Indikator Pemberian Kompensasi
Menurut Mangkunegara (2011), beberapa indikator kompensasi, yaitu :

  1. Tingkat bayaran
    Tingkat bayaran bisa diberikan tinggi, rata-rata, atau rendah bergantung pada
    kondisi perusahaan. Artinya, tingkat pembayaran bergantung pada kemampuan
    perusahaan membayar jasa pegawainya
  2. Struktur bayaran
    Struktur pembayaran berhubungan dengan rata-rata bayaran, tingkat
    pembayaran, dan klasifikasi jabatan di perusahaan.
  3. Penentuan bayaran individu
    Penentuan bayaran individu perlu didasarkan pada rata-rata tingkat bayaran,
    tingkat pendidikan, masa kerja, dan prestasi kerja pegawai.
  4. Metode pembayaran
    Ada dua metode pembayaran, yaitu metode pembayaran yang didasarkan pada
    waktu (per jam, per hari, per minggu, per bulan). Kedua metode ini didasarkan
    pada pembagian hasil.
  5. Kontrol pembayaran
    Kontrol pembayaran merupakan pengendalian secara langsung dan tidak
    langsung dari biaya kerja. Pengendalian biaya merupakan faktor utama dalam
    administrasi upah dan gaji. Tugas mengontrol pembayaran adalah
    mengembangkan standar kompensasi dan meningkatkan fungsinya, mengukur
    hasil yang bertentangan dengan standar tetap, serta meluruskan perubahan
    standar pembayaran upah.
    Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang menjadi indikator
    dalam pemberian kompensasi adalah : tingkat bayaran, struktur bayaran,
    penentuan bayaran individu, metode pembayaran dan kontrol pembayaran

Tujuan Kompensasi


Martoyo (dalam Nugroho, dkk, 2012) menyatakan bahwa tujuan
pemberian kompensasi adalah :

  1. Pemenuhan kebutuhan ekonomi karyawan atau sebagai jaminan ekonomi
    bagi pegawai;
  2. Mendorong agar pegawai lebih baik dan lebih giat;
  3. Menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kemajuan;
    Sedangkan menurut Hasibuan (2005), tujuan pemberian kompensasi
    adalah sebagai berikut :
  4. Ikatan Kerja Sama
    Dengan pemberian kompensasi terjalin ikatan kerja sama formal antara
    majikan dengan karyawan. Karyawan harus mengerjakan tugas-tugasnya
    dengan baik, sedangkan pengusaha/majikan wajib membayar kompensasi
    sesuai dengan perjanjian yang disepakati.
  5. Kepuasan Kerja
    Dengan balas jasa, karyawan akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
    fisik, status sosial, dan egoistiknya sehingga memperoleh kepuasan kerja dari
    jabatannya.
  6. Pengadaan Efektif
    Jika program kompensasi ditetapkan cukup besar, pengadaan karyawan yang
    qualified untuk perusahaan akan lebih mudah.
  7. Motivasi
    Jika balas jasa yang diberikan cukup besar, manajer akan mudah memotivasi
    bawahannya.
  8. Stabilitas Karyawan
    Dengan program kompensasi atas prinsip adil dan layak serta eksternal
    konsistensi yang kompentatif maka stabilitas karyawan lebih terjamin karena
    turn-over relative kecil.
  9. Disiplin
    Dengan pemberian balas jasa yang cukup besar maka disiplin karyawan
    semakin baik. Mereka akan menyadari serta mantaati peraturan-peraturan
    yang berlaku.
  10. Pengaruh Serikat Buruh
    Dengan program kompensasi yang baik pengaruh serikat buruh dapat
    dihindarkan dan karyawan akan berkonsentrasi pada pekerjaannya.
  11. Pengaruh Pemerintah
    Jika program kompensasi sesuai dengan undang-undang perburuhan yang
    berlaku (seperti batas upah minimum) maka intervensi pemerintah dapat
    dihindarkan.
    Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pemberian
    kompensasi adalah senagai berikut : Pemenuhan kebutuhan ekonomi karyawan
    atau sebagai jaminan ekonomi bagi pegawai, mendorong agar pegawai lebih baik
    dan lebih giat, Menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kemajuan. Serta
    tujuan lainnya adalah sebagai berikut : sebagai ikatan kerja sama, menciptakan
    kepuasan kerja, tujuan efektifitas, untuk memotivasi, menjaga stabilitas karyawan,
    peningkatan disiplin, mengurangi pengaruh serikat buruh, serta menghindarkan
    dari intervensi pemerintah

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kompensasi


Kebijakan atau peraturan tentang pemberian kompensasi dalam suatu
organisasi terhadap karyawan bukan sesuatu yang statis, melainkan bersifat
dinamis. Hal ini berarti bahwa ketentuan pemberian kompensasi suatu organisasi
dapat berubah-ubah dari waktu ke waktu. Perubahan dalam ketentuan pemberian
kompensasi dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut Hasibuan (2005) faktor-
faktor yang mempengaruhi kompensasi antara lain sebagai berikut:

  1. Penawaran dan Permintaan Kerja
    Jika pencari kerja (penawaran) lebih banyak daripada lowongan pekerjaan
    (permintaan) maka kompensasi relatif kecil. Sebaliknya jika pencari kerja
    lebih sedikit daripada lowongan pekerjaan, maka kompensasi relatif semakin
    besar.
  2. Kemampuan dan Kesediaan Perusahaan
    Apabila kemampuan dan kesediaan perusahaan untuk membayar semakin
    baik maka tingkat kompensasi akan semakin besar.
  3. Serikat Buruh / Organisasi Perusahaan
    Apabila serikat buruhnya kuat dan berpengaruh maka tingkat kompensasi
    semakin besar. Sebaliknya jika serikat buruh tidak kuat dan kurang
    berpengaruh maka tingkat kompensasi relatif kecil.
  4. Produktivitas Kerja Karyawan
    Jika produktivitas kerja karyawan baik dan banyak maka kompensasi akan
    semakin besar. Sebaliknya kalau produktivitas kerjanya buruk serta sedikit
    maka kompensasinya kecil.
  5. Pemerintah dengan Undang-undang dan Keppres
    Pemerintah dengan undang-undang dan keppres menetapkan besarnya batas
    upah/balas jasa minimum. Peraturan Pemerintah ini sangat penting supaya
    pengusaha tidak sewenag-wenang menetapkan besarnya balas jasa bagi
    karyawan.
  6. Biaya Hidup / Cost Living
    Apabila biaya hidup di daerah itu tinggi maka tingkat kompensasi/upah
    semakin besar. Sebaliknya, jika tingkat biaya hidup di daerah itu rendah maka
    tingkat upah/kompensasi relatif kecil.
  7. Posisi Jabatan Karyawan
    Karyawan yang menduduki jabatan lebih tinggi akan menerima
    gaji/kompensasi lebih besar. Sebaliknya karyawan yang menduduki jabatan
    yang lebih rendah akan memperoleh gaji/kompensasi yang kecil.
  8. Pendidikan dan Pengalaman Kerja
    Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja lebih lama maka gaji/balas
    jasanya akan semakin besar, karena kecakapan serta keterampilannya lebih
    baik. Sebaliknya, karyawan yang berpendidikan rendah dan pengalaman kerja
    yang kurang maka tingkat gaji/kompensasinya kecil.
  9. Kondisi Perekonomian Nasional
    Apabila kondisi perekonomian nasional sedang maju (boom) maka tingkat
    upah/kompensasi akan semakin besar, karena akan mendekati kondisi full
    employment. Sebaliknya jika kondisi perekonomian kurang maju (depresi)
    maka tingkat upah rendah, karena terdapat banyak penganggur (disqueshed
    unemployment).
  10. Jenis dan Sifat Pekerjaan
    Kalau jenis dan sifat pekerjaan yang sulit dan mempunyai resiko (finansial,
    keselamatan) yang besar maka tingkat upah/balas jasanya semakin besar
    karena membutuhkan kecakapan serta ketelititan untuk mengerjakannya.
    Tetapi jika jenis dab sifat pekerjaannya mudah dan resiko (finansial,
    kecelakaannya) kecil, tingkat upah/balas jasanya relatif rendah.
    Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kompensasi menurut,
    Megginson (dalam Mangkunegara, 2011) adalah sebagai berikut:
  11. Faktor Pemerintah
    Peraturan pemerintah yang berhubungan dengan penentuan standar gaji
    minimal, pajak penghasilan, penetapan harga bahan baku, biaya transportasi,
    inflasi maupun devaluasi sangat mempengaruhi perusahaan dalam
    menentukan pemberian kompensasi karyawan.
  12. Penawaran Bersama antara Perusahaan dan Karyawan
    Dalam menentukan kompensasi dapat dipengaruhi pula pada saat terjadinya
    tawar menawar mengenai besarnya upah yang harus diberikan oleh
    perusahaan kepada karyawannya.
  13. Standard dan Biaya Hidup Karyawan
    Dalam pemberian kompensasi perlu mempertimbangkan standar dan biaya
    hidup minimal karyawan. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar dan rasa
    aman karyawan akan memunkinkan karyawan dapat bekerja dengan penuh
    motivasi untuk mencapai tujuan perusahaan.
  14. Ukuran Perbandingan Upah
    Dalam menentukan kompensasi dipengaruhi pula oleh ukuran besar kecilnya
    perusahaan, tingkat pendidikan karyawan, masa kerja karyawan. Artinya,
    perbandingan tingkat upah karyawan perlu memperhatikan tingkat
    pendidikan, masa kerja, dan ukuran perusahaan.
  15. Permintaan dan Persediaan
    Dalam menentukan kompensasi karyawan perlu mempertimbangkan tingkat
    persediaan dan permintaan pasar. Artinya, kondisi pasar saat itu perlu
    dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan tingkat upah karyawan.
  16. Kemampuan Membayar
    Dalam menentukan kompensasi karyawan perlu didasarkan pada kemampuan
    perusahaan dalam membayar upah karyawan. Artinya, jangan sampai
    menentukan kebijakan kompensasi diluar batas kemampuan yang ada pada
    perusahaan

Pengertian Persepsi Keadilan Kompensasi


Kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk uang, barang
langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa
yang diberikan kepada perusahaan (Hasibuan, 2005). Sedangkan menurut Sirkula
(dalam Mangkunegara, 2011) Kompensasi merupakan sesuatu yang
dipertimbangkan sebagai suatu yang sebanding sebagai pembayaran untuk
pelayanan yang telah diberikan karyawan.
Menurut Mangkunegara (2011) kompensasi merupakan hal yang sangat
berpengaruh terhadap motivasi, kepuasan dan hasil kerja karyawan, sebab itu
kompensasi yang diberikan perusahaan harus mempertimbangkan standar
kehidupan normal dari karyawan.
Sependapat dengan Mangkunegara, Retnaningsih (2007) mengemukakan
bahwa keadilan kompensasi adalah faktor penting yang mempengaruhi
bagaimana dan mengapa organisasi bekerja pada suatu organisasi dan bukan pada
organisasi lainnya. Organisasi harus cukup kompetitif dengan beberapa jenis
keadilan kompensasi untuk mempekerjakan, mempertahankan dan memberikan
imbalan terhadap kinerja setiap individu. Biaya keadilan kompensasi merupakan
biaya signifikan dalam kebanyakan organisasi. Meskipun biaya keadilan
kompensasi relatif mudah dihitung, nilai yang didapat pengusaha dan karyawan
lebih sulit diidentifikasikan untuk mengadministrasikan biaya-biaya ini secara
bijaksana maka perlu ada kerja sama antara sumber daya manusia dan para
manajer.
Persepsi keadilan kompensasi karyawan merujuk pada semua bentuk
pandangan suatu karyawan terhadap kesesuaian imbalan yang diterima dari
pekerjaan mereka. Keadilan kompensasi mempunyai dua komponen yaitu:
pembayaran keuangan langsung (dalam bentuk upah, gaji, insentif, komisi dan
bonus) dan pembayaran yang tidak langsung (dalam bentuk tunjangan keuangan
seperti asuransi dan uang liburan yang diberikan organisasi atau atasan). Keadilan
kompensasi pada prinsipnya adalah sama akan tetapi bagi karyawan yang
prestasinya beda maka akan memperoleh keadilan kompensasi yang berbeda pula
tergantung pada prestasi kerja mereka. Ada kalanya karyawan mendapatkan
insentif atau bonus karena prestasi kerja mereka, meskipun banyak sekali jenis
insentif tetapi yang paling umum adalah bonus (Suhartini, 1999).
Menurut Suhartini (1999) ada tiga macam keadilan dalam keadilan
kompensasi yaitu keadilan individu, keadilan internal dan keadilan eksternal.
Keadilan individu mengacu pada perasaan keadilan yang dirasakan karyawan
dalam menerima keadilan kompensasi, sedangkan keadilan prosedural mengacu
pada perasaan keadilan atas cara/alat yang digunakan untuk menentukan keadilan
kompensasi yang diterima. Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa keadilan
internal dapat digunakan untuk memprediksi kepuasan karyawan dalam menerima
gaji secara internal. Sedangkan keadilan eksternal dapat digunakan untuk
mengetahui kepuasan karyawan juga untuk mengevaluasi manajemen dan juga
konflik yang dirasakan karyawan atas keadilan kompensasi berdasarkan
perbandingan keadlian kompensasi organisasi pesaing

Pengertian Persepsi


Menurut Goerge dan Jones (dalam Basalamah, 2004), persepsi adalah
suatu proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan dan
menginterpretasikan masukan melalui panca indera (mata, telinga, kulit, hidung
dan lidah) untuk memberikan arti dan tatanan bagi dunia sekelilingnya.
Sedangkan Robbins berpendapat bahwa persepsi adalah proses dimana
individu mengorganisasikan dan menginterpretasikan pemahaman indera mereka
guna memberikan arti bagi lingkungan mereka (dalam Basalamah, 2004).
Kedua definisi diatas memilki kesamaan dalam menyatakan persepsi
sebagai suatu proses mengorganisasikan dan mengimplementasikan sesuatu yang
diperoleh panca indera. Yang artinya adalah dari penglihatan mata, perasaan kulit
atau lidah, penciuman hidung, atau pendengaran telinga seseorang memperoleh
data tertentu yang selanjutnya akan diorganisasikan dan diinterpretasikan di dalam
proses tersebut.
Kemp dan Dayton (dalam Prawiradilaga, 2004) menyatakan bahwa
persepsi merupakan suatu proses dimana seseorang menyadari keberadaan
lingkungannya serta dunia yang mengelilinginya. Persepsi terjadi karena setiap
manusia memiliki indra untuk menyerap objek-objek serta kejadian disekitarnya.
Pada akhirnya persepsi dapat mempengaruhi cara berfikir, bekerja, serta bersikap
pada diri seseorang. Hal ini terjadi karena orang tersebut dalam mencerna
informasi dari lingkungannya berhasil melakukan adaptasi sikap, pemikiran, atau
prilaku terhadap informasi tersebut

Menciptakan dan Menumbuhkan Komitmen Karyawan Terhadap Organisasi


Menurut Martin dan Nicholas (dalam Amstrong, 2003) ada 3 pilar besar
dalam komitmen. Ketiga pilar itu, meliputi : a sense of belonging to the
organization; a sense of excitement in the job; dan pentingnya rasa memiliki
(ownership).
a. A sense of belonging to the organization
Untuk mencapai rasa memiliki tersebut, maka salah satu pihak dalam
manajemen harus mampu membuat karyawan: 1) mampu mengidentifikasikan
dirinya terhadap organisasi; 2) merasa yakin bahwa apa yang dilakukannya /
pekerjaannya adalah berharga bagi organisasi tersebut; 3) merasa nyaman
dengan organisasi tersebut; 4) merasa mendapat dukungan yang penuh dari
organisasi dalam bentuk misi yang jelas (apa yang direncanakan untuk
dilakukan); nilai-nilai yang ada (apa yang diyakini sebagai hal yang penting
oleh manajemen) dan norma-norma yang berlaku (cara-cara berperilaku yang
bisa diterima oleh organisasi).
b. Perasaan bergairah terhadap pekerjaan (a sense of excitement in the job)
Perasaan bergairah terhadap pekerjaan (a sense of excitement in the job)
Perasaan seperti ini bisa dimunculkan dengan cara: 1) mengenali faktor faktor
motivasi intrinsik dalam mengatur desain pekerjaan (job design); 2) kualitas
kepemimpinan; 3) kemauan manajer dan supervisor untuk mengenali bahwa
motivasi dan komitmen karyawan bisa meningkat jika ada perhatian terus
menerus, memberi delegasi atas wewenang, serta memberi kesempatan serta
ruang yang cukup bagi karyawan untuk menggunakan ketrampilan dan
keahliannya secara maksimal
c. Pentingnya rasa memiliki (ownership)
Rasa memiliki bisa muncul jika karyawan merasa bahwa mereka benar-benar
diterima menjadi bagian atau kunci penting dari organisasi. Konsep penting
dari ownership akan meluas dalam bentuk partisipasi dalam membuat
keputusan-keputusan dan mengubah praktik kerja, yang pada akhirnya akan
mempengaruhi keterlibatan karyawan. Jika karyawan merasa dilibatkan dalam
membuat keputusan-keputusan dan jika karyawan merasa ide-idenya didengar
dan jika karyawan merasa memberi kontribusi yang ada pada hasil yang
dicapai, maka karyawan akan cenderung menerima keputusan-keputusan atau
perubahan yang dilakukan. Hal ini dikarenakan karyawan merasa dilibatkan,
bukan karena dipaksa.
Ada lima faktor kunci untuk mengembangkan komitmen karyawan pada
organisasi yang dijabarkan Susatyo (dalam Fajariyanti, 2002) berdasarkan riset
yang bertajuk Asian Employe Report 2001 yang perlu diperhatikan pengelola
organisasi :

  1. Fairness at work
    Apakah karyawan diperlukan secara fair oleh organisasi? Unsur yang harus
    diperhatikan: penilaian kinerja dilakukan secara adil, peraturan organisasi
    memihak secara seimbang baik terhadap karyawan maupun organisasi,
    implementasi peraturan organisasi dilakukan secara adil dan merata, gaji
    diberikan sesuai kontribusi karyawan
  2. Trusted in the job
    Apakah karyawan dipercaya dalam pekerjannya? Faktor ini mencakup :
    dipercaya menggunakan dan menguasai asset organisasi untuk tujuan yang
    tepat, didorong mencoba cara dan metode baru dalam melakukan pekerjaan,
    mengatur waktu sendiri dalam bekerja, diberi keleluasaan membuat
    keputusan, dipercaya mengetahui informasi (terbatas) mengenai organisasi.
  3. Availability of the right resources
    Apakah karyawan diberikan sumber daya yang memadai untuk dapat bekerja
    dengan baik? Faktor ini menggambarkan tersedianya peralatan dan
    perlengkapan kerja, pelatihan dan peluang pengembangan diri, tersedianya
    waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan, jumlah personel yang
    memadai untuk merampungkan pekerjaan.
  4. Genuine care and concern for employee
    Apakah organisasi memperlihatkan perhatian dan kepedulian yang tulus
    terhadap kondisi karyawan? Faktor ini dijabarkan atas kepedulian terhadap
    perasaan karyawan dalam bekerja di organisasi, tunjangan keluarga, organisasi
    memikirkan karir jangka panjang karyawan, umpan balik mengenai kinerja,
    organisasi membantu bila kebutuhan mendesak.
  5. Having a well – defined job
    Apakah karyawan memiliki pekerjaan yang terdefinisi dengan jelas? Unsur-
    unsur yang dapat menjelaskan faktor ini adalah deskripsi kerja yang jelas,
    target jangka pendek yang gamblang, tidak ada perintah yang simpang siur,
    hasil yang diharapkan atasan harus jelas

Perkembangan Pendekatan Terhadap Komitmen Pada Organisasi


Dalam perkembangannya, konsep komitmen pada organisasi didefinisikan
dan diukur dengan berbagai cara yang berbeda. Pendekatan – pendekatan teoritis
yang utama, muncul dari riset sebelumnya atas komitmen, yaitu :
a. Pendekatan Sikap (Attitudinal Approach).
Komitmen menurut pendekatan ini menunjuk pada permasalahan
keterlibatan dan loyalitas. Menurut pendekatan ini, “Commitment is viewed as on
attitude of attachment to the organization, which leads to particular job – related
behaviors “ (Muthuveloo dan Rose, 2005).
Menurut pendekatan ini, komitmen dipandang sebagai suatu sikap
keterikatan kepada organisasi, yang berperan penting pada pekerjaan tertentu dan
perilaku yang terkait. Sebagai contoh, karyawan yang memiliki komitmen tinggi,
akan rendah tingkat absensinya, dan lebih kecil kemungkinannya untuk
meninggalkan organisasi dengan sukarela, dibandingkan dengan lebih karyawan
yang memiliki komitmen rendah. Konsep komitmen pada organisasi dar
Mowday, Porter, dan Steers (dalam Luthans, 2006), merupakan pendekatan
sikap; dimana, Komitmen didefinisikan sebagai :

  1. Keinginan yang kuat untuk tetap sebagai anggota organisasi tertentu ;
  2. Keinginan untuk berusaha keras sesuai keinginan organisasi;
  3. Keyakinan tertentu dan penerimaan nilai dan tujuan organisasi.
    Karyawan yang memiliki komitmen tinggi merasakan adanya loyalitas dan rasa
    memiliki organisasi; memiliki keinginan kuat untuk tetap bergabung dengan
    organisasi; terlibat sungguh-sungguh dalam pekerjaannya; dan menampilkan
    tingkah laku yang sesuai dengan tujuan organisasi.
    b. Pendekatan Perilaku (Behavioral Approach)
    Pendekatan ini menitikberatkan pandangan bahwa investasi karyawan
    (berupa waktu, pertemanan, pension, dan lain-lain) membuat ia terikat untuk loyal
    terhadap organisasi. Dalam pendekatan ini, komitmen pada organisasi
    didefinisikan sebagai : profit associated with continued participation and a cost’
    associated with leaving”. Menurut White (dalam Armstrong, 2003), komitmen
    pada organisasi terdiri dari tiga area keyakinan ataupun perilaku yang ditampilkan
    oleh karyawan terhadap organisasi , yaitu :
    a. Keyakinan dan penerimaan terhadap organisasi, tujuan dan nilai – nlai yang
    ada di organisasi tersebut.
    b. Adanya keinginan untuk berusaha sebaik mungkin sesuai dengan keinginan
    organisasi. Hal ini tercakup diantaranya menunda waktu libur untuk
    kepentingan organisasi dan bentuk pengorbanan yang lain tanpa
    mengharapkan personal gain secepatnya.
    c. Keyakinan untuk mempertahankan keanggotaannya di organisasi tersebut
    Matieu dan Zajack (dalam Muchinsky, 1993) menyatakan bahwa seseorang
    yang terlalu berkomitmen pada organisasi akan cenderung berkurang
    pengembangan dirinya (Self Development); dan bila komitmen mencerminkan
    identifikasi dan keterlibatan dalam organisasi, maka organisasi akan mendapat
    keuntungan dengan berkurangnya turnover, adanya prestasi yang lebih bai

Aspek-Aspek Komitmen Karyawan Pada Organisasi.


Komitmen seseorang terhadap organisasi tidak muncul dalam seketika,
melainkan muncul melalui beberapa tahap atau fase. Meyer dan Allen (1990),
menemukan bahwa komitmen pada organisasi memiliki tiga aspek yaitu :
a. Komitmen Afektif
Salah satu komponen pembentuk komponen adalah aspek kelekatan afektif
karyawan terhadap perusahaan tempatnya bekerja. Seorang karyawan dikatakan
memiliki kelekatan afektif dengan organisasi tempatnya bekerja bila yang
bersangkutan bersedia untuk menerima nilai-nilai yang dianut oleh organisasi,
memiliki kemauan untuk berusaha keras demi kemajuan organisasi, dan memiliki
keinginan untuk tetap berada dalam organisasi. Selanjutnya, kelekatan afektif ini
disebut sebagai komitmen afektif.
b. Komitmen Keberlanjutan
Aspek kedua ini adalah persepsi mengenai biaya. Hal ini merupakan suatu
keadaan dimana seorang karyawan terus berada dalam organisasi karena adanya
pertimbangan biaya yang ia rasakan bila ia berhenti bekerja pada organisasi
tersebut.
c. Komitmen Normatif
Aspek kewajiban merupakan sebuah kondisi dimana karyawan tetap
bertahan pada perusahaan karena merasa harus memenuhi kewajibannya terhadap
organisasi. Jewel dan Siegall (1998) mempunyai pendapat bahwa keterikatan
terhadap organisasi sebagai sifat hubungan antara individu dengan organisasi.
Menurut tokoh tersebut ada tiga aspek keterikatan terhadap organisasi, yaitu
a. Adanya kepercayaan dan penerimaan yang begitu kuat terhadap nilai dan
tujuan organisasi.
b. Adanya kemauan untuk bekerja keras bagi kepentingan organisasi
c. Mempunyai keinginan yang kuat menjadi anggota organisasi

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Karyawan PadaOrganisasi


Faktor penentu komitmen karyawan pada organisasi dapat berasal dari
kondisi internal karyawan maupun kondisi eksternal yang berasal dari organisasi.
Kedua penentu ini berpengaruh besar dalam menciptakan komitmen pada
organisasi (Budiarto, 2004).
Menurut Luthans (dalam Budiarto, 2004), faktor penentu komitmen pada
organisasi adalah variabel-variabel (umur, masa jabatan dalam organisasi, dan
kecenderungan afeksifitas positif atau negatif, atau kontrol (internal dan eksternal)
dan organisasi (desain kerja dan gaya kepemimpinan supervisor). Selain itu,
komitmen karyawan terhadap organisasi juga ditandai dengan sikap-sikap
emosional yang timbul dengan adanya lokus internal dan eksternal. Lokus internal
berasal dari dalam diri seseorang dengan merasa bahwa mereka dapat
mengendalikan sendiri kondisi mereka, dan lokus eksternal menganggap adanya
hal di luar diri yang menentukan kondisi hidup mereka, seperti misalnya sesuatu
yang berasal dari organisasi, kebijakan organisasi, sikap kepemimpinan
organisasi, kontrol dari atasan.
Greenberg dan Baron (dalam Basalamah, 2004) berpendapat bahwa
komitmen terhadap organisasi ditimbulkan atau diakibatkan oleh beberapa faktor,
antara lain sebagai berikut :
a. Beberapa aspek dari pekerjaan itu sendiri. Menurut penelitian, tingkat
komitmen akan semakin tinggi apabila seorang karyawan merasakan hal – hal
sebagai berikut

  1. Tanggung jawab dan otonomi yang berkaitan dengan suatu pekerjaan
    tertentu yang dirasakan tinggi
  2. Pekerjaan kurang repetitif
  3. Pekerjaannya lebih penting.
    Sebaliknya, apabila kemungkinan promosi adalah sedikit serta apabila
    pekerjaan tersebut meimbulkan kekhawatiran dan tidak jelas, maka komitmen
    terhadap organisasi tersebut cenderung rendah.
    b. Adanya kesempatan kerja lainnya, artinya apabila karyawan merasa ada
    banyak kesempatan untuk bekerja di tempat lain dan alternatif tersebut
    dianggap layak, maka komitmen karyawan terhadap organisasi cenderung
    rendah.
    c. Karakteristik individual dari karyawan yang bersangkutan. Karyawan yang
    berusia lanjut, serta puas dengan tingkat kinerja mereka cenderung memiliki
    komitmen yang tinggi terhadap organisasi mereka.
    d. Beberapa faktor yang berkaitan dengan lingkungan kerja secara keseluruhan
    seperti : penyelia, penilaian, kesejahteraan, kepemilikan terhadap saham
    organisasi yang bersangkutan dan sebagainya.
    Sedangkan Steven dkk (dalam Sunarto, 2010) menjelaskan ada tiga faktor
    yang dapat mempengaruhi komitmen pada organisasi, yaitu
    a. Atribut-atribut personal (personal atributs), seperti usia individu, jenis
    kelamin, pendidikan
    b. Faktor organisasional (organizational factors), seperti besar kecilnya
    organisasi dan sentralisasi otonomi.
    c. Faktor-faktor yang berkaitan dengan peran (role-related factor), seperti beban
    pekerjaan dan ketrampilan bawahan.
    Steers dan Porter (dalam Sunarto, 2010) mengemukakan tentang empat
    atribut personal komitmen karyawan pada organisasi, yaitu:
    a. Usia. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa semakin lanjut usia
    seseorang maka akan semakin memiliki komitmen terhadap organisasinya. Hal ini
    tentu saja berkaitan dengan kehidupan individu itu sendiri, dengan bertambahnya
    usia seseorang maka semakin banyak pula pengalaman yang diterimanya,
    termasuk kegagalan-kegagalan dan keberhasilan-keberhasilan, juga berbagai
    macam tantangan dapat lebih bijaksana dan hati-hati dalam mengambil suatu
    keputusan termasuk pilihan terhadap pekerjaannya, bahwa organisasi tempatnya
    bekerja saat ini adalah sesuatu yang terbaik bagi dirinya.
    b. Masa kerja. Semakin lama masa kerja seseorang akan semakin tinggi
    komitmen organisasinya. Karyawan yang sudah lama bekerja, sudah terbiasa
    dengan kondisi dan iklim organisasinya, ia akan merasa menjadi bagian dari
    organisasi tersebut setelah melalui bertahun-tahun bekerja di organisasinya.
    Apabila mengalami hambatan atau tekanan-tekanan, maka karyawan dengan masa
    kerja yang lebih lama akan lebih kuat bertahan dibandingkan karyawan baru yang
    belum banyak terlibat dalam organisasinya.
    c. Motif berprestasi. Semakin tinggi motif berprestasi seseorang akan
    semakin terikat terhadap organisasi. Dijelaskan oleh Robinowitz dan Hall (dalam
    Sunarto, 2010) bahwa salah satu faktor yang menentukan komitmen seseorang
    adalah adanya harapan yang besar pada pekerjaannya, kebanggaan pada
    organisasi dan adanya ambisi umum serta adanya keinginan untuk mobilitas ke
    atas.
    d. Tingkat pendidikan. Seseorang yang mempunyai tingkat pendidikan
    yang tinggi akan lebih cepat menguasai bidangnya. Strauss dan Sayless (dalam
    Sunarto, 2010) menyatakan bahwa pekerjaan yang mudah dan sederhana dapat
    terselesaikan secara otomotis tanpa berpikir lagi yang berarti untuk berhasil
    menyelesaikan tanpa membutuhkan perencanaan, analisis maupun penguasaan
    teori sehingga karyawan yang berpendidikan tinggi biasanya lebih banyak
    menuntut pada diri sendiri maupun pada pihak organisasi

Pengertian Komitmen Karyawan Pada Organisasi


Menurut Robbin (dalam Budiarto, 2004), Komitmen pada organisasi
merupakan derajat sejauh mana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi
tertentu dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam
organisasi itu. Sedangkan menurut Newstrom dan Davis (dalam Budiarto, 2004),
komitmen karyawan merupakan keinginan karyawan untuk tetap bertahan bekerja
pada organisasi sampai masa yang akan datang. Hal tersebut menggambarkan
kepercayaan karyawan pada misi dan tujuan organisasi, keinginan untuk
berprestasi dan tetap bekerja pada organisasi. Komitmen karyawan menjadi hal
penting bagi sebuah organisasi dalam menciptakan kelangsungan organisasinya.
Komitmen karyawan terhadap organisasi menunjukkan hasrat karyawan
untuk tetap tinggal dan bekerja serta mengabdikan diri bagi organisasi. Komitmen
karyawan juga merefleksikan sejauh mana seorang karyawan mengidentifikasikan
dirinya pada organisasi, keterlibatan karyawan pada organisasi, dan keinginan
untuk tidak meninggalkan organisasi (Newstrom dan Davis dalam Budiarto,
2004).
Menurut Logman Dictionary of Contemporary English (dalam Roslina,
2010) komitmen mempunyai empat arti yaitu : (1) komitmen adalah sebuah janji;
(2) komitmen berarti tanggung jawab; (3) komitmen berarti komitmen kepada
sistem berpikir dan aksi; (4) komitmen juga berarti tindakan komited. Robbins
(dalam Roslina, 2010) mengemukakan pengertian komitmen adalah suatu keadaan
dimana seorang karyawan memihak pada suatu organisasi tertentu dan tujuan-
tujuannya, serta berniat memelihara keanggotaan dalam organisasi itu. Sedangkan
Sutarto (dalam Sunarto, 2010) mengemukakan organisasi adalah suatu unit sosial
atau sekelompok manusia yang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan, karena
di dalam organisasi akan terjadi interaksi antar person, baik di antara bawahan
dengan atasan atau sebaliknya
Staw (dalam Roslina, 2010) memberikan pendapat bahwa komitmen
organisasi merupakan suatu pemahaman khusus dari individu sebagai ikatan
psikologis pada organisasi termasuk rasa terlibat dengan pekerjaan, komitmen dan
percaya akan nilai-nilai organisasi. Dalam hal ini komitmen yang dimaksudkan
bukan sekedar setia semata akan tetapi lebih dari itu. Hal ini diperkuat oleh
pendapat Robbins (dalam Roslina, 2010) yang menyatakan bahwa komitmen pada
organisasi adalah suatu bentuk keterdekatan yang bersifat psikologis antara
anggota dengan organisasinya

Hubungan Self-Efficacy dengan komitmen karyawan


Setiap individu mempunyai prinsip dan tujuan hidupnya masing-masing,
tidak banyak karyawan yang memiliki komitmen dalam pekerjaan yang sudah
dijalaninya, bila komitmen karyawan rendah tidak dapat bekerja dengan baik dan
memenuhi target pekerjaannya. Hasilnya pun tidak sesuai dengan apa yang sudah
atasan harapkan. Menurut Mayer & Allen (dalam Ayu, 2012:107) menyatakan
bahwa pekerja yang mempunyai kewajiban terhadap kelompok akan merasakan
identic dengan organisasinya. Menurut Robbins (2015:70) komitmen karyawan
yakni sejauhmana orang menyesuaikan pada kelompok tertentu serta pertahankan
keanggotaan ddialam kelompok.
Berdasarkan Ratnasari & Yusnita, (2018:15) Semakin tingginya efikasi diri
pada karyawan maka semakin meningkatnya kinerja karyawan. Efikasi yang tinggi
dapat ditunjukan dengan adanya pekerjaan yang cepet terselesaikan, kehadiran dan
koloyalan karyawan pada perusahaan. Menurut Bandura (1997: 42) Self-Efficacy
merupakan tingkat keyakinan atau kepercayaan sesorang terhadap kekuatan diri
(percaya diri) dalam mengerjakan dan menjalankan tugas atau pekerjaannya. Self-
efficay dapat didefinisikan sebagai keyakinan sesorang tentang kemampuannya
untuk mengarahkan sumber daya kognitif serta tindakan yang diperlukan untuk
berhasil mengerjakan pekerjaannya.
Penelitian tentang interaksi self-efficacy serta komitmen karyawan sudah
diteliti. Penelitian Argawal & Misrha (2016), Alam (2016), Arya, Sharma & Singh
(2012), & Tsai dkk (2011) menandakan bahwa masih ada interaksi positif
signifikan antara self-efficacy menggunakan komitmen karyawan. Self-efficacy
merupakan keyakian seorang tentang kemampuannya buat mengerjakan suatu
pekerjaan. Keyakinan ini mendorong seorang buat bekerja lebih ulet & membarui
suatu halangan sebagai tantangan bagi dirinya. Self-efficacy jua menciptakan
pekerja lebih gampang buat menyesuaikan diri menggunakan lingkungan & lebih
bisa mengikuti keadaan menggunakan nilai-nilai yg terdapat pada perusahaan.
Yang lalu menciptakan pekerja mempunyai kinerja yg lebih baik & mengevaluasi
sebuah instansi menggunakan baik. Sehingga karyawan yang mempunyai self-
efficacy akan cenderung buat permanen bertahan pada sebuah instansi &
menyebarkan komitmen organisasinya terhadap instansi.
Tetapi penelitian yang dilakukan Sinha, Talwar & Rajpal (2002),
menerangkan masih ada interaksi positif tetapi nir sighnifikan antara self-efficacy
menggunakan komitmen karyawan. Self effikasi hanya menaruh kontibusi pada
komitmen organisasi sebanyak 3%. Hal ini bisa terjadi lantaran karyawan yang
mempunyai self-efficacy yang tinggi nir selalu berguna untuk instansi. Terdapat
beberapa pekerjaan yang dilakukan sang pekerja yang menguntungkan bagi pekerja
sendiri tetapi tidak mengunntungkan bagi instansi. Sehingga meskipun pekerja
mempunyai self-efficacy yg tinggi tetapi hal ini nir mendukung pekerja buat
mempunyai komitmen yang tinggi juga dikarenakan cuma pekerja yang menerima
manfaat berdasarkan self-efficacy yang dipunyai tetapi instansi belum
memperolehnya

Dimensi Self-Efficacy


Menurut Bandura (dalam Ghufron, 2010:88), efikasi diri pada diri sendiri akan
beda antar individu dengan individu lain berlandaskan 3 dimensi yakni:
a. Tingkat (Level), Dimensi ini berhubungan atas taraf kesusahan kewajiban
saat pribadi merasakan bisa buat menjalankannya. Bila pribadi ditemukan
terhadap kewajiban-kewajiban yang ditata taraf kesusahannya, sehinga
efikasi diri pribadi bisa jadi terrbatas atas kewajiban-kewajiban yang
mudah, sedang, ataupun sangat sulit, sama dengan batasan keahliannya
yang dirasa buat mencukupi permintaan perilaku yang diperlukan atas
masng-masing taraf. Dimensi ini mempunyai implikasi pada penentuan
kelakuan yang merasa bisa dikerjakannya serta menghindar kelakuan yang
berada diluar batasan keahlian yang dirasakannya.
b. Kekuatan (strength), Dimensi ini berhubungan atas taraf kuatan dari
kemampuan ataupun harapan pribadi tentang keahliannya. Harapan yang
lebihmudah dipengaruhi oleh pengetahuan-pengetahuan yang bukan
mendorong. Baliknya, harapan yang tinggi mendukung pribadi terus tinggal
didalam upayanya. Namun bisa jadi ditemui pengetahuan yang kurang
mendukung. Dimensi ini biasa berhubungan langsung pada dimensi level,
yakni semakin tinggi level tingkat kesusahan kewajiban, semakin rendah
kepercayaan yang dirasa buat membereskannya.
c. Generalisasi (geneality), Dimensi ini berhubungan pada besar wujud
perilaku yang dimana pribadi merasakan percaya akan keahliannya. Pribadi
bisa merasakan percaya pada keahlian diri sendiri.
Gibson, dkk (dalam Wibowo, 2013: 161) berpendapat bahwa
efikasi diri memiliki 3 aspek-aspek yakni:
a. Magnitude merupakan tingkat kesulitan tugas yang diyakini seseorang
dapat dijangkau.
b. Strength menunjukkan pada pendirian berdasar besaran sebagai kuat atau
lemah.
c. Gaenerality menunjukkn tingkatan dimana harapan digeneralisir disemua
situasi.
Berdasarkan Ivancevich, konopaske, dan Matteson (dalam Fattah, 2017:56)
efikasi diri terdiri dari 3 aspek yakni:
a. Magnitude (besarnya), mengacu pada kesulitan tugas yang diyakini dapat
ditangani oleh individu
b. Strength (kekuatan), mengacu pada keyakinan yang berhubungan dengan
besarnya efikasi diri (self-efficacy)
c. Generality (generalitas), menunjukan berapa luas situasi dimana keyakinan
terhadap kemampuan tersebut berlaku

Pengertian Self-Efficacy


Berdasarkan Bandura (dalam Feist & Roberts, 2017:517) mendefinisikan self-
efficacy yakni kepercayaan seorang didalam keahliannya buat menjalankan sebuah
wujud control pada peran individu serta kejadiian didalam lingkungan. Menurut
Bandura (1994:2) pula menjelaskan Self-Efficacy untuk penentuan memotivasi diri
sendiri, berfikir, individu merasa, serta perilaku.
Efikasi diri yakni sesuatu wujud pemahaman untuk diri ataupun self
knowwledge yang sangat pengaruh didalam kebiasaan seharian. Yang mana
diakibatkan efikasi diri yang dipunyai turut memengaruhi orang didalam memilih
langkah yang mau dilakukan untuk mewujudkan sesuatu target termasuk
didalamnya kiraan bermacam peristiwa yang nantinya ditemui. Efikasi diri yaitu
kepercayaan yang mana seorang dapat mengusai keadaan serta memperoleh
hasilyang positif. Menurut Alwisol (2014:287) menjelaskan efikasi diri hubungan
atas kepercayaan yang mana diri sendiri mempunyai keahlian menjalankan
langkah yang diinginkan seperti halnya bisa ataupun tidak bisa mengerjakan tugas
sesuai dengan yang diharapkan.
Berdasarkan Hidayat (2011:156) efikasi diri yakni penilitian terhadap
kemampuan sendiri buat mengaturkan serta menjalankan langkah yang
dibutuhkan buat menggapai kerja yang sudah tetapkan. Menurut Aliftulahtin
(2014:12) menyatakan bahwa self-efficacy yakni kepercayaan seorang mengenal
peluang buat melakukan tugasnya yang sesuai.
Menurut Alwisol (2009:287), menjelaskan bahwa efikasi diri yakni persepsi
diri tentang berapa baik diri bisa berguna didalam keadaan trtentu, efikasi diri
hubungan atas kepercayaan yang mana diri mempunyai keahlian menjalankan
sesuatu yang diinginkan. Pendapat Alwisol (2009:288) efikasi diri bisa didapat,
diganti, ditinggikan ataupun direndahkan, dengan komposisi 4 sumber, yaitu
pengetahuan mengusai suatu kinerja, persuasi sosial, pengetahuan vikarius serta
bangkitan. Pengetahuan performansi yakni prestasi yang sudah diperoleh pada
waktu yang lampau. Pengetahuan vikarius didapat dengan model sosial. Persuasi
sosial yakni kepercayaan pada memberi persuasi, serta sifat realistik atas yang
dipersusikan.
Menurut Woolfolk (dalam Anwar, 2009:23) bahwa self efficacy yakni
pengukuran seorang pada diri sendiri ataupun taraf kepercayaan tentang berapa
tinggi keahliannya didalam menjalankan sebuah kewajiban buat menggapai hasil

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Komitmen Karyawan


Menurut Steers (dalam Sunarto, 2005:20) menjelaskan 3 faktor yang
memengaruhi komitmen seseorang karyawan yakni:
a. Ciri pribadi pekerja, termasuk pula waktu jabatannya pada kelompok serta
variasi keperluan serta harapan yang tidak sinkron atas setiap pekerja.
b. Ciri pekerjaan, misalnya: bukti diri kewajiban serta peluang berkomunikasi
pada teman kerja.
c. Pengalaman kerja, misalnya: keteladanan kelompok diwaktu lalu serta cara
para karyawan yang lain membicarakan serta menjelaskan perasaan terkait
kelompok.
Menurut Minner (dalam Sopiah, 2008:165) menjelaskan 4 factor yang
memengaruhi komitmen karyawan yakni
a. Faktor personal, seperti pengalaman kerja, jenis kelamin, usia, pendidikan
serta kepribadian.
b. Karakteristik pekerjaan, seperti konflik peran, tantangan tugas, lingkup
jabatan, taraf kesusahan didalam tugas.
c. Karakteristik struktur, seperti kehadiran serikat pekerjaan, ukuran
kelompok, wujud kelompok, serta taraf pengawasan yang dijalankan
kelompok pada pekerja.
d. Pengalaman kerja, pengalaman kerjaan seseorang pekerja sangatlah
pengaruh pada taraf komitmen karyawan terhadap kelompok. Pekerja yang
hanya beberapa masa kerja serta pekerja yang telah lama kerja didalam
kelompok pasti mempunyai taraf komitmen yang berbeda.
Menurut Steers dan Poter (dalam Sopiah, 2008:164) menjelaskan sebagian
factor yang memengaruhi komitmen karyawan terhadap kelompok yakni:
a. Faktor Personal seperti: job choice factors,psychological contract,
karakteristik personal, job expectations. Keseluruhan faktor ini akan
membentuk faktor awal.
b. Faktor Organisasi seperti: supervision, job scope, goal consistency
organizational, inittial work experience. Segala factor ini akan
membentukkan serta memperlihatkan tanggungjawab.
c. Non-Organizational Factors seperti:avaibility of alternative jobs. Yakni
factor yang tidak berawal atas didalam kelompok.
Berdasarkan Allen dan Mayer (Dalam Fauzan, 2022:168) beberapa factor
memengaruhi komitmen karyawan yakni:
a. Kompetensi
b. efikasi diri
c. motivasi kerja

Aspek-Aspek Komitmen Karyawan


Menurut Kaswan (2017:225-226) tingkat komitmen karyawan rata-rata
berdasarkan aspek, adalah:
a. Komitmen afektif, memperlihatkan kuatnya kemauan emosional pekerja
buat menyesuaikan diri menggunakan nilai – nilai yang terdapat supaya visi
serta kemauannya buat permanen pada kelompok bisa tercapai.
b. Komitmen berkelanjutan, yakni komitmen yang dilandasi atas ke
khawatiran seseorang pada kehilangan sesuatu yang sudah didapat semasa
ini didalam kelompok, misalnya fasilitas, gaji, serta lainnya.
c. Komitmen normatif, memperlihatkan tanggungjawab moral pekerja buat
terus berada didalam kelompok.
Menurut Mayer dan Allen (dalam Sutrisno, 2010: 292-293) aspek-aspek
yang mungkin menentukan komitmen adalah :
a. Affective commitment, Komitmen keterikatan secara psikologis dengan
kelompok berlandaskan seberapa baik perasaan tentang kelompok.
Komitmen pada jenis ini ada serta berkembang atas dukungan adanya
keamanan, kenyamanan, serta kegunaan lainnya yang dijalani pada sebuah
kelompok yang belum didapatnya atas tempat ataupun kelompok lainnya.
Semakin nyaman serta besar manfaatnya yang didapatkan untuk anggota,
meningkat komitmen seseorang didalam kelompok yang dipilih. Sebagai
biaya yang harus diterima apabila keluar ataupun meninggalkan kelompok
serta komitmen menjadi wajib buat tetap didalam kelompok.
b. Continuance commitment, menjadi keterikatan anggota secara psikologis
dalam kelompok dikarenakan biaya yangg ditanggung menjadi dampak
meninggalkan kelompok. Didalam kaitan dengan ini peserta akan
menghitung kegunaan serta pengorbann atas keikutsertaan pada ataupun
sebagai peserta sebuah kelompok. Peserta akan lebih mempunyai daya
tahan ataupun komitmen yang besar didalam kepesertaan apabila
pengorbaanan dampak meninggalkan kelompok semakin besar.
c. Normative commitment, keterikatan anggota secara psikologis pada
kelompok dikarenakan kewajiban moral buat memelihara interaksi pada
kelompok. Didalam hubungan ini suatu yang mendukung pesar buat terus
tinggal serta menaruh sumbangan dalam eksistensi sebuah kelompok, baik
non materi ataupun materi, yakni dengan adanya kewajiban moral, yang
mana seorang akan merasakan kurang nyaman serta bersalah bila belum
menjalankan hal.
Menurut Allen dan Mayer (dalam Anwar, 2013:714) menjelaskan dari
3 aspek-aspek yang berhubungan atas kondisi psikologi:
a. Komitmen afektif, yakni keterkaitan emosional positif pekerja pada
kelompok lokasi bekerja. Komitmen afektif yakni elemen ingin ataupun
kemauan. Para pegawai yang secara afektif menghubungkan kuat dirinya
atas visi kelompok diidentifikasikan dirinya untuk visi- visi kelompok serta
berkeinginan buat selalu jadi bagian kelompok. Mereka mengingatkan diri
atas kelompok dikarenakan mau mengikat diri pada kelompok.
b. Komitmen berkelanjutan, yaitu elemen keperluan ataupun memperoleh
dengan kehiilangan bekerja didalam kelompok. Invesmen yakni mendapati
kehilanggan keanggotaan organisasi.
c. Komitmen normatif, yakni seseorang individu terus bekerja serta jadi
kelompok dikarenakan perasan kewajiiban moral. Perasaan ini bermula atas
sebuah ancaman pada individu setelah serta sebelum jadi peserta kelompok.
d. Komitmen antara, jika komitmen kelompok berkelanjutan, afektif, normatif
relatif bersifatkan tetap didalam kewajiban ataupun bisa disebutkan sebagai
batu loncatan seorang jadi bagian ataupun bekerja buat sebuah kelompok
sejak awal hari jadi bagian sebuah kelompok keinginannya hanya
bersifatkan sementara

Pengertian Komitmen Karyawan


Kaitan sekelompok organisasi dengan organisasinya menjadikan komitmen
sebagai konstruk psikologis, serta anggotanya ketika dalam berorganisasi
menjadikan implikasi sebagai suatu ketetapan seseorang untuk melanjutkannya.
Menurut Handoko (2008:44) Komitmen karyawan yakni strata dimana
seseorang karyawan mengidentifikasi diri menggunakan instansi serta tujuan-
tujuannya serta berkemauan buat menjaga kepesertaannya didalam instansi.
Komitmen karyawan didorong menggunakan syarat lingkungan kerja yg adil
buat pekerja, meningkat pekerja dihargai, meningkat pula komitmen karyawan
dalam instansi.
Berdasarkan Robbins (2015:70) komitmen karyawan yakni sejauh mana
orang menyesuaikan dengan kelompok tertentu serta menjaga anggotanya
didalam kelompok. Pendapat Lincoln (Sopiah, 2008:155) komitmen karyawan
meliputi kesenangan, kesetiaan serta kemauan peserta atas kelompok.
Sementara itu menurut Blau & Boal (Sopiah, 2008:155) menjelaskan komitmen
selaku berpihak serta keloyalan pekerja pada kelompok serta visi kelompok.
Menurut Mowday (Sopiah, 2008:156) menjelaskan Komitmen menjadi
dimensi konduite krusial yang bisa dipakai buat mengukur kesamaan karyawan
buat bertahan menjadi bagian kelompok serta bersedia berupaya keras atas
pencapaian visi kelompok. Komitmen karyawan berlandaskan Kepmenpan
Nomor: 25/KEP/M. PAN/04/2002 yakni keyakinan hati, memiliki ambisi yang
besar serta janji guna membereskan kewajiban.
Menurut Wibowo (2012:371) Komitmen karyawan yakni perasaan
penyesuaian, loyal serta keikutsertaan yang diperlihatkan pada karyawan untuk
kelompok ataupun elemen kelompok. Komitmen karyawan pada kelompok
melibat 3 sikap yakni: (1) perasaan penyesuaian atas visi kelompok, (2)
perasaan keikutsertaan didalam kewajiban kelompok, (3) perasaan loyal buat
kelompok. Menurut Luthans (2006:249) menjelaskan komitmen kerap kali
diartikan sebagai kemauan yang kuat guna tetap menjadi anggota kelompok
tertentu, semangat guna berupaya keras sesuai kemauan kelompok, serta
kepercayaan tertentu, perolehan nilai serta tujuan kelompok. Menurut Yuwono,
dkk (2005: 134) berpendapat bahwa komitmen karyawan ditandai melalui
bentuk loyal serta penyesuaian pada kelompok. Komitmen atas kelompok
bukan cuma terkait atas keloyalan pekerja untuk organisasi yang bersifat positif,
namun serta menyertakan relasi yang aktif terhadap kelompok, yang mana
pekerja kesanggupan atas keinginan sendiri guna mengasihkan semua sesuatu
yang ada dalam diri buat membanntu mewujudkan visi serta perkembangan
kelompok.
Menurut Kaswan (2017: 216) komitmen karyawan yakni sikap kerja
didalam bentuk loyal, dedikasi, kemauan, keinginan, serta keyakinan yang
tinggi untuk memperlihatkan kemauan tetap jadi elemen bagian kelompok
dengan mau mendapat nilai serta visi kelompok, serta bekerja untuk keperluan
kelompok. Pendapat Griffin (2004:15) komitmen yakni perilaku yang
menggambarkan sejauh mana seseorang pribadi memahami serta terikat untuk
kelompoknya. Pekerja yang merasaa lebih komitmen atas kelompok
mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang dapat dipercaya, berniat buat lebih lama
tinggal didalam kelompok

Dimensi-Dimensi Kepuasan Kerja


Luthans (2006) membagi dimensi kepuasan kerja dalam lima
dimensi yang mempengaruhi kepuasan kerja yaitu pekerjaan itu sendiri,
gaji, promosi, pengawasan, kelompok kerja. Kemudian Luthan (2006)
juga menambahkan kondisi kerja sebagai dimensi kepuasan kerja.

  1. Pekerjaan itu sendiri
    Kepuasan kerja itu sendiri merupakan sumber utama kepuasan.
    Penelitian terbaru menemukan bahwa karakteristik pekerjaan dan
    kompleksitas menghubungkan antara kepribadian dan kepuasan kerja,
    dan jika persyaratan kreativitas pekerjaan karyawan terpenuhi, maka
    cendrung menjadi puas.
  2. Gaji
    Upah dan gaji dikenal menjadi signifikan, tetapi kompleks secara
    kognitif dan merupakan faktor multidimensi dalam kepuasan
    kerja.Uang tidak hanya untuk membantu orang memperoleh
    kebutuhan dasar, tetapi juga alat untuk memberikan kepuasan pada
    tingkat yang lebih tinggi. Karyawan melihat gaji sebagai refleksi dari
    bagaimana manajemen memandang kontribusi mereka terhadap
    perusahaan.
  3. Promosi
    Kesempatan promosi sepertinya memiliki pengaruh yang berbeda pada
    kepuasan kerja. Hal ini dikarenakan promosi memiliki sejumlah
    bentuk yang berbeda dan memiliki penghargaan.Misalnya, individu
    yang dipromosikan atas dasar senioritas sering mengalami kepuasan
    kerja tetapi tidak sebanyak orang yang dipromosikan atas dasar
    kinerja.
  4. Pengawasan
    Pengawasan (supervisi) merupakan sumber penting lain dari kepuasan
    kerja. Dua dimensi gaya pengawasan yang mempengaruhi kepuasan
    kerja. Pertama adalah bepusat pada karyawan, diukur menurut tingkat
    dimana penyelia menggunakan ketertarikan personal dan peduli pada
    keryawan. Hal ini dimanifestasikan dalam cara-cara seperti meneliti
    seberapa baik kerja karyawan, memberikan nasihat dan bantuan pada
    individu, dan berkomunikasi dengan rekan kerja secara personal
    maupun dalam konteks pekerjaan. Dimensi lain yaitu partisipasi atau
    pengaruh, seperti diilustrasikan oleh manajer yangf memungkinkan
    orang untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang
    mempengaruhi pekerjaan mereka.
  5. Kelompok kerja
    Sifat alami dari kelompok atau tim kerja akan mempengaruhi
    kepuasan kerja. Pada umumnya, rekan kerja atau anggota tim yang
    kooperatif merupakan sumber kepuasan kerja yang paling sederhana
    pada keryawan secara individu. Kelompok kerja terutama tim yang
    kuat, bertindak sebagai sumber dukungan, kenyamanan, nasihat, dan
    bantuan pada anggota individu.
  6. Kondisi kerja
    Kondisi kerja memiliki pengaruh kecil tehadap kepuasan kerja. Jika
    kondisi kerja bagus (misalnya lingkungan bersih dan menarik)
    individu akan lebih mudah menyelesaikan pekerjaan mereka.
    Sebaliknya, kondisi kerja yang buruk akan membuat individu sulit
    menyelesaikan pekerjaannya. Dengan kata lain, efek lingkungan kerja
    sama halnya dengan efek kelompok kerja kita.

Faktor-Faktor Kepuasan Kerja


Faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja menurut Luthans
(2006) yaitu:

  1. Pekerjaan itu sendiri
    Pekerjaan itu sendiri dipandang sebagai peluang untuk
    pembelajaran, dan kesempatan untuk menerima tanggung jawab.
  2. Gaji
    Upah dikenal menjadi signifikansi, tetapi komplesk secara kognitif
    dan menjadi faktor multi dimensi dalam kepuasan kerja. Uang
    tidak hanya digunakan untuk memperoleh kebutuhan dasar tetapi
    juga untuk memberikan kebutuhan kepuasan yang lebih tinggi.
  3. Promosi
    Promosi dianggap peluang untuk mengembangkan karier.
  4. Pengawasan
    Penyelia membantu individu dalam cara-cara seperti meneliti
    seberapa baik pekerjaan karyawan, memberikan nasihat, dan
    bantuan kepada individu.
  5. Kelompok kerja
    Rekan kerja yang secara teknik handal dan dapat memberikan
    dukungan sosial.
  6. Kondisi kerja
    Kondisi kerja memiliki pengaruh kecil dalam kepuasan kerja ,
    tetapi karyawan yang bekerja dalam lingkungan yang nyaman dan
    kondusif dapat mengerjakan tugasnya dengan baik dibanding
    dengan bekerja dilingkungan yang tidak nyaman dan kurang
    kondusi

Pengertian Kepuasan Kerja


Kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan emosional yang
menyenangkan atau tidak menyenangkan dimana karyawan memandang
pekerjaannya (As’ad, dalam Sunyoto 2012). Kepuasan kerja
mencerminkan perasaan seseorang terhadap pekerjaannya. Hal ini
Nampak pada sikap positif karyawan terhadap pekerjaannya dan segala
sesuatu yang dihadapi dilingkungan kerjanya.
Menurut Luthans (2006) bahwa kepuasan kerja adalah hasil persepsi
karyawan tentang bagaimana pekerjaan mereka dapat memberikan sesuatu
yang dianggap penting. Karena hal ini merupakan persepsi, maka
kepuasan kerja yang ditunjukkan seseorang berbeda dengan orang lain,
disebabkan sesuatu yang dianggap penting oleh setiap orang adalah
berbeda.
Kreitner dan Kinicki (dalam Wibowo, 2013) menyatakan bahwa
Kepuasan kerja adalah respon afektif atau emosional terhadapa berbagai
segi dari pekerjaan. Defenisi ini berarti kepuasan kerja merupakan kosep
tunggal. Seseorang akan relatif puas terhadap aspek pekerjaan mereka atau
merasa tidak puas terhadap suatu aspek dari aspek yang lain.

Dimensi-Dimensi Job Insecure


Menurut Greenhalgh dan Rosenblatt dan Ashford et al (dalam
Lee, Bobko dan Chen, 2006) job insecure ini terdiri dari lima dimensi
yaitu:

  1. Arti penting aspek kerja (the important of work factor), berupa
    ancaman yang diterima pada berbagai aspek kerja seperti promosi,
    kenaikan upah atau mempertahankan upah yang diterima saat ini,
    mengatur jadwal kerja. Karyawan yang terancam kehilangan aspek
    pekerjaan tersebut akan memiliki job insecurity yang tinggi
    dibandingkan yang tidak merasa terancam.
  2. Arti penting keseluruhan kerja (the important of job event), seperti
    kejadian promosi, kejadian untuk diberhentikan sementara waktu,
    kejadian dipecat, individu yang mendapatkan ancaman terhadap
    kejadian kerja penting lebih memungkinkan memicu job insecurity
    dibandingkan ancaman pada kejadian kerja yang tidak penting.
  3. Mengukur kemungkinan perubahan negatif pada aspek kerja (likehood
    of negative change in work factor), semakin besar timbulnya ancaman
    negatif pada aspek kerja akan memperbesar kemungkinan timbulnya
    job insecurity pada karyawan dan sebaliknya.
  4. Mengukur kemungkinan perubahan negatif pada keseluruhan aspek
    kerja (likehood of negative change in job event), semakin besar
    kemungkinan negatif menimpa kejadian kerja, maka semakin besar
    potensi untuk kehilangan pekerjaan yang berakibat memperbesar
    timbulnya job insecurity karyawan dan sebaliknya.
  5. Ketidakberdayaan (powerlesnes), yang dirasakan individu membawa
    outcome atau hasil pada cara individu menghadapi keempat
    komponendiatas. Artinya, jika individu menerima ancaman pada aspek
    kerja atau kejadian kerja, maka mereka akan menghadapinya sesuai
    kemampuan yang dimilikinya. Semakin tinggi atau rendah
    powerlesness akan berakibat pada semakin tingi atau rendahnya jon
    insecurity yang dirasakan individu

Faktor-Faktor dalam Job Insecure


Menurut Greenhalgh dan Rosenblatt dan Ashford (dalam Lee,
Bobko dan Chen, 2006) faktor-faktor job insecure yaitu:

  1. Kondisi lingkungan dan organisasi
    Kondisi lingkungan dan organisasi dapat dijelaskan oleh beberapa
    faktor, misalnya: komunikasi organisasi dan perubahan organisasi.
    Perubahan organisasi antara lain dengan dilakukannya downsizing,
    rektruturisasi dan marger oleh perusahaan.
  2. Karakteristik individual dan jabatan
    Karakteristik individual dan jabatan terdiri dari usia, gendre,
    pendidikan, senioritas, posisi dalam jabatan, budaya, status sosial
    dan ekonomi, dan pengalama kerja.
  3. Karakteristik personal pekerja
    Karakteristik persona pekerja yang dapat mempengaruhi job
    insecure adalah locus of control, self esteem, dan perasaan optimis
    atau pesimis pada karyawan

Pengertian Job Insecure


Ashford dkk (1989) mengatakan bahwa job insecure merupakan
suatu tingkat dimana para pekerja merasa terancam pekerjaannya dan
tidak berdaya untuk melakukan apapun dalam situasi tersebut. Job
insecure dirasakan tidak hanya disebabkan oleh ancaman hilangnya
pekerjaan, tetapi juga dimensi pekerjaan.
Greenhalgh dan Rosenblett (De Witte, 2005) mendefenisikan job
insecure sebagai ketidakberdayaan untuk mempertahankan
kesinambungan yang diingankan dalam kondisi kerja yang terancam.
Dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam organisasi, karyawan
sangat mungkin merasa terancam, gelisah dan tidak nyaman karna potensi
perubahan untuk mempengaruhi kondisi kerja dan kelanjutan hubungan
serta balas jasa yang diterimanya oleh organisasi.
Dapat disimpulkan bahwa job insecure merupakan suatu
keadaan dimana individu merasa terancam dan tidak berdaya untuk
mempertahankan kesinambungan pekerjaannya

Dimensi Komitmen Organisasi


Dimensi komitmen organisasi dapat dikelompokan kedalam
(Meyer and Allen, dalam Sunyoto, 2012):

  1. Continuance Commitment
    Continuance commitment muncul apabila karyawan tetap bertahan
    pada suatu organisasi karena membutuhkan gaji dan keuntungan-
    keuntungan lain, atau karena karyawan tersebut tidak menemukan
    pekerjaan lain.
  2. Normative Commitmen
    Normative commitmen timbul dari nilai-nilai diri karyawan.
    Karyawan bertahan menjadi anggota organisasi karena ada
    kesadaran bahwa komit terhadap organisasi merupakan hal yang
    memang seharusnya dilakukan.
  3. Affective Commitment
    Affective commitment, terjadi apabila karyawan ingin menjadi
    bagian dari karena adanya ikatan emosional (emotional
    attachment)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi


Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komitmen Organisasi dalam
Greenberg dan Baron (dalam Sunyoto, 2012) yaitu:

  1. Karakteristik pekerjaan
    Komitmen organisasi dipengaruhi berbagai karakteristik pekerjaan.
    Komitmen cenderung lebih tinggi pada karyawan yang mempunyai
    tanggung jawab yang tinggi atas pekerjaan mereka dan kesempatan
    luas untuk promosi.
  2. Sifat imbalan
    Komitmen dipertinggi oleh penggunaan rencana pembagian laba
    (karyawan menerima bonus sebanding dengan laba) dan di atur secara
    adil.
  3. Adanya alternatif pekerjaan lain
    Makin besar kesempatan karyawan untuk menemukan pekerjaan lain
    maka komitmen cenderung makin rendah.
  4. Perlakuan perusahaan terhadap pendatang baru
    Penggunaan metode rekruitmen yang tepat, komunikasi kuat serta
    sistem nilai organisasi yang jelas dapat mempengaruhi komitmen.
    Makin besar investasi perusahaan kepada seseorang dengan berusaha
    secara sungguh-sungguh mempekerjakannya maka karyawan akan
    berusaha untuk mengembalikan. Investasi perusahaan tersebut dengan
    mengekspresikan perasaan komitmen tehadap organisasi.
  5. Karakteristik personal
    Organisasi dengan masa jabatan lama akan semakin tinggi
    komitmennya daripada karyawan yang masa kerjanya lebih pendek

Pengertian Komitmen Organisasi

Dalam prilaku organisasi, terdapat beragam definisi tentangkomitmen organisasi. Sebagai suatu sikap, Luthans (2006) yangmenyatakan komitmen organisasi merupakan: (1) keinginan yang kuatuntuk menjadi anggota dalam suatu kelompok, (2) kemauan usaha yangtinggi untuk organisasi, (3) suatu keyakinan tertentu dan penerimaanterhadap nilai-nilai dan tujuan-tujuan organisasi.Menurut Jewell dan Siegall (dalam Sutrisno, 2011) komitmenkerja dapat didefinisikan sebagai derajat hubungan individu memandangdirinya sendiri dengan pekerjaannya dalam organisasi tertentu. Robbins(dalam Sutrisno, 2010) mengatakan bahwa komitmen terhadap organisasiadalah salah satu sikap di tempat kerja, karena komitmen merefleksikanperasaan seseorang (suka atau tidak suka )terhadap organisasi dimana iabekerja.Selanjutnya menurut Kreitner (2008) komitmen organisasimencerminkan tingkat bagi perorangan mengidentifikasikan dengan suatuorganisasi dan merasa terikat dengan tujuannya.Menurut Mayer dan Allen (dalam Luthans, 2006) ada tiga modelkomponen dari komitmen organisasi yaitu komitmen afektif (affectivecommitment), komitmen kelanjutan (continuance commitment) dankomitmen normatif (normative commitment)
Dalam prilaku organisasi, terdapat beragam definisi tentang
komitmen organisasi. Sebagai suatu sikap, Luthans (2006) yang
menyatakan komitmen organisasi merupakan: (1) keinginan yang kuat
untuk menjadi anggota dalam suatu kelompok, (2) kemauan usaha yang
tinggi untuk organisasi, (3) suatu keyakinan tertentu dan penerimaan
terhadap nilai-nilai dan tujuan-tujuan organisasi.
Menurut Jewell dan Siegall (dalam Sutrisno, 2011) komitmen
kerja dapat didefinisikan sebagai derajat hubungan individu memandang
dirinya sendiri dengan pekerjaannya dalam organisasi tertentu. Robbins
(dalam Sutrisno, 2010) mengatakan bahwa komitmen terhadap organisasi
adalah salah satu sikap di tempat kerja, karena komitmen merefleksikan
perasaan seseorang (suka atau tidak suka )terhadap organisasi dimana ia
bekerja.
Selanjutnya menurut Kreitner (2008) komitmen organisasi
mencerminkan tingkat bagi perorangan mengidentifikasikan dengan suatu
organisasi dan merasa terikat dengan tujuannya.
Menurut Mayer dan Allen (dalam Luthans, 2006) ada tiga model
komponen dari komitmen organisasi yaitu komitmen afektif (affective
commitment), komitmen kelanjutan (continuance commitment) dan
komitmen normatif (normative commitment)

Dimensi Brand Trust


Menurut Ali hasan (2013:127), terdapat dimensi-dimensi kepercayaan merek yang
terdiri dari :

  1. Reliability
    Berkaitan dengan tingkat keandalan perusahaan dalam menyediakan layanan
    produk
  2. Credibility
    Berkaitan dengan tingkat keahlian yang dibutuhkan perusahaan untuk melakukan
    pekerjaan secara efektif dan andal.
  3. Benevolence
    Berkaitan dengan niat dan motivasi perusahaan.
    c. Pengukuran Brand Trust
    Menurut Kustini dalam Rizan (2012), brand trust dapat diukur melalui dua dimensi
    viabilitas dan dimensi intensionalitas
    a. Dimensi viabilitas
    Dimensi ini mewakili sebuah persepsi bahwa suatu merek dapat memenuhi dan
    memuaskan kebutuhan dan nilai konsumen.
    b. Dimensi intensionalitas
    Dimensi ini mencerminkan perasaan aman dari seorang individu terhadap suatu
    merek

Definisi Brand Trust


Menurut, Delgado Ballester, Munuera-Aleman and Yagiie Guillen dalam Christiaan
Rudolf Quintus Roets (2014), Mengkonseptualisasikan kepercayaan merek sebagai
konstruksi dua dimensi, terdiri dari atribut keandalan dan niat.
Sedangkan menurut Delgado dalam Hendrajati Aditya (2016), Kepercayaan merek
adalah perasaan aman yang dimiliki konsumen akibat dari interaksinya dengan sebuah
merek, yang berdasarkan persepsi bahwa merek tersebut dapat diandalkan dan
bertanggung jawab atas kepentingan dan keselamatan dari konsumen.

Pengukuran Citra Merek


Severi dan Ling (2013), menyatakan ada tiga indikator yang dapat dijadikan
pengukuran terhadap Citra Merek, yaitu:
(1) Produk memiliki citra yang berbeda dengan smartphone lainnya .
(2) Produk memiliki citra yang jelas
(3) Produk memiliki memiliki citra yang kuat

Faktor Pembentuk Citra Merek


Menurut Sugiharti (2012), terdapat pembentuk citra merek yaitu:
(1) Citra Pembuat
Citra produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap perusahaan yang membuat suatu produk atau jasa tiga faktor.
(2) Citra Produk
Citra produk merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen terhadap
suatu produk.
(3) Citra Pemakai
Citra pemakai merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan konsumen
terhadap pemakai yang menggunakan suatu barang atau jasa.

Definisi Citra Merek


Citra merek dapat didefinisikan sebagai suatu persepsi yang muncul di benak
konsumen ketika mengingat suatu merek dari produk tertentu. Novansyah (2016),
menyatakan citra merek adalah citra tentang suatu merek yang dianggap sebagai
kelompok asosiasi yang menghubungkan pemikiran konsumen terhadap suatu nama
merek. Sedangkan menurut Shimp et al, dalam Sangadji dan Sopiah (2013:327),
berpendapat bahwa citra merek (brand image ) dapat dianggap sebagai jenis asosiasi
yang muncul di benak konsumen ketika mengingat sebuah merek tertentu, asosiasi
tersebut secara sederhana dapat muncul dalam bentuk pemikiran atau citra tertentu yang
dikaitkan kepada suatu merek, sama halnya ketika berfikir tentang orang lain.
Menurut Sitio (2017), citra merek adalah sekumpulan sikap yang diambil tentang
gambaran yang tercermin dalam benak dan pikiran konsumen untuk menilai suatu
merek yang memiliki dimensi yakni; (1) pengenalan (recognition), (2) reputasi
(reputation), (3) daya tarik atau simpati (affinity) dan (4) kesetiaan (loyalty).

Pengukuran Kualitas Produk


Menurut Putro et al (2014), ada empat indikator yang dapat dijadikan pengukuran
yaitu:
(1) Produk yang dijual bervariasi.
(2) Produk memiliki fitur yang lebih baik daripada smartphone lainnya.
(3) Produk memiliki kualitas yang bagus
(4) Kualitas produk sesuai dengan uang yanh dikeluarkan.

Dimensi Kualitas Produk


Menurut Durianto dalam Sangadji dan Sopiah (2013:329 ), kualitas produk terdiri
atas enam dimensi yaitu :
(1) Kinerja
Kinerja merupakan elemen kualitas produk yang berkaitan langsung dengan
bagaimana suatu produk dapat menjalankan fungsinya untuk memenuhi
kebutuhan konsumen.
(2) Reliabilitas
Reliabilitas merupakan daya tahan produk selama dikonsumsi.
(3) Fitur
Fitur merupakan fungsi-fungsi sekunder yang ditambahkan pada suatu produk,
seperti fitur kendali jauh (remote control ) pada televisi.
(4) Keawetan (durability)
Keawetan merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkann suatu
pengukuran terhadap siklus produk, baik secara teknis maupun waktu. Produk
dikatakan awet jika dapat bertahan dalam pemakaian berulang-ulang.
(5) Konsistensi
Konsistensi merupakan dimensi kualitas produk yang menunjukkan seberapa jauh
suatu produk bisa memenuhi standar atau spesifikasi tertentu. Produk yang
mempunyai konsistensi tinggi berarti sesuai dengan standar yang ditentukan.
(6) Desain
Desain merupakan aspek emosional yang memengaruhi kepuasan konsumen
sehingga desain kemasan ataupun bentuk produk akan turut memengaruhi
persepsi kualitas produk tersebut.

Definisi Kualitas Produk


Kualitas dapat diartikan kemampuan dari produk untuk menjalankan fungsinya yang
mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan, kemudahan dalam
pengemasan dan reparasi produk dan ciri-ciri lainnya (Luthfia 2012).
Menurut Ong dan Sugiono (2013), kualitas produk adalah bagaimana produk itu
memiliki nilai yang dapat memuaskan konsumen baik secara fisik maupun secara
psikologis yang menunjuk pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu barang
atau hasil.
Penulis menarik kesimpulan dari pengertian yang telah diuraikan bahwa pengertian
kualitas produk adalah merupakan kemampuan dari produk untuk menjalankan
fungsinya yang mencakup daya tahan, kehandalan atau kemajuan, kekuatan, kemudahan
dalam pengemasan dan menunjuk pada atribut atau sifat-sifat yang terdapat dalam suatu
barang atau hasil

Definisi Produk


Menurut Kotler dalam Manap (2016:255), Produk adalah segala sesuatu yang dapat
ditawarkan dipasar, untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Produk
terdiri atas barang , jasa , pengalaman , events, orang,tempat, kepemilikan, organisasi,
informasi dan ide. Produk adalah suatu kumpulan atribut, fisik, psikis, jasa, dan
simbolik yang dibuat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan
Setyaningrum et al (2015:87), Sedangkan menurut Ali Hasan, SE., MM (2014),
Memasarkan produk adalah deals bauran rancangan product, pricing, place, promotion,
packaging, dan positioning yang akan ditawarkan kepada prospek, dan pelanggan.
Secara umum, produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar dan suatu
kumpulan atirbut, fisik, psikis, jasa, dan simbolik untuk memuaskan dan memenuhi
keinginan pelanggan.
Penulis menarik kesimpulan dari pengertian yang telah diuraikan bahwa produk
adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan dipasar, untuk memuaskan kebutuhan dan
keinginan konsumen dan suatu kumpulan atribut, fisik, psikis, jasa, dan simbolik yang
dibuat untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan

Pengukuran Minat Beli Ulang


Menurut Kuenzel dan Halliday (2008), menyatakan ada tiga indikator yang dapat
dijadikan pengukuran terhadap Minat Beli Ulang, yaitu:
(1) Keinginan untuk membeli kembali suatu merek produk.
(2) Mempertimbangkan untuk membeli tipe lain dari suatu produk
(3) Selalu mengutamakan suatu merek produk

Klasifikasi Minat Beli Ulang


Minat beli ulang konsumen menurut Ferdinand dalam Purba (2015), dapat dibagi
menjadi minat referensial, minat explorative, minat transaksional, dan minat
preferensial yang diuraikan sebagai berikut:
(1) Minat Referensial
Minat referensial merupakan minat seorang konsumen untuk mereferensikan
sebuah produk berdasarkan pengalaman yang dimilikinya kepada konsumen lain
agar konsumen tersebut ikut membeli.
(2) Minat Exploratif
Minat exploratif merupakan minat seorang konsumen untuk mencari segala
informasi yang berhubungan dengan produk yang diinginkannya.
(3) Minat Transaksional
Minat transaksional merupakan kecenderungan seorang konsumen untuk membeli
kembali produk yang pernah dibeli konsumen tersebut sebelumnya.
(4) Minat Preferensial
Minat preferensial merupakan gambaran perilaku seorang konsumen yang
menjadikan produk tersebut sebagai preferensi utama dibandingkan dengan
produk-produk lain di pasaran.

Definisi Minat Beli Ulang


Menurut Muzzaki (2013), Minat beli ulang adalah keinginan yang timbul dalam diri
pelanggan untuk membeli kembali produk atau jasa di masa yang akan datang setelah
sebelumnya pernah mengkonsumsi produk atau jasa yang sama.
Prastyaningsih et al. (2014), menyatakan minat beli ulang terjadi setelah konsumen
melakukan pembelian, dapat dikarenakan pernah mengkonsumsi sehingga berniat lagi
untuk membeli ulang produk atau jasa yang sama.
Penulis menarik kesimpulan dari pengertian yang telah diuraikan bahwa pengertian
minat beli ulang adalah keinginan yang timbul dari diri pelanggan untuk membeli
kembali produk atau jasa di masa yang akan dating dan minat beli ulang terjadi setelah
konsumen melakukan pembelian dikarenakan pernah mengkonsumsi sehingga berniat
untuk membeli ulang produk atau jasa yang sama.

Pengaruh Persepsi Harga terhadap Minat Beli Ulang


Persepsi harga menurut Kotler dan Keller (2016) menyatakan bahwa persepsi harga
adalah cara konsumen menafsirkan harga dan bagaimana mereka merespon harga tersebut
berdasarkan pengalaman, informasi, dan persepsi mereka terhadap suatu nilai suatu produk atau
jasa.berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rouli manalu (2023) memaparkan adamya hasil
yang signifikan yang diberikan oleh Persepsi Harga terhadap Minat beli ulang.

Indikator Gaya Hidup


Menurut Kotler (2016) dalam (Handryanto & Setianingsih, 2021) indikator yang
mempengaruhi gaya hidup antara lain:

  1. Aktivitas adalah identifikasi atas apa yang konsumen lakukan, apa yang mereka beli, dan
    bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka.
  2. Minat adalah suatu bentuk fokus pada preferensi dan prioritas konsumen. Minat
    merupakan faktor pribadi konsumen dalam mempengaruhi proses pengambilan
    keputusan.
  3. Opini merupakan pendapat dari setiap konsumen yang berasal dari pribadi mereka
    sendiri.
    Dimensi Gaya Hidup Menurut Sutisna dalam Luthfianto, Dawud dan Suprihhadi (2017)
    dalam (Handryanto & Setianingsih, 2021) Gaya hidup akan berkembang pada masing-masing
    dimensi activity, interest, opinion atau AIO (aktivitas,minat, opini). AIO didefinisikan sebagai
    berikut :
  4. Activity
    Aktivitas ini dapat berupa kerja, hobi,acara sosial, liburan, hiburan, keanggotan
    perkumpulan, jelajah internet, dan berbelanja. Aktivitas (kegiatan) konsumen merupakan
    karakteristik konsumen dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan adanya aktivitas
    konsumen, perusahaan dapat mengetahui kegiatan apa saja yang dapat dilakukan oleh
    pasar sasarnnya, sehingga mempermudah perusahaan untuk menciptakan strategi-staretgi
    dari informasi yang didapatkan tersebut.
  5. Interest Minat atau ketertarikan setiap manusia berbeda-beda.
    Adakalanya manusia tertarik pada makanan, adakalanya juga manusia tertarik
    pada mode pakaian, dan sebagainya. Minat merupakan faktor pribadi konsumen dalam
    mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Setiap perusahaan dituntut untuk selalu
    memahami minat dan hasrat para pelanggannya. Dengan memahami minat pelanggannya,
    dapat memudahkan perusahaan untuk menciptakan konsep pemasaran guna
    mempengaruhi proses pembelian para pasar sasarannya.
  6. Opini Adalah jawaban lisan atau tertulis yang orang berikan sebagai respon terhadap
    situasi.
    Opini digunakan untuk mendeskripsikan penafsiran, harapan, dan evaluasi seperti
    kepercayaan mengenai maksud orang lain, antisipasi sehubungan dengan peristiwa masa
    datang, dan penimbangan konsekuensi yang memberi ganjaran.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Gaya Hidup


Kotler dan Amstrong (2012) dalam (Luthfianto, 2022) mengemukakan gaya hidup
seseorang dipengaruhi oleh dua hal, yaitu dari dalam diri sendiri (internal) dan dari luar
(eksternal). Adapun penjelasan mengenai faktor internal yang mempengaruhi gaya hidup
meliputi sikap, pengalaman, observasi, kepribadian, konsep diri, motif, dan persepsi, dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1) Sikap
Sikap adalah kondisi mental dan pemikiran yang siap merespons suatu objek berdasarkan
pengalaman dan berpengaruh langsung pada perilaku. Kondisi mental tersebut sangat
dipengaruhi oleh tradisi, kebiasaan, budaya, dan lingkungan sosial individu.
2) Pengalaman dan Pengamatan
Pengalaman memiliki pengaruh terhadap pengamatan sosial dalam perilaku seseorang.
Pengalaman diperoleh melalui tindakan-tindakan di masa lalu dan bisa dipelajari. Melalui proses
belajar, seseorang bisa memperoleh pengalaman. Dampak dari pengalaman sosial dapat
membentuk persepsi seseorang terhadap suatu objek tertentu.
3) Kepribadian
Kepribadian merupakan gabungan sifat-sifat dan pola perilaku seseorang yang
menentukan perbedaan dalam tingkah laku tiap individu
4) Konsep diri
Faktor lain yang memengaruhi kepribadian seseorang adalah konsep diri. Konsep diri
merupakan cara yang sangat umum digunakan untuk melihat hubungan antara konsep diri
konsumen dengan citra merek. Cara individu melihat dirinya sendiri akan berpengaruh pada
minatnya terhadap suatu objek. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan
cara individu bertindak dalam menghadapi masalah hidupnya.
5) Motif
Perilaku individu timbul karena adanya dorongan kebutuhan untuk merasa aman dan
kebutuhan akan prestise, contohnya adalah motif-motif tersebut. jika kebutuhan seseorang akan
prestise besar, maka akan membentuk gaya hidup yang cenderung menuju ke gaya hidup
hedonis.
6) Persepsi
Persepsi merupakan proses di mana seseorang memilih, mengatur, dan
menginterpretasikan informasi untuk membentuk pemahaman yang bermakna tentang dunia.
Adapun 4 faktor eksternal dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Kelompok Referensi
Kelompok referensi adalah pengaruh dari kelompok terhadap sikap dan perilaku individu, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
b. Keluarga
Peran keluarga sangat penting dalam membentuk sikap dan perilaku individu. Cara orang tua
mendidik akan membentuk kebiasaan anak yang pada akhirnya memengaruhi gaya hidupnya
secara tidak langsung
c. Kelas Sosial
Seseorang yang tinggal di lingkungan sosial yang menganut gaya hidup hedonis akan
menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut, sehingga dia akan mengadopsi gaya hidup
hedonis sesuai dengan kelas sosialnya.
d. Kebudayaan
Kebudayaan merupakan faktor utama yang menentukan keinginan dan perilaku seseorang karena
sebagian besar perilaku manusia dipengaruhi oleh budayanya

Indikator Persepsi Harga


Adapun indikator Price Perception menurut (P. & G. A. Kotler, 2012) dalam (Ginting &
Hasibuan, 2025) yaitu sebagai berikut:

  1. Kesesuaian harga dengan kualitas produk, yaitu harga yang ditawarkan sebanding dengan
    kualitas produk yang akan diterima.
  2. Kesesuaian harga dengan manfaat, yaitu harga yang ditawarkan sebanding dengan
    manfaat yang akan diterima.
  3. Harga bersaing, yaitu perbandingan harga produk yang satu dengan yang lainnya.

Pengertian Persepsi Harga


Persepsi harga ini sangat penting dalam strategi pemasaran, karena dapat mempengaruhi
keputusan pembelian konsumen dan citra merek di pasar. (Resti & Soesanto, 2016) dalam
(Ginting, 2025) menjelaskan bahwa price perception (persepsi harga) merupakan salah satu
faktor penting dalam pemasaran yang memengaruhi keputusan pelanggan sekaligus membentuk
kepuasan. Konsumen yang merasa puas terhadap harga yang ditawarkan cenderung memiliki
minat lebih besar untuk melakukan pembelian ulang terhadap produk maupun jasa.
Sementara itu, Sari (2019) mengartikan price perception sebagai proses ketika konsumen
menilai kesesuaian antara harga yang ditawarkan dengan fasilitas atau layanan yang diharapkan.
Lebih lanjut, Kusdyah (2012) menegaskan bahwa price perception pada dasarnya adalah
penilaian konsumen terhadap perbandingan antara jumlah uang yang harus dikeluarkan dengan
manfaat yang akan diperoleh. Selain itu, persepsi harga juga berfungsi sebagai tolok ukur awal
bagi konsumen dalam menilai suatu produk atau merek, apakah dianggap layak dan sesuai untuk
digunakan atau justru sebaliknya.

Indikator Kepuasan Konsumen


Menurut (Tjiptono & Chandra, 2011) dalam (Ginting & Hasibuan, 2025) Ada tiga
indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kepuasan pelanggan diantaranya adalah
1.Kepuasan terhadap pelayanan: Merupakan kepuasan yang dirasakan pelanggan atau konsumen
atas service quality atau pelayanan yang diberikan oleh perusahaan.

  1. Kepuasan produk yang dihasilkan: Merupakan kepuasan yang dirasakan oleh konsumen atau
    pelanggan atas produk yang mereka konsumsi yang datang dari ekspetasi pelanggan itu sendiri.
  2. Perbandingan antara harapan dan kenyataan: Merupakan faktor di mana pelanggan puas ketika
    harapan mereka sesuai dengan kenyataan yang mereka dapatkan sehingga mereka puas.

Pengertian Kepuasan Konsumen


Zullaihah & Setyawati (2021) kepuasan merupakan hal yang selalu dicari konsumen, apabila
konsumen merasakan puas terhadap suatu produk,konsumen akan membelinya meskipun barang
tersebut memiliki harga yang fantastis.
Kepuasan konsumen adalah perasaan senang atau kecewa yang muncul dari perbandingan
antara kinerja produk/jasa yang dirasakan dengan harapan konsumen sebelumnya, di mana jika
kinerja melebihi harapan akan menimbulkan kepuasan, dan jika di bawah harapan akan
menimbulkan ketidakpuasan, menurut para ahli seperti Kotler dan Keller (2017, 2018).
Kepuasan pelanggan merupakan perasaan senang atau kecewa yang timbul dari diri
seseorang karena membandingkan kinerja yang dipersepsikan produk terhadap ekspektasi
mereka Kepuasan didefinisikan sebagai evaluasi atas pengalaman penggunaan produk. Kepuasan
diukur berdasarkan evaluasi kognitif dan afektif konsumen atas pengalaman pribadi mereka
terhadap segala hal yang berhubungan dengan layanan. Konsumen yang tidak puas dengan
penyedia layanan tidak dapat diharapkan untuk memiliki hubungan yang baik dengan perusahaan
karena kepuasan pelanggan merupakan inti dari sebuah hubungan antara perusahaan dan
pelanggan Ekspektasi pelanggan dapat berasal dari beberapa hal, diantaranya adalah pengalaman
pembelian yang dilakukan masa lalu, rekomendasi atau nasihat teman dan rekan, serta informasi
dari pemasar dan pesaing.

Indikator Minat Beli Ulang Berlangganan


Menurut Penelitian (Aprilia Sari & Azizah, 2021) terdapat indikator Minat Beli Ulang
Berlangganan Spotify :

Melakukan pembelian ulang
situasi di mana konsumen setelah melakukan pembelian pertama memutuskan
untuk kembali membeli produk yang sama pada kesempatan berikutnya. Apabila
tindakan ini berlangsung secara berkesinambungan, maka disebut sebagai perilaku
pembelian berulang.

Kemantapan terhadap produk
kondisi ketika konsumen merasa yakin bahwa produk yang ditawarkan telah teruji
kualitasnya. Hal ini membentuk rasa percaya sehingga mendorong konsumen untuk
melakukan pembelian kembali.

Kebiasaan dalam membeli produk
pola perilaku konsumen yang secara konsisten melakukan pembelian, baik
terhadap produk yang sama maupun produk berbeda, dalam jangka waktu panjang secara
berulang.

Memberikan rekomendasi kepada orang lain
tindakan konsumen yang menyarankan atau mengajak orang lain untuk
menggunakan suatu produk atau layanan yang telah mereka coba sebelumnya, karena
diyakini memiliki kualitas dan keandalan yang dapat dipercaya.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi Minat Beli Ulang Berlangganan


Menurut Kotler dan Amstrong (2019) faktor utama yang mempengaruhi minat seseorang
untuk melakukam pembelian ulang, yaitu sebagai berikut:

  1. Faktor Kultur.
    Hal utama yang sangat mempengaruhi minat beli ulang seseorang terletak pada adat
    istiadat, sosial budaya, gaya hidup, dan lingkungan sekitar. Gaya hidup yang semakin
    maju dan modern menuntut seseorang melakukan sebuah pembelian berulang pada
    sebuah produk yang sangat dibutuhkan untuk menunjang gaya hidup dan sebuah produk
    yang dapat menunjang gaya hidup saat ini.
  2. Faktor Psikologis
    Hal kedua yang sangat mempengaruhi seseorang dalam melakukan pembelian ulang yaitu
    faktor psikis ketika seseorang merasa puas pada sebuah produk atau jasa seseorang akan
    cenderung menggunakan kembali barang atau jasa tersebut di masa depan.
  3. Faktor Pribadi
    Hal ketiga yang dapat mempengaruhi seseorang melakukan pembelian ulang yaitu status
    sosial, pekerjaan, tingkat penghasilan,dan selera.
  4. Faktor Sosial
    Sebuah komunitas dalam masyarakat juga dapat mempengaruhi seseorang melakukan
    pembelian ulang. Ketika sebuah lingkungan menggunakan sebuah produk berturut-turut
    maka secara tidak langsung minat seseorang dalam melakukan pembelian ulang akan
    sering terjadi.

Pengertian Minat Beli Ulang Berlangganan


Minat pembelian ulang merupakan kumpulan dari karakteristik pembelian konsumen
yang disebabkan oleh konsistensi antara permintaan pelanggan dengan kinerja atas komoditas
yang dipasarkan entitas, hingga munculnya hasrat guna memanfaatkannya lagi dimasa
mendatang (Iwan et al., 2021).
Minat Pembelian Ulang bisa digapai dengan membuat dan menjalankan interaksi baik
melalui terus menciptakan hasil serta optimalisasi kesenangan klien sebagai balasan positif dari
pelanggan dengan kualitas dari layanan elektronik serta bermaksud guna merepurchase lagi
komoditas entitas tersebut (Dhirtya & Warmika, 2019) Minat Pembelian Ulang dijelaskan lewat
sebuah indikasi-indikasi diantaranya adalah minat transaksional, referensial, preferensial juga
eksploratif.
Minat beli ulang yang bagus/tinggi akan dilihat melalui peningkatan kepuasan yang
tinggi juga dari para konsumen saat konsumen tersebut memutuskan untuk menikmati sebuah
barang atau produk, maupun jasa (Harahap & Wijaksana, 2020).

Hubungan promosi dengan minat pembelian ulang


Dalam dunia pemasaran, kegiatan memperkenalkan, menyakinkan
dan mengingatkan kembali manfaat tentang fungsi dan keberadaan
sebuah produk. Promosi dapat menciptakan kesadaran konsumen
terhadap suatu produk. Promosi yang baik (menyampaikan keunggulan
produk) akan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk
tersebut. Tujuan yang sebenarnya dari promosi yaitu untuk meningkatkan
hasil penjualan dan keuntungan, namun demikian promosi juga ada yang
merugikan. Penelitian Cahyasari (2009) dan Wibisaputra (2011)
menyebutkan ada pengaruh signifikan promosi terhadap keputusan
pembelian ulang.

Hubungan citra merek dengan minat pembelian ulang


Penelitian tentang kaitan antara citra merek dengan minat beli
dikemukakan Mahardika (2014) menyatakan bahwa citra merek
berpengaruh terhadap keputusan beli ulang. Hal tersebut didukung
Dinawan (2010) yang menyatakan bahwa perkembangan pasar yang
demikian pesat mendorong konsumen untuk lebih memperhatikan citra
merek dibandingkan karakteristik fisik suatu produk dalam memutuskan
pembelian. Merek menjadi bagian penting sehingga memungkinkan
preferensi pelanggan untuk memilih merek tersebut. Pelanggan
cenderung membeli merek yang sudah dikenal karena mereka merasa
aman dengan sesuatu yang dikenal dan beranggapan merek yang sudah
dikenal kemungkinan bisa dihandalkan, dengan kualitas yang bisa
dipertanggungjawabkan.

Kualitas Produk


Menurut Kotler dan Armstrong (2009:272), “kualitas produk
adalah salah satu positioning utama pemasar”. Kualitas mempunyai
dampak langsung pada kinerja roduk atau jasa; oleh karena itu kualitas
berhubungan erat dengan nilai dan kepuasan pelanggan. Sedangkan
menurut Tjiptono (2001:20), “kualitas mencerminkan semua dimensi
penawaran produk yang menghasilkan manfaat bagi pelanggan. Istilah
nilai (value) sering kali digunakan untuk mengacu pada kualitas relatif
suatu produk dikaitkan dengan harga produk bersangkutan”.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa produk yang
berkualitas akan memiliki sejumlah kelebihan yang mampu memberikan
kepuasan kepada konsumen. Produk yang dihasilkan dengan kualitas
yang tinggi pada tingkat harga yang kompetitif akan dipilih oleh
konsumen. Kualitas produk yang tinggi dan dapat diterima oleh
konsumen akan menjadi elemen utama dalam mempengaruhi konsumen
untuk melakukan keputusan pembelian.
Menurut Tjiptono (2001:25), dimensi kualitas produk meliputi :

  1. Kinerja (Performance)
    Yaitu karakteristik operasi pokok dari produk inti (Core Product)
    yang dibeli, misalnya kecepatan, konsumsi bahan bakar, jumlah
    penumpang yang dapat diangkut, kemudahan dan kenyamanan
    dalam mengemudi dan sebagainya
  2. Keistimewaan tambahan (Features)
    Yaitu karakteristik sekunder atau pelengkap, misalnya kelengkapan
    interior dan eksterior seperti Dash Board, AC, Sound System, Door
    Lock System, Power Steering, dan sebagainya.
  3. Keandalan (Reliability)
    Yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal
    dipakai, misalnya mobil tidak sering ngadat/macet/rewel/rusak.
  4. Kesesuaian dengan spesifikasi (Conformance to Specifications)
    Yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi
    standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya
    standar keamanan dan emisi terpenuhi, seperti ukuran as roda untuk
    truk tentunya harus lebih besar daripada mobil sedan.
  5. Daya tahan (Durability)
    Berkaitan dengan berapa lama produk tersebut dapat terus
    digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur
    ekonomis penggunaan mobil.
  6. Estetika (Asthethic)
    Yaitu daya tarik produk terhadap panca indera. Misalnya bentuk
    fisik mobil yang menarik, model atau desain yang artistik, warna,
    dan sebagainya.

Harga


Menurut Tjiptono (2001:151), “harga merupakan satuan moneter
atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan
agar memperoleh hak kepemilikan atau pengunaan suatu barang atau
jasa”. Sedangkan menurut Kotler (1995: 576), “harga merupakan salah
satu unsur bauran pemasaran paling fleksibel, harga dapat diubah dengan
cepat, tidak seperti tampilan produk dan perjanjian distribusi.
Menurut Mahfoedz (2005:136), “faktor yang mempengaruhi harga
ada dua yaitu faktor internal (tujuan pemasaran, strategi bauran
pemasaran, biaya), dan faktor eksternal (pasar dan Persepsi konsumen)”.
a. Faktor internal
1) Tujuan pemasaran
Perusahaan mempetahankan para pelanggan setia agar tetap loyal
dengan produknya.
2) Strategi bauran pemasaran
Penerapan harga harus dikoordinasikan dengan produk, distribusi,
penetapan promosi untuk membentuk program pemasaran yang
konsisten dan efektif.
3) Biaya
Biaya merupakan faktor yang menjadi dasar penetapan harga
yang diterapkan pada produk.
b. Faktor eksternal
1) Pasar
Konsumen menyeimbangkan antara harga produk atau jasa
dengan manfaat yang dapat diperoleh. Dengan demikian sebelum
harga diterapkan, perusahaan harus memahami antara harga dan
permintaan produknya.
2) Persepsi konsumen
Pada waktu penerapan harga, perusahaan harus
memperimbangkan persepsi konsumen terhadap harga dan cara
persepsi tersebut mempengaruhi keputusan membeli.

Promosi


Tjiptono (2001:219), mengartikan promosi sebagai berikut: “pada
hakikatnya promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran. Yang
dimaksud dengan komunikasi pemasaran adalah aktivitas pemasaran
yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi / membujuk, dan /
atau mengingatkan pasar sasaran atas perushaan dan produknya agar
bersedia menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan
perusahaan yang bersangkutan”. Meskipun secara umum bentuk-bentuk
promosi memiliki fungsi yang sama, tetapi bentuk-bentuk tersebut dapat
dibedakan berdasarkan tugas-tugas khususnya. Beberapa tugas khusus itu
atau sering disebut bauran promosi.
Menurut Swastha dan Irawan (2001:350), Bauran promosi terdiri
dari empat dimensi, sebagai berikut:
a. Periklanan: Bentuk presentasi dan promosi non pribadi tentang ide,
barang, dan jasa yang dibayar oleh sponsor tertentu.
b. Personal Selling: Presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan
satu calon pembeli atau lebih yang ditujukan untuk menciptakan
penjualan.
c. Publisitas: Pendorongan permintaan secara non pribadi untuk suatu
produk, jasa, atau ide dengan menggunakan berita komersial di
dalam media massa dan sponsor tida dibebani sejumlah bayaran
secara langsung.
d. Promosi Penjualan: Kegiatan pemasaran-selain personal selling,
periklanan, dan publisitas – yang mendorong pembelian konsumen
dan efektifitas pengecer.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa promosi yang
dilakukan untuk memberitahu atau mendorong calon pembeli untuk
mencoba produknya dengan tujuan menaikan tingkat pembelian.
Menurut Swastha dan Irawan (2001:347), empat variabel pokok
yang saling berhubungan dengan tugas-tugas promosi disebut dalam
bentuk singkatan AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) yaitu:

  1. Perhatian (Attention): Diperlukan lebih dulu jika pembeli
    potensial sudah menyadari terhadap penawaran perusahaan.
  2. Minat (Interest): Adanya komunikasi akan terdapat kesempatan
    untuk menciptakan minat calon pembeli.
  3. Keinginan (Desire): Menimbulkan keinginan akan berpengaruh
    baik terhadap proses evaluasi.
  4. Perlakuan (Action)): Memperoleh perlakuan yang terjadi dari
    tahap percobaan, keputusan, dan konfirmasi.

Citra Merek


Menurut Kotler dan Armtrong (2009:281), “merek adalah elemen
kunci dalam hubungan perusahaan dengan konsumen”. Merek
mempresentasikan presepsi dan perasaaan konsumen atas sebuah produk
dan kinerjanya, semua hal tentang arti produk atau jasa kepada
konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2007;340), mengenai “brand image
yaitu berhadapan dengan properti ekstrinsik dari produk atau jasa
termasuk cara merek tersebut memenuhi kebutuhan sosial atau psikologis
pelanggan”. Keterkaitan konsumen pada suatu merek akan lebih kuat
apabila ditandai pada banyak pengalaman untuk mengkomunikasikannya
sehingga akan terbentuk citra merek (brand image). Citra merek (brand
image) yang baik akan mendorong untuk meningkatkan volume
penjualan.
Sedangkan menurut Machfoedz (2005;104) ”membangun kekuatan
iklan menciptakan dan menjaga citra merek”. Citra merek merupakan
representasi dari keseluruhan persepsi terhadap merek dan dibentuk dari
informasi dan pengetahuan terhadap merek itu. Citra terhadap merek
berhubungan dengan sikap yang berupa keyakinan dan preferensi
terhadap suatu merek. Konsumen yang memiliki citra yang positif
terhadap suatu merek akan lebih memungkinkan untuk melakukan
pembelian.

Minat Pembelian Ulang


Menurut Howard et al dalam Kurniawa (1988:2), Intention to buy
didefinisikan sebagai pernyataan yang berkaitan dengan batin yang
mencerminkan rencana dari pembeli untuk membeli suatu merek tertentu
dalam suatu periode waktu tertentu. Menurut Simamora dalam Hamka
(2010:2) minat beli suatu produk timbul karena adanya dasar
kepercayaan terhadap produk yang pemasaran dan jajaran luas faktor
lain, perusahaan yang dapat mencapai dan mempertahankan diferensiasi
akan menjadi perusahaan berkinerja di atas rata-rata dalam industri
seandainya premi harganya melebihi biaya ekstra yang diperlukan untuk
menjadi unik.
Berdasarkan uraian diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa
minat pembelian ulang konsumen merupakan suatu proses
pengintegrasian konsumen dalam membeli suatu barang atau jasa yang
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Perilaku membeli
timbul karena didahului oleh adanya minat membeli, minat untuk
membeli muncul salah satunya disebabkan oleh persepsi yang didapatkan
bahwa produk tersebut memiliki kualitas yang baik. Jadi minat membeli
dapat diamati sejak sebelum perilaku membeli timbul dari konsumen.
Menurut Hasan, Ali (2013:131), minat beli ulang (repeat intention
to buy) dapat diidentifikasi melalui indikator sebagai berikut:
a. Minat transaksional: yaitu kecenderungan seseorang untuk
membeli produk.
b. Minat referensial: yaitu kecenderungan seseorang untuk
mereferensikan kepada orang lain.
c. Minat preferensial: yaitu minat yang menggambarkan perilaku
seseorang yang memiliki preferensi utama pada produk, preferensi
ini hanya dapat diganti bila terjadi sesuatu dengan produk
preferensinya.
d. Minat eksploratif: minat ini menggambarkan perilaku seseorang
yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya
dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari
produk yang sama.

Pengaruh Ekuitas Hubungan terhadap Niat Beli Ulang


Ekuitas hubungan mengacu pada kecenderungan pelanggan untuk tetap
setia pada suatu merek, terlepas dari penilaian subyektif pelanggan terhadap merek
tersebut untuk membangun dan memperkuat hubungan antara perusahaan dengan
pelanggan (Dwiviolita et al., 2023). Ekuitas hubungan yang baik dari sebuah
perusahaan akan mengubah konsumen menjadi pelanggan yang loyal untuk terus
melakukan pembelian ulang. Dalam bisnis di bidang aplikasi seluler, hubungan
antara pelanggan dengan perusahaan harus terus terjaga. Hal ini disebabkan oleh
sangat tingginya tingkat kompetisi antar perusahaan di bidang aplikasi seluler ini,
dimana banyak perusahaan aplikasi seluler yang semakin pintar untuk dapat
menarik perhatian para konsumen di pasar. Maka dari itu penting bagi perusahaan
untuk selalu menjaga hubungan mereka dengan para pelanggannya agar pelanggan
tidak beralih ke perusahaan lain atau yang biasa disebut dengan brand switching.
Pentingnya menjaga ekuitas hubungan agar pelanggan tetap melakukan pembelian
ulang dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Rombe & Radna (2022)
yang menyatakan bahwa ekuitas hubungan berpengaruh positif terhadap niat beli
ulang

Pengaruh Ekuitas Merek terhadap Niat Beli Ulang


Ekuitas merek menjadikan suatu merek dapat mudah diingat sehingga
menjadi opsi merek utama bagi pelanggan ketika ingin membeli suatu produk.
Ekuitas merek dapat mempengaruhi niat beli ulang terkait dengan ketertarikan dan
keinginan konsumen yang telah melakukan pembelian karena merasa bahwa merek
tersebut familiar di lingkungan mereka. Ekuitas merek menjadi aset utama dan
strategis untuk sebagian besar organisasi bisnis kontemporer dengan cara yang baru
dan inovatif (Beig & Nika, 2019). Apabila ekuitas suatu merek meningkat, maka
meningkat pula niat beli ulang para pelanggan. Perilaku konsumen sebelum
melakukan pembelian akan mempertimbangkan terlebih dahulu sebuah merek
tertentu dimana konsumen akan memilih merek yang terkenal dan mempuenyai
ekutias merek yang baik (Mardikaningsih, 2021). Hal tersebut juga dibuktikan oleh
penelitian yang dilakukan oleh Gomez & Perez (2018) yang menyatakan bahwa
konsumen memandang kesan merek secara umum seperti karakteristik, atribut, dan
manfaat dengan cara yang menguntungkan, yang meningkatkan kemungkinan
untuk mengulangi pembelian.

Pengaruh Ekuitas Nilai terhadap Niat Beli Ulang


Perusahaan yang memberi nilai tambah dalam produk dan pelayanannya
akan menambah rasa puas para pelanggannya sehingga dapat merangsang
pelanggan untuk dapat melakukan pembelian kembali. Niat beli ulang lahir dari
konsumen yang menilai baik secara obyektif dan subyektif terhadap produk yang
mereka beli dan konsumsi. Banyak aspek yang mendorong produk untuk bertambah
nilainya, seperti kualitas, fitur, manfaat, keunggulan, dan pengalaman secara
keseluruhan yang ditawarkan kepada konsumen. Ekuitas nilai merupakan penilaian
konsumen terhadap utilitas suatu produk (kualitas, harga, dan kenyamanan) yang
mereka terima. Maka dari itu penting bagi perusahaan untuk meningkatkan nilai
pada produk, layanan, ataupun hubungannya sehingga pelanggan terpenuhi atau
terlampaui harapannya ketika melakukan pembelian. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh (Ho & Chung, 2020), ekuitas nilai yang tinggi dapat menyebabkan
niat beli ulang yang tinggi

Pengaruh Keterlibatan Pelanggan terhadap Ekuitas Hubungan


Keterlibatan pelanggan merupakan faktor penting pada sebuah proses
perusahaan dalam meningkatkan ekuitas hubungannya. Ekuitas hubungan dapat
mempengaruhi pelanggan untuk tetap setiap pada merek, melampaui penilaian
obyektif dan obyektif pelanggan terhadap suatu perusahaan setelah membeli atau
mengkonsumsi produk dan jasa. Keterlibatan pelanggan yang tinggi dapat
mendorong perusahaan untuk semakin giat untuk menguatkan hubungannya
dengan pelanggan karena dengan keterlibatan pelanggan yang tinggi, perusahaan
akan sadar bahwa hubungan yang mereka jaga dengan para pelanggannya
membawa dampak yang baik. Merek dengan keterlibatan pelanggan yang tinggi,
para pelanggannya secara tidak langsung akan terdorong untuk melakukan interaksi
dengan merek tersebut seperti memberi masukan, ataupun sekedar memberi
feedback. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Dwiviolita et al. (2023) terhadap
perusahaan Shopee Indonesia, keterlibatan pelanggan memiliki pengaruh terhadap
ekuitas hubungan. Keterlibatan pelanggan dapat meningkatkan loyalitas terhadap
suatu perusahaan, dan jika pelanggan setia terhadap suatu perusahaan maka akan
membangun dan memperkuat hubungan antara pelanggan dan perusahaan

Pengaruh Keterlibatan Pelanggan terhadap Ekuitas Merek


Keterlibatan pelanggan dalam aplikasi seluler dapat mempengaruhi ekuitas
merek terkait dengan menjadikan sebuah merek menjadi top of mind bagi sebagian
besar masyarakat. Menurut Hayes (2023), perusahaan dapat memperoleh ekuitas
merek mereka dengan menjadikan merek mereka menjadi mudah diingat, mudah
dikenali, dan unggul dalam kualitas dan keandalan. Begitulah peran keterlibatan
pelanggan dalam mempengaruhi ekutias merek. Pelanggan yang memiliki rasa puas
dan peniliaian yang baik setelah membeli atau mengkonsumsi suatu produk,
cenderung akan memberi komentar dengan membicarakannya kepada orang sekitar.
Apabila keterlibatan pelanggan terkait suatu merek atau produk tinggi, maka akan
ekuitas merek akan meningkat dalam artian merek tersebut lebih dikenal oleh
banyak orang, dan semakin mudah diingat oleh banyak orang. Hal ini dibuktikan
melalui penelitian terdahulu yang dilakukan di Taiwan dengan objek aplikasi seluler
Gogoro dimana keterlibatan pelanggan dapat mempengaruhi ekuitas merek (Ho &
Chung, 2020), karena keterlibatan pelanggan yang tinggi dapat membantu
perusahaan untuk membangun ekuitas pelanggan (ekuitas merek, nilai, dan
hubungan) yang tinggi pula.

Pengaruh Keterlibatan Pelanggan terhadap Ekuitas Nilai


Ekuitas nilai merupakan penilaian obyektif pelanggan terhadap kegunaan
dan manfaat produk/jasa yang mereka beli dari sebuah perusahaan, berdasarkan
persepsi pelanggan tentang apa yang perlu mereka belanjakan dibandingkan dengan
nilai yang mereka terima setelah berbelanja (Oanh & Long, 2021). Karena ekuitas
nilai menjadi penilaian obyektif pelanggan terhadap produk dan jasa perusahaan,
maka perusahaan yang memiliki peran penting dalam meningkatkan dan atau
menurunkan ekuitas nilainya sendiri. Keterlibatan pelanggan dapat mempengaruhi
ekuitas nilai dari sisi aktivitas pelanggan yang dapat memberi dampak kepada orang
lain, dan sehingga dapat memberi penilaian terhadap perusahaan. Keterlibatan
pelanggan menjadi konsep yang berkaitan dengan interaksi, perhatian, dan
ketertarikan emosional pelanggan terhadap merek atau perusahaan (Utomo, 2023).
Semakin tinggi interaksi, perhatian, dan daya tarik yang dimiliki oleh sebuah
perusahaan karena upaya perusahaan untuk meningkatkan ekuitas nilainya, maka
akan tinggi pula keterlibatan pelanggannya. Keterlibatan pelanggan sebagai proses
bisnis dapat dilakukan dalam pengembangan produk dan pemasaran serta dalam
menciptakan pengalaman berbelanja yang berbeda. Keterlibatan pelanggan yang
tinggi akan membawa dampak kepada umpan balik kepada perusahaan yang positif,
sehingga kedepannya perusahaan dapat meningkatkan ekuitas nilainya dengan
lebih baik.

Ekuitas Hubungan


Ekuitas hubungan antara perusahaan dan pelanggannya berfokus pada
orientasi pelanggan yang diterapkan oleh perusahaan. Perusahaan menjaga
hubungan yang baik dengan para pelanggannya agar pelanggan mendapatkan
pelayanan dan empati simpati. Ekuitas hubungan merupakan tindakan pelanggan
untuk mempertahankan hubungan dengan perusahaan tertentu meskipun mereka
memiliki hubungan yang lebih kuat (Fitri & Yasri, 2024). Salah satu cara
perusahaan untuk meningkatkan ekuitas hubungan ini adalah dengan meningkatkan
ataupun membuat banyak program loyalitas (W. Kim et al., 2020). Hubungan yang
baik antara perusahaan dengan para pelanggannya menekankan pada budaya
perusahaan yang berorientasi pada pelanggan, dan memerlukan adanya turut serta
partisipasi dari semua anggota perusahaan untuk meningkatkan. Pada akhirnya
secara lengkap dapat disimpulkan bahwa ekuitas hubungan adalah niat pelanggan
untuk menggunakan produk atau jasa secara terus menerus setelah mengevaluasi
suatu merek secara subyektif dan obyektif sehingga menciptakan ikatan antara
pelanggan dan perusahaan (B. Lee & Park, 2020).
Pelanggan yang merasa puas terhadap pelayanan dan hubungan yang
terjalin dengan perusahaan akan lebih berpotensi untuk melakukan upaya
pembelian kembali. Ekuitas hubungan yang merupakan salah satu dimensi dari
ekutias pelanggan menjadi salah satu elemen penting untuk diperhatikan oleh
perusahaan dalam membangun customer engagement yang tinggi dan pembelian
kembali antar kelompok (Dwiviolita et al., 2023). Kualitas hubungan sebuah merek
dengan para pelanggannya telah diketahui sebagai faktor yang berpengaruh
terhadap niat pembelian ulang (Pitaloka & Gumanti, 2019). Loyalitas menjadi
penghubung antara ekuitas pelanggan dan niat beli ulang. Kecocokan antara
kebutuhan konsumen dan fungsional dari sebuah merek dapat mengarah pada
pengembangan antara hubungan perusahaan dan konsumen yang dapat dipupuk
dengan cara merancang beberapa program pemasaran seperti program loyalitas
pelanggan. Perusahaan yang memberikan program loyalitas terhadap pelanggannya
akan meningkatkan kepuasan dan kesetiaan dari pelanggan itu sendiri yang
membuat pelanggan akan melakukan pembelian kembali secara terus menerus.
Salah satu sikap positif pelanggan yang merasa puas terhadap produk yang mereka
beli dan konsumsi adalah dengan setia terhadap produk dan merekomendasikan
produk terhadap orang lain, sedangkan sikap negatifnya dapat terlihat dengan
review atau menjelaskan pengalaman yang buruk kepada orang lain dan berpindah
ke produk perusahaan pesaing (Nafiah & Trihudiyatmanto, 2021).
Berdasarkan penelitian terdahulu terhadap Kebab Turki Zahara di Padang
oleh Fitri & Yasri (2024), peneliti menetapkan ekuitas hubungan sebagai salah satu
variabel independent untuk meneliti niat membeli kembali. Pada penelitian
dilakukan, peneliti mendapati bahwa Kebab Tukri Zahara Padang sedang
mengalami penurunan omset yang mmebuat bisnis merugi, dan diketahui bahwa
salah satu penyebabnya adalah karena bisnis yang belum efektif dalam membangun
ekuitas hubungan dengan para pelanggannya. Peneliti mengungkapkan hasil bahwa
ekuitas hubungan yang tinggi dapat meningkatkan niat beli ulang oleh pelanggan
di Kebab Turki Zahara Padang. Ekuitas hubungan yang kuat menumbuhkan
loyalitas pelanggan dan mengurangi kemungkinan mereka beralih ke produk lain
(Fitri & Yasri, 2024)

Ekuitas Merek


Menurut Aaker (2020) yang dikutip dalam Stevi & Artina (2022), ekuitas
merek merupakan seperangkat aset dan liabilitas merek yang berkaitan dengan
suatu merek, nama, dan simbolnya yang menambah atau mengurangi nilai yang
diberikan oleh suatu barang atau jasa kepada perusahaan atau pelanggan. Dalam
meningkatkan ekuitas merek, perusahaan dapat memberi nilai tambah terhadap
produk dan jasa mereka secara tangible ataupun intangible. Nilai tambah tangible
merupakan nilai tambah yang memiliki wujudnya, seperti memberi tambahan
produk sebagai bonus bagi konsumen. Sedangkan nilai tambah intangible
merupakan nilai tambah yang tidak memiliki wujud, seperti memberi rasa nyaman
kepada konsumen dengan menjamin bahwa data-data pribadi mereka aman.
Konsumen akan mulai beralih menjadi pelanggan jika suatu merek memiliki ekuitas
merek yang tinggi. Ekuitas merek menjadi aset utama dan strategis untuk sebagian
besar organisasi bisnis kontemporer dengan cara yang baru dan inovatif (Beig &
Nika, 2019).
Nilai tidak semata-mata mengacu pada aspek finansial dan komersial,
namun pada karakter simbolis yang diwakilinya alias merek (Gomez & Perez,
2018). Merek sangat kuat untuk mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang
dalam melakukan pembelian, maka dari itu penting bagi perusahaan untuk
meningkatkan ekuitas merek mereka sehingga konsumen semakin yakin untuk
dapat melakukan pembelian dan bahkan berulang terhadap produk perusahaan.
Sebuah perusahaan tidak boleh membiarkan ekuitas merek mereka rendah, karena
ketika membeli produk dengan ekuitas merek rendah, konsumen akan tetap
melakukannya namun hanya karena alasan harga diskon (Ou et al., 2020). Hal
seperti ini hanya baik untuk jangka pendek karena upaya potongan harga atau
diskon tidak akan menghasilkan pelanggan yang loyal untuk melakukan pembelian
ulang. Maka dari itu nilai-nilai tambah yang diberikan oleh perusahaan harus
melebihi dari nilai harga sehingga konsumen akan datang kembali untuk melakukan
pembelian.

Ekuitas Nilai


Dalam era digital dimana lingkungan bisnis menjadi sangat kompetitif
(termasuk perdagangan seluler atau e-commerce), dimana keterlibatan pelanggan
menjadi norma dalam proses strategi pemasaran maka ekuitas pelanggan
memainkan peran yang penting demi kelangsungan hidup suatu perusahaan (W.
Kim et al., 2020). Ekuitas nilai merupakan salah satu variabel dimensi dari ekuitas
pelanggan, selain ekuitas merek, dan ekuitas hubungan. Ekuitas nilai menjadi poin
kunci antara pelanggan dan perusahaan (W. Kim et al., 2020). Ekuitas nilai
merupakan penilaian obyektif pelanggan terhadap kegunaan dan manfaat
produk/jasa yang mereka beli dari sebuah perusahaan, berdasarkan persepsi
pelanggan tentang apa yang perlu mereka belanjakan dibandingkan dengan nilai
yang mereka terima setelah berbelanja (Oanh & Long, 2021). Berdasarkan
argumentasi sebelumnya dari para ahli, dapat dikutip bahwa ekuitas nilai ini
merupakan penilaian pelanggan berdasarkan pada penawaran, harga, dan
kenyamanan yang mereka rasakan setelah membeli atau mengkonsumsi suatu
produk. Jika suatu perusahaan bisa berhasil dalam memberi nilai tambah pada
produk mereka yang melebihi harapan konsumen, maka konsumen yang membeli
dan menggunakan produk tersebut akan merasa bahwa produk yang mereka beli
sudah tepat dan cocok terhadap kebutuhan dan keinginan mereka. Disitulah ekuitas
nilai produk dari sebuah perusahaan bertambah, yang nantinya bisa meruntut ke
aspek-aspek lainnya seperti keterlibatan pelanggan dan pembelian ulang.
Ekuitas nilai menjadi penting bagi perusahaan yang menginginkan
perusahaannya terus berkembang dari adanya pembelian kembali. Ekuitas nilai
perusahaan yang sudah terbangun dengan baik akan melekat di hati para
pelanggannya. Ekuitas nilai dari suatu merek yang tinggi akan mendorong
pelanggan untuk melakukan pembelian kembali. Ekuitas nilai menjadi penilaian
subyektif konsumen berdasarkan nilai yang diterima dari produk yang mereka beli
dan konsumsi (Pangastuti, 2020). Perusahaan dengan ekuitas bernilai tinggi
menawarkan produk yang memberikan nilai uang yang penting di pasar saat ini
dimana konsumen sangat sadar akan harga, kualitas, dan kenyamanan (Fitri &
Yasri, 2024). Pelanggan yang puas akan pembelian produk yang mereka beli akan
cenderung melakukan pembelian kembali terhadap merek yang sama, disitulah
peran ekuitas nilai menjadi penting. Nilai tambah yang diberikan oleh suatu merek
terhadap produk yang mereka jual memberi kepuasan pada pelanggan. Ketika akan
melakukan pembelian kembali, pelanggan akan mengandalkan evaluasi terhadapa
nilai yang mereka terima dari pembelian sebelumnya, oleh karena itu salah satu
faktor kunci untuk meningkatkan pembelian kembali adalah dengan meningkatkan
nilai terutama dari produk/jasa yang diberikan perusahaan kepada pelanggan yang
loyal (Oanh & Long, 2021).
Pada penelitian terdahulu yang dilakukan terhadap Manwah restoran di
Hanoi oleh Oanh & Long (2021), peneliti melakukan penelitian untuk menguji
apakah ekuitas nilai dapat mempengaruhi niat beli ulang pada sebuah restoran.
Dalam menguji ekuitas nilai, peneliti menggunakan 5 subvariabel sebagai indikator
dalam menguji ekuitas nilai. Adapun 5 subvariabel tersebut seperti lingkungan,
kualitas layanan, harga, kualitas makanan, dan kenyamanan. Konsep ekuitas nilai
hanya berfokus pada manfaat yang diterima pelanggan sehingga istilah nilai ekuitas
ini digunakan untuk menyiratkan bahwa persepsi pelanggan terhadap manfaat yang
diperoleh pelanggan dari produk dan layanan bisnis merupakan ekuitas dari bisnis
tersebut (Oanh & Long, 2021). Pelanggan yang memiliki persepsi positif terhadap
nilai suatu merek cenderung akan menjadi loyal dan melakukan pembelian berulang
terhadap produk atau merek tersebut

Keterlibatan Pelanggan


Keterlibatan pelanggan (customer engagement) didefiniskan sebagai upaya
perusahaan yang disengaja untuk memotivasi, memberdayakan, dan mengukur
kontribusi pelanggan dalam fungsi pemasaran (Harmeling et al., 2017). Di era
global dimana semua bisnis dan perusahaan sudah terjun ke dalam dunia digital,
semakin penting bagi pelaku bisnis dan perusahaan untuk melakukan peningkatan
terhadap keterlibatan pelanggan mereka. Dengan meningkatnya keterlibatan
keterlibatan pelanggan di media sosial melalui aplikasi seluler, merek/perusahaan
dan pelanggan bekerja sama untuk menciptakan produk, layanan, model bisnis, dan
nilai-nilai yang baru (Ho & Chung, 2020). Dengan meningkatnya keterlibatan
pelanggan di media sosial maka perusahaan perlu mengikuti gerak transformasi
digital sehingga perusahaan dapat tumbuh dan bersaing dengan kompetitornya.
Tidak mudah untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan, perusahaan perlu
mempertimbangkan dan mendorong banyak aspek dari perusahaannya seperti
ekuitas merek, hubungan pelanggan, ataupun peningkatan nilai.
Keterlibatan pelanggan telah diidentifikasi sebagai faktor penting dalam
menentukan loyalitas merek dan perilaku pembelian kembali (Majeed et al., 2022).
Keterlibatan pelanggan menjadi penting bagi pertumbuhan semua perusahaan
karena keterlibatan pelanggan yang tinggi akan meningkatkan interaksi dan
kekuatan hubungan antara perusahaan dengan para pelanggannya sehingga
perusahaan akan memiliki pelanggan yang loyal atau setia. Pelanggan yang loyal
dan memiliki rasa keterlibatan yang tinggi terhadap suatu merek akan lebih
berpotensi untuk melakukan pembelian produk perusahaan secara berulang
dibanding dengan mereka yang tidak memiliki rasa terhadap perusahaan tersebut,
karena melalui keterlibatan pelanggan dalam aplikasi seluler di berbagai platform
media sosial, kesetaraan nilai pelanggan akan meningkat dengan sendirinya (Ho &
Chung, 2020). Keterlibatan pelanggan bukan hanya sebatas melakukan pembelian
produk atau jasa sebuah perusahaan, namun keterlibatan pelanggan juga berarti
bahwa pelanggan secara sadar dan tidak sadar ikut terlibat aktif dalam melakukan
upaya pemasaran perusahaan dengan melakukan interaksi aktif antara pelanggan
dan merek, dan juga antara pelanggan dengan pelanggan lainnya.

Niat Beli Ulang


Repurchase intention atau niat beli ulang pada dasarnya adalah perilaku
pelanggan, dimana pelanggan memberikan respon positif terhadap kualitas layanan
suatu perusahaan dan berniat untuk melakukan kunjungan atau membeli kembali
produk perusahaan (Wardi, 2022). Niat beli ulang yang tinggi oleh pelanggan akan
meningkatkan potensi perusahaan untuk lebih cepat dalam bertumbuh dan
berkembang. Jika manfaat yang dirasakan lebih besasr daripada pengorbanan untuk
mendapatkannya, maka keinginan konsumen untuk membelinya akan lebih tinggi
(Forever, 2023). Niat beli ulang menjadi keunggulan kompetitif yang membantu
perusahaan mencapai kinerja penjualan dan keberlanjutan bisnis (Ali, 2019;
Herjanto, 2020). Peningkatan upaya pembelian kembali pelanggan masih terus
menjadi aspek kompetitif yang tinggi. Niat beli ulang konsumen diperoleh dari
suatu proses belajar, proses pemikiran yang akan membentuk suatu persepsi
sebelum konsumen mengambil keputusan untuk membeli suatu produk (Wiguna,
& Santika, 2020).
Niat beli ulang ini menjadi penting untuk dibahas karena di era digital
seperti saat ini, persaingan antar perusahaan untuk mendapatkan pembelian kembali
oleh para pelanggan mereka tidaklah mudah. Herjanto (2020) menjelaskan bahwa
niat membeli ulang sebagai pengambilan keputusan yang rumit dan subjektif bagi
individu, sehingga tidak mudah untuk dapat meningkatkan niat beli ulang ini.
Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi niat pembelian kembali secara langsung
atau tidak langsung seperti kepuasan konsumen, pengaruh sosial, loyalitas
emosional, dan kebiasaan (H. J. Lee, 2020). Selain itu, Keputusan pembelian
kembali sebagian besar juga didasarkan pada atribut visual yang terceermin dari
identitas merek (Dash et al., 2023), maka dari itu penting bagi perusahaan untuk
menciptakan citra merek yang bagi di hadapan pelanggan mereka.
Kunci dari perusahaan yang tumbuh dan berkembang adalah perusahaanperusahaan yang memiliki pelanggan loyal untuk terus melakukan pembelian
kembali. Keinginan pelanggan untuk membeli kembali produk atau layanan yang
sama setelah melakukan transaksi online disebut dengan niat membeli kembali
online (Gao, 2024). Kepercayaan konsumen memiliki pengaruh yang besar
terhadap keberlangsungan produk perusahaan yang ditawarkan, bila produk yang
ditawarkan tidak mendapatkan kepercayaan konsumen maka produk tersebut akan
sulit berkembang, dan sebaliknya produk yang mendapatkan kepercayaan
konsumen akan menarik minat beli konsumen (Simatupang et al., 2021). Terlebih
dahulu konsumen harus merasa puas terhadap produk yang mereka beli jika
perusahaan menginginkan konsumen yang melakukan pembelian kembali karena
kepuasan konsumen bisa menjadi penghubung antara proses pembelian dan
konsumsi, yang berpuncak pada fenomena setelah pembelian.
Menurut Farahan & Lestari (2023), terdapat 4 faktor yang dapat
mempengaruhi pelanggan untuk melakukan pembelian ulang, yaitu:
1) Kenyamanan
Rasa nyaman, dan puas yang dirasakan oleh konsumen atau pelanggan
saat melakukan pembelian terhadap suatu produk atau jasa tertentu.
2) Reputasi Merek yang Kuat
Citra atau persepsi dari para pelanggan yang dinilai secara obyektif
terhadap suatu merek baik itu secara positif ataupun negatif.
3) Kepuasan terhadap Produk atau Layanan
Rasa puas atas terpenuhinya ekspetasi para pelanggan ketika melakukan
pembelian produk atau jasa.
4) Program Loyalitas
Strategi yang digunakan oleh perusahaan untuk dapat meningkatkan
loyalitas para pelanggannya seperti program reward, program loyalty
card, kartu referral, dan lainnya.

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Pelanggan


Menurut Robinette (2001) dalam Meyske (2016) faktor-faktor yang
mempengaruhi loyalitas pelanggan antara lain:

  1. Perhatian (Caring)
    Perusahaan harus dapat melihat dan mengatasi segala kebutuhan, harapan,
    maupun permasalahan yang dihadapi oleh pelanggan. Adanya perhatian
    tersebut pelanggan akan menjadi puas terhadap perusahaan dan melakukan
    transaksi ulang dengan perusahaan, dan pada akhirnya mereka akan menjadi
    pelanggan perusahaan yang loyal. Semakin perusahaan menunjukkan
    perhatian maka akan semakin besar pula loyalitas pelanggan.
  2. Kepercayaan (Trust)
    Kepercayaan timbul dari suatu proses yang lama sampai kedua belah pihak
    saling mempercayai. Apabila kepercayaan sudah terjalin di antara
    pelanggan dengan perusahaan, maka usaha untuk membinanya akan lebih
    mudah. Hubungan perusahaan dan pelanggan tercermin dari tingkat
    kepercayaan para pelanggan. Apabila tingkat kepercayaan pelanggan tinggi,
    maka hubungan perusahaan dengan pelanggan akan menjadi kuat. Salah
    satu cara yang dapat dilakukan perusahaan dalam membina hubungan
    dengan pelanggan, yaitu segala jenis produk yang dihasilkan harus memiliki
    kualitas atau kesempurnaan seperti seharusnya.
  3. Perlindungan (Length of Patronage)
    Perusahaan harus dapat memberikan perlindungan kepada pelanggan baik
    berupa kualitas produk, pelayanan, komplain ataupun layanan purna jual.
    Dengan demikian, pelanggan tidak khawatir dalam melakukan transaksi dan
    berhubungan dengan perusahaan, karena pelanggan merasa perusahaan
    telah memberikan perlindungan yang mereka butuhkan.
  4. Kepuasan Akumulatif (Overall Satisfaction)
    Kepuasan akumulatif adalah keseluruhan penilaian berdasarkan total
    pembelian dan konsumsi atas barang dan jasa pada suatu periode tertentu.
    Kepuasan akumulatif ditentukan oleh berbagai komponen seperti kepuasan
    terhadap sikap karyawan dan kepuasan terhadap perusahaan itu sendiri.

Manfaat Customer Relationship Management


Menurut Febrianingtyas (2014) ada beberapa manfaat yang diperoleh dari
penerapan Customer Relationship Management antara lain :

  1. Adanya penerimaan profit margin dari penjualan di masa depan dan
    konsumen yang loyal, hal ini sangat berlawanan dengan versi paradigma
    mikro ekonomi yang mengatakan bahwa tidak ada loyalitas konsumen,
    tidak ada brand equity, tidak ada pembelian ulang, tidak ada komitmen
    untuk transaksi di masa depan. Setiap pembelian dan penjualan
    mengasumsikan bahwa masing-masing dimotivasi oleh diri sendiri dan
    berusaha memaksimumkan kepuasannya melaui transaksi relationship
    hanya akan merugikan, yang menjadi pengatur adalah harga. Pada
    kenyataanya loyalitas dapat dibangun jangka panjang.
  2. Ada berita dari mulut ke mulut (word of mouth) yang positif dari pelanggan
    yang terpuaskan dan adanya penjualan dari pihak-pihak lain yang
    terpengaruh oleh informasi tersebut.
  3. Pendekatan ini dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan produk karena
    ada peluang yang cukup besar untuk adanya konfirmasi atas harapan
    harapan pelanggan melalui komunikasi, pengalaman pribadi dari
    perusahaan, berita mulut ke mulut yang positif dan terpenuhinya kebutuhan
    pribadi.
  4. Hubungan baik dalam jangka panjang dapat memungkinkan perusahaan
    untuk bergerak satu langkah lebih maju dalam perolehan informasi
    pemasaran yang dapat bermanfaat untuk inovasi maupun pemuasan
    konsumen secara kompetitif dan proaktif.
  5. Jalinan kerjasama jangka panjang juga berpotensi untuk menekan biaya
    untuk penelitian pemasaran, biaya penanganan keluhan, dan biaya untuk
    menarik minat pembeli melalui taktik promosi

Tujuan Costumer Relationship Management


Menurut Tjiptono dalam Febrianingtyas (2014:3) tujuan utama dari CRM
adalah membangun dan mempertahankan basis pelanggan yang memiliki
relationship commitment yang kuat serta profitable bagi perusahaan. Melalui CRM
pelanggan akan memiliki ikatan emosional yang berkelanjutan sehingga terjalin
hubungan binis yang erat sehingga akan lebih mudah dalam meningkatkan
kepuasan pelanggan karena apa yang diharapkan dan diingikan pelanggan bisa
diketahui. Sedangkan menurut Butle dalam Febrianingtyas (2014:3) alasan
mendasar yang mendorong perusahaan membina hubungan dengan pelanggan
sesungguhnya klasik, yakni motif ekonomi. Perusahaan akan mendapatkan benefit
jika terbangun hubungan yang erat dengan pelanggan sehingga berhasil memuaskan
pelanggan.

Faktor Faktor yang Mempengaruhi Costumer Relationship Management


Robinette (2001) dalam Meyske (2016) menjelaskan bahwa ada empat
faktor yang mempengaruhi Customer Relationship Management, antara lain:

  1. Keuntungan Bersama
    Keuntungan bersama yang dimaksud disini adalah bagaimana perusahaan
    dan pelanggan bisa saling menguntungkan satu sama lain. Pelanggan dapat
    puas dengan produk atau jasa yang dikonsumsi atau dibayarkan dan
    perusahaan dapat memperoleh keuntungan yang diberikan dari pelanggan
    dengan adanya transaksi yang terjadi.
  2. Komitmen
    Menurut Jasfar (2005) komitmen adalah rasa saling percaya diantara pihakpihak yang menjalin hubungan, baik secara tersirat (implisit) maupun yang
    tidak tersirat (eksplisit) bahwa hubungan mereka akan berlangsung terusmenerus dan masing-masing menjaga agar janji di antara mereka tetap
    terpelihara. Dalam hal ini perusahaan terus mempertahankan mutu atau
    kualitas produknya sehingga pelanggan akan merasa selalu puas dan loyal
    dengan perusahaan.
  3. Kebenaran
    Dalam perusahaan kejujuran dan kebenaran sangatlah penting untuk
    keberlangsungan hidup perusahaan. Perusahaan harus mampu menanggapi
    keluhan atau complain dengan sungguh-sungguh. Penanganan keluhan yang
    baik mampu menciptakan kepuasan pelanggan sendiri dan berujung dengan
    hubungan baik antara pelanggan dan perusahaan. Robinette (2001)
    menjelaskan bila perhatian tidak sungguh-sungguh maka konsumen akan
    pergi dan hubungan akan mengalami kemunduran. Apresiasi yang
    diekspresikan secara sungguh-sungguh akan diperhatikan dan akan memacu
    perkembangan hubungan.
  4. Tanpa adanya komunikasi yang baik, hubungan antara perusahaan dengan
    pelanggan tidak akan berjalan dengan baik. Menurut Tjiptono (2002) untuk
    mewujudkan komunikasi organisasi yang efektif dibutuhkan lima macam
    keterampilan pokok yaitu mendengarkan (listening), memberi dan
    menerima umpan balik (feedback skills), menunjukkan ketegasan
    (assertiveness), menangani konflik (resolving conflict), serta memecahkan
    masalah (problem solving). Kelima keterampilan pokok tersebut diperlukan
    untuk mewujudkan komunikasi yang baik antara perusahaan dan pelanggan

Customer Relationship Management


Menurut Light (2003) dalam Ahmad & Jawabreh (2012) Manajemen
Hubungan Pelanggan (CRM) adalah proses mengelola hubungan pelanggan secara
terorganisir dengan tujuan inti untuk memastikan bahwa setiap pelanggan individu
selalu memiliki momen kebenaran yang positif.
Menurut V Kumar & Werner Reinartz (2012:12) CRM adalah proses
strategis untuk memilih pelanggan yang dapat dilayani dengan cara yang paling
menguntungkan oleh perusahaan serta membentuk interaksi antara perusahaan dan
pelanggan. Tujuan utamanya adalah untuk mengoptimalkan nilai pelanggan saat ini
dan masa depan bagi perusahaan.
Menurut Kristian & Panjaitan (2014) Customer Relationship Management
(CRM) adalah proses membangun dan memelihara hubungan yang menguntungkan
dengan pelanggan dengan menyediakan produk yang bernilai bagi konsumen dan
menciptakan pelanggan yang puas.
Menurut Sheth et al (2015) Customer Relationship Management adalah
adalah proses berkelanjutan yang melibatkan kegiatan kolaboratif dan program
dengan pelanggan pengguna langsung untuk menciptakan atau meningkatkan nilai
ekonomi, sosial dan psikologis secara menguntungkan.
Menurut Kotler dan Keller (2016:168) “CRM is process of carefully
managing detailed information about individual customer and all customer “touch
point” to maximize loyality. CRM is important because a major driver of company
profitability is the aggregate value of the company’s customer base.” CRM adalah
proses dengan hati-hati mengelola informasi rinci tentang pelanggan individual dan
semua pelanggan “titik sentuh” untuk memaksimalkan loyalitas. CRM penting
karena pendorong utama profitabilitas perusahaan adalah nilai keseluruhan dari
basis pelanggan perusahaan

Manfaat Experiential Marketing


Schmitt (1999:34) mengatakan bahwa terdapat 5 manfaat apabila suatu
perusahaan menerapkan Experiential Marketing :

  1. Untuk memutar balik brand yang sedang menurun.
  2. Untuk membedakan produk yang dihasilkan perusahaan dengan yang
    dihasilkan oleh pesaing.
  3. Untuk membentuk suatu image atau citra dan juga identitas perusahaan.
  4. Untuk mempromosikan inovasi.
  5. Untuk mengajak konsumen mencoba, membeli, dan yang terpenting adalah
    dengan menciptakan konsumen yang loyal.

Karakteristik Experiential Marketing


Menurut Schmitt (1999:25) menjelaskan empat karakteristik Experiential
Marketing:

  1. Focus on customer experience. Experience berfokus pada pengalaman
    konsumen melalui stimulus yang ditanamkan oleh pemasar melalui panca
    indera, hati dan pikiran konsumen yang pada akhirnya dapat membentuk
    sebuah pengalaman. Pengalaman tersebut memberikan nilai sensori,
    emosional, kognitif, perilaku, dan juga nilai relasional yang menggantikan
    nilai fungsional.
  2. Examining the consumption situation. Experience tidak berfokus pada
    kategori produk dan persaingan secara sempit namun berfokus juga pada
    produk dan situasi saat konsumen mengkonsumsi produk dan atau jasa
    tersebut. Selain itu experience juga berfokus pada bagaimana cara
    menciptakan produk berdasarkan situasi tersebut yang pada akhirnya akan
    menimbulkan consumption experience.
  3. Customer are rational and emotional ”animals”. Experiential marketing
    berasumsi bahwa konsumen memiliki sifat yang rasional dan emosional
    yang menggunakan instingnya dalam melakukan suatu tindakan. Selain itu,
    pelanggan ingin merasakan hiburan dan juga dipengaruhi secara emosional.
  4. Method and tools are electic. Metodologi yang digunakan pada experiential
    marketing berbeda dengan yang digunakan oleh traditional marketing
    dimana metodologi dan alat yang digunakan pada experiential marketing
    lebih beragam. Dalam experiential marketing, metode yang digunakannya
    bergantung pada setiap situasi ataupun objek yang diukur.

Experiental Marketing


Experiential Marketing pertama kali dikenalkan oleh Schmitt yang
menjelaskan pengembangan pemasaran tradisional ke pemasaran pengalaman.
Experiential Marketing adalah pengalaman yang memberikan nilai sensorik,
emosional, kognitif, perilaku dan relasional yang menggantikan nilai fungsional
(Schmitt,1999:26)
Menurut Smilansky (2009:5) Experiential Marketing adalah proses
mengidentifikasi dan memuaskan kebutuhan dan aspirasi pelanggan secara
menguntungkan, melibatkan mereka melalui komunikasi dua arah yang
menghidupkan kepribadian merek dan menambah nilai bagi target pelanggan.
Menurut Nagasawa & Kizu (2015) dalam Rati Dhillon, Bhawna Agarwal &
Namita Rajput (2022) Experiential Marketing adalah pengalaman pribadi
konsumen dirangsang melalui insting dan panca indera untuk meningkatkan nilai
produk dalam konteks gaya hidup mereka.
Menurut Smith & Hanover (2016:31) Experiential Marketing adalah
pengalaman menciptakan emosi yang mendorong orang untuk menanggapi satu
sama lain dan “merasa” bertindak dengan cara tertentu.
Menurut Araci, Bulut, & Kocak (2017) Experiential Marketing adalah
pendekatan pemasaran yang melibatkan emosi dan perasaan pelanggan dengan
menciptakan pengalaman positif yang tak terlupakan.

Hubungan pengaruh Experiental Marketing dan Loyalty Customer


Hubungan pengaruh experiental marketing dan loyalty customer dari penelitian
terdahulu yang berjudul Analisis pengaruh experiental marketing terhadap kepuasan
pelanggan dan loyalitas pelanggan yang dijelaskan oleh (Kusumawati, 2011), dalam
hasil pengujiannya bahwa experiental marketing berpengaruh signifikan terhadap
loyalitas pelanggan sebesar 0,313.
Dalam penelitiannya menjelaskan untuk membuat pelanggan menjadi loyal terhadap
suatu perusahaan, maka terlebih dahulu membuat rasa puas yang tinggi dengan
pengalaman-pengalaman yang baik dimana pelanggan akan terus menerus
mendapatkan penganan yang mampu membuta nya menjadi puas sehingga menjadi
loyal.

Hubungan pengaruh Customer Satisfaction dan Loyalty Customer


Hubungan pengaruh customer satisfaction dan loyalty customer dari penelitian
terdahulu yang berjudul “pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan,
citra perusahaan dan loyalitas pelanggan” yang dijelaskan oleh (Normasari, 2013),
dalam hasil pengujiannya bahwa kepuasan pelanggan berpengaruh signifikan terhadap
loyalitas pelanggan sebesar 4,446. Hal dapat dijelaskan dalam penelitian (Kusumawati,
2011), dimana kepuasan konsumen yang merasa puas adalah loyal, dan konsumen yang
loyal akan menguntungkan perusahaan, perusahaan harus memulai beberapa tahapan
yang begitu panjang dan lama untuk memberikan rasa puas yang tinggi yang mampu
membuat pelanggan menjadi loyal.

Hubungan pengaruh Brand Love terhadap Loyalty Customer


Hubungan pengaruh brand love dan loyalty customer dari penelitian terdahulu yang
berjudul “peningkatan brand loyalty melalui brand image, brand love, dan customer
satisfaction” yang dijelaskan oleh (Sari and Sudarti, 2016), dalam hasil pengujiannya
bahwa brand love berpengaruh signifikan terhadap loyalitas pelanggan sebesar 7,286.
Dalam penelitian Adrianus (2012) mengatakan jika brand love konsumen berada pada
tinggi, maka secara langsung loyalty customer juga akan tinggi. Sebaliknya jika brand
love konsumen rendah maka tingkat loyalty customer rendah

Hubungan pengaruh Experiental Marketing dan Customer Satisfaction


Hubungan pengaruh experiental marketing dan customer satisfaction dari penelitian
terdahulu yang berjudul Analisis pengaruh experiental marketing terhadap kepuasan
pelanggan dan loyalitas pelanggan yang dijelaskan oleh (Kusumawati, 2011), dalam
hasil pengujiannya bahwa experiental marketing berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan pelanggan sebsesar 0,658.
Hal ini sejalan dalam pembahasan penelitian (kusumawati, 2011) dimana menjelaskan
kepuasan adalah perasaan senang secara menyeluruh dari pelanggan terhadap
perusahaan, sehingga kepuasan pelanggan hanya dapat dinilai berdasarkan pengalaman
yang pernah dialami saat proses pemeberi layanan dam hal ini adalah selama
berbelanja, dan oleh pelanggan tidak dirasakan di tempat lain.

Hubungan pengaruh Experiental Marketing dan Brand Love


Hubungan pengaruh experiental marketing dan brand love dari penelitian terdahulu
yang berjudul “pengaruh brand experience terhadap brand loyalty Box isi melalui
brand love” yang dijelaskan oleh (SETYO, 2019), dimana experience berpengaruh
signifikan terhadap brand love. Dalam penelitian (Hanifah et al., 2018), semakin tinggi
kecintaan terhadap suatu produk, maka akan semakin tinggi juga loyalitas yang akan
ditunjukkan konsumen dengan melakukan pembelian ulang secara terus-menerus pada
produk atau brand tersebut

Customer Loyalty


Loyalitas pelanggan adalah serangkaian perilaku yang secara sistematis mendukung
satu entitas (Watson, IV Beck, Henderson, & Palmatier, 2015). Ini dapat dievaluasi
secara perilaku melalui pemahaman pembelian berulang dan urutan pembelian. Selain
itu, pelanggan yang loyal ingin membuat rujukan, menawarkan referensi, dan
memberikan informasi dari mulut ke mulut. Anehnya, tinjauan literatur telah
mengungkapkan bahwa konsep pengalaman pelanggan telah menerima banyak
perhatian dalam domain perusahaan besar (Bolton et al., 2018; Lemon and Verhoef,
2016), tetapi pengalaman pelanggan jarang dibahas dalam studi bisnis kecil Lemon and
Verhoef, 2016)
Pengalaman pelanggan telah didefinisikan sebagai subyektif internal berarti di mana
pelanggan mengalami berbagai titik sentuh dan saluran bisnis. Gagasan pengalaman
pelanggan menjadi penting, mengingat perannya sebagai anteseden dari hasil
pelanggan yang positif. Literatur terbaru mengenai pengalaman pelanggan di
perusahaan besar telah berfokus pada pengelolaan berbagai titik sentuh interaksi antara
karyawan, pelanggan, dan mesin perusahaan.
Dengan demikian, loyalitas pelanggan digambarkan sebagai niat untuk berbicara
positif tentang sebuah objek, untuk merekomendasikannya, dan untuk kembali ke
objek di masa depan. Definisi ini mengasumsikan bahwa pelanggan setia akan membeli
kembali di masa depan dan bertahan dari upaya pemasaran pesaing. Namun, studi
tentang kesetiaan terutama menggunakan pendekatan perilaku dan sikap.
Pendekatan ini memungkinkan para peneliti untuk mengungkap kekuatan kesetiaan
dari yang sangat loyal kepada yang sangat tidak loyal, pendekatan sikap telah dikritik
karena kurangnya kekuatan prediksi perilaku aktual. Mempertimbangkan kelemahan
dari kedua pendekatan loyalitas, para sarjana (Tang dan Li, 2015; Wahyuni dan
Fitriani, 2017) telah menyarankan loyalitas gabungan, yang terdiri dari loyalitas
perilaku dan sikap. Pendekatan ini mendefinisikan pelanggan setia sebagai mereka
yang menunjukkan sikap dan perilaku positif terhadap produk atau layanan

Customer Satisfaction


kepuasan pelanggan merupakan suatu respon emosional terhadap
pengalamanpengalamannya yang berkaitan dengan produk atau jasa tertentu yang
dibeli, gerai ritel, atau bahkan pola perilaku (seperti perilaku berbelanja dan perilaku
pembeli), serta pasar secara keseluruhan” (Tjiptono, 2014:353). Hal ini patut
diperhatikan karena saat ini konsumen tidak hanya berpedoman pada harga yang
murah saja, tetapi juga pada kualitas pelayanan, lokasi usaha, Kualitas produk yang
ditawarkan, serta kerapian tata letak produk yang dilakukan dan lain sebagainya
Menurut Bernhardt, Donthu, & Kennett. (2000) dalam (Kos Koklic et al.,
2017)Kepuasan dalam beberapa teori dianggap sebagai prekursor untuk meningkatkan
pangsa pasar, profitabilitas, iklan positif dari mulut ke mulut dan juga loyalitas
pelanggan.
Berdasarkan hal-hal diatas maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kepuasan dapat
dilihat dari beberapa indikator, yaitu:
a. kepuasan terhadap kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan.
b. kepuasan terhadap kemauan membantu pelanggan.
c. kepuasan terhadap pengetahuan dan kesopanan.
d. kepuasan terhadap kepedulian pada pelanggan.
e. Kepuasan terhadap penampilan fasilitas fisik.

Brand Love


Cinta merek adalah hubungan emosional yang intens dan positif yang berkembang dari
waktu ke waktu, mengarah pada perilaku yang didorong oleh hasrat, dan diperkuat
ketika diri terkait erat dengan merek, (Kwon & Mattila, 2015). Menurut Aro et al.,
(2018) menunjukkan ringkasan studi pariwisata tentang emosi, kepuasan, dan cinta
merek. Sebuah makalah konseptual baru-baru ini tentang cinta merek tujuannya adalah
untuk mengidentifikasikan rasa kepuasan sebagai variabel anteseden dari cinta merek
dan respons emosional sebagai konsekuensi dari tujuan cinta merek itu sendiri.
Memang, hanya mentransfer karakteristik cinta antar pribadi ke dalam konteks
pemasaran menimbulkan kesulitan, karena perasaan yang dipegang seseorang untuk
suatu merek tidak sepenuhnya analog dengan perasaan yang dimiliki seseorang untuk
orang lain (Carroll dan Ahuvia, 2006; Batra et al., 2012 ).
Salah satu perbedaan utama adalah bahwa cinta antar pribadi adalah hasil dari interaksi
dua arah, sedangkan cinta untuk objek seperti produk atau merek adalah searah. Studi
yang ada berpusat pada konseptualisasi konstruk, menerapkan fenomena cinta
antarpribadi ke dalam konteks konsumen-merek (Ahuvia, 2006; Batra et al. , 2012).
Karena tidak ada konseptualisasi umum mengenai konstruk ini, berbagai penulis
berpendapat bahwa cinta merek bersifat multi-aspek( Batra, 2012). Konsensus luas
dapat dicapai karena cinta merek melibatkan perasaan yang penuh gairah untuk merek.
Untuk menentukan ruang lingkup cinta merek, konstruk ini harus diisolasi dari
konstruk yang berdekatan yang akan dikaitkan secara intuitif, seperti kebencian merek
atau kesukaan merek. Orang mungkin cenderung berpikir bahwa kebalikan dari
mencintai seseorang adalah – paling-paling – menyukai seseorang. Paling buruk, orang
mungkin berpikir bahwa tingkat cinta yang rendah setara dengan membenci seseorang.
Tetapi secara konseptual, tingkat cinta yang rendah tidak mengindikasikan menyukai
atau membenci, karena keduanya merupakan konsep yang berbeda secara konsep.
Dalam studi Batra, Ahuvia & Bagozzi (2012) dimensi dalam brand love terdiri dari inti
brand love yang disimpulkan terdiri dari dimensi Passion-driven behavior (hasrat
menggebu untukmenggunakan, kemauan untuk investasi, keterlibatan di masa lalu),
self brand intergration (identitas diri yang diharapkan, identitas diri sekarang, makna
hidup, Frequent thoughts), koneksi emosional yang positif (kecocokan dengan intuisi,
keterikatan emosional, afeksi positif), hubungan jangka panjang, perpisahan yang
sudah diantisipasi, valensi sikap secara keseluruhan, kepastian.

Konsep Experiential Marketing


Menurut Bernd H. Schmitt (1999) sebuah perusahaan dikatakan bagus dalam
menerapkan Experiential Marketing jika sudah memenuhi kriteria lima elemen.
Konsep strategik dari Experiential Marketing sebagai berikut :

  1. Sense
    Sense Marketing ditunjukkan kepada rasa dengan menciptakan pengalaman
    melalui pendekatan panca indera seperti pengelihatan (sight), suara (sound),
    sentuhan (touch), rasa (taste) dan bau (smell). Shopee sendiri membuat strategi
    terkait Sense itu sendiri demi menarik minat konsumen, Seperti contohnya
    tampilan Shopee dari estetika sangat menarik, rasa berbelanja di Shopee begitu
    mudah dan nama dari pilihan produk-produk yang begitu banyak dan juga
    penggunaan fitur yang tidak rumit.hal itu dilakukan demi menciptakan
    experiental marketing dalam kategori Sense.
  2. Feel
    Feel Marketing tertuju pada perasaan dan emosi konsumen dengan tujuan
    mempengaruhi pengalaman melalui suasana hati dan yang lembut sampai emosi
    yang kuat terhadap kesenangan dan kebanggaan. Dalam kategori feel, Shopee
    membuat strategi yang membuat suasana hati konsumen merasa senang dan betah
    berbelanja dalam waktu yang tidak sebentar.
  3. Think
    Think Marketing tertuju pada intelektualitas yang bertujuan menciptakan suatu
    kesadaran (cognitive). Pengalaman sebagai problem solving yang
    mengikutsertakan konsumen di dalamnya.
  4. Act
    Act Marketing tertuju untuk mempengaruhi pengalaman jasmaniah, gaya hidup
    dan interaksi.
  5. Relate
    Relate Marketing berisikan aspek-aspek dari keempat hal diatas (sense, feel, think
    dan act marketing.
    Semua kelima elemen dari experiential marketing mengacu pada dua tujuan
    utama, yaitu: menciptakan kekuatan merek dan loyalitas pelanggan.

Experiental Marketing


Menurut (Alagöz and Ekici, 2014), Konsepsi pemasaran experiential berisi aplikasi
yang berorientasi untuk meningkatkan pangsa pemasaran dalam kepuasan pelanggan
dan loyalitas pelanggan. Untuk alasan ini, adalah mungkin bagi perusahaan untuk
melanjutkan keberadaan mereka dengan menunjukkan kontak nilai lebih. Selain
perkembangan ini, nilai ekonomi yang diperoleh dari produk dan layanan telah
memberikan nilai ekonomi yang diperoleh dari pengalaman karena perubahan cepat
dalam teknologi, upaya branding dan saluran komunikasi variasi pemasaran.
Pengalaman adalah elemen inti dari pemasaran berdasarkan pengalaman, itu bertujuan
untuk menciptakan stimulus yang berbeda seperti spesial area, suasana dan pengaturan
baru. Pangastuti (2017), Inti dari experiential marketing adalah untuk membangun
hubungan yang langgeng dengan pelanggan. Dengan cara ini konsumen diharapkan
untuk menanggapi rangsangan ini, menunjukkan perilaku pembelian aktif dan
mendapatkan pengalaman dan mendapatkan perasaan yang berbeda seperti kesenangan
dan hiburan. Survei 2019 bisnis kecil tahunan Wells Fargo dan Gallup mendefinisikan
merekrut pelanggan baru sebagai salah satu tantangan utama yang dihadapi bisnis kecil
atau besar (Newport and McMuarry, 2019). Oleh karena itu interaksi dengan konsumen
selama pertemuan layanan telah ditemukan penting untuk pengalaman pelanggan
(Seger-Guttmann and Medler-Liraz, 2016; Grandey and Melloy, 2017).

Jenis-Jenis E-commerce


Penggolongan e-commerce pada umumnya dilakukan berdasarkan sifat
transaksinya. Menurut Laudon dan Laudon dalam Shabur Miftah dkk (2015:p3),
penggolongan e-commerece dibedakan menjadi lima :

  1. Business to Consumer (B2C)
  2. Business to Business (B2B)
  3. Consumer to Consumer (C2C)
  4. Peer to Peer (P2P)
  5. Mobile Commerce (M-Commerce)

E-Commerce


Menurut Laudon & Laudon dalam Pradana (2017), E-Commerce adalah suatu proses
pembeli dan menjual produk-produk secara elektronik oleh konsumen dan dari
perusahaan ke perusahaan dengan komputer sebagai perantara transaksi bisnis. Ecommerce berguba dalam mengurangi biaya administrasi dan waktu siklus proses
bisnis, dan meningkatkan hubungan dengan kedua mitra bisnis dan pelanggan Charles
dalam (Pradana, 2017).
Terdapat beberapa alasan mengapa perusahaan menjalankan bisnis dengan
menggunakan fasilitas e-commerce, seperti :

  1. Dapat menjangkau audiensi seluruh dunia
  2. Dapat melakukan komunikasi interaktif dengan biaya yang efisien.
  3. Dapat menjangkau target konsumen tertentu.
  4. Lebih muda dan cepat dalam menyampaikan informasi terkait dengan harga
  5. Mendapatkan umpan balik secara cepat dari konsumen
  6. Merupakan saluran distribusi alternatif.
    Pada umumnya, e-commerce adalah strategi komersial baru yang mengarah kepada
    peningkatan kualitas produk dan layanan dan juga perbaikan di tingkat layanan
    penyediaan sementara link persyaratan organisasi, pemasok dan konsumen ke arah
    mengurangi biaya (Shaw,2012).

Indikator Pemasaran hijau


Dalam buku Hendra SE et al., (2023, p.41) setiap komponen pemasaran
hijau dapat diukur melalui indikator sebagai berikut:

  1. Produk hijau
    Vilkaite-Vaitone dan Skackauskiene (2023, p.41), menjelaskan bahwa
    indikator produk hijau meliputi:
    1) Berbahan bahan alami atau bahan ramah lingkungan
    2) Produk dapat didaur ulang dan dapat digunakan kembali
    3) Kemasan ramah lingkungan (recycle, reuse, reduce)
    4) Label ramah lingkungan
    5) Produk aman dikonsumsi
    6) Aman – tidak menimbulkan polusi, tidak beracun dan tidak merusak
    lingkungan
  2. Harga hijau
    Menurut Diglel & Yazdanifard (2023, p.42), indikator harga hijau terdiri
    dari:
    1) Harga yang diberikan lebih tinggi dari produk sejenis dari merek lain
    2) Harga premium sesuai dengan manfaat yang diterima
    3) Harga premium sesuai dengan kualitas produk
    4) Harga yang diberikan sebanding dengan dampak lingkungan
    5) Kesediaan konsumen untuk membayar harga yang ramah lingkungan
  3. Tempat hijau
    Menurut Anjani dan Perdhana (2023, p.43), menjelaskan bahwa indikator
    tempat hijau terdiri dari:
    1) Produk mudah dijangkau dan ditemukan
    2) Lokasi strategis untuk distributor/ toko offline
    3) Toko distributor online dan offline mendukung kegiatan ramah
    lingkungan
    4) Kelengkapan produk ramah lingkungan di toko distributor online dan
    offline
  4. Promosi hijau
    Menurut Allen Manongko (2020), indikator dari Promosi hijau terdiri
    dari:
    1) Promosi dengan memperhatikan lingkungan
    2) Promosi mengangkat isu lingkungan
    3) Promosi dilakukan dengan menarik

Dimensi Pemasaran Hijau


Untuk mencapai tujuan perusahaan, diperlukan alat strategi pemasaran
yaitu bauran pemasaran. Konsep bauran pemasaran hijau atau Pemasaran
hijau mix diperkenalkan pertama kali oleh Bradley pada tahun 1980 (Hendra
et al., 2023, p.40). Pemasaran hijau mix menjadi komponen penting dalam
pemasaran hijau dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Produk hijau
    Produk hijau atau produk hijau merupakan produk yang dibuat
    menggunakan bahan baku yang tidak mengandung zat beracun dan
    diproduksi dengan prosedur yang ramah lingkungan. Produk ini juga
    telah mendapatkan sertifikasi dari organisasi yang diakui. Pada produk
    hijau, disarankan untuk memanfaatkan eco-labelling, penggunaan
    kemasan hijau, penggunaan bahan yang bisa digunakan kembali atau
    didaur ulang, pemanfaat energi terbarukan, serta pengujian ulang siklus
    hidup produk (Hendra et al., 2023, p.40).
  2. Harga hijau
    Dangelico dan Vocalelli (2023, p.41) mengungkapkan bahwa
    harga hijau merupakan penentuan harga untuk produk ramah lingkungan
    didefinisikan sebagai strategi penetapan harga yang memperhitungkan
    sensitivitas konsumen terhadap harga dan sejauh mana mereka rela
    membayar tambahan untuk fitur fitur produk yang berkelanjutan secara
    lingkungan. Harga yang ditawarkan produk hijau biasanya lebih tinggi
    dibanding dengan produk biasa, karena biaya bahan baju yang digunakan
    oleh produk hijau. Penetapan harga untuk produk ramah lingkungan
    harus mengutamakan integrasi biaya ekonomi dan biaya lingkungan dari
    proses produksi dan pemasaran, selain itu, harga yang ditetapkan juga
    harus memberikan nilai dan manfaat yang wajar bagi konsumen, maka
    dari itu harus adanya komunikasi secara transparent kenapaa biaya yang
    ditawarkan lebih tinggi dengan produk biasa.
  3. Tempat hijau
    Tempat hijau atau distribusi hijau merupakan strategi Perusahaan
    dalam merencanakan lokasi dan saluran distribusi yang dapat
    mengurangi emisi transportasi dengan tujuan untuk mengurangi jejak
    karbon. Distribusi hijau terkait dengan pendistribusian produk ramah
    lingkungan tanpa menimbulkan adanya kerusakan pada lingkungan,
    yang dapat dicapai dengan menggunakan bahan bakar dan energi secara
    efisien serta mengatur logistic dengan emisi yang minimal. Distribusi
    18
    hijau bertujuan untuk memberikan akses yang mudah bagi konsumen
    untuk mendapatkan produk Perusahaan tanpa mengorbankan
    keberlanjutan lingkungan dan sosial (Hendra et al., 2023, p.42).
  4. Promosi hijau
    Promosi hijau atau promosi hijau menjadi faktor penting untuk
    menjangkau konsumen. Pemasaran langsung, hubungan Masyarakat,
    promosi penjualan dan periklanan merupakan beberapa metode untuk
    menyampaikan pesan utama tentang keberlanjutan kepada pelanggan.
    Platform social media sering digunakan untuk memproyeksikan prospek
    hijau Perusahaan untuk memberikan informasi produk kepada
    konsumen. Perusahaan yang menerapkan Pemasaran hijau jarang sekali
    ditemukan menggunakan bahan promosi cetak seperti brosur, koran dll.
    Mereka lebih memilih untuk menggunakan media sosial atau situs web
    untuk berkomunikasi tentang produknya. Promosi hijau bertujuan
    mendorong konsumen agar memilih produk yang peduli lingkungan dan
    mengalihkan perhatian mereka pada dampak positif dari pembelian
    tersebut terhadap diri sendiri mereka sendiri dan lingkungannya. Promosi
    hijau dapat dikatakan berhasil jika mampu memberikan informasi yang
    jelas mengenai manfaat dari produk ramah lingkungan tersebut kepada
    konsumen (Hendra et al., 2023, p.43).

Pemasaran Hijau


Pemasaran hijau merupakan sebuah kegiatan perusahaan yang
meliputi seluruh kegiatan pemasaran untuk mengakibatkan dan
mempertahankan perilaku konsumen yang mengurangi dampak negatif
terhadap lingkungan. Menurut Polonsky pada buku yang ditulis Hendra et
al., (2023, p.2), pemasaran hijau adalah proses produksi dan pemasaran
produk yang ramah lingkungan, menggunakan strategi promosi yang
spesifik, serta memanfaatkan bahan baku daur ulang yang lebih ramah
lingkungan. Tujuan dari strategi pemasaran hijau untuk menciptakan
kesadaran dikalangan konsumen tentang pemahaman pentingnya
lingkungan dan konsekuensi perilaku konsumtif terhadap lingkungan.
Program pemasaran ini mengajak konsumen untuk mengambil langkah
langkah yang menguntungkan bagi kepentingan jangka panjang mereka
sendiri dan masyarakat. Sebagai contoh, dengan membeli makanan
organik yang lebih sehat, lezat dan aman, serta menggunakan peralatan
hemat energi yang tidak hanya lebih terjangkau dalam biaya
pengoperasiannya tetapi juga ramah lingkungan (Zahra Rahmi et al.,
2022). Eco-Label, Eco-Brand dan iklan yang berfokus pada tema
lingkungan dianggap sebagai sarana pemasaran hijau yang dapat
meningkatkan pemahaman konsumen tentang produk yang ramah
lingkungan. Alat-alat pemasaran hijau ini dianggap sebagai fasilitas yang
membantu konsumen memahami produk hijau, meningkatkan kesadaran
akan produk yang ramah lingkungan, dan mendorong mereka untuk
membeli produk tersebut (Dimilna et al.,2023).
Menurut Peattie (2023, p.16) pemasaran hijau merupakan strategi
manajemen yang bertujuan untuk mengetahui, memperkirakan dan
memenuhi kebutuhan konsumen dan masyarakat dengan cara yang
menguntungkan dan berkelanjutan secara ekonomi. Didukung oleh empat
komponen yaitu produk hijau, harga hijau, tempat hijau dan promosi hijau
yang dikenal dengan sebagai Pemasaran hijau mix.

Indikator Pengalaman Pelanggan


Menurut Sahhar et al., (2023), mengatakan bahwa pengalaman
pelanggan dapat diukur dengan beberapa indikator yaitu:

  1. Valence (Valensi)
    a) Kognitif, mengacu pada evaluasi yang dilakukan pelanggan
    berdasarkan pemikiran atau pengetahuan mereka tentang produk.
    b) Perilaku, berkaitan dengan perilaku dari pengalaman pelanggan
    mencakup respons atau tindakan yang dilakukan oleh pelanggan
    sebagai hasil dari interaksi dengan merek, produk atau layanan. Ini
    mencakup pembelian, rekomendasi kepada orang lain, atau kesetiaan
    terhadap merek.
    c) Sensorik, melibatkan pengalaman indrawi atau persepsi sensorik yang
    dialami oleh pelanggan selama interaksi dengan merek, produk atau
    layanan. Ini bisa mencakup aspek seperti penampilan, visual, rasa,
    aroma dan sentuhan.
    d) Emosional, berkaitan dengan evaluasi yang dipengaruhi oleh perasaan
    atau emosi pelanggan terhadap interaksi dengan produk, layanan atau
    merek tertentu.
    e) Sosial, melibatkan pengalaman pelanggan berkaitan dengan interaksi
    pelanggan dengan orang lain dalam konteks penggunaan atau
    pembelian produk atau layanan. Ini bisa mencakup pengaruh dari
    kelompok sosial atau rekomendasi dari teman atau keluarga.
  2. Type (Jenis)
    a) Bersifat reflektif, melibatkan pemikiran atau refleksi yang mendalam
    oleh pelanggan. Konsumen mempertimbangkan pengalaman mereka
    dengan produk atau layanan tersebut secara lebih dalam.
    b) Bersifat tidak reflektif, melibatkan respons langsung atau reaksi tanpa
    melalui pemikiran yang mendalam atau refleksi.
  3. Visceral intensity (Intensitas mendalam)
    a) Intensitas mendalam, mengacu pada pengalaman yang memiliki
    intensitas emosional atau sensorik yang kuat. Pengalaman pelanggan
    yang mendalam dapat berkesan dan dapat meninggalkan kesan yang
    lama pada mereka.

Dimensi Pengalaman Pelanggan


Pengalaman pelanggan akan dinilai berdasarkan dimensi menurut Sahhar
et al., (2023) yaitu:

  1. Valence (Valensi), valensi mengungkapkan apakah penglaman dirasakan
    dalam suatu kontinum (yaitu ”nuansa” yang berbeda) positif, netral atau
    negatif
  2. Type (Jenis), mengacu pada pengalaman sadar subjek, yang terakhir
    mengacu pada pengalaman yang tidak sadar subjek
  3. Visceral intensity (Intensitas mendalam), menilai apakah suatu
    pengalaman secara sensorik dianggap ”dangkal” atau ”mendalam

Pengalaman Pelanggan


Pengalaman pelanggan atau pengalaman pelanggan merupakan
akumulasi dari perasaan dan kesan yang diperoleh konsumen berasal dari
interaksi pelanggan dengan perusahaan, seperti pembelian dan
penggunaan produk perusahaan, serta penerimaan informasi tentang
perusahaan (Wahyuningsih et al.,2023). Carbone dan Haeckel
berpendapat bahwa pengalaman pelanggan merupakan hasil dari semua
persepsi yang dikumpulkan dan terakumulasi oleh pelanggan terkait
dengan penggunaan suatu produk atau layanan merek tertentu (Cepeda Carrión et al. 2023). Berkaitan dengan hal tersebut, Demangeot dan
Broderick menyimpulkan bahwa pengalaman pelanggan mencapai hasil
emosional dan sikap positif dalam hal perlikau pelanggan yang
menikmati pengalaman tersebut (Cepeda-Carrión et al. 2023).
Pengalaman pelanggan adalah pengalaman individual seseorang
terhadap suatu produk atau merek yang menciptakan hubungan
emosional antara konsumen dan produk tersebut. Disimpulkan bahwa
pengalaman pelanggan merupakan sebuah pengalaman konsumen yang
mendorong mereka untuk melakukan pembelian kembali karena
pengalaman mereka saat membeli produk.

Indikator Minat beli ulang


Menurut Keller (2022), Minat beli dapat diukur dengan empat aspek
utama yaitu:

  1. Minat transaksional, merupakan kecenderungan konsumen untuk terus
    melakukan pembelian produk atau menggunakan layanan dari
    perusahaan berdasarkan tingkat kepercayaan yang tinggi terhadap
    perusahaan tersebut.
  2. Minat referensial, merupakan kencederungan konsumen untuk
    merekomendasikan produk kepada orang lain setelah mereka memiliki
    pengalaman dan informasi yang memadai tentang produk tersebut.
  3. Minat preferensial, merupakan ketertarikan yang mencerminkan perilaku
    konsumen yang memiliki preferensi utama terhadap produk tersebut.
    Preferensi ini umumnya tidak akan berubah kecuali terjadi perubahan
    signifikan pada produk yang menjadi pilihan utama mereka.
  4. Minat eksploratif, merupakan ketertarikan yang menunjukan perilaku
    konsumen yang terus mencari informasi tentang produk yang menarik
    minatnya dan mencari informasi yang dapat mendukung sifat positif dari
    produk tersebut

Dimensi Minat Beli Ulang


Menurut Trivedi dan Yadav (2021), Minat beli ulang memiliki
dimensi sebagai berikut:

  1. Adanya kecenderungan untuk membeli ulang suatu produk atau jasa
    yang sama
  2. Adanya rencana yang dibuat untuk dengan sengaja membeli ulang suatu
    produk atau jasa
  3. Adanya prioritas untuk memilih penjual tertentu dibandingkan penjual
    lain pada jenis transaksi yang sama
  4. Adanya rekomendasi kepada pihak lain mengenai penjual dan produk
    atau jasa yang dijual
  5. Menggunakan cara yang sama untuk keperluan pembelian produk serupa
    atau berbeda dimasa depan

Minat Beli Ulang


Minat beli ulang atau minat beli ulang merupakan minat untuk
membeli kembali suatu produk yang timbul dari pengalaman pembelian
sebelumnya. Tingkat minat beli ulang untuk membeli kembali tinggi
mencerminkan tingkat kepuasan konsumen yang tinggi (Hidayanti et al.,
2021). Proses ini melibatkan pengenalan masalah atau kebutuhan,
pencarian informasi yang relevan, evaluasi informasi, pembelian dan
evaluasi pasca pembelian (Amoako et al., 2021). Menurut Oliver (2021),
Minat beli ulang adalah keputusan untuk membeli kembali suatu produk
atau jasa secara rutin dimasa yang akan datang, sehingga mendorong
pengulangan pembelian merek atau pembelian rangkaian produk tertentu.
Minat beli ulang atau minat beli ulang adalah perilaku pelanggan dimana
mereka menunjukan tanggapan positif terhadap kualitas layanan suatu
perusahaan, dan juga mengekspresikan niat untuk kembali berkunjung
atau membeli produk dari perusahaan tersebut (Febiwenesya, 2022).
Berkaitan dengan hal tersebut, pendapat kotler (2021) menegaskan bahwa
isu utama yang mempengaruhi retensi pelanggan dan minat beli ulang
adalah kepuasan pelanggan.

Hubungan antara Brand Trust, Kepuasan Pelanggan dan Minat Beli Ulang


Semakin meningkatnya pengaruh kepercayaan merek terhadap minat
beli ulang yang disebabkan oleh kepuasan konsumen yang tinggi.
Pelanggan yang percaya kepada suatu produk atau jasa tentu saja
akan melakukan transaksi secara berulang secara konsisten dimasa yang
akan datang (Rifa’i et al., 2020). Haron et al., (2020) Terciptanya rasa
kepuasan terhadap produk atau jasa yang digunakan oleh pelanggan
akhirnya tumbuh menjadi kepercayaan merek karena apa yang
diharapkan oleh konsumen sudah terpenuhi sehingga minat beli ulang
tentu saja akan terjadi secara berulang. Hal ini sejalan dengan
meningkatnya kepercayaan pelanggan maka pelanggan akan terus
menerus menggunakan jasa atau produk tersebut secara konsisten.
Japarianto & Agatha (2020) brand trust memiliki pengaruh positif
terhadap kepuasan konsumen karena konsumen memiliki kepercayaan
terhadap suatu produk, maka produsen harus konsisten membangun
kepercayaan konsumen.

Hubungan Social Media Marketing, Kepuasan Pelanggan dan Minat Beli Ulang


Peranan media sosial untuk meningkatkan minat beli ulang konsumen
dapat dipengaruhi oleh hubungan kerja sama yang baik antara
produsen dan konsumen dalam berkomunikasi melalui media sosial
sehingga mampu meningkatkan minat beli ulang konsumen, dimana hal
ini berdampak terhadap kepuasan konsumen yang dirasakan oleh
konsumen saat berbelanja melalui media sosial. Kepuasan konsumen
dirasakan saat tidak adanya keluhan atas produk yang dibelinya sehingga
akan mempengaruhi minat beli konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut (Lestari & Iswati, 2021). Menurut oliver dalam jurnal
Dwipayana & Sulistyawati (2018) kepuasan secara positif berkaitan
dengan niat beli ulang baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pada tahap akhir dalam proses pembentukan kepuasan, kepuasan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali
produk tersebut disebabkan oleh pengaruh pemasaran di media sosial.
Dilanjutkan menurut Tong & Subagio (2020) terdapat pengaruh
positif antara pemasaran media sosial yang menjadi faktor penting
dalam meningkatkan minat beli ulang dengan bantuan media
promosi dimedia sosial. Adanya pengaruh kepercayaan dari
promosi yang dilakukan terhadap minat beli ulang, karena
dengan semakin meningkatnya kepercayaan maka minat beli ulang juga
akan meningkat (Nur et al., 2021)

Kepuasan Pelanggan terhadap Minat Beli Ulang


Kepuasan pembeli meliputi seberapa dekat harapan pembeli atas
suatu produk dengan kinerja yang dirasakan pembeli atas produk tersebut.
Kepuasan konsumen memegang peran penting dalam menentukan antara
harapan konsumen dan kemampuan produk dalam memuaskan konsumen.
Pengaruh yang signifikan antara kepuasan pelanggan dengan minat beli
ulang, dimana semakin tinggi tingkat kepuasan suatu pelanggan maka
akan semakin tinggi pula minat beli ulang yang dilakukan oleh pelanggan
tersebut (Maulana & Sukresna, 2022). Tingkat kepuasan pelanggan akan
menentukan seberapa niat konsumen untuk menggunakan kembali ulang
produk atau membeli ulang produk.
Jadi semakin tinggi konsumen merasa puas terhadap produk maka
semakin banyak konsumen yang melakukan pembelian ulang pada produk.
Kepuasan pelanggan berpengaruh secara parsial terhadap minat beli
pelanggan. Kepuasan pelanggan nantinya dapat menanamkan kepercayaan
bagi konsumen. Kepercayaan yang terbentuk dapat memicu keinginan
pelanggan untuk melakukan pembelian secara berulang (Dwipayana &
Sulistyawati, 2018).

Brand trust terhadap minat beli ulang


Terdapat pengaruh langsung antara kepercayaan merek terhadap
minat beli ulang, karena dengan semakin meningkatnya kepercayaan
terhadap merek maka minat beli ulang juga akan meningkat. Membangun
dan menjaga kepercayaan merek merupakan hal yang sangat penting,
karena berdampak langsung terhadap minat pembelian ulang. Brand trust
menjadi aspek nilai yang mengikat konsumen dengan merek dan sebagai
suatu perasaan aman yang ditimbulkan berdasarkan interaksi mereka
terhadap suatu merek dan merek tersebut dapat dipercayai serta
bertanggung jawab (Fandiyanto & Endriyasari, 2019). Brand trust
merupakan sebuah kemampuan merek untuk meyakinan pelanggannya
bahwa suatu produk mampu memberikan nilai dan ide yang dijanjikan.
Memiliki kepercayaan pada produk didapatkan ketika menerima respon
baik dari konsumen. Jadi jika produk mendapat kepercayaan,
kemungkinan untuk terjadi niat beli ulang akan besar (Nur et al., 2021).
Minat beli ulang pada dasarnya tentang perilaku pelanggan ketika
pelanggan bereaksi positif terhadap kualitas layanan perusahaan dan
berniat untuk kembali atau mengkonsumsi produk perusahaan lagi.
Sehingga minat membeli ulang akan terjadi jika ada rasa puas dari seorang
konsumen

Social Media Marketing terhadap Minat Beli Ulang


Media sosial sebagai platform komunikasi dengan konsumen untuk
memberitahu suatu brand sehingga menjadi faktor penting dalam
meningkatkan minat beli ulang serta membuat konsumen mengingat
kembali suatu merek atau produk dengan bantuan media promosi di media
sosial (Tong & Subagio, 2020). Media sosial sebagai media pemasaran
dapat mempengaruhi niat beli ulang konsumen dengan terus meningkatkan
kegiatan promosi yang menarik di media sosial, karena dengan terus
mengoptimalkan penggunaan media sosial yang tepat dapat meningkatkan
keuntungan melalui pembelian secara berulang. Sebab media teknologi
menurut teori ekologi media menyatakan bahwa kehidupan manusia tidak
dapat dilepaskan dari pengaruh teknologi (Rohani et al., 2020).