Teori Sustainability


Teori sustainability pertama kali dikemukakan oleh (Meadows dkk., 1972)
yang menjelaskan bahwa upaya masyarakat untuk memprioritaskan respon sosial
terhadap masalah lingkungan dan ekonomi. Respon sosial ini diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan masa kini dan generasi masa depan (WCED, 1987). Konsep
sustainability saat ini semakin berkembang dan diterapkan dalam konteks
corporate sustainability (Pemer dkk., 2020). Artiach dkk. (2010); Pemer dkk.
(2020) menjelaskan konteks corporate sustainability sebagai strategi bisnis dan
investasi yang dapat meningkatkan praktik bisnis dengan menyeimbangkan
kebutuhan stakeholders masa kini dan masa mendatang. Konsep ini menekankan
kepentingan stakeholders dengan menyeimbangkan dimensi ekonomi, sosial, dan
lingkungan dari kinerja perusahaan.
Corporate Sustainability biasa diukur melalui Triple Bottom Line (TBL),
konsep ini dikembangkan oleh (Elkington & Rowlands, 1999). Terdapat tiga
dimensi TBL, yakni economic, social, dan environment. Pemer dkk. (2020)
menyatakan bahwa perusahaan dapat menuju pembangunan sustainability dengan
mengintegrasikan TBL dalam strategi manajemen. Markley dan Davis (2007);
Pemer dkk. (2020) membuktikan bahwa organisasi yang berfokus pada TBL dapat
meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan

Pengukuran Kepuasan Kerja


Zainal et al (2018 : 623) mengatakan bahwa ada beberapa alasan mengapa
perusahaan harus sungguh-sungguh dalam mengamati kepuasan kerja
karyawannya, dapat dikelompokksn sesuai dengan fokus karyawan dan perusahaan,
yaitu :

  • Pertama, setiap orang berhak diperlakukan secara adil dan terhormat, persepsi
    ini berdasarkan aspek kemanusiaan. Kepuasan kerja ialah gambaran
    pengembangan perlakuan yang baik. Penting juga mengamati tolak ukur
    emosional atau kesehatan mental pekerja.
  • Kedua, aspek kemanfaatan. Kepuasan kerja dapat membuat kepribadian
    seseorang yang mempengaruhi fungsi-fungsi perusahaan. Perbedaan kepuasan
    kerja antar divisi perusahaan dapat menganalisis upaya permasalahan

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Kerja


Menurut Mangkunegara (2017:120) mengatakan bahwa ada dua faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja seseorang, yakni faktor yang ada di diri karyawan
itu sendiri dan faktor pekerjaannya.
a) Faktor karyawan, seperti kecerdasan (IQ), kemampuan khusus, usia, gender,
keadaan fisik, jenjang pendidikan, pengalaman kerja, rentang waktu kerja,
karakter, emosi, cara berpikir, proses pemahaman suatu informasi dan perilaku
dalam bekerja.
b) Faktor pekerjaan, seperti jenis pekerjaan, struktur perusahaan, kalangan,
jabatan, mutu pengawasan, pemberian jaminan finansial, adanya kesempatan
untuk promosi, hubungan sosial, dan hubungan kerja.
Menurut Sinambela (2021 : 309) menyimpulkan bahwa setidaknya ada
enam faktor yang dapat menimbulkan kepuasan kerja, yakni :
a) Faktor psikologis, yaitu faktor yang berkaitan dengan mental karyawan seperti
minat, ketenangan dalam bekerja, perilaku terhadap pekerjaan, talenta dan
keahlian.
b) Faktor sosial, berkaitan dengan hubungan sosial antar sesama karyawan,
dengan atasan, maupun karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.
c) Faktor fisik, faktor yang berkaitan dengan keadaan fisik lingkungan kerja dan
fisik karyawan itu sendiri, seperti jenis pekerjaan, mengatur waktu kerja dan
1waktu istirahat, perlengkapan kerja, kondisi ruangan, suhu, penerangan,
sirkulasi udara, keadaan kesehataan karyawan, usia, dan sebagainya.
d) Faktor finansial, yaitu faktor yang berkaitan dengan jaminan kesejahteraan
karyawan, seperti sistem dan besarnya upah, jaminan soasial, macam-macam
tunjangan, fasilitas yang didapatkan, kesempatan promosi, dan sebagainya.
e) Mutu pengawasan. Kepuasan kerja karyawan dapat ditingkatkan dengan
mengamati serta relasi yang baik antar atasan dengan bawahan, sehingga
karyawan akan merasa jika dirinya ialah bagian yang penting pada perusahaan
tempat bekerja.
f) Faktor hubungan antar karyawan. Seperti :
1) Hubungan antara manajer dengan karyawan
2) Faktor fisik dan keadaan kerja
3) Interaksi sosial di antara karyawan
4) Pengaruh dari teman kerja
5) Perasaan dan kondisi kerja

Pengertian Kepuasan Kerja


Menurut Robbins dan Judge (2017 : 116) mengatakan bahwa kepuasan kerja
merupakan perasaan positif tentang pekerjaan yang dihasilkan dari evaluasi
kepribadiannya. Seseorang dengan kepuasan kerja yang tinggi memiliki perasaan
atau emosi yang baik tentang pekerjaannya, sedangkan seseorang dengan kepuasan
kerja yang rendah memiliki perasaan atau emosi yang buruk.
Menurut Sinambela (2021 : 301) mengatakan bahwa kepuasan kerja seperti
“tingkat afeksi positif seseorang karyawan terhadap pekerjaan dan situasi
pekerjaan”. Kepuasan kerja berhubungan pada pola pikir dan perilaku karyawan
terhadap pekerjaan mereka. Perilaku itu terdapat pada aspek kognitif dan aspek
perilaku. Aspek kognitif kepuasan kerja ialah rasa percaya karyawan kepada
pekerjaan dan kondisi pekerjaannya seperti menarik, memotivasi, tidak menarik
atau menuntut. Aspek perilaku merupakan pilihan sikap karyawan atas
pekerjaannya yang diperlihatkan melalui pekerjaan yang dijalankan, terus bertahan
pada posisinya, atau bekerja secara tertib dan disiplin.
Sutrisno (2019 : 74) menjelaskan ada beberapa penjelasan mengenai
kepuasan kerja. Pertama, kepuasan kerja dipandang sebagai suatu respon emosional
yang bertautan. Respon emosional ini terjadi dari dorongan, harapan, desakan serta
keinginan-keinginan pekerja pada pekerjaannya yang terhubung dalam kenyataan
yang dirasakan para pekerja, yang menciptakan gambaran emosional yang tercipta
seperti perasaan senang, perasaan puas maupun perasaan tidak senang dan tidak
puas. Kedua, kepuasan kerja adalah perilaku karyawan terhadap pekerjaan yang
berkaitan dengan keadaan kerja, kerja sama antar karyawan, upah yang diterima
dalam kerja, dan hal-hal yang menyangkut faktor fisik dan psikologis. Perilaku
pada pekerjaannya ialah akibat dari beberapa perilaku khusus seseorang pada
aspek-aspek dalam pekerjaan, adaptasi diri seseorang, serta interaksi sosial
seseorang di luar pekerjaannya, kemudian menciptakan perilaku umum seseorang
terhadap pekerjaan yang dijalankannya.
Zainal et al (2018 : 620) mengatakan kepuasan kerja pada dasarnya ialah
sesuatu yang bersifat personal. Setiap orang memiliki tingkat kepuasan kerja yang
berbeda-beda sesuai dengan prinsip nilai yang berlaku pada dirinya. Semakin tinggi
penilaian pada aktivitas yang dirasakan sama dengan harapannya, maka semakin
tinggi juga kepuasannya pada aktivitas tersebut. Oleh karena itu, kepuasan ialah
penilaian yang menunjukkan seseorang atau emosi perilakunya senang atau tidak
senang, puas atau tidak puas dalam pekerjaannya.
Menurut Mangkunegara (2017 : 117) berpendapat bahwa kepuasan kerja
merupakan perasaan menunjang atau tidak menunjang diri karyawan yang
berkaitan dengan pekerjaan maupun situasi dirinya. Perasaan yang berkaitan
dengan pekerjaan yang berhubungan dengan aspek-aspek, seperti imbalan atau gaji
yang diperoleh, kesempatan mengembangkan karirnya, struktur organisasi
perusahaan, kualitas pengawasan. Dan perasaan yang berkaitan dengan dirinya
ialah usia, kondisi kesehatan, keahlian, serta pendidikan. Karyawan akan merasa
puas pada pekerjaannya jika aspek-aspek pekerjaan serta aspek-aspek dirinya
menunjang, namun jika aspek-aspek tersebut tidak menunjang, maka karyawan
akan merasa tidak puas

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Fungsi manajemen sumber daya manusia menurut Hasibuan (2020 : 21)
diantaranya sebagai berikut :
1) Perencanaan
Perencanaan (human resources planning) merupakan perencanaan karyawan
secara efektif dan efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam
berkontribusi mencapai tujuan. Program kepegawaian ditetapkan sebagai
bagian dari perencanaan. Program kepegawaian meliputi pengorganisasian,
pengarahan, pengendalian, pengadaan, pengembangan, kompensasi,
pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan, dan pemberhentian karyawan.
Program kepegawaian yang baik akan membantu mencapai tujuan perusahaan,
karyawan, dan masyarakat.
2) Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah aktivitas untuk mengorganisasikan semua pekerja
dengan menentukan pembagian kerja, relasi kerja, pendelegasian wewenang,
integrasi, dan koordinasi dalam bagan organisasi (Organization chart).
Organisasi termasuk alat untuk mencapai tujuan. Terwujudnya tujuan secara
efektif dapat dibantu dengan organisasi yang baik.
3) Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah aktivitas pengarahan semua pekerja, agar mau
bekerja sama dan bekerja efektif dan efisien untuk berkontribusi mewujudkan
tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat. Pemimpin memberi pengarahan
dengan menugaskan bawahan untuk mengerjakan semua tugas dengan baik.
4) Pengendalian
Pengendalian (controlling) merupakan tindakan mengendalikan semua pekerja
untuk mengikuti kebijakan perusahaan dan bekerja sesuai dengan rencana. Jika
ada penyimpangan atau kesalahan, diadakan tindakan perbaikan dan
penyempurnaan rencana. Pengendalian karyawan melingkupi kehadiran,
kedisiplinan, perilaku, kerja sama, pelaksanaan pekerjaan, dan pemeliharaan
lingkungan pekerjaan.
5) Pengadaan
Pengadaan (procurement) ialah proses perektutan, pemilihan, penempatan,
orientasi, dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan
kebutuhan perusahaan. Terwujudnya tujuan dapat dibantu oleh pengadaan yang
efektif.
6) Pengembangan
Pengembangan (development) ialah proses peningkatan keterampilan teknis,
teoritis, konseptual, dan moral pekerja dengan pendidikan dan pelatihan.
Pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan
karyawan saat ini maupun di masa yang akan datang.
7) Kompensasi
Kompensasi (compensation) merupakan pemberian imbalan langsung (direct)
dan tidak langsung (indirect), uang atau barang kepada pekerja sebagai imbalan
jasa yang telah diberikan pada perusahaan. Batas upah minimum pemerintah,
serta konsistensi internal dan eksternal, menjadi pedoman prinsip kompensasi
yang adil dan layak. Kompensasi yang adil didefinisikan sesuai dengan prestasi
kerja, dan kompensasi yang layak didefinisikan sebagai mampu memenuhi
kebutuhan primer seseorang.
8) Pengintegrasian
Pengintegrasian (integration) ialah proses menyatukan kepentingan perusahaan
dan kebutuhan pekerja agar terbentuknya kerja sama yang serasi dan saling
menguntungkan. Perusahaan mendapatkan keuntungan, karyawan dapat
memenuhi kebutuhan dari hasil pekerjaannya. Karena menyatukan dua pihak
dengan tujuan yang berbeda, pengintegrasian ialah sangat penting dan
menantang dalam manajemen sumber daya manusia.
9) Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintance) ialah proses untuk memelihara atau meningkatkan
kondisi fisik, mental dan loyalitas pekerja sehingga mereka dapat terus bekerja
sama hingga pensiun. Program kesejahteraan yang didasarkan pada kebutuhan
sebagian besar pekerja, serta berpedoman pada konsistensi internal dan
eksternal akan memungkinkan pemeliharaan yang baik dapat dilakukan.
10) Kedisiplinan
Kedisiplinan merupakan fungsi MSDM yang paling penting dan kunci untuk
mencapai tujuan, karena sulit untuk mencapai tujuan tertinggi jika tanpa
kedisiplinan yang baik. Kedisiplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk
mematuhi kebijakan perusahaan dan norma-norma sosial.
11) Pemberhentian
Pemberhentian (separation) adalah pemutusan hubungan kerja seseorang dari
suatu perusahaan. Keinginan karyawan, keinginan perusahaan, berakhirnya
kontrak kerja, pensiun, dan faktor-faktor lain merupakan sebab terjadinya
pemberhentian. Pemberhentian ini diatur oleh Undang-undang No.12 Tahun
1964

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia menurut Dessler (2015 : 4) ialah proses
untuk mendapatkan, membentuk, mengevaluasi, dan membayar karyawan serta
mengelola hubungan kerja mereka, kesehatan dan keselamatan, dan hal-hal yang
berhubungan dengan keadilan.
Menurut Hasibuan (2020 : 10) manajemen sumber daya manusia adalah
Ilmu dan seni yang mengatur interaksi dan fungsi tenaga kerja agar efektif dan
efisien dalam membantu mencapai tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
Mangkunegara (2017 : 2) mengatakan bahwa manajemen sumber daya
manusia ialah suatu perencanaan, pengorganisasian, koordinasi, pelaksanaan, dan
pengawasan terhadap pengadaan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan
pemisahan karyawan dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Menurut Priansa (2019 : 9) manajemen sumber daya manusia merupakan
pengelolaan sumber daya manusia sebagai sumber daya atau aset utama, melalui
implementasi fungsi manajemen dan operasional agar mencapai tujuan organisasi
yang telah ditentukan dengan baik

Indikator Resources Based View


Barney (1991) mengatakan bahwa indikator kompetensi yang harus dimiliki
perusahaan agar dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan
ialah sebagai berikut :

  1. Sumber Daya
    Adapun jenis sumber daya sebagai berikut :
    § Sumber daya berwujud (Tangible Assets)
    Segala sesuatu yang tersedia di perusahaan yang dapat disentuh secara fisik,
    seperti tanah, bangunan, peralatan, uang dan tenaga kerja yang berada
    dalam perusahaan dianggap sebagai sumber daya berwujud (Tangible
    Assets).
    § Sumber daya tidak berwujud (Intangible Assets)
    Sumber daya yang tidak memiliki wujud namun dapat dimiliki di
    perusahaan yang berasal dari interaksi perusahaan dengan lingkungannya
    dikenal sebagai sumber daya tidak berwujud. Contohnya seperti reputasi,
    trademarks dan intellectual property. Sumber daya tidak berwujud ini
    biasanya terakit erat dengan perusahaan dan berfungsi sebagai sumber daya
    utama dari keunggulan komptetitif yang jangka panjang.
    Dan Barney (1991) mencetuskan sumber daya harus berunsur VRIO,
    indikator yang harus dimiliki perusahaan sebagai sumber keunggulan kompetitif :
  • Berharga (Value) : sumber daya harus memiliki nilai yang berharga agar
    dapat memiliki keunggulan kompetitif.
  • Langka (Rare) : sumber daya yang hanya dapat dimiliki olah satu atau
    beberapa perusahaan dianggap langka. Ketika suatu perusahaan memiliki
    sumber daya tersebut, maka perusahaan tersebut memiliki keunggulan yang
    kompetitif.
  • Imitability (I) : sumber daya yang memiliki keunikan sehingga tidak mudah
    ditiru juga dapat membuat perusahaan memiliki keunggulan yang
    kompetitif.
  • Organization (O) : Untuk memberikan keuntungan maksimal dan
    memaksimalkan nilai sumber daya yang dikendalikan, sangat penting untuk
    mengorganisirnya.
  1. Kapabilitas
    Kapabilitas dalam Resources Based View mengacu pada sumber daya yang
    digunakan. Hal tersebut merujuk pada kemampuan suatu perusahaan dalam
    mengelola sumber daya yang dimilikinya secara konstan.

Resources Based View


Resources Based View (RBV) merupakan strategi yang dapat dimanfaatkan
oleh organisasi untuk mendapatkan keunggulan kompetitif berkelanjutan dengan
berfokus pada sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan itu sendiri (Barney,
1991). Menurut Barney (1991) suatu perusahaan akan mencapai keunggulan
kompetitif berkelanjutan, melalui sumber daya yang unik yang dimilikinya, dan
sumber daya ini tidak dapat dengan mudah dibeli, ditransfer, ditiru dan secara
bersamaan secara tidak langsung kelangkaannya memberikan keuntungan bagi
perusahaan.
Resources Based View (RBV) menekankan pada komponen internal
perusahaan dan mengkritik industrial organization yang menekankan pada
komponen eksternal perusahaan. Berdasarkan Resources Based View (RBV),
perusahaan dapat merencanakan strategi yang akan diterapkan sesuai dengan
kapabilitas perusahaan

Faktor Yang Memengaruhi Psychological Empowerment


Spreitzer (1995) mengungkapkan bahwa terdapat tiga faktor yang
memengaruhi psychological empowerment, meliputi:
a. Self-esteem, didefinisikan sebagai sikap individu yang memiliki
pandangan positif terhadap diri sendiri cenderung meningkatkan nilai
dalam diri mereka terhadap kemampuan khusus dalam pekerjaan. Selain
itu, dengan harga diri yang tinggi, orang melihat diri mereka sebagai aset
yang berharga dengan kemampuan yang berharga untuk memberikan
kontribusi, sehingga mereka cenderung memiliki sikap proaktif terhadap
pekerjaan dan tim kerja mereka.
b. Locus of control, ketika individu dengan cenderung merasa bahwa
mereka memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh terhadap
lingkungan kerja dan pekerjaan mereka, sehingga merasa lebih berdaya.
Mereka biasanya menganggap diri mereka sendiri sebagai pelaku yang
berpengaruh pada pekerjaan mereka.
c. Information, dalam hal informasi mengenai kinerja, penting bagi
seseorang untuk memahami sejauh mana unit kerja mereka berprestasi
agar dapat membuat keputusan yang berdampak pada pemeliharaan dan
peningkatan kinerja di masa yang akan datang. Selain itu penting bagi
individu untuk memahami bagaimana seseorang berkinerja juga
merupakan hal penting untuk meningkatkan keyakinan dan kepercayaan
diri dalam menjadi bagian yang berharga dari suatu perusahaan.
d. Reward, merupakan faktor yang dibutuhkan dalam meningkatkan
psychological empowerment. Hal ini dapat ditunjukkan dengan
mengakui dan meningkatkan kemampuan individu, memberi dorongan
kepada mereka untuk aktif terlibat dalam aktivitas apa pun, serta diikut
sertakan dalam proses mencari kesepakatan bersama di lingkungan kerja

Dimensi Psychological Empowerment


Spreitzer (1995) mengungkapkan bahwa psychological empowerment terdiri
dari empat dimensi, meliputi:
a. Meaning (bermakna) adalah nilai pada suatu tujuan dan terget kerja yang
diukur berdasarkan harapan yang dituju oleh individu. Kebermaknaan ini
melibatkan keterkaitan antara tuntutan pekerjaan dan keyakinan, prinsip,
dan tindakan yang sesuai.
b. Competence (kompeten) adalah perasaan yakin yang dimiliki individu
terhadap kemampuannya untuk menjalankan tugas dengan sikap yang
handal. Competence dapat diibaratkan sebagai keyakinan dalam diri,
kontrol diri, atau target prestasi yang diupayakan. Pada dimensi ini di
fokuskan kepada keefektifan dalam peran pekerjaan spesifik daripada
keefektifan secara umum.
c. Self-determination merupakan keinginan individu untuk memiliki
kontrol atas pilihan-pilihan yang mereka buat untuk memulai dan
mengatur tindakan mereka. Self-determination sendiri menunjukkan
bahwa seseorang memiliki kontrol penuh dalam memulai dan
melanjutkan tindakan dan proses kerja. Sebagai contoh, hal ini mencakup
pengambilan keputusan terkait metode kerja, kecepatan, dan tingkat
usaha.
d. Impact mengarah pada seberapa besar individu dapat memengaruhi hasil
strategis, administratif, atau operasional di lingkungan kerja. Pada
dimensi ini individu dilihat apakah memiliki kemampuan untuk
memberikan dampak secara signifikan di lingkungan kerja

Definisi Pyschological Empowerment


Perkembangan teori psychological empowerment pertama kali dikemukakan
oleh Conger dan Kanungo (1988) dengan dilakukan nya literatur review pada
peneliti sebelumnya yang tertarik untuk memperdalam teori empowerment di
lingkup kerja. Hasil tinjauan literatur yang telah dilakukan, secara jelas
menunjukkan bahwa empowerment merupakan suatu konsep yang digunakan oleh
para ahli teori dalam mendeskripsikan efektivitas organisasi. Akan tetapi, diakui
nya peran empowerment terhadap teori dan praktiknya, pemahaman yang dimiliki
masih menunjukkan hasil yang membingungkan (Conger & Kanungo, 1988).
Adanya kebingungan yang terjadi, Conger dan Kanungo (1988) menjabarkan
bahwa dalam menganalisis gagasan empowerment dalam praktik manajemen,
penting untuk secara kritis mempertimbangkan sumber kekuasaan dan kontrol dari
mana empowerment tersebut berasal. Maka dengan proses panjang yang dilakukan
guna memperoleh penjelasan yang jelas, Conger dan Kanungo, (1988)
mendefinisikan empowerment seperti demikian “empowerment is defined here as a
process of enhancing feelings of self-efficacy among organizational members
through the identification of conditions that foster powerlessness and through their
removal by both formal organizational practices and informal techniques of
providing efficacy information” (Conger & Kanungo, 1988, p. 474).
Disisi lain, Thomas dan Velthouse (1990) menyatakan pendapat yang terhadap
psychological empowerment dengan definisi yang berbeda. Menanggapi hal
tersebut Thomas dan Velthouse (1990) mencoba untuk meluruskan pemahaman
Conger dan Kanungo (1988) terhadap psychological empowerment dengan konsep
yang telah dibuat oleh nya. Pertama, konsep empowerment dapat diperjelas dengan
menetapkan hubungannya pada jenis motivasi tertentu, konteks ini mengarah pada
motivasi intrinsik. Kedua, melakukan upaya untuk menetapkan serangkaian
penilaian tugas yang lebih komprehensif dan memuaskan untuk meningkatkan
motivasi. Ketiga, konsep ini juga berusaha untuk memperoleh hasil terhadap
bagaimana proses interpretasi dilakukan oleh pekerja sehingga mereka dapat
membuat penilaian terhadap tugas tersebut. Maka dengan konsep inilah Thomas
dan Velthouse (1990) menetapkan definisi psyhological empowerment seperti
demikian, “empowerment is defined as increased intrinsic task motivation, and our
subsequent model identifies four cognitions (task assessments) as the basis for
worker empowerment: sense of impact, competence, meaningfulness and choice”
(Thomas & Velthouse, 1990, p. 666).
Spreitzer (1995) yang juga tertarik terhadap isu mengenai psychological
empowerment, mencoba untuk mengembangkan teori sebelumnya yang dilakukan
oleh Conger dan Kanungo (1988) dan Thomas dan Velthouse (1990) dengan
mendefinisikan psychological empowerment seperti demikian, “psychological
empowerment is defined as a motivational construct manifested in four cognitions:
meaning, competence, self-determination, and impact” (Spreitzer, 1995, p. 1444).
Berdasarkan pada definisi yang telah dijelaskan seluruhnya, peneliti memilih
definisi psychological empowerment yang dijelaskan oleh Spreitzer (1995). Hal ini
dikarenakan definisi yang diperoleh oleh Spreitzer (1995) mempunyai relevansi
terhadap penelitian saya yang berfokus pada persepsi guru sekolah dasar terhadap
kompetensi yang dimiliki, sehingga hal tersebut menjadi alasan peneliti untuk
menggunakan teori dari Spreitzer (1995). Selain itu, teori yang dikemukakan oleh
Spreitzer (1995) sudah digunakan oleh banyak peneliti di Indonesia terhadap
psychological empowerment, seperti penelitian yang dilaksanakan oleh (Aurel et
al., 2017), (Putri & Ratnaningsih, 2018), dan (Handayani et al., 2023)

Pengaruh Ethical Leadership Terhadap Kinerja Pegawai


Keselarasan didalam suatu organisasi tidak lepas dari Ethical Leadership
yang merupakan aspek dalam pengambilan keputsan organisasi oleh pemimpin
dalam organisasi yang menggunakan pertimbangan etis dan sesuai dengan perilaku
yang pantas serta norma yang berlaku di dalam organinasi. Oleh karena itu Kinerja
Pegawai erat kaitannya dengan Ethical Leadership yang dibangun dengan
kepribadian atau karakter individu yang baik, karena dorongan motivasi kerja yang
didasarkan pada prinsip dan alasan yang salah akan mengakibtakn kerugian secara
pribadi dan organisasi.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Isdiyanto Koesworo, Supriyono,
dan Sutono (2022) dengan judul “Analisis Pengaruh Kepemimpinan Etis dan
Budaya Organisasi terhadap Kinerja Pegawai dengan Komitmen Organisasi
sebagai Variabel Intervening”, dimana hasil menunjukan bahwa ethical leadership
(kepemimpinan etis) berpengaruh terhadap kinerja pegawai.
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Rifqi Usada Amirudin
dan Sidiq Permono Nugroho (2022) dengan judul Effect of Ethical Leadership on
Employee Performance and Innovation with Internal Motivation as Intervening
Variabel (Empirical Study of Small and Medium Industries (IKM) in Klaten
Regency) Ethical leadership has a positive and significant effect on incremental
innovation. Ethical leadership has a significant effect on internal motivation.
Internal motivation has a positive and significant effect on employee performance.
Internal motivation has a positive and significant effect on incremental innovation.
Internal motivation can mediate positively and significantly between leadership
ethics on employee performance. dan penelitian yang dilakukan oleh Wiwik
Robiatul Adawiyah, Beta Oki Baliartati, dan Alidin Rafi (2022) dengan judul “The
Impact of Ethical Leadership on Employee Performance : The Mediating Role of
Employee Engagement and Organizational Citizenship Behaviour (OCB)” dimana
pada penelitiannya menunjukan bahwa variable ethical leadership bernilai positif
terhadap variabel kinerja pergawai yang berarti ethical leadership berpengaruh
terhadap kinerja pegawai

Dimensi dan Indikator Kinerja Pegawai


Menurut (A. A. Anwar Mangkunegara, 2020:78), hal yang perlu
diperhatikan oleh manajer sumber daya manusia dalam kinerja pegawai dengan
dimensi dan indikator :

  1. Kualitas Kerja
    Kualitas kerja adalah seberapa baik seseorang pegawai mengerjakan apa yang
    seharusnya dikerjakan. Dimensi kualitas kerja diukur dengan menggunakan
    tiga indikator, yaitu :
    a. Kerapihan
    b. Ketelitian
  2. Kuantitas Kerja
    Kuantitas kerja adalah seberapa lama seseorang pegawai dalam satu harinya.
    Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap itu masing-masing.
    Dimensi kuantitas kerja diukur dengan dua indikator yaitu :
    a. Kecepatan
    b. Kemampuan
  3. Tanggung jawab
    Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan kewajiban pegawai
    untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan. Dimensi tanggung
    jawab diukur dengan menggunakan dua indikator, yaitu:
    a. Hasil Kerja
    b. Mengambil keputusan
  4. Kerjasama
    Kesediaan pegawai untuk berpartisipasi dengan atau pegawai lain secara vertikal
    dan horizontal baik didalam maupun diluar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan
    semakin baik. Dimensi kerja sama diukur dengan menggunakan dua indikator
    yaitu :
    a. Jalinan kerjasama
    b. Kekompakan
  5. Inisiatif
    Inisiatif dari dalam diri anggota perusahaan untuk melakukan pekerjaan serta
    mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa menunggu perintah dari atasan atau
    menunjukan tanggung jawab dalam pekerjaan yang sudah menjadi kewajiban
    pegawai. Dimensi inisiatif diukur dengan menggunakan dua indikator yaitu :
    a. Kemampuan mengambil keputusan tanpa diperintah
    b. Menyelesaikan pekerjaan tanpa perintah

Metode Penilain Kinerja Pegawai


Menurut (Veithzal Rivai Zainal, et al, 2018:416) sesuai dengan orientasi
waktu yang diterapkan metode dalam penilian kinerja dibagi menjadi dua bagian
yaitu penilian kinerja yang berorientasi pada masa lalu dan penilian kinerja pada
masa depan. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Penilian kinerja yang berorientasi pada masa lalu
Metode ini dilakukan dengan mengevaluasi prestasi kerja dimasa lampau,
dimana pegawai mendapatkan umpan balik dari hasil kerja keras yang telah
meraka lakukan. Teknik penilian ini yaitu:
a) Skala peringkat (rating scale), penilian ini berhubungan dengan hasil dari
pekerjaan pegawai dari skala tertentu, dari yang terendah hinga tertinggi.
b) Daftar pertanyaan, metode ini dilakukan dengan menggunakan formulir yang
diisi menjelaskan beberapa macam tingkat perilaku untuk suatu pekerjaan,
penilian ini dilakukan untuk memilih pertanyaan yang sesuai dengan
karakteristik dan hasil pekerjaan dari pegawai yang bersangkutan.
c) Metode terarah, metode ini dilakukan untuk mengurangi dan memisahkan hal
yang kemungkinan berat dalam penilian karena memaksakan suatu pilihan.
d) Metode peristiwa kritis, metode ini merupakan untuk memilih pegawai yang
didasarkan pada catatan yang dibuat oleh penilian atas perilaku seorang
pegawai, apakah baik atau buruk dalam menyelsaikan pekerjaannya.
e) Metode catatan prestasi, metode ini sangat berkaitan dengan metode peristiwa
kritis yang dimana sering dipakai oleh seseorang yang sudah professional.
f) Skala peringkat, yang dihubungkan dengan tingkah laku (Behaviour Anchored
Rating Scale BARS), metode ini salah satu penilian kinerja pegawai untuk
jangka waktu tertentu dimasa lampau dengan dihubungkan dengan peringkat
prestastsi kerja.
g) Metode Peninjauan Lapangan, penilian yang dilakukan dengan cara turun
langsung kelapangan bersama dengan ahli sumber daya manusia. Karena ahli
sumber daya manusai yang akan mengevaluasi informasi tersebut.
h) Tes dan Obersvasi Prestasi Kerja, penilian kinerja pegawai yang dilakukan
berdasarkan hasil tes pengetahuan serta keterampilan yang tertulis dengan
syarat hasil tes harus valid dan reliabel.
b. Penilian kinerja yang berorientasi pada masa yang akan datang / masa depan
metode ini difokuskan pada kinerja dimasa yang akan datang dengan cara
melakukan evaluasi kemampuan pegawai atau menetapkan sasaran kinerja
dimasa yang akan datang bersama pimpinan dengan pegawai. Teknik penilian
ini yaitu:
a) Penilian Diri Sendiri (Self Appraisal), penilian kinerja dengan teknik ini
dilakukan oleh seorang pegawai dengan harapan agar lebih mengenal
kelebihan serta kelemahannya sendiri sehingga dapat mengetahui aspek
perilaku kerja yang perlu diperbaiki dimasa yang akan datang.
b) Manajemen Berdasrkan Sasaran (Management by Obejctive), merupakan salah
satu bentuk penilian untuk pegawai serta pimpinan dalam menetapkan tujuan
dalam peleksanaan kerja pegawai secara individu dimasa yang akan datang.
c) Impikasi penilian penilian kinerja individu dengan pendekatan MBO
(Management by Objective), MBO ini dilakukan untuk menilai kinerja pegawai
yang disesuaikan dengan keberhasilan yang telah merka capat. Keberhasilan
dari penlian kinerja ini tergantung pada pendeketan yang konsisten yang dapat
membaningkan hasil, ukuran, serta standar yang jelas.
d) Penilian dengan Psikolog, penilian ini digunakan untuk menilai potensi-potensi
dimasa yang akan datang.
e) Pusat Penilian, penilian satu ini merupakan suatu bentuk dalam memulai
pekerjaan yang bertandar sesuai dengan beberapa tipe evaluasi dan ragam
penilian, pusat penilia ini dilakukan sebagai bentuk standar pekerjaan yang
bertumpu sesuai dengan tipa-tipe evaluasi dan nilai-nilai.
Penilian kinerja dilakukan agar perusahaan dapat mengetahui perilaku serta
sikap baik dan buruknya pegwai terhadap hasil akhir pekrjaan yang diberikaan oleh
perusahaan, selaian itu penilian kinerja bertujuan untuk mengavaluasi kendala yang
dihadapi oleh pegawi yang menyababkan terhambatnya kinerja pegawai yang
berdampak terhadap terhambatnya pencapaian tujuan organisasi, cara ini juga
dilakukan agar peruashaan atau organisasi dapat memperoleh keberhasilan dimasa
yang akan datang

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai


Dalam dunia kerja terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja
seorang pegawai dalam menjalankan tugasnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi
kinerja pegawai tidak hanya berasal dari internal dan eksternal perusahaan, akan
tetapi bisa juga berasal dari pegawai itu sendiri. Jika kinerja pergawai baik, maka
target dan sasaran yang ingin dicapai dalam sebuah perusahaan akan lebih mudah
dicapai. Sebaliknya, kinerja pegawai yang buruk membuat suatu perusahaan sulit
untuk mencapai tujuan dan sasarannya. Berdasarkan penjelasn diatas dapat
disimpulakan beberapa ahli tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja:
Menurut (Marwansyah, 2019:234) faktor-faktor kinerja dikelompokkan ke
dalam empat faktor yaitu:
1) Pengetahuan atau Keterampilan
Pegawai tidak tahu bagimana menjalankan tugas-tugas secara benar. Kurangnya
keterampilan, pengetahuan dan kemampuan juga menjadi penghambat bagi
pegawai untuk melaksanakan tugas yang diberikan pimpinan perusahaan.
2) Lingkungan
Lingkungan kerja juga mempengaruhi kinerja pegawai diperusahaan/organisasi
disebabkan oleh kondisi kerja, proses yang buruk, dan lain-lain.
3) Sumber Daya
Kurangnya sumber daya atau teknologi di dalam perusahaan/organisasi juga
menghambat kinerja pegawai.
4) Motivasi
Dalam bekerja tidak hanya membutuhkan kompensasi besar, tetapi pegawai
juga membutuhkan motivasi-motivasi.
Menurut (Prawirosentono dalam penelitian Edi Sutrisno, 2019:179) faktor-
faktor yang mempengaruhi kinerja sebagai berikut:

  1. Efektivitas dan efisiensi
    Dalam hubungannya dengan kinerja organisasi, maka ukuran baik buruknya
    kinerja diukur oleh efektivitas dan efisiensi.
  2. Otoritas dan tanggung jawab
    Dalam organisasi yang baik wewenang dan tanggung jawab telah didelegasikan
    dengan baik, tanpa adanya tumpung tindih tugas. Kejelasan dan tanggung jawab
    setiap orang dalam suatu organisasi akan mendukung kinerja pegawai tersebut.
  3. Disiplin
    Secara umum, disiplin menunjukkan suatu kondisi atau sikap hormat yang ada
    pada diri pergawai terhadap peraturan dan ketetapan perusahaan. Disiplin
    meliputi ketaatan dan hormat terhadap perjanjian yang dibuat antara perusahaan
    dan pegawai.
  4. Inisiatif
    Inisiatif seseorang berkaitan dengan daya pikir, kreatifitas dalam bentuk ide untuk
    merencanakan suatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi. Setiap inisiatif
    sebaiknya mendapat perhatian atau tanggapan positif dari atasan.
  5. Pengawasan
    Pengawasan dapat didefinisikan sebagai cara suatu organisasi mewujudkan
    kinerja yang efektif dan efisien, serta lebih jauh mendukung terwujudnya visi
    dan misi organisasi. Proses adalah sebagai proses untuk menjamin bahwa tujuan-
    tujuan organisasi dan manajemen tercapai.
  6. Motivasi
    Motivasi adalah suatu kondisi yang mendorong atau yang menjadi sebab
    seseorang melakukan suatu kegiatan/perbuatan yang berlangsung secara sadar
    dimana kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan
    serangkaian kegiatan yang mengarah ketercapaianya tujuan tertentu

Manfaat Penilan Kinerja Pegawai


Menurut (Veithzal Rivai Zainal, 2018:55) manfaat penilaian kinerja
pegawai bagi semua pihak adalah agar mereka mengetahui manfaat yang dapat
mereka harapkan pihak-pihak yang berkepentingan dalam penilaian adalah sebagai
berikut:
1) Manfaat Bagi Orang yang Dinilai (Pegawai)
Bagi pegawai yang dinilai, manfaat yang dapat diperoleh dari penilaian kinerja
antara lain meningkatkan motivasi, adanya kejelasan standar hasil yang
diharapkan mereka, pengetahuan mengenai kekuatan dan kelemahan pegawai.
2) Manfaat bagi penilai (supervisor atau pimpinan)
Bagi penilai, manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan penilaian kinerja
adalah kesempatan untuk mengukur dan mengidentifikasi kinerja pegawai untuk
perbaikan manajemen selanjutnya dan meningkatkan kepuasan kerja baik
pimpinan maupun pegawai itu sendiri.
3) Manfaat bagi perusahaan atau organisasi
Bagi perusahaan atau organisasi, manfaat yang dapat diperoleh dari penilaian
kinerja antara lain meningkatkan motivasi dan kesadaran kerja dari setiap
pegawai secara keseluruhan dan meningkatkan pandangan berkaitan pentingnya
melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat

Tujuan Penilain Kinerja Pegawai


Kinerja tidak lepas dari apa yang dinamkan evaluasi kinerja yang
merupakan penilaian atas hasil kerja pegawai serta tujuan evaluasi kinerja. Tujuan
evaluasi kinerja bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja
organisasi melalui peningkatan kinerja dari sumber daya manusia yang dimiliki
oleh sebuah organisasi. Menurut (Suntoyo, dalam penelitian A. A. Anwar
Mangkunegara 2020:68) mengemukakan tujuan dari evaluasi kinerja sebagai
berikut:
1) Meningkatkan saling pengertian antara tentang persyaratan kerja yang ideal.
2) Mencatat dan mengakui hasil kerja seorang , sehingga mereka termotivasi untuk
berbuat yang lebih baik, atau sekurang-kurangnya berprestasi sama dengan
prestasi yang terdahulu.
3) Memberikan peluang kepada untuk mendiskusikan keinginan dan meningkatkan
kepedulian terhadap karier atau terhadap pekerjaan yang diembannya sekarang.
4) Mendefinisikan atau merumuskan kembali sasaran masa depan, sehingga
pegawai termotivasi untuk berprestasi sesuai dengan potensinya.
5) Memeriksa rencana pelaksanaan dan pengembangan yang sesuai dengan
kebutuhan pelatihan

Pengertian Kinerja Pegawai


Dalam konteks pengembangan sumber daya manusia kinerja pegawai dalam
sebuah perusahaan sangat dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan perusahaan.
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
pegawai dalam melaksanakan tugasnya.
Kinerja merupakan hasil yang dapat dicapai oleh seseorang dalam kurun
waktu tertentu sesuai dengan tugasnya yang mengarah pada tujuan organisasi.
Menurut (A.A. Anwar Mangkunegara, 2020:67) kinerja dapat didefinisikan sebagai
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dapat dicapai oleh seorang pegawai
dalam melaksanakan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya.
Menurut (Pebrianti dan Simajuntak. J, 2020:15) mengartikan kinerja
merupakan keinginan seorang individu atau kelompok untuk mencapai
keberhasilan kelompok dalam organisasi melalui proses awal hingga akhir.
Tercapainya suatu tujuan merupakan hasil kinerja kelompok organisasi yang baik,
apabila tidak tercapai maka kinerja tim kelompok tidak kompak sebagai “proses
komunikasi yang diharapkan mencapai hasil sesuai rencana yang telah ditetapkan
dengan biaya yang telah dianggarkan, serta waktu yang telah ditentukan dan jumlah
yang telah ikut andil dalam penetapan.
Sedangkan menurut (Veithzal Rivai Zainal et al, 2018:406) berpendapat
bahwa kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai
prestasi kerja yang dihasilkan sesuai dengan pernannya dalam perusahaan. Kinerja
pegawai merupakan suatu hal yang sangat penting dalam upaya perusahaan untuk
mencapai tujuannya.
Oleh karena itu maka bisa disimpulkan bahawa kinerja pegawai merupakan
hasil kerja yang telah dicapai seorang pegawai baik secara kualitas maupun
kuantitas dalam melaksankan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang telah
diberikan oleh perusahaan atau organisasi dimana ia bekerja. Selain itu kinerja
pegawai bisa menjadi penentu dalam pertimbangan yang akan diambil oleh suatu
perusahaan atau organiasi

Dimensi dan indikator Ethical Leadership


Dimensi dan indikator ethical leadership oleh (Brown et al, dalam
penelitian Jessline Gunawan dan Roy Setiawan, 2022:2) antara lain :

  1. Integrity (integritas)
    Melakukan tindakan dengan cara yang konsisten dengan nilai-nilai yang dianut
    oleh organisasi salah satunya seperti:
    a. Jujur
    b. Bertanggung jawab
    c. Bekerja dengan sepenuh hati
    d. Patuh terhadap aturan yang berlaku
  2. Humility (kerendahan hati)
    Menghindari simbol pembatasan status sosial dan hak-hak istimewa, mengakui
    keterbatasan dan kesalahan salah satunya seperti:
    a. Menghormati pandangan orang lain
    b. Mengakui kesalahan
    c. Menerima kritik, pendapat dan saran orang lain
  3. Empathy (empati)
    Mendorong untuk menerima keragaman, mendorong sifat memaafkan
    pada konflik yang dapat diwujudkan dalam sikap seperti:
    a. Peduli terhadap sesama
    b. Menjaga perasaan orang lain
  4. Personal Growth (Pengembangan Diri)
    Memfasilitasi pengembangan kepercayaan diri individu dan skill meskipun
    bukan untuk kepentingan pekerjaan saat ini, memberikan mentoring serta
    coaching bila diperlukan, seperti :
    a. Meningkatkan kemampuan / potensi diri
  5. Fairness and Justice (keadilan)
    Mendorong dan mendukung perlakuan yang adil, seperti :
    a. Tidak melihat kepada satu individual tertentu
  6. Empowerment (pemberdayaan)
    Memberikan jumlah yang tepat dari otonomi dan keleluasaan untuk
    bawahan, berkonsultasi dengan tentang keputusan yang akan
    memengaruhi dalam :
    a. Komunikasi
    b. Kepercayaan
    c. Percaya dir

Nilai Ethical Leadership dan Dampaknya


Menurut (Gea Antonius A, 2019:8) Praktik yang dipertahankan oleh
kepemimpinan etis memengaruhi perusahaan dalam berbagai cara, termasuk:

  1. Menghindari masalah hukum.
  2. Stabilitas keuangan yang lebih besar karena praktik etika cenderung mengarah
    pada masalah yang dapat membuat perusahaan bangkrut.
  3. Pers yang baik dan hubungan masyarakat yang positif.
  4. Peningkatan profitabilitas.
    Manfaat jangka pendek dan jangka panjang bertambah ketika organisasi
    dipimpin oleh pemimpin yang berprinsip tinggi. Kepemimpinan etis penting tidak
    hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi pemangku kepentingan dan komunitas
    mereka yang lebih luas. Dampak tersebut meliputi:
  5. Budaya
    Lingkungan yang kekurangan etika bisa menjadi penghambat dalam suatu
    organisasi. Pemimpin etis cenderung bekerja dalam lingkungan yang lebih
    memberdayakan pegawai yang diperlakukan dengan hormat dan lebih
    cenderung menunjukkan rasa hormat kepada sesama pekerja dan klien.
  6. Pegawai
    Pegawai merupakan aset terpenting dalam suatu organiasi atau perusahaan,
    dengan adanya pegawai fungsi kelembagaan didalam suatu organiasi atau
    perusahaan dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu seorang pemimpin
    harus memberdayakan pegawia dengan baik.
  7. Investor
    Banyak investor, baik individu maupun institusional ingin memasukkan uang
    mereka ke dalam organisasi yang memiliki kredibilitas.
  8. Mitra Bisnis
    Pemasok, vendor, dan perusahaan lain ingin bekerja dengan perusahaan yang
    mereka percayai. Reputasi mereka juga dipertaruhkan.
  9. Pelanggan
    Pelanggan lebih setia kepada perusahaan yang mengikuti praktik bisnis yang
    etis. Difasilitasi oleh jejaring sosial, mereka berbagi perasaan positif mereka
    dengan orang lain dan mereka juga kurang sensitif terhadap harga
    dibandingkan pelanggan yang tidak memiliki rasa loyalitas yang sama

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhui Ethical Leadership


Menurut (Brown et al, dalam penelitian Gilang Primadhani, 2021:12)
mengembangkan sepuluh faktor yang dapat digunakan untuk mengukur persepsi
ethical leadership yaitu dengan ethical leadership schale antara lain:

  1. Menjalankan hidup etis.
  2. Memperoleh kesuksesan.
  3. Mendengarkan rekan .
  4. Mendisiplinkan rekan .
  5. Adil dan seimbang.
  6. Dapat dipercaya.
  7. Membahas etika atau nilai bisnis dengan .
  8. Memberikan contoh.
  9. Mempertimbangkan kepentingan .
  10. Menanyakan pendapat.

Karakteristik Ethical Leadership


Menurut pemaparan dari (Brown et al, dalam penelitian Jessline Gunawan
dan Roy Setiawan, 2022:6) mengatakan bahwa setiap karakter pemimpin
memengaruhi kinerja etikanya, namun hanya karakter tidak baik yang tidak
sepenuhnya memaparkan penyimpangan etis didalam perusahaan. Tetapi, memang
betul bahwa setiap karakter yang kuat melaksanakan peran penting dalam self-
effective kepemimpinan dan dalam proses memimpin individu lain. Karena itu
seorang pemimpin harus memiliki kunci dari suara batin mereka, kompas batin dari
seorang pemimpin itu mengarahkan para pemimpin ke arah etika.
Menurut pandangan ahli lainnya ethical leadership adalah pemimpin yang
memiliki prinsip dan keyakinan akan perilaku organisai yang dianggap benar, serta
memberikan pengaruh bagi pegawai untuk melaksanakan hal yang benar dan sesuai
nilai moral (Stephen P, dalam penelitian Rafika Fatani, et al, 2021:4). Dalam
penelitiannya, (Harrison, dalam penelitian Rafika Fatani, et al, 2021:7) menyatakan
ethical leadership merupakan demonstrasi perilaku yang sesuai dengan norma etika
oleh pimpinan organisasi, baik melalui tindakan pribadi maupun dalam interaksi
interpersonal didalam maupun diluar organiasi. Definisi ini didukung oleh
(Stephen P, dalam Rafika Fatani, et al, 2021:7) yang mendeskripsikan ethical
leadership sebagai proses mempengaruhi pegawai yang dilaksanakan dengan
menunjukan perilaku dengan prinsip, nilai, dan kepercayaan yang sejalan dengan
norma-norma yang dianggap baik dan diterima di organisasi.
Dalam bukunya, Covey membahas masalah ethical leadership dengan
istilah “Etika karakter”, yang dia pahami bukan sebagai karakter individu, tetapi
tentang “prinsip yang mengatur keefektifan manusia” adalah memvalidasi sendiri
hukum alam. Mode di mana standar etika dan akibatnya perilaku yang diabaikan
atau diterapkan adalah fungsi dari karakteristik individu. Pandangan Covey tentang
kepemimpinan efektif dengan komponen etis yang kuat dijelaskan yakni
menghargai diri sendiri dan pada saat yang sama, menundukkan diri untuk tujuan
dan prinsip yang lebih tinggi adalah esensi paradox kemanusiaan tertinggi dan
pondasi kepemimpinan yang efektif.
Pengaruh ethical leadership juga dapat diberikan melalui pembelajaran
perwakilan seperti pengikut mempelajari perilaku mana yang diinginkan dan yang
harus dihindari dengan mengamati cara-cara di mana anggota organisasi lainnya
dihargai atau “diperingatkan” oleh pemimpin itu sendiri. Pemimpin yang
memperhatikan integritas, dan menunjukkan minat dan keadilan terhadap
kolaborator mereka menjadi model peran yang menarik, diperkuat oleh status dan
kekuasaan yang biasanya dinikmati para pemimpin yang penting melihat
pemimpin etis sebagai panutan yang lebih mungkin untuk mengembangkan tingkat
job satisfaction yang tinggi, hal tersebut terjadi karena adanya kepercayaan dan rasa
hormat yang mereka miliki terhadap pemimpin.
Secara keseluruhan, Neubert dan rekan menemukan bahwa individu
cenderung lebih puas dengan pekerjaan yang mereka lakukan dan lebih
berkomitmen pada organisasi mereka ketika bekerja di lingkungan yang ditandai
dengan perilaku etis, kejujuran, kepedulian terhadap orang lain, dan keadilan
antarpribadi; dengan kata lain, organisasi yang berbudi luhur dianggap etis (Neubert
et al, dalam penelitian Kim. W.G & Brymer R.A, 2017:7).
Pemimpin yang jujur tentang dirinya sendiri dan dengan individu lain
menginspirasi kepercayaan yang mendorong pengikut untuk bertanggung jawab.
Selama lebih dari satu dekade, Kouzes dan Posner telah meneliti pada di seluruh
dunia, apa yang paling mereka hargai atau inginkan dari seorang pemimpin dan apa
yang diperlukan untuk mereka ikuti dengan senang hati. Dan tanpa kecuali
kejujuran (integritas, kepercayaan). Dan bagaimana tahu bahwa para pemimpin itu
jujur. Mereka mengamati perilaku dan konsistensi perilaku dalam kondisi serupa.
Jika seorang pemimpin terus-menerus mengubah perilakunya, pengikut
menganggapnya tidak dapat diprediksi, tidak dapat diandalkan, dan karena itu tidak
layak dipercaya.
Berdasarkan definisi menurut para ahli seperti yang diuraikan diatas
karakteristik ethical leadership dapat kelompokan sebagai berikut:

  1. Keadilan
    Seorang pemimpin didalam organisasi harus memiliki sikap yang adil tidak
    memihak kepada suatu individu tertetntu dan semua orang diperlakukan secara
    merata, mendengarkan pendapat dari bawahannya sebagai bentuk apresiasi
    pegawai dalam berpendapat.
  2. Menghormati orang lain
    Seorang pemimpin menunjukkan rasa hormat untuk semua pegawai dengan
    mendengarkan dengan penuh kasih, menghargai kontribusi yang beragam, dan
    mempertimbangkan sudut pandang yang berlawanan.
  3. Transparansi
    Para pemimpin dalam suatu organisasi diharuskan untuk memahami bahwa
    transparansi melahirkan kepercayaan, memberdayakan orang lain untuk
    membuat keputusan sendiri dengan informasi yang mereka butuhkan.
  4. Perilaku manusiawi
    Menjadi pemimpin bertindak manusiawi adalah salah satu sifat yang paling
    mengungkapkan seorang pemimpin itu bermoral. Pemimpin yang beretika
    mengutamakan kebaikan dan bertindak dengan cara yang selalu bermanfaat
    untuk kebaikan didalam organisasi.
  5. Fokus pada membangun pada tim
    Pemimpin harus menumbuhkan rasa komunitas dan semangat tim dalam
    organisasi. Ketika seorang pemimpin berusaha untuk mencapai tujuan, itu
    bukan hanya tentang misi pribadi. Mereka melakukan upaya tulus untuk
    mencapai tujuan yang bermanfaat bagi seluruh pegawai didalam organisasi
    bukan hanya diri mereka sendiri.
  6. Keputusan Berbasis Nilai
    Dalam kepemimpinan etis, keputusan pertama divalidasi untuk keselarasan
    dengan nilai-nilai organisasi secara keseluruhan. Hanya keputusan yang
    memenuhi kriteria ini yang diimplementasikan.
  7. Mendorong inisiatif
    Pemimpin dapat mengerakan anggota tim nya untuk berkembang dalam suatu
    organisasi, dihargai karena menghasilkan ide-ide inovatif dan didorong untuk
    melakukan apa yang diperlukan untuk meningkatkan cara kerja.
  8. Kepemimpinan dengan teladan
    Pemimpin etis memiliki harapan yang tinggi untuk diri mereka sendiri dan
    pegawai. Mereka menunjukkan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap cita-
    cita mereka dengan tidak hanya berbicara, tetapi berjalan sesuai dengan misi
    organisasi.
  9. Kesadaran nilai
    Seorang pemimpin etis secara teratur mempromosikan nilai dan harapan tinggi
    yang mereka pegang. Dengan mengomunikasikan dan mendiskusikan nilai
    secara teratur, mereka memastikan adanya pemahaman dan kepatuhan yang
    konsisten di seluruh perusahaan.
  10. Tidak ada toleransi terhadap pelanggaran etika
    Seorang pemimpin yang beretika mengharapkan pegawai untuk melakukan hal
    yang benar setiap saat. Mereka tidak akan mengabaikan atau mentolerir
    pelanggaran etika

Pengertian Ethical Leadership


Menurut (Brown et al dalam penelitian Jessline Gunawan dan Roy
Setiawan, 2022:5) Ethical leadership merupakan suatu prinsip moral dan perbuatan
yang menjadi landasan bertindak sesorang sehingga apa yang dilakukan dipandang
oleh masyarakat sebagai perbuatan terpuji dan meningkatkan martabat dan
kehormatan seseorang. Ethical leadership banyak dikaitkan dengan sikap jujur,
dapat dipercaya, bertanggung jawab, setia, dan dapat menahan diri. Semuanya itu
merupakan kualitas baik yang bisa bahkan harus dimiliki oleh seseorang. Dalam
suatu organisasi, lembaga, institusi atau instansi pemerintahan tentunya selalu diisi
oleh individu-individu yang saling berinteraksi baik secara vertikal maupun
horizontal (antara pelaksana dengan pelaksanaan ataupun antara pimpinan dengan
pelaksana). Dengan tujuannya untuk memajukan organisasi atau lembaga, dimana
seseorang dapat berkarya dalam perjalannya tentu dari individu-individu tersebut
selalu ingin berkreasi dan ingin mencapai hasil yang terbaik. Untuk itulah maka
unsur manusia perlu dibina, dikembangkan dan diatur sedemikian rupa agar dapat
bekerja sama dalam menjalankan tugas serta tanggung jawab yang diberikan.
Menurut (Trevino dalam penelitian Muhammad. Shaukat et al, 2019:4)
kepemimpinan etis atau ethical leadership adalah suatu istilah untuk menekankan
seseorang menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang etis serta
menjadikannya landasan bagi pengambilan suatu keputusan atau tindakan. Ketika
membangun suatu usaha, misalnya membuka suatu operasi bisnis di tempat
tertentu, maka yang menjadi pertimbangan bukanlah hanya soal untung yang bisa
didapat dari perluasan bisnis itu. Dampak dari perluasan bisnis itu terhadap banyak
pihak, khususnya bagi masyarakat setempat, harus dipertimbangkan dan dijadikan
salah satu dasar bagi pengambilan keputusan. Sangatlah tidak etis ketika
perusahaan mendapatkan hasil atau keuntungan yang besar, tetapi masyarakat
sekitar menderita kerugian, seperti pencemaran atau kerusakan lingkungan, dan
sebagainya.
Ethical leadership telah didefinisikan dalam berbagai cara ketika diminta
untuk menggambarkan pemimpin etis dalam satu studi, eksekutif mengidentifikasi
beberapa perilaku, nilai-nilai, dan motif (misalnya, jujur, dapat dipercaya, altruistik,
adil). Kunci karakteristik utama adalah upaya pemimpin untuk mempengaruhi
perilaku etis kepada orang lain (Yukl, dalam penelitian Ayong Rizal et al, 2022:4).
Berdasarkan definisi ethical leadership atau kepemimpinan etis dari para
ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan etis berkisar pada
tanggung jawab utama dalam berhadapan dengan konflik di antara pegawai dan
mempertunjukkan suatu landasan membimbing untuk mengajari mereka hal yang
benar untuk dilakukan. Para pemimpin etis dengan demikian mewujudkan kedalam
kebajikan yang mengarahkan dia kepada pembuatan keputusan yang etis untuk
kepentingan organsisasi yang lebih luas. Kepemimpinan etis merupakan cara
kepemimpinann yang mempertimbangkan nilai etis sebagai dasar dalam
pengambilan keputusan atau tindakan

Ethical Leadership


Leadership (kepemimpinan) adalah suatu seni, fungsi, proses dan
kemampuan dalam mempengaruhi atau mengarahkan orang-orang dengan cara
kepatuhan, kepercayaan, dan kesetiaan agar berbuat sesuatu sesuai dengan tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan.
Istilah leadership berasal dari serapan bahasa inggris yang berarti
kepemimpinan. Kata leadership memiliki kata dasar leader berarti pemimpin, serta
kata to lead yang keduanya mengandung beberapa arti yang saling berhubungan,
yaitu bergerak lebih awal, berjalan diawal, mengambil langkah awal, berbuat paling
dulu, memelopori, mengarahkan pikiran-pikiran orang lain, membimbing, dan
menggerakan (Danin dan Suparno, dalam penelitian Raihan Fahiaditul A. S, Cahyo
Suko P et al, 2021:632).
Ethical sering berkaitan dengan tingkah laku perbuatan sesorang yang
dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. Dalam
kaitannya dengan etika profesi sikap dan perilaku ethical merupakan sikap yang
sesuai dengan etika profesi tersebut. Pola perilaku ethical dalam diri masing-masing
individu berkembembang sepanjang waktu dan mengalami perubahan yang terus
menerus. Perilaku akan dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, organisasi,
lingkungan, dan masyarakat.
Menurut (Rosiyda, dalam penelitian Khorin Azaro dan Kurnia Eka Sari,
2020:129) ethical adalah kecenderungan pribadi atau karakter seseorang yang
bukan merupakan hasil dari pembelajaran. Ethical yakni serangkaian norma yang
berlaku dan diterima oleh masyarakat sekitar atas sebagai tindakan yang dianggap
memiliki kebermanfaatan ataupun tidak (Putri, dalam Khorin Azaro dan Kurnia Eka
Sari, 2020:129). Ethical juga diartikan dengan menunjukkan berbagai perlakukan
tindakan seseorang ketika menjalankan tanggung jawabnya agar sesuai dengan nilai
yang berlaku

Dimensi dan Indikator Psychological Empowerment


Dimensi dan indikator yang terdapat dalam psychological empowerment
oleh (Spreitzer, dalam penelitian Aam Amaliah dan Laila Meliyandrie I. W,
2021:36) antara lain:

  1. Meaning (makna)
    Meaning mengacu pada penempatan beban tugas yang diberikan berdasarkan
    standar individu. Meaning adalah nilai tujuan kerja atau tujuan, dinilai dalam
    kaitannya dengan standar individu itu sendiri. Meaning melibatkan kesesuaian
    antara ketentuan peran kerja dan keyakinan, nilai-nilai, dan perilaku. Indikator
    meaning sebagai berikut:
    a. Tujuan Kerja
    b. Peran Kerja
  2. Competence (Kompetensi)
    Kompetensi mengacu pada perasaan self-efficacy atau penguasaan diri
    seseorang akan kemampuannya menyelesaikan tugas. Kompetensi atau Self
    efficacy adalah keyakinan individu dalam kemampuannya untuk melakukan
    kegiatan dengan keterampilan. Kompetensi analog dengan keyakinan lembaga,
    penguasaan pribadi atau harapan upaya-kinerja. Dimensi ini beri label efikasi
    spesifik untuk peran kerja bukan pada keberhasialan global. Indikator
    competence (kompetensi), sebagai berikut:
    a. Penguasaan diri (Self – efficacy)
    b. Kemampuan menyelsaikan pekerjaan
  3. Impact (dampak)
    Impact mengacu pada sejauh mana pekerjaan individu membuat perbedaan
    dalam pencapaian tujuan tugas dan sejauh mana seorang individu percaya ia
    dapat mempengaruhi hasil organisasi. Impact adalah sejauh mana seorang
    individu dapat mempengaruhi hasil strategis, administratif atau operasi di
    tempat kerja. Impact adalah kebalikan dari belajar helpness. Lebih lanjut,
    impact berbeda dari locus of control; sedangkan impact dipengaruhi oleh
    konteks kerja, internal locus of control; merupakan karakteristik kepribadian
    global. Indikator impact (dampak), sebagai berikut:
    a. Pencapaian penyelsaian tugas
    b. Berkontribusi terhadap organisasi
  4. Self Determination (penentuan nasib sendiri)
    Self determination atau pilihan mengacu pada perasaan otonomi dalam
    membuat keputusan tentang pekerjaan. Self-determination adalah sence
    individu untuk menentukan pilihan dalam memualai dan mengatur tindakan.
    Indikator Self Determination (penentuan nasib sendiri), sebagai berikut:
    a. Pembuatan keputusan
    b. Mentapkan pilihan dalam memulai dan mengatur tindakan

Pandangan Tentang Psychological Empowerment


(Ivancevich, et al, dalam penelitian Dhera Alfiana, 2020:6) menjelasakan
psychological empowerment menjadi 3 pandangan:

  1. Psychological empowerment secara struktural
    Psychological empowerment struktural merupakan pendekatan secara
    tradisional yang dipahami sebagai pemberian kewenangan kekuasaan dan
    pengambilan keputusan. Kekuasan yang dimaksud yaitu kekuasan dalam
    organisasi yang berasal dari sumber seperti otoritas hirarki, pengendalian
    sumber daya manusia, dan sentralitas jaringan. Dengan memberdayakan
    pegawai maka akan melibatkan pemindahan wewenang pengambilan
    keputusan hirarki organisasi kepada pegawai, dalam hal ini memberi
    kemampuan kepada pegawai untuk melakukan pengambilan keputusan yang
    akan mempengaruhi hasil organisasi.
  2. Psychological empowerment secara motivasional
    Psychological empowerment dengan pendekatan secara motivasional pertama
    kali dipopulerkan oleh Conger dan Kanungo pada tahun 1988. Psychological
    empowerment didefinisikan sebagai proses untuk meningkatkan perasaan self-
    efficacy pada anggota organisasi melalui identifikasi kondisi yang dapat
    memberdayakan suatu ketidakberdayaan dan melalui pemindahan pegawai
    oleh organisasi dan teknik informal untuk memberikan informasi yang akurat.
  3. Psychological empowerment secara kepemimpinan
    Psychological empowerment dalam pendekatan kepemimpinan ditekankan
    pada aspek pemberian energi dari pimpinan kepada bawahan. Pemimpin
    memberdayakan bawahannya dengan cara memberikan inspirasi agar pegawai
    ikut berpartisipasi dalam proses transformasi organisasi

Proses dan Upaya Psychological Empowerment


Psychological empowerment merupakan suatu proses untuk tiap-tiap
individu yang akan menjalankan perubahan terhadap dirinya dan organisasinya.
(Ivancevich, et al, dalam penelitian Dhera Alfiana, 2020:5) menyatakan bahwa
proses pemberdayaan melalui tahapan berikut, yaitu:

  1. Mengidentifikasi kondisi organisasi yang menyebabkan munculnya perasaan
    tidak berdaya pada sebagian anggota organisasi. Kondisi ini bersumber pada
    faktor organisasi (seperti komunikasi yang tidak efektif), gaya manajemen
    (sifat otoriter), sistem imbalan jasa (imbalan yang kurang bernilai, imbalan
    yang tidak didasarkan pada kinerja), karakteristik pekerjaan itu sendiri
    (rendahnya variasi tugas, tujuan kerja yang tidak realistik).
  2. Mengimplementasi strategi dan teknik-teknik pemberdayaan (seperti
    menetapkan tujuan, mengimplementasi sistem imbalan jasa yang berdasarkan
    pencapaian kerja, dan mendesain ulang pekerjaan).
  3. Mengupayakan kondisi ketidakberdayaan dan meningkatkan kemampuan diri
    pegawai (individu yang memiliki kemampuan diri yang tinggi cendrung
    memiliki kepercayaan diri dan dapat mencapai kesuksesan apapun usaha keras
    yang dijalankan).
  4. Menerima informasi untuk mencapai pemberdayaan, hal ini terjadi karena
    peningkatan kemampuan diri dapat memperkuat harapan tentang kinerja.
    Proses psychological empowerment yang dilakukan melalui tahapan tersebut
    di atas perlu didukung oleh pimpinan serta keterlibatan pegawai itu sendiri
    dalam mancapai tujuan organisasi.

Manfaat Psychological Empowerment


Psychological empowerment dapat memberikan manfaat bagi pegawai
organisasi, dimana pegawai organisasi akan merasa menjadi bagian dari kelompok,
merasa puas dalam mengambil tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya,
meningkatkan rasa percaya dirinya, terbinanya kerjasama yang lebih dekat dengan
orang lain, bekerja dengan memiliki tujuan yang lebih jelas, mendapatkan prestasi,
meningkatkan kinerja organisasi, mengembangkan bakatnya secara penuh, dan
merefleksikan apa yang dilihat serta mengembangkan keterampilan baru (Wibowo,
dalam penelitian Muhammad. Reza A, 2021:17).
Menurut (Sadarmayanti, dalam penelitian Muhammad. Reza. A, 2021:17)
menjelaskan psychological empowerment penting manfaatnya terhadap sumber
daya manusia lainnya dan terhadap setiap proses dalam kegiatan organisasi, maka
psychological empowerment mempunyai peran antara lain:

  1. Sebagai alat manajemen dalam rangka memberdayakaan berbagai sumber
    untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
  2. Sebagai pembeharu manajemen dalam rangka meningkatkan kinerja
    organisasi.
  3. Sebagai inisiator terhadap organisasi dalam rangka memanfatkan peluang guna
    meningkatkan dan mengembangkan organisasi.
  4. Sebagai mediator terhadap pihak dalam rangka meningkatkan kinerja
    organiasi.
  5. Sebagai pemikir dalam rangka pengembangan organisasi.
    Manfaat psychological empowerment yang lain adalah dapat membuat
    individu tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan atau ancaman
    (Fredrickson, et al, dalam penelitian Monica Levina, 2021:6). Psychological
    empowerment dapat menjadi sumber daya individu dan membantu individu untuk
    bangkit kembali dari keterpurukan keadaan yang dialaminya. Selain itu, individu
    tekun dalam bekerja, dan dapat memfasilitasi harapan bahwa keadaan akan menjadi
    lebih baik di masa depan.
    Dengan demikian, psychological empowerment banyak memberikam
    manfaat kepada setiap individu yang ingin merubah kehidupannya menjadi lebih
    baik yang tentunya harus didukung oleh pimpinan. Namun, jika tidak dilakukan
    dengan baik, maka dapat menimbulkan hambatan dalam pemberdayaan pegawai

Faktor-Faktor Psychological Empowerment


Berikut faktor-faktor psychological empowerment menurut pendapat (Lee
dan Koh, dalam penelitian Aam Amaliah dan Laila. M. I. W, 2021:38), yaitu:

  1. Faktor individual
    Faktor individual merupakan faktor-faktor yang berkaitan dengan keadaan
    ditempat kerja baik fisik maupun non fisik yang sering dialami oleh seorang
    individu yang berhubungan dengan karakteristik biografi pegawai seperti jenis
    kelamin, tingkat pendidikan, tingkat jabatan, locus of control, dan masa kerja.
  2. Faktor Organisasional
    Faktor Organisasional yaitu faktor-faktor yang sering terjadi dalam sebuah
    organisasi seperti rentang kendali, ketidak jelasaan peran, akses untuk
    informasi, dan sumber daya, dukungan social, serta iklim kerja

Pengukuran Psychological Empowerment


Untuk mengukur Psychological Empowerment penulis menggunakan skala
psychological empowerment questionnaire (PEQ) yang dikembangkan oleh
(Spreitzer dalam penelitian Aam Amaliah dan Laila Meliyandrie I. W, 2021:39). Alat
ukur yang dikembangkan tersebut terdiri dari dua belas item yang dikembangkan
untuk mengukur empat komponen dari psychological empowerment. Ke empat
komponen tersebut adalah meaning, competence, self deteremination, impact
spreitzer sendiri mengembangkan subskala yang ada pada alat ukur ini berdasarkan
pada item-item alat ukur di penelitian-penelitain sebelumnya. Item untuk komponen
meaning diambil langsung dari Tymon 1988 item untuk komponen competence
diambil dari self afficacy scale oleh Jones 1986, item untuk kompenen impact diambil
dari Helplesness Scale oleh Ashforth 1989, dan item untuk kompinen self
determination diambil dari Autonomi Scale oleh Hackman dan Oldhams Spreitezr
1995 masing-masing komponen diwakali oleh tiga item dalam alat ukut ini

Pengertian Psychological Empowerment


Konsep psychological empowerment lebih fokus terhadap pemberdayaan
pegawai pada konteks psikis supaya pegawai mampu memahami kompetensi dan
meningkatkan kapabilitasnya dan juga merupakn konsep ketika pegawai memiliki
kekuatan atau autonomi. Pendekatan atas pemahaman pemberdayaan pegawai
sebagai konstruksi motivasi yang menyatakan bahwa kekuatan dalam konstruksi
motivasional menunjuk pada kebutuhan akan determinasi diri dan kepercayaan
seseorang akan kemampuan dirinya. Untuk memperkaya pemahaman
pemberdayaan pegawai secara psikologis, penting untuk memahami secara spesifik
dimensi dan makna yang menjadi konstruksi inti dari konsep ini (Meyerson et al,
dalam penelitian Aam Amaliah dan Laila Meliyandrie I. W, 2021:35).
Menurut (Purnawati I. G. A dan Yuniarta G. A et al, 2018:25)
mendefinisikan psychological empowerment menjadi suatu proses dalam
memotivasi perkembangan pegawai yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan
dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif, sehingga pekerjaan bisas lebih
efektif serta efisien.
Menurut (Spreitzer dalam penelitian Aam Amaliah dan Laila Meliyandrie I.
W, 2021:35) menjelaskan bahawa psychological empowerment adalah sebuah
konstruk motivasi yang diwujudkan dalam empat kognisi yaitu meaning,
competence, self determination, impact. Ke empat kognisi ini secara bersama-sama
mencerminkan orientasi aktif (bukan pasif) terhadap peran kerja. Orientasi aktif
tersebut berarti orientasi dimana seorang individu ingin dan merasa mampu
membentuk karyanya sendiri dalam perannya atau konteksnya didalam
pekerjannya.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa psychological
empowerment merupakan empat kognisi yang mencerminkan orientasi pegawai
untuk perannya, yaitu meaning, competence, impact, self determination. Dimana
dengan ke empat komponen tersebut dapat membantu pegawai untuk lebih merasa
bahwa mereka dapat membegang kendali didalam suatu organiasi

Psychological Empowerment


Empowerment (pemberdayaan) sebagai konsep dan penggunaannya dalam
praktek manajemen sebenarnya telah berkembang cukup lama. Konsep ini sebagai
tantangan akan praktek manajemen sebelumnya dimana pimpinan dalam organisasi
mempunyai lebih banyak peran dalam proses pengambilan keputusan. Esensi dari
empower itu sendiri sebenarnya membentuk suatu “keinginan” mental positif dalam
praktek manajemen. Fokusnya sebagai pemberi semangat, bukan sebagai
pengontrol, melainkan penyeimbang dalam pencapaian tujuan individu dan
organisasi. Konsep empowerment menajdi penting karena konsep inilah yang
menjadi kunci dari sejumlah konsep-konsep kreatif yang muncul misalnya self-
managed team dan total quality management. Namun dalam kenyataannya, proses
pelaksanaan empowerment masih tidak berlangsung sperti yang diharapkan.
Sebagai contoh, dalam organisasi masih ada pimpinan yang mengambil keputusan
tanpa melibatkan bawahannya atau bawahan tidak diberikan kebebasan dalam
pembuatan pengaturan jadwal dan prosedur, serta dalam memecahkan masalah
tugas sehari-hari seperti yang tercermin dalam praktek manajemen lama.
Menurut (Priyono dan Pranaka, dalam penelitian A.A Ngurah Yoga Indra
Prataam et al, 2020:181) pengertian empowerment sejatinya mengandung dua arti,
yang pertama empowerment memiliki peran sebagai memberi atas kekuasaan atau
mampu mengalihkan ke pihak lainnya. Sedangkan kedua dapat dipahami jika arti
empowerment adalah suatu upaya untuk memberikan keberdayaan dan kemampuan
kepada pihak lain.
Psychological dalam suatu organisasi adalah suatu bagian dari aspek
psikogis postif yang dimiliki oleh individu yang berfungsi untuk meningkatkan
motivasi, efikasi diri, optimisme, harapan, dan resiliensi yang berorientasi pada
keberhasilan dan kesuksesan disuatu organisasi atau tempat kerja. Psychological
yang dimiliki individu ditandai dengan adanya kepercayaan diri, rasa gembira, dan
pengharapan yang positif tentang masa depan serta kemampuan untuk menghadapi
masalah yang terjadi.
Psychological erat kaitannya dengan kesehatan mental, ada beberapa alasan
mengapa kesehatan mental menjadi issue penting dalam dunia kerja. (Danna dan
Griffin, dalam penelitian Rahamat Aziz, Esa Nur Wahyuni et al, 2017:34)
menyatakan alasan pentingnya kesehatan mental di tempat kerja, yaitu pengalam
individu baik fisik, emosional, mental, atau sosial akan mempengaruhi bagaimana
individu ditempat kerja. Kesehatan mental pekerja menjadi bagian penting karena
akan menumbuhkan kesadaran terhadap faktor-faktor lain yang menimbulkan
resiko bagi pekerja. Misalkan, karakteristik tempat kerja yang mendukung
keamanan dan kesejahteraan bagi pekerja, potensi ancaman kekerasaan atau agresi
ditempat kerja (kekerasaan seksual dan bentuk-bentuk perilaku disfungsional
lainnya), bahkan hubungan antara pimpinan dan bawahan yang berimplikasi pada
kesehatan mental. Oleh karena itu kesehatan mental menjadi dari bagian penting
karena kesehatan yang rendah akan mempengaruhi kinerja

Komponen Manajemen Sumber Daya Manusia


Kompenen manajemen sumber daya manusia menurut (Hasibuan Malayu
S.P, 2020:35) yaitu tenaga kerja manusia pada dasarnya dibedakan atas pengusaha,
dan pemimpin.

  1. Pengusaha
    Pengusaha merupakan satu dari sekian banyak profesi dalam bidang kerja.
    Pengusaha adalah seseorang, kelompok, ataupun lembaga yang melakukan
    kegiatan jual beli atau sewa sesuatu. Banyak hal yang bisa dikategorikan
    dalam pengusaha contohnya seperti produsen sepatu, peternakan ayam,
    eksport-import bahan baku atau sebuah produk menjual jasa dan lain-lain
    sebagainya.
  2. Pegawai
    Pegawai merupakan aset perusahaan. Kehadiran begitu sangat penting
    hingga saat ini tanpa adanya tidak akan terjadi kelancaran dan proses
    produksi suatu perusahaan. adalah orang yang bekerja di suatu perusahaan
    atau lembaga dan di gaji dengang uang.
  3. Pemimpin
    Pemimpin adalah orang yang memimpin kelompok dua orang atau lebih,
    baik organisasi maupun keluarga. Sedangkan kepemimpinan adalah
    kemampuan seorang pemimpin untuk mengendalikan, memimpin,
    mempengaruhi fikiran, perasaan atau tingkah laku orang lain untuk
    mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya

Unsur-Unsur Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut (M. Anang Firmansyah dan Budi W. Mahardhika, 2018:45) dalam
bukunya yang berjudul Pengantar Manajemen, Menyatakan bahawa ada sebuah
unsur pokok unsur manajemen yang membentuk kegiatan manajemen yaitu: unsur
man, money, material, machine, method, market. Keenam unsur ini memiliki fungsi
masing-masing dan saling berinteraksi dalam mencapai tujuan organisasi terutama
proses pencapain tujuan secara efektif dan efisien. Unsur manajemen tersebut dapat
dijabarkan sebagai berikut:

  1. Man, adalah sumber daya manusia yang melakukan kegiatan manajemen dan
    produksi. Adanya faktor SDM, kegiatan manajemen dan produksi dapat
    berjalan karena pada dasarnya faktor SDM sangat berperan penting dalam
    kegiatan manajemen dan produksi.
  2. Money, adalah faktor pendanaan atau keungan tanpa adanya keuangan yang
    memadai kegiatan perusahaan atau organisasi akan berjalan sebagaimana
    mestinya, karena pada dasarnya keuangan ialah darah dari perusahaan atau
    organisasi. Hal keunagan ini berhubungan dengan masalah anggaran (budget),
    upah (gaji) dan pendapatan perusahaan/organiasi.
  3. Material, berhubungan dengan barang mentah yang akan diolah menjadi
    barang jadi. Adanya barang mentah, maka dapat disajikan suatu barang yang
    bernilai sehingga dapat mendatangkan keuntungan.
  4. Machine, adalah mesin pengolah atau teknologi yang dipakai dalam mengolah
    barang mentah menajdi barang jadi. Adanya mesin pengolah, maka kegiatan
    produksi akan lebih efisien dan menguntungkan.
  5. Method, adalah tata cara melakukan kegiatan manajemen secara efektif dengan
    menggunakan pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran agar mencapai
    suatu tujuan akan dituju.
  6. Market, adalah tempat untuk memasarkan produk yang telah dihasilkan.

Fungsi-Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Fungsi dari manajemen daya manusia adalah untuk mengelola manusia
seefektif mungkin agar diperoleh suatu satuan sumber daya manusia yang merasa
puas dan memuaskan. Berikut fungsi manajemen sumber daya manusia enurut
(Hasibuan Malayu S.P, 2020:21) fungsi sumber daya manusia meliputi:

  1. Perencanaan (planning)
    Merupakan suatu upaya dalam menentukan berbagai hal yang hendak dicapai
    atau tujuan di masa depan dan juga untuk menentukan beragam tahapan yang
    memang dibutuhkan demi mencapai tujuan tersebut.
  2. Pengorganisasian (organizing)
    Proses organisasi ialah membentuk organisasi, kemudian membaginya dalam
    unit-unit yang sesuai dengan fungsi-fungsi yang telah ditentukan dan
    dilengkapi dengan serta ditambah fasiltas-fasiltas tertentu.
  3. Pengarahan (directing)
    Pengarahan berarti memberi petunjuk dan mengajak para pegawai agar mereka
    berkemauan secara sadar untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan yang
    telah tentukan oleh perusahaan.
  4. Pengendalian (controlling)
    Pengendalian berarti melihat, mengamti dan menilai tindakan atau pekerjaan
    pegawai. Pengendalian membandikan hasil yang dicapai pegawai dengan hasil
    atau target yang direncankan.
  5. Pengadaan (procurement)
    Fungsi pengadaan berkaitan dengan penuntan kebutuhan pegawai dan
    penarikannya, seleksi dan penempatannya.
  6. Pengembangan (development)
    Dengan adanya fungsi pengembangan pegawai perlu dibina dan
    dikembangkan. Pengembangan ini dilakukan dengan tujuan untuk
    meningkatkan keterampilan melalui latihan yang diperlukan untuk dapat
    menjalankan pekerjannya dengan baik.
  7. Kompensasi (compensation)
    Kompensasi adalah sebagai pemberian pengharagaan kepada pegawai sesuai
    dengan sumbangan mereka untuk mencapai tujuan organiasi. Kompensasi ini
    biasanya diterima pegawai baik berupa financial maupun non financial dengan
    tunjangan-tunjangan lain selama periode satu bulan.
  8. Pengintegrasian (intergration)
    Pengintegrasian adalah penyesuaian sikap-sikap keinganan pegawai, dengan
    keingan perusahaan dan masyarakat dengan demikian para manajer dan
    pimpinan perusahaan perlu memahami perasaan, tingkah laku, dan sikap para
    pagawai untuk ditimbangkan dalam rangka pembutuan keputusan berbagai
    kebijakan perusahaan.
  9. Pemeliharaan (maintenance)
    Merupakan usaha untuk menjaga dengan cara mempertahankan dan
    memelihara kondisi fisik para yang berhubungan dengan kesehatan, dan
    pemeliharan sikap yang menyenangkan dilaksanakan melalui program
    pelayanan .
  10. Kedisiplinan (discipline)
    Kegiatan untuk mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan
    pegawai agar tercipta kerja sama yang harmonis dan saling mengutungkan
  11. Pemberhentian / Pensiun (separation)
    Fungsi pemberhentian berhubungan dengan pegawai yang sudah lama bekerja
    pada perushaan. Fungsi utama manajemen kepegawaian adalah menjamin
    pegawai-pegawai ini akan pensiun, sewaktu pensiun harus merasa aman.
    Biasanya perusahaan yang sudah berukuran besar menyediakan dana bagi
    pegawai yang sudah pensiun, dan pensiun ini sumbernya dari potongan gaji
    pegawai yang bersangkutan pada masih aktif bekerja.
    Berdasarkan yang telah dijelaskan diatas fungsi-fungsi tersebut digunakan
    dalam manajemen sumber daya manusia untuk menangani permasalahan yang
    berkaitan dengan sehingga dapat dan mendorong dalam mencapai keberhasialan
    serta tujuan perusahaan secara efketif dan efisien

Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia


Menurut (A. A Anwar Mangkunegara 2018:2) manajemen sumber daya
manusia dapat didefinisikan pula sebagai suatu pengelolaan dan pendayagunaan
sumber daya yang pada individu (pegawai). Pengelolaan dan pendayagunaan
tersebut dikembangkan secara maksimal di dalam dunia kerja untuk mencapai
tujuan organisasi dan pengembangan individu pegawai.
(Hasibuan Malayu S.P, 2020:10) berpendapat bahwa manajemen sumber
daya manusia merupakan perencanaan pengorganisasian, pengarahan, dan
pengendalian dari pengadaan, pengembangan, kompensasi, pengintegrasian,
pemeliharaan dan pemberhentian pegawai dengan maksud dan terwujudnya tujuan
perusahaan, individu, pegawai, dan masyarakat. Adapun menurut (Amirul
Mukminin, Akhmad Habibi et al 2019:6) berpendapat bahwa definisi manajemen
sumber daya manusia adalah perwujudan ilmu dan seni berkenaan dengan
serangkaian kegiatan dalam mengelola manusia pada suatu organisasi, lembaga
maupun perusahaan agar tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Serangkaian kegiatan yang dimaksud meliputi perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, monitoring, seleksi, perekrutan, pelatihan, dan pengembangan.
Berdasarakn para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber
daya manusia adalah suatu ilmu dalam mengatur dan merencanakan serta
memproses hubungan dan peran seorang individu atau dalam melaksanakan
tanggung jawab terhadap perusahaan dengan efektif dan efisien dalam mencapai
tujuan yang diingakan perusahaan

Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen Sumber Daya Manusia merupakan ilmu dan seni yang
mengatur hubungan dan peran tenaga kerja agar efektif dan efisien membantu
terwujudnya tujuan perusahaan, manajemen yang mengatur unsur-unsur manusia
ini sering disebut manajemen kepegawain atau manajemen personalia yang
diterapkan pada suatu perusahaan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Walapun sumber daya lain lebih melimpah dan teknologi sangat canggih, namun
sumber daya manusia yang unggul sangat membantu dalam pengelolaan sumber
daya lainnya untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi. Berikut ini beberapa
pengertian mengenai Manajemen Sumber Daya Manusai menurut para beberapa
ahli diantaranya.

Unsur-Unsur Manajemen


Manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Manajemen yang baik akan memudahkan terwujudnya tujuan perusahaan, dan
masyarakat. Dengan manajemen, daya guna dan hasil guna unsur-unsur manajemen
akan dapat ditingkatkan. Menurut (Hasibuan Malayu S.P, 2020:30) adapun unsur-
unsur manajemen terdiri dari:

  1. Man
    Manusia merupakan penggerak utama untuk menjalankan fungsi-fungsi
    manajemen dan melakukan semua aktifitas-aktifitas untuk mencapai tujuan
    organisasi. Potensi yang dimiliki oleh setiap manusia berbeda satu sama lain.
    Untuk itu dibutuhkan pengelolaan agar diperoleh tenaga kerja yang berkualitas
    dan dapat mencapai tujuan organisasi dengan efektif dan efisien.
  2. Money
    Uang juga merupakan faktor yang sangat penting dalam setiap proses
    pencapaian suatu tujuan. Setiap kegiatan maupun aktifitas-aktifitas yang
    dilakukan tidak akan terlaksana tanpa adanya penyediaan uang atau biaya yang
    cukup. Uang juga sebagai alat ukur dan alat pengukur nilai suatu perusahaan atau
    organisasi.
  3. Method
    Setiap pelaksanaan kerja diperlukan suatu metode-metode kerja. Suatu tata cara
    kerja yang baik akan memperlancar jalan alur pekerjaan. Sebuah metode dapat
    dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan
    memberikan berbagai pertimbangan-pertimabangan kepada sasaran.
  4. Material
    Setiap pelaksanaan kerja diperlukan suatu metode-metode kerja. Suatu tata cara
    kerja yang baik akan memperlancar jalan atau alur pekerjaan. Sebuah metode
    dapat dinyatakan sebagai penetapan cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan
    memberikan berbagai pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran. Material
    Merupakan bahan-bahan yang akan diolah menjadi produk yang siap dijual.
    Material ini juga sebagai bahan yang menunjang terciptanya keahliaan pada
    manusia dalam melakukan pekerjaan jasa.
  5. Machine
    Mesin digunakan untuk memberikan kemudahan atau menghasilkan keuntungan
    yang lebih besar serta menciptakan efisiensi kerja. Digunakannya mesin-mesin
    dalam suatu pekerjaan untuk menghemat tenaga dan pikiran manusia dalam
    melakukan tugas-tugasnya dengan baik.
  6. Market
    Merupakan sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditunjukkan untuk
    merencanakan, menentukan tugas, mempromosikan dan mendistribusikan
    barang, jasa, ide kepada pasar sasaran agar dapat mencapai tujuan organisasi
    dengan memperhatikan pesaing

Fungsi Manajemen


Manajemen adalah sebagai ilmu (sciences) dan juga bisa sebagai seni (art),
artinya manajemen dalam pelaksanaanya harus selalu memperhatikan situasi dan
kondisi yang sesuai dengan tujuan yang ditentukan. Oleh sebab itu manajemen
memiliki berbagai macam fungsi yang harus dipahami secara utuh dan
konprehensif.
Sedangkan menurut menurut Mamduh Hanafi (2019:11) terdapat empat
fungsi manajemen, yaitu:

  1. Perencanaan (Planning)
    Perencanaan merupakan fungsi manajemen yang melibatkan proses
    pngaturan tujuan, menetapkan strategi yang dipakai untuk mencapai tujuan tersebut
    dan mengembangkan rencana-rencana untuk mengintegrasikan dan
    mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan.
  2. Pengorganisasian (Organization)
    Pengorganisasian adalah fungsi manajemen yang melibatkan pengaturan
    dan penataan pekerjaan tentang apa yang dilakukan dan siapa yang
    melakukan pekerjaan tersebut untuk mencapai tujuan organisasi.
  3. Penggerak (Actuanting)
    Kepemimpinan adalah fungsi manajemen yang melibatkan pekerjaan yang
    dilakukan dengan melalui orang lain termasuk motivasi, pengarahan dan
    kegiatan lainnya dalam rangka untuk nenangin orang-orang dalam
    mencapai
    tujuan organisasi
  4. Pengendalian (Controlling)
    Pengarahan adalah fungsi manajemen yang mencakup pengawasan,
    perbandingan dan mengoreksi performa kerja untuk memastikan semua
    kegiatan berjalan sesuai dengan yang teelah direncanakan.
    Maka dapat disimpulkan bahwa fungsi manajemen menurut pendapat para
    ahli diatas sampai pada pemahaman penulis bahwa fungsi manajemen terdiri dari 4
    yaitu perencanaan, pengorganisasian, kepemimpian dan pengendalian

Pengertian Manajemen


Kata manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu “management” berasal
dari kata “to manage” yaitu bermakna mengurus atau mengedalikan. Sehingga
manajemen bisa diartikan sebagai metode untuk mengelola, membimbing, serta
mengendalikan orang-orang yang ada didalam suatu organisasi agar dapat
melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik serta benar sehingga tujuan sebuah
organisasi dapat tercapai. Adapun beberapa pengertian manajemen menurut para
ahli sebagai berikut:
Menurut (Hasibuan Malayu S.P, 2020:1) mengemukakan bahwa
manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfataan sumber daya
manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efesien untuk
mencapai suatu tujuan tertentu. Manajemen dapat dipandang sebagai suatu seni,
dimana terdapat cara sebagai upaya membimbing dan mengarahkan sumber daya
yang ada untuk mencapai tujuan. Manajemen juga dapat dipandang sebagai suatu
proses, dimana terdapat suatu perencanaan, pengkoordinasian, pengintrgasian,
pembagian tugas, pengorganisasian, pengendalian, dan pemanfaatan sumber daya
yang ada untuk mencapai tujuan.
Menurut (Afandi P, 2018:8) Manajemen adalah bekerja dengan orang-orang
untuk mencapai tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau
kepegawaian (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan
(controlling). Manajemen adalah suatu proses khas, yang terdiri dari tindakan
perencanaan, pengorganisasian, pergerakan, dan pengendalian yang dilakukan
untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya.
Menurut (George. R. Terry, 2020:9), menyebutkan bahwa manajemen
adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan untuk
menentukan serta mencapai sasaransasaran yang telah ditentukan melalui
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.
Berdasarkan penyampaian para ahli maka dapat diambil kesimpulan bahwa
manajemen adalah suatu kegiatan yang mengatur setiap aktifitas-aktifitas didalam
organisasi ataupun perusahaan melalui pemanfataan sumber daya manusia dan
sumber daya lainnya agar tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Manajemen


Secara etimologi kata manajemen diambil dalam bahasa prancis kuno, yaitu
“Management”, yang memiliki arti seni dalam mengatur dan melaksanakan.
Manajemen dapat di definisikan sebagai upaya perencanaan, penkoordinasian,
pengorganisasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran secara
efisien dan efektif. Manajemen juga merupakan ilmu pengetahuan yang sistematis
yang dapat diterapkan dalam seluruh organisasi manusia, perusahaan,
pemerintahan, pendidikan, sosial keagamaan, dan lain-lainnya

Karakteristik Quitter, Camper dan Climber


a. Quitter karakteristik yang dimiliki adalah sebagai berikut:

  1. Menolak untuk mendaki lebih tinggi lagi.
  2. Gaya hidupnya tidak menyenangkan atau datar dan tidak lengkap.
  3. Bekerja sekedar cukup untuk hidup.
  4. Cenderung menghindari tantangan berat yang muncul dari komitmen
    yang sesungguhnya.
  5. Jarang sekali memiliki persahabatan yang sejati.
  6. Dalam menghadapi perubahan mereka cenderung melawan atau lari
    dan cenderung menolak.
  7. Terampil dalam kata-kata yang sifatnya membatasi, seperti: tidak mau,
    mustahil, ini konyol dan sebagainya.
  8. Kemampuannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali, mereka tidak
    mempunyai visi dan keyakinan akan masa depan, kontribusinya
    sangat kecil.
    b. Camper karakteristik yang dimiliki adalah sebagai berikut:
  9. Mereka mau untuk mendaki, meskipun akan berhenti di titik tertentu
    dan merasa cukup sampai disitu.
  10. Mereka cukup puas telah mencapai suatu tahapan tertentu.
  11. Masih memiliki sejumlah inisiatif, sedikit semangat dan beberapa
    usaha.
  12. Menahan diri terhadap perubahan, meskipun kadang tidak menyukai
    perubahan besar karena mereka merasa nyaman dengan kondisi yang
    ada.
  13. Mereka menggunakan bahasa dan kata-kata yang kompromistis,
    misalnya: ini cukup bagus, kita cukuplah sampai disini saja.
  14. Prestasi mereka tidak tinggi, dan kontribusinya tidak besar juga.
  15. Meskipun telah melalui berbagai rintangan, namun mereka akan
    berhenti juga pada suatu tempat dan mereka berkemah disitu.
    c. Clamber karakteristik yang dimiliki adalah sebagai berikut:
  16. Mereka membaktikan diri untuk terus mendaki. Mereka adalah
    pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan.
  17. Mereka menyadari bahwa akan banyak imbalan yang diperoleh dalam
    jangka panjang melalui langkah-langkah kecil yang sedang
    dilewatinya.
  18. Menyambut baik tantangan, motivasi diri, memiliki semangat tinggi,
    dan berjuang mendapatkan yang terbaik dalam hidup, mereka
    cenderung membuat segala sesuatu terwujud.
  19. Tidak takut menjelajahi potensi-potensi tanpa batas yang ada di antara
    dua manusia, memahami dan menyambut baik resiko menyakitkan
    yang ditimbulkan karena bersedia menerima kritik.
  20. Menyambut baik setiap perubahan, bahkan ikut mendorong setiap
    perubahan tersebut kearah yang positif.
  21. Bahasa yang digunakan adalah bahasa dan kata-kataa yang penuh
    dengan kemungkinan-kemungkinan, mereka berbicara tentang apa
    yang bisa dikerjakan dan cara mengerjakannya, mereka berbicara
    tentang tindakan dan tidak sabar dengan kata-kata yang tidak
    didukung dengan perbuatan.
  22. Memberikan kontribusi yang cukup besar karena bisa mewujudkan
    potensi yang ada pada dirinya.
  23. Mereka tidak asing dengan situasi yang sulit karena kesulitan
    merupakan bagian dari hidup

Tingkatan dalam Adversity Quotient


Stoltz (2000) mengelompokkan individu berdasarkan daya juang menjadi
tiga: quitter, camper dan climber. Adapun penjelasan dari ketiga tingkatan
AQ tersebut yaitu:
a. Quitter atau orang yang mudah menyerah, yaitu orang yang mundur dari
pendakian mereka atau pencapaian tujuan mereka. Orang yang seperti ini
mudah putus asa dan cepat menyerah.
b. Campers atau orang yang berkemah, yaitu orang yang bekerja keras,
menggunakan potensinya untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi, dan
kemudian merasa puas dengan zona aman yang mereka jumpai. Mereka
jadi termotivasi oleh hal-hal yang dapat diperkirakan, keamanan dan
perubahan terbatas, sehingga mereka dan kemampuan mereka akan
mengalami kemunduran. Dengan kata lain orang yang tipe seperti ini
tidak mencapai puncak namun sudah puas dengan apa yang dicapainya.
c. Climber atau pendaki, yaitu orang yang terus mendaki,terus berusaha
dengan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk mengatasi
kesulitannya dan mencapai potensi maksimalnya. Climber akan terus
berusaha, terus belajar dan tidak pernah puas dengan apa yang diraihnya.
Dengan kata lain, orang yang tipe seperti ini adalah orang yang selalu
optimis, melihat peluang-peluang, melihat celah dan selalu bergairah
untuk terus maju

Dimensi Adversity Quotient


Menurut Stoltz (2000) adversity quotient terdiri dari empat dimensi
penyusun yang disingkat CO²RE yaitu dimensi control, origin-ownership,
reach, dan endurance. Ini merupakan gambaran karakteristik individu yang
mendasari kemampuan untuk menghadapi kesulitan dan tantangan dalam
hidup. Berikut ini penjelasan dari keempat dimensi tersebut:
a. Control (pengendalian). Merupakan sejauh mana seseorang mampu
mempengaruhi dan mengendalikan respon individu secara positif
terhadap situasi apapun. Kendali yang sebenarnya dalam suatu situasi
hampir tidak mungkin diukur, kendali yang dirasakan jauh lebih penting.
Dimensi control merupakan salah satu yang penting karena berhubungan
langsung dengan pemberdayaan serta mempengaruhi semua dimensi
CO²RE lainnya.
b. Origin-Ownership (asal-usul dan pengakuan). Merupakan kependekan
dari origin (asal usul) dan ownership (pengakuan). Origin-Ownership
mempertanyakan dua hal:

  1. Siapa atau apa yang menjadi asal usul kesulitan dan sampai sejauh
    manakah seseorang mengakui akibat-akibat kesulitan.
  2. Sampai sejauh mana seseorang bersedia mengakui akibat kesulitan itu.
    Rasa bersalah tidak sama dengan memikul tanggung jawab. Mengakui
    akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kesulitan mencerminkan
    tanggung jawab.
    c. Reach (jangkauan). Merupakan kemampuan dan potensi suatu masalah
    mempengaruhi bagian-bagian lain dalam kehidupan seseorang. Respon-
    respon dengan adversity quotient yang rendah akan membuat kesulitan
    mempengaruhi segi-segi lain dari kehidupan seseorang.
    d. Endurance (daya tahan). Merupakan kemampuan yang dimiliki oleh
    seseorang untuk tetap bertahan dalam situasi yang sulit dan berusaha
    memperbaikinya. Seberapa besar tingkat ketahanan dan ketekunan
    seseorang dalam menghadapi masalah

Dimensi Kesejahteraan Psikologis


Ryff (1995) mendefinisikan konsep Kesejahteraan psikologis dalam
enam (6) dimensi, yaitu:
a. Penerimaan diri (self-acceptance). Dimensi ini merupakan suatu bagian
yang sentral dari kesehatan mental. Ryff menyimpulkan bahwa
penerimaan diri mengandung arti sebagai sikap yang positif terhadap diri
sendiri. Sikap positif ini adalah mengenali dan menerima berbagai aspek
dalam dirinya dengan positif. Individu yang memiliki sikap penerimaan
diri akan memiliki sikap positif terhadap dirinya, mengakui dan
menerima berbagai aspek diri, termasuk kualitas yang baik dan buruk,
dan merasa positif tentang kehidupan masa lalu. Sehingga tidak merasa
puas dengan diri sendiri, dan terhindar dari perasaan kecewa dengan apa
yang telah terjadi dalam kehidupan masa lalu (Ryff, 1995).
b. Hubungan yang positif dengan orang lain (positive relationship with
others). Berdasarkan pada berbagai teori, Ryff (1995) mendefinisikan
hubungan yang positif dengan orang lain sebagai dimensi yang
mencerminkan kemampuan individu untuk menjalin hubungan yang
hangat, saling mempercayai, dan saling mempedulikan kebutuhan serta
kesejahteraan pihak lain. Menurut Ryff (1995), kemampuan individu
untuk menjalin hubungan yang positif ini juga dicirikan oleh adanya
empati, afeksi, dan keakraban, serta adanya pemahaman untuk saling
memberi dan menerima.
c. Otonomi (Autonomy. Ryff (1995) menyimpulkan pribadi yang otonom
adalah pribadi yang mandiri, yang dapat menentukan yang terbaik untuk
dirinya sendiri. Otonomi digambarkan sebagai kemampuan individu
untuk bebas namun tetap mampu mengatur hidup dan tingkah lakunya.
Individu yang memiliki otonomi yang tinggi ditandai dengan bebas,
mampu untuk menentukan nasibnya sendiri dan mengatur perilaku diri
sendiri, kemampuan mandiri, tahan terhadap tekanan sosial, mampu
mengevaluasi diri sendiri, dan mampu mengambil keputusan tanpa
adanya campur tangan orang lain. Sebaliknya, individu yang rendah
dalam dimensi otonomi akan sangat memperhatikan dan
mempertimbangkan harapan dan evaluasi dari orang lain, berpegangan
pada penilaian orang lain untuk membuat keputusan penting, serta mudah
terpengaruh oleh tekanan sosial untuk berpikir dan bertingkah laku
dengan cara-cara tertentu (Ryff, 1995).
d. Penguasaan lingkungan (environmental mastery. Dimensi ini
menggambarkan adanya suatu perasaan kompeten dan penguasaan dalam
mengatur lingkungan, memiliki minat yang kuat terhadap hal-hal di luar
diri, dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas serta mampu
mengendalikannya. Menurut Ryff (1995), individu yang memiliki
penguasaan lingkungan adalah individu yang memiliki kemampuan dan
kompetensi untuk mengatur lingkungannya. Individu seperti ini mampu
mengendalikan kegiatan-kegiatannya yang kompleks sekalipun. Individu
juga dapat menggunakan kesempatan-kesempatan yang ada secara
efektif, dan mampu memilih, atau bahkan menciptakan lingkungan yang
selaras dengan kondisi jiwanya. Sebaliknya individu yang memiliki
penguasaan lingkungan yang rendah akan mengalami kesulitan dalam
mengatur situasi sehari-hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau
meningkatkan kualitas lingkungan sekitarnya serta tidak mampu
memanfaatkan peluang dan kesempatan diri lingkungan sekitarnya
(Ryff,1995).
e. Tujuan hidup (purpose in life. Ryff (1995) menyimpulkan individu yang
memiliki tujuan hidup adalah individu yang memiliki keterarahan dan
tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya. Individu memiliki
keyakinan dan pandangan tertentu yang dapat memberikan arah dalam
hidupnya. Selain itu, individu ini juga menganggap bahwa hidupnya itu
bermakna dan berarti, baik di masa lalu, kini, maupun yang akan datang.
Individu ini memiliki perasaan menyatu, seimbang, dan terintegrasinya
bagian-bagian diri. Sebaliknya individu yang rendah dalam dimensi
tujuan hidup akan kehilangan makna hidup, arah dan cita-cita yang tidak
jelas, tidak melihat makna yang terkandung untuk hidupnya dari kejadian
di masa lalu, serta tidak mempunyai harapan atau kepercayaan yang
memberi arti pada kehidupan (Ryff,1995).
f. Pertumbuhan pribadi (personal growth. Suatu pertumbuhan yang optimal
tidak hanya berarti bahwa individu dapat mencapai kualitas-kualitas yang
telah disebutkan sebelumnya, tetapi juga membutuhkan suatu
perkembangan dari potensi-potensi individu secara berkesinambungan.
Kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan dalam
hidup membutuhkan adanya perubahan yang terus berlangsung dalam
diri. Sebaliknya, individu yang memiliki pertumbuhan pribadi rendah
akan merasakan dirinya mengalami stagnasi, tidak melihat peningkatan
dan pengembangan diri, merasa bosan dan kehilangan minat terhadap
kehidupannya, serta merasa tidak mampu dalam mengembangkan sikap
dan tingkah laku yang baik (Ryff, 1995

Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis


Menurut pendapat beberapa tokoh psikologi seperti Ryff (1995), Ryff
(dalam Ryan & Deci, 2001), Rajawane dan Chairani (2001) dan Revelia
(2016) menerangkan bahwa kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu:
a. Usia. Dalam penelitian yang dilakukan Ryff (1995), ditemukan adanya
perbedaan tingkat kesejahteraan psikologis pada orang dari berbagai
kelompok usia. Dalam dimensi lingkungan terlihat profil meningkat
seiring dengan pertambahan usia. Semakin bertambah usia maka individu
semakin mengetahui kondisi terbaik dirinya. Artinya, individu tersebut
semakin dapat mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai
dengan keadaan dirinya.
b. Jenis kelamin. Hasil penelitian Ryff (1995) menyatakan bahwa wanita
memiliki nilai signifikan yang lebih tinggi dibanding pria dalam dimensi
hubungan dengan orang lain atau interpersonal dan pertumbuhan pribadi,
karena kemampuan wanita dalam berinteraksi dengan lingkungan lebih
baik dibanding pria. Keluarga sejak kecil telah menanamkan dalam diri
anak laki-laki sebagai sosok yang agresif, kuat, kasar dan mandiri,
sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan
tergantung, tidak berdaya, serta sensitif terhadap perasaan orang lain dan
akan terbawa sampai anak beranjak dewasa.
c. Status sosial ekonomi, perbedaan status sosial ekonomi juga akan
mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu. Ryff (dalam Ryan &
Deci, 2001) mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan
dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan
dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki kelas sosial yang tinggi
memiliki perasaan yang lebih positif terhadap diri sendiri dan masa lalu,
serta lebih memiliki rasa keterarahan dalam hidup dibandingkan dengan
individu yang berada di kelas sosial yang lebih rendah.
d. Budaya. Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme atau
kolektivisme memberi dampak terhadap kesejahteraan psikologis yang
dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki nilai yang tinggi dalam
dimensi penerimaan diri dan otonomi, sedangkan budaya timur yang
menjunjung tinggi nilai kolektivisme memiliki nilai yang tinggi pada
dimensi hubungan positif dengan orang lain.
e. Religiusitas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rajawane dan
Chairani (2001), bahwa ada hubungan antara religiusitas dengan
kesejahteraan psikologis pada lansia. Usia lanjut yang memiliki
religiusitas yang tinggi akan mendapatkan kesejahteraan psikologis yang
tinggi pula. Alasan bahwa religiusitas berperan terhadap kesejahteraan
psikologis terletak pada bukti dari penelitian yang dilakukan oleh oleh
amadyawati dan utami, bahwa orang yang memiliki religiusitas yang
tinggi akan lebih taat terhadap agamanya, dan lebih merasa nyaman dan
tentram.
f. Adversity quetient. Berdasarkan penelitian Waskito (2014) membuktikan
bahwa adversity quetient menunjukan ada pengaruh signifikan terhadap
kesejahteraan psikologis. Sesuai teori Durkin dan Josep (2009) bahwa
salah satu unsur yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis yaitu
adversity quetient

Pengertian Kesejahteraan Psikologis


Istilah kesejahteraan psikologis berasal dari tulisan Aristoteles mengenai
eudaimonia (Ryff, 1989). Istilah ini tidak hanya sekedar berarti kebahagiaan
atau menunjukkan antara kepuasan terhadap keinginan yang benar atau salah
(hedonistic), melainkan eudaimonia lebih memberikan karakteristik yang
tertinggi dari keberadaan manusia, yaitu bertujuan untuk mencapai
kesempurnaan dengan merealisasikan potensi yang sebenarnya.
Menurut Ryff (1995) kesejahteraan psikologis adalah keadaan individu
dalam potensi diri yang sejati (true potensial) yang ditandai ia dapat mandiri
dalam berperilaku dan mampu mengelak dari tekanan sosial (autonomy),
mampu merasakan peningkatan kualitas diri dari waktu ke waktu (personal
growth), menerima kelemahan dan kelebihan dirinya (self-acceptance),
memiliki tujuan hidup yang berdampak pada keterarahan sikap dan
perilakunya (purpose in live), mampu menciptakan dan memilih lingkungan
yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan pribadi (environmental mastery) dan
mampu menikmati dan menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain
(positive relationship with others).
Viniegras & Benitez (dalam Wells, 2010) mengatakan bahwa
kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh sifat pengalaman subjektif individu
dan berhubungan dengan aspek yang berbeda dari fungsi fisik, mental dan
sosial. Kesejahteraan psikologis dapat dilihat sebagai hasil dari keseimbangan
antara harapan individu dan prestasi di berbagai bidang manusia, seperti
bekerja, keluarga, kesehatan, kondisi material kehidupan, dan hubungan
interpersonal dan afektif.
Lebih lanjut Huppert (2009) mengatakan bahwa kesejahteraan psikologis
adalah hidup yang berjalan dengan baik. Hal ini merupakan kombinasi dari
perasaan yang baik dan berfungsi secara efektif. Orang-orang dengan
kesejahteraan psikologis yang tinggi memiliki perasaan senang, mampu,
mendapat dukungan dan puas dengan kehidupannya. Selain itu, Huppert
(2009) juga memasukkan kesehatan fisik yang lebih baik dimediasi oleh pola
aktivasi otak, efek neurokimia dan faktor genetik.
Ryff & Keyes (1995) menyebutkan bahwa manusia memiliki dua fungsi
positif untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis nya, yaitu bagaimana
individu membedakan hal positif dan negatif yang akan memberikan
pengaruh untuk kebahagiaannya dan menekankan kepuasan hidup sebagai
kunci utama kesejahteraan

pengaruh pemberdayaan karyawanterhadap loyalitas karyawan

Pemberdayaan karyawan memiliki dampak yang baik pada peningkatan
kinerja karyawan dimana karyawan merasa lebih diperhatikan oleh atasan saat
bekerja. Akibatnya, karyawan tersebut akan membantu mencapai tujuan strategis
perusahaan dengan kesadaran dari dalam diri karyawan dan tanpa paksaan dari
pihak manapun (Bose, 2018). Hal tersebut mempengaruhi keputusan karyawan
untuk tetap bekerja di perusahaan dalam jangka waktu yang panjang.
Pemberdayaan karyawan juga membuat karyawan memiliki rasa tanggung jawab
yang besar dan berkeinginan untuk terus berkontribusi demi kemajuan organisasi,
hal ini selaras dengan karakteristik yang menunjukkan karyawan memiliki
loyalitas yang tinggi terhadap organisasi atau perusahaan (Safitri, 2015).

pengaruh pemberdayaan karyawanterhadap perilaku inovatif karyawan

Pemberdayaan diartikan sebagai pemberian wewenang atas suatu
tanggung jawab dari atasan kepada bawahannya (Appelbaum, et.al, 2014).
Pemberian tanggung jawab ini berdampak pada peningkatan kepercayaan diri
karyawan. Tanggung jawab pekerjaan yang diberikan kepada karyawan
disesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman. Kondisi tersebut membuat
karyawan perlu menunjukkan perilaku yang inovatif dalam upaya
menyeimbangkan kebutuhan pasar dan kemampuan organisasi. Cavus & Akgemci
(2008) dalam Dede & Sazkaya (2018) menyatakan pemberdayaan karyawan
diperlukan dalam mendorong perilaku inovatif karyawan karena pemberdayaan
karyawan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kreativitas dan inovasi
karyawan. Berdasarkan landasan tersebut menghasilkan hipotesis sebagai berikut:

Perilaku Inovatif Karyawan (Employee Innovative Behaviour)


Perilaku inovatif karyawan merupakan wujud nyata dari kreativitas
karyawan dalam menjalankan pekerjaan. Kreativitas yang berasal dari individu,
dalam hal ini disebut karyawan, merupakan dasar dalam melakukan suatu inovasi.
Inovasi bergantung pada bagaimana individu tersebut melahirkan gagasan atau
ide-ide baru, melakukan perancangan terhadap ide, menerapkan ide yang telah
dirancang dan dipersiapkan dengan baik lalu melakukan modifikasi pada
pekerjaan (Etikariena & Muluk, 2014). Pernyataan Widiyanti & Sawitri (2018)
perusahaan yang mampu melakukan inovasi secara berkelanjutan, selalu
melakukan perbaikan kualitas pada produk yang dihasilkan. Inovasi juga menjadi
salah satu motivasi karyawan dalam menjaga kinerjanya saat bekerja, sehingga
menyebabkan kinerja perusahaan lebih unggul jika dibandingkan dengan
perusahaan lain.
Karyawan dikatakan sebagai salah satu aset berharga perusahaan, karena
karyawan mampu melakukan inovasi. Hal ini menjadi alasan, pentingnya
perusahaan membangun kesadaran karyawan dalam memunculkan perilaku
inovatif saat bekerja. Perilaku inovatif yang berasal dari dalam diri karyawan
dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:

  1. Faktor internal berasal dari dalam diri individu, seperti cara individu
    melakukan pemecahan masalah atau mencari solusi, kepribadian setiap
    individu, dan motivasi yang dibangun dalam diri masing-masing.
  2. Faktor pekerjaan berasal dari lingkungan kerja individu seperti tuntutan yang
    harus diselesaikan dalam pekerjaan dan karakteristik pekerjaan.
  3. Faktor kontekstual berasal dari suatu peristiwa tertentu seperti gaya
    kepemimpinan, iklim psikologis dan juga dukungan dari karyawan lain.
    (Widiyanti & Sawitri, 2018).
    Menurut penelitian Robert (2001) dalam (Li & Zheng, 2014), “Innovative
    behavior is an act of generating, promoting and application of innovative thinking
    in the organization for the purpose of personal and organizational performance,
    which enables employees to use innovative ways of thinking, quickly and
    accurately respond to customer demand changes”. Berdasarkan pernyataan
    tersebut, pengelolaan aset sumber daya manusia atau knowledge management
    sangat dibutuhkan dalam memunculkan perilaku inovatif karyawan. Knowledge
    management mencakup modal intelektual perusahaan. Knowledge management
    dikatakan berhasil ketika terjadi kesinambungan antara tujuan personal karyawan
    dengan tujuan organisasi. Drucker (1993) dalam Elango & Fonceca (2017)
    menyatakan knowledge management memberikan pengaruh pada keunggulan
    kompetitif organisasi dimana knowledge management membantu organisasi dalam
    peningkatan pelatihan dan pengembangan karyawan, fokus pelanggan, serta
    pelatihan dan penciptaan lapangan kerja. Knowledge management bertujuan untuk
    menambah pengetahuan karyawan sehingga karyawan mampu untuk
    mengidentifikasi dan mencari solusi efektif apabila terjadi hambatan maupun
    tantangan dalam penerapan strategi manajemen. Karyawan dapat bekerja sama
    dan saling berbagi pengetahuan dengan karyawan lain supaya kapasitas diri setiap
    karyawan semakin bertambah. Dampaknya, karyawan secara bersama-sama
    mampu memberikan ide-ide kreatif dan mampu menunjukkan sikap inovatif yang
    dibutuhkan oleh organisasi, sehingga terjadi peningkatan produktivitas dalam
    organisasi.

Loyalitas Karyawan (Employee Loyalty)


Asriandi et.al (2017) mendefinisikan loyalitas sebagai suatu kesetiaan,
dimana kesetiaan ini berdasar pada kesadaran diri seseorang. Konsep ini terlihat
mudah ketika diperbincangkan namun dalam kenyataannya sangat sulit untuk
dianalisis. Loyalitas karyawan merupakan kesadaran yang dimiliki karyawan
berkaitan dengan kesetiaan karyawan terhadap organisasi, keputusan untuk tetap
bertahan pada pekerjaan dan mempertahankan posisi karyawan dalam organisasi.
Bentuk kesetiaan karyawan diwujudkan dengan menjaga nama baik organisasi
serta melakukan pembelaan jika diperlukan untuk melindungi organisasi.
Terdapat beberapa unsur yang diperlihatkan ketika karyawan memiliki loyalitas
kerja yaitu:

  1. Mentaati peraturan perusahaan. Kebijakan perusahaan dibuat untuk
    meningkatkan kedisiplinan dalam bekerja sehingga peraturan perusahaan dapat
    membantu dalam melakukan pengawasan pekerjaan.
  2. Memiliki rasa tanggung jawab dalam bekerja. Risiko pekerjaan merupakan
    hal yang tidak dapat dihindari. Ketika karyawan secara sadar mau untuk
    menanggung segala risiko dan beban yang akan diterima akibat dari tanggung
    jawab pekerjaan, maka karyawan tersebut telah menunjukkan sikap setia terhadap
    perusahaan.
  3. Bekerja sama. Terdapat beberapa hal dalam pekerjaan yang tidak dapat
    dilakukan secara individu sehingga membutuhkan bantuan orang lain secara
    kelompok. Karyawan yang memiliki loyalitas dalam bekerja akan melakukan
    kerjasama yang baik dengan karyawan lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
  4. Rasa memiliki terhadap perusahaan. Karyawan akan bertanggung jawab
    atas tantangan yang dihadapi dalam perusahaan. Karyawan juga merasa harus
    menjaga perusahaan dari segala ancaman, demi tercapainya tujuan perusahaan.
  5. Rasa suka terhadap pekerjaan. Karyawan yang merasa pekerjaannya telah
    sesuai dengan passion yang dimiliki, membuat pekerjaan yang dilakukan menjadi
    lebih mudah. Hal ini disebabkan karena karyawan melakukan pekerjaan sesuai
    dengan hal yang disukai dan dikuasai (Safitri, 2015).
    Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Saputra et.al (2016) menyatakan
    loyalitas karyawan memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan, hal tersebut
    menunjukkan karyawan yang memiliki kesetiaan tinggi terhadap organisasi atau
    perusahaan akan diikuti oleh peningkatan pada kinerja karyawan yang
    berkelanjutan

Pemberdayaan Karyawan (Employee Empowerment)


Menurut Pelit et.al (2011) dalam Appelbaum et.al (2014) pemberdayaan
diartikan sebagai pemberian wewenang untuk menjalankan suatu tanggung jawab
yang diberikan atasan kepada karyawannya. Pemberdayaan karyawan tidak hanya
berorientasi pada hasil akhir, namun terdapat beberapa faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam memberdayakan seseorang. Faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan yaitu tingkat motivasi karyawan, gaya kepemimpinan dari
atasan, serta umpan balik yang diberikan oleh bawahan. Pemberdayaan karyawan
juga menjadi salah satu faktor dalam menentukan keberhasilan organisasi.
Penelitian Kirkman & Rosen (1999) dalam Baird et.al (2018) menyatakan
pemberdayaan karyawan memiliki pengaruh yang positif terhadap kinerja
organisasi. Ketika perusahaan berhasil menerapkan pemberdayaan karyawan yang
baik maka kinerja karyawan juga ikut meningkat.
Baird dan Wang (2010) dalam Potnuru et.al (2019) menyatakan tujuan
dasar melakukan pemberdayaan karyawan adalah terjadinya transfer kekuasaan
antara karyawan dan atasan dalam perusahaan, khususnya pada peningkatan
tanggung jawab perusahaan, otoritas karyawan, dan peningkatan komitmen
karyawan terhadap organisasi. Tingginya partisipasi karyawan dalam proses
pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk dari konsep pemberdayaan
karyawan. Organisasi memaksimalkan partisipasi karyawan untuk membantu
mencapai keberhasilan sesuai dengan visi dan misi perusahaan. Terdapat dua
perspektif dalam pemberdayaan yaitu pemberdayaan organisasional dan
pemberdayaan psikologis.
Pemberdayaan psikologis merupakan cara perusahaan menciptakan situasi
yang mampu meningkatkan motivasi karyawan dalam menghadapi dan
menyelesaikan tantangan saat bekerja. Tantangan yang berhasil dihadapi oleh
karyawan dapat menjadi tolak ukur keberhasilan pengembangan diri karyawan.
Pemberdayaan psikologis dapat diukur berdasarkan identifikasi yang dilakukan
oleh Thomas and Velthouse’s (1990) dalam Tastan (2013) yang terdiri dari 4
kognisi:

  1. Meaning yaitu kecocokan antara tugas pekerjaan dan nilai, perilaku dan
    apa yang diyakini karyawan.
  2. Competence yaitu keyakinan terhadap kemampuan karyawan dalam
    menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan.
  3. Self-determination yaitu pengendalian diri karyawan terhadap pekerjaan.
  4. Impact yaitu perasaan yang dapat mempengaruhi hasil pekerjaan
    karyawan.
    Pemberdayaan psikologis memberikan kriteria yang unik pada hubungan
    individu dengan organisasi, dimana pemberdayaan psikologis mampu
    mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan dalam organisasi, serta
    mempengaruhi keputusan karyawan untuk tetap bekerja di perusahaan atau tidak.
    Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu seperti penelitian yang dilakukan oleh
    Savery & Luks (2001) dan Kirkman & Rosen (1999) dalam Tastan (2013) saat
    pemberdayaan psikologis berjalan dengan baik maka peluang karyawan
    meninggalkan perusahaan akan menurun sebagai akibat dari meningkatnya
    kepercayaan karyawan terhadap perusahaan dan kepuasan kerja yang dirasakan
    oleh karyawan

Pengaruh Pemberdayaan Psikologis terhadap Komitmen Organisasi


Hasil Penelitian yang telah dilakukan oleh Sumi Jha menunjukkan bahwa
Pemberdayaan Psikologis berpengaruh positif terhadap Komitmen Afektif
dan Komitmen Normatif, tetapi berpengaruh negatif terhadap Komitmen
Berkelanjutan. Di dalam Baek Kyoo and Ji, (2010) meunjukkan
Pemberdayaan Psikologi berpengaruh positif terhadap Komitmen Organisasi

Penghargaan Organisasi dan Kondisi Kerja


Bentuk penghargaan organisasi dan kondisi kerja adalah sebagai berikut :
1) Gaji (salary), pengakuan dan promosi. Kesempatan untuk
mendapatkan hadiah akan meningkatkan kontribusi karyawan dan
akan meningkatkan persepsi dukungan organisasi yang dirasakan oleh
karyawan.
2) Keamanan dalam bekerja. Adanya jaminan bahwa organisasi ingin
mempertahankan keanggotaan di masa depan memberikan indikasi
yang kuat terhadap persepsi dukungan organisasi.
3) Kemandirian. Dengan organisasi menunjukkan kepercayaan terhadap
kemandirian karyawan untuk memutuskan dengan bijak bagaimana
karyawan akan melaksanakan pekerjaannya, hal ini akan
meningkatkan persepsi dukungan organisasi dari karyawan.
4) Pelatihan. Dalam pekerjaan pelatihan dapat menjadi suatu investasi
pada karyawan yang nantinya akan dapat meningkatkan persepsi
dukungan organisasi bagi karyawan tersebut.
5) Peran stressor. Stress mengacu pada ketidakmampuan individu
mengatasi tuntutan dari lingkungan. Stress terkait dengan tiga aspek
peran karyawan dalam suatu organisasi yang berkorelasi negatif
dengan persepsi dukungan organisasi, yaitu : tuntutan yang melebihi
kemampuan karyawan bekerja dalam waktu tertentu, kurangnya
informasi yang jelas tentang tanggung jawab pekerjaan, dan adanya
tanggung jawab yang saling bertentangan (Rhoades dan Eisenberger,
2002).

Indikator Persepsi Dukungan Organisasi


Menurut Rhoades dan Eisenberger (2002), persepsi dukungan organisasi
mengacu pada persepsi karyawan mengenai sejauh mana organisasi menilai
kontribusi mereka dan peduli akan kesejahteraan mereka. Persepsi dukungan
organisasi mempunyai tiga indikator yang dapat diukur, sebagai berikut :
a. Fairness (Keadilan)
Keadilan prosedural menyangkut cara yang digunakan untuk menentukan
bagaimana mendistribusikan sumber daya di antara karyawan. Menurut
Rhoades dan Eisenberger (2002), terjadinya keadilan yang berulang-ulang
dalam membuat keputusan mengenai distribusi sumber daya akan
memiliki pengaruh yang dirasakan oleh karyawan yang ditunjukkan
dengan adanya perhatian pada kesejahteraan karyawan.
b. Supervisor Support (Dukungan atasan)
Karyawan akan mengembangkan pandangan umum tentang sejauh mana
atasan menilai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan
mereka. Menurut Rhoades dan Eisenberger (2002), Atasan bertindak
sebagai agen organisasi yang memiliki tanggung jawab untuk memimpin
dan mengevaluasi kinerja bawahan, sehingga karyawan melihat orientasi
atasan mereka sebagai indikasi adanya dukungan organisasi secara Positif.

Faktor Penentu Persepsi Dukungan Organisasi


Sigit (2003) menjelaskan beberapa faktor kompleks yang masuk dalam
persepsi di antaranya:

  1. Hallo Effect (pengaruh halo) ialah memberikan tambahan penilaian
    (judgement) kepada seseorang atau sesuatu yang masih bertalian
    dengan hasil persepsi yang telah dibuat. Halo effect juga dapat diartikan
    adanya atau hadirnya sesuatu, sehingga kesimpulan yang dibuat tidak
    murni.
  2. Attribution (membuat atribusi), Atribusi mengacu pada bagaimana
    orang menjelaskan penyebab perilaku orang lain atau dirinya sendiri.
    Atribusi adalah proses kognitif di mana orang menarik kesimpulan
    mengenai faktor yang mempengaruhi atau masuk akal terhadap perilaku
    orang lain. Ada dua jenis atribusi yaitu atribusi disposisional, yang
    menganggap perilaku seseorang berasal dari faktor internal seperti ciri
    kepribadian, motivasi, atau kemampuan, dan atribusi situasional yang
    menghubungkan perilaku seseorang dengan faktor eksternal seperti
    peralatan atau pengaruh sosial dari orang lain.
  3. Stereotyping (memberi stereotipe) ialah memberi sifat kepada seseorang
    semata-mata atas dasar sifat yang ada pada kelompok, rasa tau bangsa
    secara umum sebagaimana pernah didengar atau diketahui dari sumber
    lain. Stereotipe menghubungkan ciri yang baik atau tidak baik pada
    orang yang sedang dinilai, misalnya orang yang berasal dari pulau Bali
    beragama Hindu, padahal belum tentu orang tersebut beragama hindu.
  4. Projection (proyeksi) ialah suatu mekanisme meramal, apa yang akan
    dilakukan oleh orang yang dipersepsi, dan sekaligus orang yang
    mempersepsi itu melakukan persiapan pertahanan untuk melindungi
    dirinya terhadap apa yang akan diperbuat orang yang dipersepsi

Faktor-Faktor Prediktor Persepsi Dukungan Organisasi
Menurut Farasat (2013), menyatakan bahwa terdapat 4 dimensi yang dapat
meningkatkan Persepsi Dukungan Organisasi karyawan, yaitu :

  1. Keadilan (Fairness) yaitu keadilan prosedural yang menyangkut
    mengenai cara yang digunakan untuk menentukan distribusi sumber
    daya di antara karyawan. Memperlakukan karyawan dengan
    bermartabat dan hormat serta menyediakan informasi kepada
    karyawan mengenai output.
  2. Dukungan atasan (Supervisor Support) Menurut Eisenberger (2012),
    karyawan membentuk persepsi global yang menyangkut penilaian
    mereka terhadap organisasi. Karyawan akan mengembangkan
    pandangan umum tentang sejauh mana atasan menilai kontribusi
    mereka dan peduli terhadap kesejahteraan mereka. Atasan bertindak
    sebagai agen organisasi yang memilik tanggung jawab untuk
    memimpin dan mengevaluasi kinerja bawahan, sehingga karyawan
    melihat orientasi atasan mereka sebagai indikasi adanya dukungan
    organisasi.
  3. Imbalan organisasi (Organizational rewards). Berdasarkan teori
    Persepsi Dukungan Organisasi, karyawan mengembangkan
    kepercayaan umum mereka sejauh mana mereka merasa bahwa
    organisasi siap untuk menghargai usaha mereka, untuk memenuhi
    kebutuhan sosial dan emosional mereka, merawat mereka, partisipasi
    dan kesejahteraan.
  4. Kondisi kerja (Conditions). Salah satu bentuk dukungan organisasi
    pada karyawan adanya kondisi kerja yang nyaman dan aman bagi
    karyawan.

Fungsi dari Persepsi Dukungan Organisasi

Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa fungsi-
fungsi dari Persepsi Dukungan Organisasi adalah:
1) Meningkatkan kepercayaan karyawan terhadap organisasi.
2) Meningkatkan semangat kerja karyawan.
3) Karyawan lebih berkomitmen kepada organisasi.
4) Hasil pekerjaan individual dan organisasi akan meningkat

Persepsi Dukungan Organisasi


Persepsi dukungan organisasi adalah penilaian karyawan terhadap
organisasinya sejauh mana organisasi tempatnya bekerja menghargai
kontribusi kinerja mereka, sejauhmana kesesuaian terhadap
imbalan/penghargaan yang diberikan organisasi, serta sejauh mana organisasi
peduli terhadap kesejahteraan mereka, Rhoades dan Eisenberger (2002).
Menurut Krishnan & Mary (2012), Persepsi Dukungan Organisasi
didefinisikan sebagai sensitivitas dan pendapat karyawan mengenai sejauh
mana keterlibatan mereka dihargai dan diakui oleh organisasi mereka.
Menurut Colakuglu, Culha & Atay dalam Waileruny (2014) Persepsi
Dukungan Organisasi dapat didefinisikan sebagai seberapa besar organiasasi
menghargai kontribusi dan peduli tentang karyawan. Menurut peneliatan
Robbin & Judge dalam Waileruny (2014) menunjukan bahwa individu
merasa organisasi mereka bersikap suportif ketika penghargaan
dipertimbangkan dengan adil, karyawan mempunyai suara dalam
pengambilan keputusan, dan pengawasan mereka dianggap suportif. Persepsi
Dukungan Organisasi atau Perceived Organizational Support adalah tingkat
di mana karyawan yakin organisasi menghargai kontribusi mereka dan peduli
dengan kesejahteraan mereka (Robbins & Judge, 2008)

Faktor-faktor Pemberdayaan Psikologis

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi Pemberdayaan Psikologis seseorang
berdasarkan pendapat dari Lee & Koh (dalam Koesindratmono & Septarini,
2011) terbagi menjadi dua faktor yaitu:

  1. Faktor Individual
    Faktor individual ini adalah faktor yang berkaitan dengan keadaan tempat
    kerja baik fisik maupun non fisik yang sering dialami oleh individu yang
    berhubungan dengan biografi seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan,
    jabatan, locus of control dan masa kerja.
  2. Faktor Organisasional
    Faktor organisasional adalah faktor yang sering terjadi dalam organisasi
    seperti rentang kendali (span of control), ketidakjelasan peran (role
    ambiguity), akses untuk informasi dan sumber daya (acess for information
    and resources), dukungan sosial (social support), serta iklim kerja (work
    climate)

aspek Pemberdayaan Psikologis

Menurut Spreitzer (2013) aspek Pemberdayaan Psikologis di antaranya:
1) Meaningfulness
Makna dari peran pekerjaan, kepercayaan, nilai dan perilaku. Makna
yang dimaksud di sini yaitu perasaan yang dialami seseorang ketika
sudah berhasil memahami pekerjaan dan aktivitas yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pada dimensi ini seseorang akan
menghargai dan memahami arti nilai tujuan pekerjaannya sesuai
dengan idealisme dan standar yang telah ditetapkan secara pribadi
oleh dirinya sendiri.
2) Self determination
Perasaan memiliki hak untuk memiliki dan menentukan. Keadaan
ketika seseorang merasa memiliki kontrol terhadap pilihan dalam
memulai dan mengatur pekerjaannya sendiri. Dimensi ini juga
mengarah pada refleksi dari autonomi individu dalam perilakunya
untuk memulai, melanjutkan pekerjaan dan menjalani proses kerja.
3) Competence
Kepercayaan diri seorang dalam kemampuannya menyelesaikan tugas.
Kompetensi dapat dianalogikan sebagai keyakinan karyawan,
penguasaan pribadi atau usaha untuk melakukan pekerjaan sesuai
dengan apa yang mmenjadi ekspektasinya.
4) Impact
Perasaan akan kemampuan yang dimiliki dalam mempertimbangkan
pengaruh dari strategi, administrasi dan resiko operasional yang ada
dalam organisasi

Pemberdayaan Psikologis


Pemberdayaan psikologis diartikan sebagai suatu keadaan yang memberikan
power dan kendali kepada seseorang, sehingga perasaan mampu untuk
melakukan pekerjaan dan memperlancar keadaan yang dapat meningkatkan
motivasi instrinsik terhadap tugas, Spreitzer (2013). Pemberdayaan psikologis
(psychological empowerment) merupakan sebuah konstruk yang perlu
memperoleh perhatian kritis, di mana meluasnya minat terhadap masalah
pemberdayaan psikologis muncul pada saat persaingan global dan berbagai
perubahan yang terjadi sehingga mengharuskan anggota organisasi untuk
lebih memiliki inisiatif dan inovatif (Drucker dalam Spreitzer, 1995).
Pemberdayaan psikologis didefinisikan sebagai seperangkat keadaan
psikologis yang berfokus pada bagaimana karyawan berpikir dan merasakan
pekerjaannya (Spreitzer dalam Najafi et. al, 2011). Pernyataan lain
menjelaskan bahwa pemberdayaan psikologis sebagai cara untuk memperkuat
rasa tanggung jawab dan akuntabilitas bagi staf untuk meningkatkan kinerja
organisasi. Pernyataan ini dijelaskan oleh Littrell (dalam Deghanan et. al,
2014). Selain itu, Allahyari (dalam Taktaz, 2012) menyatakan bahwa
pemberdayaan psikologis adalah suatu keadaan psikologis yang berfokus
pada bagaimana karyawan berpikir tentang pekerjaan mereka dan untuk
mendapatkan pengalaman, dan beberapa banyak mereka percaya pada peran
dan pengaruh organisasi mereka, dan dapat membuat karyawan merasa lebih
percaya diri dan memiliki kemauan untuk sukses.
Pemberdayaan psikologis merupakan suatu konsep motivasional tentang
pemenuhan diri, yang secara lebih spesifik dapat dinyatakan sebagai
meningkatnya motivasi tugas intrinsik (intrinsic task motivation) yang
terwujud dalam serangkaian kognisi yang mencerminkan orientasi individu
pada peran kerjanya yang terwujud dalam empat dimensi: arti (meaning),
kompetensi (comptence), pemenuhan diri (self-determination), dan
pengaruh/impact (Conger dan Kanungo dalam Spreitzer, 1995).
Pemberdayaan psikologis merupakan konstruk penting dalam mencapai
berbagai keefektifan dan hasil organisasional (e.g. perilaku inovatif, motivasi,
dan komitmen organisasional). Pieterse et al. (2010) mengidentifikasi
pemberdayaan psikologis sebagai prasyarat untuk keefektifan kepemimpinan
transformasional. Menurut peneliti tersebut, kepemimpinan transformasional
hanya terkait dengan peningkatan perilaku pengikut ketika perilaku
pemberdayaan psikologis pengikut tinggi. Hasil meta-analisis Seibert, Wang
dan Courtright (2011) mengkonfirmasi pemberdayaan psikologis sebagai
pendekatan penting untuk motivasi individu dan tim di tempat kerja.
Pemberdayaan psikologis berhubungan positif dengan berbagai hasil
individu, termasuk kepuasan kerja, komitmen organisasi, dan tugas dan
kinerja kontekstual, dan ini secara negatif dikaitkan dengan ketegangan
individu dan niat berpindah. Pemberdayaan tim berhubungan positif dengan
kinerja tim. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Avolio et al. (2004),
pemberdayaan psikologis memediasi hubungan antara kepemimpinan
transformasional dan komitmen organisasional. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa perbedaan dalam tingkat komitmen organisasional individu dapat
dijelaskan sebagian oleh perbedaan dalam bagaimana perasaan individu
diberdayakan sehubungan dengan pemimpin mereka yang lebih senior dan
tidak langsung

Aspek-aspek dalam Komitmen Organisasi


Menurut Koentjoro (2002) komitmen organisasi memiliki tiga aspek penting
yaitu:
a. Identifikasi
Identifikasi terbentuk dalam kepercayaan anggota terhadap organisasi,
dapat dilakukan dengan memodifikasi tujuan organisasi, sehingga
mencakup beberapa tujuan pribadi para anggota atau dengan kata lain
organisasi memasukkan pula kebutuhan dan keinginan anggota dengan
organisasi. Hal ini akan menghasilkan suasana yang saling mendukung di
antara para anggota dengan organisasi, suasana tersebut juga akan
membawa anggota dengan rela menyumbangkan sesuatu bagi tercapainya
tujuan organisasi, karena anggota juga menerima tujuan orgnisasi yang
dipercayai telah disusun demi terpenuhinya kebutuhan pribadi.
b. Keterlibatan
Keterlibatan atau partisipasi anggota dalam aktivitas-aktivitas kerja
penting untuk diperhatikan karena adanya keterlibatan anggota
menyebabkan mereka akan mau dan senang bekerja sama dengan anggota
yang lain. Salah satu cara yang dapat memancing keterlibatan anggota
adalah dengan mamancing partisipasi mereka dalam berbagai kesempatan
pengambilan keputusan, yang dapat menumbuhkan keyakinan pada
anggota bahwa apa yang telah diputuskan adalah merupakan keputusan
bersama. Selain itu, dengan melakukan hal tersebut maka anggota
merasakan bahwa mereka diterima sebagai bagian yang utuh dari
organisasi, dan konsekuensi lebih lanjut, mereka merasa wajib untuk
melaksanakan bersama apa yang telah diputuskan karena adanya rasa
keterikatan dengan apa yang mereka ciptakan.
Menurut Beynon (Koentjoro, 2002) mengatakan bahwa partisipasi akan
meningkat apabila mereka menghadapi suatu situasi yang penting untuk
mereka diskusikan bersama, dan salah satu situasi yang perlu didiskusikan
bersama tersebut adalah kebutuhan serta kepentingan pribadi yang ingin
dicapai oleh anggota dalam organisasi. Apabila kebutuhan tersebut dapat
terpenuhi hingga anggota memperoleh kepuasan, maka anggotapun akan
menyadari pentingnya memiliki kesediaan untuk menyumbangkan usaha
dan kontribusi bagi kepentingan organisasi. Sebab hanya dengan
pencapaian kepentingan organisasilah, kepentingan anggota akan lebih
terpuaskan.
c. Loyalitas
Loyalitas anggota terhadap organisasi memiliki makna kesediaan
seseorang untuk melanggengkan hubungan dengan organisasi, bila perlu
dengan mengorbankan kepentingan pribadinya tanpa mengharapkan
apapun. Kesediaan anggota untuk mempertahankan diri dalam organisasi
adalah hal yang penting dalam menunjang komitemen anggota terhadap
organisasi di mana mereka berorganisasi. Hal ini dapat diupayakan apabila
anggota merasakan adanya keamanan dan kepuasan di dalam organisasi
tempat ia bergabung

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen


Faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen organisasi menurut Allen dan
Meyer (2009) yaitu :
1) Karakteristik pribadi individu
Karakteristik pribadi individu terdiri dari dua variabel, yaitu:
a. Variabel Demografis
Variabel demografis mencakup gender, usia, status pernikahan,
tingkat pendidikan, dan lamanya seseorang bekerja pada suatu
organisasi, dalam beberapa penelitian ditemukan adanya hubungan
antara variabel demografis tersebut dan komitmen berorganisasi.
b. Variabel Disposisional
Variabel disposisional mencakup kepribadian dan nilai yang dimiliki
anggota organisasi. Hal-hal lain yang tercakup ke dalam variabel
disposisional ini adalah kebutuhan untuk berprestasi dan etos kerja
yang baik serta kebutuhan untuk berafiliasi dan persepsi individu
mengenai kompetensinya sendiri.
2) Karakteristik organisasi
Termasuk dalam karakteristik organisasi yaitu struktur organisasi, desain
kebijaksanaan dalam organisasi, dan bagaimana kebijaksanaan organisasi
tersebut disosialisasikan.
3) Pengalaman selama berorganisasi
Pengalaman berorganisasi tercakup ke dalam kepuasan dan motivasi
anggota organisasi selama berada dalam organisasi, perannya dalam
organisasi tersebut, dan hubungan antara anggota organisasi dengan
supervisor atau pemimpinnya

Dimensi komitmen organisasi

Meyer et al. (2009) membedakan komitmen organisasi menjadi 3 dimensi,
yaitu:

  1. Komitmen Afektif (Affective Commitment)
    Komitmen afektif merupakan perasaan emosional untuk organisasi dan
    keyakinan di dalam nilai-nilainya. Seseorang yang memiliki komitmen
    afektif yang kuat akan terus bekerja dalam suatu organisasi karena mereka
    memang ingin melakukan hal tersebut.
  2. Komitmen Berkelanjutan (Continuance Commitment)
    Komitmen berkelanjutan merupakan nilai ekonomi yang dirasakan dari
    bertahan dalam suatu organisasi dibandingkan dengan meninggalkan
    organisasi tersebut. Seorang karyawan mungkin bertahan dan
    berkomitmen dengan organisasi dan pemberi kerja karena diberi imbalan
    yang cukup tinggi. Komitmen ini menyebabkan seorang karyawan
    bertahan pada suatu organisasi karena mereka membutuhkannya.
  3. Komitmen Normatif (Normative Commitment)
    Komitmen normatif merupakan kewajiban seseorang untuk bertahan di
    dalam suatu organisasi untuk alasan-alasan moral atau etis. Komitmen ini
    menyebabkan seorang karyawan bertahan pada suatu pekerjaan karena
    mereka merasa wajib untuk melakukannya. Dengan kata lain, komitmen
    normatif ini berkaitan dengan perasaan wajib untuk tetap bekerja dalam
    sebuah organisasi

Ciri-ciri Komitmen Organisasi


Menurut Porter (Koentjoro, 2002) juga menyatakan bahwa anggota yang
memiliki komitmen organisasi ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.
b. Kesiapan dan kesedian untuk berusaha dengan sungguh-sungguh atas
nama organisasi
c. Keinginan untuk mempertahankan keanggotaan di dalam organisasi
(menjadi bagian dari organisasi).
Streers (dalam Munandar, 2004) organisasi adalah sifat hubungan seorang
individu dengan organisasi dengan memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Menerima nilai-nilai dan tujuan organisasi;
b. Mempunyai keinginan berbuat untuk organisasinya;
c. Mempunyai keinginan yang kuat untuk tetap bersama dengan
organisasinya

Komitmen Organisasi


Komitmen Organisasi adalah karakteristik hubungan antara anggota
organisasi dengan organisasinya serta memiliki pengaruh pada keputusan
individu untuk melanjutkan keanggotaannya dalam organisasi tersebut,
Meyer et al, (2009). Komitmen organisasi mencerminkan sejauh mana
seorang individu mengidentifikasi organisasi dan tujuannya, Kreitner &
Kinicki (2008). Robbins dan Judge (2007) mendefinisikan komitmen sebagai
suatu keadaan di mana seorang individu memihak organisasi serta tujuan-
tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keangotaannya dalam
organisasi. Mathis dan Jackson (dalam Sopiah, 2008) mendefinisikan
komitmen organisasional sebagai derajad di mana karyawan percaya dan mau
menerima tujuan-tujuan organisasi dan akan tetap tinggal atau tidak akan
meninggalkan organisasinya. Komitmen organisasi merupakan sikap yang
merefleksikan loyalitas karyawan pada organisasi dan proses berkelanjutan di
mana anggota organisasi mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi
dan keberhasilan serta kemajuan yang berkelanjutan, Luthans (2008).

Hubungan antar kepuasan kerja dengan keterikatan karyawan


Dukungan organisasi yang dirasakan berpengaruh terhadap
kepuasan kerja melalui keterikatan karyawan. Pengaruh mediasi yang
ditimbulkan oleh keterikatan karyawan sebagai variabel mediasi antara
kedua variabel tersebut merupakan mediasi parsial. Artinya pengaruh
positif dan signifikan persepsi dukungan organisasi terhadap kepuasan
kerja pegawai dapat terjadi dengan atau tanpa melibatkan manajemen
pegawai sebagai variabel perantara (Roli Ilhamsyah Putra, 2020)
Penelitian yang dilakukan Haryanto (2024) ini membuktikan
bahwa employee engagement tidak berpengaruh terhadap kepuasan
kerja pada hal ini disebbabkan karena perlunya dorongan dari organisasi
untuk mengatasi ketidakpuasan yang terjadi, seperti pembinaan jalur
karir dan penugasan kerja, pelatihan kompetensi, dan penghargaan. Hal
ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan kerja di kalangan tenaga
kerja yang dapat berdampak pada peningkatan kinerja. Organisasi harus
focus pada pengembangan lingkungan kerja yang mendukung karyawan
dan membuat mereka tetap termotivasi, tidak hanya dalam pekerjaan
tetapi juga dalam organisasi secara keseluruhan.
Menurut Saks (2006), ada alasan untuk mengharapkan
keterikatan karyawan berhubungan dengan sikap individu yaitu,
kepuasan kerja, niat, dan perilaku. Kahn (1992) mengusulkan bahwa
keterikatan mengarah pada hasil individu (yaitu, kualitas pekerjaan
masyarakatdan pengalaman mereka sendiri dalam melakukan hal
tersebut), serta hasil di tingkat organisasi (yaitu, pertumbuhan dan
produktivitas organisasi). Pengalaman pertunangan telah terjadi
digambarkan sebagai pengalaman dan keadaan pikiran positif yang
berhubungan dengan pekerjaan yang memuaskan (Schaufeli and
Bakker, 2004) dan telah ditemukan terkait dengan kesehatan yang baik
dan pengaruh kerja yang positif, seperti kepuasan kerja (Sonnentag,
2012).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Roli Ilhamsyah Putra
(2020) ditemukan bahwa kepuasan kerja berpengaruh terhadap
keterikatan karyawan yang menunjukan bahwa semakin karyawan puas
dengan pekerjaannya maka timgkat keterikatan karyawan akan
meningkat sebaliknya jika karyawan tidak merasakan kepuasan dalam
pekerjaannya maka tingkat keterikatannya terhadap pekerjaan akan
semakin meurun

Hubungan antar pemberdayaan psikologis dengan kepuasankerja


Pemberdayaan psikologis memiliki hubungan positif dengan
kepuasan kerja, jika suatu perusahaan menerapkan pemberdayaan
psikologis dengan lebih baik maka kondisi ini dapat meningkatkan
kepuasan kerja karyawan. Suatu organisasi menerapkan pemberdayaan
psikologis dengan benar maka dapat meningkatkan keterikatan
karyawan dan pada akhirnya meningkatkan kepuasan kerja. Sebaliknya
jika suatu organisasi tidak dapat menerapkan pemberdayaan psikologis
dengan baik maka dapat menurunkan keterikatan karyawan dan
selanjutnya menurunkan kepuasan kerja karyawan (Sefnedi, 2023)
(Spreitzer, 1996) menemukan bahwa kepuasan kerja sangat
terkait dengan dimensi pemberdayaan psikologis. Dimensi makna
sangat terkait dengan kepuasan kerja, dimensi kompetensi
meningkatkan kepentingan intrinsik karyawan, penentuan nasib sendiri
merupakan dimensi kunci motivasi, dan terakhir, dimensi dampak
sangat meningkatkan kepuasan kerja. Menurut Fong & Snape (2015),
pemberdayaan psikologis memediasi hubungan antara pemberdayaan
kepemimpinan dan hasil organisasi seperti kepuasan kerja dan
komitmen organisasi. Ambad & Bahron (2012) berargumentasi bahwa
karyawan yang memiliki pemberdayaan lebih besar kemungkinannya
untuk merasa puas dengan peran mereka, dibandingkan dengan
karyawan yang kurang berdaya.
Sumber daya manusia adalah sumber daya organisasi yang
penting oleh karena itu, organisasi mengadopsi praktik terbaik untuk
memperoleh dan mempertahankan sumber daya manusianya. Salah satu
pendekatan terbaik yang digunakan untuk mengelola dan memuaskan
sumber daya manusia adalah keterikatan karyawan. Untuk membangun
keunggulan kompetitif, organisasi harus meningkatkan keuntungan dan
produktivitas mereka dengan mengikuti tren baru yang menghargai
pentingnya keterikatan tenaga kerja. Oleh karena itu, penelitian ini
membantu organisasi dalam meningkatkan keterikatan dan memuaskan
tenaga kerja. Penelitian berupaya meningkatkan pemberdayaan
psikologis melalui beberapa permasalahan terkait dimensi
pemberdayaan psikologis. Hasil dari penelitian Nassani (2021), poin-
poin tersebut akan meningkatkan kepuasan dan kebahagiaan karyawan
terhadap keterikatan kerjanya. Variabel-variabel ini secara signifikan
meningkatkan produktivitas dan menciptakan lingkungan kerja yang
sehat dan sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja saat ini

Hubungan antar Pemberdayaann Psikologis dengan keterikatankaryawan


Instrumen pengukuran persepsi pemberdayaan psikologis dan
keterikatan karyawan ini dapat digunakan pada penelitian selanjutnya
oleh para akademisi dan praktisi ketika mengevaluasi hubungan atau
dampak pemberdayaan psikologis dan keterikatan karyawan. Hal ini
juga akan memberikan wawasan tentang organisasi yang dipilih untuk
mengidentifikasi tingkat keterikatan yang dimiliki karyawannya saat ini
dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan tingkat
keterikatan karyawan. Di sisi lain, hasil penelitian ini akan menjadi
landasan bagi para pesaing di industri yang sama untuk mengidentifikasi
langkah-langkah apa saja yang telah diambil Camso Loadstar (Pvt) Ltd
untuk memberdayakan karyawannya (Gamage, 2022).
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Stander & Rothmann
(2010) model struktural menegaskan bahwa pemberdayaan psikologis
(yang terdiri dari makna, kompetensi, dampak, dan penentuan nasib
sendiri) memprediksi keterikatan karyawan. Koefisien regresi standar
menunjukkan bahwa makna, kompetensi dan pengaruh (terdiri dari
dampak dan penentuan nasib sendiri) merupakan prediktor keterikatan
karyawan pada kelompok ketidakamanan afektif tinggi dan rendah.
Namun, pengaruh pemberdayaan psikologis terhadap keterikatan
karyawan lebih kuat ketika ketidakamanan kerja afektif tinggi (40% dari
varians dijelaskan) dibandingkan ketika ketidakamanan kerja afektif
rendah (10% dari varians dijelaskan). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa ketidakamanan kerja afektif memoderasi pengaruh
pemberdayaan psikologis terhadap keterikatan karyawan. Dalam
kondisi ketidakamanan kerja afektif yang tinggi, makna, kompetensi
dan pengaruh (yaitu dampak dan penentuan nasib sendiri) memberikan
kontribusi yang kuat terhadap keterikatan karyawan. Tampaknya
pengalaman kerja yang bermakna berkontribusi terhadap keterikatan
karyawan ketika mereka takut kehilangan pekerjaan
Dari penelitian yang dilakukan oleh Rollah (2020) menemukan
bahwa tingginya kemampuan pemberdayaan psikologis menunjukkan
bahwa pegawai organisasi memiliki semangat yang tinggi, selalu
termotivasi dan mau menerima perubahan yang dilakukan manajemen
karena ingin memastikan organisasi terus berkembang dan berhasil.
Selain itu, tingginya tingkat keterikatan karyawan pada organisasi ini
menunjukkan bahwa karyawan merasa dihargai dan diperlukan bagi
organisasi. Tingginya tingkat keterikatan karyawan ini menunjukkan
juga adanya hubungan fisik dan emosional karyawan dengan organisasi

Faktor – faktor Keterikatan Karyawan


Berdasarkan Bakker and Demerouti (2007), terdapat tiga faktor
yang mempengaruhi keterikatan karyawan dalam bekerja, yaitu:

  1. Job Resource, berkaitan dengan aspek fisik, sosial dan
    organisasi yang memungkinkan karyawan mengurangi
    tuntutan dan biaya kerja, aspek psikologis dan fisiologis
    pekerja, pencapaian tujuan kerja dan kemampuan
    merangsang pertumbuhan, perkembangan dan
    pengembangan pribadi.
  2. Sailence of Job Resources, yang mengacu pada pentingnya
    sumber daya tenaga kerja pekerja.
  3. Personal Resources, berkaitan dengan karakteristik
    karyawan. yakni, kepribadian, karakter, usia dll.
    Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dikatakan ada
    tiga faktor yang mempengaruhi keterikatan karyawan, yaitu
    sumber daya kerja berkaitan dengan titik awal beban
    kerjanya, faktor kedua adalah kompresi sumber daya kerja
    relatif terhadap pentingnya pekerjaan. sumber daya kerja,
    yang terakhir adalah sumber daya pribadi yang berkaitan
    dengan karakteristik karyawan atau karyawan itu sendiri

Pengukuran Keterikatan Karyawan


Menurut Shuck, Adelson and Reio (2017) keterikatan karyawan
ada tujuh indikator untuk mengukur keterikatan karyawan yaitu:

  1. Saat bekerja, banyak berpikir tentang bagaimana cara
    memberikan yang terbaik
    Saat bekerja, karyawan berfikir bagaimana cara memberikan
    peforma yang terbaik untuk perusahaan untuk kedepannya
  2. Memiliki rasa yang kuat terhadap pekerjaan
    Karyawan dengan rasa memiliki yang kuat terhadap pekerjaan
    lebih termotivasi dan produktif terhadap pekerjaan dan seorang
    karyawan menjadi bekerja secara maksimal
  3. Fokus terhadap pekerjaan ketika bekerja
    Seorang karyawan harus fokus terhadap perkerjaan ketika
    bekerja agar bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik agar
    sesuai yang di harapkan
  4. Bangga memberi tahu orang lain bahwa bekerja untuk
    organisasi saat ini
    Seorang karyawan merasa bangga dengan dirinya karena sudah
    memberikan yang terbaik di perusahannya, dengan
    kebanggaanya tersebut karyawan memberi tahu kepada orang
    lain bahwa karyawan tersebut mampu bekerja dengan baik pada
    suatu organisasi
    28
  5. Memberikan banyak perhatian untuk pekerjaan saat bekerja
    agar bisa.
    Ketika sedang bekerja, memberikan banyak perhatian pada
    pekerjaan menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan benar
  6. Peduli terhadap masa depan perusahaan
    Karyawan yang memiliki rasa peduli yang tinggi dengan masa
    depan perusahaan maka akan membantu perusahaan untuk terus
    tumbuh. Hal ini akan membuat karyawan selalu siap dan mampu
    bekerja lebih keras, serta mereka akan menyarankan hal-hal agar
    bisa memperbaiki lingkungan kerja untuk jadi lebih baik.
    Tentunya hal tersebut akan menjadi contoh bagi karyawan
    lainnya, sehingga semua karyawan dalam perusahaan dapat
    bekerja lebih produktif.
  7. Sering melampui apa yang di harapkan dari diri sendiri untuk
    membantu tim menjadi sukses
    Seorang karyawan diharapkan mampu belajar untuk saling
    membantu tim satu sama lain

Pengukuran Kepuasan Kerja


Menurut The Satisfaction with Work Scale (SWWS) yang
diadaptasi dari (Bérubé, 2016) ada lima pengukuran yang dapat
dilakukan untuk mengukur kepuasan kerja, yaitu:
a) Secara umum pekerjaan yang saya lakukan sangat sesuai
dengan apa yang saya inginkan dalam hidup
b) Saya melakukan pekerjaan saya dengan baik
c) Saya menikmati pekerjaan yang saya lakukan saat ini
d) Saya telah mendapatkan hal – hal penting yang ingin saya
perolah selama bekerja
e) Jika saya mempunyai kesempatan untuk mengubah apapun
dalam pekerjaan saya, saya hampir tidak ingin mengubah
apapun yang berkaitan pekerjaan saya

Pengertian Kepuasan Kerja


Sutrisno (2020) menyatakan bahwa kepuasan kerja merupakan
respon emosional yang kompleks. Respon emosional ini timbul dari
adanya motivasi, keinginan, tuntutan dan keinginan karyawan terhadap
tempat kerja, yang dihubungkan dengan realitas yang dialami karyawan,
sehingga menghasilkan respon emosional yang dinyatakan dalam
bentuk perasaan bahagia, puas atau tidak puas. Pegawai yang tidak
mendapatkan kepuasan kerja tidak akan mencapai kepuasan psikologis
dan mengembangkan sikap negatif yang pada akhirnya menimbulkan
frustasi, sedangkan pegawai yang puas akan berkinerja baik. Menurut
Afandi (2018), kepuasan kerja adalah sikap positif karyawan terhadap
pekerjaannya, termasuk perasaan dan perilakunya terhadap
pekerjaannya, menilai pekerjaannya sebagai rasa pengakuan atas
pencapaian nilai perusahaan yang signifikan.
Menurut Fortuna (2016) kepuasan kerja mempunyai makna
perasaan yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya. Perasaan
tersebut diwujudkan dalam etos kerja, disiplin dan hasil kerja. Kepuasan
kerja dapat dinikmati bisa di tempat kerja, di luar pekerjaan ataupun
ketika menggabungkan pekerjaan di dalam dan di luar pekerjaan.
Kepuasan kerja adalah suatu perasaan dalam bekerja ketika menerima
pujian atas prestasi kerja, tata letak, pemeliharaan, peralatan dan
lingkungan kerja yang baik. Karyawan yang ingin menikmati kepuasan
kerja lebih memilih pekerjaannya daripada menerima gaji, padahal gaji
itu penting. (Robbins, 2006) menegaskan bahwa kepuasan kerja
berhubungan dengan prestasi kerja dan organisasi dengan karyawan
yang puas cenderung lebih produktif.
Berdasarkan penjelasan para ahli diatas maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa kepuasan kerja adalah sikap emosional pada
karyawan yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya sehingga
karyawan dapat bekerja dengan produktf

Pengukuran Pemberdayaan Psikologis


Pengukuran pemberdayaan psikologis diadaptasi dan
dimodifikasi oleh (Morgado, 2017) adalah sebagai berikut:
a) Pekerjaan yang saya lakukan berarti bagi saya
b) Saya memiliki keterampilan yang diperlukan untuk
pekerjaan saya
c) Saya memiliki peluang mencapai potensi diri dan perasaan
yang bebas dalam melakukan pekerjaan saya
d) Saya yakin dengan kemampuan saya untuk melakukan
pekerjaan saya
e) Saya dapat memberikan kontribusi pada perusahaan

Dimensi Pemberdayaan Psikologis


Spreitzer (1995) di penelitiannya merumuskan bahwa ada empat
dimensi penting yang membentuk konstruk dari pemberdayaan
psikologis, yaitu:
a) Makna (Meaning) merupakan perasaan yang timbul ketika
berhasil memahami pekerjaannya dan tindakan yang
dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan tersebut. Dimensi
ini seseorang mengevaluasi dan memahami makna dan nilai
tujuan pekerjaannya sesuai dengan cita-cita dan standar yang
ditetapkannya.
b) Kompetensi (Competence) merupakan keyakinan seseorang
bahwa ia mampu melakukan suatu pekerjaan dengan
menggunakan keahlian yang dimilikinya. Kompetensi dapat
dianalogikan dengan rasa percaya diri, kemampuan pribadi,
atau usaha seorang pegawai dalam melakukan suatu
pekerjaan sesuai dengan harapannya.
c) Penentuan nasib (Self-determination) ialah ketika seseorang
merasa memiliki kendali atas pilihannya dalam memulai dan
mengelola pekerjaannya. Dimensi ini mengarah pada
refleksi otonomi individu dalam memulai dan melanjutkan
perilaku dan proses kerjanya sendiri. Penentuan nasib sendiri
dalam bekerja terlihat ketika mengambil keputusan sendiri
mengenai teknik kerja yang digunakan, kecepatan kerja dan
berbagai upaya.
d) Pengaruh (Impact) ialah sejauh mana seseorang dapat
mempengaruhi strategi, manajemen, atau kinerja pada
perusahaan.

Pengertian Pemberdayaan Psikologis


Pemberdayaan psikologis adalah seberapa jauh karyawan dapat
percaya pada organisasi mereka dalam meningkatkan perasaan
kompetensi maupun otonomi karyawan mengenai pekerjaan mereka
oleh (Fuller, 2009). Pemberdayaan psikologis terdiri dari kompetensi,
makna, penentuan nasib sendiri dan dampak serta menunjukkan
orientasi kognitif tentang pekerjaan seseorang (Spreitzer, 1995).
Kompetensi adalah sejauh mana seseorang yakin akan kemampuannya
dalam melaksanakan tugas pekerjaan yang diberikan, mengacu pada
sejauh mana pekerjaan itu bermakna bagi karyawan, penentuan nasib
sendiri adalah sejauh mana seorang karyawan yakin bahwa ia memiliki
kendali atas pekerjaannya, dan dampaknya adalah perasaan bahwa
pencapaian individu karyawan memberikan kontribusi yang signifikan
terhadap tujuan (Seibert, 2011). Pemberdayaan psikologis adalah
“motivasi tugas intrinsik yang menunjukkan rasa pengendalian diri
mengenai pekerjaan seseorang dan keterikatan dengan peran pekerjaan”
(Scott, 2011).
Menurut Andreas (2021), pemberdayaan psikologis adalah sikap
seseorang terhadap kompetensi yang dimilikinya dalam tugas dan
pekerjaan serta perannya dalam suatu perusahaan atau organisasi.
Menurut Lubb (2022), pemberdayaan psikologis adalah keyakinan
bahwa seseorang dapat melakukan pekerjaannya sesuai dengan
keterampilan dan kemampuannya. Menurut Spreitzer (1995), Moghim
(2013), Amundsend (2015), dimensi pemberdayaan psikologis meliputi
makna, kompetensi, penentuan nasib sendiri dan efektivitas.
Berdasarkan penjelasan para ahli diatas maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa pemberdayaan psikologis adalah suatu keyakinan
dan sikap karyawan/seseorang terhadap pandangannya tentang
kompetensi dan keterampilan yang dimiliki dalam menyelesaikan tugas
dan pekerjaannya serta bagaimana pihak tersebut mampu menjalankan
perannya dalam suatu perusahaan tersebut

Perbedaan Karyawan Tetap Dengan Karyawan Kontrak.


Karyawan tetap dan karyawan kontrak memiliki beberapa perbedaan yaitu
karyawan tetap mempunyai rasa aman karena sudah menjadi karyawan tetap
sedangkan karyawan kontrak merasa tidak aman karena sewaktu kontraknya habis
maka ada kemungkinan ia tidak akan dipekerjakan lagi. Para karyawan kontrak
dapat dikatakan kurang memiliki rasa aman dalam bekerja, karena masa kerja
mereka yang telah ditentukan sebelumnya berakibat keresahan untuk
mendapatkan perpanjangan kontrak yang belum tentu dia dapatkan atau bahkan
mencari pekerjaan baru setelah kontraknya selesai dan tidak diperpanjang.
Berdasarkan orientasi karir maka karyawan kontrak berorientasi agar atasan
menilai pekerjaannya baik sehingga akan tetap dipekerjakan kembali setelah
kontraknya habis sedangkan karyawan tetap berorientasi pada peningkatan karir.
Aspek masa kerja karyawan kontrak sangat terbatas yaitu tergantung pada kontrak
kerjanya sedangkan karyawan tetap dapat dikatakan mempuyai kontrak kerja
selamanya hingga masa pensiunnya.
Dengan demikian dapat diketahui bahwa karyawan tetap dan karyawan
kontrak memiliki perbedaan mendasar yang menyangkut berbagai aspek,
diantaranya mengenai status karyawan, tingkat rasa aman dalam bekerja, orientasi
karir, dan lamanya waktu dalam bekerja (masa kerja). Perbedaan pokok antara
karyawan tetap dan kontrak terletak pada batas masa berlakunya hubungan kerja
dan hak pesangon apabila hubungan kerja terputus. Artinya karyawan yang selesai
kontrak tidak berhak atas pesangon, sedangkan karyawan tetap yang di-PHK yang
memenuhi syarat dan ketentuan tertentu berhak atas pesangon

Karyawan Kontrak


Karyawan kontrak adalah pegawai yang bekerja berdasarkan kontrak kerja
yaitu perjanjian (secara tertulis) antara dua pihak atau lebih yang bersanksi hukum
untuk melakukan atau tidak melakukan suatu kegiataan (Lestari, 2008).
Menurut pasal 1 huruf a Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per-05/1986,
yang dimaksud dengan perjanjian kerja untuk waktu tertentu adalah kesepakatan
kerja antara pekerja dengan pengusaha yang diadakan untuk waktu tertentu atau
untuk pekerjaan tertentu. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
perjanjian kerja untuk waktu tertentu terdiri atas:

  1. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang didasarkan atas jangka waktu
    tertentu.
  2. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu yang didasarkan atas pekerjaan tertentu.
    Perjanjian kerja untuk waktu tertentu baik berdasarkan waktu tertentu
    maupun pekerjaan tertentu memiliki batas jangka waktu maksimal 3 tahun dan
    tidak dapat diperpanjang lagi. Maksudnya agar buruh dalam memperoleh
    pekerjaan secara tidak tetap hanya terbatas sampai paling lama hanya 3 tahun saja,
    kemudian setelah itu akan naik menjadu buruh tetap dengan adanya perjanjian
    kerja untuk waktu yang tidak tentu.
    Selanjutnya menurut Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor: KEP
    150/MEN/1999 mengenai program jaminan sosial bagi tenaga kerja harian lepas,
    borongan dan perjanjian kerja waktu tertentu, mendefinisikan tenaga kerja yang
    bekerja berdasarkan perjanjian kerja. waktu tertentu disebut dengan tenaga kerja
    kontrak. Tenaga kerja kontrak adalah tenaga kerja yang bekerja pada perusahaan
    untuk melakukan pekerjaan tertentu dengan menerima upah yang didasarkan pada
    kesepakatan dalam hubungan kerja dalam waktu tertentu sampai selesainya
    pekerjaan tersebut.
    Macam perjanjian kerja untuk waktu tertentu ada 3, yaitu:
  3. Perjanjian kerja untuk waktu tetentu di mana waktu berlakunya ditentukan
    menurut perjanjian, misalnya dalam perjanjian kerja ditulis untuk waktu 1
    (satu) tahun dan sebagainya atau sampai pekerjaan selesai.
  4. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dimana waktu berlakunya ditentukan
    oleh Undang-undang, misalnya jika majikan mempekerjakan tenaga asing,
    dalam perjanjian kerja ditulis untuk waktu sekian tahun dan sebagainya
    menurut izin yang diberikan oleh Menteri Tenaga Kerja atas dasar Undang-
    undang Nomor 3 Tahun 58 tentang penempatan tenaga asing.
  5. Perjanjian kerja untuk waktu tertentu dimana waktu berlakunya ditentukan
    menurutn kebiasaan, misalnya diperkebunan terdapat buruh pemetik kopi
    dimana jangka waktu perjanjian kerja ditentukan oleh musim kopi. Musim
    kopi hanya berlangsung beberapa bulan dan setelah musim kopi selesai maka
    perjanjian kerja pun selesai (Tunggal dan Widjaja, 1999)

Dimensi dan Indikator Jenjang Karir


Menurut Henry Simamora (2012:412), dimensi dan indikator jenjang karir
meliputi :
1) Mutasi
a. Promosi
b. Rotasi
c. Demosi

  1. Seleksi
    d. Penerimaan pendahuluan via surat lamaran
    e. Psikotes
    f. Wawancara seleksi
    g. Tes keseatan
    h. Wawancara oleh penyelia
    i. Keputusan penerimaan
  2. Penempatan
    a. Pendidikan
    b. Pengetahuan kerja
    c. Keterampilan kerja
    d. Pengalaman kerja
  3. Pendidikan
    a. Tingkat pendidikan yang di syaratkan
    b. Pendidikan alternatif
  4. Pelatihan
    a. Instruktur
    b. Peserta
    c. Materi
    d. Metode
    e. Tujuan
    f. Sasaran

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jenjang Karir


Menurut Rivai (20133:278) faktor-faktor yang mempengaruhi jeanjang karier
adalah sebagaiberikut :

  1. Prestasi kerja
    Prestasi kerja (Job Performance) merupakan komponen yang paling penting
    untuk pengembangan karir yang paling penting untuk meningkatkan dan
    mengembangkan karir seorang karyawan. Kemajuan karir sebagian besar
    tergantung atas prestasi kerja yang baik dan etis. Dengan mengetahui hasil
    atas kinerjanya maka karyawan dapat mengukur kesempatanya terhadap
    pengembangan karir.
    Asumsi terhadap kinerja yang baik akan melandasi seluruh aktivitas
    pengembangan karir. Ketika kinerja di bawah standar maka dengan
    mengabaikan upaya-upaya ke arah pengembangan karir pun biasanya tujuan
    karir yangpaling sederhana pun tidak dapat dicapai. Kemajuan karir
    umumnya terletak pada kinerja dan prestasi.
  2. Eksposur
    Manajer atau atasan memperoleh pengenalan ini terutama melalui kinerja, dan
    prestasi karyawan, laporan tertulis, presentasi lisan, pekerjan komite dan
    jam-jam yang dihabiskan.
  3. Jaringan kerja
    Jaringan kerja berarti perolehan eksposure di luar perusahan. Mencakup
    kontakpribadi dan profesional. Jaringan tersebut akan sangat bermanfat bagi
    karyawan terutama dalam pengembangan karirnya.
  4. Kesetian terhadap organisasi
    Level loyalitas yang rendah merupakan hal yang umum terjadi di kalangan
    lulusanperguruan tingi terkini yang disebabkan ekspektasi terlalu tingi pada
    perusahantempatnya bekerja pertama kali sehinga seringkali menimbulkan
    kekecewan. Hal yang sama juga terjadi pada kelompok profesional dimana
    loyalitas pertamanya diperuntukan bagi profesi. Untuk mengatasi hal
    ini sekaligus mengurangitngkatkeluarnya karyawan (turn over)
    biasanya perusahan “membeli” loyalitas karyawandengan gaji,
    tunjangan yang tingi, melakukan praktek-praktek SDM yang
    efektifseperti perencanan dan pengembangan karir.
  5. Pembimbing dan sponsor
    Adanya pembimbing dan sponsor akan membantu karyawan
    dalam mengembangkan karirnya. Pembimbing akan memberikan nasehat-
    nasehat atau saran-saran kepada karyawan dalam upaya pengembangan
    karirnya, pembimbing berasal dari nternalperusahan. Mentor adalah
    seseorang di dalam perusahan yang menciptakan kesempatan untuk
    pengembangan karirnya.
  6. Peluang untuk tumbuh
    Karyawan hendaknya diberikan kesempatan untuk
    meningkatkan kemampuanya, misalnya melalui pelatihan-pelatihan, kursus,
    dan melanjutkan pendidikanya. Hal ini akan memberikan
    karyawan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan rencana
    karirnya

Jenjang Karir Karyawan


Pengembangan karier sangat penting bagi suatu organisasi, karena karier
merupakan kebutuhan yang harus terus dikembangkan dalam diri seorang
pegawai sehinga mampu memotivasi pegawai untuk meningkatkan kinerjanya.
Pengembangan karier meliputi setiap aktivitas untuk mempersiapkan seseorang
untuk menempuh jalur karier tertentu. suatu rencana karier yang telah dibuat oleh
seseorang pekerja harus disertai oleh suatu tujuan karier yang realistis. Karena
perdefinisi perencanan, termasuk perencanan karier, menurut Sunyoto (2012:164)
perencanan karier adalah proses yang dilalui oleh individu karyawan untuk
mengindetifikasi dan mengambil langkah-langkah untuk mencapai tujuan
kariernya.
Dengan demikian seorang pegawai perlu mengambil langkah-langkah tertentu
guna mewujudkan rencana tersebut. Berbagai langkah yang perlu ditempuh itu
dapat diambil atas prakarsa pekerja sendiri, tetapi dapat pula berupa kegiatan yang
disponsori oleh organisasi, atau gabungan dari keduanya. Hal ini merupakan salah
satu prinsip pengembangan karier yang sangat fundamental sifatnya.
Flipo (1984 : 271) menyatakan bahwa “ Karier dapat didefinisikan sebagai
serangkaian kegiatan pekerjan yang terpisahkan dan memberikan kedudukan dan
arti dalam riwayat hidup seseorang. Sedangkan menurut Hani Handoko dalam
Sunyoto (2012:165) pengertian karier ada tiga yakni:

  1. Karier sebagai suatu urutan promosi atau pemindahan (transfer)
    lateral kejabatan-jabatan yang lebih menuntut tangung jawab atau
    lokasi-lokasi yang lebih baik dalam atau menyilang hierarki hubungan
    kerja selama kehidupan kerja seseorang.
  2. Karier sebagai penunjuk pekerjan-pekerjan yang membentuk suatu pola
    kemajuan sistematik yang jelas kariernya;
  3. Karier sebagai sejarah pekerjan seseorang atau serangkaian posisi yang
    dipegangnya selama kehidupan kerja.
    Cascio dalam Marwansyah (2012 : 207) berpendapat bahwa kata karier dapat
    dipandang dari dua perspektif yang berbeda, antara lain dari perspektif yang
    obyektif dan subyektif. Dipandang dari perspektif yang obyektif, karier
    merupakan urut-urutan posisi yang diduduki oleh seseorang selama hidupnya,
    sedangkan dari perspektif yang subyektif, karier merupakan perubahan-perubahan
    nilai, sikap, dan motivasi yang terjadi karena seseorang menjadi semakin tua.
    Kedua perspektif tersebut terfokus pada individu dan mengangap bahwa setiap
    individu memilki beberapa tingkatan pengendalian terhadap nasibnya sendiri
    sehinga individu tersebut dapat memanipulasi peluang untuk memaksimalkan
    keberhasilan dan kepuasan yang berasal dari kariernya.
    Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat dikatakan bahwa karier adalah
    merupakan serangkaian perubahan sikap, nilai dan perilaku serta motivasi yang
    terjadi pada setiap individu selama rentang waktu kehidupanya untuk menemukan
    secara jelas keahlian, tujuan karier dan kebutuhan untuk pengembangan,
    merencanakan tujuan karier, dan secara kontinyu mengevaluasi, merevisi dan
    meningkatkan rancanganya. Karier juga merupakan suatu proses kemitran
    interaksi dalam tahapan dan kerja sama antara organisasi/perusahan atau
    manajemen, atasan langsung dan individu itu sendiri.
    Pengembangan karier pegawai baik dari segi karier menurut
    (Moenir, 1993 :10), pengetahuan dan kemampuan dapat melalui empat cara,
    yaitu :
    1) Melalui pendidikan
    2) Melalui promosi
    3) Melalui perpindahan pegawai atau mutasi
    4) Rekomendasi atau dukungan dari atasan.
    Marwansyah (2012:24) mengemukakan bahwa sarana pengembangan karier
    meliputi keterampilan, pendidikan dan pengalaman serta teknik-teknik modifikasi
    dan perbaikan perilaku, yang memberikan nilai tambah sehinga memungkinkan
    seseorang untuk bekerja lebih baik. Metode yang lazim digunakan misalnya :
    penyuluhan karier, penyedian informasi tentang perusahan atau organisasi, sistem
    penilaian kinerja dan lokakarya
    Pengembangan karier menurut Andrew J. Fubrin dalam
    Mangkunegara (201:7) adalah aktivitas kepegawaian yang membantu
    pegawai-pegawai merencanakan karier masa depan mereka di organisasi, agar
    organisasi dan pegawai yang bersangkutan dapat mengembangkan diri
    secara maksimum. Pengembangan karier yang digunakan instansi/lembaga tidak
    terlepas dari perencanan karier. Setiap pegawai atau karyawan dalam organisasi
    sebelum mengembangkan kariernya harus mempunyai perencanan karier yang
    matang terlebih dahulu. Selain itu, juga harus mengetahui hal-hal yang
    mempengaruhi pengembangan karier.
    Menurut Marwansyah (2012:208) pengembangan karier adalah kegiatan-
    kegiatan pengembangan diri yang ditempuh oleh seseorang untuk mewujudkan
    rencana karier pribadinya. Sedangkan menurut Sunyoto (2012:164),
    pengembangan karier adalah peningkatan-peningkatan pribadi yang dilakukan
    seseorang untuk mencapai suatu rencana karier.
    Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa
    fokus pengembangan karier adalah peningkatan kemampuan mental yang
    terjadi yang terjadi seiring penamabahan usia pegawai.
    Perkembangan kemampuan mental pegawai telah berlangsung selama seseorang
    menjadi pekerja pada sebuah organisasi yang terwujud melalui
    pelaksanan pekerjan yang menjadi tugas pokok dan fungsinya.
    Menurut Hastho dan Meilan dalam Sunyoto ( 2012:175) manajemen karier
    adalah proses pengelolan karier pegawai yang meliputi tahapan perencanan karier ,
    pengembangan dan konseling karier serta pengambilan keputusan karier.
    Sedangkan Henry Simamora dalam Sunyoto (2012:175) manajemen karier adalah
    proses bekelanjutan dari penyiapan , penerapan dan pemantauan rencana karier
    yang dilakukan oleh individu itu sendiri atau seiring dengan sistem karier
    organisasi

Dampak Lingkungan Kerja


Dampak lingkungan kerja menurut Soetjipto (2004):

  1. Kenyamanan karyawan.
    Kenyamanan dalam bekerja biasanya akan berdampak pada kualitas kerja
    seseorang. Oleh karena itu, ketika kenyamanan karyawan telah diterima
    dengan baik dalam arti lingkungan kerja mendukung, maka karyawan akan
    maksimal dalam bekerja.
  2. Perilaku karyawan.
    Perilaku kerja yaitu dimana orang-orang dalam lingkungan kerja dapat
    mengaktualisasikan dirinya melalui sikap dalam bekerja. Lingkungan fisik
    yang aman, nyaman, bersih dan memiliki tingkat gangguan minimum sangat
    disukai oleh para pekerja. Ketika karyawan mendapati lingkungan kerja yang
    kurang mendukung, perilaku karyawan saat di tempat kerja juga cenderung
    berubah.
  3. Kinerja Karyawan
    Jika kondisi kerja karyawan terjamin maka akan berdampak pada naiknya
    kinerja karyawan secara berkelanjutan. Kinerja karyawan menurun ketika
    perusahaan tidak memperhatikan fasilitas pendukung karyawannya dalam
    bekerja. Ketersediaan fasilitas dapat menyokong kinerja karyawan agar
    semakin baik.
  4. Tingkat Stres Karyawan
    Lingkungan yang tidak kondusif akan berpengaruh terhadap tingkat stres
    karyawan. Ketika hal tersebut tidak dapat diatasi, dapat berakibat pada
    buruknya pelayanan karyawan

Dimensi dan Indikator Lingkungan Kerja


Berdasarkan indikator-indikator yang digunakan dalam penelitian ini
mengadaptasi dari teori pendapat para ahli seperti yang diutarakan oleh Budi
W.Soetjipto (2009:87) diantaranya :
1) Dimensi fisik
Dimensi fisik diukur dengan menggunakan tujuh indikator yaitu :
a. Pencahayaan
Pencahayaan yang cukup tetapi tidak menyilaukan akan membantu
menciptakan kinerja pegawainya.
b. Sirkulasi udara.
Sirkulasi udara yang baik akan menyehatkan badan. Sirkulasi udara yang
cukup dalam ruangan kerja sangat diperlukan apabila ruangan tersebut penuh
dengan karyawan.
c. Kebisingan.
Kebisingan mengganggu konsentrasi, siapapun tidak senang mendengarkan
suara bising, karena kebisingan merupakan gangguan terhadap seseorang.
d. Warna.
Warna dapat berpengaruh terhadap jiwa manusia, sebenarnya bukan warna
saja yang diperhatikan tetapi komposisi warna pun harus pula diperhatikan.
Apabila warna dari suatu ruangan mempunyai komposisi yang menarik atau
mempunyai karakter, perubahan yang positif pun akan timbul baik perubahan
mood atau secara sikap.
e. Kelembaban udara.
Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara, biasanya
dinyatakan dalam persentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi
oleh temperatur udara.
f. Fasilitas.
Fasilitas merupakan suatu penunjang untuk karyawan dalam menjalankan
aktivitas dalam bekerja.
2) Dimensi non fisik
Dimensi non fisik diukur dengan mnggunakan tiga indikator :
a. Hubungan yang harmonis.
Hubungan yang harmonis merupakan bentuk hubungan dari suatu pribadi ke
pribadi yang lain dalam suatu organisasi. Apabila tercipta hubungan yang
harmonis dapat menguntungkan pihak perusahaan karena karyawan dapat
mengembangkan diri tanpa perlu terbatasi dengan yang lainnya.
b. Kesempatan untuk maju.
Kesempatan untuk maju merupakan suau peluang yang dimiliki oleh suatu
peluang yang dimiliki oleh seorang karyawan yang berprestasi dalam
menjalankan pekerjaannya agar mendapatkan hasil yang lebih.
c. Keamanan dalam pekerjaan.
Adalah keamanan yang dapat dimasukan kedalam lingkungan kerja. Dalam
hal ini terutama keamanan milik pribadi bagi karyawan. Baik keamanan
meliputi internal maupun eksternal harus selalu terkordinasi secara baik oleh
pihak keamanan perusahaan

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja


Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi lingkungan kerja antara lain.

  1. Penerangan
    Penerangan adalah cukupnya sinar yang masuk kedalam ruang kerja, masing
    masing karyawan perusahaan. Penerangan yang ada harus sesuai dengan
    kebutuhan, tidak terlalu terang tetapi juga tidak terlalu gelap, dengan sistem
    penerangan yang baik diharapkan karyawan akan menjalankan tugasnya
    dengan lebih teliti, sehingga kesalahan karyawan dalam bekerja dapat diperkecil.
  2. Suhu udara
    Temperatur udara atau suhu udara terlalu panas bagi karyawan akan dapat
    menjadi penyebab penurunnya kepuasan kerja para karyawan sehingga akan
    menimbulkan kesalahan-kesalahan pelaksanaan proses produksi.
  3. Suara bising
    Karyawan memerlukan suasana yang dapat mendukung konsentrasi dalam
    bekerja suasana bising yang bersumber dari mesin-mesin pabrik maupun dari
    kendaraan umum akan dapat menganggu konsentrasi karyawan dalam bekerja.
  4. Ruang gerak.
    Manajemen perusahaan perlu untuk memperhatikan ruang gerak yang
    memadai dalam perusahaan, agar karyawan dapat leluasa bergerak dengan baik,
    terlalu sempitnya ruang gerak yang tersedia akan mengakibat-kan karyawan tidak
    dapat bekerja dengan baik. karena itu, manajemen perusahaan tentunya harus
    dapat menyusun perencanaan yang tepat untuk ruang gerak yang dari
    masing-masing karyawan
  5. Keamanan kerja.
    Keamanan kerja merupakan faktor yang sangat penting yang diperhatikan
    oleh perusahaan. Kondisi kerja yang aman akan membuat karyawan tenang dalam
    bekerja sehingga meningkatkan produktivitas karyawan

Lingkungan Kerja


Lingkungan kerja merupakan tempat dimana para karyawan melakukan
aktivitas bekerja. Lingkungan kerja dapat membawa dampak positif dan negatif
bagi karyawan dalam rangka mencapai hasil kerjanya. Lingkungan kerja dalam
suatu perusahaan sangat penting untuk diperhatikan manajemen. Meskipun
lingkungan kerja tidak melaksanakan proses produksi dalam suatu perusahaan,
namun lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap para karyawan
yang melaksanakan proses produksi tersebut.
Lingkungan kerja yang memusatkan bagi karyawannya dapat
meningkatkan kinerja. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak memadai akan
dapat menurunkan kinerja. Pada saat ini lingkungan kerja dapat didesain
sedemikian rupa untuk menciptakan hubungan kerja yang mengikat pekerja dalam
lingkungannya.
Lingkungan kerja yang baik adalah yang aman, tenteram, bersih, tidak
bising, terang dan bebas dari segala macam ancaman dan gangguan yang
dapat menghambat karyawan untuk bekerja secara optimal. Lingkungan kerja
yang kondusif akan membawa dampak baik bagi kelangsungan karyawan bekerja,
sebaliknya, lingkungan kerja yang kurang kondusif akan membawa dampak
negatif bagi kelangsungan karyawan bekerja.
Lingkungan kerja merupakan salah satu penyebab dari keberhasilan dalam
melaksanakan suatu pekerjaan, tetapi juga dapat menyebabkan suatu kegagalan
dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, karena lingkungan kerja dapat mempengaruhi
pekerja, terutama lingkungan kerja yang bersifat psikologis. Sedangkan
pengaruhnya itu sendiri dapat bersifat positif dan dapat bersifat negatif.
Menurut Barry Render & Jay Heizer (2001:239), lingkungan kerja merupakan
lingkungan fisik tempat karyawan bekerja yang mempengaruhi kinerja, keamanan
dan mutu kehidupan kerja mereka. Lingkungan kerja yang kondusif memberikan
rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk dapat bekerja optimal.
Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosi pegawai, jika pegawai menyenangi
lingkungan kerja dimana ia bekerja, maka pegawai tersebut akan betah di tempat
bekerjanya untuk melakukan aktivitas sehingga waktu kerja dipergunakan secara
efektif dan optimal prestasi kerja pegawai juga tinggi. Lingkungan kerja tersebut
mencakup hubungan kerja yang terbentuk antara sesama pegawai dan hubungan
kerja antar bawahan dan atasan serta lingkungan fisik tempat pegawai bekerja.
Menurut Mardiana (2005: 15) “Lingkungan kerja adalah lingkungan dimana
pegawai melakukan pekerjaannya sehari-hari”. Lingkungan kerja yang kondusif
memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk dapat berkerja
optimal.
Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosi pegawai. Jika pegawai
menyenangi lingkungan kerja dimana dia bekerja, maka pegawai tersebut akan
betah di tempat kerjanya untuk melakukan aktivitas sehingga waktu kerja
dipergunakan secara efektif dan optimis prestasi kerja pegawai juga tinggi.
Lingkungan kerja tersebut mencakup hubungan kerja yang terbentuk antara
sesama pegawai dan hubungan kerja antar bawahan dan atasan serta lingkungan
fisik tempat pegawai bekerja.
Menurut Gouzali saydam (2000:266) juga menyebutkan bahwa lingkungan
kerja merupakan keseluruhan sarana dan prasarana kerja yang ada di sekitar
karyawan yang sedang melakukan pekerjaan yang dapat
mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan itu sendiri.
Menurut Sedarmayati (2009: 21) definisi lingkungan kerja adalah
keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di
mana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai
perseorangan maupun sebagai kelompok.
Menurut Sihombing (2004:134) lingkungan kerja adalah : “Faktor-faktor di
luar manusia baik fisik maupun non fisik dalam suatu organisasi. Faktor fisik ini
mencakup peralatan kerja, suhu tempat kerja, kesesakan dan kepadatan,
kebisingan, luas ruang kerja. Sedangkan non fisik mencakup hubungan kerja yang
terbentuk di instansi antara atasan dan bawahan serta antara sesama karyawan.”
Menurut Sedarmayanti (2001 : 21) “lingkungan kerja adalah keseluruhan alat
perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seseorang
bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan
maupun sebagai kelompok”.
Menurut sarwono (2005) “Lingkungan kerja adalah lingkungan
dimana pegawai/karyawan melakukan pekerjaannya sehari-hari”. Lingkungan
kerja yang kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai
untuk dapat berkerja optimal. Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosi
pegawai. Jika pegawai menyenangi lingkungan kerja dimana dia bekerja, maka
pegawai tersebut akan betah di tempat kerjanya untuk melakukan aktivitas
sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif dan optimis prestasi kerja
pegawai juga tinggi. Lingkungan kerja tersebut mencakup hubungan kerja yang
terbentuk antara sesama pegawai dan hubungan kerja antar bawahan dan atasan
serta lingkungan fisik tempat pegawai bekerja.
Definisi lingkungan kerja menurut Komarudin (2001: 87) adalah kehidupan
sosial psikologi dan fisik dalam organisasi yang berpengaruh terhadap pekerjaan
karyawan dalam melakukan tugasnya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja adalah keadaan di sekitar para
pekerja sewaktu pekerja melakukan tugasnya yang mana keadaan ini mempunyai
pengaruh bagi pekerja pada waktu melakukan pekerjaannya dalam rangka
menjalankan operasi perusahaan. Lingkungan kerja mempunyai makna yang
penting bagi pekerja dalam menyelesaikan tugasnya.
Tujuan utama pengaturan lingkungan kerja adalah naiknya produktivitas
perusahaan. Oleh karenanya pengadaan fasilitas lingkungan kerja yang baik
adalah secukupnya saja, jangan sampai tenaga kerja merasa terlalu dimanja dalam
bekerja, sehingga hasil yang dicapai tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka perencanaan dan pengaturan lingkungan
kerja tidak dapat diabaikan begitu saja, karena hal itu berpengaruh pada jalannya
operasi perusahaan

Dampak Kesejahteraan Karyawan


Kesejahteraan karyawan itu selalu menjadi keinginan setiap orang karena
dengan hidup sejahtera orang akan dapat menikmati hidupnya. Demikian juga
dengan karyawan disuatu Perusahaan, jika kesejahteraan karyawan itu terjamin
maka akan dapat meningkatakan prestasi kerja karyawan. Adapun manfaat yang
diperoleh dengan diselenggarakan program kesejahteraan karyawan adalah
sebagai berikut :

  1. Memperbaiki semangat dan kesejahteraan karyawan
  2. Penarikan tenaga kerja atau karyawan yang lebih efektif
  3. Menurunkan tingkat absensi
    Disisi lain dengan semangat kerja atau prestasi kerja karyawan yang baik itu
    dapat meningkatkan usaha dan juga akan meningkatkan rentabilitasnya. Oleh
    sebab itu dengan meningkatnya tingkat rentabilitas suatu perusahaan, maka dalam
    pemberian kesejahteraan kepada karyawan akan bertambah atau meningkat

Dimensi dan Indikator Kesejahteraan Karyawan


Menurut Melayu SP. Hasibuan (2012:188) dimensi dan indikator
kesejahteraan ada tiga macam, yaitu :

  1. Kesejahteraan bersifat ekonomis dapat berupa :
    a. Dana pensiun
    b. Jaminan kematian pegawai
    c. Tunjangan hari raya
  2. Kesejahteraan bersifat fasilitas dapat berupa :
    a. Sarana kerohanian
    b. Sarana olah raga
    c. Koperasi
    d. Cuti/istirahat
    e. Izin
    f. Fasilitas pembelian
  3. Kesejahteraan bersifat pelayanan dapat Berupa : Asuransi

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesejahteraan Karyawan


a) Faktor kesejahteraan karyawan yang mempengaruhi hubungan antara
karyawan dengan karyawan meliputi:
 Gaji dan upah yang baik.
Gaji bisa dipakai untuk kebutuhan psikologis dan sosial
 Rekan kerja yang kompak.
Keinginan ini merupakan cermin dari kebutuhan sosial. Seorang karyawan
mungkin berkeberatan untuk dipromosikan, hanya karena tidak menginginkan
kehilangan rekan kerja yang kompak.
 Kondisi kerja yang aman, nyaman dan menarik.
Kondisi kerja yang aman berasal dari kebutuhan akan rasa aman disamping
itu juga tempat kerja yang nyaman dan menarik.
b) Faktor kesejahteraan karyawan yang mempengaruhi hubungan antara
karyawan dengan pimpinan :
 Pimpinan yang adil dan bijaksana. Pimpinan yang baik menjamin bahwa
pekerjaan akan tetap bisa dipertahankan, demikian juga pimpinan yang tidak
berat sebelah akan menjadi ketenangan kerja.
 Melengkapi para karyawan dengan sumber dana yang diperlukan untuk
menjalankan tugasnya.
 Mengkomunikasikan kepada karyawan tentang apa yang diharapkan dari
mereka.
 Memberikan penghargaan untuk mendorong kinerja

Kesejahteraan Karyawan


Kesejahteraan menurut Dodge et al (2012: 3) ialah sesuatu yang tidak bisa
didefenisikan, yang tidak dapat dinyatakan secara jelas dan bahkan sangat susah
untuk diukur.
Pengertian kesejahteraan karyawan menurut Hasibuan (2005: 185) adalah
balas jasa pelengkap (material dan non material) yang diberikan berdasarkan
kebijaksanaan.
Tujuannya untuk mempertahankan dan memperbaiki kondisi fisik dan mental
karyawan, agar produktivitas kerjanya meningkat.
Sedangkan pengertian kesejahteraan karyawan menurut Yoder dalam
Hasibuan (2005: 186) ialah kesejahteraan dapat dipandang sebagai uang bantuan
lebih lanjut kepada karyawan. Terutama pembayaran kepada mereka yang sakit,
uang bantuan untuk tabungan karyawan, pembagian berupa saham, asuransi,
perawatan dirumah sakit, dan pensiun

Dampak Kepuasan Gaji


a. Kehadiran kerja
Gaji dapat menjadi faktor penting dalam penentuan apakah seorang karyawan
akan masuk kerja pada hari tertentu. Ketidakhadiran akan disebabkan oleh
keinginan untuk menghindari ketidaknyamanan suatu lingkungan kerja (pekerjaan,
rekan sejahwat, atasan, kondisi kerja) atau kekecewaan terhadap struktur balas
jasa organisasi (gaji, promosi, pengakuan, karyawan) ( Simamora, 2004).
Ketidakhadiran, keterlambatan, dan pulang kerja lebih dini dapat dikendalikan
dengan menggunakan gaji perjam kerja dapat mendatangkan ketidakpuasan
diantara para profesional dan buruh karena biasanya golongan pekerja kasarlah
yang dihubungkan dengan gaji seperti itu. Lebih jauh, gaji lembur dapat
mendorong kehadiran kerja di luar jam kerja normal seandainya diberikan gaji per
jam dan bonus memadai (Simamora, 2004).
b. Efektivitas Organisasional
Menurut Simamora (2004), manajer sumber daya manusia dan spesialis
kompensasi perlu mengenali 3 poin utama ketika merancang, menerapkan, dan
mengevaluasi sebuah program kompensasi. Pertama, gaji pada umumnya
merupakan faktor yang penting bagi karyawan dan memiliki dampak terhadap
pilihan pekerjaan, kepuasan kerja, ketidakhadiran, putaran karyawan, dan
produktivitas. Signifikansi dan dampak gaji akan bervariasi diantara para
karyawan, tergantung pada variabel-variabel seperti usia, jenis kelamin, tingkat
pendapatan, situasi keluarga, dan faktor cultural sosial, dan ekonomi lainya.
Kedua, tenaga kerja akan senantiasa berubah dengan cara-cara yang agak
dapat diprediksi. Ketiga, organisasi merubah misi, tujuan, strategi, dan kebijakan
sumber daya manusia.
c. Komitmen Efektif
Beberapa peneliti menunjukan sebuah hubungan positif antara kepuasan gaji
dan komitmen efektif (Rizqi & Ridwan, 205). Penelit yang dilakukan Ward &
Davis (1995), menunjukan bahwa dampak dari kepuasan keuntungan terhadap
komitmen organisasi dan menemukan korelasi yang positif dari kepuasan
keuntungan, keadilan distributif, keadilan prosedural dan 3 komponen dari
komitmen organisasi. Miceli & Mulvey (2000; dalam Rizqi & Ridwan, 2005)
meneliti konsekuensi dari kepuasan tingkat gaji dan sistem gaji memiliki
hubungan yang positif dengan komitmen efektif pada karyawan. Penelitian yang
lain juga menunjukan bahwa terdapat korelasi yang positif antara kepuasan gaji
dan tiga komponen komitmen organisasi (Meyer, Stanley, Hersconvitch, &
Topolnytsky, 2002, dalam Rizqi & Ridwan, 2005)

Dimensi Kepuasan Gaji


Menurut Andini (2006) adanya beberapa dimensi yang mempengaruhi
kepuasan gaji yaitu :

  1. Imbalan
    Dalam melakukan tugas atau pekerjaan seseorang sangat menginginkan
    imbalan sesuai dengan apa yang di kerjakannya. Imbalan yang di dapatkan
    oleh pegawai menjadi salah satu faktor yang bisa meningkatkan atau
    menurunkan kepuasan gaji.
  2. Standar hidup
    Setiap orang memiliki standar hidup yang berbeda-beda. Standar hidup itu
    bermaksud apakah seseorang bisa memenuhi hidupnya secara terus menerus,
    atau standar hidup yang dimiliki tidak terpenuhi. Standar hidup seseorang
    biasanya untuk memenuhi kebutuhan istri dan keluarganya.
  3. Masa kerja
    Pegawai yang bekerja di pekerjaan mempunyai peluang untuk meningatkan
    pendapatannya jika dia telah lama berada di perusahaan tersebut. Adanya
    peluang tersebut itu bisa meningkatkan kepuasan gaji yang ada.
  4. Tingkat pendidikan
    Tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang menunjukan nilai yang dimiliki
    seseorang tersebut. Dengan adanya tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dia
    bisa memiliki gaji yang lebih besar. Namun apakah gaji yang didapatkan
    seseorang sudah sesuai dengan tingkat pendidikan yang dia miliki.
  5. Golongan
    Setiap orang memiliki golongan yang berbeda-beda. Golongan yang
    dimaksud adalah pegawai mendapatkan gaji sesuai dengan tugas yang
    diberikan.
    Orang yang memiliki golongan kerja yang baik pasti menginginkan gaji yang
    lebih tinggi daripada golongan yang di bawah mereka

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Gaji


Munculnya kepuasan gaji, dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor yang
dirasakan oleh pegawai yang mendapatkan gaji tersebut. Berikut empat faktor
kepuasan gaji menurut Andini (2006) :
1) Pay level Besar kecilnya gaji yang diterima oleh pegawai sesuai dengan
perkerjaan yang dijalaninya. Namun sering terjadinya ketidak selarasan dalam
kesepakatan antara perusahaan dan pegawai yang menyebabkan pegawai
tersebut merasa gaji yang mereka dapatkan terlalu kecil untuk suatu pekerjaan
yang dia rasakan.
2) Pay Raise Dalam suatu pekerjaan, setiap pegawai mempunyai kesempatan
atau peluang untuk mendapatkan pendapatan/gaji yang lebih besar untuk
kedepannya. Bila peluang tersebut tidak mereka rasakan dengan baik, itu
dapat menyebabkan adanya rasa tidak puas oleh pegawai tersebut dalam
bekerja.
3) Benefits Setiap pegawai pasti menggunakan gajinya untuk memenuhi
kebutuhan sehari-harinya ataupun untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Jadi itu memberikan keamanan dalam kehidupan disetiap bulannya (income
protection). Pendapatan tersebut juga bisa menyeimbangkan kehidupannya
(worklife balanced). Keuntungan/pendapatan tambahan yang biasanya
diberikan oleh perusahaan bisa sesuai dengan kinerja yang diberikan oleh
pegawai tersebut (allowance).
4) Pay Administration Proses pendapatan gaji yang dirasakan oleh pegawai di
suatu perusahaan juga menentukan kepuasan pendapatan yang dia rasakan.
Dikarenakan proses yang membantu untuk pegawai tersebut mendapatkan
gajinya secara baik akan meningkatkan kepuasan gaji pegawai tersebut.
Seperti sesuai dengan prosedur dan sesuai dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi tingkat pendapatan gaji mereka

Kepuasan Gaji


Kepuasan merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan
hasil yang dirasakan terhadap harapan yang ada. Sementara gaji merupakan balas
jasa yang diberikan kepada karyawan dalam bentuk uang terhadap apa yang sudah
diberikan karyawan kepada perusahaan. Kepuasan gaji adalah perasaan puas
terhadap gaji yang diperoleh karyawan (Sulistiyowati, 2007). kepuasan dan
ketidakpuasan gaji merupakan suatu fungsi dari perbedaan antara perasaan
seseorang mengenai apa yang seharusnya diterima dengan berapa banyak gaji
yang sebenarnya diterima (Lawyer,1990; dalam Hersusdadikawati, 2005).
Menurut Heneman et al. (1988; dalam Handoyo, 2014), kepuasan gaji
merupakan konstruk kepuasan yang multidimensi yang terdiri atas empat
subdimensi: tingkat gaji (pay level), struktur / pengelolaan gaji (pay structure /
administration), peningkatan gaji (pay raise) dan tunjangan (benefit). Kepuasan
atas tingkat gaji didefinisikan sebagai persepsi kepuasan atas gaji dan upah
langsung, sedangkan kepuasan atas peningkatan gaji berkenaan dengan persepsi
kepuasan dalam perubahan tingkat gaji.
Kepuasan atas struktur atau pengadministrasian gaji didefinisikan sebagai
persepsi kepuasan dengan hirarki gaji internal dan metode yang digunakan untuk
mendistribusikan gaji. Kepuasan atas tunjangan menekankan pada persepsi
kepuasan dengan pembayaran tidak langsung yang diterima karyawan.
Igalens et al. (1999; dalam Abdulkadir, 2005) mengatakan bahwa gaji dapat
diklasifikasikan menjadi: pertama, Gaji tetap merupakan sebuah bentuk
kompensasi dimana jumlah dan masa pemberian imbalannya dapat dipastikan.
Kedua, gaji fleksibel yang didalamnya termasuk upah yang berubah-ubah
(variable pay) dan pendapatan yang disimpan. Upah yang berubah-ubah
merupakan sebuah kompensasi dimana besarnya upah tidak dapat ditentukan.
Ketiga, berbagai jenis tunjangan yang meliputi elemen: uang saku & ganti rugi
untuk berbagai pengeluran, tunjangan dalam bentuk barang dan jasa yang
disediakan perusahaan, program-program kesejahteran pegawai dan acara-acara
rekreasi bagi pegawai, rencana-rencana pensiun dan tanggung jawab asuransi
kesehatan yang diterima pegawai dan dibayar oleh perusahaan.
Locke (1969; dalam Schereurs et al., 2013) berpendapat bahwa, dari
perspektif keadilan, kepuasan gaji dapat dilihat sebagai fungsi dari tujuan dan
aspirasi, dan juga mempunyai hubungan dengan kepuasan gaji karyawan lain. Jika
rasio hasil / input sesuai, karyawan akan percaya sumber daya didistribusikan
secara adil. Jika rasio lebih rendah, karyawan mungkin merasa kurang dihargai
dan diperlakukan secara tidak adil. Karyawan dapat bereaksi terhadap
ketidakadilan yang dirasakan ini dengan cara yang dimaksudkan untuk
mengembalikan keseimbangan.
Gaji dapat dilihat sebagai bagian dalam perusahaan yang mendukung
karyawan dalam meningkatkan motivasi kerja agar dapat menunjukkan kinerja
dan loyalitas yang baik. Oleh karena itu kepuasan gaji yang rendah yang
dirasakan karyawan dapat menyebabkan karyawan melakukan turnover intention.
Menurut Rivai dan Sagala (2013), tujuan pemberian gaji adalah
a. Ikatan kerja sama
Dengan pemberian gaji terjalinlah ikatan kerja sama formal antara pemilik /
pengusaha dengan karyawan. Karyawan harus mengerjakan tugasnya dengan
baik, sedangkan pemilik / pengusaha wajib membayar gaji sesuai dengan
perjanjian yang telah disepakati.
b. Kepuasan kerja
Dengan gaji, karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan fisik, status sosial,
dan egoistiknya senhingga memperoleh kepuasan kerja dari jabatannya.
c. Pengadaan efektif
Jika program upah dan gaji ditetapkan cukup besar, pengadaan karyawan
yang qualified untuk perusahaan akan lebih mudah.
d. Motivasi
Jika gaji yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi para
karyawannya.
e. Stabilitas karyawan
Dengan program gaji atas prinsip adil da layak serta eksternal konsistensi
yang kompetitig maka stabilitas karyawan lebih terjamin karena turnover
relatif kecil.
f. Disiplin
Dengan pemberian gaji yang cukup besar maka disiplin karyawan semakin
baik. Mereka akan menyadari serta mentaati peraturan-peraturan yang
berlaku.
g. Pengaruh serikat buruh
Dengan program gaji yang baik, pengaruh serikat buruh dapat dihindarkan
dan karyawan akan berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Abdulkadir (2005) mengatakan bahwa kepuasan gaji diukur dengan
menggunakan dimensionalitas dari kepuasan gaji yang diusul oleh Heneman dan
Schwab, yang dikukur dengan angket kepuasan gaji, yang terdiri dari :

  1. Tingkat gaji
  2. Tunjangan
  3. Kenaikan gaji
  4. Struktur dan administrasi / pengelolaan gaji

Dampak Turnover Intention


Berpindahnya individu dari organisasi tentunya akan memberikan dampak
terhadap organisasi. Dampak utama yang akan diberikan adalah kosongnya posisi
yang ditinggalkan dan dampak paling besar adalah biaya. Menurut Mobley(1986,
dalam Carolina, 2012) dampak turnover perusahan paling besar adalah biaya.
Tingkat turnover yang tinggi dapat menimbulkan dampak yang membahayakan
terhadap perusahaan. Efek pemborosan biaya yang cukup besar yang terjadi
dikarenakan keluarnya karyawan dalam perusahaan yang kemudian perusahaan
harus mengeluarkan biaya untuk melakukan rekrutmen, orientasi, lembur, dan
pengawasan (Suryani, 2011). Selain dampak dari biaya yang ditimbulkan karena
adanya turnover intention pada organisasi, dampak lainnya bisa berupa kurangnya
keefektifan berjalannya suatu organisasi karena adanya posisi yang ditinggalkan.
Andini (2016) mengungkapkan bahwa tingkat turnover intention yang tinggi
dapat menimbulkan penyebab kurang efektifnya sebuah organisasi karena
hilangnya individu yang berpengalaman dan posisi yang ditinggalkan.
Dalam sebuah kajian literatur Ridlo (2012) menyebutkan dampak turnover
intention bagi organisasi antara lain :
a) Menyangkut waktu dan fasilitas wawancara dalam proses seleksi yaitu
dampak terhadap biaya penarikan karyawan.
b) Menyangkut waktu pengawas, departemen personalia dan karyawan yang
dilatih.
c) Apa yang dikeluarkan buat karyawan lebih kecil dari yang dihasilkan
karyawan baru tersebut yaitu dampak terhadap biaya latihan.
d) Tingginya tingkat kecelakaan para karyawan baru.
e) Hilangnya produksi selama masa pergantian karyawan.
f) Peralatan produksi yang tidak dapat digunakan secara penuh.
g) Tingkat pemborosan yang tinggi karena adanya karyawan baru.
h) Perlunya diadakan kerja lembur, supaya tidak terjadi penundaan produksi

Dimensi Turnover Intention.


Berikut ini adalah dimensi dari turnover intention menurutv( Homand
Griffeth (1991):
1) Individu berfikir untuk meninggalkan organisasi.
2) Individu ingin mencari pekerjaan pada organisasi lain.
3) Individu ingin meninggalkan organisasi.
4) Individu ingin meninggalkan organisasi dalam waktu dekat
5) ndividu ingin meninggalkan organisasi bila ada kesempatan yang lebih baik

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Turnover Intention


Menurut Siagian (2004:230), berbagai faktor yang mempengaruhi keinginan
karyawan untuk meninggalkan organisasi (turnover intention) antara lain adalah
tingginya stres kerja dalam perusahaan, rendahnya kepuasan yang dirasakan
karyawan serta kurangnya komitmen pada diri karyawan untuk memberikan
semua kemampuannya bagi kemajuan perusahaan. Sedangkan menurut Mobley
(2002:45), faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk pindah kerja
(turnover intention) antara lain:

  1. Karateristik Individu
    Organisasi merupakan wadah bagi individu untuk mencapai tujuan yang
    ditentukan secara bersama oleh orang-orang yang terlibat didalamnya. Untuk
    mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan adanya interaksi yang
    berkesinambungan dari unsur-unsur organisasi. Karakter individu yang
    mempengaruhi keinginan pindah kerja antara lain umur, pendidikan dan
    status perkawinan.
  2. Lingkungan Kerja
    Lingkungan kerja dapat meliputi lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan
    fisik meliputi keadaan suhu, cuaca, kontruksi, bangunan, dan lokasi pekerjaan.
    Sedangkan lingkungan sosial meliputi sosial budaya di lingkungan kerjanya,
    besar atau kecilnya beban kerja, kompensasi yang diterima, hubungan kerja
    se-profesi, dan kualitas kehidupan kerjanya. Lingkungan kerja dapat
    mempengaruhi turnover intention pada karyawan. Hal ini dapat disebabkan
    apabila lingkungan kerja yang dirasakan oleh karyawan kurang nyaman
    sehingga menimbulkan niat untuk keluar dari perusahaan. Tetapi apabila
    lingkungan kerja yang dirasakan karyawan menyenangkan maka akan
    membawa dampak positif bagi karyawan, sehingga akan menimbulkan rasa
    betah bekerja pada perusahaan tersebut dan dapat menghilangkan keinginan
    pindah kerja (turnover intention).
    Menurut Oetomo dalam Riley (2006:2), keinginan untuk keluar dapat dipengaruhi
    oleh dua faktor, yaitu:
  3. Organisasi
    Faktor organisasi yang dapat menyebabkan keinginan karyawan untuk keluar
    antara lain berupa upah/gaji, lingkungan kerja, beban kerja, promosi jabatan,
    dan jam kerja yang tidak fleksibel.
  4. Individu
    Faktor organisasi yang dapat menyebabkan keinginan karyawan untuk keluar
    antara lain berupa pendidikan, umur, dan status perkawinan.
    Menurut Rivai (2009:240), beberapa karateristik pekerjaan yang dapat
    mempengaruhi keinginan pindah kerja adalah sebagai berikut:
    a. Beban Kerja
    Beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara tuntutan
    tugas-tugas, lingkungan kerja dimana digunakan sebagai tempat kerja,
    keterampilan, perilaku, dan persepsi dari pekerjaan. Beban kerja dibedakan
    menjadi dua yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Beban kerja kuantitatif timbul
    karena tugas-tugas yang terlalu banyak yang diberikan kepada tenaga kerja untuk
    diselesaikan dalam waktu tertentu, sedangkan secara kuantitatifyaitu jika
    seseorang tidak dapat mengerjakan suatu tugas atau tugas yang diberikan tidak
    menggunakan keterampilan potensi yang sesuai dari tenaga kerja. menjadi dua
    yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Beban kerja kuantitatif timbul karena
    tugas-tugas yang terlalu banyak yang diberikan kepada tenaga kerja untuk
    diselesaikan dalam waktu tertentu, sedangkan secara kuantitatif yaitu jika
    seseorang tidak dapat mengerjakan suatu tugas atau tugas yang diberikan tidak
    menggunakan keterampilan potensi yang sesuai dari tenaga kerja.
    b. Lama Kerja
    Pada dasarnya, karyawan yang ingin pindah dari tempat kerja disebabkan
    karena setelah lama bekerja, dimana harapan – harapan yang semula dari
    pekerjaan itu berbeda dengan kenyataan yang didapat. Adanya korelasi yang
    negatif antara masa kerja dengan kecenderungan turnover, yang berarti semakin
    lama masa kerja semakin rendah kecenderungan perpindahan tenaga kerja.
    Perpindahan tenaga kerja ini lebih banyak terjadi pada karyawan dengan masa
    kerja lebih singkat.
    c. Dukungan Sosial
    Dukungan sosial yang dimaksud adalah adanya hubungan saling membantu
    untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan baik secara
    langsung maupun tidak langsung. Dukungan sosial memiliki pengaruh yang
    cukup besar dalam mendukung aspek psikologis karyawan, sehingga mereka
    mampu bekerja dengan tenang, konsentrasi, termotivasi, dan mempunyai
    komitmen yang tinggi terhadap organisasinya. Sedangkan karyawan yang kurang
    mendapatkan dukungan sosial bisa mengalami frustasi, stress dalam bekerja
    sehingga prestasi kerja menjadi buruk, dan dampak lainnya tingginya absensi
    kerja, keinginan pindah kerja bahkan sampai pada berhenti bekerja

Turnover Intention


Turnover intention adalah keinginan untuk berpindah pekerjaan atau
keinginan untuk keluar dari suatu organisasi dalam bentuk berhenti kerja atau
pindah ke organisasi lain karena tidak merasa nyaman dan berkeinginan untuk
mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi. Pada dasarnya sikap individu yang
mempunyai keinginan untuk keluar dari suatu organisasi adalah hal yang umum.
Turnover intention adalah tindakan akhir yang akan diambil oleh individu untuk
keluar dari organisasi dikarenakan faktor-faktor yang mendorong individu tersebut
berkeinginan untuk keluar dari organisasi.
Tet dan Meyer (1993) dalam Ridlo (2012) mengungkapkan definisi intention
to leave yaitu niat karyawan untuk meninggalkan organisasi secara hasrat
disengaja dan secara sadar dari diri karyawan untuk meninggalkan organisasi.
Turnover Intention dapat diartikan sebagai niat karyawan untuk berpindah dari
suatu organisasi atau keluar dari organisasi, baik dalam bentuk pemberhentian
atau pengunduran diri (Putri dan Suana, 2016).
Dalam penelitian Andini (2006) menyatakan bahwa timbulnya perasaan
individu yang berkeinginan untuk pindah dari suatu organisasi, mengakhiri
pekerjaannya di organisasi tersebut atau keluar dari organisasi yang ditempati saat
ini itu berhubungan dengan perasaan individu yang puas atau tidak puas terhadap
pekerjaannya saat ini. Turnover intention yang terjadi pada individu didalam
organisasi menggambarkan perasaan individu untuk keluar, mencari pekerjaan di
tempat lain dan keinginan individu untuk meninggalkan pekerjaannya. Dengan
demikian, turnover intention (intensi keluar) adalah kecenderungan perasaan
individu atau niat individu yang memiliki keinginan untuk berhenti dari
pekerjaannya (Zeffane, 1994) dalam (Polii, 2015).
Susiani (2014) menungkapkan bahwa tingkat turnover intention yang terjadi
dalam organisasi mengarah pada kenyataan akhir yang berupa keluarnya
karyawan pada saat tertentu. Susiani (2014) mengungkapkan bahwa turnover
intention merupakan perasaan yang timbul dari individu yaitu niat untuk berhenti
dari pekerjaanya secara sukarela menurut pilihannya sendiri. Shaw et al., (1998,
dalam Bramantara dan Kartika, 2014) mengungkapkan bahwa turnover intenion
terbagi menjadi dua yaitu yang pertama voluntary turnover atau quit adalah
keputusan yang diambil oleh individu untuk keluar atau meninggalkan organisasi
secara sukarela, sebaliknya yang kedua yaitu involuntary turnover atau pemecatan
merupakan keputusan dari organisasi untuk menghentikan hubungan kerja pada
individu dan bersifat uncontrollable bagi individu yang mengalami pemecatan
atau unvoluntary turnover.
Jackofsky dan Peter (1983, dalam Bramantara dan Kartika, 2014) memberi
batasan pada turnover yakni sebagai perpindahan individu yaitu karyawan dari
pekerjaannya sekarang. Perilaku individu yang berkeinginan untuk pindah atau
keluar dari organisasi ini merupakan perilaku yang sulit dicegah. Keinginan untuk
pindah (turnover intention) yang akhirnya akan muncul keputusan individu untuk
meninggalkan pekerjaannya (Sijabat, 2011). Seringkali dilihat dalam perusahaan
individu yang dalam bekerja tidak mengerahkan kemampuannya yang hal ini
disebabkan karena adanya keinginan untuk berpindah ke perusahaan lain (Garnita
dan Suana, 2014). Turnover intention yang terjadi dalam perusahaan merupakan
isu negatif yang dapat memberi dampak pada perusahaan namun apabila
perusahaan dapat mengatasinya dengan baik dapat menjadi isu positif bagi
perusahaan. Turnover intention dapat dijadikan indikator pengambilan kebijakan
oleh perusahaan. Dari pendapat para peneliti diatas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa turnover intention adalah niat seorang individu untuk
meninggalkan organisasi atau perusahaan karena tidak merasa nyaman didalam
organisasi atau perusahaannya dan berniat untuk mencari pekerjaan yang lebih
baik

Nilai-Nilai Internasional


Salah satu pendekatan yang paling dirujuk secara luas untuk menganalisis
variasi di antara budaya dilakukan di akhir 1970-an (24). Hofstede menyurvei lebih
dari 116.000 pekerja IBM di 40 negara mengenai nilai-nilai terkait pekerjaan
mereka dan mendapati bahwa manajer dan pekerja beragam dalam lima dimensi
nilai dari budaya nasional:
1) Jarak kekuasaan. Jarak kekuasaan menjelaskan tingkat di mana orang-
orang dalam suatu negara menerima bahwa kekuasaan dalam institusi dan
organisasi menyebar tidak merata. Peringkat yang tinggi dalam jarak
kekuasaan berarti bahwa ketidaksamaan yang besar atas kekuasaan dan
kekayaan ada dan ditoleransi dalam budaya, sebagaimana dalam sebuah
sistem kelas atau kasta yang menahan mobilitas ke atas. Peringkat jarak
kekuasaan yang rendah mengarakteristikkan masyarakat yang menekankan
kesamaan dan peluang.
2) Individualisme versus kolektivisme. Individualisme adalah tingkat di
mana orang- orang lebih memilih untuk bertindak sebagai individu
dibandingkan sebagai anggota kelompok dan mempercayai hak-hak
individu di atas segalanya. Kolektivisme menekankan kerangka sosial yang
ketat di mana orang-orang mengharapkan yang lain dalam kelompok yang
menjadi bagiannya untuk merawat dan melindungi mereka.
3) Maskulinitas versus femininitas. Konsep maskulinitas Hofstede adalah
tingkat di mana budaya menyukai peran-peran maskulin tradisional seperti
pencapaian, kekuasaan, dan kendali, berlawanan dengan pandangan pria
dan wanita adalah sama. Peringkat maskulinitas yang tinggi
mengindikasikan budaya telah memisahkan peran bagi pria dan wanita,
dengan pria mendominasi masyarakat. Peringkat femininitas tinggi berarti
budaya melihat sedikit perbedaan antara peran pria dan wanita dan
memperlakukan wanita sama dengan pria dalam segala hal.
4) Penghindaran Ketidakpastian. Tingkat di mana orang-orang dalam suatu
negara lebih memilih situasi yang terstruktur atau tidak terstruktur
menentukan penghindaran ketidakpastian mereka. Dalam budaya dengan
skor penghindaran ketidakpastian yang tinggi, orang-orang memiliki tingkat
kecemasan yang tinggi mengenai ketidakpastian dan ambiguita dan
menggunakan hukum dan kontrol untuk mengurangi ketidakpastian. Orang-
orang dalam budaya dengan penghindaran ketidakpastian yang rendah lebih
menerima ambiguitas, kurang berorientasi pada peraturan, mengambil lebih
banyak risiko, dan lebih siap menerima perubahan.
5) Orientasi jangka panjang versus jangka pendek. Tambahan terbaru pada
tipologi Hofstede mengukur kesetiaan masyarakat pada nilai-nilai
tradisional. Orang-orang dalam budaya dengan orientasi jangka panjang
melihat masa depan dan menghargai kebijaksanaan, persistensi, serta
tradisi. Dalam orientasi jangka pendek, orang- orang menilai di sini dan saat
ini; mereka lebih siap menerima perubahan dan tidak melihat komitmen
sebagai rintangan untuk berubah