Keputusan pembelian merupakan sebuah sikap pelanggan ketika
mencari, memilih, memakai, menilai, serta membelanjakan produk yang
dibutuhkan dengan pengharapan dapat memenuhi rasa puas akan
keinginan para individu. Perilaku keputusan pembelian juga mampu
diartikan sebuah keputusan atas hasil dari proses memilih antara dua
opsi atau lebih. Sebelum melakukan pembelian, konsumen perlu
memiliki alternatif pilihan hingga terjadinya finalisasi keputusan
pembelian terhadap produk atau jasa (Schiffman & Kanuk, 2010).
Menurut Rizan et al., (2015), keputusan pembelian yaitu suatu
tahapan dimana seorang individu atau konsumen melakukan sebuah
keputusan dalam hal pembelian pada produk yang dimana dengan
pembelian tersebut dianggap mampu untuk memenuhi segala
kebutuhannya. Keputusan konsumen dalam membeli produk dapat
mencerminkan sejauh mana pengaruh upaya pemasaran perusahaan
terhadap produk tersebut. Maka karena itu, pemasar diharuskan
mencermati bagaimana perilaku pelanggan memiliki peran dalam
runtutan pengambilan keputusan. Perilaku konsumen tertuju pada
perilaku pembelian yang dilakukan oleh pelanggan baik perindividu
atau kelompok yang memutuskan untuk membeli produk atas dasar
kepentingan konsumsi masing-masing individu. Arjuna (2020),
menyatakan sejumlah situasi pembelian dapat dilihat dari keterlibatan
konsumen yang rendah dalam suatu produk, dan dalam hal ini pada
umumnya konsumen sering berpindah brand. Namun, pergantian merek
12
tidak disebabkan oleh ketidakpuasan konsumen dengan merek tersebut
melainkan ingin mendapatkan variasi lain yang berbeda.
Menurut Kotler & Armstrong (2014), seorang konsumen mengalami
5 proses ketika melakukan pembelian, yaitu :
- Pengenalan kebutuhan
- Pencarian informasi
- Evaluasi alternatif
- Keputusan pembelian
- Perilaku setelah pembelian
Menurut Dewi & Sudiksa (2019), keputusan pembelian didasarkan
dari beberapa indikator yakni : - Kebutuhan
- Manfaat
- Rekomendasi pembelian
