Menurut Aaker (2011) loyalitas merek terbentuk karena adanya fitur yang
menarik pada produk, kepribadian yang disukai, tau nilai-nilai merek yang sesuai
dengan pandangan konsumen. Faktor kebiasaan dari merek tersebut dan familiar
pada suatu merek sangat kuat membuat konsumen tetap setia, konsumen cenderung
setia pada merek yang otentik dan bahkan membenci merek yang mencoba meniru
atau, lebih buruk lagi, palsu dan berusaha menjadi merek yang orisinal.
Menurut Kotler dan Keller (2016) Loyalitas merek dapat membantu
mengidentifikasi kekuatan produk, loyalitas dapat menunjukan kepada perusahaan
merek mana yang paling kompetitif dengan mereknya dengan melihat pelanggan
mana yang meninggalkan mereknya. Status Loyalitas pemasaran biasanya
membayangkan empat kelompok berdasarkan status loyalitas merek:
- Hard core loyals: konsumen yang hanya membeli satu merek sepanjang
waktu - Split loyals: konsumen yang setia pada dua atau tiga merek
- Shifting loyals: pindah kesetiaan dari satu merek ke merek lain
- Switchers: konsumen yang tidak menunjukkan loyalitas pada merek apa
pun
Pada merek Arei, loyalitas dapat terbentuk jika konsumen merasa produkproduk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan dan preferensi konsumen dalam
melakukan aktivitas outdoor. Produk yang memenuhi ekspektasi konsumen dalam
hal kualitas dan kehandalan akan mendorong terbentuknya loyalitas yang lebih
kuat
