Yukl (2006:35) berpendapat bahwa kepemimpinan merupakan
penggerak dan penentu perjalanan suatu organisasi. Keberhasilan program
yang diberlakukan dalam organisasi ditentukan oleh kemampuan
kepemimpinan, melalui kemampuan inovatif, gagasan, perilaku, dan gaya
kepemimpinan seseorang maupun menghantarkan organisasi mencapai
tujuan. Upaya yang dapat dilakukan pemimpin adalah mengarahkan,
meningkatkan, dan menggerakkan potensi diri dan anggotanya agar secara
bersama-sama memfokuskan kegiatannya demi mencapai keberhasilan
organisasi.
Robbins (2003) mendefinisikan kepemimpinan sebagai
kemampuan mempengaruhi suatu kelompok kearah mencapai tujuan.
Thoha (2000) memberikan pengertian tentang kepemimpin adalah
suatu proses untuk mempengaruhi perilaku orang lain.
Kartono (1993) pemimpin berfungsi sebagai penggerak,
dinamisator dan koordinator dari sumber daya, termasuk didalamnya
sumber daya dalam bentuk individu, dana dan alam yang dimiliki sebuah
organisasi.
Salah satu teori yang menekankan suatu perubahan dan yang paling
komprehensif berkaitan dengan kepemimpinan adalah teori kepemimpinan
transformasional dan transaksional (Bass). Pada tahun 1978, Burns
pertama kali mengemukakan konsep kepemimpinan transformasional yang
kemudian disebarluaskan oleh Bass (Liontois dalam Cashin, 2000)
Gaya kepemimpinan transformasional berfokus pada perubahan
organisasi dan individu di dalamnya dan mempengaruhi bawahan untuk
lebih mementingkan kepentingan organisasi dengan meningkatkan
komitmen individu yang merupakan salah satu elemen penting untuk
mencapai visi organisasi (Bass, 1990; Lutz, 2007). Berbeda dengan
kepemimpinan transaksional yang merupakan suatu pola hubungan antara
atasan dan bawahan dimana hubungan tersebut dibangun atas dasar
kesepakatan. Gaya kepemimpinan transaksional dipandang sebagai suatu
imbalan atas kepatuhan yang dilakukan oleh bawahan (Bass, 1990).
Kepemimpinan transformasional mampu mengkomunikasikan visi yang
memberi inspirasi dan mendorong para pengikut untuk mencapai hal-hal
yang lebih bersifat luas, tinggi dan bahkan luar biasa dapat meningkatkan
kesadaran diri individu (Bass, Riggio, 2006).
Kepemimpinan transformasional menurut Bass dan Avolio (dalam
Hickman, 1998:136) merupakan model kepemimpinan di mana pemimpin
memotivasi anggotanya dan muncul ketika pemimpin mampu memperluas
dan meningkatkan perhatian terhadap karyawan, membangkitkan
kesadaran terhadap tujuan atau misi kelompok serta mampu mengajak
karyawan melihat jauh ke depan melebihi kepentingan pribadi demi
kebaikan kelompok.
Menurut Burns (1978) kepemimpinan transformasional merupakan
proses dimana atasan dan bawahan menaikkan moral dan motivasinya ke
tingkat yang lebih tinggi. Pemimpin transformasional berusaha menaikkan
kesadaran bawahan dengan mendorong idealisme dan nilai moral ke
tingkat yang lebih tinggi, seperti yang terkait dengan kebebasan, keadilan,
kedamaian, kesinambunangan dan kemanusiaan
Munandar (2001) menyebutkan bahwa kepemimpinan
transformasional merupakan kepemimpinan yang berusaha untuk
mengubah perilaku bawahan agar memiliki kemampuan dan motivasi
tinggi, serta berupaya mencapai prestasi kerja yang tinggi dan bermutu
untuk mencapai tujuan bersama.
Seorang pemimpin dapat dikatakan sebagai pemimpin
transformasional diukur dalam hubungannya dengan pengaruh pemimpin
terhadap bawahan. Upaya pemimpin transformasional dalam
mempengaruhi bawahan dapat melalui tiga cara, yaitu (1) mendorong
bawahan lebih sadar akan pentingnya hasil suatu pekerjaan, (2)
mendorong bawahan untuk lebih mementingkan organisasi daripada
kepentingan individual, (3) mengaktifkan kebutuhan-kebutuhan bawahan
pada tingkat yang lebih tinggi (Bass, dalam Purwanto & Adisubroto,
2011).
Pemimpin yang mengaplikasikan model kepemimpinan
transformasional dapat dikatakan pemimpin yang mampu untuk
memotivasi karyawan dalam mencapai tujuan (Hater dan Bass 1998 dalam
Aarons, 2006). Pemimpin transformasional akan mengarahkan
pengikutnya ke nilai moral yang baik, dapat mengarahkan pengikutnya
untuk dapat berkomitmen pada nilai–nilai organisasi, dapat menghargai
pengikutnya, mendorong pengikutnya bersikap kreatif dan menginspirasi
pengikutnya untuk mencapai tujuan (Politis, dalam Dyan, 2010:9).
Karenanya, seorang pemimpin harus dapat meramalkan masa depan suatu
organisasi, mengarahkan karyawan untuk dapat berkomitmen dan
mencapai tujuan organisasi (Barbuto, 1997 dalam Aarons, 2006)
Beberapa teori kepemimpinan transformasional menyatakan bahwa
sikap pemimpin transformasional berhubungan dengan emosi di mana
emosi pemimpin tersebut dapat memotivasi pengikutnya. Di samping itu,
para pengikutnya akan memiliki rasa kepercayaan dan rasa hormat yang
tinggi terhadap pemimpin transformasional (Barbuto, 1997 dalam Aarons,
2006)
