Kanexa (dalam Mujiasih, n. d:13) mengatakan bahwa ada empat
prinsip dasar yang mempengaruhi engagement, yaitu
a. Pemimpin yang memberikan inspirasi keyakinan terhadap masa depan,
b. Manajemen yang menghargai karyawan,
c. Pekerjaan yang menyenangkan dan
d. Bagian top management yang memperlihatkan tanggungjawab nyata
kepada karyawan.
Sementara faktor-faktor yang dikatakan dapat mendorong terciptanya
employee engagement oleh Branham dan Hirschfeld (Vibrayani, 2012:4)
disebutkan adanya 6 faktor pendorong yang bersifat universal:
a. Senior Leader yang peduli, kompeten dan engaged (terlibat).
b. Manager yang efektif yang dapat membuat karyawan selaras dan
engaged.
c. Kerjasama yang efektif disegala tingkatan karyawan
d. Pengkayaan pekerjaan (job enrichment) dan pertumbuhan professional
(professional growth).
e. Penghargaan terhadap kontribusi karyawan
f. Peduli terhadap kesejahteraan karyawan
Penggerak employee engagement akan berbeda di tiap jenis pekerjaan
dan organisasi. Secara umum terdapat 3 (tiga) kluster utama yang menjadi
penggerak employee engagement, yaitu (sridevi, 2010):
a. Organisasi
Hal-hal terkait organisasi yang dapat menjadi penggerak employee
engagement adalah budaya organisasi, visi dan nilai yang dianut, brand
organisasi. Budaya organisasi yang dimaksud adalah budaya organisasi
yang memiliki keterbukaan dan sikap supportive serta komunikasi yang
baik antara rekan kerja. Keadilan dan kepercayaan sebagai nilai
organisasi juga memberikan dampak positif bagi terciptanya employee
engagement. Hal-hal ini akan memberikan persepsi bagi karyawan
bahwa mereka mendapat dukungan dari organisasi.
b. Manajemen dan Kepemimpinan
Engagement dibangun melalui proses, butuh waktu yang panjang serta
komitmen yang tinggi dari pemimpin. Untuk itu, dibutuhkan
kekonsistenan pemimpin dalam mementoring karyawan Dalam
menciptakan employee engagement, pimpinan organisasi diharapkan
memiliki beberapa keterampilan. Beberapa diantaranya adalah teknik
berkomunikasi, teknik memberikan feedback dan teknik penilaian
30
kinerja (McBain, 2007). Hal-hal ini menjadi jalan bagi manajer untuk
menciptakan employee engagement sehingga secara khusus hal-hal ini
disebut sebagai penggerak employee engagement.
c. Working life
Kenyamanan kondisi lingkungan kerja menjadi pemicu terciptanya
employee engagement. Ada beberapa kondisi lingkungan kerja yang
diharapkan dapat menciptakan employee engagement. Pertama,
lingkungan kerja yang memiliki keadilan distributif dan prosedural. Hal
ini terjadi karena karyawan yang memiliki persepsi bahwa ia mendapat
keadilan distributif dan prosedural akan berlaku adil pada organisasi
dengan cara membangun ikatan emosi yang lebih dalam pada
organisasi. Kedua, lingkungan kerja yang melibatkan karyawan dalam
pengambilan keputusan. Kondisi ini mempengaruhi karyawan secara
psikologis, mereka menganggap bahwa mereka berharga bagi
organisasi. Hal ini membuat karyawan akan semakin terikat dengan
organisasi. Ketiga, organisasi yang memperhatikan keseimbangan
kehidupan kerja dan keluarga karyawan. Dalam banyak penelitian
dijelaskan bahwa ketika konflik antara pekerjaan dan keluarga terjadi,
karyawan akan cenderung memutuskan keluar dari pekerjaan. Oleh
karena itu manajer harus menjaga keseimbangan keduanya sehingga
karyawan merasa bahwa pekerjaan tidak mengancam kehidupan
keluarganya.
Sementara oleh Cook (2008) disebutkan faktor-faktor pendrorng
tingkat engagement karyawan dibagi menjadi 4 elemen dasar, yaitu
a. Well being
Keadaan dimana karyawan merasa senang dengan organisasi
karena organisasi menunjukkan kepedulian terhadap karyawan
b. Information
Information berhubungan dengan keadaan apakah perusahaan
memiliki pandangan yang jelas kemana organisasi berjalan dan apa
yang ingin dicapai, dan mengkomunikasikan hal tersebut secara
jelas kepada karyawan merupakan aspek yang penting dalam
mengikat karyawan
c. Fairness
Fairness atau keadilan bisa dilihat dari berbagai aspek perjalanan
karir seorang karyawan, yang dimulai dari proses recruitment, yang
mana pengalaman positif mendapatkan posisi tepat, sampai dengan
proses performance management, dimana karyawan merasakan
kejelasan terhadap ekspetasi terhadap pekerjaan mereka berikut
umpan balik yang membangun dan dilakukan secara tepat waktu
d. Karir dan talent management
Proses ini berpengaruh terhadap peningkatan engagement
karyawan, karena dengan adanya rencana pengambangan karyawan
dan akses untuk mendpatkan training yang sesuai dengan
kebutuhan mereka telah terbukti merupaka factor yang penting
untuk meningkatkan budaya engagement seperti yang terungkap
dalam penelitian Blessing white.
e. Involvement
Terjadinya komunikasi dua arah adalah salah satu cirri perusahaan
yang memiliki tingkat engagement yang tinggi. Menurut penelitian
yang dilakukan oleh Watson Wyatt World Wide, menemkan
hubungan yang sangat kuat antara komunikasi di organisasi dengan
engagement karyawan dan tingkat retention. Mereka juga memiliki
20% turn over rate yang lebih rendah daripada perusahaan lain.
Croston (2008) juga menyebutkan bahwa dari berbagai penelitian
diketahui ada 10 faktor yang merupakan faktor kunci yang mendorong
engagement karyawan, antara lain:
a. Perilaku senior leadership
b. Hubungan dengan atasan langsung
c. Pekerjaan yang menarik dan menantang
d. Kesempatan untuk tumbuh dan berkembang
e. Keterlibatan dalam membuat keputusan
f. Kewenangan untuk membuat kebijakan
g. Budaya perusahaan yang kolaboratif
h. Komunikasi internal yang efektif
i. Pelatihan yang sesuai
j. Struktur dan sistem yang mendukung
