Employee retention mengacu pada kemampuan perusahaan mempertahankan
karyawan dalam jangka panjang. Das dan Baruah (2013) dalam Hadi & Ahmed
(2018) menjelaskan konsep tersebut sebagai sebuah proses di mana karyawan
didorong untuk tetap bersama organisasi selama periode maksimum atau hingga
penyelesaian proyek. Hal tersebut juga didukung oleh Gorde (2019) yang
menyatakan retensi karyawan memperhitungkan berbagai langkah yang diambil
agar seseorang tetap berada di sebuah organisasi untuk jangka waktu yang
maksimal. Perusahaan harus mempertimbangkan berbagai hal sesuai dengan
kapasitas perusahaan untuk membuat karyawannya bertahan dan bekerja di
perusahaan dalam jangka waktu yang panjang. Hal tersebut dikarenakan retensi
karyawan mengacu pada kapasitas perusahaan untuk mempertahankan
karyawannya sekaligus mengurangi keinginan untuk keluar (Wijayanthi et al.,
2024).
Perusahaan perlu memperhatikan 5 hal dasar yang berkaitan dengan retensi
menurut Gorde (2019) yaitu:
a. Environment
Karyawan yang termotivasi ingin berkontribusi pada area kerja di luar
deskripsi pekerjaan spesifiknya. Ramlall (2003) menekankan lingkungan kerja
yang sesuai merupakan kebutuhan karyawan dalam sebuah organisasi karena
akan mendorong komitmen. Nelson (2006) juga menjelaskan dalam studinya
kepuasan kerja merupakan sesuatu yang tidak ternilai, tidak tertandingi dan tidak
ternilai harganya.
b. Growth
Pertumbuhan merupakan bagian integral dari karir setiap individu. Jika
seorang karyawan tidak dapat memperkirakan jalur pengembangan karirnya di
perusahaan saat ini, terdapat kemungkinan karyawan akan meninggalkan
perusahaan begitu mendapatkan kesempatan. Grossman (2002) menekankan
pertumbuhan dan produktivitas adalah hasil akhir dari perilaku karyawan seperti
kinerja, retensi, dan kepuasan karyawan.
c. Compensation
Kompensasi merupakan bagian terbesar dari proses retensi. Karyawan
selalu memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap paket kompensasi karyawan.
Kompensasi meliputi gaji dan upah, bonus, asuransi kesehatan, dan tunjangan
setelah pensiun.
d. Relationship
Terkadang hubungan dengan manajemen dan rekan kerja menjadi alasan
bagi karyawan untuk meninggalkan perusahaan. Manajemen sering kali tidak
dapat menyediakan budaya dan lingkungan kerja yang mendukung bagi
karyawan dalam hal hubungan personalia dan profesional. Budaya kerja yang
mendukung dapat membantu mengembangkan karyawan secara profesional dan
meningkatkan kepuasan karyawan.
e. Support
Karyawan saat ini meminta tempat kerja yang membantu karyawan
menyeimbangkan tuntutan pekerjaan dan kehidupan keluarga, daripada
memaksa karyawan untuk mengutamakan salah satunya.
Di sisi lain, jika perusahaan tidak memperhatikan kelima hal dasar tersebut,
karyawan dapat merasa tidak dihargai yang dapat berdampak pada dedikasi kepada
perusahaan. Dedikasi karyawan terhadap perusahaan atau organisasi dapat
memengaruhi keputusan karyawan untuk tetap tinggal atau keluar dari perusahaan
atau organisasi (Fauzi et al., 2023, dalam Wijayanthi et al., 2024). Menurut Gorde
(2019) perusahaan yang tidak dapat mempertahankan karyawannya dengan baik
atau memiliki turn over yang tinggi dapat berdampak negatif pada perusahaan
seperti:
a. Biaya pergantian karyawan
Biaya pergantian karyawan merupakan salah satu beban finansial yang
signifikan bagi perusahaan. Perusahaan terkadang sulit untuk mengukur secara
akurat seluruh komponen biaya seperti biaya rekrutmen, pelatihan, serta
hilangnya produktivitas selama masa transisi.
b. Hilangnya pengetahuan perusahaan
Karyawan yang keluar dapat membawa pengetahuan berharga tentang
perusahaan, pelanggan, proyek-proyek saat ini, dan sejarah perusahaan.
Perusahaan sering menghabiskan banyak waktu dan uang untuk karyawan
tersebut dengan harapan akan kembali lagi di masa depan.
c. Terganggunya pelayanan pelanggan
Pergantian karyawan juga berpotensi menimbulkan gangguan terhadap
layanan pelanggan. Hal ini disebabkan oleh fakta sebagian besar pelanggan dan
klien menjalin hubungan bisnis tidak hanya berdasarkan produk atau jasa yang
ditawarkan, tetapi juga karena adanya relasi interpersonal yang dibangun dengan
karyawan perusahaan.
d. Turnover dapat menyebabkan lebih banyak turnover
Tingginya turnover dapat memengaruhi stabilitas organisasi secara
menyeluruh. Hal tersebut dikarenakan beban kerja dari posisi yang kosong
sering kali dialihkan kepada rekan kerja yang lain, sehingga menimbulkan
tekanan kerja, penurunan moral, dan potensi meningkatnya keinginan karyawan
lain untuk mengundurkan diri.
e. Efisiensi berkurang
Jika seorang karyawan mengundurkan diri, maka sejumlah waktu akan
terbuang untuk merekrut dan melatih karyawan baru, yang secara langsung dapat
menjadi kerugian bagi perusahaan meskipun sering kali tidak terlihat secara
langsung. Bahkan setelah proses tersebut, tidak ada jaminan karyawan baru akan
memiliki tingkat efisiensi yang sama.
Seiring berkembangnya lingkungan kerja, perusahaan akan mengalami kendala
dalam mempertahankan karyawannya, dikarenakan faktor-faktor untuk
mempertahankan karyawan juga akan berevolusi. Salah satu tantangan utama
adalah sifat lingkungan kerja yang terus berkembang, di mana karyawan menuntut
fleksibilitas yang lebih besar dan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan,
yang sering kali tidak dapat diatasi oleh strategi retensi tradisional (Sepahvand dan
Khodashahri, 2021 dalam Noorulkhathija & Hussain, 2025). Menurut beberapa
penelitian terdahulu faktor-faktor yang memengaruhi employee retention, antara
lain talent development, work-life balance, budaya organisasi yang mendukung,
komunikasi, mekanisme umpan balik, pelatihan, lingkungan kerja, kepuasan kerja,
dan kompensasi (Irawati & Bagus Ketut, 2022; Wahyudi et al., 2023; Xuecheng et
al., 2022)