Rotter membedakan locus of control menjadi dua bentuk orientasi yaitu
(dikutip Shofa, 2005:18):
a. Locus of control internal
Mereka percaya segala sesuatu yang terjadi pada dirinya secara langsung
dikontrol dan dipengaruhi oleh kemampuan dirinya sendiri seperti kecakapan
(skill), kemampuan (ability), dan usaha (effort). Locus of control internal yakin
bahwa apa yang terjadi atas dirinya (kesuksesan atau kegagalan) adalah
disebabkan oleh faktor-faktor dalam dirinya sendiri dan dengan sifat-sifat
kepribadian yang dimilikinya, baik dan buruk adalah tanggung jawab mereka
sendiri.
b. Locus of control eksternal
Individu percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dirinya baik
keberhasilan ataupun kegagalan diakibatkan oleh faktor di luar dirinya seperti
nasib, kesempatan, atau kebetulan (chance), keberuntungan (luck) atau berasal
dari kekuatan di luar dirinya (action of other). Locus of control eksternal
dibedakan ke dalam tiga kontrol orang lain yang berkuasa (powerful-others) dan
kontrol oleh hal-hal yang bersifat kebetulan (chance).
Individu dengan locus of control eksternal melihat diri mereka sangat
ditentukan oleh bagaimana lingkungan dan orang lain melihat mereka. Sebagai
contoh individu dengan locus of control eksternal ketika mendapat keberhasilan
dalam suatu ujian akan berkeyakinan bahwa kesuksesannya lebih disebabkan
keberuntungan, soal yang mudah, atau kebaikan sang guru. Sedangkan locus of
control internal melihat independency yang besar dalam kehidupan di mana
hidupnya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri (Dayakisni & Yuniardi, 2008:63).
Pusat kendali bukan merupakan suatu konsep yang tipologik, melainkan
berupa konsep kontinum, yaitu pusat kendali internal pada satu sisi dan eksternal
pada sisi yang lain. oleh karenanya tidak satupun individu yang benar-benar
internal atau yang benar-benar eksternal (Ghufron & Risnawita S, 2011:69).
Kedua tipe pusat kendali terdapat pada setiap individu, hanya saja
kecenderungan untuk lebih memiliki salah satu tipe pusat kendali tertentu. Di
samping itu, pusat kendali tidak bersifat statis, tetapi dapat berubah. Individu yang
berorientasi pusat kendali internal dapat berubah menjadi individu yang
berorientasi pusat kendali eksternal. Begitu pula sebaliknya, hal tersebut
disebabkan situasi dan kondisi yang menyertainya, yaitu di tempat di mana ia
tinggal dan sering melakukan aktivitasnya (Ghufron & Risnawita S, 2011:69).
Hal ini berarti seseorang dapat dikelompokkan sepanjang kontinum
tersebut. Sehubungan dengan hal ini, Munandar dan Suhirman mengatakan bahwa
setiap orang memiliki faktor internal dan eksternal sekaligus. Oleh sebab itu,
perbedaan yang ada hanyalah pada tingkat perbandingannya saja. Dengan
demikian, kemungkinan yang dapat terjadi pada seseorang faktor internal lebih
besar daripada faktor eksternal yang dimilikinya. Adanya perbedaan pusat kendali
pada seseorang ternyata dapat menimbulkan perbedaan sikap, sifat serta ciri-ciri
yang lain (dalam Ghufron & Risnawita S, 2011:69-70).
Lebih lanjut pendapat Rotter tersebut telah dikembangkan oleh Levenson
dengan membedakan Locus of Control ke dalam 3 faktor, yaitu: faktor internal
faktor powerful-others dan faktor chance. Levenson membedakan Locus of
Control eksternal ke dalam control orang lain yang berkuasa (powerful-others)
dan control oleh hal-hal yang bersifat kebetulan (chance) (dikutip Shofa,
19:2005).
Menurut Levenson, individu yang berorientasi locus of control internal
lebih yakin bahwa peristiwa yang dialami dalam kehidupan mereka terutama
ditentukan oleh kemampuan dan usahanya sendiri. Individu yang berorientasi
pada locus of control eksternal dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu powerful
others dan chance. Individu dengan orientasi powerful others meyakini bahwa
kehidupan mereka ditentukan oleh orang-orang yang lebih berkuasa yang ada di
sekitarnya, sedangkan mereka yang berorientasi chance meyakini bahwa
kehidupan dan kejadian yang dialami sebagian besar ditentukan oleh takdir, nasib,
keberuntungan dan kesempatan (dikutip Kresnawan, 2010:16).
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa orientasi locus of control
dibagi menjadi dua yaitu, locus of control internal dan locus of control eksternal.
Locus of control internal meyakini bahwa apa yang terjadi atas dirinya
(kesuksesan atau kegagalan) adalah disebabkan oleh faktor-faktor dalam dirinya
sendiri dan dengan sifat-sifat kepribadian yang dimilikinya, baik dan buruk adalah
tanggung jawab mereka sendiri. Sedangkan locus of control eksternal bahwa
segala sesuatu yang terjadi pada dirinya baik keberhasilan ataupun kegagalan
diakibatkan oleh faktor di luar dirinya seperti nasib, kesempatan, atau kebetulan
(chance), keberuntungan (luck) atau berasal dari kekuatan di luar dirinya (action
of other).
Pengembangan pusat kendali individu dipengaruhi oleh berbagai aspek,
yaitu lingkungan fisik dan sosial. lingkungan fisik yang pertama bagi seseorang
adalah keluarga. Di dalam keluarga inilah terjadi suatu interaksi antara orang tua
dan anak, termasuk di dalamnya penanaman nilai-nilai dan norma-norma yang
akan diwariskan kepada anak-anaknya. Apabila tingkah laku anak mendapatkan
respons, maka anak akan merasakan sesuatu di dalam lingkungannya. Dengan
demikian, tingkah laku tersebut dapat menimbulkan motif yang dipelajari. Hal ini
merupakan langkah terbentuknya pusat kendali yang internal. Sebaliknya, jika
tingkah lakunya tidak mendapatkan reaksi, maka anak akan merasa bahwa
perilakunya tidak mempunyai akibat apapun. Anak tidak kuasa menentukan
akibatnya, keadaan di luar dirinyalah yang menentukan. Hal ini dapat
menimbulkan apa yang disebut pusat kendali yang eksternal (Ghufron &
Risnawita S, 2011:70-71).
Dari uraian di atas ada dua aspek yang mempengaruhi locus of control
yaitu aspek lingkungan fisik dan sosial. aspek lingkungan fisik meliputi keluarga
dan usia, sedangkan aspek lingkungan sosial meliputi konsistensi pengalaman,
sosial yang melatar-belakangi, dan perbedaan gender