat meningkatkan status dan kekuasaan seseorang”. Dari sini anak mengembangkan perilaku bullying;
 b. Sekolah
Pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini. Akibatnya, anakanak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi terhadap anak lain. Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah sering memberikan masukan negatif pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah;
 c. Faktor Kelompok Sebaya.
Anak-anak ketika berinteraksi dalam sekolah dan dengan teman di sekitar rumah, kadang kala terdorong untuk melakukan bullying. Beberapa anak melakukan bullying dalam usaha untuk membuktikan bahwa mereka bisa masuk dalam kelompok tertentu, meskipun mereka sendiri merasa tidak nyaman dengan perilaku tersebut.
d. Kondisi lingkungan sosial
Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab timbulnya perilaku bullying. Salah satu faktor lingkungan social yang menyebabkan tindakan bullying adalah kemiskinan. Mereka yang hidup dalam kemiskinan akan berbuat apa saja demi memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak heran jika di lingkungan sekolah sering terjadi pemalakan antar siswanya.
 e. Tayangan televisi dan media cetak
 Televisi dan media cetak membentuk pola perilaku bullying dari segi tayangan yang mereka tampilkan. Survey yang dilakukan kompas (Saripah, 2006) memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%)

(skripsi dan tesis)

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam perilaku bullying dapat dibagi menjadi 4 (empat) (dalam http://repository.usu.ac.id) yaitu: a. Bullies (pelaku bullying) yaitu murid yang secara fisik dan/atau emosional melukai murid lain secara berulang-ulang (Olweus, dalam Moutappa dkk, 2004). Remaja yang diidentifikasi sebagai pelaku bullying sering memperlihatkan fungsi psikososial yang lebih buruk daripada korban bullying dan murid yang tidak terlibat dalam perilaku bullying (Haynie, dkk., dalam Totura, 2003). Pelaku bullying juga cenderung memperlihatkan simptom depresi yang lebih tinggi daripada murid yang tidak terlibat dalam perilaku bullying dan simptom depresi yang lebih rendah daripada victim atau korban (Haynie, dkk., dalam Totura, 2003). Olweus (dalam Moutappa, 2004) mengemukakan bahwa pelaku bullying cenderung mendominasi orang lain dan memiliki kemampuan sosial dan pemahaman akan emosi orang lain yang sama (Sutton, Smith, & Sweetenham, dalam Moutappa, 2004). Menurut Stephenson dan Smith (dalam Sullivan, 2000), tipe pelaku bullying antara lain: (1) tipe percaya diri, secara fisik kuat, menikmati agresifitas, merasa aman dan biasanya populer, (2) tipe pencemas, secara akademik lemah, lemah dalam berkonsentrasi, kurang populer dan kurang merasa aman, dan (3) pada situasi tertentu pelaku bullying bisa menjadi korban bullying. Selain itu, para pakar banyak menarik kesimpulan bahwa karakteristik pelaku bullying biasanya adalah agresif, memiliki konsep positif tentang kekerasan, impulsif, dan memiliki kesulitan dalam berempati (Fonzi & Olweus dalam Sullivan, 2000). Menurut Astuti (2008) pelaku bullying biasanya agresif baik secara verbal maupun fisikal, ingin popular, sering membuat onar, mencari-cari kesalahan orang lain, pendendam, iri hati, hidup berkelompok dan menguasai kehidupan sosial di sekolahnya. Selain itu pelaku bullying juga menempatkan diri di tempat tertentu di sekolah atau di sekitarnya, merupakan tokoh popular di sekolahnya, gerak geriknya sering kali dapat ditandai dengan sering berjalan di depan, sengaja menabrak, berkata kasar, dan menyepelekan/ melecehkan. b. Victim (korban bullying) yaitu murid yang sering menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan dan hanya memperlihatkan sedikit pertahanan melawan penyerangnya (Olweus, dalam Moutappa dkk, 2004). Menurut Byrne dibandingkan dengan teman sebayanya yang tidak menjadi korban, korban bullying cenderung menarik diri, depresi, cemas dan takut akan situasi baru (dalam Haynie dkk, 2001). Murid yang menjadi korban bullying dilaporkan lebih menyendiri dan kurang bahagia di sekolah serta memiliki teman dekat yang lebih sedikit daripada murid lain (Boulton & Underwood dkk, dalam Haynie dkk, 2001). Korban bullying juga dikarakteristikkan dengan perilaku hati-hati, sensitif, dan pendiam (Olweus, dalam Moutappa, 2004). Coloroso (2007) menyatakan korban bullying biasanya merupakan anak baru di suatu lingkungan, anak termuda di sekolah, biasanya yang lebih kecil, tekadang ketakutan, mungkin tidak terlindung, anak yang pernah mengalami trauma atau pernah disakiti sebelumnya dan biasanya sangat peka, menghindari teman sebaya untuk menghindari kesakitan yang lebih parah, dan merasa sulit untuk meminta pertolongan. Selain itu juga anak penurut, anak yang merasa cemas, kurang percaya diri, mudah dipimpin dan anak yang melakukan hal-hal untuk menyenangkan atau meredam kemarahan orang lain, anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain, anak yang tidak mau berkelahi, lebih suka menyelesaikan konflik tanpa kekerasan, anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau menarik perhatiaan orang lain, pengugup, dan peka. Disamping itu juga merupakan anak yang miskin atau kaya, anak yang ras atau etnisnya dipandang inferior sehingga layak dihina, anak yang orientsinya gender atau seksualnya dipandang inferior, anak yang agamanya dipandang inferior, anak yang cerdas, berbakat, atau memiliki kelebihan. ia dijadikan sasaran karena ia unggul, anak yang merdeka, tidak mempedulikan status sosial, serta tidak berkompromi dengan norma-norma, anak yang siap mengekspresikan emosinya setiap waktu, anak yang gemuk atau kurus, pendek atau jangkung, anak yang memakai kawat gigi atau kacamata, anak yang berjerawat atau memiliki masalah kondisi kulit lainnya. Selanjutnya korbannya merupakan anak yang memiliki ciri fisik yang berbeda dengan mayoritas anak lainnya, dan anak dengan ketidakcakapan mental dan/atau fisik, anak yang memiliki ADHD (attention deficit hyperactive disorder) mungkin bertindak sebelum berpikir, tidak mempertimbangkan konsekuensi atas perilakunya sehingga disengaja atau tidak menggangu bully, anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah. ia diserang karena bully sedang ingin menyerang seseorang di tempat itu pada saat itu juga. c. Bully-victim yaitu pihak yang terlibat dalam perilaku agresif, tetapi juga menjadi korban perilaku agresif (Andreou, dalam Moutappa dkk, 2004). Craig (dalam Haynie dkk, 2001) mengemukakan bully victim menunjukkan level agresivitas verbal dan fisik yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lain. Bully victim juga dilaporkan mengalami peningkatan simptom depresi, merasa sepi, dan cenderung merasa sedih dan moody daripada murid lain (Austin & Joseph; Nansel dkk, dalam Totura, 2003). Schwartz (dalam Moutappa, 2004) menjelaskan bully-victim juga dikarakteristikkan dengan reaktivitas, regulasi emosi yang buruk, kesulitan dalam akademis dan penolakan dari teman sebaya serta kesulitan belajar (Kaukiainen, dkk., dalam Moutappa, 2004). d. Neutral yaitu pihak yang tidak terlibat dalam perilaku agresif atau bullying

Pengertian Bullying (skripsi dan tesis)

Kata bullying berasal dari Bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang merunduk kesana kemari. Dalam Bahasa Indonesia, secara etimologi kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang lemah. Sedangkan secara terminology menurut Definisi bullying menurut Ken Rigby dalam Astuti (2008 ; 3, dalam Ariesto, 2009) adalah “sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau sekelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang”. Bullying adalah bentuk-bentuk perilaku kekerasan dimana terjadi pemaksaan secara psikologis ataupun fisik terhadap seseorang atau sekelompok orang yang lebih “lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang. Pelaku bullying yang biasa disebut bully bisa seseorang, bisa juga sekelompok orang, dan ia atau mereka mempersepsikan dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk melakukan apa saja terhadap korbannya. Korban juga mempersepsikan dirinya sebagai pihak yang lemah, tidak berdaya dan selalu merasa terancan oleh bully. (Jurnal Pengalaman Intervensi Dari Beberapa Kasus Bullying, Djuwita, 2005 ; 8, dalam Ariesto 2009)

Jejaring Sosial (skripsi dan tesis)

Adam Mahamat Helou dan Nor Zairah Ab.Rahim dalam jurnal yang berjudul The Influence of Social Networking Sites on Students‟ Academic Performance in Malaysia mengemukakan, Sosial Networking Sites is an online community of internet users who want to communicate with other users about areas of mutual interes, mengemukakan bahwa menurut F.P William dalam bukunya Social Networking Sites : How to Stay Safe Sites: Multi-States Information Sharing & Analysis Center (MSISAC) yang dikutip oleh Abdillah Yafi Aljawiy dan Ahmad Muklason dalam bukunya yang berjudul jejaring sosial dan dampak penggunaannya.
 Aditya Firmansyah mengemukakan bahwa situs jejaring sosial merupakan sebuah situs berbasis pelayanan yang memungkinkan penggunanya untuk membuat profil, melihat list pengguna yang tersedia, serta mengundang atau menerima teman untuk bergabung dalam situs tersebut. Tampilan dasar situs jejaring sosial ini menampilkan halaman profil pengguna, yang di dalamnya terdiri dari identitas diri dan foto pengguna. Sebagaimana yang dikutip oleh Setiawan Dirgayuza dalam bukunya Gaul Ala Facebook untuk pemula Setiap situs jejaring sosial memiliki daya tarik yang berbeda. Namun pada dasarnya tujuannya sama yaitu untuk berkomunikasi dengan mudah dan lebih menarik karena ditambah fitur-fitur yang memanjakan penggunanya. Dengan beberapa penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa situs jejaring sosial merupakan layanan berbasis web dimana digunakan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan pihak lain baik dengan teman, keluarga, maupun suatu komunitas yang memiliki tujuan yang sama.3 Dalam penelitian ini ada dua jejaring sosial yang menjadi focus peniliti dalam melakukan penelitian tentang bullying dijejaring sosial, yaitu: 1. Twitter a. Pengertian Twitter adalah sebuah situs web yang dimiliki dan dioperasikan oleh Twitter,inc dan merupakan salah satu layanan jejaring sosial dan microblog daring yang memungkinkan para penggunanya untuk mengirim, menerima dan membaca pesan berbasis teks yang jumlah karakternya mencapai 140 karakter, yang dikenal dengan sebutan kicauan (tweet). Twitter adalah salah satu jejaring sosial yang banyak diminati oleh penduduk dunia. Sebagian besar penduduk dunia menganggap bahwa twitter adalah salah satu jejaring sosial yang mudah digunakan dan efisien. Jumlah pengguna sekitar 373,400 akun. Jumlah Pengguna aktif per lima menit adalah 600 pengguna, dan 1.200.000 halaman dibuka setiap harinya.4 Maka dari itu, pengguna Twitter dari tahun ke tahun selalu meningkat drastis. Salah satu manfaat dari twitter adalah bahwa setiap orang dapat mengikuti atau mengetahui informasi seseorang yang membagikan postingan atau informasi tertentu agar informasi tersebut dapat diketahui public atau masyarakat luas. Saat ini, isu-isu hangat yang biasa dibicarakan di media masa semua berawal dari twitter. Orang-orang beramai-ramai membahas isu tersebut sehingga menjadi sebuah trending topic dalam bahan pembicaraan masyarakat umum.

Jenis lingkungan Kerja (skripsi dan tesis)

Secara garis besar lingkungan kerja terbagi atas dua, yaitu lingkungan kerja fisik dan lingkungan kerja non fisik (Sedarmayati : 2009). Lingkungan kerja fisik adalah semua keberadaan yang berbentuk fisik, yang terdapat disekitar 12 tempat kerja karyawan, yang dapat mempengaruhi karyawan tersebut secara langsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja fisik ada yang lansung berhubungan langsung dengan karyawan, namun ada juga yang berhubungan dengan perantara atau lingkungan umum, yang dapat juga disebut lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, seperti temperatur, kelembaban, dan sirkulasi udara. Sementara itu, lingkungan kerja non fisik merupakan suatu keadaan yang terjadi dan memiliki kaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan, sesama rekan kerja, maupun bawahan. Perusahaan hendaknya dapat menyediakan kondisi kerja yang kondusif dan mendukung kerja sama antar karyawan yang bekerja di dalamnya baik di atas maupun tingkat bawah, dengan suasa kekeluargaan, adanya komunikasi yang baik, dan juga pengendalian diri yang baik. Lingkungan kerja fisik mencakup setiap hal dari fasilitas parkir diluar gedung perusahaan, lokasi dan rencana gedung sampai jumlah cahaya dan suara yang menimpa meja kerja ruang kerja atau ruang kerja seorang tenaga kerja (Ashar S. Munandar : 2008).
Schultz (Dalam Ashar S. Munandar :2008) mangajukan hasil suatu penelitian di Amerika Serikat tentang kantor yang dirancang seperti pemandangan alam. Kantor yang terdiri dari ruangan yang luas tanpa dinding-dinding bagi yang membagi ruangan kedalam ruangan-ruangan terpisah. Semua karyawan dari pegawai rendah sampai menengah dikelompokan kedalam satuan kerja fugional, masing-masing dipisahkan dari satuan-satuan lainnya dengan pohon-pohon 13 (pendek) dan tanaman, kaca jendela yang rendah lemari-lemari pendek, rak-rak buku. Kantor-kator pemandangan alam ini dikatakan melancarkan komunikasi dan alur kerja. Disamping itu keterbukaan menunjang timbulya ikatan dan kerjasama kelompok serta mengurangi rintangan-rintangan psikologis antara manajemen dan karyawan. Keluhan kantor dalam kantor pemandangan ala mini berkaitan dengan tidak adanya keleluasaan pribadi, adanya banyak kebisingan dan kesulitan berkonsentrasi. Jenis-jenis lingkungan kerja menurut Anwar P. Mangkunegara (2005) yaitu: 1. Kondisi lingkungan kerja fisik yang meliputi : a. Faktor lingkungan tata ruang kerja Tata ruang kerja yang baik akan mendukung terciptanya hubungan kerja yang baik antara sesama karyawan maupun dengan atasan karena akan mempermudah mobilitas bagi karyawan untuk bertemu. Tata ruang yang tidak baik akan membuat ketidak nyamanan dalam bekerja sehingga menurunkan efektivitas kinerja karyawan. b. Faktor kebersihan dan kerapian ruan kerja. Ruang kerja yang bersih, rapi, sehat dan aman akan menimbulkan rasa nyaman dalam bekerja. Hal ini akan meningkatkan gairah dan semangat kerja karyawan dan secara tidak langsung akan meningkatkan efektivitas kinerja karyawan. 2. Kondisi lingkungan kerja non fisik yang meliputi : 14 a. Faktor lingkungan sosial Lingkungan sosial yang sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan adalah latar belakang keluarga, yaitu antara lain status keluarga, jumlah keluarga, tingkat kesejahteraan dan lain-lain. b. Faktor status sosial Semakin tinggi jabatan seseorang semakin tinggi pula kewenangan dan keleluasan dalam mengambil keputusan. c. Faktor hubungan kerja dalam perusahaan Hubungan kerja yang ada dalam perusahaan adalah hubungan kerja antara karyawan dengan karyawan dan antara karyawan dengan atasan. d. Faktor sistem informasi Hubungan kerja akan dapat berjalan dengan baik apabila ada komunikasi yang baik diantara anggota perusahaan. Dengan adanya komunikasi di lingkungan perusahaan maka anggota perusahaan maka anggota perusahaan akan beriteraksi, saling memahami, saling mengerti satu sama lain dapat mehilangkan perselisihan salah paham. 3. Kondisi psikologis dari lingkungan kerja yang meliputi : a. Rasa Bosan Kebosanan kerja dapat disebabkan perasaan yang tidak enak, kurang bahagia, kurang istirahat dan perasaan lelah. b. Keletihan Dalam Bekerja Keletihan kerja terdiri atas dua macam yaitu keletihan kerja psikis dan keletihan psikologis yang dapat menyebabkan meningkatkan absensi, turn over dan kecelakaan

Pengertian lingkungan Kerja (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan aktivitas perusahaan, lingkungan kerja merupakan segala kondisi yang berada disekitar para pekerja, sehingga baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi dirinya dalam melaksanakan tugas yang dibebankan. Lingkungan yang baik dan menyenangkan akan dapat menimbulkan semangat dan bergairah kerja, dan sebaliknya jika lingkungan kerja yang tidak menyenangkan akan dapat mengurangi semangat dan bergairah kerja. Menurut Alex Nitisimito (2006), lingkungan kerja adalah segala yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas yang dibebankan. Lussier (Dalam Hadari Nawawi : 2003) mengartikan bahwa lingkungan kerja adalah kualitas internal operganisasi yang relatif berlangsung terus menerus yang dirasakan oleh anggotanya. Lingkungan kerja adalah semua aspek fisik kerja, psikologis kerja dan peraturan kerja yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja dan tercapai produktivitas (Anwar P. Mangkunegara : 2005)

Hubungan antara Kontrol Diri dengan Perundungan (skripsi dan tesis)

 Perundungan merupakan perilaku yang dilakukan dengan cara di sengaja untuk memberi perasaan yang tidak nyaman pada seseorang. Seperti Mencaci, merendahkan, mencela, memberikan julukan, menendang mendorong memukul meminta uang (merampas, pemerasan), dan menolak untuk berteman merupakan bentuk yang nyata dalam perilaku perundungan. Adapun perilaku yang lebih sering terjadi di kalangan remaja adalah memojokan siswa baru atau adik kelas. Perilaku tersebut sangat sering disamarkan dengan alasan mereka hanya untuk mengajari adik kelas tentang perilaku sopan santun yang ada di sekolah (Yuli & Welhendri 2017). Pelaku perundungan biasanya secara berlebihan sering bersikap agresif, destruktif 28 dan memiliki dominasi mereka yang lebih atas anak-anak yang lain (Carney & Merrell, 2001; NSSC, 1995, dalam Smokowski & Kopasz, 2005). Mereka juga cenderung mudah tersinggung, meledak-ledak, dan memiliki toleransi yang rendah terhadap frustasi (Olweus, 1993, dalam Smokowski & Kopasz, 2005).
Menurut Marsita dan Minauli (2014) salah satu penyebab siswa yang melakukan perundungan yaitu karena rendahnya kontrol diri pada siswa. Individu dengan kontrol diri yang rendah memiliki kecenderungan menjadi impulsif, senang melakukan perbuatan yang berisiko, dan berpikiran sempit. Kontrol diri merupakan pengendalian tingkah laku dimana seseorang melakukan pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bertindak sesuatu. Semakin tinggi kontrol diri yang dimiliki seseorang, maka akan semakin intens pula orang tersebut mengadakan pengendalian terhadap tingkah laku. Sedangkan menurut Sarafino (2012) kontrol diri adalah kemampuan untuk menahan diri dari emosi yang kita miliki, impuls, dan keinginan. Gottfredson dan Hirsch (dalam Gibson, 2010) yang menyatakan bahwa kontrol diri yang rendah meningkatkan kemungkinan pada hampir semua jenis tindakan kejahatan dan penyimpangan yang membawa kesenangan, kepuasan, dan pemenuhan dalam jangka pendek. Seperti kenakalan remaja, tindakan kriminal, dan penyimpangan umum sepanjang kehidupan. Kontrol diri yang rendah seringkali dikaitkan dengan berbagai 29 tindakan menyimpang, seperti perilaku delikuen (Permono, 2014), bahkan tindak kriminal. Kontrol diri adalah hal yang bersifat internal, artinya masing-masing individu memiliki kemampuan kontrol diri yang tidak sama, dengan adanya kontrol diri remaja dapat mengatur perilakunya secara positif dan mempertimbangkan konsekuensi yang dihadapi sehingga menghindari perbuatan yang menyimpang seperti tidak melakukan tindakan kekerasan terhadap teman-teman sekolahnya. Menurut Denson (2012) ketika dorongan untuk berbuat menyimpang maupun agresi sedang mencapai puncaknya, kontrol diri dapat membantu seseorang menurunkan perilaku negatif seperti perundungan dengan mempertimbangkan aspek aturan dan norma sosial yang berlaku.
Menurut Tangney dkk (2004) terdapat 5 aspek kontrol diri yaitu disiplin diri, kesengajaan, kebiasaan baik, etika kerja, dan kepercayaan. Aspek-aspek yang ada dalam kontrol diri menunjukkan bahwa tiap-tiap individu yang memiliki kontrol diri akan membuat remaja cenderung menunjukkan sifat disiplin diri, selalu berusaha untuk berhati-hati, memiliki kebiasaan yang baik, memiliki etika dalam bekerja, dan konsisten. Untuk mencegah maupun mengurangi timbulnya perilaku perundungan di sekolah salah satunya diperlukan adanya kemampuan dalam mengontrol dirinya saat bergaul dan berinteraksi di lingkungan sekolahnya. Sejalan dengan pemaparan di atas, remaja yang memiliki kontrol diri yang baik akan cenderung melakukan perimbangan-pertimbangan terlebih 30 dahulu sebelum bertindak. Mereka akan memikirkan dampak dari perbuatannya terhadap dirinya sendiri dan orang lain. Sehingga remaja dengan kontrol diri yang baik akan memilih untuk tidak terlibat dalam berbagai perilaku negatif seperti perundungan.
Beberapa penelitian mencoba mengkaitkan antara kontrol diri dan perilaku perundungan. Chui dan Chan (2013) melakukan penelitian terhadap 365 siswa di Macau yang berusia antara 10 dan 17 tahun. Dari penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa perundungan berhubungan negatif dengan tingkat kontrol diri siswa. Penelitian terbaru dari Moon dan Alarid (2015) dengan partisipan 300 orang pemuda, mendapatkan hasil bahwa pemuda dengan kontrol diri yang rendah kemungkinan besar akan terlibat perundungan fisik dan psikologis. Kontrol diri yang positif akan menjembatani dari berbagai dorongan-dorongan dan tingkah laku negatif, termasuk perundungan. Dengan demikian, kontrol diri dimungkinkan menjadi salah satu penyebab timbulnya perundungan di sekolah. Remaja memiliki kontrol diri yang baik cenderung tidak melakukan perundungan. Sementara remaja yang memiliki kontrol diri yang rendah cenderung akan melakukan perundungan.

Aspek- aspek kontrol diri (skripsi dan tesis)

Tangney, Baumeister, dan Boone (2004) menyatakan bahwa terdapat lima aspek kontrol diri, yaitu: a. Disiplin diri yaitu mengacu pada kemampuan individu dalam melakukan disiplin diri. Hal ini berarti individu mampu memfokuskan diri saat melakukan tugas. Individu dengan self-discipline mampu menahan dirinya dari hal-hal lain yang dapat mengganggu konsentrasinya. b. Berhati-hati yaitu kecenderungan individu untuk melakukan sesuatu dengan pertimbangan tertentu, bersifat hati-hati, dan tidak tergesa gesa. Individu yang tergolong nonimpulsive mampu bersifat tenang dalam mengambil keputusan dan bertindak. c. Kebiasaan yang baik yaitu kemampuan mengatur pola perilaku menjadi kebiasaa yang menyehatkan bagi individu. Maka dari itu, individu dengan healthy habits akan menolak sesuatu yang dapat menimbulkan dampak buruk bagi dirinya meskipun hal tersebut menyenangkan. Individu dengan healthy habits akan mengutamakan hal-hal yang memberikan dampak positif bagi dirinya meski dampak tersebut tidak diterima secara langsung. d. Etika kerja Yaitu menilai tentang regulasi diri dari etika individu dalam melakukan suatu aktivitas sehari-hari. Individu yang memili work ethics akan mampu menyelesaikan tugasnya tanpa dipengaruhi hal-hal yang ada diluar tugasnya. Individu dengan work ethic mampu memberikan perhatiannya pada pekerjaan yang sedang dilakukan. e. Konsisten Yaitu terkait dengan penilaian individu terhadap kemampuan dirinya dalam pelaksanaan rancangan jangka panjang untuk pencapaian  tertentu. Individu ini secara konsisten akan mengatur perilakunya untuk mewujudkan setiap perencanaannya. Berdasarkan penjelasan mengenai aspek-aspek kontrol diri diatas peneliti lebih menggunakan aspek dan alat ukut teori dari Tangney, Baumeister, dan Boone (2004) karena bisa disimpulkan bahwa seseorang akan memiliki kontrol diri apabila ia mampu memfokuskan diri pada apa yang ia sedang kerjakan, mampu mempertimbangkan dan selalu berhati-hati saat mengambil keputusan, mampu untuk mengatur pola perilaku yang bermanfaat untuk dirinya, tidak mudah untuk terpengaruh pada hal-hal yang di luar tugasnya, dan konsisten dalam mengatur perilakunya agar mewujudkan setiap apa yang direncanakannya.

Definisi Kontrol Diri (skripsi dan tesis)

Tangney, Baumeister dan Boone, (2004) menyatakan bahwa kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk mengontrol atau mengubah respon dari dalam dirinya untuk menghindarkan diri dari perilaku yang tidak diharapkan. Kontrol diri dapat diartikan sebagai keahlian untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan dalam bentuk perilaku yang akan membawa ke arah lebih positif (Munawaroh, 2015). Papalia dan Olds, (2004) kontrol adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan tingkah laku dengan apa yang dianggap diterima secara sosial oleh masyarakat. Wallston (Sarafino, 2006) menyatakan bahwa kontrol diri adalah perasaan individu bahwa ia mampu untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan yang efektif untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dan menghindari hasil yang tidak diinginkan.

Faktor yang mempengaruhi perilaku perundungan (skripsi dan tesis)

Faktor-faktor yang mempengaruhi perundungan menurut Yusuf dan Fahrudin (2012) yaitu:
 1. Faktor individu
Terdapat dua kelompok individu yang terlibat secara langsung dalam peristiwa perundungan, yaitu pelaku perundungan dan korban perundungan. Kedua kelompok ini merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku perundungan. Ciri kepribadian dan sikap seseorang individu mungkin menjadi penyebab kepada suatu perilaku perundungan.
a. Pelaku perundungan
 Pelaku perundungan cenderung menganggap dirinya senantiasa diancam dan berada dalam bahaya. Pelaku perundungan ini biasanya bertindak menyerang sebelum diserang. Biasanya, pelaku perundungan memiliki kekuatan secara fisik dengan penghargaan diri yang baik dan berkembang. Pelaku perundungan juga biasanya terdiri dari kelompok yang coba membina atau menunjukkan kekuasaan kelompok mereka dengan mengganggu dan mengancam anak-anak atau murid lain yang bukan anggota kelompok. Kebanyakan dari mereka menjadi pelaku perundungan sebagai bentuk balas dendam. Dalam kasus ini peranan sebagai korban perundungan telah berubah peranan menjadi pelaku perundungan.
 b. Korban perundungan
 Korban perundungan ialah seseorang yang menjadi sasaran bagi berbagai tingkah laku agresif. Dengan kata lain, korban perundungan ialah orang yang dirundungi atau sasaran perundung. Anak-anak yang sering menjadi korban perundungan biasanya menonjolkan ciri-ciri tingkah laku internal seperti  bersikap pasif, sensitif, pendiam, lemah dan tidak akan membalas sekiranya diserang atau diganggu. Secara umum, anak-anak yang menjadi korban perundungan karena mereka memiliki kepercayaan diri dan penghargaan diri (self esteem) yang rendah.
 2. Faktor keluarga
 Latar belakang keluarga turut memainkan peranan yang penting dalam membentuk perilaku perundungan. Orang tua yang sering bertengkar atau berkelahi cenderung membentuk anak-anak yang beresiko untuk menjadi lebih agresif. Anakanak yang mendapat kasih sayang yang kurang, didikan yang tidak sempurna dan kurangnya diberikan ajaran yang positif akan berpotensi untuk menjadi pelaku perundungan.
3. Faktor teman sebaya
Teman sebaya memainkan peranan yang tidak kurang pentingnya terhadap perkembangan dan pengukuhan tingkah laku perundungan, sikap anti sosial dan tingkah laku di kalangan anak-anak. Kehadiran teman sebaya sebagai pengamat, secara tidak langsung, membantu pelaku perundungan memperoleh dukungan kuasa, popularitas, dan status. Dalam banyak kasus, saksi atau teman sebaya yang melihat, umumnya mengambil sikap berdiam diri dan tidak mau campur tangan.
 4. Faktor sekolah
Lingkungan, praktik dan kebijakan sekolah mempengaruhi aktivitas, tingkah laku, serta interaksi pelajar di sekolah. Rasa aman dan dihargai merupakan dasar kepada pencapaian akademik yang tinggi di sekolah. Jika hal ini tidak dipenuhi, maka pelajar mungkin bertindak untuk mengontrol lingkungan mereka dengan melakukan tingkah laku anti sosial seperti melakukan perundungan terhadap orang lain. Managemen dan pengawasan disiplin sekolah yang lemah akan mengakibatkan lahirnya tingkah laku perundungan di sekolah.
 5. Faktor media Paparan aksi dan tingkah laku kekerasan yang sering ditayangkan oleh televisi dan media elektronik akan mempengaruhi tingkah laku kekerasan anakanak dan remaja. Beberapa waktu yang lalu, masyarakat diramaikan oleh perdebatan mengenai dampak tayangan Smack-Down di sebuah televisi swasta yang dikatakan telah mempengaruhi perilaku ke-kerasan pada anak-anak. Meskipun belum ada kajian empiris dampak tayangan Smack-Down di Indonesia, namun para ahli ilmu sosial umumnya menerima bahwa tayangan yang berisi kekerasan akan memberi dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang kepada anak-anak.
6. Faktor kontrol diri
Kontrol diri adalah faktor yang berasal dari diri individu. Kontrol diri yang dimiliki setiap individu berbeda-beda, ada yang memiliki kontrol diri yang tinggi dan ada yang memiliki kontrol diri yang rendah. Menurut Denson (2012) kontrol diri dapat menurunkan agresi dengan mempertimbangkan aspek dan aturan yang berlaku. Dengan adanya kontrol diri individu dapat mengatur perilakunya secara positif dan mempertimbangkan kosekuensi yang di hadapi sehingga menghindari untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap teman-temannya. 22 Berdasarkan penjelasan faktor-faktor diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku perundungan dikarenakan adanya perasaan ingin mendominasi dan balas dendam yang ada dalam diri perundung, rendahnya kepercayaan diri yang dimiliki oleh korban rundungan sehingga merasa dirinya memang pantas diperlakukan layaknya di dirundung. lingkungan sekolah yang tidak harmonis, kondisi keluarga yang tidak rukun, adanya faktor dari media seperti halnya tayangan di televisi yang banyak menayangkan kekerasan sehingga banyak yang mengikuti aksi di tayangan tersebut dan rendahnya kontrol diri yang dimiliki oleh invidu. Alasan saya lebih pada kontrol diri dalam penelitian saya karena dari semua faktor kontrol diri yang paling berperan dalam kehidupan sehari-hari, karena kontrol diri yang memutuskan seseorang untuk mengambil keputusan yang benar atau yang salah.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi perilaku perundungan menurut Astuti (2008) antara lain:
1. Perbedaan kelas (senioritas), ekonomi, agama, jender, etnisitas atau rasisme. Biasanya muncul karena ada perbedaan strata atau tingkat ekonomi dari mayoritas yang berada di lingkungan tersebut yang menyebabkan munculnya perilaku perundungan.
2. Tradisi senioritas, sebagai tempat munculnya perilaku perundungan, yang paling terlihat saat MOS atau masa orientasi siswa dimana kakak-kakak kelasnya selalu menunjukkan bahwa merekalah yang paling berkuasa karena mereka 16 sudah lama 23 bersekolah di sekolah tersebut daripada adik tingkatnya tersebut, sehingga adik tingkatnya harus menuruti apa kata kakak kelasnya.
 3. Senioritas, sebagai salah satu perilaku perundungan seringkali pula justru diperluas oleh siswa sendiri sebagai kejadian yang bersifat laten. Bagi mereka keinginan untuk melanjutkan masalah senioritas ada untuk hiburan, penyaluran dendam, iri hati atau mencari popularitas, melanjutkan tradisi atau menunjukkan kekuasaan
. 4. Keluarga yang tidak rukun, juga menjadi salah satu timbulnya perilaku perundungan, jika para orang tua sering bertengkar bahkan sampai menunjukkan kekerasan di hadapan anak-anaknya maka anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya, begitu juga jika kurangnya rasa kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anaknya, hal ini juga akan membuat anak memiliki perilaku agresif.
 5. Situasi sekolah yang tidak harmonis, hal ini juga memberikan pengaruh munculnya perilaku perundungan, seperti halnya jika para guru yang kurang dalam memberikan pengawasan terhadap para siswa, dan adanya peraturan yang dibuat hanya untuk formalitas saja tetapi tidak benar-benar dipergunakan semestinya.
6. Karakter individu atau kelompok seperti:
 a. Dendam atau iri hati.
 b. Adanya semangat ingin menguasai korban dengan kekuasaan fisik dan daya tarik seksual.
 c. Untuk meningkatkan popularitas pelaku di kalangan teman sepermainannya (peers).
 d. Persepsi nilai yang salah atas perilaku korban, karena rendahnya kepercayaan diri dan (self esteem) yang dimiliki korban, korban seringkali merasa bahwa dirinya memang pantas untuk mendapat perilaku perundungan.
Berdasarkan penjelasan faktor-faktor diatas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi munculnya perilaku perundungan dikarenakan adanya perasaan ingin mendominasi dan balas dendam yang ada dalam diri pelaku perundungan, rendahnya kepercayaan diri yang dimiliki oleh korban perundungan sehingga merasa dirinya memang pantas dirundung. lingkungan sekolah yang tidak harmonis, kondisi keluarga yang tidak rukun, adanya faktor dari media seperti halnya tayangan di televisi yang banyak menayangkan kekerasan sehingga banyak yang mengikuti aksi ditayangan tersebut dan rendahnya kontrol diri yang dimiliki oleh invidu. Berdasarkan penjelasan diatas kontrol diri sangat berpengaruh pada perilaku perundungan karena kontrol diri adalah kemampuan untuk mengontrol diri sendiri untuk menghindarkan dari perilaku yang tidak diharapkan, salah satu penyebab perilaku perundungan yaitu faktor keluarga yang tidak rukun, orang tua yang sering bertengkar dan bahkan menunjukan kekerasan dihadapan anak-anaknya maka anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya, ditambah dengan kurangnya rasa kasih sayang yang diberikan orang tua kepada anaknya. Hal ini dapat berdampak anak memiliki perilaku yang agresif

Aspek-aspek Perundungan (skripsi dan tesis)

Berdasarkan data-data yang diperoleh di atas, terdapat aspek-aspek yang menunjukkan adanya perilaku perundungan. Solberg dan Olweus (2003) mengemukakan beberapa aspek mengenai perilaku perundungan meliputi: a. Aspek lisan kegiatan yang bertujuan untuk menyakiti seseorang dengan cara menertawakan dengan menjadikannya bahan lelucon, menyapa seseorang dengan nama julukan sehingga akan membuat seseorang manjadi tidak nyaman, sakit hati dan marah. b. Aspek tidak langsung Kegiatan yang bertujuan untuk menolak atau mengeluarkan dan menjauhi seseorang dari kelompok pertemanan atau meninggalkannya dari berbagai hal secara disengaja seperti memfitnah seseorang dengan menceritakan kebohongan tentang seseorang agar orang tersebut di nilai buruk oleh teman-temannya. c. Aspek fisik Kegiatan melukai seseorang dengan cara Memukul, menendang, mendorong, mempermainkan atau meneror dan melakukan hal-hal yang bertujuan untuk menyakiti dan mencederai.

 Menurut Riauskina, dkk (2005) mengelompokkan perilaku perundungan ke dalam 5 (lima) bentuk. Lima bentuk perilaku perundungan tersebut yaitu : a. Kontak Fisik Langsung Bentuk kontak langsung antara lain seperti memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, memeras, dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain. b. Kontak Langsung Kontak langsung yang ditunjukkan antara lain seperti mengancam, mempermalukan, merendahkan, menganggu, memberi panggilan nama, mencela atau mengejek, mengintimidasi, memaki, dan menyebarkan gosip. c. Perilaku langsung Perilaku langsung yang ditunjukkan antara lain seperti melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek atau mengancam (biasanya disertai dengan perundungan fisik atau verbal).  d. Perilaku tidak langsung Perilaku tidak langsung yang ditunjukkan antara lain seperti mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, dan mengirimkan surat kaleng. e. Pelecehan Seksual Bentuk perilaku perundungan dengan pelecehan seksual dikategorikan kedalam bentuk perilaku agresi fisik atau verbal. Berdasarkan penjelasan mengenai aspekaspek perilaku perundungan diatas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri yang menunjukkan perilaku perundungan dapat dilakukan secara Verbal, Indirect, dan secara physical dalam bentuk langsung maupun tidak langsung.
 Shaw, dkk. (2013), membagi perilaku perundungan berdasarkan lima jenis aspek perilaku yaitu: 1. Aspek langsung Memanggil seseorang dengan nama yang buruk seperti mengejek mencaci maki. 2. Aspek mengancam Mengancam, menakuti dengen menunjukan gestur tubuh contohnya melotot. 3. Aspek fisik Menyakiti seseorang secara fisik (memukul, menendang, mendorong), merusak atau mencuri barang milik orang lain. 4. Aspek Relasional Merusak hubungan sosial, seperti mengeluarkan korban dari kelompok atau memecah persahabatan orang lain. 5. Aspek sosial Menyebar rumor atau gosip untuk merusak status sosial seseorang.
Kemudian aspek-aspek yang dikemukakan oleh Rigby (2002) adalah: a. Bentuk fisik Menendang, memukul, dan menganiaya orang yang dirasa mudah dikalahkan dan lemah secara fisik. b. Bentuk verbal Menghina, menggosip, dan memberi nama ejekan pada korbannya. c. Bentuk isyarat tubuh Mengancam dengan gerakan dan gertakkan d. Bentuk berkelompok Membentuk koalisi dan membujuk orang untuk mengucilkan seseorang. Berdasarkan aspek-aspek perundungan yang telah dikemukakan oleh ketiga tokoh di atas, peneliti lebih memilik aspek-aspek perundungan yang dikemukakan oleh Shaw, dkk. (2013) dan kemudian juga menjadi alat ukur dalam penelitian ini, karena aspek dan alat ukur milik Shaw, dkk. (2013) masih jarang digunakan dalam penelitian dan juga sangat cocok untuk anak remaja.

Definisi Perilaku Perundungan (skripsi dan tesis)

Perundungan merupakan sebuah kata serapan dari Bahasa Inggris. Istilah perundungan dalam KBBI lebih dikenal dengan istilah yang memiliki arti proses, cara, perbuatan merundung yang dapat diartikan sebagai seorang yang menggunakan kekuatan untuk menyakiti atau mengintimidasi orang-orang yang lebih lemah darinya, biasanya dengan memaksa untuk melakukan apa yang diinginkan oleh pelaku. Perundungan adalah kegiatan yang sengaja atau disadari yang bertujuannya untuk menyakiti dan melukai seseorang dan dilakukan secara berulang-ulang kali. Definisi perundungan menurut Rigby (2002) yaitu sebagai penekanan atau penindasan berulang-ulang, secara psikologis atau fisik terhadap seseorang yang memiliki kekuatan yang kurang oleh orang atau kelompok orang yang lebih kuat. Olweus (1997) mengatakan bahwa perundungan atau perundungan adalah perilaku negatif atau kurang baik yang menyebabkan seseorang dalam situasi keadaan yang tidak nyaman atau tersakiti dan biasanya terjadi terus-menerus yang ditandai dengan adanya ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban. Perilaku perundungan atau perundungan ini tidak lepas dari keinginan untuk berkuasa dan juga menjadi seseorang yang selalu ditakuti di lingkungan sekolahnya. Menurut Coloroso (2007) perundungan merupakan tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. 15 Tindakan penindasan ini dapat diartikan sebagai penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau kelompok sehingga korban merasa tertekan, trauma, dan tidak berdaya. Menurut Smith dan Thompson (Yusuf & Fahrudin, 2012) perundungan diartikan sebagai salah satu perilaku yang dilakukan dengan sengaja yang menyebabkan kecederaan fisik dan psikologis yang akan menerimanya. Sehingga akan dapat diartikan bahwa pelaku perundungan ini menyerang korban dengan secara sadar dan sengaja tanpa memikirkan kondisi korban. Berdasarkan pemaparan perundungan di atas, perundungan bisa diartikan sebagai salah satu bentuk perilaku agresif yang dilakukan secara berulang-ulang yang bertujuan untuk melukai dan menindas seseorang yang lebih rendah dan lebih lemah dari diri pelaku perundungan karena hanya untuk memperoleh kekuasaan agar ditakuti

Klasifikasi Perundungan (skripsi dan tesis)

Terdapat 2 mode dan 4 tipe perundungan menurut (Gladen et al, 2014). 2 mode perundungan yang dimaksud yaitu: 1. Langsung: Tindakan agresif yang muncul dihadapan orang yang ditarget, seperti mendorong seseorang yang ditarget atau mengatakan kata-kata yang menyakitkan pada korban. 2. Tidak langsung: tindakan agresif yang tidak diberikan kepada target secara langsung, seperti menyebarkan rumor tentang korban perundungan atau memberikan kata-kata yang menyakitkan lewat internet. 4 tipe perundungan menurut (Gladen et al, 2014) adalah: 1. Fisik: Menggunakan kekuatan fisik kepada orang yang ditarget, seperti memukul, menendang, mendorong, atau membuat seseorang jatuh. 2. Verbal: Komunikasi oral atau tertulis yang dilakukan pelaku kepada target perundungan yang membahayakan target. 10 Seperti mengejek, mengancam, atau memberikan komentar seksual yang tidak pantas. 3. Relasional: tindakan oleh pelaku perundungan yang dirancang untuk membahayakan reputasi dan hubungan sosial target perundungan. Contoh pada perundungan langsung adalah usaha untuk mengisolasi target perundungan untuk berinteraksi dengan kelompok mereka atau mengacuhkan mereka. Sedangkan contohnya pada perundungan tidak langsung adalah seperti mengirimkan foto memalukan menggunakan internet tanpa sepengetahuan korban perundungan. 4. Merusak properti: pencurian, perubahan kepemilikan atau merusak barang target perundungan yang bertujuan untuk membahayakan target. Tindakan ini termasuk mengambil barang korban perundungan dan tidak mengembalikan barang tersebut.

Kriteria Perundungan (skripsi dan tesis)

Menurut (Cornell & Limber, 2015), terdapat 3 kriteria utama dalam perundungan, yaitu: 1. Tindakan agresif yang disengaja Perundungan dapat sulit dibedakan dengan lelucon maupun konflik. Dikarenakan hal tersebut, maka sulit untuk membedakan antara lelucon anak yang berteman dengan interaksi sosial yang tidak sehat. 2. Terdapat ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban 9 Ketidakseimbangan kekuatan sulit untuk diukur. Meskipun terdapat penilaian ukuran fisik dan kekuatan yang layak dalam kasus perundungan fisik, perundungan verbal dan sosial memerlukan penentuan penilaian status sosial diri di antara rekan, kepercayan diri, atau kemampuan kognitif. 3. Dilakukan berulang-ulang

Penyebab Perundungan (skripsi dan tesis)

 

Menurut (Smith, 2016), terdapat beberapa penyebab perundungan di sekolah, yaitu:
1 Perbedaan Umur Perundungan muncul dimulai di sekolah dasar, pada usia 7 hingga 8 tahun. Ada beberapa perubahan seiring dengan bertambahnya usia, dari intimidasi fisik menjadi intimidasi tidak langsung. Perundungan memuncak pada usia 11-14 tahun, dan sedikit lebih tua untuk cyberbullying. Perundungan menurun pada tahun tahun berikutnya, tetapi terdapat penelitian mengenai perundungan pada mahasiswa dan beberapa berlanjut hingga di tempat kerja (Cowie & Myers, 2018).
.2 Perbedaan gender Laki-laki cenderung menjadi pelaku perundungan, namun jumlah kejadian perundungan berdasarkan jenis kelamin setara 7 antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih banyak menggunakan perundungan fisik, sementara perempuan lebih sering menggunakan perundungan tidak langsung dan cyberbullying (Smith, 2016).
.3 Perundungan yang disebabkan karena cacat tubuh Banyak studi yang menunjukkan besarnya kemungkinan anak yang memiliki cacat tubuh mengalami perundungan. Sebuah studi di Northem Ireland (Watters, 2011) melaporkan terdapat jumlah yang sangat signifikan pada anak yang memiliki keterbatasan tubuh menjadi korban atau pelaku perundungan di sekolah. Dikarenakan beberapa alasan, anak dengan keterbatasan tubuh cenderung terlibat sebagai korban dan terkadang pelaku perundungan (Watters, 2011).
4 Perundungan akibat identitas seseorang Perundungan akibat identitas ini dapat berhubungan dengan etnis atau ras seseorang. Meskipun tindakan rasisme bisa menyebar, tetapi anak yang berasal dari etnis minoritas cenderung menjadi korban perundungan dibandingkan etnis mayoritas. Perundungan akibat identitas juga dapat disebabkan oleh keyakinan seseorang yang berbeda, seperti mereka yang termasuk dalam orang-orang LGB (Lesbian, Gay, Bisexual) (Smith, 2016).
Sedangkan menurut Hicks et al (2018), terdapat beberapa penyebab perundungan di sekolah, yaitu: 1. Persepsi perundungan yang berbeda berdasarkan pengalaman masing-masing 2. Guru yang tidak dipercaya oleh murid 3. Menjadi berbeda meningkatkan kemungkinan menjadi korban perundungan 4. Perundungan langsung sering terjadi diluar kelas 5. Cyberbullying dan perundungan langsung seringkali saling berhubungan 6. Pelaku perundungan adalah murid yang popular dan jarang dicurigai oleh pendidik.

Prevalensi perundungan (skripsi dan tesis)

Menurut Hicks dkk (2018), lebih dari 34% murid dilaporkan telah mengalami perundungan di sekolah mereka, dengan lebih dari 37% murid tersebut mengalami perundungan selama hidupnya. Jumlah murid yang mengalami cyberbullying lebih sedikit dibandingkan perundungan langsung. Banyak murid yang mengalami kedua-duanya, baik cyberbullying maupun perundungan langsung (Hicks et al, 2018).

Definisi Perundungan (skripsi dan tesis)

Perundungan adalah suatu tindakan agresif yang tidak diinginkan oleh
orang lain atau kelompok lain dan terdapat kekuatan yang tidak seimbang,
diulangi beberapa kali, dan kemungkinan besar akan terus berulang.
Perundungan dapat membahayakan dan menyebabkan gangguan pada
korban perundungan. Gangguan pada orang yang ditarget meliputi bahaya
fisik, psikis, sosial, dan edukasional (Gladen et al, 2014).
Perundungan dapat dinilai dari keluarga, guru, atau laporan rekan,
seperti melalui observasi langsung. Sebagian besar laporan mengenai
perundungan mengandalkan penilaian laporan pribadi meskipun ada
kekhawatiran biasnya penilaian yang disebabkan oleh keinginan sosial,
presentasi diri, dan ketakutan atas pembalasan (Hymel & Swearer, 2015).
Jenis kelamin juga berpengaruh terhadap perundungan. Laki-laki
cenderung melakukan perundungan terhadap orang yang tidak bergabung
dengan kelompok mereka, sedangkan perempuan lebih sering melakukan
perundungan terhadap orang diluar lingkaran sosial mereka (Palowski &
Rettew, 2015).

Pengaruh Kepuasan Kerja Terhadap Keinginan Keluar (skripsi dan tesis)

Kepuasan kerja merupakan seperangkat perasaan pegawai tentang menyenangkan atau tidak pekerjaan mereka, atau suatu perasaan pegawai atau tidak senang yang relatif berbeda dari pemikiran obyektif dan niat perilaku. Menurut Rivai (2004) kepuasan kerja adalah suatu sikap umum terhadap pekerjaan seseorang; sebagai perbedaan antara banyaknya ganjaran yang diterima pekerja dan banyaknya yang diyakini yang seharusnya diterima. Kepuasan kerja menyangkut seberapa jauh karyawan merasakan kesesuaian antara seberapa besar penghargaan yang diterima dan pekerjaannya dengan ekspektasinya mengenai seberapa besar yang seharusnya diterima. Faktor lain misalnya kondisi pasar tenaga kerja, pengeluaran mengenai kesempatan kerja altenatif dan panjangnya masa kerja, dalam organisasi itu sebenarnya merupakan kendala yang penting dalam keputusan untuk meninggalkan pekerjaan. Sesuai penelitian yang dilakukan oleh Cahyono (2005), Narimawati (2006), Rachmayani dan Suyono (2007), Rohman (2009), Triyanto (2009), Wulandari (2010) dan Rahayu (2011).

Pengaruh Komitmen Organisasional Terhadap Keinginan Keluar (skripsi dan tesis)

Komitmen organisasional adalah derajat sejauh mana seorang karyawan memihak suatu organisasi tertentu dan tujuan-tujuannya, dan berniat untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi. Sedangkan menurut Rahayu (2011) komitmen organisasional dapat didefinisikan sebagai sebuah kepercayaan pada dan penerimaan terhadap tujuan-tujuan dan nilai-nilai dari organisasi dan atau profesi dengan menggunakan usaha yang sungguh-sungguh guna kepentingan organisasi. Sesuai penelitian yang dilakukan oleh Siswanti (2005), Narimawati (2006), Rachmayani dan Suyono (2007), Rohman (2009), Wulandari (2010) dan Rahayu (2011)

Pengaruh Ketidakamanan Kerja Terhadap Keinginan Keluar (skripsi dan tesis)

Ketidakamanan kerja merupakan kondisi psikologis seseorang karyawan yang menunjukan rasa bingung atau merasa tidak aman dikarenakan kondisi lingkungan yang berubah-ubah, biasanya kondisi ini muncul karena banyaknya jenis pekerjaan yang sifatnya sesaat atau pekerjaan kontrak. Penelitian yang dilakukan oleh Irwandi (2008) menemukan bahwa ketidakamanan kerja berpengaruh terhadap keinginan keluar. Hal ini ditunjukkan meningkatnya perputaran organisasi akan menimbulkan ketegangan, rasa tidak aman dan tidak nyaman dalam bekerja. Bagi karyawan ancaman tersebut merupakan alasan rasional untuk mencari alternatif pekerjaan lain yang lebih aman. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Wening (2005), Rachmayani dan Suyono (2007), Wulandari (2010) yang sudah melakukan penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa ketidakamanan kerja mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keinginan keluar.

Hubungan antara Efikasi Diri Bekerja dan Ketidakamanan Bekerja pada Karyawan Kontrak (skripsi dan tesis)

 

Karyawan kontrak merupakan karyawan yang diberikan pekerjaan dengan rentang waktu tertentu berdasarkan kontrak dari masing-masing instansi. Karyawan kontrak biasanya dapat di berhentikan sewaktu-waktu ketika perusahaan tidak membutuhkan tenaga tambahan lagi, tetapi ada juga karyawan kontrak yang diangkat untuk menjadi karyawan tetap berdasarkan syarat dan ketentuan oleh perusahaan. Karyawan kontrak cenderung memiliki sedikit hak dan cenderung tidak aman dalam hal   kepastian lapangan pekerjaan. ketidakamanan kerja adalah kondisi psikologis seseorang (karyawan) yang menunjukkan rasa bingung atau merasa tidak aman dikarenakan kondisi lingkungan yang berubah-ubah, makin banyaknya jenis pekerjaan dengan durasi watu yang sementara atau tidak permanen menyebabkan semakin banyaknya karyawan yang mengalami ketidakamanan kerja, sedangkan efikasi diri dalam bekerja di definisikan sebagai keyakinan individu mengenai kemampuan dan kompetensinya dalam menampilkan unjuk kerja yang baik pada berbagai pekerjaan dan situasi pekerjaan. Menurut Burchel (dalam Setiawan, 2010) yang menyatakan terdapat hubungan antara pekerjaan dan kondisi mental seseorang. Seorang karyawan yang merasa khawatir akan kehilangan pekerjaannya berhubungan dengan aspek-aspek efikasi diri dalam bekerja, seperti seberapa besar usaha yang dilakukan, keyakinan diri, dan cara berfikir seseorang. Karyawan yang memiliki efikasi kerja yang tinggi akan lebih produktif sehingga memiliki usaha yang besar untuk mencapai target pekerjaan yang diberikan, dan karyawan akan memikirkan stretegi ketika menghadapi kesulitan sehingga karyawan kontrak akan terhindar dari rasa ketakutan akan kehilangan pekerjaannya. Sebaliknya jika karyawan kontrak memiliki tingkat produktivitas kerja yang rendah akan cepat menyerah sehingga akan rentan merasakan kecemasan terhadap kontinuitas pekerjaan yang akan berdampak terhadap tidak terselesaikannya target kerja yang telah ditentukan perusahaan.  Seorang karyawan yang merasa khawatir akan kehilangan pekerjaannya berhubungan dengan kepercayaan atau keyakinan diri yang dimiliki oleh seorang karyawan dalam bekerja (Amalia, 2014). Karyawan kontrak yang memiliki efikasi kerja yang tinggi, akan merasa yakin terhadap kontinuitas dan progesivitas pekerjaan yang dilakukannya dalam mencapai tujuan yang diinginkan, dapat menghadapi ancaman dengan keyakinan bahwa mereka mampu mengontrolnya dan percaya pada kemampuan diri yang mereka miliki. Sedangkankan, karyawan kontrak yang memiliki keyakinan diri yang rendah akan merasa tidak berdaya, merasa cemas, dan keraguan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Kebanyakan tindakan manusia bermula dari sesuatu yang dipikirkan terlebih dahulu, individu yang memiliki efikasi yang tinggi lebih senang membayangkan tentang kesuksesan, sebaliknya individu yang memiliki efikasi diri yang rendah lebih banyak membayangkan kegagalan dan hal-hal yang dapat menghambat tercapainya kesuksesan (Bandura, 1995). Peran pola pikir sangat penting dalam menghadapi permasalahan , individu dapat menjadi seorang yang optimis atau menjadi pesimis. Karyawan kontrak yang memiliki efikasi kerja yang tinggi akan berfikir positif untuk menghadapi situasi ketidakpastian serta menilai kontrak kerja sebagai suatu tekanan untuk terus berusaha dalam bekerja, karyawan yang memiliki pola pikir yang positif akan memiliki persepsi diri yang baik juga, ketika karyawan kontrak memiliki persepsi yang positif terhadap dirinya maka akan terhindar dari perasaan cemas,   ketakutan akan kehilangan status sosial, dan ketakutan akan kehilangan pekerjannya. Sebaliknya, karyawan kontrak yang memiliki efikasi kerja yang rendah akan berfokus pada kelemahan dirinya dan menilai kesulitan yang akan muncul secara berlebihan. Menurut Jacobson & Hartle (dalam Yunanti, 2014), karyawan kontrak rentan mengalami ketidakamanan kerja karena bisa dikategorikan sebagai pekerjaan yang memiliki ketidakpastian akan masa depan, karena kelanjutan kerja karyawan kontrak ditentukan pada kontrak kerja yang telah disepakati sebelumnya, sehingga menimbulkan rasa ketidakamanan dalam bekerja tetapi Individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan mempersepsikan tuntutan lingkungan sebagai tekanan untuk lebih berusaha (Bandura, 2010). Penelitian mengenai hubungan antara efikasi diri dan ketidakamanan kerja sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh Rigotti, dkk (dalam Sulistyawati, 2012) pada karyawan kontrak, yang menghasilkan adanya hubungan negatif antara efikasi diri dan ketidakamanan kerja. Dengan demikian, peneliti mengasumsikan bahwa karyawan kontrak yang memiliki efikasi diri dalam bekerja tinggi, akan memiliki tingkat ketidakamanan kerja yang rendah. Sedangkan karyawan kontrak yang memiliki efikasi kerja rendah akan mudah putus asah, menyerah, sehingga ketidakamanan kerja yang dirasakan lebih tinggi dibandingkan karyawan kontrak yang memiliki efikasi kerja yang tingg

Aspek-aspek Efikasi Diri Bekerja (skripsi dan tesis)

Menurut Bandura (2010) aspek-aspek efikasi diri bekerja (dalam Sulistyawati, Nurtjahjanti, dan Prihatsanti, 2012) yaitu : a. Level Level adalah tingkat kesulitan yang diharapkan dapat dicapai oleh individu yang berkaitan dengan pencapaian suatu tujuan. tingkatan dari suatu tugas dapat dinilai dari tingkat kecerdikan, adanya usaha, ketelitian, produktivitas, cara menghadapi ancaman, dan pengaturan diri yang dikehendaki. b. Strenght Adanya individu memiliki kepercayaan kuat bahwa mereka akan berhasil walaupun dalam tugas yang berat, sebaliknya juga ada yang memiliki kepercayaan rendah apakah dapat melakukan tugas tersebut.  Individu yang memiliki efikasi kerja yang rendah akan mudah menyerah sedangkan yang memiliki efikasi kerja yang kuat akan tekun berusaha menghadapi kesulitan. c. Generality Adanya individu yang menunjukkan bahwa apakah indivu mampu memiliki efikasi kerja pada banyak situasi atau pada situasi-situasi tertentu. Hal ini dapat dinilai dari tingkatan aktivitas yang sama, cara-cara dalam melakukan sesuatu yang kemampuannya dapat diekspresikan melalui kognitif, afektif, dan konatif. Kesimpulan dari aspek-aspek efikasi diri dalam bekerja yaitu, bagaimana individu dapat mencapai tujuan dan tugas yang sulit sehingga memiliki kepercayaan yang kuat untuk berhasil mencapai tujuan dan tugas dengan menunjukkannya pada situasi tertentu dalam pekerjaannya

Definisi Efikasi Diri Bekerja (skripsi dan tesis)

Efikasi diri dalam bekerja atau bisa disebut dengan efikasi kerja merupakan suatu konsep yang berasal dari efikasi diri tetapi lebih spesifik pada masalah pekerjaan. Efikasi kerja adalah keyakinan seseorang mengenai kemampuan dan kompetensinya dalam menampilkan unjuk kerja yang baik pada berbagai jenis tugas dan situasi pekerjaan (Schyns dan Von Collani (dalam Schyns, 2009). Efikasi kerja juga merupakan pertimbangan seseorang berdasarkan kemampuan mereka untuk melakukan tugas-tugas dasar yang diperlukan dalam bekerjadan mempertahankan pekerjaan tersebut (Larson, 2008). Sedangkan menurut Bandura (dalam Sulistyawati dkk, 2012), efikasi kerja merupakan keyakinan dalam diri individu akan kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu, menghadapi rintangan dan melakukan tindakan sesuai situasi yang dihadapi untuk meraih keberhasilan yang diharapkan. Penggunaan konsep efikasi kerja dianggap konsep yang tepat untuk melihat efikasi diri karena dalam bekerja seseorang tenaga kerja tidak hanya mengerjakan satu tugas yang spesifik, melainkan juga melakukan lebih dari satu tugas. Konsep general self efficacy dianggap kurang menguntungkan apabila digunakan dalam lingkup organisasi karena konsepnya terlalu luas dan umum di setiap domain, sehingga sebaiknya lebih di spesifikkan pada lingkup pekerjaan (Schyns, 2009). Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa efikasi diri bekerja merupakan kemampuan individu untuk dapat mengontrol dan membuat keputusan yang tepat dalam menghadapi situasi tertentu dalam mencapai tujuan dan juga merupakan sejauh mana seseorang berfikir akan kemampuannya.

Faktor-faktor Ketidakamanan Bekerja (skripsi dan tesis)

Burchell (1999) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakamanan bekerja, yaitu : a. Faktor subyektif Berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) seperti kemudahan mencari pekerjaan baru, karakteristik dari pekerjaan yang baru serta pengalaman menjadi pengangguran. b. Faktor obyektif Seperti stabilitas pekerjaan, masa kerja, tingkat retensi atau daya tahan kerja karyawan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakaamanan bekerja terdiri dari karakteristik pekerjaan, karakteristik individu, kondisi lingkungan kerja, dan perubahan organisasi.

Aspek-aspek Ketidakamanan Bekerja (skripsi dan tesis)

Menurut Rowntree (dalam Hanafiah, 2014), aspek-aspek ketidakamanan bekerja, yaitu : a. Ketakutan akan kehilangan status sosial. Individu yang terancam kehilangan status sosial akan memiliki ketidakamanan kerja yang tinggi dibanding yang tidak merasa terancam mengenai pekerjaannya b. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan. Karyawan yang mendapat ancaman negatif tentang pekerjaannya akan memungkinkan timbulnya ketidakamanan kerja pada karyawan begitu pula sebaliknya. c. Rasa tidak berdaya. Karyawan yang kehilangan pekerjaan akan merasa tidak berdaya dalam menjalankan pekerjaannya. 13 Berdasarkan uraian diatas, maka dalam penelitian ini digunakan aspekaspek ketidakamanan bekerja yang dikemukakan oleh Rowntree (2005) karena sesuai dengan keadaan lapangan yang akan di teliti yaitu ketakutan akan kehilangan status sosial, ketakutan akan kehilangan pekerjaan, dan rasa tidak berdaya.

Komponen Ketidakamanan Bekerja (skripsi dan tesis)

Ashford (1989) mengembangkan pengukuran ketidakamanan bekerja yang dikemukakan oleh Greenhalg dan Rosenblatt yang terdiri dari 5 komponen, yaitu :   a. Arti penting pekerjaan. Seberapa penting karyawan menganggap bagian-bagian seperti gaji, jabatan, promosi, dan lingkungan kerja dapat mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan individu dalam menjalankan pekerjaan. b. Tingkat ancaman pada aspek-aspek pekerjaan. Seperti kemungkinan mendapat promosi, mempertahankan tingkat upah yang sekarang, atau memperoleh kenaikan upah. Individu yang menilai aspek kerja tertentu yang terancam hilang akan lebih merasa gelisah dan tidak berdaya. c. Tingkat ancaman terhadap peristiwa yang mempengaruhi pekerjaan. Tingkat ancaman kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang secara negatif mempengaruhi keseluruhan kerja individu, misalnya dipecat atau dipindahkan ke kantor cabang lain. d. Tingkat kepentingan potensi setiap peristiwa. Tingkat kepentingan-kepentingan yang dirasakan individu mengenai potensi setiap peristiwa seperti tingkat kekhawatiran individu untuk tidak mendapatkan promosi atau menjadi karyawan tetap dalam suatu perusahaan. Seberapa besar kemungkinan perubahan negatif pada keseluruhan kerja yang dirasakan karyawan dalam keadaan terancam. e. Ketidakberdayaan. Ketidakmampuan individu untuk mencegah munculnya ancaman yang berpengaruh terhadap aspek-aspek pekerjaan dan pekerjaan secara keseluruhan yang teridentifikasi pada dua komponen sebelumnya.
 Ketidakaamanan bekerja terdiri dari 5 komponen yaitu arti penting pekerjaan, tingkat ancaman pada aspek-aspek pekerjaan, tingkat ancaman terhadap peristiwa yang mempengaruhi pekerjaan, tingkat kepentingan potensi setiap peristiwa, dan ketidakberdayaan. Salah satu komponen yaitu ketidakberdayaan merupakan implikasi tentang kemampuan individu untuk menghadapi ancaman yang teridentifikasi dalam empat komponen sebelumnya

Definisi Ketidakamanan Bekerja (skripsi dan tesis)

Banyak pengertian yang diberikan oleh para ahli mengenai definisi dari ketidakamanan bekerja. Menurut Greenhalgh dan Rosenblatt (dalam De Witte, 2014) mendefenisikan ketidakaman kerja sebagai rasa ketidakberdayaan untuk mempertahankan kesinambungan yang diinginkan dalam situasi pekerjaan yang mengancam. Menurut Greenhalgh dan Rosenblatt (dalam Sulistyawati, Nurthajjanti, Prihatsani, 2012) Ketidakamanan kerja juga didefenisikan sebagai fenomena yang lebih kompleks yang bukan hanya terdiri dari ketakutan akan kehilangan pekerjaan, namun juga meliputi ketakutan kehilangan dimensi-dimensi atau fasilitas yang bernilai dari suatu pekerjaan yang meliputi stabilitas kerja, penilaian kerja yang positif dan promosi. Smithson dan Lewis (2000) mengartikan ketidakamanan kerja sebagai kondisi psikologis seseorang (karyawan) yang menunjukkan rasa bingung atau merasa tidak aman dikarenakan kondisi lingkungan yang berubah-rubah. Kondisi ini muncul karena banyaknya jenis pekerjaan yang sifatnya sesaat atau pekerjaan kontrak. Makin banyaknya jenis pekerjaan dengan durasi waktu yang sementara atau tidak permanen menyebabkan semakin banyaknya karyawan yang mengalami ketidakamanan kerja. Sementara itu, Menurut Saylor (dalam Hermawar, 2016) ketidakamanan kerja juga diartikan sebagai  perasaan tegang, gelisah, khawatir, stress, dan merasa tidak pasti dalam kaitannya dengan sifat dan keberadaan pekerjaan selanjutnya yang dirasakan pada pekerja. Rowntree (dalam Hanafiah, 2014) juga menjelaskan ketidakamanan kerja sebagai kondisi yang berhubungan dengan rasa takut seseorang akan kehilangan pekerjaan atau prospek akan demosi atau penurunan jabatan sebagai ancaman lainnya terhadap kondisi kerja yang berasosiasi dengan menurunnya kepuasan kerja. Ketidakamanan kerja juga dapat didefenisiskan sebagai ketidakamanan yang dihasilkan dari ancaman terhadap kontinuitas atau keberlangsungan kerja seseorang (Reisel, 2002). Berdasarkan dari pengertian-pengertian yang dikemukakan oleh para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa ketidakamanan bekerja merupakan pandangan individu terhadap situasi yang dialami individu tersebut di dalam sebuah organisasi yang menimbulkan ketidakamanan didalam pekerjaan yang dilakukannya.

Hubungan Ketidakamanan kerja terhadap turnover intention dengan komitmen organisasi sebagai variabel intervening (skripsi dan tesis)

Ketidakamanan kerja merupakan suatu ketidakpastian yang dirasakan dalam suatu pekerjaan yang menyebabkan rasa takut dan tidak aman terhadap konsekuensi pekerjaan tersebut yang meliputi ketidakpastian dalam penempatan atau masalah gaji serta dalam promi atau pelatihan dalam organisais tersebut. Keinginan berpindah kerja (turnover intention) mengacu pada hasil evaluasi seorang karyawan terhadap dirinya mengenai keberlanjutan hubungan  dengan organsiasi atau perusahaan yang belum diwujudkan dalam tindakan pasti untuk meninggalkan organisasi. Jika perasaan tidak aman yang mulai dirasakan oleh karyawan muncul,maka seorang karyawan akan merasakan keinginan untuk berpindah kerja dengan berbagai alasan dan tentunya komitmen organisasi yang sudah di bangun sejak ia bekerja di perusahan tersebut akan berkurang. Komitmen organisasi memiliki hubungan yang erat dengan ketidakamanan kerja dan turnover intention, karena ketika seorang karyawan sudah merasa tidak aman maka keinginan pindah kerja tinggi melalui komitmen organisasinya akan turun. Menurut Ridho dan Syamsuri (2018) dalam jurnalnya tentang analisis pengaruh job insecurity dengan kepuasan kerja dan komitmen organisasi sebagai variabel intervening terhadap intensi turnover menunjukkan bahwa job insecurity berpengaruh terhap turnover intention dengan komitmen organisasi sebagai variabel intervening. Menurut Utami dan Bonussyeani (2009) dalam jurnalnya tentang pengaruh job insecurity, kepuasan kerja, dan komitmen organisasional terhadap keinginan berpindah kerja dengan menunjukkan hasil bahwa job insecurity melalui komitmen organisasi secara signifikan dan negatif berpengaruh terhadap keinginan berpindah kerja dengan komitmen organisasi berperan sebagai variabel intervening. Menurut Annisa (2017) tentang pengaruh ketidakamanan kerja, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi terhadap turnover intention pada PT. Riau Crumb Rubber Factory (Ricry) Pekanbaru menyatakan bahwa Komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Turnover Intention pada PT. Riau Crumb Rubber Factory (RICRY) Pekanbaru.

Hubungan Ketidakamanan kerja terhadap turnover intention (skripsi dan tesis)

Ketidakamanan Kerja (job insecurity) yaitu suatu perasaan yang tidak baik yang dirasakan oleh karyawan baik cemas maupun perasaan takut atas pekerjaan yang dilakukan yang berdampak atas pekerjaan itu sendiri serta berdampak pada diri sendiri. Turnover Intention yaitu suatu perasaan yang dirasakan oleh karyawan berupa perasaan yang tidak nyaman dan merasakan suatu yang tidak lagi diminati dan biasanya dapat dilihat dari kebiasan yang ia lakukan di kantor dan sudah jenuh atas pekerjaan yang ia lakukan dan mempunyai keinginan yang sebaiknya tidak dilakukan di dalam sebuah perusahaan. Ketidakamanan kerja yang ia rasakan dalam perusahaan atau organisasi akan berdampak negatif bagi perusahaan. Jika ketidakamanan kerjanya tinggi keinginan untuk berpindah kerja pun mulai dirasakan oleh seorang karyawan, karena ketidakamanan kerja muncul akibat tidak aman atas pekerjaan, tidak nyaman dan tidak betah dalam perusahaan karena perlakuan yang diberikan 32 dalam perusahaan sehingga keinginan untuk berpindah kerja muncul dan mencari pekerjaan lain. Audina dan Kusmayadi (2018) dan Ashford et al (1989) dalam penelitiannya tentang pengaruh job insecurity terhadap turnover intention menemukan bahwa Job insecurity berpengaruh positif dan signifikan terhadap turnover intention. Menurut Widyasari dkk (2017) dalam penelitiannya tentang pengaruh ketidakamanan kerja dan kompensasi terhadap kepuasan kerja dan turnover intention dengan hasil bahwa ketidakamanan kerja berpengaruh positif terhadap turnover intention. Menurut Mawei (2016) tentang job Insecurity, komitmen organisasi karyawan dan kepuasan kerja serta dampaknya terhadap turnover intention dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa job Insecurity berpengaruh signifikan terhadap turnover intention

Hubungan Komitmen Organisasi terhadap turnover intention (skripsi dan tesis)

Komitmen Organisasi merupakan perasaan yang keluar dari diri sendiri atau keadaan dimana seorang karyawan sudah yakin dan sudah memiliki  ketertarikan atas pekerjaan yang ia lakukan sehingga dalam mengerjakan pekerjaan ia senang atas pekerjaan maupun organisasi tersebut. Turnover Intention yaitu keadaan seorang karyawan tidak lagi betah bekerja dan sudah mempunyai angan angan dan sudah mulai mencari pekerjaan atau perusahaan yang lain, karena ia sudah tidak merasakaan kenyamanan bekerja dalam perusahaan tersebut. Jika komitmen dalam diri seorang karyawan tinggi, seperti ia selalu melakukan tugas dengan baik, memiliki rasa percaya diri atas dirinya dalam pekerjaan tersebut tinggi, maka keinginan untuk berpindah kerja itu tidak muncul atau rendah karena dengan komitmen yang ia bentuk dalam dirinya akan membuat ia atau menjadikan ia seorang karyawan yang setia terhadap pekerjaan dan perusahaan tersebut. Menurut Putra dan Suana (2016) tentang pengaruh komitmen organisasional dan job insecurity terhadap turnover intention pada karyawan mengatakan bahwa komitmen organisasional berpengaruh negatif terhadap intensi keluar karyawan yang berarti semakin tinggi rasa peduli terhadap keberlangsungan perusahaan akan mengurangi keinginan karyawan untuk keluar. Menurut Shobirin dkk (2016) tentang analisis pengaruh kepemimpinan, komitmen organisasi dan kepuasan kerja terhadap keinginan pindah kerja karyawan PT PT. Bank Btpn Mitra Usaha Rakyat Area Semarang mengatakan bahwa adanya komitmen organisasi berpengaruh negatif terhadap keinginan pindah kerja karyawan Peran keamanan kerja dan komitmen organisasi terhadap turnover intention serta dampaknya pada kinerja karyawan dalam penelitian Soedarmadi dkk (2017) dan Chang (1999) mengatakan bahwa Komitmen Organisasi  berpengaruh negatif terhadap Turnover intention. Annisa (2017) tentang pengaruh ketidakamanan kerja, kepuasan kerja, dan komitmen organisasi terhadap turnover intention pada PT. Riau Crumb Rubber Factory (Ricry) Pekanbaru mengatakan bahwa komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap turnover intention.

Hubungan ketidakamanan kerja terhadap komitmen organisasi (skripsi dan tesis)

Job Insecurity merupakan keadaan dimana seorang karyawan yang tidak lagi merasa suka atas pekerjaannya, dan merasakan tidak betah di dalam sebuah perusahaan atas beberapa hal dan dapat di dilihat melalui tingkah laku yang ia lakukan di dalam perusahaan.  Komitmen Organisasi merupakan suatu keadaan atau pemberian dari diri sendiri seperti loyalitas yang diberikan seorang karyawan atas pekerjaan dan organisasi yang bersangkutan, dan biasanya itu keluar atas kemauan diri sendiri Jika ketidakamanan kerja yang ia rasakan dalam organisasi tinggi seperti keadaan seorang karyawan sudah cemas akan dirinya, sudah merasa tidak aman atas pekerjaanya, akan menimbulkan turunnya komitmen organisasi terhadap perusahaan dan cenderung tidak adanya komitmen atas perusahaan atau pekerjaan yang ia lakukan yang akan merugikan perusahaan atau organisasi. Ridho dan Syamsuri (2018) dalam penelitiannya tentang analisis pengaruh job insecuirty dengan kepuasan kerja dan komitmen organisasi sebagai variabel intervening terhadap turnover intention mengatakan bahwa job insecurity memiliki pengaruh yang signifikan dan negatif terhadap komitmen organisasi. Peran keamanan kerja dan komitmen organisasi terhadap turnover intention serta dampaknya pada kinerja karyawan dalam jurnalnya Soedarmadi dkk (2017) dan Cuyper (2009) mengatakan bahwa Job Insecurity berpengaruh negatif terhadap komitmen organisasi

Dampak Turnover Intention (skripsi dan tesis)

Dampak yang akan dirasakan oleh karyawan dengan tingkat turnover intention tinggi yaitu seperti kehilangan pekerjaan yang sudah pasti adanya dan berharap mendapatkan kerja yang lebih baik padahal belum tentu kerjaan yang baru lebih baik dari yang sebelum nya, seperti yang dikatakan oleh Russ dan McNeilly (1995) yang menyatakan bahwa ketika seorang sudah memiliki keinginan berpindah kerja, maka sudah mengevaluasi bahwa pekerjaan yang baru akan lebih baik dari yang sebelumnya, namun demikian apakah kesepatan untuk berpindah atau mencari kerja yang baru dapat tersedia. Menurut Mawei (2016) mengatakan bahwa ada beberapa efek dari turnover intention yang tinggi yaitu produktifitas karyawan yang menurun, aktifitas pekerjaan perusahaan terganggu, timbul masalah moral kerja karyawan lain, biaya perekrutan,wawancara, serta seleksi yang tinggi, pengecekan baiaya adminsitrasi karyawan baru, dan tunjangan serta biaya peluang yang hilang karena adanya karyawan baru, dan harus mempelajari keahlian baru. Menurut Dubas dan Nijhawan (2007) menyatakan bahwa turnover intention yang rendah dapat menurunkan perputaran karyawan serta biaya yang akan dikeluarkan. Efek negatif pada perusahaan karena menyebabkan biaya biaya tambahan yang bersigat merugikan bagi perusahaan

Faktor penyebab Turnover Intention (skripsi dan tesis)

Menurut Dewi dan Wibawa (2016) faktor terjadinya turnover intention yaitu karena adanya ketidakpuasan di dalam sebuah perusahaan seperti upah yang diperoleh setiap bulannya, dan beban kerja yang dirasakan karyawan terlalu berat, kerjasama tim yang kurang kondusif dan adanya tekanan dari atasannya. Jika karyawan mengalami tidak aman dalam bekerja, maka dapat menimbulkan keingan berpindah kerja. Penyebab lain dari adanya keinginan berpindah karyawan adalah menurunnya tingkat komitmen organisasi dari karyawan menurut Putra dan Suana (2016). Judge, (1993) menyebutkan bahwa terdapat faktor lain yang menyebabkan timbulnya turnover intention (keinginan berpindah) pada karyawan adalah pengaruh buruk dari pemikiran disfunctional. Pengaruh tersebut akan timbul karena terjadi konflik, perasaan tidak puas dan tidak senang terhadap lingkungan kerja yang dapat memicu rasa tidak aman karyawan untuk melakukan pekerjaan. Widyasari dkk (2017) mengatakan bahwa tingginya tingkat turnover intention karyawan akan menyebabkan persoalan yang serius dalam sebuah organisasi yang akan berdampak buruk bagi perusahaan atau organisasi.

Indikator variabel turnover intention menurut Jehanzeb et al (2013) diantaranya adalah : 1) Pikiran untuk keluar. Merupakan situasi di dalam perusahaan yang dirasa kurang nyaman yang menyebabkan karyawan memiliki pikiran untuk  keluar dari perusahaan. Indikator ini diukur dari tanggapan responden apakah memiliki pikiran untuk keluar dari perusahaan. 2) Keinginan untuk mencari lowongan pekerjaan lain. Merupakan ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan karyawan sehingga memicu keinginan dari karyawan untuk mencari lowongan pekerjaan lain. Indikator ini diukur dari tanggapan responden apakah memiliki keinginan untuk mencari lowongan pekerjaan yang lain. 3) Adanya keinginan untuk meninggalkan organisasi di masa mendatang. Merupakan adanya keinginan dari karyawan untuk mencari pekerjaan lain dalam beberapa bulan mendatang yang dianggap lebih baik dari pekerjaan sebelumnya. Indikator ini diukur dari tanggapan responden apakah memiliki keinginan untuk meninggalkan organisasi dalam beberapa bulan mendatang. Menurut Mobley (1979) mengatakan bahwa ada tiga indikator yang terdapat dalam turnover intention, yaitu : 1) Berpikir untuk keluar. Karyawan yang akan meninggalkan pekerjaan biasanya akan memiliki pikiran untuk meninggalkan sebelum memutuskan akan meninggalkan perusahaan. 2) Keinginan untuk mencari pekerjaan lain. Karyawan yang sudah berpikir untuk meninggalkan pekerjaan, maka karyawan akan memiliki keinginan untuk mencari pekerjaan yang lain. 3) Keinginan untuk meninggalkan. Karyawan yang sudah memiliki pikiran atau keinginan untuk keluar meninggalkan perusahaan tentunya akan semakin tinggi keinginan untuk meninggalkan perusahaan

Keinginan berpindah kerja ( turnover intention)(skripsi dan tesis)

Pasewark dan Strawser (1996) mendefinisikan keinginan berpindah kerja mengacu pada keinginan seorang karyawan yang memiliki keinginan atau alternatif untuk mencari pekerjaan lain tetapi belum dilaksanakan, masih dalam keinginan dan belum tindakan. Menurut Mathis dan Jackson (2009) dalam Annisa (2017) turnover intention dikelompokkan kedalam beberapa cara yang berbeda. Setiap 25 klasifikasi berikut dapat digunakan dan tidak dapat terpisah satu sama lain yaitu keinginan berpindah kerja secara tidak sukarela yaitu keluar dari pekerjaan akibat dari pemecatan karena kinerja yang buruk dan melakukan pelanggaran, selanjutnya dengan cara sukarela karena adanya keinginan sendiri. Low et al, (2001) Keinginan berpindah kerja (turnover intention) yaitu sebuah sinyal awal yang terjadi dalam organisasi. Turnover intention menunjukkan bahwa tingkat kecenderungan sikap yang dimiliki oleh karyawan untuk mencari pekerjaan yang baru di luar tempat kerja sekarang dan adanya rencana untuk meninggalkan perusahaan dalam masa yang akan datang baik setahun atau dua tahun yang akan datang. Menurut Abid dan Hassan (2017) mengatakan bahwa turnover intention diekspresikan secara bergantian dengan berhenti dan meninggalkan perusahaan. Ini terdiri dari aspek psikologis, kognitif dan perilaku, dan mencerminkan kecenderungan subjektif karyawan bahwa ia akan meninggalkan organisasi pada waktu mendatang. Kesediaan yang disengaja karyawan untuk meninggalkan organisasi mengarah pada keputusan perilaku karyawan.

Dampak komitmen organisasi (skripsi dan tesis)

Menurut Luthans (1995), dampak yang dirasakan dari adanya komitmen organisasi yaitu seorang karyawan akan mempunyai kepuasan tersendiri atas pekerjaan yang dijalankan dan akan memberikan manfaat bagi perusahaan itu sendiri, dan dapat menguntungkan bagi perusahaan. Menurut Greenhalg dan Rosenblatt (1984) ketidakamanan kerja yaitu suatu kondisi ketidakberdayaan dalam mempertahankan keseimbangan yang diinginkan dalam kondisi kerja yang mengancam, dan perasaanan tidak aman akan berdampak pada job attitudes karyawan, dan dapat menurunkan komitmen organisasi para karyawan

Faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi (skripsi dan tesis)

Menurut David (1994) dalam Djati dan Khusaini (2003) mengatakan bahwa faktor faktor komitmen organisasi menjadi empat karakteristik yang meliputi faktor personal, karakteristik kerjanya, struktural, dan pengalaman kerja yang sudah dilakukannya. Dengan demikian komitmen organisasi bukan hanya kesetiaan pada organisasi,tetapi suatu proses yang terus berjalan dimana para karyawan mengekspresikan kepeduliaanya terhadap organisasi. Komitmen organisasi sebagai suatu sikap karyawan yang ditunjukkan terhadap organisasi. Menurut Porter dan Smith (1970) dalam Mowday dan Porter   (1978) komitmen organisasi didefinisikan sebagai kekuatan relatif dari identifikasi individu dengan keterlibatan organisasi tertentu yang dapat dicirikan oleh tiga faktor yaitu keyakinan yang kuat dalam menerima dan keringanan tjuan dan nilai organisasi, kesediaan untuk mengerahkan upaya yang cukup besar atas nama organisasi, dan keinginan kuat untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi

Indikator Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)

Allen & Meyer (1981) dalam Ridho dan Syamsuri ( 2018) menjelaskan bahwa terdapat tiga indikator dari komitmen organisasi, yaitu: 1) Affective Commitment. Affective Commitment berkaitan dengan hubungan emosional anggota terhadap organisasinya, identifikasi dengan organisasi, 23 dan keterlibatan anggota dengan kegiatan di organisasi. Ketika seorang karyawan memiliki affective commitment yang tinggi, maka ia akan tetap bertahan dalam sebuah organisasi karena ia memang menginginkan hal itu. 2) Continuance Commitment Pada dimensi ini anggota organisasi memiliki kesadaran bahwa ia akan mengalami kerugian jika meninggalkan organisasi. Seorang karyawan dengan continuance commitment yang tinggi akan terus bertahan dalam organisasi karena karyawan tersebut memiliki kebutuhan untuk menjadi anggota organisasi tersebut. 3) Normative Commitment Karyawan dengan normative commitment yang tinggi akan terus menjadi anggota organisasi karena merasa dirinya harus berada dalam organisasi tersebut. Menurut Crow et al (2012) ada beberapa indikator yang termasuk dalam komitmen organisasi yaitu keterikatan pada organisasi, arti penting pekerjaan itu sendiri, dan keterlibatan dalam organisasi.

Komitmen Organisasi (skripsi dan tesis)

Menurut Robbins (2016) komitmen organisasi dapat dikatakan sebuah tujuan dan harapan untuk tetap menjadi anggota dalam sebuah perussahaan ini sendiri dan bahkan jika karyawan tidak senang dengan pekerjaan mereka, mereka rela berkorban untuk organisasi, karena mereka merasa cukup berkomitmen terhadap organisasi tersebut . Sedangkan menurut Aranya et al (1981) menyatakan bahwa komitmen organisasi yaitu rasa kepercayaan dan penerimaan terhadap tujuan dan nilai dari perusahan itu sendiri. Sebuah kemauan dan memelihara anggota dalam menggunakan usaha yang sungguh sunngguh demi kepentingan perusahaan. Dan menurut Luthans (1995) menyatakan bahwa komitmen organisasi merupakan sikap yang diberikan karyawan seperti loyalitas terhadap perusahaan yang dapat membantu untuk berkembang nya perusahaan. Menurut Luthans (1995), komitmen organisasi didefinisikan sebagai keinginan yang kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu. Dengan demikian keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi dan keyakinan tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi akan menjadikan seorang untuk tetap menjaga komitmen organisasi dalam dirinya sendiri. Penelitian Akbiyik et al. (2014) dalam penelitiannya yang dilakukan di sektor pariwisata Turkey mengungkapkan masalah yaitu adanya perbedaan komitmen organisasi antara karyawan tetap dan karyawan kontrak. Karyawan kontrak dalam penelitian tersebut memiliki komitmen organisasi lebih rendah dibandingkan dengan karyawan tetap hal ini disebabkan karena karyawan kontrak tidak 22 memperoleh hak yang sama dengan karyawan tetap. Menurut Putra dan Suana (2016) komitmen organisasi dibangun atas dasar kepercayaan karyawan atas nilai nilai dari organisasi, kerelaan karyawan dalam membantu dan mewujudkan tujuan organisasi dan loyalitas untuk tetap menjadi anggota organisasi, maka dari itu komitmen organisasi akan menimbulkan rasa ikut memiliki (sense of belonging) baik individu atau organisasi. Komitmen organisasi memiliki arti penting bagi karyawan dan perusahaan itu sendiri karena dalam diri seorang karyawan harus memiliki komitmen terhadap organisasi itu sendiri, baik untuk kepentingan dirinya maupun perusahaan. Seperti yang dikatakan Robbins (2015) yang menyatakan bahwa pekerja yang memiliki komitmen pada organisasi akan memiliki tingkat kepuasann kerja yang tinggi dan ketika seorang sudah komitmen, dia akan selalu setia dan tetap bertahan dalam pekerjaan nya. Menurut Mawei (2016) komitmen karyawan merupakan kondisi yang mencirikan hubungan antara karyawan dan organisasi yang memiliki implikasi bagi keputusan individu untuk tetap berada atau meninggalkan organisasi / intention to quit

Dampak Job insecurity (skripsi dan tesis)

Menurut Pasewark dan Strawser (1996) dalam Toly (2001) mengatakan bahwa ada empat dampak job insecurity yaitu: 1. Konflik peran, muncul disaat ada berbagai tuntutan dari banyak sumber yang menyebabkan karyawan merasa kesulitan dalam menentukan apa yang harus dipenuhi tanpa tuntutan tidak diabaika. 2. Ketidakjelasan peran, menggambarkan pada kurangnya kejelasan mengenai tugas, wewenang dan tanggung jawab terhadap pekerjaannya. 3. Locus of control (pusat pengendalian), mengarah pada kemampuan individu dalam mempengaruhikejadian yang berhubungan dengan hidupnya. Bila individu memiliki locus of control eksternal maka ia percaya bahwa akan kekuatan lingkungan sekitarnya dalam mengendalikan takdirnya, sebaliknya jika individu mempunyai locus of control internal, maka menggambarkan kemampuan seseorang dalam menghadapi ancaman apapun yang munkin akan terjadi timbul dari lingkungannya. 4. Perubahan organisasi, merupakan berbagai kejadian yang secara potensial dapat mempengaruhi sikap dan persepsi individu sehingga dapat menyebabkan perubahan yang signifikan dalam organisasi. Kejadian tersebut antara lain seperti merger, perampingan (downsizing), reorganisasi, teknologi baru dan pergantian manajemen

Faktor penyebab Job Insecurity (skripsi dan tesis)

Menurut Audina dan Kusmayadi (2018) Seberapa besar ancaman yang diberikan oleh perusahaan terkait dengan pekerjaan yang dilakukan dapat menjadi penyebab seseorang merasakan ketidakamanan kerja dalam perusahaan. Menurut Natti dan Happonen (2000) mengatakan bahwa 19 gender dan organisasi merupakan prediktor signifikan dari ketidakamanan kerja, berdasarkan literatur multidimensi dengan memeriksa ketidakamanan kerja dalam sebuah oragnisasi. Jehanzeb et al (2013) mengatakan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi ketidakamanan kerja di dalam sebuah perusahaan, seperti ketidakamanan kerja yang dirasakan dalam perusahaan dapat memberikan penyebab kenapa karyawan memiliki keinginan untuk berpindah kerja. Menurut Robbins (2009) faktor faktor ketidakamanan kerja adalah karakteristik individu itu sendiri yang meliputi : 1. Umur, ketika bertambahnya umur seorang maka akan semakin berkurangnya produktifitas yang akan menimbulkan ketidakamanan kerja pada diri seorang karyawan. 2. Status perkawinan, kesesuaian antara kepribadian dan pekerjaan pekerjaannya. Apabila karyawan merasa tidak cocok dengan pekerjaan yang dilakukannya maka karyawan akan merasa tidak aman atau mengalami ketidakamanan kerja. 3. Tingkat kepuasan kerja, setiap orang tentunya memiliki tingkat kepuasan kerja yang berbeda sehingga apabila karyawan sudah puas dengan hasil kerjanya maka belum tentu karyawan lain sudah puas, sehingga seorang karyawan yang belum puas tersebut akan mengalami ketidakmanan kerja.

Indikator ketidakamanan kerja (job insecurity) (skripsi dan tesis)

Indikator variabel ketidakamanan kerja atau job insecurity dapat dikemukakan sebagai berikut Greenhalgh dan Rosenblatt (1984) adalah sebagai berikut:  1) Arti pekerjaan itu bagi individu. Merupakan suatu pekerjaan yang memiliki nilai positif terhadap perkembangan karirnya sehingga pekerjaan tersebut memiliki arti penting bagi kelangsungan kerjanya. Indikator ini diukur dari tanggapan responden apakah pekerjaan yang diberikan memiliki arti yang besar bagi masing-masing karyawan. 2) Tingkat ancaman yang dirasakan karyawan mengenai aspek-aspek pekerjaan. Merupakan seberapa besar tingkat ancaman yang dirasakan karyawan terkait aspek aspek pekerjaan mereka. Indikator ini diukur dari tanggapan responden apakah dapat menyelesaikan tugas dengan baik walaupun ada ancaman yang dirasakan karyawan mengenai aspek-aspek pekerjaan. 3) Tingkat ancaman yang kemungkinan terjadi dan mempengaruhi keseluruhan kerja individu. Merupakan kemungkinan terjadinya ancaman kerja yang dapat mempengaruhi keseluruhan kerja karyawan. Indikator ini diukur dari tanggapan responden apakah merasa terancam terkait kemungkinan yang terjadi dan mempengaruhi keseluruhan kerja karyawan. 4) Tingkat kepentingan-kepentingan yang dirasakan individu mengenai potensi setiap peristiwa tersebut

Ketidakamanan Kerja (job insecurity) (skripsi dan tesis)

Greenhalgh dan Rosenblatt (1984) mendefinisikan job insecurity sebagai ketidakberdayaan seseorang dalam mempertahankan kesinambungan yang diinginkan dalam kondisi kerja yang terancam. Annisa (2017) mengatakan bahwa ketidakamanan kerja merupakan kondisi psikologis seorang karyawan yang merasa terancam dalam perusahaan atau khawatir akan kelangsungan pekerjaannya dimasa yang akan datang. Dalam hal job insecurity perusahaan perlu untuk membuat sebuah lingkungan kerja yang aman dan nyaman bagi karyawannya. Dengan kata lain, job insecurity harus dapat ditingkatkan oleh setiap perusahaan dengan cara mengurangi kondisi yang tidak aman. Kekesi dan Collins, (2014) mengatakan bahwa ketidakamanan kerja merupakan ketidakberdayaan seseorang atau perasaan kehilangan kekuasaan untuk mempertahankan kesinambungan yang diinginkan dalam kondisi atau situasi kerja yang terancam. Menurut Greenhalgh dan Rosenblatt 1984 terdapat empat elemen penting ketidakamanan kerja yaitu : 1. Kesinambungan yang diinginkan, yang merupakan ciri karyawan menginginkan posisi permanen atau tetap, yang tidak selalu dianggap benar. Beberapa karyawan senang jika diberhentikan tiba tiba karena ketika mereka menerima paket pesangon yang menarik, 17 2. dan meninggalkan pekerjaan yang memang tidak mereka sukai dari awal, dan beralih ke pekerjaan yang lebih menarik. 3. Ancaman, yang dialami oleh karyawan secara subyektif dan dapat menimbulkan rasa tidak aman kerja baik secara nyata dan tidak nyata,seringkali para karyawan mendapat informasi yang tidak jelas. Tetapi bahkan pengumuman resmi tidak akan menciptakan keresahan kerja jika kesinambungan yang tidak diharapkan sejak awal kerja. 4. Melibatkan fitur pekerjaan yang berisiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karyawan khawatir tentang perubahan yang terjadi di perusahaan yang akan mengakibatkan para karyawan kehilangan pekerjaan seperti yang mereka ketahui. 5. Ketidakberdayaan, ketika seorang karyawan menghadapi ancaman tetapi memiliki kekuatan untuk melawan ancaman tersebut, maka ketidakamanan tidak akan muncul. Kontrak kerja,prosedur manajerial, serikat pekerja, atau koneksi politik dalam perusahaan dapat melindungi karyawan yang bekerja. Karyawan memiliki kekuatan karena mereka dapat mengancam untuk menuntut atasan atas pelanggaran kontrak atau diskriminasi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self Efficacy (skripsi dan tesis)

Ormrod (2008) menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan self efficacy diantaranya: a. Keberhasilan dan kegagalan pembelajar sebelumnya Pembelajar akan lebih mungkin yakin bahwa mereka dapat berhasil pada suatu tugas ketika mereka telah berhasil pada tugas tersebut atau tugas lain yang mirip dimasa lalu. Strategi yang penting untuk meningkatkan self efficacy adalah dengan berhasil dalam beragam tugas dengan bidang yang berbeda. Namun pada akhirnya individu akan mengembangkan self efficacy yang lebih tinggi ketika mereka dapat menyelesaikan tugas-tugas yang menantang dengan sukses. Inidividu yang telah mengembangkan perasaan self efficacy yang tinggi tidak mungkin menurunkan optimismenya begitu besar jika sekali terjadi kegagalan. b. Pesan dari orang lain Meningkatkan self efficacy dapat dilalui dengan cara menunjukkan secara eksplisit hal-hal yang telah mereka lakukan dengan baik sebelumnya atau hal-hal yang sekarang telah dilakukan dengan mahir. Cara lainnya adalah alasan yang dipaparkan orang lain bahwa individu tersebut harus percaya akan kesuksesannya dimasa depan. c. Kesuksesan dan kegagalan orang lain Dalam menilai kesuksesan diri sendiri, seringkali seseorang mempertimbangkan kesuksesan dan kegagalan orang lain yang berada dilingkungannya, terutama yang kemampuannya setara. Ketika menyaksikan orang yang memiliki kemampuan setara dengannya sukses, maka munculah alasan untuk optimis akan kesuksesan diri sendiri. Dengan kata lain, jika seseorang mengamati orang lain dengan usia dan kemampuan yang setara mencapai tujuan secara sukses, maka akan ada keyakinan bahwa dirinya juga dapat mencapai tujuan tersebut.Kesuksesan dan kegagalan dalam kelompok yang lebih besar Konsep self efficacy kolektif muncul ketika kebanyakan orang memiliki self efficacy yang lebih tinggi ketika mereka berkolaborasi dengan orang lain, asalkan kelompok tersebut berfungsi secara lancar dan efektif.

Sumber Self Efficacy (skripsi dan tesis)

Bandura (dalam Alwisol, 2009) mengatakan bahwa efikasi diri bisa diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau kombinasi dari empat sumber, yaitu:
a. Pengalaman Performansi
Pengalaman performansi adalah prestasi yang pernah diperoleh di masa lalu. Sebagai sumber, performansi masa lalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi masa lalu yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi, sedangkan kegagalan akan menurunkan efikasi. Mencapai keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi. 2. Kerja sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibanding kerja kelompok, dibantu orang lain. 3. Kegagalan menurunkan efikasi, apabila orang merasa sudah berusaha sebaik mungkin. 4. Kegagalan dalam suasana emosional/stres, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal. 5. Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan efikasinya belum kuat. 6. Orang yang biasa berhasil, sesekali gagal tidak mempengaruhi efikasi.
b. Pengalaman Vikarius
Didapat melalui model sosial. Self efficacy akan meningkat ketika individu mengamati keberhasilan orang lain. Sebaliknya, self efficacy akan menurun apabila individu mengamati orang yang kemampuannya sama dengan dirinya ternyata gagal. Apabila figur yang diamati berbeda dengan dirinya, pengaruh vikarius tidak besar. Ketika individu mengamati kegagalan figur yang setara dengan dirinya, bisa saja individu tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama Persuasi Sosial Dampak dari persuasi sosial ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistis dari apa yang dipersuasikan. d. Keadaan Emosi Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi di bidang kegiatan itu. Emosi yang kuat dapat mengurangi self efficacy. Tetapi self efficacy dapat meningkat apabila terjadi peningkatan emosi. Kesimpulan yang bisa diambil dari uraian diatas adalah bahwa self efficacy dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan atau diturunkan, melalui salah satu atau kombinasi dari empat sumber yang diungkapkan oleh Bandura, yaitu pengalaman performansi, pengalaman vikarius, persuasi sosial, dan keadaan emosi.

Dimensi-Dimensi Self Efficacy (skripsi dan tesis)

Menurut Bandura (1997, dalam Ghufron & Rini, 2011) dimensi self efficacy ada tiga yaitu level, strenght, generality. a. Level (dimensi tingkat) Level yaitu persepsi individu mengenai kemampuannya yang menghasilkan tingkah laku yang akan diukur melalui tingkat tugas yang menunjukkan variasi kesulitan tugas. Tingkatan kesulitan tugas tersebut mengungkapkan dimensi kecerdikan, tenaga, akurasi, produktivitas, atau regulasi diri yang diperlukan untuk menyebutkan beberapa dimensi perilaku kinerja. Individu yang memiliki tingkat keyakinan yang tinggi bahwa ia mampu mengerjakan tugas-tugas yang sukar juga memiliki self efficacy yang tinggi sedangkan individu dengan tingkat yang rendah memiliki keyakinan bahwa dirinya hanya mampu mengerjakan tugas-tugas yang mudah serta memiliki self efficacy yang rendah. b. Strength (dimensi kekuatan) Strength artinya kekuatan, keyakinan diri yang lemah disebabkan tidak terhubung oleh pengalaman, sedangkan orangorang yang memiliki keyakinan yang kuat, mereka akan bertahan dengan usaha mereka meskipun ada banyak kesulitan dan hambatan. Individu tersebut tidak akan kalah oleh kesulitan, karena kekuatan pada self efficacy tidak selalu berhubungan terhadap pilihan tingkah laku. Individu dengan tingkat kekuatan tinggi akan memiliki keyakinan yang kuat akan kompetensi diri sehingga tidak mudah menyerah atau frustrasi dalam menghadapi rintangan dan memiliki kecenderungan untuk berhasil lebih besar dari pada individu dengan kekuatan yang rendah. Generality (dimensi generalisasi) Self efficacy juga berbeda pada generalisasi artinya individu menilai keyakinan mereka berfungsi di berbagai kegiatan tertentu. Generalisasi memiliki perbedaan dimensi yang bervariasi yaitu: 1. Derajat kesamaan aktivitas. 2. Modal kemampuan ditunjukan (tingkah laku, kognitif, afektif). 3. Menggambarkan secara nyata mengenai situasi. 4. Karakteristik perilaku individu yang ditujukan. Penilaian ini terkait pada aktivitas dan konteks situasi yang mengungkapkan pola dan tingkatan umum dari keyakinan orang terhadap keberhasilan mereka. Keyakinan diri yang paling mendasar adalah orang yang berada disekitarnya dan mengatur hidup mereka

Pengertian Self Efficacy (skripsi dan tesis)

Tingkah laku seseorang dalam situasi tertentu tergantung kepada timbal balik antara lingkungan dengan kondisi kognitif, khususnya faktor kognitif yang berhubungan dengan keyakinannya bahwa dia mampu atau tidak mampu melakukan tindakan yang memuaskan (Alwisol, 2009). Efikasi menurut Alwisol (2009) adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan yang baik atau buruk, benar atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan. Istilah self efficacy pertama kali diciptakan oleh Albert Bandura pada tahun 1977. Menurut Betz, N.E & Hackett, G (1988, dalam Hery, 2010) self efficacy mengacu pada keyakinan akan kemampuan dari individu untuk berhasil melaksanakan tugas-tugas atau perilaku yang diharapkan. Senada Dengan Betsz, menurut Elliot, N.S, Kratochwill, T.R, & Travers, J.F (2000) self efficacy adalah keyakinan dari diri individu pada kemampuannya untuk mengontrol kehidupannya atau perasaan untuk merasa mampu. Secara umum, self efficacy adalah penilaian seseorang tentang kemampuannya sendiri untuk menjalankan perilaku tertentu untuk mencapai tujuan tertentu (Ormrod, 2008). Seseorang akan lebih terlibat dalam perilaku tertentu ketika mereka yakin bahwa mereka mampu melakukan perilaku tersebut dengan sukses, mereka adalah orang yang memiliki self efficacy yang tinggi. Menurut Bandura (1977, dalam Baron & Byrne, 2003) self efficacy adalah evaluasi seseorang terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan, atau mengatasi hambatan. Self efficacy fokus pada mengorganisir dan melengkapi tugas lebih spesifik dan dalam situasi yang termotivasi (Bong & Clark, 1999 dalam Hery, 2010). Bandura (1997, dalam Ghufron & Rini, 2011) mengatakan bahwa self efficacy pada dasarnya dalah proses kognitif berupa keputusan, keyakinan, atau pengharapan tentang sejauh mana individu memperkirakan kemampuan dirinya dalam melaksanakan tugas atau tindakan tertentuyang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Self efficacy tidak berkaitan dengan seberapa besar kecakapan yang dimiliki individu. Self efficacy menekankan pada komponen keyakinan diri yang dimiliki seseorang dalam menghadapi situasi yang akan datang yang penuh dengan tantangan. Berdasarkan beberapa definisi yang telah diungkapkan diatas, maka dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan self efficacy dalam konteks penelitian ini adalah keyakinan yang ada dalam diri seseorang bahwa individu tersebut mempunyai kemampuan untuk menentukan perilaku yang tepat sehingga dapat mencapai keberhasilan seperti yang diharapkan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Flow (skripsi dan tesis)

Menurut Csikszentmihalyi (dalam Bauman dan Scheffer, 2010) terdapat dua faktor yang mempengaruhi flow yaitu faktor dari individu dan faktor dari lingkungan. a. Faktor dari individu (person factor), yaitu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh individu dalam melakukan suatu aktivitas. b. Faktor dari lingkungan (environtment factor), yaitu terkait seberapa besar tantangan tugas yang diberikan kepada individu.

Prasyarat mencapai kondisi Flow (skripsi dan tesis)

Beberapa prasyarat untuk mengalami flow adalah sebagai berikut (Setiadi, 2016): a. Goal Tujuan akan memberikan daya gerak sehingga seseorang mengerahkan segala keterampilan dan daya upaya yang dimilikinya menuju ke arah tujuan tersebut. Suatu tujuan yang bermakna akan senantiasa jadi penggerak yang efektif, bahkan ketika seseorang menemui banyak kesulitan dalam perjalanannya. b. Feedback Feedback bisa berasal dari diri sendiri ataupun orang lain. Feedback yang terbaik adalah feedback yang seketika dan langsung ditangkap oleh si pribadi, maka seketika itupun ia mempertahankan atau mengubah aktivitasnya untuk menyesuaikan diri dengan feedback yang diterimanya. Ketika seseorang beraktivitas dengan tujuan yang bermakna serta senantiasa memeperoleh feedback yang membuatnya memperoleh kejelasan tentang tugasnya dari berbagai sumber, maka ia akan semakin siap untuk mencapai flow. c. High skill Semakin tinggi keterampilan seseorang dalam suatu bidang, berbagai kemungkinan baru semakin terbuka dan kreativitas semakin meningkat. Keterampilan yang semakin tinggi akan membuat aktivitas yang dikerjakan senantiasa terasa segar, karena berbagai kemungkinan baru yang menarik senantiasa muncul. Semakin tinggi keterampilan orang yang melakukannya, semakin menarik dan semakin mudah untuk mengeksplorasi kemampuan yang dimilikinya, selain itu juga dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran diri. d. Optimal Challenge Tantangan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit yaitu tantangan yang mengharuskan seseorang mengeluarkan seluruh kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Saat menghadapi tantangan semacam itu seseorang baru akan dapat merealisasi dan menyadari seluruh keterampilan yang dimilikinya sehingga memunculkan emerging skills. Emerging skills adalah momen seseorang menyentuh dan melewati batasan-batasan dirinya atau disebut momen bertumbuh (growth moment)

Aspek-Aspek Flow (skripsi dan tesis)

Menurut Bakker (2005) flow memiliki tiga aspek yaitu absorption, enjoyment, intrinsic motivation. Ketiga aspek tersebut merupakan komponen penting dari teori flow dan akan ditinjau secara singkat sebagai berikut: a. Absorption Absorption mengacu pada keadaan konsentrasi total, dimana semua perhatian, kewaspadaan, dan konsentrasi berfokus pada kegiatan yang dilakukannya saja, sehingga tidak menyadari kejadian di sekitarnya. Individu yang menikmati pekerjaan mereka akan merasa senang dan membuat penilaian positif tentang kualitas aktivitas mereka. b. Enjoyment Enjoyment adalah hasil dari evaluasi kognitif dan afektif dari pengalaman flow. Perasaan nyaman muncul dalam melakukan kegiatan tersebut sehingga individu dalam waktu lama mampu melakukan kegiatan tersebut. c. Intrinsic Motivation Intrinsic motivation mengacu pada kebutuhan untuk melakukan kegiatan dengan tujuan memperoleh kesenangan dan kepuasan dalam aktivitas yang dijalani. Motivasi intrinsik muncul dari dalam diri individu untuk melakukan kegiatan tanpa adanya penghargaan dari orang lain

Dimensi-Dimensi Flow (skripsi dan tesis)

.

Terdapat sembilan dimensi flow antara lain (Csikszentmihalyi, 1990): 1. Tujuan yang jelas Meliputi kejelasan mengenai apa yang harus dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan. Selain itu, mengidentifikasi hambatan dan kesulitan apa yang mungkin terjadi. Kejelasan tujuan akan membuat hasil dari aktivitas yang dilakukan menjadi lebih memuaskan. Tujuan dengan kemampuan yang dimiliki dapat berjalan selaras. 2. Feedbacks yang segera Komponen yang kedua meliputi ketersediaan informasi konstan yang terkait dengan kinerja. Umpan balik (feedback) diberikan secara langsung dan segera. Feedback meliputi kejelasan keberhasilan dan kegagalan dalam perjalanan aktivitas. Fungsinya untuk meningkatkan kinerja dan tahu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja. 3. Adanya keseimbangan antara kemampuan dan tantangan yang dihadapi Meliputi keseimbangan antara tingkat kemampuan yang dimiliki diri sendiri dan tantangan dari aktivitas yang kita lakukan. Dengan adanya keseimbangan antara tantangan yang masuk dan kemampuan kita akan menciptakan suasana yang aktif dan menyenangkan. Di satu sisi diri kita dimotivasi oleh tantangan, di sisi lain tantangan yang ada memungkinkan untuk kita taklukkan. 4. Kesatuan antara kewaspadaan dan tindakan Meliputi keterlibatan yang dalam membuat tindakan tampaknya terjadi secara otomatis. Komponen ini menimbulkan adanya penyerapan ke dalam aktivitas dan penyempitan fokus kesadaran ke kegiatan itu sendiri. Aksi dengan kesadaran memudar ke dalam tindakan saja.Konsentrasi yang fokus Komponen ini meliputi feeling focused dan tak ada satu ruangpun yang dapat mengganggu. Feeling focused adalah keadaan dimana perasaan kita terfokus pada suatu hal saja. Selain itu juga meliputi konsentrasi tingkat tinggi pada bidang batas perhatian. Bagi orang yang terlibat dalam kegiatan ini akan memiliki kesempatan untuk fokus dan menggali suatu hal tersebut secara mendalam. 6. Rasa Kontrol Meliputi rasa kontrol pribadi atas situasi atau kegiatan. Apa yang dinikmati oleh orang-orang bukanlah perasaan yang sedang dikontrol, tetapi berupa perasaan pelatihan kontrol atas situasi yang sulit. 7. Hilangnya self consciousness Komponen yang ketujuh meliputi hilangnya kesadaran diri, penggabungan aksi dan kesadaran. Perhatian terhadap diri sendiri menghilang karena seseorang menyatu dengan aktivitasnya. 8. Terjadi distorsi waktu Terdapat ketidaksadaran akan waktu. Saat seseorang telah larut dalam aktivitas yang sedang ia lakukan, membuat ia tidak sadar berapa banyak waktu yang telah ia lewati. 9. Adanya penghargaan diri atau pengalaman autothelic Seseorang akan melakukan sesuatu karena kepentingannya sendiri dan bukan karena ekspektasi atas penghargaan dimasa datang.

Pengertian Flow Akademik (skripsi dan tesis)

Menurut Csikszentmihalyi (1975b: 36, dalam Smolej, 2007), flow adalah keadaan psikologis yang menyenangkan yang mengacu pada sensasi perasaan menyeluruh terhadap aktivitas yang dijalani. Individu yang mengalami flow sangat terlibat dalam aktivitasnya, dan tidak ada yang begitu penting saat melakukannya melainkan hanya kesenangan yang besar dan motivasi yang kuat dari dalam dirinya. Flow adalah suatu momen sukacita yang besar, suatu kenikmatan luar biasa, saat seseorang bergumul dengan persoalan yang sulit dalam bidangnya masing-masing, yang menuntutnya mengerahkan segala keterampilan, daya upaya dan sumber daya yang mereka miliki sampai ke batas-batasnya atau bahkan melampauinya (Setiadi, 2016). Daniel Goleman (2015) berpendapat bahwa flow adalah keadaan ketika seorang sepenuhnya terserap ke dalam apa yang dikerjakannya, perhatiannya hanya terfokus ke pekerjaan yang dilakukan. Mampu mencapai keadaan flow merupakan puncak kecerdasan emosional yang dapat menumbuhkan perasaan senang dan bahagia. Dalam keadaan flow, emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan, tetapi juga bersifat mendukung, memberi tenaga, selaras dengan tugas yang dihadapi Flow adalah keadaan psikologis yang optimal ketika individu menjadi sangat ‘tenggelam’ dan terjadi keseimbangan antara tantangan dan keterampilan yang dirasakan dalam suatu kegiatan (Csikszentmihalyi, 1990). Keseimbangan yang terjadi antara tantangan tugas dan keterampilan individu sering dilihat sebagai prasyarat suatu keadaan flow. Keadaan flow meliputi gairah, konsentrasi dan minat yang cukup intens untuk mengerjakan suatu tugas, mengarah pada pengalaman yang menyenangkan, seseorang secara sadar dan aktif menggunakan semua kemampuannya untuk memenuhi tugas tersebut. Modal penting seorang siswa dalam proses pembelajaran adalah memiliki konsentrasi, merasa nyaman, dan memiliki motivasi pada saat menjalani kegiatan belajar mengajar. Kondisi seperti ini disebut sebagai flow akademik (Yuwanto, 2011a, dalam Santoso, 2014). Pengertian flow akademik (Ignatius, 2013) adalah kondisi saat individu dapat berkonsentrasi, fokus, munculnya rasa nyaman, motivasi yang berasal dari dirinya sendiri serta menikmati ketika melakukan kegiatan akademik (belajar dan mengerjakan tugas). Individu yang mengalami flow biasanya terlibat secara intens dalam kegiatan yang ia lakukan sehingga mereka cenderung tidak sadar dengan waktu atau tempat (Schunk, dkk, 2008, dalam Husna & Dewi, 2014). Teori flow didasarkan pada hubungan simbiosis antara tantangan dan keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi tantangan tersebut. Pengalaman flow diyakini terjadi ketika keterampilan seseorang yang tidak sesuai atau kurang dimanfaatkan untuk memenuhi tantangan yang diberikan. Ketika keseimbangan antara tantangan dan keterampilan rapuh atau terganggu, maka kemungkinan individu akan apatis, merasa cemas (Csikszentmihalyi, 1990 dalam Shernoff, 2003). Ketika dalam kondisi cemas, pengajar dapat mengubah tingkat tantangan, dan juga meminta siswa untuk meningkatkan tingkat keterampilannya untuk mencapai kondisi flow. Mendapatkan tantangan yang tepat dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan dapat menjadi salah satu cara yang paling ideal untuk siwa terlibat dalam proses pembelajaran. Berdasarkan beberapa definisi yang telah diungkapkan diatas, maka dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan flow akademik dalam konteks penelitian ini adalah kondisi dimana individu merasa nyaman, dapat berkonsentrasi, memiliki motivasi dalam diri, serta mampu menikmati aktivitas akademik yang sedang dijalani.

Sejarah Interaksi simbolik (skripsi dan tesis)

Sejarah Teori Interaksionisme Simbolik tidak bisa dilepaskan dari pemikiran George Harbert Mead (1863-1931). Mead dilahirkan di Hadley, satu kota kecil di Massachusetts. Karir Mead berawal saat ia menjadi seorang professor di kampus Oberlin, Ohio, kemudian Mead berpindah pindah mengajar dari satu kampus ke kampus lain, sampaiakhirnya saat ia diundang untuk pindah dari Universitas Michigan ke Universitas Chicago oleh John Dewey. Di Chicago inilah Mead sebagai seseorang yang 22 memiliki pemikiran yang original dan membuat catatan kontribusi kepada ilmu sosial dengan meluncurkan “the theoretical perspective” yang pada perkembangannya nanti menjadi cikal bakal “Teori Interaksi Simbolik”, dan sepanjang tahunnya, Mead dikenal sebagai ahli sosial psikologi untuk ilmu sosiologis. Mead menetap di Chicago selama 37 tahun, sampai ia meninggal dunia pada tahun 1931 (Rogers. 1994: 166). Semasa hidupnya Mead memainkan peranan penting dalam membangun perspektif dari Mahzab Chicago, dimana memfokuskan dalam memahami suatu interaksi perilaku sosial, maka aspek internal juga perlu untuk dikaji (Turner. 2008: 97). Mead tertarik pada interaksi, dimana isyarat non verbal dan makna dari suatu pesan verbal, akan mempengaruhi pikiran orang yang sedang berinteraksi. Dalam terminologi yang dipikirkan Mead, setiap isyarat non verbal (seperti body language, gerak fisik, baju, status) dan pesan verbal (seperti kata-kata, suara,) yang dimaknai berdasarkan kesepakatan bersama oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu interaksi merupakan satu bentuk simbol yang mempunyai arti yang sangat penting (a significant simbol). (Turner.2007:1221). Menurut Fitraza (2008), Mead tertarik mengkaji interaksi sosial, dimana dua atau lebih individu berpotensi mengeluarkan simbol yangbermakna. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh simbol yang diberikan oleh orang lain, demikian pula perilaku orang tersebut. Melalui pemberian isyarat berupa simbol, maka kita dapat mengutarakan perasaan, 23 pikiran, maksud, dan sebaliknya dengan cara membaca simbol yang ditampilkan oleh orang lain. Selain Mead, telah banyak ilmuwan yang menggunakan pendekatan teori interaksi simbolik dimana teori ini memberikan pendekatan yang relatif khusus pada ilmu dari kehidupan kelompok manusia dan tingkah laku manusia, dan banyak memberikan kontribusi intelektual, diantaranya John Dewey, Robert E. Park, William James, Charles Horton Cooley, Ernest Burgess, James Mark Baldwin (Rogers. 1994: 168). Generasi setelah Mead merupakan awal perkembangan interaksi simbolik, dimana pada saat itu dasar pemikiran Mead terpecah menjadi dua Mahzab (School), dimana kedua mahzab tersebut berbeda dalam hal metodologi, yaitu (1) Mahzab Chicago (Chicago School) yang dipelopori oleh Herbert Blumer, dan (2) Mahzab Iowa (Iowa School) yang dipelopori oleh Manfred Kuhn dan Kimball Young (Rogers. 1994: 171). Mahzab Chicago yang dipelopori oleh Herbert Blumer (pada tahun 1969 yang mencetuskan nama interaksi simbolik) dan mahasiswanya, Blumer melanjutkan penelitian yang telah dilakukan oleh Mead. Blumer melakukan pendekatan kualitatif, dimana meyakinibahwa studi tentang manusia tidak bisa disamakan dengan studi terhadap benda mati, dan para pemikir yang ada di dalam mahzab Chicago banyak melakukan pendekatan interpretif berdasarkan rintisan pikiran George Harbert Mead (Ardianto. 2007: 135). Blumer beranggapan peneliti perlu meletakkan 24 empatinya dengan pokok materi yang akan dikaji, berusaha memasuki pengalaman objek yang diteliti, dan berusaha untuk memahami nilai-nilai yang dimiliki dari tiap individu. Pendekatan ilmiah dari Mahzab Chicago menekankan pada riwayat hidup, studi kasus, buku harian (Diary), autobiografi, surat, interview tidak langsung, dan wawancara tidak terstruktur (Wibowo. 2007). Mahzab Iowa dipelopori oleh Manford kuhn dan mahasiswanya (1950-1960an), dengan melakukan pendekatan kuantitatif, dimana kalangan ini banyak menganut tradisi epistemologi dan metodologi postpositivis (Ardianto. 2007:135). Kuhn yakin bahwa konsep interaksi simbolik dapat dioprasionalisasi, dikuantifikasi, dan diuji. Mahzab ini mengembangkan beberapa cara pandang yang baru mengenai ”konsep diri” (Turner. 2008: 97-98). Kuhn berusaha mempertahankan prinsipprinsip dasar kaum interaksionis, dimana Kuhn mengambil dua langkah cara pandang baru yang tidak terdapat pada teori sebelumnya, yaitu: (1) memperjelas konsep diri menjadi bentuk yang lebih kongkrit; (2) untuk mewujudkan hal yang pertamamaka beliau menggunakan riset kuantitatif, yang pada akhirnya mengarah pada analisis mikroskopis (LittleJohn. 2005: 279). Kuhn merupakan orang yang bertanggung jawab atas teknik yang dikenal sebagai ”Tes sikap pribadi dengan dua puluh pertanyaan (the Twenty statement self-attitudes test (TST))”. Tes sikap pribadi dengan dua 25 puluh pertanyaan tersebut digunakan untuk mengukur berbagai aspek pribadi (LittleJohn. 2005: 281). Pada tahap ini terlihat jelas perbedaan antara Mahzab Chicago dengan Mahzab Iowa, karena hasil kerja Kuhn dan teman-temannya menjadi sangat berbeda jauh dari aliran interaksionisme simbolik. Kelemahan metode Kuhn ini dianggap tidak memadai untuk menyelidiki tingkah laku berdasarkan proses, yang merupakan elemen penting dalam interaksi. Akibatnya, sekelompok pengikut Kuhn beralih dan membuat Mahzab Iowa ”baru”. Mahzab Iowa baru dipelopori oleh Carl Couch, dimana pendekatan yang dilakukan mengenai suatu studi tentang interaksi struktur tingkah laku yang terkoordinir, dengan menggunakan sederetan peristiwa yang direkam dengan rekaman video (video tape).Inti dari Mahzab ini dalam melaksanakan penelitian, melihat bagaimana interaksi dimulai (openings) dan berakhir (closings), yang kemudian melihat bagaimana perbedaan diselesaikan, dan bagaimana konsekuensi-konsekuensi yang tidak terantisipasi yang telah menghambat pencapaian tujuan-tujuan interaksi dapat dijelaskan. Satucatatan kecil bahwa prinsip-prinsip yang terisolasi ini, dapat menjadi dasar bagi sebuah teori interaksi simbolik yang terkekang di masa depan (LittleJohn. 2005: 283). Sebagaimana lazimnya ilmu-ilmu sosial lainnya, teori interaksionisme simbolik juga diilhami oleh serangkaian teori-teori sebelumnya. Banyak pakar berpendapat bahwa pemikiran George Herbert   Mead, sebagai tokoh sentral teori ini, berlandaskan pada beberapa cabang filsafat, antara lain pragmatism dan behaviorisme. Namun pada masa perkembangannya, teori interaksionisme simbolik memiliki “keunikan” dan “karakteristik” tersendiri yang sangat bertolak belakang dengan teoriteori yang menjadi “inspirasi” – nya. Beberapa orang ilmuwan yang memiliki andil besar dalam “kemunculan” teori interaksionisme simbolik, antara lain: James Mark Baldwin, William James, harles Horton Cooley, John Dewey, William Isaac Thomas, dan George Herbert Mead. Akan tetapi dari semua itu, Mead-lah yang paling populer sebagai peletak dasar teori tersebut. Mead mengembangkan teori interaksionisme simbolik tahun 1920-an dan 1930-an saat ia menjadi profesor filsafat di Universitas Chicago. Gagasan-gagasannya mengenai interaksionisme simbolik berkembang pesat setelah para mahasiswanya menerbitkan catatan-catatan dan kuliah-kuliahnya, terutama melalui buku yang menjadi rujukan utama teori interaksionisme simbolik, yakni “Mind, Self, and Society”, yang diterbitkan pertama kali pada tahun1934, tak lama setelah Mead meninggal dunia.Penyebaran dan pengembangan teori Mead juga ditunjang dengan interpretasi dan penjabaran lebih lanjut yang dilakukan oleh para mahasiswa dan pengikutnya, terutama oleh salah satu mahasiswanya, Herbert Blumer. Ironisnya, justru Blumer-lah yang menciptakan istilah “interaksionisme simbolik” pada tahun 1937 dan memopulerkannya di kalangan komunitas akademik

Pengertian Fenomenologi (skripsi dan tesis)

Istilah phenomenonmengacu kepada kemunculan sebuah benda, kejadian, atau kondisi yang dilihat. Oleh karena itu fenomenologi merupakan cara yang digunakan manusia untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. Pemikiran fenomenologi bukan merupakan sebuah gerakan pemikiran yang koheren. Menurut Edmund Husserl (1859-1938) : “Fenomemologi adalah untuk memurnikan sikap alamiah kehidupan sehari-hari dengan tujuan menterjemahkannya sebagai sebuah objek untuk penelitian filsafat secara cermat dalam rangka menggambarkan serta memperhitungkan struktur esensialnya”. (Ardianto & Q-Aness, 2007:128) Pengertian fenomenologi menjelaskan akan apa yang terjadi dan tampak dalam kehidupan dengan menginterpretasikan sesuatu yang dilihatnya. Dengan demikian fenomenologi membuat pengalaman nyata sebagai data pokok sebuah realitas

Komunikasi sebagai Proses Sosial (skripsi dan tesis)

Dalam proses sosial, komunikasi menjadi alat dalam melakukan perubahan sosial (social change). Komunikasi berperan menjembatani perbedaan dalam masyarakat karena mampu merekatkan sistem sosial masyarakat dalam usahanya melakuakan perubahan. Oleh karean itu untuk memahami komunikasi sebagai proses sosial maka komunikasi  harus dipandang dalam dua aspek yakni secara sosial dan komunikasi sebagai proses. Komunikasi diartikan secara sosial jika komunikasi selalu melibatkan dua atau lebih orang yang berinteraksi dengan berbagai niat dan kemampuan, sedangkan komunikasi sebagai proses jika komunikasi bersifat berkesinambungan. Menurut Nurudin (2008:47) bahwa komunikasi sebagai proses sosial di masyarakat memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut: 1. Komunikasi menghubungkan antar berbagai komponen masyarakat. Komponen disini tidak hanya individu dan masyarakat saja, melainkan juga berbagai bentuk lembaga sosial seperti pers, asosiasi, organisasi desa. 2. Komunikasi membuka peradaban. Menurut Koentjraningrat (1997), istilah peradaban dipakai untuk bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah, seperti kesenian, ilmu pengetahuan serta sopan santun dan sistem pergaulan yang kompleks dalam suatu struktur masyarakat yang kompleks pula. 3. Komunikasi adalah manifestasi kontrol sosial dalam masyarakat. Berbagai nilai (value), Norma (norm), peran (role), cara (usage), kebiasaan (folkways), tatakelakuan (mores) dan adat (customs) dalam masyarakat yang mengalami penyimpangan (deviasi) akan dikontrol dengan komunikasi baik melalui bahasa lisan, sikap apatis atau perilaku nonverbal individu. 4. Tanpa bisa diingkari komunikasi berperan dalam sosialisasi nilai ke masyarakat. Bagaimana sebuah norma kesopanan disosialisasikan kepada kegenerasi muda dengan contoh perilaku orang tua (nonverbal) atau dengan pernyataan nasehat langsung (verbal). 5. Individu berkomunikasi dengan orang lain menunjukkan jati diri kemanusiaannya. Seseorang akan diketahui jati dirinya sebagai manusia karena menggunakan komunikasi, itu juga berarti komunikasi menunjukkan identitas seseorang.   Dari pemahaman di atas dapat disimpulkan komunikasi adalah sebagai proses sosial yang berkesinambungan yang memiliki fungsi sebagai komponen masyarakat, pembuka peradaban, manifestasi control sosial dalam masyarakat, sosialisasi nilai dalam masyarakat, dan sebagai penunjuk jati diri dalam masyaraka

Proses Komunikasi (skripsi dan tesis)

Dalam melakukan komunikasi, perlu adanya suatu proses yang memungkinkannya untuk melakukan komunikasi secara efektif. Proses komunikasi inilah yang membuat komunikasi berjalan dengan baik dengan berbagai tujuannya. Dengan adanya proses komunikasi, berarti ada suatu alat yang digunakan dalam prakteknya sebagai cara dalam pengungkapan komunikasi tersebut. Menurut Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek, Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap yakni proses komunikasi secara primer dan secara sekunder. Seperti yang di kutip dibawah ini:
 1. Proses Komunikasi Primer
“Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kial, isyarat, gambar, warna, dan lain sebagainya yang secara langsung mampu “menerjemahkan” pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan.” (Effendy, 2003: 11). Onong Uchjana Effendy mengatakan bahwa,”Bahasa digambarkan paling banyak dipergunakan dalam proses komunikasi karena dengan jelas bahwa bahasa mampu menerjemahkan pikiran seseorang untuk dapat dimengerti dan dipahami oleh orang lain secara terbuka.” (Effendy, 2003: 11). Komunikasi berlangsung apabila terjadi kesamaan makna dalam pesan yang diterima oleh komunikan. Dengan kata lain, komunikasi adalah proses membuat pesan. Effendy mengatakan bahwa, “Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni paduan pengalaman dan pengertian (collection of experiences and meanings) yang pernah diperoleh oleh komunikan.” (Effendy, 2003:13). Kemudian Wilbur Schramm menambahkan, sebagaimana yang dikutip oleh Onong Uchjana Effendy bahwa, “Bidang pengalaman (field of experience) merupakan faktor yang penting 16 dalam komunikasi.” (Effendy, 2003:13). Pernyataan ini mengandung pengertian, jika bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, maka komunikasi akan berlangsung lancar.
2. Proses Komunikasi Sekunder
 “Proses komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.” (Effendy, 2003:16). Proses komunikasi sekunder merupakan sambungan dari komunikasi primer untuk menembus dimensi ruang dan waktu. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada ditempat yang relatif jauh atau dengan jumlah yang banyak. Surat, telepon, surat komunikasi Antarbudaya, majalah, radio, televisi, film, internet, dan lain-lain adalah media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi. Media kedua ini memudahkan proses komunikasi yang disampaikan dengan meminimalisir berbagai keterbatasan manusia mengenai jarak, ruang, dan waktu. Maka, dalam menata lambanglambang untuk memformulasikan isi pesan komunikasi, komunikator harus memperhitungkan ciri-ciri atau sifat-sifat media yang akan digunakan.   Penentuan media yang akan dipergunakan perlu didasari pertimbangan mengenai siapa komunikan yang akan dituju. Menurut Effendy pada proses komunikasi secara sekunder, media yang dipergunakan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Media Massa (Mass Media), yakni tertuju kepada sejumlah orang yang relative amat banyak. Seperti seperti surat komunikasi Antarbudayaar, radio, televisi, film.
 2. Media Non Massa, yakni tertuju kepada satu orang atau sejumlah orang yang relatif sedikit.Seperti telepon, surat, telegram, spanduk, papan pengumuman. (Effendy, 2003:23). Dari pengertian diatas dapat disimpulkan proses komunikasi secara sekunder dibagi dua yaitu Media Massa dan Media Non Massa. Proses serta tujuan dari ke dua media ini dapat di sesuaikan dengan kebutuhan serta jumlah orang yang melakukan proses komunikasi lewat media

Tujuan Komunikasi (skripsi dan tesis)

Setiap individu dalam berkomunikasi pasti mengharapkan tujuan dari komunikasi itu sendiri, secara umum tujuan berkomunikasi adalah mengharapkan adanya umpan yang diberikan oleh lawan berbicara kita serta semua pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh lawan bicara kita dan adanya efek yang terjadi setelah melakukan komunikasi tersebut. Menurut Onong Uchjana Effendy, tujuan dari komunikasi adalah: 1. Perubahan sikap (attitude change) 2. Perubahan pendapat (opinion change) 3. Perubahan perilaku (behavior change) 4. Perubahan sosial (sosial change). (Effendy, 2003: 8) Jadi tujuan komunikasi itu adalah mengharapkan perubahan sikap,perubahan pendapat, perubahan perilaku, perubahan sosial. Serta tujuan utama adalah agar semua pesan yang kita sampaikan dapat dimengerti dan diterima oleh komunikan dan menghasilkan umpan balik.Sedangkan tujuan komunikasi pada umumnya menurut Cangara Hafied adalah mengandung hal-hal sebagai berikut: 1. Supaya yang disampaikan dapat dimengerti, seorang komunikator harus dapat menjelaskan kepada komunikan (penerima) dengan sebaik-baiknya dan tuntas sehingga mereka dapat mengikuti apa yang dimaksud oleh pembicara atau penyampai pesan (komunikator).  2. Memahami orang, sebagai komunikator harus mengetahui benar aspirasi masyarakat tentang apa yang diinginkannya. Jangan hanya berkomunikasi dengan kemauan sendiri. 3. Supaya gagasan dapat diterima oleh orang lain, komunikator harus berusaha agar gagasan dapat diterima oleh orang lain dengan menggunakan pendekatan yang persuasif bukan dengan memaksakan kehendak. 4. Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu, menggerakkan sesuatu itu dapat berupa kegiatan yang lebih banyak mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki. (Hafied, 2002: 22). Dari pemahaman diatas dapat disimpulkan tujuan dari komunikasi adalah menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang kita kehendaki berupa gagasan yang dapat dimengerti komunikan, serta kita sebagai komunikator harus berusaha agar gagasan dapat di terima dengan pendekatan persuasif tanpa memaksakan kehendak kita

Definisi Komunikasi (skripsi dan tesis)

Berbagai defenisi telah dikemukakan oleh para ahli dalam Suranto (2010:2), di antaranya: Komunikasi merupakan tindakan melaksanakan kontak antara pengirim dan penerima, dengan bantuan pesan; pengirim dan penerima memiliki beberapa pengalaman bersama yang memberi arti pada pesan dan simbol yang dikirim oleh pengirim dan diterima serta ditafsirkan oleh penerima (Schramm,1955) Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam (Kincaid, 1981) Komunikasi sebagai suatu proses menyortir, memilih, dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa, sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respon dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan oleh sang komunikator (Ross, 1983) Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan, harapan, dan pesan yang disampaikan melalui lambang tertentu, mengandung arti,dilakukan oleh penyampai pesan ditujukan kepada penerima pesan.(Edward Depari, 1990) Dari beberapa Pemahaman di atasa dapat disimpulkan, komunikasi merupakan proses penyampaian gagasan lewat pesan berupa simbolsimbol yang dapat membangkitkan respon dari komunikan. Komunikasi merupakan suatu hal yang paling penting dan merupakan aspek yang paling kompleks dalam kehidupan manusia. Disadari atau tidak kita sadari bahwa di dalam kehidupan kita sehari hari komunikasi merupakan pengaruh yang sangat kuat untuk mempengaruhi komunikasi kita dengan orang lain maupun pesan pesan yang kita terima dari orang lain yang bahkan tidak kita kenal baik yang sudah hidup maupun sudah mati, dan juga komunikator yang dekat maupun jauh jaraknya. Karena itulah komunikasi sangat vital didalam kehidupan kita. Sejak lahir manusia telah melakukan komunikasi, dimulai dengan tangis bayi pertama merupakan ungkapan perasaannya untuk ratilai membina, komunikasi dengan ibunya.Semakin dewasa manusia, maka semakin rumit komunikasi yang dilakukannya. Dimana komunikasi yang dilakukan tersebut dapat berjalan lancar apabila terdapat persamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Hal ini sesuai dengan pengertian dari komunikasi itu sendiri yaitu : Istilah komunikasi berasal dari perkataan bahasa, Inggris “Communication” yang menurut Wilbur Schramm bersumber pada istilah latin “Communis” yang dalam bahasa Indonesia berarti “sama” dan menurut Sir Gerald Barry yaitu “Communicare” yang berarti berercakap-cakap”. Jika kita berkomunikasi, berarti kita mengadakan “kesamaan, dalam hal ini kesamaan pengertian atau makna. (Effendy:2003). Komunikasi mempunyai peranan penting bagi kehidupan manusia, hampir 90% dari kegiatan keseharian manusia dilakukan dengan berkomunikasi.Dimanapun, kapanpun, dan dalam kesadaran atau situasi macam apapun manusia selalu terjebak dengan komunikasi.Dengan berkomunikasi manusia dapat memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuantujuan hidupnya, karena berkomunikasi merupakan suatu kebutuhan manusia yang amat mendasar.Oleh karena itu sebagai makhluk sosial manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusialainnya.Ia ingin   mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Dengan rasa ingin tahu inilah yang memaksa manusia perlu berkomunikasi. Dari definisi diatas menjelaskan bahwa, komunikasi merupakan proses penyampaian simbol-simbol baik verbal maupun nonverbal. Rangsangan atau stimulus yang disampaikan komunikator akan mendapat respon dari komunikan selama keduannya memiliki makna yang sama terhadap pesan yang disampaikan. Jika disimpulkan maka komunikasi adalah suatu proses, pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam diri seseorang atau di antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu. Semetara itu Carl Hovland, jenis & Kelly mendefenisiskan komunikasi adalah : “Suatu proses memulai pesan dimana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lainnya”. (Riswandi 2009:1). Dari kedua definisi di atas menjelaskan bahwa, komunikasi merupakan proses penyampaian simbol-simbol baik verbal maupun nonverbal. Rangsangan atau stimulus yang disampaikan komunikator akan mendapat respon dari komunikan selama keduannya memiliki makna yang sama terhadap pesan yang disampaikan. Maka komunikasi adalah suatu proses, pembentukan, penyampaian, penerimaan, dan pengolahan pesan yang terjadi di dalam  seseorang dan atau di antara dua orang atau lebih dengan tujuan tertentu sebagaimana diharapkan oleh komunikator.

Teori Labelling (Penjulukan) (skripsi dan tesis)

Lahirnya Teori Penjulukan (Labelling Theory), diinspirasi oleh Perspektif Interaksionisme Simbolik dari Herbert Mead dan telah berkembang sedemikian   rupa dengan riset-riset dan pengujiannya dalam berbagai bidang seperti kriminologi, kesehatan mental (pengidap schyzophrenia) dan kesehatan, serta pendidikan. Teori Penjulukan dari studi tentang deviant di akhir tahun 1950 dan awal tahun 1960 yang merupakan penolakan terhadap Teori Konsensus atau Fungsionalisme Struktural. Awalnya, menurut Teori Struktural deviant atau penyimpangan dipahami sebagai perilaku yang ada yang merupakan karakter yang berlawanan dengan norma-norma sosial. Deviant adalah bentuk dari perilaku. Namun Labelling Theory menolak pendekatan itu, deviant hanya sekedar nama yang diberikan atau penandaan. Tegasnya, Labelling theory rejected this approach and claimed that deviance is not a way of behaving, but is a name put on something: a label… Deviance is not something inherent in the behavior, but is an outcome of how individuals or their behavior are labelled. (Socioglossary, September 26, 1997). Teori Penjulukan menekankan pada pentingnya melihat deviant dari sudut pandang individu yang devian. Seseorang yang dikatakan menyimpang dan ia mendapatkan perilaku devian tersebut, sedikit banyak akan mengalami stigma, dan jika itu dilakukan secara terus menerus dirinya akan menerima atau terbiasa dengan sebutan itu (nubuat yang dipenuhi sendiri). Menurut Howard Becker (1963), kelompok sosial menciptakan penyimpangan melalui pembuatan aturan dan menerapkan terhadap orang-orang yang melawan aturan untuk kemudian menjulukinya sebagai bagian dari outgrup mereka. Teori penjulukan memiliki dua proposisi, pertama, perilaku menyimpang bukan merupakan perlawanan terhadap norma, tetapi berbagai perilaku yang berhasil didefinisikan atau dijuluki menyimpang. Deviant atau penyimpangan tidak inheren dalam tindakan itu sendiri  tetapi merupakan respon terhadap orang lain dalam bertindak, penyimpangan dikatakan ada dalam “mata yang melihat”. Proposisi kedua, penjulukan itu sendiri menghasilkan atau memperkuat penyimpangan. Respon orang-orang yang menyimpang terhadap reaksi sosial menghasilkan penyimpangan sekunderyang mana mereka mendapatkan citra diri atau definisi diri (self-image or self definition) sebagai seseorang yang secara permanen terkunci dengan peran orang yang menyimpang. Penyimpangan merupakan outcome atau akibat dari kesalahan sosial dan penggunaan kontrol sosial.

Komunitas/Kelompok Sosial (skripsi dan tesis)

Soekanto mengemukakan “kelompok sosial atau social group merupakan himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama, oleh karena adanya hubungan dan timbal balik di antara mereka” (Soekanto, 1975:94). Namun himpunan manusia dapat dikatakan sebagai kelompok sosial jika di dalamnya terdapat kesadaran kelompok, hubungan timbal balik antara anggota dan kepentingan bersama (Soekanto 1975:94). Menurut Soekanto, kelompok sosial Universitas Sumatera Utara 12 merupakan kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat mempengaruhi perilaku para anggotanya. Kelompok-kelompok sosial merupakan himpunan manusia yang saling hidup bersama dan menjalani saling ketergantungan dengan sadar dan tolong menolong. Komunitas merupakan sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas itu sendiri adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat setempat ini adalah lokalitas dan perasaan semasyarakat (Soekanto 1975:117). Masyarakat yang memiliki tempat tinggal yang tetap atau permanen, biasanya memiliki ikatan yang kuat karena faktor demografis tersebut. Namun, pada perkembangan masyarakat modern saat ini, ikatan karena faktor kesatuan tempat tinggal dirasakan berkurang sebagai akibat dari perkembangan teknologi, sarana dan prasarana transportasi atau perhubungan. Namun sebaliknya, hal tersebut memperluas wilayah pengaruh ikatan masyarakat setempat yang bersangkutan. Dengan kata lain, masyarakat setempat atau komunitas berfungsi sebagai ikatan untuk menggarisbawahi hubungan antara hubungan-hubungan sosial dengan suatu demografis wilayah geografis. Soekanto dalam (Soekanto 1975:118) menjelaskan bahwa faktor kesatuan tempat tinggal tidak cukup untuk mengidentifikasi suatu komunitas. Di samping itu, harus ada perasaan di antara anggota-anggotanya bahwa mereka saling membutuhkan dan bahwa tanah yang mereka tinggali memberi kehidupan bagi mereka semua. Soekanto menyebut hal ini dengan istilah community sentiment. Yang di dalamnya mencakup unsur-unsur sentiment komunitas yakni: seperasa, sepenanggungan, dan saling memerlukan. Dari uraian tentang pengertian komunitas di atas, penulis menggambarkan bahwa interaksi sosial dalam sebuah komunitas atau suatu kelompok sosial tertentu dilandasi atas kesamaan dan kebersamaan individu-individu di dalamnya. Kesamaan yang dimiliki oleh individu-individu terkait dengan komunitasnya yang mencakup aspek psikologis, dan sebagainya. Kebersamaan yang terkait dengan adanya kehidupan bersama yang dijalani maupun telah dijalani dalam kurun waktu yang cukup lama, yang melibatkan interaksi antar individu di dalamnya. Kebersamaan yang dibangun dianggap sebagai suatu tali persaudaraan serta kekeluargaan antara sesama anggota dengan anggota yang lainnya. Kumpulkumpul setiap hari atau pada saat ada agenda. Komunitas atau kelompok pemusik merupakan sekumpulan orang yang memiliki minat dan ikatan emosional sebagai sesama pecinta satu aliran musik yang sama. Untuk menunjukkan identitas komunitas mereka pada masyarakat biasanya suatu komunitas atau kelompok menggunakan atribut-atribut tertentu yang menjadi penanda bahwa mereka berasal dari satu komunitas tertentu. Tergabungnya mereka dalam komunitas kemudian melahirkan satu aliran baru.

Perilaku Sosial (skripsi dan tesis)

Perilaku sosial adalah suasana saling ketergantungan yang merupakan keharusan untuk menjamin keberadaan manusia (Rusli Ibrahim, 2001). Sebagai bukti bahwa manusia dalam memnuhi kebutuhan hidup sebagai diri pribadi tidak dapat melakukannya sendiri melainkan memerlukan bantuan dari orang lain.Ada ikatan saling ketergantungan diantara satu orang dengan yang lainnya. Artinya bahwa kelangsungan hidup manusia berlangsung dalam suasana saling mendukung dalam kebersamaan. Untuk itu manusia dituntut mampu bekerja sama, saling menghormati, tidak menggangu hak orang lain, toleran dalam hidup bermasyarakat. Menurut Krech, Crutchfield dan Ballachey (1982) dalam Rusli Ibrahim (2001), perilaku sosial seseorang itu tampak dalam pola respons antar orang yang dinyatakan dengan hubungan timbal balik antar pribadi. Perilaku sosial juga identik dengan reaksi seseorang terhadap orang lain (Baron & Byrne, 1991 dalam Rusli Ibrahim, 2001). Perilaku itu ditunjukkan dengan perasaan, tindakan, sikap keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap orang lain. Perilaku sosial seseorang merupakan sifat relatif untuk menanggapi orang lain dengan cara-cara yang berbeda-beda. Misalnya dalam melakukan kerja sama, ada orang yang melakukannya dengan tekun, sabar dan selalu mementingkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadinya. Sementara di pihak lain, ada orang yang bermalas-malasan, tidak sabaran dan hanya ingin mencari untung sendiri. Sesungguhnya yang menjadi dasar dari uraian di atas adalah bahwa pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial (W.A. Gerungan, 1978:28).
Sejak  dilahirkan manusia membutuhkan pergaulan dengan orang lain untuk memuhi kebutuhan biologisnya. Pada perkembangan menuju kedewasaan, interaksi social diantara manusia dapat merealisasikan kehidupannya secara individual. Hal ini dikarenakan jika tidak ada timbal balik dari interaksi sosial maka manusia tidak dapat merealisasikan potensi-potensinya sebagai sosok individu yang utuh sebagai hasil interaksi sosial. Potensi-potensi itu pada awalnya dapat diketahui dari perilaku kesehariannya. Pada saat bersosialisasi maka yang ditunjukkannya adalah perilaku sosial. Pembentukan perilaku sosial seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal. Pada aspek eksternal situasi sosial memegang pernana yang cukup penting. Situasi sosial diartikan sebagai tiap-tiap situasi di mana terdapat saling hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain (W.A. Gerungan,1978:77). Dengan kata lain setiap situasi yang menyebabkan terjadinya interaksi social dapatlah dikatakan sebagai situasi sosial. Contoh situasi sosial misalnya di lingkungan pasar, pada saat rapat, atau dalam lingkungan pembelajaran pendidikan jasmani

Interaksionisme Simbolik (skripsi dan tesis)

Untuk mempelajari interaksi sosial digunakan pendekatan tertentu, yang dikenal dengan nama interaksionist prespektive. Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk mempelajari interaksi sosial, dijumpai pendekatan yang dikenal dengan nama interaksionosme simbolik (symbolic interactionism). Pendekatan ini bersumber pada pemikiran George Herbert Mead. Dari kata interaksionisme sudah nampak bahwa sasaran pendekatan ini ialah interaksi sosial; kata simbolik mengacu pada penggunaan simbol-simbol dalam interaksi (Douglas (1973), dalam Kamanto Sunarto (2004)). Teori tersebut juga mengajak kita untuk lebih memperdalam sebuah kajian mengenai pemaknaan interaksi yang digunakan dalam mayarakat mulitietnik. Dalam menggunakan pendekatan teori interaksionisme simbolik sudah nampak jelas bahwa pendekatan ini merupakan suatu teropong ilmiah untuk melihat sebuah interaksi dalam masyarakat multietnik yang banyak menggunakan simbolsimbol dalam proses interaksi dalam masyarakat tersebut. Pokok pikiran interaksionisme simbolik ada tiga; yang pertama ialah bahwa manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna yang dipunyai sesuatu baginya. Dengan demikian tindakan seorang penganut agama Hindu di India terhadap seekor sapi akan berbeda dengan tindakan seorang penganut agama islam di Pakistan, karena bagi masing-masing orang tersebut sapi tersebut mempunyai makna berbeda . Lebih dalam lagi sebuah kajian mengenai pokok pemikiran teori interaksionisme simbolik, membuat kita memahami bahwa dalam sebuah tindakan mempunyai makna yang berbeda dengan orang yang lain yang juga memaknai sebuah makna dalam tindakan interaksi tersebut. Interaksionis simbolik telah diperhalus untuk dijadikan salah satu pendekatan sosiologis oleh Herbert Blumer dan George Herbert Mead, yang berpandangan bahwa manusia adalah individu yang berpikir, berperasaan, memberikan pengertian pada setiap keadaan, yang melahirkan reaksi dan interpretasi kepada setiap rangsangan yang dihadapi. Kejadian tersebut dilakukan melalui interpretasi simbol-simbol atau komunikasi bermakna yang dilakukan melalui gerak, bahasa, rasa simpati, empati, dan melahirkan tingkah laku lainnya yang menunjukan reaksi atau respon terhadap rangsangan-rangsangan yang datang kepada dirinya. Pendekatan interaksionisme simbolik merupakan salah suatu pendekatan yang mengarah kepada interaksi yang menggunakan simbol-simbol dalam berkomunikasi, baik itu melalui gerak, bahasa dan simpati, sehingga akan muncul suatu respon terhadap rangsangan yang datang dan membuat manusia melakukan reaksi atau tindakan terhadap rangsangan tersebut. Dalam pendekatan interaksionisme simbolik akan lebih diperjelas melalui ulasan-ulasan yang lebih spesifik mengenai makna simbol yang akan dibahas di bawah ini. Dalam melakukan suatu interaksi, maka gerak, bahasa, dan rasa simpati sangat menentukan, apalagi berinteraksi dalam masyarakat yang berbeda

Kajian mengenai In-group Feeling (skripsi dan tesis)

Berdirinya suatu kelompok maka disana akan timbul pula perasaan antara anggotanya. Perasaan ini disebut dengan sikap perasaan in-group atau in-group feeling. Hal ini berhubungan dengan seluk-beluk usaha yang dialami oleh anggotanya dalam terjadinya interaksi-interaksi. Sikap perasaan in-group ini merupakan suatu sikap perasaan terhadap orang dalam. In- group feeling ini berperan dalam menentukan kawan anggota in-group saja yang berperan serta dalam kegiatan yang akan dilakukan berhubungan dengan adanya solidaritas antaranggota suatu kelompok terdapat perasaan ikatan dari yang satu terhadap yang lain, yang disebut perasaan dalam kelompok atau in-  group, sebaliknya terhadap orang dari luar terdapat perasaan yang disebut luar kelompok atau out-group (Polak, 1985: 136) Kehidupan kelompok yang kokoh terhadap kegiatan anggota akan menimbulkan suatu sense of belongingness. Hal ini memiliki arti yang mendalam pada kehidupan individu. Sense of Belongingness merupakan sikap peranan bahwa ia termasuk di dalam suatu kelompok sosial. Melalui perasaan ini seorang anggota mempunyai peranan dan tugas sehingga ia merasa puas dalam dirinya karena merasa berharga sebagai anggota kelompok. Sense of belongingness di dalam sebuah kelompok memberikan pengaruh dalam kelompok. Apabila kelompok itu kokoh maka sense of belongingness akan bertambah. Hal ini akan merangsang individu agar menyumbangkan lebih banyak lagi apa yang dimiliki dan lebih giat demi kepentingan kelompoknya. Anggota akan merasa diterima dan didukung oleh kelompoknya. Perasaan ini juga memberikan keyakinan dalam mengatasi kesulitan yang akan dihadapi. Semakin besar rasa solidaritas dalam kelompok yang berupa sikap dan usahanya, maka semakin besar pula sense of belongingness (Gerungan. 1996: 90). W.G Sumner memperkenalkan konsep in-group dan out- group. Sumner mengemukakan bahwa dalam adanya sebuah kelompok akan muncul konsep kelompok diferensiasi antara kelompok kita (we group) atau kelompok dalam (in group) dengan kelompok orang lain (others group) atau kelompok luar (outs group). Menurut Sumner di kalangan anggota kelompok  dalam akan dijumpai persahabatan, kerjasama, keteraturan dan kedamaian (dikutip dalam Soekanto, 1940:75 ). In-group feeling berasal dari sosialisasi yang menciptakan sebuah pengetahuan antara “kami”-nya dengan “mereka”-nya. (Soekanto, 2010:108). Kelompok sosial ini menjadi tempat dimana individu anggotanya akan mengidentifikasikan dirinya sebagai in-groupnya. In-group adalah perasaan yang akan mendasari timbulnya suatu sikap yang dinamakan etnosentris. Etnosentrisme adalah sebuah anggapan bahwa kebiasaan dalam kelompoknya merupakan yang terbaik dibanding dengan kelompok lainnya. Setiap kelompok sosial yang tercipta kelompok sosial tersebut menjadi in-group bagi setiap anggotanya. Akhirnya yang ingin dilihat peneliti adalah bagaimanakah in-group feeling ini terbentuk pada penghuni panti asuhan melalui relasi pergaulan yang terjalin. Bagaimanakah penghuni panti asuhan merasa bahwa panti adalah rumahnya sendiri dan penghuni lainnya merupakan saudara dan keluarga baginya. Adanya rasa keeratan secara emosional dan keeratan batin menjadi landasan yang kuat dalam in-group feeling. Melalui interaksi yang dilakukan setiap harinya dalam menjalani setiap kegiatan bersama dari bangun tidur hingga tidur di malam hari

Teori Interaksionisme Simbolik Herbert Blumer (skripsi dan tesis)

 Herbert Blumer mengkaji mengenai faktor sosial-struktural dan sosial kultural meliputi sistem sosial, struktur sosial, kebudayaan, posisi status, peran sosial, adat istiadat, institusi, representasi kolektif, situasi sosial, norma sosial, dan nilai (dikutip dalam Ritzer, 2010 : 377). Berawal dari bagaimanakah manusia tersebut mempelajarinya selama interaksi berlangsung dan melalui sosialisasi yang diperolehnya. Interaksionisme simbolik tidak hanya tertarik pada sosialisasi namun pada interaksi secara umum, yang mempunyai arti penting tersendiri (dikutip dalam Ritzer, 2011: 394).
Asumsi-asumsi interaksionisme simbolis menurut Blumer (Ritzer, 2011: 392) bertumpu pada tiga premis ; a. Manusia bertindak terhadap sesuatu atas dasar makna-makna yang dimiliki benda-benda itu bagi mereka.   b. Makna-makna itu merupakan hasil dari interaksi sosial dalam masyarakat manusia satu dengan manusia lainnya. c. Makna-makna dimodifikasikan dan ditangani melalui suatu proses penafsiran yang digunakan oleh setiap individu dalam keterlibatannya dengan tanda-tanda yang dihadapinya. Disempurnakan di saat proses interaksi sosial berlangsung. Makna-makna yang berasal dari interaksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang dianggap cukup berarti. Sebagaimana dinyatakan Blumer, bagi seseorang, makna dari sesuatu berasal dari caracara orang lain bertindak terhadapnya dalam kaitannya dengan sesuatu. Tindakan-tindakan yang dilakukan akan melahirkan batasan sesuatu bagi orang lain (Poloma, 2007: 259). Sebelum memberikan makna atas sesuatu, terlebih dahulu aktor melakukan serangkaian kegiatan olah mental: memilih, memeriksa, mengelompokkan, membandingkan, memprediksi, dan mentransformasi makna dalam kaitannya dengan situasi, posisi, dan arah tindakannya. Pemberian makna ini tidak didasarkan pada makna normatif, yang telah dibakukan sebelumnya. Hasil dari proses olah mental yang terus-menerus disempurnakan seiring dengan fungsi instrumentalnya, yaitu sebagai pengarahan dan pembentukan tindakan dan sikap aktor atas sesuatu tersebut. Interaksi orang akan belajar memahami simbol-simbol, dan dalam suatu tindakan orang tersebut akan belajar menggunakannya sehingga mampu memahami peranan aktor atau orang lainnya (dikutip dalam Ritzer, 2011: 16 394). Blumer mengatakan bahwa manusia mengalami proses selfindication, yaitu sebuah proses komunikasi yang sedang berjalan di mana individu mengetahui sesuatu, menilainya, memberikan makna, dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna tersebut. Proses selfindication ini terjadi dalam konteks sosial di mana individu mencoba mengantisipasi tindakan-tindakan orang lain dan menyesuaikan tindakannya sebagaimana dia menafsirkan tindakan itu (Ritzer, 2011 : 377).
 Interaksionisme simbolis yang digagas oleh Blumer mengandung ide-ide dasar dan dapat diringkas sebagai berikut (Poloma, 2007: 264): a. Masyarakat terdiri dari manusia yang berinteraksi. Kegiatan tersebut saling bersesuaian melalui tindakan bersama, membentuk apa yang dikenal sebagai organisasi atau struktur sosial. b. Interaksi terdiri dari berbagai kegiatan manusia yang berhubungan dengan kegiatan manusia lain. Interaksi simbolis mencakup penafsiran tindakan. c. Manusia tidak hanya mengenal obyek eksternal, namun juga melihat dirinya sendiri. d. Tindakan manusia adalah tindakan interpretatif yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Seperti dikatakan oleh Blumer pada dasarnya tindakan manusia terdiri dari pertimbangan atas berbagai hal yang diketahuinya dan melahirkan serangkaian kelakuan atas dasar 17 bagaimana mereka menafsirkan hal tersebut. Hal–hal yang dipertimbangkan mencakup berbagai masalah seperti keinginan dan kemauan, tujuan dan sarana yang tersedia untuk mencapainya, serta tindakan yang diharapkan dari orang lain, gambaran tentang diri sendiri, dan hasil dari cara bertindak tertentu. e. Tindakan tersebut saling dikaitkan dan disesuaikan oleh anggotaanggota kelompok; hal ini disebut sebagai tindakan bersama yang dibatasi sebagai; organisasi sosial dari perilaku tindakan-tindakan berbagai manusia. Sebagian besar tindakan bersama tersebut berulangulang dan stabil, melahirkan apa yang disebut dengan “kebudayaan” dan “aturan sosial”. Bagi Blumer dunia sosial empiris terdiri dari manusia beserta berbagai kegiatan kehidupan sehari-hari mereka. Pengetahuan perilaku yang intim itu hanya dapat diperoleh melalui observasi tangan pertama dan partisipasi dalam kelompok yang diteliti, tidak dapat diperoleh orang luar yang kurang familiar dan intim dalam mengenal kelompok. Blumer menegaskan bahwa metodologi interaksi-simbolis merupakan pengkajian fenomena sosial secara langsung. Pendekatan yang mendasar untuk mempelajari secara ilmiah kehidupan kelompok dan tingkah laku manusia. Kelompok adalah orang-orang yang terlibat dalam interaksi. Struktur sosial dilihat sebagai hasil dari interaksi bersama para anggota masyarakat (Ritzer, 2011: 393). 18 Interaksi simbolik merujuk pada karakter interaksi yang berlangsung antar manusia. Setiap orang tidak hanya bereaksi terhadap tindakan yang lain tetapi juga menafsirkan dan mendefinisikan setiap tindakan orang orang lain. Respon orang tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung didasarkan atas penilaian makna. Oleh karenanya, interaksi manusia dijembatani oleh penggunaan simbol-simbol penafsiran atau dengan menemukan makna tindakan orang lain (Zeitlin, 1995: 332). Pokok-pokok premis pendekatan interaksi simbolik adalah masyarakat terdiri dari individu-individu yang memiliki kedirian mereka sendiri (yakni membuat indikasi untuk dirinya sendiri). Tindakan individu itu merupakan suatu konstruksi dan bukan sesuatu yang lepas begitu saja, yakni keberadaannya dibangun oleh individu melalui penafsiran situasi di mana dia bertindak, sehingga kelompok atau tindakan kolektif itu sendiri dari beberapa susunan tindakan beberapa individu, yang disebabkan oleh penafsiran individu atau pertimbangan individu terhadap tindakan yang lainnya (Zeitlin, 1995: 332). Interaksi adalah proses ketika kemampuan berpikir dikembangkan dan diekspresikan atau diperlihatkan terhadap oranglain (Ritzer, 2011: 394). Interaksionisme simbolik memahami bahasa sebagai sistem simbol yang digunakan dalam memaknai berbagai hal. Interaksi yang berlangsung pada seseorang akan mempertimbangkan orang lain dalam memutuskan sebuah tindakan, mereka akan menyesuaikan aktivitas dengan aktivitas orang lain.
Blumer menekankan pada suatu masyarakat manusia yang merujuk kepada aktivitas empirik dari unit-unit tindakan yang dapat diamati, baik secara individu maupun kelompok, sehingga orang tidak akan pernah dapat membicarakan unit-unit tersebut tanpa adanya suatu tindakan. Masyarakat dileburkan dalam hubungan-hubungan interaksi (Ritzer, 2011: 380 ). Individu dalam interaksionisme simbolik Herbert Blumer memiliki prinsip-prinsip dasar diantaranya (dikutip dalam Ritzer, 2010 : 289): a. Manusia bertindak terhadap sesuatu ditopang oleh kemampuan berpikir. b. Kemampuan berpikir dibentuk oleh terjadinya interaksi sosial. c. Dalam interaksi sosial orang mempelajari makna dan simbol yang memungkinkan mereka menggunakan kemampuan berpikir tersebut. d. Makna dan simbol memungkinkan orang melakukan tindakan dan interaksi khas manusia. e. Orang mampu memodifikasi atau mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam tindakan dan interaksi berdasarkan tafsir mereka terhadap situasi tersebut. f. Orang mampu melakukan modifikasi dan perubahan ini, sebagian karena kemampuan mereka dalam berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka memikirkan tindakan yang mungkin dilakukan, menjajaki keunggulan dan kelemahan relatif mereka, dan selanjutnya memilih. g. Jalinan pola tindakan dengan interaksi ini kemudian menciptakan kelompok dan masyarakat. Masyarakat terdiri dari manusia yang bertindak, dan kehidupan masyarakat dapat dilihat sebagai terdiri dari tindakan mereka”.
Jadi maksudnya kehidupan dalam suatu masyarakat dipandang baik atau buruk oleh orang lain adalah tergantung dari tindakan anggota masyarakatnya. Tindakan manusia sebagai individu dalam suatu kelompok/masyarakat menentukan kehidupan masyarakatnya. Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka, makna diciptakan dalam interaksi antar manusia, makna dimodifikasi melalui sebuah proses interpretif, individuindividu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain, konsep diri memberikan sebuah motif penting untuk berperilaku, orang dan kelompok-kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial, dan struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial. Herbert Blumer telah memperhalus interaksionis simbolik sebagai suatu pendekatan sosiologis bahwasannya manusia merupakan individu yang berpikir, berperasaan, memberikan pengertian pada setiap keadaan yang melahirkan reaksi dan interpretasi kepada rangsangan yang dihadapinya. Manusia melakukan intrepetasi dari simbol-simbol, komunikasi bermakna yang telah dilakukan melalui gerak, bahasa, rasa simpati, empati dan melahirkan suatu sikap sebagai reaksi atau respons. Respons ini dapat dipengaruhi oleh status sosial, status relasional, dan motivasi yang dimilikinya. Blumer lebih menekankan pada individu yang aktif dan kreatif daripada konsep besar lainnya seperti konsep masyarakat, dan institusi sosial yang dianggap sebagai abstraksi (Salim, 2008: 11).
 Interaksionis simbolik Blumer, Erving Goffman memberikan sumbangan dengan memusatkan perhatian pada interaksi tatap muka (face- to -face) dalam kehidupan sehari-hari yang dialami individu dalam interaksinya. Goffman memberikan pemahaman atas hakikat tindakan dalam pergulatan kehidupan sehari-hari (Salim, 2008: 12). Tindakan melibatkan pilihan antara cara-cara mencapai tujuan-tujuan dalam situasi baik mengenai objek fisik maupun sosial. Termasuk didalamnya norma-norma sosial dan nilai-nilai kultural. Proses institusionalisasi atau pelembagaan mencakup pelaku-pelaku yang menyesuaikan tindakan-tindakan mereka satu sama lain dan memberikan kepuasan timbal-balik yang akan berkembang menjadi suatu pola mengenai status peranan dan struktur peran. Hal ini dilihat dalam hubungannya dengan harapan-harapan yang dimiliki orang-orang dalam berhubungan satu sama lain. Kenyataannya dunia terbentuk oleh kontak-kontak lisan (percakapan-percakapan), baik yang bersifat internal maupun eksternal (Craib, 1986: 111). Kelompok (group) terdiri dari orang-orang yang saling berinteraksi dan berbagi nilai, norma, dan harapan yang sama. Sebagaimana kelas sosial, status, dan peran kita mempengaruhi tindakan yang akan kita lakukan. Kelompok di mana kita bergabung pun merupakan kekuatan yang tangguh dalam kehidupan. Menjadi bagian suatu kelompok berarti menyerahkan kepada orang lain hak untuk mengambil keputusan tertentu mengenai perilaku kita. Kita menjadi bagian suatu kelompok, maka kita 22 mengasumsikan adanya suatu kewajiban untuk bertindak sesuai dengan harapan anggota lain dalam kelompok tersebut (Henslin, 2007 : 96). Hubungan antar manusia atau relasi sosial menentukan struktur masyarakat. Hubungan ini didasarkan dalam praktik komunikasi yang menjadi dasar eksistensi sebuah kelompok (Haryanto & Nugrohadi, 2011: 213). Hubungan ini meliputi hubungan antar manusia, hubungan satu dengan yang lain, baik dalam bentuk perorangan maupun dengan kelompok atau antar kelompok manusia itu sendiri. Komunikasi sebagai bentuk interaksi merupakan sebuah proses sosial yang sesuai dengan nilai-nilai sosial dalam masyarakat. Proses sosial adalah cara berhubungan yang dilihat apabila seseorang, baik sebagai individu maupun kelompok saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk hubungan tersebut. Adanya perubahanperubahan yang menyebabkan goyahnya cara-cara hidup yang telah ada. Interaksi sosial merupakan bentuk dari proses sosial. Interaksi sosial ini menjadi kunci dari kehidupan sosial, karena tanpa interaksi sosial tidak akan ada kehidupan bersama yang terjalin. Interaksi menjadi syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan dinamis yang menyangkut hubungan antara perorangan, antar kelompok, maupun antara perorangan dengan kelompok dimana perilaku individu satu dapat mempengaruhi, mengubah atau juga memperbaiki perilaku individu lainnya (Haryanto & Nugrohadi, 2011: 215). Sebuah interaksi sosial tidak akan terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu adanya social contact dan komunikasi sosial (Soekanto, 2010: 64). Gillin mengajukan dua syarat yang harus dipenuhi agar interaksi sosial dapat terjadi, yaitu: Adanya kontak sosial (social contact). Kontak sosial adalah tahap awal terjadinya interaksi sosial. Interaksi sosial terjadi ketika dua orang bertemu dan saling menukar tanda, melakukan kontak meskipun tidak saling berbicara sudah dapat dikatakan melakukan interaksi sosial sebab mereka masing-masing sadar akan keberadaan dan kehadiran pihak lain yang dapat mengakibatkan adanya perubahan dalam perasaan ataupun syaraf mereka masing-masing (dikutip dalam Soekanto, 2010:64). Kesan yang ditimbulkan pada masing-masing individu itu kemudian menentukan tindakan dan kegiatan apa yang akan dilakukan (Haryanto& Nugrohadi, 2011: 216). Terjadinya interaksi sosial mengandung makna tentang kontak sosial secara timbal balik atau inter-stimulasi dan adanya respon antara individuindividu atau kelompok-kelompok. Kontak sosial merupakan aksi dari individu atau kelompok yang memiliki makna bagi pelakunya, yang kemudian ditangkap oleh individu atau kelompok lain (Taneko,1879: 110). Kontak sosial yang terjadi antar individu atau antar kelompok ada yang bersifat kontak positif, namun ada pula yang bersifat kontak negatif. Kontak yang bersifat positif mengarah pada adanya bentuk kerja sama, sedangkan kontak yang bersifat negatif mengarah pada suatu pertentangan dan bahkan dapat mengakibatkan adanya konflik. Suatu kontak sosial dapat pula bersifat primer atau sekunder. Adanya komunikasi (communication). Arti terpenting komunikasi adalah bahwa seseorang memberi tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap) perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut (Soekanto, 2010: 60). Adanya komunikasi ini, sikap-sikap dan perasaan-perasaan suatu kelompok manusia atau orang-perseorangan dapat diketahui oleh kelompokkelompok manusia lain atau orang-orang lainnya. Seseorang berkembang melalui interaksinya dengan orang lain. Situasi sosial dirumuskan sebagai situasi di mana orang-orang terlibat dalam interaksi sosial. Kemudian hal itu dapat digolongkan ke dalam dua golongan utama, yaitu situasi kebersamaan (togetherness situasion) dan situasi kelompok (group situasion), yang berbeda dalam intensitas dan teratur terhadap kegiatan-kegiatan individu. Interaksi sosial yang terjalin secara intensif dan erat antara anggotanya akan memungkinkan terbentuknya kelompok primer.
The basic condition of common life dapat tercermin pada faktor-faktor berikut (Santoso, 2004: 10-11): a. grouping of people, artinya adanya kumpulan orang-orang b. definite place, artinya adanya wilayah atau tempat tinggal tertentu. c. mode of living, artinya adanya pemilihan cara-cara hidup. Interaksi sosial yang terjadi antara dua orang individu didasari oleh komunikasi. Apabila orang berinteraksi maka mereka saling menukar isyarat, mengoperkan lambang-lambang yang bermakna, misalnya dalam bentuk senyuman, bahasa tubuh, atau kata-kata. Setiap anggota dalam suatu kelompok atau masyarakat berinteraksi dengan anggota lainnya melalui komunikasi. Secara bersamaan mereka menyesuaikan tingkah laku terhadapharapan-harapan mereka. Interaksi sosial yang terjadi saling mengikat orangorang ke dalam suatu masyarakat atau kelompok. Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerjasama (cooperation), persaingan (competition), bahkan dapat berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Interaksionisme simbolik akan memberikan penjelasan mengenai simbol-simbol interaksi yang terjadi diantara penghuni panti asuhan. Bagaimana mereka saling berinteraksi setiap harinya dan melakukan simbol baik berupa ekspresi, stimulasi maupun isyarat gerakan tubuh. Kejadiankejadian yang terjadi di panti asuhan dilihat lebih dalam menggunakan interaksionisme simbolik. Hal ini akan semakin memperjelas bahwa adanya bentuk-bentuk interaksi antar penghuni panti asuhan yang membentuk adanya in-group feeling.

Tipe – tipe Interaksi Sosial menurut James S. Coleman (skripsi dan tesis)

Menurut Soekanto dalam Abdulsyani, 2007:39 menyatakan hal yang terpenting didalam sebuah hubungan antara manusia satu dengan manusia lainnya adalah munculnya reaksi yang akan timbul sebagai akibat dari adanya hubungan tersebut. Reaksi ini kemudian menyebabkan tindakan seseorang akan bertambah luas dan akan menimbulkan keserasian (menyelaraskan) dengan tindakan-tindakan orang lain. hal ini terjadi karena manusia sejak dilahirkan telah memiliki hasrat keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya yaitu kelompok dan masyarakat. Menurut Ogburn dan Nimkoff dalam teori teori proses asimilasi, mengatakan bahwa (Ogburn dan Nimkoff dalam Abdulsyani, 2007:39) : “The process where by individuals or groups once dissimilar become similar, that is, become identified in their interests and outlook” Dimana dalam sebuah asimilasi atau proses individu maupun kelompok mengalami sebuah penyatuan (pengintegrasian) sekaligus proses penyesuaian terhadap berbagai peraturan yang merupakan pedoman. Dalam proses ini toleransi menjadi indikator dari terciptanya integrasi dalam kelompok dan proses penyesuaian sehingga terjadi integrasi. Jadi integrasi 12 yang terjalin dalam sebuah kelompok ditentukan oleh adanya interaksi sosial yang terdapat dalam kelompok tersebut. Sebuah kelompok sosial pasti terjadi interaksi sosial sebagai syarat utama terjadinya aktivitas sosial. Interaksi sosial merupakan hubunganhubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orangorang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia (Gillin dan Gillin dalam Soekanto, 2010: 55). Sebuah kelompok sosial yang erat pertemuan orang dengan orang dengan bertatap muka saja namun tidak saling berkomunikasi satu sama lain telah dikatakan berkomunikasi. Hal ini dikarenakan adanya kesadaran pada kedua belah pihak bahwa adanya pihak lain yang mempengaruhi terjadinya perubahan-perubahan dalam perasaan maupun syarat-syarat orang yang bersangkutan (Soekanto, 2010: 55). Coleman membedakan dua jenis pelaku yang terlibat dalam hubungan-hubungan itu: pelaku kelompok dan pelaku orang (Coleman, 2010: 741). Situasi konkret yang melibatkan agen pelaku kelompok, terkadang harus dibuat keputusan-keputusan yang menunjukkan perbedaan jelas antara pelaku personal dan pelaku kelompok. Secara analitis jelas bahwa setiap orang dalam situasi seperti itu mempunyai dua perangkat sarana: sarana miliknya sendiri, yaitu miliknya sebagai seorang pelaku personal; dan sarana milik pelaku kelompok yang diwakilinya sebagai agennya orang (Coleman, 2010: 741). Muncullah gambaran komunitas yang relasi utama di dalamnya adalah relasi di antara orang-orang. Hampir semua orang saling mengenal 13 sebagai orang, bukan pemegang posisi. Komunitas itu tampaknya jauh lebih dipersatukan dengan relasi di antara orang ketimbang relasi antarpelaku kelompok atau antara pelaku kelompok dengan orang (Coleman, 2010: 745) . Keberadaan individu dalam sebuah kelompok sebagai unsur struktural pada sebuah sistem sosial akan turut menciptakan tipe-tipe interaksi yang memiliki ciri-ciri khusus istimewa, diantaranya (Coleman, 2010: 745): a. tipe orang dengan orang, b. orang dengan pelaku kelompok, c. pelaku kelompok dengan pelaku kelompok

Gaya Hidup Remaja (skripsi dan tesis)

Gaya hidup/Lifestyle merupakan cara-cara yang terpola atau pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Pengertian “gaya hidup” menurut KBBI adalah pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup atau life style dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu (Awan, 2009 tersedia dalamhttp://lifestyleawan.blogspot.com/2009/03/pengertiangayahidup.htm l) Gaya hidup dapat dipahami sebagai sebuah karakteristik seseorang secara kasat mata, yang menandai sistem nilai, serta sikap terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Menurut Yasraf Amir Piliang (1999:208), Gaya hidup merupakan kombinasi dan totalitas cara, tata, kebiasaan, pilihan, serta objek-objek yang mendukungnya, dalam pelaksanaannya dilandasi oleh sistem nilai atau sistem kepercayaan tertentu. Karena memang melalui gaya hiduplah seseorang bisa dengan tanpa sadar memperlihatkan kepada khalayak umum siapa diri mereka sebenarnya. Perilaku dalam gaya hidup adalah campuran kebiasaan dalam melakukan sesuatu yang beralasan tindakan. Sebuah gaya hidup biasanya juga mencerminkan sikap individu, nilai-nilai atau pandangan sosial. Oleh karena itu, gaya hidup adalah sarana untuk melihat kesadaran diri untuk menciptakan budaya dan simbol-simbol yang dengan identitas pribadi. Dengan demikian gaya hidup merupakan kombinasi dari cara, selera, kebiasaan, pilihan serta objek-objek pendukung yang pelaksanaannya dilandasi oleh sistem nilai dan kepercayaan tertentu. Gaya hidup juga mengkondisikan setiap orang untuk membeli ilusi-ilusi tentang status, kelas, posisi sosial, prestise yang dikomunikasikan secara intensif lewat iklan-iklan dan gaya hidup (Yasraf Amir Piliang, 2003:291). Sehingga dari adanya suatu gaya hidup terkadang dapat menjadi fenomena karena kepopulerannya dan menjadikan pula sebagai kultur pop dikalangan tertentu melalui iklan atau media gaya hidup. Para remaja saat ini juga cenderung bergaya hidup dengan mengikuti mode masa kini, mode yang mereka tiru adalah mode dari orang barat. Salah satu contoh gaya hidup para remaja yang mengikuti mode dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah berpakaian. Remaja adalah komponen utama dalam masyarakat yang mendominasi abad tentang gaya hidup. Hal ini terjadi karena generasi muda memiliki tingkat kebutuhan diri yang lebih tinggi dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Dalam hal ini pakaian disto merupakan salah satu industri tekstil yang dianggap 19 dianggap sebagai inovasi, trend baru abad masa kini. Masa remaja adalah masa pencarian identitas, remaja mulai mencari gaya hidup yang sesuai dengan selera mereka. Remaja juga mulai mencari idola atau tokoh identifikasi yang bias dijadikan panutan baik dalam pencarian gaya hidup, gaya berbicara, penampilan, dan lain-lain demi mendapatkan status didalam pergaulannya. Karakter dari remaja adalah mudah meniru gaya dari orang lain selain dipengaruhi oleh media massa dipengaruhi juga oleh tren. Gaya hidup para remaja menjadi suatu penanda pada seseorang atau pun komunitas/ kelompok sosial tertentu yang mencerminkan diri akan eksistensi mereka diadalam masyarakat. Gaya hidup dijadikan alat perlawanan terhadap nilai dominan. Dalam penelitian ini remaja SMA yang masih labil dan lebih mudah menerima hal baru mengekspresikan diri mereka salah satunya dengan cara berbusana, salah satunya dengan penggunaan produk-produk distro. Penggunaaan produk distro menjadi salah satu pilihan gaya hidup remaja SMA dilihat dari apa yang mereka kenakan

Distribution Store (skripsi dan tesis)

Distro, merupakan singkatan dari distribution store atau distribution outlet, adalah jenis toko di Indonesia yang menjual pakaian dan aksesori yang dititipkan oleh pembuat pakaian, atau diproduksi sendiri. Distro umumnya merupakan industri kecil dan menengah (IKM) dengan merk independen yang dikembangkan kalangan muda. Produk yang dihasilkan oleh distro diusahakan untuk tidak diproduksi secara massal, agar mempertahankan sifat eksklusif suatu produk (Anonim, 2009 tersedia dalam http:ripcityclothing.com/blog/distro-bandung-sejarahnya). Yang menarik dari distro adalah desain penataan interiornya yang mempunyai ciri khas tersendiri antara distro satu dengan distro lainnya, semua ingin menampilkan identitasnya masing-masing. Yang menjadi hal yang menarik lagi ketika kita berkunjung ke salah satu distro adalah penataan tempat, barang maupun tata cahaya yang di setting dengan sangat menarik. Lahan distro yang kebanyakan tidak terlalu besar dan luas bisa disulap menjadi tempat berbelanja busana yang sangat nyaman untuk para calon pembeli yang berkunjung dengan variasi warna yang menarik untuk memberi kenyamanan setiap orang yang datang untuk membeli atau sekedar mencari tahu tren busana anak muda jaman sekarang. Sepatu, baju, kaos, sabuk, dompet, topi dll di jual dengan harga yang disesuaikan dengan isi dompet remaja. Inilah yang membuat distro semakin berkembang dan semakin menarik simpati para remaja di kota-kota besar Indonesia. 16 Teridentifikasinya distro dengan produk kreatif dan menjadi salah satu industri kreatif di Tanah Air menjadi wadah yang pada awalnya adalah bentuk terhadap produk brand global yang telah mapan dan mendominasi pasar. Istilah distro sendiri mulai populer sekitar awal tahun 1990-an di kota Bandung. Awalnya distro tumbuh seperti kios-kios kecil di tempat yang jauh dari pusat perbelanjaan (Anonim, 2009 tersedia dalam http:ripcityclothing.com/blog/distro-bandung-sejarahnya) Produk yang dijual di distro merupakan produk yang diproduksi oleh clothing dengan jumlah produk yang limited atau terbatas. Distro juga hadir sebagai sarana media penyalur kreativitas individu maupun kelompok tertentu (komunitas) dalam pengadaan merchandise band-band musik lokal dan juga diaplikasikan dalam gaya berpakaian sebagai bentuk perkembangan dunia fashion. Melalui fashion tersebut dipahami sebagai suatu sistem penandaan, keyakinan, nilai-nilai, ide-ide dan pengalaman yang dikomunikasikan melalui pratik-praktik (Malcom Barnard, 2006:514). Dalam hal ini fashion dan pakaian merupakan hal yang digunakan untuk berkomunikasi dan bukan hanya sesuatu seperti perasaan dan suasana hati tetapi juga nilai, harapan dan keyakinan. Yang menyebabkan distro telah masuk menjadi salah satu ikon pop. Pengunjung distro mayoritas merupakan remaja usia 15-25 tahun dengan tingkat pendidikan SMU sampai dengan perguruan tinggi. Bila dalam model awal distro yang merupakan fasilitas bagi komunitas untuk mempublikasikan hasil karyanya maka pengunjungnya kebanyakan laki-laki, namun saat ini 17 distro juga sering dikunjungi oleh wanita walaupun perbandingannya tidak seimbang dibanding dengan jumlah laki-laki yang berkunjung

Konsep Identitas (skripsi dan tesis)

 Identitas secara sederhana dipandang suatu hal yang melekat pada diri seseorang, yang membedakan seseorang dengan orang lain, seperti yang dituturkan oleh Weeks (Chris Barker, 2008:175) bahwa identitas adalah soal kesamaan dan perbedaan tentang aspek personal dan sosial, tentang kesamaan seseorang dengan sejumlah orang dan apa yang membedakan seseorang dengan orang lain. Identitas merupakan satu unsur kunci dari kenyataan obyektif, dan sebagaimana semua kenyataan subyektif berhubungan secara dialektis dengan masyarakat. Identitas dibentuk oleh proses-proses sosial yang ditentukan oleh struktur sosial. Kemudian identitas tersebut dipelihara, dimodifikasi, atau bahkan dibentuk ulang oleh hubungan sosial. Sebaliknya, identitas-identitas yang dihasilkan oleh interaksi antara organisme, kesadaran individu, dan struktur sosial bereaksi dengan struktur yang sudah diberikan, memelihara, memodifikasi, atau bahkan membentuknya kembali. Identitas merupakan tanda (sign) yang membedakan seseorang dengan orang lain. Identitas adalah esensi yang bisa ditandakan (signitied) 13 dengan tanda-tanda, selera, keyakinan, sikap dan gaya hidup. (Chris Barker, 2008:218). Identitas juga diartikan sebagai penciptaan batas-batas dimana terdapat suatu label tertentu diadalamnya, identitas seseorang tidak terlepas dari proses yang mencakup pengalaman hidup, latar belakang keluarga, lingkungan dan sebagainya. Identitas sosial merupakan perwakilan dari kelompok dimana seseorang tergabung seperti ras, etnisitas, pekerjaan, dan umur. Identitas pribadi timbul dari hal-hal yang membedakan seseorang dari orang yang lainnya dan menandakan seseorang sebagai pribadi yang spesial dan unik. dalam pembentukan identitas terdapat beberapa faktor (Lisnia, 2011:21-22), 1. Kreativitas, merupakan salah satu faktor yang mendorong individu untuk tampil berbeda dengan individu lainnya. kaitannya dengan penelitian ini, kreativitas diperlihatkan dengan adanya desain dan produk distro lainnya mampu menarik minat remaja SMA untuk memakainnya. 2. Ideologi kelompok, faktor ideologi kelompok merupakan salah satu faktor yang menentukan identitas invidivu berdasarkan identitas kelompok agar dapat digunakan untuk mengelompokkan individu dengan identitas tertentu. Kelompok juga memberikan pengaruh terhadap pembentukan identitas, karena dengan berinteraksi dalam suatu kelompok juga terdapat interaksi yang saling mempengaruhi. Begitu juga yang dialami oleh remaja SMA, dimana mereka berada 14 pada lingkungan atau kelompok tertentu yang mempengaruhi mereka atas gaya hidup mereka. 3. Status Sosial, merupakan analisis identitas dan gaya hidup yang selalu dikaitkan dengan status sosial individu masing-masing. Dapat digolongan pada golongan atas, golongan menengah, maupun golongan bawah. 4. Media Massa yang ada dalam kehidupan manusia merupakan salah satu faktor yang membentuk kerangka berpikir dalam menentukan selera. 5. Kesenangan, unsur kesenangan dapat dipakai untuk menjelaskan memahami kelompok anak muda yang mengadopsi, mengkonsumsi, atau mencampurkan berbagai macam gaya. Manusia merupakan makhluk dengan kesadaran dimana seharusnya dia berada. Kesadaran berarti sadar akan sesuatu, ada diri selain diri kita yang berada diluar. Kesadaran juga menimbulkan pemilihan, keraguan dan pecarian makna. Menurut Giddens bahwa identitas diri adalah apa yang kita pikirkan tentang diri kita pribadi. Selain itu, identitas bukanlah kumpulan-kumpulan sifat yang kita miliki, ataupun entitas benda yang kita tunjuk dan identitas merupakan suatu hal diciptakan oleh manusia melalui proses gerak aktif dari manusia itu sendiri (Chris Barker, 2008:175). Berdasar uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa identitas diri merupakan sesuatu istilah yang cukup luas bagi seseorang menjelaskan siapa dirinya

Interaksionisme Simbolik (skripsi dan tesis)

Beberapa ahli sosiologi antara lain Herbert Blumer dan George Mead melakukan pendekatan tentang interaksionisme simbolik, mereka berpandangan bahwa manusia adalah individu mampu berpikir, berperasan, memberi pengertian kepada setiap keadaan melahirkan reaksi dan interpretasi kepada setiap rangsangan terhadap apa yang dihadapi. Interaksionisme simbolik dirangkum kedalam prinsip-prinsip berikut (George Ritzer dan Goodman, 2007:289), 1. Tidak seperti binatang, manusia dibekali kemampuan untuk berpikir 2. Kemampuan berpikir dibentuk oleh interaksi sosial 3. Dalam interaksi sosial, orang mempelajari makna dan simbol yang memungkinkan mereka menjalankan kemampuan manusia untuk berpikir. 4. Makna dan simbol memungkinkan orang bertindak dan berinteraksi 5. Manusia mampu mengubah makna dan simbol yang mereka gunakan dalam bertindak dan berinteraksi berdasarkan tafsir mereka atas suatu keadaan. 6. Manusia mampu membuat kebijakan modifikasi dan perubahan, sebagian karena kemampuan mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri, yang memungkinkan mereka manguji serangkaian peluang tindakan, menilai keuntungan dan kerugian relative mereka, dan kemudian memilih satu di antara serangkaian peluang tindakan. 7. Pola-pola tindakan dan interaksi yang saling berkaitan tersebut membentuk kelompok masyarakat. Pokok perhatian interaksionisme simbolik yaitu, dampak makna dan simbol pada tindakan dan interaksi manusia. Manusia mempelajari simbolsimbol dan juga makna didalam interaksi sosial. Makna dan simbol memberi karakteristik khusus pada tindakan sosial dan interaksi sosial. Orang sering 11 menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan sesuatu tentang diri mereka, misalnya mengkomunikasikan gaya hidup tertentu (George Ritzer dan Douglas, 2007:292). Simbol sangat penting dalam memungkinkan orang bertindak didalam cara-cara manusiawi yang khas. Selain kegunaan umum tersebut, simbol-simbol pada umumnya dan bahasa pada khususnya mempunyai sebuah fungsi (George Ritzer, 2012:630); 1. Pertama, simbol-simbol memampukan manusia berurusan dengan dunia material dan sosial dengan memungkinkan mereka memberi nama atau mengkategorikan objek yang mereka jumpai. 2. Kedua, simbol meningkatkan kemampuan manusia memahami lingkungan. 3. Ketiga, simbol meningkatkan kemampuan untuk berpikir, meskipun sekumpulan simbol hanya memungkinkan kemampuan berpikir terbatas. 4. Keempat, simbol meningkatakan kemapuan manusia untuk memecahkan berbagai masalah. 5. Kelima, penggunaan simbol memungkinkan para aktor melampaui waktu dan ruang dan bahkan pribadi mereka sendiri. 6. Keenam, simbol memungkinkan kita membayangkan sesuatu yang realistis. Prinsip dasar teori interaksionisme simbolik tersebut tidak semua dipakai untuk mengkaji permasalahan pada penelitian, akan tetapi ada beberapa poin yang cocok yang berhubungan dengan makna dan simbol, yaitu interaksi antar individu melalui simbol-simbol akan saling berusaha untuk saling memahami maksud tindakan masing-masing individu. Dalam hal ini penggunaan produk distro menjadi fokus penelitian mempergunakan simbolsimbol tertentu dalam membentuk identitas remaja. Terkait dengan penelitian, interaksi dan simbol digunakan remaja sebagai bentuk komunikasi dengan sesama. Dimana biasanya remaja menggunakan simbol sebagai identitas diri dalam kelompok atau lingkungan mereka agar mereka dikenal dan 12 mempunyai sesuatu untuk dipandang berbeda dari yang lain. Salah satunya dengan menggunakan produk distro, produk distro yang eksklusif dan limited digemari oleh remaja SMA sebab memiliki kepuasan tersendiri setelah menggunakan produk distro tersebut. Didukung lagi distro sering mengendorse band-band yang banyak digemari oleh remaja.

Dimensi Flow (skripsi dan tesis)

Menurut Csikzentmihalyi (1990) dimensi flow adalah sebagai berikut : 1. Challenge-Skill Balance Seseorang yang mengalami flowakan memiliki rasa bahwa tantangan yang ia hadapi serta kemampuan yang ia miliki berada pada posisi yang seimbang. Namun, tidak hanya seimbang melainkan berada pada tingkat yang tinggi. Csikzentmihalyi menjelaskan bahwa dimensi ini terjadi ketika kemampuan yang individu miliki sangat tepat digunakan untuk menghadapi tuntutan situasional. 2. Action-Awareness Merging Saat mengalami flow, individu begitu terlibat dalam aktivitas yang ia jalankan, segala sesuatu yang ia kerjakan terasa begitu spontan atau otomatis. 3. Clear Goals Seseorang yang mengalami flowakan memiliki definisi yang jelas mengenai tujuan dari aktivitas yang ia kerjakan, baik itu telah ia rencanakan di awal, ataupun ia kembangkan saat aktivitas berlangsung. Sehingga, seseorang yang flow mengetahui dengan jelas apa yang ingin ia capai dan mengetahui apa yang ia lakukan. 4. Unambiguous Feedback Kegiatan-kegiatan yang memungkinkan memunculkan flow merupakan kegiatan yang memberikan umpan balik secara langsung dan jelas diterima, artinya individu yang mengalami flow segera mengetahui apakah ia berhasil atau tidak mencapai tujuannya dalam kegiatan yang ia lakukan. 5. Concentration on task at hand Saat mengalami flow, individu akan berkonsentrasi secara total pada tugas yang dikerjakan dan sepenuhnya dalam kendali di tangannya. Individu akan merasa benar-benar fokus. 6. Sense of Control Individu yang mengalami flow memiliki rasa kontrol terhadap situasi yang sulit. 7. Loss of Self-Consciousness Individu akan menyatu dengan aktivitas yang ia lakukan. 8. Transformation of Time Saat flow terjadi waktu terlihat berbeda bagi individu tersebut. Bisa menjadi lebih lambat atau menjadi lebih cepat. 9. Autotelic Experience Pengalaman autotelic merupakan pengalaman intrinsik yang sangat berharga yang merupakan hasil akhir dari terjadinya flow. Individu menyatakan bahwa ia benar-benar menikmati pengalaman tersebut dan hanya untuk kepuasan 13 subjektif sendiri tanpa ada harapan menerima penghargaan atau manfaat di masa depan yang terpenting adalah tujuannya telah tercapai. 3. Aspek-aspek Flow Menurut Bakker (2017) aspek-aspek flow adalah sebagai berikut: a. Absorption, mengacu pada konsentrasi total, dimana seseorang benar-benar tenggelam dalam pekerjaan akademis. b. Work Enjoyment, mengacu pada penilaian positif tentang kualitas pekerjaan akademis. c. Intrinsic Work Motivation, keinginan untuk melakukan kegiatan untuk mengalami kepuasan dan kepuasan yang melekat di dalam aktivitas. Dalam penelitian ini peneliti menjadikan aspek Bakker (2017) menjadi acuan dalam penelitian, karena Bakker memodifikasi dari teori Csikzentmihalyi (1997) untuk mengukur flow dalam pendidikan

Pengertian Flow (skripsi dan tesis)

Bakker (2008) mengatakan bahwa flow adalah pengalaman puncak jangka pendek. Flow adalah pengalaman puncak yang menyenangkan dan motivasi intrinstik sehingga pengalaman yang terjadi menjadikan perubahan waktu tidak terasa (Bakker, 2008). Flow didefinisikan sebagai pengalaman puncak jangka pendek yang dicirikan oleh penyerapan, kenikmatan kerja, dan motivasi kerja intrinsik (Bakker 2008). Flow secara positif terkait dengan berbagai indikator kinerja pekerjaan (Bakker & Woerkom, 2017). Menurut Snyder dan Lovpez (2006) flow adalah keadaan keterlibatan yang optimal dimana seseorang merasakan tantangan untuk bertindak karena memanfaatkan atau melimpahkan keterampilan yang ada untuk mencapai tujuan dan umpan balik langsung. Flow adalah sebagai pengalaman yang sepenuhnya terlibat dengan tugas yang dihadapi. Flow digambarkan sebagai pengalaman yang terjadi saat melakukan aktivitas apapun yang membuat orang merasa baik karena mereka melakukan sesuatu yang berharga untuk kepentingannya sendiri (Bakker, 2017). Flow adalah sebuah pengalaman subjektif yang menggembirakan dengan penuh keterlibatan, kemudian menggali lebih jauh tentang kondisi alami dari pengalaman tersebut hingga menjadi sebuah konsep (Csikzentmihalyi, 1997). Konsep flow merupakan konsep dari psikologi positif yang mengkaji tentang bagaimana seseorang mampu terlibat dengan kegiatan yang ia lakukan (Nakamura & Csikszentmihalyi, 2002). Flow adalah keadaan dimana sepenuhnya seseorang tenggelam dalam tugas-tugas sulit dan berbuat demi pekerjaan tersebut, ditandai dengan penggabungan aksi dan kesadaran, rasa kontrol, konsentrasi tinggi, dan perubahan waktu yang cepat (Nakamura & Csikszentmihalyi 2002). Flow adalah panduan perspektif yang membantu merebut kembali kepemilikan hidup, menantang diri sendiri dengan tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan dan komitmen tingkat tinggi (Csikszentmihalyi, 1997). Flow sebagaimana perhatian telah difokuskan pada pekerjaan yang sedang dilakukan, mengarahkan perhatian pada tantangan khusus, merasakan umpan balik langsung sehingga perhatian sepenuhnya diserap ke dalam aktivitas yang sedang dikerjakan (Nakamura dan Csikszentmihalyi, 2002). Flow adalah keadaan kesadaran dimana orang-orang menjadi benar-benar tenggelam dalam suatu aktivitas, dan menikmatinya dengan intens (Bakker, 2005 ; Csikzentmihalyi, 1997). Flow adalah keadaan yang sangat menyenangkan yang dirasakan orang ketika benar-benar terserap dalam sebuah kegiatan (Bakker, Golub & Rijavec, 2016)

Faktor yang Mempengaruhi Siswa dalam Berprestasi (skripsi dan tesis)

Siswa yang berprestasi tinggi mempunyai hubungan erat dengan kegiatan belajar, banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar baik yang berasal dari dalam individu itu sendiri maupun faktor yang berasal dari luar individu. Menurut Purwanto (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam berprestasi adalah : a) Faktor dari dalam diri individu yang terdiri dari faktor fisiologis dan psikologis. Faktor fisiologis adalah kondisi jasmani dan kondisi panca indera. Sedangkan faktor psikologis yaitu bakat, minat, kecerdasan, motivasi berprestasi dan kemampuan kognitif. b) Faktor dari luar individu Terdiri dari faktor lingkungan dan faktor instrumental. Faktor lingkungan yaitu lingkungan sosial dan lingkungan alam. Sedangkan faktor instrumental yaitu kurikulum, bahan, guru, sarana, administrasi, dan manajemen. Sejalan dengan pendapat tersebut, Muhibbin Syah (2013) membagi faktorfaktor yang mempengaruhi hasil belajar menjadi 3 macam, yaitu : 1) faktor internal, faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang meliputi 2 aspek yakni: a. Aspek fisiologis Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan belajar individu. b. Aspek psikologis Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kwantitas dan kwalitas perolehan pembelajaran siswa. Namun diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya lebih essential itu adalah sebagai berikut: yang pertama adalah tingkat kecerdasan/inteligensi siswa merupakan faktor yang paling penting dalam proses belajar siswa karena itu menentukan kualitas belajar siswa, kedua adalah sikap siswa, yang ketiga adalah bakat siswa, keempat minat siswa dan yang terakhir motivasi siswa 2) faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa. Dalam hal ini faktor-faktor yang memengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor lingkungan non-sosial dan lingkungan sosial yang meliputi lingkungan sekolah, lingkungan sosial masyarakat dan lingkungan sosial keluarga. 3) faktor pendekatan belajar yang merupakan jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran

Karakteristik Siswa Berprestasi (skripsi dan tesis)

Sobur (dalam Sahputra, 2006) menyatakan bahwa ciri siswa yang memiliki keinginan untuk berprestasi yang tinggi dihubungkan dengan seperangkat standart. Seperangkat standart tersebut yakni sebagai berikut: a. Prestasi belajar individu dihubungkan dengan prestasi orang lain, prestasi yang lampau, serta tugas yang harus dilakukan. b. Memiliki tanggung jawab pribadi terhadap kegiatan yang dilakukan. c. Adanya kebutuhan untuk mendapatkan umpan balik atas pekerjaan yang dilakukan sehingga dapat diketahui dengan cepat hasil yang diperoleh dari kegiatannya, baik berupa hasil yang lebih baik atau lebih buruk. d. Menghindari tugas yang terlalu sulit atau terlalu mudah,akan tetapi memilih tugas yang tingkat kesulitannya sedang. e. Memiliki inovasi, yaitu dalam melakukan pekerjaan dilakukan dengan cara yang berbeda, efisien dan lebih baik dari pada sebelumnya. Hal ini dilakukan agar individu mendapatkan cara yang lebih baik dan menguntungkan dalam pencapaian tujuan. f. Tidak menyukai keberhasilan yang bersifat kebetulan atau karena tindakan orang lain, dan ingin merasakan kesuksesan atau kegagalan disebabkan oleh individu itu sendiri.

Pengertian Siswa Berprestasi (skripsi dan tesis)

Siswa berprestasi merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar (Kulap, 2013). Secara umum, siswa itu adalah pelajar yang masih bisa dikatakan terkait oleh aturan-aturan yang masih dibatasi kebebasannya dan sekelompok orang yang menuntut ilmu di bangku sekolah. Siswa adalah sekelompok orang dengan usia tertentu yang belajar baik secara kelompok atau perorangan. Siswa juga disebut murid atau pelajar. (Anonim. 2007. Definisi Siswa). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999) arti berprestasi adalah mempunyai prestasi dalam suatu hal atau dalam suatu bidang yang merupakan hasil kerja atau hasil usaha dan tindakan seseorang yang berasal dari dorongan dari dalam dirinya atau dari luar dirinya untuk melakukan sesuatu dengan hasil terbaik untuk memperoleh predikat unggul. Dalam berprestasi, perilaku individu selalu mengarah atau diarahkan pada upaya untuk mencapai suatu keunggulan. Selain itu, aktivitas individu untuk mencapai keberhasilan disertai dengan mengatasi rintangan atau bersaing melebihi prestasi yang lampau atau prestasi orang lain. Tujuan untuk dapat berprestasi mendorong individu serta masyarakat untuk giat, tekun, inovatif, bertanggung jawab. Pentingnya Prestasi adalah menciptakan individu dan masyarakat yang memiliki motivasi tinggi untuk meraih sukses dan tidak takut berkompetisi (www.bimbingan.org)

Siswa Berprestasi adalah impian dari semua siswa sekolah. Menonjol diantara siswa siswa lainya, di kirim ke kompotisi maupun lomba untuk mewakili sekolah, mendapat peringkat, piala, medali, tentu akan membuat bangga dan akan terkenang hingga kapanpun. Menurut Slameto (2010) siswa dan prestasi adalah perwujudan dari bakat dan kemampuan. Bakat merupakan kemampuan bawaan yang berupa potensi. Namun, walau potensi ini sudah ada didalam diri, tetap butuh latihan dan pengembangan terus menerus. Jika bakat tidak dilatih dan dikembangkan, maka tidak mendatangkan manfaat apa pun pada orang yang memilikinya. Aktivitas belajar siswa tidak selamanya berlangsung wajar, kadang-kadang lancar dan kadang-kadang tidak, kadang-kadang cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa sulit untuk dipahami. Dalam hal semangat pun kadang-kadang tinggi dan kadang-kadang sulit untuk bias berkonsentrasi dalam belajar. Demikian kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap siswa dalam kehidupannya sehari-hari didalam aktivitas belajar mengajar. Siswa Berprestasi mampu mencapai hasil sesuai dengan tingkat keberhasilan dalam mempelajari materi pelajaran dapat dinyatakan dan dibuktikan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi yang di dapatkan siswa dimana dalam hal ini hasil tersebut dapat dikatakan sebagai prestasi belajar yang telah dicapai siswa (Kulap, 2013).
Dalam kamus psikologi J.P Chaplin (2006) mengatakan prestasi belajar dalam bidang pendidikan akademik, merupakan satu tingkat khusus perolehan atau hasil keahlian karya akademik yang dinilai oleh guru-guru, lewat tes yang dibakukan, atau lewat kombinasi kedua hal tersebut. Sedangkan menurut Winkel (1996) prestasi belajar adalah proses belajar yang dialami siswa untuk menghasilkan perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, penerapan, daya analisis, dan evaluasi. Prestasi belajar merupakan hasil belajar evaluasi dari suatu proses yang biasanya dinyatakan dalam bentuk kuantitatif (angka) yang khusus dipersiapkan untuk proses evaluasi, misalnya nilai pelajaran, mata kuliah, nilai ujian dan lain sebagainya (Suryabrata, 2013). Nilai yang dihasilkan oleh setiap siswa dibagi menjadi dua yaitu dari bidang akademik dan non-akademik. Dalam penelitian ini siswa berprestasi yang dimaksud adalah dilihat dari prestasi di bidang akademik. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (1999) prestasi akademik merupakan hasil pelajaran yang diperoleh dari kegiatan belajar di sekolah atau perguruan tinggi yang bersifat kognitif dan biasanya ditentukan melalui pengukuran dan penilaian. Prestasi akademik menurut Bloom merupakan hasil perubahan perilaku yang meliputi ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor yang merupakan ukuran keberhasilan siswa (Sugianto, 2007). Menurut pendapat Hutabarat (1995), hasil belajar dibagi menjadi empat golongan yaitu : a) Pengetahuan, yaitu dalam bentuk bahan informasi, fakta, gagasan, keyakinan, prosedur, hukum, kaidah, standar, dan konsep lainya b) Kemampuan, yaitu dalam bentuk kemampuan untuk menganalisis, mereproduksi, mencipta, mengatur, merangkum, membuat generalisasi, berfikir rasional dan menyesuaikan. c) Kebiasaaan dan keterampilan, yaitu dalam bentuk kebiasaan perilaku dan keterampilan dalam menggunakan semua kemampuan. d) Sikap, yaitu dalam bentuk apresiasi, minat, pertimbangan dan selera. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi akademik yaitu suatu kemampuan yang dimiliki seorang siswa dilihat dari sisi akademiknya, lebih tepat yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diterimanya selama mengikuti belajarmengajar di kelas. Kemampuan siswa yang dimiliki berupa penguasan pengetahuan, kemampuan kebiasaan dan keterampilan serta sikap setelah mengikuti proses pembelajaran yang dapat dibuktikan dengan hasil tes. Meningkatnya prestasi belajar diperlukan adanya perilaku belajar yang sesuai dengan tujuan pendidikan selama proses belajar, dimana perilaku belajar tersebut dapat mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Perilaku belajar, sering juga disebut dengan aktifitas belajar, merupakan dimensi belajar yang dilakukan individu secara berulang-ulang sehingga menjadi otomatis atau spontan. Perilaku ini akan mempengaruhi prestasi belajar (Rampengan, dalam Hanifah, 2001). Oemar Hamalik (2008) mengemukakan bahwa seseorang yang berhasil dalam belajar mempunyai sikap serta perilaku belajar yang baik karena prestasi belajar yang baik diperoleh melalui proses belajar yang baik. Maka dalam hal ini perilaku belajar siswa akan berbanding lurus dengan hasil yang didapatkan.

Prasyarat Mencapai Kondisi Flow (skripsi dan tesis)

Beberapa prasyarat untuk mengalami flow adalah sebagai berikut (Setiadi, dalam Akmaliyah, 2016):
a. Goal Tujuan akan memberikan daya gerak sehingga seseorang mengerahkan segala keterampilan dan daya upaya yang dimilikinya menuju ke arah tujuan tersebut. Suatu tujuan yang bermakna akan senantiasa jadi penggerak yang efektif, bahkan ketika seseorang menemui banyak kesulitan dalam perjalanannya.
b. Feedback
Feedback bisa berasal dari diri sendiri ataupun orang lain. Feedback yang terbaik adalah feedback yang seketika dan langsung ditangkap oleh si pribadi, maka seketika itupun ia mempertahankan atau mengubah aktivitasnya untuk menyesuaikan diri dengan feedback yang diterimanya. Ketika seseorang beraktivitas dengan tujuan yang bermakna serta senantiasa memeperoleh feedback yang membuatnya memperoleh kejelasan tentang tugasnya dari berbagai sumber, maka ia akan semakin siap untuk mencapai flow.
 c. High skill
Semakin tinggi keterampilan seseorang dalam suatu bidang, berbagai kemungkinan baru semakin terbuka dan kreativitas semakin meningkat. Keterampilan yang semakin tinggi akan membuat aktivitas yang dikerjakan senantiasa terasa segar, karena berbagai kemungkinan baru yang menarik senantiasa muncul. Semakin tinggi keterampilan orang yang melakukannya, semakin menarik dan semakin mudah untuk mengeksplorasi kemampuan yang dimilikinya, selain itu juga dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran diri.
 d. Optimal Challenge
Tantangan dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi, tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit yaitu tantangan yang mengharuskan seseorang mengeluarkan seluruh kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Saat menghadapi tantangan semacam itu seseorang baru akan dapat merealisasi dan menyadari seluruh keterampilan yang dimilikinya sehingga memunculkan emerging skills. Emerging skills adalah momen seseorang menyentuh dan melewati batasan-batasan dirinya atau disebut momen bertumbuh (growth moment).

Dimensi – Dimensi Flow (skripsi dan tesis)

Cskikszentmihalyi (1990, dalam Akmaliyah, 2016) mengidentifikasi sejumlah dimensi yang berbeda yang terlibat dalam mencapai flow:
1. Ada tujuan yang jelas setiap langkah Meliputi kejelasan mengenai apa yang harus dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan. Selain itu, mengidentifikasi hambatan dan kesulitan apa yang mungkin terjadi. Kejelasan tujuan akan membuat hasil dari aktivitas yang dilakukan menjadi lebih memuaskan. Tujuan dengan kemampuan yang dimiliki dapat berjalan selaras.
2. Ada umpan balik langsung ke tindakan Komponen yang kedua meliputi ketersediaan informasi konstan yang terkait dengan kinerja. Umpan balik (feedback) diberikan secara langsung dan segera. Feedback meliputi kejelasan keberhasilan dan kegagalan dalam perjalanan aktivitas. Fungsinya untuk meningkatkan kinerja dan tahu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja.
3. Ada keseimbangan antara tantangan dan keterampilan Meliputi keseimbangan antara tingkat kemampuan yang dimiliki diri sendiri dan tantangan dari aktivitas yang kita lakukan. Dengan adanya keseimbangan antara tantangan yang masuk dan kemampuan kita akan menciptakan suasana yang aktif dan menyenangkan. Di satu sisi diri kita dimotivasi oleh tantangan, di sisi lain tantangan yang ada memungkinkan untuk kita taklukkan.
 4. Kesatuan antara kewaspadaan dan tindakan Meliputi keterlibatan secara penuh ke dalam tindakan atau aktifitas yang akan menimbulkan adanya penyerapan ke dalam aktivitas dan penyempitan fokus kesadaran ke kegiatan yang dilakukannya. Aksi dengan kesadaran semakin memudar seiring berjalannya proses tindakan atau aktifitas yang dilakukannya.
5. Konsentrasi yang fokus Komponen ini meliputi feeling focused dan tak ada satu ruangpun yang dapat mengganggu. Feeling focused adalah keadaan dimana perasaan kita terfokus pada suatu hal saja. Selain itu juga meliputi konsentrasi tingkat tinggi pada bidang batas perhatian. Bagi orang yang terlibat dalam kegiatan ini akan memiliki kesempatan untuk fokus dan menggali suatu hal tersebut secara mendalam.
 6. Rasa Kontrol Meliputi rasa kontrol pribadi atas situasi atau kegiatan. Apa yang dinikmati oleh orang-orang bukanlah perasaan yang sedang dikontrol, tetapi berupa perasaan pelatihan kontrol atas situasi yang sulit.
7. Hilangnya self consciousness Komponen yang ketujuh meliputi hilangnya kesadaran diri, penggabungan aksi dan kesadaran. Perhatian terhadap diri sendiri menghilang karena seseorang menyatu dengan aktivitasnya.
8. Terjadi distorsi waktu Terdapat ketidaksadaran akan waktu. Saat seseorang telah larut dalam aktivitas yang sedang ia lakukan, membuat ia tidak sadar berapa banyak waktu yang telah ia lewati.
9. Adanya penghargaan diri atau pengalaman autothelic Seseorang akan melakukan sesuatu karena kepentingannya sendiri dan bukan karena ekspektasi atas penghargaan dimasa datang.
8. Terjadi distorsi waktu Terdapat ketidaksadaran akan waktu. Saat seseorang telah larut dalam aktivitas yang sedang ia lakukan, membuat ia tidak sadar berapa banyak waktu yang telah ia lewati.

Aspek – Aspek Flow Akademik (skripsi dan tesis)

Terdapat dua aspek penting dalam teori flow yaitu: pengalaman flow didefinisikan sebagai dua perubahan eksperimental subjektif, yaitu tantangan (challenge) dan ketrampilan (skill) (Husna & Dewi, 2014). Bakker (dalam Santoso, 2014) menyebutkan bahwa ada tiga aspek flow yaitu, absorbtion, enjoyment, dan intrinsic motivation. Ketiga aspek tersebut akan ditinjau sebagai berikut: a. Absorbtion, adalah kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi penuh pada hal yang sedang dikerjakan dan dapat menikmati aktivitas atau tugas tersebut. Individu merasa dapat menyelesaikan tantangan yang diberikan kepadanya sehingga membuat individu tersebut benar-benar tenggelam pada tugas atau aktivitas yang dikerjakannya dan tidak menyadari perubahan waktu yang terjadi. b. Enjoyment, adalah kenyamanan saat mengerjakan tugas tersebut. Tugas atau aktivitas yang dikerjakan oleh individu tersebut dinilai positif oleh dirinya sendiri. Perasaan nyaman tersebut muncul dalam melakukan kegiatan atau tugas sehingga individu mampu melakukan kegiatan yang dikerjakannya dalam waktu yang cukup lama. c. Intrinsic Motivation, adalah faktor penggerak atau yang lebih sering disebut dengan dorongan internal. Dorongan tersebut merupakan bentuk keinginan yang muncul dalam diri seseorang ketika dia melakukan aktivitas, dengan tujuan agar mendapat kesenangan dan kepuasan dari aktivitas yang ada tanpa ada penghargaan dari orang lain

Pengertian Flow Akademik (skripsi dan tesis)

Konsep flow pertama kali dikemukakan oleh Csikszenmihalyi. Menurut pendapat Moneta dan Csikszentmihalyi (dalam Csikszentmihalyi 1990) mereka mendefinisikan Flow sebagai sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa dalam situasi kognitif yang efisien, termotivasi dan merasa senang. Situasi ini merujuk kepada perasaan yang sangat menyenangkan ketika seseorang sedang melakukan aktifitas yang memerlukan keterlibatan, konsentrasi dan kesenangan secara total selama melakukan aktifitas tersebut. Fokus akan apa yang dikerjakan dalam hal lain juga disebut sebagai salah satu bagian dari flow (Arif, 2013). Saat mengalami flow terkadang individu tersebut akan merasa bahwa waktu cepat berlalu saat mengerjakan suatu pekerjaan. Hal ini disebabkan adanya perasaan nyaman, konsentrasi secara penuh terhadap suatu pekerjaan. Flow adalah suatu momen sukacita yang besar, suatu kenikmatan luar biasa, saat seseorang bergumul dengan persoalan yang sulit dalam bidangnya masingmasing, yang menuntutnya mengerahkan segala keterampilan, daya upaya dan sumber daya yang mereka miliki sampai ke batas-batasnya atau bahkan melampauinya (Setiadi, 2016).

Daniel Goleman (2015) berpendapat bahwa flow adalah keadaan ketika seorang sepenuhnya terserap ke dalam apa yang dikerjakannya, perhatiannya hanya terfokus ke pekerjaan yang dilakukan. Mampu mencapai keadaan flow merupakan puncak kecerdasan emosional yang dapat menumbuhkan perasaan senang dan bahagia. Dalam keadaan flow, emosi tidak hanya ditampung dan disalurkan, tetapi juga bersifat mendukung, memberi tenaga, selaras dengan tugas yang dihadapi. Flow adalah kondisi internal dalam bentuk kesenangan yang melibatkan pengalaman positif seseorang sehingga orang tersebut dapat mengendalikan dirinya untuk tetap focus pada saat mengerjakan sesuatu (Lee, dalam Santoso, 2014). Keadaan flow meliputi gairah dan minat yang cukup intens untuk mengerjakan suatu tugas, mengarah kepada pengalaman yang menyenangkan, seseorang sadar dan aktif menggunakan semua kemampuannya untuk memenuhi tugas tersebut. Keseimbangan yang terjadi antara keterampilan individu dan tantangan tugas sering dilihat sebagai prasyarat suatu keadaan flow. Keyakinan kemampuan individu dalam mengerjakan suatu tugas atau aktivitas juga berperan penting untuk menentukan terjadinya kondisi flow (Csikszentmihalyi, 1990). Area flow sangatlah luas, bukan hanya terdapat pada lingkungan kerja/organisasi, namun konsep ini juga dapat digunakan pada lingkungan pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Flow menggambarkan pengalaman subjektif ketika keterampilan dan kesuksesan dalam kegiatan terlihat mudah, walaupun banyak energy fisik dan mental yang digunakan (Husna & Dewi, 2014). Pengertian lain tentang flow (Ghani & Dhespande, dalam Ignatius, 2013) adalah konsentrasi yang menyeluruh saat menjalani kegiatan dan munculnya kenikmatan ketika menjalaninya. Konsep flow sebenarnya termasuk dalam bagian yang penting ketika proses belajar terjadi, karena kondisi flow membantu siswa untuk focus dan dengan perasaan nyaman melakukan seluruh aktivitas akademik. Flow di bidang akademik dibutuhkan oleh setiap siswa karena dapat memberikan hasil yang positif berupa mengurangi stress akademik dan meningkatkan well-being (Rupayana dalam Santoso, 2014). Ahli psikologi Howard Gardner (dalam Daniel Goleman, 2015) berpendapat bahwa flow dan keadaan-keadaan positif yang mencirikannya sebagai salah satu cara paling sehat untuk mengajar anak-anak, memotivasi mereka dari dalam, dan membuat mereka tertarik mempelajari bidang-bidang di mana mereka dapat mengembangkan keahliannya. Secara umum model flow menyiratkan bahwa mencapai penguasaan keterampilan atau ilmu idealnya harus berlangsung secara alami, sewaktu anak tertarik pada bidang yang secara spontan mengasyikannya. Rasa ketertarikan awal ini dapat merupakan benih bagi pencapaian tingkat tinggi. Pengertian flow akademik (Ignatius, 2013) adalah kondisi saat individu dapat berkonsentrasi, fokus, munculnya rasa nyaman, motivasi yang berasal dari dirinya sendiri serta menikmati ketika melakukan kegiatan akademik (belajar dan mengerjakan tugas). Individu yang mengalami flow biasanya terlibat secara intens dalam kegiatan yang ia lakukan sehingga mereka cenderung tidak sadar dengan waktu atau tempat (Schunk, dkk, 2008, dalam Husna & Dewi, 2014). Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulan bahwa yang dimaksud dengan flow akademik adalah kondisi dimana individu merasakan nyaman, termotivasi, dapat fokus atau berkonsentrasi terhadap sesuatu yang ia kerjakan, serta merasa senang dan menikmati aktivitas akademik yang sedang ia jalani.

Persyaratan Kredit (skripsi dan tesis)

Perusahaan yang menjalankan kebijaksanaan penjualan kredit memerlukan pedoman dalam menentukan kepada siapa akan memberikan kredit dan berapa jumlah kredit tersebut. Oleh karena itu, perusahaan tidak hanya mementingkan penentuan standar kredit yang diberikan, tetapi juga penetapan standar kredit tersebut dalam membuat keputusan-keputusan kredit. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut : a. Standar kredit Menurut Syamsuddin (2002) standar kredit dari suatu perusahaan dapat didefinisikan sebagai kriteria minimum yang harus dipenuhi oleh seorang pelanggan sebelum dapat diberikan kredit. Hal-hal seperti nama baik pelanggan sehubungan dengan kredit, atau pembayaran utang-utang dagangnya, baik kepada perusahaan sendiri maupun kepada perusahaan-perusahaan lain, referensireferensi kredit, rata-rata jangka waktu pembayaran utang dagang dan beberapa rasio keuangan tertentu dari perusahaan pelanggan akan dapat memberikan suatu dasar penilaian bagi perusahaan sebelum memberikan atau melakukan penjualan kredit. Adapun faktor-faktor utama yang harus dipertimbangkan apabila perusahaan bermaksud untuk mengubah standar kredit yang diterapkan menurut Syamsuddin (2002) adalah :
 1. Biaya administrasi, bilamana perusahaan memperlunak standar kredit yang diterapkan, berarti banyak kredit yang diberikan dan tugas-tugas yang tidak dapat dipisahkan dengan adanya pertambahan penjualan kredit tersebut juga akan semakin bertambah besar. Sebaliknya, apabila standar kredit diperketat, maka jumlah penjualan kredit yang diberikan semakin kecil dan tugas-tugas untuk itupun semakin sedikit. Dengan demikian, dapat  diperkirakan bahwa perlunakan standar kredit yang lebih ketat akan mengurangi biaya administrasi.
2. Investasi dalam piutang, semakin besar piutang semakin besar pula biayabiayanya. Perlunakan standar kredit diharapkan untuk meningkatkan volume penjualan, sedangkan standar kredit yang semakin ketat akan menurunkan volume penjualan.
3. Kerugian piutang (bad debt expenses), akan semakin meningkat dengan diperlunaknya standar kredit, dan akan menurun bilamana standar kredit diperketat.
 4. Volume penjualan, bilamana standar kredit diperlunak maka diharapkan akan dapat meningkatkan volume penjualan, dan sebaliknya jika perusahaan memperketat standar kredit yang diterapkan maka dapat diperkirakan bahwa volume penjualan akan menurun.
 b. Syarat Kredit (Credit Term) Syarat kredit adalah ketentuan yang ditetapkan perusahaan terhadap pelanggan untuk membayar utangnya. Syarat kredit dapat bersifat lunak atau ketat. Bersifat ketat, berarti perusahaan mengutamakan keselamatan kredit dari pada pertimbangan laba. Bersifat lunak, berarti perusahaan melakukan strategi dalam meningkatkan volume penjualan. Persyaratan kredit atau credit term meliputi tiga hal, yaitu :
1. Potongan tunai, memungkinkan pelanggan tertarik untuk membayar pinjaman lebih awal. Hal ini membuat penagihan periode rata-rata (average collection period) akan lebih pendek dan penjualan kotor pun meningkat. Besarnya potongan tunai yang diberikan dapat ditentukan oleh titik di mana biaya yang dikeluarkan sama dengan manfaat yang akan diterima oleh perusahaanVolume penjualan akan meningkat karena adanya potongan tunai untuk pembayaran yang dilakukan dalam waktu 10 hari, maka harga dari produk yang dibeli oleh perusahaan pembeli akan lebih murah. Bilamana permintaan terhadap produk perusahaan cukup elastis, maka penurunan harga tersebut akan diikuti oleh meningkatnya permintaan dan volume penjualan. Rata-rata pengumpulan piutang juga akan menurun karena pelanggan yang tadinya tidak mendapatkan potongan tunai, sekarang dapat mengambil potongan tunai tersebut. Hal ini tentu saja berarti suatu pembayaran yang lebih awal dan dengan demikian jangka waktu rata-rata pengumpulan piutangpun akan berkurang. Demikian pula halnya dengan kerugian piutang, karena banyaknya banyaknya pelanggan yang mengambil potongan tunai yang ditawarkan maka probabilitas dari kerugian piutang atau bad debt expenses akan semakin meningkatkan keuntungan perusahaan. Aspek negatif dari adanya potongan tunai adalah menurunnya potongan per unit dari produk yang dijual bilamana semakin banyak pelanggan yang mengambil potongan tunai yang ditawarkan tersebut berarti menurunnya produk yang dijual.
2. Periode kredit, perubahan dalam priode kredit (misalnya dari net 30 hari menjadi 60 hari) juga akan mempengaruhi profitabilitas perusahaan. Pengaruh-pengaruh berikut ini diperkirakan akan terjadi bilamana  perusahaan memperpanjang priode kredit yang diberikan. Perpanjangan periode kredit akan meningkatkan volume penjualan tetapi baik rata-rata pengumpulan piutang maupun kerugian piutang juga akan meningkat. Dengan demikian peningkata volume penjualan akan mempunyai pengaruh yang positif atas keuntungan perusahaan, sedangkan rata-rata pengumpulan piutang dan kerugian piutang akan berpengaruh negatif bagi keuntungan perusahaan. Kebalikan dari hal ini, perpendekan dari periode kredit, akan mempunyai pengaruh-pengaruh yang sebaliknya

Manfaat Penjualan Kredit (skripsi dan tesis)

Investasi pada piutang akan memberikan manfaat bagi perusahaan. Penjualan kredit ini ditempuh dengan harapan agar bisa memperoleh penjualan yang lebih tinggi daripada menjual secara tunai, karena itu perusahaan mengharapkan memperoleh keuntungan yang lebih besar.Meskipun demikian, ada banyak biaya yang harus ditanggung. Pertama, ada kemungkinan piutang tidak terbayar. Kedua, perusahaan akan memerlukan dana yang lebih besar dan semua dana mempunyai biaya. Karena itu perusahaan menanggung biaya dana yang lebih besar. Oleh karena itu, tambahan manfaat harus lebih besar dari tambahan pengorbanannya, agar pembentukan piutang tersebut bisa dibenarkan. Menurut Adisaputra (2003) investasi pada piutang akan memberikan manfaat bagi perusahaan antara lain kenaikan omzet pemjualan, kenaikan laba bersih, dan bertambahnya market share yang mana memberikan dampak positif bagi persaingan bisnis.
 Adisaputra (2003) mengemukakan manfaat penjualan kredit antara lain: upaya untuk meningkatkan omzet penjualan, meningkatkan keuntungan, meningkatkan hubungan dagang antara perusahaan dengan pelanggannya, manfaat keuntungan berupa selisih bunga modal pinjaman yang harus dibayarkan kepada bank sebagai sumber dana pembelanjaan piutang. Demikian juga menurut Indriyo (2005) mengemukakan keuntungan dari penjualan kredit yaitu: kenaikan hasil penjualan, kenaikan laba, persaingan. Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut, penulis berpendapat bahwa manfaat penjualan kredit antara lain: dapat meningkatkan omzet penjualan, meningkatkan keuntungan perusahaan serta dapat meningkatkan hubungan dagang antara pelanggan dengan perusahaan. Gunawan Adisaputra (2003) mengemukakan manfaat penjualan kredit, antara lain: a. Upaya untuk meningkatkan omzet penjualan.  b. Meningkatkan keuntungan. c. Meningkatkan hubungan dagang antara perusahaan dengan para langganan. d. Manfaat keuntungan berupa selisih bunga modal pinjaman yang harus dibayarkan kepada bank sebagai sumber dana pembelanjaan piutang

Kebijakan Kredit (skripsi dan tesis)

Kebijakan penjualan kredit merupakan pedoman yang ditempuh oleh perusahaan dalam menentukan apakah seseorang pelanggan akan diberikan kredit dan jika diberikan berapa banyak atau berapa jumlah kredit yang akan diberikan. Ada beberapa unsur yang terkandung dalam penjualan kredit sebagaimana yang dijelaskan oleh Kasmir (2008), yaitu : 1. Kepercayaan Yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa prestasi yang diberikannya dalam bentuk uang, barang, atau jasa akan benar-benar diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu di masa yang akan datang. 2. Waktu Yaitu suatu masa yang akan memisahkan antar pemberian prestasi dengan kontraprestasi yang akan diterima pada masa yang akan datang. 3. Degree of Risk Yaitu tingkat risiko akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontraprestasi pada masa yang akan datang. 4. Prestasi Yaitu objek kredit yang tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga dalam bentuk barang dan jasa.  Perusahaan-perusahaan yang tidak hanya mementingkan penentuan standar kredit yang akan diberikan tetapi juga penerapan standar kredit tersebut secara tepat dalam membuat keputusan-keputusan kredit

Cara Pengumpulan Piutang (skripsi dan tesis)

Cara pengumpulan piutang menurut Lukman Syamsuddin (2002) adalah : a. Melalui surat. Bilamana waktu pembayaran utang dari langganan sudah lewat beberapa hari, tetapi belum juga dilakukan pembayaran maka perusahaan dapat mengirimkan surat dengan nada “mengingatkan” (menegur) langganan yang belum membayar tersebut bahwa utangnya sudah jatuh tempo. Apabila utang tersebut belum juga dibayar setelah beberapa hari surat dikirimkan maka dapat dikirimkan surat yang kedua yang nadanya lebih keras. b. Melalui telepon. Jika setelah dikirim surat teguran ternyata utang-utang tersebut belum juga dibayar, maka bagian kredit dapat menelpon langganan dan secara pribadi meminta untuk segera melakukan pembayaran. Kalau dari hasil pembicaraan tersebut ternyata langganan mempunyai alasan yang dapat diterima, maka mungkin perusahaan dapat memberikan perpanjangan sampai suatu jangka waktu tertentu.  c. Kunjungan personal. Teknik pengumpulan piutang dengan jalan melakukan kunjungan secara personal atau pribadi ke tempat langganan seringkali digunakan karena dirasakan sangat efektif dalam usaha-usaha pengumpulan piutang. d. Tindakan yuridis. Bilamana ternyata langganan tidak mau membayar utangnya, maka perusahaan dapat menggunakan tindakan-tindakan hukum dengan mengajukan gugatan perdata melalui pengadilan

Prosedur Penagihan Piutang (skripsi dan tesis)

Ada 5 (lima) langkah prosedur penagihan menurut Samsul (2003) meliputi  a. Menyerahkan faktur-faktur yang sudah hampir jatuh tempo dari pemegang arsip faktur kepada penagih. b. Penagih menyerahkan faktur kepada debitur yang bersangkutan, untuk dicek terlebih dahulu sebelum membayarnya. c. Penagih kembali kepada debitur pada tanggal yang dijanjikan oleh si debitur untuk pelunasan hutangnya. d. Penagih menyetor hasil tagihan kepada kasir perusahaan. e. Mengambil faktur yang tidak terbayar kepada pemegang faktur semula Meskipun demikian debitur dapat membayar hutangnya dengan cara : a. Membayar langsung dan datang kepada perusahaan. b. Membayar melalui bank. c. Kompensasi utang/piutang. d. Membayar lewat penagih/kolektor

Surat Pernyataan Piutang (skripsi dan tesis)

Surat pernyataan piutang merupakan salah satu formulir yang menunjukkan piutang pada langganan untuk tanggal tertentu, dan dalam bentuk surat pernyataan piutang tertentu disertai perincian pendukungnya. Bentuk-bentuk surat pernyataan piutang menurut Narko (2004) yaitu : a. Surat pernyataan saldo akhir bulan (balance of moment statement) Dalam surat pernyataan ini, yang diinformasikan kepada pelanggan hanya saldo akhir suatu bulan tertentu saja. Dengan demikian informasinya cukup ringkas. Surat pernyataan dibuat dengan mengutip saldo akhir yang ada pada rekening pembantu piutang pada pelanggan tertentu. b. Surat pernyataan elemen-elemen terbuka (open item statement) Berisi daftar faktur penjualan yang belum dilunasi, beserta tanggal dan jumlahnya. Digunakan bila pelanggan melunasi faktur. c. Surat pernyataan tunggal (unit statement) Dikerjakan dengan kartu piutang memakai karbon untuk mendapatkan tembusan selama satu periode (biasanya bulanan). Lembar pertama untuk surat pernyaataan dan lembar kedua merupakan kartu piutang. Setiap bulan digunakan lembar baru, di mana lembar pertama dikirimkan kepada langganan dan lembar kedua disimpan sebagai buku pembantu piutang. d. Surat pernyataan saldo berjalan dengan rekening konvensional (running balance statement with conventional account) Berisi keterangan yang sama dengan pernyataan tunggal, cara mengerjakan juga sama. Perbedaannya adalah tembusan yang merupakan buku pembantu piutang tidak diganti tiap bulan tetapi buku pembantu piutang tersebut terus dipakai sampai penuh. Laporan yang sering dibuat dalam administrasi piutang, menurut Samsul (2004) yaitu : a. Rekening koran piutang dagang per langganan 1. Rekening koran tipe saldo akhir bulanan 2. Rekening koran tipe saldo akhir unit terbuka 3. Rekening koran tipe transaksi berjalan b. Daftar umur piutang Dibuat tiap akhir bulan atau sewaktu-waktu diperlukan pinjaman. Dipakai untuk menilai langganan yang menunggak pembayarannya. c. Daftar piutang yang dihapuskan

Prosedur Administrasi Piutang (skripsi dan tesis)

Prosedur administrasi piutang yang umum dikenal menurut Samsul (2004) a. File dokumen b. Kartu piutang c. Buku piutang Untuk setiap metode di atas, langganan dapat dikelompokkan menurut : a. Nama dan alamat pelanggan b. Tanggal jatuh tempo pembayaran c. Kombinasi keduanya

Fungsi Bagian Piutang (skripsi dan tesis)

Agar tujuan administrasi dapat dicapai maka selayaknya setiap perusahaan, dalam hal ini perusahaan dagang memiliki bagian khusus yang menangani hal-hal yang berhubungan dengan piutang, di mana bagian piutang memiliki fungsi seperti yang dikemukakan oleh Baridwan (2000) sebagai berikut : a. Membuat cadangan piutang yang dapat menunjukkan jumlah kreditkredit kepada tiap-tiap langkah. Hal ini dapat memudahkan kita untuk mengetahui sejarah kreditnya, jumlah maksimum kredit dan keterangan lainnya yang diperlukan oleh bagian kredit. b. Menyiapkan dan mengirimkan surat pernyataan piutang. c. Membuat daftar analisa umur piutang tiap periode. Daftar ini digunakan untuk menilai keberhasilan kebijakan kredit yang dijalankan juga sebagai memo untuk mencatat kerugian piutang

Tujuan Administrasi Piutang (skripsi dan tesis)

Tujuan administrasi piutang adalah : a. Memberikan informasi penagihan untuk tepat waktu. b. Meyakinkan jumlah piutang itu memang ada, dan bukan fiktif. c. Menentukan tingkat kecairan, untuk pengelompokkan ke aktiva lancar atau aktiva lain-lain. d. Untuk mendapat dasar dalam membuat cadangan dan pengapsahan piutang. e. Untuk mengontrol apakah maksimum kredit masing-masing langganan terlampaui atau tidak. f. Sebagai sumber penelitian kondisi debitur. g. Sebagai kontrol terhadap saldo buku besar piutang.

Biaya Atas Piutang (skripsi dan tesis)

 Dalam proses penjualan kredit, perusahaan tidak akan terlepas dari resiko biaya atas kegiatan tersebut. Biaya-biaya tersebut menurut Adisaputro (2003) antara lain : a. Beban biaya modal Piutang sebagai salah satu bentuk investasi akan menyerap sebagian dari modal perusahaan yang tersedia. Bila perusahaan menggunakan modal sendiri seluruhnya, maka dengan piutang modal yang tersedia untuk investasi bentuk lain (persediaan, aktiva tetap, dan lain-lain) akan berkurang. Dengan demikian, biaya modal besarnya sama dengan besarnya biaya modal sendiri. Bilamana modal sendiri tidak mencukupi sehingga perusahaan terpaksa menggunakan pinjaman bank, maka timbul biaya yang eksplisit dalam bentuk bunga modal pinjaman. Oleh karena itu, piutang sebagai investasi dibelanjai dengan modal sendiri atau modal luar yang selalu menambah beban tetap yang berwujud biaya modal. Dengan adanya piutang, kebutuhan modal kerja akan meningkat. b. Biaya administrasi piutang
1. Biaya organisasi atau unit kerja yang diserahi tugas mengelola piutang, yaitu gaji dan jaminan sosial lain bagi petugas penagihan dan pengadministrasian piutang.
2. Biaya penagihan misalnya biaya telepon, surat penagihan, biaya perjalanan bagi penagih piutang. c. Adanya piutang tak tertagih Tidak semua piutang dapat tertagih, hal ini bisa saja disebabkan debitur lari atau bankrut. Dapat saja timbul piutang macet atau tak tertagih sama sekali, sehingga mengakibatkan adanya piutang tak tertagih (bad debts) sehingga perlu  dibentuk cadangan piutang ragu-ragu yang dibentuk lewat penyisihan sebagian keuntungan penjualan. Pembentukan cadangan inilah merupakan salah satu bentuk biaya piutang. Jumlah biaya-biaya ini ada bersifat fixed seperti gaji personil penagih utang, ada yang bersifat variable seperti biaya perjalanan/penagihan piutang. Jumlah ini berubah dari waktu ke waktu, karena : 1. Perbedaan jumlah nasabah yang harus dilayani 2. Perbedaan nilai piutang keseluruhan yang harus dikelola. 3. Perbedaan fungsi piutang atau penjualan dengan kredit dari waktu ke waktu berhubungan dengan adanya perbedaan antara kondisi persaingan dan situasi ekonomi secara umum. 4. Perbedaan jangka waktu kredit yang diberikan

Risiko Piutang (skripsi dan tesis)

Disamping memperoleh manfaat dari penjualan yang dilakukan secara kredit seperti meningkatkan pendapatan penjualan dan laba, perusahaan juga biasanya menanggung beban operasional atas adanya piutang tak tertagih. Hal ini bisa timbul dari kegagalan perusahaan memperoleh pembayaran dari pelanggan. Dalam akuntansi, adanya piutang tidak tertagih diakui keberadaannya sehingga membentuk satu perkiraan tersendiri yaitu beban piutang tak tertagih. Menurut Zaki Baridwan (2004) piutang usaha yang tidak mungkin ditagih, seperti debiturnya bankrut, meninggal, pailit atau lain-lain harus dihapuskan sehingga akan menjadi biaya bagi perusahaan. Kebijakan penghapusan langsung menggunakan asumsi bahwa piutang yang dianggap tak akan tertagih sulit untuk diterima dikemudian hari. Ini artinya, ada saja bagian dari piutang dagang yang tidak tertagih dan harus dihapus saja dari buku. Namun sebaiknya kebijakan estimasi atau taksiran piutang tidak tertagih menganggap bahwa sebagian dari piutang tidak tertagih masih sangat mungkin untuk diterima kembali di kemudian hari. Setiap kebijakan yang dilakukan oleh perusahaan pasti akan mempunyai dampak dan pengaruh yang ditimbulkan, baik itu yang menguntungkan maupun yang merugikan perusahaan itu sendiri. Kemungkinan-kemungkinan yang sifatnya umum banyak sekali terjadi bilamana pihak yang memberikan piutang menagih kembali, pihak pemiutang justru berusaha mengelak atau menunda melakukan pembayaran atas tagihan tersebut. Risiko kredit adalah risiko tidak terbayarnya kredit yang telah diberikan kepada para pelanggan (Riyanto, 2001 : 87). Sebelum perusahaan memutuskan untuk menyetujui permintaan atau penambahan kredit oleh para pelanggan maka perusahaan perlu mengadakan evaluasi risiko kredit dari para pelanggan tersebut. Risiko yang mungkin terjadi dalam piutang usaha, yaitu:

a. Risiko tidak dibayarnya seluruh piutang Risiko tidak terbayarnya seluruh piutang bagi perusahaan merupakan risiko paling berat yang harus dihadapi, karena seluruh tagihan yang telah direncanakan akan diterima di masa yang akan datang ternyata tidak dapat diterima kembali sebagai kas, sehingga pengorbanan yang telah dilakukan terbuang percuma. Hal ini lebih berat lagi bila perusahaan yang bersangkutan bermodalkan terbatas sehingga dapat mengakibatkan kegagalan bagi kelangsungan hidup perusahaan. Kejadian ini terjadi karena perusahaan lalai dalam menyelidiki calon pembelinya, misalnya: pembeli melarikan diri, pembeli mengalami kesulitan keuangan atau perusahaan pembeli mengalami kebangkrutan, dan sebagainya.

b. Risiko tidak dibayar sebagian piutang Risiko tidak dibayar sebagian piutang adalah risiko yang lebih ringan karena sebagian dari total piutang tersebut telah diterima perusahaan. Sering sekali terjadi dalam kasus nyata sehari-hari, seorang pembeli yang baru pertama kali mengadakan hubungan transaksi penjualan kredit akan menunjukkan kesan yang sangat baik. Namun setelah waktu untuk membayar piutangnya tiba mulailah mereka menunjukkan itikad yang kurang baik seperti: mulai tidak membayar piutangnya, membatalkan atau sengaja tidak mengisi rekeningnya dengan alasan bahwa perusahaannya sedang menghadapi kesulitan keuangan, dan masih banyak alasan lainnya.

c. Risiko keterlambatan pelunasan Risiko keterlambatan pelunasan merupakan risiko yang lebih ringan tetapi bukan berarti tidak mempengaruhi keadaan keuangan perusahaan, karena meskipun dalam waktu yang relatif tidak lama jelas terlihat bahwa pemasukan dari uang tagihan tersebut telah melewati jadwal penerimaan yang seharusnya.

d. Risiko tertanam modal  Perusahaan harus hati-hati dalam memberikan pinjaman atau piutang kepada pelanggannya sebab bila perusahaan tersebut mengadakan penjualan secara kredit akan timbul perkiraan piutang pada laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan. Hal ini jelas mengakibatkan modal tertanam dalam piutang baik modal yang bersumber dari modal sendiri maupun modal asing.