Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (11)

10. Analisis kelayakan ekonomi

Analisis kelayakan ekonomi digunakan terutama pada tahap awal atau pra-konstruksi untuk menentukan apakah suatu investasi pembangunan layak dilaksanakan. Metode yang sering dipakai meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan Payback Period.

NPV dapat dirumuskan sebagai:

NPV=∑t=0nCFt(1+r)tNPV = \sum_{t=0}^{n} \frac{CF_t}{(1+r)^t}NPV=t=0∑n​(1+r)tCFt​​

dengan CFtCF_tCFt​ sebagai arus kas pada periode ke-ttt, rrr sebagai tingkat diskonto, dan nnn sebagai umur analisis proyek. Secara umum, proyek dinilai layak jika NPV bernilai positif, karena nilai kini manfaat bersih lebih besar daripada investasi yang dikeluarkan.

Analisis kelayakan sangat penting untuk proyek komersial, perumahan, fasilitas industri, jalan tol, serta proyek infrastruktur publik. Untuk proyek pemerintah, analisis dapat diperluas dengan manfaat sosial, ekonomi regional, lingkungan, dan layanan publik, sehingga tidak semata-mata mengandalkan keuntungan finansial langsung

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (9)

9. Analisis mutu

Analisis mutu dalam manajemen konstruksi digunakan untuk memastikan bahwa material, metode kerja, dan hasil pekerjaan memenuhi spesifikasi yang telah disetujui. Metode ini tidak hanya dilakukan setelah pekerjaan selesai, tetapi sejak tahap perencanaan dan pelaksanaan.

Instrumen analisis mutu yang umum digunakan adalah:

  • Inspection and Test Plan atau ITP.
  • Daftar periksa inspeksi (checklist).
  • Uji laboratorium material, seperti kuat tekan beton, uji slump, gradasi agregat, atau uji tarik baja.
  • Non-conformance report untuk ketidaksesuaian pekerjaan.
  • Analisis akar penyebab (root cause analysis).
  • Diagram sebab-akibat atau fishbone diagram.
  • Analisis Pareto untuk menentukan jenis cacat yang paling dominan.
  • Dokumentasi rework dan biaya mutu.

Pendekatan mutu harus bersifat preventif. Artinya, pengendalian dilakukan untuk mencegah cacat sejak awal melalui persetujuan material, method statement, pelatihan pekerja, inspeksi bertahap, dan pengujian. Jika mutu hanya diperiksa pada akhir pekerjaan, biaya koreksi cenderung lebih besar dan dapat menyebabkan keterlambatan proyek

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (8)

8. Analisis produktivitas sumber daya

Analisis produktivitas digunakan untuk menilai efisiensi tenaga kerja, alat berat, maupun penggunaan material dalam menghasilkan volume pekerjaan tertentu. Produktivitas biasanya dihitung sebagai:

Produktivitas tenaga kerja=Volume pekerjaanJumlah tenaga kerja×waktu kerja\text{Produktivitas tenaga kerja} = \frac{\text{Volume pekerjaan}}{\text{Jumlah tenaga kerja} \times \text{waktu kerja}}Produktivitas tenaga kerja=Jumlah tenaga kerja×waktu kerjaVolume pekerjaan​

Misalnya, apabila 10 pekerja menyelesaikan 100 m² pekerjaan pasangan bata dalam 5 hari, maka produktivitas kelompok adalah:

10010×5=2 m2/orang-hari\frac{100}{10 \times 5} = 2 \text{ m}^2/\text{orang-hari}10×5100​=2 m2/orang-hari

Hasil tersebut dapat dibandingkan dengan standar produktivitas, rencana kerja, atau kinerja periode sebelumnya. Jika produktivitas aktual rendah, manajer konstruksi perlu menelusuri penyebabnya, seperti keterlambatan material, ketidaksesuaian alat, kondisi lokasi, kelelahan pekerja, cuaca, kurangnya pengawasan, metode kerja yang tidak efisien, atau pekerjaan ulang (rework).

Analisis ini penting karena produktivitas berpengaruh langsung terhadap biaya tenaga kerja, durasi pekerjaan, penggunaan alat, dan kemampuan proyek memenuhi jadwal. Dalam konteks yang lebih luas, produktivitas menjadi salah satu isu utama pada level proyek dan industri konstruksi (Shen et al., 2019)

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (7)

7. Simulasi Monte Carlo

Simulasi Monte Carlo merupakan metode analisis kuantitatif untuk menilai ketidakpastian durasi atau biaya proyek. Berbeda dari estimasi tunggal, Monte Carlo menggunakan banyak kemungkinan nilai input yang diambil secara berulang dari distribusi probabilitas. Hasilnya adalah distribusi kemungkinan waktu selesai atau biaya akhir proyek.

Sebagai contoh, durasi pekerjaan struktur dapat diperkirakan antara 50 sampai 70 hari, bergantung pada cuaca, ketersediaan material, produktivitas tenaga kerja, dan kondisi peralatan. Simulasi Monte Carlo dapat menjalankan ribuan iterasi untuk menghasilkan informasi seperti:

  • Peluang proyek selesai dalam 180 hari.
  • Durasi proyek pada tingkat keyakinan 50%, 80%, atau 90%.
  • Aktivitas yang paling sensitif terhadap keterlambatan.
  • Cadangan waktu (schedule contingency) yang sebaiknya disiapkan.
  • Kemungkinan biaya akhir melebihi anggaran.

Metode ini sangat sesuai untuk proyek yang kompleks dan memiliki ketidakpastian tinggi. Dalam analisis risiko jadwal, Monte Carlo digunakan untuk mengambil sampel dari rentang durasi aktivitas sehingga menghasilkan estimasi probabilistik tanggal penyelesaian, analisis sensitivitas, dan dasar penentuan kontinjensi (Khan, 2024). Studi proyek gedung juga mengombinasikan CPM untuk menentukan lintasan kritis, EVM untuk memperkirakan durasi tersisa dari kemajuan aktual, serta simulasi Monte Carlo untuk menghasilkan distribusi probabilitas durasi proyek (Pratama et al., 2025).

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (7)

6. Analisis risiko konstruksi

Analisis risiko merupakan metode untuk mengidentifikasi peristiwa yang dapat menghambat pencapaian target proyek, menilai peluang dan dampaknya, menentukan prioritas, serta menyusun strategi respons. Risiko konstruksi dapat berasal dari aspek teknis, desain, cuaca, kondisi tanah, pengadaan, harga material, tenaga kerja, perubahan regulasi, pembiayaan, keselamatan kerja, kontrak, dan koordinasi pihak-pihak proyek.

Proses analisis risiko umumnya mencakup:

  1. Identifikasi risiko melalui studi dokumen, observasi, rapat ahli, wawancara, dan pembelajaran dari proyek sebelumnya.
  2. Penilaian probabilitas terjadinya risiko.
  3. Penilaian dampak risiko terhadap waktu, biaya, mutu, keselamatan, atau reputasi.
  4. Penetapan prioritas risiko.
  5. Penyusunan respons risiko, yaitu menghindari, mengurangi, memindahkan, menerima, atau mengeksploitasi peluang.
  6. Pemantauan risiko secara berkala selama proyek berlangsung.

Salah satu alat yang umum digunakan adalah matriks probabilitas-dampak (probability-impact matrix). Nilai risiko dapat dihitung sederhana melalui:

R=P×IR = P \times IR=P×I

dengan RRR sebagai nilai risiko, PPP sebagai probabilitas, dan III sebagai besarnya dampak. Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi pula prioritas penanganan risiko tersebut.

Manajemen risiko konstruksi mencakup identifikasi faktor penyebab yang dapat memengaruhi baseline biaya, jadwal, atau mutu; pengukuran kemungkinan dampaknya; serta penerapan tindakan untuk mengendalikan dan mengurangi dampak tersebut. Siklusnya lazim terdiri dari identifikasi, penilaian, mitigasi, dan pemantauan risiko (Tadesse et al., 2022).pmc.ncbi.nlm.nih

Untuk survei persepsi risiko, metode Relative Importance Index atau RII sering digunakan untuk menentukan peringkat faktor risiko berdasarkan penilaian responden menggunakan skala Likert. Nilai RII yang lebih tinggi menunjukkan faktor yang dipersepsikan lebih dominan atau lebih penting untuk ditangani (Tadesse et al., 2022)

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (6)

5. Earned Value Management

Earned Value Management atau EVM merupakan metode pengendalian terintegrasi untuk mengukur kinerja lingkup, jadwal, dan biaya. EVM tidak hanya membandingkan anggaran dengan pengeluaran aktual, melainkan juga membandingkan nilai pekerjaan yang seharusnya selesai dengan nilai pekerjaan yang benar-benar telah diselesaikan.

Tiga komponen utama EVM adalah:

  • Planned Value (PV): nilai anggaran pekerjaan yang direncanakan selesai sampai tanggal evaluasi.
  • Earned Value (EV): nilai anggaran dari pekerjaan yang benar-benar telah selesai.
  • Actual Cost (AC): biaya aktual yang telah dikeluarkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Indikator penting dalam EVM adalah:

CV=EV−ACCV = EV – ACCV=EV−AC

SV=EV−PVSV = EV – PVSV=EV−PV

CPI=EVACCPI = \frac{EV}{AC}CPI=ACEV​

SPI=EVPVSPI = \frac{EV}{PV}SPI=PVEV​

Keterangan interpretasi:

IndikatorNilaiInterpretasi
Cost Variance (CV)PositifBiaya lebih efisien atau di bawah anggaran
Cost Variance (CV)NegatifBiaya aktual melebihi nilai pekerjaan yang diperoleh
Schedule Variance (SV)PositifKinerja proyek lebih cepat daripada rencana
Schedule Variance (SV)NegatifKinerja proyek tertinggal dari rencana
Cost Performance Index (CPI)Lebih dari 1Efisiensi biaya baik
Cost Performance Index (CPI)Kurang dari 1Terjadi inefisiensi biaya
Schedule Performance Index (SPI)Lebih dari 1Kemajuan lebih cepat daripada rencana
Schedule Performance Index (SPI)Kurang dari 1Kemajuan lebih lambat daripada rencana

PMI menempatkan EVM sebagai instrumen early warning yang memberi indikasi objektif mengenai pencapaian aktual, area risiko kinerja, serta estimasi biaya penyelesaian proyek yang lebih akurat daripada pelaporan biaya tradisional (PMI, 2000). Kajian tentang pengukuran kinerja proyek konstruksi juga menjelaskan bahwa EVM menggunakan PV, EV, dan AC untuk menghitung varians biaya dan jadwal serta indeks CPI dan SPI (Fleming & Koppelman, 2016).pmi+1

Ilustrasi: suatu proyek memiliki PV sebesar Rp500 juta, EV Rp400 juta, dan AC Rp550 juta pada minggu ke-12. Nilai SV=400−500=−100SV = 400 – 500 = -100SV=400−500=−100 juta menunjukkan kemajuan fisik tertinggal dari rencana. Nilai CV=400−550=−150CV = 400 – 550 = -150CV=400−550=−150 juta menunjukkan biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada nilai pekerjaan yang telah dihasilkan. Sementara itu, SPI=0,80SPI = 0{,}80SPI=0,80 dan CPI=0,73CPI = 0{,}73CPI=0,73 menunjukkan proyek terlambat sekaligus tidak efisien secara biaya

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (5)

4. Kurva-S

Kurva-S adalah grafik kumulatif yang menunjukkan hubungan antara waktu proyek pada sumbu horizontal dan persentase kemajuan, biaya, atau bobot pekerjaan pada sumbu vertikal. Disebut Kurva-S karena pola kemajuan proyek umumnya lambat pada tahap awal, meningkat tajam pada tahap pelaksanaan utama, dan melandai kembali menjelang penyelesaian proyek.

Dalam manajemen konstruksi, Kurva-S digunakan untuk membandingkan:

  • Kemajuan rencana dengan kemajuan aktual.
  • Pengeluaran biaya rencana dengan realisasi biaya.
  • Bobot pekerjaan rencana dengan bobot pekerjaan yang telah dicapai.
  • Kebutuhan sumber daya terhadap waktu pelaksanaan.

Apabila kurva realisasi berada di bawah kurva rencana, proyek cenderung mengalami keterlambatan. Sebaliknya, jika biaya aktual meningkat lebih cepat daripada kemajuan pekerjaan, terdapat indikasi inefisiensi atau pembengkakan biaya. Kurva-S mudah dipahami oleh pemilik proyek dan pihak lapangan, tetapi secara mandiri belum cukup untuk menunjukkan apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah benar-benar dihasilkan. Karena itu, Kurva-S sebaiknya dikombinasikan dengan EVM

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (4)

3. Program Evaluation and Review Technique

PERT merupakan metode analisis jaringan kerja yang digunakan ketika durasi aktivitas mengandung ketidakpastian. Berbeda dari CPM yang biasanya menggunakan satu estimasi durasi, PERT menggunakan tiga perkiraan waktu:

  • Waktu optimistis (optimistic time/a): durasi tercepat apabila kondisi sangat mendukung.
  • Waktu paling mungkin (most likely time/m): durasi yang paling realistis dalam kondisi normal.
  • Waktu pesimistis (pessimistic time/b): durasi terlama apabila terjadi hambatan yang relevan.

Durasi harapan suatu aktivitas dihitung dengan rumus:

te=a+4m+b6t_e = \frac{a + 4m + b}{6}te​=6a+4m+b​

dengan:

te=waktu harapan,a=waktu optimistis,m=waktu paling mungkin,b=waktu pesimistist_e = \text{waktu harapan}, \quad a = \text{waktu optimistis}, \quad m = \text{waktu paling mungkin}, \quad b = \text{waktu pesimistis}te​=waktu harapan,a=waktu optimistis,m=waktu paling mungkin,b=waktu pesimistis

PERT relevan pada proyek yang memiliki tingkat ketidakpastian tinggi, seperti proyek dengan desain belum sepenuhnya matang, pekerjaan pada kondisi cuaca ekstrem, proyek inovatif, atau proyek yang bergantung pada pengadaan material khusus. Metode ini membantu memperkirakan probabilitas proyek dapat diselesaikan pada target waktu tertentu, karena durasi aktivitas dihitung berdasarkan nilai harapan dan variansnya (Khan, 2024).ijsr

Namun, estimasi PERT sangat dipengaruhi oleh kualitas penilaian ahli. Jika nilai optimistis, paling mungkin, dan pesimistis tidak realistis, hasil analisis juga dapat menyesatkan.

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (3)

2. Critical Path Method

Critical Path Method atau CPM merupakan metode jaringan kerja untuk menentukan rangkaian aktivitas yang mempunyai total kelonggaran waktu (total float) nol atau paling kecil. Rangkaian aktivitas tersebut disebut lintasan kritis (critical path). Keterlambatan pada satu aktivitas kritis, apabila tidak diatasi, akan langsung menunda tanggal penyelesaian proyek.

Langkah umum penerapan CPM meliputi:

  1. Mengidentifikasi seluruh aktivitas proyek berdasarkan WBS.
  2. Menentukan hubungan ketergantungan antaraktivitas, misalnya finish-to-start.
  3. Mengestimasi durasi tiap aktivitas.
  4. Menyusun diagram jaringan kerja.
  5. Menghitung waktu mulai dan selesai paling awal (early start dan early finish).
  6. Menghitung waktu mulai dan selesai paling lambat (late start dan late finish).
  7. Menghitung float atau kelonggaran waktu setiap aktivitas.
  8. Menentukan aktivitas yang berada pada lintasan kritis.

CPM sangat berguna untuk penjadwalan proyek yang durasi aktivitasnya relatif dapat diperkirakan secara pasti. Metode ini memungkinkan manajer proyek memusatkan perhatian pada pekerjaan yang secara langsung menentukan durasi total proyek. Secara teoritis, CPM merepresentasikan proyek sebagai jaringan aktivitas, dengan lintasan kritis berupa urutan aktivitas yang memiliki float total nol sehingga setiap keterlambatan akan menunda penyelesaian proyek (Khan, 2024).ijsr

Contoh singkat: apabila pekerjaan pondasi, struktur lantai satu, struktur lantai dua, dan pekerjaan atap berada pada lintasan kritis, maka keterlambatan pengecoran pondasi selama tiga hari berpotensi menggeser penyelesaian proyek tiga hari, kecuali dilakukan tindakan percepatan seperti penambahan tenaga kerja, lembur, atau perubahan metode kerja.

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (2)

1. Work Breakdown Structure

Work Breakdown Structure atau WBS adalah metode untuk menguraikan ruang lingkup proyek menjadi elemen pekerjaan yang lebih kecil, terstruktur, dan dapat dikelola. Misalnya, proyek pembangunan gedung dapat dibagi menjadi pekerjaan persiapan, pekerjaan tanah, pondasi, struktur, arsitektur, mekanikal-elektrikal-plumbing, pekerjaan luar bangunan, dan serah terima.

WBS menjadi fondasi untuk analisis berikutnya karena setiap pekerjaan dapat diberi kode, volume, biaya, durasi, penanggung jawab, kebutuhan tenaga kerja, material, dan alat. Tanpa WBS yang jelas, pengendalian proyek cenderung tidak konsisten karena lingkup pekerjaan sulit dipantau secara rinci.

Dalam pendekatan earned value, pekerjaan proyek perlu didefinisikan dan dipecah menjadi tugas-tugas yang dapat dipahami bersama sebelum disusun ke dalam urutan pelaksanaan serta anggaran berbasis waktu (Project Management Institute [PMI], 2000)

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (1)

Metode analisis utama

MetodeFokus analisisData utamaHasil atau manfaat
MetodeFokus analisisData utamaHasil atau manfaat
Work Breakdown Structure (WBS)Penguraian ruang lingkup proyekLingkup pekerjaan dan paket kerjaStruktur pekerjaan yang terukur dan mudah dikendalikan
Critical Path Method (CPM)Waktu dan urutan aktivitasDurasi, ketergantungan aktivitas, jadwalLintasan kritis, float, dan durasi proyek
Program Evaluation and Review Technique (PERT)Ketidakpastian durasiWaktu optimistis, paling mungkin, pesimistisDurasi harapan dan probabilitas penyelesaian proyek
Kurva-SKemajuan waktu dan biayaRencana serta realisasi kumulatif proyekVisualisasi deviasi kemajuan proyek
Earned Value Management (EVM)Kinerja waktu dan biaya terintegrasiPV, EV, AC, BACVarians, indeks kinerja, dan proyeksi biaya selesai
Analisis risikoProbabilitas dan dampak risikoDaftar risiko, peluang, dampakPrioritas risiko dan strategi mitigasi
Simulasi Monte CarloKetidakpastian biaya atau waktuDistribusi probabilitas durasi/biayaPeluang tercapainya target dan kebutuhan kontinjensi
Analisis produktivitasEfisiensi sumber dayaOutput, jam kerja, alat, bahanProduktivitas aktual dan kebutuhan sumber daya
Analisis mutuKesesuaian hasil pekerjaanHasil inspeksi, pengujian, spesifikasiStatus mutu serta tindakan korektif
Analisis kelayakan ekonomiManfaat finansial investasiBiaya investasi, arus kas, manfaat proyekNPV, IRR, BCR, dan periode pengembalian

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (1)

Metode-metode analisis dalam manajemen konstruksi digunakan untuk mengubah data proyek—seperti volume pekerjaan, durasi, biaya, produktivitas, mutu, dan risiko—menjadi dasar pengambilan keputusan. Analisis tersebut membantu manajer konstruksi mengidentifikasi penyimpangan sejak dini, memperkirakan dampaknya terhadap waktu dan biaya, serta menentukan tindakan pengendalian yang tepat.

Konsep dasar

Dalam proyek konstruksi, pengambilan keputusan tidak cukup didasarkan pada pengamatan lapangan atau pengalaman semata. Proyek bersifat kompleks karena melibatkan banyak aktivitas yang saling bergantung, sumber daya terbatas, kondisi lapangan yang berubah, kontrak, standar mutu, keselamatan kerja, serta risiko eksternal. Oleh sebab itu, manajemen konstruksi membutuhkan metode analisis yang sistematis untuk menjawab pertanyaan berikut:

  • Apakah proyek selesai sesuai jadwal?
  • Aktivitas mana yang paling berpotensi menyebabkan keterlambatan?
  • Apakah biaya aktual masih sesuai anggaran?
  • Berapa estimasi biaya dan waktu hingga proyek selesai?
  • Risiko apa yang paling dominan dan bagaimana prioritas mitigasinya?
  • Apakah mutu pekerjaan telah memenuhi spesifikasi teknis?
  • Apakah produktivitas tenaga kerja, alat, dan material berada pada tingkat yang direncanakan?

Secara umum, metode analisis dalam manajemen konstruksi dapat dikelompokkan menjadi analisis waktu, biaya, kinerja terintegrasi, risiko, sumber daya, mutu, serta kelayakan ekonomi. Kombinasi berbagai metode lebih bermanfaat daripada menggunakan satu metode secara terpisah karena proyek konstruksi selalu memiliki keterkaitan antara waktu, biaya, mutu, risiko, dan sumber daya.

Manajemen Konstruksi (11)

Kesimpulan

Manajemen konstruksi adalah pendekatan manajerial yang memastikan proyek konstruksi dapat diwujudkan secara efektif, efisien, aman, bermutu, dan sesuai tujuan pemilik proyek. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan mengintegrasikan pengelolaan lingkup, waktu, biaya, mutu, keselamatan, sumber daya, pengadaan, risiko, komunikasi, dan kontrak sepanjang siklus hidup proyek.

Dengan demikian, manajemen konstruksi tidak dapat dipandang hanya sebagai kegiatan pengawasan pekerjaan fisik. Manajemen konstruksi merupakan proses pengendalian strategis dan operasional yang menentukan apakah suatu proyek mampu memberikan nilai, fungsi, dan manfaat yang diharapkan bagi pemilik maupun pengguna akhir.

Manajemen Konstruksi (10)

Tantangan kontemporer

Manajemen konstruksi modern menghadapi kompleksitas yang semakin besar. Tantangannya tidak hanya terkait pekerjaan teknis di lapangan, tetapi juga perubahan desain, volatilitas harga material, kelangkaan tenaga kerja terampil, gangguan rantai pasok, tuntutan keberlanjutan, risiko keselamatan, digitalisasi, dan konflik kontraktual.

Penerapan teknologi seperti Building Information Modeling (BIM), perangkat lunak penjadwalan, sistem pelaporan berbasis cloud, drone, sensor lapangan, dan analisis data dapat meningkatkan akurasi koordinasi serta kecepatan pengambilan keputusan. Namun, teknologi tersebut hanya efektif apabila didukung oleh kompetensi sumber daya manusia, tata kelola data, komunikasi lintas pihak, dan komitmen organisasi terhadap pengendalian proyek.

Kajian mutakhir juga menunjukkan bahwa ruang lingkup manajemen konstruksi mencakup isu mikro pada tingkat proyek—seperti studi kelayakan, perencanaan biaya, penjadwalan, penilaian risiko, produktivitas, dan jaminan mutu—serta isu makro pada industri konstruksi, seperti standar, kontrak, rantai pasok, produktivitas tenaga kerja, keselamatan, dan pengelolaan informasi bangunan (Shen et al., 2019)

Manajemen Konstruksi (9)

Peran manajer konstruksi

Manajer konstruksi bertindak sebagai koordinator utama antara kepentingan teknis, biaya, waktu, mutu, keselamatan, dan kontrak. Ia bukan hanya pengawas lapangan, tetapi juga pengambil keputusan yang harus mampu mengintegrasikan berbagai disiplin, termasuk teknik sipil, arsitektur, mekanikal-elektrikal, keuangan, hukum kontrak, pengadaan, keselamatan kerja, dan manajemen risiko.

Peran utama manajer konstruksi mencakup:

  • Menyusun rencana pelaksanaan proyek dan strategi pengendalian.
  • Mengoordinasikan pekerjaan kontraktor, subkontraktor, konsultan, serta pemasok.
  • Memastikan ketersediaan sumber daya sesuai jadwal kebutuhan proyek.
  • Memantau kemajuan pekerjaan dan menyusun laporan kepada pemilik proyek.
  • Menjaga kesesuaian pekerjaan terhadap desain, spesifikasi, kontrak, dan regulasi.
  • Mengidentifikasi potensi risiko dan menyusun langkah mitigasi.
  • Menangani perubahan pekerjaan, keterlambatan, klaim, serta konflik antarpihak.
  • Membangun komunikasi dan mekanisme penyelesaian masalah yang efektif.

Dalam konteks profesional, manajer konstruksi membantu pemilik proyek mengoptimalkan hasil proyek melalui keahlian pada tahap praperencanaan, desain, konstruksi, rekayasa, dan manajemen, termasuk pengelolaan dana, lingkup, jadwal, kompetensi kontraktor, mutu pekerjaan, pengadaan, perubahan, dan potensi sengketa (APPA, 2021)

Manajemen Konstruksi (8)

5. Tahap penutupan proyek

Penutupan proyek meliputi pemeriksaan akhir pekerjaan, penyelesaian daftar cacat atau punch list, pengujian dan komisioning, serah terima pekerjaan, penyusunan gambar as-built, penyerahan manual operasi dan pemeliharaan, penyelesaian administrasi kontrak, serta evaluasi pembelajaran proyek.

Tahap ini penting karena proyek belum dapat dianggap berhasil hanya karena pekerjaan fisik telah selesai. Hasil proyek harus dapat dioperasikan sesuai fungsinya, memenuhi persyaratan mutu, memiliki dokumen yang lengkap, dan tidak menyisakan persoalan kontraktual yang substansial.

Manajemen Konstruksi (7)

4. Tahap pengendalian dan evaluasi

Pengendalian merupakan proses membandingkan kinerja aktual dengan rencana proyek. Dalam dimensi waktu, pengendalian dapat dilakukan melalui jadwal pelaksanaan, kurva-S, metode lintasan kritis (Critical Path Method/CPM), dan evaluasi kemajuan mingguan. Dalam dimensi biaya, pengendalian dilakukan dengan membandingkan anggaran, biaya aktual, nilai pekerjaan yang telah diperoleh, serta proyeksi biaya sampai proyek selesai.

Untuk mutu, pengendalian dilakukan melalui inspeksi, pengujian material, pemeriksaan pekerjaan, dan verifikasi kesesuaian dengan spesifikasi. Adapun pengendalian keselamatan dilakukan melalui identifikasi bahaya, penilaian risiko, penggunaan alat pelindung diri, inspeksi K3, toolbox meeting, investigasi insiden, dan tindakan pencegahan. Manajer konstruksi juga bertanggung jawab memastikan kepatuhan terhadap perizinan, standar bangunan, dan regulasi keselamatan yang berlaku.

Manajemen Konstruksi (6)

3. Tahap pelaksanaan konstruksi

Pada tahap konstruksi, manajemen berfokus pada pengoordinasian seluruh aktivitas lapangan. Kegiatan pentingnya mencakup mobilisasi, pelaksanaan pekerjaan sesuai metode kerja, pengawasan kemajuan, pemeriksaan kualitas, pengendalian biaya, pemantauan keselamatan kerja, koordinasi rapat proyek, serta pengelolaan perubahan desain atau pekerjaan tambahan.

Manajer konstruksi perlu membandingkan antara rencana dan realisasi secara berkala. Apabila terjadi deviasi, perlu dilakukan tindakan korektif, misalnya penyesuaian urutan kerja, percepatan pekerjaan, penambahan sumber daya, perbaikan metode kerja, atau negosiasi perubahan jadwal. Pengendalian proyek yang efektif membutuhkan data lapangan yang akurat, seperti laporan harian, volume pekerjaan, produktivitas tenaga kerja, pemakaian material, kondisi cuaca, status pengadaan, dan dokumentasi mutu.

Manajemen Konstruksi (5)

2. Tahap perencanaan dan pengadaan

Pada tahap ini dilakukan penyusunan dokumen teknis dan administratif, seperti gambar kerja, spesifikasi teknis, RAB, jadwal induk, syarat-syarat kontrak, dokumen tender, dan rencana mutu. Selanjutnya, pemilik memilih kontraktor, subkontraktor, maupun pemasok sesuai metode pengadaan yang digunakan.

Pemilihan kontraktor tidak seharusnya hanya berorientasi pada penawaran harga terendah. Pertimbangan lain meliputi kapasitas teknis, pengalaman proyek sejenis, kemampuan keuangan, sumber daya peralatan, rekam jejak mutu, kinerja keselamatan, dan kapasitas manajerial. Pengadaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko keterlambatan, mutu rendah, dan kegagalan kontraktual.

Manajemen Konstruksi (4)

Tahapan manajemen konstruksi

1. Tahap pra-konstruksi

Tahap pra-konstruksi dilakukan sebelum pekerjaan fisik dimulai. Kegiatan utamanya meliputi studi kelayakan, identifikasi kebutuhan pemilik, survei lokasi, penetapan konsep desain, penyusunan estimasi awal, analisis risiko, perencanaan metode pelaksanaan, strategi pengadaan, serta penyusunan jadwal awal proyek.

Pada tahap ini, keputusan yang diambil sangat menentukan kinerja proyek berikutnya. Kesalahan dalam menentukan lingkup, desain, estimasi biaya, atau kondisi lapangan dapat menyebabkan perubahan pekerjaan, keterlambatan, dan pembengkakan biaya saat konstruksi berlangsung. Oleh sebab itu, manajer konstruksi perlu menilai kelayakan desain dari aspek keterbangunan (constructability), yaitu sejauh mana desain dapat dilaksanakan secara aman, efisien, ekonomis, dan sesuai kondisi lapangan.

Manajemen Konstruksi (3)

Fungsi utama

FungsiUraian kegiatanContoh output
FungsiUraian kegiatanContoh output
Manajemen lingkupMenetapkan batas pekerjaan, kebutuhan proyek, spesifikasi, dan kriteria keberhasilanScope of work, WBS, dokumen spesifikasi
Manajemen waktuMenyusun urutan kerja, durasi aktivitas, ketergantungan pekerjaan, dan pengendalian kemajuanKurva-S, CPM, network planning, jadwal mingguan
Manajemen biayaMengestimasi biaya, menetapkan anggaran, memantau realisasi, dan mengendalikan deviasiRAB, cash flow, laporan biaya, analisis nilai hasil
Manajemen mutuMenetapkan standar mutu serta melakukan penjaminan dan pengendalian mutuITP, checklist, hasil uji material, laporan inspeksi
Manajemen sumber dayaMerencanakan dan mengalokasikan tenaga kerja, material, alat, dana, dan teknologiJadwal tenaga kerja, material schedule, rencana alat
Manajemen pengadaanMenentukan strategi tender, seleksi kontraktor, pembelian material, serta administrasi kontrakDokumen tender, kontrak, PO, evaluasi pemasok
Manajemen risikoMengidentifikasi, menilai, merespons, dan memantau risiko proyekRisk register, rencana mitigasi, kontinjensi
Manajemen K3Mengendalikan potensi kecelakaan, penyakit akibat kerja, dan kondisi kerja tidak amanHSE plan, toolbox meeting, laporan insiden
Manajemen komunikasiMenjamin aliran informasi, rapat koordinasi, pelaporan, dan dokumentasi keputusanNotulen rapat, laporan kemajuan, RFI, laporan harian
Manajemen kontrak dan klaimMengawasi kesesuaian kewajiban para pihak, perubahan pekerjaan, pembayaran, dan potensi sengketaChange order, addendum, dokumen klaim

Dalam praktiknya, fungsi-fungsi tersebut saling terkait. Misalnya, keterlambatan pengadaan baja tulangan dapat menghambat pekerjaan struktur. Hambatan itu berpotensi menyebabkan keterlambatan jadwal, biaya tambahan tenaga kerja dan alat, risiko penurunan mutu akibat pekerjaan yang terburu-buru, serta perselisihan mengenai tanggung jawab keterlambatan. Oleh karena itu, manajemen konstruksi harus bekerja secara integratif, bukan secara parsial.

Manajemen Konsrtuksi (2)

Tujuan dan sasaran

Tujuan utama manajemen konstruksi adalah menghasilkan fasilitas atau bangunan yang sesuai dengan desain, spesifikasi teknis, anggaran, jadwal, dan ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan. Keberhasilan proyek tidak semata-mata dinilai dari selesainya pekerjaan secara fisik, tetapi juga dari kemampuan proyek menghindari pembengkakan biaya, keterlambatan, kecelakaan kerja, cacat mutu, konflik kontraktual, dan perubahan pekerjaan yang tidak terkendali.

Secara lebih rinci, sasaran manajemen konstruksi meliputi:

  • Menyelesaikan proyek sesuai lingkup pekerjaan dan kebutuhan pengguna.
  • Mengendalikan biaya agar realisasi pengeluaran tidak melampaui anggaran yang disetujui.
  • Menjamin penyelesaian pekerjaan sesuai jadwal atau target waktu proyek.
  • Memastikan kualitas pekerjaan sesuai gambar kerja, spesifikasi, standar teknis, dan regulasi.
  • Mengelola risiko teknis, finansial, operasional, lingkungan, hukum, dan keselamatan kerja.
  • Menjamin ketersediaan tenaga kerja, material, alat, dana, dan informasi pada waktu yang tepat.
  • Menciptakan koordinasi dan komunikasi yang efektif antara pemilik, perencana, kontraktor, subkontraktor, dan pemasok.
  • Menyelesaikan perubahan pekerjaan, klaim, sengketa, dan masalah lapangan secara cepat serta terdokumentasi.

Enam area layanan inti yang umum digunakan dalam manajemen konstruksi adalah lingkup, biaya, waktu atau jadwal, mutu, keselamatan, dan fungsi proyek (CMAA, 2026).

Manajemen konstruksi (1)

Manajemen konstruksi adalah proses profesional untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengoordinasikan, mengendalikan, dan mengevaluasi sumber daya proyek konstruksi sejak tahap gagasan sampai penyerahan hasil pekerjaan. Fokusnya bukan hanya memastikan bangunan selesai, tetapi memastikan proyek memenuhi lingkup, waktu, biaya, mutu, keselamatan, fungsi, persyaratan kontrak, dan kepuasan para pemangku kepentingan (Construction Management Association of America [CMAA], 2026).cmaanet

Pengertian manajemen konstruksi

Secara konseptual, manajemen konstruksi merupakan penerapan prinsip-prinsip manajemen proyek pada pekerjaan pembangunan fisik—misalnya gedung, jalan, jembatan, bendungan, perumahan, fasilitas industri, dan infrastruktur publik. Kegiatan tersebut mencakup integrasi proses perencanaan, desain, pengadaan, pelaksanaan konstruksi, pengawasan, hingga penutupan proyek agar semua komponen berjalan secara sistematis dan saling terkoordinasi.

Manajemen konstruksi dapat dipahami sebagai sistem pengelolaan yang menghubungkan pemilik proyek (owner), konsultan perencana, konsultan pengawas, kontraktor utama, subkontraktor, pemasok material, tenaga kerja, serta pemerintah atau regulator. Dalam posisi ini, manajer konstruksi harus menerjemahkan kebutuhan pemilik proyek menjadi rencana kerja yang realistis, terukur, dan dapat dikendalikan. Karena itu, manajemen konstruksi tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, melainkan juga pada pengambilan keputusan strategis sejak tahap pra-konstruksi.

Menurut CMAA, manajemen konstruksi adalah layanan profesional kepada pemilik proyek untuk mengelola jadwal, biaya, mutu, keselamatan, lingkup, dan fungsi proyek secara efektif (CMAA, 2026). Sejalan dengan itu, pengelolaan proyek konstruksi menuntut pengintegrasian sumber daya manusia dan material sepanjang siklus hidup proyek untuk mencapai sasaran ruang lingkup, biaya, waktu, mutu, serta kepuasan pihak-pihak yang terlibat (Hendrickson, 2008).

Pengaruh Employee engagement Terhadap Kinerja Karyawan Melalui KepuasanKerja


Employee engagement dan kepuasan kerja memiliki hubungan yang erat dan
saling memengaruhi. Employee engagement, yang mencakup keterlibatan,
motivasi, dan komitmen karyawan terhadap pekerjaan dan organisasi, dapat secara
langsung mempengaruhi tingkat kepuasan kerja. Sebaliknya, tingkat kepuasan kerja
yang tinggi dapat memperkuat keterlibatan karyawan dan berkontribusi pada
peningkatan kinerja mereka. Ketika karyawan merasa terlibat dalam pekerjaan
mereka, mereka cenderung memiliki tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi.
Keterlibatan menciptakan rasa koneksi emosional dan komitmen terhadap tujuan
organisasi, yang pada gilirannya meningkatkan kepuasan karyawan terhadap
kontribusi mereka. Karyawan yang merasa diakui, dihargai, dan memiliki peran
yang bermakna dalam mencapai tujuan organisasi cenderung merasakan tingkat
kepuasan yang lebih tinggi (Niken Ayu Safitri, 2020)

Pengaruh Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan


Kepuasan kerja karyawan memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja
mereka dalam suatu organisasi. Ketika karyawan merasa puas dengan pekerjaan
mereka, mereka cenderung menunjukkan tingkat motivasi dan komitmen yang
lebih tinggi terhadap tugas-tugas mereka. Kepuasan kerja menciptakan lingkungan
di mana karyawan merasa diakui, dihargai, dan puas dengan kondisi kerja mereka,
yang pada gilirannya dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas pekerjaan.
Karyawan yang puas dengan pekerjaan mereka lebih mungkin untuk terlibat secara
positif dalam tugas sehari-hari mereka. Mereka cenderung berkontribusi lebih aktif
dalam mencapai tujuan organisasi karena merasa terhubung dengan visi dan nilai-
nilai perusahaan. Selain itu, tingkat kepuasan yang tinggi seringkali berdampak
positif pada retensi bakat, mengurangi turnover karyawan, dan menciptakan
kestabilan dalam organisasi (Isnaeni, 2018).
Kepuasan kerja juga dapat mempengaruhi aspek-aspek lain dari kinerja
karyawan, seperti kreativitas dan inovasi. Karyawan yang merasa senang dengan
pekerjaan mereka lebih mungkin untuk berpikir kreatif, mengemukakan ide baru,
dan mencari solusi inovatif untuk tantangan yang dihadapi oleh organisasi.
Sementara itu, kepuasan kerja yang rendah dapat menyebabkan ketidakpuasan,
kurangnya motivasi, dan penurunan kinerja. Karyawan yang tidak puas mungkin
tidak terlibat sepenuhnya dalam pekerjaan mereka, mengalami stres, dan memiliki
tingkat absensi yang lebih tinggi (Puspita and Atmaja 2020)

Pengaruh Employee engagement Berpengaruh Terhadap Kepuasan Kerja


Employee engagement berperan penting dalam membentuk kepuasan kerja
karyawan. Keterlibatan karyawan menciptakan ikatan emosional dan komitmen
terhadap pekerjaan serta organisasi. Karyawan yang terlibat cenderung lebih
termotivasi, merasa dihargai, dan memiliki tanggung jawab yang kuat terhadap
kesuksesan perusahaan. Motivasi ini membawa dampak positif pada kepuasan
kerja, karena karyawan merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki arti dan
memberikan kontribusi yang berarti. Selain itu, Employee engagement memperkuat
hubungan positif antara karyawan dan rekan kerja serta atasan, menciptakan
lingkungan kerja yang mendukung dan memuaskan. Adanya pengakuan dan
penghargaan atas kinerja karyawan juga meningkatkan kepuasan kerja, karena
karyawan merasa diakui dan dihargai. Peluang untuk pengembangan profesional
dan partisipasi dalam pengambilan keputusan memberikan karyawan rasa
memiliki, yang dapat meningkatkan kepuasan mereka terhadap pekerjaan. Secara
keseluruhan, Employee engagement tidak hanya memengaruhi kinerja, tetapi juga
secara positif membentuk pengalaman kerja yang memuaskan dan bermakna bagi
karyawan (Rohana Manalu et al., 2021).

Pengaruh Employee engagement terhadap Kinerja Karyawan


Employee engagement, atau keterlibatan karyawan, memiliki peran yang
sangat signifikan dalam membentuk dan meningkatkan kinerja individu di
lingkungan kerja. Ketika karyawan merasa terlibat, mereka cenderung lebih
termotivasi untuk memberikan usaha maksimal dalam pekerjaan mereka.
Keterlibatan menciptakan koneksi emosional dan psikologis antara karyawan dan
organisasi, memotivasi mereka untuk bekerja menuju tujuan bersama. Karyawan
yang terlibat juga cenderung memiliki tingkat komitmen yang tinggi terhadap visi
dan nilai-nilai perusahaan, menciptakan rasa tanggung jawab yang kuat terhadap
kesuksesan organisasi. Di samping itu, lingkungan kerja yang mendorong
keterlibatan juga merangsang kolaborasi yang baik dan peningkatan kinerja tim,
karena karyawan merasa terhubung dengan rekan kerja mereka dan bersama-sama
bergerak menuju tujuan Bersama (Sucahyowati & Hendrawan, 2020).
Employee engagement juga berkontribusi pada stimulasi inovasi, karena
karyawan yang terlibat lebih cenderung untuk berbagi ide, mengambil risiko yang
sehat, dan mencari solusi kreatif. Dengan memberikan peluang untuk
pengembangan pribadi dan profesional, Employee engagement juga dapat
meningkatkan keterampilan karyawan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan
kinerja individu secara keseluruhan. Oleh karena itu, keterlibatan karyawan tidak
hanya menciptakan atmosfer kerja yang positif, tetapi juga memiliki dampak yang
positif secara langsung pada produktivitas, kepuasan pelanggan, dan pertumbuhan
jangka panjang organisasi (Rohana Manalu et al., 2021)

Indikator Kepuasan Kerja


Menurut Herzberg dalam Atthohiri and Wijayati (2021) terdapat beberapa
indicator yang mempengaruhi kepuasan kerja meliputi :

  1. Achievement (Prestasi Kerja)
    Merupakan prestasi kerja seseorang. Hal ini dapat termasuk penyelesaian
    pekerjaan dengan sukses, solusi untuk sebuah masalah, pembuktian, dan
    melihat hasil kerja seseorang.
  2. Recognition (Pengakuan)
    Merupakan pengakuan yang diberikan kepada karyawan atas hasil kerjanya.
    Kriteria utama dari recognition adalah tindakan pengakuan. Sumbernya bisa
    terdapat dari semua orang: supervisor, beberapa individu lain dalam
    manajemen, manajemen sebagai kekuatan impersonal (tidak bersifat pribadi),
    klien, rekan kerja, rekan profesional atau masyarakat umum. Beberapa tindakan
    yang menjadi perhatian dalam hal ini adalah pujian atau kesalahan.
  3. Work it Self
    Tantangan pekerjaan yang dirasakan oleh karyawan. Work it self digunakan saat
    responden menyebutkan pekerjaan sebenarnya atau tugas pekerjaan sebagai
    sumber dari perasaan baik atau buruk tentang hal itu. Pekerjaan ini bisa bersifat
    monoton atau bermacam-macam, menginspirasi atau melemahkan semangat,
    terlewat mudah atau terlampau susah.
  4. Advancement (Kemajuan)
    Merupakan besar kecilnya peluang untuk dapat maju di perusahaannya.
  5. Growth (Pertumbuhan)
    Merupakan kemungkinan karyawan tumbuh dan berkembang dalam
    perusahannya. Perubahan status yang secara resmi dan memungkinkan
    seseorang dapat naik di perusahaan, atau sebaliknya

Pengertian Kepuasan Kerja


Seorang individu yang bekerja pada suatu organisasi, juga memiliki
kebutuhan yang ingin dipenuhi. Ketika kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh
suatu organisasi di mana ia bekerja, maka seorang individu akan merasakan
kepuasan kerja. Pada dasarnya kepuasan kerja merupakan kebutuhan yang harus
dipenuhi pada diri setiap karyawan. Dengan terpenuhinya kebutuhan tersebut, maka
seorang karyawan akan merasa terdorong untuk lebih menyukai pekerjaannya
(Isnaeni, 2018).
Dalam Yordan Kalos et al. (2023) menyatakan, kepuasan kerja merupakan
pemikiran karyawan yang menghasilkan persepsi karyawan mengenai seberapa
tinggi tingkat manfaat dari pekerjaan mereka memberikan hal-hal yang mereka
anggap penting. Berdasarkan uraian di atas, maka disimpulkan bahwa kepuasan
kerja merupakan sebuah sikap dan pernyataan yang menggambarkan keadaan
emosi yang menyenangkan atau positif yang didapatkan dari pemikiran serta
penilaian seseorang terhadap pekerjaannya atau pengalaman kerjanya.
Sinurat (2017) mengatakan kepuasan kerja merupakan penerapan dari rasa
mencintai pekerjaan yang dilihat dari moral kerja, kedisiplinan serta prestasi yang
dicapai. Sedangkan Puspita and Atmaja (2020) mengemukakan definisi kepuasan
kerja adalah upah, kondisi lingkungan kerja, kondisi fisik dan juga psikologis yang
sesuai dengan perspektif diri

Indikator Employee engagement


Menurut Schaufeli dalam Winowoda (2018) keterikatan karyawan
merupakan pemikiran yang positif dan bahagia mengenai pekerjaan yang dapat
dilihat dari beberapa tanda yakni vigor, dedication, dan absorption. Ketiga elemen
tersebut adalah.

  1. Vigor (Semangat)
    Elemen ini adalah engaged karyawan yang ditunjukkan karyawan melalui
    kekuatan fisik dan mentalnya ketika mengerjakan tugas yang diberikan. Vigor
    dapat dilihat dari tingginya tingkat power dan mental dalam bekerja,
    mencurahkan energi yang dimiliki sepenuhnya, berani dalam menyelesaikan
    pekerjaan dengan sekuat tenaga, kesungguhan dalam melaksanakan pekerjaan
    yang diberikan, tidak putus asa dan bertahan ketika menghadapi kesulitan dalam
    menyelesaikan suatu pekerjaan.
  2. Dedication (Dedikasi)
    Dedikasi adalah sebuah engaged karyawan secara emosional terhadap
    pekerjaannya. Dedikasi dilihat melalui antusiasme karyawan ketika bekerja,
    membanggakan pekerjaan yang dilakukan dan bangga dengan tempat dia
    bekerja, selalu terinspirasi dan tekun sampai akhir pada perusahaan tanpa adanya
    rasa terancam dengan tantangan yang dihadapi kedepannya. Karyawan yang
    memiliki rasa dedikasi tinggi menyatukan diri dengan pekerjaan karena mereka
    menganggap pekerjaan mereka adalah pengalaman berharga, inspirasi dan
    tantangan. Mereka selalu antusias dengan pekerjaan dan hasilnya serta antusias
    dengan perusahaan yang di tempatinya. Sedangkan karyawan yang memiliki
    rasa dedikasi yang rendah tidak memiliki pengalaman yang berharga karena
    mereka tidak antusias dan bangga terhadap apa yang mereka kerjakan dan tidak
    bangga dengan perusahaan mereka.
  3. Absorption (Penyerapan)
    Elemen ini digambarkan dengan gerak gerik dan perilaku karyawan yang
    mencurahkan perhatian secara penuh kepada pekerjaannya. Penyerapan
    menunjukkan karyawan yang tenggelam secara penuh dalam tugas yang di
    kerjakannya, mereka berkonsentrasi tinggi, serta serius dalam menyelesaikan
    pekerjaannya. Karyawan yang memiliki absorption yang tinggi merasa waktu
    berjalan dengan cepat ketika mereka mengerjakan tugas sehingga sulit untuk
    melepaskan diri dari pekerjaan

Tipe Karyawan Berdasarkan Tingkat Employee engagement


Menururt Gallup dalam (Rohana Manalu et al., 2021) terdapat beberapa tipe
karyawan didalam suatu organisasi yang dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan
tingkat keterikatan yang dijabarkan sebagai berikut:

  1. Engaged
    Seorang penggerak atau pembangun dalam perusahaan adalah karyawan
    yang engaged (terikat). Karyawan ini akan bekerja secara penuh dalam
    menyelesaikan semua tanggung jawab pekerjaan yang telah diberikan
    kepadanya. Ketika bekerja karyawan ini tidak memiliki keraguan untuk
    menunjukkan dan mencurahkan segala energi mereka sepenuhnya, serta
    karyawan ini akan selalu berusaha mengembangkan talenta yang dimiliknya.
  2. Not Engaged
    Karyawan not engaged akan condong untuk fokus pada tugas yang
    diberikan dibandingkan dengan hasil dari pekerjaan yang diberikan. Mereka
    hanya melaksanakan pekerjaan sesuai dengan bagian tugas yang diberikan dan
    sesuai dengan bayaran yang didapatkan dari perusahaan. Dalam mengerjakan
    sesuatu karyawan ini tidak memiliki inisiatif dan hanya menunggu perintah yang
    diberikan serta sering tidak bertenaga dan semangat yang rendah ketika
    menyelesaikan pekerjaan.
  3. Actively Disengaged
    Tipe ini adalah seorang karyawan yang tidak terikat, karyawan ini secara
    terus terang dan tidak sembunyi-sembunyi dalam memperlihatkan perasaan yang
    kurang bahagia dan tidak puas mengenai hal yang mereka kerjakan. Karyawan
    ini terus menerus memperlihatkan perlawanan dan hanya berpikiran negatif serta
    melihat sisi buruk di berbagai kesempatan yang ada.
    Didapatkan kesimpulan bahwa tingkat tertinggi dalam keterikatan
    karyawan adalah engaged, not engaged adalah karyawan yang tidak terlalu
    merasa terikat dengan pekerjaan yang berarti karyawan tersebut hanya bekerja
    sesuai porsi pekerjaan mereka dan sesuai dengan bayaran yang mereka dapatkan,
    dan actively disengaged adalah tipe karyawan yang benar-benar tidak terikat
    dengan perusahaan dan mereka secara langsung memperlihatkan hal tersebut.

Pengertian Employee engagement


Employee engagement secara sederhana dapat diartikan sebagai keterikatan
karyawan dengan perusahaan dimana karyawan tersebut bekerja. Keterikatan
karyawan dapat semakin berkembang disebabkan karena adanya suatu kecocokan
antara karyawan dengan visi serta misi yang dijalani oleh perusahaan. Perusahaan
perlu memperhatikan keterikatan karyawan, karena semakin tinggi tingkat
keterikatan karyawan terhadap pekerjaan maupun perusahaannya maka semakin
tinggi dampak positif yang mempengaruhi kepada komitmen, loyalitas, bahkan
kinerja perusahaan (Sucahyowati & Hendrawan, 2020).
Dalam Rohana Manalu et al., (2021) berpendapat bahwa employee
engagement dapat dilhat dalam bentuk energi, keterlibatan serta usaha yang
terfokus untuk mencapai tujuan organisasi. Pengertian employee engagement yang
dikemukakan oleh Wicaksono and Rahmawati (2020) yang mengartikan atau
mendefinisikan keterikatan karyawan sebagai pemikiran positif mengenai
pekerjaan yang mempengaruhi dedikasi, semangat, dan perhatian penuh karyawan.

Indikator Kinerja Karyawan


Meningkat atau menurunnya kinerja karyawan dapat dicermati melalui
beberapa aspek. Untuk meningkatkan kinerja perusahaan ada aspek yang harus
dimiliki oleh karyawan sebuah perusahaan. Menurut Bernadin dan Russell dalam
Sucahyowati and Hendrawan (2020) ada enam kriteria untuk mengukur kinerja
karyawan yang yaitu:

  1. Kualitas
    Kesempurnaan hasil kerja karyawan yang sudah memenuhi standar dan tujuan
    yang telah ditetapkan oleh peraturan perusahaan sebelumnya.
  2. Kuantitas
    Tingkat penyelesaian kerja karyawan sesuai dengan standar penyelesaian yang
    telah ditetapkan oleh perusahaan.
  3. Timeliness
    Menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan standar waktu yang telah ditetapkan
    oleh perusahaan.
  4. Cost Effectiveness
    Menghemat biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan menggunakan
    energi serta kemampuan karyawan untuk menghasilkan keuntungan yang
    maksimal.
  5. Need for Supervision
    Karyawan selalu bekerja dengan baik tanpa perlu adanya sebuah pengawasan
    untuk mencapai peningkatan.
  6. Interpersonal Impact
    Karyawan yang berusaha mencapai hasil kerja yang terbaik karena memiliki rasa
    harga diri yang tinggi terhadap pekerjaan yang dimilikinya.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Di dalam dunia kerja, ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi kinerja
karyawan dalam menjalankan tanggung jawabnya.Faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja karyawan ada yang berasal dari intenal dan eksternal
perusahaan maupun dari diri karyawan itu sendiri serta dari lingkungan sekitar
perusahaan.Jika kinerja karyawan baik, maka target dan sasaran yang ingin dicapai
dalam sebuah perusahaan akan lebih mudah tercapai. Demikian sebaliknya, jika
kinerja karyawan buruk, maka target dan sasaran yang ingin dicapai dalam sebuah
perusahaan akan lebih sulit tercapai (Wahyudi, 2019).
Menurut Davis dalam (Wahyudi, 2019) adapun faktor-faktor yang
mempengaruhi pencapaian kinerja adalah sebagai berikut :

  1. Faktor Kemampuan (ability)
    Kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan
    kemampuan reality (knowledge skill). Artinya, pegawai yang memiliki IQ di atas
    rata-rata dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam
    mengerjakan pekerjaan seharihari, maka ia akan lebih mudah mencapai kinerja
    yang diharapkan dan sebenarnya perusahaan atau organisasi memang sangat
    membutuhkan orang-orang yang memiliki IQ di atas rata-rata. Oleh karena itu,
    pegawai perlu ditempatkan padapekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
  2. Faktor Motivasi (motivation)
    Motivasi terbentuk dari sikap (attitude) seorang pegawai dalam menghadapi
    situasi (situation) kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri
    pegawai yang terarah untuk mencapai tujuan organisasi (tujuan kerja). Sikap
    mental merupakan kondisi mental yang mendorong diri pegawai untuk berusaha
    mencapai pretasi kerja secara maksimal.

Pengertian Kinerja Karyawan


Salah satu faktor yang menjamin kemajuan suatu perusahaan adalah pengaruh
dari SDA yang ada. Dengan performa yang baik maka pengaruh yang diberikan ke
perusahaan juga baik. Sausan, Nasution, and Sabrina (2021) mengatakan, kinerja
karyawan merupakan sebuah prestasi nyata atau hasil kerja yang benar telah
dicapai. Mangkunegara dalam (Iwan Kurnia Wijaya, 2018) berpendapat kinerja
karyawan merupakan penyelesaian tugas dengan baik yang sesuai dengan tanggung
jawab yang telah diberikan

Pengaruh Kepemimpinan dan Employee Engagement terhadap Kinerjakaryawan


Kepemimpinan sangat penting dalam upaya meningkatkan kinerja karyawan
guna mencapai hasil kerja yang terbaik. Selain kepemimpinan, employee
engagement juga sangat penting dalam sutau organisasi dan dapat meningatkan
kinerja, yang dimana kepemimpinan dan employee engagement berpengaruh
terhadap kinerja (Wahjosumidjo, 2018:132) . Employee engagement sebagai sikap
yang positif yang dimiliki karyawan dengan penuh makna, dan motivasi yang
tinggi, dan keingina untuk berusaha, dan tidak menyerah dalam menghadapi
tantangan dengan konsentrasi penuh terhadap suatu tugas yang disesuaikan dengan
nilai dan tujuan organisasi.

Pengaruh Employee Engagement terhadap Kinerja Karyawan


Perilaku yang membawa seseorang dan terikat terhadap pekerjaannya disebut
juga employee engagement. Karyawan dengan keterikatan yang tinggi cenderung
memiliki energi dan memiliki hubungan afektif dengan aktivitas pekerjaan mereka
dan merasa mampu untuk menyelesaikan segala tuntutan pekerjaan yang diberikan.
menurut Shuck (2019) employee engagement yaitu keadaan pikiran yang
berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan yang dicirikan dengan
semangat, dedikasi, dan menyatu

Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kinerja Karyawan


Kepemimpinan merupakan faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya
suatu organisasi dalam mencapai tujuan dipengaruhi oleh cara seorang pimpinan.
Menurut Thoha (2018:53) :“Kepemimpinan merupakan sifat, karakter, atau cara
seseorang dalam upaya membina dan menggerakkan seseorang atau sekelompok
orang agar mereka bersedia, komitmen dan setia untuk menjalankan kegiatan sesuai
dengan tugas dan tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan organisasi yang telah
ditetapkan sebelumnya.”

Dimensi Kinerja Karyawan


Dimensi dan indikator yang digunakan dalam penelitian ini mengadaptasi
dari teori-teori dan pendapat para ahli. Menurut John Miner dalam Mangkunagara
(2018:72) yang mengemukakan bahwa ada beberapa dimensi dan indikator kinerja
yaitu sebagai berikut:

  1. Kualitas Kerja
    Kualitas kerja adalah sesuatu hal yang terkait dengan proses pekerjaan sampai
    hasil kerja yang bisa diukur dari tingkat efisiensi dan efektifitas seseorang
    dalam melakukan suatu pekerjaan yang didukung oleh sumber daya lainnya.
    Indikator dari kualitas kerja antara lain:
    a. Kerapihan
    b. Ketelitian
    c. Kehandalan
  2. Kuantitas Kerja
    Kuantitas merupakan satuan jumlah atau batas minimal dan maksimal yang
    harus dicapai oleh pekerja dengan waktu yang telah ditentukan oleh pimpinan
    perusahaan. Indikator dari kuantitas kerja antara lain:
    a. Ketepatan waktu
    b. Hasil kerja
    c. Kepuasan kerja
  3. Tanggung jawab
    Tanggung jawab merupakan hal yang terkait dengan hasil pekerjaan yang telah
    diselesaikan yang harus dipertanggungjawabkan para karyawan apabila masih
    ada pekerjaan yang belum sesuai dengan harapan pimpinan. Indikator dari
    tanggungjawab antara lain:
    a. Rasa tanggung jawab dalam mengambil keputusan
    b. Memanfaatkan sarana dan prasarana
  4. Kerjasama
    Kerjasama merupakan usaha bersama baik antara individu dengan individu,
    kelompok dengan kelompok, atau individu dengan kelompok berupa sikap dan
    perilaku setiap karyawan yang menjalin hubungan kerjasama dengan pimpinan
    atau rekan kerja untuk menyelesaikan pekerjaan secara bersama-sama.
    Indikator dari kerjasama antara lain:
    a. Jalinan kerjasama
    b. kekompakan
  5. Inisiatif
    Inisiatif adalah segala bentuk dorongan dari dalam diri karyawan untuk
    melakukan pekerjaan serta mengatasi masalah. Indikator dari inisiatif yaitu:
    a. Kemandirian
    b. Kemampuan dalam bekerja

Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Kinerja


Kinerja diukur dengan instrumen yang dikembangkan dalam studi yang
tergabung dalam ukuran kinerja secara umum kemudian diterjemahkan kedalam
penilaian perilaku secara mendasar. Menurut Mangkunegara (2018:70) terdapat
faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja seorang karyawan antara lain:

  1. Faktor personal/individual yaitu hal-hal yang terdiri dari Pengetahuan,
    keterampilan, kemampuan, kepercayaan diri, motivasi, job insecurity, dan
    komitmen.
  2. Faktor kepemimpinan yaitu meliputi kualitas, dorongan, semangat, employee
    engagement, dan dukungan
  3. Faktor tim diantaranya adalah kerja sama, dan kekompakan.
  4. Faktor sistem yang meliputi sistem kerja, fasilitas, proses organisasi, kultur
    kinerja dalam organisasi
  5. Faktor kontekstual (situasional) dimana faktor ini merupakan sebuah tekanan
    dan perubahan lingkungan eksternal dan internal

Pengertian Kinerja Karyawan


Kinerja adalah tingkat capaian atau sebuah hasil kerja yang dari
implementasi rencana kerja yang dibuat oleh organisasi yang dilaksanakan oleh
pimpinan dan karyawan sumber daya manusia yang bekerja di perusahaan, baik
institusi maupun pemerintahan untuk mencapai tujuan baik individu, organisasi
maupun masyarakat. Terdapat beberapa definisi kinerja menurut para ahli antara
lain pendapat dari Mangkunegara, (2018:66) yang menyatakan bahwa “Kinerja
karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang
karyawan dalam melaksanakan tugas sesuai tanggung jawab yang diembannya.”
Adapun pendapat lainnya Menurut (Afandi, 2018:83) mengatakan bahwa kinerja
adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam
suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing
dalam upaya pencapaian tujuan organisasi secara legal, tidak melanggar hukum dan
tidak bertentangan dengan moral dan etika. Sedangkan Menurut (Ahmad, 2020:31)
Kinerja atau performance, merupakan prestasi yang dicapai oleh seorang karyawan
dalam setiap melakukan pekerjaan/tugasnya, dimana karyawan tersebut dapat
menggunakan segenap kemampuan dan pengetahuan berbasis kompetensi, dimana
kinerjanya dapat diukur berdasarkan kemampuan, keahlian, dan attitude-nya pada
saat pelaksanaan tugasnya.

Kinerja Karyawan


Konsep kinerja merupakan singkatan dari kinetika energi yang memiliki
pengertian dalam bahasa inggris yaitu performance. Kinerja merupakan hasil dari
fungsi-fungsi suatu profesi pekerjaan dalam kurun waktu tertentu, keberhasilan
suatu organisasi dapat ditentukan oleh diantaranya dengan pengelolaan kinerja
karyawannya

Dimensi Employee Engagement


Menurut (Shuck, 2019:68) mengemukakan bahwa terdapat tiga dimensi dan
indikator dalam employee engagement diantaranya sebagai berikut.

  1. Semangat (Vigor)
    Ditandai dengan tingkatan energi yang tinggi, ketangguhan mental,
    berkeinginan untuk memberikan usaha terhadap pekerjaan dan juga ketahanan
    dalam menghadapi kesulitan. Indikator untuk dimensi ini antara lain:
    a. Energi dan stamina yang tinggi
    b. Kesungguhan dalam bekerja
    c. Kegigihan dan Ketekunan
  2. Dedikasi (Dedication)
    Ditandai oleh rasa antusias dalam bekerja, karyawan yang memiliki dedikasi
    yang tinggi terhadap pekerjaannya akan menjadikan pekerjaan sebagai
    pengalaman yang berharga, inspirasi, dan tantangan. Indikator untuk dimensi
    ini antara lain:
    a. Pengorbanan, tenaga, pikiran, dan waktu
    b. Rasa penuh makna
    c. Antusiasme
    d. Kebanggaan
  3. Menyatu (Absorption)
    Ditandai dengan perilaku karyawan yang memberikan perhatian penuh
    terhadap perusahaan dan serius dalam pekerjaannya. Dimana karyawan akan
    merasakan waktu cepat berlalu dan sulit memisahkan diri dari pekerjaanya.
    Indikator untuk dimensi ini antara lain:
    a. Konsentrasi
    b. Keseriusan
    c. Menikmati pekerjaan

Tipe Employee Engangement


Employee engagement dapat mendorong karyawan untuk melakukan
pekerjaan lebih dari kewajiban serta dapat memberikan kontibusi terbaik
kepada organisasi. Menurut Cintani dan Noviansyah (2020:34) terdapat tipe tiga
pergawai, yaitu:
a. Engaged
Karyawan yang engaged (terikat) adalah seorang pembangun di dalam
organisasi. Mereka cenderung akan selalu menunjukkan kinerja yang tinggi
dan maksimal dalam menyelesaikan setiap pekerjaan yang diberikan
kepadanya. karyawan jenis ini akan bersedia untuk memberikan kekuatan
dan mengembangkan talenta mereka secara maksimal dalam bekerja agar
organisasi berkembang.
b. Not Engaged
Karayawan dalam tipe ini cenderung fokus terhadap tugas dibandingkan
pencapaian tujuan dari pekerjaan itu. Mereka hanya mengerjakan tugas
sesuai dengan porsi mereka dan sesuai apa yang organisasi bayar kepada
mereka.
c. Actively Disengaged
Karyawan tipe ini adalah karywana yang tidak terikat atau secara aktif
melepaskan diri. Mereka akan secara terbuka menunjukan perasaaan tidak
bahagia dan ketidapuasan mereka terhadap pekerjaan yang dilakukan.
Mereka juga akan secara konsisten menunjukan perlawanan dan hanya
melihay sisi negatif pada berbagai kesempatan yang ada. Setiap harinya,
kinerja yang dihasilkan akan berbeda dengan teman kerja yag
terikat(engaged)

Pengertian Employee Engangement


Employee engagement merupakan salah satu faktor penting bagi kesuksesan
suatu organisasi dan dapat memberikan competitive advantage bagi organisasi.
Karyawan yang memiliki engagement yang tinggi, biasanya digambarkan dengan
semangat, energi dan loyalitas yang tinggi, serta komitmen dan kebanggaan yang
kuat terhadap organisasi. Adapun beberapa pengertian terkait employee engagement menurut para
ahli diantaranya yaitu Shuck (2019:81) “Employee engagement is define as a
positive, fulfilling work-related state of mind that is characterized by vigor,
dedication, and absorption”. Artinya: Keterikatan kerja didefinisikan sebagai
keadaan pikiran yang berhubungan dengan pekerjaan yang positif dan memuaskan
yang dicirikan oleh semangat, dedikasi, dan menyatu. Pendapat serupa disampaikan
oleh Brammer (2020:39) bahwa “Employee engagement is the employee’s
willingness and ability to contribute to the company on an ongoing basis”. Artinya
Keterikatan karyawan adalah kemauan dan kemampuan karyawan untuk
berkontribusi pada perusahaan secara berkelanjutan. Adapun pendapat lain
disampaikan oleh Segalla (2021:41) bahwa “Employee engagement is about how to
achieve the company’s strategic goals by creating developing human resources, and
every level starting from staff, managers, and executives is fully activated in their
work so they can give their best effort.” Artinya: Keterlibatan karyawan adalah
tentang bagaimana mencapai tujuan strategis perusahaan dengan menciptakan
sumber daya manusia yang berkembang, dan setiap level mulai dari staf, manajer,
dan eksekutif sepenuhnya aktif dalam pekerjaan mereka sehingga mereka dapat
memberikan upaya terbaik mereka

Employee Engagement


Dalam ilmu sumber daya manusia employee engagement atau keterikatan
karayawan merupakan sebuah istilah baru. Dimana employee engagement
merupakan sikap karyawan dengan perasaan semangat terhadap pekerjaannya
untuk mencapai keberhasilan organisasi, employee engagement melihat bagaimana
loyalitas yang dimiliki karaywan dalam bekerja yang tidak hanya selesai dengan
waktu yang tepat akan tetapi dengan kualitas sesuai dengan yang diinginkan
perusahaan.

Dimensi Kepemimpinan


Pemimpin berperan besar dalam menentukan setiap kebijakan sebuah
organisasi. Pada hakikatnya pemimpin adalah seseorang yang mempunyai
kemampuan untuk mempengaruhi perilaku orang lain dalam pekerjaannya. Berikut
ini adalah dimensi dan indikator kepemimpinan menurut Thoha (2018:54), yaitu :

  1. Inovator
    a. Kemampuan pimpinan dalam berinovasi
    b. Kemampuan konseptual yang dimiliki oleh pemimpin
  2. Komunikator
    a. Kemampan pimpina dalam menyampaikan maksud dan tujuan
    berkomunikasi dengan bawahannya
    b. Kemampuan pimpinan dalam mengambil intisari pembicaraan
  3. Motivator
    a. Kemampuan pimpinan mendorong karyawan untuk bekerja sesuai tanggung
    jawabnya.
    b. Kemampuan piminan memberikan sumbangan terhadap keberhasilan
    pencapaian tujuan organisasi
  4. Kontroler
    a. kemampuan pimpinan dalam melakukan pengawasan
    b. kemampuan pimpinan dalam pemakaian sumber daya

Gaya Kepemimpinan


Dalam setiap organisasi terdapat pemimpin yang akan mengarahkan dan
memberdayakan potensi anggota organisasi dengan gaya kepemimpinan yang
berbeda. Gaya kepemimpnan seseorang bisa dianggap baik dan tepat disuatu
organisasi namun dianggap kurang baik dan tidak teoat di tempat lain. Beberapa
gaya kepemimpinan menurut Hasibuan (2018:172), yaitu :

  1. Kepemimpinan Otoriter
    Kepemimpinan otoriter jika wewenang sebagian besa mutlak berapa pada
    pimpinan. Pengambilan keputusan dan kebijaksanaannya hanya ditetapkan
    sendiri oleh pimpinan, bawahan tidak diikutsertakan memberika ide apapun
    dalam prose pengambilan keputusan.
  2. Kepemimpinan Partisipatif
    Kepemimpinan partisipatif dalam kepemimpinannya dilakukan dengan cara
    persuaif, menciptkan kerja sama yang serasi, menumbuhkan loyalitas, dan
    partisipasi para bawahan.
  3. Kepemimpianan Delegatif
    Pemimpin mendelagasikan wewenang kepada bawahan, sehingga bawahan
    dapat mengambil keputusan dengan bebas dalam melaksanakan pekerjaannya,
    sepenhnya diserahkan kepada bawahan. Dalam arti pimpinan mengingikan
    agar para bawahan bisa mengedalikan diri mereka sendiri dalam
    menyelesaikan pekerjaan tersbut. Dalam hal ini bawahan dituntut memiliki
    kemampuan dan kemauan.

Fungsi Kepemimpinan


Dalam upaya mewujudkan tujuan organisasi, tujuan organisasi bisa tercapai
ketika seorang pemimpin mampu menjalakan tugas dan fungsinya dengan baik.
Menurut Syamsu Badu dan Novianti Djafri (2019:47) secara operasional dapat
dibedakan menjadi lima fungsi pokok kepemimpinan, yaitu :

  1. Fungsi instruktif
    Pemimpin berfungsi sebagai komunikator menentukan apa (isi perintah),
    bagaimana (cara mengerjakan perintah), bilamana (waktu memulai,
    melaksanakan, dan melaporkan hasilnya), dan dimana (tempat mengerjakan
    perintah) agar keputusan dapat diwujudkan secara efektif. Sehingga fungsi
    orang yang dipimpin hanyalah melaksanakan perintah.
  2. Fungsi konsultatif
    Pemimpin dapat menggunakan fungsi konsultatif sebagai komunikassi dua
    arah. Hal tersebut digunakan mana kala pemimpin dalam usaha menetapkan
    keputusan yang memerlukan bahan pertimbangan dan berkonsultasi dengan
    orang-orang yang dipimpinnya.
  3. Fungsi Partisipasi
    Dalam menjalankan fungsi partisipasi pemimpin harus berusaha dan mampu
    mengaktifkan orang-orang yang dipimpinnya, baik dalam pengambilan
    keputusan maupun dalam melaksanakannya..
  4. Fungsi Delegasi
    Dalam menjalankan fungsi delegassi, pemimpin memberikan pelimpahan
    wewenang membuat atau menetapkan keputusan. Fungsi delegasi sebenarnnya
    adalah kepercayaan seorang pemimpin kepada orang yang diberi kepercayaan
    untuk pelimpahan wewenang dengan melaksankannya secara bertanggung
    jawab.
  5. Fungsi Pengendalian
    Fungsi pengendalian berasumsi bahawa kepemimpinan yang efektif harus
    mampu mengatur aktivitas anggotanya secara terarah dan dalam koordinassi
    yang efektif, sehingga tercapainya tujuan bersama secara maksimal. Dalam
    melaksanakan fungsi pengendalian, pemimpin dapat mewujudkan melalui
    kegiatan bimbingan, pengarahan, koordimasi dan pengawaan.
    Fungsi kepemimpinan merupakan usaha untuk mengarahkan anggota
    kelompok agar memiliki semangat yang tinggi dan bekerja sebaik mungkin. Fungsi
    kepemimpinan juga berkaitan dengan membangun hubungan antara individu atau
    kelompok dalam organisasi.

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi atau memberi contoh yang di
lakukan oleh pimpinan kepada pengikutnya, yang bertunjuan untuk mencapai
tujuan organisasi. Kepemimpinan yang ditetapkan dalam organisasi dapat
menciptkan integrasi yang serasi dan mendorong semeangat kerja karyawan untuk
mencaoai tujuan yang maksimal. Pemimpin mengajak bawahannya untuk
melaksanakan tugas yang sudah direncakan dengan baik. Adupun pendapat dari
beberapa ahli mengenai definisi kepemimpinan yaitu :
Pendapat dari Bernhard Tewal (2018:205) mengemukakan bahwa “
Kepemimpinan adalah sifat penerapan pengaruh oleh seorang anggota kelompok
atau organisasi terhadap anggota lainnya guna mendorong kelompok atau
organisasi mencapai tujuan.” Pendapat dari Hasibuan (2019:170) mengemukakan
bahwa” kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin memperngaruhi perilaku
bawahan, agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai
tujuan organisasi”. Sedangkan menurut Thoha (2018:53) mengemukakan bahwa :
“Kepemimpinan merupakan sifat, karakter, atau cara seseorang dalam upaya
membina dan menggerakkan seseorang atau sekelompok orang agar mereka
bersedia, komitmen dan setia untuk menjalankan kegiatan sesuai dengan tugas dan
tanggung jawab untuk mewujudkan tujuan organisasi yang telah ditetapkan
sebelumnya.”

Kepemimpinan


Pemimpin memegang peranan penting dalam menentukan keberhasilan
organisasi dengan mengatur, membuat, rencana, memiliki tanggung jawab, selektif
dan memberikan arahan kepada bawahannya. Kepemimpinan yang dapat
meningkatkab motivasi karyawan akan meningkatkan kinerja karyawan. Oleh
karena itu, dibutuhkan kepemimpinan dalam organisasi untuk dapat menciptakan
semnagat bekerja.

Peran Manajemen Sumber Daya Manusia


Manajemen sumber daya manusia mempunyai peranan penting dan
dominan dalam sebuah organisasi, hal ini berhubungan dengan upaya mewujudkan
hasil yang ingin dicapai. Menurut Hasibuan (2019:23) mengungkapkan bahwa
peranan manajemen sumber daya manusia adalah sebagai berikut:

  1. Menetapkan jumlah, kualitas dan penempatan tenaga kerja yang efektif sesuai
    dengan kebutuhan perusahaan berdasarkan job description, job specification,
    job requirement, dan job evaluation.
  2. Menetapkan penarikan, seleksi, dan penempatan karaywan berdasarkan asas
    the right man in the right place and the right man in the right job
  3. Menetapkan program kesejahteraan, pengembangan, promosi, dan
    pemberhentian seperti pemberian tunjangan kesehatan juga dapat berupa
    pelatihan dan pengembangan pada karyawan
  4. Meramal penawaran dan permintaan sumber daya manusia pada masa yang
    akan datang, dengan mentaksir kebutuhan skill karyawan yang akan
    dibutuhkan di masa depan
  5. Memperkirakan keadaan perekonomian pada umumnya dan perkembangan
    perusahaan pada khususnya seperti menciptakan target-target khusus untuk
    dapat tetap stabil dan mampu bersaing.
  6. Memonitor dengan cermat undang-undang perburuhan dan kebijaksanaan
    pemberian balas jasa perusahaan yang sejenis.
  7. Memonitor kemajuan teknik dan perkembangan serikat buruh (memonitor
    segala kebijakan terbaru).
  8. Melaksanakan pendidikan, latihan, penilaian prestasi karyawan seperti
    dilakukannya training-training kerja.
  9. Mengatur mutasi karyawan baik vertikal maupun horizontal.
  10. Mengatur pensiun, pemberhentian, dan pesangonnya.

Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia


Fungsi merupakan kegiatan pokok yang dilakukan dalam suatu organisasi
atau perusahaan. Setiap karyawan pada hakikatnya melakukan dua fungsi, pertama
yaitu fungsi manajerial dimana kegiatan-kegiatan dilakukan dengan pekerjaan
pikiran atau menggunakan pikiran (mental), dan yang kedua yaitu fungsi operatif
(teknis), dimana kegiatan-kegiatan dilakukan dengan fisik. Menurut Hasibuan
(2019: 22) menyatakan bahwa fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia
adalah sebagai berikut:

  1. Fungsi manajerial
    a. Perencanaan (Planning)
    Perencanaan (human resources planning) adalah kegiatan merencanakan
    tenaga kerja secara efektif serta efisien agar sesuai dengan kebutuhan
    organisasi dalam membantu mewujudkan tujuan.
    b. Pengorganisasian (Organizing)
    Pengorganisasian adalah kegiatan untuk mengorganisasikan semua
    karyawan dengan menetapkan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
    wewenang, integrasi, dan koordinasinya dalam bagan organisasi.
    c. Pengarahan (Actuating)
    Pengarahan yaitu tindakan yang mengarahkan semua karyawan, agar mau
    bekerja sama dan bekerja efektif serta efisien dalam membantu tercapainya
    tujuan perusahaan, karyawan, dan masyarakat.
    d. Pengendalian (Controlling)
    Pengendalian adalah kegiatan kontrol/evaluasi yang beruguna untuk
    memastikan bahwa apa yang sudah direncanakan, disusun, dan dijalankan
    dapat berjalan sesuai dengan prosedur, dengan kata lain sebagai monitor
    kemungkinan ditemukannya penyimpangan.
  2. Fungsi Operasional
    a. Pengadaan (Procurement)
    Pengadaan adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi, dan
    indikasi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan
    perusahaan.
    b. Pengembangan (Development)
    Pengembangan adalah proses peningkatan keterampilan teknis, teoritis,
    konseptual, dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan agar
    dapat menjalankan tugas dengan baik.
    c. Kompensasi (Compensation)
    Kompensasi adalah pemberian balas jasa langsung dan tidak langsung baik
    metreial maupun non material yang adil dan layak kepada karyawan sebagai
    imbalan jasa yang diberikannya kepada organisasi.
    d. Integrasi (Integration)
    Pengintegrasian adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
    perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang serasi
    dan saling menguntungkan, fungsi ini merupakan usaha memperoleh
    keamanan, dan kenyamanan karyawan, perusahaan, dan masyarakat.
    e. Pemeliharaan (Maintanance)
    Pemeliharaan karyawan adalah kegiatan untuk meningkatkan dan
    memelihara atau mempertahankan kondisi fisik, mental dan loyalitas
    karyawan, secara berkesinambungan agar mereka tetap mau bekerja sama
    sampai purna bakti.
    f. Kedisiplinan (Discipline)
    Kedisiplinan merupakan kunci terwujudnya tujuan, Kedisiplinan adalah
    kesadaran untuk menaati peraturan-peraturan perusahaan dan normanorma
    sosial.
    g. Pemberhentian (Separation)
    Pemberhentian adalah pemutusan hubungan kerja seseorang dari suatu
    organisasi. Biasanya disebabkan oleh keinginan karyawan, keinginan
    perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun, dan sebab-sebab lainnya.

Unsur – unsur Manajemen


Setiap organisasi harus memiliki unsur-unsur untuk membentuk sistem
manajerial yang baik dan harmoni. Peranan unsur ini terkait dengan pelaksanaan
fungsi manajemen, dimana apabila salah satu diantaranya tidak ada atau tidak
berfungsi dengan baik, maka akan berdampak pada taraf pencapaian tujuan
organisasi. berikut unsur-unsur manajemen menurut George R. Tery dalam
Hasibuan, (2019:50):

  1. Manusia (Man)
    Manusia pada elemen ini merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki
    organisasi, artinya sumber daya manusia yang sudah memiliki kualifikasi dan
    kompetensi yang dibutuhkan oleh organisasi. faktor manusia adalah yang
    paling menentukan. Manusia yang membuat tujuan dan manusia pula yang
    melakukan proses untuk mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses
    kerja, sebab pada dasarnya manusia adalah mahluk kerja.
  2. Uang (Money)
    Uang merupakan alat tukar dan alat pengukuran nilai. Besar-kecilnya hasil
    kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh
    karena itu uang merupakan alat yang penting untuk mencapai tujuan karena
    segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan
    dengan berapa uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja,
    alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai
    dari suatu organisasi.
  3. Material (Materials)
    Material merupakan bahan mentah, bahan setengah jadi dan bahan jadi. Dalam
    dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli
    dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/material-material
    sebagai salah satu sarana. Sebab material dan manusia tidak dapat dipisahkan,
    tanpa material tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
  4. Mesin (Machines)
    Penggunaan mesin dalam proses produksi adalah hal yang mutlak. Penggunaan
    mesin akan membawa kemudahan atau menghasilkan keuntungan yang lebih
    besar serta menciptakan efesiensi kerja.
  5. Metode (Methods)
    Metode dapat diartikan sebagai suatu cara untuk melakukan kegiatan agar
    diperoleh hasil yang berkualitas, efektif dan efisien. Suatu tata cara kerja yang
    baik akan memperlancar jalannya pekerjaan.
  6. Pasar (Market)
    Pasar merupakan tempat memasarkan produk atau jasa. Bagi organisasi yang
    bergerak di bidang industri yang motifnya adalah keuntungan, maka pasar
    merupakan unsur manajemen yang penting. Dengan adanya pasar, maka
    produk yang diproduksinya dapat terjual dengan sukses

Fungsi Manajemen


Fungsi ini dijadikan sebagai acuan untuk mengatur kegiatan di perusahaan
agar berjalan dengan baik dan mencapai tujuan dengan efektif juga efisien. Menurut
George R. Tery dalam Hasibuan (2019:130) terdapat empat elemen dari fungsi
manajemen yaitu:

  1. Perencanaan (Planning)
    Perencanaan adalah proses yang mendefinisikan tujuan dari organisasi,
    membuat strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan dari organisasi,
    serta mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi.
  2. Pengorganisasian (Organizing)
    Pengorganisasian didefinisikan sebagai proses kegiatan penyusunan atau
    alokasi sumber daya organisasi dalam bentuk desain organisasi atau struktur
    organisasi sesuai dengan tujuan perusahaan yang tertuang di dalam visi dan misi
    perusahaan, sumber daya organisasi, dan lingkungan bisnis perusahaan
    tersebut.
  3. Pengarahan (Actuating)
    Pengarahan adalah suatu tindakan eksekusi terhadap rencana yang telah
    dituangkan dalam bentuk plan. Serta pembagian kerja sumber daya yang ada
    pada organisasi agar kegiatan berjalan sesuai dengan rencana.
  4. Kontrol (Controling)
    Kontrol adalah bentuk pengawasan atau pengendalian dari sebuah gerakan yang
    telah dilakukan oleh organisasi agar berjalan sesuai dengan harapan.
    Manajemen memiliki fungsi untuk dijadikan acuan sekaligus sebagai suatu
    bentuk kegunaan.

Pengertian Manajemen


Manajemen merupakan hal yang penting bagi suatu organisasi untuk
mencapai tujuan dari organisasi tersebut. Manajemen sendiri bertujuan untuk
mengatur dan mengelola sumber daya yang tersedia dalam organisasi. Berikut
pengertian manajemen menurut beberapa pendapat ahli diantaranya adalah. Bob &
Shidarta (2019:7) berpendapat bahwa Manajamen merupakan proses perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan terhadap usaha-usaha para anggota
organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Teori lain mengenai manajemen menurut
Afandi (2018:1) mengemukakan bahwa Manajemen adalah bekerja dengan orang-
orang untuk mencapai tujuan organisasi dengan pelaksanaan fungsi perencanaan
(planning), pengorganisasian (organizing), penyusunan personalia (staffing),
pengarahan dan kepemimpinan (leading), dan pengawasan (controlling).”
Sedangkan menurut Manullang (2018:2) yaitu Manajemen adalah seni dan ilmu
perencanaan, penggorganisasian, penyusunan, pengarahan, dan pengawasan
sumber daya manusia untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan terlebih
dahulu.

Pengertian Keadilan Organisasi


Menurut Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2008) keadilan
organisasi merupakan persepsi keseluruhan mengenai apa yang adil di
tempat kerja. Sedangkan menurut Moorhead dan Grifin (2013) keadilan
organisasional merujuk pada persepsi orang-orang dalam organisasi
mengenai keadilan.
Teori keadilan menjelaskan bagaimana persepsi seseorang mengenai
seberapa adil mereka diperlakukan dalam transaksi sosial di tempat kerja
dapat mempengaruhi motivasi mereka. Teori motivasi ini didasarkan pada
asumsi bahwa individu termotivasi oleh keinginan untuk diperlakukan
secara sama ditempat kerja.
Menurut Jackson dan Schular (dalam Muslimin, 2017) memperlakukan
pegawai dengan adil sangat baik bagi pegawai. Keadilan juga baik untuk
bisnis, ketika pegawai diperlakukan dengan adil, mereka akan
memperlakukan pelanggan dengan baik juga. Pegawai yang merasa tidak
diperlakukan dengan adil bisa menjauhkan pelanggan. Keadilan merupakan
keyakinan bahwa kita diperlakukan dengan adil dalam hubungan dengan
orang lain sedangkan ketidakadilan sebagia keyakinan bahwa kita
diperlakukan secara tidak adil dibandingkan dengan orang lain.
Menurut Jhon M. Ivancevich dan Robert (dalam Muslimin, 2017) ada
empat istilah penting dalam teori keadilan, yaitu:
a. Orang (person) adalah kepada siapa keadilan dan ketidakadilan
dipersepsikan.
b. Perbandingan dengan orang lain (comparison other). Setiap kelompok
atau orang yang digunakan oleh seseorang sebagai refrensi berkenaan
dengan input dan hasil.
c. Karakteristik individu yang dibawa oleh seseorang ketempat kerja.
d. Hasil apa yang diterima seseorang dari pekerjaan (misalkan tunjangan,
pengakuan, dan gaji).
Keadilan muncul ketika karyawan mempersepsikan bahwa rasio dari
input mereka (usaha) terhadap hasil mereka (penghargaan) sama dengan
rasio pada karyawan yang lain. Ketidakadilan muncul ketika rasio tersebut
tidak sama, rasio input dan hasil seorang individu dapat lebih besar, atau
kurang dari milik orang lain.
Apabila hasil tambahan orang lain disebabkan karena masukannya yang
lebih besar, perasaan keadilan masih bisa muncul. Namun, apabila orang-
orang yang diperbandingkan menghendaki hasil yang lebih besar dengan
masukan yang sama, maka ketidakadilan negatif (negative inequity) yang
akan dirasakan. Sedangkan seseorang akan mengalami ketidakadilan positif
(positive inequity) ketika rasio hasil terhadap masukannya lebih besar dari
pada rekan kerjanya

Faktor yamg Mempengaruhi Kompensasi


Menurut Hasibuan (2013), faktor-faktor yang mempengaruhi kompensasi
antara lain sebagai berikut:
a. Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan
Apabila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin
baik maka tingkat kompensasi akan semakin besar. Sebaliknya, jika
kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar kurang maka
tingkat kompensasi semakin kecil.
b. Produktivitas Kerja Karyawan
Jika prodiktivitas kerja karyawan baik dan banyak maka kompensasi
akan semakin besar. Jika produktivitas kerja karyawan buruk serta sedikit
maka kompensasinya kecil.
c. Posisi Jabatan Karyawan
Karyawan yang menduduki jabatan lebih tinggi akan menerima
kompensasi lebih besar.
d. Pendidikan dan Pengalaman Kerja
Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja lebih lama maka
kompensasi yang diterima semakin besar, karena kecakapan serta
keterampilannya semakin baik.

Indikator Kompensasi


Setiap perusahaan memiliki indikator yang berbeda-beda dalam proses
pemberian kompensasi untuk karyawan. Menurut Henry Simamora (2004)
mengemukakan, secara umum ada beberapa indikator kompensasi, yaitu:

  1. Gaji yang adil sesuai dengan pekerjaan.
  2. Insentif yang sesuai dengan pengorbanan.
  3. Fasilitas yang memadai.
  4. Tunjangan yang sesuai dengan harapan

Asas Kompensasi


Menurut Elbadiansyah (2019) kompensasi (balas jasa) harus ditetapkan
atas asas adil dan layak serta dengan memperhatikan undang – undang
perburuhan yang berlaku. Prinsip adil dan layak harus mendapat perhatian
dengan sebaik -baiknya supaya balas jasa yang akan diberikan merangsang
gairah dan kepuasan kerja karyawan.
a. Asas Keadilan
Kompensasi mempengaruhi perilaku karyawan dalam organisasi
sehingga pemberian kompensasi yang tidak berdasarkan asas keadilan
akan mempengaruhi kondisi kerja karyawan. Yang dimaksud dengan
asas keadilan ialah adanya konsistensi imbalan bagi para karyawan yang
melakukan tugas dengan bobot yang sama.
Dengan kata lain, kompensasi karyawan di suatu jenis pekerjaan
dengan kompensasi karyawan di jenis pekerjaan yang lainnya, yang
mengerjakan pekerjaan dengan bobot yang sama, relatif akan
memperoleh besaran kompensasi yang sama.
b. Asas Kelayakan dan Kewajaran
Kompensasi yang diterima karyawan harus dapat memenuhi
kebutuhan dirinya beserta keluarganya, pada tingkatan yag layak dan
wajar. Sehingga besaran kompensasi yang akan diberikan akan
mencerminkan status, pengakuan, dan tingkat pemenuhan kebutuhan
yang akan dinikmati oleh karyawan beserta keluarganya

Jenis Kompensasi


Banyak pendapat yang menyatakan tentang jenis-jenis kompensasi yang
diterima oleh karyawan. Menurut Rivai (2004) kompensasi terbagi menjadi
dua yaitu kompensasi finansial dan kompensasi non-finansial.

  1. Kompensasi Finansial
    Kompensasi finansial terdiri atas dua yaitu kompensasi langsung dan
    kompensasi tidak langsung (tunjangan).
    a. Kompensasi finansial langsung
    Kompensasi finansial langsung adalah pembayaran berbentuk uang
    yang karyawan terima secara langsung. Terdiri atas pembayaran
    pokok ( gaji, upah), pembayaran prestasi, pembayaran insentif,
    komisi, bonus, bagian keuntungan, opsi saham, sedangkan
    pembayaran tertangguh meliputi tabungan hari tua, saham komulatif.
    b. Kompensasi finansial tidak langsung
    Kompensasi finansial tidak langsung adalah termasuk semua
    penghargaan keuangan yang tidak termasuk kompensasi langsung.
    Terdiri atas proteksi yang meliputi asuransi, pesangon, sekolah anak,
    pensiun. Kompensasi luar jam kerja meliputi lembur, hari besar, cuti
    sakit, cuti hamil, sedangkan berdasarkan fasilitas meliputi rumah,
    biaya pindah, dan kendaraan.
  2. Kompensasi Non Finansial
    Kompensasi non finansial terdiri atas karena karir yang meliputi
    aman pada jabatan, peluang promosi, pengakuan karya, temuan baru,
    prestasi istimewa, sedangkan lingkungan kerja meliputi dapat pujian,
    bersahabat, nyaman bertugas, menyenangkan dan kondusif.
    Kompensasi jenis ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu:
    a. Non financial the job (kompensasi berkaitan dengan pekerjaan)
    Kompensasi non finansial mengenai pekerjaan ini dapat berupa
    pekerjaan yang menarik, kesempatan untuk berkembang, pelatihan,
    wewenang dan tanggung jawab, penghargaan atas kinerja.
    Kompensasi bentuk ini merupakan perwujudan dari pemenuhan
    kebutuhan harga diri (esteem) dan aktualisasi (self actualization).
    b. Non financial job environment (kompensasi berkaitan dengan
    lingkungan pekerjaan)
    Kompensasi non finansial mengenai lingkungan pekerjaan ini
    dapat berupa supervisi kompetensi (competent supervision), kondisi
    kerja yang mendukung (comfortable working conditions), pembagian
    kerja (job sharing) (Mondy, 2003).

Tujuan Kompensasi


Secara umum tujuan kompensasi adalah untuk membantu perusahaan
untuk mencapai tujuan perusahaan dan menjamin terciptanya keadilan
internal dan eksternal. Selain itu tujuan kompensasi adalah untuk
kepentingan karyawan, dan kepentingan pemerintah atau masyarakat.
Supaya tujuan kompensasi tercapai dan memberikan kepuasan bagi
semua pihak hendaknya program kompensasi diterapkan berdasarkan
prinsip adil dan wajar serta sesuai dengan undang-undang.
Tujuan kompensasi menurut Hasibuan (2013) adalah sebagai berikut:
a. Ikatan Kerja Sama
Dengan pemberian kompensasi maka akan terjalin kerjasama formal
antar perusahaan dengan karyawan. Karyawan harus mengerjakan
tugasnya dengan baik dan perusahaan membayar kompensasi sesuai yang
telah disepakati.
b. Kepuasan Kerja
Dengan balas jasa maka karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan dan
status sosial sehingga memeperoleh kepuasan kerja dari jabatannya.
c. Pengadaan Efektif
Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar maka pengadaan
karyawan yang kompeten untuk perusahaan akan lebih mudah.
d. Motivasi
Jika balas jasa yang diberikan sesuai maka manager akan lebih mudah
memotivasi karyawan.
e. Stabilitas Karyawan
Dengan program kompensasiatas prinsip adil dan layak serta eksternal
konsistensi yang kompetitif maka stabilitas karyawan akan lebih terjamin
karena turnover relatif kecil.
f. Disiplin
Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan
akan semakin baik.
g. Pengaruh Serikat Buruh
Dengan program kompensasi yang baik pengaruh serikat buruh dapat
dihindarkan dan karyawan akan konsisten dengan pekerjaannya.
h. Pengaruh Pemerintah
Jika program kompensasi sesuai denagn undang-undang yang berlaku
maka intervensi pemerintah dapat dihindarkan.

Pengertian Kompensasi


Manajemen kompensasi menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah
perusahaan. Karyawan yang memiliki kompetensi umumnya melihat
“bayaran yang tinggi” sebagai konsekuensi atas kemampuan yang
dimilikinya. Tingkatan kompensasi menentukan gaya hidup, status dan
perasaan karyawan terhadap perusahaannya.
Paket kompensasi sendiri terdiri atas gaji, tunjangan-tunjangan yang
menjadi pengeluaran pokok secara kritis mempengaruhi posisi kompetitif
perusahaan. Untuk lebih jelasnya, definisi kompensasi menurut para ahli
antara lain sebagai berikut:
Menurut Ardana (2012), kompensasi adalah segala sesuatu yang
diterima oleh karyawan sebagai balas jasa atas kontribusinya kepada
perusahaan. Menurut Handoko (2014) kompensasi adalah segala sesuatu
yang diterima para karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka.
Menurut Hasibuan (2013) kompensasi adalah semua pendapatan yang
berbentuk uang, barang langsung ataupun tidak langsung yang diterima oleh
karyawan sebagai imbalan atas apa yang diberikan kepada perusahaan.
Menurut Gary Dessler (2005), kompensasi karyawan merujuk pada
semua bentuk gaji karyawan yang timbul dari pekerjaan mereka. Ungkapan
„semua bentuk pembayaran‟ didalam definisi tidak termasuk manfaat non-
keuangan, tetapi semua kompensasi finansial langsung dan tidak
langsung.karyawan saat ini tidak mau bekerja hanya untuk uang saja,
mereka mengharapkan „ekstra‟ atau „tambahan‟. Tambahan ini dikenal
sebagai imbalan kerja, juga dikenal sebagai tunjangan. Imbalan kerja
merupakan bentuk non-finansial dari kompensasi yang ditawarkan di luar
upah tunai

Indikator Employee Engagement


Employee engagement merupakan hal positif yang terkait dengan keadaan
pikiran yang ditandai dengan semangat (Vigor), dedikasi (Dedication) dan
penyerapan (Absorption) (Schaufeli et. al, dalam Wulandari, 2016).
a) Aspek Vigor
Vigor merupakan aspek yang ditandai dengan tingginya tingkat
kekuatan dan resiliensi mental dalam bekerja, keinginan untuk berusaha
dengan sungguh-sungguh di dalam pekerjaan, gigih dalam menghadapi
kesulitan.
b) Aspek Dedication
Aspek dedication ditandai oleh suatu perasaan yang penuh makna,
antusias, inspirasi, kebanggaan dan menantang dalam pekerjaan. Orang-
orang yang memiliki skor dedication yang tinggi secara kuat
mengidentifikasi pekerjaan mereka karena menjadikannya pengalaman
berharga, menginspirasi dan menantang.
Disamping itu, mereka biasanya merasa antusias dan bangga
terhadap pekerjaan mereka. Sedangkan skor rendah pada dedication
berarti tidak mengidentifikasi diri dengan pekerjaan karena mereka tidak
memiliki pengalaman bermakna, menginspirasi atau menantang, terlebih
lagi mereka merasa tidak antusias dan bangga terhadap pekerjaan
mereka.
c) Aspek Absorption
Aspek absorption ditandai dengan adanya konsentrasi dan minat
yang mendalam, tenggelam dalam pekerjaan, waktu terasa berlalu begitu
cepat dan individu sulit melepaskan diri dari pekerjaan sehingga dan
melupakan segala sesuatu disekitarnya. Orang-orang yang memiliki skor
tinggi pada absorption biasanya merasa senang perhatiannya tersita oleh
pekerjaan, merasa tenggelam dalam pekerjaan dan memiliki kesulitan
untuk memisahkan diri dari pekerjaan. Akibatnya, apapun
disekelilingnya terlupa dan waktu terasa berlalu cepat.
Sebaliknya orang dengan skor absorption yang rendah tidak merasa
tertarik dan tidak tenggelam dalam pekerjaan, tidak memiliki kesulitan
untuk berpisah dari pekerjaan dan mereka tidak lupa segala sesuatu
disekeliling mereka, termasuk waktu. Karyawan yang terlibat
menampilkan kekuatan yang lebih besar, dedikasi, dan totalitas pekerjaan
mereka dan harus menunjukkan kinerja yang terus meningkat karena
mereka fokus pada tanggung jawab dan tugas-tugas karyawan

Keuntungan Employee Engagement Bagi Perusahaan


Keuntungan memiliki karyawan yang engaged antara lain:
a. Karyawan yang terikat akan tetap tinggal dalam perusahaan, menjadi
pendukung yang baik bagi perusahaan, produk-produk yang dihasilkan
serta pelayanan dan menyumbang kesuksesan bisnis sampai tingkat yang
paling dasar.
b. Mereka secara normal menunjukkan kinerja yang lebih baik dan lebih
termotivasi.
c. Terdapat hubungan yang signifikan antara employee engagement dan
profitabilitas (keuntungan).
d. Mereka membentuk sebuah hubungan emosi dengan perusahaan. Hal ini
akan mempengaruhi sikap mereka terhadap klien atau nasabah
perusahaan dan dengan demikian akan meningkatkan kepuasan
pelanggan dan peningkatan layanan.
e. Mereka akan membangun keinginan yang kuat, berkomitmen serta
memiliki kesejajaran dengan strategi dan tujuan organisasi.
f. Meningkatkan kepercayaan para karyawan terhadap organisasi.
g. Menciptakan suata rasa loyal dalam lingkungan yang kompetitif atau
bersaing.
h. Menyediakan suatu energi atau kekuatan yang tinggi dalam lingkungan
kerja.
i. Mendorong pertumbuhan bisnis.
j. Membuat para karyawan menjadi duta merek yang efektif bagi
perusahaan.

Faktor Yang Mempengaruhi Employee Engagement


Menurut Lockwood (dalam Wulandari, 2016) employee engagement
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain :
a. Kompensasi
Salah satu penentu yang kuat dari sikap pekerja, motivasi, dan perilaku
adalah kompensasi. Kompensasi digunakan untuk menarik, memotivasi,
dan mempertahankan pekerja yang berpotensi menghantarkan
kesuksesan tujuan perusahaan. Ketika perusahaan mampu memberikan
feedback yang sesuai dengan kontribusi yang diberikan karyawan pada
perusahaan maka karyawan akan merasa dihargai oleh perusahaan yang
dimana hal tersebut dapat memotivasi karyawan untuk lebih
mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk perusahaan.
b. Working life
Kenyamanan kondisi lingkungan kerja menjadi pemicu terciptanya
employee engagement. Ada beberapa kondisi lingkungan kerja yang
diharapkan dapat menciptakan employee engagement.
Pertama, lingkungan kerja yang memiliki keadilan distributif dan
prosedural. Hal ini terjadi karena karyawan yang memiliki persepsi
bahwa ia mendapat keadilan distributif dan prosedural akan berlaku adil
pada organisasi dengan cara membangun ikatan emosi yang lebih dalam
pada organisasi.
Kedua, lingkungan kerja yang melibatkan karyawan dalam
pengambilan keputusan. Kondisi ini mempengaruhi karyawan secara
psikologis, mereka menganggap bahwa mereka berharga bagi organisasi.
Hal ini membuat karyawan akan semakin terikat dengan organisasi.
Ketiga, organisasi yang memperhatikan keseimbangan kehidupan
kerja dan keluarga karyawan. Dalam banyak penelitian dijelaskan bahwa
ketika konflik antara pekerjaan dan keluarga terjadi, karyawan akan
cenderung memutuskan keluar dari pekerjaan.

Kategori Employee Engagement


Menurut Gallup sebuah konsultan organisasi (dalam Wulandari, 2016),
terdapat 3 perbedaan tipe orang dalam kategori engagement:
a. Engaged (Terikat)
Karyawan yang engaged adalah pembangun. Mereka tahu harapan-
harapan apa yang diinginkan dari peran mereka, oleh karena itu mereka
dapat memenuhi dan mencapainya. Secara natural mereka memiliki
keingintahuan tentang perusahaan dan tempat di mana mereka saat ini
bekerja. Secara konsisten mereka melakukan pekerjaan dengan tingkatan
yang tinggi. Mereka ingin menggunakan talenta atau bakat dan kekuatan
mereka di tempat kerja setiap hari. Mereka bekerja dengan keinginan
yang besar dan mendorong inovasi dan menggerakkan organisasi untuk
maju.
Ciri dari karyawan yang engaged adalah antusias, semangat dan
bergairah terhadap pekerjaan mereka, loyal, termotivasi, berkomitmen
dan produktif. Mereka memiliki emosi yang kuat dan setia pada tempat
kerja mereka dan terdorong untuk sukses.
b. Not Engaged (Tidak terikat)
Karyawan yang tidak terikat (not engaged) cenderung untuk
berkonsentrasi pada tugas-tugas daripada sasaran-sasaran atau hasil yang
mereka harapkan untuk diselesaikan. Mereka hanya ingin mengetahui
apa yang harus dikerjakan kemudian melakukan dan mengatakan bahwa
mereka telah menyelesaikannya. Mereka fokus pada pemenuhan tugas
dibandingkan mencapai suatu hasil.
Para karyawan yang tidak terikat cenderung merasa kontribusi
mereka diabaikan, dan kemampuan mereka tidak memberi manfaat.
Mereka seringkali merasa bahwa ini cara mereka karena mereka tidak
memiliki hubungan yang produktif dengan para manajer atau dengan
para rekan kerja mereka.
Karyawan yang tidak terikat (not engaged) tidak terhubung secara
psikologis dan secara total dengan perusahaan mereka. Mereka memang
bekerja keras dan berkontribusi tetapi memiliki dorongan yang kurang
untuk sukses dibandingkan dengan rekan kerja yang terikat dan
kemungkinan besar memiliki perilaku yang akan meninggalkan
perusahaan jika ada tawaran yang lebih menarik di tempat lain.
c. Actively Disengaged (Melepaskan Diri Secara Aktif)
Karyawan yang secara aktif melepaskan diri dan hampir segala
sesuatu secara konsisten mereka tentang. Mereka tidak hanya tidak
bahagia di tempat kerja, tetapi justru sibuk memerankan
ketidakbahagiaan mereka. Mereka menyebarkan benih-benih negative
dalam setiap kesempatan. Setiap hari, pekerja yang secara aktif
melepaskan diri merusak apa yang harus diselesaikan oleh rekan kerja
mereka yang terikat.
Karyawan dalam kategori ini secara emosi dan secara kognitif
“bercerai” dengan pekerjaan mereka, mereka memiliki suatu perasaan
untuk keluar dari perusahaan meskipun secara fisik mereka berada di
sana. Mereka tidak puas, tidak bahagia berada di dalam perusahaan
tersebut dan mereka jelas memiliki pandangan yang negatif terhadap
perusahaan, hal ini akan menular dan mengacaukan bagi organisasi.

Elemen dari Employee Engagement


Berntal – DDI dalam White papernya – Measuring Employee
Engagement (DDI 2010) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Development Dimension International Inc (DDI)
menyimpulkan Employee engagement terdiri dari 3 elemen yaitu : Focused
Work / Pekerjaan Yang Fokus, Interpersonal Support / Dukungan
Interpersonal, Individual Value / Nilai-nilai Individu.
a. Pekerjaan Yang Fokus
Karyawan akan merasa engaged ketika mereka mendapatkan arah
yang jelas, kinerja yang terlihat dan lingkungan kerja yang efisien.
Disamping dorongan pribadi dan motivasi untuk berkontribusi,
karyawan seharusnya mengerti dimana merka harus fokus pada
usahanya. Tanpa strategi yang jelas, dan petunjuk dari pemimpin
seniornya, karyawan akan menghilangkan waktunya yang bernilai pada
kegiatan yang tidak ada bedanya untuk kesuksesan organisasi.
Sebagai tambahan, walaupun mereka mendapatkan arahan dari
atasannya di tempat, karyawan harus menerima umpan balik untuk
memastikan bahwa mereka sudah pada jalan yang tepat dan hal tersebut
terlihat dari kinerjanya. Untuk hal tertentu, mereka harus tahu bahwa
kinerja yang rendah tidak dapat diterima dan aka nada konsekuensinya
terhadap hal tersebut.
Karyawan ingin bekerja pada suatu lingkungan yang efisien dalam
hal waktu, sumber daya dan anggarannya. Orang akam kehilangan ras
loyal pada organisasinyanya ketika mereka melihat sesuatu yang
berlebihan dan tidak efektif, Misalnya, karyawan akan merasa frustasi
saat disuruh melakukan sesuatu yang tidak penting atau membuang
waktu dalam meeting yang tidak perlu.
b. Dukungan Interpersonal
Karyawan akan merasa engaged bila bekerja dalam keadaan yang
nyaman, dan lingkungan yang kooperatif. „Nyaman‟ dalam konteks
disini adalah karyawan saling mempercayai satu sama lain, dan bisa
dengan cepat menyelesaikan masalah yang muncul diantara mereka.
Mereka bisa saling mendukung satu sama lain dan memfokuskan
perhatian mereka pekerjaan yang benar-benar penting untuk mereka.
Konflik akan menghabiskan waktu dan energi, harus segera
diselesaikan dengan cepat. Penelitian lain dari perusahaan ‘The Great
Place to Work Institute’ juga menemukan bahwa kepercayaan dan
harmoni diantara karyawan sebagai prinsip yang mendasari organisasi-
organisasi terbaik.
Sebagai tambahan, karyawan tetap membutuhkan kerjasama untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan. Kemitraan antar departemen dan
didalam kerja grup memastikan karyawan saling berkomunikasi dan
mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk kerja mereka.
c. Nilai – Nilai Individu
Karyawan akan merasa engaged ketika mereka memberikan
kontribusi sesuai kemampuan uniknya, pengalaman pemberdayaan dan
kesempatan untuk pengembangan dir

Pengertian Employee Engagement


Employee engagement adalah ketersediaan karyawan dan kemampuan
untuk berkontribusi dalam kesuksesan perusahaan secara terus menerus.
Rasa keterikatan terhadap organisasi ini sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor seperti faktor emosional dan rasional yang berkaitan dengan
pekerjaan dan pengalaman kerja secara keseluruhan. Gallup dalam I Wayan
Edi (2013), mendefinisikan employee engagement sebagai keterlibatan
dengan antusiasme untuk bekerja.
Federman (dalam Wulandari, 2016) mengatakan bahwa employee
engagement sebagai suatu tingkat dimana seseorang memiliki komitmen
terhadap sebuah organisasi sehingga menentukan bagaimana seseorang
berperilaku dan berapa lama dia akan bertahan dalam posisinya tersebut.
Thomas (dalam Wulandari, 2016) menggambarkan employee engagement
dengan istilah worker engagement, yang diartikan sebagai suatu tingkat bagi
seseorang yang secara aktif memiliki managemen diri dalam menjalankan
suatu pekerjaan.
Employee engagement dijelaskan sebagai sebuah konsep yang dinilai
dapat mengatur upaya-upaya karyawan yang sifatnya sukarela, yaitu ketika
karyawan memiliki pilihan-pilihan, mereka akan bertindak lebih jauh untuk
kepentingan organisasi mereka. Karyawan yang terikat adalah seorang yang
terlibat penuh dalam pekerjaannya dan sangat antusias terhadap pekerjaan.
Employee engagement menjadi suatu hal mampu berkontribusi positif
pada pencapain perusahaan. Beberapa penelitian menyebutkan karyawan
yang engaged lebih produktif dalam kinerjanya, memberikan layanan yang
terbaik bagi customer nya, lebih sedikit untuk jumlah angka ketidak
hadirannya, dan lebih loyal kepada perusahaan dibandingkan dengan
karyawan yang disengaged. Peran penting employee engagement sangat
membantu suatu perusahaan dalam mencapai keunggulan kompetitif

Indikator Penilaian Kinerja


Menurut Mangkunegara (2014) indikator kinerja adalah sebagai berikut:

  1. Kualitas
    Kualitas kerja adalah seberapa baik seorang karyawan mengerjakan apa yang
    seharusnya dikerjakan.
  2. Kuantitas
    Kuantitas kerja adalah seberapa lama seorang pegawai bekerja dalam satu
    harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja setiap pegawai
    itu masing-masing.
  3. Tanggung jawab
    Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan kewajiban
    karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan.
  4. Kerjasama
    Pegawai mampu bekerja sama dengan rekan kerjanya dalam menyelesaikan
    tugas yang diberikan oleh organisasi atau instansi.
  5. Inisiatif
    Pegawai mempunyai kemampuan dalam mengerjakan tugas dan mempunyai
    inisiatif

Faktor yang Mempengaruhi Kinerja


Sutrisno (2016) mengemukakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi
kinerja karyawan yaitu:

  1. Efektivitas dan Efisiensi
    Dalam hubungannya dengan kinerja organisasi, maka ukuran baik buruknya
    kinerja diukur oleh efektivitas dan efisiensi. Dikatakan efektif bila mencapai
    tujuan dan dikatakan efisien bila hal itu memuaskan sebagai pendorong
    mencapai tujuan.
  2. Otoritas dan Tanggung Jawab
    Dalam organisasi yang baik, wewenang dan tanggung jawab telah
    didelegasikan dengan baik tanpa adanya tumpang tindih tugas. Masing-
    masing karyawan yang ada dalam organisasi mengetahui apa yang menjadi
    haknya dan tangung jawabnya dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
    Karena kejelasan wewenang dan tanggung jawab setiap orang dalam suatu
    organisasi atau perusahaan akan mendukung kinerja karyawan tersebut.
  3. Disiplin
    Secara umum, disiplin menunjukkan suatu kondisi atau sikap hormat yang
    ada pada diri karyawan terhadap peraturan dan ketetapan perusahaan.
    Masalah disiplin karyawan yang ada di dalam organisasi baik atasan maupun
    bawahan akan memberikan corak terhadap kinerja organisasi. Kinerja
    organisasi akan tercapai apabila kinerja individu maupun kelompok
    ditingkatkan.
  4. Inisiatif
    Inisiatif seseorang berkaitan dengan daya pikir, kreativitas dalam bentuk ide
    untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan tujuan organisasi.
    Dengan kata lain, inisiatif karyawan yang ada di dalam organisasi merupakan
    daya dorong kemajuan yang akhirnya akan mempengaruhi kinerja.

Pengertian Kinerja Karyawan

Kinerja adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh individu di dalam
organisasi serta dialokasikan untuk dapat membantu dalam pencapaian tujuan yang
sudah ditetapkan. Kinerja individu yang ada dalam organisasi akan berpengaruh
terhadap kinerja organisasi. Semakin baik kinerja yang diperlihatkan oleh karyawan
maka akan memberikan pengaruh positif pada organisasi. Berikut adalah
pengertian-pengertian kinerja menurut para ahli diantaranya yaitu:
a. Pendapat pertama menurut Rivai dan Sagala (2009), kinerja merupakan
perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang
dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.
b. Pendapat kedua menurut Dessler (2010), kinerja karyawan merupakan prestasi
aktual karyawan dibandingkan dengan prestasi yang diharapkan dari karyawan.
Dari berbagai pendapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa kinerja
merupakan hasil dari kerja (output) yang dicapai oleh seorang individu atau
karyawan dalam sebuah organisasi dalam kurun waktu tertentu guna mencapai
tujuan organisasi. Penilaian kinerja memang seharusnya diterapkan untuk
mengetahui kualitas kinerja karyawan dan untuk memotivasi karyawan agar lebih
produktif. Penilaian kinerja karyawan ini juga mampu bermanfaat bagi organisasi
atau perusahaan dalam menentukan keputusan di masa mendatang.

Pengertian Kemampuan Adaptasi


Adaptasi secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah penyesuaian yang
dibuat dalam sebuah perjalanan dari suatu proses (Vickers dan Sword, 2008).
Kemampuan adaptasi menunjukkan kesiapan dan kemampuan dari individu,
kelompok dari individu atau organisasi untuk mengikuti perubahan yang terjadi.
Adaptasi diperlukan bagi perusahaan disebabkan adanya perubahan-perubahan
yang terjadi disekitar perusahaan.
Adaptasi yang dilakukan perusahaan akan menuntut individu yang ada
dalam perusahaan tersebut beradaptasi dan mampu bertahan atau berhasil melalui
berbagai penyesuaian. Keberhasilan adaptasi yang dilakukan perusahaan
ditentukan oleh sikap kepemilikan karyawan terhadap perusahaan tersebut.
Sebaliknya adaptabilitas organisasi berpengaruh pada komitmen organisasional
dari karyawannya (Liu et al, 2010).
Adaptabilitas individu di dalam pekerjaan adalah potensi tersembunyi
karyawan yang diambil dari aspek kognitif, afektif, dan perilaku yang dapat
diterapkan secara efektif untuk menyesuaikan dan mengantisipasi kebutuhan tugas,
lingkungan, dan permintaan (van Dam, 2009). Definisi ini menunjukkan bahwa
penyesuaian karyawan relevan dalam banyak situasi yang berbeda, termasuk
perubahan di dalam organisasi, sosialisasi, kemajuan karir, dan situasi kerja yang
menekan.
Kemampuan beradaptasi dibentuk oleh kombinasi karakteristik yang stabil
dan mudah dibentuk yang membuat individu dapat mengikuti perkembangan dan
perubahan, serta kemampuan beradaptasi mencakup sikap proaktif terhadap
lingkungan (Ashford dan Taylor, 1990), sehingga individu dapat mencoba untuk
mengoptimalkan antara kebutuhan lingkungan dan kebutuhan pribadi (Caldwell et
al., 2004)

Aspek – Aspek Employee Engagement


Pengukuran engagement merupakan pengukuran yang sangat diperlukan
untuk dapat mengetahui tingkat engaged atau keterikatan karyawan dalam sebuah
organisasi. Menurut Schaufeli dan Bakker (2003) employee engagement terdiri dari
tiga elemen yaitu vigor, dedication, dan absorption.
a. Vigor merupakan keterikatan karyawan yang dibuktikan melalui kekuatan fisik
dan mentalnya ketika melakukan pekerjaan. Vigor ditandai dengan tingginya
kekuatan dan resiliensi mental dalam bekerja, energi yang optimal, keberanian
untuk melakukan usaha, keinginan, kemauan untuk berusaha dengan sungguh-
sungguh di dalam pekerjaan sehingga mampu memberikan hasil yang
maksimal dalam setiap pekerjaan yang diberikan. Tetap gigih, pantang
menyerah, semangat dalam menghadapi kesulitan.
b. Dedication merupakan keterikatan karyawan secara emosional terhadap
pekerjaannya. Dedication mencerminkan perasaan antusias karyawan dalam
bekerja, bangga dengan pekerjaan yang dilakukan, tetap terinspirasi pada
perusahaan tanpa merasa terancam dengan tantangan yang dihadapi. Karyawan
yang memiliki dedication yang tinggi biasanya merasa antusias dan bangga
terhadap pekerjaan dan organisasi mereka.
c. Absorption merupakan keterikatan karyawan yang digambarkan dengan
perilaku karyawan yang memberikan perhatian penuh terhadap pekerjaannya.
Absorption mencerminkan keadaan karyawan yang merasa senang dirinya
tenggelam secara total, berkonsentrasi tinggi, dan bersungguh-sungguh dalam
melakukan pekerjaannya. Karyawan yang memiliki skor absorption yang
tinggi cenderung merasa sulit untuk melepaskan diri dari pekerjaan.
Pendapat kedua, menurut Macey et al (2008), karyawan yang memiliki rasa
engaged akan ditunjukkan melalui perilakunya yaitu:
a. Presistence merupakan perilaku yang paling jelas memperlihatkan employee
engagement berhubungan dengan keteguhan dalam menyelesaikan tugas.
b. Proactivity merupakan karakteristik kritis dari employee engagement.
Karyawan cenderung bersikap proaktif daripada reaktif atau lebih buruk lagi,
pasif.
c. Role expansion merupakan perluasan tugas ataupun peran. Karakteristik
penting yang ditunjukkan yaitu kerelaan untuk menerima perbedaan definisi-
definisi suatu tugas. Definisi tersebut mungkin hasil dari inisiatif manajemen
atau mungkin inisiatif sendiri.
d. Adaptability merupakan kemampuan beradaptasi. Karyawan yang adaptif akan
menolong perusahaannya untuk mengantisipasi dan merespon perubahan
dalam pandangan kompetitif yang lebih cepat, lebih sukses, dan dengan biaya
lebih rendah

Pengertian Employee Engagement


Employee engagement adalah keterikatan karyawan dengan perusahaan atau
organisasi. Engagement karyawan dapat bertumbuh karena adanya kecocokan
antara karyawan dengan visi dan misi organisasi. Dibawah ini akan dijelaskan
definisi employee engagement menurut para ahli.
Pendapat lain menurut Macey et al., (2008) menjelaskan bahwa
engagement karyawan sebagai “an manifested as energy, involvement and a
focused striving toward the achievement of organizational goals”. Dalam definisi
ini, keterikatan karyawan diwujudkan sebagai energi, keterlibatan dan usaha yang
fokus kepada pencapaian tujuan organisasi.
Pengertian engagement yang paling sering dikutip yaitu pendapat yang
dikemukakan oleh Schaufeli et al., (2003), yang mendefinisikan engagement
sebagai “a positive, fulfilling, work-related state of mind that is characterized by
vigour, dedication, and absorption”. Dalam pengertian ini, employee engagement
adalah sebuah keadaan pikiran yang positif, memuaskan, dan berhubungan dengan
pekerjaan yang ditandai dengan semangat, dedikasi, dan perhatian penuh

Hubungan Perceived organizational support dengan Employee engagement


Employee engagement dipengaruhi oleh beberapa faktor. Saks (2006)
mengungkapkan perceived organizational support, perceived supervisor
support merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi employee
engagement. Rhoades & Eisenberger (2002) menganggap perceived
organizational support sebagai sumber yang paling penting dari peristiwa
sosial emosional karena menanamkan keterlibatan dan organisasi karyawan.
Rhoades & Eisenberg (2002) menegaskan bahwa karyawan dalam sebuah
organisasi akan cenderung untuk membentuk sebuah kepercayaan secara
umum terkait sejauh mana organisasi menghargai kontribusi karyawan dan
peduli atas kesejahteraannya, persepsi yang dimiliki oleh pegawai inilah yang
disebut perceived organizational support. Perceived organizational support
dinilai sebagai jaminan bahwa bantuan akan tersedia dari organisasi pada saat
dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan seseorang secara efektif dan pada
saat menghadapi situasi yang sangat menegangkan.
Dengan kata lain ,perceived organizational support merupakan tingkat
dimana pegawai merasaorganisasi memperhatikan kesejahteraan pegawai
dengan baik dan menilai kontribusi yang sudah pegawai lakukan pada
organisasi (Aube, Rosseu, & Morin, 2007).
Saks (2006) yang berpendapat bahwa perceived organizational support
dapat membawa pada hasil yang postitif yaitu melalui engagement.
Dengan kata lain, karyawan yang memiliki perceived organizational
support yang tinggi, menjadi lebih engaged terhadap pekerjaan dan
organisasi mereka sebagai bagian dari norma timbal balik dari social
exchange theory sehingga membantu organisasi untuk mencapai tujuannya.
Hubungan timbal balik yang terjadi adalah saat perceived organizational
support yang menjelaskan bahwa pegawai yang memperhitungkan organisasi
sebagai pihak yang mendukung seharusnya membalas transaksi tersebut
dengan menjadi lebih lekat secara afektif dan emosioanl terhadap organisasi .
Perceived organizational support kemudian menciptakan sebuah
kewajiban karyawan untuk peduli terhadap kesejahteraan organisasi
dan membantu organisasi mencapai tujuannya sebagai balasannya
organisasi akan menghargai kontribusi karyawannya dan peduli terhadap
kesejahteraan karyawannya.
Hasil penelitian yang ditemukan dalam penelitian terdahulu antara lain
Sack (2006), Rasheed & Adnan(2013), Saragih Susanti & Meily Margareta
(2013) menyebutkan bahwa perceived organizational support berhubungan
positif dan signifikkan terhadap employee engagement. Perceived
organizational support adalah keyakinan karyawan mengenai sejauh mana
organisasi menghargai kontribusi karyawan dan peduli terhadap
kesejahteraan karyawan (Rhoades dan Eisenberg, 2002)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Psychological safety


Terdapat 4 faktor yang memiliki pengaruh langsung pada psychological
safety (Kahn, 1990):
a. Hubungan interpersonal
Hubungan interpersonal yang mempromosikan psychological
safety adalah hubungan yang supportif dan penuh kepercayaan.
Hubungan interpersonal yang supportif dan penuh kepercayaan
memiliki fleksibilitas, memungkinkan individu untuk mencoba.
Meskipun ada kemungkinan untuk mengalami kegagalan, individu
tidak akan merasa ketakutan atas konsekuensinya.

b. Dinamika kelompok dan antar kelompok
Variasi karakter yang tidak diakui atau peran ketidaksadaran
yang diasumsikan oleh individu akan memengaruhi psychological
safety. Karakter informal yang diperankan oleh individu
mencerminkan sebagian identitas dan kelompok organisasi secara
sadar dan tidak sadar.
c. Gaya dan proses manajemen
Manajemen yang supportif, resilien, dan jelas akan
meningkatkan psychological safety. Manajemen yang supportif
memungkinkan para karyawan untuk berani mencoba tanpa takut
bahwa kegagalan yang mungkin ia alami akan membawa dampak
buruk. Karyawan juga membutuhkan figur otoritas yang cukup
kompeten dan aman.
d. Norma organisasi
Norma adalah ekspektasi bersama mengenai perilaku umum
dari anggota (Hackman dalam Kahn, 1990). Karyawan yang
berkerja sesuai dengan norma yang berlaku akan merasa lebih
aman dibandingkan dengan karyawan yang berkerja diluar norma.

Definisi Psychological safety


Berkaitan dengan konsep employee engagement yang dikemukakan
oleh Kahn (1990), kondisi psikologis yang memengaruhi seseorang ketika
mengalami engaged ialah psychological meaningfulness, availability, dan
safety. Ketiga kondisi tersebut membentuk bagaimana seseorang
melakukan perannya sebagai karyawan (Kahn, 1990). May, Douglas
R;Gilson, Richard L;Harter, Lynn M (2004) serta Rothman dan Welsh
(2013) melanjutkan penelitian Kahn (1990) dengan melakukan studi
empiris terhadap teori engagement, mediator, serta faktor yang
mempengaruhinya. Sesuai dengan hasil penelitian Kahn (1990), kondisi
psikologis (psycholo-gical meaningfulness, psychological availabi-lity,
dan psychological safety) berpengaruh terhadap employee engagement.
Kahn (1990) mengungkapkan bahwa kemanan psikologis merupakan
perasaan mampu untuk menunjukkan dan mempekerjakan diri tanpa
ketakutan akan konsekuensi negatif pada citra diri ,status, atau karir.
Karyawan akan merasa aman pada situasi dimana mereka percaya bahwa
mereka tidak akan menderita karena engagement yang mereka miliki.
Situasi yang aman adalah situasi yang terprediksi, konsisten, jelas dan
tidak menakutkan. Ketika situasi tidak jelas, tidak konsisten, tidak
terprediksi atau menakutkan, maka employee engagement akan dianggap
sebagai sesuatu yang terlalu berbahaya dan tidak aman. Menurut Geller,
E.S (2001) ada dua pendekatan dasar yang direkomendasikan bagaimana
psychological safety mampu memunculkan keuntungan untuk oragnisasi,
yaitu dengan pendekatan individual (based person ) dan pendekatan
perilaku (based behavioral)

Dampak Perceived organizational support


Rhoades dan Eisenberg (2002) menemukan beberapa dampak dari
perceived organizational support , yaitu:
a. Komitmen organisasi
Berdasarkan norma resiprokal, perceived organizational
support akan membentuk rasa tanggung jawab untuk peduli
terhadap kesejahteraan organisasi dan membantu organisasi untuk
mencapai tujuannya (Eisenberg, Arneli, Rexwinkel, Lynch, &
Rhoades, 2002). Rasa tanggung jawab untuk balas budi akan
meningkatkan komitmen afektif pada organisasi yang
dipersonifikasi (Rhoades & Eisenberg, 2002). Karyawan akan
memenuhi hutang balas budi pada organisasi dengan komitmen
afektif yang lebih besar dan usaha lebih untuk membantu
organisasi mencapai tujuannya.
Perceived organizational support juga meningkatkan
komitmen afektif dengan memenuhi kebutuhan sosioemosional
seperti afiliasi dan dukungan emosional (Eisenberg, Arneli,
Rexwinkel, Lynch, & Rhoades, 2002). Pemenuhan akan
kebutuhan tersebut akan membentuk rasa memiliki yang kuat pada
organisasi, melibatkan penggabungan keanggotaan karyawan dan
status peran pada identitas sosial mereka. Perceived organizational
support akan berkintribusi pada rasa kebermaknaan dan memiliki
tujuan. Rhoades & Eisenberg, (2002) menambahkan bahwa
persepsi terhadap dukungan organisasi dapat mengurangi perasaan
terjebak saat karyawan diminta untuk tetap tinggal di organisasi
karena tingginya biaya yang timbul akibat turnover.
b. Afeksi terkait dengan pekerjaan
Perceived organizational support telah diperkirakan dapat
mempengaruhi reaksi afektif umum karyawan pada pekerjaan
mereka, meliputi kepuasan kerja dan suasana hati positif (Rhoades
& Eisenberg, 2002). Kepuasan kerja merujuk pada keseluruhan
sikap afektif karyawan pada pekerjaan (Witt, 1992 dalam Rhoades
& Eisenberg, 2002).
Perceived organizational support dapat berkontribusi pada
kepuasan kerja dengan memenuhi kebutuhan sosioemosional,
meningkatkan harapan bahwa performansi akan mendapatkan
imbalan, dan memberi tanda tersedianya bantuan ketika
dibutuhkan. Suasana hati positif melibatkan status emosi umum
tanpa objek yang spesifik (George , 1989 dalam Rhoades &
Eisenberg, 2002). Perceived organizational support dapat
berkontribusi pada rasa kompetensi dan berharga sehingga
meningkatkan suasana hati positif (Rhoades & Eisenberg, 2002).
c. Keterlibatan pekerjaan
Keterlibatan pekerjaan mengacu pada identifikasi dan
keterikatan pada pekerjaan tertentu yang sedang dikerjakan
(Cropanzano; O`Driscoll & Randall, 1999 dalam dalam Rhoades &
Eisenberg, 2002). Persepsi terhadap kompetensi berkaitan dengan
keterikatan tugas (Rhoades & Eisenberg, 2002). Dengan
meningkatkan persepsi terhadap kompetensi pada karyawan,
persepsi terhadap dukungan organisasi dan meningkatkan
keterikatan karyawan pada pekerjaannya.
d. Performansi
Perceived organizational support dapat meningkatkan
performansi dari aktivitas kerja standar dan aktivitas yang
menguntungkan organisasi melebihi dari kewajiban yang
seharusnya (Smith, GM & Markwich, C, 2009). Menurut George
& Brief (1992 dalam Rhoades & Eisenberg, 2002). Aktivitas ekstra
meliputi pemberian bantuan pada sesama karyawan, melakukan
tindakan yang melindumgi organisasi dari resiko, memberikan
saran yang konstruktif ,serta menambah ilmu dan kemampuan yang
menguntungkan organisasi.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perceived organizational support


Perceived organizational support dapat dipengaruhi oleh berbagai
aspek dari perlakuan organisasi terhadap karyawan, yang pada akhirnya
mempengaruhi interpretasi karyawan mengenai motif-motif organisasional
yang menjadi dasar perlakuan itu. Hal ini menunjukkan bahwa derajat
dukungan yang karyawan inginkan dari organisasi bervariasi bergantung
dari situasinya (Eisenberger, 2002).Menurut Wayne (1997) banyak hal
yang bisa dilakukan oleh organisasi dalam memberikan penghargaan
terhadap karyawannya. Hal yang paling menonjol bagi karyawan adalah
dipromosikan ke posisi yang lebih tinggi, penghargaan terhadap
peningkatan kinerja biasanya berkaitan dengan meningkatnya upah. Pada
penelitian Eisenberg (2002) dukungan organisasi dipengaruhi pula oleh
kebijakan dan keputusan yang menunjukan perhatian organisasi terhadap
kesejahteraan karyawan.
Wayne (1997) beranggapan bahwa perasaan kewajiban yang
mendasari dukungan organisasi adalah sejarah keputusan organisasi.
Beberapa diantaranya dibuat oleh atasan terdahulu atau oleh atasan pada
level lebih tinggi yang tidak membawahi pekerja secara langsung.
Einsenberger (2002) juga mengatakan bahwa keadilan tentang pembuatan
keputusan yang berhubungan dengan distribusi SDM, mempunyai
pengaruh yang kuat terhadap dukungan organisasi yang diindikasi oleh
Perceived organizational support.

Aspek Perceived organizational support


Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rhoades dan Eisenberger
(2002) mengindikasikan bahwa 3 kategori utama dari perlakuan yang
dipersepsikan oleh karyawan memiliki hubungan dengan perceived
organizational support. Ketiga kategori utama ini adalah sebagai berikut:

  1. Keadilan
    Keadilan prosedural menyangkut cara yang digunakan untuk
    menentukan bagaimana mendistribusikan sumber daya di antara
    karyawan. (Greenberg, dalam Rhoades & Eisenberger 2002). Shore
    dan Shore (dalam Rhoades & Eisenberger, 2002) menyatakan bahwa
    banyaknya kasus yang berhubungan dengan keadilan dalam distribusi
    sumber daya memiliki efek kumulatif yang kuat pada perceived
    organizational support dimana hal ini menunjukkan bahwa organisasi
    memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan karyawan. Cropanzo dan
    Greenberg (dalam Rhoades & Eisenberger, 2002) membagi keadilan
    prosedural menjadi aspek keadilan struktural dan aspek sosial. Aspek
    struktural mencakup peraturan formal dan keputusan mengenai
    karyawan. Sedangkan aspek sosial seringkali disebut dengan keadilan
    interaksional yang meliputi bagaimana memperlakukan karyawan
    dengan penghargaan terhadap martabat dan penghormatan mereka.
  2. Dukungan supervisor / Atasan
    Karyawan mengembangkan pandangan umum tentang sejauh mana
    atasan menilai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan
    mereka (Kottke & Sharafinski, dalam Rhoades & Eisenberger, 2002).
    Karena atasan bertindak sebagai agen dari organisasi yang memiliki
    tanggung jawab untuk mengarahkan dan mengevaluasi kinerja
    bawahan, karyawan pun melihat orientasi atasan mereka sebagai
    indikasi adanya dukungan organisasi (Levinson dkk., dalam Rhoades
    & Eisenberger, 2002).
  3. Penghargaan Organisasi dan Kondisi Pekerjaan
    Bentuk dari penghargaan organisasi dan kondisi pekerjaan ini
    adalah sebagai berikut:
    a. Pelatihan. Pelatihan dalam bekerja dilihat sebagai investasi pada
    karyawan yang nantinya akan perceived organizational support
    (Wayne dkk., dalam Rhoades & Eisenberger, 2002).
    b. Gaji, pengakuan, dan promosi. Sesuai dengan teori dukungan
    organisasi, kesempatan untuk mendapatkan hadiah (gaji,
    pengakuan, dan promosi) akan meningkatkan kontribusi karyawan
    dan akan meningkatkan perceived organizational support
    (Rhoades & Eisenberger, 2002).
    c. Keamanan dalam bekerja. Adanya jaminan bahwa organisasi
    ingin mempertahankan keanggotaan di masa depan memberikan
    indikasi yang kuat terhadap perceived organizational support
    (Griffith dkk., dalam Eisenberger and Rhoades, 2002).
    d. Peran stressor. Stress mengacu pada ketidakmampuan individu
    mengatasi tuntutan dari lingkungan. Stres terkait dengan tiga
    aspek peran karyawan dalam organisasi yang berkorelasi negatif
    dengan perceived organizational support, yaitu: tuntutan yang
    melebihi kemampuan karyawan bekerja dalam waktu tertentu
    (work-overload), kurangnya informasi yang jelas tentang
    tanggung jawab pekerjaan (role-ambiguity), dan adanya tanggung
    jawab yang saling bertentangan (role-conflict) (Lazarus &
    Folkman, dalam Rhoades &Eisenberger, 2002)

Definisi Perceived organizational support


Rhoades dan Eisenberg (2002) mendefinisikan perceived
organizational support sebagai keyakinan umum karyawan mengenai
sejauh mana organisasi menilai kontribusi karyawan dan peduli terhadap
kesejahteraan karyawan. Berkaitan dengan perilaku karyawan, Eisenberger
(1998) menemukan bahwa dukungan organisasional persepsian dapat
mempengaruhi sikap atau perilaku karyawan. Dukungan organisasional
persepsian didefinisikansebagai suatu keyakinan tentang sejauhmana
organisasi memberikan nilai kontribusi dan kepedulian terhadap
kesejahteraan karyawan.
Perceived organizational support mengacu pada kepercayaan umum
bahwa organisasi menghargai kontribusi karyawanya dan peduli terhadap
kesejahteraan mereka. Di sisi lain, dukungan organisasional juga
menciptakan tanggung jawab bagi karyawan untuk meningkatkan
kesejahteraan organisasi dan membantu organisasi mencapai tujuan-
tujuannya (Rhoades & Eisenberger, 2002).
Eisenberger (2002) mengidentifikasikan kejujuran, dukungan
supervisor, reward organisasi dan kondisi kerja yang baik sebagai sifat
organisasi yang berpengaruh positif terhadap perceived organizational
support. Dukungan organisasi terhadap karyawan dapat meliputi :
organisasi dapat diandalkan, organisasi dapat dipercaya, organisasi
memperlihatkan minat anggota, dan organisasi memperhatikan
kesejahteraan anggota. Kondisi kerja yang menyenangkan seperti adanya
kesempatan promosi, system reward, pemberian fasilitas, dan kesempatan
mendapatkan pelatihan juga akan memberikan kontribusi terhadap
Perceived organizational support.
Teori dukungan organisasi mengasumsikan bahwa atas dasar norma
timbal balik, maka karyawan akan merasa berkewajiban untuk membantu
organisasi mencapai tujuannya karena organisasi peduli terhadap
kesejahteraan mereka (Eisenberger, 1986). Eisenberger (1986)
memaparkan bahwa karyawan yang memiliki persepsi bahwa organisasi
memberikan dukungan dan peduli terhadap kesejahteraan mereka maka
mereka akan menunjukkan tingkat absensi yang menurun serta berusaha
keras terhadap pencapaian tujuan organisasi. Sehingga persepsi dukungan
organisasi didefinisikan sebagai suatu keyakinan tentang sejauh mana
organisasi memberikan nilai kontribusi dan peduli akan kesejahteraan
mereka.
Job engagement, seperti dijelaskan oleh Saks (2006), dipengaruhi
salah satunya oleh dukungan organisasional persepsian. Job engagement
juga dipengaruhi oleh persepsi dukungan atasan, karakteristik pekerjaan,
rewards dan recognition, procedural justice, dan distributive justice (Saks,
2006). Dalam konteks tersebut, peran dukungan organisasional dinilai oleh
karyawan sebagai pertemuan dari berbagai kebutuhan strategis, seperti
kebutuhan emosi sosial,menyediakan indikasi kesiapan organisasi untuk
menghargai peningkatan kerja, dan mengindikasikan kecenderungan
organisasi untuk menyediakan bantuan saat dibutuhkan, dan untuk
mengerjakan sebuah pekerjaan yang efektif (Fuller, 2003).
Selain faktor dukungan organisasional seperti yang disinggung diatas,
faktor dukungan atasan persepsian harus pula dipertimbangkan (Saks,
2006). Dukungan atasan persepsian ditemukan menjadi faktor yang sangat
penting terkait dengan kejenuhan kerja. Selain itu pesepsi dukungan atasan
diyakini sangat penting membangun engagement karyawan. Dalam hal ini
dukungan organisasional persepsian lebih penting karena dukungan
organisasional sifatnya luas, sedangkan dukungan atasan sifatnya lebih
rendah dan sempit dalam konteks pengaruhnya terhadap job engagement
karyawan.

Prinsip-Prinsip Dasar Employee engagement


Menurut Wiley & Blackwell (2009) employee engagement seorang
karyawan yang tinggi akan menampilkan kinerja yang sangat baik. Ada 4
prinsip utama yang menjadi syarat bagi seorang pegawai untuk memiliki
engagement, yaitu:
a. The capacity to Engagement
Menciptakan pegawai yang memiliki keterikatan dibutuhkan
lingkungan kerja yang tidak hanya bisa meminta lebih, tetapi juga
menyediakan lahan informasi, kesempatan belajar, dan mampu
menciptakan keseimbangan kehidupan pegawainya, yaitu dengan
memciptakan suatu basis untuk menampung energi dan inisiatif
pegawai.
b. The Motivation to Engagement
Engagement muncul ketika pegawai memiliki keterikatan
terhadap pekerjaan mereka dan sesuai dengan nilai pribadi mereka,
dan karyawan diperlakukan dengan cara yang secara alami
menimbulkan rasa ingin membalas dalam bentuk kebaikan.
c. The Freedom to Engagement
Engagement terjadi ketika karyawan merasa aman untuk
bertindak berdasarkan inisiatif mereka. Oleh karena itu,
kepercayaan menjadi hal yang paling penting di bawah kondisi
sulit, tidak pasti, dan kebutuhan untuk berubah, terutama ketika
employee engagement itu dianggap penting.
d. The Focus of Strategic Engagement
Ketika perusahaan menyediakan kesempatan untuk
berkembang, jenis pekerjaan yang sesuai, pengawasan yang adil
dan bijaksana, upah yang sesuai, jaminan keamanan, dan
seterusnya, engagement akan muncul dengan sendirinya karena
rasa percaya akan prinsip timbal balik

Dimensi dan Aspek Employee engagement


Dimensi employee engagement menurut Thomas (2007), yaitu:
a. Kesiapan
1) Siap mendedikasikan diri pada pekerjaan
2) Memikirkan cara baru untuk berkerja lebih efektif
3) Semangat dalam melaksanakan pekerjaan
b. Kerelaan
1) Kesediaan memotivasi diri untuk mencapai keberhasilan
2) Ketersediaan untuk berkerja keras atau berkerja ekstrakeras
c. Kebanggan
1) Pekerjaan sebagai sumber kebanggan diri
2) Pekerjaan dikerjakan secara lengkap dan menyeluruh
3) Kesiapan mencurahkan jiwa bagi pekerjaan.
Schaufeli dan Bakker (2002) mengemukakan bahwa employee
engagement terdiri dari 3 aspek, yaitu semangat, dedikasi, dan absorpsi.
Berikut penjelasannya:
a. Semangat
Semangat dicirikan dengan adanya energi yang tinggi dan
resiliensi mental selama berkerja, kemauan untuk mengiventasikan
usaha pada pekerjaan dan teguh meskipun saat sedang menghadapi
masa sukar (Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma & Bakker, 2002;
Albrecht, 2010).
b. Dedikasi
Dedkasi dicirikan dengan adanya rasa bermakna, antusiasme,
inspirasi, bangga dan merasa tertantang. Secara kualitatif, dedikasi
mengacu pada keterlibatan yang kuat, bergerak satu langkah lebih
maju dari level identifikasi biasanya (Schaufeli, Salanova,
Gonzales-Roma & Bakker, 2002)
c. Absorpsi
Absorpsi dicirikan dengan secara penuh terkonsentrasi dan
secara dalam mengerahkan perhatian pada pekerjaan, dimana
waktu terasa berlalu dengan cepat dan sulit melepaskan diri pada
pekerjaan (Schaufeli, Salanova, Gonzales-Roma & Bakker, 2002)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Employee engagement


Kahn (1990) mengungkapkan bahwa terdapat tiga kondisi psikologis
yang dimiliki oleh karyawan. Ketiga kondisi psikologis tersebut adalah
kebermaknaan psikologis (psychological meaningfulness), keamanan
psikologis (psychological safety), dan ketersediaan psikologis
(psychological avaibility). Apabila ketiga kondisi psikologis tersebut
terpenuhi maka karyawan akan membentuk employee engagement.
Sebaliknya apabila ketiga kondisi psikologis tersebut tidak terpenuhi maka
karyawan akan membentuk employee disangegement.
Bakker (2009) menyebutkan bahwa terdapat tiga faktor yang menjadi
penyebab utama employee engagement, yaitu:
a. Job Resources
Job resources merujuk pada aspek fisik, sosial, maupun
organisasional dari peerjaan yang emmungkinkan individu untuk;
a) mengurangi tuntutan pekerjaan dan biaya psikologi maupun
fisiologi yang berhubungan dnegan pekerjaan tersebut; b)
mencapai target pekerjaan, dan c) menstimulusi pertumubuhan,
dan perkembangan personal.
b. Salience of Job Resources
Faktor ini merujuk pada seberapa penting atau bergunanya
sumber daya pekerjaan yang dimiliki oleh individu.
c. Personal Resousrces
Personal resousrces merujuk kepada karakteristik yang
dimiliki oleh karyawan seperti kepribadian, sifat, usia, dan lain-
lain. Karyawan yang engaged akan memiliki karateristik personal
yang berbeda dengan karyawan lainnya karena mereka memiliki
skor ekstraversion dan conscientiousness yang lebih tinggi, serta
neuroticism lebih rendah.
Hampir sama dengan teori diatas, Schaufeli (2002) menyatakan bahwa
keterikatan kerja pada dasarnya dipengaruhi oleh dua hal, yaitu model JD-
R (job demand-resources) dan modal psikologis (psychological capital).
Modal JD- R meliputi beberapa aspek seperti lingkungan fisik,sosial dan
organisasi, gaji, peluang untuk berkarir, dukungan supervisor, dan rekan
kerja. Sedangkan modal psikologis meliputi kepercayaan diri raoptimis,
harapan mengenai masa depan, serta resiliensi.
Dalam aspek psikologis secara berbeda May, Douglas R;Gilson,
Richard L;Harter, Lynn M (2004) menemukan bahwa meaningfulness,
keamanan, dan ketersediaan memiliki hubungan yang signifikan dengan
engagement. Mereka juga menemukan bahwa job enrichment dan
ketepatan tugas (role fit) merupakan prediktor positif bagi meaningfulness;
penghargaan rekan kerja dan penyelia yang mendukung merupakan
prediktor yang positif keamanan sedangkan ketaatan pada norma rekan
kerja dan kesadaran diri merupakan prediktor negatif; dan ketersediaan
sumber daya merupakan prediktor positif bagi ketersediaan secara
psikologis (psychological availability) sedangkan partisipasi pada kegiatan
di luar sebagai predictor negatif.
Dalam penelitian lain Kahn (1990) dalam studi kualitatifnya,
membagi engagement ke dalam dua bentuk yaitu personal engagement
dan personal disangegement. Dimana personal engagement diartikan
sebagai simulant pekerjaan dan ekspresi atas seseorang yang menunjukkan
pilihan sikapnya dalam perilaku tugas yang dapat mempromosikan
koneksi pada pekerjaan, kehadiran, keeaktifan, serta kinerja penuh.
Sedangkan personal disangegement merupakan simultan penarikan dan
pertahanan diri seseorang yang menunjukkan sikap penurunan atas
koneksi pada pekerjaan, peningkatan ketidakhadiran, pasif, dan kinerja
yang kurang baik.

Komponen Employee engagement


Konsep employee engagement merupakan pengembangan dari konsep
pemahaman perilaku individu dalam organisasi. Dalam organisasi,
terdapat tiga hal yang mempengaruhi perilaku individu dan prestasi
(Gibson, Ivancevich, Donnely, 2000), yaitu:
a. Variabel individu berupa kemampuan dan keterampilan
b. Variabel keorganisasian
c. Variabel psikologis berupa persepsi, sikap dan perilaku.
Employee engagement termasuk dalam variabel psikologis, seperti
komponen pembentuk sikap, komponen utama dalam employee
engagement terdiri atas 3 yaitu:
a. Komponen kognitif, berisi hal-hal yang dipikirkan karyawan
tentang perusahaan tempat mereka berkerja. Dari komponen ini
dapat dilihat apakah karyawan dan perusahaan memiliki
kecocokan level pemikiran, artinya apakah karyawan
mempercayai tujuan organisasi serta mendukung nilai-nilai yang
dianut perusahaan.
b. Komponen afektif, merupakan hal-hal yang dirasakan karyawan
terhadap perusahaan, yang memperlihatkan ikatan emosional
antara karyawan dan perusahaannya, seperti rasa bangga menjadi
bagian organisasi.
c. Komponen perilaku, merujuk pada 2 hal yaitu pertama, apakah
seorang karyawan berusahan maksimal dalam berkerja, dan
kedua, apakah karyawan tersebut bersedia bertahan dalam
perusahaan.
Endres & Mancheno-Smoak (2008) mencatat bahwa employee
engagament memiliki 3 hubungan komponen yang hampir sama dengan 3
aspek diatas, yaitu:
a. Aspek kognitif
Aspek kognitif dari employee engagement meliputi keyakinan
para karyawan tentang organisasi, para pemimpin dan kondisi
kerja.
b. Aspek emosional
Aspek emosional menyangkut bagaimana perasaan karyawan
terhadap tiap-tiap faktor dan apakah mereka memiliki sikap positif
atau negatif terhadap organisasi dan para pemimpin.
c. Aspek perilaku
Aspek perilaku dari employee engagement adalah komponen
nilai tambah untuk organisasi dan terdiri dari usaha-usaha untuk
kebebasan memilih engage employees yang dibawa pada
pekerjaan mereka dalam bentuk waktu lembur, mencurahkan
kekuatan dan intelektualnya untuk tugas-tugas dan perusahaan

Ciri-Ciri Employee engagement


Menurut Finney (2010) pegawai yang memiliki ikatan dengan
pekerjaannya memiliki sifat umum yaitu:
a. Mempercayai misi organisasi mereka
b. Menyenangi pekerjaan mereka dan memahami kontribusi
pekerjaan mereka pada tujuan yang lebih besar
c. Tidak memerlukan pendisiplinan dan mereka hanya memerlukan
kejelasan, komunikasi, dan konsistensi
d. Selalu meningkatkan kebenaran keterampilan mereka dengan sikap
positif, fokus, keinginan, antusiasme, kreativitas, dan daya tahan.
e. Dapat dipercaya dan saling percaya satu sama lain.
f. Menghormati manajer mereka
g. Mengetahui bahwa manajer mereka menghormati mereka
h. Merupakan sumber tetap ide-ide baru yang hebat
i. Memberikan yang terbaik pada organisasi
Dalam sebuah artikel Society for Human Resource Management
(SHRM) oleh Endres & Mancheno-Smoak (2008) mendefinisikan
engagement sebagai suatu keadaan di mana para individu secara emosional
dan secara beralasan dilakukan untuk organisasi dan kelompok, yang
diukur dengan 3 perilaku utama:
a. Berbicara secara positif tentang organisasi dan teman sekerja dan
menunjukkan pada karyawan-karyawan dan para pelanggan
potensial mereka.
b. Memiliki hasrat atau keinginan yang kuat untuk menjadi anggota
organisasi meskipun kesempatan-kesempatan untuk bekerja ada di
tempat lain.
c. Menggunakan usaha lebih dan memperlihatkan perilaku-perilaku
yang disumbangkan untuk kesuksesan bisnis

Definisi Employee engagement


Asal-usul kemunculan employee engagement dalam dunia bisnis
tidaksepenuhnya jelas. Pertama kali yang menggunakan ide tersebut
adalah sebuah organisasi yang bernama Gallup pada tahun 1990-an.
Menurut survei Global, employee engagement adalah salah satu dari lima
tantangan paling penting dalam suatu organisasi (Schaufeli, 2002).
Betapapun bangunan employee engagement pada level analisis tampak
kurang memadai, namun kekuatan utama dari argumentasi yang disusun
oleh para peneliti Gallup adalah hubungan engagement yang positif
dengan aspek-aspek produktivitas, profitabilitas, kepemimpinan karyawan,
dan layanan pelanggan di tingkat unit bisnis, seperti rumah sakit, hotel,
pabrik, dan lain sebagainya (Endres & Mancheno-Smoak, 2008).
Konsep employee engagement mulai banyak digunakan sebagai solusi
dalam lingkungan kerja terutama apabila terkait dengan motivasi dan
kinerja. Selain itu, Saks (2006) menyatakan bahwa employee engagement
dapat meramalkan hasil kerja karyawan, kesuksesan organisasi, dan
kinerja. Kinerja yang baik meliputi selalu memiliki motivasi untuk
mengembangkan diri untuk organisasi (Davis, A. 2011) . Oleh karena itu,
engagement karyawan dalam konteks ini merupakan bagian penting dalam
digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id22
suksesnya suatu perusahaan. Saks (2006) mendefinisikan engagement
sebagai maksimalisasi peran anggota organisasi dalam dunia pekerjaan.
Employe engagement merupakan suatu istilah yang relatif baru
dalam ilmu sumber daya manusia, dimana kata tersebut sering digunakan
oleh lembaga konsultan yang khusus bergerak dalam bidang sumber daya
manusia. Employee engagement sudah digunakan secara luas dan menjadi
istilah yang popular (Robinson, 2004). Meskipun demikian Robinson
(2004) juga menyatakan bahwa masih terdapat sedikit riset akademis dan
empiris pada topik yang sudah menjadi begitu populer ini.
Employee engagement merupakan gagasan dalam perilaku organisasi
yang menjadi daya tarik dalam beberapa tahun terakhir. Daya tarik ini
timbul karena employee engagement berperngaruh pada kinerja pegawai
secara keseluruhan. Hal ini telah didefinisikan oleh salah satu organisasi
riset terkemuka sebagai hubungan emosional yang tinggi yang seorang
pegawai rasakan terhadap organisasinya yang mempengaruhinya untuk
mengerahkan usaha yang bebas dan lebih besar untuk pekerjaannya
(Risher, 2010).
Employee engagement dalam alih bahasa Indonesianya memiliki arti
keterikatan pegawai , peneliti seterusnya menggunakan istilah employee
engagement untuk menerangkan keterikatan pegawai yang selanjutnya
juga menggunakan engagement (keterikatan) saja dalam menerangkan
makna keterikatan.

Dimensi dan Indikator-indikator Kinerja


Indikator kinerja menurut Mangkunegara (2013) sebagai berikut
1) Kualitas kerja
Menunjukan kerapihan, ketelitian, keterkaitan hasil kerja tanpa
memandang beban kerja. Dengan kualitas kerja yang tinggi, dapat
terhindar dari kesalahan dalam bekerja yang dapat bermanfaat bagi
kemajuan perusahaan.
2) Kuantitas kerja
Menunjukan banyaknnya jumlah jenis pekerjaan yang dilakukan dalam
satu waktu sehingga efisiensi dan efektivitas dapat terlaksana sesuai
dengan tujuan perusahaan.
3) Tanggung jawab
Menunjukkan seberapa besar karyawan dalam menerima dan
melaksanakan pekerjaannya, mempertanggung jawabkan hasil kerja serta
sarana dan prasarana yang digunakan dan perilaku kerjannya setiap hari.
4) Kerjasama
Kesediaan karyawan untuk berpartisipasi dengan karyawan yang lain
secara vertikal dan horizontal baik didalam maupun diluar pekerjaan akan
semakin baik.
5) Inisiatif
Inisiatif dari dalam diri anggota perusahaan untuk melakukan pekerjaan
serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa menunggu perintah dari
atasan atau menunjukkan tanggung jawab terhadap pekerjaan yang
menjadi tanggung jawab seorang karyawan

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kinerja


Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja
menurut Kasmir (2016) (Fahraini & Syarif, 2022) yaitu
1) Kemampuan dan keahlian
2) Pengetahuan
3) Karakteristik pekerjaan
4) Kepribadian
5) Motivasi kerja
6) Kepemimpinan
7) Gaya kepemimpinan
8) Budaya organisasi
9) Kepuasan kerja
10) Lingkungan kerja
11) Loyalitas
12) Komitmen
13) Disiplin kerja

Pengertian Kinerja


Arda (2017) (Jufrizen & Hadi, 2021) memberikan pengertian berbeda
standar, tujuan atau kriteria dimana kinerja karyawan merupakan hasil kerja
seorang karyawan dalam jangka waktu tertentu, sebagai acuan standar, target
atau kriteria.
Sedangkan menurut Mangkunegara (2013), berpendapat lain tentang
pengertian dari kinerja karyawan adalah kualitas dan kuantitas hasil kerja
yang dicapai karyawan dalam menjalankan tugas sesuai dengan tugasnnya.
Menurut Jufrizen (2018) Kinerja karyawan merupakan hasil kerja
karyawan, baik secara kualitas maupun kuantitas dalam menyelesaikan tugas
yang diberikan kepada karyawan oleh atasan atau manajernnya berdasarkan
perannya dalam perusahaan

Macam-macam Disiplin Kerja


R. Supomo dan Eti Nur Hayati (2018) (Fahraini & Syarif, 2022) terdapat
berbagai macam disiplin kerja. Diantarannya sebagai berikut :

  1. Pendisiplinan preventif, tindakan yang mendorong karyawan untuk taat
    pada berbagai ketentuan yang berlaku dalam memenuhi standar yang telah
    ditetapkan.
  2. Pendisiplinan korektif, sebagai contoh jika terdapat karyawan yang secara
    terang-terangan telah melakukan pelanggaran atas peraturan-peraturan
    organisasi yang berlaku atau gagal memenuhi standar yang telah
    ditetapkan

Indikator Disiplin Kerja


Menurut Sidanti (2015) (Jufrizen & Hadi, 2021) bahwa indikator disiplin
kerja yaitu

  1. Kepatuhan karyawan untuk datang dan pulang jam kerja.
  2. Taat perintah/instruksi atasan dan mengikuti peraturan yang berlaku.
  3. Menggunakan dan memelihara bahan dan alat perlengkapan kantor dengan
    semestinnya.
  4. Berpenampilan sopan dan menggunakan ID card perusahaan.
  5. Melakukan pekerjaan dan patuh terhadap aturan perusahaan yang telah
    ditetapkan sebelumnnya.

Pengertian Disiplin Kerja


Menurut Priyono (2016) (Ekhsan, 2019) Disiplin yang dimaksud
adalah disiplin diri. Banyak yang menyadari bahwa terdapat kemungkinan
didalam disiplin diri adalah meningkatnnya kemalasan saat diberikannya
tanggung jawab dalam bekerja. Disadarinya penerapan peraturan perusahaan
atau badan yang tercantum karya disiplin tinggi dengan harapan
meningkatnya kinerja karyawan.
Menurut Hidayat (2021) (Sularmi et al., 2023) berpendapat bahwa disiplin
kerja adalah suatu alat yang digunakan manajer untuk berkomunikasi dengan
karyawan supaya mereka sanggup untuk mengubah sikap serta sebagai suatu
upaya untuk mengoptimalkan kesadaran dan kesediaan seseorang taat
peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku dilingkup
perusahaan.
Sedangkan menurut Takrim et al., (2021) Kedisiplinan diartikan bila
karyawan selalu datang dan pulang tepat waktu, mengerjakan semua
pekerjaan dengan baik, dan mematuhi semua peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku

Jenis-jenis Reward


Gania (2006) (Valentino et al., 2022) dimensi reward dibagi menjadi dua
jenis yaitu :

  1. Penghargaan Ekstrinsik (ekstrinsic rewards), yaitu suatu penghargaan
    yang datang dari luar.
    a. Penghargaan Finansial
    1) Gaji atau upah, Gaji adalah sejumlah uang yang diberikan kepada
    karyawan tetap sebagai balas jasa atas konstribusinya kepada
    organisasi, dengan melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung
    jawabnnya. Upah merupakan imbalan finansial yang diberikan secara
    eksklusif pada karyawan yang sesuai jam kerja, jumlah barang yang
    diperoleh atau banyaknnya tanggung jawab pelayanan yang telah
    diselesaikan sebagai kinerja.
    2) Tunjangan karyawan, seperti dana purna tugas, perawatan dirumah
    sakit dan liburan. Pada umumnya perolehan tunjangan dapat diberikan
    berdasarkan senioritas atau catatan kehadiran.
    3) Bonus dan insentif, adalah tambahan imbalan yang diberikan oleh
    karyawan perusahaan diatas atau diluar gaji atau upah mereka. Insentif
    merupakan imbalan finansial yang diberikan secara eksklusif pada
    karyawan yang kinerjannya melebihi standar yang telah dipengaruhi
    perusahaan dapat mendorong motivasi karyawan lebih semangat
    bekerja.
    b. Penghargaan Non-Finansial
    1) Penghargaan Interpersonal, tujuan dari penghargaan interpersonal
    adalah penghargaan antar pribadi, manajer memiliki sejumlah
    kekuasaan untuk partisipasi diri sendiri terhadap penghargaan
    interpersonal, contohnnya status dan pengakuan.
    Penghargaan interpersonal sangat penting dilakukan supaya
    keharmonisan antara atasan dan bawahan maupun teman sesama
    karyawan juga berjalan dengan baik.
    2) Promosi Jabatan, adalah pemindahan karyawan berasal dari suatu
    jabatan ke jabatan yang lebih tinggi. Dengan demikian, promosi akan
    diikuti oleh tugas, tanggung jawab dan wewenang yang akan lebih
    tinggi jabatanya yang diduduki dari sebelumnnya.
  2. Penghargaan Instrinsik (Instrinsic Rewards), adalah suatu
    penghargaan yang diatur oleh diri sendiri.
    a. Penyelesaian (complection), kemampuan memulai dan
    menyelesaikan suatu pekerjaan atau proyek ialah hal yang
    penting dan perlu diperhatikan bagi sebagian orang. Beberapa
    orang memiliki kebutuhan untuk menyelesaikan tugas atau
    tanggung jawab dan efek positif dari penyelesaian tersebut
    merupakan bentuk penghargaan untuk dirinya sendiri.
    b. Pencapaian (achievement), merupakan penghargaan yang lahir
    dalam diri sendiri, saat seseorang berhasil menggapai tujuan
    yang menantang. Pencapaian semacam ini memiliki dampak
    yang luar biasa khususnnya dalam memotivasi diri para
    karyawan.
    c. Otonomi (autonomy), sebagian karyawan menginginkan
    pekerjaan yang memberikan hak untuk mengambil keputusan
    dan bekerja tanpa diawasi dengan ketat. Otonomi dapat
    dihasilkan dari kebebasan melakukan suatu hal yang terbaik
    dari karyawan dalam situasi tertentu.

Indikator Reward


Menurut Kurniawati (Tabroni & Komarudin, 2021) indikator reward
adalah

  1. Kelayakan
    Reward yang sesuai tentu diharapkan karyawan dalam sebuah
    kinerja. Kinerja yang tinggi membuat karyawan mengharapkan reward
    faktor dasar yang mempengaruhi yaitu usia, lama bekerja membuat
    karyawan selalu mengharapkan sebuah reward yang layak dan sesuai
    dari perusahaan.
  2. Motivasi Kerja
    Perasaan yang muncul saat menerima reward membentuk karyawan
    lebih termotivasi untuk bekerja, karyawan akan semangat dan
    menyeimbangkan kinerjannya untuk menerima reward yang sesuai
    dengan kinerjannya.
  3. Kepuasan Kerja
    Perasaan yang muncul saat karyawan menerima reward sangat
    berpengaruh dalam diri mereka, seperti taraf kinerja yang senioritas,
    karyawan akan merasa puas bahwasannya kinerja mereka sangat
    dihargai serta diperlukan dalam perusahaan

Pengertian Reward


Reward terbagi menjadi dua, reward ekstrinsik dan instrinsik, Reward
ekstrinsik adalah imbalan yang berwujud atau nyata dan memiliki sifat
eksternal berpengaruh pada hasil kerja karyawan berupa gaji, bonus,
promosi, jabatan, asuransi kerja, dll. Reward instrinsik adalah imbalan
yang tidak berwujud atau imbalan yang berasal dari ucapan seperti
bentuk penghargaan, sikap positif dan kepedulian sebagai atasan hingga
rotasi pekerjaan setelah mencapai hasil kerja yang sesuai dengan
tujuannya (Ibrar & Khan, 2015) (Akhmad, 2022).
Reward ialah suatu balas jasa seseorang menjadi bentuk jasa dalam
melakukan pekerjaan berupa finansial maupun non-finansial (Kristanto,
2013). Istilah reward berasal dari bahasa inggris yang berarti imbalan
atau hadiah (Echols, 2015) (Astuti et al., 2022).
Reward ialah suatu usaha untuk menumbuhkan perasaan diterima
ataupun diakui pada suatu organisasi, yang berkerjasama menggunakan
aspek kompensasi dan aspek hubungan antara para pekerja yang satu
dengan para pekerja lain (Alex, 2012). Menurut Kamus Oxford,
pengertian reward adalah sesuatu yang diberikan menjadi pengakuan atas
jasa, usaha, atau prestasi (Mesepy, 2016).

Faktor Engagement


Menurut Anitha (2014) (Santri et al., 2023) terdapat faktor yang
mempengaruhi employee engagement :
1) Lingkungan Kerja, lingkungan yang mendukung sangat
berpengaruh terhadap kemampuan karyawan untuk fokus dan
efektif dalam bekerja.
2) Kepemimpinan, kepemimpinan yang tertuju untuk mengarahkan
serta membantu kesuksesan karyawan, sehingga mereka dapat
bekerja dengan tujuan yang jelas.
3) Hubungan antar tim dan rekan kerja, adannya dukungan yang baik
dapat meningkatkan ikatan baik antar karyawan.
4) Pelatihan dan pengembangan karir, melalui peluang pelatihan dan
pengembangan karir, karyawan dapat mengembangkan kualitas
kerja dalam menjalankan tugas-tugasnnya.
5) Kompensasi, sistem kompensasi yang adil dan memadai mampu
memberikan motivasi pada karyawan untuk melaksanakan
pekerjaan dengan baik dan sesuai.
6) Kebijakan organisasi, kebijakan-kebijakan dalam sebuah organisasi
yang seimbang antara kehidupan pribadi yang profesional akan
berdampak positif pada kualitas engagement dari karyawan.
7) Kesejahteraan ditempat kerja, fasilitas atau program-program
terkait kesejahteraan ditempat kerja dapat mendorong peningkatan
motivasi serta partisipasi dari karyawan.

Pengertian Engagement


Work engagement atau keterlibatan kerja akhir-akhir ini mendapat
banyak perhatian penelitian dan menjadi topik yang relevan dan
penting (Karatepe, 2013) (Syarifah, 2021).
Menurut Riyanto dan Helmy (2020) Work engagement merupakan
kebanggaan karyawan untuk menjadi bagian dari organisasi dan
mampu bekerja dengan beban kerja yang diberikan (Setyawan et al.,
2023).
Halbesleben et al., 2014 (Sekhar et al., 2018) Opinion that
employee engagement was an important factor in the performance
and well-being of employees. Because they have a positive attitude,
they have high energy levels towards work and actively intervene in
the work environment

Pengaruh Work Life Balance Terhadap Intention to Stay dengan Employee Engagement


Schermerhorn & John R (2005) work life balance didefinisikan sebagai
kemampuan individu untuk memenuhi komitmen pekerjaan dan keluarga,
serta tanggung jawab dan aktivitas non-kerja lainnya. Schaufeli et al (2006)
menjelaskan bahwa terdapat 3 dimensi employee engagement dan salah satu
dimensinya adalah dedication. Dimensi dedication merujuk pada
keterlibatan karyawan dengan mengalami perasaan antusiasme sehingga
karyawan mulai memperlihatkan ketertarikannya dalam menjalani
pekerjaannya. Hal ini sejalan dengan penelitian Arief et al (2021) yang
menjelaskan bahwa seorang karyawan yang mendapatkan keseimbangan
baik antara kehidupan pekerjaan dan kehidupan pribadi akan meningkatkan
emosional secara positif. Dengan meningkatnya emosional positif karyawan
lebih antusias dalam bekerja dengan baik sesuai tanggung jawab pada
organisasi. Setelah karyawan memiliki employee engagement pada
organisasi, maka akan berpengaruh kepada niat seorang karyawan untuk
bertahan. Karyawan dengan keterlibatan yang tinggi atau merasa terikat
dengan pekerjaannya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan
tugas-tugasnya dengan hasil terbaik. Keterikatan emosional ini juga
membuat karyawan ingin terus berada di organisasi tersebut, sehingga
semakin meningkatkan niat mereka untuk tetap bertahan (Dwiputri et al.,
2022)