Menurut Siagian (2004:230), berbagai faktor yang mempengaruhi keinginan
karyawan untuk meninggalkan organisasi (turnover intention) antara lain adalah
tingginya stres kerja dalam perusahaan, rendahnya kepuasan yang dirasakan
karyawan serta kurangnya komitmen pada diri karyawan untuk memberikan
semua kemampuannya bagi kemajuan perusahaan. Sedangkan menurut Mobley
(2002:45), faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk pindah kerja
(turnover intention) antara lain:
- Karateristik Individu
Organisasi merupakan wadah bagi individu untuk mencapai tujuan yang
ditentukan secara bersama oleh orang-orang yang terlibat didalamnya. Untuk
mencapai tujuan tersebut, maka diperlukan adanya interaksi yang
berkesinambungan dari unsur-unsur organisasi. Karakter individu yang
mempengaruhi keinginan pindah kerja antara lain umur, pendidikan dan
status perkawinan. - Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja dapat meliputi lingkungan fisik maupun sosial. Lingkungan
fisik meliputi keadaan suhu, cuaca, kontruksi, bangunan, dan lokasi pekerjaan.
Sedangkan lingkungan sosial meliputi sosial budaya di lingkungan kerjanya,
besar atau kecilnya beban kerja, kompensasi yang diterima, hubungan kerja
se-profesi, dan kualitas kehidupan kerjanya. Lingkungan kerja dapat
mempengaruhi turnover intention pada karyawan. Hal ini dapat disebabkan
apabila lingkungan kerja yang dirasakan oleh karyawan kurang nyaman
sehingga menimbulkan niat untuk keluar dari perusahaan. Tetapi apabila
lingkungan kerja yang dirasakan karyawan menyenangkan maka akan
membawa dampak positif bagi karyawan, sehingga akan menimbulkan rasa
betah bekerja pada perusahaan tersebut dan dapat menghilangkan keinginan
pindah kerja (turnover intention).
Menurut Oetomo dalam Riley (2006:2), keinginan untuk keluar dapat dipengaruhi
oleh dua faktor, yaitu: - Organisasi
Faktor organisasi yang dapat menyebabkan keinginan karyawan untuk keluar
antara lain berupa upah/gaji, lingkungan kerja, beban kerja, promosi jabatan,
dan jam kerja yang tidak fleksibel. - Individu
Faktor organisasi yang dapat menyebabkan keinginan karyawan untuk keluar
antara lain berupa pendidikan, umur, dan status perkawinan.
Menurut Rivai (2009:240), beberapa karateristik pekerjaan yang dapat
mempengaruhi keinginan pindah kerja adalah sebagai berikut:
a. Beban Kerja
Beban kerja merupakan sesuatu yang muncul dari interaksi antara tuntutan
tugas-tugas, lingkungan kerja dimana digunakan sebagai tempat kerja,
keterampilan, perilaku, dan persepsi dari pekerjaan. Beban kerja dibedakan
menjadi dua yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Beban kerja kuantitatif timbul
karena tugas-tugas yang terlalu banyak yang diberikan kepada tenaga kerja untuk
diselesaikan dalam waktu tertentu, sedangkan secara kuantitatifyaitu jika
seseorang tidak dapat mengerjakan suatu tugas atau tugas yang diberikan tidak
menggunakan keterampilan potensi yang sesuai dari tenaga kerja. menjadi dua
yaitu secara kuantitatif dan kualitatif. Beban kerja kuantitatif timbul karena
tugas-tugas yang terlalu banyak yang diberikan kepada tenaga kerja untuk
diselesaikan dalam waktu tertentu, sedangkan secara kuantitatif yaitu jika
seseorang tidak dapat mengerjakan suatu tugas atau tugas yang diberikan tidak
menggunakan keterampilan potensi yang sesuai dari tenaga kerja.
b. Lama Kerja
Pada dasarnya, karyawan yang ingin pindah dari tempat kerja disebabkan
karena setelah lama bekerja, dimana harapan – harapan yang semula dari
pekerjaan itu berbeda dengan kenyataan yang didapat. Adanya korelasi yang
negatif antara masa kerja dengan kecenderungan turnover, yang berarti semakin
lama masa kerja semakin rendah kecenderungan perpindahan tenaga kerja.
Perpindahan tenaga kerja ini lebih banyak terjadi pada karyawan dengan masa
kerja lebih singkat.
c. Dukungan Sosial
Dukungan sosial yang dimaksud adalah adanya hubungan saling membantu
untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pekerjaan baik secara
langsung maupun tidak langsung. Dukungan sosial memiliki pengaruh yang
cukup besar dalam mendukung aspek psikologis karyawan, sehingga mereka
mampu bekerja dengan tenang, konsentrasi, termotivasi, dan mempunyai
komitmen yang tinggi terhadap organisasinya. Sedangkan karyawan yang kurang
mendapatkan dukungan sosial bisa mengalami frustasi, stress dalam bekerja
sehingga prestasi kerja menjadi buruk, dan dampak lainnya tingginya absensi
kerja, keinginan pindah kerja bahkan sampai pada berhenti bekerja
