Istilah kesejahteraan psikologis berasal dari tulisan Aristoteles mengenai
eudaimonia (Ryff, 1989). Istilah ini tidak hanya sekedar berarti kebahagiaan
atau menunjukkan antara kepuasan terhadap keinginan yang benar atau salah
(hedonistic), melainkan eudaimonia lebih memberikan karakteristik yang
tertinggi dari keberadaan manusia, yaitu bertujuan untuk mencapai
kesempurnaan dengan merealisasikan potensi yang sebenarnya.
Menurut Ryff (1995) kesejahteraan psikologis adalah keadaan individu
dalam potensi diri yang sejati (true potensial) yang ditandai ia dapat mandiri
dalam berperilaku dan mampu mengelak dari tekanan sosial (autonomy),
mampu merasakan peningkatan kualitas diri dari waktu ke waktu (personal
growth), menerima kelemahan dan kelebihan dirinya (self-acceptance),
memiliki tujuan hidup yang berdampak pada keterarahan sikap dan
perilakunya (purpose in live), mampu menciptakan dan memilih lingkungan
yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan pribadi (environmental mastery) dan
mampu menikmati dan menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain
(positive relationship with others).
Viniegras & Benitez (dalam Wells, 2010) mengatakan bahwa
kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh sifat pengalaman subjektif individu
dan berhubungan dengan aspek yang berbeda dari fungsi fisik, mental dan
sosial. Kesejahteraan psikologis dapat dilihat sebagai hasil dari keseimbangan
antara harapan individu dan prestasi di berbagai bidang manusia, seperti
bekerja, keluarga, kesehatan, kondisi material kehidupan, dan hubungan
interpersonal dan afektif.
Lebih lanjut Huppert (2009) mengatakan bahwa kesejahteraan psikologis
adalah hidup yang berjalan dengan baik. Hal ini merupakan kombinasi dari
perasaan yang baik dan berfungsi secara efektif. Orang-orang dengan
kesejahteraan psikologis yang tinggi memiliki perasaan senang, mampu,
mendapat dukungan dan puas dengan kehidupannya. Selain itu, Huppert
(2009) juga memasukkan kesehatan fisik yang lebih baik dimediasi oleh pola
aktivasi otak, efek neurokimia dan faktor genetik.
Ryff & Keyes (1995) menyebutkan bahwa manusia memiliki dua fungsi
positif untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis nya, yaitu bagaimana
individu membedakan hal positif dan negatif yang akan memberikan
pengaruh untuk kebahagiaannya dan menekankan kepuasan hidup sebagai
kunci utama kesejahteraan
