Perilaku inovatif karyawan merupakan wujud nyata dari kreativitas
karyawan dalam menjalankan pekerjaan. Kreativitas yang berasal dari individu,
dalam hal ini disebut karyawan, merupakan dasar dalam melakukan suatu inovasi.
Inovasi bergantung pada bagaimana individu tersebut melahirkan gagasan atau
ide-ide baru, melakukan perancangan terhadap ide, menerapkan ide yang telah
dirancang dan dipersiapkan dengan baik lalu melakukan modifikasi pada
pekerjaan (Etikariena & Muluk, 2014). Pernyataan Widiyanti & Sawitri (2018)
perusahaan yang mampu melakukan inovasi secara berkelanjutan, selalu
melakukan perbaikan kualitas pada produk yang dihasilkan. Inovasi juga menjadi
salah satu motivasi karyawan dalam menjaga kinerjanya saat bekerja, sehingga
menyebabkan kinerja perusahaan lebih unggul jika dibandingkan dengan
perusahaan lain.
Karyawan dikatakan sebagai salah satu aset berharga perusahaan, karena
karyawan mampu melakukan inovasi. Hal ini menjadi alasan, pentingnya
perusahaan membangun kesadaran karyawan dalam memunculkan perilaku
inovatif saat bekerja. Perilaku inovatif yang berasal dari dalam diri karyawan
dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:
- Faktor internal berasal dari dalam diri individu, seperti cara individu
melakukan pemecahan masalah atau mencari solusi, kepribadian setiap
individu, dan motivasi yang dibangun dalam diri masing-masing. - Faktor pekerjaan berasal dari lingkungan kerja individu seperti tuntutan yang
harus diselesaikan dalam pekerjaan dan karakteristik pekerjaan. - Faktor kontekstual berasal dari suatu peristiwa tertentu seperti gaya
kepemimpinan, iklim psikologis dan juga dukungan dari karyawan lain.
(Widiyanti & Sawitri, 2018).
Menurut penelitian Robert (2001) dalam (Li & Zheng, 2014), “Innovative
behavior is an act of generating, promoting and application of innovative thinking
in the organization for the purpose of personal and organizational performance,
which enables employees to use innovative ways of thinking, quickly and
accurately respond to customer demand changes”. Berdasarkan pernyataan
tersebut, pengelolaan aset sumber daya manusia atau knowledge management
sangat dibutuhkan dalam memunculkan perilaku inovatif karyawan. Knowledge
management mencakup modal intelektual perusahaan. Knowledge management
dikatakan berhasil ketika terjadi kesinambungan antara tujuan personal karyawan
dengan tujuan organisasi. Drucker (1993) dalam Elango & Fonceca (2017)
menyatakan knowledge management memberikan pengaruh pada keunggulan
kompetitif organisasi dimana knowledge management membantu organisasi dalam
peningkatan pelatihan dan pengembangan karyawan, fokus pelanggan, serta
pelatihan dan penciptaan lapangan kerja. Knowledge management bertujuan untuk
menambah pengetahuan karyawan sehingga karyawan mampu untuk
mengidentifikasi dan mencari solusi efektif apabila terjadi hambatan maupun
tantangan dalam penerapan strategi manajemen. Karyawan dapat bekerja sama
dan saling berbagi pengetahuan dengan karyawan lain supaya kapasitas diri setiap
karyawan semakin bertambah. Dampaknya, karyawan secara bersama-sama
mampu memberikan ide-ide kreatif dan mampu menunjukkan sikap inovatif yang
dibutuhkan oleh organisasi, sehingga terjadi peningkatan produktivitas dalam
organisasi.
