Perkembangan teori psychological empowerment pertama kali dikemukakan
oleh Conger dan Kanungo (1988) dengan dilakukan nya literatur review pada
peneliti sebelumnya yang tertarik untuk memperdalam teori empowerment di
lingkup kerja. Hasil tinjauan literatur yang telah dilakukan, secara jelas
menunjukkan bahwa empowerment merupakan suatu konsep yang digunakan oleh
para ahli teori dalam mendeskripsikan efektivitas organisasi. Akan tetapi, diakui
nya peran empowerment terhadap teori dan praktiknya, pemahaman yang dimiliki
masih menunjukkan hasil yang membingungkan (Conger & Kanungo, 1988).
Adanya kebingungan yang terjadi, Conger dan Kanungo (1988) menjabarkan
bahwa dalam menganalisis gagasan empowerment dalam praktik manajemen,
penting untuk secara kritis mempertimbangkan sumber kekuasaan dan kontrol dari
mana empowerment tersebut berasal. Maka dengan proses panjang yang dilakukan
guna memperoleh penjelasan yang jelas, Conger dan Kanungo, (1988)
mendefinisikan empowerment seperti demikian “empowerment is defined here as a
process of enhancing feelings of self-efficacy among organizational members
through the identification of conditions that foster powerlessness and through their
removal by both formal organizational practices and informal techniques of
providing efficacy information” (Conger & Kanungo, 1988, p. 474).
Disisi lain, Thomas dan Velthouse (1990) menyatakan pendapat yang terhadap
psychological empowerment dengan definisi yang berbeda. Menanggapi hal
tersebut Thomas dan Velthouse (1990) mencoba untuk meluruskan pemahaman
Conger dan Kanungo (1988) terhadap psychological empowerment dengan konsep
yang telah dibuat oleh nya. Pertama, konsep empowerment dapat diperjelas dengan
menetapkan hubungannya pada jenis motivasi tertentu, konteks ini mengarah pada
motivasi intrinsik. Kedua, melakukan upaya untuk menetapkan serangkaian
penilaian tugas yang lebih komprehensif dan memuaskan untuk meningkatkan
motivasi. Ketiga, konsep ini juga berusaha untuk memperoleh hasil terhadap
bagaimana proses interpretasi dilakukan oleh pekerja sehingga mereka dapat
membuat penilaian terhadap tugas tersebut. Maka dengan konsep inilah Thomas
dan Velthouse (1990) menetapkan definisi psyhological empowerment seperti
demikian, “empowerment is defined as increased intrinsic task motivation, and our
subsequent model identifies four cognitions (task assessments) as the basis for
worker empowerment: sense of impact, competence, meaningfulness and choice”
(Thomas & Velthouse, 1990, p. 666).
Spreitzer (1995) yang juga tertarik terhadap isu mengenai psychological
empowerment, mencoba untuk mengembangkan teori sebelumnya yang dilakukan
oleh Conger dan Kanungo (1988) dan Thomas dan Velthouse (1990) dengan
mendefinisikan psychological empowerment seperti demikian, “psychological
empowerment is defined as a motivational construct manifested in four cognitions:
meaning, competence, self-determination, and impact” (Spreitzer, 1995, p. 1444).
Berdasarkan pada definisi yang telah dijelaskan seluruhnya, peneliti memilih
definisi psychological empowerment yang dijelaskan oleh Spreitzer (1995). Hal ini
dikarenakan definisi yang diperoleh oleh Spreitzer (1995) mempunyai relevansi
terhadap penelitian saya yang berfokus pada persepsi guru sekolah dasar terhadap
kompetensi yang dimiliki, sehingga hal tersebut menjadi alasan peneliti untuk
menggunakan teori dari Spreitzer (1995). Selain itu, teori yang dikemukakan oleh
Spreitzer (1995) sudah digunakan oleh banyak peneliti di Indonesia terhadap
psychological empowerment, seperti penelitian yang dilaksanakan oleh (Aurel et
al., 2017), (Putri & Ratnaningsih, 2018), dan (Handayani et al., 2023)
