Risiko dalam Manajemen Konstruksi (12)

Kesimpulan

Risiko dalam manajemen konstruksi merupakan konsekuensi dari ketidakpastian yang melekat pada pelaksanaan proyek. Risiko dapat berasal dari aspek teknis, desain, biaya, jadwal, pengadaan, sumber daya, mutu, keselamatan, kontrak, dan faktor eksternal. Bila tidak dikelola, risiko dapat menyebabkan keterlambatan, pembengkakan biaya, kegagalan mutu, kecelakaan kerja, klaim, serta sengketa.

Manajemen risiko yang efektif dilakukan secara berkelanjutan melalui perencanaan, identifikasi, analisis kualitatif dan kuantitatif, perencanaan respons, implementasi tindakan, serta pemantauan. Pendekatan tersebut membantu proyek bukan untuk menghilangkan seluruh ketidakpastian, melainkan untuk mengendalikan paparan risiko sehingga sasaran waktu, biaya, mutu, keselamatan, dan fungsi proyek tetap dapat dicapai.

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (11)

Faktor keberhasilan

Keberhasilan manajemen risiko konstruksi ditentukan oleh beberapa faktor berikut:

  • Komitmen pemilik proyek dan manajemen puncak terhadap pengelolaan risiko.
  • Keterlibatan lintas pihak sejak tahap perencanaan dan desain.
  • Kejelasan pembagian risiko dalam dokumen kontrak.
  • Kualitas data lapangan, desain, jadwal, biaya, dan riwayat proyek sebelumnya.
  • Penetapan pemilik risiko yang memiliki kewenangan serta sumber daya untuk bertindak.
  • Pembaruan risk register secara berkala, bukan hanya sebagai dokumen administratif awal proyek.
  • Ketersediaan kontinjensi waktu dan biaya yang berbasis hasil analisis.
  • Budaya komunikasi terbuka, termasuk pelaporan kondisi tidak aman dan near miss.
  • Integrasi risiko dengan pengendalian jadwal, biaya, mutu, K3, dan kontrak.

Pada proyek konstruksi, analisis risiko yang hanya berhenti pada penilaian matriks probabilitas–dampak tidak cukup. Risiko perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret, misalnya kontrak pemasok alternatif, jadwal pengadaan lebih awal, inspeksi material, prosedur kerja aman, cadangan waktu untuk aktivitas kritis, dan rencana tanggap darurat.

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (10)

Risiko dan indikator proyek

Risiko dapat memengaruhi indikator kinerja utama proyek secara bersamaan. Hubungan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Sasaran proyekBentuk dampak risikoIndikator yang dapat dipantau
WaktuKeterlambatan aktivitas kritis, produktivitas rendah, gangguan pasokanSPI, deviasi jadwal, keterlambatan lintasan kritis
BiayaPembengkakan material, pekerjaan ulang, biaya lembur, klaimCPI, cost variance, proyeksi biaya akhir
MutuCacat pekerjaan, hasil uji tidak memenuhi standar, reworkJumlah ketidaksesuaian, hasil pengujian, biaya mutu
KeselamatanKecelakaan kerja, kondisi tidak aman, penghentian pekerjaanLost time injury, near miss, tingkat kepatuhan APD
LingkupPerubahan desain, pekerjaan tambahan, ketidakjelasan spesifikasiJumlah change order, perubahan volume, klaim
KontrakPerselisihan pembayaran, perbedaan interpretasi dokumenJumlah klaim, status addendum, sengketa terbuka

Misalnya, risiko hujan berkepanjangan pada proyek pekerjaan tanah dapat menurunkan produktivitas alat, menghambat pemadatan tanah, menggeser jadwal pekerjaan pondasi, menambah biaya sewa alat dan tenaga kerja, serta menimbulkan risiko mutu apabila pekerjaan dilakukan pada kadar air yang tidak memenuhi spesifikasi. Risiko tersebut perlu ditangani dengan strategi seperti penyesuaian kalender kerja, sistem drainase sementara, perlindungan material, cadangan waktu, dan penjadwalan alternatif untuk pekerjaan yang dapat dilakukan saat kondisi hujan.

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (9)

6. Implementasi, pemantauan, dan pengendalian

Respons risiko hanya efektif apabila benar-benar diterapkan. Karena itu, setiap risiko prioritas harus memiliki pemilik risiko, tindakan spesifik, tenggat waktu, indikator keberhasilan, kebutuhan biaya, dan mekanisme pelaporan.

Pemantauan risiko mencakup:

  • Melacak status risiko yang telah diidentifikasi.
  • Memeriksa pelaksanaan rencana mitigasi.
  • Menilai efektivitas tindakan yang dilakukan.
  • Mengidentifikasi risiko baru.
  • Memantau risiko residual dan risiko sekunder.
  • Memperbarui skor probabilitas dan dampak.
  • Menyesuaikan cadangan biaya atau waktu apabila diperlukan.
  • Melakukan eskalasi ketika risiko melewati batas toleransi.

PMI menyatakan bahwa pemantauan risiko mencakup pengawasan atas implementasi respons yang telah disepakati, pelacakan risiko teridentifikasi, analisis risiko baru, serta evaluasi efektivitas proses manajemen risiko sepanjang proyek berlangsung (PMI, 2018)

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (8)

5. Perencanaan respons risiko

Setelah risiko diprioritaskan, tim proyek menyusun strategi respons. Untuk risiko negatif atau ancaman, respons yang umum adalah:

  • Menghindari (avoid), yaitu mengubah rencana agar sumber risiko tidak lagi ada. Contohnya, mengubah metode konstruksi yang terlalu berbahaya.
  • Mengurangi (mitigate), yaitu menurunkan probabilitas atau dampak. Contohnya, melakukan pemesanan material kritis lebih awal dan menyiapkan pemasok cadangan.
  • Memindahkan (transfer), yaitu mengalihkan sebagian konsekuensi kepada pihak lain melalui asuransi, jaminan, atau klausul kontrak yang sah.
  • Menerima (accept), yaitu menerima risiko secara sadar apabila biaya mitigasi lebih besar daripada manfaatnya, sambil menyiapkan kontinjensi bila diperlukan.

Untuk peluang atau risiko positif, strategi yang dapat digunakan adalah mengeksploitasi, meningkatkan, membagikan, atau menerima peluang. Sebagai contoh, penggunaan teknologi prefabrikasi dapat menjadi peluang untuk mempercepat pemasangan struktur apabila pemasok, desain, dan logistik telah dipersiapkan dengan baik.

PMI menjelaskan bahwa respons risiko dapat mencakup mitigasi melalui penghindaran, pengalihan melalui asuransi atau pengaturan kontraktual, dan perencanaan kontinjensi untuk menghadapi ketidakpastian yang masih tersisa (PMI, 2022

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (7)

4. Analisis risiko kuantitatif

Analisis kuantitatif digunakan untuk mengukur dampak risiko secara numerik, terutama pada proyek besar, kompleks, atau bernilai tinggi. Analisis ini membutuhkan data yang lebih memadai dan dapat menghasilkan estimasi probabilistik terhadap durasi, biaya, atau peluang pencapaian sasaran.

Beberapa teknik analisis kuantitatif meliputi:

  • Analisis sensitivitas untuk mengetahui variabel yang paling memengaruhi biaya atau jadwal.
  • Decision tree analysis untuk membandingkan pilihan keputusan berdasarkan probabilitas dan nilai hasil.
  • Expected Monetary Value atau EMV untuk memperkirakan nilai kerugian atau manfaat harapan.
  • Simulasi Monte Carlo untuk menghasilkan distribusi kemungkinan durasi atau biaya akhir proyek.
  • Analisis skenario, misalnya skenario optimistis, moderat, dan pesimistis.
  • Analisis cadangan kontinjensi biaya dan waktu.

Rumus EMV dapat ditulis sebagai:

EMV=P×IEMV = P \times IEMV=P×I

Misalnya, terdapat peluang 30% terjadi keterlambatan material yang diperkirakan menimbulkan biaya tambahan Rp200 juta. Maka:

EMV=0,30×Rp200.000.000=Rp60.000.000EMV = 0{,}30 \times Rp200.000.000 = Rp60.000.000EMV=0,30×Rp200.000.000=Rp60.000.000

Nilai tersebut dapat menjadi salah satu dasar penetapan cadangan biaya. Akan tetapi, EMV tidak boleh dipakai secara mekanis karena besarnya kerugian juga bergantung pada kontrak, kapasitas pemasok, fleksibilitas jadwal, dan opsi mitigasi yang tersedia.

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (6)

3. Analisis risiko kualitatif

Analisis kualitatif bertujuan menentukan prioritas risiko berdasarkan kombinasi probabilitas dan dampaknya. Metode ini lazim digunakan karena relatif sederhana, cepat, dan sesuai untuk proyek yang belum memiliki data kuantitatif yang lengkap.

Rumus sederhana yang sering digunakan adalah:

Skor Risiko=P×I\text{Skor Risiko} = P \times ISkor Risiko=P×I

dengan:

P=probabilitas terjadinya risikoP = \text{probabilitas terjadinya risiko}P=probabilitas terjadinya risiko

I=besar dampak risikoI = \text{besar dampak risiko}I=besar dampak risiko

Sebagai contoh, skala 1–5 dapat digunakan untuk menilai probabilitas dan dampak. Jika risiko keterlambatan material memiliki probabilitas 4 dan dampak 5, maka:

R=4×5=20R = 4 \times 5 = 20R=4×5=20

Nilai 20 dapat dikategorikan sebagai risiko tinggi atau ekstrem, sehingga perlu segera diberi respons dan ditunjuk pemilik risiko yang bertanggung jawab.

Matriks probabilitas–dampak biasanya dibagi menjadi tiga tingkat:

Tingkat risikoKarakteristikRespons manajerial
Tingkat risikoKarakteristikRespons manajerial
RendahDampak dan/atau peluang relatif kecilDipantau secara rutin; dapat diterima dengan cadangan terbatas
SedangBerpotensi mengganggu satu atau lebih target proyekMitigasi direncanakan dan pemilik risiko ditetapkan
TinggiBerpotensi menyebabkan keterlambatan besar, pembengkakan biaya, kecelakaan, atau sengketaTindakan segera, eskalasi kepada manajemen, kontinjensi khusus

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (5)

2. Identifikasi risiko

Identifikasi risiko adalah proses menemukan serta mendokumentasikan semua risiko yang mungkin memengaruhi proyek. Proses ini perlu dilakukan secara iteratif karena risiko baru dapat muncul pada tahap desain, pengadaan, pekerjaan struktur, penyelesaian arsitektur, maupun menjelang serah terima.

Teknik identifikasi yang sering digunakan meliputi:

  • Telaah dokumen desain, spesifikasi, kontrak, jadwal, dan RAB.
  • Wawancara dengan pemilik, konsultan, kontraktor, pemasok, dan tenaga ahli.
  • Brainstorming atau lokakarya risiko lintas disiplin.
  • Observasi kondisi lapangan dan investigasi lokasi.
  • Analisis data proyek sejenis atau lessons learned.
  • Analisis SWOT.
  • Daftar periksa risiko (risk checklist).
  • Analisis akar penyebab (root cause analysis).
  • Telaah risiko kontrak dan regulasi.

Hasil identifikasi dicatat dalam risk register. Minimal, risk register memuat kode risiko, uraian risiko, penyebab, dampak, kategori, probabilitas, tingkat dampak, skor risiko, pemilik risiko, respons yang direncanakan, status tindakan, dan risiko residual.

PMI menekankan bahwa identifikasi risiko merupakan proses berulang untuk menentukan dan mendokumentasikan karakteristik risiko yang dapat memengaruhi proyek (PMI, 2008)

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (4)

Proses manajemen risiko

Proses manajemen risiko konstruksi umumnya terdiri atas perencanaan, identifikasi, analisis, respons, implementasi, serta pemantauan dan pengendalian. PMBOK menempatkan manajemen risiko sebagai rangkaian kegiatan yang mencakup perencanaan manajemen risiko, identifikasi risiko, analisis kualitatif dan kuantitatif, perencanaan respons, implementasi respons, dan pemantauan risiko (PMI, 2018).pmi-centralitaly

1. Perencanaan manajemen risiko

Tahap awal adalah menentukan bagaimana risiko akan dikelola dalam proyek. Manajer proyek perlu menetapkan metodologi, peran dan tanggung jawab, kategori risiko, skala penilaian probabilitas dan dampak, batas toleransi risiko, frekuensi pelaporan, anggaran kontinjensi, serta mekanisme eskalasi risiko.

Dokumen utamanya adalah risk management plan. Dokumen ini menjelaskan siapa yang bertanggung jawab mengidentifikasi risiko, siapa pemilik risiko (risk owner), bagaimana risiko dinilai, kapan rapat risiko dilaksanakan, dan tindakan apa yang dilakukan apabila nilai risiko melewati batas tertentu.

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (3)

Klasifikasi risiko

Risiko dalam proyek konstruksi dapat diklasifikasikan berdasarkan sumber, sifat, maupun dampaknya. Klasifikasi membantu manajer proyek membagi tanggung jawab, menentukan prioritas, serta menyusun strategi mitigasi yang sesuai.

Kategori risikoContoh risikoDampak potensialContoh respons
Risiko desain dan teknisKesalahan gambar, spesifikasi tidak lengkap, konflik desain struktur–MEP, kondisi tanah tak terdugaPekerjaan ulang, perubahan pekerjaan, keterlambatan, biaya tambahanDesign review, investigasi tanah, BIM koordinasi, constructability review
Risiko waktu dan jadwalUrutan kerja tidak realistis, keterlambatan mobilisasi, cuaca buruk, keterlambatan materialPerpanjangan waktu, denda keterlambatan, kenaikan biaya tidak langsungCPM, penjadwalan ulang, buffer waktu, rencana percepatan
Risiko biaya dan keuanganInflasi, fluktuasi harga material, kesalahan estimasi, keterlambatan pembayaranPembengkakan biaya, gangguan arus kas, pekerjaan terhentiKontinjensi biaya, kontrak eskalasi, cash-flow monitoring
Risiko pengadaan dan rantai pasokPemasok gagal memenuhi pesanan, material impor tertunda, mutu material tidak sesuaiKeterlambatan, penggantian pemasok, rework, biaya logistik naikPemasok alternatif, inspeksi material, pemesanan dini
Risiko sumber daya manusiaKekurangan pekerja terampil, produktivitas rendah, perselisihan tenaga kerjaPenurunan output, keterlambatan pekerjaan, mutu tidak konsistenPelatihan, rencana tenaga kerja, pengukuran produktivitas
Risiko alat dan teknologiKerusakan alat berat, kegagalan peralatan, teknologi belum terujiGangguan operasi, biaya sewa tambahan, kecelakaanJadwal pemeliharaan, alat cadangan, uji coba metode
Risiko mutuMaterial tidak memenuhi standar, metode kerja salah, pengawasan lemahCacat konstruksi, pembongkaran, pekerjaan ulang, sengketaITP, inspeksi bertahap, pengujian laboratorium, quality assurance
Risiko K3 dan lingkunganJatuh dari ketinggian, longsor, kebakaran, paparan bahan berbahaya, pencemaranCedera atau kematian, penghentian proyek, sanksi, kerugian reputasiHIRADC/JSA, APD, pelatihan, inspeksi K3, rencana tanggap darurat
Risiko kontrak dan hukumKlausul tidak jelas, klaim, perselisihan pembayaran, perubahan lingkupSengketa, arbitrase, biaya hukum, keterlambatanTelaah kontrak, administrasi dokumen, prosedur perubahan kerja
Risiko eksternalCuaca ekstrem, bencana, perubahan regulasi, gangguan sosial, kondisi ekonomiKeterlambatan, kenaikan biaya, gangguan akses dan suplaiAsuransi, kontinjensi, pemantauan regulasi, rencana keberlanjutan

Risiko tersebut tidak berdiri sendiri. Sebagai contoh, revisi desain struktur di tengah pelaksanaan dapat menimbulkan pekerjaan bongkar-pasang, kebutuhan material tambahan, perubahan metode kerja, penjadwalan ulang, penurunan produktivitas, penambahan biaya, dan potensi klaim dari kontraktor. Oleh karena itu, manajemen risiko harus melihat hubungan sebab-akibat antarrisiko, bukan hanya menilai setiap risiko secara terpisah.

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (2)

Karakteristik risiko konstruksi

Risiko konstruksi memiliki beberapa karakteristik penting:

  • Bersifat tidak pasti, sehingga waktu, lokasi, dan tingkat dampaknya tidak selalu dapat diprediksi dengan tepat.
  • Bersifat dinamis karena tingkat risiko dapat berubah sesuai kemajuan pekerjaan, kondisi pasar, cuaca, desain, dan keputusan para pihak.
  • Saling berkaitan karena satu risiko dapat memicu risiko lainnya. Keterlambatan material, misalnya, dapat menyebabkan keterlambatan jadwal, pembengkakan biaya tenaga kerja, penurunan produktivitas, tekanan percepatan pekerjaan, dan peningkatan risiko kecelakaan.
  • Memiliki konsekuensi yang berbeda bagi setiap pemangku kepentingan. Risiko keterlambatan dapat berarti denda bagi kontraktor, keterlambatan manfaat fasilitas bagi pemilik, serta gangguan layanan bagi pengguna.
  • Dapat dikelola, meskipun tidak selalu dapat dihilangkan. Tujuan manajemen risiko bukan menjamin proyek bebas risiko, melainkan menjaga tingkat paparan risiko pada batas yang dapat diterima.

Manajemen risiko merupakan proses sistematis untuk mengidentifikasi, menilai, dan merespons faktor risiko sepanjang siklus hidup proyek demi melindungi tujuan proyek (PMI, 2022)

Risiko dalam Manajemen Konstruksi (1)

Risiko dalam manajemen konstruksi adalah kemungkinan terjadinya peristiwa atau kondisi tidak pasti yang dapat memengaruhi pencapaian sasaran proyek, terutama biaya, waktu, mutu, keselamatan, lingkup, dan kinerja kontraktual. Risiko tidak selalu berarti kerugian; dalam perspektif manajemen proyek, risiko juga dapat berupa peluang yang memberi dampak positif apabila dikelola secara tepat (Project Management Institute [PMI], 2008).pmi

Konsep risiko konstruksi

Proyek konstruksi memiliki tingkat ketidakpastian yang relatif tinggi karena pelaksanaannya dipengaruhi oleh kondisi fisik lapangan, cuaca, desain, harga material, kapasitas kontraktor, tenaga kerja, alat, rantai pasok, pembiayaan, regulasi, dan relasi kontraktual. Tidak seperti proses produksi rutin di pabrik, proyek konstruksi umumnya bersifat unik, berlangsung pada lokasi tertentu, memiliki batas waktu, melibatkan banyak pihak, serta menghadapi kondisi yang berubah selama pekerjaan berlangsung.

Secara umum, risiko proyek dapat dipahami melalui tiga elemen utama:

  • Peristiwa risiko (risk event), yaitu kejadian yang mungkin muncul, misalnya keterlambatan pasokan semen, hujan ekstrem, perubahan desain, atau kecelakaan kerja.
  • Probabilitas risiko, yaitu peluang bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
  • Dampak risiko, yaitu konsekuensi yang timbul terhadap biaya, jadwal, mutu, keselamatan, lingkungan, atau reputasi proyek.

PMI menjelaskan risiko proyek sebagai eksposur terhadap peristiwa tidak pasti yang dapat merugikan tujuan proyek. Risiko tersebut dicirikan oleh kejadian risiko, probabilitas terjadinya, dan besarnya konsekuensi atau kerugian yang mungkin timbul (PMI, 2022).pmi

Dengan demikian, risiko berbeda dari masalah (issue). Risiko merupakan kejadian yang belum terjadi, tetapi berpotensi terjadi di masa depan. Sebaliknya, masalah adalah kondisi yang sudah terjadi dan memerlukan tindakan korektif segera. Contohnya, kemungkinan kenaikan harga baja adalah risiko. Namun, apabila harga baja sudah meningkat dan menyebabkan anggaran pekerjaan struktur melampaui rencana, kondisi tersebut telah menjadi masalah proyek.

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (13)

Kesimpulan

Metode analisis dalam manajemen konstruksi berfungsi sebagai dasar objektif untuk merencanakan, mengendalikan, mengevaluasi, dan memperbaiki kinerja proyek. CPM dan PERT terutama digunakan untuk analisis penjadwalan; Kurva-S dan EVM untuk pengendalian kemajuan serta biaya; analisis risiko dan Monte Carlo untuk mengelola ketidakpastian; analisis produktivitas untuk efisiensi sumber daya; analisis mutu untuk kesesuaian spesifikasi; serta analisis kelayakan ekonomi untuk keputusan investasi.

Penerapan metode yang tepat memungkinkan manajer konstruksi mendeteksi keterlambatan, inefisiensi biaya, risiko dominan, dan persoalan mutu lebih awal. Dengan demikian, keputusan korektif dapat dilakukan sebelum masalah berkembang menjadi kegagalan proyek, klaim kontrak, pembengkakan biaya, atau keterlambatan penyelesaian.

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (12)

Pemilihan metode

Pemilihan metode analisis sebaiknya disesuaikan dengan tujuan, fase, tingkat kompleksitas, serta ketersediaan data proyek.

Kondisi proyekMetode yang sesuaiAlasan
Perencanaan jadwal awal dengan aktivitas relatif pastiCPM dan Kurva-SMenentukan urutan kerja, durasi, dan target progres
Durasi aktivitas mengandung ketidakpastian tinggiPERT dan Monte CarloMemperhitungkan variasi serta peluang pencapaian target
Pengendalian waktu dan biaya selama konstruksiEVM, Kurva-S, CPMMemberi indikator deviasi dan proyeksi kinerja
Proyek berisiko tinggi atau kompleksMatriks risiko, RII, Monte CarloMenetapkan prioritas mitigasi dan cadangan proyek
Evaluasi efisiensi tenaga kerja dan alatAnalisis produktivitasMengidentifikasi pemborosan sumber daya
Evaluasi kepatuhan spesifikasiITP, inspeksi, uji material, ParetoMenjamin mutu serta mengurangi pekerjaan ulang
Keputusan investasi pra-konstruksiNPV, IRR, BCR, analisis sensitivitasMenilai kelayakan finansial dan ekonomi

Pada proyek gedung bertingkat, misalnya, CPM dapat digunakan untuk menentukan pekerjaan kritis seperti pondasi, struktur, dan pekerjaan arsitektur utama. Kurva-S digunakan untuk memantau deviasi kemajuan mingguan. EVM digunakan untuk menentukan apakah kemajuan fisik yang dicapai sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan. Analisis risiko dan Monte Carlo dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak cuaca, keterlambatan material, perubahan desain, atau produktivitas tenaga kerja yang tidak sesuai rencana. Kombinasi ini menghasilkan sistem pengendalian yang lebih kuat daripada penggunaan satu metode tunggal.

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (11)

10. Analisis kelayakan ekonomi

Analisis kelayakan ekonomi digunakan terutama pada tahap awal atau pra-konstruksi untuk menentukan apakah suatu investasi pembangunan layak dilaksanakan. Metode yang sering dipakai meliputi Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan Payback Period.

NPV dapat dirumuskan sebagai:

NPV=∑t=0nCFt(1+r)tNPV = \sum_{t=0}^{n} \frac{CF_t}{(1+r)^t}NPV=t=0∑n​(1+r)tCFt​​

dengan CFtCF_tCFt​ sebagai arus kas pada periode ke-ttt, rrr sebagai tingkat diskonto, dan nnn sebagai umur analisis proyek. Secara umum, proyek dinilai layak jika NPV bernilai positif, karena nilai kini manfaat bersih lebih besar daripada investasi yang dikeluarkan.

Analisis kelayakan sangat penting untuk proyek komersial, perumahan, fasilitas industri, jalan tol, serta proyek infrastruktur publik. Untuk proyek pemerintah, analisis dapat diperluas dengan manfaat sosial, ekonomi regional, lingkungan, dan layanan publik, sehingga tidak semata-mata mengandalkan keuntungan finansial langsung

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (9)

9. Analisis mutu

Analisis mutu dalam manajemen konstruksi digunakan untuk memastikan bahwa material, metode kerja, dan hasil pekerjaan memenuhi spesifikasi yang telah disetujui. Metode ini tidak hanya dilakukan setelah pekerjaan selesai, tetapi sejak tahap perencanaan dan pelaksanaan.

Instrumen analisis mutu yang umum digunakan adalah:

  • Inspection and Test Plan atau ITP.
  • Daftar periksa inspeksi (checklist).
  • Uji laboratorium material, seperti kuat tekan beton, uji slump, gradasi agregat, atau uji tarik baja.
  • Non-conformance report untuk ketidaksesuaian pekerjaan.
  • Analisis akar penyebab (root cause analysis).
  • Diagram sebab-akibat atau fishbone diagram.
  • Analisis Pareto untuk menentukan jenis cacat yang paling dominan.
  • Dokumentasi rework dan biaya mutu.

Pendekatan mutu harus bersifat preventif. Artinya, pengendalian dilakukan untuk mencegah cacat sejak awal melalui persetujuan material, method statement, pelatihan pekerja, inspeksi bertahap, dan pengujian. Jika mutu hanya diperiksa pada akhir pekerjaan, biaya koreksi cenderung lebih besar dan dapat menyebabkan keterlambatan proyek

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (8)

8. Analisis produktivitas sumber daya

Analisis produktivitas digunakan untuk menilai efisiensi tenaga kerja, alat berat, maupun penggunaan material dalam menghasilkan volume pekerjaan tertentu. Produktivitas biasanya dihitung sebagai:

Produktivitas tenaga kerja=Volume pekerjaanJumlah tenaga kerja×waktu kerja\text{Produktivitas tenaga kerja} = \frac{\text{Volume pekerjaan}}{\text{Jumlah tenaga kerja} \times \text{waktu kerja}}Produktivitas tenaga kerja=Jumlah tenaga kerja×waktu kerjaVolume pekerjaan​

Misalnya, apabila 10 pekerja menyelesaikan 100 m² pekerjaan pasangan bata dalam 5 hari, maka produktivitas kelompok adalah:

10010×5=2 m2/orang-hari\frac{100}{10 \times 5} = 2 \text{ m}^2/\text{orang-hari}10×5100​=2 m2/orang-hari

Hasil tersebut dapat dibandingkan dengan standar produktivitas, rencana kerja, atau kinerja periode sebelumnya. Jika produktivitas aktual rendah, manajer konstruksi perlu menelusuri penyebabnya, seperti keterlambatan material, ketidaksesuaian alat, kondisi lokasi, kelelahan pekerja, cuaca, kurangnya pengawasan, metode kerja yang tidak efisien, atau pekerjaan ulang (rework).

Analisis ini penting karena produktivitas berpengaruh langsung terhadap biaya tenaga kerja, durasi pekerjaan, penggunaan alat, dan kemampuan proyek memenuhi jadwal. Dalam konteks yang lebih luas, produktivitas menjadi salah satu isu utama pada level proyek dan industri konstruksi (Shen et al., 2019)

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (7)

7. Simulasi Monte Carlo

Simulasi Monte Carlo merupakan metode analisis kuantitatif untuk menilai ketidakpastian durasi atau biaya proyek. Berbeda dari estimasi tunggal, Monte Carlo menggunakan banyak kemungkinan nilai input yang diambil secara berulang dari distribusi probabilitas. Hasilnya adalah distribusi kemungkinan waktu selesai atau biaya akhir proyek.

Sebagai contoh, durasi pekerjaan struktur dapat diperkirakan antara 50 sampai 70 hari, bergantung pada cuaca, ketersediaan material, produktivitas tenaga kerja, dan kondisi peralatan. Simulasi Monte Carlo dapat menjalankan ribuan iterasi untuk menghasilkan informasi seperti:

  • Peluang proyek selesai dalam 180 hari.
  • Durasi proyek pada tingkat keyakinan 50%, 80%, atau 90%.
  • Aktivitas yang paling sensitif terhadap keterlambatan.
  • Cadangan waktu (schedule contingency) yang sebaiknya disiapkan.
  • Kemungkinan biaya akhir melebihi anggaran.

Metode ini sangat sesuai untuk proyek yang kompleks dan memiliki ketidakpastian tinggi. Dalam analisis risiko jadwal, Monte Carlo digunakan untuk mengambil sampel dari rentang durasi aktivitas sehingga menghasilkan estimasi probabilistik tanggal penyelesaian, analisis sensitivitas, dan dasar penentuan kontinjensi (Khan, 2024). Studi proyek gedung juga mengombinasikan CPM untuk menentukan lintasan kritis, EVM untuk memperkirakan durasi tersisa dari kemajuan aktual, serta simulasi Monte Carlo untuk menghasilkan distribusi probabilitas durasi proyek (Pratama et al., 2025).

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (7)

6. Analisis risiko konstruksi

Analisis risiko merupakan metode untuk mengidentifikasi peristiwa yang dapat menghambat pencapaian target proyek, menilai peluang dan dampaknya, menentukan prioritas, serta menyusun strategi respons. Risiko konstruksi dapat berasal dari aspek teknis, desain, cuaca, kondisi tanah, pengadaan, harga material, tenaga kerja, perubahan regulasi, pembiayaan, keselamatan kerja, kontrak, dan koordinasi pihak-pihak proyek.

Proses analisis risiko umumnya mencakup:

  1. Identifikasi risiko melalui studi dokumen, observasi, rapat ahli, wawancara, dan pembelajaran dari proyek sebelumnya.
  2. Penilaian probabilitas terjadinya risiko.
  3. Penilaian dampak risiko terhadap waktu, biaya, mutu, keselamatan, atau reputasi.
  4. Penetapan prioritas risiko.
  5. Penyusunan respons risiko, yaitu menghindari, mengurangi, memindahkan, menerima, atau mengeksploitasi peluang.
  6. Pemantauan risiko secara berkala selama proyek berlangsung.

Salah satu alat yang umum digunakan adalah matriks probabilitas-dampak (probability-impact matrix). Nilai risiko dapat dihitung sederhana melalui:

R=P×IR = P \times IR=P×I

dengan RRR sebagai nilai risiko, PPP sebagai probabilitas, dan III sebagai besarnya dampak. Semakin tinggi nilainya, semakin tinggi pula prioritas penanganan risiko tersebut.

Manajemen risiko konstruksi mencakup identifikasi faktor penyebab yang dapat memengaruhi baseline biaya, jadwal, atau mutu; pengukuran kemungkinan dampaknya; serta penerapan tindakan untuk mengendalikan dan mengurangi dampak tersebut. Siklusnya lazim terdiri dari identifikasi, penilaian, mitigasi, dan pemantauan risiko (Tadesse et al., 2022).pmc.ncbi.nlm.nih

Untuk survei persepsi risiko, metode Relative Importance Index atau RII sering digunakan untuk menentukan peringkat faktor risiko berdasarkan penilaian responden menggunakan skala Likert. Nilai RII yang lebih tinggi menunjukkan faktor yang dipersepsikan lebih dominan atau lebih penting untuk ditangani (Tadesse et al., 2022)

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (6)

5. Earned Value Management

Earned Value Management atau EVM merupakan metode pengendalian terintegrasi untuk mengukur kinerja lingkup, jadwal, dan biaya. EVM tidak hanya membandingkan anggaran dengan pengeluaran aktual, melainkan juga membandingkan nilai pekerjaan yang seharusnya selesai dengan nilai pekerjaan yang benar-benar telah diselesaikan.

Tiga komponen utama EVM adalah:

  • Planned Value (PV): nilai anggaran pekerjaan yang direncanakan selesai sampai tanggal evaluasi.
  • Earned Value (EV): nilai anggaran dari pekerjaan yang benar-benar telah selesai.
  • Actual Cost (AC): biaya aktual yang telah dikeluarkan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Indikator penting dalam EVM adalah:

CV=EV−ACCV = EV – ACCV=EV−AC

SV=EV−PVSV = EV – PVSV=EV−PV

CPI=EVACCPI = \frac{EV}{AC}CPI=ACEV​

SPI=EVPVSPI = \frac{EV}{PV}SPI=PVEV​

Keterangan interpretasi:

IndikatorNilaiInterpretasi
Cost Variance (CV)PositifBiaya lebih efisien atau di bawah anggaran
Cost Variance (CV)NegatifBiaya aktual melebihi nilai pekerjaan yang diperoleh
Schedule Variance (SV)PositifKinerja proyek lebih cepat daripada rencana
Schedule Variance (SV)NegatifKinerja proyek tertinggal dari rencana
Cost Performance Index (CPI)Lebih dari 1Efisiensi biaya baik
Cost Performance Index (CPI)Kurang dari 1Terjadi inefisiensi biaya
Schedule Performance Index (SPI)Lebih dari 1Kemajuan lebih cepat daripada rencana
Schedule Performance Index (SPI)Kurang dari 1Kemajuan lebih lambat daripada rencana

PMI menempatkan EVM sebagai instrumen early warning yang memberi indikasi objektif mengenai pencapaian aktual, area risiko kinerja, serta estimasi biaya penyelesaian proyek yang lebih akurat daripada pelaporan biaya tradisional (PMI, 2000). Kajian tentang pengukuran kinerja proyek konstruksi juga menjelaskan bahwa EVM menggunakan PV, EV, dan AC untuk menghitung varians biaya dan jadwal serta indeks CPI dan SPI (Fleming & Koppelman, 2016).pmi+1

Ilustrasi: suatu proyek memiliki PV sebesar Rp500 juta, EV Rp400 juta, dan AC Rp550 juta pada minggu ke-12. Nilai SV=400−500=−100SV = 400 – 500 = -100SV=400−500=−100 juta menunjukkan kemajuan fisik tertinggal dari rencana. Nilai CV=400−550=−150CV = 400 – 550 = -150CV=400−550=−150 juta menunjukkan biaya yang dikeluarkan lebih besar daripada nilai pekerjaan yang telah dihasilkan. Sementara itu, SPI=0,80SPI = 0{,}80SPI=0,80 dan CPI=0,73CPI = 0{,}73CPI=0,73 menunjukkan proyek terlambat sekaligus tidak efisien secara biaya

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (5)

4. Kurva-S

Kurva-S adalah grafik kumulatif yang menunjukkan hubungan antara waktu proyek pada sumbu horizontal dan persentase kemajuan, biaya, atau bobot pekerjaan pada sumbu vertikal. Disebut Kurva-S karena pola kemajuan proyek umumnya lambat pada tahap awal, meningkat tajam pada tahap pelaksanaan utama, dan melandai kembali menjelang penyelesaian proyek.

Dalam manajemen konstruksi, Kurva-S digunakan untuk membandingkan:

  • Kemajuan rencana dengan kemajuan aktual.
  • Pengeluaran biaya rencana dengan realisasi biaya.
  • Bobot pekerjaan rencana dengan bobot pekerjaan yang telah dicapai.
  • Kebutuhan sumber daya terhadap waktu pelaksanaan.

Apabila kurva realisasi berada di bawah kurva rencana, proyek cenderung mengalami keterlambatan. Sebaliknya, jika biaya aktual meningkat lebih cepat daripada kemajuan pekerjaan, terdapat indikasi inefisiensi atau pembengkakan biaya. Kurva-S mudah dipahami oleh pemilik proyek dan pihak lapangan, tetapi secara mandiri belum cukup untuk menunjukkan apakah biaya yang dikeluarkan sebanding dengan nilai pekerjaan yang telah benar-benar dihasilkan. Karena itu, Kurva-S sebaiknya dikombinasikan dengan EVM

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (4)

3. Program Evaluation and Review Technique

PERT merupakan metode analisis jaringan kerja yang digunakan ketika durasi aktivitas mengandung ketidakpastian. Berbeda dari CPM yang biasanya menggunakan satu estimasi durasi, PERT menggunakan tiga perkiraan waktu:

  • Waktu optimistis (optimistic time/a): durasi tercepat apabila kondisi sangat mendukung.
  • Waktu paling mungkin (most likely time/m): durasi yang paling realistis dalam kondisi normal.
  • Waktu pesimistis (pessimistic time/b): durasi terlama apabila terjadi hambatan yang relevan.

Durasi harapan suatu aktivitas dihitung dengan rumus:

te=a+4m+b6t_e = \frac{a + 4m + b}{6}te​=6a+4m+b​

dengan:

te=waktu harapan,a=waktu optimistis,m=waktu paling mungkin,b=waktu pesimistist_e = \text{waktu harapan}, \quad a = \text{waktu optimistis}, \quad m = \text{waktu paling mungkin}, \quad b = \text{waktu pesimistis}te​=waktu harapan,a=waktu optimistis,m=waktu paling mungkin,b=waktu pesimistis

PERT relevan pada proyek yang memiliki tingkat ketidakpastian tinggi, seperti proyek dengan desain belum sepenuhnya matang, pekerjaan pada kondisi cuaca ekstrem, proyek inovatif, atau proyek yang bergantung pada pengadaan material khusus. Metode ini membantu memperkirakan probabilitas proyek dapat diselesaikan pada target waktu tertentu, karena durasi aktivitas dihitung berdasarkan nilai harapan dan variansnya (Khan, 2024).ijsr

Namun, estimasi PERT sangat dipengaruhi oleh kualitas penilaian ahli. Jika nilai optimistis, paling mungkin, dan pesimistis tidak realistis, hasil analisis juga dapat menyesatkan.

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (3)

2. Critical Path Method

Critical Path Method atau CPM merupakan metode jaringan kerja untuk menentukan rangkaian aktivitas yang mempunyai total kelonggaran waktu (total float) nol atau paling kecil. Rangkaian aktivitas tersebut disebut lintasan kritis (critical path). Keterlambatan pada satu aktivitas kritis, apabila tidak diatasi, akan langsung menunda tanggal penyelesaian proyek.

Langkah umum penerapan CPM meliputi:

  1. Mengidentifikasi seluruh aktivitas proyek berdasarkan WBS.
  2. Menentukan hubungan ketergantungan antaraktivitas, misalnya finish-to-start.
  3. Mengestimasi durasi tiap aktivitas.
  4. Menyusun diagram jaringan kerja.
  5. Menghitung waktu mulai dan selesai paling awal (early start dan early finish).
  6. Menghitung waktu mulai dan selesai paling lambat (late start dan late finish).
  7. Menghitung float atau kelonggaran waktu setiap aktivitas.
  8. Menentukan aktivitas yang berada pada lintasan kritis.

CPM sangat berguna untuk penjadwalan proyek yang durasi aktivitasnya relatif dapat diperkirakan secara pasti. Metode ini memungkinkan manajer proyek memusatkan perhatian pada pekerjaan yang secara langsung menentukan durasi total proyek. Secara teoritis, CPM merepresentasikan proyek sebagai jaringan aktivitas, dengan lintasan kritis berupa urutan aktivitas yang memiliki float total nol sehingga setiap keterlambatan akan menunda penyelesaian proyek (Khan, 2024).ijsr

Contoh singkat: apabila pekerjaan pondasi, struktur lantai satu, struktur lantai dua, dan pekerjaan atap berada pada lintasan kritis, maka keterlambatan pengecoran pondasi selama tiga hari berpotensi menggeser penyelesaian proyek tiga hari, kecuali dilakukan tindakan percepatan seperti penambahan tenaga kerja, lembur, atau perubahan metode kerja.

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (2)

1. Work Breakdown Structure

Work Breakdown Structure atau WBS adalah metode untuk menguraikan ruang lingkup proyek menjadi elemen pekerjaan yang lebih kecil, terstruktur, dan dapat dikelola. Misalnya, proyek pembangunan gedung dapat dibagi menjadi pekerjaan persiapan, pekerjaan tanah, pondasi, struktur, arsitektur, mekanikal-elektrikal-plumbing, pekerjaan luar bangunan, dan serah terima.

WBS menjadi fondasi untuk analisis berikutnya karena setiap pekerjaan dapat diberi kode, volume, biaya, durasi, penanggung jawab, kebutuhan tenaga kerja, material, dan alat. Tanpa WBS yang jelas, pengendalian proyek cenderung tidak konsisten karena lingkup pekerjaan sulit dipantau secara rinci.

Dalam pendekatan earned value, pekerjaan proyek perlu didefinisikan dan dipecah menjadi tugas-tugas yang dapat dipahami bersama sebelum disusun ke dalam urutan pelaksanaan serta anggaran berbasis waktu (Project Management Institute [PMI], 2000)

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (1)

Metode analisis utama

MetodeFokus analisisData utamaHasil atau manfaat
MetodeFokus analisisData utamaHasil atau manfaat
Work Breakdown Structure (WBS)Penguraian ruang lingkup proyekLingkup pekerjaan dan paket kerjaStruktur pekerjaan yang terukur dan mudah dikendalikan
Critical Path Method (CPM)Waktu dan urutan aktivitasDurasi, ketergantungan aktivitas, jadwalLintasan kritis, float, dan durasi proyek
Program Evaluation and Review Technique (PERT)Ketidakpastian durasiWaktu optimistis, paling mungkin, pesimistisDurasi harapan dan probabilitas penyelesaian proyek
Kurva-SKemajuan waktu dan biayaRencana serta realisasi kumulatif proyekVisualisasi deviasi kemajuan proyek
Earned Value Management (EVM)Kinerja waktu dan biaya terintegrasiPV, EV, AC, BACVarians, indeks kinerja, dan proyeksi biaya selesai
Analisis risikoProbabilitas dan dampak risikoDaftar risiko, peluang, dampakPrioritas risiko dan strategi mitigasi
Simulasi Monte CarloKetidakpastian biaya atau waktuDistribusi probabilitas durasi/biayaPeluang tercapainya target dan kebutuhan kontinjensi
Analisis produktivitasEfisiensi sumber dayaOutput, jam kerja, alat, bahanProduktivitas aktual dan kebutuhan sumber daya
Analisis mutuKesesuaian hasil pekerjaanHasil inspeksi, pengujian, spesifikasiStatus mutu serta tindakan korektif
Analisis kelayakan ekonomiManfaat finansial investasiBiaya investasi, arus kas, manfaat proyekNPV, IRR, BCR, dan periode pengembalian

Metode-Metode Analisis dalam Manajemen Konstruksi (1)

Metode-metode analisis dalam manajemen konstruksi digunakan untuk mengubah data proyek—seperti volume pekerjaan, durasi, biaya, produktivitas, mutu, dan risiko—menjadi dasar pengambilan keputusan. Analisis tersebut membantu manajer konstruksi mengidentifikasi penyimpangan sejak dini, memperkirakan dampaknya terhadap waktu dan biaya, serta menentukan tindakan pengendalian yang tepat.

Konsep dasar

Dalam proyek konstruksi, pengambilan keputusan tidak cukup didasarkan pada pengamatan lapangan atau pengalaman semata. Proyek bersifat kompleks karena melibatkan banyak aktivitas yang saling bergantung, sumber daya terbatas, kondisi lapangan yang berubah, kontrak, standar mutu, keselamatan kerja, serta risiko eksternal. Oleh sebab itu, manajemen konstruksi membutuhkan metode analisis yang sistematis untuk menjawab pertanyaan berikut:

  • Apakah proyek selesai sesuai jadwal?
  • Aktivitas mana yang paling berpotensi menyebabkan keterlambatan?
  • Apakah biaya aktual masih sesuai anggaran?
  • Berapa estimasi biaya dan waktu hingga proyek selesai?
  • Risiko apa yang paling dominan dan bagaimana prioritas mitigasinya?
  • Apakah mutu pekerjaan telah memenuhi spesifikasi teknis?
  • Apakah produktivitas tenaga kerja, alat, dan material berada pada tingkat yang direncanakan?

Secara umum, metode analisis dalam manajemen konstruksi dapat dikelompokkan menjadi analisis waktu, biaya, kinerja terintegrasi, risiko, sumber daya, mutu, serta kelayakan ekonomi. Kombinasi berbagai metode lebih bermanfaat daripada menggunakan satu metode secara terpisah karena proyek konstruksi selalu memiliki keterkaitan antara waktu, biaya, mutu, risiko, dan sumber daya.

Manajemen Konstruksi (11)

Kesimpulan

Manajemen konstruksi adalah pendekatan manajerial yang memastikan proyek konstruksi dapat diwujudkan secara efektif, efisien, aman, bermutu, dan sesuai tujuan pemilik proyek. Keberhasilannya bergantung pada kemampuan mengintegrasikan pengelolaan lingkup, waktu, biaya, mutu, keselamatan, sumber daya, pengadaan, risiko, komunikasi, dan kontrak sepanjang siklus hidup proyek.

Dengan demikian, manajemen konstruksi tidak dapat dipandang hanya sebagai kegiatan pengawasan pekerjaan fisik. Manajemen konstruksi merupakan proses pengendalian strategis dan operasional yang menentukan apakah suatu proyek mampu memberikan nilai, fungsi, dan manfaat yang diharapkan bagi pemilik maupun pengguna akhir.

Manajemen Konstruksi (10)

Tantangan kontemporer

Manajemen konstruksi modern menghadapi kompleksitas yang semakin besar. Tantangannya tidak hanya terkait pekerjaan teknis di lapangan, tetapi juga perubahan desain, volatilitas harga material, kelangkaan tenaga kerja terampil, gangguan rantai pasok, tuntutan keberlanjutan, risiko keselamatan, digitalisasi, dan konflik kontraktual.

Penerapan teknologi seperti Building Information Modeling (BIM), perangkat lunak penjadwalan, sistem pelaporan berbasis cloud, drone, sensor lapangan, dan analisis data dapat meningkatkan akurasi koordinasi serta kecepatan pengambilan keputusan. Namun, teknologi tersebut hanya efektif apabila didukung oleh kompetensi sumber daya manusia, tata kelola data, komunikasi lintas pihak, dan komitmen organisasi terhadap pengendalian proyek.

Kajian mutakhir juga menunjukkan bahwa ruang lingkup manajemen konstruksi mencakup isu mikro pada tingkat proyek—seperti studi kelayakan, perencanaan biaya, penjadwalan, penilaian risiko, produktivitas, dan jaminan mutu—serta isu makro pada industri konstruksi, seperti standar, kontrak, rantai pasok, produktivitas tenaga kerja, keselamatan, dan pengelolaan informasi bangunan (Shen et al., 2019)

Manajemen Konstruksi (9)

Peran manajer konstruksi

Manajer konstruksi bertindak sebagai koordinator utama antara kepentingan teknis, biaya, waktu, mutu, keselamatan, dan kontrak. Ia bukan hanya pengawas lapangan, tetapi juga pengambil keputusan yang harus mampu mengintegrasikan berbagai disiplin, termasuk teknik sipil, arsitektur, mekanikal-elektrikal, keuangan, hukum kontrak, pengadaan, keselamatan kerja, dan manajemen risiko.

Peran utama manajer konstruksi mencakup:

  • Menyusun rencana pelaksanaan proyek dan strategi pengendalian.
  • Mengoordinasikan pekerjaan kontraktor, subkontraktor, konsultan, serta pemasok.
  • Memastikan ketersediaan sumber daya sesuai jadwal kebutuhan proyek.
  • Memantau kemajuan pekerjaan dan menyusun laporan kepada pemilik proyek.
  • Menjaga kesesuaian pekerjaan terhadap desain, spesifikasi, kontrak, dan regulasi.
  • Mengidentifikasi potensi risiko dan menyusun langkah mitigasi.
  • Menangani perubahan pekerjaan, keterlambatan, klaim, serta konflik antarpihak.
  • Membangun komunikasi dan mekanisme penyelesaian masalah yang efektif.

Dalam konteks profesional, manajer konstruksi membantu pemilik proyek mengoptimalkan hasil proyek melalui keahlian pada tahap praperencanaan, desain, konstruksi, rekayasa, dan manajemen, termasuk pengelolaan dana, lingkup, jadwal, kompetensi kontraktor, mutu pekerjaan, pengadaan, perubahan, dan potensi sengketa (APPA, 2021)

Manajemen Konstruksi (8)

5. Tahap penutupan proyek

Penutupan proyek meliputi pemeriksaan akhir pekerjaan, penyelesaian daftar cacat atau punch list, pengujian dan komisioning, serah terima pekerjaan, penyusunan gambar as-built, penyerahan manual operasi dan pemeliharaan, penyelesaian administrasi kontrak, serta evaluasi pembelajaran proyek.

Tahap ini penting karena proyek belum dapat dianggap berhasil hanya karena pekerjaan fisik telah selesai. Hasil proyek harus dapat dioperasikan sesuai fungsinya, memenuhi persyaratan mutu, memiliki dokumen yang lengkap, dan tidak menyisakan persoalan kontraktual yang substansial.

Manajemen Konstruksi (7)

4. Tahap pengendalian dan evaluasi

Pengendalian merupakan proses membandingkan kinerja aktual dengan rencana proyek. Dalam dimensi waktu, pengendalian dapat dilakukan melalui jadwal pelaksanaan, kurva-S, metode lintasan kritis (Critical Path Method/CPM), dan evaluasi kemajuan mingguan. Dalam dimensi biaya, pengendalian dilakukan dengan membandingkan anggaran, biaya aktual, nilai pekerjaan yang telah diperoleh, serta proyeksi biaya sampai proyek selesai.

Untuk mutu, pengendalian dilakukan melalui inspeksi, pengujian material, pemeriksaan pekerjaan, dan verifikasi kesesuaian dengan spesifikasi. Adapun pengendalian keselamatan dilakukan melalui identifikasi bahaya, penilaian risiko, penggunaan alat pelindung diri, inspeksi K3, toolbox meeting, investigasi insiden, dan tindakan pencegahan. Manajer konstruksi juga bertanggung jawab memastikan kepatuhan terhadap perizinan, standar bangunan, dan regulasi keselamatan yang berlaku.

Manajemen Konstruksi (6)

3. Tahap pelaksanaan konstruksi

Pada tahap konstruksi, manajemen berfokus pada pengoordinasian seluruh aktivitas lapangan. Kegiatan pentingnya mencakup mobilisasi, pelaksanaan pekerjaan sesuai metode kerja, pengawasan kemajuan, pemeriksaan kualitas, pengendalian biaya, pemantauan keselamatan kerja, koordinasi rapat proyek, serta pengelolaan perubahan desain atau pekerjaan tambahan.

Manajer konstruksi perlu membandingkan antara rencana dan realisasi secara berkala. Apabila terjadi deviasi, perlu dilakukan tindakan korektif, misalnya penyesuaian urutan kerja, percepatan pekerjaan, penambahan sumber daya, perbaikan metode kerja, atau negosiasi perubahan jadwal. Pengendalian proyek yang efektif membutuhkan data lapangan yang akurat, seperti laporan harian, volume pekerjaan, produktivitas tenaga kerja, pemakaian material, kondisi cuaca, status pengadaan, dan dokumentasi mutu.

Manajemen Konstruksi (5)

2. Tahap perencanaan dan pengadaan

Pada tahap ini dilakukan penyusunan dokumen teknis dan administratif, seperti gambar kerja, spesifikasi teknis, RAB, jadwal induk, syarat-syarat kontrak, dokumen tender, dan rencana mutu. Selanjutnya, pemilik memilih kontraktor, subkontraktor, maupun pemasok sesuai metode pengadaan yang digunakan.

Pemilihan kontraktor tidak seharusnya hanya berorientasi pada penawaran harga terendah. Pertimbangan lain meliputi kapasitas teknis, pengalaman proyek sejenis, kemampuan keuangan, sumber daya peralatan, rekam jejak mutu, kinerja keselamatan, dan kapasitas manajerial. Pengadaan yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko keterlambatan, mutu rendah, dan kegagalan kontraktual.

Manajemen Konstruksi (4)

Tahapan manajemen konstruksi

1. Tahap pra-konstruksi

Tahap pra-konstruksi dilakukan sebelum pekerjaan fisik dimulai. Kegiatan utamanya meliputi studi kelayakan, identifikasi kebutuhan pemilik, survei lokasi, penetapan konsep desain, penyusunan estimasi awal, analisis risiko, perencanaan metode pelaksanaan, strategi pengadaan, serta penyusunan jadwal awal proyek.

Pada tahap ini, keputusan yang diambil sangat menentukan kinerja proyek berikutnya. Kesalahan dalam menentukan lingkup, desain, estimasi biaya, atau kondisi lapangan dapat menyebabkan perubahan pekerjaan, keterlambatan, dan pembengkakan biaya saat konstruksi berlangsung. Oleh sebab itu, manajer konstruksi perlu menilai kelayakan desain dari aspek keterbangunan (constructability), yaitu sejauh mana desain dapat dilaksanakan secara aman, efisien, ekonomis, dan sesuai kondisi lapangan.

Manajemen Konstruksi (3)

Fungsi utama

FungsiUraian kegiatanContoh output
FungsiUraian kegiatanContoh output
Manajemen lingkupMenetapkan batas pekerjaan, kebutuhan proyek, spesifikasi, dan kriteria keberhasilanScope of work, WBS, dokumen spesifikasi
Manajemen waktuMenyusun urutan kerja, durasi aktivitas, ketergantungan pekerjaan, dan pengendalian kemajuanKurva-S, CPM, network planning, jadwal mingguan
Manajemen biayaMengestimasi biaya, menetapkan anggaran, memantau realisasi, dan mengendalikan deviasiRAB, cash flow, laporan biaya, analisis nilai hasil
Manajemen mutuMenetapkan standar mutu serta melakukan penjaminan dan pengendalian mutuITP, checklist, hasil uji material, laporan inspeksi
Manajemen sumber dayaMerencanakan dan mengalokasikan tenaga kerja, material, alat, dana, dan teknologiJadwal tenaga kerja, material schedule, rencana alat
Manajemen pengadaanMenentukan strategi tender, seleksi kontraktor, pembelian material, serta administrasi kontrakDokumen tender, kontrak, PO, evaluasi pemasok
Manajemen risikoMengidentifikasi, menilai, merespons, dan memantau risiko proyekRisk register, rencana mitigasi, kontinjensi
Manajemen K3Mengendalikan potensi kecelakaan, penyakit akibat kerja, dan kondisi kerja tidak amanHSE plan, toolbox meeting, laporan insiden
Manajemen komunikasiMenjamin aliran informasi, rapat koordinasi, pelaporan, dan dokumentasi keputusanNotulen rapat, laporan kemajuan, RFI, laporan harian
Manajemen kontrak dan klaimMengawasi kesesuaian kewajiban para pihak, perubahan pekerjaan, pembayaran, dan potensi sengketaChange order, addendum, dokumen klaim

Dalam praktiknya, fungsi-fungsi tersebut saling terkait. Misalnya, keterlambatan pengadaan baja tulangan dapat menghambat pekerjaan struktur. Hambatan itu berpotensi menyebabkan keterlambatan jadwal, biaya tambahan tenaga kerja dan alat, risiko penurunan mutu akibat pekerjaan yang terburu-buru, serta perselisihan mengenai tanggung jawab keterlambatan. Oleh karena itu, manajemen konstruksi harus bekerja secara integratif, bukan secara parsial.

Manajemen Konsrtuksi (2)

Tujuan dan sasaran

Tujuan utama manajemen konstruksi adalah menghasilkan fasilitas atau bangunan yang sesuai dengan desain, spesifikasi teknis, anggaran, jadwal, dan ketentuan keselamatan yang telah ditetapkan. Keberhasilan proyek tidak semata-mata dinilai dari selesainya pekerjaan secara fisik, tetapi juga dari kemampuan proyek menghindari pembengkakan biaya, keterlambatan, kecelakaan kerja, cacat mutu, konflik kontraktual, dan perubahan pekerjaan yang tidak terkendali.

Secara lebih rinci, sasaran manajemen konstruksi meliputi:

  • Menyelesaikan proyek sesuai lingkup pekerjaan dan kebutuhan pengguna.
  • Mengendalikan biaya agar realisasi pengeluaran tidak melampaui anggaran yang disetujui.
  • Menjamin penyelesaian pekerjaan sesuai jadwal atau target waktu proyek.
  • Memastikan kualitas pekerjaan sesuai gambar kerja, spesifikasi, standar teknis, dan regulasi.
  • Mengelola risiko teknis, finansial, operasional, lingkungan, hukum, dan keselamatan kerja.
  • Menjamin ketersediaan tenaga kerja, material, alat, dana, dan informasi pada waktu yang tepat.
  • Menciptakan koordinasi dan komunikasi yang efektif antara pemilik, perencana, kontraktor, subkontraktor, dan pemasok.
  • Menyelesaikan perubahan pekerjaan, klaim, sengketa, dan masalah lapangan secara cepat serta terdokumentasi.

Enam area layanan inti yang umum digunakan dalam manajemen konstruksi adalah lingkup, biaya, waktu atau jadwal, mutu, keselamatan, dan fungsi proyek (CMAA, 2026).

Manajemen konstruksi (1)

Manajemen konstruksi adalah proses profesional untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengoordinasikan, mengendalikan, dan mengevaluasi sumber daya proyek konstruksi sejak tahap gagasan sampai penyerahan hasil pekerjaan. Fokusnya bukan hanya memastikan bangunan selesai, tetapi memastikan proyek memenuhi lingkup, waktu, biaya, mutu, keselamatan, fungsi, persyaratan kontrak, dan kepuasan para pemangku kepentingan (Construction Management Association of America [CMAA], 2026).cmaanet

Pengertian manajemen konstruksi

Secara konseptual, manajemen konstruksi merupakan penerapan prinsip-prinsip manajemen proyek pada pekerjaan pembangunan fisik—misalnya gedung, jalan, jembatan, bendungan, perumahan, fasilitas industri, dan infrastruktur publik. Kegiatan tersebut mencakup integrasi proses perencanaan, desain, pengadaan, pelaksanaan konstruksi, pengawasan, hingga penutupan proyek agar semua komponen berjalan secara sistematis dan saling terkoordinasi.

Manajemen konstruksi dapat dipahami sebagai sistem pengelolaan yang menghubungkan pemilik proyek (owner), konsultan perencana, konsultan pengawas, kontraktor utama, subkontraktor, pemasok material, tenaga kerja, serta pemerintah atau regulator. Dalam posisi ini, manajer konstruksi harus menerjemahkan kebutuhan pemilik proyek menjadi rencana kerja yang realistis, terukur, dan dapat dikendalikan. Karena itu, manajemen konstruksi tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, melainkan juga pada pengambilan keputusan strategis sejak tahap pra-konstruksi.

Menurut CMAA, manajemen konstruksi adalah layanan profesional kepada pemilik proyek untuk mengelola jadwal, biaya, mutu, keselamatan, lingkup, dan fungsi proyek secara efektif (CMAA, 2026). Sejalan dengan itu, pengelolaan proyek konstruksi menuntut pengintegrasian sumber daya manusia dan material sepanjang siklus hidup proyek untuk mencapai sasaran ruang lingkup, biaya, waktu, mutu, serta kepuasan pihak-pihak yang terlibat (Hendrickson, 2008).

Time Cost Trade Off (skripsi dan tesis)

 Dalam pelaksanaan sebuah proyek, ada beberapa alasan yang dapat menjadi dasar untuk melakukan pengurangan durasi waktu dari sebuah proyek. Salah satu alasan yang paling umum adalah adanya sesuatu yang dikenal sebagai “Imposed Project Duration Date/Tanggal Waktu Proyek Terbebani”. Imposed Project Duration Date ini terjadi karena adanya pernyataan dari manajer perusahaan ataupun pimpinan suatu pemerintahan kepada masyarakat bahwa proyek yang sedang dilaksanakan oleh timnya akan selesai pada suatu waktu yang ditentukan. Disamping alasan imposed project duration di atas, alasan seperti adanya tekanan persaingan global, pemberian insentif kepada pelaksana proyek jika proyek selesai lebih cepat, dan kemungkinan terjadinya sebabsebab yang tidak terduga seperti gangguan cuaca, kesalahan perancangan awal, serta kerusakan mesin dan peralatan dapat menjadi sebab mengapa durasi penyelesaian proyek harus dikurangi. Akan tetapi dalam upaya
 pengurangan durasi proyek ini, manajer proyek akan dihadapkan pada kondisi trade off antara munculnya biaya yang lebih tinggi dari apa yang telah diperkirakan sebelumnya. Dalam proses mempercepat penyelesaian proyek dengan melakukan penekanan waktu aktivitas, diusahakan agar pertambahan biaya yang ditimbulkan seminimal mungkin. Disamping itu harus diperhatikan pula bahwa penekanannya hanya dilakukan pada aktivitas-aktivitas yang ada pada lintasan kritis. Apabila penekanan dapat dilakukan pada aktivitas-aktivitas yang tidak berada di lintasan kritis, maka waktu penyelesaian keseluruhan tidak akan berkurang. Penekanan dilakukan lebih dahulu pada aktivitas-aktivitas yang mempunyai cost slope terendah pada lintasan kritis.

Cost Slope (skripsi dan tesis)

 Pada dasarnya perlu dicari kegiatan kritis yang akan dipercepat yang memiliki peningkatan biaya per satuan waktu yang terkecil. Alasan untuk pemilihan kegiatan kritis tergantung pada pengidentifikasian kegiatan-kegiatan dengan waktu normal dan waktu pacu (crash time) dan biaya yang berhubungan dengannya. Waktu normal untuk kegiatan menunjukkan biaya yang rendah, realistis, penggunaan metode penyelesaian yang efisien dalam kondisi yang normal. Percepatan waktu suatu kegiatan disebut crashing. Waktu penyelesaian kegiatan tercepat yang mungkin untuk dicapai disebut dengan crash time dan biayanya disebut dengan crash cost. Biaya yang berhubungan dengan waktu normal dan waktu pacu ini dikumpulkan dari personil yang familiar dengan penyelesaian kegiatan yang bersangkutan.

Perpotongan antara waktu normal dan biayanya menunjukkan biaya dasar yang rendah, dan dimulainya jadwal. Titik pacu (crash point) menunjukkan waktu maksimum sebuah kegiatan dapat dipercepat. Garis tebal menunjukkan kemiringan (slope), yang mengasumsikan biaya pengurangan waktu kegiatan yang konstan tiap satuan waktu. Dengan mengetahui kemiringan kegiatan, manajer akan dapat lebih mudah membandingkan kegiatan kritis mana yang akan dipercepat. Perbandingan kemiringan dari semua kegiatan kritis memudahkan kita untuk menentukan kegiatan mana yang akan dipercepat dalam rangka meminimalisasi total biaya langsung. (Nurhayati, 2010)

Kegiatan Semu (dummy) (skripsi dan tesis)

Kegiatan semu berfungsi sebagai penghubung, tidak membutuhkan sumber daya maupun waktu penyelesaian. Aktivitas semu diperlukan karena tidak boleh ada dua aktivitas mulai dari simpul yang sama dan berakhir pada simpul lain yang sama juga. Aktivitas semu digambarkan sebagai anak panah putus-putus. (Santosa, 2009)

Penyusunan Jaringan Kerja CPM (skripsi dan tesis)

Untuk membuat jaringan kerja, harus diketahui dahulu semua kegiatan yang terjadi pada suatu proyek, waktu (durasi) setiap kegiatan, dan ketergantungan antar kegiatan (kegiatan pendahulu/predecessors dan kegiatan pengikut/successors). Urutan-urutan logis seluruh proyek harus diketahui secara baik. Setiap kegiatan harus diketahui kegiatan pendahulu serta kegiatan pengikutnya. Dengan demikian, jaringan kerja dapat terbentuk sejak awal proyek sampai dengan akhir proyek. Untuk dapat menjadwal dengan metode CPM, ada beberapa hal ynag perlu diketahui, yaitu elemen-elemen CPM.

a. Anak panah (arrow), kegiatan (activity), job

 • Anak panah menunjukkan hubungan antara kegiatan, dan juga dicantumkan durasi. • Sebuah anak panah mewakili satu kegiatan.

 • Awal busur panah dinyatakan sebagai permulaan kegiatan dan mata panah sebagai akhir kegiatan. • Terdapat tiga jenis anak panah :
 Anak panah biasa menunjukkan suatu kegiatan yang dapat dikerjakan secara normal
 Anak panah tebal menunjukkan suatu kegiatan yang harus menjadi perhatian (kritis
) Anak panah putus-putus menunjukkan kegiatan dummy
 b. Lingkaran kecil (node), kegiatan/peristiwa, event Node pada CPM terbagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari nomor node, EET (Earliest LET Event Time), dan LET (Latest Event Time)

Critical Path Methode (CPM) (skripsi dan tesis)

Pada tahun 1958, perusahaan bahan-bahan kimia Du Pon Company (USA) memecahkan kesulitan-kesulitan dalam proses fabrikasi dengan menemukan metode Critical Path Methode (CPM). Dalam penentuan waktu, CPM dapat memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan setiap kegiatan dan dapat menentukan prioritas kegiatan yang harus mendapat perhatian pengawasan yang cermat agar kegiatan dapat selesai sesuai rencana. Metode CPM lebih terkenal dengan istilah 18 lintasan kritis. Metode tersebut memungkinkan terbentuknya suatu jalur atau lintasan yang memerlukan perhatian khusus (kritis). Tujuan lintasan kritis adalah untuk mengetahui dengan cepat kegiatan-kegiatan yang tingkat kepekaannya tinggi terhadap keterlambatan pelaksanaan sehingga setiap saat dapat ditentukan tingkat prioritas kebijaksanaan penyelenggara proyek apabila kegiatan tersebut terlambat. Metode ini sangat bermanfaat dalam perencanaan dan pelaksanaan pengawasan pembangunan suatu proyek. Banyak masalah yang dapat diatasi dengan penggunaan metode lintasan kritis, sehingga sistem ini merupakan metode yang paling banyak dipergunakan diantara semua sistem yang memakai prinsip pembentukan jaringan. Dengan teknik CPM penyusunan jaringan kerja diidentifikasikan ke arah kegiatan serta menggunakan “simple time estimates” sebagai waktu pelaksanaan. Para pemakai teknik CPM dianggap mempunyai dasar yang kuat sebagai landasan untuk melaksanakan setiap kegiatan. Di samping itu di dalam proses perencanaan dan pengawasan dengan sistem ini turut diperhitungkan dan dimasukkan konsep biaya yang lebih mendetail sehingga memungkinkan pelaksanaan pembangunan proyek lebih singkat dan ekonomis. (Nurhayati, 2010) Manfaat dari penerapan CPM pada perencanaan adalah sebagai berikut : • Dalam merencanakan dan menganalisa suatu kegiatan proyek dengan metode CPM, perencana proyek harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat mengantisipasi kesulitan dalam pelaksanaan kegiatan. • Dalam penyelesaian jalur kritis dan yang bukan kritis ditunjukkan dengan jelas dengan diagram CPM, sehingga dapat mengatur pelaksanaan kegiatan. • Adanya komunikasi antara pelaksana konstruksi dengan lebih jelas.

Indirect Cost (skripsi dan tesis)

Biaya tidak langsung (indirect cost) adalah biaya yang tidak secara langsung berhubungan dengan konstruksi, tetapi harus ada dan tidak dapat dilepaskan dari proyek tersebut. (Frederika, 2010) Biaya tidak langsung secara umum menunjukkan biaya-biaya overhead seperti pengawasan, administrasi, konsultan, bunga, dan biaya lain-lain/biaya tak terduga. Biaya tidak langsung tidak dapat dihubungkan dengan paket kegiatan dalam proyek. Biaya tidak langsung secara langsung bervariasi dengan waktu, oleh karena itu pengurangan waktu akan menghasilkan pengurangan dalam biaya tidak langsung.

Direct Cost Konstruksi (skripsi dan tesis)

Biaya langsung secara umum menunjukkan biaya tenaga kerja, bahan, peralatan, dan kadang-kadang juga biaya subkontraktor. Biaya langsung akan bersifat sebagai biaya normal apabila dilakukan dengan metode yang efisien, dan dalam waktu normal proyek. Biaya untuk durasi waktu yang dibebankan (imposed duration date) akan lebih besar dari biaya untuk durasi waktu yang normal, karena biaya langsung diasumsikan dikembangkan dari metode dan waktu yang normal sehingga pengurangan waktu akan menambah biaya dari kegiatan proyek. Total waktu dari semua paket kegiatan dalam proyek menunjukkan total biaya langsung untuk  keseluruhan proyek. Proses ini membutuhkan pemilihan beberapa kegiatan kritis yang mempunyai biaya percepatan terkecil

Analisa Harga Satuan Konstruksi (skripsi dan tesis)

Analisa harga satuan berfungsi sebagai pedoman awal perhitungan rencana anggaran biaya yang didalamya terdapat angka yang menunjukan jumlah material, tenaga dan biaya persatuan pekerjaan. Untuk mendapatkan daftar harga baik bahan maupun upah dapat diperoleh melalui berbagai media antara lain : • Daftar harga yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah setempat. • Daftar harga yang dikeluarkan oleh instansi tertentu. • Jurnal-jurnal harga bahan dan upah. • Bapenas • Survei harga di lokasi proyek. Setelah daftar harga diperoleh kemudian dilakukan analisa harga satuan pekerjaan yang dapat dilakukan dengan perhitungan ataupun dengan menggunakan buku analisa BOW ataupun SNI untuk mendapatkan harga koefisien masing-masing pekerjaan, sehingga kemudian akan dapat dilakukan perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Perhitungan Volume Konstruksi (skripsi dan tesis)

Perhitungan volume pekerjaan adalah bagian paling esensial dalam tahap perencanaan proyek konstruksi. Pengukuran kuantitas/volume pekerjaan konstruksi merupakan suatu proses pengukuran/perhitungan terhadap kuantitas item-item pekerjaan berdasarkan pada gambar atau aktualisasi pekerjaan di lapangan. Dengan mengetahui jumlah volume  pekerjaan maka akan diketahui berapa banyak biaya yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek konstruksi tersebut.

Rencana Anggaran Biaya (skripsi dan tesis)

 

Sebelum proyek dimulai, terlebih dahulu diperkirakan secara cermat biaya yang akan dikeluarkan dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang memuat real cost dari proyek yang dikerjakan. Rencana Anggaran Biaya (RAB) adalah perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan proyek. RAB memuat keseluruhan item pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kontraktor dan diperinci lagi sehingga RAB juga berisi volume pekerjaan, kebutuhan bahan bangunan dan peralatan, alokasi dan upah tenaga kerja serta pengeluaran lainnya. Dari real cost ini kemudian ditentukan harga borongan untuk lelang. Anggaran biaya pada bangunan yang sama akan berbeda-beda di masing-masing daerah, disebabkan karena perbedaan harga bahan dan upah tenaga kerja. RAB merupakan jumlah dari RAP (Rencana Anggaran Pelaksanaan) dan keuntungan. RAP terdiri dari biaya langsung (direct cost) dan biaya tidak langsung (indirect cost). Setelah proyek berjalan, setiap pengeluaran yang terjadi dicatat sesuai dengan butir-butir yang ada dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan dijadikan Realisasi Biaya Pekerjaan (RBP). Jumlah penggunaan dana proyek dalam RBP ini seharusnya lebih kecil atau paling tidak sama dengan yang tercantum dalam RAB, agar didapat keuntungan perusahaan. Namun dalam usaha memperoleh keuntungan ini mestinya tidak mengurangi kualitas dan kuantitas hasil kerja. Oleh karena itu dibutuhkan suatu pengendalian biaya untuk mencapai tujuan tersebut.

Kurva S (skripsi dan tesis)

 Kurva S pertama kali dikembangkan atas dasar pengamatan terhadap pelaksanaan sejumlah proyek dari awal hingga selesai. (http://hansenkammer.wordpress.com/2011/05/05/metode-penjadwalan proyek/) Kurva S secara grafis adalah penggambaran kemajuan kerja (bobot %) kumulatif pada sumbu vertikal terhadap waktu pada sumbu horizontal. Bobot kegiatan adalah nilai persentase proyek dimana penggunaannya dipakai untuk mengetahui kemajuan proyek tersebut. Kemajuan kegiatan biasanya diukur terhadap jumlah uang yang telah dikeluarkan oleh proyek. Pembandingan kurva S rencana dengan kurva pelaksanaan memungkinkan dapat diketahuinya kemajuan pelaksanaan proyek apakah sesuai, lambat, ataupun lebih dari yang direncanakan. (Luthan & Syafriandi, 2006) Adapun fungsi kurva S adalah sebagai berikut :
 a. Menentukan waktu penyelesaian proyek.
 b. Menentukan waktu penyelesaian bagian proyek.
 c. Menentukan besarnya biaya pelaksanaan proyek.
d. Menentukan waktu untuk mendatangkan material dan alat yang akan dipakai

Definisi Proyek (skripsi dan tesis)

Sebuah proyek merupakan suatu upaya atau aktivitas yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran, dan harapan-harapan penting dengan menggunakan anggaran dana serta sumber daya yang tersedia, yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. (Nurhayati, 2010) Dari definisi proyek di atas, terlihat bahwa ciri pokok proyek adalah : a. Memiliki tujuan yang khusus, produk akhir atau hasil kerja akhir. b. Jumlah biaya, sasaran jadwal serta kriteria mutu dalam proses mencapai tujuan telah ditentukan. c. Bersifat sementara, dalam arti umurnya dibatasi oleh selesainya tugas. Titik awal dan akhir ditentukan dengan jelas. d. Nonrutin, tidak berulang-ulang. Jenis dan intensitas kegiatan berubah sepanjang proyek berlangsung.

Manajemen Konstruksi (skripsi dan tesis)

Manajemen konstruksi (construction management) adalah bagaimana agar
sumber daya yang terlibat dalam proyek konstruksi dapat diaplikasikan oleh manajer proyek secara tepat. Sumber daya dalam proyek konstruksi dapat dikelompokkan menjadi manpower, material, machines, money, method.
Manajemen pengelolaan setiap proyek konstruksi sipil meliputi delapan fungsi dasar manajemen (Ervianto, 2002), yaitu: Penetapan tujuan (goal setting), Perencanaan (planning), Pengorganisasian (organizing), Pengisian staff (staffing), Pengarahan (directing), Pengawasan  (supervising), Pengendalian (controling) dan Koordinasi (coordinating)

Pengertian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)

Sebagaimana kita ketahui dalam suatu perusahaan yang bergerak di bidang
konstruksi memiliki organisasi yang  terstruktur secara utuh dan menyeluruh akan terdiri dari bagian-bagian yang saling berinteraksi baik secara fisik seperti halnya pimpinan, pelaksana pekerjaan, ahli, material / bahan, dana, informasi, pemasaran dan pasar itu sendiri. Mereka saling bahu-membahu
melaksanakan berbagai macam kegiatan yang dilakukan dalam suatu proses pekerjaan yang saling berhubungan karena adanya interaksi dan ketergantungan, segala aktivitas dalam sebuah perusahaan menunjukan adanya sistem didalam-nya. Dengan demikian disimpulkan, bahwa pengertian tentang sistem adalah suatu proses dari gabungan berbagai komponen /
unsur / bagian / elemen yang saling berhubungan, saling berinteraksi dan saling ketergantungan satu sama lain yang dipengaruhi oleh aspek lingkungan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai (Tarore dan Mandagi, 2006).
Manajemen merupakan suatu ilmu pengetahuan tentang seni memimpin
organisasi yang terdiri atas kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian terhadap sumber-sumbar daya yang terbatas dalam usaha mencapai tujuan dan sasaran yang efektif dan efisien
(Abrar Husein, 2008). Secara sistematis fungsi manajemen menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk itu perlu diterapkan fungsi-fungsi dalam manaje-men itu sendiri seperti perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengawasan dan pengendalian (controlling).
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ditinjau dari segi keilmuan dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan dan penerapan mencegah kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Penerapan K3 dijabarkan ke dalam Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang disebut SMK3
(Soemaryanto, 2002). Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang disebut SMK3 adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan,
prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan K3 dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif (Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor. 09 / PER / M / 2008) Menurut Peraturan Menteri No PER. 05 /
MEN /1996, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) adalah bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan prosedur, proses
dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan
kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.
Manfaat penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) bagi perusahaan menurut Tarwaka (2008)
adalah:
1. Pihak manajemen dapat mengetahui kelemahan-kelemahan unsur sistem
operasional sebelum timbul gangguan operasional, kecelakaan, insiden dan
kerugian-kerugian lainnya.
2. Dapat diketahui gambaran secara jelas dan lengkap tentang kinerja K3 di perusahaan.
3. Dapat meningkatkan pemenuhan terhadap peraturan perundangan bidang K3.
4. Dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kesadaran tentang K3,
khususnya bagi karyawan yang terlibat dalam pelaksanaan audit.
5. Dapat meningkatkan produktivitas kerja.

Peraturan dan prosedur keselamatan kerja (skripsi dan tesis)

Peraturan dan prosedur keselamatan kerja merupakan salah satu faktor yang dapat meminimalisasi kecelakaan yang diakibatkan adanya kondisi tidak
aman (Pipitsupaphol, 2003) karena dapat memberikan gambaran dan batasan yang jelas terhadap penerapan program keselamatan kerja pada proyek konstruksi. Mohamed (2002) mengungkapkan bahwa peraturan dan prosedur keselamatan kerja yang diterapkan oleh perusahaan hendaknya mudah dipahami dan tidak sulit untuk diterapkan pada proyek konstruksi, ada sangsi
yang tegas bila peraturan dan prosedur keselamatan kerja dilanggar, dan ada perbaikan secara berkala sesuai dengan kondisi proyek konstruksi.
Permasalahan yang sering muncul adalah perusahaan menerapkan peraturan dan prosedur yang tidak sesuai dengan keadaan proyek konstruksi, maupun sulit diterapkan pada pekerjaan, sehingga hal tersebut mendorong pekerja untuk melanggar peraturan dan prosedur keselamatan kerja yang telah ditetapkan oleh perusahaan

Komitmen top manajemen (skripsi dan tesis)

Menurut Reason (1997), program keselamatan kerja hendaklah dimulai dari awal, dalam hal ini dimulai dari tingkat teratas organisasi (top management)
perusahaan tersebut. Untuk memulai program keselamatan kerja, top management dapat merumuskan suatu kebijakan yang menunjukkan
komitmen terhadap masalah keselamatan kerja. Langkah awal ini selanjutnya akan menentukan pengambilan kebijakan berikutnya dalam hal
keselamatan kerja. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya (Cheyne et al., 1998; Mohamed 2002; Pipitsupaphol, 2003) menunjukkan bahwa faktor
komitmen merupakan salah satu faktor utama budaya keselamatan kerja, dimana tanpa dukungan dari pihak manajemen sangatlah sulit untuk mencapai
keberhasilan dalam menjalankan program keselamatan kerja

Budaya keselamatan kerja (skripsi dan tesis)

Budaya keselamatan kerja merupakan salah satu komponen penting dari budaya organisasi yang membahas keselamatan kerja individu, pekerjaan dan
hal-hal yang diutamakan oleh organisasi mengenai keselamatan kerja. Budaya keselamatan kerja menurut Uttal (1983) merupakan gabungan dari nilainilai dan kepercayaan-kepercayaan yang berinteraksi dengan struktur organisasi dan sistem pengendalian yang membentuk norma-norma perilaku (dikutip dari
Cooper, 2000). Sedangkan menurut Turner (1992), budaya keselamatan kerja merupakan kumpulan kepercayaan, norma, sikap, peraturan dan  praktek-praktek sosial serta teknis yang ditujukan untuk mengurangi kondisi yang dapat membahayakan pekerja, manajer, pelanggan dan anggota masyarakat.

Perilaku pekerja terhadap keselamatan kerja (skripsi dan tesis)

Perilaku tidak aman pekerja dapat berupa kesalahan atau kelalaian yang dilakukan manusia. Reason (1990) membagi perilaku ini menjadi tiga tingkatan, yaitu: skill-based error, kesalahan yang berhubungan dengan keahlian dan kebiasaan pekerja; rule-based error, kesalahan dalam memenuhi standard dan prosedur yang berlaku; dan knowledge-based error,
kesalahan dalam mengambil keputusan karena kurangnya pengetahuan. Selain itu, Reason juga menambahkan violation atau pelanggaran sebagai
salah satu bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh pekerja.
Pada penelitian ini faktor perilaku pekerja terdiri dari delapan indikator, yaitu: (1) melaporkan kecelakaan yang terjadi, (2) mengingatkan pekerja lain tentang
bahaya dan keselamatan kerja, (3) menggunakan perlengkapan keselamatan kerja, (4) meletakkan material dan peralatan pada tempat yang ditentukan,
(5) mengikuti semua prosedur keselamatan kerja, (6) mengikuti semua instruksi dari atasan, (7) bergurau dengan rekan kerja waktu bekerja, (8) melakukan gerakan berbahaya seperti berlari, melempar, dan melompat.

Profil Produktivitas (skripsi dan tesis)

Dalam hubungan produktivitas dikenal pola umum yang
menggambarkan profil kecenderungan naik turunnya
produktivitas tenaga kerja (direct labor) selama tahap
kontruksi. Penjelasan lebih lanjut adalah sebagai
berikut :
1. Mobilisasi :Pada tahap awal ini yang berlangsung10-15% dari masa konstruksi, produktivitas berkurang (±10%). Hal ini karena para pekerja memerlukan masa pengenalan dan peyesuaian pekerjaan. juga pada masa menanjak (build up) sering kali sulit mengikuti secara tepat kenaikan jumlah kegiatan dengan kenaikan jumlah pekerja yang diperlukan sehingga menimbulkan pengaturan yang kurang efisien.
2. Periode Puncak :Pada masa ini dicapai produktivitas optimal, jumlah tenaga kerja tidak bertambah dan telah terbiasa dengan pekerjaan maupun kondisi medan atau lapangan yang dihadapi.
3. Periode Menurun : Pada masa menjelang akhir
konstruksi, produtivitas cenderung menurun,
terutama disebabkan oleh :
 Kurang tepatnya perencanaan. Misalnya masa kontrak kerja belum berakhir sadangkan pekerjaan sudah menipis, sehingga terjadi kelebihan tenaga kerja.
 Sikap mental atau semangat yang mengendur, karena melihat pekerjaan mulai berkurang dan belum tentu tersedia lapangan kerja yang berikutnya.
 Terlambatnya demobilisasi, sering dijumpai penyelia ingin menahan pekerja yang berlebihan dengan menunggu sampai hasil kerjanya meyakinkan

Tenaga Kerja Konstruksi (skripsi dan tesis)

Yang perlu ditinjau disini adalah produktivitas tenaga kerja : kualitas dan kuantitas kerja, efisiensi rencana kerja, jam kerja, kondisi lingkungannya dan lain-lain.
Berikut ini adalah fungsi dan tugas dari tenaga kerja berdasarkan keahliannya:
1. Mandor adalah orang yang mempunyai keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Mandor membawahi langsung
pekerja-pakerja atau tukang-tukang.
2. Kepala tukang adalah orang yang mempunyai keahlian dalam bidang pertukangan untuk jenis pekerjaan tertentu dan memberi petunjuk-petunjuk
kepada para tukang yang berhubungan dengan jenis pekerjaan tersebut.
3. Tukang adalah orang yang langsung mengerjakan pekerjaan dilapangan dalam bidang tertentu sesuai petunjuk kapala tukang. Orang-orang ini biasanya memiliki sedikit keterampilan.
4. Pekerja (Buruh) adalah orang yang membantu tukang atau kepala tukang untuk semua jenis pekerjaan tanpa harus memiliki keahlian atas
pekerjaan tertentu.
Produtivitas tenaga kerja mencerminkan manfaat tenaga kerja, intensitasnya menunjukkan jumlah kerja.Adapun pengertian produktivitas menurut ILO “penelitian kerja dan produktivitas” adalah perbandingan antara jumlah yang dihasilkan dan jumlah tiap sumber tenaga kerja yang dipakai selama produksi berlangsung. Secara umum dapat dikatakan bahwa produktivitas tenaga kerja
adalah volume pekerjaan yang dihasilkan oleh seorang pekerja atau oleh satu tim pekerja (kelompok pekerja) selama tenggang waktu tertentu.
Bila dilihat dari bentuk hubungan kerja antara pihak yang bersangkutan, maka tenaga kerja proyek khususnya tenaga kerja konstruksi dibedakan menjadi 2
yaitu:
a. Tenaga kerja borongan, tenaga kerja berdasarkan ikatan kerja yang ada antara perusahaan penyedia tenaga kerja (labour supplier) dengan kontraktor
untuk jangka waktu tertentu.
b. Tenaga kerja langsung (direct hire), tenaga kerja yang direkrut dan menandatangani ikatan kerja perorangan dengan perusahaan kontraktor.
Umumnya diikuti dengan latihan, sampai dianggap cukup memiliki kemampuan dan kecakapan dasar.
Produktivitas tenaga kerja besar pengaruhnya terhadap pelaksanaan proyek antara lain pada aspek jumlah tenaga kerja dan fasilitas yang diperlukan. Apabila pada suatu daerah tenaga kerja tersedia cukup banyak, biaya upah kerja menjadi murah sehingga pada situasi seperti ini adalah tidak memerlukan teknologi tinggi.

Keselamatan kerja (skripsi dan tesis)

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan
tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. (Ridley, 2004). Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan
baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat
makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah
kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. (Armanda, 2006).
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja. (Ramli, 2010). Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun
1992 Bagian 6 Tentang Kesehatan Kerja, pada Pasal 23 berisi:
1) Kesehatan kerja disenggelarakan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal.
2) Kesehatan kerja meliputi perlindungan kesehatan kerja, pencegahan penyakit akibat kerja, dan syarat kesehatan kerja.
3) Setiap tempat kerja wajib menyelenggarakan kesehatan kerja.
Kecelakaan adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tidak terduga oleh karena latar belakang peristiwa itu tidak terdapat adanya unsur kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan. Oleh karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai pada yang paling berat. (Austen dan Neale, 1991).

Faktor produktivitas tenaga kerja (skripsi dan tesis)

Menurut Iman Soeharto Variabel-variabel yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja lapangan dapat dikelompokan menjadi:
1. Kondisi fisik lapangan dan sarana bantu Kondisi fisik ini berupa iklim, musim, atau keadan cuaca. Misalnya adalah temperatur udara panas dan dingin, serta hujan dan salju. Pada daerah tropis dengan kelembaban udara yang tinggi dapat mempercepat rasa lelah tanaga kerja, sebaliknya di daerah dingin, bila musim salju tiba, produktivitas tanaga kerja lapangan akan menurun. Untuk kondisi fisik lapangan kerja seperti rawa- rawa, padang pasir atau tanah
berbatu keras, besar pengaruhnya terhadap produktivitas. Hal ini sama akan dialami di tempat kerja dengan keadaan khusus seperti dekat dengan unit yang sedang beroperasi, yang biasanya terjadi pada proyek perluasan instalasi yang telah ada, yang sering kali dibatasi oeh bermacam-macam peraturan keselamatan dan terbatasnya ruang gerak, baik untuk pekerja maupun peralatan. Sedangkan untuk kekurang lengkapnya sarana bantu seperti
peralatan akan menaikkan jam orang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Sarana bantu diusahakan siap pakai dengan jadwal pemeliharaan yang tepat.
2. Sistem manajemen proyek yang dimaksud dengan supervisi adalah segala sesuatu yang berhubungan langsung dengan tugas pengelolaan para tenaga kerja, memimpin para pekerja dalam pelaksanaan tugas, termasuk menjabarkan perencanaan dan pengendalian menjadi langkah-langkah pelaksanaan janngka pendek, serta mengkoordinasikan dengan rekan atau
penyelia lain yang terkait. Keharusan memilikki kecakapan memimpin anak buah bagi penyelia, bukanlah sesuatu hal yang perlu dipersoalkan lagi. Melihat lingkup tugas dan tanggung jawabnya terhadap pengaturan pekerjaan dan penggunaan tenaga kerja, maka kualitas penyelia besar pengaruhnya terhadap produktivitas secara menyeluruh
3. Skill dan pendidikan termasuk pengaruh faktor lingkungan dan keluarga terhadap pendidikan formal yang diambil tenaga kerja. Kemampuan tenaga kerja untuk menganalisis situasi yang terjadi dalam lingkup pekerjaannya dan sikap moral yang diambil pada keadaan tersebut.
4. Kesesuain upah dalam meningkatkan produktivitas karyawan dalam melaksanakan pekerjaan diperlukan adanya motivasi kepada para tenaga kerja, yaitu salah satunya dengan memperhatikan upah yang sesuai. Apabila upah tenaga kerja diabaikan oleh perusahaan maka akan menimbulkan
masalah bagi perusahaan, membuat malas para tenaga kerja, mogok kerja, atau melakukan usaha untuk pindah ke perusahaan lain. Tapi sebaliknya apabila perusahaan mempunyai upah dan kesejahteraan tenaga kerja yang direncanakan dengan baik maka itu dianggap faktor yang dapat
memotivasi tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas.
5. Kesehatan Pekerja
Penelitian menunjukan bahwa kesehatan pekerja juga mempengaruhi produktivitas tenaga kerja di lapangan, dalam arti semakin sehat atau pekerja dalam kondisi yang prima, dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja di lapangan.
6. Pengalaman
Kurva pengalaman atau yang sering dikenal dengan learning curve. Didasarkan atas asumsi bahwa seseorang atau sekelompok orang yang mengerjakan pekerjaan relatif sama dan berulang-ulang, maka akan memperoleh pengalaman dan peningkatan keterampilan.
7. Usia
Usia juga dapat mempengaruhi tingkat produktivitas tenaga kerja, karena didalam usia produktif kerja relatif memiliki tenaga yang lebih untuk meningkatkan produktivi

Material (skripsi dan tesis)

Pada pekerjaan pasangan dinding, material merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan karena sangat mempengaruhi nilai produktivitas. Dalam penelitian ini material dikategorikan jadi dua yaitu bata ringan, dan mortar. Keunggulan utama bata ringan ini terletak pada beratnya yang ringan (400-600 kg/m³), dapat dipotong dengan gergaji biasa, sambungan-sambungan dapat di rekatkan dengan mortar sehingga hasil dinding sangat rata dan teratur. Dari segi ekologi bata ringan ini dapat dinilai baik dalam daya menanggulangi bising dan panas yang tinggi.
Dilihat dari sejarahnya sebenarnya bata ringan bukanlah produk baru karena bata ringan ini ditemukan pada tahun 1923. Bata ringan untuk saat ini banyak dipakai di kawasan Eropa dan Asia. Untuk wilayah Amerika lebih dari 40% pembangunan menggunakan bata ringan. Keuntungan bata ringan yang mempunyai efisiensi sumber daya yang tinggi dalam penerapannya dilapangan berdasarkan hasil wawancara, bahwa dalam pemakaiannya material bata ringan ini sangat mempengaruhi disain struktur bangunan menjadi jauh lebih ringan, pemakaian tulangan yang lebih kecil dan berdampak pada pemakaian bahan-bahan lain yang jauh lebih hemat misalnya: Semen yang dipergunakan untuk pondasi, kolom, balok serta bagian lain dari bangunan yang memakai semen sebagai bahan utamanya menjadi berkurang banyak. Waste material (sisa material) menjadi lebih sedikit karena bata ringan ini tidak mudah pecah dan dikarenakan mempunyai bentuk yang dapat disesuaikan dengan keperluan di lapangan maka dalam penempatannya di lapangan pun lebih mudah untuk dipantau. Dalam bangunan tinggi pemakaian tower crane akan menimbulkan polusi udara yang berasal dari asap sisa pembuangan generator (genset), dan polusi suara yang ditimbulkan oleh generator itu sendiri.
Karena bata ringan mempunyai berat sepertiga dari bata, maka tower crane yang sama dapat mengangkut material bata ringan ini lebih banyak daripada bata biasa sehingga selain menghemat dalam bahan bakar juga mengurangi polusi udara dan suara yang ditimbulkan oleh generator tower crane tersebut.
Pemakaian tulangan yang lebih sedikit tentunya akan menghemat pemakaian bahan material besi tulangan yang akan dipakai secara keseluruhan untuk proyek dan tentunya secara tidak langsung mengurangi polusi udara dan suara yang dihasilkan dari proses pengolahan tulangan tersebut dilapangan (pengelasan, pemotongan)

Tahapan kegiatan pada siklus proyek (skripsi dan tesis)

Tahapan kegiatan pada siklus proyek dapat berbeda karena pola penanganan
dan pengelolaannya cukup berbeda. Siklus proyek menggambarkan urutan
langkah-langkah sejak proses awal hingga berakhirnya proyek. Tahapan
kegiatan dalam siklus proyek konstruksi adalah :
a. Tahap konseptual gagasan : tahapan ini terdiri atas kegiatan perumusan
gagasan, kerangka acuan, studi kelayakan awal, indikasi awal dimensi,
biya dan jadwal proyek.
b. Tahap studi kelayakan : studi kelayakan dengan tujuan mendapatkan
keputusan tentang kelanjutan investasi pada proyek yang akan
dilakukan. Informasi dan data dalam implementasi perencanaan
proyek lebih lengkap dari langkah di atas sehingga penentuan
dimensi dan biaya proyek lebih akurat lagi dengan tinjauan terhadap
aspek-aspek social, buadaya, ekonomi, finansial, legal, teknis dan
administrative yang lebih komprehensif.
c. Tahap detail desain : tahapan ini terdiri atas kegiatan, pendalaman
berbagai aspek persoalan, design engineering dan pengembangan,
pembuatan jadwal induk dan anggaran serta mentukan perencanaan
sumber daya, pembelian dini, penyiapan perangkap dan penentuan
peserta proyek dengan program lelang.
d. Tahap pengadaan : tahapan ini adalah memilih kontraktor pelaksana
dengan menyertakan dokumen perencanaan, aturan teknis
danadministrasi yang lengkap, produk tahapan detail desain. Dari
proses ini diperoleh penawaran yang kompetitif dari kontraktor
dengan tingkat akuntabilitas dan transparansi yang baik.
e. Tahap implementasi : tahap ini terdiri atas kegiatan, design engineering
yang rinci, pembuatan spesifikasi dan kriteria, pembelian peralatan
dan material, fabrikasi dan konstruksi, inspeksi mutu, uji coba, start
up, demobilisasi dan laporan penutup proyek. Tujuan akhir proyek
adalah mendapatkan kinerja biaya, mutu, waktu dan keselamatan
kerja paling maksimal, penjadwalan dan pengendalian yang lebih
cermat serta terperinci dari proses sebelumnya.
f) Tahap operasi dan pemeliharaan : tahap ini terdiri atas kegiatan operasi
rutin dan pengamatan prestasi akhir proyek serta pemeliharaan
fasilitas bangunan yang dapat digun

Keterlambatan Proyek (skripsi dan tesis)

Proyek sering mengalami keterlambatan. Bahkan bisa dikatakan hampir
80% proyek mengalami keterlambatan. Jeleknya, keterlambatan proyek sering berulang pada aspek yang dipengaruhi maupun faktor yang mempengaruhi. Waktu (Time) adalah salah satu constraint dalam Project Management di samping biaya (Cost), dan kualitas (Quality). Keterlambatan proyek akan berdampak pada aspek lain dalam proyek. Sebagai contoh, meningkatnya biaya untuk effort mempercepat pekerjaan dan bertambahnya biaya overhead proyek.
Dampak lain yang juga sering terjadi adalah penurunan kualitas
karena pekerjaan “terpaksa” dilakukan lebih cepat dari yang seharusnya
sehingga memungkinkan beberapa hal teknis “dilanggar” demi mengurangi
keterlambatan proyek. Keterlambatan proyek akan menyebabkan kerugian
bagi pihak Pemilik Proyek yang tidak sedikit.
Kehilangan kesempatan / opportunity karena proyek belum bisa
menghasilkan profit sudah sering terjadi. Kejadian ini umunya menjadi
sumber konflik baru bagi Penyedia Jasa dan Pemilik Proyek itu bagi Pemilik
Swasta. Bagi proyek pemerintah, misalnya pada proyek rumah sakit, maka
kerugian akan mengarah pada kerugian non-materiil seperti tertundanya
penggunaan ruang operasi yang sifatnya urgent sehingga pasien harus
dirujuk ke rumah sakit lain jika tidak operasinya ditunda.
Keterlambatan proyek dapat dilihat dalam dua hal seperti yang
telah disebutkan di atas yaitu aspek yang terpengaruh dan faktor yang
mempengaruhi atau yang menjadi penyebab. Adapun faktor yang terpengaruh
menyebabkan proyek terlambat adalah:
 Keterlambatan terkait material
 Keterlambatan terkait tenaga kerja
 Keterlambatan terkait peralatan
 Perencanaan yang tidak sesuai
 Lemahnya kontrol waktu proyek
 Keterlambatan Sub-kontraktor
 Koordinasi yang lemah
 Pengawasan yang tidak memadai
 Metode pelaksanaan yang tidak sesuai
 Kurangnya personil secara teknikal
 Komunikasi yang lemah.
Lebih lanjut pada penelitian tersebut, dilakukan analisis mengenai faktor
yang berkontribusi pada keterlambatan proyek yang dikaji dari penelitian
sebelumnya. Hasilnya diperoleh suatu peringkat 25 faktor yang paling
berkontribusi atau paling mempengaruhi keterlambatan proyek.
Metode pelaksanaan pekerjaan atau yang biasa disingkat CM
(Construction Method) merupakan urutan pelaksanaan pekerjaan yang logis
dengan teknik sehubungan dengan tersedianya suber daya yang dibutuhkan
dan kondisi medan kerja guna memperoleh cara pelaksanaan yang efektif dan
efisien. Metode pelaksanaan pekerjaan tersebut sebenarnya telah dibuat oleh
kontraktor yang bersangkutan pada waktu membuat atau pun mengajukan
penawaran pekerjaan.
Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengendalian dapat berupa
pengawasan, pemeriksaan serta tindakan koreksi yang dilakukan selama
proses implementasi. Sasaran dan tujuan seperti optimasi kinerja biaya,
mutu, waktu dan keselamatan kerja harus memiliki format terstandar kriteria
sebagai alat ukur, agar dapat mengindikasikan pencapaian kinerja proyek.
Alat ukur yang digunakan dapat berupa jadwal, kuantitas pekerjaan, standar
mutu/spesifikasi pekerjaan serta standar keselamatan dan kesehatan kerja
yang untuk selanjutnya diproses dalam suatu sistem informasi

Pengukuran Produktivitas Kerja (skripsi dan tesis)

Pengukuran produktivitas kerja sebagai sarana untuk menganalisa dan
mendorong efisiensi produksi. Manfaat lain adalah untuk menentukan target
dan kegunaan, praktisnya sebagai standar dalam pembayaran upah karyawan.
Untuk mengukur suatu produktivitas dapatdigunakan dua jenis ukuran jam
kerja manusia yakni jam – jam kerja yang harus dibayar dan jam – jam kerja
yang harus dipergunakan untuk bekerja.
Ada dua macam alat pengukuran produktivitas, yaitu :
a. Physical productivity, yaitu produktivitas secara kuantitatif seperti
ukuran (size), panjang, berat, banyaknya unit, waktu, dan biaya tenaga
kerja.
b. Value productivity, yaitu ukuran produktivitas dengan menggunakan
nilai uang yang dinyatakan dalam rupiah, yen, dollar dan seterusnya.
(Ravianto, 1986 : 21)

Produktivitas kerja (skrispi dan tesis)

Produktivitas kerja adalah kemampuan menghasilkan suatu kerja yang
lebih banyak daripada ukuran biasa yang telah umum. (The Liang Gie,1981
: 3). Pengertian produktivitas pada dasarnya mencakup sikap mental yang
selalu mempunyai pandangan bahwa kehidupan di hari lebih baik dari hari
kemarin dan hari esok lebih baik dari baik dari hari ini (Sinungan, 1985 :
12). Secara teknis produktivitas adalah suatu perbandingan antara hasil yang
dicapai (out put) dengan keseluruhan sumber daya yang diperlukan (in put).
Produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang
dicapai dengan peran tenaga kerja persatuan waktu (Riyanto, 1986 : 22).
Soepardi Harris, Bambang Perkasa Alamdan Arief Nugroho Wibowo
58 Tecnoscienza Vol.2 No.1 Oktober 2017
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja
adalah kemampuan karyawan dalam berproduksi dibandingkan dengan
input yang digunakan, seorang karyawan dapat dikatakan produktif apabila
mampu menghasilkan barang atau jasa sesuai dengan diharapkan dalam
waktu yang singkat atau tepat. Faktor yang mempengaruhi Produktivitas
Kerja.
Untuk mencapai produktivitas yang tinggi suatu perusahaan dalam
proses produksi, selain bahan baku dan tenaga kerja yang harus ada juga
didukung oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Pendidikan
2. Keterampilan
3. Sikap dan etika kerja
4. Tingkat penghasilan
5. Jaminan sosial
6. Tingkat sosial dan iklim kerja
7. Motivasi
8. Gizi dan kesehatan
9. Hubungan individu
10. Teknologi
11. Produksi.
(Ravianto, 1985 : 139).

Perhitungan Optimalisasi Produktuvitas Tenaga Kerja (skripsi dan tesis)

Perhitungan untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja dihitung berdasarkan Standard time. Standard time dihitung dengan menggunakan metode time study, dimana metode ini dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan. Langkah perhitungan untuk mendapat nilai optimal dari produktivitas sebagai berikut :

1. Menghitung standard time setiap breakdown pekerjaan pembesian dengan metode time study.

2. Menghitung besar rata-rata produktivitas tenaga kerja pada pekerjaan pembesian.

3. Dengan cara mendesain standard time yang baru yang diperlukan untuk mengoptimalkan produktivitas dengan berpatokan dengan standard time yang dihitung sebelumnya.

Perhitungan Produktivitas dengan menggunakan Metode Time Study (skripsi dan tesis)

Metode time study digunakan untuk menghitung nilai standard time suatu pekerjaan. Penggunaan metode ini dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan, bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dari tahap awal hingga tahap akhir. Tahap-tahap pengamatan dengan cara time study :
1. Menentukan jenis pekerjaan yang akan diamati dan memahami kondisi pekerjaan pada saat itu.
2. Setiap pekerjaan di-breakdown menjadi beberapa elemen pekerjaan
3. Setiap breakdown pekerjaan diamati dari tahap awal hingga akhir
4. Waktu yang dicatat dimasukkan didalam lembaran time study
5. Mengkonversikan upah pekerja kedalam tukang dengan standard upah tukang
6. Menghitung nilai basic time dengan mengalihkan nilai konversi upah tukang dengan waktu dicatat
7. Data basic time kemudian dihitung dengan memperhatikan waktu contingency dan relaxation
untuk memperoleh standart time.
Langkah-langkah perhitungan dengan cara time study sehingga didapat nilai produktivitas.
1. Mencatat waktu setiap kali pengamatan elemenelemen pekerjaan dilapangan dan kemudian dimasukan dalam lembar time study untuk
memperoleh nilai basic time dari tiap pengamatan
setiap elemen pekerjaan. Nilai basic time adalah
nilai manhour untuk 1 volume pekerjaan.
2. Nilai basic time dari tiap pengamatan elemenelemen pekerjaan kemudian di jumlah dan diratarata untuk memperoleh average basic time
3. Nilai average basic time kemudian dihitung dengan memperhatikan waktu contingency dan relaxation untuk memperoleh nilai standard time dari tiap elemen pekerjaan
4. Setelah itu dihitung total standard time dari tiap elemen pekerjaan dengan cara mengalikan nilai standard time elemen pekerjaan dengan volume
perolehan untuk elemen pekerjaan tersebut ( volume ) perolehan dan total standard time haruslah berasal dari 1 kali pengamatan dalam waktu tertentu
5. Membandingkan volume total perolehan pekerjaan dengan total standard time untuk memperoleh nilai produktivitas suatu pekerjaan

Prinsip Metode Time study  (skripsi dan tesis)

 

Rating
Ervianto (2004) mengemukakan pada umumnya penelitian dilakukan berdasarkan angka 100, yang memberikan informasi bahwa kinerja yang
terjadi dalam keadaan normal.
Basic Time
Basic time, adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu aktivitas dengan rating standard. Angka basic time di peroleh dengan rumus:
Basic time = observed time x (observed rating / standard rating )
Basic Time dihitung pada sejumlah observasi/pengamatan kemudian diambil nilai rataratanya. Dalam hal ini nilai rata-rata digunakan sebagai dasar basic time dari suatu kegiatan (Ervianto 2004).
Standard Time
Yang di maksud dengan standard time adalah “waktu seharusnya” yang dapat dicapai oleh tenaga ahli yang bekerja dengan standard rating untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Untuk menentukan standard time juga harus
diperhitungkan tentang Relaxation Allowance ( waktu relaksasi ) dan Contingency ( waktu kontigensi ).
Waktu relaksasi adalah waktu di saat pekerja harus berhenti sejenak dari pekerjaan yang mereka lakukan untuk menyegarkan kembali kondisi
badan mereka. Untuk lebih jelas tentang penyebab diperlukannya relaksasi dapat dilihat pada tabel relaksasi akibat faktor panas dan kelembapan udara
dan tabel pengaruh relaksasi terhadap basic time.

Produktivitas Tenaga Kerja Konstruksi (skripsi dan tesis)

Ukuran produktivitas yang sering diamati
adalah berkaitan dengan tenaga kerja. Pengertian
tenaga kerja menurut Undang-undang Republik
Indonesia No. 13 Tahun 2003 adalah setiap
orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk
memenuhi kebutuhan sendiri maupun
masyarakat. (Seri Perundang-undangan,Undang –
undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun
2003 Tentang Ketenagakerjaan).
Berikut adalah fungsi dan tugas-tugas
tenaga kerja berdasarkan kehaliannya :
1. Mandor adalah orang yang mempunyai
keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan
jenis pekerjaan tertentu. Mandor membawahi
langsung pekerja-pekerja atau tukang-tukang.
2. Kepala tukang adalah orang yang mempunyai
keahlian dalam bidang pertukangan untuk
jenis pekerjaan tertentu dan memberi
petunjuk-petunjuk kepada para tukang yang
berhubungan dengan jenis pekerjaan tersebut.
3. Tukang adalah orang yang langsung
mengerjakan pekerjaan dilapangan dalam
bidang tertentu sesuai petunjuk kepala
tukang.orang-orang ini biasanya memiliki
sedikit keterampilan.
4. Pekerja (buruh) adalah orang yang membantu
tukang atau kepala tukang untuk semua jenis
pekerjaan tanpa harus memiliki keahlian atas
pekerjaan tertentu.

Manfaat Sampah (skripsi dan tesis)

Sampah merupakan masalah yang paling sering ditemui terutama pada daerah-daerah yang sedang berkembang dan dikota-kota besar, jika tidak diperlakukan dengan benar, sampah ini dapat menimbulkan masalah yang serius bagi manusia, oleh karenanya sampah harus diperlakukan dengan benar dan ditangani secara serius dengan memanfaatkan sisa-sisa dari kegiatan manusia tersebut.

Sebenarnya sampah yang dianggap tak berguna itu memiliki manfaat yang cukup besar untuk manusia. Berikut beberapa manfaat sampah untuk manusia diantaranya (Sejati, 2009)

  1. Sebagai pupuk organik untuk tanaman. Limbah dari sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk penyubur tanaman dengan menyulap sampah menjadi kompos. Kompos dapat memperbaiki struktur tanah, dengan meningkatkan kandungan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air dalam tanah.
  2. Sumber humus. Sampah orgnaik yang tenah membusuk seperti dapat menjadi humus yang dibutuhkan untuk tanah untuk menjaga kesuburan tanah. serta menjadi sumber makanan yang baik bagi tumbuh-tumbuhan, meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, mencegah pengerukan tanah, menaikkan aerasi tanah, menaikkan foto kimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik racun.
  3. Sampah dapat didaur ulang. Limbah sampah dari plastik dan kertas dapat didaur ulang menjadi berbagai barang yang bermanfaat seperti menjadi produk furnitur yang cantik. Atau didaur ulang kembali menjadi bahan baku pembuatan produk plastik atau kertas.

Pengelolaan sampah (skripsi dan tesis)

Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Diantaranya kegiatan pengelolaan sampah meliputi penanganan ditempat, pengumpulan sampah, transfer dan transport, dan pengolahan. (Sejati, 2009)

  1. Penanganan di Tempat (on place handling)

Penanganan sampah di tempat adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah ditempatkan dilokasi tempat pembuangan, penanganan sampah di tempat dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah pada terhap-tahap yang meliputi pemilahan, pemanfaatan kembali, dan daur ulang, dengan tujuan untuk mereduksi besarnya timbunan sampah.

  1. Pengumpulan (collection)

Pengumpulan ini merupakan tindakan pengumpulan sampah dari sumbernya menuju ketempat pembuangan sementara, dan pola pengumpulan sampah pada dasarnya dikelompokkan dalam 2 (dua), yaitu pola individual dan pola komunal.

  1. Pengangkutan (transfer/transport)

Pengangkutan merupakan usaha pemindahan sampah dari TPS menuju TPA dengan menggunakan truk sampah.

  1. Pengolahan (processing)

Sampah dapat diolah tergantung pada jenis dan komposisinya, berbagai alternatif yang tersedia dalam proses pengolahan sampah di antaranya:

  1. Transformasi fisik, meliputi pemisahan sampah dan pemadatan yang bertujuan untuk memudahkan penyimpanan dan pengangkutan.
  2. Pembuatan kerajinan daur ulang, yaitu mengubah sampah kering (an-organik) menjadi barang yang mempunyai nilai ekonomis.
  3. Pembuatan kompos (composting), yaitu mengubah sampah melalui proses mikrobiologi menjadi produk lain yang dapat dipergunakan. Output dari proses ini adalah kompos dan gas bio.

Klasifikasi Sampah (skripsi dan tesis)

Sampah dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori antara lain:

  1. Sampah Berdasarkan Bentuk

Menurut Hadiwiyoto (Sejati, 2009), sampah berdasarkan bentuknya dapat dibedakan menjadi:

  1. Sampah padat (solid) misal: daun, kertas, karton, kaleng, plastik dan logam.
  2. Sampah cair, misalnya bekas air pencuci, bekas cairan yang tumpah, tetes tebu, dan limbah industri yang cair.
  3. Sampah berbentuk gas, misalnya karbondioksida, amonia, H2S, dan lainnya.
  1. Sampah Berdasarkan Proses Terjadinya

Sampah berdasarkan proses terjadinya dapat dibedakan menjadi:

  1. Sampah alami, yaitu sampah yang terjadi karena proses alami, misalnya daun-daun yang rontok.
  2. Sampah non alami, yaitu sampah yang terjadi karena kegiatan manusia, misalnya: plastik dan kertas.
  1. Sampah Berdasarkan Zat Kimia yang Terkandung

Menurut Notoatmodjo (2011), sampah berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya dapat dibedakan menjadi:

  1. Sampah anorganik, yaitu sampah yang umumnya tidak dapat membusuk, misalnya: logam/ besi, pecahan gelas, plastik, dan sebagainya.
  2. Sampah organik, yaitu sampah yang pada umumnya dapat membusuk, misalnya: sisa-sisa makanan, daun-daunan, buah-buahan, dan sebagainya.
  1. Sampah Berdasarkan Karakteristik

Menurut Chandra (2007), sampah dapat dibedakan menjadi beberapa pengertian, antara lain:

  1. Garbage, adalah terdiri atas zat-zat yang mudah membusuk dan dapat terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas. Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar, dan sebagainya.
  2. Rubbish, terbagi menjadi 2 yaitu:
    1. Yang mudah terbakar terdiri atas zat-zat organik, seperti kertas, kayu, karet, daun kering, dan sebagainya.
    2. Yang tidak mudah terbakar terdiri atas zat-zat anorganik, seperti kaca, kaleng, dan sebagainya.
  3. Ashes, adalah semua sisa pembakaran dari industri.
  4. Street sweeping, adalah sampah dari jalan atau trotoar akibat aktivitas mesin atau manusia.
  5. Dead animal, adalah segala jenis bangkai binatang besar (anjing, kucing, dan sebagainya) yang mati akibat kecelakaan atau secara alami.
  6. House hold refuse, adalah jenis sampah campuran (misalnya, garbage, ashes, rubbish) yang berasal dari perumahan.
  7. Abandoned vehicle, adalah sampah yang berasal dari bangkai kendaraan.
  8. Demolision waste, adalah sampah yang berasal dari sisa pembanguman gedung, seperti tanah, batu dan kayu.
  9. Sampah industri, adalah sampah yang berasal dari pertanian, perkebunan, dan industri.
  10. Santage solid, sampah yang terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang biasanya berupa zat organik, pada pintu masuk pusat pengolahan limbah cair.
  11. Sampah khusus, adalah sampah yang memerlukan penanganan khusus seperti kaleng dan zat radioaktif.

Sumber Sampah (skripsi dan tesis)

Menurut Budiman Chandra (2007), sumber sampah dapat berasal dari beberapa sumber berikut:

  1. Pemukiman penduduk

Sampah disuatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa atau di kota. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan atau sampah basah (garbage), sampah kering (rubbish), abu, atau sampah sisa tumbuhan.

  1. Tempat umum dan tempat perdagangan

Tempat umum adalah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan, termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang dihasilkan dari tempat semacam itu dapat berupa sisa-sisa makanan (garbage), sampah kering, abu, sisa-sisa bahan bangunan, sampah khusus, dan terkadang sampah berbahaya.

  1. Sarana layanan masyarakat milik pemerintah

Sarana layanan masyarakat yang dimaksud antara lain, tempat hiburan dan umum, jalan umum, tempat parkir, tempat layanan kesehatan (misalnya: rumah sakit dan puskesmas), kompleks militer, gedung pertemuan, pantai tempat berlibur, dan sarana pemerintah yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan tempat khusus dan sampah kering.

  1. Industri berat dan ringan

Dalam pengertian ini termasuk industri makanan dan minuman, industri kayu, industri kimia, industri logam, tempat pengolahan air kotor dan air minum, dan kegiatan industri lainnya, baik yang sifatnya distributif atau memproses bahan mentah saja. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering, sisa-sisa bangunan, sampah khusus, dan sampah berbahaya.

  1. Pertanian

Sampah yang dihasilkan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang, ataupun sawah menghasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga tanaman.

 

Pengertian Sampah (skripsi dan tesis)

Sampah didefinisikan sebagai semua bentuk limbah berbentuk padat yang berasal dari kegiatan manusia dan hewan kemudian dibuang karena tidak bermanfaat atau keberadaannya tidak di inginkan lagi . (Saputro, 2015). Menurut Notoatmodjo (2011), pengertian sampah adalah sesuatu bahan atau benda padat yang sudah tidak dipakai lagi oleh manusia, atau benda padat yang sudah digunakan lagi dalam suatu kegiatan manusia dan dibuang.

Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, definisi sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Peraturan Pemerintah No.81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga menjelaskan agi tentang definisi sampah rumah tangga adalah sampah yang berasal dari kegiatan sehari-hari dalam rumah tangga yang tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah sejenis sampah rumah tangga adalah sampah rumah tangga yang berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial, fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.

Sampah adalah suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktifitas manusia maupun alam yang belum memiliki nilai ekonomis. Secara umum, sampah dapat dibagi dua, yaitu sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering), sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur dan lain-lain, sampah jenis ini dapat terdegrasi (membusuk/hancur) secara alami. Sedangkan sampah kering seperti plastik, kertas, dan kaleng, sampah sejenis ini tidak dapat terdegrasi secara alami dan perlu pengelolaan atau campur tangan manusia untuk mengelola sampah jenis tersebut.

Pengertian Proyek (skripsi dan tesis)

Tampubolon (2004) mendefinisikan proyek sebagai suatu rangkaian kegiatan
yang hanya terjadi sekali, dimana pelaksanaannya sejak awal sampai akhir
dibatasi oleh kurun waktu tertentu. Sedangkan Munawaroh (2003) menjelaskan proyek merupakan bagian dari program kerja suatu organisasi yang sifatnya temporer untuk mendukung pencapaian tujuan organisasi, dengan memanfaatkan sumber daya manusia maupun non sumber daya manusia. Proyek merupakan kegiatan yang memiliki batas waktu dalam pengerjaannya.
Menurut Subagya (2000) proyek merupakan suatu pekerjaan yang memiliki
tanda-tanda khusus sebagai berikut:
1) Waktu mulai dan selesainya sudah direncanakan.
2) Merupakan suatu kesatuan pekerjaan yang dapat dipisahkan dari yang lain.
3) Biasanya volume pekerjaan besar dan hubungan antar aktifitas kompleks.
Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan
dalam satu bentuk kesatuan dengan mempergunakan sumber-sumber untuk
mendapatkan benefit (Gray, et al., 2007). Kegiatan-kegiatan tersebut dapat
meliputi pembangunan pabrik, jalan raya atau kereta api, irigasi, bendungan,
gedung sekolah atau rumah sakit, perluasan atau perbaikan program-program
yang sedang berjalan, dan sebagainya. Sedangkan Meredith dan Mantel (2006) mengatakan bahwa “The project is complex enough that the subtasks require careful coordination and control in terms of timing, precedence, cost, and performance.” Dapat diartikan bahwa proyek memiliki subtugas yang cukup kompleks dan memerlukan koordinasi yang cermat, selain itu melakukan kontrol terhadap waktu, biaya dan kinerja.
Menurut Malik (2010) proyek merupakan sekumpulan kegiatan terorganisir
yang mengubah sejumlah sumber daya menjadi satu atau lebih produk barang/jasa bernilai terukur dalam sistem satu siklus, dengan batasan waktu, biaya, dan kualitas yang ditetapkan melalui perjanjian. Dalam sebuah proyek, penggunaan biaya, waktu serta tenaga dibatasi, sehingga penanggung jawab proyek harus bisa mengelola kegiatannya agar dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.

Probabilitas Umur Proyek (skripsi dan tesis)

 

Seperti telah diuraikan terdahulu, umur proyek ditentukan oleh lintasan yang paling lama waktu pengerjaannya (jalur kritis), dan untuk mengetahui jalur kritis tersebut digunakan data lama kegiatan perkiraan (expected time). Probabilitas waktu pengerjaan proyek dari data expected time, diperkirakan sebesar 50% berhasil dan 50% gagal.

Dalam berbagai proyek kemungkinan sebesar 50% tersebut sangatlah riskan, sehingga perlu ditingkatkan nilainya sampai dengan di atas 80% atau kemungkinan gagal lebih kecil dari 20%, dan untuk mewujudkan hal tersbut diperlukan syarat-syarat sebagi berikut (Tubagus, 1984) :

  • Telah ada network diagram yang tepat
  • Data masing-masing kegiatan harus dinyatakan dalam bentuk 3 perkiraan atau berdasarkan metode PERT.
  • Tingkat probabilitas kemungkinan berhasil atau kemungkinan gagal yang dinginkan telah ditetapkan.

Perbandingan Metode PERT dan CPM (skripsi dan tesis)

Metode PERT dan CPM masing-masing menggunakan prinsip-prinsip pembentukan jaringan dalam perhitungannya sehingga baik metode PERT maupun CPM memiliki urut-urutan yang sama dalam membentuk jaringan awal penyelesaian suatu proyek ataupun kegiatan.Dalam visualisasi penyajian PERT sama halnya dengan CPM, yaitu dengan menggunakan diagram anak panah (activity on arrow) untuk menggambarkan kegiatan proyek. Demikian pula pengertian dan perhitungan mengenai kegiatan kritis, jalur kritis dan float dalam CPM atau slack dalam PERT (waktu luang).

Perbedaan pokok metode PERT dan CPM adalah bahwa CPM memasukkan konsep biaya  dalam proses perencanaan dan pengendalian, PERT bukannya sama sekali mengabaikan faktor biaya namun dalam PERT besarnya biaya diasumsikan berubah ubah sesuai dengan lamanya waktu dari semua aktivitas dalam suatu proyek. Sehingga jika waktu pengerjaan proyek dapat dipersingkat maka dapat diasumsikan bahwa biaya yang untuk proyek tersebut dapat diperkecil.

Selanjutnya dapat pula diasumsikan bahwa penyingkatan waktu selama satu minggu yang dilakukan terhadap aktivitas yang terletak dalam waktu kritis, secara ekonomis adalah sama produktifnya dengan penyingkatan waktu selama satu minggu yang dilakukan terhadap aktivitas-aktivitas lain yan gterletak pada jalur-jalur kritis yang lain. Jika waktu tercepat yang diharapkan untuk event akhir jaringan telah berhasil dikurangi, maka dianggap bahwa biaya juga berhasil dikurangi.

Perbedaan penting lain antar PERT dan CPM terletak pada metode untuk memperkirakan waktu. Dalam sistem CPM ditentukan dua buah perkiraan waktu dan biaya untuk setiap aktivitas yang terdapat dalam jaringan yaitu perkiraan normal (normal estimat) dan perkiraan cepat (crash estimate). Sedangkan PERT menggunakan tiga perkiraan krurun waktu yaitu optimis (a), pesimis (b), dan waktu yang paling memungkinkan (m).

Metode CPM lebih tepat digunakan untuk suatu kegiatan yang waktu, biaya, tenaga kerja dapat diperkirakan dengan tepat. Namun jika waktu penyelesaian memiliki tingkat ketidak pastian yang besar seperti adanya faktor bencana alam dan cuaca yang tidak dapat diprediksi dengan tepat maka metode PERT lebih tepat digunakan. (Soeharto,1997)

 

Program Evaluation Review Technique (PERT) (skripsi dan tesis)

 

Metode yang telah dirancang untuk menentukan lama pengerjaan adalah variabel random yang disebut dengan Program Evaluation Review Technique (PERT). Waktu setiap kegiatan dihitung atas dasar tiga perkiraan, yaitu waktu optimis, waktu pesimistis, dan waktu yang paling mungkin. Notasi yang digunakan untuk ketiga waktu perkiraan tersebut adalah:

  • Waktu optimis = a
  • Waktu pesimis = b
  • Waktu paling memungkinkan = m

.        Mean = te =

Secara singkat ketiga definisi waktu di atas dapat diuraikan sebagai berikut (Levin, 1981) :

  1. Waktu Optimis :

Waktu optimis adalah perkiraan waktu yang memiliki kemungkinan sangat kecil untuk dapat dicapai, yaitu kemungkinan terjadinya hanya 1 kali dalam 100 kemungkinan. Perkiraan ini menggambarkan waktu untuk menyelesaikan proyek jika segala sesuatunya berjala lancar, tanpa persoalan-persoalan maupun cuaca yang tidak cocok, dan sebagainya. Kita tahu bahwa hal ini sangat jarang terjadi, tetapi ia juga mungkin terjadi dalam kemungkinan 1 dalam 100.

  1. Waktu Pesimis :

Waktu pesimis adalah suatu perkiraan waktu yang lain yang mempunyai kemungkinan sangat kecil untuk dilaksanakan, kemungkinan terjadinya juga hanya 1 dalam 100. Perkiraan waktu ini menggambarkan waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan suatu aktivitas tertentu jika diganggu terus-menerus oleh cuaca yang tidak cocok, kerusakan-kerusakan, bencana alam, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan kejadian yang jarang namun bisa saja terjadi, namun setidaknya harus tetap dipertimbangkan dalam perhitungan sekecil apapun kemungkinannya.

  1. Waktu Paling Memungkinkan :

Waktu yang paling memungkinkan adalah waktu yang berdasarkan pikiran estimator, menggambarkan lamanya waktu yang berdasarkan pikiran estimator,  menggambarkan waktu yang paling sering untuk menyelesaikan suatu aktivitas jika pekerjaan tersebut dilakukan berulang-ulang dalam kndisi yang sama

Distribusi waktu optimis (a), pesimis (b), dan waktu paling memungkinkan (m) mengikuti distribusi beta berbentuk lonceng yang a-simetris ke satu arah.

Metode Jalur Kritis (Critical Path Method / CPM) (skripsi dan tesis)

Metode jalur kritis (CPM) dikembangkan tahun 1957 oleh E.I. du pont Nemours & Company untuk pengawasan proyek konstruksi, dalam metode ini waktu untuk melaksanakan kegiatan sudah pasti dan penentuan jalur kritis dibuat dengan diagram network dengan menggunakan simbol sebagai berikut

  • Anak panah ( ® ) melambangkan kegiatan, di atas anak panah ditulis simbol kegiatan sedangkan di bawah anak panah ditulis waktu kegiatan. Setiap kegiatan dalam network selalu terletak dalam 2 peristiwa.
  • Lingkaran, melambangkan peristiwa di mana lingkaran di terbagi dalam 3 bidang yaitu sebelah kiri disebut nomer peristiwa, sebelah kanan atas disebut saat paling cepat (SPC) dan di sebelah kanan bawah disebut saat paling lambat (SPL).Jika dalam lingkaran terdapat SPC = SPL berarti peristiwa tersebut dikatakan peristiwa yang kritis yaitu peristiwa yang tidak memiliki tenggang waktu antara SPC dan SPL. Dalam diagram network sangat dimugkinkan terdapat lebih dari satu kegiatan yang menuju dan keluar dari peristiwa tapi diantara dua peristiwa hanya boleh ada satu kegiatan.
  • Anak panah putus-putus melambangkan kegiatan semu (dummy) dalam diagram network kegiatan semu boleh ada dan boleh tidak, karena kegiatan semu dimunculkan untuk menghindari di antara dua peristiwa terdapat lebih dari satu kegaitan. Apabila diagram network tanpa melanggar ketentuan maka kegiatan semu tidak diperlukan dalam diagram network (Bhattacharya, 1997 dan Stevens, 1990)

Dampak Percepatan (skripsi dan tesis)

Dampak paling nyata dengan adanya percepatan adalah kenaikan
biaya langsung (direct costs) (Clough et al. 2000; Gould & Joyce 1994). Biaya
langsung ini berhubungan dengan biaya bahan bangunan, biaya operasi
peralatan, biaya pekerja dan biaya subkontraktor (Ashworth 2002; Gould &
Joyce 1994). Sementara biaya tidak langsung (indirect cost) cenderung
menurun akibat berkurangnya waktu proyek (Clough et al. 2000). Biaya tidak
langsung ini berhubungan dengan biaya pengeluaran kantor (home office
overhead) dan biaya pengeluaran umum proyek (project overhead).
Biaya pengeluaran kantor kantor kontraktor digunakan untuk
menfasilitasi proyek konstruksi, yang termasuk didalamnya seperti biaya
kantor pusat, kantor cabang, workshop, gudang umum untuk bahan bangunan
dan peralatan konstruksi, biaya legal dan admistrasi keuangan, pemasaran,
biaya kualifikasi perusahaan, biaya sehubungan dengan pelelangan.
Sementara, biaya tidak langsung di lokasi proyek dapat berupa biaya
keamanan (e.g. pemagaran proyek, satuan pengamanan), tanda/
keterangan/ petunjuk, pembangunan barak, kantor direksi, gaji dan benefit
staf proyek yang mewakili kontraktor termasuk manajer lapangan atau biaya
supervisi (Ashworth 2002; Gould & Joyce 1994).
Biaya tidak langsung kategori kedua ini yang akan turun bila waktu
proyek diperpendek. Tetapi terbatas pada biaya supervisi atau biaya
variabel (variable cost) seperti gaji pengawas maupun logisti (e.g..
makanan). Sedangkan biaya tetap (fixed cost) seperti biaya pembuatan
barak pekerja dan bagar pengamanan misalnya bersifat tetap (Ashworth 2002; Clough et al. 2000; Gould & Joyce 1994).
Selanjutnya, dengan ada percepatan waktu proyek, manajemen atau
pengelolaan lapangan menjadi lebih sulit dan kompleks. Hal tersebut
diakibatkan jumlah peralatan dan tenaga kerja akan bertambah tetapi
ruang kerja tetap sama. Waktu kerja perlu diperpanjang (i.e. kerja lembur),
hal ini dapat mengakibatkan tekanan pada manajemer lapangan dan
tenaga kerja menjadi bertambah yang berujung pada sensitaf kerja utamanya
berkaitan dengan suasana keselamatan kerja akan berkurang. Situasi kerja
penuh tekanan dapat dengan mudah terjadi kecelakaan yang dapat
berakibat fatal atau kematian (Suraji et al. 2001).
Akibat bertambahnya pekerja dan peralatan, aliran kerja dilapangan
dapat terhambat yang berakhir dengan produktifitas yang menurun Hanna et al. (2005); Moselhi et al. (2004); dan Thomas (2000). Tanpa perhitungan yang matang sehubungan percepatan waktu pelaksanaan proyek konstruksi akan mengakibatkan biaya langsung akan membengkak diluar kendali (Gould &
Joyce 1994; Hanna et al. 2005). Gould & Joyce (1994) merinci dampak
percepatan jadwal pelaksanaan konstruksi sebagai berikut:
 pengawasan lebih sulit
 efesiensi operasi berkurang
 meningkatkan biaya operasi
 pembayaran bahan lebih awal
 biaya transportasi lebih meningkat
 penanganan bahan mebutuhkan
biaya tambah (handling cost)

Alasan Percepatan Proyek (skripsi dan tesis)

Menurut (Gould & Joyce 1994), jadwal proyek dipercepat, karena
alasan kontrak. Alasan ini dapat disebabkan oleh suatu aktifitas atau item
pekerjaan perlu diselesaikan pada waktu tertentu atau dipercepat.
Misalnya untuk menghindari cuaca yang didasarkan atas berita ramalan
cuaca yang tidak biasa terjadi, salah satu item pekerjaan tidak mungkin
dilaksanakan (e.g. pekerjaan pemancangan fondasi tiang beton dermaga). Dengan alasan waktu secara keseluruhan tidak dapat ditunda, maka item pekerjaan pemancangan yang merupakan item kritis perlu dipercepat dengan konsekuensi biaya ditanggu oleh pemilik proyek.
Alasan kedua, berdasarkan analisis ekonomi, beberapa item pekerjaan bila dipercepat dan jatuh pada periode tertentu dalam satu tahun akan memberikan keuntungan secara finansial. Contohnya adalah pada
periode tertentu alat berat susah didapat/disewa, misalnya pada awal
pelakasanaan proyek alat berat banyak digunakan baik untuk pekerjaaan
bangunan gedung (untuk pembersihan, penggalian lubang fondasi) yang jarang menggunakan alat berat, maupun pekerjaan infrastruktur yang membutuhkan alat berat. Untuk menghindari item pekerjaan tertentu
yang mana pekerjaan tersebut memerlukan alat berat yang sulit
didapat, kalaupun ada sewanya mahal. Tetapi sebagai akibatnya, item
pekerjaan lain perlu dipercepat agar supaya jadwal proyek keseluruhan tidak
terlambat. Contoh lainnya adalah waktu hari besar seperti lebaran atau
akhir tahun dan natal, produktifitas pekerja akan menurun atau jumlahnya berkurang. Untuk menghindari periode tersebut, kadang percepatan pekerjaan akan lebih menguntungkan secara ekonomis.
Alasan ketiga, kadang estimasi biaya yang didasarkan pada periode
tertentu dalam tahun sebelumnya untuk item pekerjaan tertentu lebih rendah
dibandingkan dengan biayanya pada periode tertentu pada tahun berjalan
pelaksanaan proyek konstruksi. Dengan alasan penghematan demi menghindari periode tertentu tahun berjalan yang biayanya lebih mahal, manajer proyek kadang perlu memutuskan untuk mempercepat proyek konstruksi. Contoh paling mudah adalah bila terjadi perubahan kebijakan pemerintah dibidang energi, harga biaya transportasi akan meningkat yang berujung peningkatan biaya bahan bangunan. Untuk menghindari kerugian
item pekerjaan yang berpengaruh langsung, percepatan waktu proyek
dapat mengurangi kerugian yang lebih besar.
Sementara menurut (Clough et al. 2000), alasan mempercepat waktu
proyek dikarenakan oleh:

 keinginan penggunaan jasa untuk
mempercepat durasi total pelaksanaan proyek dengan usulan
tambahan biaya;
 untuk menghindari cuaca yang sangat jelek;
 untuk membebaskan pekerja untuk proyek yang lain;
 untuk membebaskan peralatan untuk proyek lainnya;
 untuk mendapatkan bonus dari pengguna jasa atas penyelesaian
pekerjaan lebih awal dari rencana/kontrak; atau
 untuk pengaturan keuangan yang jatuh tempo dalam periode
tertentu pada tahun fiskal berjalan.

Istilah dan Defenisi Percepatan (skripsi dan tesis)

Beberapa istilah percepatan proyek dalam bahasa Inggeris adalah project time acceleration yang berarti percepatan waktu proyek dan project compression yang berarti pemadatan jadwal proyek (Clough et al. 2000; Gould & Joyce 1994). Kedua istilah tersebut dapat diartikan langsung dan
mudah dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia. Sedangkan istilah
lainnya dalam bahasa Inggeris adalah least cost expediting dan time cost
trade off (Clough et al. 2000). Istilah yang pertama menyangkut kata dasar
expidite yang artinya accomplish (business) quickly (Pearsall 1999).
Lengkapnya least cost expediting berarti proyek diselesaikan secepatnya dengan ongkos yang paling sedikit. Namun juga istilah expediting di dunia industri konstruksi di Amerika berarti juga dukungan waktu yang cukup untuk
operasi pelaksanaan konstruksi (Clough et al. 2000).
Selanjutnya istilah time cost trade off dapat diartikan secara bebas bahwa perubahan waktu dalam hal ini percepatan waktu proyek akan
memberi dampak pada biaya pelakanaan proyek baik kenaikan
maupun penurunan biaya. Tapi umumnya proyek yang sudah kritis dari
segi jadwal dan mempunyai banyak aktivitas kerja akan memberikan
dampak kenaikan biaya yang signifikan bila dipercepat. Hal tersebut sebagai
imbalan (trade off) perubahan waktu (time). Juga ada istilah lain yaitu
crashing yang artinyanya juga memperpendek waktu proyek secara
total akibat adanya satu atau beberapa aktifitas yang diperpendek
(Gould & Joyce 1994). Jadi percepatan proyek dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan jadwal proyek dengan cara memperpendek satu atau lebih aktivitas baik yang berurutan maupun tidak berurutan yang akibatnya
memperpendek total waktu pelaksanaan proyek sebagaimana
yang telah ditetapkan sebelumnya melalui perjanjian antara pihak
pengguna jasa dengan penyedia jasa konstruksi (i.e. kontraktor)

Faktor-Faktor Penentu Pola Permukiman (skripsi dan tesis)

Menurut Amos Rapoport dalam bukunya House, Form and Culture (1996), terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pembentukan suatu permukiman masyarakat vernakular maupun bangunan arsitektur vernakular antara lain :

  1. Iklim Dan Kebutuhan Tempat Tinggal

Iklim sangat berpengaruh pada arsitektur dan berbanding lurus dengan geografi. Namun iklim tidak mempengaruhi perubahan bentuk pada bangunan tapi menyesuaikannya terhadap lingkungan dan iklim sekitar.

  1. Material, Konstruksi, Dan Teknologi

Sudah lama kayu dan batu menjadi bagian material sebuah bangunan serta membentuk karakteristik bangunan tersebut, sikap budaya terhadap arsitektur sangat kuat dan populer dan banyak diterjemahkan dalam teori arsitektur.

  1.  Tapak

Sebuah tapak berperan penting dalam pembangunan dan perancangan sebuah arsitektur, pada masyarakat primitiv sebuah tapak didapatkan secara tidak langsung untuk membangun sebuah pemukiman.

  1. Ketahanan

Ketahanan pada suatu bangunan diperlukan untuk menjaga keseimbangan stuktur agar mampu bartahan dalam waktu yang panjang, pada umumnya masyarakat tradisional membangun rumah dengan bentuk struktur yang berbeda-beda sesuai iklim dan lingkungan.

  1. Ekonomi

Ekonomi suatu masyarakat adat pada dasarnya berbeda, tapi pada umumnya masyarakat vernakular di Indonesia adalah agraris yang memanfaatkan lahan untuk bidang persawahan, dan perkebunan untuk menopang ekonomi mereka.

  1. Kepercayaan

Kepercayaan suatu masyarakat tergantung lokasi dan kondisi serta budaya yang mempengaruhi masyarakat tersebut, pada umumnya kepercayaan masyarakat primitif atau vernakular tertuju pada suatu kondisi alam sekitarnya.

Klasifikasi Permukiman (skripsi dan tesis)

  1. Permukiman Darurat

Jenis perkampungan ini biasanya bersifat sementara (darurat) dan timbulnya perkampungan ini karena adanya bencana alam. Untuk menyelamatkan penduduk dari bahaya banjir maka dibuatkan perkampungan darurat pada daerah/lokasi yang bebas dari banjir. Mereka yang rumahnya terkena banjir untuk sementara ditempatkan diperkampungan ini untuk mendapatkan pertolongan bantuan berupa makanan, pakaian dan obat obatan. Begitu pula ada bencana lainnya seperti adanya gunung berapiyang meletus dan lain lain.Daerah permukiman ini bersifat darurat tidak terencana dan biasanya kurang fasilitas sanitasi lingkungan sehingga kemungkinan penjalaran penyakit akan mudah terjadi.

  1. Permukiman tradisional

Perkampungan seperti ini biasanya penduduk atau masyarakatnya masih memegang teguh tradisi lama. Kepercayaan, kabudayaan dan kebiasaan nenek moyangnya secara turun temurun dianutnya secara kuat. Tidak mau menerima perubahan perubahan dari luar walaupun dalam keadaan zaman telah berkembang dengan pesat. Kebiasaan-kebiasaan hidup secara tradisional yang sulit untuk diubah inilah yang akan membawa dampak terhadap pengembangan dan pola penataan permukiman, kesehatan serta masalah sosial dan budaya lainnya.

  1. Permukiman kumuh (slum area)

Jenis permukiman ini biasanya timbul akibat adanya urbanisasi yaitu perpindahan penduduk dari kampung (pedesaan) ke kota. Umumnya ingin mencari kehidupan yang lebih baik. sulitnya mencari kerja di kota akibat sangat banyak pencari kerja, sedang tempat bekerja terbatas, maka banyak diantara mereka manjadi orang gelandangan. Di kota umumnya sulit mendapatkan tempat tinggal yang layak hal ini karena tidak terjangkau oleh penghasilan (upah kerja) yang mereka dapatkan setiap hari, akhirnya mereka membuat gubuk-gubuk sementara (gubuk liar)

  1. Permukiman untuk kelompok-kelompok khusus

Perkampungan seperti ini biasanya dibangun oleh pemerintah dan diperuntukkan bagi orang -orang atau kelompok-kelompok orang yang sedang menjalankan tugas tertentu yang telah dirancanakan . Penghuninya atau orang orang yang menempatinya biasanya bertempat tinggal untuk sementara, selama yang bersangkutan masih bisa menjalankan tugas. setelah cukup selesai maka mereka akan kembali ke tempat/daerah asal masing masing. contohnya adalah perkampungan atlit (peserta olah raga pekan olahraga nasional ) perkampungan orang -orang yang naik haji, perkampungan pekerja (pekerja proyek besar, proyek pembangunan bendungan, perkampungan perkemahan pramuka dan lain lain

  1. Permukiman baru.

Permukiman semacam ini direncanakan pemerintah dan bekerja sama dengan pihak swasta. Pembangunan tempat permukiman ini biasanya dilokasi yang sesuai untuk suatu pemukiman (kawasan permukiman). Dipermukiman seperti ini biasanya memiliki fasilias sarana dan prasarana yang memadai.

  1. Permukiman Transmigrasi

Jenis permukiman semacam ini di rencanakan oleh pemerintah yaitu suatu daerah permukiman yang digunakan untuk tempat penampungan penduduk yang dipindahkan (ditransmigrasikan) dari suatu daerah yang padat penduduknya ke daerah yang jarang/kurang penduduknya. Ditempat ini mereka telah disediakan rumah, dan tanah garapan untuk bertani, bercocok tanam oleh pemerintah.

Teori Permukiman (skripsi dan tesis)

Menurut Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 bab 1,pasal 1, permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan. Sedangkan Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan, yang dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni.

Sarana lingkungan permukiman adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Sedangkan Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang memungkinkan lingkungan permukiman dapat berfungsi sebagaimana mestinya,prasarana meliputi jaringan jalan raya, jaringan utilitas seperti : air bersih, air kotor, pengaturan air hujan, jaringan telepon, jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah.

Sebuah permukiman dipengaruhi oleh beberapa faktor yang secara keseluruhan dapat dilihat dari elemen pembentuk pola permukiman.Permukiman sebagai produk tata ruang mengandung arti tidak sekedar fisik saja tetapi juga menyangkut hal-hal kehidupan. Permukiman pada dasarnya merupakan suatu bagian wilayah tempat dimana penduduk/pemukim tinggal, berkiprah dalam kegiatan kerja dan kegiatan usaha, berhubungan dengan sesama pemukim sebagai suatu masyarakat serta memenuhi berbagai kegiatan kehidupan.

Menurut Doxiadis (1974) dalam Kuswatojo (2005), permukiman merupakan totalitas lingkungan yang terbentuk oleh 5 (lima) unsur utama yaitu :

  1. Alam (nature), lingkungan biotik maupun abiotik. Permukiman akan sangat ditentukan oleh adanya alam baik sebagai lingkungan hidup maupun sebagai sumber daya seperti unsur fisik dasar.
  2. Manusia (antropos), Permukiman dipengaruhi oleh dinamika dan kinerja manusia
  3. Masyarakat (society), hakekatnya dibentuk karena adanya manusia sebagai kelompok masyarakat. Aspek-aspek dalam masyarakat yang mempengaruhi permukiman antara lain : kepadatan dan komposisi penduduk, stratifikasi sosial, struktur budaya, perkembangan ekonomi, tingkat pendidikan, kesejahteraan, kesehatan dan hukum.
  4. Ruang kehidupan (shell), ruang kehidupan menyangkut berbagai unsur dimana manusia baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat melaksanakan kiprah kehidupannya.
  5. Jaringan (network), yang menunjang kehidupan (jaringan jalan, jaringan air bersih, jaringan drainase, telekomunikasi, listrik dan sebagainya).

Revitalisasi Kawasan (skripsi dan tesis)

Menurut Piagam Burra dalam Surya (2009), revitalisasi adalah menghidupkan kembali kegiatan sosial dan ekonomi bangunan atau lingkungan bersejarah yang sudah kehilangan vitalitas fungsi aslinya, dengan cara memasukkan fungsi baru ke dalamnya sebagai daya tarik, agar bangunan atau lingkungan tersebut menjadi hidup kembali. Revitalisasi Kawasan adalah rangkaian upaya menghidupkan kembali kawasan yang cenderung mati, dan mengembangkan kawasan untuk menemukan kembali potensi yang dimiliki, sehingga diharapkan dapat memberikan peningkatan kualitas lingkungan yang pada akhirnya berdampak pada kualitas kehidupan masyarakat (Jefrizon, 2012).

Revitalisasi adalah upaya untuk meningkatkan nilai lahan atau kawasan melalui pembangunan kembali dalam suatu kawasan yang dapat meningkatkan fungsi kawasan sebelumnya. Pelestarian adalah kegiatan perawatan, pemugaran, serta pemeliharaan bangunan gedung dan lingkungannya untuk mengembalikan keandalan bangunan tersebut sesuai dengan aslinya atau sesuai dengan keadaan menurut periode yang dikehendaki. (Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 18/PRT/M/2010 tentang Pedoman Revitalisasi Kawasan).

Revitalisasi merupakan serangkaian upaya menghidupkan kembali kawasan yang cenderung mati, meningkatkan nilai – nilai vitalitas yang strategis dan signifikan dari kawasan yang mempunyai potensi atau mengendalikan kawasan yang cenderung kacau. (Departemen Kimpraswil, 2002) Revitalisasi merupakan pemberdayaan daerah dalam usaha menghidupkan kembali aktivitas perkotaan dan vitalitas kawasan untuk mewujudkan kawasan layak huni (livable), mempunyai daya saing pertumbuhan dan stabilitas ekonomi lokal, berkeadilan sosial, berwawasan budaya serta terintegrasi dalam kesatuan sistem kota. (Antariksa, 2009)

Revitalisasi kawasan merupakan suatu kegiatan yang kompleks sehingga perlu tahapan-tahapan agar terlaksana dan membutuhkan kurun waktu tertentu serta meliputi hal-hal sebagai berikut (Martokusumo, 2006):

  1. Intervensi fisik

Citra kawasan sangat erat kaitannya dengan kondisi visual kawasan, sehingga intervensi fisik perlu dilakukan. Revitalisasi fisik merupakan strategi jangka pendek yang dimaksudkan utnuk menciptakan keadaan yang kondusif untuk mendoronng terjadinya penigkatan kegiatan ekonomi jangka panjang. Revitalisasi dilakukan melalui upaya yang meliputi perbaikan dan peningkatan kualitas fisik bangunan, tata ruang hijau, sistem penghubung, sistem tanda/reklame dan ruang terbuka kawasan (open space). Kondisi lingkungan binaan yang berkaitan isu lingkungan (environmental sustainability) pun menjadi penting untuk diperhatikan.

  1. Rehabilitasi ekonomi

Revitalisasi yang diawali dengan proses peremajaan artefak urban harus didukung dan sekaligus didukung oleh rehabilitasi/pemulihan kegiatan ekonomi lokal. Kegiatan ekonomi lokal diharapkan mampu mendukung keberlanjutan ekonomi kawasan yang tentunya berdampak kepada nilai tambah suatu kawasan. Dalam konteks ini perlu dikembangkan fungsi-fungsi campuran (mixed use development) yang bisa mendorong terjadinya aktivitas ekonomi (penyediaan lapangan kerja) dan sosial (vitalitas baru). Pemanfaatan kawasan secara produktif dapat membentuk mekanisme perawatan dan kontrol terhadap kelangsungan fasilitas dan infrastruktur kota.

  1. Rekayasa sosial/pengembangan institusional

Keberhasilan revitalisasi sebuah kawasan akan terukur bila mampu menciptakan lingkungan yang menarik (interesting), jadi bukan sekedar menciptakan beautiful place saja. Kegiatan rekayasa sosial atau pengembangan institusional mampu meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat untuk menciptakan lingkungan sosial yang berjati diri. Untuk itu diperlukan pengembangan intitusi yang akuntabel seperti penggalangan kemitraan, diskusi lintas pelaku (stakeholders) dan perwujudan good urban governance.

Urban Design (Perancangan Kota) (skripsi dan tesis)

            Urban design pada dasarnya merupakan perancangan fisik dan ruang suatu kawasan termasuk mengenai aturan pengendaliannya yang di tunjukan untuk kepentingan umum.  Ruang-ruang yang berada diantara bangunan disebut juga lingkup urban design. Dalam aspek tata guna lahan, juga harus memperhatikan hal-hal yang mempengaruhinya yaitu zoning, dimana zoning diartikan merupakan suatu aturan legal yang mengatur peruntukan penggunaan lahan. Kevin Lynch (1984) dalam bukunya Good City Form dan Image of The Citydesign berhubungan dengan 3 elemen yaitu :pola aktivitas, pola sirkulasi dan pola daribentuk yang dapat mendukungnya. Sedangkan keseluruhan konfigurasi dan penampilan tata massa dan bentuk bangunan juga dapat diarahkan pada tema daerah yang akan dicapai tercapai kualitas citra (image) district.Perancangan kota adalah bagian dari rangkaian perencanaan kota yang mencakup penataan kota dari segi bentuk, penampilan, kinerja, estetika dari struktur fisik dan lingkungannya.

Hamid Shirvani (1985) Dalam bukunya “Urban Design Proces”, urban design (perancangan kota) merupakan kelanjutan dari urban planning (perencanaan kota) sebab bagaimanapun hasil perencanaan kota belum selesai atau belum dapat dilaksanakan tanpa ada rancang desain dari rencana yang telah disusun. Urban design  memiliki tekanan pada penataan lingkungan fisik kota.

Elemenurban design  yang membentuk suatu kota (terutama pusat kota) menurut Hamid Shirvani(1985) :

  1. Land Use(Tata Guna Lahan)

Tata Guna Lahan merupakan rancangan dua dimensi berupa denah peruntukan lahan sebuah kota. Ruang-ruang tiga dimensi (bangunan) akan dibangun di tempat-tempat sesuai dengan fungsi bangunan tersebut. Pemisahan letak fungsi lahan dengan pertimbangan optimalisasi lahan. Kebijaksanaan tata guna lahan juga membentuk hubungan antara sirkulasi/parkir dan kepadatan aktivitas/penggunaan individual. Terdapat perbedaan kapasitas (besaran) dan pengaturan dalam penataan ruang kota, termasuk didalamnya adalah aspek pencapaian, parkir, sistem transportasi yang ada, dan kebutuhan untuk penggunaan lahan secara individual. Pada prinsipnya, pengertian land use (tata guna lahan) adalah : pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga dapat memberikan gambaran keseluruhan bagaimana daerah-daerah pada suatu kawasan tersebut seharusnya berfungsi.

  1. Bentuk dan Massa Bangunan (Building form and massing)

Building form and massing membahas mengenai bagaimana bentuk dan massa-massa bangunan yang ada dapat membentuk suatu kota serta bagaimana hubungan antar massa (banyak bangunan) yang ada. Pada penataan suatu kota, bentuk dan hubungan antar massa seperti ketinggian bangunan, jarak antar bangunan, bentuk bangunan, fasad bangunan, dan sebagainya harus diperhatikan sehingga ruang yang terbentuk menjadi teratur. Building form and massing dapat meliputi kualitas yang berkaitan dengan penampilan bangunan, yaitu : Ketinggian Bangunan,kepejalan bangunan, Koefisien Lantai Bangunan (KLB),Koefisien Dasar Bangunan (Building Coverage), Garis Sempadan Bangunan (GSB), skala, material, tekstur, warna

  1. Sirkulasi dan Parkir

Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara langsung dapat membentuk dan mengkontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya dengan keberadaan sistem transportasi dari jalan publik, pedestrian, dan tempat-tempat transit yang saling berhubungan akan membentuk pergerakan (suatu kegiatan). Sirkulasi di dalam kota merupakan salah satu alat yang paling kuat untuk menstrukturkan lingkungan perkotaan karena dapat membentuk, mengarahkan, dan mengendalikan pola aktivitas dalam suatu kota. Selain itu sirkulasi dapat membentuk karakter suatu daerah, tempat aktivitas dan lain sebagainya. Tempat parkir mempunyai pengaruh langsung pada suatu lingkungan yaitu pada kegiatan komersial di daerah perkotaan dan mempunyai pengaruh visual pada beberapa daerah perkotaan. Penyediaan ruang parkir yang paling sedikit memberi efek visual yang merupakan suatu usaha yang sukses dalam perancangan kota.

  1. Ruang Terbuka

Berbicara tentang ruang terbuka (open space) selalu menyangkut lansekap. Elemen lansekap terdiri dari elemen keras (hardscape seperti : jalan, trotoar, bebatuan dan sebagainya) serta elemen lunak (softscape) berupa tanaman dan air. Ruang terbuka biasa berupa lapangan, jalan, sempadan sungai, taman dan sebagainya. Dalam perencanan open space akan senantiasa terkait dengan perabot taman/jalan (street furniture). Street furniture ini bisa berupa lampu, tempat sampah, papan nama, bangku taman dan sebagainya.

  1. Jalan Pejalan Kaki (Pedestrian)

Elemen pejalan kaki harus dibantu dengan interaksinya pada elemen-elemen dasar desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan kota dan pola-pola aktivitas serta sesuai dengan rencana perubahan atau pembangunan fisik kota di masa mendatang. Dalam perancangannya, jalur pedestrian harus mempunyai syarat-syarat untuk dapat digunakan dengan optimal dan memberi kenyamanan pada penggunanya.

  1. Aktivitas Pendukung

Aktivitas pendukung adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Bentuk, lokasi dan karakter suatu kawasan yang memiliki ciri khusus akan berpengaruh terhadap fungsi, penggunaan lahan dan kegiatan pendukungnya. Aktifitas pendukung meliputi segala fungsi dan aktivitas yang memperkuat ruang terbuka publik, karena aktivitas dan ruang fisik saling melengkapi satu sama lain. Pendukung aktivitas tidak hanya berupa sarana pendukung jalur pejalan kaki, tapi juga harus mempertimbangkan fungsi elemen kota yang dapat membangkitkan aktivitas seperti pusat perbelanjaan, taman rekreasi, alun-alun, dan sebagainya.

Tata Ruang (skripsi dan tesis)

Tata ruang di artikan sebagai segala sesuatu yang mempunyai kaitan dengan keruangan. Tata ruang sebagai hal yang berkaitan dengan perencanaan dan perancangan ruang. Tata Ruang terkait dengan suatu penataan segala sesuatu yang berada di dalam ruang sebagai wadah penyelenggaraan kehidupan. Didalam tata ruang terdapat suatu distribusi dari tindakan manusia dan kegiatannya untuk mencapai tujuan sebagaimana yang dirumuskan sebelumnya. Tata ruang merupakan penjabaran dari suatu produk perencanaan fisik ruang apakah itu ruang terbatas maupun ruang tak terbatas.

            Pada Undang-Undang nomor 26 tahun 2007 bab1 pasal 1, tentang penataan ruang, tata ruang diartikan sebagai suatu wujud struktural dan pola ruang(terjadi secara alami). Wujudbentuk dan struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarki memiliki hubungan fungsional.

Penataan ruang (Spatial Planning) adalah perencanaan, pemanfaatan ruang. Sedangkan rencana tata ruang (Spatial Plan) diartikan sebagai hasil perencanaan tata ruang, berupa arahan kebijakan dan memperuntukkan (alokasi) pemanfaatan ruang yang secara struktural mengambarkan ikatan fungsi lokasi yang terpadu dari berbagai kegiatan kehidupan. Ruang/space adalah wadah tempat berlansungnya kehidupan yang menyangkut ruang daratan, ruang lautan, ruang udara, termasuk didalamnya tanah, air, udara beserta benda-benda serta sumber daya dan keadaan alam sebagai suatu kesatuan wilayah tempat manusia dengan berbagai kegiatannya serta berbagai makluk lainnya melakukan dan melaksanakan kehidupannya.

Ruang  dapat diciptakan dari adanya aktifitas dan perilaku baik secara ekonomi sosial dan budayadimana lebih menunjukan pada kondisidan keberadaan lingkungan permukiman. Dalam arsitekur, tidak hanya membayangkan sebuah bangunan sebagai masa padat tetapi juga sebagai ruang-ruang yang dibentuk oleh perletakan dari bangunan-bangunan yang ada. Ruang pada dasarnya terbentuk kerena adanya hubungan antara objek dan manusia yang melihatnya, sebagai satu kesatuan bentuk yang terbatas dan tidak terbatas.

            Urban space terbentuk dari dinding/facade bangunan dan lantai kota yang pada dasarnya dibedakan oleh karakteristik yang menonjol seperti kualitas yang melingkupi, kualitas pengolahan ruang, dan aktifitas yang berlangsung didalam ruang. Sedangkan menurut Rob Krier (1979) urban space dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :

  1. Berbentuk linear, yaitu ruang terbuka umumnya hanya mempunyai batas disisi-sisinya misalnya berbatasan dengan pedestrian, jalan, bangunan dan sebagainya.
  2. Berbentuk Cluster, yaitu ruang terbuka yang mempunyai batas-batas disekelilingnya Misalnya (kompleks pertokoan)

Ruang terbuka berfungsi sebagai sarana sosial yang dipengaruhi oleh elemen-elemen fisik arsitektur sehingga tujuan urban design(perancangan kota)adalah menciptakan ruang publik sebagai tempat untuk bertemu dan berinteraksi. Perwujudan ruang terbuka untuk masyarakat umum ditunjukkan dalam kawasan kota juga dalam bangunan, dengan kata lain Urban Open Spaceterbentuk akibat dari fasade bangunan tertentu dan open space yang ada di dalam bangunan

            Suatu lingkungan merupakan hubungan saling ketergantungan yang menerus antara  elemen-elemen fisik dan manusia yang ada didalamnya, hubungan dan berjalan rapi dan memiliki pola tertentu. Hubungan ini dalam lingkungan fisik membentuk ruang, yang merupakan bagian yang paling mendasar di mana manusia akan saling dihubungkan didalam ruang dan oleh ruang. Pemahaman makna ruang bagi komunitas yang satu akan berbeda dengan komunitas yang lainnya.

            Pola tata ruang mengandung tiga elemen (Aunurrofieq, 1998 dalam Dwi Lenstari, 2003),yaitu :

  1. Ruang dengan elemen penyusunnya (bangunan dan ruang sekitarnya)
  2. Tatanan (formation) mempunyai makna komposisi, serta pola atau model dari suatu komposisi. Dengan demikian pembahasan pola tata ruang akan mencakup karakteristik ruang (jenis dan unsur pembentuknya)
  3. Dimensi ruang, orientasi, dan hubungan antar ruang merupakan model tata ruang pemukiman.

            Sehingga didalam perkotaan terdapat konsep yang terdiri dari ruang (space), kehidupan sehari-hari (everyday life), serta hubungan sosial. Disini nilai ruang bisa berbeda, hal ini disebabkan oleh hirarki ruang yang menunjukan perbedaan derajat kepentingan baik secara fungsional, formal maupun simbolik. Sistem tata ruang bisa tercipta dengan adanya besaran atau ukuran yang berbeda, bentuk yang unik dan lokasi (Ching, DK, 1996)

Pengertian Kawasan Tumbuh Cepat (skripsi dan tesis)

Kawasan tumbuh cepat merupakan bagian dari perkembangan wilayah. Berdasarkan klasifikasi wilayahnya kawasan tumbuh cepat termasuk dalam wilayah fungsional yaitu kawasan budidaya yang didalamnya terdapat kegiatan-kegiatan produksi, jasa, dan pemukiman yang memberikan kontribusi penting bagi pengembangan ekonomi daerah, serta pengembangannya sangat berpengaruh terhadap tata ruang wilayah disekitarnya. Oleh karena itu kawasan tumbuh cepat merupakan kawasan yang perlu diprioritaskan pengembangannya dan penanganannya.

Menurut Blair dan Richardson dalam Tampubolon (2007) kawasan fungsional terkait dengan struktur hubungan antara pusat dengan wilayah sekitarnya. Secara rinci Blair dan Richardson mengelompokkan pengertian wilayah dalam tiga kategori pokok, yaitu :

1)   Konsep wilayah homogen (Homogeeous Region)

Wilayah homogen dicirikan oleh adanya karakteristik relative serupa atau kemiripan. Kemiripan tersebut dapat dilihat dari berbagai aspek seperti aspek sumberdaya alam (misal iklim, topografi, dan komoditas), sosial (agama, suku, kebudayaan, kelompok ekonomi) dan ekonomi (dari sektor ekonomi).

2)   Konsep wilayah fungsional (Nodal atau Polarized Region)

Region ini didefinisikan sebagai wilayah yang dihasilkan karena adanya internal flow, kontak dan saling ketergantungan, biasanya dari daerah-daerah yang terpolarisasi terhadap pusat yang dominan atau nodal, yaitu berdasarkan susunan (system) yang berhirarki dari suatu hubungan diantara simpul-simpul

3)   Konsep Wilayah administrasi (Administrative Region)

Wilayah administrasi dibentuk untuk kepentingan pengelolaan organisasi oleh pemerintah maupun pihak-pihak lain. Batas wilayah secara geografis sangat jelas dilandasi keputusan politik dan hukum. Wilayah administrative sering dianggap lebih penting dari tipe lainnya, karena lebih sering digunakan sebagai dasar perumusan kebijakan.

          Selain itu menurut Suhandojo (2000), kawasan tumbuh cepat termasuk dalam kawasan tertentu. Kawasan tertentu adalah kawasan yang dinilai mempunyai dampak penting bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan kriteria sebagi berikut :

1)   Mempunyai potensi sumberdaya yang besar pengaruhnya terhadap aspek ekonomi, demografi, politik dan hankam serta pengembangan wilayah sekitarnya

2)   Mempunyai dampak penting baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun kegiatan lainnya

3)   Merupakan faktor yang mendorong kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat di wilayah yang bersangkutan maupun wilayah sekitarnya

4)   Mempunyai keterkaitan yang saling mempengaruhi dengan kegiatan yang dilaksanakan oleh wilayah sekitarnya, baik dalam lingkup nasional maupun regional

5)   Mempunyai dampak terhadap kondisi politik dan pertahanan keamanan nasional serta regional

Penetapan kawasan tumbuh cepat mengandung tujuan untuk mendorong pertumbuhan atau perkembangan wilayah tersebut. Pertumbuhan wilayah dapat terjadi oleh karena wilayah memiliki kemampuan dalam memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh daerah lain (Perloff, H dan Wingo, L dalam Friedman J, 1964). Suatu wilayah dapat menjadi pusat pertumbuhan apabila didalam wilayah tersebut memiliki sektor unggulan yang mampu mengekspor produknya kedalam pasar yang lebih luas. Tujuan dari konsep tersebut adalah sebagai upaya percepatan peningkatan kapasitas produksi dan produktivitas yang mendorong perluasan kesempatan kerja, untuk meningkatkan pendapatan dan tabungan masyarakat.

Untuk mendorong perkembangan kawasan tertentu seperti kawasan tumbuh cepat, maka perlu dilakukan perencanaan dan pengelolaan kawasan (Suhandojo dkk, 2000), Beberapa perencanaan yang perlu dikembangkan adalah :

1)   Penetapan rencana strategis kawasan

2)   Pengembangan spasial dan infrastruktur

3)   Pengembangan investasi

4)   Pengembangan kelembagaan

5)   Pengembangan sumberdaya manusia

Adapun pengelolaan kawasan tertentu dapat dilakukan dalam bentuk :

1)   Insentif fisik dalm bentuk pembangunan prasarana

2)   Insentif non fisik dalam bentuk kemudahan perijinan dan pemberian keringanan pajak

Dalam pengembangan suatu kawasan unsur sumberdaya manusia atau masyarakat mempunyai fungsi :

1)   Sebagai subyek yaitu pelaku pembangunan di kawasan khususnya dalam pengembangan usaha ekonomi, pertanian, industri, perdagangan dan jasa

2)   Sebagai obyek yaitu sebagi target peningkatan kesejahteraan melaui pengembangan kawasan

3)   Sebagi mitra pelaku pembangunan yaitu mitra pemerintah dalam melaksanakan pembanguna di kawasan.

Jadi kawasan tumbuh cepat merupakan konsep yang terkait dengan fungsional suatu kawasan sebagi wilayah budidaya yang diutamakan perkembangannya melalui serangkaian perencanaan dan pengelolaan untuk mencapai suatu tingkat pertumbuhan dan perkembangan tertentu yang sekaligus ditujukan sebagi faktor pendorong kesejahteraan sosial ekonomi masyarakatnya dan wilayah sekitarnya.

Perkembangan Kawasan (skripsi dan tesis)

Dalam penggunaan sehari-hari pengertian kawasan sering dipertukarkan dengan pengertian daerah dan wilayah. Istilah kawasan, daerah dan wilayah memang mempunyai persamaan meskipun juga mengandung perbedaan. Hal ini diungkapkan oleh Sinulingga (20015), bahwa dalam tujuan pengelompokan kesamaan kondisi (homogenity) istilah wilayah sering dipertukarkan dengan kawasan. Menurut Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang yang dimaksud dengan kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya.

Pengertian perkembangan wilayah atau kawasan mengandung makna adanya perubahan kondisi kawasan yang menjadi lebih baik mencakup aspek perubahan fisik maupun non fisik. Perkembangan suatu kawasan dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan dari luar. Pengaruh dari dalam berupa rencana pengembangan dan perencanaan kota, regulasi atau kebijakan yang ditetapkan di daerah tersebut, pertumbuhan ekonomi, adanya kemudahan sarana prasarana yang ada. Sedangkan pengaruh dari luar berupa daya tarik daerah tersebut bagi daerah di sekitarnya seperti adanya pusat kegiatan perdagangan dan jasa serta kemudahan fasilitas (Yunus, 2005).

Menurut Sujarto (1991), terdapat tiga faktor utama yang sangat menentukan pola perkembangan suatu wilayah, yaitu :

1)   Faktor manusia, yaitu menyangkut segi-segi perkembangan penduduk baik karena kelahiran maupun karena perpindahan tempat. Segi-segi perkembangan tenaga kerja, perkembangan status sosial dan perkembangan kemampuan pengetahuan dan teknologi.

2)   Faktor kegiatan manusia, yaitu menyangkut segi-segi kegiatan kerja, kegiatan fungsional, kegiatan perekonomian dan kegiatan perhubungan regional yang lebih luas.

3)   Faktor pola pergerakan, yaitu sebagi akibat dari perkembangan yang disebabkan oleh kedua faktor perkembangan penduduk yang disertai dengan perkembangan fungsi kegiatan dalam membentuk pola perhubungan antara pusat-pusat kegiatan tersebut.

Terkait dengan pergerakan manusia Charles Colby dalam Yunus (2005) menyebutkan tentang kekuatan-kekuatan dinamis yang mempengaruhi pola penggunaan lahan di perkotaan melalui artikelnya yang berjudul “centrifugal and centripetal forces in urban geography”. Secara garis besar kekuatan dinamis dikelompokkan menjadi dua yaitu :

1)   Kekuatan centrifugal (centrifugal forces) adalah kekuatan-kekuatan yang menyebabkan terjadinya pergerakan penduduk dan fungsi-fungsi perkotaan dari bagian dalam suatu kota menuju ke bagian luar

2)   Kekuatan centripetal (centripetal forces) adalah kekuatan-kekuatan yang menyebabkan terjadinya pergerakan penduduk dan fungsi-fungsi yang berasal dari bagian luar menuju ke bagian perkotaan.

Kedua kekuatan tersebut terjadi karena adanya faktor pendorong (push factors) yang terdapat di daerah asal pergerakan (place of origin) dan faktor penarik (pull factors) yang terdapat di tempat tujuan pergerakan (place of destination).

Perbedaan kepentingan dalam pemanfaatan lahan berpotensi merubah bentuk pemanfaatan lahan yang selanjutnya mendorong perkembangan wilayah pada arah tertentu. Orientasi kepentingan masyarakat, memanfaatkan lahan untuk pemenuhan kebutuhan pribadi akan kebutuhan sosial ekonominya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, interaksi sosial dan rekreasi.

Orientasi kepentingan swasta, memanfaatkan lahan untuk keuntungan yang akan diperoleh dari nilai ekonominya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan produksi barang dan kegiatan jasa. Dengan demikian berlaku hukum ekonomi yaitu mencari lokasi yang paling menguntungkan.

Orientasi lembaga pemerintahan, memanfaatkan lahan untuk optimalisasi pelayanan umum. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi kegiatan pengembangan manusia, kegiatan dasar untuk pelayanan umum dan kegiatan untuk kesejahteraan. Tujuan yang diharapkan adalah terpenuhinya kebutuhan masyarakat akan pemanfaatan pelayanan umum.

Fokus pembangunan dan pengembangan wilayah pada umumnya diletakkan pada kota-kota pusat pertumbuhan yang merupakan titik awal dari suatu perkembangan. Perkembangan selanjutnya dilakukan melalui pusat-pusat perkembangan lainnya dengan mengikuti hierarki dalam suatu sistem pusat-pusat pertumbuhan. Tingkat pertumbuhan dan perkembangan suatu wilayah akan tercapai apabila didukung oleh ketersediaan infrastruktur dan sarana prasarana yang mampu membuka keterbelakangan daerah serta menumbuhkembangkan kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan dampak ekonomi seperti pengembangan sentra-sentra produksi unggulan dan penguatan simpul-simpul pertumbuhan (Poernomosidi, 1999).

Untuk mengetahui sejauhmana perkembangan suatu wilayah beberapa pendekatan disampaikan oleh beberapa ahli. Pramudji (1985), mengembangkan ukuran baku untuk menentukan kriteria perkembangan perkotaan. Perkotaan merupakan salah satu ciri dari kemajuan suatu wilayah akibat perkembangan yang terjadi di wilayah atau kawasan yang bersangkutan. Unsur-unsur yang dipandang berpengaruh terhadap perkembangan suatu wilayah meliputi unsur fisik dan non fisik. Unsur-unsur fisik meliputi :

1)   Jumlah penduduk

2)   Mata pencaharian penduduk

3)   Luas daerah terbangun (built up area)

4)   Keadaan bangunan-bangunan (perumahan penduduk, gedung perkantoran, balai pertemuan, pasar dan sebagainya)

5)   Keadaan “Public Utilities”

6)   Potensi keruangan

Adapun unsur-unsur non fisik meliputi :

1)   Peranan dan fungsi kota dalam pengembangan wilayah

2)   Kedudukan dalam pemerintahan negara

3)   Heterogenitas kegiatan penduduk

4)   Sifat hubungan sesama warga masyarakat

Dengan demikian perkembangan kawasan merupakan suatu proses perubahan kawasan baik fisik maupun non fisik dari suatu keadaan tertentu akibat adanya aktivitas manusia baik aktivitas yang sengaja dilakukan untuk merubah kawasan melalui implementasi kebijakan-kebijakan maupun akibat adanya aktivitas manusia dalam menjalankan kehidupannya.

Asesori Jaringan Pipa (skripsi dan tesis)

  1. Pompa

Pompa adalah suatu alat untuk menaikkan tekanan atau energi potensial air. Dengan pompa maka tinggi tekanan yang telah berkurang dapat dinaikkan kembali. Jika sebelum pompa dipasang sudah ada aliran, maka tugas pompa adalah menambah debit yang berarti juga mempercepat aliran. Dengan demikian pompa dapat juga digunakan sebagai alat untuk menambah debit dan tekanan. Jika tinggi tekanan yang dibutuhkan sistem semakin tinggi, kemampuan pompa dalam mengalirkan air turun. Sebaiknya jika tinggi tekanan dari pompa dikurangi, maka kemampuan pompa untuk mengalirkan air naik. Namun pompa biasanya bekerja pada elevasi yang relatif tetap (Triatmadja,2000).

Pompa mencapai efisiensi yang tinggi pada saat yang tepat, yaitu pada ketinggian tekanan tertentu, disebut sebagai Hd (design head). Pada saat itu pompa efisien tetapi debit yang keluar dari pompa bukan yang tinggi

Pompa dapat diklasifikasikan antara lain :

  1. Pompa Reciprocating

Dari kurva karakteristik pompa reciprocating dapat dilihat bahwa head yang dihasilkan pompa tersebut tidak dipengaruhi oleh kapasitas. Dengan kapasitas yang tetap dapat dihasilkan head yang berbeda,

  1. Pompa Rotary

Pompa ini biasanya digunakan untuk memompakan zat cair dengan viskositas tinggi seperti minyak, larutan yang bersifat bubur dan lain-lain.

  1. Pompa sentrifugal banyak digunakan untuk memompa air bersih maupun air buangan. Beberapa tipe   pompa sentrifugal yang sering digunakan adalah pompa submersible air bersih sumur dalam, pompa turbin sumur dalam, dan pompa Non-Clongging.
  2. Tangki

Tangki tidak boleh direncanakan asal besar saja, perencanaan yang demikian membuat tangki tidak efisien. Tangki harus direncanakan sedemikian rupa sehingga air tidak turun terus menjadi habis terkuras pada jam puncak, tetapi tangki harus direncana

dapat menampung air sebesar kekurangan air yang dibutuhkan antara suplai dan kebutuhan saat jam puncak.Jadi pada jam dengan kebutuhan besar(kebutuhan lebih besar daripada suplai), air dalam tangki walaupun berkurang tetapi tidak boleh kurang dari elevasi dari elevasi minimum dalam tangki, selanjutnya pada jam-jam berikutnya setelah kebutuhan berkurang debit suplai air lebih besar dari kebutuhan air sehingga tangki terisi kembali.

Walski dalam Radianta Triatmadja (2000) memberikan konsep dasar keberadaan tangki dalam distribusi air bersih adalah sebagai berikut :

1)        Penyamaan

Pengoperasian bangunan pengolah air pada nilai yang relatif tetap, dengan mata air dan pompa yang secara umum baik pada sebuah nilai tetap. Porsi pelayanan sebuah tangki diukur untuk memenuhi kebutuhan harian puncak. Proses pengisian dan pengosongan tangki tampungan adalah sangat mudah secara operasional dan secara umum murah dibanding metode lain,

2)        Mempertahankan tekanan

Pada sebuah ketinggian, elevasi dari air yang disimpan dalam tangki menentukan tekanan dalam semua pipa yang secara langsung berhubungan dengan tangki tersebut (tanpa melalui katup pelepas tekan atau pompa),

3)        Penyimpanan untuk pemadaman kebakaran

Untuk sistem yang lebih kecil, tangki mempunyai keandalan secara operasinoal dan secara ekonomi, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan besar dengan waktu pendek pada sebuah sistem penyediaan air selama pemadam kebakaran,

4)        Penyimpanan darurat

Tangki tampungan juga dapat menyediakan air dalam sistem jika terjadi keadaan darurat seperti : putusnya saluran induk, masalah pada bangunan pengolah, dan kegagalan sistem. Disamping secara sederhana menyediakan volume tampungan, tangki dapat mem-backup tekanan udara dalam sistem jika terjadi kemacetan pompa, mencegah terjadinya kontaminasi akibat putusnya pipa utama,

5)        Pemakaian energi.

Air yang ditampung dalam tangki pada sebuah elevasi menyimpan energi yang dapat digunakan sehingga operasional pompa pada waktu puncak lebih efisien dan efektif,

6)        Kualitas air

Tangki dapat mempengaruhi kualitas air secara umum melalui proses kimia, fisik dan biologi yang terjadi karena air disimpan terlalu dalam tangki, atau melalui kontaminasi eksternal kedalam tangki (burung, tikus, serangga). Hal ini seharusnya dihilangkan dengan design dan pemeliharaan yang tepat,

7)        Pengatur hidrosis sementara

Mereduksi efek”waterhammer” akibat perubahan kecepatan secara ekstrim dalam sistem,

8)        Estetika

Pertimbangan design dan kedudukan tangki juga dapat mengenai segi estetis tanpa  mengabaikan tujuan, efisiensi dari operasi sistem jaringan.

Aliran Dalam Pipa (skripsi dan tesis)

Di dalam pipa air mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Pernyataan ini dapat diartikan selama air mengalir, tinggi tekanannya berkurang. Atau dengan kata lain energinya berkurang. Berkurangnya energi atau tinggi tekanan merupakan fungsi debit, panjang pipa, diameter pipa dan koefisien gesek pipa.

Pipa yang digunakan untuk mengalirkan air baku dari sumber air kekonsumen ataupun bak penampung, harus memiliki bentuk penampang yang bulat. Pipa dapat terbuat dari bahan yang sangat keras maupun dari bahan plastik (Linsley,1996). Pipa plastik adalah salah satu jenis pipa yang banyak digunakan dalam proyek-proyek jaringan distribusi air bersih, pipa ini lebih dikenal dengan sebutan pipa PVC (Poly Vinyl Chloride). Panjang pipa antara 4-6 meter dengan ukuran diameter dari 16 mm hingga 650 mm. Keuntungan dalam penggunaan pipa ini adalah :

1)   umur pipa dapat mencapai 75 tahun,

2)         banyak tersedia di pasaran dan harganya lebih murah dari pada pipa DIP (Ductile Iron Pipa) dan GI (Galvanized Iron),

3)        Non corrosive atau tidak berkarat sehingga kualitas air tidak mengalami perubahan rasa dan tetap bersih,

4)        Permukaan pipa licin (koefisien kekasaran kecil sehingga menghemat tinggi tekanan),

5)        Ringan sehingga mempermudah untuk pengangkutan, mudah dalam peletakan/pemasangan,

6)         Pemasangan sambungan yang mudah yaitu dengan menggunakan RRJ (Rubber Ring Joint),

7)         non poisonous yaitu pipa PVC tidak beracun dan tidak mengubah warna maupun cairan yang melewatinya,

8)        isolator, pipa PVC merupakan electrical cable conduit cover yang terbaik,

9)        infalmmable, yaitu tidak terbakar bila kena api,

10)    mechanical strength, pipa PVC memiliki mechanical strength dan elastis.

Kehilangan Air (skripsi dan tesis)

Jumlah pengguna air meningkat, jika kebutuhan meningkat dalam sistem distribusi. Oleh sebab itu tekanan harus diperbesar agar dapat sampai kedaerah distribusi secara merata. Namun kondisi ini sering menyebabkan kehilangan air yang lebih besar melalui kebocoran, sejumlah besar terbuang melalui kran yang terbuka (Budi Kamulyan,2007 ).

Menurut Kodoatie (2005 dalam Derry Yumico, 2004) kehilangan air dapat didefinisikan sebagai perbedaan antara jumlah air bersih yang diproduksi oleh produsen  air dan jumlah air yang terjual kepada konsumen, sesuai dengan yang tercatat di meteran pelanggan. Menurut DPU Jendral Cipta karya Direktorat Air Bersih (1987) dalam Derry Yumico (2004), kehilangan air dapat terjadi akibat faktor-faktor seperti dibawah ini :

  1. Faktor teknis
  2. adanya lubang atau celah pada pipa sambungan,
  3. pipa pada jaringan distribusi pecah,
  4. meteran yang dipasang pada pipa konsumen kurang baik,
  5. pemasangan perpipaan dirumah kurang baik,
  6. Faktor non teknis
  7. kesalahan pembacaan dan pencatatan meter air,
  8. kesalahan pemindahan /pembuatan rekening PDAM,

angka yang ditunjukkan oleh meter air berkurang akibat adanya tekanan udara  dari rumah konsumen ke pipa distribusi melalui meter air tersebut.

Fluktuasi Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)

Fluktuasi kebutuhan air pada suatu tempat sangat dipengaruhi oleh kondisi populasi, dan secara umum ditunjukkan bahwa semakin padat penduduk akan menurunkan beban puncak. Pemukiman didaerah pinggiran kota akan memberikan beban puncak jam-jaman yang lebih besar dibandingkan pemukiman di kota-kota besar (Budi Kamulyan, 2007). Fluktuasi kebutuhan air disuatu wilayah ditentukan oleh jumlah yang memakai air, faktor setempat dan kondisi dari penyediaan air itu sendiri.

Sistem Jaringan Distribusi (skripsi dan tesis)

Sistem jaringan distribusi merupakan bagian yang paling mahal bagi suatu perusahaan air bersih. Untuk itu perencanaan dari suatu sistem jaringan perpipaan harus dirancang dengan teliti mungkin agar sistem dapat bekerja secara efisien dan optimal. Kesalahan dalam merencanakan jaringan distribusi air bersih dapat berakibat fatal, misalnya sebagai berikut ini ( Radianta Triatmadja, 2000 )

  1. sebagian daerah mungkin tidak terairi pada waktu-waktu tertentu, daerah lain mungkin tidak memperoleh air sama sekali,
  2. pada suatu lokasi air terus mengalir tetapi melalui pipa yang pecah karena tidak kuat terhadap tekanan air di dalamnya,
  3. pompa bekerja tidak efisien karena kesalahan perencanaan sehingga biaya operasional tinggi,
  4. pada saat perbaikan, suatu daerah tidak mendapat suplai air,
  5. sulit dan tidak dapat dikembangkan karena pemilihan pipa yang tidak tepat,
  6. tangki terlalu kecil sehingga tidak efisien dan pompa bekerja tidak efisien,
  7. kebocoran tidak terdeteksi.

Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)

Jumlah kebutuhan air rumah tangga pada tiap-tiap orang bervariasi, tergantung pada kondisinya atau aktifitasnya sehari-hari. Terkait dengan fungsi waktu, kebutuhan air bervariasi dari jam ke jam sepanjang hari (relatif rendah dimalam hari). Kebutuhan air untuk suatu kota adalah besarnya air yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh komponen yang ada dikota (rumah tangga, industri, perdagangan,  hotel,  dan lain-lain), ditambah dengan kehilangan akibat kebocoran pipa.

Kebutuhan air bersih dari suatu daerah ditentukan oleh jumlah penduduk yang memakainya air bersih, faktor setempat dan kondisi dari penyediaan air itu sendiri.

Pembagian kebutuhan air bersih dapat dibedakan menjadi dua yaitu kebutuhan domestik dan kebutuhan non domestik sebagai berikut ini :

  1. Kebutuhan domestik :
  2. Kebutuhan rumah tangga,
  3. Keran umum,
  4. Kebutuhan non domestik :
  5. Fasilitas perkantoran,
  6. Fasilitas perdagangan dan industri,
  7. Fasilitas sosial seperti rumah sakit, tempat ibadah dan lain-lain.

Dalam analisa kebutuhan air disuatu daerah sangat diperlukan  tingkat kepentingan daerah yang berguna untuk perkiraan – perkiraan jumlah volume air yang dibutuhkan. Besaran tersebut biasanya diberikan dalam bentuk informasi data  dari jumlah orang yang akan dilayani dan volume konsumsi rata-rata tiap orang setiap hari dari beberapa faktor tingkat konsumsi air.

Faktor – faktor yang  mempengaruhi konsumsi air bersih adalah :

  1. Penduduk, jumlah penduduk selalu berubah sesuai perubahan waktu dan tempat. Kecenderungan kenaikan pertambahan jumlah penduduk mengakibatkan pula naiknya permintaan ketersediaan air bersih,
  2. Usia pengguna, sangat menentukan dalam penggunaan air. Orang dewasa akan lebih banyak membutuhkan air karena kebutuhan airnya lebih bervariasi dan dalam jumlah yang relatif lebih besar,
  3. Tingkat kemajuan penduduk, parameter tingkat ekonomi dan pendidikan penduduk pada suatu daerah menunjukkan pengelompokan tingkat konsumsi pengunaan air bersih. Kebutuhan air meningkat selaras dengan pertumbuhan kemajuan penduduk,
  4. Kebiasaan masyarakat, adat istiadat, budaya, serta agama, dalam mengunakan air pada masing-masing daerah atau negara berlainan sehingga standar kebutuhan airnya juga berbeda,
  5. Ketersediaan air, yang dimaksud ketersediaan air mencakup kuantitas, kualitas serta energi atau tekanan air, Jika ketersediaan air terbatas orang akan cendrung untuk lebih,
  6. Cuaca, iklim, pada musim kemarau kebutuhan air akan lebih besar bila dibandingkan pada saat musim hujan.

Metode Pengambilan Keputusan (skripsi dan tesis)

Menurut Rachmad Jayadi (2001, dalam Suandhi 2005), proses pengambilan keputusan merupakan proses penyelesaian masalah terkait dengan upaya pemilihan beberapa alternatif  pada cakupan pertimbangan yang kompleks dan berpotensi untuk saling bertentangan. Proses ini dimulai dengan identifikasi persoalan secara rumit. Selanjutnya adalah menetapkan adalah menetapkan kategori dan melakukan kuantifikasi tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang telah ditetapkan akan menentukan langkah atau tindakan untuk memperoleh penyelesaian persoalan. Sekali tujuan telah ditetapkan, maka sangat penting untuk melakukan identifikasi fisik dan sumber-sumber informasi yang diperlukan. Tanpa penilaian secara akurat terhadap sumberdaya dan berbagai kendala yang ada, upaya pencarian solusi akan bersifat sangat spekulatif.

Tahap berikutnya adalah menentukan beberapa opsi yang berpotensi untuk menjawab persoalan. Apakah beberapa opsi telah didapatkan, langkah berikutnya adalah menetapkan dan menerapkan kriteria pemilihan. Beberapa opsi tersebut dapat dikombinasikan kedalam beberapa alternatif yang komprehensif dan dapat diterapkan. Beberapa alternatif yang diperoleh selanjutnya dapat di evaluasi dan dikaji ulang yang hasilnya akan diberikan kepada pembuat keputusan atau pihak terkait sehingga dapat memanfaatkan informasi ini untuk memilih alternatif solusi terbaik yang dapat dilaksanakan. Alternatif terpilih akan diimplementasikan dengan disertai pemantauan (monitoring) untuk memastikan bahwa solusi yang ditempuh dapat berjalan baik.

Salah satu metode dalam pengambilan keputusan adalah Analytic Hierarchy Process (AHP). Metode AHP ini berperan dalam menstrukturkan kriteria-kriteria yang ada untuk suatu masalah pengambilan keputusan dengan banyak kriteria. Pengambilan keputusan perlu menentukan tingkat kepentingan antara kriteria-kriteria yang ada dengan membandingkan semua kombinasi kriteria yang mungkin. Selanjutnya disusun suatu matriks hubungan relatif nilai kepentingan dari kriteria-kriteria yang ada. Kemudian urutan prioritas dari kriteria dapat disusun dengan mencari eigen vektor matriks tersebut.

Analytic Hierarchy  Process (AHP). Atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan Proses Hierarki Analitik (PHA), dikembangkan oleh Thomas L.Saaty pada tahun 1970-an. AHP adalah sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi manusia. Dengan hirarki, suatu masalah kompleks dan tidak terstruktur dipecahkan kedalam kelompok-kelompoknya. Kemudian kelompok-kelompok tersebut diatur menjadi suatu bentuk hirarki (Permadi, 1992 dalam Kadarsyah Suryadi, 2002). Penilaian dari metode AHP didasarkan atas dua pernyataan, yaitu : 1) elemen mana yang lebih penting, lebih disukai atau lebih mungkin terjadi, 2) berapa kali lebih penting, lebih disukai atau lebih mungkin terjadi.

Beberapa prinsip yang harus dipahami dalam penyelesaian dengan metode AHP, antara lain :

  1. Decomposition, adalah memecah persoalan yang utuh menjadi beberapa elemen hingga elemen tersebut tidak dapat diuraikan lagi,
  2. Comparative judgement, adalah proses perbandingan antara dua elemen (pairwise comparison) dalam suatu level sehubungan dengan level diatasnya,
  3. Synthesis of priority, adalah proses penentuan prioritas elemen dalam satu level.
  4. Setelah diperoleh skala perbandingan antara dua elemen melalui wawancara, kemudian dicari vektor prioritas (eigen vector) dari suatu level hirarki pada skala preferensi,
  5. Logical consistency , adalah prinsip rasionalitas AHP yaitu obyek yang serupa antara obyek yang didasarkan pada kriteria tertentu, dengan syarat inkonsistensi tidak lebih dari 10%.

Analisis dalam metode ini dimulai dengan melakukan penilaian terhadap pendapat berdasarkan hasil wawancara dan isian kuisioner dari responden terkait. Adapun tahapan yang dilakukan dalam analisis ini adalah:

  1. Identifikasi masalah, meliputi penentuan tujuan, kriteria dan sub kriteria, dilakukan melalui kajian pustaka,
  2. Menyusun hierarki,
  3. Dalam AHP, pengambilan keputusan perlu menentukan tingkat kepentingan antara kriteria-kriteria yang ada dengan membandingkan semua kombinasi kriteria yang mungkin (Rachmad Jayadi, 2001 dalam Suandhi, 2005). Selanjutnya disusun suatu matriks hubungan relatif nilai kepentingan dari kriteria-kriteria yang ada. Selanjutnya urutan prioritas/rangking dari kriteria dapat disusun dengan mencari eigen vektor matriks. Struktur formulasi masalah dalam AHP dapat dilihat seperti gambar 3.1.
  4. Pairwise Comparison (pembandingan secara berpasangan), fase evaluasi didasarkan pada suatu konsep pembanding berpasangan (pairwise comparison). Elemen dalam suatu level hirarki adalaah pembanding dalam bagian itu sehingga diperoleh nilai kepentingan atau kontribusi dari masing-masing elemen dengan memperhatikan pengaruh elemen pada level diatasnya.
  5. Tes konsistensi

Untuk mengetahui konsistensi AHP, maka perlu dilakukan uji konsistensi. Langkah tersebut berlaku masing-masing kriteria, sub kriteria dan alternatif, sehingga akhirnya diperoleh vektor prioritas menyeluruh nilai masing – masing alternatif dijumlahkan dan nilai tertinggi adalah alternatif terbaik (Saaty,1993)

…..…………………………………..(3.2)

                      …………………………………………………….(3.3 )

                               …………………………………………….(3.4)

 

                  …………………………………………………………(3.5)

dengan:

A  =  matriks awal,

W =  vektor prioritas,

N  =  jumlah kriteria,

            λ   =   nilai subjektifitas (maksimum 10%),

           RI  =   average random consistency index.

Tabel 3.1 Random Consistency Index

Orde matriks (n) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Indeks Random 0 0 0,52 0,89 1,11 1,25 1,35 1,4 1,45 1,49

Sumber : Saaty (1993)

Nilai konsistensi ini disebut ratio konsistensi (Consistensy Ratio atau Cr).

Hal ini penting untuk menekankan bahwa meminimalkan nilai CR. Jika nilai CR sama dengan 0 berarti pendapat tersebut adalah konsisten sempurna. Nilai CR sampai dengan 0,10 secara umum masih dapat ditoleransikan.

Proyeksi Jumlah Penduduk (skripsi dan tesis)

Perkembangan  jumlah penduduk pada suatu wilayah akan menentukan besarnya kebutuhan air bersih, dan merupakan salah satu faktor yang penting dalam merencanakan kebutuhan air ke masa depan. Dalam melakukan analisa pertambahan penduduk akan diperoleh jumlah penduduk yang digunakan untuk memperkirakan tingkat pelayanan air bersih yang diterima  pelanggan. Memperkirakan pertambahan penduduk yang digunakan dalam penelitian ini dengan metode geometrik (DPU Direktorat Jendral Cipta Karya, 1998) persamaan sebagai berikut :

………………………………………………………(3.1)

dimana :  Pt :  jumlah penduduk pada tahun ke- t,

Po :  jumlah penduduk pada tahun dasar hitungan (tahun ke-0),

 r  : tingkat pertumbuhan penduduk,

 t  :  jumlah tahun antara tahun proyeksi dengan tahun dasar hitungan,

Proyeksi jumlah penduduk, dengan menggunakan metode aritmatik dijabarkan dalam persamaan berikut (Anonim 1998) :

    Pn  = Po + Ka ( Tn – To )    ……………………………………. (3.2  )

 Ka  = P2 – P1   ……………………………………………………….(3.2.a)

T2 ­– T1

Dimana : Pn = jumlah penduduk pada tahun ke-n (jiwa),

Po = jumlah penduduk pada tahun awal (jiwa),

Ka = konstanta aritmatik,

Tn = tahun ke-n (jiwa),

To = tahun dasar (jiwa),

P1 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun ke-1 (jiwa),

P2 = jumlah penduduk yang diketahui pada tahun akhir (jiwa),

T1 = tahun ke-1 yang diketahui,

T2 = tahun ke-2 yang diketahui.

Kebutuhan Air (skripsi dan tesis)

berbagai kebutuhan air dapat dibedakan menjadi:

  1. Kebutuhan air untuk domestik

Menurut standar FAO dan Dirjen Cipta Karya (Agung Rudi PPA, 2000) kebutuhan konsumsi air domestik tergantung dari jumlah penduduk, ukuran kota dan kehilangan air. Hubungan jumlah penduduk dan kebutuhan air dapat dilihat pada tabel 2-1.

Tabel 2-1 Kisaran pemakaian air domestik berdasarkan kategori wilayah

.No Kategori Kota Jumlah penduduk

(jiwa)

Kebutuhan air bersih

(liter/orang/hari)

1.

2.

3.

4.

5.

Kota Metropolitan

Kota Besar

Kota Sedang

Kota Kecil

Ibukota Kecamatan

Diatas 1 juta

500.000-1juta

100.000-500.000

20.000-100.000

Dibawah 20.000

190

170

150

110

100

  Sumber : DPU-CK 1994,  Tata cara rancangan distribusi jaringan air bersih.

  1. Kebutuhan air untuk pelayanan umum

Kebutuhan air untuk pelayanan umum meliputi penggunaan air untuk niaga, pemerintahan, pemadam kebakaran, pendidikan, pelabuhan, terminal, industri kecil dan sebagainya. Kebutuhan air untuk pelayanan umum dapat diperkirakan dari kategori kota. Kebutuhan air untuk pelayanan umum sekitar 15 – 40%

( Agung Rudi PPA, 2000 ).

  1. Kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang

Kebutuhan air untuk mengganti air yang hilang digunakan untuk mengantisipasi kehilangan air pada sambungan pipa, retakan, katup, filter dan sebagainya. Kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air diprediksi sekitar 25-30% dari kebutuhan air untuk domestik ( Agung Rudi PPA, 2000 ).

  1. Kebutuhan air untuk industri

Menurut Agung Rudi PPA (2000), mengemukakan bahwa kebutuhan air untuk industri kecil dan kegiatan (aktivitas) yang tidak membutuhkan air dengan  intensif termasuk kebutuhan air perkotaan, akan tetapi kebutuhan air bagi industri yang dominan dalam proses industri harus diidentifikasi tersendiri dapat dilakukan beberapa metode yaitu :

  1. Metode persamaan linier.

Perhitungan kebutuhan air dengan persamaan linier dilakukan dengan menggunakan variabel-variabel berupa hal-hal yang erat kaitannya dengan kebutuhan  air seperti jumlah penduduk,

  1. Metode analisis berdasarkan penggunaan lahan.

Analisis kebutuhan air berdasarkan penggunaan lahan dilakukan berdasarkan luas lahan yang dipergunakan bagi kegiatan usaha ( kegiatan non domestik ) pada waktu yang ditinjau,

  1. Metode analisis berdasarkan jumlah pekerja.

Metode analisis berdasarkan jumlah pekerja dilakukan melalui perhitungan kebutuhan air bagi setiap pekerja kegiatan usaha terhadap standar kebutuhan air masing-masing pekerja,

  1. Metode analisis berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan.

Metode analisis berdasarkan jumlah produk yang dihasilkan dilakukan berdasarkan perhitungan besarnya kebutuhan air bagi kegiatan dan proses produksi untuk menghasilkan suatu produk.

Pengukuran Produktivitas Tenaga Kerja (skripsi dan tesis)

Selama berlangsungnya pekerjaan harus diukur hasil hasil yang dicapai untuk dibandingkan dengan rencana semula. objek pengawasan ditujukan pada pemenuhan persyaratan minimal segenap sumber daya yang dikerahkan agar proses konstruksi secara teknis dapat berlangsung baik. upaya mengevaluasi hasil pekerjaan untuk mengetahui penyebab penyimpangan terhadap estimasi semula. Pemantauan (monitoring) berarti melakukan observasi dan pengujian pada tiap interval tertentu untuk memeriksa kinerja maupun dampak sampingan yang tidak diharapkan (Istimawan, 1996:423)

Salah satu cara pendekatan untuk mengetahui tingkat produktivitas tenaga kerja adalah dengan menggunakan metode pengamatan work sampling dengan mengkategorikan pekerja kedalam dua group yaitu kategori bekerja dan tidak bekerja.

  1. Pekerjaan Efektif (effective Work) yaitu disaat pekerja melakukan pekerjaan dizona pekerjaan
  2. Pekerjaan tidak efektif (not useful), yaitu kegiatan selain diatas yang tidak menunjang penyelesaian pekerjaan, seperti meninggalkan zona pengerjaan, mengobrol sesama pekerja sehingga tidak maksimal bekerja.

sehingga produktivitas dapat dihitung:

Produktivitas Riel/jam = ∑Prod/Jam

                                                n                                                                 (1)

Dimana n= Jumlah Pengamatan

Pengukuran produktivitas tenaga kerja menurut system pemasukan fisik perorangan/per-orang atau per jam kerja orang diterima orang secara luas, namun dari sudut pengawasan harian pengukuran – pengukuran tersebut pada umumnya tidak memuaskan, karena adanya variasi dalam jumlah yang diperlukan untuk memproduksi satu unit produk yang berbeda. oleh karena itu digunakan metode pengukuran waktu tenaga kerja (jam, hari, atau tahun) Pengukuran diubah kedalam unit-unit pekerja yang biasanya diartikan sebagai jumlah kerja yang dapat dilakukan dalam satu jam oleh pekerja yang terpercaya yang bekerja menurut pelaksanaan standar. karena hasil maupun masukan dapat dinyatakan dalam waktu, produktivitas tenaga kerja dapat dinyatakan sebagai indeks yang sangat sederhana:

Pengukuran Waktu tenaga kerja =

(Muchdarsyah, 1992:24-25)

Berdasarkan beberapa teori diatas maka faktor – faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja dalam penelitian ini adalah:

  1. Pengalaman Kerja
  2. Umur
  3. Kondisi Fisik Lapangan
  4. Iklim/Cuaca

Ukuran Besar Proyek