Dimensi Kesejahteraan Psikologis


Ryff (1995) mendefinisikan konsep Kesejahteraan psikologis dalam
enam (6) dimensi, yaitu:
a. Penerimaan diri (self-acceptance). Dimensi ini merupakan suatu bagian
yang sentral dari kesehatan mental. Ryff menyimpulkan bahwa
penerimaan diri mengandung arti sebagai sikap yang positif terhadap diri
sendiri. Sikap positif ini adalah mengenali dan menerima berbagai aspek
dalam dirinya dengan positif. Individu yang memiliki sikap penerimaan
diri akan memiliki sikap positif terhadap dirinya, mengakui dan
menerima berbagai aspek diri, termasuk kualitas yang baik dan buruk,
dan merasa positif tentang kehidupan masa lalu. Sehingga tidak merasa
puas dengan diri sendiri, dan terhindar dari perasaan kecewa dengan apa
yang telah terjadi dalam kehidupan masa lalu (Ryff, 1995).
b. Hubungan yang positif dengan orang lain (positive relationship with
others). Berdasarkan pada berbagai teori, Ryff (1995) mendefinisikan
hubungan yang positif dengan orang lain sebagai dimensi yang
mencerminkan kemampuan individu untuk menjalin hubungan yang
hangat, saling mempercayai, dan saling mempedulikan kebutuhan serta
kesejahteraan pihak lain. Menurut Ryff (1995), kemampuan individu
untuk menjalin hubungan yang positif ini juga dicirikan oleh adanya
empati, afeksi, dan keakraban, serta adanya pemahaman untuk saling
memberi dan menerima.
c. Otonomi (Autonomy. Ryff (1995) menyimpulkan pribadi yang otonom
adalah pribadi yang mandiri, yang dapat menentukan yang terbaik untuk
dirinya sendiri. Otonomi digambarkan sebagai kemampuan individu
untuk bebas namun tetap mampu mengatur hidup dan tingkah lakunya.
Individu yang memiliki otonomi yang tinggi ditandai dengan bebas,
mampu untuk menentukan nasibnya sendiri dan mengatur perilaku diri
sendiri, kemampuan mandiri, tahan terhadap tekanan sosial, mampu
mengevaluasi diri sendiri, dan mampu mengambil keputusan tanpa
adanya campur tangan orang lain. Sebaliknya, individu yang rendah
dalam dimensi otonomi akan sangat memperhatikan dan
mempertimbangkan harapan dan evaluasi dari orang lain, berpegangan
pada penilaian orang lain untuk membuat keputusan penting, serta mudah
terpengaruh oleh tekanan sosial untuk berpikir dan bertingkah laku
dengan cara-cara tertentu (Ryff, 1995).
d. Penguasaan lingkungan (environmental mastery. Dimensi ini
menggambarkan adanya suatu perasaan kompeten dan penguasaan dalam
mengatur lingkungan, memiliki minat yang kuat terhadap hal-hal di luar
diri, dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas serta mampu
mengendalikannya. Menurut Ryff (1995), individu yang memiliki
penguasaan lingkungan adalah individu yang memiliki kemampuan dan
kompetensi untuk mengatur lingkungannya. Individu seperti ini mampu
mengendalikan kegiatan-kegiatannya yang kompleks sekalipun. Individu
juga dapat menggunakan kesempatan-kesempatan yang ada secara
efektif, dan mampu memilih, atau bahkan menciptakan lingkungan yang
selaras dengan kondisi jiwanya. Sebaliknya individu yang memiliki
penguasaan lingkungan yang rendah akan mengalami kesulitan dalam
mengatur situasi sehari-hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau
meningkatkan kualitas lingkungan sekitarnya serta tidak mampu
memanfaatkan peluang dan kesempatan diri lingkungan sekitarnya
(Ryff,1995).
e. Tujuan hidup (purpose in life. Ryff (1995) menyimpulkan individu yang
memiliki tujuan hidup adalah individu yang memiliki keterarahan dan
tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam hidupnya. Individu memiliki
keyakinan dan pandangan tertentu yang dapat memberikan arah dalam
hidupnya. Selain itu, individu ini juga menganggap bahwa hidupnya itu
bermakna dan berarti, baik di masa lalu, kini, maupun yang akan datang.
Individu ini memiliki perasaan menyatu, seimbang, dan terintegrasinya
bagian-bagian diri. Sebaliknya individu yang rendah dalam dimensi
tujuan hidup akan kehilangan makna hidup, arah dan cita-cita yang tidak
jelas, tidak melihat makna yang terkandung untuk hidupnya dari kejadian
di masa lalu, serta tidak mempunyai harapan atau kepercayaan yang
memberi arti pada kehidupan (Ryff,1995).
f. Pertumbuhan pribadi (personal growth. Suatu pertumbuhan yang optimal
tidak hanya berarti bahwa individu dapat mencapai kualitas-kualitas yang
telah disebutkan sebelumnya, tetapi juga membutuhkan suatu
perkembangan dari potensi-potensi individu secara berkesinambungan.
Kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan dalam
hidup membutuhkan adanya perubahan yang terus berlangsung dalam
diri. Sebaliknya, individu yang memiliki pertumbuhan pribadi rendah
akan merasakan dirinya mengalami stagnasi, tidak melihat peningkatan
dan pengembangan diri, merasa bosan dan kehilangan minat terhadap
kehidupannya, serta merasa tidak mampu dalam mengembangkan sikap
dan tingkah laku yang baik (Ryff, 1995