Manajemen Konsrtuksi (2)

Tujuan dan sasaran

Tujuan utama manajemen konstruksi adalah menghasilkan fasilitas atau bangunan yang sesuai dengan desain, spesifikasi teknis, anggaran, jadwal, dan ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan. Keberhasilan proyek tidak semata-mata dinilai dari selesainya pekerjaan secara fisik, tetapi juga dari kemampuan proyek menghindari pembengkakan biaya, keterlambatan, kecelakaan kerja, cacat mutu, konflik kontraktual, dan perubahan pekerjaan yang tidak terkendali.

Secara lebih rinci, sasaran manajemen konstruksi meliputi:

  • Menyelesaikan proyek sesuai lingkup pekerjaan dan kebutuhan pengguna.
  • Mengendalikan biaya agar realisasi pengeluaran tidak melampaui anggaran yang disetujui.
  • Menjamin penyelesaian pekerjaan sesuai jadwal atau target waktu proyek.
  • Memastikan kualitas pekerjaan sesuai gambar kerja, spesifikasi, standar teknis, dan regulasi.
  • Mengelola risiko teknis, finansial, operasional, lingkungan, hukum, dan keselamatan kerja.
  • Menjamin ketersediaan tenaga kerja, material, alat, dana, dan informasi pada waktu yang tepat.
  • Menciptakan koordinasi dan komunikasi yang efektif antara pemilik, perencana, kontraktor, subkontraktor, dan pemasok.
  • Menyelesaikan perubahan pekerjaan, klaim, sengketa, dan masalah lapangan secara cepat serta terdokumentasi.

Enam area layanan inti yang umum digunakan dalam manajemen konstruksi adalah lingkup, biaya, waktu atau jadwal, mutu, keselamatan, dan fungsi proyek (CMAA, 2026).