Kecurangan


Kecurangan adalah tindakan yang identik dengan tindakan tidak jujur.
Tindakan kecurangan adalah tindakan yang disengaja untuk mendapatkan
keuntungan pribadi maupun kelompok. Menurut Arens (2015) mengartikan
kecurangan selaku ketidakjujuran yang terencana untuk mengambil hak ataupun
kepemilikan orang lain ataupun pihak lain.
Menururt Sudarmo (2009) dalam Anto, Mustafa dan Florensia (2020)
terdapat 3 elemen fundamental dalam kecurangan, yaitu :

  1. Kecurangan yang dikerjakan oleh seorang secara sengaja
  2. Kecurangan merupakan berwujud penipuan atau pemaksaan ataupun
    penyembunyian kenyataan.
  3. Kecurangan bermaksud untuk mendapatkan laba dari pihak tertentu.
    Menururt Association of Certified Fraud Examiners (2017) kecurangan
    dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
  4. Korupsi (Corruption)
    Korupsi adalah salah satu bentuk kecurangan yang sering terjadi baik di institusi
    pemerintahan, dunia bisnis dan lainnya. Korupsi terbagi atas empat macam yaitu
    konflik kepentingan (conflict of interest), penyuapan (bribery), penerimaan illegal
    (illegal gratituties) serta pemerasan ekonomi (economic extortion).
  5. Penyalahgunaan Aset (Asset Misappropriation)
    Dalam asset misappropriation atau “pengambilan” asset secara ilegal seseorang
    mengambil ataupun menyalahgunakan sumber daya organisasi (perusahaan).
    Penyalahgunaan aset dibagi dalam dua jenis, yaitu (1) Penyalahgunaan kas (Cash
    Misappropriation) yang dilaksanakan dalam wujud larceny, fraudulent
    disbursements, atau skimming (2) Pengalahgunaan non kas (Non Cash
    Misappropriation) dalam bentuk penyalahgunaan (misuse) ataupun pencurian
    (larceny) atas persediaan serta aset lainnya.
  6. Kecurangan Laporan Keuangan (Flaudulent Financial Statement)
    Kecurangan pada laporan keuangan termasuk kegiatan yang dilaksanakan oleh
    eksekutif perusahaan ataupun pejabat atau badan pemerintah untuk
    menyembunyikan keadaan keuangan yang sebenarnya dengan membuat rekayasa
    keuangan pada saat menyajikan laporan keuangan untuk tujuan mendapatkan
    laba.
    Kecurangan pada laporan keuangan dapat dilaksanakan dengan berbagai
    cara, yaitu dengan cara (1) mencatatkan pendapatan fiktif (fictitous revemues), (2)
    mencatatkan pendapatan (revenue) serta beban (expenses) dalam waktu yang tidak
    tepat, (3) menutupi beban (concealed liabilities and expenses) serta kerwajiban
    yang bertujuan untuk menghilangkan ataupun mengurangi beban serta jumlah
    kewajiban, sehingga perusahaan tampak mempunyai banyak aset dibandingkan
    kewajiban, (4) menghilangkan atau mengurangi informasi atau dengan sengaja
    mencantumkan informasi yang tidak benar dalam catatan atas laporan keuangan
    (improper disclousures), atau (5) menilai aset secara tidak tepat (improper asset
    valuation).
    Gagasan yang meneliti tentang apa penyebab terjadinya kecurangan
    disebut dengan segitiga kecurangan atau fraud triangle yang diciptakan oleh
    Donald R. Cressey (1953) dalam Iqbal dan Murtanto (2016). Terdapat tiga
    komponen dalam Fraud Triangle, yaitu :
  7. Tekanan (Pressure)
    Adalah tekanan atau kebutuhan mendorong yang menjadi faktor seseorang untuk
    melakukan tindakan kecurangan. Tekanan dibagi menjadi empat bagian yaitu :
  8. Tekanan keuangan
    Tekanan keuangan adalah salah satu hal yang umum yang menjadi faktor
    seseorang untuk melakukan tindakan kecurangan. Tekanan keuangan dapat berupa
    ketamakan, hidup dibawah kehendak orang lain, memiliki banyak hutang,
    kerugian ekonomi pribadi serta kebutuhan uang yang mendadak.
  9. Personal Financial need
    Seseorang dapat melaksanakan tindakan kecurangan karena kecenderungan
    berjudi, menggunakan obat-obat terlarang, biaya hidup keluarga yang tinggi dan
    kecanduan minum alkohol.
  10. Financial Target
    Seseorang dapat melakukan kecurangan karena merasa perusahaan kurang
    menghargai pekerjaannya, takut kehilangan pekerjaan, merasa kurang puas
    dengan dengan pekerjaannya, takut tidak dipromosikan, dan secara ekonomi
    merasa kurang dihargai.
  11. Tekanan Lainnya
    Tekanan lainnya yang dapat membuat seseorang melakukan tindakan kecurangan
    adalah berupa keinginan pasangan untuk hidup mewah serta menyenangkan orang
    tuanya.
  12. Peluang (Opportunity)
    Peluang menjadi salah satu komponen dalam penyebab terjadinya kecurangan
    setelah tekanan. Sebuah organisasi ataupun perusahaan perlu melakukan
    pengawasan dalam kontrol di perusahaan untuk meminimalkan karyawan
    menemukan peluang untuk melakukan kecurangan. Kecurangan terjadi tidak
    hanya ketika ada pressure, tetapi juga ketika pelaku kecurangan melihat adanya
    peluang untuk melaksanakan kecurangan. Beberapa faktor yang dapat
    meningkatkan kesempatan untuk mendorong seseorang melakukan kecurangan,
    yaitu :
  13. Kurangnya kontrol untuk menghindari serta mendeteksi penyimpangan
  14. Ketidakmampuan untuk menilai kualitas kinerja dengan tepat
  15. Kegagalan mendisplinkan pelaku kecurangan
  16. Terbatasnya informasi
  17. Ketidak perdulian, apatis serta ketidakmampuan
  18. Terbatasnya jejak audit
  19. Rasionalisasi (Rationalization)
    Cressey (1953) dalam Damayanti dan Ramlah (2020) mengatakan bahwa penipu
    membenarkan cara bagaimana mereka berperilaku yang mengabaikan
    kepercayaan sebagai cara berperilaku yang dapat diterima serta diwajarkan.
    Pembelaan yang digunakan oleh pelaku sangat penting dan signifikan untuk
    pelanggaran pidana kepercayaan keuangan, karena memungkinkan individu untuk
    mendapatkan alasan argumen yang relevan serta substansial untuk bertindak, yaitu
    untuk meyakinkan diri mereka sendiri bahwa melakukan pelanggaran terhadap
    kepercayaan finansial adalah perilaku yang dapat diterima serta dibenarkan.
    Menurut Albrecht et al., (2006) dalam Anugerah (2014) tanda-tanda
    kecurangan dikelompokkan menjadi enam kelompok, yaitu :
  20. Accounting Anomalies
    Misalnya pemakaian salinan dokumen serta pembatalan atas kelebihan
    pembayaran ataupun kredit.
  21. Internal control weeknesses
    Mencakup kelemahan dalam lingkungan pengendalian, aktivitas pengendalian
    serta prosedur, sistem akuntansi. Misalnya adalah terbatasnya pencatatan arsip
    yang memadai dan sistem akuntansi yang terbatas.
  22. Analytical anomalies
    Merupakan suatu prosedur, hubungan maupun kejadian yang tidak biasa serta
    wajar. Mencakup prosedur, kebijakan maupun praktik yang tidak biasa serta
    kekurangan ataupun kelebihan kas.
  23. Extravagant lifestyle
    Adalah gaya hidup yang mewah. Salah satu indikasi kecurangan adalah gaya
    hidup seseorang yang sebelumnya biasa saja kemudian menjadi bergaya hidup
    mewah seperti berpergian ke luar negri.
  24. Unusual behavior
    Merupakan tindakan yang tidak biasa. Penelitian psikolog mengatakan bahwa
    ketika seorang sedang melaksanakan fraud atau kecurangan (terutama bagi
    mereka yang baru pertama kali melakukannya) pelakunya diliputi ketakutan dan
    rasa bersalah, serta stress. Selanjutnya pelaku akan bertindak berbeda dari
    biasanya, untuk menutupi perasaan atau stressnya.
  25. Tips and complaints
    Mencatumkan informasi serta laporan mengenai kemungkinan terjadinya
    kecurangan.