Iklan Peduli Lingkungan


Iklan merupakan salah satu instrumen pemasaran modern yang
aktivitasnya didasarkan pada konsep komunikasi. Belch dan Belch (2001)
mempertegas bahwa iklan dapat difungsikan sebagai sumber dalam proses
information research dalam tahapan pengambilan keputusan konsumen.
Secara khusus, Zinkhan dan Carlson (1995) dalam Stokes (2007)
menjelaskan bahwa iklan peduli lingkungan sebagai pesan promosi yang
menarik kebutuhan dan hasrat tentang keprihatinan konsumen terhadap
lingkungan.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan penjabaran definisi
Banerjee et al. (1995) yang mengartikan green advertising sebagai sebuah
iklan yang mengandung pesan minimal satu dari tiga kriteria berikut ini:
a. Menunjukkan sebuah hubungan antara produk atau jasa dan
lingkungan fisik.
b. Mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan tanpa menyoroti suatu
produk atau jasa tertentu.
c. Menampilkan citra perusahaan yang terkesan bertanggungjawab
dengan lingkungan.
Sejumlah persepektif dan peraturan sudah dikembangkan untuk
memandu pemasar membentuk formula dengan menggunakan klaim
performa lingkungan. Dalam pandangan Davis (1993), panduan
keberhasilan green advertising digeneralisasikan sebagai berikut:
a. Memastikan bahwa keuntungan produk yang dipromosikan benarbenar terwujud.
b. Mengidentifikasi keuntungan spesifik produk dalam atribut produk
yang berkontribusi untuk menaikkan performa lingkungan.
c. Menyajikan data spesifik tentang spesifikasi proporsi dan konten daur
ulang alam.
d. Menyediakan sebuah konteks hubungan untuk mengijinkan konsumen
membuat komparasi bermakna.
e. Mendefinisikan istilah teknis yang digunakan.
f. Menjelaskan keuntungan ketika konsumen memiliki keterbatasan
dalam memahami isu lingkungan

Atribut Merek Hijau


Atribut merek hijau (green brand attribute) didefinisikan dengan
atribut spesifik merek dan relasi manfaatnya mengurangi dampak terhadap
lingkungan serta persepsi merek tersebut bertema lingkungan (Roozen dan
De Pelsmacker, 1998 dalam Hartman et al., 2005). Berkaitan dengan hal
ini, pemasar perlu memberikan penjelasan detail berupa kalimat ataupun
simbol-simbol ramah lingkungan (green brand attribute), misalnya dalam
cetakan kemasan produk, dalam kandungan produk, bahkan dalam proses
produksi yang tercetak pada label produknya.
Strategi atribut merek hijau berdasarkan fungsi utama merek hijau
bertujuan untuk membangun asosiasi merek dengan menyampaikan
informasi atribut produk bertema lingkungan. Strategi ini tergantung
seberapa relevan keuntungan produk ramah lingkungan tersebut bila
dibandingkan dengan produk konvensional lainnya ditinjau dari proses
produksi, manfaat produk dan/atau eliminasi produk (Meffert dan
Kirchgeorg, 1993; Peattie, 1995 dalam Hartman et al., 2005).
Dikarenakan tidak semua konsumen mendapat manfaat langsung
dari produk ramah lingkungan sebagai faktor motivasi membeli, maka
sebagai strategi alternatif atau strategi komplementer, atribut merek hijau
dapat juga diasosiasikan dengan tiga jenis konsep tentang manfaat merek
secara emosional:
a. Perasaan berbuat baik (warm glow) terasosiasi dengan sebuah perilaku
altruistic way. Konsumen mendapat pengalaman kepuasan pribadi
dengan berkontribusi untuk sebuah lingkungan yang lebih baik (Ritov
dan Kahnemann, 1997).
b. Ekspresi otomatis yang diperoleh melalui pengamatan sosial
mengkonsumsi green brands. Ada kepuasan tersendiri dengan
memamerkan kebiasaan tersebut kepada orang lain (Belz dan Dyllik,
1996).
c. Hasrat alami yang timbul dari sensasi dan perasaan pengalaman
normal ketika kontak dengan alam. Hasilnya seperti sensasi mencintai
lingkungan atau menyatu dengan alam (Kals et al., 1999).

Produk Ramah Lingkungan


Secara eksplisit, Joel Makower et al. (1993) dalam buku “The
Green Consumer” menerangkan bahwa terdapat kriteria yang dapat
digunakan untuk menentukan apakah suatu produk ramah atau tidak
terhadap lingkungan, yaitu:
a. Tingkat bahaya produk bagi kesehatan manusia atau binatang.
b. Seberapa jauh produk dapat menyebabkan kerusakan lingkungan
selama di pabrik, digunakan atau dibuang.
c. Tingkat penggunaan jumlah energi dan sumberdaya yang tidak
proporsional selama dipabrik, digunakan atau dibuang.
d. Seberapa banyak produk menyebabkan limbah yang tidak berguna
ketika kemasannya berlebihan atau untuk suatu penggunaan yang
singkat.
e. Seberapa jauh produk melibatkan penggunaan yang tidak ada gunanya
atau kejam terhadap binatang.
f. Penggunaan material yang berasal dari spesies atau lingkungan yang
terancam

Pengertian Green Marketing


Menurut Haryadi (2009) istilah green marketing mulai dikenal
pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, namun ternyata hal tersebut
telah didiskusikan lebih awal. The American Marketing Associate
(AMA) pada tahun 1975 mengadakan seminar pertama tentang
“Ecological Marketing” di mana seminar ini menghasilkan buku
pertama tentang green marketing berjudul “Ecological Marketing”
(Henion dan Kinnear, 1978 dalam Haryadi, 2009).
Mintu & Lozada (1993), Lozada (2000) dalam Haryadi (2009)
mendefinisikan green marketing sebagai aplikasi dari alat pemasaran
untuk memfasilitasi perubahan yang memberikan kepuasan organisasi
dan tujuan individual dalam melakukan pemeliharaan, perlindungan,
dan konservasi pada lingkungan fisik. Aktivitas green marketing
membutuhkan lebih dari sekedar pengembangan citra (Henion &
Kinnear, 1976; Lozada & Mintu–Wimsatt, 1998 dalam Haryadi, 2009).
Charter (1992) dalam Haryadi (2009) memberikan definisi
green marketing merupakan holistik, tanggung jawab strategik proses
manajemen yang mengidentifikasi, mengantisipasi, memuaskan dan
memenuhi kebutuhan stakeholders untuk memberi penghargaan wajar,
yang tidak menimbulkan kerugian kepada manusia atau kesehatan
lingkungan alam

Pengaruh Green Marketing terhadap Keputusan Pembelian.


Keputusan pembelian didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan
konsumen dalam membeli suatu produk. Keputusan pembelian dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor seperti faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Situmorang (2011) menyatakan di dalam
green marketing, para pelaku usaha atau perusahaan dalam proses produksinya
memakai bahan dan fasilitas yang aman serta tidak menyebabkan kerusakan
lingkungan. Perusahaan juga ikut andil dalam melakukan tanggung jawab
terhadap lingkungan. Produk yang ramah lingkungan ini dapat menarik minat
konsumen untuk mengkonsumsinya. Pernyataan diatas mendukung penelitian
terdahulu yang dilakukan Suwantari (2012) menyatakan strategi green marketing
secara keseluruhan dan sebagian dapat menimbulkan pengaruh terhadap
keputusan pembelian. Penelitian yang dilakukan oleh beberapa penliti
menunjukan bahwa green marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap
keputusan pembelian

Pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian.


Citra merek dapat diartikan sebagai serangkaian kepercayaan konsumen
terhadap suatu merek tertentu sehingga asosiasi merek tersebut melekat di benak
konsumen. Suatu merek dikatakan baik, jika memiliki kualitas tinggi dan harga
premium. Istiantia (2016) menyatakan terdapat hubungan citra merek berpengaruh
positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil penelitian ini didukung
Romadon (2014) menjelaskan bahwa ada pengaruh signifikan dari citra merek
terhadap keputusan pembelian. Hal ini dapat diartikan, perusahaan dalam
menciptakan produk ramah lingkungan dapat menghasilkan citra merek yang
tinggi, maka keputusan pembelian yang dilakukan oleh konsumen akan semakin
tinggi.
Keputusan pembelian produk dapat dipengaruhi oleh citra merek yang
baik. Berdasarkan penelitian tersebut, perusahaan atau para pelaku usaha harus
dapat menciptakan citra merek yang positif di pikiran konsumen, agar nilai jual
produk dapat meningkat dan mengakibatkan keputusan pembelian semakin besar.
Hal ini berdampak pada keuntungan yang didapat perusahaan meningkat, serta
hubungan baik antara produsen dengan konsumen akan terjalin. Penelitian yang
dilakukan oleh beberapa peneliti menunjukan bahwa citra merek berepngaruh
signifikan terhadap keputusan pembelian.

Pengaruh Green Marketing terhadap Citra Merek.


Green marketing didefinisikan sebagai kegiatan pemasaran yang berfokus
kepada aspek lingkungan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia
dalam mencapai kepuasan. Dahlstrom (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan
bahwa suatu citra merek (brand image) terbentuk karena adanya green marketing
yang dibuat perusahaan yang bersumber dari produk hijau atau dari harga hijau.
Hasil dari penelitian ini mendukung penelitian terdahulu yang dilakukan oleh
Silvia (2014) bahwa green marketing secara langsung memilih pengaruh yang
signifikan terhadap citra merek. Perusahaan yang menggunakan konsep green
marketing dapat membentuk citra merek yang baik sehingga konsumen lebih suka
dengan produk ramah lingkungan.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh beberapa peneliti menunjukan
bahwa green marketing memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap citra
merek

Hubungan antara Green Marketing, Citra Merek dan Keputusan Pembelian


Pengembangan strategi green marketing memiliki peluang yang bagus
sebagai cara pemasaran suatu produk terkait dengan masalah lingkungan yang
dihadapi saat ini oleh konsumen. Penerapan strategi green marketing yang baik
dapat membentuk anggapan atau kesan yang baik. Konsumen akan merespon
positif kepada perusahaan atau pelaku usaha yang melakukan aktivitas produksi
berdasarkan lingkungan. Perusahaan atau pelaku usaha akan memiliki keunggulan
lebih dengan menerapakan konsep peduli atas lingkungan dalam pemasaran
produknya. Program pemasaran yang baik tersebut dapat membentuk citra merek
yang positif ke dalam ingatan konsumen. Hal ini berdampak keuntungan
perusahaan yang akan terus meningkat karena produknya mudah di ingat oleh
konsumen serta mengakibatkan keputusan pembelian terhadap produk tersebut
semakin besar. Pada saat ini konsumen relatif memilih dalam mengkonsumsi atau
menggunakan sebuah produk. Para pemasar menjadikan tantangan tersebut
menjadi sebuah peluang dengan mengembangkan dan berinovasi terhadap suatu
produknya. Beberapa perusahaan sudah menerapkan konsep green atau
lingkungan ke dalam produknya seperti pemilihan bahan baku, proses produksi,
proses kemasan, dan limbah yang ditimbulkan. Perusahaan juga merubah faktor
produksi meliputi kualitas,bentuk produk, dan penggunaan teknologi yang baru.
Produk hijau yang dibuat perusahaan memiliki harga relatif lebih mahal
dari pada produk lain. Pengetahuan konsumen yang luas terhadap produk, maka
konsumen cenderung memilih dan tidak akan mengambil bahaya dalam
mengkonsumsi produk. Hal ini meliputi standar keamaanan, kualiatas, kesehatan
dan kenyamanan. Konsumen yang memiliki pengtahuan berlandaskan lingkungan
mau membeli produk dengan harga premium dari pada harga standar produk.
Harga adalah indeks yang mendeskripsikan kualitas sebuah produk. Harga
dapat membentuk citra merek positif dan berpengaruh terhadap keputusan
pembelian akhir yang dilakukan konsumen. Hal ini mendukung terhadap
penelitian Kurniawati (2011) dan Agustina (2016) tentang green marketing, hasil
penelitian ini menyatakan bahwa proses pemasaran yang dilakukan berdasarkan
pada lingkungan mengakibatkan adanya pengaruh yang lebih terhadap citra merek
produk.
Penciptaan citra merek memiliki pengaruh terhadap keputuasan
pembelian, karena konsumen relatif memilih dalam membeli produk yang
memiliki citra merek baik untuk dikonsumsi. Produk dengan merek terkenal akan
lebih dipilih konsumen, karena adanya anggapan konsumen terhadap merek
terkenal memiliki kualitas yang lebih. Pernyataan tersebut didukung oleh Narjono
(2012) menyatakan bahwa citra merek yang dikelola dengan baik akan
menghasilkan dampak yang positif, sehingga pengembangan citra merek pada
suatu produk sangat penting dalam struktur pembelian. Hal ini juga di dukung
oleh penelitian Musay (2013) yang mendapatkan hasil serupa yaitu adanya
pengaruh signifikan antara citra merek terhadap keputusan pembelian

Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2012) keputusan pembelian konsumen
adalah tahapan akhir dari konsumen terhadap suatu produk, baik individu
maupun rumah tangga dalam membeli produk dan jasa untuk dikonsumsi
pribadi. Keputusan pembelian dapat diartikan sebagai langkah yang dilakukan
oleh konsumen sebelum melakukan pembelian suatu produk dengan
membandingkan kelebihan dan kelemahan suatu produk (Armstrong dan
Kotler, 2015). Keputusan pembelian yang diambil oleh konsumen merupakan
sekumpulan dari keputusan-keputusan yang sudah direncanakan terlebih
dahulu. Berdasarkan Kotler dan Armstrong (2012), konsumen memiliki 5
tahapan dalam melakukan keputusan pembelian. Tahapan tersebut
digambarkan sebagai berikut:

tahapan dalam proses keputusan pembelian konsumen menurut
Kotler dan Arnstrong (2012) dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Need recognition (pengenalan kebutuhan) merupakan suatu proses
konsumen mengenali suatu masalah atau kebutuhan. Dalam hal ini
konsumen perlu merasakan perbedaan antara kebutuhan dan keinginan

terhadap sebuah produk. Kebutuhan berasal dari internal maupun eksternal
konsumen. Pada tahapan ini para pelaku usaha perlu mengenali adanya
berbagai kebutuhan yang di alami oleh konsumen. Para pelaku usaha atau
pemasar dapat menjadikan kebutuhan konsumen menjadi sebuah peluang
dalam menghasilkan produk baru yang dapat menjawab masalah yang
disebabkan karena kebutuhan konsumen.
b. Information search (pencarian informasi) merupakan suatu proses pencarian
informasi yang lebih banyak oleh konsumen. Pada tahap ini para pelaku
usaha harus merancang strategi pemasaran dalam mengkomunikasikan
sebuah produknya agar terjual dipasaran. Sumber informasi yang didapat
konsumen dapat melalui pengalaman, pribadi, publik dan iklan komersial
lainnya.
c. Evaluation of alternatives (evaluasi alternatif) merupakan suatu proses
peggunaan informasi oleh konsumen untuk mengevaluasi dalam
memutuskan pilihan. Pada tahap ini konsumen memiliki banyak pilihan
terhadap produk yang disukai.
d. Purchase decision (keputusan pembelian) merupakan suatu proses
konsumen dalam membuat alternatif atas merek yang tersedia di dalam
tahap evaluasi. Pada tahap ini konsumen harus memilih produk yang
disukainya dengan mempertimbangkan kebutuhan dan manfaat yang akan
didapatkan.
e. Postpurchase behavior (perilaku pasca pembelian) merupakan proses
kepuasan dan ketidakpuasan yang dialami konsumen dalam melakukan
pembelian. Pada tahap akhir ini jika konsumen meresa puas dalam
menggunakan produk maka akan timbul loyalitas terhadap suatu produk,
dan jika konsumen merasa tidak puas terhadap suatu produk maka akan
berganti dengan produk yang lain.
Dalam melakukan keputusan pembelian terdapat tujuh komponen struktur
menurut (Sawastha dan Handoko, 2012) yaitu sebagai berikut:
a. Keputusan tentang jenis produk.
Keputusan tentang jenis produk didasarkan pada konsumen yang dapat
mengambil keputusan untuk membeli suatu produk sesuai dengan
kebutuhan dan keinginannya.
b. Keputusan tentang bentuk produk.
Konsumen tentang bentuk produk didasarkan pada konsumen yang membeli
suatu produk berdasarkan bentuk tertentu seperti ukuran, corak, dan
sebagainya.
c. Keputusan tentang merek.
Keputusan tentang merek didasarkan pada merek apa yang konsumen
inginkan. Dalam hal ini merek suatu perusahaan sangat berpengaruh dalam
keputusan pembelian.
d. Keputusan tentang tempat penjualnya.
Keputusan tentang penjualannya didasarkan pada dimana produk tersebut
akan di beli. Pemasar harus mengetahui lokasi yang strategis dalam menjual
sebuah produknya.
22
e. Keputusan tentang jumlah produk.
Keputusan tentang jumlah produk didasarkan pada berapa banyak produk
tersebut akan dibeli oleh konsumen. Pemasar harus menyiapkan produk apa
saja yang diinginkan pembeli.
f. Keputusan tentang waktu pembelian.
Keputusan tentang waktu pembelian didasarkan pada kapan konsumen
harus membeli produk. Pemasar harus mengetahui faktor yang dapat
mempengaruhi keputusan pembelian, agar pemasar dapat mengatur dalam
hal produksi.
g. Keputusan tentang cara pembayaran.
Keputusan tentang cara pembayaran didasarkan pada alat tukar yang
digunakan konsumen dalam membeli suatu produk. Pembayaran tersebut
dapat dilakukan dengan tunai maupun kredit.
Terdapat indikator keputusan pembelian menurut (Hsu dan Chang, 2008) yaitu:
a. Keinginan untuk menggunakan produk.
Dalam hal ini konsumen memiliki keinginan terhadap sebuah produk untuk
di gunakan atau di konsumsi.
b. Keinginan untuk membeli.
Dalam hal ini konsumen memiliki keinginan dalam melakukan pembelian
terhadap sebuah produk.
c. Memprioritaskan pembelian suatu produk.
Dalam hal ini konsumen lebih memilih sebuah produk yang memiliki nilai
atau manfaat besar.
d. Kesediaan untuk berkorban dalam mendapatkan suatu produk.
Dalam hal ini konsumen rela mengeluarkan materi atau finansial yang lebih
banyak untuk mendapatkan sebuah produk.

Faktor Pembentuk Citra Merek


Koller (2013) menyatakan bahwa terdapat tiga faktor dalam
pembentukan citra merek yaitu:
1) Pengalaman
Pengalaman konsumen atau pengguna terhadap suatu merek sangat
menentukan citra konsumen dengan suatu merek. Hal ini dibuktikan ketika
sewaktu kecil konsumen disajikan beberapa pengenalan terhadap suatu
merek dari produk atau jasa. Pengalaman tersebut dapat tersimpan ke
dalam ingatan konsumen dan dapat membentuk citra merek. Citra merek
relatif berubah sesuai dengan ekspektasi dan komunikasi konsumen yang
terus berkembang.
2) Pengaruh sosial dan kelompok acuan
Sosial dan kelompok acuan merupakan salah satu faktor yang
sangat menentukan citra konsumen tentang merek. Merek yang digunakan
oleh komunitas atau kelompok di sekitar konsumen masih menjadi favorit
untuk konsumen dalam menentukan tindakan selanjutnya. Merek juga
merupakan simbol hubungan sosial, sehingga pencitraan sebuah merek
dapat mendorong terbangunnya loyalitas terhadap suatu produk.
3) Pengaruh komunikasi pemasaran
Para ahli pemasaran membangun dan mengelola citra merek
dengan cara menggunakan strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan
secara efektif dan menyeluruh dengan mengembangkan unsur bauran
pemasaran. Pengaruh komunikasi pemasaran menjadi penting dengan
memastikan strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan masih relevan
dalam membangun citra merek dan mendorong sikap konsumen untuk
loyal terhadap suatu merek.
Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa citra merek
merupakan persepsi konsumen mengenai perusahaan atau produknya. Citra tidak
dapat ditanamkan dalam benak konsumen dalam semalam atau disebarkan melalui
satu media. Sebaliknya, citra harus disampaikan melalui semua media komunikasi
yang tersedia dan disebarkan secara terus meneru. Jika tanpa citra yang kuat,
sebuah perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menarik pelanggan baru dan
mempertahankan pelanggan yang sudah ada

Pengertian Citra Merek


Keller (2011) menyatakan bahwa citra merek sebagai anggapan
masyarakat kepada suatu merek melalui pikiran masyarakat dan teknik
masyarakat berasumsi mengenai produk secara absurd, tanpa masyarakat
tidak melihat secara langsung terhadap produk pada saat
mengasumsikannya. Citra merek juga dapat diartikan sebaga suatu
keyakinan, persepsi dan kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu
merek (Kotler, 2012). Citra merek sangat mempengaruhi sikap dan tindakan
konsumen terhadap suatu merek produk.
Terdapat tiga indikator pendukung citra merek berdasarkan Aaker and
Biel (2009) meliputi:
1) Citra pembuat (corporate image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan atau pelaku usaha
yang membuat produk dan jasa. Dalam hal ini corporate image juga
dapat diartikan sebagai anggapan konsumen secara keseluruhan
mengenai sebuah perusahaan. Persepsi tersebut di dapatkan oleh
konsumen dari informasi yang disajikan oleh perusahaan mengenai
produk-produk yang dihasilkan. Citra dari sebuah perusahaan tidak
tetap, hal ini dapat dipengaruhi oleh perkembangan perusahaan
berupa teknologi dan informasi.
2) Citra pengguna (user image), yaitu sekumpulan asosiasi yang
merupakan persepsi konsumen terhadap pemakai produk atau jasa.
Dalam hal ini user image dapat diartikan sebagai anggapan terhadap
dirinya sendiri ketika menggunakan suatu merek tertentu untuk
digunakan sebagai gaya hidup atau meningkatkan status sosial.
3) Citra produk (product image), merupakan sekelompok asosiasi yang
menjadi anggapan konsumen terhadap suatu produk. Dalam hal ini
produk dikatakan memiliki citra yang baik jika produk memiliki
manfaat atau nilai bagi penggunanya atau konsumen. Hal ini dapat
berdampak positif bagi sebuah perusahaan karena konsumen akan
cenderung membeli kembali produk tersebuthkan melebihi dari apa
yang diharapkan dari mereka.

Bauran Pemasaran dalam Green Marketing


Dalam green marketing, bauran pemasaran perlu menjawab semua
masalah lingkungan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Sesuai dengan
filosofi green marketing, setiap bagian bauran pemasaran wajib mempunyai
pemikiran hijau untuk mempromosikan produk ke mayarakat. Menurut Kotler
dan Keller (2012) bauran pemasaran diartikan sebagai alat pemasaran yang
digunakan untuk mengajar tujuan perusahaan dengan mempertimbangkan
faktor lingkungan. Bauran pemasaran juga dapat diartikan sebagai suatu
strategi kombinasi dalam kegiatan pemasaran agar dapat memperoleh hasil
yang maksimal. Pride dan Farel dalam Haryadi (2009) mengatakan bahwa
green marketing juga bagian dari strategi korporasi dari keseluruhan karena
harus menerapkan bauran pemasaran konvensional. Dalam hal ini terdapat 4
bauran pemasaran dalam green marketing yaitu:
1) Produk Hijau (Green Product)
Arseculeratne dan Yazdanifard (2014) menyatakan suatu produk
dapat dikatakan sebagai green product apabila tahapan produksi yang
ramah lingkungan (eco-friendly) dan menghasilkan sedikit dampak dari
kerugian terhadap lingkungan yang ditimbulkan dalam penggunaan
sebuah produk. Green product dapat meminimalkan penggunaan energi
guna melindungi dan melestarikan sumber daya yang tersedia serta
menekan atau menurunkan penggunaan zat-zat beracun, pencemaran dan
sampah yang dihasilkan.
Ottman (2010) juga menyatakan bahwa green product memiliki
sifat awet dan tahan lama, tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan,
dan kemasannya terbentuk oleh bahan baku yang di daur ulang. Ottman
(2011) juga menyatakan 84% konsumen saat ini cenderung lebih milih
green product dari pada produk yang lain. Berdasarkan pernyataan
diatas, hal ini dapat mejadi peluang para pelaku usaha atau perusahaan
dalam mengembangakan atau memproduksi produk hijau dengan
memperhatikan: bahan baku organik, menjaga binatang yang di lindungi
dalam proses produksi, penggunaan bahan baku yang ramah lingkungan
dan lain-lain. Beberapa karakteristik produk yang termasuk ke dalam
green product menurut ( Herbig, 1999 dalam Lanasier, 2002) yaitu:
a) Produk tidak menyebabkan ancaman bagi kesehatan makhluk
hidup
b) Penggunaan sumber daya yang lebih efisien selama proses
produksi, konsumsi, dan pembuangan limbah.
c) Produk awet dan lebih tahan lama.
d) Dampak limbah yang dihasilkan dari produk tidak besar dalam
pemanfaatan produk dan packaging produk.
e) Produk tidak berasal dari hewan langka.
Para pelaku usaha baru atau perusahaan yang menerapkan
rencangan green marketing terbentuk dengan pengenalan terhadap
kebutuhan dan keinginan dari konsumen serta inovasi produk ramah
lingkungan yang memiliki dampak lebih rendah penggunaannya dari
produk pesaing. Beberapa produk dipasar menurut Elkington (1990)
dalam Moisander (1996) yang mendukung green marketing yaitu dapat
di kategorikan sebagai berikut:
a) Termasuk kedalam produk yang dapat di daur ulang
b) Produk yang memiliki label green
c) Produk yang memiliki kemasan atau packaging ramah lingkungan
d) Termasuk kategori produk organic
e) Tidak menghabiskan energi dan sumber daya dalam produksi,
konsumsi dan penjualan.
2) Harga Hijau (Green Pricing)
Harga merupakan bagian penting dalam bauran pemasaran.
Konsumen bersedia membayar lebih jika adanya persepsi atau anggapan
terhadap nilai tambah suatu produk atau produk memiliki nilai yang
lebih. Harga untuk green product memerlukan adanya tambahan biaya
yang dikeluarkan oleh konsumen sebagai kompensasi dari produk yang
dihasilkan oleh perusahaan memiliki kualitas baik dan ramah lingkungan.
Pattie dalam Arseculeratne dan Yazdanifard (2014) menjelaskan
harga hijau lebih tinggi karena mengimplikasikan anggaran yang besar
seperti peralatan teknlogi yang digunakan baru, adanya proses
pengecekan mesin secara rutin, pelatihan orang agar memiliki kinerja
yang lebih baik, penyerapan biaya eksternal, mengkonveksi atau
merubah limbah menjadi daur ulang produk. Semua anggaran ini
termasuk menjadi harga produk. Dalam green marketing terdapat istilah
“green price is premium price”. Premium pricing dapat diartikan
sebagai pemastian harga lebih mahal dari perusahaan sebab memiliki
kelebihan yang ditemui dalam menggunakan dan mengkonsumsi suatu
produk dan jasa yang ingin memperlihatkan kualitas lebih unggul.
Konsumen bersedia membayar dengan harga premium karena konsumen
yakin atas kualitas dari suatu produk yang dihasilkan. Persepsi kualitas
(perceived quality) didefinisikan sebagai keputusan konsumen tentang
superioritas dari suatu produk. Dalam hal ini banyak perusahaan yang
memproduksi suatu produk dengan harga premium dengan
mempertimbangkan beberapa faktor lingkungan.
3) Saluran Distribusi Hijau (Green Place)
Arseculeratne dan Yazdanifard (2014) menyatakan bahwa green
place adalah penentuan akses yang dapat mengurangi kerusakan
lingkungan. Dalam hal ini mengacu pada distibusi fisik yang merupakan
seluruh aktivitas bisnis yang melibatkan kegiatan menyimpan dan
mengangkut produk dengan terus mempertahankan perhatian dan
tanggung jawab lingkungan perusahaan. Secara umum dampak
kerusakan lingkungan ditimbulkan sewaktu pengiriman barang.
Transportasi produk ke tempat distribusi harus difokuskan untuk
mengurangi kerusakan lingkungan, seperti mengurangi konsumsi energi
dan mengurangi polusi. Hal ini upaya keamanan wajib di jelaskan
sewaktu pengiriman barang. Perusahaan mulai berfokus dalam
membangun saluran distribusi yang baik dengan cara medekatkan tempat
produksi dengan tempat distribusi agar mengurangi dampak yang
ditimbulkan seperti polusi dan energi yang berlebihan. Gitosudarmo
(2012) menyatakan konsumen harus di permudah dalam mendapatkan
barang yang dibutuhkan, produk harus di distrisibusikan nenjadi sedekat
mungkin dengan konsumen.
4) Promosi Hijau (Green Promotion)
Pattie dalam Arseculeratne dan Yazdanifard (2014) mengatakan
bahwa green marketing telah menjadi komponen yang penting selama
proses pemasaran bisnis atau usaha. Green marketing berfokus
menyampaikan ke konsumen dengan cara promosi dalam penjualan
produknya meliputi direct marketing, public relations dan advertising.
Perusahaan rela membayar lebih dalam melakukan promosi hijau dengan
cara mengangkat isu lingkungan untuk mengokohkan citra perusahaan
yang ramah lingkungan kepada konsumen.
Tiwari (2011) menjelaskan iklan hijau sebagai berikut:
a) Iklan yang berisi kaitan produk dan jasa dengan kondisi fisik,
sehingga produk memiliki kesan yang ramah lingkungan.
b) Iklan berisi green lifestyle atau ramah lingkungan dalam proses
penjualannya dengan memperlihatkan produk yang digunakan.
c) Iklan yang mengandung kesan baik dan ramah perusahaan yang
peduli terhadap lingkungan

Tujuan Green Marketing


Dalam hal ini green marketing memiliki tiga tujuan menurut (Grant,
2007) yang dapat di uraikan sebagi berikut:
1) Green
Dalam hal ini Green memiliki tujuan yang berfokus ke arah
komunikasi perusahaan ke konsumennya, bahwa suatu perusahaan
mempunyai perilaku positif dan tanggung jawab kepada lingkungan.
2) Greener
Dalam hal ini Greener memiliki tujuan komersialisasi yaitu mencari
keuntungan dan mengubah cara konsumen dalam mekonsumsi produk
agar lebih ramah lingkungan.
3) Greenest
Dalam hal ini Greenest mempunyai tujuan dalam mengganti
kebiasaan atau anggapan masyarakat agar lebih peduli dan menjaga
lingkungan

Konsep Green Marketing


Green marketing menurut Grewal and Levy (2010) meyatakan suatu
strategi penting yang digunakan perusahaan dalam menghasilkan suatu produk
atau jasa yang berlandaskan faktor lingkungan. Hawkins, Motherboughts and
Best (2007) mendefinisikan green marketing ke dalam beberapa indikator,
sebagai berikut:
1) Green marketing merupakan suatu rangkaian proses pengembangan
sebuah produk dari proses produksi, konsumsi, dan pembuangan
sampahnya tidak membahayakan lingkungan sekitar dibandingkan
dengan jenis produk lain.
2) Green marketing merupakan suatu strategi proses pengembangan
inovasi terhadap produk yang akan memiliki dampak positif terhadap
lingkungan.
3) Green marketing berfokus dalam meningkatkan penjualan produk
dengan cara melibatkan kerjasama organisasi atau event-event
lingkungan terkait dengan konsep green marketing

Pengaruh Citra Merek Terhadap Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Keller (2016:330), mengemukakan definisi citra
merek adalah yang menggambarkan sifat ekstrinsik produk atau jasa,
termasuk cara di mana merek berusaha memenuhi kebutuhan psikologis
atau sosial pelanggan. Produk dengan brand image yang baik secara tidak
langsung akan membantu kegiatan perusahaan dalam mempromosikan
produk yang dipasarkan selanjutnya dan hal tersebut akan menjadi
kekuatan bagi perusahaan dalam menghadapi persaingan. Jika sulit untuk
menilai kualitas, konsumen kadang akan merasakan tingkat resiko yang
tinggi dalam pembelian. Berdasarkan berbagai definisi di atas maka dapat
di artikan bahwa citra merek merupakan gambaran dari produk atau jasa
pada benak konsumen termasuk gambaran mengenai kemampuan suatu
produk dalam memenuhi kebutuhan psikologis atau social.

Pengaruh Green Price Terhadap Keputusan Pembelian


Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang
(Alma, 2013:169). Penentuan harga ini merupakan salah satu keputusan
yang penting bagi manajemen. Harga yang ditetapkan harus dapat
menutup semua ongkos, atau bahkan lebih dari itu, yaitu untuk
mendapatkan laba. Tetapi, jika harga ditentukan terlalu tinggi akan
berakibat kurang menguntungkan. Dalam hal ini pembeli akan berkurang,
volume penjualan berkurang, semua biaya mungkin tidak dapat ditutup
dan akhirnya perusahaan akan menderita rugi.

Pengaruh Green Product Terhadap Keputusan Pembelian


Kotler dan Armstrong yang dibahasakan oleh T.Hermaya
(2012:347) menyatakan bahwa Kualitas produk adalah kemampuan suatu
produk untuk melakukan fungsi-fungsinya yang meliputi daya tahan,
keandalan, ketepatan, kemudahan, operasi dan perbaikan serta atribut
lainnya. Kualitas produk merupakan bentuk penilaian atas produk yang
akan dibeli, apakah sudah memenuhi apa yang diharapkan konsumen.
Konsumen tentunya tidak akan membeli produk yang tidak bisa memenuhi
harapannya. Semakin berkualitas suatu produk, maka semakin tinggi
keputusan konsumen untuk melakukan pembelian

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator keputusan pembelian menurut Kotler dan Keller yang
dialih bahasakan oleh Tjiptono (2012:184) menjelaskannya bahwa
keputusan konsumen untuk melakukan pembelian suatu produk meliputi
indikator keputusan sebagai berikut :

  1. Pilihan produk
    Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah
    produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini
    perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang
    berminat membeli sebuah produk serta alternative yang mereka
    pertimbangkan. Misalnya, kebutuhan suatu produk, keberagaman varian
    produkdan kualitas produk.
  2. Pilihan merek
    Pembeli harus mengambil keputusan tentang merek mana yang
    akan dibeli. Setiap merek memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam
    hal ini perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih
    sebuah merek. Misalnya, kepercayaan dan popularitas merek.
  3. Pilihan penyalur
    Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan
    dikunjungi. Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda-beda
    dalam hal menentukan penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat,
    harga yang murah, persediaan barang yang lengkap dan lain-lain.
    Misalnya, kemudahan mendapatkan produk dan ketersediaan produk.
  4. Waktu pembelian.
    Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa
    berbeda-beda misalnya, ada yang membeli sebulan sekali, tiga bulan
    sekali, enam bulan sekali atau satu tahun sekali.
  5. Jumlah pembelian
    Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak
    produk yang akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan
    mungkin lebih dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan
    banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para
    pembeli. Misalnya, kebutuhan akan produk.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Kotler dan Armstrong (2014:159-174) keputusan
pembelian konsumen dipengaruhi oleh empat faktor, diantaranya sebagai
berikut :

  1. Faktor budaya
    Budaya, sub budaya, dan kelas sosial sangat penting bagi perilaku
    pembelian. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku paling
    dasar. Anak-anak yang sedang dalam pertumbuhan akan mendapatkan
    seperangkat nilai, persepsi, preferensi, dan perilaku dari keluarga dan
    lembaga-lembaga penting lainnya. Sub budaya terdiri dari sejumlah sub
    budaya yang lebih identifikasi dan sosialisasi khusus bagi para anggotanya
    seperti kebangsaan, agama, kelompok, ras, dan wilayah geografis
  2. Faktor sosial
    a. Kelompok acuan
    Kelompok acuan dalam perilaku pembelian konsumen dapat
    diartikan sebagai kelompok yang yang dapat memberikan pengaruh secara
    langsung atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang
    tersebut. Kelompok ini biasanya disebut dengan kelompok keanggotaan,
    yaitu sebuah kelompok yang dapat memberikan pengaruh secara langsung
    terhadap seseorang. Adapun anggota kelompok ini biasanya merupakan
    anggota dari kelompok primer seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan
    kerja yang berinteraksi dengan secara langsung dan terus menerus dalam
    keadaan yang informal. Tidak hanya kelompok primer, kelompok
    sekunder yang biasanya terdiri dari kelompok keagamaan, profesi dan
    asosiasi perdagangan juga dapat disebut sebagai kelompok keanggotaan.
    b. Keluarga
    Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak dapat
    mempengaruhi konsumsi produk atau jasa yang akan dibeli. Setiap
    anggota keluarga saling mempengaruhi dalam mengambil keputusan
    pembelian, dan tentu akan sangat mempengaruhi seseorang dalam
    mengambil keputusan membeli.
    c. Peran dan Status
    Hal selanjutnya yang dapat menjadi faktor sosial yang dapat
    mempengaruhi perilaku pembelian seseorang adalah peran dan status
    mereka di dalam masyarakat. Semakin tinggi peran seseorang didalam
    sebuah organisasi maka akan semakin tinggi pula status mereka dalam
    organisasi tersebut dan secara langsung dapat berdampak pada perilaku
    pembeliannya.
  3. Pribadi
    a. Usia dan Siklus Hidup Keluarga
    Orang membeli barang dan jasa yang berbeda-beda sepanjang
    hidupnya yang dimana setiap kegiatan konsumsi ini dipengaruhi oleh
    siklus hidup keluarga.
    b. Pekerjaan dan lingkungan ekonomi
    Pekerjaan dan lingkungan ekonomi seseorang dapat mempengaruhi
    pola konsumsinya. Contohnya, direktur perusahaan akan membeli pakaian
    yang mahal, perjalanan dengan pesawat udara, keanggotaan di klub
    khusus, dan membeli mobil mewah. Selain itu, biasanya pemilihan produk
    juga dilakukan berdasarkan oleh keadaan ekonomi seseorang seperti
    besaran penghasilan yang dimiliki, jumlah tabungan, utang dan sikap
    terhadap belanja atau menabung.
    c. Gaya hidup
    Gaya hidup dapat di artikan sebagai sebuah pola hidup seseorang
    yang terungkap dalam aktivitas, minat dan opininya yang terbentuk
    melalui sebuah kelas sosial, dan pekerjaan. Tetapi, kelas sosial dan
    pekerjaan yang sama tidak menjamin munculnya sebuah gaya hidup yang
    sama. Melihat hal ini sebagai sebuah peluang dalam kegiatan pemasaran,
    banyak pemasar yang mengarahkan merek mereka kepada gaya hidup
    seseorang.
    d. Kepribadian
    Setiap orang memiliki berbagai macam karateristik kepribadian
    yang bebeda-beda yang dapat mempengaruhi aktivitas kegiatan
    pembeliannya. Kepribadian merupakan ciri bawaan psikologis manusia
    yang berbeda yang menghasilkan sebuah tanggapan relatif konsiten dan
    bertahan lama terhadap rangsangan lingkungannya. Kepribadian biasanya
    digambarkan dengan menggunakan ciri bawaan seperti kepercayaan diri,
    dominasi, kemampuan bersosialisasi, pertahanan diri dan kemapuan
    beradaptsi.
  4. Psikologis
    a. Motivasi
    Merupakan suatu kebutuhan yang cukup untuk mendorong
    seseorang untuk bertindak, jika suatu pengaruh tidak disertai oleh motivasi
    kuat dalam membeli maka pembelian itu tidak akan terjadi dalam tanda
    kutip sebagai angan-angan saja, seseorang memiliki banyak kebutuhan
    pada waktu-waktu tertentu. Beberapa dari kebutuhan tersebut ada yang
    muncul dari tekanan biologis seperti lapar, haus, dan rasa
    ketidaknyamanan. Sedangkan beberapa kebutuhan yang lainnya dapat
    bersifat psikogenesis, yaitu kebutuhan yang berasal dari tekanan
    psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan atau rasa
    keanggotaan kelompok.
    b. Persepsi
    Persepsi dapat diartikan sebagai sebuah proses yang digunakan
    individu untuk memilih, mengorganisasi masukan informasi guna
    menciptakan sebuah gambaran (Bernard Barelson, dalam Kotler
    2003:217). Persepsi tidak hanya bergantung pada rangsangan fisik tetapi
    juga pada rangsangan yang berhubungan dengan lingkungan sekitar dan
    keadaan individu yang bersangkutan

Proses Keputusan Pembelian


Menurut (Kotller and Keller, 2012) mengatakan sebelum
menentukan pembelian suatu produk konsumen akan melalui lima tahap
proses keputusan pembelian yaitu, Pengenalan masalah, Pencarian
Informasi, Evaluasi Alternatif, Keputusan Pembelian, Pasca Pembelian

Secara perinci tahap-tahap tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pengenalan masalah : Konsumen mengenali adanya masalah atau
kebutuhan. Kebutuhan itulah yang akan digerakan oleh
rangsangan dari dalan maupun dari luar dirinya, konsumen
mengenali adanya masalah kebutuhan akan produk yang akan
dibeli, kebutuhan sangat dipicu oleh rangsangan internal
(kebutuhan) dan eksternal (pengaruh pengguna yang serupa), dan
oleh karena itu para ahli telah merumuskan proses pengambilan
keputusan dengan model lima tahap meliput.
b. Pencarian informasi : Tahapan yang membuat konsumen untuk
mencari informasi lebih banyak mengenai produk tersebut. Setelah
memahami masalah yang ada konsumen akan termotivasi untuk
mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
c. Evaluasi alternatif : Konsumen menggunakan informasi untuk
mengevaluasi merek alternatif dalam menentukan peringkat suatu
produk barang atau jasa untuk dipilih. Setelah mendapat informasi,
konsumen akan mengevaluasi alternatif yang ada untuk mengatasi
permasalahan yang dihadapinya.
d. Keputusan pembelian : konsumen dipengaruhi oleh dua faktor
dalam keputusan pembelian antara lain faktor internal yang
berkaitan degan persepsi konsumen mengenai merek tersebut, dan
faktor eksternal yang mengenai sikap orang lain dan situasi yang
tak terduga.
e. Perilaku pasca pembelian : kepuasan konsumen yang harus
dipantau mulai dari pembelian sampai pengalaman. Setelah
membeli produk tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi
apakah produk tersebut sesuai dengan harapannya. Konsumen akan
puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan tentu akan
meningkatkan permintaan akan produk tersebut di masa depan.
Sebaliknya, jika konsumen tidak merasa puas tentu hal ini akan
menurunkan permintaan konsumen di masa yang akan datang

Definisi Keputusan Pembelian


Menurut kotler (2012:166) keputusan pembelian adalah proses
keputusan pembelian terdiri dari lima tahap yang dilakukan oleh seorang
konsumen sebelum sampai pada keputusan pembelian dan selanjutnya
pasca pembelian. Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan
bahwa Keputusan pembelian merupakan penetapan pilihan konsumen
melalui berbagai alternatif pilihan produk dan memilih yang paling
disukai. Keputusan pembelian mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh
komponen, yaitu :
a) Keputusan tentang jenis produk.
b) Keputusan tentang bentuk produk.
c) Keputusan tentang merek.
d) Keputusan tentang penjualnya.
e) Keputusan tentang jumlah produk.
f) Keputusan tentang waktu pembelian.
g) Keputusan tentang cara pembayaran

Karakteristik Merek


Menurut Sunyoto (2012:110), beberapa karakteristik suatu merek
yang baik, yaitu :
a. Mudah dibaca, diucapkan dan diingat.
b. Singkat dan sederhana.
c. Mempunyai ciri khas tersendiri dan disenangi oleh konsumen.
d. Merek harus menggambarkan kualitas, prestise, produk done
sebagainya.
e. Bisa diadaptasi oleh produk-produk baru yang mungkin
ditambahkan di lini produk.
f. Merek harus dapat didaftarkan dan mempunyai perlindungan
hukum

Manfaat Citra Merek.

  1. Manfaat bagi Pelanggan (Hasan, 2013:215). Ada tiga alasan
    sekaligus manfaat penting bagi pelanggan dari sebuah merek yang
    memiliki citra positif :
    a) Sebuah merek yang kuat akan memudahkan konsumen untuk
    mengevaluasi, menimbang dan membuat keputusan membeli dari semua
    rincian nilai-nilai yang terkait dengan kinerja produk, harga, pengiriman,
    garansi dan lain-lain. Merek dengan image yang kuat adalah sintesis bagi
    pembeli dari segala sesuatu yang ditawarkan oleh pemasok, mengurangi
    risiko keputusan pembelian yang rumit terutama untuk produk berbasis
    teknologi.
    b) Sebuah merek yang kuat membuat pelanggan merasa percaya diri
    dalam pilihan mereka, menyederhanakan pilihan sehari-hari (untuk
    kebutuhan dasar). Orang-orang berbelanja di mall atau toko-toko yang
    branded sering tidak membandingkan produk dengan tempat lain karena
    mereka percaya merek. Branding yang kuat mampu menciptakan
    hubungan kepercayaan jangka panjang, aksesibilitas, kepercayaan, rasa
    aman dan kenyamanan yang sama dalam sepanjang hidup mereka.
    c) Sebuah merek yang kuat membuat pelanggan merasa lebih puas
    dengan pembelian mereka, memberikan manfaat dan ikatan emosional
    (untuk produk perawatan pribadi). Kualitas persepsi sering mereka
    terjemahkan menjadi rasa yang membuat pelanggan 17 lebih bahagia
    dibanding jika produk itu berasal dari pemasok yang tidak mereka ketahui,
    karenanya brand yang kuat mampu menawarkan ikatan komunitas tertentu,
    terutama produk-produk yang terkait dengan image. Pada akhirnya
    pemasaran yang berhasil adalah kemampuannya meyakinkan pelanggan
    bahwa mereka tidak khawatir menggunakan produk yang bermerek kuat.
  2. Manfaat bagi Perusahaan (Hasan, 2013:216).
    a) Harga premium. Sebuah merek dengan citra positif akan
    menciptakan margin yang lebih besar dan walaupun ada tekanan untuk
    menjual dengan harga rendah atau menawarkan diskon, akan tetapi relatif
    tidak atau kurang rentan terhadap kekuatan kompetitif.
    b) Klaim produk. Sebuah merek dengan citra yang kuat akan
    menciptakan orang-orang melakukan permintaan secara khusus, orang
    akan mencari merek yang mereka inginkan.
    c) Kompetitif parrier. Sebuah merek yang kuat mampu bertindak
    sebagai penghalang untuk beralih ke produk pesaing. Brand adalah
    pertahanan yang berlangsung secara permanen.
    d) Komunikasi pemasaran lebih mudah diterima. Perasaan positif
    tentang suatu merek akan mengakibatkan orang mampu menerima klaim
    baru terhadap kinerja produk dan mereka akan welcome, sehingga lebih
    mudah “dibujuk” untuk membeli lebih banyak.
    e) Pengembangan merek. Sebuah merek yang terkenal menjadi
    platform untuk pengembangan/menambah produk baru karena beberapa
    aspek dari citra positif yang berpengaruh dan membantu dalam peluncuran
    produk baru.

Tujuan Citra Merek


Menurut Tjiptono (2012:17) menyatakan bahwa merek memiliki
berbagai macam tujuan, yaitu:
a. Sebagai identitas perusahaan yang membedakannya dengan produk
pesaing, sehingga mudah mengenali dan melakukan pembelian
ulang.
b. Sebagai alat promosi yang menonjolkan daya tarik produk (bentuk
desain dan warna-warna menarik).
c. Untuk membina citra, yaitu dengan memberikan keyakinan,
jaminan kualitas, serta citra prestise tertentu kepada konsumen.
d. Untuk mengendalikan dan mendominasi pasar. Artinya, dengan
membangun merek yang terkenal, bercitra baik, dan dilindungi hak
eksklusif berdasarkan hak cipta/paten, maka perusahaan dapat
meraih dan mempertahankan loyalitas konsumen.

Indikator green price


Menurut Pankaj & Vishal (2014) menyatakan bahwa green price
mempunyai indikator seperti dibawah ini :
a. Tingkat harga yang sesuai dengan kualitas bahan baku.
b. Kesesuaian harga dengan proses produksi.
c. Harga yang sesuai dengan manfaat dari produk tersebut.
Menurut (Kotler dan Amstrong, 2012:314), menjelaskan bahwa
ada empat ukuran yang mencirikan harga, adalah sebagai berikut :
a. Keterjangkauan harga, adalah konsumen bisa menjangkau harga
yang telah ditetapkan oleh perusahaan produk biasanya ada
beberapa jenis dalam satu merek dan harganya juga berbeda dari
termurah sampai yan termahal. Dengan harga yang ditetapkan
maka para konsumen banyak yang membeli produk tersebut.
b. Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga, adalah konsumen
sering membandingkan harga suatu produk dengan produk lainnya,
dalam hal ini mahal murahnya harga suatu produk sangat
dipertimbangkan pada saat membeli produk.
c. Kesesuaian harga dengan manfaat, ialah harga sering menjadi
sebagai indikator kualitas bagi konsumen yang lebih memlilih
harga yang lebih tinggi karna mereka melihat adanya perbedaan
kualitas.
d. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, ialah harga sering
dijadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang sering
memilih harga yang lebih tinggi diantara dua barang karena mereka
melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi
orang cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik

Pengertian Green Price


Harga adalah salah satu bauran pemasaran yang menghasilkan
pendapatan, unsur lainnya menghasilkan biaya (Kotler & Keller,
2012:383). Produk hijau selalu ditawarkan dengan harga premium
sehingga menimbulkan persepsi di benak konsumen bahwa produk hijau
akan selalu mempunyai harga yang cukup tinggi. Menurut (Peattie dalam
Arseculeratne and Yazdanifard, 2014:133) bahwa bertindak hijau itu
mahal karena melibatkan banyak biaya seperti instalasi teknologi baru,
mesin, pelatihan orang, penyerapan biaya eksternal, mengkonversi sampah
ke produk daur ulang, dan biaya ini akan masuk ke dalam harga produk

Indikator green product


Menurut Ottman (2011) indikator green product adalah :
a. Green product bermanfaat bagi lingkungan.
b. Kinerja green product sesuai dengan kualitas.
c. Bahan baku yang digunakan terbuat dari bahan-bahan yang tidak
berbahaya.
d. Produk tidak mengandung toxic.
e. Produk menggunakan bahan baku yang dapat didaur ulang.
(Kotler dan Amstrong, 2012:410) menyatakan bahwa banyak parameter
rancangan atau desain yang mencangkup :
a. Bentuk : Banyak produk dapat didiferensiasi berdasarkan bentuk,
ukuran model.
b. Fitur : Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan fitur yang
berbeda-beda yang melengkapi fungsi dasar produk.
c. Mutu : Pembeli mengharapkan produk memiliki mutu kesesuaian
dengan standar dan spesifikasi yang tinggi.
d. Daya Tahan : Ukuran usia yang diharapkan dalam kondisi normal
sangat penting bagi kualitas produk tersebut.

Pengertian Green Product


Ottman (2011:5) mendefinisikan produk hijau adalah produk yang
biasanya tahan lama, tidak tidak berbahaya bagi kesehatan, pengemasan
terbuat dari bahan daur ulang. Dari dafinisi yang ada maka dapat
disimpulkan green product adalah produk yang baik bagi pengguna juga
tidak mencemari lingkungan sekitar.
(Arseculeratne & Yazdanifard, 2014:133) mengatakan bahwa
sebuah produk bias disebut sebagai produk hijau jika proses produksinya
eco-friendly (ramah lingkungan) dan menyebabkan lebih sedikit kerusakan
lingkungan. Sebuah bisnis harus meminimalkan pencemaran lingkungan
dalam proses produksinya. Beberapa pedoman umum yang mencakup
produk ramah lingkungan yaitu :
a. Produk tidak menimbulkan bahaya bagi kesehatan orang atau
binatang.
b. Produk relatif efisien dalam penggunaan sumber daya selama
pembuatan, penggunaan, dan pembuangan.
c. Produk tidak memasukkan bahan yang berasal dari spesies yang
terancam punah atau mengancam lingkungan.
d. Produk tidak memberikan kontribusi limbah yang berlebihan
dalam penggunaannya atau kemasan.
e. Produk tidak menggunakan atau menyiksa hewan.
(Sumarwan et al, 2012:235) mengklarifikasikan produk ramah
lingkungan adalah suatu produk yang menggunakan bahan-bahan aman
bagi konsumen dan lingkungan, mampu bertahan lama, serta
menggunakan bahan dari sumber daya yang dapat diperbaharui.

Pengertian Green Marketing mix


Menurut Sunyoto (2012:60) marketing mix merupakan kombinasi
variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran,
variabel yang dapat dikendalikan oleh perusahaan untuk memengaruhi
reaksi para pembeli atau konsumen. Variabel atau kegiatan tersebut perlu
dikombinasikan dan dikoordinasikan oleh perusahaan seefektif mungkin
dalam melakukan tugas pemasarannya. Dengan demikian perusahaan tidak
hanya sekedar memiliki kombinasi kegiatan yang terbaik saja, tetapi dapat
mengkoordinasikan berbagai variabel marketing mix tersebut untuk
melaksanakan program pemasaran secara efektif.
Pengusaha dapat mempengaruhi konsumennya lewat produk yang
ditawarkan. Dalam hal ini produk tersebut harus didesain sedemikian rupa
sehingga dapat menarik perhatian konsumen. Misalnya pembungkus yang
menarik dari segi warna, mudah di bawah kesanakemari atau agar
eksklusif. Selain itu pengusaha dapat pula mencantumkan harga yang
rendah serta pemberian discount atau potongan harga, mencantumkan
harga obral serta harga cuci gudang dan sebagainya. Dengan cara
penetapan harga semacam ini akan dapat menarik perhatian serta
mendorong konsumen untuk segera melakukan transaksi pembelian agar
tidak terlewatkan kesempatan yang terbatas waktunya bagi berlakunya
harga obral tersebut

Komponen Green Marketing


Komponen-komponen yang terdapat dalam Green Marketing
adalah sebagai berikut (Wu and Chen, 2014) :
a. Green Consumer merupakan orang-orang yang melakukan pembelian
dan mengkonsumsi produk-produk yang aman bagi tubuh dan
lingkungannya, untuk tetap menjaga lingkungannya.
b. Green Production Process merupakan suatu cara memproduksi dengan
teknologi yang membatasi polusi atau memiliki manfaat terhadap
lingkungan.
c. Geen Financial affalrs merupakan jenis-jenis pendekatan akuntansi
yang mencoba untuk mempertimbangkan niali-nilai keuangan dan moneter
untuk investasi ekologi dan kerusakan hutan

Pengertian Green Marketing


(Arseculeratne and Yazdanifard, 2014:136) menyatakan konsep
pemasaran hijau mencangkup karakteristik tertentu seperti pemasaran
produk yang aman bagi lingkungan, pengembangan dan pemasaran produk
yang dapat meminimalkan bahaya bagi lingkungan, memproduksi,
mempromosikan, dan kemasan produk dengan cara yang sesuai sehingga
dapat melindungi lingkungan. Tujuan dari green marketing bukan hanya
melihat keuntungan sebagai tujuan utama perusahaan tetapi juga adanya
tambahan kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Mintu and Lozada (1993) dalam Lozada (2000) mendefinisikan
pemasaran ramah lingkungan (green marketing) sebagai “aplikasi dari alat
pemasaran untuk memfasilitasi perubahan yang memberikan kepuasan
organisasi dan tujuan individual dalam melakukan pemeliharaan,
perlindungan, dan konservasi pada lingkungan fisik”.

Strategi Pemasaran


Menurut (Kotler dan Keller, 2012), strategi pemasaran meliputi
tindakan-tindakan pemasaran yang dapat mempengaruhi permintaan
terhadap produk, diantaranya mengubah harga, memodifikasi kampanye
iklan, merancang promosi khusus, menentukan pilihan saluran distribusi
dan sebagainya. Dalam penerapannya, sering berbagai program pemasaran
dipadukan atau dilaksanakan secara bersama-sama, dan kadangkala
manajer pemasaran harus memilih program pemasaran yang “terbaik”
karena keterbatasan sumber daya. Strategi pemasaran merupakan strategi
untuk melayani pasar atau segmen pasar yang dijadikan target oleh
seorang pengusaha. Oleh karena itu strategi pemasaran merupakan
kombinasi dari bauran pemasaran yang akan diterapkan oleh pengusaha
untuk melayani pasarnya. Bauran pemasaran ini haruslah diatur
sedemikian rupa sehingga akan dapat berfungsi sebagai senjata yang tepat
dalam perbandingannya di pasar melawan pesaing-pesaing. Oleh karena
itu, maka senjata yang harus disesuaikan dengan keadaan pasar serta
kondisi persaingan yang dihadapinya, dimana jenis kombinasi bauran
pemasaran yang meliputi produk, harga, promosi, dan saluran distribusi.
Menurut (Hasan, 2013:436) strategi pemasaran yang baik harus
dibangun atas dasar pemahaman bisnis yang kuat, dikombinasikan dengan
pemahaman kebutuhan dan keinginan pelanggan, pesaing dan skills, dan
bisnis termasuk dengan para pemasok dan distributor. Di semua tipe
bisnis, tiga langkah berikut dapat membantu dalam mencapai keberhasilan.
a. Pelajari pelanggan dan pasar untuk mengetahui produk dan jasa
apa yang dapat menciptakan nilai ekonomis.
b. Kembangkan segmentasi yang mencerminkan daya tarik ekonomis
bagi pelanggan.
c. Kembangkan nilai yang jelas bagi setiap segmen.
Sedangkan menurut (Fandy Tjiptono dan Gregorlus Chandra,
2012:193) strategi pemasaran merupakan rencana yang menjabarkan
ekspektasi perusahaan akan berdampak dari berbagai aktivitas atau
program pemasaran terhadap permintaan produk atau lini produknya
dipasar sasaran tertentu.
Strategi pemasaran pada dasarnya rencana yang menyeluruh,
terpadu dan menyatu di bidang pemasaran yang memberikan panduan
tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk mencapai tujuan pemasaran
suatu perusahaan. Dengan perkataan lain, strategi pemasaran adalah
serangkaian tujuan dan sasaran, kebijakan dan aturan yang memberi arah
kepada usaha-usaha pemasaran perusahaan dari waktu ke waktu,
padamasing-masing tingkatan dan acuan serta alokasinya, terutama
sebagai tanggapan perusahaan dalam menghadapi lingkungan dan keadaan
persaingan yang selalu berubah. Oleh karena itu, penentuan strategi
pemasaran harus didasarkan atas analisa lingkungan dan internal
perusahaan melalui analisa keunggulan dan kelemahan perusahaan, serta
analisa kesempatan dan ancaman yang dihadapi perusahaan dari
lingkungannya

Pengertian Pemasaran


Menurut kotler dan keller (2012:5) pengertian pemasaran adalah
proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok medapatkan apa
yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan
dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Definisi pemasaran menurut american marketing association (ama) adalah
pemasaran adalah kegiatan mengatur lembaga, dan proses untuk membuat,
berkomunikasi, memberikan, dan bertukar penawaran yang memiliki nilai
bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat pada umumnya (kotler dan
keller, 2012).
Istilah pemasaran dapat diartikan sebagai proses mengidentifikasi,
menciptakan dan mengkomunikasikan nilai, serta meemlihara hubungan
yang memuaskan pelanggan untuk memaksimalkan keuntungan
perusahaan. Tujuan pemasaran adalah mencangkup maksimalisasi
keuntungan, memaksimalisasi pangsa pasar, memaksimalisasi penjualan,
meningkatkan citra merek, meningkatkan kepuasan pelanggan,
menyediakan value dan memelihara stabilitas harga (Hasan, 2013:436).
Definisi tersebut menjelaskan bahwa pemasaran merupakan proses
sosial yang melibatkan individu atau kelompok untuk mendapatkan
kebutuhan atau keinginan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara
bebas mempetukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Dari
beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pemasaran merupakan
interaksi dari berbagai usaha, seperti menentukan harga, mempromosikan
dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen sehingga konsumen merasa puas, baik konsumen
yang ada maupun yang potensial.
Dari definisi-definisi pemasaran tersebut di atas, dapat ditarik
kesimpulan bahwa ada terdapat dua tujuan dari dua pihak yang berbeda
yaitu pembeli dan penjual yang harus dicapai oleh pemasaran. Oleh karena
itu, pemasaran dilakukan untuk menilai kebutuhan dari pembeli potensial
dan memuaskan kebutuhan tersebut. Adapun yang disebut sebagai calon
pembeli atau pembeli potensial adalah para individu yang melakukan
untuk dikonsumsi sendiri (dengan keluarganya) dan organisasi-organisasi
yang membeli sesuatu untuk kelancaran usaha mereka (misalnya
perusahaan manufaktur) atau untuk dijual kembali (misalnya pedagang
besar dan pengecer).

Pengertian Kepribadian


Kepribadian bahasa inggrisnya personaliti berasal dari bahasa
yunani “per” dan “sonare” yang berarti topeng tetapi juga berasal dari
kata personae yang berarti pemain sandiwara, yaitu pemain yang
memakai topeng tersebut Akhirnya kata persona itu menunjukan
pengertian tentang kualitas dari watak/krater yang dimainkan di dalam
sandiwara itu. Menurut Pervin kepribadian merupakan karakteristik
seseorang yang menyebabkan munculnya konsistensi perasaan,
pemikiran, dan perilaku. Sedangkan menurut Sjarkawi mendefinisikan
kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari
diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima
dari lingkungan (Setiyorini, 2014). Pengertian kepribadian berdasarkan
para ahli (Sukmadinata, 2011:136):
a. Ross Stagner (1961) mengartikan kepribadian dalam dua macam.
Pertama kepribadian sebagai topeng (mask personality) yaitu
kepribadian yang berpura-pura, yang di buat-buat, yang semu atau
mengandung kepalsuan. Kedua kepribadian sejati (real personality)
yaitu kepribadian yang sesungguhnya, yang asli.
15
b. Floyd Allport (1924), melihat kepribadian sebagai suatu yang terjalin
dalam hubungan sosial, “ Personality is the individual characteristic
reactions to social stimuli and the quality of his adaptation to the
social inportance that are stable and resitance to change” yang lain
yaitu May (1929) mengemukan rumusan yang sejalan dengan
Allport, bahwa “Personality is the social stimulus value of the
individuals”.
c. Gordon Allport (1961,h.28) mengemukakan rumusan yang lebih
menyeluruh dan tegas, bahwa kepribadian adalah “… the dynamic
organizations within the individual of those psychophysical systems
that determine his unique adjustment with the environment”. Sejalan
dengan pendapat Gordon Allport adalah rumusan yang diberikan
oleh Walter Mischel (1981 h.2) bahwa “Personality usually refers to
the distinctive patterns of behavior (including thoughts and
emotions) that terize each individual`s adaptation to the situations of
his or her life”

EVA


Dengan Dilakukannya perhitungаn еconomic vаluе аddеd (ЕVА) diharapakan
mendungkung dalam penyajian laporan keuangan suatu perusahaan yang dapat
mempermudahkan para pemakai laporan keuangan diantaranya para investor,
kreditur, pelanggan, serta pihak yang berkepentingan lainnya (Dewi, 2017). Metode
EVA ini digunakan dalam mengukur seberapa besar efisien suatu perusahaan dalam
menggunakan modalnya untuk memperoleh nilai tambah ekonomis perusahaan. Nilai
tambah ekonomis ini dapat diperoleh jika perusahaan mampu menghasilkan Return
on total capital yang dapat melebihi cost of capital yang dihasilkan. Penerapan EVA
dalam suatu perusahaan akan memfokuskan perhatian dalam penciptaan nilai
perusahaan, hal ini merupakan salah satu keunggulan economic value added.
(Rustandi & Rintjap, 2015).
Dengan adanya EVA ini para pimpinan perusahaan dapat menggunakannya
untuk menilai kinerja perusahaan sekaligus mempertimbangkan harapan kreditor dan
pemegang saham. Penggunaan konsep EVA membuat perusahaan lebih
memfokuskan perhatiannya kepada upaya penciptaan nilai perusahaan. Economic
value added ( EVA) memiliki beberapa manfaat seperti (1) Penilaian kinerja dengan
menggunakan pendekatan EVA dapat menyebabkan perhatian manajemen sesuai
dengan kepentingan pemegang saham (2) Dengan konsep EVA, para manajer akan
berpikir dan bertindak seperti halnya pemegang saham, yaitu dengan memilih
investasi yang memaksimumkan tingkat pengembalian dan meminimumkan tingkat
biaya modal sehingga nilai perusahaan dapat dimaksimumkan.

Rasio Profitabilitas


Profitabilitas juga merupakan variabel yang mempengaruhi struktur modal.
Rasio profitabilitas menunjukan potensi perusahaan dalam memperoleh laba melalui
semua sumber daya dan kemampuan yang dimiliki seperti kas, modal, kegiatan
penjualan, jumlah karyawan, jumlah cabang yang dimiliki. Rasio profitabilitas ini
penting diperlukan dalam menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang
dimiliki oleh perushaan yang memungkinkan dimasa mendatang, sehingga dapat
memprediksi kemampuan perusahaan dalam memperoleh kas dan juga untuk
merumuskan efektifitasi perusahaan untuk memanfaatkan tambahan sumber daya
yang dimiliki (Dwiastuti, 2017). Rasio profitabilitas merupakan rasio keuangan untuk
menilai kapasitas perusahaan dalam menggali keuntungan atau laba selama periode
tertentu. Rasio profitabilitas terdiri dari return on asset (ROA), return on investment
(ROI),serta return on equity (ROE) (Mekel et al., 2014).
Rasio profitabilitas memiliki beberapa manfaat seperti (1) Mengetahui
besarnya tingkat laba yang dihasilkan oleh perusahaan dalam periode tertenu (2)
mengetahui besarnya laba bersig setelah pajak dengan modal sendiri (3) mengetahui
produktifitas seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun
modal sendiri

Dewan Komisaris Independen


bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi
kemampuannya untuk bertindak independen atau bertindak sematamata demi
kepentingan perusahaan.
Menurut Tricker (2009, dalam Lukviarman, 2016:57), menjelaskan
bahwa peranan Board of Directors (BOD) sebagai the governing body untuk
setiap entitas korporasi dengan peran utama berupa tanggung jawab yang
berhubungan dengan seluruh keputusan dan kinerja organisasi tersebut.
Komisaris independen memiliki tanggung jawab yang harus dilaksanakan
untuk 14 mendorong diterapkannya good corporate governance. Penelitian
terdahulu yang dilakukan oleh Wulandari (2006, dalam Meliliani, 2013:72),
menyatakan bahwa proporsi dewan komisaris independen tidak berpengaruh
positif terhadap kinerja perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Sarafina
dan Saifi (2017:45) menyatakan bahwa proporsi dewan komisaris
independen berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dan nilai
perusahaan.
Komisaris Independen sebagai organ utama dalam penerapan praktik
GCG, dengan melihat fungsi yang dimiliki. Karenanya, sesuai dengan
namanya Koisaris Independen, maka harus memiliki independensi dan
menjalankan fungsinya yaitu sebagai fungsi pengawasan dan kepemimpinan
yang merupakan hal dasar yang dibutuhkan dari perannya tersebut.
Komisaris independen dapat membuat dewan komisaris bersifat
objektif saat mengambil keputusan dalam mengevaluasi kinerja manajemen
perusahaan (Otoritas Jasa Keuangan, 2014). Selain itu, komisaris independen
dapat mengurangi terjadinya masalah keagenan.

Manfaat Penilaian Kinerja


Menurut Kaymaz (2011), penilaian kinerja menjadi sebuah alat pengukur
bagi karyawan untuk melihat hasil dari kerjanya, apakah telah mencapai targetnya
atau tidak sehingga dapat mempengaruhi kesuksesan pekerjaannya. Manfaat dari
penilaian kinerja yang dilakukan perusahaan adalah memberikan informasi
mengenai hasil yang diinginkan dari pekerjaan tersebut, diharapkan dapat
meningkatkan produktivitas karyawan dengan adanya umpan balik maupun
reward dari perusahaan bagi karyawan yang berprestasi, dengan begitu karyawan
akan menganggap perusahaan menghargai kontribusinya terhadap proses
berjalannya perusahaan sehingga dapat menurunkan tingkat turnover karyawan

Tujuan Penilaian Kinerja


Proses berjalannya manajemen dalam perusahaan ataupun organisasi tidak
terlepas dari proses evaluasi dan salah satu evaluasi yang penting untuk dilakukan
adalah evaluasi serta penilaian kinerja terhadap anggota organisasi atau karyawan
pada perusahaan. Penilaian kinerja dibutuhkan perusahaan agar dapat mengambil
tindakan atas hasil yang menyimpang dari penilaian yang telah dilakukan, dengan
adanya evaluasi dan penilaian terhadap kinerja karyawan maka dapat memberikan
kesempatan komunikasi secara formal antara manajemen dengan karyawan,
karena dengan komunikasi yang baik dan lancar karyawan dapat memahami apa
perusahaan inginkan dan apa yang perlu mereka lakukan untuk memenuhi hasil
Julianty, Analisis dan Penerapan Performance Appraisal pada
yang di inginkan perusahaannya, sehingga ada timbal balik yang sesuai dengan
tujuan perusahaan. Informasi yang akurat dari penilaian kinerja ini juga bertujuan
sebagai acuan manajemen dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan
produktivitas perusahaan misalnya kenaikan gaji dan promosi. Secara rinci,
tujuan dari penilaian kinerja menurut Mondy dan Noe (2014):

  1. Dapat membuat rasa pengertian pada karyawan atas persyaratan hasil
    kinerja yang diingikan perusahaan lebih meningkat.
  2. Mengakui serta mendokumentasi hasil kerja dari karyawan, sehingga dapat
    memotivasi mereka untuk meningkatkan kinerja, atau mempertahankan
    prestasi yang telah dicapai.
  3. Membuka kesempatan pada karyawan agar dapat menyampaikan
    keinginan dan ide – idenya guna untuk meningkatkan rasa kepedulian
    terhadap pekerjaannya.
  4. Perusahaan dapat menyusun atau memperbaharui tujuan yang ingin
    dicapai kedepannya dan karyawan juga termotivasi untuk memberikan
    yang terbaik serta lebih berprestasi.
  5. Menjadi pertimbangan rencana pelaksanaan pelatihan atau pengembangan
    yang sesuai dengan kebutuhan karyawan.

Pengertian Penilaian Kinerja


Menurut Mayer dan Allen (2014), kinerja merupakan hasil dari pekerjaan
yang dapat dicapai karyawan pada tempatnya bekerja sesuai tanggung jawabnya
sebagai upaya dalam mencapai tujuan perusahaan. Pada dasarnya penilaian
kinerja ada dikarenakan adanya standar kinerja yang di inginkan perusahaan.
Hasil seperti apa yang diinginkan perusahaan menjadi acuan terhadap evaluasi
kinerja karyawan dan mengukur kinerja karyawan dapat dilakukan dengan
pengamatan setelah itu dituangkan dalam bentuk laporan tertulis yang sesuai
dengan fakta, tidak boleh memasukan perasaan dan dapat
dipertanggungjawabkan. Menurut Dessler (2013), Performance appraisal berarti
mengevaluasi kinerja dari karyawan pada saat ini ataupun masa lalu berdasarkan
standar kinerja perusahaan dan penilaian yang efektif mengharuskan perusahaan
menetapkan standar kinerja serta mengharuskan karyawan menerima feedback
dari hasil penilaian tersebut. Mathis dan Jackson (2015) menyatakan bahwa
penilaian kinerja karyawan merupakan bagian yang penting untuk perusahaan.
Kinerja yang sesuai serta memuaskan tidak akan terjadi begitu saja, dimana hal ini
akan terjadi jika perusahaan mempunyai dan menggunakan sistem penilaian yang
baik.

Rasio Profitabilitas


Profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja yang dilakukan
manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh
laba yang dihasilkan. Secara garis besar, laba yang dihasilkan perusahaan
berasal dari penjualan dan investasi yang dilakukan oleh perusahaan
(Sudarmadji dan Sularto, 2007). Rasio profitabilitas adalah rasio yang
mengukur efektifitas manajemen secara keseluruhan yang ditunjukkan
oleh besar kecilnya keuntungan yang diperoleh dalam hubungannya
dengan penjualan dan investasi (Munawir, 2008). Adapun rasio yang
tergabung dalam rasio profitabilitas adalah sebagai berikut:
a. Return on Assets (ROA)
Return on assets mengukur kemampuan perusahaan dalam
memanfaatkan asetnya untuk memperoleh laba. Rasio ini mengukur
tingkat kembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan
dengan menggunakan seluruh dana (aset) yang dimilikinya (Prastowo,
2005).
Analisis ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan
laba dengan menggunakan total aset (kekayaan) yang dipunyai
perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai
aset tersebut. Variasi dalam perhitungan ROA memasukkan biaya
pendanaan. Biaya-biaya pendanaan yang dimaksud adalah bunga yang
merupakan biaya pendanaan dengan hutang. Dividen yang merupakan
biaya pendanaan dengan saham dalam analisis ROA tidak
diperhitungkan. Biaya bunga ditambahkan ke laba yang diperoleh
perusahaan. ROA bisa diinterpretasikan sebagai hasil dari serangkaian
kebijakan perusahaan (strategi) dan pengaruh dari faktor-faktor
lingkungan (environmental factors). Analisis difokuskan pada
profitabilitas aset, dan dengan demikian tidak memperhitungkan caracara untuk mendanai aset tersebut (Hanafi, 2005).
b. Return on Equity (ROE)
Salah satu alasan utama mengapa perusahaan mengoperasikan
perusahaan adalah untuk menghasilkan laba yang akan bermanfaat bagi
para pemegang saham. Return on equity (ROE) merefleksikan seberapa
banyak perusahaan telah memperoleh hasil atas dana yang telah
diinvestasikan oleh pemegang saham (baik secara langsung atau dengan
laba yang ditahan). Rasio ROE sangat menarik bagi pemegang saham
maupun para calon pemegang saham, dan juga bagi manajemen karena
rasio tersebut merupakan ukuran atau indikator penting dari
shareholder value creation. Rasio ROE sangat tidak menarik bagi
manajer devisi karena manajer lebih berkepentingan dengan efisiensi
penggunaan aktiva, dari pada sumber dana untuk membiayai aktiva
tersebut (dari kreditor ataukah dari pemegang saham) (Munawir, 2008).
Tampaknya penggunaan utang yang semakin besar akan
semakin menguntungkan pemegang saham. Tetapi suatu saat
perusahaan akan mencapai batas utang yang optimal. Penggunaan utang
yang lebih besar dibandingkan dengan batas ini akan menurunkan ROE
(Hanafi, 2005).
c. Net Profit Margin
Net profit margin menghitung sejauh mana kemampuan
perusahaan menghasilkan laba bersih pada tingkat penjualan tertentu.
Rasio ini bisa diinterpretasikan juga sebagai kemampuan perusahaan
menekan biaya-biaya (ukuran efisiensi) di perusahaan pada periode
tertentu. Profit margin yang tinggi menandakan kemampuan
perusahaan menghasilkan laba yang tinggi pada tingkat penjualan
tertentu. Profit margin yang rendah menandakan penjualan yang terlalu
tinggi untuk tingkat biaya yang tertentu, atau biaya yang terlalu tinggi
untuk tingkat penjualan yang tertentu, atau kombinasi dari kedua hal
tersebut. Secara umum rasio yang yang rendah bisa menunjukkan
ketidakefisienan manajemen. Rasio ini cukup bervariasi dari industri ke
industri, sebagai contoh industri retailer cenderung mempunyai profit
margin yang lebih rendah dibandingkan dengan industri manufaktur
(Hanafi, 2005).

Rasio Aktivitas


Rasio aktivitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan serta
efisiensi perusahaan dalam menghasilkan penjualan dengan kemampuan
aset yang dimiliki. Adapun rasio yang tergabung dalam rasio aktivitas
adalah sebagai berikut:
a. Total Assets Turnover (TATO)
Total Assets Turnover merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukur seberapa efisiennya seluruh aset perusahaan digunakan untuk
menunjang kegiatan penjualan (Ang, 1997). Perputaran total aset
menunjukkan bagaimana efektifitas perusahaan menggunakan
keseluruhan aset untuk menciptakan penjualan dalam kaitannya untuk
mendapatkan laba. Perusahaan dengan tingkat penjualan yang besar
diharapkan mendapatkan laba yang besar pula. Nilai TATO yang
semakin besar menunjukkan nilai penjualannya juga semakin besar dan
harapan memperoleh laba juga semakin besar pula.
b. Perputaran Piutang
Rasio perputaran piutang biasanya digunakan dalam
hubungannya dengan analisis terhadap modal kerja, karena memberikan
ukuran kasar tentang seberapa cepat piutang perusahaan berputar
menjadi kas. Angka jumlah hari puitang ini menggambarkan lamanya
suatu piutang bisa ditagih (jangka waktu pelunasan/penagian piutang).
Selain dihitung jumlah hari piutangnya, dalam mengevaluasi
piutang dagang ini perlu diperhatikan juga kepada siapa piutang dagang
ini diberikan. Selain itu, perlu diingat bahwa sebelum bias ditagih,
piutang dagang dapat juga dijual atau dijaminkan yang berarti
merupakan sumber dana (Prastowo dan Jualianty, 2002).
c. Perputaran Persediaan
Rasio perputaran persediaan mengukur berapa kali persediaan
perusahaan telah dijual selama periode tertentu, misalnya selama satu
tahun. Apabila suatu perusahaan memiliki rasio perputaran persediaan
yang lebih rendah disbanding rasio rata-rata industrinya maka hal ini
menunjukkan adanya persediaan yang sudah using atau persediaan yang
terlalu tinggi. Sebaliknya, rasio perputaran persediaan yang lebih
rendah disbanding rata-rata industri member indikasi tingkat persdiaan
tidak cukup (Prastowo dan Jualianty, 2002).

Rasio Solvabilitas


Adapun rasio yang tergabung dalam rasio solvabilitas adalah sebagai
berikut:
a. Debt to Equity Ratio
Debt to equity adalah rasio antara total hutang dengan total
modal (shareholder’s equity) yang memberikan indikasi tentang
seberapa jauh kreditor terlindungi jika terjadi insolvensi. Dari perspektif
kemampuan membayar kewajiban jangka panjang semakin kecil rasio
tersebut maka semakin baik posisi perusahaan (Munawir, 2008).
b. Debt to Total Asset Ratio
Rasio ini merupakan perbandingan antara hutang lancar dan
hutang jangka panjang dan jumlah seluruh aktiva diketahui. Rasio ini
menunjukkan berapa bagian dari keseluruhan aktiva yang dibelanjai
oleh hutang.
c. Time Interest Earned
Rasio time interest earned digunakan untuk mengukur
kemampuan operasi perusahaan dalam memberikan proteksi kepada
kreditor jangka panjang khususnya dalam membayar bunga. Tidak ada
pedoman pasti tentang besarnya angka rasio time interest earned yang
dikatakan baik. Pada umumnya, laba dipandang cukup untuk
melindungi kreditor bila rasio time interest earned besarnya 2 kali atau
lebih. Sebelum mengambil kesimpulan final, sebaiknya dilihat terlebih
dahulu kecenderungan laba perusahaan dan kemudian menentukan
seberapa mudahnya perusahaan dipengaruhi oleh perubahan musiman
ekonomi (Prastowo dan Jualianty, 2002).

Rasio Likuiditas


Biasanya rasio yang digunakan adalah rasio modal kerja, current
ratio, dan acid-test/quick ratio.
a. Modal Kerja
Modal kerja merupakan selisih antara total aset lancar dan utang
lancar. Jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan menjadi
perhatian para kreditor jangka pendek, karena angka modal kerja
menunjukkan aset yang dibelanjai dari sumber dana jangka panjang
yang tidak memerlukan pembayaran kembali dalam jangka pendek.
Makin besar angka modal kerja berarti makin besar tingkat proteksi
kreditor jangka pendek dan makin besar kepastian bahwa hutang jangka
pendek akan dilunasi tepat waktu (Prastowo dan Jualianty, 2002).
b. Current Ratio
Current ratio memberikan indikasi kemampuan perusahaan
untuk memenuhi kewajibannya atau utang lancarnya. Jika utang lancar
melebihi aset lancarnya berarti perusahaan tidak akan mampu
membayar tagihan utangnya (Munawir, 2008). Current ratio 200%
pada umumnya sudah memuaskan bagi suatu perusahaan, tetapi jumlah
modal kerja dan besarnya rasio tergantung pada beberapa faktor. Suatu
standar atas rasio yang umum tidak dapat ditentukan untuk seluruh
perusahaan. Current ratio 200% hanya merupakan kebiasaan (rule of
thumb) dan akan digunakan sebagai titik tolak untuk mengadakan
penelitian atau analisa yang lebih lanjut (Munawir, 2008).
c. Quick atau Acid Test Ratio
Persediaan merupakan rekening yang paling lama untuk berubah
menjadi kas (yang harus melewati bentuk piutang terlebih dahulu), dan
tingkat kepastian nilainya rendah (harga persediaan mungkin tidak
seperti yang dicantumkan dalam neraca, terutama untuk persediaan
barang dalam proses), maka rekening persediaan dikeluarkan dari
perhitungan.

Analisis Laporan Keuangan


Analisis kinerja keuangan perusahaan digunakan untuk mengetahui
sejauhmana efektivitas operasi perusahaan dalam mencapai tujuan. Analisis
kinerja keuangan perusahaan dapat dilakukan dengan melakukan analisis rasio
keuangan. Analisis rasio dapat dimulai dengan mencari hubungan berbagai pos
dalam laporan keuangan (Noor, 2011).
Laporan keuangan yang disajikan setiap periode merupakan informasi
yang sangat berharga bagi manajer, pemilik dan kreditur. Laporan keuangan
tersebut menyajikan data keuangan yang dapat digunakan sebagai dasar untuk
mengetahui dan menilai hasil dari kegiatan operasi perusahaan dalam
melaksanakan kegiatan bisnis. Oleh karena itu, analisis keuangan dapat membantu
manajer, investor dan kreditur menjawab beberapa pertanyaan sebagai berikut:
a. Dapatkah perusahaan membayar bunga dan angsuran pinjaman ?
b. Apakah perusahaan mendapatkan pengembalian modal yang diinvestasikan?
c. Apakah gross profit margin (GPM) meningkat atau menurun ?
d. Apakah perusahaan efektif dalam menggunakan pembiayaan hutang ?
e. Apakah biaya dalam kendali pengawasan ?
f. Apakah pasar perusahaan mengalami pertumbuhan atau penurunan ?
g. Apakah perubahan yang terjadi merupakan peluang atau ancaman ?
h. Apakah alokasi investasi pada asset yang berbeda tinggi atau rendah ?
Oleh karena itu, analisis laporan keuangan dapat didefinisikan sebagai
proses keputusan dengan maksud untuk menilai posisi keuangan dan hasil operasi
perusahaan pada saat ini maupun yang akan datang, dengan tujuan utama untuk
menentukan prediksi dan estimasi terbaik tentang performance dan kondisi
dimasa datang (Samuels, 1995; Al-Rawi et al, 2008).
Munawir (2008) menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan alat
yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan dengan posisi
keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh perusahaan.
Dengan melihat laporan keuangan suatu perusahaan akan tergambar di dalamnya
aktivitas perusahaan tersebut. Oleh karena itu, laporan keuangan perusahaan
merupakan hasil dari suatu proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat
untuk komunikasi dan juga digunakan sebagai alat pengukur kinerja perusahaan.
Melakukan analisis kinerja keuangan untuk mengetahui sejauh mana
efektivitas operasi perusahaan dalam mencapai tujuannya dan menilai kinerja
perusahaan dapat menggunakan analisis rasio yang dimulai dengan mencari
hubungan berbagai pos dalam laporan keuangan yaitu dengan menggunakan
laporan keuangan yang diperbadingkan termasuk data tentang perubahanperubahan yang terjadi dalam jumlah rupiah, presentase, dan trendnya. Rasio
tersebut akan menggambarkan suatu hubungan atau pertimbangan antara suatu
jumlah tertentu dengan jumlah yang lain, analisis rasio juga dapat menjelaskan
atau memberi gambaran tentang baik atau buruknya kondisi keuangan suatu
perusahaan terutama apabila angka rasio tersebut diperbandingkan dengan angka
rasio pembanding yang digunakan sebagai standar. Oleh karena itu penganalisa
harus mampu menyesuaikan faktor-faktor yang ada pada periode atau waktu ini
dengan faktor-faktor di masa datang yang mungkin akan mempengaruhi posisi
keuangan atau hasil operasi perusahaan yang bersangkutan. Sehingga keguaan
atau manfaat suatu angka rasio sepenuhnya tergantung kepada kemampuan atau
kecerdasan penganalisa dalam menginterpretasikan data yang bersangkutan
(Munawir, 2008).

Kinerja Keuangan Perusahaan


Kinerja keuangan merupakan seluruh hasil kegiatan operasi perusahaan.
Kinerja keuangan perusahaan pada perusahaan ditunjukkan dari laba yang
diperoleh. Laba merupakan selisih antara revenue dan expenses (Munthe, 2009).
Kinerja keuangan perusahaan merupakan menunjukkan efektifitas dan efisien
suatu organisasi dalam rangka mencapai tujuan. Efektifitas menunjukkan
kemampuan perusahaan untuk memilih tujuan yang tepat. Efisiensi menunjukkan
perbandingan antara masukan dan keluaran yaitu dengan masukan tertentu
memperoleh keluaran yang optimal (Hastuti, 2005).
Tujuan penilaian kinerja keuangan perusahaan menurut Munawir (2008)
adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui tingkat likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memperoleh kewajiban keuangannya yang harus segera dipenuhi atau
    kemampuan perusahaan untuk memenuhi keuangannya pada saat ditagih.
  2. Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
    memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasi
    baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Untuk mengetahui tingkat rentabilitas atau profitabilitas, yaitu menunjukkan
    kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.
  4. Untuk mengetahui tingkat aktivitas, yaitu menunjukkan kemampuan
    perusahaan menghasilkan penjualan dengan aset yang dimiliki.
  5. Untuk mengetahui market value perusahaan.
    Kemapuan kinerja keuangan perusahaan untuk memperoleh kewajiban
    yang harus dipenuhi dan kemampuan keuangan pada asat waktu tempo,dapat
    dilihat dari laporan keuangan yang dijadikan sebagi sumber informasi bagi
    pimpinan perusahaan, pemegang sahan, dan pihak kreditur.

Performance Prism


Performance Prism merupakan sebuah teori yang
dikembangkan oleh Universitas Cranfield, kemudian pada tahun 2000
Neely, Adams, dan Kennerley mencoba memperkenalkannya sebagai
sebuah metode pengukuran kinerja perusahaan. Metode ini mencoba
memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada pada metode-metode
sebelumnya seperti Balanced Scorecard. Kelebihan metode ini
dibanding dengan metode-metode sebelumnya adalah bahwa
Performance Prism mencoba mempertimbangkan seluruh stakeholder
dari perusahaan seperti investor, pelanggan, karyawan, Peraturan
Pemerintah sebagai bagian yang saling terintegrasi. Dengan kata lain
pengukuran kinerja yang dilakukan tidak hanya terbatas pada beberapa
stakeholder saja seperti yang dilakukan pada pengukuran kinerja pada
metode terdahulu.
Stakeholder itu sendiri dapat didefinisikan sebagai berikut.
“Individu atau kelompok, baik di dalam maupun di luar perusahaan,
yang mempunyai kepentingan terhadap hidup dan matinya perusahaan
dan sekaligus dapat mempengaruhi kinerja organisasi” (Mudrajad
Kuncoro, 2005: 8). Seperti yang dijelaskan dalam definisi tersebut,
stakeholder atau pemegang kepentingan di dalam perusahaan terdiri
dari banyak pihak, dan kepentingan dari masing-masing pihak tersebut
pun berbeda-beda. Walaupun di satu sisi kepentingan-kepentingan dari
masing-masing stakeholder tersebut berbeda-beda dan terkadang
saling berbenturan, namun di sisi lain masing-masing stakeholder
tersebut juga memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Oleh
karena itu, penting bagi perusahaan untuk mempertimbangkan masingmasing kebutuhan dan kontribusi dari para stakeholder.
Alasan lain mengenai pentingnya mempertimbangkan seluruh
stakeholder yang terlibat dalam perusahaan adalah untuk menjawab
tantangan dunia yang semakin berkembang. Setidaknya ada tiga alasan
yang mendasari hal tersebut, yaitu:
1) Adanya bahaya bahwa stakeholder akan memberontak dan
menolak untuk bekerja sama dengan organisasi apabila organisasi
tersebut tidak memenuhi kebutuhan dan keinginan khusus mereka.
2) Organisasi memiliki tanggungjawab legal, moral, dan etika
terhadap stakeholder mereka.
3) Di zaman ini, di mana selalu ada perhatian dari media dan
kelompok-kelompok kepentingan khusus, organisasi juga memiliki
reputasi yang harus dilindungi (Neely, et al., 2002: 158).

Manfaat Pengukuran Kinerja


Manfaat yang dapat diperoleh dengan dilakukannya
pengukuran kinerja menurut Mardiasmo (2009: 122), antara lain yaitu:
1) Memberikan pemahaman mengenai ukuran yang
digunakan untuk menilai kinerja manajemen.
2) Memberikan arahan untuk mencapai target kinerja yang
telah ditetapkan.
3) Untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian kinerja
dan membandingkannya dengan target kinerja serta
melakukan tindakan korektif untuk memperbaiki kinerja.
4) Sebagai dasar untuk memberikan penghargaan dan
hukuman (reward and punishment) secara objektif atas
pencapaian prestasi yang diukur sesuai dengan sistem
pengukuran kinerja yang telah disepakati.
5) Sebagai alat komunikasi antara bawahan dan pimpinan
dalam rangka memperbaiki kinerja organisasi.
6) Membantu mengidentifikasikan apakah kepuasan
pelanggan sudah terpenuhi.
7) Memastikan bahwa pengambilan keputusan dilakukan
secara objektif.
Pendapat lain mengenai manfaat pengukuran kinerja juga
dijelaskan oleh Mulyadi (2007: 360) sebagai berikut.
1) Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien
melalui pemotivasian personel secara maksimal.
2) Membantu pengambilan keputusan yang berkaitan
dengan penghargaan personel, seperti: promosi, transfer,
dan pemberhentian.
3) Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan
personel, dan untuk menyediakan kriteria seleksi dan
evaluasi program pelatihan personel.
4) Menyediakan suatu dasar untuk mendistribusikan
penghargaan.
Selain itu, Veithzal Rivai, et al., (2008: 55-58) menjabarkan
manfaat pengukuran kinerja untuk beberapa pihak yang terlibat dalam
pengukuran kinerja secara umum, antara lain yaitu:
1) manfaat bagi karyawan
a) meningkatkan motivasi;
b) meningkatkan kepuasan kerja;
c) adanya kejelasan standar hasil yang diharapkan mereka;…
2) manfaat bagi penilai (supervisor/ manajer/ penyelia)
a) kesempatan untuk mengukur dan mengidentifikasi
kecenderungan kinerja karyawan untuk perbaikan manajemen
selanjutnya;
b) kesempatan untuk mengembangkan suatu pandangan umum
tentang pekerjaan individu dan departemen yang lengkap;
c) memberikan peluang untuk mengembangkan sistem pengawasan
baik untuk pekerjaan manajer sendiri, maupun pekerjaan dari
bawahannya;…
3) manfaat bagi perusahaan
a) Perbaikan seluruh simpul unit-unit yang ada dalam perusahaan,
karena:
(1)komunikasi menjadi lebih efektif mengenai tujuan
perusahaan dan nilai budaya perusahaan;
(2)peningkatan rasa kebersamaan dan loyalitas;
(3)peningkatan kemampuan dan kemauan manajer untuk
menggunakan keterampilan atau keahlian memimpinnya
untuk memotivasi karyawan dan mengembangkan kemauan
dan keterampilan karyawan.
b) meningkatkan pandangan secara luas menyangkut tugas yang
dilakukan oleh masing-masing karyawan;
c) meningkatkan kualitas komunikasi;…

Indikator Kinerja Kunci/Key Performance Indicator (KPI)


Dalam setiap proses pengukuran kinerja dibutuhkan suatu
ukuran untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau capaian dari
kinerja perusahaan tersebut. Salah satu ukuran yang digunakan dalam
proses pengukuran kinerja adalah Indikator Kinerja Utama/Key
Performance Indicator (KPI). Indikator Kinerja Utama/Key
Performance Indicator (KPI) merupakan suatu indikator yang
digunakan untuk mengetahui seberapa jauh strategi yang telah
dilakukan oleh perusahaan sesuai dengan visi dan misi perusahaan
(Moeheriono, 2012: 1)
Indikator Kinerja Utama/Key Performance Indicator (KPI) ini
juga memiliki peran lain selain sebagai ukuran keberhasilan dalam
suatu perusahaan (Moeheriono, 2012: 47), antara lain yaitu:
1) Sebagai indikator bagi karyawan untuk mengetahui di mana area
karyawan tersebut harus bekerja dan menghasilkan output sesuai
dengan target yang telah ditentukan.
2) Sebagai alat komunikasi atasan dengan bawahan ataupun
perusahaan ke seluruh lini organisasi.
3) Sebagai media yang secara eksplisit menyatakan kemampuan
proses yang harus dicapai, sehingga target perusahaan juga
tercapai.
Ada beberapa kata kunci untuk mengidentifikasi Key Performance
Indicator (KPI), yaitu: (1) memiliki proses bisnis; (2) tujuan yang
jelas dari proses bisnis; (3) ada ukuran kuantitatif dan kualitatif dari
hasil dan dibandingkan dengan tujuan; (4) investigasi unsur-unsur
yang memengaruhi tujuan (Moeheriono, 2012: 50).
Darmin (2008) dalam Moh. Mahsun (2011: 168) menyatakan
bahwa Key Performance Indicator (KPI) yang baik perlu memenuhi
unsur-unsur sebagai berikut.
1) Dapat menjadi sarana perusahaan mengkomunikasikan strategi.
2) Terkait secara langsung dengan strategi yang dipilih perusahaan.
3) Indikator tersebut bersifat kuantitatif, memiliki formula tertentu
dalam penghitungannya.
4) Indikator tersebut dapat dihitung.
5) Frekuensi pemutahirannya bermanfaat.
6) Penetapan target untuk perbaikan dapat dilakukan.
7) Kemungkinan pembandingan dengan perusahaan lain dapat
dilakukan.
8) Pengukurannya masih valid.
9) Data dan sumber daya tersedia.
10) Biaya pengukurannya tidak melebihi manfaatnya

Langkah-langkah Pengukuran Kinerja


Moeheriono (2012: 27-28) menjelaskan mengenai beberapa
tahap dalam pengukuran kinerja perusahaan, yaitu:

  1. Mendesain
    Proses mendesain meliputi beberapa aktivitas, antara lain seperti
    menentukan model apa yang dipilih termasuk kerangka kinerjanya
    sampai penentuan indikator kinerja utama. Indikator tersebut harus
    dalam bentuk metrik yang dapat diukur dan dapat
    merepresentasikan tujuan strategis dari organisasi.
  2. Mengukur
    Indikator-indikator yang telah ditentukan dalam tahap desain
    kemudian diterapkan untuk mengukur kinerja perusahaan
    menggunakan data-data aktual perusahaan.
  3. Mengevaluasi
    Tahap selanjutnya adalah mengevaluasi hasil pengukuran yang
    telah dilakukan.
  4. Menindaklanjuti
    Hasil yang diperoleh pada tahap evaluasi kemudian ditindaklanjuti
    dengan menentukan indikator-indikator mana saja yang
    menunjukkan kinerja yang sudah baik dan indikator-indikator mana
    saja yang masih menunjukkan kinerja yang buruk.
  5. Mengevaluasi kembali
    Tahap selanjutnya adalah mengevaluasi kembali apakah sistem
    pengukuran kinerja yang telah disusun dan diterapkan tersebut
    telah sesuai atau belum dengan kebutuhan perusahaan. Sistem
    tersebut juga dievaluasi kembali apakah sudah dapat
    mencerminkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya atau belum.
    Mulyadi (2007: 345-358) menjelaskan ada beberapa langkah
    yang perlu dilaksanakan dalam pengukuran kinerja, namun demikian
    sebelum melakukan serangkaian langkah-langkah tersebut perlu
    didahului dengan mendesain sistem penghargaan terlebih dahulu.
    Sistem penghargaan tersebut didesain melalui enam langkah berikut.
    1) Menetapkan aspek kinerja yang hendak diberi penghargaan.
    2) Menentukan bobot setiap aspek dan komponen kinerja.
    3) Menentukan performance grade yang dipakai untuk menilai setiap
    aspek kinerja dan penghargaan yang diberikan untuk setiap
    performance grade. Performance grade merupakan standar nilai
    yang digunakan dalam proses penilaian kinerja.

Unsur-unsur Kunci dalam Pengukuran Kinerja


Veithzal Rivai, et al., (2008: 24-30) mendeskripsikan beberapa
unsur kunci dalam pengukuran kinerja perusahaan sebagai berikut.
1) Pendefinisian misi, penetapan tujuan dan sasaran-sasaran
perusahaan.
Ketiga hal tersebut merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan,
karena penetapan tujuan merupakan pengembangan dari
pernyataan misi yang berisi kebijakan jangka panjang dan jangka
pendek yang akan dilakukan dalam upaya mencapai suatu sasaran
tertentu.
2) Penetapan rencana strategis dan kebijakan operasional perusahaan.
Perencanaan strategis membantu pengambilan keputusan untuk
memilih secara rasional di antara berbagai kemungkinan, sumber
daya yang harus dialokasikan, sejalan dengan tujuan dan sasaran,
serta hasil yang diharapkan dari perusahaan bersangkutan. Di sisi
lain, penetapan kebijakan operasional merupakan bagian dari
penetapan strategi untuk mencapai tujuan dan sasaran.
3) Penetapan dan pengembangan indikator-indikator kinerja.
Indikator kinerja merupakan sesuatu yang akan dihitung dan
diukur. Indikator kinerja ini disusun sesuai dengan tujuan yang
hendak dicapai oleh perusahaan dan harus dapat menggambarkan
tingkat keberhasilan pencapaiannya.
4) Pengukuran kinerja dan penilaian hasil pengukuran.
Indikator-indikator yang telah ditetapkan kemudian diterapkan
untuk mengukur kinerja perusahaan menggunakan data-data aktual
perusahaan.
5) Pelaporan hasil-hasil secara formal.
Pelaporan hasil kinerja ini dapat berfungsi sebagai
pertanggungjawaban atas hasil yang dicapai dan juga sebagai
umpan balik dalam rangka meningkatkan kinerja di masa yang
akan datang.
6) Penggunaan informasi kinerja.
Informasi kinerja ini dapat digunakan untuk mengetahui capaian
kinerja pada periode tertentu dan juga sebagai bahan acuan
perbaikan untuk periode berikutnya.

Syarat-syarat Pengukuran Kinerja yang Berkualitas


Veithzal Rivai, et al., (2008: 19-24) mengungkapkan beberapa
syarat sebuah pengukuran kinerja perusahaan dikatakan berkualitas,
yaitu:
1) Input (potensi)
“Input merupakan sumber daya yang digunakan untuk
pelaksanaan suatu kebijakan, program, dan aktivitas” (Mardiasmo,
2009: 5). Input yang dimaksud sebagai syarat pengukuran kinerja
yang berkualitas tersebut diperoleh dengan menjawab pertanyaanpertanyaan sebagai berikut.
a) Who?
Pertanyaan ini ditujukan untuk mengetahui siapa sajakah pihak
yang harus dinilai dan siapakah pula pihak yang akan
melakukan pengukuran terhadap kinerja perusahaan tersebut.
b) What?
Pertanyaan ini mencakup hal-hal yang berhubungan dengan
objek atau materi yang dinilai, antar lain meliputi hasil kerja,
kemampuan sikap, motivasi kerja. Selain itu, pertanyaan ini
juga mencakup dimensi waktu yang menunjukkan kinerja yang
dicapai pada saat ini (current performance), dan potensi yang
dapat dikembangkan pada waktu yang akan datang.
c) Why?
Pertanyaan ini untuk menjelaskan mengenai tujuan dari
pengukuran kinerja itu sendiri, yang meliputi empat hal berikut.
(1) memelihara potensi kerja; (2) menentukan kebutuhan
pelatihan; (3) dasar untuk pengembangan karir; (4) dasar untuk
promosi jabatan.
d) When?
Pertanyaan ini merujuk pada waktu pelaksanaan pengukuran
kinerja itu sendiri. Waktu pengukuran kinerja ini bisa
dilakukan secara periodik seperti setiap bulan, triwulan, atau
setiap tahun, bisa juga dilakukan secara terus menerus pada
setiap hari kerja.
e) Where?
Pertanyaan ini merujuk pada di manakah akan dilakukan
pengukuran kinerja. Pengukuran kinerja pada dasarnya dapat
dilakukan di tempat kerja atau perusahaan itu sendiri, bisa pula
di luar perusahaan, yaitu melalui konsultan.
f) How?
Pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui metode apa yang
dipilih perusahaan untuk melakukan pengukuran kinerja.
2) Process (pelaksanaan)
Dalam fase pelaksanaan ini perlu dilakukan konsultasi
dengan sebanyak mungkin individu dan kelompok untuk menjamin
seluruh aspek dari pengukuran telah terhubung sehingga dapat
berjalan dengan baik. Proses ini dapat dilakukan dengan
melakukan briefing (penjelasan singkat) ataupun dengan pelatihan.
3) Output (hasil)
“Output merupakan hasil yang dicapai dari suatu program,
aktivitas, dan kebijakan” (Mardiasmo, 2009: 5). Agar pengukuran
kinerja perusahaan yang dilakukan berkualitas, maka syarat
selanjutnya yang harus dipenuhi adalah mengenai output dari
pengukuran kinerja itu sendiri, antara lain yaitu kejelasan hasil
penilaian dan keberhasilan pengukuran kinerja sebagai peningkat
kualitas kinerja

Pengukuran Kinerja Perusahaan


Dalam kaitannya dengan pengukuran kinerja sebuah
perusahaan, terdapat beberapa istilah yang biasa digunakan, antara lain
yaitu pengukuran kinerja (performance measurement), ukuran kinerja
(performance measure), metrik kinerja (performance metric). Istilahistilah tersebut seringkali digunakan secara bergantian, namun
demikian untuk menghindarkan kerancuan pemahaman diantara
istilah-istilah tersebut, maka perlu diberikan penjelasan mengenai
masing-masing perbedaannya.
Pengukuran kinerja dapat didefinisikan sebagai proses
pengkuantifikasian efisiensi dan efektivitas dari tindakan yang lalu.
Ukuran kinerja dapat didefinisikan sebagai sebuah parameter yang
digunakan untuk mengkuantifikasi efisiensi dan/atau efektivitas dari
tindakan yang lalu. Metrik kinerja adalah definisi dari cakupan, isi dan
bagian-bagian komponen dari sebuah ukuran kinerja yang berbasis
luas (Neely, 2002: xiv).
Dalam penelitian ini, untuk memudahkan pemahaman dan
menghindari kerancuan, maka penulis akan menggunakan istilah
pengukuran kinerja sebagai pokok bahasan utama dalam penelitian ini.
Neely (2002: xiii) juga mengungkapkan bahwa sebuah sistem
pengukuran kinerja memungkinkan keputusan yang diinformasikan
untuk dibuat dan tindakan untuk diambil karena ini
mengkuantifikasikan efisiensi dan efektivitas dari tindakan yang lalu
melalui akuisisi, pembandingan, penyortasian, analisis, dan interpretasi
dari data yang layak. Dalam konteks ini, aktivitas pemrosesan
informasi yang meliputi memperoleh, membandingkan, menyortir,
menganalisis, dan menginterpretasikan, dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1) Akuisisi data, merupakan proses mengumpulkan fakta-fakta yang
masih mentah.
2) Pembandingan data, merupakan proses mengkompilasikan faktafakta mentah ke dalam sebuah data-set tunggal yang terintegrasi.
3) Penyortasian data, merupakan proses menentukan fakta individual
di data-set ke dalam kategori yang bermakna sehingga data dapat
dianalisis.
4) Analisis data, merupakan proses mencari pola yang ada dalam
data-set yang telah disortasi.
5) Interpretasi data, merupakan proses menjelaskan implikasi dari
banyak pola yang teridentifikasi dalam data set yang telah
tersortasi.

Jenis-Jenis Rasio Keuangan


Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan rasiorasio keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa rasio keuangan. Setiap rasio
keuangan memiliki tujuan, kegunaan dan arti tertentu.
A. Rasio Profitabilitas
Profitabilitas adalah rasio yang mengukur efektivitas manajemen secara
keseluruhan yang ditujukan oleh besar kecilnya tingkat keuntungan yang diperoleh
dalam hubungannya dengan penjualan maupun investasi (Fahmi, 2010). Menurut
(Mafiroh et al., 2016), profitabilitas menunjukkan seberapa efisien dan efektif suatu
perusahaan dalam memanfaatkan serta menggunakan aset perusahaan dalam
menghasilkan laba. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik
menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.
Dalam penelitian ini sang penulis menggunakan rasio profitabilitas berupa
Return on Sales (ROS) dan Return on Assets (ROA), kedua rasio ini merupakan
indikator dalam rasio profitabilitas.
1.) Return on Assets (ROA)
Return On Assets (ROA) merupakan salah satu bentuk rasio profitabilitas
yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan keseluruhan
dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan
untuk menghasilkan keuntungan atau profit.
2.) Return on Sales (ROS)
Rasio Keuangan yang mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan
laba dari pendapatan penjualannya. Dengan kata lain, Rasio ROS atau Return on
Sales ini mengukur kinerja perusahaan dengan cara menganalisis persentase dari
total pendapatan perusahaan yang dapat dikonversikan menjadi keuntungan atau
laba perusahaan.
B. Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas adalah rasio yang menunjukkan kemampuan suatu
perusahaan untuk melunasi hutangnya sebelum dan ketika jatuh tempo. Dengan
kata lain, kita dapat mengatakan rasio ini menunjukkan seberapa cepat perusahaan
dapat mengubah aset lancarnya menjadi uang tunai sehingga dapat melunasi
kewajibannya secara tepat waktu. Umumnya, Likuiditas dan solvabilitas jangka
pendek digunakan bersama-sama.
Menurut (Tamam & Wibowo, 2017), Likuiditas adalah kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya pada saat jatuh tempo.
Menurut Hery (2016:23) Rasio Likuiditas (liquidity ratio) merupakan rasio yang
menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka
pendeknya yang segera jatuh tempo.
Perusahaan yang mempunyai tingkat likuiditas yang tinggi berarti
perusahaan tersebut mempunyai dana internal yang tinggi pula dengan demikian
perusahaan akan mengurangi pendanaan eksternalnya. Ini disebabkan karena
perusahaan dengan tingkat likuiditas tinggi mempunyai dana internal yang besar,
sehingga perusahaan tersebut akan lebih menggunakan dana internalnya terlebih
dahulu untuk membiayai investasinya sebelum menggunakan pembiayaan
eksternal melalui utang. Masalah likuiditas berhubungan dengan masalah
kemampuan suatu perusahan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang
segera harus dipenuhi. Suatu perusahaan yang mempunyai kemampuan membayar
belum tentu dapat memenuhi segala kewajiban jangka pendeknya yang segera harus
dipenuhi.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Rasio Likuiditas berupa Quick
Ratio (QR), rasio ini merupakan salah satu indikator dalam rasio likuiditas.
C. Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitas membandingkan berbagai elemen laporan keuangan
perusahaan. Maksud dari perbandingan ini adalah untuk membedakan beban utang
perusahaan secara keseluruhan terhadap aset atau ekuitasnya. Rasio solvabilitas
biasanya digunakan oleh pemberi pinjaman dan departemen kredit internal untuk
menentukan kemampuan pelanggan untuk membayar kembali hutang mereka.
Menurut (Afrinda, 2013) Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan,
baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Ketika rasio likuiditas
menggunakan jangka pendeknya untuk meramalkan arus kas yang lebih akurat.
Sedangkan pada waktu jangka panjang tidak digunakan karena kurang tepat
diandalkan, dan karenanya rasio solvabilitas menggunakan ukuran analisis jangka
panjangnya (Mansur, 2015).
Rasio ini disebut juga rasio laverage, yang menggambarkan kemampuan
perusahaan dalam membayar kewajiban jangka panjangnya atau kewajibankewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Karena sebesar apa beban hutang
yang ditanggung perusahaan akan dibandingkan dengan aktivanya. Jika aset
perusahaan lebih banyak dimiliki oleh pemegang saham, maka perusahaan tersebut
kurang laverage. Jika kreditor memliki aset secara dominan, maka perusahaan
tersebut memiliki tingkat laverage yang tinggi.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan Rasio Solvabilitas berupa Debt
to Asset Ratio (DAR), rasio ini merupakan salah satu indikator dalam rasio
solvabilitas.
D. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas (activity ratio) merupakan rasio yang digunakan untuk
mengukukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya
atau dapat pula dikatakan rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi
(efektivitas) pemanfaatan sumber daya perusahaan (Kasmir, 2016). Dalam
praktiknya rasio aktivitas yang digunakan perusahaan memiliki beberapa tujuan
yang hendak dicapai. Rasio aktivitas juga memberikan banyak manfaat bagi
kepentingan perusahaan maupun bagi pihak luar perusahaan, untuk masa sekarang
maupun di masa yang akan datang. Rasio aktivitas membandingkan antara tingkat
penjualan dengan investasi pada semua aktiva yang dimiliki.

Keunggulan Analisis Rasio Keuangan


Meurut Hery (2016:21) analisis rasio keuangan memiliki beberapa keunggulan
sebagai alat analisis, yaitu:
1) Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah
dibaca dan ditafsirkan.
2) Rasio merupakan pengganti yang cukup sederhana dari informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan yang pada dasarnya sangat rinci dan
rumit.
3) Rasio dapat mengidentifikasi posisi perubahan dalam industri.
4) Rasio sangat bermanfaat dalam pengambilan keputusan.Dengan rasio lebih
mudah untuk membandingkan suatu perusahaan terhadap perusahaan lain
atau melihat perkembangan perusahaan secara periodik (time series).
5) Dengan rasio lebih mudah untuk melihat tren perusahaan serta melakukan
prediksi dimasa yang akan datang.

Manfaat analisis rasio keuangan


Menurut Fahmi (2014:53) manfaat yang bisa diambil dengan
dipergunakannya rasio keuangan yaitu:

  1. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat untuk dijadikan sebagai alat
    menilai kinerja dan prestasi perusahaan
  2. Analisis rasio keuangan sangat bermanfaat bagi pihak manajemen sebagai
    rujukan untuk membuat perencanaan.
  3. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai alat untuk mengevaluasi
    kondisi suatu perusahaan dari perspektif keuangan
  4. Analisis rasio keuangan juga bermanfaat bagi para kreditor dapat digunakan
    untuk memperkirakan potensi risiko yang akan yang dihadapi dikaitkan
    dengan adanya jaminan kelangsungan pembayaran bunga dan
    pengembalian pokok pinjaman.
  5. Analisis rasio keuangan dapat dijadikan sebagai penilaian bagi pihak
    stakeholder organisasi

Analisis Rasio Keuangan


Analisis rasio keuangan adalah suatu aktivitas untuk menganalisis laporan
keuangan dengan cara membandingkan satu akun dengan akun yang lainnya yang
terdapat dalam laporan keuangan, perbandingan tersebut bisa antar akun dalam
laporan keuangan neraca maupun rugi laba (V. W. Sujarweni, 2017). Analisis rasio
keuangan ini dapat mengungkapkan hubungan yang penting antar perkiraan laporan
keuangan dan dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja
perusahaan. (Hery,2016:20).
Analisis rasio keuangan pada umumnya digunakan oleh 3 kelompok utama
pemakai laporan keuangan yaitu:

  1. Manajer perusahaan, menerapkan rasio untuk membantu menganalisis,
    mengendalikan, dan meningkatkan kinerja operasi serta keuangan
    perusahaan.
  2. Analisis kredit, termasuk petugas pinjaman bank dan analisis peringkat
    obligasi, yang menganalisis rasio-rasio untuk mengidentifikasi kemampuan
    debitor dalam membayar utang-utangnya.
  3. Analis saham, yang tertarik pada efisiensi, resiko, dan prospek pertumbuhan
    perusahaan.
    Berdasarkan sumber data analisis, analisis rasio keuangan dapat digolongkan
    menjadi sebagai berikut:
    1) Analisis rasio neraca, yaitu membandingkan angka-angka keuangan yang
    hanya bersumber dari neraca saja
    2) Analisis rasio laporan laba rugi, yaitu membandingkan angka-angka yang
    hanya bersumber dari laporan laba rugi saja.
    3) Analisis rasio antar laporan, yaitu membandingkan angka-angka yang
    bersumber dari dua laporan, yaitu neraca dan laporan laba rugi

Rasio Keuangan


Laporan keuangan melaporkan aktivitas yang sudah dilakukan perusahaan
dalam suatu periode tertentu. Aktivitas yang sudah dituangkan dalam angka-angka,
baik dalam bentuk mata uang rupiah maupun dalam mata uang asing. Angka-angka
yang ada dilaporan keuangan menjadi kurang berarti jika hanya dilihat satu nsisi
saja. Artinya jika hanya dengan melihat apanya. Angka-angka ini akan menjadi
lebih apabila dapat kita bandingkan antara satu komponen dengan komponen
lainnya. Caranya adalah dengan membandingkan angka-angka yang ada dalam
laporan keuangan atau antar laporan keuangan. Setelah melakukan perbandingan,
dapat disimpulkan posisi keuangan suatu perusahan untuk periode tertentu. Pada
akhirnya kita dapat menilai kinerja manajemen dalam periode tersebut.
Perbandingan ini kita kenal dengan nama analisis rasio keuangan
Menurut Hery (2017, hal.138) “rasio keuangan adalah angka yang diperoleh
dari hasil perbandingan antara satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang
mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan”.
Menurut Kasmir (2018:104), “merujuk rasio keuangan adalah tindakan
untuk melihat angka-angka yang terkandung dalam laporan anggaran dengan
membagi satu angka dengan angka lainnya”

Pihak-pihak yang memerlukan laporan keuangan


Laporan keuangan disusun berdasarkan berbagai tujuan. Tujuan uramanya
adalah untuk kepentingan pemilik dan manajemen perusahaan dan memberikan
informasi kepada berbagai pihak yang sangat berkepentingan terhadap perusahaan.
Artinya pembuatan dan penyusunan laporan keuangan ditujukan untuk memenuhi
kepentingan berbagai pihak, baik pihak intern maupun ekstern perusahaan.
Menurut Kasmir (2012 ; 19), Ada 5 (lima) pihak yang memiliki hak untuk
mendapatkan informasi seputar laporan keuangan, antara lain :

  1. Pemilik
    Pemilik pada saat ini adalah mereka yang memiliki usaha tersebut. Hal ini
    tercemin dari kepemilikam saham yang dimilikinya
  2. Manajemen
    Kepentingan pihak manajemen perusahaan terhadap laporan keuangan
    perusahaan yang mereka buat yang memiliki arti tertentu. Bagi pihak
    manajemen laporan keuangan yang dibuat merupakan cermin kinerja
    mereka dalam suatu periode tertentu
  3. Kreditor
    Kreditor adalah pihak penyandang dana bagi perusahaan. Artinya pihak
    pemberi dana seperti bank atau lembaga keuangan lainnya. Kepentingan
    pihak kreditor terhadap laporan keuangan perusahaan adalah dalam hal
    memberi pinjaman atau pinjaman yang telah berjalan sebelumnya.
  4. Pemerintah
    Pemerintah juga memiliki nilai penting atas laporan keuangan yang dibuat
    perusahaan. Bahkan pemerintah melalui Departemen Keuangan
    mewajibkan kepada setiap perusahaan untuk menyusun dan melaporkan
    keuangan perusahaan secara periodik.
  5. Investor
    Investor adalah pihak yang hendak menanamkan dana disuatu perusahaan.
    Jika suatu perusahaan memerlukan dana untuk memperluas usaha atau
    kapasitas usahanya disamping memperoleh pinjaman dari lembaga
    keuangan seperti bank dapat pula diperoleh dari para investor melalui
    penjualan saham.

Syarat-syarat laporan keuangan


Syarat-syarat laporan keuangan merupakan ciri khas membuat informasi dalam
laporan keuangan yang berguna bagi para pemakai dalam pengambilan keputusan
yang bernilai ekonomis (W. V. Sujarweni, 2017). Berikut syarat-syarat yang harus
dipenuhi didalam membuat laporan keuangan :
1) Dapat dipahami
Para pemakai harus dapat memahami kualitas penting informasi yang
disajikan dalam laporan keuangan. Para pemakai harus mengetahui tentang
aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi dan juga ketentuan yang wajar.
2) Relevan
Informasi yang diberikan harus relevan agar dapat memenuhi kebutuhan
dalam proses pengambilan keputusan. Dengan adanya informasi yang
relevan dapat mempengaruhi keputusan ekonomi para pemakai agar dapat
mengevaluasi kejadian masa lalu, masa kini atau masa yang akan datang.
3) Keandalan
Supaya lebih bermanfaat, Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
juga harus andal. Agar dapat diandalkan, Informasi yang disajikan harus
lengkap dalam batasan materialistis dan biaya, bebas dari pengertian
menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai
penyajian yang jujur dan wajar dari yang seharusnya disajikan.
4) Dapat dibandingkan
Para pengguna laporan keuangan harus bisa membandingkan laporan
keuangan perusahaan antar periode guna mengidentifikasi kecenderungan
posisi keuangan. Selain itu pengguna laporan keuangan juga harus bisa
membandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi
posisi keuangan serta posisi keuangan perusahaan secara relatif
5) Mempunyai daya uji
Laporan keuangan dapat diuji kebenarannya apabila telah disusun sesuai
dengan panduan konsep-konsep dasar akuntansi dan prinsip-prinsip
akuntansi yang telah disahkan
6) Netral
Laporan keuangan harus disajikan secara netral yaitu apabila disajikan
secara umum dan obyektif serta tidak memihak pada kepentingan para
pengguna tertentu.
7) Tepat waktu
Yang berarti bahwa laporan keuangan yang disajikan harus tepat waktu.
8) Lengkap
Artinya laporan keuangan yang disusun harus memenuhi syarat-syarat
seperti diatas agar tidak meyesatkan para pembaca.

Jenis jenis Laporan keuangan


Laporan keuangan perusahaan yang disusun oleh perusahaan terdiri dari
beberapa jenis, tergantung pada maksud dan tujuan penyusunan laporan keuangan
itu. Setiap laporan keuangan memiliki arti tersendiri dalam memandang kondisi
keuangan perusahaan, baik sebagian maupun secara keseluruhan. Namun dalam
prakteknya perusahaan diharuskan untuk menyusun beberapa jenis laporan
keuangan sesuai dengan standar yang telah ditentukan, terutama untuk kepentingan
mereka sendiri atau untuk kepentingan orang lain.
Menurut Kasmir (2014:82), secara umum ada lima jenis laporan keuangan yang
bisa disusun, yaitu:

  1. Laporan Posisi Keuangan
    Laporan Posisi Keuangan merupakan laporan yang menunjukkan posisi
    keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan
    dimaksudkan adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan pasiva
    (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan.
  2. Laporan Laba Rugi
    Laporan Laba Rugi merupakan laporan keuangan yang menggambarkan
    hasil usaha perusahaan dalam satu periode tertentu. Dalam laporan laba rugi
    ini tergambar jumlah pendapatan dan sumber-sumber pendapatan yang
    diperoleh. Kemudian juga tergambar jumlah biaya dan jenis-jenis yang
    dikeluarkan selama periode tertentu.
  3. Laporan Perubahan Modal
    Laporan Perubahan Modal merupakan laporan yang berisi jumlah dan jenis
    modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga menjelaskan
    perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan modal di
    perusahaan.
  4. Laporan Arus Kas
    Laporan Arus Kas merupakan laporan yang menunjukkan arus kas masuk
    dan kas keluar perusahaan. Arus kas masuk merupakan pendapatan atau
    pinjaman dari pihak lain, sedangkan arus kas keluar merupakan biayabiaya
    yang telah dikeluarkan perusahaan. Baik arus kas masuk maupun arus kas
    keluar dibuat untuk periode tertentu.
  5. Catatan Atas Laporan Keuangan
    Catatan Atas Laporan Keuangan merupakan laporan yang dibuat berkaitan
    dengan laporan keuangan yang disajikan. Laporan ini memberikan
    informasi tentang penjelasan yang dianggap perlu atas laporan keuangan
    yang ada sehingga menjadi jelas sebab penyebabnya. Tujuannya adalah agar
    pengguna laporan keuangan dapat memahami jelas data yang disajikan.

Tujuan Laporan keuangan


Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi
keuangan suatu perusahaan, yang ditujukan kepada pihak internal dan eksternal
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Laporan keuangan
juga dapat disusun secara mendadak sesuai kebutuhan perusahaan maupun secara
berkala. Jelasnya adalah laporan keuangan mampu memberikan informasi
keuangan kepada pihak dalam dan luar perusahaan yang memiliki kepentingan
terhadap perusahaan.
Sesuai pendapat yang dikemukakan oleh Kasmir (2013; 11), “ada delapan
tujuan pembuatan atau penyusunan laporan keuangan yaitu:

  1. Memberikan data tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki
    perusahaan pada saat ini
  2. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang
    dimiliki perusahaan pada saat ini
  3. Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh
    pada suatu periode tertentu
  4. Memberikan data tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan
    perusahaan dalam suatu periode tertentu
  5. Memberikan data tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap
    aktiva, pasiva, dan modal perusahaan
  6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu
    periode tertentu
  7. Memberikan informasi tentang Penataan data pada catatan atas laporan
    fiskal
  8. Informasi keuangan lainnya
    Menurut Mamduh M. Hanafi (2016:30), tujuan laporan keuangan adalah
    sebagai berikut :
  9. Informasi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan.
  10. Laporan keuangan harus memberikan informasi yang bermanfaat untuk
    pemakai eksternal dalam memperkirakan jumlah, waktu, dan ketidakpastian
    (risiko) penerimaan kas yang berkaitan.
  11. Laporan keuangan harus dapat memberikan informasi yang bermanfaat
    untuk memperkirakan aliran kas perusahaan.

Laporan Keuangan


Laporan keuangan pada dasarnya merupakan suatu informasi yang
menggambarkan kondisi keuangan suatu perusahaan, dan lebih jauh informasi
tersebut dapat dijadikan sebagai gambaran kinerja keuangan perusahaan tersebut.
Adapun jenis laporan keuangan pada umumnya antara lain: neraca, laporan laba
rugi, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Laporan keuangan hanyalah
sebagai “alat penguji” dari kegiatan-kegiatan perusahaan seperti kegiatan
pendanaan, kegiatan investasi, dan kegiatan operasional yang kemudian digunakan
untuk menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut dengan
menganalisisnya.
PSAK No. 1 (revisi 2009) menyatakan laporan keuangan adalah suatu
penyajian terstruktur dari kondisi keuangan dan kinerja keuangan suatu perusahaan.
Jadi laporan keuangan merupakan salah satu informasi yang sangat bermanfaat
dalam menilai perkembangan suatu perusahaan sehingga dapat digunakan untuk
menilai hasil kinerja yang diperoleh pada saat lampau, sekarang dan rencana waktu
yang akan datang pada perusahaan.
Menurut Kasmir (2014:7), laporan keuangan adalah laporan yang
menunjukkan kondisi keuangan perusahaan saat ini atau periode kedepannya.
Maksud dan tujuan laporan keuangan menunjukkan kondisi keuangan perusahaan.
Menurut Atma Hayat dkk (2018:81), bahwa pengertian laporan keuangan
adalah hasil akhir dari proses akuntansi, dimana dalam proses tersebut semua
transaksi yang terjadi akan dicatat, diklasifikasikan, diikhtisarkan untuk kemudian
disusun menjadi suatu laporan keuangan.

Kinerja


Di dalam penelitian ini, kinerja akan menjadi topik utama. Oleh
karena itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu mengenai apa yang
dimaksud dengan kinerja. Terkait dengan pengertian kinerja, terdapat
beberapa pendapat dari para tokoh, antara lain yaitu pendapat yang
diungkapkan oleh Mulyadi (2007: 337) yang menyatakan bahwa:
“kinerja adalah keberhasilan personel, tim, atau unit organisasi dalam
mewujudkan sasaran strategik yang telah ditetapkan sebelumnya
dengan perilaku yang diharapkan”.
Pendapat yang lain mengenai definisi kinerja juga diungkapkan
oleh Indra Bastian (2006: 274) yang menyatakan bahwa:
Kinerja adalah gambaran pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan/program/kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran,
tujuan, misi, dan visi organisasi. Daftar apa yang ingin
dicapai tertuang dalam perumusan penskemaan strategis
(strategic planning) suatu organisasi. Secara umum, kinerja
merupakan prestasi yang dicapai oleh organisasi dalam
periode tertentu.
Pendapat yang senada juga dijelaskan oleh Veithzal Rivai, et
al. (2008: 14) yang mengungkapkan bahwa:
Kinerja adalah hasil atau tingkat keberhasilan seseorang
secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam
melaksanakan tugas dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran
atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah
disepakati bersama.

Pengukuran Kinerja Keuangan


Pengukuran kinerja keuangan adalah penting sebagai sarana atau indikator
dalam rangka memperbaiki kegiatan operasional diperusahaan agar dapat bersaing
dengan perusahaan lain lewat efisiensi dan efektivitas. Kinerja keuangan dapat
dinilai dengan menggunakan beberapa alat analisis. Pengukuran kinerja keuangan
juga berarti membandingkan antara standar yang telah ditetapkan dengan kinerja
keuangan yang ada dalam perusahaan (Sujarweni, 2017).
Dengan adanya pengaruh kegiatan operasional pada kinerja keuangan ini
bisa diperbaiki apabila perusahaan dapat mengalami pertumbuhan keuangan yang
lebih baik dan dapat bersaing secara sehat melalui efisiensi dan efektivitas.
Pengukuran kinerja keuangan dilakukan bersamaan dengan proses analisis.
Analisis kinerja keuangan adalah proses pengkajian kinerja keuangan secara kritis
yang meliputi tinjauan keuangan, penghitungan, pengukuran, interpretasi dan
pemberian solusi terhadap masalah keuangan perusahaan pada periode tertentu
(Hery, 2015).
Menurut Jumingan (2018 ; 240), “ada beberapa tahap dalam pengukuran kinerja
keuangan adalah sebagai berikut:
1) Review data laporan
Maksud dari perlunya mempelajari data secara menyeluruh adalah untuk
meyakinkan pada penganalisis bahwa laporan sudah cukup jelas
menggambarkan semua data keuangan yang relevan dan telah
diterapkannya prosedur akuntansi maupun metode penilaian yang tepat,
sehingga penganalisis akan betul-brtul mendapatkan laporan keuangan yang
dapat diperbandingkan.
2) Menghitung
Dengan menggunakan berbagai metode dan tekhnik analisis dilakukan
perhitungan-perhitungan, baik metode perbandingan, persentase
perkomponen, analisis rasio keuangan, dan lain-lain. Dengan metode atau
tekhnik apa yang akan digunakan dalam perhitungan sangat bergantung
pada tujuan analisis.
3) Membandingkan atau mengukur
Langkah berikutnya setelah melakukan perhitungan adalah
membandingkan atau mengukur. Langkah ini diperlukan guna mengetahui
kondisi hasil perhitungan tersebut apakah sangat baik, baik, sedang, kurang
baik, dan seterusnya.
4) Menginterprestasi
Interprestasi merupakan inti dari proses analisis sebagai perpaduan antara
hasil pembandingan/pengukuran dengan kaidah teoritis yang berlaku. Hasil
interprestasi mencerminkan keberhasilan maupun permasalahan apa yang
ingin dicapai perusahaan dalam pengelolaan keuangan
5) Solusi
Langkah terakhir dari rangkaian prosedur analisis. Dengan memahami
problem keuangan yang dihadapi perusahaan akan menempuh solusi yang
tepat.

Tahapan-Tahapan dalam menganalisis kinerja Keuangan


Menurut Fahmi (2017:2) ada 5 tahap dalam menganalisis kinerja keuangan
perusahaan yaitu :

  1. Melakukan review terhadap data laporan keuangan Review dilakukan
    dengan tujuan agar laporan keuangan yang sudah dibuat tersebut sesuai
    dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam dunia
    akuntansi, sehingga dengan demikian hasil laporan keuangan tersebut dapat
    dipertanggungjawabkan.
  2. Melakukan perhitungan Penerapaan metode perhitungan disini yaitu
    disesuaikan kondisi dan permasalahan yang sedang dialami, sehingga hasil
    dari perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan yang sesuai
    dengan analisis yang di inginkan.
  3. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh Dari
    hasil perhitungan yang sesuai diperoleh tersebut kemudian dilakukan
    perbandingan dengan hasil perhitungan berbagai perusahaan lainnya.
    Metode yang paling umum dipergunakan untuk perbandingan ada dua yaitu:
    a. Time series analysis
    b. Cross sectional aproach
  4. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan
    yang ditemukan. Pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan
    perusahaan dan dilakukan penafsiran untuk melihat apa saja kendalakendala dan permasalahan yang dialami perusahaan tersebut.
  5. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap
    permasalahan yang ditemukan Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan
    berbagai permasalahan yang dihadapi maka dicarikan solusi sebagai
    masukan kepada perusahaan

Faktor faktor yang mempengaruhi kinerja Keuangan


Adapun faktor faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan adalah sebagai
berikut (Sujarweni, 2017) :
a) Pegawai, berkaitan dengan kemampuan dan kemajuan dalam bekerja.
b) Pekerjaan, menyangkut desain pekerjaan, uraian pekerjaan dan sumber daya
untuk melaksanakan pekerjaan.
c) Mekanisme kerja, mencakup sistem, prosedur pendelegasian dan
pengendalian serta struktur organisasi.
d) Lingkungan kerja, meliputi faktor faktor lokasi dan kondisi kerja, iklim
organisasi dan komunikasi.

Tujuan dan Manfaat Pengukuran Kinerja Keuangan


Setiap perusahaan harus mengukur kinerja keuangan perusahaanya. Adapun
tujuan dari pengukuran kinerja keuangan perusahaan salah satunya adalah untuk
melihat perkembangan kinerja keuangan perusahaandan faktor yang menyebabkan
kinerja keuangan perusahaan meningkat atau menurun.
Menurut Munawir (2015:31) pengukuran kinerja keuangan perusahaan
mempunyai beberapa tujuan diantaranya :
1) Untuk mengetahui tingkat likuiditas yaitu kemampuan suatu perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuangannya yang segera harus dipenuhi, atau
kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan saat ditagih.
2) Untuk mengetahui tingkat solvabilitas, yaitu kemampuan suatu perusahaan
untuk memenuhi kewajiban keuntungannya apabila perusahaan tersebut di
likuiditaskan, baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun keuangan
jangka panjang.
3) Untuk mengetahui tingkat profitabilitas yaitu suatu kemampuan perusahaan
menghasilkan laba pada periode tertentu.
4) Untuk mengetahui stabilitas usaha yaitu : kemampuan perusahaan untuk
melakukan usahanya dengan stabil yang diukur dengan mempertinggalkan
kemampuan perusahaan untuk membayar beban bunga atas hutang – hutang
tersebut tepat pada waktunya.
Sementara itu, menurut Rusmanto (2011: 621) dalam Ridhawati (2014)
perkiraan kinerja keuangan berencana untuk:
1) Menyampaikan data yang berharga dalam pilihan penting tentang sumber
daya untuk digunakan dan mendorong pimpinan untuk menetapkan pilihan
yang melayani kepentingan perusahaan
2) Memperkirakan kinerja unit usaha sebagai elemen perjuangan
3) Yang akan terjadi, estimasi kinerja digunakan sebagai alasan untuk
mensurvei kemungkinan perubahan aset keuangan yang mungkin
dikendalikan di kemudian hari.
Tak terhitung banyaknya pertemuan-pertemuan yang berhubungan dengan
suatu perusahaan tertentu yang membutuhkan data yang mendukung kepentingan
setiap pertemuan tersebut yang disampaikan oleh pembukuan sebagai rangkuman
anggaran perusahaan dan data lainnya. ini adalah pertemuan yang memanfaatkan
data tentang pelaksanaan keuangan perusahaan menurut Rudianto (2013:216).

Kinerja Keuangan


Kinerja adalah gambaran mengenai kemampuan atau tingkat pencapaian
perusahaan dal am mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang telah
tertuang dalam strategic planning perusahaan (Wahyuningsih & Widowati, 2016).
Kinerja perusahaan dapat dilihat dari berbagai aspek, yang paling mendasar dapat
dilihat dari aspek keuangan dan juga aspek non-keuangan. Laporan keuangan
merupakan aspek keuangan. Sedangkan kepuasan pelanggan, perkerja dan
perkembangan aktivitas bisnis perusahaan adalah aspek non keuangan
(Yulianingtyas, 2016).
Menurut Sutrisno (2009) dalam Hutabarat (2020) kinerja keuangan
perusahaan merupakan prestasi yang telah dicapai perusahaan dalam periode
tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut. Kinerja
Keuangan adalah kinerja manajemen, yang merupakan perluasan nilai keuangan
dan diperkirakan manfaatnya. Konsekuensi dari memperkirakan penanda keuangan
sangat penting sehingga mitra dapat memahami status fungsional perusahaan dan
tingkat pencapaian perusahaan.
Kinerja keuangan merupakan indikator dalam mengevaluasi dan mengukur
kondisi keuangan perusahaan melalui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba (Pang et al., 2020). Kinerja keuangan perusahaan yang stabil merupakan daya
tarik bagi investor untuk menginvestasikan modal pada perusahaan, sehingga
menjaga kestabilan kinerja keuangan menjadi salah satu tujuan yang harus dicapai
perusahaan. Kinerja keuangan dapat ditunjukkan melalui laporan keuangan.
Informasi yang diungkapkan perusahaan pada laporan keuangan merupakan
perwujudan tanggung jawab manajemen kepada pemilik perusahaan dan sebagai
indikator keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuan, serta sebagai bahan
dalam pertimbangan pengambilan keputusan bagi para pemangku kepentingan
(Wijaya, 2017).
Menurut Hery (2016:13) kinerja keuangan merupakan suatu usaha formal
untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba
dan posisi kas tertentu. Dengan pengukuran kinerja keuangan dapat dilihat prospek
pertumbuhan dan perkembangan keuangan perusahaan dari mengandalkan sumber
daya yang dimilikinya. Perusahaan dikatakan berhasil apabila perusahaan telah
mencapai suatu kinerja tertentu yang telah ditetapkan.
Menurut Bastian (Handayani, 2013:6), kinerja adalah penggambaran suatu
tingkatan. Menyelesaikan pelaksanaan kegiatan/program/pendekatan untuk
memahami tujuan, tujuan, misi, dan visi perhimpunan yang dituangkan dalam
penyempurnaan rencana strategisnperusahaan (strategic plan).
Menurut Fahmi (2017:2), kinerja perusahaan merupakan suatu analisis yang
dilakukan guna mengetahui sejauh mana perusahaan sudah melaksanakan aturan
yang sudah ditetapkan terkait dengan penggunaan keuangan secara tepat dan benar.
Seperti dengan membuat suatu laporan yang telah memenuhi standar dan ketentuan
dalam SAK (Standar Akuntansi Keuangan) atau GAAP (General Acepted
Accounting Principle), dan lainnya.

Keunggulan dan Manfaat Balanced Scorecard


Balanced scorecard merupakan sistem pengukuran kinerja yang cocok
digunakan dalam manajemen kontemporer yang memanfaatkan teknologi
informasi dalam bisnis. Teknologi informasi tidak menentukan apa yang harus
dikerjakan pekerja, tetapi teknologi ini menyediakan kebebasan dan kemudahan
bagi pemakainya untuk mewujudkan kreativitasnya.
Moeheriono (2012:93), mengungkapkan sistem manajemen stratejik
berbasis balanced scorecard merupakan sistem manajemen stratejik yang didesain
Hasil
Kepuasan Kerja
Retensi Pekerja Produktifitas Kerja
Kompensasi Staff Infrastruktur Iklim Untuk Bertindak
untuk memperlakukan karyawan sebagai manusia dan memiliki empat
keunggulan, yaitu:

  1. Memotivasi personel untuk berpikir dan bertindak strategik dalam
    membangun masa depan perusahaan.
  2. Meningkatkan kemampuan perusahaan dalam melakukan tren perubahan
    lingkungan bisnis.
  3. Meningkatkan daya respons perusahaan terhadap tren perubahan
    lingkungan bisnis.
  4. Menghasilkan total business plan yang menyediakan dua macam aktivitas
    nilai, yaitu long range value creating activities dan short range value
    creating activities.
    Sedangkan menurut Rivai (2013:628), balanced scorecard memiliki
    keunggulan sebagai berikut: (1) mensinergikan strategi dengan indikator kunci di
    semua lini organisasi, (2) mengukur serta mengatur kinerja bisnis lebih efektif, (3)
    memudahkan feedback dan komunikasi strategis.
    Konsep balanced scorecard yang merupakan satu konsep pengukuran
    kinerja yang memberikan kerangka komprehensif untuk menjabarkan visi ke
    dalam sasaran-sasaran stratejik dengan menggunakan empat perspektif yang satu
    sama lainnya saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

Penyusunan Balanced Scorecard


Robert Simons dalam tunggal (2009:23) memberikan lima langkah dalam
membangun suatu balanced scorecard, antara lain :

  1. Mengembangkan tujuan/sasaran (goal) dan tolok ukur (measures) untuk
    variable kinerja keuangan yang kritikal.
  2. Mengembangkan tujuan dan tolok ukur untuk variable kinerja pelanggan
    yang kritikal.
  3. Mengembangkan tujuan dan tolok ukur untuk variable kinerja proses
    bisnis internal yang kritikal.
  4. Mengembangkan tujuan dan tolok ukur untuk variable kinerja
    pembelajaran dan pertumbuhan yang kritikal.
  5. Menggunakan balanced scorecard untuk mengkomunikasikan strategi.

Pengertian Balanced Scorecard


Maksud dari balanced scorecard adalah mengusulkan penciptaan suatu
daftar tolok ukur, finansial dan nonfinansial. Melalui mana perusahaan dapat
mengendalikan operasinya dan mengaitkan atau menyeimbangkannya secara
bersamaan karena balanced scorecard memfokuskan pada proses dan
memerlukan penggunaan informasi berbasis aktivitas untuk menerapkan banyak
tujuan dan tolak ukurnya dalam mengawasi kinerja jangka pendek maupun jangka
panjang.
Balanced scorecard merupakan suatu sistem manajemen strategik yang
secara komprehensif dapat memberikan pemahaman tentang kinerja suatu
organisasi dengan menjabarkan visi dan strateginya kedalam tujuan operasional.
Sistem manajemen tersebut memandang unit organisasi dari 4 (empat) perspektif,
yaitu : perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis
internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
Balanced scorecard melengkapi pengukuran finansial dan kinerja masa lalu
dengan pengukuran penggerak kinerja masa depan. Pengukuran menjadi suatu hal
vital sebelum melakukan evaluasi atau pengendalian terhadap suatu objek yang
dalam balanced scorecard diturunkan dari visi dan strategi perusahaan. Menurut
Tunggal (2009 : 2), mengemukakan bahwa :
“Balance scorecard merupakan suatu sistem manajemen (dan bukan
sekedar sistem pengukuran) yang memungkinkan perusahaan memperjelas
strategi mereka, menerjemahkan strategi menjadi tindakan dan
menghasilkan umpan balik yang bermanfaat”.
Sistem ini menghasilkan umpan balik atas proses bisnis internal dan hasil
eksternal agar secara terus-menerus dapat menyempurnakan kinerja dan hasil
strategis. Ketika digunakan secara penuh, balance scorecard ditujukan untuk
mengubah rencana strategis dari tindakan manajemen puncak yang dilakukan
terpisah menjadi pusat dari suatu perusahaan.
Balanced scorecard merupakan powerfull tool dalam perencanaan strategik
dan sebagai alat perencanaan. balanced scorecard harus memiliki isi, berupa
pengetahuan manajemen (management knowledge) yang bisa diimplementasikan
dalam pengelolaan suatu perusahaan (Moeheriono, 2012:89).

Konsep, Sejarah dan Perkembangan Balanced Scorecard


Pertama kali balanced scorecard dipopulerkan oleh Robert S. Kaplan,
seorang guru besar (professor) dari Harvard Business School dan David P. Norton
dari Kantor Akuntan Publik KPMG (Amerika Serikat). Kedua orang tersebut
berkolaborasi dari seorang dosen perguruan tinggi dan seorang praktisi ilmu
keuangan. Pada tahun 1990-an, Nolan Norton Institute bagian riset kantor akuntan
publik KPMG di USA yang dipimpin olah David P. Norton telah mensponsori
studi penelitian tentang : “Pengukuran kinerja dalam organisasi masa depan” pada
12 perusahaan terkenal di AS yang menjadi objek penelitiannya. Studi ini
didorong oleh kesadaran pada waktu itu ukuran kinerja keuangan yang digunakan
oleh semua perusahaan untuk mengukur kinerja eksekutif tidak lagi memadai.
Balanced Scorecard telah dimanfaatkan banyak perusahaan untuk
menyeimbangkan usaha dan perhatian eksekutif pada kinerja keuangan dan
nonkeuangan, pada kinerja jangka pendek dan kinerja jangka panjang. Hasil studi
tersebut telah diterbitkan dalam sebuah artikel yang berjudul “Balanced
Scorecard-Measures That Drive Performance” dalam Harvard Business Review
(Januari-Februari 1992). Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa untuk
mengukur kinerja eksekutif di masa yang akan datang dalam perusahaanperusahaan modern di dunia, diperlukan ukuran komprehensif yang mencakup 4
(empat) perspektif : perspektif keuangan (finance), perspektif pelanggan
(customer), perspektif proses (process), serta perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan (learning and growth).
Balanced scorecard berkembang sejalan dengan perkembangan
implementasi dari konsep tersebut. Oleh karenanya, balanced scorecard
dipandang cukup komprehensif untuk memotivasi para eksekutif dalam
mewujudkan kinerja mereka yang bersifat berkesinambungan (sustainable).
Berdasarkan konsep balanced scorecard, kinerja keuangan yang dihasilkan oleh
para eksekutif merupakan akibat diwujudkannya kinerja dalam memuaskan
kebutuhan customer, pelaksanaan proses yang produktif dan cost-effective, serta
pembangunan personel yang lebih produktif dan berkomitmen.
Pada awal implementasi balanced scorecard merupakan alat manajemen
kontemporer yang didesain untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam
melipatgandakan kinerja keuangan yang hasilnya sangat luar biasa secara
berkesinambungan (sustainable outstanding financial performance). Keberhasilan
ini didasari sebagai akibat dari penggunaan ukuran kinerja balanced scorecard
yang komprehensif. Dengan menambah ukuran kinerja nonkeuangan, eksekutif
dipacu untuk memperlihatkan dan melaksanakan usaha usaha yang merupakan
pemacu sesungguhnya untuk mewujudkan kinerja keuangan.

Karakteristik dalam Pengukuran Kinerja


Menurut Gaspersz (2011:181), karakteristik yang biasa digunakan oleh
organisasi kelas dunia dalam menerapkan balanced scorecard untuk
mengevaluasi sistem pengukuran kinerja mereka adalah:

  1. Biaya yang dikeluarkan untuk pengukuran kinerja tidak lebih besar
    daripada manfaat yang diterima.
  2. Pengukuran harus dimulai pada permulaan program balanced scorecard.
    Berbagai masalah yang berkaitan dengan kinerja beserta kesempatankesempatan untuk meningkakannya harus dirumuskan secara jelas.
  3. Pengukuran harus terkait langsung dengan tujuan-tujuan strategis yang
    dirumuskan kisi strategis dan harus memiliki paling sedikit satu
    pengukuran.
  4. Pengukuran harus sederhana serta memunculkan data yang mudah untuk
    digunakan, mudah dipahami, dan mudah melaporkannya.
  5. Pengukuran harus dapat diulang terus-menerus, sehingga dapat
    diperbandingkan.
  6. Pengukuran harus dilakukan pada sistem secara keseluruhan, yang menjadi
    ruang lingkup balanced scorecard.
  7. Pengukuran harus dapat digunakan untuk menetapkan target, mengarah ke
    peningkatan kinerja di masa mendatang.
  8. Ukuran-ukuran kinerja dalam program balanced scorecard yang diukur itu
    seharusnya telah dipahami secara jelas oleh semua individu yang terlibat.
  9. Pengukuran seharusnya melibatkan semua individu yang berada dalam
    proses terlibat dengan program balanced scorecard.
  10. Pengukuran harus akurat, dapat diandalkan, dapat diverifikasi sehingga
    dapat diterima dan dipercaya sebagai sahih (valid) oleh mereka yang akan
    menggunakannya.
  11. Pengukuran harus berfokus pada tindakan korektif dan peningkatan, bukan
    sekadar pada pemantau (monitoring) atau pengendalian

Tujuan dan Manfaat Pengukuran kinerja


Tujuan pengukuran kinerja adalah untuk menghasilkan data yang kemudian
apabila data tersebut dianalisis secara tepat akan memberikan informasi yang
akurat bagi manajemen dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan
kinerja perusahaan.
Sedangkan manfaat sistem pengukuran kinerja yang baik menurut Yuwono
(2008:29) adalah :

  1. Menelusuri kinerja terhadap harapan pelanggan sehingga akan membawa
    perusahaan lebih dekat pada pelanggannya dan membuat seluruh orang
    yang dalam organisasi terlibat dalam upaya memberikan kepuasan
    pelanggan.
  2. Memotivasi pegawai untuk melakukan pelayanan sebagai mata rantai
    pelanggan dan pemasok internal.
  3. Mengidentifikasi berbagai pemborosan sekaligus mendorong upaya-upaya
    pengurangan terhadap pemborosan tersebut (reduction of waste).
  4. Membuat tujuan strategis yang biasanya masih kabur menjadi lebih
    konkret sehingga mempercepat proses pembelajaran organisasi.
  5. Membangun konsensus untuk melakukan suatu perubahan dengan
    memberi “reward” atas perilaku yang diharapkan tersebut.

Pengertian Pengukuran Kinerja


Keberhasilan pencapaian strategi perlu diukur, karena pengukuran
merupakan aspek kunci dari manajemen kinerja atas dasar bahwa apabila tidak
diukur maka tidak akan dapat meningkatkannya (Dharma, 2012:93). Oleh karena
itu sasaran strategik yang menjadi basis pengukuran kinerja perlu ditentukan
ukurannya, dan ditentukan inisiatif strategik untuk mewujudkan sasaran tersebut.
Sasaran strategik beserta ukurannya kemudian digunakan untuk menetukan target
yang akan dijadikan basis penilaian kinerja, untuk menentukan penghargaan yang
akan diberikan kepada personel, tim atau unit organisasi.
Menurut Whittaker dalam Moeheriono (2012:72), pengukuran kinerja
merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk meningkatkan kualitas
pengambilan keputusan dan akuntabilitas, serta untuk menilai pencapaian tujuan
dan sasaran (goal sand objectives).
Sedangkan menurut Moeheriono (2012:96), pengukuran kinerja
(performance measurement) mempunyai pengertian suatu proses penilaian tentang
kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran dalam pengelolaan sumber daya
manusia untuk menghasilkan barang dan jasa, termasuk informasi atas efisiensi
serta efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan organisasi.
Dengan demikian dibutuhkan suatu pengukuran kinerja yang dapat
digunakan sebagai landasan untuk menilai kemajuan yang telah dicapai
dibandingkan dengan tujuan yang telah ditetapkan, sekaligus sebagai alat
komunikasi dan alat manajemen untuk memperbaiki kinerja organisasi.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan
bahwa pengukuran kinerja merupakan proses penilaian tentang kemajuan
pekerjaan yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam suatu
organisasi sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing dalam
upaya mencapai tujuan organisasi.
Namun, pengukuran kinerja sangat bergantung dengan indikator kinerja
yang digunakan. Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang
telah disepakati dan ditetapkan, yang menggambarkan tingkat pencapaian suatu
sasaran atau tujuan yang telah ditetapkan. Indikator kinerja harus merupakan
sesuatu yang akan dihitung dan diukur serta digunakan sebagai dasar untuk
menilai atau melihat tingkat kinerja, baik dalam tahap perencanaan, tahp
pelaksanaan maupun tahap setelah kegiatan selesai dan berfungsi.

Perspektif Pembelajaran Dan Pertumbuhan


Proses pembelajaran dan pertumbuhan ini bersumber dari faktor sumber
daya manusia, sistem, dan prosedur organisasi. Perspektif pertumbuhan dan
pembelajaran merupakan fondasi keberhasilan bagi knowladge worker
organization dengan tetap mempertahankan faktor sistem dalam organisasi.
Dalam organisasi knowledge-worker, manusia adalah sumber daya utama
(yuwono. 2007).
Dalam perspektif ini, perusahaan melihat tolak ukur pada beberapa hal
berikut:

  1. Employee capabilities, yaitu bagaimana peran pegawai di organisasi.
    Perencanaan dan upaya implementasi re-skilling pegawai yang
    menjamin kecerdasan dan re-aktivitasnya dapat dimobilisasi untuk
    mencapai tujuan organisasi.
  2. Information systems capabilities, dengan kemampuan sistem informasi
    yang memadai, kebutuhan seluruh tingkatan manajemen dan pegawai
    atas informasi yang akurat dan tepat waktu dapat dipenuhi dengan
    sebaik-baiknya.
  3. Motivation, empowerment, and alignment, perspektif ini penting untuk
    menjamin adanya proses yang berkesinambungan antara upaya
    pemberian motivasi dan inisiatif yang besar dari pegawai. Paradigma
    manajemen terbaru menjelaskan bahwa proses pembelajaran penting
    bagi pegawai untuk melakukan trial and error sehingga turbulensi
    lingkungan mulai dikenali, dan tidak saja dikenali oleh jenjang
    manajemen strategis tetapi juga segenap pegawai di dalam organisasi
    sesuai kompotensinya masing-masing.upaya tersebut memerlukan
    dukungan motivasi yang besar dan pemberdayaan pegawai berupa
    delegasi wewenangyang memadai untuk pengambilan keputusan.

Perspektif Proses Bisnis Internal


Analisis proses bisnis internal perusahaan dilakukan dengan menggunakan
analisis value-chain. manajemen mengidentifikasi proses internal bisnis yang
kritis yang harus diunggulkan perusahaan. scorecard dalam perspektif ini
memungkinkan para manajer untuk mengetahui seberapa baik bisnis mereka
berjalan dan apakah produk dan atau jasa mereka sesuai dengan perspektif
pelanggan (Yuwono, 2007).
Menurut Kaplan dan Norton dalam membagi proses bisnis internal ke
dalam beberapa proses, sebagai berikut (Yuwono, 2007) :

  1. Proses inovasi, dalam proses ini unit bisnis menggali pemahaman
    mengenai kebutuhan laten dari pelanggan dan menciptakan produk dan
    jasa yang dibutuhkan konsumen. Proses inovasi dalam perusahaan
    biasanya dilakukan oleh bagian research and development, sehingga setiap
    keputusan pengeluaran suatu produk ke pasar telah memenuhi syarat
    pemasaran dan dapat dipasarkan.
  2. Proses operasi, adalah proses untuk membuat dan menyampaikan prosuk
    atau jasa. Aktivitas di dalam proses operasi terbagi ke dalam dua bagian
    yaitu proses pembuatan produk dan proses penyampaian produk kepada
    pelanggan. Pengukuran kinerja yang terkait dalam proses operasi
    dikelompokkan pada waktu, kualitas, dan biaya.
  3. Proses pelayanan purna jual, proses ini merupakan jasa pelayanan pada
    pelanggan setelah penjualan produk atau jasa tersebut dilakukan. Aktivitas
    yang terjadi dalam tahap ini, misalnya penanganan garansi dan perbaikan
    penanganan atas barang rusak dan dikembalikan serta pemrosesan
    pembayaran pelanggan. Untuk siklus waktu, perusahaan dapat
    menggunakan pengukuran waktu dari saat keluhan pelanggan diterima
    hingga keluhan tersebut diselesaikan

Perspektif Pelanggan


Filofosi manajemen saat ini telah menunjukkan peningkatan pengakuan
atas pentingnya customer fokus dan customer satisfaction. perspektif ini
merupakan leading indicator. sehinggan ketika pelanggan tidak puas mereka akan
mencari produsen lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. kinerja yang buruk
dari perspektif ini akan menurunkan jumlah pelanggan di masa depan meskipun
saat ini kinerja keuangan terlihat baik (Yuwono, 2007). perspektif pelanggan
memiliki dau kelompok pengukuran yaitu:

  1. Costumer core measurement
    Costumer core measurement memiliki beberapa komponen pengukuran
    yaitu market share, customer retention, customer acquisition, customer
    satisfaction, dan customer profitability.
    a. Market Share, pengukuran ini mencerminkan bagian yang dikuasai
    perusahaan atas keseluruhan pasar yang ada, yang meliputi jumah
    pelanggan, jumlah penjualan, dan volume unit penjualan.
    b. Customer retention, mengukur tigkat di mana perusahaan dapat
    mempertahankan hubungan dengan konsumen.
    c. Customer acquisition, mengukur tingkat di mana suatu unit bisnis
    mampu menarik pelanggan baru atau memenangkan bisnis baru.
    d. Customer satisfiction, menaksir tingkat kepuasan pelanggan terkait
    dengan kriteria kinerja spesifik dalam value proposition.
    e. Customer profitability, mengukur laba bersih dari seorang
    pelanggan atau segmen setelah dikurangi biaya yang khusus
    diperlukan untuk pelanggan tersebut.
  2. Customer value proposition
    customer value proposition merupakan pemicu kinerja. core value
    proposition didasarkan pada atribut, sebagai berikut:
    a. Product service atribute, meliputi fungsi dari produk jasa, harga,
    dan kualitas. pelanggan memiliki preferensi yang berbeda-beda
    atas produk yang ditawarkan, yaitu mengutamakan fungsi dari
    produk, kualitas, atau harga yang murah. perusahaan harus
    mengidentifikasi apa yang diinginkan pelanggan atas produk yang
    ditawarkan.
    b. Customer relationship, yaitu menyangkut perasaan pelanggan
    terhadap proses pembelian produk yang ditawarkan perusahaan.
    perasaan konsumen ini sangat dipengaruhi oleh responsivitas dan
    komitmen perusahaan terhadap pelanggan berkaitan dengan
    masalah waktu penyampaian. waktu merupakan komponen yang
    penting dalam persaingan perusahaan. konsumen biasanya
    menggap penyelesaian order yang cepat dan tepat waktu sebaigai
    faktor yang penting bagi kepuasan konsumen.
    c. Image and reputation, yaitu menggambarkan faktor-faktor
    intangible yang menarik seorang konsumen untuk berhubungan
    dengan perusahaan. membangun image dan reputasi dapat
    dilakukan melalui iklan dan menjaga kualitas seperti yang
    dijanjikan

Keunggulan Balanced Scorecard

Perspektif Keuangan
Pengukuran kinerja keuangan menunjukkan apakah perencanaan
dan pelaksanaan strategi memberikan perbaikan yang mendasar bagi
keuntungan perusahaan. perbaikan-perbaikan ini tercermin dalam sasaransasaran yang secara khusus berhubungan dengan keuntungan yang terukur,
pertumbuhan usaha, dan nilai pemegang saham. pengukuran kinerja
keuangan mempertimbangkan adanya tahapan dari siklus kehidupan bisnis
(Yuwono, 2007), yaitu:

  1. Berkembang
    Berkembang merupakan tahan awal siklus kehidupan perusahaan
    dimana perusahaan memiliki potensi pertumbuhan terbaik. Manajemen
    terkait dengan komitmen untuk mengembangkan suatu produk atau jasa
    baru, membangun dan mengembangkan suatu produk atau jasa dan
    fasilitas produksi, menambah kemampuan operasi, mengembangkan
    sistem, infrastruktur, dan jaringan distribusi yang akan mendukung
    hubungan global, serta membina dan mengembangkan hubungan dengan
    pelanggan.
  2. Bertahan (Sustain)
    bertahan merupakan tahap kedua dimana perusahaan masih melakukan
    investasi dan reinvestasi dengan mengisyaratkan tingkat pengembalian
    terbaik. Pada tahap ini, perusahaan mencoba mempertahankan pangsa
    pasar yang ada, dan mengembangkannnya. sasaran keuangan tahap ini
    lebih diarahkan pada besarnya tingkat pengembalian atas investasi yang
    dilakukan. pengukuran tahap ini bisa diukur dengan Return on
    Investment (ROI) dan Economic Values Added (EVA).
  3. Panen (Harvest)
    pada tahap ini, perusahaan melakukan panen terhadap investasi. sasaran
    utama dalam tahap ini adalah memaksimumkan arus kas dan
    pengurangan modal kerja.
    Menurut Kasmir (2012:182) Dalam mengukur perspektif keuangan,
    manajemen perusahaan dapat menggunakan analisis rasio sebagai alat tolak ukur
    yang dapat digunakan untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan. ukuran
    kinerja tersebut dapat dipilah menjadi beberapa kelompok yaitu:
    a. Rasio Profitabilitas
    Rasio profitabilitas adalah ukuran penilaian kinerja perusahaan yang
    menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijakan dan keputusan yang
    diambil manajemen perusahaan. Ukuran rasio yang digunakan untuk
    mengukur rasio profitabilitas seperti:
  4. Gross Profit Margin (GPM) Rasio ini merupakan margin laba
    kotor, yang memperlihatkan hubungan antara penjualan dan
    beban pokok penjualan, mengukur kemampuan sebuah
    perusahaan untuk mengendalikan biaya persediaan.
  5. Net Profit Margin (NPM) Merupakan salah satu rasio yang
    digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Cara
    pengukuran rasio ini adalah dengan membandingkan laba bersih
    setelah pajak dengan penjualan bersih.
  6. Return On Investment (ROI) Rasio ini melihat sejauh mana
    investasi yang telah ditanamkan mampu memberikan
    pengembalian keuntungan sesuai dengan yang diharapkan. Dan
    investasi tersebut sebenarnya sama dengan asset perusahaan yang
    ditanamkan.
  7. Return On Equity (ROE) Rasio ini mengkaji sejauh mana suatu
    perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk
    mampu memberikan laba atas ekuitas.
    b. Rasio Aktivitas
    Rasio aktivitas adalah ukuran penilaian kinerja perusahaan yang
    dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa besar efektivitas
    perusahaan dalam menggunakan sumber-sumber dananya. Ukuran rasio
    yang digunakan seperti:
  8. Perputaran Piutang (Receivable Turnover) merupakan rasio yang
    digunakan untuk mengukur berapa lama penagihan piutang
    selama satu periode atau berap kali dana yang ditanam dalam
    piutang ini berputar dalam satu periode. Semakin tinggi rasio
    menunjukkan bahwa modal kerja yang ditanamkan dalam
    piutang semakin rendah (dibandingkan dengan rasio tahun
    sebelumnya) dan tentunya kondisi ini bagi perusahaan semakin
    baik.
  9. Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turnover) merupakan
    salah satu rasio untuk mengukur atau menilai keefektifan modal
    kerja perusahaan selama periode tertentu. Artinya seberapa
    banyak modal kerja berputar selama suatu periode atau dalam
    suatu periode. Untuk mengukur rasio ini, membandingkan antara
    penjualan dengan modal kerja atau rata-rata modal kerja.
  10. Perputaran Aset Tetap (Fixed Assets Turnover) merupakan rasio
    yang digunakan untuk mengukur berapa kali dana yang
    ditanamkan dalam aktiva tetap berputar dalam satu periode. Atau
    dengan kata lain, untuk mengukur apakah perusahaan Penjualan
    Kredit Perputaran Piutang = Piutang Penjualan Bersih Perputaran
    Modal Kerja = Modal Kerja sudah menggunakan kapasitas
    aktiva tetap sepenuhnya atau belum. Untuk mencari rasio ini,
    caranya adalah membandingkan antara penjualan bersih dengan
    total aktiva tetap dalam suatu periode.
  11. Perputaran Total Aset (Total Assets Turnover) merupakan rasio
    yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang
    dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang
    diperoleh dari tiap rupiah aktiva.
    c. Rasio Solvabilitas
    Rasio leverage adalah ukuran penilaian kinerja perusahaan yang
    dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa besar aset perusahaan
    dibelanjai dengan hutang. ukuran rasio yang digunakan seperti:
  12. Debt to Asset Ratio (Debt Ratio) merupakan rasio utang yang
    digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang
    dengan total aktiva. Dengan kata lain, seberapa besar aktiva
    perusahaan dibiayai oleh hutang atau seberapa besar utang
    perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. Dari hasil
    pengukuran apabila rasionya tinggi, artinya pendanaan dengan
    utang semakin banyak, maka semakin sulit bagi perusahaan
    untuk memperoleh tambahan pinjaman karena dikhawatirkan
    perusahaan tidak mampu menutupi utang-utangnya dengan
    aktiva yang dimilikinya.
  13. Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk
    menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara
    membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar
    dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui
    jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditor) dengan
    pemilik perusahaan. Dengan kata lain rasio ini berfungsi untuk
    mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan untuk
    jaminan utang.
  14. Long Term Debt to Equity Ratio merupakan rasio antara utang
    jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah untuk
    mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang
    dijadikan jaminan utang jangka panjang dengan cara
    membandingkan antara utang jangka panjang dengan modal
    sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
    d. Rasio Likuiditas
    Rasio likuiditas adalah ukuran penilaian kinerja perusahaan yang
    dimaksudkan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar
    utangnya (likuiditasnya). Ukuran rasio yang digunakan pada rasio ini
    seperti:
  15. Rasio lancar atau current ratio merupakan rasio untuk mengukur
    kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
    pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih
    secara keseluruhan. Dengan kata lain, seberapa banyak aktiva
    lancar yang tersedia untuk menutupi kewajiban jangka pendek
    atau utang yang segerajatuh tempo.
  16. Rasio cepat (quick ratio) atau rasio sangat lancar atau acid test
    ratio merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan
    perusahaan dalam memenuhi atau membayar kewajiban atau
    utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa
    memperhitungkan nilai sediaan (inventory). Artinya
    mengabaikan nilai sediaan, dengan cara dikurangi dari total
    aktiva lancar. Hal ini dilakukan karena sediaan dianggap
    memerlukan waktu relatif lebih lama untuk diuangkan, apabila
    perusahaan membutuhkan dana cepat untuk membayar
    kewajibannya dibandingkan dengan aktiva lancar lainnya.
  17. Rasio kas atau cash ratio merupakan alat yang digunakan untuk
    mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk
    membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukkan dari
    tersedianya dana kas atau setara dengan kas seperti rekening giro
    atau tabungan di bank (yang dapat ditarik setiap saat). Dapat
    dikatakan rasio ini menunjukkan kemampuan sesungguhnya bagi
    perusahaan untuk membayar utang-utang jangka pendeknya.

Konsep Balanced Scorecard


Pada awalnya Balanced Scorecard menjadi alat manajemen kontemporer
yang digunakan untuk mengukur kemampuan organisasi dalam melipatgandakan
kinerja keuangan. Pada dasarnya, organisasi adalah institusi pencipta kekayaan,
penggunaan Balanced Scorecard dalam mengelola menjanjikan peningkatan yang
signifikan atas kemampuan organisasi dalam menciptakan kekayaan. Balanced
Scorecard juga memperhatikan aspek-aspek non keuangan dalam penilaian
kinerja. Balanced Scorecard juga memperhatian unsur intangible asset dalam
penilaian kinerja keuangan. (Rudianto, 2013).
Balanced Scorecard adalah suatu mekanisme sistem manajemen yang
mampu menerjemahkan visi dan strategi organisasi ke dalam tindakan nyata di
lapangan. Balanced Scorecard adalah salah satu alat manajemen yang terbukti
telah membentuk banyak perusahaan dalam mengimplementasikan strategi
bisnisnya. (Rudianto, 2013).
Menurut Mulyadi (2011) Balanced Scorecard terdiri atas dua kata, yaitu
kartu skor (scorecard) dan berimbang (balanced). Pada kartu skor yaitu
digunakan untuk mencatat skor hasil kinerja eksekutif, dimana skor yang hendak
diwujudkan eksekutif di masa depan dibandingkan dengan hasil kinerja
sesungguhnya. Kata berimbang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kinerja
eksekutif diukur secara berimbang dari dua perspektif, yaitu keuangan dan
nonkeuangan, jangka pendek dan jangka panjang, internal dan eksternal.

Faktor yang mempengaruhi Kinerja


Menurut Mahsun (2006) dari berbagai literatur secara umum disarikan
kinerja adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu
kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi
organisasi yang tertuang dalam perencanaan strategis suatu organisasi.
Sedangkan menurut Mahmudi (2010) kinerja diartikan sebagai suatu
konstruksi yang bersifat Multidimensional dan pengukurannya sangat bergantung
pada kompleksitas faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhinya, antara
lain:

  1. Faktor personal/individu, meliputi: pengetahuan, skill, kepercayaan diri,
    motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh setiap individu.
  2. Faktor kepemimpinan, meliputi: kualitas dalam memberikan dorongan,
    semangat, arahan dan dukungan yang diberikan oleh manager atau
    teamleader.
  3. Faktor tim, meliputi: kualitas dan semangat yang diberikan oleh rekan
    dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim,
    kekompakkan dan keeratan anggota tim.
  4. Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur
    yang diberikan oleh organisasi, proses organisasi dan kultur kinerja
    organisasi.
  5. Faktor kontekstual/situasional, meliputi: tekanan dan perubahan
    lingkungan eksternal dan internal organisasi.

Manfaat Pengukuran Kinerja


Menurut Rudianto (2013), manfaat pengukuran kinerja yaitu:

  1. Mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui
    pemotivasian karyawan secara maksimal.
  2. Membantu pengambilan keputusan yang bersangkutan dengan
    karyawan, seperti promosi, transfer, dan pemberhentian.
  3. Mengidentifikasi kebutuhan pelatihan dan pengembangan
    karyawan serta untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi
    program pelatihan karyawan.
  4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana
    atasan menilai kinerjanya.
  5. Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan

Pengertian Pengukuran Kinerja


Pada dasarnya organisasi dioperasikan oleh manusia, sehingga penilaian
kinerja merupakan penilaian atas perilaku manusia dalam melaksakan peran yang
mereka lakukan dalam organisasi atau perusahaan. Menurut Mulyadi (2009),
kinerja adalah keberhasilan dalam mewujudkan sasaran strategik perusahaan dan
sasaran strategik perusahaan ini merupakan hasil penerjemahan misi, visi,
keyakinan dasar, nilai dasar, dan strategi perusahaan. Keberhasilan strategik yang
dicapai organisasi atau perusahaan perlu diukur, oleh sebab itu sasaran strategik
yang menjadi basis pengukuran kinerja perlu di tentukan ukurannya dan
ditentukan inisiatif strategik untuk mewujudkanya.
Tujuan pengukuran kinerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam
mencapai sasaran organisasi atau perusahaan dan mematuhi standar perilaku yang
telah diitetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan serta hasil yang
diinginkan (Rudianto, 2013)

Pengertian Altruisme


Perilaku menolong dalam psikologi sosial sering disebut altruisme
(Sarwono, 2009). Perilaku altruisme yaitu tidakan sukarela yang dilakukan
oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa
mengharap imbalan apapun (kecuali perasaan telah melakukan kebaikan)
(Sears et al., 1994). Menurut Aguste Comte Altruisme adalah sifat hakiki
yang dapat memelihara kerukunan dala masyarakat (Tambayong, 2013).
Altruisme dapat dipahami sebagai perhatian yang bersifat suka/senang
untuk mempedulikan kepentingan dari orang lain, lawan dari egoisme
(Alfin et al., 2016). Menurut Affandi altruisme adalah nilai yang
mencerminkan kemurnian niat.
Menurut Agustin perilaku altruistic adalah perilaku menolong yang
timbul bukan karena adanya tekanan atau kewajiban, melainkan tindakan
tersebut bersifat sukarela dan tidak berdasarkan norma-norma tertentu,
tindakan tersebut juga merugikan penolong, karena meminta pengorbanan
waktu, usaha, uang, dan tidak ada imbalan dari semua pengorbanan.
Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang
lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memerhatikan
ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral
dari individu tertentu seperti Tuhan, pemerintah, patriotism

Altruisme Memediasi Pengaruh Religiusitas terhadap KepuasanHidup


Altruisme adalah sebuah perilaku menolong yang dimotivasi
oleh sebuah keinginan untuk kebermanfaatan bagi orang lain dan tidak
dilakukan untuk mementingkan diri sendiri (Setyawati dan Kustanti,
2021). Naami et al. (2020) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa
orientasi keagamaan memiliki korelasi secara signifikan dengan sikap
prososial, altruisme memiliki korelasi secara signifikan dengan sikap
prososial, empati memiliki korelasi secara signifikan dengan sikap
prososial, orientasi keagamaan berpengaruh secara positif terhadap
sikap prososial, altruisme dan empati, dan empathy dan altruisme dapat
memediasi orientasi keagamaan dan sikap prososial. ada dasarnya sikap
menolong merupakan manifestasi dan bentuk penghayatan seseorang
terhadap norma-norma yang diyakini dalam hidup salah satunya adalah
norma agama.
Penelitian Kaya et al. (2020) menunjukkan bahwa pemeluk
agama yang menggunakan agama untuk kepentingan sosial (nner peace
dan comfort) lebih mudah untuk menjadi sukarelawan. Hasil penelitian
ini juga menunjukkan bahwa individu yang megharapkan kedamaian
dan kenyamanan batin (social comfort) dari agama, mendapatkan
kepuasan hidup dari memberikan sumbangan (volunteering).

Pengaruh Religiusitas terhadap Kepuasan Hidup


Menurut Diener et al. (1999), faktor-faktor kepuasan hidup
antara lain adalah status ekonomi atau tingkat pendapatan, pekerjaan,
status perkawinan, peristiwa atau pengalaman penting dalam hidup,
tingkat adaptasi, religiusitas, jenis kelamin, tingkat pendidikan, serta
inteligensi. Menurut Peristianto (2020), religiusitas dapat memberikan
jalan keluar kepada individu untuk mendapatkan rasa aman, berani, dan
tidak cemas dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupannya.
Penelitian (Zahoor et al., 2021) menunjukkan bahwa terdapa
hubungan yang positif dan signifikan antara religiusitas, religious wellbeing, dan kepuasan hidup. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
semakin tinggi religiusitas seseorang, semakin tinggi pula kepuasan
hidupnya. Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang yang
religious akan lebih puas dengan kehidupan mereka daripada yang tidak
religious. Religiusitas memberi manfaat kesejahteraan yang mengarah
pada kehidupan yang lebih baik (Choirina, 2021). Penelitian Ciziceno
(2021) menunjukkan bahwa di wilayah Italia yang lebih terpapar pada
isolasi sosial. agama dihubungkan dengan kepuasan hidup, karena
agama memberikan kebutuhan yang berupa kebutuhan untuk memiliki

Pengaruh Religiusitas terhadap Altruisme


Religiusitas adalah satu sistem yang kompleks yang muncul dari
rasa percaya tiap individu terhadap keyakinan dan juga ritual yang
menghubungkan individu dengan suatu eksistensi yang bersifat
ketuhanan (Amal dan Amir, 2021). Sedangkan altruisme adalah sebuah
perilaku menolong yang dimotivasi oleh sebuah keinginan untuk
kebermanfaatan bagi orang lain dan tidak dilakukan untuk
mementingkan diri sendiri (Setyawati dan Kustanti, 2021). Penelitian
sebelumnya mengungkapkan bahwa peningkatan pada religiusitas
berhubungan dengan peningkatan minat altruistik (Etter, 2019).
Temuan dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa agama
memiliki tujuan untuk menunjukkan perilaku altruistik tanpa pamrih
yang tidak terbatas pada pemeluknya. Penelitian lain, Putri (2018),
diketahui bahwa religiusitas memiliki peran yang signifikan terhadap
altruisme. Seseorang yang religius adalah orang yang altruistik karena
mudah untuk berempati, jujur, adil dan menunjukkan penghargaan pada
norma dan perilaku yang ditimbulkan. Penelitian Nachiappan et al.
(2018) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara
agama dan perilaku altruistik pada generasi muda. Pembenaran diri
menjadi komponen dasar dalam pembelajaran agama. Kesulitan dalam
pemahaman ajaran agama akan mengarah pada fundamentalisme dan
kekerasan.

Altruisme


Altruisme adalah sebuah perilaku menolong yang dimotivasi oleh sebuah
keinginan untuk kebermanfaatan bagi orang lain dan tidak dilakukan untuk
mementingkan diri sendiri (Setyawati dan Kustanti, 2021). Menurut Kaya et
al. (2020), altruism is s a desire to help others even at a cost to oneself
(keinginan untuk menolong orang lain meskipun harus mengorbankan diri
sendiri).
Terdapat 6 dimensi altruisme, yaitu: alasan moral (moral reasoning),
pengasuhan (nurturance), perilaku sensitif (sensitive-attitude), tanggungjawab sosial (sosial responsibility), empati (empathy) dan nilai pro sosial
(prosocial values) (Rushton et al., 1981).
Faktor-faktor yang melatar belakangi altruisme di antaranya
adalah (1) Perasaan, di mana manusia cenderung memberi bantuan apabila
berada dalam situasi yang menyenangkan (positif mood). (2) Empati, dengan
empati yang tinggi manusia akan cenderung lebih altruis dibandingkan dengan
individu yang empatinya rendah. (3) Religiusitas, manusia yang mempunyai
religiusitas akan memunculkan sifat kedermawanan dan keikhlasan untuk
membantu individu lain yang membutuhkan pertolongan. (4) Hubungan
interpersonal, karena dengan kedekatan antara individu dengan individu lain
merupakan timbulnya altruisme, karena individu cenderung menolong anggota
keluarganya terlebih dahulu, teman, tetangga, dan kemudian individu lain yang
tidak dikenal. (5) Norma sosial, dengan memiliki norma sosial manusia akan
bertanggung jawab untuk membantuk individu lain yang membutuhkan
pertolongan.

Kepuasan Hidup


Kepuasan hidup (life satisfaction) dicirikan dengan pendekatan teori
kognitif yaitu bagaimana diri melihat diri sendiri dengan acuan atau ukuran
standar dari diri sendiri (Diener et al., 1999). Kepuasan hidup adalah keinginan
untuk mengubah hidup, kepuasan dengan kehidupan saat ini, kepuasan dengan
masa lalu, kepuasan dengan masa depan, dan pandangan orang lain yang
signifikan tentang kehidupan seseorang (Hanifa et al., 2020).
Kepuasan hidup terdiri dari lima dimensi yang termuat dalam The
Satisfaction with Life Scale (SWLS) menurut Diener et al. (1985), meliputi:

  1. Keinginan untuk mengubah kehidupan
  2. Kepuasan terhadap kehidupan saat ini
  3. Kepuasan hidup di masa lalu
  4. Kepuasan terhadap kehidupan di masa mendatang
  5. Penilaian individu terhadap kehidupannya

Religiusitas


Religiusitas adalah satu sistem yang kompleks yang muncul dari rasa
percaya tiap individu terhadap keyakinan dan juga ritual yang menghubungkan
individu dengan suatu eksistensi yang bersifat ketuhanan (Amal dan Amir,
2021). Menurut Lipnicka dan Peciakowski (2021), religiusitas adalah ekspresi
pribadi dan komunal dari ikatan seseorang dengan agama tertentu.
Menurut Darvyri et al. (2014) terdapat dua dimensi religiusitas, antara
lain:

  1. Religiusitas intrinsik. Dimensi ini menunjukkan bahwa keyakinan dipikirkan
    secara seksama serta harus dilaksanakan secara sungguh-sungguh.
  2. Religiusitas ekstrinsik. Dimensi ini merupakan keadaan dimana individu
    melibatkan agama untuk mencapai tujuan yang lain.
    Pada penelitian ini, peneliti fokus menelilti dimensi intrinsik dari
    religiusitas.

Definisi Relawan


Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), relawan
sepadan dengan kata Sukarelawan yang merupakan orang
yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena
diwajibkan atau dipaksakan). Relawan adalah seseorang
atau sekelompok orang yang secara ikhlas karena
panggilan nuraninya memberikan apa yang dimilikinya
(pikiran, tenaga, waktu, harta, dan sebagainya) kepada
masyarakat sebagai perwujudan tanggung jawab sosialnya
tanpa mengharapkan pamrih baik berupa imbalan (upah),
kedudukan, kekuasaan, kepentingan maupun karier.
Adapun kriteria kerelawanan antara lain memiliki
kepedulian penuh keikhlasan untuk memperjuangkan nasib
kaum miskin berbasis nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip
kemasyarakatan sebagai bentuk pengabdian dan
perjuangan hidupnya (Puspita, 2017).
Relawan adalah pihak-pihak yang rela memberikan
sumbangan tenaga, pikiran, pengetahuan, dan keahliannya
kepada pihak lain yang membutuhkan , untuk mencapai
suatu tujuan. Pada dasarnya fitrah inividu adalah kebaikan,
maka menjadi relawan merupakan salah satu cara untuk
menyalurkan kecenderungan individu kepada kebaikan
melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi pihak
lain. Relawan merupakan individu atau sekelompok orang
yang mendedikasikan diri untuk melayani masyarakat
dengan dilandasi keinginan atau kesadaran individu atau
kelompok untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang
lebih baik. Kesadaran tersebut tumbuh karena berbagai
alasan, baik bersifat keagamaan, budaya masyarakat lokal,
maupun kemanusian. Sedangkan relawan sosial adalah
seseorang yang memberikan sebagian atau seluruh
kehidupannya baik perhatian, cinta, waktu bahkan apapun
yang dimilikinya untuk menyantuni dan mengentaskan
orang lain dari keadaan menderita sosial ekonomi atau
yang lebih luas dari itu (Heryanto dkk, 2019).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan
bahwa relawan adalah individu yang rela menyumbangkan
tenaga atau jasa, kemampuan, dan waktu tanpa
mengharapkan upah secara finansial atau tanpa
mengharapkan keuntungan materi dari organisasi
pelayanan yang mengorganisasi suatu kegiatan tertentu
secara formal. Beberapa sikap relawan ACT menunjukan
perilaku altruisme, karena para relawan banyak
menyumbangkan tenaga, kemampuan, dan waktu tanpa
pamrih karena mereka merasa bertanggung jawab dalam
menjalankan misi kemanusiaan terkhusus pada subjek
yang akan diteliti lebih dalam

Altruisme dalam Perspektif Islam


Altruisme merupakan tindakan menolong
secara sukarela tanpa mengharap balasan apapun,
menolong tanpa pamrih, bahkan rela mengambil
resiko demi mensejahterakan orang lain yang
ditolongnya, karena didalam dirinya terdapat
motivasi untuk selalu menolong orang lain yang
menimbulkan perasaan positif (positive feeling) dan
kepuasan tersendiri melalui tindakan menolong
orang lain, dalam Al-Qur‟an surat Al-Maidah (2):
Artinya : “Dan tolong menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa,
dan jangan tolong menolong dalam berbuat
dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada
Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya ”
(Qs. Al-Ma‟idah: 2)
Tolong menolong dalam bahasa Arab adalah
ta‟awun. Sedangkan menurut istilah, pengertian
ta‟awun adalah sifat tolong menolong diantara
sesama manusia dalam hal kebaikan dan takwa.
Dalam ajaran Islam, tolong menolong merupakan
kewajiban setiap Muslim. Sudah semestinya konsep
tolong menolong ini dikemas sesuai dengan syariat
Islam, dalam artian tolong menolong hanya
diperbolehkan dalam kebaikan dan takwa, dan tidak
diperbolehkan tolong menolong dalam hal dosa atau
permusuhan. Perintah untuk saling tolong-menolong
dalam kebaikan dengan beriringan ketakwaan
kepada-Nya, sebab dalam ketakwaan, terkandung
ridha Allah. Sementara saat berbuat baik, orangorang akan menyukai. Barang siapa memadukan
antara rida Allah dan rida manusia, sungguh
kebahagiaannya telah sempurna dan kenikmatan
baginya sudah melimpah (Khoiruddin, 2018)
mengutip dari kitab Al-Anshari, (1421).
Dalam Q.S Al-Maidah [5] 2, Ayat tersebut
menjelaskan bahwa tolong menolong dalam
kebaikan dan ketakwaan adalah salah satu
kewajiban umat Muslim. Artinya, seandainya kita
harus menolong orang lain, maka harus dipastikan
bahwa pertolongan itu menyangkut dengan
ketakwaan. Saling tolong menolong juga
menyangkut berbagai macam hal, asalkan berupa
kebaikan, walaupun yang meminta tolong musuh
kita. Dengan saling tolong menolong akan
memudahkan pekerjaan, mempercepat
terealisasinya kebaikan, menampakkan persatuan
dan kesatuan (Shihab, 1996).
Dalam ayat lain juga dijelaskan bahwa tolong
menolong dalam kebajikan merupakan salah satu
bentuk loyalitas kita kepada agama dan sesama
muslim. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
Artinya : “Dan orang-orang yang beriman,
laki-laki dan perempuan, sebagian mereka
menjadi penolong bagi sebagian yang lain.
Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf,
dan mencegah dari yang mungkar,
melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan
taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka
akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah
Mahaperkasa, Mahabijaksana”
(Qs. At-Taubah : 71)
Konsep altruisme menjelaskan sebuah
perhatian yang mementingkan kebutuhan orang lain.
Islam menganggap perilaku menolong harus
dilakukan dengan penuh keikhlasan, yaitu motif
hanya untuk mengharap ridho Allah Swt. Dalam
Hidayati, (2016) mengutip dari Al-usaimin
menjelaskan konsep altruisme dalam perspektif
ajaran agama Islam disebut dengan Itsar. Itsar
adalah mendahulukan orang lain dari pada dirinya
sendiri, Seseorang disebut telah berpribadi itsar
dalam kehidupan sehari-hari apabila telah mampu
memandang kebutuhan dan kepentingan orang lain
lebih penting dari pada kepentingan pribadinya
sendiri. Secara garis besar, pengertian itsar adalah
tindakan mendahulukan orang lain atas dirinya
sendiri dalam hal keduniaan dengan sukarela karena
semata mengharapkan akhirat.
Orang yang suka membantu dengan ikhlas
dengan meringankan kesusahan orang lain niscahya
Allah akan mempermudah urusannya di dunia dan
akhirat, sebagaimana dijelaskan dalam hadist
berikut:
Artinya : “Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu
ia berkata: Rasulullah Sallallahu „alaihi
Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang
meringankan kesusahan seorang mukmin di
antara kesusahan-kesusahan dunia, niscaya
Allah akan meringankan kesusahannya di
antara kesusahan-kesusahan hari kiamat.
Barangsiapa memudahkan orang yang sedang
kesulitan, niscaya Allah akan memberinya
kemudahan di dunia dan akhirat. Dan
barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim,
niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia
dan di akhirat. Allah akan selalu menolong
seorang hamba selama ia mau menolong
saudaranya.” (HR. Muslim).
Dari ayat-ayat di atas dapat dipahami bahwa
perilaku altruisme dalam Islam adalah sesorang
memiliki perilaku menolong dengan ikhlas sematamata mengharapkan ridho Allah Swt. Konsep
altruisme dalam perspektif ajaran agama Islam
disebut dengan Itsar yaitu mendahulukan orang lain
dari pada dirinya sendiri, dan Orang yang suka
membantu dengan ikhlas dengan meringankan
kesusahan orang lain.

Tahapan-tahapan Altruisme


Menurut Latene dan Darley dalam
(Nurhidayati, 2012), ada lima tahap dalam perilaku
altruistik, yaitu:
1) Perhatian Pada Suatu Kejadian
Individu membantu orang lain karena adanya
rasa kasih sayang, pengabdian, kesetiaan yang
diberikan tanpa ada kegiatan untuk memperoleh
imbalan darinya maupun orang lain.
2) Interpretasi
Pemberian pendapat atau kesan apakah suatu
pertolongan dibutuhkan atau tidak.
3) Tanggung Jawab
Berkewajiban menanggung segala sesuatu untuk
menolong pada suatu peristiwa atau kejadian
yang ditemui.
4) Keputusan Untuk Bertindak.
Keputusan yang diberikan dalam memberikan
petolongan pada orang lain, pertolongan
tersebut akan diterima atau ditolak.
5) Kesungguhan untuk bertindak
Keyakinan bertindak tersebut benar-benar akan
menolong atau benar-benar tidak melakukan
tindakan untuk menolong.
Dari tahapan-tahapan di atas dapat disimpulkan
bahwa ada 5 tahapan yang dilalui oleh seorang yang
memiliki sifat altruisme yaitu perhatian pada suatu
kejadian, interpretasi, tanggung jawab, keputusan
untuk bertindak dan kesungguhan untuk bertindak.

Faktor-faktor Perilaku Altruisme


Faktor altruisme menurut Wortman dkk
(dalam Arifin, 2015) menjelaskan beberapa yang
mempengaruhi seseorang dalam memberikan
pertolongan kepada orang lain adalah sebagai
berikut:
1) Suasana Hati
Individu akan terdorong untuk memberikan
pertolongan lebih banyak jika suasana hati
sedang senang. Hal ini merupakan alasan saat
merasakan suasana yang senang, orang
cenderung ingin memperpanjangnya dengan
perilaku yang positif.
2) Empati
Merupakan pengalaman menempatkan diri pada
keadaan emosi orang lain, menjadikan orang
yang berempati seolah-olah mengalaminya
sendiri sehingga orang yang berempati akan
mendorong untuk melakukan pertolongan
altruistis.
3) Meyakini Keadilan Dunia
Faktor lain yang mendorong terjadinya altruisme
adalah keyakinan akan adanya keadilan dunia
(just world), yaitu keyakinan bahwa dalam
jangka panjang orang yang salah akan dihukum
dan orang yang baik akan mendapat ganjaran.
4) Faktor Sosiobiologis
Perilaku altruistis memberi kesan kontraproduktif mengandung risiko tinggi termasuk
luka bahkan mati. Perilaku seperti ini muncul
karena ada proses belajar dengan lingkungan
terdekat, dalam hal ini pengalaman yang
diajarkan oleh orang tua yang berkontribusi
unsur genetik meskipun minimal.
5) Faktor Situasional
Karakter yang membuat seseorang menjadi
altruistis bahwa seseorang akan menjadi penolong
lebih sebagai produk lingkungan daripada faktor
yang ada dalam dirinya, sehingga faktor situasional
turut mendorong seseorang untuk memberikan
pertolongan kepada orang lain.
Sedangkan menurut Sarwono dan Meinarno
(2009) altruisme dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu faktor situasional dan faktor personal. Adapun
faktor situasional dibagi menjadi enam, yaitu
bystander, daya tarik, atribusi terhadap korban,
adanya model, desakan waktu dan sifat kebutuhan
korban, sedangkan faktor personal dibagi menjadi
lima, yaitu suasana hati (mood), sifat, jenis kelamin,
tempat tinggal dan pola asuh. Faktor-faktor tersebut
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Faktor Situasional
merupakan pengaruh eksternal yang diperlukan
sebagai motivasi yang memungkinkan timbul
dalam diri individu pada situasi itu. Adapun
pengaruh ini terdiri atas:
a. Kehadiran Orang Lain (bystander)
orang-orang yang berada disekitar kejadian
mempunyai peran sangat besar daelam
mempengaruhi seseorang saat memutuskan
antara menolong atau tidak karena dihadapkan
pada keadaan darurat. Karena biasanya yang
terjadi adalah penyebaran tanggung jawab
(diffusion of responsibility)
20
b. Daya Tarik
Sejauh mana seseorang mengevaluasi korban
secara positif (memiliki daya tarik) akan
mempengaruhi kesediaan orang untuk
memberikan bantuan. Apapun faktor yang
dapat meningkatkan ketertarikan bystander
kepada korban, akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya respon untuk
menolong.
c. Atribusi Terhadap Korban
Seseorang akan termotivasi untuk memberikan
bantuan pada rang lain bila ia mengasumsikan
bahwa ketidakberuntungan korban adalah
diluar kendali korban.
d. Menolong Jika Orang Lain Menolong
Sesuai dengan prinsip timbal balik dalam teori
norma sosial, adanya individu yang sedang
menolong orang lain akan lebih memicu kita
untuk ikut menolong.
e. Desakan Waktu
Sesuai dengan prinsip timbal balik dalam teori
norma sosial, adanya individu yang sedang
menolong orang lain akan lebih memicu kita
untuk ikut menolong.
f. Sifat Kebutuhan Korban
Kesediaan untuk menolong dipengaruhi oleh
kejelasan bahwa korban benar-benar
membutuhkan pertolongan (clarity of need),
dan bukanlah tanggung jawab korban sehingga
ia memerlukan bantuan dari orang lain (atribusi
eksternal).
2) Pengaruh Dari Dalam Diri Individu
Berperan dalam perilaku individu dalam
berperilaku menolong, Pengaruh dari dalam diri
tersebut dipengaruhi oleh:
a. suasana hati (mood), emosi seseorang dapat
mempengaruhi kecenderungannya untuk
menolong. Emosi positif dan emosi negatif
mempengaruhi kemunculan tingkah laku
menolong.
b. Sifat, Orang yang mempunyai sifat pemaaf, ia
akan mempunyai kecenderungan mudah
menolong. Orang yang mempunyai
pemantauan diri (self monitoring) yang tinggi
juga cenderung lebih penolong, karena dengan
jadi penolong ia akan memperoleh
penghargaan sosial yang lebih tinggi.
c. Jenis kelamin, peranan gender terhadap
kecenderungan seseorang untuk menolong
sangat bergantung pada situasi dan bentuk
pertolongan yang dibutuhkan. Laki-laki
cenderung lebih mau terlibat dalam aktivitas
menolong pada situasi darurat yang
membahayakan, misalnya menolong seseorang
dalam kebakaran. Hal ini tampaknya terkait
dengan peran tradisional laki-laki, yaitu laki-laki
dipandang lebih kuat dan lebih mempunyai
ketrampilan untuk melindungi diri. Sementara
perempuan, lebih tampil menolong pada situasi
yang bersifat memberi dukungan emosi,
merawat, dan mengasuh.
d. Tempat tinggal, orang yang tinggal di daerah
pedesaan cenderung lebih penolong dari pada
orang yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini
dapat dijelaskan melalui urban-overload
hypothesis, yaitu orang-orang yang tinggal di
perkotaan terlalu banyak mendapat stimulasi
dari lingkungan. Oleh karenanya, ia harus
selektif dalam menerima paparan informasi
yang sangat banyak agar bisa tetap
menjalankan peran-perannya dengan baik.
Itulah sebabnya, diperkotaan, orang-orang
yang sibuk sering tidak peduli dengan kesulitan
orang lain karena sudah overload dengan
beban tugasnya sehari-hari.
e. Pola asuh, dalam perilaku sosial tidak terlepas
dari peranan pola asuh di dalam keluarga. Pola
asuh yang demokratis secara signifikan
memfasilitasi adanya kecenderungan anak
untuk tumbuh menjadi penolong, yaitu melalui
peran orang tua dalam menetapkan standar
tingkah laku menolong. Menurut Mashoedi pola
asuh demokratis juga ikut mendukung
terbentuknya internal locus of control dimana
hal ini merupakan sifat kepribadian altruistik.
Berdasarkan kedua penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa faktor-faktor perilaku altruisme
dipengaruhi oleh faktor situasional (dari luar) dan
faktor personal (dari dalam) individu

Karakteristik Altruisme


Menurut (Myers, 2012) karakteristik
seseorang yang memiliki sifat altruisme yaitu orang
yang memiliki lima sifat pada dirinya, sifat tersebut
yaitu:
1) Empati
Perilaku altruistis akan terjadi dengan adanya
empati dalam diri seseorang. Seseorang yang paling
altruis merasa diri mereka paling bertanggung
jawab, bersifat sosial, selalu menyesuaikan diri,
toleran, dapat mengontrol diri, dan termotivasi untuk
membuat kesan yang baik.
2) Belief On A Just World (Meyakini Keadilan Dunia)
Seorang yang altruis yakin akan adanya keadilan
di dunia (just world), yaitu keyakinan bahwa dalam
jangka panjang yang salah akan dihukum dan yang
baik akan dapat hadiah. Orang yang keyakinannya
kuat terhadap keadilan dunia akan termotivasi
dengan mudah menunjukkan perilaku menolong.
3) Sosial Responsibility (Tanggung Jawab Sosial)
Setiap orang bertanggung jawab terhadap
apapun yang dilakukan orang lain, sehingga ketika
ada orang lain yang membutuhkan pertolongan
orang tersebut harus menolongnya.
4) Kontrol Diri Secara Internal (internal locus of
control)
Setiap individu yang memiliki perilaku altruisme
mempunyai kontrol diri secara internal (internal
locus of control) dimana segala sumber motivasi,
segala yang dilakukan itu berasal dari dalam dirinya.
5) Ego yang rendah (low egosentris)
Setiap individu yang memiliki perilaku altruisme
tidak pernah mementingkan dirinya sendiri, tidak
bersikap egosentris. Individu yang altruis
menempatkan kebutuhan orang lain di atas
kepentinganya sendiri.
Nashori, (2008) mengutip dari Leeads yang
menjelaskan tiga ciri altruistik, yaitu:
1) Tindakan tersebut bukan untuk kepentingan
sendiri pada saat pelaku melakukan tindakan
altruistik, mungkin saja ia mengambil resiko
yang berat namun ia tidak mengharap imbalan
materi, nama, kepercayaan, dan tidak pula
untuk menghindari kecaman orang lain.
2) Tindakan tersebut dilakukan secara sukarela
tidak ada keinginan untuk memperoleh apapun
karena kepuasan yang diperoleh dari tindakan
sukarela ini adalah semata-mata dilihat dari
sejauh mana keberhasilan tindakan tersebut.
3) Hasilnya baik untuk si penolong maupun yang
menolong tindakan altruistik tersebut sesuai
dengan kebutuhan orang yang ditolong dan
pelaku memperoleh internal reward (misalnya,
kebanggaan, kepuasan diri, bahagia, dan lain
sebagainya) atas tindakannya.
Adapun dari penjelasan di atas dapat
disimpulkan bahwa, karakteristik menurut Myers
cenderung menjelaskan 5 sifat altruis pada diri
individu, yaitu sifat empati, meyakini keadilan dunia,
memiliki tanggung jawab sosial, kontrol diri secara
internal, dan ego yang rendah. Sedangkan
karakteristik menurut Leeads cenderung
menjelaskan tentang tindakan altruistik seseorang
berdasarkan kepentingan orang lain, tindakan
sukarela, dan hasil yang baik untuk penolong
maupun orang yang menolong.

Aspek-aspek Altruisme


Adapun aspek-aspek dari perilaku Altruis
menurut Durkheim (1990) adalah sebagai berikut:
1) Menolong sesama tanpa pamrih
2) Tidak egois
3) Bersedia berkorban
4) Peka dan siap bertindak demi membantu sesama
5) Mempunyai rasa belas kasihan
6) Murah hati
7) Tidak tegaan
8) Penuh kasih sayang.
Alruisme tidak dapat diukur menggunakan
angka, namun bisa di analisis melalui perbuatanperbuatan yang tampak dan dapat dilihat oleh panca
indra. Untuk mendeteksi seberapa besar tingkat
altruis seseorang kita dapat mengukurnya lewat
aspek-aspek altruisme. Myers membagi perilaku
altruistik kedalam tiga aspek:
1) Memberikan perhatian terhadap orang lain,
Seseorang membantu orang lain karena adanya
rasa kasih sayang, pengabdian, kesetiaan yang
diberikan tanpa ada keinginan untuk
memperoleh imbalan untuk dirinya sendiri.
2) Mambantu orang lain, seseorang membantu
orang lain didasari oleh keinginan yang tulus dan
dari hati nurani orang tersebut tanpa adanya
pengaruh dari orang lain.
3) Meletakkan kepentingan orang lain di atas
kepentingan sendiri, dalam memberikan bantuan
kepada orang lain, kepentingan yang bersifat
pribadi dikesampingkan dan lebih fokus terhadap
kepentingan orang lain (Myers, 2012).
Dari beberapa aspek di atas, dapat disimpulkan
bahwa altruisme tidak dapat diukur menggunakan
angka, namun bisa di analisis melalui perbuatanperbuatan yang tampak dan dapat dilihat oleh panca
indra. Sebagaimana menurut Myers di atas, bahwa
terdapat aspek kemampuan memberikan perhatian
terhadap orang lain, membantu orang lain, dan
meletakkan kepentingan orang lain di atas
kepentingan diri sendiri. Sama halnya dengan aspekaspek perilaku altruis menurut Durkhem, hanya saja
menurut emile durkheim terdapat tujuh aspek
altruistik, yaitu Menolong sesama tanpa pamrih,
tidak egois, Bersedia berkorban, Peka dan siap
bertindak demi membantu sesama, mempunyai rasa
belas kasihan, murah hati, tidak tegaan, dan penuh
kasih sayang.

Pengertian Altruisme


Menurut kamus besar bahasa indonesia (KBBI)
altruisme merupakan paham (sifat) yang lebih
memperhatikan dan mengutamakan kepentingan
orang lain (kebalikan dari egoisme), sikap yang ada
dalam diri manusia yang bersifat naluri, berupa
dorongan untuk berbuat jasa kepada orang lain
(KBBI, 2019). Kata altruisme pertama kali muncul
pada abad ke-19 oleh Comte. Kata ini berasal dari
bahasa Yunani, yaitu Alteri yang berarti orang lain.
Menurut Comte, seseorang memiliki tanggung jawab
moral untuk melayani umat manusia sepenuhnya
sehingga altruisme menjelaskan sebuah perhatian
yang tidak mementingkan diri sendiri untuk
kebutuhan orang lain. Senada menurut menurut
Baston, altruisme adalah respon yang menimbulkan
positive feeling, seperti empati. Seseorang yang
altruis memiliki motivasi altruistik, keinginan untuk
selalu menolong orang lain yang menimbulkan
positive feeling dalam dirinya yang berasal dari
motivasi altruistik sehingga dapat memunculkan
tindakan untuk menolong orang lain (Arifin, 2015).
Altruisme merupakan perilaku menolong yang tidak
mementingkan diri sendiri dan dimotivasi oleh
keinginan untuk bermanfaat bagi orang lain.
Menurut Jenny Marcer dan Debbie Clayton
(2012) menjelasakan dalam bukunya bahwa istilah
altruisme dan prososial kerap digunakan untuk
merujuk pengertian yang sama, perbedaannya adalah
perilaku prososial dapat mencakup diterimanya
penghargaan menolong, sedangkan altruisme
menggambarkan tindakan prososial sebagai tujuan itu
sendiri, tanpa memberikan keuntungan bagi si altruis.
Menurut Sears, dkk (1994) altruisme adalah tindakan
sukarela yang dilakukan seorang atau sekelompok
orang untuk menolong orang lain tanpa
mengharapkan imbalan apapun. Sedangkan menurut
Myers (2012) altruisme adalah motif untuk
meningkatkan kesejahteraan orang lain tanpa sadar
untuk kepentingan pribadi seseorang (kecuali
mungkin perasaan telah melakukan kebaikan).
Tindakan altruistik selalu bersifat konstruktif,
membangun, memperkembangkan, dan
menumbuhkan kehidupan sesama. Suatu tindakan
altruistik tidak berhenti pada perbuatan itu sendiri,
tetapi keberlanjutan tindakan itu sebagai produknya,
bukan sebagai ketergantungan. Istilah tersebut
disebut moralitas altruistik, yaitu tindakan menolong
tidak hanya mengandung kemurahan hati atau belas
kasihan, tetapi diresapi dan dijiwai oleh kesukaan
memajukan sesama tanpa pamrih. Berdasarkan hal
tersebut seseorang yang altruis dituntut untuk
memiliki tanggung jawab dan pengorbanan yang
tinggi (Arifin, 2015).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka
dapat disimpulkan altruisme merupakan tindakan
menolong orang lain secara sukarela tanpa
mengharap balasan apapun, menolong tanpa pamrih,
bahkan rela mengambil resiko demi mensejahterakan
orang lain yang ditolongnya, karena didalam dirinya
terdapat motivasi untuk selalu menolong orang lain
yang menimbulkan perasaan positif (positive feeling)
dan kepuasan tersendiri melalui tindakan menolong
orang lain.

Laporan Keuangan


Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang
menggambarkan kondisi suatu perusahaan, dimana selanjutnya itu akan
menjadi suatu informasi yang menggambarkan tentang kinerja suatu
perusahaan. Laporan keuangan merupakan informasi yang diharapkan
mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat
keputusan ekonomi yang bersifat finansial.
Lebih lanjut Munawir mengatakan laporan keuangan merupakan
alat yang sangat penting untuk memperoleh informasi sehubungan
dengan posisi keuangan dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh
perusahaan yang bersangkutan. Dengan begitu laporan keuangan
diharapkan akan membantu bagi para pengguna untuk membuat
keputusan ekonomi yang bersifat finansial.

Kinerja Keuangan


Menurut Fahmi (2014), kinerja keuangan adalah suatu analisis
yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah
melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan
secara baik dan benar. Seperti dengan membuat suatu laporan keuangan
yang telah memenuhi standar dan ketentuan dalam SAK (standar
akuntansi keuangan) atau GAAP (general accepted accounting
principle).
Kinerja keuangan perusahaan adalah faktor yang sangat penting
yang harus dilihat oleh calon investmen untuk menentukan berapa besar
nilai investasi saham yang akan ditanamkan. Bagi setiap perusahaan,
menjaga serta mampu meningkatkan kinerja keuangan merupakan suatu
kewajiban agar saham-saham yang beredar tersebut masih tetap diminati
oleh para investor. Laporan keuangan yang dikeluarkan oleh sebuah
perusahaan adalah sebuah contoh dari kinerja keuangan perusahaan