Indikator Minat Beli


Menurut Kotler dan Keller (2010) minat beli dapat diidentifikasi melalui
indikator-indikator sebagai berikut:

  1. Minat transaksional
    Kecenderungan seseorang untuk membeli produk.
  2. Minat refrensial
    Kecenderungan seseorang untuk mereferensikan produk kepada orang
    lain.
  3. Minat preferensial
    Minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang memiliki prefrensi
    utama pada produk tersebut
  4. Minat eksploratif
    Minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari
    informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk
    mendukung sifat-sifat positif dari produk tersebut.

Minat Beli


Menurut Philip Kotler (2000) minat sebagai dorongan, yaitu rangsangan
internal yang kuat yang memotivasi tindakan, dimana dorongan tersebut
dipengaruhi oleh perasaan positif terhadap suatu produk. Minat beli adalah
sesuatu yang timbul setelah menerima rangsangan dari produk yang dilihat,
kemudian timbul suatu ketertarikan untuk membeli dan memilikinya.
Minat beli konsumen timbul dengan sendirinya jika konsumen merasa
tertarik dan memberikan respon yang positif terhadap suatu produk maka
konsumen kemungkinan besar akan melakukan pembelian. Minat beli merupakan
instruksi pada diri konsumen untuk melakukan pembelian terhadap suatu produk,
melakukan perencanaan, mengambil tindakan seperti mengusulkan,
merekomendasikan, memilih dan akhirnya mengambil keputusan untuk membeli.
Menurut Simamora (2004) minat beli merupakan sesuatu yang pribadi
yang berhubungan dengan sikap individu terhadap suatu produk yang memiliki
kekuatan dan dorongan melakukan tindakan untuk mendapatkan produk. Minat
beli merupakan kelanjutan perhatian yang merupakan titik tolak terhadap
timbulnya keinginan untuk melakukan kegiatan yang diharapkan. Minat muncul
akibat adanya stimulus positif yang menimbulkan motivasi.
Menurut Schiffman dan Kanuk (2004) motivasi adalah kekuatan atau
dorongan dari dalam diri individu yang memaksa mereka untuk melakukan
tindakan. Jika seorang konsumen mempunyai motivasi yang tinggi terhadap suatu
produk, maka konsumen akan terdorong untuk berperilaku mendapatkan suatu
produk tersebut. Sebaliknya jika motivasinya rendah, maka konsumen akan
mencoba untuk menghindari produk tersebut.
Menurut Swastha dan Handoko (2000) Minat beli konsumen merupakan
kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan
menggunakan produk termasuk pada saat proses pengambilan keputusan
pembelian. Artinya bahwa minat beli konsumen merupakan tindakan yang
dilakukan oleh konsumen perorangan, kelompok atau organisasi untuk menilai,
memperoleh dan menggunakan produk melalui proses pembelian yang diawali
dengan proses pengambilan keputusan yang menentukan tindakan tersebut.

Kepercayaan Merek Berpengaruh Terhadap Loyalitas Merek


Menurut Aaker (2011) kepercayaan merek merupakan merek yang dapat
memenuhi harapan serta dapat diandalkan tidak ada yang mengecewakan, keaslian
merek membuat konsumen dapat menambah kepercayaan terhadap merek.
Penelitian Erdem dan Oğuz (2022) ditemukan bahwa merek dengan kepercayaan
merek yang kuat mempengaruhi loyalitas merek. Pada penelitian yang dilakukan
oleh Fitria dan Susanti (2024) ditemukan bahwa kepercayaan merek berpengaruh
secara parsial terhadap loyalitas merek pada merek Citra dengan produk Hand &
Body Lotion.

Citra Merek Berpengaruh Terhadap Loyalitas Merek


Menurut Kotler dan Keller (2016) Citra merek merupakan persepsi
konsumen terhadap suatu merek yang terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan
mereka terhadap produk tersebut. Pada penelitian yang dilakukan oleh Pramesti,
dkk. (2024) Citra merek merupakan hal yang sangat penting bagi sebuah
perusahaan karena mempengaruhi minat beli konsumen. Masalah citra merek
merupakan salah satu hal yang juga harus diperhatikan oleh perusahaan dengan
seksama. Penelitian Hokky dan Bernarto (2021) menemukan bahwa citra merek
berpengaruh positif terhadap loyalitas merek, hasil tersebut didukung. Citra merek
berpengaruh positif terhadap loyalitas merek, yang berarti bahwa semakin baik citra
merek, maka semakin tinggi loyalitas merek dan sebaliknya. Pada penelitian yang
dilakukan oleh Kuo-Ning, dkk. (2020) menunjukan bahwa terkait dengan pengaruh
citra merek terhadap loyalitas merek adalah signifikan. Penelitian ini juga menguji
efek mediasi citra merek terhadap hubungan antara pengalaman merek dan loyalitas
merek pada industri perhotelan.

Loyalitas Merek


Menurut Aaker (2011) loyalitas merek terbentuk karena adanya fitur yang
menarik pada produk, kepribadian yang disukai, tau nilai-nilai merek yang sesuai
dengan pandangan konsumen. Faktor kebiasaan dari merek tersebut dan familiar
pada suatu merek sangat kuat membuat konsumen tetap setia, konsumen cenderung
setia pada merek yang otentik dan bahkan membenci merek yang mencoba meniru
atau, lebih buruk lagi, palsu dan berusaha menjadi merek yang orisinal.
Menurut Kotler dan Keller (2016) Loyalitas merek dapat membantu
mengidentifikasi kekuatan produk, loyalitas dapat menunjukan kepada perusahaan
merek mana yang paling kompetitif dengan mereknya dengan melihat pelanggan
mana yang meninggalkan mereknya. Status Loyalitas pemasaran biasanya
membayangkan empat kelompok berdasarkan status loyalitas merek:

  1. Hard core loyals: konsumen yang hanya membeli satu merek sepanjang
    waktu
  2. Split loyals: konsumen yang setia pada dua atau tiga merek
  3. Shifting loyals: pindah kesetiaan dari satu merek ke merek lain
  4. Switchers: konsumen yang tidak menunjukkan loyalitas pada merek apa
    pun
    Pada merek Arei, loyalitas dapat terbentuk jika konsumen merasa produkproduk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen dalam
    melakukan aktivitas outdoor. Produk yang memenuhi ekspektasi konsumen dalam
    hal kualitas dan kehandalan akan mendorong terbentuknya loyalitas yang lebih
    kuat

Kepercayaan Merek


Menurut Aaker (2011) kepercayaan merek merupakan merek yang dapat
memenuhi harapan serta dapat diandalkan tidak ada yang mengecewakan, keaslian
merek membuat konsumen dapat menambah kepercayaan terhadap merek.
Kepercayaan merek merupakan komponen penting dalam pemasaran dan perilaku
konsumen, dengan memahami definisi, komponen, manfaat, dimensi, serta faktorfaktor yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh kepercayaan merek, menerapkan
strategi untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang kuat dan penuh
kepercayaan dengan konsumen (Wardhana, 2024). Menurut Ade, dkk. (2021)
kepercayaan sebagai cornerstone of the strategic partnership dikarenakan
karakteristik hubungan kepercayaan berharga dan harapan kelompok yang
membuat hubungan komitmen. Aset berharga dapat diperoleh perusahaan jika
konsumen merasa percaya terhadap merek. Kebebasan konsumen memilih produk
sesuai dengan pilihan menjadi isu penting bagi perusahaan untuk menawarkan fitur
benefit yang menimbulkan kepercayaan konsumen. Kepercayaan tercipta jika
merek produk ditawarkan di pasar dapat memuaskan konsumen. Tolak ukur
kepercayaan merek yang diungkapkan oleh Ade, dkk, (2022) mengemukakan
terdapat tiga faktor indikator dalam kepercayaan merek yaitu:

  1. Karakteristik merek Pengambilan keputusan konsumen dipengaruhi
    oleh karakteristik merek karena konsumen memberikan penilaian
    sebelum membeli produk dengan merek tertentu. Karakteristik
    merek yang berkaitan dengan brand trust meliputi:
    a. Brand reputation merek yang telah memiliki reputasi baik sangat
    berkaitan dengan brand trust.
    b. Brand predictability terkait dengan tingkat kekonsistenan
    kualitas produk dan dalam persepsi konsumen merek dapat
    diprediksi memiliki hubungan dengan brand trust.
    c. Brand competence merek dianggap memiliki kemampuan
    memecahkan masalah yang dihadapi oleh konsumen dalam
    memenuhi need dan want.
  2. Karakteristik perusahaan ketika konsumen memiliki pengetahuan
    mengenai perusahaan diindikasikan akan mempengaruhi
    penilaiannya terhadap merek perusahaan. Adapun karakteristik
    perusahaan diprediksi memiliki pengaruh terhadap merek
    perusahaan meliputi: company trust; company reputation; perceived
    motives of the company dan company integrity.
  3. Karakteristik merek konsumen membangun hubungan pelanggan
    dengan merek mencakup kesamaan antara selfconcept pelanggan
    dengan citra merek (similarity between consumer’s selfconcept and
    brand personality); pengalaman konsumen (brand experience);
    hubungan merek (brand liking); kepuasan merek (brand satisfaction)
    dan peer support sebagai perilaku individu yang terbentuk karena
    perilaku sosial.

Citra Merek


Menurut Kotler dan Keller (2016) citra merek merupakan persepsi
konsumen terhadap suatu merek yang terbentuk dari pengalaman dan pengetahuan
mereka terhadap produk tersebut. Citra merek menggambarkan sifat ekstrinsik
produk atau layanan, termasuk cara-cara yang digunakan oleh merek untuk
memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan. Menciptakan atau
memperkuat persepsi tentang asosiasi citra merek itu sendiri memiliki asosiasi yang
membantu menciptakan atau memperkuat asosiasi merek. Menurut Wardana
(2021) mengemukakan bahwa pelanggan mempunyai citra positif terhadap suatu
merek, maka dari itu pelanggan akan melakukan pembelian produk dari suatu
merek kembali. Namun sebaliknya, jika citra pada merek tertentu negatif, maka dari
itu kemungkinan kecil untuk terjadinya pembelian produk dari suatu merek itu
kembali.
Menurut Aaker (1991) citra merek merupakan serangkaian asosiasi,
biasanya Kedua signifikan. Sama seperti asosiasi, begitu juga gambar merujuk kita
pada ingatan dan persepsi yang mungkin mencerminkan atau tidak mencerminkan
realitas objektif. Memanfaatkan nilai dari sebuah nama merek memberi sebuah
gagasan tentang seperti apa citra merek seharusnya yang paling penting adalah
memutuskan citra apa yang ingin ditampilkan pada pelanggan ketika mereka
menemukan suatu merek, hal ini sangat penting untuk mencoba memastikan bahwa
persepsi pelanggan terhadap merek sepositif mungkin dan itu terbangun

Hubungan Kepercayaan Merek terhadap Minat Beli Ulang


Penelitian yang dilakukan oleh (Fandiyanto dan Endriyasari, 2019)
mengatakan bahwa kepercayaan merek berpengaruh pada minat beli ulang.
Menurut Belopa (2015) juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
signifikan pada kepercayaan merek terhadap minat beli ulang.
Menurut Firdaus (2021) menyatakan bahwa kepercayaan merek
berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang.

Hubungan Experiential Marketing terhadap Minat Beli Ulang


Penelitian yang dilakukan oleh (Anggraini et al., 2020) mengatakan
bahwa experiential marketing berpengaruh pada minat beli ulang. Menurut
Hendarsono (2013)juga menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan
pada experiential marketing terhadap minat beli ulang.
Menurut Subawa (2020) menyatakan bahwa experiential marketing
berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli ulang.

Kepercayaan Merek


Menurut Lau dan Lee ( 1999) menyatakan bahwa kepercayaan
merek merupakan Keinginan konsumen untuk bersandar pada suatu merek
dengan berbagai resiko-resiko yang yang dihadapi karena konsumen
memiliki ekspetasi atau harapan terhadap merek tersebut akan menyebabkan
hasil yang positif. Kepercayaan merek adalah kemampuan merek untuk
dipercaya , yang bersumber pada keyakinan konsumen bahwa merek suatu
produk mampu memenuhi nilai yang dijanjikan dan keyakinan konsumen
bahwa merek tersebut mampu mengutamakan kepentingan konsumen
(Delgado, 2004).
Menurut Said Firdaus (2021), Kepercayaan merek merupakan
keinginan konsumen untuk bersandar pada suatu merek dengan resikoresiko yang dihadapi karena ekspetasi terhadap merek tersebut akan
menyebabkan hasil yang positif. Kepercayaan terhadap suatu merek adalah
persepsi kehandalan dari sudut pandang konsumen yang didasarkan pada
pengalaman atau lebih pada urutan transaksi atau ineraksi yang dicirikan
oleh terpenuhinya harapan akan kinerja suatu produk(Fandiyanto &
Endriyasari, 2019)

Experiential Marketing


Experiential Marketing menurut (Schmitt, 1999) adalah suatu
konsep pemasaran yang berupaya untuk mengkomunikasikan produk yang
dijual dengan cara menarik perhatian konsumen menyentuh hati,
menanamkan kesan yang baik kepada hati dan pikiran konsmen tentang
suatu produk yang dijual. Experiential Marketing merupakan suatu usaha
yang digunakan oleh perusahaan atau pemasar dalam mengemas produk
sehingga dapat memberikan pengalaman emosi, menyentuh hati dan
perasaan konsumen (Schmitt, 1999).
Experiential marketing adalah konsep pemasaran yang
menggunakan sisi emosi dan perasaan konsumen dengan menciptakan
pengalaman yang baik yang tidak terlupakan sehingga konsumen terus
menggunakan produk tersebut dan menjadi fanatik (Andreani, 2007).
Berdasarkan konsep yang dikemukakan (Schmitt, 1999) Experiential
Marketing dapat diukur menggunakan lima faktor utama yaitu : Sense, Feel,
Think, Action, dan Relate.

  1. Sense
    Sense merupakan usaha untuk menciptakan pengalaman yang berkaitan
    dengan panca indra melalui penglihatan, suara, sentuhan, rasa, dan
    aroma. Sense dalam experiential marketing digunakan untuk
    menciptakan diferensiasi suatu produk untuk memotivasi dan
    mendorong konsumen serta untuk menambah nilai konsumen.
    Melalui sense akan tercipta sensory experience yang dapat memberikan
    kesan keindahan, kesenangan dan kepuasan. Dalam menciptakan sense
    terhadap suatu produk harus mencakup penglihatan bentuk (kemasan
    produk), sentuhan (produk lembut), perasaan (varian rasa), dan
    penciuman (aroma).
  2. Feel
    Feel merupakan pengalaman yang berkaitan dengan suasana hati serta
    emosi jiwa seorang saat menggunakan suatu produk. Pada umumnya
    akan muncul feel dibenak konsumen pada saat menggunakan produk
    sehingga dapat mempengaruhi suasana hati dan emosi yang kuat
    terhadap kenangan dan kebanggan terhadap produk tersebut.
    Feel terhadap suatu produk harus mencakup suasana hati yaitu kondisi
    positif dan negatif menentukan produk apa yang akan dibeli oleh
    konsumen. Pikiran yang bagus akan mampu berifikir secara positif
    dapat memberikan pendapat yang positif terhadap produk.
  3. Think
    Think merupakan pengalaman yang bertujuan untuk mempengaruhi
    pemikiran konsumen secara langsung dan menciptakan kesadaran
    melalui proses berfikir terhadap suatu produk. Think akan muncul
    dalam suatu pemikiran yang bagus. Pikiran yang bagus akan
    memberikan kesan yang positif terhadap produk. Menurut (Lupiyoadi,
    2016) cara yang baik untuk membuat think berhasil adalah :
    a) Kejutan (Surprise).
    Kejutan merupakan hal yang penting dalam membangun konsumen
    agar mereka terlibat dalam cara berfikir yang kreatif. Dalam
    experiential marketing, unsur surprise menempati hal yang sangat
    penting karena dengan pengalaman-pengalaman yang mengejutkan
    dapat memberikan kesan emosional yang mendalam dan diharapkan
    dapat terus membekas dibenak konsumen dalam waktu yang lama.
    b) Memikat (Intrigue)
    Intrigue campaign mencoba membangkitkan rasa ingin tahu
    konsumen, apas aja yang memikat konsumen. Daya pikat ini
    tergantung dari acuan yang dimiliki oleh setiap konsumen.
    Terkadang apa yang dapat memikat seseorang dapat menjadi
    sesuatu yang membosankan bagi orang lain, tergantung pada tingkat
    pengetahuan, kesukaan, dan pengalaman konsumen tersebut.
    c) Provokasi (Provocation)
    Provokasi dapat menimbulkan sebuah diskusi atau menciptakan
    sebuah perdebatan. Provokasi dapat beresiko jika dilakukan secara
    tidak baik dan agresif.
  4. Act
    Act merupakan tindakan yang berhubungan dengan perilaku atau gaya
    hidup seseorang. act akan menyentuh pengalaman dalam gaya dan
    berinteraksi dengan perubahan gaya hidup, yang dilakukan secara
    spontan karena dapat melihat model, dan konsumen akan melakukan
    pembelian karena adanya pengaruh yang berasal dari luar dan opini dari
    dalam dirinya. Act dapat membentuk persepsi konsumen terhadap
    produk yang akan dibeli oleh konsumen melalui keunikan, menarik,
    terkenal, mudah didapat, harga sesuai dengan manfaat yang dijanjikan.
  5. Relate
    Relate merupakan pengalaman yang dignakan dalam mempengaruhi
    konsumen dengan menggabungkan suatu aspek (Sense, Feel, Think,
    Action) dan berfokus pada penciptaan persepsi positif di mata
    konsumen. Relate memiliki dampak terhadap hubungan dengan orang
    lain, kelompok sosial serta gaya hidup di suatu tempat.

Minat Beli Ulang


Menurut (Fandiyanto & Endriyasari, 2019) minat beli ulang
merupakan pembelian yang didasarkan atas pengalaman pembelian yang
telah dilakukan dimasa lalu. Menurut (Schiffman dan Kanuk, 2004) minat
beli ulang terjadi ketika produk memenuhi harapan konsumen dan
persetujuan, yang menandakan indikasi tinggi bahwa mereka akan membeli
dan memanfaatkannya kembali dalam jumlah yang lebih besar. Minat
pembelian ulang merupakan perilaku konsumen yang berhubungan dengan
kepuasan konsumen. Jika konsumen tidak merasa puas maka konsumen
tidak akan melakukan pembelian selanjutnya (Said Firdaus dan Amelia
Rahmi, 2021).
Menurut (Tjiptono, 2015), Minat beli ulang berbeda dengan
loyalitas, loyalitas mencerminkan komitmen psikologis terhadap suatu
merek atau produk tertentu sedangkan perilaku pembelian ulang sematamata menyangkut pembelian merek yang sama secara berulang kali.
Perilaku membeli timbul karena didahului oleh adanya minat membeli,
minat membeli muncul dikarenakan oleh persepsi yang didapatkan bahwa
produk tersebut memiliki kualitas yang baik, jadi minat membeli muncul
dari konsumen (Clilesti dan Nifita, 2018). Mengadopsi dan mengadaptasi
konsep yang dikemukakan (Trivedi, 2020) minat beli ulang dapat dilihat dan
dicerminkan melalui beberapa indikator berikut : konsumen berniat untuk
membeli kembali produk kecantikan merek yang sama yaitu Ms glow secara
berkelanjutan. bersedia membeli kembali produk Ms glow

Hubungan Brand Trust dan Minat Beli Ulang


Menurut Ardhanari dalam Belopa (2015) Ketika seorang konsumen mempercayai suatu
merek, konsumen tersebut memiliki niat membeli yang positif terhadap merek tersebut.
Bahkan tidak menutup kemungkinan seorang konsumen akan melakukan pembelian kembali
terhadap suatu merek yang disukai . Setiadi dalam Belopa (2015) juga menjelaskan bahwa,
jika kepercayaan positif terhadap merek, konsumen akan lebih mungkin untuk
mempunyai sikap positif dan membeli produk itu. Kepuasan atas penggunaan produk
akan memperkuat sikap dan mempertinggi probabilitas pembelian kembali. Dengan
demikian dapat dijelaskan bahwa jika konsumen merasa aman dengan suatu merek maka
hal itu akan membuat konsumen memiliki kepercayaan yang positif terhadap merek
tersebut sehingga hal tersebut akan mempertinggi probabilitas pembelian produk kembali

Hubungan Citra Merek dan Minat Beli Ulang


Ogilvy & Mather dalam Andreani et al (2012:65) juga mengatakan bahwa citra merek
yang kuat dapat membuat pelanggan melakukan pembelian secara berulang-ulang.
Sedangkan menurut Andreani et al (2012:65), pembelian ulang di pengaruhi oleh faktor
citra merek yang positif, karena dengan citra merek yang kuat dapat menyebabkan
konsumen menjadi minat beli ulang. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
citra merek dan harga merupakan salah satu faktor seorang konsumen dalam melakukan
pembelian ulang, karena dengan citra merek yang positif tersebut dapat membuat
konsumen melakukan pembelian secara berulang-ulang.

Hubungan Kualitas Produk dan Minat Beli Ulang


Fang dalam Palma, Marisa Arnindita, Anik Lestari Andjarwati (2016) mengatakan
bahwa kualitas berpengaruh terhadap niat pembelian ulang namun tidak berpengaruh
secara langsung . Kepuasan akan berpengaruh secara langsung ke niat pembelian ulang,
sehingga kualitas produk akan berpengaruh terhadap niat pembelian ulang, maka
konsumen harus merasakan kepuasan terlebih dahulu.

Pengukuran Brand Trust


Menurut Kustini dalam Rizan (2012), brand trust dapat diukur melalui dua dimensi
viabilitas dan dimensi intensionalitas
a. Dimensi viabilitas
Dimensi ini mewakili sebuah persepsi bahwa suatu merek dapat memenuhi dan
memuaskan kebutuhan dan nilai konsumen.
b. Dimensi intensionalitas
Dimensi ini mencerminkan perasaan aman dari seorang individu terhadap suatu
merek.

Dimensi Brand Trust


Menurut Ali hasan (2013:127), terdapat dimensi-dimensi kepercayaan merek yang
terdiri dari :

  1. Reliability
    Berkaitan dengan tingkat keandalan perusahaan dalam menyediakan layanan
    produk
  2. Credibility
    Berkaitan dengan tingkat keahlian yang dibutuhkan perusahaan untuk melakukan
    pekerjaan secara efektif dan andal.
  3. Benevolence
    Berkaitan dengan niat dan motivasi perusahaan.

Definisi Brand Trust


Menurut, Delgado Ballester, Munuera-Aleman and Yagiie Guillen dalam Christiaan
Rudolf Quintus Roets (2014), Mengkonseptualisasikan kepercayaan merek sebagai
konstruksi dua dimensi, terdiri dari atribut keandalan dan niat.
Sedangkan menurut Delgado dalam Hendrajati Aditya (2016), Kepercayaan merek
adalah perasaan aman yang dimiliki konsumen akibat dari interaksinya dengan sebuah
merek, yang berdasarkan persepsi bahwa merek tersebut dapat diandalkan dan
bertanggung jawab atas kepentingan dan keselamatan dari konsumen.
Penulis menarik kesimpulan dari pengertian yang telah diuraikan bahwa pengertian
brand trust adalah perasaan aman yang dimiliki konsumen akibat dari interaksinya
dengan sebuah merek, jika konsumen sudah merasa aman dan nyaman dengan suatu
merek maka konsumen akan semakin menyukai dan mempercayai merek tersebut sesuai
dengan yang diinginkan dan juga kepercayaan merek sebagai konstruksi dua dimensi,
terdiri dari atribut keandalan dan niat

Pengukuran Citra Merek


Severi dan Ling (2013), menyatakan ada tiga indikator yang dapat dijadikan
pengukuran terhadap Citra Merek, yaitu:
(1) Produk memiliki citra yang berbeda dengan smartphone lainnya .
(2) Produk memiliki citra yang jelas
(3) Produk memiliki memiliki citra yang kuat

Faktor Pembentuk Citra Merek


Menurut Sugiharti (2012), terdapat pembentuk citra merek yaitu:
(1) Citra Pembuat
Citra produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa tiga faktor.
(2) Citra Produk
Citra produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap
suatu produk.
(3) Citra Pemakai
Citra pemakai merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.

Definisi Citra Merek


Citra merek dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang muncul di benak
konsumen ketika mengingat suatu merek dari produk tertentu. Novansyah (2016),
menyatakan citra merek adalah citra tentang suatu merek yang dianggap sebagai
kelompok asosiasi yang menghubungkan pemikiran konsumen terhadap suatu nama
merek. Sedangkan menurut Shimp et al, dalam Sangadji dan Sopiah (2013:327),
berpendapat bahwa citra merek (brand image ) dapat dianggap sebagai jenis asosiasi
yang muncul di benak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu, asosiasi
tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang
dikaitkan kepada suatu merek, sama halnya ketika berfikir tentang orang lain.
Menurut Sitio (2017), citra merek adalah sekumpulan sikap yang diambil tentang
gambaran yang tercermin dalam benak dan pikiran konsumen untuk menilai suatu
merek yang memiliki dimensi yakni; (1) pengenalan (recognition), (2) reputasi
(reputation), (3) daya tarik atau simpati (affinity) dan (4) kesetiaan (loyalty).

Pengukuran Kualitas Produk


Menurut Putro et al (2014), ada empat indikator yang dapat dijadikan pengukuran
yaitu:
(1) Produk yang dijual bervariasi.
(2) Produk memiliki fitur yang lebih baik daripada smartphone lainnya.
(3) Produk memiliki kualitas yang bagus
(4) Kualitas produk sesuai dengan uang yanh dikeluarkan.

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Durianto dalam Sangadji dan Sopiah (2013:329 ), kualitas produk terdiri
atas enam dimensi yaitu :
(1) Kinerja
Kinerja merupakan elemen kualitas produk yang berkaitan langsung dengan
bagaimana suatu produk dapat menjalankan fungsinya untuk memenuhi
kebutuhan konsumen.
(2) Reliabilitas
Reliabilitas merupakan daya tahan produk selama dikonsumsi.
(3) Fitur
Fitur merupakan fungsi-fungsi sekunder yang ditambahkan pada suatu produk,
seperti fitur kendali jauh (remote control ) pada televisi.
(4) Keawetan (durability)
Keawetan merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkann suatu
pengukuran terhadap siklus produk, baik secara teknis maupun waktu. Produk
dikatakan awet jika dapat bertahan dalam pemakaian berulang-ulang.
(5) Konsistensi
Konsistensi merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkan seberapa jauh
suatu produk bisa memenuhi standar atau spesifikasi tertentu. Produk yang
mempunyai konsistensi tinggi berarti sesuai dengan standar yang ditentukan.
(6) Desain
Desain merupakan aspek emosional yang memengaruhi kepuasan konsumen
sehingga desain kemasan ataupun bentuk produk akan turut memengaruhi
persepsi kualitas produk tersebut

Definisi Kualitas Produk


Kualitas dapat diartikan kemampuan dari produk untuk menjalankan fungsinya yang
mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam
pengemasan dan reparasi produk dan ciri-ciri lainnya (Luthfia 2012).
Menurut Ong dan Sugiono (2013), kualitas produk adalah bagaimana produk itu
memiliki nilai yang dapat memuaskan konsumen baik secara fisik maupun secara
psikologis yang menunjuk pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu barang
atau hasil.

Definisi Produk


Menurut Kotler dalam Manap (2016:255), Produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan dipasar, untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk
terdiri atas barang , jasa , pengalaman , events, orang,tempat, kepemilikan, organisasi,
informasi dan ide. Produk adalah suatu kumpulan atribut, fisik, psikis, jasa, dan
simbolik yang dibuat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan
Setyaningrum et al (2015:87), Sedangkan menurut Ali Hasan, SE., MM (2014),
Memasarkan produk adalah deals bauran rancangan product, pricing, place, promotion,
packaging, dan positioning yang akan ditawarkan kepada prospek, dan pelanggan.
Secara umum, produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar dan suatu
kumpulan atirbut, fisik, psikis, jasa, dan simbolik untuk memuaskan dan memenuhi
keinginan pelanggan

Pengukuran Minat Beli Ulang


Menurut Kuenzel dan Halliday (2008), menyatakan ada tiga indikator yang dapat
dijadikan pengukuran terhadap Minat Beli Ulang, yaitu:
(1) Keinginan untuk membeli kembali suatu merek produk.
(2) Mempertimbangkan untuk membeli tipe lain dari suatu produk
(3) Selalu mengutamakan suatu merek produk

Klasifikasi Minat Beli Ulang


Minat beli ulang konsumen menurut Ferdinand dalam Purba (2015), dapat dibagi
menjadi minat referensial, minat explorative, minat transaksional, dan minat
preferensial yang diuraikan sebagai berikut:
(1) Minat Referensial
Minat referensial merupakan minat seorang konsumen untuk mereferensikan
sebuah produk berdasarkan pengalaman yang dimilikinya kepada konsumen lain
agar konsumen tersebut ikut membeli.
(2) Minat Exploratif
Minat exploratif merupakan minat seorang konsumen untuk mencari segala
informasi yang berhubungan dengan produk yang diinginkannya.
(3) Minat Transaksional
Minat transaksional merupakan kecenderungan seorang konsumen untuk membeli
kembali produk yang pernah dibeli konsumen tersebut sebelumnya.
(4) Minat Preferensial
Minat preferensial merupakan gambaran perilaku seorang konsumen yang
menjadikan produk tersebut sebagai preferensi utama dibandingkan dengan
produk-produk lain di pasaran.

Definisi Minat Beli Ulang


Menurut Muzzaki (2013), Minat beli ulang adalah keinginan yang timbul dalam diri
pelanggan untuk membeli kembali produk atau jasa di masa yang akan datang setelah
sebelumnya pernah mengkonsumsi produk atau jasa yang sama.
Prastyaningsih et al. (2014), menyatakan minat beli ulang terjadi setelah konsumen
melakukan pembelian, dapat dikarenakan pernah mengkonsumsi sehingga berniat lagi
untuk membeli ulang produk atau jasa yang sama.

Mediasi citra merek terhadap pengaruh promosi media sosial danniat pembelian ulang


Menurut penelitian oleh Susanto dan Wardhani (2019), promosi media
sosial yang efektif dapat meningkatkan citra merek, yang pada akhirnya
mendorong niat pembelian ulang. Studi oleh Hidayat dan Kusuma (2020)
menunjukkan bahwa konsumen lebih cenderung setia kepada merek yang aktif
dan menarik dalam promosi media sosial, karena hal ini menciptakan citra merek
yang positif di benak mereka. Penelitian ini diperkuat oleh temuan dari Fadilah
dan Pratomo (2021), yang menyatakan bahwa citra merek memainkan peran
penting sebagai mediator dalam hubungan antara promosi media sosial dan niat
pembelian ulang. Konsumen yang menerima promosi media sosial yang menarik
dan konsisten cenderung memiliki persepsi positif terhadap citra merek dan lebih
mungkin untuk melakukan pembelian ulang.

Mediasi citra merek terhadap pengaruh harga dan niat pembelianulang


Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Putra (2019), citra
merek yang kuat dapat meningkatkan persepsi nilai konsumen terhadap produk,
yang pada gilirannya dapat meningkatkan niat pembelian ulang meskipun harga
produk tersebut tinggi. Studi oleh Anggraeni dan Setiawan (2020) menunjukkan
bahwa konsumen cenderung tetap loyal terhadap merek dengan citra positif,
bahkan ketika harga mengalami peningkatan. Penelitian ini diperkuat oleh
temuan dari Wirawan dan Santoso (2021), yang mengindikasikan bahwa citra
merek berperan sebagai mediator penting dalam hubungan antara harga dan niat
pembelian ulang. Citra merek yang positif dapat mengurangi sensitivitas
konsumen terhadap harga, sehingga konsumen lebih cenderung untuk
melakukan pembelian ulang. Berdasarkan literatur tersebut, hipotesis bahwa
citra merek memediasi pengaruh harga terhadap niat pembelian ulang di sangat
relevan dan didukung oleh berbagai penelitian terkini

Pengaruh Promosi Media Sosial Terhadap Niat Pembelian Ulang


Promosi media sosial adalah media yang digunakan untuk meningkatkan
pengenalan terhadap merek, bisnis, dan produk melalui platfotm media sosial
(Kevin et al., 2020). Promosi menggunakan media sosial memiliki banyak
fungsi, termasuk memudahkan pemasaran produk dan layanan, memperlancar
komunikasi antara pembeli dan penjual, serta dengan adanya aplikasi media
sosial pemasaran suatu produk akan menjadi lebih jelas dan transparan
(Tajudinnur & Ferdian, 2022). Seiring dengan perkembangan promosi berbasis
digital, keterlibatan langsung oleh konsumen yang ditargetkan secara hati-hati
menjadi hal yang penting untuk mendapatkan tanggapan langsung dan
membangun hubungan yang erat dengan konsumen. Maka dari itu, promosi
media sosial memiliki pengaruh terhadap niat pembelian ulang karena bisa
memudahkan konsumen untuk mengetahui lebih lanjut suatu produk yang ingin
mereka beli kembali seperti penelitian yang dilakukan oleh (Astuti, 2022) bahwa
promosi media sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat pembelian
ulang

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Niat Pembelian Ulang

Kualitas produk mencakup kondisi fisik, sifat, dan fungsi dari barang
atau layanan berdasarkan tingkat mutu yang disesuaikan dengan daya tahan,
keandalan, kemudahan penggunaan, kesesuaian, perbaikan, dan komponen
lainnya yang dirancang untuk memenuhi kepuasan dan kebutuhan pelanggan
(Tajudinnur & Ferdian, 2022). Produk yang ditampilkan harus memiliki nilai
lebih dan mampu bersaing dengan produk lainnya. Dengan kualitas produk yang
baik, kepercayaan konsumen akan terbentuk secara alami, karena konsumen
yakin bahwa kualitas yang diberikan sesuai dengan apa yang telah dijanjikan.
Untuk meraih pangsa pasar yang lebih besar, perusahaan memastikan bahwa
kualitas produk memenuhi harapan konsumen, dengan demikian dapat dikatakan
bahwa konsumen menilai suatu produk berdasarkan kualitasnya (Adiantari &
Seminari, 2022). Maka dari itu, kualitas produk yang semakin bagus akan
meningkatkan niat pembelian ulang konsumen.

Pengaruh Harga Terhadap Niat Pembelian Ulang


Harga merupakan elemen penting dalam bauran pemasaran karena dapat
berperan dalam menghasilkan pendapatan melalui penjualan (Tajudinnur &
Ferdian, 2022). Dengan menetapkan harga pada suatu produk, perusahaan dapat
memperoleh keuntungan dari penjualan produk tersebut. Harga yang ditetapkan
adalah satu-satunya elemen dalam bauran pemasaran yang menghasilkan
pendapatan bagi organisasi. Menetapkan harga yang murah pada suatu produk
merupakan sumber kepuasan karena memberikan konsumen nilai tinggi untuk
uang yang akan mereka keluarkan pada produk yang dibeli (Chairunnisa et al.,
2022). Hal ini menunjukkan harga sangatlah berpengaruh terhadap niat
pembelian ulang konsumen. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh
(Leindarita & Andriansa, 2022) yang menyebutkan bahwa harga berpengaruh
positif dan signifikan terhadap niat pembelian ulang.

Pengaruh Citra Merek Terhadap Niat Pembelian Ulang


Citra merek adalah kesan yang terbentuk di pikiran konsumen saat
mereka memikirkan tentang suatu merek dari produk tertentu. Dalam
mengembangkan citra merek, penting untuk memahami bahwa merek yang kuat
memiliki identitas yang jelas. Konsumen biasanya mencari sesuatu yang unik
dan khas yang terkait dengan merek tersebut (Firmansyah, 2019). Citra merek
dapat tercipta dengan cara pengalaman langsung konsumen, termasuk kepuasan
fungsional dan kepuasan emosional, merek tidak hanya harus dapat berkinerja
optimal dan sesuai dengan yang dijanjikan, tetapi juga harus memahami
kebutuhan konsumen, mewakili nilai-nilai yang diinginkan oleh konsumen, dan
memenuhi kebutuhan individual konsumen. Hal ini akan berkontribusi pada
hubungan yang kuat antara konsumen dan merek tersebut (Amilia & Nst, 2017).
Ketika konsumen kurang memiliki pengetahuan untuk menilai suatu tentang
produk maka, citra merek merupakan panduan yang tepat untuk menuntun
mereka. Citra merek juga mencakup asosiasi yang muncul di pikiran konsumen
saat mereka mengingat merek tertentu (Fera & Pramuditha, 2021).

Pengaruh Promosi Media Sosial Terhadap Citra Merek


Produk atau jasa akan laku secara luas jika melakukan strategi yang
dinamakan promosi. Penting untuk melakukan promosi karena merupakan salah
satu elemen kunci dalam mengembangkan bisnis, baik skala besar maupun skala
kecil (Firmansyah, 2019). Pemasar melakukan promosi untuk
menginformasikan produk mereka kepada konsumen dan mempengaruhi mereka
agar membelinya. Promosi bukan hanya tentang menyampaikan informasi,
tetapi juga menciptakan komunikasi yang membuat pelanggan tertarik dan ingin
memiliki produk tersebut. Menurut Cahyono (2018), Promosi pada dasarnya
mencakup semua aktivitas yang bertujuan untuk mengkomunikasikan suatu
produk kepada pasar target dengan tujuan memberikan informasi tentang
keunggulan, manfaat, dan eksistensi produk tersebut. Selain itu, promosi juga
bertujuan untuk mengubah sikap konsumen dan mendorong mereka untuk
membeli produk tersebut. Dalam era media sosial, produk atau jasa yang sudah
tersebar di kalangan masyarakat dapat dengan cepat menjadi terkenal karena
dapat dipromosikan secara luas dan mudah diakses oleh banyak orang. Interaksi
yang intensif dan berkelanjutan di media sosial juga dapat membantu
memperkuat citra merek, karena pengguna dapat berbagi pengalaman positif
tentang produk atau jasa tersebut dengan cepat kepada orang lain. Berdasarkan
studi yang dilakukan oleh (Lamasi & Santoso, 2022), promosi sosial media
memiliki pengaruh secara signifikan terhadap citra merek.

Pengaruh Kualitas Produk Terhadap Citra Merek


Menurut Riswandani & Mahargiono (2023), kualitas produk adalah
faktor krusial yang dapat memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen terhadap
merek produk atau jasa tersebut, baik secara positif maupun negatif. Kualitas
produk juga penting untuk dapat memposisikan diri di pasar yang luas
(Firmansyah, 2019). Setiap produsen harus mampu meningkatkan kualitas
produknya agar dapat membantu mempertahankan atau meningkatkan pangsa
pasar mereka. Hal ini karena kualitas produk berhubungan erat dengan
keputusan konsumen, yang merupakan tujuan utama dari kegiatan pemasaran
produsen. Kualitas produk memberikan konsep yang berorientasi pada kepuasan
konsumen, di mana seorang penjual dianggap memberikan kualitas apabila
produk atau layanannya memenuhi atau bahkan melebihi harapan konsumen.
Kualitas produk juga mencerminkan nilai jual yang lebih tinggi daripada produk
pesaing. Namun, penampilan yang menarik atau superior tidak menjamin
kualitas tinggi jika tidak sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar
(Fatmawati & Soliha, 2017). Secara keseluruhan, kualitas produk adalah suatu
kondisi yang dinamis yang saling terkait. Meskipun definisinya dapat bervariasi,
pada dasarnya kualitas produk mengacu pada spesifikasi barang atau jasa yang
dapat memberikan kepuasan kepada konsumen dengan memenuhi atau bahkan
melebihi harapan mereka. Produk yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya
akan melahirkan citra merek yang membuat konsumen dapat mengidentifikasi
dan menilai kualitasnya lebih dalam lagi.

Pengaruh Harga Terhadap Citra Merek


Menurut Sudiyono et al.,(2018) harga adalah total nilai yang dibayarkan
oleh pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan
suatu produk atau jasa. Bagi Sebagian besar eksekutif pemasaran, harga
merupakan tantangan utama dan banyak bisnis sering kali gagal menetapkan
harga dengan tepat. Salah satu kesalahan umum yang terjadi adalah bisnis
cenderung segera memotong harga untuk meningkatkan penjualan tanpa
membangun kesadaran pada pelanggan bahwa produk mereka yang memiliki
harga tinggi tetapi berkualitas tinggi sepadan dengan nilai yang mereka bayar.
Maka dari itu, suatu bisnis yang berhasil mengembangkan strategi harga yang
sesuai akan dapat mencapai pendapatan dan profitabilitas maksimal. Harga
merupakan elemen yang dapat mempengaruhi pembentukan citra merek yang
baik tergantung dari banyak atau sedikitnya jumlah uang yang akan dikeluarkan
oleh konsumen untuk membeli suatu produk (Firmansyah, 2019). Upaya yang
dapat dilakukan untuk memperkuat citra merek yang baik adalah dengan
menetapkan harga yang terjangkau dalam pemasaran agar memberikan dampak
positif dalam minat dan keputusan pembelian konsumen (Teguh Afwan & Budi
Santosa, 2019). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Cahya Kamila &
Khasanah, 2022) telah menunjukkan bahwa harga memiliki pengaruh yang
signifikan dan positif terhadap citra merek.

Citra Merek


Citra merek adalah hasil dari persepsi pelanggan terhadap kualitas suatu
merek atau perusahaan yang mencerminkan evaluasi dari konsumen, baik yang
berpotensi sebagai pelanggan maupun yang merasa tidak puas (Adiantari &
Seminari, 2022), serta melibatkan pihak-pihak lain yang terkait dengan
perusahaan, seperti pemasok, agen, dan investor (Kamase & Arif, 2023). Citra
merek mencakup pemahaman dan kepercayaan terhadap karakteristik merek
(bagian berpikir), hasil dari penggunaan merek tersebut, serta kondisi
penggunaan yang sesuai, sejalan dengan penilaian, perasaan, dan emosi yang
terkait dengan merek tersebut (aspek perasaan) (Nicolas, 2021). Di saat
konsumen menerima informasi langsung melalui iklan atau melalui kelompok
referensi disitulah citra merek akan terbentuk.
Citra merek sangat penting dalam mempengaruhi niat pembelian ulang,
hal ini dikarenakan konsumen cenderung lebih percaya dan merasa nyaman
dengan merek yang sudah mereka kenal dan percayai. Ketika sebuah merek
memiliki citra positif, konsumen akan kembeli untuk membeli produk dari
merek tersebut karena sudah merasa yakin dengan konsistensi yang ditawarkan
(Sandy & Aquinia, 2022).

Promosi Media Sosial


Promosi merupakan suatu proses penyampaian atau penyediaan
informasi kepada individu dengan tujuan memengaruhi atau meyakinkan mereka
agar melakukan pembelian barang atau jasa dan memiliki tujuan untuk
meningkatkan penjualan produk atau layanan (Farahan & Lestari, 2023). Ini
merupakan bagian dari strategi pemasaran yang berupaya untuk
mengkomunikasikan kepada masyarakat mengenai suatu produk atau layanan
tertentu, sehingga masyarakat menjadi tertarik untuk membeli produk atau jasa
tersebut serta memengaruhi individu agar semakin menyadari kualitas atau
keunggulan dari barang atau jasa yang ditawarkan (Lamasi & Santoso, 2022).
Strategi promosi tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan informasi produk
kepada pelanggan, melainkan juga untuk menciptakan kebahagiaan dan hiburan
bagi pelanggan (S. I. N. W. Abdullah et al., 2023). Hal ini diharapkan dapat
meningkatkan kepuasan pelanggan dan memperkuat minat mereka untuk
melakukan pembelian.
Media sosial adalah konten digital yang dapat diakses oleh semua orang
melalui perangkat teknologi (Asari et al., 2022). Kehadiran media sosial
mendorong pelaku bisnis dan organisasi untuk mencari cara mencapai tujuan
yang lebih besar dengan biaya yang lebih efisien (Semuel & Setiawan, 2018).
Media sosial juga dianggap sebagai alat pemasaran yang paling sukses untuk
membina hubungan pelanggan yang positif dan menjaga hubungan yang sudah
ada.
Jadi, promosi media sosial adalah kegiatan promosi yang melibatkan
merek, produk, atau layanan menggunakan media sosial (Tajudinnur & Ferdian,
2022). Kemudahan dan efektivitas menjadi alasan utama mengapa perusahaan
memulai beralih mempromosikan produknya menggunakan media sosial. Dalam
meningkatkan niat pembelian ulang, promosi media sosial dapat membantu
konsumen secara mudah dalam mengingat suatu merek atau produk yang
dipasarkan

Kualitas Produk


Kualitas produk adalah pemahaman bahwa produk yang ditawarkan oleh
perusahaan memiliki nilai jual lebih dan daya tarik yang tidak dimiliki oleh
produk sejenis (Wijaya & Hapsari, 2022). Kualitas produk merujuk pada atribut
atau ciri-ciri dari suatu produk atau layanan yang menyatukan kemampuannya
untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan cara yang diungkapkan atau
diimplementasikan (Ida & Hidayati, 2020). Kualitas yang optimal dari suatu
produk menjadi suatu keharusan bagi perusahaan , karena hal ini mencerminkan
pemenuhan ekspetasi konsumen yang menjadi kunci untuk pertumbuhan
produktivitas perusahaan. Ketika seorang konsumen melakukan pembelian
produk, ia tidak hanya memperoleh barang fisik, tetapi juga mencari kualitas,
keunggulan, dan manfaat yang akan dihasilkan setelah melakukan pembelian.
Semakin tinggi kualitasnya, semakin besar kepuasan konsumen, dan ini dapat
membentuk loyalitas konsumen untuk kembali membeli produk tersebut
(Sijabat, 2021). Maka dari itu , setiap perusahaan perlu menentukan standar
kualitas produk yang diproduksinya agar dapat mendukung upaya meningkatkan
atau mempertahankan posisi produk tersebut di pasar targetnya.
Kualitas produk sangat penting dalam mempengaruhi niat pembelian
ulang karena untuk memperluas pangsa pasar, perusahaan dapat menerapkan
berbagai strategi guna menciptakan keunggulan kompetitif, salah satunya
dengan memastikan bahwa kualitas produk sesuai dengan harapan konsumen
(Adiantari & Seminari, 2022).

Harga


Harga merupakan bagian penting dari bauran pemasaran karena dapat
menghasilkan pendapatan melalui penjualan (Tajudinnur & Ferdian, 2022).
Harga adalah jumah uang yang diperlukan untuk memperoleh barang, jasa, atau
keduanya dan merupakan elemen pemasaran yang menghasilkan pendapatan
penjualan, sedangkan elemen lainnya hanya menyangkut biaya (Nur et al.,
2022). Harga yang ditetapkan oleh perusahaan juga dapat meningkatkan minat
beli konsumen karena konsumen selalu mempertimbangkan kualitas dan
performa produk atau jasa dibandingkan dengan harga yang mereka bayar.
Konsumen ingin memastikan bahwa harga sepadan dengan kualitas produk dan
memberikan keuntungan sosial yang diharapkan dari pembelian tersebut
(Tarmizi, 2022). Harga yang sesuai dengan nilai produk dapat meningkatkan
kepuasan konsumen sehingga timbulnya niat dalam membeli dan pada akhirnya
tercipta pembelian yang berulang kali. Harga juga menjadi penentu dalam
bagaimana konsumen menilai apakah harga suatu produk sebanding dengan
manfaat yang diperoleh dan seberapa sesuai dengan anggaran mereka.
Menurut Adira et al., (2022) terdapat indikator yang digunakan untuk
mengukur variabel harga, yaitu :
1) Keterjangkaun harga
Sejauh mana harga produk dianggap terjangkau oleh konsumen, terutama
dalam kaitannya dengan pendapatan atau nilai suatu produk.
2) Kesesuaian harga dengan kualitas produk
Sejauh mana harga produk sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Harga
yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dibandingkan dengan kualitas produk
dapat memengaruhi persepsi konsumen.
3) Daya saing harga
Sejauh mana harga produk bersaing dengan produk sejenis di pasaran. Harga
yang bersaing dapat memengaruhi daya tarik produk bagi konsumen.
4) Konsistensi harga dengan manfaat produk
Sejauh mana harga produk sebanding dengan manfaat atau nilai yang
diberikan kepada konsumen. Harga yang tidak sebanding dengan manfaat
produk dapat memengaruhi keputusan pembelian konsumen.

Niat Pembelian Ulang


Niat pembelian atau minat pembelian merupakan dorongan atau
keinginan pelanggan untuk membeli produk dalam waktu dekat, dengan upaya
untuk memperoleh produk yang diinginkan (Soefhwan & Kurniawati, 2022).
Minat terhadap sesuatu muncul melalui serangkaian proses mental pada
konsumen yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sensitif dan bergantung pada
kebutuhan individu (Juliana & Dharmayanti, 2016). Maka dari itu, terciptanya
niat beli adalah proses sulit yang melibatkan beberapa faktor dan merupakan
tahap awal sebelum pelanggan benar-benar menggunakan suatu produk.
Menurut Soefhwan & Kurniawati (2022), terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi munculnya suatu niat atau minat dalam suatu pembelian, yaitu
sebagai berikut :
1) Ketertarikan
Ketertarikan terhadap suatu produk atau layanan dapat memotivasi seseorang
untuk memiliki niat pembelian.
2) Keinginan
Keinginan untuk memiliki atau menggunakan produk juga memainkan peran
penting dalam pembentukan niat pembelian, dan dapat dipicu oleh kebutuhan
atau keinginan yang ingin dipenuhi oleh produk tersebut.
3) Keyakinan
Keyakinan terhadap produk, merek, atau penjual juga mempengaruhi niat
pembelian, di mana jika seseorang yakin bahwa produk atau layanan tersebut
akan memenuhi harapannya atau memberikan manfaat yang diinginkan,
kemungkinan untuk memiliki niat pembelian akan meningkat.
14
Sedangkan niat pembelian ulang merujuk pada kegiatan pelanggan membeli
produk atau layanan dari suatu perusahaan secara berulang. Terdapat
beberapa faktor penting yang dapat menyebabkan pelanggan memutuskan
untuk melakukan pembelian berulang (Farahan & Lestari, 2023) :
1) Reputasi merek yang kuat
Reputasi merek yang kuat menciptakan kepercayaan pelanggan dan
keyakinan akan kualitas produk atau layanan, mendorong mereka untuk
melakukan pembelian ulang
2) Kenyamanan
Kemudahan dalam proses pembelian, pengiriman, dan menggunakan produk
memberikan pengalaman yang menyenangkan, membangun kenyamanan
bagi pelanggan, dan mendorong mereka untuk kembali berbelanja
3) Kepuasan terhadap produk
Kepuasan terhadap produk yang memenuhi atau bahkan melampaui harapan
pelanggan menjadi motivasi utama untuk melakukan pembelian ulang.
Niat pembelian ulang menjadi hal yang penting bagi bisnsi karena jumlah
pelanggan yang kembali membeli akan menjamin penjualan produk, yang
pada gilirannya akan memastikan pendapatan yang cukup untuk menjaga
kelangsungan operasional bisnis (Leindarita & Andriansa, 2022). Pada
penelitian sebelumnya oleh Chairunnisa et al., (2022), variabel niat pembelian
ulang atau yang biasa disebut variabel dependen ini dipengaruhi oleh
beberapa variabel yaitu harga, promosi, kualitas produk, dan citra merek.
Bagi perusahaan, niat pembelian ulang memiliki dampak dalam pemasaran.
Pelanggan dengan niat pembelian ulang yang tinggi biasanya menjadi
pelanggan setia yang berperan penting dalam pendapatan perusahaan dan
membangun loyalitas pelanggan lebih hemat biaya daripada menarik
pelanggan baru, karena menarik pelanggan baru memerlukan biaya promosi
yang lebih besar (Wijarnoko et al., 2023).

Hubungan Harga Dengan Niat Pembelian Ulang


Dalam pembelian konsumen sangat memperhatikan harga, terutama dalam
pembelanjaan online karena konsumen akan dimudahkan dalam proses
memandingkan harga dari setiap toko online dalam suatu marketplace. Sehingga
jika konsumen sudah menemukan harga marketplacedengan harga produk atau
jasa yang berkualitas bagus, maka konsumen akan melakukan pembelian ulang
pada marketplace tersebut. Penelitian (Wardani, Paramita, & Minarsih, 2016)
menyatakan bahwa adanya pengaruh yang signifikan antara harga produk atau
jasa dengan niat pembelian online. Berdasarkan penelitian sebelumnya
dinyatakan bahwa harga berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian ulang
pada pembelanjaan online.

Hubungan Kepercayaan Dengan Niat Pembelian Ulang


Dalam pembelian online transaksi jual beli dilakukan secara online tanpa
adanya tatap muka antara produsen dan konsumen, oleh karena itu kepercayaan
merupakan factor yang sangat penting dalam belanja online. Karena dengan
adanya kepercayaan konsumen terutama setelah melakukan pembelian
sebelumnya dan puas, maka konsumen akan berniat untuk melakukan pembelian
ulang pada marketplace tersebut.Penelitian (Adinata, 2015) menyatakan bahwa
adanya pengaruh yang signifikan antara kepercayan konsumen dengan niat
pembelian ulang. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya dapat dinyatakan
bahwa kepercayaan konsumen berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian
ulang

Hubungan Kualitas Website Dengan Niat Pembelian Ulang


Dalam melakukan belanja online kualitas website merupakan factor yang
dapat mempengaruhi niat pembelian konsumen. Kualitas website menurut (Barnes
& Vidgen, 2003) terdiri dari 3 dimensi : 1) kualitas kegunaan dengan kemudahan
penggunaan dan navigasi untuk pengguna). 2) kualitas desain tampilan menu dan
sistem tertata dan tulisan jelas. 3) kualitas informasi yang akurat, dimengerti dan
dapat dipercaya konsumen. Dengan begitu kualitas website dapat menarik
konsumen dalam melakukan pembelian secara online pada marketplace.
Penelitian (Nabilah, 2018) menemukan bahwa adanya pengaruh yang signifikan
antara kualitas website dengan niat pembelian ulang konsumen pada belanja
online. Berdasarkan dari hasil penelitian sebelumnya menyatakan bahwa kualitas
website berpengaruh signifikan terhadap niat pembelian ulang. Selain itu
berdasarkan pada hasil penelitian (Razak, Ahmad, & Marimuthu, 2016) juga
menyatakan bahwa kualitas dari sebuah website berpengaruh positif terhadap niat
pembelian ulang pada kegiatan belanja online dalam hal ini marketplace.

Harga


Menurut (Peter & Olson, 2014) harga merupakan biaya yang di korbankan
konsumen (uang, waktu, aktivitas, kognitif dan upaya perilaku) untuk ditukarkan
dengan nilai atau utilitas yang ditawarkan pada suatu produk. Sedangkan, menurut
(Kotler & Armstrong, 2008) menyatakan bahwa harga merupakan suatu elemen
dari bauran pemasaran yang paling fleksibel seperti pada fitur produk, dan
komitmen penyalur, dan harga dapat berubah dengan cepat. (Nitisemito, 2007)
mendefinisikan bahwa harga ialah nilai suatu produk baik barang atau jasa yang
diukur dengan sejumlah uang yang disesuaikan dengan nilai tersebut dimana
penjual rela melepaskan barang dan jasa ke konsumen dengan menggunakan uang
sebagai alat tukarnya. Menurut (Wardani, Paramita, & Minarsih, 2016)harga
merupakan satuan moneter yang didgunakan sebagai alat tukar yang fleksibel dan
dapat berubah sewaktu-waktu. Sedangkan, (Tjiptono, 2014) menyatakan bahwa
harga merupakan sejumlah uang atau satuan moneter dan atau ukuran lainnya
(termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak
kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa oleh konsumen.
Jadi harga adalah besarnya sejumlah biaya, satuan ukuran atau
pengorbanan yang dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan atau
menggunakan suatu produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya
dengan alat tukarnya biasa menggunakan uang. Oleh karena itu penetapan harga
dibuat dengan berbagai variasi dan kualitas dari produk atau pelayanan jasa yang
diterima oleh konsumen. Namun, ada suatu produk yang memiliki variasi banyak
dengan penetapan harga yang sama, maka akan muncul persepsi kesamaan
kualitas yang mencerminkan variasi suatu produk secara horizontal. Dan dapat
juga digunakan untuk variasi produk dengan adanya kualitas bertingkat yang
secara vertical.
Menurut (Tjiptono, 2008) bahwa ada empat tujuan dari penetapan harga,
yaitu :
1) Tujuan berorientasi pada laba, dengan memilih harga jual produk sesuai
dengan jumlah laba yang sebanyak-banyaknya
2) Skala ekonomis yang tersedia bagi suatu perusahaan, dengan memproduksi
pada skala besar untuk menghemat biaya produksi sehinggan harga yang di
jualkan lebih terjangkau
3) Struktur biaya perusahaan dibandingkan pesaingnya, jika struktur biaya yang
dimiliki perusahaan itu lebih sedikit dari pesaing, maka laba yang di peroleh
lebih besar dan dapat mempertahankan harga pada tingkat kompetitif
4) Organisasi, manajer dalam organisasi harus memutuskan orang yang
berwenang dalam penentapan harga suatu produk.
Menurut (Tjiptono, Pemasaran Jasa, 2014) harga mempunyai empat
alternative strategi dalam penetapan harga jasa berdasarkan persepektif definisi
nilai oleh pelanggan yaitu sebagai berikut :
a. Nilai (value) harga murah
Konsumen berpersepsi bahwa dengan semakin murahnya harga produk
atau jasa, maka akan semakin besar nilai yang diterima konsumen. Namun juga,
ini bukan berarti bahwa tingkat kualitas dan atribut produk atau jasa selalu
relevan, hanya saja harga lebih penting bagi konsumen. Strategi dalam penetapan
harga murah sesuai dengan definisi nilai adalah dapat berupa diskon,
menggunakan satuan harga ganjil tertentu atau odd pricing (contoh Rp.9.750,00
yang mendekati Rp.10.000,00), syncro pricing (harga diselaraskan dengan
permintaan dan penawaran), Penetration pricing (menetapkan harga murah untuk
jasa baru untuk mendorong pencobaan produk dan pemakaian lebih luas).
b. Nilai sesuatu yang diinginkan dari sebuah jasa
Konsumen mementingkan sesuatu yang didapatkan dari sebuah jasa
daripada harga moneternya. Semakin bagus atribut intrinsic produk atau jasa,
maka semakin besar pula nilai produk atau jasa di mata konsumen sehinggan
pemasar mempunyai peluang untuk menetapkan harga mahal agar konsumen
percaya bahwa itu bagus. Strategi penetapan harga dapat berupa prestige pricing
(harga mahal dengan kualitas jasa tinggi), skimming pricing (harga mahal untuk
tambahan jasa baru pada produk sebelumnya).
c. Nilai kualitas yang didapat dari harga yang dibayarkan
Konsumen sangat mempertimbangkan kualitas produk ataua jasa, dan
harga moneternya yang disesuaikan dengan kualitas produk atau jasa yang
diharapkan berdasarkan segmen konsumen. Strategi penetapan harga berupa
value pricing (konsep giving for less, jumlah produk atau jasa dikemas dalam 1
paket yang menjadi daya tarik tersendiri), market segmentation pricing (harga
berbeda yang disesuaikan sesuai segmen pasar yang memiliki elastisitas harga
permintaan dengan harapan mendapatkan tingkat kualitas produk atau jasa yanag
berbeda).
d. Nilai semua yang didapatkan dari semua yang diberikan
Strategi penetapan harganya dapat berupa pricing framing (adanya
informasi perbandingan harga sebagai referensi yang akurat dan relevan atas jasajasa lain yang familiar bagi konsumen), price bundling (penetapan harga dan
menjual berbagai jasa atau produk dalam 1 paket dengan jasa pendukungnya
seperti garansi), complementary pricing (menetapkan harga untuk produk yang
bersifat komplementer atau saling berkaitan misalnya perangkat tambahan
harganya lebih mahal daripada perangkat aslinya), result-based pricing
(menetapkan harga sesuai dengan hasil dari jasa yang tingkat ketidakpastiannya
tinggi).
Menurut pendapat dari (Nitisemito, 2007)menyatakan bahwa harga dapat
diukur dengan lima indicator sebagai berikut :
a. Harga yang ditawarkan bervariasi, sehingga konsumen dapat memilih
sesuai kemampuanya
b. Keterjangkauan harga
c. Harga produk bersaing
d. Harga sesuai dengan manfaat produk atau jasa
e. Harga sesuai dengan kualitas produk atau jasa yang dijual

Kepercayaan


Dalam melakukan pembelian secara online, kepercayaan konsumen
merupakan hal yang penting karena menentukan niat konsumen dalam membeli
atau berniat untuk melakukan pembelian ulang suatu produk atau jasa pada suatu
situs jual beli online. Kepercayaan menurut (Nabilah, 2018) adalah konsumen
bersedia untuk melakukan belanja online dengan yakin dan berharap bahwa
website online melakukan kegiatan sesuai dengan yang diharapkan, meskipun
penjual dan pembeli tidak saling kenal. Sedangkan (Masitoh, Wibowo, &
Sunaryo, 2018) menyatakan bahwa kepercayaan adalah rasa percaya konsumen
terhadap suatu produk yang beranggapan bahwa tidak ada resiko yang dihadapkan
dan semua akan sesuai dengan yang dipercayakan yaitu produk baik. Menurut
(Ganesan & Ron, 1997) menyatakan bahwa kepercayaan sebagai sebuah
kebaikan, karena berdasarkan pada sejauh mana perusahaan percaya bahwa
mitranya memiliki niat dan motif-motif yang menguntungkan. Menurut (Maima,
2012) kepercayaan merupakan rasa yang timbul dengan adanya pengalaman dari
seseorang.
Sedangkan, menurut (Lamb, Hair, & Carl, 2001) kepercayaan merupakan
suatu pola yang terorganisasi melalui pelanggan yang kemudian di pegang oleh
seorang individu sebagai suatu kebenaran di dalam hidupnya. (Adinata, 2015)
kepercayaan konsumen ialah kesediaan satu pihak kepada pihak lain mengenai
resiko yang akan diterimnya berdasarkan keyakinan serta harapan bahwa pihak
lain tersebut akan bertindak sesuai dengan yang diharapkan meskipun kedua belah
pihak belum saling kenal. Pendapat lain dari (Morgan & Hunt, 1994) yang
menyatakan kepercayaan merupakan sugesti konsumen bahwa perusahaan akan
melakukan tindakan positif kepada konsumen dengan menghasilkan hasil
memiliki dengan integritas tinggi yang berkaitan dengan konsistensi, jujur,
bertanggungjawab suatu perusahaan kepada konsumen serta tidak ada ekspektasi
bahwa perusahaan mengambil tindakan dengan hasil negative. Tanpa adanya rasa
percaya maka tidak akan ada tindakan pembelian yang dilakukan konsumen
terutama dalam konteks ini yaitu pembelian produk secara online. Jadi dapat
disimpulkan bahwa kepercayaan ialah suatu pola fikir atau pendapat manusia
bahwa yang semua akan berjalan sesuai dengan yang apa yang dia percaya atau
berfikir positif tentang sesuatu bahwa akan baik-baik saja bahwa pihak lain akan
melakukan tindakan sesuai yang diharapkan, meskipun kedua belah pihak belum
mengenal satu sama lain. Dengan kata lain, kepercayaan merupakan suatu
pendapat konsumen bahwa penjual akan memberikan pelayanan dan tindakan
yang positif (jujur, bertanggungjawab dan konsisten) sehingga akan menghasilkan
hasil yang positif dan saling menguntungkan kedua belahpihak (penjual dan
pembeli), dan konsumen tidak ragu untuk melakukan pembelian produk.
Menurut pendapat dari (Mayer, Davis, & Schoorman, 1995) trust atau
kepercayaan dapat diukur melalui tiga dimensi diantaranya sebagai berikut :
a. Kenyamanan pada pembelian produk dan pelayanan yang diberikan
oleh penjual, sehingga pembeli merasa nyaman dan senang saat
membeli
b. Kepuasaan terhadap kualitas produk atau jasa beserta pelayanan yang
diberikan penjual kepada konsumen
c. Tanggung jawab (penjual bertanggung jawab penuh terhadap barang
yang dijualnya terutama dalam proses pengiriman produk)
Sedangkan (Chen & Chang, 2012) untuk mengukur kepercayaan
konsumen dengan menggunakan 4 indikator sebagai berikut :

  1. Kepercayaan akan reputasi (berdasarkan pengalaman dan informasi
    yang didapatkan)
  2. Kepercayaan mengenai kehandalan kinerja atau pelayanan
    (berdasarkan kepuasan dan pengalaman positif pada pembelian
    sebelumnya)
  3. Aman dalam transaksi (berdasarkan pengalaman positif pada
    pembelian sebelumnya)
  4. Tidak mencari uang secara illegal atau belum terdapat hal yang
    mencurigakan semua jujur mulai dari kualitas produk dan pelayanan

Kualitas Website


Website atau web merupakan salah satu jaringan internet yang digunakan
sebagai sumber untuk mengoperasikan web, yang saat ini berkembang dengan
pesat (Nurwansyah, 2010). Informasi pada website didistribusikan pada dengan
menggunakan pendekatan hypertext (teks pendek sebagai acuan untuk membuka
dokumen lain), dimana orang dapat memperoleh informasi dengan cara meloncat
dari dokumen satu ke dokumen yang lainnya yang dapat diakses oleh semua orang
di seluruh dunia. Menurut pendapat dari (Anwariningsih, 2016) Aplikasi web
dibagi menjadi dua jenis yang meliputi statis dan dynamic. Statis ialah website
yang isinya tetap atau jarang diubah karena sifatnya tidak interaktif atau satu arah,
misalnya personal web. Sedangkan dynamic ialah website yang isisnya sering
diubah karena sifatnya interaktif atau dua arah, misalnya e-commerce, e-new,
portal dan lain sebagainya. Website yang digunakan dalam pembahasan ini yaitu
e-commerce dengan, menggunakan website dynamic yang digunakan untuk
komunikasi dua arah. Pada e-commerce, situs web memainkan peran penting
dalam menarik, mempertahankan, dan mempertahankan minat konsumen pada
toko online di sebuah situs agar membuat konsumen tertarik.
Menurut (Nabilah, 2018) kualitas website merupakan kumpulan dari
halaman yang menampilkan informasi data teks, gambar, video dan lain
sebagainya dengan tampilan yang mudah, lengkap dan menarik diaplikasikan oleh
semua orang dengan mutu sesuai dengan manfaatnya. Informasi dalam hal ini
mengenai cara bertransaksi online, serta informasi tentang produk produk dan jasa
pada website belanja online. Sedangkan menurut (Razak, Ahmad, & Marimuthu,
2016) menyatakan bahwa website yang berkualitas itu adalah dengan membangun
komprasi kualitas system, dan kualitas layanan dengan informasi yang akurat.
Kualitas website sangat penting dalam marketplace karena dengan adanya semua
kegiatan mulai dari promosi sampai pembayaran bahkan pengiriman produk
menggunakan website. Model website quality merupakan salah satu alat diantara
beberapa metode lainnya, website quality mengukur kesesuaian informasi dengan
tugas, interaksi, kepercayaan, waktu respon, desain intuitiveness (mampu
mrnggerakkan hati), daya tarik visual, daya inovasi, daya tarik emosional,
komunikasi terintegrasi, proses bisnis dan substitutability. Dengan begitu maka,
jika kualitas website dan penggunanya dapat mengaplikasikannya dengan mudah
efektif serta efisien akan menciptakan respon baik dari konsumen.
Stuart Barnes dan Vidgen mengembangkan suatu metode yang dapat
digunakan untuk mengukur kualitas dari suatu website yaitu metode WebQual.
WebQual berdasarkan konsep Quality Function Deployment (QFD) adalah suatu
proses dalam pengembangan dan pengimplementasian suatu produk atau jasa
yang didasarkan pada “voice of customer”, konsep QFD ini disusun berdasarkan
pada persepsi pengguna akhir dari suatu website (Santoso & Anwar, 2015). Dalam
suatu website tentu ada kriteria atau ciri-ciri website yang baik sehingga dapat
dikatakan bahwa website tersebut berkualitas ataupun tidak, dengan begitu
(Anwariningsih, 2016) mendefinisikan bagaimana suatu website dapat dikatakan
berkualitas ataupun tidak. Sebelum mendefinisikan suatu website tersebut
berkualiatas ataupun tidak maka harus menentukan tahapan perancangan
website/web oleh developer untuk menghasilkan website yang berkualitas yaitu
dengan memperhatikan berbagai hal dalam pembuatan suatu website/web yang
baik atau berkualitas.
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam mendefinisikan
website yang berkualitas atau disebut baik menurut (Anwariningsih, 2016)
meliputi sebagai berikut :

  1. Content atau sistematika isi yang terdiri dari : tata letak menu atau
    informasi, kelengkapan dari isi, kedalaman dari isi, ketepatan isi
    denga audiens, kemudahan dalam penelusuran, sistematika
    penyampaian informasi dan kemudahan informasi untuk dipahami.
  2. Navigasi : terdapat navigasi yang mudah digunakan bagi pengguna
  3. Tampilan desain yang menarik dengan memperhatikan pilihan
    kombinasi gambar, kombinasi warna, tampilan dan kombinasi animasi,
    tata letak gambar dan animasi, kesesuaian theme dengan brand
    perusahaan, kesatuan dan kesesuaian desain antar halaman web, dan
    kemudahan diingat (positioning)
  4. Interaktivitas, yang terdiri dari forum diskusi, messages board (rolling
    messages), download, Email, chatting, fasilitas pengguna atau
    member, polling, shoppingchart, buku tamu, komentar terhadap suatu
    web
  5. Fungsionalitas, dapat berfungsi sebagaimana web dibuat
  6. Hosting, Domain, dan Jasa pembuatan dengan memperhatikan letak
    hosting dengan tepat sesuai dengan keberadaan sebagian besar audiens,
    kapasitas, teknologi dan fasilitas hosting yang dimiliki, biaya dan
    teknologi hosting yang digunakan, nama domain yang singkat dan
    mudah diingat, penggunaan subdomain konsisten, dan biaya
    pembuatan web yang murah
  7. Pengelolaan, yang meliputi : kemudahan dalam updating data,
    kemudahan dalam pembackupan data, interaksi dengan para audien,
    aktivitas promosi dari web tersebut, updating tampilan, fasilitas dan
    teknologi, serta kemudahan dalam pengelolaan webnya
    Berikut ini dimensi-dimensi yang digunakan untuk mengukur kualitas dari
    sebuah website berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Barnes & Vidgen,
    2003), terdapat tiga dimensi dalam model WebQual adalah sebagai berikut :
    a. Kegunaan adalah kualitas yang berkaitan dengan penggunaan situs (seperti
    kemudahan penggunaan dan navigasi untuk pengguna, kecocokan desain,
    dan gambaran yang disampaikan kepada pengguna website).
    b. Kualitas informasi adalah kualitas dari isi atau konten yang terdapat pada
    situs, adanya kesesuaian informasi untuk tujuan penggunaannya seperti
    akurasi, format dan relevansi.
    c. Interaksi pelayanan adalah kualitas interaksi layanan yang dialami oleh
    pengguna saat mempelajari lebih dalam mengenai website, yang dapat
    diwujudkan melalui empati dan kepercayaan (masalah transaksi dan
    keamanan informasi, komunikasi dengan pemilik website, pengiriman
    produk dan sebagainya.)

Niat Pembelian Ulang


Niat beli adalah tahap kecenderungan responden untuk bertindak sebelum
keputusan membeli benar-benar dilaksanakan. Terdapat perbedaan antara
pembelian aktual dan niat pembelian. Bila pembelian aktual adalah pembelian
yang benar-benar dilakukan oleh konsumen, maka niat pembelian adalah niat
untuk melakukan pembelian pada kesempatan mendatang. Menurut (Kotler ,
2005) niat pembelian ulang konsumen berkaitan dengan perilaku konsumen
berdasarkan motif yang dimilikinya untuk membeli atau memakai produk tertentu
untuk membeli kembali. Menurut (Adinata, 2015) niat beli ulang yang dimaksud
adalah pada saat konsumen membutuhkan akan jasa pelayanan atau suatu produk
maka, akan kembali membeli produk pada tempat yang sama, yang
menumbuhkan ikatan emosional antara pelanggan dengan suatu produk atau jasa.
Sedangkan, niat pembelian ulang menurut (Griffin, 2005) ialah perilaku dari
konsumen yang memberikan reaksi yang positif terhadap kepercayaan dari suatu
produk dan konsumen tersebut berniat untuk mengunjungi kembali atau membeli
produk dari perusahaan tersebut.
Pendapat lain dari (Parasuraman, Zeithaml, & Berry, 1985) menyatakan
bahwa niat pembelian ulang merupakan harapan setelah pembelian kualitas
layanan penjual mempengaruhi kepuasan, kepercayaan dan selanjutnya niat
pembelian kembali, tergantung dengan apa harapan yang dipenuhi. Oleh karena
itu, secara teori adanya sinyal yang timbulnya niat pembelian ulang online adalah
sebagai berikut :
a) Adanya sinyal yang berkaitan dengan antarmuka situs web atau website
pada suatu marketplace
b) Adanya harapan baik pada kualitas layanan penjual pada marketplace
c) Adanya konfirmasi kualitas
d) Timbulnya rasa kepuasan pada pembelian pertama
e) Adanya niat pembelian ulang.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa niat pembelian
ulang merupakan kegiatan pembelian kembali konsumen yang berdasarkan
dengan tingkat kepuasan dan pengalaman positif sehingga menciptakan
kepercayaan dari produk tersebut dan niat untuk kembali mengunjungi atau
membeli produk marketplace tersebut. Selain itu juga, niat pembelian ulang pada
marketplace yang dilakukan oleh konsumen itu dapat berdasarkan kualitas
website, harga yang lebih murah, dan pelayanan yang diberikan kepada pelanggan
sehingga pelanggan merasa puas dan pada akhirnya percaya dengan Shopee.
Indikator yang digunakan untuk mengukur niat beli ulang menurut (Aresa, 2012)
ialah sebagai berikut :

  1. Berniat untuk melakukan pembelian ulang
  2. Meningkatkan frekuensi pembelian
  3. Bertransaksi kembali
  4. Berniat bertransaksi pada produk atau jasa di tempat yang sama
  5. Berniat untuk mempertahankan pembelian
    Sedangkan, pendapat lain menurut (Palma & Andjarwati, 2016) bahwa
    niat beli ulang pada belanja online dapat diukur dengan menggunakan indikator
    sebagai berikut :
  6. Niat pembelian pada toko online dibanding toko offline
  7. Niat melakukan belanja online sebanyak mungkin
  8. Frekuensi pembelian
  9. Rekomendasi positif

Niat Pembelian Ulang Dalam Perilaku Konsumen


Dengan kata lain, perilaku konsumen ialah pembelajaran konsumen dalam
pembelian suatu produk mulai dari cara memperoleh barang, mengkonsumsinya
dan membuangnya, hingga adanya pengalaman pembelian produk tersebut. Untuk
itu perilaku konsumen merupakan pengetahuan tentang suatu produk dan akan
memunculkan suatu tindakan pembelian produk baik dalam bentuk barang
ataupun jasa. Dalam hal ini, dimana perilaku konsumen dalam memilih suatu
produk sesuai dengan seperti bagaimana kualitas website, harga dan kepercayaan
konsumen dari suatu produk yang akan dibeli pada toko online. Kebanyakan
perilaku konsumen ini menginginkan produk dengan harga yang murah,
kepercayaan terhadap pelayanan pada toko online, memilih aplikasi toko online
dengan kualitas website menarik dan mudah dalam pengaplikasiannya.
Menurut pernyataan dari (Peter & Olson, 2014) bahwa meskipun dalam
pembelanjaan online konsumen harus pandai mengira kualitas produk yang
biasanya disesuaikan dengan merek produk yang sudah terkenal dan penjual yang
terpercaya berdasarkan pengalaman dari orang yang sudah melakukan belanja
online. Menurut (Kotler , 2005) niat pembelian ulang konsumen berkaitan dengan
perilaku konsumen berdasarkan motif yang dimiliki konsumen untuk membeli
atau memakai produk tertentu. Sedangkan, niat pembelian ulang menurut
(Griffin, 2005) ialah perilaku dari konsumen yang memberikan reaksi yang positif
terhadap kepercayaan dari suatu produk dan konsumen tersebut berniat untuk
mengunjungi kembali atau membeli produk dari perusahaan tersebut. Reaksi
tersebut sebagai akibat karena pelanggan merasa terpuaskan akan produk dan
layanan yang diberikan sesuai dengan pengalaman dari pembelian sebelumnya.

Tujuan Pemberian Insentif


Menurut pendapat Ranupandojo dan Husnan (2002 ) mengatakan bahwa
pelaksanaan sistem upah insentif ini dimaksudkan perusahaan terutama untuk
meningkatkan produktivitas kerja karyawan dan mempertahankan karyawan yang
berprestasi untuk tetap berada dalam perusahaan.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
pemberian insentif yaitu :

  1. Bagi perusahaan
    Tujuan dari pelaksanaan insentif dalam perusahaan adalah untuk
    meningkatkan produkstivitas kerja karyawan dengan jalan
    mendorong/merangsang agar karyawan :
    a) Bekerja lebih bersemangat dan cepat.
    b) Bekerja lebih disiplin.
    c) Bekerja lebih kreatif.
  2. Bagi Karyawan
    Dengan adanya pemberian insentif karyawan akan mendapat keuntunga
    diantaranya :
    a) Standar prestasi dapat diukur secara kuantitatif.
    b) Standar prestasi di atas dapat digunakan sebagai dasar pemberian balas jasa
    yang diukur dalam bentuk uang.
    c) Karyawan harus lebih giat agar dapat menerima uang lebih besar.
    Jadi, secara umum tujuan dari pemberian insentif adalah untuk memotivasi
    karyawan supaya semangat dalam bekerja dan kinerjanya akan meningkat. Cara
    seperti ini adalah cara yang sangat efektif untuk meningkatkanl produktifitas
    perusahaan.

Indikator-Indikator Pemberian Insentif


Menurut Hasibuan (2008) pertimbangan dasar penyusunan insentif antara lain
sebagai berikut :

  1. Fasilitas
    Fasilitas adalah kenikmatan atau fasilitas seperti mobil prusahaan,
    keanggotaan klub, tempat parkir khusus, atau akses kepesawatan prusahaan
    yang diperoleh karyawan. Fasilitas dapat mewakili jumlah substansi dari
    insentif terutama eksekutif yang dibayar mahal.
  2. Lama karyawan bekerja
    Besarnya insentif ditentukan berdasarkan lamanya karyawan melaksanakan
    atau menyelesaikan suatu pekerjaan. Cara perhitungannya dapat
    menggunakan per jam, per hari, per minggu atau pun per bulan. Umumnya
    cara yang diterapkan apabila ada kesulitan dalam menerapkan cara pemberian
    insentif, maka berdasarkan kinerja.
  3. Kebutuhan
    Cara ini menunjukkan bahwa insentif pada karyawan didasarkan pada tingkat
    urgensi kebutuhan hidup yang layak dari karyawan. Ini berarti insentif yang
    diberikan adalah wajar apabila dapat dipergunakan untuk memenuhi sebagian
    kebutuhan pokok.
  4. Keadilan dan Kelayakan
    Disamping masalah keadilan dalam pemberian insentif tersebut perlu pula
    diperhatikan masalah kelayakan. Layak pengertiannya membandingkan
    besarnya insentif dengan perusahaan lain yang bergerak dalam bidang usaha
    sejenis. Apabila insentif didalam perusahaan yang bersangkutan lebih rendah
    dibandingkan dengan perusahaan lain, maka perusahaan/instansi akan
    mendapat kendala yakni berupa menurunnya kinerja pegawai yang dapat
    diketahui dari berbagai bentuk akibat ketidakpuasan pegawai mengenai
    insentif tersebut.
  5. Evaluasi Jabatan
    Evaluasi jabatan adalah suatu usaha untuk menentukan dan membandingkan
    nilai suatu jabatan tertentu dengan nilai jabatan-jabatan lain dalam suatu
    organisasi, ini berarti pula penentuan nilai relatif atau harga dari suatu jabatan
    guna menyusun rangking dalam penentuan insentif

Pengertian Insentif


Insentif merupakan sejumlah uang yang di tambahkan pada upah dasar yang
diberikan sebuah perusahaan kepada karyawan dengan tujuan supaya karyawan
bekerja lebih giat dan hasil kerjanya lebih maksimum. Pengertian insentif menurut
Mangkunegara (2002) adalah suatu bentuk motivasi yang dinyatakan dalam
bentuk uang atas dasar kinerja yang tinggi dan juga merupakan rasa pengakuan
dari pihak organisasi terhadap kinerja karyawan dan kontribusi terhadap
organisasi atau perusahaan sedangkan menurut Handoko (2002) insentif adalah
perangsang yang ditawarkan kepada para karyawan untuk melaksanakan kerja
sesuai atau lebih tinggi dari standar-standar yang telah ditetapkan.
Pengertian insentif menurut Simamora (2004) adalah kompensasi yang
mengaitkan bayaran atas dasar untuk dapat meningkatkan produktivitas para
karyawan guna mencapai keunggulan yang kompetitif, sedangkan menurut
Nawawi (2003) mengemukakan bahwa insentif adalah penghargaan atau ganjaran
yang diberikan untuk memotivasi para karyawan agar produktivitasnya tinggi dan
sifatnya tidak tetap.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa insentif
adalah pengupahan yang memberikan imbalan yang berbeda karena memang
prestasi yang berbeda atau penghargaan dalam bentuk uang yang diberikan
kepada mereka yang dapat bekerja melampaui standar yang telah ditentukan
sebagai balas jasa perusahaan kepada karyawan atas prestasinya, sehingga
karyawan termotivasi untuk dapat meningkatkan produktivitasnya guna mencapai
keunggulan yang kompetitif

Manfaat Komitmen


Komitmen dibentuk dengan berbagai strategi bukan berarti tidak ada manfaatnya,
manfaat dengan adanya komitmen dalam organisasi adalah sebagai berikut :

  1. Para pekerja yang benar-benar menunjukkan komitmen tinggi terhadap
    organisasi mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar untuk
    menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam organisasi.
  2. Memiliki keinginan yang lebih kuat untuk tetap bekerja pada organisasi yang
    sekarang dan dapat terus memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan.
  3. Sepenuhnya melibatkan diri pada pekerjaan mereka, karena pekerjaan
    tersebut adalah mekanisme kunci dan saluran individu untuk memberikan
    sumbangannya bagi pencapaian tujuan organisasi.
    Jadi, dengan adanya komitmen terhadap perusahaan maka karyawan memiliki
    manfaat diantaranya ikhlas dan senang hati pada saat melibatkan diri pada
    pekerjaan, memiliki keinginan yang lebih kuat untuk tetap bekerja pada organisasi
    yang sekarang dan dapat terus memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan
    serta mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar untuk menunjukkan tingkat
    partisipasi yang tinggi dalam organisasi

Cara Membentuk komitmen


Tidak semua karyawan memiliki komitmen begitu saja saat bekerja disebuah
perusahaan, bahkan mayoritas karyawan bekerja karena dorongan kebutuhan saja,
maka tugas perusahaan adalah membentuk komitmen diantara para anggota atau
karyawan. Menurut Dessler (1999) mengemukakan sejumlah cara yang bisa
dilakukan untuk membangun komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:

  1. Menjadikan Organisasi yang Karismatik
    Jadikan visi dan misi organisasi sebagai sesuatu yang karismatik, sesuatu
    yang dijadikan pijakan, dasar bagi setiap karyawan dalam berperilaku,
    bersikap, dan bertindak.
    Membangun Tradisi
    Segala sesuatu yang baik di organisasi jadikanlah sebagai suatu tradisi yang
    secara terus-menerus dipelihara, dijaga oleh generasi berikutnya.
  2. Memiliki Prosedur Pengaduan yang Komprehensif
    Bila ada keluhan atau komplain dari pihak luar ataupun dari internal
    organisasi maka organisasi harus memiliki prosedur untuk mengatasi keluhan
    tersebut secara menyeluruh.
  3. Membangun Komunikasi Dua Arah
    Jalinlah komunikasi dua arah di organisasi tanpa memandang rendah
    bawahan.
  4. Membangun Rasa Kebersamaan
    Jadikan semua unsur dalam organisasi sebagai suatu komunitas di mana di
    dalamnya ada nilai-nilai kebersamaan, rasa memiliki, kerja sama, berbagi,
    dan lain-lain.
  5. Membangun Nilai Berbasis Keseragaman
    Membangun nilai-nilai yang didasarkan adanya kesamaan. Setiap anggota
    organisasi memiliki kesempatan yang sama, misalnya untuk promosi, maka
    dasar yang digunakan untuk promosi adalah kemampuan, keterampilan,
    minat, motivasi, kinerja, dan tanpa ada diskriminasi.
  6. Penyetaraan Level
    Sebaiknya organisasi membuat kebijakan di mana antara karyawan level
    bawah sampai yang paling atas tidak terlalu berbeda atau mencolok dalam
    gaya hidup, penampilan fisik dan lain-lain.
    Memberikan Kesempatan Berkontribusi
    Organisasi sebagai suatu komunitas harus bekerja sama, saling berbagi, saling
    memberi manfaat, dan memberikan kesempatan yang sama pada anggota
    organisasi. Semuanya harus memberikan kontribusi yang maksimal demi
    keberhasilan organisasi tersebut.
  7. Pergi Bersama
    Adakan acara-acara yang melibatkan semua anggota organisasi sehingga
    kebersamaan bisa terjalin. Misalnya, sekali-kali produksi dihentikan dan
    semua karyawan terlibat dalam acara rekreasi bersama keluarga, pertandingan
    olah raga, seni, dan lain-lain, yang dilakukan oleh semua anggota organisasi
    dan keluarganya.
  8. Mendukung Pengembangan Karyawan
    Hasil studi menunjukkan bahwa karyawan akan lebih memiliki komitmen
    terhadap organisasi bila organisasi memperhatikan perkembangan karier
    karyawan dalam jangka panjang.
  9. Kesempatan Untuk Aktualisasi Diri
    Setiap karyawan diberi kesempatan yang sama untuk mengaktualisasikan diri
    secara maksimal di organisasi sesuai dengan kapasitas masing-masing.
  10. Memberikan Tantangan Pekerjaan
    Karyawan masuk ke organisasi dengan membawa mimpi dan harapannya,
    kebutuhannya. Berikan bantuan yang kongkrit bagi karyawan untuk
    mengembangkan potensi yang dimilikinya dan mewujudkan impiannya. Jika
    pada tahap-tahap awal karyawan memiliki persepsi yang positif terhadap
    organisasai maka karyawan akan cenderung memiliki kinerja yang tinggi
    pada tahap-tahap berikutnya.
  11. Memperkaya Dan Memberdayakan
    Ciptakan kondisi agar karyawan bekerja tidak secara monoton karena
    rutinitas akan menimbulkan perasaan bosan bagi karyawan. Hal ini tidak baik
    karena akan menurunkan kinerja karyawan. Misalnya dengan memberikan
    tantangan dengan memberikan tugas, kewajiban dan otoritas tambahan dan
    lain-lain.
  12. Mempromosikan Dari Dalam
    Bila ada lowongan jabatan, sebaiknya kesempatan pertama diberikan kepada
    pihak intern perusahaan sebelum merekrut karyawan dari luar perusahaan.
  13. Menyediakan Kegiatan Pengembangan
    Bila organisasi membuat kebijakan untuk merekrut karyawan dari dalam
    sebagai prioritas maka dengan sendirinya hal itu akan memotivasi karyawan
    untuk terus tumbuh dan berkembang personalnya, juga jabatannya.
  14. Menjamin Keamanan Karyawan
    Bila karyawan merasa aman, baik fisik maupun psikis, maka komitmen akan
    muncul dengan sendirinya. Misalnya, karyawan merasa aman karena
    perusahaan membuat kebijakan memberikan kesempatan karyawan bekerja
    selama usia produktif. Karyawan akan merasa aman dan tidak takut akan ada
    pemutusan hubungan kerja. Karyawan merasa aman karena keselamatan kerja
    diperhatikan perusahaan.
  15. Membangun Komitmen Pada Karyawan Baru
    Membangun komitmen karyawan pada organisasi merupakan proses yang
    panjang dan tidak bisa dibentuk secara instan. Oleh karena itu perusahaan
    harus benar-benar memberikan perlakuan yang benar pada masa awal
    karyawan memasuki organisasi, dengan demikian karyawan akan mempunyai
    persepsi yang positif terhadap organisasi.
  16. Mencatat Data-Data Tentang Perushaan
    Data-data tentang kebijakan, visi, misi, semboyan, filosofi, sejarah, strategi,
    dan lain-lain. Organisasi sebaiknya dibuat dalam bentuk tulisan, bukan
    sekedar bahasa lisan.
  17. Memberikan Teladan Dalam Bentuk Perilaku
    Bila pimpinan ingin menanamkan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, aturan-
    aturan, disiplin, dan lain-lain pada bawahan, sebaiknya pimpinan sendiri
    memberikan teladan dalam bentuk sikap dan perilaku sehari-hari.
  18. Memberikan Teladan Dalam Bentuk Tindakan
    Tindakan jauh lebih efektif dari sekedar kata-kata. Bila pimpinan ingin
    karyawannya berbuat sesuatu maka sebaiknya pimpinan tersebut mulai
    berbuat sesuatu, tidak sekedar kata-kata atau berbicara.
    Tidak ada satu pimpinan organisasi manapun yang tidak menginginkan seluruh
    jajaran anggotanya tidak memiliki komitmen yang kuat terhadap
    organisasi/perusahaan mereka. Bahkan sampai sejauh ini banyak pimpinan
    organisasi sedang berusaha menggiatkan peningkatan komitmen anggotanya
    terhadap organisasi, maka dengan menciptakan rasa kepemilikan terhadap
    perusahaan, meyakinkan karyawan dalam manajemen serta menciptakan
    semangat dalam bekerja, perusahaan dapat membentuk komitmen karyawan.

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen


Komitmen karyawan tidak akan dimiliki oleh karyawan kecuali ada faktor-faktor
yang mempengaruhinya, Steers dalam Sopiah (2008) menyatakan bahwa ada tiga
faktor yang mempengaruhi komitmen seorang karyawan antara lain :

  1. Ciri pribadi pekerja
    Ciri pribadi pekerja termasuk masa jabatannya dalam organisasi, dan variasi
    kebutuhan dan keinginan yang berbeda dari tiap karyawan.
  2. Ciri pekerjaan
    Ciri pekerjaan seperti identitas tugas dan kesempatan berinteraksi dengan
    rekan sekerja.
  3. Pengalaman kerja
    Pengalaman kerja seperti keandalan organisasi di masa lampau dan cara
    pekerja-pekerja lain mengutarakan dan membicarakan perasaannya tentang
    organisasi.
    Menurut pendapat di atas dikemukakan bahwa komitmen dapat dimiliki karyawan
    karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi, dengan demikian berarti
    bawha komitmen karyawan tidak akan terjadi begitu saja melainkan terjadi secara
    bertahap, untuk menjaga agar karyawan selalu memiliki komitmen, maka
    perusahaan harus memiliki strategi untuk menjaga dan meningkatkan komitmen
    karyawan

Strategi Komitmen


Komitmen karyawan tidak dapat terus-menerus bertahan dalam diri karyawan
tanpa adanya strategi yang dimiliki perusahaan itu sendiri dalam membangun,
memelihara, dan meningkatkan komitmen karyawan. Menurut Robbins (2009)
memperkuat komitmen karyawan dalam suatu organisasi dapat dilakukan dengan
dua cara yaitu mengurangi tuntutan kerja karyawan dan meningkatkan
kemampuan karyawan.
a. Mengurangi Tuntutan Karyawan

  1. Menentukan prioritas
    Menentukan prioritas bertujuan mengurangi tuntutan kerja karyawan dengan
    melakukan aktivitas yang berguna dan menunda atau menghilangkan aktivitas
    yang tidak berguna.
  2. Menetapkan fokus
    Tuntutan karyawan dapat terlalu tinggi karena tidak terpusatkan, sebuah
    perusahaan dapat melakukan dengan menerapkan beberapa aktivitas yang
    sangat penting saja, dalam hal ini fokus dengan menentukan tema bagi
    aktivitas perusahannya.
  3. Melakukan rekayasa
    Rekayasa proses produksi dapat mengurangi tuntutan kerja karyawan,
    rekayasa tersebut dapat berupa memperpendek jalur, otomatisasi, dan
    penyederhanaan kerja.
    b. Meningkatkan Kemampuan Karyawan
  4. Kontrol
    Kontrol adalah memberikan karyawan kewenangan untuk mengontrol
    keputusan mengenai bagaimana mengerjakan pekerjaan mereka.
  5. Strategi atau Visi
    Strategi atau visi yaitu menawarkan kepada karyawan visi dan arahan yang
    membuat mereka memiliki komitmen untuk berkerja keras.
  6. Tantangan Kerja
    Tantangan kerja yaitu memberi karyawan stimulasi kerja yang dapat
    mengembangkan ketrampilan baru.
  7. Kolaborsi dan Team Work
    Kolaborsi dan team work yaitu membentuk tim untuk melakukan pekerjaan.
  8. Kultur Kerja
    Kultur kerja yaitu membangun suatu lingkungan dan susana keterbukaan,
    menarik, menyenangkan, dan penuh penghargaan.
  9. Membagi Keuntungan
    Membagi keuntungan yaitu memberikan kompensasi kepada karyawan
    karena menyelesaikan pekerjaan dengan baik.
  10. Komunikasi
    Komunikasi yaitu menyebarkan informasi sesering mungkin dan secara
    terbuka.
  11. Perhatian
    Perhatian yaitu memastikan bahwa setiap karyawan diperlakukakn sesuai
    martabatnya.
  12. Teknologi
    Teknologi yaitu memberikan karyawan teknologi yang membuat pekerjaan
    mereka menjadi lebih mudah.
  13. Pelatihan dan Pengembangan
    Pelatihan dan pengembangan yaitu memastikan karyawan memiliki
    keterampilam untuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik.
    Segala sesuatu harus memiliki strategi supaya semuanya dapat berjalan sesuai
    dengan keinginan dan hasilnya memuaskan. Begitu juga dengan komitmen,
    perusahaan harus memiliki strategi supaya tingkat komitmen karyawan terus
    bertambah terhadap perusahaan dan pekerjaannya

Komponen Kebutuhan


Henderson dalam Potter dan Perry (1997) membagi kebutuhan dasar manusia ke
dalam 14 komponen berikut:

  1. Bernapas secara normal.
  2. Makan dan minum yang cukup.
  3. Eliminasi (buang air besar dan kecil).
  4. Bergerak dan mempertahankan postur yang diinginkan.
  5. Tidur dan istirahat.
  6. Memilih pakaian yang tepat.
  7. Mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal dengan menycsuaikan
    pakaian yang dikenakan dan memodifIkasi lingkungan.
  8. Menjaga kebersihan diri dan penampilan.
  9. Menghindari bahaya dari lingkungan dan menghindari membahayakan orang
    lain.
  10. Berkomunikasi dengan orang lain dalam mengekspresikan emosi, kebutuhan,
    kekhawatiran, dan opini.
  11. Beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan.
  12. Bekerja sedemikian rupa sebagai modal untuk membiayai kebutuhan hidup.
  13. Bermain atau berpartisipasi dalam berbagai bentuk rekreasi.
  14. Belajar, menemukan, atau memuaskan rasa ingin tahu yang mengarah pada
    perkembangan yang normal, kesehatan, dan penggunaan fasilitas kesehatan
    yang tersedia.
    Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar kehidupan
    dapat terus berlanjut, berbagai macam kebutuhan tersebut diantaranya seperti
    yang jabarkan di atas

Loyalitas


Menurut Powers (2000) mendefinisikan bahwa loyalitas mencakup kesediaan
untuk tetap bertahan, memiliki produktivitas yang melampaui standar, memiliki
perilaku altruis, serta adanya hubungan timbal balik di mana loyalitas karyawan
harus diimbangi oleh loyalitas organisasi terhadap karyawan. Indikator yang dapat
dipakai untuk mengidentifikasi loyalitas karyawan yaitu:

  1. Tetap bertahan dalam organisasi
  2. Bersedia bekerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaan
  3. Menjaga rahasia bisnis perusahaan
  4. Mempromosikan perusahaan kepada pelanggan dan masyarakat umum
  5. Menaati peraturan tanpa perlu pengawasan yang ketat
  6. Mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan organisasi
  7. Tidak bergosip, berbohong atau mencuri
  8. Membeli dan menggunakan produk perusahaan
  9. Ikut berkontribusi dalam kegiatan social perusahaan
  10. Menawarkan saran-saran untuk perbaikan
  11. Mau berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan aksidental perusahaan
  12. Mau mengikuti arahan atau instruksi
  13. Merawat properti perusahaan dan atau tidak memboroskannya
  14. Bekerja secara aman
  15. Tidak mengakali aturan perusahaan termasuk ijin sakit
  16. Mau bekerja sama dan membantu rekan kerja
    Loyalitas adalah kesetiaan karyawan untuk tetap tinggal pada sebuah organisasi
    atau perusahaan dan mematuhi seluruh aturan-aturan perusahaan dengan tanpa
    merasa terbebani olehnya, serta ikut menjaga dan menjunjung nilai-nilai yang
    terdapat diperusahaan tersebut

Komponen-Komponen Komitmen


Zurnali (2010) dengan mengacu pada pendapat-pendapat Meyer and Allen
mendefinisikan masing-masing komponen komitmen organisasional sebagai
berikut:
1) Affective commitment atau komitmen afektif
Komitmen afektif adalah perasaan cinta pada organisasi atau perusahaan yang
memunculkan kemauan untuk tetap tinggal dan membina hubungan sosial
serta menghargai nilai hubungan dengan organisasi dikarenakan telah
menjadi anggota organisasi.
2) Continuance commitment atau komitmen berkelanjutan
Komitmen berkelanjutan adalah perasaan berat untuk meninggalkan
organisasi dikarenakan kebutuhan untuk bertahan dengan pertimbangan biaya
apabila meninggalkan organisasi dan penghargaan yang berkenaan dengan
partisipasi di dalam organisasi.
3) Normative Commitment atau komitmen normatif
Komitmen normatif adalah perasaan yang mengharuskan untuk bertahan
dalam organisasi dikarenakan kewajiban dan tanggung jawab terhadap
organisasi yang didasari atas pertimbangan norma, nilai, dan keyakinan
karyawan.
Pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa komitmen memiliki tiga aspek atau
komponen yaitu komitmen normatif yang didasarkan perasaan-perasaan pegawai
tentang kewajiban yang harus ia berikan kepada organisasi dan tindakan tersebut
merupakan hal benar yang harus dilakukan. Komitmen berkelanjutan yang
didasarkan hasrat yang dimiliki oleh individu didasarkan pada persepsi tentang
kerugian yang akan dihadapinya jika ia meninggalkan organisasi, sehingga
individu merasa membutuhkan untuk dihubungkan dengan organisasi serta
komitmen afektif,s yaitu suatu pendekatan emosional dari individu dalam
keterlibatan dengan organisasi, sehingga individu akan merasa dihubungkan
dengan organisasi, berkaitan dengan emosional, identifikasi dan keterlibatan
karyawan didalam suatu organisasi

Faktor Komitmen Karyawan

menurut Minner dalam Sopiah (2008) mengemukakan empat
faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan antara lain :

  1. Faktor persona, misalnya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengalaman
    kerja, dan kepribadian.
  2. Karakteristik pekerjaan, misalnya lingkup jabatan, tantangan dalam
    pekerjaan, konflik peran, tingkat kesulitan dalam pekerjaan.
  3. Karakteristik struktur, misalnya besar kecilnya organisasi, bentuk organisasi,
    kehadiran serikat pekerjan, dan tingkat pengendalian yang dilakukan
    organisasi terhadap karyawan.
  4. Pengalaman kerja. Pengalaman kerja seorang karyawan sangat berpengaruh
    terhadap tingkat komitmen karyawan pada organisasi. Karyawan yang baru
    21
    beberapa tahun bekerja dan karyawan yang sudah puluhan tahun bekerja
    dalam organisasi tentu memiliki tingkat komitmen yang berlainan.
    Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi komitmen karyawan ada empat faktor
    diantaranya faktor personal, karakteristik jabatan, karakteristik struktur dan
    pengalaman kerja, sehingga dengan adanya faktor-faktor tersebut maka karyawan
    memiliki komitmen terhadap pekerjaan dan perusahaan dimana mereka bekerja

Pengertian Komitmen Karyawan


Sumber daya manusia adalah aset perusahaan yang harus dijaga dan dipelihara
agar karyawan yang berkualitas tetap berada diperusahaan, untuk mewujudkan hal
tersebut karyawan harus memiliki komitmen. Komitmen adalah sikap yang
mencerminkan sejauh mana seorang individu mengenal dan terikat pada
organisasinya. Karyawan yang berkomitmen dan berkualitas biasanya selalu dapat
diandalkan dan akan mencurahkan kemampuannya secara maksimal. Pengertian
komitmen karyawan menurut Steers dalam Kuntjoro (2002) adalah rasa
identifikasi, keterlibatan dan loyalitas yang dinyatakan oleh seorang pegawai
terhadap organisasinya. Komitmen karyawan merupakan kondisi dimana pegawai
sangat tertarik terhadap tujuan, nilai-nilai, dan sasaran organisasinya. Komitmen
terhadap organisasi artinya lebih dari sekedar keanggotaan formal, karena
meliputi sikap menyukai organisasi dan kesediaan untuk mengusahakan tingkat
upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi demi pencapaian tujuan. Menurut
Zurnali (2010), komitmen merupakan perasaan yang kuat dan erat dari seseorang
terhadap tujuan dan nilai suatu organisasi dalam hubungannya dengan peran
mereka terhadap upaya pencapaian tujuan dan nilai-nilai tersebut.

Hubungan Antara Lingkungan Kerja Dengan Kinerja Pegawai


Lingkungan kerja berpengaruh langsung terhadap hasil kerja pegawai
yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja organisasi. Kondisi
lingkungan kerja dikatakan baik apabila pegawai dapat melaksanakan
tugas secara optimal, sehat, aman, dan nyaman.Sebaliknya lingkungan
kerja dikatakan tidak baik apabila lingkungan dapat menurunkan motivasi
serta semangat kerja dan akhirnya dapat menurunkan kinerja
pegawai.Pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan dapat
dilihat dari hasil penelitian Makkira dkk (2016) yang berjudul “Pengaruh
Disiplin Kerja, Komitmen Organisasi dan Lingkungan Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan Pada PT Trans Retail Indonesia (CARREFOUR)
Cabang Panakukang Makasar” menunjukkan lingkungan kerja
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan pada PT.
Trans Retail Indonesia (Carrefour) Cabang Panakkukang Makassa

Hubungan Antara Komitmen Organisasi Dengan Kinerja Pegawai


Komitmen organisasi merupakan ikatan emosional individu
sebagai pegawai terhadap organisasi yang meliputi dukungan moral dan
tekad mengabdi kepada organisasi. Pegawai yang berkomitmen untuk
bekerja secara maksimal akan mengharapkan keberhasilan organisasi dan
selanjutnya pada kinerja pegawai. Pegawai yang memiliki komitmen
tinggi pada organisasi maka akan termotivasi untuk meningkatkan
kinerjanya karena mereka menjadi tidak tertarik untuk meninggalkan
pekerjaannya. Pada penelitian Makkira dkk (2016), hasil penelitian
menunjukkan komitmen organisasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja pegawai. Begitu juga dengan penelitian Adil dkk (2018)
yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh komitmen organisasional
terhadap kinerja pegawai Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi
Provinsi Sulawesi Utara menunjukkan bahwa komitmen organisasional
berpengaruh secara parsial terhadap kinerja pegawai yang dibuktikan
dengan menggunakan uji t. Dari hasil uji diketahui faktor komitemn
organisasi berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja pegawai.
Kesimpulan dari penelitian tersebut yaitu semakin tinggi komitmen
organisasional maka akan semakin baik dan meningkatkan kinerja pegawai
tersebut

Hubungan Antara Disiplin Kerja Dengan Kinerja Pegawai


Disiplin kerja merupakan bagian atau variabel yang sangat penting
dalam pengembangan sumber daya manusia.Oleh karena itu disiplin kerja
diperlukan dalam suatu organisasi agar tidak terjadi keteledoran,
penyimpangan atau kelalaian yang menyebabkan terjadinya pemborosan
dalam melakukan pekerjaan.Hasibuan (2003) menyatakan bahwa disiplin
kerja yang baik adalah apabila pegawai mematuhi peraturan organisasi
yakni pegawai datang tepat waktu, berpakaian rapi dan mematuhi
peraturan organisasi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sidanti (2015) yang berjudul
“Pengaruh Lingkungan Kerja, Disiplin Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap
Kinerja Pegawai Negeri Sipil di Seketariat DPRD Kabupaten Madiun”
menyatakan bahwa nilai t-hitung untuk fakor disiplin kerja paling tinggi
dibandingkan nilai t-hitung untuk faktor lain. Hal ini menunjukkan faktor
yang paling besar berpengaruh terhadap kinerja PNS adalah faktor disiplin
kerja dibanding faktor lingkungan kerja dan motivasi kerja. Dapat
disimpulkan bahwa disiplin kerja akan meningkatkan kinerja pegawai.
Hasil penelitian lain yang bertujuan mengetahui pengaruh disiplin kerja
terhadap kinerja pegawai dilakukan oleh Makkira dkk (2016) dan Adil dkk
(2018) menyatakan bahwa disiplin kerja berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja pegawai. Kesimpulan dari ketiga penelitian
tersebut menyatakan bahwa semakin tinggi disiplin kerja seorang pegawai
maka semakin meningkat kinerja pegawai tersebut

Indikator Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja menurut pendapat Sedarmayanti(2001) terbagi dalam 2
indikator yaitu :

  1. Hubungan kerja yaitu hubang kerja antar karyawan dengan
    karyawan lain atau karyawan dengan pimpinan organisasi
  2. Lingkungan kerja non-fisik yaitu terdiri dari setruktur keja,
    tanggung jawab kerja, perhatian dan dukungan pimpinan, kerja
    sama anatr klompok, kelancaran komunikasi

Lingkungan kerja


Pegawai sebagai manusia tidak dapat dipisahkan dengan keadaan
disekitar tempat bekerja, yaitu lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang kondusif
akan memberikan rasa kenyamanan, kemananan dan ketentraman terhadap
pegawai sehingga produktifitas pegawai menjadi optimal. Sedarmayanti (2001)
menerangkan bahwa lingkungan kerja non fisik berkaitan dengan hubungan baik
kerja baik hubungan dengan bawahan, rekan kerja maupun atasan dengan
atasan.Contoh lingkungan kerja non fisik yaitu struktur kerja, tanggung jawab
kerja, perhatian dan dukungan pemimpin, kerjasama antar kelompok dan
kelancaran komunikasi.
Lingkungan kerja memiliki arti penting dalam mempengaruhi lingkugan
kerja. (Analisa 2011:20) menyatakan bahwa “ lingkungan kerja adalah sesuatu
yang ada disekitar pegawai dan dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan
tugads yang dibebankan” kondisi dan suasana lingkungan yang baik akan dapat
tercipta dengan adanya penyusunan organisasi secara baik dan benar sebagaimana
yang dikatakan oleh Sedarmayanti (2001) seperti dikutip Analisa (2011:21)
menyatakan bahwa suasana lingkungan kerja dihasilkan terutama dalam
organisasi yang telah tersusun secara baik, sedangkan suasana kerja yang kkurang
baik banyak ditimbulkan oleh organisasi yang tidak tersusun dengan secara baik
pula.

Indikator Komitmen organisasi

Komitmen organisasi menurut pendapat dari Meyer dan Allen
dalam Luthans (2006) terbagi dalam tiga indikator yaitu:

  1. Komitmen afektif (affective commitment), pendekatan emosional dari
    individu dalam keterlibatannya pada organisasi berkaitan dengan
    emosional, identifikasi, dan keterlibatan pegawai di dalam suatu
    organisasi.
  2. Komitmen berkelanjutan (continuance commitment), hasrat yang
    dimiliki individu untuk tetap berada dalam organisasi. Komitmen
    tersebut berdasar pada persepsi pegawai tentang kerugian yang akan
    dihadapinya jika pegawai meninggalkan organisasi. Pegawai dengan
    komitmen berkelanjutan yang kuat akan melanjutkan keanggotaannya
    dengan organisasi karena mereka membutuhkannya.
  3. Komitmen normatif (normative commitment), suatu perasaan wajib
    dari individu untuk bertahan dalam organisasi berkaitan dengan
    kesetiaan yang harus diberikan karena pengaruh orang lain, dan
    kesadaran bahwa komitmen terhadap organisasi merupakan suatu
    keharusan. Pegawai yang berkomitmen normatif kuat akan tetap
    bergabung dalam organisasi karena merasa sudah cukup puas dengan
    hidupnya

Komitmen organisasi


Komitmen organisasi sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi
kinerja pegawai. Pegawai yang berkomitmen tinggi diharapkan akan memberikan
kinerja yang optimal. Seseorang yang bergabung dalam lembaga dituntut
memiliki komitmen dalam dirinya. Pegawai yang berkomitmen pada lembaga,
diharapkan kinerja dari pegawai akan meningkat. Bentuk komitmen kerja tidak
hanya bersifat pasif seperti loyalitas, melainkan juga bersifat aktif seperti
melibatkan hubungan dengan organisasi kerja yang memiliki tujuan memberikan
segala usaha demi keberhasilan lembaga. Menurut Luthans (2006), sikap
terefleksi dalam bentuk loyalitas pegawai pada organisasi dan berkelanjutan
dimana pegawai mengekspresikan perhatiannya untuk keberhasilan serta
kemajuan yang berkelanjutan terhadap organisasi adalah pengertian komitmen
organisasi. Disimpulkan yaitu sebagai keletakan emosioal idenvikasi dan
keterlibatan individu dengan organisasi serta keinginan untuk tetap menjadi
anggota organisasi. Sistem tanggapan yang disediakan oleh organisasi terkadang
kurang mendapat perhatian dari karyawan untuk lebih menumbuhkan sikap loyal
terhadap karyawan.

Indikator disiplin


kerja lainnya yang digunakan untuk mengukur disiplin kerja menurut
(Hasibuan 20004) adalah sebagai berikut:

  1. Sikap
    Perilaku pegawai yang tercermin dari kesadaran atau kerelaan pegawai
    dalam melaksanakan peraturan perusahaaan, yaitu kehadiran pegawai
    ditempat kerja untuk bekerja dan kemampuan dalam memanfaatkan atau
    menggunakan perlengkapan dengan baik.
  2. Norma
    Peraturan mengenai hal yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan
    untuk dilakukan oleh pegawai selama dalam perusahaan. Norma juga
    menjadi acuan dalam bersikap, yaitu mematuhi peraturan yang ditentukan
    perusahaan secara sadar dan mengikuti cara kerja yang ditentukan
    perusahaan.
  3. Tanggung jawab
    Kemampuan dalam menjalankan tugas danperaturan dalam perusahaan,
    yaitu pegawai harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang sudah
    ditentukan lembaga

Disiplin Kerja


Secara umum, disiplin adalah taat kepada peraturan yang
berlaku.Hasibuan (2004), berpendapat bahwa kedisiplinan adalah
kesadaran dan kesediaan seseorang menaati peraturan perusahaan dan
norma-norma sosial yang berlaku. Disiplin akan mendorong semangat
kerja seorang pegawai dan terwujudnya tujuan lembaga. Disiplin kerja
sebagai faktor penting yang tidak dapat diabaikan.Faktor tersebut
merupakan bagian dari fungsi pemeliharaan pegawai.Semakin baik disiplin
kerja seorang pegawai maka semakin tinggi prestasi kerja yang dicapai.
Dalam pandangan paling moderen mengenai disiplin kerja dikatakan
bahwa disiplin kerja merupakan bagian palig mendasar atau esensial dari
manusi. Sebagian yang paling mendasar, dia akan memberikan setatus dari
masyarakat yang berada dilingkungan tersebut. Juga bisa mengikat
individu lain baik yang bekerja atau tidak (Anoraga,2006: 11-14) .
Disimpulkan bahwa dengan disiplin kerja pegawai dapat lebih
bertanggung jawab terhadap tugasnya sehingga kinerja akan lebih baik,
pegawai yang memiliki disiplin kerja akan memiliki kinerja yang lebih
baik yang dapat membangun produktivitas pegawai tersebut displin kerja
harus dibangun pada setiap pegawai mulai dari dini

Faktor yang mempengaruhi kinerja

Faktor yang mempengaruhi kinerja menurut
Wirawan (2009) antara lain:

  1. Faktor internal pegawai, yaitu faktor bawaan dan faktor berkembang.
    Faktor bawaan dari lahir yaitu terdapat dalam diri pegawai, misalnya
    bakat, sifat pribadi, serta keadaan fisik dan kejiwaan. Faktor berkembang
    yaitu faktor yang diperoleh ketika pegawai berkembang, misalnya
    pengetahuan, keterampilan, etos kerja, pengalaman kerja, dan motivasi
    kerja.
  2. Faktor lingkungan internal organisasi, yaitu dukungan dari organisasi
    dimana pegawai bekerja. Faktor-faktor lingkungan internal organisasi
    tersebut antara lain visi, misi dan tujuan organisasi, kebijakan organisasi,
    teknologi, strategi organisasi, sistem manajemen, kompensasi,
    kepemimpinan, budaya organisasi, dan teman kerja.
  3. Faktor lingkungan eksternal organisasi, yaitu keadaan, kejadian, atau
    situasi yang terjadi di lingkungan luar organisasi yang mempengaruhi
    kinerja pegawai. Contoh faktor tersebut antara lain kehidupan ekonomi,
    kehidupan politik, kehidupan sosial, budaya dan agama masyarakat, dan
    kompetitor

Indikator Kinerja

Menurut Artana (2012) suatu pekerjaan dapat diukur melalui berbagai
indikator, yaitu:

  1. Pengetahuan yaitu pengetahuan pegawai yang berkaitan dengan semua
    tingkat pekerjaan dan hal lain yang berkaitan dengan pekerjaan tersebut.
  2. Kualitas kerja yaitu hasil kerja pegawai yang ditinjau dari segi ketelitian
    dan kerapian.
  3. Kuantitas kerja yaitu hasil kerja pegawai yang ditinjuau dari jumlah hasil
    tugas yang mampu diselesaikan.
  4. Kesetiaan yaitu keteguhan pegawai terhadap pekerjaan dan jabatan di
    perusahaan, tercermin pada kesediaan pegawai menjaga dan membela
    perusahaan.
  5. Kemampuan bekerjasama yaitu kemampuan pegawai bekerjasama untuk
    menyelesaikan suatu tugas sehingga dapat mencapai hasil yang sebesar-
    besarnya.
  6. Kemampuan beradaptasi yaitu kemampuan pegawai untuk menyesuaikan
    diri dengan lingkungan dan pekerjaan.
    10
  7. Inisiatif yaitu daya pikir dan kreatifitas pegawai dalam bentuk ide untuk
    suatu tujuan lembaga.
  8. Kemandirian yaitu kemampuaan pegawai dalam menyelesaikan tugas atau
    pekerjaannya sendiri.
  9. Kreatifitas adalah kemampuan untuk mengajukan ide-ide baru yang
    membangun sehingga dapat membantu dalam kelancaran pekerjaan,
    mengurangi biaya, memperbaiki hasil kerja dan menambah produktifitas.
    Indikator-indikator tersebut dapat dijadikan sebagai dasar penilaian
    setiap pekerjaan sehingga penilaian kinerja pegawai dapat diukur lebih mudah dan
    jelas.Penilaian kerja sendiri memiliki tujuan dan mafaat.Bangun (2012)
    menjelaskan bahwa penilaian kerja digunakan untuk mengevaluasi antar individu
    dalam suatu lembaga, pengembangan diri setiap individu, pemeliharaan sistem
    dan dokumentasi yang berguna untuk pengambilan keputusan.Kinerja dipengaruhi
    oleh berbagai macam faktor

Kinerja Pegawai


Kinerja merupakan pencapaian kerja seorang dalam melaksanakan tugas
yang sudah diberikan kepadanya dengan tanggung jawab secara kualitas maupun
kuantitas (Mangkunegara, 2000).Penilaian kerja dilakukan untuk menilai
pelaksanaan tugas pegawai dan selanjutnya digunakan untuk evaluasi demi
mencapai keberhasilan kerja.Penilaian dilakukan dengan membandingkan hasil
kerja yang dicapai pegawai dengan standar pekerjaan lembaga.Jika hasil kerja
seorang pegawai melebihi standar maka dapat dikatakan kinerja pegawai
berkategori baik, demikian sebaliknya.Selain itu, penilaian kerja juga dapat
ditinjau dari jumlah pekerjaan yang diselesaikan pegawai dalam batas waktu
tertentu.Jika seorang pegawai mampu menyelesaikan tugas dalam jumlah
melebihi standar maka dapat dikatakan kinerja pegawai berkategori baik,
demikian sebaliknya.Mangkunegara (2000:67) dalam bukunya Manajemen
Sumber Daya Manusia sebuah intansi/organisasi , mengemukakan pengertian
kinerja sebagai berikut : Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggung jawab yang diberikanya. Sedangkan Rivai (2006:309) mengatakan
bahwa kinerja merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai
prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam
intansi/organisasi.Adapun pengertian kinerja menurut Stephen Robbins yang
diterjemahkan oleh Harbani Pasolong, Kinerja adalah hasil evaluasi terhadap
pekerjaan yang dilakukan oleh pegawai dibandingkan kriteria yang telah
ditetapkan sebelumnya (Pasolong, 2007:176). Dapat disimpulkan bahwa kinerja
merupakan perwujudan kerja yang telah dilakukan oleh karyawan yang biasanya
dipakai sebagai dasar peneliaan terhadap karyawan atau organisasi. Kinerja yang
baik merupakan langkah untuk tercpainya tujuan organisasi,sehingga perlu
diupayakan usaha untuk meningkatkan kinerja

Komponen komitmen organisasi


Komitmen organisasi bersifat multidimensi, maka terdapat
pengembangan dukungan untuk tiga model komponen yangdiajukan
oleh Mayer dan Allen (1991) dalam Luthans (2006). Ketiga dimensi
tersebut adalah:
a. Komitmen afektif adalah keterikatan emosional karyawan,
identifikasi, dan keterlibatan dalam organisasi.
b. Komitmen kelanjutan adalah komitmen berdasarkan kerugian
yang berhubungan dengan keluarnya karyawan dari Organisasi.
Hal ini mungkin karena kehilangan seniorotas atas promosi atau
benefit.
c. Komitmen normative adalah perasasan wajib untuk tetapberada
dalam organisasi karena memang harus begitu tindakan tersebut
merupakan hal benar yang harusdilakukan

Definisi Komitmen organisasi


Komitmen organisasi adalah suatu keadaan saat seseorang
karyawan memihak organisasi tertentu serta tujuan dan keinginannya
untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi tersebut
. Menurut Griffin (2004), komitmen organisasi adalah sikap yang
mencerminkan sejauh mana seseorang individu mengenal dan terikat
pada organisasinya. Komitmen organisasi, paling sering didefinisikan
sebagai keinginan kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu,
keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi, keyakinan
tertentu, dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi. Dengan kata lain,
ini merupakan sikap yang mereflesikan loyalitas karyawan pada
organisasi dan proses berkelanjutan dimana anggota organisasi
mengekspresikan perhatiannya terhadap organisasi dan keberhasilan
serta kemajuan yang berkelanjutan.
Menurut Robbins (2002), komitmen organisasi merupakan keadaan
dimana karyawan mengaitkain dirinya ke organisasi tertentu dan
sasaran- sasarannya, serta berharap mempertahankan keanggotaannya
dalam organisasi itu. Sehingga, keterlibatan kerja yang tinggi berarti
mengaitkan diri ke pekerjaan khusus seseorang; sedangkan komitmen
pada organisasi yang tinggi berarti mengaitkan diri ke organisasi yang
mempekerjakannya

Pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawan


Dalam penelitian Adham & Wahyudianto (2020) dengan judul “Pengaruh
Komunikasi dan Kompetensi Kerja Terhadap Kinerja Pada PT Pelayaran Eka
Ivana Jasa Cabang Samarinda” menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan komunikasi terhadap kinerja karyawan. Pimpinan bertanggung jawab
dalam mengawasi dan mengavaluasi kinerja dengan mengkomunikasikan
penilaian kepada bawahannya, pemimpin harus mengetahui kekurangan ataupun
masalah apa saja yang sedang dihadapi para bawahannya dan bagaimana
menyampaikannya dengan cara berkomunikasi. Komunikasi ini tidak hanya
terjadi antara atasan dengan bawahan tetapi juga antara sesama rekan kerja, agar
setiap pegawai dapat bekerja dengan baik, hal ini komunikasi akan berpengaruh
terhadap kinerja karyawan. Adapun dalam penelitian Dewi (2021) dengan judul
“Pengaruh Komunikasi terhadap Kinerja Karyawan pada PT. Indosurya Kencana
di Bekasi” mengatakan bahwa komuikasi berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kinerja karyawan. Dalam penelitian Nurhidayat (2022) dengan judul
“Pengaruh Komunikasi dan Stress Kerja terhadap Kinerja Karyawan PT. Bumi
Agung Wilayah Kota Tanggerang Selatan” menyebutkan bahwa Komunikasi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan

Indikator Kinerja Karyawan


Menurut Robbins (2016:260) indikator kinerja yaitu alat untuk mengukur
sajauh mana pencapain kinerja karyawan. Berikut indikator-indikator untuk
mengukur kinerja karyawan:

  1. Kualitas kerja
    Kualitas kerja dapat dilihat dari hasil kerja karyawan dalam
    menyelesaikan pekerjaan juga kemampuan dan keterampilan karyawan
    dalam mengerjakan tugas yang diberikan padanya.
  2. Kuantitas
    Kuantitas yaitu ukuran jumlah hasil kerja unit maupun jumlah siklus
    aktivitas yang diselesaikan oleh karyawan sehingga kinerja karyawan
    dapat diukur melalui jumlah (unit/siklus) tersebut.
  3. Ketepatan Waktu
    Kinerja Karyawan juga dapat diukur dari ketepatan waktu karyawan
    dalam menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Sehingga
    tidak mengganggu pekerjaan yang lain yang merupakan bagian dari
    tugas karyawan tersebut.
  4. Efektifitas
    Efektifitas yang di maksud merupakan tingkat penggunaan sumber daya
    organisasi (tenaga, uang, teknologi dan bahan baku) dimaksimalkan
    dengan maksud menaikan hasil dari setiap unit dalam penggunakan
    sumber daya.
  5. Kemandirian
    Kemandirian merupakan tingkat seseorang yang nantinya akan dapat
    menjalankan fungsi kerjanya tanpa menerima bantuan, bimbingan atau
    pengawas

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan, Menurut
Masram (2017:147) faktor-faktor tersebut terdiri dari:

  1. Efektivitas dan efisiensi.
    Bila suatu tujuan tertentu akhirnya bisa dicapai, kita boleh
    mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi apabila akibat-
    akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari hasil yang
    dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif
    dinamakan tidak efisien.
  2. Otoritas (wewenang).
    Otoritas adalah sifat dari suatu komunikasi atau pemerintah dalam
    suatu organisasi formal yang dimiliki oleh seorang anggota organisasi
    kepada anggota lain untuk melakukan suatu kegiatan kerja dengan
    kontribusinya.
  3. Disiplin.
    Disiplin adalah taat kepada hokum dan peraturan yang berlaku.
  4. Inisiatif.
    Yaitu yang berkaitan dengan daya pikir dan kreatifitas dalam
    membentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan
    tujuan organisasi

Pengertian Kinerja Karyawan


Menurut Rizaldi (2021) Kinerja adalah suatu hasil dimana orang, sumber-
sumber yang ada di lingkungan kerja tertentu secara bersama membawa hasil
akhir yang didasarkan tingkat mutu dan standar yang telah ditetapkan.
Menurut Busro dalam Narimawati et.al (2022) Kinerja merupakan hasil
kerja yang dapat dicapai pegawai baik individu maupun kelompok dalam suatu
organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan
organisasi dalam mencapai visi dan misi dan tujuan organisasi dengan
kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan waktu yang dietntukan dan
tidak melanggar hukum.
Adapun Menurut Effendy (2018) mengatakan bahwa kinerja merupakan
Hasil kerja yang dapat dicapai oleh individu atau kelompok orang didalam suatu
organisasi, dimulai dari proses awal sampai akhir sebagai hasil yang didapat,
Organisasi yang baik adalah organisasi yang berusaha meningkatkan kemampuan
sumber daya manusia, karena hal tersebut merupakan faktor kunci untuk
meningkatkan kinerja karyawan di sebuah organisasi. Kasmir (2016:182)
mengatakan kinerja merupakan hasil kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai
dalam menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu
periode tertentu.
Menurut Wulantika (2018) Kinerja karyawan merupakan salah satu
dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur, mengevaluasi kemampuan
karyawan menjalankan tugasnya dan memiliki kewajiban kepada organisasi
tempat mereka bernaung. Sedangkan Robbin (2016:260) mendefinisikan kinerja
adalah suatu hasil yang dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya menurut kriteria
tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan.

Pengertian Kinerja Karyawan


Menurut Rizaldi (2021) Kinerja adalah suatu hasil dimana orang, sumber-
sumber yang ada di lingkungan kerja tertentu secara bersama membawa hasil
akhir yang didasarkan tingkat mutu dan standar yang telah ditetapkan.
Menurut Busro dalam Narimawati et.al (2022) Kinerja merupakan hasil
kerja yang dapat dicapai pegawai baik individu maupun kelompok dalam suatu
organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan
organisasi dalam mencapai visi dan misi dan tujuan organisasi dengan
kemampuan menyelesaikan masalah sesuai dengan waktu yang dietntukan dan
tidak melanggar hukum.
Adapun Menurut Effendy (2018) mengatakan bahwa kinerja merupakan
Hasil kerja yang dapat dicapai oleh individu atau kelompok orang didalam suatu
organisasi, dimulai dari proses awal sampai akhir sebagai hasil yang didapat,
Organisasi yang baik adalah organisasi yang berusaha meningkatkan kemampuan
sumber daya manusia, karena hal tersebut merupakan faktor kunci untuk
meningkatkan kinerja karyawan di sebuah organisasi. Kasmir (2016:182)
mengatakan kinerja merupakan hasil kerja dan perilaku kerja yang telah dicapai
dalam menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam suatu
periode tertentu.
Menurut Wulantika (2018) Kinerja karyawan merupakan salah satu
dimensi yang dapat digunakan untuk mengukur, mengevaluasi kemampuan
karyawan menjalankan tugasnya dan memiliki kewajiban kepada organisasi
tempat mereka bernaung. Sedangkan Robbin (2016:260) mendefinisikan kinerja
adalah suatu hasil yang dicapai oleh pegawai dalam pekerjaanya menurut kriteria
tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja
karyawan merupakan pencapaian hasil karyawan dalam suatu proses
melaksanakan tugasnya dengan sesuai tanggung jawab yang diberikan. Dengan
meningkatkan kinerja karyawan akan membawa dampak yang positif bagi
perusahaan, sehingga karyawan memiliki tingkat kinerja yang baik dan optimal
untuk membantu mewujudkan tujuan perusahaan

Indikator Kompetensi


Ada beberapa indikator Menurut Sugiyanto & Santoso (2018) antara lain:

  1. Pengetahuan
    Kesadaran dalam bidang kognitif. Misalnya seorang karyawan
    mengetahui cara melakukan identifikasi belajar dan bagaimana
    melakukan pembelajaran yang baik sesuai dengan kebutuhan yang ada
    dengan efektif dan efisien di perusahaan.
  2. Pemahaman
    Kedalam kognitif dan afektif yang dimiliki individu. Misalnya seorang
    karyawan dalam melaksanakan pembelajaran harus mempunyai
    pemahaman yang baik tetang karakteristik dan kondisi secara efektif
    dan efisien.
  3. Kemampuan/Keterampilan
    Sesuatu yang dimiliki oleh individu yang melaksanakan tugas atau
    pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya, kemampuan
    karyawan dalam memilih metode kerja yang dianggap lebih efektif dan
    efisien.
  4. Nilai
    Suatu standar perilaku yang telah ditakini dan secara psikologis telah
    menyatu dalam diri seseorang. Misalnya, standar perilaku para
    karyawan dalam melaksanakan tugas (kejujuran, keterbukaan,
    demokratis dan lain- lain).
  5. Sikap
    Perasaan (senang-tidak senang, suka-tidak suka) atau reaksi terhadap
    suatu rangsangan yang datang dari luar. Misalnya, reaksi terhadap
    krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan gaji dan sebagainya.
  6. Minat
    Kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.
    Misalnya, melakukan sesuatu aktivitas tugas

Faktor – Faktor Kompetensi


Latief et. al (2018) mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang
dapat memengaruhi kecakapan kompetensi seseorang, yaitu sebagai berikut:

  1. Keyakinan dan Nilai-nilai
    Keyakinan terhadap diri maupun terhadap orang lain akan sangat
    memengaruhi perilaku. Apabila orang percaya bahwa mereka tidak
    kreatif dan inovatif, mereka tidak akan berusaha berpikir tentang cara
    baru atau berbeda dalam melakukan sesuatu.
  2. Keterampilan
    Keterampilan memainkan peranan di berbagai kompetensi. Berbicara
    di depan umum merupakan keterampilan yang dapat dipelajari,
    dipraktikan dan diperbaiki. Keterampilan menulis juga dapat
    diperbaiki dengan instruksi, praktik dan umpan balik.
  3. Pengalaman
    Keahlian dari banyak kompetensi memerlukan pengalaman
    mengorganisasi orang, komunikasi di hadapan kelompok,
    menyelesaikan masalah, dan sebagainya. Orang yang tidak pernah
    berhubungan dengan organisasi besar dan kompleks tidak mungkin
    mengembangkan kecerdasan organisasional untuk memahami
    dinamika kekuasaan dan pengaruh dalam lingkungan tersebut.
  4. Karakteristik
    Kepribadian Dalam kepribadian termasuk banyak faktor yang di
    antaranya sulit untuk berubah. Akan tetapi, kepribadian bukannya
    sesuatu yang tidak dapat berubah. Kenyataannya, kepribadian
    seseorang dapat berubah sepanjang waktu. Orang merespon dan
    berinteraksi dengan kekuatan dan lingkungan sekitarnya.
  5. Motivasi
    Motivasi merupakan faktor dalam kompetensi yang dapat berubah.
    Dengan memberikan dorongan, apresiasi terhadap pekerjaan bawahan,
    memberikan pengakuan dan perhatian individual dari atasan dapat
    mempunyai pengaruh positif terhadap motivasi seseorang bawahan.
  6. Isu Emosional
    Hambatan emosional dapat membatasi penguasaan kompetensi. Takut
    membuat kesalahan, menjadi malu, merasa tidak disukai atau tidak
    menjadi bagian, semuanya cenderung membatasi motivasi dan
    inisiatif. Perasaan tentang kewenangan dapat mempengaruhi
    kemampuan komunikasi dan menyelesaikan konflik dengan manajer.
    Orang mungkin mengalami kesulitan mendengarkan orang lain apabila
    mereka tidak merasa didengar.
  7. Kemampuan Intelektual
    Kompetensi tergantung pada pemikiran kognitif seperti pemikiran
    konseptual dan pemikiran analitis. Tidak mungkin memperbaiki
    melalui setiap intervensi yang diwujudkan suatu organisasi. Sudah
    tentu faktor seperti pengalaman dapat meningkatkan kecakapan dalam
    kompetensi ini

Pengertian Kompetensi


Menurut Agustian (2018) menjelaskan bahwa kompetensi adalah suatu
kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas yang
dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap kerja yang
dituntut oleh pekerjaan tersebut. Kompetensi juga menunjukkan karakteristik
pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki atau dibutuhkan oleh setiap individu
yang memampukan mereka untuk melakukan tugas dan tanggung jawab mereka
secara efektif dan meningkatkan standar kualitas profesional dalam pekerjaan
mereka.
Ada juga pengertian Kompetensi menurut Edison et. al (2016) Kompetensi
adalah kemampuan individu untuk melaksanakan suatu pekerjaan dengan benar
dan memiliki keunggulan yang didasarkan pada hal-hal yang menyangkut
pengetahuan, keahlian, dan sikap. Sutrisno (2016:203) “kompetensi adalah suatu
kemampuan yang dilandasi oleh keterampilan dan pengetahuan yang didukung
oleh sikap kerja serta penerapannya dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan
yang mengacu pada persyaratan kerja yang ditetapkan”.
Sedangkan Menurut Wibowo (2016) Kompetensi adalah suatu kemampuan
untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan yang dilandasi atas
keterampilan dan pengalaman serta didukung oleh sikap kerja yang dituntut oleh
pekerja. Sugiyanto dan Santoso (2018) menyebutkan bahwa kompetensi juga
dapat menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap tertentu dari suatu
profesi dalam ciri keahlian tertentu, yang menjadi ciri dari seorang profesional.
Dengan demikian pegawai yang memiliki kompetensi tinggi akan mendapatkan
kepuasan kerja dan kinerja sumber daya manusia yang meningkat
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi
merupakan karakteristik seseorang yang memiliki kemampuan dan dilandasi
dengan keterampilan, pengetahuan, dan perilaku yang dapat menghasilkan
pekerjaan yang efektif dalam mecapai tujuan perusahaan

Indikator Komitmen


Indikator Komitmen menurut Robbins dalam penelitian Rizaldi (2021)
yaitu:

  1. Komitmen Afektif, yaitu keterikatan berdasarkan emosional
  2. Komitmen Continue, yaitu dimana karyawan akan tetap bertahan di
    tempat ia bekerja karena akan beresiko jika keluar.
  3. Komitmen Normatif, yaitu karyawan akan tetap di perusahaan karena
    kewajiban bagi tujuan perusahaan

Faktor – Faktor Komitmen


Menurut Malayu S.P Hasibuan (2014:78) terbentuknya komitmen suatu
organisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

  1. Faktor Kesadaran
    Kesadaran menunjukkan suatu keadaan jiwa seseoang yang
    merupakan titik temu dari berbagai pertimbangan sehingga diperoleh
    suatu keyakinan, ketetapan hati dan kesinambungan dalam jiwa yang
    bersangkutan.
  2. Faktor Aturan
    Aturan adalah perangkat penting dalam segalatindakan dan perbuatan
    seseorang. Peranan aturan sangat besar dalam hidup bermasyarakat,
    sehingga dengan sendirinyaaturan harus dibuat, dan diawasi yang
    pada akhirnya dapat tercapai sasaran manajemen sebagai pihak yang
    berwenang dan mengatur segala sesuatu yang ada di dalam organisasi
    kerja tersebut.
  3. Faktor Organisasi
    Organisasi pelayanan contohya pelayanan Pendidikan ada dasarnya
    tidak berbeda dengan organisasi pada umumnya hanya terdapat sedikit
    perbedaan pada penerapannya, karena sasaran pelayanan ditujukan
    secara khusus kepada manusia yang memiliki watak dan kehendak
    yang multi kompleks.
  4. Faktor Pendapatan
    Pendapatan adalah penerimaan seseorang sebagai imbalan atas tenaga,
    pikiran yang telah dicurahkan untuk orang lain atau badan organisasi
    baik dalam bentuk uang.
  5. Faktor Kemampuan Keterampilan
    Kemampuan berasal dari kata mampu yang memiliki arti dapat
    melakukan tugas atau pekerjaan sehingga menghasilkan barang atau
    jasa sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan dapat diartikan
    sebagai sifat/keadaan yang ditujukan oleh keadaan seseorang yang
    dapat melaksanakan tugas atau dasar ketentuan-ketentuan yang ada.
    Keterampilan adalah kemampuan melakukan pekerjaan dengan
    menggnakan anggota badan dan peralatan yang tersedia.
  6. Faktor Sarana Pelayanan
    Sarana pelayanan ada segalajenis perlengkapa kerja dan fasilitas lain
    yang berfungsi sebagai alat utama/pembantu dalam pelaksanaan
    pekerjaan, dan juga berfungsi sosial dalam rangkauntuk memenuhi
    kepentingan orang-orang yang sedang berhubungan dengan organisasi
    kerja itu.

Pengertian Komitmen


Komitmen kerja atau komitmen organisasi merupakan suatu kondisi yang
dirasakan oleh karyawan yang dapat menimbulkan perilaku positif yang kuat
terhadap organisasi kerja yang dimilikinya. Menurut Steers dan Porter (2013)
suatu bentuk komitmen kerja yang muncul bukan hanya bersifat loyalitas yang
pasif, tetapi juga melibatkan hubungan yang aktif dengan organisasi kerja yang
memiliki tujuan memberikan segala usaha demi keberhasilan organisasi kerja
yang bersangkutan.
Kusumaputri (2015:41) mengatakan bahwa komitmen merupakan
kekuatan yang mengikat individu melakukan aksi untuk menuju satu atau
beberapa tujuan. Karyawan yang memiliki komitmen dalam melaksanakan
pekerjaannya dapat diartikan sebagai kemampuan atau kemauan yang telah ada
dalam diri karyawan untuk menyelaraskan perilaku pribadi dan menjadikan
prioritas dan tujuan perusahaan. Triatna (2016:120) komitmen adalah suatu kadar
kesetiaan karyawan terhadap perusahaan yang dicirikan oleh keinginan untuk
tetap menjadi bagian organisasi, berbuat yang terbaik untuk organisasi dan
selalu menjaga nama baik organisasi.
Cohen dalam Kusumaputri (2015) mendefinisikan bahwa komitmen kerja
adalah kekuatan yang mengikat individu untuk melakukan suatu aksi menuju satu
atau beberapa tujuan organisasi. Sedangkan Miller dan Lee dalam Kusumaputri
(2015) mendefinisikan komitmen kerja adalah keadaan anggota organisasi yang
terikat aktivitas dan keyakinannya, adapun fungsinya untuk mempertahankan
aktivitas dan keterlibatannya dalam organisasi. Menurut Robbins dalam
penelitian Rizaldi (2021), komitmen organisasi yakni suatusituasi yang
dihadapi karyawan mengenai keberadaanya di organisasi tersebut dengan
memutuskan akan memihak serta memiliki tujuan yang diiringi keinginan untuk
tetap berada atau menjadi bagian dalam organisasi.
Menurut Wibowo (2016:429), komitmen adalah perasaan, sikap dan
perilaku individu mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari organisasi,
terlibat dalam proses kegiatan operasional dan loyal terhadap organisasi dalam
mencapai tujuan organisasi.

Indikator Komunikasi


Indikator Komunikasi menurut Wibowo (2014 : 171) yaitu :

  1. Kemudahan dalam memperoleh informasi
    Proses komunikasi akan mudah untuk memproleh komunikasi dalam
    pemindahan ide ataupun gagasan
  2. Intensitas Komunikasi
    Apabila banyak percakapan yang baik, maka komunikasi akan
    semakin lancer.
  3. Efektivitas komunikasi
    Berkomunikasi secara tatap langsung akan memudahkan pasan yang
    disampaikan komunikator.
  4. Tingkat pemaham pesan
    Komunikasi yang baik dan lancar akan memudahkan seseorang atau
    penerima mengerti dan memahami pesan yang disampaikan.
  5. Perubahan sikap
    Seseorang yang memahami pesan yang disampaikan komunikator,
    maka akan terjadi perubahan sikap yang dilakukan sesuai dengan apa
    yang di komunikasikan

Faktor – Faktor Komunikasi


Menurut Mangkunegara (2004:148) ada dua tinjauan faktor yang
mempengaruhi komunikasi, yaitu dari pihak sender (pengirim) dan dari
pihak receiver (penerima).

  1. Faktor dari pihak sender (pengirim)
    a) Keterampilan pengirim
    Pihak pengirim sebagai pengirim informasi, ide, berita, pesan,
    perlu menguasai cara-cara penyampaian pikiran, baik secara
    tertulis, maupun lisan
    b) Sikap pengirim
    Pengirim harus bersikap meyakinkan penerima terhadap pesan
    yang diberikan kepadanya
    c) Pengertahuan pengirim
    Pengirim yang mempunyai pengetahuan luas akan dapat
    mengirim informasi kepada penerima sebaik mungkin.
    d) Media saluran yang digunakan oleh pengirim,
    media atau saluran komunikasi sangat membantu dalam
    penyampaian ide, informasi, atau pesan kepada penerima.
  2. Faktor dari pihak receiver (penerima)
    a) Keterampilan penerima,
    Pesan yang diberikan oleh pengirim akan dapat dimengerti
    dengan baik, jika penerima mempunyai keterampilan
    mendengar dan membaca.
    b) Sikap penerima,
    Sikap penerima terhadap pengirim sangat mempengaruhi
    komunikasi, dengan begitu sikap penerima harus bersikap positif
    terhadap pengirim
    c) Pengetahuan penerima
    penerima yang mempunyai pengetahuan yang lebih luas akan
    mudah dalam menafsirkan ide atau pesan yang diterimanya dari
    pengirim.
    d) Media saluran komunikasi
    media saluran komunikasi yang digunakan sangat berpengaruh
    dalam penerimaan ide atau pesan.
    e) Komunikasi yang efektif
    f) Kualitas komunikasi

Hubungan Persepsi Keadilan Kompensasi Dan Peran KepemimpinanDengan Komitmen Karyawan Pada Organisasi


Komitmen karyawan terhadap organisasi juga diartikan lebih dari sekedar
keanggotaan formal, karena meliputi sikap menyukai organisasi dan kesediaan
untuk mengusahakan tingkat upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi demi
pencapaian tujuan. Staw (dalam Roslina, 2010) memberikan pendapat bahwa
komitmen pada organisasi merupakan suatu pemahaman khusus dari individu
sebagai ikatan psikologis pada organisasi termasuk rasa terlibat dengan pekerjaan,
komitmen dan percaya akan nilai-nilai organisasi. Dalam hal ini komitmen yang
dimaksudkan bukan sekedar setia semata akan tetapi lebih dari itu. Hal ini
diperkuat oleh pendapat Reichers Robbins (dalam Roslina, 2010) yang
menyatakan bahwa komitmen pada organisasi adalah suatu bentuk keterdekatan
yang bersifat psikologis antara anggota dengan organisasinya.
Komitmen seseorang terhadap organisasi tidak muncul dalam seketika,
melainkan muncul melalui beberapa tahap atau fase. Meyer dan Allen (1990),
menyatakan bahwa salahsatu aspek komitmen adalah komitmen berkelanjutan.
Adapun komitmen berkelanjutan yaitu keadaan dimana karyawan terus berada
dalam organisasi karena adanya pertimbangan biaya. Biaya merupakan
kompensasi finansial yang diterima oleh karyawan sebagai balas jasa dari
pekerjaan yang telah dilakukannya. Artinya, salah satu faktor penting yang
mendorong seorang karyawan memiliki komitmen terhadap perusahaan adalah
kompensasi atau balas jasa.
Amstrong dan Murlis (2003) membagi kompensasi menjadi dua jenis,
yaitu finansial maupun nonfinansial. Kompensasi dalam bentuk finansial berupa
gaji/upah, tunjangan, bonus dan juga kepemilikan saham perusahaan bagi
karyawan. Sedangkan kompensasi non finansial meliputi kesehatan dan keamanan
karyawan.
Persepsi karyawan terhadap keadilan kompensasi merupakan persepsi
terhadap perbandingan yang adil antara segala bentuk imbalan baik finansial
maupun non finansial yang diterima karyawan sebagai bagian dari hubungan
karyawan dengan organisasi yang disesuaikan dengan sumbangan yang telah
diberikan karyawan terhadap organisasi. Dengan kata lain, persepsi terhadap
keadilan kompensasi sesuatu yang melalui proses penilaian yang dilakukan
karyawan terhadap keseimbangan apa yang telah diberikannya kepada organisasi
dengan apa yang telah ia terima dari organisasi. Persepsi yang baik terhadap
keadilan kompensasi akan menumbuhkan komitmen karyawan pada organisasi.
Komitmen karyawan terhadap organisasi juga tidak terlepas dari
bagaimana peran seorang dalam menumbuhkan komitmen karyawan. Secara
teoritis Greenberg dan baron (Dalam Basalamah, 2004), menyatakan bahwa
pemimpin dengan gayanya, tindakan – tindakannya dan efektifitasnya mampu
mempengaruhi bawahan dan organisasinya. Hal ini dapat dikaitkan juga dengan
pendapat dari Mitzburgh (dalam Luthan, 2006), yaitu salah satu peran
kepemimpinan yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah peran
sebagai pemimpin (leader) . Peran sebagai leader adalah peran seorang pemimpin
menjalankan perannya dengan menggunakan pengaruhnya untuk memotivasi dan
mendorong karyawannya untuk mencapai tujuan organisasi, sehingga dapat
diartikan bahwa pemimpin memiliki peran untuk menumbuhkan keiginan
karyawan untuk dapat menerima nilai-nilai organisasi. Adapun menurut Allen dan
Mayer (1990), salah satu komponen pembentuk komitmen adalah aspek kelekatan
afektif karyawan terhadap perusahaan tempatnya bekerja. Seorang karyawan
dikatakan memiliki kelekatan afektif dengan organisasi tempatnya bekerja bila
yang bersangkutan bersedia untuk menerima nilai-nilai yang dianut oleh
organisasi, memiliki kemauan untuk berusaha keras demi kemajuan organisasi,
dan memiliki keinginan untuk tetap berada dalam organisasi.
Menurut Timpe (2005), peran kepemimpinan akan efektif bila pemimpin
menyadari apa yang dikehendaki pengikut dan apa yang mereka takuti, sehingga
karyawan bergairah melaksanakan permintaan dari pimpinan mereka dan
berusaha semaksimal mungkin. Karyawan akan melaksanakan apa yang diminta
oleh pimpinan serta berusaha untuk memenuhi sasaran dari pemimpin mereka
dalam upaya pencapaian tujuan organisasi. Tujuan organisasi akan tercapai bila
karyawan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi. Dengan demikian,
maka peran kepemimpinan akan efektif bila pemimpin mampu menumbuhkan
komitmen karyawan pada organisasi

Hubungan Peran Kepemimpinan Dengan Komitmen Karyawan PadaOrganisasi


Kepemimpinan tidak sama artinya dengan manager, kepemimpinan adalah
suatu kemampuan yang lebih tinggi. Pemimpin adalah orang yang menentukan
kemana arah bisnis, arah tujuan internal maupun eksternal, dan menyelaraskan
aset dan keterampilan organisasi dengan kesempatan dan resiko yang dihadapkan
oleh lingkungan. (Timpe, 2005).
Peran pemimpin sangat penting bagi organisasi, dimana pemimpin adalah
yang menentukan arah bisnis, arah tujuan internal maupun tujuan eksternal, dan
menyelaraskan aset dan keterampilan organisasi dengan kesempatan dan resiko
yang dihadapkan pada lingkungan (Timpe, 2005).
Menurut Mitzburgh (dalam Luthan, 2006), salah satu peran kepemimpinan
yang harus dijalankan oleh seorang pemimpin adalah peran sebagai pemimpin
(leader) . Peran ini adalah peran seorang pemimpin dalam menggunakan
pengaruhnya terhadap karyawan untuk membangkitkan semangat kerja serta
menumbuhkan komitmen karyawan pada organisasi agar dapat mencapai tujuan
dari organisasi.
Dougherty dan Hardy (dalam Retnaningsih, 2007) menyatakan bahwa
level tinggi keterlibatan peran akan dikaitkan dengan level tinggi komitmen peran
diantara para manajer dengan tanggung jawab implementasi akan meningkatkan
kinerja. Peningkatan kinerja merupakan indikasi akan adanya komitmen karyawan
yang tinggi terhadap organisasi. Artinya, besarnya peran kepemimpinan akan
mempengaruhi tingkat komitmen karyawan pada organisasi

Hubungan Persepsi Keadilan Kompensasi Dengan Komitmen KaryawanPada Organisasi


Keadilan kompensasi adalah faktor penting yang mempengaruhi
bagaimana dan mengapa organisasi bekerja pada suatu organisasi dan bukan pada
organisasi lainnya. Organisasi harus cukup kompetitif dengan beberapa jenis
keadilan kompensasi untuk mempekerjakan, mempertahankan dan memberikan
imbalan terhadap kinerja setiap individu. (Retnaningsih , 2007).
Persepsi keadilan kompensasi karyawan merujuk pada semua bentuk
pandangan suatu karyawan terhadap kesesuaian imbalan yang diterima dari
pekerjaan mereka. Keadilan kompensasi menjadi salah satu aspek yang patut
diperhatikan oleh organisasi. Dengan adanya persepsi terhadap keadilan
kompensasi yang sesuai dengan prestasi kerja karyawan maka diharapkan bahwa
karyawan akan merasa puas, sehingga karyawan menjadi lebih berkomitmen dan
berkonsentrasi terhadap keberhasilan dan kemajuan organisasi.
Menurut Allen dan Mayer (1990), salah satu aspek dalam komitmen
karyawan terhadap organisasi adalah komitmen berkelanjutan, yaitu keadaan
dimana karyawan terus berada dalam organisasi karena adanya pertimbangan
biaya. Dari pengertian diatas, dapat diartikan bahwa kompensasi memiliki
pengaruh terhadap komitmen organisasi dari karyawan

Tipe-Tipe Kepemimpinan


Ada tiga gaya kepemimpinan yang diperagakan oleh Bill Woods (dalam
Timpe, 2005), yaitu :
a. Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik
mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai
karakteritik yang negatif.
Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah
seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan
sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
a. Kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain
dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai
harkat dan martabat mereka
b. Pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa
mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para
bawahannya.
c. Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara
lain:
a. Menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
b. Dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
c. Bernada keras dalam pemberian perintah atau instruksi
d. Menggunakan pendekatan punitif dalamhal terhadinya penyimpangan oleh
bawahan.
b. Tipe Demokratik
Pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku
koordinator dan integrator dari berbagai unsur dan komponen organisasi.
Menyadari bahwa mau tidak mau organisasi harus disusun sedemikian rupa
sehingga menggambarkan secara jelas aneka ragam tugas dan kegiatan yang tidak
bisa tidak harus dilakukan demi tercapainya tujuan. Pemimpin tipe ini juga
melihat kecenderungan adanya pembagian peranan sesuai dengan tingkatnya,
memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi dan menjunjung harkat dan
martabat manusia Dan pemimpin tipe ini adalah seorang pemimpin yang disegani
bukannya ditakuti.
c. Kendali Bebas
Pemimpin ini berpandangan bahwa umumnya organisasi akan berjalan
lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang
yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-
sasaran apa yang ingin dicapai, tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-
masing anggota dan pemimpin tidak terlalu sering intervensi.
Karakteristik dan gaya kepemimpinan tipe ini adalah :
a. Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
b. Pengambilan keputusan diserahkan kepada para pejabat pimpinan yang lebih
rendah dan kepada petugas operasional, kecuali dalam hal-hal tertentu yang
nyata-nyata menuntut keterlibatannya langsung.
c. Status quo organisasional tidak terganggu
d. Penumbuhan dan pengembangan kemampuan berpikir dan bertindah yang
inovatif diserahkan kepada para anggota organisasi yang bersangkutan
sendiri.
e. Sepanjang dan selama para anggota organisasi menunjukkan perilaku dan
prestasi kerja yang memadai, intervensi pimpinan dalam organisasi berada
pada tingkat yang minimum.
Pendapat diatas menjelaskan tentang tiga tipe kepemimpinan, yaitu tipe
otokratik, tipe demokratik dan tipe kendali bebas. Dimana ketiga tipe
kepemimpinan tersebut memiliki masing – masing kelebihan dan kelemahan
tersendiri

Kriteria Seorang Pemimpin


Meskipun menurut Collons mengenai riset tentang kepemimpinan tidak
mengungkapkan satu sifat tunggal yang dimiliki semua pemimpin yang berhasil,
tetapi sejumlah ciri yang umum dimiliki oleh banyak diantara mereka, telah
diidentifikasikan (dalam Timpe, 2005).
DeGaulle (dalam Timpe, 2005), Sifat yang berguna bagi pemimpin yang
dapat dipertimbangkan adalah :
a. Kemampuan Untuk Berkomunikasi
Kemamapuan untuk memberikan dan menerima informasi merupakan
keharusan bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja
dengan menggunakan bantuan orang lain, karena itu pemberian perintah,
penyampaian informasi kepada orang lain mutlak perlu dikuasai.
b. Kemampuan untuk memecahkan persoalan
Kemampuan untuk memecahkan persoalan dari mereka yang dipimpin,
atau membantu dalam pemecahan persoalan mereka, merupakan ciri lain dari
pemimpin yang efektif.
c. Kesadaran akan kebutuhan
Pemimpin yang efektif mengerti akan kebutuhan dari mereka yang
dipimpinnya, baik yang dinyatakan maupun tidak, dan ia tau bagaimana
memuaskannya.
d. Keluwesan
Pemimpin yang luwes mampu menyesuaikan organisasi untuk
mengahadapi kebutuhan yang berubah tanpa terlalu banyak meresahkan mereka
yang dipimpin.
e. Kecerdasan
Pemimpin yang efektif tidak perlu seorang yang jenius, tetapi anggota
kelompok merasa bahwa pemimpin memiliki kemampuan untuk membantu
mereka memenuhi kebutuhan pribadi.
f. Kesediaan Menerima Tanggung Jawab
Apabila seseorang pemimpin menerima kewajiban untuk mencapai suatu
tujuan, berarti ia bersedia untuk bertanggung jawab kepada pimpinannya atas apa-
apa yang dilakukan bawahanya. Disini pemimpin harus mampu mengatasi
bawahanya, mengatasi tekanan kelompok informal, bahkan kalau perlu juga harus
serikat buruh .Hampir semua pemipin merasa bahwa pekerjaan lebih banyak
menghabiskan energi daripada jabatan bukan pimpinan
g. Keterampilan Sosial
Tidak merendahkan anggota kelompok dihadapan anggota yang lainnya.
Pemimpin yang bijaksana, diplomatis dan mampu berhubungan dengan kelompok
dihargai anggota kelompok, sebab perilaku tersebut mempengaruhi performanya.
h. Kesadaran Akan Diri dan Lingkungan
Pandangan ke dalam diri, mengerti dengan penuh pengertian, dan
kesadaran yang peka terhadap lingkungannya menjadikan dirinya pemimpin yang
efektif.
Pendapat diatas menjelaskan mengenai sejumlah ciri yang umum dimiliki
oleh pemimpin yang berhasil, yaitu : kemampuan untuk berkomunikasi,
kemampuan untuk memecahkan persoalan, kesadaran akan kebutuhan, keluwesan,
kecerdasan, kesediaan menerima tanggung jawab, keterampilan sosial dan
kesadaran akan diri dan lingkungan, meskipun riset tentang kepemimpinan
tersebut tidak mengunkapkan satu sifat tunggal yang dimiliki semua pemimpin
yang berhasil

Kriteria Seorang Pemimpin


Meskipun menurut Collons mengenai riset tentang kepemimpinan tidak
mengungkapkan satu sifat tunggal yang dimiliki semua pemimpin yang berhasil,
tetapi sejumlah ciri yang umum dimiliki oleh banyak diantara mereka, telah
diidentifikasikan (dalam Timpe, 2005).
DeGaulle (dalam Timpe, 2005), Sifat yang berguna bagi pemimpin yang
dapat dipertimbangkan adalah :
a. Kemampuan Untuk Berkomunikasi
Kemamapuan untuk memberikan dan menerima informasi merupakan
keharusan bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah orang yang bekerja
dengan menggunakan bantuan orang lain, karena itu pemberian perintah,
penyampaian informasi kepada orang lain mutlak perlu dikuasai.
b. Kemampuan untuk memecahkan persoalan
Kemampuan untuk memecahkan persoalan dari mereka yang dipimpin,
atau membantu dalam pemecahan persoalan mereka, merupakan ciri lain dari
pemimpin yang efektif.
c. Kesadaran akan kebutuhan
Pemimpin yang efektif mengerti akan kebutuhan dari mereka yang
dipimpinnya, baik yang dinyatakan maupun tidak, dan ia tau bagaimana
memuaskannya.
d. Keluwesan
Pemimpin yang luwes mampu menyesuaikan organisasi untuk
mengahadapi kebutuhan yang berubah tanpa terlalu banyak meresahkan mereka
yang dipimpin.
e. Kecerdasan
Pemimpin yang efektif tidak perlu seorang yang jenius, tetapi anggota
kelompok merasa bahwa pemimpin memiliki kemampuan untuk membantu
mereka memenuhi kebutuhan pribadi.
f. Kesediaan Menerima Tanggung Jawab
Apabila seseorang pemimpin menerima kewajiban untuk mencapai suatu
tujuan, berarti ia bersedia untuk bertanggung jawab kepada pimpinannya atas apa-
apa yang dilakukan bawahanya. Disini pemimpin harus mampu mengatasi
bawahanya, mengatasi tekanan kelompok informal, bahkan kalau perlu juga harus
serikat buruh .Hampir semua pemipin merasa bahwa pekerjaan lebih banyak
menghabiskan energi daripada jabatan bukan pimpinan
g. Keterampilan Sosial
Tidak merendahkan anggota kelompok dihadapan anggota yang lainnya.
Pemimpin yang bijaksana, diplomatis dan mampu berhubungan dengan kelompok
dihargai anggota kelompok, sebab perilaku tersebut mempengaruhi performanya.
h. Kesadaran Akan Diri dan Lingkungan
Pandangan ke dalam diri, mengerti dengan penuh pengertian, dan
kesadaran yang peka terhadap lingkungannya menjadikan dirinya pemimpin yang
efektif.
Pendapat diatas menjelaskan mengenai sejumlah ciri yang umum dimiliki
oleh pemimpin yang berhasil, yaitu : kemampuan untuk berkomunikasi,
kemampuan untuk memecahkan persoalan, kesadaran akan kebutuhan, keluwesan,
kecerdasan, kesediaan menerima tanggung jawab, keterampilan sosial dan
kesadaran akan diri dan lingkungan, meskipun riset tentang kepemimpinan
tersebut tidak mengunkapkan satu sifat tunggal yang dimiliki semua pemimpin
yang berhasil

Peran Kepemimpinan


Secara teoritis Greenberg dan Baron (dalam Basalamah, 2004),
menyatakan bahwa pemimpin dengan gayanya, tindakan – tindakannya dan
efektifitasnya mampu mempengaruhi bawahan dan organisasinya. Akan tetapi,
penelitian menunjukkan bahwa kadang – kadang pemimpin pengaruhnya sangat
kecil. Lebih lanjut dijelaskan alasan mengapa pemimpin mempunyai pengaruh
ataupun peran yang kecil terhadap organisasi, yaitu :
a. Karena pemimpin tersebut memang lemah dan tidak cocok untuk pekerjaan
yang harus diembannya
b. Dalam kondisi tertentu faktor – faktor lain dapat mensubstitusi pengaruh
pemimpin tersebut atau menetralisir pengaruh yang ditimbulkan oleh
pemimpin tersebut.
Henry Mitzburgh (dalam Luthan, 2006), berdasarkan studi observasi yang
dilakukan secara langsung, membagi tiga jenis peran pemimpin, yaitu :

  1. Peran Interpersonal (The Interpersonal Roles)
    Peran ini dapat ditingkatkan melalui jabatan formal yang dimiliki oleh
    seorang pemimpin dan antara pemimpin dengan orang lain. Peran interpersonal
    terbagi menjadi 3, yaitu :
    a. Sebagai Simbol Organisasi (Figurehead). Kegiatan yang dilakukan dalam
    menjalankan peran sebagai simbol organisasi umumnya bersifat resmi, seperti
    menjamu makan siang pelanggan.
    b. Sebagai Pemimpin (Leader). Seorang pemimpin menjalankan perannya dengan
    menggunakan pengaruhnya untuk memotivasi dan mendorong karyawannya
    untuk mencapai tujuan organisasi.
    c. Sebagai Penghubung (Liaison). Seorang pemimpin juga berperan sebagai
    penghubung dengan orang diluar lingkungannya, disamping ia juga harus dapat
    berperan sebagai penghubung antara manajer dalam berbagai level dengan
    bawahannya.
  2. Peran Informasional (The Informational Roles)
    Seringkali pemimpin harus menghabiskan banyak waktu dalam urusan
    menerima dan menyebarkan informasi. Ada tiga peran pemimpin disini.
    a. Sebagai Pemantau (Monitor). Untuk mendapatkan informasi yang valid,
    pemimpin harus melakukan pengamatan dan pemeriksaan secara kontinyu
    terhadap lingkungannya, yakni terhadap bawahan, atasan, dan selalu menjalin
    hubungan dengan pihak luar.
    b. Sebagai Penyebar (Disseminator). Pemimpin juga harus mampu menyebarkan
    informasi kepada pihak-pihak yang memerlukannya.
    c. Sebagai Juru Bicara (Spokesman). Sebagai juru bicara, pemimpin berperan
    untuk menyediakan informasi bagi pihak luar.
  3. Peran Pembuat Keputusan (The Decisional Roles)
    Ada empat peran pemimpin yang berkaitan dengan keputusan.
    a. Sebagai Pengusaha (Entrepreneur). Pemimpin harus mampu memprakasai
    pengembangan proyek dan menyusun sumberdaya yang diperlukan. Oleh
    karena itu pemimpin harus memiliki sikap proaktif.
    b. Sebagai Penangkal Gangguan (Disturbance Handler). Pemimpin sebagai
    penghalau gangguan harus bersikap reaktif terhadap masalah dan tekanan
    situasi.
    c. Sebagai Pengalokasi Sumber Daya (Resource Allocator). Disini pemimpin
    harus dapat memutuskan kemana saja sumber dana akan didistribusikan ke
    bagian-bagian dari organisasinya. Sumber dana ini mencakup uang, waktu,
    perbekalan, tenaga kerja dan reputasi.
    d. Sebagai Juru Runding (Negotiator). Seorang pemimpin harus mampu
    melakukan negosiasi pada setiap tingkatan, baik dengan bawahan, atasan
    maupun pihak luar.
    Sedangkan Anoraga et al. (dalam Mulyadi, 2013) mengemukakan bahwa
    ada sembilan peranan kepemimpinan dalam organisasi, yaitu :
  4. Pemimpin sebagai perencana
  5. Pemimpin sebagai pembuat kebijakan
  6. Pemimpin sebagai ahli
  7. Pemimpin sebagai pelaksana
  8. Pemimpin sebagai pengendali
  9. Pemimpin sebagai pemberi hadiah tau hukuman
  10. Pemimpin sebagai lambang atau simbol
  11. Pemimpin sebagai tempat menimpakan segal a kesalahan
  12. Pemimpin sebagai pengganti peran anggota lain
    Daft (dalam Budiarto, 2004), mengemukakan bahwa peran kepemimpinan
    adalah sebagai berikut :
    a. Sebuah posisi dalam suatu struktur kelompok
    b. Pemimpin sebagai peran dari serangkaian perilaku yang diharapkan
    c. Pemimpin sebagai peran dari aktivitas kelompok
    d. Pemimpin sebagai manusia.
    Kepemimpinan mengandung unsur-unsur:
    a. Adanya kemampuan mempengaruhi orang lain
    b. Adanya kemampuan untuk mengarahkan tingkah laku kelompok yang
    dipimpin
    c. Adanya usaha pencapaian tujuan organisasi
    Dougherty dan Hardy (dalam Retnaningsih, 2007) menyatakan bahwa
    level tinggi keterlibatan peran akan dikaitkan dengan level tinggi komitmen peran
    diantara para manajer dengan tanggung jawab implementasi akan meningkatkan
    kinerja. Otonomi peran adalah sejauh mana manajer mempunyai kebebasan untuk
    mengambil keputusan berarti dan secara independen menyesuaikan perilaku
    dalam menjalankan peran. Otonomi peran menerangkan level tinggi
    pemberdayaan dan “kehilangan” mekanisme kontrol manajemen atas.
    Signifikansi peran adalah sejauh mana peran dipandang penting utnuk
    keberhasilan keseluruhan usaha implementasi. Level tinggi signifikansi peran
    yang dipersepsikan akan dikaitkan dengan level tinggi komitmen peran diantara
    para manajer dengan tanggung jawab implementasi (Noble dan Mokwa, dalam
    Retnanigsih, 2007).
    Dalam mengelola orang lain, peran pemimpin adalah meyakinkan para
    pengikutnya bahwa jika karyawan meningkatkan pertambahan performa, maka
    mereka akan menerima sejenis imbalan yang nyata, atau penambahan jaminan.
    Sesuai dengan itu, maka dimensi dasar dari kepengikutan (orang yang dipimpin)
    adalah keinginan untuk perbaikan pekerjaan, pengakuan dan keinginan terlindung
    dari kegagalan. Artinya, peran kepemimpinan akan efektif bila pemimpin
    menyadari apa yang dikehendaki pengikut dan apa yang mereka takuti, (Timpe,
    2005)

Pengertian Kepemimpinan


Kepemimpinan tidak sama artinya dengan manager, kepemimpinan adalah
suatu kemampuan yang lebih tinggi. Pemimpin adalah orang yang menentukan
kemana arah bisnis, arah tujuan internal maupun eksternal, dan menyelaraskan
aset dan keterampilan organisasi dengan kesempatan dan resiko yang dihadapkan
oleh lingkungan. (Timpe, 2005).
Wood, et al. (dalam Budiarto, 2004) mendefinisikan kepemimpinan
sebagai pola hubungan interpersonal yang mempengaruhi individu atau kelompok
untuk menyelesaikan suatu tugas. Sementara itu Greenberg dan Baron (dalam
Budiarto, 2004) mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu proses di mana
seorang individu mempengaruhi anggota kelompok lainnya dalam pencapaian
tujuan-tujuan kelompok.
Pemimpin adalah seseorang yang mempergunakan wewenangya untuk
mengarahkan orang lain serta bertanggungjawab atas pekerjaan orang tersebut
dalam mencapai tujuan. Dimana kepemimpinan adalah gaya seorang pemimpin
mempengaruhi bawahannya, agar mau bekerjasama dan bekerja efektif sesuai
dengan perintahnya, (Hasibuan, 2005)
Menurut Terry (dalam Basalamah, 2004) kepemimpinan adalah suatu
proses mempengaruhi orang lain untuk berusaha secara sukarela mencapai tujuan
organisasi atau kelompok. Sedangkan Tannenbaum, dkk mengemukakan bahwa
kepemimpinan adalah suatu proses saling mempengaruhi antar individu, yang
dilakukan dan diarahkan melalui proses komunikasi dalam rangka pencapaian
tujuan (dalam Basalamah, 2004). Koontz dan Donnel mendefiisikan bahwa
kepemimpinan adalah proses mempengaruhi orang lain untuk mengikuti atau
melakukan usaha pencapaian tujuan bersama (dalam Basalamah, 2004).
Dari beberapa definisi diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa
kepemimpinan adalah suatu proses mengarahkan aktivitas orang lain (individu
maupun kelompok) dalam usaha mencapai suatu tujuan pada situasi tertentu

Azas Kompensasi


Hasibuan (2005), menyatakan bahwa agar dalam pelaksanaannya program
kompensasi dapat berjalan secara efektif, maka program kompensasi tersebut
harus menerapkan azas-azas kompensasi yaitu:

  1. Azas Adil, artinya besarnya kompensasi yang diberikan kepada karyawan
    harus disesuaikan dengan prestasi kerja, jenis pekerjaan, resiko pekerjaan,
    tanggung jawab, jabatan pekerjaan dan memenuhi persyaratan internal
    konsisten.
  2. Azas layak dan wajar, artinya kompensasi yang diberikan kepada karyawan
    harus dapat memenuhi kebutuhannya pada tingkat normatif yang ideal.
    Dari pendapat diatas, disimpulkan bahwa azas dari komensasi adalah azas
    adil serta layak dan wajar. Azas adil dimaksudkan adalah kompensasi disesuaikan
    dengan prestasi kerja, jenis dan resiko pekerjaan, sedangkan azas layak dan wajar
    adalah kompensasi harus memenuhi kebutuhan yang layak bagi karyawan

Jenis-Jenis Kompensasi


Sikula (dalam Mangkunegara, 2005) mengemukakan bahwa proses
administrasi upah atau gaji (kadang-kadang disebut kompensasi) melibatkan
pertimbangan atau keseimbangan pertimbangan. Kompensasi merupakan sesuatu
yang dipertimbangkan sebagai suatu yang sebanding. Dalam kepegawaian, hadiah
yang bersifat uang merupakan kompensasi yang diberikan kepada pegawai
sebagai penghargaan dari pelayanan mereka. Bentuk-bentuk pemberian upah,
bentuk upah dan gaji digunakan untuk mengatur pemberian keuangan antara
majikan dan pegawainya. Pemberian upah merupakan imbalan, pembayaran untuk
pelayanan yang telah diberikan oleh pegawai.
Sangat banyak bentuk-bentuk pembayaran upah, baik yang berupa uang
(financial) maupun yang bukan berupa uang (nonfinancial). Pembayaran upah
biasanya dalam bentuk konsep pembayaran yang berarti luas daripada merupakan
ide-ide gaji dan upah yang secara normal berupa keuangan tetapi tidak suatu
dimensi yang nonfinancial.
Amstrong dan Murlis (2003), menjelaskan bahwa pemberian kompensasi
dapat dalam bentuk – bentuk sebagai berikut:
a. Kompensasi finansial
Kompensasi finansial adalah berkaitan dengan pemberian gaji dasar dan
gaji variabel serta ketentuan ketentuan mengenai tunjangan dan pensiun
karyawan. Dimana kompensasi finansial meliputi :

  1. Gaji pokok
  2. Survey gaji dan evaluasi jabatan
  3. Struktur gaji
  4. Gaji kontingen
  5. Tunjangan dan pensiun karyawan
  6. Remunerasi total
    b. Kompensasi non finansial
    Kompensasi non finansial memfokuskan pada kebutuhan orang untuk
    mendapatkan penghargaan, berprestasi, bertanggungjawab, dan pengembangan
    peluang akan promosi jabatan yang bisa berkontribusi pada peningkatan motivasi,
    komitmen dan kinerja. Kompensasi non finansial dapat memiliki dampak yang
    sangat besar pada motivasi dan komitmen darpada sekedar kompensasi dalam
    bentuk uang. Proses imbalan nonfinansial memainkan peran penting dalam
    pengembangan dan implementasi strategi imbalan keseluruhan.
    Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa jenis – jenis kompensasi
    adalah kompensasi finansial dan kompensasi non finansial. Dimana kompensasi
    finansial meliputi gaji dan insentif sedangkan kompensasi non finansial seperti
    penghargaan, peluang akan promosi jabatan

Komponen-Komponen Kompensasi


Setelah suatu organisasi membuat sebuah keputusan tentang pemberian
kompensasi bagi karyawannya, selanjutnya disusun sebuah program pemberian
kompensasi. Di dalam program pemberian kompensasi ini meliputi, sekurang –
kurangnya 8 komponen, antara lain sebagai berikut:

  1. Organisasi administrasi pemberian kompensasi
    Pengorganisasian dan administrasi pemberian kompensasi ini sangat
    diperlukan sekali. Sebab pemberian kompensasi bukanlah sekedar membagikan
    upah atau gaji kepada karyawan saja, melainkan harus memperhitungkan
    kemampuan organisasi serta produktivitas karyawan dan aspek-aspek lainnya
    yang berhubungan dengan itu.
  2. Metode pemberian kompensasi
    Dalam pemberian kompensasi digunakan beberapa metode diantaranya:
    a. Metode Tunggal
    Metode tunggal yaitu metode yang dalam penetapan gaji pokok hanya
    didasarkan atas ijazah terakhir dari pendidikan formal yang dimiliki karyawan.
    b. Metode jamak
    Metode jamak yaitu suatu metode yang dalam gaji pokok berdasarkan atas
    beberapa pertimbangan seperti ijazah, sifat pekerjaan, pendidikan, informal.
  3. Struktur pemberian kompensasi
    Struktur pemberian kompensasi yang baik adalah menganut faham
    keadilan. Setiap karyawan akan memperoleh kompensasi sesuai denagn tanggung
    jawab pekerjaannya.
  4. Program pemberian kompensasi sebagai perangsang kerja
    Suatu program pemberian kompensasi bukan semata-mata didasarkan
    sebagai imbalan atas pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran karyawan terhadap
    organisasi, melainkan juga merupakan cara untuk merangsang dan meningkatkan
    kegairahan kerja.
  5. Tambahan sumber pendapatan bagi karyawan
    Dengan program kompensasi yang baik bukan saja memperoleh upah atau
    gaji yang rutin, melainkan juga memperoleh tambahan sumber pendapatan selain
    upah atau gaji tersebut.
  6. Terjaminnya sumber pendapatan dan peningkatan jumlah imbalan jasa
    Setiap karyawan suatu organisasi mengharapakan bahwa kompensasi yang
    diterima tidak akan menurun, dan bahkan setiap waktu akan naik. Oleh sebab itu
    pemberian kompensasi harus menjamin bahwa organisasinya adalah merupakan
    sumber pendapatan bagi karyawannya, dan selalu memikirkan adanya
    peningkatan jumlah kompensasi.
  7. Kompensasi bagi kelompok manajerial
    Pimpinan atau atasan pada setiap organisasi adalah merupakan kelompok
    yang bertanggung jawab mati hidupnya organisasi. Oleh sebab itu wajar apabila
    kompensasi yang mereka terima lebih besar daripada karyawan biasa.
  8. Prospek dimasa depan
    Untuk memperhitungkan prospek yang akan datang ini perlu
    memperhitungkan tiga dimensi waktu yaitu: keadaan organisasi pada waktu yang
    lalu, kondisi organisasi saat ini, dan prospek masa yang akan datang.
    Dari penjelasan diatas, disimpulkan bahwa komponen – komponen dalam
    kompensasi meliputi : Organisasi administrasi pemberian kompensasi, metode
    pemberian kompensasi, struktur pemberian kompensasi, program pemberian
    kompensasi sebagai perangsang kerja, tambahan sumber pendapatan bagi
    karyawan, terjaminnya sumber pendapatan dan peningkatan jumlah imbalan jasa,
    kompensasi bagi kelompok manajerial, dan prospek dimasa depan