Persepsi Terhadap Kualitas


Perspektif kualitas yaitu pendekatan yang digunakan untuk mewujudkan
kualitas suatu produk atau jasa. David dalam Fandy Tjiptono (2002:52)
mengidentifikasikan adanya lima alternatif perspektif kualitas yang biasa
digunakan, yaitu :

  1. Transcendental Approach
    Kualitas dalam pendekatan ini dipandang sebagai innate excellence dimana
    kualitas dapat dirasakan atau diketahui tetapi sulit didefinisikan dan
    dioperasionalisasikan. Sudut pandang ini biasanya diterapkan dalam dunia
    seni, misalnya seni musik, seni drama, seni tari dan seni rupa. Meskipun
    demikian suatu perusahaan dapat mempromosikan produknya melalui
    pernyataan-pernyataan maupun pesan-pesan komunikasi seperti tempat
    belanja yang menyenangkan (supermarket), elegan (mobil), kecantikan wajah
    (kosmetik), kelembutan dan kehalusan kulit (sabun mandi) dan lain-lain.
    Dengan demikian fungsi perencanaan, produksi dan pelayanan suatu
    perusahaan sulit sekali menggunakan definisi seperti ini sebagai dasar
    manajemen kualitas.
  2. Product-based Approach
    Pendekatan ini menganggap bahwa kualitas merupakan karakteristik atau
    atribut yang dapat dikuantitatifkan dan dapat diukur. Perbedaan dalam
    kualitas mencerminkan perbedaan dalam jumlah beberapa unsur atau atribut
    yang dimiliki produk. Karena pandangan ini sangat objektif maka tidak dapat
    menjelaskan perbedaan dalam selera, kebutuhan dan preferensi individual.
  3. User-based Approach
    Pendekatan ini didasarkan pada pemikiran bahwa kualitas tergantung pada
    orang yang memandangnya, sehingga produk yang paling memuaskan
    preferensi seseorang (misalnya perceived quality) merupakan produk yang
    berkualitas paling tinggi. Perspektif yang subjektif dan demand-oriented ini
    juga menyatakan bahwa pelanggan yang berbeda memiliki kebutuhan dan
    keinginan yang berbeda pula. Sehingga kualitas bagi seseorang adalah sama
    dengan kepuasan maksimum yang dirasakannya.
  4. Manufacturing-based Approach
    Perspektif ini berarti suply-based dan terutama memperhatikan praktik-
    praktik perekayasaan dan pemanufakturan serta mendefinisikan kualitas
    sebagai persyaratan (conformance to requirement). Dalam sektor jasa dapat
    dikatakan bahwa kualitasnya bersifat operations-driven. Pendekatan ini
    berfokus pada penyesuaian spesifikasi yang dikembangkan secara internal,
    yang seringkali didorong oleh tujuan peningkatan produktifitas dan
    penekanan biaya. Jadi yang menentukan kualitas adalah standar-standar yang
    ditetapkan perusahaan, bukan konsumen yang menggunakannya.
  5. Value-based Approach
    Pendekatan ini memandang kualitas dari segi nilai dan harga. Dengan
    mempertimbangkan trade-off antara kinerja dan harga, kualitas didefinisikan
    sebagai affordable excellence. Kualitas dalam perspektif ini bersifat relatif,
    sehingga produk yang memiliki kualitas paling tinggi belum tentu produk
    yang paling bernilai. Akan tetapi yang paling bernilai adalah barang atau jasa
    yang paling tepat dibeli (best-buy).