Menurut Wiley & Blackwell (2009) engagement adalah penghayatan
seorang karyawan terhadap tujuan dan pemusatan energi yang muncul
dalam bentuk inisiatif, adaptibilitas, usaha, dan kegigihan yang mengarah
kepada tujuan organisasi. Pada dasarnya, engagement dibagi menjadi dua
jenis, yaitu perasaan untuk memiliki engagement dan perilaku engagement
itu sendiri. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut.
a. The Feel of Engagement
Ada 4 komponen penting dalam diri karyawan agar memiliki
engagement. Kombinasi dari empat elemen ini adalah yang membuat
engagement menjadi baik yaitu,
1) Urgensi
Urgensi adalah suatu determinasi dan energi yang mengarah
kepada satu tujuan. Engagement tidak bisa muncul hanya karena
suatu energi biasa, tetapi energi yang sudah mengarah kesatu
tujuan. Urgensi juga diartikan sebagai suatu dorongan yang
memaksa munculnya suatu perilaku untuk mencapai tujuan. Secara
konseptual, urgensi memiliki kaitan dengan resiliensi, atau
kapasitas untuk bangkit setelah mengalami kegagalan. Urgensi
juga memiliki kaitan dengan kepercayaan diri, yang mencakup
kepercayaan bahwa seseorang itu pasti bisa mencapai satu tujuan.
2) Fokus
Karyawan yang memiliki engagement akan merasa fokus ketika
bekerja. Pada kondisi yang normal, mereka akan merasa tepat
sasaran dalam menjalankan pekerjaan dan tidak mudah terdistraksi
oleh gangguan dari luar, seperti mengobrol dengan rekan kerja,
berdiskusi mengenai tempat makan siang, cuaca yang buruk, dan
sebagainya. Agar terciptanya engagement, dibutuhkan perhatian
yang harus dipertahankan dalam rentang waktu yang lebih lama.
Hal ini setara dengan kemampuan untuk berkonsentrasi dan terlarut
dalam pekerjaan, tetapi bukan berarti menjadi terisolasi terhadap
pekerjaan lain yang bukan menjadi prioritas utama.
3) Intensitas
Intesitas diartikan sebagai kedalaman dari konsentrasi. Hal ini
diarahkan dalam bagian alami dari tuntutan pekerjaan dan tingkat
kemampuan karyawan yang bersangkutan. Ketika tingkat
kemampuan cocok dengan tuntutan pekerjaan, karyawan harus
menggabungkan perhatian dan energi ke dalam pekerjaan tersebut
agar dapat diselesaikan. Sebaliknya, ketika tingkat kemampuan
karyawan jauh melebihi tuntutan pekerjaan, maka karyawan
tersebut akan merasa bosan, sehingga perhatian dan energi mereka
dapat pindah ke hal lain. Intensitas mengarahkan karyawan untuk
membuka diri mendekati semua sumber energi yang tersedia.
4) Antusiasme
Rasa antusias adalah kondisi psikologis yang secara simultan
mencakup energi dan kebahagiaan. Hal ini merupakan kondisi
emosi yang mengacu kepada perasaan positif, dan dikonotasikan
sebagai positive well-being yang kuat. Ketika kita membayangkan
tentang antusiasme karyawan, kita akan mendapatkan gambaran
seorang karyawan yang terlibat secara aktif dalam pekerjaannya.
Karyawan yang antusias dalam bekerja akan merasa lebih “hidup”
dan bergairah dalam bekerja. Antusiasme menjadi pusat dari
perasaan engagement di dalam pekerjaan. Gairah bukan merupakan
suatu hasil dari energi dan fokus saja, melainkan suatu elemen dari
keunikan engagement itu sendiri. Antusiasme menjadi alasan
mengapa engagement dikategorikan sebagai suatu emosi.
Komponen emosi yang positif itulah yang disebut dengan
antusiasme.
b. The Look of Engagement
Ada empat perilaku utama yang menunjukkan karyawan yang
memiliki perasaan engagement. Perilaku karyawan yang termasuk
engagement dapat terlihat berbeda dari apa yang diamati dan
diharapkan. Perbedaan tersebut dapat dilihat tidak hanya secara
individual saja tetapi secara keseluruhan dari lingkungan kerja.
Perilaku tersebut yaitu:
1) Persistence
Persistence diartikan sebagai suatu ketekunan. Bentuk perilaku
mengenai ketekunan paling jelas yang dapat diperlihatkan oleh
seorang karyawan adalah penyelesaian tugasnya, contohnya adalah
karyawan yang bekerja keras, dalam jangka waktu yang lama tanpa
beristirahat, dan dalam jam kerja yang lebih banyak selama hari
kerja. Ketekunan ini mengikuti faktor energi yang mengarah ke
tujuan yang sebelumnya dijelaskan sebagai urgensi. Kita dapat
mengharapkan perilaku tekun ketika karyawan merasa antusias
dikarenakan mereka percaya bahwa mereka mampu memberikan
kontribusi terhadap keberhasilan perusahaan. Ketekunan juga akan
muncul ketika karyawan secara intens fokus sehingga mereka
memperoleh jalur alternatif untuk mencapai tujuan ketika menemui
rintangan. Keuntungan dari ketekunan itu sendiri cukup jelas,
mencakup kualitas kerja yang lebih tinggi, menghasilkan
pelayanan yang lebih cepat dan tanggap, lebih sedikit
kebutuhan/tuntutan karyawan, dan biaya yang lebih rendah.
2) Proactivity
Satu karakteristik penting dari karyawan yang memiliki
engagement adalah mereka menjadi proaktif, tidak hanya reaktif,
atau bahkan pasif. Menjadi proaktif berarti mengambil tindakan
ketika kebutuhan untuk bertindak muncul pada diri karyawan,
seperti memperbaiki performa kerja suatu mesin yang mulai
memperlihatkan penurunan, dari pada hanya diam dan menunggu
perintah dari atasan, atau inisiatif untuk mengerjakan pekerjaan
kelompok pada saat anggota kelompok yang lain masih bersantai.
Hubungan antara engagement dan memperlihatkan perilaku
proaktif sebenarnya cukup jelas. Pertama, karyawan yang memiliki
perasaan urgensi dan tingkat konsentrasi yang tinggi terhadap
pekerjaan mereka akan lebih proaktif. Karyawan yang memiliki
engagement akan mengambil inisiatif untuk menghindari atau
mencegah suatu masalah. Kedua, karyawan yang memiliki
engagement akan lebih banyak menggunakan sumber energi emosi
dan pikiran mereka dalam pekerjaan, sehingga mereka menjadi
lebih mungkin untuk mengenali masalah yang potensial, dan
kebutuhan atau kesempatan untuk bertindak. Terakhir, karyawan
yang merasa antusias terhadap bagaimana performa kerja mereka
memengaruhi keberhasilan dari perusahaan dan
menginternalisasikan tujuan kelompok dan perusahaan akan lebih
mungkin untuk mendeteksi rintangan yang muncul dalam
pencapaian tujuan.
3) Role Expansion
Role expansion diartikan sebagai perluasan peran kerja. Karyawan
yang memiliki engagement cenderung akan memperlihatkan peran
mereka secara lebih luas dan menyeluruh. Jenis perilaku seperti ini
cukup sering terlihat dalam berbagai variasi, tetapi tidak semua
perilaku itu memperlihatkan adanya loncatan ke dalam satu tipe
pekerjaan lain di luar tanggung jawab karyawan yang
bersangkutan. Role expansion juga mencakup pergantian peran
kerja dalam jangka panjang atau bahkan menetap. Ada kalanya
seorang atasan mendelegasikan tanggung jawab dan pekerjaannya
kepada bawahannya sehingga kompetensi karyawan menjadi lebih
jelas terlihat, atau sesuai dengan tuntutan perubahan itu sendiri.
Karakteristik penting dalam role expansion adalah kesediaan untuk
menerima suatu jenis pekerjaan yang berbeda dari perannya.
4) Adaptability
Seorang karyawan yang adaptif akan membantu perusahaannya
mengantisipasi dan merespon terhadap perubahan dalam lingkup
persaingan secara lebih cepat, lebih berhasil, dan dengan biaya
yang lebih kecil. Karyawan yang adaptif akan mengembangkan
keterampilan baru seiring dengan perubahan tuntutan, sehingga
mengurangi kebutuhan untuk merekrut karyawan baru
