Analisis SWOT


Rangkuti (2013: 19) mengemukakan bahwa analisis SWOT adalah
indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi
perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan
kekuatan (Strength) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan (Weakness) dan ancaman (Threats). Proses
pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi,
tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian, perencanaan
strategis (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategi perusahaan
(kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.
Hal ini disebut dengan Analisis Situasi. Model yang paling populer untuk analisis
situasi adalah Analisis SWOT.
a. Analisis Lingkungan Eksternal (Peluang dan Ancaman)
Menurut Kottler (2009: 51), unit bisnis harus mengamati kekuatan
lingkungan makro yang utama dan faktor lingkungan mikro yang
signifikan, yang mempengaruhi kemampuannya dalam menghasilkan laba.
Unit bisnis harus menetapkan sistem intelijen pemasaran eksternal dan
internal. Peluang pemasaran (marketing opportunity) adalah wilayah
kebutuhan dan minat pembeli, di mana perusahaan mempunyai
probabilitas tinggi untuk memuaskan kebutuhan tersebut dengan
menguntungkan. Ancaman lingkungan (environmental threats) adalah
tantangan yang ditempatkan oleh tren atau perkembangan yang tidak
disukai yang akan menghasilkan perurunan penjualan atau laba akibat
tidak adanya tindakan pemasaran defensif.
b. Analisis Lingkungan Internal (Kekuatan dan Kelemahan)
Kemampuan menemukan peluang yang menarik dan kemampuan
memanfaatkan peluang tersebut adalah dua hal yang berbeda. Setiap bisnis
harus mengevaluasi kekuatan dan kelemahan internalnya.
Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal Peluang
(opportunities) dan Ancaman (threats) dengan faktor internal Kekuatan
(strengths), dan Kelemahan (weaknesses).

Perumusan Strategi Pemasaran


Menurut Kotler (2008:58), strategi pemasaran adalah logika pemasaran
dimana perusahaan berharap untuk menciptakan nilai pelanggan dan mencapai
hubungan yang menguntungkan. Perumusan strategi pemasaran didasarkan pada
analisis yang menyeluruh terhadap pengaruh faktor-faktor lingkungan eksternal
dan internal perusahaan. Lingkungan perusahaan setiap saat berubah dengan cepat
sehingga melahirkan berbagai peluang dan ancaman baik yang datang dari
pesaing utama maupun dari iklim bisnis yang senantiasa berubah. Konsekuensi
perubahan faktor eksternal tersebut juga mengakibatkan perubahan faktor internal
perusahaan, seperti perubahan terhadap kekuatan maupun kelemahan yang
dimiliki perusahaan tersebut.
Pemasaran adalah suatu proses kegiatan yang dipengaruhi oleh berbagai
faktor sosial, budaya, politik, ekonomi, dan manajerial. Akibat dari pengaruh
berbagai faktor tersebut adalah masing-masing individu maupun kelompok
mendapatkan kebutuhan dan keinginan menciptakan, menawarkan, dan
menukarkan produk yang dimiliki nilai komoditas (Rangkuti, 2013:101).
Rangkuti (2013:102) menyatakan lebih lengkap lagi bahwa unsur-unsur
utama pemasaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga unsur utama, yaitu:
1) Unsur Strategi Persaingan
Strategi Persaingan dapat dikelompokkan lagi menjadi menjadi
beberapa bagian, yaitu:
a. Segmentasi Pasar
Segmentasi pasar adalah tindakan mengidentifikasikan dan
membentuk kelompok pembeli atau konsumen secara terpisah.
Masing-masing segmen konsumen ini memiliki karakteristik,
kebutuhan produk, dan bauran pemasaran tersendiri.
b. Targeting
Targeting adalah suatu tindakan memilih satu atau lebih segmen pasar
yang akan dimasuki.
c. Positioning
Positioning adalah penetapan posisi pasar. Dimana tujuan positioning
ini adalah untuk membangun dan mengkomunikasikan keunggulan
bersaing produk yang ada di pasar ke dalam benak konsumen.
2) Unsur Taktik Pemasaran
Terdapat dua macam unsur taktik pemasaran, antara lain:
a. Diferensiasi, yang berkaitan dengan cara membangun strategi
pemasaran dalam berbagai aspek di perusahaan. Kegiatan membangun
strategi pemasaran inilah yang membedakan diferensiasi yang
dilakukan suatu perusahaan dengan yang dilakukan oleh perusahaan
lain.
b. Bauran pemasaran, yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan
mengenai produk, harga, promosi dan tempat.
3) Unsur Nilai Pemasaran
Nilai pemasaran dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian,
antara lain, yaitu:
a. Merek atauBrand, yaitu nilai yang berkaitan dengan nama atau nilai
yang dimiliki dan melekat pada suatu perusahaan. Sebaiknya
perusahaan senantiasa berusaha meningkatkan brand equity-nya. Jika
brand equity ini dapat dikelola dengan baik, perusahaan yang
bersangkutan setidaknya akan mendapatkan dua hal. Pertama, para
konsumen akan menerima nilai produknya. Mereka dapat merasakan
semua manfaat yang diperoleh dari produk yang mereka beli dan
merasa puas karena produk itu sesuai dengan harapan mereka. Kedua,
perusahaan itu sendiri memperoleh nilai melalui loyalitas pelanggan
terhadap merek, yaitu peningkatan margin keuntungan, keunggulan
bersaing, dan efisiensi serta efektivitas kerja khususnya pada program
pemasarannya.
b. Pelayanan atau Service, yaitu nilai yang berkaitan dengan pemberian
jasa pelayanan kepada konsumen. Kualitas pelayanan kepada
konsumen ini perlu terus-menerus ditingkatkan.
c. Proses, yaitu nilai yang berkaitan dengan prinsip perubahan untuk
membuat setiap karyawan terlibat dan memiliki rasa tanggung jawab
dalam proses memuaskan konsumen, baik secara langsung maupun
tidak langsung

Konsep Strategi


Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Dalam perkembangannya,
konsep strategi terus berkembang. Hal ini dapat ditunjukkan oleh adanya
perbedaan konsep mengenai strategi selama 30 tahun terakhir (Rangkuti, 2013:3).
Senada dengan itu, Hamel dan Prahaland (1995) juga mengatakan bahwa strategi
merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terusmenerus dan dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan
oleh para pelanggan di masa depan (Rangkuti, 2013:4).
Menurut pendapat Rangkuti (2013:6), strategi dapat dikelompokkan
berdasarka tiga tipe strategi, yaitu strategi manajemen, strategi investasi, dan
strategi bisnis.
a. Strategi Manajemen
Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh
manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro.
Misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penerapan harga,
strategi akuisisi, strategi pengembangan pasar, strategi mengenai
keuangan, dan sebagainya.
b. Strategi Investasi
Strategi ini merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi.
Misalnya, apakah perusahaan ingin melakukan strategi pertumbuhan yang
agresif atau berusaha mengadakan penetrasi pasar, strategi bertahan,
strategi pembangunan kembali suatu divisi baru atau strategi divestasi, dan
sebagainya.
c. Strategi Bisnis
Strategi bisnis ini sering juga disebut strategi bisnis secara fungsional
karena strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen,
misalnya strategi pemasaran, strategi produksi atau operasional, strategi
distribusi, strategi organisasi, dan strategi-strategi yang berhubungan
dengan keuangan

Stabilitas Perusahaan


Stabilitas menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) berarti kemantapan;
kestabilan; keseimbangan. Strategi stabilitas ini menekankan tidak bertambahnya
produk, pasar, dan fungsi fungsi perusahaan lain, karena perusahaan berusaha untuk
meningkatkan efisiensi disegala bidang dalam rangka meningkatkan kinerja dan
keuntungan (Hunger,2002:33).
Jadi strategi stabilitas merupakan strategi yang mana perusahaan
mempertahankan ukuran organisasinya dan level operasi bisnisnya sekarang. Strategi
stabilitas diterapkan ketika industri mengalami sebuah pergolakan dan perubahan
situasi yang tidak dapat diprediksi karena adanya tekanan yang sangat drastis. Strategi
stabilitas bukan berarti perusahaan berjalan mundur atau maju, akan tetapi strategi ini
dilakukan perusahaan untuk mempertahankan posisinya seperti saat ini (stabil).

Strategi Keuangan


Manajemen Keuangan merupakan seluruh aktivitas yang bersangkutan dengan
usaha untuk mendapatkan dana dan menggunakannya serta mengalokasikan dana
tersebut (Atmaja,2008:2). Begitu pula menurut Husein (2005:328) strategi keuangan
adalah bagian dari perusahaan yang fungsinya untuk mengorganisasikan perolehan
dana, menggunakan dana sekaligus mengendalikan dana tersebut dalam
memaksimalkan nilai perusahaan.
Ada 3 fungsi utama manajemen keuangan menurut Siswandi (2011:4) yaitu:

Keputusan pengelolaan aktif
Organisasi harus bertanggung jawab atas aset yang diperolehnya dari
pendanaan, jadi aset-aset tersebut harus dikelola dengan baik dan efisien.

Keputusan investasi
Keputusan investasi merupakan keputusan yang berpengaruh langsung
terhadap besarnya laba investasi. keputusan ini berkaitan dengan aktiva
apa yang akan dikelola oleh perusahaan

Keputusan pendanaan
Keputusan pendanaan berkaitan dengan penetapan sumber dana yang
dibutuhkan untuk membiayai investasi.

Strategi Sumber Daya Manusia (SDM)


Manajemen sumber daya manusia adalah serangkaian keputusan yang
mempengaruhi hubungan antara karyawan dan majikan, berpengaruh terhadap
berbagai pihak yang berkepentingan serta dimaksudkan pula untuk mempengaruhi
efektifitas karyawan dan majikan (Simamora,2004:45).
Sedangkan menurut Husein (2005:331) manajemen sumber daya manusia adalah
proses perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan atas pengadaan,
pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan
kerja dengan maksud untuk mencapai tujuan perusahaan secara terpadu.
Sumber daya manusia (SDM) sangat penting dalam sebuah oranisasi, karena
mereka merupakan penggerak atau pelaksana misi organisasi untuk mencapai visi
organisasi. Strategi manajemen sumber daya manusia ialah suatu cara yang dilakukan
organisasi untuk menempatkan orang-orang yang tepat disuatu posisi atau jabatan.

Strategi Produksi


Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan barang
atau jasa (Assauri,2008:35). Selanjutnya menurut Gitosudarmo (2002:23) proses
produksi merupakan interaksi antara bahan dasar, bahan-bahan pembantu, tenaga kerja,
dan mesin-mesin serta alat-alat perlengkapan yang digunakan.
Menurut Suherman Rosyid (2009:55) faktor-faktor produksi terdiri dari

  1. Tanah (land) atau sumber daya alam (natural resource)
  2. Tenaga kerja (labor) atau sumber daya manusia (human resource)
  3. Modal (capital)
  4. Enterpreneur

Strategi di Bidang Pemasaran


Menurut Assauri (2007:168) strategi pemasaran adalah serangkaian tujuan dan
sasaran, kebijakan dan aturan yang memberikan arahan kepada usaha usaha pemasaran
dari waktu ke waktu, pada masing-masing tingkatan dan acuhan serta alokasinya,
terutama sebagai tanggapan perusahaan dalam menghadapi lingkungan dan keadaan
yang selalu berubah.
Strategi pemasaran adalah panduan dari kinerja wirausaha dengan hasil pengujian
dan penelitian pasar sebelumnya dalam mengembangkan keberhasilan strategi
pemasaran. (Peggy Lambing dan Charles dalam suryana,2001:98).
Menurut Assauri (2007:198) salah satu unsur dalam strategi pemasaran adalah
strategi bauran pemasaran atau marketing mix, yang merupakan strategi yang
dijalankan perusahaan menyajikan penawaran produk pada segmen pasar tertentu yang
merupakan sasaran pasarnya. Bauran pemasaran merupakan alat pemasaran yang
digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan perusahaannya di pasar
sasaran (Kotler dan Amstrong,2012:75). Konsep bauran pemasarn menurut Kotler dan
Keller (2012:25) terdiri dari 4P yaitu product (produk), price (harga), place (tempat),
dan promotion (promosi)
a) Product (produk)
Produk adalah sesuatu yang kita tawarkan kepasar meliputi barang dan jasa
yang memiliki nilai dan kebutuhan konsumen agar mendapatkan perhatian dan
produk dijual mau dibeli oleh konsumen.
b) Price (harga)
Sejumlah nilai atau uang yang ditukarkan konsumen untuk mendapatkan
barang atau jasa yang dijual.
c) Place(tempat)
Tempat diasosiasikan sebagai saluran distribusi yang ditujukan untuk mencapai
target konsumen. Sistm distribusi ini mencakup lokasi, transportasi,
pergudangan, dan sebagainya.
d) Promotion (promosi)
Promosi adalah kegiatan aktivitas bisnis guna menyampaikan manfaat produk
dan membujuk pembeli agar konsumen lebih mengenal dan tertarik dengan
produk yang ditawarkan.

Tingkatan Strategi


Menurut Freddy Rangkuti (2014:6) strategi dapat dikelompokkan berdasarkan tipe
tipe strategi, yaitu :

  1. Strategi manajemen, meliputi strategi yang dapat dilakukan oleh manajemen
    dengan orientasi pengembangan strategi secara makro. Misalnya strategi
    pengembangan produk, strategi penerapan harga, strategi akuisisi, strategi
    pengembangan pasar, strategi mengenai keuangan, dan sebagainya.
  2. Strategi investasi, merupakan kegiatan yang berorientasi pada investasi.
    Misalnya apakah perusahaan ingin melakukan strategi pertumbuhan yang
    agresif atau berusaha mengadakan penetrasi pasar, strategi bertahan, strategi
    pembangunan kembali suatu divisi baru atau strategi diverstasi, dan sebagainya.
  3. Strategi bisnis, sering disebut juga strategi bisnis secara fungsional karena
    strategi ini berorientasi pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen. Misalnya
    strategi pemasaran, strategi produksi, strategi distribusi, dan strategi keuangan.

Definisi strategi bisnis


Strategi bisnis adalah rencana strategi yang terjadi pada tingkat divisi dan
dimaksudkan bagaimana membangun dan memperkuat posisi bersaing produk dan jasa
perusahaan dalam industri atau pasar tertentu yang dilayani divisi tersebut. (Hariadi,
2003:34)
Menurut Mulyono (2012:24) strategi bisnsi adalah arah atau jalan yang akan
ditempuh suatu organisasi dalam rangka menjalankan misi bisnis guna mencapai visi
bisnisnya. Selanjutnya Cravend dalam Tripomo (2005,37) mengatakan bahwa strategi
bisnis merupakan sarana organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuannya.
Jaewono (2012:3) mengatakan bahwa strategi bisnis adalah strategi mencapai
tujuan yang sering dianalogikan dengan strategi catur, yang dimana sistematika
berfikir, penyusunan rencana, kesigapan melangkah, keberanian mengambil resiko,
dan gairah untuk memenangkan pertandingan merupakan beberapa karakteristik
permainan catur yang relevan dengan praktik pengelolaan bisnis.

Sistem Informasi Manajemen


Sistem informasi manajemen (Management Information Systems) atau sering
dikenal dengan singkatannya MIS merupakan penerapan sistem informasi di
dalam organisasi untuk mendukung informasi-informasi yang dibutuhkan oleh
semua tingkatan manajemen (Jogiyanto, 2005:14). Management Information
System (MIS) kadang dikatakan juga Management Reporting System dan
ditujukan untuk mendukung pengambilan keputusan dalam hal kebutuhan
informasi. Laporan berisi informasi tergantung dari waktu dan detail yang baru
(isi dari laporan). MIS mendukung fungsi perencanaan, pengendalian dan
pengambilan keputusan pada tingkat manajemen. Dengan kata lain, MIS
memberikan laporan-laporan kinerja pada fungsi-fungsi manajemen (Indrayani,
2005:79).
Informasi menghubungkan semua fungsi bisnis menjadi satu dan menyediakan
dasar untuk semua keputusan manajerial. Informasi menunjukkan sumber utama
dari kekuatan atau kelemahan kompetitif manajamen. Mengevaluasi kekuatan
dan kelemahan sistem informasi perusahaan adalah dimensi yang penting dalam
menjalankan audit internal.
53
Kegunaan sistem informasi manajemen adalah untuk memperbaiki kinerja suatu
perusahaan dengan memperbaiki kualitas keputusan manajerial. Sistem informasi
yang efektif dengan demikian mengumpulkan, memberi simbol atau kode,
menyimpan, menyintesis, dan menyajikan informasi dalam bentuk yang dapat
menjawab pertanyaan penting operasi dan strategis. MIS menerima bahan mentah
dari evaluasi internal dan eksternal dari suatu organisasi. Sistem ini
mengumpulkan data tentang pemasaran, keuangan, produksi dan yang
berhubungan dengan karyawan secara internal, serta faktor sosial, budaya,
demografi, lingkungan, ekonomi, politik, peraturan pemerintah, teknologi, dan
kompetisi secara eksternal.

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan.


Menurut Rudito dan Famiola, (2007:209) Corporate Social Resposibility (CSR)
adalah komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi
berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan
tersebut, berikut komunitas-komunitas setempat (lokal) dan komunitas secara
keseluruhan, dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan. Program aksi CSR
menurut Edi Suharto (2010:135) meliputi :

  1. CSR bidang pendidikan
    Sebagai salah satu pilar pembangunan bangsa, pendidikan tidak bisa
    diabaikan oleh perusahaan dalam menerapkan CSR, maka tidak
    mengherankan apabila pendidikan adalah bidang yang tidak terlewatkan
    dalam implementasi CSR setiap perusahaan. Misalnya memberikan
    beasiswa, pengadaan bantuan tenaga pengajar, pengadaaan peralatan yang
    menunjang pendidikan dan lain sebagainya.
  2. CSR bidang kesehatan peningkatan kesehatan suatu penduduk adalah
    salah satu target Milenium Development Goals (MDGs). Program- program CSR sudah sebaiknya tidak meninggalkan program di bidang
    kesehatan ini. Program-program CSR bisa dilakukan dengan banyak cara,
    disesuaikan dengan kebutuhan dan apa yang semestinya dilakukan di
    daerah setempat. Misalnya memberikan pengobatan gratis, pemberian
    bantuan makanan tambahan untuk anak-anak dan balita, serta bantuan
    peralatan posyandu dan perbaikan infrastruktur puskesmas di daerah
    operasional mereka dan lain sebagainya.
  3. CSR bidang lingkungan
    Tanggung jawab terhadap perlindungan lingkungan sering kali dianggap
    berada dalam ranah publik. Di masa lalu pemerintah dipandang sebagai
    aktor utama yang mengadopsi perilaku ramah lingkungan, baik melalui
    regulasi, saksi dan tidak jarang melalui penawaran insentif. Sementara itu,
    sektor swasta hanya dilihat sebagai penyebab timbulnya masalah- masalah lingkungan. Namun, kecenderungan ini kini terbalik. Kiprah
    perusahaan dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan secara
    ekonomi, sosial dan lingkungan global mulai nyata dan meluas.
  4. CSR bidang modal sosial
    Bidang sosial dalam konteks CSR seringkali dilihat sebagai pola bantuan
    sosial yang dilakukan perusahaan kepada lingkungan sekitar dalam rangka
    mencapai keharmonisan sosial antara perusahaan dan lingkungannnya
    (masyarakat). Misalnya pembangunan infrastruktur, pembinaan karang
    taruna, sunatan massal, bantuan sosial pesta adat, bantuan bencana alam
    dan lain sebagainya.
  5. CSR bidang ekonomi dan kewirausahaan
    Meningkatkan taraf hidup masyarakat dalam bidang ekonomi menjadi
    perhatian serius setiap pemangku kebijakan CSR. Program peningkatan
    pendapatan masyarakat seringkali menjadi program andalan setiap
    perusahaan dalam mengimplementasikan CSR. Peningkatan pendapatan
    ekonomi ini bisa diterapkan dengan mengembangkan lembaga keuangan
    mikro, bantuan modal kepada pengusaha-pengusaha kecil, pemberdayaan
    usaha kecil dan menengah dan hingga program pemberdayaan petani.
    Program pemberdayaan ekonomi dan kewirausahaan ini, hal terpenting
    yang harus diperhatikan adalah keterlibatan masyarakat dalam mengikuti
    program. Partisipasi masyarakat harus diutamakan agar program tersebut
    benar-benar dirasakan oleh masyarakat sebagai program miliknya,
    sehingga masyarakat mempunyai perasaan memiliki.

Supply chain


Perkembangan bisnis saat ini diindikasikan dengan adanya perkembangan
teknologi yang cepat, pendeknya siklus hidup produk (product life cycle) dan
intensifnya persaingan antar perusahaan. Kondisi ini memaksa perusahaan
untuk mengembangkan cara baru dalam mencapai keunggulan kompetitif. Hal
ini sangat tergantung dari efisiensi dan produktivitas antar area fungsi dalam
perusahaan, untuk lebih responsif terhadap kebutuhan konsumen dan
permintaan pasar. Produk yang disampaikan kepada konsumen tidak hanya
berkualitas tinggi tetapi juga strategi pengirimannya cepat. Atas dasar hal
tersebut maka dibutuhkan jejaring bisnis atau manajemen rantai pasokan
(supply chain management) yang efektif.
Supply chain management merupakan suatu set pendekatan yang digunakan
untuk efisiensi integrasi pemasok, produsen, gudang dan toko-toko, sehingga
barang diproduksi dan didistribusikan dalam jumlah yang tepat, di lokasi yang
tepat dan pada waktu yang tepat untuk meminimalkan seluruh sistem biaya
dengan persyaratan tingkat layanan yang memuaskan (Levi et al, 2000).
Menurut Suparno (2004), manajemen supply chain adalah sekelompok
pendekatan yang diterapkan untuk mengintegrasikan para pemasok, pusat
manufaktur, warehouse, pusat distribusi dan penjual secara efisien sedemikian
sehingga barang dapat diproduksi dan didistribusikan dengan jumlah yang
tepat, ke lokasi yang benar dalam waktu yang tepat dan biaya keseluruhan yang
minimum. Perbaikan sebuah proses supply chain hanya dapat dilakukan
apabila dapat diketahui bagaimana kinerja dari proses bisnis tersebut. Langkah
awal yang mungkin dapat dilakukan adalah memetakan proses bisnis. Supply
chain dapat dibagi atas dua proses yang terintegrasi yaitu:

  1. Production planning and inventory control process;
  2. Distribution and logistics process

Manajemen operasi


Istilah operasi menunjuk pada konsep perubahan dengan penekannya yaitu
nilai tambah. Kosasih (2009:3) mengungkapkan bahwa manajemen operasi
adalah suatu kegiatan yang mengolah faktor-faktor produksi untuk
menciptakan produk (barang atau jasa) agar bernilai tambah (added value)
melalui proses transformasi. Faktor faktor produksi tersebut meliputi bahan- bahan yang dihasilkan oleh alam seperti berbagai hasil tambang, pertanian,
peternakan, kehutanan, perikanan atau perkebunan. Semuanya itu disebut
sumber daya alam (natural resources). Faktor produksi bukan hanya sumber
daya alam saja, tetapi juga sumber daya manusia (human resources), sumber
daya modal (capital resources), mesin-mesin, metode bahkan juga informasi
dan waktu. Semua faktor produksi itu disebut sebagai input, kemudian
dirancang (designed) dan diolah (processed) menjadi produk (output) yang
bernilai tambah.

Keuangan


Menurut Atmaja (2008:2) manajemen keuangan perusahaan adalah bidang
keuangan yang berhubungan dengan perusahaan tersebut. Sedangkan menurut
Alexandri (2009:6) manajemen keuangan adalah seluruh aktivitas yang
bersangkutan dengan usaha untuk mendapatkan dana dan menggunakan serta
mengalokasikan dana tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa manajemen
keuangan merupakan manajemen terhadap fungsi-fungsi keuangan. Sejalan
dengan perkembangan ilmu manajemen keuangan, fungsi dan peranan seorang
manajer keuangan menjadi lebih luas daripada hanya mencari dana dan
mengalokasikan dana tersebut di dalam perusahaan. Manajemen keuangan
modern menggambarkan fungsi manajer keuangan, meliputi:

  1. Memutuskan alternatif pembiayaan (financing decision)
  2. Menetapkan pengalokasian dana (investment decision)
  3. Menentukan deviden (dividend decision)

Sumber Daya Manusia


Hakikat sumber daya manusia pada setiap organisasi atau perusahaan adalah
diperlukan adanya suatu sumber daya manusia sebagai tenaga kerja. Oleh
karena itu, bahwa yang dimaksud dengan sumber daya manusia adalah tenaga
kerja yang menduduki suatu posisi atau orang-orang yang mempunyai
tanggung jawab untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan pada suatu
organisasi atau instansi tertentu.
Menurut Simamora (2004: 45) manajemen sumber daya manusia adalah
serangkaian keputusan yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dan
majikan; berpengaruh terhadap berbagai pihak yang berkepentingan serta
dimaksudkan pula untuk mempengaruhi efektifitas karyawan dan majikan
Sedangkan menurut Rivai (2004:1) manajemen sumber daya manusia (MSDM)
merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Perusahaan dalam
usaha mencapai tujuan perusahaan, menghadapi masalah bukan hanya terdapat
pada bahan mentah, alat-alat kerja, mesin-mesin produksi, uang dan lingkungan
kerja saja, tetapi juga menyangkut karyawan (sumber daya manusia) yang
mengelola faktor-faktor produksi lainnya tersebut.

Bauran Promosi


Bauran promosi merupakan gabungan dari berbagai macam jenis promosi yang
ada untuk suatu produk yang sama agar hasil kegiatan promosi yang dilakukan
dapat memberi hasil yang maksimal. Unsur bauran promosi (promotion mix)
terdiri atas lima perangkat, yaitu:
a) Advertising:
Advertising merupakan penyajian non informal, penyajian ide-ide, promosi
produk atau jasa yang dilakukan sponsor tertentu yang dibayar.
b) Sales promotion:
Sales promotion sebagai intensif jangka pendek untuk mendorong keinginan
untuk mencoba dan membeli.
c) Public relation:
Public relation sebagai program untuk mempromosikan atau melindungi
citra perusahaan.
d) Personal selling:
Personal selling merupakan interaksi langsung dengan konsumen dalam
menawarkan produk sebagai sarana kegiatan promosi yang lebih intensif.
e) Direct marketing:
Penggunaan media komunikasi tak langsung yang berguna untuk menerima
tanggapan ataupun penilaian konsumen terhadap barang dagang perusahaan
yang berada di pasar.

Tujuan Promosi

  1. Modifikasi tingkah laku
    Promosi merupakan kegiatan yang dilakukan dengan tujuan untuk mengubah
    tingkah laku konsumen agar sesuai dengan keinginan yang diharapkan oleh
    perusahaan.
  2. Membujuk (persuasi)
    Promosi merupakan cara atau sarana perusahaan untuk membujuk konsumen
    untuk merespon positif terhadap penawaran yang dilakukan oleh produsen
    yang akhirnya berakhir pada tindakan pembelian dari pihak konsumen.
  3. Memberikan informasi
    Promosi merupakan media komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada
    konsumen dan juga sebagai media bagi konsumen untuk berkomunikasi
    dengan perusahaan.
  4. Mengingatkan
    Promosi digunakan pihak produsen untuk mengingatkan kembali kepada
    konsumen bahwa produk masih ada di pasar, selain itu juga berfungsi
    mempertahankan merk produk di hati konsumen.

Promosi


Menurut Grewal and Levy (2008) promosi sebagai komunikasi yang dilakukan
oleh pemasaran untuk menginformasikan, membujuk dan mengingatkan pembeli
potensial akan produk atau jasa untuk mempengaruhi opini pembeli dan
memperoleh respon dari pembeli. Sedangkan menurut Kotler (2006) promosi
adalah berbagai kegiatan yang dilakukan antar perusahaan untuk
mengkomunikasikan manfaat dari produknya dan untuk meyakinkan konsumen
sasaran agar membelinya. Promosi merupakan salah satu elemen dalam
marketing mix yang sangat penting dilaksanakan perusahaan dalam memasarkan
produk dan bertujuan untuk meningkatkan volume penjualan. Promotion mix
adalah kombinasi strategi dari variabel periklanan, personal selling dan alat
promosi lain yang semuanya dilaksanakan untuk mencapai tujuan program
penjualan. Promosi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh
produsen dalam usahanya untuk mendorong permintaan atau untuk menciptakan
kesadaran pada konsumen tentang suatu produk dengan jalan pemberian
informasi, sampai akhirnya para calon pembeli bersedia melakukan transaksi
pertukaran.

Bauran Pemasaran


Bauran Pemasaran (marketing mix) merupakan seluruh kegiatan pemasaran yang
dilakukan oleh suatu perusahaan sebagai cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan
target pasarnya. Pada dasarnya Marketing Mix terdiri dari 4P. Dari sudut
pandang konsumen, 4P tersebut bisa dijelaskan dalam 4C :

  1. Product (customer solution)
    Produk merupakan suatu materi yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan
    atau keinginan konsumen, baik berupa barang atau jasa. Produk adalah apapun
    yang bisa ditawarkan ke suatu kelompok pelanggan atau pasar dan bisa
    memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan. Artinya manfaat produk tersebut
    akan menjadi solusi dari kebutuhan atau keinginan konsumen.
  2. Price (customer cost)
    Harga adalah jumlah uang yang harus dibayarkan oleh konsumen untuk
    memperoleh produk yang dipasarkan. Artinya harga adalah besar pengorbanan
    konsumen untuk mendapatkan produk yang dapat memenuhi kebutuhannya.
    Bagi produsen harga juga sangat penting karena menentukan tingkat laba
    perusahaan, dengan kata lain juga keberlangsungan perusahaan.
  3. Promotion (communication)
    Promosi dapat diinterpretasikan dalam dua cara:
    a. Dalam arti sempit: promosi berarti insentif untuk konsumen, misalnya
    promo diskon harga atau promo pengenalan produk baru dengan cara
    dibandrol dengan produk lama yang sudah populer.
    b. Dalam arti luas: promosi adalah semua metode komunikasi yang
    digunakan untuk memberikan informasi tentang produk kepada konsumen
    dalam target pasar. Promosi adalah cara berkomunikasi kepada konsumen,
    baik melalui iklan, personal selling, atau public relation. Promosi juga
    bisa dengan cara word-of-mouth yang merupakan komunikasi informal
    secara perorangan dan sering dilakukan oleh tenaga sales. Promosi juga
    akan memberikan brand image konsumen terhadap produk.
  4. Place (convenience)
    Place bermakna menyediakan produk pada suatu tempat yang memberikan
    kenyamanan bagi konsumen untuk mengaksesnya. Place juga bisa disamakan
    dengan channel atau distribusi. Penyebaran outlet-outlet di berbagai tempat
    strategis termasuk salah satu upaya untuk memenuhi kenyamanan konsumen. Extended Marketing Mix menambahkan 3P lagi, sehingga menjadi 7P, dan
    merupakan strategi pemasaran yang mengembangkan variabel yang
    controllable dari 4P semula. Jika bauran pemasaran 4P semula lebih diarahkan
    pada produk berwujud (goods), maka 3P berikutnya lebih digunakan pada
    industri jasa.
    Berikut ini adalah 3 P yang ditambahkan :
  5. People
    Orang dibutuhkan untuk memulai proses transaksi. Semua orang yang secara
    langsung maupun tidak langsung terlibat dalam penggunaan jasa oleh
    konsumen merupakan bagian yang penting dalam bauran pemasaran.
    Karyawan dan manajemen yang cerdas sering memberikan nilai tambah yang
    tinggi pada total penawaran produk atau jasa dari suatu perusahaan.
  6. Process
    Proses menggambarkan prosedur, mekanisme dan aliran kegiatan yang
    dialami konsumen tersebut untuk mendapatkan pelayanan jasa. Proses
    manajemen pelanggan tersebut merupakan bagian yang penting dalam suatu
    strategi pemasaran. Dalam pelayanan pelanggan, sejumlah proses terlibat
    dalam rangka keberhasilan pemasaran, misalnya proses untuk penanganan
    keluhan pelanggan, proses mengidentifikasi kebutuhan dan persyaratan
    pelanggan, atau proses untuk menangani order.
  7. Physical evidence
    Physical evidence merupakan alat untuk meyakinkan konsumen dan
    memperlihatkan kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan, baik
    dengan bukti fisik yang mendukung komunikasi dan pelayanan, maupun
    bukti tidak berwujud berupa pengalaman dari konsumen yang sudah ada dan
    perusahaan dapat memanfaatkan kesaksian pelanggan yang puas tersebut
    kepada calon pelanggan potensial lainnya

Pengertian Pemasaran


Pemasaran menurut Swasta (2002: 9) adalah sistem keseluruhan dari kegiatan
usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan
dan mendistribusikan barang atau jasa, ide kepada pasar agar dapat mencapai
pasar sasaran. Sedangkan pemasaran menurut Kotler (2000:8) adalah suatu
proses sosial dan manajerial di mana individu dan kelompok mendapatkan apa
yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan produk yang bernilai
dengan pihak lain.
Kegiatan pertama dimulai dengan melihat fokus pemasaran pada penyedia dan
manfaat bagi konsumen. Kegiatan berikutnya adalah menelaah pemasaran dan
pengembangan strategi pemasaran. Pada tahap yang terakhir melakukan
pengembangan, penetapan harga, promosi dan penempatan produk. Sehingga
pemasaran dapat diartikan suatu kegiatan yang mengusahakan agar produk yang
dipasarkan itu dapat diterima dan disenangi oleh pasar.
Manajemen pemasaran adalah penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan program-program yang ditujukan untuk mengadakan pertukaran
dengan pasar yang dituju agar tercapai tujuan dari organisasi. Pemasaran
merupakan proses sosial yang di dalamnya terdapat individu dan kelompok
mendapatkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan dengan menciptakan,
menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.

Fungsi-Fungsi Manajemen


Menurut david (2006:173) fungsi manajemen terdiri dari perencanaan,
pengorganisasian, pemberian motivasi, pengelolaan staf, dan pengendalian.

  1. Perencanaan merupakan tahapan proses manajemen yang digunakan dalam
    memformulasikan implementasi strategi dari perusahaan. Perencanaan terdiri
    atas semua aktivitas yang terkait dengan persiapan masa depan perusahaan
    yang mencakup peramalan, penetapan sasaran, formulasi strategi,
    pengembangan kebijakan, dan penentuan tujuan.
  2. Pengorganisasian merupakan bagian dari implementasi strategi dari perusahaan
    yang mencakup semua aktivitas manajerial yang menghasilkan struktur
    pekerjaan dan hubungan otoritas.
  3. Pemberian motivasi merupakan bagian dari implementasi strategi dari
    perusahaan yang melibatkan usaha yang diarahkan dalam membentuk perilaku
    manusia yang antara lain berkaitan dengan kepemimpinan, komunikasi,
    kelompok kerja, dan sebagainya.
  4. Pengelolaan staf merupakan bagian dari implementasi strategi perusahaan yang
    dipusatkan pada manajemen staf atau SDM.
  5. Pengendalian merupakan aktivitas manajerial yang diarahkan untuk
    memastikan bahwa hasil aktual konsisiten dengan hasil yang telah
    direncanakan dan aktivitasnya merupakan bagian dari evaluasi strategi
    perusahaan. Pengendalian dapat dilaksanakan dengan melaksanakan kontrol
    kualitas, kontrol penjualan, kontrol persedian dan sebagainya.

Proses Manajemen Strategi


Menurut David (2006:6) proses manajemen strategi terdiri atas tiga tahap:
perumusan strategi, penerapan strategi, dan penilaian strategi.

  1. Perumusan strategi merupakan gabungan antara kondisi eksternal dan internal
    perusahaan saat ini dengan tujuan yang akan dicapai di masa yang akan datang.
    Perumusan strategi mencakup:
  2. Pengembangan visi dan misi.
  3. Identifikasi ancaman dan peluang eksternal suatu perusahaan.
  4. Identifikasi kelemahan dan kekuatan internal perusahaan.
  5. Menetapkan tujuan jangka panjang.
  6. Identifikasi alternatif – alternatif strategi.
  7. Pemilihan strategi.
    Perusahaan memiliki sumber daya yang terbatas, oleh karena itu, perusahaan
    harus memilih langkah strategi yang menguntungkan dan bermanfaat paling
    besar.
  8. Penerapan strategi sering kali disebut sebagai tahap aksi dari manajemen
    strategis, yang berarti memobilisasi karyawan dan manajer untuk
    melaksanakan strategi yang telah dirumuskan. Hal-hal yang dilakukan dalam
    penerapan strategi di antaranya:
  9. Menetapkan tujuan tahunan.
  10. Membuat kebijakan.
  11. Memotivasi karyawan.
  12. Mengalokasikan sumber daya, sehingga strategi yang telah dirumuskan
    dapat dijalankan.
  13. Penilaian strategi merupakan suatu cara untuk menentukan apakah strategi
    tertentu sudah berjalan dengan baik atau belum, penilaian strategis merupakan
    tahap terakhir dalam manajemen strategis. Tiga aktivitas penilaian strategi di
    antaranya:
  14. Peninjauan kembali faktor – faktor eksternal dan internal yang dijadikan
    sebagai landasan sebuah strategi.
  15. Pengukuran kinerja.
  16. Pengambilan langkah korektif .
    Menurut Pearce dan Robinson (2007:5) proses manajemen strategi terdiri dari
    beberapa tahap, yaitu :
  17. Perumusan misi perusahaan yang meliputi rumusan umum tentang maksud
    keberadaan, filosofi dan tujuan.
  18. Mengembangkan profil perusahaan yang mencerminkan kondisi internal
    dan kemampuannya.
  19. Menilai lingkungan eksternal perusahaan, baik pesaing maupun faktor –
    faktor kontekstual umum.
  20. Menganalisis opsi perusahaan dengan mencocokkan sumber dayanya
    dengan lingkungan eksternal.
  21. Mengidentifikasi opsi yang paling diinginkan dengan mengevaluasi setiap
    opsi yang ada berdasarkan misi perusahaan.
  22. Memilih seperangkat sasaran jangka panjang dan strategi umum yang akan
    mencapai pilihan yang paling diinginkan.
  23. Mengembangkan sasaran tahunan dan strategi jangka pendek yang sesuai
    dengan sasaran jangka panjang dan strategi umum yang dipilih.
  24. Mengimplementasikan pilihan strategi dengan cara mengalokasikan
    sumber daya anggaran yang menekankan pada kesesuaian antara tugas,
    sumber daya manusia, struktur, teknologi dan sistem imbalan.
  25. Mengevaluasi keberhasilan proses strategik sebagai masukan bagi
    pengambilan keputusan yang akan datang.

Tingkatan strategi


Menurut Hunger dan Wheelen (2003:24), perusahaan bisnis multidivisional yang
besar, biasanya memiliki tiga level strategi, yaitu korporasi, bisnis dan fungsional.
a. Strategi korporasi
Strategi di tingkat korporasi menggambarkan arah perusahaan secara
keseluruhan mengenai sikap perusahaan secara umum terhadap arah
pertumbuhan dan manajemen berbagai bisnis dan lini produk untuk
mencapai keseimbangan portofolio produk dan jasa. Sebagai tambahan,
strategi perusahaan adalah:
 Pola keputusan yang berkenaan dengan tipe-tipe bisnis yang
perusahaan sebaiknya terlibat.  Arus keuangan dan sumber daya lainnya ke dan dari divisi-divisi
perusahaan.  Hubungan antara perusahaan dengan kelompok-kelompok utama
dalam lingkungan perusahaan.
b. Strategi bisnis
Strategi bisnis disebut juga strategi bersaing, biasanya dikembangkan pada
level divisi dan menekankan pada perbaikan posisi persaingan produk
berupa barang atau jasa perusahaan dalam industri khusus atau segmen
pasar yang dilayani oleh divisi tersebut. Strategi bisnis divisi mungkin
menekankan pada peningkatan laba dalam produksi dan penjualan produk
dan jasa yang dihasilkan. Strategi bisnis juga sebaiknya mengintegrasikan
berbagai aktivitas fungsional untuk mencapai tujuan divisi. Strategi bisnis
(persaingan) merupakan salah satu dari overall cost leadership, atau
diferensiasi.
c. Strategi fungsional
Strategi fungsional menekankan terutama untuk memaksimalkan sumber
daya produktif. Departemen fungsional mengembangkan strategi untuk
mengumpulkan bersama-sama berbagai aktivitas dan kompetensi mereka
untuk memperbaiki kinerja. Sebagai contoh, strategi khas dari departemen
pemasaran adalah mengembangkan cara untuk meningkatkan penjualan
pada tahun sekarang agar lebih besar daripada tahun sebelumnya. Dengan
menggunakan strategi fungsional pengembangan pasar, departemen
pemasaran berusaha menjual produk yang ada sekarang kepada pelanggan
yang berbeda pada pasar yang ada atau kepada pelanggan baru di wilayah
geografi yang baru.

Pengertian Strategi Bisnis


Berikut ini merupakan definisi strategi menurut para ahli. Menurut Rangkuti
(2002: 13) strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam
kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas
alokasi sumber daya. Sedangkan menurut David (2006: 18) strategi adalah
sarana bersama dengan tujuan jangka panjang hendak dicapai. Strategi akan
memaksimalkan keunggulan kompetitif dan meminimalkan keterbatasan bersaing.
Berbeda dengan pendapat David yang menyebutkan bahwa strategi akan
memaksimalkan keunggulan bersaing, Marrus (2002: 31) mengungkapkan bahwa
strategi adalah suatu proses penentuan rencana para pemimpin puncak yang
berfokus pada tujuan jangka panjang organisasi, disertai penyusunan suatu cara
atau upaya bagaimana agar tujuan tersebut dapat dicapai. Menurut Hamel dan
Prahalad dalam Rangkuti (2009:4) strategi merupakan tindakan yang bersifat
incremental (senantiasa meningkat) dan terus-menerus, serta dilakukan
berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan di
masa depan. Strategi hampir selalu dimulai dari “apa yang dapat terjadi” dan
bukan dimulai dari “apa yang terjadi”. Terjadinya kecepatan inovasi pasar yang
baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (come
competencies). Perusahaan perlu mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang
dilakukan. Siagian (2004:57) menyatakan bahwa strategi adalah serangkaian
keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan
diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian
tujuan organisasi tersebut.

Manajemen Strategi


Berikut ini adalah definisi manajemen strategi yang dilontarkan oleh para ahli.
Menurut David (2006:5) manajemen strategis (strategic management) dapat
didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk memformulasi, mengimplementasi, dan
mengevaluasi keputusan lintas fungsi yang memungkinkan organisasi dapat
mencapai tujuannya. Berbeda dengan pendapat David, menurut Daft (2007:213)
manajemen strategis adalah kumpulan keputusan dan tindakan yang digunakan
dalam penyusunan dan implementasi strategi yang akan menghasilkan kesesuaian
superior yang kompetitif antara organisasi dan lingkungannya untuk meraih
tujuan organisasi
David dalam bukunya Manajemen Strategis (2006:6) mengatakan bahwa proses
manajemen strategi terdiri dari tiga tahap yaitu:

  1. Formulasi strategi
    Formulasi strategi adalah tahap menentukan aktivitas-aktivitas yang
    berhubungan dengan pencapaian tujuan. Formulasi strategi dapat juga
    diartikan sebagai serangkaian proses yang terlibat dalam penciptaan atau
    penentuan strategi organisasi. Formulasi strategi termasuk menyiapkan
    strategi, pemilihan strategi, menetapkan strategi yang akan digunakan,
    mengembangkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan ancaman,
    menentukan kekuatan dan kelemahan internal, dan menetapkan tujuan jangka
    panjang.
  2. Implementasi strategi
    Implementasi strategi adalah metode yang digunakan untuk
    mengoperasionalisasikan atau melaksanakan strategi dalam organisasi. Tahap
    ini adalah tahapan di mana strategi yang telah diformulasikan tersebut
    kemudian diimplementasikan. Perbedaan utama antara formulasi strategi dan
    implementasi strategi sejalan dengan perbandingan antara isi dengan proses.
    Tahap formulasi strategi menentukan isi strategi, sedangkan tahap
    implementasi strategi berfokus pada bagaimana strategi dicapai. Implementasi
    strategi mensyaratkan perusahaan untuk menetapkan tujuan tahunan,
    menetapkan kebijakan, mengalokasikan sumber daya, mengubah struktur
    organisasi yang ada, restrukturisasi dan desain ulang, merevisi rencana insentif
    dan pemberian imbalan kepada karyawan, meminimalkan resistensi terhadap
    perubahan, mengembangkan budaya yang mendukung strategi,
    mengadaptasikan proses produksi atau operasi, mengembangkan fungsi sumber
    daya manusia yang efektif, dan jika perlu melakukan penyusutan ukuran
    perusahaan.
  3. Evaluasi strategi
    Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategi. Evaluasi
    strategi berhubungan dengan penilaian dampak keseluruhan dan ketepatan
    strategi secara keseluruhan. Evaluasi strategi merupakan suatu usaha untuk
    memastikan suatu strategi yang telah ditetapkan terlaksana dengan tepat dan
    mencapai tujuan perusahaan. Terdapat tiga aktivitas dasar evaluasi strategi
    yaitu: meninjau ulang faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi
    saat ini, mengukur kinerja, serta mengambil tindakan korektif.

Jenis-Jenis Pengembangan Usaha


Menurut Subagyo (2008), secara umum pengembangan
usaha dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1) Pengembangan vertical
Pengembangan vertikal adalah perluasan usaha dengan
cara membangun inti bisnis baru yang masih memiliki
hubungan langsung dengan bisnis utamanya.
2) Pengembangan horizontal
Pengembangan horizontal adalah pembangunan usaha
baru yang bertujuan memperkuat bisnis utama untuk
mendapatkan keunggulan komparatif, yang secara line
produk tidak memiliki hubungan dengan core bisnisnya.
Sedangkan menurut Humaizar (2010), berdasarkan caranya
pengembangan usaha dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a) Perluasan ke Hulu atau ke Hilir
Arah pengembangan usaha disesuaikan dengan posisi
usaha anda saat ini, jika usaha tersebut berada di hilir, maka
pengembangannya kearah hulu. Kelebihan: pengembangan
pada posisi ini lebih muda, karena telah mengetahui pasar,
sumber material, dan teknologi. Kekurangan: jika terjadi
permintaan produk pada bisnis ini melemah, maka tingkat
penjualan akan menurun.
b) Diversifikasi Usaha
Diversifikasi usaha adalah mengembangkan usaha ke
berbagai jenis usaha. Kelebihan: jika salah satu jenis usaha
mengalami penurunan permintaan pasar (rugi), maka usaha
yang lain masih dapat menutupi kerugiannya. Kekurangan:
pengembangan cara ini cukup sulit dilakukan karena harus
mempelajari dari awal baik pasar, sumber material, ataupun
teknologinya dan sebagainya.
c) Menjual bisnis (franchise)
Arti dari menjual bisnis disini adalah menjual hak
patennya. Ini dilakukan ketika usaha tersebut sudah memiliki
hak paten atas produk atau jasa dan konsep pemasarannya.
3) Aspek – Aspek Yang Diperhatikan Dalam
Mengembangkan Usaha
Terdapat beberapa aspek pengembangan usaha seperti
aspek strategi, manajemen pemasaran, dan penjualan, yakni:
a. Aspek strategi
a. Meneliti jenis usaha baru dengan penekanan pada
mengidentifikasi kesenjangan (yang ada dan/atau
diharapkan) oleh konsumen .
b. Menciptakan pasar baru.
c. Menciptakan produk baru dengan karakteristik yang
menarik konsumen.
b. Aspek manajemen pemasaran
a. Menembus dan menguasai pangsa pasar.
b. Mengolah situasi / peluang pasar yang ada dengan teliti.
c. Memasarkan produk dengan jaringan yang luas seperti
impor produk ke luar negeri.
d. Membuat strategi pemasaran yang dapat membuat
konsumen membeli produk kita , seperti memasang iklan,
brosur, dan lain-lain.
c. Aspek penjualan
a. Memberikan saran tentang perancangan dan menegakkan
kebijakan penjualan dan proses tindak lanjut penjualan .
b. Banyak volume produk yang akan dijual. Tingkat
keamanan dalam proses penjualan barang.
c. Menjual produk dengan harga yang terjangkau dan
memiliki kualitas yang baik.

Tahapan Pengembangan Usaha


Dalam melakukan kegiatan pengembangan usaha, seseorang
wirausaha pada umumnya melakukan pengembangan kegiatan
usaha tersebut melalui tahap – tahap pengembangan usaha
menurut pandangan Budiarta (2009), sebagai berikut:
1) Memiliki Ide Usaha
Awal usaha seorang wirausaha berasal dari suatu ide
usaha. Ide usaha yang dimiliki seorang wirausaha dapat
berasal dari berbagai sumber. Ide usaha dapat muncul setelah
melihat keberhasilan bisnis orang lain dengan pengamatan.
Selain itu ide usaha juga dapat timbul karena adanya sense of
bisiness yang kuat dari seorang wirausaha.
2) Penyaringan Ide/Konsep Usaha
Pada tahap selanjutnya, wirausahawan akan
menuangkan ide usaha ke dalam konsep usaha yang
merupakan tahap lanjut ide usaha ke dalam bagian bisnis
yang lebih spesifik. Penyaringan ide-ide usaha akan
dilakukan melalui suatu aktifitas penilaian kelayakan ide
usaha secara formal maupun yang dilakukan secara informal.
3) Pengembangan Rencana Usaha (Business Plan)
Wirausaha adalah orang yang melakukan penggunaan
sumber daya ekonomi untuk memperoleh keuntungan. Maka
komponen utama dari perencanaan usaha yang akan
27
dikembangkan oleh seorang wirausaha adalah perhitungan
proyeksi rugi-laba dari bisnis yang dijalankan. Proyeksi labarugi merupakan muara dari berbagai komponen perencanaan
bisnis lainnya yaitu perencanaan bisnis yang bersifat
operasional. Dalam menyusun rencana usaha (business plan),
para wirausahawan memiliki perbedaan yang dalam
membuat rincian rencana usaha.
4) Implementasi Rencana Usaha dan Pengendalian Usaha
Rencana usaha yang telah dibuat baik secara rinci
maupun global, tertulis maupun tidak tertulis selanjutnya
akan diimplementasikan dalam pelaksanaan usaha. Rencana
usaha akan menjadi panduan bagi dalam pelaksanaan usaha
yang akan dilakukan seorang wirausaha. Dalam kegiatan
implementasi rencana usaha, seorang wirausaha akan
mengerahkan berbagai sumber daya yang dibutuhkan seperti
modal, material, dan tenaga kerja untuk menjalnkan kegiatan
usaha.
Mengidentifikasi tahapan sangat penting dalam
pengembangan usaha dan kapan hal tersebut terjadi. Kadang
kita perlu membahas tahapan tahapan yang sudah dilakukan,
sehingga pengkaji memahami seberapa cepat usaha telah
berkembang sampai pada titik persiapan rencana usaha.

Pengertian Usaha


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, usaha adalah
kegiatan dengan menggunakan tenaga pikiran atau badan untuk
menyatakan suatu maksud. Dalam dunia aktivitas ekonomi,
usaha sering kali diartikan sebagai sebuah bisnis. Dalam hal ini,
usaha merupakan setiap upaya yang dilakukan terus menerus
untuk bisa mendapatkan keuntungan, baik yang diselenggarakan
oleh perorangan maupun badan usaha yang berbentuk badan
hukum atau tidak berbentuk badan hukum, yang didirikan dan
berkedudukan disuatu daerah dalam suatu Negara.
Setiap manusia tentunya memiliki keinginan dalam hidupnya
untuk berusaha mencapai apa yang dicita-citakan. Dalam usaha
inilah manusia dapat mendirikan berbagai macam usaha yang
mendapatkan kesuksesan. Dalam memenuhi kebutuhan manusia,
maka usaha dapat menimbulkan adanya dunia usaha yang
menciptakan barang dan jasa.

Pengertian Pengembangan Usaha


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengembangan
adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan. Pengembangan
secara umum berarti pola pertumbuhan, perubahan seacara
perlahan(evolution) dan perubahan secara bertahap. Sehubungan
dengan pengembangan usaha pengembangan juga dapat
diartikan sebagai usaha yang terencana dari organisasi untuk
meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan
pegawai.
Dapat disimpulkan bahwa pengembangan adalah segala
sesuatu yang dilaksanakan untuk memperbaiki pelaksanaan
pekerjaan yang sekarang maupun yang akan datang memberikan
informasi, pengarahan,pengaturan, dan pedoman dalam
pengembangan usaha.

  1. Strategi Bertahan (Defensive Strategy).
    tindakan penyelamatan agar terlepas dari kerugian yang lebih
    Pengembangan Usaha adalah Tugas dan proses persiapan
    analitis tentang peluang pertumbuhan potensial, dukungan dan
    pemantauan pelaksanaan peluang pertumbuhan usaha, tetapi
    tidak termasuk keputusan strategi dan implementasi dari peluang
    pertumbuhan usaha.
    Sedangkan dalam pandanga menurut Steinford mengenai
    pengertian pengembangan usaha sebagai kegiatan penyediaan
    barang/jasa yang dibutuhkan konsumen yang mempunyai badan
    usaha ataupun perorangan yang tak mempunyai badan hukum
    ataupun badan usaha seperti pedagang kaki lima.
    Pandangan lainnya datang dari Hughes dan Kapoor
    mengatakan bahwa pengembangan usaha ialah suatu kegiatan
    usaha individu yang ter organisasi untuk menghasilkan dan
    menjual barang jasa guna mendapatkan keuntungan.
    Sedangkan menurut pandangan Mussleman dan Jackson
    pengembangan usaha adalah suatu aktivitas yang memenuhi
    kebutuhan dan keinginan ekonomis masyarakat dan perusahaan
    di organisasi kan untuk terlibat dalam aktivitas tersebut.

Strategi Tingkat Bisnis (business level strategy)


Strategi tingkat bisnis adalah serangkaian strategi alternatif
yang dipilih organisasi pada saat organisasi tersebut berbisnis
dalam suatu industri atau pasar tertentu. Alternatif semacam itu
membantu organisasi untuk memfokuskan usaha persaingannya
dalam setiap industri atau pasar tertentu.

  1. Strategi Tingkat Korporasi (corporate level strategy)
    Strategi tingkat korporasi adalah serangkaian alternatif
    strategi yang dipilih organisasi pada saat organisasi mengelola
    operasinya secara simultan di beberapa industri atau di beberapa
    pasar (mengembangkan suatu strategi yang sifatnya
    menyeluruh).
    Sedangkan menurut pandangan Fred R. David (2011),
    strategi dapat dikelompokkan atas empat kelompok strategi,
    sebagai berikut:
    Strategi ini menghendaki agar perusahaan melakukan
    pengawasan yang lebih terhadap distributor, pemasok,
    dan/atau para pesaingnya, misalnya melalui merger, akuisisi
    atau membuat perusahaan sendiri.
    Strategi ini memerlukan usaha-usaha yang intensif untuk
    meningkatkan posisi persaingan perusahaan melalui produk
    yang ada.
    Strategi ini dimaksudkan untuk menambah produk-produk
    baru. Strategi ini makin kurang populer, paling tidak ditinjau
  2. Strategi Integrasi Vertikal (Vertical Integration Strategy).
  3. Strategi Intensif (Intensive Strategy).
  4. Strategi Diversifikasi (Diversification Strategy).
    dari sisi tingginya tingkat kesulitan manajemen dalam
    mengendalikan aktivitas perusahaan yang berbeda-beda.
    Strategi ini bermaksud agar perusahaan melakukan tindakanbesar, yang pada ujungujungnya adalah kebangkrutan.

Definisi Strategi


Menurut pandangan Leaned Chrispensen Drews, dan Guth
(1965) strategi diartikan sebagai alat untuk menciptakan keunggulan
bersaing. Sedangkan pandangan lain dari Craig & Grant (1996)
mengatakan bahwa strategi merupakan suatu penetapan sasaran dan
tujuan jangka panjang (targeting and long-term goals) sebuah
perusahaan dan arah tindakan serta alokasi sumber daya yang diperlukan
untuk mencapai sasaran dan tujuan (achieve the goals and objectives).
Adapun pendapat lainnya datang dari Argyris dalam buku
Rangkuti (2001) mengatakan bahwa strategi merupakan respon secara
terus-menerus dan adaptif terhadap peluang dan ancaman eksternal serta
kekuatan dan kelemahan internal yang dapat mempengaruhi organisasi.
Suatu perusahaan dapat mengembangkan strategi untuk mengatasi
ancaman eksternal dan membuat peluang yang ada.
Proses analisis, perumusan dan evaluasi strategi-strategi itu
disebut perencanaan strategis. Tujuan utama perencanaan strategis
adalah agar perusahaan dapat menilai secara obyektif kondisi-kondisi
perubahan lingkungan eksternal. Jadi perencanaan strategis penting
untuk memperoleh keunggulan bersaing dan memiliki produk yang
sesuai dengan keinginan konsumen dengan dukungan yang optimal dari
sumber daya yang ada.
Adanya keberhasilan suatu strategi yang telah ditetapkan ini
sangat ditentukan oleh seberapa besar tingkat kesesuaian strategi
tersebut dengan perubahaan lingkungan, persaingan, serta situasi
perusahaan atau organisasi.
Perusahaan yang berada dalam kondisi posisi persaingan yang
sangat kuat selalu dapat mengembangkan strategi yang lebih baik.
Kriteria posisi yang relaitf lebih kuat dicerminkan oleh perusahaan
sebagai berikut:
a. Tidak memiliki persaingan yang dapat mendominasi pasar.
b. Memiliki pangsa pasar yang cukup siginifikan.
c. Memiliki pangsa pasar yang terus meningkat.
d. Memiliki pasar yang cukup kompetentif.
e. Memperoleh keuntungan sebagai pemimping pasar.
f. Memiliki sekurang-kurangnya produk yang unggul dalam pangsa
pasar.
g. Memiliki posisi yang dilindungi, misalnya oleh UU anti
monopoli.
Strategi juga diartikan sebagai bakal tindakan yang menuntun
keputusan manajemen puncak dan sumber daya perusahaan yang banyak
merealisasikannya. Di samping itu, strategi juga mempengaruhi
kehidupan organisasi dalam jangka panjang, setidaknya selama 5 tahun.

Perumusan Strategi


Manajemen strategis mengkombinasikan aktivitas-aktivitas
dari berbagai bagian fungsional suatu bisnis untuk mencapai
tujuan organisasi tersebut. Diantara beberapa tujuan manajemen
strategi yaitu sebagai berikut:
a. Melaksanakan dan mengevaluasi strategi yang dipilih secara
efektif dan efisien.
b. Mengevaluasi kinerja, meninjau dan mengkaji ulang situasi
serta melakukan berbagai penyesuaian dan koreksi jika
terdapat penyimpangan di dalam pelaksanaan strategi.
c. Senantiasa memperbarui strategi yang dirumuskan agar sesuai
dengan perkembangan lingkungan eksternal.
d. Senantiasa meninjau kembali kekuatan, kelemahan, peluang
dan ancaman bisnis yang ada.
e. Senantiasa melakukan inovasi atas produk agar selalu sesuai
dengan selera konsumen.
Adapun beberapa keuntungan manajemen strategi yakni:
a. Membantu upaya dalam mengidentifikasi, menentukan
prioritas dan memanfaatkan peluang-peluang.
b. Memberikan pandangan objektif terhadap masalah manajemen.
c. Manajemen strategi merupakan kerangka kerja untuk
meningkatkan kegiatan koordinasi dan pengawasan.
d. Dapat meminimalkan dampak dari situasi dan perubahan yang
buruk.
e. Dapat membantu pengalokasian waktu dan sumber daya secara
lebih efektif untuk menarik peluang-peluang yang
teridentifikasi.
f. Dapat meminmalkan waktu dan sumber daya yang digunakan
untuk mengkoreksi keputusan-keputusan sementara.
g. Dapat menciptakan kerangka kerja bagi komunikasi internal
antar personel.
h. Dapat mendorong pemikiran untuk maju.Dapat membantu
menangani masalah-masalah peluang.

Penilaian Strategi


Penilaian atau evaluasi strategi merupakan cara utama untuk
memperoleh informasi kapan ketika strategi tertentu tidak
berjalan dengan baik. Strategi dapat dimodifikasi kapan saja
karena berbagai faktor eksternal dan internal terus-menerus
berubah.
Tiga aktivitas penilaian strategi yang mendasar adalah
sebagai berikut:
a. Peninjauan ulang faktor-faktor eksternal dan internal
yang menjadi landasan bagi strategi saat ini, b. Pengukuran kinerja, dan
c. Pengambilan langkah korektif.
Penilaian strategi diperlukan karena keberhasilan senantiasa
menciptakan persoalan baru dan berbeda.

Penerapan Strategi


Penerapan strategi mengharuskan perusahaan untuk
menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi
karyawan, dan mengalokasikan sumber daya, sehingga strategistrategi yang telah dirumuskan dapat dijalankan.
Penerapan strategi mencakup pengembangan budaya yang
suportif pada strategi, penciptaan struktur organisasional yang
efektif, pengerahan ulang upaya-upaya pemasaran, penyiapan
anggaran, pengembangan serta pemanfaatan sistem informasi,
dan pengaitan kompensasi karyawan dengan kinerja organisasi.
Penerapan strategi yang berhasil sangat bergantung pada
kemampuan manajer untuk memotivasi karyawan yang lebih
merupakan seni daripada pengetahuan.

Definisi Manajemen Strategi


Dalam pandangan Robinson (1997) mengatakan bahwa
manajemen strategi merupakan seperangkat strategi dan tindakan yang
menyebabkan perumusan atau formulasi dan pelaksanaan atau
implementasi rencana yang dirancang untuk mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan menurut pandangan Bambang Haryadi (2003)
menyatakan bahwa pengertian manajemen strategi adalah sebuah proses
yang disusun secara sistematis oleh manajemen untuk merumuskan
strategi, mengimplementasikan strategi, dan melakukan evaluasi
terhadap strategi yang dijalankan. Semua rangkaian kegiatan tersebut
bertujuan untuk mewujudkan visi dan misi sebuah organisasi.
Manajemen strategi juga dapat didefinisikan sebagai seni dan
sains memformulasikan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi
keputusan lintas fungsi yang membuat perusahaan mencapai tujuannya
(David, 2011).
Jika ditarik dari beberapa pandangan yang dijelaskan diatas
mengenai definisi dari manajemen stategi maka dapat diartikan sebagai
seni dan ilmu penyusunan, penerapan, dan pengevaluasian keputusan –
keputusan, manajemen strategis berfokus pada proses penetapan tujuan
organisasi, pengembangan kebijakan dan perencanaan untuk mencapai
sasaran, serta mengalokasikan sumber daya untuk menerapkan
kebijakan dan merencanakan pencapaian tujuan organisasi.
Secara singkat pengertian dari manajemen strategis adalah studi
mengenai kemampuan sebuah perusahaan untuk mengalahkan
perusahaan lainnya dengan cara menciptakan keunggulan kompetitif
yang unik dan berharga, sehingga sulit untuk ditiru atau dicari
suntitusinya dan mampu bertahan lama

Strategi Pengembangan


Suatu strategi dikatakan sebagai strategi pengembangan jika secara sengaja
organisasi mendesain strategi yang hendak meningkatkan status, kapasitas, dan
sumber daya yang pada ujungnya akan melahirkan postur organisasi baru yang
berbeda di masa depan. Organisasi sepenuhnya diletakkan dan dioperasikan dalam
mode pengembangan. Bryson menambahkan bahwa strategi dikatakan sebagai
strategi pengembangan jika strategi tersebut berusaha menciptakan masa depan
baru yang lebih baik. Pilihan pada strategi ini baru bisa dilaksanakan jika
dukungan yang berasal dari lingkungan eksternal organisasi memadai. Bahkan ia
menambahkan bahwa sistem perencanaan formal dapat digunakan untuk
memberikan panduan dalam merancang jenis strategi ini. (Muhammad, 2012: 86)
Strategi pengembangan di pondok pesantren merupakan hal yang penting
terutama untuk mengembangkan eksistensinya dan meningkatkan kreativitas
santri serta kemampuan organisasional untuk menghadapi masa depan yang
semakin kompetitif. Setiap organisasi harus mampu mangantisipasi berbagai
perubahan lingkungan yang terjadi, harus mampu merencanakan dan mewujudkan
perubahan-perubahan secara internal dalam organisasi agar tantangan, masalah,
ancaman, gangguan dapat dihadapi sehingga tercipta perubahan yang lebih baik.
Secara rinci disebutkan bahwa ada tujuh program pengembangan yang
dapat dilakukan yaitu: Pertama, peningkatan produktivitas kerja organisasi
sebagai keseluruhan antara lain tidak terjadinya pemborosan, terjalinnya kerja
sama diantara satuan kerja, lancarnya koordinasi, sehingga organisasi bergarak
sebagai satu kesatuan yang utuh. Kedua, terjalinnya hubungan yang harmonis
antara atasan dengan bawahan, karena terjadi pendelegasian tugas, interaksi yang
didasarkan pada sikap dewasa secara teknikal maupun intelektual, saling
menghargai dan adanya kesempatan untuk berfikir dan bertindak melakukan
inovasi. Ketiga, proses pengambilan keputusan yang lebih cepat dan tepat dengan
melibatkan seluruh komponen yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan
program. Keempat, meningkatkan semangat kerja dan komitmen terhadap
organisasi menjadi lebih baik. Kelima, mendorong sikap keterbukaan manajemen
dengan gaya manajerial partisipatif. Keenam, terjalinnya komunikasi yang efektif
yang mengakibatkan lancarnya proses perumusan kebijakan operasional dan
organisasi. Ketujuh, penyelesaian konflik secara fungsional yang melahirkan
tumbuh subur rasa persatuan dan suasana kekeluargaan di lingkungan organisasi.
(Nurholisoh, A., Fachruroji dan Solahudin, 2018: 92).

Definisi Pengembangan


Pengembangan dalam pengertian umum berarti pertumbuhan, perubahan
secara perlahan dan bertahap (Setyosari, 2007). Dalam kamus umum Bahasa
Indonesia karya Wjs Peorwadarminta dalam buku Pengembangan Media
Pembelajaran karya Sukiman, menjelaskan bahwa pengembangan adalah
perbuatan menjadikan bertambah, berubah sempurna. Kegiatan pengembangan
menurut Sukiman (2012).meliputi tiga tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi yang diikuti dengan kegiatan penyempurnaan sehingga diperoleh
bentuk yang dianggap memadai. Dengan demikian pengembangan dapat diartikan
sebagai suatu proses atau usaha untuk melakukan perubahan baik secara perlahan
dan bertahap dengan memperdalam dan memperluas pengetahuan yang telah ada
melalui proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Menurut Undang-undang
Rapublik Indonesia Nomor 18 Tahun 2002, pengembangan adalah kegiatan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang bertujuan memanfaatkan kaidah dan teori ilmu
pengetahuan yang telah terbukti kebenarannya untuk meningkatkan fungsi,
manfaat dan aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah ada, atau
menghasilkan teknologi baru (Muhammad, 2012: 68).
Pengembangan (developing) merupakan suatu upaya untuk meningkatkan
kompetensi teknis, konseptual, teknis dan moral para pegawai dengan kebutuhan
pekerjaan atau jabatan melalui pelatihan dan pendidikan. Sehinggaperlu adanya
pengembangan pondok pesantren baik itu dari sumber daya manusia (SDM),
manajemen pondok, perekonomian pondok dan lain sebagainya, yang bertujuan
untuk meingkatkan berbagai keterampilan yang ada di pondok pesantren dan
meningkatkan pengembangan pondok pesantren di lingkungan masyarakat
(Solahudin, 2018: 102).

Manfaat Manajemen Strategi


Strategi memungkinkan suatu organisasi untuk proaktif dalam
membentuk masa depannya, memungkinkan perusahaan untuk memulai dan
memengaruhi (bukan hanya merespon terhadap) aktivitas agar memiliki
kontrol terhadap nasibnya.
Secara historis, manfaat utama manajemen strategis telah membantu
organisasi memformulasikan strategi yang lebih baik dengan menggunakan
pendekatan yang lebih sistematik, logis dan rasional untuk pilihan strategi.
Manfaat manajemen strategis juga menawarkan manfaat yang nyata
lainnya, seperti meningkatnya kesadaran atas ancaman eksternal, pemahaman
yang lebih baik atas strategi pesaing, meningkatnya produktivitas karyawan,
mengurangi keengganan untuk berubah dan pengertian yang lebih baik atas
hubungan antara kinerja dan penghargaan.
Manajemen strategis meningkatkan kemampuan organisasi untuk
menghindari masalah karena ia membantu interaksi antar manajer disemua
devisi dan fungsi. Manajemen strategis dapat memperbaiki kepercayaan atas
strategi bisnis saat ini dan atau menunjukkan dimana dibutuhkan tindakan
korektif-produktif.

Karakteristik Manajemen Strategi


Manajemen strategis ini sungguh berbeda dengan lainnya dimana
manajemen strategi ini senantiasa menyikapi dinamika terjadinya suatu
perubahan lingkungan sehingga bisa mempengaruhi terhadap implementasi
manajemen itu sendiri serta berupaya untuk merealisasikan tujuan yang telah
ditetapkan (Yunus, 2016). Karakteristik manajemen strategik antara lain:

  1. Manajemen strategik bersifat jangka panjang;
  2. Manajemen strategik bersifat dinamik;
  3. Manajemen strategik merupakan sesuatu yang berpadu oleh manajemen
    operasional;
  4. Manajemen strategik perlu dimotori oleh unsur-unsur pada manajer tingkat
    puncak;
  5. Manajemen strategik berorientasi dan mendekati untuk masa depan;
  6. Manajemen strategik senantiasa harus didorong dan didukung dalam
    pelaksanaannya oleh semua sumber daya yang tersedia.

Konsep Manajemen Strategi


Manajemen strategi dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu untuk
memformulasi, mengimplementasi, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsi
yang memungkinkan organisasi dapat mencapai tujuannya. Tujuan
manajemen strategis adalah untuk menciptakan peluang baru yang berbeda
untuk masa mendatang, perencanaan jangka panjang, mencoba untuk
mengoptimalkan tren sekarang untuk masa depan. Manajemen strategis tidak
terbatas pada bagaimana mengelola pelaksanaan kegiatan berkaitan dengan
perubahan eksternal. Pemahaman mengenai makna manajemen strategis tidak
hanya terbatas pada aspek pelaksanaan rencana, tetapi lebih jauh lagi ke aspek
visi, misi, dan tujuan kelembagaan. Makna tersebut terkait dengan konteks
lingkungan ekternal dan internal organisasi.
Beberapa pakar dalam ilmu manajemen mendefinisikan manajemen
strategis dengan cara yang berbeda-beda: Nawawi (2003) menjelaskan
manajemen strategik sebagai proses atau rangkaian kegiatan pengambilan
keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara
melaksanakannya, yang dibuat oleh manajemen puncak dan
diimplementasikan oleh seluruh jajaran didalam suatu organisasi, untuk
mencapai tujuannya. Pearce dan Robinson (2008) mendefinisikan manajemen
strategis sebagai satu set keputusan dan tindakan yang menghasilkan
formulasi dan implementasi rencana yang dirancang untuk meraih tujuan suatu
perusahaan. Manajemen strategis terdiri atas sembilan tugas penting:

Mengevaluasi keberhasilan proses strategis sebagai masukan pengambilan
keputusan di masa mendatang.
Sebagaimana diindikasikan oleh kesembilan tugas tersebut, manajemen
strategis mencakup perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, dan
pengendalian atas keputusan dan tindakan terkait strategi perusahaan.
Menurut Wheelen (2008) manajemen strategi adalah serangkaian
keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan manajerial yang mengarah kepada
penyusunan strategi-strategi efektif untuk mencapai tujuan perusahaan dengan
analisa S.W.O.T. Sedangkan menurut Pearce/Robinson (2008) manajemen
strategik adalah kumpulan tindakan yang menghasilkan perumusan
(formulasi) dan pelaksanaan (implementasi) rencana-rencana yang dirancang
untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi. Pendapat Certo (2010) lebih
sepesifik mendefinisikan manajemen strategis sebagai analisis, keputusan, dan
aksi yang dilakukan perusahaan untuk menciptakan, mempertahankan dan
mengungguli kompetitor. (Yunus: 2016, 5-7).

Merumuskan visi misi perusahaan, termasuk pernyataan yang luas
mengenai maksud, filosofi, dan sasaran perusahaan;

Melakukan analisis yang mencerminkan kondisi dan kapabilitas internal
perusahaan;

Menilai lingkungan eksternal perusahaan, termasuk faktor persaingan dan
faktor kontekstual umum lainnya;

Menganalisis pilihan-pilihan yang dimiliki oleh perusahaan dengan cara
menyesuaikan sumberdayanya dengan lingkungan eksternal;

Mengidentifikasikan pilihan paling menguntungkan dengan cara
mengevaluasi setiap pilihan berdasarkan misi perusahaan;

Memilih satu set tujuan jangka panjang dan strategi utama yang akan
menghasilkan pilihan paling menguntungkan tersebut;

Mengembangkan tujuan tahunan dan strategi jangka pendek yang sesuai
dengan tujuan jangka panjang dan strategi utama yang telah ditentukan;

Mengimplementasikan strategi yang telah dipilih melalui alokasi
sumberdaya yang dianggarkan, dimana penyesuaian antara tugas kerja,
manusia, struktur, teknologi, dan system penghargaan ditekankan; dan

Pengertian Strategi


Kata “strategi” berasal dari bahasa Yunani, yaitu “strategos” (stratus =
militer dan ag = memimpin), yang berarti “generalship” atau sesuatu yang
dikerjakan oleh para jenderal perang dalam membuat rencana untuk
memenangkan perang.
Strategi menurut Boyd, Walker dan Larreche (2000) adalah pola
fundamental dari tujuan sekarang dan yang direncanakan, pengerahan sumber
daya, dan interaksi dari organisasi dengan pasar, pesaing dan faktor-faktor
lingkungan yang lain. Menurut Alfred Chandler sebagaimana dikutip oleh
James C. Craig dan Robert M. Grant (2002) strategi adalah penetapan sasaran
dan tujuan jangka panjang sebuah perusahaan dan arah tindakan serta alokasi
sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan tertentu.
Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya
dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi
sumber daya.
Secara umum, strategi sebagai cara mencapai tujuan. sedangkan secara
khusus strategi adalah penemuan misi perusahaan, penetapan sasaran
organisasi dengan mengingat kekuatan eksternal dan internal untuk mencapai
tujuan organisasi. Strategi merupakan rencana jangka panjang untuk mencapai
tujuan. Strategi juga dapat diartikan sebagai sekumpulan tindakan atau
aktivitas yang berbeda untuk menghantarkan nilai yang lebih baik. Sedangkan
Arthur A. J., (2007) menjelaskan bahwa strategi terdiri dari aktivitas-aktivitas
yang penuh daya saing serta pendekatan-pendekatan bisnis untuk mencapai
kinerja yang memuaskan (sesuai target). Tujuan harus bersifat paralel dalam
rentang jangka pendek dan juga jangka panjang, termasuk didalamnya
penyusunan pernyataan visi (cara pandang jauh ke depan yang
dimungkinkan), pernyataan misi (bagaimana peran organisasi terhadap
lingkungan publik), tujuan perusahaan secara umum (baik finansial maupun
strategis), tujuan unit bisnis strategis (baik finansial maupun strategis), dan
tujuan taktis.
Straregi dalam dunia pendidikan, diartikan sebagai a plan method, or
series of activities designed a particultural aducatian good. Artinya strategi
adalah sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang
didesain untuk mencapai tujuan pendidikan (Majid, 2013: 3).
Beberapa penjelasa di atas, strategi dapat diartikan sebagai tindakan ril
dalam bentuk rencana umum jangka pandek dan jangka panjang sebagai upaya
untuk mencapai tujuan dan kemajuan suatu organisasi.
Strategi disusun pada dasarnya untuk membentuk ‘response’ terhadap
perubahan eksternal yang relevan dari suatu organisasi. Perubahan eksternal
tersebut tentunya akan dijawab dengan memperhatikan kemampuan internal
dari suatu organisasi untuk dapat memanfaatkan peluang dan meminimalisir
ancaman dari luar untuk memperoleh manfaat yang maksimal dengan
mendayagunakan keunggulan organisasi yang dimiliki pada saat ini.

Pengertian Manajemen


Secara bahasa, kata manajemen berasal dari kata kerja “to manage”
yang berarti mengurus, mengatur, mengemudikan, mengendalikan,
menangani, mengelola, menyelenggarakan, menjalankan, melaksanakan, dan
memimpin. Kata “management” berasal dari bahasa latin “mano” yang
berarti “tangan”, kemudian menjadi “manus” berarti bekerja berkali-kali
menggunakan tangan, ditambah imbuhan “agree” yang berarti melakukan
sesuatu sehingga menjadi “managiare” yang berarti melakukan sesuatu
berkali-kali dengan menggunakan tangan (Hidayat, Machali, 2010). Dari
pengertian secara bahasa ini memberikan gambaran bahwasannya manajemen
secara istilah yaitu sebagai proses, dari perkumpulan orang-orang yang
melakukan aktivitas.
Menurut George R. Terry dalam Mustari, (2015). “managemen” meliputi
segala tindakan yang meliputi perencanaan, pengarahan, pengorganisasian,
dan pengendalian yang bertujuan untuk menentukan dan mencapai sasaransasaran yang sudah ditentukan melalui pemanfaatan berbagai sumber,
diantaranya sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya.
Sedangkan Hadari Nawawi (2016) menjelaskan bahwa manajemen adalah
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh manajer dalam me-manage
organisasi, lembaga, maupun perusahaan.

Konsep Manajemen Strategi


Pendekatan manajemen strategi yang ada sekarang, pada dasarnya
sudah mengalami beberapa fase pengembangan,bentuknya terdiri atas
empat tahapan. Bentuk awalnya dimulai pada tahun 1990 an, saat para
pelaku bisnis kala itu merasa membutuhkan pendekatan yang sistematis
kemana harus mengarahkan bisnis dimasa datang. Istilahnya dulu adalah
strategi formulation, sedangkan proses yang dilakukan oleh manajernya
adalah perencanaan strategi. Tahap berikutnya terjadi pada era 1970 an. Pada masa- masa ini
para pelaku bisnis sudah mulai merasakan betapa perubahan- perubahan
dalam lingkungan terjadi lebih sering dan kadang- kadang sulit
diperkirakan. Harus ada cara- cara yang dapat membuat perusahaan siap
mengantisipasi dan merespon perubahan- perubahan yang terjadi.
Pendekatan seperti itu disebut issu management.
Sedangkan tahap keempat, adalah tahap dimana orang menyadari, meskipun pendekatan yang dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya
dirasakan perlu, ada resistensi perubahan dalam organisasi sendiri itu
untuk menjalankan strategi. tahapan keempat ini bentuknya, merupakan
pendekatan yang sistematis dalam mengelola perubahan strategi yang
terdiri atas:
a. Posisi perusahaan melalui perencanaan strategi dan kapabilitas
b. Respon strategi yang tepat waktu melalui pengelolaan isu- isu strategi
c. Manajemen yang sistematis atas resistensi selama implementasi
strategi.

Strategi Hubungan Masyarakat


Menurut Ahmad S. Adnanputra dalam Rosady Roslan (1997:107), strategi
Hubungan Masyarakat adalah alternatif optimal yang dipilih untuk ditempuh guna
mencapai tujuan Hubungan Masyarakat dalam kerangka suatu rencana hubungan
masyarakat. Hubungan Masyarakat bertujuan untuk menegakkan dan
mengembangkan “citra yang menguntungkan” (favorable image) bagi organisasi/
organisasi, atau produk barang dan jasa terhadap stakeholders-nya (sasaran atau
khalayak yang terkait, meliputi publik internal dan publik eksternal).
Strategi Hubungan Masyarakat diarahkan pada upaya menggarap persepsi para
stakeholder sebagai tempat akarnya tindak dan persepsi mereka. Konsekuensinya
adalah jika strategi penggarapan itu berhasil maka akan memperoleh suatu opini
atau citra yang menguntungkan (Rosady Roslan, 1997:107).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka yang dimaksud dengan strategi
Hubungan Masyarakat dalam penelitian ini adalah strategi yang dipilih untuk
mencapai tujuan memperoleh citra yang baik dari khalayak atau publik.
Untuk lebih jelas mengenai strategi hubungan masyarakat, menurut Ahmad S.
Adnanputra dalam Rosadi Ruslan (1997:108), strategi Hubungan Masyarakat
dibentuk dari dua komponen yang saling berkaitan erat, yaitu komponen sasaran
dan komponen sarana.

Tugas Hubungan masyarakat


Menurut Frida Kusumastuti (2002:25), ada tiga tugas Hubungan Masyarakat
dalam organisasi atau lembaga yang berhubungan erat dengan tujuan dan fungsi
hubungan masyarakat. Ketiga tugas tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Menginterpretasikan, menganalisis dan mengevaluasi kecenderungan perilaku
    publik, kemudian direkomendasikan kepada manajemen untuk merumuskan
    kebijakan organisasi atau lembaga. Kecenderungan perilaku publik
    diklasifikasikan dengan baik oleh Frank Jeffkins menjadi 4 (empat) situasi
    atau kondisi kecenderungan publik yang dihadapi oleh humas, yakni tidak
    tahu, apatis, prasangka dan memusuhi. Mengacu pada klasifikasi publik
    menurut Jeffkins tersebut, maka tugas humas adalah merubah publik yang
    tidak tahu menjadi tahu, yang apatis menjadi peduli, yang berprasangka
    menjadi menerima, dan yang memusuhi menjadi simpati. Tugas ini melekat
    dengan kemampuan praktisi Hubungan Masyarakat mengamati dan meneliti
    perilaku berdasarkan kajian ilmu-ilmu sosial.
  2. Mempertemukan kepentingan organisasi atau lembaga dengan kepentingan
    publik. Kepentingan organisasi atau lembaga dapat jadi jauh berbeda dengan
    kepentingan publik dan sebaliknya, namun dapat juga kepentingan ini sedikit
    berbeda bahkan dapat juga kepentingannya sama. Dalam kondisi yang
    manapun, tugas dipahami, dihormati, dan dilaksanakan. Bila kepentingannya
    berbeda, maka Hubungan Masyarakat dapat bertugas untuk
    menghubungkannya.
  3. Mengevaluasi program-program organisasi atau lembaga, khususnya yang
    berkaitan dengan publik. Tugas mengevaluasi program manajemen ini
    mensyaratkan kedudukan dan wewenang humas yang tinggi dan luas. Karena
    tugas ini dapat berarti Hubungan Masyarakat memiliki wewenang untuk
    memberikan nasihat apakah suatu program sebaiknya diteruskan, ditunda atau
    dihentikan. Di sini Hubungan Masyarakat bertugas untuk senantiasa
    memonitor semua program.
    Sementara menurut Cutlip & Center dalam Frida Kusumastuti (2002:26),
    menyatakan tugas Hubungan Masyarakat organisasi adalah sebagai berikut:
  4. Mendidik melalui kegiatan nonprofit suatu publik untuk menggunakan barang
    atau jasa intansinya.
  5. Mengadakan usaha untuk mengatasi salah paham antara intansi dengan publik.
  6. Meningkatkan penjualan barang atau jasa.
  7. Meningkatkan kegiatan organisasi yang berkaitan dengan kegiatan
    masyarakat.
  8. Mendidik dan meningkatkan tuntutan serta kebutuhan masyarakat akan barang
    dan jasa yang dihasilkan oleh organisasi. 6. Mencegah pergeseran pengunaan barang atau jasa yang sejenis dari pesaing
    organisasi oleh konsumen

Pengertian Hubungan Masyarakat


Menurut J. C. Seidel dalam Oemi Abdurrachman (2001: 24), Hubungan
Masyarakat adalah proses yang kontinyu dari usaha-usaha manajemen untuk
memperoleh goodwill dan pengertian dari para pelanggannya, pegawainya dan
publik umumnya, ke dalam dengan mengadakan analisis dan perbaikan-perbaikan
terhadap diri sendiri, keluar dengan mengadakan pernyataan-pernyataan.
Menurut The British Institute of Hubungan Masyarakat dalam Oemi
Abdurrachman (2001:27), Hubungan Masyarakat adalah upaya yang mantap,
berencana dan berkesinambungan untuk menciptakan dan membina pengertian
bersama antara organisasi dengan khalayaknya. Menurut Scott M. Cultip dalam
Allen H. Center dalam Danan Djaja (1985:10), Hubungan Masyarakat adalah
proses yang kontinyu dari usaha-usaha manajemen untuk memperoleh kerja sama
yang saling pengertian dari para langganan, pegawai, publik umumnya; ke dalam
mengadakan analisa dan perbaikkan terhadap diri sendiri, ke luar dengan
mengadakan pernyataan-pernyataan.

Proses Strategi


Perencanaan strategis memberikan gambaran ke depan tentang bagaimana suatu
organisasi/badan dapat berjalan menuju tujuan, sesuai dengan misi dan visinya,
dengan memanfaatkan potensi internal dan membenahi kelemahan-kelemahan
internal dalam rangka mengisi peluang dan ancaman yang ada atau datang dari
lingkungannya. Menurut Keban (2000:3), ada sembilan langkah pokok proses
perencanaan strategis, yang terdiri atas:

  1. Kesepakatan awal, rencana strategis merupakan dokumen yang harus
    disepakati bersama antara semua aktor yang berkepentingan (stakeholders)
  2. Pernyataan mandat, merupakan apa yang diharuskan atau diwajibkan oleh
    pihak yang lebih tinggi otoritasnya, termasuk apa yang diharapkan oleh
    masyarakat lokal sendiri.
  3. Perumusan visi, setiap lemabaga atau organisasi diharapkan memiliki visi
    tertentu, yaitu gambaran tentang kondisi ideal yang diinginkan stakeholders
    pada masa mendatang atau dalam kurunwaktu tertentu setelah lembaga
    tersebut berjalan.
  4. Perumusan misi; misi adalah pernyataan tentang untuk apa suatu organisasi
    atau lembaga didirikan. Atau misi merupakan justifikasi tentang kehadiran
    suatu lembaga, mengapa lembaga tersebut mengerjakan pa yang dikerjakan.
  5. Analisis kondisi internal, untuk dapat mencapai misi di atas diperlukan
    dukungan internal, disini diperlukan suatu penilaian tentang kondisi internal
    yang dapat menggambarkan tentang kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. 6. Analisis kondisi eksternal, untuk dapat mencapai misi di atas diperlukan suatu
    dukungan yang kondusif dari faktor-faktor eksternal. Faktor-faktor tersebut
    harus dinilai karena dapat menjadi peluang tetapi sebaliknya dapat berupa
    ancaman. Penilaian terhadap faktor-faktor tersebut dapat dilakukan dengan
    menganalisis (1) Kecenderungan politik, ekonomi, sosial, teknologi, fisik dan
    pendidikan, (2) peranan yang dimainkan dari pihak-pihak yang dapat diajak
    kerjasama (collaborators) dan pihak-pihak yang dapat menjadi kompetitor,
    seperti swasta, dan lembaga-lembaga lain, dan (3) dukungan pihak-pihak yang
    menjadi sumber resources seperti para pembayar pajak, asuransi dsb.
  6. Penentuan isu-isu strategis, dari hasil analisis faktor-faktor internal dan
    eksternal di atas ditemukan banyak isu dengan tingkat kestrategisan yang
    berbeda-beda. Di sini dibutuhkan suatu ketajaman berfikir untuk menilai
    apakah suatu isu dapat dianggap strategis atau tidak. Biasanya kriteria yang
    digunakan adalah (a) pentingnya suatu isu, yaitu kemungkinan pencapaian visi
    dan misi kalau suatu isu yang sedang dinilai tersebut dibiarkan atau sebaliknya
    diintervensi, (b) dampak atau efek yang ditimbulkan bila isu tersebut dibiarkan
    atau sebaliknya diintervensi.
  7. Perumusan strategi, Kebijakan dan Program-program Strategis, kesalahan
    yang paling fatal adalah mengemban misi dan merealisasikan visi tetapi tidak
    melalui suatu strategi yang jelas. Semua strategi harus dijalankan agar misi
    yang ada dapat diemban secara sukses dan sekaligus dapat mewujudkan visi
    yang telah dirumuskan.
  8. Prinsip-prinsip implementasi strategi, pada bagian ini ditetapkan bagaimana
    prinsip-prinsip yang harus dijalankan dalam rangka mengimplementasikan
    program-program strategis. Prinsip-prinsip ini berkenaan dengan aturan main
    yang harus diikuti dalam (1) penyusunan program/proyek tahunan, (2)
    rancangan implementasi program, (3) mekanisme monitoring terhadap
    program, (4) mekanisme evaluasi program dan (5) mekanisme tindakan
    koreksi melalui proses feedback

Dimensi-dimensi Strategi


Menurut J. Winardi (2003:112), dimensi dalam strategi pada suatu organisasi
yaitu sebagai berikut:

  1. Tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran yang paling penting dan yang perlu
    dicapai. Tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran menyatkan apa saja yang yang
    perlu dicapai, kapan hasil-hasil harus dilaksanakan. Dari sasaran-sasaran nilai,
    menyatakan ke arah mana organisasi tersebut menuju, melalui berbagai
    macam sasaran keorganisasian yang bersifat menyeluruh, yang menetapkan
    sifat organisasi, dan menetapkan target bagi setiap kesatuan
    keorganisasiannya.
  2. Kebijakan-kebijakan yang paling penting dan mengarahkan atau membatasi
    kegiatan-kegiatan. Kebijakan-kebijakan (policies) merupakan peratutan- peraturan atau prosedur-prosedur yang menggariskan batas-batas di dalam
    mana kegiatan akan dilaksanakan. Peraturan-peraturan demikian seringkali
    mencapai keputusan-keputusan kontingen, guna menyelesaikan konflik antara
    sasaran-sasaran spesifik.
  3. Tahapan-tahapan tindakan pokok atau program-program yang akan mencapai
    tujuan-tujuan yang ditetapkan dalam batas-batas yang telah digariskan.
    Program-program menspesifikasi langkah demi langkah tahapan-tahapan
    tindakan yang diperlukan untuk mencapai sasaran-sasaran utama. Mereka
    menyatakan bagaimana sasaran-sasaran akan tercapai di dalam batas-batas
    oleh kebijakan. Mereka menyatakan bahwa sumber-sumber daya diarahkan ke
    arah pencapaian tujuan dan dengan apa kemajuan organisasi dapat diukur

Pengertian Strategi


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 763), strategi sebagai rencana
yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Penyusunan
sebuah strategi harus menggunakan metode maupun teknik-teknik tertentu
sehingga kebijaksanaan yang dihasilkan akan optimal. Untuk itu diperlukan
pengetahuan dan keahlian yang memadai guna mencapai tujuan organisasi.
Menurut Strickland (J. Winardi, 2003: 106), strategi dalam suatu organisasi
adalah tindakan-tindakan dan pendekatan-pendekatan organisasi yang diterapkan
oleh pihak pimpinan guna mencapai kinerja keorganisasian yang telah ditetapkan
sebelumnya. Dalam hal ini secara tipikal strategi merupakan sebuah bauran yang
terdiri dari tindakan-tindakan yang dilakukan secara sadar dan yang ditujukan
pada sasaran-sasaran tertentu serta tindakan-tindakan yang diperlukan guna
menghadapi perkembangan-perkembangan yang tidak diantisipasi, dan arena
tekanan-tekanan yang bersifat kompetetitif yang dilancarkan.
Definisi di atas menitik beratkan strategi sebagai berbagai tindakan keorganisasian
yang diterapkan pimpinan organisasi secara sadar, terencana dan diarah untuk
mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Jones (J. Winardi, 2003:106), strategi merupakan suatu kelompok
keputusan, tentang tujuan apa yang akan diupayakan pencapaiannya, tindakantindakan yang diperlukan, dan bagaimana memanfaatkan sumber-sumber daya
guna mencapai tujuan tersebut.
Definisi di atas menitik beratkan strategi sebagai kelompok keputusan yang
diambil oleh pimpinan organisasi dan diterapkan dalam berbagai upaya dan
tindakandengan memanfaatkan sumber-sumber daya guna untuk mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Onong Uchjana Effendy (2001:32), strategi adalah perencanaan dan
manajemen untuk mencapai tujuan. Tetapi untuk mencapai tujuan tersebut,
strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja,
melainkan harus mampu menunjukkan taktik operasionalnya. Sedangkan menurut
Ahmad S. Adnanputra (1997:106), strategi adalah bagian terpadu dari suatu
rencana (plan), di mana rencana merupakan produk dari perencanaan (planning)
yang pada akhirnya perencanaan adalah fungsi dasar dari proses manajemen.

Persaingan Usaha


Persfaingan dalam industri kuliner bisa sangat ketat karena banyaknya
peserta pasar. Restoran dan bisnis kuliner lainnya bersaing untuk mendapatkan
perhatian dan preferensi konsumen. Perusahaan harus mencari cara untuk
membedakan diri dari pesaing mereka melalui konsep unik, menu kreatif,
kualitas makanan, pelayanan pelanggan yang baik, atau pengalaman unik.
Dalam konsepsi persaiangan usaha, dengan asumsi bahwa faktor
mempengaruhi harga adalah permintaan dan penawaran, dengan kondisi lain
berada dalam ceteris paribus, persaingan usaha akan dengan sendirinya
mengahsilakan barang atau jasa yang memiliki daya saing yang paling baik.
Dalam ekonomi pasar yang demikian, persaingan memiliki beberapa
pengertian:
a) Persaingan menunjukan banyaknya pelaku usaha yang
menawarkan/memasok barang atau jasa tertentu ke pasar yang
bersangkutan. Barang sedikitnya pelaku usaha yang menawarakan
barang atau jasa ini menunjukan struktur pasar (market structure) dari
barang tau jasa tersebut.
b) Persaingan merupakan suatu proses dimana masing-masing
perusahaan berupaya memperoleh pembeli/langganan bagi produk
yang di jualnya, yang antara lain dapat dilakukan dengan menekan
harga (price competition), persaingan bukan harga (non-price
competition), misalnya yang dilakukan melalui diferensiasi produk,
pengembnagn hak atas kekayaan intelektual, promosi, pelayanan
purna jual, dan lain-lain, berusaha secara lebih efesien (low-cost
production)
Dengan ini sesungguhnya, dari sisi produsen, hakikat yang diharapkan
dari adanya persaingan tersebut adalah tercapainya low-cost production, atau
efesiensi. Agar persaingan usaha dilakukan produsen dapat terpelihara dan
berjalan dengan baik. Dengan kebijakan persaingan yang baik ini di harapkan
mendorong penggunaan sumber daya ekonomi lebih efesien guna melindungi
kepentingan masyarakat.
Persaingan usaha merujuk pada interaksi dan persaingan antara
perusahaan atau organisasi yang beroperasi di pasar yang sama atau memiliki
produk atau layanan yang serupa. Persaingan ini dapat terjadi dalam berbagai
bentuk dan tingkat intensitas tergantung pada industri, pasar, dan faktor-faktor
lainnya. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipahami tentang persaingan
usaha:
a) Peserta Pasar
Persaingan usaha melibatkan peserta pasar yang berusaha untuk
mendapatkan pangsa pasar dan pelanggan. Peserta pasar bisa berupa
perusahaan sejenis yang menawarkan produk atau layanan yang
serupa, atau perusahaan dengan penawaran alternatif yang memenuhi
kebutuhan pelanggan yang sama. Peserta pasar juga dapat berbeda
dalam hal ukuran, kapabilitas, dan strategi bisnis.
b) Differensiasi
Dalam persaingan usaha, perusahaan perlu mencari cara untuk
membedakan diri dari pesaing. Ini dapat dilakukan melalui
differensiasi produk, yaitu memberikan nilai tambah atau keunikan
kepada pelanggan dalam hal kualitas, fitur, harga, layanan, merek,
atau pengalaman pengguna. Differensiasi yang efektif dapat
membantu perusahaan mendapatkan keunggulan kompetitif dan
memenangkan persaingan.
c) Harga
Harga adalah salah satu faktor utama dalam persaingan usaha.
Perusahaan harus mengembangkan strategi harga yang tepat,
berdasarkan analisis pasar, biaya produksi, dan strategi bisnis.
Persaingan harga dapat terjadi di mana perusahaan berusaha
menawarkan harga yang lebih rendah dari pesaing untuk menarik
pelanggan. Namun, harga bukanlah satu-satunya faktor yang
mempengaruhi keputusan pembelian pelanggan.
d) Inovasi
Inovasi produk, teknologi, atau proses dapat memberikan
keunggulan kompetitif yang signifikan dalam persaingan usaha.
Perusahaan yang mampu menghasilkan produk atau layanan baru
yang inovatif atau mengembangkan cara baru untuk memenuhi
kebutuhan pelanggan memiliki peluang untuk mendapatkan
keunggulan kompetitif dan memimpin pasar.
e) Responsif terhadap Perubahan
Persaingan usaha tidak statis, melainkan terus berubah seiring
dengan perkembangan pasar, teknologi, dan preferensi pelanggan.
Perusahaan yang dapat mengidentifikasi perubahan pasar dengan
cepat dan meresponsnya dengan strategi yang tepat memiliki peluang
lebih besar untuk tetap kompetitif.
52
f) Pemasaran dan Branding
Strategi pemasaran yang efektif dan branding yang kuat juga
merupakan faktor penting dalam persaingan usaha. Perusahaan perlu
memahami pasar mereka, mengidentifikasi target pelanggan, dan
mengembangkan pesan pemasaran yang tepat untuk mempengaruhi
persepsi pelanggan. Membangun merek yang kuat juga membantu
perusahaan membedakan diri dari pesaing dan membangun loyalitas
pelanggan

Indikator Pengembangan Produk


Indikator pengembangan produk adalah parameter atau metrik yang
digunakan untuk mengukur dan mengevaluasi kemajuan dan keberhasilan
dalam pengembangan produk. Indikator ini memberikan panduan tentang
sejauh mana tujuan pengembangan produk tercapai dan memungkinkan
perusahaan untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan. Berikut
adalah beberapa indikator umum yang digunakan dalam pengembangan
produk:
a) Waktu Pengembangan
Indikator ini mengukur waktu yang diperlukan untuk
mengembangkan produk dari awal hingga peluncuran. Ini
melibatkan identifikasi tahapan pengembangan, seperti
perencanaan, desain, prototyping, pengujian, dan produksi, dan
memastikan bahwa setiap tahap diselesaikan dalam batas waktu
yang ditetapkan. Pengukuran waktu pengembangan membantu
memastikan bahwa produk diluncurkan tepat waktu dan dapat
merespons kebutuhan pasar dengan cepat.
b) Biaya Pengembangan
Indikator ini mengukur biaya yang terlibat dalam pengembangan
47
produk. Ini mencakup biaya riset dan pengembangan, biaya desain,
biaya prototyping, dan biaya pengujian. Memantau biaya
pengembangan membantu perusahaan mengelola anggaran yang
tersedia dan memastikan penggunaan sumber daya yang efisien
selama proses pengembangan.
c) Kualitas Produk
Indikator ini mengevaluasi kualitas produk yang dikembangkan. Ini
mencakup aspek seperti kehandalan, performa, fungsionalitas,
kesesuaian dengan kebutuhan pelanggan, dan tingkat kepuasan
pelanggan. Pengukuran kualitas produk dapat dilakukan melalui
pengujian, penilaian pelanggan, atau survei kepuasan pelanggan.
d) Kecepatan Inovasi
Indikator ini mengukur tingkat inovasi yang dihasilkan dalam
pengembangan produk. Ini melibatkan identifikasi fitur-fitur baru,
peningkatan kinerja, atau penemuan solusi kreatif yang
membedakan produk dari pesaing. Tingkat kecepatan inovasi dapat
diukur dengan jumlah ide baru yang dihasilkan, jumlah paten yang
diajukan, atau waktu yang dibutuhkan untuk mengadopsi teknologi
baru.
e) Penerimaan Pasar
Indikator ini mengukur tingkat penerimaan pasar terhadap produk
yang dikembangkan. Ini mencakup faktor-faktor seperti jumlah
penjualan, pangsa pasar, pertumbuhan penjualan, atau tingkat
48
adopsi produk oleh pelanggan. Penerimaan pasar menunjukkan
sejauh mana produk memenuhi kebutuhan dan preferensi
pelanggan, serta sejauh mana perusahaan berhasil
mengkomunikasikan manfaat produk kepada pasar.
f) Keberlanjutan Produk
Indikator ini mengevaluasi sejauh mana produk yang
dikembangkan mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Ini
melibatkan pengukuran dampak lingkungan produk, penggunaan
sumber daya yang efisien, dan pengelolaan limbah. Pengukuran
keberlanjutan produk membantu perusahaan memastikan bahwa
produk mereka sesuai dengan praktik bisnis yang bertanggung
jawab secara sosial dan lingkungan. Setiap perusahaan mungkin
memiliki indikator pengembangan produk yang unik, tergantung
pada tujuan, pasar, dan produk yang dikembangkan. Penting untuk
memilih indikator yang relevan dengan strategi bisnis perusahaan
dan secara periodik mengukur dan mengevaluasi kemajuan
pengembangan produk berdasarkan indikator tersebut.

Tahap-tahap Pengembangan Produk


Pengembangan produk baru bukan merupakan hal yang mudah bagi
perusahaan yang menjalankannya. Proses pengembangan produk untuk setiap
perusahaan juga berbeda, tergantung produk serta tingkat kompleksitasnya,
dan umumnya kegiatan-kegiatan ini lebih membutuhkan daya analisis
intelektual dan manajemen organisasi. Perusahaan harus menyadari bahwa
dalam pelaksanaan pengembangan produk, kemungkinan perusahaan
mengadakan perubahan-perubahan ciri-ciri khusus produk, meningkatkan
mutu produk, menambah tipe produk, dan mengubah ukuran produk untuk
memuaskan pasar.
Saat perusahaan mengalami kemunduran dan menghadapi persaingan
yang cukup tinggi, maka kebijaksanaan produk khususnya pengembangan
produk merupakan salah satu alternatif jika kebijaksanaan non produk seperti
promosi, penentu harga serta saluran distribusi tidak memberikan hasil yang
memuaskan untuk dapat menjamin kesinambungan produk di pasar. Menurut
Simamora (2000), terdapat delapan tahap yang harus dilalui dalam
pengembangan produk baru, yaitu:
a) Analisis Kebutuhan Pelanggan
Kebutuhan konsumen merupakan titik pendahuluan untuk
pengembangan produk, baik untuk pasar domestik ataupun global.
Produk-produk baru merangsang perusahaan untuk mencapai
sasaran unit bisnis dan korporat. Untuk menentukan lingkup
produk baru yang akan dipertimbangkan, manajemen sering
merumuskan garis-garis besar perencanaan produk baru.
Keputusan ini menjadi garis-garis besar penting untuk proses
perencanaan produk baru. Analisis kepuasan pelanggan
menentukan peluang untuk produk dan proses baru.
b) Pemunculan gagasan
Pencarian macam-macam gagasan yang menjanjikan merupakan
titik pangkal dalam proses pengembangan produk baru. Penggalian
gagasan terentang mulai dari perbaikan tambahan atas produk yang
ada sekarang sampai ke produk yang sama sekali baru bagi dunia.
Beraneka gagasan produk berasal dari banyak sumber. Membatasi
gagasan-gagasan produk baru hanya pada aktivitas litbang
interval merupakan pendekatan yang sangat sempit. Sumber
gagasan produk baru meliputi para personalia perusahaan,
pelanggan, pesaing, investor luar, akuisis dan anggota saluran.
c) Penyaringan Ide dan Evaluasi
Pengevaluasian ide-ide baru merupakan bagian penting dari
perencanaan produk baru. Produk yang berhasil adalah produk
yang memuaskan kriteria manajemen untuk keberhasilan
komersial. Manajemen memerlukan suatu prosedur penyaringan
dan evaluasi yang akan menghapus ide-ide yang tidak akan
menjanjikan sesegera mungkin. Tujuannya adalah untuk
mengeliminasi ide-ide yang paling tidak menjanjikan sebelum
terlalu banyak waktu dan dana yang dikucurkan ke dalamnya.
d) Analisis Bisnis
Analisis bisnis mengestimasi kinerja komersial produk yang
diusulkan. Perolehan suatu proyeksi finansial yang akurat
tergantung pada mutu ramalan pendapatan dan biaya. Analisis
bisnis normalnya dipecahkan pada beberapa tahap dan proses
perencanaan produk baru. Setelah manajemen memutuskan konsep
produk dan strategi pemasarannya, manajemen dapat
mengevaluasi daya tarik bisnis proposal tersebut. Untuk
memperkirakan penjualan, perusahaan dapat melihat angka
penjualan historis produk sejenis dan melakukan survei untuk
mengetahui opini pasar. Perusahaan tersebut dapat memperkirakan
penjualan minimum dan maksimum untuk memperkirakan
jangkauan risiko. Setelah mempersiapkan ramalan penjualan,
manajemen dapat memperkirakan biaya dan laba yang di harapkan
dari produk tersebut, yang memasukkan biaya-biaya pemasaran,
penelitian, pengembangan, akuntansi, dan keuangan.
e) Pengembangan Strategi
Pemasaran Tujuan pengembangan strategi pemasaran adalah
penyempurnaan rencana lebih lanjut pada tahap-tahap berikutnya
yaitu bagaimana strategi pemasaran untuk mengenalkan produk
baru ke pasar. Dalam tahap ini perusahaan melakukan
pengembangan rencana strategi, dimana strategi pemasaran lebih
dulu mengalami penyaringan. Dalam melakukan pengembangan
strategi pemasaran ada 3 bagian pokok, yaitu: Menjelaskan ukuran
struktur, perilaku pasar sasaran, posisi produk yang direncanakan,
penjualan, pangsa pasar, dan laba yang diinginkan dari lima tahun
pertama. Menggambarkan harga, strategi distribusi, dan anggaran
perusahaan yang di rencanakan untuk produk tersebut dalam tahun
pertama. Menjelaskan jumlah penjualan, sasaran laba, dan strategi
pemasaran selanjutnya.
f) Pengembangan Produk
Setelah berhasil merampungkan tahap analisis bisnis, perencanaan
produk bergerak menuju tahap pengembangan dan pengujian
(development and testing). Pengembangan dan pengujian
berkenaan dengan pembuatan karakteristik fisik barang dan jasa
baru yang dapat diterima bagi para pelanggan. Tujuannya adalah
mengkonversikan gagasan ke dalam produk aktual yang aman,
memberikan manfaat bagi para pelanggan, dan dapat diproduksi
secara ekonomis oleh perusahaan.
g) Pengujian Produk dan Pasar
Pada tahapan ini, pengujian produk merupakan kelanjutan dari
tahapan pengembangan produk. Tahapan-tahapan pengujian
produk diantaranya: Pengujian tentang konsep produk. Pengujian
desain produk. Pengujian kesukaan konsumen terhadap produk.
Pengujian laboratorium terhadap produk. Pengujian operasi pabrik
dan tes penggunaan produk. Setelah manajemen perusahaan
merasa puas dengan produknya (setelah melakukan perubahan)
maka untuk lebih lanjut adalah pengujian pada tujuannya yaitu
untuk mengetahui reaksi konsumen.
h) Komersialisasi
Pada tahapan ini, semua fasilitas sudah disiapkan sedemikian rupa,
baik fasilitas produksi maupun pemasarannya. Perusahaan yang
sudah memasuki tahapan ini, harus sudah mempersiapkan strategi
penetapan harga dan keuntungan yang diharapkannya. Di dalam
tahapan ini, perusahaan sudah melaksanakan riset pemasaran
terlebih dahulu, terutama yang menyangkut kebutuhan, keinginan,
selera, kepuasan para konsumen yang akan dituju.

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Pengembangan Produk


Pengembangan produk dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang dapat
mempengaruhi proses, keberhasilan, dan arah pengembangan produk tersebut.
Berikut adalah beberapa faktor penting yang mempengaruhi pengembangan
produk:
a) Analisis Pasar
Memahami pasar dan pelanggan potensial adalah faktor kunci
dalam pengembangan produk. Analisis pasar yang komprehensif
melibatkan pemahaman tentang kebutuhan, preferensi, dan perilaku
, serta tren pasar yang ada. Faktor-faktor seperti ukuran pasar,
segmentasi pasar, dan potensi pertumbuhan pasar akan
mempengaruhi bagaimana perusahaan merancang dan
mengembangkan produk.
b) Teknologi dan Inovasi
Kemajuan teknologi dan tingkat inovasi dalam industri tertentu
memiliki dampak yang signifikan pada pengembangan produk.
Perusahaan harus mengikuti perkembangan teknologi terkini dan
mempertimbangkan bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan
untuk meningkatkan produk mereka. Inovasi produk juga dapat
mendorong pengembangan baru atau peningkatan produk yang ada.
Persaingan: Lingkungan persaingan yang ada di pasar juga
mempengaruhi pengembangan produk. Perusahaan perlu
memahami pesaing mereka, strategi produk mereka, dan bagaimana
produk mereka memenuhi kebutuhan pelanggan. Faktor-faktor
seperti differensiasi produk, keunggulan kompetitif, dan kebijakan
harga pesaing dapat mempengaruhi strategi pengembangan produk.
c) Kebutuhan Pelanggan
Memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan merupakan faktor
kritis dalam pengembangan produk yang sukses. Perusahaan harus
melakukan riset pasar dan mengumpulkan umpan balik dari
pelanggan untuk mengetahui apa yang mereka harapkan dari
produk. Pengembangan produk harus memperhatikan aspek-aspek
kualitas, fungsionalitas, keandalan, harga, dan fitur yang
diinginkan oleh pelanggan. Sumber Daya dan
d) Kemampuan Internal
Ketersediaan sumber daya, termasuk keuangan, tenaga kerja, dan
kemampuan teknis internal perusahaan, juga mempengaruhi
pengembangan produk. Perusahaan harus mempertimbangkan
ketersediaan dan keterampilan sumber daya mereka untuk
merancang, mengembangkan, dan memproduksi produk baru atau
ditingkatkan. Faktor-faktor seperti kemampuan riset dan
pengembangan, fasilitas produksi, dan akses ke teknologi akan
mempengaruhi rencana pengembangan produk. Regulasi dan
Kepatuhan: Peraturan dan kepatuhan hukum juga mempengaruhi
pengembangan produk. Perusahaan harus memastikan bahwa
produk mereka memenuhi persyaratan regulasi dan standar yang
berlaku dalam industri atau pasar tertentu. Faktor-faktor seperti
persyaratan keamanan, lingkungan, atau persetujuan regulasi dapat
mempengaruhi desain dan pengembangan produk.
e) Analisis Biaya dan Keuntungan
Aspek keuangan, termasuk biaya pengembangan, potensi
penjualan, dan keuntungan yang diharapkan, juga mempengaruhi
pengembangan produk. Perusahaan harus mempertimbangkan
anggaran yang tersedia, biaya pengembangan, dan prospek untuk
mengevaluasi apakah pengembangan produk tertentu layak secara
finansial.
f) Faktor Lingkungan dan Keberlanjutan
Dalam konteks yang semakin peduli terhadap isu lingkungan dan
keberlanjutan, faktor-faktor seperti dampak lingkungan,
penggunaan sumber daya alam, dan siklus hidup produk juga perlu
dipertimbangkan dalam pengembangan produk.

Manfaat Pengembangan Produk


Pengembangan produk memiliki beberapa manfaat penting bagi
perusahaan. Pengembangan produk yang sukses dapat memberikan
kompetitif kepada perusahaan. Dengan menciptakan produk baru atau
meningkatkan produk yang ada, perusahaan dapat menawarkan fitur yang
lebih baik, kualitas yang lebih tinggi, atau harga yang lebih kompetitif
dibandingkan pesaing. Ini membantu perusahaan membedakan diri mereka di
pasar dan memenangkan persaingan.
Melalui pengembangan produk, perusahaan dapat memperluas lini
produk mereka dan mencapai segmen pasar baru. Dengan menyediakan variasi
produk yang lebih luas, perusahaan dapat menjangkau pelanggan yang berbeda
dan meningkatkan penjualan secara keseluruhan. Pengembangan produk juga
dapat membantu memperpanjang siklus hidup produk yang ada,
mempertahankan minat pelanggan, dan menghindari penurunan penjualan.
Pengembangan produk yang sukses dapat meningkatkan nilai bagi
pelanggan. Dengan menghadirkan produk yang lebih inovatif, fungsional, atau
efisien, perusahaan dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan
dengan lebih baik. Hal ini dapat menghasilkan kepuasan pelanggan yang lebih
tinggi, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan menciptakan hubungan jangka
panjang yang lebih kuat. Pengembangan produk yang berhasil dapat membawa
keuntungan finansial yang signifikan bagi perusahaan. Dengan
memperkenalkan produk baru yang diminati pasar atau meningkatkan
penjualan produk yang ada, perusahaan dapat meningkatkan pendapatan dan
profitabilitas mereka. Pengembangan produk juga dapat membantu
mengurangi biaya produksi, meningkatkan efisiensi operasional, dan mencapai
skala ekonomi yang lebih baik.
Pengembangan produk yang sukses dapat memperkuat reputasi dan
citra perusahaan di pasar. Dengan menghadirkan produk berkualitas tinggi,
inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan pelanggan, perusahaan dapat
membangun reputasi yang baik dalam hal kualitas, kehandalan, atau
keunggulan teknologi. Ini dapat memberikan keuntungan kompetitif jangka
panjang dan meningkatkan persepsi pelanggan terhadap merek perusahaan.
Pengembangan produk mendorong inovasi di perusahaan. Proses
pengembangan produk melibatkan eksplorasi ide-ide baru, pengujian konsep,
dan penemuan solusi kreatif. Dalam jangka panjang, inovasi ini dapat
membantu perusahaan untuk tetap relevan dan beradaptasi dengan perubahan
lingkungan bisnis. Pengembangan produk yang berkelanjutan juga
mempertimbangkan aspek keberlanjutan, termasuk penggunaan bahan ramah
lingkungan dan desain produk yang lebih efisien energi.

Pengertian Strategi Pengembangan Produk


Kata “Strategi” berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu strategos
yang dapat diterjemahkan sebagai komandan militer pada zaman demokrasi
Athena. Pengertian strategi menurut Siagian (2019) adalah rencana berskala
besar yang berorientasi jangkauan masa depan yang jauh serta ditetapkan
sedemikian rupa sehingga memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif
dengan lingkungannya dalam kondisi persaingan yang kesemuanya di arahkan
pada optimalisasi pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang
bersangkutan.
“Pengembangan” dalam kamus bahasa indosesia adalah perluasan.
Menurut Putra (2018) pengembangan merupakan penggunaan ilmu ilmu
pengetahuan tekhnis dalam rangka memproduksi bahan baru atau peralatan.
Produksi dan jasa ditingkatkan secara substansial untuk proses atau sistim baru,
sebelum dimulainya sistim produksi komersial meningkatkan secara
substansial apa yang sudah di produksi. Pengertian mengenai pengembangan
dapat peneliti simpulkan bahwa pengembangan merupakan suatu perluasan
atau pedalaman pada suatu materi pembelajaran sehingga akan menghasilkan
suatu produk.
Pengembangan produk merupakan suatu kegiatan untuk menghasilkan
produk baru dari produk yang sudah ada. Pembaruan produk bisa mengalami
kegagalan juga keberhasilan. Keberhasilan dari pengembangan produk terletak
pada pengelolaan organisasi yang lebih efektif dalam menangani gagasan
produk baru, lalu menyelenggarakan penelitian dan melakukan pengambilan
keputusan pada setiap proses pengembangan produknya. Pengembangan
produk merujuk pada proses perancangan, pengujian, dan peningkatan produk
yang ada atau menciptakan produk baru.
Ini melibatkan langkah-langkah yang direncanakan untuk
mengidentifikasi kebutuhan pasar, merancang solusi yang memenuhi
kebutuhan tersebut, dan menghasilkan produk yang siap untuk dipasarkan.
Menurut Tjiptono (2018) terdapat tiga strategi pengembangan produk,
yaitu:
a) Strategi peningkatan kualitas Produsen dapat meningkatkan daya
tahan produk atau dengan meningkatkan kehandalan dan kecepatan
pelayanan terhadap konsumen.
b) Strategi peningkatan keistimewaan. Produk ada empat indikator
yang dapat meningkatkan keistimewaan suatu produk, seperti
kualitas bahan yang dipakai, keanekaragaman, kenyamanan dalam
pemakaian suatu produk bagi penggunaan dan aksesories
tambahan.
c) Strategi peningkatan gaya produk. Produsen bisa meningkatkan
nilai suatu produk dari segi pemilihan warna produk tersebut,
rancangan atau desain yang menarik dan yang terakhir adalah
kemasan yang dapat memberi nilai tambahan bagi produk tersebut.
Setiap perusahaan harus mempunyai strategi dalam melakukan
pengembangan produk. Hal ini bertujuan untuk produk yang akan di
kembangakan sesuai dengan kebutuhan/keinginan pasar, juga bagi konsumen
yang sudah ada tetap tertarikdengan penawaran yang diberikan oleh
perusahaannya serta dapat menarik konsumen baru.

Aspek-aspek Manajemen Strategi


Menurut Sukanto Reksohadiprodjo (2018), aspek-aspek manajemen
strategi antara lain pengungkapan visi dan misi badan usaha, penentuan tujuantujuan, menciptakan strategi, mengimplementasikan dan melaksanakan
strategi, serta menilai kinerja dan melaksanakan penyesuaian-penyesuaian
serta tindakan korektif. Sedangkan menurut Thompson dan Strickland dalam
bukunya Strategic Management yang telah dialih bahasa ke dalam Bahasa
Indonesia, secara umum, manajemen strategi memiliki aspek-aspek strategi
senantiasa dipertimbangkan dalam menentukan strategi yang akan
dilaksanakan.
Menurut Ernie Tisnawati Sule dan Kurniawan Saefullah (2018), proses
manajemen strategi dapat dibagi dua secara garis besar, yaitu perencanaan
strategis (strategic planning) dan implementasi strategi (strategic
implementation). Sedikit berbeda menurut Suwarsono Muhammad, bahwa
manajemen strategi, secara metodologis terdiri dari tiga proses utama yang
saling kait mengait dan tidak terputus, yakni proses perumusan (formulasi),
proses implementasi (eksekusi), dan proses pengawasan (pengendalian)
strategi.
Dalam manajemen strategi, terdapat beberapa aspek yang perlu
diperhatikan untuk mencapai keberhasilan strategi perusahaan. Berikut adalah
beberapa aspek penting dalam manajemen strategi:
a) Analisis Lingkungan Eksternal
Aspek ini melibatkan pemahaman yang mendalam tentang faktorfaktor eksternal yang dapat mempengaruhi kesuksesan perusahaan.
Ini mencakup analisis tren pasar, perubahan regulasi,
perkembangan teknologi, dan aktivitas pesaing. Analisis ini
membantu perusahaan mengidentifikasi peluang dan ancaman yang
ada di luar organisasi dan merumuskan strategi yang sesuai.
b) Analisis Internal
Aspek ini melibatkan evaluasi kekuatan dan kelemahan internal
perusahaan. Ini mencakup analisis sumber daya, kemampuan
dan keahlian karyawan, dan budaya organisasi. Dengan
memahami faktor-faktor internal ini, perusahaan dapat
mengoptimalkan sumber daya yang ada dan memperbaiki area yang
membutuhkan perhatian. Penetapan Tujuan: Aspek ini melibatkan
penentuan tujuan jangka panjang yang ingin dicapai oleh
perusahaan. Tujuan ini haruslah spesifik, terukur, dapat dicapai,
relevan, dan berbatasan waktu (SMART). Penetapan tujuan yang
jelas membantu memberikan arah bagi perusahaan dan menjadi
landasan bagi pengambilan keputusan strategis.
c) Pengembangan Strategi
Aspek ini melibatkan perumusan strategi yang mengarahkan
perusahaan mencapai tujuan jangka panjang. Strategi dapat
melibatkan penetapan pasar target, keunggulan bersaing, inovasi
produk, strategi pemasaran, dan lain sebagainya. Strategi harus
disesuaikan dengan kondisi pasar dan kekuatan perusahaan untuk
mencapai keberhasilan.
d) Implementasi Strategi
Aspek ini melibatkan pelaksanaan strategi yang telah dirumuskan.
Ini mencakup alokasi sumber daya, perencanaan taktis, pengaturan
struktur organisasi, pengembangan kebijakan, dan pengawasan.
Implementasi yang efektif memastikan bahwa strategi
dikomunikasikan dengan baik ke seluruh organisasi dan dijalankan
dengan konsistensi.
e) Pengukuran dan Evaluasi
Aspek ini melibatkan pemantauan dan evaluasi terhadap kinerja
strategi. Ini mencakup pengukuran kinerja, pemantauan indikator
kunci, dan analisis hasil strategi. Pengukuran dan evaluasi yang
teratur membantu perusahaan mengidentifikasi keberhasilan atau
kegagalan strategi dan melakukan koreksi jika diperlukan.
Fleksibilitas dan Adaptabilitas: Aspek ini mengakui pentingnya
fleksibilitas dalam manajemen strategi. Lingkungan bisnis yang
terus berubah membutuhkan kemampuan perusahaan untuk
beradaptasi dengan cepat. Oleh karena itu, perusahaan harus siap
untuk menyesuaikan strategi mereka jika diperlukan.

Manfaat Manajemen Strategi


Penetapan strategi tentunya akan membawa manfaat bagi suatu
organisasi. Strategi yang tepat akan mampu mencapai sasaran yang diinginkan
oleh suatu organisasi. Manajemen strategi membantu perusahaan dalam
menetapkan tujuan jangka panjang dan visi yang jelas. Ini memberikan arah
yang jelas bagi organisasi dan memastikan bahwa semua upaya dan keputusan
bisnis sejalan dengan tujuan jangka panjang perusahaan. Dalam manajemen
, analisis menyeluruh dilakukan untuk mengidentifikasi peluang dan
tantangan eksternal, serta kekuatan dan kelemahan internal perusahaan.
Informasi ini membantu manajemen dalam mengambil keputusan yang lebih
baik dan lebih informasional dalam pengembangan strategi bisnis.
Manajemen strategi membantu perusahaan dalam mengidentifikasi dan
memanfaatkan peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan
produktivitas. Dengan melakukan analisis menyeluruh terhadap proses bisnis
dan mengidentifikasi area perbaikan, perusahaan dapat mengoptimalkan
penggunaan sumber daya dan mencapai tingkat efisiensi yang lebih tinggi.
Melalui manajemen strategi yang efektif, perusahaan dapat mengembangkan
keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Ini melibatkan identifikasi faktor
yang membedakan perusahaan dari pesaing, pengembangan strategi pemasaran
yang unik, dan inovasi produk yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan
dengan lebih baik.
Manajemen strategi membantu perusahaan untuk beradaptasi dengan
perubahan lingkungan yang terus-menerus. Dengan memonitor perubahan tren
pasar, teknologi, regulasi, dan faktor-faktor eksternal lainnya, perusahaan dapat
mengubah strategi mereka secara proaktif untuk tetap relevan dan kompetitif.
Manajemen strategi melibatkan kolaborasi antara berbagai fungsi dan
departemen di dalam perusahaan. Ini membantu membangun pemahaman
bersama tentang tujuan jangka panjang perusahaan dan mendorong sinergi
antara departemen, sehingga meningkatkan koordinasi dan kohesi organisasi
secara keseluruhan.
Strategi juga memberikan kerangka kerja yang jelas bagi karyawan
dalam mengambil keputusan sehari-hari. Dengan memahami visi, tujuan, dan
strategi perusahaan, karyawan dapat membuat keputusan yang lebih tepat
sesuai dengan arah yang ditetapkan. Secara keseluruhan, manajemen strategi
membantu perusahaan dalam mengarahkan upaya mereka menuju tujuan
jangka panjang, meningkatkan efisiensi dan daya saing, serta menghadapi
perubahan lingkungan dengan lebih baik. Hal ini menjadi kunci keberhasilan
jangka panjang perusahaan di pasar yang kompetitif.

Pengertian Manajemen Strategi


Menurut Susanto (2014) manajemen strategik adalah suatu proses
untuk menentukan arah dan tujuan organisasi dalam jangka panjang beserta
pemilihan metode untuk mencapinya melalui pengembangan formulasi strategi
dan implementasi yang terencana secara sistematis. Istilah manajemen
strategik berasal dari dua kata yaitu “manajemen” dan “strategi”. Sedangkan
kata strategik adalah kata sifat dari kata strategi. Dalam pengertian perusahaan
(korporasi), manajemen merupakan individu atau sekelompok orang yang
bertanggung jawab menganalisis dan mencapai tujuan organisasi. Sebagai
kelompok fungsi, manajemen mencakup fungsi-fungsi perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), penerapan (actuating), dan
pengawasan (controlling).
Kata strategi diartiakan sebagai keputusan dan tindakan untuk
mencapai tujuan perusahaan pada setiap level organisasi. Kata sifat “startegik”
memiliki asosiasi dengan istilah “tingkat tinggi”, “berdampak besar”, dan
“bersifat jangka panjang”, ditambah lagi dengan suatu semangat untuk tidak
mau didekte oleh keadaan. Manajemen strategi dapat di definisikan sebagai
sebagai seni dan pengetahuan dalam merumuskan, mengimplementasikan,
serta mengevaluasi keputusan-keputusan lintas fungsional yang memampukan
sebuah organisasi mencapai tujuannya.
Sebagaimana disyaratkan oleh definisi ini, manajemen stategis
berfokus pada usaha untuk mengintegrasikan manajemen, pemasaran,
keuangan/akutansi, produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, serta
system informasi computer untuk mencapai keberhasilan organisasional.
Tujuan manajemen strategi adalah untuk mengeksploitasi serta menciptakan
berbagai peluang baru dan berbeda untuk esok.
Ada beberapa alasan yang menyebabkan manajemen strategik memiliki
peran yang penting yaitu;
a. Manajemen strategik membantu kita menangani ketidakpastian
melalui suatu pendekatan yang sistematis,
b. Manajemen strategik menyelaraskan tujuan antar unit dalam
organisasi,
c. Manajemen strategik membenahi peran setiap anggota organisasi,
d. Manajemen strategik melatih penerapan budaya dan
kepemimpinan, dan
e. Manajemen strategik menjadi sarana komunikasi jangka panjang
dan acuan bagi dewan direksi.
Manajemen strategik terdiri dari dua elemen, yaitu formulasi strategi
dan implementsai strategi. Dalam formulasi strategi, organisasi menentukan
visi dan misi, arah strategi, strategi, dan sasaran. Sedangkan dalam
implementasi strategi ditetapkan struktur, SDM, dan sistem organisasi yang
semua elemen ini harus ditopang oleh kepemimpinan dan budaya yang sesuai.
Dapat disimpulkan bahwa manajemen strategik melibatkan proses
perencanaan, pengarahan, pengorganisasian, dan pengendalian perusahaan
terkait dengan keputusan dan tindakan yang berhubungan dengan strategi

Fungsi Manajemen

Fungsi manajemen sangat berperan penting dalam proses manajemen
dan fungsi manajemen juga sebagai tolak ukur dalam melakukan tugas masingmasing yang telah diberikan oleh seorang manajer.Untuk mencapai sebuah
tujuan dari organisasi atau perusahaan manajer harus menerapkan fungsifungsi manajemen untuk mengoptimalkan kinerja karyawan. Daft berpendapat
bahwa manajemen memiliki empat fungsi yaitu, perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), kepemimpinan (leading), dan pengendalian
(contorling). fungsi manajemen dapat dibagi menjadi empat bagian sesuai
dengan yang di katakana Draft, yakni planning (perencanaan), organizing
(pengorganisasian), leading (kepemimpinan), dan controlling (pengawasan)

  1. Planning (perencanaan)
    Planning (perencanaan) ialah menetapkan pekerjaan yang harus
    dilaksanakan oleh kelompok untuk mencapai tujuan yang
    digariskan.Planning mencakup kegiatan pengambilan keputusan,
    karena termasuk dalam pemilihan alternatif-alternatif keputusan.
    Diperlukan kemampuan untuk mengadakan visualisasi dan melihat ke
    depan guna merumuskan suatu pola dari himpunan tindakan untuk
    masa mendatang. Proses perencanaan berisi empat tahap : Menentukan
    tujuan perencanaan, Menentukan tindakan untuk mencapai tujuan,
    Mengembangkan dasar pemikiran kondisi mendatang, cara untuk
    mencapai tujuan, dan mengimplementasi rencana tindakan dan
    mengevaluasi hasilnya. Ada dua alasan dasar perlunya perencanaan.
    Perencanaan dilakukan untuk mencapai : “protective benefits” artinya
    yang dihasilkan dari pengurangan kemungkinan terjadnya kesalahan
    dalam pembuatan keputusan, dan “positive benfits” artinya dalam
    bentuk meningkatnya sukses pencapaian tujuan organisasi. Suatu
    perencanaan yang baik harus menjawab enam pertanyaan yang
    tercakup dalam unsur-unsur perencanaan yaitu: tindakan apa yang
    harus dikerjakan, yaitu mengidentifikasi segala sesuatu yang akan
    dilakukan, apa sebabnya tindakan tersebut harus dilakukan, yaitu
    merumuskan faktor-faktor penyebab dalam melakukan tindakan,
    tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan tempat atau lokasi,
    kapan tindakan tersebut dilakukan, yaitu menentukan waktu
    pelaksanaan tindakan, siapa yang akan melakukan tindakan tersebut,
    menentukan pelaku yang akan melakukan tindakan, dan bagaimana
    cara melaksanakan Tindakan tersebut, yaitu menentukan metode
    pelaksanaan tindakan. Rencana-rencana dapat diklasifikasikanmenjadi
    5 dasar. Yaitu : Pertama, Bidang fungsional mencakup rencana
    produksi, pemasaran, keuangan, dan personalia. Kedua, Tingkatan
    Organisasional termasuk keseluruhan organisasi atau satuan- satuan
    kerja organisasi. Ketiga, Sifat rencaana meliputi faktor kompleksitas,
    fleksibilitas, keformalan, kerahasiaan, biaya, rasionalitas, kuantitatif,
    dan kualitatif. Keempat, Waktu menyangkut jangka pendek, jangka
    menengah dan jangka panjang. Kelima, Unsur-unsur perencanaan
    dalam wujud anggaran, program, prosedur, kebijaksanaan, dan
    sebagainya. Tipe-tipe perencanaan terinci sebagai berikut: perencanaan
    jangka panjang (Short Range Plans) mencakup berbagai rencana dari
    satu hari sampai satu tahun, perencanaan jangka menengah (inter
    mediate Range Plans) mempunyai rentangan waktu antara beberapa
    bulan sampai tiga tahun, dan rencana jangka panjang (long range plans)
    meliputi kegiatan-kegiatan selama dua sampai lima tahun.Prencanaan
    strategi, yaitu proses emilihan tujuan- tujuan organisasi seperti
    penentuan strategi, kebijaksanaan dan program-program strategik yang
    diperlukan untuk tujuan-tujuan tersebut dan penetapan metoda-metoda
    yang diperlukan untuk menjamin bahwa strategik dan kebijaksanaan
    telah diimplementasikan. Dasar-dasar perencanaan yang baik
    meliputi: forecasting,proses pembuatan asumsi-asumsi tentang apa
    akan terjadi pada masa yang akan datang, penggunaan skenario,
    meliputi penentuan beberapa alternatif skenario masa yang akan datang
    atau peristiwa yang mungkin terjadi, benchmarking, perbandingan
    eksternal untuk mengevaluasi secara lebih baik suatu arus kinerja dan
    menentukan kemungkinan tindakan yang dilakukan untuk masa yang
    akan datang. Perencanaan juga mempunyai beberapa kelemahan.
    Diantaranya pekerjaan yang tercakup dalam perencanaan mungkin
    berlebihan pada kontribusi nyata, perencanaan cenderung menunda
    kegiatan, perencanaan mungkin terlalu membatasi manajemen untuk
    berinisiatif dan berinovasi, kadang-kadang hasil yang paling baik
    didapatkan oleh penyelesaian situasi individual dan penanganan setiap
    masalah pada saat masalah tersebut terjadi, dan rencana-rencana yang
    diikuti cara-cara yang tidak konsisten. Perencanaan mempunyai 9
    manfabat penting.
  2. Organizing (Pengorganisasian)
    Berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat, yaitu
    proses pengelompokan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuantujuan dan penugasan setiap kelompok kepada seorang manajer.
    Pengorganisasian mempersatukan sumber-sumber daya pokok dengan
    cara yang teratur dan mengatur orang-orang dalam pola yang demikian
    rupa, hingga mereka dapat melaksanakan aktivitas-aktivitas guna
    mencapai tujuan-tujuan yang ditetapkan. Pengorganisasi adalah proses
    dan rangkaian kegiatan dalam pembagian pekerjaan yang direncanakan
    untuk diselesaikan oleh anggota kelompok pekerjaan, penentuan
    hubungan pekerjaan yang baik diantara mereka, serta pemeliharaan
    lingkungan dan fasilitas pekerjaan yang pantas. Strategi Organisasi
    untuk mencapai tujuannya yaitu menjelaskan bagaimana aliran
    wewenang dan saluran komunikasi dapat disusun di antara para
    manajer dan bawahan, teknologi yang digunakan , anggota (karyawan)
    dan orang-orang yang terlibat dalam organisasi, dan ukuran organisasi
    yaitu besarnya organisasi secara keseluruhan maupun satuan-satuan
    kerjanya akan sangat mempengaruhi struktur organisasi. Proses ini
    akan akan tercermin pada struktur organisasi, yang mencakup aspekaspek penting organisasi dan proses pengorganisasian yaitu pembagian
    kerja, departementalisasi (atau sering disebut dengan istilah
    departemntasi), bagan organisasi formal, rantai perintah dan kesatuan
    perintah, tingkat-tingkat hirarki manajemen, saluran komunikasi,
    penggunaan komite, rentang manajemen dan kelompok-kelompok
    informal yang tak dapat dihindarkan. Ada empat komponen dari
    organisasi yang dapat diingat dengan kata “WERE” (Work, Employees,
    Relationship dan Environment). Work (pekerjaan) adalah fungsi yang
    harus dilaksanakan berasal dari sasaran-sasaran yang telah ditetapkan.
    Employees (pegawai-pegawai) adalah setiap orang yang ditugaskan
    untuk melaksanakan bagian tertentu dari seluruh pekerjaan.
    Relationship (hubungan) merupakan hal penting di dalam organisasi.
    Environment (lingkungan) adalah komponen terakhir yang mencakup
    sarana fisik dan sasaran umum di dalam lingkungan dimana para
    pegawai melaksanakan tugas-tugas mereka, lokasi, mesin, alat tulis
    kantor, dan sikap mental yang merupakan faktor-faktor yang
    membentuk lingkungan. Adapun beberapa tujuan yang dijelaskan
    dibawah ini menurut T Hani Handoko adalah : Tujuan kemasyarakatan,
    Tujuan keluaran, Tujuan sistem, dan Tujuan Produk.
  3. Leading (kepemimpinan)
    Leading (kepemimpinan) adalah salah satu manfaat utama dalam
    manajemen. Kepemimpinan efektif membantu mengarahkan dan
    menginspirasi anggota tim. Seorang pemimpin yang baik dapat
    memberikan visi, tujuan, dan arahan yang jelas kepada timnya. Dengan
    memberikan panduan yang tepat, seorang pemimpin dapat membantu
    anggota tim mencapai kinerja yang lebih baik. Seorang pemimpin yang
    efektif dapat meningkatkan motivasi dan keterlibatan anggota tim.
    Melalui kepemimpinan yang inspiratif, pemimpin dapat membantu
    menciptakan lingkungan kerja yang positif dan mendorong anggota tim
    untuk memberikan yang terbaik. Hal ini dapat menghasilkan
    peningkatan produktivitas dan kepuasan kerja. Kepemimpinan yang
    baik memfasilitasi komunikasi yang efektif dan kolaborasi di antara
    anggota tim. Seorang pemimpin dapat menciptakan budaya kerja yang
    terbuka, di mana anggota tim merasa nyaman untuk berbagi ide,
    masukan, dan pendapat mereka. Ini dapat meningkatkan kerjasama tim
    dan menghasilkan solusi yang lebih baik. Seorang pemimpin dapat
    membantu mengembangkan keterampilan dan potensi individu anggota
    tim. Dengan memberikan arahan, pelatihan, dan pembinaan yang tepat,
    seorang pemimpin dapat membantu anggota tim mencapai
    pertumbuhan dan pengembangan pribadi mereka. Ini dapat
    meningkatkan kinerja individu dan juga memperkuat tim secara
    keseluruhan.
  4. Controlling (Pengawasan)
    Pengawasan adalah suatu kegiatan untuk mencocokkan apakah
    kegiatan operasional (actuating) di lapangan sesuai dengan rencana
    (planning) yang telah ditetapkan dalam mencapai tujuan (goal) dari
    organisasi, Dengan demikian yang menjadi obyek dari kegiatan
    pengawasan adalah mengenai kesalahan, penyimpangan, cacat dan halhal yang bersifat negatif. Sebutan controlling lebih banyak digunakan
    karena lebih mengandung konotasi yang mencakup penetapan standar,
    pengukuran kegiatan, dan pengambilan tindakan korektif. Proses
    pengawaan biasanya terdiri paling sedikit lima tahap (langkah). Tahaptahap pengawasan ini terdiri dari ; Penetapan standar pelaksana,
    Penentuan pengukuran kegiatan, Pengukuran pelaksana kegiatan nyata,
    Pembandingan pelaksana kegiatan dengan standar dan penganalisaan
    penyimpangan-penyimpangan, dan yang terakhir Pengambilan
    tindakan koreksi bila perlu. Untuk mengantisipasi masalah-masalah
    dan penyimpangan dari standar tujuan dan memungkinkan koreksi
    sebelum suatu kegiatan tertentu diselesaikan. Merupakan proses dalam
    aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu, atau syarat
    tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan bisa
    dilanjutkan, atau menjadi semacam peralatan “double check” yang
    lebih menjamin ketepatan pelaksanaan suatu kegiatan

Pengertian Manajemen


Kata Manajemen berasal dari bahasa Perancis kuno ménagement, yang
memiliki arti “seni melaksanakan dan mengatur.” Sedangkan dalam bahasa
Inggris manajemen berasal dari kata kerja “to manage” yang dalam bahasa
Indonesia dapat berarti mengurus, mengemudikan, mengelola, menjalankan,
membina, dan memimpin. Sama halnya dengan administrasi, kata manajemen
juga berasal dari bahasa Latin, yaitu dari asal kata mantis yang berarti tangan
dan agree yang berarti melakukan. Kata –kata itu digabung menjadi kata kerja
manager yang artinya menangani.
Mernurut Susanto (2014) manajemen strategik adalah suatu proses
untuk menentukan arah dan tujuan organisasi dalam jangkja Panjang beserta
metode untuk mencapainya melalui pengembangan formulasi strategi dan
implementasi yang terencana secara sistematis. menurut Gulati, Mayo, &
Nohria (2017) manajemen adalah Tindakan bekerja dengan dan melalui
sekelompok orang untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan dengan
cara yang efisien dan efektif. (John Bratton, 2017) sedangkan Menurut Griffin
(2013) Manajemen adalah seperangkat kegiatan (termasuk perencanaan dan
pengambilan keputusan, pengorganisasian, memimpin, dan mengendalikan)
diarahkan pada sumber daya organisasi (manusia, keuangan, fisik, dan
informasi), dengan tujuan untuk mencapai tujuan organisasi dengan cara yang
efisien dan efektif.
Terdapat tiga fokus untuk mengartikan manajemen yaitu:

  1. Manajemen sebagai suatu kemampuan atau keahlian yang
    selanjutnya menjadi cikal bakal manajemen sebagai suatu profesi.
  2. Manajemen sebagai suatu ilmu menekankan perhatian pada
    keterampilan dan kemampuan manajerial yang diklasifikasikan
    menjadi kemampuan /keterampilan teknikal, manusiawi dan
    konseptual.
  3. Manajemen sebagai proses yaitu dengan menentukan langkah yang
    sistematis dan terpadu sebagai aktivitas manajemen.
  4. .Manajemen sebagai seni tercermin dari perbedaan gaya (style)
    seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain
    untuk mencapai tujuan

Manfaat Administrasi Bisnis


Belajar ilmu administrasi baik hanya sekadar ilmu dasar maupun ilmu
tingkat ahli (spesialis), adalah sesuatu yang penting dan harus dimiliki oleh
setiap orang yang ingin berkecimpung dalam dunia sosial-politik dan
organisasi di dalam masyarakat. Pentingnya ilmu administrasi dikarenakan
pada setiap organisasi (wadah administrasi), sangat diperlukan keahlian
administrasi untuk mengelola dan mengatur perencanaan dan kegiatan
kerjasama antar anggota organisasi, agar tujuan dari organisasi tersebut dapat
berjalan lurus dan sebagaimana mestinya. Tanpa adanya ilmu administrasi,
suatu organisasi tidak akan berjalan baik dikarenakan tidak adanya pengelolaan
dan kerjasama yang baik, sehingga dampaknya adalah tidak berjalannya tujuan
organisasi, yang akan berakhir pada kehancuran organisasi tersebut (bubar).

Tujuan Ilmu Administrasi Bisnis


Secara umum administrasi bisnis disusun dan dibuat untuk
mewujudkan berbagai tujuan tersebut adalah :

  1. Untuk menciptakan arah pekerjaan tertata sesuai dengan visi dan misi
    manajemen perusahaan.
  2. Untuk membangun pengawasan dan bisa menghindari dari kesalahan
    yang mungkin timbul selama pekerjaan dilakukan.
  3. Menumbuhkan kepercayaan kepada para stakeholders terhadap kinerja
    perusahaan baik secara jangka pendek dan jangka panjang.
    Setiap manusia mempunyai kebutuhan yang beraneka ragam dan
    kebutuhan itu harus dipenuhi, yaitu kebutuhan akan makan, pakaian, dan
    perumahan, dalam istilah populernya kebutuhan sandang, pangan, papan.
    Semua kebutuhan itu dipenuhi melalui kegiatan bisnis. Gelar dalam
    administrasi bisnis dapat membantu mengembangkan keterampilan
    kepemimpinan. Mungkin menguasai teori dan konstruksi bisnis, dan secara
    alami atau mungkin memiliki jiwa kewirausahaan. Tetapi bisnis adalah bidang
    yang kompetitif, dan banyak orang memiliki hal-hal itu. Program administrasi
    bisnis dapat membantu mengembangkan keterampilan ini.
    Seseorang yang mempelajari Ilmu Administrasi Bisnis tidak hanya
    mempelajari dasar-dasar bisnis termasuk keuangan, operasi, sumber daya
    manusia, pemasaran, dan manajemen, tetapi juga belajar bagaimana memimpin
    dan memotivasi orang, berkomunikasi secara efektif, dan berpikir kritis.
    Sehingga akan mempelajari cara membuat keputusan bisnis yang tepat,
    memecahkan masalah dan memecahkan masalah, dan memiliki banyak akal,
    yang semuanya penting dalam dunia bisnis saat ini.

Definisi Ilmu Administrasi Bisnis


Administrasi bisnis adalah kegiatan–kegiatan/proses/usaha yang
dilakukan dibidang bisnis dalam usahanya mencapai tujuan yaitu mencari
keuntungan (Handayaningrat, 2013) Sedangkan Siagian mengemukakan
bahwa administrasi bisnis adalah keseluruhan kegiatan mulai dari produksi
barang atau jasa sampai tibanya barang dan jasa tersebut di tangan konsumen
(Siagian, 2010). Supriyanto berpendapat bahwa admisnistrasi niaga atau yang
sekarang menjadi popular dengan sebutan administrasi bisnis, adalah bagian
dari ilmu-ilmu sosial yang mempelajari proses kerja sama antara dua orang
atau lebih dalam upaya mencapai suatu tujuan yang merupakan ilmu yang
berfokus pada prilaku manusia (Supriyanto, 2016) Sebagai ilmu, administrasi
mempunyai objek, subjek, dan metode.
Objek dari ilmu administrasi adalah orang-orang dengan prilakunya,
subjek yang dipelajari adalah bentuk atau serta mekanisme kerjasama,
sedangkan metode merupakan cara atau pemikiran yang dikembangkan untuk
mencapai tujuan dari kerja sama tersebut. Tugas utama dari setiap petugas
administrasi adalah untuk mengelola dokumen dan tugas personil yang
diperlukan untuk memastikan bahwa bisnis sehari-hari berjalan lancar. Ini
macam profesional biasanya agak tinggi dan biasanya memiliki tanggung
jawab kepemimpinan di samping meja kerja mereka. Sebagian besar
perusahaan dan lembaga pemerintah mempekerjakan semacam ini orangorang untuk membantu memastikan bahwa operasi internal dan fungsi bisnis
yang terjadi dengan cara yang seharusnya.
Dalam hampir setiap konteks, pekerjaan melibatkan empat fungsi
utama yaitu komunikasi, koordinasi, tugastugas administrasi sehari-hari,
dan perencanaan jangka panjang. Menurut Griffin administrasi dapat
dirumuskan sebagai kelompok kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu
(Gafin, 2011). Administrasi bisnismerupakan studi tentangbisnis yang
meliputi kemampuan analisa, pengambilan keputusan dan pemecahan
masalah, kemampuan komunikasi antar individu, pengembangan strategi
bisnis, kepemimpinan dan manajemen
sumberdaya serta informasi.
Tujuan utamanya adalah menghasilkan keuntungan bagi organisasi
(perusahaan), administrasi bisnis adalah proses pengelolaan perusahaan atau
organisasi nirlaba guna menjaga kestabilan dan pertumbuhan organisasi.
Cakupan bidang utama administrasi bisnis meliputi operasi, logistik,
pemasaran, sumber daya manusia, dan manajemen.

Memvisualisasikan Strategi


Dalam beberapa penelitian yang melibatkan strategi blue ocean ditemukan
bahwa dengan menggambar kanvas strategi tidak hanya memvisualkan posisi
strategis terkini sebuah perusahaan dalam ruang pasar, tapi juga membantu
memetakan strategi di masa depan. Dengan membangun proses perencanaan
strategis di sekitar kanvas strategi, suatu perusahaan dan para manajernya
memfokuskan perhatian utama mereka pada gambaran besar dan bukan tenggelam
dalam angka-angka serta terperangkap dalam detail operasional. Norretranders
dikutip Kim dan Mauborgne (2005) mengatakan bahwa ada perbedaan dalam
gelombang perseptual (bit/detik) dari berbagai indra. Hasilnya penglihatan lebih
tinggi yaitu 10.000.000 bit/detik.
Akan tetapi dalam menggambarkan kanvas strategi tidak akan pernah
mudah, faktor-faktor utama yang ada dalam kompetisi kadang kala dibuat dengan
beberapa kali pengulangan. Menilai penawaran dari berbagai faktor kompetitif
dari perusahaan dan pesaing juga sulit.

Kerangka Kerja Enam Jalan


Kim dan Mauborgne (2005) mengatakan prinsip pertama yang harus
dipahami dan dilakukan adalah merekonstruksi batasan-batasan pasar pada
industri untuk menjauh dari kompetisi dan menciptakan samudera biru itu. Ada
enam pendekatan dasar untuk membentuk ulang batasan-batasan pasar yang
disebut kerangka kerja enam jalan. Enam jalan ini menentang enam asumsi pokok
yang mendasari strategi di banyak perusahaan. Enam asumsi dasar ini, yang
begitu saja dijadikan landasan oleh sebagian besar perusahaan dalam membangun
strategi mereka, membuat perusahaan harus terperangkap untuk berkompetisi
dalam samudera merah, antara lain :
1) Mendefinisikan industri mereka secara serupa dan fokus untuk menjadi
yang terbaik dalam definisi itu.
2) Melihat industri mereka melalui lensa kelompok-kelompok strategis yang
sudah diterima secara umum (seperti mobil mewah, mobil ekonomis, dan
kendaraan keluarga), dan berusaha untuk menonjol dalam kelompok
strategis tempat mereka bermain.
3) Berfokus pada kelompok pembeli yang sama, baik itu pembeli
langsung/purchaser (sebagaimana dalam industry pakaian), maupun
pemberi pengaruh/influencer (sebagaimana dalam industri farmasi).
4) Mendefinisikan secara sama cakupan dari produk dan jasa yang
ditawarkan oleh industri mereka.
5) Menerima begitu saja orientasi fungsional atau emosional dari industri
mereka.
6) Berfokus pada titik yang sama pada waktu yang sama, dan sering kali pada
ancaman-ancaman persaingan terkini yang sama dalam merumuskan
strategi.

Kanvas Strategi dan Kerangka Kerja Empat Langkah


Untuk dapat menciptakan sebuah strategi samudera biru, maka diperlukan
sebuah alat analisis dan kerangka kerja sehingga pembuat keputusan dapat
dituntun dengan langkah yang benar. W.Chan Kim dan Renee Mauborgne (2005)
kemudian membuat sebuah alat analisis yaitu kanvas strategi yang merupakan
sebuah kerangka aksi sekaligus alat diagnosis strategi perusahaan dalam suatu
industri.
Hasil dari kanvas strategi kemudian dipakai untuk merumuskan “The Four
Actions Framework” dimana hasil dari kerangka kerja tersebut
menghasilkan pertanyaan sebagai berikut :

  1. Faktor apa saja yang harus dihapuskan dari faktor-faktor yang selama ini
    diterima begitu saja oleh industri?
  2. Faktor apa saja yang harus dikurangi hingga di bawah standar industri?
  3. Faktor apa saja yang harus ditingkatkan hingga di atas standar industri?
  4. Faktor apa saja yang belum pernah ditawarkan industri sehingga harus
    diciptakan?

Menciptakan Samudera Biru


Kim dan Mauborgne (2005) mengatakan bahwa langkah awal pada strategi
blue ocean adalah menciptakan blue ocean itu sendiri dan menerapkan
aplikasinya dalam kerangka kerja dan sebagai alat analisis. Perusahaan yang
terperangkap dalam samudera merah kebanyakan mengikuti pendekatan
konvesional, yakni berlomba-lomba memenangi kompetisi dengan membangun
posisi kokoh dalam tatanan industri yang ada. Kreator dari samudera
biru, mengikuti logika strategis yang berbeda dimana Kim dan Mauborgne
menyebut hal ini sebagai inovasi nilai.

Definisi strategi


Dalam buku Manajemen Strategik-Pengetahuan yang dikutip oleh
Kusumadmo (2013), kata strategi secara etimologis berasal dari kata Strategos
dalam bahasa yunani yang terbentuk dari kata stratos atau tentara dan kata ego
atau pemimpin. Dalam Oxford Learner’s Pocket Dictionaries (2010), Strategy
(noun) : a plan of action designed to achieve a long-term or overall aim. Jika
diartikan kedalam bahasa Indonesia berarti rencana aksi yang dirancang untuk
mencapai jangka panjang atau tujuan secara keseluruhan.
Menurut buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun 2007,
Strategi: (1) ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa
untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu di perang dan perdamaian; (2) ilmu
dan seni memimpin bala tentara untuk menghadapi musuh dalam perang, untuk
mendapatkan kondisi yang menguntungkan; (3) rencana yang cermat mengenai
kegiatan untuk mencapai sasaran khusus; (4) tempat yang baik menurut siasat
perang.

Pengaruh Organizational Commitment terhadap Kinerja Karyawan


Organizational commitment yang tinggi akan mendorong karyawan
untuk merasa memiliki dan terlibat secara emosional dalam organisasi,
yang memotivasi mereka untuk berupaya sebaik mungkin dalam
menjalankan tugas. Pada penelitian yang dilakukan oleh Setyorini et al.
(2021), Tampi et al. (2023), Andriani et al. (2023) & Rista et al. (2023)
mendapati bahwa organizational commitment berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja karyawan

Pengaruh Leader Member Exchange (LMX) terhadap OrganizationalCommitment


Leader Member Exchange (LMX) yang berkualitas tinggi
membangun hubungan saling percaya dan dukungan yang kuat antara
pemimpin dan anggota tim. Ketika karyawan merasakan dukungan dari
pemimpin, mereka merasa dihargai dan lebih terikat dengan organisasi.
Hubungan yang baik ini tidak hanya menumbuhkan rasa memiliki, tetapi
juga meningkatkan loyalitas karyawan terhadap organisasi. Pada
penelitian yang dilakukan oleh Kamila & Arwiyah (2019), Mizwar (2024),
Helmy (2021) & Wicaksono & Priyono (2022) menyatakan bahwa Leader
Member Exchange (LMX) berpengaruh signifikan terhadap
organizational commitment

Pengaruh Leader Member Exchange (LMX) terhadap Kinerja Karyawan


Leader Member Exchange (LMX) yang berkualitas tinggi akan
menciptakan hubungan timbal balik yang baik antara pemimpin dan
karyawan, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan dan dukungan
di tempat kerja. Hubungan yang harmonis ini memotivasi karyawan untuk
berkontribusi lebih maksimal, sehingga meningkatkan kinerja mereka.
Pada penelitian yang dilakukan oleh Kharimah & Frianto (2019); Justina
et al. (2019); Sari & Kistyanto (2020); Shanty et al. (2022) mendapati
bahwa Leader Member Exchange (LMX) berpengaruh signifikan terhadap
kinerja karyawan

Indikator Organizational Commitment


Menurut Luthans (2011) organizational commitment dapat diukur
dengan:
1) Keinginan Kuat untuk Tetap Menjadi Anggota Organisasi
Karyawan dengan komitmen yang tinggi memiliki keinginan
kuat untuk tetap bertahan dan menjadi bagian dari organisasi dalam
jangka panjang. Mereka merasa bahwa organisasi tersebut adalah
tempat yang tepat untuk berkembang dan berkontribusi, bahkan jika
ada kesempatan lain di luar. Karyawan merasa senang menjadi bagian
dari organisasi tersebut, yang mengarah pada keterikatan emosional
terhadap organisasi.
2) Kesediaan untuk Mengerahkan Usaha yang Tinggi untuk Organisasi
Karyawan yang berkomitmen siap untuk memberikan usaha
lebih dari yang diharapkan demi keberhasilan organisasi. Mereka
tidak hanya bekerja untuk memenuhi tuntutan pekerjaan, tetapi juga
rela meluangkan waktu dan energi ekstra untuk mencapai tujuan
organisasi. Dedikasi dan tanggung jawab mereka terhadap kemajuan
organisasi terlihat dalam upaya lebih yang mereka berikan, meskipun
itu melampaui kewajiban mereka yang sudah ditentukan.
3) Keyakinan dan Penerimaan terhadap Nilai dan Tujuan Organisasi
Karyawan dengan komitmen tinggi merasa bahwa nilai-nilai
dan tujuan organisasi sejalan dengan prinsip pribadi mereka. Mereka
percaya pada visi organisasi dan merasa bahwa keberhasilan
organisasi adalah hal yang penting, baik untuk mereka pribadi maupun
untuk masa depan bersama. Kepercayaan dan penerimaan terhadap
nilai-nilai ini memperkuat ikatan karyawan dengan organisasi,
menciptakan rasa memiliki yang kuat terhadap tujuan bersama yang
ingin dicapa

Faktor yang Mempengaruhi Organizational Commitment
Wahyudi & Salam (2020) menyatakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi organizational commitment adalah:
1) Faktor latar belakang, komitmen organisasi adalah sikap dan perilaku,
keduanya melekat pada diri setiap karyawan dan dipengaruhi oleh masa
lalunya, dintaranya:
a) Keluarga
Keluarga adalah pondasi awal bagi setiap tindak-tanduk
seorang karyawan. Sejak dini orang tua mengajarkan kebaikan dan
memberikan pendidikan sehingga komitmen yang dibangun dari
keluarga akan tertanam sepanjang hayat, karena terdapat kasih
saying dan harapan kedua orang tua.
b) Pendidikan
Pendidikan mencerminkan cara berpikir pegawai. Hal ini
menjadi dasar dalam bersikap dan berperilaku dalam bekerja yang
kemudian dijadikan acuan organisasi dalam mencari karyawan
baru.
c) Lingkungan
Lingkungan berperan sebagai wadah belajar sekaligus
mempraktikan apa yang dilihat dan didengar. Tidak terkecuali
lingkungan organisasi, seberapa peduli organisasi terhadap
keadaan pegawai menjadi dasar bagi karyawan dalam bersikap
baik dengan rekan kerja dan pemimpin.
2) Faktor individu, setiap karyawan memiliki karakternya masing-masing.
Oleh karenanya besar atau kecilnya komitmen dipengaruhi oleh
kepribadiannya sendiri, yakni:
a) Kemauan atau tekad
Kemauan atau tekad merupakan seberapa besar individu
memiliki niat, keinginan dan kesadaran dalam berorganisasi dapat
berpengaruh dalam komitmen.
b) Daya tanggap
Daya tanggap meruapakan seberapa besar kekuatan individu
dalam menerima, belajar, dan mencoba banyak hal dapat
berpengaruh dalam komitmen.
3) Faktor organisasi, komitmen seorang karyawan akan berbeda jika
organisasi melibatkan diri, diantaranya:
a) Motivasi
Motivasi karyawan dalam bekerja akan meningkat jika
organisasi memberikan dukungan moral, kebijakan, materil, sosial,
sistem, teknologi, dan manajemen yang berpengaruh dalam besar
atau kecilnya komitmen karyawan dalam berorganisasi.
b) Kepemimpinan
Pemimpin dalam berorganisasi adalah penguasa yang
memiliki wewenang luas dan tanggung jawab yang tinggi.
Kekuatan pemimpin dalam berkomunikasi dapat menginspirasi
karyawan untuk bekerja penuh semangat, optimis, dan ikhlas.
c) Budaya organisasi
Budaya atau kebiasaan yang sudah berlaku ditengah-tengah
organisasi berpengaruh terhadap komitmen. Budaya adalah nilai-
nilai sosial dan organisasi yang diterima secara alami atas
kehendak sendiri yang kemudian melekat pada sikap dan perilaku
dalam bekerja

Pengertian Organizational Commitment


Menurut Luthans (2011) organizational commitment mencerminkan
loyalitas karyawan terhadap organisasi serta merupakan proses
berkelanjutan di mana individu dalam organisasi mengekspresikan
kepedulian mereka terhadap kelangsungan dan kesejahteraan organisasi.
Sedangkan menurut Robbins & Judge (2012) organizational commitment
merupakan sejauh mana seorang karyawan mengidentifikasi diri dengan
organisasi tertentu dan tujuannya serta ingin mempertahankan
keanggotaan di organisasi tersebut.
Berdasarkan definisi tersebut, organizational commitment dapat
dipahami sebagai tingkat keterikatan karyawan terhadap organisasi, yang
mencakup identifikasi diri dengan visi dan nilai perusahaan, kesediaan
untuk berkontribusi, serta keinginan untuk tetap menjadi bagian dari
organisasi. Komitmen ini berperan penting dalam membentuk loyalitas
karyawan dan memengaruhi stabilitas tenaga kerja dalam suatu
perusahaan

Indikator Leader Member Exchange (LMX)


Menurut Liden & Maslyn (1998) Leader Member Exchange
(LMX) dapat diukur dengan:
1) Affect
Perasaan saling menyukai antara atasan dan bawahan, yang lebih
didasarkan pada kedekatan pribadi dan bukan hanya hubungan
profesional. Hal ini bisa terlihat dalam hubungan yang membangun
kepuasan pribadi, seperti persahabatan.
2) Loyalty
Dukungan yang konsisten dan terbuka diberikan oleh atasan
maupun bawahan yang mencerminkan kesetiaan terhadap tujuan dan
karakter masing-masing. Hal ini tetap terjaga meskipun dalam situasi
yang sulit atau penuh tantangan.
3) Contribution
Seberapa besar usaha yang diberikan oleh atasan dan bawahan
untuk mencapai tujuan bersama. Ini mencakup sejauh mana bawahan
berinisiatif dan menyelesaikan tugas yang lebih dari kewajibannya,
serta sejauh mana atasan mendukung dan memberikan kesempatan
untuk hal tersebut.
4) Professional Respect
Sejauh mana atasan dan bawahan menghargai kemampuan dan
reputasinya. Rasa hormat ini bisa muncul dari berbagai hal, seperti
pengalaman pribadi yang menunjukkan atau mengakui keahlian orang
tersebut, komentar positif dari orang lain tentang kompetensinya, atau
penghargaan yang diterima oleh orang itu atas kinerjanya

Pengertian Leader Member Exchange (LMX)


Menurut Robbins & Judge (2013) Leader Member Exchange (LMX)
adalah sebuah teori yang mendukung pembentukan ingroup dan outgroup
oleh pemimpin, bawahan dengan status ingroup memiliki kinerja yang
lebih tinggi, tingkat turnover yang lebih rendah, dan kepuasan kerja yang
lebih besar. Anggota ingroup adalah pengikut yang menerima perhatian
lebih, kepercayaan, dan hak istimewa dari pemimpin, sering kali karena
adanya kesamaan demografis, sikap, dan kepribadian dengan pemimpin.
Sebaliknya, anggota outgroup adalah pengikut yang tidak memiliki
kedekatan dengan pemimpin dan tidak mendapatkan manfaat yang sama.
Menurut Luthans (2011), Leader Member Exchange (LMX)
merupakan teori kepemimpinan yang menekankan hubungan dyadik
antara pemimpin dan bawahan, di mana pemimpin memperlakukan setiap
bawahan secara berbeda berdasarkan kualitas hubungan yang terbentuk.
Hubungan dyadik mengacu pada interaksi langsung antara dua individu
yang saling memengaruhi. Pemimpin membentuk ingroup dan outgroup
berdasarkan kualitas hubungan dengan bawahan. Ingroup terdiri dari
bawahan dengan hubungan berkualitas tinggi, yang mendapatkan lebih
banyak kepercayaan dan perhatian dari pemimpin. Outgroup terdiri dari
bawahan dengan hubungan berkualitas rendah, yang diperlakukan lebih
formal dan transaksional

Indikator Kinerja


Menurut Robbins (2006) indikator untuk mengukur kinerja
karyawan yaitu:
1) Kualitas
Kualitas kerja karyawan dapat dilihat dari bagaimana mereka
memandang hasil pekerjaan yang telah diselesaikan, serta sejauh mana
tugas yang dilakukan sesuai dengan keterampilan dan kemampuan
mereka.
2) Kuantitas
Kuantitas merujuk pada jumlah output yang dihasilkan, yang
dinyatakan dalam bentuk jumlah unit atau siklus aktivitas yang berhasil
diselesaikan.
3) Ketepatan Waktu
Ketepatan waktu mengacu pada sejauh mana suatu aktivitas
diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditentukan, dengan
mempertimbangkan koordinasi hasil output serta pemanfaatan waktu
secara optimal untuk menyelesaikan aktivitas lain.
4) Kemandirian
Kemandirian mengacu pada kemampuan seseorang untuk
melaksanakan tugas kerjanya secara mandiri tanpa memerlukan
bantuan, arahan, atau pengawasan dari pihak lain

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Menurut Kasmir (2019) faktor yang mempengaruhi kinerja yaitu
sebagai berikut:
1) Kemampuan dan keahlian
Merupakan skill yang dimiliki seseorang dalam melakukan
suatu pekerjaan. Semakin memiliki kemampuan dan keahlian maka
akan dapat menyelesaikan pekerjaannya secara benar, sesuai dengan
yang telah ditetapkan.
2) Pengetahuan
Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang pekerjaan secara
baik akan memberikan hasil pekerjaan yang baik, demikian pula
sebaliknya.
3) Rancangan kerja
Jika suatu pekerjaan memiliki rancangan yang baik, maka akan
memudahkan untuk menjalankannya secara tepat dan benar.
Sebaliknya jika suatu pekerjaan tidak memiliki rancangan maka akan
sulit untuk menyelesaikan pekerjaannya secara tepat dan benar.
Rancangan pekerjaan diciptakan untuk memudahkan karyawan dalam
menyelesaikan pekerjaannya.
4) Kepribadian
Seseorang yang memiliki kepribadian baik, akan dapat
melakukan pekerjaan secara sungguh-sungguh penuh tanggung jawab
sehingga hasil pekerjaan juga baik.
5) Motivasi kerja
Motivasi merupakan dorongan bagi seseorang untuk melakukan
pekerjaan. Jika karyawan memiliki dorongan yang kuat dari dalam
dirinya atau dorongan dari luar dirinya, maka karyawan akan
terangsang untuk melakukan sesuatu dengan baik.
6) Kepemimpinan
Perilaku pemimpin yang menyenangkan, mengayomi, mendidik
dan membimbing tentu akan membuat karyawan senang dengan
mengikuti apa yang diperintahkan oleh atasannya.
7) Gaya kepemimpinan
Gaya kepemimpinan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi
organisasinya. Hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja karyawan.
Misalnya untuk organisasi tertentu dibutuhkan gaya otoriter atau
demokratis dengan alasan tertentu.
8) Budaya organisasi
Kepatuhan anggota organisasi untuk mengikuti kebiasaan atau
norma yang ada pada organisasi akan mempengaruhi kinerja
seseorang.
9) Kepuasan kerja
Merupakan perasaan senang atau gembira, atau perasaan suka
seseorang sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan. Jika karyawan
merasa senang untuk bekerja, maka hasil pekerjaannya pun akan
berhasil baik.
10) Lingkungan kerja
Jika lingkungan kerja dapat membuat suasana nyaman dan
memberikan ketenangan maka akan membuat suasana kerja menjadi
kondusif, sehingga dapat meningkatkan hasil kerja seseorang menjadi
lebih baik karena bekerja tanpa gangguan.
11) Loyalitas
Karyawan yang setia atau loyal tentunya akan dapat
mempertahankan ritme kerja, tanpa gangguan oleh godaan dari pihak
pesaing. Loyalitas akan terus membangun agar terus bekerja menjadi
lebih baik dengan merasa bahwa perusahaan seperti miliknya sendiri.
Pada akhirnya loyalitas akan mempengaruhi kinerja karyawan.
12) Komitmen
Merupakan kepatuhan karyawan untuk menjalankan kebijakan
atau peraturan perusahaan dalam bekerja, atau dengan kata lain
komitmen adalah kepatuhan untuk menjalankan kesepakatan yang
telah dibuat. Dengan mematuhi kesepakatan tersebut membuatnya
berusaha untuk bekerja dengan baik dan merasa bersalah jika tidak
dapat memenuhi janji atau kesepakatan yang telah dibuat. Pada
akhirnya hal ini akan mempengaruhi kinerja.
13) Disiplin kerja
Merupakan usaha karyawan untuk menjalankan tugasnya secara
sungguh – sungguh, misalnya masuk kerja selalu tepat waktu

Manfaat Penilaian Kinerja


Penilaian kinerja merupakan suatu sistem formal yang digunakan
untuk meninjau dan mengevaluasi performa individu atau tim dalam
melaksanakan tugasnya (4). Menurut Silaen et al. (2021) manfaat dari
penilaian kinerja yaitu:
1) Perbaikan Kinerja
Penilaian kinerja berfungsi sebagai umpan balik bagi karyawan,
pimpinan, dan departemen sumber daya manusia untuk membantu
meningkatkan performa kerja.
2) Penyesuaian Kompensasi
Hasil evaluasi kinerja dapat menjadi acuan dalam menentukan
kenaikan gaji, pemberian bonus, serta berbagai bentuk kompensasi
lainnya bagi karyawan.
3) Keputusan Penempatan
Penilaian kinerja dapat dijadikan dasar dalam mengambil
keputusan terkait promosi, mutasi, atau penurunan jabatan sesuai
dengan hasil evaluasi kinerja karyawan.
4) Mengetahui Kebutuhan Pelatihan dan Pengembangan
Kinerja yang kurang optimal menunjukkan bahwa karyawan
memerlukan pelatihan dan pengembangan diri agar dapat
meningkatkan keterampilannya.
5) Program Pengembangan Karir
Umpan balik dari hasil penilaian kinerja dapat membantu dalam
menentukan arah dan pengembangan karir karyawan di perusahaan.
6) Mengetahui Penyimpangan Proses Staffing
Kinerja karyawan mencerminkan efektivitas proses perekrutan
dalam organisasi, baik dalam pemilihan kandidat yang sesuai maupun
identifikasi kelemahan dalam sistem perekrutan.
7) Mengetahui Ketidakakuratan Informasi
Penilaian kinerja yang buruk dapat menunjukkan adanya
ketidaktepatan dalam informasi terkait perencanaan sumber daya
manusia, analisis pekerjaan, atau sistem manajemen SDM lainnya.
8) Perbaikan Rancangan Pekerjaan
Jika banyak karyawan menunjukkan kinerja yang kurang baik,
hal ini bisa menjadi indikasi bahwa rancangan pekerjaan di
perusahaan perlu diperbaiki.
9) Kesempatan Kerja yang Sama
Penilaian kinerja yang dilakukan secara objektif memungkinkan
keputusan penempatan internal dilakukan secara adil tanpa adanya
diskriminasi.
10) Mengetahui Tantangan Eksternal
Faktor di luar lingkungan kerja, seperti kondisi kesehatan dan
keuangan karyawan, dapat memengaruhi hasil penilaian kinerja

Pengertian Kinerja


Menurut Silaen et al. (2021) kinerja karyawan merupakan
pencapaian hasil kerja individu dalam menjalankan tugas yang diberikan
guna mencapai target yang ditetapkan. Faktor ini menjadi salah satu
elemen kunci dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam
meraih tujuannya. Agar kinerja karyawan dapat meningkat, diperlukan
pengelolaan yang efektif, sehingga institusi dapat mendorong berbagai
upaya untuk meningkatkan produktivitas kerja.
Menurut Robbins & Judge (2013) kinerja karyawan adalah hasil
kerja yang dicapai dalam menjalankan tugas. Kinerja tidak hanya diukur
dari seberapa baik seseorang menyelesaikan tugas, tetapi juga dari
kontribusi tambahan yang mendukung lingkungan kerja dan sejauh mana
karyawan menghindari perilaku negatif yang dapat merugikan organisasi.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja karyawan
merupakan pencapaian hasil kerja individu dalam menjalankan tugas yang
diberikan, yang berkontribusi pada keberhasilan organisasi dalam
mencapai tujuannya. Kinerja tidak hanya mencakup penyelesaian tugas
utama, tetapi juga perilaku yang mendukung lingkungan kerja serta upaya
menghindari tindakan yang merugikan organisasi. Untuk meningkatkan
kinerja, diperlukan pengelolaan yang efektif agar produktivitas karyawan
dapat terus berkembang

Hubungan Antara Leader Member Exchange (LMX) Dengan KinerjaKaryawan


Penelitian menurut Fiedier dalam Robbins, (2002) pada saatmemilki
hubungan baik antara atasan dan bawahannya, makin terstruktur pula pekerjaan
karyawan dan akan berdampak pada semakin kuatnya kekuasaan pemimpin,
seorang pemimpin akan mempunyai kendali besar. Sikap yang sesuai dengan
keadaan yang ada akan menjadi kunci efektivitas kepemimpinan. Keberadaan sosok
pemimpin dalam suatu perusahaan atau organisasi merupakan hal yang sangat
pokok dan penting karena memiliki peran stratetgis dalam pencapaian tujuan
organisasi. Kepemimpinan yang sesuai dan tepat dapat memberikan peningkatan
motivasi karyawan untuk memberikan hasil kinerja yang baik dan berprestasi,
karena pengaruh atas kepemimpinan atasan dapat menentukan sukses tidaknya
karyawan dalam prestasi kerja. Apabila hubungan karyawan dan pemimpin terjalin
dengan baik, karyawan cenderung rela untuk bekerja lebih dari porsinya, bekerja
dengan serta merta, memberikan inisiatif lebih dan bekerja dengan lebih maksimal.
Penelitian dari Audenaert (2016) Ketika karyawan merasakan LMX
berkualitas tinggi, mereka mengalami kinerja karyawan manajemen lebih
mendukung daripada mengendalikan. Kinerja karyawan organisasi manajemen
ditafsirkan melalui hubungan LMX masing-masing. Karyawan di dalam organisasi
berbeda dalam hal sejauh mana mereka menganggap hubungan mereka dengan
garis mereka manajer sebagai kualitatif. Karyawan membentuk persepsi kualitas
LMX dari waktu ke waktu sebagai akibat dari pertukaran harapan peran dan
pemenuhan Graen & Uhl-Bien,(1995). Berkualitas tinggi Hubungan LMX,
karyawan menganggap bahwa hubungan mereka dengan manajer lini mereka
dicirikan oleh kontribusi timbal balik, pengaruh, penghargaan profesional dan
kesetiaan di luar apa yang ada diatur dalam kontrak kerja Liden & Maslyn,
(1998). Sebaliknya, LMX berkualitas rendah hubungan menimbulkan pertukaran
ekonomi kontraktual Graen & Scandura, (1987)
Demikian juga dengan hasil penelitian dari Kim (2016) Teori LMX
didasarkan pada gagasan bahwa tindakan positif oleh pengawas dapat memimpin
karyawan merasa berhutang budi, membentuk pertukaran bantuan Liden et al. ,
(2006). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hubungan berkualitas tinggi
antara karyawan dan atasan dapat memperkuat motivasi kerja karyawan Klein dan
Kim, (1998). Hubungan seperti ini umumnya memiliki dampak positif pada hasil
kerja karyawan, termasuk kepuasan, kepercayaan dan perilaku

Hubungan Antara Leader Member Exchange (LMX) Dengan KepuasaanKerja


Menurut Bhal, Gulati, & Ansari (2009) dalam Ariani (2012). LMX
memiliki dampak yang luar biasa bagi para bawahan, seperti kepuasan kerja,
komitmen, peran kinerja, dan perilaku kewarganegaraan organisasi. Menurut Ariani
(2012), karyawan akan membuat hubungan yang baik dengan atasan bila seorang
atasan memberikan pengarahan yang baik kepada mereka mereka akan merasa
puas dalam bekerja di perusahan tersebut.
Penelitian dari Liang, et al (2018) Teori LMX menunjukkan bahwa segmen
karyawan yang berada dalam kelompok menerima lebih baik evaluasi kinerja dan
menunjukkan kepuasan kerja yang lebih tinggi dan komitmen organisasi Gerstner
and Day, (1997). Ketika karyawan bersedia melakukan tugas khusus dan melayani
yang lain, mereka secara efektif terlibat dalam perilaku pertukaran bersama, seperti
anggota kelompok pertukaran,yang meningkatkan peran mereka dalam organisasi
Bolino, (1999). Karyawan menerima perawatan yang lebih baik, sehingga
meningkatkan kepuasan kerja. Studi sebelumnya mencatat bahwa pertukaran dekat
hubungan antara kelompok dan pemimpin berarti lebih banyak manfaat, wewenang,
pelatihan dan peluang promosi untuk karyawan dalam grup serta evaluasi kerja
yang lebih tinggi dan kepuasan bila dibandingkan dengan karyawan lain Xiong dan
Chen, (2012)
Demikian juga hasil Penelitian dari Flickinger, et al (2016) telah berfokus
pada LMX untuk hubungan directional kepuasan kerja, menunjukkan bahwa
evaluasi positif karyawan terhadap hubungan pemimpin-anggota memengaruhi
sikapnya terhadap pekerjaan secara positif (misalnya Graen dan Uhl-Bien,
(1995). Namun, penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa hubungan ini lebih
kompleks misalnya Lapierre dan Hackett, (2007) Volmer et al (2011). Secara
khusus, penulis berpendapat hubungan tambahan di arah yang berlawanan, di mana
kepuasan kerja mempengaruhi Hubungan LMX karena sikap positif meningkatkan
kemungkinan mengalami positifinteraksi sosial

Faktor-faktor kinerja karyawan


Faktor-faktor dalam peningkatan Kinerja karyawan menurut Mangkunegara
(2007:67) yang merumuskan bahwa :

  • Human performance = ability + motivation
  • Motivation = attitude + situation
  • Ability = knowladge + skill
    1). Faktor Kemampuan Secara psikologis, kemampuan (ability) pegawai terdiri dari
    kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realiti (knowladge+skill) artinya
    pegawai yang memiliki IQ di atas rata – rata ( IQ 110-120) dengan pendidikan yang
    memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari,
    maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja yang diharapkan. Oleh karena itu
    pegawai perlu ditetapkan pada pekerjaan yang sesuai dengan keahlian (the right
    man on the right place, the right man on the the right job).
    2). Faktor Motivasi Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seseorang pegawai dalam
    menghadapi situasi (situation) kerja, sikap mental seorang pegawai harus sikap
    mental yang siap secara psikologis artinya seorang pegawai harus siap mental,
    mampu secara fisik, memahami tujuan utama dan target kerja yang akan dicapai
    mampu memanfaatkan dan menciptakan situasi kerja. Menurut pendapat Clelland
    yang dikutip oleh Mangkunegara (2007:68) bahwa “ Ada hubungan yang positif
    antara motif yang berprestasi dengan pencapaian kinerja”
    Motif berprestasi adalah dorongan dalam diri pegawai untuk melakukan
    suatu kegiatan atau tugas dengan sebaik-baiknya agar mampu mencapai prestasi
    kerja (kinerja) yang predikat terpuji. Berdasarkan pendapat Clelland tersebut,
    karyawan akan mampu mencapai kinerja maksimal jika ia memiliki motif
    berprestasi tinggi. Motif berprestasi yang 15 perlu dimiliki karyawan harus
    ditumbuhkan dari dalam diri sendiri selain dari lingkungan kerja. Hal ini karena
    motif berprestasi yang ditumbuhkan dalam diri sendiri akan membentuk suatu
    kekuatan diri dan jika situasi lingkungan kerja ikut menunjang maka mencapai
    tujuan yang akan lebih mudah

Indikator Kinerja Karyawan


Menurut pendapat Swasto (1996) dalam Supriyanto dan Maharani
(2013;222) ada beberapa elemen indikator tentang kinerja karyawan yaitu:

  1. kuantitas kerja
    yaitu jumlah yang dinyatakan dalam istilah seberapa besar kecilnya hasil yang
    dicapai bila dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan perusahaan
  2. kualitas kerja
    yaitu yaitu mengukur dari persepsi karyawan terhadap kualitas kerja yang
    dihasilkan serta mutu hasil pekerjaan yang sesuai dengan standar.
  3. Ketepatan waktu
    Yaitu tingkat aktivitas dimana suatu pekerjaan diselesaikan pada waktu yang
    ditetapkan dalam seberapa cepat karyawan menyelesaikan pekerjaannya secara
    benar dan tepat.
  4. pengetahuan tentang pekerjaan
    yaitu sejauh mana seorang karyawan dalam suatu organisasi dalam pemahaman
    terhadap tugas dan tanggung jawabnya.

Kinerja Karyawan


Menurut Mangkunegara (2009:67) pengertian dalam kinerja diartikan
dalam “hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai
dengan melaksanakan tugasnya sesuai tanggung jawab yang diberikan kepadanya”.
Menurut pendapat dari Rivai (2009:549) mengemukakan kinerja adalah
hasil tingkat keberhasilan karyawan secara keseluruhan selam dalam periode
tertentu melalui dalam pelaksanaan tugas yang dibandingkan dengan berbagai
kemungkinan melalui standar hasil kerja, target atau sasaran yang telah ditentukan
terlebih dahulu dengan disepakati bersama.
Menurut Mathis dan Jackson (2009:378) mengemukakan kinerja
(performance) adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan.
Kinerja karyawan yang umum untuk kebanyakan pekerjaan meliputi elemen
diantaranya: (a) kuantitas dari hasil, (b) Kualitas dari hasil, (c) ketepatan waktu dan
hasil, (d) kehadiran dan (e) kemampuan bekerja sama. Maulizar dkk. (2012)
mengemukakan bahwa, kinerja karyawan adalah hasil kerja yang dapat
menguntungkan perusahan dengan sesuai wewenang , tanggung jawab setiap
diberikan dalam upaya mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi,
Berdasarkan dari beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja
adalah hasil kerja yang dapat dicapai seorang karyawan dalam suatu organisasi,
sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan organisasi dalam
upaya mencapai visi, misi, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral
maupun etika, dan tujuan organisasi bersangkutan secara lega

Pengukuran Kepuasan Kerja.
Berdasarkan menurut Wibowo (2011: 511) Tingkat kepuasan kerja karyawan
dapat diketahui dengan cara melalui pengukuran kepuasan kerja karyawan tersebut.
Pengukuran kepuasan kerja dapat berguna sebagai penentuan kebijakan
organisasi.ada tiga cara dalam melakukan pengukuran kepuasan kerja, yaitu sebagai
berikut:
1) Rating scales dan kuesioner pengukuran kepuasan kerja yang paling umum dipakai
dengan menggunakan kuesioner dimana rating scales secara khusus disiapkan.
2) Critical incidents, seseorang karyawan yang mengjelaskan kejadian dimana
menghubungkan pekerjaan mereka merasa memuaskan atau tidak memuaskan
3) Interview merupakan prosedur pengukuran kepuasan kerja dengan melakukan
wawancara tatap muka dengan pekerja. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan
pertanyaan secara berhati-hati kepada pekerja dan mencatat jawabannya secara
sistematis.
Pengukuran faktor kepuasan kerja dapat digunakan Job Descriptive Index (JDI),
menurut Luthans (Husein Umar 2010: 38) ada lima, yaitu:
1) Pembayaran, seperti gaji dan upah.
2) Pekerjaan itu sendiri
3) Promosi Pekerjaan.
4) Kepenyeliaan (supervisi).
5) Rekan kerja
Pengukuran kepuasan kerja seseorang bisa dilihat dari besarnya gaji atau upah
yang diterima, tetapi gaji bukan satu-satunya yang menjadi ukuran kepuasan kerja
seseorang. Hal lain yang dapat dijadikan sebagai ukuran kepuasan kerja dengan
memiliki hubungan baik antara atasan atau rekan kerja, pengembangan karier, dan
pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Sementara itu, untuk mengukur kepuasan kerja seorang karyawan menurut
Veithzal Rivai (2010: 860) adalah menggunakan:
1) Isi pekerjaan, penampilan tugas pekerjaan yang actual dan sebagai kontrol terhadap
pekerjaan
2) Supervisi
3) Organisasi dan manajemen
4) Kesempatan untuk maju
5) Gaji dan keuntungan dalam bidang financial lainnya seperti adanya insentif
6) Rekan kerja
7) Kondisi pekerjaan
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan pengukuran terhadap
kepuasan kerja pegawai dalam organisasi dapat memberikan manfaat, khususnya
untuk pimpinan organisasi. Pimpinan dapat memperoleh informasi berupa
kumpulan perasaan, harapan, dan kepuasan kerja pegawai yang bersifat dinamik
(cepat berubah) sebagai langkah awal pimpinan untuk mengambil keputusan dalam
menangani berbagai masalah kepegawaian yang ada dalam organisasi

Faktor kepuasan kerja


Faktor kepuasan kerja yaitu sebuah hasil yang dirasakan oleh karyawan.
Apabila karyawan puas dengan pekerjaannya, maka ia akan bertahan untuk bekerja
pada perusahaan tersebut. Faktor yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat
kepuasan kerja karyawan pada dasarnya secara afektif dan efisien yang dapat
dibedakan menjadi dua kelompok yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. factor
intrinsic yaitu factor dari diri karyawan yang dibawa sejak mulai bekerja di
perusahaan tersebut. sedangkan fakktor ekstrinsik yaitu menyangkut hal- hal dari
luar diri pegawai seperti kondisi fisik lingkungan kerja, interaksi dengan orang lain
atau lain sebagainya.
Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Anwar Prabu (2004: 120),
faktor-faktor yang bisa meningkatkan kepuasan kerja adalah:
1) Faktor pegawai, sebagai berikut kecerdasan (IQ), kecakapan khusus, umur, jenis
kelamin, kondisi fisik, pendidikan, pengalaman kerja, masa kerja, kepribadian,
emosi, cara berpikir, persepsi dan sikap kerja.
2) Faktor pekerjaan, sebagai berikut jenis pekerjaan, struktur organisasi, pangkat
(golongan), kedudukan, mutu pengawasan, jaminan financial, kesempatan promosi
jabatan, interaksi sosial, dan hubungan kerja.
Banyak factor yang dapat meningkatkan kepuasan kerja karyawab dengan
peranannya memberikan kepuasan kerja tergantung pada diri mereka masing-
masing karyawan, yang mana dengan memiliki factor berbeda-beda dapat
mempengaruhi dalam peningkatan maupun penurunan kepuasan kerjanya. Menurut
Susilo Martoyo (2007: 156) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja
seseorang adalah:
1) Tingkat absensi karyawan
2) Perputaran (turnover) tenaga kerja
3) Semangat kerja
4) Keluhan-keluhan
5) Masalah-masalah personalia yang vital lainnya
Salah satunya tingkat absensi karyawan dapat menjadi faktor penyebab
kepuasan kerja karena apabila karyawan tidak puas dalam bekerja dapat
mengakibatkan karyawan menjadi malas berangkat ke kantor sehingga tingkat
absensi menjadi tinggi. Karyawan kurang semangat dalam menyelesaikan
pekerjaan yang pada akhirnya hasil kerja menjadi tidak maksimal. Berawal dari
melakukan pekerjaan yang kurang semangat kemudian malas berangkat ke kantor
pada akhirnya hal tersebut dapat menjadikan karyawan berkeinginan untuk pindah
kerja atau berhenti bekerja di perusahaan tersebut

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Hariandja (2002) dalam Supriyanto dan Maharani (2013;216)
berpendapat indikator kepuasan kerja, yaitu:

  1. lingkungan kerja
    yaitu lingkungan fisik dan psikologis yang dirasakan oleh karyawan ketika berada
    di dalam organisasi dan dapat membuat karyawan merasa nyaman dalam bekerja.
  2. Promosi
    Yaitu memungkinkan seseorang untuk mengembangkan kepuasan kerja tersendiri
    melalui kenaikan jabatan. Seseorang dapat merasakan adanya kemungkinan yang
    besar untuk naik jabatan atau tidak, proses kenaikan jabatan yang bersifat terbuka
    atau kurang terbuka, hal ini akan dapat mempengaruhi tingkat kepuasan seseorang.
  3. pengakuan prestasi
    yaitu seseorang yang melakukan pekerjaannya dengan sangat baik , maka ia akan
    diberikan penghargaan dalam organisasi karena sudah mencapai prestasi kerja

Kepuasan Kerja


Menurut Handoko dalam Sutrisno (2015:75) kepuasan kerja dapat diartikan
sebagai keadaan emosional yang menyenangkan atau tidak menyenangkan bagi
para karyawan memandang pekerjaan mereka. Kepuasan kerja mencerminkan
perasaan seseoang terhadap pekerjaannya. Ini tampak dalam sikap positif karyawan
tehadap pekerjaan dan segala sesuatu yang dihadapi dilingkungan kerjanya.
Menurut Mangkunegara (2011:117) kepuasan kerja adalah suatu perasaan
yang menyokong atau tidak menyokong diri pegawai yang berhubungan dengan
pekerjaannya maupun dengan kondisi dirinya. Sedangkan Handoko (2002:193)
menyatakan bahwa kepuasan kerja (job satisfaction) yaitu keadaan kondisi diri
emasional pegawai yang menyenangkan atau tidak menyenangkan dengan mana
pegawai memandang pekerjaan mereka

Pengukuran Leader Member Exchange (LMX)


Yuki (2005; 142) cara di mana LMX diartikan beragam dari studi yang satu
ke studi lainnya. Kualitas hubungan pertukaran biasanya diasumsikan meliputi hal-
hal seperti saling mempercayai, rasa hormat, kasih sayang, dukungan dan kesetiaan.
Namun terkadang LMX diartikan meliputi aspek hubungan yang lainnya (misalnya
menegosiasikan ruang gerak, pengaruh yang bertambah, nilai-nilai bersama) atau
sifat individual dari atasan dan bawahan.
Hanya beberapa studi yang telah mengukur LMX dari persepsi baik
seorang pemimpin maupun bawahannya Deluga & Perry, (1994) Liden , Wayne &
Stillwell,(1993) Philips & Bedetan, (1994) Scandura & Schriesheim, (1994). Cukup
masuk akal untuk mengharapkan kedua belah pihak bersepakat tentang sesuatu
yang penting dan mencolok seperti kualitas dari hubungan ini. Berlawanan dengan
harapan ini, korelasi antara LMX yang diberikan peringkat oleh pemimpin dengan
LMX yang diberikan peringkat oleh bawahan cukup rendah untuk memunculkan
pertanyaan tentang validitas skala bagi salah satu atau kedua sumber itu Tidak jelas
apakah korelasi yang rendah mencerminkan masalah pengukuran dalam skala atau
perbedaan actual dalam persepsi. Dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk
menentukan jawaban dan untuk menjernihkan implikasi dari mengukur LMX dari
perspektif (pemimpin dan bawahan) berbeda

Indikator Leader Member Exchange (LMX)


Leader Member Exchange sendiri pada dasarnya memiliki beberapa
dimensi di dalamnya. Liden dan Maslyn (1998) dalam Patrick dan Rocky (2019)
membagi Leader Member Exchange menjadi empat dimensi, antara lain:

  1. Affect ( Afeksi )
    Affect mengacu pada keakraban antara satu individu dengan individu lainnya.
    Keakraban ini sendiri tidak memandang dalam status sosial. Interaksi dapat
    terbentuk oleh hubungan baik antara karyawan dengan pimpinan, pimpinan dengan
    pimpinan, maupun karyawan dengan karyawan
  2. Contribution (Kontribusi)
    Kontribusi mengacu pada persepsi bahwa tindakan orang lain juga
    berhubungan tiap individu di perushaan. tentang sesuatu kegiatan yang berorientasi
    pada tugas yang ditargetkan oleh seorang pemimpin dan karyawan untuk
    pencapaian tujuan bersama perusahan.
  3. Loyalty (Loyalitas)
    Loyalitas adalah kesetiaan dan dukungan yang diberikan pada individu lain,
    baik itu karyawan maupun pemimpin, bagaimana pemimpin maupun karyawan
    saling mendukung aksi dan karakter satu sama lain dalam segala situasi.
  4. Professional Respect (Respek / Hormat)
    Professional respect mengacu pada rasa hormat atau kagum pada pekerjaan
    yang dilakukan orang lain. Rasa kagum dapat didasarkan berbagai hal seperti
    keinginan untuk bisa menjadi orang tersebut atau karena pencapaian yang dicapai
    oleh orang yang dikagumi. Rasa kagum seseorang karyawan dapat disebabkan
    karena reputasi yang dimiliki oleh pemimpinnya

Teori Leader Member Exchange (LMX)


Tikno (2010;138) teori pertukaran pemimpin-bawahan, dan pertama kali
dicetuskan oleh Dansereau, Green, and Haga (1975). Teori kepemimpinan ini
mengartikan bahwa apa yang dimiliki oleh atasan dan bawahan melakukan
hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Kepemimpinan jenis ini
disebut juga dengan kepemimpinan transaksional, namun kepemimpinan jenis ini
dilakukan oleh pihak yang sudah memiliki ikatan tersendiri dalam organisasi
transaksional sebelumnya.
Di dalam sebuah organisasi yang telah berjalan dan sudah ada hubungan
yang terjalin di antara pemimpin dan bawahan, di antara keduanya bisa terbentuk
hubungan yang melebihi hubungan yang sudah ada sebelumnya. Pemimpin
menawarkan kepada bawahannya yang ada dalam organisasi untuk membuat atau
menjalankan sebuah proyek di dalam organisasi.
Didalam organisasi, ada anggota-anggota yang sudah memegang beberapa
tanggung jawab. Seorang atasan menawarkan kepada bawahannya dalam
mengerjakan sesuatu di luar tanggung jawab yang telah di bebankan kepada
mereka. Misalnya membuat system untuk mengelola program-program agar dapat
memperbaiki tertentu dan dapat memperbaiki system yang sudah ada. Atau
memikirkan perubahan dalam masa yang akan datang

Leader Member Exchange (LMX)


Yuki (2005;140) Teori pertukaran pimpinan-anggota (LMX) leader member
exchange menngartikan proses pembuatan peran antara seorang pemimpin dengan
seorang bawahan Graen dan Haga (1975) ; Graen dan Chasman (1975). Selain itu
teori tersebut juga menjelaskan gambaran bagaimana para seorang atasan dalam
mengembangkan hubungan pertukaran yang berbeda sepanjang waktu dengan
berbagai bawahan. Teori LMX sebelumnya disebut “teori hubungan dyad vertical”
karena hanya berfokus pada proses timbal balik yang terdiri hanya satu orang
pemimpin yang memilki otoritas langsung kepada orang lain.
Menurut Organ (1998), Bhal (2006) dalam jurnal penelitian Prisetyadi (2013)
leader member exchange sebagai sikap karyawan terhadap perusahaan mempunyai
peranan penting dalam kesuksesan keberhasilan sebuah organisasi. Sikap yang baik
terhadap karyawan akan mampu menciptakan perasaan suka rela pada diri
karyawan untuk bisa berkorban bagi perusahaan. Selain itu, melalui sikap khusus
karyawan yang positif akan mampu meningkatkan kontribusi karyawan pada
perusahaan dimana karyawan bekerja.
Truckenbrodt (2000;234) mengatakan bahwa dalam sebuah organisasi dilihat
dari hubungan dan interaksi antara pemimpin dan karyawan dapat
dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu:

  1. In – group: Dalam hubungan ini, karyawan dan pemimpin memiliki hubungan
    yang baik, hubungan antar keduanya didasarkan oleh perasaan senasib, rasa
    percaya, dan afeksi terhadap satu sama lain.
  2. Out – group: Dalam hubungan ini, posisi pemimpin terhadap karyawan lebih ke
    arah profesional. Hal ini disebabkan karena begitu minim waktu yang disediakan
    untuk mendekatkan diri, sehingga karyawan lebih memiliki sedikit waktu untuk
    pemimpin, dan hubungan antar keduanya hanya dalam koridor interaksi otoritas
    yang normal

Pengaruh Kepuasan Kerja dengan Kinerja Pegawai


Kreitner dan Kinicki (2005) dalam (Maulana & Munandar, 2019)
menyatakan kinerja pegawai adalah suatu efektifitas atau reaksi emosional
terhadap aspek pekerjaan. Hal itu menunjukan bahwa kinerja pegawai
dipengaruhi kepuasan kerja. Kepuasan kerja juga memiliki perasn penting
untuk aktualisasi diri pegawai. Pegawai yang tidak puas dengan pekerjaannya
tidak berkembang secara psikologis. Jika dibandingkan dengan pegawai yang
tidak mencapai kepuasan kerja, pekerja dengan kepuasan kerja tinggi
biasanya memiliki catatan kehadiran, perputaran kerja, dan prestasi kerja
yang baik. Dalam rangka menciptakan lingkungan kerja di mana pegawai
dapat memberikan kinerja terbaiknya, kepuasan kerja sangatlah penting.
(Syahputra & Jufrizen, 2019).
“Pengaruh Diklat, Promosi, dan Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja
Pegawai” (Syahputra & Jufrizen, 2019). Penelitian ini mengatakan bahwa
kepuasan secara parsial berpengaruh secara positif tetatpi tidak signifikan
terhadap kinerja pegawai. Berbeda dengan penelitian dari (Purba et al., 2019)
yang mengatakan bahwa kepuasan kerja berpengaruh secara positif dan
signifikan terhadap kinerja pegawai.
Teori pertukaran sosial digunakan untuk memahami bagaimana organisasi
melaksanakan berbagai program pendampingan dan merancang pekerjaan
sehingga pegawai merasa didukung dan dipercaya oleh organisasi. Sebagai
hasilnya, pegawai menjadi lebih berkomitmen terhadap organisasi, yang
berujung pada peningkatan kepuasan kerja dan kinerja mereka (Athar, 2020).

Stres Kerja dengan Kinerja Pegawai


Menurut Velnampy & Aravinthan (2013) dalam (Dharmayasa & Adnyani,
2020) stres kerja adalah pola emosional dari perilaku kognitif dan respons
psikologis terhadap aspek pekerjaan, organisasi kerja, dan lingkungan kerja
yang tidak menguntungkan dan berbahaya. Kinerja juga dapat dipengaruhi
oleh stres di tempat kerja. Kesulitan berpikir dan masalah kesehatan muncul
ketika pekerja mengalami stres yang berlebihan. (Sulastri & Onsardi, 2020).
Penelitian yang dilakukan oleh (Dharmayasa & Adnyani, 2020) “Pengaruh
stres kerja, kepuasan kerja dan kompensasi finansial terhadap kinerja
pegawai” mengatakan bahwa stres kerja mempunyai pengaruh negatif dan
signifikan terhadap kinerja pegawai. Didukung oleh penelitian dari (Sulastri
& Onsardi, 2020) yang mengatakan stres kerja berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap kinerja pegawai.
Teori yang paling penting untuk memahami perilaku individu di tempat
kerja adalah teori pertukaran sosial. Teori pertukaran sosial memberikan
pemahaman yang berharga tentang bagaimana interaksi antar individu di
dalam organisasi dapat memengaruhi cara pegawai menilai tingkat stres kerja
dan dampaknya terhadap kinerja mereka. Dengan menciptakan lingkungan
kerja yang ramah dan berkeadilan, organisasi dapat berperan dalam
mengurangi tingkat stres yang dialami pegawai dan meningkatkan kualitas
kinerja mereka (Sandiartha & Suwandana, 2020)

Leader Member Exchange dengan Kinerja Pegawai


Dasar leader member exchange terletak pada tingkat dimana seorang
pegawai dan atasannya saling mendukung dan bertukar sumber daya yang
saling menghargai (Widya et al., 2021). Dasar hubungan pada pertukaran
sosial antara atasan dan bawahan, ini berarti bahwa semakin banyak interaksi
yang bermanfaat antara pegawai dengan atasan mereka, semakin besar
hubungan yang diharapkan akan semakin kuat (Dienesch & Liden, 1986)
dalam (Widya et al., 2021).
Penelitian yang dilakukan oleh (Lilipaly et al., 2023) dengan judul
“Pengaruh Lingkungan Kerja Non Fisik, Beban Kerja dan Leader Member
Exchange Terhadap kinerja Pegawai PT. Pegadaian Area Ambon”
mengatakan bahwa leader member exchange terhadap kinerja pegawai
mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kinerja pegawai.
Penelitian yang dilakukan oleh (Artha & Syarifudin, 2023) juga mengatakan
bahwa leader member exchange berpengaruh secara positif dan signifikan
terhadap kinerja pegawai.
Konsep leader member exchange berfokus pada tingkat di mana pegawai
dan atasan mereka saling memberikan dukungan dan saling menghargai.
Teori ini didasarkan pada teori pertukaran sosial antara atasan dan bawahan,
yang mengartikan bahwa semakin banyak interaksi yang menguntungkan
antara seorang pegawai dan atasannya, maka hubungan di antara mereka akan
semakin kuat, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi peningkatan kualitas
kinerja pegawai (Dienesch & Liden, 1986) dalam (Widya et al., 2021)

Pengaruh Stres Kerja dengan Kepuasan Kerja


Karena stres yang dialami pekerja di tempat kerja berdampak pada
seberapa bahagia mereka dalam pekerjaannya, maka pemimpin harus
melakukan perbaikan pada lingkungan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa
kepuasan kerja pekerja menurun seiring dengan meningkatnya stres kerja,
atau sebaliknya dengan menurunnya stres kerja dan meningkatnya kepuasan
kerja pegawai (Bhastary, 2020).
Penelitian yang dilakukan oleh (Bhastary, 2020) dengan judul “Pengaruh
Etika Kerja dan Stres Kerja Terhadap Kepuasan Kerja Pegawai” mengatakan
bahwa stres kerja mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap
kepuasan kerja. Karena jika kondisi kerja membuat perasaan tidak nyaman
yang berkelanjutan pada gilirannya akan membuat pegawai menjadi stres.
Pegawai yang bekerja di lingkungan yang penuh tekanan menjadi tidak puas
dengan pekerjaannya, sehingga menurunkan kinerja dan produktivitasnya.
Penelitian yang dilakukan oleh Fadhilah (2010) dalam (Fitriantini et al.,
2020), diperoleh hasil bahwa stres kerja memiliki pengaruh negatif terhadap
kepuasan kerja.
Hubungan di tempat kerja mempunyai unsur-unsur dari teori pertukaran
sosial, pegawai percaya satu sama lain untuk melaksanakan kewajiban
bersama, di mana pegawai yang diperlakukan baik akan merasa berkewajiban
untuk membalas dengan cara yang sama (Serim et al., 2014) dalam
(Sandiartha & Suwandana, 2020). Hubungan antara stres kerja dan kepuasan
kerja menunjukkan bahwa jika sebuah organisasi mampu membuat pegawai
terhindar dari tekanan kerja yang berlebih dan merasa puas, maka pegawai
tersebut akan cenderung meningkatkan loyalitas dan berkarir jangka panjang
di perusahaan tersebut sebagai bentuk timbal balik

Pengaruh Leader Member Exchange dengan Kepuasan Kerja


Miner (1988) dalam (Sukoco et al., 2020) menyatakan bahwa hubungan
positif antara atasan dan pegawai akan menghasilkan hal-hal seperti
peningkatan kepuasan kerja, yang akan meningkatkan komitmen organisasi
dan produktifitas serta kinerja pegawai. Riggio (1990) dalam (Sukoco et al.,
2020) menunjukkan bahwa seorang atasan mempunyai sikap yang baik
terhadap bawahannya ketika terjalin komunikasi yang baik antara keduanya,
sehingga menimbulkan kesan bahwa bawahannya mendapat banyak
dorongan dan dukungan dari atasannya. Karena meningkatnya rasa hormat
dan kepercayaan yang tumbuh dalam diri mereka, pegawai lebih cenderung
untuk “melakukan lebih dari” apa yang diminta oleh atasan mereka.
Penelitian yang dilakukan oleh (Noor & Jufrizen, 2023) dengan judul
“Leader-Member Exchange Terhadap Kepuasan Kerja: Mediasi Komitmen
Organisasi dan Perceived Organizational Support” mengatakan bahwa leader
member exchange berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan
kerja. Hal ini disebabkan karena ketika pegawai merasa hubungannya dengan
pemimpinnya baik, maka pegawai akan senang bekerja karena merasa puas
terhadap pemimpinnya. Dengan begitu, pegawai juga akan merasa puas
terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Penelitian lain dengan judul “Leader
Member Exchange, Pemberdayaan Pegawai dan Kompensasi Finansial
Berpengaruh terhadap Kepuasan Kerja PT Central Hero Manunggal.” (Nesia
& Dewi, 2020) mengatakan leader member exchange berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepuasan kerja
Berdasarkan teori pertukaran sosial, interaksi antara individu yang saling
bergantung menunjukkan adanya kewajiban untuk saling memberikan timbal
balik (Cropanzano & Mitchell, 2005) dalam (Indrawaty, 2022). Oleh karena
itu, seseorang yang mendapatkan perlakuan baik dari atasan, seperti memiliki
hubungan yang berkualitas dalam leader member exchange atau
mendapatkan dukungan dari rekan kerja, cenderung memberikan respons
positif dengan meningkatkan kepuasan kerja mereka

Indikator Kepuasan Kerja


Luthans (2006) dalam (Handayani & Soliha, 2021) menemukan bahwa
ada beberapa indikator-indikator kepuasan kerja, yaitu:
a. Kepuasan atas pekerjaan
Sumber utama kepuasan adalah kepuasan kerja itu sendiri.
b. Kepuasan akan imbalan
Gaji dan upah diakui sebagai variabel yang penting, namun memiliki
banyak aspek dan rumit secara kognitif untuk kepuasan kerja.
c. Kepuasan atas promosi
Karena promosi dapat dilakukan dalam berbagai bentuk dan
menawarkan insentif yang berbeda-beda, promosi tersebut cenderung
mempunyai dampak yang berbeda terhadap kepuasan kerja.
d. Kepuasan dengan atasan/pengawasan
Faktor penting lainnya dalam kepuasan kerja adalah tingkat kepuasan
seseorang terhadap atasan dalam hal pengawasan. Kebahagiaan kerja
dipengaruhi oleh dua aspek gaya pengawasan. Yang pertama berpusat
pada pegawai, dan manajer yang memungkinkan individu untuk terlibat
dalam proses pengambilan keputusan adalah contoh dari komponen
kedua, yaitu partisipasi atau pengaruh.
e. Kepuasan dengan rekan kerja
Bagi seorang pegawai, rekan kerja atau anggota tim kooperatif adalah
sumber kebahagiaan tempat kerja yang paling sederhana. Kelompok
kerja, khususnya tim yang kuat, memberikan penghiburan, dukungan,
bimbingan, dan bantuan kepada masing-masing anggotanya