Suatu organisasi melakukan analisis beban kerja untuk dapat memperbaiki
kualitas dari sumber daya manusia yang diberdayakan. Adapun manfaat analisis
beban kerja menurut Koesomowidjojo (2017: 91) sebagai berikut:
- Penentuan jumlah kebutuhan karyawan.
Melakukan penentuan jumlah kebutuhan karyawan ditujukan agar
organisasi memiliki dasar untuk melakukan penambahan (rekrutmen) atau
pengurangan (PHK) tenaga kerja pada suatu unit kerja. Dengan mengetahui
jumlah tenaga kerja optimal dan komposisi yang dibutuhkan pada unit kerja
yang yang berbeda, diharapkan akan meningkatkan efektivitas sumber daya
manusia. - Melakukan proses yang terorganisir dalam melakukan penambahan atau
pengurangan karyawan.
Proses yang terorganisir dalam melakukan penambahan atau pengurangan
karyawan diharapkan akan menempatkan karyawan sesuai kualifikasi dan
pendidikannya. Karyawan yang memiliki kualifikasi baik dan berprestasi
tentunya akan ditempatkan pada posisi-posisi strategis dalam organisasi,
mendapatkan fasilitas yang jauh lebih baik dalam organisasi. Namun, bagi
karyawan yang memiliki kualifikasi rendah, organisasi tentunya akan
mengarahkan karyawan tersebut mengikuti program pelatihan dan
pengembangan atau dilakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila
tidak dapat memperbaiki kinerjanya. - Melakukan penyempurnaan tugas dalam jabatan-jabatan yang ada pada
setiap organisasi.
Untuk mencapai suatu kinerja organisasi yang unggul, penempatan sumber
daya manusia akan disesuaikan dengan kompetensinya. Jabatan-jabatan
strategis yang dipegang oleh sumber daya manusia yang mumpuni akan ikut
meningkatkan produktivitas organisasi. - Melakukan perhitungan beban kerja karyawan dalam suatu periode tertentu.
Dengan melakukan perhitungan beban kerja karyawan dalam satu periode
tertentu akan diketahui apakah dalam suatu unit kerja dibutuhkan tambahan
tenaga kerja atau bahkan pengurangan tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja
yang sedikit tentunya akan menghambat tumbuh kembang perusahaan.
demikian pula apabila jumlah tenaga kerja berlebihan, efektivitas kerja
dalam suatu unit kerja/organisasi tentunya akan berkurang. - Penyempurnaan SOP (Standar Operating Procedure).
Penyempurnaan SOP akan dilakukan apabila pada beberapa unit kerja atau
mendatangkan dampak kerja yang cukup signifikan, baik kepada karyawan
sebagai individu, unit kerja sebagai kelompok maupun perusahaan sebagai
organisasi dimana karyawan tersebut bekerja. - Penyempurnaan struktur organisasi.
Penyempurnaan ini tentunya dengan tujuan agar unsur-unsur di dalam
organisasi yang mengalami perubahan utamanya karyawan yang bekerja di
dalamnya dapat bekerja sesuai kompetensi yang dimilikinya. Ketika analisis
beban kerja dilakukan, akan diketahui pada bagian mana sajakah yang
memerlukan perbaikan akibat dari terlalu tingginya atau terlalu rendahnya
beban kerja karyawan pada bagian-bagian dalam organisasi. - Pengukuran waktu kerja dan melakukan penentuan standar waktu dalam
menyelesaikan tugas.
Dalam menjalankan operasional organisasi, penentuan standar waktu dalam
menyelesaikan tugas akan menjadi salah satu hal yang mutlak dijadikan
tolak ukur apakah suatu pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik atau
tidak. Minimnya penyelesaian pekerjaan yang sesuai dengan target waktu
akan berimbas pada produktivitas organisasi. Namun, pada penetapan
standar waktu kerja tentunya akan disesuaikan dengan kompetensi
karyawan. - Penentuan jumlah kebutuhan pelatihan (training needs) bagi karyawan.
Dengan adanya analisis beban kerja, organisasi dapat menentukan jumlah
kebutuhan pelatihan bagi karyawan. Penentuan jumlah kebutuhan pelatihan
bagi karyawan dengan cara mengidentifikasi waktu normal tiap karyawan
nilainya lebih besar dibandingkan dengan waktu standar yang digunakan
untuk melakukan suatu pekerjaan/aktivitas. Dengan mengimplementasikan
analisis beban kerja, organisasi/perusahaan akan dapat melakukan prediksi,
menetapkan perhitungan komposisi jumlah karyawan, komposisi
kualifikasi karyawan dan komposisi pekerjaan.
