Faktor-faktor yang mempengaruhi Kesejahteraan Psikologis


Menurut pendapat beberapa tokoh psikologi seperti Ryff (1995), Ryff
(dalam Ryan & Deci, 2001), Rajawane dan Chairani (2001) dan Revelia
(2016) menerangkan bahwa kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu:
a. Usia. Dalam penelitian yang dilakukan Ryff (1995), ditemukan adanya
perbedaan tingkat kesejahteraan psikologis pada orang dari berbagai
kelompok usia. Dalam dimensi lingkungan terlihat profil meningkat
seiring dengan pertambahan usia. Semakin bertambah usia maka individu
semakin mengetahui kondisi terbaik dirinya. Artinya, individu tersebut
semakin dapat mengatur lingkungannya menjadi yang terbaik sesuai
dengan keadaan dirinya.
b. Jenis kelamin. Hasil penelitian Ryff (1995) menyatakan bahwa wanita
memiliki nilai signifikan yang lebih tinggi dibanding pria dalam dimensi
hubungan dengan orang lain atau interpersonal dan pertumbuhan pribadi,
karena kemampuan wanita dalam berinteraksi dengan lingkungan lebih
baik dibanding pria. Keluarga sejak kecil telah menanamkan dalam diri
anak laki-laki sebagai sosok yang agresif, kuat, kasar dan mandiri,
sementara itu perempuan digambarkan sebagai sosok yang pasif dan
tergantung, tidak berdaya, serta sensitif terhadap perasaan orang lain dan
akan terbawa sampai anak beranjak dewasa.
c. Status sosial ekonomi, perbedaan status sosial ekonomi juga akan
mempengaruhi kesejahteraan psikologis individu. Ryff (dalam Ryan &
Deci, 2001) mengemukakan bahwa status sosial ekonomi berhubungan
dengan dimensi penerimaan diri, tujuan hidup, penguasaan lingkungan
dan pertumbuhan diri. Individu yang memiliki kelas sosial yang tinggi
memiliki perasaan yang lebih positif terhadap diri sendiri dan masa lalu,
serta lebih memiliki rasa keterarahan dalam hidup dibandingkan dengan
individu yang berada di kelas sosial yang lebih rendah.
d. Budaya. Ryff (1995) mengatakan bahwa sistem nilai individualisme atau
kolektivisme memberi dampak terhadap kesejahteraan psikologis yang
dimiliki suatu masyarakat. Budaya barat memiliki nilai yang tinggi dalam
dimensi penerimaan diri dan otonomi, sedangkan budaya timur yang
menjunjung tinggi nilai kolektivisme memiliki nilai yang tinggi pada
dimensi hubungan positif dengan orang lain.
e. Religiusitas. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rajawane dan
Chairani (2001), bahwa ada hubungan antara religiusitas dengan
kesejahteraan psikologis pada lansia. Usia lanjut yang memiliki
religiusitas yang tinggi akan mendapatkan kesejahteraan psikologis yang
tinggi pula. Alasan bahwa religiusitas berperan terhadap kesejahteraan
psikologis terletak pada bukti dari penelitian yang dilakukan oleh oleh
amadyawati dan utami, bahwa orang yang memiliki religiusitas yang
tinggi akan lebih taat terhadap agamanya, dan lebih merasa nyaman dan
tentram.
f. Adversity quetient. Berdasarkan penelitian Waskito (2014) membuktikan
bahwa adversity quetient menunjukan ada pengaruh signifikan terhadap
kesejahteraan psikologis. Sesuai teori Durkin dan Josep (2009) bahwa
salah satu unsur yang mempengaruhi kesejahteraan psikologis yaitu
adversity quetient