Pengertian Citra Merek


Menurut Tjiptono (2020) citra merek merupakan persepsi konsumen
terhadap suatu merek yang tercermin dari asosiasi-asosiasi yang melekat dalam
ingatan konsumen. Citra merek terbentuk melalui pengalaman langsung,
komunikasi pemasaran, word of mouth, serta informasi dari berbagai sumber
lainnya. Citra merek sangat penting karena memengaruhi keputusan pembelian,
loyalitas pelanggan, serta persepsi nilai dan kualitas dari suatu produk atau jasa.
Ciri-ciri merek yang kuat memiliki kemampuan untuk membentuk hubungan
emosional dengan pelanggan, meningkatkan loyalitas pelanggan, dan menjadi
pesaing utama di pasar yang ketat. Dengan citra merek yang baik, perusahaan
dapat membangun kepercayaan konsumen, memperluas jangkauan pasar, serta
menciptakan nilai tambah yang sulit ditiru oleh pesaing. Oleh karena itu,
pengelolaan citra merek menjadi strategi penting dalam mempertahankan posisi
perusahaan dan mendorong keputusan pembelian konsumen (Candra & Yasa,
2023). Menurut Nursaimatussaddiya & Cen (2022) citra merek dapat diukur
melalui beberapa aspek penting dari suatu merek, yaitu:

  1. Kekuatan (Strengthness)
    Merujuk pada kelebihan fisik yang dimiliki oleh suatu merek dan tidak
    dimiliki oleh merek lain. Kelebihan ini mencakup karakteristik atau
    atribut fisik yang menjadi nilai tambah produk, seperti fungsi produk
    yang berjalan baik, desain fisik yang menarik, harga yang kompetitif,
    serta fasilitas pendukung yang tersedia secara luas.
  2. Keunikan (Uniqueness)
    Menggambarkan kemampuan sebuah merek untuk tampil berbeda dari
    pesaingnya. Keunikan ini tercermin dari ciri khas produk, seperti desain,
    nama merek yang mudah diingat dan diucapkan, atau tampilan fisik
    yang membedakan produk dari merek lain di pasar.
  3. Keunggulan (Favorable)
    Meliputi seberapa mudah suatu merek dikenali dan diingat oleh
    konsumen. Aspek ini juga mencakup kesesuaian antara citra yang
    dimiliki konsumen terhadap merek dengan citra yang ingin dibentuk
    oleh perusahaan, sehingga produk menjadi dikenal luas dan disukai
    masyarakat

Indikator Kualitas Produk


Menurut Kotler et al. (2022) kualitas produk merupakan kemampuan suatu
produk untuk menjalankan fungsinya secara efektif dan memberikan manfaat
yang sesuai atau melebihi harapan konsumen. Kualitas produk menjadi elemen
kunci dalam menciptakan kepuasan pelanggan, membangun loyalitas, serta
membedakan suatu merek dari pesaing. Terdapat beberapa indikator penting
yang menggambarkan kualitas suatu produk, yaitu:

  1. Kinerja (Performance)
    Merujuk pada fungsi utama dari produk tersebut, yaitu karakteristik inti
    yang menjadi alasan utama konsumen membelinya.
  2. Fitur Tambahan (Features)
    Merupakan keunggulan tambahan yang dimiliki produk yang
    membuatnya berbeda dari produk lain sejenis, biasanya bersifat
    pelengkap atau sekunder.
  3. Keandalan (Reliability)
    Menggambarkan sejauh mana produk mampu berfungsi dengan baik
    secara konsisten, dengan risiko kerusakan atau kegagalan yang rendah
    selama penggunaan.
  4. Kesesuaian dengan Spesifikasi (Conformance)
    Menunjukkan seberapa baik produk memenuhi standar atau spesifikasi
    perusahaan, menunjukkan konsistensi mutu selama proses produksi.
  5. Daya Tahan (Durability)
    Menggambarkan ketahanan produk dalam jangka waktu penggunaan
    tertentu sebelum mengalami kerusakan, menunjukkan nilai guna jangka
    panjang.
  6. Kemudahan Perbaikan (Serviceability)
    Merujuk pada seberapa mudah produk dapat diperbaiki jika terjadi
    kerusakan, termasuk kecepatan, ketersediaan layanan, dan kemudahan
    memperoleh suku cadang.
  7. Estetika (Aesthetics)
    Mengacu pada tampilan visual dan desain produk, seperti bentuk,
    warna, dan gaya, yang memengaruhi daya tarik emosional konsumen.

Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Pasaribu et al. (2025) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang memengaruhi
kualitas suatu produk atau layanan sangatlah beragam dan saling berkaitan satu
sama lain. Kualitas tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh
seluruh proses yang terlibat dalam penciptaannya, mulai dari perencanaan
hingga distribusi. Adapun beberapa faktor utama yang dapat memengaruhi
kualitas adalah sebagai berikut:

  1. Desain Produk
    Desain menjadi faktor krusial dalam menentukan kualitas, karena
    produk dengan desain yang baik umumnya lebih fungsional, menarik
    secara visual, dan mudah digunakan. Sebaliknya, desain yang kurang
    baik dapat menurunkan kepuasan pelanggan serta meningkatkan risiko
    kerusakan.
  2. Bahan Baku dan Komponen
    Mutu bahan baku sangat menentukan kualitas akhir produk. Jika bahan
    yang digunakan tidak sesuai standar, maka hasil produksinya pun
    cenderung berkualitas rendah. Hal ini juga berlaku pada komponen,
    terutama pada produk teknologi seperti elektronik atau otomotif.
  3. Proses Produksi
    Proses produksi yang tertata dan dikendalikan dengan baik sangat
    penting dalam menjaga konsistensi mutu produk. Penggunaan teknologi
    tepat guna serta prosedur yang sistematis akan membantu
    meminimalisir kecacatan produk.
  4. Keterampilan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia
    Tenaga kerja yang kompeten dan terlatih akan menghasilkan produk
    atau layanan yang lebih baik. Oleh karena itu, pengembangan
    kemampuan dan pelatihan karyawan sangat diperlukan agar kualitas
    tetap terjaga.
  5. Teknologi dan Inovasi
    Teknologi modern memungkinkan proses produksi yang lebih presisi
    dan efisien. Selain itu, inovasi memungkinkan produk terus
    berkembang, baik dari segi desain, fungsi, maupun kenyamanan
    pengguna.
  6. Lingkungan Produksi
    Kondisi tempat produksi, termasuk sanitasi, pencahayaan, dan
    keamanan kerja, sangat berpengaruh terhadap hasil akhir produk.
    Lingkungan yang buruk dapat meningkatkan risiko cacat pada produk.
  7. Pengendalian Kualitas
    Adanya sistem pengawasan dan pengujian secara menyeluruh selama
    proses produksi sangat penting untuk memastikan produk yang
    dihasilkan sesuai standar dan bebas dari kerusakan sebelum sampai ke
    konsumen.
  8. Kebutuhan dan Harapan Pelanggan
    Kualitas sangat dipengaruhi oleh bagaimana pelanggan menilai suatu
    produk. Karena ekspektasi pelanggan bisa berbeda-beda, perusahaan
    perlu memahami kebutuhan tersebut dan menyesuaikan produk atau
    layanan yang ditawarkan.
  9. Harga
    Harga berperan dalam membentuk persepsi konsumen terhadap
    kualitas. Produk yang lebih mahal sering diasosiasikan dengan kualitas
    tinggi, sedangkan harga murah kadang dianggap mencerminkan mutu
    rendah, walau tidak selalu demikian.
  10. Regulasi dan Standar Industri
    Mematuhi peraturan dan standar industri sangat penting untuk menjaga
    kualitas produk. Ini berlaku khususnya di sektor-sektor yang sangat
    diawasi seperti makanan, obat-obatan, dan otomotif.

Pengertian Kualitas Produk


Produk berkualitas tinggi dianggap sebagai landasan penting dalam
menciptakan nilai pelanggan dan merupakan salah satu pilar utama dalam
strategi pemasaran. Menurut Kotler et al. (2022), kualitas produk didefinisikan
sebagai kemampuan suatu produk untuk memberikan manfaat sesuai dengan
yang dijanjikan, bahkan melebihi harapan konsumen. Kualitas tidak hanya
dilihat dari seberapa baik produk berfungsi, tetapi juga dari persepsi konsumen
terhadap keseluruhan pengalaman menggunakan produk tersebut. Selaras
dengan itu, Azizah & Fitrotun (2021) menyatakan bahwa kualitas produk
merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi keputusan pembelian.
Konsumen cenderung memilih produk yang dinilai memiliki spesifikasi tinggi,
desain menarik, fitur lengkap, serta sistem yang stabil dan mudah digunakan.
Ketersediaan layanan purna jual dan kemudahan perbaikan juga menjadi
indikator penting dalam menilai kualitas suatu produk. Persepsi positif terhadap
kualitas tersebut akan meningkatkan rasa percaya diri dan kepuasan konsumen,
yang pada akhirnya mendorong terjadinya keputusan pembelian. Kualitas
produk yang tinggi merupakan ekspektasi utama konsumen dan menjadi
tanggung jawab penting perusahaan. Kualitas produk yang baik tidak hanya
menentukan kepuasan pelanggan, tetapi juga menjadi fondasi dalam
membangun daya saing serta meningkatkan produktivitas perusahaan di tengah
persaingan pasar yang semakin kompetitif. Produk yang mampu
mempertahankan kualitasnya secara konsisten akan memperkuat kepercayaan
konsumen, menciptakan loyalitas, dan mendorong terjadinya pembelian ulang
(Pahmi, 2024).

Indikator Harga


Dalam variabel harga, terdapat sejumlah elemen utama yang menjadi fokus
strategi perusahaan, seperti penetapan daftar harga dasar, penawaran diskon,
potongan harga khusus, serta penentuan jangka waktu pembayaran. Selain
berfungsi sebagai mekanisme transaksi, komponen-komponen ini sangat
memengaruhi cara konsumen melihat nilai dan daya tarik suatu produk.
Menurut Kotler et al. (2022), terdapat lima indikator utama yang memengaruhi
persepsi konsumen terhadap harga yang ditetapkan, yaitu:

  1. Persepsi Nilai
    Jika konsumen merasa bahwa suatu produk memberikan manfaat yang
    sebanding atau lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan, harga
    produk tersebut akan dianggap wajar dan dapat diterima. Ini dikenal
    sebagai persepsi nilai.
  2. Harga Psikologis
    Harga psikologis berkaitan dengan bagaimana konsumen merespons
    harga secara emosional atau perseptual. Penetapan harga dapat
    dirancang untuk menciptakan kesan tertentu, seperti terlihat lebih murah
    atau memberikan kesan eksklusif, meskipun perbedaannya hanya dalam
    cara penyajian harga. Strategi ini memanfaatkan persepsi dan cara
    berpikir konsumen terhadap angka atau bentuk harga.
  3. Harga Relatif
    Harga relatif menjelaskan bagaimana pembeli menilai apakah harga
    yang ditawarkan sesuai dengan spesifikasi, kualitas, dan nilai tambah
    yang mereka harapkan. Penilaian ini memengaruhi apakah produk
    dianggap layak dibeli.
  4. Harga Jangka Panjang
    Harga jangka panjang merujuk pada pertimbangan konsumen terhadap
    manfaat dan nilai dari produk dalam penggunaan berkelanjutan.
    Konsumen memperhitungkan faktor-faktor seperti ketahanan produk,
    reputasi merek, dan efisiensi penggunaan dalam jangka waktu tertentu.
    Jika produk dipandang mampu memberikan nilai yang konsisten dan
    berkelanjutan, maka harga awal akan dianggap pantas.
  5. Harga Diskon dan Promosi
    Diskon dan promosi merupakan pendekatan harga yang digunakan
    untuk menciptakan daya tarik pembelian secara instan. Konsumen
    biasanya merespons secara positif terhadap penawaran terbatas,
    potongan harga, atau bonus pembelian karena hal ini memberikan kesan
    nilai lebih. Strategi ini sering digunakan untuk menarik perhatian pasar
    dan meningkatkan volume penjualan dalam jangka pendek.

Faktor yang Mempengaruhi Harga


Untuk menentukan harga sebuah barang atau jasa, perusahaan harus
mempertimbangkan banyak hal yang dapat memengaruhi keputusan mereka.
Beragam faktor dapat memengaruhi bagaimana harga ditentukan, mulai dari
kondisi pasar hingga persepsi konsumen. Berikut ini adalah beberapa menurut
faktor utama yang memberikan pengaruh terhadap harga oleh (Suryana, 2024).

  1. Persepsi Pelanggan
    Harga yang dapat dikenakan berkorelasi positif dengan nilai yang
    dirasakan pelanggan.
  2. Persaingan
    Harga pesaing mendorong perusahaan menyesuaikan atau membedakan
    harga agar tetap kompetitif.
  3. Regulasi Pemerintah
    Aturan harga membatasi ruang perusahaan dalam menentukan harga
    seenaknya.
  4. Kondisi Ekonomi
    Saat daya beli turun, harga harus disesuaikan agar produk tetap
    terjangkau.
  5. Biaya Produksi
    Semakin tinggi biaya, semakin tinggi harga yang perlu ditetapkan.
  6. Permintaan Pasar
    Permintaan tinggi memungkinkan harga lebih tinggi; permintaan rendah
    menuntut harga lebih rendah.
  7. Elastisitas Permintaan
    Produk tak elastis bisa dijual mahal, sementara produk elastis harus
    berhati-hati dalam penetapan harga.
  8. Segmentasi Pasar
    Harga bisa disesuaikan dengan kemampuan bayar tiap segmen pasar.
  9. Citra Merek
    Merek kuat bisa menarik harga lebih tinggi karena dianggap lebih
    bernilai.
  10. Saluran Distribusi
    Distribusi langsung bisa menekan harga, sementara lewat perantara
    menambah biaya.

Pengertian Harga


Menurut Kotler et al. (2022) harga dapat berupa jumlah uang yang harus
dibayar oleh pelanggan untuk suatu barang atau jasa tertentu, atau nilai tertentu
yang dapat ditukar untuk mendapatkan keuntungan dari memiliki atau
menggunakan barang atau jasa tersebut. Harga berperan besar dalam
memengaruhi keputusan konsumen untuk membeli. Konsumen biasanya
mempertimbangkan apakah harga yang ditawarkan sesuai dengan manfaat,
kualitas, dan kegunaan produk sebelum melakukan pembelian. Selain itu, harga
juga menjadi faktor krusial bagi penyedia jasa dalam bersaing di pasar (Nisa,
2023). Dalam dunia bisnis yang kompetitif, harga tidak hanya menjadi angka
yang melekat pada suatu produk atau layanan, tetapi juga menjadi salah satu
strategi utama dalam menarik perhatian konsumen. Penetapan harga yang tepat
dapat menjadi pembeda antara satu penyedia jasa dengan yang lain, serta
menjadi daya tarik awal bagi calon pelanggan dalam memutuskan suatu
pembelian. Dalam proses penetapan harga suatu barang atau jasa, dua faktor
utama yang memiliki peran paling besar adalah kekuatan permintaan dan
penawaran. Harga akan cenderung mencapai titik keseimbangan di pasar ketika
jumlah barang atau jasa yang diminta oleh konsumen sama dengan jumlah yang
ditawarkan oleh produsen atau penyedia jasa. Harga akan mencapai titik
keseimbangan ketika jumlah barang atau jasa yang diminta konsumen
samadengan jumlah yang ditawarkan oleh produsen (Nurhayati, 2023).

Indikator Keputusan Pembelian


Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Gunawan (2022) terdapat
beberapa indikator yang menjadi acuan dalam memahami proses Keputusan
Pembelian yang dilakukan oleh konsumen. Indikator-indikator tersebut
mencerminkan berbagai aspek penting yang dipertimbangkan konsumen dalam
menentukan pilihan terhadap suatu produk atau jasa. Adapun indikator
Keputusan Pembelian tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Pemilihan Produk
    Pemasar harus menarik perhatian pelanggan untuk mendorong mereka
    untuk membeli karena konsumen memiliki kebebasan untuk memilih.
  2. Pemilihan Merek
    Setiap merek menawarkan ciri khas tersendiri. Karena itu, pemasar perlu
    memahami cara konsumen dalam menentukan pilihan merek yang
    sesuai dengan preferensi mereka.
  3. Pemilihan Saluran Pembelian
    Konsumen juga membuat keputusan terkait tempat atau saluran
    distribusi produk yang akan mereka pilih untuk melakukan pembelian.
  4. Penentuan Waktu Pembelian
    Konsumen dapat memilih kapan mereka akan melakukan pembelian,
    dan setiap orang memiliki preferensi waktu yang berbeda.
  5. Pemilihan Metode Pembayaran
    Konsumen juga membuat keputusan mengenai cara pembayaran yang
    akan digunakan dalam transaksi pembelian suatu produk.

Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Menurut Samsiyah et al. (2023) terdapat beberapa faktor utama yang
memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Faktor-faktor ini saling
berkorelasi dan dapat memengaruhi perilaku konsumen saat mereka memilih
produk atau jasa tertentu.

  1. Faktor Budaya
    Budaya membentuk cara pandang dan kebiasaan seseorang sejak kecil,
    termasuk dalam memilih produk. Nilai, norma, dan kebiasaan dalam
    suatu budaya atau subkultur bisa sangat memengaruhi apa yang
    dianggap penting atau menarik oleh konsumen.
  2. Faktor Sosial
    Lingkungan sekitar, seperti keluarga, teman, dan komunitas, bisa
    memengaruhi keputusan pembelian. Konsumen sering kali
    mempertimbangkan pendapat atau pengalaman orang-orang terdekat
    sebelum membeli suatu produk.
  3. Faktor Pribadi
    Usia, pekerjaan, pendapatan, gaya hidup, dan kepribadian turut
    memengaruhi kebutuhan dan keinginan seseorang. Setiap individu
    punya preferensi yang berbeda tergantung kondisi pribadi mereka.
  4. Faktor Psikologis
    Motivasi, persepsi, pengalaman, kepercayaan, dan sikap menjadi
    dorongan dari dalam diri konsumen untuk membeli. Jika konsumen
    merasa suatu produk bisa memenuhi kebutuhannya, maka besar
    kemungkinan mereka akan memutuskan untuk membeli.

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah tindakan seseorang dalam menentukan pilihan
serta membeli barang atau jasa yang dianggap sesuai dengan kebutuhannya.
Proses ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor pribadi, seperti tingkat usia,
penghasilan, jenis pekerjaan, serta situasi ekonomi yang sedang dihadapi
(Gunawan, 2022). Faktor pribadi dan perilaku pelanggan sangat penting dalam
proses pengambilan keputusan. Di era persaingan pasar yang semakin ketat,
terutama dalam industri teknologi seperti smartphone, perilaku konsumen
menjadi semakin kompleks. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan aspek
fungsional, tetapi juga faktor-faktor utama seperti harga, kualitas produk, dan
citra merek. Xiaomi, misalnya, berhasil menarik minat pasar melalui produk
dengan spesifikasi tinggi dan harga terjangkau (Arfah & Purnama, 2024).
Menurut Ngurah et al. (2025) keputusan pembelian dipengaruhi oleh harga,
lokasi, promosi, kemudahan, dan pelayanan. Indriani et al. (2025)
menambahkan bahwa proses ini mencakup pemilihan produk dari berbagai
alternatif yang tersedia. Selain preferensi pribadi, konsumen juga
mempertimbangkan persepsi terhadap kualitas, harga, citra merek, pengalaman
sebelumnya, serta pengaruh eksternal seperti promosi dan rekomendasi.
Ramadhani (2024) juga mendefinisikan proses keputusan pembelian tidak
terjadi secara instan, melainkan melalui lima tahapan utama yang saling
berkaitan. Proses ini dimulai dari pengenalan kebutuhan hingga perilaku
konsumen setelah pembelian dilakukan. Berikut penjabaran kelima tahapan
tersebut:

  1. Pengenalan Masalah
    Tahapan awal dimulai ketika konsumen menyadari adanya kebutuhan
    yang belum terpenuhi atau masalah yang harus diatasi. Kesadaran ini
    timbul dari perbedaan antara kondisi aktual yang sedang dialami dengan
    15
    kondisi ideal yang diharapkan. Misalnya, seorang individu menyadari
    bahwa produk perawatan wajah miliknya telah habis, sehingga muncul
    kebutuhan untuk membeli produk baru guna memenuhi keperluan
    tersebut. Kesenjangan ini menjadi pemicu awal yang mendorong proses
    pengambilan keputusan pembelian.
  2. Pencarian Informasi
    Setelah mengenali kebutuhan, konsumen akan mulai mencari informasi
    untuk mengetahui solusi terbaik yang tersedia. Informasi ini bisa
    bersumber dari pengalaman pribadi, saran dari orang terdekat, iklan,
    media sosial, hingga ulasan produk di internet. Pada tahap ini, konsumen
    cenderung ingin memperoleh sebanyak mungkin informasi yang relevan
    agar dapat membuat keputusan yang lebih tepat. Pencarian informasi ini
    membantu memperluas wawasan konsumen mengenai berbagai
    alternatif produk atau merek yang dapat dipilih.
  3. Evaluasi Alternatif
    Tahap selanjutnya adalah mengevaluasi pilihan-pilihan yang telah
    ditemukan. Konsumen akan membandingkan berbagai merek atau
    produk berdasarkan atribut tertentu, seperti kelebihan, kekurangan,
    harga, kualitas, serta nilai atau manfaat yang ditawarkan. Proses
    evaluasi ini bersifat subjektif, karena bergantung pada preferensi,
    kebutuhan, dan prioritas masing-masing individu. Hasil dari evaluasi ini
    akan menjadi dasar dalam menentukan keputusan pembelian.
  4. Keputusan Pembelian
    Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif, konsumen akhirnya
    mengambil keputusan mengenai produk atau merek mana yang akan
    dibeli. Meski demikian, keputusan ini tidak sepenuhnya rasional, karena
    masih bisa dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengalaman sebelumnya,
    pendapat orang lain, ketersediaan produk, maupun situasi pembelian.
    Artinya, meskipun satu produk dinilai paling unggul saat evaluasi, bisa
    saja konsumen tetap memilih produk lain karena alasan tertentu.
  5. Perilaku Setelah Pembelian
    16
    Tahap terakhir dalam proses ini adalah penilaian konsumen terhadap
    pengalaman yang mereka rasakan setelah melakukan pembelian.
    Konsumen akan menilai apakah produk yang dibeli sesuai dengan
    harapan dan kebutuhan mereka. Apabila konsumen merasa puas, maka
    mereka cenderung melakukan pembelian ulang dan bahkan
    merekomendasikannya kepada orang lain. Sebaliknya, apabila
    konsumen merasa kecewa, mereka mungkin akan menyampaikan
    keluhan atau beralih ke produk lain di masa mendatang.

Reputasi E-Commerce


Pengertian Reputasi Menurut Doney dan Cannon reputasi perusahaan
berhubungan dengan sejarah atau riwayat perusahaan terutama dalam hubungannya
dengan pihak lain, apakah memiliki hubungan yang lebih baik atau tidak. Reputasi
perusahaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen terhadap suatu produk atau jasa dari suatu perusahaan.
Reputasi atau merek menjadi sebuah masalah dari sikap dan kepercayaan terhadap
kesadaran pada merek dan image.
Upaya pemasaran yang dilakukan oleh suatu perusahaan, terutama
merunjuk adanya anggapan bahwa reputasi yang berupa citra merk (brand image),
citra perusahaan (company image), pelayanan prima (service excelent) dan semua
yang berhubungan dengan kepuasaan nasabah mendapatkan prioritas. Reputasi bank
merupakan karateristik suatu bank yang berbentuk dari pandangan yang pihak yang
terlibat dengan bank yang menjadikannya unggul dan kompetitif dibandingkan bank
lain. Reputasi baik yang dimilki bank menjadi dasar kepercayaan nasabah
penyimpan untuk tetap menggunakan jasa simpanan dan membuat keputusan
menabung. Reputasi bank dianggap penting oleh nasabah untuk teap
mempercayakan dana yang mereka miliki dikelola oleh bank terkait. Semakin baik
reputasi yang dimiliki ban dari pandangan nasabah, maka semakin kuat keputusan
yang diambil nasabah untuk menabung di bank.
Indikator Reputasi Adapun indikator-indikator reputasi pada penelitian ini diacu dari
penelitian Selnes adalah:
a. Nama baik, Nama baik adalah persepsi para nasabah tentang sejauh mana nama
baik yang berhasil dibangun oleh bank bagi sebuah perusahaan., menjaga nama
baik tentunya menjadi salah satu kewajiban utama mereka untuk mendukung
kelnacaran pemasaran bisnisnya. Apabila nama baik yang dimilki oleh pelaku
usaha sudah cukup kuat, maka konsumen akan lebih percaya dengan
kemampuan bisnis yang dijalankannya dan tidak ragu lagi untuk membeli atau
menggunakan produk dan jasa yang ditawarkan sebuah perusahaan.
b. Reputasi pesaing, Reputasi pesaing adalah persepsi para nasabah bank
mengenai sebarapa baik reputasi bank tersebut dibanding dengan bank-bank
lain. Sebuah perushaan harus memiliki kekuatan untuk menonjolkan nilai lebih
yang dimiliki dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Artinya ciri khas sangat
diperlukan dalam suatu perusahaan.
c. Dikenal luas, Dikenal luas menunjukkan persepsi nasabah, baik tentang sejauh
mana nama bank tersebut sudah dikenal luas oleh masayarakat sebuah
perusahaan pasti ingin produknya dikenal secara luas baik produk baru maupun
produk lamanya.
d. Kemudahan, diingat Kemudahan di ingat menunjukkan persepsi para nasabah
bank akan kemudahan nasabah untuk menginat nama baik bank tersebut jika
nama sebuah perusahaan mudah di ingat maka orang akan lebih mudah
menemukan anda di search angine atau dalam dunia nyata. Seperti halnya
perusahaan yang bernama international business machine lebih di kenal dengan
sebutan IBM.

Latar Belakang Kualitas Produk


Ada tiga hal mendasar yang mempengaruhi tingkat kesuksesan suatu produk
atau layanan di pasaran : harga, ketersediaan dan kualitas/kualitas
Konsumen sangat mebutuhkan produk/layanan yang berkualitas tinggi, harga
terjangkau dan sesuai dengan manfaat yang diperoleh
Organisasi /perusahaan akan mampu bersaing di pasaran jika tingkat kepuasan
pelanggan cukup tinggi.
Menurut Martinich dalam Badri (2011:63), ada enam spesifikasi dari dimensi
kualitas produk barang yang relevan dengan pelanggan.

  1. Performance (hal terpenting bagi pelanggan yaitu apakah kualitas produk
    menggambarkan keadaan yang sebenarnya atau apakah pelayanan diberikan
    dengan cara yang benar)
  2. Range and type of features (selain fungsi utama darisuatu produk dan pelayanan
    pelanggan sering kali tertarik pada kemampuan/keistimewaan yang dimiliki
    produk dan pelayanan).
  3. Reliability dan durability (kehandalan produk dalam penggunaan secara normal
    dan berapa lama produk dapat digunakan hingga perbaikan diperlukan)
  4. Maintainability and Serviceability (kemudahan untuk pengoperasian produk
    dan kemudahan perbaikan maupun ketersediaan komponen pengganti).
  5. Sensory Characteristic (penampilan, corak, rasa, daya tarik, bau, selera, dan
    beberapa faktor lainnya mungkin menjadi aspek penting dalam kualitas.
  6. Ethical profile and image (kualitas adalah bagian terbesar dari kesan pelanggan
    terhadap produk dan pelayanan)

Kualitas Produk


Kualitas produk merupakan hal penting yang harus diusahakan oleh setiap
perusahaan jika ingin yang dihasilkan dapat bersaing dipasar untuk memuaskan
kebutuhan dan keinginan konsumen. Dewasa ini sebagian besar konsumen semakin
kritis dalam mengkonsumsi suatu produk. Konsumen selalu ingin mendapatkan
produk yang berkualitas sesuai dengan harga yang dibayar, meskipun ada sebagian
masyarakat berpendapat bahwa, produk yang mahal adalah produk yang berkualitas.
Kualitas mencerminkan semua dimensi penawaran produk yang menghasilkan
manfaat (benefits) pada pelanggan. Dimensi dari kualitas produk ini meliputi
delapan dimensi. Yang terdiri dari :
a. Performance, kinerja ( performance) yaitu karakteristik operasi pokok dari
produk inti dan dapat didefinisikan sebagi tampilan dari sebuah produk yang
sesungguhnya.
b. Durability (daya tahan), yang berarti beberapa lama umur produk yang
bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar
frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya
produk.
c. Conformance to specifications ( kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh
mana karakteristik operasi dasar sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu
dari konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
d. Features ( fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen
terhadap produk.
e. Reliability ( reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil
kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
f. Aesthetics ( estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk.
g. Perceived quality ( kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari
penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat
kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas
produk yang bersangkutan.
h. Serviceability, meliputi kecepatan dan kemudahan untuk direparasi, serta
kompetensi dan keramahtamahan kualitas pelayanan.
Menurut Baldric Siregar dalam skripsi Burhanudin Al-Ghozali kualitas (quality)
dapat diartikan dari tiga faktor yaitu:
a. Memuaskan harapan konsumen yang berkaitan dengan atribut-atribut harapan
konsumen.
b. Memastikan seberapa baik produk dapat memenuhi aspek-aspek teknis dari
desain produk tersebut, kesesuaian kerja dengan standart pembuatannya.
c. Kualitas merupakan harapan konsumen sehingga upaya meningkatkan kualitas
(improving quality) merupakan kewajiban produsen.

Keuntungan dan kerugian E-commerce


Keuntungan
Ada beberapa keuntungan yang dapat diambil dengan adanya ecommerce, yaitu :

  1. revenue (aliran pendapatan) baru yang mungkin lebih menjajikan yang tidak
    bisa ditemui di sistem transaksi pasar tradisional,
  2. dapat meningkatkan market exposure (pangsa pasar),
  3. menurunkan biaya operasional (operating cost),
  4. melebarkan jangkauan global reach,
  5. meningkatkan loyalitas konsumen consumer loyality,
  6. meningkatkan supplier management,
  7. memperpendek waktu produksi,
  8. meningkatkan mata rantai pendapatan (value chain).
    Meskipun e-commerce merupakan sistem yang menguntungkan karena dapat
    mengurangi biaya transaksi bisnis dan dapat memperbaiki kualitas pelayanan,
    namun sisitem e-commerce ini beserta semua infrastruktur pendukungnya mudah
    sekali untuk disalah gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Bisa
    jadi kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul melalui berbagai cara kerusakan
    hebat yang terjadi pada semua element yang berkaitan dengan sistem. Dari segi
    pandangan bisnis, penyalahgunaan dari kegagalan sistem yang terjadi terdiri atas :
  9. Kehilangan segi financial secara langsung karena kecurangan,
  10. pencurian informasi rahasia yang berharga,
  11. kehilangan kesempatan bisnis karena ganguan pelayanan,
  12. penggunaan akses ke sumber oleh pihak yang tidak berhak,
  13. kehilangan kepercayaan dari para konsumen, dan
  14. kerugian-kerugian yang tak terduga.

Keuntungan-Keuntungan E-commerce


Beberapa bentuk keuntungan e-commerce yang didapatkan dari penggunaannya
yaitu:

  1. Revenue Stream (aliran pendapatan) baru yang mungkin menjanjikan, yang
    tidak bisa ditemui di sistem transaksi tradisional.
  2. Dapat meningkatkan Market Exposure.
  3. Menurunkan tingkat biaya operasional (Operating Cost).
  4. Melebarkan jangkauan perusahaan (Global Reach).
  5. Meningkatkan Customer Loyality.
  6. Meningkatkan Supplier Management.
  7. Memperpendek waktu produksi.
  8. Meningkatka Value Chain (Mata rantai pendapatan).

Jenis-jenis E-commerce


Dalam e-commerce terbagi menjadi tiga jenis model bisnis yang biasanya dilakukan
dalam praktek, yaitu :
a. Bussines to Bussines (B2B)
Merupakan sistem komunikasi bisnis online antar pelaku bisnis yang
mengikatkan dirinya di dalam suatu kegiatan untuk melakukan suatu usaha
dengan pihak pebisnis lainnya.
Adapun karakteristik dari bussines to bussines ini adalah :

  1. Trading partner yang sudah saling mengetahui diatara mereka terjalin
    hubungan yang cukup lama. Pertukaran informasi hanya terjadi diantara
    mereka dan karena mereka telah saling mengenal, maka pertukaran
    informasi dilakukan atas dasar kebutuhan.
  2. Pertukaran data dilakukan secara berulang-ulang dan berkala dengan format
    data yang telah disepakati. Sehingga servis yang dilakukan antara kedua
    sistem tersebut sama dan menggunakan standar yang sama pula.
  3. Salah satu pelaku tidak harus menunggu partner mereka lainnya untuk
    mengirim data. Model yang umum digunakan adalah model peer to peer,
    dimana processing intelligent dapat di distribusikan di kedua pelaku bisnis.
    b. Bussines to consumer (B2C)
    Berbeda dengan bussines to bussines, banyak cara digunakan untuk melakukan
    pendekatan dengan pihak konsumen, antara lain dengan mekanisme toko online
    electronic shopping mall atau bisa juga menggunakan sistem portal. Toko online
    memanfaatkan website untuk menjajakan produk dan jasa pelayanannya. Para
    penjual menyediakan semacam storefront yang berisikan catalog produk dan
    pelayanan yang diberikan. Para pembeli bisa melihat-lihat barang apa saja yang
    akan dibeli dan pembeli dapat melakukan kapan saja tanpadibatasi jam buka
    took.
    Adapun karakteristiknya adalah :
  4. Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan secara umum
  5. Servis yang digunakan juga bersifat umum, sehingga mekanismenya dapat
    digunakan orang banyak.
  6. Servis yang diberikan adalah berdasarkan permintaan, konsumen
    berinisiatif sedangkan produsen harus siap memberikan respon atau
    tanggapan terhadap konsumen tersebut.
  7. Sering dilakukan sistem pendekatan client-server, dimana konsumen
    dipihak client menggunakan sistem yang minimal dan penyedia barang atau
    jasa berada pada pihak server.
  8. Pihak-pihak dalam ecommerce contract ini adalah e-mercant yang
    menawarkan suatu produk atau jasa kepada pihak e-costumer yang
    menggunakan atau membeli barang atau jasa yang ditawarkan. E-commerce
    merupakan tempat berlangsungnya komunikasi dan sekaligus sebagai
    tempat berlangsungnya penyerahan media tersebut

c. Consumer to consumer (C2C)
Transaksi bisnis pada consumer to consumer dilakukan antar konsumen secara
online untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu dan terjadi pada saat tertentu.
Model transaksi ini lebih khusus karena transaksi ini dilakukan antar konsumen
dengan bertukar informasi atas suatu barang dan jasa. Informasi ini dapat
tersebar luas melalui komunitas-komunitas tertentu, misalnya komunitas
fotografi.
Dalam informasi bisni yang berlangsung di dalam ecomerce seharusnya
menyediakan informasi yang akurat, jelas, dan dapat mudah diakses, misalnya:

  1. Identifikasi dari bisnis tersebut
  2. Komunikasi yang efektif, tepat waktu, mudah dan efektif antara konsumen
    dan pengusaha
  3. Penyelesaian masalah yang tepat dan efektif
  4. Proses pelayanan hukum yang baik
  5. Domisili hukum pengusaha yang jelas.

E-Commerce


E-commerce adalah salah satu strategi penting dalam bisnis saat ini,
dikarenkana e-commerce dapat meningkatkan tingkat efiensi dalam suatu
perusahaan. Meningkatkan jumlah pelanggan untuk belanja online, e-commerce
telah terbukti menjadi lebih rumit dibandingkan dengan cara-cara tradisonal
melakukan bisnis (Santouris, 2012).

Kepercayaan Konsumen


Pengertian Kepercayaan Menurut Pavlou dan Geffen dalam Baskara dan
Hariyadi (2014), faktor yang sangat penting yang bisa mempengaruhi minat
pembelian yang kemudian dapat memicu keputusan pembelian online oleh
konsumen adalah faktor kepercayaan. Faktor kepercayaan menjadi faktor kunci
dalam setiap transaksi jual beli secara online. Hanya pelanggan yang memiliki
kepercayaan yang akan melalui transaksi melalui internet. Menurut Kramer dalam
Ling et al (2010), kepercayaan adalah pernyataan kompleks karena individu tidak
tahu motif dan minat lain. Kimery dan McCard dalam Suryani (2013)
mendefinisikan kepercayaan sebagai kesediaan konsumen untuk menerima
kerentanan dalam melakukan transaksi online berdasarkan harapannya yang positif
mengenai perilakunya berbelanja online pada masa mendatang.
Dimensi Kepercayaan Menurut Ling et al (2010) dimensi kepercayaan meliputi
keamanan, privasi dan keandalan. Ketiga faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:

  1. Keamanan didefinisikan sebagai sejauh mana pelanggan percaya bahwa jual
    beli online aman bagi mereka untuk mengirimkan informasi sensitif terhadap
    transaksi bisnis. Keamanan berperan penting dalam mempengaruhi sikap dan
    minat beli karena dianggap memiliki resiko transmisi informasi seperti nomor
    kartu kredit dan lain-lain.
  2. Privasi didefinisikan sebagai menjaga segala perilaku konsumen selama
    transaksi yang kemudian berkaitan dengan kinerja toko online.
  3. Keandalan perusahaan dapat mempengaruhi kepercayaan konsumen. Dalam
    lingkungan web-shopping sebagian besar konsumen menganggap bahwa
    perusahaan besar memiliki kemampuan yang lebih baik untuk meningkatkan
    kepercayaan online mereka. Hal ini juga mengusulkan bahwa sebuah
    perusahaan dengan reputasi positif yang meningkatkan kepercayaan konsumen.
    Kepercayaan Menurut Kotler dan Keller (2012) kepercayaan adalah
    kesediaan perusahaan untuk bergantung pada mitra bisnis. Kepercayaan tergantung
    pada beberapa faktor antar pribadi dan antar organisasi seperti kompetensi,
    integritas, kejujuran dan kebaikan hati. Membangun kepercayaan bisa menjadi hal
    yang sulit dalam situasi online, perusahaan menerapkan peraturan ketat kepada mitra
    bisnis online mereka dibanding mitra lainnya. Pembeli bisnis khawatir bahwa
    mereka tidak akan mendapatkan produk atau jasa dengan kualitas yang tepat dan
    dihantarkan ke tempat yang tepat pada waktu yang tepat, begitupun sebaliknya.
    Menurut Siagian dan Cahyono (2014) kepercayaan merupakan sebuah
    keyakinan dari salah satu pihak mengenai maksud dan perilaku yang ditujukan
    kepada pihak yang lainnya, dengan demikian kepercayaan konsumen didefinisikan
    sebagai suatu harapan konsumen bahwa penyedia jasa bisa dipercaya atau
    diandalkan dalam memenuhi janjinya. Menurut Gunawan (2013) kepercayaan
    didefinisikan sebagai bentuk sikap yang menunjukkan perasaan suka dan tetap
    bertahan untuk menggunakan suatu produk atau merek. Kepercayaan akan timbul
    dari benak konsumen apabila produk yang dibeli mampu memberikan manfaat atau
    nilai yang diinginkan konsumen pada suatu produk. Menurut Andromeda (2015)
    kepercayaan konsumen terhadap website online shopping terletak pada popularitas
    website online shopping itu sendiri, semakin bagus suatu website, konsumen akan
    lebih yakin dan percaya terhadap reliabilitas website tersebut.

Keputusan pembelian


Keputusan pembelian adalah proses pengambilan keputusan dari beberapa
alternatif yang diberikan untuk menganalisa kebutuhan, keinginan, pencarian
informasi, penilaian sumbersumber seleksi terhadap alternatif pembelian keputusan
pembeli (Hutagaol, 2019). Keputusan pembeli menurut (Zulaicha & Irawati, 2016)
adalah suatu pilihan dari dua pilihan alternatif atau lebih sehingga seorang konsumen
dapat memilih pilihan alternatif mana yang ingin dipilih. Berdasarkan (Chairul
Akbar & Sunarti, 2018) keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk
memenuhi kebutuhannya yang dinilai berdasarkan kepuasan konsumen itu sendiri.
Pada umumnya, keputusan pembelian konsumen adalah membeli merek
yang paling disukai, tetapi 2 faktor bisa berada antara niat dan keputusan pembelian.
Faktor pertama adalah orang lain. Jika seseorang yang mempunyai arti penting bagi
konsumen, maka ia dapat mempengaruhi konsumen tersebut. Faktor kedua adalah
faktor situasional yang tidak diharapkan. Konsumen mungkin membentuk niat
pembelian berdasarkan faktor-faktor seperti pendapat, harga, dan manfaat produk
yang diharapkan. Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang
secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang
ditawarkan.
Kotler & Keller (2012) mengemukakan bahwa konsumen melewati lima
tahap dalam proses pembelian sebuah produk, yaitu:

  1. Pengenalan Masalah
  2. Pencarian Informasi
  3. Evaluasi Alternatif
  4. Keputusan Membeli
  5. Pasca Pembelian Dalam pengambilan keputusan membeli, konsumen seringkali
    dipengaruhi oleh dua pihak atau lebih yang terlibat dalam proses pertukaran dan
    pembeliannya.
    Umumnya ada lima macam peranan yang dapat dilakukan seseorang.
    Dimana kelima peranan ini dipegang oleh satu orang, namun seringkali pula peran
    tersebut dilakukan oleh beberapa orang. Kelima peran tersebut meliputi (Kotler dan
    Armstrong, 2012)
  6. Pemrakarsa (Initiator) yaitu orang yang pertama kali menyadari adanya
    keinginan atau kebutuhan yang belum terpenuhi dan mengusulkan ide untuk
    membeli suatu barang atau jasa tertentu.
  7. Pemberi pengaruh (Influenser) yaitu orang yang pandangan, nasehat atau
    pendapatnya mempengaruhi keputusan pembelian.
  8. Pengambil keputusan (Desider) yaitu orang yang menentukan keputusan
    pembelian, misalnya apakah jadi membeli, apa yang dibeli, bagaimana cara
    membeli, atau mana membelinya.
  9. Pembeli (Buyer) yaitu orang yang melakukan pembelian aktual.
  10. Pemakai (User) yaitu orang yang mengkonsumsi atau menggunakan barang atau
    jasa yang dibeli.

Persepsi Harga


Persepsi harga menurut Rangian et al., (2022) merupakan salah satu faktor
penting bagi konsumen untuk melakukan keputusan pembelian, salah satu pengaruh
yang penting dalam reaksi konsumen terhadap suatu produk adalah harga.
Berdasarkan hal tersebut persepsi harga menjadi alasan konsumen dalam membuat
keputusan. Persepsi harga menurut Anita et al., (2023) ialah bagaimana cara
konsumen melihat harga sebagai harga yang tinggi, rendah dan adil. Hal ini
mempunyai pengaruh yang kuat baik kepada minat beli dan kepuasan dalam
pembelian. Persepsi harga berkaitan dengan bagaimana informasi harga dipahami
seutuhnya dan memberikan makna yang dalam oleh konsumen.
Persepsi harga sering diidentikan menggunakan persepsi kualitas dan
persepsi biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh produk. Persepsi harga dibuat
oleh dimensi dua primer, yaitu persepsi kualitas serta persepsi biaya yang
dikeluarkan. Kedua dimensi itu menurut Mirella et al., (2022) merupakan faktor
yang mempengaruhi persepsi harga dan diuraikan sebagai berikut:
a) Perceived Quality (persepsi kualitas)
Konsumen cenderung lebih menyukai produk yang harga mahal ketika
berita yang didapat hanya harga produk. Persepsi konsumen terhadap
kualitas suatu produk ditentukan oleh persepsi mereka terhadap nama
merek, nama toko, garansi yang diberikan serta negara yang mengasilkan
produk tersebut.
b) Perceived Moneter (persepsi biaya yang dikeluarkan)
Secara umum konsumen menganggap bahwa harga adalah biaya yang
dikeluarkan untuk menerima produk. akan tetapi konsumen mempunyai
persepsi yang berbeda-beda terhadap biaya yang dikeluarkan meskipun
untuk produk yang sama. Hal ini tergantung situasi serta syarat yang
dialami konsumen, dalam hal ini terdapat tiga kondisi yang mempengaruhi
persepsi konsumen terhadap biaya yang dikeluarkan, yaitu persepsi
terhadap pajak, persepsiterhadap kewajaran harga dan dampak merek
ekuitas.
Dalam penelitian ini digunakan empat indikator persepsi harga yang sama
dengan penelitian Gusti et al., (2023) yaitu:
a) Keterjangkauan harga
Perusahaan dalam menentukan harga produk harus memperhitungkan
kemampuan konsumennya.
b) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Harga yang ditetapkan perusahaan harus sesuai dengan kualitas yang
diberikan.
c) Kesesuaian harga dengan manfaatnya
Dalam memutuskan membeli suatu produk konsumen memikirkan dengan
matang apakah harga yang tertera sesuai dengan manfaat yang diberikan
oleh produk tersebut.
d) Harga sesuai kemampuan atau daya saing harga
Apabila perusahaan menetapkan harga produknya terlalu tinggi jika
dibandingkan dengan produk pesaing maka ukuran daya saing yang dimiliki
oleh produk itu akan kecil bahkan tidak ada.

Persepsi Kualitas Produk


Persepsi kualitas produk menurut Milton, (2023) merupakan gambaran
produk yang dipersepsikan oleh konsumen sebagai pengguna produk tersebut.
Persepsi kualitas produk juga dapat diartikan sebagai penilaian konsumen terhadap
keunggulan atau superioritas produk secara keseluruhan. Oleh sebab itu persepsi
kualitas didasarkan pada evaluasi subyektif konsumen terhadap kualitas produk
Fitriana, (2020).
Persepsi kualitas produk menurut Kusumadewi, (2023) adalah persepsi
pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa
layanan berkaitan dengan apa yang diharapkan oleh pelanggan. Persepsi kualitas
produk yang ada didalam produk tersebut harus sesuai dengan apa yang diharapkan
konsumen, dimana jika kualitas produk tersebut sesuai dengan yang diharapkan
konsumen maka banyak konsumen yang menginginkan produk tersebut. Persepsi
yang baik mengenai kualitas suatu merek produk sering dijadikan alasan utama
seorang konsumen membeli produk Devita et al., (2021). Persepsi terhadap kualitas
keseluruhan dari suatu produk atau jasa dapat menentukan nilai dari produk atau
jasa tersebut dan berpengaruh secara langsung kepada minat beli konsumen.
Persepsi kualitas yang positif akan mendorong keputusan pembelian dan
menciptakan loyalitas terhadap produk tersebut. Karena persepsi kualitas
merupakan persepsi konsumen maka dapat diramalkan jika persepsi kualitas
konsumen negatif, produk tidak akan disukai dan tidak akan bertahan lama di pasar
Sumual et al., (2023).
Dalam penelitian ini akan menggunakan empat indikator kualitas produk
yang sesuai dari 7 indikator dari penelitian yang dilakukan oleh Kealesitse dan
Kabama (2012) mengungkapkan beberapa indikator kualitas produk, khususnya
yang terkait dengan produk yang berupa makanan:
a) Rasa (taste), terkait dengan rasa dari produk yang disediakan
perusahaan.
b) Kesegaran (freshness), terkait dengan kesegaran produk yang
disediakan oleh perusahaan.
c) Tidak beresiko (not risky), terkait dengan kemampuan produk untuk
tidak membahayakan konsumen.
d) Penampilan (appearance), terkait dengan penampilan produk yang
disediakan perusahaan.
e) Garansi (guarantee), terkait dengan garansi yang diperlihatkan
perusahaan terhadap produk yang disediakan pada konsumen.
f) Masa kadaluwarsa (best before date), terkait dengan masih lama atau
tidaknya masa kadaluwarsa sebuah produk.
g) Kemasan produk (packaging material), terkait dengan daya tarik
kemasan produk yang disediakan perusahaa

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah tahapan perilaku sebelum proses hingga
menuju pasca pembelian Arfah, (2022). Keputusan Pembelian menurut Nurlina
(2022) adalah suatu proses pengambilan keputusan yang bisa dipengaruhi oleh
perilaku konsumen atau pelanggan. Keputusan pembelian menurut Widjanarko et
al., (2023) juga diartikan sebagai sikap seseorang saat membeli atau memakai
sebuah produk yang menurutnya memberikan kepuasan. Keputusan pembelian
menurut Atmaja (2022) adalah sebuah proses yang diawali saat konsumen
mengetahui masalahnya, memperoleh sebuah informasi mengenai produk atau
merek yang diinginkan, kemudian menerapkan evaluasi produk atau merek yang
dipilih, sehingga terdapat beberapa alternatif yang dapat dipilih untuk memecahkan
masalah tersebut, kemudian serangkaian proses yang dilalui tersebut menuju pada
keputusan pembelian.
Menurut Yenni, (2022) keputusan pembelian dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu:
faktor internal dan faktor eksternal.
a. Faktor internal merupakan faktor yang dapat mempengaruhi keputusan
pembelian konsumen yang berasal dari dalam diri konsumen. Faktor
internal meliputi motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan
(kepercayaan) dan sikap

  1. Motivasi, muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh
    konsumen. Motivasi adalah motif intern yang menyebabkan orang
    berperilaku seperti yang mereka lakukan. Sedangkan motif adalah
    dorongan kebutuhan dan keinginan individu yang diarahkan pada tujuan
    untuk memperoleh kepuasan.
  2. Persepsi merupakan proses individu untuk mendapatkan
    mengorganisasi, mengolah dan menginterpretasikan informasi.
    Informasi yang sma bisa dipersepsikan berbeda oleh individu yang
    10
    berbeda. Terjadinya persepsi dipengaruhi oleh pengalaman. Hasil dari
    pengalaman individu akan membentuk suatu persepsi terhadap suatu
    produk. Perbedaan persepsi konsumen akan menciptakan perilaku
    pembelian yang berbeda pula. Persepsi dalam keputusan pembelian
    secara online meliputi persepsi kemudahan, persepsi resiko dan persepsi
    manfaat.
  3. Pembelajaran merupakan perubahan perilaku individu yang terjadi
    sebagai akibat adanya pengalaman.
  4. Keyakinan dan sikap merupakan faktor internal (psikologis) yang
    mempengaruhi keputusan pembelian konsumen.
    b. Faktor eksternal adalah faktor yang mempengaruhii keputusan pembelian
    yang berasal dari luar diri konsumen. Faktor eksternal meliputi budaya,
    kelas sosial dan keanggotaan dalam suatu kelompok.
  5. Budaya adalah faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yang
    tercemin pada cara hidup, kebiasaan dan tradisi dalam permintaan akan
    bermacam-macam barang dan jasa yang ditawarkan.
  6. Kelas sosial mengacu pada pengelompokkan orang yang sama dalam
    perilaku berdasarkan posisi ekonomi mereka dalam pasar.
  7. Keanggotaan dalam suatu kelompok yang bermacam-macam alasan
    dalam bergabung misalnya adanya kesamaan hobi, profesi, pendidikan,
    suku, etnis, budaya, agama dan bangsa.
    Menurut (Kotler & Keller, 2020), terdapat empat indikator keputusan
    pembelian, yaitu: Kemantapan pada sebuah produk
    a) Kemantapan pada sebuah produk ialah suatu keputusan yang
    dilakukan konsumen setelah mempertimbangkan berbagai informasi
    yang mendukung proses pengambilan keputusan. Kebiasaan dalam
    membeli produk
    b) Kebiasaan dalam membeli produk
    Merupakan pengalaman yang dialami oleh orang terdekat (orang tua,
    saudara, dan teman) dalam menggunakan atau mencoba suatu produk.
    c) Memberikan rekomendasi kepada orang lain
    Memberikan rekomendasi kepada orang lain merupakan
    penyampaian suatu informasi dengan tujuan agar orang tersebut
    tertarik untuk membeli sebuah produk dengan pengaruh yang positif.
    d) Melakukan pembelian sesuai kebutuhan
    Konsumen memutuskan untuk membeli sebuah produk sesuai dengan
    kebutuhan yang telah diperkirakan sebelumnya. Sehingga keputusan
    dalam membeli sebuah produk telah disesuaikan dengan kebutuhan
    konsumen tersebut

Pengaruh Rating terhadap Keputusan Pembelian


Rating menjadi acuan yang cepat bagi konsumen dalam melakukan
pemilihan produk dan jasa secara online. Melalui fitur rating, konsumen dapat
mengurutkan produk dan jasa berdasarkan rating yang tertinggi sehingga
memudahkan pemilihan produk (Setiawan & Sukardi, 2022). Produk yang memiliki
rating yang tinggi cenderung mendapatkan perhatian dari calon pembeli karena
keterbatasan informasi untuk melakukan pemilihan produk yang dibutuhkan
(Kamaruddin, 2021). Pembelian produk tidak hanya terbatas pada marketplace
namun juga pada produk makanan (Syarifuddin, 2022) dan pakaian (Mahendra &
Edastama, 2022). Bagi generasi muda, peran Online Customer Rating sangat
penting dalam menentukan produk yang berkualitas dan memutuskan pembelian
(Arini et al., 2022). Apabila konsumen melihat produk dengan rating tinggi dari
pelanggan sebelumnya, mereka akan menganggap produk tersebut memuaskan
dan memiliki kualitas yang sesuai dengan ekspektasi. Hal ini dapat mempengaruhi
persepsi mereka terhadap produk tersebut dan meningkatkan kecenderungan
mereka untuk membeli beli (Mu’nis & Komaladewi, 2020).
Berdasarkan penelitian Arbaini, Wahab, dan Widiyanti (2020) hasil
penelitian ini menunjukan bahwa variabel rating memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil penelitian ini dapat menjadi
referensi bagi penjual untuk dapat meningkatkan kualitas produk agar mendapatkan
rating dan review yang positif dari konsumen sehingga dapat
28
meningkatkan penjualan. Sejalan dengan penelitian Ependi (2023) hasilnya
menunjukkan bahwa rating pelanggan online memiliki pengaruh terhadap
pembelian keputusan bersifat positif dan signifikan. Uji koefisien determinasi
menunjukkan bahwa variabel independen penelitian dapat menjelaskan 80,4%
pembelian keputusan, dan 19,6% dapat dijelaskan oleh beberapa faktor di luar
model dipelajari. Dalam penelitian oleh Hana Yoflike Mokodompit, S. L. H. V.
Joyce Lapian, dan Ferdy Roring (2022) online cutomer rating berpngaruh positif
dan signifikan terhadap keputusan pembelian melalui Tiktok Shop pada konsumen
Equil Choir. Dalam hal ini menjelaskan bagaimana kepercayaan konsumen dengan
informasi yang tersedia mengenai suatu produk. Sehingga dalam penelitian tersebut
konsumen Equil Choir memilih untuk berbelanja di Tiktok Shop karena rating
tersebut cukup menggambarkan dengan jelas tentang informasi produk. Di sisi lain,
konsumen tidak mengalami kesulitan mengenai informasi apakah produk tersebut
sudah jelas layak dibeli atau tidak

Pengaruh Ulasan terhadap Keputusan Pembelian


Ulasan digunakan sebagai sebagai alat pencarian dan memperoleh informasi
dengan melihat review sebelumnya yang kemudian dapat mempengaruhi
keputusan pembelian (Priangga & Munawar, 2021). Perusahaan dengan review
yang baik akan mendorong konsumen lebih percaya dan meningkatkan konsumen
untuk memutuskan membeli produknya (Latief & Ayustira, 2020). Adanya fitur
ulasan produk di aplikasi Traveloka harus benar- benar dimanfaatkan untuk
mempengaruhi keputusan pembelian. Konsumen yang sadar dan sering
menggunakan fitur ulasan produk sebagai sumber informasi dan
untuk membandingkannya dengan ulasan produk yang lainnya akan memberikan
pengaruh terhadap keputusan pembelian.
Ulasan produk yang berisi informasi yang valid, dan berisi informasi positif
terhadap produk yang diulas akan memberikan pengaruh yang positif terhadap
keputusan pembelian. Penyedia jasa akomodasi yang memasarkan produknya di
Traveloka ataupun manajemen Traveloka harus mampu menjaga kualitas produk
akomodasi untuk mendapatkan ulasan produk yang positif, serta memberikan
tanggapan terkait ulasan produk negatif dan menjadikannya bahan evaluasi internal
terhadap produk atau jasa yang diberikan memiliki pengaruh positif dan signifikan
terhadap keputusan pembelian produk akomodasi di aplikasi Traveloka. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi kepercayaan yang dimiliki konsumen akan
meningkatkan keputusan pembelian produk akomodasi di aplikasi Traveloka (Adi
dan Nuvriasari, 2021)
Berdasarkan penelitian Atsila et al. (2020) dan Yuliani & Suarmanayasa
(2021) online consumer review memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
keputusan pembelian. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Agesti, dkk (2021)
menemukan bahwa online customer review memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap keputusan pembelian. Sejalan dengan penelitian Ependi (2023)
hasilnya menunjukkan bahwa online customer reviews memiliki pengaruh
terhadap pembelian keputusan bersifat positif dan signifikan. Uji koefisien
determinasi menunjukkan bahwa variabel independen penelitian dapat
menjelaskan 80,4% pembelian keputusan, dan 19,6% dapat dijelaskan oleh
beberapa faktor di luar model dipelajari.

Hubungan Antara Rating dengan Keputusan Pembelian


Pembelian secara online, biasanya konsumen akan mengamati penilaian
dari sumber yang ada. Informasi mengenai kualitas produk, layanan penjual, proses
atau waktu pemprosesan barang dapat didapat melalui pemberian rating konsumen
yang berpengalaman dalam membeli produk yang serupa. Hal ini sesuai dengan
pendapat dari Laeli dan Prabowo (2022) bahwasanya Online Customer Rating
berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Rating dapat
membantu calon pembeli dalam menerima produk serta layanan yang memiliki
kualitas yang baik.

Hubungan Antara Ulasan dengan Keputusan Pembelian


Transaksi pembelian produk secara online membuat calon customer tidak
dapat melihat keaslian dari produk yang ditawarkan. Review membantu calon
customer dalam memberikan informasi terkait dengan pengalaman dari konsumen
lain yang telah membeli dan menggunakan produk yang sama. Berbagai macam
informasi yang disampaikan konsumen dalam bentuk ulasan dapat mempengaruhi
keputusan pembelian bagi calon customer. Sesuai dengan penelitian yang
dilakukan Zahara et al. (2021) menyatakan bahwasanya Online Customer Review
memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap keptusan pembelian.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ulasan Produk


Menurut Hidayati (2018), faktor-faktor yang mempengaruhi ulasan adalah
sebagai berikut :
1.Keputusan dalam membeli produk
2.Isi ulasan konsumen lain yang dapat memberikan pengaruh terhadap
pemilihan produk
3.Informasi yang sesuai mengenai suatu produk berdasarkan pengetahuan
konsumen.
4.Ketersesuaian ulasan yang diberi antar konsumen
5.Penilaian produk yang diberikan dari konsumen setelah selesai pembelian

Definisi Ulasan


Ulasan merupakan bagian dari Electronic Word of Mouth (eWOM), yaitu
merupakan pendapat langsung dari seseorang dan bukan sebuahi iklan (Arbain,
2020). Menurut Spink di dalam (Ilmiyah & Krishernawan, 2020) Ulasan produk
merupakan ulasan yang diberikan oleh pelanggan pada produk tersebut. Konsumen
yang teliti akan cenderung memperhatikan ulasan-ulasan yang diberikan oleh
pembeli sebelumnya yang tersedia di marketplace shopee guna mengurangi resiko
dalam berbelanja
Menurut Mulyati & Gesitera (2020), ulasan merupakan Bentuk feedback
berupa ulasan dari konsumen yang biasanya berbentuk teks atau tulisan sebagai
komentar yang isinya pendapat atau opini dari pelanggan berdasarkan pengalaman
pembelian suatu barang atau produk. Menurut Amelia et al. (2021) ulasan
merupakan opini dan pengalaman yang diberikan konsumen terhadap suatu layanan
yang diberikan penjual atau terkait produk yang telah dibeli dan dipakai
sebelumnya. Sedangkan menurut Depari dan Ginting (2022) ulasan merupakan
bentuk WOM (word of mouth) pada transaksi secara online yang menyampaikan
tentang penilaian dari customer terhadap produk atau layanan, penilaian yang
ditulis ada yang bersifat positif ataupun negative.
Ulasan produk yaitu review sebuah produk yang dituliskan oleh konsumen
mencakup informasi mengenai produk tersebut. Istilah “review produk” mengacu
pada informasi yang berisi review dari produk yang ditawarkan atau review yang
ditampilkan oleh aplikasi online (Adi & Nuvriasari, 2021). Menurut Riska, et. al.
(2023) ulasan konsumen yang mencakup gambar dapat merefleksikan kualitas
produk yang sebenarnya, seperti masalah warna, ketidak konsistenan spesifikasi,
masalah penggunaan, kualitas yang baik, dan pengalaman yang positif.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Pembelian


Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian (Rahmadany, et.
al., 2024):
1) Nilai emosional, utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif atau emosi positif
yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika konsumen mengalami
perasaan positif (positive feeling) pada saat membeli atau menggunakan suatu
merek, maka merek tersebut memberikan nilai emosional. Pada intinya nilai
emosional berhubungan dengan perasaan, yaitu perasaan positif apa yang akan
dialami konsumen pada saat membeli produk.
2) Nilai sosial, utilitas yang didapat dari kemampuan produk untuk meningkatkan
konsep diri-sosial konsumen. Nilai sosial merupakan nilai yang dianut oleh suatu
konsumen, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh
konsumen.
3) Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi biaya jangka
pendek dan biaya jangka panjang.
4) Nilai fungsional adalah nilai yang diperoleh dari atribut produk yang
memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen nilai ini berkaitan
langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau layanan kepada
konsumen
Pemahaman mendalam terhadap faktor-faktor yang memengaruhi
keputusan pembelian konsumen. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
pembelian (Anam, Chairul. (2024) sebagai berikut:
1) Kepercayaan dan Keamanan
13
Dalam konteks platform e-commerce, kepercayaan menjadi fondasi utama bagi
konsumen (Vrhovac, et al., 2023). Konstruksi kepercayaan terhadap platform
tersebut berkaitan erat dengan transparansi, keamanan, dan kualitas layanan
yang diberikan. Rasa keamanan dalam bertransaksi dan pengalaman positif
dalam menggunakan platform menjadi elemen utama yang memengaruhi
keputusan pembelian konsumen. Pengalaman pengguna yang memuaskan dan
desain platform yang intuitif memainkan peran yang signifikan dalam
membentuk preferensi konsumen terhadap platform e-commerce (Han, et al.,
2023). Ketersediaan informasi yang jelas, navigasi yang mudah, serta antarmuka
yang responsif dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan memengaruhi
keputusan mereka dalam melakukan transaksi. Pengaruh media sosial dalam
pembelian konsumen semakin signifikan (Ebrahimi, et al., 2022). Ulasan
produk, interaksi, dan rekomendasi yang tersebar di platform media sosial
memengaruhi persepsi konsumen terhadap merek atau produk tertentu.
Keterlibatan konsumen dalam diskusi tentang produk dapat menjadi faktor
penentu dalam keputusan pembelian.
2) Faktor Ekonomi
Faktor ekonomi memiliki pengaruh yang signifikan pada keputusan pembelian
konsumen di platform e-commerce. Harga dan promosi menjadi elemen kunci
dalam menentukan preferensi konsumen (Lin & Shen, 2023). Strategi harga
yang kompetitif dan promosi yang efektif dapat mempengaruhi keputusan
pembelian dengan menciptakan insentif bagi konsumen untuk melakukan
transaksi. Ketika konsumen menemukan harga yang lebih menarik atau
mendapat keuntungan dari promosi, mereka cenderung lebih termotivasi untuk
melakukan pembelian. Selain itu, aspek ekonomi lainnya seperti diskon,
penawaran khusus, atau program loyalitas juga memiliki dampak yang
signifikan dalam mempengaruhi perilaku pembelian konsumen.
Rosário & Raimundo (2021) menyoroti bahwa faktor-faktor ekonomi ini
berkontribusi dalam membentuk persepsi konsumen terhadap nilai suatu produk
atau layanan. Konsumen cenderung lebih condong untuk memilih produk yang
memberikan nilai tambah atau keuntungan ekonomi yang lebih
besar dalam proses pembelian. Namun, faktor ekonomi tidak hanya terbatas pada
harga. Penelitian juga menyoroti bahwa pemahaman terhadap model harga,
perbandingan harga dengan nilai yang diberikan oleh produk, serta kejelasan
biaya pengiriman atau layanan tambahan juga memengaruhi keputusan
pembelian (Lin & Shen, 2023). Dalam lingkungan e-commerce yang kompetitif,
pemahaman mendalam terhadap faktorfaktor ekonomi ini menjadi penting bagi
perusahaan untuk menyesuaikan strategi harga dan promosi guna menarik
perhatian dan memengaruhi preferensi pembelian konsumen.
3) Personalisasi, Teknologi, dan Dampaknya pada Perilaku Pembelian
Personalisasi informasi yang relevan dengan preferensi konsumen menjadi
kunci dalam memengaruhi keputusan pembelian (Saniuk, et al., 2020).
Kemampuan untuk menyajikan informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan
individu dapat meningkatkan keterlibatan dan peluang pembelian konsumen.
Inovasi seperti kecerdasan buatan (AI) dan realitas virtual (VR) telah merubah
cara konsumen berinteraksi dengan platform e-commerce (Castillo &
Taherdoost, 2022).
Implementasi teknologi yang inovatif dapat menciptakan pengalaman
belanja yang lebih menarik dan memengaruhi perilaku pembelian konsumen.
Faktor ekonomi seperti harga dan promosi juga memegang peran penting
dalam keputusan pembelian konsumen di platform e-commerce (Lin & Shen,
2023). Strategi harga yang kompetitif dan promosi yang efektif dapat
mempengaruhi preferensi konsumen dalam berbelanja. Personalisasi informasi
yang relevan dengan preferensi konsumen menjadi kunci dalam memengaruhi
keputusan pembelian (Saniuk, et al., 2020). Kemampuan untuk menyajikan
informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu dapat meningkatkan
keterlibatan dan peluang pembelian konsumen.

Indikator Keputusan Pembelian


Menurut Kotler Phillp (2021) terdapat beberapa indikator dalam keputusan
pembelian sebagai berikut:
1) Adanya sebuah kemantapan produk, sebuah keputusan pembelian dapat juga
dilakukan oleh konsumen dengan mencari sebuah informasi tersebut.
2) Terdapat kebiasaan membeli, mendapatkan rekomendasi dari supplier yang
informasi penting, bahwa sebuah indikator keputusan pembelian sangat
menarik.
3) Rekomendasi dari orang lain, dapat menyampaikan sebuah informasi dari orang
lain agar dapat tertarik melakukan pembelian ini.
4) Adanya pembelian ulang, ini sangat penting dalam bisnis anda, maka adanya
sebuah sebab kemudian konsumen juga melakukan pembelian ulang pada suatu
produk
Menurut Kotler dan Amstrong (2016:188) terdapat beberapa indikator
dalam keputusan pembelian sebagai berikut:
1) Pemilihan Produk (Product Choice)
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli suatu produk atau
menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini, perusahaan harus
memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berniat membeli suatu
produk serta alternatif yang akan mereka pertimbangkan. Misalnya: kebutuhan
suatu produk.
2) Pemilihan Merek (Brand Choice)
Konsumen harus menentukan merek mana yang akan dibeli, setiap merek
memiliki perbedaan-perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan harus
mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek. Sehingga konsumen
dalam memilih produk menyatakan mereknyalah yang akan dipilih. Misalnya:
kepercayaan dan popularitas merek
3) Pemilihan Saluran Pembelian (Dealer Choice)
Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur mana yang akan
dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan penyalur,
dapat dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persediaan
barang yang lengkap. Kenyamanan berbelanja, dan keleluasaan tempat. Seperti
misalnya konsumen akan memilih tempat yang mudah ia jangkau.
4) Penentuan Waktu Pembelian (Purchase Timing)
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian dapat berbedabeda.
Konsumen akan mempertimbangkan kapan dia akan membeli suatu produk.
Dan konsumen akan memilih waktu yang tepat untuk membeli produk yang
dipilihnya.
5) Jumlah Pembelian (Purchase Amount)
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang
akan dibelinya pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari
satu jenis produk. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya
produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda dari para pembeli.
Konsumen akan menetapkan membeli dan menggunakan satu atau lebih produk
yang dipilihnya

Definisi Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah tahapan atau langkah pilihan konsumen ketika
akan melakukan keputusan untuk memenuhi kebutuhanya dengan membeli suatu
produk yang diinginkan (Rosita et al., 2021). Keputusan pembelian merupakan akhir
dari proses berfikir dimana semua masalah yang ada berhasil terjawab sehingga
dapat mengatasi masalah yang ada dengan menjatuhkan pilihan. Keputusan
pembelian berarti suatu pemilihan atas tindakan yang diambil (Fiorentina, 2023).
Pada saat pengambilan keputusan seseorang harus melewati proses yang harus
dilalui. Sedangkan pengambilan keputusan dari konsumen adalah suatu proses
menyatukan beragam wawasan yang nantinya sebagai bahan evaluasi dari pilihan
yang diambil (Hafifuddin & Wahyudi, 2022)
Pengambilan keputusan sesuai dengan konsep ekonomi adalah proses
manusia bagaimana ia memutuskan dalam menggunakan sumber daya yang ada
demi membantu kesejahteraan kegiatan sehari-harinya (Putri, 2021). Keputusan
pembelian merupakan bagian dari komponen perilaku konsumen dalam sikap
mengkonsumsi, kecenderungan responden untuk bertindak sebelum keputusan
membeli benar-benar dilaksanakan (Suwarto, 2021). Keputusan pembelian
merupakan suatu pemikiran dimana suatu individu mengevaluasi berbagai pilihan
dan membuat pilihan pada suatu produk dari banyak pilihan (Yusuf, 2021).
Menurut Aditya & Krisna (2021) pengertian keputusan pembelian merupakan suatu
sikap yang dapat di pertimbangkan untuk membeli produk atau tidak pada suatu
barang dan jasa.
Pendapat Arbain et al., (2020) yang menyatakan bahwa dalam tahap ini
mereka mengevaluasi dan para konsumen akan membuat referensi atas merek yang
sudah mereka kompilasikan sebagaimana pilihan mereka. Menurut Nopebrianti
dan Ramadhani (2022) keputusan pembelian merupakan proses
pengambilan keputusan yang dimulai dari penentuan pembelian barang yang
dibutuhkan hingga perilaku setelah pembelian. Keputusan pembelian tersebut
didasari oleh pertimbangan secara emosional ataupun rasional, pertimbangan
emosional ini berupa sugesti, sedangkan pertimbangan rasional dapat berupa
memperhatikan harga produk atau barang yang dijual. Idrus dan Dunakhir (2021)
menyatakan bahwa sejumlah faktor mempengaruhi keputusan masyarakat untuk
membeli barang dari marketplace Shopee sehingga marketplace tersebut menjadi
yang populer. Banyak penelitian sebelumnya telah menetapkan signifikansi
sejumlah faktor, terutama yang memengaruhi keputusan untuk membeli produk
secara online.

Proses Keputusan Pembelian


Proses keputusan pembelian konsumen yang dikemukakan Kotler dalam
Meithania (2019:72) terdiri dari lima tahap yang dilakukan oleh seorang konsumen
sebelum sampai pada keputusan pembelian dan selanjutnya pasca pembelian. Hal ini
menunjukkan bahwa proses membeli yang dilakukan oleh konsumen dimulai jauh
sebelum tindakan membeli dilakukan serta mempunyai konsekuensi setelah
pembelian tersebut dilakukan.
a. Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah masalah atau
kebutuhan. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau
eksternal. Pemasar perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan
tertentu.
b. Pencari Informasi
Konsumen yang tergugah kebutuhannya akan terdorong untuk mencari
informasi yang lebih banyak. Sumber informasi konsumen digolongkan ke
dalam 4 (empat) kelompok:
1) Sumber Pribadi: keluarga, teman, tetangga, kenalan.
2) Sumber komersial: iklan, wiraniaga, penyalur, kemasan, pajangan di toko.
3) Sumber publik: media massa, organisasi penentu peringkat konsumen.
4) Sumber pengalaman: penanganan, pengkajian dan pemakaian produk.
c. Evaluasi Alternatif
Dalam tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi atas merek-merek
dalam kumpulan pilihan. Konsumen juga mungkin membentuk niat untuk
membeli produk yang paling disukai.
d. Keputusan Pembelian
Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub
keputusan pembelian, yaitu keputusan merek, keputusan pemasok.
e. Perilaku Pasca Pembelian
Setelah membeli produk, konsumen akan mengalami level kepuasan atau
ketidakpuasan tertentu. Tugas pemasar tidak berakhir saat produk dibeli,
melainkan berlanjut hingga periode pasca pembelian.
1) Kepuasan Pasca Pembelian Kepuasan pembeli merupakan fungsi dari
seberapa dekat harapan pembeli atas suatu produk dengan kinerja yang
dirasakan pembeli atas produk tersebut. Jika kinerja produk lebih rendah
dari harapan pelanggan akan kecewa, jika ternyata sesuai harapan pelanggan
akan puas, jika melebihi harapan pembeli akan sangat puas.
2) Tindakan Pasca Pembelian Kepuasan atau ketidakpuasan konsumen akan
mempengaruhi perilaku selanjutnya. Jika konsumen puas, maka ia akan
memperlihatkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli produk
tersebut.

Faktor Keputusan Pembelian


Engel dalam Dian Alfiah (2021:30-32) menyatakan bahwa faktor-faktor yang
memengaruhi motivasi konsumen terhadap keputusan pembelian suatu produk
meliputi: produk, harga, pelayanan dan lokasi :
1) Produk, adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan untuk digunakan atau
dikonsumsi (Kotler, 2001). Unsur – unsur yang terkait langsung dengan suatu
produk adalah kualitas, penampilan (features), pilihan yang ada (options),
gaya, merk, pengemasan, ukuran, jenis (product lines), macam (product items),
jaminan dan pelayanan. Kualitas produk adalah seberapa baik unjuk kerja
produk dan seberapa lama unjuk kerjanya. Para pembeli akan mengangumi
produk-produk yang dibuat dengan baik serta dapat menghargai mutu dan
kinerja (Kotler, 2001), sedangkan menurut (Sofjan, 2002) kualitas produk akan
menunjukkan ukuran tahan lamanya produk tersebut, dapat dipercayainya
produk tersebut, ketepatan produk (precision), mudah dalam
mengoperasinalkan dan perawatannya serta atribut lain yang menjadi
penilaian. Kebanyakan produk yang disediakan dipasaran pada mulanya
berawal dari suatu di antara empat tingkat kualitas, yaitu kualitas rendah,
kualitas rata-rata (sedang), kualitas baik (tinggi) dan kualitas sangat baik.
2) Harga, motivasi konsumen dalam melakukan pembelian terhadap suatu produk
juga dipengaruhi oleh harga dari produk tersebut, misalnya seorang konsumen
dengan pertimbangan ekonomis akan memilih harga produk yang sesuai
dengan kemampuannya. Diskon (potongan harga) merupakan modifikasi harga
dasar penjualan untuk menghargai pelanggan atas tindakan-tindakannya,
seperti pembayaran awal, kuantitas pembelian dan pembelian diluar musim
(Kotler, 2001). Tindakan tersebut dilakukan dengan maksud untuk menarik
konsumen agar tetap menjadi pelanggan dan mau melakukan tindakan yang
dapat membawa keuntungan bagi perusahaan.
3) Pelayanan, keberhasilan dalam melakukan pemasaran produk sangat
ditentukan oleh baik atau tidaknya pelayanan yang diberikan oleh suatu
perusahaan dalam memasarkan produknya. Pelayanan dalam melakukan
pemasaran suatu produk meliputi pelayanan sewaktu melakukan penawaran,
pelayanan dalam pembelian, pelayanan sewaktu penyerahan produk yang
dijual dan lain sebagainya. Pelayanan juga merupakan salah satu faktor yang
akan memotivasi konsumen karena hal ini menyangkut suasana di tempat
tersebut, baik dari segi pelayanan pramuniaga yang ramah, fasilitas yang
diberikan dan lain sebagainya.
4) Lokasi, lokasi memiliki pengaruh yang nyata terhadap pilihan konsumen
terhadap suatu produk. Pada umumnya konsumen akan memilih dealer yang
dekat dengan tempat tinggal mereka, lokasi dealer merupakan hal yang kritis
bagi kelangsungan hidup dealer yang bersangkutan, yang juga perlu
diperhatikan mengenai lokasi adalah letaknya yang strategis, baik dari segi
transportasi yang menggambarkan mudahnya lokasi tersebut dijangkau.

Keputusan Pembelian


Kehidupan manusia tidak lepas dari melakukan jual beli. Sebelum melakukan
pembelian, seseorang biasanya akan melakukan keputusan pembelian terlebih dahulu
terhadap suatu produk. Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang
secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian
terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual. Kotler dalam Rizki (2023:80)
keputusan pembelian yaitu beberapa tahapan yang dilakukan oleh konsumen sebelum
melakukan keputusan pembelian suatu produk
Schiffman dan Kanuk dalam Meithiana (2019:70) mendefinisikan keputusan
pembelian konsumen merupakan seleksi terhadap dua pilihan alternatif atau lebih,
dengan perkataan lain, pilihan alternatif harus tersedia bagi seseorang ketika
mengambil keputusan. Sebaliknya, jika konsumen tersebut tidak mempunyai
alternatif untuk memilih dan benar-benar terpaksa melakukan pembelian tertentu dan
tindakan tertentu, maka keadaan tersebut bukan merupakan suatu keputusan.
Menurut Howard dalam Meithinia (2019:71) menyatakan bahwa pembelian
konsumen dapat ditinjau sebagai kegiatan penyelesaian suatu masalah dan terdapat
tiga macam situasi yaitu perilaku responsi rutin, penyelesaian masalah terbatas, dan
penyelesaian masalah ekstensif. Ketiga macam situasi tersebut dijelaskan sebagai
berikut:
a. Perilaku responsi rutin
Jenis perilaku pembelian yang saling sederhana terhadap dalam satu pembelian
yang berharga murah dan sering dilakukan. Dalam hal ini pembeli sudah
memahami merek-merek dan ciri-cirinya. Mereka tidak selalu membeli merek
yang sama, misalnya karena persediaannya terbatas atau sebab lainnya. Namun
secara keseluruhan, Pembeli tidak memerlukan banyak pikiran, waktu, atau
tenaga setiap harinya.
b. Penyelesaian masalah terbatas
Pembelian menjadi lebih kompleks ketika pembeli tidak mengetahui merek
jenis produk pilihannya dan memerlukan informasi lebih lanjut sebelum
mengambil keputusan pembelian..
c. Penyelesaian masalah ekstensif
Suatu pembeli akan menjadi sangat kompleks jika pembeli menjumpai jenis
produk yang kurang dipahami dan tidak mengetahui kriteria penggunaannya.
Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui kegiatan pengumpulan informasi
dan evaluasi dari para pembeli dan menunjang proses belajar pembeli, terhadap
atribut-atribut kelompok produk tersebut.

Indikator Citra Merek


Menurut Kotler dalam Anang (2019:71) menjelaskan dalam suatu merek
memiliki 6 (enam) tingkatan Indikator Citra Merek, sebagai berikut:

  1. Atribut
    Merek mengingatkan pada atribut tertentu dari sebuah produk, baik dari program
    purna jualnya, pelayanan, maupun kelebihannya dan perusahaan menggunakan
    atribut tersebut sebagai materi iklan mereka.
  2. Manfaat
    Pelanggan tentu tidak membeli sebatas atribut dari suatu produk melainkan
    manfaatnya.
  3. Nilai
    Merek mewakili nilai dari produknya. Jam tangan merek Rolex, misalnya yang
    memberikan nilai tinggi bagi penggunanya.
  4. Budaya
    Merek mewakili budaya tertentu. Produk mencerminkan Terorganisir, konsisten,
    bereputasi baik, efisien kualitas tinggi.
  5. Kepribadian
    Merek layaknya seseorang yang merefleksikan sebuah kepribadian tertentu.
    Seringkali produk tertentu gunakan kepribadian seorang selebriti untuk menjaga
    merek produk.
  6. Pengguna
    Merek menunjukkan tipe konsumen yang akan dibeli atau digunakan produk.
    Pengguna produk umumnya terkait orang kaya, pejabat, manager dan lainnya.

Komponen Citra Merek


Komponen pembentuk Brand Image ada 3, yaitu :

  1. Citra Pembuat (corporate image) yaitu: sekumpulan asosiasi yang
    dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk
    dan jasa.
  2. Citra Pemakai (user image) yaitu: Rangkaian hubungan yang dirasakan antara
    pengguna dan pelanggan yang menggunakan produk atau layanan mencakup
    pengguna itu sendiri, gaya hidupnya, atau status sosialnya.
  3. Citra Produk (product image) yaitu: Kelompok organisasi menilai konsumen
    berdasarkan produk seperti fitur produk, manfaat konsumen, penggunaan, dan
    jaminan.

Citra Merek


Citra merek dapat diartikan sebagai persepsi yang timbul di benak konsumen
ketika mengingat merek suatu produk tertentu. Berikut definisi ahli tentang citra
merek: Pelaku usaha perlu membangun citra positif terhadap produk dan jasanya agar
citra merek yang dibangun dapat dipersepsi positif oleh konsumen. Seperti menurut
Shiffman, dalam Syarifudin (2019:10) citra merek memegang peranan yang sangat
penting. Citra merek Ampuh membantu konsumen menolak aktivitas pesaing,
menyukai aktivitas merek dan selalu mencari informasi terkait merek.
Menurut Coaker dalam Wardhana (2022), mengemukakan bahwa citra merek
(brand image) merupakan pemaknaan kembali dari segenap persepsi terhadap merek
yang dibentuk dari informasi dan pengalaman konsumen maupun pelanggan di masa
lalu terhadap merek. Jika pelanggan memiliki citra positif terhadap suatu merek, maka
pelanggan akan melakukan pembelian produk itu kembali. Namun sebaliknya, jika
citra pada suatu merek negatif, maka kemungkinan kecil untuk terjadinya pembelian
produk itu kembali. Berdasarkan uraian di atas bahwa citra merek merupakan persepsi
mengenai merek di benak konsumen yang membentuk kepercayaan konsumen
maupun pelanggan terhadap suatu merek
Selanjutnya Schiffman dan Kanuk dalam Syarifudin (2019:11) juga mengatakan
bahwa citra merek yang berhubungan dengan asosiasi merek, yaitu citra merek yang
ada dalam ingatan konsumen akan meningkat dengan semakin banyak pengalaman
konsumen dalam mengkonsumsi produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.
Apabila asosiasi- asosiasi suatu merek saling berhubungan maka citra merek yang
terbentuk juga semakin kuat.
Menurut Kotler dan Keller (2019:249) bahwa citra merek adalah persepsi
konsumen tentang suatu merek sebagai refleksi dari asosiasi yang ada pada pikiran
konsumen. Citra merek merupakan asosiasi yang muncul dalam benak konsumen
ketika mengingat suatu merek tertentu. Asosiasi tersebut secara sederhana dapat
muncul dalam bentuk pemikiran dan citra tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek.
Pendapat lainnya, Citra merek (brand image) menurut Keller dalam Syarifudin
(2019:10) adalah persepsi tentang merek yang merupakan refleksi memori konsumen
akan asosiasinya pada merek tersebut.
Menurut Ginting dalam Anang (2019:70) mendefinisikan merek adalah suatu
nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasidaripadanya untuk menandai
produk atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya
dari pesaing. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwacitra merek
merupakan nama, istilah, simbol, tanda, dan desain yang digunakan oleh perusahaan
untuk membedakan produk dengan para pesaing.
Perusahaan haruslah membangun citra yang positif terhadap produk atau jasa
yang dihasilkanya, sehingga citra merek yang dibangun dapat dipersepsikan secara
positif oleh konsumen.Menurut Tjiptono dalam Anang (2019) menerangkan bahwa
pemahaman mengenai peran merek tidak bisa dipisahkan dari tipe-tipe utama merek,
karena masing-masing tipe memiliki citra merek berbeda. Ketiga tipe tersebut
meliputi:

  1. Attribute Brands
    Attribute brands yaitu merek-merek yang mempunyai citra yang mampu
    menyampaikan kepercayaan/keyakinan terhadap karakteristik fungsional produk.
    Konsumen seringkali merasa sangat sulit untuk mengevaluasi secara obyektif
    kualitas dan karakteristik dari begitu banyak jenis produk, sehingga mereka
    cenderung menilai kualitas berdasarkan hal tersebut.
  2. Aspirational Brands
    Aspirational brands yaitu merek-merek yang menyampaikan citra tentang tipe
    orang yang membeli merek yang bersangkutan. Citra tersebut tidak banyak
    mengandung produknya, tetapi justru lebih banyak berkaitan dengan gaya hidup
    yang didambakan. Konsumen percaya bahwa dengan memiliki merek tersebut,
    mereka dapat menciptakan keterhubungan yang kuat antara dirinya dengan
    kelompok aspirasi tertentu. Dalam hal ini, status, pengakuan sosial dan identitas
    jauh lebih penting daripada sekedar nilai fungsional produk.
  3. Experience Brands
    Experiance brands mencerminkan merek-merek yang menyampaikan citra asosiasi
    dan emosi bersama (shared association and emotionals). Tipe ini memiliki citra
    melebihi sekedar aspirasi dan lebih berkesan dengan kesamaan antara filosofi
    merek dan konsumen individual.

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran ialah proses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
dari kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh individu atau oleh perusahaan. Logika
dari definisi diatas, ialah apabila seseorang atau perusahaan, ingin memperbaiki
pemasarannya maka ia harus melakukan kegiatan pemasaran itu sebaik mungkin. (Ben
M,2020:130)
Manajemen pemasaran adalah seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih,
mempertahankan serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, mengantar dan
mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.(Miguna Astuti, 2020:2)
Philip kotler dalam Melati (2021:30) memberikan definisi manajemen
pemasaran yaitu, Manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi
dan kontrol program-program yang diarahkan untuk menciptakan, membentuk dan
memelihara pertukaran dan hubungan yang menguntungkan di kedua belah pihak,
dengan pasar yang menjadi sasarannya.
William J. Shultz dalam Buchari (2020:130) memberikan definisi : Marketing
management is the planning, direction, and control of the entire marketing activity of
a firm or division of a firm. Yang berarti manajemen pemasaran ialah merencanakan,
pengarahan dan pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian
dari perusahaan

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Keputusan Pembelian Yang Dimediasi Brand Image


Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Cahyaningtyas &
Budiarti (2022) menyatakan kualitas produk berpengsruh secara
signifikan terhadap keputusan pembelian yang dimediasi oleh brand
image. Sebuah produk yang memiliki mutu yang unggul dan
memuaskan akan menaikkan citra merek yang baik sehingga
memberikan pengaruh terhadap keputusan pembelian, kualitas sebuah
produk perlu diperhatikan secara maksimal dikarenakan sumber
kekuatan dari suatu produk berasal dari kualitas yang sesuai harapan
para konsumen.
Brand image memiliki peran untuk membantu suatu merek dalam
menggaet konsumen hingga melakukan pembelian dengan didasarkan
kualitas produk yang baik konsumen sehingga akan meninggalkan
kesan dalam benak konsumen jika suatu produk memenuhi standar
sehingga mampu memunculkan rasa kepuasan terhadap produk. Sejalan
dengan penelitian Setiadi & Ekawati (2019), ditunjukkan bahwa
kualitas produk berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap
keputusan pembelian melalui brand image sebagai mediasi.

Pengaruh Electronic Word Of Mouth Terhadap KeputusanPembelian Yang Dimediasi Brand Image


Electronic word of mouth memiliki kekuatan dalam membangun
image suatu merek, hal ini dikarenakan melalui electronic word of
mouth mampu memengaruhi sikap pelanggan sehingga jika E-WOM
yang tersedia di internet positf maka nantinya akan menciptakan efek
yang baik pada citra merek dimana pada akhirnya keputusan pembelian
terjadi karena faktor tersebut. Berdasarkan temuan hasil studi yang
dilakukan oleh Sahanaya & Madiawati (2022) menampilkan bahwa
electronic word of mouth berpengaruh signifikan terhadap keputusan
pembelian melalui brand image.

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian


Arfianty & Andira (2021) didalam penelitiannya menyatakan bahwa
brand image berpengaruh signifikan terhadap keputusn pembelian.
Sebuah merek yang memiliki image baik mampu lebih lebih diterima
para consumer dikarenakan image perusahaan dapat menentukan
bagaimana kualitas dan layanan produknya, sehingga produk yang
menjaga brand image yang unggul akan lebih sukses karena maraknya
pelanggan yang memutuskan dan lebih memilih untuk membeli produk
tersebut dibanding produk pesaing.
Dalam menciptakan citra merek yang baik, perusahaan perlu
memiliki dan menjalankan strategi yang baik untuk membuat produk
dapat diterima dan disukai oleh konsumen sehingga sampai kepada
tujuan yaitu keputusan pembelian oleh konsumen.

Pengaruh Electronic Word Of Mouth Terhadap KeputusanPembelian


Penelitian Febriyanti & Dwijayanti (2022), mendemonstrasikan
temuan bahwa electronic word of mouth memiliki dampak yang
signifikan terhadap keputusan pembelian. Dengan tersedianya E-WOM,
konsumen merasa terbantu karena kemudahan meperoleh infomasi
tentang bagaimana gambaran serta penilaian suatu produk hanya dengan
melihatnya di media sosial dan karena banyaknya penilaian dan
komentar pelangga lainnya yang telah lebih dulu berpengalaman
membeli produk tersebut maka memudahkan konsumen untuk
mengetahui apakah produk tersebut baik atau tidak sehingga
memengaruhi keputusan pembelian hanya dengan melihat ulasan atau
komentar orang lain tentang produk.
Berkembangnya teknologi telah mengurangi kesulitan yang dialami
masyarakat untuk melakukan kegiatan pembelian produk, dimana kini
pada platform online telah menyediakan wadah untuk siapapun bisa
membuktikan pengalaman yang dimilikinya dalam memakai produk
tersebut.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Brand Image


Produk dengan citra baik dihati dan pikiran konsumen adalah produk
yang berhasil dan mampu menjalankan fungsinya dimana hal tersebut
merupakan bentuk kualitas yang berasal dari keunggulan suatu produk.
Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Cahyaningtyas &
Budiarti (2022) memperlihatkan bahwa kualitas produk berpengaruh
positif dan signifikan terhadap citra merek.
Selain itu, Gunawan (2022), menyatakan dari hasil penelitiannya
bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kualitas produk
terhadap Brand Image.

Pengaruh Electronic Word Of Mouth Terhadap Brand Image


Berdasarkan penelitian (Pentury et al., 2019) menyatakan bahwa
electronic word of mouth berpengaruh signifikan dan posistif terhadap
citra merek. Hal ini menunjukan adanya electronic word of mouth telah
memengaruhi Brand Image karena persepsi dan tanggapan konsumen
tentang produk muncul dari pengalaman penggunaan produk yang
dirasakan sehingga apa yang disampaikan massa tentang produk
tersebut melalui internet akan memberikan pengaruh para calon
konsumen dalam menilai dan melihat image produk tersebut.
Hasil yang serupa ditunjukan dari hasil penelitian Sahanaya &
Madiawati (2022) yaitu electronic word of mouth berpengaruh
signifikan terhadap brand image.

Brand Image


Brand image diartikan sebagai suatu penafsiran dari diri pelanggan
mengenai hal yang berkaitan dengan sebuah merek atau produk dimana
nantinya pemikiran dari konsumen akan menghasilkan perilaku untuk
memutuskan dalam memilih membeli produk yang mereknya sudah
dipercaya oleh konsumen tersebut (Kotler & Keller, 2016).
Suandayana & Setiawan (2018) menyatakan bahwa brand image
dapat dibagi menjadi tiga konstruk yaitu bersifat fungsional, simbolis,
dan eksperensial. Yang dimaksud dengan bersifat fungsional adalah
kemampuan fungsi dari suatu produk dalam membantu konsumen untuk
mengatasi permasalahannya dan juga untuk bisa mencegah masalah
yang potensial. Selanjutnya bersifat simbolis, dimana dapat diartikan
bahwa sebuah merek harus mampu memenuhi dan memuaskan segala
keinginan dan kebutuhan yang terdapat di dalam diri konsumen seperti
halnya pengakuan diri, nilai dalam diri, hingga status sosial. Kemudian
citra eksperensial adalah sebuah kondisi dimana seuatu merek atau
produk dapat memuaskan keberagaman konsumen sehingga konsumen
merasa mendapatkan pengalaman yang menyenangkan terhadap produk
tersebut.
Berikut adalah indikator untuk mengukur brand image menurut
Riady (2022), yaitu :

  1. Merek mudah dikenali
    Suatu produk perlu memiliki karakteristik yang
    membedakannya dari produk lainnya agar dapat dengan mudah
    dikenali oleh konsumen.
  2. Reputasi merek yang baik
    Reputasi yang baik menjadi keharusan bagi suatu produk
    agar memberikan keyakinan kepada konsumen untuk memilih
    produk yang dimiliki. Reputasi pada brand merupakan sebuah
    pandangan pelanggan terhadap identitas produk dimana didasarkan
    dari apa yang diketahui oleh konsumen terhadap produk.
  3. Merek selalu diingat
    Sebuah merek akan selalu diingat oleh konsumen apabila
    merasa mudah setiap kali mengingat dan mengucapkan mereknya
    serta merek akan selalu diingat apabila memiliki keunggulan produk
    yang bisa menciptakan memori dalam pikiran konsumen mengenai
    merek tersebut.

Kualitas Produk


Kualitas produk yaitu sebuah kapabilitas dari produk dalam
melaksanakan fungsinya dimana termasuk dalam hal ketahanan,
kehandalan, kemudahan ketika penggunaan, perbaikan produk, tingkat
keakuratan dan atribut lainnya yang dimiliki produk. Produk dapat
dinyatakan memiliki mutu baik apabila telah berhasil saat menjalankan
dan memenuhi fungsi yang telah dijanjikan. Kualitas produk dapat
dijadikan sebagai kekuatan potensial sebuah merek untuk dapat
mengalahkan pesaing, sehingga bagi perusahaan yang memiliki dan
menjaga kualitas produk secara baik maka akan berpeluang untuk
berkembang dan sukses dipasaran karena pelanggan merasa puas oleh
produknya (Kotler & Armstrong, 2018).
Kualitas produk adalah produk yang dapat menghasilkan
ketertarikan kepada konsumen sehingga dapat menjalin relasi yang baik
antara konsumen dengan penghasil produk. Hal ini dibutuhkan agar
nantinya dapat memberikan peluang bagi perusahaan untuk dengan
mudah mengidentifikasi kebutuhan dan harapan konsumen untuk
mendapatkan peluan yang lebih baik (Mentang et al., 2021). Product
quality menjadi pendorong utama bagi konsumen untuk melakukan
pembelian karena para konsumen selalu berharap untuk bisa
memperoleh produk dengan kualitas sesuai ekspetasi dan nominal yang
sebanding. Sehingga kualitas produk dijadikan sebagai syarat utama
untuk suatu merek atau produk masuk dan diterima oleh pasar
(Anggraini et al., 2023).
Menurut Setyani & Gunadi (2020), kualitas produk memiliki
beberapa indicator diantaranya yaitu :

  1. Kinerja (performance), yaitu karakter operasi utama yang berasal dari
    produk.
  2. Fitur (features), yaitu sebuah karakteristik produk yang digunakan
    sebagai pelengkap.
  3. Kesesuaian (conformance), yaitu sebuah ukuran karakteristik desain dan
    juga operasi untuk menilai sejauh mana standar produk terpenuhi.
  4. Persepsi kualitas (perceived quality), merupkan sebua citra dan nama
    baik suatu produk hingga pertanggung jawaban yang diberikan
    perusahaan terhadap produk yang dijual.

Electronic Word Of Mouth (E-WOM)


Electronic word of mouth merujuk pada pernyataan maupun ulasan
baik dan kurang baik yang diciptakan dari para konsumen, baik
konsumen potential, pelanggan aktual hingga pelanggan yang sudah
melakukan pembelian dengan memanfaatkan internet sebagai wadah
yang berikan kepada para pelanggan untuk meninggalkan ulasan tentang
produk terkait. E-wom sudah menjadi pilihan yang baik dalam
melakukan promosi karena internet sudah sangat berkembang dan
menghadirkan berbagai fasilitas mulai dari website hingga berbagai
sosial media yang bisa digunakan untuk menampung perasaan
konsumen terhadap sebuah produk (Kotler & Keller, 2016).
Adapun menurut Maulana et al., (2021), electronic word of mouth
dinyatakan sebuah jenis penyebaran informasi berupa review atau
ulasan dari konsumen sebelumnya melalui internet. E-WOM memiliki
tingkat keefisienan yang lebih baik dari pada word of mouth
dikarenakan jangkauannya lebih luas. E-WOM juga memberikan
kemudahan bagi para calon konsumen untuk menciptakan penilaian
awal terhadap sebuah produk berdasarkan pengalaman para konsumen
lainnya yang telah menunjukan informasi secara nyata tentang
pengalaman mereka menggunakan produk dan bagaimana kualitas
produk setelah digunakan. Tetapi dengan adanya E-WOM juga akan
memunculkan potensi ketidakjadian konsumen untuk membeli suatu
produk jika terdapat ulasan yang buruk tentang produk tersebut.
Sehingga penggunaan E-WOM dalah pemasaran memiliki poin plus dan
minus bagi sebuah produk atau merek,
Menurut Sindunata (2018), sumber informasi yang berasal dari EWOM tidak terikat dalam sebuah perusahaan dimana semuanya berasal
dari konsumen langsung sehingga bagi hampir seluruh konsumen,
komunikasi dan review suatu produk dengan E-WOM lebih dapat
dipercayai dari pada sumber yang di berikan langsung oleh perusahaan
yang meluncurkan produk tersebut. Terdapat 3 indikator electronic
word of mouth, yaitu :

  1. Intensity
    Intensitas diartikan dengan kelayakan atau sejauh mana para
    konsumen mampu memberikan informasi dan seberapa banyak
    pendapat antar konsumen yang dituliskan pada media sosial tentang
    suatu merek atau produk.
  2. Valence of opinion
    Valence of opinion merupakan komentar baik atau negative
    pelanggan terhadap suatu brand yang dapat memengaruhi bentuk
    ketertarikan konsumen pada sebuah produk.
  3. Content
    Sebuah informasi yang disampaikan dalam jejaring sosial
    yang berisikan tentang hal yang berkaitan dengan produk tersebut
    mulai dari kualitas, variasi, hingga harga.

Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian merupakan sebuah sikap pelanggan ketika
mencari, memilih, memakai, menilai, serta membelanjakan produk yang
dibutuhkan dengan pengharapan dapat memenuhi rasa puas akan
keinginan para individu. Perilaku keputusan pembelian juga mampu
diartikan sebuah keputusan atas hasil dari proses memilih antara dua
opsi atau lebih. Sebelum melakukan pembelian, konsumen perlu
memiliki alternatif pilihan hingga terjadinya finalisasi keputusan
pembelian terhadap produk atau jasa (Schiffman & Kanuk, 2010).
Menurut Rizan et al., (2015), keputusan pembelian yaitu suatu
tahapan dimana seorang individu atau konsumen melakukan sebuah
keputusan dalam hal pembelian pada produk yang dimana dengan
pembelian tersebut dianggap mampu untuk memenuhi segala
kebutuhannya. Keputusan konsumen dalam membeli produk dapat
mencerminkan sejauh mana pengaruh upaya pemasaran perusahaan
terhadap produk tersebut. Maka karena itu, pemasar diharuskan
mencermati bagaimana perilaku pelanggan memiliki peran dalam
runtutan pengambilan keputusan. Perilaku konsumen tertuju pada
perilaku pembelian yang dilakukan oleh pelanggan baik perindividu
atau kelompok yang memutuskan untuk membeli produk atas dasar
kepentingan konsumsi masing-masing individu. Arjuna (2020),
menyatakan sejumlah situasi pembelian dapat dilihat dari keterlibatan
konsumen yang rendah dalam suatu produk, dan dalam hal ini pada
umumnya konsumen sering berpindah brand. Namun, pergantian merek
12
tidak disebabkan oleh ketidakpuasan konsumen dengan merek tersebut
melainkan ingin mendapatkan variasi lain yang berbeda.
Menurut Kotler & Armstrong (2014), seorang konsumen mengalami
5 proses ketika melakukan pembelian, yaitu :

  1. Pengenalan kebutuhan
  2. Pencarian informasi
  3. Evaluasi alternatif
  4. Keputusan pembelian
  5. Perilaku setelah pembelian
    Menurut Dewi & Sudiksa (2019), keputusan pembelian didasarkan
    dari beberapa indikator yakni :
  6. Kebutuhan
  7. Manfaat
  8. Rekomendasi pembelian

Perilaku Konsumen


Perilaku konsumen digambarkan pada sebuah pemahaman yang
menunjukan seperti apa seorang individu, kelompok, hingga organisasi
dalam berprilaku atau bersikap dalam hal menentukan, memilih, lalu
memperoleh, menggunakan dan menggantikan barang, layanan,
pemikiran, atau pengalaman. Hal ini bertujuan untuk dapat memenuhi
perasaan akan kebutuhan dan keinginan masing-masing individu.
Perilaku konsumen menunjukan terjadinya suatu proses yang saling
berkelanjutan mulai dari saat konsumen berkeinginan untuk membeli,
hingga perilaku konsumen saat setelah terjadinya pembelian sehingga
terjadi hubungan yang erat antara satu tahap ke tahap lainnya. Sehingga
perilaku konsumen menampilkan bagaimana proses seorang konsumen
atau pelanggan dalam melakukan keputusan pembelian dengan
memanfaatkan sumber-sumber yang ada dan tahap berikutnya ditukar
dengan barang atau jasa agar dapat merasakan manfaatnya. Pada
dasarnya, dalam memutuskan untuk membeli suatu barang tentu
konsumen akan mempertimbangkan terlebih dahulu mulai dari unsur
kegunaan, kualitas produk, hingga pandangan masyarakat tentang
produk (Kotler & Keller, 2016).
Menurut Subianto (2016), perilaku konsumen dikatakan sebagai
serangkaian tindakan nyata yang dijalankan oleh seorang individu
dimana disebabkan darisejumlah elemen, baik yang berasal dari internal
maupun eksternal yang bertujuan agar dapat mengarahkan konsumen
dalam megevaluasi, memilih, mendapatkan, dan menggunakan produk
yang dituju. Memahami perilaku konsumen bukanlah hal yang dianggap
mudah bagi sebuah perusahaan, dikarenakan perusahaan perlu
memahami unsur-unsur yang dapat memengarui keputusan pembelian
konsumen terhadap produk. Tetapi, jika perusahaan dapat
mengidentifikasi perilaku konsumen dengan tepat maka hal baik yang
dapat diperoleh oleh perusahaan adalah keuntungan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pesaing dikarenakan perusahaan mampu
menyesuaikan produk yang dijualnya berdasarkan hasil analisis perilaku
konsumen. Sehingga kesesuaian barang atau jasa terhadap kebutuhan
konsumen dapat memuaskan konsumen dengan baik (Nugraha et al.,
2021).

Pengaruh celebrity endorser terhadap keputusan pembelian.


Celebrity endorser merupakan alat promosi yang populer di dunia bisnis
dikarenakan menggunakan selebriti dapat menjadi daya tarik, dan dapat
dipercaya oleh publik sehingga produk yang dipromosikan diketahui dan dikenal
oleh konsumen. Keputusan Pembelian adalah bentuk pemilihan yang terdiri dari
beberapa tahap untuk membeli merek yang paling disukai diantara sejumlah
merek yang disukai. Semakin baik celebrity endorser maka diharapkan akan
meningkatkan keputusan konsumen untuk membeli produk tersebut, sebaliknya
bila celebrity endorser tidak baik maka akan menurunkan keputusan pembelian.

Pengaruh product quality terhadap keputusan pembelian.


Product quality menjadi faktor yang sangat penting dalam keputusan
pembelian. Dalam keputusan pembelian suatu produk, konsumen tentu ingin
mendapatkan product quality yang baik dan sesuai dengan kebutuhannya.
Memberikan product quality yang tinggi merupakan kewajiban perusahan agar
mendapatkan kepercayaan dan retensi konsumen. Keputusan pembelian adalah
bentuk pemilihan yang terdiri dari beberapa tahap untuk membeli merek yang
paling disukai diantara sejumlah merek yang disukai. Keputusan pembelian
konsumen meningkat pada produk-produk yang berkualitas baik, sebaliknya
keputusan pembelian menurun pada produk-produk yang kurang baik.

Pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian.


Brand Image merupakan suatu hasil pandangan atau persepsi konsumen
terhadap suatu merek tertentu, yang didasarkan atas pertimbangan dan
perbandingan dengan beberapa merek lainnya, pada jenis produk yang sama.
Keputusan Pembelian adalah bentuk pemilihan yang terdiri dari beberapa tahap
untuk membeli merek yang paling disukai diantara sejumlah merek yang
disukai. Brand image yang baik menggambarkan citra yang positif dari
konsumen terhadap suatu merek sehingga meningkatkan kemungkinan
konsumen untuk melakukan keputusan pembelian. Semakin baik Brand Image
maka diharapkan akan meningkatkan keputusan konsumen untuk membeli
produk tersebut, sebaliknya bila Brand Image tidak baik maka akan menurunkan
keputusan pembelian untuk membeli produk tersebut.

Pengukuran Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Keller (2016:96), mengemukakan keputusan pembelian
dapat diukur melalui consumer behavior sebagai berikut:
(1) Pilihan Produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk melakukan pembelian
sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam
hal ini perusahaan harus memusatkan perhatian kepada orang – orang yang
berminat membeli sebuah produk serta alternative mereka pertimbangkan.
(2) Pilihan Merek
Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek nama yang
akan dibeli setiap merek memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini
perusahaan harus mngetahui bagaiman konsumen memilih sebuah merek.
(3) Pilihan Penyalur
Konsumen harus mengambil keputusan tentang penyalur nama yang
akan dikunjungi. Setiap konsumen berbeda – beda dalam hal menentukan
penyalur, bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah,
persediaan barang yang lengkap, kenyamanan dalam berbelanja, keluasan
tempat, dan lain – lain.
(4) Waktu Pembelian
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda
beda misalnya ada yang beli setiap hari, satu minggu sekali, dua minggu
sekali dan lain sebagainya.
(5) Jumlah Pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak
produk yang akan dibelanjakan pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan
mungkin lebih dari satu dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan
banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang berbeda-beda.
(6) Metode Pembayaran
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran
yang akan dilakukan dengan pengambilan keputusan menggunakan produk
atau jasa. Saat ini keputusan pembelian dipengaruhi oelh tidak hanya aspek
lingkungan dan keluarga, keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh aspek
teknologi yang digunakan dalam pembayaran.

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut Kotler & Keller (2016:198), keputusan pembelian adalah
bentuk pemilihan dan minat untuk membeli merek yang paling disukai diantara
sejumlah merek yang berbeda.
Menurut Kotler & Armstrong (2016:185), keputusan pembelian adalah
membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor yang dapat muncul dari
keputusan pembelian. Faktor pertama adalah sikap orang lain. Faktor kedua
adalah faktor situasional yang tidak terduga.
Menurut Firmansyah (2018:26), keputusan pembelian adalah konsumen
memiliki sasaran atau perilaku yang ingin dicapai atau dipuaskan. Selanjutnya,
konsumen membuat keputusan mengenai perilaku yang ingin dilakukan untuk
dapat memecahkan masalahnya. Selanjutnya dijelaskan bahwa pemecahan
masalah merupakan suatu aliran timbal balik yang berkesinambungan di antara
faktor lingkungan, proses kognitif dan afektif, serta tindakan perilaku.

Pengukuran Celebrity Endorser


Menurut Andrews & Shimp (2017:228), menyebutkan ada beberapa atribut
pengukuran dari celebrity endorsement, yaitu:
(1) Credibility (Kredibilitas)
Mengacu pada kecenderungan untuk percaya atau mempercayai
endorser. Jika sebuah sumber informasi seperti endorser dianggap kredibel,
ada dua dimensi penting dalam atribut kredibel yaitu:
(a) Keahlian (expertise)
Keahlian mengacu pada pengetahuan, pengalaman, atau
keterampilan yang dimiliki oleh endorser.
(b) Kepercayaan (trustworthiness)
Kepercayaan mengacu pada kejujuran yang dirasakan, integritas,
endorser merupakan orang yang dapat dipercaya oleh khalayak.
(2) Attractiveness (Daya Tarik)
Terdiri dari tiga dimensi yang terkait yaitu kesamaan, keakraban, dan
disukai. Sumber dianggap menarik untuk penerima jika ada kesamaan atau
keakraban dengan sumber, dan jika penerima menyukai sumber terlepas dari
apakah keduanya memiliki kesamaan atau tidak dalam hal apapun. Daya
tarik tidak hanya fisik, tapi juga meliputi sejumlah karakteristik yang
menjadi kelebihan endorser seperti keterampilan intelektual, sifat
kepribadian, karakteristik gaya hidup, kecakapan dan sebagainya
(3) Power (Kekuatan)
Merupakan kharisma yang dipancarkan oleh narasumber sehingga dapat
mempengaruhi pemikiran, sikap, atau tingkah laku konsumen karena
pernyataan atau pesan endorser tersebut.

Peran Celebrity Endorser


Berikut ini adalah beberapa peran selebriti sebagai model iklan yang bisa
digunakan perusahaan dalam sebuah iklan Schiffman & Kanuk dalam Putra
(2020), yaitu :
(1) Testimonial
Jika secara personal selebriti menggunakan produk tersebut maka
pihak dia bisa memberikan kesaksian tentang kualitas maupun benefit dari
produk atau merek yang diiklankan tersebut.
(2) Endorsement
Ada kalanya selebriti diminta untuk membintangi iklan produk
dimana dia secara pribadi tidak ahli dalam bidang tersebut.
(3) Actor
Selebriti diminta mempromosikan suatu produk atau merek tertentu
terkait dengan peran yang sedang ia bintangi dalam suatu program tayangan
tertentu.
(4) Spokeperson
Selebriti yang mempromosikan produk, merek atau suatu perusahaan
dalam kurun waktu tertentu masuk dalam kelompok peran spokerperson.
Penampilan mereka akan diasosiasikan dengan merek atau produk yang
mereka wakili

Pengertian Celebrity Endorser (Pendukung Selebriti)


Menurut Andrews & Shimp (2017:227), celebrity endorser adalah
menggunakan bintang televisi, aktor film, atlet terkenal, dan bahkan tokoh yang
sudah meninggal sebagai bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak,
media sosial, maupun media televisi.
Menurut Rabia et al. (2019), celebrity endorser digunakan untuk menarik
perhatian konsumen, dengan melibatkan selebriti tertentu dalam iklan akan
memotivasi orang untuk mendapatkan perhatian terhadap produk karena strategi
ini meningkatkan perhatian konsumen terhadap produk bermerek.
Menurut Sari Dewi et al. (2020), celebrity endorser merupakan orang yang
mendukung suatu merek dari tokoh masyarakat yang popular dan juga alat yang
dipercaya oleh perusahan untuk berkomunikasi dengan publik guna untuk
meningkatkan angka penjualan pada produk.

Pengukuran Kualitas Produk


Menurut Kotler & Keller (2016:393), pengukuran pada kualitas
produk dapat diukur menggunakan product differentiation adalah
sebagai berikut :
(1) Bentuk (Form)
Banyak produk dapat dibedakan dalam ukuran, bentuk, atau
struktur fisik suatu produk. Pertimbangkan banyak kemungkinan
bentuk aspirin. Meskipun pada dasarnya komoditas, dapat dibedakan
berdasarkan dosis, ukuran, bentuk, warna, pelapisan, atau waktu
tindakan.
(2) Fitur (Feature)
Sebagian besar produk dapat ditawarkan dengan beragam fitur
yang melengkapi fungsi dasarnya. Sebuah perusahaan dapat
mengidentifikasi dan memilih fitur baru yang sesuai dengan
melakukan survei pembeli baru dan kemudian menghitung nilai
pelanggan versus biaya perusahaan untuk setiap fitur potensial.
Pemasar harus mempertimbangkan berapa banyak orang yang
menginginkan setiap fitur, berapa lama waktu yang dibutuhkan
untuk memperkenalkannya, dan apakah pesaing dapat dengan
mudah menirunya.
(3) Kualitas Kinerja (Performance Quality)
Kualitas kinerja adalah tingkat di mana karakteristik utama
produk beroperasi. Kualitas tumbuh semakin penting untuk
diferensiasi karena perusahaan mengadopsi model nilai dan
memberikan kualitas yang lebih tinggi dengan biaya lebih sedikit.
Perusahaan harus merancang tingkat kinerja yang sesuai dengan
target pasar dan persaingan. Mereka juga harus mengelola kualitas
kinerja melalui waktu. Meningkatkan produk secara terus-menerus
dapat menghasilkan pengembalian tinggi dan pangsa pasar;
kegagalan dalam melakukannya dapat memiliki konsekuensi
negatif.
(4) Kualitas Kesesuaian (Conformance Quality)
Kualitas kesesuaian pembeli mengharapkan kualitas
kesesuaian tinggi, sejauh mana semua unit yang diproduksi identik
dan memenuhi spesifikasi yang dijanjikan. Produk dengan kualitas
kesesuaian yang rendah akan mengecewakan beberapa pembeli.
(5) Daya Tahan (Durability)
Daya tahan, ukuran dari masa pakai produk yang diharapkan
dalam kondisi alami atau penuh tekanan, adalah atribut yang
dihargai untuk kendaraan, peralatan dapur, dan barang tahan lama
lainnya. Namun, biaya tambahan untuk daya tahan tidak boleh
berlebihan, dan produk tidak boleh mengalami keusangan teknologi
yang cepat, seperti komputer pribadi, televisi, dan telepon seluler
terkadang.
(6) Keandalan (Reliability)
Pembeli biasanya akan membayar premi untuk produk yang
lebih andal. Keandalan adalah ukuran probabilitas bahwa suatu
produk tidak akan mengalami kegagalan fungsi dalam jangka waktu
tertentu.
(7) Perbaikan (Repairabiliy)
Perbaikan mengukur kemudahan memperbaiki produk ketika
tidak berfungsi dengan baik. Perbaikan yang ideal akan ada jika
pengguna dapat memperbaiki produk sendiri dengan sedikit biaya
dalam uang atau waktu.
(8) Gaya (Style)
Gaya menggambarkan tampilan dan nuansa produk kepada
pembeli dan menciptakan kekhasan yang sulit untuk ditiru.
(9) Kustomisasi (Customization)
Produk dan pemasaran khusus memungkinkan perusahaan
untuk menjadi sangat relevan dan berbeda dengan mencari tahu
persis apa yang diinginkan atau yang tidak inginkan konsumen.

Pengertian Product Quality (Kualitas Produk)


Menurut Kotler & Keller (2016:156), kualitas produk adalah
totalitas fitur dan karakteristik produk atau layanan yang bergantung
pada kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau
tersirat.
Menurut Kotler et al. (2017:249), kualitas produk merupakan
karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya
untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang dinyatakan atau tersirat.
Menurut Yanto (2017), kualitas produk adalah suatu usaha untuk
memenuhi atau melebihi harapan konsumen, dimana suatu produk
tersebut memiliki kualitas yang sesuai dengan standar kualitas yang telah
ditentukan, dan kualitas merupakan kondisi yang selalu berubah karena
selera atau harapan konsumen pada suatu produk selalu berubah.
Kualitas produk menurut Mapaung et al. (2021) merupakan
karakteristik produk dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Dengan adanya kualitas yang baik, maka akan
terbentuk suatu karakteristik yang baik di pandangan pelanggan.

Tingkatan Produk


Dalam merencanakan penawaran pasarnya, pemasar perlu mengatasi
lima tingkatan produk. Setiap tingkatan akan menambahkan lebih banyak
nilai pelanggan, dan bersama-sama lima tingkatan tersebut akan membentuk
customer-value hierarchy. Tingkatan produk menurut Kotler & Keller
(2016:389):
(1) Manfaat Inti (Core Benefit)
Pada tingkatan ini layanan atau manfaat yang benar-benar dibeli oleh
pelanggan. Pemasar harus melihat diri mereka sebagai penyedia
manfaat.
(2) Produk Dasar (Basic Product)
Pada tingkatan ini pemasar harus mengubah manfaat inti menjadi
produk dasar.
(3) Produk Ekspektasi (Expected Product)
Pada tingkatan ini pemasar menyiapkan produk yang diharapkan,
sekumpulan atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan pembeli
ketika mereka membeli produk tersebut.
(4) Produk Tambahan (Augmented Product)
Pada tingkatan ini pemasar menyiapkan produk tambahan yang
melebihi harapan pelanggan.
(5) Produk Potensial (Potential Product)
Pada tingkatan ini produk potensial yang mencakup semua
kemungkinan tambahan dan transformasi yang mungkin dialami
sebuah produk atau penawaran dimasa depan.

Pengertian Produk


Menurut Kotler & Keller (2016:389), produk adalah segala sesuatu
yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau
kebutuhan, termasuk barang fisik, jasa, pengalaman, acara, orang, tempat,
properti, organisasi, informasi, dan ide.
Menurut Kotler et al. (2017:244), produk adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan ke pasar untuk diperhatikan, diperoleh, digunakan, atau
dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan
Pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa produk adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar berupa barang fisik, jasa,
pengalaman, acara, orang, tempat, properti, organisasi, informasi, dan ide.
untuk memuaskan keinginan atau kebutuhannya

Pengukuran Citra Merek


Menurut Kotler & Keller dalam Juliet (2020), pengukuran citra merek
dapat dilakukan berdasarkan aspek sebuah merek yaitu:
(1) Kekuatan (Strengthness)
Kekuatan dalam hal ini adalah keunggulan-keunggulan yang
dimiliki oleh merek yang bersifat fisik dan tidak ditemukan pada merek
lainnya. Keunggulan merek ini mengacu pada atribut-atribut fisik
sehingga biasa dianggap sebagai sebuah kelebihan dibandingkan
dengan merek lain. Yang termasuk pada kelompok kekuatan (strength):
penampilan fisik, keberfungsian semua fasilitas produk, maupun
fasilitas pendukung dari produk tersebut.
(2) Keunikan (Uniqueness)
Keunikan adalah kemampuan untuk membedakan sebuah merek
di antara merek-merek lainnya. Kesan unik ini muncul dari atribut
produk, menjadi kesan pada diferensiasi antara produk satu dengan
lainnya. Termasuk dalam kelompok untuk ini antara lain: ciri khas,
variasi layanan yang biasa diberikan sebuah produk, variasi harga dari
produk-produk yang bersangkutan maupun diferensiasi dari
penampilan fisik sebuah produk serta nilai unik lainnya.
(3) Kesukaan (Favorable)
Kesukaan mengarah pada kemampuan merek tersebut agar
mudah diingat oleh konsumen, yang termasuk dalam kelompok. yang
termasuk dalam kelompok Favorable ini antara lain: kemudahan merek
tersebut diucapkan, kemampuan merek untuk tetap diingat oleh
pelanggan (Brand Recognition), maupun, kesesuaian antara kesan
merek di benak pelanggan dengan citra yang diinginkan perusahaan
atas merek yang bersangkutan

Pengertian Brand Image (Citra Merek)


Menurut Kotler et al. (2017:231), brand image harus menyampaikan
manfaat dan pemosisian produk yang khas. Bahkan ketika penawaran yang
bersaing terlihat sama, pembeli merasakan perbedaan berdasarkan
diferensiasi citra merek.
Menurut Kotler & Keller (2016:330), brand image mendeskripsikan
sifat ekstrinsik yang artinya hal yang bisa dilihat atau dinilai bahkan
sebelum konsumen atau orang menggunakan suatu produk atau layanan,
termasuk cara merek tersebut dapat memenuhi kebutuhan sosial dan
psikologis dari konsumen.
Menurut Firmansyah (2018:87), brand image merupakan gambaran
dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari informasi dan
pengalaman terhadap merek tersebut.
Menurut Sari Dewi et al. (2020), brand image merupakan cara padang
konsumen terhadap suatu merek sebagai sebuah gambaran dari apa yang ada
dalam pikiran atau benak konsumen terhadap suatu merek

Fungsi Brand (Merek)


Menurut Kotler dan Keller (2016 : 322), fungsi dari merek bagi perusahaan
dan konsumen yaitu sebagai berikut :
(1) Peranan merek untuk konsumen
Merek adalah janji antara perusahaan dan konsumen. Ini adalah
sebuah penetapan harapan konsumen dan merek mampu untuk
menyederhanakan pengambilan keputusan untuk mengurangi resiko
mereka
(2) Peran merek untuk perusahaan
Merek juga melakukan fungsi yang berharga untuk perusahaan.
Merek menyederhanakan produk penanganan dengan membantu
mengatur catatan barang, catatan akuntansi, dan sebuah merek juga
menawarkan perlindungan hukum

Pengertian Brand (Merek)


Menurut Kotler et al. (2017:250), brand adalah nama, istilah, tanda,
simbol, atau desain atau kombinasi dari semuanya yang mengidentifikasi
pembuat atau penjual produk atau layanan.
Menurut Kotler & Keller (2016:322), Brand diartikan sebagai, sebuah
nama, istilah, lambang, atau desain, atau kombinasinya, yang
mengidentifikasi pembuat atau penjual barang atau jasa.

Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian melalui faktorsosial


Faktor sosial mempengaruhi keputusan pembelian konsumen terhadap
kualitas produk yang ada. Semakin tinggi kelas sosial seseorang dalam suatu
kelompok sosial. Hasil penelitian menurut (Syah, 2008) dalam “Pengaruh
Faktor Psikologi dan Faktor Sosial terhadap Keputusan Pembelian Komputer
di Lingkungan Mahasiswa (studi kasus pada mahasiswa Fakultas Ekonomi
Universitas Brawijaya Malang)” menunjukkan bahwa faktor sosial
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian. Factor sosial juga
mempengaruhi konsumen dalam memilih kualitas produk yang akan di
gunakan, semakin tinggi kasta sosial yang dimiliki semakin tinggi pula
kualitas produk yang di gunakan oleh seseorang

Pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian melalui faktor sosial


factor sosial dinilai dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen
terhadap suatu brand image yang ada, dikarenakan adanya unsur-unsur dari
factor sosial yang dapat mempengaruhi psikologis dari seorang konsumen.
Salah satunya adalah kelompok acuan, kelompok acuan mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen dikarenakan seorang konsumen cenderung
mengikuti suatu fashion yang sedang trend atau popular di dalam kelompok
acuannnya. Gaya hidup konsumen juga mempengaruhi brand yang digunakan
oleh seorang konsumen di karenakan factor dari lingkungan sosial sangat
mempengaruhi pilihan brand dari seorang konsumen

Pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian


Kualitas produk dinilai baik apabila ulasan tentang produk tersebut baik,
sebaliknya apabila ulasan tentang produk tersebut kurang baik/buruk, maka
kualitas produk tersebut juga dianggap kurang baik. Kualitas dapat diartikan
kemampuan dari produk untuk menjalankan fungsinya yang mencakup daya
tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam pengemasan
dan reparasi produk dan ciri- ciri lainnya (Kotler dan Amstrong, 2008). Jadi,
apabila kualitas produk tersebut dianggap baik dan dapat menjadi produk yang
diminati konsumen maka, kualitas produk berpengaruh positif terhadap
keputusan pembelian

Pengaruh brand image terhadap keputusan pembelian


Menurut Kotler (2000) menyatakan bahwa brand image adalah sejumlah
keyakinan tentang merek yang ada dan melekat dalam ingatan konsumen.
Konsumen akan selalu mengingat suatu brand yang cocok dengan konsumen
tersebut apabila penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari sangat berguna
bagi konsumen. Maka, brand image berpengaruh positif terhadap keputusan
pembelian.

Keputusan Pembelian


Pembelian adalah keputusan konsumen mengenai apa yang dibeli, apakah
membeli atau tidak, kapan membeli, di mana membeli, dan bagaimana cara
pembayarannya (Sumarwan, 2003). Sedangkan keputusan pembelian adalah
persepsi konsumen tentang bagaimana mengevaluasi berbagai pilihan dan
memutuskan pilihan pada produk tertentu dari sekian banyak produk yang ada.
Menurut (Tjiptono, 2012) keputusan pembelian adalah sebuah proses dimana
konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi mengenai produk atau
merek tertentu dan mengevaluasi secara baik masing-masing alternatif tersebut
dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian mengarah kepada keputusan
pembelian. Sedangkan, Menurut (Kotler & Amstrong, 2014), keputusan
pembelian adalah tahap dalam proses pengambilan keputusan pembeli di mana
konsumen benar-benar membeli. Jika dilihat secara harfiah keputusan pembelian
adalah bagaimana konsumen mengevaluasi dan menimbang produk mana yang
benar-benar cocok dengan kebutuhan mereka dan benar-benar membeli. Menurut
(Tjiptono, 2012), ada 4 faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian
pelanggan, yaitu:

  1. Nilai emosional, utilitas yang berasal dari perasaan atau afektif atau emosi
    positif yang ditimbulkan dari mengonsumsi produk. Jika konsumen
    mengalami perasaan positif (positive feeling) pada saat membeli atau
    menggunakan suatu merek, maka merek tersebut memberikan nilai
    emosional. Pada intinya nilai emosional berhubungan dengan perasaan, yaitu
    perasaan positif apa yang akan dialami konsumen pada saat membeli produk.
  2. Nilai sosial, utilitas yang didapat dari kemampuan produk untuk
    meningkatkan konsep diri-sosial konsumen. Nilai sosial merupakan nilai
    yang dianut oleh suatu konsumen, mengenai apa yang dianggap baik dan apa
    yang dianggap buruk oleh konsumen.
  3. Nilai kualitas, utilitas yang didapat dari produk karena reduksi biaya jangka
    pendek dan biaya jangka panjang.
  4. Nilai fungsional adalah nilai yang diperoleh dari atribut produk yang
    memberikan kegunaan (utility) fungsional kepada konsumen nilai ini
    berkaitan langsung dengan fungsi yang diberikan oleh produk atau layanan
    kepada konsumen.
    Setelah melihat beberapa faktor diatas, konsumen akan melalui beberapa tahapan
    dalam pengambilan keputusan. Menurut (Kotler & Armstong, 2012) konsumen
    akan melalui lima tahap dalam pengambilan keputusan pembelian, yaitu:
  5. Pengenalan kebutuhan Merupakan tahap pertama proses keputusan pembeli,
    dimana konsumen menyadari suatu masalah atau kebutuhan.
  6. Pencarian informasi Merupakan tahap proses keputusan pembeli dimana
    konsumen ingin mencari informasi lebih banyak; konsumen mungkin hanya
    memperbesar perhatian atau melakukan pencarian informasi secara aktif.
  7. Evaluasi alternatif Merupakan tahap proses keputusan pembeli dimana
    konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merek alternatif
    dalam sekelompok pilihan.
  8. Keputusan pembelian Merupakan keputusan pembeli tentang merek mana
    yang paling disukai, tetapi dua faktor bisa berada antara niat pembelian dan
    keputusan pembelian.
  9. Perilaku pasca pembelian Merupakan tahap proses keputusan pembeli dimana
    konsumen mengambil tindakan selanjutnya setelah pembelian, berdasarkan
    kepuasan atau ketidakpuasan mereka.

Kualitas Produk


Suatu perusahaan pasti memiliki produk tertentu yang dapat di tawarkan kepada
konsumen, produk itu sendiri merupakan elemen yang penting karena dengan
adanya produk perusahaan dapat menetapkan harga, menyalurkan produk melalui
distribusi-distribusi perusahaan. Menurut (stanton, 2008) mendefinisikan produk
secara sempit diartikan sebagai sekumpulan atribut fisik yang dapat di
identifikasikan dalam sebuah bentuk nyata. Sedangkan menurut (Tjiptono, 2008)
mendefinisikan produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada
produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan atau dikonsumsi
pasar yang terkait.
Produk merupakan suatu pusat dari kegiatan pemasaran dikarenakan produk
merupakan sebuah hasil dari suatu perusahaan yang di tawarkan ke pasar untuk
di perjual-belikan dan juga sebagai alat bagi perusahaan untuk mendapatkan
keuntungan. Jika dilihat dari segi konseptual, sebuah produk adalah pemahaman
subyektif dari produsen atas sesuatu yang bisa ditawarkan sebagai cara dalam
mencapai tujuan perusahaan melalui pemenuhan kebutuhan dan kegiatan
konsumen melalui kompetensi dan kapasitas perusahaan dan juga daya beli pasar.
Pemasaran produk juga di lihat dari konsumen dan peruntukan produk tersebut,
produk dapat di bedakan menjadi barang konsumen (consumer’s goods) dan
barang industry (industrial goods) dalam kehidupan sehari-hari kita sangat
bergantung pada produk tertentu seperti halnya barang konsumsi seperti beras,
mie instan dll.
Menurut (Tjiptono, 2011), kualitas produk merupakan suatu kondisi dinamis
yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang
memenuhi atau melebihi harapan. Sedangkan secara harfiah kualitas produk
adalah kemampuan suatu produk untuk melaksanakan fungsinya meliputi daya
tahan keandalan, ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut
bernilai lainnya. Menurut (Kotler & armstong, 2008), kualitas produk (product
quality) Merupakan senjata strategi potensial untuk mengalahkan pesaing.
Sedangkan menurut (Handoko, 2002) kualitas produk adalah suatu kondisi dari
sebuah barang berdasarkan pada penilaian atas kesesuainnya dengan standar ukur
yang telah ditetapkan. Semakin sesuai standar yang ditetapkan maka akan dinilai
produk tersebut semakin berkualitas.
menurut (Tjiptono, 2008) mengemukakan, bahwa ada 8 dimensi dalam kualitas
produk, antara lain :
(1) Performance (kinerja), merupakan karakteristik operasi dan produk inti
(core product) yang dibeli. Misalnya kecepatan, kemudahan dan kenyamanan
dalam penggunaan,
(2) Durability (daya tahan), yang berarti daya tahan menunjukan usia produk,
yaitu jumlah pemakaian suatu produk sebelum produk itu digantikan atau rusak.
Semakin lama daya tahannya tentu semakin awet, produk yang awet akan
dipersepsikan lebih berkualitas dibanding produk yang cepat habis atau cepat
diganti, Daya tahan (Durability), berkaitan dengan berapa lama produk tersebut
dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur
ekonomis penggunaan produk.
(3) Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu
kesesuaian yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar
yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya pengawasan kualitas dan desain,
Standar karakteristik operasional adalah kesesuaian kinerja produk dengan
standar yang dinyatakan suatu produk. Ini semacam “janji” yang harus dipenuhi
oleh produk. Produk yang memiliki kualitas dari dimensi ini berarti sesuai dengan
standarnya,
(4) Features (fitur), merupakan karakteristik atau ciri-ciri tambahan yang
melengkapi manfaat dasar suatu produk. Fitur bersifat pilihan atau option bagi
konsumen. Fitur bisa meningkatkan kualitas produk jika kompetitor tidak
memiliki fitur tersebut, Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features),
merupakan karakteristik sekunder atau pelengkap.
(5) Reliability (reabilitas Keandalan) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
kerusakan atau gagal pakai. Misalnya pengawasan kualitas dan desain, standar
karakteristik operasional kesesuaian dengan spesifikasi,
(6) Aesthetics (estetika) yaitu daya tarik produk terhadap panca indera,
misalkan bentuk fisik, model atau desain yang artistik, warna dan sebagainya,
(7) Perceived quality (kesan kualitas) yaitu persepsi konsumen terhadap
keseluruhan kualitas atau keunggulan suatu produk. Biasanya karena kurangnya
pengetahuan pembeli akan atribut atau ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka
pembeli mempersepsikan kualitasnya dari aspek harga, nama merek, iklan,
reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya, Kualitas yang dipersepsikan
(perceived quality), yaitu citra dan reputasi produk serta tanggung jawab
perusahaan terhadapnya.
(8) Serviceability, yaitu kualitas produk ditentukan atas dasar Kemampuan
diperbaiki (Serviceability), meliputi kecepatan, kompetensi, kenyamanan, mudah
direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan.Produk yang mampu
diperbaiki tentu kualitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang tidak
atau sulit diperbaiki.

Brand Image


Sebelum menjelaskan brand image, terlebih dahulu akan menjelaskan arti
brand (merek). Merek merupakan suatu unsur penting yang dapat membantu
proses pemasaran karena merek merupakan penanda atau pembeda antara satu
produk dengan produk yang lain. Menurut (Buchari, 2016) mendefinisikan merek
sebagai suatu tanda atau simbol yang memberikan identitas suatu barang atau jasa
tertentu, dapat berupa kata-kata, gambar atau kombinasi keduanya.
Menurut (Buchari, 2016), merek akan memberikan manfaat kepada:

  1. Produsen atau penjual
    a. Memudahkan penjual dalam mengolah pesanan-pesanan dan menekan
    masalah.
    b. Nama merek dan tanda dagang secara hokum akan melindungi
    penjual dalam pemalsuan cirri-ciri produk karena jika tidak
    demikian setiap pesaing akan meniru produk tersebut.
    c. Member peluang bagi penjual dalam kesetiaan konsumen pada
    produknya dengan menetapkan harga lebih tinggi.
    d. Membantu penjual dapat dibina dengan adanya merek yang baik.
    e. Memberikan pertahanan terhadap persaingan harga.
  2. Pembeli atau konsumen
    a. Dapat membedakan produk tanpa harus memeriksa secara teliti.
    b. Konsumen mendapat informasi tentang produk.
    c. Meningkatkan efisiensi.
    Secara umum image dapat diartikan sebagai karakteristik-karakteristik
    tertentu seperti manusia, semakin positif deskripsi tersebut
    semakin kuat brand image dan semakin banyak kesempatan bagi pertumbuhan
    merek itu (Gordon, 2002) Kemudian, menurut (Simamora, 2006) mengatakan
    bahwa image adalah persepsi yang relative konsisten dalam jangka panjang
    (enduring perception). Jadi tidak mudah untuk membentuk image, sehingga bila
    terbentuk sulit untuk mengubahnya.
    Brand Image adalah cerminan dari persepsi konsumen terhadap merek yang
    tebentuk dari informasi dan juga pengalaman masa lalu konsumen terhadap
    merek tersebut. Brand image itu sendiri menurut (Kotler, 2012) merupakan
    pemahaman konsumen mengenai merek secara keseluruhan, kepercayaan
    konsumen terhadap suatu merek tertentu dan bagaimana konsumen memandang
    suatu merek.
    Sedangkan (Durianto et al., 2004) menyatakan brand image adalah asosiasi
    brand saling berhubungan dan menimbulkan suatu rangkaian dalam ingatan
    konsumen. Brand image yang terbentuk di benak konsumen. Konsumen yang
    terbiasa menggunakan brand tertentu cenderung memiliki konsistensi terhadap
    brand image.

Hubungan Kualitas Produk dengan Keputusan Pembelian


Dalam melakukan keputusan pembelian suatu produk, hal penting yang
menjadi pertimbangan konsumen adalah kualitas produknya. Adanya kualitas produk
yang baik dapat menarik minat konsumen dalam melakukan pembelian produk
tersebut. Menurut (Fatmaningrum et al., 2020), kualitas produk merupakan salah satu
faktor penentu keputusan pembelian karena kualitas produk yang baik akan
menciptakan, mempertahankan dan menjadikan konsumen loyal.
Menurut Ong & Sugiharto (2013) dalam (Yusra & Nanda, 2020) menyatakan
bahwa jika suatu perusahaan ingin bersaing dipasaran maka perusahaan tersebut harus
memperhatikan kualitas barang yang diproduksinya. Apabila perusahaan memiliki
produk yang berkualitas maka akan dapat bersaing dengan kompetitor serta bisa
menguasai pangsa pasar.

Hubungan Brand Image dengan Keputusan Pembelian


Brand image menggambarkan sifat ekstrinsik dari suatu produk atau jasa
termasuk cara dimana merek tersebut berusaha memenuhi kebutuhan psikologis atau
sosial pelanggan, merek yang positif akan membuat konsumen menyukai suatu produk
dengan merek yang bersangkutan dikemudian hari, sedangkan bagi produsen citra
merek yang baik akan menghambat kegiatan pemasaran pesaing (Suryani & Rosalina,
2019). Apabila perusahaan tidak memiliki citra merek (brand image) positif di mata
konsumen, maka akan sangat sulit bagi perusahaan tersebut dalam mencari pelanggan
baru maupun mempertahankan pelanggan lama.
Brand image termasuk salah satu faktor penting dalam memengaruhi
keputusan pembelian konsumen karena brand image yang baik akan memberikan
keuntungan bagi perusahaan melalui peningkatan penjualan produk. Menurut
(Wijayasari & Mahfudz, 2018) citra merek adalah salah satu hal yang dipertimbangkan
konsumen ketika akan membeli produk, apabila produk sudah memiliki citra merek
tinggi maka konsumen akan memiliki minat untuk membeli.

Indikator Keputusan Pembelian


Indikator terkait proses keputusan pembelian menurut (Ariella, 2018) terdapat
5 tahap yang akan dilalui yaitu:

  1. Pengenalan masalah, proses pembelian akan diawali dengan pengenalan
    masalah atau kebutuhan konsumen. Kebutuhan konsumen dapat digerakan
    oleh faktor dari dalam maupun faktor dari luar konsumen.
  2. Pencarian informasi, dalam proses ini konsumen akan mencari informasi
    tentang kebutuhan yang dimilikinya melalui berbagai sumber antara lain iklan,
    teman dan sebagainya.
  3. Evaluasi alternatif, setelah melakukan pencarian informasi dari berbagai
    sumber, konsumen akan mempunyai beberapa pilihan alternatif merek atau
    produk.
  4. Keputusan pembelian, pada tahap ini konsumen memungkinkan untuk
    menentukan minat beli terhadap produk yang disukainya.
  5. Perilaku pasca pembelian, pada tahap ini sangat dipengaruhi oleh pengalaman
    konsumen saat membeli suatu produk dan setelah itu akan mengalami rasa
    kepuasan atau ketidakpuasan dalam proses pembelian suatu produk.

Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang
untuk membeli suatu barang atau jasa berdasarkan beberapa pertimbangan yang sesuai
dengan kebutuhan dan keinginannya. Keputusan pembelian dapat terjadi ketika
seseorang dapat memilih produk yang ingin dibeli setelah melakukan berbagai riset
terhadap pesaing lainnya (Stevani & Aminah, 2022).
Penjelasan dari Swastha (2008:105-112) dalam (Ristanti & Iriani, 2020)
keputusan pembelian yaitu pemahaman konsumen tentang keinginan dan kebutuhan
akan suatu produk dengan menilai dari sumber-sumber yang ada dengan menetapkan
tujuan pembelian serta mengidentifikasi alternatif, sehingga mengambil keputusan
untuk membeli yang disertai dengan perilaku setelah melakukan pembelian. Menurut
pendapat Pratama, dkk (2017) dalam (Kartika et al., 2019) bahwa keputusan pembelian
memiliki faktor penting bagi konsumen untuk menentukan eksitensi perusahaan, agar
menjadi tolak ukur suatu rangsangan konsumen dalam memutuskan pembelian produk
pasar dan mendapatkan respon positif.
Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang secara langsung
terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian terhadap produk
yang ditawarkan oleh penjual (Agustina et al., 2018). Menurut Kotler (2005) dalam
(Fitrianna & Aurinawati, 2020), keputusan pembelian adalah suatu tahap dimana
konsumen telah memiliki pilihan dan siap untuk melakukan pembelian atau pertukaran
antara uang dan janji untuk membayar dengan hak kepemilikan atau penggunaan suatu
barang atau jasa. Keputusan pembelian merupakan suatu tindakan yang dilakukan
konsumen dikarenakan adanya dorongan-dorongan atau motif-motif yang dirasakan
sehingga menimbulkan minat atau dorongan untuk memenuhi kebutuhan (Chandra &
Santoso, 2019). Sedangkan menurut Philip Kotler (2000:251-252) dalam (Fetrizen &
Aziz, 2019), yang dimaksud dengan keputusan pembelian adalah suatu proses
penyelesaian masalah yang terdiri dari menganalisa atau pengenalan kebutuhan dan
keinginan, pencarian informasi, penilaian sumber-sumber seleksi terhadap alternatif
pembelian, keputusan pembelian, dan perilaku setelah pembelian.

Indikator Kualitas Produk


Menurut Budiyanto (2016:490) dalam (Ariella, 2018) menyatakan bahwa
indikator kualitas produk yaitu:

  1. Keawetan, suatu refleksi umur ekonomis berupa ukuran masa pakai atau daya
    tahan suatu barang.
  2. Keandalan, sesuatu yang berkaitan dengan kemungkinan suatu barang berhasil
    menjalankan fungsinya setiap kali digunakan.
  3. Kesesuaian produk, sesuatu yang berkaitan dengan tingkat kesesuaian terhadap
    spesifikasi yang sudah ditetapkan sebelumnya.
  4. Kemudahan dipergunakan dan diperbaiki, sesuatu karakteristik yang berkaitan
    dengan kemudahan dan akurasi dalam pemberian layanan untuk perbaikan
    barang

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Produk


Menurut Sofian Assauri (2012) mengatakan faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas produk yaitu:

  1. Market (Pasar)
    Jumlah produk baru dan baik yang ditawarkan dipasar terus bertambah pada
    laju yang eksplosif. Konsumen diarahkan untuk mempercayai bahwa ada
    sebuah produk yang dapat memenuhi hampir setiap kebutuhan. Pada masa
    sekarang konsumen meminta dan memperoleh produk yang lebih
    terspesialisasi didalam barang yang ditawarkan. Dengan bertambahnya
    perusahaan, pasar menjadi bersifat internasional dan mendunia. Akhirnya
    bisnis harus lebih fleksibel dan mampu berubah arah dengan cepat.
  2. Money (Uang)
    Meningkatnya persaingan dalam banyak bidang bersamaan dengan fluktuasi
    ekonomi dunia lebih menurunkan batas (marjin) laba. Pada waktu yang
    bersamaan, kebutuhan akan otomatisasi dan pemekanisan mendorong
    pengeluaran biaya yang besar untuk proses dan perlengkapan yang baru.
  3. Management (Manajemen)
    Tanggung jawab kualitas telah didistribusikan antara beberapa kelompok
    khusus. Sekarang bagian pemasaran melalui fungsi perencanaan produknya
    harus membuat persyaratan produk. Bagian perancangan bertanggung jawab
    merancang produk yang akan memenuhi persyaratan itu. Bagian produksi
    mengembangkan dan memperbaiki kembali proses untuk memberikan
    kemampuan yang cukup dalam membuat produk sesuai dengan spesifikasi
    rancangan. Bagian pengendalian kualitas merencanakan pengukuran kualitas
    pada seluruh aliran proses yang menjamin bahwa hasil akhir memenuhi
    persyaratan kualitas dan kualitas pelayanan, setelah produk sampai pada
    konsumen menjadi bagian yang penting dari paket produk total. Hal ini
    menambah beban manajemen puncak khususnya bertambahnya kesulitan
    dalam mengalokasikan tanggung jawab yang tepat untuk mengoreksi
    penyimpangan dari standard kualitas.
  4. Human (Manusia)
    Pertumbuhan yang cepat dalam pengetahuan teknis dan penciptaan seluruh
    bidang baru seperti elektronika komputer menciptakan suatu permintaan yang
    besar akan perkara dengan pengetahuan khusus. Pada waktu yang sama situasi
    ini menciptakan permintaan akan ahli teknik sistem yang akan mengajak semua
    bidang spesialisasi untuk bersama merencanakan, menciptakan dan
    mengoperasikan berbagai sistem yang akan menjamin suatu hasil yang
    diinginkan.
  5. Motivation (Motivasi)
    Penelitian tentang motivasi menunjukkan bahwa sebagai hadiah tambah uang,
    para pekerja masa kini memerlukan suatu yang memperkuat rasa keberhasilan
    didalam pekerjaan mereka dan pengakuan bahwa mereka secara pribadi
    memerlukan sumbangan atas tercapainya tujuan perusahaan, hal ini
    membimbing kearah kebutuhan yang tidak ada sebelumnya yaitu pendidikan
    kualitas dan komunikasi yang lebih baik tentang kesadaran kualitas.
  6. Material (Bahan)
    Disebabkan oleh biaya produksi dan persyaratan kualitas, para ahli teknik
    memilih bahan dengan batasan yang lebih ketat daripada sebelumnya.
    Akibatnya spesifikasi bahan menjadi ketat dan keanekaragaman bahan menjadi
    lebih besar.
  7. Machine and Mecanization (Mesin dan Mekanik)
    Permintaan perusahaan untuk mencapai penurunan biaya dan volume produksi
    untuk memuaskan pelanggan telah terdorong penggunaan perlengkapan pabrik
    yang menjadi lebih rumit dan tergantung pada kualitas bahan yang dimasukkan
    kedalam mesin tersebut. Kualitas yang baik menjadi faktor kritis dalam
    memelihara waktu kerja mesin agar fasilitasnya dapat digunakan sepenuhnya.

Pengertian Kualitas Produk


Menurut Weenas (2013:609) dalam (Halim & Iskandar, 2019), kualitas produk
adalah kemampuan untuk melaksanakan fungsinya, meliputi kehandalan, daya tahan,
ketepatan, kemudahan operasi, dan perbaikan produk, serta atribut bernilai lainnya.
Oleh karena itu, perusahaan perlu menjaga kualitas produknya karena dengan kualitas
produk yang baik dapat membuat pelanggan merasa puas serta dapat memengaruhi
konsumen untuk melakukan pembelian ulang di kemudian hari. Menurut (Pahlawan et
al., 2019), banyak manfaat yang diterima oleh perusahaan dengan tercapainya tingkat
kepuasan pelanggan yang tinggi, yakni selain dapat meningkatkan loyalitas pelanggan
tapi juga dapat mencegah terjadinya perputaran pelanggan, mengurangi sensitivitas
pelanggan terhadap harga, mengurangi biaya kegagalan pemasaran, mengurangi biaya
operasi yang diakibatkan oleh meningkatnya jumlah pelanggan, meningkatkan
efektivitas iklan, dan meningkatkan reputasi bisnis.
Menurut Kotler and Armstrong (2004:283) dalam (Tombeng et al., 2019)
menyatakan kualitas produk sebagai the ablity of a product to perform its functions.
Its includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of operation
and repair, and other valued attributes. Artinya, kualitas produk berhubungan erat
dengan kemampuan produk untuk menjalankan fungsinya, termasuk keseluruhan
produk, keandalan, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan perbaikan, dan atribut
bernilai lainnya.
Menurut Runtunuwu dan Oroh (2014) dalam (Umami et al., 2019), kualitas
produk adalah sebuah kemampuan dari suatu produk dalam rangka melaksanakan
sebuah fungsi yang meliputi kehandalan, daya tahan, kemudahan operasi, ketepatan,
kebaikan dari produk, ataupun sebuah atribut bernilai lainnya. Kualitas Produk
menurut Alma (2016) dalam (Irawan, 2020), kualitas produk adalah keseluruhan
gabungan karakteristik barang dan jasa dari pemasaran, rekayasa, pembuatan dan
pemeliharaan yang membuat produk dan jasa yang digunakan memenuhi harapan
pelanggan.
Menurut Tjiptono (2013) dalam (Afnina & Hastuti, 2018), kualitas produk
adalah kualitas meliputi usaha memenuhi atau melebihi harapan pelanggan; kualitas
yang mencakup produk, jasa, manusia, proses, serta lingkungan; kualitas merupakan
kondisi yang selalu berubah (misalnya apa yang dianggap merupakan kualitas saat ini
mungkin dianggap kurang berkualitas pada masa mendatang). Menurut Tjiptono &
Chandra (2016) dalam (Mahira et al., 2021), kualitas produk adalah kemampuan pada
suatu produk yang dapat memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diharapkan
oleh pelanggan, bahkan dapat melebihi harapan pelanggan.

Faktor yang Membentuk Brand Image


Ada beberapa faktor yang membentuk citra merek (brand image) menurut
Riley, dkk (2016:276) dalam (Nasution et al., 2020) adalah sebagai berikut:

  1. Economicfit (Kesesuaian Ekonomi): dimensi yang termasuk Economicfit
    adalah sebagai berikut bahan bakar yang irit, daya saing harga.
  2. Symbolicfit (Kesesuaian Simbolik): dimensi yang termasuk Symbolicfit adalah
    sebagai berikut bergengsi dan fitur mewah
  3. Sensoryfit (Kesesuaian Perasaan): sesuai dalam hal perasaan yang dirasakan
    atau pengalaman konsumen ketika menggunakan produk dari merek tertentu
    yang dapat memberikan kesan positif.
  4. Futuristicfit (Kesesuaian Futuristic): meliputi aspek teknologi yang
    mencerminkan citra merek, menunjukkan bahwa dimana tingkat desain,
    inovasi dan keunikan sebanding antara merek, aliansi merek akan dirasakan
    lebih positif.
  5. Utilitarianfit (Kesesuaian Kegunaan): mempertimbangkan seberapa baik
    merek sesuai dalam sei aspek kualitas manufaktur, bahan yang digunakan, daya
    tahan dan kehandalan

Manfaat Brand Image


Menurut Rangkuti (2008), brand image juga mempunyai banyak manfaat bagi
perusahaan yakni sebagai berikut:

  1. Brand image (citra merek) dapat dijadikan sebagai fokus tujuan di dalam
    strategi perusahaan.
  2. Brand image (citra merek) dapat dijadikan landasan suatu dasar untuk
    mencapai persaingan dengan brand-brand yang lain.
  3. Brand image (citra merek) dapat dijadikan sebagai sarana membantu
    memperbaharui penjualan dalam suatu produk.
  4. Brand image (citra merek) dapat dijadikan untuk mengevaluasi efek kualitas
    dari macam-macam strategi pemasaran.
  5. Brand image (citra merek) dapat dihasilkan dari faktor-faktor lain diluar dari
    usaha yang dibuat oleh usaha-usaha strategi perusahaan

Indikator Brand Image


Keller (2008:56) dalam (Sterie et al., 2019) menyatakan pengukuran citra
merek (brand image) dapat dilakukan berdasarkan pada indikatorsebuah merek, yaitu:

  1. Kekuatan (Strengthness)
    Kekuatan adalah mengacu pada atribut-atribut fisik atas merek tersebut
    sehingga biasa dianggap sebagai sebuah kelebihan yang tidak ada pada merek
    lain atau merek pesaing. Yang termasuk dalam kelompok kekuatan (strength)
    ini adalah penampilan fisik produk, keberfungsian semua fasilitas produk,
    harga produk, maupun penampilan fasilitas pendukung dari produk tersebut.
  2. Keunikan (Uniqueness)
    Keunikan adalah kemampuan untuk membedakan sebuah merek diantara
    merek lainnya. Keunikan ini muncul dari atribut produk yang menjadi kesan
    unik atau diferensiasi antara produk satu dengan produk lainnya yang
    memberikan alasan bagi konsumen bahwa mereka harus membeli produk
    tersebut.
  3. Kesukaan (Favorable)
    Kesukaan untuk memilih mana yang disukai dan unik yang berhubungan
    dengan merek, pemasar harus menganalisis dengan teliti mengenai konsumen
    dan kompetisi untuk memutuskan posisi terbaik bagi merek tersebut. Kesukaan
    (favorable) mengarah pada kemampuan merek tersebut agar mudah diingat
    oleh konsumen. Yang termasuk dalam kategori favorable ini antara lain
    kemudahan merek produk untuk diucapkan, kemampuan merek untuk tetap
    diingat oleh konsumen, kemudahan penggunaan produk, kecocokan konsumen
    dengan produk, serta kesesuaian antara kesan merek di benak pelanggan
    dengan citra yang diinginkan perusahaan atas merek bersangkutan.
    Dari beberapa indikator di atas dapat disimpulkan bahwa indikator suatu merek
    menurut Keller (2008:56) dalam (Sterie et al., 2019) yaitu Kekuatan (Strengthness),
    Keunikan (Uniqueness), dan Kesukaan (Favorable).

Pengertian Brand Image


Brand image menurut American Marketing Association dikatakan sebagai
bentuk refleksi cerminan dari suatu brand personality merek yang dikonsumsi,
sehingga brand image merupakan suatu hal yang dipercayai konsumen terhadap brand
yang digambarkan melalui pikiran, perasaan dan harapan mereka (Fitrianna &
Aurinawati, 2020). Brand image adalah sekumpulan keyakinan, ide, kesan, dan
persepsi dari seseorang, suatu komunitas, atau masyarakat tentang suatu brand (Huda,
2020).
Menurut Kotler (2012) dalam (Suryani & Rosalina, 2019), brand image
merupakan pemahaman konsumen mengenai merek secara keseluruhan, kepercayaan
konsumen terhadap suatu merek tertentu dan bagaimana konsumen memandang suatu
merek. Adanya brand image akan membantu konsumen dalam mengingat produk
tersebut. Menurut Setiadi dan Ngatno (2015) dalam (Aulianda, 2020), brand image
merupakan keseluruhan persepsi terhadap suatu merek yang dibentuk dengan
memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu.
Kotler (2007:332) dalam (Sterie et al., 2019) mendefinisikan brand image
adalah nama, istilah, tanda, simbol rancangan, atau kombinasi dari semuanya yang
dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa penjual atau kelompok penjual
dan untuk mendiferensiasikannya dari barang atau jasa pesaing. Perusahaan akan terus
melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan citra merek (brand image) yang
mereka miliki diantaranya inovasi teknologi keunggulan yang dimiliki produk
tersebut, penetapan harga yang bersaing, dan melakukan promosi yang tepat sasaran
(Miati, 2020).
Setiadi (2003) dalam (Junior et al., 2019) berpendapat: Brand Image mengacu
pada skema memori akan sebuah merek, yang berisikan interpretasi pelanggan atas
atribut, kelebihan, penggunaan, situasi, para pengguna, dan karakteristik pemasar
dan/atau karakteristik pembuat dari produk/merek tersebut. Menurut Kotler
(2005:201) dalam (Kurniawati et al., 2019), brand image adalah seperangkat
keyakinan, ide, dan kesan yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu merek. Citra
merek (brand image) merupakan serangkaian sifat tangible dan intangible, seperti ide,
keyakinan, nilai-nilai, kepentingan, dan fitur yang membuatnya menjadi unik (Labesi,
2019).
Menurut Keller (1998, p. 93) dalam (Chandra & Santoso, 2019), “Brand image
can be defined as a perception about brand as reflected by the brand association held
in consumer memory”. Artinya citra merek adalah persepsi tentang merek yang
digambarkan oleh asosiasi merek yang ada didalam ingatan konsumen

Keputusan Pembelian


Kehidupan manusia tidak lepas dari melakukan jual beli. Sebelum melakukan
pembelian, seseorang biasanya akan melakukan keputusan pembelian terlebih dahulu
terhadap suatu produk. Keputusan pembelian merupakan kegiatan individu yang
secara langsung terlibat dalam pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian
terhadap produk yang ditawarkan oleh penjual. Kotler dalam Rizki (2023:80)
keputusan pembelian yaitu beberapa tahapan yang dilakukan oleh konsumen sebelum
melakukan keputusan pembelian suatu produk
Schiffman dan Kanuk dalam Meithiana (2019:70) mendefinisikan keputusan
pembelian konsumen merupakan seleksi terhadap dua pilihan alternatif atau lebih,
dengan perkataan lain, pilihan alternatif harus tersedia bagi seseorang ketika
mengambil keputusan. Sebaliknya, jika konsumen tersebut tidak mempunyai
alternatif untuk memilih dan benar-benar terpaksa melakukan pembelian tertentu dan
tindakan tertentu, maka keadaan tersebut bukan merupakan suatu keputusan.
Menurut Howard dalam Meithinia (2019:71) menyatakan bahwa pembelian
konsumen dapat ditinjau sebagai kegiatan penyelesaian suatu masalah dan terdapat
tiga macam situasi yaitu perilaku responsi rutin, penyelesaian masalah terbatas, dan
penyelesaian masalah ekstensif. Ketiga macam situasi tersebut dijelaskan sebagai
berikut:
a. Perilaku responsi rutin
Jenis perilaku pembelian yang saling sederhana terhadap dalam satu pembelian
yang berharga murah dan sering dilakukan. Dalam hal ini pembeli sudah
memahami merek-merek dan ciri-cirinya. Mereka tidak selalu membeli merek
yang sama, misalnya karena persediaannya terbatas atau sebab lainnya. Namun
secara keseluruhan, Pembeli tidak memerlukan banyak pikiran, waktu, atau
tenaga setiap harinya.
b. Penyelesaian masalah terbatas
Pembelian menjadi lebih kompleks ketika pembeli tidak mengetahui merek
jenis produk pilihannya dan memerlukan informasi lebih lanjut sebelum
mengambil keputusan pembelian..
c. Penyelesaian masalah ekstensif
Suatu pembeli akan menjadi sangat kompleks jika pembeli menjumpai jenis
produk yang kurang dipahami dan tidak mengetahui kriteria penggunaannya.
Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui kegiatan pengumpulan informasi
dan evaluasi dari para pembeli dan menunjang proses belajar pembeli, terhadap
atribut-atribut kelompok produk tersebut.

Indikator Citra Merek


Menurut Kotler dalam Anang (2019:71) menjelaskan dalam suatu merek
memiliki 6 (enam) tingkatan Indikator Citra Merek, sebagai berikut:

  1. Atribut
    Merek mengingatkan pada atribut tertentu dari sebuah produk, baik dari program
    purna jualnya, pelayanan, maupun kelebihannya dan perusahaan menggunakan
    atribut tersebut sebagai materi iklan mereka.
  2. Manfaat
    Pelanggan tentu tidak membeli sebatas atribut dari suatu produk melainkan
    manfaatnya.
  3. Nilai
    Merek mewakili nilai dari produknya. Jam tangan merek Rolex, misalnya yang
    memberikan nilai tinggi bagi penggunanya.
  4. Budaya
    Merek mewakili budaya tertentu. Produk mencerminkan Terorganisir, konsisten,
    bereputasi baik, efisien kualitas tinggi.
  5. Kepribadian
    Merek layaknya seseorang yang merefleksikan sebuah kepribadian tertentu.
    Seringkali produk tertentu gunakan kepribadian seorang selebriti untuk menjaga
    merek produk.
  6. Pengguna
    Merek menunjukkan tipe konsumen yang akan dibeli atau digunakan produk.
    Pengguna produk umumnya terkait orang kaya, pejabat, manager dan lainnya.

Komponen Citra Merek


Komponen pembentuk Brand Image ada 3, yaitu :

  1. Citra Pembuat (corporate image) yaitu: sekumpulan asosiasi yang
    dipersepsikan konsumen terhadap perusahaan yang membuat suatu produk
    dan jasa.
  2. Citra Pemakai (user image) yaitu: Rangkaian hubungan yang dirasakan antara
    pengguna dan pelanggan yang menggunakan produk atau layanan mencakup
    pengguna itu sendiri, gaya hidupnya, atau status sosialnya.
  3. Citra Produk (product image) yaitu: Kelompok organisasi menilai konsumen
    berdasarkan produk seperti fitur produk, manfaat konsumen, penggunaan, dan

Citra Merek


Citra merek dapat diartikan sebagai persepsi yang timbul di benak konsumen
ketika mengingat merek suatu produk tertentu. Berikut definisi ahli tentang citra
merek: Pelaku usaha perlu membangun citra positif terhadap produk dan jasanya agar
citra merek yang dibangun dapat dipersepsi positif oleh konsumen. Seperti menurut
Shiffman, dalam Syarifudin (2019:10) citra merek memegang peranan yang sangat
penting. Citra merek Ampuh membantu konsumen menolak aktivitas pesaing,
menyukai aktivitas merek dan selalu mencari informasi terkait merek.
Menurut Coaker dalam Wardhana (2022), mengemukakan bahwa citra merek
(brand image) merupakan pemaknaan kembali dari segenap persepsi terhadap merek
yang dibentuk dari informasi dan pengalaman konsumen maupun pelanggan di masa
lalu terhadap merek. Jika pelanggan memiliki citra positif terhadap suatu merek, maka
pelanggan akan melakukan pembelian produk itu kembali. Namun sebaliknya, jika
citra pada suatu merek negatif, maka kemungkinan kecil untuk terjadinya pembelian
produk itu kembali. Berdasarkan uraian di atas bahwa citra merek merupakan persepsi
mengenai merek di benak konsumen yang membentuk kepercayaan konsumen
maupun pelanggan terhadap suatu merek
Selanjutnya Schiffman dan Kanuk dalam Syarifudin (2019:11) juga mengatakan
bahwa citra merek yang berhubungan dengan asosiasi merek, yaitu citra merek yang
ada dalam ingatan konsumen akan meningkat dengan semakin banyak pengalaman
konsumen dalam mengkonsumsi produk atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.
Apabila asosiasi- asosiasi suatu merek saling berhubungan maka citra merek yang
terbentuk juga semakin kuat.
Menurut Kotler dan Keller (2019:249) bahwa citra merek adalah persepsi
konsumen tentang suatu merek sebagai refleksi dari asosiasi yang ada pada pikiran
konsumen. Citra merek merupakan asosiasi yang muncul dalam benak konsumen
ketika mengingat suatu merek tertentu. Asosiasi tersebut secara sederhana dapat
muncul dalam bentuk pemikiran dan citra tertentu yang dikaitkan dengan suatu merek.
Pendapat lainnya, Citra merek (brand image) menurut Keller dalam Syarifudin
(2019:10) adalah persepsi tentang merek yang merupakan refleksi memori konsumen
akan asosiasinya pada merek tersebut.
Menurut Ginting dalam Anang (2019:70) mendefinisikan merek adalah suatu
nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasidaripadanya untuk menandai
produk atau jasa dari satu penjual atau kelompok penjual dan untuk membedakannya
dari pesaing. Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwacitra merek
merupakan nama, istilah, simbol, tanda, dan desain yang digunakan oleh perusahaan
untuk membedakan produk dengan para pesaing.
Perusahaan haruslah membangun citra yang positif terhadap produk atau jasa
yang dihasilkanya, sehingga citra merek yang dibangun dapat dipersepsikan secara
positif oleh konsumen.Menurut Tjiptono dalam Anang (2019) menerangkan bahwa
pemahaman mengenai peran merek tidak bisa dipisahkan dari tipe-tipe utama merek,
karena masing-masing tipe memiliki citra merek berbeda. Ketiga tipe tersebut
meliputi:

  1. Attribute Brands
    Attribute brands yaitu merek-merek yang mempunyai citra yang mampu
    menyampaikan kepercayaan/keyakinan terhadap karakteristik fungsional produk..
    Konsumen seringkali merasa sangat sulit untuk mengevaluasi secara obyektif
    kualitas dan karakteristik dari begitu banyak jenis produk, sehingga mereka
    cenderung menilai kualitas berdasarkan hal tersebut.
  2. Aspirational Brands
    Aspirational brands yaitu merek-merek yang menyampaikan citra tentang tipe
    orang yang membeli merek yang bersangkutan. Citra tersebut tidak banyak
    mengandung produknya, tetapi justru lebih banyak berkaitan dengan gaya hidup
    yang didambakan. Konsumen percaya bahwa dengan memiliki merek tersebut,
    mereka dapat menciptakan keterhubungan yang kuat antara dirinya dengan
    kelompok aspirasi tertentu. Dalam hal ini, status, pengakuan sosial dan identitas
    jauh lebih penting daripada sekedar nilai fungsional produk.
  3. Experience Brands
    Experiance brands mencerminkan merek-merek yang menyampaikan citra asosiasi
    dan emosi bersama (shared association and emotionals). Tipe ini memiliki citra
    melebihi sekedar aspirasi dan lebih berkesan dengan kesamaan antara filosofi
    merek dan konsumen individual.

Manajemen Pemasaran


Manajemen pemasaran ialah proses untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
dari kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh individu atau oleh perusahaan. Logika
dari definisi diatas, ialah apabila seseorang atau perusahaan, ingin memperbaiki
pemasarannya maka ia harus melakukan kegiatan pemasaran itu sebaik mungkin. (Ben
M,2020:130)
Manajemen pemasaran adalah seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan meraih,
mempertahankan serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan, mengantar dan
mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.(Miguna Astuti, 2020:2)
Philip kotler dalam Melati (2021:30) memberikan definisi manajemen
pemasaran yaitu, Manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi
dan kontrol program-program yang diarahkan untuk menciptakan, membentuk dan
memelihara pertukaran dan hubungan yang menguntungkan di kedua belah pihak,
dengan pasar yang menjadi sasarannya.
William J. Shultz dalam Buchari (2020:130) memberikan definisi : Marketing
management is the planning, direction, and control of the entire marketing activity of
a firm or division of a firm. Yang berarti manajemen pemasaran ialah merencanakan,
pengarahan dan pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian
dari perusahaan.
Berdasarkan beberapa definisi manajemen pemasaran diatas maka dapat
disimpulkan bahwa manajemen pemasaran adalah ilmu dan seni dalam melakukan
perencanaan, penganalisaan, pelaksanaan dan pengendalian program- program yang
dibuat untuk meraih pasar sasaran, mempertahankan dan memuaskan serta memenuhi
keinginan pelanggan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan.
Konsep dalam pemasaran Menurut Sunyoto (2019:26-31) Dalam kegiatan
pemasaran ada 6 konsep yaitu :

  1. Konsep Produksi
    Konsep ini berorientasi pada produksi dimana para manajer perusahaan
    memusatkan upaya untuk mencapai efisiensi yang tinggi dan distribusi yang luas.
  2. Konsep Produk
    Konsep ini perusahaan berupaya memproduksi produk yang berkualitas tinggi.
  3. Konsep Penjualan
    Konsep ini manajer berorientasi pada volume penjualan uang tinggi.
  4. Konsep pemasaran
    Merupakan orientasi manajemen yang menekankan bahwa kunci pencapaian
    tujuan organisasi terdiri dari kemampuan organisasi (perusahaan) menentukan
    kebutuhan dan keinginan pasar yang dituju dan kemampuan organisasi tersebut
    memenuhinya dengan kepuasan yang diinginkan secara lebih efektif dan efisien
    dari para pesaing.
  5. Konsep Pemasaran Kemasyarakatan
    Konsep pemasaran kemasyarakatan yaitu suatu orientasi manajemen yang
    menekankan bahwa tugas utama perusahaan adalah menentukan kebutuhan,
    keinginan, dan kepentingan.
  6. Konsep Pemassaran Global
    Konsep ini manajer eksekutif berupaya memahami semua faktor-faktor
    lingkungan yang memengaruhi pemasaran melalui manajemen strategiknya yang
    mantap.

Indikator Keputusan Pembelian


Terdapat tiga indikator dalam menentukan keputusan pembelian yang diambil
dari (Kotler 2018: 70), yaitu :

  1. Kemantapan pada sebuah produk
    Dalam melakukan pembelian, konsumen memilih salah satu dari beberapa
    alternatif yang ada. Pilihan tersebut didasarkan pada kualitas, mutu, harga, dan
    faktor-faktor lain yang dapat memantapkan keinginan konsumen untuk
    membeli produk apakah produk tersebut benar-benar ingin digunakan atau
    dibutuhkan.
  2. Kebiasaan dalam membeli produk
    Kebiasaan konsumen dalam membeli produk juga berpengaruh terhadap
    keputusan pembelian. Konsumen merasa produk tersebut sudah terlalu melekat
    dibenak konsumen karena mereka sudah merasakan manfaat dari produk
    tersebut. Oleh karena itu, konsumen merasa tidak nyaman jika mencoba produk
    baru dan harus menyesuaikan diri lagi dan akhirnya konsumenpun cenderung
    memilih produk yang sudah biasa digunakan atau dikonsumsi.
  3. Memberikan rekomendasi
    Dalam melakukan pembelian, jika konsumen mendapatkan manfaat yang sesuai
    dengan sebuah produk, maka mereka pasti akan merekomendasikan produk
    tersebut dengan orang lain. Mereka ingin orang lain juga merasakan bahwa
    produk tersebut sangat bagus dan lebih baik dari produk lain

Pengertian Keputusan Pembelian


Menurut (Kotler & Amstrong, 2017 : 180) keputusan pembelian adalah
keputusan pembeli tentang merek mana yang dibeli. Proses pengambilan keputusan
yang rumit sering melibatkan beberapa keputusan. Keputusan ini melibatkan
pilihan antara dua atau lebih alternatif. Keputusan pembelian konsumen merupakan
tahap dimana konsumen juga mungkin membentuk niat untuk membeli produk
yang paling disukai, dimana keputusan konsumen untuk memodifikasi, menunda,
atau menghindar sangat dipengaruhi resiko yang dirasakan.
Kemudian menurut Suharno (2010:96) dalam (Fatih Imantoro, 2018)
menyatakan keputusan pembelian adalah tahap dimana pembeli telah menemukan
pilihannya dan melakukan pembelian produk, serta mengkonsumsinya. Hal ini
berkaitan dalam usahanya memenuhi kebutuhan dengan tahap yang dilibatkan
dalam mengevaluasi, memperoleh dan menggunakan produk. Terdapat empat
faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, yaitu
sebagai berikut :
1) Faktor Budaya
Faktor budaya seseorang mempengaruhi perilaku mereka dalam mencari,
menyelesaikan dan mengkonsumsi suatu produk secara mendalam dan
konsisten.
2) Faktor Sosial
Merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen yang terbentuk dan
berasal dari lingkungan sekitar. Aktivitas sosialisasi seorang dengan orangorang disekelilingnya sehari-hari akan membentuk pola perilaku yang khas
pada masyarakat.
3) Faktor Pribadi
Faktor pribadi yang mempengaruhi perilaku pembelian adalah usia dan tahap
siklus hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup dan personalitas.
4) Faktor Psikologis
Faktor psikologis merupakan faktor dari dalam diri seseorang dan menentukan
bagaimana mereka memilih dan mengkonsumsi produk. Pemasar perlu
memahami faktor psikologis yang terdiri dari motivasi, persepsi, pembelajaran,
keyakinan dan sikap.
Selanjutnya proses keputusan pembelian menurut Kotler dan Keller dalam
(Nurdiansyah, 2017 : 20) memiliki lima tahapan yaitu sebagai berikut :

  1. Pengenalan Masalah
    Proses pembelian dimulai ketika pembeli mengenali masalah atau kebutuhan.
    Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal (kebutuhan
    umum seseorang) atau eksternal (rangsangan pihak luar, misalnya iklan).
  2. Pencarian Informasi
    Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan mulai terdorong untuk mencari
    informasi yang lebih banyak. Konsumen dalam tahap ini dapat dibagi menjadi
    dua level. Pertama, penguatan perhatian. Level ini menunjukan situasi
    pencarian bersifat lebuh ringan, hanya sekedar lebih peka pada informasi
    produk. Kedua, aktif mencari informasi. Konsumen akan lebih aktif untuk
    mencari informasi melalui bahan bacaan, menelpon teman maupun
    mengunjungi toko untuk mempelajari suatu produk.
  3. Evaluasi Alternatif
    Tidak ada proses evaluasi tunggal sederhana yang digunakan oleh semua
    konsumen atau satu konsumen dalam semua situasi pembelian. Beberapa
    konsep dasar akan dapat membantu pemahaman terhadap proses evaluasi
    konsumen. Pertama, konsumen berusaha memenuhi kebutuhan. Kedua,
    konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk. Ketiga, konsumen
    masing-masing produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang
    berbeda dalam memberikan manfaat untuk memuaskan kebutuhan.
  4. Keputusan Pembelian
    Saat melaksanakan maksud pembelian, konsumen dapat mengambil lima subkeputusan yaitu merek, dealer, kuantitas, waktu dan metode. Melakukan
    pembelian produk sehari-hari, keputusan yang diambil lebih kecil. Beberapa
    kasus menunjukan konsumen konsumen bisa mengambil keputusan untuk tidak
    secara formal mengevaluasi setiap merek.
  5. Perilaku Pasca Pembelian
    Setelah melakukan pembelian, konsumen mungkin mengalami konflik
    dikarenakan melihat fitur mengkhawatirkan tertentu atau mendengar hal-hal
    menyenangkan tentang merek lain dan waspada terhadap informasi yang akan
    mendukung keputusannya.

Indikator Kualitas Produk


Menurut (Gito Sudarma : 2018) mengungkapkan indikator yang dapat
digunakan untuk mengukur kualitas produk yaitu :

  1. Berbagai macam variasi produk
    Merupakan kumpulan seluruh produk yang ditawarkan penjual kepada
    konsumen dan memiliki beraneka ragam yang didasari pada ukuran, harga,
    penampilan atau ciri-ciri lain sebagai unsur-unsur pembedanya.
  2. Daya tahan produk
    Yang berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan
    sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar frekuensi pemakaian
    konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya produk.
  3. Kualitas produk sesuai dengan spesifikasi dari konsumen
    Menjaga produk yang dihasilkan bisa memenuhi standar yang sudah ditetapkan
    sehingga konsumen tidak akan kehilangan kepercayaan terhadap produk yang
    dikonsumsi. Pengalaman konsumen dalam membeli produk yang baik atau
    buruk akan mempengaruhi konsumen untuk melakukan pembelian kembali
    atau tidak, oleh karena itu perusahaan harus mampu menciptakan produk yang
    sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen.
  4. Tampilan kemasan produk (estetika)
    Perancangan dan perencanaan suatu benda agar memliki nilai lebih dalam
    berbagai aspeknya seperti fungsi yang lebih efektif, tampilan kemasan produk
    yang indah dan bagus akan menarik konsumen untuk menggunakan atau
    membeli produk tersebut.
  5. Kualitas produk terbaik dibandingkan dengan merek lain
    Konsumen akan beranggapan bahwa produk dengan merek yang terkenal
    dipasaran lebih bagus dan berkualitas dibandingkan dengan produk dengan
    merek yang kurang populer dipasaran

Pengertian Kualitas Produk


Menurut ( Wijaya, 2018 : 32) kualitas produk dapat dijelaskan dan
dikomunasikan menurut harapan pelanggannya yang dimana semua periklanan,
penjualan, promosi dan layanan pelanggan tidak banyak membantu dari kualitas
produk yang buruk, untuk menghindarkan hal tersebut maka perusahan bekerja
setiap hari untuk memeriksa setiap produk yang dipesan untuk menjamin dan
meyakinkan bahwa tidak akan terjadi masalah pada kualitas produk yang dapat
menentukan nama baik dari perusahaan.
Adapun menurut Garvin dalam (Laksana, 2019) menemukan 8 dimensi kualitas
produk yang terdiri dari :

  1. Performance (performansi) berkaitan dengan aspek fungsional dari produk itu
    dan merupakan karakteristik utama yang dipertimbangkan pelanggan ketika
    ingin membeli suatu produk, yaitu faster(lebih cepat) berkaitan dengan dimensi
    waktu yang menggambarkan kecepatan dan kemudahan atau bagaimana untuk
    memperoleh produk ini, dan aspek cheaper (lebih mudah) berkaitan dengan
    dimensi biaya yang menggambarkan harga atau ongkos dari suatu produk yang
    harus dibayarkan oleh pelanggan.
  2. Feature (keistimewaan tambahan) merupakan aspek kedua dari performansi
    yang menambah fungsi dari dasar berkaitan dengan pilihan-pilihan dan
    pengembangannya.
  3. Reliability (kehandalan) berkaitan dengan tingkat probabilitas atau periode
    waktu tertentu, dengan demikian kehandalan merupakan karakteristik yang
    mereflesikan kemungkinan atau probabilitas tingkat kebersihan dalam
    penggunaan produk ini.
  4. Conformance (konformansi) berkaitan dengan tingkat kesesuaian produk
    terhadap spesifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan keinginan
    pelanggan, konformasi merefleksikan derajat dimana karakteristik desain
    produk dan karakteristik operasi memenuhi standar yang telah ditetapkan, serta
    sering didefinisikan sebagai konformasi terhadap kebutuhan (conformance to
    requierements).
  5. Durability (daya tahan) merupakan ukuran masa pakai suatu produk,
    karakteristik ini berkaitan dengan daya tahan produk itu.
  6. Service Ability (kemampuan pelayanan) merupakan karakteristik yang
    berkaitan dengan kecepatan, keramahan/kesopanan, kompetensi, kemudahan
    serta akurasi dalam perbaikan.
  7. Aesthetics (estetika) merupakan karakteristik yang bersifat subyektif sehingga
    berkaitan dengan pertimbangan pribadi dan referensi atau pilihan individual.
    Dengan demikian estetika dari suatu produk lebih banyak berkaitan dengan
    perasaan pribadi dan mencakup karakteristik tertentu.
  8. Perceived Quality (kualitas yang dirasakan) bersifat subyektif berkaitan dengan
    perasaan pelanggan dalam menggkonsumsi produk.

Indikator Brand Image


Menurut Kotler dan Keller (2017) bahwa dalam brand image terdiri atas tiga
indikator yang meliputi sebagai berikut :

  1. Attributes (Atribut), merupakan pendefisian deskriptif tentang fitur-fitur yang
    ada dalam sebuah produk. Terdapat dua macam atribut yaitu,
    a) Product related attributes (atribut produk), didefinisikan sebagai bahanbahan yang diperlukan agar fungsi produk yang dicari konsumen dapat
    bekerja. Berhubungan dengan komposisi fisik atau persyaratan dari suatu
    jasa yang ditawarkan dapat berfungsi.
    b) Non-product related attributes (atribut non-produk), merupakan aspek
    eksternal dari suatu produk yang berhubungan dengan pembelian dan
    konsumsi suatu produk. Terdiri dari informasi tentang herga, kemasan dan
    desain produk, orang, per group atau selebriti yang menggunakan produk
    tersebut, bagaimana dan dimana produk tersebut digunakan.
  2. Benefits (Keuntungan), nilai personal yang dikaitkan oleh konsumen pada
    atribut-atribut sebuah produk, ada tiga jenis benefits :
    a) Functional benefits : berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar
    seperti kebutuhan fisik atau pemecahan masalah yang dibutuhkan oleh
    konsumen.
    b) Experiental benefits: berhubungan dengan perasaan yang muncul dengan
    menggunakan suatu produk. Benefit ini memuaskan kebutuhan
    bereksperimen seperti kepuasan sensori atau bisa disebut juga produk
    dapat diterima oleh konsumen bisa dari aspek gizi ataupun fungsional
    produk.
    c) Symbolic benefits : berhubungan dengan kebutuhan akan persetujuan
    sosial atau ekspresi personal dan self-esteem (harga diri) seseorang.
    Konsumen akan menghargai nilai-nilai prestise, eksklusivitas dari sebuah
    merek karena hal-hal ini berhubungan dengan konsep diri mereka.
  3. Brand Attitude (Sikap Merek), didefinisikan sebagai evaluasi keseluruhan atas
    satu merek, apa yang dipercayai oleh konsumen mengenai merek-merek
    tertentu sejauh apa konsumen percaya bahwa produk tersebut memiliki atribut
    atau keuntungan tertentu, dan penilaian evaluatif terhadap kepercayaan tersebut
    bagaimana baik atau buruknya suatu produk jika memiliki atribut atau
    keuntungan tersebut

Pengertian Brand Image


Menurut Keller dalam (Widyastuti & Said, 2017) brand image adalah
persepsi seorang konsumen terhadap suatu merek yang juga merupakan cerminan
ingatan yang dapat digambarkan dan berhubungan dengan merek.
Kemudian menurut (Khuong & Tran, 2018) brand image adalah sebuah situasi
dimana konsumen berpikir dan merasa sebuah atribut dari sebuah merek sehingga
konsumen dapat dengan baik merangsang niat pembelian konsumen dan
meningkatkan nilai merek.
Selain itu menurut (Suhaily & Darmoyo, 2017) hubungan antara brand image
terhadap keputusan pembelian adalah situasi dimana brand dapat mempengaruhi
perilaku seorang konsumen terhadap suatu produk dalam keputusan pembelian
sehingga semakin baik brand image dan semakin besar peluang terhadap keputusan
pembelian.

Indikator Brand Awareness


Setiap kegiatan pemasaran selalu berupaya untuk memperoleh tingkat
kesadaran merek yang lebih tinggi sebagai top of mind. Jika suatu merek tidak
berada dalam benak konsumen, merek tersebut tidak dipertimbangkan di benak
konsumen. Biasanya merek-merek yang disimpan dalam ingatan konsumen adalah
merek yang disukai atau merek yang dibenci oleh konsumen (Durianto dalam sari
dkk, 2017: 205)
Menurut Keller (dalam Winadi, 2017: 3), ada empat indikator yang dapat
digunakan untuk mengetahui seberapa jauh konsumen aware terhadap sebuah
brand, yaitu :

  1. Recall, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengingat ketika ditanya merek
    apa saja yang diingatnya. Nama merek yang sederhana, mudah diingat, mudah
    diucapkan, dan memiliki arti yang jelas membuat suatu merek mudah muncul
    dalam ingatan konsumen.
  2. Recognition, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut
    termasuk kedalam kategori produk tertentu.
  3. Purchase, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali merek tersebut
    termasuk pilihan ketika akan membeli sebuah produk.
  4. Consumption, yaitu seberapa jauh konsumen dapat mengenali suatu merek
    ketika sedang menggunakan merek pesaing.

Pengertian Brand Awareness


Menurut Durianto, dkk ( 2017 : 54 ) Brand awareness adalah kesanggupan
seorang calon pembeli untuk mengenali atau mengingat kembali suatu merek
sebagai bagian dari suatu kategori produk tertentu. Konsumen lebih cenderung
menyukai atau membeli merek yang sudah dikenal karena konsumen merasa aman
dengan sesuatu yang dikenal. Kebanyakan konsumen berasumsi bahwa sebuah
merek yang sudah dikenal mempunyai kemungkinan bisa diandalkan, kemantapan
dalam bisnis, dan kualitas yang bisa dipertanggung jawabkan.
Kemudian menurut Husnawati (2017) Brand awareness merupakan salah
satu dimensi dasar dari ekuitas suatu merek yang sering dianggap sebagai salah satu
persyaratan dari keputusan pembelian seorang konsumen, karena merupakan faktor
penting dalam pertimbangan suatu merek. Faktor kesadaran penting dalam konteks
dimana merek selalu diutamakan dalam suatu rangkaian pertimbangan dalam
keputusan pembelian.
Selain itu menurut (Tariq et al., 2017) hubungan antara brand awareness
terhadap keputusan pembelian adalah suatu gambaran yang dimiliki konsumen
untuk mengenali merek dalam kategori produk dan dapat mempengaruhi konsumen
untuk dapat membuat keputusan pembelian.
Dalam sebuah perusahaan pasti menginginkan agar merek dari produk
tersebut dapat dikenal dan diterima oleh konsumen, dan bukan berarti perusahaan
yang sudah menjalankan bisnisnya sejak lama dapat tenang menghadapi situasi
bisnis yang penuh dengan persaingan dan tantangan. Menurut Aaker (2018 : 105)
brand awareness dapat diraih, dipelihara dan ditingkatkan dengan beberapa cara,
yaitu :

  1. Menjadi Berbeda dan Dikenang
    Suatu pesan kesadaran seharusnya memberikan suatu alasan untuk diperhatikan
    dan seharusnya itu bisa dikenang, ada banyak cara yang dapat dilakukan namun
    yang paling umum adalah menjadi berbedaan dan istimewa dari kelas produk
    tertentu.
  2. Melibatkan Sebuah Slogan atau Jingle
    Sebuah slogan atau jingle lagu bisa menimbulkan pengaruh yang besar. Kaitan
    pada slogan tersebut bisa menjadi lebih kuat apabila karakteristik produk
    divisualkan dan sebuah jingle lagu bisa menjadi alat yang jitu dalam
    menciptakan kesadaran.
  3. Penampakan Simbol
    Jika sebuah simbol telah terbentuk atau bisa dikembangkan yang berkaitan erat
    dengan sebuah merek, maka simbol itu akan memainkan peran yang besar
    dalam menciptakan dan memelihara kesadaran. Sebuah simbol mengandung
    pencitraan visual yang jauh lebih mudah diketahui dan diingat kembali dari
    pada sebuah kata atau frase.
  4. Publisitas
    Periklanan sangat cocok dalam meningkatkan kesadaran karena periklanan
    memungkinkan pesan dan audiens mengalami kedekatan. Pada umumnya iklan
    merupakan suatu cara efisien untuk memberikan penampakan.
  5. Sponsor Kegiatan
    Peran utama dari sebagian besar sponsor kegiatan adalah menciptakan atau
    memelihara kesadaran. Oleh karena itu seseorang dapat mengenali suatu merek
    secara langsung di televisi, dan dari orang lain yang melihat langsung dari suatu
    kegiatan.
  6. Pertimbangan Perluasan Merek
    Salah satu cara untuk mendapatkan pengingatan kembali merek adalah dengan
    meletakkan merek tersebut pada merek lain.
  7. Menggunakan Tanda-Tanda / Isyarat (Cues)
    Kampanye atau iklan pada brand awareness kadang bisa membantu dengan
    memberi tanda-tanda pada produk tersebut, merek atau keduanya untuk
    memberi tanda yang mengarahkan pada suatu kampanye atau iklan

Pengaruh Brand Image dan Celebrity endorser Terhadap Keputusan Pembelian


Citra terhadap merek berhubungan dengan sikap yang berupa
keyakianan dan preferensi terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki
citra yang positif terhadap suatu merek akan lebih memungkinkan untuk
melakukan pembelian (Setiadi, 2003 dalam Evelina dkk). Citra yang melekat
pada suatu produk dapat diingat dengan baik oleh konsumen ketika mereka
memutuskan untuk memilih suatu produk yang dibutuhkannya. Selanjutnya,
Celebrity endorser adalah setiap individu yang menikmati pengakuan ini atas
nama barang-barang konsumsi dengan tampil bersamanya dalam suatu iklan
(Carrol, 2009 dalam Kurniawan dan Kunto). Sehingga penggunaan bintang
iklan diharapkan dapat mempengaruhi persepsi konsumen terhadap suatu
produk untuk membuat keputusan pembelian. Hasil penelitian Parengkuan dkk
(2014) menyebutkan bahwa brand image dan Celebrity endorser berpengaruh
secara simultan terhadap keputusan pembelian konsumen.

Pengaruh Celebrity endorser Terhadap Keputusan Pembelian


Celebrity endorser merupakan pendukung dari suatu produk yang
berperan sebagai penyampai pesan untuk memperkuat citra suatu merek.
Memilih Celebrity endorser yang tepat dan sesuai dengan karakteristik produk
dapat meyakinkan konsumen dalam membuat keputusan pembelian pada suatu
produk. Menurut Kotler dan Keller (2009) Celebrity endorser merupakan
penggunaan narasumber sebagai figur yang menarik atau populer dalam iklan,
sehingga dapat memperkuat citra dari suatu merek dalam pikiran pelanggan.
Penelitian Parengkuan (2014) menunjukkan celebrity endorsement
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen

Pengaruh Brand Image Terhadap Keputusan Pembelian


Brand image merupakan seperangkat keyakinan konsumen yang didapat
melalui pengetahuan dan pengalamannya saat menggunakan suatu produk.
Menurut Kotler dan Keller (2009), brand image merupakan gambaran mental
atau konsep tentang sesuatu. Image terhadap suatu produk berasal dari nilainilai yang diberikan oleh produsen maupun suatu akumulasi persepsi
konsumen yang membentuk suatu opini atas kesamaan tingkat kepuasannya.
Penelitian Parengkuan (2014) menunjukkan brand image secara parsial tidak
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen

Indikator minat beli


Adapun indikator-indikator minat beli konsumen menurut Ferdinand,
yaitu sebagai berikut :

  1. Minat transaksional yaitu keinginan individu atau organisasi dalam membeli
    barang atau jasa.
  2. Minat refrensial adalah kecenderungan seseorang untuk membeli suatu produk
    karena rekomendasi orang lain.
  3. Minat preferensial ialah kecenderungan individu atau organisasai untuk
    mengutamakan produk tersebut dibanding produk atau merek lain.
  4. Minat eksploratif yakni kecenderungan individu dalam membeli produk karena
    informasi yang berasal dari pemasar