Motivasi Manajemen Laba


Secara umum terdapat beberapa hal yang memotivasi individu atau
badan usaha melakukan tindakan creative accounting atau manajemen laba
(Andy Azhari. 2015), yaitu :
a. Motivasi Bonus
Dalam sebuah perjanjian bisnis, pemegang saham akan memberikan
sejumlah insentif dan bonus sebagai feedback atau evaluasi atas kerja manajer
dalam menjalankan operasional perusahaan. Insentif ini diberikan dalam
jumlah relatif tetap dan rutin, semantara bonus yang relatif lebih besar
nilainya hanya akan diberikan ketika kinerja manajer berada di area
pencapaian bonus yang telah ditetapkan oleh pemagang saham.kinerja manajer
salah satu nya diukur dari pencapaian laba usaha.pengukuran kinerja
berdasarkan laba dan skema bonus tersebut memotivasi para manajer untuk
memberikan performa terbaiknya sehingga tidak menutup peluang mereka
melakukan tindakan manajemen laba agar dapat menampilkan kinerja yang
baik demi mendapatkan bonus yang maksimal.
b. Motivasi utang
Selain melakukan kontrak bisnis dengan pemegang saham untuk
kepentingan ekspansi perusahaan, manajer sering kali melakukan beberapa
kontrak bisnis dengan pihak ketiga, dalam hal ini adalah kreditor. Agar
kreditor mau menginvestasikan dana nya di perusahaan tentunya manajer
harus menunjukan performa yang baik dari perusahaan nya.untuk memperoleh
hasil maksimal,yaitu pinjaman dalam jumlah besar,prilaku kreatif dari manajer
untuk menampilkan performa yang baik dari laporan keuangannya pun sering
kali muncul.
c. Motivasi Pajak
Tindakan manajemen laba tidak hanya terjadi pada perusahaan go
public dan selalu untuk kepentingan harga saham,tetapi juga untuk
kepentingan perpajakan. Kepentingan ini didominasi oleh perusahaan yang
belum go public. Perusahaan yang belum go public cenderung melaporkan
dan menginginkan untuk menyajikan laporan laba fiskal yang lebih rendah
dari nilai yang sebenarnya. Kecenderungan ini memotivasi manajer untuk
bertindak kreatif melakukan tindakan manajemen laba agar seolah olah laba
fiskal yang dilaporkan memang lebih rendah tanpa melanggar aturan dan
kebijakan akuntansi perpajakan.
d. Motivasi Initial Public Offering (IPO).
Motivasi ini banyak digunakan perusahaan yang akan go public
ataupun yang sudah go public. Perusahaan yang akan go public akan
melakukan penawarann saham perdananya ke public atau lebih dikenal dengan
istilah Initial Public Offering (IPO) untuk memperoleh tambahan modal usaha
dari calon invetor. Begitupun dengan perusahaan yang sudah go public untuk
kelanjutan dan ekspansi usahanya.
e. Motivasi Pergantian Direksi
Praktik manajemen laba biasa nya terjadi pada sekitar periode
pergantian direksi atau chief executive officer (CEO). Menjelang berakhirnya
masa jabatan, direksi cenderung bersifat kreatif dengan memaksimalkan laba
agar performa kerja nya tetap terlihat baik pada tahun terakhir ia menjabat.
Motivasi utama yang mendorong hal tersebut adalah untuk memperoleh bonus
yang maksimal pada akhir jabatannya.
f. Motivasi Politis
Motivasi ini biasa nya terjadi pada perusahaan besar yang bidang
usaha nya banyak menyentuh masyarakat luas, seperti perusahaan
perusahaan strategis semisalnya,perminyakan, gas, listrik, dan air.Demi
menjaga tetap mendapatkan subsidi, perusahaan perusahaan tersebut
cenderung menjaga posisi keuangannya dalam keadaan tertentu sehingga
prestasi atau kinerja nya tidak terlalu baik karena jika sudah baik,
kemungkinan besar subsidi tidak lagi diberikan.
Dari penjelasan diatas terdapat beberapa motivasi yang mendorong
terjadi nya manajemen laba, namun yang sejalan dengan penelitian ini yaitu
ditinjau dari motivasi perpajakan (taxation motivations). Scot mengemukakan
bahwa motivasi penghematan pajak menjadi motivasi manajemen laba yang
paling nyata ,namun demikian kewenangan pajak cenderung untuk
memaksakan aturan akuntansi pajak sendiri untuk menghitung pendapatan
kena pajak. Seharusnya secara umum perpajakan tidak mempunyai peran
besar dalam keputusan manajemen laba. Inti nya manajer termotivasi untuk
melakukan manajemen laba untuk menurunkan laba demi mengurangi beban
pajak yang harus dibayar.