Pengertian Psychological Empowerment


Konsep psychological empowerment lebih fokus terhadap pemberdayaan
pegawai pada konteks psikis supaya pegawai mampu memahami kompetensi dan
meningkatkan kapabilitasnya dan juga merupakn konsep ketika pegawai memiliki
kekuatan atau autonomi. Pendekatan atas pemahaman pemberdayaan pegawai
sebagai konstruksi motivasi yang menyatakan bahwa kekuatan dalam konstruksi
motivasional menunjuk pada kebutuhan akan determinasi diri dan kepercayaan
seseorang akan kemampuan dirinya. Untuk memperkaya pemahaman
pemberdayaan pegawai secara psikologis, penting untuk memahami secara spesifik
dimensi dan makna yang menjadi konstruksi inti dari konsep ini (Meyerson et al,
dalam penelitian Aam Amaliah dan Laila Meliyandrie I. W, 2021:35).
Menurut (Purnawati I. G. A dan Yuniarta G. A et al, 2018:25)
mendefinisikan psychological empowerment menjadi suatu proses dalam
memotivasi perkembangan pegawai yang dilakukan oleh pimpinan perusahaan
dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif, sehingga pekerjaan bisas lebih
efektif serta efisien.
Menurut (Spreitzer dalam penelitian Aam Amaliah dan Laila Meliyandrie I.
W, 2021:35) menjelaskan bahawa psychological empowerment adalah sebuah
konstruk motivasi yang diwujudkan dalam empat kognisi yaitu meaning,
competence, self determination, impact. Ke empat kognisi ini secara bersama-sama
mencerminkan orientasi aktif (bukan pasif) terhadap peran kerja. Orientasi aktif
tersebut berarti orientasi dimana seorang individu ingin dan merasa mampu
membentuk karyanya sendiri dalam perannya atau konteksnya didalam
pekerjannya.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa psychological
empowerment merupakan empat kognisi yang mencerminkan orientasi pegawai
untuk perannya, yaitu meaning, competence, impact, self determination. Dimana
dengan ke empat komponen tersebut dapat membantu pegawai untuk lebih merasa
bahwa mereka dapat membegang kendali didalam suatu organiasi