Pada umunya, keluarga akan sangat menghindari dampak negatif
perusahaan untuk jangka panjang. Sehingga keluarga akan cenderung untuk
menyiapkan tujuan jangka panjang. Hal tersebut dikarenakan keluarga berpikir
untuk mewariskan perusahaan mereka sendiri kepada keturunannya kelak dan
keluarga juga harus menjaga nama baik keluarga mereka sendiri. Oleh karena
itu, keluarga berusaha untuk menjaga kinerja perusahaannya dengan sangat baik.
Keluarga bekerja sama untuk tidak melakukan kesalahan, fraud, atau melakukan
suatu hal yang akan berdampak negatif pada perusahaannya. Karena keluarga tidak
ingin menurunkan seluruh kinerja perusahaan untuk tujuan jangka panjang (De
Massis et al.,2015).
Hal tersebut membuat para ahli berpikiran bahwa keluarga akan lebih
banyak memberikan insentif atau hal yang dapat meningkatkan kinerja
keberlanjutan perusahaan daripada perusahaan non keluarga. Perusahaan dengan
kepemilikan keluarga dikatakan akan lebih memprioritaskan kualitaskeuntungan
atau pendapatan yang tinggi daripada perusahaan non keluarga (González et al.,
2015). Kinerja Keberlanjutan perusahaan diduga akan mempengaruhi kinerja
perusahaan untuk jangka panjang namun juga dapat menurunkan keuntungan
perusahaan dalam jangka pendek. Sehingga pada umumnya anggota keluarga akan
menggunakan praktik Corporate Sustainability (Oh et al., 2011).
Dengan peran kepemilikan keluarga pada perusahaan akan berpengaruh
pada kinerja keberlanjutan perusahaan. Hal tersebut sesuai dengan (Mustafa et al.,
2022) dan (Astrid Rudiyanto, 2017) yang mengungkapkan pada penelitiannya
bahwa Kepemilikan keluarga dinilai berpengaruh positif signifikan terhadap
kinerja keberlanjutan perusahaan. Menurut (Atabay, 2022) kepemilikan keluarga
berpengaruh negatif dan signifikan hal tersebut karena kepemilikan keluarga
diduga dapat menurunkan kinerja keberlanjutan perusahaan serta reputasi
perusahaan. Namun berbeda dengan penelitian (Ivan & Raharja, 2021) yang mengatakan bahwa kepemilikan keluarga tidak berpengaruh signifikan
