Perkembangan Konsep Brand (5)

Brand sebagai ko-kreasi nilai

Perkembangan kontemporer memandang brand tidak lagi sepenuhnya diciptakan dan dikendalikan oleh perusahaan. Vargo dan Lusch (2004) melalui service-dominant logic menjelaskan bahwa nilai tidak hanya diproduksi oleh perusahaan lalu diserahkan kepada pelanggan, tetapi diciptakan bersama melalui penggunaan, interaksi, dan integrasi sumber daya oleh berbagai aktor.

Merz, He, dan Vargo (2009) secara khusus menyatakan bahwa perkembangan pemikiran tentang brand mengarah pada logika baru yang melihat brand sebagai aktivitas kolaboratif penciptaan nilai bersama antara perusahaan dan seluruh pemangku kepentingannya. Dalam pandangan ini, nilai brand merupakan nilai-dalam-penggunaan (value-in-use) yang dipersepsikan secara kolektif oleh para pemangku kepentingan, bukan nilai yang sepenuhnya ditentukan oleh manajemen perusahaan.link.springer+1

Merz et al. (2009) mengidentifikasi perkembangan logika brand dalam empat tahap utama:

TahapOrientasi utamaPosisi brand
Goods-dominant logicProduk dan transaksiIdentitas atau penanda kepemilikan produk
Value-dominant logicNilai ekonomi dan ekuitas merekAset perusahaan yang menciptakan nilai tambah
Relationship-dominant logicHubungan pelanggan dan organisasiSarana membangun serta mempertahankan relasi
Stakeholder-dominant logicKolaborasi berbagai pemangku kepentinganHasil proses ko-kreasi nilai bersama

Dalam perspektif stakeholder-dominant logic, pelanggan bukan lagi penerima pasif komunikasi merek. Pelanggan, karyawan, komunitas, influencer, pemasok, media, dan masyarakat dapat ikut membentuk makna brand melalui pengalaman, ulasan, interaksi media sosial, konten buatan pengguna, kritik publik, maupun advokasi terhadap merek. Hatch dan Schultz (2010) juga menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun dan mengelola merek korporat.

Merz, Zarantonello, dan Grappi (2018) kemudian mendefinisikan brand value co-creation sebagai proses penciptaan nilai penggunaan yang dipersepsikan untuk sebuah brand melalui hubungan jaringan dan interaksi sosial di antara para aktor dalam ekosistem. Artinya, nilai suatu brand semakin dipengaruhi oleh kualitas interaksi sosial dan pengalaman aktual pengguna, bukan hanya oleh pesan komunikasi yang dikendalikan perusahaan

Perkembangan Konsep Brand (4)

Brand sebagai pengalaman

Pada era ekonomi pengalaman, brand semakin dipahami melalui pengalaman menyeluruh yang dialami pelanggan. Schmitt (1999) mengemukakan bahwa pemasaran tidak cukup berfokus pada fitur dan manfaat produk, tetapi perlu mengelola pengalaman sensorik, afektif, kognitif, perilaku, dan relasional pelanggan. Dalam konteks ini, brand dibentuk oleh seluruh titik kontak pelanggan, mulai dari iklan, kemasan, layanan pegawai, desain toko, aplikasi, kualitas produk, respons keluhan, hingga percakapan pelanggan di media sosial.

Brakus, Schmitt, dan Zarantonello (2009) mendefinisikan pengalaman merek (brand experience) sebagai respons subjektif pelanggan—baik sensasi, perasaan, kognisi, maupun respons perilaku—yang ditimbulkan oleh stimulus terkait merek. Stimulus tersebut dapat berupa identitas visual, desain, kemasan, komunikasi pemasaran, lingkungan fisik, maupun pengalaman digital. Brand experience menjadi penting karena pengalaman yang konsisten dan positif dapat memperkuat kepuasan, kepercayaan, keterikatan, dan loyalitas pelanggan.

Keller (2001) melalui kerangka customer-based brand equity pyramid menjelaskan bahwa pembangunan merek yang kuat berlangsung melalui beberapa tahapan: membangun saliens merek (brand salience), menciptakan makna merek melalui kinerja dan citra, membentuk respons pelanggan berupa penilaian dan perasaan, serta mencapai resonansi merek (brand resonance). Resonansi merek mencerminkan hubungan psikologis yang mendalam antara pelanggan dan brand, yang ditunjukkan oleh loyalitas perilaku, keterikatan sikap, rasa komunitas, dan keterlibatan aktif pelanggan.

Dalam layanan digital, misalnya, brand aplikasi fintech tidak hanya dibentuk oleh nama, logo, dan iklan. Brand juga terbentuk melalui kemudahan registrasi, kecepatan transaksi, keamanan data, transparansi biaya, desain antarmuka, kualitas layanan pelanggan, serta cara platform menangani kegagalan transaksi. Apabila pengalaman pada berbagai titik tersebut konsisten dengan janji merek, pelanggan akan lebih mudah membangun kepercayaan dan asosiasi positif.

Perkembangan Konsep Brand (3)

Brand sebagai identitas dan relasi

Perkembangan berikutnya menempatkan brand bukan hanya sebagai aset pemasaran, tetapi juga sebagai identitas organisasi dan basis hubungan dengan pelanggan. Kapferer (1992) mengembangkan gagasan brand identity untuk menjelaskan bahwa merek perlu memiliki identitas yang jelas, konsisten, dan terarah. Identitas merek mencerminkan bagaimana organisasi ingin mereknya dipahami oleh pasar, sedangkan citra merek (brand image) mencerminkan bagaimana pelanggan atau publik benar-benar mempersepsikan merek tersebut.

Kapferer (2012) mengembangkan brand identity prism yang mencakup enam elemen, yaitu fisik (physique), kepribadian (personality), budaya (culture), hubungan (relationship), refleksi pelanggan (reflection), dan citra diri (self-image). Melalui model tersebut, brand dipahami sebagai sistem identitas yang tidak hanya berhubungan dengan atribut produk, tetapi juga nilai organisasi, gaya komunikasi, pola relasi dengan pelanggan, dan identitas sosial yang ingin dibangun konsumen melalui konsumsi merek.

De Chernatony dan McDonald (2003) memandang brand sebagai konstruk multidimensional yang memberi nilai fungsional dan nilai emosional. Nilai fungsional berkaitan dengan kemampuan merek memenuhi kebutuhan praktis pelanggan, sedangkan nilai emosional berhubungan dengan perasaan, identitas, simbol status, rasa aman, atau kebanggaan yang muncul ketika pelanggan menggunakan merek tersebut.

Fournier (1998) memperkuat perspektif relasional dengan menjelaskan bahwa konsumen dapat membangun hubungan layaknya hubungan interpersonal dengan suatu merek. Hubungan pelanggan–merek dapat mencakup komitmen, kedekatan emosional, kepercayaan, ketergantungan, nostalgia, maupun keterikatan. Oleh sebab itu, pengelolaan brand tidak lagi hanya berorientasi pada peningkatan kesadaran, tetapi juga pada penciptaan hubungan yang bermakna dan bertahan lama.

Perkembangan Konsep Brand (1)

Brand sebagai nilai dan ekuitas

Pada akhir 1980-an hingga 1990-an, konsep brand berkembang menjadi brand equity atau ekuitas merek. Perubahan ini memindahkan perhatian dari elemen merek yang tampak ke nilai strategis yang muncul karena suatu nama merek dikenal, dipercaya, dan dipilih oleh pelanggan.

Aaker (1991) mendefinisikan ekuitas merek sebagai serangkaian aset dan liabilitas yang terkait dengan nama dan simbol merek, yang dapat menambah atau mengurangi nilai produk atau jasa bagi perusahaan maupun pelanggan. Aaker (1991) mengemukakan beberapa dimensi penting ekuitas merek, yaitu kesadaran merek (brand awareness), asosiasi merek (brand associations), persepsi kualitas (perceived quality), loyalitas merek (brand loyalty), dan aset merek lainnya seperti paten atau hubungan distribusi.

Dalam pandangan Aaker (1991), brand tidak hanya membedakan produk, melainkan menjadi aset yang dapat menciptakan preferensi, menurunkan sensitivitas pelanggan terhadap harga, memperkuat loyalitas, mempermudah perluasan merek, dan meningkatkan nilai ekonomi perusahaan. Dengan kata lain, pelanggan sering kali memilih merek tertentu bukan semata-mata karena karakteristik produk yang objektif, tetapi karena adanya kepercayaan, pengalaman, asosiasi, dan reputasi yang melekat pada merek tersebut.

Keller (1993) mengembangkan konsep customer-based brand equity atau CBBE. Menurut Keller (1993), ekuitas merek berbasis pelanggan terjadi ketika pelanggan memiliki tingkat kesadaran tinggi dan asosiasi yang kuat, positif, serta unik terhadap merek dalam memorinya. Keller (1993) menekankan bahwa brand adalah produk yang memperoleh dimensi tambahan sehingga berbeda dari produk lain yang memenuhi kebutuhan yang sama.dspace.easternuni.edu

Melalui pendekatan CBBE, kekuatan brand terletak pada apa yang dipelajari, dirasakan, dilihat, didengar, dan dialami pelanggan mengenai suatu merek sepanjang waktu. Oleh karena itu, merek yang kuat tidak cukup hanya dikenal luas; merek tersebut harus memiliki asosiasi yang relevan, menguntungkan, konsisten, dan sulit ditiru oleh pesaing.

Perkembangan Konsep Brand (1)

Konsep brand berkembang dari sekadar tanda identifikasi dan pembeda produk menjadi aset strategis, kumpulan makna dalam benak konsumen, identitas organisasi, pengalaman pelanggan, hingga hasil ko-kreasi antara perusahaan dan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, merek modern tidak hanya berupa nama atau logo, tetapi sistem makna dan nilai yang dibangun melalui seluruh interaksi pelanggan dengan organisasi.

Awal: brand sebagai identitas

Secara historis, merek berfungsi sebagai penanda asal, kepemilikan, dan pembeda suatu produk. Dalam pengertian tradisional, American Marketing Association mendefinisikan merek sebagai nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari satu penjual atau sekelompok penjual serta membedakannya dari para pesaing. Definisi ini menempatkan brand terutama sebagai alat identifikasi dan diferensiasi di pasar.nscpolteksby.ac+1

Aaker (1991) menjelaskan bahwa brand merupakan nama dan/atau simbol pembeda, seperti logo, merek dagang, atau desain kemasan, yang berfungsi mengidentifikasi barang atau jasa penjual serta membedakannya dari produk pesaing. Pada tahap ini, brand dipahami sebagai atribut eksternal yang membantu pelanggan mengenali sumber produk, mengurangi kebingungan dalam memilih, dan membedakan penawaran perusahaan dari alternatif yang tersedia.library.binus.ac

Kotler dan Keller (2012) memperluas pemahaman tersebut dengan menyatakan bahwa brand adalah produk atau jasa yang memiliki dimensi pembeda dibandingkan produk atau jasa lain yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Dimensi pembeda itu dapat bersifat fungsional dan berwujud, seperti kinerja atau fitur produk, tetapi juga dapat bersifat simbolik, emosional, dan tidak berwujud, seperti citra, status, nilai, atau makna yang diasosiasikan pelanggan terhadap suatu merek.nscpolteksby.ac

Sebagai contoh, dua merek kopi dapat menawarkan fungsi dasar yang sama, yaitu minuman kopi. Namun, salah satu merek dapat dibedakan melalui rasa, harga, kemasan, aksesibilitas, dan konsistensi kualitas; sementara merek lain dapat memperoleh keunggulan melalui citra gaya hidup, suasana komunitas, keberlanjutan lingkungan, atau identitas sosial yang dirasakan konsumennya.

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (6)

Implikasi definisional

Berdasarkan perkembangan tersebut, kepuasan pelanggan dapat didefinisikan sebagai evaluasi kognitif dan afektif pelanggan setelah menggunakan produk atau jasa, yang terbentuk melalui perbandingan antara harapan awal, kinerja yang dirasakan, kualitas, nilai, dan pengalaman konsumsi secara keseluruhan. Kepuasan terjadi ketika pelanggan merasakan bahwa manfaat, kualitas, dan pengalaman yang diterima memenuhi atau melampaui standar harapannya, sedangkan ketidakpuasan terjadi ketika kinerja layanan berada di bawah standar tersebut.

Untuk penelitian empiris, kepuasan pelanggan lazim diukur melalui indikator seperti kepuasan secara keseluruhan, kesesuaian layanan dengan harapan, ketepatan keputusan memilih penyedia layanan, rasa senang setelah menggunakan layanan, serta penilaian bahwa pengalaman yang diperoleh mendekati kondisi ideal. Kerangka ini sejalan dengan pengukuran ACSI yang menempatkan penilaian keseluruhan, konfirmasi harapan, dan perbandingan dengan layanan ideal sebagai manifestasi kepuasan pelanggan

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (5)

Kepuasan dalam era pengalaman

Dalam perkembangan kontemporer, kepuasan pelanggan tidak lagi hanya dikaji sebagai evaluasi terhadap transaksi tunggal. Lemon dan Verhoef (2016) menekankan bahwa pelanggan membentuk pengalaman melalui serangkaian titik kontak (touchpoints) sepanjang customer journey, mulai dari pencarian informasi, komunikasi pemasaran, pembelian, penggunaan, layanan purnajual, penanganan keluhan, hingga interaksi antarpelanggan di media sosial.

Dengan perspektif tersebut, kepuasan bersifat kumulatif. Johnson, Anderson, dan Fornell (1995) membedakan kepuasan transaksional dan kepuasan kumulatif. Kepuasan transaksional berkaitan dengan evaluasi pelanggan terhadap pengalaman layanan tertentu, misalnya satu kali kunjungan ke restoran atau satu transaksi pada aplikasi digital. Sebaliknya, kepuasan kumulatif merupakan evaluasi menyeluruh berdasarkan akumulasi pengalaman pelanggan dalam jangka panjang terhadap suatu merek, organisasi, atau penyedia layanan.

Dalam ekonomi digital, Bhattacherjee (2001) mengadaptasi teori konfirmasi harapan ke dalam konteks keberlanjutan penggunaan sistem informasi. Bhattacherjee (2001) menjelaskan bahwa konfirmasi harapan, persepsi kegunaan, dan kepuasan pengguna berperan dalam membentuk niat untuk terus menggunakan sistem. Pendekatan ini sangat relevan untuk studi mengenai kepuasan pengguna aplikasi mobile banking, fintech, e-commerce, telemedicine, sistem pembelajaran daring, maupun layanan publik digital.

Misalnya, pengguna aplikasi mobile banking akan cenderung puas apabila aplikasi mudah digunakan, transaksi berhasil dengan cepat, sistem stabil, biaya transparan, data pribadi terlindungi, dan masalah diselesaikan dengan responsif. Jika pengalaman aktual tersebut memenuhi atau melebihi harapan awal pengguna, maka kepuasan akan meningkat dan dapat mendorong continuance intention atau niat untuk terus menggunakan aplikasi tersebut.

Sintesis perkembangan konsep

Tahap perkembanganFokus konsepKontribusi utama
Tahap perkembanganFokus konsepKontribusi utama
Pertukaran dan evaluasi kognitifImbalan dibandingkan dengan pengorbanan pelangganHoward dan Sheth (1969)
Harapan sebelum konsumsiHarapan dan usaha memengaruhi evaluasi pascapembelianCardozo (1965)
Diskonfirmasi harapanKepuasan berasal dari perbandingan harapan dan kinerja aktualOliver (1980)
Kinerja, nilai, dan diskonfirmasiKepuasan dipengaruhi kinerja, harapan, nilai, serta perbedaan harapan–kinerjaChurchill dan Surprenant (1982); Tse dan Wilton (1988)
Respons emosionalKepuasan mencakup perasaan atau respons afektif atas pengalaman konsumsiWestbrook dan Reilly (1983)
Pemenuhan konsumsiKepuasan sebagai respons terhadap pemenuhan yang menyenangkanOliver (1997)
Kinerja pasar dan loyalitasKepuasan dipengaruhi kualitas, nilai, dan harapan; berdampak pada keluhan serta loyalitasFornell (1992); Fornell et al. (1996)
Kepuasan kumulatifKepuasan dibentuk oleh akumulasi pengalaman pelangganJohnson et al. (1995)
Customer journey dan digitalKepuasan dibentuk sepanjang titik kontak fisik maupun digital dan memengaruhi keberlanjutan penggunaanBhattacherjee (2001); Lemon dan Verhoef (2016)

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (4)

Loyalitas dalam pemasaran relasional

Seiring berkembangnya relationship marketing, loyalitas tidak lagi dipahami hanya sebagai hubungan pelanggan dengan merek atau transaksi pembelian, tetapi sebagai hasil dari kualitas hubungan jangka panjang antara pelanggan dan organisasi. Morgan dan Hunt (1994) menjelaskan bahwa kepercayaan dan komitmen merupakan dua variabel utama dalam pemasaran relasional. Kepercayaan membuat pelanggan yakin bahwa perusahaan dapat diandalkan, jujur, kompeten, dan bertindak untuk kepentingan hubungan jangka panjang; sedangkan komitmen mencerminkan keinginan pelanggan untuk mempertahankan hubungan yang bernilai.

Garbarino dan Johnson (1999) menunjukkan bahwa kepuasan, kepercayaan, dan komitmen memiliki peran berbeda dalam membentuk loyalitas, terutama dalam relasi jasa yang berkelanjutan. Pada pelanggan dengan hubungan yang sudah kuat, kepercayaan dan komitmen sering menjadi penjelas yang lebih penting atas niat mempertahankan hubungan dibandingkan evaluasi kepuasan transaksional semata. Karena itu, dalam sektor perbankan, pendidikan, kesehatan, telekomunikasi, asuransi, maupun platform digital, loyalitas dapat dipahami sebagai kemauan pelanggan untuk menjaga relasi dengan penyedia layanan.

Chaudhuri dan Holbrook (2001) membedakan loyalitas merek menjadi loyalitas pembelian (purchase loyalty) dan loyalitas sikap (attitudinal loyalty). Loyalitas pembelian tercermin pada kecenderungan pelanggan membeli merek secara berulang, sedangkan loyalitas sikap terlihat melalui komitmen, preferensi, dan kesediaan pelanggan membayar lebih atau mempertahankan pilihan merek. Kedua dimensi tersebut penting karena pelanggan yang sering membeli belum tentu memiliki ikatan psikologis yang kuat, sementara pelanggan dengan sikap positif belum tentu dapat membeli ulang karena keterbatasan akses, harga, atau kondisi situasional.

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (3)

Model perkembangan loyalitas

Oliver (1997) mendefinisikan loyalitas sebagai komitmen yang dipegang secara mendalam untuk membeli kembali atau menggunakan kembali produk atau jasa yang disukai secara konsisten pada masa depan, meskipun terdapat pengaruh situasional dan upaya pemasaran pesaing yang berpotensi menimbulkan perpindahan perilaku. Definisi tersebut menempatkan loyalitas sebagai komitmen jangka panjang yang tahan terhadap gangguan eksternal, bukan sekadar niat membeli ulang dalam waktu dekat.vjol.info+1

Oliver (1999) mengembangkan loyalitas sebagai proses bertahap yang terdiri atas empat fase berikut.

  • Loyalitas kognitif muncul ketika pelanggan memilih merek berdasarkan informasi, atribut, harga, kualitas, atau manfaat fungsional yang diyakini lebih unggul dibandingkan alternatif.
  • Loyalitas afektif terbentuk ketika pengalaman penggunaan berulang menghasilkan rasa suka, kepuasan, atau keterikatan emosional terhadap merek.
  • Loyalitas konatif tercermin dalam niat dan komitmen pelanggan untuk melakukan pembelian kembali atau terus menggunakan layanan pada masa mendatang.
  • Loyalitas tindakan terlihat ketika pelanggan benar-benar mempertahankan perilaku pembelian ulang dan mampu mengatasi hambatan atau godaan untuk beralih kepada pesaing.

Model Oliver (1999) menunjukkan bahwa loyalitas adalah proses dinamis. Pelanggan dapat mulai loyal secara kognitif karena harga atau kualitas, tetapi loyalitas baru menjadi lebih kuat ketika muncul pengalaman positif, kepuasan berulang, komitmen, dan tindakan nyata untuk tetap menggunakan merek. Literatur juga menjelaskan bahwa pendekatan kontemporer umumnya menggabungkan dimensi perilaku—seperti pembelian ulang—dan dimensi sikap—seperti keyakinan, afeksi, serta komitmen pelanggan.

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (3)

Loyalitas sebagai sikap dan perilaku

Dick dan Basu (1994) memberikan kontribusi utama dengan mendefinisikan loyalitas sebagai hubungan antara sikap relatif pelanggan terhadap suatu entitas—misalnya merek, toko, jasa, atau pemasok—dan perilaku pembelian ulang atau repeat patronage. Sikap relatif berarti seberapa jauh preferensi pelanggan terhadap merek tertentu lebih tinggi dibandingkan alternatif yang tersedia. Loyalitas sejati hanya tercapai ketika sikap relatif yang tinggi berjalan bersama dengan perilaku pembelian berulang.mpra.uni-muenchen

Dick dan Basu (1994) membedakan empat kondisi loyalitas, yaitu:

Sikap relatifPembelian ulangBentuk loyalitasPenjelasan
Sikap relatifPembelian ulangBentuk loyalitasPenjelasan
TinggiTinggiLoyalitas sejatiPelanggan menyukai merek dan terus melakukan pembelian atau penggunaan
RendahTinggiLoyalitas semu (spurious loyalty)Pelanggan membeli ulang karena kebiasaan, hambatan berpindah, kemudahan, atau situasi tertentu
TinggiRendahLoyalitas laten (latent loyalty)Pelanggan memiliki preferensi positif, tetapi kondisi situasional menghambat pembelian ulang
RendahRendahTidak loyalPelanggan tidak menunjukkan preferensi maupun pembelian ulang

Model tersebut sangat relevan bagi penelitian layanan. Sebagai ilustrasi, pengguna aplikasi pembayaran digital dapat melakukan transaksi berulang karena banyak pedagang hanya menerima aplikasi tertentu. Jika pengguna sebenarnya tidak puas, tidak memiliki ikatan positif, dan siap berpindah ketika tersedia alternatif yang lebih mudah, maka kondisi tersebut lebih tepat disebut loyalitas semu daripada loyalitas sejati.

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (2)

Pendekatan sikap dan komitmen

Jacoby dan Kyner (1973) menawarkan salah satu definisi klasik yang sangat berpengaruh. Mereka mendefinisikan loyalitas merek sebagai respons perilaku yang bias atau tidak acak, diekspresikan secara terus-menerus oleh unit pengambilan keputusan terhadap satu atau lebih merek alternatif, serta merupakan fungsi dari proses psikologis. Definisi ini menegaskan bahwa loyalitas bukan sekadar repetisi pembelian, tetapi perilaku pilihan yang disengaja dan didukung evaluasi psikologis pelanggan.elixirpublishers

Jacoby dan Chesnut (1978) kemudian mengelompokkan pendekatan loyalitas ke dalam tiga perspektif: pendekatan perilaku, pendekatan sikap atau komitmen psikologis, serta pendekatan gabungan. Pendekatan sikap menilai loyalitas melalui preferensi, keterikatan emosional, kepercayaan, komitmen, dan niat pelanggan untuk tetap menggunakan merek. Sementara itu, pendekatan gabungan memandang loyalitas secara lebih utuh karena mengintegrasikan apa yang pelanggan rasakan dan pikirkan dengan apa yang benar-benar mereka lakukan.

Dalam kerangka ini, pelanggan yang loyal memiliki kecenderungan untuk menyatakan preferensi terhadap suatu merek, percaya bahwa merek tersebut lebih baik dibandingkan alternatif, dan menunjukkan keinginan kuat untuk terus membeli atau menggunakan layanan tersebut. Sebaliknya, pelanggan yang melakukan pembelian ulang tetapi tidak memiliki keterikatan atau sikap positif belum tentu dapat disebut loyal secara sejati

Perkembangan Konsep Loyalitas Pelanggan (1)

Konsep loyalitas pelanggan berkembang dari ukuran sederhana berupa pembelian ulang menuju pemahaman yang lebih komprehensif sebagai komitmen psikologis, sikap positif, perilaku pembelian berulang, relasi jangka panjang, advokasi, dan resistensi terhadap tawaran pesaing. Dengan demikian, pelanggan yang loyal bukan hanya pelanggan yang sering membeli, melainkan pelanggan yang secara sadar memilih, mempertahankan, dan merekomendasikan suatu merek atau penyedia layanan.

Awal: loyalitas sebagai pembelian ulang

Kajian awal loyalitas banyak berangkat dari pendekatan perilaku (behavioral approach). Dalam pendekatan ini, loyalitas diidentifikasi melalui pola pembelian ulang, frekuensi pembelian, proporsi pembelian pada merek tertentu, atau konsistensi pelanggan dalam menggunakan penyedia jasa yang sama. Tucker (1964) memandang loyalitas merek terutama sebagai pola pembelian berulang tanpa harus selalu mengaitkannya dengan sikap atau komitmen psikologis konsumen.

Pendekatan perilaku tersebut berguna karena data pembelian relatif mudah diamati dan diukur. Misalnya, pelanggan yang secara berulang menggunakan bank, restoran, aplikasi transportasi daring, atau platform e-commerce tertentu dapat dikategorikan loyal berdasarkan frekuensi penggunaan. Namun, ukuran pembelian ulang saja memiliki keterbatasan karena pelanggan mungkin tetap membeli bukan karena menyukai merek tersebut, melainkan karena tidak tersedia alternatif, biaya berpindah tinggi, lokasi yang dekat, kontrak layanan, promosi harga, atau kebiasaan.

Day (1969) mengkritik penyamaan loyalitas dengan pembelian ulang semata. Menurut Day (1969), loyalitas sejati perlu mencakup dua unsur, yaitu pola pembelian berulang dan sikap positif terhadap merek. Pandangan ini menjadi titik penting dalam perkembangan teori karena membedakan pelanggan yang benar-benar memiliki preferensi dengan pelanggan yang sekadar melakukan pembelian berulang secara situasional

Perkembangan Konsep Kepuasan Pelanggan (7)

Implikasi definisional

Berdasarkan perkembangan tersebut, kepuasan pelanggan dapat didefinisikan sebagai evaluasi kognitif dan afektif pelanggan setelah menggunakan produk atau jasa, yang terbentuk melalui perbandingan antara harapan awal, kinerja yang dirasakan, kualitas, nilai, dan pengalaman konsumsi secara keseluruhan. Kepuasan terjadi ketika pelanggan merasakan bahwa manfaat, kualitas, dan pengalaman yang diterima memenuhi atau melampaui standar harapannya, sedangkan ketidakpuasan terjadi ketika kinerja layanan berada di bawah standar tersebut.

Untuk penelitian empiris, kepuasan pelanggan lazim diukur melalui indikator seperti kepuasan secara keseluruhan, kesesuaian layanan dengan harapan, ketepatan keputusan memilih penyedia layanan, rasa senang setelah menggunakan layanan, serta penilaian bahwa pengalaman yang diperoleh mendekati kondisi ideal. Kerangka ini sejalan dengan pengukuran ACSI yang menempatkan penilaian keseluruhan, konfirmasi harapan, dan perbandingan dengan layanan ideal sebagai manifestasi kepuasan pelanggan.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (6)

Sintesis perkembangan konsep kepuasan Pelanggan

Tahap perkembanganFokus konsepKontribusi utama
Pertukaran dan evaluasi kognitifImbalan dibandingkan dengan pengorbanan pelangganHoward dan Sheth (1969)
Harapan sebelum konsumsiHarapan dan usaha memengaruhi evaluasi pascapembelianCardozo (1965)
Diskonfirmasi harapanKepuasan berasal dari perbandingan harapan dan kinerja aktualOliver (1980)
Kinerja, nilai, dan diskonfirmasiKepuasan dipengaruhi kinerja, harapan, nilai, serta perbedaan harapan–kinerjaChurchill dan Surprenant (1982); Tse dan Wilton (1988)
Respons emosionalKepuasan mencakup perasaan atau respons afektif atas pengalaman konsumsiWestbrook dan Reilly (1983)
Pemenuhan konsumsiKepuasan sebagai respons terhadap pemenuhan yang menyenangkanOliver (1997)
Kinerja pasar dan loyalitasKepuasan dipengaruhi kualitas, nilai, dan harapan; berdampak pada keluhan serta loyalitasFornell (1992); Fornell et al. (1996)
Kepuasan kumulatifKepuasan dibentuk oleh akumulasi pengalaman pelangganJohnson et al. (1995)
Customer journey dan digitalKepuasan dibentuk sepanjang titik kontak fisik maupun digital dan memengaruhi keberlanjutan penggunaanBhattacherjee (2001); Lemon dan Verhoef (2016)

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (5)

Kepuasan dalam era pengalaman

Dalam perkembangan kontemporer, kepuasan pelanggan tidak lagi hanya dikaji sebagai evaluasi terhadap transaksi tunggal. Lemon dan Verhoef (2016) menekankan bahwa pelanggan membentuk pengalaman melalui serangkaian titik kontak (touchpoints) sepanjang customer journey, mulai dari pencarian informasi, komunikasi pemasaran, pembelian, penggunaan, layanan purnajual, penanganan keluhan, hingga interaksi antarpelanggan di media sosial.

Dengan perspektif tersebut, kepuasan bersifat kumulatif. Johnson, Anderson, dan Fornell (1995) membedakan kepuasan transaksional dan kepuasan kumulatif. Kepuasan transaksional berkaitan dengan evaluasi pelanggan terhadap pengalaman layanan tertentu, misalnya satu kali kunjungan ke restoran atau satu transaksi pada aplikasi digital. Sebaliknya, kepuasan kumulatif merupakan evaluasi menyeluruh berdasarkan akumulasi pengalaman pelanggan dalam jangka panjang terhadap suatu merek, organisasi, atau penyedia layanan.

Dalam ekonomi digital, Bhattacherjee (2001) mengadaptasi teori konfirmasi harapan ke dalam konteks keberlanjutan penggunaan sistem informasi. Bhattacherjee (2001) menjelaskan bahwa konfirmasi harapan, persepsi kegunaan, dan kepuasan pengguna berperan dalam membentuk niat untuk terus menggunakan sistem. Pendekatan ini sangat relevan untuk studi mengenai kepuasan pengguna aplikasi mobile banking, fintech, e-commerce, telemedicine, sistem pembelajaran daring, maupun layanan publik digital.

Misalnya, pengguna aplikasi mobile banking akan cenderung puas apabila aplikasi mudah digunakan, transaksi berhasil dengan cepat, sistem stabil, biaya transparan, data pribadi terlindungi, dan masalah diselesaikan dengan responsif. Jika pengalaman aktual tersebut memenuhi atau melebihi harapan awal pengguna, maka kepuasan akan meningkat dan dapat mendorong continuance intention atau niat untuk terus menggunakan aplikasi tersebut.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (4)

Kepuasan sebagai konstruk multidimensi

Pada tahap berikutnya, kepuasan pelanggan semakin diposisikan sebagai variabel strategis dalam pemasaran dan manajemen. Fornell (1992) mengembangkan customer satisfaction barometer yang menempatkan kepuasan pelanggan sebagai hasil dari harapan pelanggan, persepsi kualitas, dan persepsi nilai. Dalam kerangka ini, kepuasan bukan hanya evaluasi atas pengalaman tunggal, melainkan indikator kinerja pasar yang dapat memengaruhi loyalitas pelanggan, keluhan pelanggan, profitabilitas, serta daya saing perusahaan.

Fornell et al. (1996) melalui American Customer Satisfaction Index atau ACSI mengoperasionalkan kepuasan pelanggan melalui tiga aspek: penilaian kepuasan secara keseluruhan, tingkat kesesuaian atau ketidaksesuaian antara kinerja dan harapan, serta penilaian kinerja dibandingkan kondisi ideal pelanggan. Model ACSI juga memposisikan kualitas yang dirasakan, nilai yang dirasakan, dan harapan pelanggan sebagai anteseden kepuasan; sementara keluhan pelanggan dan loyalitas pelanggan dipandang sebagai konsekuensinya.journals.sagepub+1

Anderson dan Sullivan (1993) menunjukkan bahwa kualitas yang dirasakan dan diskonfirmasi memiliki hubungan kuat dengan kepuasan pelanggan. Mereka juga menekankan bahwa dampak diskonfirmasi negatif terhadap kepuasan sering kali lebih kuat daripada dampak diskonfirmasi positif. Artinya, kekecewaan akibat kegagalan layanan—misalnya keterlambatan, kesalahan informasi, sistem yang bermasalah, atau respons keluhan yang buruk—dapat merusak kepuasan secara signifikan.

Dalam konteks pemasaran jasa, Zeithaml, Berry, dan Parasuraman (1996) menghubungkan kepuasan dengan konsekuensi perilaku, seperti kecenderungan pelanggan untuk tetap menggunakan layanan, merekomendasikannya kepada orang lain, meningkatkan pembelian, atau justru berpindah kepada penyedia lain. Karena itu, kepuasan pelanggan tidak hanya relevan sebagai indikator psikologis, tetapi juga sebagai prediktor penting bagi loyalitas dan keberlanjutan organisasi.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (3)

Dari evaluasi kognitif ke emosi

Perkembangan berikutnya memperluas kepuasan dari konstruk yang semata-mata kognitif menjadi respons yang juga bersifat afektif atau emosional. Westbrook dan Reilly (1983) memandang kepuasan pelanggan sebagai respons emosional yang muncul dari evaluasi pengalaman konsumsi. Dengan demikian, pelanggan tidak hanya melakukan perhitungan rasional mengenai kualitas dan harga, tetapi juga mengalami emosi seperti senang, lega, bangga, aman, kecewa, marah, atau frustrasi setelah berinteraksi dengan produk maupun penyedia jasa.

Oliver (1997) merumuskan kepuasan sebagai respons pemenuhan konsumen (consumer fulfillment response), yaitu penilaian bahwa suatu fitur produk atau jasa, atau produk dan jasa itu sendiri, memberikan tingkat pemenuhan konsumsi yang menyenangkan, termasuk kondisi ketika pemenuhan tersebut berada di bawah atau melampaui harapan. Rumusan Oliver (1997) penting karena mengintegrasikan dimensi evaluatif dan emosional: pelanggan tidak hanya menilai apakah layanan “sesuai standar”, tetapi juga apakah layanan tersebut menghasilkan pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Dalam layanan kesehatan, misalnya, pasien dapat menilai kompetensi dokter, ketepatan diagnosis, dan kecepatan pelayanan secara kognitif. Namun, kepuasan pasien juga sangat dipengaruhi oleh rasa dihargai, empati tenaga kesehatan, rasa aman, kejelasan komunikasi, serta pengurangan kecemasan selama menjalani pelayanan.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (2)

Teori diskonfirmasi harapan

Perkembangan paling berpengaruh dalam studi kepuasan pelanggan adalah expectancy-disconfirmation theory. Oliver (1980) menjelaskan bahwa kepuasan muncul dari perbandingan antara harapan awal pelanggan dan kinerja aktual produk atau jasa yang mereka rasakan setelah konsumsi. Dalam model ini, pelanggan membentuk harapan sebelum membeli atau menggunakan layanan, lalu mengevaluasi apakah kinerja yang diterima sesuai dengan harapan tersebut.

Oliver (1980) membedakan tiga kemungkinan hasil evaluasi pelanggan:

  • Konfirmasi, terjadi ketika kinerja aktual sesuai dengan harapan pelanggan.
  • Diskonfirmasi positif, terjadi ketika kinerja aktual melebihi harapan pelanggan sehingga meningkatkan kepuasan.
  • Diskonfirmasi negatif, terjadi ketika kinerja aktual lebih rendah daripada harapan pelanggan sehingga menimbulkan ketidakpuasan.

Secara sederhana, logika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Kepuasan Pelanggan=f(Harapan,Kinerja yang Dirasakan,Diskonfirmasi)\text{Kepuasan Pelanggan} = f(\text{Harapan}, \text{Kinerja yang Dirasakan}, \text{Diskonfirmasi})Kepuasan Pelanggan=f(Harapan,Kinerja yang Dirasakan,Diskonfirmasi)

Churchill dan Surprenant (1982) memperluas pengujian empiris atas model tersebut dan menunjukkan bahwa kepuasan dipengaruhi oleh harapan, kinerja yang dirasakan, diskonfirmasi, serta nilai yang diperoleh pelanggan. Mereka menegaskan bahwa pengaruh setiap unsur dapat berbeda antara produk tahan lama dan produk tidak tahan lama, karena pelanggan menilai risiko, manfaat, serta pengalaman penggunaan secara berbeda menurut jenis produk atau jasa.

Tse dan Wilton (1988) kemudian memperkuat pendekatan diskonfirmasi dengan menempatkan kinerja yang dirasakan dan diskonfirmasi sebagai penentu penting kepuasan. Dalam model ini, pelanggan dapat tetap merasa puas apabila kualitas kinerja yang dirasakan tinggi, bahkan ketika harapan awalnya cukup tinggi. Sebaliknya, pelayanan yang objektifnya baik belum tentu menghasilkan kepuasan apabila pelanggan memiliki harapan yang jauh lebih tinggi daripada kinerja yang mereka rasakan.

Perkembangan Konsep Kepuasan  Pelanggan (1)

Konsep kepuasan pelanggan berkembang dari pandangan yang semula menekankan evaluasi kognitif atas pertukaran ekonomi menjadi konstruk multidimensi yang mencakup evaluasi kinerja, emosi, pengalaman pelanggan, nilai yang dirasakan, relasi jangka panjang, dan perilaku pascapembelian. Secara umum, kepuasan pelanggan dapat dipahami sebagai penilaian pelanggan setelah menggunakan produk atau jasa mengenai sejauh mana pengalaman yang diterima memenuhi, sesuai, atau melampaui harapannya.

Awal konsep kepuasan

Pembahasan awal mengenai kepuasan pelanggan bertumpu pada teori perilaku konsumen dan pertukaran. Howard dan Sheth (1969) mendefinisikan kepuasan sebagai keadaan kognitif pembeli yang merasa memperoleh imbalan secara memadai atau tidak memadai atas pengorbanan yang telah dilakukan. Definisi tersebut menunjukkan bahwa kepuasan pada awalnya dipandang sebagai hasil evaluasi rasional pelanggan terhadap perbandingan antara manfaat yang diperoleh dengan biaya, waktu, tenaga, serta risiko yang dikeluarkan.

Dalam perspektif ini, pelanggan tidak sekadar membeli produk atau menggunakan jasa, tetapi melakukan penilaian apakah hasil konsumsi sepadan dengan pengorbanan yang diberikan. Misalnya, seorang pelanggan jasa pendidikan dapat merasa puas apabila kualitas pengajaran, akses fasilitas, layanan administrasi, dan manfaat kompetensi yang diperoleh dianggap sepadan atau lebih tinggi daripada biaya pendidikan yang dibayarkan.

Cardozo (1965) memberikan kontribusi penting dengan menunjukkan bahwa harapan pelanggan dan usaha yang dikeluarkan pelanggan dapat memengaruhi evaluasi atas produk. Temuan tersebut menjadi dasar bagi pemahaman bahwa kepuasan bukan hanya konsekuensi dari kinerja objektif produk atau jasa, tetapi juga dipengaruhi oleh standar pembanding yang telah dimiliki pelanggan sebelum konsumsi.

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (6)

Sintesis konseptual

Secara keseluruhan, perkembangan konsep kualitas pelayanan dapat diringkas sebagai berikut.

Tahap perkembanganFokus utamaTokoh/konsep penting
Orientasi mutu internalKesesuaian terhadap spesifikasi, standar, dan prosedurCrosby (1979); Juran (1988)
Kualitas jasaPerbedaan antara hasil layanan dan proses penyampaianGrönroos (1984)
Orientasi pelangganKemampuan layanan memenuhi harapan pelangganLewis dan Booms (1983)
Model kesenjanganPerbandingan harapan dan persepsi pelangganParasuraman et al. (1985)
SERVQUALTangibles, reliability, responsiveness, assurance, empathyParasuraman et al. (1988)
Model berbasis kinerjaKualitas dinilai dari kinerja aktual pelayananCronin dan Taylor (1992)
Model multidimensiInteraksi, lingkungan fisik, dan hasil pelayananRust dan Oliver (1994); Brady dan Cronin (2001)
Kualitas layanan digitalEfisiensi, pemenuhan, ketersediaan sistem, privasiParasuraman et al. (2005)
Co-creation dan customer journeyPengalaman menyeluruh, partisipasi pelanggan, dan nilai bersamaLusch dan Vargo (2006); Zeithaml et al. (2018)

Dengan demikian, kualitas pelayanan dapat didefinisikan secara komprehensif sebagai penilaian pelanggan terhadap kemampuan organisasi dalam menyediakan layanan yang andal, responsif, aman, empatik, mudah diakses, serta memberikan hasil yang bernilai melalui proses interaksi dan pengalaman pelayanan yang konsisten. Definisi ini relevan digunakan dalam penelitian pada sektor bisnis, pendidikan, kesehatan, perbankan, pemerintahan, maupun layanan digital, dengan penyesuaian indikator terhadap karakteristik objek penelitian

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (5)

Kualitas pelayanan kontemporer

Dalam perkembangan kontemporer, kualitas pelayanan tidak lagi hanya dipahami sebagai kesesuaian antara harapan dan kinerja. Zeithaml, Bitner, Gremler, dan Wilson (2018) menjelaskan bahwa kualitas pelayanan merupakan penilaian pelanggan terhadap keunggulan layanan secara keseluruhan, yang terbentuk dari berbagai titik kontak selama perjalanan pelanggan (customer journey). Artinya, kualitas dinilai sejak pelanggan mencari informasi, melakukan pemesanan, menerima pelayanan, mengajukan keluhan, hingga menggunakan layanan purnajual.

Pada layanan digital, konsep ini berkembang menjadi electronic service quality atau kualitas pelayanan elektronik. Parasuraman, Zeithaml, dan Malhotra (2005) mengembangkan E-S-QUAL untuk mengukur kualitas layanan elektronik melalui efisiensi, pemenuhan janji layanan, ketersediaan sistem, dan privasi. Dalam konteks aplikasi perbankan digital, marketplace, telemedicine, atau layanan pemerintah elektronik, kualitas tidak hanya ditentukan oleh keramahan petugas, tetapi juga oleh kemudahan navigasi aplikasi, kecepatan sistem, keamanan data, kejelasan informasi, serta efektivitas penanganan masalah secara daring.

Lusch dan Vargo (2006) selanjutnya menempatkan layanan dalam kerangka service-dominant logic. Dalam pandangan ini, nilai tidak sepenuhnya diciptakan oleh organisasi dan diserahkan kepada pelanggan, melainkan diciptakan bersama melalui interaksi antara penyedia layanan dan pelanggan. Oleh sebab itu, kualitas pelayanan modern semakin menekankan partisipasi pelanggan, personalisasi, kolaborasi, pengalaman, dan penciptaan nilai bersama (value co-creation).

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (4)

Kritik dan pengembangan konsep

Meskipun sangat populer, pendekatan SERVQUAL mendapat kritik. Cronin dan Taylor (1992) berpendapat bahwa pengukuran kualitas pelayanan tidak harus selalu menggunakan selisih antara harapan dan persepsi. Mereka mengembangkan model SERVPERF, yang menilai kualitas pelayanan terutama berdasarkan kinerja aktual yang dirasakan pelanggan. Menurut Cronin dan Taylor (1992), ukuran berbasis kinerja sering kali lebih sederhana dan memiliki kemampuan prediktif yang baik terhadap kepuasan pelanggan serta niat perilaku pelanggan.

Selain itu, Brady dan Cronin (2001) mengembangkan model hierarkis kualitas pelayanan yang terdiri atas tiga dimensi tingkat pertama, yaitu kualitas interaksi, kualitas lingkungan fisik, dan kualitas hasil pelayanan. Kualitas interaksi berkaitan dengan hubungan antara pegawai dan pelanggan; kualitas lingkungan fisik mencakup kondisi fasilitas atau servicescape; sedangkan kualitas hasil berkaitan dengan manfaat akhir yang diperoleh pelanggan. Model ini menunjukkan bahwa kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh satu set dimensi yang seragam, tetapi dapat berbeda bergantung pada karakteristik sektor jasa.

Rust dan Oliver (1994) juga memandang kualitas pelayanan melalui tiga komponen utama, yaitu kualitas interaksi antara pelanggan dan penyedia jasa, kualitas lingkungan pelayanan, serta kualitas hasil. Dengan demikian, perkembangan teori menunjukkan bahwa pelanggan mengevaluasi pelayanan secara menyeluruh: mulai dari fasilitas, proses interaksi, kecepatan layanan, kompetensi petugas, hingga hasil akhir yang diperoleh.

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (3)

Era SERVQUAL

Melalui pengujian empiris lanjutan, Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988) menyederhanakan sepuluh dimensi tersebut menjadi lima dimensi utama yang dikenal sebagai SERVQUAL, yaitu:

  • Tangibles atau bukti fisik, mencakup fasilitas, peralatan, penampilan pegawai, dan lingkungan pelayanan.
  • Reliability atau keandalan, yaitu kemampuan memberikan layanan secara akurat, konsisten, dan sesuai janji.
  • Responsiveness atau daya tanggap, yaitu kesediaan serta kecepatan pegawai dalam membantu pelanggan.
  • Assurance atau jaminan, yaitu pengetahuan, kompetensi, kesopanan, dan kemampuan pegawai membangun rasa aman serta kepercayaan.
  • Empathy atau empati, yaitu perhatian personal dan pemahaman terhadap kebutuhan khusus pelanggan.

SERVQUAL menjadi salah satu instrumen paling berpengaruh dalam studi kualitas pelayanan karena menyediakan ukuran yang relatif sistematis untuk membandingkan harapan pelanggan dengan persepsi kinerja pelayanan. Parasuraman et al. (1988) memandang kualitas pelayanan sebagai fungsi dari selisih antara persepsi kinerja layanan dan harapan pelanggan, yang secara sederhana dapat dituliskan sebagai:

Kualitas Pelayanan=Persepsi Kinerja−Harapan Pelanggan\text{Kualitas Pelayanan} = \text{Persepsi Kinerja} – \text{Harapan Pelanggan}Kualitas Pelayanan=Persepsi Kinerja−Harapan Pelanggan

Apabila nilai persepsi lebih tinggi daripada harapan, pelanggan akan menilai kualitas pelayanan sangat baik. Sebaliknya, kesenjangan negatif menunjukkan perlunya perbaikan dalam sistem pelayanan

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (2)

Pergeseran ke perspektif pelanggan

Perkembangan penting terjadi ketika Lewis dan Booms (1983) mendefinisikan kualitas pelayanan sebagai ukuran sejauh mana tingkat pelayanan yang diberikan mampu memenuhi harapan pelanggan. Definisi ini menandai pergeseran dari orientasi standar internal menuju orientasi eksternal, yaitu pelanggan sebagai pihak yang menentukan kualitas.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1985), yang mengemukakan bahwa kualitas pelayanan berkaitan dengan kesenjangan antara harapan pelanggan dan persepsi mereka atas pelayanan yang benar-benar diterima. Jika kinerja pelayanan lebih rendah daripada harapan, pelanggan cenderung menilai kualitasnya buruk. Sebaliknya, apabila kinerja pelayanan memenuhi atau melampaui harapan, pelanggan akan menilai pelayanan berkualitas.

Parasuraman et al. (1985) mula-mula mengidentifikasi sepuluh determinan kualitas pelayanan, yaitu reliabilitas, daya tanggap, kompetensi, akses, kesopanan, komunikasi, kredibilitas, keamanan, pemahaman terhadap pelanggan, dan bukti fisik. Model ini juga memperkenalkan gap model, yang menjelaskan bahwa kegagalan kualitas pelayanan dapat terjadi karena adanya kesenjangan antara harapan pelanggan, pemahaman manajemen, standar pelayanan, pelaksanaan pelayanan, komunikasi eksternal, dan persepsi pelanggan.

Perkembangan Konsep Kualitas Pelayanan (1)

Konsep kualitas pelayanan berkembang dari penekanan awal pada mutu teknis dan kesesuaian terhadap standar menuju penilaian yang berpusat pada pelanggan, pengalaman layanan, relasi, teknologi digital, serta penciptaan nilai bersama. Dalam literatur pemasaran jasa, kualitas pelayanan pada dasarnya dipahami sebagai evaluasi pelanggan atas keunggulan suatu layanan dibandingkan dengan harapan mereka.

Awal perkembangan konsep

Pemikiran awal mengenai kualitas berakar pada manajemen mutu. Juran (1988) memaknai kualitas sebagai fitness for use atau kesesuaian produk/jasa untuk digunakan, sedangkan Crosby (1979) menekankan kualitas sebagai kesesuaian dengan persyaratan (conformance to requirements). Dalam tahap ini, kualitas terutama dilihat dari sudut pandang internal organisasi: apakah proses pelayanan telah memenuhi spesifikasi, prosedur, dan standar yang ditetapkan.

Namun, penerapan konsep kualitas pada jasa menghadapi tantangan karena jasa bersifat tidak berwujud, diproduksi dan dikonsumsi secara bersamaan, heterogen, serta tidak dapat disimpan. Grönroos (1984) kemudian memperluas pembahasan dengan menyatakan bahwa pelanggan tidak hanya menilai apa yang diterima dari penyedia jasa, tetapi juga bagaimana jasa itu disampaikan. Karena itu, ia membedakan kualitas teknis (technical quality)—yakni hasil atau keluaran pelayanan—dan kualitas fungsional (functional quality)—yakni proses, cara, dan interaksi ketika pelayanan diberikan.

Sebagai contoh, pada layanan rumah sakit, keberhasilan diagnosis dan pengobatan merupakan kualitas teknis, sedangkan keramahan tenaga kesehatan, kejelasan informasi, kecepatan administrasi, dan empati terhadap pasien merupakan kualitas fungsional. Kedua aspek tersebut secara bersama-sama membentuk persepsi pelanggan terhadap mutu pelayanan.

Konsep Keputusan Pembelian (10)

Perilaku pascapembelian

Tahap pascapembelian menentukan apakah transaksi awal berkembang menjadi kepuasan, pembelian ulang, loyalitas, keluhan, atau perpindahan merek. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa konsumen membandingkan kinerja aktual produk dengan harapan sebelum pembelian. Jika kinerja memenuhi atau melampaui harapan, konsumen cenderung puas. Jika kinerja berada di bawah harapan, konsumen berpotensi mengalami ketidakpuasan.digilib.itb.ac+1

Engel et al. (1995) menambahkan bahwa evaluasi pascakonsumsi dapat menghasilkan respons berupa penggunaan ulang, rekomendasi positif, pengajuan keluhan, pengembalian produk, penghentian penggunaan, atau pembuangan produk.repository.up.ac+1

Dalam beberapa kasus, konsumen dapat mengalami post-purchase dissonance atau disonansi pascapembelian, yaitu rasa ragu atau tidak nyaman setelah memilih suatu produk. Kondisi ini sering muncul pada pembelian bernilai tinggi atau ketika konsumen harus menolak alternatif yang juga menarik. Organisasi dapat mengurangi disonansi melalui komunikasi pascapembelian, panduan penggunaan, jaminan, kebijakan pengembalian, layanan purnajual, dan respons keluhan yang cepat.

Implikasi penelitian

Dalam penelitian pemasaran, keputusan pembelian dapat ditempatkan sebagai variabel dependen yang dipengaruhi oleh faktor fungsional, psikologis, sosial, atau digital. Variabel yang sering digunakan antara lain kualitas produk, persepsi harga, promosi, citra merek, kepercayaan, ulasan daring, persepsi risiko, kualitas layanan, dan nilai yang dirasakan.

Contoh model konseptual:

Kualitas produk+Persepsi harga+Citra merek+Promosi→Keputusan pembelian\text{Kualitas produk} + \text{Persepsi harga} + \text{Citra merek} + \text{Promosi} \rightarrow \text{Keputusan pembelian}Kualitas produk+Persepsi harga+Citra merek+Promosi→Keputusan pembelian

Pada konteks e-commerce atau fintech, model dapat dikembangkan menjadi:

Kepercayaan+Persepsi kemudahan+Persepsi manfaat−Persepsi risiko→Keputusan penggunaan/pembelian\text{Kepercayaan} + \text{Persepsi kemudahan} + \text{Persepsi manfaat} – \text{Persepsi risiko} \rightarrow \text{Keputusan penggunaan/pembelian}Kepercayaan+Persepsi kemudahan+Persepsi manfaat−Persepsi risiko→Keputusan penggunaan/pembelian

Apabila penelitian menggunakan SEM-PLS atau CB-SEM, indikator keputusan pembelian perlu disesuaikan dengan objek penelitian. Indikator dapat mencakup kemantapan memilih produk, kemantapan memilih merek, kesediaan melakukan transaksi, pilihan saluran pembelian, ketepatan waktu pembelian, kecenderungan membeli ulang, dan kesediaan merekomendasikan. Namun, pembelian ulang dan rekomendasi sering lebih tepat diposisikan sebagai konsekuensi keputusan atau indikator loyalitas, bukan sebagai indikator keputusan pembelian awal.

Konsep Keputusan Pembelian (9)

Jenis keputusan pembelian

Tidak semua pembelian memerlukan tingkat pemikiran yang sama. Engel et al. (1995) menjelaskan bahwa proses keputusan dapat berlangsung secara ekstensif, terbatas, atau rutin, bergantung pada keterlibatan konsumen, pengalaman, dan risiko yang dirasakan.repository.up.ac+1

Jenis keputusanKarakteristikContoh
Jenis keputusanKarakteristikContoh
Keputusan ekstensifInformasi dicari secara mendalam; banyak alternatif dievaluasi; risiko tinggiMembeli rumah, kendaraan, laptop, asuransi, investasi
Keputusan terbatasKonsumen mengenal kategori produk, tetapi masih membandingkan beberapa merekMembeli telepon pintar, memilih bank digital, membeli kosmetik
Keputusan rutinBerdasarkan kebiasaan dan pengalaman sebelumnya; pencarian informasi minimalMembeli makanan harian atau merek kebutuhan rumah tangga yang sama
Keputusan impulsifTerjadi spontan dengan perencanaan minimal; sering dipengaruhi stimulus situasionalMembeli produk karena diskon terbatas atau tampilan menarik
Keputusan loyalBerulang karena kepuasan, kepercayaan, dan komitmen terhadap merekTetap menggunakan aplikasi, toko, atau merek yang dipercaya

Keputusan rutin tidak selalu menunjukkan loyalitas. Konsumen dapat membeli merek yang sama hanya karena kebiasaan, keterbatasan waktu, atau tidak adanya alternatif yang mudah dijangkau. Loyalitas yang lebih kuat biasanya mencakup sikap positif, kepercayaan, keinginan membeli ulang, dan kesediaan merekomendasikan merek kepada orang lain.

Konsep Keputusan Pembelian (8)

Faktor pribadi

Usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, gaya hidup, dan kondisi finansial membentuk kemampuan serta preferensi konsumen. Konsumen dengan pendapatan terbatas mungkin lebih mempertimbangkan harga, diskon, dan pilihan cicilan. Sebaliknya, konsumen dengan daya beli lebih tinggi dapat memberikan perhatian lebih besar pada kualitas, kenyamanan, personalisasi, dan reputasi merek.

Pada produk digital, kemampuan menggunakan teknologi dan literasi digital juga menjadi faktor penting. Konsumen mungkin memiliki sikap positif terhadap sebuah aplikasi, tetapi tidak menggunakannya apabila proses registrasi terlalu kompleks atau dianggap tidak sesuai dengan kemampuan teknologinya.

Faktor psikologis

Motivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan, dan sikap berperan penting dalam pembentukan keputusan pembelian. Howard dan Sheth (1969) menjelaskan bahwa konsumen bukan penerima informasi yang pasif; mereka menyeleksi, menafsirkan, dan belajar dari informasi serta pengalaman sebelumnya sebelum membentuk preferensi merek.search.worldcat+1

Persepsi risiko sangat penting dalam keputusan pembelian. Risiko dapat berbentuk risiko finansial, fungsional, fisik, sosial, psikologis, waktu, dan privasi. Pada transaksi online atau layanan keuangan digital, risiko keamanan akun dan penyalahgunaan data dapat menghambat keputusan menggunakan layanan, bahkan ketika manfaat dan promosi yang ditawarkan cukup besar.

Konsep Keputusan Pembelian (7)

Faktor budaya

Budaya memengaruhi sistem nilai dan preferensi konsumsi. Nilai budaya dapat menentukan apakah konsumen lebih menekankan harga, kualitas, status, keberlanjutan, kehalalan, keamanan, atau manfaat sosial. Dalam konteks Indonesia, pertimbangan religius, keluarga, komunitas, dan reputasi sosial dapat berperan kuat dalam keputusan membeli makanan halal, kosmetik, jasa keuangan syariah, produk lokal, serta donasi digital.

Faktor sosial

Keluarga dan kelompok referensi dapat memengaruhi keputusan secara langsung atau tidak langsung. Engel et al. (1995) menjelaskan bahwa konsumen sering menggunakan informasi dari orang-orang yang dipercaya untuk mengurangi ketidakpastian, terutama dalam pembelian yang berisiko atau sulit dievaluasi sebelum digunakan.

Dalam era digital, kelompok referensi tidak hanya berupa keluarga atau teman dekat, tetapi juga komunitas daring, content creator, influencer, pengguna platform, serta pemberi ulasan. Namun, pengaruh tersebut sangat bergantung pada

Konsep Keputusan Pembelian (6)

Faktor yang memengaruhi keputusan

Keputusan pembelian tidak hanya dipengaruhi oleh atribut produk. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa perilaku pembelian dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis. Faktor-faktor tersebut membentuk cara konsumen mengenali kebutuhan, menilai informasi, mempersepsikan risiko, serta memilih alternatif.digilib.itb.ac

FaktorUnsur utamaPengaruh terhadap keputusan
FaktorUnsur utamaPengaruh terhadap keputusan
BudayaNilai, norma, agama, subbudaya, kelas sosialMembentuk preferensi, standar kepantasan, dan pola konsumsi
SosialKeluarga, kelompok referensi, komunitas, statusMendorong atau menghambat pilihan melalui pengaruh sosial
PribadiUsia, pekerjaan, pendapatan, gaya hidup, tahap hidupMenentukan kebutuhan, daya beli, dan preferensi individu
PsikologisMotivasi, persepsi, pembelajaran, sikap, kepercayaanMemengaruhi cara konsumen mengolah informasi dan menilai merek
SituasionalWaktu, promosi, stok, suasana, kondisi ekonomiMemengaruhi keputusan akhir pada saat pembelian

Konsep Keputusan Pembelian (5)

Keputusan pembelian

Keputusan pembelian merupakan tahap ketika konsumen menetapkan pilihan untuk membeli atau menggunakan suatu produk, merek, penyedia, saluran, waktu, jumlah, dan metode pembayaran. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa niat membeli tidak selalu berubah secara langsung menjadi pembelian aktual karena keputusan dapat dipengaruhi oleh sikap orang lain dan faktor situasional yang tidak terduga.digilib.itb.ac+1

Sikap orang lain dapat memengaruhi keputusan apabila pihak tersebut memiliki pengaruh kuat dan memberikan pandangan negatif atau positif terhadap produk tertentu. Misalnya, calon pengguna pinjaman digital mungkin membatalkan keputusan menggunakan suatu aplikasi setelah keluarga atau teman mengingatkan tentang risiko biaya, keamanan data, atau reputasi penyedia.

Faktor situasional yang tidak terduga dapat berupa perubahan pendapatan, kenaikan harga, stok habis, kesulitan akses, kegagalan sistem pembayaran, ulasan negatif yang baru muncul, krisis ekonomi, atau kebutuhan mendesak lain. Oleh karena itu, organisasi perlu meminimalkan hambatan pembelian dengan menyediakan informasi yang transparan, proses transaksi yang mudah, pilihan pembayaran yang aman, ketersediaan produk, serta layanan pelanggan yang responsif.

Keputusan pembelian dapat dirinci dalam beberapa keputusan berikut.

Dimensi keputusanPertanyaan konsumenContoh
Dimensi keputusanPertanyaan konsumenContoh
Pilihan produkProduk atau jasa apa yang dibutuhkan?Memilih layanan pembayaran digital
Pilihan merekMerek atau penyedia mana yang dipercaya?Memilih satu aplikasi tertentu
Pilihan saluranDi mana dan melalui saluran apa membeli?Membeli melalui marketplace atau toko fisik
Waktu pembelianKapan transaksi dilakukan?Membeli saat promosi atau ketika kebutuhan mendesak
Jumlah pembelianBerapa banyak yang dibeli atau digunakan?Memilih paket bulanan atau tahunan
Metode pembayaranBagaimana transaksi dilakukan?Tunai, transfer, kartu, cicilan, atau dompet digital

Konsep Keputusan Pembelian (4)

Evaluasi alternatif

Pada tahap evaluasi alternatif, konsumen membandingkan beberapa merek atau pilihan berdasarkan kriteria yang dipandang penting. Menurut Kotler dan Keller (2016), konsumen dapat mengevaluasi alternatif melalui atribut produk, tingkat kepentingan setiap atribut, keyakinan terhadap kinerja merek, dan nilai yang diharapkan dari setiap alternatif.

Atribut yang dievaluasi dapat berbeda antarproduk. Pada telepon pintar, konsumen mungkin mempertimbangkan harga, kapasitas baterai, kamera, sistem operasi, desain, merek, dan layanan purnajual. Pada layanan fintech, atribut penting dapat mencakup keamanan data, biaya, kemudahan penggunaan, reputasi penyedia, kecepatan transaksi, kelengkapan fitur, transparansi, dan dukungan pelanggan.

Secara sederhana, evaluasi konsumen dapat digambarkan dengan pendekatan multiatribut:

Aj=∑i=1nwixijA_j = \sum_{i=1}^{n} w_i x_{ij}Aj​=i=1∑n​wi​xij​

Keterangan:

  • AjA_jAj​ = evaluasi total konsumen terhadap alternatif atau merek ke-jjj.
  • wiw_iwi​ = bobot kepentingan atribut ke-iii.
  • xijx_{ij}xij​ = penilaian konsumen terhadap kinerja merek ke-jjj pada atribut ke-iii.
  • nnn = jumlah atribut yang dievaluasi.

Misalnya, seorang pengguna membandingkan tiga aplikasi investasi. Jika keamanan dan legalitas memiliki bobot tertinggi, aplikasi dengan promosi besar tetapi reputasi keamanan rendah mungkin tetap tidak dipilih. Ini menunjukkan bahwa konsumen tidak selalu memilih penawaran termurah, melainkan penawaran yang memberikan nilai paling sesuai dengan prioritasnya.

Konsep Keputusan Pembelian (3)

Pencarian informasi

Setelah mengenali kebutuhan, konsumen mencari informasi yang dapat membantu menemukan solusi. Menurut Kotler dan Keller (2016), informasi dapat berasal dari sumber pribadi, komersial, publik, dan pengalaman.cabi

  • Sumber pribadi mencakup keluarga, teman, rekan kerja, komunitas, dan orang yang dipercaya.
  • Sumber komersial mencakup iklan, tenaga penjualan, situs merek, katalog, aplikasi, promosi, dan komunikasi pemasaran lainnya.
  • Sumber publik mencakup berita, media sosial, ulasan konsumen, lembaga pemerintah, organisasi perlindungan konsumen, dan publikasi independen.
  • Sumber pengalaman mencakup penggunaan sebelumnya, percobaan produk, pengamatan, dan ingatan konsumen terhadap merek tertentu.

Engel et al. (1995) membedakan pencarian internal dan pencarian eksternal. Pencarian internal terjadi ketika konsumen menggunakan ingatan serta pengalaman masa lalu untuk membuat keputusan. Pencarian eksternal dilakukan ketika konsumen membutuhkan informasi tambahan dari lingkungan, terutama jika produk baru, mahal, kompleks, atau berisiko tinggi.

Intensitas pencarian informasi dipengaruhi oleh tingkat keterlibatan konsumen (consumer involvement), risiko yang dirasakan, ketersediaan waktu, pengalaman sebelumnya, pengetahuan produk, dan perbedaan antaralternatif. Konsumen cenderung mencari lebih banyak informasi ketika membeli rumah, kendaraan, produk investasi, pendidikan, atau layanan kesehatan dibandingkan ketika membeli produk kebutuhan sehari-hari.

Konsep Keputusan Pembelian (2)

Tahapan keputusan pembelian

Pengenalan masalah atau kebutuhan

Tahap pertama terjadi ketika konsumen menyadari adanya kesenjangan antara kondisi aktual dan kondisi yang diinginkan. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa pengenalan masalah dapat dipicu oleh rangsangan internal maupun eksternal. Rangsangan internal berasal dari kondisi dalam diri konsumen, seperti lapar, haus, kebutuhan keamanan, keinginan berprestasi, atau kebutuhan akan kenyamanan. Rangsangan eksternal dapat berasal dari iklan, rekomendasi teman, ulasan pelanggan, konten media sosial, perubahan tren, atau pengalaman melihat produk orang lain.

Sebagai contoh, seorang konsumen menyadari bahwa pengelolaan uang tunai kurang praktis untuk kebutuhan harian. Kesadaran tersebut menciptakan kebutuhan akan layanan pembayaran digital. Kebutuhan itu dapat menjadi semakin kuat setelah konsumen melihat promosi dompet digital, menerima rekomendasi dari teman, atau menemukan bahwa banyak pedagang telah menerima pembayaran berbasis QR.

Konsep Keputusan Pembelian (1)

Keputusan pembelian adalah keputusan konsumen untuk memilih dan membeli produk atau jasa tertentu setelah mengenali kebutuhan, mencari informasi, membandingkan alternatif, serta mempertimbangkan konsekuensi dari pilihannya. Keputusan ini tidak hanya berarti tindakan membayar atau melakukan transaksi, tetapi merupakan hasil dari proses psikologis, sosial, ekonomi, dan situasional yang berlangsung sebelum, selama, dan sesudah pembelian.

Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa keputusan pembelian merupakan perilaku konsumen dalam menentukan pilihan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya setelah mempertimbangkan informasi yang tersedia serta berbagai alternatif yang ada. Model keputusan pembelian klasik umumnya mencakup lima tahap: pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pascapembelian.

Hakikat keputusan pembelian

Keputusan pembelian merupakan salah satu hasil utama dari perilaku konsumen. Ketika konsumen menghadapi kebutuhan atau masalah, ia akan memilih apakah perlu membeli, produk atau merek apa yang dipilih, kapan membeli, di mana membeli, bagaimana melakukan pembayaran, dan berapa jumlah yang akan dibeli.

Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1995), pengambilan keputusan konsumen merupakan proses yang mencakup pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif sebelum pembelian, pembelian, konsumsi, evaluasi pascakonsumsi, dan pelepasan produk atau penghentian penggunaan. Model Engel–Blackwell–Miniard menunjukkan bahwa pembelian bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari proses konsumsi yang lebih luas.

Howard dan Sheth (1969) memandang keputusan pembelian sebagai keluaran dari proses belajar konsumen. Dalam model ini, konsumen menerima rangsangan pemasaran dan sosial, menafsirkan informasi, membentuk persepsi serta sikap, mengembangkan niat, lalu membuat pilihan merek atau keputusan membeli. Dengan demikian, kualitas informasi, pengalaman sebelumnya, kepercayaan pada merek, dan tingkat risiko yang dirasakan dapat memengaruhi keputusan akhir konsumen.

Secara konseptual, proses tersebut dapat diringkas sebagai berikut:

Kebutuhan→Pencarian informasi→Evaluasi alternatif→Keputusan pembelian→Evaluasi pascapembelian\text{Kebutuhan} \rightarrow \text{Pencarian informasi} \rightarrow \text{Evaluasi alternatif} \rightarrow \text{Keputusan pembelian} \rightarrow \text{Evaluasi pascapembelian}Kebutuhan→Pencarian informasi→Evaluasi alternatif→Keputusan pembelian→Evaluasi pascapembelian

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (11)

Penciptaan nilai dan hubungan pelanggan

Konsep inti marketing pada akhirnya bermuara pada penciptaan nilai bagi pelanggan dan organisasi. Kotler dan Armstrong (2020) menyatakan bahwa perusahaan perlu menarik pelanggan dengan menawarkan nilai yang unggul, kemudian mempertahankan pelanggan dengan menciptakan kepuasan.worldsupporter+1

Penciptaan nilai dapat dilakukan melalui kualitas produk, harga yang adil, kemudahan akses, inovasi, pelayanan, pengalaman pelanggan, reputasi merek, personalisasi, serta tanggung jawab sosial. Nilai tersebut akan lebih berkelanjutan apabila pelanggan mempersepsikan bahwa organisasi tidak hanya mengejar transaksi, tetapi juga memahami kebutuhan dan melindungi kepentingan mereka.

Dalam penelitian pemasaran, konsep ini dapat dikembangkan dalam model berikut:

Kualitas layanan+Nilai yang dirasakan+Kepercayaan→Kepuasan pelanggan→Loyalitas pelanggan\text{Kualitas layanan} + \text{Nilai yang dirasakan} + \text{Kepercayaan} \rightarrow \text{Kepuasan pelanggan} \rightarrow \text{Loyalitas pelanggan}Kualitas layanan+Nilai yang dirasakan+Kepercayaan→Kepuasan pelanggan→Loyalitas pelanggan

Model tersebut dapat diterapkan pada penelitian mengenai perbankan digital, fintech, marketplace, pendidikan tinggi, rumah sakit, pariwisata, layanan publik, atau bisnis ritel. Kualitas layanan, nilai yang dirasakan, dan kepercayaan berfungsi sebagai faktor pembentuk evaluasi pelanggan; kepuasan menjadi respons evaluatif; sedangkan loyalitas mencerminkan kecenderungan untuk melakukan pembelian ulang, bertahan, dan merekomendasikan layanan kepada pihak lain.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (10)

Persaingan dan lingkungan pemasaran

Persaingan adalah kondisi ketika berbagai organisasi berupaya memenuhi kebutuhan konsumen yang sama atau menawarkan solusi alternatif terhadap masalah yang sama. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa pesaing tidak hanya berarti merek dalam kategori produk identik, tetapi juga semua alternatif yang dapat dipilih konsumen untuk memenuhi kebutuhannya.tup.tsinghua.edu

Misalnya, layanan transportasi daring tidak hanya bersaing dengan platform sejenis, tetapi juga dengan transportasi umum, kendaraan pribadi, taksi konvensional, berjalan kaki, atau keputusan konsumen untuk tidak bepergian. Demikian pula, aplikasi dompet digital tidak hanya bersaing dengan aplikasi lain, tetapi juga dengan uang tunai, transfer bank, kartu debit, kartu kredit, dan metode pembayaran pay later.

Lingkungan pemasaran mencakup faktor internal dan eksternal yang memengaruhi kemampuan organisasi menciptakan nilai. Faktor eksternal meliputi kondisi ekonomi, teknologi, hukum dan regulasi, sosial-budaya, demografi, politik, serta lingkungan alam. Menurut Kotler dan Keller (2016), organisasi perlu memantau perubahan lingkungan karena perubahan tersebut dapat menciptakan peluang pasar baru atau menimbulkan risiko bagi strategi pemasaran yang sedang berjalan.tup.tsinghua.edu

Sebagai contoh, perkembangan teknologi digital menciptakan peluang bagi layanan keuangan berbasis aplikasi. Akan tetapi, inovasi tersebut juga meningkatkan tuntutan perlindungan data, keamanan siber, literasi digital, transparansi algoritma, dan kepatuhan terhadap regulasi.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (9)

Saluran pemasaran dan komunikasi

Saluran pemasaran (marketing channels) adalah sarana yang digunakan organisasi untuk menjangkau, berkomunikasi, menyampaikan, dan menjual nilai kepada pelanggan. Kotler dan Keller (2016) membedakan saluran pemasaran menjadi saluran komunikasi, saluran distribusi, dan saluran layanan.tup.tsinghua.edu

Saluran komunikasi meliputi iklan, media sosial, situs web, email marketing, promosi penjualan, hubungan masyarakat, penjualan personal, komunitas daring, serta komunikasi dari mulut ke mulut. Saluran distribusi meliputi toko fisik, distributor, agen, marketplace, aplikasi, dan situs e-commerce. Sementara itu, saluran layanan mencakup layanan pelanggan, pusat bantuan, chatbot, fasilitas perbaikan, dan mekanisme pengaduan.

Pada pemasaran digital, organisasi tidak hanya mengelola media berbayar (paid media), seperti iklan digital, tetapi juga media milik sendiri (owned media), seperti situs web dan akun media sosial resmi, serta media yang diperoleh (earned media), seperti ulasan pelanggan, liputan media, dan rekomendasi organik. Kotler dan Keller (2016) memasukkan media berbayar, milik sendiri, dan diperoleh sebagai bagian dari konsep pemasaran modern.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (8)

Pasar, segmentasi, dan target market

Pasar (market) adalah kumpulan pembeli aktual dan potensial yang memiliki kebutuhan atau keinginan tertentu, serta bersedia dan mampu melakukan pertukaran untuk memenuhinya. Kotler dan Armstrong (2020) menjelaskan bahwa pasar terbentuk ketika terdapat konsumen dengan kebutuhan, kemampuan membeli, kesediaan membeli, dan akses terhadap penawaran.worldsupporter+1

Tidak semua konsumen memiliki kebutuhan, preferensi, daya beli, dan perilaku yang sama. Oleh sebab itu, organisasi perlu menjalankan segmentasi pasar (market segmentation), yaitu membagi pasar heterogen menjadi kelompok-kelompok konsumen yang relatif homogen berdasarkan karakteristik tertentu. Kotler dan Keller (2016) menempatkan segmentasi, target market, dan positioning sebagai konsep inti pemasaran.tup.tsinghua.edu

Dasar segmentasi dapat berupa:

  • Segmentasi geografis, seperti wilayah, negara, kota, atau karakteristik perkotaan dan pedesaan.
  • Segmentasi demografis, seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan tahap siklus hidup keluarga.
  • Segmentasi psikografis, seperti gaya hidup, kepribadian, nilai, minat, serta kelas sosial.
  • Segmentasi perilaku, seperti manfaat yang dicari, tingkat penggunaan, loyalitas, kesiapan membeli, dan respons terhadap promosi.

Setelah segmen diidentifikasi, organisasi menentukan pasar sasaran (target market), yaitu segmen yang akan diprioritaskan untuk dilayani. Selanjutnya, organisasi membangun positioning, yaitu persepsi atau posisi yang ingin ditempati merek dalam benak konsumen dibandingkan pesaing.

Sebagai ilustrasi, sebuah aplikasi pengelolaan keuangan dapat memilih segmen pekerja muda perkotaan yang aktif secara digital dan ingin mengontrol pengeluaran. Positioning yang digunakan dapat berupa “aplikasi pengelolaan keuangan sederhana dan aman untuk membantu pekerja muda mencapai tujuan finansial.” Posisi tersebut perlu dibuktikan melalui fitur aplikasi, harga, desain komunikasi, layanan, dan pengalaman pengguna secara konsisten

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (7)

Pertukaran, transaksi, dan hubungan

Pertukaran (exchange) adalah tindakan memperoleh sesuatu yang diinginkan dengan menawarkan sesuatu sebagai imbalan. Kotler dan Armstrong (2020) menjelaskan bahwa pemasaran terjadi ketika pihak-pihak yang terlibat membangun hubungan pertukaran untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan masing-masing.worldsupporter+1

Pertukaran tidak selalu hanya berbentuk uang untuk produk. Dalam lingkungan digital, konsumen dapat memperoleh layanan tanpa biaya uang langsung tetapi memberikan data pribadi, waktu, perhatian, ulasan, atau kesediaan menerima iklan sebagai bentuk nilai pengganti. Oleh karena itu, organisasi perlu menjaga transparansi dalam penggunaan data dan manfaat yang dijanjikan kepada konsumen.

Transaksi adalah pertukaran nilai yang terjadi antara dua atau lebih pihak. Misalnya, konsumen membayar harga tertentu untuk memperoleh produk, layanan, atau akses. Akan tetapi, marketing modern tidak berhenti pada transaksi tunggal. Kotler dan Keller (2016) menekankan pentingnya relationship marketing, yaitu upaya membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan pelanggan, pemasok, distributor, mitra, dan pemangku kepentingan lainnya.

Hubungan pemasaran yang kuat biasanya ditandai oleh kepercayaan, komitmen, komunikasi, kepuasan, nilai yang dirasakan, serta kesediaan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang. Dalam layanan digital, hubungan tersebut dapat dibangun melalui pengalaman pengguna yang konsisten, perlindungan data, layanan pelanggan responsif, komunikasi yang relevan, dan penanganan keluhan yang adil.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (6)

Nilai, biaya, dan kepuasan

Nilai pelanggan (customer value) adalah evaluasi konsumen mengenai manfaat yang diperoleh dibandingkan dengan pengorbanan yang harus dikeluarkan. Kotler dan Keller (2016) menempatkan nilai sebagai konsep sentral pemasaran dan mengaitkannya dengan kombinasi kualitas, layanan, serta harga atau quality–service–price (QSP).

Secara sederhana, nilai yang dirasakan dapat digambarkan sebagai:

Nilai pelanggan yang dirasakan=Total manfaat yang dirasakan−Total biaya yang dirasakan\text{Nilai pelanggan yang dirasakan} = \text{Total manfaat yang dirasakan} – \text{Total biaya yang dirasakan}Nilai pelanggan yang dirasakan=Total manfaat yang dirasakan−Total biaya yang dirasakan

Manfaat dapat mencakup kualitas fungsional, kemudahan, kenyamanan, keamanan, status sosial, pengalaman emosional, dan manfaat simbolik. Biaya dapat meliputi uang, waktu, tenaga, risiko, ketidakpastian, serta beban psikologis.

Sebagai contoh, pengguna aplikasi investasi mungkin memperoleh manfaat berupa kemudahan transaksi, akses informasi, fitur analisis, dan fleksibilitas waktu. Namun, pengguna juga dapat menanggung biaya berupa biaya transaksi, risiko kehilangan dana, waktu untuk belajar, serta kekhawatiran terhadap keamanan data. Apabila manfaat yang dirasakan melebihi biaya yang dirasakan, nilai pelanggan cenderung meningkat.

Kepuasan pelanggan (customer satisfaction) muncul ketika kinerja aktual penawaran dibandingkan dengan harapan konsumen. Kotler dan Armstrong (2020) menjelaskan bahwa pelanggan cenderung puas apabila kinerja produk sesuai atau melebihi harapannya, sedangkan kinerja di bawah harapan dapat menimbulkan ketidakpuasan.worldsupporter+1

Namun, organisasi perlu mengelola harapan secara realistis. Janji promosi yang terlalu tinggi mungkin meningkatkan minat awal, tetapi berpotensi menimbulkan kekecewaan apabila kinerja aktual tidak dapat memenuhi klaim tersebut. Karena itu, pemasaran yang berkelanjutan harus berorientasi pada penciptaan nilai nyata, bukan sekadar pembentukan harapan.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (5)

Penawaran pasar dan merek

Penawaran pasar (market offerings) adalah kombinasi produk, jasa, informasi, pengalaman, ide, atau solusi yang ditawarkan kepada konsumen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Kotler dan Armstrong (2020) menjelaskan bahwa penawaran pasar tidak terbatas pada barang fisik, tetapi dapat mencakup jasa, aktivitas, individu, tempat, organisasi, informasi, dan gagasan.worldsupporter+1

Contohnya, universitas tidak hanya menawarkan program studi sebagai produk pendidikan, tetapi juga pengalaman belajar, reputasi institusi, jaringan alumni, akses dosen, fasilitas akademik, peluang karier, dan identitas sosial. Demikian pula, platform fintech tidak hanya menawarkan aplikasi, melainkan keamanan transaksi, akses terhadap layanan keuangan, kemudahan penggunaan, edukasi keuangan, dan kepercayaan.

Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau kombinasi unsur yang membedakan penawaran suatu organisasi dari penawaran pesaing. Menurut Kotler dan Keller (2016), merek berfungsi mengidentifikasi sumber produk, membedakan penawaran, menyederhanakan proses keputusan pelanggan, dan membentuk ekspektasi atas kualitas maupun pengalaman.tup.tsinghua.edu

Merek yang kuat dapat mengurangi risiko yang dirasakan konsumen, khususnya pada produk jasa atau produk dengan konsekuensi tinggi seperti perbankan, pendidikan, asuransi, investasi, layanan kesehatan, dan platform digital. Dalam konteks tersebut, kepercayaan terhadap merek sering menjadi pertimbangan sama pentingnya dengan harga atau fitur produk

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (4)

Permintaan

Permintaan (demands) adalah keinginan terhadap produk tertentu yang didukung oleh kemampuan dan kemauan untuk membeli. Kotler dan Keller (2016) menyatakan bahwa permintaan muncul ketika keinginan konsumen memperoleh dukungan dari daya beli.tup.tsinghua.edu

Seseorang mungkin menginginkan telepon pintar premium, tetapi keinginan tersebut belum tentu menjadi permintaan apabila tidak memiliki sumber daya keuangan yang cukup. Sebaliknya, ketika konsumen memiliki daya beli, akses kredit, atau fasilitas cicilan yang sesuai, keinginan tersebut dapat berubah menjadi permintaan aktual.

Bagi pemasar, penting membedakan ukuran pasar berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan permintaan. Pasar yang memiliki kebutuhan besar belum tentu menghasilkan penjualan tinggi apabila daya beli, akses produk, kepercayaan, atau kesediaan konsumen untuk membeli masih rendah.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (3)

Keinginan

Keinginan (wants) adalah bentuk kebutuhan yang dibentuk oleh budaya, lingkungan sosial, pengalaman, dan kepribadian individu. Kotler dan Keller (2016) membedakan keinginan dari kebutuhan karena dua orang dengan kebutuhan sama dapat memilih cara pemenuhan yang sangat berbeda.tup.tsinghua.edu

Sebagai contoh, seseorang yang merasa lapar memiliki kebutuhan fisiologis akan makanan. Namun, keinginannya dapat berupa nasi gudeg, makanan cepat saji, makanan sehat, atau layanan pesan-antar melalui aplikasi. Pilihan tersebut dipengaruhi oleh pendapatan, preferensi rasa, budaya, lokasi, gaya hidup, dan paparan komunikasi pemasaran.

Dalam pemasaran, tugas organisasi bukan menciptakan kebutuhan dasar manusia, tetapi memahami bentuk keinginan konsumen dan merancang penawaran yang relevan untuk memenuhinya.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (2)

Kebutuhan

Kebutuhan (needs) adalah keadaan kekurangan yang dirasakan manusia. Kebutuhan dapat berupa kebutuhan fisik, seperti pangan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, dan keamanan; kebutuhan sosial, seperti rasa memiliki, penerimaan, kasih sayang, dan status; serta kebutuhan individual, seperti pengetahuan, aktualisasi diri, dan ekspresi pribadi. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa kebutuhan manusia bukan diciptakan oleh pemasar, melainkan merupakan bagian mendasar dari kondisi manusia.tup.tsinghua.edu

Misalnya, kebutuhan akan keamanan merupakan kebutuhan dasar. Dalam konteks keuangan, kebutuhan tersebut dapat muncul dalam bentuk kebutuhan untuk menyimpan dana secara aman, melindungi data pribadi, mengelola risiko, atau mempersiapkan masa depan.

Konsep-konsep Penting dalam Markerting (1)

Konsep-konsep utama marketing menjelaskan bagaimana organisasi memahami kebutuhan pasar, menciptakan penawaran bernilai, mengomunikasikan manfaatnya, serta membangun pertukaran dan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Marketing modern tidak terbatas pada kegiatan menjual atau mempromosikan produk, melainkan berorientasi pada penciptaan, penyampaian, dan pertukaran nilai bagi pelanggan, mitra, serta masyarakat. Menurut American Marketing Association (2017), pemasaran adalah aktivitas, seperangkat institusi, dan proses untuk menciptakan, mengomunikasikan, menyampaikan, serta mempertukarkan penawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat luas.ama

Pengertian dan orientasi marketing

Marketing merupakan proses manajerial dan sosial yang berangkat dari pemahaman atas kebutuhan manusia. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa pemasaran membantu individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, serta pertukaran produk dan jasa yang bernilai.

Dalam perspektif kontemporer, keberhasilan pemasaran tidak hanya diukur melalui volume penjualan jangka pendek. Organisasi juga perlu menciptakan kepuasan, kepercayaan, retensi, loyalitas, dan nilai pelanggan jangka panjang. Kotler dan Armstrong (2020) menegaskan bahwa pemasaran berfokus pada penciptaan nilai bagi pelanggan dan pembangunan hubungan pelanggan yang menguntungkan, sehingga perusahaan dapat memperoleh nilai kembali dari pelanggan dalam bentuk pembelian ulang, loyalitas, rekomendasi, dan profitabilitas.

Dengan demikian, konsep utama marketing dapat dipahami sebagai suatu alur berikut:

Kebutuhan konsumen→Keinginan dan permintaan→Penawaran pasar→Nilai dan kepuasan→Pertukaran→Hubungan pelanggan→Nilai bagi organisasi\text{Kebutuhan konsumen} \rightarrow \text{Keinginan dan permintaan} \rightarrow \text{Penawaran pasar} \rightarrow \text{Nilai dan kepuasan} \rightarrow \text{Pertukaran} \rightarrow \text{Hubungan pelanggan} \rightarrow \text{Nilai bagi organisasi}Kebutuhan konsumen→Keinginan dan permintaan→Penawaran pasar→Nilai dan kepuasan→Pertukaran→Hubungan pelanggan→Nilai bagi organisasi

Kebutuhan, keinginan, dan permintaan

Marketing Mix (9)

Keunggulan marketing mix tidak ditentukan oleh kekuatan satu unsur secara terpisah, melainkan oleh konsistensi antarunsurnya. Produk premium dengan kualitas tinggi, misalnya, membutuhkan harga yang mencerminkan posisi premium, distribusi melalui saluran yang sesuai, dan promosi yang menekankan eksklusivitas maupun kredibilitas. Sebaliknya, produk dengan strategi harga ekonomis perlu didukung distribusi luas dan promosi yang menekankan nilai serta keterjangkauan.

Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa nilai pelanggan terbentuk ketika manfaat yang diterima konsumen dipandang lebih besar daripada pengorbanan yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, marketing mix perlu dirancang dari sudut pandang pelanggan, bukan hanya dari kepentingan internal perusahaan.

Sebagai contoh, strategi pemasaran suatu aplikasi investasi tidak cukup hanya menawarkan fitur investasi (product). Platform perlu menetapkan biaya yang wajar dan transparan (price), menyediakan aplikasi yang mudah diakses dan stabil (place), mengedukasi risiko secara jujur melalui komunikasi yang terpercaya (promotion), memberikan bantuan profesional (people), menyediakan prosedur transaksi dan penanganan keluhan yang jelas (process), serta menghadirkan desain digital dan indikator keamanan yang meyakinkan (physical evidence).

Implikasi penelitian

Dalam penelitian kuantitatif, marketing mix dapat digunakan sebagai konstruk eksogen yang menjelaskan kepuasan, keputusan pembelian, minat beli ulang, loyalitas, atau customer engagement. Namun, peneliti perlu berhati-hati karena 4P atau 7P tidak selalu harus diperlakukan sebagai satu konstruk reflektif.

Secara konseptual, unsur marketing mix lebih tepat diposisikan sebagai dimensi yang membentuk strategi pemasaran. Oleh karena itu, bila seluruh unsur digabungkan menjadi satu konstruk, pendekatan formatif sering lebih relevan: perubahan pada harga tidak harus selalu diikuti perubahan pada produk, tempat, atau promosi. Akan tetapi, apabila setiap unsur diuji secara terpisah—misalnya pengaruh kualitas produk, persepsi harga, akses distribusi, dan promosi terhadap kepuasan—setiap variabel dapat dikembangkan dengan indikator reflektif yang sesuai.

Marketing Mix (8)

Physical evidence

Physical evidence adalah bukti berwujud yang membantu konsumen mengevaluasi kualitas jasa yang secara alami tidak berwujud. Booms dan Bitner (1981) memasukkan unsur ini karena pelanggan membutuhkan tanda-tanda yang mengurangi ketidakpastian sebelum dan selama menggunakan jasa.archives.ju.edu+1

Bukti fisik dapat berupa desain kantor, kebersihan fasilitas, tata ruang, seragam pegawai, brosur, kartu nama, kemasan, situs web, desain aplikasi, notifikasi transaksi, testimoni pelanggan, laporan kinerja, serta sertifikat keamanan. Dalam layanan digital, antarmuka aplikasi yang profesional, informasi legal yang jelas, kebijakan privasi, bukti otorisasi regulator, dan konfirmasi transaksi yang akurat berperan sebagai physical evidence.

Marketing Mix (7)

Process

Process adalah prosedur, mekanisme, urutan kegiatan, dan sistem yang digunakan untuk menyampaikan jasa kepada konsumen. Booms dan Bitner (1981) memandang proses sebagai unsur penting karena pelanggan sering menilai kualitas bukan hanya dari hasil akhir, melainkan dari pengalaman selama memperoleh layanan.archives.ju.edu+1

Proses yang baik harus sederhana, konsisten, cepat, transparan, dan mampu mengurangi kesalahan. Misalnya, proses pembukaan rekening digital perlu menjelaskan tahap registrasi, verifikasi identitas, persetujuan syarat layanan, pengamanan akun, dan mekanisme penanganan kegagalan transaksi. Proses yang terlalu panjang atau tidak jelas dapat menciptakan customer effort, frustrasi, dan keputusan untuk menghentikan penggunaan layanan.

Marketing Mix (6)

People

People mengacu pada seluruh individu yang terlibat dalam penciptaan, penyampaian, dan penerimaan jasa. Mereka meliputi karyawan lini depan, customer service, tenaga penjualan, manajer, mitra, hingga pelanggan lain yang berinteraksi dalam lingkungan layanan. Booms dan Bitner (1981) menegaskan bahwa perilaku, kompetensi, penampilan, komunikasi, dan empati personel memengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas jasa.archives.ju.edu+1

Dalam layanan perbankan, rumah sakit, perguruan tinggi, pariwisata, dan platform digital, karyawan yang responsif dapat meningkatkan kepercayaan serta kepuasan pelanggan. Sebaliknya, layanan yang lambat, tidak ramah, dan tidak kompeten dapat menurunkan persepsi kualitas bahkan ketika fitur inti produk sebenarnya baik

Marketing Mix (6)

Perluasan menjadi 7P

Booms dan Bitner (1981) memperluas marketing mix dari 4P menjadi 7P untuk menjelaskan karakteristik jasa. Jasa memiliki sifat tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan dari proses penyampaiannya, bervariasi karena keterlibatan manusia, dan tidak dapat disimpan untuk digunakan di masa depan. Karena itu, people, process, dan physical evidence perlu dikelola secara strategis.archives.ju.edu+1

ElemenFokus keputusanContoh implementasi
ElemenFokus keputusanContoh implementasi
ProductNilai, manfaat, mutu, fitur, merek, variasi produkAplikasi pembayaran dengan fitur transfer, tagihan, keamanan, dan riwayat transaksi
PriceTarif, diskon, biaya, paket, cicilan, kebijakan pembayaranBiaya layanan transparan, cashback, tarif berjenjang
PlaceSaluran, akses, lokasi, distribusi, ketersediaanAplikasi tersedia di Android dan iOS serta didukung jaringan mitra
PromotionIklan, media sosial, edukasi, promosi penjualan, word of mouthKonten edukasi digital, program referal, kampanye keamanan transaksi
PeopleKompetensi, sikap, empati, responsivitas stafLayanan pelanggan cepat, ramah, dan mampu menangani keluhan
ProcessProsedur, alur layanan, waktu respons, standardisasiRegistrasi sederhana, verifikasi cepat, prosedur pengaduan jelas
Physical evidenceBukti visual dan fisik yang membangun kepercayaanDesain aplikasi profesional, kantor, sertifikasi, logo regulator, laporan transparansi

Marketing Mix (4)

Place

Place atau distribusi adalah seluruh aktivitas yang membuat produk tersedia, mudah diakses, dan dapat diperoleh konsumen pada waktu, lokasi, serta kondisi yang tepat. Menurut McCarthy (1960), distribusi mencakup keputusan mengenai saluran pemasaran, lokasi, cakupan pasar, persediaan, transportasi, pergudangan, serta perantara pemasaran.

Dalam pemasaran konvensional, keputusan distribusi dapat berupa pemilihan toko ritel, distributor, agen, grosir, atau pasar tradisional. Dalam pemasaran digital, place mencakup ketersediaan aplikasi, kompatibilitas perangkat, kemudahan proses registrasi, jangkauan jaringan internet, integrasi dengan mitra, kualitas sistem, dan akses layanan pelanggan.

Kotler dan Keller (2016) menekankan bahwa saluran distribusi menciptakan nilai melalui kemudahan, kenyamanan, kecepatan, dan aksesibilitas. Produk berkualitas dengan harga kompetitif tetap sulit diterima pasar jika konsumen mengalami hambatan ketika ingin memperolehnya.

Sebagai ilustrasi, layanan mobile banking dapat memiliki fitur unggul, tetapi adopsinya berpotensi rendah jika proses aktivasi rumit, aplikasi tidak kompatibel dengan perangkat konsumen, jaringan sering terganggu, atau layanan hanya menjangkau wilayah perkotaan. Dengan demikian, aksesibilitas merupakan unsur penting dalam menciptakan inklusi keuangan digital.

Marketing Mix (3)

Price

Harga adalah sejumlah nilai yang harus dikorbankan konsumen untuk memperoleh produk atau jasa. Harga tidak selalu terbatas pada uang; konsumen juga dapat mempertimbangkan biaya waktu, tenaga, risiko, biaya pencarian informasi, dan biaya psikologis. McCarthy (1960) memosisikan harga sebagai elemen yang secara langsung menghasilkan pendapatan, sedangkan unsur marketing mix lainnya pada umumnya membutuhkan biaya.

Keputusan harga mencakup penetapan harga dasar, diskon, potongan harga, kredit, cicilan, biaya administrasi, syarat pembayaran, kebijakan pengembalian dana, dan strategi harga psikologis. Kotler dan Keller (2016) menyatakan bahwa harga perlu diselaraskan dengan nilai yang dirasakan pelanggan, kondisi persaingan, tujuan organisasi, struktur biaya, serta sensitivitas harga pada target pasar.

Harga memiliki pengaruh kuat terhadap persepsi kualitas. Pada sebagian kategori produk, harga tinggi dapat dipersepsikan sebagai simbol mutu, prestise, eksklusivitas, atau keamanan. Namun, harga terlalu tinggi juga dapat menurunkan keterjangkauan dan meningkatkan niat konsumen untuk mencari alternatif. Oleh karena itu, organisasi perlu menciptakan kesesuaian antara harga aktual dan perceived value atau nilai yang dirasakan konsumen.

Sebagai contoh, platform crowdfunding dapat meningkatkan minat partisipasi pengguna apabila biaya layanan dijelaskan secara transparan. Transparansi tersebut penting karena pengguna bukan hanya mempertimbangkan besarnya biaya, melainkan juga keadilan, manfaat, dan kredibilitas penggunaan biaya tersebut.

Marketing Mix (2)

Marketing mix 4P

Product

Produk adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada pasar untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen. Produk tidak hanya berupa barang berwujud, tetapi juga dapat berupa jasa, ide, pengalaman, tempat, organisasi, acara, maupun kombinasi di antaranya. Menurut McCarthy (1960), keputusan produk menjadi inti marketing mix karena seluruh aktivitas pemasaran berangkat dari nilai yang akan ditawarkan kepada konsumen.

Keputusan produk mencakup kualitas, desain, fitur, merek, kemasan, ukuran, variasi, manfaat, jaminan, layanan purnajual, dan siklus hidup produk. Kotler dan Keller (2016) menjelaskan bahwa produk yang berhasil bukan semata-mata produk dengan fitur terbanyak, tetapi produk yang mampu memberikan manfaat dan nilai yang relevan bagi segmen sasarannya.

Dalam konteks layanan digital, “produk” dapat berupa fungsi utama aplikasi, kemudahan antarmuka, keamanan data, kecepatan transaksi, fitur personalisasi, serta dukungan layanan pelanggan. Sebagai contoh, pada aplikasi dompet digital, konsumen mungkin menilai produk berdasarkan kemudahan pembayaran, interoperabilitas, keamanan saldo, promosi cashback, dan kemampuan aplikasi menyelesaikan masalah transaksi.

Marketing Mix (1)

Marketing mix adalah seperangkat variabel pemasaran yang dapat dikendalikan organisasi untuk menciptakan nilai, memenuhi kebutuhan pasar sasaran, dan mencapai tujuan pemasaran. Konsep ini mula-mula dipopulerkan melalui gagasan marketing mix oleh Borden (1964), kemudian disederhanakan oleh McCarthy (1960) ke dalam kerangka 4P: product, price, place, dan promotion.archives.ju.edu+1

Dalam pemasaran jasa, kerangka tersebut diperluas menjadi 7P dengan penambahan people, process, dan physical evidence oleh Booms dan Bitner (1981), karena kualitas jasa sangat dipengaruhi interaksi manusia, prosedur pelayanan, dan bukti fisik yang dirasakan pelanggan.archives.ju.edu+1

Pengertian marketing mix

Marketing mix merupakan kombinasi keputusan pemasaran yang dirancang secara terpadu untuk memengaruhi respons konsumen. Artinya, produk yang berkualitas tidak otomatis berhasil apabila harganya tidak sesuai daya beli, sulit diperoleh, atau tidak dikomunikasikan secara efektif. Sebaliknya, promosi yang kuat juga tidak akan berkelanjutan bila produk tidak memberikan nilai dan pengalaman yang sesuai dengan harapan konsumen.

Borden (1964) menggambarkan pemasar sebagai seorang mixer of ingredients, yaitu pihak yang mengombinasikan berbagai unsur pemasaran agar menghasilkan respons pasar yang diharapkan. Gagasan ini menunjukkan bahwa strategi pemasaran bukan berupa keputusan tunggal, melainkan keselarasan berbagai elemen yang saling mendukung.

McCarthy (1960) mengelompokkan unsur-unsur pemasaran yang kompleks tersebut menjadi empat komponen inti, yaitu produk, harga, tempat atau distribusi, dan promosi. Model 4P memudahkan organisasi menerjemahkan strategi pemasaran ke dalam keputusan yang operasional dan terukur.eprints.bournemouth.ac+1

Kotler dan Keller (2016) menekankan bahwa pemasaran merupakan proses menciptakan, mengomunikasikan, menyampaikan, dan mempertukarkan penawaran bernilai bagi pelanggan. Oleh sebab itu, marketing mix perlu disusun berdasarkan kebutuhan pelanggan, karakteristik pasar sasaran, posisi pesaing, serta kemampuan sumber daya organisasi.

Perkembangan Teori Perilaku Konsumen (8)

Teori pembelajaran konsumen

Teori pembelajaran menjelaskan perubahan perilaku yang terjadi akibat pengalaman dan informasi. Dalam pembelajaran perilaku (behavioral learning), perilaku dapat terbentuk melalui pengulangan, hadiah, diskon, poin loyalitas, atau penguatan positif. Dalam pembelajaran kognitif, konsumen aktif mengolah informasi, membandingkan alternatif, dan membangun pemahaman sebelum memilih.

Program loyalitas, cashback, gamifikasi, uji coba gratis, dan rekomendasi personal pada platform digital merupakan contoh praktik pemasaran yang memanfaatkan prinsip pembelajaran. Namun, penggunaan insentif perlu diimbangi dengan nilai fungsional yang nyata; apabila konsumen hanya bertahan karena promosi, loyalitas yang terbentuk mungkin bersifat sementara.

Implikasi penelitian

Dalam penelitian, consumer behaviour dapat ditempatkan sebagai perspektif besar yang menjelaskan hubungan antara faktor internal, faktor eksternal, dan keputusan konsumsi. Berikut beberapa contoh model penelitian.

Konteks penelitianVariabel antesedenVariabel prosesVariabel hasil
Dompet digitalPersepsi manfaat, kemudahan, risiko, kepercayaan, literasi digitalSikap dan niat menggunakanPenggunaan aktual, kepuasan, loyalitas
CrowdfundingKepercayaan platform, empati, transparansi, norma sosialNiat berdonasi atau berinvestasiDonasi berulang, advokasi
Produk hijauKesadaran lingkungan, nilai hijau, pengetahuan produk, norma subjektifSikap hijau dan niat beliPembelian produk hijau
Financial well-beingLiterasi keuangan, kontrol diri, orientasi masa depan, pendapatanPerilaku pengelolaan keuanganKesejahteraan keuangan
Loyalitas merekKualitas yang dirasakan, pengalaman pelanggan, nilai yang dirasakan, kepercayaanKepuasan dan keterikatan pelangganPembelian ulang dan rekomendasi

Untuk penelitian berbasis SEM-PLS atau CB-SEM, penting membedakan secara jelas antara:

  • Variabel psikologis, seperti sikap, motivasi, kepercayaan, persepsi risiko, dan kontrol perilaku.
  • Variabel sosial, seperti norma subjektif, pengaruh kelompok referensi, dan electronic word of mouth.
  • Variabel perilaku, seperti niat beli, keputusan pembelian, penggunaan aktual, pembelian ulang, dan loyalitas.
  • Variabel hasil, seperti kepuasan, customer lifetime value, kesejahteraan keuangan, atau perubahan perilaku sosial.

Perkembangan Teori Perilaku Konsumen (7)

Theory of Planned Behavior

Theory of Planned Behavior (TPB) dari Ajzen menjelaskan bahwa perilaku terutama ditentukan oleh niat berperilaku. Niat tersebut dibentuk oleh tiga konstruk utama: sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku.

Sikap+Norma subjektif+Perceived behavioral control→Niat→Perilaku\text{Sikap} + \text{Norma subjektif} + \text{Perceived behavioral control} \rightarrow \text{Niat} \rightarrow \text{Perilaku}Sikap+Norma subjektif+Perceived behavioral control→Niat→Perilaku

  • Sikap terhadap perilaku: penilaian positif atau negatif terhadap suatu tindakan, misalnya pandangan bahwa menggunakan dompet digital adalah bermanfaat.
  • Norma subjektif: persepsi atas dukungan atau tekanan sosial dari pihak penting, seperti keluarga, teman, rekan kerja, atau komunitas.
  • Perceived behavioral control: keyakinan konsumen bahwa ia mampu melakukan perilaku tersebut, misalnya memiliki kemampuan digital, akses internet, dana, dan waktu.

TPB relevan untuk mengkaji perilaku yang memerlukan pertimbangan sadar, seperti penggunaan layanan keuangan digital, investasi, donasi daring, pembelian produk hijau, konsumsi halal, pengurangan plastik, dan kepatuhan pembayaran pajak. Kajian sistematis terbaru juga menunjukkan TPB tetap banyak digunakan dan dikembangkan dalam riset perilaku konsumen.

Teori sikap multiatribut

Teori sikap multiatribut memandang konsumen mengevaluasi merek berdasarkan sejumlah atribut. Konsumen tidak menilai produk secara keseluruhan saja, melainkan mempertimbangkan atribut yang diyakini penting—misalnya harga, kualitas, desain, keamanan, manfaat, merek, fitur, serta layanan purnajual.

Secara konseptual:

Ab=∑i=1nbieiA_b = \sum_{i=1}^{n} b_i e_iAb​=i=1∑n​bi​ei​

Keterangan:

  • AbA_bAb​ = sikap terhadap merek.
  • bib_ibi​ = keyakinan konsumen bahwa merek memiliki atribut ke-iii.
  • eie_iei​ = evaluasi atau tingkat kepentingan atribut ke-iii.
  • nnn = jumlah atribut yang dievaluasi.

Contohnya, seorang konsumen dapat memilih platform investasi bukan hanya karena imbal hasil, tetapi karena kombinasi persepsi keamanan, biaya transaksi, kualitas antarmuka, kelengkapan informasi, reputasi regulator, dan rekomendasi pengguna lain

Perkembangan Teori Perilaku Konsumen (6)

Teori-teori utama

Model Howard–Sheth

Howard dan Sheth memandang perilaku pembelian sebagai hasil interaksi antara stimulus pemasaran, proses persepsi dan pembelajaran konsumen, serta keluaran keputusan seperti perhatian, niat, pembelian, dan kepuasan. Model ini penting karena menekankan bahwa konsumen menghadapi informasi yang tidak lengkap dan memiliki keterbatasan dalam memproses informasi.

Secara sederhana, alurnya adalah:

Stimulus pemasaran dan sosial→Persepsi dan pembelajaran→Sikap serta niat→Pilihan merek/pembelian\text{Stimulus pemasaran dan sosial} \rightarrow \text{Persepsi dan pembelajaran} \rightarrow \text{Sikap serta niat} \rightarrow \text{Pilihan merek/pembelian}Stimulus pemasaran dan sosial→Persepsi dan pembelajaran→Sikap serta niat→Pilihan merek/pembelian

Implikasinya, pemasar tidak cukup hanya menyediakan produk yang baik. Informasi perlu mudah dipahami, risiko perlu dikurangi, dan pengalaman pelanggan perlu diperkuat agar pembelajaran konsumen menghasilkan sikap serta loyalitas positif.

Model Engel–Kollat–Blackwell

Model EKB menekankan pengambilan keputusan konsumen sebagai rangkaian proses. Keputusan dipengaruhi oleh pemrosesan informasi, memori, motif, nilai, gaya hidup, sumber daya ekonomi, pengaruh sosial, dan situasi pembelian. Model ini sangat berguna untuk penelitian kuantitatif karena peneliti dapat mengoperasionalkan setiap tahap sebagai variabel atau indikator penelitian.

Misalnya, dalam studi mengenai penggunaan mobile banking, peneliti dapat menguji pengaruh persepsi manfaat, persepsi kemudahan, risiko yang dirasakan, kepercayaan, pengaruh sosial, dan literasi keuangan terhadap niat penggunaan atau penggunaan aktual.

Perkembangan Teori Perilaku Konsumen (5)

Model proses keputusan konsumen

Salah satu kerangka paling berpengaruh adalah model Engel–Kollat–Blackwell yang kemudian berkembang menjadi Engel–Blackwell–Miniard atau EKB/EBM model. Model ini melihat keputusan konsumen sebagai proses berurutan yang dipengaruhi oleh input informasi, pemrosesan informasi, proses keputusan, dan variabel individual maupun lingkungan.eprints.bournemouth.ac+1

Model yang lebih mutakhir menguraikan tujuh tahap keputusan konsumen: pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif sebelum pembelian, pembelian, konsumsi, evaluasi pascakonsumsi, dan pelepasan atau penghentian penggunaan produk.aaltodoc.aalto

TahapPenjelasanContoh pada layanan fintech
TahapPenjelasanContoh pada layanan fintech
Pengenalan kebutuhanKonsumen menyadari kesenjangan antara kondisi aktual dan kondisi yang diinginkanKonsumen merasa pembayaran tunai tidak praktis
Pencarian informasiKonsumen mencari informasi dari memori, keluarga, iklan, ulasan, dan media digitalMencari aplikasi pembayaran atau investasi yang aman
Evaluasi alternatifKonsumen membandingkan manfaat, biaya, risiko, reputasi, dan fiturMembandingkan biaya administrasi, keamanan, dan kemudahan aplikasi
Keputusan pembelian/penggunaanKonsumen memilih merek, kanal, waktu, dan metode transaksiMengunduh dan mendaftarkan diri pada satu aplikasi
KonsumsiKonsumen menggunakan produk atau layananMenggunakan aplikasi untuk membayar atau berinvestasi
Evaluasi pascakonsumsiKonsumen menilai apakah kinerja sesuai harapanMenilai kecepatan transaksi, layanan pelanggan, dan keamanan
DisposisiKonsumen memperpanjang penggunaan, berhenti, mengganti, atau merekomendasikanTetap memakai, menghapus aplikasi, atau merekomendasikannya kepada teman

Proses tersebut tidak selalu berlangsung secara panjang dan sadar. Untuk pembelian rutin dengan risiko rendah—misalnya membeli merek minuman yang biasa dikonsumsi—konsumen dapat menggunakan kebiasaan. Sebaliknya, untuk keputusan dengan risiko finansial, sosial, atau psikologis tinggi—misalnya investasi, kredit digital, kendaraan, atau pendidikan—konsumen cenderung mencari informasi lebih banyak dan mengevaluasi alternatif secara lebih mendalam.

Perkembangan Teori Perilaku Konsumen (4)

Faktor psikologis

Faktor psikologis menjelaskan proses internal sebelum perilaku muncul.

  • Motivasi adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan dapat bersifat fungsional, seperti keamanan dan kenyamanan, maupun hedonik, seperti kesenangan, prestise, dan ekspresi diri.
  • Persepsi adalah proses ketika konsumen memilih, mengorganisasi, dan menafsirkan informasi. Informasi yang sama dapat menghasilkan kesimpulan berbeda pada dua konsumen.
  • Pembelajaran terbentuk melalui pengalaman langsung, penguatan, observasi, dan informasi. Pengalaman positif dapat meningkatkan pembelian ulang; pengalaman buruk dapat mendorong perpindahan merek.
  • Sikap adalah evaluasi relatif menetap terhadap objek, merek, atau perilaku. Sikap positif biasanya meningkatkan kecenderungan membeli, tetapi tidak selalu langsung berubah menjadi pembelian aktual karena hambatan harga, akses, risiko, atau norma sosial.

Perkembangan Teori Perilaku Konsumen (3)

Faktor sosial

Keluarga merupakan salah satu unit pengambilan keputusan terpenting. Dalam banyak produk, seseorang dapat bertindak sebagai penggagas, pemberi pengaruh, pengambil keputusan, pembeli, atau pengguna; kelima peran tersebut tidak harus dilakukan oleh orang yang sama.

Kelompok referensi juga memengaruhi perilaku melalui tiga mekanisme: informasi, norma, dan identifikasi. Konsumen dapat mengikuti ulasan komunitas karena dianggap lebih kredibel, membeli merek tertentu agar diterima kelompoknya, atau menggunakan platform digital karena banyak orang di sekitarnya telah mengadopsinya.

Faktor pribadi

Usia dan tahap daur hidup memengaruhi pola kebutuhan. Mahasiswa dapat lebih sensitif pada harga dan kemudahan akses, pekerja muda mungkin menilai efisiensi serta citra merek, sedangkan keluarga dapat lebih mempertimbangkan keamanan, kualitas, dan keberlanjutan manfaat.

Pendapatan dan persepsi kondisi keuangan juga menentukan pilihan antara produk premium, produk ekonomis, pembelian kredit, tabungan, atau penggunaan layanan fintech. Sementara itu, gaya hidup menggambarkan bagaimana konsumen menggunakan waktu, uang, minat, serta aktivitasnya. Dua konsumen dengan pendapatan sama dapat menunjukkan perilaku belanja yang sangat berbeda karena memiliki gaya hidup dan orientasi nilai yang berbeda.

Perkembangan Teori Perilaku Konsumen (2)

Faktor pembentuk perilaku konsumen

Secara umum, determinan perilaku konsumen dapat dikelompokkan ke dalam empat kelompok berikut.

Kelompok faktorUnsur utamaPenjelasan
BudayaBudaya, subbudaya, kelas sosialBudaya membentuk nilai, norma, simbol, dan pola konsumsi yang dianggap pantas oleh masyarakat
SosialKeluarga, kelompok referensi, peran, statusPilihan konsumen sering dipengaruhi anggota keluarga, teman, komunitas, influencer, maupun kelompok profesional
PribadiUsia, pekerjaan, pendapatan, gaya hidup, kepribadianKarakteristik demografis dan psikografis menentukan kebutuhan, daya beli, serta preferensi produk
PsikologisMotivasi, persepsi, pembelajaran, keyakinan, sikapKonsumen menafsirkan informasi secara selektif dan membangun evaluasi berdasarkan pengalaman serta kepercayaan

Faktor budaya

Budaya merupakan fondasi yang membentuk orientasi konsumsi seseorang. Nilai budaya menentukan apa yang dipandang bernilai, layak, modern, hemat, bergengsi, etis, atau religius. Pada konteks Indonesia, misalnya, pertimbangan halal, solidaritas keluarga, gotong royong, dan reputasi sosial dapat memengaruhi keputusan terhadap makanan, kosmetik, keuangan syariah, crowdfunding, maupun donasi digital.

Subbudaya—misalnya agama, etnis, wilayah, generasi, atau komunitas digital—membentuk variasi kebutuhan dan preferensi yang lebih spesifik. Kelas sosial juga dapat memengaruhi selera, merek yang dipilih, pola belanja, serta akses terhadap informasi dan teknologi.

Perkembangan Teori Perilaku Konsumen (1)

Teori consumer behaviour menjelaskan bagaimana individu atau kelompok memilih, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghentikan penggunaan produk, jasa, ide, atau pengalaman untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Perilaku konsumen bukan sekadar tindakan membeli, melainkan proses pengambilan keputusan yang dipengaruhi faktor psikologis, sosial, situasional, budaya, serta karakteristik pemasaran.

Konsep dasar

Consumer behaviour atau perilaku konsumen dapat dipahami sebagai studi tentang proses memperoleh (acquisition), menggunakan (consumption), mengevaluasi, dan melepaskan (disposition) barang maupun jasa. Fokusnya mencakup tiga pertanyaan utama:

  1. Apa yang dipilih atau dikonsumsi konsumen?
  2. Mengapa konsumen memilih alternatif tertentu?
  3. Bagaimana, kapan, di mana, dan dalam kondisi apa keputusan tersebut dibuat?

Dalam konteks pemasaran, pemahaman terhadap perilaku konsumen membantu organisasi menyusun segmentasi pasar, merancang produk, menentukan harga, memilih saluran distribusi, membangun komunikasi pemasaran, dan mengelola pengalaman pelanggan. Dalam konteks sosial, teori ini juga dapat digunakan untuk memahami adopsi perilaku seperti penggunaan fintech, donasi digital, pengelolaan keuangan, konsumsi ramah lingkungan, atau kepatuhan terhadap kampanye kesehatan.

Perilaku konsumen bersifat dinamis. Preferensi seseorang dapat berubah akibat pengalaman, pendapatan, siklus hidup, norma sosial, kemajuan teknologi, ulasan daring, promosi, serta perubahan situasi ekonomi. Karena itu, keputusan konsumen tidak selalu sepenuhnya rasional dan tidak selalu didasarkan pada pertimbangan harga atau kualitas semata.

Perkembangan Teori Pemasaran (4)

Arah pemasaran kontemporer

Secara terintegrasi, perkembangan teori pemasaran dapat dipahami sebagai transformasi dari efisiensi produksi menuju pemahaman pasar; dari penjualan jangka pendek menuju kepuasan dan loyalitas; dari nilai yang dianggap melekat dalam barang menuju nilai yang digunakan dan diciptakan bersama; serta dari kepentingan perusahaan semata menuju keseimbangan kepentingan pelanggan, masyarakat, dan ekosistem. Perspektif pemasaran kontemporer tidak menolak seluruh teori sebelumnya. Setiap orientasi tetap dapat relevan sesuai kondisi pasar. Orientasi produksi, misalnya, penting saat produk dasar harus tersedia dengan harga terjangkau; orientasi penjualan dapat diperlukan untuk aktivasi pasar; sedangkan pemasaran hubungan dan S-D logic sangat relevan untuk layanan yang kompleks, berbasis teknologi, dan bergantung pada kepercayaan.

Bagi pengembangan riset, evolusi teori tersebut membuka peluang untuk membangun model yang lebih komprehensif. Dalam studi perilaku konsumen atau fintech, misalnya, kualitas layanan digital, kemudahan penggunaan, persepsi risiko, literasi keuangan, kepercayaan, nilai yang dirasakan, dan pengalaman pengguna dapat diposisikan sebagai antecedent. Kepuasan, keterlibatan pelanggan, loyalitas, niat menggunakan kembali, maupun rekomendasi digital dapat menjadi konsekuensinya. Sementara itu, orientasi keberlanjutan dan pemasaran sosial dapat memasukkan variabel seperti inklusi, keadilan akses, perlindungan konsumen, kesejahteraan finansial, atau dampak sosial sebagai outcome yang melampaui kinerja komersial semata. Dengan demikian, teori pemasaran modern semakin dipahami bukan hanya sebagai teori untuk meningkatkan penjualan, tetapi sebagai kerangka untuk menciptakan pertukaran nilai yang berkelanjutan, bertanggung jawab, dan bermakna bagi seluruh pihak yang terlibat.

Perkembangan Teori Pemasaran (3)

Dominasi layanan dan digital

Perubahan teoritis yang sangat berpengaruh pada abad ke-21 adalah service-dominant logic atau S-D logic, yang dikembangkan oleh Stephen Vargo dan Robert Lusch. Perspektif ini mengkritik goods-dominant logic, yaitu pandangan lama yang menempatkan barang berwujud sebagai pusat pertukaran dan menganggap nilai melekat pada produk saat diproduksi. S-D logic memandang bahwa semua pertukaran pada dasarnya adalah pertukaran layanan. Barang fisik hanyalah alat atau medium untuk menyampaikan layanan. Nilai tidak sepenuhnya diciptakan perusahaan lalu “ditanamkan” dalam produk, melainkan diwujudkan ketika konsumen menggunakan penawaran tersebut dalam konteks hidupnya sendiri. Dengan kata lain, perusahaan menawarkan value proposition, sementara nilai sesungguhnya diciptakan bersama atau co-created melalui interaksi antara perusahaan, pelanggan, teknologi, komunitas, dan aktor lain dalam ekosistem layanan.iot.ntnu

Sebagai ilustrasi, aplikasi pembayaran digital tidak menciptakan nilai hanya melalui keberadaan fitur transfer uang. Nilai muncul ketika pengguna mampu mengoperasikan aplikasi dengan mudah, merasa data dan dananya aman, memperoleh manfaat ekonomi seperti efisiensi waktu atau promosi, diterima oleh merchant, serta memiliki akses internet dan literasi digital yang memadai. Artinya, nilai tidak hanya berada dalam aplikasi sebagai produk, tetapi tercipta dari penggunaan dan interaksi berbagai sumber daya. Cara pandang ini sangat relevan untuk penelitian fintech, mobile banking, peer-to-peer lending, crowdfunding, e-commerce, dan platform digital karena konsumen secara aktif berpartisipasi dalam menghasilkan, menilai, serta menyebarkan nilai layanan.

Digitalisasi kemudian memperkuat pergeseran dari pemasaran satu arah menuju pemasaran interaktif. Konsumen kini tidak hanya menerima pesan perusahaan, tetapi juga mencari informasi, membandingkan merek, membuat ulasan, membangun komunitas, menciptakan konten, dan memengaruhi keputusan konsumen lain. Pemasaran digital menuntut perusahaan untuk mengelola pengalaman lintas kanal, menggabungkan data pelanggan secara etis, memberikan personalisasi yang relevan, serta menjaga transparansi dan keamanan. Dalam konteks ini, konsep seperti customer journey, omnichannel marketing, customer experience, brand community, electronic word of mouth, dan customer engagement semakin penting. Keberhasilan pemasaran tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa sering perusahaan berkomunikasi, melainkan oleh seberapa relevan, kredibel, mudah diakses, dan bernilai interaksi yang diciptakan bagi pelanggan.

Perkembangan Teori Pemasaran (2)

Nilai sosial dan relasi

Selanjutnya, teori pemasaran berkembang ke konsep pemasaran sosial atau societal marketing concept. Konsep ini muncul dari kesadaran bahwa kepuasan pelanggan dan laba perusahaan tidak selalu otomatis menghasilkan kesejahteraan sosial dalam jangka panjang. Perusahaan dapat saja menjual produk secara efektif, tetapi produk atau praktik bisnisnya berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan, lingkungan, privasi, kesenjangan sosial, atau kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, pemasaran sosial-kemasyarakatan menuntut perusahaan untuk menyeimbangkan tiga kepentingan: kebutuhan konsumen, tujuan organisasi, dan kesejahteraan masyarakat jangka panjang. Perspektif ini relevan bagi riset tentang konsumsi berkelanjutan, perlindungan konsumen, inklusi keuangan, literasi keuangan, produk halal, pemasaran kesehatan, dan perubahan perilaku sosial.

Perkembangan berikutnya adalah pemasaran hubungan atau relationship marketing. Jika pemasaran transaksional berfokus pada satu kali pertukaran—misalnya berhasil atau tidaknya penjualan—pemasaran hubungan berfokus pada pembentukan relasi jangka panjang yang saling menguntungkan. Dalam perspektif ini, pelanggan bukan sekadar pembeli, melainkan mitra yang perlu dipertahankan melalui kepuasan, kualitas layanan, komunikasi, kepercayaan, komitmen, penanganan keluhan, dan pengalaman yang konsisten. Berry memperkenalkan penekanan pada menarik, mempertahankan, dan meningkatkan hubungan pelanggan; kemudian Morgan dan Hunt memperkuat landasan teoritisnya melalui commitment-trust theory, yang menempatkan kepercayaan dan komitmen sebagai unsur sentral hubungan pemasaran yang berhasil.scholarzest

Pemasaran hubungan juga memperluas fokus dari pelanggan akhir kepada jaringan pemangku kepentingan yang lebih luas, seperti pemasok, distributor, karyawan, mitra teknologi, komunitas, regulator, dan investor. Dalam sektor jasa, hubungan sangat penting karena kualitas tidak hanya dibentuk oleh produk akhir, tetapi juga oleh proses interaksi antara penyedia jasa dan pelanggan. Bank, platform fintech, pendidikan, kesehatan, pariwisata, serta layanan digital sangat bergantung pada persepsi keandalan, keamanan, empati, responsivitas, dan keadilan. Karena itu, retensi pelanggan, loyalitas, kepuasan, customer engagement, kepercayaan digital, dan advokasi pelanggan menjadi konstruk yang semakin sentral dalam penelitian pemasaran kontemporer.

Manfaat Kepuasan


Adanya kepuasan konsumen akan memberikan beberapa manfaat antara lain:

  1. Hubungan antara perusahaan dan para konsumen menjadi harmonis.
  2. Memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang.
  3. Dapat mendorong terciptanya loyalitas konsumen.
  4. Membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan bagi
    perusahaan.
  5. Reputasi perusahaan menjadi baik di mata konsumen.
  6. Laba yang diperoleh menjadi meningkat

Indikator Kepuasan Pelanggan


Menurut Tjiptono, (2013:348) indikator kepuasan pelanggan yaitu:
1) Melakukan pembelian secara ulang
2) Memberikan informasi atau rekomendasi positif kepada orang lain
3) Melakukan tindakan persuasif kepada orang lain
4) Memiliki kekebalan terhadap penawaran dari produk lain
5) Melakukan pembelaan

Dimensi Kepuasan Pelanggan


Menurut Griffin (2005) customer berasal dari kata kustom yang didefenisikan
sebagai “membuat sesuatu menjadi kebiasaan atau biasa” dan “mempraktikkan
kebiasaan”. Pelanggan yang puas dicirikan sebagai berikut:

  1. Makes regular repeat purchase (melakukan pembelian ulang secara teratur)
  2. Purchase across product and service lines (melakukan pembelian lini produk yang
    lainnya dari perusahaan anda)
  3. Refers others (memberikan refrensi pada orang lain)
  4. Demonstrates in immunity to the pull of the competition (menunjukkan kekebalan
    terhadap tarikan dari pesaing atau tidak mudah terpengaruh oleh bujukan pesaing)

Pengertian Kepuasan Konsumen


Kepuasan konsumen telah menjadi konsep sentral dalam teori dan praktik
pemasaran, serta merupakan salah satu tujuan esensial bagi aktivitaas bisnis. Kepuasan
konsumen diyakini mempunyai peranan yang besar dalam kualitas produk. Oleh karena
itu, konsumen memegang peranan cukup penting dalam mengukur kepuasan terhadap
barang maupun jasa yang diberikan perusahaan.
Kepuasan (satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang
timbul karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk (hasil) terhadap
ekspektasi mereka (Kotler dan Armstrong 2008:144). Jika kinerja gagal memenuhi
ekspektasi, pelanggan akan tidak puas. Jika kinerja sesuai dengan ekspektasi, pelanggan
akan puas. Jika kinerja melebihi ekspektasi, konsumen akan sangat puas atau senang.
Kinerja dari perusahaan sangat berpengaruh pada kepuasan konsumen karena layanan
perusahaan tidak dapat dipisahkan dari perusahaan itu sendiri. Konsumen akan merasa
puas bila keinginan konsumen telah terpenuhi oleh perusahaan sesuai dengan yang
diharapkan. Dengan adanya nilai tambah dari suatu produk, maka pelanggan menjadi lebih
puas dan kemungkinan untuk menjadi pelanggan suatu produk tersebut dalam waktu lama
akan sangat besar. Kepuasan konsumen dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor,
antara lain kualitas barang, pelayanan, aktivitas penjualan, dan nilai-nilai perusahaan.

Dimensi Kualitas


Mengacu kepada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ario Adiarto
mengenai Hubungan Kualitas Produk Levi’s Terhadap Loyalitas Pelanggannya,terdapat
8 dimensi kualitas yang digunakan dalam penelitian tersebut. 8 dimensi yang digunakan
adalah teori yang dikeluarkan oleh Garvin, yang dikutip oleh Fandy Tjiptono (2000:
27). Dimensi tersebut adalah :
1) Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari
sebuah produk
2) Durability (daya tahan), yang berarti berapa lama atau umur produk yang
bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti. Semakin besar
frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakinbesar pula daya
tahan produk.
3) Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana
karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari
konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk.
4) Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk
menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap
produk.
5) Reliabilty (kehandalan), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan
terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
6) Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa
dilihat dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.
7) Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari
penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat
kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas
produk yang bersangkutan. Jadi, persepsi konsumen terhadap produk didapat dari
harga, merek, periklanan, reputasi, dan negara asal.
8) Servicability (kemampuan pelayanan), meliputi kecepatan, kompetense,
kenyamanan, serta penanganan keluhan

Kualitas Produk


Kualitas produk merupakan hal yang penting yang selalu dipertimbangkan oleh
konsumen sebelum melakukan pembelian.Menurut American Society for Quality
Control kualitas yang ditulis oleh Barry Render dan Jay Heizer yang diterjemahkan oleh
Ariyoto (2001:92) dalam buku “Prinsip-Prinsip Manajemen Operasi” mendefinisikan
kualitas produk adalah adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang yang
menunjukkan kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tampak
jelas maupun yang tersembunyi.
Kualitas dianggap sebagai sifat dan karakteristik total dari sebuah produk atau
jasa yang berhubungan dengan kemampuannya memuaskan kebutuhan pelanggan.
Garvin dalam bukunya Managing Quality: The Strategic and Competitive Edge
(2008:41), medefinisikan kualitas dalam 5 hal yaitu : (1) Berdasarkan produk (product
base), (2) Berdasarkan produksi (manufacturing based), (3) Berdasarkan pemakai (user
based), (4) Berdasarkan Nilai (value based), (5) Berdasarkan produk yang sukar
dipahami (transcendent). Jika sebuah kualitas merupakan variabel yang dapat diukur
dan bernilai berdasarkan banyaknya atribut yang melekat pada produk tersebut dan
makin banyak konsumen yang menikmatinya maka produk tersebut akan semakin
tinggi kualitasnya. Lain halnya jika kualitas dilihat berdasarkan produksi, maka kualitas
di definisikan berdasarkan persyaratan atau spesifikasi tertentu seperti standar
produksinya,apakah produk tersebut diproduksi dengan hasil yang benar pada saat
pertama dibuat (tanpa adanya perbaikan). Jika kualitas dilihat berdasarkan
pemakai/konsumen maka produsen harus tahu bahwa setiap konsumen mempunyai
keinginan dan kebutuhan yang berbeda dengan yang lainnya, untuk itu produk yang
berkualitas tingi adalah produk yang dapat memuaskan keinginan kebutuhan dari
konsumen. Kualitas jika dilihat berdasarkan nilai adalah sebuah produk yang
mempunyai kinerja atau kesesuaian pada tingkat harga dan nilainya. Ketika kualitas
sukar dipahami maka konsumen harus menjelajahi terlebih dahulu suatu rangkaian
objek dan mengenal karakteristik keseluruhan dari sebuah produk.
Konsumen seringkali menilai kualitas dari sebuah produk berdasarkan berbagai
keadaan penilaian yang berhubungan dengan produk tersebut, penilaian tersebut dapat
berdasarkan pada keadaan luar produk itu seperti harga dan merek,serta penilaian
lainnya mengenai karakteristik spesifik produk itu sendiri dikatakan oleh Schiffman &
Kanuk dalam bukunya Consumer Behavior (1991: 176). Kotler & Amstrong
mengatakan definisi ini merupakan pengertian kualitas yang merupakan kemampuan
suatu produk untuk melakukan fungsi-fungsinya,kemampuan itu meliputi daya tahan,
kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan diperbaiki, dan
atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan

Pengertian Produk


Produk merupakan segala sesuatu yang dihasilkan oleh perusahaan meliputi
barang dan jasa. Craven (2013:3) dalam pemasaran strategi juga menjelaskan mengenai
definisi dari produk sebagai berikut: “Sebuah produk adalah segala sesuatu yang memiliki
nilai di suatu pasar sasaran dimana kemampuannya memberikan manfaat dan kepuasan
termasuk benda, jasa, organisasi, tempat, orang dan ide”. Tjiptono (2000: 95) dalam
bukunya strategi pemasaran memberikan definisi produk sebagai: “Produk merupakan
segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli,
digunakan atau dikonsumsi pasar sebagai pemenuhan kebutuhan atau keinginan pasar
yang bersangkutan

Indikator Harga


Menurut Kotler dan Armstrong (2007), didalam variabel harga ada beberapa
unsur kegiatan utama harga yang meliputi daftar harga, diskon, potongan harga, dan
periode pembayaran. Menurut Kotler dan Armstrong (2007), ada enam indikator
yang harga yaitu:
1) Keterjangkauan harga.
Aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen/penjual yang sesuai dengan
kemampuan beli konsumen.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk.
Penawaran harga yang diberikan oleh produsen/penjual berbeda dan bersaing
dengan yang diberikan oleh produsen lain, pada satu jenis produk yang sama.
3) Daya saing harga.
Aspek penetapan harga yang dilakukan oleh produsen/penjual yang sesuai dengan
kualitas produk yang dapat diperoleh konsumen.
4) Kesesuaian harga dengan manfaat, spek penetapan harga yang dilakukan oleh
produsen/penjual yang sesuai dengan manfaat yang dapat diperoleh konsumen
dari produk yang dibeli.
5) Harga mempengaruhi daya beli konsumen.
Harga yang ditetapkan oleh pihak perusahaan yang sesuai dengan daya beli
konsumen.
6) Harga dapat mempengaruhi konsumen dalam mengabil keputusan pembelian
konsumen. Harga yang ditetapkan oleh pihak perusahaan yang dapat
mempengaruhi keputusan menginap.

Metode Penetapan Harga


Menurut Kotler dan Keller (2007) metode penetapan harga yang digunakan
perusahaan antara lain:
1) Penetapan harga mark-up (mark-up pricing), metode penetapan harga yang
paling sederhana adalah menambahkan mark-up standar pada biaya produk
tersebut.
2) Penetapan harga sasaran pengembalian (target return pricing), perusahaan
menentukan harga yang akan menghasilkan tingkat pengembalian atas investasi
(ROI-return on investment) yang dibidiknya.
3) Penetapan harga persepsi nilai (perceived value pricing), dimana perusahaan
mendasarkan harganya pada persepsi nilai pelanggan.
4) Penetapan harga nilai (value pricing), dimana perusahaan memikat hati
pelanggan yang loyal dengan menetapkan harga yang lumayan rendah untuk
tawaran yang bermutu tinggi.
5) Penetapan harga umum (going rate pricing), perusahaan mendasarkan harganya
terutama pada harga pesaing mungkin akan mengenakan harga yang sama, lebih
tinggi, atau lebih rendah dari pada pesaing utamanya.
6) Penetapan harga tipe lelang (auction type pricing), penetapan harga dilakukan
dengan cara melelang suatu produk yang akan dijual.
Secara garis besar menurut Tjiptono (2000) metode penentuan harga dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
1) Skimming pricing, yaitu metode yang diterapkan dengan jalan menetapkan
harga tinggi bagi suatu produk baru atau inovatife selama tahap perkenalan,
Kemudian menurunkan harga tersebut pada saat persaingan mulai ketat.
Strategi ini baru bisa berjalan dengan baik jika konsumen tidak sensitif terhadap
harga, tetapi lebih menekankan pada pertimbangan-pertimbangan kualitas,
inovasi dan kemampuan produk tersebut dalam memuaskan konsumen.
2) Penetration pricing, yaitu dalam metode ini perusahaan berusaha
memperkenalkan suatu produk baru dengan harga rendah sehingga akan dapat
memperoleh volume penjualan yang besar dalam waktu yang relative singkat.
Selain itu metode ini juga bertujuan untuk mencapai skala ekonomis dan
mengurangi biaya per unit. Pada saat yang bersamaan metode penetrasi juga
dapat mengurangi minat dan kemampuan pesaing karena harga yang rendah
menyebabkan marjin yang diperoleh setiap perubahan menjadi terbatas.
3) Prestige pricing, yaitu merupakan metode yang menetapkan tingkat harga yang
tinggi sehingga konsumen amat peduli dengan statusnya dan akan tertarik
dengan produk yang kemudian akan membelinya.
4) Price lining, yaitu metode yang digunakan perusahaan dalam menjual produk
yang lebih dari satu jenis. Harga untuk lini produk tersebut bervariasi dan
ditetapkan pada tingkat harga tertentu yang berbeda.
5) Odd-even pricing, yaitu metode yang digunakan perusahaan dalam menetapkan
harga dimana harga tersebut besarnya mendekati jumlah genap tertentu.
6) Demand backward pricing, yaitu metode yang berdasarkan suatu target harga
tertentu, kemudian perusahaan mnyusuaikan kualitas komponen-komponen
produknya. Dengan kata lain produk didesain sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi target harga yang ditetapkan.
7) Bundle pricing, yaitu gabungan dua atau lebih produk dalam satu harga paket

Tujuan Penetapan Harga


Menurut Kotler dan Keller (2007) tujuan penetapan harga antara lain:
1) Kelangsungan hidup, perusahaan dapat mengejar kelangsungan hidup sebagai
tujuan utamanya jika terjadi kelebihan kapasitas, persaingan yang sengit, atau
keinginan konsumen yang berubah-ubah.
2) Laba maksimum sekarang, perusahaan mencoba untuk menetapkan harga yang
akan memaksimalkan laba sekarang yaitu memperkirakan permintaan dan biaya
dengan menetapkan harga rendah.
3) Pangsa pasar maksimum, perusahaan ingin memaksimalkan pangsa pasarnya
yakni dengan volume penjualan yang lebih tinggi dengan biaya lebih rendah dan
laba jangka panjang yang lebih tinggi.
4) Kepemimpinan mutu produk, perusahaan bermaksud menjadi pemimpin mutu
produk di pasar yaitu produk dengan tingkatan yang tinggi soal mutu, selera,
serta harga yang cukup tinggi tapi masih bisa di jangkau konsumen.
5) Tujuan lain, menggunakan tujuan-tujuan penetapan harga lainnya untuk
mendapatkan pengembalian sebagian biaya.

Pengertian Harga


Menurut Pattinasarany (2009) Secara sederhana harga diartikan sebagai
jumlah uang (satuan moneter) dan aspek lain (non moneter) yang mengandung
kegunaan tertentu yang diperlukan untuk mendapatkan suatu produk. Sedangkan
arti harga yang lebih luas adalah sejumlah nilai yang bersedia dibayar konsumen
untuk memenuhi permintaan suatu produk atau jasa. Harga merupakan salah satu
unsur bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan sedangkan unsur-unsur
lainnya menghasilkan biaya

Gab Model Kualitas Layanan


Model Servqual (Service Quality), model ini juga dikenal dengan istilah gap
analysis modelyang dikembangkan oleh tiga peneliti Amerika, Zeithaml, A.
Parasuraman, dan Berry. Untuk mengetahui kulitas layanan digunakan gap model
serqual. Model ini meliputi analisis terhadap 5 gap yang berpengaruh terhadap
kualitas layanan (Tjiptono, 2014:271), berikut penjelasannya:

  1. Gap antara harapan konsumen dan persepsi manajemen.
    Pada kenyataannya pihak manajeman suatu perusahaan tidak selalu dapat
    merasakan atau memahami apa yang diinginkan konsumen secara tepat.
    Akibatnya manajemen tidak mengetahui bagaimana suatu layanan harus didesain,
    dan layanan-layanan pendukung atau sekunder apa saja yang diinginkan
    konsumen. Contohnya pengelola katering mungkin mengira para konsumennya
    lebih mengutamakan ketepatan waktu pengantaran makanannya, padahal para
    konsumen tersebut mungkin lebih memperhatikan variasi menu yang disajikan.
  2. Gap antara persepsi manajemen terhadap harapan konsumen dan spesifikasi
    kualitas layanan.
    Kadangkala manajemen mampu memahami secara tepat apa yang
    diinginkan oleh konsumen, tetapi mereka tidak menyusun suatu standar kinerja
    tertentu yang jelas. Hal ini bisa dikarenakan tiga faktor, yaitu tidak adanya
    komitmen total manajemen terhadap kualitas jasa, kekurangan sumber daya, atau
    karena adanya kelebihan permintaan. Sebagai contoh, manajemen suatu bank
    meminta para stafnya agar memberikan pelayanan secara cepat tanpa menentukan
    standar atau ukuran waktu pelayanan yang dapat dikategorikan cepat.
  3. Gap antara spesifikasi kualitas layanan dan penyampaian pelayanan.
    Ada beberapa penyebab terjadinya gap ini, misalnya karyawan kurang
    terlatih (belum menguasai tugasnya), beban kerja melampaui batas, tidak dapat
    memenuhi standar kinerja yang ditetapkan. Selain itu mungkin pula karyawan
    dihadapkan pada standar-standar yang kadangkala bertentangan satu sama lain,
    misalnya para juru rawat diharuskan meluangkan waktunya untuk mendengarkan
    keluhan atau masalah pasien, tetapi disisi lain mereka juga harus melayani para
    pasien dengan cepat.
  4. Gap antara penyampaian pelayanan dan komunikasi eksternal.
    Seringkali harapan konsumen dipengaruhi oleh iklan dan pernyataan atau
    janji yang dibuat oleh perusahaan. Resiko yang dihadapi perusahaan adalah
    apabila janji yang diberikan ternyata tidak dapat dipenuhi. Akan tetapi saat
    konsumendatang dan merasakan bahwa ternyata fasilitas praktikum dan
    perpustakaannya biasa-biasa maka sebenarnya komunikasi eksternal yang
    dilakukan lembaga pendidikan tersebut telah mendistorsi harapan konsumen dan
    menyebabkan terjadinya persepsi negatif terhadap kulitas layanan lembaga
    tersebut.
  5. Gap antara pelayanan yang dirasakan dan pelayanan yang diharapkan
    Gap ini terjadi apabila konsumen mengukur kinerja atau prestasi
    perusahaan dengan cara yang berlainan atau bisa juga keliru mempersepsikan
    kualitas layanan tersebut. Misalnya seorang dokter bisa saja terus mengunjungi
    pasiennya untuk menunjukan perhatiannya.

Indikator Kualitas Pelayanan


Dalam rangka untuk menciptakan kepuasan konsumen pada produk jasa maka
secara langsung terkait erat dengan dimensi kualitas jasa yang ditawarkan oleh
perusahaan. Adapun dimensi kualitas jasa menurut Parasuraman dalam Tjiptono
(2000) yaitu meliputi:
1) Reliabilitas (reliabilility)
Yaitu kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat
dan memuaskan. Dengan indikator yaitu meliputi (1) Keandalan petugas dalam
memberikan informasi pelayanan,
(2) Keadalan petugas dalam melancarkan prosedur pelayanan, dan (3) Keadalanan
petugas dalam memudahkan teknis pelayanan.
2) Daya tanggap (responsiveness)
Yaitu keinginan para staf untuk membantu para pelanggan dan memberikan
layanan dengan tanggap. Indikator (1) Respon petugas pelayanan terhadap
keluhan warga, (2) Respon petugas pelayanan terhadap saran warga, dan (3)
Respon petugas pelayanan terhadap kritikan warga.
3) Jaminan (Assurance)
Yaitu mencakup pengetahuan, kompetensi, kesopanan dan sifat yang dapat
dipercaya yang dimiliki para staf, bebas dari biaya, resiko atau keragu-raguan,
dengan indikator yaitu meliputi (1) Kemampuan administrasi petugas pelayanan,
(2) Kemampuan teknis petugas pelayanan dan (3) Kemampuan sosial petugas
pelayanan.
4) Empati (Empathy)
Yaitu meliputi kemudahan dalam menjalin relasi, komunikasi yang baik,
perhatian pribadi dan pemahaman atas kebutuhan individual para pelanggan.
Dengan indikator yaitu meliputi: (1) Perhatian petugas pelayanan, (2) Kepedulian
Petugas dan (3) Keramahan petugas pelayanan.
5) Bukti fisik (tangibles)
Yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi
dengan indikator yaitu (1) Ruang tunggu pelayanan, (2) Loket pelayanan, dan (3)
Penampilan petugas pelayanan.

Strategi Meningkatkan Kualitas Pelayanan


Dalam usaha untuk memberikan kepuasan bagi pelanggan maka dengan sendirinya
jaminan atas kepuasan konsumen menjadi hal wajib yang harus dipenuhi oleh perusahaan
jasa. Strategi untuk meningkatkan kualitas jasa / pelayanan, menurut Tjiptono (2004),
ada 8, yaitu:
1) Mengidentifikasi determinasi utama jasa, melakukan riset untuk mengidentifikasi
determinan jasa yang penting bagi pasar sasaran lalu memperkirakan penilaian yang
diberikan pasar sasaran terhadap perusahaan dan pesaing berdasarkan determinan-
determinan tersebut.
2) Mengelola harapan konsumen, disini perusahaan berusaha mengetahui dan memenuhi
harapan konsumen.
3) Mengelola bukti (evidence) kualitas jasa, evidence ini untuk memperkuat persepsi
konsumen selama dan sesudah jasa diberikan.
4) Membidik konsumen tentang jasa, konsumen yang telah terbidik akan dapat
mengambil keputusan secara lebih baik, sehingga kepuasan konsumen dapat tercipta
lebih tinggi.
5) Mengembangkan budaya kualitas, dapat dilakuakan melalui pengembangan suatu
program yang terkoordinasi yang diawali dari seleksi dan pengembangan karyawan.
Sebab karyawan merupakan aset perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan
memeuaskan pelanggan.
6) Menciptakan automating quality, perusahaan perlu melakuan penelitian untuk
menentukan bagian yang memebutuhkan sentuhan manusia dan yang memerlukan
otomatisasi.
7) Menindak lanjuti jasa, perusahaan perlu mengambil inisiatif untuk menghubungi
sebagian atau semua konsumen untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen
terhadap jasa yang diberikan.
8) Mengembangkan sistem informasi kualitas jasa, diperlukan dengan pendekatan riset
untuk mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi kualiutas jasa guna
mendukung pengambilan keputusan.
Menurut Tjiptono (2004), ketiga kriteria pokok dalam menilai kualitas jasa /
pelayanan dijabarkan menjadi enam unsur yaitu:

  1. Profesionalism and Skills
    Profesionalism and Skills merupakan outcome related criteria. Penyedia jasa
    (service provider), karyawan, sistem operasional dan sumber daya fisik memiliki
    pengetahuan dan keterampilan untuk memecahkan masalah pelanggan secara
    profesional.
  2. Attitudes and Behavior
    Attitudes and Behavior merupakan outcome related criteria. Karyawan perusahaan
    (contact personal) menaruh perhatian terhadap pelanggan dan berusaha membantu
    dalam memecahkan masalah secara spontan dan senang hati.
  3. Accesbility and Flexibility
    Accasbiliti and Flexibility termasuk process related criteria. Penyedia jasa, lokasi,
    jam kerja, karyawan dan sistem operasionalnya dioperasikan agar pelanggan dapat
    melakukan akses dengan mudah dan bersifat fleksibel dalam menyesuaikan
    permintaan dan keinginan pelanggan.
  4. Reliability and Trusworthiness
    Reliability and Trusworthiness termasuk process related criteria. Pelanggan
    memahami bahwa apapun yang terjadi, pelanggan bisa mempercayai segala
    sesuatunya kepada penyedia jasa beserta karyawan dan sistemnya.
  5. Recovery
    Recovery termasuk process related criteria. Penyedia jasa mengambil tindakan untuk
    mengendalikan situasi dan mencari pemecahan masalah yang tepat bila ada
    kesalahan.
  6. Repotation and Credibility
    Repotation and Credibility merupakan image ready criteria. Pelanggan meyakini
    bahwa operasional dari penyedia jasa memberikan nilai atau imbalan yang sesuai
    dengan pengorbanannya

Pengertian Kualitas Pelayanan


Kualitas pelayanan menjadi salah satu ukuran atas keberhasilan dalam memberikan
jaminan atas kepuasan bagi konsumen, melalui kualitas pelayanan seorang konsumen
dapat memberikan penilaian secara obyektif dalam usaha menciptakan kepuasan
konsumen. Menurut Tjiptono (2004), Sebagai kecocokan untuk pemakaian (fitness for
use). Definisi ini menekankan orientasi pada pemenuhan harapan pelanggan.
Lupiyoadi (2001) menyatakan bahwa kualitas adalah keseluruhan ciri-ciri dan
karakteristik-karakteristik dari suatu produk atau jasa dalam hal kemampuannya untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang telah ditentukan atau bersifat laten. Semakin
baiknya kualitas maka upaya untuk memenuhi kebutuhan konsumen juga secara
maksimal dapat diberikan oleh perusahaan, sehingga memberikan dukungan dalam upaya
menciptakan kepuasan konsumen.

Kualitas pelayanan adalah


Kualitas pelayanan publik adalah kondisi yang terus berubah yang sangat
berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan situasi dengan kualitas
pelayanannya dapat dilihat pada proses melakukan pelayanan publik tersebut
(Susanto & Anggraini, 2019). Menurut Rohman dan Larasati (2020), terdapat
beberapa faktor yang menjadi pendukung dalam mewujudkan pelayanan prima,
yakni kesadaran, aturan, organisasi-organisasi publik, pendapatan dan
kesejahteraan, sarana dan prasarana yang memadai. Menurut Lovelock dalam
(Lestari & Santoso, 2022) mengemukakan lima prinsip yang harus diperhatikan
untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik adalah:
1) silmiTangibles (terjangkau), baik bentuk maupun sarana prasarana
seperti penampilan fasilitas fisik, peralatan, personel dan komunikasi.
2) Reliability (handal), yaitu kemampuan membentuk pelayanan yang
dijanjikan dengan tepat dan memiliki ketergantungan.
3) Responsiveness (pertanggung jawaban), memiliki rasa tanggung
jawab terhadap pelayanan.
4) Assurance (jaminan), baik pengetahuan pelayanan, perilaku dan
kemampuan pegawai dalam memberikan layanan.
5) Empathy (empati) rasa perhatian yang penuh secara personal
terhadap pelanggan

Penetapan Standar Pelayanan


Berdasarkan Permenpan RB Nomor 15 Tahun 2014 menjelaskan bahwa
sebelum dilakukan penetapan standar pelayanan, penyelenggara wajib membuat
berita acara pembahasan standar pelayanan sebagai bentuk dukungan terhadap
terselenggaranya proses manajemen yang menghasilkan pelayanan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan. Berita acara harus ditandatangani oleh
semua pihak yang terlibat dalam pembahasan rancangan standar pelayanan.
Standar pelayanan yang telah disepakati oleh pihak-pihak yang terkait yaitu
penyelenggara dan pengguna layanan yang ditetapkan oleh penyelenggara
pelayanan publik.

Partisipasi Masyarakat dalam Penyusunan Standar Pelayanan


Sebagaimana amanat dalam Pasal 20 Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2009 Tentang Pelayanan Publik, bahwa dalam penyusunan penetapan standar
pelayanan publik wajib dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat sebagai
penerima layanan dan pihak-pihak terkait. Tujuan dari hal tersebut adalah untuk
menyelaraskan dan menyinkronkan apa yang menjadi kemampuan
penyelenggara pelayanan dengan kebutuhan atau kepentingan masyarakat dan
lingkungan untuk mengefektifkan penyelenggara pelayanan yang baik dan
berkualitas. Metode yang dapat digunakan dalam proses ini antara lain:
a. Diskusi Group Terfokus (Focused Group Discussion)
Metode ini dapat digunakan melalui diskusi untuk menyusun
rancangan standar pelayan yang akan dibuat. Jika dibutuhkan seorang
narasumber yang ahli tentang jenis layanan yang akan dibahas
narasumber tersebut dapat diundang.
b. Dengar pendapat (Public Hearing)
Metode ini dipergunakan untuk menelusuri dan menemukan fakta-
Metode ini dipergunakan untuk menelusuri dan menemukan fakta-fakta
tentang kepentingan masyarakat yang sebenarnya. Cara ini dapat
dilakukan dengan mengundang praktisi yang dianggap dapat mewakili
masyarakat untuk didengarkan pendapatnya

Identifikasi Produk Pelayanan


Produk pelayanan adalah hasil pelayanan yang diberikan dan diterima
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Produk pelayanan dapat
berupa penyediaan barang, jasa dan/atau produk administrasi yang diberikan
dan diterima pengguna layanan sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan yang ditetapkan. Proses identifikasi produk pelayanan dapat
dilakukan berdasarkan keluaran (output) yang dihasilkan dari setiap tahap
pelayanan. Proses identifikasi ini dilakukan untuk setiap jenis pelayanan.
Hasil yang diharapkan dari proses identifikasi ini adalah daftar produk layanan
yang dihasilkan dari setiap jenis pelayanan.
f. Penanganan Pengelolaan Pengaduan
Organisasi penyelenggara pelayanan wajib membuat mekanisme
pengelolaan pengaduan. Bentuk-bentuk pengelolaan pengaduan yang
banyak digunakan antara lain: penyediaan kotak saran, sms, portal
pengaduan dalam website, dan penyediaan petugas penerima pengaduan.
Untuk mempermudah penanganan pengaduan, perlu dibuatkan prosedur
pengelolaan pengaduan. Dalam mekanisme pengaduan harus diinformasikan
secara jelas nama petugas, nomor telepon, alamat email, dan alamat kantor
yang dapat dihubungi. Selain itu, perlu juga mengatur mekanisme pengaduan
apabila terdapat permasalahan yang tidak dapat diselesaikan di dalam
internal organisasi penyelenggara.

Proses Penyusunan Standar Pelayanan


Penyusunan standar pelayanan sesuai Permenpan RB No. 15 Tahun 2014
yang menjelaskan fokus dari penyusunan standar pelayanan ialah komponen
standar pelayanan yang langsung berhubungan dengan penyampaian layanan
dikarenakan komponen ini menghubungkan pihak penyelenggara dengan pihak
penerima layanan atau masyarakat. Komponen ini harus dipublikasikan. Langkah-
langkah penyusunan rancangan standar pelayanan sebagai berikut:
a. Identifikasi persyaratan
Persyaratan adalah syarat dalam bentuk dokumen atau barang dan
lainnya yang wajib dipenuhi dalam pengurusan jenis pelayanan baik
persyaratan teknis maupun administratif. Pelayanan merupakan suatu
tuntutan yang harus dipenuhi, dalam proses penyelenggaraan pelayanan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Persyaratan pelayanan
dapat berupa dokumen atau barang/hal lain, tergantung kebutuhan masing-
masing jenis pelayanan.
Cara yang dapat dilakukan dalam mengidentifikasi persyaratan
pelayanan adalah dengan melihat kebutuhan-kebutuhan apa saja yang
diperlukan untuk penyelesaian proses pelayanan. Standar Pelayanan yang
sudah ada sebelumnya dapat dijadikan rujukan. Dalam proses identifikasi
persyaratan pelayanan, juga perlu diperhatikan apakah persyaratan itu
harus disampaikan di awal, di akhir atau secara bertahap sesuai dengan
kebutuhan. Proses perumusan persyaratan dilaksanakan untuk semua jenis
pelayanan, hasil yang diharapkan dalam proses identifikasi sebagai berikut:
1) Daftar persyaratan yang dilakukan dalam setiap tahapan dari
masing-masing jenis pelayanan.
2) Waktu yang dipersyaratkan untuk penyampaian persyaratan
(diawal, diakhir dan secara bertahap)
b. Identifikasi Prosedur
Prosedur adalah tata cara pelayanan yang dibakukan bagi penerima
pelayanan. Prosedur pelayanan merupakan proses yang harus dilalui
11
seorang pelanggan untuk mendapatkan jasa pelayanan yang diperlukan.
Disamping itu, penyelenggara pelayanan wajib memiliki Standar
Operasional Prosedur (SOP). Hasil yang diharapkan dari tahapan ini adalah
tahapan proses pelayanan sebagai bahan penyusunan Standar Operasional
Prosedur.
c. Identifikasi Waktu
Waktu pelayanan adalah jangka waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan seluruh proses pelayanan dari setiap jenis pelayanan, dan
waktu-waktu yang diperlukan dalam setiap proses pelayanan (awal sampai
akhir) dijumlahkan untuk mengetahui keseluruhan waktu yang dibutuhkan.
Proses identifikasi waktu pelayanan ini dilakukan untuk setiap jenis
pelayanan. Dalam menghitung waktu harus memperhatikan prosedur yang
mengatur hubungan pengguna layanan maupun prosedur yang mengatur
hubungan antar penyelenggara layanan. Hasil yang diharapkan berupa
waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap jenis pelayanan.
d. Identifikasi Biaya /Tarif
Biaya adalah ongkos yang dikenakan kepada penerima layanan dalam
mengurus dan/atau memperoleh pelayanan dari penyelenggara yang
besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara penyelenggara dan
masyarakat. Proses identifikasi biaya pelayanan juga dilakukan berdasarkan
setiap tahapan dalam prosedur pelayanan. Berapa biaya yang diperlukan
untuk masing-masing tahapan pelayanan. Pada proses ini juga sekaligus
diidentifikasi biaya yang akan dibebankan pelanggan dan biaya yang akan
dibebankan unit pengelola pelayanan. Penghitungan dua komponen biaya
pelayanan ini penting dilakukan, untuk mengetahui jumlah biaya yang akan
dibebankan ke pelanggan, dan berapa biaya yang dibebankan pengelola.
Bagi unit pengelola pelayanan, identifikasi ini sangat penting untuk
menjadi dasar pengajuan anggaran dan penentuan tarif. Apabila layanan ke
masyarakat diberikan secara gratis, artinya beban biaya pelayanan secara
keseluruhan ditanggung oleh pihak pemerintah. Informasi biaya ini harus jelas
besarannya, dan apabila gratis harus jelas tertulis untuk menghindari perilaku
petugas yang kurang baik. Proses identifikasi ini dilakukan pada setiap jenis
pelayanan. Hasil yang diharapkan pada tahapan ini adalah:
1) Jumlah biaya yang dibebankan ke pelanggan dari setiap jenis
pelayanan (untuk pelayanan yang dipungut biaya).
2) Jumlah biaya yang dibebankan kepada unit pengelola
pelayanan.
3) Daftar pelayanan yang diberikan gratis kepada pelanggan
(apabila terdapat jenis pelayanan yang gratis).

Prinsip Standar Pelayanan


Menurut permenpan RB Nomor 15 tahun 2014 tentang Pedoman Standar
pelayanan, bahwa standar pelayanan perlu disusun, ditetapkan, dan diterapkan
dengan mempertimbangkan prinsip- prinsip berikut:
1) Sederhana, artinya standar pelayanan mudah dipahami, mudah
diikuti, mudah dilaksanakan, dan mudah diukur serta memiliki
prosedur yang jelas, biaya yang terjangkau bagi masyarakat dan
penyelenggara pelayanan publik.
2) Partisipatif, artinya masyarakat dan pihak terkait perlu terlibat dalam
penyusunan standar pelayanan untuk berdiskusi dan mencapai
kesepakatan berdasarkan komitmen atau keputusan bersama
terkait standar pelayanan publik yang diharapkan.
3) Akuntabel, artinya standar pelayanan harus dapat diterapkan dan
dipertanggung jawabkan kepada pihak yang berkepentingan atas
hal-hal yang telah diatur dalam standar pelayanan.
4) Berkelanjutan, artinya standar pelayanan harus terus diperbaharui
melalui perbaikan untuk meningkatkan kualitas dan inovasi secara
berkelanjutan.
5) Transparansi, artinya masyarakat harus mendapatkan kemudahan
untuk mengakses standar pelayanan.
6) Keadilan, artinya standar pelayanan harus memastikan bahwa
pelayanan dapat dijangkau oleh masyarakat dari berbagai status
ekonomi, jarak lokasi geografis serta masyarakat yang memiliki
kapabilitas fisik dan mental

Komponen Standar Pelayanan


Berdasarkan Permenpan RB Nomor 15 Tahun 2014 menjelaskan komponen
standar pelayanan dibagi menjadi dua yaitu:
a. Komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses
penyampaian pelayanan (Service point) meliputi:
1) Persyaratan
2) Sistem, mekanisme dan prosedur
3) Jangka waktu pelayanan
4) Biaya/tarif
5) Produk pelayanan
6) Penanganan pengaduan, saran dan masukan/apresiasi
b. Komponen standar pelayanan yang terkait dengan proses pengelolaan
pelayanan (manufacturing) meliputi:
1) Dasar hukum
2) Sarana dan prasarana, dan/ atau fasilitas
3) Kompetensi pelaksana
4) Pengawasan internal
5) Jumlah pelaksana
6) Jaminan pelayanan
7) Jaminan keamanan dan keselamatan pelayanan
8) Evaluasi kinerja pelaksana

Tujuan dan Sasaran Standar Pelayanan


Tujuan dan Sasaran dari standar pelayanan berdasarkan pada Permenpan
RB Nomor. 15 Tahun 2014 yaitu, tujuan pedoman standar pelayanan adalah untuk
memberikan kepastian, dalam meningkatkan kualitas serta kinerja pelayanan yang
sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sesuai dengan kemampuan
penyelenggara sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat. Adapun
sasaran pedoman standar pelayanan adalah agar setiap penyelenggara mampu
menyusun, menetapkan, dan menerapkan standar pelayanan yang berkualitas,
cepat, mudah, terjangkau, terukur dan konsisten

Standar Pelayanan Publik


Standar pelayanan publik merupakan suatu komitmen penyelenggara dalam
menyediakan layanan yang berkualitas atas dasar perpaduan kemampuan
penyelenggara layanan dan harapan masyarakat. Hal ini sejalan dengan
Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur (Permenpan RB) Nomor 15 Tahun
2014 yang mendefinisikan:
Standar pelayanan adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas
pelayanan sebagai kewajiban dan janji penyelenggara kepada
masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas, cepat, mudah,
terjangkau, dan terukur.

Indikator Kepuasan Pelanggan


Karena ada begitu banyak pelanggan yang menggunakan produk dan setiap pelanggan
menggunakannya secara berbeda, sikap berbeda, dan berbicara secara berbeda. Pada
umumnya program kepuasan memiliki beberapa indikator-indikatior (Tjiptono, 2009)
dalam (Indrasari, 2019 hal :92) yakni:
a. Kesesuaian harapan
b. Minat berkunjung kembali
c. Kesediaan merekomendasikan
Pengukuran kepuasan konsumen sangatlah penting untuk dilakukan karena memberikan
informasi bermanfaat bagi perusahaan. Berikut ini adalah indikator kepuasan pelanggan
menurut secara berbeda. Pada umumnya program kepuasan memiliki beberapa
indikator-indikatior (Tjiptono, 2009) dalam (Indrasari, 2019 hal :88)

  1. Kepuasan pelanggan keseluruhan
  2. Pelanggan langsung ditanya seberapa puas dengan produk atau jasa. Kepuasan
    diukur berdasarkan produk atau jasa perusahaan bersangkutan dan
    membandingkan dengan tingkat kepuasan keseluruhan terhadap produk atau jasa
    pesaing;
  3. Konfirmasi Harapan
    Kepuasan tidak diukur langsung, namun disimpulkan berdasarkan
    kesesuaian/tidak kesesuaian antara harapan pelanggan dengan kinerja aktual
    produk pada sejumlah atribut atau dimensi penting;
  4. Minat Pembelian Ulang
    Kepuasan pelanggan diakui berdasarkan perilaku dengan jalan menanyakan 5.
  5. Kesediaan untuk merekomendasi
    Kesediaan pelanggan untuk merekomendasikan produk kepada teman atau
    keluarga;
  6. Ketidakpuasan pelanggan
    Ketidakpuasan pelanggan meliputi komplain, retur, biaya garansi, dan
    konsumen yang beralih ke pesaing

Strategi Kepuasan Pelanggan


Melalui strategi kepuasan pelanggan, perusahaan berharap dapat meningkatkan
pangsa pasa, penjualan dan jumlah pelanggannya. Berikut strategi kepuasan pelanggan
yang dapat diterapkan pada perusahaan jasa menurut Tjiptono (2005 : 216) dalam
(Gusti Ayu Aghivirwiatil.dkk, 2022 hal :96 ) :

  1. Strategi Manajemen Ekspektasi Pelanggan
    Ekspektasi pelanggan dibentuk dan didasarkan pada sejumlah faktor, seperti
    pengalaman berbelanja di masa lalu, opini teman dan kerabat, serta informasi
    dan janji-janji perusahaan dan para pesaingnya;
  2. Relasi Pemasaran dan Manajemen
    Relasi pemasaran dan penciptaan nilai, bukan sekedar serangkaian alat, teknik,
    dan taktik. Dengan kata lain, relasi pemasaran dan manajemen merupakan
    andangan integrative atau holistic yang memperkokoh kompetensi pemasaran
    perusahaan;
  3. After Marketing (Setelah Pemasaran)
    Tahap ini menekankan pentingnya aktivitas pemasaran dan komunikasi setelah
    transaksi pembelian. Khususnya dalam rangka memberikan keyakinan setelah
    tahap pembelian (agar konsumen yakin bahwa keputusan pembelian yang
    dilakukan benar-benar bijaksana) dan membangun loyalitas merek;
  4. Strategi Retensi Pelanggan
    Strategi retensi pelanggan difokuskan pada teknik-teknik yang digunakan untuk
    mempertahankan pelanggan agar pelanggan tidak beralih pada pemasok atau
    perusahaan jasa lain;
  5. Pelayanan Pelanggan Superior
    Pelayanan pelanggan superior diwujudkan dengan cara menawarkan layanan
    yang lebih baik dibandingkan para pesaing;
  6. Strategi Pemasukan atau Infusi Teknologi
    Teknologi bisa dimanfaatkan secara efektif untuk meningkatkan dan
    memuaskan pengalaman layanan kepuasan pelanggan;
  7. Sistem Penanganan Komplain secara Efektif
    Di dalam industri yang sama- sama bergerak di bidang jasa, wajib untuk
    menanggapi komplain dari para pelanggannya, agar dapat mengetahui tingkat
    kepuasan pelanggan. Pada hakikatnya ada dua tujuan utama pelanggan
    menyampaikan komplain. Pertama, untuk menutupi kerugian ekonomis, dan
    kedua adalah untuk memperbaiki citra diri (self image);
  8. Startegi Pemulihan Layanan
    Dalam perusahaan jasa, seberapa kerasnya usaha penyedia jasa tetap saja
    kekecewaan atau tidak kepuasan pelanggan tidak terhindarkan. Maka dari itu
    taktik-taktik pemulihan layanan sangat dibutuhkan guna memberikan dampak
    positif terhadap nilai kepuasan pelanggan, minat pembelian ulang, loyalitas dan
    komitmen pelanggan, juga persepsi pelanggan terhadap keadilan pelayanan jasa.

Dimensi Kepuasan Pelanggan


Menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2012) dalam (Indrasari, 2019 hal :90)
yang dikutip dari buku Manajemen Pemasaran mengatakan bahwa Kepuasan Konsumen
adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan
kinerja (hasil) yang dipikirkan terhadap kinerja yang diharapkan

  1. Price (harga)
    Untuk pelanggan yang sensitive, biasanya harga murah adalah sumber kepuasan
    yang terpenting karena mereka akan mendapatkan value for money yang tinggi.
    Komponen harga ini relative tidak penting bagi mereka yang tidak sensitive
    terhadap harga;
  2. Service Quality (kualitas layanan)
    Service quality sangat tergantung dari tiga hal yaitu sistem, teknologi, dan
    manusia. Kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan biasanya sulit ditiru
    karena pembentukan attitude dan behaviour yang seiring dengan keinginan
    perusahaan bukanlah pekerjaan mudah. Pembenahan harus dilakukan mulai dari
    proses rekruitmen, training, dan budaya kerja;
  3. Emotional Factor
    Emotional Factor ditunjukkan oleh konsumen atas kepuasan yang diperoleh
    mereka dalam menggunakan suatu produk/jasa yang menimbulkan rasa bangga
    dan rasa percaya diri;
  4. Product Quality (Kualitas Produk)
    Pelanggan merasa puas setelah membeli dan menggunakan produk/jasa tersebut
    apabila kualitas produk yang baik. Tingkat mutu suatu produk yang meliputi
    daya tahan, kemudahan penggunanan, dan perbaikan;
  5. Efficiency (Kemudahan)
    Kemudahan dalam memperoleh produk atau jasa tersebut dan kemudahan dalm
    pembayaran dapat membuat pelanggan akan semakin puas bila relatif mudah,
    nyaman dan efisien dalam mendapatkan produk

Pengukuran Kepuasan Pelanggan


Menurut Tjiptono dalam (Indrasari, 2019 hal :88) ada empat metode yang
dilakukan perusahaan untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan, yaitu:

  1. Sistem Keluhan dan Saran
    Setiap organisasi yang berorientasi pada pelanggan perlu meyediakan kesempatan dan
    akses yang mudah dan nyaman bagi para pelanggannya guna menyampaikan saran,
    kritik, pendapat, dan keluhan mereka. Media yang biasa digunakan bisa berupa kotak
    saran, kartu komentar, saluran telepon khusus bebas pulsa, website, dan lain-lain.
    Dimana metode ini dapat memberikan ide atau masukan yang berharga kepada
    perusahaan;
  2. Ghost Shopping (pembelanjaan misteri)
    Salah satu cara memperoleh gambaran mengenai kepuasan pelanggan adalah dengan
    memperkejakan beberapa orang untuk berperan atau berpura-pura sebagai pelanggan
    potensial produk perusahaan dan pesaing. Para pembelanja misterius akan diminta
    untuk mengamati secara seksama dan melihat cara perusahaan dan pesaingnya
    melayani permintaan spesifik pelanggan, menjawab pertanyaan pelanggan dan
    menangani setiap keluhan. Hal tersebut dilakukan sebeagai cara untuk melakukan
    penilaian terhadap kinerja karyawan;
  3. Lost Customer analysis (analisis pelanggan yang berhenti)
    Sedapat mungkin perusahaan menghubungi para pelanggan yang telah berhenti
    membeli atau yang telah berpindah pemasok agar dapat memahami mengapa hal itu
    terjadi dan supaya dapat mengambil kebijakan perbaikan atau penyempurnaan
    selanjutnya;
  4. Survey Kepuasan Pelanggan
    Sebagian besar riset kepuasan pelanggan dilakukan dengan menggunakan metode
    survey, baik survey melalui pos, telepon, e-mail, internet, maupun wawancara
    langsung.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Pelanggan.


Faktor utama yang berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan adalah sumber daya
manusianya. Artinya, peranan manusia (karyawan/customer service) yang melayani
pelanggan merupakan faktor utama karena hanya dengan manusialah pelanggan dapat
berkomunikasi secara langsung dan terbuka (Kasmir, 2019:3). Berikut ini adalah
beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pelanggan (Kasmir, 2019:3-4),
yaitu:

  1. Memiliki karyawan yang professional khususnya yang berhadapan langsung
    dengan pelanggan.
  2. Tersedianya sarana dan prasarana yang baik yang dapat menunjang kelancaran
    penjualan produk kepada pelanggan secara cepat dan tepat waktu.
  3. Tersedianya ragam produk yang diinginkan, artinya pelanggan sekali berhenti
    dapat membeli beragam produk dengan kualitas produk dan pelayanan yang
    mereka inginkan.
  4. Bertanggung jawab kepada setiap pelanggan dari awal hingga akhir. Dalam hal
    ini customer service melayani pelanggan sampai tuntas.
  5. Mampu melayani secara cepat dan tepat, tentunya jika dibandingkan dengan
    pihak pesaing.
  6. Mampu berkomunikasi secara jelas, menyenangkan dan mampu menangkap
    keinginan dan kebutuhan pelanggan.
  7. Memberikan jaminan kerahasiaan setiap transaksi, terutama dalam hal
    keuangan.
  8. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik tentang produk yang
    ditawarkan kepada pelanggan dan pengetahuan umum lainnya.
  9. Mampu memberikan kepercayaan kepada pelanggan, sehingga pelanggan
    merasa yakin dengan apa yang telah dilakukan perusahaan.

Indikator Komunikasi


Menurut De Vito (2019) dalam (Djerubu dkkl., 2022 hal : 207) Komunikasi
yang efektif memilikiindikator antara lain :

  1. Keterbukaan (opennes) : Kemauan menanggapi dengan senang hati
    informasi yang diterima di dalam menghadapi hubungan Interpersonal.
    Keterbukaan atau sikap terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan
    komunikasi interpersonal yang efektif;
  2. Empati (empathy) : Merasakan apa yang dirasakan orang lain atau proses
    ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkap arti
    perasaan itu kemudian mengkomunikasikannya dengan kepekaan
    sedemikian rupa hingga menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengerti
    perasaan orang lain itu;
  3. Dukungan (supportiveness) : Situasi yang terbuka untuk mendukung agar
    komunikasi berlangsung efektif. Sikap suportif adalah sikap yang
    mengurangi sikap defensif dalam komunikasi;
  4. Rasa positif (positiveness) : Perasaan positif terhadap diri sendiri,
    kemampuan mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi dan
    kemampuan menciptakan situasi komunikasi kondusif untuk berinteraksi
    yang efektif;
  5. Kesetaraan (equality) : Pengakuan kedua belah pihak saling menghargai,
    berguna dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.

Pengertian Komunikasi


Onong Uchyana Effendi (2000) dalam (Yusuf, 2021 hal :11) Komunikasi
menurut berasal dari bahasa Inggris “communication” dan bahasa latin
“communication” yang berarti sama, sama disini adalah sama makna. Artinya, tujuan
dari komunikasi adalah untuk membuat persamaan antara sender atau pengirim pesan
dan reicever atau penerima pesan yang keberhasilannya ditandai oleh adanya
persamaan persepsiterhadap makna atau membangun makna (construc meaning) secara
bersama pula. Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi yang paling banyak
dilakukan oleh manusia sebagai makhluk sosial. Melalui komunikasi interpersonal
dapat mengetahui bagaimana menjadi penyampai pesan yangefektif, menjadi penerima
atau pendengar yang efektif. Menurut Joseph Devito, komunikasi interpersonal adalah
proses pengiriman dan penerima pesan-pesan antara kelompok kecil orang-orang
dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika (the process of sending and
receiving messages between two persons, or among a small group of person with some
effect and some immediate feedback).
Pada dasarnya, Komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan
aktivitas hubungan antara manusia atau kelompok. Jenis komunikasi yang digunakan
terdiri dari dua jenis yaitu:

  1. Komunikasi Verbal (dengan kata-kata)
    Menurut rakhmat, bahasa mempunyai makna secara fungsional dan formal.
    Secara fungsional diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk semua
    kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan dan tata
    bahasa;
  2. Komunikasi Nonverbal (bahasa tubuh)
    Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang digunakan untuk melukiskan
    semua peristiwa komunikasi diluar dengan kata-kata terucap dan tertulis.
    Komunikasi interpersonal adalah interaksi tatap muka antardua atau beberapa
    orang dimana pengirim dapat menyampaikan pesan secara langsung dan penerima
    dapat menanggapi secara langsun pula. Komunikasi interpersonal adalah suatu action
    oriented yaitu suatu tindakan yang berorientasi pada tujuan tertentu. Tujuan komunikasi
    interpersonal antara lain:
  3. Mengungkapkan perhatian kepada orang lain;
  4. Menemukan diri sendiri;
  5. Menemukan dunia luar;
  6. Membangun dan memelihara hubungan yang harmonis;
  7. Mempengaruhi sikap dan tingkah laku;
  8. Menghilangkan kerugian akibat salah emosi;
  9. Memberikan bantuan atau konseling;
  10. Mencari kesenangan atau menghabiskan waktu.
    Salah satu ciri yang menandai telah terjadinya proses komunikasi interpersonal
    adalah adanya interaksi. Interaksi adalah suatu tindakan yang berbalas dengan kata lain
    adalah suatu hubungan yang saling mempengaruhi. Dalam hal ini telah terjadi
    interaksi antara komunikator (pengirim) dan komunikan (penerima) informasi,
    sedangkan objek yang ditransakan berupa pesan atau informasi.
    Pada komunikasi interpersonal ada beberapa asas yang dapat dijadikan sebagai
    bahan pertimbangan yaitu, sebagai berikut:
  11. Komunikasi berlangsung antara pikiran seseorang dengan pikiran orang lain.
    Dalam hal memformulasikan maupun menerima pesan sangat dipengaruhi oleh
    jalannya pikiran orang bersangkutan. Agar komunikasi dapat berjalan efektif,
    maka harus memiliki pengalaman bersama dalam memahami pesan;
  12. Orang yang bisa mengerti suatu hal dengan menghubungkan pada sesuatu hal
    lain yang telah dimengerti. Artinya ketika memahami suatu informasi seseorang
    akan menghubungkannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang sudah
    dimengerti;
  13. Berkomunikasi tentunya mempunyai tujuan. Komunikasi interpersonal
    bukanlah yang pasif melainkan berorientasi pada tujuan tertentu;
  14. Setelah melakukan komunikasi mempunyai suatu kewajiban untuk meyakinkan
    dirinya bahwa ia memahami makna pesan yang akan disampaikannya;
  15. Orang yang tidak memahami makna informasi yang diterima, memiliki
    kewajiban untuk menerima penjelasan agar tidak terjadi bias komunikasi. Untuk
    menghindari ketidak pahaman diperlukan klarifikasi untuk memahami arti
    pesan.

Indikator Kualitas Pelayanan


Tjiptono (2020) dalam (Kurniasih & Rozi, 2021 hal : 17) menjelaskan bahwa ada
lima dimensi kualitas layanan yang dapat dipakai untuk mengukur kualitas layanan
yang dapat dipakai untuk perlengakapan pegawai, dan sarana komunikasi.

  1. Dimensi Tampilan Fisik (tangible) yang diberikan perusahaan kepada
    konsumen meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, dan sarana komunikasi;
  2. Dimensi Keandalan (reability) yang diberikan perusahaan dalam bentuk
    kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera
    (kecepatan), keakuratan dan memuaskan;
  3. Dimensi Daya Tanggap (responsivenese) yang diberikan perusahaan dalam
    bentuk keinginan para staff untuk membantu para konsumen dan
    memberikan pelayanan dengan tanggap;
  4. Dimensi Jaminan (assurance) yang diberikan perusahaan mancangkup
    pengetahuan, kemampuan, kesopanan, dan sifat dipercaya yang dimilikipara
    staf, bebas dari bahaya, resiko atau keraguan;
  5. Dimensi Empati (emphaty) meliputi kemudahan dalam melakukan
    hubungan, komunikasi yang baik, perhatian, dan memahami kebutuhan para
    konsumen

Manfaat Kualitas


Pelayanan yang baik akan memberirkan hal yang baik pula untuk
perusahaan. Manfaat dan tujuan kualitas pelayanan menurut Kottler Hayes dad
Bloom (2002 hal : 56) dalam (Hamid dkk., 2023 hal :31) seperti :

  1. Konsumen aka setia kepada perusahaan, karena konsumen merasa
    pelayanan perusahaan sangat baik. Konsumen bisa jadi akan menjadi
    konsumen teteap perusahaan tersebut.
  2. Konsumen bisa menjadi media iklan gratis
  3. Kelangsungan bisnin terjamin jangka panjang
  4. Konsumen tidak mempermsalahkan mengenai harga
  5. Konsumen merasa pauas
  6. Nama baik perusahaan meningkat
  7. Unggul dalam persaingan bisnis

Dimensi Kualitas Pelayanan


Tjiptono (2011:437) dalam (Indrasari, 2019 hal :65) ada lima dimensi atau lima
faktor utama kualitas pelayanan yang digunakan konsumen untuk menilai atau menentukan
kualitas pelayanan. Kelima dimensi tersebit adalah sebagai berikut:

  1. Bukti fisik (tangiles) yaitu kemampuan suatu perusahaan dalam
    menunjukan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan
    kemampuan sarana dan prasana fisik perusahaan yang dapat diandalkan
    serta keadaan lingkungan sekitarnya merupakan salah satu cara perusahaan
    jasa dalam menyajikan kualitas layanan terhadap pelanggan. Diantaranya
    meliputi fasilitas fisik (gedung, meja, kursi, rak, buku, dan sebagainya);
  2. Keandalan (realibility) adalah kemampuan perusahaan memberikan
    pelayanan sesuai dengan apa yang dijanjikann secara akurat dan terpercaya.
    Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang tercermin dari
    ketetapan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa
    kesalahan, sikap simpatik, dan akutarasi yang tinggi;
  3. Daya tanggap (responsiveness) adalah kemauan untuk membantu
    pelanggan dan memberikan jasa dengan cepat dan tepat dengan
    penyampaian informasi yang jelas. Mengabaikan dan memberikan
    pelanggan menunggu tanpa alas an yanga jelas menyebabkan
    persepsi yang negative dalam kualitas pelayanan;
  4. Jaminan (assurance) adalah pengetahuan, kesopan-santunan dan
    kemampuan para pegawai perusahaan untuk menumbuhkan rasa
    percaya para pelanggan kepada perusahaan;
  5. Empati (emphaty) yaitu memberikan perhatian yang tulus dan
    bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada pelanggan
    dengan berupaya memahami keinginan konsumen.