Pengertian Keputusan Pembelian


Keputusan pembelian adalah tindakan seseorang dalam menentukan pilihan
serta membeli barang atau jasa yang dianggap sesuai dengan kebutuhannya.
Proses ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor pribadi, seperti tingkat usia,
penghasilan, jenis pekerjaan, serta situasi ekonomi yang sedang dihadapi
(Gunawan, 2022). Faktor pribadi dan perilaku pelanggan sangat penting dalam
proses pengambilan keputusan. Di era persaingan pasar yang semakin ketat,
terutama dalam industri teknologi seperti smartphone, perilaku konsumen
menjadi semakin kompleks. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan aspek
fungsional, tetapi juga faktor-faktor utama seperti harga, kualitas produk, dan
citra merek. Xiaomi, misalnya, berhasil menarik minat pasar melalui produk
dengan spesifikasi tinggi dan harga terjangkau (Arfah & Purnama, 2024).
Menurut Ngurah et al. (2025) keputusan pembelian dipengaruhi oleh harga,
lokasi, promosi, kemudahan, dan pelayanan. Indriani et al. (2025)
menambahkan bahwa proses ini mencakup pemilihan produk dari berbagai
alternatif yang tersedia. Selain preferensi pribadi, konsumen juga
mempertimbangkan persepsi terhadap kualitas, harga, citra merek, pengalaman
sebelumnya, serta pengaruh eksternal seperti promosi dan rekomendasi.
Ramadhani (2024) juga mendefinisikan proses keputusan pembelian tidak
terjadi secara instan, melainkan melalui lima tahapan utama yang saling
berkaitan. Proses ini dimulai dari pengenalan kebutuhan hingga perilaku
konsumen setelah pembelian dilakukan. Berikut penjabaran kelima tahapan
tersebut:

  1. Pengenalan Masalah
    Tahapan awal dimulai ketika konsumen menyadari adanya kebutuhan
    yang belum terpenuhi atau masalah yang harus diatasi. Kesadaran ini
    timbul dari perbedaan antara kondisi aktual yang sedang dialami dengan
    15
    kondisi ideal yang diharapkan. Misalnya, seorang individu menyadari
    bahwa produk perawatan wajah miliknya telah habis, sehingga muncul
    kebutuhan untuk membeli produk baru guna memenuhi keperluan
    tersebut. Kesenjangan ini menjadi pemicu awal yang mendorong proses
    pengambilan keputusan pembelian.
  2. Pencarian Informasi
    Setelah mengenali kebutuhan, konsumen akan mulai mencari informasi
    untuk mengetahui solusi terbaik yang tersedia. Informasi ini bisa
    bersumber dari pengalaman pribadi, saran dari orang terdekat, iklan,
    media sosial, hingga ulasan produk di internet. Pada tahap ini, konsumen
    cenderung ingin memperoleh sebanyak mungkin informasi yang relevan
    agar dapat membuat keputusan yang lebih tepat. Pencarian informasi ini
    membantu memperluas wawasan konsumen mengenai berbagai
    alternatif produk atau merek yang dapat dipilih.
  3. Evaluasi Alternatif
    Tahap selanjutnya adalah mengevaluasi pilihan-pilihan yang telah
    ditemukan. Konsumen akan membandingkan berbagai merek atau
    produk berdasarkan atribut tertentu, seperti kelebihan, kekurangan,
    harga, kualitas, serta nilai atau manfaat yang ditawarkan. Proses
    evaluasi ini bersifat subjektif, karena bergantung pada preferensi,
    kebutuhan, dan prioritas masing-masing individu. Hasil dari evaluasi ini
    akan menjadi dasar dalam menentukan keputusan pembelian.
  4. Keputusan Pembelian
    Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif, konsumen akhirnya
    mengambil keputusan mengenai produk atau merek mana yang akan
    dibeli. Meski demikian, keputusan ini tidak sepenuhnya rasional, karena
    masih bisa dipengaruhi oleh faktor lain seperti pengalaman sebelumnya,
    pendapat orang lain, ketersediaan produk, maupun situasi pembelian.
    Artinya, meskipun satu produk dinilai paling unggul saat evaluasi, bisa
    saja konsumen tetap memilih produk lain karena alasan tertentu.
  5. Perilaku Setelah Pembelian
    16
    Tahap terakhir dalam proses ini adalah penilaian konsumen terhadap
    pengalaman yang mereka rasakan setelah melakukan pembelian.
    Konsumen akan menilai apakah produk yang dibeli sesuai dengan
    harapan dan kebutuhan mereka. Apabila konsumen merasa puas, maka
    mereka cenderung melakukan pembelian ulang dan bahkan
    merekomendasikannya kepada orang lain. Sebaliknya, apabila
    konsumen merasa kecewa, mereka mungkin akan menyampaikan
    keluhan atau beralih ke produk lain di masa mendatang.