Gaya Kepemimpinan


Menurut Rivai (2009:42) dalam Fajrin dkk. (2018) gaya
kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pemimpin
untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai.
Thoha (2017:49) mengemukakan bahwa “gaya kepemimpinan
adalah norma perilaku yang digunakan seseorang pada saat orang
tersebut mencoba memengaruhi perilaku orang lain.”
Menurut Priansa (2017:141) “gaya kepemimpinan adalah suatu
pola perilaku yang konsisten yang ditunjukan oleh pemimpin dan
diketahui pihak lain ketika pemimpin berusaha memengaruhi
kegiatan-kegiatan orang lain.”
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa gaya
kepemimpinan merupakan pola perilaku yang digunakan pemimpin
untuk memengaruhi bawahan supaya sasaran organisasi dapat
tercapai. Priansa (2017:141) menyatakan secara umum ada tiga gaya
kepemimpinan yang paling dikenal, yaitu:

  1. Gaya Kepemimpinan Otokratis
    Gaya kepemimpinan otokratis ini meletakkan seorang
    pemimpin sebagai sumber kebijakan. Pemimpin merupakan
    segala-galanya, pegawai dipandang sebagai orang yang
    melaksanakan perintah pemimpin. Oleh karena itu, pegawai
    hanya menerima instruksi saja dan tidak diperkenankan
    membantah maupun mengeluarkan ide atau pendapat bagi
    pemimpin. Posisi tersebut tidak memungkinkan pemimpin
    melibatkan pegawai dalam persoalan keorganisasian organisasi
    publik. Tipe kepemimpinan otokratis memandang bahwa
    segala sesuatunya ditentukan oleh pemimpin sehingga
    keberhasilan organisasi publik terletak pada pemimpinnya.
  2. Gaya Kepemimpinan Demokratis
    Gaya kepemimpinan ini menyajikan ruang kesetaraan dalam
    pendapat, sehingga antara pemimpin dan pegawai memiliki
    hak yang sama untuk berkontribusi dalam tanggung jawab
    yang diembannya. Gaya kepemimpinan ini memandang
    pegawai sebagai bagian dari keseluruhan organisasi publik
    sehingga mendapat tempat sesuai dengan harkat dan
    martabatnya sebagai manusia. Pemimpin mempunyai
    tanggung jawab dan tugas untuk mengarahkan, mengontrol dan
    mengevaluasi, serta mengkoordinasi berbagai pekerjaan yang
    diemban pegawai.
  3. Gaya Kepemimpinan Laissez Faire
    Gaya kepemimpinan ini memberikan kebebasan mutlak kepada
    pegawai. Seluruh keputusan dalam pelaksanaan tugas dan
    pekerjaan diserahkan sepenuhnya kepada pegawai. Peran
    kepemimpinan dalam gaya kepemimpinan ini bersifat pasif
    sehingga cenderung tidak mampu memberikan keteladanan
    bagi kepemimpinannya