Aspek-aspek Kepemimpinan Transfromasional



Bass (1990) dan Landy & Conte (2004) menjelaskan ada 4 aspek
untuk mengukur gaya kepemimpinan transformasional yaitu:
a. Pengaruh yang diidealkan (karima) dimana pemimpin menjadi contoh
atau teladan yang baik sehingga dipercaya, dikagumi dan dihargai oleh
bawahannya (Rigio & Bass, 2006).
b. Motivasi Inspirasional yang dimiliki pemimpin yang mempunyai visi
ke depan, memberikan tantangan kepada bawahan dengan standar yang
tinggi, berbicara dengan optimis dan antusiasme, memberikan
dorongan dan semangat untuk mengerjakan sesuatu yang harus
dikerjakan.
c. Stimulasi intelektual dimana pemimpin mengajak bawahan
memikirkan masalah-masalah lama dengan cara pandang yang baru.
d. Perhatian individual menjadi tugas seorang pemimpin untuk
memberikan perhatian kepada masing-masing kebutuhan bawahan
untuk berprestasi dan tumbuh dengan berperan sebagai coach atau
mentor

Kepemimpinan Transformasional


Yukl (2006:35) berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan
penggerak dan penentu perjalanan suatu organisasi. Keberhasilan program
yang diberlakukan dalam organisasi ditentukan oleh kemampuan
kepemimpinan, melalui kemampuan inovatif, gagasan, perilaku, dan gaya
kepemimpinan seseorang maupun menghantarkan organisasi mencapai
tujuan. Upaya yang dapat dilakukan pemimpin adalah mengarahkan,
meningkatkan, dan menggerakkan potensi diri dan anggotanya agar secara
bersama-sama memfokuskan kegiatannya demi mencapai keberhasilan
organisasi.
Robbins (2003) mendefinisikan kepemimpinan sebagai
kemampuan mempengaruhi suatu kelompok kearah mencapai tujuan.
Thoha (2000) memberikan pengertian tentang kepemimpin adalah
suatu proses untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
Kartono (1993) pemimpin berfungsi sebagai penggerak,
dinamisator dan koordinator dari sumber daya, termasuk didalamnya
sumber daya dalam bentuk individu, dana dan alam yang dimiliki sebuah
organisasi.
Salah satu teori yang menekankan suatu perubahan dan yang paling
komprehensif berkaitan dengan kepemimpinan adalah teori kepemimpinan
transformasional dan transaksional (Bass). Pada tahun 1978, Burns
pertama kali mengemukakan konsep kepemimpinan transformasional yang
kemudian disebarluaskan oleh Bass (Liontois dalam Cashin, 2000)
Gaya kepemimpinan transformasional berfokus pada perubahan
organisasi dan individu di dalamnya dan mempengaruhi bawahan untuk
lebih mementingkan kepentingan organisasi dengan meningkatkan
komitmen individu yang merupakan salah satu elemen penting untuk
mencapai visi organisasi (Bass, 1990; Lutz, 2007). Berbeda dengan
kepemimpinan transaksional yang merupakan suatu pola hubungan antara
atasan dan bawahan dimana hubungan tersebut dibangun atas dasar
kesepakatan. Gaya kepemimpinan transaksional dipandang sebagai suatu
imbalan atas kepatuhan yang dilakukan oleh bawahan (Bass, 1990).
Kepemimpinan transformasional mampu mengkomunikasikan visi yang
memberi inspirasi dan mendorong para pengikut untuk mencapai hal-hal
yang lebih bersifat luas, tinggi dan bahkan luar biasa dapat meningkatkan
kesadaran diri individu (Bass, Riggio, 2006).
Kepemimpinan transformasional menurut Bass dan Avolio (dalam
Hickman, 1998:136) merupakan model kepemimpinan di mana pemimpin
memotivasi anggotanya dan muncul ketika pemimpin mampu memperluas
dan meningkatkan perhatian terhadap karyawan, membangkitkan
kesadaran terhadap tujuan atau misi kelompok serta mampu mengajak
karyawan melihat jauh ke depan melebihi kepentingan pribadi demi
kebaikan kelompok.
Menurut Burns (1978) kepemimpinan transformasional merupakan
proses dimana atasan dan bawahan menaikkan moral dan motivasinya ke
tingkat yang lebih tinggi. Pemimpin transformasional berusaha menaikkan
kesadaran bawahan dengan mendorong idealisme dan nilai moral ke
tingkat yang lebih tinggi, seperti yang terkait dengan kebebasan, keadilan,
kedamaian, kesinambunangan dan kemanusiaan
Munandar (2001) menyebutkan bahwa kepemimpinan
transformasional merupakan kepemimpinan yang berusaha untuk
mengubah perilaku bawahan agar memiliki kemampuan dan motivasi
tinggi, serta berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu
untuk mencapai tujuan bersama.
Seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin
transformasional diukur dalam hubungannya dengan pengaruh pemimpin
terhadap bawahan. Upaya pemimpin transformasional dalam
mempengaruhi bawahan dapat melalui tiga cara, yaitu (1) mendorong
bawahan lebih sadar akan pentingnya hasil suatu pekerjaan, (2)
mendorong bawahan untuk lebih mementingkan organisasi daripada
kepentingan individual, (3) mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan bawahan
pada tingkat yang lebih tinggi (Bass, dalam Purwanto & Adisubroto,
2011).
Pemimpin yang mengaplikasikan model kepemimpinan
transformasional dapat dikatakan pemimpin yang mampu untuk
memotivasi karyawan dalam mencapai tujuan (Hater dan Bass 1998 dalam
Aarons, 2006). Pemimpin transformasional akan mengarahkan
pengikutnya ke nilai moral yang baik, dapat mengarahkan pengikutnya
untuk dapat berkomitmen pada nilai–nilai organisasi, dapat menghargai
pengikutnya, mendorong pengikutnya bersikap kreatif dan menginspirasi
pengikutnya untuk mencapai tujuan (Politis, dalam Dyan, 2010:9).
Karenanya, seorang pemimpin harus dapat meramalkan masa depan suatu
organisasi, mengarahkan karyawan untuk dapat berkomitmen dan
mencapai tujuan organisasi (Barbuto, 1997 dalam Aarons, 2006)
Beberapa teori kepemimpinan transformasional menyatakan bahwa
sikap pemimpin transformasional berhubungan dengan emosi di mana
emosi pemimpin tersebut dapat memotivasi pengikutnya. Di samping itu,
para pengikutnya akan memiliki rasa kepercayaan dan rasa hormat yang
tinggi terhadap pemimpin transformasional (Barbuto, 1997 dalam Aarons,
2006)

    Keputusan Utama dalam Manajemen Operasional (7)

    Manajemen Rantai Pasok

    Rantai pasok atau supply chain adalah jaringan organisasi, aktivitas, sumber daya, dan informasi yang terlibat dalam pengadaan bahan, pengolahan, distribusi, serta penyerahan produk atau jasa kepada pelanggan akhir. Rantai pasok mencakup pemasok, produsen, distributor, penyedia logistik, pengecer, pelanggan, dan pihak pendukung lainnya.

    Manajemen rantai pasok berfokus pada koordinasi aliran barang, informasi, dan keuangan dari hulu ke hilir. Pujawan dan Mahendrawathi menjelaskan bahwa manajemen rantai pasok merupakan pendekatan terintegrasi untuk mengelola aliran produk, informasi, dan uang yang melibatkan berbagai pihak dari pemasok hingga pelanggan akhir (Pujawan & Mahendrawathi, 2017).library.binus.ac

    Tujuan manajemen rantai pasok meliputi:

    • Menjamin ketersediaan bahan baku dan produk.
    • Menurunkan biaya total rantai pasok.
    • Meningkatkan ketepatan dan kecepatan pengiriman.
    • Mengurangi persediaan berlebih.
    • Meminimalkan risiko gangguan pasokan.
    • Meningkatkan kolaborasi dengan pemasok dan distributor.
    • Memperbaiki visibilitas informasi.
    • Mendukung keberlanjutan serta etika pengadaan.

    Gangguan rantai pasok dapat terjadi akibat bencana alam, konflik geopolitik, perubahan regulasi, kenaikan harga bahan baku, kegagalan pemasok, kemacetan pelabuhan, masalah kualitas, gangguan teknologi, atau perubahan permintaan secara tiba-tiba. Karena itu, organisasi perlu membangun ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi pemasok, persediaan pengaman, kontrak yang fleksibel, pemetaan risiko, digitalisasi pelacakan, dan kolaborasi jangka panjang.

    Karakteristik Kepemimpinan Transformasional


    Tichy dan Devana (1989) melakukan penelitian secara kualitatif
    terhadap beberapa orang eksekutif perusahaan besar dan menemukan
    bahwa pemimpin transformasional memiliki beberapa karekteristik, yaitu:
    a. Mencirikan diri mereka sendiri sebagai agen perubahan.
    b. Berani.
    c. Mempercayai orang lain
    d. Menggerakkan nilai (value driven).
    e. Merupakan pelajar seumur hidup (lifeelong learners).
    f. Mempunyai kemampuan untuk menghadapi kompleksitas, sesuatu
    yang serba mendua (ambiguity), dan ketidakpastian.
    g. Penuh visi (visionares).

    Faktor-faktor yang mempengaruhi engagement


    Kanexa (dalam Mujiasih, n. d:13) mengatakan bahwa ada empat
    prinsip dasar yang mempengaruhi engagement, yaitu
    a. Pemimpin yang memberikan inspirasi keyakinan terhadap masa depan,
    b. Manajemen yang menghargai karyawan,
    c. Pekerjaan yang menyenangkan dan
    d. Bagian top management yang memperlihatkan tanggungjawab nyata
    kepada karyawan.
    Sementara faktor-faktor yang dikatakan dapat mendorong terciptanya
    employee engagement oleh Branham dan Hirschfeld (Vibrayani, 2012:4)
    disebutkan adanya 6 faktor pendorong yang bersifat universal:
    a. Senior Leader yang peduli, kompeten dan engaged (terlibat).
    b. Manager yang efektif yang dapat membuat karyawan selaras dan
    engaged.
    c. Kerjasama yang efektif disegala tingkatan karyawan
    d. Pengkayaan pekerjaan (job enrichment) dan pertumbuhan professional
    (professional growth).
    e. Penghargaan terhadap kontribusi karyawan
    f. Peduli terhadap kesejahteraan karyawan
    Penggerak employee engagement akan berbeda di tiap jenis pekerjaan
    dan organisasi. Secara umum terdapat 3 (tiga) kluster utama yang menjadi
    penggerak employee engagement, yaitu (sridevi, 2010):
    a. Organisasi
    Hal-hal terkait organisasi yang dapat menjadi penggerak employee
    engagement adalah budaya organisasi, visi dan nilai yang dianut, brand
    organisasi. Budaya organisasi yang dimaksud adalah budaya organisasi
    yang memiliki keterbukaan dan sikap supportive serta komunikasi yang
    baik antara rekan kerja. Keadilan dan kepercayaan sebagai nilai
    organisasi juga memberikan dampak positif bagi terciptanya employee
    engagement. Hal-hal ini akan memberikan persepsi bagi karyawan
    bahwa mereka mendapat dukungan dari organisasi.
    b. Manajemen dan Kepemimpinan
    Engagement dibangun melalui proses, butuh waktu yang panjang serta
    komitmen yang tinggi dari pemimpin. Untuk itu, dibutuhkan
    kekonsistenan pemimpin dalam mementoring karyawan Dalam
    menciptakan employee engagement, pimpinan organisasi diharapkan
    memiliki beberapa keterampilan. Beberapa diantaranya adalah teknik
    berkomunikasi, teknik memberikan feedback dan teknik penilaian
    30
    kinerja (McBain, 2007). Hal-hal ini menjadi jalan bagi manajer untuk
    menciptakan employee engagement sehingga secara khusus hal-hal ini
    disebut sebagai penggerak employee engagement.
    c. Working life
    Kenyamanan kondisi lingkungan kerja menjadi pemicu terciptanya
    employee engagement. Ada beberapa kondisi lingkungan kerja yang
    diharapkan dapat menciptakan employee engagement. Pertama,
    lingkungan kerja yang memiliki keadilan distributif dan prosedural. Hal
    ini terjadi karena karyawan yang memiliki persepsi bahwa ia mendapat
    keadilan distributif dan prosedural akan berlaku adil pada organisasi
    dengan cara membangun ikatan emosi yang lebih dalam pada
    organisasi. Kedua, lingkungan kerja yang melibatkan karyawan dalam
    pengambilan keputusan. Kondisi ini mempengaruhi karyawan secara
    psikologis, mereka menganggap bahwa mereka berharga bagi
    organisasi. Hal ini membuat karyawan akan semakin terikat dengan
    organisasi. Ketiga, organisasi yang memperhatikan keseimbangan
    kehidupan kerja dan keluarga karyawan. Dalam banyak penelitian
    dijelaskan bahwa ketika konflik antara pekerjaan dan keluarga terjadi,
    karyawan akan cenderung memutuskan keluar dari pekerjaan. Oleh
    karena itu manajer harus menjaga keseimbangan keduanya sehingga
    karyawan merasa bahwa pekerjaan tidak mengancam kehidupan
    keluarganya.
    Sementara oleh Cook (2008) disebutkan faktor-faktor pendrorng
    tingkat engagement karyawan dibagi menjadi 4 elemen dasar, yaitu
    a. Well being
    Keadaan dimana karyawan merasa senang dengan organisasi
    karena organisasi menunjukkan kepedulian terhadap karyawan
    b. Information
    Information berhubungan dengan keadaan apakah perusahaan
    memiliki pandangan yang jelas kemana organisasi berjalan dan apa
    yang ingin dicapai, dan mengkomunikasikan hal tersebut secara
    jelas kepada karyawan merupakan aspek yang penting dalam
    mengikat karyawan
    c. Fairness
    Fairness atau keadilan bisa dilihat dari berbagai aspek perjalanan
    karir seorang karyawan, yang dimulai dari proses recruitment, yang
    mana pengalaman positif mendapatkan posisi tepat, sampai dengan
    proses performance management, dimana karyawan merasakan
    kejelasan terhadap ekspetasi terhadap pekerjaan mereka berikut
    umpan balik yang membangun dan dilakukan secara tepat waktu
    d. Karir dan talent management
    Proses ini berpengaruh terhadap peningkatan engagement
    karyawan, karena dengan adanya rencana pengambangan karyawan
    dan akses untuk mendpatkan training yang sesuai dengan
    kebutuhan mereka telah terbukti merupaka factor yang penting
    untuk meningkatkan budaya engagement seperti yang terungkap
    dalam penelitian Blessing white.
    e. Involvement
    Terjadinya komunikasi dua arah adalah salah satu cirri perusahaan
    yang memiliki tingkat engagement yang tinggi. Menurut penelitian
    yang dilakukan oleh Watson Wyatt World Wide, menemkan
    hubungan yang sangat kuat antara komunikasi di organisasi dengan
    engagement karyawan dan tingkat retention. Mereka juga memiliki
    20% turn over rate yang lebih rendah daripada perusahaan lain.
    Croston (2008) juga menyebutkan bahwa dari berbagai penelitian
    diketahui ada 10 faktor yang merupakan faktor kunci yang mendorong
    engagement karyawan, antara lain:
    a. Perilaku senior leadership
    b. Hubungan dengan atasan langsung
    c. Pekerjaan yang menarik dan menantang
    d. Kesempatan untuk tumbuh dan berkembang
    e. Keterlibatan dalam membuat keputusan
    f. Kewenangan untuk membuat kebijakan
    g. Budaya perusahaan yang kolaboratif
    h. Komunikasi internal yang efektif
    i. Pelatihan yang sesuai
    j. Struktur dan sistem yang mendukung

    Prinsip-Prinsip Dasar Employee Engagement


    Menurut Wiley & Blackwell (2009) employee engagement seorang
    karyawan yang tinggi akan menampilkan kinerja yang sangat baik. Ada 4
    prinsip utama yang menjadi syarat bagi seorang karyawan untuk memiliki
    engagement yaitu:
    a. The Capacity to Engagement
    Menciptakan karyawan yang memiliki keterikatan dibutuhkan
    lingkungan kerja yang tidak hanya bisa meminta lebih, tetapi juga
    menyediakan lahan informasi, kesempatan belajar, dan mampu
    menciptakan keseimbangan kehidupan karyawannya, yaitu dengan
    menciptakan suatu basis untuk menampung energi dan inisiatif
    karyawan.
    b. The Motivation to Engagement
    Engagement muncul ketika karyawan memiliki ketertarikan
    terhadap pekerjaan mereka dan sesuai dengan nilai pribadi mereka, dan
    karyawan diperlakukan dengan cara yang secara alami menimbulkan
    rasa ingin membalas dalam bentuk kebaikan.
    c. The Freedom to Engagement
    Engagement terjadi ketika karyawan merasa aman untuk
    bertindak berdasarkan inisiatif mereka. Oleh karena itu, kepercayaan
    menjadi hal yang paling penting di bawah kondisi sulit, tidak pasti, dan
    kebutuhan untuk berubah, terutama ketika employee engagement itu
    dianggap penting.
    d. The Focus of Strategic Engagement
    Ketika perusahaan menyediakan kesempatan untuk
    berkembang, jenis pekerjaan yang sesuai, pengawasan yang adil dan
    bijaksana, upah yang sesuai, jaminan keamanan, dan seterusnya,
    engagement akan muncul dengan sendirinya karena rasa percaya akan
    prinsip timbal balik.

    Ciri-ciri Employee Engagement


    Menurut Finney (2010) karyawan yang memiliki ikatan dengan
    pekerjaanya memiliki sifat umum yaitu,
    a. Mempercayai misi organisasi mereka
    b. Menyenangi pekerjaan mereka dan memahami kontribusi pekerjaan
    mereka pada tujuan yang lebih besar
    c. Tidak memerlukan pendisiplinan dan mereka hanya memerlukan
    kejelasan, komunikasi dan konsistensi
    d. Selalu meningkatkan kebenaran keterampilan mereka dengan sikap
    positif, fokus, keinginan, antusiasme, kreativitas dan daya tahan
    e. Dapat dipercaya dan saling percaya satu sama lain
    f. Menghormati manajer mereka
    g. Mengetahui bahwa manajer mereka menghormati mereka
    h. Merupakan sumber tetap ide-ide baru yang hebat
    i. Memberikan yang terbaik kepada organisasi
    Menurut Watson (2009) karyawan di kawasan Asia-Pasifik
    menunjukkan kecenderungan terbaginya karyawan menjadi tiga kelompok
    dasar yaitu:
    a. Security Motivated
    Karyawan cenderung bergabung dengan organisasi untuk keamanan
    pekerjaan, memilih berdasarkan karakteristik pekerjaan dan peduli
    dengan kunci masalah gaya hidup seperti keseimbangan kehidupan
    kerja, masa kerja dan hubungan dengan rekan kerja
    b. Financially Motivated
    Karyawan yang termasuk dalam financially motivate didorong oleh
    pertimbangan keuangan. Alasan yang paling sering dikutip bagi
    mereka untuk bergabung adalah basis gaji, diikuti dengan kesempatan
    menerima upah insentif dan manfaat tunjangan kesehatan
    c. Opportunity Motivated
    Karyawan yang menggunakan pengembangan karir, gaji, promosi dan
    insentif sebagai alasan mereka untuk bergabung dengan sebuah
    organisasi dan dibandingkan dengan kelompok pertama dan kedua,
    karyawan ini lebih fokus pada penghargaan jangka panjang.
    Menurut Fredrickson dalam Finney (2010) telah mengidentifikasi tiga
    kategori umum keadaan emosi yang memancarkan kebahagiaan.
    Walaupun sifatnya pribadi, keadaan emosi tersebut berdampak langsung
    ke tempat kerja.

    Jenis-jenis Engagement


    Menurut Wiley & Blackwell (2009) engagement adalah penghayatan
    seorang karyawan terhadap tujuan dan pemusatan energi yang muncul
    dalam bentuk inisiatif, adaptibilitas, usaha, dan kegigihan yang mengarah
    kepada tujuan organisasi. Pada dasarnya, engagement dibagi menjadi dua
    jenis, yaitu perasaan untuk memiliki engagement dan perilaku engagement
    itu sendiri. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut.
    a. The Feel of Engagement
    Ada 4 komponen penting dalam diri karyawan agar memiliki
    engagement. Kombinasi dari empat elemen ini adalah yang membuat
    engagement menjadi baik yaitu,
    1) Urgensi
    Urgensi adalah suatu determinasi dan energi yang mengarah
    kepada satu tujuan. Engagement tidak bisa muncul hanya karena
    suatu energi biasa, tetapi energi yang sudah mengarah kesatu
    tujuan. Urgensi juga diartikan sebagai suatu dorongan yang
    memaksa munculnya suatu perilaku untuk mencapai tujuan. Secara
    konseptual, urgensi memiliki kaitan dengan resiliensi, atau
    kapasitas untuk bangkit setelah mengalami kegagalan. Urgensi
    juga memiliki kaitan dengan kepercayaan diri, yang mencakup
    kepercayaan bahwa seseorang itu pasti bisa mencapai satu tujuan.
    2) Fokus
    Karyawan yang memiliki engagement akan merasa fokus ketika
    bekerja. Pada kondisi yang normal, mereka akan merasa tepat
    sasaran dalam menjalankan pekerjaan dan tidak mudah terdistraksi
    oleh gangguan dari luar, seperti mengobrol dengan rekan kerja,
    berdiskusi mengenai tempat makan siang, cuaca yang buruk, dan
    sebagainya. Agar terciptanya engagement, dibutuhkan perhatian
    yang harus dipertahankan dalam rentang waktu yang lebih lama.
    Hal ini setara dengan kemampuan untuk berkonsentrasi dan terlarut
    dalam pekerjaan, tetapi bukan berarti menjadi terisolasi terhadap
    pekerjaan lain yang bukan menjadi prioritas utama.
    3) Intensitas
    Intesitas diartikan sebagai kedalaman dari konsentrasi. Hal ini
    diarahkan dalam bagian alami dari tuntutan pekerjaan dan tingkat
    kemampuan karyawan yang bersangkutan. Ketika tingkat
    kemampuan cocok dengan tuntutan pekerjaan, karyawan harus
    menggabungkan perhatian dan energi ke dalam pekerjaan tersebut
    agar dapat diselesaikan. Sebaliknya, ketika tingkat kemampuan
    karyawan jauh melebihi tuntutan pekerjaan, maka karyawan
    tersebut akan merasa bosan, sehingga perhatian dan energi mereka
    dapat pindah ke hal lain. Intensitas mengarahkan karyawan untuk
    membuka diri mendekati semua sumber energi yang tersedia.
    4) Antusiasme
    Rasa antusias adalah kondisi psikologis yang secara simultan
    mencakup energi dan kebahagiaan. Hal ini merupakan kondisi
    emosi yang mengacu kepada perasaan positif, dan dikonotasikan
    sebagai positive well-being yang kuat. Ketika kita membayangkan
    tentang antusiasme karyawan, kita akan mendapatkan gambaran
    seorang karyawan yang terlibat secara aktif dalam pekerjaannya.
    Karyawan yang antusias dalam bekerja akan merasa lebih “hidup”
    dan bergairah dalam bekerja. Antusiasme menjadi pusat dari
    perasaan engagement di dalam pekerjaan. Gairah bukan merupakan
    suatu hasil dari energi dan fokus saja, melainkan suatu elemen dari
    keunikan engagement itu sendiri. Antusiasme menjadi alasan
    mengapa engagement dikategorikan sebagai suatu emosi.
    Komponen emosi yang positif itulah yang disebut dengan
    antusiasme.
    b. The Look of Engagement
    Ada empat perilaku utama yang menunjukkan karyawan yang
    memiliki perasaan engagement. Perilaku karyawan yang termasuk
    engagement dapat terlihat berbeda dari apa yang diamati dan
    diharapkan. Perbedaan tersebut dapat dilihat tidak hanya secara
    individual saja tetapi secara keseluruhan dari lingkungan kerja.
    Perilaku tersebut yaitu:
    1) Persistence
    Persistence diartikan sebagai suatu ketekunan. Bentuk perilaku
    mengenai ketekunan paling jelas yang dapat diperlihatkan oleh
    seorang karyawan adalah penyelesaian tugasnya, contohnya adalah
    karyawan yang bekerja keras, dalam jangka waktu yang lama tanpa
    beristirahat, dan dalam jam kerja yang lebih banyak selama hari
    kerja. Ketekunan ini mengikuti faktor energi yang mengarah ke
    tujuan yang sebelumnya dijelaskan sebagai urgensi. Kita dapat
    mengharapkan perilaku tekun ketika karyawan merasa antusias
    dikarenakan mereka percaya bahwa mereka mampu memberikan
    kontribusi terhadap keberhasilan perusahaan. Ketekunan juga akan
    muncul ketika karyawan secara intens fokus sehingga mereka
    memperoleh jalur alternatif untuk mencapai tujuan ketika menemui
    rintangan. Keuntungan dari ketekunan itu sendiri cukup jelas,
    mencakup kualitas kerja yang lebih tinggi, menghasilkan
    pelayanan yang lebih cepat dan tanggap, lebih sedikit
    kebutuhan/tuntutan karyawan, dan biaya yang lebih rendah.
    2) Proactivity
    Satu karakteristik penting dari karyawan yang memiliki
    engagement adalah mereka menjadi proaktif, tidak hanya reaktif,
    atau bahkan pasif. Menjadi proaktif berarti mengambil tindakan
    ketika kebutuhan untuk bertindak muncul pada diri karyawan,
    seperti memperbaiki performa kerja suatu mesin yang mulai
    memperlihatkan penurunan, dari pada hanya diam dan menunggu
    perintah dari atasan, atau inisiatif untuk mengerjakan pekerjaan
    kelompok pada saat anggota kelompok yang lain masih bersantai.
    Hubungan antara engagement dan memperlihatkan perilaku
    proaktif sebenarnya cukup jelas. Pertama, karyawan yang memiliki
    perasaan urgensi dan tingkat konsentrasi yang tinggi terhadap
    pekerjaan mereka akan lebih proaktif. Karyawan yang memiliki
    engagement akan mengambil inisiatif untuk menghindari atau
    mencegah suatu masalah. Kedua, karyawan yang memiliki
    engagement akan lebih banyak menggunakan sumber energi emosi
    dan pikiran mereka dalam pekerjaan, sehingga mereka menjadi
    lebih mungkin untuk mengenali masalah yang potensial, dan
    kebutuhan atau kesempatan untuk bertindak. Terakhir, karyawan
    yang merasa antusias terhadap bagaimana performa kerja mereka
    memengaruhi keberhasilan dari perusahaan dan
    menginternalisasikan tujuan kelompok dan perusahaan akan lebih
    mungkin untuk mendeteksi rintangan yang muncul dalam
    pencapaian tujuan.
    3) Role Expansion
    Role expansion diartikan sebagai perluasan peran kerja. Karyawan
    yang memiliki engagement cenderung akan memperlihatkan peran
    mereka secara lebih luas dan menyeluruh. Jenis perilaku seperti ini
    cukup sering terlihat dalam berbagai variasi, tetapi tidak semua
    perilaku itu memperlihatkan adanya loncatan ke dalam satu tipe
    pekerjaan lain di luar tanggung jawab karyawan yang
    bersangkutan. Role expansion juga mencakup pergantian peran
    kerja dalam jangka panjang atau bahkan menetap. Ada kalanya
    seorang atasan mendelegasikan tanggung jawab dan pekerjaannya
    kepada bawahannya sehingga kompetensi karyawan menjadi lebih
    jelas terlihat, atau sesuai dengan tuntutan perubahan itu sendiri.
    Karakteristik penting dalam role expansion adalah kesediaan untuk
    menerima suatu jenis pekerjaan yang berbeda dari perannya.
    4) Adaptability
    Seorang karyawan yang adaptif akan membantu perusahaannya
    mengantisipasi dan merespon terhadap perubahan dalam lingkup
    persaingan secara lebih cepat, lebih berhasil, dan dengan biaya
    yang lebih kecil. Karyawan yang adaptif akan mengembangkan
    keterampilan baru seiring dengan perubahan tuntutan, sehingga
    mengurangi kebutuhan untuk merekrut karyawan baru

    Keputusan Utama dalam Manajemen Operasional (6)

    Desain Pekerjaan dan Sumber Daya Manusia

    Manusia merupakan unsur penting dalam operasi karena banyak proses masih bergantung pada pengetahuan, keterampilan, koordinasi, kreativitas, dan pengambilan keputusan pekerja. Desain pekerjaan mencakup pembagian tugas, standar kerja, beban kerja, pelatihan, sistem insentif, keselamatan, ergonomi, dan pengembangan kompetensi.

    Prinsip penting dalam desain kerja adalah keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan pekerja. Standardisasi kerja memang dapat meningkatkan konsistensi, tetapi pekerjaan yang terlalu monoton dapat menurunkan motivasi serta meningkatkan kesalahan. Sebaliknya, pekerjaan yang terlalu kompleks tanpa dukungan pelatihan dan sumber daya dapat meningkatkan stres serta menurunkan kualitas.

    Pendekatan modern dalam desain kerja cenderung menekankan:

    • Pelatihan multiketerampilan.
    • Pemberdayaan pekerja dalam pemecahan masalah.
    • Keterlibatan pekerja dalam perbaikan proses.
    • Penggunaan teknologi untuk mendukung, bukan sekadar menggantikan, tenaga kerja.
    • Perancangan kerja yang memperhatikan ergonomi.
    • Pengembangan budaya keselamatan.
    • Pengukuran kinerja yang adil dan transparan.

    Ergonomi sangat penting karena membahas penyesuaian pekerjaan, peralatan, dan lingkungan kerja dengan kemampuan manusia. Penerapan ergonomi dapat mengurangi risiko cedera, kelelahan, kesalahan kerja, dan kecelakaan. Contohnya, tinggi meja kerja, desain kursi, pencahayaan, tingkat kebisingan, posisi layar komputer, dan cara mengangkat beban dapat memengaruhi kesehatan serta produktivitas karyawan.

    Keputusan Utama dalam Manajemen Operasional (5)

    Strategi Tata Letak

    Tata letak atau layout mengatur posisi fisik fasilitas, mesin, peralatan, area kerja, gudang, jalur perpindahan, dan area pelayanan. Tujuan tata letak adalah menciptakan aliran kerja yang lancar, meminimalkan perpindahan yang tidak perlu, meningkatkan keselamatan, memudahkan pengawasan, dan mendukung produktivitas.

    Beberapa jenis tata letak meliputi:

    • Tata letak proses, yaitu pengelompokan fasilitas berdasarkan fungsi yang sejenis. Cocok untuk variasi produk tinggi dan volume rendah.
    • Tata letak produk, yaitu penempatan fasilitas mengikuti urutan proses produksi. Cocok untuk volume tinggi dan produk relatif standar.
    • Tata letak seluler, yaitu pengelompokan mesin atau aktivitas berdasarkan keluarga produk tertentu.
    • Tata letak posisi tetap, yaitu produk tetap di satu tempat, sedangkan pekerja, peralatan, dan bahan bergerak menuju produk.
    • Tata letak ritel, yaitu pengaturan ruang penjualan untuk memengaruhi arus pelanggan, visibilitas produk, serta pengalaman belanja.
    • Tata letak kantor, yaitu pengaturan ruang kerja untuk mendukung aliran informasi, komunikasi, privasi, dan kolaborasi.
    • Tata letak layanan, yaitu penataan fasilitas untuk mempercepat pelanggan memperoleh layanan, misalnya tata letak klinik, bank, atau restoran.

    Tata letak yang buruk dapat menyebabkan kemacetan proses, kelelahan tenaga kerja, kecelakaan kerja, waktu tunggu panjang, biaya perpindahan tinggi, dan penurunan kualitas pelayanan. Oleh sebab itu, perancangan layout harus mempertimbangkan aliran material, aliran informasi, aliran pelanggan, keselamatan, ergonomi, serta fleksibilitas perubahan.

    Employee engagement


    Komitmen terhadap kesuksesan pekerjaan sering disebut sebagai
    employee engagement. Employee engagement merupakan suatu istilah
    yang relatif baru dalam ilmu sumber daya manusia, dimana kata tersebut
    sering digunakan oleh lembaga konsultan yang khusus bergerak dalam
    bidang sumber daya manusia.
    Employee engagement merupakan gagasan dalam perilaku
    organisasi yang menjadi daya tarik dalam beberapa tahun terakhir. Daya
    tarik ini timbul karena employee engagement berpengaruh pada kinerja
    perusahaan secara keseluruhan. Hal ini telah didefinisikan oleh salah satu
    organisasi riset terkemuka sebagai hubungan emosional yang tinggi yang
    seorang karyawan rasakan terhadap organisasinya yang mempengaruhinya
    untuk mengerahkan usaha yang bebas dan lebih besar untuk pekerjaannya.
    (Risher, 2010:74).
    Gallup Oranization menyatakan bahwa karyawan yang mempunyai
    nilai engagement merupakan pekerja yang memiliki keterlibatan secara
    penuh serta antusias terhadap pekerjaan mereka (Tritch, 2003). Selain
    definisi tersebut, pandangan popular dari istilah ini menyatakan bahwa
    employee engagement tidak hanya membuat karyawan memberikan
    kontribusi lebih, namun juga membuat mereka memiliki loyalitas yang
    13
    lebih tinggi sehingga mengurangi keinginan untuk meninggalkan
    perusahaan secara sukarela (Macey & Schneider, 2008).
    Employee engagement menurut Thomas (2007) merupakan suatu
    keadaan psikologis yang stabil dan adalah hasil interaksi antara seorang
    individu dengan lingkungan tempat individu bekerja.
    Menurut Kahn (Nusatria, 2011:4) engagement merupakan gagasan
    multidimensi. Karyawan dapat secara emosi, kognitif, atau fisik terikat.
    Engagement terjadi ketika seseorang secara sadar waspada dan/atau secara
    emosi terhubung dengan orang lain. Disengaged employees, di sisi lain,
    melepaskan diri dari tugas kerja dan menarik diri secara sadar dan penuh
    perasaan (Luthans dan Peterson 2002 dalam Nusatria, 2011:4).
    Conference Board (dalam Vibrayani, 2012:10) meyebutkan bahwa
    engagement pada karyawan adalah sebuah hubungan yang kuat secara
    emosional dan intelektual yang dimiliki oleh karyawan terhadap
    pekerjaannya, organisasi, manajer atau rekan kerja, yang pada gilirannya,
    akan mempengaruhi dia untuk memberikan upaya lebih pada pekerjaanya

      Keputusan Utama dalam Manajemen Operasional (4)

      Strategi Lokasi

      Keputusan lokasi menentukan tempat organisasi menjalankan aktivitas operasional. Lokasi dapat memengaruhi biaya transportasi, akses ke bahan baku, kedekatan dengan pasar, ketersediaan tenaga kerja, pajak, infrastruktur, keamanan, regulasi, dan risiko bencana.

      Pada manufaktur, perusahaan mungkin memilih lokasi yang dekat dengan sumber bahan baku, pelabuhan, pemasok, atau pusat distribusi. Pada jasa, lokasi sering kali dipilih berdasarkan aksesibilitas pelanggan. Contohnya, restoran, klinik, bank, pusat perbelanjaan, dan kampus cenderung membutuhkan lokasi yang mudah dijangkau pelanggan.

      Dalam ekonomi digital, keputusan lokasi juga mencakup lokasi pusat data, gudang pemenuhan pesanan, titik distribusi last-mile, serta desain jaringan layanan. Perusahaan digital dapat menjual produk tanpa banyak gerai fisik, tetapi tetap membutuhkan jaringan operasi yang kuat agar mampu mengirim produk cepat dan menangani pengembalian dengan efisien.

      Pengaruh Digital Engagement Terhadap Purchase Intention


      Hasil penelitian (Pambudi et al., 2023)Digital engagement berpengaruh
      positif dan signifikan terhadap purchase intention. Semakin tinggi keterlibatan
      konsumen secara kognitif dan emosional terhadap suatu produk, maka semakin
      besar kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian. Keterlibatan tersebut
      mendorong munculnya ketertarikan, kebutuhan, serta niat untuk membeli dan
      merekomendasikan produk.
      Temuan ini sejalan dengan Wachter et al. (2013) dan Anubha et al. (2020)
      yang menyatakan bahwa keterlibatan pelanggan yang tinggi akan meningkatkan
      niat pembelian.

      Pengaruh Influencer Marketing Terhadap Digital Engagement


      Pada Penelitian (Gross & Von Wangenheim, 2022) dan (Evania et al., 2023)
      Influencer marketing terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase
      intention. Kredibilitas, daya tarik, dan kepercayaan terhadap influencer menjadi
      faktor utama yang mendorong audiens menerima pesan promosi. Ketika influencer
      dianggap jujur, kompeten, dan sesuai dengan produk yang dipromosikan, konsumen
      cenderung membentuk sikap positif terhadap merek dan meningkatkan niat beli.
      Selain itu, kedekatan emosional antara influencer dan pengikutnya juga
      memperkuat pengaruh rekomendasi yang diberikan

      Keputusan Utama dalam Manajemen Operasional (3)

      Desain Proses dan Kapasitas

      Desain proses adalah keputusan mengenai bagaimana produk atau jasa akan dihasilkan. Keputusan ini mencakup urutan aktivitas, teknologi, peralatan, tingkat otomatisasi, tata letak, jumlah tenaga kerja, dan standar kerja.

      Tipe proses umumnya dapat dikelompokkan menjadi:

      • Proses proyek, yaitu proses untuk menghasilkan produk unik dengan volume rendah dan variasi tinggi, seperti pembangunan gedung, produksi film, atau proyek konsultasi.
      • Proses batch, yaitu proses produksi dalam kelompok atau lot tertentu, seperti percetakan, produksi roti, dan industri farmasi.
      • Proses lini atau repetitive process, yaitu proses dengan volume tinggi serta variasi rendah, seperti perakitan kendaraan.
      • Proses kontinu, yaitu proses yang berjalan terus-menerus dengan standar tinggi, seperti produksi semen, minyak, bahan kimia, dan listrik.
      • Proses jasa profesional, yaitu layanan dengan kustomisasi tinggi dan keterlibatan tenaga ahli, seperti layanan hukum, konsultasi, atau kesehatan spesialis.
      • Proses jasa massal, yaitu layanan bervolume tinggi dengan tingkat standardisasi relatif besar, seperti perbankan ritel, transportasi umum, dan layanan call center.

      Kapasitas adalah kemampuan maksimum sistem operasi dalam menghasilkan output selama periode tertentu. Pengelolaan kapasitas penting karena kapasitas terlalu kecil dapat menyebabkan kehilangan penjualan, waktu tunggu panjang, dan ketidakpuasan pelanggan. Sebaliknya, kapasitas terlalu besar dapat meningkatkan biaya tetap dan menurunkan tingkat pemanfaatan aset.

      Perencanaan kapasitas perlu memperhatikan ramalan permintaan, teknologi, investasi, ketersediaan tenaga kerja, fleksibilitas fasilitas, dan risiko perubahan pasar. Keputusan kapasitas dapat bersifat jangka panjang, seperti membangun pabrik atau rumah sakit baru, maupun jangka pendek, seperti menambah jam kerja, menggunakan tenaga kontrak, atau melakukan outsourcing.

      Pengaruh Content Marketing Terhadap Digital Engagement


      Penelitian terdahulu (Larissa, 2020) dan (Saputri, 2024) menunjukkan bahwa
      content marketing berpengaruh positif dan signifikan terhadap customer
      engagement. Konten yang relevan, informatif, dan bernilai mampu menciptakan
      interaksi antara perusahaan dan konsumen serta membentuk persepsi positif
      terhadap merek. Persepsi tersebut mendorong keterlibatan konsumen dalam bentuk
      perhatian, partisipasi, dan interaksi aktif di media digita

      Keputusan Utama dalam Manajemen Operasional (2)

      Manajemen Kualitas

      Manajemen kualitas meliputi perencanaan, pengendalian, penjaminan, dan peningkatan kualitas. Organisasi harus menentukan standar mutu, menetapkan metode pengukuran, memantau proses, mengidentifikasi penyebab masalah, dan melakukan perbaikan.

      Total Quality Management atau TQM merupakan pendekatan manajemen yang menekankan kualitas sebagai tanggung jawab seluruh organisasi. TQM mengutamakan orientasi pelanggan, keterlibatan karyawan, perbaikan berkelanjutan, pengambilan keputusan berbasis data, dan hubungan jangka panjang dengan pemasok. Tokoh seperti Deming, Juran, dan Crosby memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pemikiran kualitas.

      Deming menekankan pentingnya sistem, variasi proses, pembelajaran organisasi, dan perbaikan berkelanjutan. Ia juga memperkenalkan siklus Plan-Do-Check-Act atau PDCA sebagai pendekatan sistematis untuk memperbaiki proses (Deming, 1986). Siklus tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

      1. Plan: Mengidentifikasi masalah, menentukan tujuan, dan menyusun rencana perbaikan.
      2. Do: Menerapkan rencana dalam skala terbatas atau sesuai rancangan.
      3. Check: Mengevaluasi hasil dan membandingkannya dengan target.
      4. Act: Menetapkan perbaikan sebagai standar baru atau menyusun tindakan korektif tambahan.

      Manajemen kualitas juga menggunakan alat statistik, seperti diagram sebab-akibat, histogram, diagram Pareto, peta kendali, diagram pencar, dan lembar pemeriksaan. Alat tersebut membantu organisasi memahami sumber variasi, mengidentifikasi masalah dominan, serta menentukan prioritas perbaikan.

      Pengertian Purchase Intention


      Menurut Mahendra & Nugroho 2021 dalam Hashina Izzaty & Nur Utami
      (2024) menyatakan bahwa minat beli adalah keinginan membeli yang timbul ketika
      seseorang terpengaruh oleh kualitas dan informasi produk.
      Pembelian yang dilakukan oleh konsumen terhadap suatu produk didasari
      oleh minat beli konsumen terhadap produk tersebut Priyanti et al
      2022 dalam Hashina Izzaty & Nur Utami (2024).
      Niat Pembelian Pelanggan adalah kecenderungan konsumen untuk
      melakukan pembelian setelah berinteraksi dengan suatu produk atau layanan
      (Padmasari et al., 2025).
      Menelik Kotler dan Armstrong (2018:177) dalam Firdausi (2024) keputusan
      pembelian merupakan perilaku konsumen mengenai cara seseorang maupu
      organisasi dalam menentukan, melakukan pembelian, memakai produk, jasa,
      gagasan atau pengalaman dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya.
      Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
      Purcahse Intention (Minat beli) adalah keinginan seseorang untuk membeli produk
      tertentu, yang muncul setelah dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas
      produk itu sendiri, informasi yang diterima, serta pengalaman dan pertimbangan
      konsumen terhadap merek atau produk yang ada di pasaran.
      Menurut Priyanti et al dalam penelitian Hashina Izzaty & Nur Utami (2024)
      , ada empat indikator yang digunakan untuk mengukur Purchase Intention, yaitu
      minat transaksional, minat referensial, minat preferensial, dan minat eksploratif.

      1. Minat Transaksional: Kecenderungan seseorang untuk benar-benar
        melakukan pembelian produk. Indikator ini menunjukkan niat kuat konsumen
        untuk menukar uang mereka dengan produk yang ditawarkan.
      2. Minat Referensial: Kecenderungan seseorang untuk merekomendasikan
        produk yang ia minati kepada orang lain. Minat ini muncul karena adanya
        kepercayaan atau kesan positif terhadap produk tersebut.
      3. Minat Preferensial: Minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang
        memiliki preferensi utama pada produk tersebut. Artinya, konsumen menjadikan
        produk ini sebagai pilihan utama dibandingkan produk pesaing lainnya.
      4. Minat Eksploratif: Kecenderungan seseorang untuk mencari informasi
        lebih mendalam mengenai produk yang diminati. Hal ini menunjukkan ketertarikan
        konsumen untuk mendukung atau memperkuat alasan mereka sebelum melakukan
        pembelian.

      Keputusan Utama dalam Manajemen Operasional (1)

      Heizer, Render, dan Munson mengidentifikasi sepuluh keputusan strategis dalam manajemen operasional. Keputusan tersebut menggambarkan area penting yang harus dikelola agar operasi dapat mendukung strategi organisasi (Heizer et al., 2020).repository.widyatama.ac+1

      Desain Barang dan Jasa

      Keputusan desain berkaitan dengan penentuan karakteristik produk atau jasa yang akan ditawarkan kepada pelanggan. Desain perlu mempertimbangkan kebutuhan pelanggan, fungsi produk, kualitas, biaya, keamanan, kemudahan penggunaan, dampak lingkungan, serta kemampuan organisasi untuk memproduksi atau menyediakan layanan secara konsisten.

      Desain produk yang buruk dapat meningkatkan biaya produksi, memperbesar kemungkinan cacat, menyulitkan perakitan, atau menurunkan kepuasan pelanggan. Sebaliknya, desain yang baik dapat meningkatkan efisiensi, kualitas, kemudahan pemeliharaan, dan nilai pelanggan.

      Dalam jasa, desain mencakup rancangan alur pelayanan, titik kontak pelanggan, waktu layanan, fasilitas pendukung, sistem antrean, prosedur penanganan keluhan, serta pengalaman pelanggan. Contohnya, desain layanan rumah sakit tidak hanya menyangkut tindakan medis, tetapi juga prosedur registrasi, waktu tunggu, informasi kepada pasien, privasi, kebersihan, dan proses pembayaran.

      Pengertian Digital Engagement


      Engagement adalah konsep yang mulai dikenal secara luas sejak tahun 2010
      dan memiliki berbagai penjelasan dari para peneliti yang berbeda. Secara umum,
      customer engagement merujuk pada cara pelanggan terlibat melalui pengalaman
      dan interaksi yang memengaruhi keputusan mereka dalam membeli produk atau
      layanan. Menurut Brodie et al. 2011 dalam (Ratnawati & Sanaji, 2024), engagement
      dapat diartikan sebagai kondisi psikologis dasar yang muncul dari pengalaman
      interaksi yang dialami oleh konsumen.
      So et al. 2014 dalam Ratnawati & Sanaji (2024) mengidentifikasi lima
      dimensi customer engagement, yaitu identification (hubungan emosional dengan
      merek), enthusiasm (kegembiraan dan minat terhadap merek), attention (fokus
      konsumen terhadap informasi tentang merek), absorption (keterlibatan penuh dan
      konsentrasi dengan merek), dan interaction (partisipasi aktif, baik online maupun
      offline).

      1. Identification: Tingkat di mana konsumen merasa memiliki hubungan
        emosional yang kuat atau kesamaan nilai dengan sebuah merek, sehingga mereka
        merasa menjadi bagian dari identitas merek tersebut.
      2. Enthusiasm: Merupakan perasaan gembira, semangat, dan minat yang
        besar dari konsumen dalam berinteraksi atau menggunakan produk dari merek
        tersebut.
      3. Attention: Fokus mental dan konsentrasi konsumen dalam menyerap
        berbagai informasi atau konten yang berkaitan dengan merek, yang menunjukkan
        tingkat kepedulian mereka.
      4. Absorption: Keadaan di mana konsumen merasa terlibat sepenuhnya dan
        terhanyut secara mendalam saat berinteraksi dengan merek, hingga sering kali lupa
        dengan waktu atau keadaan di sekitarnya.
      5. Interaction: Bentuk partisipasi aktif konsumen secara nyata, baik melalui
        komunikasi dua arah di media sosial (online) maupun kegiatan langsung (offline)
        yang melibatkan merek tersebut

      Pengertian Content Marketing


      Pemasaran konten adalah kegiatan menerbitkan konten yang
      memberdayakan, mengajak berinteraksi, mendidik, dan terhubung dengan pembaca
      (Murdiani et al., 2025).
      Content marketing dapat membantu perusahaan meningkatkan perhatian
      konsumen serta membangun loyalitas terhadap merek apabila diterapkan dengan
      baik menurut Chandra & Sari, 2021 dalam Oktaviani et al (2025)
      Content marketing adalah cara promosi yang digunakan untuk membuat dan
      menyebarkan materi yang berguna, menarik, bernilai, dan bisa membuat pemirsa
      tertarik, sehingga mendorong tindakan dari konsumen (Bharata et al., 2024).
      Menurut Gunelius Prasetya et al (2021), content marketing adalah proses
      mempromosikan bisnis atau merek baik secara langsung maupun tidak langsung
      melalui konten teks, video, atau audio yang bernilai tambah baik secara online
      maupun offline

      Perbedaan Manajemen Operasional Manufaktur dan Jasa

      Walaupun prinsip dasar manajemen operasional berlaku untuk semua organisasi, terdapat perbedaan penting antara operasi manufaktur dan operasi jasa. Perbedaan tersebut berpengaruh terhadap desain proses, pengendalian kualitas, persediaan, kapasitas, dan hubungan dengan pelanggan.

      AspekManufakturJasa
      Bentuk outputUmumnya berwujudUmumnya tidak berwujud
      Produksi dan konsumsiDapat dipisahkanSering berlangsung bersamaan
      PersediaanProduk dapat disimpanJasa tidak dapat disimpan dalam bentuk persediaan
      Keterlibatan pelangganBiasanya lebih rendahUmumnya lebih tinggi
      Pengukuran kualitasLebih mudah melalui spesifikasi fisikLebih subjektif dan dipengaruhi pengalaman pelanggan
      Lokasi operasiDapat dekat bahan baku atau pusat distribusiSering harus dekat pelanggan
      StandardisasiCenderung lebih mudahLebih sulit karena variasi interaksi pelanggan
      Variabilitas prosesRelatif lebih terkendaliTinggi karena bergantung pada pelanggan dan tenaga layanan

      Dalam manufaktur, perusahaan dapat memproduksi barang terlebih dahulu dan menyimpannya sebagai persediaan untuk memenuhi permintaan mendatang. Dalam jasa, kapasitas yang tidak digunakan pada suatu waktu biasanya hilang. Kursi pesawat yang kosong, kamar hotel yang tidak terjual, jadwal dokter yang tidak terisi, dan meja restoran yang kosong pada jam makan merupakan kapasitas jasa yang tidak dapat disimpan untuk dijual kembali pada hari berikutnya.

      Karena itu, organisasi jasa sering menggunakan strategi manajemen permintaan dan kapasitas. Contohnya meliputi sistem reservasi, penetapan harga berbeda berdasarkan waktu, promosi pada periode sepi, penambahan tenaga kerja paruh waktu, penggunaan layanan mandiri berbasis teknologi, serta pembagian jalur layanan berdasarkan tingkat kebutuhan pelanggan.

      Peran Strategis Manajemen Operasional

      Manajemen operasional bukan sekadar fungsi teknis untuk memastikan kegiatan harian berjalan. Dalam organisasi modern, operasi merupakan sumber keunggulan kompetitif. Strategi operasi menjelaskan bagaimana organisasi menggunakan kemampuan proses, teknologi, sumber daya, dan jaringan pasok untuk mendukung strategi bisnis.

      Slack dan Brandon-Jones menekankan bahwa operasi dapat bersaing melalui lima sasaran kinerja utama, yaitu kualitas, kecepatan, keandalan, fleksibilitas, dan biaya (Slack & Brandon-Jones, 2022). Kelima sasaran tersebut saling berhubungan dan sering menimbulkan trade-off.

      Sasaran kinerjaMaknaContoh
      KualitasKemampuan menghasilkan produk atau jasa sesuai standar dan harapan pelangganProduk makanan aman, layanan administrasi akurat
      KecepatanKemampuan menyelesaikan dan memberikan layanan dengan cepatPengiriman pesanan pada hari yang sama
      KeandalanKemampuan memenuhi janji secara konsistenPesanan tiba sesuai jadwal yang dijanjikan
      FleksibilitasKemampuan merespons perubahan produk, volume, atau kebutuhan pelangganProduksi variasi desain berdasarkan pesanan
      BiayaKemampuan menghasilkan output dengan biaya kompetitifPengurangan biaya produksi melalui perbaikan proses

      Misalnya, perusahaan ritel daring dapat bersaing melalui kecepatan pengiriman dan keandalan informasi stok. Rumah sakit dapat bersaing melalui kualitas klinis, keselamatan pasien, kecepatan respons, dan empati pelayanan. Perguruan tinggi dapat meningkatkan daya saing melalui mutu pembelajaran, respons administrasi, fleksibilitas pembelajaran digital, serta relevansi lulusan dengan dunia kerja.

      Strategi operasi harus selaras dengan strategi bisnis. Apabila perusahaan memilih strategi diferensiasi berbasis kualitas premium, maka operasi harus mendukung standar bahan baku, desain, pengendalian kualitas, keterampilan tenaga kerja, dan layanan purnajual yang tinggi. Apabila perusahaan memilih strategi biaya rendah, maka operasi perlu berfokus pada skala ekonomi, standardisasi, otomatisasi, efisiensi proses, dan pengendalian biaya.

      Penyelarasan strategi bisnis dan operasi penting karena keputusan operasi biasanya bersifat jangka panjang serta membutuhkan investasi besar. Keputusan mengenai lokasi pabrik, pemilihan teknologi, kapasitas fasilitas, desain rantai pasok, dan sistem informasi tidak mudah diubah dalam waktu singkat. Kesalahan dalam keputusan strategis dapat menimbulkan biaya tinggi dan mengurangi kemampuan organisasi untuk merespons pasar.

      Tujuan Manajemen Operasional (7)

      Mendukung Keberlanjutan

      Manajemen operasional modern semakin menekankan keberlanjutan. Organisasi perlu mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan dari keputusan operasionalnya. Pendekatan ini sering dikaitkan dengan konsep triple bottom line, yaitu keseimbangan antara profit, people, dan planet (Elkington, 1997).

      Penerapan operasi berkelanjutan dapat meliputi:

      • Pengurangan penggunaan energi dan air.
      • Pengelolaan limbah dan daur ulang.
      • Penggunaan bahan baku ramah lingkungan.
      • Pengurangan emisi karbon dalam transportasi dan distribusi.
      • Pengadaan yang memperhatikan etika serta keberlanjutan pemasok.
      • Keselamatan dan kesehatan kerja.
      • Pengurangan kemasan berlebihan.
      • Pengembangan produk yang tahan lama dan mudah diperbaiki.

      Tujuan Manajemen Operasional (6)

      Menjamin Ketepatan Waktu

      Kecepatan dan keandalan pengiriman merupakan faktor penting dalam manajemen operasional. Pelanggan tidak hanya menilai kualitas produk, tetapi juga waktu penerimaan produk atau layanan. Keterlambatan dapat menurunkan kepuasan pelanggan, menimbulkan biaya tambahan, mengganggu rantai pasok, dan melemahkan kepercayaan.

      Ketepatan waktu sangat penting pada berbagai sektor:

      • Rumah sakit membutuhkan respons cepat dalam pelayanan darurat.
      • Perusahaan logistik perlu memenuhi jadwal pengiriman.
      • Restoran harus menyajikan makanan dalam waktu yang wajar.
      • Perguruan tinggi harus menyediakan layanan administrasi sesuai jadwal akademik.
      • Perusahaan manufaktur harus mengirimkan komponen tepat waktu kepada pelanggan.
      • Layanan digital harus menjamin akses sistem yang cepat dan stabil.

      Tujuan Manajemen Operasional (5)

      Meningkatkan Fleksibilitas

      Fleksibilitas adalah kemampuan sistem operasi untuk beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan pelanggan, volume permintaan, variasi produk, teknologi, serta gangguan rantai pasok. Dalam pasar yang dinamis, organisasi tidak cukup hanya murah dan berkualitas; organisasi juga perlu mampu merespons perubahan secara cepat.

      Fleksibilitas dapat berupa:

      • Fleksibilitas volume, yaitu kemampuan menaikkan atau menurunkan kapasitas produksi.
      • Fleksibilitas produk, yaitu kemampuan menghasilkan variasi produk.
      • Fleksibilitas proses, yaitu kemampuan menggunakan proses alternatif ketika terjadi gangguan.
      • Fleksibilitas tenaga kerja, yaitu kemampuan pekerja mengerjakan lebih dari satu jenis tugas.
      • Fleksibilitas pasokan, yaitu kemampuan memperoleh bahan dari sumber alternatif.
      • Fleksibilitas teknologi, yaitu kemampuan menyesuaikan sistem digital dan otomatisasi terhadap kebutuhan baru.

      Tujuan Manajemen Operasional (4)

      Meningkatkan Produktivitas

      Produktivitas menunjukkan perbandingan antara output yang dihasilkan dengan input yang digunakan. Secara sederhana, produktivitas dapat dirumuskan sebagai berikut:

      Produktivitas=OutputInput\text{Produktivitas} = \frac{\text{Output}}{\text{Input}}Produktivitas=InputOutput​

      Produktivitas meningkat apabila organisasi mampu menghasilkan output lebih besar dengan jumlah input yang sama, atau menghasilkan output yang sama dengan input lebih sedikit. Misalnya, perusahaan mampu meningkatkan jumlah produk jadi per jam kerja, mempercepat waktu pelayanan tanpa menurunkan kualitas, atau menekan penggunaan bahan baku melalui perbaikan desain proses.

      Produktivitas perlu dibedakan dari intensitas kerja. Meningkatkan produktivitas bukan sekadar meminta pekerja bekerja lebih keras atau lebih lama. Peningkatan produktivitas yang berkelanjutan biasanya berasal dari perbaikan metode kerja, teknologi, desain proses, pelatihan, koordinasi, kualitas bahan, dan pengurangan pemborosan.

      Tujuan Manajemen Operasional (3)

      Menjamin Kualitas

      Kualitas merupakan salah satu tujuan utama operasi karena kualitas menentukan kepuasan pelanggan, reputasi organisasi, biaya kegagalan, dan daya saing. Kualitas tidak hanya berarti produk bebas cacat, tetapi juga kesesuaian dengan kebutuhan pelanggan.

      Garvin mengemukakan beberapa dimensi kualitas, antara lain kinerja, fitur, keandalan, kesesuaian terhadap spesifikasi, daya tahan, kemudahan perbaikan, estetika, dan persepsi kualitas (Garvin, 1987). Dalam jasa, dimensi kualitas dapat mencakup keandalan, daya tanggap, jaminan, empati, dan bukti fisik (Parasuraman et al., 1988).

      Kualitas yang baik akan menghasilkan beberapa manfaat:

      • Mengurangi biaya perbaikan dan pengulangan kerja.
      • Menurunkan jumlah produk cacat dan pengembalian produk.
      • Meningkatkan kepuasan serta loyalitas pelanggan.
      • Memperkuat citra dan reputasi organisasi.
      • Mengurangi risiko hukum dan keluhan konsumen.
      • Meningkatkan produktivitas serta efisiensi jangka panjang.

      Tujuan Manajemen Operasional (2)

      Mencapai Efektivitas

      Efektivitas merujuk pada kemampuan organisasi mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Operasi dianggap efektif apabila dapat menghasilkan produk atau jasa yang tepat, sesuai spesifikasi, memenuhi harapan pelanggan, dan tersedia pada waktu yang dibutuhkan.

      Suatu perusahaan dapat dikatakan efisien tetapi tidak efektif apabila mampu menghasilkan produk dengan biaya rendah, tetapi produk tersebut tidak sesuai kebutuhan pasar. Sebaliknya, perusahaan dapat efektif tetapi tidak efisien apabila berhasil memenuhi kebutuhan pelanggan, namun menggunakan biaya yang terlalu tinggi. Manajemen operasional yang baik perlu menyeimbangkan keduanya.

      Tujuan Manajemen Operasional (1)

      Tujuan utama manajemen operasional adalah menciptakan nilai secara efektif dan efisien. Namun, tujuan tersebut dapat diuraikan menjadi sejumlah sasaran yang lebih operasional.

      Mencapai Efisiensi

      Efisiensi berkaitan dengan kemampuan organisasi menggunakan sumber daya secara optimal. Organisasi yang efisien berusaha meminimalkan pemborosan bahan, waktu, tenaga, energi, kapasitas, serta biaya tanpa menurunkan standar kualitas.

      Efisiensi dapat dicapai melalui beberapa cara:

      • Mengurangi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah.
      • Menurunkan tingkat cacat produk.
      • Mengoptimalkan penggunaan mesin dan fasilitas.
      • Mengurangi waktu tunggu serta waktu perpindahan.
      • Memperbaiki aliran kerja.
      • Mengendalikan persediaan secara tepat.
      • Menyusun jadwal kerja yang realistis.
      • Menggunakan teknologi untuk otomatisasi proses rutin.
      • Meningkatkan keterampilan dan produktivitas pekerja.

      Dalam pendekatan lean management, pemborosan atau waste menjadi fokus utama perbaikan. Pemborosan dapat berupa produksi berlebih, waktu menunggu, perpindahan yang tidak perlu, persediaan berlebih, proses berlebihan, cacat, serta pemanfaatan kompetensi karyawan yang belum optimal (Womack & Jones, 2003).

      Sistem Transformasi dalam Operasi (4)

      Umpan Balik dan Pengendalian

      Umpan balik merupakan informasi mengenai hasil aktual proses operasi. Informasi tersebut digunakan untuk membandingkan kinerja aktual dengan standar yang telah ditetapkan. Jika terdapat penyimpangan, organisasi perlu melakukan tindakan korektif.

      Contoh umpan balik dalam operasi meliputi:

      • Tingkat produk cacat.
      • Jumlah keluhan pelanggan.
      • Waktu tunggu pelayanan.
      • Ketepatan pengiriman.
      • Tingkat pemakaian kapasitas.
      • Tingkat persediaan.
      • Biaya produksi per unit.
      • Produktivitas tenaga kerja.
      • Tingkat kecelakaan kerja.
      • Kepuasan pelanggan.
      • Tingkat pengembalian produk.
      • Tingkat keterlambatan proses.

      Pengendalian operasi merupakan aktivitas penting karena perubahan kecil dalam proses dapat menyebabkan dampak besar terhadap biaya, mutu, atau kepuasan pelanggan. Misalnya, keterlambatan bahan baku dapat menghambat jadwal produksi. Kesalahan input data dalam layanan digital dapat menyebabkan gangguan transaksi. Kegagalan pengendalian kualitas pada rumah sakit dapat membahayakan keselamatan pasien. Karena itu, sistem operasi memerlukan indikator kinerja yang relevan, akurat, dan dapat ditindaklanjuti.

      Sistem Transformasi dalam Operasi (3)

      Output

      Output adalah hasil dari sistem operasi. Output dapat berupa barang berwujud, jasa tidak berwujud, informasi, pengalaman pelanggan, atau dampak sosial. Keluaran yang baik tidak hanya dinilai dari jumlahnya, tetapi juga berdasarkan kesesuaian dengan spesifikasi mutu, ketepatan waktu, biaya, keamanan, dan kepuasan pelanggan.

      Pada perusahaan manufaktur, output dapat berupa produk jadi atau barang setengah jadi. Pada perguruan tinggi, output dapat berupa lulusan, penelitian, publikasi, kompetensi mahasiswa, dan layanan pengetahuan. Pada institusi pemerintah, output dapat berupa dokumen perizinan, layanan kependudukan, pelayanan sosial, infrastruktur publik, atau kebijakan yang dapat diakses masyarakat. Pada rumah sakit, output dapat berupa diagnosis, tindakan medis, pemulihan pasien, keselamatan pasien, dan kualitas pengalaman pelayanan.

      Sistem Transformasi dalam Operasi (2)

      Proses Transformasi

      Proses transformasi adalah kegiatan yang mengubah input menjadi output. Transformasi dapat berlangsung secara fisik, lokasi, pertukaran, penyimpanan, fisiologis, informasional, maupun psikologis.

      • Transformasi fisik terjadi ketika bahan mentah diubah menjadi produk baru, seperti kayu menjadi mebel atau kapas menjadi pakaian.
      • Transformasi lokasi terjadi ketika barang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, seperti layanan logistik dan transportasi.
      • Transformasi pertukaran terjadi dalam kegiatan ritel, perbankan, perdagangan, dan e-commerce.
      • Transformasi penyimpanan terjadi ketika organisasi menyediakan tempat penyimpanan barang untuk digunakan pada waktu yang diperlukan.
      • Transformasi fisiologis terjadi pada layanan kesehatan, kecantikan, kebugaran, dan perawatan medis.
      • Transformasi informasional terjadi pada lembaga pendidikan, media, konsultan, perangkat lunak, dan penyedia data.
      • Transformasi psikologis terjadi pada industri hiburan, pariwisata, pendidikan, dan layanan konseling.

      Dalam praktiknya, suatu organisasi sering menjalankan lebih dari satu bentuk transformasi. Sebagai contoh, perusahaan e-commerce tidak hanya memproses transaksi informasi, tetapi juga mengelola penyimpanan, pengemasan, transportasi, pembayaran, layanan pelanggan, dan retur produk.

      Sistem Transformasi dalam Operasi (1)

      Sistem transformasi merupakan inti dari manajemen operasional. Sistem ini menjelaskan bagaimana organisasi mengolah masukan menjadi keluaran yang bernilai. Dalam kerangka sederhana, sistem operasi terdiri atas input, proses transformasi, output, umpan balik, dan lingkungan eksternal.

      Input

      Input adalah seluruh sumber daya yang dibutuhkan organisasi untuk menghasilkan produk atau jasa. Input tidak hanya berupa bahan baku, tetapi juga mencakup sumber daya fisik dan nonfisik. Komponen input antara lain:

      • Bahan baku dan komponen pendukung.
      • Tenaga kerja, baik tenaga operasional, teknis, administratif, maupun manajerial.
      • Modal dan dana operasional.
      • Mesin, peralatan, gedung, teknologi, serta infrastruktur.
      • Energi, seperti listrik, bahan bakar, air, dan jaringan telekomunikasi.
      • Informasi mengenai permintaan pelanggan, desain produk, jadwal produksi, dan kondisi pasar.
      • Metode kerja, prosedur standar, dan pengetahuan organisasi.
      • Waktu yang tersedia untuk menghasilkan serta menyerahkan produk atau jasa.
      • Kapasitas manajerial untuk mengoordinasikan aktivitas operasi.

      Dalam organisasi jasa, pelanggan juga dapat menjadi bagian dari input proses. Misalnya, dalam pendidikan, mahasiswa membawa kebutuhan belajar, pengetahuan awal, waktu, dan partisipasi aktif ke dalam proses pembelajaran. Dalam layanan kesehatan, pasien menjadi subjek utama yang menerima sekaligus berpartisipasi dalam proses pelayanan.

      Unsur utama dalam konsep manajemen operasional.

      Berdasarkan definisi tersebut, terdapat beberapa unsur utama dalam konsep manajemen operasional.

      UnsurPenjelasan
      TransformasiProses perubahan input menjadi output melalui aktivitas produksi atau pelayanan
      Penciptaan nilaiKemampuan proses operasi menghasilkan manfaat, kualitas, utilitas, atau pengalaman bagi pelanggan
      Pengambilan keputusanPenetapan keputusan mengenai desain produk, kapasitas, lokasi, kualitas, persediaan, tenaga kerja, dan teknologi
      EfisiensiKemampuan menggunakan sumber daya secara hemat dan produktif
      EfektivitasKemampuan menghasilkan keluaran sesuai target, spesifikasi, dan kebutuhan pelanggan
      PengendalianProses memantau kesesuaian kinerja aktual dengan rencana serta melakukan tindakan korektif
      Perbaikan berkelanjutanUpaya sistematis untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, biaya, kecepatan, dan fleksibilitas operasi
      Orientasi pelangganPenyesuaian proses dan keluaran terhadap harapan, kebutuhan, serta pengalaman pelanggan

      Hakikat manajemen operasional terletak pada pengelolaan proses. Proses merupakan sekumpulan aktivitas yang saling berhubungan untuk mengubah input menjadi output. Sebagai contoh, pada industri makanan, bahan baku seperti tepung, gula, minyak, tenaga kerja, mesin, resep, dan energi diproses melalui tahap pencampuran, pemasakan, pengemasan, pengujian mutu, penyimpanan, dan distribusi hingga menjadi produk siap jual. Pada rumah sakit, input berupa tenaga medis, obat, fasilitas, peralatan diagnostik, data pasien, dan waktu pelayanan diproses melalui registrasi, pemeriksaan, diagnosis, pengobatan, tindakan medis, serta administrasi hingga menghasilkan layanan kesehatan.

      Perbedaan utama antara organisasi manufaktur dan jasa terletak pada karakteristik output serta tingkat keterlibatan pelanggan dalam proses operasi. Barang umumnya bersifat berwujud, dapat disimpan sebagai persediaan, dan sering kali diproduksi sebelum dikonsumsi. Sebaliknya, jasa bersifat tidak berwujud, sulit disimpan, sering diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan, serta melibatkan interaksi yang lebih tinggi antara penyedia dan pelanggan. Walaupun demikian, kedua bentuk organisasi tersebut sama-sama membutuhkan manajemen operasional yang baik

      Pengertian dan Hakikat Manajemen Operasional

      Manajemen operasional merupakan pengembangan, penerapan, dan pengendalian kegiatan yang mentransformasikan sumber daya menjadi barang atau jasa. Dalam perspektif ini, operasi dipahami sebagai sistem yang bekerja secara terpadu untuk menghasilkan keluaran bernilai. Russell dan Taylor menjelaskan bahwa manajemen operasional mencakup aktivitas merancang, mengoperasikan, dan memperbaiki sistem yang menghasilkan barang atau menyediakan jasa (Russell & Taylor, 2019).

      Beberapa definisi manajemen operasional dapat dipahami sebagai berikut.

      • Manajemen operasional adalah aktivitas penciptaan nilai melalui transformasi sumber daya menjadi barang dan jasa (Heizer et al., 2020).
      • Manajemen operasional merupakan pengelolaan sistem atau proses yang bertanggung jawab menghasilkan serta menyerahkan barang dan jasa kepada pelanggan (Stevenson, 2021).
      • Manajemen operasional mencakup perancangan, pengoperasian, pemeliharaan, dan perbaikan sistem produksi barang maupun jasa (Russell & Taylor, 2019).
      • Manajemen operasional adalah manajemen pada bagian organisasi yang bertanggung jawab atas produksi atau penyediaan barang dan jasa (Assauri, 2016).
      • Manajemen operasional merupakan pengelolaan sumber daya produksi untuk menghasilkan keluaran secara efektif, efisien, berkualitas, dan sesuai kebutuhan pelanggan (Handoko, 2015).

      Konsep Manajemen Operasional (1)

      Manajemen operasional adalah bidang manajemen yang mengarahkan bagaimana organisasi merancang, menjalankan, mengendalikan, dan terus memperbaiki proses yang mengubah berbagai masukan menjadi barang dan/atau jasa bernilai bagi pelanggan dan pemangku kepentingan. Ruang lingkupnya tidak terbatas pada pabrik, tetapi mencakup rumah sakit, perguruan tinggi, perbankan, layanan publik, perusahaan digital, transportasi, ritel, dan organisasi nirlaba.repository.widyatama.ac+1

      Pendahuluan

      Manajemen operasional menempati posisi sentral dalam organisasi karena hampir semua organisasi harus menghasilkan suatu keluaran. Pada perusahaan manufaktur, keluaran itu dapat berupa barang fisik, seperti pakaian, kendaraan, makanan, obat-obatan, atau perangkat elektronik. Pada perusahaan jasa, keluaran dapat berupa pelayanan kesehatan, pendidikan, pengiriman barang, konsultasi, transaksi perbankan, layanan administrasi publik, maupun pengalaman pelanggan dalam platform digital. Oleh karena itu, manajemen operasional tidak semata-mata membahas “produksi” dalam arti sempit, melainkan pengelolaan keseluruhan sistem penciptaan nilai.

      Secara umum, manajemen operasional berkaitan dengan transformasi input menjadi output. Input mencakup bahan baku, tenaga kerja, modal, teknologi, energi, informasi, metode kerja, waktu, dan fasilitas. Input tersebut diproses melalui suatu sistem operasi untuk menghasilkan output berupa produk barang, jasa, atau kombinasi keduanya. Nilai tambah tercipta apabila output yang dihasilkan memiliki kegunaan dan nilai yang lebih besar dibandingkan dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkannya. Heizer, Render, dan Munson mendefinisikan manajemen operasi sebagai serangkaian aktivitas yang menciptakan nilai dalam bentuk barang dan jasa melalui transformasi input menjadi output (Heizer et al., 2020).pustaka.ut.ac+1

      Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompetitif, manajemen operasional berfungsi sebagai sarana untuk mencapai efisiensi biaya, kualitas produk, kecepatan pelayanan, fleksibilitas, keandalan pengiriman, keselamatan kerja, serta keberlanjutan lingkungan. Organisasi yang memiliki strategi pemasaran kuat tetapi tidak mampu memproduksi atau memberikan layanan secara konsisten akan sulit mempertahankan kepuasan pelanggan. Sebaliknya, organisasi yang mampu mengelola operasi secara unggul dapat membangun keunggulan kompetitif yang sulit ditiru pesaing.

      Manajemen operasional juga memiliki hubungan erat dengan fungsi manajemen lainnya. Pemasaran membutuhkan informasi mengenai kapasitas dan mutu produk sebelum menjanjikan layanan kepada pelanggan. Keuangan membutuhkan data biaya operasional, kebutuhan investasi mesin, persediaan, dan kapasitas produksi. Manajemen sumber daya manusia berperan dalam memastikan tersedianya pekerja dengan kompetensi yang sesuai. Sistem informasi menyediakan data yang diperlukan untuk peramalan, penjadwalan, pengendalian persediaan, dan evaluasi kinerja. Dengan demikian, manajemen operasional merupakan fungsi integratif yang menghubungkan strategi organisasi dengan aktivitas penciptaan nilai sehari-hari.

      Pengertian Influencer Marketing


      Influencer merupakan individu yang mendapatkan suatu popularitas di
      media sosial dari berbagai partisipasi yang dilakukan oleh audiens menurut Forbes
      dalam Carissa & Aruman, 2019 dalam (Hashina Izzaty & Nur Utami, 2024a)
      Influencer marketing didefinisikan sebagai bentuk pemasaran yang
      memanfaatkan figur publik, seperti selebriti, blogger, atau pengguna media sosial
      dengan jumlah pengikut besar, untuk memengaruhi keputusan pembelian
      konsumen. Menurut Belanche et al. 2021 dalam Alfina Damayanti, Fia
      Amalia,Pupung Purnamasari (2025)
      Influencer memiliki kemampuan untuk memengaruhi opini, preferensi, dan
      perilaku pembelian audiens melalui kredibilitas, daya tarik, serta hubungan
      emosional yang mereka miliki. Kredibilitas influencer, yang mencakup
      keahlian, kepercayaan, dan daya tarik, menjadi salah satu faktor utama dalam
      keberhasilan kampanye pemasaran menurut Al-Mu’ani et al., 2023 dalam Alfina
      Damayanti, Fia Amalia,Pupung Purnamasari (2025).
      Berdasarkan pendapat dari beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
      Influencer merupakan orang yang mendapatkan ketenaran di media sosial dan
      memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pandangan, kesukaan, serta tindakan
      pembelian audiens melalui kepercayaan, daya tarik, dan keterikatan emosional yang
      mereka ciptakan dengan pengikutnya
      Ada 5 indikator untuk mengukur Influencer Marketing, yaitu terdiri dari
      Kredibilitas, Daya Tarik Fisik, Kepercayaan, Respect, Kesamaan.

      1. Kredibilitas: Merupakan keahlian, kompetensi, dan pengetahuan
        influencer yang membuat audiens yakin terhadap pesan promosi yang disampaikan.
      2. Daya Tarik Fisik: Penampilan visual atau pesona personal influencer yang
        berfungsi menarik perhatian dan membangun sikap positif audiens terhadap
        produk.
      3. Kepercayaan: Tingkat kejujuran dan objektivitas influencer yang dirasakan
        audiens, sehingga mereka merasa aman mengikuti rekomendasi pembelian.
      4. Respect: Rasa hormat atau kekaguman audiens terhadap kepribadian dan
        prestasi influencer, yang memperkuat hubungan emosional dan efektivitas pesan.
      5. Kesamaan: Adanya kemiripan karakteristik, nilai, atau gaya hidup antara
        influencer dan audiens, sehingga produk yang dipromosikan terasa lebih releva

      Pengertian Digital Marketing


      Digital Marketing biasa disebut pemasaran digital merupakan upaya
      pemasaran yang dilakukan melalui teknologi Digital. Digital marketing, menurut
      American Marketing Association (AMA), didefinisikan sebagai serangkaian
      kegiatan, organisasi, dan proses dengan memanfaatkan platform digital untuk
      menciptakan, berkomunikasi, dan menyampaikan nilai kepada konsumen serta
      pihak-pihak yang berkepentingan lainnya menurut Jasri et al., 2022 dalam Darma
      & Korespondensi (2025)
      Menurut Saputra & Ardani, 2020:2600 dalam (Mustakim & Priyono,
      2024)digital marketing merupakan salah satu kategori dalam dunia pemasaran yang
      berguna dalam mengiklankan suatu produk atau layanan dan untuk menjangkau
      para calon pembeli melalui media digital sebagai sarana komunikasinya.
      Rachmadi, T., & Kom, S. dalam Mustakim & Priyono, (2024) menyatakan
      digital marketing adalah kegiatan pemasaran online yang berguna untuk
      menjangkau pasar yang lebih luas menggunakan media internet, bertujuan untuk
      menghubungkan pebisnis dengan calon pemelinya melalui media internet.
      Menurut (Ningsih et al., 2026) Digital marketing didefinisikan sebagai
      perencanaan terstruktur yang memanfaatkan teknologi dan platform online untuk
      secara efektif mencapai tujuan pemasaran

      Teori SOR (Stimulus Organism Response)


      Dalam memahami perilaku konsumen pada platform digital seperti TikTok,
      teori Stimulus Organism Response (SOR) digunakan sebagai dasar untuk
      menjelaskan bagaimana strategi pemasaran digital memengaruhi niat beli. Menurut
      Mehrabian dan Russell (1974), perilaku seseorang muncul karena adanya
      rangsangan (stimulus) yang diterima, diproses secara internal (organism), dan
      menghasilkan respon tertentu (response).
      Pada penelitian ini, content marketing dan influencer marketing berperan
      sebagai stimulus yang diberikan oleh brand kepada konsumen melalui media sosial
      TikTok. Stimulus ini memunculkan reaksi psikologis pada individu dalam bentuk
      digital engagement sebagai organism, seperti rasa ketertarikan, keterlibatan
      emosional, hingga partisipasi aktif dalam interaksi digital (Sugiyono, 2023). Reaksi
      ini kemudian memengaruhi response berupa purchase intention, yaitu niat
      konsumen untuk membeli produk skincare Skintific.

      Pengaruh Kemampuan Adaptasi Terhadap Employee Engangement


      Sumber daya pribadi yang dapat dikombinasikan dengan sumber daya
      pekerjaan untuk memenuhi persyaratan pekerjaan adalah contoh kemampuan
      beradaptasi di tempat kerja (Shafa et al., 2022). Kapasitas seseorang untuk
      adaptasi karir digambarkan sebagai keterampilan gerbang, seperangkat
      keterampilan dan seperangkat kemampuan yang penting untuk pekerjaan mereka
      agar sesuai dengan kemampuan mereka si pekerjaan yang mereka lakukan.
      Kemampuan seseorang untuk beradaptasi melalui trauma memungkinkan mereka
      untuk menghadapi kondisi kerja yang Tidak menyenangkan, rumit, atau memberi
      energi, serta perubahan suasana hati dan trauma mereka selama shift mereka
      (Herlani, 2022).
      Seseorang yang memiliki kemampuan untuk dengan cepat menyesuaikan
      diri dengan situasi baru akan dapat menangani tekanan tempat kerja dan
      membangun kepercayaan dengan rekan kerja. Hasil research yang dilakukan
      peneliti (Shafa et al., 2022) hasilnya menunjukkan bahwa kemampuan adaptasi
      berpengaruh positif terhadap employe engangement.

      Pengaruh Kepemimpinan transformasional, Budaya organisasi,Kecerdasan Emosional dan Kemampuan adaptasi TerhadapEmployee Engangement


      Employee engangement adalah elemen krusial yang memengaruhi
      produktivitas, kesetiaan, dan performa karyawan di dalam sebuah organisasi.
      Dalam era organisasi masa kini, keterlibatan karyawan dipengaruhi oleh berbagai
      faktor internal yang bersifat individu maupun organisasi. Berdasarkan tinjauan
      teori dan temuan penelitian sebelumnya, ada beberapa variabel yang diperkirakan
      dapat memengaruhi tingkat keterlibatan karyawan, seperti kepemimpinan
      transformasional, budaya organisasi, kecerdasan emosional, dan kemampuan
      beradaptasi (Febriasa, 2022)

      Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Employee Engangement


      Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali perasaan diri
      sendiri dan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan
      mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri serta dalam hubungan dengan
      orang lain (Tjiabrata et al., 2021). Untuk membantu seseorang mengembangkan
      rasa harga diri yang kuat, landasan emosional mungkin cukup membantu.
      Dimungkinkan untuk mengekspresikan integritas sendiri melalui cerdaan empati.
      Kekuatan emosional seseorang dapat mengatasi sedikit kemunduran, tetapi itu
      harus ditempa oleh organisasi komitmen terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai
      orang itu, serta rasa kesadaran diri yang kuat

      Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Employee Engangement


      Budaya organisasi merupakan keyakinan yang dimiliki secara bersama
      oleh seluruh anggota organisasi. Budaya organisasi merupakan sebuah aturan
      yang mengatur bagaimana karyawan berperilaku di tempat kerja, sehingga dapat
      dikatakan budaya organisasi merupakan pedoman yang digunakan dalam
      menjalankan aktivitas kinerja dalam sebuah organisasi (Soeharso & Nurika,
      2020). Budaya Organisasi merupakan hal yang penting bagi suatu organisasi atau
      organisasi karena akan selalu berhubungan dengan kehidupan yang ada di
      organisasi (Bharata & Prasetya, 2021)

      Pengaruh Kepemimpinan Transformasional Terhadap EmployeeEngangement


      Kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan dimana pemimpin
      yang menginspirasi para pengikutnya untuk menyampingkan kepentingan pribadi
      mereka demi kebaikan organisasi dan mampu memiliki pengaruh yang luar biasa
      pada diri para pengikutnya (Wahyuningtyas & Askafi, 2018). Pemimpin
      transformasional lebih sering memakai taktik legitimasi dan melahirkan tingkat
      identifikasi dan internalisasi yang lebih tinggi, memiliki kinerja yang lebih baik,
      dan mengembangkan pengikutnya (Mardiana & I Ketut R Sudiarditha, 2019).
      Kecerdasan
      Hal ini sejalan research yang dilakukan peneliti (Rumaharbo & Paijan, 2020) dan
      (Mardiana & I Ketut R Sudiarditha, 2019) hasilnya menunjukkan bahwa
      kepemimpinan transformasional berpengaruh positif terhadap employee
      engangement.

      Peran Kemampuan Adaptasi


      Kemampuan adaptasi sangat penting di era perubahan cepat dan VUCA
      (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Dalam organisasi, kemampuan
      adaptasi:
      1) Meningkatkan resiliensi karyawan dalam menghadapi transformasi digital,
      reorganisasi, atau perubahan target
      2) Mendorong employee engagement karena karyawan merasa mampu
      mengatasi tantangan
      3) Meningkatkan kinerja individu dan tim dalam kondisi kerja dinamis
      4) Mengurangi konflik dan resistensi terhadap perubahan.
      6) Indikator Kemampuan Adaptasi
      Indikator kemampuan adaptasi pada penelitian ini mengacu pada buku
      Zander, R. S., & Zander, B. (2000). The Art of Possibility: Transforming
      Professional and Personal Life. Penguin Books, yaitu sebagai berikut:
      1) Frekuensi pengalaman adaptif masa lalu
      yaitu dasar untuk pengembangan pengalaman dan kinerja masa lalu adalah
      sebagai prediktor terbaik dari kinerja masa depan. Apabila individu
      memiliki pengalaman beradaptasi dengan jenis situasi atau keadaan
      tertentu maka individu harus berhasil dalam situasi masa depan yang
      membutuhkan adaptasi yang sama;
      2) Minat dalam situasi adaptif
      yaitu mengukur sejauh mana ketertarikan bekerja dalam situasi yang
      menuntut untuk beradaptasi dengan baik
      3) Tugas khusus keberhasilan diri untuk beradaptasi
      yaitu penilaian seseorang bahwa individu memiliki ketrampilan dan
      kemampuan untuk menyelesaikan tugas dengan melaporkan keefektifan
      kinerja dengan penilaian berdasarkan cara adaptasi yang relevan.

      Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Adaptasi

      Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Adaptasi
      Beberapa faktor yang memengaruhi kemampuan adaptasi seseorang,
      antara lain:
      1) Kepribadian
      Individu dengan tingkat keterbukaan yang tinggi (openness) cenderung
      lebih adaptif.
      2) Kecerdasan Emosional
      Orang dengan kontrol emosi yang baik lebih mampu mengelola tekanan
      dan beradaptasi.
      3) Pengalaman Kerja
      Pengalaman menghadapi perubahan memperkuat kemampuan adaptasi
      seseorang.
      4) Lingkungan Organisasi
      Budaya organisasi yang suportif dapat mendorong peningkatan
      adaptabilitas karyawan.
      27
      5) Pelatihan dan Pengembangan
      Program pelatihan dapat meningkatkan keterampilan menghadapi
      perubahan

      Dimensi dan Aspek Kemampuan Adaptasi


      (Herlani, 2022) mengembangkan framework kemampuan adaptasi yang
      terdiri dari delapan dimensi utama, yaitu:
      1) Handling Emergencies or Crisis Situations
      Kemampuan tetap tenang dan bertindak cepat serta efektif saat
      menghadapi situasi darurat.
      2) Handling Work Stress
      Kemampuan mengelola stres dan tekanan kerja secara positif tanpa
      mengorbankan produktivitas.
      3) Solving Problems Creatively
      Kemampuan berpikir inovatif dan menemukan solusi baru dalam situasi
      yang tidak biasa.
      4) Dealing with Uncertain and Unpredictable Work Situations
      Kemampuan beradaptasi dengan situasi yang ambigu dan tidak terduga.
      5) Learning Work Tasks, Technologies, and Procedures
      Kemampuan untuk cepat mempelajari tugas baru, penggunaan teknologi
      baru, dan prosedur kerja yang berubah.
      6) Demonstrating Interpersonal Adaptability
      Kemampuan menyesuaikan perilaku dalam hubungan sosial dan bekerja
      dengan berbagai tipe orang.
      7) Demonstrating Cultural Adaptability
      Kemampuan bekerja secara efektif dengan individu dari latar belakang
      budaya yang berbeda.
      8) Demonstrating Physical Adaptability
      Kemampuan menghadapi tantangan fisik atau lingkungan kerja yang
      berubah (misalnya, suhu, lokasi, jam kerja).
      3) Karakteristik Kemampuan Adaptasi Tinggi
      Indikator Individu yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi biasanya
      menunjukkan karakteristik berikut:
      1) Terbuka terhadap pengalaman baru
      2) Tidak mudah panik dalam kondisi tidak terduga
      3) Fleksibel dan tidak kaku dalam pola pikir
      4) Cepat belajar dan responsif terhadap umpan balik
      5) Percaya diri dalam menghadapi tantangan
      6) Mampu bekerja sama dengan berbagai tipe oran

      Indikator Budaya Organisasi


      Berbagai ahli telah mengemukakan dimensi dalam budaya organisasi.
      Salah satu model yang banyak digunakan adalah buku Schein, E. H. (2010).
      Organizational Culture and Leadership. Jossey-Bass, yang membagi budaya
      organisasi ke dalam empat dimensi utama:
      1) Mission (Misi)
      Kejelasan arah, visi, dan tujuan organisasi yang menjadi pedoman
      bersama.
      2) Adaptability (Kemampuan Adaptasi)
      Tingkat fleksibilitas dan kemampuan organisasi dalam merespon
      perubahan lingkungan eksternal.
      3) Involvement (Keterlibatan)
      Tingkat partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan dan proses
      kerja.
      4) Consistency (Konsistensi)
      Sejauh mana nilai dan sistem internal organisasi diterapkan secara
      konsisten dalam aktivitas organisasi

      Karakteristik Budaya Organisasi


      Berikut ini adalah tujuh karakteristik budaya organisasi berdasarkan
      (Robbins & Judge, 2017) sebagai berikut:
      1) Orientasi
      Hasil Dimensi ini membedakan organisasi yang berorientasi pada proses
      dengan organisasi yang berorientasi pada hasil. Orientasi hasil, yaitu
      sejauh mana manajemen lebih berfokus pada hasil daripada teknik dan
      proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
      2) Inovasi dan Pengambilan Risiko
      Inovasi dan pengambilan risiko adalah karyawan yang didorong untuk
      berperilaku inovatif dan berani mengambil risiko.
      3) Orientasi Tim
      Orientasi tim adalah kegiatan kerja yang diselenggarakan dalam tim
      daripada secara individu.
      4) Agresif dan Kompetitif
      Agresivitas adalah ketika orang berperilaku agresif dan kompetitif
      daripada santai.
      5) Stabilitas
      Stabilitas adalah kegiatan organisasi yang menekankan pelestarian status
      quo dibandingkan dengan pertumbuhan.
      6) Perhatian terhadap detail
      Perhatian terhadap detail adalah karyawan diharapkan menjalankan
      ketepatan, analisis, dan perhatian terhadap detail.
      7) Orientasi Manusia
      Orientasi manusia adalah keputusan manajemen yang mempertimbangkan
      dampak dari hasil yang disebutkan di atas orang-orang yang ada dalam
      organisasi.
      3) Fungsi Budaya Organisasi
      Budaya organisasi memiliki beberapa fungsi penting dalam
      keberlangsungan organisasi (Maisoni et al., 2019), yaitu
      1) Memberikan identitas bagi anggota organisasi.
      2) Memfasilitasi komitmen terhadap tujuan organisasi.
      3) Meningkatkan stabilitas sistem sosial di dalam organisasi.
      4) Membentuk perilaku dan sikap karyawan secara tidak langsung

      Pengertian Budaya Organisasi


      Budaya organisasi merupakan keyakinan yang dimiliki secara bersama
      oleh seluruh anggota organisasi (Akbar & Manurung, 2020). Budaya organisasi
      merupakan sebuah aturan yang mengatur bagaimana karyawan berperilaku di
      tempat kerja, sehingga dapat dikatakan budaya organisasi merupakan pedoman
      yang digunakan dalam menjalankan aktivitas kinerja dalam sebuah organisasi
      (Soeharso & Nurika, 2020). Budaya Organisasi merupakan hal yang penting bagi
      suatu organisasi atau organisasi karena akan selalu berhubungan dengan
      kehidupan yang ada di organisasi (Bharata & Prasetya, 2021).
      Organisasi yang memiliki budaya organisasi yang kuat maka dapat
      dipastikan bahwa keterikatan karyawan juga tergolong tinggi dan sebaliknya
      organisasi yang memiliki budaya organisasi yang lemah dapat dipastikan
      keterikatan karyawannya juga rendah. Sehingga penting di dalam organisasi
      menanamkan budaya organisasi yang kuat agar meningkatkan keterikatan
      karyawan (employee engagement) (Indriyani et al., 2019).

      Karakteristik Kepemimipinan Transformasional


      Menurut (Shafa et al., 2022) mengidentifikasi empat dimensi utama
      kepemimpinan transformasional, yang dikenal dengan istilah “Four I’s”, yaitu:
      1) Idealized Influence (Pengaruh Ideal) Pemimpin menjadi panutan,
      dihormati, dan dipercaya. Mereka menunjukkan konsistensi nilai dan etika
      serta membangun rasa percaya dari para pengikutnya.
      2) Inspirational Motivation (Motivasi Inspirasional) Pemimpin mampu
      mengomunikasikan harapan yang tinggi, memotivasi pengikut melalui visi
      masa depan yang menarik, serta memberikan semangat dan antusiasme
      dalam bekerja.
      3) Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual) Pemimpin mendorong
      kreativitas, inovasi, serta memberikan kebebasan kepada bawahan untuk
      berpikir kritis dan mencari solusi baru terhadap permasalahan.
      4) Individualized Consideration (Pertimbangan Individual) Pemimpin
      memperhatikan kebutuhan dan potensi masing-masing individu, bertindak
      sebagai mentor atau coach, dan memberikan dukungan secara personal.
      3) Aspek Kepemimipinan Transformasional
      Menurut (Mardiana & I Ketut R Sudiarditha, 2019) mengemukakan ada
      enam aspek dalam kepemimpinan transformasional, yaitu :
      1) Mengidentifikasi dan mengartikulasikan visi.
      Perilaku pemimpin yang bertujuan dalam mengidentifikasi peluang baru
      untuk unit/divisi/perusahaannya untuk pengembangan, mengartikulasikan
      dan mengilhami orang lain dengan visinya tentang masa depan.
      2) Memberikan Model yang Tepat.
      Perilaku pemimpin yang bertujuan dalam menetapkan/memberikan contoh
      bagi karyawan yang tepat untuk diikuti agar konsisten dengan nilai-nilai
      yang dianut pemimpin.
      3) Membina Penerimaan Tujuan kelompok.
      Perilaku pemimpin yang bertujuan dalam mempromosikan kerja sama
      antar karyawan dan membuat mereka bekerja sama menuju tujuan
      bersama.
      4) Ekspektasi Kinerja Tinggi.
      Perilaku yang menunjukkan harapan pemimpin untuk keunggulan,
      kualitas, dan/atau kinerja tinggi dari pengikut.
      5) Memberikan Dukungan Individual.
      Perilaku pemimpin yang mengindikasikan bahwa pemimpin menghargai
      pengikut dan prihatin dengan perasaan dan kebutuhan pribadi pengikut.
      6) Stimulasi Intelektual.
      Perilaku pemimpin yang bertujuan dalam memberikan tantangan kepada
      pengikut untuk memeriksa kembali beberapa asumsi mereka tentang
      pekerjaan mereka dan memikirkan kembali bagaimana caranya untuk bisa
      dilakukan
      4) Indikator Kepemimipinan Transformasional
      Indikator kepemimpinan transformasional pada penelitian ini mengacu
      pada buku dari Bass, B. M. (1985). Leadership and Performance Beyond
      Expectations. The Free Press, yaitu sebagai berikut:
      1) Pengaruh idealis (idealized influence)
      Atau dikenal juga sebagai kepemimpinan karismatik berperilaku sebagai
      seorang panutan, dihormati, dikagumi, dan dipercaya.
      2) Inspirasi motivasi (inspirational motivation)
      Pemimpin ini menunjukkan antusiasme dan optimisme, serta menciptakan
      suasana kerja yang berkomitmen mencapai tujuan dan visi organisasi
      3) Stimulasi intelektual (intellectual stimulation)
      Pemimpin transformasional mendorong kreatifitas pengikutnya dan
      mendorong adanya terobosan baru dalam penyelesaian masalah.
      4) Pertimbangan individual (individualized consideration)
      Pemimpin transformasional berperan sebagai pelatih sekaligus mentor,
      serta menghargai kebutuhan dan keinginan individu.

      Pengertian Kepemimpinan Transformasional


      Kepemimpinan transformasional adalah orang-orang yang mampu
      mendorong dan menginspirasi para pengikutnya untuk mencapai kinerja luar biasa
      dan juga mengembangkan kemampaun kepemimpinan yang dimilikinya
      (Ferdiansyah, 2018). Sedangkan menurut (Rumaharbo & Paijan, 2020)
      kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan dimana pemimpin yang
      menginspirasi para pengikutnya untuk menyampingkan kepentingan pribadi
      mereka demi kebaikan organisasi dan mampu memiliki pengaruh yang luar biasa
      pada diri para pengikutnya.
      Menurut (Kurniawati et al., 2019) pemimpin transformasional adalah
      perspektif kepemimpinan yang menciptakan, mengomunikasikan, membuat model
      visi untuk organisasi, dan memberikan inspirasi kepada bawahan untuk berusaha
      menampakkan kinerja lebih baik sehingga secara global akan mengubah kinerja
      tim atau organisasi untuk pencapaian visi tersebut. Sehingga kepemimpinan
      transformasional adalah kepemimpinan dimana pemimpin yang dapat membuat
      para pengikutnya termotivasi, menginspirasi, kagum dan setia atas kemampuan
      dan pembawaan pemimpin tersebut yang fokus pada tujuan organisasi.

      Indikator Employee Engangement


      Indikator employe engangement pada penelitian ini mengacu pada buku
      Pink, D. H. (2009). Drive: The Surprising Truth About What Motivates Us.
      Riverhead Books, yaitu sebagai berikut:
      1) Semangat
      2) Dedikasi
      3) Fokus

      Tingkatan Employee Engangement


      Menurut Gallup (2004), terdapat tiga tingkatan engegement pada
      karyawan, yaitu:
      1) Engaged.
      Karyawan yang engaged adalah seorang pembangun (builder). Mereka
      selalu menunjukkan kinerja dengan level yang tinggi. Karyawan ini akan
      bersedia menggunakan bakat dan kekuatan mereka dalam bekerja setiap
      hari serta selalu bekerja dengan gairah dan selalu mengembangkan inovasi
      agar organisasi berkembang.
      2) Not Engaged.
      Karyawan dalam tipe ini cenderung fokus terhadap tugas dibandingkan
      untuk mencapai tujuan dari pekerjaan itu. Mereka selalu menunggu
      perintah dan cenderung merasa kontribusi mereka diabaikan.
      3) Actively Disengaged.
      Karyawan tipe ini adalah penunggu gua (cave dweller). Mereka secara
      konsisten menunjukkan perlawanan pada semua aspek. Mereka hanya
      melihat sisi negatif pada berbagai kesempatan dan setiap harinya, tipe
      actively disengaged ini melemahkan apa yang dilakukan oleh pekerja yang
      engaged

      Pengertian Employee Engangement


      Employee engagement atau keterikatan karyawan adalah suatu kondisi,
      sikap atau perilaku positif seorang karyawan terhadap pekerjaan dan
      organisasinya yang ditandai dengan perasaan semangat (vigor), dedikasi
      (dedication) dan keasyikan (absorption) untuk tercapainya tujuan dan
      keberhasilan organisasi (Rumaharbo & Paijan, 2020). Keterlibatan karyawan
      dapat mengambil banyak bentuk, termasuk emosional, kognitif, atau bahkan fisik..
      Keterlibatan terjadi ketika satu orang terhubung dengan orang lain dengan cara
      yang menyedihkan dan euforia.
      Begitu seorang karyawan terlibat, mereka memiliki rasa tanggung jawab
      terhadap tujuan majikan mereka, sehingga mereka dapat memberikan sumber
      daya terbaik untuk pekerjaan itu (Bharata & Prasetya, 2021). Keterlibatan
      karyawan adalah keadaan di mana seseorang merasa seperti mereka tahu identitas
      mereka sendiri, memiliki motivasi untuk bekerja, dapat menerima dukungan dari
      orang lain secara positif, dan dapat bekerja secara efektif dan efisien di tempat
      kerja lingkungan (Shafa et al., 2022)
      2) Aspek Employee Engangement
      Menurut (Rumaharbo & Paijan, 2020) terdapat tiga aspek yang
      membangun dimensi employee engagement, yaitu sebagai berikut:
      1) Kekuatan (Vigor)
      Kekuatan dikarakteristikkan dengan energi dan resiliensi mental yang
      tinggi ketika sedang bekerja, kemauan berusaha sungguh-sungguh dalam
      pekerjaan dan gigih dalam menghadapi kesulitan. Individu dengan skor
      tinggi pada aspek kekuatan biasanya memiliki energi dan stamina tinggi
      serta bersemangat ketika bekerja. Sedangkan individu dengan skor rendah
      pada aspek kekuatan memiliki tingkat energi, semangat dan stamina yang
      rendah saat bekerja.
      2) Dedikasi (Dedication)
      Dedikasi mengacu pada perasaan yang penuh makna, antusias, inspirasi,
      kebanggaan dan tantangan. Individu yang memiliki skor tinggi pada aspek
      dedikasi secara kuat mengidentifikasi diri dengan pekerjaan karena adanya
      pengalaman bermakna, menginspirasi dan menantang. Selain itu, mereka
      selalu antusias dan bangga dengan pekerjaannya. Sedangkan individu
      dengan skor rendah tidak mengidentifikasi diri dengan pekerjaannya
      karena tidak memiliki pengalaman yang bermakna, menginspirasi dan
      menantang.
      3) Keasyikan (Absorption)
      Absorpsi atau keasyikan dikarakteristikkan dengan konsentrasi penuh,
      minat terhadap pekerjaan dan sulit melepaskan diri dari pekerjaan.
      Individu yang memiliki skor tinggi pada aspek absorpsi biasanya merasa
      tertarik dengan pekerjaan dan sulit untuk melepaskan diri dari
      pekerjaannya, begitupun sebaliknya

      Pengaruh Job Insecurity dan Employee Engagement Terhadap KinerjaPegawai


      Job insecurity dan employee engagement adalah beberapa faktor yang
      mempengaruhi kinerja pegawai dalam bekerja. Menurut Hvinden (2019:41) Job
      insecurity reflects the degree to which employees feel their jobs are threatened and
      feel powerless to do anything about keeping a job. Artinya: ketidakamanan
      pekerjaan mencerminkan sejauh mana karyawan merasa pekerjaan mereka
      terancam dan merasa tidak berdaya untuk melakukan apa pun untuk
      mempertahankan pekerjaan. Lain situasi dengan employee engagement menurut
      teori Shuck (2019:81) yaitu Employee engagement is define as a positive, fulfilling
      work-related state of mind that is characterized by vigor, dedication, and
      absorption. Artinya: Keterikatan kerja didefinisikan sebagai keadaan pikiran yang
      berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan yang dicirikan oleh
      semangat, dedikasi, dan menyatu.
      Berdasarkan studi penelitian Atik Koiroh (2021) menunjukan bahwa terdapat
      pengaruh antara job insecurity dan employee engagement terhadap kinerja pegawai.
      Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian dari Ludi Prasetyo Ardy
      (2018), penelitian Shengxian Yu, Xiaoxiao Gong, and Na wu, (2020) yang juga
      menunjukan adanya pengaruh yang signifikan terkait job insecurity terhadap
      kinerja pegawai atas keterlibatan Employee Engagemen

      Pengaruh Job Insecurity Terhadap Kinerja Pegawai


      Job insecurity atau ketidakamanan kerja merupakan kondisi yang
      berhubungan dengan rasa takut seseorang terkait pekerjaan yang dilakukanya,
      menurut Hvinden (2019:35) “Job insecurity reflects the degree to which employees
      feel their jobs are threatened and feel powerless to do anything about keeping a job
      “ artinya bahwa job insecurity atau ketidakamanan pekerja mencerminkan sejauh
      mana pegawai merasa pekerjaan mereka terancam dan merasa tidak berdaya untuk
      dapat mempertahankan pekerjaannya, sehingga hal tersebut dapat berdampak
      terhadap kinerja yang dapat diberikan oleh pegawai terhadap perusahaannya.
      Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sri Murni, & Yurnalis tahun
      (2018), mendapati hasil bahwa job insecurity berpengaruh negatif terhadap kinerja
      pegawai, dimana pegawai memiliki penurunan kualitas kerja ketika tingkat job
      insecurity pada diri individu pegawai meningkat. Pendapat tersebut selaras dengan
      penelitian yang dilakukan oleh Aulia Nur Amartha Satata Saraswati dan Herison
      Pandapotan Purba tahun (2019) dan penelitian yang dilakukan oleh Dhiana Pandan
      Arum dan Rr Sri Handari tahun (2020) yang sama-sama menyatakan bahwa job
      insecurity berpengaruh negatif secara signifikan terhadap kinerja pegawa

      Dimensi dan Indikator Kinerja Pegawai


      Dimensi dan indikator yang digunakan dalam penelitian ini mengadaptasi
      dari teori-teori dan pendapat para ahli. Menurut John Miner dalam Mangkunagara
      (2017:72) yang mengemukakan bahwa ada beberapa dimensi dan indikator kinerja
      yaitu sebagai berikut:

      1. Kualitas Kerja
        Kualitas kerja adalah sesuatu hal yang terkait dengan proses pekerjaan sampai
        hasil kerja yang bisa diukur dari tingkat efisiensi dan efektifitas seseorang
        dalam melakukan suatu pekerjaan yang didukung oleh sumber daya lainnya.
        Indikator dari kualitas kerja antara lain:
        a. Kerapihan
        b. Ketelitian
        c. Kehandalan
      2. Kuantitas Kerja
        Kuantitas merupakan satuan jumlah atau batas minimal dan maksimal yang
        harus dicapai oleh pekerja dengan waktu yang telah ditentukan oleh pimpinan
        perusahaan.
        Indikator dari kuantitas kerja antara lain:
        a. Ketepatan waktu
        b. Hasil kerja
        c. Kepuasan kerja
      3. Kerjasama
        Kerjasama merupakan usaha bersama baik antara individu dengan individu,
        kelompok dengan kelompok, atau individu dengan kelompok berupa sikap dan
        perilaku setiap pegawai yang menjalin hubungan kerjasama dengan pimpinan
        atau rekan kerja untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama.
        Indikator dari kerjasama antara lain:
        a. Jalinan kerjasama
        b. kekompakan
      4. Tanggung jawab
        Tanggung jawab merupakan hal yang terkait dengan hasil pekerjaan yang telah
        diselesaikan yang harus dipertanggungjawabkan para pegawai apabila masih
        ada pekerjaan yang belum sesuai dengan harapan pimpinan.
        Indikator dari tanggungjawab antara lain:
        a. Rasa tanggung jawab dalam mengambil keputusan
        b. Memanfaatkan sarana dan prasarana
      5. Inisiatif
        Inisiatif adalah segala bentuk dorongan dari dalam diri pegawai untuk
        melakukan pekerjaan serta mengatasi masalah. Indikator dari inisiatif yaitu:
        a. Kemandirian

      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Pegawai


      Menurut Mangkunegara (2017:70) terdapat faktor-faktor yang
      mempengaruhi pencapaian kinerja seorang pegawai antara lain:

      1. Faktor personal/individual yaitu hal-hal yang terdiri dari Pengetahuan,
        keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, job insecurity, dan
        komitmen.
      2. Faktor kepemimpinan yaitu meliputi kualitas, dorongan, semangat, employe
        engagement, dan dukungan
      3. Faktor tim diantaranya adalah kerja sama, dan kekompakan
      4. Fakor sistem yang meliputi sistem kerja, fasilitas, proses organisasi, kultur
        kinerja dalam organisasi
      5. Faktor kontekstual (situasional) dimana faktor ini merupakan sebuah tekanan
        dan perubahan lingkungan eksternal dan internal

      Pengertian Kinerja Pegawai


      Kinerja adalah tingkat capaian atau sebuah hasil kerja yang dari
      implementasi rencana kerja yang dibuat oleh organisasi yang dilaksanakan oleh
      pimpinan dan pegawai sumber daya manusia yang bekerja di perusahaan, baik
      institusi maupun pemerintahan untuk mencapai tujuan baik individu, organisasi
      maupun masyarakat. Terdapat beberapa definisi kinerja menurut para ahli antara
      lain pendapat dari Mangkunegara, (2017:66) yang menyatakan bahwa “Kinerja
      pegawai adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
      pegawai dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diembannya.”
      Adapun pendapat lainnya:
      Menurut (Afandi, 2018:83):
      “Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau
      kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan
      tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan organisasi
      secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral
      dan etika.”
      Menurut (Ahmad, 2020:31):
      “Kinerja atau performance, merupakan prestasi yang dicapai oleh seorang
      pegawai dalam setiap melakukan pekerjaan/tugasnya, dimana pegawai
      tersebut dapat menggunakan segenap kemampuan dan pengetahuan
      berbasis kompetensi, dimana kinerjanya dapat diukur berdasarkan
      kemampuan, keahlian, dan attitude-nya pada saat pelaksanaan tugasnya.

      Kinerja Pegawai


      Konsep kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi yang memiliki
      pengertian dalam bahasa inggris yaitu performance. Kinerja merupakan hasil dari
      fungsi-fungsi suatu profesi pekerjaan dalam kurun waktu tertentu, keberhasilan
      suatu organisasi dapat ditentukan oleh diantaranya dengan pengelolaan kinerja
      pegawainya

      Dimensi dan Indikator Employee Engagement


      Menurut (Shuck, 2019:68) mengemukakan bahwa terdapat tiga dimensi dan
      indikator dalam employee engagement diantaranya sebagai berikut.

      1. Vigor (Semangat).
        Ditandai dengan tingkatan energi yang tinggi, ketangguhan mental,
        berkeinginan untuk memberikan usaha terhadap pekerjaan dan juga ketahanan
        dalam menghadapi kesulitan. Indikator untuk dimensi ini antara lain:
        a) Energi dan stamina yang tinggi
        b) Kesungguhan dalam bekerja
        c) Kegigihan dan Ketekunan
      2. Dedication (Dedikasi).
        Ditandai oleh rasa antusias dalam bekerja, pegawai yang memiliki dedikasi
        yang tinggi terhadap pekerjaannya akan menjadikan pekerjaan sebagai
        pengalaman yang berharga, inspirasi, dan tantangan. Indikator untuk dimensi
        ini antara lain:
        a) Pengorbanan, tenaga, pikiran, dan waktu
        b) Rasa penuh makna
        c) Antusiasme
        d) Kebanggaan
      3. Absorption (Menyatu).
        Ditandai dengan perilaku pegawai yang memberikan perhatian penuh terhadap
        perusahaan dan serius dalam pekerjaannya. Dimana pegawai akan merasakan
        waktu cepat berlalu dan sulit memisahkan diri dari pekerjaanya.
        Indikator untuk dimensi ini antara lain:
        a) Konsentrasi
        b) Keseriusan
        c) Menikmati pekerjaan

      Faktor-fakor yang Mempengaruhi Employee Engagement


      Menurut Shuck, (2019:90) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat
      mempengaruhi employee engagement pegawai diantaranya adalah sebagai berikut:

      1. Lingkungan Kerja (Work environment).
        Lingkungan kerja yang mendukung seperti rasa nyaman, aman dan supportif
        akan mendorong terciptanya employee engagement yang tinggi dan positif.
        Selain itu fasilitas-fasilitas penunjang yang dimiliki organisasi akan
        mempermudah pegawai dalam mengoptimalkan kemampuannya dalam
        bekerja. Adapun lingkungan kerja yang berpengaruh terbagi menjadi dua jenis
        yaitu lingkungan kerja fisik (dimana semua keadaan yang berbentuk fisik
        diantaranya fasilitas, dan sarana prasarana yang diperuntukan pegawai) dan
        lingkungan kerja non-fisik (yaitu sesuatu hal berkaitan dengan hubungan kerja
        seperti keperdulian, kerja sama, kompensasi, asuransi).
      2. Kepemimpinan (Leadership)
        Konsistensi pemimpin dalam membina pegawai dapat menimbulkan
        keterikatan pegawai, pemimpin organisasi diharapkan dapat memiliki beberapa
        keterampilan seperti keterampilan dalam berkomunikasi, keterampilan dalam
        memberikan feedback, dan keterampilan dalam mengevaluasi pekerjaan yang
        baik untuk para pegawai, hal tersbut dapat berdampak kepada peningkatan
        employee engagement yang tinggi dan postif. Pemimpin yang diantaranya
        mampu menjadi sumber inspirasi, meningkatkan motivasi bekerja,
        komunikatif dan kreatif.
      3. Tim dan hubungan kerja (Team and co-worker).
        Tim dan hubungan kerja mencakup jalinan hubungan pegawai dengan rekan
        kerja lainnya di lingkungan kerja. Dalam ruang lingkup ini, rekan kerja yang
        dapat memberikan dukungan serta motivasi kepada rekan lainnya akan dapat
        menciptakan employee engagement yang baik dan positif.
      4. Pelatihan dan pengembangan karir (Training and career development).
        Ruang lingkup pelatihan dan pengembangan karir meliputi reward, jenjang
        karir, serta pengembangan diri. Pelatihan dan pengembangan karir yang
        diberikan perusahaan kepada pegawai dapat menciptakan hubungan baik yang
        memicu timbulnya employee engagement yang tinggi dan positif, yang tidak
        hanya baik untuk organisasi tetapi baik untuk individu pegawainya.
      5. Kompensasi (Compensation).
        Ruang lingkup kompensasi meliputi kewajiban yang harus dipenuhi
        perusahaan kepada pegawai. Kompensasi merupakan balas jasa yang diberikan
        perusahaan kepada pegawai dan tanggungjawabnya selama bekerja.
        Kompensasi meliputi gaji, tunjangan, serta fasilitas penunjang.
      6. Organizational policies, procedures, structure and system (kebijaksanaan
        organisasi, prosedur, struktur dan system)
        Ruang lingkup kebijakan organisasi meliputi design kerja yang dibuat
        perusahaan untuk pegawainya. Kebijakan organisasi tersebut memuat tentang
        kebebasan pegawai dalam bekerja serta aturan dan tututan dalam bekerja.
        Kebebasan yang dimaksud adalah apakah pegawai diizinkan untuk
        mengekspresikan diri dalam pekerjaannya.
      7. Workplace well-being (kesejahteraan kerja)
        Ruang lingkup kesejahteraan kerja meliputi keadaan nyaman yang dirasakan
        oleh pegawai ketika berada pada lingkungan kerja

      Jenis-jenis Employee Engagement


      Shuck, (2019:86) mengelompokan jenis-jenis employee engagement pada
      kinjera pegawai berdasarkan tingkat engagement, antara lain diantaranya:

      1. Terikat (Engaged).
        Dimana pegawai bekerja dengan semangat dan merasakan hubungan yang
        mendalam dengan perusahaan mereka. Mereka mendorong inovasi dan
        memajukan organisasi dengan tingkat kreativitas yang tinggi.
      2. Tidak terikat (Not Engaged).
        Pada jenis ini pegawai pada dasarnya cenderung “keluar”. Mereka tidak
        melakukan apa-apa, hanya menghabiskan waktu tanpa energi atau gairah
        dalam pekerjaan mereka (tidak ada semangat pada jenis employee engagement
        ini).
      3. Secara aktif melepaskan diri (Actively Disenganged).
        Pegawai tidak hanya tidak bahagia, mereka sibuk keluar dengan bertindak
        keluar dari ketidakbahagiaan mereka, (mereka cenderung tidak nyaman berada
        di lingkungan organisasi, tidak adanya motivasi yang biasanya dilatar
        belakangi rasa kecewa sebagai akibat situasi dan kondisi yang pernah terjadi).
        Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa terdapat jenis-jenis pegawai
        berdasarkan tingkat engagement yang dibagi menjadi tiga karakteristik yaitu
        engaged, not engaged, dan actively disengaged. Ketiganya memiliki tingkat
        keterikatan yang berbeda-beda dari semangat pegawai yang tinggi hingga tidak ada
        gairah dalam bekerja serta tingkat ketidaknyaman dalam bekerja

      Pengertian Employee Engagement


      Employee engagement merupakan salah satu faktor penting bagi kesuksesan
      suatu organisasi dan dapat memberikan competitive advantage bagi organisasi.
      Pegawai yang memiliki engagement yang tinggi, biasanya digambarkan dengan
      semangat, energi dan loyalitas yang tinggi, serta komitmen dan kebanggaan yang
      kuat terhadap organisasi.
      Adapun beberapa pengertian terkait employee engagement menurut para
      ahli diantaranya yaitu Shuck (2019:81)“Employee engagement is define as a
      positive, fulfilling work-related state of mind that is characterized by vigor,
      dedication, and absorption”. Artinya: Keterikatan kerja didefinisikan sebagai
      keadaan pikiran yang berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan
      yang dicirikan oleh semangat, dedikasi, dan menyatu. Pendapat serupa disampaikan
      oleh Brammer (2020:39) bahwa “Employee engagement is the employee’s
      willingness and ability to contribute to the company on an ongoing basis”. Artinya
      Keterikatan pegawai adalah kemauan dan kemampuan pegawai untuk berkontribusi
      pada perusahaan secara berkelanjutan. Adapun pendapat lain disampaikan oleh
      Segalla (2021:41) bahwa “Employee engagement is about how to achieve the
      company’s strategic goals by creating developing human resources, and every level
      starting from staff, managers, and executives is fully activated in their work so they
      can give their best effort.” Artinya: Keterlibatan karyawan adalah tentang
      bagaimana mencapai tujuan strategis perusahaan dengan menciptakan sumber daya
      manusia yang berkembang, dan setiap level mulai dari staf, manajer, dan eksekutif
      sepenuhnya aktif dalam pekerjaan mereka sehingga mereka dapat memberikan
      upaya terbaik mereka

      Employee Engagement


      Dalam ilmu sumber daya manusia employee engagement atau keterikatan
      pegawai merupakan sebuah istilah baru. Dimana employee Engagement merupakan
      sikap pegawai dengan perasaan semangat terhadap pekerjaannya untuk mencapai
      keberhasilan organisasi, employee engagement melihat bagaimana loyalitas yang
      dimiliki pegawai dalam bekerja yang tidak hanya selesai dengan waktu yang tepat
      akan tetapi dengan kualitas sesuai dengan yang diinginkan perusahaan.

      Dimensi dan Indikator Job Insecurity


      Menurut (Hvinden, 2019:41) mengembangkan pengukuran dari konsep job
      insecurity yang dikemukakan oleh Greenhalgh dan Rosenblatt dan menyatakan
      bahwa dimensi job insecurity antara lain:

      1. Important Aspect of Work (Arti Penting Aspek Kerja)
        Seberapa penting aspek kerja tersebut bagi individu sehingga mempengaruhi
        tingkat insecure atau rasa tidak amannya dalam bekerja. Seberapa penting
        pegawai menganggap bagian-bagian (aspek) pekerjaan seperti gaji, jabatan,
        promosi, dan lingkungan kerja yang nyaman dapat mempengaruhi tingkat
        keamanan dan kenyamanan individu dalam menjalankan pekerjaan. Dengan
        kata lain bahwa aspek ini sebagai arti penting aspek kerja bagi pegawai.
        Indikator untuk dimensi ini antara lain:
        a) Kenaikan gaji sebagai tolak ukur keberhasilan dalam kerja
        b) Promosi sebagai ukuran kesuksesan dalam bekerja
      2. Possible Negative Changes in Work Aspects (Kemungkinan Perubahan Negatif
        Pada Aspek Kerja)
        Tingkat ancaman yang dirasakan pegawai mengenai aspek-aspek pekerjaan
        seperti kemungkinan untuk mendapat promosi, mempertahankan tingkat upah
        yang sekarang, atau memperoleh kenaikan upah. Individu yang menilai aspek
        kerja tertentu yang terancam (terdapat kemungkinan aspek kerja tersebut akan
        hilang) sehingga akan lebih gelisah dan merasa tidak berdaya. Seberapa besar
        kemungkinan yang dirasakan pegawai terhadap perubahan (Kejadian Negatif)
        yang mengancam bagian-bagian (aspek) pekerjaan. Berdasarkan uraian tersebut
        maka dengan kata lain dapat dikatakan bahwa aspek ini adalah kemungkinan
        perubahan negatif pada bagian-bagian (aspek) kerja.
        Indikator dari dimensi ini yaitu:
        a) Kekhawatiran pegawai akan dipecat jika melanggar peraturan perusahaan
        b) Kekhawatiran akan kehilangan harkat dan martabat
      3. Powelessness (Ketidakberdayaan)
        Ketidakberdayaan (Powerlessness) yaitu ketidakmampuan individu untuk
        mencegah munculnya ancaman yang berpengaruh terhadap aspek-aspek
        pekerjaan secara keseluruhan yang teridentifikasi pada komponen sebelumnya.
        Indikator dalam dimensi ini, yaitu:
        a) Ketidakberdayaan untuk mempertahankan pekerjaan
        b) Ketidakberdayaan dalam menghadapi keadaan yang ada pada lingkungan
        kerja

      Bentuk-bentuk Job Insecurity


      Menurut (Hvinden, 2019:40) menyatakan bahwa bentuk job insecurity
      terbagi menjadi dua antara lain:

      1. Quantitative Job Insecurity (Ketidakamanan Pekerja Kuantitatif)
        Dimana job insecurity pada bentuk ini merupakan sebuah perasaan khawatir
        akan kehilangan pekerjan itu sendiri, dan rasa kehilangan pekerjaan dimasa
        yang akan datang (ketidakpastian akan masa depan pekerjaan), hal ini umum
        mengacu pada kondisi individu perusahaan.
      2. Qualitative Job Insecurity (Ketidakamanan Pekerja Kualitatif)
        Dimana job insecurity pada bentuk ini mengacu pada adanya potensi kerugian
        dalam posisi organisasi, seperti memburuknya kondisi kerja, kurangnya
        kesempatan karir, dan penurunan gaji pengembangan (ketidakpastian terhadap
        posisi yang dimilikinya saat ini untuk masa depan), hal ini umum mengacu
        pada kondisi perusahaan dan kebijakan di dalamnya.
        2.1.3.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Job Insecurity
        Menurut (Probst, 2016:50) job insecurity dipengaruhi oleh beberapa faktor
        diantaranya:
      3. Kondisi organisasi dan lingkungan, antara lain perubahan organisasi,
        komunikasi organisasi atau organizational communication, dukungan dari
        organisasi, persepsi dapat dipekerjakan, fitur-fitur pada pekerjaan seperti
        ambiguitas peran atau role ambiguity.
      4. Karakteristik individu dan posisi pekerjaan antara lain usia, gender, status
        sosial ekonomi, tipe kontrak
      5. Karakteristik personal antara lain self-esteem, kepribadian, neuroticism.

      Pengertian Job Insecurity


      Job insecurity (ketidakamanan kerja) merupakan sebuah kondisi yang
      berhubungan dengan rasa takut seseorang akan kehilangan pekerjaannya atau
      prospek akan penurunan jabatan (demosi) serta berbagai ancaman lainnya terhadap
      kondisi kerja yang akan menurunkan kesejahteraan dan menurunnya kepuasan
      kerja.
      Berikut adalah pengertian job insecurity menurut beberapa para ahli
      diantaranya menurut Probst, (2016:135) mengatakan “Job insecurity is the degree
      to which a job feels able to maintain the desired continuity of work, even though it
      is under threat”. Artinya: Ketidakamanan kerja adalah sejauh mana suatu pekerja
      merasa mampu mempertahankan kesinambungan pekerjaan yang diinginkan,
      meskipun berada di bawah ancaman. Pendapat serupa juga dikatakan oleh Menurut
      Hvinden (2019:35) bahwa “Job insecurity reflects the degree to which employees
      feel their jobs are threatened and feel powerless to do anything about keeping a
      job”. Artinya: ketidakamanan pekerjaan mencerminkan sejauh mana karyawan
      merasa pekerjaan mereka terancam dan merasa tidak berdaya untuk melakukan apa
      pun untuk mempertahankan pekerjaan. Juga dikatakan R. Selfert (2020:68) bahwa
      “Job insecurity is a feeling of insecurity felt by individuals regarding the
      continuation of work and aspects related to the work itself, such as salary,
      promotion opportunities, and so on.”. Artinya job insecurity adalah perasaan tidak
      aman yang dirasakan oleh individu mengenai kelanjutan pekerjaan dan aspek-aspek
      yang berhubungan dengan pekerjaan itu sendiri, seperti gaji, kesempatan promosi,
      dan sebagainya

      Job Insecurity


      Menurut studi yang diselenggarakan oleh (Greenhalgh & Rosenblatt
      1984:446) memaparkan bahwa pekerja akan memperlihatkan perilaku dan sikap
      yang kian buruk karena didorong oleh tingginya kekhawatiran yaitu job insecurity
      dan berakibat pada sikap resistensi terhadap perubahan. Selain itu, pegawai akan
      memperlihatkan penurunan produktivitas dan langkah inisiatif untuk melakukan
      turnover (pindah). Job Incecurity cenderung dapat menimbulkan dampak negatif,
      baik dalam aspek non psikologis maupun aspek psikologis

      Peran Manajemen Sumber Daya Manusia


      Manajemen sumber daya manusia mempunyai peranan penting dan
      dominan dalam sebuah organisasi, hal ini berhubungan dengan upaya mewujudkan
      hasil yang ingin dicapai. Menurut Hasibuan (2019:23) mengungkapkan bahwa
      peranan manajemen sumber daya manusia adalah sebagai berikut:

      1. Menetapkan jumlah, kualitas dan penempatan tenaga kerja yang efektif sesuai
        dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan job description, job specification,
        job requirement, dan job evaluation
      2. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan pegawai berdasarkan asas the
        right man in the right place and the right man in the right job
      3. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi, dan
        pemberhentian seperti pemberian tunjangan kesehatan juga dapat berupa
        pelatihan dan pengembangan pada karyawan
      4. Meramal penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang
        akan datang, dengan mentaksir kebutuhan skill pegawai yang akan dibutuhkan
        di masa depan
      5. Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan perkembangan
        perusahaan pada khususnya seperti menciptakan target-target khusus untuk
        dapat tetap stabil dan mampu bersaing
      6. Memonitor dengan cermat undang-undang perburuhan dan kebijaksanaan
        pemberian balas jasa perusahaan yang sejenis
      7. Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh (memonitor
        segala kebijakan terbaru)
      8. Melaksanakan pendidikan, latihan, penilaian prestasi pegawai seperti
        dilakukannya training-training kerja
      9. Mengatur mutasi pegawai baik vertikal maupun horizontal
      10. Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya

      Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


      Fungsi merupakan kegiatan pokok yang dilakukan dalam suatu organisasi
      atau perusahaan. Setiap pegawai pada hakikatnya melakukan dua fungsi, pertama
      yaitu fungsi manajerial dimana kegiatan-kegiatan dilakukan dengan pekerjaan
      pikiran atau menggunakan pikiran (mental), dan yang kedua yaitu fungsi operatif
      (teknis), dimana kegiatan-kegiatan dilakukan dengan fisik. Menurut Hasibuan
      (2019: 22) menyatakan bahwa fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia
      adalah sebagai berikut:

      1. Fungsi manajerial
        a. Perencanaan (Planning)
        Perencanaan (human resources planning) adalah kegiatan merencanakan
        tenaga kerja secara efektif serta efisien agar sesuai dengan kebutuhan
        organisasi dalam membantu mewujudkan tujuan. b. Pengorganisasian (Organizing)
        Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasikan semua
        pegawai dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
        wewenang, integrasi, dan koordinasinya dalam bagan organisasi.
        c. Pengarahan (Actuating)
        Pengarahan yaitu tindakan yang mengarahkan semua pegawai, agar mau
        bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu
        tercapainya tujuan perusahaan, pegawai, dan masyarakat.
        d. Pengendalian (Controlling)
        Pengendalian adalah kegiatan kontrol/evaluasi yang beruguna untuk
        memastikan bahwa apa yang sudah direncanakan, disusun, dan
        dijalankan dapat berjalan sesuai dengan prosedur, dengan kata lain
        sebagai monitor kemungkinan ditemukannya penyimpangan.
      2. Fungsi Operasional
      3. Pengadaan (Procurement)
        Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
        indikasi untuk mendapatkan pegawai yang sesuai dengan kebutuhan
        perusahaan.
      4. Pengembangan (Development)
        Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis,
        konseptual, dan moral pegawai melalui pendidikan dan pelatihan agar
        dapat menjalankan tugas dengan baik.
      5. Kompensasi (Compensation)
        Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung
        baik metreial maupun non material yang adil dan layak kepada pegawai
        sebagai imbalan jasa yang diberikannya kepada organisasi.
      6. Integrasi (Integration)
        Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
        perusahaan dan kebutuhan pegawai, agar tercipta kerja sama yang serasi
        dan saling menguntungkan, fungsi ini merupakan usaha memperoleh
        keamanan, dan kenyamanan pegawai, perusahaan, dan masyarakat.
      7. Pemeliharaan (Maintanance)
        Pemeliharaan pegawai adalah kegiatan untuk meningkatkan dan
        memelihara atau mempertahankan kondisi fisik, mental dan loyalitas
        pegawai, secara berkesinambungan agar mereka tetap mau bekerja sama
        sampai purna bakti.
      8. Kedisiplinan (Discipline)
        Kedisiplinan merupakan kunci terwujudnya tujuan, Kedisiplinan adalah
        kesadaran untuk menaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-
        norma sosial.
      9. Pemberhentian (Separation)
        Pemberhentian adalah pemutusan hubungan kerja seseorang dari suatu
        organisasi. Biasanya disebabkan oleh keinginan pegawai, keinginan
        perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab lainnya.

      Manajemen Sumber Daya Manusia


      Sumber daya manusia merupakan aset penting yang berperan sebagai faktor
      penggerak utama dalam pelaksanaan seluruh kegiatan sebuah organisasi.
      pernyataan ini diperkuat oleh Ensiklopedia Bahasa Indonesia (dalam Rahman,
      2020) yang menyatakan bahwa sumber daya manusia atau SDM merupakan unsur
      penting yang tidak dapat dipisahkan dari eksistensi sebuah organisasi, baik
      perusahaan ataupun sebuah instansi, hal ini terjadi karena sumber daya manusia
      adalah barometer yang menentukan perkembangan sebuah organisasi dan
      merupakan modal serta kekayaan yang terpenting dari setiap kegiatan manusia.
      Berikut definisi manajemen sumber daya manusia (MSDM) menurut para
      ahli yaitu Menurut Dessler (2017:6) mengemukakan bahwa “Manajemen sumber
      daya manusia adalah suatu kebijakan dan praktik menentukan aspek “Manusia”
      atau sumber daya manusia dalam posisi manajemen termasuk merekrut, melatih,
      memberikan penghargaan dan penilaian”. Sama halnya dengan pendapat dari Henry
      Simamora (2016:3) yang menyatakan bahwa “Manajemen Sumber Daya Manusia
      adalah pendayagunaan, pengembangan, penilaian, pemberian balas jasa dan
      pengelolaan individu anggota organisasi atau kelompok kerja”. Sama halnya
      Menurut Afandi (2018:3). menyatakan “Manajemen sumber daya manusia adalah
      penarikan, seleksi, pengembangan, pemeliharaan dan penggunaan sumber daya
      manusia untuk mencapai tujuan individu atau organisasi.” Lain halnya menurut
      Hasibuan (2019:20) menyatakan bahwa “Manajemen Sumber Daya Manusia
      adalah ilmu dan seni yang mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar aktif
      dan efisien membantu terwujudnya tujuan perusahaan, pegawai dan masyarakat.”

      Unsur-unsur Manajemen


      Setiap organisasi harus memiliki unsur-unsur untuk membentuk sistem
      manajerial yang baik dan harmoni. Peranan unsur ini terkait dengan pelaksanaan
      fungsi manajemen, dimana apabila salah satu diantaranya tidak ada atau tidak
      berfungsi dengan baik, maka akan berdampak pada taraf pencapaian tujuan
      organisasi. berikut unsur-unsur manajemen menurut George R. Tery dalam
      Hasibuan, (2019:50):

      1. Manusia (Man)
        Manusia pada elemen ini merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki
        organisasi, artinya sumber daya manusia yang sudah memiliki kualifikasi dan
        kompetensi yang dibutuhkan oleh organisasi. faktor manusia adalah yang
        paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang
        melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses
        kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah mahluk kerja.
      2. Uang (Money)
        Uang merupakan alat tukar dan alat pengukuran nilai. Besar-kecilnya hasil
        kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh
        karena itu uang merupakan alat yang penting untuk mencapai tujuan karena
        segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan
        dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja,
        alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai
        dari suatu organisasi.
      3. Material (Materials)
        Material merupakan bahan mentah, bahan setengah jadi dan bahan jadi. Dalam
        dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli
        dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/material-material
        sebagai salah satu sarana. Sebab material dan manusia tidak dapat dipisahkan,
        tanpa material tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
      4. Mesin (Machines)
        Penggunaan mesin dalam proses produksi adalah hal yang mutlak. Penggunaan
        mesin akan membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih
        besar serta menciptakan efesiensi kerja.
      5. Metode (Methods)
        Metode dapat diartikan sebagai suatu cara untuk melakukan kegiatan agar
        diperoleh hasil yang berkualitas, efektif dan efisien. Suatu tata cara kerja yang
        baik akan memperlancar jalannya pekerjaan.
      6. Pasar (Market)
        Pasar merupakan tempat memasarkan produk atau jasa. Bagi organisasi yang
        bergerak di bidang industri yang motifnya adalah keuntungan, maka pasar
        merupakan unsur manajemen yang penting. Dengan adanya pasar, maka
        produk yang diproduksinya dapat terjual dengan sukses.

      Fungsi Manajemen


      Fungsi manajemen merupakan elemen-elemen dasar yang melekat pada
      proses manajerial. Fungsi ini dijadikan sebagai acuan untuk mengatur kegiatan di
      perusahaan agar berjalan dengan baik dan mencapai tujuan dengan efektif juga
      efisien. Menurut George R. Tery dalam Hasibuan (2019:130) terdapat empat
      elemen dari fungsi manajemen yaitu:

      1. Perencanaan (Planning)
        Perencanaan adalah proses yang mendefinisikan tujuan dari organisasi,
        membuat strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dari organisasi,
        serta mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
      2. Pengorganisasian (Organizing)
        Pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan atau
        alokasi sumber daya organisasi dalam bentuk desain organisasi atau struktur
        organisasi sesuai dengan tujuan perusahaan yang tertuang di dalam visi dan
        misi perusahaan, sumber daya organisasi, dan lingkungan bisnis perusahaan
        tersebut.
      3. Pengarahan (Actuating)
        Pengarahan adalah suatu tindakan eksekusi terhadap rencana yang telah
        dituangkan dalam bentuk plan. Serta pembagian kerja sumber daya yang ada
        pada organisasi agar kegiatan berjalan sesuai dengan rencana.
      4. Kontrol (Controling)
        Kontrol adalah bentuk pengawasan atau pengendalian dari sebuah gerakan
        yang telah dilakukan oleh organisasi agar berjalan sesuai dengan harapan

      Manajemen


      Secara etimologis, kata manajemen berasal dari berbagai bahasa, yang
      pertama yaitu dari bahasa perancis kuno yakni management, yang berarti seni
      melaksanakan dan mengatur. Lalu dalam bahasa italia yaitu meneggiare yang
      memiliki arti mengendalikan. Sedangkan dari bahasa inggris berasal dari kata to
      manage yang artinya mengelola atau mengatur.
      Berikut merupakan pengertian manajemen menurut para ahli diantaranya ada
      pendapat dari G.R Terry dalam Winardi (2016:11) mengemukakan bahwa
      manajemen merupakan suatu proses yang terdiri dari perencanaan (Planning),
      pengorganisasian (Organizing), pengawasan (Controlling) dan mobilisasi untuk
      menentukan dan mencapai tujuan yang ditetapkan melalui penggunaan sumber
      daya manusia dan sumber daya lainnya. Sedangkan pendapat Menurut Robbins dan
      Mary yang dialih bahasa oleh Ratna Saraswati yang mendefinisikan bahwa
      (2016:36) “Manajemen adalah proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan
      kegiatan-kegiatan kerja agar diselesaikan secara efisien dan efektif dengan melalui
      orang lain.” Dan sama halnya dengan pendapat Menurut Hasibuan (2017:9)
      “Manajemen adalah ilmu dan seni yang mengatur proses pemanfaatan sumber daya
      manusia dan sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu
      tujuan tertentu.”
      Selain itu menurut Afandi (2018:1) mengemukakan bahwa :
      “Manajemen adalah bekerja dengan orang-orang untuk mencapai tujuan
      organisasi dengan pelaksanaan fungsi perencanaan (planning),
      pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia atau kepegawaian
      (staffing), pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan
      (controlling).”

      Engagement Rate


      Engagement rate merupakan indikator yang sangat penting dipahami dan
      dimengerti oleh para influencer dan digital marketer untuk menilai keterlibatan
      audiens dengan post yang sudah dipublikasikan. Dikutip dari halaman resmi
      Hopperhq, engagement rate adalah suatu metrik standar yang dimanfaatkan
      dalam pemasaran media sosial dalam mengukutr performa pada suatu konten di
      platform media sosial, khususnya di Instagram. Jika suatu konten bisa
      mendapatkan banyak perhatian dari pihak followers dalam bentuk like maupun
      komen, maka pengetahuan publik pada suatu brand akan secara otomatis
      meningkat.
      Selain mengacu pada sebuah tindakan, komunikasi media sosial ini pun
      perlu memperhatikan apa yang disebut dengan user engagement. Maka user
      engagement di media sosial pun bisa memperhatikan empat indikator berikut :
      a. Reaksi terhadap konten (reacting to content).
      b. Berkomentar terhadap konten ( commenting on content).
      c. Berbagi konten ke pengguna lainya (sharing konten with others).
      d. Posting konten sebagai respons (posting user generated content

      Pengaruh Brand Engagement sebagai pemediasi terhadap Brand Experience dan Brand Loyalty


      Kesetiaan konsumen terhadap merek, dapat mempengaruhi tingkat brand
      engagement atau keterlibatan konsumen dengan merek. Konsumen yang loyal
      cenderung memiliki tingkat keterlibatan yang lebih tinggi dengan merek tersebut.
      Merek yang berhasil membangun kesetiaan konsumen dapat meningkatkan
      keterlibatan konsumen dengan merek melalui partisipasi dalam aktivitas merek,
      penyebaran kata tentang merek, dan interaksi dengan merek Vivek et al., (2012).
      Brand engagement atau keterlibatan konsumen dengan merek juga
      memiliki pengaruh terhadap brand experience. Konsumen yang terlibat secara
      aktif dengan merek cenderung memiliki pengalaman yang lebih kaya dan berarti
      dengan merek. Mereka akan mencoba berbagai produk dan layanan merek,
      berpartisipasi dalam kegiatan merek. Brand engagement memperkaya brand
      experience dengan memberikan konsumen peluang untuk merasakan merek secara
      lebih menyeluruh. Konsumen yang loyal terhadap merek cenderung memiliki
      brand experience yang lebih positif karena mereka telah mengembangkan
      hubungan emosional dan persepsi positif terhadap merek tersebut Batra et al.,
      (2021).

      Pengaruh Brand Engagement terhadap Brand Loyalty


      Dalam Bailey et al., (1999) dan Gremler et al., (2002) menyatakan
      bahwa brand engagement memiliki pengaruh yang positif signifikan terhadap
      brand loyalty. Dalam penelitiannya, dapat disimpulkan bahwa konsumen yang
      terlibat secara aktif dengan merek cenderung memiliki tingkat loyalitas yang lebih
      tinggi. Keterlibatan yang tercipta berperan untuk menciptakan ikatan emosional
      yang tinggi. Ketika konsumen merasa terlibat secara aktif dengan merek, baik
      melalui interaksi sosial, partisipasi dalam program loyalitas, atau pengalaman
      positif dengan produk atau layanan merek, mereka cenderung memiliki ikatan
      emosional yang lebih kuat dengan merek tersebut. Melalui brand engagement,
      konsumen dapat mengembangkan persepsi nilai yang tinggi terhadap merek.
      Mereka merasa terlibat dan terlibat secara aktif dengan merek, menghargai
      manfaat dan nilai yang diberikan oleh merek tersebut.
      Secara keseluruhan, brand engagement yang positif dan kuat dapat
      mempengaruhi brand loyalty dengan menciptakan keterikatan emosional, persepsi
      nilai yang tinggi, interaksi positif, rekomendasi, dan pembelian berulang. Merek
      yang mampu mendorong brand engagement yang baik memiliki peluang yang
      lebih tinggi untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen dan
      meningkatkan brand loyalty.

      Pengaruh Brand Experience terhadap Brand Engagement


      Pada hakikatnya brand experience itu dihasilkan dari pengalaman
      motivasi Waqas, (2022). Dalam kata lain bisa kita simpulkan bahwa brand
      experience yang baik memicu munculnya brand engagement. pengalaman yang
      positif dengan merek cenderung meningkatkan keterlibatan merek. Pelanggan
      yang memiliki pengalaman positif dengan produk atau layanan merek dan merasa
      puas dengan interaksi mereka dengan merek lebih mungkin untuk merasa terlibat
      dengan merek tersebut. Pengalaman positif ini dapat mencakup aspek-aspek
      seperti kualitas produk, pelayanan pelanggan, desain, dan emosi yang dirasakan
      oleh pelanggan saat berinteraksi dengan merek.
      Jadi, dapat dikatakan bahwa brand experience berpengaruh terhadap
      brand engagement apabila konsumen memiliki pengalaman yang tinggi dan
      menumbuhkan keterlibatan secara emosional dengan merek. sebagai reaksi
      internal dan subjektif siswa terhadap kontak langsung atau tidak langsung dengan
      merek tersebut perguruan tinggi di berbagai titik kontak Waqas, (2022). Ketika
      pelanggan memiliki pengalaman positif dengan merek, mereka cenderung
      menjadi lebih terlibat dengan merek tersebut. Dengan demikian, menciptakan
      brand experience yang positif dan membangun hubungan yang kuat dengan
      pelanggan merupakan strategi penting dalam mencapai brand engagement yang
      tinggi.

      Pengaruh Brand Experience terhadap Brand Loyalty


      Pada prinsipnya konsep pengalaman memiliki berbagai macam definisi
      yang berbeda menurut penjelasan para ahli, namun pada intinya tetap merujuk
      pada konsepsi dasar yang sama. Dasar terbentuknya perasan yang loyal adalah
      dari pengalaman yang pernah kita alami. Dimana brand experience yang positif
      dapat menghasilkan ikatan emosional antara merek dan konsumen, yang pada
      hakikatnya memperkuat brand loyalty, Smith & Keller, (2021). Ikatan ini tidak
      hanya didasarkan pada atribut rasional atau manfaat fungsional, tetapi juga pada
      hubungan emosional yang terjalin antara konsumen dan merek.
      Jadi, dapat dikatakan bahwa brand experience berpengaruh terhadap
      loyalitas karena apabila konsumen memiliki pengalaman dan menumbuhkan
      ikatan emosional dengan merek, mereka cenderung merasa terhubung secara
      pribadi dan setia terhadap merek tersebut. Ketika konsumen menerima brand
      experience yang baik, Maka konsumen merasa senang, terpenuhi, dan terkoneksi
      dengan merek, mereka cenderung lebih setia terhadap merek tersebut dan
      memilihnya kembali di masa depan.

      Loyalitas Merek (Brand Loyalty)


      Loyalitas merek adalah komitmen yang mendalam untuk membeli
      kembali produk atau layanan secara konsisten di masa depan, meskipun pengaruh
      situasional dan upaya pemasaran berpotensi menyebabkan perilaku beralih
      Teeroovegadum (2019). Loyalitas mahasiswa dalam konteks pendidikan tinggi
      melibatkan perilaku seperti memberikan word-of-mouth positif terkait universitas,
      merekomendasikan universitas kepada orang lain, dan memilih universitas yang
      sama lagi di masa depan Teeroovegadum (2019).
      Brand Loyalty menggambarkan keberpihakan konsumen terhadap suatu
      merek, yang tercermin dalam keinginan mereka untuk melakukan pembelian
      berulang dari merek tersebut. Brand loyalty adalah sikap positif dan kesetiaan
      yang konsisten yang dimiliki oleh konsumen terhadap suatu merek atau
      perusahaan. Loyalitas merek mengacu pada keterikatan individu pada merek
      tertentu, dan merupakan faktor penting dari manajemen merek Shaalan et al.,
      (2022) Dari definisi tersebut dapat disimpulkan Brand loyalty adalah hasil dari
      kepuasan konsumen yang berkesinambungan terhadap merek, yang mengarah
      pada kecenderungan untuk mempertahankan pembelian merek tersebut dan
      menghindari merek pesaing.
      Secara umum, brand loyalty melibatkan kecenderungan konsumen untuk
      membeli secara berulang dari suatu merek, merasa puas dengan pengalaman
      mereka, dan memiliki komitmen serta kepercayaan yang kuat terhadap merek
      tersebut. Berikut Indikator untuk mengukur Brand Loyalty:
      a. Tingkat Pembelian Berulang
      Indikator utama brand loyalty adalah sejauh mana konsumen melakukan
      pembelian berulang dari suatu merek. Jika konsumen secara konsisten
      memilih dan membeli produk atau layanan dari merek tertentu, itu
      menunjukkan adanya tingkat brand loyalty yang tinggi.
      b. Partisipasi dalam Program Loyalitas
      Jika konsumen secara aktif terlibat dalam program loyalitas merek, seperti
      mengumpulkan poin atau menggunakan kartu keanggotaan, hal ini
      menunjukkan tingkat brand loyalty yang tinggi. Konsumen yang terlibat
      dalam program loyalitas biasanya memiliki motivasi untuk terus membeli
      dari merek tersebut.
      c. Tingkat Penolakan terhadap Merek Pesaing
      Jika konsumen menunjukkan penolakan terhadap merek pesaing dan secara
      konsisten memilih merek tertentu, itu dapat dianggap sebagai indikator
      brand loyalty yang tinggi. Konsumen yang setia akan tetap memilih merek
      mereka bahkan ketika ada alternatif yang tersedia.
      d. Tingkat Kesetiaan Merek
      Mengukur sejauh mana konsumen setia terhadap merek tertentu juga
      merupakan indikator brand loyalty yang penting. Ini dapat dilakukan
      dengan melihat seberapa sering konsumen memilih merek tersebut
      dibandingkan dengan merek pesaing dalam situasi pembelian yang sama.

      Keterlibatan Merek (Brand Engagement)


      Waqas, (2022) mendefinisikan brand engagement sebagai upaya
      kognitif, emosional, dan perilaku konsumen untuk berinteraksi dengan merek
      yang digunakan konsumen. Brand engagement adalah keterikatan mahasiswa
      secara kognitif, emosional dan behavioral dengan sumber daya yang terkait
      dengan pengalaman pendidikan mereka di suatu perguruan tinggi Waqas, (2022).
      Definisi ini juga digunakan dalam penelitian Sohaib et. al., (2023) yang
      menjelaskan bahwa brand engagement adalah kombinasi faktor afektif, kognitif,
      dan perilaku yang dalami konsumen dengan merek.
      Wijaya, (2019) mendefinisikan brand engagement sebagai sikap,
      perilaku, tingkat keterhubungan antara pelanggan, antara pelanggan dengan
      karyawan, dan antara pelanggan dengan karyawan dalam perusahaan. Terdapat
      beberapa hal untuk menganalisis tiga dimensi Brand Engagement, antara lain:

      1. Kognitif
        Tingkat keterlibatan objek pelanggan terkait dengan proses berpikir,
        konsentrasi, dan minat pada objek tertentu.
      2. Emotional
        Dapat dinyatakan sebagai “lampiran” konsumen, yaitu perasaan positif
        untuk merek tertentu seperti produk yang sesuai dengan harapan
        konsumen dan konsumen memiliki rasa kebanggaan setelah
        menggunakan produk.
      3. Behavioral
        Behavioral berhubungan dengan makna dari kata “terlibat

      Pengalaman Merk (Brand Experience)


      Brand Experience didefinisikan sebagai sensasi, perasaan, perilaku dan
      intelektualitas yang merupakan tanggapan akibat adanya ransangan merek yang
      meliputi desain, identitas merek, kemasan, komunikasi, dan lingkungan dalam
      Waqas, et al. (2022) yang menggunakan definisi ini untuk meneliti brand
      experience pada perguruan tinggi. Adapun menurut Yu et al., (2021), brand
      experience adalah pengalaman merek didefinisikan sebagai keyakinan konsumen
      bahwa pengalaman mereka konsisten di seluruh saluran pemasaran (yaitu, online
      dan saluran luring). Hal ini didukung oleh pendapat Wijaya, (2019) yang
      menyatakan bahwa brand experience merupakan perasaan pelanggan karena
      interaksi mereka dengan barang, layanan, dan atmosfer.
      Waqas, (2022) mendefinisikan brand experience sebagai subjektif, respon
      konsumen internal dan respon pelanggan terhadap rangsangan merek, seperti
      nama,logo, maskot, pengemasan, komunikasi pemasaran, suasana toko dan
      lingkungan. Pada pandangan tersebut dapat dipahami bahwa brand experience
      merupakan variabel yang dapat menjadi alat ukur untuk melihat respon pelanggan
      terhadap produk yang telah dibeli. Hal tersebut juga didukung oleh dimensi
      pengukuran yang terdapat pada brand experience. Waqas, (2022) menyatakan
      terdapat empat dimensi brand experience, antara lain:

      1. Sensasi (sensory): melibatkan rangsangan dari organ indera dengan
        melihat, mendengar, dan menyentuh
      2. Perasaan (Affection): mengacu pada aktivasi perasaan dan emosi pada
        saat interaksi dengan objek
      3. Intelektual (kognisi/pengetahuan): stimulasi kognitif, pemikiran,
        elaborasi informasi terkait merek, dan rasa ingin tahu.
      4. Perilaku (behavior): adanya perilaku fisik atau tindakan yang merupakan
        gaya hidup konsumen sejak lama

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (12)

      Kesimpulan

      Risiko dalam manajemen konstruksi merupakan konsekuensi dari ketidakpastian yang melekat pada pelaksanaan proyek. Risiko dapat berasal dari aspek teknis, desain, biaya, jadwal, pengadaan, sumber daya, mutu, keselamatan, kontrak, dan faktor eksternal. Bila tidak dikelola, risiko dapat menyebabkan keterlambatan, pembengkakan biaya, kegagalan mutu, kecelakaan kerja, klaim, serta sengketa.

      Manajemen risiko yang efektif dilakukan secara berkelanjutan melalui perencanaan, identifikasi, analisis kualitatif dan kuantitatif, perencanaan respons, implementasi tindakan, serta pemantauan. Pendekatan tersebut membantu proyek bukan untuk menghilangkan seluruh ketidakpastian, melainkan untuk mengendalikan paparan risiko sehingga sasaran waktu, biaya, mutu, keselamatan, dan fungsi proyek tetap dapat dicapai.

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (11)

      Faktor keberhasilan

      Keberhasilan manajemen risiko konstruksi ditentukan oleh beberapa faktor berikut:

      • Komitmen pemilik proyek dan manajemen puncak terhadap pengelolaan risiko.
      • Keterlibatan lintas pihak sejak tahap perencanaan dan desain.
      • Kejelasan pembagian risiko dalam dokumen kontrak.
      • Kualitas data lapangan, desain, jadwal, biaya, dan riwayat proyek sebelumnya.
      • Penetapan pemilik risiko yang memiliki kewenangan serta sumber daya untuk bertindak.
      • Pembaruan risk register secara berkala, bukan hanya sebagai dokumen administratif awal proyek.
      • Ketersediaan kontinjensi waktu dan biaya yang berbasis hasil analisis.
      • Budaya komunikasi terbuka, termasuk pelaporan kondisi tidak aman dan near miss.
      • Integrasi risiko dengan pengendalian jadwal, biaya, mutu, K3, dan kontrak.

      Pada proyek konstruksi, analisis risiko yang hanya berhenti pada penilaian matriks probabilitas–dampak tidak cukup. Risiko perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret, misalnya kontrak pemasok alternatif, jadwal pengadaan lebih awal, inspeksi material, prosedur kerja aman, cadangan waktu untuk aktivitas kritis, dan rencana tanggap darurat.

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (10)

      Risiko dan indikator proyek

      Risiko dapat memengaruhi indikator kinerja utama proyek secara bersamaan. Hubungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

      Sasaran proyekBentuk dampak risikoIndikator yang dapat dipantau
      WaktuKeterlambatan aktivitas kritis, produktivitas rendah, gangguan pasokanSPI, deviasi jadwal, keterlambatan lintasan kritis
      BiayaPembengkakan material, pekerjaan ulang, biaya lembur, klaimCPI, cost variance, proyeksi biaya akhir
      MutuCacat pekerjaan, hasil uji tidak memenuhi standar, reworkJumlah ketidaksesuaian, hasil pengujian, biaya mutu
      KeselamatanKecelakaan kerja, kondisi tidak aman, penghentian pekerjaanLost time injury, near miss, tingkat kepatuhan APD
      LingkupPerubahan desain, pekerjaan tambahan, ketidakjelasan spesifikasiJumlah change order, perubahan volume, klaim
      KontrakPerselisihan pembayaran, perbedaan interpretasi dokumenJumlah klaim, status addendum, sengketa terbuka

      Misalnya, risiko hujan berkepanjangan pada proyek pekerjaan tanah dapat menurunkan produktivitas alat, menghambat pemadatan tanah, menggeser jadwal pekerjaan pondasi, menambah biaya sewa alat dan tenaga kerja, serta menimbulkan risiko mutu apabila pekerjaan dilakukan pada kadar air yang tidak memenuhi spesifikasi. Risiko tersebut perlu ditangani dengan strategi seperti penyesuaian kalender kerja, sistem drainase sementara, perlindungan material, cadangan waktu, dan penjadwalan alternatif untuk pekerjaan yang dapat dilakukan saat kondisi hujan.

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (9)

      6. Implementasi, pemantauan, dan pengendalian

      Respons risiko hanya efektif apabila benar-benar diterapkan. Karena itu, setiap risiko prioritas harus memiliki pemilik risiko, tindakan spesifik, tenggat waktu, indikator keberhasilan, kebutuhan biaya, dan mekanisme pelaporan.

      Pemantauan risiko mencakup:

      • Melacak status risiko yang telah diidentifikasi.
      • Memeriksa pelaksanaan rencana mitigasi.
      • Menilai efektivitas tindakan yang dilakukan.
      • Mengidentifikasi risiko baru.
      • Memantau risiko residual dan risiko sekunder.
      • Memperbarui skor probabilitas dan dampak.
      • Menyesuaikan cadangan biaya atau waktu apabila diperlukan.
      • Melakukan eskalasi ketika risiko melewati batas toleransi.

      PMI menyatakan bahwa pemantauan risiko mencakup pengawasan atas implementasi respons yang telah disepakati, pelacakan risiko teridentifikasi, analisis risiko baru, serta evaluasi efektivitas proses manajemen risiko sepanjang proyek berlangsung (PMI, 2018)

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (8)

      5. Perencanaan respons risiko

      Setelah risiko diprioritaskan, tim proyek menyusun strategi respons. Untuk risiko negatif atau ancaman, respons yang umum adalah:

      • Menghindari (avoid), yaitu mengubah rencana agar sumber risiko tidak lagi ada. Contohnya, mengubah metode konstruksi yang terlalu berbahaya.
      • Mengurangi (mitigate), yaitu menurunkan probabilitas atau dampak. Contohnya, melakukan pemesanan material kritis lebih awal dan menyiapkan pemasok cadangan.
      • Memindahkan (transfer), yaitu mengalihkan sebagian konsekuensi kepada pihak lain melalui asuransi, jaminan, atau klausul kontrak yang sah.
      • Menerima (accept), yaitu menerima risiko secara sadar apabila biaya mitigasi lebih besar daripada manfaatnya, sambil menyiapkan kontinjensi bila diperlukan.

      Untuk peluang atau risiko positif, strategi yang dapat digunakan adalah mengeksploitasi, meningkatkan, membagikan, atau menerima peluang. Sebagai contoh, penggunaan teknologi prefabrikasi dapat menjadi peluang untuk mempercepat pemasangan struktur apabila pemasok, desain, dan logistik telah dipersiapkan dengan baik.

      PMI menjelaskan bahwa respons risiko dapat mencakup mitigasi melalui penghindaran, pengalihan melalui asuransi atau pengaturan kontraktual, dan perencanaan kontinjensi untuk menghadapi ketidakpastian yang masih tersisa (PMI, 2022

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (7)

      4. Analisis risiko kuantitatif

      Analisis kuantitatif digunakan untuk mengukur dampak risiko secara numerik, terutama pada proyek besar, kompleks, atau bernilai tinggi. Analisis ini membutuhkan data yang lebih memadai dan dapat menghasilkan estimasi probabilistik terhadap durasi, biaya, atau peluang pencapaian sasaran.

      Beberapa teknik analisis kuantitatif meliputi:

      • Analisis sensitivitas untuk mengetahui variabel yang paling memengaruhi biaya atau jadwal.
      • Decision tree analysis untuk membandingkan pilihan keputusan berdasarkan probabilitas dan nilai hasil.
      • Expected Monetary Value atau EMV untuk memperkirakan nilai kerugian atau manfaat harapan.
      • Simulasi Monte Carlo untuk menghasilkan distribusi kemungkinan durasi atau biaya akhir proyek.
      • Analisis skenario, misalnya skenario optimistis, moderat, dan pesimistis.
      • Analisis cadangan kontinjensi biaya dan waktu.

      Rumus EMV dapat ditulis sebagai:

      EMV=P×IEMV = P \times IEMV=P×I

      Misalnya, terdapat peluang 30% terjadi keterlambatan material yang diperkirakan menimbulkan biaya tambahan Rp200 juta. Maka:

      EMV=0,30×Rp200.000.000=Rp60.000.000EMV = 0{,}30 \times Rp200.000.000 = Rp60.000.000EMV=0,30×Rp200.000.000=Rp60.000.000

      Nilai tersebut dapat menjadi salah satu dasar penetapan cadangan biaya. Akan tetapi, EMV tidak boleh dipakai secara mekanis karena besarnya kerugian juga bergantung pada kontrak, kapasitas pemasok, fleksibilitas jadwal, dan opsi mitigasi yang tersedia.

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (6)

      3. Analisis risiko kualitatif

      Analisis kualitatif bertujuan menentukan prioritas risiko berdasarkan kombinasi probabilitas dan dampaknya. Metode ini lazim digunakan karena relatif sederhana, cepat, dan sesuai untuk proyek yang belum memiliki data kuantitatif yang lengkap.

      Rumus sederhana yang sering digunakan adalah:

      Skor Risiko=P×I\text{Skor Risiko} = P \times ISkor Risiko=P×I

      dengan:

      P=probabilitas terjadinya risikoP = \text{probabilitas terjadinya risiko}P=probabilitas terjadinya risiko

      I=besar dampak risikoI = \text{besar dampak risiko}I=besar dampak risiko

      Sebagai contoh, skala 1–5 dapat digunakan untuk menilai probabilitas dan dampak. Jika risiko keterlambatan material memiliki probabilitas 4 dan dampak 5, maka:

      R=4×5=20R = 4 \times 5 = 20R=4×5=20

      Nilai 20 dapat dikategorikan sebagai risiko tinggi atau ekstrem, sehingga perlu segera diberi respons dan ditunjuk pemilik risiko yang bertanggung jawab.

      Matriks probabilitas–dampak biasanya dibagi menjadi tiga tingkat:

      Tingkat risikoKarakteristikRespons manajerial
      Tingkat risikoKarakteristikRespons manajerial
      RendahDampak dan/atau peluang relatif kecilDipantau secara rutin; dapat diterima dengan cadangan terbatas
      SedangBerpotensi mengganggu satu atau lebih target proyekMitigasi direncanakan dan pemilik risiko ditetapkan
      TinggiBerpotensi menyebabkan keterlambatan besar, pembengkakan biaya, kecelakaan, atau sengketaTindakan segera, eskalasi kepada manajemen, kontinjensi khusus

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (5)

      2. Identifikasi risiko

      Identifikasi risiko adalah proses menemukan serta mendokumentasikan semua risiko yang mungkin memengaruhi proyek. Proses ini perlu dilakukan secara iteratif karena risiko baru dapat muncul pada tahap desain, pengadaan, pekerjaan struktur, penyelesaian arsitektur, maupun menjelang serah terima.

      Teknik identifikasi yang sering digunakan meliputi:

      • Telaah dokumen desain, spesifikasi, kontrak, jadwal, dan RAB.
      • Wawancara dengan pemilik, konsultan, kontraktor, pemasok, dan tenaga ahli.
      • Brainstorming atau lokakarya risiko lintas disiplin.
      • Observasi kondisi lapangan dan investigasi lokasi.
      • Analisis data proyek sejenis atau lessons learned.
      • Analisis SWOT.
      • Daftar periksa risiko (risk checklist).
      • Analisis akar penyebab (root cause analysis).
      • Telaah risiko kontrak dan regulasi.

      Hasil identifikasi dicatat dalam risk register. Minimal, risk register memuat kode risiko, uraian risiko, penyebab, dampak, kategori, probabilitas, tingkat dampak, skor risiko, pemilik risiko, respons yang direncanakan, status tindakan, dan risiko residual.

      PMI menekankan bahwa identifikasi risiko merupakan proses berulang untuk menentukan dan mendokumentasikan karakteristik risiko yang dapat memengaruhi proyek (PMI, 2008)

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (4)

      Proses manajemen risiko

      Proses manajemen risiko konstruksi umumnya terdiri atas perencanaan, identifikasi, analisis, respons, implementasi, serta pemantauan dan pengendalian. PMBOK menempatkan manajemen risiko sebagai rangkaian kegiatan yang mencakup perencanaan manajemen risiko, identifikasi risiko, analisis kualitatif dan kuantitatif, perencanaan respons, implementasi respons, dan pemantauan risiko (PMI, 2018).pmi-centralitaly

      1. Perencanaan manajemen risiko

      Tahap awal adalah menentukan bagaimana risiko akan dikelola dalam proyek. Manajer proyek perlu menetapkan metodologi, peran dan tanggung jawab, kategori risiko, skala penilaian probabilitas dan dampak, batas toleransi risiko, frekuensi pelaporan, anggaran kontinjensi, serta mekanisme eskalasi risiko.

      Dokumen utamanya adalah risk management plan. Dokumen ini menjelaskan siapa yang bertanggung jawab mengidentifikasi risiko, siapa pemilik risiko (risk owner), bagaimana risiko dinilai, kapan rapat risiko dilaksanakan, dan tindakan apa yang dilakukan apabila nilai risiko melewati batas tertentu.

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (3)

      Klasifikasi risiko

      Risiko dalam proyek konstruksi dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber, sifat, maupun dampaknya. Klasifikasi membantu manajer proyek membagi tanggung jawab, menentukan prioritas, serta menyusun strategi mitigasi yang sesuai.

      Kategori risikoContoh risikoDampak potensialContoh respons
      Risiko desain dan teknisKesalahan gambar, spesifikasi tidak lengkap, konflik desain struktur–MEP, kondisi tanah tak terdugaPekerjaan ulang, perubahan pekerjaan, keterlambatan, biaya tambahanDesign review, investigasi tanah, BIM koordinasi, constructability review
      Risiko waktu dan jadwalUrutan kerja tidak realistis, keterlambatan mobilisasi, cuaca buruk, keterlambatan materialPerpanjangan waktu, denda keterlambatan, kenaikan biaya tidak langsungCPM, penjadwalan ulang, buffer waktu, rencana percepatan
      Risiko biaya dan keuanganInflasi, fluktuasi harga material, kesalahan estimasi, keterlambatan pembayaranPembengkakan biaya, gangguan arus kas, pekerjaan terhentiKontinjensi biaya, kontrak eskalasi, cash-flow monitoring
      Risiko pengadaan dan rantai pasokPemasok gagal memenuhi pesanan, material impor tertunda, mutu material tidak sesuaiKeterlambatan, penggantian pemasok, rework, biaya logistik naikPemasok alternatif, inspeksi material, pemesanan dini
      Risiko sumber daya manusiaKekurangan pekerja terampil, produktivitas rendah, perselisihan tenaga kerjaPenurunan output, keterlambatan pekerjaan, mutu tidak konsistenPelatihan, rencana tenaga kerja, pengukuran produktivitas
      Risiko alat dan teknologiKerusakan alat berat, kegagalan peralatan, teknologi belum terujiGangguan operasi, biaya sewa tambahan, kecelakaanJadwal pemeliharaan, alat cadangan, uji coba metode
      Risiko mutuMaterial tidak memenuhi standar, metode kerja salah, pengawasan lemahCacat konstruksi, pembongkaran, pekerjaan ulang, sengketaITP, inspeksi bertahap, pengujian laboratorium, quality assurance
      Risiko K3 dan lingkunganJatuh dari ketinggian, longsor, kebakaran, paparan bahan berbahaya, pencemaranCedera atau kematian, penghentian proyek, sanksi, kerugian reputasiHIRADC/JSA, APD, pelatihan, inspeksi K3, rencana tanggap darurat
      Risiko kontrak dan hukumKlausul tidak jelas, klaim, perselisihan pembayaran, perubahan lingkupSengketa, arbitrase, biaya hukum, keterlambatanTelaah kontrak, administrasi dokumen, prosedur perubahan kerja
      Risiko eksternalCuaca ekstrem, bencana, perubahan regulasi, gangguan sosial, kondisi ekonomiKeterlambatan, kenaikan biaya, gangguan akses dan suplaiAsuransi, kontinjensi, pemantauan regulasi, rencana keberlanjutan

      Risiko tersebut tidak berdiri sendiri. Sebagai contoh, revisi desain struktur di tengah pelaksanaan dapat menimbulkan pekerjaan bongkar-pasang, kebutuhan material tambahan, perubahan metode kerja, penjadwalan ulang, penurunan produktivitas, penambahan biaya, dan potensi klaim dari kontraktor. Oleh karena itu, manajemen risiko harus melihat hubungan sebab-akibat antarrisiko, bukan hanya menilai setiap risiko secara terpisah.

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (2)

      Karakteristik risiko konstruksi

      Risiko konstruksi memiliki beberapa karakteristik penting:

      • Bersifat tidak pasti, sehingga waktu, lokasi, dan tingkat dampaknya tidak selalu dapat diprediksi dengan tepat.
      • Bersifat dinamis karena tingkat risiko dapat berubah sesuai kemajuan pekerjaan, kondisi pasar, cuaca, desain, dan keputusan para pihak.
      • Saling berkaitan karena satu risiko dapat memicu risiko lainnya. Keterlambatan material, misalnya, dapat menyebabkan keterlambatan jadwal, pembengkakan biaya tenaga kerja, penurunan produktivitas, tekanan percepatan pekerjaan, dan peningkatan risiko kecelakaan.
      • Memiliki konsekuensi yang berbeda bagi setiap pemangku kepentingan. Risiko keterlambatan dapat berarti denda bagi kontraktor, keterlambatan manfaat fasilitas bagi pemilik, serta gangguan layanan bagi pengguna.
      • Dapat dikelola, meskipun tidak selalu dapat dihilangkan. Tujuan manajemen risiko bukan menjamin proyek bebas risiko, melainkan menjaga tingkat paparan risiko pada batas yang dapat diterima.

      Manajemen risiko merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi, menilai, dan merespons faktor risiko sepanjang siklus hidup proyek demi melindungi tujuan proyek (PMI, 2022)

      Risiko dalam Manajemen Konstruksi (1)

      Risiko dalam manajemen konstruksi adalah kemungkinan terjadinya peristiwa atau kondisi tidak pasti yang dapat memengaruhi pencapaian sasaran proyek, terutama biaya, waktu, mutu, keselamatan, lingkup, dan kinerja kontraktual. Risiko tidak selalu berarti kerugian; dalam perspektif manajemen proyek, risiko juga dapat berupa peluang yang memberi dampak positif apabila dikelola secara tepat (Project Management Institute [PMI], 2008).pmi

      Konsep risiko konstruksi

      Proyek konstruksi memiliki tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi karena pelaksanaannya dipengaruhi oleh kondisi fisik lapangan, cuaca, desain, harga material, kapasitas kontraktor, tenaga kerja, alat, rantai pasok, pembiayaan, regulasi, dan relasi kontraktual. Tidak seperti proses produksi rutin di pabrik, proyek konstruksi umumnya bersifat unik, berlangsung pada lokasi tertentu, memiliki batas waktu, melibatkan banyak pihak, serta menghadapi kondisi yang berubah selama pekerjaan berlangsung.

      Secara umum, risiko proyek dapat dipahami melalui tiga elemen utama:

      • Peristiwa risiko (risk event), yaitu kejadian yang mungkin muncul, misalnya keterlambatan pasokan semen, hujan ekstrem, perubahan desain, atau kecelakaan kerja.
      • Probabilitas risiko, yaitu peluang bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
      • Dampak risiko, yaitu konsekuensi yang timbul terhadap biaya, jadwal, mutu, keselamatan, lingkungan, atau reputasi proyek.

      PMI menjelaskan risiko proyek sebagai eksposur terhadap peristiwa tidak pasti yang dapat merugikan tujuan proyek. Risiko tersebut dicirikan oleh kejadian risiko, probabilitas terjadinya, dan besarnya konsekuensi atau kerugian yang mungkin timbul (PMI, 2022).pmi

      Dengan demikian, risiko berbeda dari masalah (issue). Risiko merupakan kejadian yang belum terjadi, tetapi berpotensi terjadi di masa depan. Sebaliknya, masalah adalah kondisi yang sudah terjadi dan memerlukan tindakan korektif segera. Contohnya, kemungkinan kenaikan harga baja adalah risiko. Namun, apabila harga baja sudah meningkat dan menyebabkan anggaran pekerjaan struktur melampaui rencana, kondisi tersebut telah menjadi masalah proyek.

      Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (13)

      Kesimpulan

      Metode analisis dalam manajemen konstruksi berfungsi sebagai dasar objektif untuk merencanakan, mengendalikan, mengevaluasi, dan memperbaiki kinerja proyek. CPM dan PERT terutama digunakan untuk analisis penjadwalan; Kurva-S dan EVM untuk pengendalian kemajuan serta biaya; analisis risiko dan Monte Carlo untuk mengelola ketidakpastian; analisis produktivitas untuk efisiensi sumber daya; analisis mutu untuk kesesuaian spesifikasi; serta analisis kelayakan ekonomi untuk keputusan investasi.

      Penerapan metode yang tepat memungkinkan manajer konstruksi mendeteksi keterlambatan, inefisiensi biaya, risiko dominan, dan persoalan mutu lebih awal. Dengan demikian, keputusan korektif dapat dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi kegagalan proyek, klaim kontrak, pembengkakan biaya, atau keterlambatan penyelesaian.

      Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (12)

      Pemilihan metode

      Pemilihan metode analisis sebaiknya disesuaikan dengan tujuan, fase, tingkat kompleksitas, serta ketersediaan data proyek.

      Kondisi proyekMetode yang sesuaiAlasan
      Perencanaan jadwal awal dengan aktivitas relatif pastiCPM dan Kurva-SMenentukan urutan kerja, durasi, dan target progres
      Durasi aktivitas mengandung ketidakpastian tinggiPERT dan Monte CarloMemperhitungkan variasi serta peluang pencapaian target
      Pengendalian waktu dan biaya selama konstruksiEVM, Kurva-S, CPMMemberi indikator deviasi dan proyeksi kinerja
      Proyek berisiko tinggi atau kompleksMatriks risiko, RII, Monte CarloMenetapkan prioritas mitigasi dan cadangan proyek
      Evaluasi efisiensi tenaga kerja dan alatAnalisis produktivitasMengidentifikasi pemborosan sumber daya
      Evaluasi kepatuhan spesifikasiITP, inspeksi, uji material, ParetoMenjamin mutu serta mengurangi pekerjaan ulang
      Keputusan investasi pra-konstruksiNPV, IRR, BCR, analisis sensitivitasMenilai kelayakan finansial dan ekonomi

      Pada proyek gedung bertingkat, misalnya, CPM dapat digunakan untuk menentukan pekerjaan kritis seperti pondasi, struktur, dan pekerjaan arsitektur utama. Kurva-S digunakan untuk memantau deviasi kemajuan mingguan. EVM digunakan untuk menentukan apakah kemajuan fisik yang dicapai sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan. Analisis risiko dan Monte Carlo dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak cuaca, keterlambatan material, perubahan desain, atau produktivitas tenaga kerja yang tidak sesuai rencana. Kombinasi ini menghasilkan sistem pengendalian yang lebih kuat daripada penggunaan satu metode tunggal.