Job insecurity dan employee engagement adalah beberapa faktor yang
mempengaruhi kinerja pegawai dalam bekerja. Menurut Hvinden (2019:41) Job
insecurity reflects the degree to which employees feel their jobs are threatened and
feel powerless to do anything about keeping a job. Artinya: ketidakamanan
pekerjaan mencerminkan sejauh mana karyawan merasa pekerjaan mereka
terancam dan merasa tidak berdaya untuk melakukan apa pun untuk
mempertahankan pekerjaan. Lain situasi dengan employee engagement menurut
teori Shuck (2019:81) yaitu Employee engagement is define as a positive, fulfilling
work-related state of mind that is characterized by vigor, dedication, and
absorption. Artinya: Keterikatan kerja didefinisikan sebagai keadaan pikiran yang
berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan yang dicirikan oleh
semangat, dedikasi, dan menyatu.
Berdasarkan studi penelitian Atik Koiroh (2021) menunjukan bahwa terdapat
pengaruh antara job insecurity dan employee engagement terhadap kinerja pegawai.
Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh penelitian dari Ludi Prasetyo Ardy
(2018), penelitian Shengxian Yu, Xiaoxiao Gong, and Na wu, (2020) yang juga
menunjukan adanya pengaruh yang signifikan terkait job insecurity terhadap
kinerja pegawai atas keterlibatan Employee Engagemen
