Psychological empowerment merupakan suatu proses untuk tiap-tiap
individu yang akan menjalankan perubahan terhadap dirinya dan organisasinya.
(Ivancevich, et al, dalam penelitian Dhera Alfiana, 2020:5) menyatakan bahwa
proses pemberdayaan melalui tahapan berikut, yaitu:
- Mengidentifikasi kondisi organisasi yang menyebabkan munculnya perasaan
tidak berdaya pada sebagian anggota organisasi. Kondisi ini bersumber pada
faktor organisasi (seperti komunikasi yang tidak efektif), gaya manajemen
(sifat otoriter), sistem imbalan jasa (imbalan yang kurang bernilai, imbalan
yang tidak didasarkan pada kinerja), karakteristik pekerjaan itu sendiri
(rendahnya variasi tugas, tujuan kerja yang tidak realistik). - Mengimplementasi strategi dan teknik-teknik pemberdayaan (seperti
menetapkan tujuan, mengimplementasi sistem imbalan jasa yang berdasarkan
pencapaian kerja, dan mendesain ulang pekerjaan). - Mengupayakan kondisi ketidakberdayaan dan meningkatkan kemampuan diri
pegawai (individu yang memiliki kemampuan diri yang tinggi cendrung
memiliki kepercayaan diri dan dapat mencapai kesuksesan apapun usaha keras
yang dijalankan). - Menerima informasi untuk mencapai pemberdayaan, hal ini terjadi karena
peningkatan kemampuan diri dapat memperkuat harapan tentang kinerja.
Proses psychological empowerment yang dilakukan melalui tahapan tersebut
di atas perlu didukung oleh pimpinan serta keterlibatan pegawai itu sendiri
dalam mancapai tujuan organisasi.
